INDAH

Sore itu aku begitu suntuk di kantor, karena sekretarisku melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga perusahaanku ditolak untuk mengikuti tender yang bernilai Rp 12M. Sekretarisku hanya menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dan dia berjanji akan melakukan apa saja untukku untuk menebus kesalahannya itu agar ia tidak dipecat olehku. Aku tidak menanggapi tangisan dan janjinya, karena perasaan dongkol di dalam dada telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai cukup besar bagi perusahaanku. Untuk menghilangkan kekesalanku, aku meninggalkan kantor berjalan kaki menyusuri jalan berusaha menghilangkan kekesalan yang melanda dada, sedangkan BMW-ku kutinggalkan di kantor.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini, kuperkenalkan terlebih dahulu identitasku. Namaku adalah Agus, umur 32 tahun dan karena keuletan dan kerja keras, saat ini aku telah berhasil sebagai direktur utama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan penyediaan barang di kota kembang Bandung. Statusku saat ini masih bujangan, karena waktuku kugunakan untuk kerja keras. Menurut teman-temanku wajahku termasuk wajah yang memperlihatkan karakter lalaki yang sangat jelas walaupun tanpa kumis dan janggut yang lebat, oleh sebab itu sudah banyak cewe yang berusaha mendekatiku dan mengajak kencan, termasuk sekretarisku yang baru saja membuatku kesal.

Namun sebagai lelaki normal, tentu saja aku membutuhkan penyaluran biologis, tapi hal itu bukanlah masalah besar bagiku.

Setiap wanita yang mendekatiku selalu memberikan apa yang kubutuhkan dengan harapan agar dipilih olehku untuk kunikahi. Namun aku cukup hati-hati dalam menyalurkan arus bawah ini, karena aku tidak ingin terjebak oleh perangkap cewe-cewe yang mendekatiku.

Walaupun aku bukanlah tipe lelaki yang suci, tetapi mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat memperistri seorang wanita baik-baik khususnya yang berjilbab, karena dimataku mereka begitu cantik, anggun dan mempesona.

Kakiku terus melangkah menyusuri jalan Asia-Afrika sambil melamun. Keringat yang membasahi kemejaku membuatku kurang nyaman, kucopot dasi dan kumasukkan ke dalam saku celana, kemudian satu kancing kemeja kulepas untuk mengurangi rasa gerah. Disekitar alun-alun Bandung, aku berhenti sejenak dan membeli teh botol yang dijual dipinggir halte bis kota jurusan Cicaheum – Cibeureum. Aku meminumnya dengan rakus untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ketika menjauhkan botol dari mulutku, tiba-tiba aku terpana melihat senyuman yang dilontarkan oleh seorang gadis berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Rupanya dia melihat apa yang kulakukan pada saat aku minum teh botol dengan rakusnya, dan merasa kelakuan itu lucu sehingga ia tersenyum. Ketika dia sadar aku memandangnya terpesona, dia langsung membuang muka.

Walaupun pertemuan pandangan mata itu hanya sesaat, namun cukup menggetarkan hatiku dan melepaskan kekesalan yang sedang melandaku. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya sedetikpun, tapi dia hanya tertunduk dan sekali-sekali melihat apakah bis kota yang dinantinya ada atau tidak.

Aku terus memperhatikannya, umurnya kuperkirakan sekitar 24 tahun dan dari pakaian yang dikenakan aku menebak bahwa ia adalah karyawati salah satu departement store yang ada di sekitar alun-alun Bandung.

Aku sadar akan kekurang ajaran tatapanku padanya, maka ikut-ikutan melihat seolah-olah sedang menunggu bis kota juga. Begitu bis kota yang ditunggu datang, dia berusaha naik, tanpa sadar aku turut naik bis kota tersebut dan tepat berada di belakangnya. Penumpang bis demikian penuhnya hingga berdesak-desakan sambil berdiri, karena bertepatan dengan waktu pulang kerja. Bis kota yang penuh sesak itu bergoyang-goyang, namun aku berusaha untuk tidak menempelkan badanku padanya, aku berusaha agar dia merasa nyaman walaupun sambil berdiri. Rupanya dia menyadari apa yang kulakukan, kemudian dia memandangku dan tersenyum manis, lalu menunduk kembali.

