INTAN

Intan merupakan seorang mahasiswi kedokteran dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta yang terkenal memiliki banyak mahasiswi cantik-cantik serta seksi. Tidak hanya itu saja, disana juga banyak mahasiswi yang katanya bisa di-booking, walaupun dengan harga mahal tentunya. Intan sendiri merupakan mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan melakukan praktek di daerah terpencil di daerah Purwokerto, Jawa Tengah.

Intan mempunyai seorang pacar yang bernama Rangga, dia hanyalah seorang buruh pabrik, walaupun begitu tekad kerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya-lah yang membuat Intan jatuh hati dan akhirnya bersedia menjadi pacarnya. Intan sendiri memakai hijab modern ketika keluar rumah, tapi tidak ketika bersama Rangga, seperti sore itu di kontrakan Rangga.

“Aaahh.. uuhh.. Ranggaaa.. nikmatnya, sayangg!” teriakan dan desahan nikmat berasal dari bibir seorang calon dokter yang sehari-harinya berhijab, Intan. Dia sedang mendaki bukit kenikmatan bersama kekasihnya, Rangga. Seperti biasa, sore itu ketika semua teman Rangga pulang ke kampung halamannya masing-masing, dia mengayuh perahu birahi bersama Intan.

“Uuuhh.. memek kamu enak banget ngejepit kontol aku, sayangg.. uuhh!” Rangga hampir tidak tahan untuk menyemprotkan isi testisnya ketika Intan berkata, “Iya, kontol kamu juga nusuk banget ke dalem memek aku, bebbb!”

Intan yang saat itu hanya tinggal memakai bra, masih menggoyang pantatnya di atas pangkuan Rangga. “Uuuhh.. kamu kuat banget sih, sayangg? Udah 15 menit belum keluar juga! Uuuhh!” Rambutnya yang tergerai panjang membuat kesan menggairahkan bagi Rangga.

“Aku udah mau keluar, Yang! Uuuhh.. aku harus keluar dimana nih?” Rangga sudah sangat ingin mengeluarkan spermanya dari tadi pagi ketika melihat foto-foto selfie telanjang Intan yang dikirim via Line.

“Di luar, Sayangg! Uhh.. aku masih masa subur soalnya nih. Uuhh.. bareng-bareng ya, sayangg!” Intan mengingatkan.

Crott! Crott! Hampir lima kali semprotan sperma dari penis Rangga akhirnya jatuh ke atas perutnya sendiri ketika penisnya dikeluarkan dari vagina sempit Intan. Intan pun membantu dengan mengocok penis Rangga agar semua isinya keluar, serta sesekali mengulumnya juga.

“Uuuhh.. sayangku Intan, makasih ya buat ngentot sore ini. Uuuhh.. aku keluar banyak banget nih!” Rangga tidak sadar bahwa Intan hampir klimaks tapi belum mencapai puncak orgasme. Oleh karena itu, dia seolah tidak peduli ketika jatuh tertidur dan Intan mengocok vaginanya sendiri dengan dua jari tangannya sendiri.

“Uuuhh.. uuhh.. Rangga, kontol kamu enak banget. Uuhh.. memekku bakal selalu kangen kontol kamu kalo aku udah di Purwokerto! Uuuhh.. kontol kamu boleh aku bawa gak? Uuuhh!” Itulah kebiasaan Intan untuk menaikkan birahinya, bicara kotor. Dan akhirnya, Crott! Crott! Intan mencapai puncak orgasmenya dan ikut tidur di sebelah Rangga yang sudah terlelap lebih dulu. Intan tidak tersenyum.

***

Keesokan harinya..

Intan terbangun dan memakai sebuah kemeja putih polos yang terlalu besar ukurannya karena itu punya Rangga, dan di dalamnya ia tidak memakai daleman. Dia menuju dapur dan mengambil minum ketika ada suara pintu diketuk.

Tok! Tok! Tok!

Intan sempat mengintip dari jendela, dan itu ternyata adalah Pak Jarwo, ketua RT disini. Intan mengenakan hotpants dan mengancingkan kemejanya sampai atas, dia lalu membuka pintu.

“Iya, Pak Jarwo kan? Ada apa ya, Pak?”

“Eh, ada mbak Intan. Begini, mbak, ada sesuatu yang harus dibicarakan. Boleh saya masuk? Mas Rangga-nya ada? Atau teman-temannya yang lain?”

Bingunglah Intan untuk menjawab pertanyaan tersebut, kalau dibilang ada maka teman-teman Rangga akan dipanggil. Tapi kalau dijawab tidak ada, maka Intan dan Rangga akan langsung diarak keliling desa karena dituduh berbuat asusila. Mata Pak Jarwo pun tak pernah lepas dari paha putih milik Intan, wanita yang selama ini tertutup dan memakai hijab ternyata bisa menjadi binal juga, begitulah pikir Pak Jarwo.

“Tidak ada, Pak.” akhirnya Intan menjawab dengan jujur.

Pak Jarwo tersenyum licik. “Ah, begini… tadi malam ada laporan dari warga bahwa mbak Intan menginap berdua disini dengan mas Rangga. Sudah menjadi etika moral disini bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan, bisa jadi fitnah bahkan bisa kita arak keliling desa.” Pak Jarwo menjelaskan duduk permasalahan dengan santai.

“Iya, Pak, saya minta maaf. Lain kali tidak akan saya ulangi lagi.” Intan berusaha memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak salah ucap dan supaya kejadian kali ini tidak menjadi buah bibir masyarakat desa. “Oh ya, bapak mau minum apa? Saya bikinkan kopi ya,” Intan berusaha mengalihkan bahan pembicaraan.

“Tapi ada beberapa syarat ketika mbak Intan ingin kejadian ini tidak menjadi besar, mungkin mbak Intan bisa buatkan saya kopi terlebih dahulu.” ujar ketua RT ini dengan begitu santainya.

Intan pun berjalan menuju dapur diikuti ekor mata Pak Jarwo yang sudah sangat lapar untuk menyantap belahan pantat montok kepunyaannya. Diam-diam Pak Jarwo mengikuti Intan ke dapur, dan seketika itu pula mendekap Intan dari belakang dan menutup mulutnya.

“Ini syarat pertama, saya mau kopi susu dan… susunya langsung dari sini.” Pak Jarwo mengelus pelan payudara Intan yang tidak ditutupi bra dan hanya dilapisi oleh kemeja tipis.

Seketika Intan berusaha berontak, tapi apalah daya Intan melawan kekuatan Pak Jarwo. Intan juga takut Rangga terbangun dan memergoki mereka.

“Hmm.. kamu memang binal, pagi-pagi sudah menggoda saya dengan tidak memakai bra dan celana pendek.” ujar Pak Jarwo.

“Intan baru bangun tidur, Pak Jarwo.” Intan sudah memahami maksud dari Pak Jarwo yang mendekapnya saat ini dan mencoba santai. “Pak Jarwo mau pakai susu? Yang kanan apa yang kiri? Aahh..” kata Intan manja. Seketika itu juga Intan berubah menjadi sangat binal dengan harapan permainan ini cepat selesai.

Mendengar Intan yang dipikirnya susah ditaklukan lalu menjadi seperti pelacur, tak ayal penis Pak Jarwo pun menegang kuat bahkan hampir keluar dari celana bahannya karena saking panjangnya.

“Intan, Intan… kamu luarnya saja berhijab, mahasiswi kedokteran, tapi dalamnya tidak beda dengan para perek yang saya temui di jalanan. Kalau begitu langsung masuk ke syarat kedua, kamu harus menjadi budak seks saya.” kata Pak Jarwo sambil tangannya terus menerus meremas payudara besar milik Intan.

“A-apa, Pak? Budak seks? Intan siap memberikan semuanya buat Pak Jarwo kok, Pak Jarwo bisa entot Intan dimanapun dan kapanpun. Uuuhh.. remas terus tetek Intan dong, Pak. Intan yakin kontol Pak Jarwo lebih bisa muasin memek Intan daripada kontol Rangga.. uuhh.. uuhh..” Intan semakin tidak bisa mengontrol kata-katanya ketika dia merasakan kerasnya penis Pak Jarwo yang sengaja digesekkan ke belahan pantatnya.

“Oke, bawa kopi dan susunya ke ruang tamu. Kamu harus telanjang, hanya pakai handuk dan temui saya. Bisa?” Pak Jarwo dengan sangat jumawa memerintah Intan.

Intan pun berbalik dan mengemuti jari-jari tangan Pak Jarwo sambil berkata dengan suara manja, “Apa pun yang Pak Jarwo mau dengan tubuh Intan, Intan akan berusaha muasin Pak Jarwo dan membuat Pak Jarwo setia sama memek Intan. Uuuhh.. Pak Jarwo tunggu aja di ruang tamu, yaa..”

Usai berkata begitu, Pak Jarwo pun akhirnya meninggalkan Intan di dapur dan menuju ruang tamu. Intan sendiri masih merenung di dapur, dia bingung kenapa dia mau mengiyakan permintaan Pak Jarwo untuk melayaninya pagi ini padahal Rangga, kekasihnya yang tampan, masih tidur nyenyak di kamarnya. Tapi Intan tak ingin dia dan Rangga pada akhirnya dituduh berbuat asusila dan diarak keliling desa, mau ditaruh dimana harga diri dan nama baik keluarganya? Padahal sehari-harinya Intan memakai hijab.

Banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat itu. Satu hal yang membuat Intan akhirnya mantap menjadi budak seks Pak Jarwo mulai pagi ini adalah ukuran penis Pak Jarwo yang tadi digesekkan ke pantatnya, seakan membelai vagina dan lubang pantatnya. Intan seketika itu juga tersenyum dan membawa kopi panas ke ruang tamu.

“Ini, Pak, kopinya. Intan mau siap-siap dulu, Pak Jarwo tunggu ya..”

Sambil mengelus pantat Intan, Pak Jarwo berkata, “Iya, pelacur, jangan lama-lama ya.. saya tidak punya waktu banyak.” Pak Jarwo tersenyum menjijikkan.

Intan pun berjalan menuju kamar tidur sambil menggoyangkan pantat, mempertontonkan kemontokan tubuhnya pada Pak Jarwo. Sampai di depan pintu, ia menengok ke belakang dan dengan kerlingan mata nakal, Intan menjilat bibirnya sendiri. Uuuh! Penis milik Pak Jarwo sudah tidak tahan ingin segera mencoblos vagina Intan saat itu juga, tapi Pak Jarwo masih bersabar.

Tak berapa lama kemudian, Intan keluar hanya dengan memakai handuk. Ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk menyamping di pangkuan Pak Jarwo. “Pejantannya Intan, nih maunya udah diturutin. Sekarang Pak RT cabul ini mau apalagi?” Intan berusaha menjadi pelacur yang baik walau dalam hatinya masih ada sedikit keraguan.

Pak Jarwo yang ditanya seperti itu malah semakin memuncak birahinya, tapi memang beliau adalah pria yang sudah sangat matang, tidak mau terburu-buru. Maka sambil mengelus lengan Intan yang terbuka, ia berkata, “Sekarang berdiri di hadapan saya, buka handuknya, terus rentangkan sambil kamu duduk di pangkuan saya sekarang. Ayo lakukan!!”

Intan segera berdiri, membuka lipatan handuknya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur rapi serta payudaranya yang montok dengan putingnya yang berwarna pink mencuat ke atas, tanda dia sendiri pun sebenarnya dalam kondisi terangsang. Perlahan-lahan dengan menyunggingkan senyum nakal, Intan duduk di pangkuan Pak Jarwo.

“Hmm.. bapak ini banyak maunya deh, aku juga paham kok caranya muasin tua bandot mesum kayak bapak. Bapak tenang aja ya..” Sehabis berkata begitu, Intan perlahan mendekatkan bibirnya yang ranum ke telinga Pak Jarwo, “Jangan selesai terlalu cepat ya, suamiku sayang.” Intan berbisik dengan begitu mesra dan itu membuat jantung Pak Jarwo semakin berdetak kencang.

Intan mengulum telinga Pak Jarwo dengan pelan dan mesra, dengan tangan masih memegang handuk dan memeluk leher Pak Jarwo, seakan-akan mereka tak ingin terlihat orang lain. Pak Jarwo pun tersenyum licik, menyadari ketidakpercayaannya bagaimana begitu mudah ia menaklukkan mahasiswi kedokteran yang sehari-harinya berjilbab ini. Dengan tangannya yang kasar, Pak Jarwo mengelusi buah dada Intan yang hanya bisa dibayangkannya selama ini.

“Uuuhh.. Pak Jarwo nakal ya tangannya. Kok cuma dielus sih, Pak? Diremes juga dong, ini kan punya bapak sekarang. Hihi,” Intan pun mulai terbawa arus birahi ketika bibirnya menyentuh bibir Pak Jarwo yang kental dengan bau tembakau, tapi itu malah menambah gairahnya untuk mengulum bibir pejantan tuanya.

“Uuhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. uuhh.. Pak Jarwo lebih aktif dong! Uuuhh.. hmm.. mmhh..” Lidah mereka berdua saling bertautan, beradu seakan saling mendorong keluar. Kecipak suara mereka juga sangat keras karena Pak Jarwo sangat menyukai seks yang sedikit kasar dan berisik, maka dia coba meludahi mulut Intan dan Intan dengan sangat setia menelan semua air liur Pak Jarwo.

Pak Jarwo meremas payudara Intan dengan sedikit kasar, membuat Intan melenguh nikmat. Jari-jari tua itu mulai memilin puting mahasiswi kedokteran tersebut, pegangan tangan Intan pada handuk pun lepas karena Intan tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan tangan Pak RT tersebut. Tangan Intan mengelus rambut Pak Jarwo yang sudah memutih dengan penuh rasa sayang.

“Uuuhh.. Pak Jarwooo.. bapak pasti udah lama gak ngerasain tubuh montok kayak Intan ya? Intan pagi ini jadi istri bapak deh, Intan akan bikin bapak ngerasain surga dunia ya.. uuhh..” Intan menarik kepala Pak Jarwo menuju payudaranya, berharap putingnya diemut bibir tua namun menggairahkan tersebut.

“Hmm.. umm.. mmm.. puting kamu memang manis, sama seperti orangnya. Hihi..” Pak Jarwo mencolek dagu Intan sehingga pipi Intan pun semakin memerah mendengar pujian tersebut.

Pak Jarwo terus mengemuti puting Intan dan akhirnya.. mencupang payudara Intan dengan keras dan berisik. “Auuuww!! Pak Jarwo, pelan-pelan dong ah. Intan gak mau Rangga sampe bangun, nanti Intan gak ngerasain kontol Pak Jarwo pagi ini..”

Pak Jarwo melempar handuk yang tadi dipakai Intan, meremas pantat gadis itu dan menciumi lehernya. Pak Jarwo berubah menjadi beringas karena ia sebenernya sudah tidak tahan dengan segala kata-kata yang keluar dari mulut Intan saat ini.

Intan melenguh menahan desahannya yang sebenarnya sudah tidak tertahankan, ia baru ingat bahwa ia lupa mengunci pintu kamarnya dan Rangga bisa keluar sewaktu-waktu. Tapi rasa takut ketahuan malah membuat birahinya makin meningkat. Intan berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja Pak Jarwo saat lidah laki-laki itu semakin ganas melumuri lehernya dengan air liur. Intan melempar kemeja Pak Jarwo entah kemana, ia begitu kagum melihat dada bidang Pak Jarwo yang sedikit berbulu.

“Aaaahh.. Pak Jarwo, biarkan saya yang bekerja melayani bapak ya..” Intan tersenyum manja dan turun dari pangkuan Pak Jarwo secara perlahan sambil menciumi leher lelaki tua itu.

“Aaahh.. Intan, kamu memang pintar sekali memainkan lidahmu di kulit bapak, uuhh!” Pak Jarwo baru kali ini dimanjakan oleh lidah seorang perempuan, apalagi ketika ciuman Intan turun menuju putingnya. Gadis itu mencium, menjilat dan sedikit menggigit puting Pak Jarwo.

Birahi Intan sudah tak tertahankan lagi, ia sudah bertransformasi menjadi layaknya pelacur jalanan yang menghamba pada kenikmatan seksual. Ciumannya kembali turun menuju perut Pak Jarwo yang sudah sedikit membuncit, walau begitu sisa-sisa hasil fitness zaman dulu masih terlihat samar. Hmm.. dengan sedikit tergesa-gesa, Intan mencoba melepas ikat pinggang dan celana panjang milik Pak Jarwo, ia sendiri tidak sabar untuk memanjakan kontol yang tadi digesekkan ke belahan pantatnya.

“Pak Jarwo..” Intan memanggil nama ketua RT tersebut sambil mendesah dan mengerlingkan matanya dengan nakal, tangannya meremas penis Pak Jarwo sambil menciuminya dari luar celana dalam.

Ah, bagai mimpi jadi kenyataan bagi Pak Jarwo sendiri, ia bisa mengelusi rambut seorang Intan yang sedang membuka celana dalamnya dan akhirnya mengelus penisnya. Kulit bertemu kulit.

Bagaikan adegan film slow motion, Intan mengecup pelan kepala penis Pak Jarwo. Cup! Lalu ia mulai menjilati pinggiran penis Pak Jarwo, masih dengan gerakan yang lambat karena Intan ingin meresapi rasa penis yang mungkin akan menjadi penis favoritnya untuk selamanya. Intan menjilat penis Pak Jarwo senti demi senti, sambil menutup matanya bagaikan mencoba pertama kali es krim coklat kesukaannya saat SD.

“Hmm.. mmhh.. umm.. Intan suka rasa Pak Jarwo, mulut ini bakal selalu kangen disentuh kontol Pak Jarwo, hmm.. mmm..” Penis Pak Jarwo makin tegang mendengar Intan berkata kotor seperti itu.

Mulailah Intan memasukkan semua bagian penis Pak Jarwo setelah dirasa cukup basah oleh liurnya. Perlahan, sangat pelan, Intan memasukkan semua ke dalam mulutnya, ia ingin penis tersebut menyentuh ujung tenggorokannya. Lalu juga dengan pelan sekali, Intan melepaskan penis tersebut. Cup! Penis tersebut sudah begitu tegang ketika pada akhirnya Intan menghisapnya, dari pelan perlahan menjadi semakin cepat, cepat dan semakin cepat.

“Uhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. Pak Jarwo.. hmm.. mmhh!!”

“Iya, mbak Intan? Kontol saya sepertinya jodoh sama mulut mbak, hehe..”

Tapi Pak Jarwo tetaplah seorang pria tua, ia tak akan tahan kalau begini terus. Maka dari itu sebelum spermanya keluar, segera ia membangunkan Intan dan menyuruh gadis itu kembali dipangku olehnya untuk mulai memasukkan penis ke dalam liang vagina Intan yang sudah begitu basah. Intan juga berpikir kalau lama-lama, Rangga bisa bangun dan memergokinya bergumul mesra dengan Pak Jarwo. Maka Intan pun naik dan duduk di pangkuan Pak Jarwo, tangannya yang lembut memegang dan mengarahkan penis Pak Jarwo ke dekat bibir vaginanya.

“Uuuhh.. Pak Jarwo.. puaskan saya ya, Pak.. cup!” Intan mencium pipi keriput Pak Jarwo dan menurunkan tubuhnya perlahan-lahan supaya penis Pak Jarwo bisa masuk secara sempurna ke dalam lorong vaginanya.

“Hhhh… saya tidak menyangka bisa ngentot sama mbak Intan. Tenang aja, bukan Jarwo namanya kalau gak bisa muasin memek perempuan, hehe..” Pak Jarwo membantu dengan menaikkan pinggulnya guna menyambut pantat Intan yang semakin turun menyelimuti penisnya dengan kehangatan liang vaginanya.

“Uuhh.. hhh.. mmhh.. uuhh!!” Intan mulai mendesah ketika ia mulai memompa penis Pak Jarwo dengan vagina sempitnya yang bak perawan. Sambil menggenjot, ia meremas rambut Pak Jarwo dan menciumi pipinya.

“Aahh.. mbak Intan! Uuhh.. uuhh.. memek mbak enak banget, belum pernah saya menikmati memek seperti ini, uuhh!” Darah tua Pak Jarwo mulai berganti menjadi darah muda kembali, tangannya mengelus punggung dan pantat Intan yang sedikit demi sedikit mulai berkeringat. Kecipak pertemuan penis dan vagina perempuan dan lelaki berbeda usia ini begitu berisik, untung saja Rangga memang terbiasa bangun siang karena ini hari Minggu. Intan yang mengetahui hal itu menerima saja tumbukan penis di vagina yang sehari-harinya hanya diisi oleh penis kekasihnya.

“Uuuhh.. teruusshh, Pak Jarwoo.. kontol bapak memang tidak ada duanyaaa!!” Selesai berkata seperti itu, bibir Intan mencium, mengulum bahkan seperti akan memakan bibir Pak Jarwo, begitu ganas, liar dan beringas. Intan terbiasa menerima perlakuan seksual yang lembut dari Rangga, tapi sekarang ia menjadi liar karena kenikmatan yang kelewat batas.

“Uuuhh.. uuuhh.. mbak Intan! Ayo ganti gaya, saya mau mbak nungging, saya mau doggy style! Uuhh.. hhhh!” Pak Jarwo merasa bahwa ia harus mengeluarkan spermanya di vagina Intan, kalau bisa menghamilinya.

Intan akhirnya turun dari pangkuan Pak Jarwo dan dengan berpegangan pada sofa, ia menunggingkan pantatnya yang montok ke arah Pak Jarwo.

Pak Jarwo berdiri dan mencoba memasukkannya ke vagina Intan saat tiba-tiba ia berkata, “Mbak Intan yang binal, rayu kontol saya biar mau masuk ke memek mbak dong, hehe..” Dia tersenyum menjijikkan.

“Uuhh.. Pak Jarwo.” Intan mendesah sambil menggoyangkan pantatnya seakan menyambut penis Pak Jarwo yang semakin mendekat ke liang vaginanya. “Ayo dong kontolku sayang, masuk ke memek aku. Aku udah gak tahan banget pengen disodok sama kamu, terus disemprot pake peju, uuhh!” Intan berkata dengan manja sambil memperlihatkan muka sayu, menggigit jarinya sendiri dan itu cukup membuat Pak Jarwo kembali menusukkan penisnya ke vagina Intan dengan ganas!

“Uuuhh.. uuhh.. dasar perek nakal! Mahasiswi emang semuanya bisa dipake! Uuhh.. uuhh! Ini bapak entot! Uuuhh!” Pak Jarwo menggenjot vagina Intan dengan ganas, sambil menampar pantat gadis itu sampai memerah.

”Uhh! Uhh! Uuhh! Uuhh!” desahan mereka saling bersahutan tetapi tetap berusaha untuk tidak terlalu keras. Intan juga ikut menggoyangkan pantatnya dan mencari kenikmatan dengan menggosok kelentitnya sendiri menggunakan jari-jarinya.

“Uuuhh.. uuuhh.. terus, Pak Jarwooo!! Sudah hampir setengah jam berlalu, bapak belum keluar juga! Uuhhh!” Intan terus mendesah, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya!

“Aaahhh.. Pak Jarwoo!! Saya keluaarrrrr!! Aaahhhhh!!” Intan mendorong pantatnya ke belakang dengan keras, ia ingin penis Pak Jarwo menyentuh ujung rahimnya.

“Aaaahhhhh.. nikmatnya, Pak Jarwo.. aahhh.. bapak belum keluar ya? Yuk keluarin aja, Pak, di dalem juga gak papa. Hehe..” Kata-kata Intan yang menggoda membuat Pak Jarwo tidak sabar menyirami vagina mahasiswi kedokteran ini dengan spermanya.

“Aaahh.. aahhh!” Pak Jarwo semakin ganas menusuk vagina Intan sampai suara tumbukan antara pantat Intan dan pinggul Pak Jarwo semakin berisik, untung saja tidak berapa lama kemudian Pak Jarwo merasa bahwa spermanya telah berada di ujung penis dan siap untuk ditembakkan.

“Aaahh.. aaahhh! Memek mbak enak banget! Sumpah saya ndak bohong! Aaahhh.. uuuhh.. saya keluar yaaa.. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!” Dengan satu lolongan kuat dan dorongan yang kuat akhirnya sperma Pak Jarwo meluncur masuk ke dalam rahim Intan.

“Aaaahhh.. akhirnya saya bisa puas ngentot sama memek perempuan kayak kamu, uuhh..” Jatuhlah tubuh tua namun masih bertenaga milik Pak Jarwo ke sofa, ia masih menutup mata dan terengah-engah. Belum benar-benar bangun dari kenikmatan surgawi yang baru ia rasakan.

Intan sendiri juga ikut menyusul merebahkan dirinya di atas tubuh Pak Jarwo, ia bersandar pada dada bidang laki-laki itu sambil memainkan penis Pak Jarwo yang masih sedikit tegang namun sangat basah.

“Hmm.. saya puas banget bisa main sama Pak Jarwo.. hmm, kontol bapak sekarang bebas keluar masuk memek saya deh.. oke pejantanku sayang?” Intan sekarang benar-benar manja dan terlihat tidak mau melepas penis milik Pak Jarwo, ia sudah takluk dan menghamba pada kenikmatan seksual yang diberikan oleh Pak Jarwo.

“Iya, mbak, saya juga puas banget. Hhmm.. ya sudah, pokoknya mbak harus janji selalu sedia memek setiap kali saya sange ya, mbak.. hehe, cup!” Pak Jarwo mengecup kening Intan, membuat perempuan itu semakin terbang melayang.

Akhirnya Pak Jarwo memakai kembali pakaiannya dan pergi dari kontrakan Rangga sebelum hari makin siang dan Rangga kembali terbangun. Sebelumnya, Pak Jarwo dan Intan sempat bertukar liur sebelum mereka berpisah.

Ah, hari yang indah! Intan akhirnya mandi dan pulang meninggalkan Rangga yang sebenarnya.. berpura-pura tidur!!

FATMA

Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari dia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun aku yakin bahwa tubuhnya pasti indah. Namanya Fatma, dia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan jika bersalamanpun dia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi sampai bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost. Aku sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan aku di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali. Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga,

annisa niyan niya jilbab cantik (1)

Ketika aku dan dia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

Hari-hari pertama workshop aku berusaha mendekatinya agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat tugas yang harus diselesaikan secara bersama-sama dalam satu unit kerja.

Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima. Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada saat tidak ada kegiatan workshop, aku sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Selama berdiskusi kadang-kadang Fatma bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan.

Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar. Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih. Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah.

annisa niyan niya jilbab cantik (2)

Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku. Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..

”Ouhh….”, tangannya semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor. Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang. Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata

“Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?”

Dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya. Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku. Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Fatma, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

annisa niyan niya jilbab cantik (3)

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama.

Fatma terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku. Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang.

Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku. Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan tangan kanan merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya..

”Ouhhh….aahhh…”

Kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya

“ouh…ouh…ohhh…..”

annisa niyan niya jilbab cantik (3)

Erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…

Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah. Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis bagian bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis indah ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Fatma melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana

”Aaaihhh…”.

Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku. Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Fatma semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat

annisa niyan niya jilbab cantik (4)

“ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa bagian cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya, walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal

“Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Fatma membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya. Kusingkapkan bagian bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi..,

kemudian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..

”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan… Blessshhh….

annisa niyan niya jilbab cantik (5)

Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan..

“AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…”

Tanpa dapat terkendali Fatma mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Fatma semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Fatma ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya dia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Fatma merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat

“Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..”

kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi

Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

annisa niyan niya jilbab cantik (6)

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama. Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang.

Lalu secara perlahan aku mulai mengayun pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya.

Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku. Perlahan namun pasti, pantat Fatma merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku.

Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan

“Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…”

annisa niyan niya jilbab cantik (7)

Erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Fatma gelagapan sambil berkata terbata-bata

“Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…”

Dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….”

Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan.

Lalu sambil menatapnya

“Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh….

kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya. Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Fatma mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu… Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah.

Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Fatmapun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat

“Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

annisa niyan niya jilbab cantik (8)

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Fatma yang khas… …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Fatma semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Fatma semakin mengerang nikmat…

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Fatma semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi… Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian

“AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….”

Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan. Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk. Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak.

Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh….

annisa niyan niya jilbab cantik (9)

“AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..

”Aaahhh……”

erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semakin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol. Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat

“AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh….

annisa niyan niya jilbab cantik (10)

“Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya. Fatma memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme. Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat

“Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….”

Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat…

Tubuh Fatma ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian… punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Fatmapun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi. Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Fatma yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Fatma barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku.

Aku tak menyangka Fatma yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta…… Mataku menyusuri seluruh tubuh Fatma yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna …… Putih , halus dan mulus…. Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

annisa niyan niya jilbab cantik (11)

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Fatma nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya… Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku.

Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Fatma sepuas-puasnya sampai pagi. Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Fatma terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Fatma dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Fatma kearah kamar.

Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Fatma hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam. Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama.

Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Fatma yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang.

Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya.. Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Fatma menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..

”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Fatma yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Fatma kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat. Lambat laun gairah Fatma kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan

annisa niyan niya jilbab cantik (12)

“uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras

“Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…”

Disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya. Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka, lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin.

Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku. Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat.

Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga……. Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut. Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…

”Uhhhh…..”

annisa niyan niya jilbab cantik (13)

Mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Fatmapun mengaduh.

”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan

“Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Fatma dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah.

”Ouhhhh…. ouhhhh …”

Aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Fatma semakin mengerang nikmat

“Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya….

Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras

“Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Fatma baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini…. Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…

”Bapak…. Benar-benar hebat….”

Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah… Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

annisa niyan niya jilbab cantik (14)

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Fatma mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..”

Dengan kembali dia mengerang nikmat… Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku…. Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…”

Kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya… Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas. Dalam posisi di bawah Fatma menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi… Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku….. Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu. Gerakan pinggul Fatma sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…

”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Fatma mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya…. Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Fatma berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Fatma menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya.,

Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut… Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Fatma yang terangkat mengapit pinggangku. Buahdadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “

Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya. Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Fatma yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah. Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan…. Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Fatma mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas…. Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak…. Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat. Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku… Fatmapun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba…

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik.

“AAkkkkkkhhssss…………..”

annisa niyan niya jilbab cantik (15)

Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian. Creetttt….creeettttt…. cretttt…..

Sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Fatma yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya… Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Fatma yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Fatma sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya. Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Fatma sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Fatma menjerit..

”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?”

Lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis

“Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan tempat ini…!”

katanya marah . Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Fatma terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Fatma benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya.

Dan sampai hari terakhir workshop Fatma benar-benar tidak mau didekati olehku. Setelah aku keluar dari kamar hotelnya, Fatma terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali dia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional. Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya.

Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi.

Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali. Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya. Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku. Hari terakhir workshop, Fatma begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Fatma begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Fatma lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda…

Fatma begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah.

Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Fatma, malam itu Fatma begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan.

Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak. Fatmapun melamun…… Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang.

“Uhhh……”

Tanpa sadar dia mengeluh Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..? Namun buru-buru dia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Fatma setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku.

Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme.

Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya. Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Fatma tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan.

Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah.

Tetap saja Fatma menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah. Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Fatma yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya

“Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan,

“Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”.

Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu. Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

KETIKA IBLIS MENGUASAI 3

Seminggu sebelum memasuki hari raya Ai’dul Adha maka Ustadz Mamat memperoleh tugas lebih banyak daripada biasanya. Selain itu beberapa siswi dari madrasah tempatnya mengajar memiliki suara sangat merdu menarik dan karena itu mereka mempunyai minat untuk mengikuti perlombaan kajian Musabaqqoh Tilawatil Qur’an. Dan untuk pemenang perlombaan di desa ini akan dicalonkan maju ke kontes di daerah propinsi dan selanjutnya untuk memasuki taraf nasional.

Berhubung dengan keadaan ini maka Ustadz Mamat diberikan tugas untuk melatih para calon, dimulai dengan hari Rabu sampai dengan hari Jum’at malam, dengan perkataan lain bahwa Ustadz Mamat akan meninggalkan istrinya, Aida, selama paling sedikit selama tiga hari tiga malam.

Dalam minggu pertama semuanya berjalan lancar dan Ustadz Mamat dapat memberikan kuliah secara sepantasnya di pesantren desa Jamblangan, para pelajar semuanya wanita dalam tingkat kelas tiga mutawassitah (kurang lebih seperti SLTP). Para siswi yang di pedesaan lebih sering disebut santriwati itu berjumlah dua puluh tiga dan usia mereka rata-rata sekitar 15-16 tahun, dalam istilah orang kota lebih sering disingkat ABG alias Anak Baru Gede. Pada umumnya para siswi itu cukup alim saleh dan berkelakuan sopan santun, apalagi di hadapan guru mereka : Ustadz Mamat.

Namun dimanapun selalu iblis mencari mangsa, dan untuk menaklukkan mangsa sangat berharga, yaitu seorang Ustadz, maka iblis memakai anak buah atau kaki tangan, dalam hal ini dalam bentuk dua orang santriwati genit bertubuh amat denok bahenol. Kedua gadis santriwati itu baru masuk usia lima belas tahun, bernama Rofikah dan Sumirah, bertetangga dekat di desa itu. Kedua orang tua mereka cukup berada sebagai pengusaha perkebunan perkebunan karet, sedangkan satunya adalah pemilik perkebunan teh. Dalam kisah yang akan terjadi terlibat pula gadis ketiga bernama Murtiasih alias Asih yang sekali tak perayu, namun kelak juga akan menjadi korban Ustadz Mamat!

Rofikah yang sehari-hari dipanggil Ikah dan Sumirah yang biasa dipanggil Irah merupakan teman akrab, hampir selalu mereka berdua, berjalan bersama dan di sekolah pesantren itupun mereka selalu duduk berdua. Keduanya mempunyai sifat genit perayu dan dengan body yang sangat yahud menantang mereka sangat senang jika diperhatikan oleh para lelaki.

Mereka tak perduli apakah yang mengawasi dan menggoda ketika mereka berjalan adalah anak lelaki muda seusia mereka atau lelaki tua yang bahkan sudah jauh lebih tua dari ayah mereka. Pokoknya mereka berpendapat bahwa tubuh mereka yang memang terlihat sangat montok dengan toket menonjol itu adalah juga pemberian sang pencipta. Jadi mereka dengan sengaja bangga memperlihatkannya penuh kebanggaan dan bahkan merasa mempunyai ‘kekuasaan’ jika para lelaki bersiul-siul melihat goyang pantat mereka!

Karena wajah keduanya banyak kemiripannya maka orang di desa itu sering berbisik-bisik bergosip apakah kedua gadis itu sebetulnya keluar dari ‘satu cetakan’. Alasan daripada gosip itu adalah karena ibu dari Rofikah dan Sumirah adalah kakak beradik, sedangkan ayah dari Rofikah maupun Sumirah tergolong ‘lelaki hidung belang’ yang senang jajan di luar.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa kedua pria itu sangat sering keluar masuk ke rumah kakak/adik ipar mereka sampai jauh malam, dan itu sering pula terjadi jika sang tuan rumah sedang kebetulan keluar. Pola kehidupan mereka tentu saja memberikan pengaruh kepada anak perempuan mereka yang mulai memasuki usia remaja. Rofikah dan Sumirah termasuk anak yang dimanja, mereka memakai busana berbahan mahal, dan meskipun mereka sebagaimana umumnya gadis di daerah desa selalu berpakaian muslimah dengan jilbab, namun cara melirik, tingkah laku dan penampilan genit mereka berlawanan dengan kebiasaan akhwat yang seharusnya alim shalihah. Ketika mereka masuk pesantren itupun tidaklah atas keinginan untuk memperdalam ilmu agama dan memperdalam keimanan, tapi lebih sekedar ikut-ikutan basa-basi.

Setelah memperoleh pelajaran dua kali dari Ustadz Mamat sebagai guru dan mengalunkan suara dalam latihan untuk musabaqoh , mulailah timbul rencana nakal mereka. Dari mulut ke mulut mereka mengetahui dalam waktu singkat bahwa Ustadz Mamat sering bermalam di pesantren itu karena ia tinggal cukup jauh, dan untuk itu Ustadz Mamat harus meninggalkan keluarganya.

Di dalam ruangan kelas, Sumirah dan Rofikah selalu duduk di bangku terdepan berhadapan dengan tempat duduk atau panel kayu dimana Ustadz Mamat selalu berdiri. Mereka sengaja melirik genit ke arah Ustadz Mamat, jilbab yang dipakai agak dilonggarkan sehingga rambut mereka yang ikal keluar, dan dengan suara lantang dibuat-buat, mereka sering mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tak perlu.

Selanjutnya mereka menggesek-gesekkan kaki dan betis secara bergantian dengan perlahan namun ritmis, sehingga kaus kaki yang dipakai menjadi turun melorot akibat gesekan itu. Dengan demikian terlihatlah kaki mereka yang berhias jari-jari mungil dengan kuku terawat dan jari-jari itu pun sengaja mereka gerakkan membuka menutup.

Tak sampai disitu saja, Rofikah dan Sumirah dengan sengaja juga membuka belahan bibir mereka yang terlihat basah mengkilat, mengeluarkan lidah mereka untuk membasahi bibir mereka, dan entah pensil atau ballpoint yang mereka pegang untuk menulis sering dimasuk-keluarkan di mulut mereka, terlihat bagaikan dikulum, dijilat dan dihisap-hisap.

Semuanya itu mula-mula belum disadari oleh Ustadz Mamat, namun sebagai lelaki akhirnya matanya ‘terpancing’ oleh gerakan nakal kedua muridnya itu. Apalagi jika kedua santriwati itu diakhir pelajaran seolah-olah tanpa sengaja menguap dan mengulét meluruskan tubuh dengan menaikkan kedua lengan mereka tinggi-tinggi ke udara, maka terlihatlah busungan kedua gunung montok di dada mereka.

Hanya dalam waktu tiga hari maka Ustadz Mamat mulailah sukar untuk berkonsentrasi sepenuhnya memberikan pelajaran. Sering kalimat yang telah direncanakannya untuk diucapkan ‘menghilang’ begitu saja karena godaan iblis dalam bentuk rayuan kegenitan kedua murid penggoda itu. Namun Ustadz Mamat tetap berusaha melawan godaan yang akan menghancurkan seluruh kehidupannya, ia dengan khusyuk berdoa dan sholat di luar waktu yang pada umumnya. Diharapkannya apa yang terpantau di matanya selama memberikan pelajaran dapat terusir dari benaknya.

Selama mengajar di kelas maka Ustadz Mamat dapat sementara mengalihkan perhatiannya kepada bahan kuliahnya, namun jika ia berada di kamarnya menjelang malam hari sebelum tidur, muncullah lamunan serta rasa kesepian karena ia tak berada di kamar tidurnya sendiri dan tak ada kehangatan tubuh istrinya.

Memasuki minggu ketiga, apa mau dikata Ustadz Mamar jatuh sakit setelah tiba di tempat mengajarnya itu. Tubuhnya panas dingin, sehingga tak mampu mengajar dan hanya dapat tidur hampir seharian di asrama penginapannya di pesantren. Di tengah malam jum’at hitam pekat dengan hujan lebat, ketika dalam keadaan demam menggigil itu maka Ustadz Mamat dengan tubuh berkeringat dingin mengalami halusinasi, ia memasuki situasi alam mimpi bagaikan sedang dihipnotis sehingga kesurupan…

Ustadz Mamat merasakan udara sekitarnya amat dingin hingga menggigil dan gigi-giginya beradu satu sama lain, badannya terasa sangat penat berat dan ia tak mampu menggerakkan kaki tangannya. Samar-samar dilihatnya sesosok tubuh berjilbab mendekati ranjangnya, sosok wanita berjilbab langsing ini meletakkan kain basah dingin di jidatnya sehingga terasa amat nyaman. Sesudah itu wanita berjilbab ini berusaha melepaskan kaos oblong yang dipakainya, dan bukan hanya itu, kain sarung belikat yang dipakai dirasakannya dilepas dari ikatan pinggang, lalu diturunkan ke bawah.

Ustadz Mamat berusaha protes namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya, selain itu kaki tangannya seberat lempengen timah sehingga tak mampu digerakkannya untuk melawan.

“Pssst, pakaian Ustadz yang sudah basah kuyup dengan keringat, jika tak ditukar maka bapak akan semakin sakit. Tenang saja, pak Ustadz, saya hanya ingin menolong.” Samar-samar Ustadz Mamat mendengar suara wanita yang halus dan merdu berbisik di telinganya.

“Siapakah yang sedang menolong dan merawatku saat ini – apakah malaikat, tapi ini… ini… aku kenal dia : istriku sendiri, Aida!” batin Ustadz Mamat.

Ustadz Mamat merasakan bahwa tubuh bagian atasnya kini telah dilepaskan dari kaos oblongnya, dan sesudah itu tubuh bagian bawahnya sebagian besar telah dilolosi dari kain pelikat penutupnya. Ustadz Mamat menggeleng-gelengkan kepala merasakan tak berdaya, sementara tubuhnya dirasakan semakin basah mandi keringat panas dingin. Namun yang sangat diluar dugaannya adalah sesuatu yang halus hangat dengan agak nakal kini menyelinap ke selangkangannya, dan sebelum ia dapat menolak atau mencegah, dirasakannya bahwa penisnya telah keluar dari balik celana dalamnya!

Banyak ahli psikologis mengatakan bahwa mimpi adalah bunga orang tidur dan disaat mimpi sering sekali keluar adegan yang sebenarnya sangat didambakan dalam situasi sehari-hari, namun tak pernah dapat tercapai atau terlaksana. Bayangan wanita berjilbab itu – terutama suara merdunya semakin lama semakin dikenalinya karena telah begitu sering didengarnya setiap hari, namun, namun… tak mungkin, itu tak mungkin, istriku Aida yang demikian alim shalihah pasti tak akan melakukan hal tak senonoh ini! Ustadz Mamat tak mau mempercayai telinga dan matanya yang masih kabur. Ini hanya mimpi, ini hanya fatamorgana. Aku sedang sakit demam panas, sehingga mengigau tak karuan, aku… aku… sebagai lelaki memang terkadang ingin hal ini, tapi… tapi…

‘Penolakan’ Ustadz Mamat yang sedang tak berdaya itu hanya dapat bertahan sementara saja karena dirasakannya bahwa kemaluannya kini dicengkeram dan dicekal di dalam genggaman jari-jari halus. Jari-jari itu kini dengan sengaja naik turun di batang kejantanannya, menyentuh mengusap dan mengelus lembut kepala jamurnya yang telanjang karena disunat. Bagian pinggiran topi baja yang sangat peka itu kini dijadikan sasaran: disentuh dan digesek-gesek tanpa henti, bahkan kini kuku jari tangan yang halus itu menyentuh lubang kencing di tengah kepala penisnya, menyebabkan semakin sering membuka, menutup, membuka bagaikan mulut ikan sedang megap-megap kekurangan oksigen.

Ustadz Mamat berusaha melawan mati-matian perlakuan yang belum pernah dialaminya, keringat semakin mengucur membasahi seluruh tubuhnya sehingga terlihat semakin mengkilat. Semuanya hanya sia-sia saja karena lembing kejantanannya yang selama minggu-minggu terakhir memang kurang teratur memperoleh ‘perhatian’ kini mulai memberikan reaksi, mulai bangun dengan gagah menegang dan berdenyut mengangguk-angguk seolah meminta lebih banyak perhatian!

“Jangan umma, jangan diterusin… bapak sudah sembuh, tinggalkan bapak sendiri!” protes Ustadz Mamat.

“Ini obat yang manjur pak Ustadz, bukan obat biasa… jangan dilawan pak Ustadz, percuma saja. Bapak akan keluar keringat sebanyak mungkin, itu keringat jahat – biarkan keluar…. saya cuma mau nolong, dilanjutkan ya pengobatannya pak Ustadz?”

Tanpa menunggu jawaban Ustadz Mamat yang sedang berkutat melawan proses alamiah kelelakiannya, bayangan wanita berjilbab yang semakin mirip dengan istrinya itu kini menundukkan kepalanya, dan meskipun tertutup jilbab namun terlihatlah apa yang sedang terjadi!

“Aaaaahhh… oooooohhhh… ummu, jangaaan… abba mau diapakan?! Oooooohhh… siiiaaaah… aaaaaiiii…” Ustadz Mamat mengeluh mendesah tak karuan ketika dirasakannya ‘si otong’ kini memasuki ruangan hangat berdinding halus, kepala penisnya mulai disapu dan diusap dibelai oleh… oleh… ini tak mungkin terjadi, tapi… tapi… Ya Allah, istriku sedang mengulum kejantananku!! Bukankah istriku Aida selalu menolak untuk mengoralku karena jijik, tapi kenapa kini dia mau?

Dan benar sekali apa yang diucapkan wanita berjilbab itu: seluruh badan Ustadz Mamat semakin basah kuyup mandi keringat ketika ‘dimanjakan’ oleh bayangan istrinya sendiri, Aida. Oooh… hal ini tak pernah kubayangkan, tapi… tapi… ooooh… dia belajar dari mana? Betapa pandainya Aida mencakup, mengulum, menghisap, menyedot serta membelai pusat kejantananku! Aaaaaah… bahkan liang kencingku kini disodok-sodok oleh ujung lidahnya. Oooooooh… nikmaaaatnya! Bagaimana aku akan tahan terhadap godaan ini?

“Aaaaaaaaaah…!!!” Dan disertai dengan dengusan bagai banteng terluka, maka Ustadz Mamat menyemburkan air mazinya. Karena sedang demam maka lahar kelelakiannya pun dirasakan sangat panas menyemprot di saluran dalam penisnya. Namun berbeda jika ia sedang bermasturbasi ketika masih bujangan, maka kali ini tak ada setetespun yang berceceran membasahi selangkangannya, jadi berarti… ini artinya… istrinya telah menelan semuanya dengan lahap… apakah benar begitu?

Ustadz Mamat ingin melihat dan bahkan menekan kepala istrinya yang tertutup jilbab itu ke arah selangkangannya agar semua spermanya dapat ditelan oleh Aida, namun… namun… dimanakah wanita dalam bayangan mimpinya yang telah memberikannya kenikmatan tak terhingga itu?

Perlahan-lahan Ustadz Mamat sanggup menegakkan tubuh bagian atasnya, dan dengan kecewa tak dapat ditemukannya istrinya, Aida – apakah semua itu hanyalah imajinasi, hanya khayalan? Namun mengapa tubuhnya yang penuh keringat itu kini terasa lebih mantap, lebih nyaman, dan gigilannya menghilang! Benarkah apa yang dikatakan bayangan wanita berjilbab itu bahwa semua ‘keringat jahat’ yang menyebabkan demamnya kini telah keluar disedot dan dihirup oleh si wanita berjilbab tadi – dimanakah dia…?

Ustadz Mamat merasa sangat lelah sehingga tak terasa ia kembali tertidur pulas.

Esok harinya Ustadz Mamat berusaha memberikan pelajaran lagi, tubuhnya masih dirasakannya belum mantap seluruhnya, juga kepalanya masih agak pusing dan berat, namun demamnya telah menghilang, itu yang terpenting. Hari itu Ustadz Mamat memberikan bahan pelajaran yang ringan saja, juga dengan hikmat didengarkannya suara murid-muridnya yang berlatih musabaqoh tillawatil itu.

Diusahakannya agar semua perhatiannya tertuju kepada bahan pelajaran, namun kedua penggoda yang duduk di barisan depan kembali melakukan segala macam upaya untuk menarik perhatiannya. Ustadz Mamat selalu mencoba menghindarkan pandangan matanya ke arah Rofikah dan Sumirah yang genit itu. Kedua pelajar itupun tak banyak diberikan kesempatan untuk bertanya, sehingga kedua murid ini semakin penasaran, dan iblis yang mendalangi Sumirah dan Rofikah juga tak mau begitu saja menyerah mentah-mentah.

Iblis yang telah berhasil menggoda Ustadz Mamat di dalam mimpi erotis disaat demam itu kini memakai kelemahan Mamat sebagai laki-laki normal yang telah mengalami kenikmatan di-oral, pasti pengalaman ini sangat menyenangkan dan ingin dialami kembali! Jika kedua murid yang genit itu tak langsung berhasil menggodanya, maka sang iblis mengganti siasat : mungkin Ustadz Mamat justru akan tergoda oleh gadis yang alim shalihah seperti istrinya sendiri.

“Istrimu sudah dijadikan budak seks-nya pak Sobri, bahkan adikmu Farah juga telah digarap oleh pak Burhan, kini giliranmu untuk terjerumus jurang nista, ini akan kuatur,” demikian rencana iblis!

Sering duduk di barisan depan namun agak menyamping adalah seorang santriwati termuda serta tercantik bernama Murtiasih atau lebih sering dipanggil dengan nama panggilan sehari-hari Asih.

Berbeda dengan Sumirah dan Rofikah, maka Murtiasih berpakaian sehari-hari sangat sederhana dengan bahan biasa saja. Ia tidak memakai make-up untuk pipinya, maskara untuk alis matanya, lipstik untuk bibirnya, atau perhiasan mahal menyolok, kuku jarinya pun terawat rapih alamiah tanpa diberikan warna tambahan apapun. Semuanya itu justru lebih memberikan daya tarik, ibarat bunga desa yang murni tanpa cacat cela. Badannya yang kecil ramping mulai menunjukkan tanda-tanda kewanitaan yang baru bersemi bagaikan putik bunga masih kuncup namun ujung atasnya mulai merekah dan menimbulkan hasrat untuk lebah menghisap madunya.

Iblis mengetahui hal ini dan ‘lebah’ yang akan dipakai oleh sang iblis adalah dalam bentuk lelaki yang sedang kesepian. Ustadz Mamat diawal mula tidak memperhatikan adanya santriwati cantik manis ini, karena Asih tak banyak bicara, duduk tenang di kelas menyimak pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Di waktu istirahat pun Asih umumnya memakai kesempatan untuk membaca serta mengulang bahan pelajaran yang baru diterimanya, dan usai sekolah maka Murtiasih langsung pulang tanpa méjéng ke tempat lain.

Perhatian Ustadz Mamat terhadap gadis ABG Asih sebagai akibat godaan iblis baru muncul setelah pengalaman khayalan mimpi saat menderita demam panas. Di hari-hari berikutnya barulah Ustadz Mamat ‘menyadari’ bahwa dalam kelas yang diajarnya ada seorang gadis muda belia, ayu cantik manis alamiah tanpa memakai tambahan apapun, selalu berkelakuan sopan santun, dan lemah lembut.

Berbeda dengan Irah dan Ikah yang berusaha menampilkan tonjolan tubuh mereka yang sexy, maka Asih selalu menghindarkan perhatian mata lelaki dengan bertingkah lalu sewajar mungkin. Namun biar bagaimana pun secara alamiah Asih tidak mungkin mencegah pertumbuhan badannya yang semakin padat dan sintal : di atas pinggangnya nan langsing semakin membusung gundukan daging di dadanya, sedangkan di bawah pinggangnya terlihat pinggul serta pantat bulat bahenol yang bergoyang ke kiri dan ke kanan serta berputar sangat lembut jika ia sedang berjalan.

Asih tak menyadari sama sekali bahwa dirinya kini menjadi pusat perhatian dari tiga orang! Tidak hanya Ustadz Mamat yang semakin lama semakin tertarik kepadanya, tetapi ada dua orang sekelas dan sesama jenis yang merasakan ‘kalah persaingan’ yaitu Ikah dan Irah! Keduanya tak mengerti mengapa perhatian Ustadz Mamat kini lebih menjurus kepada Asih yang mereka anggap ‘mentah’ dan tak mempunyai keistimewaan sama sekali. Mengapa usaha mereka menonjolkan keindahan tubuh mereka yang sexy tak berhasil mengundang mata Ustadz Mamat, sedangkan Asih dengan kecantikan alam sekedarnya dan tubuh ABG yang baru ‘melentis’ mempunyai daya tarik lebih?!

Rasa kejengkelan dan kekecewaan yang semakin terpendam perlahan-lahan berubah menjadi dendam dan memang hal ini merupakan bagian dari kehebatan dan kelicikan iblis dalam mengadu domba anak manusia sehingga menjadi ‘buta’. Semakin manusia kehilangan akal sehatnya dan saling membenci sehingga akhirnya gontok-gontokan dan bahkan saling membunuh seperti yang terjadi di pelbagai tempat di dunia pada saat ini, maka semakin senanglah iblis yang menyeringai dan tertawa terbahak-bahak.

