MURTI 12

Gatot kaget bukan kepalang mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali oleh seseorang. Semakin keras saja ketukan itu membuat Gatot merasa marah. Ia melompat dari tempat tidur dan menerjang pintu bermaksud hendak mengumpat tamu yang menurutnya tidak sopan. Tapi setelah tahu siapa yang bertamu di siang bolong begini, ia urung mengumpat.

“Pak Camat. Silahkan masuk, Pak.” katanya kemudian.

Pak Camat masuk dan langsung duduk. Sempat memandangi Gatot cukup lama lalu menghela napas dan membuang muka keluar. “Kenapa semua bisa terbongkar, Tot?” tanyanya tiba-tiba.

“Maksud Pak Camat?” Gatot tak mengerti.

“Murti sudah tahu. Murti sudah memergoki aku.” kata laki-laki itu.

“Demi Tuhan! Saya tidak membocorkan rahasia itu, Pak.” sumpah Gatot.

“Lalu dari siapa lagi Murti sampai bisa tahu?” Pak Camat tampaknya tak percaya.

“Jadi Pak Camat menuduh saya?” tanya Gatot. ”Dimana Murti?” tanyanya lagi.

“Masih pingsan.” kata Pak Camat. ”Saya sama sekali tidak menuduhmu, Tot. Jangan marah.”elaknya.

“Terus terang saya kecewa dengan Pak Camat. Sebenarnya tadi pagi ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Saya sudah mengambil keputusan untuk berhenti, Pak.” kata Gatot.

“Jangan, Tot. Saya masih membutuhkanmu.” cegah Pak Camat.

“Saya sudah tidak diperlukan lagi, Pak. Dan dengan tuduhan bapak terhadap saya, semakin bulat niat saya.” kata Gatot dingin.

“Sabar, Tot. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Pak Camat masih berusaha membujuk.

Gatot terdiam, lalu kemudian mengangguk. “Kita tunggu sampai Murti siuman biar semua jelas.” katanya lagi.

Gatot ikut ke rumah Pak Camat dan bersama-sama Pak Camat menunggu Murti siuman. Gatot sangat terpukul. Kekhawatirannya terbukti. Murti telah sampai pada puncak penderitaan sehingga nekad menyatroni Pak Camat di rumah Mbak Ayu. Murti tidak bisa disalahkan. Gatot juga tidak mau disalahkan. Yang patut disalahkan adalah Pak Camat dan teringat tuduhan Pak Camat terhadapnya, Gatot menahan tinju dengan geram. Ingin sekali ia menghajar wajah lelaki tua itu biar tahu rasa, biar tahu akibatnya kalau mempermainkan hati sahabat kecilnya.

Murti mulai menunjukkan tanda-tanda siuman. Tubuhnya bergerak-gerak dan matanya setengah terbuka. Murti sempat bengong sesaat dan memperhatikan keadaan sekitar. Sadarlah ia dimana kini berada. Ia segera membuka mata lebar-lebar dan spontan berteriak histeris begitu melihat wajah-wajah yang ada di sekitarnya.

“Kita cerai, Mas! Ceraaaiiiii!!!” teriaknya kencang sambil melempar apa saja ke arah Pak Camat. Bantal, guling, selimut, cermin, dan semua isi kamar beterbangan dan berserakan, pecah berkeping-keping di lantai kamar.

Murti menerjang Pak Camat dengan pecahan kaca di tangannya. Untung Pak Camat sigap menghindar dan Gatot menghadang Murti, memegangi Murti yang terus meronta liar. “Aku benci kamu, Mas. Kejam!” teriaknya terus-terusan mengumpat Pak Camat dengan seribu caci maki.

Pak Camat menampar wajah Murti, membuat Murti semakin beringas. Gatot tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi antara suami istri itu. Gatot sempat menatap geram ke arah Pak Camat, membuat Pak Camat keder dan ciut nyali. Pak Camat segera sadar kalau Gatot bisa ikut beringas bila melihat Murti disakiti. Gatot segera keluar kamar dan begitu ia keluar, pintu kamar tertutup. Entah apa yang kemudian terjadi di dalam kamar itu, ia tidak mau tahu.

Murti semakin menderita sepeninggal Gatot. Pak Camat tiada henti menampar wajahnya berkali-kali, memukuli tubuhnya sampai jatuh bangun, menghajarnya hingga tersungkur. Tapi Murti menerima semua dengan tegar. Badan memang terasa sakit, tetapi hati lebih sakit lagi.

“Jahanam kamu, Mas!” ia mengumpat sekali lagi.

“Katakan siapa yang memberitahumu!” Pak Camat menjambak rambut Murti dan mengancam.

“Tidak akan saya katakan.” jerit Murti.

“Siapa dia, Murti?!” tanya Pak Camat lagi.

“Tidak akan, Mas. Sekalipun Mas membunuhku, tidak akan pernah.” ancam Murti.

“Keras kepala!” maki Pak Camat.

Murti menjerit-jerit ketika Pak Camat mengguntingi rambutnya. Tak cukup sampai situ, Pak Camat juga merobek celana dalam Murti dan mencabuti bulu-bulu kemaluannya, membuat Murti berlinang air mata perih. Sakit. Namun penderitaan belum berakhir. Pak Camat dengan cepat menelanjanginya, lalu mengikat kedua tangan dan kaki Murti. Dalam keadaan tak berdaya, Pak Camat membabi buta menggumuli Murti bagai binatang.

”Ahh…” Murti hanya bisa menjerit dalam hati karena mulutnya telah dikunci dengan ciuman liar. Pak Camat berubah menjadi binatang. Ia rasakan penis Pak Camat masuk ke dalam liang vaginanya secara paksa, dan mengoyak-ngoyak dengan brutal disana, tidak membiarkan Murti menikmati karena dirinya diselimuti rasa kesal yang mendalam terhadap perempuan cantik itu.

”Auw! Ahh… s-sakit!” rintih Murti sementara Pak Camat terus memperkosanya secara membabi buta. Laki-laki itu tanpa ampun menggerakkan batang penisnya mundur maju berkali-kali hingga membuat tubuh Murti mulai menegang. Ia merasakan wajah Pak Camat mendekat untuk mencumbunya, segera Murti menghindar dengan menggerakkan kepalanya menyamping, menggeleng-geleng.

Plak! Pak Camat langsung memukulnya dan mengancam, ”Diam! Atau kubunuh kamu!”

Tak terhindarkan, karena sakit dan juga ketakutan, Murti membiarkan Pak Camat kembali mengulum bibirnya, namun ia tak sudi bereaksi terhadap ciuman laki-laki tua itu. ”Auw!” Murti juga menjerit begitu merasakan tangan-tangan Pak Camat yang meraba-raba dan meremas payudaranya dengan kasar, sebelum kemudian tangan itu bergerak ke arah lehernya.

Tamatlah aku, dia ingin mencekikku sampai mati, batin Murti dalam hati. ”Aah… jangan, Mas, jangan bunuh aku!” ia menangis menghiba.

”Bwahaha!” Pak Camat tertawa mengejek, dan bersamaan dengan itu menghunjamkan penisnya semakin cepat.

”Arghh…!!” teriak Murti penuh kesakitan. Tubuh mulusnya tampak membilur-bilur memerah karena siksaan Pak Camat, sementara liang vaginanya mengeluarkan darah segar karena lecet. Sungguh sangat sakit sekali.

Setelah merasakan siksaan lahir batin berkali-kali, Murtipun jatuh lagi dalam dunia ilusi. Ia pingsan kembali sementara Pak Camat terus menyetubuhinya sampai puas. Sampai spermanya muncrat memenuhi liang rahim Murti.

***

Gatot gelisah di rumahnya. Kedatangan Aisyah tidak sanggup mengusir sedihnya. Ia sedih membayangkan kehidupan Murti. Sayup-sayup ia mendengar teriakan dan ratapan Murti yang kini telah berhenti. Hatinya bagai tersayat belati. Ia ikut membenci Pak Camat. Sempat terbersir keinginan di hati untuk melenyapkan Pak Camat agar Murti bebas dari derita. Tanpa sadar ia menggebrak meja, membuat Aisyah kaget.

“Ada apa, Mas Gatot?” tanya gadis cantik itu.

“Maaf, Aisyah. Aku hanya kesal.” jawab Gatot.

“Kesal pasti ada sebabnya.” balas Aisyah.

Gatot tersenyum menerima secangkir kopi dari Aisyah. Kegelisahannya sedikit berkurang meski tidak sepenuhnya hilang. Ia menyeruput sedikit kopi yang masih panas itu. “Aisyah mau tahu sebabnya?” katanya kemudian.

“Kalau Mas Gatot tidak keberatan cerita pada saya.” kata Aisyah.

“Saya keberatan,” sahut Gatot.

“Ya nggak usah cerita,” tutur Aisyah dengan wajah kecut.

“Aisyah, bagaimana kalau kamu yang membuatku kesal?” pancing Gatot.

“Saya hanya bisa katakan maaf dan janji tidak akan lagi membuat Mas Gatot kesal.” jawab Aisyah kalem.

“Cuma itu?” kejar Gatot.

“Mas Gatot maunya apa?” ganti Aisyah yang menantang.

“Kena juga kamu. Aku cuma bercanda kok,” Gatot tersenyum.

Ia mendapat hadiah dari Aisyah berupa cubitan berbisa. Kebetulan sinema siang di televisi menampilkan adegan cinta. Aisyah menunduk malu. Gatot tersenyum mau. Tapi belum saatnya adegan cinta itu ditiru. Gatot merubah saluran ke berita tanpa mempedulikan raut wajah Aisyah yang merengut kecewa. Mereka berebut remote control tapi demi keamanan, maka Gatot mengalah.

“Berita di negeri ini cuma korupsi, Mas. Bosan.” kata Aisyah mengomentari acara di tv.

“Saya juga bosan nonton sinetron yang isinya rebutan harta, rebutan wanita, dan perselingkuhan.” balas Gatot.

“Tergantung selera dong,” Aisyah tampak tak mau kalah.

Gatot menggelitik telapak kaki Aisyah, membuat Aisyah tertawa geli dan melipat kakinya menjauh dari jari-jari usil Gatot. Dengan kaki terlipat, maka paha Aisyah terlihat mengkilat. Gatot silau dan tak tahan untuk tidak menjahili paha itu. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, Aisyah sudah lebih dulu menutup pahanya dan mencibir kenakalan Gatot.

“Baru boleh kalau sudah nikah, Mas.” katanya menjelaskan.

“Kamu mau nikah dengan duda sepertiku?” tanya Gatot tak percaya.

“Kalau memang cinta, apa hendak dikata.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Berarti kamu cinta aku ya?” tanya Gatot meyakinkan.

Aisyah menghela napas dan memandang Gatot. “Sejujurnya tujuan utamaku tinggal disini adalah untuk bisa mengenal Mas Gatot lebih dekat.” terangnya.

“Aku suka kejujuranmu, Aisyah. Aku juga sebenarnya ingin dekat denganmu.” balas Gatot.

“Gombal,” Aisyah kembali mencibir.

Biar di bibir bilang gombal, tapi dalam hati sesungguhnya Aisyah menganggap semua itu benar karena secara fisik Aisyah sadar ia telah dekat dengan Gatot. Tinggal meyakinkan batin. Belenggu jiwa telah terpasang diantara hati mereka berdua.

“Aisyah?” bisik Gatot di telinga gadis cantik itu sambil berupaya memeluknya.

Gadis itu tertunduk malu, dan segera menutup mata saat Gatot mengangkat dagunya dan menciumnya tepat di bibir. Terasa lidah Gatot yang kasar mencoba mendesak masuk ke dalam mulut Aisyah. Sebenarnya Aisyah ingin menolak, tapi dorongan dari dalam hatinya tidak dapat berbohong. Iapun balas melumat bibir Gatot dan malahan tangannya meraih pundak laki-laki itu agar tubuh mereka semakin menempel hingga ciuman mereka menjadi terasa nikmat.

”Hmph… hmm…” Ciuman Gatot kini menjadi semakin buas. Dari bibir, Gatot turun ke leher dan menggerakkan lidahnya disana, berupaya menjelajahi leher Aisyah yang jenjang. Sambil berciuman, tangannya meraih kancing baju gadis itu dan mulai melepaskannya satu persatu. Lembut Gatot menelusuri gundukan dada Aisyah yang bulat padat, terasa sangat halus dan mulus sekali benda kembar itu. Melenguh dalam hati, Gatot tak menyangka kalau akan begitu menyukainya.

“Cukup disitu saja, Mas,” bisik Aisyah lemah dan pasrah ketika Gatot mulai menjajah di sekitar wilayah perutnya.

Gatot menurut, sama sekali tidak keberatan hanya diberi jatah sampai di situ saja. Sudah merupakan suatu keberuntungan baginya bisa diijinkan menikmati dada Aisyah yang ranum, yang tidak sembarang lelaki bisa mendapatkannya. ”Kamu cantik, Aisyah.” ujar Gatot lembut sambil menatap mata lentik Aisyah.

”Ahh…” tidak menjawab, Aisyah malah mengerang saat Gatot meremas-remas gundukan payudaranya semakin gemas. Ia melenguh agak keras dan Gatot pun semakin giat meremas-remas dadanya yang montok itu.

Perlahan Gatot melepaskan ciumannya dan memandangi Aisyah yang kini duduk hanya dengan mengenakan bra hitam dan rok panjang selutut. Ia memandanginya tanpa berkedip, terlihat begitu mengagumi kecantikan dan pesona tubuh sintal gadis itu. Aisyah yang malu dipandangi seperti itu segera menunduk dan berupaya menyilangkan tangan di depan dada untuk sekedar menutupi apa yang ada.

Gatot yang tak ingin kesempatannya menghilang, segera bergerak cepat dengan kembali memeluk tubuh mungil Aisyah dan melumat bibirnya dengan begitu rakus. Sambil ber-french kiss ria, tangannya dengan cekatan melepas kaitan bra Aisyah yang sudah melonggar. Kini dada Aisyah benar-benar telanjang bulat. Gatot langsung mengarahkan tangan kesana dan mulai meremasi kedua payudara Aisyah secara bergantian. Aisyah memilih untuk memejamkan mata saja menikmatinya.

”Auw! Mas!” rintih Aisyah saat merasa putingnya yang sudah tegang akibat nafsu tiba-tiba menjadi basah.

Ternyata Gatot sudah asyik menaruh mulut disana, menjilatinya dengan lidahnya yang panjang dan tebal, menghisapnya begitu rakus bagai anak kecil yang haus akan sentuhan air susu ibu. ”Uhh…” tentu saja perbuatan itu membuat Aisyah jadi menggelinjang geli karenanya. Tanpa terasa ia mengeluarkan erangan yang lumayan keras, yang mana itu malah membuat Gatot jadi semakin bernafsu.

”Aisyah, kamu seksi sekali. Badan kamu bagus, terutama yang ini…” bisik Gatot sambil memelintir puting Aisyah yang semakin mencuat dan menegang. Berkali-kali pula ia melumat, mencium, menarik dan menghisap-hisapnya secara bergantian, kiri dan kanan.

”Ahh… Mas… gelii…!” balas Aisyah manja. Ia hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Gatot dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya berusaha berpegangan pada sandaran kursi untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke depan.

Aisyah merasa badannya mulai mengejang serta cairan vaginanya terasa mulai meleleh keluar, sementara Gatot terus mengerjai bagian depan tubuhnya hingga mereka sama-sama mendesah lemah tak lama kemudian. Tampak noda hitam membekas di depan celana Gatot yang menggembung besar, yang dipandangi oleh Aisyah dengan penuh rasa jengah sekaligus penasaran. Sementara Aisyah sendiri juga merasa celana dalamnya menjadi begitu basah, namun tentu saja Gatot tidak bisa mengetahuinya karena itu tersembunyi di balik gaun.

Terengah-engah, mereka sama-sama puas meski tidak sampai saling memasukkan. Cuma meraba-raba dan saling bersentuhan, itu sudah cukup bagi keduanya untuk saat ini. Aisyah memejamkan mata dan memeluk Gatot dengan tubuh setengah telanjang. Dibiarkannya Gatot terus membelai dan meremas-remas gundukan payudaranya yang besar, sampai Gatot puas dan lelah hati datang melanda beberapa saat kemudian.

“Tok-tok-tok!!” terdengar ketukan pelan di pintu depan.

Gatot dan Aisyah terperanjat dan segera mengenakan pakaian masing-masing. Mereka berpandangan sejenak sebelum Aisyah lari masuk ke dalam kamarnya, sedang Gatot bergegas ke depan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Ningsih.

“Selamat sore, Tot.” sapa tetangga sekaligus teman Gatot itu.

“Ningsih, kukira siapa. Ayo masuk.” balas Gatot.

“Tidak usah. Ngobrol di teras saja lebih enak.” kata Ningsih.

“Baiklah. Kupanggil Aisyah dulu ya.” sahut Gatot.

“Tidak perlu. Aisyah pasti masih istirahat. Kita ngobrol berdua saja.” sela Ningsih.

“Ya sudah. Bagaimana kesanmu dengan suasana komplek?” tanya Gatot membuka obrolan saat mereka sudah duduk di teras.

“Memang tidak seperti dulu saat kita masih kecil. Tapi aku sungguh senang bisa kembali kesini, Tot. Kembali ke tanah kelahiranku.” jawab Ningsih.

“Jadi nostalgia nih,” Gatot tersenyum.

“Mauku sih begitu. Tapi rupanya anak-anak sebaya kita sudah pada kawin semua. Jadi malas mau main ke rumah mereka.” kata Ningsih.

“Makanya buruan kawin juga. Kita seusia, Ningsih. Aku saja sudah jadi duda.” balas Gatot.

“Hahaha, biar duda tapi kamu masih keren, Tot. Pria idamanku ya yang seperti kamu.” kata Ningsih dengan muka bersemu merah.

”Tidak baik membanding-bandingkan orang. Kesibukanmu apa, Ningsih?” Gatot berupaya mengalihkan topik.

“Macam-macam.” jawab Ningsih. ”Tapi aku paling sibuk kalau sudah memikirkan seseorang.”

“Siapa itu?” tanya Gatot penasaran.

“Kamu,” jawab Ningsih pendek.

Gatot tertawa mendengar kata-kata Ningsih yang dianggapnya lelucon belaka. Tawanya sampai terdengar ke dalam rumah, memancing aisyah untuk keluar dari kamarnya dan mengintai apa gerangan yang membuat Gatot tertawa. Demi melihat Gatot berdua dengan Ningsih, Aisyah seakan tidak rela. Tapi ia tidak cemburu buta. Ia biarkan saja Gatot bersama Ningsih sementara ia sendiri mencari kesibukan di dapur.

Aisyah merasa aneh melihat rumah Pak Camat yang sepi. Aisyah juga aneh dengan ketidak-munculan Murti sejak tadi pagi. Rekan sesama gurunya itu tidak mengajar, malah meminjam motornya dan pergi entah kemana. Sampai sekarang motornya belum kembali. Aisyah coba menghubungi handphone Murti tapi tidak aktif. Maka ketika Gatot datang menghampirinya, Aisyah langsung bertanya.

“Sudah selesai ngobrolnya dengan Mbak Ningsih?” tanyanya dengan nada sedikit ketus.

“Sudah. Ningsih sudah pulang.” jawab Gatot tanpa merasa bersalah.

“Apa Mas Gatot tahu apakah Bu Murti juga sudah pulang?” tanya Aisyah lagi.

“Aisyah, kamu belum tahu apa yang menimpa Murti?” bukannya menjawab, Gatot malah balik bertanya.

“Belum, Mas. Cuma Bu Murti tadi pagi tidak mengajar dan meminjam motorku. Eh sampai sekarang motorku belum balik.” seru Aisyah.

“Murti sedang susah, Aisyah. Dia bertengkar hebat dengan Pak Camat.” jelas Gatot.

“Lho, masalahnya apa, Mas? Bukankah mereka rukun-rukun saja?” tanya Aisyah tak percaya.

“Murti memergoki Pak Camat selingkuh dengan istri mudanya. Makanya mereka bertengkar dan Murti minta cerai.” jawab Gatot.

“Benarkah begitu, Mas?” Aisyah melongo.

“Benar. Dan motormu masih ada di perumahan Residence. Nanti kuambil ya?” tawar Gatot.

“Sungguh menyesal kalau mereka sampai cerai ya, Mas.” Aisyah menggeleng-gelengkan kepala.

Gatot mengangguk. “Oh ya, Aisyah, aku juga sudah berhenti kerja di rumah Pak Camat.” Ia memberi tahu.

“Apa ada kerjaan lain, Mas? Bagaimana dengan hutang Mas Gatot ke Pak Camat?” tanya Aisyah.

“Akan kuusahakan, Aisyah. Apalagi hutang itu juga menyangkut rumah ini.” kata Gatot penuh tekad.

“Mas Gatot, saya ada sedikit tabungan yang bisa mas pakai. Saya ikhlas, Mas.” kata Aisyah.

“Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Aisyah. Simpan saja uangmu ya,” tolak Gatot.

“Saya hanya tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan orang lain, Mas. Aku sudah anggap ini rumahku sendiri.” sahut Aisyah.

“Tidak akan pernah, Aisyah. Rumah ini akan tetap milikku, dan jika Tuhan mengijinkan, akan jadi milikmu juga. Milik kita.” kata Gatot sambil tersenyum dan memandang Aisyah penuh cinta.

“Makanya kubantu bayar ya hutang Mas Gatot ke Pak Camat.” Aisyah membalas senyum itu.

Gatot mengacak rambut Aisyah dengan gemas. Ia memeluk Aisyah dari belakang, mencium kepala gadis itu. “Adakah perasaan itu di hatimu, Aisyah?” tanya Gatot.

Aisyah berbalik dan balas memeluk Gatot, menyembunyikan wajah ayunya di balik ketiak Gatot. “Rasa itu sudah tumbuh sejak kali pertama saya melihat Mas Gatot. Dan kengototan saya pindah kemari semata demi rasa itu, Mas.” terang Aisyah.

Mereka berpelukan semakin erat seakan tidak memberi ruang bagi makhluk apapun menghalangi hangatnya pelukan itu. Mereka tidak peduli pada bau gosong ikan teri. Mereka hanya peduli pada perasaan hati.

“Apakah aku masih layak dan pantas, Aisyah?” kata gatot bertanya.

“Bagiku lebih dari pantas, Mas. Menjalani hidup bersama Mas Gatot adalah impianku.” jawab Aisyah lugas.

“Bagaimana jika mimpimu itu tidak terwujud?” tanya Gatot.

“Saya akan sangat membenci Mas Gatot. Aku kan sudah memberikan apapun, Mas.” yakin Aisyah.

“Aku akan mewujudkan mimpimu, Aisyah, tapi tidak sekarang. Sabar ya?” jawab Gatot.

Dua hati telah bicara. Maka lebih mudah untuk meneruskan semua yang tertunda. Gatot memagut bibir Aisyah dan lebur dalam ciuman membara. Hanya sekedar berciuman karena Gatot sudah bersumpah untuk tidak merusak kesucian Aisyah sampai pada saatnya nanti tiba. Setelah puas, merekapun melepaskan pelukan. Aisyah mengangkat ikan teri yang hangus sementara Gatot mengisi air di bak mandi.

***

Kekhusyukan sholat maghrib Gatot yang berjamaah dengan Aisyah buyar ketika dikejutkan oleh teriakan dan raungan sangat keras dari rumah Pak Camat. Gatot sangat hapal itu adalah suara Murti. Ternyata bukan hanya Gatot saja yang mendengar, tetapi hampir semua tetangga yang berdekatan dengan rumah Pak Camat juga mendengar. Gatot mengajak Aisyah untuk melihat apa yang terjadi. Ia berkerumun bersama puluhan warga komplek yang memenuhi halaman rumah Pak Camat. Beberapa orang mencoba membuka pintu rumah yang terkunci, sementara raungan Murti dari dalam rumah tidak kunjung berhenti. Orang-orang semakin panik dan berpikir macam-macam, menduga-duga apa yang terjadi dalam rumah itu.

Gatot mendekat dan orang-orang memberinya jalan. “Dobrak saja pintunya, Tot!” beberapa warga memberi usul.

“Sabar, Pak. Siapa tahu Murti dengar suara saya,” Gatot mengetuk pintu berkali-kali sambil berteriak-teriak memanggil Murti. Tapi sampai suaranya serak, pintu tak kunjung terkuak. Sementara orang-orang mulai tidak sabar.

Gatot juga hilang kesabaran karena di dalam sana murti makin histeris. Lima orang pemuda coba mendobrak pintu tapi tidak berhasil. Cuma Gatot yang tahu seberapa kuat dan tebalnya daun pintu rumah Pak Camat, juga cuma Gatot seorang yang tahu kunci bagian dalam dari pintu rumah Pak Camat. Ia meminta lima orang pemuda itu menyingkir. Ia mundur jauh ke belakang dan mengumpulkan tenaga lalu berlari cepat menerjang pintu itu. Sukses, daun pintu itu bukan cuma terbuka, tapi sampai patah jadi dua bagai di gergaji. Orang-orangpun percaya bahwa Gatot masih punya kekuatan yang hebat meski sudah tobat.

Beberapa orang tua bergegas masuk dan langsung menuju kamar dimana sumber suara Murti. Sekali lagi Gatot mendobrak pintu dan semuanya berdiri terpaku menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar. Murti langsung menghambur memeluk Gatot dan Gatot langsung membawa Murti ke rumahnya dengan ditemani oleh Aisyah dan Ningsih.

“Aisyah, Ningsih, tolong jaga Murti ya. Usahakan agar dia tenang,” kata Gatot lalu kembali lagi ke rumah Pak Camat.

“Pak Camat gantung diri! Pak Camat bunuh diri!!”

Berita itu langsung menyebar luas. Bukan hanya warga sekitar komplek, tapi sudah merambah hingga penjuru kota. Siapa yang tidak kenal Pak Camat, salah satu pejabat yang digadang-gadang bakal jadi bupati. Dari abang tukang becak sampai mbah-mbah juru pijat, semua kenal Pak Camat. Maka ketika berita hangat itu menyeruak di malam yang baru mulai, berduyun-duyunlah orang-orang berdatangan.

Gatot menyebar-luaskan berita tragis itu ke pegawai kantor kecamatan yang dikenalnya. Kini jalan menuju komplek telah macet total dan terpaksa ditutup. Ratusan mobil berjajar di sepanjang jalan mulai dari mobil plat merah milik pemerintah sampai mobil pickup yang mengangkut warga dari pelosok desa. Dan sebagian warga komplek memanfaatkan momen yang tidak bakal datang dua kali itu untuk mencari keuntungan.

Banyak warung dadakan di tepian jalan komplek. Banyak areal parkir beragam tarif yang ditawarkan pemuda-pemuda desa. Sebagian pemuda bahkan nekad menjadikan halaman rumah Gatot sebagai areal parkir. Untung Gatot mengijinkan. Suara sirene meraung-raung dari jauh dan satu ambulans masuk halaman rumah Pak Camat. Suara sirene terdengar lagi dan mobil mewah Pak Bupati melesat dikawal tiga motor petugas polisi. Gatot menemani Pak RT menerima setiap tamu di rumah duka.

Murti masih belum bisa diajak bicara. Masih menangis dan meraung lirih. Aisyah melihat beberapa bagian tubuh Murti memar dan lebam seperti bekas mengalami siksaan. Yang lebih membuat Aisyah miris adalah rambut Murti yang sudah tak berbentuk lagi. Ningsih juga dilanda kesedihan. Bagaimanapun Murti adalah sahabat kecilnya. Ningsih merengkuhnya penuh penyesalan.

“Istighfar, Mur. Ingat pada Allah,” bisik Ningsih di telinga Murti.

“Iya, Bu Murti. Serahkan semua pada kekuasaanNYA.” kata Aisyah memberi nasehat.

Murti terkulai lesu. Dua orang petugas kepolisian yang ingin meminta keterangan darinya mengurungkan niat karena Murti masih shock, masih terguncang dan pucat pasi. Wajah Murti datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong, hampa.

“Maaf ya, bapak-bapak. Bu Murti masih shock.” kata Aisyah.

“Tidak apa, Mbak. Kami hanya ingin meminta ijin untuk mengotopsi jenasah Pak Camat.” jawab salah satu dari mereka.

“Tidak perlu. Langsung kubur saja!” kata Murti pelan tapi tegas.

Maka malam itu juga pemakaman segera disiapkan. Polisi sudah selesai melakukan investigasi dan identifikasi. Hasilnya Pak Camat memang murni bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tanda-tanda keracunan pada diri Pak Camat. Murti juga sedikit memberi informasi bahwa ia sama sekali tidak tahu yang menimpa suaminya karena sedang pingsan. Murti juga menunjukkan bekas-bekas penyiksaan yang ia alami, membuat polisi tidak lagi memaksanya ikut ke kantor. Murti dinyatakan tidak bersalah. Jelas sudah Pak Camat murni bunuh diri dengan cara gantung diri. Tidak ada unsur-unsur kriminal, begitu penjelasan dari Pak Kapolres.

Setengah jam kemudian pemakaman dilaksanakan. Murti bersikeras tidak mau hadir ke pemakaman suaminya meski Aisyah dan Ningsih memaksa. Hati Murti telah beku. Pintu maafnya telah tertutup. Bahkan Murti tidak bersedia menerima karangan bunga dari Pak Bupati. Cintanya pada Pak Camat telah lama mati. Pengkhianatan suaminya tak termaafkan lagi. Biar saja Pak Camat mati, sekalipun nanti suaminya itu menjadi hantu yang membayanginya tiap hari.

Gatot datang bersama Dewi. Setelah pemakaman selesai, Gatot mengajak Dewi bicara empat mata di rumah Pak Camat. Ia mengajak Dewi ke garasi yang menjadi tempat paling aman tanpa gangguan orang-orang yang banyak berlalu lalang.

“Ini semua salah Mbak Dewi,” kata Gatot terus terang.

Karuan saja Dewi kaget disalahkan seperti itu. “Apa maksudmu, Tot? Apa hubunganku dengan kejadian ini?”

“Mbak Dewi bicara terlalu banyak bicara pada Murti. Mbak telah membuat kehidupan dan rahasia Pak Camat terbongkar.” jelas Gatot.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Tot. Bicara langsung saja ke intinya.” tegas Dewi.

“Mbak Dewi kan yang bilang ke Murti tentang perumahan residence?” tanya Gatot.

“Itu memang benar,” Dewi mengangguk.

“Mbak Dewi tahu itu rumah istri muda Pak Camat?” tanya Gatot lagi.

“Tidak. Aku malah baru tahu malam ini kalau Pak Camat punya istri muda.” terang Dewi jujur.

“Itulah, Mbak. Tadi pagi Murti langsung ke perumahan residence dan memergoki suaminya disana. Bisa mbak bayangkan apa yang terjadi?” tanya Gatot.

Dewi menyandarkan diri ke tembok garasi. Wajahnya pias dan serba tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar cerita Gatot. Dewi menyesal setengah mati karena secara tidak sadar dirinyalah yang membuka jalan bagi terbongkarnya perselingkuhan Pak Camat yang berujung maut.

“Aku menyesal sekali, Tot. Aku yang menyebabkan Mbak Murti kehilangan suaminya.” kata Dewi lirih.

“Sudah tidak ada gunanya, Mbak. Pak Camat sudah mati dan Murti terlanjur sakit hati.” sahut Gatot.

Memang sudah tidak ada gunanya menyesali yang telah terlanjur terjadi. Pak Camat tidak mungkin hidup lagi. Seandainya Pak Camat hidup sekalipun, Murti sudah pasti tidak akan sudi melanjutkan hidup bersama Pak Camat.

Gatot mengajak Dewi ke rumahnya. Kini Gatot berada di tengah-tengah para wanita pembelenggu. Tapi Gatot sadar hanya ada dua dari keempat wanita itu yang benar-benar kuat menanamkan belenggu dalam jiwanya. Murti dan Aisyah, dua wanita yang sama-sama ia cintai. Selebihnya hanya sesaat numpang lewat saja, seperti Dewi dan Ningsih.

NYAI SITI 12 : SALAMAH

Angin malam bertiup dingin dari lembah. Bayu masuk ke dalam kedai seenaknya sambil bersiul-siul. Orang tua pemilik kedai menyambutnya dengan muka bertanya. ”Anak muda,” katanya, ”baru kali ini kulihat dirimu. Kau ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?”

Bayu mengusap-usap dagunya yang licin. ”Bapak sudah lama tinggal di sini?” katanya balik bertanya.

”Sejak masih bayi….” jawab orang tua itu.

”Hem… kalau begitu tentu kenal dengan nama Dewo.” kata Bayu.

”Oh tentu… tentu sekali. Dia orang tua sepertiku, bapaknya dulu Kepala Kampung disini. Tapi sekarang dia tinggal bersama Kyai Kholil, setelah dia pulang merantau selama bertahun-tahun. Cuma sayang…” laki-laki itu menggantung kalimatnya.

”Sayang kenapa?” kejar Bayu.

Orang tua itu tak segera menjawab. Dia memandang keluar kedai seperti mau menembusi kegelapan malam, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. ”Sejak kedatangannya, kampung ini jadi aneh…” katanya kemudian menambahkan.