Serrrr…, dadaku bergetar mendapat senyum manis darinya. Aku tidak ada keberanian untuk menanyainya, bahkan merasa bingung apa yang harus kulakukan… Sepanjang jalan aku hanya melamunkan bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya.

Disekitar Gg. Gwan An, kulihat gadis itu turun. Karena jalanan macet, maka aku dapat terus memperhatikan langkah kakinya hingga ia belok ke arah suatu Gang. Hatiku semakin tergetar dan terpana melihatnya berjalan demikian anggunnya. Setelah dia hilang dari pandangan mata, baru aku tersadar bahwa aku sudah terlalu jauh dari kantorku. Langsung aku turun dipemberhentian selanjutnya dan ke kantor menggunakan taxi. Kemudian aku bergegas pulang kerumahku di Margahayu Raya.

Dirumah, aku terus-menerus gelisah. Bukan gelisah memikirkan kegagalan tender, tetapi gelisah karena bayangan gadis cantik berjilbab itu terus menggodaku.

Senyum manis dan tatapan mata yang teduh betul-betul menggetarkan hatiku dan tidak bisa kulupakan. Sambil berbaring dan memeluk bantal aku terus melamunkan gadis cantik berjilbab yang telah meruntuhkan hatiku… sampai aku tertidur dan memimpikan tentang dirinya.

Keesokkan harinya aku ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Sekretaris dan anak buahku yang lain terheran-heran karena melihatku tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah kecewa dan marah akibat kegagalan kemarin, Sekitar jam 4 sore, dengan terburu-buru aku keluar dari kantor dan meninggalkan mobil BMW-ku , kemudian mencari taxi untuk mengantarku ke halte tempat aku bertemu dengan gadis idamanku. Aku tiba disana terlalu cepat, dengan sabar aku menantinya, hingga akhirnya gadis pujaanku datang. Jantungku berdebar sangat keras, keringat dingin keluar dari pori-poriku dan membuatku salah tingkah. Aku benar-benar bagaikan pemuda ingusan yang baru mengenal cinta.

DEG… jantungku berhenti berdetak ketika dia memandangku dan tersenyum manis lalu menundukkan kepala. Aku semakin salah tingkah, dorongan untuk menegurnya begitu besar, namun badanku terasa kaku dan mulutku terasa terkunci. Aku hanya dapat merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan keras serta napas yang memburu. Dan seperti kemarin, hari inipun aku naik bis kota mendekati dirinya, walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Namun aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dan berdekatan dengannya. Dia turun di sekitar Gg. Gwan An kemudian aku kembali ke kantorku menggunakan taxi.

Kejadian seperti itu kulakukan setiap hari selama seminggu, namun pada minggu kedua aku tidak menemuinya ditempat pemberhentian bis kota walaupun aku mencarinya hampir setiap hari.

Baru minggu ke tiga aku kembali bertemu dengannya dan dengan memberanikan diri aku bertanya padanya ketika sama-sama menunggu bis kota

“Pulang kerja Neng ?” pertanyaan basa basi kulontarkan.

“Iya..Kang. Akang pulang kerja juga ?” Dia balik bertanya.

“Iya, Neng. Eneng kerja dimana ?” tanyaku lagi

“Di Matahari.., kalau akang ? “ Dia balik bertanya

“Akh… akang mah supir di perusahaan …. “ tanpa sadar kuucapkan nama perusahaanku dan alamat kantorku.

“Oohhh…, akang baru kerja di sana Ya..?” dia mulai berani bertanya padaku

“Iya…, baru dua minggu…” jawabku berbohong, sebab aku baru dua minggu bertemu dengannya disini.

Pembicaraan terhenti, karena bis yang ditunggu tiba, kami menaikinya dan kebetulan penumpang tidak begitu ramai, sehingga ada tempat duduk kosong untuk ukuran dua orang. Kamipun duduk berdampingan.