Ikah dan Irah mengasah otak mereka yang telah dipengaruhi iblis : jika mereka berdua tak berhasil langsung menjebak Ustadz Mamat, maka biarlah Asih dijadikan ‘korban’ terlebih dahulu.

‘Kegagalan’ mereka mendekati Ustadz Mamat adalah karena adanya Asih, oleh karena itu saingan muda belia itu biarlah digarap oleh Ustadz Mamat. Namun peristiwa perlecehan sang Ustadz terhadap Asih itu akan direkam dan dijadikan senjata ampuh untuk ‘menguasai’ Ustadz Mamat – dengan demikian maka secara tak langsung akhirnya Ustadz Mamat akan dapat takluk dan tunduk kepada Ikah dan Irah untuk memenuhi keinginan seks mereka, sedangkan Asih pun telah ternoda…

Untuk melaksanakan rencana itu, mereka akan membayar tukang sapu pembersih pesantren di situ : mang Jamal namanya – duda berusia lima puluh dua tapi masih tegar gagah perkasa dan gemar pada daun muda.

Karena Asih sifatnya sangat alim dan sukar diajak untuk pergi mejeng seperti gadis remaja lain seusianya, maka harus dicari akal untuk menjebaknya – dan mereka mencari ‘kelemahan’ alias ‘ke-naif-an’ Asih, terutama sifatnya yang selalu bersedia menolong orang yang sedang kesusahan.

Setiap hari Jum’at para santriwati di pesantren itu hanya mendapatkan pelajaran beberapa jam dan sebelum jam sebelas mereka sudah dibubarkan untuk memberikan kesempatan sholat jum’at. Kesempatan ini dipakai oleh Ikah dan Irah serta mang Jamal yang sudah dibayar oleh keduanya dan menjadi kaki tangan mereka. Mang Jamal diberikan petunjuk bagaimana merekam adegan terlarang Ustadz Mamat dengan Asih menggunakan handphone mereka, dan bahkan dijanjikan bahwa setelah Murtiasih dikorbankan kepada Ustadz Mamat, maka setelah itu juga boleh ‘dicicipi’ oleh Mang Jamal!

Tentu saja mang Jamal sangat senang memperoleh tawaran luar biasa itu, ibarat dapat lotere dobel: bukan saja memperoleh duit, namun juga bisa mengintip dan merekam adegan terlarang, bahkan sesudah itu dapat menikmati tubuh muda Murtiasih. Mang Jamal dengan ukuran rudal luar biasa dan berpengalaman begitu banyak dengan wanita di desa selama ini yakin bahwa apa yang akan dialami Murtiasih ketika kehilangan kesuciannya pertama kali dengan Ustadz Mamat tak akan dapat dibandingkan dengan apa yang akan dirasakannya di dalam cengkraman ‘aku Mang Jamal, si pejantan tangguh!’

Sehari sebelumnya yaitu hari Kamis, Ikah dan Irah telah memberikan perintah kepada mang Jamal agar membawakan minum air seperti biasanya kepada Ustadz Mamat ketika mengajar di kelas. Namun di hari Jum’at ini minuman air ditambah dengan obat tidur yang diambil oleh Ikah dari kamar tidur ayahnya yang memang mempunyai gangguan sukar tidur, sehingga mendapatkan obat penenang dari dokter. Selain itu dicampuri pula ramuan obat kuras perut desa untuk membuat Ustadz Mamat pusing dan perutnya sangat mulas, sehingga tak lama kemudian ia memohon maaf permisi dengan tergesa-gesa dan mengundurkan diri langsung kembali ke kamarnya sendiri di asrama pesantren itu.

Di asrama pesantren hanya terdapat tiga kamar tidur, sebuah kamar mandi dan WC yang letaknya di belakang. Juga ada sebuah WC kecil untuk pengunjung yang terletak di depan di daerah kamar penerima tamu. Kamar tamu itu hanya sederhana dengan sebuah meja kecil, dua kursi dan sebuah bangku panjang.

Mamat sebenarnya ingin melanjutkan memberikan kuliahnya, oleh karena itu ia merebahkan diri dibangku panjang kamar tamu yang kebetulan letaknya paling dekat dengan WC kecil, namun keinginannya kalah dengan rasa lemas dan ngantuk hingga ia tertidur pulas di bangku panjang itu.

Pimpinan pesantren terpaksa memberikan izin jam bebas untuk para siswi dengan anjuran mengulang apa yang telah diberikan, sambil menunggu waktu sholat tengah hari sebelum para siswi diperbolehkan pulang. Namun karena waktu menunggu sangat lama maka para siswi umumnya meminta izin pulang untuk melakukan sholat di desa kediaman masing-masing, dan karena pemimpin pesantren kebetulan mempunyai urusan penting dan juga ingin pulang lebih dahulu maka akhirnya permintaan para siswi dikabulkan. Terkecuali Asih yang memang selalu baru dijemput oleh adik laki-lakinya dengan motor, setelah sang adik ini sendiri sholat di masjid jami’ dekat tempat kerjanya sendiri sebagai montir motor.

Ikah dan Irah tahu bahwa Asih akan tetap berdiam di kelas sambil menunggu waktu untuk sholat dan dijemput adik laki-lakinya itu, dengan pelbagai alasan kedua kaki tangan iblis itupun tetap berada di kelas dengan alasan juga akan dijemput. Tanpa curiga apapun Asih juga menerima tawaran minum air yang dibawa oleh Ikah, sangat segar kata Ikah, memakai sari kelapa muda dengan campuran aroma jeruk. Air minum itu memang sangat menarik aromanya seperti yang dikatakan Ikah, namun dicampur pula dengan obat tidur yang dipakai oleh ayah Ikah dari dokter .

Setelah lewat sekitar sepuluh menit dan yakin bahwa tak lama lagi obat tidur itu akan mulai bekerja, maka kedua siswi yang penuh akal licik itu mengajak Asih berjalan-jalan sebentar di kompleks pesantren untuk menghirup udara segar sambil melemaskan kaki, tawaran yang mana diterima Asih karena mulai merasa ngantuk sehingga telah beberapa kali menguap panjang.

Tanpa curiga Asih yang sangat polos dan sangat lugu itu ikut berjalan di luar, melihat-lihat tanaman bunga yang baru saja ditanam pak Jamal. Tanpa terasa dan tanpa disadari Asih, mereka semakin mendekati bangunan dimana disitu terdapat kamar para dosen, termasuk kamar yang dipakai oleh Ustadz Mamat – bangunan yang juga dikelilingi oleh semak pohon tinggi, dimana pak Jamal telah menunggu mangsanya…!

Ketika Asih telah cukup dekat dengan semak belukar tempat persembunyiannya, maka meloncatlah pak Jamal ke belakang Murtiasih dan hanya dengan satu pukulan keras di belakang leher, santriwati cantik itu pun langsung jatuh pingsan. Sebelum tubuh Asih jatuh ke tanah, maka Ikah dan Irah langsung menopang dari kiri kanan, sedangkan pak Jamal menyanggah dari belakang sambil memeluk pinggang langsing Asih.

Kesempatan itu dipakai oleh si lelaki hidung belang untuk merasakan betapa lembutnya tubuh santriwati Asih, terutama ketika kedua tangan jail pak Jamal sempat menjangkau ke depan dan menyentuh buah dada Asih. Dengan sangat perlahan-lahan ketiga orang itu membopong Asih dan membawanya ke bangunan di belakang pesantren, dimana terdapat beberapa kamar tidur yang diantaranya dipakai oleh Ustadz Mamat. Sebagai orang yang bekerja membersihkan kompleks pesantren situ maka pak Jamal tahu persis dimana kamar Ustadz Mamat berada, dan kesitulah mereka bertiga membopong tubuh Asih.

Setelah mengintip ke dalam dan melihat bahwa Ustadz Mamat masih tidur nyenyak, mereka dengan sangat hati-hati membopong Murtiasih melewati kamar tamu di asrama pesantren itu, sambil melihat betapa nyenyaknya Ustadz Mamat tidur sehingga mendengkur keras, mereka menuju ke belakang dan meletakkan Murtiasih di ranjang kamar tidur yang biasa dipakai oleh Ustadz Mamat.

Ketiga manusia penuh akal bulus dan telah dipengaruhi iblis itu kemudian keluar lagi, pak Jamal membawa bantal guling dari kamar tidur disitu, lalu berjingkat di depan jendela depan yang selalu terbuka dan letaknya tak jauh dari bangku panjang dimana Ustadz Mamat masih terlelap, lalu dilemparkannya bantal itu ke arah Ustadz Mamat sehingga akhirnya si guru agama ini pun terbangun.

Meskipun masih merasakan agak ngantuk dan kurang mantap, Ustadz Mamat memaksakan dirinya untuk ke belakang dimana ada wastafel dan disitu dibasuh serta dicuci mukanya sehingga terasa matanya agak segar. Dilihatnya jam tangannya yang telah menunjukkan jam setengah sebelas siang, lalu diingatnya kembali apa yang telah dialaminya tadi pagi ketika merasa pusing, sakit perut, mulas dan ngantuk tak tertahankan, sehingga ia mengundurkan diri kembali ke kamarnya ini.

Ustadz Mamat menyadari bahwa pasti murid-murid nya sudah pulang dan bubaran, dan tugasnya telah selesai minggu itu, tak ada yang dapat dilakukannya lagi selain pulang naik bus ke desanya. Dengan langkah lunglai ia memasuki kamar tidurnya dengan niat membereskan pakaian, dan bagai terkena sihir, Ustadz Mamat berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, matanya membelalak melihat sosok tubuh anak gadis ramping, meskipun masih sangat muda namun telah terlihat lekuk likunya yang sangat jelas. Selain itu kain sarung penutup bawahnya agak tersingkap sehingga kaki betis nan mungil dengan jari-jari mungil agak kemerahan tampak jelas, dan wajahnya… itu Murtiasih !!!

Kaki Ustadz Mamat terasa gemetar, tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Kenapa muridku berada di dalam kamarku – apa yang terjadi, apa yang harus kulakukan sekarang ? Aku telah mengundurkan diri dari memberikan pelajaran tadi karena alasan tak enak perut. Jika aku lapor bicara dengan siapapun maka pasti aku dituduh dengan sengaja kembali ke kamarku karena ingin melakukan hal tak senonoh dengan muridku sendiri. Apakah aku tunggu saja atau aku bangunkan Murtiasih lalu aku lepaskan ia pulang ke rumahnya? Aku sendiri sudah ingin pulang ke rumah, jadi ya sebaiknya akan aku usahakan membangunkan muridku ini.

Setelah mengambil keputusan maka Ustadz Mamat dari ambang pintu mulai memanggil nama muridnya agar terbangun. “Murtiasih, Asih, Asih, bangunlah nak… udah siang nih, bangunlah dan pulang balik ke rumah… udah usai semua, bangunlah, Asih… bangun!!” Ustadz Mamat berusaha membangunkan dengan suara lembut agar tak mengejutkan muridnya.

Namun Murtiasih masih tidur pulas sehingga akhirnya Ustadz Mamat melangkah lebih maju dan mendekati tepi kasur, disaat mana Murtiasih menarik kakinya sehingga kain sarungnya tersingkap. Sangat tergugah semangat Ustadz Mamat ketika melihat pemandangan yang sama sekali diluar dugaannya akan muncul, sementara iblis mulai membisikkan dan menghasut di benak Ustadz Mamat.

“…lihatlah kaki mungil itu, lihatlah pergelangan kakinya yang sedemikian langsing, lihatlah betis bagai tanaman padi Cianjur, lihatlah betapa putih mulus kulitnya, dekatilah, sentuhlah, usaplah…”

Beberapa menit Ustadz Mamat berusaha menggunakan akal sehat dan nuraninya sebagai guru agama, namun godaan iblis ternyata semakin kuat. Mata Ustadz Mamat semakin terpukau melihat kaki dan betis mulus Murtiasih, darahnya semakin berdesir, tanpa disadari si otong di selangkangannya mulai terbangun.

“…ayohlah, tunggu apa lagi? Tak ada manusia yang melihat, kamu sangat menderita berhari hari tak berada di ranjang dengan istrimu, tak menjamah istrimu, tak menggarap istrimu, siapa tahu dia bahkan mempunyai lelaki lain yang menggaulinya, apa salahnya kalau kamu bergaul dengan wanita lain – apalagi ini muridmu sendiri yang kamu tahu amat alim shalihah, pasti belum pernah disentuh lelaki, ajari dia nikmatnya bercinta, kamu laki-laki pertama yang…”

Perlahan-lahan Ustadz Mamat melepaskan semua baju yang dipakainya , kini ia hanya memakai celana dalam saja. Setelah itu ia duduk di tepi kasur yang cukup lebar untuk dua orang itu dimana Murtiasih terbaring, lalu dengan perlahan Ustadz Mamat merebahkan dirinya di samping sang murid. Disentuhnya pipi Asih yang sedemikian licin, didengarnya hembusan nafas sangat lembut dan halus dari hidung gadis itu, diusapnya pipi Murtiasih lalu jarinya turun mendekati sudut bibir merah muda yang terlihat agak basah mengkilat sedikit terbuka. Ustadz Mamat tak sanggup lagi menahan gejolak birahinya dan pada saat bersamaan, Murtiasih membuka matanya dan langsung menjerit dan sekaligus berusaha bangkit serta bangun dari posisi rebahnya.

“Eeehmmmfpppffh… aummmppph… eemmmssshhhppph… ennnnnggghh…” teriakan Murtiasih langsung teredam oleh mulut Ustadz Mamat yang dengan bibir tebalnya menciumi secara rakus. Berbeda dengan disaat ia bercinta dengan Aida istrinya, maka kali ini benak Ustadz Mamat sudah dikuasai oleh iblis sehingga semua tindakannya menjadi kasar.

Seolah diberikan bantuan energi gaib maka tenaga Ustadz Mamat pun menjadi berlipat ganda, tubuhnya yang hanya memakai celana dalam kini menindih badan mungil muridnya. Kedua tangan Murtiasih yang berusaha mendorong dada Mamat dicekal pergelangannya dan ditekan ke kasur di atas kepala hanya dengan satu tangan kiri, sedangkan tangan kanan Ustadz Mamat berusaha membuka beberapa kancing penutup kebaya si gadis baru remaja itu.

Tak lama gamis berwarna putih milik Murtiasih telah terbuka dan muncullah dua gundukan bukit mungil tertutup BH krem. Murtiasih yang telah ditindih tak berdaya itu menggeliatkan tubuhnya mati-matian ke kiri dan ke kanan bagai cacing kepanasan, tapi hal ini justru semakin memacu nafsu birahi guru agama yang sedang kesurupan itu. Akibat gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan dalam usahanya menghindarkan ciuman buas, lepaslah jilbab penutup kepalanya, sehingga rambut hitam pekat ikal bergerai ke samping dan ke bahu Asih, menambah cantiknya wajah gadis muda itu.

“Tolooooong… lepaskaan! Ustadz mau apa? Jangaaaan… pak Ustadz! Ingaaaat… sadaaar… insyaaaaaflah… pak Ustadz! Ini perbuatan jahanaam… sialaaaan… paaak Ustadz… jangaaaan!!” demikian teriakan Murtiasih ketika ciuman Ustadz Mamat kini beralih ke arah telinganya, menghembus dan menjilat-jilat disitu, menyebabkan rasa geli dan nikmat.

Namun Ustadz Mamat sudah sepenuhnya dikuasai oleh setan, dengan ganas ciuman dan kecupannya menjalar ke leher jenjang yang putih, disedot dan digigit-gigitnya kecil kulit halus Murtiasih, sehingga langsung muncul bekas cupangan berwarna merah yang tentu saja menimbulkan rasa bangga di benak sang Ustadz. Hanya dalam waktu sangat singkat pergulatan antar dua insan dengan tenaga tak sebanding itu telah menunjukkan siapa pemenang dan siapa yang akan menjadi korban.

“Hmmmmmhh… wanginya kamu, Asih. Badanmu harum, bapak tak tahan… jangan melawan ya, bapak ingin menyayangi kamu… tak akan menyakiti kalau kamu tak melawan, relaks dan nyerah saja!!” ujar Ustadz Mamat berusaha menenangkan gadis manis di bawah tindihannya yang kini mulai menangis terisak-isak.

Sambil tetap menindih tubuh mangsanya, Ustadz Mamat kini telah berhasil menyingkap BH Murtiasih ke atas, dan terlihatlah bukit kembar yang sedemikian indahnya, tidak besar namun sangat sekal, padat ranum berputing coklat muda kemerahan mengacung indah mengundang setiap lelaki untuk menyentuh. Demikian pula Ustadz Mamat yang langsung meremas buah dada kanan Murtiasih dengan tangan kanannya, sedangkan mulutnya segera mengatup buah dada kiri dengan penuh kegemasan, sementara kedua pergelangan tangan Murtiasih tetap dicengkeram dan direjang di atas kepalanya.

“Bukan main legitnya nih tetek, bapak jadi gemes geregetan… bapak remes-remes ya, siapa tahu bisa keluar susu asli, hhhhmmmmmm… ini pentil kayak kerucut, pasti enak dihisap dan dikenyotin… nduk geulis pasti geli ketagihan, duuuuh… enggak tahan lagi bapak pingin gigit biar nduk ngerasain ngilu,” celoteh Ustadz Mamat yang benar-benar telah kehilangan kesadaran dan martabatnya.

“Auuuuh… auuuuw… engggaaak mauuu… toloooong… oooooh… ngiluuuuu, paaaak Ustaaadz… jangaaan… aiiiiih… auuwww… sakiiiiiit… udaaaah… Asih enggak mau… lepasin Asih… kasihani Asih, pak Ustadz… tolooong…”

“Hehehe… tahan dikiiit, nduk… pasti nanti geli keenakan… ntar malahan minta lagi, ketagihan kamu…” lanjut Ustadz Mamat sambil tak henti-hentinya gencar meremas, memilin, menghisap, dan menggigit-gigit puting yang semakin mengeras dan peka itu.

Murtiasih semakin tak berdaya dan lemas menghadapi serangan bertubi-tubi dari guru bejatnya, namun di ujung-ujung pembuluh syaraf di tubuhnya yang remaja kini mengalir dan bergejolak rasa hangat dan nyaman sebagai jawaban dari rangsangan yang diterimanya. Rasa nikmat mulai menguasai pori-pori kulitnya, menyebar dari kepala ke seluruh tubuhya – terutama di bagian yang diraba, disentuh, d usap, dan diciumi serta digigiti oleh Ustadz Mamat, menjadi semakin peka, penasaran ingin menagih lebih banyak lagi.

Baju kurung panjang yang dipakai Murtiasih telah semakin tersingkap akibat pergulatannya dengan Ustadz Mamat, apalagi ketika tangan kanan guru bejatnya itu mulai menurun dari buah dadanya ke arah perut, meraba dan menggelitik pusarnya yang cekung. Tak lama kemudian tangan itu semakin mengembara ke bawah pusar, menyelinap semakin turun, dan terus turun ke dalam ke arah bawah mencari ‘harta karun’ yang amat mahal. yang tak mungkin bisa dibeli dengan apapun, dan hal ini membuat Murtiasih sementara sadar dan kembali meronta-ronta, namun Ustadz Mamat semakin gigih menindihnya, sehingga Asih semakin pengap dan merasakan sukar bernafas ditindih tubuh lelaki untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya.

“Udaaah… jangaaaan… toloooong, paak Ustadz… Asih masih perawan… ooooh… kasihani Asih, paak… huuuuu… ngggaaak maaauuu… lepasin Asih, paak Ustadz… saya enggak akan bilang siapapun… Asih mau pulang, pak…” pinta Asih dengan suara memelas disela-sela isak dan tangis sesenggukannya.

“Sssssh… anak manissss, ssssh… Asih sayang, kamu makin cantik… nikmati sajalah… rasakan nikmatnya… Asih mulai basah juga kan, hehehe…” Ustadz Mamat semakin beringas dan jarinya telah menyentuh bagian tengah celana dalam muridnya yang ternyata memang terasa basah melembab.

“Hhhhmmmm… ayoooh ngaku, nduk bahenol… udah pengen pipis ya? Ayolah… tak usah ditahan… nanti bapak jilati…” Ustadz Mamat semakin naik nafsu birahinya ketika meraba bukit kemaluan Asih yang membasah.

Tubuh kedua insan berlainan jenis itu telah mandi keringat akibat pergumulan mereka, seorang Ustadz yang telah dipengaruhi iblis berusaha merenggut kegadisan muridnya, sedangkan sang murid berusaha mempertahankan mati-matian milik satu-satunya yang seharusnya akan dipersembahkan kepada sang suami setelah upacara resmi akad nikah dan pengucapan ijab kabul nanti.

Meskipun Mamat telah menikah dengan Aida, seorang wanita alim cantik jelita [kini telah menjadi korban nafsu birahi pak Sobri, baca kisah sebelumnya], namun iblis telah mempengaruhinya serta membujuknya untuk menikmati kembali bagaimana rasanya merenggut keperawanan seorang gadis ABG.

…sangat berbeda menikmati sebuah lubang yang telah sering kamu pakai dibandingkan celah hangat sempit yang tak pernah dilewati kemaluan lain, banggalah jika kejantananmu memperoleh kesempatan pertama menembus selaput tipis ABG itu. Bayangkanlah wajahnya meringis menahan sakit disertai rintihan memilukan memohon ampun, alangkah bedanya memasuki lubang istrimu yang sudah sering digauli...” Demikianlah bisikan iblis telah merasuki dan memenuhi benak Ustadz Mamat!

Ustadz Mamat kini telah melepaskan celana dalamnya sendiri dan tercengang bahwa kemaluannya sedemikian tegang keras mengacung bagaikan meriam sundut zaman baheula. Tak pernah selama ini dirasakan alat kejantanannya itu sedemikian gagah perkasa dan mendadak muncul lagi impian yang dialami ketika sakit demam. Diingatnya bahwa rudalnya dimanjakan, disepong, dikulum dan dijilat, serta dihisap oleh wanita gaib mirip dengan Aida, istrinya sendiri. Namun Ustadz Mamat tahu bahwa istrinya yang sedemikian alim mukminin tak akan mau melakukan hal yang selalu dikatakannya haram serta sangat menjijikkan itu. Kini timbullah keinginannya untuk merasakan hal itu dilakukan oleh seorang gadis murni tulen yang belum pernah disentuh oleh lelaki.

Aah… betapa bahagianya aku, pikirnya… Namun gadis demikian alim ini pasti takkan mau menyerah begitu saja – terkecuali mungkin jika dimulai dengan rangsangan sama, yaitu jika akulah yang memulai merangsangnya habis-habisan secara oral.

Dengan tekad baru yang dibantu bisikan iblis, maka Ustadz Mamat mengerahkan seluruh tenaganya untuk segera melepaskan pakaian muridnya. Bagaikan singa yang mencabik-cabik kelinci lemah, kedua tangan dan kaki Ustadz Mamat bergerak sedemikian sigap dan cekatan melepaskan melucut ke bawah dan ke atas semua busana penutup tubuh dan aurat Murtiasih. Bagaimanapun gadis malang itu berusaha untuk melawan, sang iblis seolah melemahkan daya tahannya, sedangkan tenaga Ustadz Mamat seolah berlipat ganda. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, sempurnalah kedua tubuh insan itu telanjang bulat, tubuh Murtiasih kuning langsat ditindih oleh badan Ustadz Mamat yang hitam legam.

Ustadz Mamat kini merosot turun ke bawah untuk menciumi perut halus nan datar milik Murtiasih, dijilat-jilatnya pusar gadis itu hingga ia menggelinjang ke kiri dan ke kanan merasakan kegelian, apalagi ketika bibir rakus Ustadz Mamat mencucup serta menyupangi bagian bawah pusarnya, juga mendengus ke arah lipatan paha kiri kanan. Murtiasih kini merasakan sangat malu namun sekaligus nafsunya makin tergelitik disaat bukit venusnya disentuh.

“Uummmh… wanginya nih paha, bageur euy… putih licin mulus… enak ya neng, diusap? Dijilat juga enak ya, neng… bapak ciumin sambil digigit mau ya, neng? Uuummmhh…” puji Ustadz Mamat tak ada habisnya.

Murtiasih berusaha mengelak dan menendang dengan kakinya sambil mencoba membalikkan serta menggulingkan diri, tapi Ustadz Mamat telah menduga gerakan perlawanan ini. Kedua paha Murtiasih yang putih mulus itu langsung dihempaskan ke atas bahunya, sehingga terjuntailah betis langsing bak padi cianjur yang membunting memukul lemah ke punggung sang Ustadz. Dalam posisi tak berdaya itu, Murtiasih kembali merasakan kedua buah dadanya menjadi sasaran remasan kasar tangan Ustadz Mamat, terutama putingnya dipilin dan dicubit tak henti-henti, menyebabkan rasa ngilu dan nyeri tak terkira.

Namun yang sama sekali tak diduga adalah mulut Ustadz Mamat disertai nafas hangatnya melekat dan mengendus bukit kemaluannya, tak hanya sampai disitu saja, tak lama kemudian mulut itu mulai bermukim di gerbang kegadisannya, lalu terasa juluran lidah basah bagaikan ular mencari jalan di antara bulu halus kemaluannya, menyelinap ke dalam dan menjilati dinding celah surgawinya.

“Huhuhu… jangaaan, paaak… Asih tak mau diginiin… huhuhu… insyaaflah, pak… belum terlambaat… oohh…. aaahhh… sssshhhh… nnnggggaak maaauu… udaaaah… lepaaaasin… Asih mau pulaaang… aaaah… oooh…”

“Hmmmmh… wangi amat memek gadis alim belon pernah dicowel lelaki ini… licinnya nih bibir bawah, merah muda lagi… tuh kelihatan lobang pipisnya, hhhhhhmmmh… ada bulan sabit tipis, pasti selaput gadis… emang betul kamu belon pernah dijamah lelaki ya… ooooh… bapak jadi yang pertama nih,” tiada henti Ustadz Mamat menjilat, mengecup liang kenikmatan Asih sambil geram mengaguminya .

