TUTI DAN NIA

Malam itu, Nia sedang tertidur di depan televisi sekitar pukul 23.00 wib di rumah saudara sepupunya. Jilbab lebarnya tetap tidak bisa menyembunyikan lekukan payudaranya yang besar. Sepasang mata sedari tadi memperhatikan besarnya payudara itu. Pemilik sepasang mata itu mendekat dan desahan nafasnya terdengar halus. Terus mendekat dan mencoba menyentuh tangannya ke gundukan dada montok milik Nia. Dengan hati-hati tangan itupun mulai meraba dengan lembut berkali-kali.

TUTI

Nia tidak terbangun, sepertinya gadis cantik berjilbab lebar itu sangat letih sekali akibat perjalananannya tadi siang menuju rumah Tuti saudara sepupunya yang ternyata seorang aktivis berjilbab lebar juga. Karena mengetahui kondisi itu, Dada montok itu terus saja diraba halus berulang-ulang, bahkan sesekali diremas-remas sehingga puting payudara Nia menonjol mengeras. Sepertinya hasrat seksualnya mulai naik. Tapi tetap saja mata Nia masih terpejam. Sepasang tangan tidak berhenti sampai di situ, lalu dengan perlahan membuka sedikit ke atas jilbab putih yang dikenakan Nia sampai ke leher dan ternyata Nia menggunakan gamis panjang dengan resleting di depan dada hingga ke perut.

Tangan itu kemudian membuka resliting gamis Nia, sehingga tampaklah beha tipis berwarna krem dengan tampilan putting yang sudah menonjol keras. Putting itu disentuh, dijilat, kemudian beha itupun dilepas pengaitnya yang berada di depan. Terpampanglah dua bukit kembar yang putih menantang, terdapat rambut-rambut halus di sana, saking putihnya menampilkan warna kebiruan pembuluh darah Nia. Dengan putting areola yang berwarna merah jambu yang menonjol tanda rangsangan birahinya telah naik. Mungkin saat ini Nia sedang bermimpi. Semakin lama jilatan berubah menjadi hisapan dan nafas Nia sudah tidak beraturan lagi. Desahan mulai terdengar hhhh…emmmm…hhhhh…sssssshh….hhhmmmm. Sepasang tangan meneruskan gerilyaannya sampai ke pusar Nia. Lalu tangan kanannya mencoba untuk menarik rok Nia ke atas hingga tampak cd berwarna putih mencetak bibir kemaluan Nia yang cembung. Indah terlihat dan menantang siapa saja yang memandangnya.

Hisapan dan jilatan terhenti, sepertinya konsentrasinya telah berubah pada bagian dalam yang tersembunyi dalam cd putih itu. Lalu dengan hati-hati sepasang tangan itu meloloskan cd putih itu ke bawah maka bibir kemaluan yang cembung itu terlihat. Bulu jembut halus terlukis indah di atas nya. Bibir kemaluan yang berwarna merah jambu terlihat seksi dengan tonjolan klitoris (itil)nya.. langsung saja bibir kemaluan itu di jilati dan tonjolan itilnya di sentuh dan ditekan tekan. Desahan kenikmatan Nia terdengar lagi…uhhhhhhh…uhhh……

TUTI

Wajah cantik itu terlihat sayu, mata yang masih saja terpejam seakan sedang bermimpi terus mengeluarkan desahan kepedasan mirip rintihan…

Satu jari lalu mencoba menerobos liang memek sipemilik jilbab lebar ini…ditusuk dengan perlahan-lahan lalu dikeluarkan lagi lalu dimasukkan lagi terus berulang-ulang…sehingga bibir memek itu semakin lebar terbuka.

Basah pada bibir memeknya tanda rangsangan birahi telah terbakar jauh. Tusukan jemari ditambah hisapan pada itil gadis berjilbab besar ini, semakin membakar birahi. Kedua kaki Nia menegang dan seakan menjepit kepala seseorang yang sedang merangsang birahinya saat itu. Ternyata Nia telah sampai klimaks orgasmenya yang pertama seumur hidupnya baru dia rasakan membuat lemas seluruh sendinya. Lalu pakaian Nia dirapikan kembali oleh orang misterius itu. Dan menghilang dibalik salah satu kamar di rumah itu..

Mata Nia perlahan terbuka, ada perasaan aneh malam itu yang dia rasakan..rasa yang begitu nikmat, wajahnya bersemu merah tanda malu. Nia memeriksa kondisinya dan memegang kelaminnya yang ternyata basah hingga membasahi cd putihnya. Dia kaget dan bangun dari sofa menuju kamar mandi untuk segera membersihkan memeknya yang basah lembab itu.

Di kamar mandi Nia membuka cdnya sambil berjongkok Nia siram dengan air pada selangkangannya. Tersentuh itilnya saat membersihkannya dengan tangan kirinya. Rangsangan birahinya kembali naik…Nia heran, perasaan ini seperti yang ia rasakan saat tidur tadi.

Lalu itil Nia bertambah tegang saat sentuhan jari Nia dilanjutkan untuk yang kedua. Nia terpekik oohhhh…hhh. Nia tidak menghentikan sentuhan jarinya pada itilnya bahkan semakin hanyut dengan sentuhan itu desahannya semakin lama semakin keras…uuhhhh hehhh ohhh…sssshhhhh. Tak hanya di situ tangan satu lagi malah diarahkan ke lubang memeknya, membelai bibir memeknya dan terasa memeknya mulai basah lagi….

Semakin penasaran saja, Nia meneruskan aksinya, jarinya pun akhirnya ditusukkan ke dalam lubang memeknya….rintihan tertahan keluar dari bibirnya yang tipis oohhh…”kenapa terasa nikmat” bathinnya. Tusukan jari di lubang memek semakin lama semakin cepat, bersamaan itu tangan satu lagi mulai membuka gamis atasnya dan membuka cup beha cremnya lalu dengan refleks mulai meremas toket besar nya. Tusukan dengan satu jari beruh menjadi 2 jari karena Nia memasukkan jari keduanya ke dalam lubang memeknya ini membuat matanya membulat terbuka karena kenikmatan yang Nia rasakan. Semakan lama semakin cepat sodokan kedua jarinya. rintihan itu berubah menjadi jeritan tertahan tatkala Nia telah klimaks untuk yang kedua kalinya…Bedanya klimaks pertama Nia rasakan karena sensasi saat dalam keadaan tidur tapi sekarang klimaksnya karena aksi masturbasinya. Lalu setelah bersih-bersih Nia kembali memakai cdnya dan dan menutup cub behanya lalu bergegas keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang tak mampu diungkapkan. Nia masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya dengan fikiran yang membingungkan dengan kejadian malam ini. Hingga Nia tertidur hingga menjelang shubuh.

Saat menjelang Shubuh pintu kamar Nia diketuk oleh seseorang dari luar. Nia terkejut, sambil mengusap-usap mata Nia bertanya, “Siapa?” Lalu menyahut seseorang dari luar, “Ini Tuti, ayo Nia yang manis bangun yuk kita sholat.”. Lalu Nia bangkit dari pembaringan dan segera menuju kamar mandi.

Tuti dan Nia adalah saudara sepupuan. Bodi Nia sangat bagus. tubuh ramping yang selalu tertutup dengan busana muslimah menyimpan tubuh seksi yang sangat menggoda bila dibuka. Gunung kembar bak buah pepaya mengkal dengan puting merah jambu. perut datar dan lekukan pinggang yang seperti gitar spanyol. Belum lagi dengan memeknya yang kemerah-merahan lebih tepatnya merah jambu dengan itil yang agak menonjol kedepan. ada rambut pubis halus di atasnya sehingga menambah seksi saja bila dilihat.

Tuti sebenarnya tidak kalah cantik, Tuti dan Nia sama-sama cantik. Toket dan memek imbanglah bila dibanding kan keduanya. hanya Tuti lebih tinggi sedikit dibanding Nia. Mereka adalah gadis-gadis berjilbab yang menyembunyikan kecantikan alami mereka. Pagi ini mereka rencana jalan-jalan dan belanja.

Nia sudah semalaman menginap dirumah saudara sepupunya ini sementara memang hanya mereka berdua saja yang ada di dalam rumah. Papa dan mama Tuti sedang mengunjungi Neneknya di Bandung.

TUTI

Saat Nia mandi, Nia teringat dengan kejadian malam tadi. Nia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah kejadian semalam itu hanya mimpi? Lalu Nia menggosok giginya yang putih dan dilanjutkan dengan membersihkan kulitnya dengan sabun mandi. Saat Nia menyabuni toketnya yang menggantung indah itu, Nia merasakan sensasi nikmat tatkala menyentuh putingnya, Nia agak lama menyabuni toket mengkalnya….lalu tangan yang satu lagi membersihkan memeknya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Nia mulai mendesah nikmat tatkala sabun itu menyentuh memek dan itilnya. Sesekali sabun itu dimasukkan ke dalam lubang memeknya yang sudah mengembang merekah karena gejolak birahinya. ehhh…hhhh uhhhh… nikmat sekali…erangnya. Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk oleh Tuti. “Nia? koq lama banget nich mandinya? waktu shubuh nich..ayo cepetan.” Lalu Nia dengan gemetar menjawab eh iiyyaaa…sebentar lagi Nnia siap.” Uh..makinya, kejadian ini jadi tertunda dan NIa terpaksa mempercepat mandinya.

Pukul 09.00 mereka bersiap-siap untuk jalan-jalan dan belanja mereka, Nia dan Tuti terlihat seperti adik dan kakak saja sangat akrab bergandengan tangan. Sesekali Tuti menggelitiki Nia saat bercanda dadn Nia pun tertawa kegelian. Kadang tak sengaja gelitikan itu membuat dada montok Nia tersentuh dengan lengan Tuti, ntah kenapa Nia berubah wajahnya memerah malu..mungkin birahinya naik lagi. Nia akhirnya mengatakan cukup dech main-mainnya.. dan Nia memandangi Tuti dengan tatapan yang agak berbeda. Nia seakan membandingkan fisiknya dengan fisik Tuti yang walau tertutup dengan jilbab lebarnya tapi Keindahan tubuh Tuti tetap tampak dari luar pakaiannya. Tutu memanggil Nia dan bertanya “koq bengong”. Nia pun akhirnya tersadar dari fikiran ngeresnya. “oh ngga apa koq”.

Seharian mereka belanja dan barang belanjaannya pun cukup banyak. Terlihat Nia udah kelelahan seharian jalan dan belanja bersama Tuti.

Mereka berdua sampai dirumah malam hari sekitar pukul 22.00, lalu mereka mandi. Selesai mandi mereka masuk ke kamar masing-masing dan Nia merebahkan tubuhnya yang sangat kelelahan sehabis belanja.

Jam berdentang menunjukkan waktu 23.00 saat itu dan Nia udah terlelap dalam tidurnya.

Pintu kamar Nia perlahan terbuka, sepasang mata kembali memperhatikan tubuh Nia yang hanya memakai baju tidur tanpa menggunakan beha dan cd dari balik pintu. Lalu mengendap endap masuk dan memperhatikan Nia yang memang telah pulas tidur. Terdengar dengkuran halus dan nafas yang teratur. Nia punya kebiasaan kalau udah bobok, susah dibangunin bila terlalu letih. pemilik sepasang mata misterius ini melakukan aksi yang serupa dengan kejadian malam kemarin yaitu ingin membangkitkan birahi gadis aktivis ini.

Malam ini agak berbeda, karena hal yang pertama dilakukannya adalah merabai betis dan paha Nia. dengan halus kaki Nia diraba dan diciumi serta dijilat dengan hati-hati..rambut-rambut halus pada betis dan paha Nia tegak dan pori-pori kulitnya pun meremang.

Betis, paha, lalu mengarahkan ciuman dan jilatannya pada lipatan paha yang ternyata sudah basah membayangi celana luar Nia yang tidak ber cd itu. Lalu membuka perlahan celana itu dan setelah celana dengan gampangnya terbuka maka tampaklah memek yang mengembung indah dengan itil yang mulai mengeras.

Dengan hati-hati agar Nia tidak terbangun dari tidurnya, maka si misterius ini mengusap bibir memek Nia yang indah ini, merabainya dengan halus sehingga Nia mengeluarkan desahan-desahan. Agak lama itilnya disentuh-sentuh dan dipilin-pilin lembut sehingga erangan Nia terdengar. Si misterius ini juga dengan hati-hati membelai memek dengan jari yang membelah bibir memek Nia. Lalu dihisaplah itil Nia yang sudah sangat mengeras. Nia tetap tampak dalam kondisi tertidur, hanya desahan-desahan saja yang keluar dari bibir sensualnya.

Desahan-desahan erotis Nia makin menjadi-jadi, disertai erangan kenikmatan tatkala itilnya dipilin-pilin oleh simisterius ini. memek yang menggembung ini semakkin terbuka merekah berwarna merah jambu.

Indah sekali terlihat semakin mempesona. Wajah Nia yang cantik makin bertambah ayu dengan desahan desahan nikmat itu..lubang memek itu semakin basah saja..suara desahan itu uuuhhh..hhhhehhhh…ohhhh….ssshhhhhhmmm…..

sesekali sang misterius itu memperhatikan wajah Nia yang ayu sambil tersenyum…

Lalu melanjutkan aksinya dengan perlahan memasukkan sebuah jarinya ke dalam lubang memek Nia yang membuat Nia semakin resah tidurnya…

Terus jari tersebut diam sebentar, dan kemudian dilanjutkan kembali sambil menusuk-nusuk pelan.

Itil Nia semakin tegang saja dan memeknya semakin basah saja..piyama Nia lalu di singkap dngan membuka kancing bajunya. Tersembullah bukit putih halus dengan rambut-rambut halus disekitarnya menambah kecantikan bukit kembar Nia.

TUTI

Di sentuh puting yang telah mengeras sejak tadi. dijilati dengan halus beberapa kali. Tetap saja Nia tidak terbangun. Nia mengerang birahi, mendesah, mendesah, dan mendesah kulit halus toketnya terus diremas, sehingga putingnya makin menegang keras.

Lalu setelah dirasa cukup, maka sang misterius kembali melihat memek Nia yang semakin basah saja.

Kemudian dia mengulangi lagi untuk mengemut itil sang gadis cantik ini. uuuhhhh…desahan nikmat Nia semakin menjadi jadi.

Kembali jarinya disusupi kedalam lubang memek Nia yang sangat basah itu semakin dalam dikeluarkan dimasukkan lagi begitu seterusnya. Tak berapa lama nafas Nia sudah sangat tidak beraturan Dan Nia menegang tanda klimaks birahinya berakhir..aaahhhh…tubuh Nia melemas

Beberapa saat sang misterius ini memandangi wajah di depannya dengan tersenyum..lalu keluar dari kamar Nia..

Nia terbangun dari tidurnya..terkejut karena pakaiannya terbuka.

Nia heran, koq bisa bajunya terbuka. Diperhatikan tubuhnya yang seksi menggoda itu dengan puting yang mengeras dan memek yang masih basah. Lalu tangan kirinya mencoba menyentuh puting kirinya yang masih tegang ohhh…nafas Nia tersengal. Nia heran dengan dirinya sendiri.

Lalu tangan kanannya pun memegang bagian bawah tubuhnya yaitu memeknya,basah, dan itilnya menegang..

Nia memerem melekkan matanya tatkala tangannya sudah membelah bibir memeknya..

Nia sang gadis jilbaber ini tak kuasa membendung birahinya..

Kemudian Nia masukkan jarinya ke dalam lubang memek yang telah merekah itu, ditusuk-tusukkan jarinya, mata gadis yang kesehariannya berjilbab ini mendelek membulat karena merasakan memeknya dirojok2 dengan jarinya. Toketpun kembali diremas-remas olehnya.

Tanpa diketahui oleh Nia, aksi masturbasinya ternyata sedang diperhatikan dari lubang kunci oleh si misterius ini..Dengan tersenyum terus memperhatikan tubuh Nia yang telanjang sedang memuaskan syahwat birahinya sendiri. Sang Misterius ternyata sangat bernafsu dengan kejadian di dalam kamar Nia, Diapun mendesah-desah sambil meraba-raba bagian-bagian tubuhnya.

Nia sampai menungging-nungging merasakan kenikmatan dunia yang dirasakan olehnya saat ini.Kedua jarinya telah tertanam dalam lubang memek merah jambunya…Nia kelihatan seperti wanita binal dalam mengaduk-aduk memeknya yang sensasinya begitu dahsyat.

Nia berteriak-teriak tatkala klimaksnya sampai…ohh accgggrrrr….dan jarinya terus dipompa secepat-cepatnya…posisi Nia sekrang ini dalam keadaan telungkup. Dan kocokannya semakin lama makin melemah dan kemudian desahan lepas pun hilang. Nia merasakan lemas sekali..Barusan Nia memompa birahinya dengan sejadi jadinya..

Nia Kemudian tertidur…

TUTI

Sang misterius menghilang dari belakang pintu kamar Nia.

Nia terbangun di malam hari sekitar jam 02.00 dini hari. Nia merasa haus, dan bergegas bangun untuk pergi ke dapur. Pakaian yang berserakan di tempat tidur lalu dipungutnya dan kemudian dipakainya. Sampai di dapur Nia mengeluarkan air minum yang ada dikulkas dan segera diseruput minuman dingin tersebut dan lepaslah dahaganya. Lalu Nia duduk di meja makan dekat dapur. Sambil menyeruput air lagi, Nia memikirkan kejadian demi kejadian semenjak Nia menginap di rumah sepupunya yang juga seorang jilbaber seperti dirinya.

Nia merasa heran, koq bisa dia mengalami sensasi dahsyat ini?

Selama ini Nia tidak pernah terlintas punya fikiran kotor di dalam otaknya tapi.. dalam dua malam ini dia merasakan keanehan.

Keanehan yang didapat dalam tidur nyenyaknya sehingga mengalami orgasme.

Tapi malam ini..saat terbangun, kenapa pakaian Nia terbuka semua? Apakah syahwat remajanya sebegitu dahsyatnya?Sehingga tanpa sadar Nia membuka sendiri pakaiannya? Semenjak orgasme saat tertidur malam kemarin. Nia merasa syahwatnya meledak-ledak. Ternyata organ-organ sensitif Nia sudah sangat sensitif untuk dijamah. Nia menerawang jauh..malu rasanya mengingat kejadian yang telah terjadi. Nia adalah seorang gadis berjilbab yang selama ini selalu menjaga hatinya terhadap hal-hal semacam ini. Tapi dua malam ini telah mengubah diri seorang Nia.

Nia yang dikenal oleh teman-teman kampusnya sebagai seorang aktivis yang menjaga pergaulannya ternyata hari ini telah mengubah Nia menjadi gadis binal dengan sex swalayan. ah…desahan Nia ketika mengingat kejadian ini.

Nia bangkit dari kursinya hendak kembali menuju kamarnya. Ingin memikirkan kejadian ini sambil berbaring di kasur empuk dikamarnya.

Ketika melewati kamar Tuti, Nia terperanjat dan kaget. Nia mendengar suara-suara aneh yang berasal dari Tuti.

Nia dengan pelan-pelan mendekati pintu kamar Tuti. Nia semakin penasaran karena suara semacam itu tak mungkin Nia lupa dengan bentuk suara itu.

Dengan pelan-pelan mendekati pintu kamar Tuti. Nia semakin penasaran karena suara semacam itu tak mungkin Nia lupa. Nia sangat kuatir dengan Tuti. Apa selain kami berdua ada orang lain dirumah ini? Da orang itu sedang mengganggu Tuti? Juga pernah menggangguku?bathinnya. Nia mencoba mendekati pintu kamar itu. Nia langsung mengintip lewat celah lubang pintu apa yang terjadi.

Ah…Nia kaget, terkejut dengan kejadian yang ada di dalam kamar Tuti saudara sepupu Nia yang juga seorang jilbaber.

Lalu Nia mencoba mengintip lagi..ohh? Sedang apa Tuti? Nia terperanjat. Nia menyaksikan dari lubang kunci kamar Tuti kejadian yang….ooohhhhh?????? Tuti di atas ranjang…tanpa busana….telanjang. Tubuh bugil Tuti memperlihatkan kulitnya yang kuning langsat, cantik, toket besar mirip melon bergantungan kembar…Terlihat wajah Tuti yang cantik itu sedang meringis seperti orang yang kepedasan.

“oooughgh…yeahhhhhhhuhhhhh…hmmmmmm…yaaaa…uuhhhh…shhhsssssss… “ Perut rampingnya tanpa lemak, pinggulnya yang indah…..dan Nia merasa tegang sekujur tubuhnya menyaksikan adegan yang ada di dalam kamar Tuti.

NIA

Mengapa tidak? Tuti yang tanpa busana sedang meremas-remas toket gedenya dengan keras, terlihat bekas kemerahan pada kulit toketnya. puting yang kecokelatan terlihat sangat tegang menantang dan dipilin-pilin dengan keras..tampak desahan-desahan Tuti yang dapat mengundang birahi…

Nia sangat terkejut dengan pemandangannya di sekitar kelamin Tuti…Apa itu? bathin Nia. Ada benda panjang yang menusuk-nusuk lubang memek Tuti. Dan ketika Nia memperhatikan lebih lama Nia bisa mengenal benda itu. Ohhhh…Tuti?Nia melenguh…Takut dan takjub…benda itu adalah timun yang agak besar dan panjang sedang merobek-robek atau lebih tepatnya menyodok-nyodok lubang memek Tuti…

Ternyata Tuti yang seorang aktivis jilbaber ini tampak sedang melakukan masturbasi dengan timun besar… Nafas Nia tersengal sengal. Tanpa disadari Nia, dirinya juga ikut terangsang dengan adegan yang diperagakan oleh Tuti saudara sepupunya yang sama-sama aktivis di kampusnya.

Pandangan Nia tak lepas dari memek Tuti yang menciut ke dalam tatkala timun itu disodok masuk ke lubang memek tuti dan mengembung keluar tatkala timun itu ditarik keluar.

Semakin tersengal-sengal nafas Nia..Dan Nia secara refleks membuka piyamanya bagian depan dan meraba-raba puting susunya. Dan tangan satu lagi merogog memeknya…Nia memang tidak percaya saudara sepupunya ternyata melakukan hal seperti ini…

Terlihat Tuti sudah berkali-kali orgasme, tapi tetap aja timun itu tidak berhenti menyodok lubang memek Tuti.. Nia merasa heran juga dengan stamina Tuti, Tuti berteriak histeris setiap sampai pada klimaksnya. Sepertinya sudah sampai lima kali Nia melihat Tuti orgasme…

Nia pun tak mampu membendung orgasmenya sampai dua kali menyaksikan adegan Tuti yang begitu menggairahkan…

Nia menjadi terangsang melihat tubuh Tuti yang tanpa sehelai benangpun yang menutupinya terlihat. Tetek atau toketnya yang menggunung mirip buah melon itu dapat membuat Nia grogi.

Nia tanpa menyadari kalau Nia telah menyukai bentuk fisik seorang wanita, dan wanita itu adalah sepupunya sendiri…ohh…akhirnya Nia telah klimaks untuk yang ke 4 kali…Sepertinya Tutipun telah menyelesaikan permainan seks swalayannya..

Nia tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya sendiri. Kemudian tertidur hingga pagi.

Di pagi yang cerah Nia dan Tuti duduk-duduk di ruang keluarga. Dengan kondisi fresh setelah sarapan pagi mereka berdua bercerita di ruang tengah itu. Tuti bertanya apakah Nina betah tinggal di rumahnya. terus bertanya tentang 2 malam ini nyenyak ngga tidurnya. Nia bingung juga menjawabnya. Nia tidak pernah bisa berbicara bohong.

Nia sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang hal yang terjadi semalam.

“ada apa Nia?” Tuti bertanya.

“mmm, ngga ada apa2.” Jawab Nia bingung.

“Tuti Lihat Nia menyembunyikan sesuatu? Ayo katakanlah Nia.”

” Begini Tuti. mma af sebelumnya…

“Aku… aku…” Nia tergagap.

Tuti mendekatinya, dengan suara lembut kemudian berkata,”Jangan takut katakanlah Nia.”

“Maaf Tuti, Nia…Ni..a, melihat Tuti semalam sedang….”

“Ha? Apa Nia?”

“Kamu Tuti, kamu sedang…ngewe ama timun…”Akhirnya Nia mampu meneruskan ucapannya.

“Oh?”Tuti gelagapan, ternyata Nia telah melihat rahasianya.

Tuti mencoba tenang. Lalu Tuti semakin mendekat ke Nia.

Lalu tangannya merangkul kepala Nia. Kedua gadis cantik dan seksi yang sedang menggunakan jilbab lebar itu sangat dekat sekali. Tuti kemudian mencium bibir Nia. Nia kaget sehingga mencoba menarik diri. Ciuman kedua bibir itu terlepas.

“Kenapa Nia?” Protes Tuti. “Maaf Tuti.” Kita…

“Nia…Tuti tahu koq kalau Nia juga punya syahwat yang sama dengan Tuti. Syahwat kita sangat besar…” Tuti terus merapat ke tubuh Nia, lalu menyentuh toket Nia yang masih tertutup gamis dan jilbab itu. “Jangan Tuti kita…”

Tapi Tuti terus saja meremas toket Nia yang besar itu yang seperti buah pepaya itu. Nia ternyata tidak menepisnya. Tampaknya Nia menjadi ragu dengan dirinya sendiri..Remasan-remasan tangan Tuti semakin lama semakin membuat Nia terbakar gejolak birahinya. Nia tampak gemetar. Tuti kembali mencoba mencium bibirnya. Semula Nia diam saja. Lama kelamaan secara naluri Niapun ikut membalasnya.

Nia sudah lupa dengan segalanya, jilbabnya, komitmen menjaga kehormatannya. Nafsunya sudah sampai ke ubun-ubun. Nia ditelanjangi oleh Tuti, Seorang jilbaber seperti Tuti ternyata menjadi buas dalam urusan seks. Kembali toket Nia yang besar itu diremas, puting Nia yang berwarna merah jambu itu diisap oleh Tuti bergantian kiri kanan. Tampaklah tubuh mulus Nia yang menggoda pandangan mata siapapun yang memandangnya.

Kini Tuti yang cantikpun melepaskan semua pakaiannya hanya jilbab yang masih dipakainnya.

“Ayo Nia..sentuhlah tetekku..kamu suka khan?” Nia ragu, tapi tangan Nia digenggam oleh Tuti. Lalu diarahkan untuk memegang toket Tuti. Nia akhirnya mulai memegang dan meremas toket Tuti. Mereka bersama saling memegang toket lawannya. Sambil berciuman, walau agak kaku, tapi lama-lama mereka jadi terbiasa. Saling melilit-lilit lidah, menghisap air liur, seakan rasa jijik telah hilang bagi mereka berdua.

Terlihat mereka sambil berguling-guling, masih berciuman dan meremas toket.

Kini Tuti yang cantikpun melepaskan semua pakaiannya hanya jilbab yang masih dipakainnya.

“Ayo Nia..sentuhlah tetekku..kamu suka khan?” Nia ragu, tapi tangan Nia digenggam oleh Tuti. Lalu diarahkan untuk memegang toket Tuti. Nia akhirnya mulai memegang dan meremas toket Tuti. Mereka bersama saling memegang toket lawannya. Sambil berciuman, walau agak kaku, tapi lama-lama mereka jadi terbiasa. Saling melilit-lilit lidah, menghisap air liur, seakan rasa jijik telah hilang bagi mereka berdua.

Terlihat mereka sambil berguling-guling, masih berciuman dan meremas toket.

Nia dan Tuti saling bercumbu dalam keadaan telanjang tapi jilbab besar mereka tetap tidak dilepas. Toket Nia yang seperti Buah pepaya mengkal itu terlihat merah karena diremas dengan kuat oleh Tuti saudara sepupunya, dihisap dengan rakusnya sesekali dicupang. Nia menjerit gemetar, merasakan sensasi yang begitu dahsyat.

Nia pun juga melakukan hal yang sama, menarik puting payudara Tuti yang mancung karena tegang. Tuti seperti sudah berpengalaman dengan seks tak berhenti sampai disitu. Tuti menjilati leher Nia sambil menyibakkan jilbab Nia hingga keleher. Tangan yang satu terus meremas toket Nia yang besar itu, sedang tangan yang lainnya bergerilya ke pusat ke pubis lalu mencari itil Nia yang sudah sangat mengeras.

Nia menjerit “Aduh!” karena terkejut birahi saat tangan Tuti menyentuh Itilnya. Memek Nia sudah sangat basah. Hanya sebentar ternyata Nia telah sampai pada orgasmenya yang pertama di pagi ini. Nia terlihat lemas sambil merasakan klimaksnya yang sudah datang.

” Ayo Nia. mainkan memekku!” Lalu Nia memandang ke bahagian bawah tubuh Tuti. Terlihat bulu jembut yang agak lebat. Ternyata Tuti jarang sekali mencukur bulu jembutnya. Nia terpesona melihat pemandangan ini. Birahinya naik kembali.

Tangan dan lidah Nia dengan nakal menyusuri lembah memek Tuti yang walau tertutup bulu jembut, tetap memeknya sangat indah dibalik jembutnya. Warna kemerahan dengan itil yang mencuat ke depan ereksi. Nia emut itil Tuti, Tuti menggelinjang dengan mengangkat pantatnya. Saat itu Tuti sambil berbaring telentang. Dengan leluasa Nia menjilati itil dan lubang memek Tuti yang telah mengeluarkan lendir yang cukup banyak.

Terasa asin dirasakan Nia, tapi lama kelamaan Nia menjadi terbiasa. Nia mencoba memasukkan dua jarinya ke dalam lubang memek Tuti, karena Nia yakin dua jarinya beklumlah sebesar timun yang dimasukkan Tuti ke dalam memek Tuti semalam. Tuti menggeliat dan menjerit jerit kenikmatan.

“ya….oh…iyaaa Nia betul Niaa….. eennn…naaakk oughhhh…yeaahhhhhh…. uuuhhh ouchhh….”

Erangan Tuti menjadi-jadi…Tusukan dua jari Nia yang bertubi-tubi telah membuat Tuti menegang kejang…sangat erotis sekali pemandangan ini…Tuti yang masih menggunakan jilbab lebarnya melengkungkan badannya dengan nafas tersengal Tuti telah dilanda birahi yang sangat dahsyat sehingga telah sampai pada klimaks pertamanya..juga pemandangan Nia yang juga masih menggunakan jilbab yang sudah basah dengan keringat mereka berdua dengan kepala Nia yang berjilbab itu dijepit oleh paha Tuti yang sudah klimaks itu.

Tuti mmemeluk Nia dan Nia pun memeluk Tuti. Lalu Tuti mengajak Nia ke dapur dan ternyata mereka melanjutkan kembali aksi mereka sebelumnya. Didapur Nia dibaringkan oleh Tuti di atas meja makan, lalu Tuti menjamah tetek Nia yang besar lalu di emot dan diremas-remas, Nia telah naik lagi birahinya, menggeliat di atas meja makan “hmmmm…mmmmhhhh….ssshhhhhhht….uhsssshhhhh…”

selang tak berapa lama Tuti telah membuat lubang memek Nia basah karena mulut Tuti sudah menyerang itil Nia dan menjilatinya.Karena sudah basah sekali Tuti membuka kulkas yang ada di dapur lalu mengambil buah timun yang cukup besar. Nia tidak memperhatikan Tuti saat itu. Tangannya sibuk meremas-remas susunya sendiri, juga menekan-nekan itilnya sendiri.

Tuti kemudian mendekat ke arah Nia, lalu mencium bibir Nia yang tipis menggoda. Sangat buas ciuman mereka. Kemudian Tuti kembali meraba paha Nia sampai pada kemaluannya, Tuti menggigit-gigit pelan itil Nia. Sambil tangan kanannya mengarahkan buah timun itu ke arah selangkangan Nia.

Mencoba menusuk lubang memek Nia. Mata Nia melotot ketika merasakan ada benda tumpul yang akan mendesak lubang memeknya. Nia berteriak “Tuu..ti…aa..pa ii..niiii.” Tuti tetap meneruskannya mendorong timun itu… “Aaduuuhhh saaakiiit Tuti…aaaaaaaa….” ternyata timun itu sudah merobek selaput dara Nia.

Tuti menghentikan sodokan timun ke memek Nia. Tuti menekan itil Nia agar hilang rasa sakit Nia menjadi horny. Sambil tangan kirinya meremas toket Nia yang sudah mengkilat karena keringat… Lalu perlahan lahan rasa sakit itu hilang lalu Tuti dengan perlahan mulai memompa buah timun yang cukup besar itu di lubang memek Nia.

“oooohhhhh…ouughhhh…hehhhhhhehhh ohhmmmm mmmmmmhhh…”

Tuti tersenyum melihat sepupunya yang cantik berjilbab ini telah merasakan kenikmatan pompaan buah timun di memeknya. “Gimana Niaaah? enak khan?”

Nia tak mampu berbicara Nia hanya mengangguk saja sambil mendesah desah…

Tuti terusmenyodokkan buah timun itu ke dalam memek Nia. Lalu Tuti ikut naik keatas meja makan yang kokoh itu sambil mengangkangi wajah Nia yang berbaring telentang. “Ayo Nia jilatin memek Tuti ya..?” Nia pun menjilatinya sambil sesekali mendesah desah kenikmatan.

Lalu tanpa melepaskan timun yang berada di lubang memek Nia, Tuti kembali turun lalu membuka kulkas dan mengambil timun satu lagi. kemudian naik ke meja makan sambil mengangkangi wajah Nia. Tuti sebelumnya memberikan timun itu ke Nia. “Nia, colokin sama ini ke memek Tuti ya…” Dan Nia pun akhirnya memasukkan buah timun itu ke dalam memek Tuti. Mereka berdua mendesah nikmat dan menjerit-jerit ketika masing-masing lubang memek mereka disok buah timun besar itu. mereka saling memompakan timun yang ada ditangannya ke dalam lubang memek sepupunya. jeritan nafsu terdengar diruang dapur itu.

Untungnya rumah Tuti itu kedap suara sehingga tetangga takkan pernah bisa mendengar jeritan horni mereka. Buah timun itu di aduk aduk dalam lubang memek mereka…Nia telah menyemprotkan cairan klimaksnya yang kedua sehingga timun itu semakin licin aja bergerak begitu juga Tuti junga mengalami orgasmenya yang ke dua..mereka menjerit-jeritt mendapat klimaksnya….selang tak berapa lama mereka pun sama-sama terbaring lemas. Tuti brbaring di samping Nia sambil tersenyum puas dan Nia pun memaksa tersenyum agak malu rasanya…

Nia dan Tuti kemudian masuk ke kamar mandi sambil membawa timun di tangannya. Mereka hendak mandi setelah bergumul di atas meja makan di ruang dapur tadi. Saat di kamar mandi Nia dan Tuti yang masih memakai jilbab lebar saja tanpa pakaian itu lalu melepaskan jilbabnya. Mereka berdua mandi. Tuti yang memiliki tetek besar yang montok mirip melon dengan puting kecil berwarna cokelat muda yang cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat memandangi tubuh Nia yang memiliki tetek yang juga besar mirip pepaya mengkal dengan puting merah jambu yang sedang membasuh tubuhnya dengan air. Tuti mendekat ke arah tubuh Nia, lalu memeluk tubuh Nia dan bibir mereka bertemu saling berciuman. Nia telah banyak belajar dari Tuti cara berciuman yang hot. lidah mereka salang memilin bertukar-tukar air ludah, sesekali menyedot lidah pasangannya. Sambil kedua tangan mereka saling meremas-remas tetek didepannya. Puting Nia dan Tuti mengeras kembali karena remasan remasan nikmat itu. kadang-kadang remasan-remasan itu menjadi seperti meremas saat membilas kain cucian.

Desahan-desahan keluar dari bibir mereka berdua.” ohhh..ohhh…ouhgghhhh… yah..yahh.yahhhh….emmmmmhhhhhh…..”

Desahan-desahan itu menggema diruangan kamar mandi yang agak besar itu. Tak tahan lama-lama berdiri dengan rangsangan birahi, Nia dan Tuti kemudian berbaring membentuk posisi 69. Terjadi aksi jilat menjilat di area memek mereka. menekan nekan itil dengan jari sambil gigit menggigit kecil pada itil pasangannya. Nia dan Tuti berbarengan orgasme pertamanya…

Kemudian mereka berdiri kembali dan mulai saling menyabuni tubuh di depannya Nia menyabuni tubuh Tuti dan Tuti menyabuni tubuh Nia. Kembali birahi mereka berdua naik tatkala aksi menyabuninnya di area memek. Sambil menggosok-gosok klitoris mereka bersama saling memasukkan jarinya ke dalam lubang memek di depannya.

Rintihan Tuti telah terdengar bersahutan dengan rintiahan Nia. Kedua saudara sepupuan yang selalu menggunakan jilbab lebar ini ketika keluar rumah, ternyata menyimpan libido yang dahsyat.

Sekarang jari-jari mereka telah masuk ke dalam lubang memek, mereka mengorek-ngorek lubang memek di depannya…

“yaaaaakkk…yaaa… terus Tutiiii….” erang Nia yang sudah menjadi budak nafsu birahinya.

Tuti melepaskan dirinya dari Nia yang sudah sangat bernafsu. Terlihat Nia agak kesal, akan tetapi kesalnya sirna ketika mengetahui Tuti ternyata mengambil timun yang sebelumnya mereka letakkan di bibir bak mandi.

“Nia…ayo duduk!” Nia pun mengikuti perintah Tuti. Nia kemudian berbaring. Kemudian Tuti sambil berjongkok mengarahkan buah timun yang cukup besar itu ke lubang memek Nia.

“Ahhhh…” Jeritan tertahan Nia terdengar saat timun itu mulai memasuki memeknya. Pas mentok masuknya buah timun itu ke lubang memek Nia, ternyata masih menyisakan setengah dari buah timun itu diluar memeknya. Tutipun mengangkangkan pahanya dan ikut memasukkan sisa timun yang keluar dari lubang memek Nia ke dalam lubang memek Tuti. Jeritan Tuti juga terdengar saat timun masuk dan mentok kena rahim Tuti.

Posisi mereka saling bersatu, lalu mereka saling menggoyangkan pinggul maju mundur. memaju mundurkan pinggul mereka sesekali menempel kedua memek merka kemudian menjauh lalu menempel lagi bak pasangan ngentot.

Desahan-desahan mereka semakin jelas terdengar. tangan keduanya terus meremas tetek di depannya sedang bibir mereka saling melumat.

Semakin cepat goyangan maju mundur mreka terhadap timun itu. Sesekali goyanganya berputar-putar…

“seerrrrr seerrrrr…. ahhhhhhhhhhhhhhh……..” akhirnya memek mereka saling merapat satu sama lainnya dan mereka merasakan kembali orgasmenya untuk yang ke sekian kalinya…

Sepanjang hari dan malam mereka terus saja mengumbar nafsu dan beberapa jam mereka beristirahat ketika sangat capek. terbangun dari tidurnya mereka mengulangi kembali….seminggu dirumah Tuti saudara sepupunya, Nia selalu ngentotin timun bersama Tuti.

Nia tidak tahu siapa sebenarnya yang menjdari sang misterius yang pertama sekali telah membangkit birahinya…

Tutilah sebenarnya sang misterius itu. Tuti memang telah merencanakan sejak lama untuk bisa bermain cinta dengan Nia.

Rahasia sang misterius tyetap tersimpan. Tuti telah mampu menjadikan NIa tergila-gila ngeseks dengan timun bersamanya…

UMMU AISYAH

Ummu Afra adalah seorang akhwat keturunan Padang, usianya 24 tahun, baru setahun menikah dengan Mahmud dan baru dikaruniai seorang anak. Nama aslinya Rizka Anggraeni, lulusan Universitas Negeri Jakarta jurusan Biologi. Orang tuanya adalah pengusaha kelapa sawit ternama di Pekanbaru, sehingga soal ekonomi, Ummu Afra tak pernah ada kekhawatiran. Ia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik-adiknya semua perempuan, dan yang paling kecil masih duduk di Madrasah Aliyah.

Mahmud Abdillah adalah seorang lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Usianya 3 tahun lebih tua daripada Ummu Afra. Sehari-hari ia biasa dipanggil Abu Afra, karena putri pertamanya bernama Afra Rizkyarti. Ia saat ini bekerja di perusahaan konsultan IT ternama. Ia aktif di DPD PARTAI  Jakarta Selatan, dan sering mengikuti aktivitas-aktivitas sosial di sekitar lingkungan rumahnya.

Sebagai salah seorang kader PARTAI , Mahmud rutin mengikuti liqo’ di Masjid yang berada dekat dengan rumahnya. Murabbinya adalah seorang tokoh penting di DPD PARTAI  Jakarta Selatan, Nurdin Rahmatullah namanya. Berusia 30 tahun, lulusan Perbanas Jakarta dan sekarang bekerja sebagai seorang Manager di sebuah Bank Swasta ternama. Orangnya sedikit gemuk, kulitnya putih bersih, dan suaranya penuh wibawa. Mahmud pun bingung bagaimana bisa istrinya punya prasangka buruk kepada murabbinya itu.

Seperti kejadian hari ini, diawali dengan kunjungan Nurdin ke rumah Mahmud, di daerah Pejompongan, untuk membawa sedikit oleh-oleh. Kebetulan Nurdin memang baru pulang dari kampung halamannya di Yogyakarta, dan ia kemarin menelepon Mahmud dan mengatakan bahwa ia akan mampir ke rumah untuk membawakan oleh-oleh. Mahmud sebenarnya sudah menawarkan diri untuk mengambil sendiri oleh-oleh tersebut ke rumah Nurdin, tapi Nurdin menolak dengan alasan ia ada acara lagi hari ini dan kebetulan letaknya searah dengan rumah Mahmud. Mahmud pun mengiyakan karena ia memang capek juga setalah lembur semalaman dan sedikit malas ke rumah Nurdin yang cukup jauh.

Sekitar jam 10 pagi, Nurdin pun sampai di rumah Mahmud dengan mobil CRV nya. Baru saja turun dari mobil, Mahmud ternyata telah menyambutnya di depan rumah.

“Assalamualaykum Akhi … Kayfa haluk, Apa kabar?” ujar Mahmud membuka percakapan.

“Alhamdulillah bi khair akhi, baik-baik saja. Antum baik-baik juga kan?” Kedua ikhwan tersebut pun saling berpelukan melepas rindu karena memang sudah sekitar 2 minggu tidak bertemu.

“Alhamdulillah … bagaimana neh yang dari Jogja, hee, pasti capek sekali ya. Ayo masuk akhi …”

“Baiklah.”

Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang tamu sambil tak henti-hentinya berbincang-bincang mengenai berbagai macam hal. Mulai dari kondisi PARTAI , Munas yang akan berlangsung sebentar lagi, sampai cerita perjalanan Nurdin ke Jogja. Setelah mempersilahkan duduk, Mahmud pun memanggil istrinya untuk menyajikan sesuatu untuk tamunya itu.

“Ummi … buatkan minum yaa. Mas Nurdin sudah datang neh.”

“Iya abii …” terdengar suara dari balik gorden hijau yang membatasi ruang tamu tersebut dengan ruang keluarga di baliknya.

“Terus, bagaimana di Jogja akhi, pasti senang yah di sana?”

“Pasti dunk Akh … Ana keliling mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, sampai ke Parangtritis. Ini ana bawakan foto-fotonya …” ujar Nurdin sambil memberikan beberapa lembar foto hasil kemarin ia jalan-jalan di Jogja.

Baru melihat foto pertama, Mahmud sudah dibuat terkesiap. Bukan karena pemandangan foto itu yang demikian menarik, tapi lebih karena objek yang ada di foto tersebut. Di setiap foto pasti ada Ummu Aisyah, istri Nurdin. Nama aslinya Farah Ardiyanti Nisa, teman sekelasnya waktu SMA. Mereka pun sama-sama kuliah di UI, walau Ummu Aisyah lebih memilih Pendidikan Dokter. Kabar terakhir yang dia dengar dari Nurdin, sekarang Ummu Aisyah sudah mempunyai klinik sendiri di rumahnya.

Dalam hati kecilnya, Mahmud masih memendam sedikit rasa kepada Ummu Aisyah. Parasnya memang tidak secantik Ummu Afra, istrinya sekarang. Tapi setiap berdekatan dengan Ummu Aisyah, Mahmud selalu merasakan gelora yang begitu kuat, baik sejak SMA maupun setelah kuliah. Tapi bodohnya ia tak pernah mengatakannya sekalipun kepada Ummu Aisyah, hingga ia pun jatuh ke pelukan Nurdin, murabbinya sendiri.

Tanpa disadari Mahmud istrinya ternyata telah selesai menyiapkan minuman dan telah keluar ke ruang tamu untuk menyajikannya. Nurdin tersenyum manis ketika melihat Ummu Afra keluar. Wanita berpipi tembam dengan kacamata minus itu tampak begitu cantik di mata Nurdin. Ia pun tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Ummu Afra.

“Silahkan diminum tehnya Abi, Mas Nurdin” Mahmud baru tersadar bahwa istrinya telah ada di hadapannya. Dengan sedikit gelagapan ia pun mengembalikan foto-foto tersebut kepada Nurdin.
“Letakkan di situ saja Ummi …” jawab Mahmud sekenanya.

Pikirannya masih melayang memikirkan Ummu Aisyah, alias Farah Ardiyanti Nisa. Saking seriusnya, ia pun tak memperhatikan bagaimana Nurdin memandang istrinya. Ketika Ummu Afra menyajikan minuman sambil menunduk, Payudaranya yang berukuran 36B tampak begitu menjulang dan terlihat jelas walau ia telah mengenakan jilbab lebar dan jubah panjang khas seorang ummahat aktivis. Nurdin tampak memandang Ummu Afra begitu tajam, naik turun dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan Ummu Afra benar-benar merasa risih dengan hal itu. Ketika ia merasa diperkosa dengan tatapan seperti itu, suaminya malah terlihat bagai orang linglung yang melamun membayangkan sesuatu yang tidak jelas. Ummu Afra pun memilih untuk langsung kembali ke belakang.

Sorenya, setelah Nurdin pulang, barulah Ummu Afra bercerita kepada suaminya, hingga mereka terlibat pertengkaran kecil karena Mahmud terus saja membela Nurdin. Sebenarnya karena ia memang tidak melihat jelas kejadian tersebut karena pada saat yang sama ia sedang memikirkan Ummu Aisyah, istri Nurdin.