Bayu menelan ludahnya. ”Aneh bagaimana, kalau boleh saya tahu,”

Pertanyaan ini membuat si orang tua memandang lekat-lekat pada paras tampan pemuda itu. ”Semua perempuan sangat menurut kepadanya… penduduk yakin dia punya ilmu pelet, tapi sama sekali tidak bisa membuktikannya. Dengan begitu kami tidak bisa bertindak. Ditambah pula, kami juga segan pada Kyai Kholil yang dituakan di kampung ini. Dia selalu melindungi dan membela Dewo.” katanya.

Kemudian dituturkannya beberapa peristiwa perselingkuhan Dewo dengan wanita-wanita di desa ini. ”Tampaknya dia suka wanita yang berjilbab, buktinya istri Pak Lurah yang tidak berjilbab masih aman-aman saja sampai sekarang meski orangnya sangat cantik.” tutup pemilik kedai tersebut.

Sebenarnya kisah ini sudah diketahui dengan pasti oleh Bayu, karena tujuan kedatangannya ke desa adalah untuk menghentikan Dewo. Ini adalah perintah dari gurunya, yang juga adalah guru Dewo. Bedanya, kalau Dewo menggunakan ilmunya di jalan kesesatan, Bayu lebih memilih yang sebaliknya. Itulah sebabnya, mau tak mau dia harus melawan Dewo kalau tidak mau kemungkaran ini semakin merajalela.

Dan sebagai tahap awal, ia sudah mencampur sejenis ramuan khusus yang hanya ia sendiri yang bisa meraciknya ke dalam sumur-sumur penduduk. Dengan begitu ia berharap pelet si Dewo akan tertolak, atau malah luntur dan menghilang bagi wanita-wanita yang sudah terlanjur kena. Usahanya itu sepertinya tidak sia-sia, karena sudah seminggu ini dilihatnya Dewo kelimpungan dalam mencari mangsa. Bayu lega bahwa perempuan di desa ini sudah sanggup menolak permintaan Dewo. Berarti ramuan penangkalnya sudah mulai bekerja. Kini tinggal bagaimana meneruskan ke tahap selanjutnya.

Bayu mengulurkan tangannya untuk memotes sebuah pisang yang tergantung di para-para.

”Eee… apa kau punya uang untuk membayar pisang itu, anak muda?” tanya si pemilik kedai.

Bayu tertawa, ”Hutang dulu, tidak apa-apa kan?” sahutnya ringan sambil tertawa.

Si orang tua mengeluh dalam hati. Berarti tambah satu lagi ’langganan’nya yang makan tanpa bayar!

Sambil mengunyah pisangnya, Bayu bertanya, ”Kalau misalnya kedok Dewo terbongkar, apa yang akan dilakukan oleh penduduk?”

Si orang tua memandang lagi ke luar kedai dengan geram. Lalu katanya, ”Mungkin kami akan ramai-ramai memukulinya sampai mati, atau kalau tidak, mengusirnya dari kampung ini.”

”Wah, kejam juga ya,” sahut Bayu, lalu terdiam.

Kulit kening pemilik kedai itu mengkerut. “Dia yang lebih kejam, karena sudah merampas kehormatan istri dan anak-anak kami.”

”Kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja?” tanya Bayu.

”Tanpa adanya bukti, polisi tidak akan bisa berbuat apa-apa.” kata laki-laki itu. ”Kebanyakan korban si Dewo tidak mau bicara, mereka tidak bisa diajukan sebagai saksi. Kita butuh saksi mata yang benar-benar menyaksikan peristiwa itu, dan sampai sekarang kami belum menemukannya.”

”Hmm, begitu ya,” Bayu manggut-manggut dan meletakkan kulit pisang di tepi meja. ”Kemarin kulihat Dewo menggoda seorang gadis belia berparas cantik di depan musholla. Bahkan gadis itu hendak diperkosanya. Apakah itu bisa dijadikan bukti?”

”Mungkin bisa, tapi aku sendiri juga tidak tahu.” pemilik kedai mengidikkan bahunya, lalu menghela nafas. ”Agak sulit untuk melakukannya, karena begitu mendapat masalah, Dewo akan mempergunakan keampuhan ilmu peletnya untuk meredam kemarahan penduduk. Sebenarnya sudah berkali-kali kami ingin mengeroyoknya, tapi selalu saja urung setiap kali sudah berhadapan dengannya. Seperti ada rasa takut dan sungkan yang tiba-tiba menyerang, hingga akhirnya kami lebih memilih menyelamatkan keluarga sendiri-sendiri daripada bentrok dengan Dewo. Percuma, hasilnya sudah jelas. Ilmu pelet laki-laki itu mustahil untuk dilawan.”

Kini jelaslah bagi Bayu kenapa penduduk selama ini cuma diam melihat sepak terjang si Dewo, kakak seperguruannya yang memilih jalan sesat. Hukum sama sekali tidak mempan kepadanya, jadi tibalah saat bagi Bayu untuk balik melawan Dewo dengan menggunakan ilmu gaibnya.

Pemuda tampan itu memanggutkan kepala. ”Dia harus dihentikan, atau kampung ini tidak akan pernah tenteram.”

”Kata-katamu betul, anak muda.” balas si orang tua, tapi kemudian menggerendeng dan memaki panjang pendek ketika didengarnya Bayu berkata, ”Minta tehnya, Pak.”

Sementara si orang tua membuatkan segelas teh manis untuknya, Bayu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia teringat pada gadis berbaju biru yang telah ditolongnya kemarin. Salamah, anak Haji Tohir. Nama itu telah menarik perhatiannya. Hanya dia satu-satunya wanita di desa ini yang tidak mempan oleh pelet si Dewo. Entah apa sebabnya, yang jelas Bayu harus mengetahuinya. Siapa tahu dengan informasi tersebut ia bisa menolong banyak perempuan lain di kampung ini.

Ketika si orang tua datang membawakan teh, Bayu hendak bertanya sesuatu tapi mulutnya terkatup kembali karena di luar kedai dilihatnya sesosok tubuh renta yang berjalan pelan menuju ke suatu tempat. Tidak salah lagi. Itu Dewo. Mau kemana dia sekarang?

Segera Bayu berpaling pada orang tua pemilik kedai, orang tua ini menarik nafas panjang dan berkata, ”Sepertinya dia akan mencari korban baru lagi. Pasti akan ada suami atau ayah yang kehilangan kehormatan istri dan anaknya.”

”Menurut bapak begitu?” tanya Bayu memastikan.

Oran tua itu mengangkat bahu. ”Potong leherku kalau sampai salah,”

”Ayo cepat, Pak, kita hentikan!” kata Bayu sambil meneguk cepat teh manisnya, lalu bangkit berdiri.

”Coba saja,” laki-laki itu tertawa. ”kamu akan pingsan bahkan sebelum tahu ke arah mana Dewo menuju.”

Bayu tidak berkata apa-apa lagi, karena itu memang benar. Kalau saja tidak berilmu tinggi, kemarin ia pasti juga akan pingsan saat mecoba menolong Salamah. Itulah kenapa ia tidak meneruskan perhitungannya kepada Dewo meski lawannya itu sudah terkapar kaku tak bergerak di tanah. Badan Bayu juga merinding, semua persendiannya seakan lepas. Dan dia pingsan di gubuk tengah sawah saat mencoba untuk menenangkan diri. Melawan Dewo memang tidak boleh grusa-grusu, itulah pesan dari mbah gurunya di lereng Lawu.

”Baiklah, Pak. Saya hanya akan mencoba menguntitnya.” kata Bayu. ”Oh iya, satu lagi. Jangan sebarkan soal kedatangan saya ke kampung ini, anggap saja kita tidak pernah berjumpa. Dengan begitu Dewo tidak akan curiga.”

Habis berkata demikian, Bayu segera pergi meninggalkan kedai. Si orang tua mengangkat gelas bekas minuman pemuda itu. ”Ah, semakin tua umur dunia ini semakin banyak terjadi keanehan.” katanya dalam hati.

***

Dari balik sebuah rumpun bambu terdengar suara beradunya alat kelamin serta lenguhan dan rintihan hebat yang sangat membangkitkan birahi. Tanah sepetak yang ditumbuhi rumput pendek itu kini berubah menjadi sebuah medan ’pertempuran’. Satu orang laki-laki, dikeroyok oleh dua orang perempuan, atau gadis lebih tepatnya. Ada Dewo dan Mila, anak si Jamil juragan tahu. Juga seorang gadis lain, Nurmah, teman main Rohmah. Mereka tengah bercinta dengan sangat hebat dan cepat.

”Eesshh… nikmatnya, uuh!!” Nurmah merintih penuh nikmat ketika kepala kontol Dewo yang besar membelah bibir memeknya yang masih perawan dan mulai masuk secara perlahan-lahan. ”Ough… p-pelan-pelan aja, Paman Dewo! Eegh…” rintihnya menahan ngilu.

Terlihat betapa sempitnya memek Nurmah, baru masuk sepertiganya saja sudah hampir membuatnya penuh. Dewo juga melenguh merasakan remasan liang memek Nurmah yang membungkus batang penisnya. Ia terus menekan sedikit demi sedikit sehingga kontolnya semakin menembus masuk.

”Ough… Paman Dewo!” Nurmah kembali mengerang penuh birahi. Dan, blees…!! masuklah seluruh kontol Dewo, menusuk dan menghujam sepenuhnya, merobek selaput daranya dan mentok hingga ke dalam liang memeknya.

”Aughh….” Nurmah mengerang lebih panjang dengan tubuh menggeliat ketika akhirnya alat kelamin mereka bersatu erat. Terlihat selarik darah merah merembes dari sela-sela kemaluannya yang mulai berbulu.

”Aah…” Dewo pun mendesis. Luar biasa nikmat dan hangat memek gadis yang baru beranjak dewasa ini. Pelan-pelan Dewo menarik keluar batang penisnya lalu menekan lagi secara perlahan-lahan, dan mulai memompa tubuh indah Nurmah yang ada di dalam pelukannya.

”Eghh… ahh… esh…” Nurmah mengerang penuh nikmat.

Gerakan Dewo yang awalnya pelan, makin lama menjadi semakin kencang dan keras. Ia begitu terbuai dengan betapa sempitnya memek teman main Rohmah ini, yang terasa begitu kuat meremas batang penisnya. Kalau yang kurus saja seperti ini, bagaimana dengan Salamah yang tubuhnya sekal dan semok. Pasti berkali-kali lipat nikmatnya. Tapi sayang Dewo belum bisa mendapatkannya, padahal dia sudah mengerahkan segala cara untuk menaklukkan Salamah. Ilmu peletnya seakan mental kepada anak Haji Tohir tersebut.

Dewo tidak mengerti kenapa, tapi dia berniat untuk memikirkannya nanti saja. Sekarang ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Penuh tenaga ia memompa memek sempit Nurmah dengan desakan maju-mundur batang penisnya. Dengan bertambah cepatnya genjotan itu, semakin kencang pula Nurmah mengerang. Erangannya seperti mengungkapan perasaan puas dalam menikmati persetubuhan ini. Dan rupanya Nurmah sudah tidak kuat lagi, karena tiba-tiba tubuh kurusnya menekuk ke atas dengan mata terpejam rapat.

”Paman Dewo… augh… oohh… ehhh!!” ia mendesah panjang saat mencapai puncak birahinya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, Dewo merasakan tubuh gadis itu mulai melemas, Nurmah berbaring di atas rumput di bawah rumpun bambu. Terukir senyuman puas di bibirnya yang tipis. Sebagai jawaban, Dewo membenamkan kontolnya dalam-dalam untuk yang terakhir kali, setelah itu mencabutnya dan menyuruh Nurmah untuk mengulumnya hingga bersih. Gadis yang sehari-hari mengaji di musholla itupun dengan senang hati melakukannya. Kini bukan bibir vaginanya saja yang basah, mulut atasnya juga ikutan belepotan oleh cairan orgasmenya. Namun Nurmah sama sekali tidak terlihat keberatan.

Setelah benda panjang di selangkangan Dewo menjadi bersih, barulah Nurmah melepasnya dan memberikannya kepada Mila yang sudah duduk menanti. Pagi itu mereka memang sedang mencuci baju di sungai, yang merupakan kebiasaan gadis di kampung ini. Mereka ngobrol-ngobrol, mulai dari pelajaran sekolah hingga berita yang lagi heboh di kampung itu. Berita tentang banyaknya ibu-ibu dan anak perawan yang hamil tanpa diketahui bapaknya. Dan itu juga akan menimpa mereka berdua karena tak lama, Dewo berjalan lewat di tempat sepi itu.

Mengetahui ada mangsa yang bisa ia dapatkan dengan mudah, Dewo pun mendekat. Tanpa basa-basi ia melancarkan ilmu peletnya dan mereka pun takluk. Keduanya diam saja ketika Dewo mulai menelanjangi diri dan mengajak mereka untuk mandi berdua.

Sebenarnya Dewo lebih mengincar Mila, karena selain lebih cantik, tubuhnya juga lebih berisi, tidak seperti Nurmah yang masih kurus dan seperti anak kecil. Tapi begitu merasakan keperawanannya tapi, pendapatnya jadi sedikit berubah. Nurmah ternyata lumayan juga, Dewo cukup senang meski tidak sampai puas. Dan Dewo berniat untuk melampiaskan segala hasratnya yang tertunda kepada Mila, yang kini mulai merangkak naik ke atas tubuh kurusnya.

Mila yang susunya mulai tumbuh besar, dengan senang hati melayani ciuman Dewo. Mereka saling hisap dan saling lumat untuk sejenak. Penuh nafsu Dewo mengulum bibir Mila yang tipis, sementara di bawah, ia mulai menyelipkan batang kontolnya ke memek gadis muda itu. Kontras sekali pemandangan yang terlihat, Dewo yang berkulit hitam dan keriput, asyik menikmati tubuh Mila yang putih dan mulus.

Dewo menyingkap baju kurung Mila hingga ke pinggang, juga melepas kancing baju yang ada di dadanya. Sementara jilbabnya tetap ia biarkan terpasang dengan sempurna. Sambil memompa, kini Dewo bisa dengan leluasa mempermainkan payudara gadis muda itu. Ia cucupi puting Mila satu persatu, menghisapnya kuat-kuat, atau sesekali menggigit-gigitnya gemas begitu mendengar Mila merintih dan terengah-engah. Anak juragan Jamil itu semakin mendesis dilanda oleh api birahi yang sangat nikmat.

“Ahh…” Mila menggelinjang saat Dewo memintanya untuk menungging. Tanpa menolak dia mengikuti perintah itu.

Kini Dewo mengarahkan batang kontolnya ke liang memek Mila dari arah belakang, ia membelah dan menusuknya sampai mentok di mulut rahim gadis cantik itu. Kembali rintihan Mila terdengar saat Dewo mulai memaju-mundurkan penisnya secara cepat. Ia menekan dalam-dalam ke liang memek Mila. Begitu kerasnya hingga sampai membuat kepala Mila mendongak ke atas berkali-kali.

Dewo terus memacu dan menggerakkan penisnya sambil sesekali tangannya meremas pantat Mila yang bulat seksi. Penuh nafsu ia mengobrak-abrik liang senggama Mila yang masih terasa sempit dan rapat. Dewo merasakan kontolnya seperti diremas-remas, sungguh perpaduan yang menimbulkan kenikmatan pada alat kelamin masing-masing.

Sama seperti pada Nurmah tadi, juga terlihat darah menetes dari liang memek Mila yang masih perawan. Namun Dewo sama sekali tidak mempedulikannya, ia terus memompa dan memompa. Semakin banyak darah yang mengalir keluar, semakin ia bergairah. Begitulah tabiat si Dewo.

Dan Mila, hanya di awal-awal saja terdengar ia merintih dan menjerit. Namun seiring waktu, dan juga karena genjotan si Dewo yang semakin bertambah cepat, gadis itupun mulai mendesis dan merengek penuh nikmat. Kalau saja Dewo tidak membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, pasti Mila akan berteriak-teriak untuk meluapkan rasa nikmatnya, yang mana itu bisa mengundang kecurigaan orang yang mungkin kebetulan lewat disana.

Tentu saja Dewo tidak mau itu terjadi. Meski berilmu tinggi dan bisa menaklukkan kemarahan orang, tidak enak rasanya kalau lagi enak-enaknya ngentot tiba-tiba diteriaki seseorang. Jadi daripada itu terjadi, sambil terus menggoyang, Dewo tak lupa juga melumat mulut Mila secara bertubi-tubi. Dengan begitu gadis itu jadi sedikit terdiam, membuat Dewo bisa berkonsentrasi dalam menjemput klimaksnya.

Setelah berkali-kali memompa, Dewo merasakan sudah sampai waktunya bagi dia untuk menembakkan sperma. Maka segera ia percepat enjotan kontol di dalam memek Mila, dan menekannya sedalam mungkin sampai mentok menyentuh dinding rahim gadis berjilbab merah itu. Sambil meremas payudara Mila yang montok, Dewo melepas cairan spermanya yang pasti sangat kental dan banyak sekali. Memenuhi seluruh rongga vagina Mila, bahkan hingga tumpah ruah keluar.

Di saat yang sama, Dewo juga merasakan Mila menggapai puncaknya. Tubuh gadis itu mengejang ringan dan disusul sekitar enam kali muncratan cairan kenikmatannya. Mereka terdiam untuk sejenak, menikmati dahsyatnya persetubuhan tabu ini. Memang benar-benar berbeda sensasinya bercinta di alam liar, nikmatnya sungguh luar biasa.

Bayu baru tiba di tempat itu saat Dewo sudah mencabut penisnya dari liang senggama Mila. Pemuda itu terlambat! Sungguh sangat-sangat terlambat! Sudah tambah dua lagi anak gadis kampung yang kehilangan keperawanannya. Dilihatnya Mila yang bajunya acak-acakan tengah memeluk Dewo dengan penuh kemesraan, bagaikan sepasang kekasih saja layaknya. Nurmah ikut-ikutan memeluk, ketiganya saling membelai dan berciuman, merapatkan tubuh masing-masing dengan begitu eratnya.

”Sialan!” Bayu mengutuk kebodohannya. Ia memaki panjang pendek dalam hati. Kalau begini percuma, Dewo sudah melaksanakan niat jahatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.

Namun ia tidak menyerah. Bayu mencoba mengerahkan ilmunya, mengumumkan kehadirannya kepada Dewo. Siapa tahu dengan begitu Dewo jadi waspada dan melepaskan kedua mangsanya. Dan benar saja, Dewo tiba-tiba celingukan curiga. Perasaannya yang peka mendeteksi adanya ancaman.

”Hei, sebaiknya kalian pulang dulu.” katanya kepada Nurmah dan Mila.

”Kenapa? Kita baru main satu kali.” balas Nurmah enggan.

”Iya, saya masih belum puas merasakan enjotan kontol Paman Dewo.” timpal Mila sambil menggelayut manja.

Dewo segera menyingkirkan tubuh keduanya. ”Aku ada urusan penting,” sahutnya pendek sambil meraih celananya dan mengenakannya kembali.

Tahu kalau Dewo serius, dengan mendengus kecewa kedua gadis itu ikut merapikan baju masing-masing. Dari tempatnya mengintip, Bayu tersenyum gembira. Dibiarkannya Nurmah dan Mila berlalu sebelum dia keluar dari tempat persembunyiannya untuk menantang Dewo bertarung. Sudah cukup bukti baginya untuk menghentikan sepak terjang laki-laki tua itu.

Namun baru saja akan meloncat, Bayu dikejutkan oleh suara seseorang. ”Hei, kita berjumpa lagi,”

Bayu langsung menoleh. Ternyata Salamah, gadis itu sudah berdiri di sebelahnya. Di bibirnya yang tipis tersungging senyum semringah penuh kebahagiaan. Bayu segera menariknya turun, mengajaknya ikut berjongkok agar tidak dipergoki oleh Dewo. Semua rencananya jadi berantakan sekarang. Kehadiran Salamah membuatnya jadi mengurungkan niat untuk menyerang Dewo. Bisa-bisa gadis itu jadi terlibat dalam masalah kalau Bayu memaksa untuk bertarung sekarang.

”Eh, kok kamu bisa berada disini?” tanya Bayu dengan heran.

Salamah tertawa dan menjawab, ”Tadinya aku ingin menjemput Nurmah yang tidak pulang-pulang sehabis mencuci baju di sungai. Eh, aku malah melihatmu disini. Ya aku hampiri saja. Memangnya kamu lagi mengintip apaan sih?” tanyanya penasaran.

Bayu segera menghalangi pandangan gadis itu, memberi waktu bagi Nurmah dan Mila untuk berlalu dari tempat itu. Ia tidak ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Salamah. ”Bukan apa-apa. Aku hanya lagi menjerat burung untuk dimakan.” Bayu berkilah.

”Oh… kukira apaan,” Salamah terkekeh. ”Kalau lapar, ke rumahku saja. Masakanku enak lho.” tawarnya sungguh-sungguh.

”Terima kasih, mungkin besok atau nanti malam.” Bayu menggaruk perutnya.

”Aku juga terima kasih, atas pertolonganmu kemarin. Kalau saja kau tidak datang, mungkin Dewo s-sudah…” Salamah tidak sanggup meneruskan perkataannya.

”Ah, aku hanya kebetulan lewat.” kata Bayu merendah.

”Tapi aku benar-benar berterima kasih.” sahut gadis itu. ”oh iya… kalau boleh tahu, apa tujuanmu datang kemari?”

Bayu tidak langsung menjawab, tampak berpikir untuk sejenak. ”Aku pengangguran. Dimana kakiku melangkah, disitulah aku menuju.” sahutnya diplomatis.

Salamah tersenyum mendengarnya. Mata Bayu yang memandangnya tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. ”Aku senang bisa mengenalmu.”

Bayu menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. ”Aku juga.”

Salamah hendak menyibakkan tangan si pemuda, tapi tak jadi karena saat itu Bayu membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari darah di tubuh Salamah ketika bibir pemuda itu mulai mengecup bibirnya. Kemudian tangan yang lain dari si pemuda mengusap mukanya. Salamah diam saja. Juga masih diam ketika tangan Bayu meluncur turun ke bawah lehernya.

”B-Bayu… a-apa yang kau lakukan?” bisik Salamah setengah merintih.

Pemuda itu menyeringai. ”Kau cantik, Salamah…”

”K-kau… juga… tampan…” balas Salamah lirih.

Tidak banyak tanya lagi, Bayu segera menuntun tubuh gadis montok itu ke gubuk di tengah sawah. Saat itu Dewo sudah kembali ke perkampungan, hingga hanya tinggal desau angin dan burung-burung pipit yang menyaksikan bagaimana kedua insan yang berlainan jenis itu mulai melepas baju masing-masing.

Bayu merengkuh tubuh Salamah dan merebahkannya di atas lantai kayu. Bibirnya yang tipis mulai ia lumat pelan-pelan, sementara bulatan payudaranya ia remas-remas ringan. Salamah mengadakan perlawanan dengan mengimbangi kuluman Bayu, sambil diselingi dengan permainan lidahnya yang nakal. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman, Salamah sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiran Bayu.

”Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?” tanya Bayu heran.

Gadis itu mengangguk malu-malu. ”Sebenarnya aku sudah menikah siri, tapi suamiku sekarang lagi kerja ke luar pulau. Ngumpulin duit buat biaya nikah resmi nanti.”

”Kalau begitu kita tidak boleh melakukannya,” Bayu segera menjauhkan tubuh Salamah.

”Kenapa?” Salamah memprotes. ”Aku ikhlas melakukannya.”

”Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” Bayu tidak ingin menjadi seperti Dewo yang suka mengembat istri orang.

”Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin.” kata Salamah.

”Masih ada banyak cara untuk berterima kasih,” sahut Bayu. Pandangan matanya menerawang ke hamparan sawah yang mulai menguning, tidak ingin melihat Salamah yang masih terduduk dengan tubuh setengah telanjang.

”Kalau aku hanya ingin membalasnya dengan cara ini?” tantang gadis itu.

Bayu tidak menjawab. Hanya tangannya yang bergerak, menyuruh Salamah agar memakai pakaiannya kembali. Tapi gadis itu menepisnya.

”Lihat aku.” Salamah berteriak. ”Kalau kau tidak mau, lebih baik aku menyerahkan tubuhku kepada Dewo!”

Ancaman itu membuat Bayu langsung menoleh. Ditatapnya wajah cantik itu. ”Jangan! Jangan lakukan itu!”

”Kalau begitu, sentuh tubuhku!” pinta Salamah tegas, ”tidak tahukah kau betapa aku kesepian semenjak ditinggal pergi oleh suamiku?” lirihnya memelas.

Bayu terdiam, namun tak urung matanya kembali menjelajahi tubuh bugil Salamah yang kini hanya tinggal mengenakan jilbab dan celana dalam saja. Buah dada gadis itu yang tidak terlindungi bra terlihat bergerak turun-naik seiring dengan tarikan napasnya. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat begitu segar dan telah sepenuhnya mengeras.

”Kumohon… biarkan aku membalas budi baikmu,” Salamah kembali berkata.

Tanpa menunggu persetujuan Bayu, jari-jari tangannya mulai membuka ikatan celana pemuda tampan itu. Salamah memandangi dada Bayu yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontol Bayu yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalam. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak panas.

Situasi itu membuat Bayu jadi tidak bisa mundur lagi. ”Maafkan aku,” Perlahan ia pun mendekat dan memeluk tubuh mulus Salamah yang sudah terduduk pasrah. Kembali ia kulum bibir gadis itu dengan hangat dan mesra.

Salamah mengimbanginya. Dia memeluk leher Bayu sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dada pemuda itu. Payudara itu terasa begitu kenyal dan lembut. Putingnya yang telah mengeras terasa benar-benar kaku dan menggelitik, membuat keduanya saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

”Hmm…” Ciuman Bayu kini pindah ke leher jenjang Salamah. Dengan sedikit menyingkap jilbab gadis itu, terpancar keharuman parfum Salamah yang begitu segar dan menggairahkan.

Salamah mendongakkan dagunya agar Bayu dapat menciumi segenap pori-pori di kulit lehernya. ”Ahh… aku sudah menginginkan ini dari kemarin.” rintih gadis itu. “Gelutilah tubuhku… puaskan aku!” bisik Salamah terpatah-patah.

Bayu menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahnya bergerak ke arah payudara gadis itu. Payudara Salamah begitu menggembung dan padat, namun berkulit sangat lembut seperti bayi. Bayu menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudara itu, kemudian menggesek-gesekkan wajahnya di sana. Bergantian hidungnya menghirup keharuman yang terpancar dari kulit payudara Salamah. Puncak bukitnya yang kanan ia lahap masuk ke dalam mulutnya. Bayu menyedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutnya menjadi semakin banyak.

Salamah kontan menggelinjang. ”Auw! Jangan keras-keras… ngilu!” rintihnya.

Namun gelinjang dan rintihan gadis itu semakin membangkitkan hasrat Bayu. Diremasnya bukit payudara sebelah kiri Salamah dengan gemasnya, sementara puting yang kanan ia mainkan dengan ujung lidahnya. Puting itu kadang juga digencetnya dengan tekanan ujung lidah dan gigi. Kemudian secara mendadak disedotnya lagi kuat-kuat. Sementara jari tangannya menekan dan memelintir puting payudara yang kiri. Salamah semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah rindu.

”Aduh… sshh… ngilu, Bayu… shh… geli!” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulutnya yang merangsang.

Bayu yang tidak puas hanya dengan menggeluti payudara kanan, kini mulutnya berganti menggeluti yang kiri, sambil tangannya meremas-remas keduanya secara kuat. Kalau payudara yang kiri ia sedot kuat-kuat, tangannya memijit-mijit dan memelintir puting yang kanan. Sedang bila gigi dan ujung lidahnya menekan-nekan puting kiri, tangannya meremas sebesar-besarnya payudara Salamah yang kanan. Begitu terus berganti-ganti.

”Bayu, kamu nakal… ssh… hhh…” Membuat Salamah jadi tiada henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, Bayu meneruskan permainan lidahnya ke arah perut Salamah yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutnya berhenti di daerah pusar gadis itu. Ia berkonsentrasi mengecupi disana, sementara kedua telapak tangannya menyusup ke belakang dan meremas-remas pantat Salamah yang melebar dan menggembung padat. Kedua tangan Bayu menyelip ke dalam celana merah muda tipis yang melindungi pantat itu, dan perlahan-lahan memelorotkannya ke bawah. Salamah sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan bagi Bayu. Dengan sekali sentakan, celana dalam itupun sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang sungguh luar biasa merangsang. Jembut Salamah sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna merah tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusar, tangan Bayu mulai mengelus-elus paha Salamah yang berkulit licin dan mulus. Elusan itu semakin merambat ke dalam dan merangkak naik, hingga sampailah jari-jari tangan Bayu di tepi kiri-kanan bibir luar memek Salamah. Perlahan pemuda itu mengelus-elusnya dengan dua jari, bergerak dari bawah ke atas.

”Ahh… Bayu!” Dengan mata terpejam, Salamah berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau sangat menikmati permainan ini.

Perlahan Bayu menyibak bibir memek Salamah dengan ibu jari dan telunjuknya sampai kelentit gadis itu menongol keluar. Wajahnya kemudian bergerak kesana, sementara tangannya kembali memegangi payudara Salamah yang bergetar-getar indah. Bayu menjilati kelentit Salamah perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tangannya mempermainkan puting payudara gadis itu.

”Auw! Bayu… shh… betul… di situ… enak… shh…” Salamah mendesah-desah sambil matanya merem-melek keenakan. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas dan ke bawah mengimbangi gerakan merem-melek matanya. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Bayu sudah akan meneruskan permainan lidahnya dengan melakukan jilatan-jilatan panjang, saat lamat-lamat didengarnya suara langkah kaki mendekat. Spontan ia menghentikan jilatan dan mendongak untuk mengintip, sementara satu tangannya membungkam mulut Salamah agar berhenti bersuara.

”Ssst… ada orang kesini,” katanya berbisik.

Salamah segera duduk meringkuk sambil berusaha membenahi pakaiannya yang acak-acakan. Tidak jauh dari gubuk tempat dimana mereka berada, tampak seorang lelaki berperawakan gendut dengan peci putih melangkah tertatih-tatih menyusuri pematang sawah. Sekali lihat saja, Salamah sudah bisa menebak kalau itu adalah Haji Tohir.

Gawat! Kenapa ayahnya menyusul kemari?

PIPIT

Lelaki bertubuh kecil itu menyelinap diam-diam. Bilik kecil itu gelap, tapi ia sudah hafal sudut-sudutnya. Tangannya kini meraih handel laci meja dan perlahan menariknya. Dengan senter kecil, disorotinya selembar kertas dari dalam sebuah map. Tertulis di atasnya sejumlah nama. Dilipatnya kertas itu dan dimasukkan ke balik jaketnya.

”Penyusup!” kata-kata itu menggema di benaknya.

Ya, Faiz, lelaki itu, sadar betul. Ia adalah penyusup, mata-mata! Ia bekerja untuk militer, mengamat-amati aktivitas rakyat. Dua tahun sudah ia menyusup ke tempat ini, menyamar sebagai santri. Dua tahun cukup baginya untuk mendapat kepercayaan dari para pengasuh pondok di kawasan terpencil itu. Karena itu pula, ia bebas masuk ke sejumlah ruangan yang terlarang bagi banyak santri lainnya.

Sore tadi, ia bahkan bertugas menyiapkan minuman untuk sebuah pertemuan. Ia yakin ini pertemuan yang sangat rahasia. Sejumlah pengurus pondok hadir. Ia juga melihat orang-orang yang tampaknya lama tinggal di hutan, turut hadir. Orang-orang ini dilihatnya meletakkan senjata-senjata AK-47 di sudut ruangan.

Sambil menyiapkan minuman, Faiz leluasa mendengarkan pembicaraan mereka. Sangat jelas baginya, mereka tengah membicarakan rencana penyerbuan ke sebuah pos militer, pekan depan. Usai pertemuan, mereka semua bergegas pergi. Faiz sempat mendengar pimpinan pondoknya berpamitan kepada istrinya.

”Kira-kira seminggu kami pergi,” kata lelaki itu.

Seluruh rencana sudah terekam dalam benak Faiz. Tinggal satu yang belum, nama-nama mereka yang hadir. Daftar hadir di selembar kertas itulah yang kini dikantonginya.

“Aku harus segera mengabari markas,” ujarnya dalam hati sambil perlahan beranjak ke luar ruangan.

Namun baru saja memegang handel pintu, mendadak ia mendengar suara rintihan. Faiz berhenti sejenak. Itu rintihan seorang perempuan. Begitu jelas dan lebih mirip desahan. Faiz melupakan sejenak rasa cemasnya. Ia berbalik memasuki ruang dalam. Desahan itu begitu merangsangnya. Ia terus mendekat ke arah sumber suara di salah satu kamar.

Faiz tahu pasti, malam ini cuma seorang perempuan muda yang tinggal di rumah itu. Perempuan itu, Nurfitri, istri salah seorang pengasuh pondok. Faiz biasa memanggilnya dengan Ustazah Pipit. Pintu kamar Pipit hanya tertutup sehelai kain korden. Perlahan Faiz menyingkapkan korden itu.

Kamar Pipit tak cukup terang. Tapi kedua mata Faiz yang sejak tadi terbiasa dengan kegelapan dapat melihat dari arah samping, sesosok tubuh perempuan tampak duduk di ranjang dengan bersandar di dinding. Perempuan itu hanya mengenakan daster tipis. Rambutnya yang lebat terurai ke bawah bahu.

