BU IDA, PENGUJI IDOLAKU

Mutasi pekerjaan bagi setiap orang memiliki arti yang beragam. Ada yang keberatan karena pisah keluarga, tapi ada yang enjoy saja atau bahkan bahagia karena promosi jabatan. Demikian halnya dengan saya (Fendi), yang harap-harap cemas ketika dimutasi ke lain daerah. Berharap karena promosi, tetapi cemas karena harus meninggalkan istriku yang baru kunikahi setahun yang lalu. Sementara dia sebagai pegawai pula yang tidak dengan mudah meninggalkan pekerjaan atau minta mutasi mengikuti suami.

Hari itu merupakan hari pertama saya mutasi masuk tempat baru di kota propinsi yang jaraknya 200 km dari tempat tinggalku semula. Pagi itu saya sudah siap di lobby kantor baru, sambil menunggu untuk melapor calon atasan saya yang belum datang. Para pegawai kebanyakan belum aku kenal, hanya beberapa teman yang kenal karena satu angkatan, ketika menjalani test rekrutmen dan pelatihan bersama, tiga tahun yang lalu. Hampir satu jam saya duduk di lobby, lalu aku lihat seorang perempuan yang tinggi kira-kira 165 cm, anggun, dengan pakaian uniform abu-abu tua dan kerudung warna putih dengan motif bunga warna biru tua gradasi dan cantik tentu saja. Saya agak kaget, karena aku cukup kenal perempuan itu; bu Ida (bukan nama sebenarnya), dia-lah yang menjadi salah satu pengujiku di kantor pusat, ketika saya masuk di instansi ini. Aku masih ingat betul, karena di samping cantik, diam-diam aku juga mengidolakannya, sebagai perempuan yang menarik. Kala itu saya baru berusia 24 tahun, masih calon pegawai lagi! Sementara dia kelihatannya sudah di atas 30an lebih, Teman-teman juga banyak yang bilang, sebagai penguji yang paling cantik.

Ketika aku dipanggil masuk, langsung aku menghadap atasanku yang baru itu, ternyata bu Ida-lah bosku yang baru. Lalu aku memperkenalkan diri. Rupanya dia lupa, ketika aku menerangkan bahwa aku pernah diuji olehnya.

“Siapa… ya, lupa aku?” katanya tanpa ekspresi, mungkin juga untuk menjaga wibawanya atau memang dia lupa. Maklum banyak calon pegawai seangkatanku.

Posisiku dua tingkat di bawah bu Ida, namun aku membawahi beberapa pegawai, walaupun mereka lebih lama bekerja daripada aku, karena faktor ijasah formal dan establish manajemen. Sebagai bawahannya saya sering diperintah bu Ida untuk membuat laporan, analisis data dan tidak jarang pula aku ikut serta dalam rapat dinas. Lama kelamaan kami berdua menjadi berkesempatan untuk bertukar pikiran, tidak hanya masalah pekerjaan tetapi sampai masalah pribadi, konon suaminya ada di luar kota, tapi aku tidak berani menanyakannya lebih jauh. Di rumah ditemani oleh dua orang gadis, keponakannya. Aneh juga, saya sudah demikian akrab, tapi bertandang di rumahnya saja tidak boleh.

Di sisi lain kami berdua makin akrab saja. Pernah suatu kali ketika kami menuruni tangga, saya coba gandeng tangannya, dia menyambut dengan memegang tanganku erat-erat. Kami berpandangan mata cukup berarti, dia tersenyum. Pandangan mata yang penuh arti, aku bergembira walau hatiku bergetar. Sebuah pengalaman yang tak kan kulupakan. Sejak saat itu ada perasaan aneh menyelimuti pikiranku, ada suatu kontak istimewa. Dari pandangannya yang tajam berwibawa, tapi mempesona itu, kini sering berkerling, membuat hati ini berdetak lebih kencang. Ada perasaan aneh!

Di suatu hari, saya diajak survey tempat untuk rencana acara in house training perusahaan, yang akan diadakan di suatu resort tempat wisata luar kota yang jaraknya 30an km dari kota. Di Sabtu pagi itu kami berangkat bertiga bersama bu Ida, seorang teman perempuan, sebut saja namanya Susie dan saya. Pagi itu sekitar pukul setengah sembilan, aku berangkat bersama Susie, kemudian kami meluncur ke rumah bu Ida. Rupanya dia sudah menunggu, langsung naik ke mobilku.

“Ibu di depan, saya di belakang saja” kata Susie sungkan yang semula memang duduk di jok depan.

“Enggak usah, kamu aja di depan” sahut bu Ida

“Maaf Bu, saya membelakangi Ibu…” sahut Susie dengan takzim.

“Ya, enggak apa-apa, silakan…” kata wanita cantik berusia 38 tahun itu langsung duduk di jok tengah.

Pagi itu Bu Ida tampak cantik. Dengan memakai celana panjang agak ketat warna hitam, baju putih motif bunga lengan panjang, leher bajunya berkacing pada leher bagian depan, seperti dipakai untuk mengikat kerudungnya dengan warna dasar putih berbunga coklat. Modis. Penampilannya sangat berbeda dengan pakaian kesehariannya, yang selalu memakai seragam kantor dan rapat.

Bu Ida mengajak kami berkeliling melihat-lihat lokasi di sekitar resort. Setelah urusan di resort selesai, Susie minta pamit duluan, karena Sabtu itu akan keluar kota bersama suaminya dan sudah izin kemarin pada bu Ida. Suaminya sudah menjemput, lalu Susie pamit dengan hormat pada bu Ida. Sekarang tinggal aku dan bos ku ini, lalu meninggalkan resort. Kemudian kami menikmati pemandangan indah di pagi itu. Saya memarkir mobil di tempat agak sepi, menghadap hamparan lembah curam, dengan latar belakang pegunungan. Indah sekali pemandangan pagi yang beranjak siang itu. Di atas mobil bu Ida memakai kacamata hitam lebar, kami berpegang tangan, jemari kami saling mengusapi, meremas lembut, sesekali mencium tangannya. Saya senang sekali. Aku ingin sekali mengecup bibirnya, tapi ada perasaan takut, hanya memandangi wajah ayunya saja, dia menyambut dengan senyum khasnya, akupun tersenyum. Lalu aku beranjak memberanikan diri mengecup bibirnya. Wanita yang memiliki bentuk bibir indah inipun menyambut dengan kecupan mesra. Kami berciuman lembut dan lidah kami saling beradu dan menari-nari bersama. Gejolak hati berdebar sangat seru. Namun hal itu tidak lama, dia mendorong saya, katanya:

“Jangan Fen, dilihat orang….” suaranya lirih

“Ibu cantik sekali pagi ini…” kataku merayu.

Pengalaman pertama mengecup bibirnya. Dalam situasi seperti itu, dorongan kuat dan keras untuk berbuat lebih jauh semakin memburu rasa dan perasaanku.       

“Bu kita ke sana..yuk…” ajakku sambil menunjuk sebuah hotel.

“Enggak…ah..”katanya sambil menggeleng acuh lalu berpaling ke hamparan luas.

“Kalau gitu, kita makan dulu” maksudku kuajak ke restauran.

“Enggak …ah di sini saja, aku enggak lapar kok” 

Aku diam sejenak, hatiku gundah gulana, rasa malu, menyesal dan cemas, bercampur menjadi satu, karena ditolak. Namun aku tetap menutupi apa yang kurasakan dalam hatiku, aku tetap berusaha untuk bersikap manis.

“Lalu… gimana ya, Bu?”

“Kamu ini mabuk Fendi, tapi jangan ngawur! Gimana kata orang nanti, kata teman kita, bila mereka tahu kita makan bersama, apalagi di hotel, enggak lucu, kan?!” katanya dengan nada tinggi.

“Maafkan aku, Bu…” kataku kubuat menghiba, walau sebenarnya aku takut juga.

Dia menjawab dengan senyuman. Ternyata dia tidak marah, lalu kukecup bibir indahnya kamipun kembali bermesraan.

Akhirnya aku memahami pikirannya, memang dia dapat dikenal oleh banyak orang karena posisinya di kantor. Dan dapat kutangkap yang dipermasalahkan hanya tempatnya, bukan ‘acaranya’ yang aku rencanakan, yang mungkin pula dia tahu. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke kota, dalam hati aku punya ide cemerlang untuk mengajak mampir di rumahku. (Rumah ini dikontrakkan oleh perusahaan untukku).

Namun aku masih ragu untuk mengajaknya. Tapi namanya usaha, mengapa tidak dicoba? Pikirku.

“Mampir di rumahku dulu ya Bu? pintaku

“Ntar ketemu istrimu, bisa perang…?!” katanya

“Jangan kawatir Bu, istriku belum tahu, kalau aku menempati rumah itu dan nggak mungkin dia ke sini karena ndak ada rencana” kataku menyakinkan.

Perempuan ini hanya diam saja, berarti dia setuju atas usulku. Sampai di rumah sekitar pukul sebelas siang. Kebetulan rumah ini menghadap sisi rumah tetangga yang berpagar tembok tinggi, jadi cukup aman tanpa diketahui tetangga, dan merekapun cukup acuh terhadap lingkungan. Aku membuka pintu pagar dan garasi, bu Ida tidak turun. Setelah mobil masuk garasi pintu pagar dan garasi aku tutup rapat-rapat dan saya kunci dari dalam. Kami berjalan menuju ruang tengah, sambil memeluk mesra bu Ida. Sesampainya di ruang tengah, dia melihat-lihat setiap sudut ruangan, bahkan melongok ke kamarku. Sepertinya tak mempedulikan pelukanku, meskipun tangan kanannya memeluk pinggangku.

“Rumahmu bersih… rapi…” komentarnya.

“He….he…terima kasih Bu” kataku agak bangga.

“Biasanya cowok amburadul, jorok, tak cakap atur rumah” komentarnya berikutnya. Aku tersenyum dan berterima kasih kembali.

Aku memeluknya dengan nafsu, dan kuciumi sejadi-jadinya. Kami berdua kembali masih dalam alam percumbuan seperti di mobil tadi, tapi ini lebih leluasa dan hebat. Kami berpelukan erat. Bau harum merambah dari seantero tubuhnya. Bibir kami beradu, lidah kami sedot-menyedot enak sekali, kemudian menelusuri setiap sudut mulut.

“Istrimu seharusnya kamu ajak kesini” katanya dalam pelukanku

“Lho kok gitu?” Aku tak paham?

“Iya, nafsumu tinggi sekali, dan aku menjadi sasaranmu”   katanya sambil tersenyum

“Ah, ibu….” kataku sambil menyalakan remote AC kamar.

Dadaku bergemuruh, perasaanku terasa membara dan seakan berkobar-kobar panas. Detak-detak jatungku makin kencang berlarian, dengan nafsu lelakiku yang kian memuncak. Tanganku kususupkan pada bajunya, aku kembali meraba-raba lembut pinggangnya, halus sekali. Getaran-getaran itu juga terasa pada dada bu Ida, ketika telingaku kupepetkan pada dadanya. Dengan deru dada yang bergoncang itu, aku beranikan diri membuka kancing bajunya satu persatu sampai pada kancing terakhir, hingga tampak indah susunya di balik beha berwarna putih itu. Bahu dan dadanya, push up bra style, seakan tidak muat menyangga buah dadanya. Mengundang dan menambah melonjak-lonjak nafsu birahiku.

Dengan tangan bergetaran aku membuka kait celananya dan kutarik ke bawah. Pahanya teramat sangat mulus. Sembari menciumi bibir, pipi, kemudian lehernya yang menjadi sasaran empuk dan dia meronta-ronta. Lalu kain yang melilit pada leher dan kepalanya ku preteli. Perempuan yang ternyata berambut sebahu itu nampak jelas lekuk-lekuk tubuhnya, di balik beha dan cede yang berwarna putih cemerlang pula, senada dengan warna kulitnya yang putih bersih khas kulit perempuan; halus dan lembut. Tubuhnya indah padat berisi, perutnya ramping menawan.

Saya dengan serta merta mencopot semua pakaianku, sehingga akupun berbugil ria. Penisku ngaceng bukan main kencangnya. Melihat senjataku yang maksimal itu, bosku itu melirik sambil tersenyum penuh arti. Tangan kanannya memeluk bahuku, sementara yang kiri menimang dan mengelus-elus tititku. Kami saling memagut bibir dengan lembut penuh perasaan, sambil bergetaran membuka kait behanya. Susunya berbentuk indah, putih, empuk. Bibirku kugigit-gigitkan pada permukaan susunya dan ku edot, kanan-kiri berkali-kali dengan lembutnya. Rupanya diapun menikmati permainan ini, terlebih ketika pentil susunya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kuedot dan ujung lidahku menari-nari dipuncaknya.

“Ahhh,…. uahh…. engh” desahnya lembut menggairahkan.

Masih sambil berdiri, kami berangkulan ketat sambil berpagutan bibir, tanganku mengusap lembut pahanya. Diapun membalas dengan ciuman-ciuman mesranya. Mulai pada dadaku, leherku dan tangannya mengelus-elus lembut tititku yang terasa maksimal itu.

“Di kamar aja….yuk… Fen …” katanya terbata-bata dan gemetar.

Lalu tangan kananku mengangkat pantatnya dia merangkul aku dan kuangkat dia ke kamar. Setelah merebahkan diri di tempat tidur saya tarik cedenya dengan pelan melalui kaki-kaki indahnya. Saya benar-benar tertegun sambil menelan ludah, betapa indahnya dan sempurnanya tubuh atasanku ini. Benar-benar perfect body. Wajahnya memang cantik, yang sering aku lihat, tapi bahunya, payudaranya yang montok, bentuk pinggangnya bagai gitar spanyol dan kakinya, paha dan betisnya. Menakjubkan. Tiada noda di sana, tiada gumpalan lemak di balik kulit mulusnya. Perutnya ramping, indah sekali! Apalagi aku lihat di antara pangkal paha dan pinggulnya membentuk huruf “V”, posisinya tepat di bawah perut. Benar-benar seperti boneka barbie.

“Wah.. sampai melotot ya.. ngliatin. ACnya kecilin dikit dong, dingin nih..” katanya, saya tersentak

Setelah mengurangi dinginnya AC, saya kembali ke ranjang mendekati bu Ida yang berbaring. Kami berdua yang sudah berbugil ria itu, bergulat saling mencium, menyerang dan memeluk, rasanya tak ingin menjauh walau semilimeter. Gesek menggesek di antara kami terus berlangsung. Suara desah mendesah silih berganti di antara kami. Saya dengan leluasa meremas-remas lembut susunya dan memainkan puntingnya sambil kudot dengan lidahku menari-nari pada puntingnya. Cukup lama dan mengasyikkan, saya senang sekali. Sementara jemarinya yang runcing dengan kuku yang dipotong tumpul rapi itu memegang penisku dengan lembut, rasanya enak sekali, dielus dan dikocok-kocok lembut.

“Mantap milikmu, Fen…” bisiknya agak malu-malu.

“He-em, thanks…”kataku tersenyum

Sungguh siang itu merupakan moment yang menyenangkan, yang sebenarnya tak terbayangkan secepat itu.

Ketika kata-kata sudah tidak efektif lagi dalam kondisi demikian, suara desah mendesah, berarak-arakan dengan detak-detak jam dinding di siang bolong itu. Aku menyusuri lehernya, bahunya, kemudian wajahku tertambat di antara payudaranya. Di saat yang bersamaan pahaku menggesek-gesek lembut selakangannya dan tangannya mengelus manja penisku. Wajahku menyisir sampai ke perut dan mengecupnya, dia kegelian bergelincang. Kemudian tanganku menyisir ke rerumputan tipis pada selakangannya, mengelus dan memainkan kletorisnya sambil jari tengahku masuk ke lubang kewanitaannya, warna pink merekah dan basah. Ujung jari yang masuk menggelitik lembut sisi atas lobang. Klitorisnya saya cubit lembut antara ibu jari dengan jari telunjukku. Mendapat perlakuan begini dia tambah bergelincangan, kayak kena sengatan kalajengking saja. Matanya memandang sayu ke arah wajahku, seolah berbicara kepasrahan. Selakangannya basah, ada cairan yang keluar, cairan kenikmatan. Tubuhnya bergerak mengambil posisi 69, dia mengedot-edot penisku, sementara lidahku menari-nari di atas kletirosnya. Bu Ida bergelincangan hebat, akupun menjadi geli walaupun nikmatnya bukan main. Akupun mencoba melepas tititku dari kulumannya, walau sebenarnya nikmat pula, tapi aku tak tahan.

“Maaf, saya masukkan, ya Bu?!” aku minta izin.

“He-em… Wah nggak muat nih, Fen. Aku merinding lihat milikmu” bisiknya melemah.

“Ya, kita coba dulu….”

“Pelan-pelan….” katanya lirih.

“Beres….”

Lalu aku menindih bos ku itu yang sudah siap tidur telentang, sambil merenggangkan kaki dengan kedua lututnya ditekuk sedikit. Senjataku kuarahkan pada tempik (vagina)nya dan dia beringsut untuk menyiapkan miliknya yang paling pribadi itu, untuk saya nikmati. Setelah terasa posisi pas, saya tekan dengan pelan sekali, dia beringsut lagi, lalu tangannya memegang penisku menuntun pada lobang miliknya, baru masuk walau agak seret. Peristiwa itu menimbulkan efek rasa nikmat luar biasa, bukan saja pada saya tapi juga pada bu Ida.

“Ahh… Fen….kamu….…” desahnya wajahnya serius menikmati, ketika penisku masuk dengan mulusnya.

“Ibu molek sekali, terasa nikmat…” jawabku balik memujinya.

“Enak.. Fen…Ah…”

Tangannya mengusap-usap punggungku, kemudian menarik leherku memeluk erat-erat, dan menaikkan pinggulnya, seolah ingin rasanya aku menghujamkan lebih dalam lagi. Sejenak aku tarik dan ku tekan lagi pinggulku, yang selalu menimbulkan rasa enak bukan kepalang. Gerakan itu saya lakukan berulang-ulang, namun pelan sekali dan bu Idapun mengimbangi dengan gerakan menggoyang pinggulnya seperti menari-nari di bawah himpitanku. Pinggulnya selalu diangkat, ketika senjataku kutekan ke bawah, seperti menyambut penetrasiku. Tangannya merangkul ketat, bibirku menutup dan melumat bibirnya, sementara kedua tanganku meremas-remas lembut susunya. Dan pusat kegiatan terasa berporos pada penisku yang menghujam kuat pada tempiknya. Kedua kakinya digerakkan merenggang-mengatup, sambil menggoyang pinggulnya lalu kakinya dililitkan pada kakiku. Kami benar-benar menyatu, dan saya benar-benar menikmati setiap milimeter tubuhnya.

“Sudah setahun lebih aku tak beginian lho, Fen….” katanya terengah-engah.

“Oh…, aku juga sudah satu minggu Bu” jawabku

“Gundulmu.. ah..!” katanya, kami tertawa kecil

Suaminya di luar kota, dia pernah bercerita, suaminya menghamili bawahannya, sehingga dia terpukul lalu jarang pulang. Lalu aku lanjutkan dengan tembakan demi tembakan, seperti orang sedang memompa dan sesekali berputar ngebor. Dan manakala saya genjot lebih keras, diapun mengimbangi dengan gerakan cepat dengan mengangkat pinggangnya lebih ke atas. 

“Enak ya Bu…” kataku

“He..em…Kamu jangan panggil aku Bu lagi, sudah beginian kok masih panggil Bu. Di kantor saja panggil Bu” katanya di sela-sela goyangan pinggulnya

“Ya, Bu… eh… panggil siapa?” tanyaku

“Terserah kamu” dengan ekspresi wajah serius, menikmati permainan ini.

Tiba-tiba dia mengerang lembut:

“Ah…. Fen aku keluar..” desisnya

“Tuntaskan Da, tuntaskan sayang…” kataku terus menggenjot. Sejak saat itu saya memanggilnya hanya dengan sebutan ‘Ida’ atau ‘Da’ begitu saja dan dia suka dengan panggilan itu. Sejenak aku berhenti menggenjot memberi waktu untuk menikmati orgasmenya.

“Akh…..ukh…ekh….” desisnya. Wajahnya merona merah dan menarik wajahku menciumi bibirku habis-habisan. Pemandangan yang mengasyikkan. Beberapa menit kemudian nampak nafasnya normal kambali.

Aku memandangi wajahnya dengan seksama, betapa perempuan ini menyerah padaku siang ini. Semula aku mengira wanita ini sepintas nampak angkuh dan sombong, tapi di sisi lain sangat romantis.Tanpa terasa sudah lebih dari dua puluh menit, aku menikmati tubuh bu Ida dari atas, sekarang kami berguling dan perempuan berkulit putih bersih itu gantian menindihku, tanpa melepas alat seks kami. Gerakannya makin mempesona dia bergoyang makin bersemangat tidak hanya naik turun saja, tapi berputar kayak mengebor saja. Payudaranya bergelantungan indah dan sangat menggairahkan, aku sapu dengan kumisku dan kudot habis-habisan. Setiap gerakannya menghasilkan rasa nikmat luar biasa. Rasanya gerakan kami maksimal, wajahnya serius pertanda kenikmatan. Desah mendesah dan leguhan yang mempesona mengiringi goyangan-goyangan indah. Merasakan kenikmatan bersama.

Getaran-getaran kecil mengembang menjadi gejolak nafsu yang makin bergelora, dan permainan ini makin susah dikendalikan. Punting susunya disodorkan pada mulutku dan langsung ku hisap-hisap. Sementara tanganku mencengkeram ketat bongkahan pantatnya. Gerakannya makin tak beraturan, getaran dinding-dinding vagina menggesek-gesek permukaan batang penis, terasa menghisap-hisap ketat membuat gairah dan birahi kian melonjak tinggi. Lalu dari rasa yang bercampur-aduk itulah keluar desahan panjang dari mulut bu Ida, berulang-ulang.

“Aaah…..uhhhhhh…. aaah, aku ke..lu..ar… lagi …Fen…. Aehh .” katanya memecah kesunyian siang dengan ekspresi wajah memerah jambu nampak serius, tanda menikmati orgasme.

“Teruskan.. tuntaskan, Ida Sayang…..” kataku

“Ohh..ahh….yah…” suaranya sambil mempercepat gerakan, tangannya sambil membelai-belai kepalaku dan mengacak-acak rambutku, sementara mulutnya melumat bibirku. Setelah istirahat sejenak dia memutar pinggulnya meliuk-liuk lagi, diiringan desahan nafsu.

Rasa nikmat luar biasa tercurah dalam tubuhnya, hal ini terpancar dari raut wajahnya merona pink saat merasakannya. Mengasyikan juga melihat bos orgasme, kelihatannya benar-benar menikmati permainan ini. Aku makin menjadi bernafsu. Gerakannya masih kentara menggoyangku, keras dan menghebohkan. Beberapa menit kemudian, lambat laun berkurang dan akhirnya tak bergerak, hanya sesekali pinggulnya bergoyang pelan untuk merasakan nikmatnya sisa-sisa orgasmenya. Aku membelai-belai rambutnya dan kemudian menciumnya.

Setelah selesai melampui rasa nikmatnya, bu Ida terkapar lemas di atasku sambil mengatur nafasnya, karena habis kerja keras. Saya merangkulnya sambil membelai punggung dan meremas pantatnya, aku menatap langit-langit yang menjadi saksi bisu.

“Ganteng, aku puas puas dengan kamu. Aku suka kamu…” bisiknya, kusambut dengan cium dahinya.

Menit-menit berikutnya gantian aku yang ngebet, lalu berbalik menindihnya dengan menghujamkan kembali penisku pada alat pribadi wanita yang belum pernah melahirkan ini, makanya rasanya seret dan enak sekali. Gerakanku sebenarnya hanya sederhana saja, naik-turun, keluar-masuk dan sedikit berputar, namun rasa nikmatnya luar biasa. Dan hal ini tidak hanya aku yang merasakan tetapi wanita ini juga.

Kami ingin mengulang kenikmatan demi kenikmatan, dan aku kumpulkan tenaga dan perasaan menjadi satu untuk menyambut badai kenikmatan. Sejuknya ruangan, memicu makin terasa nikmatnya tubuh bu Ida. Sesekali kedua kakinya diangkat ke atas dan kadang dililitkan pada kedua kakiku. Saya menjadi bersemangat dan sangat bergairah atas permainan wanita yang 11 tahun lebih tua dari saya ini. Tubuhnya tergoncang-goncang menahan gempuranku yang bertumpu pada pertemuan dan gesekan antara penisku dan hisapan V-nya.

Rasanya matahari mulai condong ke barat, terlihat dari jarum jam menunjukkan jam satu lebih, tapi permainan babak pertama belum usai juga.

“Kita keluarkan bersama, ya Sayang, aku mau keluar lagi” katanya terbata-bata

“Yaaah….” kataku terengah-engah

Kembali aku mulai mengebor kuat-kuat namun berirama, tubuh molek ini sampai bergoncang-goncang. Aku benar-benar mengaduk-aduk dan mengeksploitasi V-nya. Saya menjadi gemas dengan kemolekan tubuhnya ini, lalu kutingkatkan lagi dengan genjotan yang agak keras, tubuhnya bergetar dan mengerang. Darahku mendidih, tekanan yang luar biasa keluar mendorong dan menghempas urat nadi dan memenuhi lorong-lorong birahi yang berkobar-kobar. Dan menyatu berpusat pada ujung penisku dengan dorongan seperti suara bergemuruh yang sudah tidak terkendali lagi dan menghentak dengan kerasnya menekan-nekan, bagai gunung berapi yang akan memutahkan lahar panas. Bersamaan dengan itu terasa air maniku menyemprot keluar tanpa kendali memancar dengan tekanan dahsyat memenuhi lubang kehormatan bu Ida. Peristiwa itu diiringi rasa nikmat luar biasa. Most wonderful! Dengan desahan bersahut-sahutan antara saya dan atasanku itu. Pelukannya makin diperketat, bibir kami beradu ketat. Tak lupa, kedua tanganku meremas susunya

“Keluar Fen…..?!” katanya

“Yah…, aku keluarr…Akh… Ukh….” jawabku terengah-engah

“Aku juga keluar lagi Sayang, kamu hebat….” bu Ida menyambut dengan kecupan dan memelukku kembali sangat erat.

Wanita berusia 38 tahun ini benar-benar menjadikan aku puas, tidak salah aku mengidolakannya. Puncak kenikmatan belum berlalu lama, nafasku belum teratur, aku menjadi lemas terdampar di atas tubuh molek itu. Walau melelahkan namun merasakan sisa-sisa kenikmatan luar biasa rasanya. Beberapa menit kemudian setelah nafasku teratur aku ingin mencabut senjataku dari vaginanya, tapi dia melarang.

“Jangan Fen… biar di situ dulu…” katanya manja.

Tangannya sambil meraba-raba punggungku dan kakinya digerak-gerakkan pelan. Lalu diikuti dengan gerakan pinggulnya. Kepala penisku terasa geli, dengan gesekan vaginanya dan gerakannya makin kencang. Mungkin dia masih merasakan kenikmatan, dan kepuasannya belum berlalu.

“Kamu juga hebat Sayang….” kataku, sambil membelai-belai dan mencium rambutnya yang harum itu. Dia tersenyum puas.

Setelah benar-benar puas, pelan-pelan aku cabut, diapun terkapar lemas tapi puas. Aku menarik nafas panjang-panjang. Luar biasa, puncak kenikmatan yang sungguh dahsyat. Setelah beberapa saat, kulihat selakangannya bergelepotan cairan putih kental, spermaku sampai tumpah keluar dari Vnya. Kami beranjak mencuci selakangannya dan dia membersihkan penisku di kamar mandi, lalu kami kembali berbaring di tempat tidur. Masih membayangkan rasa kenikmatan yang baru saja kami raih bersama itu. Karena letih kami tertidur dibalik selimut, dengan berpelukkan dan masih telanjang sampai terlena. Sekitar setengah jam dia bangun, menciumi aku sambil membelai-belai lembut tititku,

“Lagi yuk Fen…” pintanya setelah tititku tegak lagi karena jepit dengan payudaranya dan diemut habis-habisan.

Senja menjelang malam aku minta dia bermalam di rumahku, setelah berpikir sejenak dia mengangguk setuju dan kemudian menelepon keponakannya mengatakan; “tidak pulang karena ada tugas mendadak di luar kota” Semalaman kami mengarungi samodra birahi bersama bu Ida, berbagai gaya menghasilkan berbagai kenikmatan sensanional.

“Enak ya Fen…, kamu kaya variasi..”katanya mengomentari setiap style yang aku lakukan.

“Kamu juga hebat Da… Senang bisa bermain dengan kamu” kataku sambil mencium keningnya.

Minggu, keesokan harinya saya terbangun sekitar pukul 06.00, bu Ida masih tidur dalam pelukanku, sesekali menimang-nimang tititku, merangsek untuk mengusir dinginnya pagi. Perempuan cantik itu tidur memakai kaosku yang panjangnya sampai di atas lututnya, bercede tanpa beha. Setelah ia bangun, sekitar pukul 06.30 kami mandi bersama. Hari itu, seharian kami berdua di rumah sambil bercinta sampai menjelang malam harinya, entah sampai berapa kali. Sesudah agak gelap saya bertanya:

“Pulang jam berapa, Da?” kataku

“Sekarang! Tapi… main sekali lagi” katanya sambil tiduran di sofa berbantal pada pahaku.

“Katanya sakit…, tadi?” kataku, karena ia mengeluh sakit pada selakangannya.

“Ya, kalau pas masuk sakit, tapi kalau sudah di dalam tidak” katanya pelan sambil memegangi selakangannya. 

Senja itu bu Ida saya tembak sekali lagi sesuai permintaannya, baru mengantarnya pulang pukul tujuh malam. Setelah melanjutkan isapan madu bersama, mulai Sabtu siang, semalam dan Minggu, baru saja aku menyelesaikan arungan samudera raya yang bertaburan bunga kenikmatan. Hanya kami berdua yang memiliki event itu. Sungguh menakjubkan luar biasa. Rasanya baru saja bangun dari mimpi, ya mimpi indah, seolah tidak percaya bahwa kejadian kemarin di alam nyata. Penisku juga terasa pedih, habis dua hari bergesekan terus dengan cepitan milik bu Ida.

Keesokan harinya, Senin pagi saya bertemu di kantor, kami bersikap seolah tidak ada kejadian apa-apa antara aku dan dia. Dan ketika dia memimpin meeting awal pekan juga seperti biasa, semuanya biasa saja. Siapa sangka? Betapa perempuan yang sedang memimpin meeting dan didengar banyak orang itu, kemarin kujelajahi seluruh tubuhnya yang sekarang terbungkus rapi itu. Bahkan lebih dari itu, sampai pada milik yang paling pribadi diserahkan padaku untuk saya nikmati secara utuh. Mungkin dia juga dahaga? Dahaga sebagai seorang perempuan dewasa yang sesekali butuh belaian bahkan limpahan nikmat dari lelaki. Lelaki yang selama ini menjadi tumpuhannya yaitu suaminya, telah menyalurkan kepada orang lain sampai hamil. Ini alasannya, karena istrinya belum bisa memberi anak dan melahirkan. Bu Ida memang belum bisa memberi anak. Tetapi rupanya bu Ida ingin menikmati pula di tengah-tengah hari kosongnya, dengan menyambut kehadiranku di sisinya.