(Pagi keesokan harinya …)

Mahmud sedang mengendarai motornya menuju ke kantornya pagi itu, ketika tiba-tiba sebuah mobil pick-up pengangkut pasir melaju sangat kencang dari belakang dan hampir menabrak motor bebeknya yang sudah cukup tua itu. Beruntung Mahmud masih sempat menghindar ke kiri sehingga tabrakan hebat bisa dihindarkan. Tapi sedikit senggolan dari mobil itu sudah cukup untuk membuat Mahmud kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke trotoar. Lengan sebelah kirinya pun lecet-lecet karenanya. As depan motornya ringsek sehingga tidak bisa dikendarai lagi, dan celakanya, jalan yang sedang ia lewati saat ini sangat sepi, sehingga ia tidak bisa meminta bantuan untuk membantu dirinya atau mengejar mobil yang menyerempat dirinya itu.

Ia pun mengangkat sendiri motornya yang ringsek itu. Ia tak bisa mengendarai motor itu dan memutuskan untuk berjalan walaupun dengan tertatih-tatih sambil menuntun motornya untuk mencari bengkel. Sekitar 15 menit dia berjalan, ia pun menemukan sebuah bengkel. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung memasukkan motornya ke situ dan meminta seorang montir untuk mengecek motornya yang ringsek.

Ketika sedang memandang sekeliling bengkel motor yang cukup besar itu, mata Mahmud berhenti dan langsung fokus ke sosok seorang wanita berjilbab ungu dengan jubah berwarna putih yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Secara kebetulan, wanita itu pun memandang ke arahnya dan mendekatinya.

“Mahmud … ?” Ujar wanita itu ketika ia sudah cukup dekat dengan Mahmud.

“Farah … ?” jawab Mahmud dengan pertanyaan serupa.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru kemarin Mahmud membayangkan Ummu Aisyah, istri Nurdin, dan kini wanita yang menjadi idamannya sejak dulu itu kini berada tepat di hadapannya. Parasnya yang begitu manis dengan lesung pipit yang demikian menggoda masih tetap sama.

“Masya Allah, benar Mahmud yaa … Apa kabar antum, sejak lulus kan kita belum pernah ketemu lagi. Apa kabar?”

“Alhamdulillah baik-baik saja ukhti, ya beginilah ana, masih kayak dulu aja.”

“Ada apa ini koq tangan antum penuh darah?”

“Ohh ini, gak apa-apa koq. Cuma tadi keserempet mobil gitu … tuh motor ana jadi ringsek, gak bisa pergi ke kantor deh, hee”

“Duhh, jangan anggap remeh dunk akh, ke klinik ana dulu yukk … nanti takutnya infeksi. Klinik ana tepat di samping bengkel ini koq.”

“Nggak usah ukhti, nanti ngerepotin.”

“Ahh, tidak. Ini kan tugas ana sebagai dokter. Ayo ikut Ana …” ujar Ummu Aisyah memaksa.

Karena paksaan itu, Mahmud pun mengiyakan dan mengikuti Ummu Aisyah setelah menitipkan motornya ke montir yang menangani motornya. Benar kata Ummu Aisyah, kliniknya memang berada tepat di samping bengkel motor tersebut. Klinik itu seperti ruko tingkat dua. Ummu Aisyah pun mengajak Mahmud ke lantai 2, tempat ruang prakteknya berada. Tak terlihat seorang pun di klinik tersebut selain mereka berdua.

“Koq sepi ukhti?”

“Iya, asisten ana lagi pulang kampung, dan sebenarnya ana lagi gak praktek hari ini, Cuma kebetulan disuruh suami servis motor saja.

“Silahkan berbaring di tempat tidur, Akh” ujar Ummu Aisyah sambil memakai jas dokternya dan memakai masker.

Mahmud pun merebahkan dirinya dengan hati yang dag dig dug, kenapa? Karena sebentar lagi ia akan bersentuhan dengan Ummu Aisyah, wanita yang ia sukai sejak SMA, yang tubuh dan suaranya begitu menggodanya dan membangkitkan birahinya. Dari tempatnya berbaring, ia bisa melihat Ummu Aisyah yang sedang mengambil obat-obatan dari sebuah lemari kaca di pojok ruangan.

Ummahat dengan jas dokter berwarna putih itu memunggunginya, tubuhnya yang sintal tercetak jelas pada jas dokter tersebut. Pose ummahat berjilbab itu demikian menantang ketika ia sedikit berjinjit untuk mengambil alcohol di rak atas. Hal itu membuat roknya yang berwarna hitam sedikit terangkat sehingga betisnya yang berbalut kaos kaki berwarna krem terlihat dari belakang. Pinggulnya demikian seksi, demikian juga dengan bagian punggungnya yang tak tertutupi oleh jilbab panjang berwarna ungu yang dikenakannya karena jilbab itu dimasukkan ke dalam jas.

Ketika Ummu Aisyah berbalik ke arahnya, Mahmud pun memalingkan muka ke arah lain, walau ‘adik kecil’nya yang ada di bawah sudah terus berontak. Walau ia adalah seorang aktivis dan kader PARTAI , namun Mahmud tak bisa menyembunyikan bahwa ia juga mempunyai nafsu yang besar, apalagi kepada akhwat yang telah lama ia sukai itu.

“Tuh kan lukanya kotor … kalau tidak cepat ditangani bisa infeksi neh Akh,” ujar Ummu Aisyah memulai pemeriksaan. Ia membersihkan luka Mahmud dengan lap basah. Sayang ia tidak tahu bahwa pasiennya kini tidak lagi fokus kepada lukanya, tapi lebih kepada bayangan-bayangan indah tentang hubungan laki-laki dan wanita yang sedang berseliweran di kepalanya. Ia pandangi wajah Ummu Aisyah yang berhidung mancung itu lekat-lekat.

“Iya ukhti … tadi soalnya jatuh di trotoar gitu,” jawab Mahmud sekenanya, tangannya merasakan rabaan dan sentuhan Ummu Aisyah yang begitu lembut, membuat angan-angannya terus berkelana tanpa batas.

“Tahan sedikit yah sakitnya Akh … Ana tutup dulu lukanya,” dengan sigap Ummu Aisyah langsung menutup luka Mahmud dengan perban. Ia kembali merasakan telapak tangan Ummu Aisyah yang begitu halus di lengannya yang luka, ahh, tak dapat dibayangkan betapa terangsangnya ia saat ini. “Nahh, sudah selesai, Akh”

Ketika Ummu Aisyah berjalan kembali ke meja kerjanya, Mahmud pun langsung berdiri dari tempat tidur dan mengikuti Istri Nurdin itu dari belakang. Begitu ia tepat berada di belakang ummahat tersebut, tiba-tiba Ummu Aisyah berbalik dan sedikit kaget melihat Mahmud telah berada di belakangnya.

“Errr … ini kartu nama Ana, kalau sewaktu-waktu antum bu … butuh bantuan,” ujar Ummu Aisyah sedikit tegang.

Mahmud pun mengambil kartu nama dari dompetnya dan memberikannya kepada Ummu Aisyah untuk saling bertukar kartu nama. Namun ketika kartu nama itu telah berpindah tangan, tangan Mahmud tiba-tiba menggenggam tangan Ummu Aisyah dengan erat. Ummu Aisyah yang kaget tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa memandangi mata Mahmud dalam-dalam.

Tanpa sepengetahuan Mahmud, sebenarnya Ummu Aisyah juga memiliki ketertarikan kepada Mahmud sejak SMA. Namun sayang, semakin ia menunggu, semakin Mahmud menjauhinya. Hingga akhirnya Nurdin datang untuk melamarnya, dan tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menerimanya, karena ia pun tak tahu saat itu Mahmud ada di mana. Kini memori-memori indah itu pun kembali, di saat mereka hanya berduaan di ruangan praktek ini.

Suasana begitu hening ketika jarak di antara kedua aktivis PARTAI  yang sudah memiliki keluarga masing-masing ini semakin dekat. Semakin dekat dan semakin dekat lagi hingga Mahmud bisa merasakan aroma parfum strawberry yang dipakai Ummu Aisyah, membuatnya semakin bergairah. Tangan Ummu Aisyah yang begitu halus telah larut dalam elusan-elusan Mahmud yang lembut dan menyejukkan.

Tanpa mereka rencanakan sebelumnya, bibir mereka berdua kini telah saling berhadapan dan Ummu Aisyah telah memejamkan matanya. Tak menunggu lama lagi, kedua insan yang berlainan jenis itu pun langsung terlibat sebuah percumbuan yang hangat dan erotis. Mereka yang pernah berhubungan sewaktu masa SMA dan kuliah itu kini terlibat percumbuan terlarang di ruangan praktik Ummu Aisyah alias dokter Farah.

Tanpa terasa, kini Ummu Aisyah telah bersandar di dinding ruang prakteknya yang dingin, bersama dengan Mahmud, teman SMA yang telah ia kagumi sejak dulu walau pada hakikatnya Mahmud bukanlah mahrom Ummu Aisyah. Mahmud pun tak menghiraukan lagi akal sehatnya yang mengatakan bahwa ia adalah seorang

aktivis muslim yang telah beristri, dan Ummu Aisyah pun juga telah mempunyai suami. Tapi kapan lagi ia bisa memeluk tubuh seorang dokter muslimah yang begitu cantik, yang begitu ikhlas hanyut dalam dekapannya.

Percumbuan mereka semakin lama pun semakin memanas, Mahmud sudah tidak malu-malu lagi untuk melumat bibir ummahat beranak satu yang tampaknya juga tengah hanyut dalam gelombang birahi itu. Tak lupa ia juga turut mengeluarkan lidahnya untuk diadu dengan lidah Ummu Aisyah sambil terus menjamah seluruh tubuh wanita cantik tersebut dengan tangannya, tanpa kecuali.

“Ahhh … Mahmudd, ini salah Akhi, Ohhh …” Ummu Aisyah berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Mahmud yang tampaknya sudah demikian bernafsu itu, ia menyadari bahwa ini adalah kesalahan. Dan ia pun tak habis pikir bagaimana bisa birahinya terpancing dengan begitu mudah.

“Sudahlah Ukhti, nikmati saja … tidak ada yang akan tahu apa yang kita lakukan di sini,” jawab Mahmud sambil terus menyodorkan bibirnya untuk diadu dengan bibir Ummu Aisyah yang kian memerah.

Setelah merasa puas dengan bibir ummahat berusia 27 tahun yang masih begitu seksi itu, Mahmud pun mencoba melepaskan jas putih yang dipakai Ummu Aisyah. Ternyata dengan mudah Mahmud mampu menanggalkannya dalam sekejap ke lantai, hingga kini ia langsung berhadapan dengan payudara yang telah demikian membusung milik seorang dokter muslimah yang sehari-harinya berperilaku sangat alim itu.

Ummu Aisyah pun seperti tak mau kalah, dengan cekatan jemarinya yang lentik itu melepaskan kancing demi kancing kemeja Mahmud hingga terlihatlah dada Mahmud yang bidang dan berbulu karena Mahmud memang tidak memakai kaos dalam lagi di balik kemejanya. Biasanya ia baru memakai kaos dalam begitu tiba di kantor. “Ahh … Mahmud, dadamu membuatku ….errr, terangsang …” paras Ummu Aisyah benar-benar memerah karena malu ketika mengatakan kata-kata binal tersebut dengan jelas.

Tanpa menunggu panjang, Mahmud langsung melancarkan serangan ke leher Ummu Aisyah yang masih berbalut jilbab panjang berwarna ungu tersebut. Sambil merangsang titik-titik sensitif Ummu Aisyah, Mahmud pun berusaha menelusupkan tangannya ke balik jilbab dan jubah yang dikenakan wanita alim tersebut. Sasarannya tak lain dan tak bukan adalah payudara milik sang akhwat yang sedari tadi begitu menantang Mahmud. Ukurannya sih tidak terlalu besar, masih kalah dengan milik Ummu Afra istrinya sendiri, namun bentuk payudara Ummu Aisyah lebih bagus dan putingnya begitu cantik, berwarna pink.

“Ahhh … Mahmuddd, ahhh …”

Desahan binal Ummu Aisyah terdengar makin keras seiring Mahmud lebih menekan payudaranya yang sudah tersingkap dari jubah putih yang menutupinya. Sebelah kiri dan kanan Mahmud bergantian memeras toket wanita yang telah lama menjadi pujaannya ini. Wanita alim, yang kini telah menjadi dokter, anak seorang Kyai ternama, dengan paras yang cantik dan tubuh yang begitu bahenol, sepertinya wajar kalau kini Mahmud begitu menggebu-gebu birahinya di hadapan wanita cantik nan alim itu.

“Ohh, desahan kamu binal sekali Ukhti, ohhh … aku begitu horny mendengarnya,”

Kata-kata cabul Mahmud bukannya menyadarkan Ummu Aisyah, tapi malah membuatnya makin merasa rendah dan semakin terangsang.

Dengan sekali hentakan, Ummu Aisyah pun mendorong Mahmud hingga pria yang kemejanya kini telah tersampir di lantai itu terduduk di meja prakteknya. Tanpa diduga sama sekali oleh Mahmud, wanita berjilbab panjang yang berpenampilan begitu alim itu tiba-tiba berlutut di hadapannya dan langsung memelorotkan celana panjang Mahmud, lengkap dengan celana dalamnya yang berwarna biru. Kontol Mahmud yang berwarna kecoklatan dengan kulup berwarna merah itu pun teracung tegak di hadapan muslimah berjilbab panjang itu.

“Astaghfirullah, Anti mau apa?”

Tanpa menghiraukan kata-kata Mahmud, Ummu Aisyah yang telah dimabuk nafsu itu pun memasukkan kontol Mahmud yang demikian besar ke dalam mulutnya yang suci itu. Mahmud tak pernah sekali pun membayangkan akan di ‘blowjob’ oleh wanita sealim Ummu Aisyah ini. Apalagi dengan statusnya sebagai suami orang dan Ummu Aisyah juga adalah istri orang lain. Perzinahan yang sangat diharamkan ini terasa begitu nikmat bagi Mahmud. Ummu Aisyah tampak mengerti sekali bagaimana caranya memuaskan seorang lelaki, berbeda dengan istrinya yang tak mengerti variasi-variasi posisi dalam bersenggama atau berhubungan seks. Entah dari mana Ummu Aisyah mengetahui hal ini.

Sambil sesekali memandangi wajah Mahmud, Ummu Aisyah tampak begitu menikmati mengulum kontol Mahmud yang begitu panjang itu. Ia memaju mundurkan kepalanya hingga membuat Mahmud merasa seperti sedang mengentoti mulut wanita alim tersebut. Di dalam mulutnya, kepala kontol Mahmud pun menikmati pelayanan yang luar biasa dengan jilatan-jilatan lidah Ummu Aisyah yang melingkari lubang kencingnya dengan lembut … dan basah.

“Ahhh, bibir Anti begitu nikmat … Ana tak tahan ingin merasakan juga lubang Anti yang lain, akkhh …” ujar Mahmud sambil mengelus-elus kepala Ummu Aisyah yang berselimutkan jilbab lebar berwarna ungu. Ummu Aisyah pun semakin bersemangat karenanya. Ia terkadang menyelingi kulumannya yang demikian istimewa kepada kontol Mahmud itu dengan kocokan yang tak kalah erotisnya.

Mahmud yang tak ingin kalah perang duluan pun langsung menarik Ummu Aisyah ke atas dan menggendong ummahat beranak satu itu ke arah tempat tidur praktek. Tubuhnya yang tidak begitu berat pun bukan masalah bagi pria sekekar Mahmud. Setelah membaringkannya di tempat tidur yang sesaat lalu ditempatinya itu, Mahmud pun langsung mengangkangi Ummu Aisyah dan melepaskan celana panjang dan celana dalamnya hingga ia benar-benar telah tanpa busana. Ummu Aisyah pun tampak sedikit terperanjat, betapa seksinya tubuh pria yang diidamkannya sejak SMA itu. Dadanya bidang dan berbulu, dengan dagu berlapis jenggot tipis, bulu kemaluan yang lebat, Ahhh … benar-benar membuat jiwa muda Ummu Aisyah kembali lagi.

“Mpphhh … Hmmffff …” Mahmud langsung menindih tubuh seksi ummahat manis tersebut dan menciumi bibirnya yang begitu indah. Kali ini tangannya begitu cekatan bekerja. Mulai dari memelorotkan rok dan celana dalam wanita muslimah tersebut, hingga membuka jubah yang dipakai Ummu Aisyah di bagian depan. Kini tubuh Ummu Aisyah, seorang ibu beranak satu, dokter yang cerdas, aktivis PARTAI  yang istiqomah, sedang dikangkangi oleh rekannya sesama aktivis PARTAI  yang telah berstatus suami orang itu dengan tubuh yang telah bugil tanpa sehelai benangpun menutupi, walau masih berbalut jilbab yang hanya menutup beberapa bagian tubuh bagian atasnya dengan seadanya.

“Akkhhhh … Akhi, kamu begitu jantan, jauh berbeda dengan suamiku yang selalu tak sempurna dalam masalah seks,” ujar Ummu Aisyah sambil melekatkan kembali tubuhnya ke tubuh Mahmud yang sudah sedikit berkeringat itu. Dadanya terasa seperti digelitik oleh bulu-bulu dada Mahmud yang cukup lebat. Tampaklah pemandangan erotis di mana dua orang aktivis PARTAI  yang berlainan jenis kelamin itu sedang berpelukan dan bercumbu dengan panas di atas sebuah ranjang pemeriksaan sebuah klinik.

“Masa sih Ukhti? Bagaimana kalau begini,” Mahmud pun kembali merangsang Ummu Aisyah dengan mengelus-elus memek ummahat tersebut yang telah dibanjiri cairan cintanya dengan bau yang khas sambil sesekali memelintir itilnya yang sebesar kacang merah itu hingga empunya menggelinjang tak karuan, bagai betina yang haus akan sentuhan pejantan tangguh.

“AAAAAAAAAAAaaaRRRRRGGGGGHHHHHHHH ……….. nikmat sekali rasanya akhi, ana pengen antum masukkan penis antum yang besar itu sekarang, ohhh …” jawab Ummu Aisyah sambil meremas kontol Mahmud hingga empunya meringis-ringis penuh erotisme. Mahmud pun menambah gempurannya dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam liang senggama sang akhwat. Dan efeknya sungguh menakjubkan, Ummu Aisyah langsung menggelepar-gelepar seperti hewan yang baru saja disembelih, seperti haus akan sentuhan pria jantan.

“Baiklah, sekarang balikkan badanmu Ukhti …” yang diperintah pun seperti kerbau betina yang telah dicocok hidungnya. Ummu Aisyah pun membalikkan tubuhnya hingga berada di posisi menungging dengan Mahmud mengambil posisi di belakangnya. Toketnya yang berukuran 34 itu pun menggantung dengan seksi, membuat setiap pejantan normal yang melihatnya pasti terangsang hebat.

“Sudah neh Akhh … apa yang akan antum lakukan pada ana?”

Jilbabnya yang lebar menambahkan erotisme yang demikian unik pada hubungan mereka berdua. Mahmud pun merasakan hal itu. Ceceran keringat dari tubuh Ummu Aisyah yang berkulit putih itu pun membuat Mahmud menelan ludah. Ia pun langsung menjilati keringat di punggung sang akhwat. Ummu Aisyah pun tertawa-tawa binal “Ahhh, apa yang antum lakukan, akhh … enak sekali Akhh, geliii ….”

“Nikmati saja ukhti … sebentar lagi kita akan pergi ke surga dunia,” Mahmud pun langsung memposisikan kontolnya yang terus membesar itu di depan gerbang kemaluan Ummu Aisyah yang telah berkedut-kedut menahan birahi. Setelah menyampirkan jilbab lebar sang muslimah di lehernya, Mahmud pun mulai meraba-raba hingga meremas-remas toket indah Ummu Aisyah. Jilatan lidahnya pun makin naik ke atas hingga leher wanita terhormat yang cantik itu. Putting payudara sang akhwat pun tak luput dari pelintiran penuh birahi Mahmud. “Sudah siap ukhtii?”

“Ana siap kapanpun antum mau, Akh …” Kedua kader PARTAI  itu tampaknya sudah lupa daratan dan semakin liar dalam permainan seksis ini. Tanpa menunggu komando lebih lanjut lagi, Mahmud langsung mendorong penisnya dari belakang ke dalam memek Ummu Aisyah yang telah begitu licin itu. Ummu Aisyah merasakan sensasi yang begitu menakjubkan ketika dirinya disetubuhi dengan posisi seperti anjing betina sambil toketnya diremas-remas dengan irama yang senada dengan genjotan di memeknya, ohh, bagaikan sebuah irama music klasik yang indah. Ia pun tak mampu menahan erangan dan desahan terbinalnya,

“Ahhh … Ahhh … Mahmud, terus entotin ana Mahmud, ohh ohh ohh …”

“Iya ukhtii … kita akan nikmati hari ini berdua dengan perzinahan terbinal yang bisa kita lakukan, Ohhh …” Mahmud menambah kecepatan genjotannya di kemaluan suci Ummu Aisyah sambil berusaha mencari letak bibir wanita alim tersebut untuk dikulum dan dihisap isinya. Sementara itu kontolnya telah memenuhi isi memek Ummu Aisyah dan menyentuh ujungnya dengan lihai, dinding memek ummahat yang baru beranak satu itu terasa masih begitu rapat dan mencengkeram kontolnya begitu kencang.

“Ohhh … Ohh … ukhti, empotanmu, Ohhh … nikmat sekali, Ohhh …”

Ummu Aisyah merasakan kontol temannya sewaktu SMA ini begitu besar, jauh dari yang bisa dicapai suaminya sendiri, sehingga memenuhi seluruh ruang liang senggamanya yang begitu suci, sebelum kejadian hari ini tentunya. Remasan tangan Mahmud di kedua payudaranya pun telah membuat Ummu Aisyah benar-benar melayang, Mahmud telah benar-benar menghancurkan pertahanan birahinya dan menguasai titik-titik sensitifnya dalam berhubungan intim.

“Ayoo terus Ukhti … Ahhh Ahhh AHhh, puaskan ana seperti kau memuaskan suamimu sendiri, Ahhh …”

“Tidakkk Akhhh … Aku akan memuaskanmu lebih daripada aku memuaskan suamiku sendiri … Ohhhh …”

Mahmud pun merasakan gelombang birahi itu makin lama semakin dekat, hingga akhirnya ia tak bisa menahannya lebih lama lagi, “Ana mau sampai Ukhti, Ohhhhh …”

“Ana juga Akhii …. AAAaaaaaaaaahhhhhhhhhhh ……” Dan Akhirnya …

Crrrtttttttttt … orgasme Ummu Aisyah pun membanjiri tempat tidur di mana ia biasa menyuntik pasien itu, walau kini dirinyalah yang sedang “disuntik” oleh lelaki yang bukan suaminya sendiri.

Dan Crooottttt ……. Croooottttt …….. Mahmud pun mengalami orgasme yang hebat beberapa saat kemudian, meninggalkan mereka berdua dalam kelelahan erotis yang begitu nikmat. Tubuh mereka berdua pun ambruk di atas tempat tidur tersebut, dan Mahmud tidak mau melepaskan kontolnya dari liang senggama Ummu Aisyah yang demikian hangat. Mereka pun tertidur dalam posisi seperti itu, dan baru bangun ketika maghrib menjelang

EVI DAN JAMILAH

Cerita ini mempunyai tokoh utama bernama Evi, suaminya adalah seorang nahkoda pada perusahaan cargo asing. Mereka belum mempunyai anak, padahal usia perkawinan mereka sudah hampir 4 tahun dan menurut dokter mereka berdua sehat. Evi berusia 25 tahun, berkulit putih bersih, dengan tinggi 172 cm dan berat 50 kg, payudaranya berukuran 36 B. Dulu ia merupakan kembang desa di kampungku. Dia dan suami dari Sumatera Barat. Setelah menikah suaminya mengajak merantau ke Jakarta, untuk karirnya dan supaya Evi mengenal kota besar katanya. Suaminya telah membeli sebuah rumah di Jakarta. Rumahnya terlalu besar menurutku untuk mereka tinggali berdua saja. Jadilah Evi seorang diri berbenah di rumah, waktu ia di kampung suka mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sehingga ketika suaminya menawarkan untuk mencari pembantu ia menolaknya. Lama kelamaan Evi suka kesepian kalau di rumah terus, soalnya suaminya kalau bertugas paling cepat 2 bulan baru kembali. Akhirnya Evi mengikuti pengajian dilingkungan sekitar rumahnya untuk menghilangkan kebosanan menunggu rumah. Oh ya..sejak menikah Evi mengubah penampilannya, sekarang ia menggunakan jilbab dalam berpakaian sehari-hari. Kelompok pengajiannya diikuti lebih kurang 22 orang. Mayoritas dari mereka mengenakan jilbab sehari-harinya.

Di dalam kelompok pengajian Evi akrab dengan Jamilah, anak dari guru mengajinya yang tinggal 1 blok dari rumahnya. Evi dan Jamilah memang seusia, Jamilah berusia 25 tahun dan belum menikah. Penampilan Jamilah menuruni dari ayah dan ibunya yang keturunan Arab, wajahnya jelas sekali menunjukkan ia keturunan Arab, kulitnya putih bersih, tingginya sekitar 175 cm dan beratnya 55 kg, Evi suka mereka-reka ukuran payudara Jamilah yang kayaknya lebih besar dari punyanya. Jamilah sangatlah modis dalam berpenampilan, Evi suka memintanya mengajari dalam cara berpakaian. Jamilah juga mengenakan jilbab seperti Evi, tapi ia selalu berpakaian modis dan trendy bahkan sesekali jubahnya agak ketat dan dipadukan dengan celana jeans, kadang-kadang Evi bingung dengan caranya berpakaian walaupun tertutup rapat tapi terlalu ketat menurutnya. Sedangkan Evi lebih suka berbaju kurung saja dan berjilbab tertentunya. Jamilah mengajar TPA yang berjarak 2 rumah dari rumah Evi. Evi suka memuji kecantikan Jamilah yang makin terlihat bila ditambah dengan dandanan yang modis dan trendy, ia hanya tersipu-sipu saja bila mendengar pujian Evi tersebut, saat ia lewat di depan rumah ketika berangkat dan pulang mengajar. Jamilah juga suka mampir ke rumah Evi bila pulang mengajar yang hanya sampai jam 11, biasanya ia menemaninya membereskan rumah sambil ngobrol sesana kemari.

Suatu saat Jamilah mampir ke rumah Evi setelah selesai mengajar, ia mengenakan jilbab berwarna putih, berbaju muslim dan celana kulot berwarna coklat muda, ketika itu Evi seperti biasa mengenakan jilbab berwarna putih dan baju kurung berwarna pink. Mereka pun kemudian asyik dalam obrolan, suatu ketika Evi memperhatikan jari-jari tangan dan kaki Jamilah yang sepertinya dilukis.
‘Aduh Mila, jari-jari kamu iniiii. Indah sekali sihhh…’, sambil meraih tangannya dibawa ke pangkuan Evi.
Jamilah hanya tersenyum saja sambil mengamati Evi. ‘Oh, lembut sekali…tanganmu Mil..’ sambil memasukkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Jamilah. Kemudian Evi sedikit memilin-milin jari-jari tersebut. Entah kenapa sepertinya Jamilah menikmati pilinan jari Evi pada jarinya. Jamilah menarik nafas panjang kemudian menghembuskan dengan cepat, mengeleng-gelengkan kepalanya seperti orang yang tegang lehernya, jilbabnya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan kepalanya.
‘Kamu kenapa Mil?’ tanya Evi keheranan.
‘Eh, ngak kok cuman leher agak pegel-pegel aja’ jawab Jamilah agak gugup.
‘Oo..’ balasnya. Tapi pengalaman dan naluri kewanitaan Evi yang berpengalaman tahu bahwa itu adalah tanda-tanda wanita yang sedang terangsang. Timbul pikiran kotor untuk mengerjai Jamilah, apa benar ia terangsang hanya oleh remasan jariku pada tangannya. Soalnya bila sedang sendirian kadang-kadang Evi juga menghayalkan sedang bersetubuh dengan suaminya apalagi bila libidonya sedang tinggi, ia suka jadi pusing-pusing bila menahan nafsunya itu, bila tak kuat menahannya badan terasa panas dan ia suka ke kamar mandi dan menyirami tubuhnya yang masih berpakaian lengkap, jilbab dan pakaiannya dibiarkan basah sambil berusaha mengatur nafasnya yang akan terengah-engah, kemudian ia akan meraba-raba tubuhnya yang masih mengenakan jilbab dan pakaian lengkap itu terutama daerah payudara dan kemaluan sambil membayangkan disetubuhi oleh suamiku, ritual itu baru berakhir bila ia sudah mencapai orgasme, pertama-tama ia malu pada dirinya sendiri, tapi lama kelamaan menikmatinya, memang aneh sejak menikah ia jadi ketagihan untuk digauli oleh suaminya, suatu hal yang tidak pernah dipikirkan ketika belum menikah. Tapi apakah Jamilah yang masih single juga suka membayangkan hal-hal seperti itu, apalagi ilmu agamanya lebih dalam dari Evi.
‘Kita pindah ke kamar yuk, biar sekalian aku pijitin kepalamu Mil’ kata Evi sambil menghentikan remasan jarinya pada tangan Jamilah. Evi pun segera berdiri sambil merapikan jilbab dan bajunya lalu berjalan ke dalam kamar tidur. Ia dapat melihat wajah Jamilah seperti menunjukkan kekecewaan ketika Evi menghentikan remasan pada tangannya. Ia pun segera berdiri dan merapikan jilbabnya dan mengikuti Evi ke dalam kamar.

‘Ayo tiduran biar enak dipijatnya’ kata Evi sambil duduk di pinggir tempat tidur.
‘Gak usah Vi, ntar juga hilang sendiri’ jawabnya sambil duduk di bangku meja rias dan melihat-lihat peralatan rias.
Evi kemudian berdiri dan berjalan mendekati Jamilah, kemudian memijit-mijit pundaknya. Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki dirinya, Evi ingin sekali menggoda melihat Jamilah bila sedang dalam keadaan terangsang, apakah seperti yang ia pernah rasakan apa lain. Jamilah diam saja ketika Evi mengangkat sedikit jilbab bagian belakang dan menariknya ke arah depannya, sehingga Evi dapat melihat leher bagian belakang Jamilah. Ia membiarkan Evi memijit-mijit lehernya, lehernya memang terasa kaku, tapi yang membuat Evi penasaran nafas Jamilah makin lama makin cepat. Sebenarnya Jamilah merasakan perasaan yang aneh ketika tangannya diremas-remas oleh Evi di ruang tamu, pikirannya tiba-tiba merasa melayang dan ada rasa yang belum pernah ia rasakan yang sepertinya meledak-ledak ingin keluar dari dalam dirinya tetapi ia berusaha menahannya sehingga tanpa sadar nafasnya menjadi terengah-engah dan hal itu kembali dirasakannya ketika tangan Evi memijit-mijit pundaknya. Tanpa sadar tangan kanan Jamilah meremas-remas payudara kirinya dari luar pakaiannya, sementara tangan kirinnya menekan-nekan bagian vaginanya yang terasa berdenyut-denyut dari luar celananya.

Evi yang melihat aktifitas tangan Jamilah dari kaca riasnya tersenyum, rupanya sama saja kalo wanita sedang terangsang, tak beda antara orang alim dengan orang biasa. Evi pun menurunkan pijatannya pada lengan Jamilah, lalu tangan kanannya mulai meraba-raba payudara kanan Jamilah yang masih tertutup pakaian dari belakang. Wajah Jamilah yang terlihat relax menjadi bertambah ceria ketika merasakan remasan pada payudara kanannya, ia mendengar bisikan Evi yang lembut pada telinganya yang tertutup jilbab ‘Biar aku puasin kamu Mil’. Suasana hening beberapa detik, keduanya saling tatap sebelum tiba-tiba Evi memagut bibir Jamilah yang mengadah ke depan itu. Jamilah tersentak kaget, dia melepaskan ciuman itu dan melotot memandangi Evi.
“Vi…kamu…mmmhh!” sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya Evi sudah kembali menciumnya.
Jamilah sempat berontak dengan menarik jilbab Evi agar kepalanya menjauh selama beberapa saat namun ciuman dan belain Evi pada daerah sensitifnya membuat gairahnya naik, baru kali ini dia merasakan dan melakukannya apalagi dengan sesama jenis, dirasakannya kenikmatan yang berbeda yang menggodanya untuk meneruskan lebih jauh. Rangsangan dari dalam dirinya dan menyebabkan Jamilah pun akhirnya menyambut ciuman rekan pengajiannya itu. Lidah mereka bertemu, saling jilat dan saling membelit. Sementara itu tangan Evi meremas lembut payudara Jamilah dari luar, Jamilah sendiri sudah mulai berani mengelus punggung Evi, tangan satunya mengelus pantatnya yang masih mengenakan baju kurung. Keduanya terlibat dalam ciuman penuh nafsu selama lima menit, dan ciuman Evi pun mulai menjilati belakang lehernya.
“Sshhh…kurang ajar juga kamu Vi !” desisnya dengan nafas memburu.
Evi terus menciumi leher Jamilah sambil kedua tangannya membuka resleting di belakang baju muslim Jamilah dan mulai memelorotinya sehingga bra putih di baliknya terlihat, dia turunkan juga cup bra itu hingga terlihatlah sepasang gunung kembarnya yang membusung kencang. Jari-jari lentik Evi mengusapinya dengan lembut sehingga Jamilah pun hanyut dalam kenikmatan.

“Gimana Mil, asyik kan ? Kamu jadi tambah cantik kalau lagi horny gitu loh” Evi tersenyum nakal sambil memilin-milin kedua puting Jamilah.
“Mmhh…eengghh…udah dong Vi, sshh…ntar ada yang tau !” desah Jamilah merasakan kedua putingnya makin lama makin mengeras. Sambil menarik-narik jilbab Evi agar menjauh darinya
“Tenang, disini aman kok, ini kan rumahku, kita have fun sebentar yah !” jawab Evi Kemudian. Evi mencumbui payudara Jamilah, lidahnya menyapu-nyapu puting kemerahan yang sudah menegang itu, saat itu Evi mengetahui ukuran payudara Jamilah adalah 38 B dari bra yang berhasil ia lepaskan. Wajah Jamilah yang berjilbab hanya bisa mendongak dan mendesah merasakan nikmatnya. Tangan Evi sudah mulai memcoba menurunkan celana kulot Jamilah dan Jamilah pun mengangkat sedikit pantatnya agar Evi dapat dengan mudah menurunkan celana kulotnya hingga sebatas lutut dan Evi mulai merabai pahanya yang putih mulus itu.
“Hhhssshh…eeemmmhh !” Jamilah mendesis lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang ketika tangan Evi menyentuh kemaluannya dari luar celana dalamnya.
Seperti ada getaran-getaran listrik kecil yang membuat tubuhnya terasa tersengat dan tergelitik saat jari Evi menyusup lewat pinggir celana dalamnya dan menyentuh bibir vaginanya, daerah itu jadi basah berlendir karena sentuhan-sentuhan erotis itu.

Pada saat itulah. Birahi Jamilah tiba-tiba meledak, ciuman lembut itu, jilatan-jilatan halus itu, remasan dan cubitan halus itu, ohhh tak mampu ia tahan lagi. Jamilah menjadi sangat bernafsu. Diraih tubuh Evi dan dirapatkan ke tubuhnya, mendorongnya ke atas tempat tidur, menindih tubuhnya…, dan untuk pertama kalinya baginya…, sama-sama perempuan… mereka saling berpagut… mereka saling melumat bibir-bibir dan lidah-lidahnya. Jilbab mereka menjadi agak acak-acakan tetapi masih menempel pada kepala masing-masing. Kami langsung berguling di tempat tidur, dengan sangat agresif Jamilah merangsek Evi, ia mengangkat kain jilbab depan Evi dan lidahnya merambat ke leher Evi, kemudian kedua tangannya meremas-remas payudara Evi dari luar pakaiannya. Evi pun membuka baju kurungnya dan melepaskan bra serta celana dalamnya, hanya tinggal jilbab yang dikenakannya. Jamilah pun melakukan hal yang sama, ia membuka baju dan celana kulotnya kemudian melepaskan branya yang sudah merolot dan terakhir celana dalamnya. Jamilah mendekatkan wajahnya merangsek ke dada Evi…, lidahnya menari-nari dan bibirnya menggigit-gigit kecil kemudian menyedot puting-puting payudara Evi. Woooww…, birahi Evi pun semakin membara terbakarrrrrr…
‘Mil…, kamu pernah beginiiiii… Mil???’.
‘Ooohhh.. hhheehh.. hhullppp…’, dia merintih dan terus meracau…

Evi sendiri tidak mampu lagi berfikir jernih, dielus-elus kepala Jamilah, jilbabnya yang tergerai agak susah lepas karena ada peniti di lehernya. Evi meraih jilbabnya mengikatkannya ke belakang lehernya, ia melakukan hal yang sama pada jilbab Jamilah yang sedang mengusel-usel payudara Evi yang sangat merangsang kenikmatan birahinya tidak menganggu… Evi menyaksikan kepala Jamilah seperti bergeleng dan bergeleng histeris, sepertinya ingin menekankan lebih dalam kulumannya pada payudara Evi yang ranum ini… Aiiiihhh…, binalnya kamu Milaaa…Evi menikmatinya dalam kepasrahan. Ia tak ingin menggangu badai nafsu birahi yang sedang melanda Jamilah… dibiarkan saat-saat tangan Jamilah mulai menyibak rambut kemaluannya. Disingsingkannya rambut tersebut, tangannya menjamah kemaluan Evi dan mengelusnya. Uh, halusnyaaa… Evi menggelinjang hebat, dan mulai mengeluarkan desahan yang tak lagi dapat ditahan-tahan. Kegelian dari permukaan vaginanya menjalar ke seluruh tubuhnya. Evi menggeliat-geliat. Jamilah semakin bersemangat. Tangannya berkali-kali mengibaskan jilbabnya agar tidak menghalangi pandangannya jari-jarinya mengelus bibir vagina Evi.

Dengan bibir yang terus melumat payudara Evi serta menggigit puting susunya, jari-jari Jamilah mempermainkan kelentitnya. Uhhh, rasanya Evi tenggelam dalam samudra kenikmatan yang tak terhingga… Geliat-geliat tubuhnya menggila disertai dengan rintihan yang disebabkan tak mampunya menerima kenikmatan yang datang melanda bak topan di lautan. Evi menjambak jilbab Jamilah hingga menjadi awut-awutan. Dan Jamilah pun semakin kesetanan. Jari-jarinya berusaha menembus lubang vagina Evi. Evi merasakan kegatalan sekaligus kenikmatan yang dahsyat. Bibir lubang vaginanya mengencang…, ingin ditembus tetapi malah merapatkan pintunya. Sungguh suatu ironi yang sangat. Kemudian Jamilah melepas kulumannya di payudara Evi. Tangannya membuka dan langsung menyorongkan payudaranya ke muka Evi.
“Vi, tolong yah…saya gak tahan !” pintanya sambil dua jarinya keluar masuk vaginanya.
Dorongan birahi yang tinggi menyebabkan Evi mendekatkan wajahnya ke payudara Jamilah, lidahnya pun menyentuh puting susu Jamilah yang merah merekah itu sehingga pemiliknya mendesah.
“Sshhh…uuummm….aaahhh !” desah Jamilah menikmati jilatan Evi pada payudaranya “Emmhh…yahh…disitu, terusin…aaahh !” desisnya lagi ketika Evi mengigit-gigit puting susunya.

Kini Evi dalam posisi merangkak di atas tubuh Jamilah yang telentang. Payudara keduanya bertemu dan saling menghimpit, keduanya berpelukan dan berciuman dengan sangat liar. Tak lama kemudian gelombang orgasme melanda keduanya, daerah selangkangan mereka semakin basah karenanya. Sesuatu yang hangat terasa di dalam kemaluan mereka, ya, cairan vagina.
Evi menyaksikan kepuasan tak terhingga pada Jamilah. Nafasnya tersengal-sengal. Akhirnya mereka berdua berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Mereka berdua saling membelai punggung dengan halus. Evi menambahi dengan jari telunjuk tangan kanannya yang masuk mengocok lubang pantat Jamilah. Jamilah mengikutinya dengan juga memasukkan jari telunjuk tangan kanannya yang masuk mengocok lubang pantat Evi. Bibir mereka melepaskan ciuman dan keluarlah suara.. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Demikianlah keduanya mencapai puncak orgasme setelah memainkan lobang pantat masing-masing. Akhirnya mereka meraih orgasme…, mereka tidak tahu lagi bagaimana menahannya…, keduanya berguling saat orgasme itu datang…, kenikmatan dahsyat yang menimpa mereka membuat lupa diri…, berteriak histeris, meracau histeris… Caci maki dan umpatan kata-kata kotor penuh birahi keluar dari mulut mereka… Belakangan Evi mentertawakan Jamilah, dia bilang kamu yang cantik, ayu dan lembut serta alim ini bisa juga mengeluarkan kata-kata hina, seronok kasar dan kotor seperti itu… Evi membayangkan betapa kenikmatan telah melanda Jamilah hingga kata-kata yang sedemikian kotor itu begitu saja meluncur dari mulut cantiknya…

Itulah awal Evi dan Jamilah mengenal dunia lesbian. Sejak itu Evi dan Jamilah sering bercumbu. Saat suami Evi berangkat kerja, tak jarang permainan dilangsungkan di rumahnya atau di rumah Jamilah. Lama kelamaan mereka semakin banyak melihat perempuan yang cantik. Sesekali mereka, Evi dan Jamilah sepakat untuk mencari partner yang ke-3. Mereka ingin bercumbu bertiga. Dengan siapaaa yaaa…??? Kapaann yaaa…??? Jilbab dan baju muslim yang mereka kenakan tak menghalangi mereka untuk meneguk kenikmatan birahi yang mereka rasakan, bahkan Jamilah yang alim ternyata mempunyai kepribadian yang sangat mencengangkan. Mereka berdua sepakat menutup rapat kisah percintaan mereka di balik jilbab mereka.

GAIRAH SEORANG ISTRI

Namaku Iyan biasa dipanggil iyan, aku tinggal di tengah-tengah kota Jakarta, saat ini pekerjaanku adalah seorang IT pada beebrapa perusahaan di Jakarta, bandung dan Semarang. Usiaku saat ini 29 tahun, karena pekerjaanku sebagai wiraswasta di luar kota kota Jakarta, aku sering sekali berpergian keluar kota. Bahkan terkadang aku hanya satu atau dua hari tinggal di rumahku di daerah Rawamangun Jakarta Timur. Istriku bernama Nur usianya 25 tahun lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta. Alhamdulilah aku dikarunia seorang putera yang sedang lucu-lucunya bernama firman dengan usia 1,5 tahun. Ditengah kesibukanku yang teramat sangat itulah aku sering kali tidak bisa memenuhi hasrat biologis istriku.

Sudah hamper 3 tahun aku menikahi istriku yang selalu diliputi rasa bahagia dan lumayan berkecukupan. Hari-hari kami selalu kami jalani dengan indah, aku bersyukur sekali ternyata Tuhan sangat baik padaku, sehingga aku mendapatkan istri yang benar-benar sangat sayang dan penuh pengertian. Setiap aku ingin minta berhubungan sex dengan istriku, dia tidak menolak dan bahkan selalu memberikanku kepuasan yang tidak digambarkan dengan kata-kata. Meskipun aku sendiri juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kepuasan sexual istriku. Tiap kali berhubungan aku selalu bertanya dan berdiskusi tentang permainan sex kami, sehingga kami bisa saling memahami kekurangan kami masing-masing. Bahkan setelah itu istriku biasanya meminta berhubungan sex lagi sampai berkali-kali dalam satu malam.

Sampai pada suatu hari istriku mengeluh padaku, tentang profesiku yang selalu meningalkan rumah sampai berhari-hari. Padahal istriku ingin sekali merasakan kehangatan belaianku yang hingga akhirnya sampai berhubungan sex. Tetapi mau gimana lagi, aku tetap sulit menerima keinginannya, karena itu adalah sudah menjadi resiko tanggaung jawab ku dalam profesiku ini. Aku sudah memberikan pengertian baik-baik kepada istriku, walaupun pada akhirnya istriku mengerti dengan keadaanku ini. Tetapi tetap saja aku tidak tega.

Aku tahu pasti kalau istriku sangat setia padaku, karena istriku adalah istri yang taat pada agama. Setiap keluar rumah dia selalu menjaga pandangannya, tak lupa dia sellau mengenakan jilbabnya ketika keluar dari rumah. Banyak temanku bilang kalau istriku itu sangat cantik, tingginya 160 cm / 152 kg, kulit putih dan wajahnya seperti maudy kusnaedi, apalagi payudaranya mnotok banget dengan ukuran 36b. aku paling suka meremas dan menghisap payudaranya, tidak ada bosan-bosannya walaupun hampIr tiap hari aku meremasnya.

Hari semakin hari, bulan semakin bulan terus berlalu, aku melihat istriku adalah type wanita yang mudah sekali terangsang dan nafsunya sulit dikendalikan bila diatas ranjang. Dia selalu sekuat tenaga melepaskan hasrat sexnya jika ku pulang kerumah, tidak siang ataupun malam, hari-hariku selalu tidak lepas dari kata sex. Aku maklumi karena aku hanya pulang satu hari dalam seminggu. Ditengah kegalauanku akupun mendiskusikan masalah ini kepada istriku. Terus terang akupun sangat kewalahan melayani nafsu sex istriku yang menurut saya sangat gila karena aku pikir aku juga ingin sekali menghabiskan satu hari in dirumah untuk istirahat.

Setelah aku berdikusi cukup lama dengan istriku barulah aku mengambil kesimpulan bahwa dia cukup menderita dengan kepergianku. Dia selalu melampiaskan hasrat sexualnya dengan melakukan mastrubasi dengan tangannya. Aku tidak habis pikir kenapa ini bisa terjadi, kasian sekali istriku. Tapi bagaimanapun juga istriku tidak selingkuh dengan pria manapun demi kesetiannya terhdap aku.

Akhirnya aku memiliki ide yang cukup gila untuk menuruti keinginan istriku ini, ya memang ini cukup gila dan melanggar kaedah agama. Tetapi mau gimana lagi ini sudah menjadi kesimpulanku untuk mengakhiri penderitaan istriku. Aku mencoba merayu istriku agar melampiaskan sexnya kepada orang lain yang bisa memuaskan dirinya selama aku tidak berada di rumah. Awalnya istriku menolak karena alasan agama dan memang tidak pantas dirinya dijamahi orang lain selain aku. Tetapi setelah aku memberikan pengertian dengan beberapa perjanjian-perjanjian yang harus ditepati diantara kami berdua. Sampai pada akhirnya kami menyepakati ide itu, dengan catatan istriku bisa bermain sex dengan hanya satu orang laki-laki selain diriku yang aku pilih, selain itu aku memberikan peringatan kepadanya agar jangan sekali-kali memasukkan spermanya kedalam vaginanya.