Perhatian Ustadz Mamat beralih ke lipatan atas bibir kemaluan Murtiasih, dimana tonjolan daging bagaikan penis kecil mengintip keluar. Tanpa ragu lagi jilatan serta ciuman si Ustadz yang dikuasai iblis kini menuju ke situ. Murtiasih menggeliat menggelinjang dan meronta sekuat tenaga karena ia merasakan untuk pertama kalinya ibarat disengat aliran listrik, pahanya membuka mengatup liar, menekan menjepit kepala pemerkosanya yang semakin menggiatkan rangsangannya tanpa kasihan.

“Oooooohhh… aaaaahhhh… paaaaakk, udaaaaah… ssssshhhh… hmmmsssh… ooooooh… lepasin, paaaak… Asih mesti ke belakang… aaaaahh… tolooooong, paaaak… Asih mauuu pipiiiiiiss… aaauuw… aaaahhhh…” dengan teriakan melengking disertai lengkungan tubuh mengejang ke atas, Asih mengalami orgasmenya yang pertama, sementara Ustadz Mamat merasakan betapa bibirnya basah kuyup oleh air mazi yang berlimpah ruah.

Ustadz Mamat sangat puas melihat hasil usahanya merangsang gadis manis ABG yang masih polos dan lugu itu. Kini Murtiasih telah mengalami pertama kalinya kenikmatan badaniah, telah tiba saatnya untuk pengalaman itu diperluas dengan menjadikannya seorang wanita dari seorang gadis.

Mamat meletakkan bantal di bawah pinggul Murtiasih sehingga semakin terangkat meninggi, lalu diletakkannya kembali kedua paha putih mulus yang masih bergetar halus disertai kejangan lemah ke atas pundaknya. Dimajukannya letak tubuhnya sendiri sehingga sendi paha Murtiasih menekuk ke arah buah dadanya sejauh dan semaksimal mungkin, dalam posisi mana terlihat belahan vagina Murtiasih yang telah basah oleh cairan lendir kewanitaannya, dan sedikit terbuka bibir memeknya.

Penis Ustadz Mamat yang lumayan besar telah menegang mengangguk-angguk dan menempatkan dirinya diantara belahan bibir memek yang agak kemerahan terhias rambut sangat halus di tepinya itu.

Murtiasih yang masih dalam keadaan lemah setelah mencapai orgasme, mendadak tergugah menyadari betapa posisinya yang sangat memalukan, terbuka lebar selangkangan dan celah kewanitaannya. Secara naluri disadarinya bahwa yang kini tengah menyentuh-nyentuh memeknya adalah kemaluan Ustadz Mamat yang mencari jalan masuk, dan dengan sangat panik Murtiasih berusaha mendorong bahu serta dada sang Ustadz yang berada di atasnya, bahkan Murtiasih berusaha mencakar muka gurunya itu.

Namun Ustadz Mamat dengan sigap mencekal kembali kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke kasur di samping kepalanya yang kini sudah tak terlindung jilbabnya. Dengan demikian habislah daya Murtiasih mengelakkan nasibnya : kehilangan kegadisannya dicengkeraman sang Ustadz cabul.

“Aaaaahhh… aduuuuuuhhh… aauuuuuuuwww… toloooong, paaak… aaauuuuuw… saakiiiiiit… aduuuuhh… aauuuummpfffh… eemmmmpppffhh…” jerit memilukan Murtiasih langsung teredam oleh ciuman buas Ustadz Mamat ketika kejantanannya mulai meretas menembus liang sempit gadis ABG korbannya.

“Tenang… rileks, neng, sakitnya cuma sebentar… santai aja… bapak mau masuk lebih dalam lagi, tahan sedikit… sebentar lagi neng pasti ketagihan… duh, sempitnya si neng behenol… hhhmmmmh…” Ustadz Mamat berusaha menghibur sambil memajukan pinggulnya makin maju menekan semakin dalam.

“Aaauuuw… sakiiit… udaaah, pak, Asih tak kuat… sakiiit sekali… aaaauw… kasihani Asih, pak… ampuuun, huhuhu… bapak jahat… lepasin… ooooh, keluarin… sakiiiiiit… ampuuuuun… udaaah…” tangis Murtiasih dan rintihannya menimbulkan iba, namun semua terlambat karena Ustadz Mamat merasa kepalang basah.

Bleeeez… bleeeez… mili demi mili penis Ustadz Mamat membelah memasuki lorong kenikmatan yang akhirnya jebol pertahanannya ketika selaput tipis berbentuk bulan sabit itu terkoyak, menyebabkan rasa sakit di tengah selangkangan Murtiasih bagaikan disayat sebuah pisau tajam. Di hadapan mata Murtiasih muncul ribuan bintang bagaikan kunang-kunang di tengah malam ketika rasa perih sakit menimpanya, tangisannya tetap teredam, hanya butir air mata mengalir di kedua pipi mulusnya.

Tanpa memperhatikan keadaan korbannya yang masih merasa tersiksa, mulailah Ustadz Mamat bergerak maju-mundur, terkadang diarahkannya arah lembing dagingnya ke atas, juga ke kanan, lalu ke kiri, ke kanan lagi, lalu dengan keras dihunjamkannya sedalam mungkin sehingga beradu dengan mulut rahim Murtiasih yang penuh ujung syaraf sangat peka.

Sekitar sepuluh menit Ustadz Mamat melakukan jelajahannya dengan kecepatan yang sama, dan ketika dirasakannya bahwa biji pelirnya telah mulai bergolak bagaikan berisi cairan mendidih, maka dipercepatnya gerakan tarik-dorong maju-mundur pinggulnya sehingga…

“Aaaaaaahhh… oooooooh… iiyaaaaahh, jepit terus penis bapak… oooooh… anaaak pinteer, sempitnya si neng bahenol… iyaaaah, pijit-pijit terus… remas terus, oooooh… bapak tak tahan lagi nihh, ooooohhh…” demikian bunyi geraman Ustadz Mamat bagaikan hewan buas menikmati mangsanya. Dia menekan sekuat tenaga kepala penisnya diambang rahim Murtiasih ketika lahar panas spermanya membanjiri seluruh liang kewanitaan sang murid yang baru saja direnggut keperawanannya itu.

Murtiasih telah tak berdaya apa-apa lagi, semua tenaganya telah terkuras karena melawan sia-sia, peluh membasahi tubuhnya yang mungil bahenol, matanya berkaca-kaca, hidung bangir mancung dengan lubang mungil kembang-kempis seiring isak tangisnya, bibir merahnya merekah setengah terbuka, dari mana hanya terdengar dengusan dan desahan lembut.

Ya, gadis alim shalihah ini telah sepenuhnya ditakluki oleh guru bejatnya, akibat bisikan dan pengaruh iblis yang bersuka ria menyaksikan semua usahanya kini telah berhasil – juga dengan para pengintip di balik jendela!

Seperempat jam kemudian kedua insan yang berpelukan telanjang bulat di kasur itu dikejutkan oleh masuknya tiga orang ke kamar tidur Ustadz Mamat. Mereka adalah Sumirah, Rofikah dan pak Jamal disertai seringai lebar cengengesan, semuanya dengan penuh kepuasan menunjukkan hasil rekaman di dalam ponsel. Pelbagai adegan terlarang terlihat jelas, dimulai dengan Ustadz Mamat yang mendekati ranjang dimana Murtiasih tengah tidur dengan liku-liku tubuhnya yang mungil tapi menantang.

Kemudian jelas bagaimana Ustadz Mamat melepaskan bajunya sehingga hanya memakai celana dalamnya, dilanjutkan semua adegan pergulatan Ustadz Mamat dan korbannya, mulai dari Murtiasih berpakaian lengkap dengan jilbab, sampai semuanya dilepaskan secara paksa sehingga bugil. Sangat jelas pula adegan Ustadz Mamat meng-oral Murtiasih, dimana akhirnya perlawanan gadis malang itu runtuh dan mengalami orgasmenya yang pertama. Yang menjadi puncak klimaks pengambilan foto dan adegan bergerak itu adalah tentunya pada saat Murtiasih direnggut keperawanannya, bahkan terlihat jelas secara close-up bagaimana wajah yang meringis kesakitan disertai linangan air matanya.

Kini lengkaplah kehancuran posisi Ustadz Mamat dan Murtiasih : keduanya tak mampu melawan dan dibawah ancaman ketiga kaki tangan iblis itu, maka dimasa depan mereka menjadi permainan bagaikan budak belian untuk memenuhi kemauan dan keinginan nafsu birahi mereka. Sumirah dan Rofikah menjadikan Ustadz Mamat budak seks lelaki mereka, sedangkan pak Jamal memperoleh kesempatan menikmati tubuh Murtiasih, juga mereka terkadang melakukan secara bersama-sama…

Pak Jamal yang memang terkenal sebagai bandot desa sangat menyukai kaum muda itu langsung meminta ‘upahnya’. Pak Jamal tak perduli keadaan Murtiasih yang masih babak belur kehabisan tenaga melayani nafsu hewaniah Ustadz Mamat. Ketika Murtiasih berusaha melarikan diri berputar-putar di ruangan tamu dan ke arah belakang, maka Sumirah dan Rofikah langsung membantu menerkam rekan sekelasnya itu. Mereka membantu memegangi kedua tangan Murtiasih di atas kepalanya dan tersenyum penuh kepuasan melihat betapa sia-sia Murtiasih menggeliat meliuk-liukkan badannya yang telanjang bulat, ketika akhirnya pak Jamal dengan batang penis kebanggaannya menindih mangsanya itu. Murtiasih terbelalak tak percaya apa yang dilihatnya : kemaluan pak Jamal sangat besar, hitam, penuh dengan urat-urat berdenyut, panjang dan lingkarannya melebihi lengan bayi!

Tak mampu lagi menahan emosi, rasa ngeri, takut, dan habisnya tenaga, akhirnya Murtiasih hanya melihat semua dihadapan matanya menjadi abu-abu, berputar, sebelum semuanya menggelap… Namun itu tak menghalangi keinginan pak Jamal untuk menikmati tubuh ABG sintal bahenol penuh keringat, dan dengan buasnya mulailah ia memaksa memasuki secara susah payah celah sempit idamannya. Kesulitan coba diatasinya dengan berkali-kali meludahi memek Murtiasih. Akhirnya dengan susah payah pada usahanya yang kelima kali, barulah penis yang besar itu meretas jalan masuk ke lubang surgawi Murtiasih. Rasa perih saat dinding vaginanya dipaksa melebar semaksimal mungkin menyebabkan Murtiasih sadar, merintih dan menjerit kesakitan.

Ratapannya tanpa henti tidak menimbulkan rasa kasihan pak Jamal yang menggenjotnya bagaikan sedang mengerjai perempuan desa lainnya. Permohonan ampun Murtiasih hanya menyebabkan gelak tawa yang menyebalkan – akhirnya suara Murtiasih terhenti disaat pak Jamal orgasme dan menyemburkan seluruh isi biji pelirnya. Murtiasih hanya berdoa memohon agar ia tidak hamil…

Ketika kakak lelakinya menjemput dan menanyakan mengapa mata Murtiasih merah membengkak, maka ia hanya menjawab sepintas lalu dengan suara lirih bahwa ia mengalami sakit kepala. Sang kakak hanya menggelengkan kepalanya tanpa curiga sama sekali bahwa adiknya telah menjadi korban permainan terlarang, dan mereka bergoncengan pulang ke rumah.

Apakah Ustadz Mamat kini telah insyaf dan tobat dengan kelakuannya – atau tetap dipengaruhi oleh iblis, sehingga ketiga iparnya yang tak kalah cantik dengan istrinya: Farah yang telah digarap oleh pak Burhan si rentenir kakap, Nurul Tri Lestari dan Asma Maharani yang masih bujangan dan tak menduga sama sekali bahwa Ustadz Mamat telah berubah menjadi monster seks , juga akan menjadi korbannya dalam waktu tak lama lagi…?

NYAI SITI 13

Begitu mengetahui kedatangan ayahnya, Salamah segera berpaling ke Bayu; menyuruh pemuda itu agar lekas bersembunyi. Akan sangat berbahaya kalau mereka dipergoki berdua di tempat seperti ini, ditambah juga kondisi pakaian mereka yang sama-sama awut-awutan.

Namun sebelum Salamah sempat berucap, Bayu sudah meloncat menghilang. Dengan ringan ia menyelinap ke balik sesemakan sambil membawa baju dan celananya yang berserakan. Sekarang tinggal Salamah yang duduk kebingungan, berusaha membenahi pakaiannya dengan cepat sebelum ayahnya tiba di situ. Beruntung, tepat saat Haji Tohir membelokkan langkahnya, Salamah sudah pura-pura duduk diam dengan baju tertata rapi.

“Lho, Nduk… ngapain kamu disini?” tanya Haji Tohir kaget, tak menyangka akan menemukan Salamah di gubuk terpencil itu.

“Ehm… Abah sendiri, ada apa kesini?” kilah Salamah.

“Ah, Abah hanya jalan-jalan…” Haji Tohir menatap heran pada putrinya. “Ayo pulang, sudah sore. Nggak baik anak gadis sendirian di tempat seperti ini.” ajaknya.

Salamah mengangguk dengan kikuk, berharap ayahnya tidak melihat lipatan kain celana dalam yang tadi tak sempat ia gunakan. Salamah kini mengantongi kain itu. “Iya, Bah.” Ia segera turun dan mengikuti ayahnya. Payudaranya yang tak berkutang terasa bergesekan geli saat ia berjalan, membuat Salamah bergetar ringan hingga Haji Tohir kembali bertanya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya lelaki itu, curiga.

“Ah, aku hanya kedinginan.” jawab Salamah lirih.

Haji Tohir hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya. “Kamu jangan suka pergi sendirian. Di kampung ini sekarang nggak aman, banyak perempuan yang tiba-tiba hamil tanpa diketahui siapa bapaknya,”

“I-iya, Bah.” Salamah mengangguk muram. Tanpa membantah, ia ikuti Haji Tohir yang berjalan kembali ke rumah. Sekilas diliriknya tempat Bayu bersembunyi, kemanakah pemuda itu sekarang? batin Salamah dalam hati. Ia pasti akan merindukannya.

Bisakah mereka bertemu kembali? Salamah sangat berharap.

***

Selepas kepergian Salamah, Bayu balik lagi ke tempat dimana dia selama ini menghabiskan waktu: di sebuah gubuk tua di lereng tepi desa. Di sana dia memikirkan peristiwa yang barusan terjadi. Kegagalannya memetik kesucian Salamah sangat disyukuri sekaligus juga disesalinya sedikit. Namun yang paling merisaukan pikirannya adalah keberhasilan Dewo yang kembali sanggup melampiaskan nafsu bejatnya.

Bayu merasa bersalah dengan hilangnya kesucian dua orang gadis yang disetubuhi oleh Dewo. Sambil berjalan menyusuri pematang, benaknya berpacu bagaimana dirinya bisa mengalahkan Dewo, sempat terbersit juga apakah Dewo sudah tahu dengan keberadaannya di desa ini. Laki-laki tua itu tampak lebih waspada sekarang, ditambah juga Dewo seperti meningkatkan daya sirepnya. Bayu harus berusaha lebih keras lagi untuk melawannya.

Saat sedang berpikir seperti itu, Bayu melewati rerimbunan pohon. Matahari semakin condong ke barat, membuat burung-burung hitam kecil berarakan kembali ke sarangnya. Di kejauhan terdengar suara aliran air sungai yang mengalun deras, sementara di dekatnya, Bayu mendengar suara seorang wanita yang sedang mendesah-desah. Ah, apa-apaan ini! Apakah telinganya tidak salah dengar?

Namun semakin didengarkan, Bayu semakin yakin bahwa ia tidak keliru. Rintihan itu adalah milik seorang wanita yang sedang keenakan menikmati hasrat birahinya. Melihat sekeliling, Bayu jadi curiga; jangan-jangan ini ulah si Dewo. Tidak mungkin orang normal mau ngentot di tempat terbuka seperti ini tanpa campur tangan pelet Dewo. Apalagi musuhnya itu kelihatan belum puas tadi, Bayu sudah keburu mengganggunya ketika Dewo ingin mencoba lubang pantat Mila dan Nurmah.

Dengan langkah berjingkat, Bayu pun melangkah mencari arah sumber suara. Ia sedikit mengerahkan ilmunya untuk menjaga diri, siapa tahu ini jebakan yang dipasang oleh Dewo. Menatap waspada, Bayu mendatangi rerimbunan pohon yang terletak tak jauh di sebelah kirinya. Semak berduri yang menutupi sama sekali tidak menghalangi langkahnya.

Ia terus menyelinap tanpa suara sampai berdiri sangat dekat dan dirinya langsung kaget begitu mengetahui kalau ternyata suara desahan itu berasal dari seorang perempuan yang memakai jubah, sedangkan jilbabnya terlepas dan menyangkut di leher seperti membentuk syal. Dan disana ada Dewo! Dugaan Bayu benar, ini semua memang ulah laki-laki tua itu.

Jarak Dewo dengan wanita itu hanya tiga meter, korbannya kali ini tampak tengah meremas-remas bongkahan payudaranya dengan tangan kiri sambil mengobel memeknya dengan tangan kanan. Tubuh perempuan itu tampak pasrah dan lemas, bersandar di sebuah pohon besar. Dari pandangan matanya, terlihat sekali kalau ia sama sekali tidak menyadari kelakuannya yang salah.

“Ehm… ahh…” perempuan itu mendesah menikmati masturbasinya, sementara Dewo terus memperhatikan sambil tersenyum menjijikkan.

Bayu yang mengintai dari balik semak kembali menggeram marah, namun dia masih saja terus memperhatikan. Kali ini dia tidak ingin bertindak terburu-buru, jangan sampai Dewo dapat lolos lagi. Wanita korbannya kali ini tampak cantik dan montok, tipe kesukaan si Dewo. Seolah-olah tidak menyadari kedatangan Bayu, wanita itu terus melakukan remasan pada payudara dan kocokan dua jari di liang memeknya. Ia juga tetap mendesah-desah membayangkan sesuatu yang membuat gairahnya terangsang.

Apakah ini salah satu pelet baru Dewo, yang sanggup mempengaruhi pikiran seseorang tanpa harus menyentuhnya? Kalau memang benar, berarti Bayu sudah salah perhitungan. Ilmu pelet Dewo ternyata beberapa tingkat di atasnya. Lelaki tua sama sekali tidak bisa diremehkan. Bayu harus banyak belajar lagi kalau ingin benar-benar bisa menandinginya.

Wanita itu semakin liar, satu demi satu kancing jubahnya dilepaskan hingga tinggal dua buah saja yang tersisa. Dia kemudian mengeluarkan salah satu bulatan payudaranya yang berukuran besar dari cup bh-nya dan meremas-remasnya dengan sepenuh hati. Putingnya yang mungil dan berwarna merah kecoklatan juga tak lupa ia pilin dan pijit-pijit kuat.

Bayu yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan bengong dari balik semak. Tanpa terasa batang kontolnya mulai mengeras. Melihat wanita berjubah dengan rambut terurai panjang sampai ke pantat dan jilbabnya yang kini berubah menjadi syal di leher, membuat Bayu membayangkan seandainya itu adalah Salamah yang tadi hampir bisa ia setubuhi namun gagal karena ayahnya datang.

Akibatnya Bayu jadi tidak tahan. Dilihatnya Dewo hanya diam di depan sana, seperti tidak berniat untuk memegang apalagi merusak kehormatan wanita itu. Mungkin tidak ada salahnya kalau Bayu sedikit menahan diri, toh melawan Dewo sekarang juga percuma. Dengan kondisi terangsang seperti ini, Bayu tidak akan bisa berkonsentrasi. Sementara Dewo tampak berkuasa dengan memancarkan hawa jahat untuk memikat korbannya.

Maka Bayu kemudian membuka celananya dan bermaksud untuk coli agar nafsunya sedikit tersalurkan. Mungkin dengan begitu ia jadi bisa berpikir jernih. Dilihatnya perempuan itu semakin tinggi mengangkat kain jubahnya, seperti ingin memperlihatkan seluruh pantat dan belahan memeknya pada Dewo. Dengan mengangkangkan kakinya lebar-lebar, ia mendesah, “Ayo buka celananya, Pak Dewo… saya pingin lihat kontol bapak.”

Dewo hanya tersenyum menyeringai dan tetap berdiri diam. Sepertinya ia memang berniat untuk tidak menyentuh perempuan itu.

Merasa aman, sambil mulai mengocok batang kontolnya, Bayu memperhatikan bagaimana bagusnya tubuh perempuan itu. Teteknya yang besar terlihat begitu putih dan membulat kencang, pentilnya berwarna coklat kemerahan dan agak panjang, mungkin karena sering dihisap. Lalu selangkangannya, terlihat hitam karena bulu-bulunya yang lebat, tapi bibir memeknya membelah panjang berwarna merah muda; membuka dan menutup perlahan seiring kocokan tangan perempuan itu, memperlihatkan kedalaman lubangnya yang nampak basah dan berkilatan oleh air lendir.

Yang paling mengagumkan adalah itilnya yang begitu besar, hampir sebesar puting susunya. Kepala itil itu tampak merah muda, menyembul separuh dari kulit yang menutupinya, seperti kontol kecil yang tidak disunat. Sungguh luar biasa, belum pernah Bayu melihat itil sebesar itu. Milik Salamah yang meski sangat indah, jadi tidak ada apa-apanya.

Tangan perempuan itu terus mengusap-usap bagian luar memeknya, sambil sesekali jari telunjuknya masuk perlahan-lahan ke dalam lubangnya yang sudah merekah indah. Ia menggerakkannya keluar-masuk seperti kontol yang tengah menusuk memek. Sementara tangan yang satu lagi memegangi itilnya diantara telunjuk dan ibu jari dan memilin-milinnya cepat hingga jadi semakin besar.

Bayu pun tidak mau kalah. Dengan nafsu semakin berkobar, ia mulai mengusap-usap kepala kontolnya yang 14 cm, kemudian menggenggam batangnya dan mulai mengocoknya cepat sambil terus memperhatikan perempuan itu.

“Ahh… ahhh…. ugh…!!” perempuan itu mulai mendesah-desah dan memeknya pun mulai menimbulkan suara berdecak-decak karena basah, tampak cairan kental yang berwarna putih susu mengalir sedikit membasahi selangkangannya.

Bayu onani sambil terus memperhatikannya. Sungguh tidak pernah ia sangka akan berbuat begini dengan salah satu korban Dewo, bahkan dengan Dewo berdiri hanya beberapa langkah di depan sana. Kalau gurunya sampai tahu, Bayu pasti akan sangat dimurkai! Namun Bayu juga tidak bisa memungkiri rasanya yang begitu nikmat.

“Auw!” perempuan itu menjerit dan mencabut jarinya, tangannya kini meremas-remas kedua teteknya dengan keras manakala sebuah semburan memancar deras dari liang memeknya. Rupanya ia sudah memperoleh orgasme pertamanya.

Dengan tubuh terkejang-kejang, ia mengerang dan menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Hanya dengan sedikit menggesek kembali tonjolan itilnya, tidak lama perempuan itu kembali mengeluarkan lenguhan keras dan memeknya pun kembali berdenyut-denyut cepat. Orgasme kedua berhasil ia raih hanya dengan selisih beberapa detik, kali ini dengan disertai cairan putih susu yang memancar agak banyak. Dan rupanya orgasme ketiga dan keempatnya juga turut mengalir. Perempuan itu seperti hampir menangis ketika merasakan sensasinya yang sungguh sangat nikmat.

Perempuan itu tergolek dengan lemas seperti balon yang kekurangan angin. Air cintanya tampak berceceran di paha dan rerumputan di depannya. Bayu terus memperhatikan sambil mengocok-ngocok terus batang kontolnya yang sudah terasa begitu keras dan tegang. Ia membayangkan wanita itu adalah Salamah. Akan ia puaskan anak Haji Tohir itu dengan kejantanan kontolnya. Akan dibuatnya Salamah bertekuk lutut dan terus menghiba untuk tetap disetubuhi. Bayu rasanya tak sabar ingin segera merasakan kembali kehangatan tubuh gadis itu.

Pikirannya yang bercabang membuat Bayu jadi lengah, dan itu adalah sebuah kesalahan fatal. Di saat hampir mencapai orgasme, ia jadi tidak waspada terhadap bahaya yang mungkin bisa menimpa dirinya karena pikiran Bayu fokus untuk segera ejakulasi.

..”Ahhh… ahhh… ayo, Salamah, aku hampir sampai…” Bayu bergumam sendiri sambil terus mengocok batang kontolnya. Dibayangkannya Salamah sedang mengoralnya saat itu.

Dia tidak sanggup lagi untuk bertahan karena kocokannya yang begitu nikmat, dan begitu spermanya mulai menyembur keluar… Saat itulah tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalanya.

Bukkkk!!! Hanya suara itu yang terdengar, kemudian Bayu sudah tergeletak pingsan dengan tangan masih memegang kontolnya dan cairan pejuh yang masih meleleh keluar seolah-olah tidak mau berhenti menyemprot.

“Heheheheh… mampus kamu!!!” Dewo terkekeh sambil memegang batangan kayu yang telah ia gunakan untuk memukul Bayu sampai pingsan. “Makanya jangan usil sama orang tua, kau bocah… hahahahah,” tawa Dewo dengan senyum penuh kemenangan.

Dengan kejam, Dewo kemudian memukul sekali lagi kepala Bayu untuk memastikan pemuda itu pingsan beneran. Setelah dirasa cukup, Dewo dengan berbisik memanggil nama seseorang, “Nyai… Nyai Siti… kemarilah! Sudah pingsan ini bocah sok jagonya,” panggil Dewo dengan suara serak

Nyai Siti yang dipanggil kemudian bergegas ke semak dimana Dewo dan Bayu yang pingsan berada. Tersungging senyuman di bibirnya! Ternyata Dewo menggunakan Nyai Siti untuk mengalahkan Bayu. Dewo sebenarnya tahu dirinya dikuntit oleh Bayu saat memperawani Mila dan Nurmah, dan kemudian memanfaatkan situasi untuk meminta bantuan Nyai Siti saat Bayu sedang berduaan dengan Salamah.

Malam mulai turun di kampung itu. Langit perlahan menghitam dan denyar kekuningan yang tadi masih nampak di sebelah barat, kini sudah berubah menjadi kelabu. Rerimbunan di tengah persawahan berangsur-angsur hening, hanya suara jangkrik dan hewan malam yang ganti memecah kesunyian tersebut.