“Ehh..ngomong-ngomong, perkenalkan. Nama saya Agus!” kataku seraya menyodorkan tangan, dia menyambut jabatan tanganku dengan lembut dan menjawab “Indah..”

Aku terpana merasakan kelembutan tangannya dan tanpa sadar terucap “Oohhh… Indah, seindah wajah dan penampilannya..” kataku berguman.

“Ada apa, Kang ?” dia bertanya padaku karena ucapanku tak didengarnya.

Aku gugup dan dengan tergagap menjawab “Ti..tidak..anu…ehh .. Namanya Indah, seindah wajah dan penampilan yang menyandangnya.. maaf..” kataku takut dia tersinggung dan menganggap aku kurang ajar.

“Akh…Akang.. bisa aja..” katanya sambil tersenyum . Serrrr… hatiku kembali bergetar.

Sepanjang jalan kami bercakap-cakap, aku tetap hati-hati menjaga sikap dan seperti biasa Indah selalu menundukkan wajahnya setiap setelah bertanya ataupun menjawab pertanyaanku. Perasaanku saat itu benar melayang bahagia, sehingga tanpa terasa Indah harus turun. Dan seperti biasa aku pulang sebagaimana biasa.

Hari-hari berikutnya, betul-betul merupakan hari-hari yang indah bagiku, Aku selalu mengerjakan dengan cepat semua pekerjaanku. Dan sekitar jam 4, Aku sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengannya. Bahkan kadang-kadang aku sudah menongkrong didepan Matahari menunggu dia keluar sehingga aku punya banyak waktu untuk ngobrol dengannya, bahkan kadang-kadang kubawa mobilku dengan alasan Boss mengijinkanku membawa mobilnya untuk alasan tertentu. Dari obrolanku dengannya, kuketahui bahwa dia sudah 1,5 tahun bekerja di sana dan dia bekerja dengan sistem shift, seminggu pagi hingga sore dan seminggu lagi sore hingga malam sekitar jam 9.

Sampai saat ini aku masih menjaga sikapku padanya agar dia tidak menjauh dariku. Bahkan kadang-kadang dengan alasan ingin jalan-jalan ke Matahari , Aku sengaja menemuinya ditempatnya bekerja

Sikapku yang terlihat begitu menghargai dan menghormati dirinya menimbulkan rasa simpati yang cukup besar dari dalam diri Indah. Perasaan simpati itu lambat laun berubah menjadi rasa suka dan rasa sayang yang membingungkan bagi diri Indah, namun sejauh ini hubungan itu masih tetap terjaga dari perbuatan tercela, hal itu membuat Indah semakin suka dan merasa nyaman bila berdekatan denganku, sehingga ada kerinduan dalam diri Indah jika satu atau beberapa hari tidak bertemu denganku. Namun demikian, Indah sendiri merasa bingung dan gundah dengan perasaannya pada diriku.

Sedangkan aku merasa sangat berbahagia dengan hubungan ini, walaupun hanya sebatas ngobrol didalam bis kota yang hanya beberapa menit setiap hari , namun sanggup mengisi kekosongan jiwaku selama ini.

Hubunganku dengan Indah semakin akrab dan indah menurutku, kami bisa tertawa bersama, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan kepada hal-hal pribadi diriku. Namun ada satu masalah yang masih mengganggu pikiranku, Indah selalu menghindar jika kutanyakan hal-hal pribadi dirinya bahkan menolak dengan keras jika aku ingin ke rumahnya. Dia hanya berkata “Kang, Indah memiliki masalah yang sangat berat dan tiada seorangpun yang dapat mengurangi beban berat ini. Indah mohon Akang bisa mengerti”

Berkali-kali aku mendesaknya untuk membantu meringankan bebannya, tapi setiap kali itu pula dia menolak dengan keras, bahkan pernah mengancam untuk tidak usah bertemu lagi, jika aku tetap memaksanya. Aku menyerah dan dalam hati aku berpikir biarlah keadaan tetap seperti ini daripada tidak bisa lagi bertemu dengannya, sebab dengan keadaan seperti inipun aku sudah merasa sangat bahagia dan tenang.