Setelah aku pikir-pikir aku telah memilih sosok laki-laki tampan dengan usia 20 tahun bernama Irwan, dia adalah rekan kerjaku ketika kami masih bekerja diperusahaan swasta pada beberapa tahun yang lalu, dia juga sudah punya istri dan dua orang anak, kebetulan sekali saat ini masih nganggur. Langsung saja aku mengajaknya bertemu empat mata di sebuah rumah makan. Tanpa basa basi lagi aku langsung mengajaknya bekerja mulai pukul 17:00 sampai 22:00 malam. Tugasnya hanya melayani dan memenuhi hasrat sexual istriku. Tetapi sebelumnya aku ingin sekali melihat bagaimana dia melayani istriku diatas ranjang di hadapanku.

Seminggu kemudian, setelah aku pulang dari luar kota saya dan istri saya sudah ceck in di sebuah hotel di daerah matraman Jakarta Pusat tepat pukul 17:00 BBWI. Sedangkan Anakku sudah aku titipkan ke orang tuaku, kini aku sedang menantikan kehadiran Irwan yang janjinya akan datang tepat pukul 18:00. di dalam kamar hotel tersebut, istriku kuperintahkan untuk mengenakan pakaian yang ketat dan sexy yang sengaja aku belikan dari Bandung. Jangankan irwan, aku saja yang sudah sering melihat istriku masih nafsu ketika memandang istriku berdandan seperti ini. Saat ini istriku mengenakan kaos putih ketat yang didalamnya hanya dibalut bra tipis, sedangkan bawahannya mengenakan rok bahan warna hitam yang panjangnya sampai selutut tapi belahannya hampir memamerkan seluruh pahanya yang putih dan mulus. Bibirnya dipoles dengan lisptik warna transparan dengan rambut panjang terurai rapi di atas bahunya. Sesaat aku melihat wajahnya begitu tegang manantikan kedatangan Irwan, sesekali aku menyentuh dadanya berdegap kencang tak karuan menantikan saat-saat yang menegangkan ini.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu, setelah aku buka ternyata benar Irwan sudah datang. Aku persilahkan masuk dan sembari menikmati minuman dingin dan makanan kecil yang baru saja kami beli. Sebelumnya aku bertanya kepada istriku apakah istriku suka pdanya, rupanya tanpa pikir panjang dia menjawab itu adalah terserah saya, kalau saya setuju maka dia juga menuruti perintah saya. Ya pada akhirnya aku mempersilahkan Irwan mendekati istriku di ranjang yang cukup lebar dan luas ini.

Jantungku berdebar-debar melihat istriku yang kelihatnnya tampak tegang setelah disentuh oleh tangannya Irwan. Aku melihat Irwan sosok pria yang lembut, dia tidak langsung menyambar istriku dengan sentuhan-sentuhan yang mengarah pada bagian sensitifnya. Awalnya Irwan memeluk istriku yang duduk tersipu malu menghadap sebuah cermin yang terpampang di depannya. Irwan memeluk kepala istriku dengan lembut meskipun aku lihat istriku sangat kaku sekali. Aku hanya duduk di samping kanan ranjang itu, memang agak jauh karena kamar hotelnnya juga cukup besar bagi ukuran untuk 3 orang. Kelihatannya aku lihat Irwan cukup sabar memeluk istriku, sambil mencunbu istrku, dia tidak sungkan-sungkan mengucapkan kata-kata yang entah aku juga tidak mendengarnya. Berkali-kali pipinya dicium oleh Irwan, tanpa canggung-canggung Irwan juga mencoba menciumi tangan, leher, hidung dan jidatnya. Istriku hanya diam saja, pdahal kalau aku main sex dengan istriku dia selalu rajin menciumi semua daerah kapalaku sampai air liurnya membasahi permukaan wajahku.

Kini Irwan mencoba mencium bibir istriku dengan lembut, kudengar dari kejauhan suara bercakan bibirnya yang saling beradu. Aku lihat istriku juga membalas ciumannya dengan sesekali menggerakan tangannya di bahu Irwan. Ketika beberapa saat ciuman, nampaknya Irwan sudah berani menggerayangi tubuh istriku, awalnya dari punggungnya sampai kini daerah payudaranya, tangan kirinya seperti sudah melekat di payudara kiri istriku. Dia mencoba meraba-raba sambil mencoba meremas-remas dengan lembut. Aku merasa sangat menggairahkan melihat adegan ini, apalagi ketika mereka berdua melakukan ciuman yang dahsyat, rasanya sudah beberapa kali mereka melakukannya. Tak lama kemudian Irwan melepaskan ciumannya dan kedua tangannya mengarah ke kedua buah payudara istriku, dua tangannya mencoba meremas-remas payudara istriku dengan berbagai macam variasi. Istriku hanya terlihat pasrah saja, kedua tangannya ada dibelakang pinggangnya untuk menahan serangan tubuhnya. Irwan sudah tak sabar untuk membuka kaos dikenakan istriku, dia menarik kedua tangan istriku ke atas dan membukakan kaosnya, yang selanjutnya membuka kancing bra. Ouwww.. rupanya payudara istriku sudah terpampang jelas tanpa sehelai benagpun di hadapan Irwan yang nampaknya sudah bersiap-siap melahap payudara istriku.

Kini istriku tidur terlentang mengikuti arahan Irwan, tanpa ragu lagi Irwan melahap payudaranya. Tak henti-hentinya mulutnya menjilat-jilat putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Istriku hanya bisa memegang kepala Irwan dengan menahan kenikmatannya. Desahan-desahan kecil mulai terkuak dari mulutnya, ya memang istriku paling suka dijilati payudaranya, itu merupakan rangsangan yang hebat sebelum melakukan ml. ketika payudaranya terus dihisap, dijilat dan diremas-remas oleh Irwan matanya mulai melihat kea rah ku, aku nggak tau apa yang ingin dia katakan, pastinya dia saat ini mersakan rangsangan yang hebat.

Cukup lama irwan menguasai peyudara istriku, akhirnya kini irwan membuka rok istriku dengan cepat, lalu tanpa ragu lagi dia membuka celana dalam istriku. Ouww pengalaman yang sangat menraik ketika seluruh tubuh istriku terpampang jelas tanpa sehelai benangpun di hadapan Irwan. Hatiku berdebar-debar menantikan apa reaksi irwan selanjutnya. Opsss nampaknya irwan membuka lebar-lebar paha istriku, dan .benar-benar aku tidak menyangka dia mulai menjilati vagina istriku yang nampaknya sudah basah karena rangangan yang begitu hebat. Belum lama irwan menjilati vagina istriku, kini istriku mendesah hebat, kedua tangannya mulai mengepaal keras. Kepalanya mulai bergerak tak karuan, kulihat matanyapun sudah tak mampu melihat kejadian ini. Tetapi meskipun begit, istriku masih saja menyebut-nyebut namaku ketika mendesah hebat. Aku senang rupanya istriku bisa merasakan apa yang dia inginkan, ini adalah bukti rasa cintaku padanya. Kini aku melihat wajah irwan benar-benar tenggelam di kedua belah selangkangan istriku, karena paha istriku terus mengggelinjang tanpa arah mejepit kepala irwan yang sedang isbuk menghisap vaginanya.

Setelah permainan ini, irwan bangun dari ranjangnya, lalu dia membuka semua pakainannya sampai dia benar-benar telanjang di hadapan istriku. Ku lihat penisnya cukup besar, meskipun tak jauh ukurannya dibandingkan dengan penisku. Rupanya Irwan sudah tidak sabar ingin memasukkan penisnya kedalam vaginanya. Dalam kondisi yang agak lemas, istriku menwarkan untuk menghisap penisnya, tetapi Irwan menolaknya entah alasannya apa.. Irwan kini sudah berada di depan kedua selangkangan istriku, nampak istriku hanya berposisi terlentang menghadap irwan yang sedang duduk sambil memoles-moles penisnya. Baru saja Irwan merenggangkan selangkangan istriku dan ingin memasukkan penisnya. Istriku langsung memanggilku untuk menghampirinya. Langsung saja aku menghampiri istriku itu walaupun entah apa yang dia inginkan. Kini aku duduk di sebelah kepala istriku dan aku bertanya kepada istriku kenapa sayang? , lalu istriku menjawab maafkan aku ya sayang, tapi aku tetap cinta dan sayang sama papah, aku ingin papah mengusap-usap kepalaku ketika aku dijamah mas irwan, mau khan? . Aku hanya mengangguk-nganggukan kepalaku dan mencium keningnya. Setelah itu aku mempesilahkan irwan memasukan penisnya kedalam vagina istriku.

Tak lama kemudian Irwan mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, sulit juga isrwan memasukkan penisnya kedalam vagina istriku. Akhirnya istriku mencoba membantu dengan tangannya untuk memasukan penisnya. Kini penisnya sudah masuk kedalam vaginanya, sudah kutebak irwan mencoba menggerakkan pantatnya dengan dorongan yang cukup pelan. Memang ini adalah strategi ml yang konvensional yang sudah biasa aku lakukan sehari-hari dengan istriku. Tetapi nampaknya istriku begitu sangat menikmati permainan ini, kulihat dia memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya menahan rasa nikmat yang ada pada tubuhnya. Kaki istriku tepat ada di punggung irwan dengan vagina yang sudah terbuka lebar di hadapannya. Sesekali aki melihat penisnya begitu gagah keluar-masuk ke dalam vagina istriku. papahhh sshhhhh oouwwwwww ppaaahhhhhhhhhhh , aku benar-benar terkejut mendengar rintihan istriku yang cukup keras itu, tidak biasanya istriku merintih sangat keras. Gerakan tubuhnya bergetar hebat tak beraturan, tak bosan-bosannya Irwan terus menancapkan penisnya ke liang vagina istriku, sambil meremas-remas payudara istriku. Aku hanya mengusap-usap kening istriku yang tampaknya benar-benar berada dalam kondisi orgasme. Disamping aku juga lihat Irwan menikmati permainan ini, dengan mengeluarkan desahan halus yang keluar dari mulutnya.

Hampir 15 menit berlalu irwan belum juga lelah terus mendorong pantatnya ke dalam vagina istriku, aku lihat penisnya begitu kekar masuk kedalam liang kemaluan istriku. Padahal keduanya sudah dibasahi keringat disekujur tubuhnya, walaupun hotel ini menggunakan AC yang sangat dingin. Semakin lama istriku mencoba bangkit dari tidurnya dan memeluk irwan lalu menciumi bibirnya. Owwwww ini adalah making love yang sangat romantis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Istriku kini ada di atas pangkuan irwan yang secara bergantian menggoyang-goyangkan pantatnya. Hampir setengah jam kemudian Irwan berisyarat bahwa dia ingin mengeluarkan sesuatu dari kemaluannya, cepat-cepat istriku bangun dari pangkuan irwan, ya benar saja tak lama kemudian irwan memuncratkan spermanya di atas selimut ranjang hotel ini. Lalu istriku mencoba membantu mengocok-ngocok penisnya agar spermanya bisa keluar sebanyak mungkin.

Rupanya permainan ini sudah selesai, aku bantu istriku mengambilkan tissue untuk mengelap sperma yang masih menempel di tangannya. Irwan bergegas ke toilet untuk bersih-bersih. Terlihat senyuman hangat terpancar di wajah istriku, aku cukup bahagia istrku bisa menikmati kepuasan sexualnya meskipun bukan denganku. Aku coba membantu membersihkan cairan yang ada di lobang vaginanya dengan tissue ini. Lalu tak lama kemudian istriku meninggalkanku untuk ke toilet.

HESTI & LUSI

Di suatu waktu, aku akan melakukan perjalanan ke sebuah pulau yang indah di tengah indonesia. Aku pergi kesana bersama dua rekanku yang juga gila petualangan dan punya selera yang sama sepertiku tentang gadis berjilbab. Mereka adalah Rudi dan Henri. Tentu saja, selain piknik, kami juga berharap bisa mendapatkan memek keset gadis-gadis berjilbab itu dipulau tempat kami berwisata.

Sejuk sekali kepulauan ini. Hawanya yang sangat “laut” membuat segalanya terasa santai dan waktu berjalan pelan. Aku dan rekan2ku yang juga mupeng dengan gadis berjilbab bersantai dan menikmati liburan ini. Di hari yang kedua, ketika kami sedang makan siang di sebuah warung makan, mata kami langsung melotot ketika muncul dua gadis cantik yang terlihat lugu masuk warung itu, lalu memesan makanan. Segera aku mengerling ke kedua rekanku, yang langsung tersenyum penuh arti. Ya, karena aku bosnya dan yang paling ganteng, memang biasanya aku yang maju dan melakukan PDKT pada calon2 korban kami.

Segera aku mendekati dan menyapa, lalu berkenalan. Ternyata mereka berdua juga turis yangs edang bertamasya di pulau itu. Wah kebetulan sekali. Segera aku mengenalkan teman2ku dan beberapa menit saja kami sudah akrab. Dua gadis itu bernama Hesti dan Lusi, mahasiswi semester 4 universitas islam di semarang yang sedang bertamasya. Jilbab mereka lebar dengan baju kurung dan rok lebar, semakin membuat kami bertiga susah menahan nafsu birahi.

Sorenya, aku dan dua temanku berjanjian dengan mereka lagi untuk berjalan-jalan di tepi pantai dihalaman hotel yang kami tinggali. Segera aku dan temanku berbagi peran. Aku yang memang sudah ngebet sama Hesti, yang air mukanya lugu semakin cantik dengan jilbabnya segera memilihnya. Dua temanku segera kusuruh untuk mendekati Lusi yang wajahnya cantik namun nampak sedikit nakal.

Akhirnya sore itu aku berjalan berdua dengan Hesti, sementara Lusi yang sebenarnya agak sungkan, terpaksa mau berjalan bersama Rudi dan Hendri. Hatiku berharap semoga dua orang bejat itu kuat menahan napsu dan tidak main perkosa di pinggir pantai itu, walaupun tempat itu lumayan sepi.

Akus egera berjalan bersama Hesti, bercakap-cakap. Pelan2 setelah semua lancar, aku mulai bbisa melancarkan serangan2 rayuanku. Dan ternyata rayuan gombalku berhasil. Gadis cantik berjilbab itu tersipu malu setiap kali kurayu. Bahkan dia membiarkan tanganku menggandeng tangannya. Beberapa juras kemudian aku berhasil memelukkan tanganku ke pinggulnya yang singset,, tersembunyi baju longgar dan jilbab lebarnya. Gadis cantik sekal itu agak menghindar dan berontak ketika aku mencoba mendaratkan ciuman lembut ke pipinya yang mulus untuk pertama kali, namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya gadis manis berjilbab lebar itu menyerah. Ia hanya bisa pasrah dan menutup matanya ketika ciuman-ciumanku mendarat di pipi mulusnya. Bahkan setelah beberapa kali ciuman mesraku, dia mendesah penuh kenikmatan, rupanya birahi jalang sudah mulai tersulut dari gadis lugu berjilbab itu.

Melihat kesempatan itu, aku segera memeluknya penuh perasaan dan menuntunnya menjauih pantai yang anginnya mulai dingin karena matahari sudah terbenam separuh. Gadis cantik berjilbab lebar berkulit mulus itu pasrah ketika kutuntun dia menuju hotel tempat aku dan dua temanku menginap. Dengan isyarat anggukan kepala, aku mengajak kedua temanku yang sepertinya juga sudah berhasil membangkitkan nafsu birahi Lusi. Terlihat dari posisi mereka ketika kulihat sedang duduk di pasir tepi pantai, dimana Rudi duduk dibelakang Lusi dengan tangan terlihat menyusup dibawah ketiak Lusi dan memeluknya, dan Hendri duduk didepan Lusi menghadap ke wajah gadis cantik berjilbab itu. Tangan Rudi bergerak2 seirama dengan geliatan2 Lusi. Aku berani bertaruh Rudi sedang merangsang buah dada sekal milik mahasiswi berjilbab cantik itu. Melihat aku sudah beranjak masuk hotel, mereka segera mengikuti sambil menuntun Lusi.

Hotel yang kami tempati bukanlah hotel yang berupa satu bangunan, namun merupakan bagian dari bungalow bungalow kecil berhalaman dan berkamar dua. Akus egera memasuki halaman bungalow kami yang ada di sudut tersembunyi dari area hotel, dan menuntun Hesti yang sudah pasrah masuk.

Didalam bungalow, aku mendudukkan Hesti di sofa panjang di ruang tamu. Tanganku lalu merangkulnya dan kutarik kepalanya mendekat lalu kembali kucium pipinya. Gadis cantik berjilbab itu kembali mendesah. Matanya kebali terpejam pasrah, emmbuat akus emakin nafsu. aku mencium kepala Hesti lalu turun ke kuping kirinya yang masih tertutup jilbab. Hesti mendongakkan kepalanya sehingga aku bisa bebas mencium dagunya yang putih. Kemudian Hesti kutolehkan kearahku lalu kucium bibirnya dengan ganas.

“Ummhh… jangan maass..” kata Hesti. Merasakan deru nafasnya yang menggebu, aku tahu itu hanya sekedar basa-basi dari seorang gadis alim berjilbab yang malu jika ketahuan dia menikmati permainan ini.

Sambil tetap merangkul Hesti, kutarik tubuh sekal gadis alim berjilbab berkulit mulus itu berdiri. Tangan aku mulai menjelajahi seluruh pantat Hesti yang padat dari balik rok panjang cremnya, kemudian meraba-raba dadanya yang sekal dari balik baju longgarnya. Tak henti-hentinya Hesti melenguh. Rintihannya mendesahkan penolakan, namun tubuhnya menggelinjang penuh kenikmatan. Segera kuraih tangan mahasiswi cantik yang alim itu lalu kutuntun untuk meremas kontolku dari balik celana. Lalu karena sudag tidak tahan, kembali kudorong gadis alim itu ke sofa. Kembali kuciumi dia dengan ganas.

Aku segera membuka kemeja dan celana panjangku lalu dengan sdikit paksaan kutarik bagian depan bajunya kekiri dan kekanan sehingga membuat seluruh kancingnya tanggal, menampakkan payudara putih sekal terbungkus BH pink. Kurenggut lepas Bhnya, lalu kusibakkan rok panjangnya diatas pinggang dan kutarik lepas celana dalamnya. Gadis alim yang manis bertubuh putih mulus itu mendesah dan mengerang ketika kuperlakukan agak kasar, namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jilbabnya kubiarkan terpakai, menambah gejolak birahiku. Tubuh Hesti yang putih ddengan pakaian yang sudah awut2an membuat nafsuku membara. Dengan gemas aku meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Hesti memburu dengan cepat apalagi saat aku mulai beralih ke vaginanya. Hesti bagaikan kuda liar saat klitorisnya aku jilat. Tak henti-hentinya aku menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Aku membalikkan tubuh Hesti untuk bergaya 69. Sementara itu aku melihat Hendri dan Lusi masuk bungalow diikuti Rudi. Lusi sudah mendesah-desah sambil merintih, semnentara tangan Hendri sudah tidak terlihat, karena masuk kebalik jilbab lebar Lusi dan meremas-remas buah dada gadis alim itu. Segera mereka berdua masuk kamar, sementara Rudi mendekati kami berdua yangs edang bermain cinta sambil menyeringai lebar..

Aku tersenyum merasakan tangan halus gadis cantik yang alim itu pelan2 mengelus kontolku yang sudah tegang. Sambil terus mendesah merasakan jilatanku di memeknya, gadis berjilbab lebar itu menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Aku pun membalas dengan menjilat semakin intens anus dan vaginanya. Goyangan pantat Hesti terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus aku tahan pantatnya dengan kedua tangan aku. Tiba-tiba Hesti melepaskan genggaman tangannya dari kontol aku dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Hesti kubalik dan kutunggingkan bersandar dipinggir sofa. Aku dengan tidak sabar segera merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah aku setubuhi Hesti mahasiswi cantik yang alim dan seksi. Rudi rupanya tidak diam saja saat melihat kami berdua mercumbu. Tangannya membuka risletingnya kemudian menurunkan celananya. Rudi mengeluarkan kontolnya dari balik celana dalam lalu meraih tangan Hesti dan menuntunnya agar meremas2 kontol Rudi.

Aku memperhatikan Hesti dipaksa mengulum kontol Rudi. Tak henti-hentinya payudara Hesti aku remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Hesti kembali mengalami orgasme. Aku mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Hesti aku rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol aku keluar masuk vagina gadis berjilbab lebar yang sudah dimabuk birahi itu. Jilbabnya sudah basah karena keringat kenikmatan kami berdua. Desahan birahi memenuhi seisi ruang tamu bungalow kami sore itu.

Tujuh menit menggenjot Hesti, aku merasakan akan ejakulasi. Aku percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Hesti. Dengan terengah-engah aku mengeluarkan kontolku lalu menindih Hesti dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit. Setelah itu, aku memberikan gadis alim yang sudah pasrah itu ke Rudi, lalu aku beristirahat sebentar.

Dengan kasar Rudi menarik Hesti berdiri, lalu menggendong gadis alim itu sambil menciumnya. Kemudian Hesti dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Hesti dengan kasar. Sambil menggenjot vagina Hesti, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Hesti.

“aaahhh…yeaahhh… enak banget memek cewek berjilbaabb.. auuhh…!!”

Sekali-sekali jilbab Hesti ditarik sehingga kepala Hesti sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Hesti yang awalnya terlihat mengernyit kesakitan, kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Aku kemudian berlutut didepan Hesti lalu menyodorkan kontolku. Hesti menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Hesti dengan keras, kontol aku otomatis ikut tersodok ke mulut Hesti. Tapi beberapa kali kuluman Hesti terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya.

Rudi kemudian menarik punggung Hesti sehingga punggung Hesti tegak. Aku menjilat dan menghisap seluruh payudara Hesti. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Hesti. Akhirnya aku mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Hesti melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Hesti kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Hesti duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Hesti terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Hesti berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Hesti dan meremasnya dengan keras. Hesti pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan di sofa dengan lemas.

Tiba-tiba dari kamar, Hendri muncul telanjang bulat sambil menggandeng Lusi. Lusi sudah tidak memakai apa2 sama sekali, kecuali jilbab merah dan kaus kaki putihnya, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Lusi.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat kami bertiga yang telanjang.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Lusi” kata aku. Lusi diam saja. Mata Lusi terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
“Tukeran ya wan..” pinta Henri sambil mendorong Lusi jatuh ke sofa, tepat disampingku.
“Boleh aja. Aku juga pingin ngerasain cewek jilbab yang ini” jawabku. Lusi diam saja. Sorot matanya campur aduk, dari marah, bingung, namun juga birahi jadi satu.

Henri segera menarik Hesti bangun dari pelukan Rudi, dan menariknya kembali ke kamar. Beberapa saat kemudian terdengar pekikan tertahan Hesti, sang gadis cantik berjilbab. “aiihh..pelannn..ahhh… sakiit..”

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata aku kepada Lusi.

Aku segera menerkam Lusi yang bingung haru bagaimana ku cium bibrnya. Awalnya dia hendak memberontak, namun setelah beberapa saat, rontaannya lenyap, diganti balasan ciuman yang panas. kita saling berpagutan. Tanganku mulai menggenggam payudara gadis montok berjilbab yang ini sambil terkagum2. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya. Sudah jelas walaupun Lusi berpenampilan anggun dengan jilbab dan baju serba tertutup, namun hastrat birahinya sangatlah tinggi.

Dengan gemas, aku menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Lusi. Lusi meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Lusi dan ke vaginanya. Lusi mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah aku menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Lusi. Ternyata gadis montok alim berjilbab ini masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Aku membuka bibir vagina Lusi dan menyedot vaginanya. Lusi mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, aku mengangkat tubuh Lusi. Kaki Lusi melingkar dipinggangku dan aku memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, aku menyandarkan punggung Lusi ke dinding lalu aku mulai menggenjot Lusi. Payudara Lusi yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya aku mencium bibirnya yang merah dan mungil. Gadis montok berjilbab yang ber buah dada besar ini merintih2 penuh birahi, Benar-benar membuatku gemas.

Dari dalam kamar, terdengar suara Hesti yang melenguh. Lusi pun ikut melenguh tiap kali kontol aku menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Lusi sambil menyetubuhinya. Aku duduk di kursi dan Lusi duduk dipangkuanku menghadap aku. Vagina Lusi terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku. Jilbab merahnya kulil;itkan ke lehernya agar tidak mengganggu aktifitasku menikmati ubuah dada besarnya.

Dengan enerjik, Lusi menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Aku menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan aku memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Lusi semakin liar. Lusi terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama aku pun ejakulasi. Lusi duduk terkulai lemas dipangkuanku. Aku menggendong Lusi masuk ke kamar tidur untuk tidur, dimana Hesti, gadis alim berkulit mulus itu sedang merintih2 dipompa memeknya oleh Hendri di lantai beralas karpet sambil nungging. Namun ternyata Rudi minta bagiannya. Karena lemas, kubiarkan saja Rudi bermain berdua bersama Lusi disampingku, sementara aku tidur, beristirahat. Sayup-sayup kudengar rintihan dan erangan dua gadis berjilbab cantik dan sekal, disetubuhi dengan ganas oleh dua temanku, mengantarku ke alam mimpi.

RATNA

Sekarang aku sudah kuliah di PTS terkemuka di kota B, Di kampus aku sudah lama aku berkenalan dengan Ratna teman kuliahku. Orangnya pendiam,tidak banyak omong, namun apabila suah kenal, akan nampak bahwa dia ternyata sangat supel. Dengan jilbab yang menghiasi wajahnya, tubuhnya yang sangat montok tidak banyak menarik perhatian orang. Pernah sekali aku melihat dia memakai baju biasa tanpa jilbab, waktu aku main ke kostnya. wow, ternyata Ratna sangat sexy. Namun pemandangan itu hanya sebentar saja, karena dia cepat-cepat mengganti baju tidurnya dengan pakaian jilbabnya. Hal itu mengingatkan aku akan kakakku dan semakin membuatku ingin menjamah tubuhnya. Namun selalu saja dia bisa menolak. Paling-paling, kami hanya berciuman, namun tidak pernah lebih dari itu.

Siang itu Ratna kuajak jalan-jalan, hutan wisata yang ada di sebelah Utara kota B. Setelah parkir, akupun mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dan strategis buat pacaran. Begitu dapat, kamipun asyik ngobrol ngalor ngidul. Tak sengaja, tanganku asyik mngelus-elus jemarinya di atas pahanya. Ratnapun menatapku dengan sayu. Segera kucium bibirnya yang mungil. Ratnapun menyambut dengan antusias. Lidahnya dengan lincah memilin lidahku hingga membuatku tersengal-sengal. Kudekap erat tubuhnya, sambil tangan kananku mencoba meremas remas pantatnya yang bahenol dan dia tidak menolaknya. Tubuhnyapun bergetar hebat. Pelahan tanganku merayap menyingkapkan rok panjangnya dan mengusap pahanya yang ternyata sangat mulus sekali ketelusupkan jemariku ke dalam celana dalamnya. “ Mas, jangan ahhh, malu dilihat orang” katanya sembari mencoba mencegah tanganku beraksi lebih lanjut. “Pindah tempat yuk, yang lebih aman,” ajakku sambil terus mencoba meremas payudaranya. Ratna langsung menggelinjang. Terasa buah dadanya yang ranum mulai mengeras, tanda bahwa Ratna mulai terangsang hebat. Matanya yang sayu jadi tampak mesum, tanda Ratna dilanda rangsangan berahi yang amat dahsyat. Kamipun segera berbenah diri, membetulkan pakaian yang sempat berantakan.

Kami pun segera pulang dan ku ajak Ratna ke rumah kontrakanku, karena aku di kota B mengontrak rumah mungil dan tinggal sendirian.
Saat itu, hari sudah gelap. Sebenarnya aku sudah nggak tahan lagi ingin mencium dia lagi, dan tahu sendirilah selanjutnya. Tapi gimana lagi, lha wong Ratna hanya diam terpaku. Aku jadi malah takut, jangan-jangan dia menyesal telah mau kuajak nginap di rumahku. “Em, lagi mikirin apa? Kok termangu-mangu ?” tanyaku sambil menghampirinya. Ratna hanya memandangku sekilas. “Sudahlah, tiduran saja di kasur, aku nanti biar tidur di sofa. Aku janji nggak akan menyentuhmu kecuali kalu Ratna pengen,” kataku lagi sambil menuju sofa.

Tiba-tiba Ratna menangis dan kuberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Ratna tak menolaknya. Setelah agak tenang kubisiki dia bahwa dia tampak cantik malam ini apalagi dia mengenakan jilbab yang aku sangat suka akan wanita yang mengenakan jilbab. Ratna tersenyum dan menatapku dalam, lalu memejamkan matanya. Kucium bibirnya, hangat, dia menerimanya. Kucium dia dengan lebih galak dan dia membalasnya, lalu tangannya merangkul pundakku. Kami berciuman dengan penuh nafsu. Kusibakkan jilbabnya yang menutupi lehernya lalu aku turun ke lehernya, Ratnapun mendesah “aaaahh.” Mendengar itu kuberanikan meremas payudaranya yang montok. Ratna mendesah lagi, dan menjambak rambutku. Setelah beberapa saat kulepaskan dia. Ratna sudah terangsang, kuangkat baju panjangnya, tampaklah bra hitamnya yang sangat kusukai, kumulai meremas payudara yang masih terbungkus branya, diapun melenguh terangsang. Lalu mulai kusingkap bra hitamnya ke atas tampaklah gunung kembar yang pas dalam genggaman tanganku, dengan punting merah-coklat cerah yang telah mengeras. Kubasahi telunjukku dan mengelusnya, Ratna hanya memjamkan matanya dan menggigit bibirnya.

Kulanjutkan menyingkap rok panjangnya, dia memakai CD warna hitam berenda transparan sehingga tampak sebagian rambut kemaluannya yang lembab. Sengaja aku tidak melepas jilbabnya dan pakainya, karena Ratna tampak lebih sexy dengan hanya memakai jilbab dan pakaian yang tersingkap. Kumulai menurunkan CD hitamnta dan WOW, ternyata jembutnya tidak terlalu lebat dan rapi, rambut di sekitas bibir kemaluannya bersih, hanya di bagian atasnya. Dan kemaluannya tampak kencang dengan clitoris yang cukup besar dan mulai basah. “Kamu rajin mencukur ya,” tanyaku. Dengan wajah memerah dia mengiyakan. Kupangku dia dan mulai menciuminya lagi, dan sapuan lidahku mulai kukonsentrasikan di puntingnya, kujilati, kutekan bahkan kugigit kecil dengan gigiku, Ratna menggelinjang keasyikan, dan mendesah-desah merasakan rangsangan kenikmatan. Tangan kananku mulai memainkan clit-nya, ternyata sudah banjir, kugesek klitorisnya dengan jari tengahku, perlahan-lahan, desahan dan lenguhan makin sering kudengar. Seirama dengan sapuan lidahku di puntingnya, Ratna makin terangsang, dia bahkan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke payudaranya, “Mas, enakh… banget…enakh…” Desahannya dan lenguhannya. Kira-kira 5 menit dari kumulai, badannya mulai mengejang dan “Mas… Ratna… mo… keluaaaarrr!” Sambil berteriak Ratna orgasme, denyutan kemaluannya kurasakan di tangan kananku. Ratna kemudian berdiri. “Sekarang giliranmu,” katanya. Celanaku langsung dilucutinya dan akupun disuruhnya berbaring. Salah satu tangannya memegang kemaluanku dan yang lain memegang zakarnya, dia mengelusnya dengan lembut “mmmmhhh…,” desahku. “Enak ya, Mas.” Akupun mengangguk. Ratna mulai menciumi kemaluanku dan mengelus zakarnya, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku, kocokannya sungguh nikmat. Aku heran, sejak kapan dia belajar mengulum dan mengocok kemaluan lelaki. Nampak dia sudah sangat mahir dalam urusan kocok mengocok kemaluan laki-laki. “Belajar darimana Rat, kok lincah banget?, tanyaku. “Hmmm, aku pernah liat BF bareng teman-teman di kostku. Kayaknya enak banget, dan ternyata memang benar,”jawab Ratna sambil terus mengulum kemaluanku. Ratna tampak sexy dengan jilbab yang masih terpasang diwajahnya, namun payudaraya keluar karena kaosnya terangkat keatas. Bibirnya yang mungil sibuk melumat habis kemaluanku.

Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti. “Mas, kontolmu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku makin terangsang nich.” Aku hanya tersenyum, lalu kuajak dia main 69, dia mau. Kemaluananya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Ratna masih asyik mengocok kemaluanku. Saat itu aku baru menikmati lagi kemaluan seorang wanita, setelah kakakku menikah. Aku mulai menjilati kemaluannya, harum sekali bau sabun dan bau cairan kewanitaanya, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap kemaluanya keras-keras. “Masss… I lovvve ittt, babbyy”, dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena kenaluanya sedang kujilat dan saat itulah aku rasakan cairan wanita lagi selain punya kakakku dulu yang asam-asam pahit tapi nikmat.

Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum keluar dan aku bilang ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan kontolku ke sela-sela pahanya yang menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Baru dijepit pahanya saja, rasanya sudah di awang-awang. Apalagi kalau kemaluanku bisa masuk ke kemaluanya. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku. Ratna memandangku dengan sayu. Segera kukulum puting payudaranya yang tampak mengeras itu, kontan dia melenguh hebat. Ternyata puting payudaranya merupakan titik rangsangnya. Dengan diam-diam aku mulai menempelkan kemaluanku ke dalam kemaluanya yang ternyata sudah basah lagi.
Kugesek gesek dam ku tekan tekan kemaluanku ke kemaluannya karena aku tidak mau mngambil keperawanannya, karena aku sangat mencintai dan menyayanginya.
Saat aku berada di atas Ratna, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan “Mass… aku mauuu keluaarrr” dan aku juga menjawabnya “Em… kayaknya akuu jugaa maauu…” nggak sampai 2 atau 3 detik, badanku dan Ratna sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari kemaluanku diatas kemaluannya dan aku juga merasa ada yang membasahi kemaluanku dengan amat sangat. Setelah itu, Ratna terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya. Aku mulai membelai-belai rambutnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas.

Keesokan harinya aku terbangun dan melihat ratna sudah memakai pakaian dan jilbabnya dengan rapi, kemudian dia memelukku serta berkata
” Mas makasih kamu tidak mengambil keperawanku, padahal aku sudah tidak tahan lagi untuk merasakan kemaluanmu yang besar itu”
Aku tersenyum lalu aku bilang “selaput daramu nanti akan aku minta pada malam pertama setelah kita menikah nanti”
Setelah kejadian itu, kami sering melakukan lagi tapi hanya sebatas oral dan petting saja.

RISKA

Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya lurus indah sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.

Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Riska seorang diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.

Biasanya, anak ABG yang mengikuti trend masa kini sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut dan ukuran rok yang ketat yang memperlihatkan lekuk body tubuh yang sekal menggairahkan. Namun Riska tidak. Dia adalah seorang muslimah yang taat. Seringnya ia bergaul dengan anak-anak ROHIS di sekolahnya membuat dia lebih menyukai untuk memakai jilbab panjang sepinggul yang longgar, dan baju lengan panjang serta rok panjang, walaupun, karena peraturan sekolah, roknya tidak bisa ia buat terlalu longgar,s ehingga bagaimanapun ia berusaha menyembunyikan pantatnya yang montok dan merekah indah, tetap saja terlihat samar menggairahkan dari balik rok abu-abu panjangnya.

Penampilannya yang santun ini tentu mencegah pikiran buruk para laki-laki yang berpapasan dengannya, walaupun penampilan gadis berjilbab itu tidak serta merta menghlangkan kecantikan alami yang ia miliki. Kecantikan alami itulah yang mengundang beberapa lelaki tetap saja meliriknya saat berpapasan. Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik melintas di hadapannya. Dulu, ketika ia sudah tak mampu menahan libidonya, dia pernah menggagahi seorang wanita yang memakai jilbab lebar dan jubah longgar, dijalan ketika wanita itu pulang. Ternyata ia menikmati sensasi ketika memperkosanya. Bagaimana wanita berjilbab itu meronta-ronta saat diperkosa, namun juga menikmatinya. Bagaimana ia bisa membuat wanita berjilbab itu orgasme berkali-kali, sehingga pada peristiwa pemerkosaannya yang kedua dan ketiga, wanita berjilbab itu hanya pasrah dan malah dengan agak ditahan menikmati permainan kasar yang dilakukan Parjo.

Walaupun berjilbab, sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul, termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan Riska dari jalan besar menuju ke kediaman gadis SMA berjilbab lebar itu yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantar gadis berjilbab itu dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik- rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Riska, gadis berjilbab yang sudah beberapa hari terakhir ini membuat libidonya memuncak. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Riska nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Riska. Suaranya yang lembut terdengar pasrah di telinga Parno, membuat kontolnya mulai berdiri, embayangkan desahan-desahan yang keluar dari mulut gadis berjilbab itu saat ia menyetubuhinya. “Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Parno sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan pasrah Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya gadis alim itu. “Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Riska menjadi gelisah, wajahnya mulai terlihat was-was.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri gadis berjilbab yang montok itu yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Riska sambil terbengong-bengong. “Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan kontolnya yang telah mengeras dan membesar.

Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini. Ia selalu menjaga matanya dan langsung shock melihat benda itu tiba-tiba saja disodorkan didepannya.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta gadis berjilbab itu dengan wajah yang memucat.

Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang terbalut jilbab lebar dan seragam SMU. Pelan-pelan tangannya maju dan dengan tenang menyingkapkan rok panjang Riska, hingga keatas lutut. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis berjilbab itu. Jilbab lebarnya ia singkapkan dan disampirkan ke pundak, sehingga terlihat gundukan payudara gadis berjilbab itu yang montok, seolah minta diremas-remas.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, gadis berjilbab berwajah pasrah itu mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menggerayangi betisnya, lalu pelan-pelan naik ke pahanya yang sudah terbuka. Tangan gadis berjilbab itu secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah pahanya, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Riska.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, gadis cantik berjilbab itu meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi- jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Riska itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Riska.

Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno semakin intens bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh gadis SMU berjilbab yang montok dan menggairahkan itu menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal pahanya, dan wajah Riska yang lembut dan seakan pasrah menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“eeehhhh..”, desahan Riska mulai menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang memeknya. Parno pun sadar bahwa gadis berjilbab itu melai terangsang akan perbuatannya

Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah gadis berjilbab itu yang nampak pasrah dengan desahan yang keluar dari mulutnya disertai tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Riska. Saat ini lubang kemaluan gadis berjilbab itu telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Parno. Tiba-tiba tubuh gadis berjilbab montok itu menegang. Dari mulutnya pekikan tertahan, “eehmmmmh……!!!” ternyata gadis itu sudah mendapat orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya. Sesuatu yang sangat nikmat ia rasakan, dan tubuhnya terlonka-lonjak untuk beberapa saat, mengalami kenikmatan yang sangat. Memeknya terasa geli, dan tubuhnya yang lemas mulai bersandar pasrah pada tubuh Parno, tukang becak yang membuatnya mendapatkan kenikmatan itu dengan paksaan.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian menarik tubuh Riska turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis berjilbab itu yang sintal sementara Riska hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas remas pantat gadis itu.

Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir gadis berjilbab itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Riska mendesah-desah di saat Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir gadis berjilbab yang sintal itu oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis SMU berjilbab itu. Ia naikan sedikit jilbab Riska, dan ketika leher Riska yang putih bersih terlihat, langsung saja Parno melumatnya. “Oohh.. Eenngghh..”, Riska mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno. Parno sengaja tidak membuka jilbab Riska, karena ia menyukai sensasi yang tercipta dihatinya, ketika melihat seorang gadis lugu yang berjilbab lebar mengerang-erang dan mendesis nikmat didepan matanya.

Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga membuat Riska sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat gadis berjilbab itu pasrah di hadapan Parno yang tengah memperkosanya, selain karena ia sudah tidak punya tenaga setelah orgasme dahsyatnya yang pertama. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno meraih kepala Riska yang masih terbungkus jilbab dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala gadis alim berjilbab itu itu dihadapkan pada kontolnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Parno sambil mencengkeram kepala Riska yang masih berjilbab itu.

Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak gadis berjilbab yang cantik itu sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk kontolnya ke dalam mulut Riska.

“Hmmphh..”, Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi gadis berjilbab itu menggelembung karena batang kemaluan Parno yang besar menyumpalnya. “Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut gadis berjilbab itu.

Gadis berjilbab itu menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat kepala Riska yang masih terbungkus jilbab mulai menggerakkan kepala Riska maju mundur, mengocok kontolnya dengan mulut gadis alim berjilbab yang montok itu. Suara berdecak-decak dari liur Riska terdengar jelas diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska, dia nampak benar-benar menikmati. Bahkan sensasi yang ia rasakan melihat seorang gadis berjilbab dengan terpaksa mengulum kontolnya sangatlah nikmat. Tiba-tiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Riska semakin cepat sambil menjambak-jambak jilbab Riska. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Riska yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Gadis lugu berjilbab itu berusaha melepaskan batang kontol Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Parno mencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut gadis lugu yang berjilbab itu.

“Ahh”, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang kemaluannya dari mulut Riska.

Nampak batang kontolnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya dengan mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang sama. Gadis manis berjilbab itu meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya sudah sangat lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” gadis berjilbab montok itu menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Parno yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Riska.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat tenaganya menjadi kuat berlipat- lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.

Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis terisak-isak. Gadis belia berjilbab itu sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Riska bergetar ketika Parno menidurkan tubuh gadis berjilbab itu di lantai gudang yang kotor. Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.

Setelah gadis lugu berjilbab itu terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu panjang seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Riska. Gadis berjilbab itu hanya bisa pasrah akan keadaan, karena tenaga dan keberaniannya sudah hlang entah kemana. Kedua mata Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir memeknya, indah sekali. Ia tahu bahwa kemaluan wanita berjilbab selalu bagus, karena tidak pernah tersentuh barangnya laki-laki, dan terawat. Tapi milik Riska, gadis berjilbab lugu yang terbaring dihadapannya itu sangat menggairahkan.

Parno langsung saja mengarahkan batang kontolnya ke bibir memek Riska. Gadis berjilbab itu menjerit ketika Parno mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang kontolnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang memek Riska.

“Aakkhh..”, gadis lugu berjilbab itu menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.

Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di memek gadis berjilbab itu dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang kontol Parno. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan gadis alim itu. Barang yang sangat ia jaga telah dirnggut dengan paksa oleh seorang tukang becak. Tangisnya kembali pecah.

“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Riska mengerang- ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot Riska dengan bernafsu. Batang kontolnya basah kuyup oleh cairan memek gadis berjilbab berkulit putih bersih itu, yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.

Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi gadis berjilbab itu, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.

“Aahh..” Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Parno.

Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik berjilbab yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Riska yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, gadis berjilbab itu tak mampu lagi berjalan normal hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Parno dengan leluasa menuntun tubuh lemah gadis lugu berjilbab itu hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Riska bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuh gadis berjilbab yang montok dan molek itu, Parno pun kemudian meninggalkan Riska dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan gadis berjilbab itu yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya. Tentu saja tidak lupa Parno sudah mengambil gambar telanjang dari gadis berjilbab itu, untuk berjaga-jaga agar Riska tidak membocorkan rahasianya.

LATIFAH

Perkenalkan nama saya Dodi. Saya punya sahabat bernama Bram. Ceritanya dia sekarang punya kenalan baru dari situs friendster. Namanya Latifah, dia keturunan orang Jawa Barat. Deskripsinya, berusia 16 tahun, kelas 2 SMA, berjilbab, berkulit putih serta.berwajah cukup manis. Kebetulan sekolahnya Latifah tidak jauh dari tempat kerja si Bram. Seteleah beberapa saat lamanya melakukan pendekatan dengannya Bram pernah nekat coba-coba menciumnya. Ternyata gadis berjilbab itu mau juga walau sebatas cium pipi namun sewaktu Bram mencoba lebih nekat lagi dengan pura-pura tidak sengaja menyentuh buah dadanya, sebuah tamparan disertai makian yang didapat Bram.

Nah, merasa sakit hati karena dipermalukan oleh gadis muda berjilbab itu, Bram mencoba membalas sakit hatinya dengan cara memberinya pelajaran sex. Sebagai sahabatnya yang diajak untuk bergabung jelas aku menyetujuinya.


Dan keesokannya, tengah hari Bram izin setengah hari masuk kantor demi melaksanakan rencana kita berdua. Dijemputnya Latifah pas pulang sekolah. Dengan alas an ingin mengambil titipan orang ia berhasil mengajak siswi berjilbab itu mampir ke rumahku. Bram memperkenalkannya padaku. “Latifah”, ujar gadis berjilbab itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan. Sembari menjabat tangannya kuperhatikan dengan seksama siswi SMA berjilbab kenalan Bram ini. Wajahnya yang agak imut manis dibalut jilbab putih membuatnya nampak menawan. Buah dadanya yang sedang berkembang itu nampak membusung menyembual dari balik hem putih OSIS lengan panjangnya. Ujung kain jilbabnya tidak dapat menutupi dengan baik kedua bukit kembar tersebut. Pinggulnya yang ramping ditopang sepasang bongkahan bokong yang bulat nampak menggiurkan dibalut erat rok abu-abu panjang semata kaki yang dikenakannya. “Hmm…rasanya tidak sia-sia aku cuti kerja hari ini. Abg berjilbab ini bakal aku genjot habis-habisan”, ujarku dalam hati kegirangan.

Setelah berbasa-basi sebentar kupersilakan siswi berjilbab itu untuk duduk di ruang tamu, seraya menunggu Bram “mengambil barang titipan” yang dimaksud. Tidak lama kemudian aku mulai nampak akrab dengan Latifah. Dia bercerita banyak tentang keluarganya, temannya, sekolahnya dan sebagainya. Dan disela-sela cerocosannya, aku menyuruh Bram untuk mengambil minuman untuk disuguhkan buat tamu “istimewa” ini seraya memberi kode. Minuman yang akan dicampur obat perangsang hebat yang kudapat dari took obat kuat langgananku.

Kemudian Bram menyuguhkan sirup itu pada Latifah. Gadis berjilbab itu kemudian meminumnya setengah. Lalu Bram meninggalkan kami berdua. Kemudian aku mulai melancarkan rayuan gombal pada siswi berjilbab itu. “Tifah, kamu itu cantik deh! Nggak nyangka Bram bisa lucky kenalan sama kamu”.