“Tuan Dewo, mana imbalan yang tadi kamu katakan padaku jika rencana ini berhasil?” tanya Nyai Siti menagih janji.

Dewo dengan senyum tersungging  kemudian menjawab, “Iya, lonteku, pasti aku kasih… tapi tolong bantu aku mengikat tangan bocah ini ke belakang, dan kakinya juga,”

Tanpa pikir panjang lagi, Nyai Siti segera membantu Dewo mengikat Bayu dengan tali yang sudah mereka siapkan dari rumah. Nyai Siti yang melihat kontol Bayu hanya berkata, “Ihh… kontol segini kecilnya mau main-main..!!” bisiknya sambil memasukkan kontol itu ke balik celana. Nyai Siti sempat nakal juga, saat memegang kontol Bayu, sempat ia mengurutnya sehingga peju Bayu menetes di tangan dan kemudian dijilatinya rakus.

“Lebih gurih punya Tuan Dewo,” ujarnya manja, dan Dewo hanya tertawa menanggapi.

Setelah beres mengikat Bayu hingga jadi tidak bisa bergerak, Nyai Siti kemudian mendekati Dewo. Dengan jubah masih awut-awutan dan jilbab tetap melingkar di leher, Nyai Siti mulai melepas celana Dewo.

“Tunggu, Nyai..!!” sela Dewo. “kamu rapikan jubah sama jilbabmu, serta rambutmu yang terurai itu… aku nggak mau ngentotin kamu kalau kamu tidak rapi,” pintanya tak ingin dibantah.

Nyai Siti pun tanpa diperintah dua kali langsung merapikan jubahnya. Kancingnya ia pasang kembali setelah terlebih dahulu memasukkan dua bulatan payudaranya ke balik bh. Perempuan itu juga menggelung rambutnya dan merapikan jilbabnya yang sudah lecek. Dengan cepat penampilannya kembali sebagai istri Kyai Kholil yang sangat disegani di seluruh kampung.

“Heheheh… gitu kan cantik kamu, lonteku,” puji Dewo.

Nyai Siti hanya tersenyum dan tanpa disuruh kemudian menyingkap kaos Dewo ke atas dan mulai mencium serta menghisap puting lelaki tua itu. Dewo hanya berdiri diam sambil sesekali meremasi payudara empuk Nyai Siti. Dengan sambil berdiri, Nyai Siti melakukan foreplay terhadap si Dewo. Kepekatan malam dan nyanyian jangkrik serta suara hewan seolah menjadi saksi kebejatan dua insan itu.

Puas dengan ciuman di dada, Nyai Siti kemudian turun menjilati perut buncit Dewo dan berhenti di pusarnya. Di sana ia bermain-main dengan menjilati pusar Dewo sambil tangannya memelorotkan celana kolor yang Dewo pakai dan mulai meremas-remas serta mengocok-ngocok kontol lelaki keriput itu. Perlakuannya membuat gairah Dewo mulai meningkat. Di otak cabulnya langsung terbersit ide untuk melakukan persetubuhan liar dan sangat kotor dengan Nyai Siti. Dewo seperti ingin melampiaskan nafsunya yang tadi sempat terputus dengan Mila dan Nurmah.

“Ehmph…” Ciuman Nyai Siti turun ke selangkangan Dewo dan terus sampai ke batang kontolnya. Nyai Siti sangat meresapi kontol Dewo saat menjilati maupun mengulumnya, dan bahkan berkali-kali lidahnya menggelitik lubang kencing Dewo.

“Ugh… Nyai,” Diperlakukan seperti itu, Dewo hanya mampu memegang kepala Nyai Siti yang terbungkus jilbab merah dan kemudian menggerakkannya maju-mundur. Ia mendorong batang kontolnya keras-keras sampai menyentuh rongga kerongkongan Nyai Siti yang sudah terbiasa dimasuki kontol panjang Dewo.

“Nyai, malam ini aku akan memberikanmu hadiah yang nggak mungkin kamu lupakan… heheheh,” kata Dewo sambil memaju-mundurkan kontolnya di mulut manis Nyai Siti.

Nyai Siti hanya mendongak ke atas sambil mengedipkan kedua matanya tanda setuju, karena mulutnya masih tersumpal kontol Dewo.

“Nyai, aku ingin kamu menjadi liar malam ini di balik rimbunnya semak ini,” kata Dewo lagi. Dia kemudian menghentikan aktivitasnya mengentot mulut Nyai Siti dan berktaa, “Sebentar, Nyai… aku akan mencari beberapa daun pisang untuk alas kita,”

Nyai Siti mengangguk sambil berkata, ”Baik, cintaku, tuanku, suamiku.”

Dewo bergegas pergi ke arah sungai untuk mencari daun pisang yang tumbuh di sekelilingnya dengan tidak memakai celana. Dibiarkan kontolnya yang panjang bergelantungan seperti pentungan pos ronda. Biar saja kalau ada yang melihat; kalau laki-laki, toh tidak akan bisa melawan ilmunya. Sedangkan kalau perempuan, akan ikut ia ajak main bersama Nyai Siti, itu malah asyik.

Tak berapa lama, Dewo sudah kembali dengan membawa delapan helai daun pisang. Pelan ia menatanya di tanah untuk dijadikan alas. Kini mereka sudah memiliki tempat ideal untuk melampiaskan hasrat bercinta yang brutal, liar, dan kotor.

Dewo yang berdiri kemudian meraih dagu lancip Nyai Siti dan berkata, ”Nyai, kamu memang budak dan gundikku yang cantik dan setia.”

Nyai Siti tersipu malu mendengar pujian Dewo. Dan sambil mendongak ke arah laki-laki itu yang masih berdiri, ia juga berkata. ”Aku akan selamanya menjadi budak, gundik atau lontemu, Tuan Dewo. Apapun yang kamu inginkan dari tubuhku akan kuberi. Apapun yang kamu suruh dan perintahkan akan kulakukan, karena di depanku dirimu adalah seorang laki laki perkasa. Semua bagian tubuhmu, aku sangat menyukainya, Tuan Dewo,” desah Nyai Siti.

“Lanjutkan omonganmu yang romantis itu, Nyai, supaya aku bisa lebih liar, brutal, dan kotor saat memakai tubuhmu,“ kata Dewo.

Sambil tetap mendongak ke atas memandang Dewo yang memegang dagunya, Nyai Siti berkata, ”Tuan Dewo bisa memakai tubuhku kapan saja, dimana saja, saat Tuan mau. Akan kulayani dirimu lebih dari suamiku yang letoy itu, Tuan. Aku ingin mulut, anus, dan vaginaku engkau pakai untuk apapun, Tuan. Semua bagian tubuhmu sangat menggodaku, Tuan, dan aku ingin bisa memilikinya tanpa terlewatkan sedikitpun. Jika boleh dan Tuan mengijinkan, Tuan bisa menggunakan mulutku saat kencing, memakai lidahku saat Tuan selesai beol, bahkan aku ingin tanganku bisa menjadi penampung bagi kotoranmu, Tuan,” kata Nyai Siti.

Mendengar apa yang diucapkan oleh Nyai Siti, terbakarlah gairah Dewo dan segera ingin membuktikan kata-kata itu. Maka Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk mengoral kontolnya. Dengan patuh Nyai Siti melakukannya. Dia mengulum, menghisap dan mengocok-ngocok kontol Dewo dengan gemas, seperti wanita yang baru pertama melihat kejantanan milik pasangannya.

Siapa pun pasti tak akan menyangka wanita yang dalam keseharian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampung ini, ternyata juga lihai dalam urusan kulum-mengulum penis.

“Ehm… yah, teruskan, Lonteku!” Sambil menikmati kocokan dan kuluman pada batang kontolnya, Dewo meremasi tetek Nyai Siti yang menggantung indah. Bongkahan payudara itu terasa sangat lembut dan enak saat diremas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali Dewo memerah dan memilin-milinnya.

Dewo ternyata mengentot mulut Nyai Siti dengan sangat brutal, ia menusuk begitu kuat dan dalam, bahkan sampai mentok ke tenggorokan perempuan cantik itu “Uekkkhhh…!!!” Nyai Siti tersedak oleh kontol panjang Dewo.

Tapi Dewo terus melakukannya kembali sampai empat kali, sebelum kemudian dengan kasar mendorong Nyai Siti dengan kakinya tepat di dada sampai perempuan itu jatuh terlentang. Seperti tidak sabar Dewo menyobek celana dalam Nyai Siti dan menyumpalkannya ke mulut si guru ngaji.

“Ahmoph…” Nyai Siti tergagap kaget, namun tidak memprotes. Malah ia mengangkang untuk membuka kedua pahanya lebar-lebar, memamerkan liang memeknya yang berbulu sangat lebat pada Dewo. Benda itu tampak lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat, kontras dengan paha Nyai Siti yang kuning langsat.

Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginan Dewo untuk menyentuh Nyai Siti menjadi tak tertahankan. Ia julurkan lidah sejenak untuk membasahinya. Dewo mengusap-usap jembut Nyai Siti yang keriting dan tumbuh panjang sambil terus menyusupkan lidahnya ke dalam hingga menimbulkan bunyi kemerisik.

Untuk bisa melihat lubang vaginanya, ia harus menyibak rambut-rambut yang menutupi memek Nyai Siti dengan kedua tangannya. Bibir luar benda itu tampak tebal dan kasar karena sudah sering dipakai oleh Dewo. Bagian dalamnya berwarna coklat kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan itil sebesar jari kelingking. Dewo segera menjentik-jentik itil itu dengan jari telunjuknya sebelum kemudian menggigitnya rakus.

“Aghmph…” Nyai Siti langsung mendesah dan sedikit menggelinjang. Dewo sangat senang karena Nyai Siti menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahnya. Dari liang sanggama perempuan itu mulai keluar lendir yang terasa asin.

Dewo terus mencucup dan menghisapnya hingga lendir itu banyak yang tertelan masuk ke kerongkongannya. Diperlakukan seperti itu membuat Nyai Siti seperti kesetanan. Tubuhnya bergetar hebat dan ia semakin merintih sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya. Disaat Nyai Siti masih mendesis kegelian, Dewo dengan brutal kemudian memasukkan kontolnya ke vagina perempuan cantik itu.

“Oughhh… oughhh…” hanya rintihan suara itu yang terdengar pelan dari mulut Nyai Siti karena teredam oleh celana dalamnya. Tangan istri Kyai Kholil itu mengalung di leher Dewo dengan erat dan kuat, matanya membeliak-beliak sambil meremasi sendiri kedua teteknya.

Melihat itu, Dewo langsung mengulum dan menghisapi puting Nyai Siti. Pentil susunya yang berwarna coklat kemerahan terasa mengeras saat ia hisap kuat-kuat. Makin lama menyodok dan mengaduk-aduk, Dewo merasakan lubang memek Nyai Siti menjadi semakin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok… cepok… cepok… setiap kali batang kontol Dewo menusuk masuk.

Sampai akhirnya tubuh Nyai Siti mengejang saat mendapatkan orgasmenya, namun Dewo masih terus menggenjot kuat. Kontolnya ia tekan hingga bibir memek Nyai Siti yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun saat ditarik, seluruh bagian dalamnya seakan ikut keluar, termasuk jengger ayamnya yang menggelambir.

Pemandangan itu membuat Dewo kian terangsang dan kian bersemangat untuk memompa. Apalagi tetek besar Nyai Siti juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang ia lakukan. Dewo makin bernafsu dan makin mempercepat irama kocokannya.

Nyai Siti tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang ia rasakan. Perempuan itu merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Dan kembali istri Kyai Kholil itu orgasme, tubuh moleknya terkejang-kejang dengan cairan memek memancar deras.

“Aghh…” Dewo juga memperoleh kenikmatan yang sangat sulit untuk dilukiskan. Meski lubang memek Nyai Siti semakin terasa longgar, tetapi tetap memberi kenikmatan tersendiri hingga pertahanannya nyaris jebol.

Dewo segera menghentikan genjotannya. Dengan tubuh masih menindih Nyai Siti dan kontol tetap menancap di liang memeknya, Dewo mendekatkan wajah ke muka Nyai Siti dan mengambil celana dalam yang menyumpal di mulut perempuan cantik itu. Celana itu terasa sangat basah karena air liur Nyai Siti yang terserap ke serat kain, sehinga kerongkongan Nyai Siti jadi sangat kering sekali.

“Kasihan kamu, lonteku. Kamu pasti kehausan ya?” tanya Dewo. “buka mulutmu, Nyai,”

Saat Nyai Siti membuka mulutnya, Dewo segera meludahkan air lurnya beberapa kali ke dalam mulut Nyai Siti. Dengan rakus Nyai Siti langsung mengecap dan menelannya karena sangat haus, dan menimbulkan sensasi luar biasa saat dirinya menelan ludah Dewo.

Kedua kaki Nyai Siti yang panjang langsung membelit pinggang Dewo dan menekannya kuat-kuat. Selanjutnya ia membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya batang kontol Dewo yang berada di kedalaman lubang vaginanya serasa diperah. Kenikmatan yang Dewo rasakan kian memuncak. Terlebih ketika dinding- dinding vagina Nyai Siti tak hanya

Memerah, tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan oleh perempuan itu benar-benar makin tak tertahankan.

”Aaahh… ssshh… enak banget. Aku nggak kuat… enak banget…!!” Dewo merintih, dan… Plupp…!!! Suara kontolnya saat terlepas dari memek Nyai Siti.

Dewo kemudian berdiri dan membiarkan Nyai Siti telentang di atas daun pisang untuk beristirahat. Dewo tidak ingin keluar dengan begitu cepat. Ia kemudian melepas kaosnya dan kemudian merobeknya. Penuh nafsu Dewo memandangi Nyai Siti yang masih telentang dengan jilbab dan jubah yang sudah terangkat hingga ke pinggang serta kancing  jubah atas yang terbuka seluruhnya hingga kedua bulatan payudaranya mengintip keluar.

Dengan sensasi ini Dewo kemudian mendekati Nyai Siti dan membuatnya tengkurap. Dewo kemudian mengikat tangan Nyai Siti ke belakang dengan menggunakan sobekan kaosnya, dan membalikkannya telentang. Selanjutnya Dewo menduduki dada Nyai Siti dan mengangkat kepalanya agar menyepong lagi batang kontolnya. Kali ini Dewo tidak melakukannya dengan brutal, karena dia menginginkan air liur Nyai Siti untuk membasahi kontolnya.

Setelah dirasa cukup, Dewo menarik kontolnya dari mulut Nyai Siti dan kemudian menyumpal lagi mulut perempuan itu dengan celana dalamnya. Berikutnya dengan kasar Dewo menunggingkan pinggul Nyai Siti dan mengangkat jubahnya sampai ke perut dan tanpa ampun langsung menyodomi anus istri Kyai itu. Malam itu Dewo seperti ingin melampiaskan semua hasratnya yang tertahan cukup lama pada Nyai Siti.

Aksi yang dilakukannya sampai hampir satu jam membuat Nyai Siti orgasme beberapa kali dan membuat anusnya lecet sampai mengeluarkan bercak darah. Perempuan itu sudah terlihat hampir pingsan, namun Dewo senang sekali bisa memperlakukan Nyai Siti dengan brutal, kasar, dan kotor. Nyai Siti sendiri sangat heran dengan Dewo malam ini, karena sudah mengentot anus, mulut, dan memeknya, tapi belum keluar setetes pejuh pun dari kontol lelaki tua itu. Dewo benar-benar kuat malam ini. Meski kepayahan, tapi tak urung Nyai Siti tersenyum juga menikmatinya.

“Nyai, istirahatlah beberapa menit karena aku akan memberikan sensasi baru untukmu,” kata Dewo.

“Aku sangat puas dan senang sekali, Tuan mau memaki anus, mulut, dan memekku. Walaupun aku lelah, aku sangat ingin melayani apa yang Tuan inginkan,” jawab Nyai Siti, terengah.

Mendengar ucapan Nyai Siti yang seolah masih mampu itu, Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk menjilati kaki-kakinya; mulai dari telapak sampai ke paha dan batang kontolnya. Nyai Siti pun dengan patuh melakukannya. Sensasi itu membuat kontol Dewo semakin menegang panjang. Birahinya kembali naik.

Segera dimintanya Nyai Siti untuk rebah telentang. Dewo kemudian merobek sisa baju yang dikenakan Nyai Siti dan menempatkan batang kontolnya diantara payudara perempuan cantik itu. Nyai Siti yang mengerti segera menjepit kontol panjang Dewo dengan bulatan payudaranya, ia tekan dua gunung kembar yang sangat besar itu memakai kedua tangannya.

“Ehm… aku suka susumu, Nyai.” rintih Dewo yang mendapat pijatan nikmat. Ia menikmati aksi Nyai Siti sambil membayangkan Salamah, apakah payudara gadis itu juga akan seenak ini saat dipakai nanti? Hmm, mudah-mudahan saja.

Goyangan tetek Nyai Siti semakin kencang. Dan puncaknya, ia menjepit kontol panjang Dewo sambil mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Dewo mengejang saat kedutan pada batang penisnya kian terasa. Sampai akhirnya, “….ini, Nyai, madunya keluar…!!!” Dia menjerit begitu cairan pejuhnya muncrat membasahi muka Nyai Siti.

Nyai Siti langsung membuka mulutnya untuk menerima semburan pejuh Dewo yang sangat banyak sekali. Setelah dikulum dan ditampungnya beberapa saat, cairan kental itu kemudian langsung ia telan semuanya. Selanjutnya Nyai Siti membersihkan kontol Dewo dengan menjilat-jilatnya gemas.

Benar-benar di luar dugaan, mereka bercinta di alam bebas dengan diiringi kesunyian malam selama hampir tiga jam. Sementara itu Bayu masih belum sadar karena lukanya juga lumayan parah, kepalanya tampak berdarah.

Dewo kini berniat untuk membuktikan kata-kata Nyai Siti. “Nyai, ayo ikut aku sebentar,“ kata Dewo sambil menggandeng tangan Nyai Siti menjauh dari hamparan daun pisang. “Aku mau beol nih…!” Dewo kemudian berjongkok, “mana mulutmu buat nampung air kencingku?” tagihnya.

Nyai Siti segera tengkurap ke tanah dengan muka menghadap selangkangan Dewo. Rakus ia mengulum kembali kontol panjang Dewo yang mulai mengalirkan air seni secara perlahan-lahan. Nyai Siti langsung meminum dan meneguk semuanya. Dan sementara Dewo beol mengeluarkan kotorannya, Nyai Siti tetap setia mengulum dan menjilati kontol laki-laki itu yang sesekali mengeluarkan kencing saat mengejan.

Selesai beol, Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk telentang beralaskan daun pisang. Ia lalu memposisikan anusnya di mulut Nyai Siti. Nyai Siti yang tahu keinginan Dewo segera melakukan tugasnya menjilati anus Dewo yang barusan beol sampai bersih. Setelah dirasa cukup, Dewo kemudian memakai celana kolornya kembali.

“Nyai, mari kita pulang… dan bocah ini kita bawa ke rumah, akan aku jadikan pelayanku,” kata Dewo puas.

“Baik, Paman Dewo.” Nyai Siti buru-buru membenahi jubah dan jilbabnya, sedang bh dan cd-nya tidak bisa dipakai lagi karena disobek oleh Dewo.

Dewo dengan bertelanjang dada kemudian memanggul tubuh Bayu untuk dibawa ke rumah Kyai Kholil.

NYONYA MAJIKAN

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti berbisik. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Aku pun menurut. Kudekati dia. Kuamati orang itu. Dari tempias cahaya lampu, tampak wajahnya lebih tua dari usianya, penuh kerut-merut. Melihat urat-uratnya, ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Aku tahu itu, karena dulu, aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai, sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku.

Ya, Tuhan, dia menangis. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. Ya sangat dalam. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Tapi, aku selalu waspada. Siapa tahu itu tangis buaya. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau, dan siap dihunjamkan di perutku. Maka, kuambil jarak beberapa depa. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu).

Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi, sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi, aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Entah kenapa, naluriku memaksaku berpikiran begitu.

Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku, mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Kukibaskan ekorku, mengenai kakinya. Dia memandangku. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Rupanya ia tanggap. Ia pelan-pelan bangkit, menyiapkan berbagai peralatan, ada besi pengungkit, drei, pukul besi, alat pemotong besi, alat pemotong kaca, linggis kecil dan masih banyak yang lain. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. Maling pun tetap harus serius, agar tidak konyol dicincang massa.

Pelan-pelan ia menyelinap ke pepohonan. Hujan turun makin deras. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku, namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumah.

Dan ternyata apa yang terjadi di dalam melebihi semua bayanganku. Bukan saja mendapat harta curian, orang itu juga memperoleh kepuasan dari istri tuanku yang selama ini memang tidak pernah puas. Ini kuketahui saat aku mengintip setengah jam kemudian setelah orang itu tak kunjung keluar. Dari jendela kamar, bisa kulihat orang itu dan istri tuanku sedang bergumul rapat di meja dapur. Sementara tuanku yang tukang tidur molor di kamar sendirian tanpa pernah mengetahui perbuatan istrinya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau aku boleh menebak, istri tuanku pasti terbangun saat mendengar suara seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Atau kalau tidak, dia yang baru balik dari kamar mandi, memergoki pencuri itu di ruang tengah. Sempat terjadi pergumulan sejenak, tapi istri tuanku yang sehari-hari berjilbab itu kalah tenaga. Ia dengan mudah diringkus. Si pencuri yang tidak kukenal, demi melihat kemolekan tubuh istri tuanku, perlahan tergiur. Melihat kesempatan yang amat terbuka, iapun memperkosanya.

Tapi dasar istri tuanku yang memang gila seks, diperkosa bukannya berteriak malah menikmati. Dikasih satu malah minta nambah. Jadilah pencuri itu tidak kunjung keluar dari rumahnya, malah kini sibuk memuaskannya. Jilbab yang sehari-hari ia kenakan hanya berfungsi untuk menutupi hasrat bejatnya ini. Wanita itu membalas ciuman si pencuri dengan sangat ganas dan bernafsu, bukti bahwa dirinya sudah terbakar nafsu birahi yang amat sangat. Bahkan tangannya sudah berani meremas dan mengocok penis orang tak dikenal yang sudah masuk ke dalam rumahnya ini.

Orang itu memutar badannya sehingga kepalanya yang tadi berada di atas, kini menghadap ke vagina istri tuanku. Aku yang sudah sering menjilatinya bisa membayangkan bagaimana bentuk benda itu. Kalau sudah terangsang seperti ini, vagina istri majikanku itu akan mekar sempurna dengan permukaan mengkilat basah oleh cairan. Baunya akan semakin kentara, keluar dari lorongnya yang terus berkedut-kedut pelan seiring dengan desah nafasnya.

Pencuri tua itu merengkuk pantat istri tuanku yang montok, yang sehari-hari tertutup oleh gamis panjang untuk menyembunyikan kemolekannya. Dia meremas-remasnya sebentar sebelum lidah dan bibirnya mulai mempermainkan vagina istri tuanku yang berada tepat di depan mukanya. Jilatannya yang agak berbeda, yang aku yakin masih lebih enak jilatanku, ternyata sanggup membuat istri tuanku melenguh.

“Ouh… ouh… aku tak tahan… aku tak tahan… ouhh…” erangnya.

Tapi orang itu tak mempedulikannya, ia terus menjilat dan menghisap dengan begitu rakus. Bahkan terkadang menusukkan lidahnya ke dalam liang vagina istri tuanku yang beraroma harum. Gerakan pantat wanita itu jadi semakin tak karuan. Sebagai balasannya, bibirnya mulai melumat penis pencuri itu dengan penuh nafsu. Jilatan dan hisapannya tampak bervariasi, tanda kalau sudah sering melakukannya. Bukan kepada suaminya, tapi kepada penisku. Anjing penjaga rumahnya!

“Ouhh…” orang itupun melenguh nikmat. Kembali ia berkonsentrasi mengoral vagina perempuan cantik itu. Kali ini dengan ganas dan cepat, sampai istri tuanku jadi menjerit-jerit karenanya. Untung suaminya tidak bangun.

“Aah… Pak! Aku tak tahan… aku tak tahan… masukkan… masukkan sekarang… auh!!”

Tak mempedulikan permintaan itu, pencuri itu semakin bersemangat mengoral vagina indah yang tersaji di depannya. Sampai akhirnya badan istri tuanku menghentak, lalu menggulingkan tubuh di atas meja untuk bertukar posisi. Kini si pencuri yang berbaring, sementara ia sendiri duduk berjongkok dan mengarahkan penis si pencuri yang sudah berdiri tegak ke arah liang vaginanya yang sudah sangat basah, lalu perempuan itu menekan pantatnya ke bawah sampai…

”Blessshh…!!” penis pencuri itu mulai memasuki liang vaginanya perlahan-lahan. Mata istri tuanku tampak nanar berkunang-kunang merasakan kenikmatan yang sukar untuk dilukiskan tersebut.

Perlahan-lahan pantatnya mulai bergerak turun naik, sementara kedua tangannya merengkuh pundak si pencuri sambil bibirnya dengan penuh nafsu menciumi dan menghisap bibir laki-laki tua itu. Semakin lama, gerakan pantatnya menjadi semakin cepat. Kepalanya sudah terdongak dengan deru nafas mendengus seperti orang yang sedang berlari.

“Ehh… euh… hekks… hekss… euh…” dengusan itu terus menerus keluar seiring dengan hempasan pantatnya yang menekan selangkangan si pencuri.

”Ahh… ahh… auh…” laki-laki itu ikut mendengus merasakan penisnya seperti dikocok-kocok, dipelintir dan dihisap-hisap dengan sangat nikmatnya. Matanya terbuka dan menutup untuk menahan nikmat yang tak terperi.

Dengan suara seramai itu, tuanku masih saja tidur. Tidak heran sih, karena sering juga aku menindih tubuh istrinya tepat di sebelahnya, dan dia masih saja tidur. Dia kalau tidur memang seperti orang mati. Karena itulah dia memeliharaku untuk menjaga rumahnya. Namun kali ini aku melalaikan tugas mulia tersebut. Maafkan aku, Tuan.