Usai meeting, setelah rekan-rekan kembali ke ruangan masing-masing, kucium keningnya.

“Istrimu apa tidak kewalahan menghadapimu” katanya setengah berbisik, mengenang kejadian Sabtu siang malam dan Minggu kemarin. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.

Hari-hari selanjutnya kutapaki menuju bulan-bulan dan tahun-tahun dengan aroma gairah menggelegak bersama bu Ida, pengujiku idolaku. Sering kami melakukan di rumahku, bahkan aku pernah nekat main di ruang kerjanya, saat libidoku memuncak. Waktu itu pagi hari, kantor masih dalam keadaan sepi, tapi cleaning service sudah selesai membersihkan ruangannya bu Ida. Dan seperti biasanya, cleaning service melanjutkan cuci mobil di tempat parkir. Aku datang pagi sekali dan bu Idapun datang lebih awal.

Setelah mengunci pintu ruangannya, kami bercumbu.

“Da, sebentar aja yuk…” bisikku di dekat telinganya

Pagi itu dia memakai bleser dan rok warna abu-abu tua, roknya panjang hampir sampai mata kaki, berkaos kaki warna krem. Roknya belahan bagian belakang dari betis sampai ujung rok bawah. Kutarik ke atas rok itu, terlihat pahanya yang putih mulus. Dadaku bergetar, menggoncang-goncang keras.

“Sebentar…” katanya sambil membuka cedenya sendiri.

Aku melanjutkan menarik roknya kembali sampai pinggul gitarnya kelihatan indah sekali. Posisinya berdiri kemudian kedua tangannya bertumpu pada meja, membungkuk sedikit, kedua belahan pantat indah itu makin menyembul, lalu aku mendekatkan senjataku ke arah selakangannya dan memompanya dengan lembut. Benar-benar nikmat pagi itu. Kedua tanganku menyusup di balik bleser dan kaos kemudian sampai menyusup behanya meraih susunya, beberapa menit kemudian, dia berbisik:

 “Aku mau keluar..” suaranya terbata-bata.

“Keluarkan Sayang, tuntaskan”

Saya makin mempercepat gerakanku, dan peristiwa dahsyat lagi-lagi terulang kembali. Aku menyemprotkan spermaku pada Mrs. Vnya, dengan kenikmatan luar biasa. Selesai, dia bergegas ke kamar mandi yang ada di bagian ruangan itu. Ini petualang yang menakjubkan walau riskan.

Dalam lamunanku, di satu sisi bu Ida sebagai seorang leader yang tegas, anggun dan berwibawa, di sisi lain (ini mungkin hanya aku yang tahu), sebagai seorang perempuan yang butuh belaian dan hangatnya birahi dari seorang laki-laki. Sementara suaminya di luar kota dan sedang bermasalah. Dan laki-laki yang dipilih untuk mengisi kekosongan hari-harinya itu adalah saya! Betapa orang tiada menyangka, akupun tidak mengira sebelumnya, betapa seorang bawahan bisa menjelajah, menyisir, mengekploitasi dengan leluasa pada seluruh tubuh molek bosnya dan menikmati bukan hanya terbatas pada pandangan mata, tetapi menikmati tubuh dan perasaan dalam arti yang sebenarnya. Dia wanita pengujiku idolaku, cantik dan menarik.

Tamat.    

ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…

ZURAIDA AND FRIENDS PART 10

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

Zuraida menatap Arga dengan jantung berdegub kencang, berharap lelaki itu tidak melepaskan pelukannya, tidak membiarkan Pak Prabu mengambil dirinya.

Namun wajah tegang itu berubah menjadi kecewa, sangat kecewa, ketika Arga tersenyum sambil menatap wajahnya, perlahan melepaskan pelukan.

“Argaaa,,, kenapa kau lepaskan aku,, peluk aku Gaa,,, jangan biarkan lelaki lain menjamah tubuhku,,,” hati Zuraida berteriak, dengan bibir yang terkatup rapat. Tapi ini bukan salah Arga, lelaki itu tidak tau apa yang dimaksud Pak Prabu dengan meminjam.
Yaaa,, meminjam tubuhnya, untuk melunasi janji yang terucap.

Arga mundur beberapa langkah, mempersilahkan atasannya untuk menghampiri Zuraida. Lalu berjalan menuju meja mengambil botol yang masih tersisa setengah.

Pak Prabu menatap Zuraida, meminta izin untuk meletakkan kedua tangannya dipinggul yang ramping. Dengan berat wanita itu menganguk, lalu balas meletakkan jari-jari lentik dipundak Pak Prabu. Perlahan keduanya bergerak mengikuti alunan musik.

“Bu Dokter,,” bisik Pak Prabu, merapatkan tubuhnya, “Malam ini terlihat semakin cantik, saya selalu kagum dengan penampilan anda yang begitu anggun,” lanjut Pak Prabu, membuat Zuraida bingung harus bersikap.

Hati Zuraida semakin kalut, matanya menatap Arga yang mengawasi. Tatapan kosong, tak terbaca oleh Zuraida.

Sementara, dari deru nafas lelaki yang tengah memeluknya, Zuraida bisa merasakan hasrat yang memburu dihati lelaki berkumis tebal itu. merapatkan tubuh, berusaha mencuri-curi sentuhan dari bulatan payudaranya yang membusung.

“Terus terang, Saya tidak tau kapan harus menagih janji yang ibu ucapkan, karena saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk mendekati ibu,,,” ucap Pak Prabu. Tidak seperti perkiraan Zuraida yang menduga tangan kekar itu akan segera meremas kedua payudaranya dengan brutal, saat kaki mereka dengan perlahan menjauh dari keramaian.

“Saya adalah lelaki yang begitu mudah tertarik pada wanita, khususnya wanita seanggun Bu Dokter, yang selalu tampil begitu feminim,,,” sambung Pak Prabu seraya merapatkan keningnya kekepala Zuraida yang terbalut jilbab.

Zuraida memejamkan matanya, merutuki keadaan.

Tapi sialnya itu diartikan oleh Pak Prabu sebagai persetujuan, tangannya yang berada dipinggul bergerak turun, dengan gemetar meremas pantat montok yang membulat padat. Sementara tangan kirinya bergerak keatas, coba mencumbu gundukan dagung didada si wanita, dengan siluet puting mungil yang begitu nyata.

“Argaaa,,,” ucap Zuraida tanpa suara, saat melihat lelaki yang tadi masih mengawasinya melangkah menjauh, menuju sofa, dimana Andini yang tengah mabuk digerayangi oleh Mang Oyik.

“Apakah Arga melihat semua kenakalan Pak Prabu pada tubuhku?,,,” hatinya bertanya-tanya dengan panik.

Tapi wanita itu juga bingung dengan cara kerja pikiranya, yang tiba-tiba merasa lebih tenang, karena tak ingin lelaki yang dicintainya menyaksikan ulah Pak Prabu yang mulai menggerayangi tubuhnya dengan remasan-remasan nakal.

Nafas Pak Prabu semakin berat, dua bongkahan payudara yang masih terbalut gaun menempel erat didada bidangnya. seakan-seakan lelaki itu ingin memasukkan seluruh tubuh zuraida dalam pelukannya yang kokoh.

Kini wanita itu dapat merasakan hembusan nafas khas lelaki yang menderu, menyapu wajahnya, aroma tembakau dan alkohol yang merangsek indra penciuman membuatnya merinding.

Zuraida tertegun, seolah sedang terhipnotis, mebiarkan Pak Prabu melabuhkan ciuman dibibirnya yang terbuka, mengecup lembut, memberikan gigitan kecil dibibir bawahnya.

“Paak,,, cukup,,,” seru Zuraida tersentak, saat merasakan lidah yang panas mencoba menyelusup disela bibirnya. Mendorong tubuh Pak Prabu.

Lagi-lagi pikiran Zuraida keliru, wanita itu mengira dirinya harus meronta kuat untuk melepaskan cengkraman Pak Prabu dipinggulnya. Tapi nyatanya lelaki itu membiarkan tubuhnya lepas dari dekapan dan mundur beberapa langkah.

“Maaf Bu,, saya hanya menagih apa yang ibu janjikan,”

“Tapi tidak sekarang pak,,” jawab Zuraida dengan jantung berdebar.

“Lalu kapan lagi, ditempat praktek Bu Dokter? Atau dirumah?,,, itu lebih tidak mungkin kan?” tanya Pak Prabu.

Apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya, tidak mungkin dirinya membiarkan lelaki itu menggagahi tubuhnya di tempat prakteknya bekerja, apalagi dirumah. Seketika sesal kembali mencuat, kenapa harus terucap janji itu, sebuah izin akan kenikmatan dari tubuhnya yang bisa didapatkan oleh lelaki itu.

“Pak,,, saya meneyesal sudah mengucapkan janji itu, saya tidak mungkin melakukannya pak,,,mohon mengertilah,,, pintalah hal lain yang saya bisa memenuhinya,, saya mohon Pak,,,”

Kaki Zuraida mundur beberapa langkah, mencoba menghindar dari Pak Prabu yang melangkah mendekat.

“Bu Dokter, saya tau ini sangat sulit bagi ibu, kerena ibu bukan wanita yang begitu saja membiarkan tubuhnya digagahi lelaki lain. Seperti kata ibu,, tak ingin melakukan tanpa cinta,,, dan ibu bisa melihat sendiri bagaimana tampilan saya yang yang jauh dari kata tampan, yang tidak mungkin membuat ibu jatuh cinta,,,”

Pak Prabu berdiri sambil merentang kedu tangannya, seakan ingin menunjukkan seperti apa dirinya, lelaki bertubuh besar dengan kumis lebat dan perut yang mulai berlemak. Seandainya dalam situasi yang berbeda, gaya Pak Prabu tentu akan membuat Zuraida tertawa.

Hati Zuraida yang awalnya takut menjadi kesal, bagaimana mungkin lelaki dihadapannya masih bisa mengajak bercanda saat hatinya begitu takut.

“Bu,,, maaf kalo ibu menganggap saya licik, memanfaatkan janji yang ibu ucap dalam kondisi kacau, tapi saya tidak tau lagi bagaimana cara untuk mendapatkan sedikit kenikmatan dari tubuhmu ini,,,”

Pak Prabu memepet tubuhnya kedinding, tangan kanannya terhulur mengusap selangkangan yang tertutup long dress dari kain yang lembut. Kedua tangan Zuraida segera menahan kenakalan Pak Prabu, tapi tangan kiri lelaki itu segera menyusul, meremas payudaranya.

“Eeenngghhh Paaak,,, jangaaaan,,” kepala Zuraida menggeleng, berharap lelaki itu sadar dengan apa yang tengah diperbuatnya.

“Pliss,,, saya mohon,,, hanya ini kesempatan terbaik yang saya punya,, tak ada yang melihat keberadaan kita disini, lagipula mereka sudah mulai mabuk,,,” rayu Pak Prabu, mencari peruntungan.

Zuraida terdiam, menatap sekitar, baru sadar tubuhnya telah digiring Pak Prabu kedinding, tersembunyi dibalik pohon hias yang ada dipojok tepi kolam renang, dekat dengan pintu keluar samping yang jarang digunakan.

“Pak,,,, saya,,,”
Zuraida bingung, tak lagi memiliki cara untuk berkelit, tak lagi memiliki alasan untuk menepis tangan kekar yang perlahan meremas payudaranya. Hanya debar jantung yang semakin kuat.

Tangan Pak Prabu menyusur kebelakang, meraba setiap lekukan bagian atas tubuh Zuraida,,,, seperti mencari-cari sesuatu. “Maaf,,, boleh saya menagih sekarang,,” ucap Pak Prabu, saat menemukan resluiting dari gaun putih panjang yang membalut tubuh dokter cantik itu.

Zuraida membuang wajah kesamping, namun itu dianggap Pak Prabu sebagai izin, menurunkan resluiting, lalu dengan perlahan mengusapi punggung yang terbuka.

Mata Zuraida terpejam ketika merasakan telapak tangan yang kasar dikulit punggung yang mulus, merangsek diantara belahan ketiaknya. Bulu kudunya merinding, pasrah menerima jamahan.

Memang ada niat dihatinya untuk sedikit nakal disaat pesta, tapi hanya dengan Arga, tidak dengan yang lain.

“Paaak,, saya tidak bisa melakukannya disini,,, saya mohon,, mengertilah pak,,,” pinta Zuraida lirih, menahan tangan Pak Prabu yang ingin menurunkan gaun dari pundaknya.

Dari celah dedaunan, mata wanita itu mengamati Arga yang kini di goda oleh Andini yang mulai mabuk. Menaiki tubuh Arga, dan dengan ganasnya menciumi wajah dan leher lelaki yang hanya duduk pasrah menikmati service sibetina mungil.

Membuat Mang Oyik tersisih dan beralih mendekati Aida yang masih tampak kelelahan setelah melayani Adit. Beberapa orang terlihat mulai mabuk. Begitupun dengan Aryanti, namun wanita itu masih berada dipelukan Dako yang sibuk menambahkan beberapa tanda kecupan dipayudara kanan yang mencuat diluar gaun.

“Oowwgghh,,,” tiba-tiba tubuh Zuraida gemetar tertahan saat selangkangannya kembali diusap dengan lembut. Usapan yang ringan namun mengena tepat dibibir vagina. Tanpa sadar pantatnya bergerak kedepan mengejar tangan Pak Prabu. Menagih untuk usapan berikutnya.

Zuraida membuang wajahnya kesamping tak berani memandang wajah Pak Prabu yang tersenyum penuh kemenangan. Dengan riang jari-jari leleki berkumis tebal itu menggelitik lipatan vagina milik wanita yang tak lagi berusaha menghindar.

“Eeemmmhhhh,,,” wanita berjilbab itu merintih tertahan, memejamkan mata dengan kuat saat jari tengah Pak Prabu menusuk lipatan vaginanya, membuat celana dalam tipisnya ikut masuk kedalam, menyentuh kacang mungil yang begitu sensitif.

Berkali-kali jari Pak Prabu menusuk-nusuk, terkadang lembut, namun acapkali tusukan itu begitu kuat menggelitik pintu kelamin yang mulai basah.

Tiba-tiba mata lentik Zuraida menangkap tubuh Andini yang bergerak liar diatas pangkuan Arga. Naik turun dengan penuh semangat. Mungkinkah Arga tengah menyetubuhi gadis mungil itu.

Hati Zuraida begitu nelangsa, merintih bertanya pada hati yang terluka, kenapa Arga tidak mencumbu dirinya, padahal tadi tubuhnya telah pasrah untuk melayani apapun keinginan lelaki itu.

“Argaaa,,,” ucap Zuraida lirih, membuat Pak Prabu ikut menoleh mencari sosok Arga.

“Pak,,, apa mereka sedang bercinta?,,,” tanya Zuraida, seolah ingin meyakinkan apa yang dilihatnya.

“Mungkin,,,” jawab Pak Prabu ditelinga wanita yang masih tertutup jilbab itu.

Berbeda dengan Zuraida, Hati Pak Prabu justru bersorak girang. “Thanks Argaaa,,, Its time for me,,,”

Melihat kesempatan yang baik, dengan perlahan wajah Pak Prabu menunduk lalu menciumi gundukan payudara yang hanya tertutup gaun tipis, lidahnya dapat merasakan puting kecil yang mencuat.

“Oooowwhhhh,,,, Eeenngghhh,,,” bibir wanita itu melenguh saat lidah yang basah berlabuh diputing mungilnya. Kain tipis yang melindungi payudaranya dengan capat basah oleh ludah Pak Prabu.

Merintih saat bagian kecil dipuncak gunung yang hangat dihisap, dicucup, disedot dengan cara yang lembut. Meringis saat kumis yang tajam menembus kain dan menusuk gundukan payudaranya.

Perlahan mata Zuraida turun, menatap sendu lelaki yang tengah menyusu dipayudaranya dengan begitu bersemangat, menjilati puting yang mengeras dibalik kain tipis.

Mata bening itu beralih memandang kekejauhan, pada sosok mungil yang naik turun bergerak penuh semangat, layaknya mengendarai kuda rodeo, sesekali gadis yang gaun atasnya sebagian telah melorot itu menunduk, membiarkan pejantan yang ada dibawahnya untuk menyucup payudara. Menggeliat menikmati permainan lidah yang panas.

“Arga,,, Seharusnya kau yang menikmati tubuh ini,,, tapi kenapa kau lebih memilih gadis itu daripada diriku,,,” hatinya sangat kecewa, tapi sedikitpun tidak ada amarah, Karena kondisinya kinipun jelas akan membuat Arga marah. Karena dia tau, Arga bukan pria yang bertindak semaunya, tapi sialnya dirinya sedikitpun tidak tau apa alasan Arga melepaskannya.

Zuraida menyandarkan kepalanya ketembok, bibirnya melenguh saat puting kecilnya digigit dengan lembut.

“Ooowwhhhh,,, Paaak,,, kenaapaaa digigiiit,,,,”

Tapi Pak Prabu justru tertawa, lalu kembali memainkan puting mancung layaknya milik para gadis remaja.

“Eeeeengghhh,,, Eeemmmpphhh,,,” Zuraida mengatup rapat bibirnya, kepalanya mengeleng-geleng berusaaha mengenyahkan rasa nikmat yang merambati tubuhnya.

Walau bagaimanapun Zuraida adalah seorang wanita normal, sulit untuk mengingkari segala kenikmatan yang diberikan oleh Pak Prabu. Cumbuannya bersama Arga selama berdansa membuat tubuhnya menagih lebih.

Merasa yakin wanita yang dicumbunya telah bisa menerima apa yang tengah mereka lakukan. Pak Prabu berusaha menurunkan gaun Zuraida, lidahnya sudah sangat gatal untuk merasakan langsung lembutnya puting yang ada dalam genggaman.

“Paaak,,, jangan disini,,, jangan disiniii,,,” elak Zuraida. Menahan gaunnya.

Lelaki itu tersenyum, tersenyum sangat lembut dibalik kumis tebal yang melintang. Menatap Zuraida dengan pandangan yang sedikit berbeda.

Membuat si wanita salah tingkah, ada sesuatu dimata Pak Prabu, pandangan penuh kasih yang tadi siang dilihatnya dari mata Arga.

“Buu,,, seandainya ibu tau,, saya selalu mengaggumi ibu. Saya selalu terpesona setiap ibu mampir kekantor, seorang wanita yang energik, cerdas, namun juga begitu lembut, saya selalu mendambakan punya pasangan seperti ibu,,,” ucap Pak Prabu coba merayu.

Tak ada wanita yang tidak tersangjung bila dipuji. tapi Zuraida menggeleng, seakan menyatakan usaha Pak Prabu akan sia-sia.

“Maaf saya bukan sedang merayu untuk mendapatkan tubuh Bu Dokter,” Pak Prabu kembali membetulkan gaun Zuraida.

Sikap Pak Prabu membuat Zuraida benar-benar salah tingkah. Zuraida bukan wanita yang mudah tertarik pada pesona seorang pria, tapi hati yang limbung membuat segalanya menjadi tak menentu.

“Lalu apa yang bapak ingin sekarang?”
Pertanyaan yang lugas dan tegas, kini giliran Pak Prabu yang bingung. Bohong bila dirinya tidak menginginkan tubuh wanita yang kini ada didepannya.

Bisa saja dirinya memaksa wanita yang kini ada didepannya untuk melayani hasratnya atas dasar janji yang diucap. Tapi entah kenapa hal itu tidak dilakukannya. Bibirnya justru tersenyum lalu tertawa.

“Hehehee,,, maaf,,, saya benar-benar minta maaf sudah memperalat ibu, saya menjadi merasa sangat berdosa pada ibu, lupakanlah janji itu. Tapi,,, emmhh,, boleh saya mengecup bibir ibu,,,”

Zuraida sangat kaget dengan perubahan Pak Prabu, tapi ia bisa menangkap kesungguhan seorang lelaki yang disampaikan dalam keremangan malam. Wanita itu mengangguk, memejamkan matanya, membiarkan bibir Pak Prabu berlabuh dibibirnya yang hangat.

“Terimakasih Bu,,,” ucap lelaki itu setelah melepaskan bibir Zuraida, memenuhi janjinya, hanya sebuah kecupan. “Sebenarnya pengen lebih lama sih,,, tapi takut tegangan ini saya naik lagi,,,” Pak Prabu mencoba berkelakar sambil menunjuk selangkangannya.

Tapi hanya dijawab Zuraida dengan senyuman, senyum manis yang begitu memikat kelelakian Pak Prabu. Tampak wanita itu berusaha untuk bertahan, tidak terlena dengan kehangatan yang ditawarkan Pak Prabu.

“Saya lebih suka melihat ibu tersenyum seperti ini daripada merintih karena itunya saya tusuk,,,hehehe,,”

Kali ini mau tidak mau Zuraida tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Lalu mencubit tangan Pak Prabu.

“Ayo kita kembali kesana,,,” ajak Pak Prabu, menggandeng tangan siwanita.

Pooong !!!,,,
Selesai begitu saja? Zuraida tertegun, apakah Pak Prabu telah menyerah untuk mendapatkan tubuhnya. Sisi kewanitaannya yang liar cepat mengambil alih. Entah kenapa rasa Kecewa menyergap hatinya, kecewa dengan sikap Pak Prabu yang mengangkat bendera putih.

Masih dirasakannya gaun nya yang basah setelah dijilati Pak Prabu, rasa gatal pada bagian puting yang baru saja menerima gigitan nakal seorang penjantan.

Tapi wanita itu berusaha menghormati keputusan Pak Prabu, keputusan yang menyelamatkan kehormatannya sebagai seorang wanita, keputusan yang menyelamatkannya dari rasa bersalah kepada Arga dan Dako.

“Paaak,,, maaf saya tidak bisa memenuhi janji saya,,, tapi,, emmh,, kalau bapak ingin memeluk saya,,, eenghh boleh koq,” tawar Zuraida tiba-tiba. Entah apa yang dibenak wanita itu. Benarkah sekedar ucapan terimakasih atas aksi heroik Pak Prabu?

Pak Prabu tertawa, lalu merentangkan kedua tangannya. Membiarkan si wanita yang masuk kedalam pelukannya.

Dengan malu-malu Zuraida mendekat, menempelkan tubuhnya, dan membiarkan tangan yang kekar mendekap erat tubuh. Tangannya balas memeluk punggung Pak Prabu.

Masih dengan gaya yang malu-malu, Zuraida menekuk wajahnya dileher yang berkeringat, memancarkan wewangi tubuh seorang lelaki. Seketika tubuhnya merinding, otaknya merespon aroma seorang pejantan.

Lama keduanya terdiam, terdiam dalam kisruh yang melanda hati, tanpa disadari , pelukan tangan Zuraida justru semakin erat.

Pelukan memang selalu mampu memberikan kedamaian, semakin erat Zuraida memeluk, semakin dirinya merasakan sisi kewanitaannya. Kodrat sebagi wanita yang juga membutuhkan kehangatan. Kodrat sebagai wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang menjadi pelampisan hasrat pandangan para lelaki.

Pak Prabu berusaha menaikkan kembali resluiting yang terbuka. Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa sangat menyayangi istri bawahannya itu. Kebersamaan selama liburan memang membuat interaksi diantara mereka menjadi lebih intens, meski kadang dilakukan dengan cara yang nakal.

“Pak,,, emmhh,, biarin aja,,,” ucap Zuraida terbata.

Deg,,,, Pak Prabu terdiam,,, pikirannya tidak berani berasumsi macam-macam, apa maksud dari kalimat yang terucap tepat disamping telinganya. Lalu kembali mengusap-usap punggung yang terbuka, menikmati kehalusan kulit seorang Zuraida.

“Kamu ngga dingin?,,,” ucap Pak Prabu memecah sunyi.

“Dingin bangeeet,,,”

Pak Prabu semakin bingung, kenapa wanita itu justru menolak saat tangannya ingin mengancingkan resluiting untuk menutupi tubuhnya. Apa yang diinginkan wanita itu. Tapi dirinya hanya berani memeluk, meski hasratnya kembali terpercik.

Tiba-tiba Pak Prabu merasakan kecupan lembut dilehernnya, hanya sesaat, tapi itu cukup untuk membangkit gairah kelelakiannya. Tangannya kembali beredar, mengusap setiap sisi pundak dan punggung yang terbuka.

“Paaak,,,”

“Maaf sayaaang,,, maaf,,,” ucap Pak Prabu, menarik tangannya kembali kebelakang setelah memberikan remasan nakal dipayudara yang membusung.

“Paaak,,, Sentuh dari dalam,,,”

DEG,,, Pak Prabu kaget, tapi telinganya tidak mungkin salah dengar. Kata-kata itu diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Lalu kembali meremas payudara dengan lebih kuat, untuk meyakinkan apa yang didengarnya.

“Emmmpphh,,, Paaak,,, sentuh dari dalam,,”

Pak Prabu semakin bingung. Melepaskan pelukannya, memegang sisi gaun Zuraida, saling tatap dengan mata bening yang indah.

Ditingkahi nafas yang memburu, wanita itu mengangguk.

Setelah mengambil nafas, Pak Prabu coba menurunkan gaun dari pundak Zuraida. Dikegelapan matanya masih dapat melihat kemulusan pundak si dokter Cantik.

Zuraida menatap wajah Pak Prabu, dengan tangan yang gemetar berusaha melolosi kain yang dikenakannya. Ada rasa bangga dihati saat melihat binar mata sang pejantan yang mengagumi payudara yang terhampar didepan wajah.

“Paaaak,,, iniii punyaaa sayaaa,,, seperti iniii punyaaa saayaaa,,,” lirih suara Zuraida saat kedua payudaranya mulai disapa, diusap, dan diremas berulang-ulang.

“Indah banget Bu,,, besar,,, kencang,,, mancung seperti anak remaja,,,” Mata Pak Prabu tak beralih dari sepasang daging yang terus diremasinya. Tak menghiraukan kondisi si wanita yang mulai terengah-engah.

“Buuu,,, boleehh sayaaa,,,”

Sambil beradu pandang, Zuraida meremas rambut Pak Prabu, “Sebentar aja ya Pak,,,” ucapnya gemetar, lalu menarik kepala Pak Prabu kepayudara kirinya.

“Aaahhhss,,”
“Aaaahhh,,,” bibirnya mendesis setiap lidah Pak Prabu berlabuh. Ada rasa gregetan saat menyaksikan lelaki itu hanya menjilat-jilat putingnya yang mengeras.

“Paaaak,,,”
Masih dengan lidah terjulur, mata Pak Prabu melirik keatas.

“Paaaak,,, maaf,,,,” ucap Zuraida pelan, lalu menjambak rambut Pak Prabu, bukan mendorong, tapi membenamkan wajah lelaki itu pada kenyalnya daging yang membusung menantang.

“Owwwgghhh,,,” bibirnya terpekik,,, menatap nanar mulut lelaki yang melumat bulat payudara, mengunyah dengan sedikit kasar. Membuat tubuh wanita itu semakin tersandar ke dinding.

Belum lagi kumis yang menusuk-nusuk kulit yang memiliki tekstur sangat lembut, membuatnya harus menggigit bibir, meredam rasa geli.

Tubuh Zuraida semakin merinding saat pahanya tersentuh oleh sesuatu yang keras, yang tersembunyi dibalik selangkangan Pak Prabu.

“itu penis Pak Prabu,,,” pekik hati Zuraida, “Penis yang tadi pagi hampir saja memasuki liang kemaluanku, penis yang menghambur sperma didepan vaginaku,”

Zuraida membiarkan penis Pak Prabu bermain-main dengan pahanya. Membiarkan lelaki itu menggesek-gesek batang yang mengeras kesetiap sisi bagian bawah tubuhnya.

Tubuhnya merespon dengan mendorong pantatnya kedepan, seolah meminta agar batang itu menggeseki bibir vagina yang gemuk.

Gayung bersambut, Pak Prabu menatap Zuraida, lalu menggesekkan batang yang sudah sangat mengeras kebagian cembung dari selangkangan. Tak ingin kalah, si wanita justru semakin mendorong pantatnya kedepan, seakan berkata inilah milikku, mana milikmu,,,

Semakin kuat gesekan, semakin cepat nafas Zuraida membuuru.

Tak puas dengan gesekan batang penisnya yang terhalang oleh celana, Tangan Pak Prabu terhulur turun. Dibawah tatapan siwanita, telapak tangannya mengusap lembut vagina berbalut kain, membuat pemiliknya mendesah tertahan.

“Buka lebih lebar, Bu,,,” pinta Pak Prabu, yang segera dikabulkan siempunya dengan melebarkan paha. Tapi gaun yang ketat membuat gerakannya terhalang.

Zuraida mengangguk, menyetujui usaha tangan Pak Prabu yang bergerak kebelakang tubuhnya, menarik turun resluiting hingga kesudut mati, tepat didepan pantat siwanita.
Lalu perlahan menyelusup, meremas pantat yang membulat padat yang hanya dilapisi celana dalam tipis.

Zuraida cepat menarik tangan Pak Prabu, bukan untuk mengenyahkan tapi agar masuk langsung kebalik celana dalamnya, lalu kembali memeluk tubuh Pak Prabu.

Entah apa yang ada dikepala Zuraida, saat mengatup rapat bibirnya, membiarkan telapak tangan yang kasar menyelusup kebalik celana dalamnya. Menyusuri belahan pantatnya, menggelitik liang anusnya,,, dan,,,

“Ooowwwhhh,,,, Paaaak,,,,” tubuh wanita itu melejit seketika, gemetar ketika bagian paling sensitif ditubuhnya merasakan sentuhan dari kulit yang kasar. Meski bisa menebak arah yang dituju oleh tangan Pak Prabu, tetap saja tubuhnya kaget.

Bila tadi pantatnya terdorong kedepan, kini pantat yang membulat itu justru menungging kebelakang.
“Eeeenggghhh,,,

“Lembut bangeeet Buuu,,, vaginamu lembut bangeeet,,, sayaaang,,,”

Mendapatkan pujian itu Zuraida justru mencubit pinggang Pak Prabu. “Emmhh,,,kalo pintu rumah baru keraass,, Pak,,” ucapnya disela nafas yang naik turun.

“Paaak,,, jangaaan tusuuuk terlaluuu dalaaam,,, geliiii,,,” rintihnya, namun pinggulnya justru bergerak mengejar jari Pak Prabu yang bergerak keluar. Seakan berharap jari yang kasar itu tetap berada didalam liang kemaluannya.

“Bibirmu mana sayaaaang,,,” seru Pak Prabu.

Zuraida seperti kesurupan, seperti bukan dirinya yang biasa, seperti wanita yang telah lama tidak merasakann jamahan tangan seorang lelaki, seperti wanita yang begitu haus akan belaian manja seorang lelaki.

Wanita itu tidak mengelak saat Pak Prabu melabuhkan bibir, berusaha menyelusup kedalam mulutnya, menghirup aroma nafas dari hidung mereka yang bertemu, membiarkan lelaki itu mengecapi lidahnya, menyedot ludah dengan sangat rakus.

Tangan Pak Prabu tak lagi bergerak, terdiam didalam liang kemaluan yang basah, terkonsentarasi pada bibir Zuraida.

Merasa kenikmatan yang tengah dirasakan oleh selangkangannya terhenti, pinggul wanita itu reflek bergerak sendiri, memainkan bibir vagina pada telapak tangan yang kasar dan jari tengah yang menusuk kedalam lorong yang membanjir.

“Paaaaak,,, eeengghhhh,,, aaahhssss,,,” Zuraida terengah-engah, pantatnya bergerak semakin cepat, seolah tengah mengawini tangan kekar yang mematung diselangkangannya.