Faiz belum pernah melihat Pipit dalam keadaan seperti itu. Sehari- hari, ia hanya bisa melihat sepasang mata Pipit dari celah cadar yang dipakainya. Pakaiannya pun semacam jubah panjang yang menutupi sekujur tubuhnya.

Meski demikian, Faiz yakin perempuan itu adalah Pipit. Darah mudanya bergelora saat pertama kali melihat wajah perempuan itu. Perempuan itu begitu cantik. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis. Faiz makin tegang manakala melihat Pipit tengah meremas-remas kedua payudaranya dari luar daster. Dari bibirnya yang tipis keluar rintihan. Kepalanya mendongak.

Pipit baru sekitar tiga tahun menikah dan belum punya anak. Suaminya sangat sibuk di luar pondok. Mungkin karena itu, nafkah batinnya tak sepenuhnya terpuaskan.

Faiz melotot. Entah kapan Pipit melakukannya. Yang jelas, di depannya terlihat perempuan itu telah mengeluarkan sebelah payudaranya. Cukup besar. Dalam cahaya remang-remang, bagian indah itu tampak berkilauan. Pipit terus meremas dan merintih. Kini ia bahkan menarik-narik putingnya.

Faiz dengan tegang menanti adegan berikutnya saat dilihatnya Pipit menarik bagian bawah dasternya hingga ke pinggang. Kedua kakinya yang menekuk kini terlihat jelas. Faiz belum dapat melihat sasaran yang amat dinantinya karena posisinya terhalang kaki Pipit yang indah. Tapi dilihatnya sebelah tangan Pipit kini menetap di pangkal pahanya. Rintihan Pipit makin menggairahkan. Di sela rintihannya terdengar ia menyebut nama suaminya.

Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Faiz cepat bersembunyi di tempat yang aman. Suasana ruangan yang remang-remang memudahkan ia menemukan tempat sembunyi yang aman.

“Kak… Kak Pipit…” suara seorang gadis remaja terdengar.

Faiz melihat lampu di kamar Pipit menyala terang. Lalu kepala Pipit menyembul dari balik korden. Ia kini telah mengenakan jilbabnya. “Ada apa?” katanya.

“Pintu depan kok tak dikunci?”

“Masak? Tadi perasaan sudah kukunci. Iya lah, nanti kukunci.”

“Ya sudah, Kak. Aku balik ke kamar dulu.”

Pipit pun mengantar adiknya keluar. Lalu dikuncinya pintu rumah. Sepeninggal adiknya, Pipit kembali masuk ke kamarnya. Faiz pun berjingkat kembali ke tempat pengintaiannya. Lelaki itu bersorak dalam hati melihat Pipit tak mematikan lampu. Karena itu, ia kini dapat melihat dengan jelas suasana di dalam kamar.

Pipit masih mengenakan dasternya, tetapi kini berjilbab. Perempuan itu menghadapi sebuah kaca yang pantulannya membuat Faz dapat melihat wajah perempuan itu.

Pipit tampaknya belum terpuaskan dengan masturbasinya tadi. Di depan kaca, ia mulai kembali meremas payudaranya. Disampirkannya jilbab hitamnya yang panjang sampai pinggul ke belakang pundaknya. Dari kaca kini terlihat sepasang gundukan yang montok berlapis daster tipis.

Faiz mengusap pangkal pahanya yang mulai membengkak. Dilihatnya Pipit meremas-remas kedua payudaranya dengan mata terpejam. Dari bibirnya mulai terdengar suara merintih. Entah bagaimana awalnya, daster Pipit tahu-tahu sudah melorot ke lantai.

Faiz melotot. Pipit kini terlihat sangat menggairahkan dengan jilbab di kepalanya, namun di bagian bawah hanya bra dan celana dalamnya yang tersisa.

“Terus… terus…” Faiz berharap dalam hati. Dan harapannya terwujud.

Kedua tangan Pipit menekuk ke belakang dan melepaskan pengait bra-nya. Begitu terlepas, dilemparnya bra itu ke ranjang. Lalu, perempuan itu menunduk, melepas celana dalamnya. Faiz menahan napas. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal melihat perempuan yang sangat dihormatinya kini hanya mengenakan jilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Tubuh Pipit amat sempurna. Putih, mulus dan sangat proporsional. Dari cermin di hadapannya, Faiz bisa melihat sepasang payudara Pipit yang lumayan besar tapi kencang. Pangkal pahanya nyaris mulus, karena hanya sedikit bulu tumbuh di situ.

Pipit kembali meremas-remas kedua payudaranya. Kedua putingnya dipilin-pilin dan ditarik-tariknya sendiri. Sementara dari bibirnya terdengar desahan makin keras diselingi suaranya menyebut nama suaminya.

Tangan kiri Pipit masih sibuk merangsang payudaranya ketika tangan kanannya bergeser turun dan berhenti di pangkal pahanya. Faiz melihat perempuan muda itu mulai meremas-remas kemaluannya. Pinggulnya yang bundar bergoyang-goyang perlahan.

Pipit kini agak menungging. Tangan kirinya berpegangan meja rias di depannya. Ia berdiri dengan kedua kaki melebar. Faiz melotot melihat dari belakang jemari Pipit bermain di kemaluannya sendiri. Sangat jelas terlihat, jari tengah Pipit keluar masuk celah vaginanya. Desahan Pipit makin keras. Tubuhnya terlihat mengkilap oleh keringat.

Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan langsung menelungkup. Posisi kakinya tepat menghadap Faiz. Karenanya, pandangan Faiz jadi makin jelas. Ia bisa melihat bagian dalam bibir vagina Pipit yang berwarna pink, membuka dan mengatup saat kini dua jarinya menusuk-nusuk makin cepat dan makin dalam.

Tiba-tiba Pipit membalik lagi. Kini ia berbaring dengan kedua kaki menekuk dan mengangkang luas. Makin jelas lagi bagi Faiz dapat melihat vagina Pipit yang basah dan kedua jarinya yang juga basah, terus keluar masuk dengan begitu cepat.

“Ahh… ahh… ouhh… Kakak… ouhh…” tiba-tiba tubuh Pipit menegang. Punggungnya melengkung diiringi rintihan panjang. Tampak ia berusaha menusukkan kedua jarinya sejauh mungkin sampai akhirnya tubuhnya ambruk ke ranjang. Sesekali terlihat lonjakan-lonjakan kecil, sisa-sisa terpaan orgasmenya.

Faiz terus memandangi Pipit yang kini terkulai lemas kehabisan tenaga di ranjangnya. Kakinya lurus, masih mengangkang luas. Tangannya tergeletak di sisi tubuhnya.

Sepuluh menit kemudian, Faiz melihat gerakan dada Pipit yang membusung, makin teratur. Melihat aksi Pipit tadi, Faiz yang semula hanya bermaksud mencuri dokumen mulai merancang tindakan lain. Dipasangnya topeng skinya, hingga kini hanya kedua matanya yang terlihat. Dengan jantung berdegub Faiz mengecek apakah Pipit sudah betul-betul tertidur. Diraihnya saklar lampu di dekat pintu. Ditekannya dan kamar pun gelap gulita. Lalu dihidupkannya lagi. Dilihatnya Pipit tak bereaksi.

“Bagus, sekarang waktunya,” katanya dalam hati sambil mulai berjingkat memasuki kamar.

Faiz kini berdiri di sisi ranjang. Dipandanginya perempuan yang dihormatinya itu sambil tersenyum licik. Pipit masih tampak anggun dengan jilbabnya yang agak kusut. Di bagian bawah, sepasang payudaranya yang amat putih dan mulus tampak menantang untuk dijamah. Kedua putingnya hanya berupa tonjolan kecil berwarna agak gelap dengan wilayah areola yang sempit.

Makin ke bawah, dilihatnya perut yang rata dan pinggang yang ramping. Lalu, sedikit di atas vaginanya adalah bagian yang ditumbuhi sedikit rambut kemaluan. Di bagian pangkal kedua pahanya yang mulus, Faiz melihat vagina yang gemuk dengan kulit kemerahan bekas diremas-remas. Bibir vaginanya tampak rapat, agak basah.

Faiz meraih bra Pipit dan menciumnya. Diambilnya juga daster Pipit di lantai. Dengan belatinya, disobeknya daster hijau itu menjadi potongan panjang. Lalu, perlahan diangkatnya tangan kiri Pipit ke atas kepalanya. Pipit tetap tak bereaksi. Ia tidur begitu pulas setelah kepuasan yang tadi diperolehnya.

Perempuan itu terus diam saat pergelangan tangan kirinya diikat dengan bra ke kaki ranjang. Faiz lalu beralih ke tangan kanan Pipit dan berhasil mengikat pergelangannya dengan potongan daster ke kaki ranjang pada sisi yang berseberangan.

Faiz puas memandangi hasil kerjanya. Kedua tangan Pipit yang terangkat membuat payudaranya makin membusung indah. Faiz kini melepas celananya, membebaskan penisnya yang sejak tadi menegang. Perlahan ia naik ke atas ranjang dan berlutut mengangkangi bagian dada Pipit. Perempuan itu masih terpejam.

Faiz menyentuh puting kanan Pipit dengan ujung penisnya. Gesekannya menimbulkan rasa geli yang makin menaikkan gairah mudanya. Dilakukannya hal yang sama pada puting kiri dan ditekannya hingga kini kepala penisnya tenggelam di kekenyalan payudara Pipit.

Faiz berhenti sejenak ketika merasakan kepala penisnya diselimuti ehangatan. Diperhatikannya perempuan itu mengerutkan dahinya dan mulai menggerakkan kepalanya. Faiz kini menjepit kedua puting Pipit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Perlahan mulai memilin-milinnya dan menariknya menjauh.

”Auw… ah…” dari bibir Pipit mulai terdengar rintihan pelan. Faiz memperkeras jepitannya dan mempercepat frekuensi pilinannya.

“Ouhh… ngghh… aduhh… Ap-apa ini… aaa… mmffff…” Pipit tiba-tiba membelalakkan matanya ketika Faiz dengan gemas menjepit kedua putingnya keras-keras sambil menariknya sejauh mungkin ke atas.

Namun jerit kesakitan dan keterkejutan Pipit langsung terbungkam. Sebab, saat bibir mungilnya terbuka, Faiz langsung menyumpalkan celana dalam perempuan itu ke mulutnya sendiri. Pipit panik dan menendang-nendang. Ia takut dan malu luar biasa melihat seorang lelaki di atas tubuhnya yang terikat dan telanjang.

“Tak usah teriak kalau tak ingin tetekmu ini kutikam,” ancam Faiz dengan suara yang diubahnya.

Pipit merintih kesakitan. Faiz mencengkeram payudara kirinya dan menekan ujung belatinya vertikal tepat di ujung putingnya.

“Saya akan tarik keluar celana dalam di mulut Ustazah. Tapi janji, Ustazah tak akan berteriak. Setelah itu, saya akan beri Ustazah pengalaman yang tak kan terlupakan. Janji?” desis Faiz.

Pipit yang ketakutan langsung menganggukkan kepalanya. Faiz lalu melepaskan sumpal di mulutnya itu.

“Ooh… jangan… jangan perkosa saya…” ucap Pipit begitu mulutnya terbebas.

“Tak usah banyak cakap. Sekarang kulum ini! Awas kalau sampai
tergigit!”

”Auw!” Pipit memekik ketika Faiz menyodorkan penisnya dan langsung memaksa untuk mengulumnya. Mau tak mau perempuan itu melakukan hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

Faiz seperti kesetanan. Kedua tangannya memegangi bagian belakang kepala Pipit yang berjilbab hitam. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat dan kasar. Pipit mengerang-erang. Ia ingin muntah dan kesulitan bernapas. Apalagi Faiz kemudian berhenti dengan ujung penis yang terasa menyumbat kerongkongannya. Hidung mancung Pipit tenggelam di kerimbunan rambut kemaluan Faiz.

Pipit panik merasakan penis Faiz berdenyut dan sedetik kemudian menyemburkan cairan yang kental, hangat dan beraroma menjijikkan. Tapi apa daya, Pipit tak kuasa melakukan apapun kecuali menelan sperma Faiz yang memenuhi rongga mulutnya.

Pipit terisak ketika akhirnya Faiz menarik keluar penisnya yang lemas. Ia tak sadar Faz merekam close up wajahnya dengan pen cam, memperlihatkan seputar bibirnya yang bernoda sperma.

Tapi Faiz belum berhenti. Ia kembali menyumpal mulut Ustazah Pipit dengan celana dalamnya sendiri. Perhatiannya kemudian tertuju pada sepasang payudara Pipit yang putih mulus. Begitu putihnya, sampai terlihat pembuluh darahnya yang berwarna biru kehijauan di balik kulit payudaranya. Faz kini dengan lembut meremas-remas gundukan daging kenyal itu. Sesekali disentuhnya kedua puting Pipit dengan ujung jarinya.

Pipit mulai kembali terdengar merintih. Sesekali terlihat Pipit bergidik. “Mmmfff… mmmffff…” Pipit merintih lagi saat lidah Faiz menyapu kedua putingnya berganti-ganti dengan gerakan memutar. Ujung lidah Faiz pun menyentil-nyentil tonjolan kecil yang mulai mengeras itu.

Lalu dengan gerak agak mengejutkan, Faiz melahap salah satu puting Pipit dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan. Pipit sampai mendongakkan kepalanya menahan perasaan persis seperti saat ia masturbasi tadi. Apalagi kemudian terasa pangkal pahanya diremas-remas. Faiz masih terus menghisap kedua puting Pipit berganti-ganti sambil jari tengahnya menekan klitoris Pipit dengan gerak berputar-putar.

Di tengah ketakutannya, Pipit sekuat tenaga melawan desakan dari bawah sadarnya untuk menikmati perlakuan lelaki yang tengah menindihnya itu. Tapi ia tak kuasa melawannya. Kerinduannya pada belaian suaminya tergantikan oleh perbuatan lelaki asing ini.

Pipit makin terlena saat lidah Faiz menelusuri kulitnya dari celah antara kedua payudaranya, terus ke pusar dan akhirnya berhenti di pangkal pahanya. Dari semula mengerang kesakitan, dari bibir Pipit kini justru keluar rintihan penuh kenikmatan. Bahkan napasnya makin memburu ketika Faiz menguakkan liang vaginanya lebar-lebar, sejenak memandanginya dan kemudian menyapu bagian dalamnya dengan lidah.

Tubuh Pipit menggigil, tanpa sadar ia mengangkat pinggulnya seolah menyodorkan kepada Faiz untuk dijilat habis-habisan. “Nghh… nghh… mmmff…” desahan Pipit makin keras terdengar. Faiz kini menyedot klitorisnya, seperti yang dilakukannya pada puting perempuan alim itu.

Faiz paham, Pipit segera mencapai orgasmenya. Tepat sedetik sebelum Pipit meledak dalam kenikmatan, ia berhenti. Dua jarinya langsung mencubit kuat-kuat klitoris Pipit. Pada saat bersamaan, sebelah puting Pipit digigitnya agak keras, sedang puting satunya dijepitnya dengan ibu jari dan telunjuknya, amat kuat.

Pipit yang tengah berada di awang-awang seolah dibanting keras-keras. Kenikmatan yang hampir sampai puncak, kembali berganti dengan rasa sakit luar biasa. Ia pun mengerang panjang tanda kesakitan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di ujung puting yang dijepit terlihat setitik darah.

Pipit masih kesakitan ketika akhirnya Faiz menempatkan dirinya di antara kedua pahanya. Kembali rintih kesakitan terdengar dari bibir Pipit. Penis Faiz tanpa ampun langsung menerobos vagina Pipit sedalam-dalamnya. Kalau saja mulutnya tidak tersumpal, ia pasti sudah menjerit sejadi-jadinya. Vaginanya yang jarang dimasuki oleh suaminya masih terlalu rapat untuk ukuran penis Faiz yang besar.

Pipit sudah terlalu lelah untuk melawan. Kedua kakinya hanya mampu menendang-nendang lemah ke udara. Sementara Faiz seperti kesetanan terus menghunjamkan penisnya ke vagina perempuan idamannya itu.

“Eungghh… ngghh… mmmff…” Pipit hanya bisa merintih panjang saat Faiz menyedot kuat-kuat putingnya yang berdarah. Sementara puting satunya pun dipilin dan dijepit kuat-kuat hingga menitik darah di pucuknya. Lalu, puting yang satu inipun mendapat gilirannya, disedot kuat-kuat.

Dari kedua mata indah Pipit menetes air bening. Tubuhnya terguncang hebat ketika Faiz akhirnya mencengkeram kedua payudaranya sampai ke pangkal dan menjadikannya seperti tali kekang kuda, sementara ia terus mendorong penisnya keluar masuk vagina dengan cepat dan kasar.

“Aaaagghhhhh…” terdengar suara Faiz agak keras saat akhirnya testisnya menumpahkan muatannya lewat batang penisnya, langsung memenuhi rongga vagina Pipit.

Pipit merasa vaginanya amat pedih. Maka, semburan sperma Faiz yang panas pun membuatnya makin tersiksa. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya tersengal-sengal, apalagi tubuh Faiz yang berat masih menindihnya. Perlahan Pipit merasakan penis Faiz mengecil dan akhirnya lelaki itu bangkit. Faiz kemudian menarik kain jilbab Pipit dan mengelap penisnya yang berlumur sperma dengan kain itu.

“Aku akan melepas ikatanmu, tapi jangan coba-coba bertindak bodoh,” bisik Faiz mengancam. “Mengerti?!” lanjutnya sambil mencengkeram payudara kiri Pipit.

Perempuan itu mengangguk. Faiz pun langsung melepaskan ikatan di tangan Pipit dan menarik keluar celana dalam yang menyumpal mulutnya. Begitu ikatan terlepas, Pipit langsung membenahi jilbabnya yang panjang untuk menutupi tubuhnya. Faiz membiarkannya. Namun ia kemudian menyuruh wanita itu bangkit dan menggiringnya ke kamar mandi.

Di kamar mandi, Faiz menyuruh Pipit membuka jilbabnya. Pipit menolak, tetapi akibatnya Faiz mencengkeram sebelah payudara yang tertutup jilbabnya sambil menempelkan belatinya ke pipi perempuan itu. Akhirnya, sambil terisak, Pipit melepas juga jilbabnya.

Faiz terpana. Pipit yang kini telanjang bulat itu tampak makin menggairahkan. Rambutnya yang panjang digulung hingga menampakkan leher yang jenjang. Kulit Pipit begitu putih. Di bagian dalam kedua pahanya yang mulus tampak mengalir spermanya.

“Mandi!” perintah Faiz.

Kali ini, tanpa diperintah dua kali, Pipit langsung mandi. Ia memang segera ingin membersihkan seluruh tubuh, terutama kemaluannya. Tapi ia merasa malu luar biasa. Bahkan, suaminya pun tak pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini.

Di luar dugaan Pipit, Faiz pun membuka seluruh pakaiannya, kecuali topeng skinya. Disuruhnya Pipit menyabuni penisnya. Sementara Faiz sendiri mulai menyabuni kedua payudara Pipit sambil menarik-narik putingnya. Pipit merintih ketika Faiz menyabuni selangkangannya. Apalagi, dua jari Faiz memaksa masuk ke situ.

Usai mandi, Pipit agak lega karena Faiz menyuruhnya berpakaian, bahkan lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Melihat Pipit kembali dalam keadaan yang biasa dilihatnya sehari-hari, Faiz makin bergairah. Didorongnya perempuan itu merapat ke dinding. Diremasnya kuat-kuat kedua payudara Pipit dari luar busananya. Tangan Faiz pun bergerak turun dan mencengkeram pangkal paha Pipit dari luar jubah hitamnya.

“Ohhh… sudah… jangan lakukan lagi…” Pipit mengiba-iba ketika Faiz memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap dinding.

Dari belakang, Faiz masih meremas-remas kedua payudara dan pangkal pahanya. Pipit merasakan kedua kakinya direnggangkan, lalu jubahnya diangkat ke atas. Pipit terisak, tangan Faiz kini berada di balik jubahnya dan langsung meremas lagi kedua payudaranya. Kali ini, bahkan mendorong ke atas branya hingga sepasang buah dadanya keluar dan langsung digenggam kedua tangan besar Faiz.

Faz seperti tergila-gila dengan payudara perempuan itu. Tak bosan-bosannya ia meremas, mencengkeram, menarik dan memelintir putingnya. Pipit kini menangis dan sesekali memekik ketika ulah Faz menyakiti bukit payudaranya.

“Oooh… tidak… tidak… jangan lagi…” rintih Pipit ketika merasakan tangan Faiz menyelinap ke balik celana dalamnya, mempermainkan vaginanya seperti bocah bermain tanah liat. Sesekali Pipit memekik karena Faiz dengan nakal menarik rambut kemaluannya yang tak seberapa banyak. Tubuh perempuan bercadar itu gemetar. Ia merasakan bagian belakang celana dalamnya disingkapkan. Lalu, ada tangan yang menarik dua gundukan pantatnya ke arah berlawanan.

“Aaakkhhh…” Pipit mengerang. Vaginanya sekali lagi diterobos penis Faiz yang seolah tak pernah puas.

Disetubuhi dari belakang membuat Pipit sangat tersiksa. Apalagi, kali ini Faiz lama sekali tak juga selesai. Sebelah kaki Pipit kini diangkat lelaki itu dan Faiz terus menyarangkan penisnya ke segala arah di dalam vagina perempuan cantik itu. Tubuh Pipit terus tergoncang-goncang dan akhirnya ia terjatuh dalam posisi merangkak. Hebatnya, penis Faiz masih tetap menancap di dalam liang vaginanya.

Pemandangan di dalam kamar itu sungguh luar biasa. Seorang perempuan dengan jilbab, cadar dan jubah serba hitam, merapatkan pipinya di lantai, sementara pinggulnya yang terbuka mendongak ke atas. Di belakangnya, lelaki bugil tengah menyetubuhinya.

Faiz tampaknya hampir selesai. Ia menggerakkan pinggulnya seperti kesetanan dan tangannya mencengkeram keras pantat Pipit yang besar. Pipit menahan sakit dengan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.

“Aaarrrgghhhhh…” Faiz mengerang keras sambil mendorong penisnya sejauh mungkin ke dalam liang vagina Pipit. Setelah sekian kali, spermanya masih tetap tersembur, menyakiti bagian dalam vagina Pipit yang terluka.

Pipit pun memekik kesakitan dan tubuhnya ambruk, hingga kini ia masih telungkup ditindih Faiz. Pemerkosa dan korbannya itu sama-sama terengah-engah. Pipit merasakan penis Faiz di dalam vaginanya perlahan menciut, hingga kini tinggal bagian kepalanya yang terjepit vaginanya. Akhirnya Pipit merasakan penis Faiz yang kini lemas, terlepas dari vaginanya, bersamaan dengan mengalirnya sperma Faiz dari dalam vaginanya.

TIba-tiba Faiz membalikkan tubuhnya. Kini Pipit terbaring telentang dan Faiz pun sudah mengangkangi wajahnya setelah sebelumnya menyingkapkan cadar hitamnya. Pipit memalingkan wajahnya saat melihat penis Faiz yang mengkerut, betul-betul basah kuyup oleh cairan kental.

“Bersihkan dengan lidah!” perintah Faiz.

Pipit tak bisa menolak, apalagi belati Faz diacungkan di depan wajahnya. Sambil menahan mual, dijilatinya penis Faz sampai bersih. Faiz kemudian menutup kembali wajah perempuan itu dengan cadar. Faiz beringsut mundur. Dijumputnya kain jubah di bagian dada Pipit dan dengan belatinya disobeknya bagian itu. Akibatnya, sepasang payudara Pipit terbuka, tepat di bagian putingnya.

“OK, aku sudah selesai. Kamu tak akan ceritakan ini pada siapapun bukan? Tak ada orang akan percaya dan kamu akan malu sendiri,” kata Faiz sambil memilin-milin puting Pipit.

“Di samping itu, aku akan datang lagi kapanpun aku ingin bercinta denganmu. Kamu akan menerimaku dengan kehangatan bukan? Katakan ya dan aku akan segera pergi,” kata Faiz sambil menjepit kedua puting Pipit agak keras.

“Aduh… aduh…. ya… iyaa…” Pipit cepat-cepat menjawab.

Faiz tersenyum dan langsung bangkit, mengenakan pakaiannya kembali dan pergi meninggalkan korbannya. Pipit masih meringkuk di lantai, terisak-isak menyesali nasibnya.

MURTI 11 : NINGSIH

Jam lima sore, Gatot pulang tanpa bersama Pak Camat. Ia pulang bersama seorang pegawai kantor, sementara Pak Camat entah kemana. Ia tidak menuju rumah Murti, tapi langsung ke rumahnya sendiri. Gatot melihat ada keramaian di depan rumahnya, tepatnya di rumah yang sudah seminggu ini kosong tak berpenghuni. Ah, mungkin ada orang baru yang menempati rumah itu. Gatot melihat banyak warga membantu menurunkan perkakas dari empat truk.

“Ada penduduk baru, Pak?” ia bertanya pada seorang warga yang kebetulan melintas.

“Penduduk baru tapi muka lama, Tot. Keluarganya si Ningsih.” jelas si tetangga. “Ayo ikut bantu, Tot.” ajak tetangga itu lagi.

Gatot urung masuk rumah dan bersama para waRga beramai-ramai membantu. Gatot sempat melihat Ningsih tapi sangat sibuk. Begitupula si Bejo yang cuma tersenyum kepadanya. Gatot senang karena Bejo dan keluarganya telah kembali ke komplek. Ia jadi punya teman sebaya.

menjelang maghrib, semua perkakas sudah selesai diturunkan dan empat buah truk itu juga sudah pergi. Barulah Gatot bisa menghampiri Bejo. “Hei, Jo, kenapa nggak bilang kalau mau balik ke komplek?” tanyanya.

“Kejutan. Ayo ikut aku, Tot. Kukenalkan ke istriku.” ajak Bejo.

Gatot ikut Bejo masuk ke dalam rumah yang masih berantakan. Di dalam, ia langsung disambut dengan akrab oleh keluarga Bejo. Gatot bersyukur semua masih ingat padanya, masih bersikap baik padanya seperti dulu. Beberapa tahun silam, mereka memang bertetangga, jadi wajar kalau kemudian jadi akrab. Memang ada tambahan orang baru yaitu istrinya Bejo.

Namun karena sudah maghrib, Gatot lekas mohon diri. “Mainlah ke rumah, Jo. Aku pulang dulu ya,”

“Itu pasti, Tot. Ini dari Mbak Ningsih buat kamu.” kata Bejo memberikan sebuah bungkusan.

“Mana Ningsih?” Gatot bertanya.

“Masih mandi. Nanti juga pasti ke rumahmu,” Bejo tersenyum.

“Terima kasih ya,” Gatot melambaikan tangan.

“Sama-sama, Tot.” Bejo mengangguk.

Gatot kembali pulang. Sesampainya di dalam rumah, ia mendapati Aisyah sedang sibuk di dapur. Gatot segera membuka baju yang penuh keringat lalu mendekati Aisyah, namun tidak terlalu dekat karena khawatir Aisyah akan terganggu oleh bau badannya. Aisyah menoleh dan tersenyum sebentar lalu kembali sibuk dengan masakannya.

“Masak apa, Aisyah?” tanya Gatot.

“Ini, sayur lodeh, Mas. Kok baru pulang?” tanya Aisyah.

“Iya, Aisyah, tuh masih membantu orang baru pindah. Gantian pakai kompornya ya? Aku mau masak juga.” kata Gatot.

“Tidak usah, Mas. Ini saya masak juga buat Mas Gatot.” jawab Aisyah. ”Mending mas mandi saja. Sebentar lagi maghrib lho,” ia mengingatkan.

“Kamu sudah mandi?” tanya Gatot.

“Belum, Mas.” jawab Aisyah.

“Pantas kamu bau,” canda Gatot.

“Mas Gatot yang bau,” balas Aisyah sambil tersipu malu. Gatot paling suka melihat wajah Aisyah seperti itu. “Mas Gatot pergi sana. Nanti merusak rasa masakanku.”

“Nanti malam jalan-jalan yuk, Aisyah.” Gatot berkata.

“Tapi habis makan malam ya?” Aisyah menyanggupi.

“Iya, aku kan belum ngerasain masakanmu enak apa tidak. Aku mandi dulu ya,”

Aisyah memukul Gatot dengan gagang sutil. Gatot ingin balas memukul tapi urung setelah teringat bahwa Aisyah terlalu murni untuk disakiti. Aisyah tidak sama dengan wanita-wanita lain. Cukuplah kekhilafannya dulu saat Aisyah tertidur pulas. Gatot tidak akan mengulanginya lagi sebelum Aisyah benar-benar resmi menjadi miliknya. Gadis itu terlalu suci untuk dicemari.

Selesai mandi dan sholat maghrib, Gatot duduk menunggu Aisyah sambil menonton tv. Telinganya menangkap suara-suara halus bersenandung dari kamar mandi. Terdengar sangat merdu, membuat Gatot mengecilkan volume tv dan menajamkan telinga untuk mendengar senandung itu lebih jelas lagi, senandung merdu yang menyejukkan hati. Sayang sekali senandung itu berhenti dan pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

“Mas Gatot, kesini sebentar.” panggil Aisyah.

“Ada apa, Aisyah?” Gatot berjalan menghampiri.

“Gotnya buntu ya, Mas. Airnya nggak jalan tuh,” kata Asiyah menunjuk selokan kamar mandi.

“Biar saya perbaiki. Kamu pergi saja,” sahut Gatot.

“Saya bantu, Mas, biar cepat. Saya juga belum selesai mandi.” kata Aisyah.

Gatot memang melihat Aisyah belum menyelesaikan mandinya karena air di lantai kamar mandi penuh akibat saluran pembuangan yang buntu. Ia membungkuk untuk memeriksa, Aisyah juga ikut jongkok untuk membantunya. Gatot menahan hasrat hati demi melihat bagian-bagian tubuh Aisyah yang tidak cukup terlindungi. Handuk yang membungkus tubuh Aisyah terlalu pendek. Dan Aisyah jongkok tepat dihadapannya, sama sekali tidak berusaha untuk menutupi sebagian buah dadanya.

“Aisyah! Berdiri!” Gatot memberi perintah demi menjaga kemurnian gadis itu. Ia tidak tega melihat dan menyaksikan seluruh bagian bawah tubuh Aisyah yang terpamoang jelas di hadapannya. Gatot tidak ingin tergoda kembali.

“Maaf, Mas!” kata Aisyah sambil berdiri dan pindah ke belakang Gatot, membuat Gatot jadi sedikit lega. Dan lebih lega lagi karena got selesai di perbaiki.

“Beres. Kamu bisa lanjutkan mandimu, Aisyah. Oh ya, nyanyi yang agak keras ya?” kata tersenyum menggoda.

Aisyah mengancam Gatot dengan segayung air, membuat Gatot lari terbirit-birit sebelum Aisyah menjalankan aksinya. Senandung suara Aisyah kembali terdengar dan terus terdengar meski Aisyah sudah selesai mandi dan kini ada di dalam kamarnya. Gatot menyimak senandung itu dengan hati ragu.

Sebelum keraguan hatinya terjawab, Aisyah sudah muncul. Mereka makan bersama dengan cepat karena ada acara yang akan mereka adakan. Malam ini Gatot dan Aisyah akan jalan-jalan. Memang masih jalan-jalan biasa, tapi siapa tahu itu akan jadi awal dari sesuatu yang luar biasa.

“Sudah siap, Aisyah?” tanya Gatot.

“Sudah, Mas. Ayo berangkat. Mumpung belum terlalu malam.” Aisyah mengangguk.

“Kamu cantik sekali, Aisyah.” Gatot menatap gadis itu tak berkedip.

“Mas Gatot bisa saja. Gombal ah.” Aisyah langsung tersipu malu. ”Ini kontak motornya.” ia memberikannya pada Gatot tanpa menoleh. Gatot hanya tersenyum saja melihatnya.

Mereka pun pergi meninggalkan komplek naik motor. Malam yang mendung tidak menyurutkan keinginan dua insan itu untuk mencoba mendekatkan hati. Walaupun tidak ada tujuan pasti mana yang harus mereka datangi. Mereka hanya ingin jalan-jalan, bukanlah untuk kencan. Gatot merasa sudah terlalu tua untuk kencan layaknya anak-anak muda. Ia bukan lagi anak remaja. Pun demikian Aisyah yang juga seorang wanita dewasa. Keinginan untuk bersenang-senang mungkin sudah tidak ada. Makanya mereka berputar-putar saja keliling pusat kota.

“Kemana enaknya, Aisyah?” tanya Gatot di tengah perjalanan.

“Ke stadion saja yuk, Mas. Sepertinya enak duduk santai disana.” kata Aisyah.

“Kamu tidak takut? Disana sangat sepi, Aisyah.” sahut Gatot.

“Kan saya bersama Mas Gatot. Pasti aman,” yakin Aisyah.

Gatot bukannya takut untuk datang dan nongkrong malam-malam di stadion. Daerah sepanjang stadion memang sangat sepi dan paling sering terjadi kejahatan. Mulai dari pemalakan, pemerasan, perampokan, sampai pemerkosaan, sudah berkali-kali terjadi di sana. Dan sampai sekarang tempat itu masih gelap, lampu-lampu banyak yang hilang dicuri orang yang butuh uang. Dulu Gatot juga sering mencuri apa saja dari stadion. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia sudah kapok dan tobat.