Sore ini telah masuk bulan keempat perkenalanku dengan Indah, dan aku sangat gelisah, karena hujan turun sejak siang dan sampai jam 4 belum berhenti juga. Dan akhirnya kugunakan mobilku menuju Matahari tempat kerja Indah. Di tempat kerja Indah, terlihat olehku Indah sedang tertunduk ketakutan sedang dibentak dan dimarahi oleh supervisornya, karena tanpa disengaja olehnya seorang pelanggan telah merusak barang dagangan yang harganya cukup mahal, dan harus diganti oleh Indah. Kutawar barang yang sudah rusak itu untuk kubeli dengan harga normal agar Indah terhindar dari sanksi.

Supervisor menyetujuinya dan akhirnya barang itu kubayar, kemudian Indah berkata padaku tanpa sepengetahuan supervisornya “Tunggu di depan, ya Kang…, kita pulang bareng lagi”

Aku mengangguk sambil membawa barang yang kubeli.

Aku menunggu didepan dan hujan masih turun dengan lebatnya. Tak lama kemudian Indah muncul dan berkata dengan nada khawatir “Waduh….. gimana nich… ? hujannya lebat banget. Kita tungguin aja ya..Kang?” tapi aku mengajaknya ke tempat parkir sambil berkata “Kita pulang sekarang aja.. Akang bawa mobil Boss kok..!” kemudian menuju tempat dimana BMW-ku kuparkir.

Indah berkata ”masak sich mobil BMW Boss, Akang bawa-bawa terus..”

“Boss sedang Diklat di Preanger selama 3 malam dan di karantina , sehingga nggak boleh kemana-mana , jadi selama 3 malam ini BMW ini boleh Akang bawa-bawa. “ kataku memberikan alasan membawa BMW.

“Oohhh … gitu…” kata Indah mengerti.

Disepanjang jalan Indah meminta maaf telah merepotkanku sehingga harus mengganti barang yang rusak dan dia berjanji akan mengganti uang yang kukeluarkan. Tapi aku menolaknya dan berkata.. “’Ngga apa-apa Ndah, ngga usah diganti. .. kebetulan Akang dikasih tip sama Boss cukup besar, jadi barangkali itu bukan rezeki Akang”.

“Walaupun bagaimana, Indah pasti akan mengganti uang Akang…” katanya memaksa

“Yah.. terserah Indah..lah..” kataku menyerah…

Setelah mobil tiba di mulut gang menuju ke rumahnya, aku mengambil payung yang ada di dalam mobil dan berniat untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Namun kembali dengan tegas dia menolak keinginanku dengan berkata

“Kang…., seperti yang pernah saya katakan, jika Akang ingin kita terus bisa bertemu, Akang tidak boleh datang ke rumah saya sebelum masalah berat yang saya hadapi dapat diselesaikan. Sekali lagi saya mohon pengertian Akang….., payung ini saya pinjam dan besok saya kembalikan”. Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan diriku yang termangu kecewa.

Hari-hari berikutnya aktivitasku dengan Indah berjalan seperti biasa, namun sekali-sekali aku membawa mobilku dengan memberikan berbagai alasan padanya, bahkan Indah mulai bersedia kuajak makan sebelum kuantar pulang ke depan gang rumahnya.

Pada hari suatu hari sabtu sekitar jam 8 pagi, saat aku sedang membaca koran di ruang kerjaku, tiba-tiba hp-ku bunyi dan betapa berbunga-bunganya hati ini ternyata yang menghubungiku adalah Indah

“Assalamu’alaikum…., ada apa ‘Ndah?” sapaku

“Wa’alaikum salam…, Akang ada waktu ‘ngga ?” balasnya

“Lagi kosong nich..” jawabku bersemangat ..”kenapa gitu ?” lanjutku

“Akang bisa ke sini..ke Matahari….” Ucapannya belum selesai dan langsung kupotong

“Ok. Tunggu 10 menit. Akang kesana!” jawabku semangat, dan kututup hp dan bergegas menuju ke tempat dimana mobilku diparkir. Tak sampai 10 menit aku sudah tiba di Matahari dan menemuinya. Setelah bertemu, Indah menjelaskan “Seharusnya hari ini, Indah masuk pagi, tapi teman Indah minta tukeran jadwal, karena nanti malam ada acara yang sangat penting. Indah setuju karena ingin membantu teman. Tapi sekarang Indah bingung, di rumah suntuk, sedangkan masuk kerja nanti sekitar jam 3.30 sore. Gimana nich..?”