Melihat keadaan Zuraida, dengan cepat tangan kiri Pak Prabu mengeluarkan batang penisnya, lalu menarik tangan Zuraida agar menggenggam.

Mata Zuraida melotot, tidak menyangka, dirinya yang selalu mengenakan penutup kepala kini justru menggenggam batang kemaluan, milik atasan suaminya.

“Buuu,,, biarkan penis saya yang melakukannya Bu,,,,”

Dengan pinggul yang masih bergerak menyenggamai tangan Pak Prabu, wanita itu menggeleng, wajahnya tampak pucat mengejar orgasme yang bersiap menghampiri.

Tapi wanita itu tidak mengelak saat Pak Prabu dengan tangan kirinya berusaha menyingkap gaun panjangnya keatas.

“Bu,,, bantu saya menuntaskan hasrat saya Bu,,, saya janji tidak akan menusuk liang kemaluan ibu,,, cuma jepitin dengan paha ibu seperti tadi pagi.,,,” mohon Pak Prabu, sambil terus menarik gaun Zuraida keatas. Tapi terlalu sulit, gaun itu membekap cukup ketat.

“Bu,,, ikut sayaaa,,” pinta Pak Prabu tiba-tiba, menarik tangan dari selakangan, lalu membopong tubuh Zuraida yang tengah sakau akan orgasme, keluar melalui pintu yang ada disamping mereka bercumbu.

“Paaaaak,,, bapak mau ngapain?,,,” tanyanya saat tiba ditembok luar, Pak Prabu membalik tubuhnya kearah tembok.

“saya mohooon Paaak,,, jangan ingkari janji bapaaak,,,” pinta Zuraida pada lelaki yang kini berusaha menarik gaunnya lebih tinggi. Lalu dengan cepat menurunkan celana dalamnya.

“Oooowwgghhh,,, Paaaak,,, Ooogghhh,,,” Zuraida tidak menyangka, vaginanya yang tak lagi memiliki pelindung dilumat dengan rakus. Tubuhnya menggeliat liar. Kumis yang ikut menusuk kulitnya, membuat pinggul wanita itu bergerak tak menentu.

“Zuraidaaaaa,,,”

Sluuuurrpppsss,,,,

“Memeeeqmuuu,,, ooowwhhss,,,”

Sluuurrrppss,,,

Pak Prabu tak menyangka, akhirnya bisa merasakan cairan gurih dari seorang wanita bernama Zuraida, selama ini matanya hanya bisa memandang bulatan pantat dan selangkangan yang selalu tertutup kain itu. hanya bisa membayangkan seperti apa bentuk dari benda yang ada didalamnya.

Selama ini, otak mesumnya hanya bisa berkhayal, kenikmatan seperti apa yang ditawarkan oleh liang surga seorang wanita cantik yang selalu mengenakan jilbab.

Tapi kini,,, selangkangan wanita itu bergerak mengikuti kemanapun lidahnya menari. Memohon lidahnya masuk lebih dalam, mengais-ngais cairan yang terus merembes keluar.

Berkali-kali Pak Prabu menyedot bibir vagina yang mengeluarkan cairan bening, begitu haus mengecapi vagina yang teramat basah. Tak henti-henti pula bibir wanita itu mendesis dan menjerit ketika bibir Pak Prabu menyedot terlalu kuat.

“Sudaah ya paaak,,, saya takut kebablasan,,,” mohon Zuraida ketika Pak Prabu menghentikan aksinya, memutar tubuhnya berhadapan.

“Bu,,, saya akan menepati janji sayaa,, tapi bolehkan kalo saya nyelipin dipaha ibu seperti tadi pagi,,,” pinta Pak Prabu.

“Tapi pak,,”

“Buu,, apa saya pernah mengingkari janji?,,, saya hanya butuh penyelesaian, Bu,,,” potong Pak Prabu.

Zuraida memandang wajah Pak Prabu dengan bingung, memang hingga saat ini atasan dari suaminya itu selalu menepati janji.

Akhirnya, dengan berat hati Zuraida mengangguk, membiarkan lelaki itu mendekat, lalu membuka pahanya lebih lebar. Pak Prabu harus sedikit menekuk kakinya untuk memposisikan batangnya berada tepat dibawah vagina Zuraida.

“Eeengghh,, Paaak,,, koqhh,, sepertii iniii,,,” protes Zuraida, merasakan batang itu justru menggesek-gesek bibir vaginanya yang basah.

“Maaf Bu,,, posisinya sulit bangeeet,,,” jawabnya sambil menekuk kaki semakin dalam, berusaha menggesek batangnya lebih kebawah.

Sambil menahan rangsangan Zuraida mengamati posisi Pak Prabu yang memang sulit.
“Eeengghh,,, yaa sudaaaah,,, tapi tolooong paaaak,, jangaaan sampaai massuuukk,,, Aaaahhhsss,,,”

“Buuuu,,, nikmaaat bangeeeet,,,Eeesshhhh,,,” Pak Prabu memandang wajah Zuraida sambil mendesis nikmat, bergerak maju mundur menyenggamai bibir vagina yang sangat basah.

Sementara Zuraida hanya bisa mengagguk, tubuhnya ikut bergerak, menyambut setiap tusukan yang menyusur didepan bibir vagina.

Hati Zuraida mulai goyah saat memandangi wajah Pak Prabu, wajah yang galak tapi tegas, dengan rahang yang lebar layaknya wajah sang legenda Gajahmada. Hanya saja kumisnya terlalu lebat. Hati Zuraida tersenyum sendiri.

“Seandainya kumis itu dibersihin, meski sudah memasuki usia paruh baya, pasti lelaki ini akan terlihat lebih cute,” bisik hati Zuraida.

“Paaak,,, Terimakasih,,, selalu menemani saat hatiku sedang kacau,,,” ucap Zuraida tiba-tiba, membuat Pak Prabu kaget, Memandang wajah Zuraida. “Ingin sekali saya membiarkan punya bapak masuk kedalam tubuh saya, tapi saya,,, saya akan merasa sangat bersalah,,, maaf ya pak,,,” lanjutnya. Tangannya mengusap wajah Pak Prabu.

“Saya juga tidak akan meminta lebih koq Bu,,,, saya bisa mengerti kondisi ibu,,” Pak Prabu menghentikan gerakan pinggulnya. Membuka tangannya lebar, mengajak tubuh Zuraida masuk kedalam pelukannya.

Tapi Zuraida menggeleng, menolak ajakan Pak Prabu, dengan gaya yang manja memanyunkan bibirnya. Tangannya yang masih mengusapi pipi berpindah mengusap kumis yang lebat. Lalu iseng menyelipkan telunjuknya dibibir Pak Prabu.

Birahi membuat wanita itu ingin berlaku nakal, seperti Aryanti dan lainnya.

Dibalik tembok tempat dirinya bersandar, ada suaminya yang terus menemani Aryanti, ada Arga, cinta masa lalu yang kini kembali menyulut gelora cinta yang terpendam. Tapi lelaki itu kini berada dalam dekapan wanita lain.

Dan ditempat ini,,, hanya ada dirinya dan seorang pria yang sangat menggilai tubuh dan kecantikannya. Tak ada yang tau jika dirinya membiarkan batang keras yang berada tepat diselangkangan memasuki tubuhnya.

“Paaak,,, bapak diam aja yaa,,,”
Tangannya mencengkram pinggang Pak Prabu , lalu menggerakkan pinggulnya, menggesek bibir vagina pada batang yang mengeras layaknya kayu.

“Eeemmmpphhh,,, Eeemmmppphhhh,,,” Zuraida merintih.

Birahi mengambil alih akal sehatnya, menyilangkan kedua pahanya, membuat penis Pak Prabu sulit untuk menyelusup hingga akhirnya merangsek keatas, membelah gerbang kemaluannya.

“Oooowwhhsss,,, Paaak,” Zuraida terpekik, helm besar itu hampir saja menerobos memasuki kemaluannya. Segala sarafnya menegang.

Dengan menyilangkan kedua paha. Otomatis helm penis itu kini bergerak kesatu arah, bergerak intens menguak gerbang vagina yang basah.

Tapi jepitan pahanya terlalu kuat, membuat batang itu tertahan dipintu masuk.
Zuraida panik, sementara Pak Prabu mulai menggerakkan batangnya, terus mencoba merangsek masuk.

“Sayaaang,,, berbalik yaaa,,,” pinta Pak Prabu dengan gemetar, tak tahan dengan gaya nakal Zuraida.

“Paaak,,, cepet selesein yaa,,,” Zuraida menatap Pak Prabu, pandangan yang mengundang lelaki itu untuk menikmati tubuhnya secara nyata.

Setelah menghadap tembok, wanita yang masih mengenakan jilbab itu menoleh kebelakang, sekali lagi menatap wajah mesum Pak Prabu, lalu merentang lebar kakinya.

“Zuraidaaaa,,, kamu nakal Zuraidaaa,,, kamu nakaaaal,,,” teriaaaak hatinya, seiring tubuhnya yang perlahan membungkuk, menunggingkan pantat montok yang membulat kedepan penis Pak Prabu.

Tak ada pertahanan sedikitpun, sangat mudah bagi Pak Prabu untuk menusuk vagina dokter cantik itu.

“Buuuu,,, tubuhmu benar-benar indah,” Pak Prabu mendekat, meremas bongkahan daging yang tersaji, memposisikan batang tepat didepan gerbang vagina yang terkuak basah.

Wanita itu memejamkan matanya, dengan jantung berdebar menunggu penis Pak Prabu menguak bibir vaginanya dengan perlahan.

“Ooowwwhhh,,,, Pak,,,”
Tapi tiba-tiba batang itu melengos keluar, hanya menyusur lipatan bibir vagina. Tangan Zuraida mencengkram pohon kecil yang ada disampingnya dengan gregetan.

Zuraida bingung, kenapa hatinya justru kecewa saat batang itu urung memasuki tubuhnya. Seharusnya ia bersyukur.

Sementara Pak Prabu menggeram, menahan hasratnya. Bergerak menyetubuhi wanita yang telah pasrah hanya dari sisi luar.

“Buuu,,, saya akan selalu berusaha menepati janji saya,,, Eeemmpphh,,,” Tangannya merengkuh kedepan, menggenggam sepasang payudara yang menggantung.

“Terimakasih Pak,,,” jawab Zuraida setengah hati. Membiarkan tubuh dibelakangnya bergerak menggeseki bibir vaginanya. Membiarkan tangan lelaki itu menggerayangi setiap bagian tubuhnya

“Buuu,,, saya tidak tau seperti apa rasa nikmat dari lorong kemaluan ini,,,,”

Sesekali dengan nakal Prabu memasukkan sebagian jamur penisnya kebibir vagina seperti sengaja menggoda Zuraida.

Berkali-kali pula bibir tipis itu merintih kecewa saat jamur yang besar, memasuki sebagian lipatan vagina, tapi kembali melengos keluar.

“Bu,,, pegangin punya saya Bu,,,” pinta Pak Prabu, menarik tangan kanan Zuraida kebatang yang ada diantara kedua pahanya.

“Basaaaah,,, batang ini sudah sangat basah,,,” pekik hati Zuraida saat menggenggam penis Pak Prabu yang penuh dengan cairan yang keluar dari bibir kemaluannya.

Pak Prabu kembali menggerakkan pinggulnya, namun saat ini kendali batang penis lelaki itu berada dijari lentik Zuraida sepenuhnya. Jari lentik itu dapat mengarahkan batang besar kemanapun dirinya mau.

“Oooowwwhhhssss,,,Paaak,,,” Zuraida terkaget, saat jari-jarinya menekan penis itu menyusuri bibir kemaluan.
Akibat tekanan dari tangannya, Sentuhan yang dirasakan oleh bibir vaginanya terasa lebih kuat. Membuat tubuhnya menggelinjang.

Begitu pun pak prabu yang merasakan batangnya terjepit diantara telapak tangan dan bibir kemaluan. Semakin cepat pinggulnya bergerak menusuk, semaki kuat tangan wanita itu menekan keselangkangannya.

“Buuu,,, saya tidaaaak kuat Buu,,,, masukin Buu,,, Ooowwhhh,,, biarkan batang saya menjamah bagian terdalam memek ibu,,,”

“Buuu,,, memek muuu manaaaa,,, masukin Buuu,,, sayaaa mohooon,,,”

“jepit kontol saya kedalam memek ibuuu,,,”

Pak Prabu mulai meracau vulgar, meminta kenikmatan yang lebih. membuat birahi Zuraida semakin terbakar.

Bibirnya mendesis, badannya menggeliat tak menentu, pantatnya bergerak melakukan perlawanan, telapak tangannya dengan kuat menekan batang kebelahan bibir vagina.

Diantara kewarasan yang tersisa, Zuraida mengumpat kesal, lelaki yang tengah menunggangi tubuhnya itu memiliki kuasa penuh untuk menikmati liang kemaluannya, tapi kenapa justru meminta dirinya untuk melakukan.

“Aaaahhhsss,,, jangan paaaak,,, jaaangaaan buat sayaaa sepertii perempuaaan murahaaann,,, Ooowwwhhsss,,,”

“Buuuu,,,, saayaaa berusahaaa menepatii janjii sayaaa,,, sekaaraang tepati janjii ibuuu,,, plisss sayaaanng,,,”

“Oooowwhhhssss,,,,, siaaaaal,,,” Zuraida mengumpat kesal. Haruskah ia mendustakan prinsip yang selalu dipegangnya, hanya akan melakukan diatas dasar cinta.

Sementara batang Pak Prabu semakin sering menyelinap kedalam, membuat alat senggamanya berteriak menagih sebuah hujaman batang penis yang sesungguhnya.

“Paaaak,,, jangan buaaat sayaaa merasaaa berdosaaa, paaakk,,, aaaaeeenggghhhss,,,”

Zuraida semakin menungging, berusaha memamerkan sebagian pintu vaginanya kemata Pak Prabu, dikegelapan. Sisi liarnya berharap lelaki itu bersedia merojok pintu vagina yang terbuka lebar didepan penis yang mengacung.

“Ooowwwwhhhh,,, paaaak,,,, haaaampiiirr paaaak,,,” jantung Zuraida berdebar kencang, ketika kepala jamur yang besar tanpa sengaja berhasil melewati pintu vaginanya. Tapi dengan cepat Pak Prabu menarik kembali batangnya.

“Aaaawwwwhh paaaak,,,”

“Paaaak,,, kenapaaa punya sayaaa digituiiiin,,,”
“Eeeengggghh bapaaaak curaaaang,,,” jerit Zuraida.

Sadar kejadian tadi bukan suatu ketidaksengajaan, tapi Pak Prabu memang tengah bermain dengan lorong bibir vaginanya. Hanya memeasukkan sebagian kepala jamur, lalu kembali menarik keluar. Terus dan terus,, membuat Zuraida menggila.

“Argaaa,, maafin Zeeee,, maafin Zeeee,,, Zeee ngga kuaaat sayaaang,,,”
Air mata menetes dari mata yang bening, saat tangannya menggengam kuat batang Pak Prabu, membuat pinggul lelaki itu berhenti bergerak.

Dengan jantung berdebar Zuraida perlahan meletakkan kepala penis itu tepat digerbang peranakannya, dengan kaki dan paha yang gemetar, pantatnya bergerak menekan, membuat batang Pak Prabu perlahan menghilang kedalam alat senggama.

“Oooowwwssshhh,,,,, aaahhh,,,,,” seketika bibirnya melenguh saat rongga yang basah merasakan tekstur dari batang yang keras. Terus dan terus masuk hingga kebagian terdalam.

“Buuuu,,, terimakasih Buuuu,,,, punyamu benar-benar nikmaaat,,, owwhh,,,”

Zuraida mengagguk lemah, “Silahkan paaak,,, silahkaan bapaaak nikmatii,,, saya sudah memenuhi janji sayaaa,,”

Pak Prabu mengecup punggung Zuraida yang terbuka, mencengkram bulatan pantat yang tengah dibelah oleh penis besarnya. Lalu bergerak menyenggamai wanita yang jilbabnya tampak lusuh, pasrah akan apapun yang akan dilakukan si lelaki.

“Oooowwhh,,,, Akhirnya aku bisa ngentotin memek istrimu, Dakooo,,,”

“Argaaaa,,, pacaaaarmu aku entotin, Gaaaa,,,” teriak Pak Prabu ditelinga Zuraida, pantatnya bergerak

Zuraida meradang mendengar kata-kata Pak Prabu. tangan kekar lelaki itu begitu kuat mencengkram pinggulnya, vaginanya dengan cepat ditusuki batang yang begitu keras.

“Argaaaa,,, memeknya benar-benar nikmat, Gaaa,,,” semakin kasar kata-kata yang keluar dari mulut Pak Prabu, semakin cepat lelaki itu menghentak vagina si Dokter cantik.

“Maaaasss,,, aku disetubuhi bosmu maaass,,,”

“Argaaaa,,, tolong aku, Gaaaa,,,”

“Eeeeengghhh,,,,” suara rintihan Zuraida begitu memelas.

Tubuhnya terguncang menerima hentakan yang kasar, tapi siapa yang menyangka bila pantat mulus yang membulat itu justru semakin menungging, bergerak liar menerima setiap tusukan. Menggenggam tangan Pak Prabu yang kini meremasi kedua bulatan payudara, menjadikannya sebagai tali kekang untuk mengatur gerak tubuh siwanita.

“Oooowwwhhhssss,,, Paaaaakkk,,, sayaaaa ngga kuaaaat,,,,”
Kata-kata kasar Pak Prabu justru membuat dirinya bersiap menerima badai orgasme.

“Sayaaaa keluaaaaar,,, Aaaarrggghhhsss,,,”
“Sayaaaa keluaaaaar,,,,” tubuh indah itu menari menggelinjang, menahan batang Pak Prabu jauh didalam lorong, mencengkram erat sambil memuntahkan cairan yang menyiram kepala jamur.

“Buuuu,,, sayaaa jugaaa buu,,,, sayaaaa jugaaaaaa Aaarrrgghh,,,”
“Sayaaaa semprot memeeek ibuuu,,,”

“Paaaak,, jangaaaan didalaaaam,, jangan didalam,” tersadar dari buai orgasme, berubah menjadi panik.

Tangannya dengan cepat menggenggam batang yang hendak kembali menusuk,, dan,,,

“Aaaarrgghh,,,,” tubuh Pak Prabu mengejang, sperma menghambur dalam genggaman tangan si wanita, tepat didepan bibir vagina. Sebagian menyemprot celah kemaluan yang masih terbuka.

Zuraida panik, menarik tubuhnya,,, jari tengahnya dengan cepat mengorek kelorong kemaluan, berharap bisa mengeluarkan cairan sperma yang bisa saja menyelusup kedalam, meski dirinyapun tak yakin ada cairan yang berhasil menyelusup masuk.

Lalu membersihkan ceceran kental yang menghias dibibir vagina dengan gaun panjangnya.

“Argaaa,, Argaaa,,,” wajah Zuraida pucat seketika, matanya menangkap sosok Arga yang berdiri tepat dipintu keluar.

Lelaki itu terlihat syok dengan apa yang dilihatnya. Tak mampu berkata apapun, hanya amarah yang meluap.

“Argaaaa,,, jangaaaan pergi Gaaa,,, aku bisa menjelaskan semua ini Gaaa,,,”
“Argaaaa,,, jangan pergi lagi sayang,,,” rengek Zuraida, dengan tangis yang memecah suasana.

“Buuu tunggu, bu,,, maafkan saya,,,” Pak Prabu berusaha menahan tangan Zuraida, berniat untuk menenangkan. Sekaligus tidak tega melihat wanita itu menangis.

“Pak, perjanjian kita sudah selesai. Segala janji yang terucap telah saya penuhi,,, tolong jangan ganggu saya lagi,,, saya mohon dengan sangat,,” ucapnya sambil terisak, berusaha melepaskan pegangan Pak Prabu. Lalu berlari mengejar Arga kedalam cottage.

Sebagian tubuhnya masih terbuka, bahkan payudara kanannya masih tertinggal diluar gaun, tapi wanita itu terus berlari mengejar Arga.

Tak menghiraukan pandangan Mang Oyik yang tengah menyetubuhi Sintya yang terbaring diatas sofa.
Tak peduli pada ulah Kontet yang tengah meremasi payudara mungil milik Andini.
Tak peduli pada tatapan bingung Aryanti yang berbaring diatas kursi untuk berjemur, dibawah tindihan tubuh suaminya, Dako, yang tertidur lelap diantara gundukan payudara.

“Argaaaa,,, kumohon dengarlah sayaaaang,,, aku mohooon,,” Zuraida terisak dihadapan Arga yang baru saja membuka pintu kamarnya.

“Yup,,, ada apa?,,,” ucap Arga datar, berusaha meredam emosi. Melangkah kedalam kamar.

“Masih kurang?,,, masih pengen minta kepuasan dariku,,,”

“Aku tau siapa kamu Zeeee,,, wanita yang tidak mudah menyerahkan tubuhnya kepada lelaki lain,,,”

“Aku tau kamu seorang wanita yang menjunjung tinggi norma, dan karena itu pulalah aku begitu mencintaimu,,,”

“Tapi tadi aku melihat mu benar-benar seperti wanita liar,,,, aku seperti tidak mengenalmu,,, lihatlah pakaianmu,,, lihatlaaaah,,, kau tak ubahnya seperti,,, sepertiii,,,, Sudahlah,,, cerita kita memang harus diakhiri,,, dan memang sudah berakhir,,,”

Kata-kata Arga begitu menyakitkan hatinya. Tak pernah sekalipun telinganya mendengar kata-kata kasar terucap dari bibir Arga. Tapi memang itulah yang terjadi

Zuraida menangis semakin kencang,,, seperti gadis kecil yang ditinggalkan ibunya, jatuh meringkuk disisi kasur dengan tubuh gemetar.

“Maaf kan akuuu,,, aku memang salah,,, maaaaf sayaaaang,,, hiksss,,,”

“Tapi aku ini wanita, aku telah memohon kepadamu,,, menyerahkan tubuh yang kau anggap hina ini sepenuhnya kepadamu,,, tapi kau menolak dengan dingin,,,”

“Kau yang melepaskanku, kau yang meninggalkanku dengan pria lain,,,”

Suara Zuraida hampir tak terdengar, hilang ditelan isak tangis.

“Arga,,, terimakasih untuk cintamu,,, maafkan laah aku,,, aku memang tidak pantas untuk dirimu,,,” wanita itu berusaha untuk bangkit, dengan mata berlinang berusaha menatap wajah Arga, seolah itulah terakhir kali dirinya dapat menatap wajah lelaki itu.

“Arga,,, meski berulang kali kau acuhkan aku,, meski berulang kali kau meninggalkan ku, aku selalu mencintaimu, sangat mencintaimu,,hikss,,, selamat tinggal, sayang.” ucapnya terbata, tak kuat mengucap kata terakhir.

Pertahanan Arga ambrol, lelaki perkasa itu melelehkan air mata. Air mata yang mampu ditahannya saat tubuh adiknya meregang nyawa dipangkuan, akibat kecelakaan.

Tapi air mata itu jatuh saat mendengar kata perpisahan dari seorang Zuraida. Mendengar jerit hati wanita yang tak terucap.

“Zeee,,, jangan menangis sayaaaang,,, jangaaaan menangis wahai kekasih hatiku,,, maafkan semua kebodohan dan ego ku,,,”

“Aku pun tak sesuci yang engkau harapkan, bahkan hatiku lebih kotor darimu,,”

Tubuh Arga menghambur memeluk tubuh Zuraida yang tampak begitu ringkih. Mengecupi air mata yang meleleh dipipi.

“Zeee,,, ” Arga menuntun Zuraida untuk duduk disisi kasur, menyapu wajah lembut yang basah oleh air mata.

“Maafkan aku, semua yang kulakukan selalu saja salah, meski itu untuk kebaikan mu,,,,” Arga menggenggam tangan Zuraida.

“Seharusnya diwaktu yang tersisa,, aku selalu memeluk mu, menghabiskan setiap detik bersamamu, tapi aku justru sengaja mengacuhkanmu, bahkan meninggalkanmu bersama lelaki lain. Maafkan aku,,,,”

“Arga,,, aku menyayangimu,,,, masih mencintaimu seperti dulu,,,” bibir Zuraida mengucap pelan, seperti tidak mendengarkan apa yang dikatakan Arga. Pikirannya masih merutuki kejadian beberapa menit lalu, saat tubuhnya bergerak begitu liar melayani Pak Prabu. Seorang wanita jalang yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Iya sayaaang,,, aku tauu,,, kau membuatku semakin merasa bersalah,,,”

Zuraida menatap lekat mata Arga, seolah mencari sesuatu dibalik tatapan tajam seorang lelaki. Tidak seperti tadi yang begitu dingin, binar mata yang beberapa tahun lalu selalu dirindukannya.

“Arga,,,” bibir tipisnya tampak ragu untuk mengucapsesuatu. Gundah terbaca jelas dari wajahnya.

“Ada apa sayang,,, tak perlu memikirkan sesuatu yang membuatmu bersedih, hingga waktu itu tiba, aku akan selalu berada disampingmu, tak akan meninggalkanmu sedetikpun,,,,”

“Sekarang beristirahatlah, aku tau kejadian tadi bukan sesuatu yang membuatmu gembira,,” membaringkan tubuh wanita yang sesekali masih sesenggukan menangis, berusaha melepas jilbab dan gaun yang melekat ditubuh Zuraida.

Wanita itu bingung dengan apa yang dilakukan Arga, tapi tubuhnya hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan lelaki itu pada tubuhnya. Tapi Arga hanya tersenyum. Meletakkan gaun yang sudah terlepas kelantai. Lalu beranjak menuju kamar mandi.

Lelaki itu kembali dengan membawa handuk kecil dan gayung yang terisi air. Dengan perlahan dan telaten menyeka wajah Zuraida, mengusap leher dan setiap sisi tubuh. Zuraida merapatkan pahanya saat usapan Arga tiba diselangkangannya.

“Jangan, Gaa,,,” larangnya, tak ingin lelaki itu mendapati cairan sperma yang masih tersisa diselangkangannya.

Arga mengangguk sambil tersenyum, meminta wanita merentangkan kedua pahanya. Senyuman yang tulus. Zuraida membuang wajahnya saat Arga mengangkat pahanya membuka lebih lebar.

Tangan Arga terdiam, meski sudah tau apa yang akan didapatinya dilipatan tersebut, tetap saja hatinya terasa sakit. Setelah menguatkan hati, tangannya bergerak mengusap membersihkan cairan kental yang melekat pada paha dan bibir vagina.

Setelah merasa cukup bersih, tangan Arga bergerak kebawah, membersihkan bagian yang lain.

“Wuuuhh,,, kaki mu kotor banget sayang,,, pasti tadi seru banget ya,,,” goda Arga.

Wajah Zuraida memerah, memukul tubuh Arga sambil merengut. “Jangan menggodaku, kata-katamu membuatku sedih, sayang,,,”

Setelah membersihkan tubuh Zuraida hingga kemata kaki, diselimutinya Zuraida, mengusap rambut wanita itu memintanya beristirahat. Zuraida kembali merengut manja, meminta Arga ikut masuk kedalam selimut.

ZURAIDA AND FRIENDS PART 9

Arga mendengus kesal, seharusnya malam ini bisa menjadi malam yang indah, tapi hati kecilnya seakan memberi perintah untuk membuat benteng pertahanan untuk luka yang lebih, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Setelah menikmati cinta dan kasih sayang yang diluahkan oleh Zuraida, membuat lelaki itu sempat berfikir untuk terus menjalin hubungan dengan Zuraida, walaupun itu harus menghianati Aryanti dan Dako.

Tapi akal waras nya masih bisa memprotect, maka tak ada pilihan selain menjaga jarak dengan Zuraida secara perlahan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk wanita itu.

Niat itu sempat goyah saat menatap keanggunan Zuraida malam itu, tubuh semampai yang dibalut longdress putih, begitu memukau matanya. Arga coba menegarkan hati saat wanita itu membawakan lagu ‘Broken Angel’.

Tak tega melihat kemurungan Zuraida akibat sikap cuek yang sengaja dipertontonkannya. Ingin sekali dirinya berlari menghampiri dan memeluk wanita yang begitu cantik dalam balutan jilbab putih.

Tapi semakin dirinya mencinta, semakin besar kesadarannya, Cinta mereka tidak mungkin bersatu, bertahan dalam hubungan semu hanya akan membuat Zuraida dan dirinya semakin terluka.

Sepanjang pesta, mata Arga silih berganti menatap Zuraida dan Aryanti. Antara ego hati dan rasa bersalah, bagai dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisah, namun tak mungkin pula untuk dipertemukan menjadi satu.

Ajakan Aryanti untuk bertukar pasangan hanya membuat keadaan semakin rumit. Hingga akhirnya hatinya kembali terjerembab dalam pelukan cinta Zuraida yang syahdu. Menikmati segala cumbu Zuraida diantara irama tubuh mereka yang mengalir mengikuti irama musik, dengan cinta yang tertahan, tak mampu diluahkan.

Ada rasa rindu saat telapak tangannya mengusapi kemaluan si betina, tentang kenikmatan yang ditawarkan, kepasrahan yang nyata untuk dipuaskan oleh batangnya yang tengah menagih kenikmatan yang sama.

Ingin sekali Arga menggagahi tubuh Zuraida, menikmati tubuh indahnya disaat sang wanita merintih untuk sebuah penyelesaian.

Tapi persetubuhan hanya membuat ikatan mereka semakin kuat, tak mungkin mengakhiri sebuah kisah, sementara tubuh mereka menyatu dalam hasrat yang sama.

Hingga akhirnya Pak Prabu menghentikan irama kaki mereka, meminjam sang tercinta untuk sebuah fantasi yang tak pernah mampu diluahkan oleh atasannya itu.

Tak ada yang tak berhasrat pada wanita secantik Zuraida, pada tubuh indah yang malam itu dibalut kain tipis yang ketat. Begitupun dengan semua pejantan ditepat itu, pernah mengungkapkan hasrat untuk menunggangi tubuh dokter cantik itu.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

Bola mata bening yang menatap wajahnya, memohon tak ingin dilepaskan. Pikiran Arga kacau. Haruskah dirinya menceritakan semua pada Zuraida. Tentang besarnya rasa kasih yang ingin diluahkan kepada wanita yang berada dalam pelukannya.

Tentang ketidak berdayaan nya atas kuasa Pak Prabu. Tentang permainan yang tengah para lelaki jalani, menjadikan para tubuh para wanita sebagai piala yang mereka perebutkan.

Hingga akhinya tangan Arga jatuh terlepas, tanpa suara, bagai sebuah robot menarik setiap sisi bibir agar bisa tersenyum, mempersilahkan Pak Prabu mengambil si cantik dari pelukannya.

Begitu berat Arga melepaskan pelukannya dari tubuh Zuraida. Seandainya yang meminta adalah Munaf atau Adit mungkin dirinya masih bisa menolak, tapi,,,

Arga mundur beberapa langkah menuju meja, menatap langkah kaki gemulai Zuraida mengikuti gerakan dalam pelukan lelaki lain.

Dibias cahaya temaram, Tubuh Arga gemetar, mengutuki dirinya sebagai pecundang. Menatap wanita yang hanya bisa pasrah, saat si lelaki menelusuri pinggang yang ramping menuju pinggul yang sensual. matanya menangkap bagaimana geliat tangan Pak Prabu mengusap pantat Zuraida yang membulat.