Merasa kakinya kurang nyaman, istri tuanku segera meluruskan kakinya sehingga dia jadi telungkup menindih tubuh orang tak dikenal itu. Tangannya masih meraih pundak si pencuri sebagai pegangan dan buah dadanya ditempelkan pada dada laki-laki itu. Kemudian kembali ia memaju mundurkan pantatnya agar vaginanya dapat bergesekan dengan penis pencuri itu. Gerakannya menjadi semakin cepat, kedua kakinya mulai kejang-kejang lurus dan erangannya juga semakin memburu.

“Ouh… hekss… heks… heks…”

Dan akhirnya, dia menjerit panjang, “Aaaaaahhhhkkkks…”

Badannya kembali melenting terdiam kaku, mulutnya menggigit pundak pencuri itu dan kedua tangannya menarik pundak laki-laki itu dengan sangat keras. Beberapa detik kemudian keluar helaan nafas panjang darinya seperti melepas sesuatu yang sangat nikmat. ”Ouhhhhhh…” Pantatnya berkedut-kedut, dan terjadi konstraksi yang sangat hebat di dalam vaginanya.

Si pencuri merasakan cengkeraman yang sangat kuat di seluruh batang penisnya dan diakhiri dengan kedutan-kedutan dinding vagina istri tuanku yang seperti memijit-mijit ringan, membuatnya jadi melenguh menerima sensasi yang sangat nikmat ini.

“ohh…” keluhnya.

Kedutan pantat istri tuanku semakin lama semakin melemah dan akhirnya tubuhnya ambruk menindih tubuh si pencuri. Cukup lama dia menikmati sensasi orgasme sambil telungkup lemas di atas tubuh laki-laki itu, sebelum kemudian matanya terbuka menatap sambil berkata, “Sudah sangat lama aku tidak merasakan orgasme yang demikian nikmat… makasih, Pak!“ katanya sambil mengecup bibir pencuri itu.

Laki-laki itu hanya tersenyum manis padanya sambil membalas kecupannya dengan menghisap bibir istri tuanku dalam-dalam. Kedua tangannya memeluk erat sambil kembali menggerakkan pinggangnya ke atas dan ke bawah, membuat penisnya yang masih tegang menancap kembali menggesek dinding-dinding vagina istri tuanku. Gesekan itu memberikan kenikmatan pada mereka berdua.

“Ouhhh… ouhh…” lenguh pencuri itu saat penisnya dengan lancar keluar masuk di liang vagina yang masih tetap sempit menjepit dan meremas-remas begitu ketat itu meski sudah dua kali orgasme.

Begitu juga istri tuanku. Kenikmatan yang mulai kembali menjalari seluruh urat syarafnya membuatnya mendengus nikmat. “Ouhhh… ouhh…”

Gerakan pencuri itu membangkitkan kembali gairahnya yang baru saja mendapatkan orgasme. Gesekan-gesekan ini memberikan kenikmatan padanya sehingga akhirnya pantatnya kembali bergerak maju mundur dan ke atas ke bawah untuk meraih kenikmatan yang lebih. Dia kembali memompakan tubuhnya di atas tubuh si pencuri, dan gerakannya semakin lama menjadi semakin cepat, sambil kembali erangan nikmatnya yang khas keluar dari mulutnya yang tipis.

“Ehh… euh… hekks… hekss… euh…” dengusan itu terus menerus keluar seiring dengan hempasan pantatnya yang menekan selangkangan si pencuri, dan tak lama kemudian kembali kedua kakinya kejang-kejang lurus dan erangannya semakin cepat memburu

“Ouh… hekss… heks… heks…” Dan akhirnya, dia kembali menjerit panjang, “Aaaaaahhhhkkkks…”

Badannya kembali melenting terdiam kaku, mulutnya menggigit pundak si pencuri dengan pantatnya berkedut-kedut ringan. Semakin lama semakin melemah dan akhirnya tubuhnya kembali ambruk menindih tubuh si pencuri untuk kesekian kalinya. Kali ini tidak bisa bergerak lagi karena sudah kehabisan tenaga. Dia menggelosorkan tubuhnya ke samping. Sambil berbaring miring, mereka saling berhadapan dan berpelukan.

Istri tuanku berkata kepada laki-laki itu dengan suara tersengal-sengal kehabisan napas. “Pak, aku sangat lelah… namun sangat puas… tapi kepuasanku belum sempurna kalau vaginaku belum disemprot oleh ini.” katanya sambil meraih penis si pencuri yang masih tegang menantang.

Memang luar biasa besar nafsu seks yang dimiliki oleh istri tuanku ini, bahkan aku sendiri kadang juga kewalahan menghadapinya. Jilbab lebar yang sehari-hari ia kenakan telah dengan sempurna menyembunyikan tabiatnya yang satu ini.

Si pencuri yang belum mencapai puncak, tidak ingin berlama-lama istirahat. Takut nafsunya surut dan penisnya melemah, maka mulai ia menindih tubuh molek istri tuanku. Kembali tangannya meremas-remas buah dada indah milik perempuan cantik itu serta memilin-milin putingnya yang menjulang menantang. Kemudian kembali bibirnya menciumi bibir istri tuanku dengan penuh nafsu sambil mendorong pantatnya begitu kepala penisnya tepat berada di depan liang vagina.

Blessh… penisnya kembali menusuk dan menjelajahi liang sempit yang sudah sangat basah milik istri tuanku itu. Mereka melenguh berbarengan menahan nikmat. Pantat orang itu mulai mengayuh agar penisnya bisa lancar keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina istri tuanku yang selalu tidak pernah puas. Gerakannya semakin lama menjadi semakin cepat dan berirama. Di sisi lain, pinggul istri tuanku juga mulai bergerak membalas setiap gerakannya sehingga lenguhan dan erangan nikmat mereka terdengar saling bersahutan.

“Ouh… ohhh… enak banget, Mbak… ohhhh…” dengus orang itu.

“Auh… auh… makasih, Pak! Oouh… nikmatnya… ohhh…” erang istri tuanku. Gerakan pinggulnya kini sudah tak beraturan lagi sehingga terdengar suara yang cukup keras dari beradunya alat kelamin mereka berdua.

Demikian pula dengan gerakan pinggul orang itu, juga semakin keras dan kuat. Hingga akhirnya mulutnya mulai meracau, ”Ouh… Mbak, a-aku… mau… keluar… ouh…”

Dan istri tuanku juga meracau sambil menarik-narik tubuh pencuri itu dengan sangat keras. “Ayo, Pak… bareng-bareng…”

Dan akhirnya secara bersamaan mereka menjerit bersahutan melepas nikmat mencapai orgasme. Badan pencuri itu dan badan istri tuanku melenting sambil terkejang-kejang pelan. Sperma kental pencuri itu terpancar beberapa kali membasahi seluruh rongga vagina istri tuanku ini, yang dibalas olehnya dengan kontraksi dan kedutan-kedutan yang hebat di dalam liang vaginanya, menandakan mereka mendapat puncak orgasme yang tak terlukiskan nikmatnya secara hampir bersamaan.

Lalu badan pencuri itu ambruk jatuh menimpa tubuh istri tuanku. Wanita itu segera menggesernya ke samping agar tidak membebaninya. Mereka berbaring sejenak sambil berpelukan untuk merasakan sisa-sisa orgasme yang masih melanda. Tak lama kemudian, mata istri tuanku terbuka. Ia memandang pencuri itu dengan tatapan penuh kepuasan sambil berkata lemah.

“Baru kali ini aku dapat merasakan berkali-kali orgasme yang luar biasa nikmatnya dalam satu kali persetubuhan… huh, benar-benar melelahkan namun sangat memuaskan dan tak mungkin terlupakan…” katanya sambil mencium mesra bibir laki-laki itu.

Lalu sambungnya lagi, “Kalau tahu senikmat dan sepuas ini yang kudapat dari Bapak… tak perlu pake diancam tadi.” katanya sambil tersenyum. “Dan aku rela menanggung segala akibatnya asal aku bisa mendapatkan nikmat seperti ini dari Bapak…” kata istri tuanku mulai melantur.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.30 malam, sudah cukup larut. Pencuri itu harus segera pulang. Maka segera ia berdiri dan mengenakan pakaiannya kembali. Ia bertanya kepada istri tuanku sebelum pergi. “Apakah kita bisa mengulanginya lain waktu?”

“Tentu, Pak. Bahkan malah aku yang meminta pada bapak untuk bisa memberikan kenikmatan seperti tadi lagi dan lagi.“ katanya sambil mencubit mesra pinggang laki-laki itu.

Kemudian dia juga mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbab lebar dan baju panjangnya. Tidak lebih dari lima menit, orang itu telah keluar membawa bungkusan. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji, hand phone, atau benda lainnya. Dengan langkah yang gagah, ia menjumpaiku. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya.

Aku menunduk. Perasaanku campur aduk. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Orang itu merasa serba salah. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Tapi aku menolak dengan halus. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Dengan bahasa isyarat, ia meyakinkan bahwa daging itu murni, bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Tapi aku merasa kehilangan selera makan.

Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah. Tuanku menjerit-jerit histeris, rupanya ia sudah mengetahui kalau rumahnya dibobol. Kudengar ia menyebut kalung berlian milik istrinya yang hilang. Laki-laki gendut itu berteriak-teriak sambil berlari keluar, diiringi letusan senapan yang membabi buta. Kata “maling” diteriakkan berulang-ulang. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku, dan berharap ia segera berlari.

Ia tampak panik, dan canggung. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Aku sangat panik. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Senapannya terus menyalak. Aneh, maling itu tetap diam. Aku memaksanya lari. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Sial, muncul kilat. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap.

Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Orang itu tumbang, rebah ke tanah. Muncrat darah merah dari dadanya. Aku menggonggong sangat keras. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Aku menggonggong makin keras. Makin keras, hingga orang-orang pun keluar rumah. Mereka mengelu-elukan aku. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot, seperti menatapku. Terus menatapku. Aku masih mendengar tangisnya, tangis anak dan istrinya. Tangis itu sangat panjang dan dalam, penuh kesunyian.

BU ANIEZ

Keluarga kami, bertetangga dengan keluarga Pak Aniez, rumah sebelah, terutama mama dan Bu Aniez, walau usia mereka terpaut jauh, mama berusia 46 sementara Bu Aniez 32 tahun. Mama dan Bu Aniez sering belanja bersama atau sekedar jalan-jalan saja. Saya  sering dimintai tolong untuk menyetir, walau mereka bisa mengemudi sendiri.

“Fan, kamu ada acara, nggak?” kata mama jika nyuruh saya.

Mengantar mereka, saya suka, karena aku termasuk anak mama. Sayapun menjadi ikut-ikutan akrab dengan Rida, anaknya Bu Aniez yang baru berusia lima tahun. Rida sering kuajak main. Di balik itu aku mulai senang juga, karena bisa bersama Bu Aniez yang cantik, putih bersih. Nampak anggun dengan pakaian jilbab modis rapat sekali. Di rumahpun dia sering memakai jilbab. Tingginya kira-kira 165 cm, tapi masih tinggian saya sedikit, beberapa centimeteran. Wajahnya cantik, mempesona dan indah, betapa indahnya yang tidak nampak, di balik pakaiannya, apalagi di balik beha? Ah pikirku agak galau. Lambat laun aku menjadi tertarik dengan Bu Aniez ini, gejala ini baru timbul dua bulan terakhir ini. Kami berdua sering beradu pandang dan saling melempar senyum. Entah senyum apa, aku kurang paham? Paling tidak bagiku atau saya yang terlalu GR. Sering suara memanggil lewat bibirnya yang indah “Ifan….” Itu yang menjadi terbayang-banyang, suara sangat merdu bagiku dan menggetarkan relung-relung hatiku. Ia di rumah, bersama Rida dan Parmi, pembantunya. Suaminya kerja di luar kota, pulangnya dua minggu sekali atau kadang lebih.

Pagi itu saya tidak ada jadwal kuliah, setelah mandi, sekitar pukul 08.00 saya keluar rumah, maksudku cari teman untuk kuajak ngobrol. Suasana sepi rumah-rumah di kompleks perumahan kami, banyak yang sudah tutup karena para tetangga sudah pada pergi kerja. Kalaupun ada, hanya pembantu mereka. Tetapi Bu Aniez, rupanya masih ada di rumah, karena mobilnya masih di carport. Mungkin dia belum berangkat kerja. Iseng-iseng aku masuk rumah itu setelah mengetuk pintu tak ada tanggapan. Aku langsung masuk, karena aku sudah terbiasa keluar-masuk rumah ini, bila disuruh mama atau sekedar main dengan Rida. Pagi itu Rida sudah pergi sekolah diantar Parmi. Di dalam rumah, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.

“Siapa ya?” terdengar suara dari kamar mandi

“Saya, Bu, Ifan, mau pinjam bacaan” jawabku beralasan.

“O… silakan di bawah meja… ya”

“Ya Bu, terima kasih…”kataku

Sambil duduk di karpet, membuka-buka majalah, saya membayangkan, pasti Bu Aniez telanjang bulat di bawah shower, betapa indahnya. Tiba-tiba pikiran nakalku timbul, aku pingin ngintip, melangkah berjingkat pelan, tapi tak ada celah atau lubang yang akses ke kamar mandi. Justru dadaku terasa gemuruh, berdetak kencang, bergetaran. Kalau ketahuan bisa berabe! Akhirnya kubatalkan niatku mengintipnya, kembali aku membuka-buka buku.

 

Beberapa menit kemudian terdengar pintu kamar mandi bergerak, Bu Aniez keluar. Astaga…, Tubuh yang sehari-hari selalu ditutup rapat, kini hanya memakai lilitan handuk dari dadanya sampai pahanya agak ke atas, sembari senyum lalu masuk ke kamarnya. Aku pura-pura mengabaikan, tapi sempat kelihatan pahanya mulus dan indah sekali, dadaku bergetar lebih keras lagi. Wah belum apa-apa, sudah begini. Mungkin aku benar-benar masih anak-anak? Pikirku. Rasa hatiku pingin sekali tahu apa yang ada di kamar itu. Aku pingin nyusul! Perhatianku pada bacaan buyar berantakan, fokusku beralih pada yang habis mandi tadi. Dalam kecamuk pikiranku, tiba-tiba Bu Aniez menyapa dari dalam kamar:

“Kamu nggak kuliah, Fan?” katanya dari dalam kamar

“Tid..dak, …eh nanti sore, Bu” jawabku gagap, hari itu memang jadwal kuliahku sore.

Mungkin ia tahu kalau aku gugup, malah mengajak ngomong terus.

Mengapa aku tidak ikut masuk saja, seperti kata hatiku padahal pintu tidak ditutup rapat. Lalu aku nekad mendekat pintu kamarnya dan menjawab omongannya di dekat pintu. Kemudian aku tak tahan, walau agak ragu-ragu, lalu aku membuka sedikit pintunya.

“Masuk saja, enggak apa-apa, Fan” katanya

Hatiku bersorak karena dipersilakan masuk, dengan sikap sesopan-sopannya dan pura-pura agak takut, saya masuk. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer di depan meja rias.

“Duduk situ, lho Fan!” pintanya sambil menunjuk bibir ranjangnya.

“Iya,… Ibu… enggak ke kantor”  sambil duduk persis menghadap cermin meja rias.

“Nanti, jam sepuluhan. Saya langsung ke balaikota, ada audensi di sana, jadi agak siang” katanya lagi.

Sesaat kemudian dia menyuruh saya membantu mengeringkan rambutnya dan sementara tangannya mengurai-urai rambutnya. Kembali aku menjadi gemetar memegang hairdryer, apalagi mencium bau segar dan wangi dari tubuhnya. Leher belakang, bahu, punggung bagian atasnya yang putih mulus merupakan bangun yang indah. Aku memperhatikan celah di dadanya yang dibalut handuk itu, dadaku bergetar cepat. Tanpa sengaja tanganku menyenggol bahu mulusnya, ”Thuiiing…” Seketika itu rasanya seperti disengat listrik tegangan 220V.

“Maaf, Bu” kata terbata-bata

“Enggak pa-pa… kamu pegang ini juga boleh. Daripada kamu lirik-lirik, sekalian pegang” katanya sambil menuntun tangan kananku ke arah susunya, aku jadi salah tingkah. Rupanya dia tahu lewat kaca rias, bila saya memperhatikan payudaranya. Dadaku tambah bergoncang. Aku menjadi gemetar, percaya antara ya dan tidak, aku gemetaran memegangnya. Maklum baru kali ini seumur-umur.

Beberapa saat kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, sambil berkata:

“Kamu sudah pernah sun pacarmu, belum?” tanyanya mengagetkan

“Ah.. Ibu ada-ada aja, malu….kan…”

“Ngapain malu, kamu sudah cukup umur lho, berapa umurmu?

“Dua puluh satu Bu..”

“Sudah dewasa itu. Kalau belum pernah cium, mau Bu ajari… Gini caranya” katanya sambil memelukkan tangannya pada bahuku. Kami berdiri berhadapan, tubuhnya yang dibalut handuk warna pink itu dipepetkan pada tubuhku, nafasnya terasa hangat di leherku. Wanita cantik ini memandangku cukup lama, penuh pesona dan mendekatkan bibirnya pada bibirku, aku menunduk sedikit. Bibirnya terasa sejuk menyenangkan, kami berciuman. Seketika itu dadaku bergemuruh seperti diterpa angin puting beliung, bergetar melalui pori-pori kulitku.

“Kamu ganteng, bahkan ganteng sekali Fan, bahumu kekar macho. Aku suka kamu.” katanya

“Sejak kapan, Bu?” kataku di tengah getaran dadaku

“Sejak… kamu suka melirik-lirik aku kan?!”

Saya menjadi tersipu malu, memang aku diam-diam mengaguminya juga dan suka melirik perempuan enerjik ini.

“Ya sebenarnya aku mengagumi Ibu juga” kataku terbata-bata

“ Tuh… kan?! Apanya yang kamu kagumi?

“Yeahh, Bu Aniez wanita karier, cantik lagi…” kataku

“Klop, ya…” sambil mengecup bibirku

 

Kembali kami berpagutan, kini bibirku yang melumat bibirnya dan lidah Bu Aniez mulai menari-nari beradu dengan lidahku. Aku mulai berani memeluk tubuhnya, ciuman semakin seru. Sesekali mengecup keningnya, pipinya kemudian kembali mendarat di bibirnya. Karena serunya kami berpelukan dengan berciuman, tanpa terasa handuk yang melilit pada tubuhnya lepas, sehingga Bu Aniez tanpa sehelai kainpun, tapi dia tidak memperdulikan. Rasanya aku tidak percaya dengan kejadian yang aku alami pagi itu. Aku mencoba mencubit kulitku sendiri ternyata sakit. Inilah kenyataannya, bukan mimpi. Seorang wanita dengan tubuh semampai, putih mulus, payudaranya indah, pinggulnya padat berisi, dan yang lebih mendebarkan lagi pada pangkal pahanya, di bawah perutnya berbentuk huruf “V” yang ditumbuhi rambut hitam sangat sedap dipandang. Pembaca bisa membayangkan betapa seorang anak remaja laki-laki berhadapan langsung perempuan cantik tanpa busana di depan mata. Saya memang sering melihat foto-foto bugil di internet, tapi kali ini di alam nyata. Luar biasa indahnya, sampai menggoncang-goncang rasa dan perasaanku. Antara kagum dan nafsu birahi bergelora makin berkejar-kejaran di pagi yang sejuk itu.

Bu Aniez membuka kaosku dan celanaku sekalian dengan cedeku. Dalam hitungan detik, kini kami berdua berbugilria, berangkulan ketat sekali, payudaranya yang indah-montok itu menempel dengan manisnya di dadaku, menambah sesak dadaku yang sedang bergejolak. Perempuan mantan pramugari pesawat terbang ini terus merangsek sepertinya sedang mengusir dahaga kelelakian. Penisku ngaceng bukan main kakunya, saya rasa paling kencang selama hidupku. Apalagi jari-jari Bu Aniez yang lentik nan lembut itu mulai menimang-nimang dan mengocok-ngocok lembut. Rasanya nikmat sekali.

Lambat-laun tubuhnya melorot, sambil tak henti-hentinya menciumiku mulai dari bibir, ke leher, dada dengan pesona permainan lidahnya yang indah di tubuhku. Sampai pada posisi belahan payudaranya dilekatkan pada penisku, digerak-gerakkan, naik-turun beberapa saat. Ah… nikmat sekali.

Sampai dia terduduk di pinggir ranjang, aku masih berdiri, penisku diraih lidahnya menari-nari di ujungnya, kemudian dikulum-kulum. Rasanya luar biasa nikmatnya, sebuah sensasi yang memuncak. Rasanya sampai sungsum, tulang-tulang dan ke atas di ubun-ubun. Tanganku meraih susunya, keremas-remas lembut, empuk dan sejuk dengan puntingnya yang berwarna merah jingga itu. Secara naluri aku pilin-pilin lembut, dia mendesah lirih. Ku rasakan betapa enaknya susunya di kedua telapak tanganku. Setelah sekitar lima menit, dia membaringkan diri di ranjang dengan serta merta aku menindih tubuh molek itu dan dia sambut dengan rangkulan ketat, kami saling membelai, saling mengusap, bergulat dan berguling. Kaki kami saling melilit, dengan gesekan exotic, membuat  tititku kaku seperti kayu menempel ketat pada pahanya. Susunya disodorkan pada bibirku, lalu puntingnya ku-dot habis-habisan, saking nafsunya. Sementara itu kuremas lembut payudaranya yang sebelah, bergantian kiri-kanan. Kepalaku ditekankan pada dadanya, sehingga mukaku terbenam di antara kedua susunya, sambil kuciumi sejadi-jadinya. Perempuan ayu ini mendesis lembut, lalu tangannya mengelus tak melepas penisku.

Aku benar-benar tak tahan, dengan permainan ini nafsuku makin menjadi-jadi, saat ini rasanya penisku benar-benar ngacengnya maksimal sepanjang sejarah, keras sekali dan rasanya ingin memainkan perannya. Aku lalu mengambil posisi menindih Bu Aniez yang tidur terlentang. Pada bagian pinggul antara perut dan pangkal paha tercetak huruf V yang ditumbuhi rambut tipis dan rapi. Ketika aku mencoba membuka pahanya nampak lobang merekah warna pink. Kuarahkan senjataku ke selakangannya, pahanya agak merapat dan kutekan. Tapi rasanya hanya terjepit pahanya saja, tidak masuk sasaran. Paha putih mulus itu ku buka sedikit, lalu kutekan kembali dan tidak masuk juga. Adegan ini saya lakukan berulang kali, tapi belum berhasil juga. Perempuan dengan deretan gigi indah itu malah ketawa geli. Penisku hanya basah karena kena cairan dari Vnya. Dia masih ketawa geli, saya menjadi kesal dan malu.

“Tolonginlah… Bu, gimana caranya…” pintaku

“Kamu keburu nafsu… tapi tak tahu caranya” katanya masih ketawa

 

Lalu Bu Aniez memegang penisku kemudian diarahkan pada selakangannya, tepatnya pada lobang kewanitaannya. Pahanya di renggangkan sedikit dan lututnya membentuk sudut kiri-kanan

“Sekarang tekan, pelan-pelan” bisiknya

Kuikuti petunjuknya, dan kutekan pinggulku hingga penisku masuk dengan manisnya. Saat kumasukkan itu rasanya nikmat luar biasa, seolah-olah aku memasuki suatu tempat yang begitu mempesona, nyaman dan menakjubkan. Pada saat aku menekan tadi, Bu Aniez mengerang lembut.

“Ahhh…..Ifan…….” desahnya

“Kenapa,….. sakit Bu.?.” tanyaku

“Nggak…sihh, enakan….malah “ jawabnya yang kusambut dengan tekanan penisku yang memang agak seret.

“Saya juga enakan, Bu.. enak banget”

“Tarik dan tekan lagi Fan. Burungmu gede mantap….” katanya.

Aku ikuti arahannya dan gerakan ini menimbulkan rasa sangat nikmat yang berulang-ulang seiring dengan gerakan pinggulku yang menarik dan menekan. Saat aku tekan, pinggul Bu Aniez ditekan ke atas, mungkin supaya alat seks kami lebih ketat melekat dan mendalam. Di bawah tindihanku dia mengoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua kakinya dililitkan ketat pada kakiku. Kadang diangkat ke atas, tangannya merangkul bahuku kuat sambil tak hentinya menggoyangkan pinggulnya. Aku melakukan gerakan pinggul seirama dengan gerakannya. Sesekali berhenti, berciuman bibir dan mengedot susunya. Kami benar-benar menyatu. Nikmat abiz!

“Enak ya Fan, beginian?!” katanya disela-sela kegiatan kami

“Yah.. enak sekali Bu” kataku

Kami melakukan manuver gerakan bergulung, hingga Bu Aniez di atasku. Dalam posisi begini ia melakukan gerakan lebih mempesona. Goyangan pinggulnya semakin menyenangkan, tidak hanya naik turun, tetapi juga meliuk-liuk menggairahkan sambil mencuimiku sejadi-jadinya. Kedua tangannya diluruskan untuk menompang tubuhnya, pinggulnya diputar meliuk-liuk lagi. Setelah sekitar lima belas menit, suasananya semakin panas, sedikit liar. Perempuan berambut sebahu itu makin bergairah dan menggairahkan, susunya disodorkan pada bibirku dan ku santap saja, saya senang menikmati susunya yang montok itu. Dalam menit berikutnya gerakannya makin kuat dan keras sehingga ranjangnya turut bergoyang. Kemudian merebahkan diri telungkup menindihku, dengan suaranya.

“Ah.. uh… eh…. a….ku…..keluarrr  Fan” katanya terengah-engah.

Aku terpana dengan pemandangan ini, bagaimana tingkahnya saat mencapai puncak, saat orgasme, benar-benar mengasyikkan, wajahnya merona merah jambu. Sebuah pengalaman benar-benar baru yang menakjubkan. Nafasnya terengah-engah saling berburu. Beberapa menit kemudian gerakan pinggulnya makin melemah dan sampai berhenti. Diam sejenak kemudian bergerak lagi “Ah…” orgasme lagi dan beberapa saat kemudian wanita yang susunya berbentuk indah ini terkapar lemas, tengkurap menindih tubuhku.

Suasananya mendingin, namun aku masih membara, karena penisku masih kuat menancap pada lobang kewanitaan Bu Aniez, kemudian di merebahkan disisiku sambil menghela nafas panjang.