“Kita jalan-jalan aja…., kebetulan Akang bawa mobil karena tadi pagi Akang baru mengantar boss ke Bandara, besok pagi baru Akang jemput” usulku.

“Jalan-jalan kemana, Kang ?” tanyanya ragu-ragu

“Bagaimana, kalau ke Tangkuban Perahu…., nanti sebelum jam 4 sore kita udah disini lagi” usulku lagi

“Boleh…lah Kang.” Jawabnya setuju. Lalu kami menuju ke mobilku berangkat ke arah utara kota Bandung.

Ditengah perjalanan kutanyakan padanya kenapa suntuk di rumah dan dia tidak mau menunggu dirumah saja hingga menjelang sore.

“Masalah yang dihadapi Indah makin berat aja sehingga akan semakin suntuk, kalo Indah pulang ke rumah. Indah pingin ngobrol agar rasa suntuk ini berkurang..”

“Kenapa sich…Indah tidak mau ngasih tahu Akang tentang masalah yang sedang dihadapi. Mungkin Akang bisa bantu meringankan!” tanyaku

“Nanti pada waktunya akan Indah terangkan dan rasanya sekarang Indah belum sanggup menjelaskan ke Akang… , maaf ya Kang.” Aku hanya menghela napas panjang dan tak berani menanyakan lebih lanjut. Dan akhirnya ganti topik pembicaraan.

Sepanjang perjalanan hatiku berbunga-bunga, karena baru kali ini, aku bisa berlama-lama bersama dengannya dan terlihat olehku, walaupun dari sorot matanya dia seperti memendam masalah yang berat, namun tidak mampu menyembunyikan keanggunan dan kecantikan wajahnya. Dadaku berdebar-debar keras, tapi aku sangat menikmati suasana debaran jantung yang membuat napasku terasa berat dan sesak.

Kurang lebih 40 menit kemudian, kami telah tiba di Tangkuban Perahu. Kuparkirkan mobilku tak jauh dari kawah Ratu dan berjalan-jalan menikmati pemandangan indah kawah tersebut.

Terkadang tangannya kupegang sehingga kami tampak bagaikan sepasang suami istri yang sedang berlibur. Kami sangat menikmati suasana ini, dan tanpa kami sadari pegangan tangan kami semakin erat mengalirkan getar-getar nikmat diseluruh peredaran darahku, mungkin juga Indah merasakan hal yang sama denganku sebab seringkali tanganya meremas-remas erat tanganku. Kami duduk di tempat yang memiliki view keindahan kawah yang indah tersebut dan mengobrol sambil berpegangan tangan, hawa dingin tangkuban perahu seolah tidak kami rasakan.

Karena saat itu adalah musim hujan, maka langit mendung dan makin lama makin pekat menghitam seolah-olah akan segera turun hujan. Namun kami yang sedang asyik ngobrol seolah tidak menghiraukan keadaan cuaca tersebut. Sehingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Kami tersentak dan langsung berlari menuju tempat berteduh, tetapi posisi kami berada jauh dari kios-kios pedagang bahkan lebih dekat ke areal parkir, maka kuputuskan untuk berteduh di dalam mobilku. Badan kami basah kuyup ketika kami masuk ke dalam mobil karena cukup jauh kami kehujanan. Diluar, hujan semakin lebat dan kami mulai kedinginan, karena mengenakan pakaian yang basah oleh air hujan ditambah lagi dengan dinginnya hawa gunung Tangkuban Perahu.