Mendapat pujian seperti itu, wajah Latifah terlihat memerah tersipu malu. “Ah, mas bisa aja.”, ujarnya seraya menundukkan wajahnya yang memerah karena malu. Melihat hal ini, aku mulai mengeser dudukku agar lebih dekat dengannya.

Setelah aku duduk berada persis disampingnya, kulancarkan lagi omongan gombal berikutnya, “Eh, benaran deh, kamu cantik sekali buat ukuran cewek berjilbab lho! Kayanya kamu cewek jilbab yang ngerti mode yah?”, rayuku lanjut.


“Masa sih mas? Saya cantik?”, katanya seraya melihat kearahku dengan senyum malu.

“Demi Tuhan! Beneran Fah!”, ujarku berusaha meyakinkannya.

“Fah, ayo dong minumnya dihabiskan dong. Entar mubazir lho!”, kataku sambil menyodorkan gelas pada Latifah. Dia meminumnya sampai habis. “Kena kau!”, teriakku dalam hati.

“Fah kata Bram, pipi kamu pernah dicium sama dia, bener Fah?”, tanyaku memancing reaksinya. Dia malu-malu mengangguk.

“Fah, kalau aku dibolehin juga nggak cium pipi kamu?”, tanyaku.

Dari wajahnya, siswi berjilbab kenalan Bram itu nampak terkejut. Beberapa saat dia nampak bengong karena pengaruh obat perangsang yang diminumnya tadi. Sesaat kemudian dia mengangguk. Lalu dengan menyorongkan badanku kearahnya kukecup pipi nan mulus wajah imut gadis berjilbab ini. Harum wewangian yang memancar dari tubuhnya saat mencium pipinya membuat gairahku perlahan naik.

Sesaat gadis berjilbab putih itu terdiam sambil menunduk. Lalu beberapa saat kemudian aku bias mendengar nafasnya yang mulai naik turun. “Hmm…mulai bereaksi nampaknya”, ujarku dalam hati. Obat perangsangnya mulai bekerja merasuki otaknya. Tanpa membuang waktu, kujamah wajah imut berjilbab putih yang sedang tertunduk itu agar menoleh kearahku. Dengan tatapan sayu dengan nafas yang agak memburu siswi berjilbab ini seolah nampak pasrah. Segera kupagut dan kulumat bibir mungilnya. Kumainkan lidahku kedalam mulutnya. Matanya terpejam saat aku terus memainkan lidahku dimulutnya. Aku tahu kalau dia mulai terangsang.

Aku mulai beraksi memainkan tanganku untuk meraba dadanya dan gadis berjilbab ini merintih. “Jangannhh…masss…Dodi, ini haram, dosa”, pintanya lirih.

Tak kupedulikan kupagut lehernya yang tertutup jilbab putih miliknya.


“Sayang, kamu jangan munafik. Aku yakin memekmu sudah basah”, kataku meledek Latifah dengan sinis. “Memekmu basahkan? Ayo jawab munafik!”, kataku sambil meremas-remas dadanya.dari luar kemeja putih OSIS lengan panjang yang dikenakannya.

Muka Latifah memerah, dia menatapku dengan lirih. “Ayolah saying. Jangan munafik kamu suka kan?”, kataku lagi dengan agak keras.

Gadis berjilbab putih ini menyahut pelan dengan menjawab singkat, “Iyah”.

Kulumat dan kukulum mulutnya lagi. Latifahpun membalasnya dengan nafsu. Perlahan kulepas kancing baju seragam lengan panjangnya satu per satu. Dia sama sekali tidak menolak. Bajunya terbuka dan nampak sepasang buah dada nan ranum sedang berkembang ditutupi oleh bra berwarna coklat muda.

Kusingkap bra itu keatas dan wajahku pun turun dari bibirnya menuju sepasang bukit kembar dengan sepasang putting coklat muda yang nampak mengacung keras. Kulumat kedua-duanya sambil terkadang menggigit kedua putting itu. Gadis berjilbab putih yang seragam sekolah lengan panjangnya yang telah terbuka ini hanya bias mendesah da mendongakkan kepalanya yang berjilbab seraya kedua tangannya meremas-remas kepalaku.

Tangan kananku kupakai untuk mengelus-elus pahanya dari luar rok abu-abu panjangnya, sedangkan tangan kiriku asyik mengelus pinggangnya yang ramping dan mulus. Terkadang tangan kiriku dengan gemas meremas bongkahan kenyal pantat milik Latifah dari luar rok abu-abu panjang yang masih ia kenakan.

Perlahan tapi pasti rok abu-abu panjang sekolah yang tadinya menutup bawahan gadis jilbab ini perlahan kutarik keatas. Sekarang nampak sepasang paha dan betis putih nan mulus terpampang indah dihadapanku. Celana dalam warna krem yang sudah kelihatan basah nampak menutupi selangkangan dengan belahan vagina yang masih nampak rapat. Segera kumainkan jemariku di belahan vagina yang masih tertutup celana dalam itu. Kususuri perlahan belahan itu naik turun perlahan.


“Enakkan sayang?”, bisikku ke telinga siswi berjilbab ini. Latifah yang sudah dirasuki birahi karena pengaruh obat perangsang tadi, hanya mengangguk dengan mata terpejam disertai desis dan nafas yang mendesah. Melihat hal reaksi horny gadis berjilbab ini gairahku pun bertambah besar. Kaki gadis SMA berjilbab ini kurentangkan lebar-lebar. Perlahan jari tanganku masuk menyelusup kedalam celana dalam itu dan mulai menguak belahan kemaluannya dan, “Ahhhhhh…….!”, pekik kecil Latifah tertahan kala menerima rangsangan dari permainan jariku didalam lubang surgawinya. Kedua lengan siswi berjilbab ini semakin memeluk erat kepalaku sedangkan kedua pahanya refleks mengatup hingga menjepit tanganku.

“Bagaimana rasanya sayang?”, tanyaku berbisik seraya memagut-magut lehernya yang masih terbalut jilbab putih itu. Tak lupa tangan kiriku meremas-remas bokong kenyal Latifah dengan gemasnya.

Yang ditanya tidak menjawab hanya dengusan dan desah nafas menahan birahi yang keluar dari mulutnya.

Beberapa saat kemudian Latifah berkata dengan suara mendesis, “Masshh…akkuhh…rasanya mo pipisshh mashhh…”.

“Pipis aja sayang, lepaskan semuanya.”, jawabku sembari mempercepat tusukan jari ku kedalam liang vagina siswi berjilbab ini.

Tak lama kemudian tubuh Latifah bergetar hebat. “Ahhhh…”, pekik gadis berjilbab ini kala mengalami orgasme yang pertama dalam hidupnya. Wajahnya yang imut terbalut jilbab putih itu terkulai lemas dipundakku. Nafasnya menderu-deru naik turun akibat puncak orgasme tadi.


“Gimana sayang? Nikmat khan?”, bisikku padanya. Siswi berjilbab ini hanya diam tidak menjawab. Hanya bunyi desah nafasnya yang naik turun seakan menjawab pertanyaanku. Kulancarkan seranganku yang kedua kali ini dengan menyingkap celana dalam kremnya menyamping. Lalu kulebarkan pahanya. Terlihat olehku belahan vagina nan rapat ditumbuhi bulu-bulu halus disekitarnya. Bibir liang surgawinya nampak tebal. Kukuakkan lebih lebar lagi belahan vagina itu dan kulihat biji kelentitnya yang kecil tapi membengkak karena nafsunya.

Aku segera menurunkan posisi badanku hingga berjongkok didepan selangkangan Latifah. Kujulurkan lidahku dan mulai memainkannya dengan menyapu seluruh permukaan vagina nan lembab itu. Tak lupa kuhisap-hisap biji kecil yang menggantung didalamnya itu.

Tubuh Latifah, siswi berjilbab ini segera bergetar menggelinjang hebat. “Ahhh…ahhh…….masss Dodi…”, desahnya serentak mencengkeram kepalaku kuat-kuat. Pahanya lagi-lagi refleks menutup rapat hingga menjepit kepalaku di selangkangannya. Lumayan sih, nafas jadi susah namun demi rangsangan aroma khas kemaluan gadis muda berjilbab ini kuteruskan aksiku. Kujilat, kuhisap, vagina muda dan biji kelentit Latifah dengan lembut.

“Ohh….ahhh…Mas Dodi…geli massshh……”, desis Latifah. Kurasakan wajah dan mulutku basah oleh cairan kewanitaan yang mengalir dari dalam vagina betina muda berjilbab ini.

Dan, “Ahh…Masssh…”, pekik pelan Latifah dengan tubuh yang bergetar. Kali ini dia kembali berorgasme kedua kalinya. Cairan vaginanya menyembur begitu banyak. Terasa asin dan legit kala kusedot habis.

Latifah nampak duduk menyender lemas di sofa. Kepalanya yang terbalut jilbab putih itu nampak terkulai lemas kebelakang. Sejenak kuamati sosok yang terduduk lemas dihadapanku ini. Siswi SMA yang masih mengenakan jilbab putihnya ini dengan seragam putihnya yang sudah terbuka menampakkan sepasang buah dada nan ranum dengan beha yang tersingkap keatas. Rok abu-abu semata kakinya sudah tersingkap sepinggang menampakkan celana dalam yang tersingkap menyamping dengan belahan vagina yang kelihatan basah. Ditopang oleh sepasang paha dan betis putih nan mulus dihiasi sepasang kaus kaki putih selutut. Benar-benar pemandangan yang membuat birahiku semakin naik.

Kubuka celanaku sendiri hingga bugil. Kemaluanku yang sudah tegang sedari tadi nampak mengacung gagah diudara. Siswi berjilbab yang terduduk lemas disofa dihadapanku ini tiba-tiba memekik tertahan seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Lho, kenapa sayang? Koq malu melihat begini aja?”, tanyaku tertawa kecil. “Tadi kumainin punya kamu, koq enggak ngerasa malu? Keenakan malah…he…he…he”, lanjutku lagi terkekeh-kekeh.

Kudekatkan penisku yang tegak mengacung itu ke wajah siswi berjilbab ini seraya memintanya untuk memblow job milikku ini. Gadis berjilbab dengan seragam sekolahnya yang sudah tersingkap atas bawah ini menolak mentah-mentah seraya memalingkan wajahnya yang ditutupi tangannya.

“Bram!”, teriakku memanggil sahabatku. Dengan wajah cengar-cengir, yang dipanggil muncul dari balik pintu ruang tamu seraya menenteng video camera digital ditangannya. “Lihat, Bram dari tadi sudah merekam semua aksi hot kita berdua sayang. Nah sekarang kamu nurut apa mauku atau kusebar rekaman tadi?”, ancamku lagi dengan senyum penuh kemenangan.

Wajah Latifah nampak pucat pasi kala menyadari kalau dia sudah masuk perangkap kami berdua. Dengan badan bergetar menahan tangis emosi, gadis berjilbab ini hanya bisa memaki dan meratap kesal nasibnya yang sial kena perangkap. “Kalian jahat!”, makinya terakhir dengan wajah berkerut tanda kesal.

“Ah, sudahlah sayang. Tadi buktinya kamu kelihatan begitu menikmati permainan tadi.”, balasku lagi dengan tersenyum lebar.. . “Nah, sekarang coba sayang pegang penis ini terus kamu kocok pelan-pelan yah?”, bujukku lanjut seraya menarik tangan kirinya lembut. Kutaruh tangan nan lembut itu diatas penis tegang berurat milikku. Kugenggamkan dan kubimbing tangan siswi berjilbab itu agar mulai mengocok batang ini bergerak maju mundur pelan-pelan. “Ahhh….mmhh..”, desahku kala tangan lembut yang kubimbing itu mulai mengocokku. Wajah manis berjilbab itu hanya menunduk tidak mau melihat aksi paksaan ini. Nampak aliran tetesan air mata dari kelopak matanya namun aku tidak kupedulikan.

Beberapa saat kemudian aku ingin sekali mencoba rasanya penisku ini berada dalam kuluman bibir indah Latifah sang siswi berjilbab. Kulepaskan peganganku pada tangan yang sedang mengocok tadi. Sambil memegangi penis dengan tangan kiriku, tangan kananku mencengkeram kepalanya yang terbalut jilbab putih seraya memaksa wajah imut ini berhadapan langsung dengan penisku. Sempat ia melengos membuang muka namun kuingatkan sekali lagi kalau saat ini Bram sedang berada disamping kita dan sedang merekam semua kejadian ini. Dengan terpaksa sambil menutup mata, siswi berjilbab ini perlahan membuka bibirnya yang mungil.


Aku kembali mendesah pelan kala penisku menerobos rongga mulut nan hangat Latifah. Perlu sedikit instruksi buat gadis berjilbab ini karena dia memang belum pernah melakukannya. Lama-kelamaan (karena terpaksa) siswi berjilbab ini mulai fasih menggunakan mulutnya. Sambil memegangi kepala Latifah yang masih dibalut jilbabnya kumaju-mundurkan pinggulku seraya mendesah nikmat. “Emmhhh…Mmhpphh…”, hanya itu yang keluar dari mulut Latifah yang sesak oleh penisku. Kedua tangannya agak canggung memegangi pahaku yang sedang berdiri dihadapannya.

Puas dengan layanan blow jobnya, kuputuskan untuk menikmati hidangan utama dari kegiatan sex ini. Ya, aku ingin menyetubuhi gadis muda berjilbab ini sepuasnya sekarang. Kutarik penisku dari dalam mulutnya lalu menarik tubuhnya dari sofa. Kurebahkan Latifah diatas karpet seraya menyingkapkan rok abu-abu panjang semata kaki itu hingga sepinggang.

Lalu kembali kulebarkan kedua pahanya sembari menguak celana dalam miliknya kesamping.

Sambil menahan kedua pahanya agar tetap mengangkang lebar, perlahan kugesek-gesekan kepala penisku ke celah bibir vaginanya yang berlendir. Tangan kananku masih kupakai untuk menyingkap celana dalam milik Latifah.

“Jangan…Mas. Please…”, rengek siswi berjilbab ini lemah dengan kepala terkulai kekanan. Gadis berjilbab ini sudah nampak pasrah tidak berdaya. Hanya bisa memohon sembari menggigiti ujung kuku tangan kanannya dengan mata terpejam Aku teruskan tanpa memperdulikan rengekannya. Perlahan kepala penisku sedikit demi sedikit menyeruak masuk ke dalam belahan vagina tersebut.

“Aakkhh…mas…jangan……sakittt!!”, jeritnya menahan sakit kala kupaksa menembus pertahanannya.

Sempit sekali liang perawan Latifah.

Kemudian dengan sekali hentakan kuat, kumasukan semua batang penisku yang besar itu.

“AAAKKHHH!!”, siswi berjilbab ini melolong keras karena kesakitan. Tapi aku tak peduli. Hanya ada satu yang ada dalam benak, menuntaskan hasrat birahi yang sudah kutahan dari tadi. Aku mulai bergerak maju mundur. Kunikmati jepitan liang sempit perawan milik Latifah.

Siswi berjilbab yang sudah tersingkap pakaian seragamnya atas bawah ini menangis dan merintih memintaku untuk berhenti.


“Uukkh..uuddaahh…sakitt…!! Masss Dodi tolong stopphh….ampun….yahh!! Stopp!!”, pekiknya dengan tubuh yang terguncang-guncang akibat sodokanku. Aku yang sudah tuli karena birahi tak mempedulikannya. Malah makin lama, semakin kupercepat sodokanku maju mundur. Kulihat bibir vagina gadis berjilbab ini kelihatan memerah. Bentuk bibir liang surgawinya nampak menggembung dan mengempis seiring maju mundurnya penisku didalam.

“Ohh..Godd…tempikmu enak sekali sayyangghh…”, racauku seakan membalas rintihan Latifah.

Dari mulut mungil siswi berjilbab keluar jeritan yang semakin keras, “AAHH…AAKKHH…!!”

Beberapa menit kemudian kuhentikan aksiku. Kucabut sebentar penisku, kulihat vaginanya memerah seperti memar. Darah keperawanan nampak menetes disela-sela vaginanya. Lalu kujilat darah perawan yang bikin awet muda itu.

Lalu dalam keadaan lemah, Latifah nampak pasrah kala kubalikkan tubuhnya. Kuposisikan pantatnya yang sekal itu tinggi-tinggi agar menungging dan kedua tangannya bertumpu di karpet. Setelah pas menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu indah pemandangan di hadapanku ini. Latifah yang masih mengenakan jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok abu-abu panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta dikerjai sehabis-habisnya.

Seraya mencengkeram bongkahan pantat yang sekal dengan tangan kanan, penisku kuarahkan dengan tangan kiriku menyodok ke celah liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn Mmass…sakittttttt…sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang imut terbalut jilbab putih itu nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya

“SShhh….sssayyyangghh enak bangetttt Fahh!!”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan meremas bongkahan buah dadanya yang sudah tersingkap itu. Hem putih OSIS lengan panjangnya yang sudah terbuka itu nampak semakin kusut karena tergesek-gesek dari belakang.

“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mengepal kuat-kuat menopang tubuhnya yang sedang menungging.

Hampir 30 menit lamanya kugenjot siswi berjilbab kenalan Bram ini dengan posisi favoritku ini. Dan nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan paksa ini. Begitu pula rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Sempat kulirik Bram yang sedang mensyut adegan ini. Nampak dia sedang mengocok kemaluannya seraya tetap memegang kamera dengan tangan kanannya.

Akupun merasa akan mendekati puncaknya. Spermaku terasa bergejolak mendesak untuk keluar. Lalu seraya menarik kedua lengannya bagai kusir yang sedang menunggang kuda kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan pantat Latifah dengan selangkanganku semakin terdengar kencang, “Plakk…plakk!”. “Uhh…Tiffaahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat hendak mencapai klimaks. Latifah yang sedang kugenjot dalam kecepatan penuh ini dari belakang hanya bisa merintih-rintih seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jilbab dan hem putih OSIS lengan panjang yang dikenakannya nampak berkibar-kibar karenanya. Kedua buah dadanya yang tersingkap dari balik behanya nampak bergoyang-goyang dan bergetar naik turun akibat sodokanku yang semakin cepat.

Beberapa saat kemudian tubuh siswi berjilbab ini mendadak bergetar hebat. Tubuhnya melengkung kebelakang dengan wajah yang berbalut jilbab putih itu mendongak keatas. Biji matanya membelalak hanya nampak bagian warna putihnya saja. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan bersamaan dengan itu akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Latifah, “Aaahh…Tiffaahh…nniihhh!!”.

“Crrooottt…crooot….crottt”, spermaku menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga menyembur berbarengan.

Siswi berjilbab itu kini tersungkur lemas tak menjerit lagi, hanya isak tangis dan lirih kesakitan yang keluar dari bibirnya yang mungil. Kulihat bibir vaginanya bengkak, memerah serta memar. Spermaku bercampur darah perawannya menetes keluar sedikit sedikit. Aku menatapnya tersenyum puas.

Kubiarkan gadis berjilbab kenalan baru Bram ini tengkurap sejenak untuk beristirahat seraya memberi kesempatan sahabat baikku itu mendapat giliran selanjutnya..


 

3 WANITA

Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.
Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.
Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.
Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.
Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
“Choirun ada?”
“Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?”
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !
“Mbak Yani sendiri ya?”
“Nggak, sama Poppy dan Umi,”
“Ya sudah, besok saja,”
Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan ‘peralatan’nya, lalu mengetuk pintu.
Seorang perempuan mengintip dari balik korden.
“Siapa ya?”
“Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,” sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.
“Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,”
“Lho, kenapa?” Yani terlonjak.
“Ia kedapatan menghisap ganja…”
“Nggak mungkin!” perempuan itu memiawik.
“Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,”
Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga ‘polisi’ itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, “Ada di bawah kasur sini, komandan!”
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. “Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!” tegasnya.
“Tapi…tapi…saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ…” kata Yani terbata-bata.
“Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,”
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
“Beres Dan, siap cabut,” katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.
Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. “Kami nggak ingin repot nantinya,” alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.
Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. “Gampang banget…” kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
“Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,” desisnya.
“Eh…eh…apa-apaan ini?” Yani ketakutan. “Eiiiiii….awwwhhhh…kurangajj…awwwhhhh…” Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.
Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba…breetttt….bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.
“Wah, susu yang segar,” kata temen gue.
“Jangannn…tolong…jangaann…” Yani menangis.
“Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!” kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.
Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memiawik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
“Wah…wah…ini susu yang indah…” kata kedua temen gue di belakang. “Coba lihat punya Nyonya ini…” lanjut mereka.
Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan…..”Awwwwww….” ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.
Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memiawnya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memiaw Yani.
“Aaaaakhhhh….” Yani menjerit kesakitan. memiawnya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memiaw yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memiaw perempuan manja itu.
Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memiawik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memiawnya sambil sesekali mencabuti jembutnya. Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.

Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memiaw Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata tongkol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu. Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.
“Nggghhhhh….” dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua tongkol ada di mulut mereka.
Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memiaw Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.
Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.
“Emut tongkol gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!” kata gue sambil nyodorin tongkol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap tongkol.
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin tongkol gue sampe ke pangkalnya.
“Diemut!” bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu tongkol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memiawnya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memiawnya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.
Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngent*t cewek itu.
“Aunghhhhhh…” Yani mengerang panjang waktu tongkol gue nyodok memiawnya sampai mentok. memiawnya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.
Ada seperempat jam gue kocok memiawnya pake tongkol, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ngent*t mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu.
Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memiawnya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin tongkol ke dalamnya.
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa tongkol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya tongkol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.
“Aaaaaakhhhhh…..” Yani melepas tongkol temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memiaw Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.
Gue ngerasa tongkol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu tongkol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
“Crooottt…crottt…crottt…” air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
“Telen!” bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap tongkol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.
Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memiawnya. Akibatnya, bibir memiawnya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
“Jangaann…ampun oommm…” rintihnya. “Adduhhhh…” pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memiawik waktu celdamnya akhirnya putus.
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memiawnya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah. Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong tongkol temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan tongkol menusuk pantatnya, lalu memiawnya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.
“Aihhh…” Poppy memiawik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memiawnya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.
“Aduhh…jangaann…” Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, tongkol gue pas banget nunjuk memiawnya. Terus gue kucek-kucek memiaw anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang tongkol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memiawnya. Kepala tongkol gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.
“Aaaakkhh….auhhhhh….ouchhh…aiiiii….sakkkiiittt….adduhhhhh….” Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga. tongkol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memiawnya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa tongkol gue di dalam memiawnya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok tongkol gue di dalam memiaw Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu tongkol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memiawnya yang masih menganga.
“Aucchhhhh…sakkkiiittt…aaahhhh…” Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memiawnya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
“Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memiaw yang ini. Pantatnya buat gue ya!” teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memiaw Umi.
Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.
“Kamu paling muda, jadi memiawmu pasti paling enak. Kamu mau tongkolku masuk memiawmu?” kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
“Huuu…jangaaannn…huuu…” ABG itu menangis lagi.
“Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu…memiawnya sudah jebol…kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,”
Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dient*t dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum tongkol gue lagi sampai tongkol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memiaw Yani bangun, gantian dia memasukkan tongkolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah tongkol temen gue satunya dari pantat ke memiaw.
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa tongkol gue ikut masuk memiawnya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan tongkolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua tongkol di dalam memiawnya bikin memiawnya seperti mau sobek.
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memiaw Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.
Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas tongkol temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.
“Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,” kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala tongkol, gue sodok aja.
Kepala tongkol gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh….
“Aaaaaachhhhh…aauuhhhhh….saakkkiiitt….nggghhhhh….” Poppy menjerit histeris. tongkol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa tongkol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
“Gimana? Kamu mau nurut?” kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memiawnya yang berjembut tipis.
“I…iya…iya…” katanya terbata-bata.
“Bagus, sekarang bersihin tongkolku,” kata gue sambil berdiri, menyodorkan tongkol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga tongkol gue.
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot tongkol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. memiaw, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
“Gue juga bersihin dong,” kata temen-temen gue berbarengan.
Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong tongkol-tongkol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memiaw Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.
“Huuu…huuu…sudahh…saya mau pulang…” Umi terisak sambil duduk bersimpuh.
“Boleh, tapi kamu harus joget dulu,” kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. “Ayo cepet joget!” bentaknya.
Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. “Joget yang hot!” bentaknya.
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. “Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memiawmu kena telunjukku ini,” kata gue.
Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memiawnya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memiawnya.
“Jogetmu bikin aku ngaceng nih!” kata gue sambil mengacungkan tongkol gue yang emang udah tegang banget.
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.
“Aaahhh….janngaaaannnn….kalian jahaaaattt…aaahhhh…” Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.
Umi nangis lagi, waktu ngerasa memiawnya mulai kesenggol kepala tongkol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memiawnya ke kanan dan kiri. Terus, tongkol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang tongkol gue kejepit memiaw perawan yang sempit.
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.
“Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat tongkol, kamu nggak?” kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong tongkol gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa tongkol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu tongkol gue mentok ke dasar memiawnya, gue berhenti sebentar. Kerasa memiawnya berdenyut-denyut meremas-remas tongkol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi tongkol gue. Itu pasti darah perawannya.
Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu tongkol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memiawnya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut tongkolnya.
Nggak lama, gue pindah tongkol ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memiawnya itu tetap bisa gue jebol pakai tongkol gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memiawnya yang berdarah disodok tongkol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua tongkol sekaligus.
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil tongkolnya tetap di dalam memiaw cewek yang baru lulus SMU itu. Dua tongkol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin tongkol gue, bareng tongkol temen gue yang sudah masuk duluan.
Umi merintih kesakitan, waktu tongkol gue bisa masuk. Pas tongkol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai tongkol gue juga masuk sampai pangkal. Umi memiawik keras, sebab terasa ada yang ‘krekk’ di dalam memiawnya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.
Gue ambil tongkol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. memiawnya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan tongkol beneran dan tongkol karet makin cepat.
“Minggir…minggir…” kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin tongkol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.
***
Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.
Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.
“Ini bagus dan menarik,” kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.
Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.
Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita ‘pigura’ dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
“Ini pasti lucu,” kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Umi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memiawnya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Umi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memiawnya sedalam 10 senti lebih. Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih.
Sedang Yani dan Poppy dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Yani dan Poppy lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memiaw Poppy. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memiaw Yani gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya.
Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Yani. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Yani mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Yani pingsan lagi.
“Kamu berdua harus pingsan lagi ya?” kata gue kepada Poppy dan Umi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.
Pertama-tama Poppy yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Poppy mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.
Sekarang Umi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Poppy, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.
***
Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu…
***
Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.
“Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,” kata gadis berwajah khas Jawa itu.
“Bu Yani kemana?”
“Bu Yani sekarang tinggal di Klaten…” sahutnya.
Ow… ow… gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memiawnya. Temen-temen gue harus dikasih tau !
Betapa mempesonanya wanita ini. dibalik kesopanan pakaian tersembunyi pesona liar.

DINDA

Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30 kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan,hanya beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu. Seiring dengan turunnya air hujan,air mata Dinda juga mulai turun berlinang disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan takut datang menyelimuti dirinya.

Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali,mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan. Dinda Fitria Septiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan swasta, usianya baru menginjak 19 tahun wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki itu ditolaknya. Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Dinda itu. Paul adalah salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Dinda terhadap dirinya. Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu perhitungan terhadap Dinda.

Rencana busuk dilakukannya terhadap Dinda. Malam ini mereka telah menyergap Dinda dikamar kostnya. Paul adalah satu dari sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Paul bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Paul yang berusia setengah abad lebih dan melebihi usia ayah Dinda itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar. “Huh rasakan kau gadis sombong !”, bentaknya kepada Dinda yang tengah tergolek dikasurnya.”Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama dengan Dinda beberapa bulan yang lalu, Paul langsung jatuh hati kepada Dinda.

Dimata Paul, Dinda bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga selalu hadir didalam lamunnanya. Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Paul tidak berdaya untuk mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun,lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya untuk dapat mendekati sang bidadari itu. Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya terkait dengan Dinda sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh Dinda,tatapan mata Dindapun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Paul tumbuh subur rasa benci terhadap Dinda, penilaian terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun gairah nafsu sex terhadap Dinda tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya selama ini.

Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat menikmati tubuh Dinda pikirnya. Jadilah malam ini Paul melakukan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Dinda sekaligus melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya. Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanyapun telah membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Lihat aku, cewek bangsat…..!”, hardiknya seraya memegang kepala Dinda dan menghadapkan kewajahnya. “Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Dinda pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan dengan Paul seseorang yang dibencinya. Hatinyapun langsung ciut dan tergetar tatkala Paul yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan, “Hahaha….malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringatpun langsung mengucur deras membasahi tubuh Dinda, wajahnya nampak tersirat rasa takut yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhati-hati terhadap Paul. Kini dihadapan Dinda, Paul mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih, namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Paul memiliki tubuh yang atletis, badannya hitam legam dan kekar,beberapa buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Dinda, disaat paul mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Dinda. Melihat ini Dinda berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Paul secepat kilat mencengkram erat kepala Dinda dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Dinda, dengan tubuh yang bergetar Dinda hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Paul. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Dinda, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Paul tengah menikmati kehalusan wajah Dinda. “Hai cantik !….sekarang sudah kenal kan dengan tongkol gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama tongkol gue ini….”, sambungnya. Setelah puas dengan itu, kini Paul mendorong tubuh Dinda hingga kembali terjatuh kekasurnya. Sejenak dikaguminya tubuh Dinda yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Paul, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat.

Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…mmhhh…”, sepertinya Dinda ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Dinda menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Paul itu kini mengusap-usap bagian pantat Dinda, dirasakan olehnya pantat Dinda yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Paul sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Dinda. Dinda hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Paul secara perlahan-lahan mengusap kaki Dinda mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Paul, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dinda agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Paul tadi langsung menusuk lobang kemaluan Dinda. “Egghhmmmmm…….”,Dinda menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Paul masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Dindapun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Paul memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dinda.

Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Dinda, sementara itu badan Dinda menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu “Ehhmmmppphhh….mmpphhhh…..”. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Dindapun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Paul kemudian mencabut jarinya. Tubuh Dindapun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Dinda kini telanjang. Terlihat oleh Paul, kemaluan Dinda yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Dinda hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Dinda semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Paul bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Dinda. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmmppp…. ..”, Dinda menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Paul mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dinda. Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Paul terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain Dinda masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Paul berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dinda.

Tubuh Dinda berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Paul. “Ahh….kena kau sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !”, bisiknya ketelinga Dinda. Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memiawakkan telinga. Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu,dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Dinda. “Oouuhhh…..baang….saakiitt…banngg….amp uunn …”, rintih Din

“Aakkhh….ooohhhh….oouuhhhh….ooohhhggh… .”, Dinda merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Paul, badannyapun semakin menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu malah memancing nafsu Paul, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Paul yang tertanam didalamnya, karenanya Paul merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Paul terus menggenjot tubuh Dinda, Dindapun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Paul menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahhh…..ahhhh…oouuhhhh…”. Dan akhirnya Paulpun berejakulasi di lobang kemaluan Dinda, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dinda. “A..aakkhhh…..”, sambil mengejan Paul melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.

Puas sudah dia menyetubuhi Dinda, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Dinda, puas dalam merobek keperawanan Dinda dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis 6cantik itu. Dinda menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Dinda sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Dinda yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali. Dengan mendesah puas Paul merebahkan tubuhnya diatas tubuh Dinda, kini kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Paul nampak terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Dinda yang tubuhnya tertindih tubuh Paul. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Dinda, kini Paul mencabutnya seraya bangkit dari tubuh Dinda. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Dinda yang terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi sedikit menegang disaat merapat kewajah Dinda. Dikala sudah benar-benar menegang, tangan kanan Paul sekonyong-konyong meraih kepala Dinda. Dinda yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan tindakan Paul.

Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Paul yang telah menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat menjerit, Paul sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Dinda berusaha berontak namun akhirnya Paul berhasil menanamkan penisnya itu kemulut Dinda. Nampak Dinda seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluan Paul yang masih basah oleh cairan sperma itu. Setelah itu Paul kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Dinda, wajah Dinda memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Paul dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Dinda, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. “Aahhhh….”, sambil memejamkan mata Paul merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya. Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, “Oouuuuhhhh…Dinndaaaa…sayanggg… ..”, Paul mendesah panjang ketika kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Dinda. Dengan terbatuk-batuk Dinda menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Paul jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Dinda hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Paul mencabut batang kemaluannya dari mulut Dinda, dan Dindapun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma Paul tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya. Saat ini wajah Dinda sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya.

Dengan wajah puas sambil menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Paulpun menyeringai melihat Dinda yang masih terbatuk-batuk. Paul memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Dinda meringkuk dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Dinda telah menunjukkan pukul 1 dinihari. Sambil santai Paulpun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Dinda yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Dinda, nampak wajah-wajah cantik Dinda menghiasi isi album itu, Dinda yang anggun dalam pakaian seragam pramugarinya,nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan jilbab ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Selain itu, ditemukan pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Paul memasukkan itu semua kedalam kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”,batinnya. Setelah setengah jam lamanya Paul bersitirahat,kini dia bangkit mendekati tubuh Dinda. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Dinda satu persatu.

Singkatnya kini tubuh Dinda telah telanjang bulat, rambutnyapun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini digerai oleh Paul sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Dinda. Sejenak Paul mengagumi keindahan tubuh Dinda, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Dinda. Tubuh Dinda nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu.

Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Paul. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Dinda, “Yaa…ampuunnn bangg…udah dong….Dinda minta ampunn bangg…oohhh….”, Dinda nampak memelas memohon-mohon kepada Paul. Paul hanya tersenyum saja mendengar itu semua, dia mulai meraih badan Dinda. Kini dibaliknya tubuh telanjang Dinda itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Dinda menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Paulpun berada dibelakang Dinda dengan posisi menghadap punggung Dinda. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Dinda selebar bahu, dan…. “Aaaaaaaaakkkkhh………”, Dinda melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Paul menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Paul berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Setelah itu tubuh Dindapun kembali disodok-sodok, kedua tangan Paul meraih payudara Dinda serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya Paul menyodomi Dinda, waktu yang lama bagi Dinda yang semakin tersiksa itu. “Eegghhh….aakkhhh….oohhh…”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Dinda merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Paul. Paul kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Dinda dan dibaliklah tubuh Dinda itu hingga kini posisinya terlentang.

Secepat kilatpula dia yang kini berada diatas tubuh Dinda menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Dinda. “Oouuffffhhh……”,Dinda merintih dikala paul menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama setelah Paul memompakan kemaluannya didalam liang vagina Dinda “CCREETT….CCRROOOT…CROOTT…”, kembali penis Paul memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Dinda, dan Dindapun terjatuh tak sadarkan diri. Fajar telah menjelang, Paul nampak meninggalkan kamar kost Dinda dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota,sementara itu sakunya penuh dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi dengan Dinda sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik itu, hal itu bukan urusannya lagi.

VINA DAN MAYA

Perkenalkan nama saya Laila, saya seorang mahasiswi semester 4 di Purwokerto. Ada satu pengalaman nyata yang saya alami yang berkaitan dengan cewek-cewek ROHIS. Di Purwokerto sendiri banyak sih cewek ROHIS terutama di Kampus, hanya saja saya tidak ada yang kenal mereka semua. Cuman saya melihat mereka adalah cewek-cewek yang alim dengan jilbab panjang dan jubah mereka itu.Saya sendiri cuman pakai kerudung kecil yang seringkalai dipandang sebelah mata oleh cewek-cewek ROHIS yang berkerudung lebar.

Dua minggu yang lalu, saya harus ke Jogja untuk urusan kuliah. Karena saya banyak ke sibukan, sehingga baru jam 5 sore saya berangkat ke Jogja. Saya naik bis Patas Raharja dan di sebelah saya duduk seorang cewek berjilbab gede. Semula saya cuekin, tapi kemudian dia ngajak ngobrol. Orangnya ramah, cantik, putih dan kuliah di UGM hampir selesai. Asalnya Bandung, namanya Neneng dan ternyata dia aktivis ROHIS. Kami ngobrol banyak terutama tentang pemilu, nyambung karena sayajurusan sospol dan akhirnya dia nawarin numpang di kostnya setelah dia tahu saya kesulitan bermalam di Jogja dan berniat bermalam di penginapan.

Kurang lebih jam 8 malam kami sampai di Jogja dan Mbak Neneng tetep ngajak saya tidur di kostnya. Singkat cerita kami sampai di kostnya yang terletak di di daerah Jln Kaliurang sekitar UGM. Di kost tersebut ada 5 cewek lainnya dan saya di persilahkan tidur kamar Mbak Neneng. 5 cewek temen kost Mbak Neneng ternyata juga aktivis ROHIS di Jogja. Ke 5 cewek ROHIS itu kelihatan merendahkan saya karena kerudung saya yang kecil walaupun jujur saja saya merasa iri dengan ke 5 cewek temen Mbak Neneng, karena mereka berwajah cantik dan berkulit putih- putih bersih.

Pukul 10 malem saya sudah ngantuk berat hingga saya pamit tidur, tak lama kemudian Mbak Neneng juga menyusul ke kamar. Ketika saya sudah berbaring,saya merasa heran ketika Mbak Neneng membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Mbak nenneg mengakui kalau selama ini, dia tidur jarang memakai pakian lengkap, kadang cuman BH dan CD atau CD aja atau bahkan bugil seperti malam ini. Kata dia sih karena Jogja sangat panas. Aku diam saja mendengar penjelasan dia dan saya akui lekak-lekuk tubuh Mbak Neneng memnag sangat sintal membuat saya menjadi sangat iri.Karena kami sama-sama perempuan, saya tidak merasa tergganggu olehnya lagian mata saya sudah sangat mengantuk.

Pukul 12 malam, saya terbangun karena pengen kencing. Saya kaget ketika menyadari Mbak Neneng yang bugil tengah memeluk saya dalam tidurnya. Akhirnya setelah melepaskan pelukan Mbak Neneng dengan susah payah, saya keluar kamar menuju WC. Setelah saya selesai dariWC saya bermaksud kembali ke kamar Mbak Neneng, tapi kemudian sayainget kalau Mbak Neneng malam ini tidur tanpa busana sehingga membuat saya ingin melihat apakah 5 cewek ROHIS temen Mbak Neneng juga tidur tanpa busana.

Saya mengintip 5 kamar lainnya dan saya dapati 3 temen Mbak Neneng tidur tanpa busana sementara 1 orang tidur hanya memakai celana dalam dan satu orang lagi tampak sedang membuka internet namuan alangkah kagetnya saya ketika saya amti ternyata yang sedang dibukanya adalah situs-situs hot. Apalagi ketika saya lihat cewek ROHIS yang sedang buka internet itu juga sambil bermasturbasi.

Yah akhirnya sisa malam itu, saya nggak bisa tidur. Saya nggak mau tidur dengan Mbak Neneng yang kayaknya lesbian. Dalam pikiran ana timbul kesadaran, ternyata tidak mesti cewek ROHIS itu alim-alim buktinya di tempat kost tempat saya menumpang. semalamman saya berpikir seperti itu hingga pagi. Bahkan kemudian, malam itu juga saya menemukan foto laki-laki bugil dalam salah satu tumpukan majalah UMMI di ruang tamu.

Paginya, ana kembali kaget oleh cewek-cewek ROHIS di tempat kost ini ketika ternyata mereka membeli sarapan pagi ke warung tanpa pakain dalam. Memang mereka pakai pakaian jubah panjang dan jilbab lebar dan kaus kaki tapi saya tahu mereka nggak pakai pakaian dalam. Kata mereka sih pakaian ini sudah cukup menutupi.

Saya menolak tawaran mandi bareng Mbak Neneng, dan akhirnya pagi-pagi sekali saya cabut dari tempat kost cewek ROHIS itu. Jadi saya pikir, tidak mesti semua cewek-cewek ROHIS itu alim-alim Bonar, Monang dan Togar bengong. Tiga preman terminal itu tak menyangka bakal dapat order seperti itu.

“Kau serius?” tanya Monang kepada lelaki perlente di depannya.

“Serius Bang. Dua juta untuk persekot. Delapan juta lagi kalau sudah selesai,” sahutnya.

“Kalau sudah kita perkosa, terus diapain?” lanjut Monang.

“Pokoknya terserah abang bertiga. Mau dipelihara terus boleh, dijual ke germo juga boleh. Asal jangan dibunuh,” sahut lelaki itu.

Tiga preman itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka sering menerima order untuk menagih utang, menghajar seseorang atau bahkan membunuh. Tapi order kali ini mereka anggap sangat aneh: menculik dan memperkosa dua mahasiswi lalu memaksanya agar berhenti kuliah. Mereka makin terkejut begitu melihat foto dua calon korban mereka. “Gila ! Kau suruh kami perkosa cewek pake cadar ! Sebetulnya apa sih masalahnya?” kali ini Bonar yang bicara.

Lelaki perlente itu menghela napas dalam-dalam. “Dua cewek ini bikin suasana kampus jadi nggak enak. Sudah lah… abang bertiga mau duit sepuluh juta tidak?” sahutnya. Tiga preman itu saling berpandangan. Di tengah keraguan dan hasrat mendapat uang mudah, menyeruak perasaan aneh di hati mereka.

Terbayang di benak kotor ketiganya, mereka akan menelanjangi dua gadis yang berpakaian serba tertutup, lalu memperkosanya.

“Oke… kami mau !” Monang yang langsung ambil keputusan. Kedua temannya mengangkat bahu, tak berkomentar tapi menunjukkan persetujuan. “Kapan kami harus lakukan?” lanjut Monang.

Lelaki perlente itu tersenyum. “Minggu ini juga. Ini duit dua juta, ini foto dan alamat dua cewek itu. Telepon saya kalau sudah selesai,” ujarnya.

***

Sepeninggal lelaki itu, ketiganya memandangi lagi foto dua gadis itu. Terlihat seorang yang berjilbab dan cadar serba putih dan rekannya yang mengenakan busana serupa berwarna hitam tengah diwawancarai seorang reporter TV. Cadar yang menutup wajah keduanya membuat hanya sepasang mata kedua gadis itu yang terlihat. Pada cadar putih tertulis nama ‘Maya’ sedang pada cadar hitam tertulis ‘Vina’. “Boleh juga nih. Aku jadi terangsang Bang, pengen cepat lihat memiawnya dua cewek ini!” ujar Togar yang sejak tadi diam.

VINA

VINA

“Bah, bukan cuma kau lihat. Kau boleh makan memiaw dia. Kita memang beruntung. Dapat memiaw dua, bukan cuma gratis, dibayar 10 juta pula !” sahut Monang disambut gelak dua kawannya.

Tiga preman itu pun langsung berunding untuk menentukan cara menculik kedua gadis itu. Akhirnya mereka pun menemukan cara mudah: menjebak keduanya. Togar yang berpenampilan rapi ditugaskan menyamar sebagai wartawan yang akan mewawancarai keduanya. Monang menyamar sebagai fotografer, sedang Bonar menunggu di belakang kemudi mobil van mereka.

Tak menunggu lama, Togar langsung beraksi. Diangkatnya ponselnya, menghubungi rumah kos Maya. Suara lembut seorang gadis terdengar menyapa.

“Dik Maya, saya wartawan. Saya ikut prihatin dengan kejadian di kampus. Bisa tidak saya wawancara adik?” katanya.

“Ya…ya… berdua dengan Vina sekalian,”

“Besok siang, sepulang kuliah ? Di mana?”

“Tempat kos? Oke ! Vina sekalian ke situ? Oke ! Sampai ketemu besok,” Togar bersorak begitu menutup ponselnya.

***

Siang yang dijanjikan pun tiba. Togar mengenakan rompinya yang bersaku banyak. Di salah satu saku sengaja disembulkan ujung sebuah blocknote dan beberapa bolpoin. Tapi di salah satu saku yang lain, ia mengantongi sepucuk pistol yang dibelinya di pasar gelap. Monang tak kalah miripnya dengan fotografer betulan. Ia menyandang tas kamera.

Tak ada yang bakal menyangka kalau tas itu isinya juga pistol. Sampai di depan rumah kos Maya, mobil van yang dikemudikan Bonar berhenti. Dua rekannya turun dan memasuki halaman rumah. Bonar menunggu di belakang kemudi sambil mengawasi keadaan sekitar yang sepi.

Togar mengetuk pintu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

“Kami, wartawan,” sahut Togar. Pintu pun terbuka. Togar dan Monang masuk.

VINA

VINA

Di ruang tamu tak ada kursi ataupun meja, tetapi sehelai karpet tipis tergelar di sudut. Di sudut yang jauh, duduk seorang gadis berjubah dan jilbab panjang serta cadar serba biru tua. Gadis yang membukakan pintu mengenakan busana serupa tetapi berwarna hijau botol, menyusul duduk di sebelahnya.

Togar mengeluarkan blocknote-nya.

“Kok sepi? Yang lain mana?” Togar membuka percakapan, sekaligus mengecek kondisi rumah.

“Masih pada kuliah, belum pulang,” sahut si cadar hijau.

“Baik. Kami ingin dengar cerita dari adik berdua. Tapi sebelumnya, saya ingin tahu mana yang Maya mana yang Vina,” katanya. Dua gadis itu saling pandang.

“Saya Maya, ini Vina,” kata gadis bercadar hijau. Ia lalu menuturkan kesulitan mereka berdua di kampus.

“Kalian pernah diteror?”

“Ya, kami sering diteror lewat telepon,”

“Bentuk terornya bagaimana?”

“Yaaa… diancam bunuh lah, dimaki-maki dengan kata-kata kotor…”

“Eh, maaf ya… ada yang mengancam memperkosa tidak?” Togar bertanya sambil memasukkan tangannya ke kantong tempatnya menyimpan pistol.

Diliriknya Monang yang tengah membuka tas kamera. Maya dan Vina saling berpandangan lagi.

“Ah, eh… tak ada itu…” sahut Maya sambil menggelengkan kepala diikuti Vina.

“Bagus kalau begitu. Sebab sekarang kami yang mengancam kalian,” kata Togar sambil tiba-tiba mengacungkan pistolnya. Monang terkekeh danikut mengacungkan pistolnya juga.

VINA

Kedua gadis itu memiawik, terkejut luar biasa. Keduanya langsung berpelukan ketakutan melihat Togar dan Monang mendesak mereka ke sudut.

“Tak perlu teriak, karena tak bakal ada yang dengar. Selain itu, kalau kalian nekad, pistol ini akan menghabisi kalian!” ancam Togar sambil mengarahkan moncong pistol ke kepala Maya.

Maya dan Vina yang ketakutan diperintah tengkurap di atas karpet. Togar lalu menelikung tangan Maya ke belakang dan mengikatnya dengan tali. Monang melakukan hal serupa pada Vina.