“Aku puas Fan…”

“Permainan Bu hebat sekali” kataku

“Sekarang ganti kamu, lakukan kayak aku tadi” katanya lagi

Kemudian aku kembali menunggangi Bu Aniez, dia terlentang pahanya dibuka sedikit. Dan penisku kuarahkan pada selakangannya lagi seperti tadi, disambut dengan tangannya menuntun memasukkan ke Vnya.

“Tekan Fan! Main sesukamu, tapi jangan terlalu keras supaya nikmat dan kamu tahan lama.”  Sambil memelukku erat kemudian mencium bibir.

Saya mulai memompa wanita cantik bertubuh indah ini lagi, dengan menggerak-gerakkan pinggulku maju-mundur berulang-ulang. Ia menyambut dengan jepitan vaginanya ketat terasa mengisap-isap. Saat kutekan disambut dengan jepitan ini yang seolah dapat merontokkan sendi-sendiku. Dan tentu saja menimbulkan rasa nikmat bukan kepalang. Nikmat sekali! Sampai pada saatnya, beberapa menit kemudian…

“Aku mau keluar Bu…….” kataku terengah-engah

“Tahan dulu Sayang, aku juga mau keluar lagi kok… terus digoyang…nih… pentilku didot” katanya terengah-engah juga.

Aku mengedot susunya dan meremas-remas, sambil memompanya. Sepertinya aku diajak melayang-layang di angkasa tinggi. Setelah beberapa menit, ada sebuah kekuatan yang mendorong mengalir dari dalam tubuhku. Semua tenaga terpusat di satu tempat menghentak-hentak menerobos keluar lewat penisku. Spermaku keluar memancar dengan dahsyatnya, memenuhi lorong birahi milik Bu Aniez, diiringi dengan rasa nikmat luar biasa.  “Ahh….uh…ehh..”suara erangan kami bersahut-sahutan.

Nafas kami berdua terengah-engah saling memburu, kejar-kejaran. Betapa nikmatnya perempuan ini walau lebih tua dari saya, tapi dahsyat sekali. Bu Aniez sangat mempesona. Saya memang pernah mengeluarkan sperma dengan cara onani atau mimpi basah, tapi kali ini mani-ku yang memancar dan masuk ke vagina seorang perempuan, ternyata membawa kenikmatan luar biasa dan baru kali ini aku rasakan, dengan dorongan yang menghentak-hentak hebat, apalagi dengan Bu Aniez, seorang perempuan yang aku kagumi kecantikannya. Seolah-olah ujung rambutku ikut merasakan kenikmatan ini. Dahsyat dan menghebohkan!

Setelah beberapa menit aku terkapar lemas di atas tubuh wanita si kaki belalang itu (ini istilahku; kakinya indah sekali kayak kaki belalang), lalu melihat jam di dinding menunjuk pukul 09.16. Astaga, berarti aku bermain sudah satu jam lebih. Lalu aku mencabut penisku, dan segera ke kamar mandi diikuti Bu Aniez, sambil mencium pipiku.

“Terima kasih ya Fan” katanya sambil menciumku

“Sama-sama Bu..” kami kembali berciuman.

Aku berpakaian kembali, kemudian segera keluar rumah, karena takut kalau-kalau Parmi dan Rida pulang.

Sore harinya ada kuliah di kampus, selama mengikuti kuliah aku tidak concern pada dosen. Aku selalu teringat pagi itu, betapa peristiwa yang menyenangkan itu berlangsung begitu mulus, semulus paha Bu Aniez. Padahal hari-hari sebelumnya, mendapat senyumannya dan melihat wajahnya yang cantik, aku sudah senang. Tadi kini aku telah merasakan semuanya! Sebuah pengalaman yang benar-benar baru sekaligus negasyikkan. Lalu aku nulis sms.

“Gimana Bu Aniez, lanjutkan?” teks SMSku

“Kapan, …Yang….?” jawabnya

Lalu kami sepakat malam ini dilanjutkan. Mama dan papaku pergi keluar rumah pukul 19.00 ada acara di kantor papa. Sebelum berangkat, saya pamit mama dan aku beralasan pada mama untuk mengerjakan tugas di rumah teman.

“Mungkin, kalau kemalaman saya tidur di sana Ma” kataku pada mama

Semula mama keberatan, tapi akhirnya mengijinkan.

Aku sudah tidak sabaran, kepingin rasanya ke rumah sebelah. Tapi Bu Aniez bilang kalau datang nanti setelah Rida dan Parmi tidur. Rasanya menunggu kayak setahun.

Sekitar pukul sembilan malam ada sms masuk dari Bu Aniez

“Mrka dah tdr, kemarilah…”

“Aku berangkat, Mi” kataku pada pembantuku, tahunya aku ke rumah teman.

“Nggak pakai motor Mas..?” tanya Mimi

“Dijemput temanku diujung jalan” kataku

Malam itu gerimis, aku berangkat ke rumah sebelah, tapi jalanku melingkar lingkungan dulu untuk kamuflase, agar Mimi tidak curiga.

Setelah mengambil jalan melingkar, aku langsung masuk rumah dan disambut Bu Aniez dan langsung masuk kamar. Nyonya rumah mengunci pintu, mematikan lampu tengah dan masuk kamar. Rida tidur di kamar sebelah, sedang Parmi tidur di kamar belakang dekat dapur dan akses ke ruang utama di kunci juga. Sehingga cukup aman.

Lampu meja kamar masih menyala redup, Bu Aniez masuk kamar dan mengunci pintu dengan hati-hati. Dia mengembangkan tangannya dan kami berpelukan kembali. Seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak ketemu. Kami mulai bermain cinta, kucium bibir indah perempuan ini, kamipun mulai hanyut dalam arus birahi. Malam itu ia memakai gaun tidur katun dominasi warna putih berbunga, kubuka kancingnya dan kelepas dengan gemetaran. Beha dan cedenya warna putih dan indah sekali. Diapun mulai membuka kaos lalu celana panjang yang kupakai, kami kembali berpelukan, bercumbu saling beradu lidah dan setiap inci kulit mulusnya kuciumi dengan lembutnya.

“Kamu tak usah keburu-Buru, waktu kita panjang” katanya

“Ya, Bu tadi pagi saya takut ketahuan…maka buru-buru.” kataku sambil membuka kait behanya, (agak lama karena belum tahu caranya) dan menarik pita yang melingkar di kedua bahunya. Lalu aku menciumi payudaranya wajahku kubenamkan di sela-selanya, sambil mengedot punting susunya bergantian kiri kanan. Saya suka sekali memainkan benda kembar milik Bu Aniez ini. Perempuan cantik itu mulai mendesah lembut. Lalu kutarik cedenye ke bawah melalui kakinya dan diapun menarik juga cedeku, kami saling tarik dan akhirnya kami tanpa busana seperti pagi tadi pagi.

Kami berdua mulai mendaki gunung birahi, bergandengan tangan bahkan berpelukan menaiki awan-awan nafsu dan birahi yang makin membara. Nafas desah dan leguhan beriring-iringan dengan derai hujan di luar rumah. Kucoba memainkan seperti di bf yang pernah aku lihat. Pahanya kubuka lebar-lebar aku mempermainkan Vnya dengan jemariku, bibir, klitoris, serta lobangnya berwarna merah jambu menggairahkan. Sesekali kumasukkan jariku dilobang itu dan menari-nari di sana. Lalu tak ketinggalan lidahku ikut menari di klitorisnya dan mengedot-edot. Kuperlakukan demikian perempuan matang-dewasa itu bergelincangan sejadi-jadinya. Bu Aniezpun tidak kalah dahsyatnya dia mengedot penisku penuh nafsu. Lidahnya menari-nari pada kepala Mr P-ku, berputar-putar dan kemudian diemut, diedot habis-habisan, nikmat sekali. Kami saling memberi kenikmatan, saya sampai kelimpungan.

“Ayoo…masukkan Fan…, aku tak tahan….” bisiknya terengah-engah, setelah beberapa menit  mengedot.

Saya mulai memasukkan kelelakianku ke dalam lubang kewanitaannya, memompa sepuas-puasnya. Kami berdua benar-benar menikmati malam itu dan ber-seks-ria yang mengasyikkan bersama si tubuh indah putih itu, dengan bentuk pinggul yang menggetarkan itu.

Pendakian demi pendakian ke puncak kenikmatan kami lalui berdua yang selalu diakhiri kepuasan tiada tara, dengan menghela nafas panjang, nafas kepuasan. Kami terkapar bersama, di atas ranjang. Kami saling mengusap, dan mencium lembut, setelah selakangannya ku bersihkan dengan tisu dari spermaku yang tumpah keluar vaginanya. Kami berbaring berpelukan, masih telanjang, kaki kananku masuk di antara pahanya, sementara paha kirinya kujepit di antara pahaku. Kaki kami saling berlilitan.

“Fan, sementara aku sendirian….dan kamu ‘belum terpakai…’ kita bisa main kayak gini ya…” katanya sambil mengusap-usap dadaku, setelah keletihan sirna.

“Ya Bu, saya juga suka kok, bisa belajar sama Bubu Aniez…” kataku yang disambut dengan kecupan dipipiku.

“Aku jadi ingat Fan, ketika kamu sunat dulu, saya baru saja menempati rumah ini. Ingat nggak?” katanya sambil menimang-nimang tititku.

“Ingat Bu, waktu itu Bu Aniez manten baru ya… Dan ternyata Bu Aniez yang pakai pertama kali senjataku ini….” jawabku dan dia mengangguk mengiyakan jawabanku sambil tersenyum lebar.

Malam semakin pekat dan dingin, namun api cumbuan semakin membara. Berbagai gaya telah diperkenalkan oleh Bu Aniez, mulai dari gaya konvensional, 69, dogie sytle, sampai gaya lainnya yang membawa sensasi demi sensasi. Beberapa puncak kenikmatan telah kuraih bersama Bu Aniez. Sayang sekali saya lupa sampai berapa kali aku mencapai puncak kenikmatan. Entah sampai berapa kali aku menaiki Bu Aniez, malam itu? Kulihat Bu Aniez tidur pulas setelah melakukan beberapa kali pendakian berahi yang melelahkan, sampai tak sempat berpakaian kembali. Terngiang olehku sesekali bisikannya setelah tenaganya pulih kembali:

“Lagi yukk Fan…” kemudian kamipun memulai lagi.

Pagi telah tiba, dengan pelan aku membuka mata, namun tidak membuat gerakan dan menggeser posisiku pagi itu. Saya terjaga masih berpelukan dengan Bu Aniez  dan aku yang hanya berselimut. Sambil kulihat sekitar kamar, pakaianku bercampur dengan pakaian Bu Aniez berantakan di lantai kamar. Wanita cantik itu tersentak ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 05.05, rencananya aku akan pulang subuh tadi, sebelum Parmi bangun, tapi kami keenakan kelonan, tertidur, kesiangan. Apalagi semalaman hampir tidak tidur, mengarungi samudra raya kenikmatan bersama Ibu ayu ini.  Lalu aku bertahan, di dalam kamar sampai Parmi mengantar Rida berangkat sekolah.

Setelah Parmi pergi bersama Rida, aku bersiap pulang tapi sebelumnya kami mandi bersama. Lagi-lagi nafsu menyala-nyala kembali, lalu aku bergulat lagi dengan Bu Aniez, sampai kepuasan itu datang lagi. Aku baru pulang, sekitar pukul 07.30 dan Bu Aniez berangkat kerja dan menitipkan kunci rumah ke saya seperti biasanya dan nanti diambil Parmi.

Langkah hubungan ini masih berjalan dengan manisnya, tanpa hambatan berarti. Hambatannya hanya, bila di rumahnya situasi tidak memungkinkan, karena ada orang lain atau suaminya di rumah. Lima tahun sudah aku berjalan dalam lorong-lorong kenikmatan yang menyenangkan bersama Bu Aniez. Kalau tidak di rumah, di rumahku juga pernah dan sesekali kami lakukan di hotel, bila kondisi rumah tidak memungkinkan. Di rumah biasanya pagi hari menjelang Bu Aniez berangkat ke kantor, sementara dan Rida dan Parmi ke sekolah.

Seperti pagi itu aku dapati dia siap berangkat ke kantor, sudah pakai bleser dan celana coklat muda dan kerudung coklat motif Bunga, pakaian seragam kerja. Aku masuk ke rumahnya, langsung berpelukan dan berciuman mesra. Serta merta aku membuka kancing dan membuka celana panjang dan cedenya dengan cepat.

“Kok tidak tadi… Saya mau berangkat nih…?

“Tadi bantu mama dulu. Sebentar aja kok Bu, kita sudah dua minggu tidak main” bisikku.

Dia tidak mau di bad, karena sudah pakaian rapi, nanti pakaiannya kusut, berantakan. Hanya dengan gaya doggie style, dia menunduk, tangannya berpegangan pada bibir meja.  Lalu saya masukkan tititku dari belakang. Sudah beberapa menit, menembak tapi saya belum sampai puncak.

“Saya capek Fan, gini… aja….” katanya terengah-engah sambil berdiri dan tititku tercabut.

Kemudian perempuan yang masih menggunakan bleser dan kerudung itu duduk di meja, kedua tangannya ke belakang menompang tubuhnya. Sedangkan kedua kakinya diangkat dan ditaruh di atas kedua lenganku, sehingga tempiknya (Vnya), tampak merah merekah menantang. Lalu aku segera memasukkan kembali tititku pada lobang kehormatannya itu.

“Cepetan keluarkan Fan, terlambat aku nanti….” katanya lirih.

“Ya Bu” kataku sambil mulai menggenjot kembali.

Kegiatan ini seperti gerak hidrolis, keluar-masuk, namun nikmatnya luar biasa. Sampai beberapa menit kemudian aku keluarkan dengan tenaga hentakan kuat dan ditandai pancaran spermaku keluar kencang dengan kenikmatan dahsyat pula. Bu Aniez juga mengerang panjang bersaut-sautan, sambil memeluk aku erat sekali dan mencium bibir, kakinya ditautkan pada pinggangku. Beberapa menit kemudian selesai, saya mengeluarkan sperma dengan semprotan yang tidak kalah dahsyatnya dari waktu-waktu sebelumnya, mengantar kepada kepuasan, walau terkesan tergesa-gesa. Setelah membersihkan diri, perempuan tinggi semampai itu bergegas memakai celananya kembali. Kemudian aku mencium keningnya lalu dia berangkat ke kantor. Pagi itu rasanya nikmat sekali seperti hari-hari sebelumnya.

Rasanya saya tidak bosan-bosannya menikmati hubungan ini bersama Bu Aniez. Makanya banyak orang yang suka main beginian, tua muda semuanya, seperti yang sering kita baca dan lihat di media. Kini Bu Aniez bertambah anak, Refa namanya yang berumur empat tahun, mungkin saja dia itu hasil benihku. Sementara lakon itu kini masih berlangsung.

Tamat.

MURTI 13 : AISYAH

Murti menjanda. Sudah genap seratus hari sejak kematian Pak Camat, Murti menyandang status barunya. Bahkan orang-orang menambahi embel-embel di belakang status barunya sehingga lengkap sudah; Murti si janda kembang. Sudah menjanda, kaya pula. Tidak heran kalau banyak lelaki yang antri, baik yang terang-terangan ataupun yang sembunyi-sembunyi. Tapi Murti tetap setia bersama Gatot dan orang-orang komplek mulai yakin kalau Murti dan Gatot memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan dewa-dewi. Sang dewa seorang duda, sang dewi baru saja menjanda. Cocok sekali.

Sekarang Murti sudah mau belajar nyetir dan gurunya adalah Gatot. Tiap hari sepulang dari mengajar, Murti langsung memanggil Gatot lewat dapur rumahnya. Kadang yang muncul adalah Gatot sendiri, tetapi kadang pula Aisyah. Seperti sore ini, ketika ia memanggil Gatot, yang nongol malah Aisyah.

“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Murti penuh harap.

“Masih sholat, Bu Murti.” jawab Aisyah.

“Kalau sudah suruh ke rumah ya.” pesan Murti.

“Baik, Bu.” Aisyah mengangguk, lalu masuk ke dalam dan menuju kamar Gatot. Perlahan ia membuka pintu dan duduk di tepi tempat tidur dimana Gatot sedang berbaring. Gatot tidak sedang sholat seperti yang Aisyah katakan pada Murti, laki-laki itu masih tidur.

“Mas Gatot, bangun!” panggil Aisyah dengan suara merdu.

Gatot menggeliat malas dan entah sengaja atau tidak, tangannya hinggap di paha Aisyah. Gatot mengelusnya pelan sambil bergerak bangun. “Ada apa, Aisyah?” tanyanya dengan suara serak.

“Mas dipanggil Bu Murti di rumahnya.” kata Aisyah.

“Baiklah. Aku kesana ya,” sahut Gatot.

“Mas…” Aisyah memanggil.

“Apa lagi, Aisyah?” tanya Gatot penuh rasa sayang.

“Ah, tidak apa-apa. Hati-hati saja di jalan ya, Mas.” pesan Aisyah menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

“Hati-hati di jalan atau hati-hati bersama Murti?” goda Gatot seperti mengetahui isi batin Aisyah.

“Mas Gatot ini…” Aisyah tersenyum merajuk. ”Sudah pergi sana. Kasihan Bu Murti lama menunggu.”

Gatot mencium kening Aisyah sebelum pergi, tangannya juga sempat mampir ke dada Aisyah dan meremasnya pelan satu persatu, merasakan betapa empuk dan padatnya benda bulat itu. Ukurannya juga menjadi semakin besar karena keseringan dipegangi oleh Gatot. Memang belum ada ikatan resmi diantara mereka, tapi hal-hal semacam tadi sudah menjadi rutinitas yang Gatot dan Aisyah lakukan setiap hari.

“Hati-hati di rumah ya, Aisyah. Kunci saja pintunya.” pesan Gatot sebelum pergi.

“Baik, Mas.” Aisyah mengangguk, dan sekali lagi membiarkan Gatot meremas gundukan payudaranya.

Gatot meninggalkan Aisyah dan menuju rumah Murti. Tinggallah Aisyah seorang diri, duduk termenung di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri. Aisyah membandingkan keadaannya sebelum dan sesudah tinggal di rumah Gatot. Aisyah merasakan perubahan besar yang terjadi. Dulu sewaktu masih menetap di Cemorosewu, ia adalah sosok yang taat beribadah, tidak pernah melakukan hal-hal tabu yang melanggar norma agama dan norma susila. Ia dulu adalah sosok wanita yang benar-benar bersih dan suci, tanpa pernah tersentuh sedikitpun oleh tangan lelaki.

Tapi tidak dengan sekarang. Ia memang masih taat menjalankan sholat lima waktu, namun juga rajin melakukan hal-hal yang dulunya ia anggap tabu. Norma susila dan agama telah ia langgar. Tubuhnya telah tersentuh oleh tangan seorang lelaki. Kebersihan dan kesucian dirinya telah luntur digerus sensasi yang sangat menggoda hati.

“Masih pantaskah aku mengenakan kerudung ini?” pikirnya seorang diri.

Sementara Gatot sudah bersama Murti. Sejenak Gatot teringat Aisyah, tapi terganggu oleh suara Murti yang mendesah. Gatot berpaling dan mendapati seraut wajah Murti yang semakin bening. Ia kembali memfokuskan diri ke jalan raya.

“Apa yang kamu rasakan saat ini, Murti?” tanya Gatot membuka obrolan.

”Aku merasa bebas, Tot. Benar-benar sangat bebas.” kata Murti sambil merentangkan kedua tangannya, seperti berusaha memamerkan tonjolan buah dadanya yang besar kepada Gatot.

“Kamu memang bebas, tapi harus kamu ingat jangan sampai kebebasan itu membuatmu bablas.” pesan Gatot.

“Jangan mengajariku, Tot. Bukankah kebebasanku ini menguntungkanmu juga, menguntungkan kita?” sahut Murti tidak terima.

“Aku tidak berharap keuntungan apapun dari keadaanmu ini, Mur.” tegas Gatot.

“Munafik.” Murti mencibir. ”berapa kali kamu tidur denganku selama Pak Camat masih hidup? Sekarang Pak Camat sontoloyo itu sudah mati dan kamu bebas meniduriku kapan saja, berapa kalipun yang kamu inginkan. Bukankah begitu?” tuduh Murti.

“Pikiranmu tidak sama dengan pikiranku, Mur.” Gatot menggeleng. ”Aku malah ingin kebobrokan ini berhenti.” katanya kemudian.

“Oh, jadi begitu ya?” Murti berkata ketus. ”Setelah kamu puas mencabik-cabik hati dan tubuhku ini, kamu mau meninggalkanku begitu saja? Jangan sampai aku menganggapmu pengkhianat, Tot!” ancamnya.

“Aku tidak berkhianat, Mur. Ini demi mengakhiri jalan kita yang sesat.” jelas Gatot.

Murti mendengus. Ia pindah posisi dan duduk di depan Gatot, masih dalam satu jok. Ia mengambil alih kemudi dari kekuasaan Gatot sementara pantatnya ia tancapkan di pangkuan Gatot. Pantaslah kalau Aisyah khawatir bila Gatot sudah bersama Murti karena setelah menjadi janda, Murti semakin terang-terangan dan semakin berani. Contohnya ya kali ini.

“Pegangi pahaku, Tot!” pinta Murti tegas.

“Kamu nggak bakalan jatuh, Mur. Ini belajar mobil, bukan belajar motor.” jelas Gatot santai.

“Apa sih susahnya membantu aku?” sungut Murti ngambek.

“Kamu sudah mulai mahir, Mur. Cobalah berani nyetir sendiri.” kata Gatot.

Murti mendorong Gatot kesal. Gatot jadi tidak punya ruang untuk sekedar melonggarkan badan. Mau tidak mau ia harus memegangi pinggul Murti agar tidak merosot ke bawah. Pinggul yang semakin bulat bagai biola. Murti memang telah tampil beda dan bergaya anak muda. Rambutnya dipotong pendek. Bulu matanya dibikin lentik. Bajunya model tank top tanpa lengan. Bawahnya dipadu dengan rok mini. Murti yang cantik jadi makin menarik. Tidak ada sama sekali kerut kerut di wajah dan kulitnya. Semua sama seperti puluhan tahun silam. Masih sangat kencang.

“Semakin muda saja kamu, Mur.” bisik Gatot.

“Semakin membuatmu tergoda kan?” Murti tersenyum.

Wanita pembelenggu memang punya seribu cara dan seribu pesona untuk membuat pria terjatuh. Itulah Murti, wanita pembelenggu paling berani yang membuat Gatot tak kuat hati. Kalau sudah begitu, Gatot langsung membayangkan wajah Aisyah. Ia harus bertahan demi cintanya pada Aisyah.

“Sudah cukup untuk hari ini, Mur. Dan kamu sudah bisa kemana-mana tanpa sopir lagi. Kamu bisa jadi sopir buat dirimu sendiri.” kata Gatot sambil menjauhkan tubuhnya.

“Bagaimana kalau kamu kuberi gaji tiga kali lipat?” tantang Murti.

“Aku menghargai jasa dan pengorbananmu padaku, Mur. Tapi aku harus mulai memikirkan diriku sendiri, hidupku sendiri.” tampik Gatot.

“Kita bisa hidup bersama sampai mati, Tot. Aku mencintaimu.” Murti memandang Gatot penuh rasa sayang.

“Akupun pernah mencintaimu, Mur. Tapi itu sudah lama sekali. Dan sekarang aku mencintai orang lain.” kata Gatot terus terang.

“Siapa dia, Tot! Siapa yang berani merenggut hatimu dariku?” seru Murti tak terima.

“Kelak kamu akan tahu siapa dia.” Gatot berkilah, tidak ingin menyeret Aisyah dalam masalah ini.

“Aku tidak sabar untuk tahu siapa dia. Biar aku cari sendiri.” tekad Murti. Ia mengantar Gatot sampai depan rumahnya. Murti berbasa-basi sejenak dengan Aisyah lalu pergi lagi entah kemana, sama sekali tidak curiga kalau gadis di depannya inilah yang sudah merebut hati pujaan hatinya..

Gatot senang karena Murti sudah pintar menyetir. Tapi melihat wajah Aisyah yang mendung, kesedihannya langsung menggantung. Gatot merangkul bahu Aisyah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendung di wajah Aisyah masih belum sirna. Senyum di bibir merah itu tak kunjung merekah. Dan mata bening itu seakan menahan airmata agar tidak tumpah. Tapi itu gagal. Airmata Aisyah jatuh di dada Gatot.

“Menangislah sepuasmu, Aisyah. Habiskan kesedihanmu,” kata Gatot sabar.

“Mas Gatot jahat,” lirih suara Aisyah tersendat-sendat di sela tangis.

“Aku memang jahat, Aisyah. Aku membuatmu cemburu kan?” tebak Gatot.

“Bu Murti, Mas. Kenapa Mas Gatot tidak bisa lepas darinya?” tanya Aisyah.

“Aku ingin seperti itu, Aisyah. Tapi kebaikan Murti belum sempat kubalas.” sahut Gatot.

“Tidak adakah cara lain yang bisa mengurangi cemburu ini, Mas?” Aisyah semakin masuk ke dalam rengkuhan Gatot, menumpahkan cemburu yang serasa menghanguskan jiwa. Dihelanya napas lalu mendongak, sesaat diam begitu keningnya dikucup oleh Gatot.

“Bu Murti semakin cantik ya, Mas?” tanya Aisyah dengan suara lebih jelas.

“Itu penilaianmu?” Gatot bertanya balik.

“Juga semakin berani berpakaian, Mas.” tambah Aisyah.

“Kamu iri?” Gatot tersenyum sambil membelai wajah cantik Aisyah.

“Aah, Mas Gatot ini. Aku serius, Mas.” Aisyah merajuk.

Murti memang semakin berani, bukan hanya dalam hal penampilan, juga sudah semakin berani pergi sendiri. Masa-masa bebas ia nikmati dengan puas. Kini Murti sudah berada di dalam ruang karaoke salah satu kafe. Ia menyanyi sampai puas dengan ditemani sebotol minuman kelas atas. Pengunjung bersorak dan sebagian ikut berkaraoke dan berjoget bersamanya. Murti bagai bintang baru yang menyihir pecinta karaoke. Sampai larut malam Murti berada di kafe.

