AYU PRATIWI

Kedua lelaki itu tampaknya profesional betul. Mereka bisa menjelaskan dengan baik job yang ditawarkan kepada Ayu Pratiwi. Buktinya, wajah Ayu tampak berbinar-binar. Betapa tidak, ia ditawari membintangi film lagi selepas filmnya yang pertama beredar. Pelajar SMU kelas I itu memang senang. Sebab, perannya kini tak jauh berbeda, yakni sebagai remaja berjilbab. Ia baru pulang sekolah dan masih memakai seragamnya, blus putih dan rok panjang hijau serta jilbab putih. Siang itu, cuma ada 2 pembantu di rumah.

“Syukurlah. Saya memang menunggu tawaran yang seperti ini. Saya memang sudah bertekad hanya mau berkiprah lagi di film, sinetron atau yang lainnya, asalkan saya boleh tetap mengenakan jilbab,” katanya.

“Betul Mbak. Dengan jilbab, Mbak tampak lebih… eh maaf… cantik begitu…” sahut lelaki berdasi hijau dengan perut lumayan membuncit.

“Ehhh… aslinya memang cantik kok !” bantah Ayu dengan nada bercanda, ditimpal tawa berderai kedua tamunya. Perbincangan mereka terhenti sejenak oleh datangnya pembantu yang membawa baki berisi tiga gelas minuman.

“Eh… maaf Mbak. Kalau tidak keberatan, tolong sopir kami juga dikasih minum. Dari tadi dia ribut haus,” ujar lelaki berdasi merah ati. Ayu tersenyum dan menyuruh pembantunya membawakan minum buat sopir di luar. Mereka kembali terlibat pembicaraan serius. Namun, lagi-lagi ada gangguan datang. Kali ini, si sopir yang masuk tergopoh-gopoh.

“Eh…oh… tolong, simbok kepleset di depan. Dia pingsan,” kata sopir bertubuh besar itu. Ia membopong pembantu yang tadi mengantar minuman. Tanpa setahu Ayu, lelaki itu mengerdipkan mata kepada kedua temannya. Ayu tergopoh-gopoh memberitahu pembantunya yang lain. Mereka kemudian membawa pembantu yang pingsan itu ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.

“Bagaimana ? Perlu panggil dokter?” tanya Ayu dengan raut wajah cemas. Si sopir dan lelaki berdasi biru berlagak mengecek denyut nadi simbok.

“Nggak apa-apa. Cuma kaget. Kamu tunggu di sini, kasih minum kalau sudah bangun,” ujar lelaki berdasi hijau.

“Syukurlah kalau gitu. Bibi, kamu ambil minum dan tunggu simbok bangun ya?” sahut Ayu. “Yuk, kita ke depan lagi,” lanjutnya kepada dua tamunya.

“Eh, kamu apain dia?” lelaki itu berbisik kepada temannya. Si sopir memberi kode pukulan di belakang kepala. Temannya tersenyum dan memberi kode jempol. Ayu dan kedua tamunya sudah kembali duduk di ruang tamu. Mereka kembali serius membincangkan soal kontrak dan honor. Namun, 10 menit kemudian, pembicaraan itu kembali terganggu. Si sopir keluar dari ruang dalam sambil senyum-senyum. Ayu merasa heran juga dengan sikap lelaki itu.

“Gimana? Simbok sudah siuman?”

“He he he… belum tuh. Malah sekarang dua-duanya pingsan,” sahutnya.

“Pingsan?” Ayu makin heran.

“Iya betul. Gue senggol kepalanya sedikit aja pingsan. Payah tuh dua pembokat,” sahutnya sambil cengengesan kayak Amrozy tersangka bom Bali.

“Eh, apa-apa… ada apa ini?” Ayu tampak amat terkejut. Lelaki berdasi hijau berlagak mencoba menjelaskan.

“Begini Mbak Ayu. Si Panjul ini ingin bilang bahwa Mbak Ayu sekarang sendirian menghadapi kami bertiga. Betul gitu, Njul?” Ayu baru akan membuka mulutnya saat Panjul kembali berucap.

“Iya Ndut. Kita kan nggak mau waktu senang-senang sama Mbak Ayu, diganggu dua mbok-mbok itu. Iya kan Wer?” Lelaki berdasi merah ati yang dipanggil Dower oleh temannya cuma manggut-manggut. Bibirnya memang dower. Ayu mulai menyadari dirinya dalam bahaya. Dengan tiba-tiba ia bangkit dari duduknya di sofa. Tapi gagal, sebab Panjul dari belakang menekan bahunya.