Untuk mengurangi rasa dingin dari bajuku yang basah, dengan meminta maaf padanya kubuka bajuku dan kuperas bajuku agar seluruh air yang menempel dibajuku keluar lalu kuhanduki tubuhku dengan handuk yang biasa aku bawa di dalam mobil. Indah memandang dadaku yang telanjang, selintas kulihat ada tatapan kagum melihat tubuhku yang atletis. Dia terpana melihat tubuhku yang basah kemudian tertunduk…. Entah apa yang ada dipikirannya

Aku kasihan melihat Indah mengigil kedinginan, kutawarkan handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya dan kutawarkan pula jaket yang selalu ada didalam mobilku untuk dia kenakan. Indah menerima handuk dan jaket yang kutawarkan, namun sejenak dia bingung. Aku paham yang dibingungkannya, lalu berkata “Ganti aja baju basahmu dengan jaket itu dijok belakang. Aku tidak akan melihat pada saat kamu buka baju..”

Indah memandangku sejenak dan karena rasa dingin semakin menusuk tulangnya maka dia berkata “Awas lho… Akang ‘ngga boleh ngintip, waktu Indah buka baju… “ Aku mengangguk, kemudia dia beranjak ke jok belakang dan membuka baju basahnya untuk diganti dengan jaket yang kuberikan. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha untuk tidak mengintip, tapi dari kaca spion yang ada di atas kaca depan terlihat olehku dia membuka baju basahnya dengan tergesa-gesa.

Napasku sesak dan jantungku berdebar kencang, ketika dari kaca spion terlihat betapa putih dan mulusnya tubuh gadis berjilbab itu. Dan Indah tidak sadar bahwa aku dapat melihat dia bertelanjang dada, hanya tertutup oleh bh krem yang menopang buahdada yang montok dan ranum serta jilbab basah yang menutupi kepalanya. Dengan perlahan dia mulai mengeringkan badannya dengan handuk dan napasku semakin memburu dan gairahku bangkit dengan cepat melihat pemandang indah itu. Setelah badannya dirasakan cukup kering, maka Indah mulai mengenakan jaket yang kuberikan sementara baju basahnya dia peras dan digantungkan dijok depan menggantung ke belakang. Kemudian berkata “Sekarang sudah agak mendingan tidak terlalu kedinginan seperti tadi…, makasih Kang..”.

Aku tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhku kebelakang sehingga dapat menatap tubuhnya yang sudah mengenakan jaketku, sementara jilbab dan rok panjang yang basah masih dia kenakan.

Aku mengeluh dalam hati…Uhhh… gadis ini memang luar biasa cantik… menggunakan pakaian apa saja tetap saja terlihat cantik… aku terpana memandangnya tanpa berkata-kata membuat Indah malu dan berkata..

“Ada apa sich..Kang.. melihat indah seperti yang aneh..?”

“Ahhh… nggak….” Jawabku malu

Sambil menunggu hujan yang kian lebat, kami mengobrol banyak hal. Namun posisi tersebut membuatku kurang nyaman, akhirnya aku melangkahi jok depan untuk pindah ke jok belakang. Indah tidak protes ketika pindah ke jok belakang sehingga duduk kami berdampingan. Hawa gunung tangkuban perahu yang dingin menusuk tulang ditambah lagi dengan hujan lebat yang tak kunjung reda, membuat badannya menggigil kedinginan apalagi aku yang pada saat itu sedang bertelanjang dada, sehingga tanpa kami sadari duduk kami semakin rapat dan kedua tanganku memegang kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Perlahan namun pasti, ada hawa lain yang menyertai rasa dingin yang kami alami, yaitu suatu hawa yang membuat peradaran darah kami mengalir dengan cepat disertai dengan getaran-getaran yang mulai menghangatkan tubuh serta menarik kedua tubuh kami semakin rapat, tanpa kami sadari napasku semakin memburu demikian juga deru napas Indah semakin jelas terdengar. Dingin yang kurasakan semakin berkurang tergantikan dengan dorongan gairah yang meronta-ronta. Aku tak tahu, apakah Indah juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kepala kami, makin lama semakin mendekat hingga suatu ketika kulihat dengan napas yang terengah-engah Indah menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk mengecup bibir sensual yang menantang tersebut. Pertemuan bibir itu terasa kaku, namun hanya beberapa detik dilanjutkan dengan hisapan-hisapan yang membuat perasaanku melayang-layang, beberapa detik kemudian Indah mulai membalas hisapan bibirku dengan gairah yang sama, sehingga kedua bibir kami saling hisap dan saling kecup. Gairahku semakin meninggi dan tubuhku mulai terasa panas menggantikan dingin yang tadi kurasakan.