“Uggghhh,,, aku harus melepasnyaaa, tapi aku juga tidak sangggup melihatnya dalam pelukan lelaki lain,” batin Arga berkecamuk.

Berkali-kali matanya menangkap bagaimana tubuh semampai itu menggeliat saat Pak Prabu melakukan usapan nakal pada gundukan payudara yang tidak terlindung oleh bra, hanya kain dari gaun tipis yang seolah tak berarti apa-apa.

Kaki Arga gemetar meninggalkan tempatnya berdiri, tak ada daya, perjanjian telah disepakati, setiap orang berhak untuk mendekati siapapun dalam liburan ini. Gontai, menuju sofa yang dihuni oleh Andini yang tengah dibius oleh cumbuan tangan Mang Oyik.

Mengabaikan pandangan Andini yang menyirat pesan birahi kepadanya, menggeliat menerima usapan tangan Mang Oyik diselangkangan yang tak lagi terlindung oleh kain.

“Paak,,” ucap gadis itu, menepis tangan Mang Oyik, beralih memeluk Arga yang duduk disampingnya.

“Andini kangen bapak,,, Dini kangen punya bapak,,,”

“Din,,, kamu mabuk,,,”

Tak menjawab, tapi gadis itu langsung memagut bibir Arga dengan ganas. Arga dapat merasakan bau alkohol dalam balutan rum dari bibir tipis itu. Arga berusaha mengelak mendorong istri Adit itu dengan pelan, namun si mungil justru menaiki tubuhnya, mengangkangi pahanya, bergerak liar menggoda, menari memberi sentuhan ketubuhnya dengan payudara mungil yang menggantung.

“Zeeee,,,” panggil Arga lemah. Dikejauhan, dilihatnya Zuraida membuang muka, seolah takut menatap padanya, saat tangan Pak Prabu bertamasya digundukan payudara yang membulat, meremas, mengusap dan,,, merangsek tubuhnya seolah ingin menyatu dengan sicantik.

“Aaaggghh,,, Sialaaan,,,” Dengus Arga kesal melihat ketidakberdayaan Zuraida untuk menolak. “Tepislah sayang, kau berhak melakukan itu, kau tidak terikat apapun, tamparlah wajah yang berusaha mengejar bibirmu,,,” batin Arga berteriak, protes pada kepasrahan Zuraida.

Sementara, dihadapannya,,, ranum tubuh seorang Andini meliuk diatas pangkuannya, memohon untuk sebuah percumbuan.

Membuang rasa kesal, dengan cepat Arga melumat payudara mungil Andini dengan beringas, membuat bibir gadis itu meringis tertahan. Merintih menikmati gigitan nakal. Tak puas dengan aksi bibirnya, tangan Arga ikut bergerak meremas. Membuat Andini yang tengah mabuk semakin belingsatan.

Disamping mereka, Mang Oyik yang tersisih cukup tau diri, tak ada guna dirinya duduk disamping dua tubuh yang tengah bergulat dalam birahi yang panas. Matanya segera menyisir tepian kolam renang, mencari betina lain yang dapat dimangsa olehnya.

Tersenyum girang saat mendapati tubuh Aida yang tertelungkup dimeja bar, kelelahan setelah melakukan pacuan birahi. Beranjak mendekati. Menegur untuk mencari tau kondisi si betina yang kelelahan. Bagian bawah gaunnya masih tersingkap, memamerkan bulatan pantat yang seksi.
.
Mang Oyik tersenyum girang, beringsut kebelakang tubuh Aida, Dibawah tatapan garang Munaf yang masih sibuk menunggangi tubuh montok Bu Sofie, Mang Oyik mengagguk kalem, seolah meminta izin untuk memasukkan perkakasnya kebelahan vagina yang masih basah oleh sperma Adit.

“Mang,,, jangan Mang,,, Awas kalo berani,”

“Iiisshh,,, udah jangan ribut,,, cepet selesein, punya ku udah mulai perih nihh,,, Oowwhhhsss,,, jangan dipelintir Naf,,,” celetuk Bu Sofie yang meringis akibat putingnya yang dipelintir oleh Munaf. mengangkang diatas bangku, menikmati batang yang sedari tadi masih bertahan.

“Aaaagghh,,, sialan kau Mang,,,” teriak Munaf saat menyaksikan Mang Oyik menarik pantat istrinya lebih kebelakang, wajah cantik Aida hanya bisa meringis, ketika Mang Oyik meremas-remas pantat yang semakin menungging.

“Ooowwghhh,,, Pahh,,, Papaahh,,, siapa lagi yang nusuk memeq mamah, Paah,,,” Rupanya wanita itu benar-benar mabuk, menoleh kebelakang mencari tau siapa lagi yang tengah menggarap liang kawinnya.

“Mang Oyik Mah,,, Mang Oyik yang ngentotin mamaah,,, Ugghhh,,” Munaf mencengkram pinggul Bu Sofie dengan kuat.

“,,, pelan-pelaaan ya Mang,,,Eeengghh,,, jangan kasar seperti kemaren,,”

DEEGG,,,
Munaf kaget bukan kepalang, Aida memang sudah pernah melayani penjaga cottage itu,,, saat mereka baru tiba dipantai,,, dikamar lelaki berambut kriwel itu,,,. Hatinya semakin panas saat menyaksikan cara Aida melayani lelaki bertampang mesum itu, membetulkan duduknya, memastikan batang Mang Oyik dapat bergerak bebas menusuk vaginanya dari belakang.

“Naaafff,,, udaaah cuekin ajaaa,,, ngentotnya pindah kepintu belakang yaa,,, memek ku udaaah panass nih,,,” ucap Bu Sofie menarik batang Munaf keluar, lalu mengarahkan kepintu belakang.

“,,, kenapa ngga dari tadi Bu,,, Aaagghh,,, yang belakang masih sempit banget Bu,,,” Munaf menggeram saat batangnya mulai tenggelam dilubang anal. Bu Sofie tertawa, mengangkang semakin lebar.


“Zuraidaa,,, mana Zuraida ku,,,” ucap Arga panik, tersadar dari hasrat yang ditawarkan tubuh ranum Andini.

Matany bergerak liar mencari sosok Zuraida, namun wanita itu sudah tidak berada ditempatnya semula. Semakin jauh, disisi seberang kolam, masih dalam pelukan Pak Prabu.

“Zuraidaaa,,, tepis lah tangannya sayaaang,,, jangan biarkan menjamah tubuhmuu,,,” ucap Arga, meski jauh matanya masih bisa menangkap gerakan tangan Pak Prabu yang bergerak nakal disekitar selangkangan Zuraida. Perlahan keduanya semakin jauh, hingga akhirnya menghilang direrimbunan tanaman hias.

“Tidak,, tidak mungkin,,, aku mengenal Zuraida lebih dari siapapun,, tidak mungkin menyerahkan tubuhnya semudah itu kepada lelaki lain,,, usaha Pak Prabu pasti akan sia-sia,,,” Arga mencoba menghibur sekaligus menguatkan hatinya.

Walau bagaimanapun tidak mungkin dirinya merelakan wanita yang begitu dikasihi dijamah oleh lelaki lain.

“Ooowwsshhh,,,, siaaaal,,, Diiiin,,, kamu ngapaain,,,” Arga merasakan batangnya kini sudah berada dalam genggaman jemari yang lentik, sementara tubuh mungilnya bergerak maju mundur menggesek batangnya didepan pintu vagina yang tak lagi berkain pelindung.

“Paaak,,,, Dini kangeeen punya Bapaaaak,,, entotin Dini lagi ya paaak,,”
Pinggul dan pantatnya bergerak sinergis menggesek batang Arga yang tertekuk keatas. Bagaikan sebuah hot dog,, batang besar Arga diapit oleh pintu vagina yang membekap basah, bergerak maju mundur seakan melumuri batang Arga dengan selai putih yang semakin banyak.

“Paaaak,, Dini masukin yaaa Paaak,,, Diniii masuuukin,,, Dini udah ngga kuaaaat,, Aaaeeeengghhh,,,” Andini mengangkat tubuhnya, memposisikan batang Arga tepat didepan liang yang mungil, dan,,,,

“Aaggghhh,,, Paaaak,, punya bapak besar bangeeeet,,,” Pantat Andini yang memang tidak begitu besar, sesuai dengan tubuh nya yang mungil, bergerak turun. Sungguh pemandangan yang kontras dengan batang Arga yang besar, yang perlahan membelah tubuhnya.

“Ngga bisa masuk semua Paaak,,” Andini terengah-engah, vaginanya hanya mampu melumat tiga perempat penis Arga. Setelah merasa liangnya bisa beradaptasi dengan batang yang menusuk jauh kedalam, pantatnya mulai bergerak. Bibirnya mendesis menikmati saraf-saraf sensitif yang mengirim sinyal kenikmatan.

Arga menatap wajah cantik Andini, wajah berkeringat yang tengah mendesis menikmati batang didalam tubuhnya. Bergerak naik turun melahap batang yang terlalu panjang bagi liang vaginanya yang dangkal.

“Paaaak,,,” Andini tersenyum sayu, menggenggam tangan Arga yang terhulur menjamah payudara yang hanya berukuran 32b, pengaruh alkohol mulai memudar, berganti dengan birahi yang menguasai otak remajanya.

“Gadis kecil yang nakal, kasian suami mu bila kemaluan mu ini terlalu sering menerima batang besar seperti milikku dan Pak Prabu,”

Wajah Andini merajuk, tangannya cepat menutup mulut Arga, tapi memang seperti itulah yang tengah dirasakannya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada gaya bercinta oleh lelaki yang bukan suaminya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada batang besar.

Gerakan tubuh Andini berubah-ubah, kadangkala bergerak naik turun, lalu bergerak maju mundur, sesekali pantatnya bergerak memutar, memelintir batang Arga.

Lama Arga terdiam, menikmati kenakalan Andini.

Praaaang,,,
Praaang,,,

Seketika mata Arga mencari asal suara, gelas kaca yang jatuh dan pecah tepat disamping Aryanti yang dibaringkan Dako diatas meja kecil. Tampak sahabatnya itu tengah mencucupi selangkangan Aryanti, geliat tubuh istrinya membuat semua yang ada dimeja terjatuh.

“Maaf, aku tidak bisa menjaga istrimu, Sob,,,” lirih batin Arga. Lalu mengawasi pohon hias yang sesekali bergerak. Entah apa yang tengah terjadi pada Zuraida.

Tiba-tiba Matanya menangkap langkah Zuraida yang terhuyung, dibopong Pak Prabu menuju pintu keluar.

Hati Arga semakin kacau saat melihat bagian bawah jilbab Zuraida yang tersimpan rapi dibalik gaun putih kini terurai keluar. Sementara gaun panjang yang menutup hingga kemata kaki, tampak terangkat keatas, beberapa senti dibawah selangkangan, memapar paha dan kaki yang putih mulus.

Apakah Pak Prabu sudah berhasil menikmati tubuh Zuraida?,,, ataukah mereka baru memulai dan bersiap menyelesaikan semua dibalik tembok kolam renang.

Arga menggeram emosi.

Sekilas terbayang geliat liar tubuh Zuraida, saat vagina tembem milik wanita berjilbab itu melayani kejantanan nya, ditepian pantai yang sepi.

“Paaak,,, jangan liat kelain,,, liatin memeq Dini aja Paaak,,,” rengek Andini meminta perhatian.

Arga yang tengah panik dan cemburu menjadi kesal, lalu membentak gadis itu dengan kasar.

“Diam kamu Din,,, apa kamu tidak melihat Zuraida tengah dikerjai Pak Prabu, Heh?,,,”

Sontak gerak tubuh Andini terhenti, wajahnya menjadi pucat, tubuhnya merinding melihat kemarahan Arga, nafsu yang tadi menggelegak sirna begitu saja. Sekalipun dirinya tak pernah melihat lelaki yang selalu ramah itu marah,,, sangat marah.

“Maaf Din,,, Maaf,,, terlalu banyak pikiran yang mengganggu,” ucap Arga sambil mengusap pundak Andini yang terbuka. Merasa kasihan melihat wajah gadis yang ketakutan melihat amarahnya.

Sesaat mata Arga mengamati pintu yang cukup jauh dari mereka, tak ada tanda-tanda kedua insan itu kembali ketempat. Menghempas deru dihati dengan membuang nafas panjang.

“Maaf bila selama ini aku egois,, tak pernah mencoba menyelami hatimu, aku selalu sibuk dengan egoku,,,,” Arga membatin, memaksa hatinya untuk merelakan apapun yang akan dilakukan Zuraida.

“Dini bisa mengerti koq pak,,,” jawab Andini tiba-tiba, mengagetkan Arga, berusaha untuk bangkit, melepaskan batang Arga yang masih berada didalam vaginanya.

“Kamu belum selesaikan?,,,” tanya Arga sambil menahan pinggul gadis itu, tidak membiarkan batangnya terlepas.

“Eeeh,, ngga apa-apa,,,”

“Yaa,, kalo gitu aku yang belum selesai,,, bantuin yaa,, boleh semprot didalem lagi kan?,,” tanya Arga, bangkit sambil menggendong tubuh Andini, lalu membaringkan gadis itu diatas sofa.

Andini mengangguk sambil tersenyum masih dihantui rasa takut akan amarah Arga yang tadi sempat meledak. membiarkan Arga merentang kedua kakinya, memandangi kemaluannya yang masih basah. Lalu kembali mengangguk saat Arga bersiap kembali memasukkan batangnya.

“Eeeengghhh,,, Paaak,,,” bibirnya mengerang, meski kali ini batang itu lebih mudah memasuki tubuhnya, tetap saja gadis itu mengerang.

“Maafin aku tadi ya,,, aku terlalu banyak pikiran,,,” terang Arga, mencoba merayu Andini.

“Iyaaa,,, ngga apa-apaa Paaak,,, tapi sekaaarang,, sayangin Dini duluuu ya Pak,,,” ucap gadis itu, setelah yakin Arga kembali menjadi lelaki dewasa yang dikenalnya.

“Pengen disayang,,, atau pengen dientot?,,,”

“Dua-duanya,,,hihihi,,,Aaahhsss,,,”

Hentakan-hentakan penuh tenaga dalam ritme yang teratur dengan cepat membuai keduanya, desahan dan rintihan Andini cukup membantu Arga untuk lebih memperhatikan gadis yang tengah ditungganginya.

“Paaak,,, Ooowwhhsss,,, sesak banget Paaak,,,”
“Mentok sampe keujuuung Paaak,,,”

Arga tertawa melihat tingkah Andini yang kembali liar.

“Din,,, siapa aja sih yang pernah nyicipin lubang sempit mu ini?,,,” tanya Arga, setelah menjatuhkan tubuhnya menindih tubuh mungil Andini. Gerakan pinggulnya berubah menjadi pelan, sesekali mengulek kekiri dan kekanan.

“Eeenghh,,, banyak sih pak,,,” jawab gadis itu malu-malu. “Tapi cuma punya bapak yang bikin Dini ketagihan,,,” sambungnya cepat.

“Kenapa?,,, kan punya Pak Prabu juga gede,,,” Arga menghentikan gerak pinggulnya, membiarkan gadis itu bermain-main dengan batang yang ada didalam tubuhnya.

“Punya bapak bukan cuma gede, tapi juga panjang banget,,, berasa banget nyundul didalam memeq Dini,,, enak banget Pak,,,”

“Aahh maca ciiihh,,,”

Andini tertawa melihat lelaki yang tengah menindih tubuhnya itu bergaya sok imut. Mungkin gaya bercanda Arga juga mempengaruhi penyebab dirinya lebih senang bila tubuh mungilnya dinikmati lelaki itu.

“Itu bukan karena punya ku yang panjang,, tapi type memek mu yang cendek banget, makanya sampe nyundul mentok gini,,,” Arga menggerak-gerakkan batangnya, seolah ingin menunjukkan kepala jamurnya memang menyentuh bagian terdalam dari liang kemaluan gadis itu, semakin Arga menusuk, semakin menggeliat Andini dibuatnya.

“Paaak,,, masukin yang dalam yuuuk,,, Dini pengen ngerasain gimana rasanya melumat batang gede ampe habis,,,hihihi” Andini mulai berani memeluk leher Arga.

“dikolam kemarin kan udah,,, ngga tega aku Din, liat kamu sampe njerit-njerit,,,”

“Tapi Dini ngejerit itu kan gara-gara Dini,, engghh,, orgasme,,,” Arga bisa merasakan bagaimana gadis itu tersipu malu, menuai orgasme oleh lelaki lain tepat dipangkuan suaminya.

“Bener mau dimasukin semua?,,,”
Andini mengangguk sambil tersenyum lucu.

“Ngga takut sakit?,,,”
lagi-lagi kepalanya mengangguk, membuka lebar pahanya, mempersilahkan Arga beraksi.

“Kalo ngga bisa masuk semua, ngga boleh keluar dimemeq Dini,,,hehehee,,,”

Sontak Arga tertawa mendengar tantangan gadis yang baru beberapa bulan lulus dari bangku SMA dan langsung dipinang oleh Adit.

“Hahahaa,, ternyata Adit bener-bener pinter milih istri,,, kamu nakal sayaaang,,,” bisik Arga ditelinga Andini, lalu bergerak menusuk pelan, merasa tak ada perubahan penisnya mulai menghentak, berusaha menggendor pintu rahim.

“Ooowwwhh,,, Paaak,, lebih keraaas,,,” rengek Andini seketika. Permohonan gadis itu dikabulkan Arga dalam hentakan berikutnya, terus menggedor, menggasak pintu rahim.

Andini mulai meringis, selangkangannya terasa ngilu, hentakan batang Arga semakin keras dan kasar, jepitan vagina Andini semakin kuat membuat Arga menjadi lebih beringas.

Perlahan penis Arga memasuki wahana baru yang tidak biasa dimasuki penis para lelaki.

“Paaaaak,,, masukin ke rahim Dini paaak,,,” terengah-engah gadis itu mengangkat pinggulnya, semakin kasar Arga menyetubuhi vagina mungilnya semakin liar pinggulnya bergerak, terangkat tinggi seakan menantang batang Arga untuk memasuki tubuhnya lebih dalam.

“Aaagghhhh,,, sudaaaahh masuuuk semuaaa sayaaaang,,, boleh nyemprot sekaraaaang?,,,”

Mulut Andini terbuka lebar, begitu sulit tuk bersuara, liang vaginanya terasa begitu penuh oleh batang Arga, memasuki bagian yang tak pernah terjangkau oleh semua penis lelaki yang pernah menikmati tubuhnya. “Phhaaak,,, semprooot,,, semprooot,,, rahim Dini udah siaaaap,,,”

Dalam hentakan yang keras, Arga menghempas tubuh Andini kesofa, penisnya menghambur sperma tepat dirahim Andini yang menggeliat meregang orgasme. Kaki nya membelit paha Arga, memastikan batang yang tengah menyetor sperma tetap berada ditempatnya.

“Paaak,,, Andini sayaaang Pak Argaaa,,,” rintih Andini, memandang sayu wajah Arga yang masih meretas kenikmatan didalam tubuhnya.

Arga tercekat, ucapan Andini terdengar serius ditelinganya, balas menatap mata Andini yang pasrah dalam dekapannya. Tak ada kebohongan hanya ketulusan seorang gadis belia. Pelan dikecupnya bibir Andini. Lalu melumat dengan lembut.

“Maaf Din, tapi aku,,,”

“Hehehehe,,, iya,,,iya Dini cuma bercanda koq pak,,,” potong Andini cepat. Membenamkan wajahnya dibalik tubuh Arga yang tinggi besar. Terdiam. Menyembunyikan perasaan yang terucap tanpa sengaja.

Tiba-tiba keduanya terkejut, batang Arga yang masih berada didalam vagina Andini mengejat mengeluarkan sperma yang masih tersisa.

“Masih belum habis ya,,, hihihi,,, Ayo cepat keluarin semua, punya Dini masih sanggup nampung koq,,,”

Arga ikut tertawa, lalu mengejan memaksa keluar sperma yang tersisa, memenuhi rahim gadis yang masih memeluknya dengan mesra.

“Tuuu kan,,, masih ada,, ayo keluarin lagi,,,”

“Hahahaa,, sudah habis sayang,, punya mu bener-bener hebat,,, lebih hebat dibanding dikolam kemarin.”

Andini tertawa bangga. “Paaak,, kalo nanti bapak kangen punya Dini, Waktu Mas Adit ngga ada dirumah, bapak boleh koq datang, make punya Dini ampe bapak puas,,hehehe,,”

“Huuusss,,, nakal kamu,,, ngga boleh,, cukup diliburan ini aja,,, ntar aku dibunuh sama Adit kalo ketahuan,,,”

“Bener nih ngga mau,,, padahal Dini pengen nyobain ditusuk dipintu belakang,, masih perawan lho, belum pernah ada yang nyobain,,,” Andini mengerling genit menggoda Arga. “Kalo ngga ketahuan sama Mas Adit berarti ngga apa-apa kan? Hihihi,,,”

“Ihhh,, dasar nakal,,, memeq mu aja sempit banget, ngga kebayang kalo aku harus merawanin pintu yang belakang,,,”

Merasa penasaran, tangan Arga terhulur kebawah meraba pantat Andini,lalu perlahan mengusap liang anus yang imut.

“Pengen ngga?,,,” tantang Andini lagi, menggeliat geli akibat ulah jari tengah Arga yang coba menusuk-nusuk analnya, tepat dibawah batang yang masih memenuhi liang vagina.

“Kata mba Aryanti, nikmatnya beda kalo ditusuk dibelakang,,, lagian Pak Arga juga senengkan nusuk dibelakang?,,,hehehe,,,”

“Hahahaa,,, kalo gitu jangan izinin siapapun nyicipin ni lubang, sampai nanti aku yang nyobain, termasuk Adit, Ok?,,,”

Andini tertawa saat nama suaminya disebut,,, tapi kepalanya mengagguk menyetujui, “hahaha,,, ya termasuk Mas Adit,,,,” ucapnya riang tanpa merasa berdosa, pola pikir perselingkuhan khas anak ABG begitu mendominasi. Lalu keduanya kembali beradu bibir bersilat lidah dengan panas.

“Paak,, kalo sama Bu Zuraida pernah nyicipin dimana aja?,,,”
Entah sadar apa yang diucapkannya, tapi pertanyaan Andini menyadarkan Arga.

“Zuraida,,, Mana Zuraida?,,,” dengat cepat mata Arga menyapu sisi kolam renang, tapi tak ada “Maaf Din,, aku harus mencari Zuraida,,, maaf banget,,,” ucap Arga.

Andini terhenyak, menyesali apa yang diucapnya, penis yang memenuhi vaginanya terlepas. Mencoba tersenyum saat Arga meminta maaf, memaksa hatinya untuk memaklumi posisi Arga yang tengah terjerat cinta terlarang, dan posisinya sebagai wanita cadangan, pelarian dari hasrat kelelakian Arga yang liar.

ZURAIDA PART 8

“Heeyyy cint,, Ayo bangun,, kita siap-siap,,, ntar dicariin bu Sofie lhoo,,” Zuraida coba membangunkan Aryanti yang masih tertidur.

Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Aryanti yang masih agak lembab. Memandang wajah cantik sahabatnya yang terlelap. Terbersit rasa bersalah dihati Zuraida atas permainan hati yang tengah dilakoninya bersama Arga.

“Eehh,, Zuraidaa,,,”
Aryanti terbangun, kaget, dengan panik menutupi bagian atas tubuh yang terbuka dengan selimut.

“kamu sudah pulang?,,,” bangkit, lalu bersandar didinding. Tangannya berusaha menutupi beberapa tanda merah disekitar leher dan dada dengan selimut.

“Ya sudah pulanglaaah,, emang ini jam berapa,, hampir jam tujuh sayang,,, diluar sudah mulai gelap,,” jawab Zuraida sambil tersenyum melihat tingkah Aryanti yang panik. Matanya sudah terlanjur melihat tanda merah itu, dan menebak-nebak siapa yang membuat ulah, memberi tanda bibir begitu banyak ditubuh sahabatnya.

“Sayaaang,,, aku pinjam celana pendek Arga dong,,,”

Tiba-tiba Zuraida mendengar suara suaminya, Dako, dari arah kamar mandi. Reflek wanita itu menoleh. Benar saja, suaminya tampak keluar dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian, terkaget.

Zuraida diam membisu, nalarnya dengan cepat memberi isyarat tentang apa yang baru saja terjadi.

Aryanti yang mengira Dako sudah kembali kekamarnya tak kalah kaget, wajahnya seketika pucat, memandang Zuraida dengan rasa bersalah.

Seketika hening tercipta, kekakuan merambati tiga hati.

Dako dengan kikuk menutupi kemaluannya dengan tangan. Entah merasa malu pada siapa.

“Zuraidaa,,, maaf,, kami,,,”

“hahaha,,, ngga apa-apa sayang,,, kita impas koq” sela, Zuraida. Raut wajah kikuk nya berubah menjadi senyum malu-malu, tapi rona bahagia tak mampu disembunyikan wanita berjilbab itu.

Aryanti balas tersenyum, tersenyum kecut, tersenyum bersama sembilu yang menusuk jauh kedasar hati, mendengar penuturan sahabatnya yang tampak bahagia.

“Mas,, koq bengong sih, cepet sana ganti baju,,,”
celetuk Zuraida. Membuat Dako kaget, matanya celingak-celinguk mencari pakaian tapi nihil. Sambil terus menutupi selangkangannya dengan tangan, lelaki itu ngacir kearah pintu keluar, setelah yakin tidak ada orang dengan cepat berlari kekamarnya.

“Hahahaa,,, dasar Mas Dako,,,” Zuraida tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti maling ketangkap basah.

Aryanti ikut tertawa, lalu beralih mengamati wajah Zuraida yang terlihat begitu ceria, wajah bahagia yang diciptakan oleh suaminya. Meski sakit, Aryanti merasa tidak tega untuk memberangus senyum diwajah sahabatnya.

Setelah mengambil nafas panjang, perlahan tubuhnya beringsut mendekati Zuraida, memeluk sahabatnya dari samping.

“Mba,,, aku pengen ngomong sesuatu, tapi bingung harus memulai dari mana,,” ucap Aryanti, lebih sopan dengan memanggil mba kepada Zuraida, yang memang lebih tua darinya, meski usia mereka hanya terpaut tiga tahun.

“Ada apa yant?,,, ngomong aja,,,” Zuraida bingung dengan sikap sahabatnya yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Dulu,,, waktu kalian menjodohkan aku dengan Arga, aku percaya bahwa kalian memilihkan pasangan yang terbaik untukku, tapi aku tidak tau jika ada,,, emmhh,,, ada cerita yang rumit antara kalian bertiga,,,”

Zuraida kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang bertelanjang dada itu, selimut yang menutupi tubuhnya dibiarkan jatuh. Memeluk tubuhnya erat, layaknya seorang kekasih.

“Maaf Yant,,, itu hanya cerita masa lalu, tapi harus kuakui,,, eengghh,,,” bibir wanita berjilbab itu terdiam, tidak yakin dengan apa yang ingin diucap oleh bibirnya, matanya menatap baju yang berserakan dilantai, celana Dako tampak terselip diantara baju Aryanti.

“Karena aku sempat terbuai oleh kisah masa lalu itu,,,” Sesaat mata Zuraida beralih menatap wajah Aryanti melalui cermin, “Tapi,, Kau memiliki hati lelaki itu,,, sepenuhnya,, percayalah padaku,,” ucap Zuraida meyakinkan.

“Terimakasih mba,,,” Aryanti memeluk Zuraida erat, air mata perlahan menggenangi pelupuk.

“Aku percaya, Arga akan menjagamu lebih baik dari siapapun,,, kumohon,,jangan nakal lagi ya, sayang,,,”

Aryanti mengangguk, air mata tak lagi mampu dibendungnya. “Aku janji mbaak,,, aku janji,,,”

“Yant,,, kamu sakit ya?,,,” tanya Zuraida tiba-tiba. Melepas pelukan, lalu memeriksa kening Aryanti yang agak panas.

“Ngga mba,,, mungkin cuma kecapean aja koq,,, ngga usah dipikirin,, hehehe,,,” jawab Aryanti, beranjak menuju meja, mengambil cincin nikahnya yang tergeletak.

“Mau bertukar?,,, hanya untuk malam ini,,”

“Maksudmu?,,,” wanita berjilbab itu bingung hingga keningnya mengkerut, menatap lekat wajah Aryanti.

Tapi Aryanti hanya tersenyum, menarik tangan kiri Zuraida, menukarkan cincinnya dengan cincin wanita itu.

“Malam ini, kita bertukar peran, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Dako atas pertolongannya selama ini,, begitupun sebaliknya, Mas Arga jadi milik Mba,,, So,, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,,, hehehe,,, Deal?,,”

Zuraida tertawa. “Kamu ini ada-ada aja Yant,, mana bisa seperti itu,, sini balikin cincinku,,,,”

“Kenapa ngga?,,, ini hanya antara kita,” ucap Aryanti dengan wajah serius, namun perlahan wajah itu tersenyum, lalu mengerling genit. “Kita buktiin, siapa yang paling jago diantara kita,, jangan marah kalo nanti Dako sering menyebut namaku waktu kalian bercinta,,,” sambungnya sambil memeletkan lidah.

Zuraida ikut tertawa mendengar ajakan nakal. Tapi wanita yang terlihat cantik dalam balutan jilbab itu tau, permintaan Aryanti yang ingin mengucap terimakasih kepada suaminya hanya alasan yang dibuat-buat.

Sahabatnya itu ingin memberinya kesempatan terakhir bersama Arga. Sebuah penawaran yang pastinya sangat sulit bagi Aryanti sendiri, membagi seseorang yang dicintai kepada orang lain, meski itu untuk seorang sahabat.

“hhmmm,,, kamu ini,,, Terimakasih Yant,,,” bibir Zuraida tertawa sekaligus menangis, air mata yang meleleh dipipi semakin deras mengalir. Sesenggukan dipelukan Aryanti. Tak mampu berkata, hanya ucapan trimakasih yang diucapkannya berulang-ulang.

“Nakal-nakalan yuk malam ini,,,” ajak Aryanti.

Zuraida mengangguk,,, “Tapi aku ngga berani nyobain punya yang lain, Yant,,,”

“Hhmmm,,, kalo cuma sama Arga namanya belum nakal Cint,, cobain aja sambil ngumpet-ngumpet,,, pasti seru,, hihihi,,,”

“Hahahaa,,, Nakal kamu Yant,,,” Zuraida melepaskan pelukannya, menatap wajah sahabatnya, lalu memandangi beberapa cupang dipayudara Aryanti. “Mas Dako nakal ya Yant,,,” ucapnya sambil mengusap cupang dipayudara Aryanti.

DEEG,,,
Aryanti kaget, tubuhnya menggelinjang,,,

“Ihh,,,, geli tauu,,, Emangnya tadi Mas Arga ngga ngusilin punyamu,,, sini aku liat,,,”

“Eeehh,,, mau ngapain kamu Yant,,,” Zuraida berusaha menahan tangan Aryanti yang berusaha mengangkat kaosnya keatas. Tapi usahanya sia-sia.

“Ckckckck,,, koq bisa mancung seperti ini sih, Cint,,,” Aryanti tak mampu menahan tangannya untuk menyentuh sepasang payudara yang ada didepan.