“Iiiihhhh… apa-apaan sih ini?” Ayu meronta, tangannya mencoba menepis kedua tangan Panjul. Tapi tentu saja sulit. Tangan mungil Ayu tak ada artinya menghadapi tangan kekar Panjul. Kini Panjul malah memegang kedua pergelangannya dan menariknya terentang, lalu menekannya di bagian atas sandaran sofa.

“Kamu nggak usah repot-repot melawan dan teriak. Nanti capek sendiri, atau malah jadi kesakitan,” kata Panjul setengah berbisik di dekat telinga Ayu. Ayu begitu tersiksa dengan posisi seperti itu. Apalagi, Panjul menyempatkan menjilat pipinya yang mulus. Artis mungil itu pucat pasi. Gendut dan Dower kini duduk mengapitnya.

“Soal kontrak itu, kamu jangan khawatir. Kita tetap akan buat videoklip dan kamu tetap pakai jilbab,” kata Gendut seraya memegang ujung jilbab Ayu dan menyampirkan ke bahunya.

“Aihhh… saya nggak mau… tolong… berhenti…. AIIIHHH….” Ayu memiawik, sebab Gendut mengusap-usap tonjolan di dada kirinya. Dower ikut-ikutan mengusap, bahkan meremas-remas payudara kanan remaja berumur 16 tahun itu.

“Betul Mbak. Mbak boleh dan bahkan harus tetap pakai jilbab. Cuma, dari sini ke bawah harus… dibuka !!!” Dower mengakhiri kalimatnya dengan mengoyak bagian muka seragam sekolah Ayu diiringi jerit Ayu. Tiga lelaki itu berdecak-decak, mengagumi mulus dan padatnya kedua payudara Ayu yang masih tersangga bra. Gendut dan Dower bersama-sama menarik turun tali bra Ayu. Lalu, bersamaan pula mereka merogoh ke balik cup bra Ayu diiringi pekik perempuan itu. Ayu merintih-rintih, mengiba-iba agar mereka berhenti mempermainkannya. Tapi tetap saja kedua lelaki yang mengapitnya, meremas-remas sepasang buah dadanya. Mereka kini bahkan mengeluarkan payudaranya dari wadahnya. Dower dan Gendut seperti berlomba menjilati dan mengulum puting Ayu.

“Tetek Ayu hebat juga. Saya suka jenis yang seperti ini,” kata Dower sambil menjepit puting Ayu dan mengguncang-guncangkannya.

“Kalian…ohhh…kurang…ajar !” pekik Ayu.

“Video kita pasti laris manis,” timpal Gendut sambil mencengkeram payudara Ayu dengan sebelah tangan dan menyentil-nyentil putingnya. “Kita sekarang sudah siap bikin edisi sampelnya. Tuh, kameramen kita sudah datang. Ayo Lae, siap action,” lanjutnya. Ayu menjerit. Di depan mereka kini sudah ada lelaki lain yang menyandang kamera. Lampu kamera tampak menyala, tanda si kameramen mulai bekerja. Payudaranya kembali jadi sasaran pemuas mulut.

“Gantian pegangin dong… gue juga pengen pegang teteknya,” kata si Panjul. Kedua temannya tertawa, lalu ganti memegangi tangan Ayu. Panjul dengan kegirangan langsung menggenggam kedua payudara Ayu, meremas-remasnya dengan gemas dan menarik-narik kedua putingnya ke atas. Ayu tentu saja menjerit-jerit kesakitan. Dower berinisiatif merenggut putus bra Ayu dan mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Ayu menangis waktu blusnya dicabik-cabik lalu rok hijaunya dilucuti, hingga kini ia hanya memakai jilbab dan cd. Panjul masih asyik dengan payudara Ayu. Kedua temannya kini mengangkat kedua kaki Ayu hingga kini bertumpu di pinggir sofa. Posisi ini membuat pangkal paha Ayu terbuka bebas. Gendut mengelus-elus gundukan yang berlapis katun putih di pangkal paha Ayu.

“Ini akan membuat video kita makin laris, Mbak Ayu,” kata Gendut sambil menarik bagian tepi cd Ayu. Ayu memiawik dan meronta-ronta dengan sia-sia. Si Lae mengclose-up pangkal paha Ayu dengan kameranya. Vagina artis pendatang baru berwajah lembut itu tampak cantik. Celah di antara dua bibir vaginanya tampak masih mulus dan rapat. Khas vagina remaja. Rambut kemaluannya pun tipis.

“Pinjam memiawnya sebentar, ya Mbak?” si Gendut tiba-tiba melorot ke depan Ayu.