“Eiiiiiii….” Vina menjerit, sebab begitu tangannya terikat, Monang membalik tubuhnya dan meremas-remas sepasang payudaranya dari luar lapisan kain yang dikenakannya.

Togar terlihat masuk ke bagian belakang rumah kos. Sekejap kemudian ia kembali dengan membawa dua helai celana dalam dari tempat cucian.

Saat kembali, ia melihat Monang tengah meremas payudara Maya dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meremas-remas pangkal paha gadis itu. Maya meronta-ronta dan menyumpah-nyumpah.

“Iblis… kalian memang iblis !” pekiknya.

“Ha ha ha… kalian akan tahu rasanya diperkosa iblis,” sahut Monang. Togar lalu melemparkan sehelai celana dalam bau itu ke arah Monang.

“Sudah, kita harus cepat !” perintahnya.

VINA

Monang langsung menarik turun cadar Maya. Sejenak ia terpana memandang wajah cantik di balik cadar itu. Sorot matanya memperlihakan kemarahan dan ketakutan. Tapi Monang tak peduli, disumpalnya mulut gadis itu dengan celana dalam. Togar pun melakukan hal serupa pada Vina.

Tak lama kemudian, kedua gadis itu pun digelandang ke mobil van Di dalam mobil, penderitaan keduanya pun dimulai. Kedua lelaki itu  dengan buas terus meremas-remas payudara dan pangkal paha Maya dan  Vina sepanjang jalan. Kedua lelaki itu bahkan menemukan jalan lewat  celah-celah kancing jubah sampai ke bra keduanya. Lalu tangan-tangan  kasar pun menyelusup ke baliknya dan meremas-remas daging kenyal dan  lembut di baliknya.

Vina mengerang panjang ketika kedua putingnya dijepit keras oleh  Monang. Sementara Maya tak kalah menderitanya karena payudaranya yang  tak seberapa besar dicengkeram dan dibetot, seolah hendak dilepaskan  dari tempatnya. Dari celah cadar, terlihat mata kedua gadis itu  meneteskan air bening.

Maya dan Vina tak tahu kemana mereka dibawa. Yang mereka tahu, mobil  akhirnya berhenti di dalam sebuah ruangan besar yang mirip gudang.  Keduanya lalu digiring ke tengah ruangan. Maya dan Vina agak lega  ketika ikatan tangan mereka dan sumpal di mulut mereka dilepas.

“Jahanam…. kalian mau apa sebenarnya?!” pekik Maya begitu sumpal  mulutnya dilepas.

Tiga lelaki itu terbahak.  “Jangan galak-galak begitu. Kalian tak bisa melawan kami. Mau teriak  pun boleh. Tak ada yang akan mendengar,” sahut Monang. “Begini…  sepulang dari sini nanti, kalian harus memutuskan untuk berhenti  kuliah,” lanjutnya.

“Kalian siapa? Kenapa meminta kami melakukan itu?” sahut Maya ketus. “Kau tak perlu tahu siapa kami. Yang perlu kau tahu, kami akan  memperkosa kalian dan merekam semuanya. Kalau kalian menolak berhenti  kuliah, rekaman itu akan tersebar di kampus….” ancam Monang.

“Tapi kami lebih suka kalau kalian bekerjasama dan kita akan sama- sama menikmatinya. Kalau kalian menolak bekerjasama, kami bisa  berlaku kasar !” ancamnya lagi.

“Ayo, sekarang mulai buka baju panjang kalian itu. Cepat !”  Kedua gadis itu kelihatan mulai panik. Tapi lagi-lagi Maya  memberanikan diri menolak. Akibatnya, ia diringkus Togar dari  belakang. Dari depan, Monang menyampirkan jilbabnya yang panjang  sampai pinggul ke pundaknya. Lalu, dicengkeramnya kuat-kuat payudara  kanan Maya. Gadis itu menjerit histeris saat belati Monang mengoyak  berlapis kain yang menutupi dadanya sampai akhirnya terlihat  payudaranya yang terbungkus bra putih.

“Aaaarrghhhh…..” Maya menjerit keras ketika Monang mengeluarkan  payudaranya dari cup branya.

“Kalau kamu tak mau kerjasama, kamu bisa kehilangan benda ini !”  Monang menggerakkan ujung belatinya melingkari payudara Maya yang  lumayan besar.

“Hei… kau duluan buka baju. Ingat, kalau menolak, tetek temanmu ini  aku potong,” lanjutnya. Monang pun mulai menjilat puting Maya dan  sesekali menggigitnya agak keras.

Vina ketakutan. Ia tak ingin temannya disakiti. Ia pun mulai  melepaskan kancing atas jubahnya setelah Bonar menyampirkan jilbab  panjangnya ke pundak.

“Jangan Vinaaa… jangan turuti mereka. Aaaaakkhhhh… !!!” Maya  menjerit. Gigi Monang menggigit putingnya lumayan keras, sementara  pangkal pahanya diremas-remas.

Jubah Vina yang terbuat dari kain yang tebal melorot jatuh ke  kakinya. Tapi di baliknya masih ada busana serupa dari bahan yang  lebih tipis. Bentuk tubuhnya mulai terlihat. Bonar terus merekam  dengan handycamnya. Sesekali ia tak sabar menyentuh payudara Vina.  Isak Vina mulai terdengar saat baju yang lebih tipis itu pun jatuh ke  lantai. Tapi masih ada lagi di baliknya, rok dalam dan kaus dalam.  Lengan telanjang Vina tampak kuning langsat, kontras dengan kaus  tangan biru tuanya.

“Kalian apa tidak gerah pakai baju berlapis-lapis begitu ?” ujar  Togar yang masih memegangi Maya. Monang yang asyik menghisap puting  Maya pun menoleh.

“Kau lama sekali. Sini kubantu…” katanya sambil mendekati Vina.

Breett… brettt… brettt….  Dengan kasar direnggutnya kaus dalam dan rok dalam Vina, lalu celana  dalam dan branya. Vina menjerit-jerit, tapi ia tak kuasa melawan  lelaki kasar itu. Bonar terus merekam ketika kedua temannya tak  berkedip melihat pemandangan langka, seorang gadis muda berjilbab dan  cadar, tetapi dari dada ke bawah telanjang.

Payudaranya tak sebesar milik Maya, tapi terlihat padat dan agak  mengacung. Vaginanya tampak mulus, sepertinya bekas dicukur. Bonar  menepis tangan Vina yang berusaha menutupi payudara dan pangkal  pahanya.

Sekujur tubuh Vina merinding ketika Monang memeluknya dari belakang. Telapak tangannya langsung bermain-main di pangkal paha Vina. Jari  tengahnya bergerak naik turun menyusuri celah sempit vagina gadis itu. Vina terisak-isak. Sepasang payudaranya didorong ke atas hingga makin menjulang.

“He Togar, lepaskan cewek sok tahu itu. Kita lihat solidaritasnya dengan teman,” ujar Monang.

“He kau Maya ! Cepat kau bikin striptease buat kami. Jangan membantah kalau tak ingin teman kau ini kehilangan tetek cantik ini,” katanya. Maya masih diam mematung. Tiba-tiba terdengar jerit kesakitan Vina. Ternyata puting kanannya dijepit dan ditarik ke depan, sementara belati Monang menempel ke areolanya yang sempit. “Ayo cepat !” bentak Monang lagi.

Maya tak punya pilihan lain. Dilepaskannya busananya sampai ia telanjang bulat kecuali jilbab, cadar, kaus kaki dan kaus tangannya.

Seperti Vina, ia juga tak punya rambut kemaluan. “Kenapa sih kalian tak punya jembut?” kata Togar yang langsung mengucek-ngucek kelamin Maya.

Dua gadis itu lalu dipaksa berlutut berdampingan. Mereka ketakutan ketika Togar dan Monang berdiri di depan mereka dan mulai membuka celana. Keduanya terus menundukkan muka sampai akhirnya dagu mereka diangkat. Keduanya memiawik bersamaan melihat di depan wajah mereka penis kedua lelaki itu mengacung.

“Ayo… dikulum !” perintah Monang sambil mengangkat cadar Maya. Hal yang sama dilakukan Togar kepada Vina.

MAYA

Maya dan Vina tak kuasa melawan lagi. Mereka tak pernah membayangkan bakal melakukan perbuatan itu. Begitu kepala penisnya terjepit bibir Maya, Monang pun langsung memegang bagian belakang kepala Maya dan menariknya. Dua preman itu tak mempedulikan erangan dua gadis bercadar itu. Bonar terus merekam dengan handycamnya saat penis dua lelaki itu keluar masuk bibir Maya dan Vina di balik cadarnya. Tapi Bonar tak sabar juga. Ia berlutut di belakang kedua gadis itu, bermain-main dengan payudara dua gadis itu. Tak hanya itu, vagina telanjang kedua gadis itu pun diremas-remasnya. Vina dan Maya pun mengerang-erang kesakitan ketika puting mereka ditarik-tarik Bonar. Apalagi, jemari Bonar kemudian mempermainkan klitoris mereka sesuka hati.

Togar dan Monang seperti tengah berlomba. Keduanya mengocok penis mereka di mulut kedua gadis bercadar itu. Awalnya Togar yang berteriak keras saat mencapai puncak kenikmatan. Dibenamkannya jauh-jauh penisnya ke pangkal tenggorokan Vina. Gadis itu memelototkan matanya saat semburan sperma Togar memenuhi rongga mulutnya. Ia terpaksa menelannya, karena Togar terus memegangi kepalanya.

Tiba-tiba Togar mendorong kepala Vina hingga gadis itu jatuh terlentang. Tapi dengan cepat ia meringkuk, berusaha menutupi ketelanjangannya sebisa mungkin. Terdengar ia menangis. Kain cadar biru tua di bagian bibirnya terlihat basah oleh sebagian sperma Togar yang keluar dari mulutnya.

Tak lama kemudian, giliran Monang yang berejakulasi di mulut Maya. Seperti temannya, ia juga membiarkan beberapa lama penisnya tetap di dalam mulut gadis itu dan kemudian mendorong Maya jatuh ke sisi Vina.

Giliran Bonar mendekat. Langsung disergapnya pinggul Vina yang masih meringkuk di lantai. Mahasiswi itu menjerit-jerit dan meronta dengan sia-sia. Wajah Bonar telah melekat erat di selangkangannya. Mulut

Bonar dengan rakus melahap vagina Vina yang mulus tanpa rambut. “Aaakhhh….hentikaaaan… aarrghhh…oouhhhhh….nngghhhhh…” Vina merintih sejadi-jadinya. Lidah Bonar menyapu sekujur permukaan vaginanya.

Lalu terasa bibir kelaminnya dikuakkan dan kini lidah lelaki itu menjulur-julur ke dalam. Vina merintih panjang saat lidah Bonar menyentuh klitorisnya. Lalu, titik peka di tubuhnya itu pun dihisap kuat-kuat.

“Lepaskan….lepaskan….kalian bejat !” terdengar Maya memaki-maki. Togar dan Monang meringkusnya dan memaksanya menduduki wajah Vina. Monang menyingkapkan dulu cadar Vina sebelum akhirnya pangkal paha Maya melekat di bibirnya.

“Ayo, jilati memiaw temanmu ini !” kata Togar sambil menjepit kuat-kuat dua puting Vina.

Tak kuasa menahan sakit, Vina mulai menjilati kelamin temannya, sementara miliknya sendiri terus dijilati Bonar. Kedua gadis itu mengerang-erang. Monang dan Togar berebut menghisap puting Maya sambil tangan mereka meremas-remas payudara Vina.

“Ayo Bonar, lakukan sekarang !” ujar Monang. Bonar menyeringai dan menempatkan dirinya di antara kedua paha mulus Vina yang mengangkang lebar. Vina tak sadar apa yang akan terjadi sampai terasa sesuatu yang keras menekan liang vaginanya.

“Aaakhh…. jangaaann… mmff…” Vina menjerit. Kepala penis Bonar mulai menyelinap di antara bibir vaginanya.

Lalu, dengan kekuatan penuh, Bonar mendorong pinggangnya. “Aaaaaaaakkhhhhhh….!!!” Vina menjerit histeris, tapi jeritnya langsung terbungkam oleh vagina Maya yang ditekan ke mulutnya.

Bonar merasakan penisnya terjepit vagina Vina dengan sangat kuat. Tapi perlahan ia merasakan ada cairan yang membasahinya. Ia hapal betul, itu adalah darah dari koyaknya selaput dara. Bonar menarik mundur penisnya. Lalu seperti gila ia mendorong ke depan, menghunjam sampai terasa kepala penisnya menekan dinding belakang vagina Vina.

Bonar terus menggenjot dengan brutal. Vina menjerit-jerit kesakitan.

Sampai akhirnya…

“Ouughh…..aaargghhhhh….!!!” Bonar menggereng. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Vina. Pinggulnya sendiri didorong jauh ke depan.

Vina terisak-isak merasakan cairan hangat memenuhi rongga vaginanya

LIVA

liva, begitulah namanya, seorang mahasiswi hukum disalah satu perguruan tinggi di kota x yang ditengah gelombang derasnya mode dan fesyen, dia tetap bertahan dengan prinsipnya dalam balutan jilbab panjangnya, liva, banyak mahasiswa yang kagum dengan daya tariknya, wajahnya bagai pualam, banyak pria tergoda ingin memacarinya. tapi jilbabnya yang panjang itu mengatakan dengan tegas bahwa dia menolak jenis hubungan yang dinamakan pacaran.

suatu ketika dia mendapatkan sms dari doni, teman satu jurusannya, kebetulan dia, doni, dan desi, jadi satu kelompok dalam suatu tugas kuliah, . mendengar nama desi, maka liva tidak kahwatir, maka dia segera berangkat kerumah doni.

tidak sampai 10 menit(karena memang tidak jauh), dia telah sampai didepan rumah kontrakan doni yang disekitar rumahnya hanya berisi tanah kosong. “Assalamu’alaykum!” sahut liva.

doni lalu keluar, dengan ramah dia menyuruh liva masuk. dengan agak ragu liva masuk. “mana desi don?” tanya liva.
“oh, dia bentar lagi datang, tunggu aja di dalam” sahut doni santai.

saat masuk pintu, ternyata doni membekapnya dari belakang, dan dari kamar doni, dito teman dikampusnya juga keluar.
saat itu liva terkejut ketakutan. “umph…”. “hahaha…heh, dit, tutup pintunya cepet, takut ada orang yang lihat!”

liva meronta-ronta sambil menangis, dia lalu ditarik dito keruang tengah, tempat nonton tv, ternyata tv tersebut sedang menyala dengan adegan ranjang didalamnya.

saat itulah liva sudah tahu apa yang akan menimpanya, dia berteriak sekencangnya, tapi apalah daya tiada yang mndengarnya.

dengan penuh nafsu doni lalu merobek baju liva dengan pisau dapur, karena gerakan berontak liva proses menelanjanginya membutuhkan waktu 3 menitan..

jubah yang dikenakan sehari-hari teah lepas, sekarang yang ada di tubuh liva ialah pakaian dalam dan kaus kakinya.. melihat pemandangan itu doni dan dito langsung menahan air liurnya. melihat kemolekan tubuh liva yang mulus dan putih yang selama ini menjadi rasa penasaran dikalangan cowok-cowk dikampusnya.

giliran pertama adalah doni, tanpa basa basi dia langsung melucuti bh liva dengan kasar, lalu mencium bibir liva dengan paksa, awalnya kepala liva berontak, tapi doni dengans segala keahlian dan pengalamannya selama ini mulai meremas payudaranya dan memilin putingnya dengan lembut tapi mantap. merasakan serangan yang nikmat itu, liva tak kuasa manahan kejolak birahinya mulutnya mulai terbuka dan menerima terpaan lidah doni.

setelah puas di bibir liva lalu doni mulai menjajah selangkang liva, cdnya telah basah. doni mulai melepas cd liva sampai lututnya, saat irulah doni dan dito terpukau melihat kemaluan liva yang bersih dan terawat.

“jangan, tolong, jangan….” rintih liva. “banyak bacot! nih terima pistol gue!” kata dito yang telah membuka celananya dan alngsung memasukkan penisnya kemulut liva. “umh..” dengan perasaan jijik dia menerima penis dito.

sidoni gak mau kalah, dia menjilati vagina liva dengan gerakan vertikal yang mau gak mau liva merasa amat terangsang dengan tindakan doni itu.

“ummmmhhhhhh” terdengar dengusan liva, yang merasakan kenikmatan yabng baru kali ini dirasakannya. tak kuasa menahan terpaan kenikmatan itu, akal pikirannya telah dikalahkan oleh nafsu, diapun menikmatinya dengan menghisap penis dito. ” ahhhhh, ya gitu, betul,,, wah ternyata kamu punya bakat jadi perek liva…”

segala atribut ‘alim’ yang disandang liva telah dia lepas semuanya, dia lupakan karena kenikmatan yang ada dihadapannya saat ini telah mengalahkan akal sehatnya.

lalu doni mengubah posisi liva dengan bentuk dogi style.
tanpa membantah lagi liva menurut saja, kini badannya tidak adalagi dihalangi sehelai benangpun, berkali2 dito dan doni mengagumi lekuk tubuh liva yang selama ini disembunyikan dengan rapat dalam balutan jilbab panjangnya. ” gile, bodi lu ngalahin si miske yang tercantik dikelas kita, ternyata lu yang paling cantik….!”ujar dito penuh kagum.

tanpa lama-lama penis dito langsung diarahkan kemulut liva. liva pun menyambutnya dengan memainkan lidahnya, dan sepertinya dia mulai terbiasa dengan penis dito tersebut.

begitu pula doni, melihat pantat yang begitu indah didepan matanya membuat penisnya berteriak dengan liarnya… liva tiada malu lagi terhadap semua hinaan ini, karena pikiranya saat ini dikuasai nafsu kewanitaannya, dia telah melupakan segala ilmu agama yang dia pelajari sejak kecil..

pelan-pelan doni mulai menggesekkan penisnya dilubang kewanitaan liva, lalu bles! masuk lah seluruh penis doni di vaginanya. cairan merah keluar dari dalam lubang vaginanya, itu artinya liva memang masih gadis.

kesucian yang dia agungkan selama ini kini telah terampas, tapi dia saat ini tidak begitu sedih karena nafsu saat ini sedang menguasainya.” ahhhh… memekmu enak banget liv, masih seret, bener-bener jago kamu merawat memekmu…” ujar doni.

lalu doni pelan-pelan mulai menggerakkan pinggulnya. “umm….um…ummm…” liva yang menerima serangan dari doni sungguh tak kuat menahan rangsangannya. dito pun mulai mempercepat ayunan pinggulnya, “liv, terima spermaku yaa… telen abis!” sahut dito “crot,,” sperma dito keluar banyak dari mulut liva dan sebagian langsung ditelan liva tapi sebagian lagi lolos keluar dari mulutnya.

dito duduk dilantai sambil menaikkan lagi adiknya yang baru layu. tapi doni mulai mempercepat goyangan pinggulnya, “akh.. akh…. enak… terus don…. terus…. kenapa begini enak don… kenapa?” ceracau liva.

menjawab panggilan ‘welcome’ dari liva doni mempercepat lagi gerakannya “ah…liv… semangat!!!!”. gerakan mereka semakin buas, dito yang melihat adegan itu terbit kembali birahinya, lalu dia meremas payudara liva ukuran 34b yabng menggantung itu.

“liv, aku mau keluar nih… terima yaaaa……” teriak doni, semburan sperma doni memenuhi liang kewanitaan liva yang selama ini belum pernah kemasukan sperma lelaki manapun. setelah keluar spermanya doni segera menarik penisnya, karena dito minta giliran.

dengan tubuh lemas liva ditarik pinggulnya oleh dito dan dito mengangkangkan kaki liva, lalu tanpa lam-lama penis dito langsung masuk ke vagina liva dengan mudah karena vagina liva telah licin dan memang penis ito tidak sebesar penis doni. dito tidak berbasa-basi, dia langsung menggerakkan pinggulnya dengan kencang,”pelan-pelan dit, akh..” ceracau liva, tapi segera dibungkam dengan ciuman dari dito yang memainkan lidahnya. “ummm…ummm” rintih liva, meski penis dito kecil, tapi ciuman dito benar-benar kelas master, membuat liva merasa seperti terbang.

doni tidak tinggal diam, dia mengambil adengan yang seru tersebut dengan kameranya.

selama sepuluh menit, akhirnya dito berteriak, “liv, aku mau keluar!” lalu dito menarik penisnya dan diarahkan ke wajah liva dan “croot…” keluarlah sperma dito memenuhi wajah liva. setelah itu mereka bertiga dengan lemas terlentang di lantai dengan keadaan masih telanjang tiga-tiganya. tiba-tiba tanpa diketuk pintu dulu, irwan, ivan, sadat, beno, dan toni masuk sambil tepuk tangan.

mereka ternyata telah dihubungi doni sebelumnya untuk ikut pesta ini, melihat begitu banyaknya orang, liva ketakutan, karena membayangkan akan melayani mereka semua, itu lah takdirnya.

liva, mahasiswi berjilbab, akan melayani teman-taman sekelasnya dan akan melayani seluruh laki-laki di kelasnya…

SOFI

Perkenalkan,namaku sofi. Aku adalah seorang wanita berusia 27 tahun yang berstatus janda beranak 1. Dalam keseharianku, aku selalu mengenakan jilbab. Walaupun Jilbab yang aku kenakan bukan tergolong jilbab akhwat, akan tetapi, dalam berpakaian aku sudah cukup sopan. Jilbabku menjulur menutupi setengah dadaku. Aku selalu mengenakan baju kurung longgar dengan bawahan rok semata kaki. Kedua kakiku senantiasa terbalut oleh kaus kaki.

Aku telah menjanda sejak 3 tahun yang lalu, akibat konflik yang tidak terselesaikan dengan mantan suamiku. Setelah usia pernikahan kami menginjak 1 tahun, mantan suamiku mulai menunjukan watak aslinya. Ia mulai suka bermain tangan ketika marah. Begitu pula, ia tidak pernah memberiku nafkah, karena dia seorang pengangguran. Secara umum, ia bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Pada akhirnya, ia pun menceraikanku, setelah berselingkuh dengan wanita lain. Pada saat itu aku sedang mengandung anak hasil perkawinanku denganya. Kekalutan yang kualami akibat perceraian itu membuatku mengalami depresi selama beberapa bulan, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku harus bangkit. Perlahan-lahan akupun mulai bangkit, dan melupakan perceraian tragis yang menimpa diriku. Aku ingat, bahwa aku harus menghidupi anaku. Akupun pun bekerja pada sebuah biro konsultasi psikologi, mengingat aku adalah sarjana psikologi. Bisa dikatakan, penghasilanku hanya pas-pasan untuk menghidupi diriku dan anaku. Pada saat ini, anaku, yang berusia 4 tahun kutitipkan pada neneknya di kota Y. Sedangkan aku sendiri bekerja di kota S, sebuah kota di jawa tengah. Di kota tersebut aku tinggal di kamar kost sederhana. Setiap akhir pekan aku mengunjungi anaku di rumah neneknya.

Banyak pria yang mengatakan bahwa aku memiliki wajah yang cantik dan keibuan. Dengan balutan jilbab yang selalu ku kenakan, aku menjadi Nampak anggun di mata para pria. Di samping itu, tak ada tanda-tanda bahwa aku adalah seorang ibu beranak satu. Banyak yang mengagnggap aku masih gadis. Tinggi badanku adalah 165 cm. Ukuran payudaraku tidaklah besar, hanya 32 B, akan tetapi, pantatku bulat, padat dan membusung. Walaupun sudah beranak 1, aku memiliki perut yang datar. Hal ini tercapai karena ku memang rajin berolah raga. Tak heran, meskipun statusku janda beranak 1, masih banyak pria yang mengharap cinta dariku. Akan tetapi, pada saat itu, aku belum berfikir untuk menjalin hubungan yang serius dengan seorang priapun. Hal ini disebabkan karena masih ada sisa-sisa trauma akibat perceraian yang menyakitkan tersebut. Aku memiliki pandangan bahwa semua pria adalah pendusta. Untuk apa aku menikah lagi kalau hanya untuk bercerai lagi. Sudahlah…aku sudah merasa hidup bahagia sebagai single parent.

Tak dapat kupungkiri bahwa aku merindukan pelukan pria. Tentu saja, karena aku pernah merasakan manisnya seks, maka akupun seringkali merindukanya. Hingga saat ini, aku masih kuat untuk menahan hasrat itu, sehingga aku tidak terjerumus dalam seks bebas. Di samping dalam rangka menjaga norma dan keyakinan yang aku anut, Aku juga harus menjaga imej ku sebagai seorang wanita berjilbab yang selalu berpakaian rapih dan sopan. Sejujurnya, aku seringkali bermasturbasi untuk mengurangi hasrat seksku tersebut. Heranya, semakin sering ku bermasturbasi, keinginanku untuk disetubuhi oleh pria justru semakin menggebu-gebu. Masturbasi hanya mengurangi hasratku untuk sementara, hanya pemuasan kebutuhan biologis semata, namun kepuasan psikologis tidaklah aku dapatkan. Adapun alat yang sering ku pakai untuk bermasturbasi adalah buah mentimun. Uhhh…sungguh beruntungnya buah mentimun itu…Sementara para pria yang menghrap cinta padaku saja belum ada yang berhasil menikmati jepitan lubang di pangkal pahaku, tapi buah mentimun silih berganti telah menyodok berkali-kali. Terkadang diam-diam aku melakukan masturbasi sambil menonton film porno di kkomputerku ketika di kost sendirian.

Dengan status jandaku, tentu saja ada beberapa pria yang menganggap diriku adalah perempuan gampangan, yang butuh dibelai. Dengan demikian, ada beberapa pria yang sering melakukan perilaku yang menjurus pada pelecehan seks, dari verbal hingga pada sentuhan fisik. Salah satunya adalah bosku, seorang cina, yang sekaligus pemilik dari biro konsultasi tempatku bekerja. Dengan pura-pura tidak sengaja, ia terkadang meremas pantatku atau teteku. Aku sebenarnya risih dengan hal itu, dan tidak krasan untuk bekerja di situ. Ia seakan tidak peduli bahwa aku adalah seorang wanita berjilbab yang selalu sopan dalam berpakaian dan berperilaku. Ia bahkan pernah menempelkan penisnya di belahan pantatku ketika aku sedang membungkuk, karena membetulkan mesin printer di kantor. Aku terkejut, karena di sela-sela pantatku terasa ada batang keras yang menekan. Aku pun lalu segera menghindar. Aku tidak bias marah padanya,karena aku masih berharap untuk bias bekerja di biro miliknya tersebut. Aku hanya menampilkan ekspresi muka tidak suka, sambil pipiku memerah karena malu. Ia hanya tersenyum mesum sambil pergi berlalu. Ia Nampak paham sekali bahwa aku memang sedang butuh untuk terus bekerja di bironya. Sunguh aku sangat benci dan jijik dengan perilaku bosku tersebut. Bosku tersebut seorang pria Cina berusia 40 tahunan. Ia telah berkeluarga, dan keluarganya tinggal di luar Jawa. Namanya Pak Tan. Ia memiliki tinggi 160 cm, dengan badan yang agak gemuk perut yang buncit. Ia Nampak gempal.

Pada suatu hari, aku menerima kabar dari ibuku yang tinggal di kota Y, bahwa anaku sakit keras, hingga harus opname. Bahkan dokter menyatakan bahwa anaku harus dioperasi secapatnya, kalau tidak, bias fatal. Untuk biaya operasi tersebut butuh uang sebanyak lima juta rupah. Orang tuaku menyatakan bahwa mereka telah kehabisan dana untuk biaya pengobatan anaku. Sementara, aku sendiri sudah kehabisan uang karena kini sudah tanggal tua. Uang hanya cukup untuk menyambung hidup beberapa hari. Aku pun bingung, harus mendapatkan uang darimana lagi. Masih banyak hutangku pada kawan-kawanku, sehingga aku segan untuk berhutang lagi pada mereka. Satu-satunya yang bias aku lakukan adalah mengeluh pada Pak Tan. Tapi aku merasa ngeri, karena itu berarti memberinya kesempatan untuk melecehkanku secara seksual. Aku pun menjadi ragu. Akan tetapi, karena aku sudah sangat panic, akhirnya aku beranikan diri untuk mengungkapkan hal itu pada Pak Tan. Dengan perasaan tidak karuan, aku memberanikan diri untuk menuju ruang Pak Tan. Saat itu, aku mengenakan jilbab warna pink sepanjang lengan, dengan baju kurung yang sewarna, serta rok panjang hitam dari bahan kain yang lemas. Dengan demikian, celana dalamku agak tercetak di permukaan luar roku.

Tok…tok..tok..tok…suara ketukanku di kamar kerja Pak Tan

“Masuk”…..aku dengar suara pak tan berseru dari dalam ruangan

Aku pun membuka pintu. Pak tan yang sedang duduk di belakang meja kerjanya menatapku dengan tatapan mesumnya, yang seolah menelanjangi tubuhku.

“silahkan duduk”, katanya mempersilahkanku untuk duduk

“Ada apa cah ayu?….dia bbertanya padaku dengan nada menggoda..

Sambil menunduk, akupun pun mengatakan keperluanku pada pak tan sambil terbata-bata…

“Mmmaaaff Pak, anak saya sedang sakitt kerass…

Keringat dinginku mulai mengucur….

Terus??? Pak tan bertanya dengan nada sedikit ketus..

“Mmaksud saya, saya mau pinjam uang sama bapak??”…Unntuk pengobatan anak saya”

Saya sudah tidak ada uang…

Ketika aku berkata seperti itu, pak tan hanya mengangguk-amgguk dengan tatapan melecehkan

“Sofiii, dengan berat hati saya katakana ke kamu, kalo saya tidak ada uang yang bias saya pinjamkan ke kamu…?”

“Tolongkah saya pak, anak saya sakit.. berikan saya lima juta rupiah saja…nanti bias dipotong gaji saya”…kataku menghiba..Air mataku mulai mengalir dari sudut-sudut mataku..

“Kamu tau kan, biro ini sedang kekurangan modal”, kata pak tan dengan datar dan tenang.. “jumlah klien kita semakin sedikit”, “makanya pemasukan ke biro juga sedikit..”

“Ya sudahlah, aku bias usahakan uang itu”…kata pak tan…

Kemudian ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa gepok uang 50ribu rupiahan. Ia pun memberikanya padaku. Setelah dihitung, ia telah memberikan uang padaku sebanyak 6juta rupiah, lebih banyak dari harapanku.

Pak Tan berkata, Uang itu boleh kamu pinjam dulu..Kamu nggak usah mikirin ntar gimana ngembalikanya…Udah,cepet, kamu bawa pulang..kamu tunggu anak kamu sampe operasinya selesai…kamu boleh libur…

Dengan perasaan senang dan rasa terima kasih yang tidak terkira, aku pun berpamitan dengan pak tan dengan menyalami tanganya..

Aku pun bersyukur, operasi anaku berjalan dengan lancer. Setelah itu, aku kembali bekerja di kantor Pak Tan. Semenjak itu, Pak Tan semakin menjadi-jadi dalam melecehkanku secara seksual. Karena hutang budiku padanya,aku pun tak bias berbuat apapun selain pasrah dengan perlakuan Pak Tan. Setiap kali berpapasan denganku, ia tak akan membiarkan pantatku lolos dari jamahanya..Seringkali, ia mengejutkanu dari belakang dengan cara meremas pantatku. Aku hanya bias menjerit kecil. Semakin lama iapun semakin berani untuk menjamah tubuhku yang lain. Payudaraku dan pangkal pahaku pernah diremasnya. Yang aku heran,dia tetap paling suka meremas pantatku, walaupun ia sesungguhnya dapat dengan bebas untuk menjamahi payudara dan pangkal pahaku. Ketika aku sedang berdiri di dekatnya, ia mengakaku ngobrol sambil jarinya menelusuri belahan pantatnya.

Dengan perasaan malu aku ingin menghindari setiap perlakuanya, namun ku tak berdaya. Sungguh, aku merasa menjadi seorang perempuan murahan yang bias dinikmati oleh pria cina itu demi sejumlah uang. Sungguh kontras dengan penampilanku yang selalu berjilbab sopan ini.

Suatu ketika, seorang pesuruh kantor bernama Pak Tatang memberitahuku bahwa pak tan memanggilku untuk dating ke ruanganya.

“Mbak, Pak Tan manggil mbak ke ruangnya”

“Huh…ada apa lagi nih??”…tanyaku dalam hati…Pelecehan apa lagi yang kan aku terima???? Gumamku

“Mhhh….iya pak…Nanti saya ke sana…

“Cepet ya mbak”…Pak Tan minta mbak dating cepet….” Kata pak Tatang sambil berlalu

“Iya…iya Pak Tatang”…Kataku sambil tersenyum pada Pak Tatang..

Hari itu aku mengenakan jilbab warna krem yan menutupi dua bukit mungilku, dengan baju kurung dan rok panjang…Dengan gontai dan perasaan yang tidak tenang akupun dating ke ruang Pak Tan.

“tok…tok…tok” ku ketuk pintu ruang Pak Tan

“Masuk”…terdengar teriakan Pak Tan dari dalam ruangan

Aku pun masuk, dan Pak Tan mempersilahkanku duduk.

Dengan senyum jahat tersungging di bibrnya, ia menatapku dengan pandangan nafsu. Aku hanya menunduk dengan muka yang malu bercampur cemas.

“Mhhhhh, begini Sofi…., saya Cuma mau informasikan ke kamu,kalau hutang kamu ke kantor sudah jatuh tempo…Kantor butuh uang itu segera. Kamu bilang mw angsur hutang kamu,tapi sampai sekarang,sudah tiga bulan, kamu sama sekali belum angsur..Saya udah kasih kamu keringanan looo….” Pak tan berkata dengan nada serius.

Jantungku berdetak keras,memompa darahku cepat sekali.. Wah,cilaka…pikirku.. Aku jelas tidak mampu untuk membayar hutangku. Bahkan untuk mengangsur pun aku tidak mampu. Kini hutang itu telah ditagih.. Ohhhh…betapa malang nasibku, jeritku di hati.

“Mhhhh….mmaaf pak,saya belum mampu membayarnya…” jawabku terbata-bata…

“Kebutuhan saya banyak sekali, dan uang gaji saya saja tidak cukup”….

Tak terasa, air mataku mulai meleleh.

“Iya, saya tau…tapi masalahnya, kantor ini juga butuh biaya..Kan sudah aku bilang, kalau biro ini lagi seret…Klien kita semakin sedikit???” Suara Pak Tan mulai meninggi…

Air matakupun semakin deras mengalir.. Tak sadar aku mulai sesenggukan. Dengan ujung jilbabku aku usap air mataku. Pak Tan masih Nampak cuek, sambil sesekali meliriku. Sorot matanya menunjukan kelicikan..

“Hmmmmm….apapun kamu harus membayar hutang kamu”….”Atau kita selesaikan saja secara hokum??”..Ancam Pak Tan…

Aku semakin panic dengan ancaman itu…

“Ssaya mohon jangan pak…” “Saya pasti akan bayar…Saya masih punya anak pak….” Kataku tersedu-sedu…

“Trus, kamu mau bayar pake apa?” “Kamu bilang nggak punya uang?”

“Beri saya waktu barang satu minggu, saya bias usahakan”….jawabku putus asa… Satu minggu pun aku tidak yakin akan mendapatkan uang sejumlah itu.

“Wah…wah…Aku meragukan kamu bakalan sanggup membayar”…Paling hanya menunda waktu…Gak ada gunanya”… “Saya nggak akan kasi keringanan lagi”

“Sssayaaa mohon pakkk”….aku berusah menahan tangisku agar tak semakin keras…

“Mhhhhh…baik…baik….” “Aku bias kasi kamu solusi”….”Supaya kamu bias lunasin utang kamu”

Aku agak lega mendengar ucapan Pak Tan…Aku memandanginya dengan pandangan bertanya..

“Mhhhhh…boleh tau pa solusinya pak?” ungkapku

“Kamu bias bayar hutangmu dengan tubuh molek kamu itu”…Kata pak tan sambil melirik padaku dengan sorot mata birahi…

Bagai disambar petir…aku terkejut mendengar ucapan Pak Tan..Aku kehabisan kata kata…

“Nggak,nggak mau”….jawabku sambil menangis

“Kamu bias apa….??Kalo kamu ngga bayar sekarang, ya diselesaikan lewat hokum. Aku akan laporkan kamu ke polisi”… Ancam Pak Tan…Dia sungguh lihai mempermainkan perasaanku.. Aku merasa semakin putus asa.. Aku hanya bias menangis. Tangisku yang tertahan pun mulai keluar juga… Namun Pak Tan tetap tak peduli.. Aku hanya tertunduk sambil menangis. Air mataku telah basahi jilbabku.

“Hehehe…lagian,kamu kan sudah lama jadi janda..Masa sih,ga kangen sama kontol??? Kamu puas,hutangmu lunas…Tawaran menarik kan?? Goda pak tan… “Kamu tinggal ngangkang aja,biar memekmu disodok pke kontol-kontol lelaki birahi”…Dengan tubuh kaya kamu, gak sulit kok kamu dapet duit banyak..heheheh”…Apalagi yang jilbaban kaya kamu, pasti banyak peminatnya..

Tanpa ku sadar, pak tan telah berdiri di sampingku, dan tanpa basa-basi, iapun menarik tanganku hingga aku berdiri. Aku ingin menolak dan lari, namun aku sadar bahwa aku tidak lagi punya kuasa. Bahkan pada diriku sendiri. Kini aku telah dikuasai oleh pak tan. Aku hanya pasrah ketika ia menarik tubuhku hingga berdiri.

Dengan penuh birahi, pak tan menariku ke dalam pelukanya. Dengan rakus pak tan melumat mulutku dengan mulutnya. Tanganya menjamahi dua payudaraku yang masih tertutup jilbab itu. Kurasakan perut buncit pak tan menekan tubuhku. Mhhhh…..mphhhhhh….aku berusaha meronta,menghindari ciuman pak tan…namun mulutnya terus mengejar mulutku. Dengan kasar dibaliknya tubhku hingga aku membelakanginya. Lalu ditekanya tubuhku hngga perutku menempel di tepi mejanya. Tanganku berpegangan pada meja agar menopang badanku. Kini aku dalam posisi agak membungkuk, dengan pantat yang membusung kea rah pak tan. Kini pantatku begitu bebas untuk dijamahinya. Dengan kasar ia meremas pantatku. Aku merasakan ada sesuatu yang menganjal di pantatku.. Ohhhh,ternyata itu adalah penis pa tan yang sudah mengang dan mengeras.

Sambil menggesek-gesekan penisnya di pantatku, pak salah satu tangan pak tan juga meremasi bongkahan pantatku yang montok dan padat itu, sedang tangan yang lain kini telah mencengkram salah satu payudaraku yang masih tertutup jilbab. Jilbab itu menjadi kusut akibat remasan tangan pak tan..Aku merasakan bahwa tangan pak tan telah mulai menyusup masuk ke balik jilbabku yang menutup dadaku. Ia meremasi payudaraku dari balik baju kurungku… Mhhhh….ahhhh….ohhhhh….jeritan-jeritan kecil terlontar dari mulutku ketika pak tan menyentil ujung payudaraku dengan keras, sementara penis nya yang masih berada di dalam celana itu menekan pantatku ke depan. Tangan yang satunya kini telah meremas-remas pangkal pahaku..mulut pak tan dengan rakus menggigit leherku yang masih tertutup jilbab warna krem itu, hingga Nampak basah bekas gigitan. Kepalaku yang tertutup jilbab krem itu hanya bias menggeleng-geleng, dan terkadang mengadah ke atas, setiap kali pak tan menyodokan penisnya ke pantatku..

Kini tangan pak tan mulai menarik ritsleting baku kurungku yang ada di punggungku. Dengan termpil tanganya menurunkan baju bagian atas baju kurung itu, dan menyampirkan jilbabku ke pundak. Kini pundak dan punggung putihku pun terbuka. Tak lama kemudian, aku merasa bahwa pengait braku di bagian belakang telah terbuka. Secara umum, bagian atas tubuhku telah setengah terbuka, dan dua payudara ku yang tak seberapa besar itu menggelantung di atas meja. Dengan rakus pak tan menciumi dan menjilati punggungku, hingga basah oleh liurnya. Kedua tangan pak tan pun tak tak henti-hentinya meremas dan memilin dua putting mungilku yang berwarna coklat muda itu.

Ahhhhhhh…..udahhh…lama aku menunggu saat ini…bisik pak tan di telingaku yang tertutup jilbab itu…

Mhhhh,ohhhhh….mhhhhhh…..desahku….

Walaupun aku telah lama tidak menikmati sentuhan pria, subgguh, aku tetap tidak bias menikmati perlakuan pak tan itu. Aku justru merasa terhina, karena penis seorang pria yang bukan suamiku kini sedang menggesek-gesek pantatku yang masih tertutu rok itu. Selama ini hanyaalah mantan suamiki yang pernah menikmati bibirku, menghisap dua putingku yang sedang mengeras, dan menyodokan penisnya di lubang surgaku yang basah. Saat ini, seorang pria yang bukan suamiku dengan bebas dapat penikmati pantatku, dan tanganya dengan bebas memilin dan meremas putting payudaraku..Ohhh,betapa malang nasibku..

Aku dengar suara ritsleting clana pak tan.. Tak lama kemudian pak tan pun membalikan tubuhku hingga posisiku berhadapan denganya. Terlihatlah pemandangan yang membuatku takjub. Penis pak tan yang menjulang sepanjang 17 cm. Jauh lebih besar daripada milik mantan suamiku. Dengan rakus pak tan pun menghisap putting payudara kiriku, sementara tangan satunya memilin dan meremas payudaraku yang kanan. Terasa gigitanya pada payudaraku, yang ke,mudian disentakanya hingga aku menjerit…

“ahhhhhhhhh”. Pantatku kini bersandar pada tepi meja, dengan posisi tangan menekan meja di belakang tubuhku. Mhhh,ahhhhh,….jeritan dan rintihan yang keluar dari mulutku semakin membakar birahi pak tan. Pak tan seringkali menyampirkan kembali ujung jilbabku yang turun hingga menutupi dadaku ke pundaku. Pak tan pun kemudian mengangkat rok ku ke atas..nampaklah dua kaki dan paha mulusku telanjang, dan secarik kain celana dalam di pangkalnya. Salah satu tangan pak tan memegangi ujung rok ku agar tak turun, sementara tangan lain melebarkan dua pahaku, hingga pangkalnya yang masih terutup celana dalam itu semakin menganga. Kurasakan benda keras mulai menyusuri be;lahan kemaluanku . Salah satu tangan pak tan menuntun benda keras itu agar mengesek-gesek dengan belahan vaginaku yang tertutup clana dalam itu. Ohhhhh….walau aku berusaha mengingkarinya, tak dapat kupungkiri bahwa sensasi gatal di vaginaku mulai kurasakan. Akupun mulai merasa lemas dan birahi. Aku berada dalam dilemma. Aku dipaksa untuk menikmati perlakuan pak tan, walaupun sesungguhnya aku enggan. Tangan pak tan pun mulai mencari-cari ritsleting rok ku, dan segera melepasnya. Kini bagian bawahku telah benar-benar telanjang, hanya celana dalam putihku yang masih melindungi lubang kehormatanku. Sedangkan kepalaku dibiarkanya tetap berjilbab, dan payudaraku telah menggelantung indah dengan bekas gigitan dan bash air liur pak tan.

Dengan kasar pak tan menarik jilbabku hingga aku terjatuh dalam keadaan bersimpuh. Dihadapanku kini sebatang penis pak tan yang tegang dan mengeras itu.. Sambil mengarahkan kepalaku dengan tanganya kea arah penisnya, pak tan mengatakan “Ayo…Kulum kontol bapak…!!!”..Dengan perasaan jijik, akupun memenuhi permintaanya. Kepalaku yang tertutup jilbab itu nmpak maju mundur…Sementara payudaraku tengah bebas menggelantung, dan bagian bawahku telah telanjang, hanya celana dalam yang tersisa…mphhhhh…mhhhhh…lenguhku saat penis pak tan menerobos mulutku.. pak tan menyuruhku menjilati ujung penisnya hingga lubang kontolnya. Uhhhh….aku merasa ingin muntah…Mulutku pun penuh oleh penisnya. Tak satu jengkalpun bagian penisnya yang tidak berkesempatan menikmati pelayanan bibir dan lidahku. Bahkan testisnyapun turut aku jilati.. Dengan perasaan muak, aku terpaksa melakukn hal itu.

Setelah puas, pak tan memintaku berdiri.. Dengan kasar ia mencengkram pantatku yang masih tertutup celana dalam itu, dan menariknya hingga posisiku membelakanginya. Ia menarik turun celana dalamku, hingga kini tak ada lagi yang melindungi lubang kehormatanku. Pak tan pun berlutut di belakangku. Kini ia menguakan bongkahan pantatku lebar-lebar. Kini, lubang anus dan kemaluanku telah mengarah tepat di depan wajahnya…Tiba,tiba, aku merasakan sensasi hangat di permukaan anusku…Ternyata Pak tan telah menjilati anusku. Sensasi geli kurasakan menjalar dari anus ke seluruh badan. Tubuhku terasa lemas setiap kali lidah pak tan menyentuh permukaan anusku. Aku heran, dia tidak merasa jijik. Setelah ia puas, lidahnya pun berpindah ke belahan lubang vaginaku.. Ia menguakan bibir bagian lluar vaginaku. Tak lama kemudian, ia pun menjilati seluruh permukaanya. Klitorisku tak luput dari jilatan dan gigitan lembutnya. Aku semakin pasrah dengan perlakuan Pak Tan. Kurasakan vaginaku semakin basah, baik oleh air liur pak tan maupun cairan cinta yang kluar dari dalam vaginaku.

Ohhhhhh….mphhhhhh….ampuuunnnn….jangan diteruskannnnn….rancauku…

Slurp…slurppp…terdengar sedotan pak tan di permukaan vaginaku semakin bernafsu.

Tak lama kemudian pak tan pun berdiri. Ia menarik pinggulku ke belakang, hingga pantatku dan vaginaku semakin terkuak lebar., Tiba-tiba, aku rasakan sebatang penis yag keras telah melesak masuk ke dalam liang kenikmatanku dari bagian belakang. Aku merasakan perdih pada dinding vagnaku saat batang penis pak tan bergesekan dengan dinding liang kenikmatanku, yang selama ini terjaga dari penis pria selain suamiku. Ahhhhhhhhhhhhhhhhh…..lengkinganku saat penis pak tan disodokan dengan keras…Rasanya lubang vaginaku hamper terbelah.