Sampai juga di stadion. Gatot membantu Aisyah turun dari motor lalu berjalan beriringan menuju sebuah bangku panjang. Disanalah mereka duduk berdua. Angin malam yang dingin langsung menerpa. Gatot membuka jaketnya dan mengenakan ke tubuh Aisyah untuk memberi rasa hangat.

“Saya belum tahu banyak tentangmu, Aisyah.” kata Gatot membuka pembicaraan.

“Saya ini hanya wanita desa, Mas. Tidak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita kota.” jawab Aisyah.

”Ceritakan tentang keluargamu, Aisyah.” Gatot meminta.

Ia menyimak cerita Aisyah. Gatot sudah tahu kalau Aisyah adalah anak Pak Asnawi. Yang ia baru tahu adalah tentang Pak Asnawi itu sendiri. Menurut cerita Aisyah, Pak Asnawi dulunya juga pria yang bergelimang dosa. Dari Aisyah masih kecil sampai Aisyah beranjak remaja, Pak Asnawi masih seorang penjahat terkenal. Tapi menjelang Aisyah masuk SMA, Pak Asnawi berubah menjadi sosok yang pendiam dan semakin alim setelah menunaikan ibadah haji.

Sejak itu orang tidak lagi mengingat Pak Asnawi sebagai penjahat. Orang-orang kemudian lebih mengenang kedermawanan Pak Asnawi. Sampai akhirnya menjadi kepala desa Cemorosewu. Aisyah sama sekali tidak menceritakan atau memang tidak tahu cerita kalau ayahnya juga seorang pembunuh dan pemerkosa. Ironisnya korban pemerkosaan dan pembunuhan Pak Asnawi adalah ibu kandung Gatot. Dan kini Pak Asnawi mungkin sudah menerima hukuman setimpal di alam kubur setelah anak dari si korban menuntut balas dendam. Hutang nyawa dibayar nyawa dan hutang itu kini terbayar lunas.

“Itulah cerita keluargaku, Mas. Selanjutnya Mas Gatot tahu sendiri kalau ummiku kawin lagi.” kata Aisyah mengakhiri ceritanya.

“Saya kagum dengan ayahmu, Aisyah. Dari penjahat kemudian tobat. Sedangkan ayahku entah dia tobat atau belum.” gumam Gatot.

“Mas Gatot yang sabar saja. Setiap rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.” balas Aisyah bijak.

“Kamu benar, Aisyah.” Gatot mengangguk. ”Dingin ya?” ia bertanya.

“Iya, Mas. Tapi tak apa,” Aisyah tersenyum karena hatinya terasa hangat bisa bersama orang yang dikasihi.

Gatot merengkuh bahu Aisyah dan gadis itu tidak menolak. Gatot merasakan getar yang tak biasa, bukan nafsu, tapi lebih kepada rasa sayang. Ia ingin memberi perlindungan kepada Aisyah. Dan bersama dengan Aisyah, Gatot seakan sedang bersama Zulaikha, mantan istrinya. Ia mengelus kepala Aisyah yang terbalut kerudung. Sangat terasa sekali hempasan napas Aisyah, hingga membuat Gatot jadi merinding.

“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, Aisyah.” Gatot berbisik.

“Maksud Mas Gatot?” tanya Aisyah tak mengerti.

“Kamu mengingatkanku pada Zulaikha, mantan istriku. Dia sama sepertimu, Aisyah.” jawab Gatot.

“Selagi Mas Gatot masih ingat mantan istri, berarti ada harapan suatu saat Mas pasti bertemu lagi dengannya.” sahut Aisyah.

“Aku selalu berharap seperti itu, Aisyah.” Gatot mengaku. ”Sepertinya gerimis. Mau pulang sekarang?” tanyanya kemudian sambil melihat langit.

“Iya. Ayo pulang, Mas.” angguk Aisyah.

Namun mereka tidak benar-benar pulang, lebih tepatnya mereka hanya meninggalkan stadion. Hujan sudah terlalu deras dengan disertai angin kencang.

“Berteduh di loket itu saja, Mas.” kata Aisyah sambil menunjuk sebuah bangunan loket di pintu masuk stadion.

Karena cukup jauh, praktis mereka harus berlari untuk bisa sampai, otomatis pula mereka basah kuyup. Gatot sudah biasa, tapi tidak demikian dengan Aisyah; gadis itu menggigil dengan wajah pucat.

“Pasti nanti kamu masuk angin, Aisyah.” kata Gatot kuatir.

“Sekarang saja perutku sudah mual, Mas.” Aisyah berkata lirih.

“Jadi bagaimana, mau memaksa pulang?” tanya Gatot.

“Sudah kepalang basah, mandi sekalian, Mas. Pulang saja.” Aisyah memutuskan.

Gatot tidak punya pilihan selain membonceng Aisyah pulang. Jalanan benar-benar sepi. Tidak ada satupun kendaraan ataupun manusia yang berani menantang hujan selain mereka berdua.

“Pegangan yang erat, Aisyah.” Gatot memberi perintah.

Ketika dirasakan lengan Aisyah sudah melingkar erat di pinggangnya serta tubuh gadis itu melekat di punggungnya, ia menggeber gas kuat-kuat untuk melesat kencang menembus tajamnya rinai-rinai hujan. Di tengah jalan, Gatot merasa menabrak sesuatu. Namun karena terlalu gelap, ia tidak bisa melihat apa itu. Terlalu riskan untuk mengerem disaat laju motor seperti jet. Aisyah sendiri semakin merapatkan tubuhnya.

Sesampainya di rumah, Gatot segera membopong tubuh Aisyah yang semakin lemah tak berdaya. Celakanya lagi, kamar Aisyah ternyata bocor. Gatot pun terpaksa membawa Aisyah ke kamarnya sendiri.

“Kupanggilkan dokter ya, Aisyah.” kata Gatot panik. Setelah membaringkan Aisyah, ia bermaksud keluar untuk mencari dokter.

Tapi Aisyah mencekal lengannya, menahan langkahnya. “Tidak usah, Mas. Saya minta tolong dikerokin saja.” kata gadis cantik itu.

“Tapi, Aisyah…” seru Gatot bimbang.

“Saya percaya Mas Gatot tidak akan menyakiti saya. Tolong ya, Mas,” pinta Aisyah pelan dan melas.

“Baiklah, Aisyah.” Gatot akhirnya mengangguk setuju. ”terima kasih kamu percaya padaku.”

Aisyah pun berbalik tengkurap, memasrahkan punggungnya untuk dikerok oleh Gatot. Anehnya, Gatot sama sekali tidak merasakan birahi kali ini. Padahal ia bebas memandangi tubuh mulus Aisyah dengan begitu rupa. Mungkin ini karena pengaruh benih kasih yang mulai tumbuh. Hingga membuat Gatot hanya merasa iba hati melihat Aisyah yang pasrah sedemikian rupa kepada dirinya.

Gatot bersumpah tidak akan menyakiti Aisyah. Aisyah juga sadar sepenuhnya membuka bajunya yang basah dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, sementara bagian atas dari kepala sampai pinggul dibiarkan telanjang. Gatot mulai mengerok punggung Aisyah sementara Aisyah hanya bisa meronta-ronta kecil. Untuk pertama kalinya, Gatot menang saat berperang melawan setan. Setan jahanam yang menggoda imannya ia berantas sampai tuntas, sampai tidak ada lagi setan yang berani mengganggunya.

“Jangan meronta terlalu keras, Aisyah. Nanti selimutmu jatuh.” kata Gatot.

Aisyah menahan selimut dengan kedua tangannya agar tidak jatuh, agar tidak mengundang nafsu Gatot. punggung yang awalnya putih mulus semurni susu, kini berubah warna menjadi garis-garis merah. Belum selesai dikerok, Aisyah sudah lebih dulu muntah, mengeluarkan isi perutnya.

“Kerok sampai bawah, Mas. Anginnya mulai keluar.” kata Aisyah dengan tubuh gemetar.

Gatot mengikuti alur punggung Aisyah sampai bawah, terpaksa menyingkap sedikit selimut gadis itu agar bisa mengeroki hingga pangkal paha. Hingga selesai sudah.

Aisyah berbalik telentang dengan keringat bercucuran. Gatot membetulkan tali kutang Aisyah tanpa sedikitpun menyentuh buah dada yang membuncah indah itu. Namun ia perlu meminta ijin untuk memasangkan celana panjang. Aisyah sudah memasang sendiri celana dalamnya dari balik selimut. Aisyah tersenyum mengangguk.

“Sekarang tidurlah, Aisyah. Biar panasmu turun.” kata Gatot penuh rasa lega.

“Mas Gatot tidur saja disini. Saya ikhlas, Mas.” balas Aisyah.

“Baiklah, Aisyah. Selamat tidur ya,” Gatot berbisik lirih.

Ia pun membaringkan diri disamping Aisyah dan membiarkan gadis itu membenamkan kepala ke dadanya. “Aisyah, ya, Aisyah… sungguh sempurna dirimu!” batin Gatot dalam hening. Aisyah mungkin sudah terlarut dalam mimpi karena tidak bergerak sama sekali saat Gatot mencium keningnya. Ciuman yang menjadi penghantar tidur malam itu.

***

Pagi-pagi sekali Gatot sudah menghadap Pak Camat. Ia hendak membicarakan keputusan maha penting yang telah dipertimbangkan masak-masak sejak semalam. Tapi Pak Camat sudah berangkat kerja ke kantor shubuh tadi, begitu yang disampaikan Murti kepadanya.

“Lho, kupikir Mas Joko berangkat bareng kamu, Tot?” kata Murti heran.

“Tidak, Mur. Ini malah aku ingin ketemu dan bicara dengan Pak Camat.” sahut Gatot.

“Mas joko sudah pergi. Aku saja yang istrinya tidak tahu jam berapa suamiku berangkat,” ketus Murti seperti biasa.

Semakin bulat saja keputusan Gatot. Pak Camat semakin sering berangkat kerja sendiri, semakin tidak membutuhkannya lagi. Terhitung sudah sebulan ini Pak Camat tidak menggunakan tenaganya lagi. Gatot yakin Pak Camat memang punya maksud tersembunyi.

“Mungkin kamu bisa sampaikan padaku, Tot. Nanti kuteruskan ke Mas Joko.” kata Murti.

“Tidak, Mur. Biar aku bicara langsung dengan Pak Camat.” kata Gatot.

“Ada masalah apa antara kamu dengan Mas Joko? Ayo ceritakan saja,” Murti mendesak.

“Sama sekali tidak ada masalah, Mur.” Gatot menggeleng. ”Kamu bersiap saja. Kutunggu di mobil ya,” iapun pergi keluar.

“Tot!” Murti memanggil.

Gatot tidak mempedulikan panggilan itu. Tentu saja sikapnya ini membuat Murti jadi kelabakan dan berpikir ada apa gerangan. Murti gelisah dan takut kalau-kalau suaminya membuat masalah yang menyebabkan Gatot marah. Murti khawatir karena bisa saja suaminya celaka. Bagaimanapun, Gatot adalah mantan bajingan dulu. Dengan hati gamang, Murti meneruskan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum mandi. Setengah jam kemudian, iapun sudah siap dan menyambar tasnya lalu menghampiri Gatot.

“Ayo jujurlah, Tot. Jangan membuatku takut,” desak Murti di dalam mobil.

“Mur, sudah kubilang berkali-kali, masa kamu tidak dengar? Tidak ada apa-apa antara aku dan suamimu. Titik!!!” hardik Gatot tiba-tiba.

Murti langsung mengkerut dibentak begitu oleh Gatot. Ia sama sekali tidak menduga Gatot akan begini emosi. Tidak seperti hari-hari biasanya. Tidak ada tawa dan canda, malah suasana mencekam yang terasa. Murti dicekam berbagai rasa yang membuatnya tidak sanggup lagi berkata-kata. Sampai tiba di tempatnya kerja, Gatot tak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Wajah Gatot dilihatnya murung dan bingung. Yakinlah Murti bahwa memang ada yang tidak beres.

“Tunggu sebentar, Tot. Aku mau ikut kamu ke kantor kecamatan.” kata Murti tiba-tiba.

Barulah saat itu Gatot menoleh agak kaget. Tapi Murti keburu keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Gatot terpaksa menunggu sesuai perintah Murti. Belum sempat Gatot menenangkan diri, Murti telah kembali lagi.

“Ayo berangkat, Tot.” kata istri Pak Camat itu.

“Tapi, Mur…” Gatot terlihat bimbang.

“Berangkat!!!” potong Murti cepat.

Kini giliran Gatot yang kaget dibentak oleh Murti. Namun ia harus segera berangkat sebelum Murti bertindak nekad. Perjalanan terasa lama dan membosankan. Gatot merutuk dalam hati kenapa ia harus membuat Murti sakit hati. Pasti Murti marah oleh sikapnya hari ini yang serba kaku.

“Maafkan aku, Mur.” kata Gatot sambil terus menyetir.

“Sudah kumaafkan,” balas Murti ketus.

“Belum. Kamu masih marah kan?” tanya Gatot.

“Aku memang marah. Tapi bukan padamu, Tot.” terang Murti.

“Syukurlah. Senyum dong,” Gatot berusaha mencairkan suasana.

Murti tersenyum sekedar menyenangkan hati Gatot. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan dan tidak menoleh kemana-mana sampai tiba di kantor kecamatan.

“Perlu kuantar sampai dalam?” tawar Gatot.

“Tidak usah. Biar aku sendiri saja.” Murti melangkah memasuki paseban kantor dan terus menyusuri koridor hingga berhenti di depan ruang kerja suaminya. Ia mengetuk pintu tiga kali lalu mendorong perlahan pintu sampai terbuka. Murti masuk dan berdiri terpaku. Tidak ada nampak suaminya. Tentu kedatangannya yang mendadak membuat kalang kabut pegawai yang ada di ruangan itu.

“Selamat pagi, Bu Camat,” kata beberapa pegawai menyambut kedatangannya. Sementara sebagian pegawai yang lain berbisik-bisik.

Murti tidak peduli bisik-bisik itu. “Selamat pagi juga. Mana Pak Camat?” tanyanya kaku.

“Waduh, Bu. Pak Camat malah belum datang,” kata salah seorang pegawai.

“Jadi Pak Camat belum ngantor?” tanya Murti mulai was-was.

“Pas Kami datang, Pak Camat tidak ada, Bu. Tapi coba ibu tanyakan ke Dewi.” kata pegawai itu.

“Baiklah. Terima kasih.” Murti mengangguk. ”Dewi, kumohon ikut aku sebentar saja.” ia memanggil gadis itu.

“Baik, Mbak Murti.” jawab Dewi penuh kebingungan.

Murti membawa Dewi menuju mobil dan disanalah ia menginterogasi Dewi dengan beragam pertanyaan yang berfokus pada seputar kegiatan Pak Camat. Gatot hendak keluar tapi Murti memintanya tetap di dalam. Jadilah Gatot ikut mendengar perbincangan antara Murti dan Dewi.

“Benarkah suamiku belum ke kantor?” tanya Murti.

“Benar, Mbak.” Dewi mengangguk.

“Aneh, padahal Pak Camat sudah berangkat sejak shubuh tadi.” Murti tampak berpikir keras.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu, Mbak.” kata Dewi.

“Kamu pernah bilang memergoki mobil suamiku di perumahan residence. Bisakah kamu jelaskan lebih detil?” tuntut Murti.

“Oh itu. Memang benar. Seingat saya waktu itu mobil Pak Camat ada di rumah paling ujung blok A.” jawab Dewi.

“Kamu kenal pemilik rumah itu?” tanya Murti.

“Tidak, Mbak. Mungkin Gatot tahu karena pasti dia pernah ngantar Pak Camat kesana.” Dewi menoleh pada Gatot.

“Percuma minta informasi ke Gatot. Dia sudah kongkalikong dengan suamiku.” ketus Murti sengit. Gatot hanya diam saja disindir seperti itu.

“Saya mohon Mbak Murti tidak melibatkan saya. Kamu juga, Tot. Jangan bilang apa-apa ke Pak Camat ya?” hiba Dewi memelas.

“Aku jamin aman, Dewi. Aku malah berterima kasih. Sekarang kembalilah bekerja.” Murti mempersilakan.

Dewi meninggalkan Murti dan Gatot. Kini Murti sudah menemukan titik terang. Yang justru bimbang adalah Gatot. Sekarang Gatot tahu dari siapa Murti tahu soal perumahan residence. Ternyata dari Dewi yang membeberkan semuanya. Mungkin Dewi tidak tahu bahwa keterus-terangannya pada Murti telah menciptakan prahara besar. Dewi telah memberi petunjuk yang bisa mengarahkan kecurigaan Murti. Gatot pusing memikirkan apa jadinya kalau Murti sampai minta diantar ke perumahan residence. Bahaya kalau Murti sampai nekad kesana.

“Aduh! Kepalaku pusing, Mur.” Gatot mengeluh secara tiba-tiba.

“Pusing? Bagaimana ini?!” Murti jadi panik.

“Kuantar dulu kamu ke sekolah ya? Setelah itu aku mau pulang. Tolong bilang ke Pak Camat.” Gatot berkata terbata-bata.

“Kamu sanggup? Jangan memaksakan diri, Tot. Nanti kecelakaan lagi. Aku bisa naik ojek dari sini.” kata Murti.

“Biar kuantar kamu dulu.”

Sesungguhnya itu hanya alasan Gatot saja untuk terbebas dari Murti. Ia pura-pura pusing dan berhasil dengan sukses. Setelah mengantar Murti, iapun kembali ke kantor kecamatan untuk menaruh mobil kemudian pulang menumpang motor Dewi yang kebetulan hendak keluar juga.

Sementara itu Murti segera meminjam motor Aisyah dan minta ijin ke kepala sekolah untuk bebas tugas hari ini. Ia sudah bulat dan memutuskan untuk pergi ke perumahan residence seorang diri karena Gatot tidak bisa mengantar. Ia harus mendapat kepastian dan kebenaran tentang gosip dan isu-isu yang selama ini berkembang. Ia mulai termakan oleh gosip itu, juga oleh bisik-bisik yang didengarnya dari pegawai kantor kecamatan.

***

Sementara itu di sebuah rumah mewah…

Seorang wanita berbody montok terlihat keluar dari kamar mandi dan kelihatan segar dengan kaos kutang kuningnya dipadu dengan celana pendek motif bunga yang bagian pahanya terlihat longgar. Pak Camat yang dari tadi duduk di ranjang, sekarang pindah selonjoran di lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Wanita itu pun duduk di sebelahnya, ikut selonjoran.

”Enak nggak, Mas, kopinya?” tanya Ayu membuka percakapan.

”Yah lumayan lah, kemanisan dikit.” sahut Pak Camat sambil lengannya sengaja menyenggol daging kenyal yang membusung indah di dada perempuan cantik itu.

”Ihh, nakal ah!” kata Ayu diiringi kerlingan matanya yang nakal.

”Eh, kamu nggak pake bh ya?” Pak Camat pura-pura kaget, padahal dalam hati tersenyum senang sekali.

Ayu hanya tersenyum penuh arti. ”Nggak suka ya, hmm?” kata-katanya begitu menantang gairah kelelakian Pak Camat.

Sebagai jawabannya, Pak Camat meraih kepala perempuan cantik itu kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibirnya yang tipis. Ayu pun membalas dengan penuh gairah dan tanpa dikomando, tangan Pak Camat mulai menjalar ke arah buah dadanya.

”Hmm… jangan, Mas,” kata Ayu setengah hati.

Pak Camat pun menjawabnya dengan setengah berbisik, ”Kalau jangan, trus ngapain kamu nggak pake BH, hayo?”

Wanita itu hanya membalas dengan mencubit perut Pak Camat. ”Nakal…!” kata Ayu manja tapi tidak berusaha menepis tangan Pak Camat atau ciuman mesra laki-laki itu.

Nafsu setan yang sudah membelenggu keduanya membuat Pak Camat melanjutkan lagi jelajahan tangannya, ia kini mulai menelusup ke balik kaos longgar yang dipakai oleh Ayu. Karena di balik kaos itu Ayu sudah tidak mengenakan apa-apa, maka tanpa kesulitan tangan Pak Camat bisa meraih bulatan daging kembar yang tumbuh subur disana. Buah dada Ayu walau sudah sering dipegang, masih terasa kencang dan kenyal dalam genggaman. Apalagi puting di puncak bukit itu, masih terasa kaku dan tegap kala terjepit di sela-sela jari, layaknya masih perawan saja.

Karena tidak sabar, Pak Camat segera menarik kaos Ayu ke atas hingga terpampanglah tonjolan buah dada perempuan perusak rumah tangga itu dengan begitu jelasnya. Bentuknya bulat dan padat, dengan puting mungil berwarna pink menghiasi puncaknya yang kuning kemerahan. Tak tahan, dengan penuh nafsu, Pak Camat mengarahkan kepalanya kesana. Sambil terus meremas-remas, ia mengecup kedua payudara Ayu yang bulat besar dengan menggunakan mulutnya.

”Uhh… geli, Mas.” Ayu berbisik pelan.

”Susumu empuk,” sahut Pak Camat sambil jemari tangan kirinya terus memilin puting payudara perempuan cantik itu hingga jadi semakin mencuat kemerahan, sedang mulutnya mengecupi yang satunya lagi.

Diperlakukan seperti itu, tentu membuat desahan nikmat Ayu semakin terdengar keras. Wanita itu menggeliat geli sambil memegangi kepala Pak Camat yang terus menyusu di bulatan payudaranya. Apalagi saat perlahan namun pasti, tangan Pak Camat mulai turun ke arah perutnya dan terus ke arah pangkal pahanya.

”Mas… udah ah, nggak usah ke bawah-bawah segala!” bisik Ayu sambil tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanan Pak Camat. Tapi apalah arti tangan sekecil itu melawan tangan kekar yang sudah dilanda nafsu birahi, dengan mudah Pak Camat bisa menyingkirkannya.

”Pagi-pagi aku kesini, tentu untuk merasakan yang ini, Sayang.” sergah laki-laki itu sambil mengarahkan jari-jari tangannya ke arah paha Ayu dan terus menerobos masuk ke selangkangan melalui bagian celana pendek Ayu yang terbuka longgar.

”Tapi, masa harus tiap pagi?” Ayu mencoba bertahan untuk yang terakhir kali.

”Bersamamu, tiap jam aku juga mau!” Sekarang mulut Pak Camat berpindah ke arah leher Ayu yang putih jenjang, ia menghisap lembut disana hingga meninggalkan beberapa bekas cupang merah.

”Ahh…” Ayu hanya bisa mendesah ketika jemari Pak Camat mulai menyentuh secarik kain yang sudah basah, yang masih menutupi bagian terlarang tubuh sintalnya. Laki-laki itu menyusupkan jarinya kesana dan sedetik kemudian merasakan kebasahannya yang mengalir deras.

”Ouhh… Mas!!” akhirnya Ayu menyerah saat Pak Camat mulai membelai mesra bibir vaginanya, atau memang sebenarnya dia sudah sangat bernafsu, sehingga mengharapkan tangan Pak Camat beraksi lebih jauh lagi.

Mengetahui hal itu, dengan perlahan Pak Camat segera menyusupkan jari tengahnya ke lorong kemaluan Ayu yang sudah terasa licin sambil ibu jarinya memainkan sebentuk biji mungil di bagian atas, itu adalah klitoris Ayu yang sudah menonjol kaku.

”Auwhh…” Ayu hanya bisa merintih keenakan begitu jemari Pak Camat semakin menusuk ke dalam, menerobos lubang vaginanya. Sementara tangannya seperti refleks, segera meremas batang kemaluan Pak Camat yang masih tersimpan rapi di balik celana pantalon.

”Cepet amat sih? Belum apa-apa udah banjir.” kata Pak Camat mengomentari liang kewanitaan Ayu yang sudah begitu basah dan lengket.

”Hehe,” Ayu hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi, lalu berkata pelan, ”Lepas aja, Mas, celanaku yang basah itu!”

Tidak menjawab, Pak Camat segera melakukannya. Ayu membantu dengan sedikit menaikkan pinggulnya yang bulat dan besar. Begitu celana pendek itu terlepas, Ayu menatap Pak Camat dengan pandangan sayu, ”Udah? Yang ini nggak dilepas juga?” Ayu menunjuk celana dalamnya.

Pak Camat tertawa, lalu dengan terampil segera memelorotkan juga celana dalam itu. Begitu terlepas, Pak Camat segera menciuminya. Melihat hal itu, kontan Ayu memprotes, ”Apa-apaan sih, Mas? Jorok deh ih! Ketimbang nyiumin yang itu, kenapa nggak yang aslinya aja dicicipin?” katanya sambil mengangkangkan kaki lebih lebar lagi, memamerkan belahan vaginanya yang sudah merekah indah kepada Pak Camat.

”Boleh! Siapa Takut? Lagian, udah lama kayaknya aku nggak ngerasain lendir kamu.” kata Pak Camat sambil tersenyum penuh arti.

Ayu menanggapi dengan tersenyum nakal, ”Iya nih, udah lama kayaknya mulut dan lidah Mas Joko nggak nengok punyaku.”

Mendengar kata-kata erotis itu, birahi Pak Camat jadi semakin terbakar. Cepat ia rebahkan tubuh montok Ayu di karpet, ia tekuk kedua kaki perempuan itu ke atas hingga terlihat lubang kawahnya yang menganga indah, membuat Pak Camat jadi semakin bergairah karenanya. Tanpa membuang waktu, iapun mengarahkan kepala ke daerah itu.

”Auh…” pekik Ayu saat Pak Camat mulai menciumi rambut halus yang tumbuh di daerah pubisnya. Lidah laki-laki itu menjalar ke bawah, mengikuti garis di lipatan pangkal pahanya.

Untuk memudahkan aksinya, Pak Camat memposisikan tubuh dengan tengkurap, sementara kedua tangannya menyusup di bongkahan pinggul Ayu, mengangkatnya hingga lubang kemaluan Ayu sejajar tepat di depan wajahnya. Dengan posisi seperti itu, sekarang ia jauh lebih leluasa menggarap semua bagian selangkangan perempuan cantik itu.

”Ahss…” pelan lidah Pak Camat mulai menyapu bagian bibir luar kemaluan selingkuhannya diiringi erangan nikmat dari mulut Ayu. Sambil tetap tangannya menyangga pinggul perempuan itu, ibu jari Pak Camat mencoba membuka lebih lebar liang kemaluan Ayu yang sudah merekah indah. Kemudian mulai menjulurkan lidah menelusup masuk ke bagian dalamnya yang sempit.

Perlahan Pak Camat menjelajahi bagian demi bagian pada lubang kemaluan Ayu. Dari mulai lubang pantatnya, kemudian naik terus melalui lorong surga milik kekasihnya ini. Hingga terdengar rintihan lirih keluar dari mulut manis Ayu, ”Ouff… shh… yah, terus, Mas… yah begitu… itilku dong dijilat! Ouww…”

Sesuai permintaan, Pak Camat segera memainkan klitoris Ayu yang mencuat ke depan seolah mengharapkan sebuah sentuhan. Dari hanya menjilat dan menyentil, mulutnya mulai menghisap biji mungil itu hingga perlahan rintihan Ayu berubah menjadi jeritan kecil penuh kenikmatan.

”Iya… begitu Mas… aduh… ouhh… enak… Mas Joko pinter banget sih… tahu aja yang Ayu suka… jangan berhenti… terus emut itilku, Mas!”

Pak Camat terus menjilati belahan lubang kemaluan yang sedikit terkuak itu dengan irama yang teratur, menelusuri lembah dan celah-celah di seantero lubang kemaluan Ayu. Aroma harum vagina yang khas semakin tajam menusuk hidungnya, semakin membuatnya mabuk kepayang dan bergairah. Terlihat dinding luar kemaluan Ayu yang semakin basah dan lengket, terasa gurih di lidah Pak Camat. Juga biji klitorisnya, terlihat semakin membesar dan tambah memerah, seolah mau meledak menahan gejolak nafsu birahi si empunya.

10 menit sudah berlalu dan tangan Pak Camat sudah terasa pegal menyangga bobot tubuh Ayu. Namun dengan penuh semangat ia terus mempercepat irama hisapannya hingga terdengar erangan dan rintihan Ayu yang semakin panjang. Nafas wanita itu juga terlihat memburu kencang, tubuhnya kelojotan, sementara gerakan pinggulnya menjadi semakin liar, seolah mengejar kenikmatan yang sebentar lagi datang menyerang.

”Ouw… nikmatnya… terus, Mas! Ooh… sedikit lagi… ssh… ouh… aduh, enak banget!” desah Ayu semakin keras. Dan beberapa detik kemudian, seerr… seerr… seerr… menyemburlah cairan bening yang sudah ditunggu-tunggu oleh Pak Camat.

Dengan penuh nafsu, Pak Camat segera menghisap dan menghirupnya dalam-dalam, terasa hangat dan gurih sekali saat mengalir memenuhi rongga mulutnya. Pak Camat langsung menelan semuanya, tidak membiarkan setetes pun luput dari hisapannya.

Terlihat bibir kemaluan Ayu jadi tambah memerah. Benda itu sepertinya juga berdenyut-denyut kencang, menandakan detik-detik dimana Ayu sedang mengalami masa orgasmenya. Satu menit berlalu, namun Pak Camat terus giat menjilati sisa-sisa cairan Ayu yang masih menetes mengalir keluar menyusuri belahan liang vaginanya.

”Ouhh… Mas… aduh… bener-bener deh… aku puas banget! Ouh…” puji Ayu di akhir puncak kenikmatannya. Sambil merapikan pakaiannya yang sudah acak-acakkan, dia kemudian bertanya, ”Mas, apa kamu nggak jijik, itukan kotor…”

”Eh, siapa bilang? Kamu aja suka nelen pejuhku. Ya sekali-kali kita gantian lah.” sahut Pak Camat sambil tertawa.

”Ok, berarti sekarang giliranku ya?” tanya Ayu polos.

Sebelum Pak Camat sempat menjawab, ia sudah mengarahkan tangan ke selangkangan Pak Camat dan dengan terampil membuka resletingnya. Tanpa kesulitan, Ayu mengeluarkan batang kemaluan laki-laki itu dan menaruhnya dalam genggaman. Sedetik kemudian, ia sudah dalam posisi siap menerkam. Lalu, ”Slruupp…” dengan lembutnya Ayu melahap batang Pak Camat ke dalam mulutnya.

”Ouh… ssh…” sekarang gantian Pak Camat yang merintih pelan, betapa ia merasakan kehangatan dan kelembutan mulut kekasihnya ini pada batang penisnya.

Ayu menjilatinya perlahan dari pucuk kepala terus menelusur ke bawah, sampai mendekati kedua bola pada pangkal kemaluan Pak Camat. Setelah menyapu perlahan, mulutnya dengan terampil mulai mengenyoti buah zakar itu dengan lembut, bergantian kiri dan kanan, sementara tangannya tetap mengurut dan meremas-remas batangnya yang terasa semakin menegang.

”Ya Sayang… terus… ehh… aduh… enak!” tanpa sadar keluar rintihan nikmat dari mulut Pak Camat.

”Ehhmm… mmhh…” sayup-sayup terdengar juga bunyi mulut Ayu yang semakin ganas mengenyot batang kemaluan Pak Camat. ”Ouhh… aauh… aku pingin lagi, Mas.” pintanya sambil memposisikan tubuh naik ke pangkuan Pak Camat dan mengarahkan batang kemaluan yang masih berada dalam genggamannya itu ke liang vaginanya.

”Ahh… nanti dulu!” Pak Camat berusaha untuk menahan, ingin hisapan itu berlangsung lebih lama lagi.

Namun bukannya menjawab, Ayu malah terus membimbing batang rudal Pak Camat dan menancapkannya di belahan lubang vaginanya yang sudah merekah lebar. Dengan posisi jongkok, ia mulai menggerakkan tubuh sintalnya naik turun di atas perut Pak Camat.

”Aduh… kok enak sih, Sayang! Belajar dimana?” rintih Pak Camat saat merasakan denyutan lembut dengan irama teratur di liang kemaluan Ayu yang seperti meremas dan menggigit-gigit sekujur batang kemaluannya.

Ayu hanya tersenyum sambil terus menggerakkan pinggulnya naik turun, otomatis rudal Pak Camat juga terus keluar masuk dalam dekapan bibir liang kemaluannya. Pak Camat sendiri membantu dengan menggerakkan pinggulnya seirama tubuh sang kekasih. Sementara di pusat kenikmatan mereka, terdengar kecipak-kecipak cairan yang keluar dari kemaluan Ayu, mengguyur dan membasahi batang rudal Pak Camat yang tidak begitu panjang.

Masih dengan posisi seperti itu, sepuluh menit pun berlalu. Terlihat Ayu sudah kelelahan, keringat tipis melumasi seluruh tubuhnya yang sintal, sebelum ambruk menindih tubuh Pak Camat tak lama kemudian. Pak Camat segera mengambil inisiatif dengan menggerakkan tubuhnya, tapi sekarang dengan dibantu kedua tangannya yang memegangi bulatan payudara Ayu dan meremas-remasnya pelan.

”Terus, Mas… ssh… terus…” desahan dari mulut Ayu kembali terdengar, mengiringi kelakuan bejat mereka di pagi yang sejuk itu.