“Eemmpphh,,, Yaaaant,,, tapi punya mu lebih besar dari punyaku,,,” Zuraida melengug geli. Tangannya merambat, kembali meremas payudara yang sedikit lebih besar dari miliknya.

Keduanya membisu, Saling mengagumi, saling meremas, sama-sama menahan desahan yang bisa saja keluar dari bibir yang berusaha dikatup rapat. Malu untuk mengakui apa yang dilakukan oleh lawannya berhasil memberi sensasi birahi

“Eeeengghhh Yaaaant,,, jangan-jangan keras,,,”

“Sakit?,,,”

Zuraida menggeleng, “Geli,,,hihihi,,, Yaant,,, mau ngapain lagi?,,” tawanya terhenti, menatap wajah yang mendekat bongkahan payudaranya.

“Eeeempphhh,,, Yaaant,,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, menaha geli yang merambat dari sapuan lidah Aryanti. “Jangaaan curaaang, sayaaang,,,”

Wanita berjilbab itu terengah,,, balik mendorong Aryanti hingga tertelentang, lalu tertawa nakal, dengan cepat menaiki tubuh dan menyambar payudara yang penuh dengan cupang dari suaminya.

“Aaawwwhh,,, koq digigit mbaaa,,” pekik Aryanti.

“hahahaa,,, Habisnya aku gemes,,,” jawab Zuraida sambil tertawa.

Keduanya bergulat diatas kasur, saling meremas, bergantian saling menghisap, mendesah bersahutan. Hingga keduanya kelelahan. Dan sepakat bersama-sama menghentikan kenakalan mereka.

“Baru kali ini aku menyentuh milik wanita selain punyaku sendiri,,, hahahaa,,,,,” Aryanti tertawa melihat ulahnya sendiri, nafasnya masih memburu, menindih tubuh Zuraida.

“Kalo aku sering,, waktu memeriksa pasien,,, tapi tidak dalam kondisi seperti ini,,, hehehe,,,” Zuraida, memeluk tubuh sahabatnya, membiarkan payudara mereka bertemu, tergencet oleh tubuh yang saling menindih.

“Kalo nyobain ciuman sesama cewek pernah?,,,”

“Kalo itu sama sekali ngga pernah,,, ngapain ciuman sama cewek,,, hahaha,, ada-ada saja kamu ini Yant,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,,” panggil Aryanti, menghentikan tawa Zuraida. Keduanya saling tatap, wajah mereka begitu dekat. “Mbaa,,, aku pengen nyobain yaa,,,”

Zuraida tidak menjawab, jantungnya berdebar melihat bibir Aryanti yang mendekat, otaknya memberi perintah untuk membuka bibir, menyambut lidah Aryanti yang merambat masuk.

“Eeemmmpphhh,,, eemmmhhh,,,”
“Eeeengghhh,,,,”

Lidah lembut kedua wanita itu saling membelit, berkejaran didalam mulut Zuraida. Tampak Aryanti lebih dominan, mengajak lidah Zuraida menari, mengaduk ludah mereka yang terkumpul dimulut.

Bibir Aryanti mengatup rapat mulut Zuraida, lalu dalam sekali hisapan yang kuat menyedot semua ludah kedalam mulutnya,,, membuat lidah Zuraida ikut tersedot, masuk kedalam mulutnya. “Slluuurrpphhh,,,”

“Eeemmmyhaant,,,,” wanita berjilbab itu terkaget, menatap wajah syahdu yang memancar birahi. Lalu membalas bermain-main dimulut Aryanti. Berlari dari lidah yang berusaha membelit, saling menghisap cairan yang ada dilidah mereka.

Setelah merasa paru-paru mereka kepayahan memasok oksigen, kembali mereka sepakat untuk melepas. Saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

“Baru tau aku,,, ternyata mba ganas juga,,, pantes aja Mas Arga mpe klepek-klepek,,, aku aja sampai merinding tauuu,, hahahaa,,,”

“Hahahaa,,, jangan ngomong gitu ahh,,, bikin aku malu aja,,, kamu tuh yang ganas banget nyedotnya,,,, coba kita lamaan sedikit lagi,,, pasti keluar nih punyaku,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,, pengen keluar ?,,, hihihi,,, diem aja yaa,,, jangan protes,,,” Aryanti menyelusup kan tangannya kedalam celana Zuraida.

“Jangan Yaaant,,, aku maluuu,,, Aaawwhhhhsss,,, jangaaaan,,,”
Wajah wanita berjilbab itu bersemu merah, ketika tangan Aryanti mendapati vagina yang sangat basah. “Awaaas kamuuu yaaa,,,” tangannya membuka selimut Aryanti lalu merogoh bibir vagina yang lebih basah dari miliknya.

“Yaaant,,, ini punya suamiku ya,,, hihihi,,,”

“Iyaaaa,,, mbaaa,,, tadi Dako banyak banget buang didalem,,,” jawab Aryanti yang kini ikut terengah-engah, liang vaginanyanya diobok-obok oleh jari lentik Zuraida. “Mbaaa,,,, ciuman lagi yuuuk,,,” pintanya.

Kembali kedua wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang didamba para wanita itu saling meraba, silih berganti menindih, meremas, bertukar ludah, mengayuh vagina yang basah. Memburu orgasme yang berbeda dari biasanya.

Berbeda dengan Aryanti yang membuka lebar pahanya dan membiarkan jari-jari Zuraida bermain-main diliang kemaluan, Zuraida justru mengapit rapat pahanya, menjepit jari-jari yang masuk begitu dalam, merogoh tepian yang tidak dapat dilakukan oleh batang penis.

“Yaaant,,, Aku mau keluar,,, aku mau keluar,,,”
Wajah Zuraida pucat pasi, menjepit tangan Aryanti semakin kuat.

Begitu pun dengan Aryanti yang menggerakkan pinggul mengejar kemanapun jari Zuraida menari. Nafasnya semakin berat. Hingga akhirnya kedua tubuh itu mengejat, gemetar, menghambur cairan yang membasahi jari-jari yang lentik.

“Mbaaa,,, aku keluaaaarr,,,, oowwhhh,,, mbaaa,,,” Aryanti berteriak-teriak histeris, melumat bibir Zuraida yang juga gemetar, mengangkat tinggi pinggulnya.

“Yaaant,,, jarimu pinter banget,,, aku sampai gemetar gini,,,” ucap Zuraida setelah Aryanti mejatuhkan tubuhnya kesamping.

“Mba jugaaa,,,” ucap Aryanti, masih tersengal-sengal tak bisa berbicara banyak.

* * *
I’m so lonely broken angelI’m so lonely listen to my heartOne and only broken angelCome and save me before I fall apart

Suara Zuraida yang menemani Pak Prabu berduet, mengalun lembut. Membawakan ‘Broken Angel’ dari Arash feat Helena. Sebuah lagu dengan lyric timur tengah, yang memapar jalinan sepasang kekasih, namun terhalang oleh belenggu pernikahan yang mengikat si wanita. (ini salah satu lagu favorit ts lho,, mpe sekarang ngga bosen dengerin tu lagu,,,)

Siapa menyangka, Pak Prabu mampu membawakan lagu itu dengan cukup baik, meski beberapa kali lidahnya keliru dalam mengucap syair yang cukup sulit. Namun bagi Adit yang memang piawai memainkan organ tak begitu kesulitan untuk mengiringi.

Pesta kecil itu memang sengaja mengambil tempat ditepian kolam renang yang memang cukup luas, dengan sinaran cahaya lampu hias yang remang-remang, membuat suasana malam itu terlihat begitu romantis.

Tubuh Zuraida yang dibalut long dress putih ketat, meliuk gemulai mengikuti alunan musik, suaranya terdengar lirih, diatas panggung yang hanya setinggi 30 cm. Seolah ingin menyampaikan pesan dari hati. Layaknya seorang bidadari yang menari diantara rintik hujan, berharap ada malaikat yang menemani.

Dikeremangan, mata Zuraida menatap tiga sosok yang duduk dimeja yang sama.
Aryanti yang selalu melemparkan senyum saat mata mereka bertemu, lalu beralih pada Dako yang berusaha melemparkan senyum serupa. Dan Arga,,, Arga, entah kenapa Zuraida merasakan ada sesuatu yang berubah pada lelaki itu.

Hati Zuraida memang tengah gundah melihat perubahan Arga, tak ada yang menyadari selain dirinya, karena ini memang antara dirinya dan Arga. Senyum lelaki itu terlihat begitu hambar.

Sesekali matanya menatap cincin milik Aryanti yang melingkar dijari manis. Sebuah pertukaran posisi yang terasa begitu ganjil tapi begitu diharapkannya. Teringat akan ajakan nakal sahabatnya, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi malam ini.

Zuraida sadar, Walau bagaimanapun, hubungan nya dengan Arga tak lebih dari kilas balik masa lalu. Seindah apapun cerita yang terukir pasti akan berujung pada kepedihan. Tak mungkin dirinya merebut Arga dari sahabatnya, Aryanti. Dan tidak mungkin dirinya meninggalkan Dako, untuk mengejar ego cinta.

Mungkinkah Arga mulai menjaga jarak untuk cerita yang memang harus mereka akhiri?…

Sekuat hati Zuraida berusaha menetralisir rasa, kebahagiaan yang tadi siang menyapa dengan paksa diberangus, karena hanya dengan cara itu pula lah dirinya dapat bertahan dari rasa sakit.

Tanpa disadari wanita itu, Dako dan Aryanti menangkap setiap perubahan ekspresi yang sebenarnya tidak ingin ditunjukkan oleh Zuraida. Tapi Zuraida adalah sicantik yang tak pandai bersandiwara. Selalu kesulitan untuk menyembunyikan suasana hatinya.

Lagu yang dinyanyikan membuat hati Zuraida semakin terhanyut dalam kepedihan. Pak Prabu yang memeluk pinggang rampingnya dengan erat, seakan menjadi penopang untuk menguatkan pijakan hatinya yang tengah melemah.

Zuraida sendiri tak habis pikir, kenapa selalu Pak Prabu yang ada disampingnya, disaat hatinya tengah berkecamuk.

Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Prabu yang turun kebawah pinggulnya, mengusap lembut bulatan pantat nya. Mengusap punggungnya dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping.

Dengan pelan, Zuraida menepis tangan Pak Prabu , saat lagu telah usai. Berusaha untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu tak lepas dari tubuhnya.

“Terimakasih,,,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.

“Ternyata suara istri Dako ini merdu banget,, senang berduet dengan Bu Dokter,” ucap Pak Prabu, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat sambil tertawa renyah.

“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kemarin ibu tawarkan,,”

DEEGG,,,
Zuraida sangat kaget mendengar ucapan Pak Prabu yang begitu pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.

Zuraida tersenyum kikuk, balas membungkuk. Turun dari panggung mendekati Aryanti yang menghampirinya, lalu kembali menuju meja dimana Arga dan Dako duduk.

“Kalian mau minum apa? Biar aku ambilkan,” ucap Arga menawarkan minuman dengan suara datar, tanpa ekspresi.

“Terserah,,, yang penting bisa menghangatkan tubuh,” jawab Dako.
“Aku apa aja boleh,,,” sambung Zuraida, matanya menatap Arga yang cepat berbalik sebelum kata-katanya selesai terucap.

“Aku tau minuman spesial untukmu Cint,,, hehehe,,, Ayo mas, aku temenin,” celetuk Aryanti, menyusul suaminya.

“Suaramu memang indah sayang,,, Aku selalu bangga memilikimu,,” ujar Dako, saat mereka tinggal berdua dimeja itu.

“Haahahaha,,, Mas seperti tidak mengenal aku saja,,” jawab Zuraida, berusaha naik ketas kursi yang cukup tinggi.

“Apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Zuraida tak langsung menjawab, berusaha membaca maksud pertanyaan suaminya dari raut wajah. “Lumayan, tapi sebenarnya apa tujuan Mas Dako mempertemukan aku dengan Arga dalam situasi seperti ini?,,” wanita itu balik bertanya dengan suara datar.

Dako menggenggam tangan Zuraida, bibirnya tersenyum tulus, seakan mengatakan bahwa situasi ini di cipta memang untuk Zuraida.

Wanita itu tertawa pelan, entah menertawakan gaya Dako yang begitu romantis, entah menertawakan dirinya yang terpuruk pada nostalgia masa lalu yang justru membuatnya semakin terpuruk.

“Aku tau, pasti ini sulit bagi Mas Dako, Mas tidak perlu melakukan hal gila seperti ini, apa Mas tidak takut kehilangan aku?,, atau Mas memang tidak percaya pada hatiku?,,,” ucap Zuraida, begitu terbuka sekaligus tajam. Seakan menyimpulkan segala isi yang ada dihati Dako.

“Heeyy Cint,,,”
Seru Aryanti yang membawa dua gelas cocktail, disusul Arga yang menenteng dua botol chivas regal, menyelamatkan Dako yang bingung harus menjawab pertanyaan istrinya.

“Suaramu tadi mantap banget lho, bikin aku minder mau nyumbang lagu,,,” ucap Aryanti. Menyerahkan gelas.

“Hehehe,, biasa aja koq Yant,,,” jawab Zuraida yang diam-diam kembali menatap cincin milik Aryanti. Otaknya tengah mengkaji ulang tentang tawaran Aryanti. Walau bagaimanapun hatinya sulit untuk menerima pertukaran itu.

“Yant,,, tentang yang tadi sore,, sepertinya aku tidak bisa untuk,,,,”

“Owwhh,, iya,,,” Seru Aryanti tiba-tiba, memotong ucapan Zuraida.

“Mas Arga,, Dako,,,Tadi sore aku dan Zuraida sepakat untuk bertukar cincin, dan itu artinya,,, Emmhh,,,” Aryanti dengan wajah jenaka menghentikan kata-katanya, bergantian menatap tiga pasang mata yang tertuju padanya, “Artinya adalah sebuah,,, sebuah pertukaran pasangan, Apa kalian para suami bisa menerima?,,,”

Sontak Arga dan Dako mengamati cincin yang melingkar dijari manis Aryanti dan Zuraida. Tidak menyadari bila cincin yang dikenakan oleh pasangannya bukanlah cincin yang mereka berikan saat menikah.

“Kalo aku tidak masalah,” jawab Dako cepat, tersenyum lebar, membuat Arga kaget dan bingung, lalu dengan terpaksa mengangkat kedua pundaknya, sebagai tanda menyerahkan keputusan kepada yang lain.

“Okeee,,, Deal,,,” seru Aryanti. Menghentikan usaha Zuraida yang ingin mengutarakan keberatan. Wanita berjilbab itu akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah sahabatnya.

Ting,, Ting,, Ting,,”Maaf,,, minta perhatiannya sebentar,,,”
Ucap Pak Prabu tiba-tiba, mengetuk gelus dengan cincin akiq yang ada dijarinya. Lampu sorot yang terang mengarah ke tempat lelaki berdiri, diatas panggung, ditemani istrinya Bu Sofie.

“Sebelumnya, boleh saya meminta Sintya untuk ikut naik keatas sini,, biar komplit laahh,,”

“Hahahaa,,, mantap,,,”
“Sing rukun yooo,,, hahaha,,,”

Teriakan dan tawa seketika menggema. Rupanya Pak Prabu sudah berterus terang tentang status Sintya kepada Bu Sofie, dan hebatnya Bu Sofie dengan lapang dada bisa menerima.

Itu terlihat bagaimana Bu Sofie menyambut Sintya yang naik keatas panggung dengan senyum dan tangan terbuka, berpelukan dan saling cipika-cipiki, membuat para lelaki yang ada disitu menjadi iri.

“Harap tenang,,,” ucap Pak Prabu dengan gaya cool yang dibuat-buat, menegakkan kerah bajunya, lalu menggandeng Sintya dan Bu Sofie, begitu pongah menggoda para lelaki yang ada ditempat itu. Tak ayal suara tawa semakin menggema.

“Agar tidak mengganggu acara kita, Langsung to the poin saja,,, Jadi begini,,,” ucap Pak Prabu, saat suara tawa mulai mereda.

“Saya tadi pagi ditelpon Pak Andre Diaz, tentang rotasi mutasi manager empat tahunan, mungkin dalam minggu ini saya akan ke Jakarta untuk memastikan hal tersebut,” saat membicarakan hal-hal yang serius, wibawa Pak Prabu sebagai seorang pemimpin muncul seketika, Arga, Dako, Munaf dan Adit serius memperhatikan.

“Tapi saya mendapatkan bocoran tentang rotasi kali ini, yang bagi saya sendiri cukup mengejutkan. Seperti yang kita ketahui, saya memang mendapatkan promosi untuk untuk menduduki salah satu jabatan penting dipusat, dan posisi saya akan digantikan oleh Arga sebagai pimpinan cabang. Tapi berdasarkan pencapaian prestasi kita semua,,,” Pak Prabu menarik nafas panjang, bibirnya tersenyum lebar.

“Adit dipromosikan untuk memegang tampuk wakil pimpinan cabang, menemani Arga,, selamat,,,” Tepuk tangan dan ucapan selamat segera mengalir, sementara Adit sendiri tersenyum lebar, tak menyangka dengan karirnya yang begitu cepat naik. Bahkan terlalu cepat untuk remaja seusianya.

“Dan untuk Pak Munaf, kemungkinan besar akan menggantikan Pak Andree Jeff, yang pensiun dari pimpinan Cabang Kota Surabaya.”

“Whooo,,, selamaat,, selamaaat,,,”
“Akhirnyaaa,,, naik jugaaa,, selamaat,,”
Tepuk tangan semakin riuh, jabatan pimpinan cabang itu memang pantas untuk Munaf yang terbilang cukup senior.

“Sedangkan Dako,,,” suasana seketika menjadi hening saat Pak Prabu mulai melanjutkan pengumumannya, “Dengan pertimbangan perlunya perusahaan ini melebarkan sayap, jajaran direksi mempercayakan kepada Dako untuk merintis pembukaan cabang central untuk daerah Kalimantan,, selamaat!!!,,,”

“Yeeaaahhh,,,” Dako mengepalkan tangannya, berteriak girang, tertawa lebar, menerima jabat tangan Arga dan Aryanti yang mengucapkan selamat. Lalu berpaling kearah Zuraida dan memeluknya erat, kita akan pindah ke Kalimantan sayang, seperti yang memang aku inginkan,,,” bisik Dako.

“Ok,,, untuk sementara mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, tapi bocoran ini dapat dipercaya, karena disampaikan langsung oleh Pak Andre, selanjutnya,, silahkan melanjutkan party kita,,,” ucap Pak Prabu menutup pengumumannya sambil mengangkat gelas ditangan, mengajak untuk bersulang.

Kebahagiaan begitu nyata terlihat, masing-masing mengucapkan selamat kepada rekannya. Berkelakar tentang daerah yang akan mereka tempati.

Sambil memainkan jari-jari diatas Yamaha Keyboard PSR-E433, Adit membawakan lagu dari Daniel Bedingfield dengan pelan.

If your not the one then way does my soul feel glad today…
If your not the one then way does my hand fit yours this way…
If you are not mine then way does your heart return my call…
If you are not mine would i have the strenght to stand at all…

Pak Prabu mengajak Bu Sofie untuk berdansa, memeluk sang pejantan sambil memamerkan senyum kepada yang lain.

“Pah,, mending papah nemenin Sintya, kasian dia sendiri,,,” ucap Aida saat melihat raut wajah gadis itu berubah ketika Pak Prabu mengajak Bu Sofie berdansa. Memang tidak mudah untuk menjadi yang kedua.

“Iya,,, Boleh koq,,, tapi jangan dinakalin, kasian dia,,,” ucap Aida, menjawab tatapan tak percaya dari Munaf. Seketika lelaki itu tersenyum lebar, mengecup kening Aida, lalu mendekati Sintya.

“Aryanti,,, mau berdansa dengan ku?,,,”

Aryanti tersenyum mendengar ajakan Dako, sesaat menatap Arga dan Zuraida meminta izin, lalu dengan gaya yang gemulai mengangkat tangan kanan nya yang dengan cepat disambut oleh Dako. Berjalan mendekati Munaf dan Pak Prabu yang ada didepan panggung.

“Zee,,,” panggil Arga lembut, mengagetkan Zuraida, meski dirinya memang tengah menunggu ajakan Arga, tetap saja suara yang terdengar lembut itu mengagetkannya.

Zuraida tersenyum canggung, menyambut Arga yang meletakkan tangan dipinggul yang ramping.

Tubuh kedua insan berlainan jenis itu bergerak mengikuti lagu, ditempat yang sama, tidak bergabung dengan yang lain. Gerakan kedua nya terlihat kaku, padahal beberapa jam yang lalu mereka bercinta dengan mesranya.
Membisu, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Malam semakin larut, beberapa pasangan terlihat saling bertukar, kini Munaf terlihat tengah menggandeng Andini, sementara Pak Prabu begitu mesra bersama Sintya. Dan Bu Sofie,,, wanita itu kini terlihat sibuk dimeja bar mini, meracik minuman dari beberapa botol beraneka warna yang berbentuk unik. Sebuah hobby baru yang didapatnya setelah lama menetap di Paris.

Aryanti dan Dako pun tampak beristirahat, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih baru, duduk dengan saling pangku, tangan Dako yang nakal tak henti menggarayangi paha Aryanti yang hanya dibalut mini dress warna merah muda.

Sesekali Aryanti menuangkan whiskey ke gelas mereka. Dan terlihat jelas bagaimana keduanya mulai mabuk.

***
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Zuraida menyerah, membuka mulutnya membuka percakapan.

“Argaa,,,”

“Yaa,,,” sahut lelaki itu datar. Sesuai dengan dugaan Zuraida, jawaban yang terasa begitu hambar. Namun Zuraida tidak peduli, wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak si lelaki.

“Aku akan pergi jauh,, mungkin,,, mungkin kita tidak akan bertemu lagi,,, aku tidak mungkin terus menyakiti Aryanti,,,,” Air mata perlahan berkumpul dipelupuk mata, jatuh berderai tak terbendung, sesenggukan dipundak Arga. Tapi lelaki itu tak bergeming, tak menjawab, hanya tangan kekar yang memeluk semakin erat.

“Argaaa,,, plisss,, jangan diam seperti ini,,, acuh mu membuat hatiku semakin menderita,,,” tangis wanita itu semakin dalam.

“Jangan menangis sayang,,, inilah jalan hidup, takdir hanya ingin membantu kita untuk menyelesaikan hubungan terlarang ini,,,” bisik Arga, mengusapi rambut Zuraida yang tertutup oleh jilbab.

“Percayalah,,, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,,,”

Tangis Zuraida terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Arga. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Arga memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zuraida selain menerima.

Matanya yang basah menatap Arga. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda.

Kakinya berjinjit, mengecup bibir sipejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.

“Zeee,,,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Arga saat menyambut bibir sicantik. Walau bagaimanapun sulit bagi Arga untuk mengabaikan jamahan bibir seorang Zuraida.

Lampu sorot kolam yang tadi sempat menyala terang, kembali meredup. Membuat suasana semakin syahdu.

“Bu,,, tengoklah Bu Zuraida dan Pak Argaa,,, soo sweeett,, romantis bangeeet,,,” ucap Andini yang menghampiri Aida yang duduk disofa panjang. membawa dua gelas cocktail hasil racikan tangan Bu Sofie.

“Sepertinya antara mereka emang ada sesuatu deh,,,” jawab Aida, menyambut obrolan Andini.

“Padahal aku pengen banget dansa ama Pak Arga,,,kali aja ntar dikasih lagi,,, itu nya lhooo,, ngangenin bangeet,,,” ucap Andini yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sejak awal gadis itu memang sudah banyak minum.

“Hahahaa,, ternyata kamu udah nyicipin punya Arga juga ya,,, tapi emang sih,, wanita mana yang ngga klepek-klepek dihajar batang gede nya,,, Uuugghh,,, Dini sihh,, aku jadi pengen nih,,, hihihi,,,”

Tapi obrolan dua wanita terhenti, dikeremangan mata mereka menyaksikan bagaimana tangan Arga meremasi payudara Zuraida. Wanita yang terlihat begitu setia dan alim itu begitu pasrah atas ulah dua tangan Arga yang meremasi payudara, pantat dan selangkangannya.

“Duuuuhh,,, Aku jadi ikut merindih nih Din,,, pengen diremes-remes juga,,,” keluh Aida, menjepit tangan dengan kedua pahanya.

“Buuu,,, Pak Munaaaf Buuu,,,” seru Andini tiba-tiba. Menunjuk Munaf yang tengah menggarayangi tubuh Bu Sofie dari belakang, tapi wanita bertubuh montok itu hanya tertawa. Tangannya terus bekerja meracik minuman untuk Adit yang duduk didepan Bar.

Begitupun saat Munaf berusaha mengeluarkan sepasang payudara berukuran 36D dari gaunnya. Bu Sofie justru tertawa semakin lebar, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Bu Sofie melemparkan kain kecil hingga menutupi wajah Munaf.

Tiba-tiba tubuh Bu Sofie beringsut turun kebawah, membuat Andini dan Aida bertanya-tanya apa yang dilakukan wanita itu dibawah meja bar, tapi saat melihat wajah Munaf yang terlihat begitu menikmati aktifitas Bu Sofie dibawah sana, baru lah mereka mengerti apa yang tengah terjadi.

Tak berapa lama, Munaf menarik tubuh Bu Sofie kembali berdiri, meminta wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Terlihat Bu Sofie mewanti-wanti saat Munaf mengangkat gaun mini yang membungkus tubuh montoknya. Tapi Munaf seperti tidak peduli, meminta Bu Sofie lebih membungkukkan badannya, dan tiba-tiba tubuh wanita terhentak kedepan, mulutnya terbuka melepaskan lenguhan tanpa suara.

“Buuu,,, mereka ngen,, ngentot ya?,,” tanya Andini dengan suara tertahan.

“Huuhh,,, dasar si papah,,, padahal tadi udah janjian ga boleh main serong lagi,,, uuggghhh,,,” Aida terlihat sebal, menenggak habis cocktailnya, merasa kurang, Aida juga menenggak chivas milik suaminya yang ada dimeja kecil.

Seketika wajahnya mengernyit ketika merasakan kerasnya rasa dari minuman itu. Tak ambil pusing dengan rasa, ibu muda itu kembali menenggak beberapa kali.

“Hihihihi,,, ibu kalo marah lucu,,,” Andini mengamati tingkah Aida yang tengah sewot. “Balas aja bu,,,” usul Andini.

“Balas?,,,”

“Iya,,, ibu balas aja, tu suami saya lagi nganggur,,,” jawab nya sambil menunjuk Adit yang duduk menonton sambil meremasi batang yang ada dicelana, seolah sedang menunggu giliran.

Tanpa minta persetujuan lebih lanjut, Aida beranjak mendekati Adit, dan langsung memberikan ciuman yang ganas. Adit yang sempat kaget langsung mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Pasrah ketika Aida menariknya kedalam bar. Tak menunggu lama terjadilah pacuan dua tubuh betina yang sama-sama memiliki tubuh montok.

Pinggul Adit menghentak dengan kasar, menjejali vagina Aida dengan batangnya, sambil melempar senyum kepada Munaf. Terbalas sudah dendamnya tadi pagi, saat Munaf menyutubuhi Andini dalam lomba pantai, tepat didepan matanya.

“Asseeeem,,, pelan-pelan Dit, jangan kasar gitu, kasihan istriku,” seru Munaf geram.

Tapi peringatan Munaf justru dijawab oleh istrinya sendiri dengan lenguhan panjang, dibalik kacamata minusnya wanita itu tersenyum nakal, sambil sesekali meringis akibat hentakan Adit yang kelewat kasar. Tapi itu justru membuat Aida semakin liar, pantatnya bergerak kebelakang dan kedepan memberikan perlawanan.

Wajah Munaf semakin geram, tidak menyangka istrinya yang dulu kalem kini berubah menjadi begitu binal. Tubuh montok yang selama bertahun-tahun selalu setia melayani kebutuhan seksualnya kini tengah melayani lelaki lain. Menawarkan kenikmatan liar yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Melihat hal itu Bu Sofie tertawa, seolah tak ingin kalah tubuhnya ikut bergerak liar, otot vaginanya mengencang, memberi pesan kepada Munaf bahwa vaginanya tidak kalah dari milik istri Munaf itu.

Tak ayal terjadilah persaingan pacuan liar, Adit yang membalas dendam, Munaf yang geram dibakar cemburu, Aida yang ingin membalas ulah suaminya dan Bu Sofie yang terbawa dalam arus persaingan. Begitu kontras dengan alunan musik yang mendayu lembut, mengiringi Arga dan Zuraida yang masih melangkah berirama sambil berpelukan

Sementara disisi lain kolam, Mang Oyik dan Kontet yang kini menjadi operator musik dan lampu, cuma bisa manahan konak. Nafsu kedua jongos itu semakin menderu saat menyaksikan Aryanti yang kini duduk mengangkangi Dako yang asik menyusu dikedua payudaranya.

Berkali-kali jari lentiknya memasukkan kembali payudara kebalik mini dressnya, berkali-kali pula tangan Dako menarik keluar seolah sengaja ingin memamerkan sepasang buah ranum itu kepada Mang Oyik dan Kontet.

Akhirnya Aryanti pasrah, membiarkan payudaranya menggantung diluar, menjadi santapan bibir dan lidah Dako. Menjadi santapan nafsu liar kedua jongos yang hanya bisa menatap sambil mengusapi selangkangan.

Birahi telah menguasainya, dicumbui tatapan liar yang semakin membuat tubuhnya semakin terbakar sensasi eksibionis. Wanita cantik itu balas menggoda
Menggesek-gesek batang Dako diselangkangan yang masih terbalut celana dalam yang juga berwarna merah

Sepertinya kedua pasangan itu tidak ingin terburu-buru, menikmati setiap kenakalan yang dilakukan oleh pasangannya. Menikmati segala cumbu nafsu yang menyapa.

“Mang,,, Mang Oyik,,, tu ada yang nganggur Mang,,,” seru Kontet mengagetkan konsentrasi Mang Oyik. Keduanya menatap Andini yang sudah mulai mabuk, mengamati persetubuhan pacuan birahi suaminya.

“Samperin yuk,,, kali aja kita dikasih nenen sama tu cewek,,, sepertinya lagi mabuk, Mang,,”

“Eittsss,,, itu jatah ku,,, kamu tungguin lampu ama sound system, lagian idolamu lagi show tuh,,, kali aja ntar kamu ditawarin ikut nyoblos memeknya,,,” ucap Mang Oyik, lalu meninggalkan Kontet yang ingin protes.

* * *
“Argaaa,,, Gaaa,,, kau membuatku basah sayang,,,” rintih Zuraida, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zuraida masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Arga mengusapi vaginanya. Puting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Arga.

“Argaa,,, Aku ngga tahan, sayaang,,,” mata indahnya menatap Arga, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ketempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang tengah diidamkan oleh vagina mungilnya.

“Jangaaann,, cukup seperti ini ya sayang,,,” jawab Arga, mengangetkan Zuraida.

Berbagai pertanyaan berseliweran diotak dokter cantik itu, Apakah Arga tidak mencintainya lagi?,,, Apakah Arga sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi?,,,

Zuraida termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedada si lelaki, nafsu yang bergemuruh dengan cepat sirna, kerisauan hati lah yang kini meraja. Bertanya-tanya, Ada apa dengan cintanya.