“Jangaaaan…. oohhh…. jangaaaannnn!!!” Ayu menjerit-jerit. Gendut mengoyak cd-nya sampai lepas. Dikucek-kuceknya vagina dengan rambut yang tak seberapa lebat itu. Lidahnya mulai menyapu bagian muka celah vagina Ayu dari bawah ke atas. Dua jempolnya dengan kasar melebarkan celah vagina Ayu, lalu lidahnya langsung menusuk-nusuk ke dalam. Dari dalam, lidah yang kasar itu menyapu naik hingga menyentuh klitoris Ayu. Teriakan Ayu sudah makin keras saat Dower naik ke sofa dan mengangkangi wajahnya.

“Ini juga bisa bikin videoklip kita laris !” teriaknya sambil mendorong penisnya menyumpal bibir mungil Ayu. Berjuta perasaan mengganggu Ayu. Di satu sisi, ia merasa terhina dengan perlakuan itu. Ia mual juga karena harus mengulum penis milik lelaki yang baru dikenalnya. Namun, rangsangan intens di klitorisnya begitu mengganggu dirinya. Apalagi, Panjul pun kini mulai menggelitik putingnya dengan lidahnya. Ayu nyaris gagal mempertahankan harga dirinya untuk tidak orgasme ketika Gendut tak henti-henti menghisap klitorisnya. Tapi perempuan itu bersyukur karena Gendut berhenti sebelum ia mencapai orgasme. Ia pasti akan sangat terhina kalau menikmati pemerkosaan ini ! Terhina tapi merasakan nikmat dan tersiksa oleh rasa sakit adalah pilihan yang teramat sulit. Tapi Ayu tak harus memilih. Lolos dari perasaan hina, ia masuk ke alternatif kedua… rasa sakit. Itulah yang kini dirasakannya saat Gendut dengan tanpa perasaan menusukkan penisnya langsung sejauh-jauhnya ke dalam vaginanya. Ayu masih perawan, karenanya diperlakukan seperti itu, pasti sakitnya bukan kepalang. Ia mencoba menjerit, tapi mulutnya tersumpal penis besar.

“memiaw Mbak…hihhhh….hebat….sekali….” Gendut terus meracau sambil menggenjot pinggulnya. Ayu mencoba membunuh perasaannya. Dipejamkannya matanya erat-erat saat cairan hangat memenuhi rongga vaginanya, disusul beberapa detik kemudian di dalam mulutnya ! Gendut dan Dower terkekeh-kekeh di hadapan korbannya yang terkapar di sofa dengan napas terengah-engah. Panjul masih saja asyik mempermainkan gunung kembarnya. Ayu tak kuasa melawan ketika Panjul mengangkat tubuhnya hingga kini terlentang di atas meja tamu. Kepala Ayu dengan jilbab yang agak kusut terkulai di ujung meja. Si Lae masih dengan kameranya mendekati Ayu dari arah kepala. Ayu panik ketika Lae menggeletakkan penisnya di atas dahi, menjulur ke bibirnya yang masih belepotan sperma. Tangan kiri Lae menjulur ke dada kiri Ayu dan menjepit putingnya.

“Ayo Mbak… emut ******ku !” katanya diiringi mengerasnya jepitan di puting Ayu. Tak kuasa menahan sakit, Ayu membuka mulutnya dan membiarkan penis Lae memasukinya. Pada saat bersamaan, Panjul mendorong penisnya masuk ke vaginanya yang masih terasa pedih. Cukup lama itu berlangsung sampai saatnya Panjul menarik penisnya keluar dan berlari ke arah Lae.

“Minggir Lae. Gantian loe sikat memiawnya,” katanya sambil menggenggam penisnya. Ternyata Panjul cuma ingin menyemprotkan spermanya ke wajah imut Ayu. Sekejap saja, wajah Ayu basah oleh cairan putih kental. Setumpuk sperma malah sampai menutup sebelah matanya. Begitu spermanya habis, Panjul memaksa Ayu mengulum penisnya sampai bersih. Lae yang kini menggarap kelamin Ayu pun tak mampu lebih lama lagi. Ia menarik penisnya keluar dan berejakulasi di dalam mulut Ayu. *** Keempat lelaki itu membiarkan Ayu tergeletak di meja sekian lama. Tetapi perempuan itu akhirnya menangis terisak-isak saat didudukkan di meja dan ikatan tangannya dilepas.