Pak Camat segera mempercepat gerakannya. Terasa olehnya lelehan lendir yang keluar dari liang kemaluan Ayu menerobos melewati celah sempit di antara bibir dan batang penisnya. ”Ehh… punyamu bener-bener deh, Sayang… seperti meremas punyaku… aduh!” Pak Camat merintih keenakan.

Merasa sebentar lagi akan mencapai ujung pendakiannya, iapun semakin mempercepat genjotannya. ”Ohh… Sayang… aku keluar… arghhh…” tak sampai satu menit kemudian, batang kemaluan Pak Camat meledak mengeluarkan semua isinya. Benda itu berdenyut-denyut keras di dalam liang vagina Ayu, memenuhinya dengan cairan sperma yang begitu hangat dan kental.

Pak Camat membiarkan batang penisnya tetap terbenam dalam dekapan lubang kemaluan Ayu yang hangat dan nyaman, sampai akhirnya menyusut dan terlepas dengan sendirinya. Ayu segera bangkit sambil tangannya menangkup ke bawah selangkangan, berusaha menutupi daerah kewanitaannya.

”Takut nanti pejuh Mas jatuh ke karpet.” begitu alasannya. Kemudian ia berjongkok di samping Pak Camat sampai semua cairan yang menetes tertampung di telapak tangannya.

”Ngapain sih?” tanya Pak Camat heran.

Bukannya menjawab, Ayu malah tersenyum penuh arti. Kemudian tanpa disangka, ia mengarahkan sperma itu ke mulutnya dan dihirup sedemikian rupa sebelum ditelan semua tak lama kemudian. Bukan itu saja, Ayu juga menjilati telapak dan jari-jarinya hingga tak ada setetes pun cairan sperma Pak Camat yang tersisa. Dan seolah belum puas, ia menyambar batang penis Pak Camat yang sudah mengkerut lemas dan lekas menjilatinya hingga bersih.

Pak Camat hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah selingkuhannya itu, ”Dasar kamu! Doyan banget sama pejuh.” ia tertawa.

”Tapi ini kan yang Mas suka?” tanya Ayu.

Pak Camat mengangguk. ”Bener-bener deh, tidak ada wanita yang sebinal dirimu!”

”Biarin!” Ayu balas tertawa

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi. Waktunya Pak Camat untuk berangkat ke kantor. Lekas ia lepaskan tubuh perempuan cantik itu, kemudian mereka pun berbenah, merapikan baju masing-masing.

***

Murti sudah sampai di gerbang perumahan residence. Ia masih harus berhadapan dengan dua orang satpam yang menanyainya macam-macam. Ia bahkan sempat tidak diijinkan masuk. Tapi begitu ia memberi uang tips dan meninggalkan identitas, barulah para satpam itu membuka portal dan memberinya jalan. Sesaat ia dibuat terkagum-kagum oleh bangunan rumah yang serba mewah berjajar sepanjang jalan masuk. Tapi ia datang bukan untuk mengagumi rumah-rumah itu. Ia terus mencari rumah yang disebutkan oleh Dewi.

Murti sudah sampai di blok A. Rumah-rumah di blok ini tidak sebesar dan semewah yang tadi, tapi tetap saja bisa dibilang mewah. Nah, itu dia. Murti ragu sejenak dan sempat berniat mengurungkan niat untuk bertamu. Ia tidak kenal siapa pemilik rumah yang kini ada dihadapannya. Ia takut salah alamat yang bisa berakibat tidak baik. Bisa-bisa ia dilaporkan ke polisi karena dicurigai sebagai orang yang bermaksud jahat. Ah, tidak mungkin. Toh ia memakai seragam kerja khas pegawai negeri. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Murti melihat pintu pagar yang tinggi itu terbuka.

Tapi ia langsung terkaget-kaget karena orang yang muncul dari balik pagar benar-benar di luar dugaan. Murti serasa mati berdiri dengan wajah pucat pasi. “Mas Joko!” panggilnya pelan tanpa sadar.

“Murti!” seru Pak Camat, juga sama-sama kaget.

Murti merasakan dunia berputar. Tanah yang dipijaknya seperti pusaran yang menariknya ke bawah, semakin ke bawah sampai ia tidak melihat apa-apa lagi selain hitam dan kelam. Ia hanya sempat menampar suaminya dan memandang geram seorang wanita yang bersama suaminya sebelum pingsan. Pak Camat yang lebih kaget langsung membawa Murti pulang.

PENGGALI KUBUR 5

Sambil menunggu kedatangan orang yang sekarang sedang dijemput oleh Zaskia; bersama Inez, Linda, dan bu Martin, kembali aku saling meraba. Kontolku dijilati oleh mereka untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel, membuat benda kebanggaanku itu dengan cepat menjadi ngaceng kembali. Inez tampak menjilati ujungnya yang tumpul, sementara Linda mengocok batangnya yang besar, sedang bu Martin dengan gemas meraba dua kantung bola milikku. Oh, sungguh sangat nikmat sekali diperlakukan seperti itu. Aku merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh para selir.

Kubalas dengan memijit dan meremasi bongkahan payudara mereka secara bergantian, juga meraba dan menggelitik lubang memek ketiga wanita cantik itu secara bergiliran saat aku sudah merasa tak tahan. Bagaimanapun, biarpun sudah cukup lelah, aku jadi bergairah juga kalau terus diserang seperti itu.

”Luar biasa nikmatnya pesta seks ini, Mal.” bisik Inez sambil terus menjilati batang penisku, ia kini melakukannya bergantian dengan bu Martin, sedang Linda masih terus mempermainkan batangku dengan begitu gemasnya.

Tak tahan, istri Mang Kosim itupun segera memberikan tubuh montoknya kepadaku. Usia kandungannya yang sudah jalan 2 bulan membuat badannya jadi sedikit mekar, bikin tambah seksi sih, payudaranya jadi lebih gede sekarang. Kulabuhkan tanganku disana dan kembali kuremas-remas keduanya dengan penuh nafsu.

Linda yang melihatnya jadi ikut kepingin. Bergantian dengan Inez, ia memberikan tonjolan buah dadanya kepadaku, membuatku jadi sedikit geragapan juga mendapat hantaman empat bola empuk yang ukuran dan bentuknya sama-sama menggiurkan itu. Hanya bu Martin yang tidak ikut, wanita paro baya yang masih nampak cantik itu tetap setia mempermainkan batang penisku. Bahkan karena sekarang cuma sendirian, ia jadi begitu bebas menikmatinya. Jadilah bu Martin yang pertama mendapat sodokan kontolku di putaran yang kedua ini.

”Ah, bu Martin! Kok malah duluan sih,” keluh Inez sambil mempermainkan memeknya sendiri.

”Iya, nih. Kan kita yang udah nggak tahan.” dukung Linda.

”Hehe,” Bu Martin cuma tertawa menanggapinya, namun tetap meneruskan genjotan pinggulnya di atas tubuhku. Terasa vaginanya sudah sedikit agak longgar, mungkin karena pengaruh usia, lagian ia juga sudah melahirkan banyak enak. Namun bagaimanapun tetap saja mampu membuatku merintih nikmat.

”Ahh… sudah, sudah.” kataku sambil meremasi gundukan payudara Inez secara bergantian, sedangkan untuk Linda kutusuk-tusuk lubang memeknya. Kedua wanita cantik itupun langsung terdiam untuk menikmati aksiku. Di bawah, bu Martin terus menggoyangkan pinggulnya dengan sedikit heboh, bahkan kini sambil merintih-rintih penuh nikmat.

”Ayo, Mal… beri aku pejuhmu, tumpahkan di memekku!” pintanya dengan liar dan jalang, sudah hilang sosok bu Martin yang lugu dan pendiam di putaran pertama tadi.

Linda dan Inez tertawa mendengarnya, ”Ya nggak mungkin, Bu. Kemal yang sekarang jadi makin kuat, dia kan habis keluar. Satu jam juga oke-oke aja.” kata Linda.

”Betul, Bu. Bisa-bisa ibu yang KO nanti.” dukung Inez.

Aku cuma menanggapi komentar kedua wanita itu dengan anggukan ringan. Memang benar, di putaran kedua, pejuhku jadi makin sulit keluar. Dan sepertinya, para wanita sangat menyukai hal ini. Tak terhitung sudah berapa banyak tetanggaku yang ketagihan karena kemampuanku ini. Aku jadi sangat bersyukur karenanya.

Di atas tubuhku, bu Martin masih terus menggenjot tubuhnya. Tak lama, hanya selisih beberapa menit kemudian, tiba-tiba ia sudah berteriak kencang tanda kalau sudah orgasme. Cairan hangat dan kental terasa mengalir deras membasahi batang kontolku. Kutekan pinggulku dalam-dalam agar bu Martin makin lama menikmati orgasmenya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, wanita itupun akhirnya ambruk. Dengan nafas ngos-ngosan, bu Martin kemudian menyingkir. Penisku terlepas begitu saja dari jepitan liang memeknya. Linda yang melihat kontolku menganggur, segera mengambil alih. Lekas ia kulum batangku yang penuh oleh cairan bu Martin dengan begitu rakus. Inez yang melihatnya jadi ikut tertarik, maka bersama dengan Linda, ia mandikan batangku hingga bersih.

Kubiarkan ulah kedua wanita. Aku hanya terdiam pasrah di atas ranjang sambil tersenyum, merasa sangat puas dan bahagia dengan semua ini.

“Hajar aku, Mal… memekku udah gatel lagi nih,” kata Linda sambil menarik tanganku agar bangkit, sedangkan ia sendiri merebahkan tubuhnya, bersiap untuk kusetubuhi.

”Habis ini aku ya, Mal.” pinta Inez sambil memeluk dan memberikan bulatan payudaranya kepadaku.

“Iya, Mbak sabar dulu yaa.” kuremas dan kupijit-pijit benda itu sebentar sebelum aku beralih pada Linda. “Cuma butuh waktu sebentar kok sama dia.” Lanjutku dengan kontol melesak ke depan, menusuk Linda tepat di belahan memeknya.

”Auw! Mal…” Linda mengaduh. Bukan karena sakit, namun karena nikmat. Malah kini ia mulai menggerakkan pinggulnya guna mengimbangi genjotanku. Sambil terus menggoyang, kuraba dan kuremas-remas bongkahan payudara Inez dan Linda secara bergantian. Sementara bu Martin sudah terkapar tak sadarkan diri di sebelah kami.

Saat itulah terdengar pintu depan dibuka. Rupanya Zaskia sudah kembali. Aku harap dia berhasil memenuhi permintaanku untuk mengajak 1 orang lagi yang sangat spesial. Orang yang belum pernah kutiduri namun aku tahu kalau ia sudah terkena pelet telur. Istriku yang bilang secara tak sengaja, saat kami berbincang sebelum aku datang kemari. Dan sekarang, aku ingin membuktikannya.

Aku masih terus menggoyang tubuh mulus Linda saat pintu kamar terbuka. Masuklah Zaskia dengan seseorang yang sangat cantik, usianya masih muda, mungkin masih SMA. Sesuai dengan rencana, begitu di dalam, Inez dan Zaskia langsung menyergapnya. Gadis itu, yang sama sekali tidak siap, hanya bisa meronta tak berdaya saat digiring ke sebelahku. Tanpa berkedip kupandangi tubuhnya yang luar biasa indah serta anggun dengan jilbab lebarnya.

“Apa kabar, Tih?” tanyaku sambil menyeringai mesum.

Gadis yang bernama Ratih itu langsung terdiam. Pandangannya terpaku pada batang kontolku yang masih bergerak keluar-masuk dengan cepat di memek sempit Linda, sementara Linda sendiri terdengar merintih semakin keras, seperti ingin memancing birahi Ratih agar lekas bergabung dengan kami. Inez dan Zaskia masih memegangi tubuh Ratih agar tetap tidak bisa bergerak.

“Apa-apaan ini!” bentak Ratih marah, namun kentara kalau itu cuma pura-pura saja, hanya sekedar untuk menjaga harga dirinya yang kini sedang dipertaruhkan. ”Budhe, tolong jelaskan!” gadis itu menoleh pada Zaskia.

Ratih memang masih punya hubungan darah dengan Zaskia, kalau tidak salah masih terhitung keponakan. Itulah kenapa Zaskia bisa membujuknya datang kemari, Ratih sering main ke rumah ini. Ayah Ratih adalah kepala desa, dan menurut tebakanku, ayahnya telah menggadaikan tubuh Ratih pada Juragan Karta agar didukung saat pencalonan kepala desa tahun kemarin. Tidak mungkin ayah Ratih yang cuma pedagang kecil bisa punya banyak uang untuk pencalonan kalau tanpa bantuan Juragan Karta yang kaya raya. Meski untuk itu, kehormatan anaknya yang harus dipertaruhkan. Uh, dasar lurah brengsek. Sekarang rasakan akibatnya, anaknya yang cantik ini akan kutiduri.

Dengan bantuan Inez dan Zaskia, kuseret Ratih ke tempat tidur. Linda yang sudah mencapai orgasmenya, segera menyingkir untuk memberiku tempat. “Kita akan pesta seks, sayang.“ bisikku tertawa.

“Gila! Lepaskan aku! Dasar bajingan! Ini dosa! Kalian setan semua! Bangsat!“ namun Ratih terus memberontak sambil mengelurkan kata-kata kasar, tak kusangka ia yang kelihatan lugu dan berjilbab ternyata bisa mengumpat juga.

“Cepat telanjangi dia!“ perintahku pada Inez dan Zaskia. Keduanya langsung menyobek-nyobek pakaian Ratih tanpa bertanya-tanya lagi. Kuminta agar hanya jilbabnya yang disisakan, aku paling suka mengentoti perempuan yang masih berjilbab.

Kusingkap jilbab gadis itu dan kuperhatikan tanda hitam sebesar koin di lehernya. ”Sudah, nikmati aja. Nggak usah berpura-pura memberontak segala.” ejekku. Aku yakin, begitu merasakan batang kontolku, ia akan langsung menyerah, sama seperti semua korbanku.

Namun Ratih masih gigih melawan. ”Aku nggak mau! Tidak! Lepaskan aku! Bangsat! Kalian semua bangsat! Bajingan!” umpatnya sambil berusaha mengerakkan tubuh ke kiri dan ke kanan.

Zaskia jadi kelihatan sedikit panik, ”Gimana ini, Mal? Nanti bisa didengar para tetangga.”

Maka segera kubuat keputusan cepat. ”Sumpal mulutnya!” Meski tidak tega, terpaksa kuperhatikan saat Linda membekap mulut Ratih dengan kain bh. Entah bh siapa yang ia pakai, hehe.

“Jangan berontak, Rat… sebaiknya turuti kami,“ ancamku dengan sorot mata tajam. Jadi heran juga, kenapa ia tidak kunjung menyerah juga, padahal sudah jelas-jelas ia adalah salah satu korban juragan Karta. Apa iman Ratih begitu tebal hingga sanggup menolak peletku? Ah, sepertinya tidak. Indri, istri ustad Jafar yang terkenal alim saja bisa takluk kok, apalagi cuma seorang Ratih. Atau karena tekadnya yang begitu kuat? kalau itu sih masih mungkin. Namun kata kakekku, siapapun yang terkena pelet ini akan langsung tunduk kok. Semua, tanpa kecuali!

Lalu kenapa Ratih tidak? Itu yang nanti harus kutanyakan kepada kakek. Untuk sekarang, sebaiknya kugunakan waktu untuk menikmati tubuh sintal Ratih mumpung lagi siap sedia. Setelah beberapa kali mengentoti istri orang, aku jadi penasaran dengan tubuh gadis muda seperti miliknya. Gimana ya rasanya? Apa akan senikmat saat aku pertama kali mengentoti istriku dulu, yang sanggup membuatku keluar 7 kali dalam semalam. Ah, mudah-mudahan saja.

Setelah bentakanku tadi, Ratih sekarang menjadi diam, tidak memberontak lagi. Entah karena takut atau karena sudah terpengaruh peletku, aku tak peduli. Yang penting, ia sudah jatuh ke dalam pelukanku. Inez dan Zaskia dengan cepat melolosi sisa pakaian Ratih. Bra dan celdamnya ditarik lepas dan dibuang begitu saja ke lantai.

Ratih sekarang sudah sepenuhnya telanjang di depanku, hanya tersisa jilbab lebar yang masih membingkai wajah cantiknya, namun itupun juga sudah diikat ke belakang hingga menampakkan bulatan payudaranya yang meski berukuran sedang namun terlihat cukup tegak menantang. Maklum masih gadis, masih belum pernah hamil dan menyusui. Kemulusan tubuhnya benar-benar membuatku berdecak kagum dan ingin lekas menjilatinya.

“Apa yang akan kalian perbuat padaku?” tanya Ratih pasrah.

Inez yang berada di dekatnya langsung membisiki, “Ada kontol besar menunggumu, Sayang.“

“Tolong! Jangan perkosa aku!“ rintih Ratih untuk yang terakhir kali, dengan paras takut ia memandangi batang penisku yang sengaja kupamerkan di depannya. Gadis itu melotot sebentar sebelum kemudian memalingkan wajahnya agar tidak memandangi batangku.

“Kamu memang luar biasa cantik, Rat. Tak sabar rasanya pengen ngerasain tubuhmu.“ Aku bangun dan memeluk tubuhnya, Ratih sama sekali tidak melawan karena begitu ketakutan.

“Kumohon, lepaskan aku! Kenapa semua alim-alim kok bisa-bisanya berbuat maksiat seperti ini?“ keluh Ratih lirih.

Namun aku tak perduli, dan juga tidak berniat untuk menjawab, malah dengan cepat aku menunduk dan melakukan oral seks di vaginanya. Ratih terlihat sedikit memberontak, namun segera dipegangi kembali oleh Inez dan Zaskia. Kembali kujilati memek gadis itu sambil sesekali kuremas-remas buah dadanya yang tidak begitu besar. Tidak sanggup untuk melawan, kini hanya terdengar rintihan lirih bibir Ratih yang gemetar ketakutan akibat ulahku.

“Ampun! Ohh… ouhh… auwhh!” teriaknya kecil saat kudorong tubuhnya hingga rebah ke ranjang dan langsung menindihnya.

“Pegang yang kuat ya,” perintahku pada Inez dan Zaskia. “Nggak sabar rasanya pengin langsung nyoblos memeknya!“ kataku yang disambut anggukan oleh Inez dan Zaskia.

Kembali aku menjilati vagina Ratih yang tampak mulai ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna hitam. Aku jadi membayangkan, saat dientot juragan Karta dulu, pasti memek ini masih licin gundul. Uh, membayangkannya saja sudah membuatku tak tahan.

“Nggak usah teriak, Rat. Enak kok pesta seks itu, aku aja suka.“ hibur Zaskia sambil membenahi jilbab Ratih yang berantakan.

“Budhe gila! Kalian semua gila!” teriak Ratih ketus, namun langsung terdiam begitu lidahku mulai menari-nari di liang memeknya yang asin. Bahkan yang ada, erangan dan rintihan kecil mulai keluar dari mulutnya yang tipis meski terlihat Ratih berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Terus kujilati liang sempit itu, bau wangi tubuh Ratih semakin membuatku bergairah. Ratih memejamkan mata karena tidak tahan akan oralku yang memberikan sentuhan birahi sedikit demi sedikit, sehingga ia yang awalnya memberontak kini jadi menggemulai perlahan-lahan. Saat membuka mata, Ratih memang tidak menangis, namun dari matanya tampak mengalir cairan bening yang membasahi pipi mulusnya. Entah itu air mata penyesalan atau kepuasan, aku tak peduli.

“Nikmati aja, Rat, enak kok! Coba rasakan, kontol Kemal besar dan panjang, enak sekali kalau disodoki pake itu!” bujuk Zaskia lagi.

”Nggak mau! Dasar budhe edan!” jerit Ratih dengan suara bergetar.

“Cepetan, Mal. Masukkan kontolmu! Setubuhi dia!” bisik Inez yang gemas melihatku mengulur-ulur waktu.

”Eh, iya. Iya!” akupun langsung bangkit. Setelah meremas sebentar buah dada Ratih, aku langsung memasang kuda-kuda. Kuarahkan penis panjangku ke lubang senggama gadis itu, lalu kutekan perlahan saat sudah pas. Ratih sedikit melotot merasakan batangku yang mulai memasuki lubang kemaluannya.

”Ampun! Hentikan, Bang! Aku masih perawan!” jerit gadis itu mencoba mencegah perbuatanku, namun tentu saja tidak bisa. Yang ada, aku malah makin bersemangat. Terus kutekan batangku hingga membuat Ratih memekik dengan tubuh melengkung ke atas. Sepertinya sangat kesakitan sekali, apa batangku terlalu besar ya?

“Perawan apa!” protesku tanpa berniat untuk mengukurnya lebih lanjut. ”Nggak usah bohong deh, aku sudah tahu semua!” sahutku sambil terus menekan dan menarik batangku sehingga semakin tenggelam ke celah kemaluannya.

”Ohh… tidak! Hentikan! Aku mohon!” Ratih semakin menjerit kuat. Tubuhnya terdorong ke belakang seperti ingin menjauh, namun tidak bisa karena sudah dipegangi oleh Inez dan Zaskia.

Tak ingin lepas, akupun mendesak lagi. Kusentak pinggulku kuat-kuat sampai batangku amblas seluruhnya ke memek sempit gadis muda itu, membuat Ratih menjerit begitu kencang di sebelah telingaku, ”Aaaaauuww…!!!“

“Diam! Nggak usah pake nangis segala! Kamu sulit amat sih…” aku jadi sedikit hilang kesabaran. Aneh juga, Ratih adalah korbanku yang paling sulit untuk ditaklukkan. Padahal biasanya, dengan sekali pandang saja, setiap korbanku akan jatuh berlutut, menyerah seutuhnya. Namun dengan Ratih… ah, entahlah. Aku sendiri juga bingung.

”Ampun, Bang… aah… aah… uhh…“ lenguh Ratih ketika mulai kusodok-sodok tubuh sintalnya sambil kulumat pelan bibirnya yang tipis. Gadis itu tampak semakin menggeliat, tangisannya menjadi semakin keras. Namun sudah tidak melawan lagi, ia hanya pasif menerima segala seranganku.

Kugenjot terus pinggulku untuk menyetubuhinya. Terasa dinding vaginanya yang sempit seperti mencekik batang kontolku, namun bukannya sakit, malah aku merasa nikmat sekali. Memang beda memek gadis muda yang belum pernah melahirkan dengan punya ibu-ibu macam Inez maupun Linda. Meski sama-sama nikmat, tapi tetap saja ada sensasi yang berbeda.

“Ayo gerak donk, Rat.“ ajakku melihat Ratih yang masih pasif. Ia memadangku, dari sorot matanya terlihat kalau ia masih menolak segala sentuhanku. Namun aku tidak kekurangan akal, kembali kulumat bibir tipisnya sambil kusodok-sodok memeknya sedikit lebih cepat. Akibatnya, Ratih jadi agak sedikit melenguh karenanya.

“Auw… aah… aah… ampun… jangan… aah… ahh…” lenguhnya dengan air mata terus mengalir di pipi.

“Goyang donk, Rat… makin enak rasanya memekmu!” ajakku lagi, yang disambut senyum oleh Inez dan Zaskia yang masih setia mendampingi. Sementara Linda dan bu Martin sudah mendengkur halus, seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi di sebelahnya.

“Sudah… aah… aku mohon.. aauh… uuh…” desah Ratih tak karuan.

Bukannya kasihan, mendengarnya malah membuatku semakin bernafsu menggenjot tubuh sintalnya. Ratih memejamkan mata, kepalanya mendongak sambil ia menggigit bibirnya kuat-kuat, sementara tubuhnya kian terguncang menerima segala serbuanku. Gelora birahi, meski pelan, namun tampak mulai menyelubunginya. Membuat Ratih jadi terdiam dan perlahan pinggangnya mulai bergerak mengikuti ayunan pinggulku.

”Terus, Mal. Dia mulai menikmati,” seru Inez.

“Iya, Mal. Genjot terus!” dukung Zaskia.

”Uuh… ooh… aah…“ lenguhku sambil mengangguk. Aku tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi, tubuhku sudah begitu termakan api birahi. Rasanya benar-benar nikmat, membuatku jadi tak tahan. Ratih merapatkan kakinya, sementara vaginanya menyempit dengan begitu cepat, seperti mencekik batang kontolku hingga jadi sedikit ngilu. Namun aku terus menggenjotnya dengan begitu cepat, hingga tak lama kemudian kudengar Ratih melenguh panjang saat mendapatkan orgasmenya yang pertama.

“Aah… aaauuww!!!” erang gadis itu saat cairan kental mengucur deras dari lubang vaginanya, membasahi seluruh batang kontolku yang masih terbenam dalam. Tubuh Ratih kelojotan tak karuan, namun segera dipegangi oleh Inez dan Zaskia agar tidak sampai membentur tembok.

“Sudah, bang… aah… ampun!!“ rintih Ratih dengan suara lemah. Pijitan memeknya yang masih terus berkedut-kedut pelan membuatku kegelian meski aku tidak menggerakkan batang kontolku. Akibatnya, tanpa perlu capek-capek menggenjot, aku sudah dihantarnya menuju puncak kenikmatan.

Croot… croot… croot…

”Auh… aarrghhh…” aku melolong tak karuan saat cairan spermaku menyembur deras memenuhi lubang memeknya. Sesaat aku merasa ringan bagai kapas, bisa kurasakan cairan spermaku yang meleleh di sela-sela alat kelamin kami berdua yang masih bertaut erat. Terengah-engah penuh kepuasan, aku diam memeluknya.

Tak lama, setelah orgasmenya berlalu, Ratih menggeliat bangun dan kemudian menangis keras. “Jahanam! Bangsat kamu!!” raungnya marah.

Aku jadi bingung, kukira setelah mendapat nikmat, ia akan menyerah kepadaku. Tak tahunya, tetap saja marah-marah dan memberontak. Aku jadi bingung. Kenapa peletku tidak bekerja kepadanya?

Jawabannya baru kuketahui beberapa saat kemudian saat Inez memberitahuku sesuatu dengan suara bergetar. ”Mal, i-ini… d-darah!” bisiknya takut-takut.

Aku melirik ke bawah, dan DEG! Seperti mau pingsan rasanya saat kulihat lelehan darah di atas sprei, tepat di bawah bokong bulat Ratih. Orang bodohpun tahu, itu adalah darah perawan. Asalnya dari memek sempit Ratih yang masih tersumbat oleh batang kontolku. Masih ada sisa-sisa darah di kulit kelamin kami berdua. Namun itu tidak mungkin! Kenapa dia masih perawan? Bukankah juragan Karta sudah menidurinya lebih dulu? Harusnya…

”S-sudah kubilang, aku masih perawan!” bisik Ratih sambil terus menangis. Aku tidak menjawab, hanya terbengong-bengong menatapnya. Sementara Inez dan Zaskia juga sama, mereka tidak berani membuka suara dan kelihatan sangat takut sekali. Kami sudah salah memilih korban!

”Maaf, Rat. A-aku nggak tahu!” jawabku sambil menarik penis, kubiarkan Ratih menangis tersedu-sedu pelan. ”T-tapi, bagaimana bisa?” tanyaku bingung.

Ratih menatapku tajam. ”Tentu saja bisa!” semburnya kencang. ”Aku masih kecil, masih sekolah! Belum pernah aku melakukan hal sehina itu!”

Aku melongo. ”K-kamu belum pernah tidur dengan juragan Karta?” tanyaku lagi.

Ratih terdiam, lalu menggeleng pelan. ”Jangan bawa-bawa nama orang yang sudah mati. Kamu telah memperkosaku! Dan pasti akan menanggung akibatnya.” ia lalu menoleh pada Inez dan Zaskia. ”juga kalian semua!” ancamnya serius.

”M-maafkan kami,” kata keduanya secara bersamaan.

”Nggak!” Ratih menggeleng, bara dendam tampak menyala di matanya yang berair. ”Kalian akan merasakan yang lebih menyakitkan, terutama budhe!” ancamnya pada Zaskia.

”Maafkan aku, Rat. Aku nggak tahu,” geleng Zaskia sambil ikut menangis.

Tidak menjawab, Ratih bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya.

”J-jangan laporkan kami, Rat. Kami janji akan menutupi ini rapat-rapat.” pinta Inez.

Ratih menoleh, ”Nggak usah kuatir,” jawabnya. ”aku sudah punya rencana sendiri buat kalian.” dan setelah berkata begitu, ia mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar. Dengan diantar oleh Zaskia, ia kembali pulang.

Tinggallah aku dan Inez yang duduk terdiam berdua, mencoba menebak-nebak hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Ratih pada kami semua. Di ujung ranjang, Linda dan bu Martin masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui masa-masa kelam yang siap menanti di esok hari.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 2

Di sebuah rumah sederhana di daerah pinggiran Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tidak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan.” demikian suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar itu.

“Iya kok, pak. Saya mengerti, terima kasih lho sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat. Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum memasuki pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telepon, Farah, apakah ada urusan penting?” suara lembut Siti Nurhana, ibundanya, membangunkan Farah dari lamunannya.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah belum bisa masuk cetak,” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana sambil berkemas-kemas untuk berangkat.

“Nggak apa-apa koq, ummi, salam dari Farah yah sama Abi, semoga lekas sembuh dan dapat pulang kembali ke rumah,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah empat putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya. Di rumah hanya ada Farah dan Asma, yang masih SMA, dan ibundanya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik.

Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah.

Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal dua hari lagi. Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang. Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan, ia pun bertekad untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan bersedia bekerja melakukan apa saja demi menunjang keluarga yang dicintainya.

***

Sebagai rentenir kelas kakap di daerah kampung situ juga, pak Burhan sangat disegani karena tabiatnya yang keras dan penampilan yang terlihat cukup menyeramkan. Wajahnya hampir tidak pernah menunjukkan keramah-tamahan, jarang sekali tersenyum apalagi tertawa. Matanya selalu menatap setiap orang yang diajak bicara dengan sangat tajam seolah ingin menembus benak pikiran lawan bicaranya. Disamping itu lirikannya selalu menampilkan kesan kejam dan bahkan tersembunyi kesan sadis, terutama jika menghadapi langganan yang mempunyai hutang padanya namun belum mampu membayar kembali karena bunga yang diajukannya memang amat tinggi.

Pakaiannya terlihat cukup rapih menutupi tubuhnya yang tegap dan dibalik pakaian itu tersembunyi banyak bekas luka, karena Burhan di masa muda sangat galak sering berkelahi. Bahkan ada periode dimasa mudanya Burhan hilang lenyap dari desa kelahirannya, tak satupun yang tahu dimana dan apa yang dilakukannya. Hanya Burhan sendiri yang menyimpan rahasia itu : ia merantau sebagai anak kapal di negara jiran, dimana di samping bekerja di sebuah perkebunan, ia juga memasuki kelompok penyamun yang di malam hari merampok penduduk, terutama orang tua yang tinggal seorang diri dan janda kembang yang baru ditinggalkan suami. Bukan hanya harta yang dijadikan sasaran perampokannya, namun tak ada satupun janda kembang yang lolos dari perlecehan dan perkosaannya.

Setelah Burhan berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi yang memburunya bertahun-tahun, akhirnya ia memutuskan untuk menghilang lagi tanpa meninggalkan jejak dan muncul kembali sebagai rentenir. Tempat bermukimnya sekarang berada di pulau Jawa, sedangkan Burhan sebenarnya berasal dari pedalaman Sulawesi. Tak heran jika semua orang di kampung dan sekelilingnya tak mengetahui asal usul latar belakang Burhan.

Setahun setelah bermukim di desa ini, Burhan menikah dengan seorang janda kembang. Namun ketika melahirkan anak mereka yang pertama, terjadi komplikasi yang tak terduga sehingga keduanya meninggal. Sejak saat itu Burhan belum lagi menikah, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ada langganan yang belum atau tak mampu membayar hutang kepadanya, maka Burhan selalu bersedia memberikan ‘keringanan’ dan menunda pembayaran berdasarkan ‘syarat tertentu’. Burhan akan bermurah hati jika yang datang memohon penundaan bayaran hutang itu bukan si lelaki kepala keluarga, melainkan sang istri atau anak perempuan mereka.

Semakin cantik sang istri langganannya yang memohon, maka semakin senang hati rentenir cabul ini–apalagi yang datang menggantikan permohonan si kepala keluarga adalah anak perempuan yang baru meningkat dewasa berusia belasan belum memasuki dua puluhan. Selera Burhan terhadap wanita tidak pandang bulu : entah perempuan biasa dengan gaya hidup bebas maupun yang alim shalihah berjilbab atau bahkan memakai cadar, semua dimana ada kemungkinan dan kesempatan akan dijerat dan dijadikan mangsanya. Jika belum ada lagi mangsa yang dijeratnya maka Burhan memuaskan nafsu birahinya yang besar terhadap istri-istri tetangganya, terutama yang tak cukup dipuasi oleh suami sendiri, entah karena telah uzur atau ditinggal tugas terlalu lama.

Sebagai bahan ‘jajanan’ extra, maka Burhan juga sering melecehkan pembantu rumahnya yang memang janda kembang dan cukup manis bernama Marwati atau sering disebut Wati. Karena selalu diberikan bayaran ekstra jauh melebihi pendapatan seorang pembantu, maka Wati dengan senang hati menjadi kaki tangan Burhan untuk membantu menaklukkan calon mangsanya!