“Ouhhhh….sofiiii…..memekmu enak banget…udah lama bapak ngga ngrasain memek kaya punyamu…mhhhh…ouhhhhh….akhhhhhh…..rancau pak tan sambil menggenjot lubang memeku…

Cepok,cepok,cepok..suara pinggul pak tan saat bertumbukan dengan bongkahan pantatku yang sedang membusung ke arahnya. Aku sedang dinikmati dengan posisi doggy. Aku heran, ia nampaknya memang begitu terobsesi dengan pantatku, hingga selama memakaiku pun ia lebih banyak meremas pantatku daripada dua payudaraku.

Ohhhh…mhhhh….oughhhhh….badanku bergoncang-goncang. Kepalaku yang berjilbab itu hanya mampu menggeleng dan mendongak ke atas. Payudaraku bergoyang seiring hentakan penis pak tan di dalam liang kenikmatanku.. mhhhhhh…ahhhhhh…mhhhhh….rintih dan jeritku setiap kali penis pak tan melesak dalam vaginaku.

Soffff….memekmu masih serettttt…..rancau pak tan…Kepalamu berjilbab bikin aku tambah ngaceng…ouhhhh…..Bapak ketagihan diservis sama tempikmu…..enak bangetttt…..walopun janda tapi tempikmu masih nggigit….

Mhhhh..ouhhhhh….akhhhhhhh….jawabku dengan desah dan rintih……

Masih dalam posisi dogi, pak tan tiba-tiba menarik penisnya keluar dari vaginaku. Kini tubuhku yang lemas hanya bias terbaring tengkurap dia tasa meja. Kepalaku yang masih berjilbab aku sandarkan di meja,sedang dua tanganku terentang berpgang pada tepian meja. Sementara itu, aku merasakan cairan dingin di anusku..aku hanya bias pasrah..

“mhhhh…..silitmu kayanya masih pramawan nihh…Sini, biar bapak prawanin…

Aku ketakutan, dan berusaha menolak. .

“Udahhh,jangan nolak…kok beraninya kamu nolak permntaan bapak…”

Akupun pasrah..Cairan itu adalah cairan pelumas. Aku merasakan kepala penis pak tan mulai menempel di lubang matahariku..perlahan-lahan,kepala penis itu mulai menguakan lubng matahariku.. kurasakan kepala penis itu semakin dalam masuk ke dalam anusku. Rasanya sungguh perih, walaupun telah dibantu oleh cairan pelumas itu. Pak tan pun mulai mempercepat genjotanya dalam anusku. Akhhhhh…..ouhhhhh….terasa panas di dinding anusku akibat gesekan penis pak tan itu…ouhhhhh….sakkkkiiiiittt…..ahhhh..akhhhhhh….jeritku….Sambil menggenjot anusku, kedua tangan pak tan meremasi kedua payudaraku. Bahkan satu tangan pak tan menarik ujung jilbabku ke belakang, hingga kepalaku terdongak keatas. Mhhh ohhh…akhhhhh….jeritku kesakitan…

Pak tan nampaknya telah hamper klimaks.. Iapun segera menarik penisnya dari anusku dan menarik. Seperti kesetanan ia melompat ke atas meja lalu membalikan tubuhku hingga terlentang di atas meja. Kini posisinya duduk berlutut dengan penis yang mengarah ke wajahku…Dua pahanya mengangkangi wajahku……

Akhhhhhhhhhhhhhhh………..teriakan pak tan yang telah klimak itu….Crott………crorttt….crottttt…..cairan putih kental yang berbau tak sedap itu pun menyembur ke wajah dan mulutku..aku hanya memejam, agar cairan itu tak masuk ke dalam mataku. Sebagian telah tertelan.. Jilbabku basah oleh cairan kental berbau amis itu, begitu pula baju kurungku…Kulihat pak tan terengah-engah setelah mencapi klimaks..Aku hanya terlentang lemas setelah satu jam ia menikmati semua lubang kepuasan di tubuhku…

“Tempik sama silitu memang hebat sof…Bapak ketagihan buat make kamu..Selama setahun bapak Cuma bias ngremesin pantatmu, sambil bermimpi suatu saat bias njebol lubang silitmu….” Kata pak tan

Aku sebetulnya merasa tersinggung dengan ucapanya. Harga diriku telah hilang sekarang.. Kini aku harus siap untuk dinikmatin kapan saja oleh pak tan. Aku tak bias berbuat apa-apa kini..

Setelah beristirahat selam 30 menit, sambil ku menangis sesenggukan, aku pun minta ijin kepada pak tan untuk membersihkan diri di kamar mandi yang ada di ruangnya..

“ohhhh, tidak usah…kamu kan capek” sekarang saatnya kamu yang dilayani” kata pak tan

“Maksud bapak??” jawabku

“Biar pak tatang saja yng bersihkan tubuh sofi…heheheh”

Ouhhhh….laki-laki gila…belum puas ia menghancurkan kehormatan dan harga diriku.. kni aku harus rela dijamah oleh satu pria lagi. Nampak Pak Tan menelpon dengan HPnya, menyuruh pak tatang masuk sambil membawa ember air hangat dan lap basah. Tak lama pak tatang pun masuk.. Ia sungguh terkejut melihatku dalam keadaan berjilbab, namun dengan baju kurung yang terbuka setengah, hingga payudaraku menggelantung indah, dan bagian bawah yang telah telanjang bulat…

“Lhoooo,mbak sofi?????” Tanya pak tatang keheranan…

Aku hanya tertunduk malu, sementara aku tahu bahwa mata pak tatang tidak lepas memandang tubuh telanjangku..

“Tenang pak tatang”, kata pak tan pada pak tatang… “Mbak sofi barusan kerja keras, jadi dia sekarang gerah dan capek….hehehehe….” “makanya dia kepengen bersihin badanya” “Kan kasian,daripada dia bersihin badanya sendiri, kan lebih baik diladenin sama pak tatang…hehehh”

“Maksud bapak? Tanya pak tatang masih kebingungan…

“Maksudnya ya tolong pak tatang ngelapin tubuhnya mbak sofi, terutama bagian lubang tempik sama silitnya itu” Gimana pak tatang?

“Haaaaa, bapak beneran????tanya pak tatang tidak percaya…

Beneran…sudah,ngga usah banyak omong…bapak mau ga????tanya pak tan…

“Mauuu…mau…iya pak…mau….” Sorak pak tatang

“Yaudah sana…” pak tan menyahut

“Ayoooo,sini mbak sofi…cah ayuuu….biar bapak ngelapin tempikmu” seru pak tatang kegirangan…

Aku hanya menunduk.. Tapi badanku sudah terlalu lemah, sehingga aku hanya bias pasrah saat pak tatang menggandengku menuju kamar mandi.. ia pun melucuti seluruh sisa pakaianku termasuk jilbabku, sehingga aku telanjang bulat. Dengan lap basah, ia ia mulai membasuh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Saat menggosok liang vaginaku, ia pun berkomentar..”Wahhhh,tempiknya mbak sofi ni masih sempit yah..sambil jarinya meyentil-nyentil klitorisku…beda sama tempiknya lonte lokalisasi..udah pada lower” Aku hanya terdiam dsambil menahan tangisanku. Pak tatang memeluku dari belakang. Satu tanganya meremasi payudaraku, sedang tangan lainya sibuk menggosok vaginaku.

“Mbak,yang bagian dalem tempik mbak belum dibersihkan, biar kontol bapak nanti yang nggosokin bagian dalem tempiknya mbak…hahahaha”, kata pak tatang.. Pak tan berdiri di pintu kamarr mandi senyum-senyum melihat ulah pak tatang kepadaku.

“Kontol bapak udah ngaceng niyy” Wahhh…mimpi apa bapak semalem..selama ini bapak Cuma mbayangin ngentu mbak sofi…impiaan bapak jadi kenyataan..

“Pak tatang, itu jilbabnya dipakein lagi” “lebih ngacengin kalo make jilbab”

“Siapp bosss…” kata pak tatang

Setelah selesai membersihkan diriku, aku pun disuruhnya lagi memakai jilbab, namun dengan tubuh yang telanjng bulat. Kini telah kukenakan jilbab warna kremku yang masih ada bercak-bercak sperma pak tan..

“Pak tatang, ini uang bwat pak tatang” Pak tan mengeluarkan uang seratus ribuan dan diberikan pada pak tatang

“Syaratnya, pak tatang harus tutup mulut tentang rahasia di kantor ini…na,sekarang, pak tatang boleh nikmatin mbak sofi sepuasnya…

“Siap bossss” Kata pak tatang

Pak tatang mendorongku ke sofa di ruang pak tan…Tanpa basa-basi ia pun mengeluaran penisnya yang berukuran 20 cm. Dengan kasar ia menarik jilbabku hingga kepalaku mengarah ke penisnya..

“Ayo,dimut mbak” kontolnya bapak sudah lama nggak dibasahin nih…” kata pak tatang disambut dengan tawa pak tan.. Tanpa aku sadar, pak tan telah dating dengan membawa sebuah handicam untuk merekam persetubuhanku dengan pak tatang..

“Hehehe, kamu memang cocok jadi bintang bokep” “Apalagi bokep cewek berjilbab” hehehehe

Mhhhhh…oukhhhhh……kepalaku yang berjilbab itu maju mundur mnegulum penis pak tatang yang keras.. Laki-laki duda berusia 50 tahun itu Nampak merem melek menikmati kulumanku. Ia duduk di sofa, sedangkan aku kini tersimpuh di lantai ruang itu..

Ohhh…mbak sofi…ohhhh…kuluman mbak lebih enak dari lonte pelabuhan” hhhhhh…mhhhh..

Setelah puas dengan mulutku, pak tatang menyuruhku untuk terlentang di sofa. Dengan rakus, ia pun mengulumi payudaraku, dan menggigit-ggit putingnya yang mungil kecoklatan itu…

Owhhhh…mhhhh…pak tatang….sakkkittttt….

Pak tatang semakin liar,mengulum putingku. Satu tanganya memilin-milin payudaraku yang lain, sedang tangan satunya lagi memainkan klitorisnya…kni aku merasakan kegelian…kurasakan jari-jari pak tatang menusuk-nusuk liang vaginaku…

Pak tatang kemudian melebarkan kedua pahaku dan blessssssssssssssssss….penis pak tatang pun terjepit dlam liang nikmatku…Tubuhku terguncang-guncang, sementara tangan pak tatang sibuk memilin-milin putingku…”ohhhh,mbak sofi….tempikmu enak banget…..bapak belum pernah ngrasain tempik kaya punya mbak sofi……

Tiba-tiba pak tatang menghentikan genjotanya, dan menarik penisnya..Ia membalik tubuhku hingga tengkurap, lalu menyuruhku menungging.. Aku hanya pasrah mengikuti arahan pak tatang…

Dalam posisi menungging, sekali lagi pak tatang menyodokan penisnya dalam liang nikmatku. Dengan sodokan-sodokanya yang keras, tubuhupun terguncang-guncang. Tanganya meremasi payudaraku dan sesekali menampar paha dan pantatku hingga terasa pedih.Aku diperlakukanya seperti seekor kuda tunggangan atau sebuah boneka seks…. Aku hanya bias pasrah menerima perlakuan itu..

“Mhhhh,…tempik lonte jilbaban ternyata enak…mhhhh…ouhhhh” rancau pak tatang saat penisnya terje[pit dalam liang kenikmatan. Pak tatang yang telah lama menduda, dan selama ini memuaskan hasrat seks nya dengan pelacur pelabuhan, yang tentu saja tua-tua dan tidak higienis. Kini penis pak tatang berkesempatan untuk menikmati liang vagina seorang wanita muda berjilbab, yang liang vaginanya selalu terjaga dan terawatt. Bahkan pria kaya dan tampan pun belum tentu kuijinkan untuk bias menjepitkan penisnya dalam lubang vaginaku, kecuali menikahiku, namun kini, seorang pesuruh kantor yang tua malah berkesempatan menikmati liang vagina miliku dengan gratis…ohhhhh…nasibku….

Bukan hanya liang vginaku, penis pak tatang pun kini telah merasakan pula jepitan lubang anusku…kali ini tidak terlalu sakit…justru anehnya, akupun mulai menikmati permainan pak tatang..

Pak tatang menarik penisnya, lalu menari k jilbabku hingga kepalaku mendekat kea rah penisnya. Tangan satunya sedikit mencekik leherku,shingga mulutku terbuka, dan aKHHHHHHHHHHHHHHHH….teriakan pak tatang saat orgasme…..Crotttt…croootttttt…croottttt….cairan putih hangat masuk seluruhnya ke mulutku..Bukan hanya itu, pak tatang pun menyuruhku untuk menelan semua spermanya….hueekkkkkkk….rasanya muak sekali..namun aku terpaksa…nampak sisa-sisa sperma mengalir dari sela-sela bibirku, hingga menambah noda di jilbab kremku…Sisa-sisa sperma yang ada di lantai dan sofa pun harus kujilati pula.

Semua adegan itu direkam oleh pak tan.. Pak tan mengancam,jika aku melaporkan kejadian ini pada polisi, atau tidak mau menuruti kehendaknya, maka video itu akan tersebur. .Kejadian di kantor saat itu barulah sebuah awal penderitaanku. Pak tan ternyata menjualku pada para pria hidung belang, bukan sekedar untuk membayar hutangku, namun juga untuk membiayai bironya yang hampir bangkrut itu… Dengan jilbab di kepala dan wajahku yang keibuan, banyak bos-bos yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk diberikan pada pak tan, demi memperoleh kesempatan menjepitkan penisnya ke dalam liang vagina dan anusku, dengan tetap mengenakan jilbabku…

Bahkan pak tan pernah sekedar iseng mengumpankanku pada sekelompok supir truk yang sedang mabuk, sehinga aku disetubuhi beramai-ramai di atas bak truk..Dia memasangiku kamera kecil, sehingga ia bias merekamnya dari mobinya yang parkir di suatu tempat.

RIDA, PEGAWAI BANK

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Walaupun sehari hari ia mengenakan kerudung khusus untuk pakaian muslimah, Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak jilbab ungu Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan jilbab yang berwarna ungu. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai jilbab Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan jilbab ungu itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. kerudungnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena jilbabnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

MALAPETAKA DI HUTAN

Tangan Johan memegang pinggang Hanifah dan mulai menarik maju mundur badan wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

***

Desa itu desa terpencil, yang berada di tepi sebuah hutan yang besar dan gelap. Karena keterpencilannya, maka jarang sekali ada orang yang masuk ke desa itu. Setelah lama tidak pernah ada pendatang, pada suatu hari datanglah sepasang suami istri muda. Sang suami, Farid, adalah seorang guru SD yang dengan sukarela mau mengajar di desa terpencil itu. Sementara sang istri, Hanifah, ikut sebagai pendamping, dan membantu mengajar TPA di masjid kecil di tengah desa.

Segera mereka berdua menjadi terkenal. Farid, berusia 28 tahun, yang guru dan sangat pandai dalam hal agama sering diminta menjadi pembicara pengajian sampai ke desa-desa tetangga yang lumayan jauh, selain juga menjadi guru di SD-SD tetangga yang kekurangan guru. Hanifah, seorang ibu muda cantik yang baru berusia 22 tahun, sangatlah populer di kalangan anak-anak dan ibu-ibu. Kelembutannya dalam berbicara, kepandaiannya dalam hal agama, dan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak membuatnya menjadi idola di desa itu.

Hanifah adalah seorang wanita yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luar biasa cantik sungguh mengundang birahi banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Hanifah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas membayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambil mambayangkan bersetubuh dengannya, wanita alim yang bahenol. Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar-benar menginginkannya. Mereka adalah Arman dan rekan-rekannya, para pemburu yang suka keluar masuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sungguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenol yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya di dalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid, suami Hanifah, dipanggil ke kota untuk mengikuti pembekalan guru tingkat lanjut. Tiga hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Hanifah tidak ikut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Arman dan rekan-rekannya untuk menuntaskan nafsunya pada ibu muda alim yang molek itu.

Saat malam tiba, setelah sholat Isya’, Hanifah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah Arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera Arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“Diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi ke arah Hanifah. Wanita itu kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, di bawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Hanifah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuhnya yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Hanifah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian, Hanifah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Hanifah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya di luarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya, perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah, Ibu yang cantik, sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami karena sudah membuat penunggu hutan ini resah.” ujar Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Hanifah yang tertutup jilbab yang tersingkap dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya.

Hanifah bingung. “A-apa salah saya, pak?” tanyanya.

“Diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tahu!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak Arman lagi.

Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan Arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm, hukumannya apa ya?” Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Ah iya, mbak Hanifah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami. Tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak.” lanjut laki-laki itu datar, nyaris tanpa emosi. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar-benar seret dan legit.

Hanifah yang mendengarnya tersentak kaget, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar. Dia terkesiap, tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, Hanifah hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

“Jangan!” pintanya dengan pasrah. “Kalian minta apa saja, silahkan. Tapi jangan seperti itu…”

“Hehehehe… ” Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Mbak hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”

Hanifah gemetar ketakutan, air matanya semakin deras mengaliri pipinya yang mulus. Wanita itu tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

“Bagaimana, Non?” Arman bertanya datar.

Hanifah diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga pemburu itu langsung meledak penuh kemenangan.

“Horee… Asiik.! Hari ini kita bakal dapat tontonan bagus. Jarang lho ada wanita alim, berjilbab lebar secantik Mbak mau menari bugil buat kita,” kata Pak Man yang dari tadi diam saja dengan nada dibuat-buat.

Hanifah menunduk sambil menggigit bibirnya untuk menahan malu dan takutnya yang makin memuncak. Ia merasa bersalah terhadap Farid, suaminya, yang sedang ada di kota.

“Tunggu dulu, pakai musik dong.” kata Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

“Nah, ayo dong, Non. Mulai goyangnya.” seru laki-laki itu di sela-sela suara musik yang lumayan keras.

Hanifah mencoba pasrah. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan erotis yang coba ia tiru dari joged para penyanyi dangdut di TV. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan, membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika ketiga pemburu itu bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantatnya. Apalagi saat gadis berjilbab itu mulai membuka kancing jubahnya satu per satu, mereka makin bersorak.

Saat ia merasa sangat malu dan sejenak berhenti, senjata berburu Arman langsung teracung padanya, membuatnya takut dan segera melanjutkan goyangannya. Ketiga pemburu itu terdiam saat jubah Hanifah meluncur turun ke tanah, memperlihatkan tubuh yang sangat montok, putih dan mulus tanpa cacat. Birahi mereka langsung memuncak.

“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka sambil terus memelototi tubuh Hanifah yang bergoyang erotis. Wanita alim yang bahenol itu lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutupi payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Hanifah yang masih kencang sekarang tergantung telanjang, begitu putih dan mulus. Payudara itu berguncang seirama gerakannya.

Melihat bulatan daging yang begitu mulus itu, ketiga pemburu itu makin liar berteriak, meminta Hanifah untuk membuka celana. ”Celana! Sekarang celanamu… buka! Buka!”

Hanifah dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnya dan melemparkannya ke tanah. Sekarang ibu muda berjilbab itu sudah telanjang bulat di hadapan ketiga pemburu yang memelototinya dengan penuh nafsu. Dia meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga pemburu itu tampak paling suka saat Hanifah melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah milik Anisa Bahar. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Jilbab yang tersampir dipundaknya dan kaus kaki putih yang membungkus kaki sampai betisnya membuatnya semakin cantik.

Selama hampir satu jam Hanifah menghibur ketiga pemburu itu dengan tarian bugilnya. Tubuhnya sampai basah karena keringat, membuat kulitnya yang putih mulus terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Arman menyuruhnya berhenti.

“Hehehehe… Ternyata Mbak pintar juga narinya. Kami jadi terangsang lho.” kata laki-laki itu sambil tersenyum keji.

“Sudah cukup, Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak. Sekarang lepaskan saya.” pinta wanita alim yang bahenol itu dengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan memeknya yang terbuka.

“Cukup?” Arman tertawa. “Hukumanmu belum lagi dimulai.”

Hanifah merasa mual mendengar ucapan itu. Kalau yang tadi belum apa-apa, ia ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

“Hukuman selanjutnya… sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala!” Arman memerintah dengan jelas.

Hanifah tersedu sesaat, tapi wanita alim itu mulai membuka kakinya lebar-lebar, membuat bagian selangkangannya terkuak lebar sehingga memperlihatkan memeknya dengan jelas. Benda itu terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Hanifah selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat demi menyenangkan suaminya. Selanjutnya tangannya diangkat ke atas dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya, membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat hingga terlihat makin membusung dan mencuat menggemaskan.

“Nah, sekarang… boleh nggak kami meraba tubuh Mbak?” tanya Arman.

Hanifah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu. Wanita alim itu mengangguk sambil menangis.

“Sekarang kita mulai ya,” kata Arman.

Hanifah hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan laki-laki itu mulai bergerilya di wajah putih mulusnya.

“Uhh, wajahmu mulus sekali, Non.” Arman mencium pipi Hanifah.

Antara geli dan jijik, Hanifah memejamkan mata saat Arman mulai menelusuri bibirnya yang merah dan melumatnya dengan gerakan lembut. Laki-laki itu terus berusaha mendesakkan bibirnya untuk mengulum bibir Hanifah, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut wanita cantik itu, sementara tangannya bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Hanifah yang putih mulus. Hanifah menggelinjang menerima perlakuan itu.

Sambil bibirnya terus mengulum bibir wanita alim itu, tangan Arman kini memilin-milin puting payudara Hanifah dengan gerakan kasar. Hanifah meringis kesakitan, tapi perlahan perlakuan laki-laki itu justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuhnya menegang saat sensasi itu melandanya. Tanpa sadar wanita alim itu mulai mendesah. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini.

“Ayo, kalian juga boleh ikut.” Arman memanggil kawan-kawannya.

Hanifah makin menderita mendengar ucapan itu. Tiga orang langsung mengerubutinya. Mereka meraba-raba ke sekujur tubuh montoknya. Pak Man yang berangasan meremas-remas payudara kirinya dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Hanifah yang sekal.

“Uohh, pentilnya dahsyat. Pantatnya juga nih. Kayaknya enak kalo ditidurin,” kata Pak Man.

Sementara di sebelahnya, Johan tampak asyik berkutat dengan payudara Hanifah yang sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara putih bersih wanita berjilbab itu dengan lidahnya.

“Ohh, baru tahu ya?” Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Hanifah. Wanita cantik itu hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Arman mulai menggerayangi memeknya.

“Ohh, tempiknya bagus banget nih, Pak Man.” kata laki-laki itu sambil menggesek-gesekkan jarinya di bibir memek Hanifah.

Pak Man tidak menanggapinya karena kini dia sibuk menciumi dan menjilati payudara Hanifah bersama Johan. Tangan laki-laki tua itu juga membelai-belai perut Hanifah yang licin. Wanita alim itu semakin menggelinjang dan terus mendesah tertahan.

“Ohh…” Hanifah menjerit kecil saat Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke dalam memeknya. “Jangan, Pak…” dia merintih, tapi rintihan pasrah wanita alim itu ibarat musik perangsang bagi Arman dan kawan-kawannya. Laki-laki itu makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Hanifah, bahkan dia juga meremas-remas gundukan memek ibu muda cantik itu. Hanifah makin merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

“Hei, Ar, kayaknya Mbak ini sudah mulai terangsang nih. Tuh lihat, dia mulai merintih, keenakan kali ye?” ujar Johan diiringi tawa. Hanifah makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

“Jangan! Oohh…” wanita itu mulai meracau tidak karuan saat Arman mulai menjilati memeknya. Dia menjerit saat lidah laki-laki itu bermain di klitorisnya. Lidah Arman mencoba mendesak ke bagian dalam memek wanita berjilbab itu sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok memek itu. Sungguh Hanifah tidak mau diperlakukan seperti itu, karena bahkan suaminya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ahkkhh.. Oohh.. jangan!!” rintih Hanifah sambil menggeliat. Semantara Pak Man dan Johan kali ini berdiri di belakangnya sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Hanifah dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara wanita berjilbab itu dipilin-pilin dengan ujung jari seperti orang sedang mencari gelombang radio. Hanifah mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat semakin bernafsu.

“Ayo terus, sebentar lagi dia nyampe.” Pak Man berteriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Hanifah sementara Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan wanita alim itu. Lidahnya terus menyapu bibir memek Hanifah dan sesekali menyentil klitorisnya.

Hanifah menjerit kecil setiap kali lidah Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangan laki-laki itu terus bermain meremasi pantatnya. Tubuh Hanifah sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Hanifah akhirnya menyerah, tubuh montoknya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan memeknya sendiri ke wajah Arman dan menggerakkannya maju mundur dengan liar dan menyentak-nyentak. Hanifah sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

“OOHHHKKHHHH… AGGGHHHH…” wanita berjilbab lebar itu mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Wajahnya merah padam penuh aura birahi, Dan seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan memeknya muncrat keluar. Tanpa sadar Hanifah mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Johan menahan tubuh ibu muda cantil itu supaya tidak jatuh.

Arman tertawa senang melihat bagaimana Hanifah mengalami orgasme dengan begitu dahsyat. “Hehehehe…” dia tertawa seperti orang sinting. “Enak ya, mbak? Galak juga kalau lagi orgasme. Gak ngira kalo cewek berjilbab besar kayak mbak bisa orgasme liar kayak gitu.” sindirnya.

Hanifah hanya diam saja. Tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat. Sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa, membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat hingga wanita alim itu serasa ingin dientot. Namun ia berusaha mengusir pikiran itu.

“Nah, sekarang hukuman ketiganya.” Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

“Nah, Mbak sekarang tiduran di situ ya.” Arman menunjuk ke arah kasur bau itu.

Hanifah hanya bisa mengangguk. Didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora, wanita berjilbab yang biasanya pemalu itu merebahkan dirinya terlentang di atas kasur. Jilbab lebarnya sudah basah penuh keringat. Hanifah refleks membuka kakinya lebar-lebar, sehingga posisinya sekarang telentang di atas kasur dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga pemburu itu terkagum-kagum melihat gadis alim yang sangat cantik, yang biasanya menjaga dirinya dengan jilbab dan jubah panjang, sekarang sudah terlentang pasrah, siap untuk disetubuhi.

Arman segera membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Hanifah sambil mengarahkan penisnya yang besar ke memek wanita berjilbab itu.

“Sudah siap kan, Mbak?” tanyanya lirih sambil mendorongkan penisnya ke dalam memek Hanifah.

“Aagghh…” wanita alim itu merintih keras ketika penis besar Arman mulai memasuki memeknya yang sudah basah. Arman dengan kasar mendorongnya sampai mentok. Karena besarnya diameter penis laki-laki itu, memek Hanifah sampai terlihat tertarik penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Arman. Meskipun Hanifah sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini memeknya dimasuki penis sebesar milik Arman. Wanita berjilbab itu meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk memek Hanifah. Hanifah yang belum pernah dipompa oleh penis sebesar milik Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Wajahnya memperlihatkan kesakitan sekaligus birahi. Sungguh kini ia sudah tak mampu berpikir jernih, dan terhanyut oleh perkosaan yang ia alami.

“AAAHHH… UUUUHHHH… OOOHHHH…!!” teriaknya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangannya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Arman semakin cepat memompa memek Hanifah dengan penisnya. Hanifah yang keenakan, mengangkat kakinya ke atas, memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk terus memompa memeknya dengan lebih cepat lagi dan lebih dalam lagi.

“Aaahh… enak… terus, paaakk… oohhhh… maafkan Hani, mas Fariiiidd… Oooohhh… ini enaaakkk sekaliiii… Aku tidak bisa menahannya!!!” Hanifah mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah dua puluh menit disetubuhi Arman, tiba-tiba badan montok ibu muda berjilbab yang sudah basah bersimbah peluh itu mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Arman, tangannya memeluk erat leher laki-laki itu.

“AAAARRGGHHH…” erang Hanifah saat mencapai orgasme yang kedua. Tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di memek wanita berjilbab lebar itu. Lalu diciuminya seluruh wajah Hanifah. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Hanifah yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia membiarkan bibirnya dilumat oleh Arman dengan kasar.

Setelah bergetar-getar beberapa saat, badan Hanifah kemudian melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Arman, jatuh ke kasur. Memek wanita alim itu yang tersumpal rapat oleh penis Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kasur.

Arman yang juga keenakan, menyusul tak lama kemudian. Si pemburu kasar itu menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Hanifah. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh memek ibu muda alim itu. Rembesannya juga keluar membasahi kasur.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Arman berdiri meninggalkan tubuh Hanifah yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada memeknya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

“Ohhhh…” Arman mendesah penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang wanita berjilbab yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.

Hanifah hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh pemburu ugal-ugalan, tapi dalam hatinya dia tidak memungkiri kalau sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Farid, suaminya, bahkan Hanifah merasa Farid tidak ada apa-apanya dibandingkan Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya, wanita alim itu hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

“Nah, sekarang giliranku.” kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. “Kita ganti gaya ya, mbak…” katanya kalem.

Mungkin karena saking terangsangnya, Hanifah menurut saja apa yang diminta oleh laki-laki itu. Pak Man membalikkan tubuhnya dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Hanifah bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantatnya yang mulus telanjang sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

“Busyeet… pantatnya gede banget, putih mulus lagi.” kata Pak Man kegirangan. Penisnya mulai memasuki memek Hanifah dari belakang.

“Oohh… gila!” laki-laki itu mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam memek sang ibu muda. “Tempiknya Mbak masih seret aja, nggak pernah dipake sama suaminya ya?” Pak Man berujar.

Hanifah hanya diam saja sambil memejamkan mata karena kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding memeknya sebelah dalam. Sekarang Pak Man mulai memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat wanita alim berjilbab itu. Hanifah serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu mencengkeram kepalanya yang masih terbungkus jilbab merah muda, dan ditariknya hingga wajah Hanifah terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali laki-laki itu menggenjotkan penisnya.

“Ahhh… Aahhhh… Ooohhhhh… Ooohhhh…” Hanifah mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya.

Di lain pihak, Arman dan Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok memek gadis berjilbab lebar yang sudah sangat terangsang itu. “Ayo, terus! Terus, Mbak… Yeahh… Ooohhh… Bagus!” seru keduanya bergantian.

”Aghhh.. Aahhhh… Auwhhhh…!” Hanifah yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam memeknya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot tubuh ibu muda cantik itu. Sementara Hanifah sendiri sudah mulai kehilangan kendali, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man.

Saat laki-laki itu minta untuk ganti gaya lagi, Hanifah dengan senang hati mengabulkannya. Kali ini dia telentang lagi. Pak Man mengangkat kedua paha sekal Hanifah dan disampirkan ke pundaknya, lalu kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan wanita cantik itu dan menariknya kuat-kuat. Kemudian dia kembali mendesakkan penisnya ke memek Hanifah dan menggenjotnya kuat-kuat. Wanita alim itu kembali menggeliat antara sakit bercampur nikmat.

Di ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan kembali menindih tubuhnya, Hanifah memeluk laki-laki itu dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai gadis berjilbab itu mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Cairan kentalkembali menyembur dari dalam memeknya.

Tapi Pak Man yang belum terpuaskan, setelah jeda beberapa menit, kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam memek Hanifah.

“Uugghh… Ooohh !” desah Hanifah sambil mencengkeram kasur dengan kuat saat penis Pak Man kembali melesak ke dalam memeknya, cairan yang sudah membanjir di memeknya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis laki-laki itu menghujam. Suara desahan pasrah wanita alim itu membuat Pak Man semakin bernafsu. Dia meraih payudara Hanifah dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan benda kenyal itu.

Lima belas menit lamanya Pak Man menyetubuh Hanifah sampai akhirnya laki-laki itu menggeram saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

“Crott… crot… crot…” spermanya menyembur berhamburan membasahi rahim Hanifah dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh tuanya menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Hanifah. Setelah puas, baru dia bangkit. Dibiarkannya wanita alim yang bahenol itu terkapar di ranjang, wajah Hanifah tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari memeknya yang sempit. Jilbab yang ia pakai sudah kusut dan basah kuyup oleh keringat.

Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut. Dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan wanita berjilbab yang ternyata sangat cantik dan seksi itu.

“Jangan tiduran saja di situ, Mbak cantik.” Johan menarik tangan Hanifah dengan kasar hingga membuatnya tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Hanifah yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil wanita itu dengan ganas.

Mata Hanifah membelalak menerima serangan kilat itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Johan, namun sia-sia karena Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Johan juga semakin turun ke leher jenjangnya yang tidak tertutup jilbab, laki-laki itu membungkukkan badannya agar bisa menciumi payudara Hanifah yang mulus dan sekal. Johan menjilatinya dengan liar hingga permukaan payudara Hanifah basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti puting susu wanita berjilbab itu, memberikan sensasi tersendiri bagi Hanifah. Sementara tangan satunya turun meraba-raba kemaluan Hanifah dan memainkan jarinya disitu, menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak… Pak… Ooohh… Aaaah!” desah Hanifah antara menolak dan menerima.

Johan kembali melumat bibirnya, sambil pelan-pelan merebahkan tubuh mulus Hanifah kembali ke atas kasur dan kemudian menekan penisnya dalam-dalam ke liang memek wanita cantik itu.

“Sshhh… sakit! Aawhhh…!!” rintih Hanifah ketika penis Johan yang besar menerobos memeknya. Sementara Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

“Ough… aduh! Aduduhhhh…! Pak, pelan-pelan, pak!!! Aahhh… Auggghhhh…!” jerit Hanifah sambil mendorong tubuh Johan sedikit menjauh. Namun Johan tetap tidak peduli. Ia pun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Hanifah membuat Hanifah merasakan sakit di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Johan yang terbilang agak berat itu.

Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat ibu muda alim itu tersiksa lebih lama, Johan pun mendorong penisnya dengan kekuatan penuh hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Hanifah agar batangnya tidak terlepas dari liang itu.

Johan mulai menarik penisnya yang masih tertancap di memek yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Hanifah menggigit bibir bawahnya. Rasa perihnya mulai hilang, diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin. Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu hingga sebuah erangan panjang keluar dari mulut manis Hanifah.

“Ooooughhhhhhh… Ooughhhh… Oooooohhhhhhhhh… Paaak…!!!” Tubuh montoknya mengejang, kakinya menekan pinggul Johan. Cengkeraman kukunya di lengan laki-laki itu menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya. Setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Hanifah untuk mengimbangi serangan Johan.

Melihat kejadian itu, Johan pun mempercepat gerakannya, ia meningkatkan tempo goyangannya. Penisnya yang besar dan berurat menggesek dan menekan klitoris Hanifah ke dalam setiap kali benda itu menghujam. Kedua payudara Hanifah yang membusung tegak ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya.

Johan segera meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah wanita alim berjilbab itu mulai bangkit lagi, Hanifah merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan suaminya. Tanpa disadarinya, ia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Johan. Tapi Belum lagi sempat Hanifah menarik napas, Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh sintalnya. Johan membuat Hanifah sekarang dalam posisi menungging. Pantat wanita cantik itu terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat, kembali memompa memek becek Hanifah dari belakang.

“Aaaaghh… Eegghhhh… Sakiiit…!!” teriak Hanifah menerima perlakuan kasar dari Johan.

Mendengar itu, Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar memek Hanifah dengan penisnya yang besar. Tangannya memegangi pinggang Hanifah sambil terus menarik maju mundur badan mulus wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat.

Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Hanifah bergerak maju mundur mengikuti pompaan keras penis Johan. Setiap kali laki-laki itu memasukkan penisnya sampai mentok ke memeknya, ia berteriak. “AAHGHH… AAGHHHH… AGHHH…!!” serunya berulang-ulang. Semakin cepat Johan memompa penisnya, semakin keras pula erangan Hanifah.

Kemudian Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Hanifah. Posisi itu membuat Johan dapat makin cepat lagi memompa memek sang ibu muda dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan memek Hanifah, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok. Johan makin mempercepat pompaan penisnya sambil menjambak rambut Hanifah.

“Aaaaahh… Ouuuuhh… Aaaaaahhhh… Eeeeeehhhgggh…!!” teriakan Hanifah menggema di tengah hutan itu. Penis Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk di dalam memeknya.

Hanifah dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan laki-laki itu, mengikuti apa maunya Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Hanifah yang terdongak menunjukkan betapa dia sebenarnya menikmati perlakuan kasar laki-laki itu. Matanya merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Johan dari belakang. Tangannya makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, memeknya sudah sangat basah, cairan memeknya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas. Ternyata wanita berjilbab itu sudah sangat menikmati perlakuan kasar dari para pemerkosanya, dan orgasme berkali-kali.

Setengah jam lamanya Johan menyetubuhi dirinya. Cairan kewanitaan semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kaki Hanifah sudah mulai bergetar karena terlalu letih akibat orgasme yang berulang-ulang. Sementara Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Hanifah orgasme lagi, laki-laki itu mengejang kuat-kuat sambil menyentakkan penisnya dalam-dalam ke liang memek Hanifah yang sempit.

Johan melenguh keras. “AAAAHHHHKKKHHHH…!” dia merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras ke dalam rahim Hanifah. Seketika didorongnya tubuh ibu muda itu hingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah menyetubuhi wanita berjilbab besar yang ternyata begitu cantik dan montok.

***

Dan selama sehari semalam, ketiga orang pemburu itu memperlakukan Hanifah tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Mereka tidak mengijinkan Hanifah untuk berpakaian, kecuali jilbab merah muda dan kaus kaki putihnya. Mereka juga memaksa Hanifah untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Hanifah untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan.

Pesta seksual itu baru selesai sekitar jam empat pagi setelah Hanifah benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Johan tidur sambil menggenggam payudara Hanifah, Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya.

Hanifah kembali ke rumahnya dengan tertatih, namun tidak menceritakan peristiwa itu pada siapa pun, termasuk suaminya. Ternyata ia memang diam-diam menikmati perkosaan yang menimpanya, sehingga saat suaminya keluar desa dan ia kembali diperkosa oleh ketiga orang pemburu itu dirumahnya, wanita alim itu hanya pasrah. Bahkan ia kembali orgasme berulang-ulang.

HERNY PUTRI IBU KOST

Setelah lulus dari SMA favorit di Cirebon, aku diterima UMPTN di sebuah kampus negeri di Surabaya. Segera aku berangkat ke Surabaya dan mencari Kos.Ternyata tempat-tempat kos yang kuincar sudah penuh semua. Akhirnya aku mendapat kos di daerah Ngagel. Tempat kosnya tidak terlalu bagus dan juga agak kemahalan. Tapi kupikir untuk sementara tidak apa-apa lah.

Kamar kosku berada di lantai dua, sedangkan ibu kos dan keluarganya tinggal di bawah. Ibu kos memiliki tiga orang anak. Yang pertama Andri, kuliah di Ubaya semester tiga dan yang ke dua Herny, kelas dua SMK, anaknya alim, tinggi, agak kurus, kulit putih mulus, selalu pake jilbab besar dan dadanya yang samar terlihat agak rata. Wajahnya manis, bahkan pernah masuk nominasi majalah remaja, tapi tidak menang. Dan yang ke tiga Windy kelas tiga SMP. Kecil, kurus, imut, sangat pemalu dan jarang keluar rumah. Aku pikir, kalau besar nanti, dia bakal lebih cantik dari kakaknya.

Andri tinggal di kamar atas paling depan, sedangkan Herny dan Windy tinggal di bawah bersama ibu bapaknya. Kamarku berada paling ujung dekat tangga. Memang paling tidak enak karena selalu terganggu dengan suara orang yang naik dan turun atau berjalan di lorong.

Setelah tiga minggu tinggal di kos itu, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Namun suatu malam, aku terbangun dan merasa ingin kencing. Kulihat jam menunjukkan angka hampir pukul tiga. Segera aku menuju kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, kulihat sebuah bayangan melintas. Ternyata Herny. Kuperhatikan dari belakang, ketika lampu ruang depan memperlihatkan lekuk tubuh samar yang berusaha disembunyikan dengan daster panjang. Tentu saja ia juga memakai jilbab, yang model instan dan berbahan kaus. Ternyata gadis cantik berjilbab itu masuk ke kamar Andri kakaknya. Semula aku tidak curiga apa-apa. Tetapi ketika kulihat dia clingak- clinguk sebelum masuk, membuat aku menjadi curiga.

Pelan-pelan aku mendekati kamar Andri. Namun semuanya tertutup rapat. Lubang kunci tidak bisa, jendela nako juga tertutup. Kutempelkan kupingku ke pintu untuk mendengarkan apa yang terjadi. Tapi tidak terdengar apa-apa. Yang terdengar hanya suara-suara aneh dari ranjang. Tak lama kemudian terdengar erangan panjang Herny. Cepat-cepat aku menuju kamarku sambil mengintip lewat jendela nako kamarku. Tak lama kemudian kulihat gadis berjilbab itu berjalan gontai menuju tangga. Ingin aku langsung menangkap basah dia, tetapi bisa saja gadis alim itu mengelak, kerena aku belum melihat sendiri apa yang terjadi. Jadi kubiarkan dia.

Hari-hari berikutnya, aku selalu bangun di tengah malam, sambil mengamati apakah gadis berjilbab itu lewat lagi. Ternyata betul, tiga hari kemudian, sekitar pukul tiga, Herny lewat lagi. Kuintip, ternyata masuk ke kamar kakaknya lagi. Pelan-pelan aku menuju kamar Andri. Kuambil sebatang lidi yang sudah kupersiapkan dan lewat lubang jendela nako, kusingkap sedikit kain kordennya. Wow, sungguh pemandangan yang sangat indah… Tubuh gadis berjilbab itu, yang ternyata terlihat putih mulus dan sempurna, naik turun di atas tubuh gemuk Andri. Dasternya sudah teronggok di sudut kamar kakaknya itu. Jilbabnya yang disampirkan ke pundaknya menambah sensasi erotis. Kontolku langsung berdiri sempurna, kulepas resleting celanaku dan kucocok benda itu dengan tangan kananku. sementara tangan kiriku tetap memegang lidi. Kulihat gadis berjilbab itu berganti posisi di bawah. Sementara sang kakak memasukkan kontolnya dengan mudah ke dalam lubang kenikmatan gadis berjilbab itu dan mulai menggoyang pinggulnya. Andri mengangkat kedua kaki adiknya ke atas pundaknya dan mulai mengayuh dengan semangat.

Kocokan tanganku mengikuti irama kocokan Andri ke dalam memek Herny. Tak lama kemudian terdengar suara lengkuhan gadis cantik itu sambil mengangkat kepala yang masih terbalut jilbab dan tangannya merangkul pundak Andri. Tubuh montoknya mengejang dan bergetar hebat. Melihatnya, nafsuku jadi makin memburu. Terasa lahar panasku akan segera keluar. Aku kebingungan akan menumpahkannya dimana. Kulihat sekeliling, ternyata hanya ada sebuah gelas aqua bekas. Segera kusambar dan kumuntahkan spermaku ke dalamnya. Och… Terasa nikmat sekali.


Tanpa menunggu hasil final pertandingan kakak beradik itu, segera kurapikan celanaku dan bergegas kembali menuju kamarku. Kutunggu Herny lewat dengan membiarkan pintuku sedikit terbuka. Benar saja, tidak lama kemudian gadis berjilbab itu lewat . Kupanggil dia, “Her, coba sini sebentar!” sambil kupegang tangannya dan kutuntun masuk ke kamarku.

Gadis berjilbab itu nampak sangat terkejut. ”Ada apa sich, mas? Kok pake acara narik-narik tangan segala?” tanyanya.

”Jangan pura-pura lah… Aku dah tahu kamu habis ngapain koq.” jawabku.

”Aku gak ngapa-ngapain kok. Aku cuma minta bantuan mas Andri ngerjain tugasku.” Gadis berjilbab itu mencoba berbohong. Tapi nampak betul kegelisahannya.

”Emang tugasmu ngeluarin spermanya ya? Gimana permainan masmu, enak ya? Kulihat badannya doank yang gede, kontolnya sich kecil. Hehehe… Apa aku mesti bilang sama Papi-Mamimu? Biar kamu segera dikawinkan dengan masmu sendiri ? Pasti bakalan heboh ya! Anak gadisnya yang dikira alim dan berjilbab, eee… malah nge-seks sama kakaknya sendiri.” aku nyerocos sekenanya.

Herny tampak bingung dan tertunduk. Kali ini gadis berjilbab itu tidak bisa menjawab. Wajahnya yang sangat ayu dan terlihat lugu mulai membangkitkan konakku.

”Tenang, aku gak bakal bilang siapa-siapa masalah ini koq. Asal… kamu mau perlakukan aku seperti masmu tadi.” Segera kutarik tangannya menuju ranjang dan segera kulucuti dasternya. Kusampirkan jilbabnya ke pundak, karena aku ingin kembali menikmati sensasi yang kemarin aku rasakan saat mengintip dia bersama kakak kandungnya.

Kucium bibirnya, lehernya yang tidak tertutup jilbab, dagunya, dan tengkuknya. Sambil tanganku terus menjelajah dan mencopot tali BH-nya. Terlihatlah gundukan bukit yang masih kecil dan kencang dengan putingnya yang masih sangat mungil dan kenyal berwarna coklat muda. Herny berusaha memberi perlawanan namun sangat tak berarti. Desahan kecilnya membuatku tahu bahwa gadis berjilbab itu mulai terangsang.

Kumainkan putingnya dengan lidahku sementara tangan kananku meraba susu kirinya, sedang tangan kiriku menyusup ke dalam celana dalam putih yang ia kenakan. Terasa sangat basah dan licin disana. Herny berusaha tenang dan menahan desahan napasnya yang mulai memburu. Gadis berjilbab itu mencoba menunjukkan bahwa dia tidak terangsang dengan permainanku.

Segera kulucuti pakaianku dan memintanya melakukan oral. Namun Herny tampak kikuk melayani batang kemaluanku. Mungkin ia jarang melakukan hal itu. Gadis berjilbab itu hanya menjilatinya saja. Segera kutekan kedua pipinya yang putih dengan tangan kananku sehingga rahang dan mulutnya terbuka. Sedang tangan kiriku mencengkeram jilbabnya dan menuntun mulut gadis berjilbab itu untuk menelan kamaluanku. Och… nikmat sekali ketika Herny mulai menyedot batang kemaluanku. Jilbab yang masih ia kenakan menimbulkan sensasi tersendiri.