Indahpun semakin bergairah menciumku dan lidahnya mulai menerobos mulutku sehingga kedua lidah kami saling bertemu dan saling menjilat…. Ciuman itu semakin panas, kedua napas kami semakin terengah-engah didorong oleh nafsu yang semakin menggebu, tanpa kami sadari tanganku telah memeluk tubuhnya dengan sangat erat demikian juga Indah, tangannya memeluk, membelai dan mengusap punggungku yang telanjang…

Tiba-tiba…, dengan napas yang masih terengah-engah. Indah melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku serta berkata…”Apa yang kita lakukan, Kang…? Ini tidak boleh terjadi… tidak boleh…” katanya terbata-bata seperti yang ketakutan.

Aku terkejut dan menghentikan cumbuanku. Aku tidak ingin memaksakan gairahku padanya, takut hal itu menyakiti hatinya, karena Aku mencintai Indah sejak pertama kali bertemu. Dengan nafas yang masih memburu, aku berkata… “Tahukah Indah…? Bahwa Akang sudah jatuh cinta ke Indah sejak pertama kali melihat Indah mentertawakan kelakuan Akang dihalte bis 4 bulan yang lalu. Oleh sebab itu akang selalu ingin bertemu dengan Indah..”

“Indah juga suka ke Akang… dan Indah tahu bahwa Akang suka ke Indah, tapi Indah takut…, Akang akan kecewa…..”

“Indah tidak pantas dicintai oleh Akang…..” setelah berkata demikian, Indah menangis tersedu-sedu seperti ingin menumpahkan segala beban yang dideritanya.

Aku terkejut dengan perkataannya dan berkata dengan suara bergetar “Apanya yang tidak pantas…., atau karena Akang hanya seorang supir sehingga Indah merasa tidak pantas?”

Indah terkejut mendengar ucapanku dan memelukku serta merebahkan kepalanya di dadaku sambil berkata…”Bukan…. Bukan… itu.. Ohhh…kenapa jadi begini ?” terlihat Indah sangat bingung dan kembali menangis bahkan lebih tersedu-sedu.

Aku semakin heran dan bingung, sambil mengelus-elus jilbabnya aku berkata dengan lembut “kalau gitu…, apa dong ?” sambil terus membelai-belai kepalanya yang terhalang jilbab agar dia merasa aman dan nyaman.

Lama Indah tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya sesenggukan di dadaku. Tak lama kemudian dengan suara bergetar dia berkata “Indah suka ke Akang….., Indah juga ingin selalu bertemu dengan Akang ….. , Dan Indah merasa aman dan nyaman berdekatan dengan Akang, tapi….”

“tapi apa ‘Ndah ?” tanyaku memaksa

“Saya mohon, Akang jangan memaksa…, yang penting Akang sudah tahu … Indah suka ke Akang dan selalu merindukan Akang…” katanya lagi sambil menyusupkan kepalanya di dadaku. Aku tidak mau memaksanya lebih lanjut, yang penting saat ini aku sudah tahu bahwa Indah ternyata suka padaku dan selalu merindukanku. Dan hal itu merupakan jawaban yang cukup membahagiakan bagi diriku. Maka aku memeluknya semakin erat.

Lambat laun gairahku dan gairahnya mulai bangkit melawan hawa dingin yang kembali menyerang kami. Aku mulai mencium kepalanya, bergeser ke kening, Indah memejamkan matanya dan napasnya semakin memburu.