Telah hampir setengah jam lamanya Farah duduk di ruang tamu menantikan kedatangan sang tuan rumah, pak Burhan yang diharapkan Farah akan bersedia untuk mendengarkan kesulitan yang sedang dihadapi oleh keluarganya. Farah telah merancang kalimat-kalimat paling bagus dan paling sopan dalam negosiasi dengan rentenir kakap di desa itu.

Kalimat-kalimat yang dipertimbangkan oleh Farah akan menggugah hati pak Burhan, terutama jika mendengar bahwa ayahnya sakit dan masih membutuhkan biaya perawatan tak sedikit, sedangkan pemasukan berupa buku agama yang dikarangnya belum lagi diterima dan dipublikasikan oleh para penerbit. Demikian pula hasil jualan ibundanya hanya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, sementara tulisan ustadz Mamat masih belum tahu apakah akan berhasil dijual memasuki bulan puasa ini.

Sedemikian naif-nya jalan fikiran Farah yang masih membayangkan semua orang sejujur dan sepenuh hati untuk menolong sesamanya, padahal pak Burhan bersedia menerima kedatangannya di hari itu karena mempunyai maksud lain, ada udang di balik batu yang akan menjebaknya memasuki sebuah dunia lain : dunia gelap terselubung kabut tebal dan juga lumpur mengambang menanti mangsa yang jatuh tergelincir, yang akan sukar membebaskan diri lagi dari tarikannya yang semakin dalam.

Akhirnya pintu pemisah ruang tamu dengan ruang bagian dalam rumah pak Burhan kembali dibuka, namun yang muncul bukanlah pak Burhan sendiri melainkan wanita usia pertengahan tiga puluhan yang tadi membukakan pintu masuk ketika Farah baru saja datang, seorang wanita yang masih cukup cantik dalam usianya itu, terutama disebabkan dandanan yang cukup menor.

”Pak Burhan sedang kurang enak badan, jadi beliau mohon maaf tak dapat menerima adik,” demikian ujar si wanita yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Wati dan mengaku bahwa ia di rumah itu hanyalah seorang pembantu.

Farah menjadi semakin putus asa mendengar harapan kedatangannya akan sia-sia, oleh karena itu ia berusaha menekan perasaannya dan bertanya, “Sakit apa pak Burhan? Apakah mbak Wati dapat menolong memberitahukan bahwa kedatangan saya karena ada urusan penting yang tak dapat ditunda. Apakah ada kemungkinan lain untuk bertemu pak Burhan, misalnya jika beliau sedang tidur, saya bersedia menunggu,”

Di dalam kegelisahannya itu, Farah tak sempat memperhatikan sedikit perubahan di wajah licik Wati yang memang telah bersepakat dengan pak Burhan untuk menjebak mangsanya. Ujung bibir Wati menyembunyikan senyum ibarat seringai mulut buaya yang telah melihat mangsanya.

“Kalau begitu mari kita lihat bersama ke dalam, mungkin pak Burhan sudah bangun. Tadi beliau telah berpesan agar tak membangunkannya karena badannya terasa agak menggigil, tapi siapa tahu untuk mbak Farah beliau bersedia membuat perkecualian,”

Demikian pancingan Wati yang sebenarnya tak sukar untuk diduga apa maksudnya. Namun Farah yang sedang bingung memikirkan bagaimana nasib keluarganya tak berpikir panjang, hanya kepentingan keluarganya yang menjadi masalah dibenaknya saat itu.

“Kalau begitu baiklah, saya bersedia bersama ibu masuk ke dalam. Tolong ibu sampaikan bahwa saya selalu membawa balsem dan minyak kayu putih, mungkin beliau mau pakai dan siapa tahu akan sedikit meringankan sakitnya saat ini,” demikian Farah yang selalu bermanis budi.

Wati mengangguk dan lalu masuk ke dalam diikuti oleh Farah yang berusaha menabahkan hatinya.

Setelah melewati hijab pemisah ruang tamu dan ruang dalam rumah, Farah merasakan ada bisikan yang memperingatkannya agar sebaiknya balik lagi dan meninggalkan ruangan, bahkan lebih baik lagi meninggalkan tempat itu secepatnya. Namun bisikan peringatan itu sangat terlambat karena pada saat Farah ingin memutar balik diri ke ruang tamu, dirasakannya sepasang tangan yang sangat kuat dan berbulu lebat membekap mulutnya sehingga tak dapat menjerit, sedangkan satu tangan lagi menelikung kedua tangannya ke punggung dan dipelintir keras ke atas hingga terasa sangat sakit.

Akibatnya Farah menghentikan rontaannya dan kini merasakan tubuhnya disérét ke arah bagian dalam rumah itu menjauhi hijab pemisah yang tadi dilewatinya. Kekasaran lengan dan tangan yang menelikungnya menyebabkan Farah sadar bahwa yang membekapnya pasti seorang lelaki, apalagi ketika tercium bau rokok dari dengusan nafas di samping telinganya.

“Hmmpf… l-lepaskaan! Emmpfh… nggak m-mau! J-jangan!” Farah berusaha menjerit ketika merasakan tubuhnya kini diseret memasuki sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu samar-samar, namun terlihat ada ranjang cukup besar dan di sudut ada lemari pakaian.

“Sssh… jangan berontak. Percuma saja, anak manis. Bapak sudah lama dengar nama putri Ustadz Arief Ubaidillah yang pandai mengarang buku. Bapak hanya mau mesra-mesraan dengan gadis shalihah dan nanti kamu bisa ceritakan di buku kamu pengalaman dengan bapak dalam beberapa jam ini,”

Demikian suara pak Burhan yang berat dan serak disertai dengan dengusan nafasnya yang menggelitik telinga Farah. Dengan sengaja pak Burhan menghembuskan nafas panasnya ke telinga gadis itu sambil disusul dengan jilatan lidah hangatnya menyapu liang telinga Farah sehingga sang gadis jadi semakin meronta-ronta kegelian.

Tanpa berdaya untuk melawan, Farah terus didorong ke arah ranjang dan dihempaskan dalam posisi tengkurap, kemudian langsung dibalikkan sehingga telentang dengan kedua tungkainya masih tergantung di luar kasur. Farah berusaha segera bangun, namun pak Burhan yang agak gemuk dan berat sekali badannya langsung menindihnya sehingga gadis alim ini jadi tak mampu melawan.

Pak Burhan memang sangat senang menggagahi wanita alim shalihah, tapi berusaha selalu untuk membiarkan jilbab tetap selalu menutupi rambut korbannya. Mungkin itu obsesinya bahwa ia selalu bangga menaklukkan wanita alim yang di awal menolak keinginan hewaniahnya namun akhirnya akan dikalahkan keperkasaannya meskipun tetap memakai lambang ‘kesucian dan kemurnian’, yaitu jilbab yang menutupi kepala. Di dunia kriminalitas di pelbagai negara dengan mayoritas wanita berjilbab, fenomena ini bukan hal aneh, melainkan justru sering terjadi!

Farah mulai menangis terisak-isak menyesali kebodohannya bahwa ia akan mengalami aib yang sama sekali tak diharapkannya. Bukan seorang suami yang telah menikahinya setelah akad nikah ijab kabul dengan penuh kasih sayang dan pengertian akan merenggut mahkota kegadisan yang selalu dijaganya dengan penuh kesalehan. Harta tertinggi yang dimiliknya sebagai wanita muslim sebentar lagi direbut paksa oleh rentenier kelas kakap yang diharap untuk menolongnya.

Rasa ketidakberdayaan Farah semakin menjadi-jadi ketika dirasakannya ada sepasang tangan lain yang kini menarik dan merentangkan kedua pergelangan tangannya di atas kepala lalu diikat ke ujung pilar ranjang. Ternyata Wati kini telah ikut membantu majikannya untuk menaklukkan gadis malang itu–dan dengan keadaan Farah yang terentang terikat kedua tangannya di atas kepala, maka semakin mudah bagi pak Burhan untuk melanjutkan niat maksiatnya. Dengan sangat sigap karena ia memang sudah sering melakukan perbuatan tak senonoh ini, pak Burhan melepaskan jubah serta gaun panjang Farah tanpa memperdulikan makian dan rontaan korbannya.

Di balik gaun panjang itu, ternyata Farah masih memakai lapisan semacam daster tipis berwarna merah muda yang juga langsung di tarik ke bawah dan dilepaskan sekaligus dengan kaus kaki panjang berwarna kuning muda agak krem. Wati yang rupanya juga telah sering membantu membantai mangsa majikannya ikut melepaskan kaitan BH Farah sehingga tampaklah kedua gunung buah dada yang sedemikian montok dan putih dengan kulit halus licin sehingga seekor semut pun akan tergelincir jika berusaha mendaki gunung daging tersebut. Di tengah kedua buah dada sekal montok itu, mencuatlah puting yang berwarna merah muda kecoklatan, menjulang ke atas bagaikan menantang dan mengundang setiap tangan lelaki untuk menjamah dan mengelus-ngelusnya.

Semakin Farah meliuk-liukkan dan menggeliatkan tubuhnya, maka semakin terlihat goncangan-goncangan kedua gunung itu, menyebabkan pak Burhan menelan ludahnya beberapa kali dan matanya semakin beringas menatap. Dengan penuh rasa gemas dan sadis, pak Burhan meremas bergantian kedua buah dada putih mulus itu. Diciuminya dengan rakus, dicupanginya ketiak Farah serta bukit susu kebanggaannya itu, kemudian dicaploknya kedua puting yang begitu peka, lalu dipilin dan digigitinya serta dihisap-hisapnya bagaikan bayi kehausan yang ingin menyedot susu segar langsung dari sumbernya.

Setelah melepaskan BH Farah, maka Wati membantu pak Burhan untuk memegang kedua pergerangan kaki Farah yang masih berontak menendang kesana-sini. Dengan dipegangi kedua pergelangan kakinya oleh dua orang, maka dengan mudah pak Burhan kini menarik celana dalam Farah yang berwarna biru muda dan lalu membuangnya begitu saja ke lantai–sehingga gadis malang itu sempurna telanjang bulat, terkecuali jilbabnya.

Sementara Wati sekuat tenaga memegang kedua pergelangan kaki Farah, maka pak Burhan berdiri dan dengan cepat melepaskan semua pakaiannya sehingga terlihatlah tubuhnya yang agak gemuk, hitam legam dan masih cukup kekar berotot meskipun telah memasuki usia lima puluhan.

Farah memalingkan mukanya ke samping sambil menangis terisak-isak karena merasa sangat malu dengan keadaannya yang telanjang bulat di hadapan mata lelaki asing. Seumur hidupnya Farah tak pernah membayangkan akan ada lelaki yang bugil di hadapannya terkecuali suami sendiri yang akan menagih haknya di malam kemantin. Namun yang terjadi saat ini adalah lelaki asing yang bukan suami, bahkan berusia jauh lebih tua, sambil tersenyum cabul penuh nafsu iblis tanpa ada rasa segan sedikitpun memperlihatkan batang kemaluannya. Farah hanya tahu bentuk penis lelaki dari keponakannya yang memang masih kecil ketika dibantunya mandi, tak pernah ia melihat penis orang dewasa, apalagi yang telah mulai menegang mengacung ke atas.

“Ayo lihat nih senjata ampuh bapak, udah enggak sabar lagi pengen ngerasain masuk ke mémék bageur asli… pasti mémék nduk belon pernah ngerasain alat paculan lelaki ya, mmh… mémék gadis alim shalihah lagi, gimana rasanya ya?” pak Burhan kini berlutut disamping kepala gadis Farah yang meléngos itu.

Dicekalnya kepala dengan rambut ikal bergelombang namun masih terlindung jilbab itu, dan dengan sangat kasar dipencétnya hidung bangir Farah sehingga gadis itu langsung megap-megap mencari udara karena tak bisa bernafas. Setelah meronta-ronta dua menit tanpa berdaya memperoleh oksigen, maka Farah terpaksa bernafas melalui mulutnya, namun hanya dibukanya sedikit. Pak Burhan yang melihat hal itu, kembali muncul senyum iblisnya karena ia tahu bagaimana mengatasi pertahanan gadis yang masih malu dan murni ini. Satu tangannya yang berjari-jari kasar, dengan brutal meremas bukit kembar dada Farah sebelum kemudian ibu jari serta telunjuknya menjepit dan menarik puting susu kanan korbannya.

Perlakuan sadis semacam ini tak pernah diduga sama sekali oleh Farah sehingga iapun tanpa sadar menjerit kesakitan dan membuka mulutnya, “Auw!! S-sakit… auuw… ughh… uhh… emmpfh!!” jeritan Farah hanya bergema beberapa detik karena mulutnya yang terbuka itu langsung disumbat dijejali oleh kemaluan pak Burhan yang terasa beraroma memuakkan.

“Ayo, neng manis. Buka mulutnya dong yang lebar, cobain nih singkong bapak… jangan kaget, neng, ntar makin lama makin gede… iya gitu, siip banget gadis Parahiangan begeur teuing… bapak ajarin jadi juara ngisep, bapak mau masukin lebih dalem lagi ya!” pak Burhan tanpa kasihan mendorong penisnya lebih dalam sambil menatap air mata yang mengalir di kedua pipi Farah yang halus itu.

“Aaah… anget bener nih mulut! Emang pinter si neng, punya bakat alami bisa nyepong kontol… iyah, teruus… kulum, jilat, awas jangan digigit… nih barang mahal, ntar lagi neng rasain dijebol ama lembing… aaah!!” Bagaikan kesurupan, pak Burhan merem melek merasakan kehalusan dan lembutnya bagian dalam mulut dan lidah Farah.

Dengan penuh nafsu pak Burhan kini memaju-mundurkan pinggulnya sehingga rudal dagingnya menggesek langit-langit mulut Farah. Beberapa kali pak Burhan memaksakan penisnya menusuk lebih dalam, namun karena memang terlalu besar dan panjang, maka hanya setengah saja yang dapat masuk dan telah menyentuh pintu gerbang awal tenggorokan Farah, menyebabkannya si gadis terbatuk-batuk dan ingin memuntahkan barang menjijikkan yang tengah merajahi mulutnya. Tapi tekanan tangan pak Burhan di kepalanya terlalu kuat sehingga kemaluan lelaki itu tetap saja bertahta dan berjaya di mulutnya, mengakibatkan rasa ingin muntah yang semakin menyiksa Farah.

Sementara itu Wati telah berhasil merentangkan kedua paha Farah dan kedua pergelangannya yang langsing kini diikat pula di ujung-ujung ranjang, menyebabkan tubuh bugil Farah membentuk huruf X dan tak sanggup lagi untuk melawan atau memberontak sedikitpun. Setelah melaksanakan tugasnya itu, Wati tersenyum dengan penuh arti kepada pak Burhan dan meninggalkan kamar.

Melihat mangsanya kini terikat kaki tangannya ke ujung-ujung ranjang tak mampu melawan, maka pak Burhan merasa sangat puas dan segera melaksanakan langkah berikutnya. Sambil tak henti-hentinya meremas buah dada montok kesenangannya itu, pak Burhan berbisik ke telinga Farah, “Neng Farah pasti belum pernah senam olahraga di ranjang dengan lelaki kan? Nah, sekarang udah waktunya belajar dari bapak, hehehe… Neng Farah kebetulan lagi subur nggak, mau nggak punya anak dari bapak? Pasti cakep lah kaya neng… bapak gali liang kegadisannya ya, hehehe…”

Tentu saja mendengar komentar cabul itu menyebabkan Farah sangat ketakutan, bukan hanya takut karena ia tahu bahwa selain sudah nasibnya sebentar lagi akan diperkosa habis-habisan oleh pak Burhan, namun bagaimana kalau sampai terjadi apa yang dikatakan oleh lelaki itu bahwa ia akan hamil? Farah mengingat-ingat bahwa memang benar dirinya sedang berada di masa subur sehingga kemungkinan ia akan hamil besar sekali.

Sekuat tenaga Farah memberontak dan berhasil melepaskan wajahnya dari cengkeraman tangan pak Burhan dan ia langsung meratap tersedu-sedu, “Tolong, pak Burhan, kasihani saya… saya masih gadis, jangan dihamili, pak… tolong jangan berikan aib kepada saya, lepaskanlah saya… saya tak akan lapor kepada siapapun dan kemanapun… tolong, pak, jangan perkosa saya, jangan hamili saya…”

Senyuman iblis kembali muncul di wajah pak Burhan mendengar ratapan korbannya itu, karena tentu saja dia pun tak mau langsung mendapat beban bayi yang harus ditanggung-jawabkan. Pak Burhan ingin mengambil kegadisan Farah namun sebaiknya jangan dihamili dulu saat ini.

“Hehehe, neng takut hamil ya? Emmh… kalau gitu bapak akan sumbangkan benih bapak yang mahal ini sementara di tempat yang kurang subur, tapi neng harus ikut kemauan bapak ya!”

Farah tak langsung mengerti apa maksud kata-kata dan kalimat terakhir itu, juga sampai saat pak Burhan berubah menelungkup di atas tubuhnya sedemikian rupa sehingga selangkangan pak Burhan dengan penisnya yang gagah tegak dikhitan kembali berada dihadapan wajahnya. Sebaliknya pun wajah pak Burhan kini tepat berada di atas bukit kemaluannya dan apapun usaha Farah mengatupkan selangkangannya, tetap tak berhasil karena pergelangan kakinya terikat erat ke ujung ranjang, hingga nafas hangat pak Burhan kini terasa menghembus di bukit kewanitaannya yang gundul klimis tercukur rapih. Farah meronta-ronta bagaikan orang sekarat ketika dirasakannya jari tangan pak Burhan mulai mengusap-usap bibir luar kelaminnya.

“Ayolah, neng manis… hisap, sepong dan kulum lagi barang antik bapak nih biar lama, coba rangsang sampai keluar pejuhnya, coba minumlah habis semuanya… kalau dah habis diminum kan nggak bisa nyiram dan nanam bibit lagi hari ini, hmm… tapi bapak juga mau coba gimana rasanya air madu neng, pasti manis kan… memeknya aja udah wangi begini, hehehe…” celoteh pak Burhan sambil melekatkan bibirnya yang tebal ke bibir kemaluan Farah.

Kini barulah Farah menyadari apa maunya pak Burhan : alat kejantanannya yang kaku tegak dihadapan wajahnya itu harus dikulum dan dihisapnya juga, dan jika sampai berhasil menyembur habis semua spermanya maka kemungkinan besar tak dapat membuahinya lagi.

Selain itu siapa tahu jika sudah ejakulasi dan dihisap habis di dalam mulutnya, maka pak Burhan akan tak dapat ereksi lagi dan hal itu mungkin akan menyelamatkan selaput kagadisannya. Farah harus pilih dari dua kemungkinan yang buruk, namun daripada diperawani dan sampai hamil, maka lebih baik jika mengulum penis yang menjijikkan dan sangat dibencinya itu.

Disertai dengan linangan air mata, Farah membuka bibir mungilnya dan mulai mengulum penis besar berurat-urat yang memancarkan aroma tak menyenangkan, lalu dijilat dan dihisap kepala jamurnya. Tanpa sadar apa yang dilakukan, Farah kini menjilati lubang kencing pak Burhan!

“Hmmh… sshh… ahhh… iya, ohhh… pinter! Teruus… bapak juga mulai cicipi air madu di celah memek yang rapet sempit milik neng, oooh… ntar dibelah ya, neng!” ujar pak Burhan sambil menjulurkan lidahnya menyelusup di celah vagina Farah yang mulai licin pula.

Sangat terkejut dan malu Farah merasakan hembusan nafas panas pak Burhan di permukaan kulit bukit kemaluannya, selanjutnya kumis baplang pak Burhan mulai menggelitik bibir luar memeknya sehingga ia kembali meronta-ronta karena kegelian. Rasa geli itu bahkan terkadang membuat Farah lupa akan ‘tugas’ yang harus dilakukannya. Apalagi ketika dirasakannya lidah nakal pak Burhan mulai menyelinap masuk di celah kegadisannya, dan menyapu-nyapu dinding kiri-kanan, mendorong serta membelah ke atas mencari tujuan utamanya, yaitu daging kecil yang tersembunyi diantara lipatan labia-nya.

Setelah ketemu yang dicarinya itu, maka pak Burhan dengan sengaja menjepit kelentit mungil itu diantara barisan gigi-giginya, kemudian digerakkannya rahangnya ke kiri dan ke kanan. Akibat gerakan rahang pak Burhan ini ternyata sangat luar biasa, Farah merasakan kelentitnya amat ngilu tapi juga geli dan sedikit sakit, sukarlah diuraikan dalam kalimat, sehingga ia hanya bisa menggeliat-geliat.

“Auuh… iiih… j-jangan, aiih… emmpfh… geli, pak, udah… hentikan… auw, emmpfh…” Farah menjerit-jerit dan bagaikan sedang histeris sebelum kemudian mulai mengulum kemaluan pak Burhan, seolah ingin ‘membalas’ perbuatan pemerkosanya.

Sementara itu tentu saja pak Burhan juga meningkatkan usahanya untuk membuat gadis muda yang masih murni dan alim ini menjadi mangsanya yang selalu haus akan seks. Selain kumisnya menggelitik kulit halus Farah, juga digesek-geseknya ke permukaan klitoris bagaikan sapu ijuk yang menusuk-nusuk. Selain itu jari-jari tangannya juga membuka paksa belahan bibir kemaluan Farah yang kemerah-kemerahan itu.

Kini terlihatlah bagian dalam kemaluan gadis itu yang masih tertutup selaput kegadisan tipis, dan juga lubang kencingnya yang kecil amat menggiurkan mata lelaki. Pak Burhan langsung menjadikannya sasaran, lidahnya mengusap dan mendorong-dorong selaput gadis pelindung kemurnian Farah hingga menyebabkan rasa ngilu nyeri agak sakit, sebelum ujung lidah itu menggelitik-gelitik lubang kencing yang membuat pinggul Farah makin bergeser-geser memberontak kegelian.

Tak hanya bergeser ke kiri dan ke kanan, namun Farah tanpa disadari mulai mengangkat pinggulnya sejauh mungkin namun tidak bisa karena kakinya terikat erat, itu seolah-olah menunjukkan kalau Farah sudah ketagihan!

Pak Burhan mengerti semua tanda ini : gadis alim shalihah ini mulai kehilangan rasa harga dirinya, ingin merasakan lebih banyak kenikmatan yang sedang menyiksanya. Selain itu Farah semakin mantap mengulum menyepong menjilat-jilat ujung saluran kencing pak Burhan yang tadi sangat membuatnya jijik, namun kini tak diperdulikan lagi aromanya yang khas kelaki-lakian.

Rentenir kelas kakap ini pun tak luput dari pengaruh mulut dan lidah serta gigi Farah, alat kemaluannya semakin tegang mengeras dan gejolak lahar di dalam biji pelirnya semakin mendekati titik mendidih untuk meluap. Pak Burhan menekan pinggulnya ke wajah Farah menyebabkan gadis malang ini semakin sukar untuk bernaas, masuk masuk masuk semakin dalam dan akhirnya dengan suara geraman bagai hewan terluka, pak Burhan menyemburkan spermanya.

“Ooooh… aaaah… iyaa, hisaap… hisaap… ayo terus, neng geulis manis, minum semua air mukjizat bapak… itu bagus untuk obat awet muda, aaah!!” teriaknya.

Surrrr… surrrr… jrooot… jrooot… surrrr… air mani pak Burhan dengan aroma khas lelaki menyembur memenuhi rongga mulut Farah, seolah-olah tak akan berhenti hingga menyebabkan Farah hampir tersedak dan terbatuk-batuk. Namun mengingat dan mengharapkan habisnya lahar panas dari biji pelir pak Burhan akan membuatnya tak mampu lagi ereksi untuk mengoyak selaput tipis kegadisannya saat itu, apalagi sampai menghamilinya, maka Farah berusaha terus menjilat mengulum dan menghisap kepala penis pak Burhan, meskipun lambungnya telah berontak dan rasa mualnya semakin menjadi-jadi menyebabkannya hampir muntah.

Untunglah rasa mualnya terganti dan bahkan terkalahkan oleh rasa gatal, geli dan nikmat di selangkangannya, karena pak Burhan disaat itu menggigit klitorisnya dengan sadis dan sekaligus tanpa diduga menusuk anusnya dengan jari tengahnya yang lebar dan kuku kasar tak terawat agak tajam.

Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Farah dan merupakan pemantik melewati batas daya tahannya sebagai gadis masih murni alim dan patuh pada agama. Ledakan orgasme tak dapat ditahan menjalar di seluruh tubuhnya. Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Farah yang demikian langsing semampai kini mengejang-ngejang melawan ikatan tangan dan kakinya. Jari-jari tangannya menutup membuat kepalan tinju, membuka, menutup–demikian pula jari-jari kakinya. Kepala Farah yang masih setengah tertutup jilbab ikut menengadah, menggeleng ke kiri dan ke kanan, lalu kembali menengadah. Sementara matanya seolah terbalik sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Cuping hidungnya nan bangir mancung kembang kempis menyertai aliran deras air mata di pipinya sementara bibirnya terbuka lebar.

“Aaah… aduh, aduduh… perihh… keluarin! Maluu… haram, pak! Aihh… oooh… t-tolong, auw… auw… auw… ampun!!” jeritan dan lolongan Farah menggema menimbulkan iba bagi yang mendengar, namun tidak menggerakkan rasa belas kasihan untuk pak Burhan yang sudah kemasukan setan.

Penuh kepuasan ia membaringkan dirinya di samping kanan tubuh Farah yang kejang-kejang terikat, mulutnya kembali menggigit puting buah dada kiri sementara tangan kirinya meremas dan mencubit buah dada kanan Farah. Tanpa memperdulikan Farah yang telah kehabisan tenaga serta lemas dilanda orgasme, tangan kanan pak Burhan tetap menjarah kemaluan mangsanya, dengan jari telunjuk dan ibu jari meraba, mengusap dan menjepit mencubit-cubit kelentit Farah yang masih agak menonjol diantara bibir kemaluannya. Dengan demikian pak Burhan seolah-olah ingin merangsang terus dan mempertahankan agar Farah tiada henti dilanda orgasme yang menyebabkan ia lupa segalanya .

Tujuan maksiat ini memang berhasil, Farah jadi meraung-raung, menjerit, meronta, dan menggeliat-geliat bagaikan kesurupan. “Udah, pak… oooh… udah, Farah nyerah… ampun… Farah pipis lagi, auw… auw… auw… ya Ilahi, tolong… aah, aiihh, oohh…” teriakan Farah semakin melemah dan akhirnya hampir tak terdengar karena gadis alim ini mencapai batas kemampuannya dalam mengalami orgasme dan sudah setengah pingsan.

Pak Burhan tersenyum bagaikan iblis karena telah mencapai kemenangan pertama–mangsanya telah kehabisan tenaga dan tergeletak terikat kaki tangannya dalam keadaan bugil telanjang bulat. Kini telah tiba saatnya untuk merenggut satu-satunya milik Farah yang selama ini dipertahankan dengan sebaik-sebaiknya oleh gadis itu dengan maksud untuk dipersembahkan di malam syahdu kepada suaminya yang sah.

Namun kini yang akan merenggut kegadisannya bukanlah sang suami, melainkan seorang lelaki jauh lebih tua yang ganas dan haus seks, seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya. Tanpa upacara agama yang diharapkannya untuk meresmikan akad nikah, tak ada ijab kabul yang diucapkan dihadapan penghulu agama. Pak Burhan mana peduli, yang penting nafsu birahinya akan terpuaskan dengan menembus selaput dara Farah. Apakah sang gadis rela menyerahkan kegadisannya itu bukan urusan lagi, semakin tampak keputusasaan dan rasa sakit tercermin di wajah begitu cantik itu maka akan semakin puaslah pak Burhan.

Penisnya yang besar hitam penuh dengan pembuluh darah telah menyemburkan mesiunya beberapa saat lalu ke dalam mulut Farah. Namun senjata kebanggaannya itu masih tegak kukuh berjaya bagaikan kayu pemukul kasti dan kembali siap maju untuk menghantam benteng pertahanan yang tersembunyi di tengah liang hangat yang mulai licin dengan air mazi lendir yang telah mengalir deras karena orgasme yang dipaksakan beberapa menit lalu…

Pak Burhan mengambil bantal guling yang agak keras diranjang itu lalu diletakkannya di bawah pantat Farah, menyebabkan bukit kemaluannya menonjol ke atas, terutama liang kewanitaan yang tampak berkilat basah kini muncul merekah. Dengan jari-jari tangan kirinya, pak Burhan kini menguakkan bibir kemaluan Farah, dan dengan tangan kanannya diarahkan kepala penisnya yang berbentuk topi baja seorang serdadu untuk meretas dan membelah memek idaman itu.

Keringat telah membasahi tubuh keduanya yang telah telanjang bulat, hanya perbedaannya adalah keringat Farah tetap tarasa harum di hidung pak Burhan, sebaliknya keringat pak Burhan yang menetes-netes dari dahinya ke perut Farah yang datar langsing itu terasa menyengat asam tak menyenangkan di penciuman gadis yang tengah dijarah. Tubuh Farah telah basah mengkilat dengan keringat yang keluar akibat semua daya upaya pergulatannya melawan orgasmenya, sedangkan keringat pak Burhan diakibatkan oleh usahanya merangsang dan menaklukkan gadis idamannya. Kini arus keringat yang membasahi tubuh Farah juga diakibatkan oleh rasa takut yang menyelubungi nuraninya karena sadar akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga. Sebaliknya pak Burhan makin mengucur keringatnya karena berusaha menerobos lubang kenikmatan Farah yang masih sangat sempit dan beberapa kali penisnya terpeleset ke kiri dan ke kanan.

Namun dia tak mudah menyerah, dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya, pak Burhan membuka celahan bibir kemaluan Farah. Tampaklah isi di dalamnya yang terkuak berwarna merah muda ibarat pepaya mengkal yang dibelah, di atasnya menonjol kelentit yang seolah malu-malu mengintip di antara lipatan bibir kemaluan. Mata pak Burhan yang telah terlatih dalam menilai liang kelamin wanita semakin mengarah ke bagian dalam vagina korbannya. Kira-kira sedalam satu ruas jari tengah, terlihatlah selaput dara Farah yang berbentuk bulan sabit tipis merayang penuh pembuluh darah sehalus rambut. Pak Burhan sangat puas melihat memang benar Farah masih utuh kegadisannya.

Pak Burhan hanyut dalam fantasi pikirannya bagaimana ia akan merasakan nikmatnya jepitan selaput perawan gadis alim ini. Namun sebelumnya ia akan berusaha kembali menghanyutkan Farah ke dalam arus gelora nafsu birahi, yang mana akan dirangsangnya lubang kencing Farah yang sangat mungil hampir tak terlihat di atas selaput daranya itu. Tak beda dengan lubang air seninya sendiri yang tadi dijilat dan dan disapu-sapu oleh lidah Farah, maka kini tiba gilirannya untuk melakukan hal yang sama. Pak Burhan menekan sedikit perut Farah di atas tulang kemaluannya dan ini menyebabkan si kandung kemih agak menyeruak keluar menampilkan lubang yang amat mungil itu dan langsung disambut oleh lidah pak Burhan yang menggelitik tiada hentinya.

Pinggul Farah yang begitu bahenol bergoyang ke kiri-kanan menahan rasa geli diperlakukan oleh lelaki yang sangat berpengalaman itu, ditahannya semua siksaan yang sangat memalukan itu dengan tabah, hanya air matanya semakin membasahi pipinya dan mulutnya semakin terbuka.

“Emmpfh… aaihh… oooh… ssssh… aaaah… j-jangan dijilat lagi… udah, pak, gelii… oooh… hiyahh… g-geli… ampuun!!” Farah menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, terkadang digigitnya bibirnya sendiri untuk menahan geli.

“Uuh, basah banget… hangat, tapi sempit amat nih lobang… tahan sedikit ya, neng… memang sakit, tapi pasti nanti jadi enak bagaikan masuk taman firdaus… hmmh… aah…” geram pak Burhan penuh nafsu, sambil berusaha merayu dan menghibur bidadari mangsanya yang akan segera diperawaninya.

Kini diarahkannya kepala penisnya ke tengah lipatan bibir kemaluan Farah, dan setelah beberapa kali gagal meleset, kini terjepitlah tombak pemecah selaput dara itu di celah surgawi tujuannya, dan dengan penuh rasa kepuasan pak Burhan mulai mendorong maju, menekan dan membelah…

“A-aduuh… auuww… a-ampuun, pak, h-hentikan! S-sakiit… udah… j-jangan dimasukin, pak… ampunn… aauuw!!” jeritan Farah menggema menyayat keheningan kamar, menimbulkan rasa iba bagi yang mendengar.

Namun hal itu malah semakin memicu nafsu birahi pak Burhan. Tanpa rasa belas kasihan, sang rentenier kakap ini semakin memajukan pinggulnya, maju, menekan, mendorong, membelah sehingga akhirnya jebollah pertahanan selaput tipis di dalam liang vagina Farah, si gadis alim shalihah.

Rasa ngilu dan sakit sedemikian mendera bagian kemaluannya bahkan terasa menusuk sehingga ke ulu hatinya, menyebabkan Farah tak mampu lagi mengeluarkan suara. Yang terlihat hanyalah mulut mungil dengan bibir basah setengah terbuka yang kembali diserbu diciumi sangat rakus oleh bibir tebal pak Burhan. Lidahnya yang sangat memuakkan itu kembali memasuki rongga mulut Farah, menyebabkan si gadis yang sedang disiksa ini semakin sesak nafasnya. Apalagi air liur pak Burhan penuh bau rokok keretek bertetesan mencampuri ludah Farah sehingga ciuman-ciuman pak Burhan terdengar berkecipak di tengah-tengah dengusan nafasnya.