Kupelorotkan celana dalamnya dan mulai menggosok clitorisnya dengan agak kasar. Akhirnya Herny tampak tidak mampu menahan diri lagi. Mulutnya mulai mendesah halus. Tidak sabar ingin menikmati tubuh indah gadis berjilbab itu, aku langsung mendorong tubuhnya hingga terlentang dan segera mengambil posisi diatas tubuhnya. Tanpa banyak perlawanan, kuhujamkan batang zakarku ke dalam lubang memeknya. Dalam sekejam batang kemaluanku amblas ditelan memeknya, diiringi pekikan tertahan gadis berjilbab itu. Memeknya terasa basah dan licin. Kunikmati pemandangan yang sangat indah ini sambil memompa memeknya.

Och, betapa beruntungnya aku bisa menikmati gadis berjilbab yang cantik dengan tubuh yang begitu indah ini. Tubuh Herny nyaris sempurna… tanpa cacat. Terlihat ada satu tahi lalat di dekat puting susu kanannya.

Kubalikkan tubuh gadis berjilbab itu dan mulai kutusuk dari belakang dengan gaya doggy style. Kedua tanganku memegang perutnya yang begitu langsing nyaris tanpa lemak. Sesekali aku merunduk, memeluknya dari belakang sambil memainkan susu dan klitorisnya. Herny memekik tertahan setiap kali aku terlalu keras memencet puting susunya.

”Ach… ach… ach…” gadis berjilbab itu mulai meracau ketika aku menggenjot dengan lebih cepat dan kasar. Ternyata tanpa ia sadari, ia menyukai permainanku yang kasar. Terdengar suara becek dan plak… plak… plak… suara kulit yang saling beradu. Tubuh kami berdua sudah banjir peluh. Jilbabnya pun terlihat basah oleh peluh kami. Dengan tak sabar, kubalikkan kembali tubuhnya, kuangkat kakinya dan kurapatkan kedua kakinya sehingga kontolku benar-benar terjepit. Kutekan dan kugerakkan pelan-pelan. Herny tampak melotot kenikmatan.

“Ayo terus… Koh, aduh… Enak bangeeethh…” ia meracau tanpa sadar. Birahi sudah seratus persen menguasai tubuhnya. Tak lama kemudian dia mendesis siccch… siccch… occch… Tubuh Herny mengejang dan melonjak- lonjak. Lubangnya terasa bertambah basah dan batangku terasa tersiram cairan hangat.

Herny tampak menahan kenikmatan yang amat sangat dengan menggigit bibih bawahnya. Ekspresinya jadi sangat seksi. Dia mencoba menahan gerak maju mundurku dengan memeluk erat tubuhku. Tapi aku yang semakin bernafsu melihat wajah lugunya yang tidak mampu menguasai nafsu birahi, terus memutar pinggulku. Birahi gadis berjilbab itu memuncak dan meletup- letup. Tubuhnya berguncang-guncang. Tak lama kemudian cengkramannya mulai melemas. Setelah dapat mengendalikan diri, dia mulai tenang dan kulihat dari matanya mengalir setitik air mata. Aku bukannya iba justru semakin bernafsu dan gerakanku semakin cepat.

Och… pertahananku mulai goyah dan segera kucabut batang kemaluanku dan sepersepuluh detik kemudian, cret… cret… cret… muntahlah spermaku diatas perut dan susunya. Tidak terlalu banyak karena aku sudah keluar tadi.

Sebetulnya aku sangat ingin mengeluarkan air maniku di dalam memek gadis berjilbab itu, tapi aku khawatir kalau-kalau dia hamil. Tapi, begini saja aku sudah cukup puas dan lemas. Tak kuhiraukan tangis kecil gadis berjilbab itu. Terpaksa Herny membersihkan spermaku dengan celana dalamnya sendiri. Dia lalu mulai merapikan pakaiannya dan bergegas meninggalkan kamarku.

Paginya aku bangun agak kesiangan, sekitar jam sepuluhan. Aku ambil indomie goreng dan turun ke bawah. Sesampainya di dapur, kulihat gadis berjilbab itu baru mau menuju kamar mandi.

“Loh… Her, kenapa loe koq gak berangkat sekolah?” tanyaku.

Wajahnya langsung memerah dan segera masuk kamar mandi. Tapi sebelum dia sampai, aku menarik tangannya dan membisiki telinganya yang tertutup jilbab. “Tadi malem enak khan? Nanti malem aku minta lagi ya? Kalo enggak, nanti tak laporin ke ortumu, awas!” ancamku.

Wajahnya menegang, tapi dengan terpaksa ia mengangguk dan berlalu. Aku ingin tertawa menyadari kemenanganku.

Kebetulan malam ini malam minggu. Teman kosku Arif, Bayu dan Hendro main di kamarku nonton VCD sambil ngobrol santai. Sementara jam sudah menunjukan pukul satu lebih. Tapi nich anak-anak belum juga ada rencana keluar dari kamarku dan tidur. Jam tiga Herny pasti datang. Dan ini bisa mengacaukan acaraku menikmati tubuh indahnya. Aku berpikir keras untuk mengusir mereka. Cara halus sudah kujalankan dengan mengatakan aku ngantuk, besok ada acara, gak enak badan, dsb… tapi mereka tetap saja cuek.

Akhirnya dengan sedikit nekat, aku pura-pura mendadak berlari ke kamar mandi. Kusodok mulutku dengan jari, dan beberapa detik kemudian… ”Ooak! Ooak! Ooak!” aku memuntahkan nasi bebek goreng yang tadi sore kumakan.

Mendengarnya, temen-temen segera keluar dari kamarku dan menolong mengambilkan air hangat buat berkumur. Mereka membaringkanku, menggosok tubuhku dengan balsem, menyelimutiku dan mematikan lampu. Dalam hati, aku melonjak girang. Berhasil! Kena tipu juga mereka semua, hahaha… Tapi aku juga berpikir, ternyata baik juga teman-teman kosku ini…

Tidak sabar aku menunggu jam tiga, menunggu kedatangan si sexy Herny. Kuintip suasana diluar sangat sepi. Lampu-lampu sudah dimatikan. Aku segera mencopot semua pakaian hingga telanjang bulat dan menutupnya kembali dengan selimut. Jam sudah munujukan jam tiga malam lewat sepuluh menit, tapi Herny belum juga datang. Aku mulai gelisah. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Hingga jam empat lebih sedikit Herny baru menyelinap masuk. Aku agak terkejut karena tidak mendengar langkah kakinya. Ternyata dia tidak menggunakan alas kaki.

Cepat-cepat kutubruk dia dan kugerayangi tubuhnya. Lagi-lagi dia terpekik tertahan. Ternyata… dia tidak menggunakan apa-apa dibalik dasternya. Kontolku langsung melonjak kegirangan, berdiri tegap bagaikan pasukan yang siap tempur.

Segera kulepas dasternya, kusampirkan jilbabnya dan kucumbu habis puting susunya sambil tanganku menggosok clitorisnya dengan lembut. Gadis berjilbab itu mendesis-desis bagaikan ular yang kepedasan. Perlawanannya sudah hilang sama sekali. Ia hanya terbaring pasrah sambil mendesah-desah menikmati permainan lidah dan jariku. Aku terus ke bawah dan mulai mengulum kacang kecilnya. Terasa sangat basah dan sedikit asin. Kulahap semuanya sambil jari telunjukku mulai menyodok-nyodok lubang kewanitaannya. Aku tak tahan. Segera kubalikkan tubuhku terlentang dan kutarik tubuh gadis berjilbab itu diatasku. Herny sadar dan mulai mengangkangi tubuhku, dan dalam sekali sentakan… Slep! Zakarku sudah berada dalam lubang senggamanya.

“Uachhh…” terasa sangat hangat dan licin. Herny bergerak sangat liar diatas tubuhku. Gadis berjilbab itu terlihat sangat bernafsu menyetubuhiku. Mungkin gaya ini sering ia praktekkan bersama kakaknya, sehingga ia tidak canggung lagi.

Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Bodynya yang putih mulus nyaris sempurna bergerak naik turun begitu erotis. Jilbab putihnya yang melambai-lambai makin menambah sensasi nikmat yang kurasakan. Dan memeknya yang begitu nikmat membuat nafsuku membumbung sangat tinggi. Sungguh begitu menggairahkan. Namun gerakannya yang terlampau liar membuat rasa yang terlalu luar biasa… hingga pertahananku mulai goyah. Aku mencoba menahan gerakannya dengan memegang pinggulnya.

Namun tiba-tiba… Kreeeekek! Pintu kamarku terbuka lebar, dan lampu kamarku dinyalakan. Aku sangat kaget, jantungku terasa berhenti berdetak. Aku tidak sempat menutupi tubuhku, gerakanku pun terhalang oleh Herny yang berada diatas tubuhku. Herny hanya memelukku untuk menutupi tubuhnya, sementara batang kemaluanku masih menancap kokoh di memek gadis berjilbab itu.

Terlihat Arif, Bayu dan Hendro masuk ke dalam kamarku. Mukaku langsung pucat pasi.

”Hei, lagi ngapain loe?! Enak aja, ngentot anak orang!” bentak Hendro.

”Kok berhenti? Ayo terusin! Kita mau nonton live show nich.” ujar Arif sambil mengunci pintu.

”Apa mau kita teriakin biar semua bangun? Ayo cepet genjot lagi. Masa cewek secantik gitu gak suka? Pakek jilbab lagi! Tambah seksi khan?!” ujar Bayu.

Herny tampak agak ketakutan, dan mulai bergoyang pelan. Kontolku pun mulai kencang kembali.

”Ayo, yang seru donk. Masa gerakannya kayak gitu doank? Yang erotis donk!” bentak Arif.

Gadis berjilbab itu pun mulai bertambah liar menaik turunkan pantatnya sambil meliuk-liukan tubuhnya yang sexy. Tapi konsentrasiku agak buyar, terganggu oleh tiga makhluk ini.

Herny mulai kecapekan dan memintaku ganti posisi. Aku segera ambil posisi di atas dan mulai memasukkan kemaluanku ke lubang kenikmatan gadis berjilbab itu. Kukocok dengan lembut sambil mengulum puting susunya. Beberapa menit kemudian, Herny mulai mendesah lembut tanda gelombang kenikmatannya akan segera tiba. Aku pun mulai dapat menikmati kembali lubang kenikmatan Herny. Ingin rasanya segera kutuntaskan persetubuhan ini.

Saat itulah, tiba-tiba lubang kewanitaan Herny terasa berdenyut-denyut. Batang zakarku terasa diremas-remas lembut.

”A-aku keluuuaaar nich…” Tubuh gadis berjilbab itu mulai berguncang- guncang. Cairan hangat pun mengalir membasahi kontolku yang terasa semakin keras.

Kenikmatan tiada tara pun mulai menjalar di seluruh tubuhku. ”Her, aku juga mau keluar nich…”

Herny hanya menjawab, “He-eh…” Tapi dia yang sedang diterjang kenikmatan, tetap mencengkram tubuhku.

”Keluarin di dalam ya, Her?” tanyaku sambil meremas payudaranya.

Herny hanya diam, hingga akhirnya… Crot! Crot! Crot! Aku tidak dapat menahan lagi puncak kenikmatan itu. Kumuntahkan spermaku di dalam lubang memeknya tanpa sempat kucabut karena Herny masih terus mencengkram erat tubuhku. Sungguh nikmat luar biasa. Tubuhku terasa melambung tinggi ke langit ke tujuh.

Tiba-tiba Bayu membentakku, ”Hei, cepet jilatin sperma loe di memek si Herny, sampe bersih.”

Dengan perasaan jijik, terpaksa kujilati spermaku sendiri yang mulai meleleh keluar dari memek Herny. Tubuhku terasa terhempaskan ke dalam neraka yang paling nista.

Mereka tertawa melihatku. ”Selamat! Kamu baru saja menjadi anggota kost kita yang baru.” Mereka bertiga menyalami aku.

”Herny adalah maskot kita. Dia milik bersama. Siapa saja boleh menikmatinya. Tadi dia telat ke kamarmu karena kami menidurinya bersama-sama dulu. Makanya tadi lobangnya agak banjir ya, hehehe…” kata Hendro.

Herny pun hanya tertunduk malu sambil menutupi tubuh sintalnya yang telanjang dengan seprei.

”Banyak yang bilang kost di sini mahal, tapi sebetulnya sangat murah sekali, kalo lihat bonusnya secantik dan sesexy ini, hehehe… Makanya aku betah kost di sini. Aku sudah menikmati tubuh indah Herny dari sejak dia baru masuk SMA. Ya kan, Her?” ujar Hendro.

”Ingat, hanya kita yang tahu. Jangan sampai kita tambah anggota lagi, kecuali dia tahu sendiri. Ok?!” Arif mengingatkan.

Aku sungguh tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku baru tahu keesokan harinya ketika aku datang ke kamar Hendro. Hendro bercerita bahwa dulu pacar Herny ngekost disini juga. Andri menangkap basah gadis berjilbab itu ketika lagi ngentot. Andri segera mengusir pacarnya. Andri lalu meminta Herny untuk memuaskan nafsunya dan mengancam akan memberi tahu papa mamanya kalau tidak mau. Terpaksa gadis berjilbab itu melayani nya.

Hendro yang mengetahui betul kejadian itu semua, mengambil kesempatan dengan ikut mengancam Herny. Tanpa diduga, ternyata Herny anak yang baik. Gadis berjilbab itu mau melayaninya demi sekolah dan masa depannya. Sejak itu Herny menjadi budak nafsu mereka.

***

Tidak lama kemudian, Hendro lulus kuliah dan terpaksa pulang ke Kediri. Herny masih menjadi budak nafsuku, Arif dan Bayu. Setelah hampir setahun, akhirnya aku pindah kos karena aku punya pacar. Aku takut Herny bertindak macam-macam atau temen-temen kosku berbuat usil sama pacarku.

ASNAH

Perkenalkan aku Ruden (Nama Samaran) Sebut saja begitu. Aku saat ini berumur 19 tahun. Kejadian ini terjadi sekitar aku berumur 17 tahun. Asnah saat itu baru berumur 16 tahun. Asnah sekolah di salah satu sekolah Muhammadiyah di Jogja dan dia adalah salah satu bintang kelas. Meski menggunakan jilbab yang panjang, kecantikannya menggoda sekali sehingga banyak laki-laki yang tertarik. Bisa dibilang Asnah adalah PRIMADONA-nya sekolah itu.

Meski dia aktif di ROHIS, Asnah tergolong ramah, walaupun kepada laki-laki sekalipun.
Aku akhirnya berkenalan dengan Asnah walau aku malu-malu setengah mati, takut ditolak eh gak tahunya aku berhasil berkenalan dengannya!
“Hai… boleh kenalan ga Asnah?”, sapaku dengan sedikit percaya diri.
“Siapa yahhh?”, jawab Asnah.
“Saya Ruden? Boleh kenalan ga, kamu siapa?”
“Boleh kok emank siapa yang ngelarang… Aku Asnah.”
Akhirnya kami ngobrol panjang dan aku sedikit berani menanyakan nomor teleponnya.

Malamnya aku mencoba menelepon Asnah dan pada saat itu Asnah mengangkat teleponku.
“Halo ini Asnah ya”, sapaku.
“Iya..ni sapa ya”, Asnah menjawab.
“Ini aku Ruden yang tadi siang berkenalan dengan kamu Asnah”, kataku.
“Oh… iya?? ada apa den?”
“Engga aku cuma pingin ngobrol aja Asnah… Ganggu ga?”
“Engga ganggu kok den… biasa aja sama Asnah yah.”
Aku mulai membuka topik pembicaraan meskipun sedikit canggung dan tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan. Lalu aku mulai memberanikan diri dengan menanyakan tentang kehidupan dia.Sampai pembicaraan kami…

“Asnah besok aku pingin ketemuan sama kamu bisa ga?”, pintaku.
“Boleh kok Den… mau ketemuan dimana?”
“Di Taman Masjid UGM aja, Asnah mau??”, tanyaku.
“Boleh jam 3 sore yah pas Asnah pulang sekolah”, jawabnya.
“Ok… selamat malam Asnah, assalamu’alaikum”, jawabku sebelum menutup pembicaraan.

Besoknya jam 3 sesuai kesepakatan kami bertemu di Taman Masjid UGM… Kami lantas ngobrol panjang lebar sampai jam 5 sore sambil makan-makan di sebuah Kafe di Tamansiswa.
Sungguh beruntung aku, Asnah ternyata menyukaiku.
Hal itu kelihatan sekali dari responnya terhadap percakapan yang kami buat.
Tak terasa pada saat mau mengantarkan Asnah pulang hujan turun deras sehingga aku menetap di mobilku.
Aku bertanya pada Asnah, “Mau es krim ga say?”, aku memanggil dia dengan sapaan “say”, eh ternyata dia juga balik meresponseku dengan perkataan “mau donk say”. Cuaca saat itu mendukung sekali… cuaca hujan gerimis dan pada saat itu kami berdua di mobil. Aku membelokkan mobilku ke parkiran mobil. Asnah bertanya,
“Ngapain kita ke parkiran say?”
“Gak apa-apa kok say… aku cape aja”, aku mulai memandangi buah dada Asnah yang tertutup jilbab. Ingin sekali aku menjilati puting susunya itu…

Asnah melihatku dan ia berkata “Ikhhh.. Ruden nakal liat-lihat perabotan Asnah… bayar tauuuu!? Masa liat gratis, ga bayar”, ucapnya manja.
Aku hanya bisa tertawa dalam hati, akhwat ini ternyata nakal juga.
Aku mulai memberanikan diri untuk mencium mulutnya walaupun Asnah menolak tapi aku terus memaksa dan pada akhirnya dia tidak bisa mencegah aku untuk menciumnya. Aku melumat bibirnya dengan sangat lembut dan tak disangka Asnah membalas ciumanku dengan ganasnya.

Asnah bertanya kepadaku, “Ruden udah pernah ML belum?”
“Belum”, jawabku.
“Asnah juga masih perawan Den… Asnah ga tau bagaimana caranya ML.”
Serasa sudah mendapatkan lampu hijau dari Asnah, aku mulai memberanikan diri tuk membuka pakaiannya. Asnah malah memberikan posisi tuk memudahkan aku membuka pakaiannya. Aku membuka kancing kemeja Asnah, branya yang warna hitam itu menonjol lantas kusingkap… WOW dada Asnah yang berukuran 34A langsung aku kulum dan Asnah berteriak kecil,
“Aaachh… geli Den! Jangan cuma satu doank donk say… sebelahnya juga donk say”, aku mulai menjilati puting susu bagian sebelahnya. Asnah yang merasa bergairah mulai membuka pakaian dan celanaku. Aku pun juga membuka celananya dan telanjang bulat di dalam mobil, adapun Asnah tetap menggunakan jilbab. Pada saat itu tempt parkir sedang mendukung: tidak ada satu orang pun yang melihat kami.

“Kulum kontolku donk say”, pintaku.
“Asnah ga pernah ngelakuin ini satu kali pun Den”, jawabnya.
“Aku juga blm pernah melakukannya Say… jadi kita sama kan”, kataku.
“Iya saya coba deh”, jawabnya.
Asnah mulai mengemut kontolku dan dia merasa enjoy mengemut kontolku yang berukuran 15cm. Aku juga mengelus bibir vaginanya dengan tanganku. Dia mengerang, “emh..ehm..ehm..”, tanda dia mulai bereaksi pada sentuhan tanganku…
Aku yang tidak tahan dengan vaginanya. Aku mulai membaringkannya dan langsung menjilati vaginanya.
“Ouchh… nikmat bangat say,terusssss….achh..achh “, Asnah mendesah dan aku terus menjilati klitorisnya dan pada akhirnya dia mendesah tidak karuan.
“Aahhhh… achhhhhh Den akuuu keluarrrr…achhh?!”, keluarlah cairan putih dengan baunya yang khas.
Asnah tak mau kalah. Dia ingin mengulum kontolku. Kami melakukan gaya 69 di jok mobil belakang. Asnah mengemut kontolku dengan ganasnya. Dikocok-kocok dan diemut dengan ganas. Maklum baru pertama kali kami melakukannya. Lalu aku yang sudah tidak tahan… aku mulai menyuruhnya merebahkan diri dan mengangkat pahanya sehingga tampaklah memeknya yang merah dan menggoda itu.
“Aku masukin ya say?”, tanyaku.
“Iya say tapi pelan-pelan yah… Asnah masih perawan.”

Aku mulai memasukan kontolku ke liang vaginanya pelan-pelan. Sulit sekali memasukan kontolku ke liang vaginanya saking rapatnya. Asnah berteriak, “Ahhh… sakiiittt Den!”.
Aku yang tidak peduli karena sudah terlanjur nafsu memulai melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan-pelan. Asnah yang membalasnya dengan menjambak rambutku. Aku terus melakukan genjotan terhadap memeknya yang sangat nikmat itu…
“Ahhhh… sakittt Den”, aku mulai mempercepatkan gerakan maju-mundur.
Asnah berteriak, “Ahhhhhhhh”, aku mengeluarkan kontolku dari memeknya dan langsung keluarlah darah segar membanjiri jok mobil belakangku.
“Saay lanjut ga? Nih… aku belum apa-apa tau”, tanyaku…
“Iya say lanjut aja… Asnah siap kok”, jawab Asnah.
Lampu hijau nih… aku mulai memasukan kontolku ke memek Asnah lagi… Asnah sangat menikmati tusukan kontolku ke liang vaginannya.
“Say…liss..ya kee…luarrr”, dan pada saat itu cairan putih itu keluar. Ternyata dia orgasme. Cairan putih itu membanjiri kontolku yang nikmat dijepit oleh dinding dinding memek Asnah. Kontolku masih berada di dalam memek Asnah.
“Kamu belum keluar Say?”, tanya Asnah.
“Belum Say”, jawabku.

Aku meneruskan tusukan ke memek Asnah dan Asnah terus mengerang… suara teriakannya membuat aku tambah bernafsu. “Aachh… achhh….achhhhh.achhhhhh..de…niiii km heee..batt sayyy…”, dan tiba2 Asnah mengeluarkan lagi cairan putih. Dia orgasme untuk yang kedua kalinya.
“Kamu belum keluar-keluar juga Say. Cepat keluarin donk Say, udah malam”, pintanya.
“Ok say”, jawabku.
Aku mulai mempercepat gerakanku. Menggenjot memek Asnah dengan sangat cepat.
“Acchh… achhh… achhhh… achhh”, Asnah mendesah menikmati setiap tusukan kontolku yang belaum pernah dia rasakan sebelumnya. Aku yang hampir orgasme semakin mempercepat gerakan kontolku keluar masuk memek Asnah.
“Sayyy… aku mau keluar nihhhhh”, ucapku.
“Keluarin di luar ya say jangan didalem”, pinta Asnah.
Aku akhirnya orgasme dan mengeluarkan spermaku ke dada Asnah yang lumayan besar itu.
“Ccroott… crootttt…”, aku menumpahkan ke dadanya dan sebagian ke mukanya.
“Thanks ya Say… kejadian ini ga bakalan aku lupain”, kata Asnah.
“Sama-sama say… aku juga ga akan melupakan kejadian ini.”

Akhirnya kami selesai ML dan kami memakai pakaian kami kembali. Dan saatnya mengantarkan Asnah pulang kami sempat berciuman pada saat aku mengantar dia sampai depan rumahnya.
Aku dan Asnah tidak akan melupakan kejadian dimana aku melepas keperjakaanku dan dia memberikan keperawanannya. Kami tidak berhenti sampai disitu saja. Kami melakukannya lagi di rumahnya pada saat rumahnya sepi. Setidaknya aku dan Asnah setiap akhir weekend diisi dengan ML. Meskipun aku tidak ada hubungan apapun dengan Asnah… meskipun aku sekarang sudah menetap di Malang dan aku sudah mendapatkan beberapa pelajaran dari cewek cewek yang ada disini tapi Asnah telah memberikan pelajaran yang sgt berarti kepadaku.
Good-bye Jogja… I’m coming MALANG! Thank you Asnah.

ISTRI USTADZ

Kehidupan Ustad Joni boleh dibilang sangat bahagia. Semua keperluan yang ia butuhkan untuk hidupnya di dunia ini bisa ia penuhi dengan gampang. Kebahagiaannya lengkap dengan adanya istri cantik yang senantiasa siap melayaninya di rumah. Tentu akan ada sebuah rasa rindu antara keduanya apabila mereka lama tidak ketemu. Ini disebabkan Ustad Joni sering berdakwah ke luar kota.

Seperti pada saat itu, Ustad Joni harus memenuhi undangan untuk menjadi pembicara di kota Yogyakarta. Ia harus meninggalkan rumahnya selama tiga hari. Sehingga tinggalah kini istrinya di rumah bersama 2 orang anaknya, seorang pembantu dan seorang tukang kebun yang bernama pak Ujang yang sudah berusia 50 tahun. Hari ¨C hari dimana ia ditinggal oleh suaminya dapat dilaluinya dengan normal, karena memang Ustad Joni sudah biasa meninggalkannya untuk keperluan mencari nafkah.

Akan tetapi, siapa yang tahu ternyata musibah telah mengintai Ummi Kuntum, istri Ustad Joni. Pada hari kedua ketika Ustad Joni berada di Yogyakarta ternyata musibah menimpa istrinya. Malam itu rumahnya telah diincar oleh rampok yang jumlahnya ada 3 orang.

Kelompok perampok ini termasuk kelompok perampok yang terkenal cukup sadis. Mereka tak segan ¨C segan menggunakan kekerasan apabila korbannya melawan. Komplotan perampok ini terdiri dari Joni, Brewok, dan Kumis. Pemimpin perampok ini adalah si Brewok yang berbadan agak besar dan bertubuh gempal. Si Kumis berbadan biasa dan punya kumis yang khas. Sedangkan Joni berbadan agak gelap tapi gempal. Wajah mereka cukup terlihat sangar apalagi tubuh mereka dipenuhi dengan tato .

Malam itu sekitar jam 23.00 mereka mulai beraksi. Dengan menggunakan pakaian serba hitam dan tutup muka yang serba hitam mereka mulai beraksi. Saat iu rumah Ustad Joni sudah sepi dan terlihat tenang, karena memang seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam tidur mereka. Komplotan perampok ini berhasil memasuki halaman rumah Ustad Joni setelah memanjat tembok pagarnya. Lalu mereka mencongkel jendela samping rumah. Dengan keahlian yang telah mereka miliki hal ini bukanlah suatu hal yuang menyulitkan mereka. Akan tetapi, ternyata aksi mereka diketahui oleh pak Ujang yang mendengar suara mencurigakan mereka. Pak Ujang segera menuju ke arah suara. “Bruuukkk” malang nasib pak Ujang. Pukulan si Joni di bagian tengkuknya membuat orang tua ini roboh tak sadarkan diri. Komplotan perampok ini pun segera mengikatnya .

Mendengar suara yang mencurigakan tersebut, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni langsung terbangun dari tidurnya. Segera ia mengenakan jilbab besarnya yang berwarna krem. Malam itu Ummi Kuntum, istri Ustad Joni tidur dengan menggunakan jubah warna putih yang agak tipis, sehingga BH dan celana dalamnya agak terlihat transparan dari luar. Ummi Kuntum, istri Ustad Joni segera menuju ke tempat suara gaduh. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tukang kebunnya terikat tak sadarkan diri. Belum sempat ia bertindak, mulutnya sudah dibekap oleh si Brewok dari belakang. Lalu si Brewok berkata

“Kalau kamu mau seisi rumah ini selamat, jangan berteriak dan jangan melawan, mengerti???” Ummi Kuntum, istri Ustad Joni pun mengangguk tanda setuju. Lalu si Brewok pun melepaskan tangannya dari mulut Ummi Kuntum, istri Ustad Joni.

Dengan ketakutan, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni berkata

“Mmmaau apa kalian???” Lalu si Brewok menjawab

“Kami mau merampok rumah ini, ya hitung- hitung sebagai amal lah, ha..ha..ha..”

“Kalian boleh ambil semau kalian tapi jangan ganggu keluarga dan penghuni rumah ini”, kata Ummi Kuntum, istri Ustad Joni.

“OK..” jawab si Brewok.

“Tapi supaya lebih aman kamu kuikat dulu supaya aksiku aman. Joni ikat wanita ini”perintah si Brewok.

“Baik Bos” jawab si Joni.

“Jangan..jangan..ahh..jangan” Ummi Kuntum, istri Ustad Joni melawan. Tapi apalah daya tenaga pria itu lebih besar darinya. Ia pun berhasil diikat tanganya di belakang cagak rumah sambil.mulutnya ditutup pakai kain.

Sekitar setengah jam kawanan perampok ini berhasi mengambil barang – barang yang mereka inginkan. Lalu merekapun bergegas ingin meninggalkan rumah itu. Lalu merekapun kembali ke tempat Ummi Kuntum, istri Ustad Joni diikat.

“Oke terima kasih atas barang – barang yang berhasil kami dapatkan. ha…ha…ha…” kata si Brewok. Ketika mereka mau mennggalkan rumah itu tiba – tiba si Kumis berbisik pada si Brewok

“Gimana Bos kalau kita nikmati dulu wanita ini, lumayan dia kan cantik, putih dan seksi meskipun tubuhnya ditutupi jubah”. Lalu si Brewok pun melirik Ummi Kuntum, istri Ustad Joni sambil berkata lirih”Boleh juga ide mu, ayo kita sikat rame – rame wanita itu” . Lalu mereka berempat pun berbalik kembali ke wanita itu. Merasa ada sesuatu yang mengancamnya Ummi Kuntum, istri Ustad Joni hanya bisa menggeleng ¨C gelengkan kepalanya.

Si Brewok pun lalu memegang dagu Ummi Kuntum, istri Ustad Joni sambil berbisik ke telinganya”Kamu layani dulu kami atau akan terjadi sesuatu pada keluargamu”, lalu tangan si Brewok menarik penutup mulut Ummi Kuntum, istri Ustad Joni untuk membiarkannya berkata

“Jangan pak.. jangan, kamu kan sudah mengambil semua yang kamu inginkan, sekarang pergilah, jangan ganggu keluarga kami”, kata Ummi Kuntum, istri Ustad Joni sambil ketakutan.

“Ok kita lihat nanti siapa yang akan menikmati”, kata si Brewok sambil tangan kanannya meremas payudara Ummi Kuntum, istri Ustad Joni dari balik jubahnya.”Jangan pak jangan, kumohon jangan”,iba Ummi Kuntum, istri Ustad Joni.

“Wah besar dan kenyal juga penthil nih wanita”, kata si Brewok sambil terus meremasi buah dada isri Ustad Joni yang masih terbungkus jubahnya. Ketika si Brewok sedang mengerjai Ummi Kuntum, istri Ustad Joni, teman – temannya untuk sementara hanya menunggu.

“Ayo sayang nikmatilah jangan kau bohongi dirimu, nikmati saja”, kata si Brewok.

“Jangan pak jangan, biarkan saya disini jangan diganggu, jangan pak hentikan”pinta Ummi Kuntum, istri Ustad Joni sambil terus berontak. Puas Meremasi bukit kembar Ummi Kuntum, istri Ustad Joni , tangan si Brewok beralih ke selangkangan Ummi Kuntum, istri Ustad Joni. Dibelai – belainya selangkangan Ummi Kuntum, istri Ustad Joni dari luar. Ummi Kuntum, istri Ustad Joni hanya bisa merengek untuk tidak diganggu sambil menggelinjang ke kiri dan ke kanan.

Setelah itu si Brewok pun menyingkap jubah Ummi Kuntum, istri Ustad Jonii ke atas. Terlihat kaki, betis dan paha Ummi Kuntum, istri Ustad Joni yang putih mulus. Di elusnya paha Ummi Kuntum, istri Ustad Joni. Dan sampailah tangannya di atas gundukan pada bagian selangkangan Ummi Kuntum, istri Ustad Joni. Berdesir hati Ummi Kuntum, istri Ustad Joni ketika tangan si Brewok menyentuh memeknya dari luar celana dalam putihnya. Di elus elusnya memek wanita berjilbab itu oleh si Brewok. Lama kelamaan kenyataan yang sesungguhnya tidak bisa ditolak wanita berjilbab itu. Ternyata dia sekarang tidak bisa menolak nafsunya. Perlawanannya sudah sangat lemah. Diam – diam ia menikmati elusan – elusan si Brewok pada memeknya yang masih terbungkus celana dalamnya.

“OOouuuugghhhh……” Ummi Kuntum, istri Ustad Joni keceplosan mengeluarkan erangan kenikmatan.

“Wah ternyata kau sekarang sudah bisa menikmatinya, ayo sayang keluarkan suara – suara rintihanmu.” kata si Brewok sambil terus mengusap – usap memek wanita berjilbab itu. Tak berapa lama kemudian ia bermaksud melepaskan celana dalam wanita berjilbab itu, dengan pelan ia pelorotkan celana dalam wanita berjilbab itu. Ketika sampai mata kaki, ia berkata

“Angkat kakimu sayang??”, dengan menahan malu tapi lebih mengutamakan nafsu, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni ini pun mengangkat kakinya.

“Eh lupa jubah bawahnya belum dilepas sayang”, segera si Brewok melepas jubah bawah wanita berjilbab itu.

“Woooo indah sekali kaki dan memekmu, mantap!!!” kata si Brewok. Kini di depan mereka terpampang kaki putih yang dihiasi gundukan memek dengan jembut tipis yang tercukur rapi.

Segera si Brewok berlutut di depan wanita berjilbab itu.

“Agak renggangkan sedikit kakimu sayang”,pinta si Brewok. Dengan reflek wanita berjilbab itupun segera membuka kakinya. Lalu mulailah lidah si Brewok menjilati memek Ummi Kuntum, istri Ustad Joni

“Aaaahhhhh…”, rintih wanita berjilbab itu ketika memeknya untuk pertama kali disapu oleh lidah laki – laki. Kenikmatan menjulur ke seluruh tubunya. Lama kelamaan wanita berjilbab ini menggelinjang tak karu-karuan sambil terus merintih”aaaahhhh……aaaahhhhh….aaaahhhhh”.

Ketika wanita berjilbab ini akan mencapai orgasme, si Brewok pun melepaskan lidahnya dari memek wanita berjilbab ini. Dengan refleknya, pinggul wanita berjilbab ini maju ke depan untuk memburu lidah si Brewok. Tapi malang sebelum dia mencapai orgasme, si Brewok sudah berdiri sambil menciumi bibir wanita ini sambil berkata.”Apakah kamu merasa enak???Kamu mau kenikmatan ini kusempurnakan”

Dengan nafas memburu, wanita berjilbab ini berkata”Iya enak sekali aaaahhhhhh, cepat masukkan kontholmu ke memekku, nanti kalian akan kulayani sepuasnya, cepat, aku sudah tak tahan lagi..”, kata wanita berjilbab itu.

“Apa katakan dengan keras, kami belum mendengar”, kata si Brewok.

“Cepat masukkan kontholmu ke memekku, aku sudah tidak tahan, sekarang aku adalah pelacurmu”.

Lalu si Brewok memotong ikatan tali di tangan wanita berjilbab itu dengan belatinya.

“Sekarang keluarkan kontholku dan nikmati sesukamu”, kata si Brewok. Dengan tergesa – gesa, wanita berjilbab itu memelorotkan celana si Brewok dan kini terpampang penis hitam yang sudah tegang yang kira – kira berukuran 20 cm. Digenggamnya konthol si Brewok dan diarahkannya ke memeknya.

“Bleeesss…” Konthol si Brewok pun menghujam ke memeknya diiringi suara rintihan dari Ummi Kuntum, istri Ustad Joni”Aaaauuuuggghhhhhh… Enak sekali, ayo sayang genjot aku, puaskan aku..” kata Ummi Kuntum, istri Ustad Joni

Mulailah si Brewok menghujamkan kontholnya maju mundur ke memek wanita berjilbab itu.

“Ahhhhh….aaaaahhhhh….” Ummi Kuntum, istri Ustad Joni terus merintih kenikmatan selang berapa lama kemudian wanita berjilbab itu melingkarkan kakinya ke pinggang si Brewok sambil merintih panjang”aaaaaaggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh…..” Ternyata dia mengalami orgasme. Karena si Brewok belum orgasme lalu dia melepaskan kontholnya dari memek wanita berjilbab itu dan menyuruhnya untuk mengocok kontholnya dengan mulutnya . seakan tidak punya malu lagi, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni itupun berjongkok dan mulai mengulum konthol yang belumuran cairan vaginanya.

“aaaahhhhhhh …..enak sekali kocokanmu sayang, terrruuusss…aaaahhhhh” eraang si Brewok sambil menekan – nekankan kepala wanita yang masih terbungkus jilbabnya…”aaaaaahhhhhhh…..”, si Brewok merintih panjang sambil menekan kepala Ummi Kuntum, istri Ustad Joni sehingga tertelanlah seluruh sperma si Brewok yang kini mengalami orgasme…Selama beberapa menit si Brewok tak mau melepaskan kontholnya dari mulut wanita berjilbab itu, Setelah puas diapun melepaskan kontholnya.

“Nah sekarang giliranku” kata si Kumis yang sudah melepaskan celananya sehingga kontholnya yang berukuran 22 cm terpampang jelas…

“Ayo sini saying, sekarang dengan aku”, kata si Kumis. Ummi Kuntum, istri Ustad Joni pun sekarang berdiri sambil melepaskan baju jubahnya dan menalikan jilbabnya ke belakang…Kini mereka semua dapat melihat buah dada besar Ummi Kuntum, istri Ustad Joni yang berukuran 34C yang hampir tidak muat oleh BH nya…Lalu dari belakang tangan si Joni melepas kait BH nya dan kini dengan gampang wanita berjilbab itu melepas BH nya.

Dengan tidak sabar si Kumis langsung melahap buah dada Ummi Kuntum, istri Ustad Joni yang kini hanya mengenakan jilbabnya saja yang ditalikan kebelakang lehernya…

“aaaahhhh……sedot terus mas …..nikmati…..aaaahhhh…”. Setelah puas menjilati susu wanita berjilbab itu, langsung ia rebahkan wanita berjilbab itu ke lantai…Tanpa disuruh, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni ini langsung melebarkan kakinya…Tanpa kesulitan si Kumis langsung memasukkan kontholnya ke memek wanita berjilbab ini…

“aaaahhhhhh sempit sekali memekmu, enaaaakkkk”…Si Kumis terus menggenjotnya dari atas…Keringat keduanya bercampur jadi satu…Ummi Kuntum, istri Ustad Joni ini benar – benar menikmati permainan ini…Ia bisa mengimbangi genjotan si Kumis dari bawah.

“aaaahhhhhh…aaaahhhhh aku hampir keluar Mas…aaaahhhh”, kata wanita itu…”Aku juga ..aaahhh”, kata si Kumis…Tak lama kemudian

“aaaaahhhhhhhh…..aaaaauuuuggggghhhhh eeeemmmmmmmmmppphhhhh….”, keduanya melenguh panjang merasakan orgasme bersama.

Si Kumis langsung berguling ke sebelah Ummi Kuntum, istri Ustad Joni untuk memberikan kesempatan ke Joni…Joni yang dari tadi sudah menunggu langsung mengerahkan kontholnya ke mulut wanita berjilbab ini…Ia menggenjotnya dari atas…Tampak wanita ini kesulitan menghadapi`tekanan` seperti ini…Tak lama kemudian birahi wanita ini sudah bangkit kembali dan langsung menggenggam konthol si Joni dan menyuruhnya untuk memasukkannya ke memeknya langsung…Tanpa pikir panjang, Joni langsung menghujamkan rudalnya ke memek Ummi Kuntum, istri Ustad Joni…Tapi sayang tak lama kemudian ia sudah mencapai orgasme sambil memuncratkan spermanya ke dalam wanita berjilbab ini.

Si Brewok yang dari tadi mengamati permainan itu ternyata juga tahu ternyata diam – diam pak Ujang melihat permainan majikannya itu…Si Brewok pun berkata”Ok manis, sebagai hiburan terakhir bagi kami dan untuk menyelesaikan orgasmemu, sekarang kamu layani pak Tua ini”, kata si Brewok sambil melepaskan ikatan tali pak Ujang…

Dengan nafsu yang tinggi, wanita berjilbab itu langsung menghampiri pak Ujang…Seakan tidak percaya, pak Ujang memelototkan matanya ke tubuh seksi majikannya yang selama ini selalu terbungkus rapat jubahnya yang sebentar lagi bisa disetubuhinya…Tanpa pikir panjang wanita berjilbab itu langsung mengeluarkan konthol pak Ujang dari celananya…Untuk lebih melicinkan konthol pak Ujang yang akan menembus lubang memeknya, Ummi Kuntum, istri Ustad Joni ini mengulum dulu beberapa saat konthol pak Ujang…

“aaaaahhhhhh enak Bu, terussss”, erang pak Ujang.

Setelah dirasa cukup, lalu wanita berjilbab itupun menaiki tubuh pak Ujang dan memasukkan memeknya dari atas

“aaahhhhh…eeeeemmmmpppppffff”, erang wanita berjilbab dan pak Ujang ketika konthol pak Ujang masuk ke memek majikannya yang cantik itu. Pak Ujang merasakan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya…Majikannya yang selama ini ia anggap sangat alim ini ternyata cukup liar dalam urusan ranjang…Majikannya itu terus menggenjotnya dari atas…Tapi pak Ujang tidak mau kalah, ia lalu membalikkan posisi mereka sehingga kini ia mengendalikan permainan…Ia genjot memek majikannya itu sambil menyepong susunya,

“aaaahhhhh…eeemmmmppppffff…enak sekali pak Ujang terrruuusss”, rintih wanita berjilbab itu…

“Ternyata memek ibu enak sekali…aaahhhh”, kata pak Ujang sambil terus menggoyangnya dari atas…

“Aaaa….aaaahhhh…..ppaaakk UUjjjaaaang aku hampir sampai, kita sama – sama keluarnya ya???!!!”, kata Ummi Kuntum, istri Ustad Joni…

“Iya bu aku juga hamper sampai” kata si Ujang…

“Eeeeeeemmmmppppffffhhhhh…..aaaaaaaaggghhhh..”, akhirnya keduanya mengalami orgasme bersamaan.

“Haa….haaa..hhaaa, beruntung sekali aku hari ini, oke sekarang kita mau cabut dulu, terima kasih atas semuanya Sayang”, kata si Brewok yang bergegas meninggalkan rumah Ustad Joni sambil mencubit buah dada wanita berjilbab itu yang diikuti Joni dan si Kumis…Malam itu pak Ujang dan istri Ustad Joni meneruskan persetubuhan mereka sampai pagi…Dan sekarang ketika Ustad Joni tidak ada di rumah bisa dipastikan istrinya akan melakukan persetubuhan sehari penuh dengan pak Ujang.

IFFA

Saat itu aku sudah bekerja di sebuah LSM di kota B. Saat itu kantor kami menerima beberapa teman untuk magang dari sebuah univeritas islam negeri yang cukup ternama. Saat itu aku diminta untuk memberikan materi magang. Saat sedang memberikan materi aku melihat ada mahasiswi yang selalu tersenyum kepadaku. Tidak lama kemudia kamipun berkenalan. Namanya Iffa, dia mahasiswi tingkat 4, orangnya cukup manis meski tidak begitu tinggi dan juga bekerja di sebuah LSM anak.


Singkat cerita aku mengajaknya untuk terlibat beberapa proyek di kantor kami. Akhirnya selain dia terlibat dalam magang, Iffa juga terlibat di beberapa proyek yang sedang aku kerjakan. Kedekatan kami waktu cukup intim, bahkan kami sempat salin mencuri pandang beberapa kali dan berkirim SMS. Pekerjaan yang selalu membuat kami dekat saat itu adalah pada saat hendak melakukan pemantauan untuk pemilihan presiden secara langsung yang pertama kali. Saat itu aku sering mengantarnya ke tempat kos, karena pekerjaan tersebut menyita waktu hingga malam hari.
Pada suatu malam, saat itu kami hanya berdua di kantor menyelesaikan beberapa persiapan untuk penyelenggaraan simulasi pemilu. Aku berkata ”fa dah malam nih, mau makan malam dulu nggak?” ”Mau mas” katanya. ”kita beli sate yuk, kamu tunggu sini, nanti aku pesankan yaa” lanjutku lagi ”baik mas” katanya. Saat itu aku bergegas pergi untuk membeli sate yang letaknya tidak jauh dari kantor. Dan saat kembali ke kantor, aku mencarinya karena kantor tidak terkunci dan kulihat di ruang rapat tidak ada siapapun. Aku pun menyiapkan piring dan minuman untuk kami berdua. ”Mas Farid sudah pulang toh” dia tiba-tiba keluar dari kamar mandi. ”iya nih, makan yuk” lanjutku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menatapnya lembut dan saat itu aku merasa bahwa aku ingin menikmati tubuhnya. Aku pun langsung memegang tangannya ”fa, aku pengen menikmati tubuhmu” kataku ”jangan mas” dia menolakku. Saat itu yang terpikir olehku adalah bagaimana menikmati tubuhnya, aku pun segera mendekap tubuhnya dan ”sudah kamu jangan melawan fa, nikmati aja” kataku ”jangggan maas” katanya memohon padaku. Saat itu aku sudah tidak peduli dengan permohonannya. Saat itu aku langsung memegang kedua lengan bagian atas Iffa dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Iffa. Badan Iffa hanya bisa menggeliat-geliat, “Jangan…, jangan lakukan itu!, stoooppp…, stoopppp”, akan tetapi Aku tetap melanjutkan aksiku. Sebentar saja baju bagian depan Iffa telah terbuka, sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Aku bergerak ke belakang badan Iffa dan membuka pengait BH Iffa. Kemudian Aku menarik ke atas BH Iffa dan…, sekarang terpampang kedua buah dada Iffa yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang naik turun dengan cepat karena nafas Iffa yang tidak teratur. “Oooohh…, ooohh…, jaanggaannn…, jaannnggaann!”. Aku mulai mencium belakang telinga Iffa dan lidahnya bermain-main di dalam kuping Iffa. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Iffa menggeliat-geliat dan tak terasa Iffa mulai terangsang juga oleh permainanku ini. Aku sengaja tidak melepas jilbabnya, karena aku ingin melihatnya telanjang dengan jilbab yang masih terpakai di kepalanya
Mulutku berpindah dan melumat bibirnya dengan ganas, badan Iffa yang tadinya tegang mulai agak melemas, kepala Iffa tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arahku, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantangku
Aku langsung bereaksi, tangan kananku memegangi bagian bawah payudara Iffa, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Iffa yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutku. Buah dada Iffa yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulutku, Aku mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Terasa sesak napas Iffa menerima permainanku yang lihai itu. Badan Iffa terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan, “Sssshh…, ssssshh…, aahh…, aahh…, ssshh…, sssshh…, jangaann…, diiteeruussiinn”, mulut Aku terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting buah dada Iffa secara bergantian selama kurang lebih lima menit.
Badannya benar-benar telah lemas menerima perlakuanku ini. Aku melihat matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Iffa tersentak, karena dia merasakan tanganku mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena rok panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Iffa mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tanganku tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci olehku, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Iffa adalah hanya mengerang, “Jaanngaannnn…, jaannngggannn…, diitteeerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.