“Sekarang kamu jalan merangkak ke kamar mandi, terus mandi yang bersih. Habis ini kita pergi untuk melanjutkan produksi video. Cepat dan jangan macam-macam,” kata Gendut sambil mendorong Ayu hingga terguling ke lantai. Perlahan perempuan itu merangkak. Lae tak melewatkan adegan langka itu. Seorang perempuan berjilbab dengan wajah basah sperma dan tak ada kain lain yang melekat di tubuh matangnya, merangkak perlahan. Dari belakang, diambilnya close up gambar selangkangan Ayu dengan sperma yang masih meleleh keluar dari celah vaginanya yang agak membuka. Ayu hampir sampai kamar mandi ketika Dower mendekatinya dari belakang. Lelaki itu memegangi kedua pantat telanjangnya yang bundar.

“Sebentar. Ada yang kelupaan. Gue lupa pantat loe masih perawan,” katanya.

“Jangan….auhhhh… jangannn…” Ayu merintih merasakan dua jari Dower menusuk vaginanya.

“Aaakhhhh….sakkiiiit… jangan di situ…. ohhhh…” rintihan Ayu makin keras. Dua jari Dower kini berusaha memasuki liang anusnya yang sempit. Tapi percuma saja Ayu melawan. Lelaki itu begitu kuat, sementara ia sudah kehabisan tenaga. Apalagi, tiga lelaki lainnya kini ikut merubungnya.

“Udaaah… nggak apa-apa Mbak. Mending disodomi sekarang daripada nanti habis mandi,” kata Lae, sambil menghidupkan lagi kameranya. Ayu cuma bisa menggigit bibirnya, menahan pedihnya anusnya yang mulai diterobos penis Dower. Tapi akhirnyagadis berjilbab itu menjerit histeris ketika Dower berhasil menembus liang sempit itu. Pandangan matanya berkunang-kunang selama 10 menit aksi sodomi itu, sampai akhirnya Dower menumpahkan lagi spermanya, kali ini ke dalam anusnya.

***

Tak pernah terbayangkan oleh Ayu akan diperlakukan sedemikian rupa. Berada di dalam kamar mandinya sendiri, dikerumuni empat lelaki asing yang semuanya telanjang. Jangankan telanjang bulat, untuk membuka jilbab seperti saat ini dilakukannya pun, ia sudah bertekad untuk tidak melakukannya lagi di hadapan lelaki yang tak dikenalnya. Tapi yang tak terbayangkan itu kini terjadi. Ayu mengguyur sekujur tubuhnya, membersihkan bekas-bekas pemerkosaan di hadapan 4 pasang mata lelaki, salah satunya dengan kamera yang menyala.

Lalu, bukan ia sendiri yang menyabuni setiap inchi tubuhnya, tetapi para lelaki itu. Bayangkan, bagaimana mereka menyabuni payudaranya sambil sesekali nakal memilin-milin kedua putingnya. Tak terbayangkan pula tangan-tangan kasar menyabuni pangkal pahanya yang sudah pasti diikuti dengan masuknya dua tiga batang jari ke celah vaginanya. Pengalaman baru pula bagi Ayu ketika harus mencuci bersih empat batang penis yang tadi memperkosanya. Malah, salah satu dari mereka, tak mampu menahan diri, menyetubuhinya sekali lagi di bawah shower !

Usai mandi dan menghanduki tubuhnya sampai kering bukan berarti akhir semua penghinaan itu. Keempat pemerkosanya melarangnya menutupi tubuhnya dengan handuk yang kecil sekalipun. Jadilah Ayu dengan rambutnya yang lebat terurai sebahu, berjalan telanjang bulat diiringi keempat lelaki itu ke kamarnya. Ayu agak lega ketika disuruh mengambil jilbab dan jubah dari lemari pakaian, meski dilarang mengenakan bra dan cd.

“Pakai jilbab dulu,” kata Gendut ketika melihat Ayu hendak mengenakan jubah krem. Jilbab itu pun kini terpasang, cukup panjang untuk menutupi payudaranya. Tapi Gendut mendekatinya, memegang ujung jilbab dan menyampirkannya ke bahu.

“Ini nggak perlu ditutupi,” katanya seraya meremas-remas kedua payudara Ayu yang tampak segar sehabis mandi. Ayu menunggu disuruh mengenakan jubahnya. Karena itu, ia agak kecewa ketika disuruh duduk di tepi ranjangnya, menghadapi kaca meja rias. Ia makin cemas saat kedua kakinya diangkat, hingga kini ia duduk mengangkang.

“Jembutmu lebat sekali, Mbak. Cukur dulu ya?” kata Dower sambil menyodorkan pencukur jenggot kepada Ayu. Tanpa banyak tanya, disemprotnya selangkangan Ayu dengan busa pencukur.