Laju, masuk, menusuk, mundur sejenak, kemudian masuk lebih dalam, bagaikan pisau menyayat sekaligus lebarnya kemaluan pak Burhan bagaikan pentungan satpam memenuhi dinding vagina Farah. Pentungan daging ini menerobos tak henti-hentinya dan setelah bermenit-menit yang dirasakan bagaikan berabad-abad oleh Farah, maka terhentilah hantaman itu karena telah terbentur dan terhalang oleh mulut rahim.

“Oooh… nikmaaaaatnya neng houri! Gimana, mulai biasa kan dengan lumpang sakti bapak? Kasihan… masih perih ya diperawani? Tapi sebentar lagi neng pasti merengek minta tambah… ayo goyang dong pantatnya, kan mojang parahiangan paling jago ngebor dengan pantat bahenolnya… goyang yang mantep, neng… iya, gituu… terus, neng, pinter!!” pak Burhan tak peduli bahwa Farah berusaha menggeser pinggulnya ke kanan dan ke kiri karena merasa ngilu kesakitan.

Pak Burhan kini mulai lagi dengan meremas-remas buah dada Farah dengan penuh kegemasan, puting yang selalu mencuat itu kembali dijadikannya sasaran pilinan, pjitan, cubitan dan gigitan sadis.

“Hhhm… putihnya nih susu. Neng punya darah amoy kali ya, geli nggak neng dijarah teteknya? Belajar deh neng dari sekarang, siapa tahu neng ntar jadi bini bapak. Bangun pagi bapak paling seneng minum kopi susu asli, hhmm… nih puting, kenyal digewel-gewel…“ Tak habis-habisnya pak Burhan memuji kedua bukit daging yang kini telah kemerahan penuh cupangan dan gigitan.

Dengan keahliannya pak Burhan terus menerus memancing keluar hormon kewanitaan Farah yang biar bagaimanapun adalah wanita normal, tubuhnya sedang diperkosa habis-habisan, semuanya dirasakan bagaikan siksaan di neraka. Namun para iblis di neraka tak henti-hentinya menyebarkan jaringan dan jeratan rasa lain di tubuh Farah. Sakit, ngilu, perih tak hentinya, namun dari sudut dan dasar paling dalam di benaknya muncullah rasa lain; rasa panas, geli dan nikmat. Semua bercampur baur, bergantian menerpa ujung-ujung ribuan syaraf tubuhnya. Semua panca indera Farah yang semula hanya mengenal satu : kemuakan dan kebencian terhadap si pemerkosa, perlahan-lahan di transformasi menjadi rasa keinginan untuk mempertahankan apa yang sedang dialami.

Telinga pak Burhan yang sudah sedemikian ahli menangkap perubahan dari jeritan dan rintihan sakit menjadi desah dan dengusan nafas memburu seorang wanita yang dipengaruhi rasa birahi!

“Mulai enak ya, neng? Ngaku lah, nggak ada salahnya jujur ama bapak. Ntar lagi neng akan masuk firdaus, bapak cepetin nih genjotannya. Bilang ya kalo udah mau nambah, hehehe…” ujar pak Burhan yang melihat tanda-tanda gadis yang telah diperawaninya itu mulai hancur pertahanannya yang terakhir. Oleh karena itu pak Burhan makin meningkatkan tempo genjotan dan tusukannya.

“Hmmpfh… sssh… aaah… pak, ooohh… u-udah, pak… saya nggak kuat lagi, oooh…” Farah mulai hanyut terbawa arus godaan dan bujukan rasa hangat gatal di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kemaluannya yang semakin lama semakin terasa panas akibat tergesek-gesek dengan batu lumpang daging.

“Tahan dikit ya, neng, bapak mau nyumbang pejuh nih… siapa tahu ada buahnya, aaah… oooh… sempit amat… duh, angetnya nih memek mojang parahiangan tulen… iya gitu, goyang terus, terus… pijit-pijit batang pusaka bapak, oooh… bapak keluar nih…”

Pak Burhan untuk kedua kalinya menyemburkan lahar panasnya dan kali ini menyiram mulut rahim korbannya, kemaluannya berdenyut-denyut kencang membuat Farah jadi menjerit histeris ketakutan.

“Aaih, sssh… keluarin, pak, jangan buang di dalam… ntar hamil, aauoh… shhh… ngilu, pak, udah dong… aauw, a-ampun!!” Kali ini Farah bagaikan disergap oleh gelombang tsunami menderu-deru di otaknya, hanya jutaan bintang berkunang-kunang. Kepalanya terasa terputar-putar dan akhirnya semua mulai kabur, berwarna abu-abu dihadapan matanya dan hitam gelap pada saat Farah tak tahu apa-apa lagi karena jatuh pingsan…

Harapan Farah hanya sia-sia saja, pak Burhan ternyata sama sekali tidak berkurang daya kemampuannya setelah ejakulasi pertama di mulutnya tadi. Rentenir cabul ini tetap sanggup mempertahankan ereksi-nya, sehingga dapat menembus selaput kegadisan Farah. Bahkan setelah sempat menyemburkan spermanya ke dalam rahim Farah maka ia cukup beristirahat sebentar. Pada waktu mana Wati memberikan teh jahe dicampur ramuan-ramuan desa yang rupanya dalam waktu singkat dapat memulihkan daya kemampuannya memasuki ronde berikutnya.

Kali ini dengan penuh kemesraan pak Burhan memeluk tubuh Farah yang masih telanjang bulat dan setengah pingsan itu dalam posisi menyamping. Dalam posisi mana pak Burhan memeluk Farah dari arah belakang, nafasnya yang hangat menggelitik kuduk dan telinga Farah. Tangan pak Burhan yang besar dan kasar mengusap pundak, kedua buah dada nan montok dan dipilin-pilinnya puting yang kembali mengeras dan mencuat indah disertai lenguhan Farah secara tak sadar.

Tangan itu kemudian turun mencari celah kemaluan Farah yang masih basah licin karena campuran lendir vagina, sperma dan juga darah keperawanannya. Tak dapat menahan nafsunya, maka pak Burhan beberapa menit kemudian membalikkan tubuh Farah menjadi terlentang dan diperkosanya kembali. ‘Luka’ dinding memek Farah akibat proses penembusan selaput daranya kembali tergesek-gesek dan dirasakan sangat nyeri ngilu. Namun Farah sudah terlalu lemah untuk protes apalagi melawan, ia hanya bisa menangis terisak tersedu-sedu dan pasrah ditaklukkan si rentenir tua.

Pak Burhan menyetubuhinya tanpa rasa kasihan, sambil membisikkan sesuatu ke telinga Farah, menyebabkannya menggeleng kepalanya dan tangisannya semakin menimbulkan iba.

Namun sejak itu pak Burhan tak pernah lagi mempersoalkan hutang keluarga Ustadz Arief Ubaidillah, dan buku-buku karangan Farah dapat dirilis oleh percetakan lainnya…

Beberapa bulan kemudian dirayakan sebuah pesta pernikahan besar di sebuah balai desa di luar kota Bandung. Siapakah pasangan mempelai itu–banyak pengunjung berbisik-bisik mengatakan bahwa pasangan pengantin yang duduk di pelaminan itu amat tidak serasi, baik usia maupun penampilannya.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 1

Sobri Handoko, 50 tahun, akhirnya menghela napas lega setelah berhasil memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah yang hampir-hampir dikatakan kumuh itu. Jalan depan yang begitu sempit memaksa duda beranak satu ini harus berjibaku, mengeluarkan seluruh kemampuan mengemudinya hanya demi memarkir CRV hitamnya di halaman rumah yang sedari pagi tadi dicari-carinya. Rumah itu berdesain kuno, bukan antik. Sepertinya rumah itu telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan belum pernah sekalipun direnovasi. Untungnya, rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan hijau sehingga setidaknya sedikit membuatnya berkesan teduh dan menyenangkan para tamu.

Pak Sobri yang bertubuh kurus dengan keriput yang jelas nampak di sana sini, khas pria yang sudah menginjak usia tuanya, langsung menutup pintu mobilnya sendiri begitu ia keluar. Ototnya terlihat masih berisi di usia senjanya membuat ia belum tampak seperti kakek-kakek setengah renta. Di sisi mobil mewah tersebut, telah menunggunya seorang lelaki paruh baya yang berusia sekitar 30 tahunan yang tadi juga ikut membantu pak Sobri memarkirkan mobilnya

Lelaki itu berparas tampan dengan jenggot tipis menggantung di dagunya. Walau pakaiannya biasa saja, kaos oblong dengan sarung, namun tubuhnya terlihat begitu tegap. Penampilannya kontras sekali dengan Pak Sobri yang tampil sedikit perlente namun tetap saja wajahnya terkesan buruk rupa dan bahkan sinar matanya yang tajam melirik kiri kanan terlihat amat menyeramkan.

“Assalamualaikum, Ustadz Mamat. Lama tak ketemu nih, apa kabar di rumah?” tanya pak Sobri pada lelaki yang jauh lebih muda dari dirinya itu sambil menjabat tangannya.

Ternyata lelaki muda itu adalah Ustadz Mamat Salam, seorang dari lulusan Universitas Islam Madinah yang lumayan cukup terkenal di wilayah Cibubur. “Waalaikumsalam, Pak Sobri. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Bapak juga sehat-sehat saja kan?“ demikian jawab Ustadz Mamat mulai berbasa-basi dengan Pak Sobri yang baru datang. Dari cara berbicara mereka tampak bagaikan dua teman akrab yang sejak lama tidak pernah bertemu.

“Ya, begitulah baik-baik saja. Rumah ustadz terpencil begini, jadinya saya kesasar melulu, hehe.“ jawab pak Sobri menyambut ucapan ustadz Mamat sambil berusaha membuat gurauan.

“Yah, beginilah keadaan saya, Pak. Mari silahkan masuk sajalah ke dalam,” sambung ustadz Mamat mempersilahkan tamunya melewati pintu rumahnya.

Begitu masuk Pak Sobri langsung melihat sekelilingnya. Ternyata interior rumah tersebut tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya. Hanya ada sebuah meja dan empat buah kursi dari bambu di ruang tamu tersebut, tak ada yang lain. Ruang tamu dipisahkan dengan bagian belakang rumah tersebut oleh sebuah tirai hijau besar yang berfungsi sebagai hijab.

“Mari-mari, silahkan duduk, pak Sobri. Seadanya saja, jangan malu-malu. Anggap rumah sendiri,” ustadz Mamat mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu.

“Ummi, ummi… coba tolong ambilkan minuman, abbi kedatangan tamu nih,” teriak Ustadz Mamat pada isterinya yang ada di balik hijab.

Begitu Pak Sobri duduk, mereka kembali melanjutkan dialog yang renyah dan santai. Sepertinya mereka sudah lama kenal dan terlihat begitu akrab. “Hehe, lalu bagaimana kabar buku terbaru Ustadz, kira-kira kali ini akan mengambil tema baru apa, atau melanjutkan pelbagai tema lama tapi yang tetap hangat itu?” tiba-tiba Pak Sobri memulai pembicaraan yang sedikit serius.

Sudah sekitar 2 tahun lebih Ustadz Mamat bekerja sama dengan Pak Sobri dalam penerbitan buku-bukunya. Pak Sobri yang cukup kaya dan dermawan itu dengan ikhlas membantu Ustadz Mamat menyediakan dana untuk penerbitan buku-buku berisikan tema agama. Ia adalah mantan juragan tanah yang ingin bertobat dari perbuatan-perbuatan nistanya di masa lalu dan berguru pada Ustadz Mamat. Saat ini pun, kedatangan Pak Sobri adalah untuk membahas soal penerbitan buku-buku agama.

Sejak dahulu, mereka membahas segala sesuatu tentang penerbitan buku, pada umumnya hanya lewat tilpon. Paling hanya sekitar 4-5 kali mereka bertemu di kantor penerbitan. Namun kali ini, Pak Sobri ingin berbicara langsung dengan Ustadz Mamat di rumahnya. Selain untuk bersilaturrahmi dengan Ustadz Mamat, pak Sobri sebagai ayah satu orang putri ini memang ingin mengunjungi putri dan menantunya yang juga tinggal di daerah Cibubur. Ia sendiri tinggal di Bandung. Oleh karena itu, tadi pagi Pak Sobri sedikit kerepotan mencari rumah Ustadz Mamat yang ternyata cukup terpencil, karena memang ia baru pertama kalinya mengendarai mobil sendiri memasuki daerah terpencil itu, beberapa kali ia harus turun dan menanyakan jalan pada orang yang lewat.

“Kemungkinan besar sih bertemakan Ramadhan, Pak. Seperti yang kita tahu bulan Ramadhan kan sudah dekat, jadi sepertinya ini waktu yang tepat untuk menerbitkan buku bertemakan Ramadhan, sehingga dapat dipakai renungan.” demikian Ustadz Mamat berusaha menerangkan isi karangan bukunya.

Mulailah mereka membahas banyak hal seputar penerbitan buku, mulai dari budget, deadline, dan desain buku. Mereka begitu asyik berbincang hingga hampir-hampir mereka tak mendengar ketika isteri Ustadz Mamat memanggil suaminya dengan suara yang halus hampir tak terdengar.

“Abi, ini silahkan dicoba minumannya bersama,” demikian desah suara lembut nan merdu terdengar dari balik tirai.

Pak Sobri pun mengerti karena memang para akhwat biasanya memerdukan dan merendahkan suara bila berbicara dengan suaminya. Sungguh beruntung Pak Sobri bisa mendengar suara suci nan merdu tersebut, apalagi sesaat kemudian sepasang tangan yang begitu putih, mulus, terawat, tanpa cela milik seorang isteri yang shalihah dengan jari-jarinya yang lentik keluar dari bawah tirai sambil menyodorkan nampan. Dengan mendengar suara dan melihat jarinya saja, darah kejantanan Pak Sobri yang sudah 5 tahun menduda dan tak tak pernah puas ingin selalu merasakan belaian wanita itu langsung berdesir.

Namun ia cepat-cepat menghapus pikiran kotornya, ia sadar bahwa wanita di balik tirai itu adalah isteri Ustadz Mamat yang merupakan gurunya. Walaupun sebenarnya, Pak Sobri telah lama sekali benar-benar penasaran terhadap isteri Ustadz Mamat tersebut, bahkan terbersit keinginan untuk berkenalan, melihat dan menjamah kulitnya yang pasti halus sangat terawat.

Pak Sobri pun mengingat-ingat akad nikah Ustadz Mamat yang dihadirinya sekitar satu setengah tahun yang lalu di Bandung. Isteri Ustadz Mamat bernama Aida Handayani, anak pertama dari pasangan Arief Ubaidillah, seorang keturunan Arab, dan Siti Nurhana, mantan sinden cantik asli Bandung. Pasangan itu mempunyai 4 orang puteri yang, kata orang, semuanya cantik-cantik dan taat beragama. Baru Aida yang telah menikah dengan Ustadz Mamat, yang lainnya masih gadis.

Putri kedua mereka bernama Farah Wulandari, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang kini menjadi seorang penulis novel islami. Adiknya yang masih 20 tahun, Nurul Tri Lestari, masih menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Sedangkan yang paling bungsu, Asma Maharani, masih duduk di bangku SMA di Bandung.

Pak Sobri mendapatkan informasi itu semua dari Ustadz Mamat sendiri ketika beliau akan menikah. Waktu itu memang Pak Sobri turut membantu persiapan pernikahan tersebut karena ia juga tinggal di Bandung. Pikiran kotor Pak Sobri pun langsung melayang tinggi, “Melihat tangan udah bikin horny, bagaimana kalau gue bisa melihat seluruh tubuh Ukhti Aida yang katanya cantik itu, huhu, bagaikan kena undian berhadiah ratusan juta.” demikian pikir pak Sobri.

Sebelum bertobat dan berguru dengan Ustadz Mamat, Pak Sobri adalah seseorang yang boleh dibilang cukup bejat. Dengan harta yang dimiliki, ia sering main perempuan. Entah berapa orang pelacur yang sudah ia pakai. Minuman keras dan judi pun telah menjadi makanan sehari-harinya. Sampai-sampai isterinya tak kuat menahan beban berat seperti itu dan jatuh sakit kemudian meninggal. Sejak kematian isterinya itulah Pak Sobri mulai ingin bertobat, dan kebetulan ia bertemu dengan Ustadz Mamat.

Ustadz Mamat membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar, dan sebagai gantinya pak Sobri membantu Ustadz Mamat menerbitkan buku-buku Islam. Namun akhir-akhir ini, beberapa teman lamanya datang ke rumahnya dan Pak Sobri pun sedikit terpengaruh dan kembali menyewa pelacur-pelacur di Bandung. Jadi wajar kalau pikirannya pun kini dipenuhi dengan imajinasi-imajinasi yang kotor membayangkan tubuh dari istri gurunya itu.

Seperti doa yang langsung terkabul, tiba-tiba sebuah angin kencang menerobos masuk dari arah pintu depan dan langsung menembus tirai hijau besar itu. Ustadz Mamat baru sadar kalau ia telah lupa menutup pintu depan tadi. Seketika itu pula tirai itu terbuka lebar menampakkan dengan jelas apa yang ada di baliknya. Pak Sobri pun mendapatkan apa yang baru saja diimpikannya.

Aida Handayani, isteri Ustadz Mamat yang baru berusia 26 tahun itu sedang terduduk sambil sedikit menunduk. Ia tampak kaget ketika tirai di hadapannya tertiup angin sehingga terbang dan terbuka lebar. Dan begitu ia menyadari kalau tamu suaminya yang seumuran ayahnya itu sedang memandangi tubuhnya, ia langsung berusaha menahan gamis panjang dan cadarnya agar tidak ikut terbang. Ia menahan cadarnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya berusaha menutup bagian dada yang terhias dua gunung montok dan juga perutnya yang sangat langsing datar.

Namun sayangnya, angin nakal itu cukup lama berhembus sehingga Pak Sobri mampu menatap dan mengingat setiap detail tubuh ummahat yang cantik itu dengan jelas. Usaha Ustadz Mamat menutup tirai itu pun tampak sia sia karena tidak juga mampu menutupi tubuh isterinya dari pandangan lapar mata tamunya tersebut. Seketika Pak Sobri meneguk ludahnya sendiri. Ternyata isteri gurunya itu tak hanya cantik, tapi juga seksi dan bahenol. Ia harus banyak berterima kasih pada angin tadi yang telah menunjukkan segalanya, masa bodoh apakah itu angin iblis, pikirnya.

Dahulu ia hanya mampu membayangkan kira-kira wajah Aida sejak mengetahui ayahnya keturunan Arab. Ummahat itu pasti mempunyai hidung yang mancung. Pak Sobri memang tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya bagian matanya saja karena Aida memakai cadar. Namun mata yang indah dan tajam itu telah cukup memberitahu bahwa pemiliknya adalah seorang bidadari yang cantik jelita dengan kulit yang putih mulus tanpa cela.

Namun yang paling membuat birahi Pak Sobri meledak-ledak adalah gunung kembar di dada Aida. Ia mampu melihatnya dengan jelas karena posisi Aida yang sedikit menunduk tadi. Ummahat itu ternyata memiliki payudara yang berukuran melebihi normal. Ia taksir dari cetakan bra di gamisnya tadi bahwa isteri Ustadz Mamat yang begitu alim itu berukuran 38. Ukuran payudara sebesar itu benar-benar mampu membuat para pria begitu bernafsu untuk meremas dan menghisap putingnya yang pasti masih segar, walaupun se-shalihah apapun pemiliknya tak ada yang wanita yang sanggup melawan nafsunya sendiri jika buah dadanya diremas dan putingnya dipilin, dicubit serta digigit oleh lelaki yang tahu bagaimana caranya menaklukkan wanita.

Tak hanya besar, payudara Aida pasti juga mempunyai bentuk yang kencang, montok dan indah. Pak Sobri dapat mengetahuinya ketika Aida memeluk perutnya sendiri, payudara itu tampak membuncah-buncah seakan memanggil-manggil minta dihisap dan diremas. Body ummahat itu pun sekilas tampak proporsional, begitu seksi menggairahkan bagaikan bentuk gitar Spanyol.

Merasa risih akan tatapan Pak Sobri yang seperti menelanjanginya itu, Aida langsung berdiri dan berjalan cepat ke belakang menjauh dari ruang tamu. Namun malang bagi Aida, karena angin belum juga berhenti bertiup saat itu. Ketika ia berjalan, Pak Sobri sempat melihat dengan jelas bayangan celana dalam dan belahan pantatnya yang tercetak jelas di gamisnya yang kebetulan berbahan tipis dan berwarna cerah karena ia sedang ada di rumah. Pantat ummahat yang seksi dan bahenol itu bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, berputar mengebor naik turun, seolah sedang menggoda mengundang tangan lelaki untuk meremas-remas dan mencari belahan tangahnya.

Pak Sobri bagaikan telah tak mampu lagi menahan nafsu birahinya yang selama ini terpendam. Ia ingin langsung saja menyelipkan kemaluannya yang cukup besar dan telah mulai berdenyut-denyut ke selangkangan ummahat itu. Namun karena ia sadar bahwa masih ada Ustadz Mamat di hadapannya, maka ia pun menyembunyikan gundukan daging di selangkangannya yang sudah berontak. Ia mencoba bersikap tenang, walaupun bayangan seorang Aida Handayani yang berpayudara besar dan berbody sintal nan seksi itu begitu memancing semangat kejantanannya.

“Pak Sobri, anda tidak apa-apa?“ demikian teguran Ustadz Mamat dengan nada yang bersifat mengingatkan memecah semua khayalan cabul pak Sobri.

“Owh, tidak ada apa-apa, cuma pusing sedikit. Sampai dimana tadi pembicaraan kita?” demikian pak Sobri berusaha menutup-nutupi gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Mereka pun kembali memperbincangkan bisnis sampai sekitar 45 menit. Selama itu pula Pak Sobri terus melirik ke arah hijab berwarna hijau itu, berharap ada angin lagi dan ia bisa melihat tubuh ummahat seksi impiannya tadi. Namun semuanya sia-sia, sampai pembicaraan itu selesai, tak ada lagi kejadian aneh di rumah itu. Hingga akhirnya Pak Sobri pun dengan rasa sedikit penasaran pamit dan langsung menuju ke rumah anak perempuannya yang berada di daerah Cibubur juga, namun sepanjang jalan pak Sobri tetap melamunkan istri Ustadz Mamat.

“Aida Handayani, ahh… aku harus bisa merasakan tubuh indahmu itu, persetan sudah menikah dengan Ustadz Mamat, bagaimana dan apapun terjadi aku harus mendapatkan dan merogolmu.” pikir Pak Sobri di dalam mobil sambil mengocok-ngocok kemaluannya sendiri ketika menyetir mobil setelah ia membuka rits celana dan mengeluarkan si ‘otong’nya dari celana dalamnya.

Di malam itu pak Sobri tak dapat tidur dengan tenang, di dalam bayangan mimpinya Aida telah berhasil dijebak dan berada sepenuhnya di dalam genggamannya. Bantal guling yang dipeluk dan ditindihnya semalaman itu diimpikannya adalah tubuh telanjang Aida yang meliuk meronta-ronta menggeliat putus asa ketika berhasil dikuasai dan direjang di kasurnya sebelum akhirnya dengan rintih memilukan merasakan sadisnya nafsu pak Sobri.

***

Sementara itu di sebuah rumah lain di kawasan Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan,” demikianlah suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar.

“Iya, pak. Saya faham dan mengerti sepenuhnya, terima kasih sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas dan amat kecewa.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya. Disadarinya bahwa tak mudah menjual buku agama pada saat ini.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat.

Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak pemuda ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum ia dengan hati sukacita dan penuh rela akan memasuki jenjang pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telpon, Farah, apakah ada urusan penting untuk diselesaikan?” suara lembut Siti Nurhana, ibunda Farah, membangunkannya dari lamunannya yang tak menentu.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah saat ini belum bisa masuk untuk dicetak.” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang menandakan kecewa.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana mulai menukar pakaiannya sambil berkemas-kemas untuk berangkat menuju ke pangkalan bus.

“Nggak apa-apa koq, ummi. Salam dari Farah yah sama Abi, semoga Abi lekas sembuh dan cepat dapat pulang kembali ke rumah di tengah keluarga kita,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah 4 putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga lagi. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya.

Di rumah hanya ada Farah, Asma yang masih SMA, dan ibunya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik. Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah. Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal tiga hari lagi, dan Mang Burhan telah menelpon kemarin pagi untuk menagih kembali hutang itu.

Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang?

Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis berkacamata itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan ia pun berniat untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan melakukan apa saja demi keluarga yang begitu dicintainya.

***

Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida

Aida menarik nafas sangat dalam, kemudian dilanjutkan dengan menguap sangat panjang dan lama sambil menahan rasa kantuknya. Hari ini ia memang bangun amat dini : sekitar jam 5 pagi Aida telah menyiapkan makan pagi bagi suaminya karena ustadz Mamat mempunyai tugas. Tugas panggilan yang ditawarkan oleh pak Sobri, yaitu memberikan ceramah kepada para calon peserta Musabaqoh Tillawatil Qur’an. Pak Sobri meminta agar ustadz Mamat bersedia memberikan ceramah mengenai agama kepada para calon, karena adik terbungsu dari istrinya yang bernama Asmirandah – panggilan sehari-hari Asmi – diharapkan akan ikut pertandingan.

Asmirandah adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang kelakuannya sehari-hari mulai agak menyimpang dari ajaran agama, sehingga mencemaskan orang tuanya. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan dengan menyuruhnya untuk ikut perlombaan membaca ayat-ayat Qur’an dan sebelumnya mendengarkan ceramah agar bisa memperdalam pengetahuan agamanya.

Apakah pak Sobri kini berubah menjadi seorang yang alim saleh sehingga sangat memperdulikan persiapan iman dari calon pengikut musabaqoh, apakah tidak ada udang dibalik batu?

Jawabannya mudah sekali diduga : tempat dari pemberian ceramah itu bukan dekat rumah ustadz Mamat, melainkan di desa Jamblang yang tak jauh dari kota Cirebon. Selain itu, ceramah yang diminta oleh pak Sobri kepada ustadz Mamat cukup memakan waktu lama sehingga tak dapat diselesaikan dalam sehari. Memang Pak Sobri menanggung semua biaya perjalanan, biaya penginapan dan segala akomodasi, di samping itu sebagai balas jasa, ustadz Mamat juga diberikan honorarium dalam jumlah cukup besar yang dapat dibandingkan dengan penjualan buku hasil karya sang Ustadz setahun lalu.

Apakah pak Sobri sedemikian baik hati dan menjalankan fitrah sebagai dermawan?

Semuanya itu ternyata hanyalah muslihat belaka untuk memancing ustadz Mamat agar bisa meninggalkan istrinya, Aida, selama dua malam. Selama kesempatan itu, pak Sobri ingin mendekati Aida, ingin merayunya dengan palbagai cara, ingin merasakan kehangatan tubuh bidadari idamannya itu. Pak Sobri telah dikuasai oleh bujukan iblis untuk mengatur semuanya – dan memang kemampuan iblis mengatur tak boleh dipandang ringan.

Seolah awan gelap sedang menyelubungi keluarga ustadz Mamat, maka di hari pertama yang sama ketika ustadz Mamat berangkat ke Jamblang untuk memberikan ceramah, Farah pun kebetulan pergi menemui pak Burhan si rentenier kakap untuk negosiasi memperoleh pinjaman uang. Bacalah episode lain dari cerita ini : « Tragedi Farah »

Setelah memasak sederhana seadanya untuk makan siang dan menjemur pakaian kotor yang telah dicucinya di halaman belakang, maka Aida akhirnya memutuskan untuk sebentar memejamkan mata menghilangkan rasa kantuknya. Adiknya, Farah, juga telah pergi pagi tadi untuk mencari percetakan lain yang bersedia menerbitkan buku-buku agama karangannya. Farah tak mau cerita kepada Aida mengenai rencananya negosiasi dengan pak Burhan karena Farah tahu bahwa Aida tak senang dan selalu mencurigai pak Burhan sebagai lelaki mata keranjang. Setelah itu Farah mengatakan akan mengunjungi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, karena itu kemungkinan besar akan lama meninggalkan rumah dan makan seadanya di kantin rumah sakit.

Aida menghela nafas panjang dan merebahkan diri di bangku panjang di dekat ruang makan. Sayup-sayup seolah muncul terbawa deru angin, Aida mendengar ketukan pintu dan terdengar namanya dipanggil. Pertama Aida mengira bahwa itu hanya sekedar mimpi, namun setelah empat lima menit ketukan di pintu depan dan panggilan namanya tak kunjung berhenti, disadarilah olehnya bahwa itu memang bukan mimpi, tapi benar-benar ada orang yang mengetuk pintu.

Sebagai istri yang alim shalihah, Aida agak ragu menjawab ketukan pintu, apalagi mendengar suara panggilan itu jelas keluar dari mulut seorang lelaki. Aida menjadi takut dan bertekad tak akan buka pintu!

“Ummi Aida, ummi Aida, tolonglah buka pintu. Ban mobil saya rupanya kena paku hingga bocor, dan saya butuh air karena karburator terlalu panas sehingga tak mau jalan motornya. Tolonglah, ummi, hanya sebentar saja minta air dan ganti ban, lalu saya langsung pergi lagi, ” demikian terdengar suara lelaki di depan pintu yang akhirnya dikenali Aida sebagai suara dari pak Sobri.

Di dalam benaknya Aida mulai ragu, bukankah menolong orang sedang kesusahan sudah menjadi kewajiban setiap manusia, apalagi seorang tekun beragama seperti ia sendiri. Lagipula yang membutuhkan pertolongan itu bukan lelaki yang sama sekali asing, melainkan pak Sobri yang di masa lalu sering kerja sama dengan suaminya untuk menerbitkan buku, juga pak Sobri bahkan hadir ketika pesta pernikahannya sendiri dengan ustadz Mamat.

Sangat hati-hati Aida mendekati jendela kecil yang tertutup gorden untuk mengintip keluar dan diharapkannya tak langsung akan terlihat oleh pak Sobri. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak Sobri bahwa ban mobil belakangnya di bagian kiri kempés sehingga mobil itu terlihat miring sebelah. Namun yang mengejutkan Aida adalah ketika melihat kemeja pak Sobri telah basah kuyup dengan keringat dan tangan kirinya terlihat berlumuran cairan merah menetes dari jari-jarinya. Pak Sobri agaknya terluka dan berdarah.

Apakah kealiman dan ke-shalihahan seorang istri setia tetap dipertahankan dengan tidak menolong atau bahkan mengusir lelaki bukan suaminya itu, ataukah kesediaan untuk membantu sesuai dengan rasa peri kemanusiaan harus lebih diutamakan?

Aida tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Di satu pihak hati nuraninya menuntut untuk wajib menolong, sementara di lain pihak fikiran sehatnya masih ragu tak yakin apakah ia tak akan salah langkah?

“Tolonglah, ummi… saya hanya ingin diberikan air dingin untuk karburator motor, juga minum sedikit sebelum saya ganti ban dan cuci tangan. Kemudian saya segera akan pergi secepatnya, ” demikian ucapan pak Sobri memecahkan keheningan sejenak, dan dengan kalimat terakhir ini Aida memutuskan untuk melepaskan prinsip ke-aliman-nya dan bersedia menolong.

Padahal semuanya sudah diatur dan dirancang masak-masak oleh pak Sobri : ban mobilnya sebenarnya tidak bocor, namun beberapa menit lalu dilepaskan ventil-nya sehingga sebagian besar udara keluar menjadikan mobil itu miring. Selama perjalanan ke rumah Aida, dengan sengaja semua jendela ditutup dan airco tak dipasang, sehingga di tengah teriknya matahari pak Sobri sudah basah dengan keringat. Cairan merah yang terlihat membasahi jari-jari tangannya adalah tomato ketchup yang disimpannya minggu lalu ketika makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken. Sedangkan karburatornya sama sekali tidak kekurangan air.

Namun seorang wanita seperti Aida tentu saja tak paham mengenai persoalan mesin mobil, sehingga dengan mudah dapat ditipu! Aida merapihkan pakaian dan jilbab putihnya yang lebar itu dan dengan menundukkan kepala dibukanya pintu depan rumahnya dengan perlahan…

Pak Sobri melangkah masuk – Aida telah masuk dalam jebakan!!

“Terima kasih banyak, ummi, saya ambil air saja di jerigen kecil ini. Mohon untuk ke belakang sebentar untuk hajat kecil dan cuci tangan, dan saya akan segera pergi lagi,” demikian pak Sobri melihat arah belakang rumah di balik hijab yang ditunjuk oleh Aida.

Setelah itu Aida segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum tamunya. Tak disadari oleh Aida bahwa nafsu birahi pak Sobri telah naik ke-ubun-ubun ketika melihat betapa menggairahkan langkah Aida di balik gamisnya yang tak mampu menyembunyikan goyangan bongkah pantat yang begitu padat bulat, goyangan dan putaran sedemikian alamiah tanpa dibuat-buat!