“Sayaang,,, Tidak usah berfikir macam-macam, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik buat kita,,,” ucap Arga, hatinya pun sedih tidak bisa memenuhi keinginan wanita yang begitu dikasihi. “Maaf,,,”

Zuraida tidak menjawab, memejamkan matanya, waktu mereka tak banyak. Tak ingin menghabiskan dengan perdebatan. “Argaa,,, hikss,,,” wanita itu kembali terisak dipelukan si lelaki.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

ZURAIDA AND FRIENDS PART 6

“Wooyy,,, Ga,,, tu bini orang mau diculik kemana ,” teriak Adit, yang sedang duduk santai di gazebo bersama Bu Sofie dan Aida.

Arga menoleh kesumber suara, lalu melambaikan tangannya sambil tertawa. Disampingnya berjalan Zuraida yang terlihat begitu feminim, jilbab hijau muda, dipadu dengan kaos lengan panjang dengan warna senada, sementara rok hitam panjang yang menutup hingga kemata kaki melekat cukup ketat, membungkus kaki jenjang yang berujung pada paha dan pinggul yang aduhai.

“Memangnya kau mau mengajak ku kemana?,,,”

“Ngga ada tujuan pasti, cuma ingin jalan-jalan bersamamu,,, tenang aja, kan tadi udah izin ama Dako,, kamu ngga capek kan?,,,” Arga balik bertanya sambil memandangi wajah Zuraida yang tampak tersenyum malu-malu layaknya gadis SMA yang pertama kali diajak kencan.

“Capek sih,, tapi ngga apa-apa, aku juga ingin jalan-jalan,,” Bibir tipis Zuraida yang bergerak menjawab pertanyaan, tak lepas dari pandangan Arga.

“Kamu cantik banget,,, lebih cantik dibanding saat kuliah dulu, kau yang sekarang terlihat lebih matang sebagai seorang wanita,,,”

“Kalo cantik kan emang dari dulu, hehehee,,, kalo matang,,, emmhh,, mungkin proses hidup,,,” Zuraida yang berjalan sambil melipat tangan didepan dada, segera menurunkan tangannya, saat melihat mata Arga yang memandangi payudaranya yang membusung.

“Mateng banget,,,hehehee,,”

“Iiihh,,, dasar cowok mesum, pikirannya ngga pernah jauh dari situ,,,hahahaahaa,,,” Zuraida tertawa sambil menggelng-gelengkan kepala.

“Ya maklumlah,, aku masih normal,, Aki-aki aja banyak yang masih doyan ama begituan,,,”

Zuraida menyambut tangan Arga yang perlahan menggamit jemari lentiknya. Berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai. Sesekali kaki mereka disapa oleh ombak yang datang menghampiri.

“Hahaha,,,, emang bisa apa kalo udah jadi aki-aki,,,”

“Lhoo,, jangan salah,,, seorang cowok, selama tangannya masih bisa mengangkat ember penuh air, ya hasrat dan pikirannya ga bisa jauh ama yang begituan,, apalagi kalo ceweknya cantik seperti kamu,,,”

“Hahahahaa,,, macam-macam ajaa,,,”

* * *
“Iiiihhh,,, duduknya geseran kesana dikit dong,,,” keluh Sintya sambil mendorong tubuh Munaf.

“Geser kemana lagi,, emang tempat nya sempit gini?,,” jawab Munaf, sambil menarik tubuhnya kesamping, bersandar pada pintu mobil pick up, sementara Mang Oyik hanya bisa tertawa melihat tingkah gadis disampingnya.

Sintya merengut, bibirnya manyun, wanita yang tidak terbiasa dengan angkutan darurat itu terlihat begitu gelisah, apalagi tatapan mata Mang Oyik yang berulangkali menyatroni pahanya yang terbuka.

“Ngapain sih Pak Prabu pake suruh aku ikut segala,” sungutnya, tangannya berusaha menarik roknya lebih kebawah, berharap bisa lebih menutupi pahanya yang mulus.

Munaf berusaha menahan tawa, wajahnya dipalingkan kearah jendela. Yaa,,, Munaflah dalang dari kesialan Sintya yang siang itu diminta Pak Prabu untuk menemani Munaf dan Mang Oyik ke pasar, dekat kantor kecamatan.

Sebenarnya pemandangan hamparan padi yang menghijau disepanjang jalan yang mereka lewati cukup menarik bagi orang-orang perkotaan seperti mereka, khususnya bagi Sintya. Tapi jangankan menikmati pemandangan, untuk duduk dengan tenang saja gadis itu terlihat kerepotan.

Pundak Munaf yang berada didepannya, berkali-kali mengambil kesempatan dengan menggesek-gesek bongkahan payudara Sintya. Sementara tangan Mang Oyik begitu terampil memainkan jari-jarinya saat memindah persneling yang berada tepat disamping Paha wanita itu.

“Pak,,, bapak mundur kebelakang dikit,,” pinta Sintya. Lalu memajukan badannya kedepan, menurutnya posisi ini mungkin lebih baik untuk tempat sesempit itu.

Tapi, Munaf yang menarik lengannya kebelakang, dengan iseng justru meletakkan telapak tangannya dipundak Sintya.

“Iiiihhh,,, bapak ini, tangannya bisa nyamper di jok kan?,,,”

“Disini?,,,” jawab Munaf seraya menurunkan tangan kepantat Sintya.

“Keatas sanderan Joooook,,,,” suara Sintya meninggi, tak mampu lagi menahan emosinya.

“Hahahaa,,,, ihh,,, galak banget sih,,, padahal tadi bapak lihat ikhlas banget waktu dimasukin itunya sama si Adit,” ucap Munaf sambil tertawa.

“Yaaa,,, terserah saya dong,,, lagian itukan kondisi yang memaksa,,,” Sintya mencoba berkelit.

“Sama dong dengan sekarang,,, kondisinya maksa banget nih Sint,,,”

“Berani megang,,, saya tonjok lho Pak,,,”

“Hahahaahaa,,, iya Nooon,,, iyaaa,,,”

“Dah nyampe Pak?,,, tu mini marketnya,,,” seru Mang Oyik, memotong tawa Munaf, sekaligus memecah tensi Sintya yang sedang memuncak.

Munaf keluar, menuju mini market, tapi berbalik lagi kearah pick up. “Mang,,, mamang aja deh yang beli,, Ni duitnya Mang,,, Dji Sam Soe, dua selop,,,”

“Siap Den,,,” jawab Mang Oyik, lalu bergegas menuju mini market yang merupakan satu-satunya ada di dikecamatan pesisir pantai itu.

“Tunggu,,,, tunggu,,, Pak Munaf kesini cuma buat beli rokok doang?,,,”

Munaf tidak menjawab, tapi tertawa lebar, tak lama tawa itu berubah menjadi senyum kecut saat melihat wajah Sintya yang sekuat tenaga menahan emosi..

“Gilaaa,,, ini benar-benar gilaa,,, kalian emang kelewatan,,,” wajah sintya tertunduk, menekuk kepalanya dipintu pick up sambil meratapi nasib sialnya.

Tapi tadi si Dako juga nitip kondom kan?,,,” Munaf mencoba mengingatkan Sintya tentang pesanan rekan kerja nya itu.

“Ohh,, iyaa,, ya udah,,, temenin kedalam yuk pak,,,” Sintya melangkah gontai, tubuhnya sebenarnya sudah cukup lelah setelah permainan game yang menguras banyak stamina.

Tak berapa lama, ketiga orang itu keluar dari supermarket.

“Mang,,, pulangnya biar aku yang nyetir ya,,,”

Sintya menghela nafas, saat mendengar Munaf meminta Mang Oyik untuk bertukar tempat duduk. Bersiap untuk menghadapi kejahilan apaalagi yang akan diterimanya.

* * *

Sementara itu, di bagian belakang cottage, tepatnya dikamar Mang Oyik. Suara rintihan tertahan terdengar dari bibir seorang wanita, tangannya berpegangan dipinggiran meja dengan gemetar, mencoba menikmati permainan lidah seorang lelaki yang tampak begitu menikmati liang di selangkangannya.

“Ooowwwhhhsss,, Yaaa,, disituuu,,, jilatin yaaang lembut yaaa,, ”
perintahnya pada seorang lelaki yang tertawa-tawa dengan lidah terjulur menusuk kecelah vagina yang sempit.

Tanpa menunggu persetujuan, wanita berparas cantik itu dengan liar menggasak mulut dan wajah lelaki yang begitu pasrah melayani segala permintaan, dengan bibir vaginanya yang sudah sangat basah.

Wajah cantiknya semakin terlihat bergairah saat menyaksikan wajah seseorang yang tampak bersemangat menyeruput setiap tetes cairan pelumas yang merembes dicelah alat senggamanya.

Sesekali ujung hidung si lelaki menyentuh pintu anusnya, membuat tubuh wanita itu semakin menggelinjang.

“Ooowwwhhh,,, jilat yang belakang beraaaniii ngga,,,?,,,” Mulutnya memohon, ingin mencoba sensasi yang baru.

Wanita itu tak lain adalah Aryanti, teller bank cantik dengan tubuh sempurna, yang sering diidamkan para wanita. Tengah asik mengangkangi wajah Kontet.

Yaa,,, siang itu, disaat yang lain tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, Aryanti dan Andini justru terjebak pada situasi birahi yang liar. Awalnya kedua wanita cantik itu pergi kedapur untuk meminjam pisau, tapi disana mereka justru mendapati Lik Marni yang bersimbah keringat, tubuhnya terlihat bergerak lincah melayani dua pria yang menggasak kedua lubangnya.

Keduanya sangat kaget, bukan hanya karena pertarungan 2 lawan 1 saja, tapi juga kemampuan Lik Marni mengimbangi tusukan dua bilah batang kemaluan yang menggasak kedua lubang diselangkangannya.

“Pak Prabu,, sama Dako kan itu?,,,” tanya Andini berusaha menegaskan apa yang dilihatnya.

“Iya,,, asik banget kayanya,,, hebat juga Lik Marni, bisa ngimbangin mereka,,,” jawab Aryanti, teringat aksinya yang cukup kewalahan saat meladeni nafsu liar Pak Prabu dan Dako. “Balik aja yuk,,,” sambung Aryanti, menarik tangan Andini.

Saat berbalik, mereka dikagetkan dengan kehadiran Kontet dari arah belakang. Pemuda bertubuh besar dengan perut agak buncit itu memang sering hilir mudik di cottage Mang Oyik.

“Ada apa Bu? Mencari Mang Oyik?,, maaf,, kalo ga salah tadi saya liat si mamang naik pick up kekecamatan,,, kalo Lik Marni mungkin ada dikamarnya,” ucap Kontet, berusaha tersenyum seramah mungkin.

“Kami cuma mau pinjam pisau pak,,,” ucap Aryanti berusaha menyembunyikan kekagetannya.

“Owwhhh,,, ada tu bu, ambil aja didalam,,, biasa sih Lik Marni naruh pisau diatas lemari.”

“Eehh iya,,,, Kalo ga salah namamu Mang kontet kan?,,,,” tanya Aryanti, berusaha menguasai situasi., dan segera masuk kedalam mencari-cari benda yang dimaksud.

Kontet tersenyum, saat mengikuti Aryanti kedalam dapur, melalui kaca, diruang sebelah tampak istri Mang Oyik tengah asik melayani dua orang lelaki, pikirannya segera berasumsi bahwa kedua wanita itu baru saja mengintip.

Wajah Kontet tersenyum nakal kearah Andini yang menunggu didepan pintu dapur, yang memang berdampingan dengan kamar Mang Oyik, membuat hati wanita itu bergidik. Lalu berpaling menatap tubuh Aryanti dengan penuh nafsu.

“Mana Mang? Pisaunya ngga ada?,,,”

Andini tau, seperti dirinya, mata Aryanti juga tidak fokus mencari pisau, tapi lebih tertarik menyaksikan live show Lik Marni dari balik kaca satu arah yang semakin panas. Namun kehadiran mereka tidak disadari oleh Lik Marni yang kini asik menduduki penis Dako, pantat besarnya bergerak turun naik dengan cepat, melumat batang Dako tanpa masalah berarti.

“Pisaunya disini Bu,,,”

“Aakkhhh,,, Mamang, ngapain disituuu,,,” bukan hanya Aryanti, Andini pun terkaget saat melihat Kontet berjongkok dibelakang Aryanti, wajahnya tepat menghadap pantat montok Aryanti, sementara tangannya berusaha menjangkau pisau yang ada dirak bawah, melalui kedua kaki jenjang Aryanti.

“Buu,,, kenalaaan dikit boleeehkaaan?,,, sayaaa ngga tahan ngeliatnya buu,,,” ucap Kontet, lalu membenamkan wajahnya kesela-sela pantat yang masih dibalut rok span longgar.

“Eeehh,, si Mamang,,, main sosor aja, bahaya kalo kenalan dengan punya sayaaa,, bikin ketagihan lhooo,,,” Aryanti semakin kaget dengan kenekatan Kontet, tapi melihat ulah lelaki yang terlihat seperti kerbau yang kelaparan membuat bibirnya tertawa, niat usilnya muncul seketika.

“Din,,, tunggu bentar yaaa,,, ada kebo yang kelaparan,, hiihihi,,,” Aryanti mengedipkan matanya kepada Andini yang bisa maklum dengan ulah usil Aryanti yang sering kumat, tapi cara menggoda Aryanti, menurut Andini yang masih hijau itu sedikit kelewatan.

Aryanti mencoba membungkuk dan semakin menunggingkan pantatnya, membiarkan lelaki dengan wajah amburadul itu menciumi pantatnya, sambil tertawa.

Berkali-kali Kontet menggigit lembut, dan berkali-kali pula berusaha membenamkan wajah nya lebih dalam diantara belahan pantat yang tertutup kain, hingga hidung nya menggelitik anus Aryanti.

“Buu,,, buka yaaa,,,,” Kontet memohon sambil mengusap-usapkan wajahnya di bongkahan pantat.

“Hhhmmm,,, boleh ngga ya?,,, Din,,, boleh ngga nih?,,” Aryanti menatap wajah Kontet yang begitu berhasrat pada bongkahan daging miliknya, bola matanya berputar genit keatas menatap langit-langit plafon, lalu berbalik menatap Andini yang bersandar didinding, menatap ulah nakal Aryanti. Mengangkat kedua pundaknya mengembalikan pertanyaan.

“Kasih aja dikit, tapi awas kebablasan lhoo mba,,,” celetuk Andini tiba-tiba, gadis itu tau, meski dilarang pun Aryanti akan tetap menggoda Kontet dengan tubuh indahnya.

“Tuhh,,, dibolehin koq ama teman ku,,,” Kontet nyengir lebar, “eittss,,, tapi tangannya ngga boleh ikutan lhooo,,,” serunya, ketika tangan besar berbulu ingin menyibak rok nya.

Seakan takut kehilangan kesempatan, tanpa fikir panjang Kontet menyelusupkan kepala kedalam rok Aryanti. “Iiihh,,, Mamaaang, pelan-pelan atuuuh, nafsu banget sih,,,hihihii,,, Aawww,,,” wanita itu hampir terjengkang kedepan, ketika kepala Kontet menyundul pantatnya, bibir tipisnya tertawa melihat ulah si penjaga cottage sebelah.

Tapi tawanya terhenti seketika, saat wajah kasar yang penuh bopeng mengusap belahan kulit mulusnya. Hidungnya menghirup dalam, coba mengenali aroma dari selangkangan wanita yang begitu menggoda nafsunya.

“Ooowwwhhhh,,,,” Aryanti melenguh lembut, mencoba membuka selangkangannya semakin lebar. Jarinya mencengkaram tepian meja dengan kuat.

“Mba Yanti,,,,” Andini coba mengingatkan, baginya apa yang dilakukan Aryanti sudah terlalu jauh.

Aryanti menoleh, lalu tersenyum, ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O, sebagai tanda Ok, bahwa dirinya masih bisa mengontrol permainan yang disuguhkannya kepada Kontet.

Meski bibirnya masih bisa dipaksakan untuk tersenyum, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan mimik birahi yang dirasakan oleh tubuhnya. Sesekali mulutnya terbuka, melepaskan lenguhan tanpa suara.

Sementara dibawah sana, diantara kedua paha nya lidah Kontet berusaha menjangkau vagina Aryanti yang terbalut kain tipis.

Kepala Andini menggeleng pelan, kembali mengingatkan Aryanti, saat wanita itu mengangkat paha kanannya dengan perlahan, wajahnya memelas, memohon sedikit pengertian dari gadis itu.

Kini Andini dapat melihat aktifitas Kontet, wajah lelaki penuh bopeng itu tenggelam dibelahan pantat Aryanti, bergerak-gerak keatas kebawah seiring sapuan lidahnya divagina Aryanti.

Tanpa sadar Andini menyilangkan kedua kakinya, nafasnya ikut memburu, tangannya yang bersedekap didepan dada mulai gelisah.

“Maaangss,,, panas banget sih lidahnyaaa,,,eemmmhhh,,” suara Aryanti terdengar lirih. Sesekali menggigit bibirnya saat lidah Kontet berusaha menyingkap sisi kain yang menutupi belahan vaginanya.

Kini Andini mulai cemas, celana dalam tipis yang dikenakan Aryanti seakan tak berdaya melindungi kemaluan wanita itu. Andini bergerak reflek, menggeser tubuhnya, matanya berusaha mengawasi usaha lidah Kontet yang mencoba menyingkap kain tipis yang sudah sangat basah..

Aryanti pun tidak berdiam diri, pahanya semakin membuka, seakan memberi dukungan, tubuhnya semakin membungkuk, pantatnya bergerak saat lidah Kontet sesaat berhasil mengait tepian kain dan berusaha menyibaknya, tapi kain itu terlalu ketat membungkus selangkangan montok Aryanti.

“Ayooo Maaang,,, kamu pasti bisaaa,,,,” ucapnya , namun karet celana nya masih terlalu tangguh untuk lidah Kontet. Bukan hanya Aryanti yang dag dig dug melihat usaha Kontet, karena Andini pun mulai belingsatan, dirasakannya lipatan bibir kemaluannya mulai terasa gatal, seakan ikut merasakan geliat lidah Kontet di selangkangan Aryanti.

“ Mba Yaaant,,, jangan mbaa,,” seru Andini pelan tapi tegas,, matanya melotot memberi peringatan saat tangan Aryanti terhulur turun menjangkau sisi celana dalam yang menutupi bagian intimnya.

“Jangan lapor Mas Arga yaa,,, cuma main-main aja koq,,,, ga pake penetrasi,,,,” Aryanti memelas, meminta persetujuan Andini atas ulah nakalnya.

Kini berbalik Andini yang bingung,, bingung harus mengizinkan atau tidak, sementara nafsunyanya juga tengah memburu, ingin melihat sejauh mana kedua kedua anak manusia itu berulah.

Akhirnya kepala Andini mengangguk pelan, disambut gerak cepat Aryanti, namun tangannya bukan menyibak sisi celana dalam, tapi justru menarik turun seluruh kain segituga itu.

Kontet yang terus asik dengan selangkangan milik Aryanti, tidak menggubris interaksi kedua wanita itu, seketika terkaget saat disodori bongkahan daging putih dan mulus.

Hidung lelaki itu bergerak maju, menoel pantat Aryanti dengan gemas, dengan sangat perlahan lidahnya yang terjulur menyapu lembut dari bagian paha yang mulus, terus menyusur menuju bongkahan pantat.

Nafas Andini terasa begitu berat melihat aksi kontet yang mungkin bagi sebagian orang menjijikkan, kini kedua bongkahan pantat sahabatnya itu terlihat basah, mengkilat oleh air liur Kontet.

Sementara Aryanti hanya bisa mendesah menikmati servis mandi kucing ala lidah Kontet. “Lanjutin yang di tengah Maangss,,,” Aryanti membungkuk, mengitip dari sela kedua pahanya.

Pandangan kedua nya bertemu, terlihat jelas bagaimana bernafsunya pemuda bertubuh tambun itu pada lubang vagina basah dipenuhi rambut kemaluan, yang memisahkan wajahnya dan Wajah Kontet.

Ketika Kontet kembali menjulurkan lidahnya yang panjang, Aryanti membentang pahanya semakin lebar, menunggu sapuan lidah Kontet yang mencoba menjangkau klirotisnya.

“Oooowwhhh,,,, teruuuuussss,,,, teruuuussssss,,,” Bibir mungil wanita itu terpekik tertahan, menggelinjang menahan geli saat lidah yang hangat memberikan sapuan panjang dari gerbang kemaluan hingga kelubang anusnya.

“Gilaaaa,,,, gilaaaa bangeeeet,,,, ini benar-benar nikmat Din,, Oooowwhh,,,” rintih Aryanti dengan mata setengah terpejam, menikmati ulah Kontet yang melakukan sapuan panjang berulang-ulang.

Bukan hanya tubuh Aryanti yang dibasahi oleh keringat, karena Andini yang berdiri terpaku pun juga bersimbah keringat, wanita yang hanya pernah melihat adegan itu di blue film, untuk pertama kalinya menyaksikan lidah seorang lelaki menyapu lorong anus seorang wanita.

Jepitan paha Andini semakin kuat. Nafasnya memburu, ingin sekali tangannya menggaruk lorong vaginanya yang terasa begitu gatal.

“Mangsss,,, masukin lidahnya kebelakang yaaa,,, masukin ke anus sayaaa,,,” rintih Aryanti, kedua tangannya berusaha membuka bongkahan pantat, memamerkan pintu Anus yang masih tertutup rapat.

Sesaat Kontet meneguk liurnya, memandang pintu anal yang mengerucut imut tepat didepan matanya.

“Ooowwgghh,,, Oooowwwhhhgg,,, Aaakkhhh,,,, panasss bangeeeet lidah mu Maaang,,, Oooowwhhh,,,,” Aryanti melenguh, lalu merintih tertahan saat lidah yang kasar perlahan menguak pintu belakangnya.

Tangan kanannya bepindah, berusaha menjambak rambut Kontet yang cepak, terengah-engah membantu Kontet menikmati tubuh bagian belakangnya. “Teruss Mangss,,, mainin lidahnya didalaaam sanaaa,,, terussshhh Owwhh,,,”

“Diiin,,, enak banget, beneraaaan dimasukiiiin,,, ooqqhhhh,,,” tubuh Aryanti terlonjak-lonjak kegelian saat lidah panas Mang Oyik menyelusup kedalam lorong analnya.

Sementara wajah Andini tampak mengernyit jijik. Tapi saat matanya menatap Aryanti yang tampak menggeliat geli berselubung kenikmatan, terbayang sensasi yang tengah dinikmati, membayangkan lorong sempit itu menerima sapuan panas lidah seorang lelaki yang begitu berhasrat pada wanita secantik mereka.

“Seru banget ya Non?,,, pasti nikmat banget tuh,,,”

Tiba-tiba terdengar suara berat tepat disamping Andini, dengan cepat gadis itu menoleh. “Mang Oyiik,,, ngapain Mamang disini,,,” tanya nya dengan panik., tak menyangka akan kehadiran Mang Oyik yang baru datang mengantar Munaf dan Sintya.

“Maaf Non,,,, ini kan memang tempat kerja saya,,,” jawab Mang Oyik berusaha sopan, tapi matanya liar memandang dada Andini yang bergerak naik turun, akibat nafas yang terasa berat. Meski tertutup kaos orange, pesonanya masih dapat membuat batang Mang Oyik siaga 1.

“Oooaaagghh,,, eemmmgghhhhh,,, ga kuaaaat,,, Ooowwhh,,,” desahan Aryanti menyadarkan lamunan Mang Oyik.

“Pasti gurih banget tu lubang,,,sluurrpp,,, beruntung banget si Kontet” ucap Mang Oyik, ikut menyandarkan tubuhnya didinding, tepat disamping Andini.

“Hehehee,,, pengen juga ya Mang?,,,” tanya Andini sambil tertawa., melihat ulah Mang Oyik yang menyapu bibir tebalnya denga lidah.

“Non, mau ngasih?,,,” tanya Mang Oyik cepat menoleh, penuh harap.

“Eeettss,,, siapa bilang saya mau ngasih,,,” Andini reflek menutupi payudara dan selangkangannya dengan tangan, menyesal karena menggoda Mang Oyik. “Sono nohh,, minta ama tante cantik, kalo beruntung pasti dikasih juga koq,,,”

“Eeehhh,,, adaaa Mang Oyikk yaa,,,” Aryanti menoleh tersipu malu, berusaha mendorong kepala Kontet lalu berbalik sambil merapikan rok nya.

“Santai aja Bu,,, kita disini emang buat mbantu-bantu tamu koq,,, tu istri saya aja sampe ngos-ngosan mbantuin Pak Prabu dan Pak Dako,”

Serentak Andini dan Aryanti menoleh kearah kaca yang menjadi perantara pandangan antara dapur dan kamar Mang Oyik. Tampak tubuh Lik Marni yang sedang menungging bermandikan keringat, sementara Pak Prabu tak bosan-bosan menikmati pintu belakang wanita bertubuh montok itu. Dari arah depan Dako terlihat begitu menikmati servis lidah Lik Marni yang begitu memanjakan batangnya.

“Oooowwhhh,,, Liiik,,, aku mo ngecrot liiik,, ngecrooot,,,,”

Bukannya menghindar Lik Marni justru semakin mempercepat gerakan mulutnya, dan beberapa detik selanjutnya mata wanita itu melotot, sperma Dako menyemprot kuat, tapi wanita itu berusaha menjaga batang Dako tetap berada dimulutnya.

“Ooowwwhhhh,,, Liiik,,, nikmaaaat bangeeeet,,, ooowwwgghh,,,” Dako menjambak rambut Lik Marni, sesekali memaju mundurkan pantatnya layaknya tengah menyetubuhi mulut wanita itu.

“Tukeran dong Ko,, kayaknya enak banget nyemprot disitu,,,” Pak Prabu melepas batangnya, berpindah kebagian depan. Dako hanya terkekeh, duduk dipinggiran ranjang, mengatur nafas untuk aksi selanjutnya.

“Mamang ngga marah istrinya dipake kaya gitu,,,” tanya Andini penuh keheranan, apalagi batang yang ada dicelana lelaki itu mulai menggelembung melihat aksi istrinya. Mang Oyik mengangkat kedua pundaknya. “Kalo istri saya yang mau, saya mesti gimana lagi,,,”

“Bu Aryanti yang cantik,,, tenang aja, tu anak penurut banget koq,,, cuma ngelakuin apa yang disuruh, jadi ga perlu takut,,,” Sambung Mang Oyik, yang melihat Aryanti mulai kesal dengan ulah Kontet yang berusaha kembali mendapatkan kemaluannya.

“Beneeerr,,, dia ga bakal mintaaa,,, eemmhh,,,mintaa masukin tu batang kan?,,,” tanya Aryanti sambil melirik Kontet yang masih berjongkok seperti anjing yang penurut didepannya.

Mang Oyik mengangguk dengan gaya yang dibuat cool. Membuat Aryanti dan Andini yang masih was-was, tertawa… Cool nggilani…

“Sini Teett,,, tapi pelan-pelan yaaa,,” tangan kanan wanita yang masih digantung birahi itu mengangkat rok depannya, sementara tangan kirinya meraih kepala Kontet, yang dengan cepat menghilang dibalik kain katun itu.

“Ooowwwhhh,,, eeemmmhh,,, tunggu sebentar ya Diiin,,, satu kali ngecrit aja koq,,,” pinta nya pada Andini yang membuang nafas panjang melihat tingkah wanita didepannya.

Tapi geliat nafsu dan birahi selalu berhasil mengenyahkan kesadaran manusia.
Ganasnya permainan lidah Kontet dikemaluan Aryanti, membuat wanita itu harus meletakkan pantatnya keatas meja, dan membuka pahanya lebar-lebar.

Meremas rambut Kontet dengan gemas. Melenguh liar. Sesekali mengangkat pantatnya agar lidah Kontet dapat menjangkau anusnya.

Dan Andini,,, kembali menjepit kedua pahanya saat menyaksikan lidah Kontet menerobos membelah vagina yang basah.

“Maaang,,, tolong bantu teman sayaaa yaaa,,,” pinta Aryanti tiba-tiba. Merasa tidak enak dengan Andini yang hanya melihat kenakalannya.

“Waahhh,,, dari tadi saya juga pengen mbantuin Bu,, tapi si Non geulis nya yang ngga mau,,,” jawab Mang Oyik yang menghulurkan tangan mencoba memegang pundak Andini, tapi segera ditepis gadis itu.

“Ya Udaahh sini,,, minggir dulu Tet,,,” Aryanti beranjak mendekati Andini yang terlihat bingung. Gadis itu memang sudah mengalami beberapa petualangan nakal, tapi keluguannya sebagai seorang gadis remaja membuatnya menjadi agak kikuk.

“Mba Yanti mau ngapain?,,, Emmppphh,,,” mata Andini melotot ketika Aryanti melumat bibirnya. Mengajaknya untuk saling melumat dalam hisapan yang dalam.

“Eeemmmppp,,, mbaaa,,, mbaaa,,,,” Andini mulai ngos-ngosan. Nafasnya tertahan oleh hisapan Aryanti yang cukup lama, hingga akhirnya tautan bibir mereka terlepas.

“Dari tadi aku pengen banget dicium, tapi ngga mau sama mereka,,, hihihii,,, mau lagi?,,,”

Andini yang memang tengah bernafsu mengangguk dengan malu-malu, lalu membuka mulutnya. “Eeemmmpphhh,,,,”

Dan kedua wanita cantik itu kembali saling melumat, tapi kali ini tangan mereka mulai ikut aktif, saling meremas, saling mengagumi keindahan tubuh lawannya. Dan ini adalah pengalaman pertama mereka melakukan hubungan sesama jenis, yang ternyata tidak kalah mendebarkannya.

Kontet yang mematung melihat aksi dua wanita itu terkaget saat tangannya ditoel oleh Mang Oyik. “Ayo Tet, hajaaar,, kamu garap yang muda, biar aku yang muasin Bu Yanti,” bisik Mang Oyik.

Rupanya Mang Oyik sudah cukup lama penasaran dengan keindahan tubuh Aryanti yang lebih matang sebagai seorang wanita. Dengan cepat lelaki itu berjongkok, lalu membenamkan wajahnya dipantat Aryanti.

“Oooowwhhhssss,,, Diiinn,,, punya ku dijilatin lagiii,,, kamu mau jugaaa?,,,”
Andini tidak menjawab, tapi tidak pula menolak saat Kontet menurunkan celana nya.

“Oooowwwhhh,,, mbaaa,,, anus kuuu diciuuumin mbaaa,, dijilaaaat jugaaa,,, Uuuggghhhh,,, geli mbaaa,,, eemmpp,,,” erangan Andini terhenti. Mulutnya dibekap oleh Aryanti.

Gadis muda itu mencoba mengikuti gerakan tangan Aryanti yang menyelusup kedalam kaosnya. “Mbaaa,,, nenen mbaaa,, gedeee,,, kenceeeng,,” seru nya, ketika jari-jarinya berusaha membekap kedua payudara Aryanti.

“ Diniii maauuu?,,,Oooowwhhhss,,, Maaaang,,, itil nyaaa jangaaaan digiiiigitt,, Eeeeengghhh,,,” Aryanti yang ingin menjawab komentar Andini menjerit, bagian mungil yang berada didepan bibir kemaluannya dihisap dengan kuat oleh Mang Oyik, hingga terasa seperti digigit.