“Cukur yang bersih ya? Jangan tersisa sehelai pun,” lanjutnya sambil mengucek-ucek selangkangan Ayu. Wajah Ayu merah padam menahan malu. Tangannya gemetar saat mulai mencukur. Kedua matanya yang sayu meneteskan air bening. Tapi para lelaki itu tak peduli. Lae malah dengan santai bersila di lantai di hadapan Ayu dan mengarahkan kameranya ke kesibukan di vagina perempuan itu. Akhirnya ritual bersih-bersih itu usai. Ayu melemparkan pencukur ke lantai dengan frustrasi. Tiba-tiba Gendut mendorongnya hingga jatuh terlentang ke ranjang.

“Kita lihat, sudah bersih belum,” katanya, lalu mengelap vagina Ayu dengan ujung sprei. Vagina perempuan dewasa itu kini tampak mulus dengan kulit kemerahan. Gendut merapatkan wajahnya ke selangkangan Ayu. Tak disangka, ia menemukan dua helai rambut kemaluan Ayu masih belum tercukur. Dicabutnya satu persatu. Akibatnya, Ayu dua kali menjerit kesakitan. Tapi perempuan itu diam-diam lega juga, karena lidah lelaki itu kemudian menjilati kulit bekas tempat tumbuhnya rambut yang dicabut itu.

“Nanggung ah…. aku kepengen lagi,” tiba-tiba Gendut berlutut dan langsung menempatkan penisnya ke liang vagina Ayu. Teman-temannya kontan protes.

“Eh jangan Ndut… dia kan udah mandi…”

“Alaaa nggak apa-apa. Gue janji ngecrot di luar,” kata Gendut sambil mendorong penisnya masuk. Ayu mengerang tanpa daya. Ia tak bisa lagi menghitung sudah berapa kali disetubuhi sesiang ini. Betul saja, Gendut menarik keluar penisnya begitu mencapai orgasme untuk kesekian kalinya. Tapi yang Ayu tidak tahu, Gendut menampung spermanya ke dalam cangkir. Gendut lalu menyodorkan gelas itu kepada Panjul. Ayu tak kuasa menolak ketika rahangnya dicengkeram sehingga mulutnya membuka dan sperma Gendut dicurahkan ke dalamnya. Ayu terpaksa menelannya dengan penuh rasa jijik. Yang ditunggu Ayu datang juga. Ia akhirnya diminta memakai jubah kremnya. Panjul berlagak merapikan jubah Ayu. Tapi sebetulnya ia cuma ingin merasakan lagi menyentuh payudara dan vagina Ayu dari luar busananya. Keempat pemerkosa itu kemudian menggiring Ayu keluar. Di halaman rumahnya yang berpagar rapat, mereka berhenti di samping mobil komplotan itu.

“Kita foto bersama dulu,” kata Lae. Lagi-lagi Ayu harus tersiksa. Perempuan berjilbab dan berjubah itu kini diapit Gendut dan Dower. Gendut melepaskan tiga kancing atas jubah Ayu hingga kini sepasang payudaranya terbuka. Digenggamnya payudara kanan Ayu hingga tampak tegak. Payudara kiri digenggam Dower sambil mengulum putingnya. Dower pun mengangkat kaki kiri Ayu setelah Panjul menarik jubahnya sampai batas pinggang. Panjul duduk di bawah sambil memeluk paha kanan Ayu dan dua jarinya tampak masuk ke vaginanya.

“Yak… pose yang bagus !” seru Lae sambil menghidupkan kameranya. Dengan tripod ditaruhnya kameranya. Ia lalu bergabung dengan teman-temannya. Lae langsung duduk di sebelah Panjul. Dua jarinya ikut masuk dan bersama Panjul melebarkan liang vagina Ayu. ***

Mobil kini mulai berjalan meninggalkan rumah Ayu. Tapi tampaknya ini baru permulaan bagi artis berjilbab ini. Betapa tidak, ia sama sekali tak kebagian kursi. Ia kini dibaringkan di atas paha tiga lelaki. Jubahnya tertarik sampai ke pinggul dan kini vaginanya tengah dipermainkan. Leher botol Mansion terjepit di situ. Guncangan mobil menyebabkan isi botol yang tinggal separuh, sesekali masuk ke vaginanya. Klitorisnya sampai memerah karena terus dikucek-kucek. Sementara bagian dadanya terbuka bebas dan ada tangan-tangan yang tengah beraktivitas di situ. Kedua putingnya terus diputar-putar seperti tombol radio, menimbulkan suara-suara rintihan dari bibir tipisnya. Sebatang penis yang tegang pun menempel rapat di pipinya yang mulus. Siap untuk menikmati layanan mulut hangat nan mungil milik Ayu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s