Aida telah meletakkan segelas air putih di atas meja kecil ruang tamu dan ingin berbalik untuk kembali ke dapur, ketika mendadak tubuhnya disergap dan dipeluk dari arah belakang. Teriakannya juga segera teredam karena mulutnya dibekap oleh tangan lelaki yang sangat besar kasar dan berbulu, tangan yang beberapa menit lalu dilihatnya berlumuran cairan merah kental kini menyekat bibir mungilnya.

Aida berontak dan menggelinjang sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari ancaman bahaya yang akan menimpa, namun apalah arti tenaga seorang istri setia bertubuh asri semampai menghadapi lelaki yang telah lama menginginkannya dan kini telah menerkamnya bagai singa menerkam kancil lemah – dan kancil ini segera diseret untuk memasuki kamar tidur!

“Hmmppffh… iieeehmph… tolooong ! N-nggak maau… lepaskan ! Auuw… ieeffhhh… ” caci maki suara Aida yang teredam sehingga tak keluar semuanya.

Pak Sobri tak perduli atas protes dan rontaan korbannya, karena dengan tenaganya yang sangat kuat ia telah berhasil menyeret mangsanya memasuki kamar tidur yang selama ini hanya dihuni dan ditiduri oleh Aida dan suaminya yang sah, yaitu ustadz Mamat. Pergulatan dua insan tak sebanding tenaga itu semakin menjadi ketika pak Sobri telah berhasil menghempaskan Aida ke atas ranjangnya.

Tubuh pak Sobri yang agak gemuk di atas 75 kilo itu semakin penuh dengan keringat ketika ia semakin ganas menindih tubuh Aida yang hanya sekitar 46 kilo. Mulut Aida yang selalu terhias dengan senyum manis itu kini tertutup oleh bibir dowér pak Sobri. Bukan hanya ciuman-ciuman rakus yang sangat mengganggu, namun aroma tidak menyenangkan disertai bau rokok membuat Aida sangat muak. Apalagi ketika dirasakannya bahwa pak Sobri menjulurkan lidahnya yang penuh ludah menjijikkan menerobos masuk, Aida mulai sangat mual dan terasa ingin muntah.

Aida berusaha mencakar muka dan terutama mata si pemerkosanya, namun pak Sobri sangat sigap dan langsung dengan hanya satu tangan berotot dan jari-jari sangat besar bagaikan beruang merejang kedua pergelangan tangan Aida. Ditekan dan diringkusnya kedua nadi nan langsing itu ke atas kepala yang masih terlindung jilbab, sehingga Aida tak mampu bergerak apalagi mencakar. Dengan ditindih tubuh sedemikian berat, Aida merasakan sangat sukar bernafas dan semua gelinjang gelisah serta rontaannya justru semakin memacu birahi pak Sobri.

Dirasakan oleh lelaki durjana ini betapa lembut nan montok dua bukit gunung penghias dada Aida, membuatnya jadi semakin horny. Dengan kasar dan tanpa kesabaran sama sekali, Aida merasakan selembar demi selembar, lapis demi lapis baju gamis penutup pelindung tubuhnya dihentak ditarik oleh pak Sobri. Amat berbeda dengan apa yang dialami jika sedang bercinta dengan suaminya, ustadz Mamat… kini tubuhnya yang muda dan penuh hormon kewanitaan dipaksa menikmati nafsu hewaniah!!

Aida menjerit dan meratap di dalam jiwanya yang tak rela untuk digagahi lelaki asing bertubuh kekar yang telah mandi keringat menyebabkan terlihat agak mengkilat. Aida tak rela menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya akibat kebodohannya membiarkan lelaki asing masuk rumahnya saat ia hanya seorang diri. Kini semuanya telah terlambat, pak Sobri yang selama ini membantu sang suami untuk menerbitkan buku-buku berisi agama telah menindih badannya, merejangnya hingga jadi tak berdaya di atas ranjang, juga menarik dan melepaskan jubah baju kurungnya satu persatu, menciumi serta menyapu-nyapu lidahnya di rongga mulut, mencampurkan ludahnya yang berbau rokok dengan ludah Aida yang harum.

Semuanya menyebabkan Aida mulai menangis tersedu terisak menimbulkan iba. Namun itu tidak menyebabkan pak Sobri menjadi kasihan, bahkan sebaliknya ia jadi semakin ganas! Lapisan demi lapisan pelindung tubuh istri setia ini dihentakkan dan ditarik lepas olehnya, sehingga kini hanya tinggal jilbab putih yang menutupi rambut Aida yang hitam bergelombang sepanjang bahu. Selain itu masih ada BH berukuran 36B serta celana dalam putih yang menutupi bagian tersembunyi dari tubuhnya yang sampai saat ini hanya pernah dilihat oleh suami Aida.

Pak Sobri yang telah kesetanan menyeringai buas melihat betapa montoknya tubuh istri ustadz gurunya itu. “Hmm… harum, wangii nih bibir, mulut atas kamu… hmmh! Cuup, cuup, apalagi mulut bawah kamu… pernah dicium nggak mulut dan bibir bawah kamu oleh suami?” tanya pak Sobri diantara kecupan dan dekapan mulutnya menutup bibir Aida yang memang selalu terlihat merah muda merekah seolah mengundang untuk dicium.

Aida tak sanggup lagi bertahan terlalu lama, tenaganya mulai habis ditindih dan direjang habis-habisan, terutama membela pakaiannya yang kini telah tersebar di atas ranjang dan sebagian jatuh ke lantai.

Pak Sobri paham sekali bahwa wanita idamannya ini mulai takluk di tangannya, suaranya pun telah lunak terisak-isak dan serak karena tangisannya. Karena itu ciuman pak Sobri kini mulai meninggalkan mulut Aida, menjalar ke pipinya, mengecup dan meniup-niup liang telinga Aida, lalu juga dijilatinya rakus.

Tak pernah suaminya melakukan hal ini padanya sehingga Aida merasa merinding kegelian, terlihat dari bulu-bulu sangat halus yang menutupi kulitnya jadi agak berdiri, dan isak tangisnya mulai berubah menjadi lenguhan, keluhan dan desahan-desahan halus sebagai tanda wanita alim ini mulai terangsang!

“Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Sobri !” keluh Aida sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Sobri yang begitu kekar.

Desahan lemah lembut dari mulut Aida terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Sobri setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Aida. Disitu pak Sobri menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Sobri yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Aida yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.

Rasa geli tak terkira membuat Aida menggeliat berusaha meronta, tapi apa daya kedua nadinya tetap direjang di atas kepala oleh satu tangan pak Sobri yang begitu kuat ibarat belenggu besi. Geliatan dan gelinjang tubuh atas Aida tak membebaskan kedua nadi tangannya, namun justru membuat buah dadanya tanpa disadari semakin membusung dan menonjol ke atas. Dan gundukan daging kenyal montok ini adalah sasaran pak Sobri berikutnya setelah BH-nya ditarik lepas.

Kedua bukit daging yang selama ini menjadi idaman dan impian pak Sobri kini terpampang di hadapan matanya, dan tanpa menunggu lagi segera dijadikan sasaran jari-jari tangan kanannya yang bebas. Pak Sobri tahu bahwa Aida akan mulai lagi melawan dan menjerit-jerit – oleh karena itu ia membekap lagi bibir merekah itu dengan ciuman ganas sementara jari tangan kanannya meremas dan mengelus buah dada idamannya sehingga terlihat mulai memerah dan putingnya semakin keras mencuat ke atas. Kedua paha betis langsing Aida yang kini tak terlindung lagi juga ditekannya sekuat tenaga ke kasur oleh paha dan betisnya yang penuh bulu bagaikan gorila.

“Ummh… ini tetek montok banget, kenyal tapi kencang. Pasti tiap malam dijadikan mainan suaminya, kini jadi milik aku. Biar belum punya anak tapi mungkin keluar susunya jika diperas,” demikianlah pikir pak Sobri dan oleh karena itu semakin seru dan ganas ia meremas dan memijit puting kedua payudara mangsanya, membuat Aida jadi semakin menggelinjang-gelinjang karena kesakitan.

“Enggak mau! Aiihh… j-jangann… auww! U-udah, eemphff… auuw!! S-sakiit…” Aida meronta-ronta dan berusaha bicara, namun suaranya hanya keluar sebagian karena terus menerus mulutnya diciumi oleh pak Sobri dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aida disertai ludahnya yang sangat dibenci dan amat memuakkan bagi Aida karena berbau rokok.

Mendadak, sangat mendadak pak Sobri menghentikan kegiatan jari-jari tangan kanannya meremas buah dada Aida, dan sebelum Aida dapat memahami apa yang terjadi, dirasakannya celana dalam sebagai pelindung auratnya yang terakhir ditarik dan diselusurkan ke bawah melewati paha betis dan kakinya. Kini sempurnalah Aida telanjang bulat di dalam cengkraman pemerkosanya, pak Sobri. Terlihat sangat kontras tubuh bidadari yang putih mulus itu ditindihi oleh tubuh besar hitam legam berbulu, istri ustadz yang alim shalihah itu tak berdaya lagi membela kesuciannya!

“Yaa Allah, ampunilah aku ! Hambamu tak kuat lagi menahan malu dan aib ini,” tangis Aida di dalam batinnya ketika menyadari musibah yang segera akan menimpanya. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sedemikian halus, tubuhnya terasa panas dingin dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena pergumulan dan pergulatan serta rontaannya yang sia-sia.

Tak ada yang dapat menghalangi pak Sobri dengan tenaganya, ibarat kesetanan kini ia melepaskan baju kaos dan celana dalamnya sehingga terlihatlah batang kejantanannya yang disunat telah menegang dan siap menerobos liang surgawi Aida.

“Tak usah takut, manis. Bapak tak mau sakiti Aida, rela dan pasrah sajalah. Menyerahlah pada bapak, nanti Aida akan merasakan surga kenikmatan yang belum pernah kamu alami,” bisik pak Sobri sambil jari-jari tangan kanannya mengusap-usap kemaluan Aida yang licin tercukur rapih.

Setelah menemukan celah yang dicarinya, maka mulailah jari telunjuk dan jari tengah pak Sobri yang besar memasuki perlahan-lahan liang vagina Aida, sementara ibu jarinya mengusap diantara belahan bibir kemaluan perempuan alim itu. Perlahan-lahan tanpa dikehendaki oleh Aida, muncullah tonjolan daging kecil merah muda diantara bibir kemaluannya dan setiap kali klitorisnya ini tersentuh ibu jari pak Sobri, maka dirasanya selain geli juga bagaikan terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya.

Sesuatu yang tak dimengerti oleh Aida : ia diperkosa, tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi saat dirangsang? Padahal itu sama sekali bukan salahnya sendiri – tubuhnya yang begitu padat montok sebagai wanita muda sehat jasmani mempunyai hormon-hormon kewanitaan yang secara normal membutuhkan ‘nafkah’ lawan jenisnya – itu sudah kodrat alam, itu naluri dasar perkembangbiakan manusia.

Pak Sobri yang bukan pertama kali memperkosa wanita muda yang melawan menolak diawal mula merasakan bahwa daya pertahanan Aida sudah sangat lemah, sebentar lagi bukan saja ia menerima pasrah terhadap perkosaan, melainkan akan menyerah dan ‘membalas’nya dengan cara yang biasanya diberikannya kepada sang suami, namun kali ini kepada sang pemerkosanya…!

Namun pak Sobri bukanlah pak Sobri jika ia dengan tergesa-gesa melakukan perkosaan. Pak Sobri bukanlah anak kemarin dulu, bukan anak belasan tahun disaat masuk usia pubertas melakukan sanggama dengan cara quicky. Pak Sobri mempunyai rasa ego yang besar, ia menginginkan agar Aida justru akan ketagihan dan selalu merenungkan, mengingat dan bahkan mengharap agar peristiwa perkosaan yang dialaminya akan selalu terulang lagi di masa depan. Untuk mencapai tujuan itu maka Aida harus dibantainya habis-habisan, harus dibangunkan seluruh nafsu birahinya, harus dihilangkan rasa malunya, pendek kata : ditransformasi menjadi slutty.

Pak Sobri menghentikan sementara ciuman dan gigitannya di puting buah dada Aida yang kini jelas semakin tegang dan mengacung peka itu. Ia memandang wajah Aida yang telah sayu dan kuyu penuh linangan air mata, namun justru terlihat semakin ayu cantik. Pak Sobri merebahkan diri agak menyamping di sisi kanan Aida, lengan kanan Aida ditindihnya dengan dadanya yang bidang penuh bulu itu. Lengan kiri pak Sobri dengan biseps amat keras diletakkan di bawah Aida yang masih tertutup jilbab seolah menjadi bantal, sedangkan tangan kiri pak Sobri berada di atas kepala Aida tetap merejang dan menekan nadi pergelangan perempuan itu ke ranjang sehingga tak dapat berkutik. Kaki kiri pak Sobri yang juga berbulu dan sangat kuat menindih paha kanan Aida serta direntangkan melebar ke samping kanan, sedangkan kaki kanan pak Sobri mulai menekan dan menguakkan paha kiri Aida semakin melebar ke arah samping kirinya. Dengan demikian Aida telentang telanjang bulat di ranjangnya dengan kedua tangan tak mampu digerakkan, demikian pula selangkangannya terbuka lebar tanpa pertahanan untuk melawan jari-jari pak Sobri.

Menyadari betapa tak berdaya dan lemah keadaan tubuhnya, maka Aida hanya dapat menangis tersedu-sedu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencerminkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang dialami, hidung mancung bangir dengan lubang mungil kembang-kempis menahan isak tangis pada saat dirasakan tubuh bugilnya mengkhianati kemauannya untuk tetap melawan nafsu.

Pak Sobri semakin laju meningkatkan rabaan, usapan dan gesekan jari-jarinya di dalam liang Aida yang mulai basah licin berlendir karena limpahan air mazi dari dinding vaginanya. Isakan tangis Aida kini mulai berubah menjadi lenguhan, desahan dan rintihan wanita dewasa yang dilanda rasa gairah dan kenikmatan terlarang. Semakin lama lenguhan dan desahan itu semakin nyata di telinga pak Sobri yang semakin cepat menggesek ibu jarinya di kelentit Aida, sementara dua jari lain masuk semakin dalam ke dalam liang wanita Aida yang telah basah kuyup berlendir.

Akhirnya dengan rintihan memilukan hati, tubuh Aida melengkung ke atas dan menegang bagai sedang sekarat, kemudian mengejang dan gemetar bagai menggigil disaat ia mencapai orgasme!

Pak Sobri harus mengerahkan semua tenaganya untuk tetap dapat merejang tubuh Aida yang dilanda orgasme pertama akibat ulah sang pemerkosa. Beberapa menit kemudian tubuh Aida perlahan-lahan berkurang ketegangannya, menghempas lemah dan lemas basah keringat.

Saat inilah yang telah dinantikan oleh pak Sobri yang tak kalah basah kuyup dengan keringatnya, dan kini telah siap bersetubuh dengan wanita idamannya tanpa perduli Aida telah setengah pingsan!

“Gimana sayang, apa yang kamu rasakan sekarang, letih dan lemas tapi puas kan? Itu hanya sedikit permulaan saja. Bapak baru mulai merasa gairah dan segera akan melanjutkan permainan. Nanti neng akan merengek meminta tambah terus, bapak jamin nanti neng akan selalu ketagihan untuk dirogol. Mau ya, neng manis?” ujar pak Sobri sambil meletakkan dirinya diantara belahan paha korbannya.

Betapapun Aida berusaha menutup dan merapatkannya, tapi ia jauh kalah tenaga. Pak Sobri kini telah bertahta di tengah selangkangannya, kedua pergelangan kaki Aida nan langsing itu dicekal dengan geram sehingga terlihat kemerahan, kemudian diletakkannya kedua betis belalang nan langsing dengan lutut tertekuk itu di pundaknya yang bidang dan lebar. Pak Sobri kemudian menundukkan kepalanya dan mulai menciumi bagian dalam paha Aida yang begitu halus. Karena pak Sobri memang sengaja belum cukur selama tiga hari maka bukan hanya kumisnya tapi juga janggutnya telah ditumbuhi bulu jenggot pendek namun kasar ibarat sapu ijuk.

Kini pak Sobri dengan sengaja menggesek-gesek dan menciumi paha bagian dalam Aida yang begitu halus dan peka sehingga terasa sangat geli ibarat ditusuk-tusuk ijuk. Akibatnya keadaan Aida yang telah lemas setengah sadar setengah pingsan itu dipaksa kembali bangun melawan rasa geli yang menyiksanya. Istri setia yang malang ini berusaha membalikkan tubuhnya tapi tak mampu karena kedua kakinya telah terkangkang lebar dan tergantung di pundak kiri-kanan sang pemerkosa.

Pak Sobri semakin meningkatkan kegiatannya merangsang istri ustadz idaman dengan menangkap dan meremas-remas lagi kedua buah dada Aida, terutama putingnya dijadikan sasaran dipilin dan dicubit ditarik-tarik sehingga Aida jadi menjerit kesakitan. Pak Sobri tidak perduli semua rintihan dan jeritan Aida yang memilukan, bahkan kini mulut dan bibirnya tak cukup memberikan cupangan-cupangan ganas di kedua betis Aida yang putih, namun juga mencapai lipatan paha dan akhirnya melekat di tengah selangkangan Aida untuk memulai perantauannya disana!

“Ummh… cckkk… sluurpp… uuh wanginya! Neng mandi pake air mawar ya, bisa harum kayak gini?! Bapak jadi ketagihan, mmmh… nggak puas-puas bapak rasanya… nih bapak ciumin dan jilatin ya?!” celoteh pak Sobri diselang-seling dengan ciuman dan gigitan gemas di bukit kemaluan Aida yang gundul kelimis karena selalu dicukur.

Lidah pak Sobri bagaikan ular menyapu-nyapu bibir kemaluan Aida, lalu berusaha memasuki celah di tengahnya untuk mencari tonjolan daging kecil sebesar butir jagung yang tersembunyi diantara lipatan atas bibir vaginanya.

“Oooh… jangaan! U-udah, Pak! Tolong kasihani saya! Saya ini istri ustadz, Pak! Oohh… saya tak mau selingkuh, Pak! A-ampun… saya tak akan lapor! Tolong, Pak… jangan! Aaiihh…” Aida menggelinjang dan berontak mati-matian melawan rasa lemasnya, dan selain itu melawan rasa lain yang tak pernah dialaminya karena suaminya tak pernah melakukan bercinta oral di vagina. Rasa menyesal dan bersalah silih berganti mulai terdesak rasa ingin tahu, ingin terus mencoba!

Tanpa menghentikan remasan dan pilinannya di puting tetek Aida yang begitu montok tegang mengacung itu, pak Sobri kini menjilat-jilat penuh nafsu celah kewanitaan Aida yang semakin basah berlendir. Bagaikan bunga di pagi hari mulai merekah, maka bibir kemaluan Aida sebagai wanita dewasa menjawab jilatan lidah pak Sobri dan memberikannya kesempatan menampilkan klitorisnya yang seolah malu tersembunyi, dan kelentit ini segera dijadikan sasaran gigi-gigi tajam!

“Auuw! Aiihh… oohh… ahhh… emmh… u-udah, Pak! Ngiluu…   saya tak tahan! Auww… oooh… j-jangaan digigit, Pak! Sakiiit… ampuun!” jerit Aida sambil tubuhnya mulai kembali kejang-kejang dan gemetar bagaikan terkena aliran listrik, kedua tangannya mencengkeram jari-jari pak Sobri yang tak puas-puas terus menerus meremas buah dadanya.

Tak hanya mencengkeram, namun kuku-kuku jari Aida yang juga begitu bagus rapih terawat mencakar-cakar lengan bawah pak Sobri, menandakan perlawanan sia-sia menahan rasa nikmat kembali menyiksanya. Kini pak Sobri berganti-ganti menjilat, menggigit-gigit dan menyapu klitoris Aida dengan janggutnya yang berhias jenggot sekasar sapu ijuk.

Tak lama kemudian Aida sama sekali telah kehilangan rasa malu, kehilangan pertahanan dan akal sehat sebagai istri setia seorang ustadz. Terlalu hebat siksaan kenikmatan yang sedang dialaminya dan ini tak pernah diterimanya dari suaminya yang sah, tak pernah ustadz Mamat mengajarkannya serta memberikan seni percintaan sebagaimana yang selalu diharapkan dan didambakan wanita sehat, tak perduli betapa suci, alim dan shalihahnya si wanita, itu sudah kodrat naluri alamiah.

Menyadari bahwa kemenangannya telah berada dihadapan mata, maka pak Sobri mengecup dan melekatkan seluruh mulutnya di ambang celah surgawi Aida. Buah kelentit Aida yang bagaikan butir jagung berulang-ulang dijepit diantara barisan gigi depan pak Sobri, bergantian dengan lidahnya yang kasar makin sering memasuki lubang vagina mangsanya. Bergonta-ganti pak Sobri menjepit kelentit diantara deretan giginya, lalu digeser-gesernya gigi itu ke kiri dan ke kanan.

Kemudian dilepaskannya sebentar kelentit mungil itu dan sebagai gantinya lidah pak Sobri menyentuh dan menggelitik lubang kencing Aida yang juga demikian peka di bagian dalam. Sekaligus kedua ibu telunjuk dan ibu jarinya memulin serta mencubit-cubit kedua puting Aida yang telah amat tegang mengeras bagaikan batu kerikil mungil.

Aida merasakan dirinya terbawa putaran deras arus gelombang kenikmatan, semakin lama semakin dalam dan akhirnya menyeretnya tenggelam kemudian dilemparkan setinggi-tingginya ke udara. Disitu seluruh syaraf di otaknya mengalami ledakan dahsyat tanpa ada tandingan, disertai sebaran jutaan bintang kecil di pelupuk matanya dan jeritan melengking wanita mendengung di telinganya: jeritannya sendiri!

“Aaah… auuw… oooh… i-iya! Auuw… Pak, aduuh… eemh… aaihh… u-udah, Pak! Oooh… terruus… oooh… saya mau pipiis!!” Aida tak sadar lagi apa yang dikatakannya, ia memohon kepada pak Sobri agar berhenti atau justru meneruskan dan meningkatkan penggarapan yang sedang dilakukannya.

Tubuh Aida kembali kaku menegang dan kejang-kejang disaat orgasme lagi-lagi menerpanya, gelombang demi gelombang seolah tak henti-henti. Jari-jari kakinya menekuk melengkung ke dalam seolah ingin membentuk kepalan tinju, pahanya yang begitu lembut halus mengerahkan semua kekuatan otot-ototnya menjepit kepala pak Sobri, lalu membuka kembali, menggesek-gesek maju mundur seolah ingin menggaruk kegatalan tak terhingga.

Pak Sobri yang telah berpengalaman, merasakan denyutan-denyutan dinding vagina Aida seperti meremas dan memijit-mijit lidahnya yang menjulur menyentuh lubang kencing. Inilah saat terbaik untuk menguasai wanita alim seperti Aida : menyetubuhinya disaat dinding vaginanya berdenyut-denyut. Disaat inilah seorang wanita akan merasakan vaginanya ngilu dibuka, dilebarkan dan dibelah!

Pak Sobri meraih bantal yang berada di ranjang di samping tubuh mereka, lalu diletakkannya di bawah pinggul Aida dengan menurunkan perlahan-lahan betis dan kaki belalang yang tergantung di pundaknya. Dengan adanya bantal itu maka pinggul Aida jadi terangkat tinggi dengan kedua kaki masih terbentang ke kiri dan ke kanan, sehingga liang kemaluannya jadi terlihat sangat menantang dengan dihiasi bibir berwarna coklat muda kemerah-merahan dan dinding yang masih berdenyut-denyut lemah tapi nyata!

Aida yang masih tenggelam di dalam badai orgasmenya dan tak perduli lagi tubuhnya yang selalu terlindung jubah gamis berlapis-lapis kini telanjang bulat di hadapan lelaki asing, tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirasakannya kembali tubuh pak Sobri yang penuh bulu tebal bagai gorila menindih tubuhnya, dirasakannya ada sesuatu yang mulai menerobos liang surgawinya. Aida sudah terlalu lemas untuk melawan, ia hanya dapat melenguh panjang menyatakan ketidaksetujuan terhadap apa yang akan terjadi. Namun semuanya sudah terlambat : milimeter demi milimeter celah kesuciannya yang selalu terlindung kini mulai dimasuki oleh alat kemaluan lelaki asing.

Namun rasa putus asa, ketidakperdulian dan penyerahan yang telah menguasainya terganggu dan terhenti mendadak ketika Aida merasakan bahwa rudal daging yang mulai memasukinya sangat ‘tidak normal’. Suaminya selalu dengan mudah melakukan senggama meskipun harus diakui bahwa ustadz Mamat tidak memperdulikan apakah istrinya cukup licin basah atau belum. Kali ini Aida merasakan bahwa dirinya telah licin dan basah sekali, namun senjata pak Sobri sangat besar, berusaha beberapa kali pun tetap gagal menerobos liangnya yang kecil sempit.

Namun dengan usaha yang terus-menerus, akhirnya pak Sobri berhasil meretas belahan bibir vagina Aida dan… bleees !

“Auuw, hentikan! Hentikan! U-udah, Pak, jangan diteruskan! A-aduh… aduduh… aaah… auw! Pak! Aauuw… s-sakiit! Oooh… ampuun!” jeritan Aida menggema bagaikan hewan akan disembelih ketika dirasakan vaginanya bagaikan dibelah kayu.

Pak Sobri hanya tersenyum sadis melihat wajah ustazah ayu manis di bawahnya menengadah ke atas dengan mata penuh air mata dan bibir merekah mengeluarkan rintih sakit memilukan. Tanpa rasa belas kasihan, pak Sobri terus melaju menekan kejantanannya menembus dan membelah dua dinding memek Aida. Sambil merejang kembali kedua pergelangan tangan Aida di samping kepalanya, pak Sobri menghentakkan pinggulnya, menancapkan dan menumbukkan kepala penisnya yang berbentuk jamur topi baja ke mulut rahim mangsanya, sehingga terasa amat nyeri sakit.

“Hehehe… akhirnya tercapai juga keinginan bapak mencicipi memek istri ustadz alim shalihah! Uuhh… emang empuk banget! Enak nggak, neng? Jangan malu-malu deh, ngaku aja sama bapak, hehe.” seru pak Sobri dengan semangat lelaki setengah baya sedang berjaya memperkosa wanita muda.

Aida tak mempercayai apa yang sedang dialaminya, ia sedang digarap habis-habisan oleh lelaki tua bukan taraf usianya. Gempuran dan hunjaman penis perkasa pak Sobri terasa bagaikan sedang merobek vaginanya, sedang menumbuk rahimnya sekuat-kuatnya hingga terasa begitu ngilu sakit di ulu hati.

Istri setia yang malang ini berusaha menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping serta menggigit bibir bawahnya menahan segala campuran rasa yang sedang menimbunnya. Namun pak Sobri terus, terus dan terus menggenjotnya sekuat tenaga seolah diberikan kekuatan oleh setan yang menguasai rumah ustadz yang kosong itu. Maju, mundur, maju, mundur maju menghantam alat kewanitaan yang halus lembut milik Aida, sehingga terasa sekali semakin lama jadi semakin panas, perih dan pedih serta ngilu sakit yang dialami oleh si cantik alim ini.

Namun di samping itu semua, ujung-ujung syaraf peka di tubuh Aida – terutama di bagian yang paling sensitif – mempersembahkan gejolak kegatalan dan nikmat tak terlukiskan dengan kata-kata. Semua silih berganti semakin lama semakin cepat hingga Aida tak dapat lagi membedakan pada saat hunjaman penis pak Sobri membentur rahimnya : apakah ngilu atau enak, apakah perih atau gatal, apakah sakit atau nikmat, sakit tapi nikmat, apakah nikmat atau sakit, apakah ini khayalan ataukan kenyataan? Apakah dosa jika dia tidak melawan, ataukah dosa jika Aida mengakui bahwa semuanya memang menyakitkan tapi nikmat.

Aida tak tahu lagi apa yang sedang menghantui benak dan tubuhnya – keinginannya untuk tak menatap mata sang pemerkosa akhirnya terkalahkan. Masa bodohlah semuanya, jilbabnya pun telah terlepas, apa lagi yang harus ia pertahankan? Kesuciannya telah hancur, suaminya selama ini tak pernah memberikan nafkah batin seperti ini, sedangkan pak Sobri memang memaksakan hasrat kelaki-lakiannya dengan sangat nikmat, mengajarkannya bagaimana menjadi wanita dewasa yang dapat mengalami kepuasan badaniah sepenuhnya, yang selama ini selalu tersembunyi.

Dengan kuyu dan sayu penuh rasa putus asa dan kepasrahan, Aida menatap mata pak Sobri yang bersinar karena sedang menikmati kemenangannya. Dengan sedikit gemetar kedua belahan paha Aida yang sejak tadi dipaksakan merebah terkuak di ranjang, kini mulai bergerak, lutut yang bulat mulus itu menekuk dan melurus. Tanpa dipaksakan, paha mulus Aida mengatup dan menjepit merangkul pinggang pak Sobri, dan seirama dengan hunjamannya ikut menekan seolah ingin membantu penis yang semula sangat menyakitinya itu masuk semakin dalam.

Hampir satu jam sudah pergumulan kedua insan itu berlangsung, menandakan betapa hebat kejantanan pak Sobri. Inilah memang saat yang telah lama diimpikan oleh pak Sobri : ustazah Aida yang cantik jelita bertubuh sintal bahenol dengan buah dada montok dan goyangan pinggul denok bahenol berada di bawah tindihan tubuhnya. Menyerah pasrah di bawah cengkraman kekuasaannya, kedua matanya penuh rasa putus asa meratap memohon belas kasihan, namun tak tahu pasti apakah penyiksaan nikmat yang dialami harus dilanjutkan atau dihentikan.

Pak Sobri menyadari bahwa ia tak boleh terlalu serakah dan tamak : istri setia ini telah menyerah dan menikmati perkosaannya, lain kali masih ada kesempatan, jangan sampai perbuatan maksiat ini dipergoki oleh Farah yang mungkin tak lama lagi akan pulang ke rumah. Biarlah cukup untuk kali ini – dan… entah… siapa tahu wanita ini sedang subur, mungkin ia akan menanamkan benih di dalam rahimnya.

Pak Sobri tak dapat menahan lagi ledakan lahar panasnya menyembur dari kedua biji pelirnya, sedemikian banyak sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Aida. Semprotan bermenit-menit menyirami mulut rahim Aida, disaat mana istri alim shalihah ini mengalami orgame ketiga!

“Iyaa… auuh… oooh… Paak, emmh… iyaa, terus! Nikmaat…” dengus dan rintih Aida saat dilanda oleh gelombang orgasme bagaikan tsunami untuk yang ketiga kalinya!

Setelah membantu Aida membersihkan diri di kamar mandi dan membantunya memakai baju kurung serta jilbabnya,   pak Sobri memberikan sebuah amplop tertutup kepada Aida dengan pesan agar tak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun karena hanya merupakan aib bagi Aida. Pak Sobri berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia mengatakan bahwa amplop itu boleh segera dibuka namun jika ia telah pergi jauh dengan mobilnya dan tak terlihat lagi di ujung jalan.

Tanpa banyak kesulitan pak Sobri menyambungkan alat kompressor bersaluran udara panjang ke ban mobilnya dan ansteker – ban yang memang kempes tapi tak ada lubang sama sekali itu hanya dalam dua menit telah terisi lagi udara sebagaimana semula, lalu pak Sobri menghidupkan mesin dan melaju menghilang di tikungan ujung jalan.

Aida membuka amplop putih itu dan tercengang ketika menghitung uang yang tersisip disitu : tiga puluh juta! Dengan uang itu maka sementara kehidupan keluarganya dapat dilanjutkan, demikian pula pengobatan ayahnya di rumah sakit, serta pinjaman mereka kepada pak Burhan si rentenier.

Aida duduk terhempas di kursi : pikirannya kacau, apakah ia berdosa mengalami ini semua? Ini semula tidak ia inginkan sama sekali, namun akhirnya Aida sangat menikmatinya. Apakah uang ini haram, apakah boleh dipakai untuk menolong ayahnya yang sakit parah?

Aida tak tahu apa jawaban dari 1001 pertanyaan yang memenuhi benaknya, kepalanya dirasakan pusing dan sangat berat, apalagi badannya yang kini telah tertutup rapih kembali dengan baju berlapis-lapis, namun disana sini pasti masih penuh dengan cupangan merah kebirua-biruan akibat ciuman ganas pak Sobri. Aida merasakan pipi dan telinganya memerah mengingat apa yang dialaminya…

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta, oooh… masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menggarap Aida dengan cara lain dan mengajarinya menjadi budak sex yang patuh 100%

TAMAT BAGIAN PERTAMA

Akan berhasilkah usaha pak Sobri ini? Apakah yang terjadi dengan Farah ketika negosiasi dengan pak Burhan? Bertahankah iman ustadz Mamat ketika memberikan ceramah dan kuliah kepada banyak calon pengikut Musabaqoh Tilawatil Qur’an yang masih sangat muda, karena tak semua calon memiliki iktikad yang murni memperdalam ilmu agama. Selain itu, apakah ustadz Mamat juga sanggup menghadapi godaan melihat betapa cantiknya adik istrinya, terutama Nurul Tri Lestari dan Asma Maharani yang betul-betul masih merupakan ‘daun muda’?