Murti bukan lagi seorang guru dan bukan pegawai negeri. Seisi kota sudah tahu kabar itu. Murti dipecat karena sering mangkir dari tugasnya mengajar. Murti dipecat karena murid-muridnya sering memergoki gurunya tiap malam keluyuran di kafe-kafe. Murti dipecat karena dianggap merusak citra pegawai negeri sipil. Tapi Murti tidak serta merta melarat. Malah kini menjadi salah satu konglomerat. Rumahnya yang di komplek sudah dijual pada Aisyah. Murti kini tinggal di pusat kota, di perumahan residence dan menempati rumah super mewah bertingkat tiga. Hanya untuk dirinya sendiri. Apa pekerjaan Murti setelah dipecat tidak ada yang tahu dengan jelas. Yang pasti Murti sering didatangi orang dan wartawan. Sampai seisi komplek akhirnya tahu kalau Murti jadi bintang film dan penyanyi. Itu setelah warga komplek menonton sinetron yang dibintangi oleh Murti.

“Itu kan Bu Murti ya, Mas?” kata Aisyah pada Gatot saat nonton tv berdua. Seperti biasa, pakaian atasnya terbuka, menampakkan gundukan payudaranya yang besar, yang selalu jadi mainan favorit Gatot dikala senggang.

“Iya. Dia sudah merubah nasibnya, Aisyah.” kata Gatot sambil terus meremas dan mengusap-usapnya pelan. Putingnya yang mungil ia pilin-pilin ringan sambil sesekali menjilat dan mengecupnya lembut kalau sudah merasa tak tahan.

“Uhh… juga sikapnya ya, Mas. Ikut berubah,” lirih Aisyah diantara rintihannya. Hisapan Gatot pada ujung buah dadanya terasa geli sekali, namun Aisyah sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya karena terus terang ia juga menikmatinya.

”Iya,” Gatot membenarkan perkataan Aisyah. Sikap Murti memang berubah seiring perubahan nasibnya. Setiap kali bertemu di jalan atau di pusat perbelanjaan, Murti hanya mau melambaikan tangan tanpa mau bertegur sapa, apalagi berbagi senyuman. Gatot sadar senyum Murti kini mahal dan berharga puluhan juta. Murti hanya mau tersenyum di televisi, tersenyum kepada orang-orang yang telah membayarnya berjuta-juta.

Murti seperti kacang lupa akan kulitnya, lupa pada komplek dan tanah kelahirannya, tempat nenek buyut dan orangtua serta suaminya dikubur. Murti tidak sekalipun mengunjungi komplek sejak namanya melejit. Murti lebih suka mengunjungi tempat dimana banyak orang mengagumi dan mengelu-elukan namanya. Gatot tentu makin senang karena perubahan nasib dan sikap Murti berimbas sangat besar pada diri dan kehidupannya. Ia kini bisa lebih mendekatkan diri dan memadukan hati bersama Aisyah.

“Apa kita perlu mengundang Bu Murti, Mas?” tanya Aisyah sambil mengusap mesra puncak kepala Gatot yang masih asyik menyusu.

“Tidak usah, Aisyah. Kita gelar resepsi sederhana saja. Cukup orang-orang komplek dan kerabatmu dari Cemorosewu.” jawab Gatot dengan mulut penuh bongkahan payudara Aisyah. Ia terus mencucup dan mengulumnya tanpa pernah merasa bosan.

“Saya sudah pesan dua ratus undangan, Mas. Semoga memberi restu pada pernikahan kita nanti.” wajah Aisyah memerah, tampak sangat menikmati sekali apa yang dilakukan Gatot pada tubuh sintalnya.

“Puji syukur, Aisyah. Sudah mantapkah hatimu?” tanya Gatot sambil mencucup puting susu kiri Aisyah kuat-kuat.

“Auw!” Aisyah menggelinjang geli, namun segera meminta Gatot agar melakukan juga pada yang kanan. ”Ehm… sudah, Mas. Saya ikhlas lahir batin menjadi istri Mas Gatot.” bisiknya dengan paras berbinar.

“Terima kasih, Aisyah. Aku akan berjuang menjadi suami yang baik buatmu.” Setelah mengangguk, Gatot melanjutkan kembali jilatan dan hisapannya di buah dada Aisyah.

“Saya percaya mas pasti bisa.” Yakin Aisyah. “Sudah ashar, Mas. Bukankah setelah ini Mas ada undangan ke musholla?” ingatnya sambil menarik kepala Gatot menjauh.

“Hampir aku lupa.” Gatot tersenyum, ”Terima kasih sudah mengingatkan.” katanya sambil kembali mencium puting Aisyah untuk yang terakhir kali.

Itulah Gatot yang sekarang. Ia telah menjelma kembali seperti saat masih kanak-kanak dulu. Ia kembali bahkan semakin rajin ke musholla untuk ikut pengajian dan sholat berjamaah. Suara merdu Gatot kembali terdengar lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Dan di hari minggu seperti ini, Gatot punya aktivitas membantu Pak Ustadz mengajar anak-anak komplek mengaji dan qiroah.

Penduduk komplek sangat senang dan menaruh hormat padanya. Orang-orang mulai suka membandingkan Gatot dan Murti. Kata orang-orang komplek, lebih baik sesat terlebih dahulu lalu sungguh-sungguh tobat daripada sebaliknya. Kata orang-orang, Murti adalah contoh yang tidak baik. Kalau ingin jadi anak baik, tirulah Gatot, kata orang-orang tua pada anaknya. Tapi Gatot selalu meluruskan. Yang paling patut ditiru adalah hal-hal yang membawa kebaikan, jangan meniru jalan sesat yang pernah ia jalani. Itu selalu dikatakan Gatot.

Kebaikan itulah yang kini menulari komplek. Orang-orang tua pula yang menganjurkan Gatot agar segera menikahi Aisyah agar terhindar dari fitnah. Gatot tidak marah dan langsung memenuhi anjuran itu. Secara agama ia telah sah menjadi suami Aisyah disaksikan penghulu desa. Tinggal mengesahkan lewat jalur resmi. Dan resepsi pernikahan itu sudah dirancang, tinggal tunggu sebar undangan.

Lain ladang lain pula belalang. Lain Gatot tentu lain pula Murti. Sekarang Murti ada di salah satu pantai terkenal untuk menjalani sesi pemotretan. Ia dijadikan model sebuah majalah dewasa. Murti sudah siap dengan kostumnya berupa bikini merah hati. Gambarnya diambil beberapa kali dalam berbagai pose dan gaya yang berani nan menantang. Berlatar belakang pantai biru dan pantulan jingga mentari yang hampir tenggelam, lekukan tubuhnya sungguh indah dan mempesona, membuat fotografer tidak sedetikpun memicingkan mata.

“Lebih lebar, cut!” teriak sang pengarah gaya.

“Kakiku sakit,” rintih Murti.

“Sekali lagi. Setelah ini selesai.” kata laki-laki berkaca mata itu.

Murti kembali berpose, kali ini berbaring telentang di hamparan pasir putih. Tangan dan kakinya terentang lebar-lebar, membuat dadanya menghujam tajam dan menjulang ke langit. Kakinya membentang sangat lebar dan sudut-sudut selangkangannya sangat jelas membayang. Sang pengarah gaya tertawa puas, fotografer juga puas.

“Mbak Murti adalah model paling berani yang kami kontrak,” kata pengarah gaya.

“Saya hanya berusaha profesional, Mas. Sesuai perjanjian dalam kontrak.” kata Murti sambil membersihkan punggungnya dari pasir.

“Kami yakin edisi terbaru kami nanti laku keras. Silahkan kalau Mbak Murti mau mandi.”

“Terima kasih. Saya mau langsung pulang saja.” sahut Murti.

Selesai pemotretan, Murti langsung meninggalkan pantai. Entah kenapa ada sebuah kerinduan menyelinap. Ia rindu pada orang-orang yang telah terlupakan, terutama sekali ia rindu pada Gatot. Ia ingin sekali berkunjung ke komplek, tapi takut dan ragu. Ia takut akan dihujat oleh warga komplek yang telah membencinya. Ia ragu apakah Gatot masih mau menerimanya seperti dulu atau sudah berubah. Bagaimana pula dengan Aisyah, masihkah Aisyah menganggapnya seorang ibu dan kakak. Murti terbayang-bayang semua itu dan matanya berlinang. Ia memutar mobil dan mengurungkan niat berkunjung ke komplek.

Ditolehnya jam yang melingkar di lengan lalu menggumam pelan, “Aku harus syuting film.”

Syuting dan syuting terus, itulah kesibukan sehari-hari Murti. Tak peduli siang malam ia harus menjalani semuanya demi mendapatkan uang. Dengan cepat uang bisa ia dapat, namun secepat itu pula uang itu lenyap. Murti selalu merasa serba kurang. Kurang cantik, kurang seksi, dan kurang yang lain yang membuatnya rajin ke salon, rajin ke pusat-pusat senam demi menjaga tubuh.

“Mbak Murti,” sebuah suara memanggil.

Murti terhenyak. Ia membuka kaca mobil dan mendapati wajah yang sangat dikenalnya. Sayang sekali ia berada di lampu merah. “Hai, Dewi.” balasnya sambil melambaikan tangan.

“Mbak, ini undangan buat mbak. Datang ya,” kata Dewi.

“Kamu mau nikah?” tanya Murti.

“Iya. Maaf, saya buru buru. Ayo, Mbak.” Dewi pamit permisi.

Murti menyimpan undangan dari Dewi dan kembali menjalankan mobil karena lampu telah berubah hijau. Masih ada kawan lama yang tidak membencinya. Dewi masih sudi mengundangnya ke pesta pernikahan. Apakah Dewi juga mengundang Gatot? pertanyaan itu berseliweran di kepala Murti.

Tentu saja Dewi juga mengundang Gatot karena kini mereka bertetangga. Dewi telah membeli rumah di komplek, rumah milik almarhum Mbah Surti. Dewi bahkan kini telah sampai di depan rumah Gatot. Dewi memarkir mobilnya dan berjalan ke pintu rumah Gatot.

“Assalamualaikum,” teriaknya memberi salam dan mengetuk pintu.

“Waalaikum salam,” terdengar suara renyah menjawab salam. Tak lama kemudian pintu terbuka bersama seraut wajah cantik. “Mbak Dewi, silahkan masuk, Mbak.” kata Aisyah ramah

“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Dewi.

“Tadi diajak Pak RT. Mbak Dewi ada perlu apa?” tanya Aisyah.

“Nih undangan buat kalian. Jangan sampai nggak datang ya?” Dewi mengancam sambil tersenyum.

“Mbak Dewi nikah? Kenapa nggak bilang-bilang, Mbak?” Aisyah terlihat ikut senang.

“Sengaja kubuat surprise buat kamu dan Gatot.” jawab Dewi.

“Selamat ya, Mbak. Kami pasti hadir.” janji Aisyah.

“Oh ya, Aisyah. Baru saja aku bertemu, Murti. Jadi sekalian kuundang dia.” terang Dewi.

“Bagaimana kabar Bu Murti, Mbak?” tanya Aisyah penasaran.

“Sepertinya baik baik saja. Murti semakin sering ada di tv ya,” kata Dewi.

“Iya, Mbak.” Aisyah mengangguk. ”Karirnya semakin maju. Saya ikut bersyukur.”

“Tapi Murti juga berubah, Aisyah. Aku sekarang jadi asing dengannya.” Dewi menggumam.

“Itulah, Mbak. Bukan cuma Mbak Dewi saja yang merasakan perubahan itu, saya dan Mas Gatot juga.” dukung Aisyah.

“Sangat disayangkan ya, Aisyah. Padahal kalian, terutama Gatot, adalah orang-orang terdekat Murti.” sahut Dewi. ”Sudah ah. Aku pulang dulu. Sampaikan salam ke Gatot. Assalamualaikum,” wanita itu kemudian pamit.

“Waalaikumsalam,” jawab Aisyah sambil mengantar ke depan pintu.

Sepeninggal Dewi, tak sampai sepuluh menit kemudian, Gatot pulang. Bahkan Aisyah masih belum menyimpan undangan yang tergeletak di atas meja. Aisyah segera membawa undangan itu dan menyusul Gatot ke dalam ruang tengah. Ia menggelar karpet dan memberi Gatot bantal.

“Ada undangan dari Mbak Dewi, Mas.” bisiknya mesra.

“Undangan apa, Aisyah. Biar jelas, bicara dekat sini.” kata Gatot.

Aisyah menggeser duduknya dan merapat ke telinga Gatot, membisikkan sesuatu yang membuat Gatot terkejut. Gatot segera menyambar undangan dari tangan Aisyah, tapi Aisyah mempermainkan undangan itu hingga Gatot jadi gemas. Sekali tubruk, Aisyah terguling-guling di karpet dan Gatot memungut undangan yang terlepas dari tangan Aisyah.

“Akhirnya menikah juga si Dewi.” kata Gatot gembira.

“Mas kenal calon suaminya?” tanya Aisyah.

“Tidak terlalu kenal, tapi aku tahu Aldo adalah pegawai kecamatan juga.” jawab Gatot.

“Berarti cinta lokasi dong. Enak ya, Mas, mereka sama-sama pegawai negeri.” kata Aisyah.

“Hei, kamu menyesal ya kawin sama duda tanpa pekerjaan sepertiku?” todong Gatot.

“Ihh, siapa juga yang menyesal. Rasakan ini,” Aisyah menghujani Gatot dengan cubitan bertubi-tubi. Pada cubitan terakhir, Gatot menahan jemari Aisyah tetap di bawah perutnya. Bahkan ia menggesernya sedikit hingga Aisyah bisa menyentuh batang penisnya yang sudah mulai menegang.

”Mas?” Aisyah menatap sayu, perlahan cubitannya melemah dan tidak terasa sama sekali karena ia sudah berada di bawah himpitan tubuh kekar Gatot. Malah yang ada, Aisyah mulai mengusap-usap penis Gatot perlahan hingga membuatnya jadi semakin besar dan menegang sempurna.

Merasa mendapat balasan, Gatot mencium pelan bibir tipis Aisyah. Mata Aisyah terpejam, menikmati ciuman itu. Gatot melanjutkan dengan memainkan lidahnya di mulut Aisyah, yang dibalas oleh gadis itu dengan hangat. Perlahan tapi pasti, tangan Gatot merayap ke dada Aisyah, lalu menekan-nekan bukit indah itu perlahan.

”Auh! Mas!” Aisyah melenguh, sama sekali tidak ada penolakan. Malah semakin Gatot meremas, semakin kuat Aisyah memagut.

”Aisyah, Mas pengen!” bisik Gatot manja.

”Lakukan, Mas. Aisyah sudah sepenuhnya milik Mas.” jawab Aisyah sambil mengangguk pelan dan tersenyum.

Ya, yang mereka lakukan memang bukan lagi zinah, malah sebuah amanah. Kini Gatot sudah bisa memiliki Aisyah seutuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gatot berhak atas diri Aisyah dan Aisyah wajib menyerahkan dirinya dengan ikhlas. Lampu telah dipadamkan dan karpet telah dihamparkan. Dalam keremangan malam, Gatot melanjutkan sentuhannya. Sambil berciuman, tangannya mulai merambah ke dalam baju Aisyah.

”Shh…” Aisyah mendesah halus saat tangan Gatot juga mengusap kulit pahanya, dan terus merayap hingga jauh ke pangkal paha. Disana Gatot menggelitik nakal yang dibalas oleh Aisyah dengan meremas tonjolan di celana Gatot perlahan.

”Adik kamu sudah bangun, Mas.” bisiknya mesra dengan tangan terus mengusap-usap.

”Dekat denganmu selalu membuatnya bersiaga, Aisyah.” jawab Gatot dengan birahi memuncak. Ia sudah tidak peduli lagi dimana mereka berada. Segera diangkatnya kaos Aisyah sehingga ia bisa meremas bukit kembar itu sesuka hati. Mereka juga terus berciuman. Penuh nafsu.

”Hmm… shh… uuh…”Aisyah mendesah saat Gatot menciumi lehernya yang putih jenjang. Laki-laki itu juga membuka tali branya lalu menjilati bukit Aisyah yang kenyal dengan begitu rakus. Gatot menjelajahinya dengan sapuan lidah dan ciuman mesra, ia juga menekan-nekan bukit itu serta menghisapi putingnya yang tegak memerah secara bergantian.

Ciuman dan jilatan itu membuat Aisyah merintih lirih, ”Mmh… Mas! Shh… ahh…” Ia mengambil jari Gatot lalu mengulumnya.

Gatot terus menjilati puting Aisyah secara perlahan sambil sesekali menggigit-gigit kecil. Suara desahan Aisyah membuat penis Gatot jadi bertambah keras. ”Mhh… shh… ahh… terus, Mas!!” Aisyah mengerang penuh nafsu.

Gatot sekarang meremas dan mengangkat kedua bukitnya, menghisap sekaligus menggigiti putingnya secara bergantian. Aisyah membalas dengan membuka retsleting Gatot. Untungnya Gatot memakai celana yang berkancing hingga dengan mudah Aisyah melakukannya. Wanita itu segera meremas penis Gatot begitu benda coklat panjang itu meloncat keluar. Dengan gerakan maju-mundur, Aisyah mulai mengurut-urut penis Gatot yang sudah mulai mengeluarkan pelumas.

Mereka berpindah posisi. Dengan setengah duduk, Gatot membuka rok panjang Aisyah. Wanita cantik yang sudah resmi jadi istrinya itu menatap sayu. Gatot hanya tersenyum dan meneruskan aksinya. Aisyah membantu dengan meluruskan kedua kakinya, memudahkan Gatot untuk membuka seluruh bajunya. Kini Aisyah cuma mengenakan celana dalam saja. Tubuh sintalnya terekspos jelas di depan Gatot, begitu putih dan mulus sekali. Gatot tak berkedip saat melihatnya. Berapa kalipun ia menatap tubuh Aisyah, ia selalu menyukainya.

Dari sela-sela celana dalam, Gatot menikmati ketebalan bulu-bulu kelamin Aisyah. Juga belahan vaginanya yang sudah melembab sempurna. Pelan Gatot menggerakkan jarinya, memainkan klitoris Aisyah yang terasa mengganjal di depan lubang selangkangannya. Perbuatannya itu membuat Aisyah jadi mendesah penuh nafsu. ”Mas! Sshh… hmm…”

Gatot menunduk untuk mulai menciumi paha Aisyah yang putih mulus sambil terus memainkan jari di arah labium minoranya. Dengan gemas ia gigiti paha perempuan cantik itu, lalu menempelkan lidahnya di pangkal paha Aisyah yang sudah membuka lebar. Aisyah meremas kedua bukitnya sendiri penuh nafsu, dengan lidah menjilati bibirnya berulang-ulang.

”Ouh… Mas!” rintih Aisyah saat Gatot membuka celana dalam putihnya. Tercium bau khas vagina yang lembab. Gatot segera menciumi vagina yang mulai basah berlendir itu.

”Auw! Auw! Ahh…” erangan dan desahan Aisyah semakin kuat terdengar saat lidah Gatot mulai menusuk-nusuk ke dalam liang sempit itu. Sesekali Gatot juga menjilati klitoris Aisyah dan menghisapnya pelan.

”S-sudah, mas! Geli! Auwh…” rintih Aisyah begitu Gatot memasukkan satu jari untuk memijat gelembung kecil di dinding dalam klitorisnya. Ia menjambak rambut sang suami. Kaki Aisyah mengejang, mengikuti gesekan jari Gatot di titik sensitifnya.

”Ahh… Mas! Shh… terus… ahh… ahh…” lagi-lagi Aisyah mengerang saat Gatot menggerakan lidahnya naik-turun di permukaan klitorisnya. Vagina gadis itu sudah basah kuyup oleh lendir bercampur air ludah Gatot.

Gatot terus menghisap sambil jarinya menjalar-jalar di bagian dalam liang vagina Aisyah, menggerakkannya keluar-masuk, sebelum akhirnya kembali memijit-mijit biji klitoris gadis itu. Sentuhan Gatot membuat desahan dan erangan Aisyah menjadi semakin cepat, menandakan gejolak birahi yang semakin memuncak. Tidak beberapa lama, Aisyah tampak mengejang pelan.

”Mas! Ahh… a-aku… mhh… shh…” Tubuh Aisyah mengejang-ngejang sesaat dengan diiringi oleh erangan nafasnya yang berat. Di puncak klimaksnya, Gatot menatap wajah Aisyah yang terpejam rapat. Begitu indahnya pemandangan ini.

Puas menikmati orgasmenya, Aisyah membuka mata dan mencium mesra pipi Gatot. ”Terima kasih ya, mas. Sekarang giliran kamu,” bisiknya dengan tangan kembali mengurut-ngurut penis Gatot yang semakin menegang penuh.

”Jilat donk!” pinta Gatot sambil tertawa.

”Yee… maunya!” balas Aisyah, namun tetap membuka mulutnya dan mulai menelan batang coklat panjang itu. Seperti memakan es krim, ia memainkan lidahnya di batang penis Gatot sambil mengurut-ngurut kantongnya yang berisi dua bola mungil.

”Ini isinya apaan sih?” tanya Aisyah sambil bibirnya terus menghisap.

”Ugh… itu yang bikin kita bisa punya anak, Aisyah.” selain erangan nikmat, hanya itu yang keluar dari mulut Gatot.

Aisyah mengangguk mengerti dan terus mengulum batang penis Gatot sampai memerah dan basah seluruhnya. Setelah dirasa cukup, dan sebelum Gatot meledak duluan seperti kemarin, cepat-cepat Aisyah menarik mulutnya.

”Sudah, Mas. Lakukan sekarang!” pintanya dengan mata menatap mesra.

Gatot tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ia belai rambut Aisyah yang panjang sepundak. Tanpa menunda lebih lama, dengan posisi setengah tidur, Gatot menuntun Aisyah agar duduk di atas batang penisnya sambil berpegangan pada bahunya. Menggunakan tangan kanan, Aisyah menumpu keseimbangan, sementara tangan kiri ia gunakan untuk menuntun penis Gatot ke arah lubang kenikmatannya.

”Ahhh…” mereka mendesah bersama-sama saat alat kelamin keduanya mulai bertemu dan bertaut mesra satu sama lain. Meskipun bukan perawan lagi, vagina Aisyah tetap terasa sempit. Gatot jadi terasa terus memperawani gadis itu. Mungkin karena ukuran penisnya yang cukup besar, atau memang lubang di tubuh Aisyah yang terlalu mungil. Yang jelas, mereka jadi sama-sama nikmat karenanya.

Dengan gerakan perlahan, mereka mulai bercinta dalam posisi duduk. Aisyah memeluk tubuh Gatot agar tetap seimbang, sementara Gatot balas memegangi bulatan payudara Aisyah agar tidak lari kemana-mana. Mereka juga kembali berpagutan mesra.

”Ughh… Aisyah… sempit sekali… shh… ahh… enak!” rintih Gatot penuh kenikmatan.

”Iya Mas… shh… aku juga enak!” balas Aisyah tak mau kalah. Karena berada di atas, ia jadi menguasai permainan. Sesekali Aisyah memutar-mutar pantatnya hingga membuat penis Gatot serasa dipijit-pijit ringan. Ia juga menggosok-gosok kantung ajaib milik Gatot hingga membuat laki-laki itu makin menggelinjang kegelian.

”Ughh… Aisyah!” Gatot melepaskan ciumannya agar bisa mengerang. Dilihatnya batang kemaluannya yang bergerak keluar masuk di vagina sempit Aisyah. Bibir vagina itu terlihat seperti mengulum-ngulum batang penisnya. Suara berdecak terdengar sesekali akibat vagina Aisyah yang sudah begitu basah berlendir.

”Ehm… enak, Mas?” tanya Aisyah sambil terus mengoyangkan pinggulnya.

Gatot mengangguk dan berbisik, ”Ganti posisi, Aisyah!”

Tanpa perlu disuruh dua kali, Aisyah segera melepaskan tautan alat kelamin mereka dan mengambil posisi merangkak. Gatot menciumi pinggulnya sejenak sebelum kembali memain-mainkan ujung penis di mulut vagina sang istri, membuat Aisyah jadi mendesah lirih karenanya.

”Ughh… shh… Mas… cepetan!” Tangan kiri Aisyah menekan pantat Gatot agar segera memasukkan batang penisnya.

Gatot langsung kembali membenamkan kemaluannya di lubang kenikmatan sang istri. Sleep! Jelebb!

”Ughh…” Aisyah mengerang nikmat bercampur perih. Apalagi saat Gatot mulai bergerak maju mundur penuh nafsu, erangan dan desahannya menjadi semakin keras. Aisyah berusaha membantu proses itu dengan memaju mundurkan pantatnya berlawanan dengan irama tusukan Gatot. Terus seperti itu sampai belasan menit kemudian, tampak Aisyah mulai mempercepat gerakannya.

”Mas! Shhaa… arghhh… a-aku…” tubuh Aisyah mengejang mencapai klimaksnya. Cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Gatot, yang dibalas oleh Gatot dengan semakin mempercepat gerakan pinggulnya agar ia bisa segera muncrat menyusul sang istri.

”Aisyah! Oughh… nikmatnya!” rintih Gatot sambil menekan kuat-kuat batang penisnya ke liang rahim Aisyah berbarengan dengan cairan spermanya yang menyembur deras. Cairan kental itu berhamburan memenuhi lorong kelamin Aisyah hingga membuatnya jadi begitu basah dan licin.

Saat Gatot mencabut alat kelaminnya, tampak ada beberapa cairan itu yang mengalir keluar. Gatot meraupnya dengan tangan dan mengoleskannya ke bulatan pantat Aisyah yang masih menungging. Setelah basah dan mengkilat, ia kemudian menarik tubuh bugil Aisyah dan menaruhnya ke dalam pelukan.

”Aku mencintaimu, Aisyah!” bisik Gatot sungguh-sungguh dengan tangan melingkar di permukaan payudara gadis itu.

”Aku juga, Mas.” balas Aisyah lembut sambil menempelkan hidungnya ke bibir Gatot. Mereka tersenyum puas. Sesaat keduanya saling berciuman sebelum sama-sama tertidur pulas tak lama kemudian, bermimpi merajut berjuta-juta impian tentang masa depan.