“Maaang,, jangan ditusuuuk,,, anusss sayaaa jangan ditusuuuk,, Ooowwgghh,,” Andini balas menjerit saat merasakan jari-jari kontet mencoba menyelusup kepintu belakangnya. Kaki gadis itu sampai berjinjit karena ulah Kontet.

“Oooowwhhh,,, Maang,,,” Andini lagi-lagi menjerit, jari-jari kontet yang besar, beralih menusuk-nusuk liang vaginanya. Pegangann tangannya beralih mencengkram tangan Kontet, tapi cengkraman itu melemah seiring lidah kontet yang kembali menyelusup kedalam anusnya.

“Buuu,,, boleeeh sayaaa tussuuuk jugaaa,” bisik Mang Oyik lembut ditelinga Aryanti.

“kalo tusuk pake tangan boleeh,, tapi kalo dientot,,, saya ngga maaauu,,,”

Mang Oyik menggesek-gesekan batangnya yang sudah mengeras dibelahan pantat Aryanti. Sementara tangannya meremas-remas payudara wanita itu dengan sangat bernafsu.

“Terus batang sayaa,, gimana buuu,,,” nafsu Mang Oyik sudah sampai keubun-ubun, ingin sekali langsung menusukkan batangnya ke pintu vagina basah yang ada didepan batangnya. Apalagi saat itu pantat Aryanti yang membulat, mampu membekap batangnya dengan begitu nikmat. “Buuu,,, saaaya entotin yaaa buuu,,,”

“I,, Iyaa deehh,,,Maaang,,, tapi sebeeentar aj,,, Ooowwhh Gilaaaa,, itu bataang monster,,” gerakan tangan Aryanti yang sudah memegang batang Mang Oyik terhenti, tidak lain akibat ulah Kontet didepannya yang ikut-ikutan mengeluarkan penis dari balik celana.

Sejak awal Aryanti yakin Kontet memiliki batang yang besar, tapi tidak menyangka jika sebesar seperti yang tengah dilihatnya. Aryanti merinding, Yaaa,, batang itu lebih besar dari milik Arga yang sangat dibanggakannya.

Kontet berdiri, memeluk Andini dari belakang, dan batang monster itu kini tegak mengacung disela-sela paha Andini.

“Mang Oyyyiiik,,, masukiinn ke tempat Andini ajaa yaaa,,, kasiaan diaa kalo dimasuukin batang sebesar ituuu,,,” ucap Aryanti, melepas batang Mang Oyik yang ada dalam genggamannya.

“Tapi buu,,,”

“Stsstsss,,, jangan ngebantaah,,, punya Andini juga enak koq,, malah lebih sempit lhoo,,” terang Aryanti. Lalu menarik Kontet untuk bertukar.

“Gilaaa,,,” hanya itu yang keluar dari bibir Andini, saat menyadari batang yang tengah menggesek-gesek selangkangannya ternyata memiliki ukuran luar biasa.

“Ooowwhh,,, Maaaang,,, kenapaaa, dimasukiiiin,,,” Andini menjerit, meski cukup pelan, tapi penetrasi batang Mang Oyik yang tidak disadarinya membuat gadis itu terpekik kaget.

“Nooon geuliss,, nikmatin ajaa,, saya lembut koq mainnya,,,”

Sementara Aryanti mendorong tubuh Kontet kedinding, tangannya dengan terampil meremas dan menggosok batang yang berdiri tegak mengacung.

“Teeett,,,, ni batang udaaah masuk kemana ajaaa,,,” tanya Aryanti, sambil mengoosok kepala jamur yang besar kebibir kemaluannya.

“Cuma ke istri saya bu,, soalnya Mang Oyik ngga pernah ngizinin saya nyicipin bininya,, katanya takut memek Lik Marni ndower,,,”

“Hihihiii,,, kamu ini ada-ada aja,,, tapi kalo ketempat saya bisa ngga yaaa,,, Ooowwhhsss,, Teeett,,, liaaat,, bibirnya sampai ndoweeer gituuu,,,” bibir Aryanti mengoceh, mengomentari pintu vaginanya yang dipaksa menganga saat disundul jamur besar, hingga membuat bibir vaginanya menyeruak keluar.

“Eeeiittsss,,, jaaangaaan ditusuuuuk Teeet,,,” Aryanti memundurkan pinggulnya saat menyadari Kontet ingin melakukan tusukan. Entah kenapa wanita itu terlihat ragu-ragu untuk melakukan persetubuhan. Ada rasa ngeri jika kemaluannya harus melumat batang sebesar itu. Ada rasa takut jika Arga sampai mengetahui kenakalannya.

“Gosok-gosok didepan aja yaa Tettt,,,” bisiknya, lalu menjepit batang Kontet dengan pahanya, pinggul dan pantatnya mulai bergerak, memainkan batang besar yang menggesek-gesek bibir vaginanya.

“Uuuuggghh,,, gini juga enaaaakkan?,,,”

“Iyaaa buuu,, tapiii memeeek ibuuu lebiiiihh enaaak kalooo buat ngetoot,,,”

Telinga Aryanti terasa panas mendangar komentar nakal Kontet. Apalagi pemuda gempal itu mulai menunjukkan powernya sebagai seorang lelaki. Tangannya yang besar mengangkat rok Aryanti lebih tinggi lalu mencengkram pinggulnya dengan kuat, sementara batangnya semakin cepat menggesek-gesek selangkangan Aryanti.

“Ooowwwhhh,,, Maaang,,,, saaaaya maauuu keluaaaar,,,” terdengar rintihan Andini yang setengah membungkuk, menikmati aksi Mang Oyik yang menyetubuhi kemaluannya dari belakang.

Dengan cepat Mang Oyik melempas kan batangnya, menarik tubuh mungil Andini berbaring keatas meja, lalu dengan rakusnya lelaki itu melumat, menghisap, mengunyah kemaluan Andini dengan rakusnya.

“Maaanng,,, ooowwhh,,, isap teruuuss,, Aaahhhkkkss,,,” pinggul gadis itu terangkat tinggi, dengan bibir vagina yang menghambur kelenjar bening, membasahi wajah Mang Oyik yang tertawa puas, mampu menaklukkan mangsanya. Lalu berdiri lagi bersiap kembali memasukkan batangnya kekemaluan gadis bertubuh mungil itu.

“Buuu,,, saaayaaa masuuukiiin ya buu,,,” Kontet sudah tak mampu lagi menahan hasratnya, memutar tubuh, menyandarkan tubuh Aryanti kedinding.

“Teeet,,, aku ngga maaau dimasuuukiiin,,,” lenguh Aryanti, matanya menatap sendu kemata Kontet yang terlihat beringas diumbar nafsu, tiba-tiba tenaga Aryanti terasa menghilang, tak mampu menolak kehendak tangan kontet yang membuka kakinya lebih mengangkang.

“Konteeeet,,,uuugghhh,,,”
“Aaahhssss,,, ga bakal bisa massuuuk,, jangaaan teeet,,,”

Bibir Aryanti mendesah, merintih, saat batang besar itu mencoba memasuki alat senggamanya. Tapi berkali-kali meleset keluar, membuat wanita itu melenguh.

“Weeeiiittsssss,,,, Woleeess brooo,,,” tiba-tiba terdengar suara lelaki dari arah pintu, yang dengat cepat menarik tubuh Kontet menjauh dari tubuh Aryanti.

Sementara lelaki satunya mendorong tubuh Mang Oyik menjauh dari tubuh Andini.

“Sorry ya Mang,, kita emang berterimakasih banget diizinin nyicipin istri Mamang,, tapi kalo mau minta imbalan yang kaya gini ya jangan dong,,,hehee,,” ucap lelaki yang ternyata Dako.

“Hehehee, iyaa,, maaf banget yaa mang,,, istri ponakan saya ini emang masih lugu,, jadi kalo mau minta ya mesti izin sama suaminya dulu,,,” timpal Pak Prabu yang mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Mamang coba aja nyicipin cewek-cewek yang ada diwarung remang-remang pinggir jalan dekat sini, kemarin saya liat banyak koq yang barangnya masih bagus-bagus.,” lanjutnya, lalu memapah Andini yang masih terkaget, turun dari meja.

“Ehh,, iya,, maaf Gan,, kami kebawa suasana, tadi cuma disuruh ngebantuin malah kebablasan,,” Mang Oyik tampak cengengesan.

Rupanya Pak Prabu tidak ingin apa yang terjadi pada istrinya terulang, apalagi pada istri ponakannya yang masih terbilang belia untuk wanita yang sudah menikah. “Ya sudah,, ngga apa-apa,, ni ambil aja,,” ucapnya lalu beranjak keluar sambil menggandeng Andini, diiringi Dako dan Aryanti.

“Mang,,, aku ngga tahan nih,,, pinjam istri Mamang yaa,,,” seru Kontet, lalu berlari menuju kamar Mang Oyik. Mengagetkan Lik Marni yang masih bugil, tersenyum-senyum sendiri setelah melayani Pak Prabu dan Dako.

“Teeet,, mau ngapain,, eehh,,, Teett,,, batangmu,,, Gilaaaa,,, Aaaauugghh,,,, Bapakeee,, aku dientotin Konteeeet,,, Aaaauuuwww,,, pelan-pelan bego,n Oooowwgghhh,,” Lik Marni menjerit histeris, tubuh bugilnya diterjang Kontet, yang langsung memaksa membenamkan batang besar kekemaluannya.

“Asseeeem,,, Teeett,,, Woooyyy,,, kurang ajar tu bocah,,,” Mang Oyik yang asik menghitung uang ditangannya kaget dengan gerak cepat Kontet yang menyerbu masuk kekamarnya. Mang Oyik kelabakan mencari celana yang ternyata nyampir diatas kompor gas.

“Teeet,,, buka pintunya,,, Wooyyy,,, Edan ni anak,,,” Mang Oyik menggedor-gedor pintu yang ternyata sempat dikunci oleh Kontet. “Duuuh,,, bakal bonyok dah tu memek,,” dengusnya, meratapi nasib istrinya dari kaca dapur, yang tengah merem melek menahan gempuran Kontet.

“Kamu ngapain sih Yan,, jangan kaya wanita murahan gitu lahh,,” bisik Dako pelan, dari nada suaranya tersirat perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan Aryanti.

“Kamu itu yang kenapa?,,, habis ngegarap bini orang, terus marah-marah, dan sekarang bilang aku wanita murahan,,,” suara Aryanti meninggi. Emosinya tersulut. Memang Dako sudah menyelamatkannya dari persetubuhan yang liar. Tapi kata-kata yang diucapkan lelaki itu membuat telinganya panas.

Dako terdiam, menyesali apa yang diucapkannya, dirinya juga tidak tau bagaimana bisa hatinya tidak bisa menerima jika Aryanti diperlakukan seperti itu.

“Yaan,, Yantii,, maksudku bukan seperti itu,,, maaf Yan,,” Dako berusaha mengejar Aryanti yang berlari kekamarnya dengan cepat.

“Yant,,, dengar dulu,,,” cegah Dako, saat Aryanti ingin menutup pintunya.

“Mau apalagi,, masih kurang?,,, masih mau nunjukin keegoisan para lelaki lagi?,,,”

Dako tidak menjawab, tapi mendorong pintu lebi kuat dan masuk kekamar Aryanti.

“Coba jawab dengan jujur, istri siapa aja yang sudah kamu cicipin?,,, dan sekarang kamu dengan gaya pahlawan mencoba ‘menyelamatkan’ aku dari lelaki lain?,,”

“Tadi malam,, tadi malaam ingat?,,, saat kamu tertawa menggarap tubuhku dengan Pak Prabu?,,, benar-benar menjadikanku seperti wanita murahan,,, dan sekaraang?,,, Dasar cowok MUNAFIK,,”

“YANTII!!!,,, aku bukan cowok munafik, ITU KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU?,,”

Deeeg..
Aryanti terdiam, gendang telingannya seperti ditepuk kalimat tak lazim, coba menafsirkan kata-kata yang diucapkan Dako.

Dan Dako,,, Kakinya lemah menuju kasur,,, lalu menghempas tubuhnya dengan pikiran kacau. Termenung,,, bagaimana bisa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya,, benarkah iya menyayangi wanita yang kini ada dihadapannya?..

“Keluarlah,,, aku ingin istirahat,,” ucap Aryanti pelan, tangannya membukakan pintu.

Dako menghembus nafas dengan berat, melangkah gontai, tepat didepan pintu langkahnya terhenti, menatap Aryanti yang menitikkan air mata..

“Maaf,, aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini,, Maaf,,,” ucapnya. Lalu berbalik, keluar kamar.

“Dako,,,” Aryanti mengejar lelaki yang tengah berjalan diselasar depan kamar. Tanpa diduga wanita itu melumat bibir Dako. Memberikan ciuman yang dirasakan Dako kali ini sedikit berbeda.

“Kamu mau menemani ku istirahat?,,,” suara Aryanti terdengar kikuk, namun berusaha tersenyum lembut.

“Tapi kamuu?,,,”

“Hanya istirahat,, tidak yang lain koq,, badanku capek banget,,,” Aryanti mencoba tersenyum diantara air mata yang mengalir.

Dako mengikuti langkah Aryanti yang menggandeng tangannya.

Membaringkan tubuhnya disamping Aryanti yang kemudian memeluk tubuhnya erat. Melabuhkan ciuman yang lembut,, sangat lembut.

“Dako,,, aku ngga mau ada rasa itu diantara kita, karena pasti akan sangat menyakitkan bagi pasangan kita,,,” ucapnya lirih,, lalu membenamkan wajah yang dibasahi oleh air mata dipelukan Dako.

Dako coba merengkuh tubuh wanita yang setengah menindih tubuhnya, suasana menjadi kaku, jari-jarinya coba menyisir rambut Aryanti, dengan pikiran yang melayang, mencoba mencari tau perasaan hatinya yang terasa begitu asing.

Masih terlintas dipelupuk matanya, saat menangkap binar gembira istrinya, ketika Arga meminta izin padanya untuk mengajak Zuraida jalan-jalan dipantai.

Tak ada yang tau, dibalik sikap urakan, selalu tertawa cengengsan, dan sifat cueknya, lelaki itu ternyata memendam rasa perih dihati yang mendalam. Meski telah mempersiapkan dirinya sedemikan rupa, tapi apa yang disaksikan oleh mata ternyata lebih menyakitkan.

Semua yang diucapkannya pada Arga saat dipantai tidak lebih dari usahanya untuk membuktikan semua

Bertahun-tahun mencinta wanita yang menyimpan rasa terhadap lelaki lain.

“Yaant,,,Seandainya,,,”

“Ststssss,,, tenangkan hatimu,,, Trust me,, All is well,,,” bisik Aryanti, seolah bisa membaca pikiran lelaki itu.

Aryanti beringsut menaiki tubuh Dako, meletakkan kepalanya didada lelaki itu, memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan untuk dirinya sendiri. Lalu mencoba untuk terlelap dalam dekapan insan yang tengah terluka, dan mencoba melarikan hati pada dirinya.

* * *
“Waaahh,,, udah jauh juga kita jalan,,,” celetuk Arga, saat mereka melewati tempat game tadi pagi, tempat yang mungkin tak akan pernah mereka lupakan. “Masih pengen jalan terus?,,,”

“Ayoo,,,siapa takut, tapi jangan cepat-cepat, santai aja,,,”

“Owwhh Sorry,, aku kecepatan ya,,, Kata Mang Oyik ni pantai dipisah oleh tebing karang itu,,,”

“Ngga terlalu capek sih, tapi belahan rok ini terlalu sempit,,, biar aku buka sedikit,,,”

Kreeek,,, kreeek,,,
Zuraida merobek belahan rok nya hingga kelutut, membuat kakinya lebih mudah melangkah.

“Waduuuhh,,, ngga sayang roknya dirobek,,,”

Tapi Zuraida hanya tersenyum, lalu menarik tangan Arga untuk kembali berjalan. Keduanya melangkah pelan beiringan, layaknya dua remaja yang tengah dimabuk asmara.

“Gaa,, tadi Dako sempat marah padaku,,,”

“Kenapa? Memang sih,, yang kita lakukan saat game tadi memang kelewatan? Tapi bukankah dia melakukan hal yang sama pada Aryanti?,,,”

“Ngga tau,,, mungkin dia marah karena aku membiarkanmu membuang didalam,,,”
Jawab Zuraida lemah.

Arga terdiam mencoba memahami reaksi emosi Dako yang membuatnya bingung, disatu sisi sahabatnya itu terus menggoda kelalakiannya untuk menaklukkan istrinya, tapi setelah semua terjadi justru mengumbar emosi. “Ku kira hatimu seperti batu, Ternyata kau masih menyimpan rasa cemburu,,,” bisik hati Arga, sambil tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Hati sahabatnya ternyata tidak berbeda jauh dengan dirinya.

“Kenapa? Koq malah senyum-senyum sendiri,,”

“Ehh,,, ngga apa-apa,,, Emm,, Apa kamu benar-benar dalam masa subur,,,”

Zuraida mengangguk, tersenyum kecut, “Kami memang tidak pernah menggunakan kontrasepsi, Dako sudah sangat ingin memiliki anak,” terang Zuraida.

Arga manggut-manggut. Berbeda dengan dirinya dan Aryanti, yang sepakat menggunakan kontrasepsi implant. Aryanti terpaksa menunda kehamilannya dengan alasan karir, dan Arga cuma bisa mengangguk setuju.

Tangan Arga tak lagi menggandeng Zuraida, tapi beralih memeluk pundak dokter cantik itu. Tak ada lagi kata-kata yang terucap, masing-masing sibuk dengan lamunannya, pikiran mereka dipenuhi oleh segala keterbatasan yang memagari hubungan rasa dan hati mereka yang terlarang.

Melebihi tingginya tebing karang yang memisahkan bibir pantai, yang tak terasa kini berada tepat didepan mereka.

“Berani menyebrang kesebelah sana?,,,” tantang Arga sambil menunjuk celah tebing. “Kalo sore celah itu hilang, tertutup air pasang,,, Berani?,,,”

“Ngga ahhh,,, takut ngga bisa balik,,,”

“apa kamu tidak percaya padaku?,,,” kata-kata Arga berubah menjadi serius.

Zuraida terdiam, bingung dengan sikap Arga, mencoba membaca apa yang diingin oleh lelaki yang memeluk pundaknya erat.

“Aku percaya padamu,,, Ayoo,,” jawab Zuraida sambil tersenyum.

“Waaaahhh,,,, disini pasirnya lebih putih dan lembut,,, koq bisa sih,, padahal kan cuma terpisah beberapa meter,,,” seru Zuraida, ketika mereka berhasil melewati celah karang yang cukup sempit itu.

Wanita bertubuh semampai itu berlari, menyusuri pasir yang masih menyisakan riak ombak yang baru saja menyapa. Arga tertawa melihat tingkah Zuraida, yang sedang menampilkan sisi childish nya.

Ujung kaki Zuraida terlihat sibuk mengukir sesuatu diatas pasir, “ARGA JELEK”,,,

“Hahahaaa,,, Biariiinnn,,, yang penting disayang Zee,,,” teriak lelaki itu sambil tertawa, lalu duduk diatas pasir. Membiarkan sang betina yang tengah menikmati panorama pantai pasir putih yang memang sangat jarang ditemui.

Zuraida membentang kedua tangannya, seakan memasrahkan tubuhnya pada angin yang menjilati tubuhnya dengan sapuan yang lembut. Jilbabnya berkibar menari-nari mengikuti irama alam yang begitu tenang dan sepi, sangat sepi, jauh dari jamahan keserakahan anak manusia.

Zuraida berjalan menghampiri Arga, matanya menyapu setiap sisi pantai, seolah mencari tau, lalu berbalik menatap Arga, dengan senyum yang terlihat genit, perlahan wanita itu melepas kain yang menutup kepalanya.

Arga tertawa, mencoba memaklumi kebebasan yang tengah dinikmati wanita yang dulu terpaksa ditinggalkannya demi seorang sahabat.

Bibir Arga berdecak kagum, saat rambut Zuraida yang panjang terurai tertiup angin, kecantikan seorang Zuraida terlihat begitu nyata, bibir tipisnya yang tersenyum tak mampu menutupi wajah yang tersipu malu. Entah apa yang ada dipikiran wanita yang kini berdiri sekitar 10 meter dari tempat nya duduk.

“Zeee,,, apa kau ingin?,,, owwhh Zee,,,” suara Arga begitu pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Matanya tak berkedip saat tangan Zuraida mengangkat kaosnya keatas, menayang sesosok tubuh yang putih mulus, sepasang payudara yang tampak ranum dan kencang menghias sempurna, mengokohkan keindahan tubuh dokter cantik itu.

“Cukup,,, Zeee,,, cukuuuup,,, kau bisa membuatku memperkosamu,,, Owwwhh,,, Shiiitt,,,” gumam Arga pelan dengan suara tercekat, nafsunya bergemuruh seiring rok hitam yang dibiarkan jatuh kepasir, menayang sosok wanita seksi yang sedang bertingkah layaknya seorang model. Bibirnya tersenyum nakal.

Dengan genitnya, telunjuk Zuraida bergerak seolah memanggil Arga. “Apa kau ingin membiarkan gadis cantik ini berenang sendiri?,,,” seru Zuraida.

“Hahahaa,,, jangan salahkan aku jika nanti kau kuperkosa,,, hahahaa,,,” teriak Arga, melapas kaosnya, lalu mengejar Zuraida yang berlari kegolongan ombak kecil yang menyambut tubuh mulusnya.

“Kyaaaa,,, Arggaaaa,,, ummpphh,,,” Zuraida berteriak kencang saat tubuhnya dipeluk Arga dari belakang, keduanya berguling di air gelombang yang kembali kelaut.

“Gaaa,, akuuu ga bisaaa berenaaang,,, Aaargaaa,, ummbbllbb,, ugghh,,” Zuraida tersedak, terminum air laut yang asin. Tangannya memegang tubuh sang pejantan dengan erat, mencari perlindungan.

“Hahahaa,, tenang sayang,,, kamu baik-baik saja,,,” ucap Arga, sambil membantu kaki Zuraida menapak lebih kuat.

“Kamu jahaaat,, aku sampai keminum air,,, asin bangeeet”

“Hhhmm,,, maaf yaa,,,” jemari Arga menyibak rambut yang menutup mata indah wanita, yang mempercayakan tubuhnya sepenuhnya pada dekapan erat tangan Arga.

“Gaa,,, akuu,,, emmpphh,,,” kalimat Zuraida terputus oleh kecupan bibirnya. Mata mereka bertemu, saling menatap, mencoba mencari cinta yang tersisa dibola mata Arga.

Arga kembali mendekatkan bibirnya, untuk mengulangi pertemu bibir yang terasa hangat, yang perlahan menjadi lumatan yang lembut.

Lidah sang pejantan mencoba mengundang lidah lembut si betina untuk bertandang dirongga mulut yang hangat, sesaat daging lembut itu menyapa bibir Arga, lalu dengan malu-malu mencoba mengejar lidah sang pejantan yang menggelitik menggoda.

Saling memberi dan menerima, saling membelit dan menggelitik, saling bertukar ludah seperti yang diminta oleh pasangannya. Ciuman yang begitu cepat berubah menjadi panas sekaligus terasa begitu menghanyutkan.

Hingga membuat nafas kedua nya terengah-engah, dan sepakat untuk rehat, mencari oksigen yang terasa begitu langka disekitar mereka.

Zuraida tersenyum, lalu membuka mulutnya, memberi sinyal kepada Arga untuk mencoba bertualang dimulutnya yang menjanjikan kehangatan lebih dari apa yang diinginkan lelaki itu.

Sebagaimana lidah mereka yang begitu kompak menari berkejaran. Tangan keduanya pun mencoba menari diatas kulit lawannya yang basah. Dengan malu-malu tangan Zuraida mencoba mengikuti geliat tangan Arga yang berselancar diatas tubuhnya.

Wanita itu hampir tertawa, saat tangannya mencoba meremas pantat Arga yang berotot, sebagaimana jari-jari Arga yang meremasi pantatnya.

Namun canda yang tercipta diantara mereka mulai surut seiring anggukan Zuraida yang mengizinkan jari-jari Arga menyapa bibir kemaluan, mengusap lembut lipatan yang begitu sensitif, lalu perlahan menyelusup kedalam belahan senggama yang mulai basah.

Dengan mulut terus saling melumat, Arga menganggukkan kepalanya, memberi izin serupa pada jari-jari lentik yang begitu ingin mengenali perkakas alat kawin sang pejantan. Jantung Zuraida berdegub kencang ketika kedua tangannya menggenggam batang besar yang sudah mengeras.

Mata Zuraida terpejam, meremas lembut batang yang ada digenggamannya, saraf-saraf ditangannya dengan begitu jelas menyatakan keperkasaan batang yang dimiliki Arga.

“Gaaa,,,” ucap Zuraida pelan, saat Arga membopong tubuh telanjangnya ketepi pantai.
Membaringkannya diatas hamparan pasir putih.

Jemarinya yang lentik mengusap pipi lelaki yang kini sudah menindih tubuhnya, perlahan mengucap putingnya yang sudah mengeras.

Tak ada lagi kata yang terucap selain lenguhan pelan dari bibir si wanita yang mengusapi rambut lelaki yang tengah bertualang dikedua payudaranya. Suatu pemasrahan diri kepada sang kekasih, dibalut rasa cinta yang terpendam sekian tahun, yang seketika kembali tersulut dalam hitungan nafas.

Sepasang mata penuh cinta kembali bertemu, saling meminta dan dipinta untuk babak percitaan selanjutnya.

Zuraida mengangguk, meng-amini segala kehendak sang pejantan yang juga dituntut oleh hatinya yang penuh gairah, seiring kain kecil yang perlahan turun menayang gundukan mungil yang terbelah menjadi dua.

Wanita cantik itu membuang pandangannya kesamping ketika si lelaki merentang kedua pahanya. Wajahnya memerah saat lantun kekaguman mengalir dari bibir.

“Zee,,, milikmu indah,,, cantik,,,”
Jari-jari pejantan mengusap lembut, sesekali mencoba menguak gundukan daging yang berisi kismis dengan warna merah muda, begitu bersih, begitu terawat. Dirembesi cairan cinta yang mencoba membasahi sisi-sisi yang dengan cepat menjadi mengkilat.

“Uuuuhhhssss,,, Saayaaaaang,,,”
Sapuan lidah yang lembut, berusaha menyambut tetesan bening yang telah sampai diujung aliran sungai. Memaksa bibir si betina melantun kan lagu nirwana,

Alunan rintihan semakin nyaring terdengar seiring kerakusan lidah sang pejantan yang tak sabar menunggu tetes cinta, mencoba menguak dasar mata air, dan menyeruput dalam hisapan yang penuh hasrat.

“Argaaaa,,, Emmmpphhh,,,” wanita itu mengatup bibirnya, mencoba menyembunyikan nafsu yang menguasai tubuh yang telah polos sepenuhnya. Tapi sungguh itu suatu usaha yang sia-sia. Saraf-saraf ditubuh wanita itu bekerja dengan sempurna menyampai pesan keotak akan rangsangan yang mendera.

“Ooooowwwwhhhssss, Saaayaaaang,,, Stooopss,,, Aaakkhhsss,,,

Nafas menderu, terengah-engah menerima orgasme yang begitu saja mendera, diproklamirkan oleh cairan bening yang mengalir deras dicelah kemaluan yang masih dicumbu lidah yang semakin basah.

Pantat dan paha wanita itu terangkat tinggi, mengejat berkali-kali hingga akhirnya kembali jatuh kembali bumi seiring kesadaran yang berusaha menyapa hasrat yang terhempas, begitu terpuaskan oleh layanan sang lelaki.

“Argaa,,, apa kamu mauu,,,” Zuraida tak menyelesaikan kata-katanya saat melihat penis Arga yang mengeras sempurna. Merentang kedua kakinya, memberi tempat pada yang terkasih untuk mengayuh bagian tubuh terdalamnya.

“Peluk akuu,,” rengek Zuraida begitu manja, tangannya meraih leher Arga dan menyambutnya dengan ciuman yang begitu mesra.

“Sudah siap?,,,” tanya Arga dengan wajah jenaka.

“Siaaap,,,”
“Eenghh,,, pelaaaann,,”
“Gaa,, geli bangeeet,, uuhhhsss,,, duuuhhh,, dalaam bangeet sihh masuknyaaa,,,”
“Udaaahh,,, nyampee beluuumm,,”
Bibir Zuraida terus berceloteh, entah untuk menghilangkan rasa malu, entah tengah menikmati penetrasi yang dilakukan dengan perlahan.
“Uuugghh,, mentook,, daleeem bangeeet,,, Gaa,,”

Arga tersenyum, “Aku tidak menyangka, vaginamu yang mungil ini bisa menampung seluruh panjang batangku,,,,, hangat banget didalam,,, licin,, lembut,, tapi lorongnya mencengkram banget,,”

“Iiiihh,, apaan sih,, ga usah dikomentarin gitu dong,,, tapi punyamu emang panjang banget,,, aku ga pernah ditusuk sampe sedalam ini,,, aku juga bisa merasakan otot-otot dari batangmu,,, kerasa banget,, bikin gelii,,,” ucap Zuraida sambil menyampirkan kedua kakinya diatas paha Arga. Mengokohkan posisi batang didalam kemaluannya.

“Lhooo,, katanya ngga boleh ngomentarin,,, ehh,, kalo sambil meremas ini bolehkan?,, habisnya kenyal banget,, apalagi,,,”

“Sayaaang,,Kita mau ngobrol atau mau apa sih ini,,, punyaaaku,, punyaakuu,,” Zuraida mulai menggeliat, menikmati ulah Arga yang memanjakan kedua payudaranya, sementara lorong vaginanya penuh dijejali batang si pejantan.

“Punyamu mulai gatal?,, pengen digaruk seperti ini?,,” sambut Arga, perlahan menggerakkan batangnya, menikmati setiap inci dekapan daging lembut milik seorang wanita yang setiap hari mengenakan jilbab.

“Eeeenghh,, iyaa,,, Eeeuuuhhhss,,,”
“Gaaa,, punya mu besar bangeeet,,,” rintih wanita itu, Arga yang mengangkat tubuh memberi Zuraida kesempatan untuk melihat langsung bagaimana alat senggama mereka bertemu.

Menghilangnya batang besar kedalam bibir kemaluan yang mungil menjadi pemandangan yang penuh sensasi bagi keduanya. Tanpa bisa dicegah tubuh keduanya bergerak semakin cepat. Mencari kenikmatan yang ditawarkan.

“Oooowwhhh,,, Argaaa,,, akuuu keluaaarrr,,,” vagina Zuraida berkedut, tubuhnya mengejang, memeluk tubuh Arga dengan kuat.

“Zeee,,, aku jugaaa,,,, aku jugaaa mauu keluaarrr,, emmpphh,,,”

Seketika wajah Zuraida yang masih menikmati sensasi orgasme terlonjak kaget. “Gaa,, please,, jangaaan dikeluariin didaalaaam,,,oowwhhh,,, kumohooon jangaaaann,, Aaagghh,,,”

Payudara Zuraida bergerak liar seiring hujaman batang yang semakin cepat menggempur selangkangannya. Matanya memohon pengertian Arga.

“Aaaagghhh,,,Zeee,, akuuu ingiiin didaaaalam tubuuuhmuuu,, akuuu,,,”

“Jaaangaaan Gaaa,, kumoohoooonnn,,,”

“Aaaaakkkhhssss,,, Ooowwhhh,,,Ooowwhhh,,,,” seketika semprotan sperma menghambur diatas perut yang mulus, beberapa menyapa leher dan dagu si cantik yang terengah-engah.