Melihat kondisi Iffa seperti itu, Aku yang telah berpengalaman, yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamanku. Aktivitas tanganku makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Iffa yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan jariku menyentuh bibir kemaluannya. Segera badan Iffa tersentak dan, “aahh…, jaannggaan!”, mula-mula hanya ujung jari telunjuk Aku yang mengelus-elus bibir kemaluan Iffa yang tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kananku menarik CD Iffa dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Iffa. Iffa tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatanku ini. Sekarang Iffa dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Iffa yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Aku, dengan tetap mengunci kedua tangan Iffa, tangan kananku mulai membuka kancing dan retsliting celanaku, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan CD-ku. Pada saat CD-ku terlepas, maka senjataku yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Aku agak merenggangkan badannya, maka terlihat oleh Iffa benda yang sedang mengangguk-angguk itu, badan Iffa tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua pahaku. Dari mulutnya aku mendengar jeritan tertahan, “Iiihh”, disertai badannya yang merinding. Aku menatap muka Iffa yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, “Kau Cantik sekali Iffa…”, gumam Aku mengagumi kecantikan Iffa.
Kemudian dengan lembut Aku menarik tubuh Iffa yang lembut itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Aku berdiri menghadap langsung ke arah Iffa. Sambil memegang kedua paha Iffa dan merentangkannya lebar-lebar, Aku membenamkan kepalaku di antara kedua paha Iffa. Mulut dan lidahku menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Iffa yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Iffa hanya bisa memejamkan mata dan berteriak “Ooohh…, nikmatnya…, ooohh!”, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. “Ooooohh…, hhmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. “Mass…, aku tak tahan lagi…!”, Iffa memelas sambil menggigit bibir. Tanganku yang melingkari kedua pantat Iffa, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Iffa dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan olehku ini, Iffa benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. “Maasss…, aakkhh…, aakkkhh!”, Iffa mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepalaku untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambutku keras-keras. Aku melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Iffa yang masih terduduk di tepi meja, aku menarik Iffa dari atas meja dan kemudian Aku gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Iffa ke bawah, sehingga sekarang posisi Iffa berjongkok di antara kedua kakiku dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Iffa sudah tahu apa yang diinginkan olehku, namun tanpa sempat berpikir lagi, tanganku telah meraih belakang kepala Iffa dan dibawa mendekati kejantananku.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Iffa, kepala penisku telah terjepit di antara kedua bibir mungil Iffa, yang dengan terpaksa dicobanya dan dikulum alat vitalku ke dalam mulutnya. Ku lihat Iffa bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Rasanya sangat seksi melihat gadis yang sudah telanjang tapi masih memakai jilbab sedang menyedot penis
Beberapa saat kemudian Aku melepaskan diri, badannya yang ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantatnya terletak di tepi meja. Kemudian Aku mulai berusaha memasuki tubuh Iffa. Tangan kananku menggenggam batang penis dan digesek-gesekkan pada clitoris dan bibir kemaluan Iffa, hingga Iffa merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Aku terus berusaha menekan senjataku ke dalam kemaluan Iffa yang memang sudah sangat basah itu.


Pelahan-lahan kepala penisku menerobos masuk membelah bibir kemaluan Iffa. Dengan kasar Aku tiba-tiba menekan pantatku kuat-kuat ke depan sehingga pinggulku menempel ketat pada pinggul Iffa. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Iffa terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Iffa mencengkeram dengan kuat pinggangku.
Beberapa saat kemudian aku mulai menggoyangkan pinggulku, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat dan bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Iffa berusaha memegang lenganku, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penisku pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Iffa mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajahku, dengan takjub. Iffa berusaha bernafas dan …:” “Mass…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara aku tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Iffa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Aku menggerakkan tubuhku, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya. Setiap kali aku menarik penisnya keluar, dan menekan masuk penisku ke dalam vagina Iffa, maka klitoris Iffa terjepit pada batang penisku dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penisku yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Iffa menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Aku tersebut terus menyetubuhi Iffa dengan cara itu. Sementara tanganku yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Iffa dan meremas-remas kedua payudara Iffa secara bergantian. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuatku segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi aku terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.
Ia memiringkan kepalanya, dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…, akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Iffa terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penisku tetap terjepit di dalam liang vaginanya.


Selama proses orgasme yang dialami Iffa ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan olehku, dimana penisku yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Iffa dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisku serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisku, terlebih-lebih pada bagian kepala penisku setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Iffa, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaanku seakan-akan menggila melihat Iffa yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnku.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Aku membalik tubuh Iffa yang telah lemas itu hingga sekarang Iffa setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arahku. Aku ingin melakukan doggy style, tanganku kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Iffa yang kini menggantung ke bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan aku menggosok-gosok kepala penisku yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Iffa dan menempatkan kepala penisku pada bibir kemaluan Iffa dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala penisku tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Iffa. Kedua tanganku memegang pinggul Iffa dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Iffa tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Iffa dikaitkan pada pahaku. Kutarik pinggul Iffa ke arahku, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Iffa, “Oooooooh!”, penisku tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan Aku terus menekan pantatnya sehingga perutnyaku menempel ketat pada pantat Iffa yang setengah terangkat. Aku memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutku mendesis-desis keenakan merasakan penisku terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vagina Iffa yang ketat itu.
Kemudian Aku merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan Iffa kutarik duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuanku. Aku menempatkan penisku pada bibir kemaluan Iffa dan mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Iffa, sedangkan tangan kiriku memeluk pinggul Iffa dan menariknya merapat pada badanku, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penisku menerobos masuk ke dalam kemaluan Iffa. Tangan kananku memeluk punggung Iffa dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Iffa melekat pada badanku. Kepala Iffa tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulutku bisa melumat bibir Iffa yang agak basah terbuka itu.
Iffa mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penisku seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Iffa merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus…, terus…, Iffa tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Iffa tak peduli lagi, “Aaduuuh…, eeeehm”, Iffa memekik lirih sambil menjambak rambutku memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuanku.


Kemudian kembaliku gendong dan meletakkan Iffa di atas meja dengan pantat Iffa terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Aku mengambil posisi diantara kedua paha Iffa yang kutarik mengangkang, dan dengan tangan kananku menuntun penisku ke dalam lubang vagina Iffa yang telah siap di depannya. Aku mendorong penisku masuk ke dalam dan menekan badannya. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Iffa yang terkapar lemas di atas meja.
Badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penisku. Iffa benar-benar telah KO dan dibuat permainan dan benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Dan aku sekarang merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisku yang menimbulkan perasaan geli pada ujung penisku.
Aku mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…, terus”, dan pinggulku menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirku menempel ketat dan batang penisku terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Iffa. Dengan suatu lenguhan panjang, “Sssh…, ooooh!”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, aku merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Iffa. Ada kurang lebih lima detik aku tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Iffa yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat ku yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya.
Aku melihatnya lemas dengan jilba yang sudah nggak keruan bentuknya lagi dan aku berkata, supaya lain kali dia pasrah saja dan nggak perlu melawan, aku melihatnya mengangguk sedih sambil menangis.

PUTRI LEKSIANA

Kenalkan…namaku Putria Leksiana…aq saat ini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja…sudah sejak 2007 aq di jogja. Namun, nuansa kental religi dan budaya di sini membuat aq menjadi semakin berat tuk meninggalkan jogja… aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Abiku seorang petinggi partai di daerah kelahiranku di Kalimantan. Umiku hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Kakaku yang pertama bernama Ulfah… sekarang dia sudah bersuami, tinggal di Semarang. Kakaku yang kedua bernama Safira, tinggal di Solo, masih single. Sementara aku dilahirkan di Kalimantan tgl 20 Februari 1987.

Semenjak pertama kali menginjakkan kakiku di Jogja, aku tak kenal siapapun di sini, kecuali Kakaku Safira yang menemaniku untuk mencari Kos-kosan dan kampusku. Oh ya, kosanku ada di daerah Condongcatur. Di sini aku banyak teman aktivis. Mereka adalah aktivis KAMMI, yang rata-rata adalah senior di kampusku. Aku mengenal dunia aktivis juga dari mereka. Adalah Kak Sherly yang membawaku ke dunia ini. Entah kenapa akupun jadi tertarik untuk bergabung, hingga kini, karena keaktifanku di kampus, aku menduduki ketua bidang kaderisasi…

Di KAMMI, para akhwat seringkali bertemu atau berkoordinasi dengan para ikhwan. Seringnya pertemuan itu, tak jarang membuat para akhwat mengidolakan salah seorang dari mereka. Sebutlah kak Feri, Kak Arga, dan Kak Utomo. Mereka adalah tiga orang yang menduduki puncak pimpinan KAMMI di kampusku. Begitu juga aku, entah kenapa gairah kewanitaanku begitu bergejolak saat melihat mereka, melihat ketampanan dan kewibawaan mereka, serta janggut dan tubuh mereka yang tegap tak jarang membuat…(emhh…aku malu menyebutnya) membuat celana dalamku basah… Aku begitu terangsang…entahlah, cairan itu begitu derasnya mengalir saat ketiga atau salah seorang dari mereka lewat di depanku…Akupun langsung tertunduk malu dan wajahkupun memerah…ohh…begitu menderitanya aku…

Hingga suatu saat secara reflek tanganku memainkan atau menekan-nekan bagian paling sensitif di tubuhku. Kata orang, bagian itu adalah klitoris. Ya…aku bermasturbasi. Tak jarang itu aku lakukan di depan mereka. Tentu saja mereka tak mengetahui karena aku menggunakan jubah yang lebar atau jaket KAMMI.

hmm…. saat inilah aku berkenalan dengan masturbasi…dengan sex…ooh….

Waktu itu, tepatnya Kamis pagi. saat aku telah menahan lapar dan dahaga. Semua kader berkumpul di halaman kampus untuk apel persiapan aksi menentang penurunan BBM. Aku mengenakan jubah lebar bercorak bunga mawar kombinasi merah dan hitam, jilbab Rabbani yang aku kenakan berwarna hitam yang menjulur sampai ke pinggang. Saat itu, Kak Feri memimpin briefing…. Suaranya yang lantang dan dalam, janggutnya yang tipis rapih, lagi-lagi membuat aliran darahku mengalir lebih cepat dari biasanya… Seperti biasa, berkat jubahku dengan model kancing di depan dan jaket organisasiku, aku lebih leluasa untuk..yah paling tidak meredakan denyutan jantungku yang berdetak kencang.. Sambil menatap tajam pada mata dan mulutnya, aku main-mainkan klitorisku yang memang sudah basah sedari tadi… Posisi berdiriku yang paling belakang membuat aku leluasa memilin dan memainkan jemari lentikku di bagian itu. Entah kenapa, cara ini membuat aku merasa nyaman… terutama saat-saat di mana aku merasakan seperti ingin pipis. Saat itulah secara reflek jemariku menekan semakin kuat, mataku aku pejamkan…akupun tak kuasa menggigit bibir mungil bagian bawahku…”ooh…ssshh..ahhh..” sambil kurangkul tas ransel semakin erat…Oooh…aku merasakan cairanku yang masih kental, mungkin karena kevirginanku, jemari lentik yang kumainkan terasa keset…seperti dua permukaan balon basah yang saling bergesekan..ough…tak bisa kubayangkan begitu nikmatnya momen-momen seperti itu…2 detik menjelang “pipis”, aku sedikit menggelinjang dan memekik sambil sepontan kepalaku yang terbalut jilbab menengadah ke atas dengan mata terpejam…”ssssshhhhh…!!!!” Kenikmatan yang luar biasa…aku terkulai lemas…sementara jemariku masih menelusup ke sela-sela kancing depan di balik jilbab lebarku… tanganku basah kuyup karena lendir kewanitaanku….

“Ukhti Leksiana…anti ndak papa…?” sontak teguran itu membuatku terkaget dan salah tingkah, ternyata ukhti Leli mengira aku sakit karena pekikan kecil dan eranganku membuatnya heran. Waktu itu, ia nampak anggun dengan potongan khas aktivis KAMMI, jilbab merah jambu sampai ke dada, atasan putih longgar, dan rok bluzz panjangsampai ke mata kaki.” Oh,Ukhti Leli…eng…nggak papa kok ukhti, aku baik-baik aja…” sambil segera ku cabut tanganku dari balik jubah merahku…”oh…ya sudah, bener kamu nggak papa?”, tanyanya lagi..” bener ukhti nggak papa”, tanpa sengaja kuseka dahiku dengan tangan yang basah kuyup oleh cairanku…”oh tidak!” pikirku…untungnya dia tak sadar, mungkin dia mengira bahwa cairan itu adalah keringatku…fiiuhhh…! “Eh, ukhti, tolong ambilkan selebaran di sekretariat ya…30 menit lagi kita start longmarch dari depan kampus menuju perempatan kantor pos besar…emmm…di sana udah ada Kak Feri, nanti kamu tanyakan saja sama dia…dia tahu koq tempatnya…” Seru Ukhti Leli padaku.. “Apa..???!” pikirku dalam hati…Kak Feri baru saja kubayangkan sedang menjilati klitorisku…apa yang akan terjadi bila aku bertemu dengannya di ruangan yang sepi dan sempit…Darahku mulai mengalir deras…entah kenapa daerah sekitar kelangkanganku seolah berdenyut-denyut geli ingin dimain-mainkan…ooh…

Langkahku lemas menuju sekretariat. Pikiranku melayang menerawang jauh hingga hal-hal yang tidak mungkin aku lakukan dengan Kak Feri….”kacau…!” pikirku…Tak terasa lamunanku mengantarku pada Kak Feri, di sekretariat KAMMI….saat itulah, pengalaman pertama yang tak akan mungkin aku lupakan….Perlu kalian ketahui wahai para pembaca yang budiman. di tempat yang sama, dan momen yang hampir serupa, Seniorku bernama Ukhti Salma dan Akhi Ramdan (nama aku samarkan) mengalami hal terburuk dalam hidupnya…Mereka dipergok sedang bersenggama di dalam sekretariat KAMMI yang sepi…parahnya lagi, Ukhti Salma tak menanggalkan jilbab dan jubah lebarnya, lengkap dengan ikat kepala KAMMI yang sering kami gunakan untuk aksi…hingga akhirnya mereka dikeluarkan dari kepengurusan…

Saat itu hampir jam 9 menjelang pemberangkatan longmarch anti kenaikan BBM. taganku dengan mangset berwarna putih membuka pintu sekretariat..Krekeeeeeeeek…!
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…eh ukhti Leksiana…mari masuk, disuruh Ukhti Leli untuk ngambil selebaran ya…?” Sahut Kak Feri…
“emmm…i..iya Kak…” aku tersipu, wajahku memerah, dan tak ada kata yang bisa kuucapkan…
“nih, ukhti…selebarannya” Ia mengambil satu rim selebaran.. Akupun berusaha mendekati dan meraihnya, dan “AAAAAHhh…!!!” sontak aku kaget karena tikus yang berlari melintas di bawah jubah merahku, spontan aku singkapkan hingga ke lutut hampir ke atas lutut! untung aku mengenakan stoking coklat muda, akupun sempat melihat mata Kak Feri yang membelalak melihat betisku yang terbungkus stoking…Suasana di sekretariat menjadi kacau, selebaran yang akan kuraih tercecer di lantai…

“Aduuh…m…maaf Kak, aku…”, belum selesai kalimatku, Kak Feri menimpali..”Nggak papa ukht…ya sudah Ana bantuin ya…?” Suasana menjadi hening, kami sama-sama merangkak di lantai memunguti selebaran yang tercecer…hingga tak sengaja tanganku dan tangannya saling berpegangan…Namun anehnya, naluriku tak sedikitpun menarik genggaman tangan Kak Feri, begitu juga dengan kak Feri yang semakin erat menggenggam tanganku…perlahan ia menatapku yang kerepotan memegang jilbab lebarku yang menjuntai ke lantai…”Uhti….”, bibirku diam seribu bahasa, area kemaluan di balik jubah merahku yang ikut berdenyut, degup jantungku semakin berdebar kencang, cairan vaginaku yang belum mengering kini kembali dialiri lendir kewanitaanku…

Perlahan tapi pasti, dengan posisi masih menungging di lantai, wajahku dan wajah kak Feri saling berdekatan…tangan kananku yang sempat memegang beberapa selebaran, kini beralih memegang jilbab rabbani warna hitam yang menjuntai ke bawah, aku dekapkan ke dada. Tak kusangka, bibir kak Feri mulai mencumbu bibir mungilku…kecupan, pagutan, dan sedikit sedotan bibir kak Feri membuat nafsuku membludak…pengalaman pertama mencium bibir laki-laki bahkan yang bukan muhrim, adalah satu hal yang paling dibenci kami sebagai aktivis kerohanian di kampus…”emmmfff…enghh…sylurup…” suara-suara aneh bagiku seorang wanita yang masih mengenakan jilbab rabbaninya mulai membangkitkan nafsuku, Seorang Leksiana, tepatnya Putria Leksiana. Dengan posisi masih menungging, ciuman penuh nafsu itu terus kami lakukan.. Seiring gairah kami yang semakin membara, aku rasakan denyutan di area kemaluanku di balik jubah ini telah membanjiri celana dalamku berwarna pink lengkap dengan renda-renda di sisinya. Kamipun perlahan duduk saling berhadapan tanpa melepas bibir kami berdua, tangan Kak Feri mulai berani memegang pundakku..”engggh…!” aku hanya pasrah menerima perlakuan kak Feri, begitu nikmat kurasa…”oouh..emmh…!” kini perlahan tangannya mulai menyusup ke dalam balik jilbab rabbaniku, dia meremas payudaraku! payudara seorang gadis berjilbab, aktivis KAMMI yang loyal…Sylrup..! aku lepaskan bibirku darinya, mataku terpejam penuh nafsu, secara spontan kepala kutengadahkan ke atas…Nafas Kak Feripun semakin terengah penuh nafsu…Kini giliran tangan kanannya meremas payudara sebelah kiri ku, hingga kini tampak di balik jilbab rabbaniku tersembul-sembul gerakan tangan Kak Feri yang begitu menggairahkan..” Ouhhh…Kak Ferri….Eranganku semakin keras saat ada benda hangat menyentuh puting susuku…Aaaarghhh…!!! Akhii…!! Kak Feri… OOOh…Ia terus memilin-milin puting susuku…Tak kusangka kancing jubah merahku sudah terbuka di bagian dada, dan kedua tangan Kak Feri menyelusup masuk ke dalam BHku…Rangsangan yang belum aku rasakan sebelumnya ini telah membuatku gelap mata…nafsuku tak tertahan lagi, aku langsung mengemut jari telunjukku (bagai lolipop yang diemut anak kecil) sambil memejamkan mata. Aku yang masih mengenakan jilbab robbaniku telah membuat Kak Feri gelap mata pula…Segera Kak Feri membenamkan mulutnya ke dalam payudaraku…Ia menyelinap ke balik jilbab Rabbaniku…karena bentuk jilbabku yang lebar, membuat kepala Kak Feri yang sedang menyedot dan menggigit-gigit payudaraku bersembunyi di balik jilbabku…aku bergelinjang kenikmatan, kedua tangankupun spontan menekan gundukan dibalik jilbabku yang itu adalah kepala Kak Feri yang tersembunyi di balik jilbab.. Oouhh..ouuh…sssh…emmh…Aku bergelinjang- menikmati gigitan-gigitan kak Feri di putingku yang masih mungil…Spontan posisiku aku rubah menjadi duduk di atas pangkuan Kak Feri yang kini duduk bersila, layaknya adegan Kama Sutra yang pernah aku lihat di internet, kedua tangan kak Feri memegang erat punggungku, sementara kedua tanganku memeluk erat kepala Kak feri memaksa agar semua payudaraku masuk dalam mulutnya…Namun, karena aku mengenakan jubah lebar, kepala Kak Feri yang tersembunyi dibalik jilbabku, sebagian kakinya yang bersila juga terhalang oleh jubah lebarku membuat aku seolah memeluk sebuah guling besar dengan eratnya…Basahnya kemaluanku yang langsung bergesekan dengan titit Kak feri di balik celana bahannya, membuat celananyapun terlumuri oleh cairan vagina Leksiana…Aku semakin gila, sambil memejamkan mata, akupun mencari sensasi sex dengan menggesek-gesekkan kemaluanku di atas benda runcing yang tersembunyi di balik celananya…ouuh…nikmat sekali…

10 menit berlalu…kepuasan Kak Feri menelan buah dadaku belum usai…ia menatap sebentar ke arahku…aku yang masih terbalut jilbab yang sudah kusut ini, hanya menatap pasrah pada Kak Feri, dengan posisiku yang masih duduk di pangkuannya, tangan kanannya lalu membuka resleting celananya, dan menyingkapkan gundujan panjang di balik celana dalamnya yang seolah ingin melesat keluar…Ceng! jantungku berdegup kencang saat kak Feri berhasil mengeluarkan tititnya yang besar dan panjang dari himpitan celana dalamnya…”Ouh…!” aku memekik keras dan tak lama aku terkulai melihat ukuran titit Kak Feri yang begitu ngaceng dan keras…seolah terbiasa, tangan kananku mulai mengocok-ngocok batang besar itu…karena sudah licin oleh cairan vaginaku dan cairan pelumas milik Kak Feri akupun tak kesulitan mengocok batang licin itu…Kak Feri hanya mengerang-dan mengerag..”ooh…sssh…Ukhti…” dengan posisiku yang masih berpangku, tak jarang jubah lebarku menghalangi pemandangan indah ini, tangan kiriku lalu menyingkapnya hingga perut sementara tangan kananku mengocok batang Kak feri yang sudah panas dan berlendir…sambil sesekali kugesek-gesekkan ke celana dalamku yang sudah basah kuyup…Oughh…Kak Feri…nikmatnya…

Karena nafsu yang bergejolak di tubuhku, seorang wanita lengkap dengan jilbab rabbani dan jubah panjangnya, dan juga Kak Feri yang sedari tadi sudah tak karuan, lalu Kak feri mulai menyingkapkan celana dalamku tepat di depan lubang kemaluanku yang merah merekah…ooohh…aku sudah tak sabar merasakan gesekan batang besar itu di dalam vaginaku yang selama ini kuimpikan…

Posisiku masih berpangku padanya, dan Kak Feri dengan posisi bersila, ia mengarahkan batangnya pada lubang vaginaku…akupun membantunya dengan mentyingkapkan jilbab lebarku dan jubah yang menghalangi masuknya batang Kak Feri…Perlahan ia gesek2an batangnya pada permukaan vaginaku…ooughh…kemaluanku selama ini yang hanya aku mainkan dengan jari jemari, kini benar-benar batang kontol mulai menyobek selaput kehormatanku…ooohh… Perlahan Kak Feri memasukkan ujung batangnya ke dalam lubang memekku yang masih sempit dan suci…dengan seksama dan mendebarkan kuperhatikan semuanya detik-demi detik…awalnya sakit yang tak terbayangkan terasa olehku saat batang Kak Feri berusaha menyeruak lubang kehormatanku…”ssshh…AAAaaww…Kak Feri….!!” Aku pun membantunya untuk memasukkan batang itu dengan menggoyang-goyangkan pinggul ke atas dan ke bawah…hingga akhirnya…Blesss…!!! cairan berwarna merah segar membasahi kelangkangan kami, denyutan di memekku semakin kencang saja menjepit erat batang Kak Feri…aku hanya bisa pasrah…berahrap ini semua berakhir dengan indah… Karena ini pengalaman pertamaku, aku tak bisa lagi membendung kenikmatan yang di awal kubilang “pipis”, kini seluruh otot di selangkanganku mengejang berusaha menyemburkan cairan itu sekuat2nya dan crrt..crrt…sambil memeluk erat Kak Feri hingga tersembunyi di balik jilbab lebarku “Ah!Ah..AAAaaaaaaah…!” “Kak…aku….lemes…” melihat kondisiku yang sudah melemas, batang kak Feri yang sedari tadi diam menikmati pijitan vagina dan semburan hangat memek seorang wanita berjilbab, kini mulai menggerakkan teratur ke atas dan ke bawah…namun, kaerna ini pengalaman pertama Kak Feri, ia pun tak kuasa membendung kenikmatan ini terlalu lama, hingga buru-buru ia cabut batang penisnya dan sambil mengocok2 penisnya sendiri…crooot..crooot..crooot..!!! aaaaahahhhh….semburan hangat sperma Kak Feri membuat jubah dan jilbabku belepotan cairan sperma, darah, kehormatanku, dan…semuanya…Aku terkulai lemas, perlahan aku pun tergeletak lemas dengan jilbab yang sudah kusut, dan jubah yang tersingkap hingga pinggul…Kak Feripun merasakan hal yang sama…ia tergeletak di atas tumpukan kertas selebaran yang akan dibagikan siang ini…

Inilah pengalaman pertamaku…awal kisahku dengan sex…saat itu aku tak ingat lagi apa yang terjadi…hanya saja Kak Leli menemukanku dalam keadaan tergeletak di lantai tanpa Kak feri….

Pengalamanku dengan Kak Feri, benar-benar tlah merubah kebiasaan dan kepribadianku sebagai seorang mahasiswi yang aktif di organisasi mahasiswa, tentunya para wanita atau yg biasa kami sebut sebagai akhwat-akhwat di sini adalah setiap wanita yg menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan jilbab yg anggun… ya, organisasi ini terkenal dgn akhwat-akhwatnya yg anggun dan ramah… Tapi siapa sangka, di dalamnya ada seorang wanita yg memiliki kepribadian dan kebiasaan yg benar-benar berbeda dengan yang lain…

saat ini, aq bukan lagi wanita seperti dulu, yg selalu ceria karna belum ada satupun yang “hilang” dari tubuhku. Tapi saat ini, semuanya telah berubah, sesuatu yg tadinya aku hindari saat ini mnjadi kesenanganku, hampir setiap malam aku melakukannya…sendirian…

suatu malam, saat kami menginap di salah satu kamar di sebuah villa di kaliurang. Waktu itu di sela acara akhir di hari pertama Outbond Kepemimpinan Mahasiswa.

“Ukhty, aq duluan ya, ngantuk berat nih…”, ujarku pada mbak Nurul.
“Ohh, km knapa dik?, sakit ya? ya udah istirahat duluan ya, nanti mbak nyusul..”
Aku hanya mengangguk lemas.

Setibanya di kamar, suasana begitu hening dan suhu udara sangat dingin. tepat jam 10 malam pada saat itu. Udara yang begitu menusuk tulang membuatku tidak menanggalkan jilbab dan jaket Mbak Nurul. Sambil iseng, aq buka laptop mbak Nurul yg memang disimpan di kamarnya. Dia wanita tercantik dan anggun di kampusku, seorang pria asal Lampung berhasil merebut hatinya seminggu yang lalu. Hanya saja, karna posisinya yang penting di organisasi, Mbak Nurul blm sempat berbulan madu.

Aku mulai membuka file dan folder yg ada di drive D, aq mulai penasaran saat menemukan folder bernama “my first time”. Jantungku mulai berdebar kencang karna takut ketahuan, dan aq yakin ini adalah folder privasinya mbak nurul. Saat kuyakin acara akan berakhir sekitar jam 11 malam, aq pastikan punya waktu sekitar 30 menitan untuk sekedar melihatnya.

Saat mouse kugerakkan menuju folder itu, alangkah terkejutnya aq saat melihat foto-foto Mbak Nurul dan suaminya… rupanya mbak nurul dan suaminya ingin mengabadikan saat-saat terakhir kevirginan Mbak Nurul dan Keperjakaan suaminya… jantungku semakin berdebar hebat dan libidoku mencapai puncaknya… my pinky area juga seolah berdenyut kencang dan gatal ingin diperlakukan sesuatu kepadanya… “ohhh…mbak nurul…” Aku lihat ada sekitar 40 buah foto dan 3 buah file video berformat avi.

Lalu aku mulai melihatnya satu-persatu…

Dimulai dengan foto mbak nurul yg anggun, berbalut jilbab jingga merk rabbani yg menutup hingga dadanya. Sebuah senyuman berlesung pipi membuatnya semakin cantik mempesona. kemudian berlanjut pada foto suaminya yg mengenakan jas hitam, gagah dan tampan… “Mbak nggak salah memilih suami, Mbak..” gumamku. Selanjutnya foto MBak nurul dan suaminya berfose berdua saling berpelukan layaknya suami isteri…

“ahhh…” aku kaget saat foto itu mulai berbicara… Mas Ahmad mulai mencium mbak Nurul… dia mencium bibirnya yang mungil dan tipis… Mbak Nurulpun memperlihatkan fose yang pasrah dan nampak menikmati kecupan dan kuluman mas Ahmad… di foto itu, mbak nurul memejamkan matanya seolah menikmati apapun yg diperlakukan suaminya… “oohhh…” Vaginaku mulai basah… aku pun membenarkan posisi dudukku di atas ranjang, di keningku mulai berkeringat, akupun menyekanya dengan jilbab rabbaniku… foto-foto itu telah membuat aq terangsang hebat… akupun mulai membuka kedua kakiku layaknya seperti yg sedang melahirkan… sehingga vaginaku menganga ke arah laptop yg menampilkan slide foto mbak nurul secara otomatis… Akupun mulai mendesah-desah… sambil menyusupkan jemariku ke dalam celana dalamku yg transparan dan berrenda… ooughh…

Libidoku sudah membuat aq lupa diri… aq tak sadar jilbabku masih kukenakan dan aku sekarang mengangkang sambil bermasturbasi… ouuhhh… foto itu bergantian satu per satu… semua semakin membuat aq terrangsang hebat… di situ diperlihatkan Mas Ahmad mulai menyingkap jilbab Mbak Nurul… nampak dia mulai meremas bh mbak nurul… sayang ekspresi mbak nurul tidak tertangkap kamera… lalu mas Ahmad mulai menyingkapkan Bh mbak nurul yg berwarna krem… lalu menyembullah putingnya yang kemerahan dan mungil… Mas Ahmad pun mulai memilin dan memijatnya… “oooh…” sial, aq hampir mencapai orgasme… jilbabku sudah kusut tak karuan… karna semakin panas, jaket Mbak Nurul aku lepas…tangan kiri ku memainkan vagina, sementara tangan kananku mulai menelusup ke balik jilbab rabbaniku…

“oouhh… ssshh.. ahhh… “

slide-slide foto milik mbak nurul dan mas ahmad benar-benar membuatku menggelinjang hebat… suasana yang sunyi dan malam yang dingin menambah suasana penuh gairah sex… semakin tak tahan dengan adegan2 itu, akupun mulai mengangkangkan kedua kaki ku ke arah laptop, sehingga otomatis posisiku seperti wanita yg sedang melahirkan…. lalu perlahan kusingkapkan rok satin berwarna hitam yg ku kenakan, surrrr…seolah ada angin sepoi yang menelusup menari-nari di area selangkanganku… seiring adegan yg semakin panas, jemariku pun mulai menelusup ke dalam celana dalamku yg berwarna merah muda… “oouuuhhh…” memekku sudah terbanjiri oleh cairan berlendir yg keluar dari lubangnya… tentunya kondisi ini semakin membuatku terangsang… lalu aku mulai memilin bagian yg menonjol di vaginaku… “emmmhhh…” sesekali kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang memek milikku, “ssshhh…auw…” gairahku memuncak, tanpa ku sadari, jilbab rabbani yg menutupi kepalaku hingga ke dada kini mulai kusut tak karuan, sedikit basah oleh keringat yg mulai mengucur deras… kini slide foto di laptop milik mbak nurul semakin membuatku klimaks… mas ahmad yang berjanggut tipis itu mulai menjilati memek perawan mbak nurul yg terlihat legit dan terawat.. tampak bulu-bulu tipis menghiasi di sekitar dinding vaginanya yg sudah basah oleh air liur mas ahmad dan cairan kewanitaan milik mbak nurul… akupun semakin mempercepat irama memasukkan jari tengahku didalam lubang kewanitaanku dan tubuhku semakin bergelinjang saat cairan kewanitaanku mulai memuncrat keluar…”ouuhhh…ahhh…awhhh..emmmhh…!” akupun sedikit memekik dan menggelinjang,

nafasku tersengah-sengah… sambil merebahkan badan ke dinding, aku membetulkan jilbab rabbaniku yang tersingkap saat aku mengalami puncak kenikmatan…”oh, mbak nurul maafkan leksi…”kataku dalam hati… sungguh adegan yg janggal untuk seorang wanita kader seperti mbak nurul. Meskipun dengan suami, tapi pergumulannya dengan mas ahmad seolah sedang melampiaskan sesuatu yang sudah terpendam cukup lama… cara mas ahmad menjilat putingnya, lalu menjilati vaginanya… oh bagiku ini aneh.. hal ini semakin membuatku penasaran pada mas ahmad dan mbak nurul….

akupun membersihkan jemariku yang basah oleh cairan kewanitaanku…, sambil membenarkan posisi celana dalamku yang sedikit menjepit dinding vaginaku. lalu akupun mematikan laptop milik mbak nurul. tapi sesaat kemudian…”Leksi…, km habis ngapain…?!” Ouh! aku kaget sekali saat melihat sosok wanita berjilbab biru di balik pintu kamar hotel kaliurang…

3 hari pasca “Percintaan” dengan kak Feri telah membuatku sakit, badanku panas, pikiranku terus saja tak lepas dari kejadian itu… Kenikmatan yang kurasakan tak mudah aku lupakan. Ukhti Leli yang selama ini membantuku membuatkan bubur dan membelikan obat di kosku. Selangkanganku terasa perih, tapi selalu berdenyut2 dan seolah ingin melakukan untuk kedua kalinya. “tapi tak mungkin…” pikirku. Saat pikiran itu datang, tanganku seolah refleks untuk mengarah pada selangkanganku… tapi kucoba untuk memainkan seperti biasa, rasanya ngilu bercampur geli. Akhirnya aku gunakan baby oil milik Ukhti leli yang biasa ia gunakan. aku nggak ngerti baby oil itu digunakan untuk apa oleh Ukhti leli. Aku tumpahkan sedikit ke telapak tangan, lalu aku masukkan tanganku ke dalam selimut yg kupakai. Sambil setengah duduk (bersandar pada bantal di tembok), aku mengangkangkan kakiku seperti posisi seorang wanita yang mau melahirkan… rasa ngilu yang tadi kurasakan kini hilang…”emmmh…” sambil memejamkan mata membayangkan batang kemaluan Kak Feri yang besar…ooough…geli, nikmat, entah kata-kata apalagi untuk menggambarkan betapa nikmatnya posisi itu… klitorisku terus ku pilin2 dan sesekali menekan..di dalam kamar aku hanya mengerang dan menggeliat-geliat, “ouh…ssshh..aw…ennnghhh…” aku semakin gila, semakin kurasa ingin pipis, aku mempercepat gerakanku…dan “oh!oh!..aah…!ssshhh…!”spontan aku ambil guling sementara tangan kananku terus mengocok klitorisku…aku peluk erat-erat gulingku dan..”ah!ah!..aaaahhh…!…” 5 menit ternyata cukup membuatku orgasme…aku terkulai lemas…karena kondisiku yang tidak fit, aku pun tertidur dengan posisi kaki masih mengangkang sementara guling berada di pelukanku…selimut yg kupakai agak tersingkap di bagian lutut, sehingga bila dilihat dari arah kaki, tentu saja selangkanganku akan terlihat jelas dengan rok panjang yang kukenakan… “hhmmmhhh….” aku menarik nafas panjang dan tertidur pulas….

2 jam berlalu aku tertidur pulas, jam menunjukkan pkl.11 siang, aku terbangun dengan kondisi acak-acakan, selimut sudah tak menutup lagi badanku, rok panjang yang kukenakanpun tersingkap ke bagian pinggul, waktu itu aku tak memakai celana dalam.. “Ya ampun..!” spontan aku melihat ke jendela yang terbuka, dan “mudah-mudahan nggak ada yang liat…” pikirku. Aku bergegas mandi, setelah selesai menyegarkan badan biasanya aku langsung mengenakan jilbab rabbaniku berwarna putih berpadu pink, jubah berkancing depan dengan motif bunga2 kecil, dan celana dalam berenda warna pink kesayanganku… kali ini aku singkapkan jubahku dan celana dalamku untuk melihat area kesayanganku, kehormatanku, my pinky area… aku perhatikan, “lubangnya masih sempit…” pikirku. berharap agar kejadian itu tak terulang kembali.

Akupun bergegas meninggalkan kos, menuju kampus. Tepat jam 1 siang, aku ada kuliah ekonomi manajemen waktu itu. Singkat cerita, setelah perkuliahan usai sekitar jam 15.30 ada dering sms masuk ke HPku…”Oh tidak!kak Feri…” Pikiranku langsung melayang tak jelas, teringat kembali memori itu. ohh.. ku buka sms darinya..isinya kurang lebih begini, “Ass,Ukhti Af1 ganggu, aq tw km gamau bc sms driq, tp tlg sekali ini saja di depan toilet lantai 3 Fakultas Pertanian..jazakillah…”

Jantungku berdegup kencang setelah kubaca sms itu, selain isinya yg mengajak bertemu, juga tempatnya…mengapa kak Feri mengajak bertemu di tempat yang sepi… oh… pikiranku berkata tidak, tapi hatiku seolah menuntunku untuk pergi kesana… “Apakah akan terulang lagi..?” pikirku.

Dua lantai aku lewati, sampailah aku di tempat perjanjian. Selain waktu sudah sore, memang tempat ini jarang dikunjungi mahasiswa karena sedikit sekali mahasiswanya, di samping memang kondisinya yang tidak terawat. Di kejauhan terdengar sorak sorai orang sedang bermain basket, namun, rindangnya pohon Mahoni umur ratusan tahun menutupi tempat itu..

Awalnya aku takut, karena tak ada siapapun disini, “Apa kak Feri terlanjur pergi dari sini…?” Akupun memberanikan diri tuk memanggilnya,

“Assalamu’alaikum…Kaaak? kak Feri…Kakak di mana?” sambil celingukan aku mencarinya… tiba-tiba “Aaaahhh! mmmffff..!!!” Aku sontak kaget! badanku tak bisa bergerak, sebuah tangan menutup mulutku, sementara tangan yang lain memelukku dari belakang! Pikiranku mulai kalut, air mata mulai mencair dari mataku…sementara aku berusaha meronta-ronta…Jilbab dan jubahku kusut tak karuan. “sssh…sssh…Ukhti, ini aku…Kak Feri…” bisik orang itu. lalu perlahan aku menoreh ke belakang, pelukan dan cengkeraman tangannyapun mulai dilepaskan…setelah kuyakin perkataannya benar, aku hanya menarik nafas panjang..dengan ngos-ngosan aku berkata padanya “hhmmhh…Kak Feri…maksudnya apa…???” “Iya Ukhti, sabar…afwan kalo caraku kasar…aku hanya ingin bicara…” Sebelum mulutku bicara, kak Feri sudah memotongnya, “pertama…aku minta maaf atas kejadian itu, kedua aku ingin bertanggungjawab, ketiga aku tak bisa meninggalkan kuliahku…ke empat, aku menyukaimu ukhti…” Mendengar perkataan itu, aku hanya diam seribu bahasa, aku tertunduk layu… tak lama tangannya mengangkat dahuku, akupun sedikit kaget karena wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, dan…emmmfff…mmmh…clep..clpot… bibirnya segera membungkam bibir mungilku…Aneh, aku tak menolaknya, my pinky area di balik jubahku mulai berdenyut-denyut meminta untuk diperlakukan adil…Aku hanya memejamkan mata menikmati ciuman dan cumbuan Kak Feri…”emmh..mff..” Begitu terangsangnya aku sehingga aku memeluk pundaknya dan ia menarik pinggulku ke arahnya…oough…terasa sekali gundukan batang Kak feri di balik celana bahannya…silatan lidah kak Feri membuatku melayang, karena belum pernah aku diperlakukan seperti itu, apalagi bagiku, seorang koordinator pengkaderan KAMMI komsat kampus yang masih lengkap mengenakan jilbab robbaniku dan jubah panjangku…5 menit berlalu, ciumanpun semakin panas, tanganku beralih ke kepalanya, berusaha untuk menekan lebih dalam ke dalam mulutku…sementara kedua tangan Kak feri mulai menarik ke atas jubah panjangku. Seperti salah satu adegan di film Ghost, saat kedua insan sedang menikmati sex…

Tak terpikirkan olehku, aku bercinta untuk kedua kalinya dengan tetap mengenakan jilbab robbani dan jubahku…saat itu, posisi kami masih berpelukan, kak Feri mendorongku ke arah tembok, hingga aku tersandar pada tembok yang lembab. Lumut2 hijau mulai menempel dan mengotori jilbab putih ku…namun, semua itu hilang, terkalahkan oleh sensasi ciuman dan silatan lidah Kak Feri yang seolah ingin menyedot lidahku ke dalam mulutnya… “oough…emmmmh…ssshhh…!” perlahan tapi pasti, pinggul, paha, dan betisku yang terbalut stoking berwarna krem terpampang sudah…, tak mau ketinggalan, tangan kananku secara refleks menurunkan resleting celana Kak feri dan berusaha mengeluarkan batang kemaluan Kak feri yang sering aku bayangkan saat bermasturbasi…oogh…”Besar sekali Kak…”bisikku padanya, awalnya aku kesulitan untuk mengeluarkannya, namun, dengan bantuan Kak Feri akhirnya aku bisa mengeluarkan ayam jagoku dari sangkarnya… kini mengacung sebuah batang besar di hadapanku… Kini giliran kak Feri yang menyelinap masuk ke dalam celana dalam pink ku yang sudah basah sejak aku menaiki tangga pertama… “Oough…ahhh…” kak Feri seperti sudah lihai memainkan klitorisku…dipilin2nya benjolan kenikmatan itu…sesekali ia tekan-tekan…oouhh…sensasinya begitu membuatku melayang…spontan aku menengadahkan kepalaku ke atas sambil memejamkan mata…posisi itu tak disia-siakan Kak Feri, tangan kanannya menyingkap jilbab robbaniku dan ia mulai mengecup dan menyedot leherku…aawhhh..betapa geli bercampur nikmat yang kurasakan…aku hanya tertawa geli nan centil sambil memukul2 ke pundak Kak Feri…lebarnya jilbab Robbaniku membuat kepala kak Feri tersembunyi di balik Jilbabku…aku hanya bisa menikmati permainan jemari kak Feri di Klitorisku, dan silatan lidahnya di leherku, apalagi sesekali dia menggigit dan menyedot lehet dan di bagian belakang telingaku…seolah kak Feri ingin menyedot semua keringat yang keluar dari leherku…”ooh…kak Feri…iiih…kak Feri…kak…oough..”

Kemaluanku mulai banjir dan lengket, kak Feri semakin berani memasukkan jarinya ke dalam lubang kemaluanku, tempat biasa aku pipis…oouh…dia menggelitik2an jarinya di dinding-dinding vaginaku…oouh…emmh…aku hanya bisa merasakan nikmat yang tak terhingga dan aku menjepit erat tangan yang masuk ke selangkanganku…oouhh…dan “kak…aku mau…pi…piiiisss..” dan crrr!crrret..! “ah!ah!sssh! aaahhhmmm…” aku peluk erat kak Feri… “kamu capek ukhti..?” tanyanya, aku hanya menggeleng2kan kepala walau keringatku sudah membasahi jilbab robbani dan jubahku… lalu kak feri mengeluarkan jemarinya dan menggendongku, namun, tangannya memangku pada pangkal kedua lututku sehingga posisiku mengangkang namun kakiku tak mendarat di lantai. Tentu saja, posisi itu membuat lubang memekku ternganga jelas. Akupun bingung..”mau kau apakapakan aku akhi…?” pikirku… Entahlah, tanganku mulai spontan menyingkapkan celana dalamku tepat di bagian depan lubang pipisku, dan kak Feri mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil mengarahkan batangnya ke memekku… akupun membantunya dengan menyingkapkan jubahku yang lebar yang menghalangi jalan masuknya ayam jagoku ke dalam lubang pipisku…lubang pipisku semakin senut-senut, karena baru satu kali dimasuki batang Kak Feri, maka otomatis lubangnyapun masih mungil.. area kemaluankupun berubah menjadi merah muda kegelapan. Seolah semua darah bekumpul di sana. Tak lama kemudian, batang kemaluan Kak Feri berhasil masuk..blesss…kamipun berdua memekik “Aaargghh…” lalu dengan nafas terengah-engah kak Feri mengayun-ayunkan tubuhku ke arah atas, menyesuaikan masuk keluarnya batang kemaluannya yang kini sudah bersembunyi di balik jubah memekku… Oooh…emmmh…aaaw…sssshh…Kak Feri….gesekan-gesekan yang begitu terasa, seperti dua permukaan balon basah yang saling bergesekan, Sejak awal, aku terus digendong Kak Feri, aku hanya pasrah sambil memegang jubah panjangku agar tak menghalangi kemaluan kak Feri… jilbabku sudah kotor dengan lumut, jubahkupun sudah kusut tak karuan aku tak peduli, bunyi cepakan dari kemaluanku yang semakin membuatku terangsang hebat…”cepak-cepak-cepak…plok-plok-plok…!” Semakin lama semakin nikmat, kak Feri semakin mempercepat goyangannya, “hah…hahhh..emmmh…” Kak Feri mulai meracau…dan “kak…aku pipislagi……!” sambil memeluk erat ke pundak kak feri akupun orgasme…”crrrt..crrrt..crrt..” aku lemas, tinggal kak feri yang batangnya semakin panas terasa olehku… “Ayo kak…ayo keluarin akhi….” “kak Feri semakin meracau “hahhh..emmmh…Ukhti…aaaaaarrgggghhhh…!!!!1″ crooot…crooot..croooot….tiga kali semburan hangat yang kurasakan di dalam memekku…oooh, kak feripun menghentikan goyangannya hingga kakiku kini menginjakkan di lantai, perlahan jubahku menjuntai ke bawah sampai mata kakiku…sementara kontol kak Feri berangsur-sngsur lemas keluar dari lubang pipisku…

“Kak feri…janji akan bertanggung jawab setelah kuliah…?” sambil kupeluk tubuhnya..
“Aku janji ukhti…” jawabnya terengah-engah…

Waktu menunjukkan jam 4.30 sore, saat langit mulai menghitam. toilet dan bekas jilbabku di tembok berlumut itu menjadi saksi bisu percintaanku dengan kak Feri. .