“Maaf Gaa,, maaf,,, aku pun ingin cairan cintamu memenuhi rahimku,, sangat ingin,, tapi itu tidak mungkin,,,” didasar hatinyah, wanita itu ingin memberikan kesempurnaan dalam persetubuhan, menyediakan tubuhnya untuk menerima hasrat lelaki yang yang dicintainya. Tapi secuil kesadaran coba mengingatkan status mereka. Dan akibat fatal yang bisa saja terjadi.

“Tidak apa-apa?,,, inipun sudah luar biasa banget,,, lebih joss dan nikmat dibanding saat kita melakukannya sambil berlari tadi?,,,”

“Ihhh,, Argaaa,,” Zuraida mencubit pinggang Arga, saat lelaki itu membalikkan tubuh mereka, lalu memeluk Zuraida yang kini berada diatas, membiarkan tubuhnya dibawah tindihan penuh kasih sayang.

“Kapan ya kita bisa-jalan-jalan seperti ini lagi?,,,” celetuk Arga tiba-tiba.

Arga menarik tangan Zuraida, lalu mengecup punggung jari-jari yang lentik, tapi sesaat kemudian geraknya terhenti ketika secara tidak sengaja pandangannya terbentur cincin pernikahan yang menghias jari manis Zuraida.

“Mungkin ini untuk yang terakhir kali,,” Jawab Zuraida, lirih. Sebuah pertanyaan yang saat itu sangat tidak ingin didengar oleh telinganya.

“Maaf,,,, Zee,,,”

Namun terlambat, mata indah wanita itu perlahan dialiri air mata. Bola matanya yang bening menatap wajah Arga, berusaha menyampaikan pesan tentang kepedihan hati yang kini mendera.

Lalu membenamkan kepalanya di leher Arga dengan pelukan yang begitu erat. Air mata mengalir semakin deras, menumpah segala beban cinta yang tak pernah mampu mengalir dengan sempurna.

Arga mengusap lembut rambut basah Zuraida yang mulai mengering.
“Zee,,,
Sampai kapanpun aku akan selalu mengingatmu,,,
Memujamu dalam diam,,,
Mencintamu dengan caraku sendiri,,, ”

ZURAIDA PART 5

yessi ecii - jilbab bahenol (5)
zuraida
“Mang,, tempat gamenya pindah ya?,, kemana?,,” tanya Aida, berjalan beriringan dengan Arga.
“Iya buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem,,,” Mang oyik tampak kerepotan membawa beberapa balon yang tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Di depan Mang Oyik tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu menggelendot manja di lengan Pak Prabu. Tertawa menanggapi banyolan yang dilontarkan oleh Dako dan yang lainnya.
“Buuu,,, tolong tangkepin tu balon Buu,,,” tiba-tiba Mang Oyik yang berusaha secepatnya tiba di tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
“Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,,” goda Arga.
“Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,”
“Hahahaaa,, masa tadi ga dikeluarin dulu sih,,”
“Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriak-teriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Gaa,,, banyak banget,,”
“Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,”
Apa yang diucapkan Arga ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya terasa geli.
“Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam sih,,,” Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Arga, berharap dapat membantu agar jalannya bisa sedikit lebih normal.
“Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,”
Arga mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau. “Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,”
Tanpa disadari Arga, beberapa langkah di belakangnya, Zuraida menatap dirinya dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena dihantui rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
“All is well,,,” gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombang-ambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
“Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,”
“Eeehh,,, Mas Adit, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,,” Zuraida kaget mendengar sapaan Adit.Arga yang mendengar suara Zuraida dan Adit menoleh ke belakang.
“Zee,,” sapa Arga ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zuraida membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Arga, lalu kembali menoleh kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
“Hati plong?,,,Maksud ibu?,,” Adit kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“yaaa plong aja,, hehehee,,,” Zuraida tersenyum, melangkahkan kaki dengan santai. Ternyata senyum Arga juga mampu memberikan ketenangan yang sama pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diam-diam Adit yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan natural seorang Zuraida. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang mencolok.  Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan bentuk puting yang samar terlihat.
“Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,”
Zuraida bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Adit, tapi dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar.  Di benak Zuraida, Adit, seperti hal nya Mang Oyik yang terkagum-kagum pada tubuh indahnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum. Sementara Adit yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zuraida, yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu, berkali-kali menelan ludah. Sambil mengerem langkahnya, lagi-lagi Adit harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan padat.
“Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,,” tiba-tiba Adit nyeletuk.
“Maksudnya?,,,” kini giliran Zuraida yang balik bertanya.
“Hehehee,, tuh ngalir sampai ke paha ibu,,,” Adit tertawa, matanya tertuju pada tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!!… Wajah Zuraida pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
“Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,,” Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Adit memandang dengan tak percaya.
“Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,,” dengan terpaksa Zuraida menjilat cairan itu dengan lidahnya, “Mauuu?,,”
“Gilaaa,, aku menjilat sperma Pak Prabu,,,” Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Adit.
“Owwhh,, ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu yang nempel tuh,,” jawab Adit sambil menunjuk beberapa tetesan sperma yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zuraida tak mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.

“Uuuugghhhh,,, Pak Prabuuuu,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,,” ingin sekali wanita itu berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran. “Uuuhhhggg,,,” lagi-lagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya, ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Arga berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
“Kamu baik-baik aja kan Zee,,,”
“Ehhh,, iya,, gapapa koq,,,” Zuraida tersenyum kecut menjawab pertanyaan Arga.
“Cepet dikit Ga,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama Zuraida,,” Pinta Aida lalu menggamit tangan Arga untuk melangkah lebih cepat.
“Sini mba,, biar aku bersihkan,” tawar Adit. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
“Eeehh,, ga usah Dit, aku bisa sendiri.”
“Ststsss,, udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zuraida berisik, ntar Arga sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,”
“Diiitt,,, ga usaaahh,,,”
“Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apa-apa,,”
Zuraida menutup mulutnya, apa yang dilakukan Adit sebenarnya sangat lancang. Mengusap-usap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Adit untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya selalu tertutup kain. Tapi Arga yang berjalan beberapa langkah di depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
“Uuugghh,, Adiiit,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diiit!!! jangan nakaaaal,,” Dengus Zuraida, berusaha menepis tangan Adit yang awalnya mengusap, tiba-tiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
“Bener-bener pemuda yang nakal,,,” gumam Zuraida, yang menoleh memperhatikan wajah Adit yang tersenyum-senyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan pemuda itu bergerak meremas, Zuraida dapat melihat gelora nafsu yang tertahan.
“Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,” Zuraida mulai mengaggumi wajah Adit yang cukup ganteng, seperti artis korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acak-acakan.
“Sudah belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Dit,,,” mata Zuraida menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
“Bentar mba,,, susunya lengket banget,,”
“Egghhh iyaa,, tapi cepet,,” langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah jari-jari Adit yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya. Matanya nanar mengawasi ke depan.

“Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,”
“Ststssss,,, jangan berisik Dit,,,” jemari lentiknya mencengkram pegelangan Adit, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
“Mbaa,, yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,,” telapak tangan Adit mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan mereka bertemu, bila Zuraida menahan birahi yang tersulut dengan wajah yang memerah, wajah Adit justru menunjukkan hasrat yang begitu besar, berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita cantik itu.
“Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,”
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, mengomando tangan Adit dengan cepat.
“Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,”
“Gemeeesss,,, kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,” Zuraida kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu bernafsu mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah liang senggama yang berbentuk vertikal.
“Ya samaaa,,, punya Andini dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zuraida yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,”
BUUGGG…kata-kata Adit menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa penasaran yang tercipta.
“Sudaaahh Diiit,,, cukup,,, Aaagghhh,,, kamu mau ngapaiiinn,,” tubuh Zuraida telonjak, kakinya menjingkit, saat dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Adit dengan cepat menyelusup di sela celana legginsnya.
“Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Adit ngga mau mba malu diliat Arga sama Bu Sofie,”
“Uuugghh,,, pinter bener ni bocah manfaatin situasi,,” Hati Zuraida menggumam kesal, kondisi dan situasi memang sangat mendukung Adit untuk mengintimidasi Zuraida.
“Oooowwhhh,, Diiitt,, jangan Diiit,, pliss,,” wanita itu menatap Adit dengan wajah menghiba.
“Mbaaa,, maaf mba,, kalo saya meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,”
Adit memelas, berharap Zuraida mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan, “maaf banget mbaa,,, cuma saat-saat seperti ini saya bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zuraida,, pliss,,,”
“Diittt,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,”

Tapi tangan Adit terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zuraida.
“Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Adit rela koq kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,”
Zuraida membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Arga yang dapat kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Adit tengah mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu membuatnya tersipu.
“Diiit,, jangaaann,, kesituuu,,plisss,,,” wanita berjilbab itu menggelengkan kepala saat jarii-jari Adit berusaha menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah memohon.
“Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep banget ama selangkangan kuuu,,” pertahanan hati Zuraida mulai goyah, cengkramannya mengendur.
“Owwwhhh,, Diiit,,” Zuraida terus menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan, tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jari-jari seorang lelaki yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali bagaimana jari-jari Adit berformasi. 1 jari Adit, jari telunjuk, menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zuraida gemetar menahan rangsangan.
“Oooowwwhh,, Argaaa,, Plisss,, jangan liat ke belakaaaang,,” Jantung Zuraida berdebar, seseorang yang sangat berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke belakang.
“Owwwgghhhh,,, Adiiittt,,, punya mba diapaaaiiinn,,,” tubuh wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Adit, jari manis yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu mengenakan penutup kepala itu, menerima pesan-pesan birahi, yang bergerak liar. Tangan Zuraida tak lagi mencengkram lengan Adit, tapi justru berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jari-jari Adit. Matanya bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan oleh yang lain.
“Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,,” pantat Zuraida bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Adit.
“Seperti inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari rombongan. Dan gilanya Zuraida justru berharap tempat yang mereka tuju masih jauh.
“Diiitt,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,, Uuugghh,,,” Zuraida harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Adit berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat, gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
“Oooowwwhhhsss,, Diiittt,,, tarriikkk tangaaaanmuuu,, aduuuuhh,,” paha Zuraida menjepit tangan Adit dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.

“Suddaaaah,, Ditt,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,,” wajah Zuraida memerah. Mengamati tangan Adit yang keluar dari legginsnya dalam kondisi basah oleh cairan.
“Gilaaa,, ini benar-benar gila,” tubuh Zuraida membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengaduk-aduk liang kemaluannya.
“Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,,” Adit menunjuk pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremas-remas batang di balik celananya.
“Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,,” mata Zuraida tertuju pada batang Adit yang tegak mengacung ke depan, mengarah tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Adit, sebuah penyelesaian dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita itu tengah mengira-ngira seperti apakah bentuk dari batang Adit.
“Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,”
“Tidaaak Ditt,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,”
“Plisss mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Adit Mbaaa,,” Adit menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok kekiri.

Deeeg…
“Diiiit,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,”
Zuraida kaget plus bingung, seperti halnya Aryanti ketika pertama kali melihat batang Adit saat memberikan servis kilat bersama Sintya.
“Gaa taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Aryanti aja juga suka koq,”
“Aryanti??,,,” Zuraida melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Adit bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi seingatnya, Aryanti dulu memang seorang gadis yang supel, tapi selalu menjaga sopan santun.
“Malah Mba Aryanti udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,”
“Aryanti,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,,” jantung Zuraida kembali berdetak tak teratur.
Batinnya bertanya-tanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi. Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah.  Zuraida yang tengah mengenali dunia barunya, dunia ekhibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan dan kealimannya, kini mulai tergoda. Kebimbangannya meraja, sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Aryanti, memasukkan batang milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, menatap Arga dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya, lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Adit.
“Ugghhh,,, haruskah aku mengangguk menerima tawaran Adit untuk disetubuhi, tapi bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Prabu, setelah Arga,, yaaa,, setelah Arga,,” batin Zuraida berkecamuk hebat.
Sesaat Zuraida menatap Adit, wajah putih dengan style remaja korea. “Diiitt,,, Engghhh,,,” kata-kata Zuraida terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.

“Zeee,,, kamu baik-baik ajakan?,,,” terdengar teriakan lantang dari Arga, yang bergegas menghampirinya.
“Kamu baik-baik ajakan?,,,” terlihat wajah cemas Arga yang tak dapat disembunyikan saat mendapati tubuh Zuraida membungkuk, tampak lemas dan gemetar.
“Dit,, kamu apain Zee ku?,,,” suara Arga pelan tapi menebar ancaman tersembunyi pada Adit. Membuat pemuda itu mulai ketakutan, tak pernah dirinya melihat Arga seemosi itu.
Apalagi saat Arga mendapati batang Adit yang menyembul dari balik celana, sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zuraida justru termenung,
“Zee ku,,,” bibir tipis wanita itu mengulang apa yang tadi dikatakan Arga, kata-kata yang mengungkapkan perasaan Arga yang masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika, tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“Argaa,, aku ngga apa-apa koq,,, Adit cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa kakiku keram, mungkin terlalu capek,,” Zuraida berusaha menenangkan Arga.
“Ya udaahh,, kau jalan duluan sana,,” Arga menyuruh Adit dengan suara datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Adit yang mengeras, Arga mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan Zuraida.
“Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,,” ucap Adit, lalu meninggalkan keduanya.
“Gaa,, ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,,” Zuraida bisa membaca curiga dari wajah Arga. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak, tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
“Iya aku percaya koq, kamu adalah Zuraida,,,karena itu aku selalu percaya, justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini biar aku gendong,,”
Meski hati Arga ketar-ketir tak berani untuk menduga-duga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan hatinya.
“Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,,” tapi Arga tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zuraida.
“Aaakkhh,,,” Zuraida terpekik, tertawa, “Gaa jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin turun di pelaminan,,, hihihii,,,”
Arga yang sudah hendak melangkah terhenti, “Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,,” lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zuraida menyebut kata-kata pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.

“Ayoo,, aku gendong dibelakang aja yuk,,,” Arga menebar senyum, mencairkan suasana. Membungkukkan tubuhnya agar Zuraida bisa naik ke atas punggungnya.
“Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,,” Arga tertawa menggoda Zuraida.
“Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,”
“Apalagi apa?,,,”
“Eeengghh,,,Apalagi punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,,” Zuraida merasa malu, karena sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung Arga.
“Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi kemaren waktu aku emut-emut gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,”
“Iiiihh,, tu kan,, seneng banget ngeledekin,,” Zuraida mencubit lengan Arga. Teringat saat Arga mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
“Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,”
“Nggaa,, nggaa koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,”
“Oowwhhh,,, ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,,” Arga memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zuraida sambil tersenyum. Dimata Zuraida senyum itu sangat manis.
“Gaa,, ni aku kasih mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,,” Zuraida tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
“Waahhh,, lagi dong,, lagii,,”
“Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh kemaruk,,hahaha,,,”
Entah kenapa hati Zuraida serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya.
“Argaaa,,, maafin aku ya,,,” ucap Zuraida mempererat pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Arga. Hati kecilnya berharap, dapat terus memeluk Arga, bukan hanya saat ini, tapi selamanya.
“Maaf untuk apa?,,,”
“Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,,” bibir tipis Zuraida terdiam.
“Kenapa tadi?,,,”
“Tadii,, aku udah nakal,, nakal banget,,,” Ada rasa sesal dihati Zuraida, telah mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja dirasakannya.

“Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,”
“Gaaa,,,hikss,,” Zuraida tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang diberikan oleh Arga untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha tetap tersenyum untuk dirinya.
“Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,”
“Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,,” Zuraida segera mengusap air matanya.
“Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,”
Zuraida bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
“Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zee,,,”
“Nggaaa,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,”
Meski Arga tak dapat melihat wajah Zuraida yang tersipu malu setelah mengatakan itu, tapi Arga tau tidak mudah bagi Zuraida untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,”
Zuraida tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Arga tau wanita cantik itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya, “Kapanpun Arga mau,,”
Lalu lengannya memeluk pundak Arga semakin erat, merasakan bagaimana dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh lelaki itu.
“Gaaa,,, Zuraida kenapa?,,,” Aryanti menghampiri Arga dengan cemas.
Mengagetkan Zuraida yang tengah terbuai digendongan. “Koq Arga ga bilang sih kao udah nyampe,” hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
“Aku ngga apa-apa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,”
Arga menurunkan tubuh Zuraida diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
“Bener ngga apa-apa?,,,” tanya Aryanti, lalu memijat kaki Zuraida pelan.
“Iya ga apa-apa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,,” Aryanti tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
“Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Mendengar pertanyaan Aryanti itu, Zuraida sedikit kaget, apakah wanita di depannya ini memang sudah mengetahui hubungan tersenyum antara dirinya dan Arga. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin dibicarakan untuk sekedar berbasa-basi, entah kenapa kedua wanita yang sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok Arga yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat sibuk meniup balon.
“aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,”
“Eeehh,, maksudmu?,,,” Zuraida mulai was-was, mungkinkah Aryanti akan menanyakan langsung tentang sejau mana hubungannya dengan Arga, dan membongkarnya dihadapan umum.
Tapi Aryanti justru tersenyum, “Jujur,, aku tau Arga suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada hatinya,” Aryanti menghela nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat kaki Zuraida.
“Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Arga bercanda hatiku terasa sakit,,,” Aryanti tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk disamping Zuraida, memeluk pundak sahabatnya. “Tapi kurasa itu tidak lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu nakal, dan lagi-lagi Arga bisa memaklumi itu,”
“Yan,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Arga, dan aku,,,”
“Hahahaa,, udah jangan dipikirin,, suamimu Dako udah cerita koq,,, dan aku tidak keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,”
DEGG,,, Zuraida keget dengan jawaban Aryanti.
“Yan,,, maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,,” Zuraida merasa bersalah pada sahabatnya itu.
“Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,”
“Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Yan,,,”
“Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,”
“Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,,” Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
“Permainan kali ini sangat mudah, tetap berpasang-pasangan, dan penentuan pasangan masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila aku yang menentukan pasangan kalian dengan bola-bola ini?,”
Para lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie yang memang terlihat begitu berkuasa. Dako akhirnya senyum sumringah kembali menghias bibir para lelaki. Munaf yang kali ini mendapatkan Andini dengan cepat merasakan batangnya mengeras, meski tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Prabu dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan malu-malu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Adit tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada dengan pita milik Sintya. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya. Dako tertawa girang, mengusap-usap batang dibalik celana saat tau partnernya kali ini adalah Aryanti. Dan tingkah Dako itu membuat Aryanti tertawa tergelak.
“Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,”
Tapi di antara mereka Zuraida dan Arga lah yang paling merasa senang, wanita itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola warna hijau.
“Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut saya,,, Mang Oyik,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,,” Bu Sofie meminta penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi, untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat naik kendaraan roda dua.

“Kita mau ngapain Bu?,,,” tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri. “Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,”
“Ooowwhh,,, ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,, heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,,” tanya Andini ikut penasaran.
“Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku menghampiri kalian satu persatu,,” teriak Bu Sofie saat para wanita satu persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki Zuraida. Di dalam, Zuraida yang tengah melepas celana legginsnya sempat terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya. “Zuraida, lepas celana dalam mu juga ya,,”
“Hehh,,, maksud ibu?,,,”
“Pokoknya lepas aja,,,” ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zuraida masih tampak bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang kemaluannya dari batang ganas Pak Prabu.
“Ayolaaahh,, lepas aja,,, aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah berusaha memasangkan dirimu dengan Arga, meski suamiku sempat ngotot untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,”
“Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,,” Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zuraida.
“Aku merasa kalian sangat serasi, jadi tolong jangan sia-siakan kesempatan ini,, ok?,,, aku harus ke bilik yang lain,,” Bu Sofie membuka pintu hendak melangkah keluar.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan. “Inget ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya mu emang lebih cocok buat Arga, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga pengen nyicipin,,,hihihi,,,”
“Ada apa ini sebenarnya,,,” Zuraida tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi, darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya adalah milik suaminya, Pak Prabu.
Di bilik sebelah, bu Sofie kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan oleh wanita itu. Zuraida keluar dari bilik, disusul para istri lainnya. Mata mereka saling pandang, masing-masing tau dibalik kain yang mereka kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua membisu, cukup saling tau dengan kondisi masing-masing, dengan jantung berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang menuju arena permainan.
“Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,”
“Maksud ibu gendong didepan?,,” tanya Aryanti ragu-ragu.
“Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,”
Bu Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher Mang Oyik, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Oyik dengan cueknya.
“Sudah paham?,,,”
Para suami mengangguk cepat sambil tertawa, sementara para istri menayangkan wajah pucat, memaksakan untuk menganggukkan kepala mereka.

“Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku pinjam suami ibu dulu,,” ucap Andini, dirinya bisa merasakan permainan ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
“Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hati-hati ya, jangan sampai jatuh,” jawab Aida ragu-ragu, berusaha mengajak bercanda.
“Ayolaaahh,,, nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi siapapun yang menang dari kalian,” Rupanya Bu Sofie gregetan dengan tingkah para istri yang malu-malu seperti kucing, yang berusaha menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
“Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,”
Bu Sofie memberi aba-aba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,, jantung Zuraida tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang Arga, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.  Dengan cepat Zuraida menoleh ke Aryanti, rupanya sahabatnya itu juga tengah kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu sia-sia.
“Zee,,, daleman kamu mana?,,” bisik Arga saat menyadari wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan sehelain kain pun.
“Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,,” Zuraida pucat, entah kenapa dirinya takut bila Arga marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zuraida, wajah Arga tampak sedikit emosi, “Gila,,, bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan kemaluan terbuka seperti ini?,,,” suara Arga meninggi.
“Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,”
“Tunggu,,tunggu,,,apa Aryanti dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,”
Zuraida mengangguk pelan, tak berani menatap Arga. Keributan tidak hanya terjadi pada Arga dan Zuraida, tapi juga pasangan lainnya. Munaf yang merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Andini untuk memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Andini. Alasan Munaf, bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu Adit, gadis itu menggeleng tegas.
“Ayolah Din,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,”
“Jangaan,, ada mas Adit, ntar dia marah,,” Munaf tertawa mendengar jawaban Andini, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Adit.
Sementara di samping mereka Adit berusaha menyembunyikan hasratnya untuk menusuk vagina Sintya. Adit menahan bukan karena tak ingin, tapi karena memikirkan kondisi vagina Andini yang pastinya kini tengah mengangkangi batang Munaf. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan tangan Munaf yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat keluar.

Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak Prabu yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan cepat menggoda vagina Aida dengan gesekan-gesekan lembut. Aida kini merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Prabu adalah batang terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
“Koq sudah basah banget Bu?,,,” tanya Pak Prabu, kedua tangannya memeluk pantat Aida, selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan batangnya yang bergerak menggoda.
“Okey,,, sudah siap?,,, perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,”
“Siaaap,,, tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,, haahhhaha,,,” Munaf tertawa, sambil menepuk-nepuk pantat Andini, dan ulahnya itu membuat Adit meradang.
“Diiitt,,, jangan pikirkan istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,,” ucap Sintya, membisiki telinga Adit dengan cara yang sangat menggoda.
Adit tertawa, matanya beralih ke payudara Sintya yang kini berada di depannya. “Ayolah buat game ini semakin panas,,,”
Kini giliran Sintya yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Adit. “Liat saja nanti,,” bisik Sintya tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Prabu yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
“1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo…” Bu Sofie berteriak memberi aba-aba penuh semangat.
Kaki para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Adit menghentak batangnya ke liang kemaluan Sintya, tepat saat aba-aba Goo berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Prabu yang memaksa Aida untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang vaginanya yang sudah sangat basah.
“Ooowwgghhhh,, Paaakk,,,” Aida melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Prabu setengah berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
“Ugghhh,, apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah bener,,,” Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Arga dan Zuraida yang berlari sangat pelan.
Tubuh Zuraida tampak sesekali menggeliat saat batang Arga yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
“Gaaa,,, aku ga kuaaat kalo seperti iniii,,” Zuraida merintih pilu di telinga Arga, berusaha bertahan, sudah berkali-kali tubuhnya menerima rangsangan hebat, dari pak Prabu dan Munaf.

Sementara Aryanti yang berada tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi, tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Dako yang berusaha menyelusup masuk.
“Masss,,,” bibir Aryanti terbuka, seolah meminta izin untuk menerima batang milik Dako kedalam tubuhnya. Sangat sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Arga, istrinya justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di hati lelaki itu. Mungkinkah Dako sudah berhasil menyetubuhi istrinya. Tapi diamnya Arga, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
“Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,”
Tubuh Arga menggigil, saat Aryanti menutup mata, tubuh nya beringsut turun, menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Dako yang tegak mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit. Arga dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan, ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena gerakan Dako yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata Aryanti terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang tengah dirasakan oleh vaginanya.
“Dakooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Argaaaa, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,,” pinggul Aryanti bergerak semakin cepat.
“Apa kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas menikmati batangku,,” tanya Dako yang mulai kewalahan, menyetubuhi wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang mudah.
“Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benar-benar menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dakooo,,, aku merasa batangmu semakin besar di vaginakuuu,,,” Aryanti tidak lagi bergerak naik turun, tapi pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
“ooo,,, aku keluaaaarrr,,,” bibir Aryanti terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Dako.
“Ooowwhhhhsss,, Kooo,, batangmu keras bangeeett,,, meqi ku mpe klengeeerrrsss,,,” Aryanti seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi rangsangan tersendiri baginya.
“Yaaan aku juga mau keluaaarr,, terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,,” Dako mulai kewalahan, langkahnya tak lagi teratur.
“Zeee,,,, mereka sudah melakukaannyaaa,,,” ucap Arga pada Zuraida yang tengah terengah-engah merasakan gesekan batang Arga yang masih terbalut celana.
Tiba-tiba langkah Dako terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Aryanti, menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Aryanti tak kalah liarnya, berusaha menekan batang Dako jauh ke dalam kemaluannya, pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.

“Maaasss Dakooo,,” seru Zuraida pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat itu jualah sperma Dako menghambur, memenuhi rahim Aryanti yang juga tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat rintihan Aryanti tak lepas dari tatapan Arga yang langkahnya sempat terhenti tepat di samping mereka. Arga tau vagina istrinya tengah menerima transfer sperma milik Dako, sebanyak apapun cairan yang keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
“Gaaa,,,” wajah Zuraida yang terkejut dengan aksi Dako dan Aryanti kini menatap Arga, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang baru saja diterima Aryanti.
Ingin sekali Zuraida berteriak bahwa vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Arga menyusur ke bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zuraida, bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Arga.
Arga dan Zuraida saling tatap, “Zee,,, bolehhh?,,,” tanya Arga terengah-engah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zuraida mengangguk, meski dirinya selalu berharap Arga menyetubuhinya dalam suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benar-benar memaksa tubuhnya untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie. Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zuraida menurunkan pantat mulusnya. Bibir vaginanya mencari-cari ujung dari batang milik Arga.
“Gaaa,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,,” kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Arga bener-bener gemas.
Tapi bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka lebar, akan dengan mudah menerima batang Arga, itu adalah salah. Vagina Zuraida yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Arga.
“Kegedeaaann,, ga bisa masuuuk,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, tapi pinggulnya terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah penetrasi darurat.
“Gaaa,,, ayooo dong,, jangan malah diketawain,,,” dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin disetubuhi seperti saat ini.
“Wooyyy,,, Argaaa,, perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,,” seru Bu Sofie, mengagetkan Arga dan Zuraida, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata Zuraida kembali mengawasi suaminya Dako, yang masih berada di belakang mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Aryanti untuk menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya berpegangan erat di leher Pak Prabu. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah menerima setiap hujaman batang besar Pak Prabu. Lain lagi halnya dengan Adit dan Munaf yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas terlihat. Munaf begitu puas bisa mempencundangi Adit dengan memberikan orgasme pada istrinya Andini yang tidak berkutik di hadapan suaminya. Sementara bagi Adit sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya masih lebih hebat dengan menghantar Sintya pada orgasme yang sangat liar.
“Gaaa,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,”
Zuraida kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang Arga dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan yang lebih jauh.

“Zeee,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,”
Zuraida bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya, “Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,”
Arga tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat ke vagina Zuraida. Menyunul-nyunul pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita cantik itu.
“Gaaa,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,”
Mulut Zuraida terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Arga perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
“Aku tau kamu tadi masih ragu,” ucap Arga disela nafas Zuraida yang tercekat.
Kini tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
“Gaaa,, seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,,” vaginanya masih berusaha memasukkan batang Arga lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
“Gaaa,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,,” pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari-cari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Arga seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahun-tahun menjadi fantasi liar nya.
“Zeee,,, aku entot yaaa,,,”
Mata Zuraida terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka bertemu.
“Gaaa,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,”
Mata Zuraida nanar menatap batang Arga yang bergerak cepat keluar masuk lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil mengobok-obok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk kesetiaan.
“Argaaa,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh gaaa,, aku pipisss,,,Aaaggghhh,,,” Kaki Zuraida berusaha memiting pinggul Arga, memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat liar.
“Zeee,,, kau memaaang indaaahh,, Zee,,,” batang penis Arga serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh kenikmatan.
“Argaa,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Gaaa,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Gaaa,,,”
Mendengar kata-kata Zuraida, Arga justru semakin bernafsu, mencengkram erat pantat Zuraida, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam, merasakan empotan vagina Zuraida yang masih dilanda orgasme. Sia-sia bagi Zuraida berusaha melepas batang Arga dari vaginanya, karena saat ini kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
“Zeee,, aku keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaaang,,,oowgghhhh,,,” batang Arga berkedut, lalu menghambur bermili-mili sperma, menghentak dinding rahim Zuraida dengan deras.

“Ooowwhhhh,, Argaaa,,,keluarkaaan sayaaaaang,,, keluar semuaaa dirahimkuuu,,,” Zuraida menatap wajah Arga yang orgasme dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali menjepit pinggul Arga, memaksa otot vaginanya memijat batang Arga, seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
“Gaa,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,,” bisik Zuraida.
Whoooo,,, Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,,tepuk tangan dan sorak terdengar riuh, mengagetkan Arga dan Zuraida. Tanpa mereka sadari semua mata menatap ke arah mereka. Wajah Zuraida memerah seperti udang rebus, turun dari tubuh Arga dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
“Duduk dulu sayaaang,, kau terlihat sangat kelelahan,,” sambut Aryanti, wajahnya tersenyum menahan tawa.
“Maaf yaaan,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilang-bilang,,,”
“Ststsss,, udah jangan ributin itu,,,” jawab Aryanti, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zuraida yang hampir terlepas.
“Hey,, Pak Prabu, ngapain ngintip-ngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,” Aryanti mengusir Pak Prabu yang berusaha mengintip selangkangan Zuraida. Tampak sperma milik Arga perlahan mengalir keluar dari celah sempit itu.
“Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Ga,,,” seru Munaf, sambil terus bertepuk tangan.
“Asseeeem,,, sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Naf,,, lombanya siapa yang menang,,,” Arga berusaha mengalihkan obrolan.
“ngga ada yang menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua tuh,,,hahaahaa,,,” seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
“Okeeey,,, masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan.” Pak Prabu kembali mengambil alih komando.
“Ada beberapa kabar, entah ini baik atau buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,”
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Prabu.