Kuciumi matanya yang kiri dan kanan, dan nampaknya Indah menikmati apa yang kulakukan. Kugeser lagi bibirku hingga mencium pipinya yang kiri dan kanan hingga akhirnya mulut Indah terbuka sambil memejamkan mata. Kusambut bibir indah yang terbuka itu dan langsung kuhisap dan kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir dan bagian dalam mulut. Diluar dugaanku, Indah menyambut ciumanku kali ini dengan hangat dan lebih bergairah, dengan napas terengah-engah penuh gairah, bibir Indah balas menghisap dan menjilat bibirku, kedua tangannya merayap membelai punggung dan dadaku. Kembali badanku melayang diombang ambing oleh kenikmatan percumbuan ini. Secara perlahan, sambil berciuman dengan penuh gairah tangan kananku menarik sleting jaket yang menutupi dadanya, tangannya menahan dengan ragu tanganku, namun tidak ada penolakan yang berarti ketika tanganku terus bergerak menarik sleting hingga kebawah, tanganku mulai merayap mengusap kulit perut yang halus dan ramping, tanganku terus bergerak ke atas hingga mengusap dan membelai dada yang tak tertutup bh.

“Uhhh…..euh…” Indah melenguh disela-sela ciumanku merasakan nikmat ketika dia rasakan telapak tanganku meremas buah dadanya dengan penuh gairah dari balik bh-nya.

Lenguhan itu membuat gairahku semakin terpompa, kembali kuremas buah dada itu “Uuh….oohhh..” kembali dia mengeluh. Rasa dingin sudah tak kurasakan lagi tergantikan oleh hawa panas yang keluar dari dalam tubuh kami. Tanganku merayap kepunggung dan menarik pengait bh hingga terlepas, kemudian menarik bh itu ke atas hingga buah dadanya putih, mulus dan montok terpanpang jelas didepan mataku. Mataku nanar memandang keindahan itu, dan napasku semakin sesak dihimpit oleh gairah yang semakin menggebu..

Tangan kananku meremas-remas buah dada indah itu dengan penuh nafsu..”Uhhh….Ohhh…” kembali Indah melenguh nikmat sambil mendongakkan kepala. Mulut turun kebawah menyusuri dagu, kemudian leher yang masih tertutup jilbab, lalu ke dadanya yang putih mulus, kukecup, kuhisap dan kujilat permukaan dada itu.., kembali Indah melenguh..”Ouh….Kang…ouh…”. bibirku semakin mengulas menuju buah dada yang montok sekal menggemaskan, Indah semakin mengerang nikmat… Hingga akhirnya bibirku menghisap dan menjilat-jilat putting susunya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar dan erangan nikmatnya semakin nyaring ketika lidahku menjilati dan memilin putting susu yang semakin keras menjulang. Sambil lidahku mempermainkan putting susunya, kedua tanganku berusaha mencopot rok basah yang masih dikenakan Indah. Kembali tangan Indah menahan ragu…, tapi nampaknya gairah nafsu sudah membakar Indah, sehingga tangan itu membiarkan ketika tanganku mulai menarik rok panjang tersebut, bahkan pantatnya diangkat turut membantu agar rok tersebut dapat lepas dengan mudah dari tubuhnya. Kembali tanganku merasakan permukaan paha yang sangat lembut dan halus, kemudian kubelai kemulusan paha Indah yang kiri dan kanan secara bergantian, gairah Indah semakin meninggi dan dirinya semakin merasa melayang dibuai nikmat. Dan tiba-tiba badannya bergetar keras dan dari mulutnya keluar erangan nikmat yang cukup panjang ketika tanganku menggesek-gesek vaginanya dari balik Cd yang ia kenakan “Euuuhhhhh….euhhhhhhhh….Auhhh….auh…” Permukaan cd itu semakin basah oleh cairan gairah yang keluar dari vaginanya, ketika tanganku berusaha menarik cd yang ia kenakan, kali ini tidak ada lagi penolakan, bahkan tangannya membantu melepaskan cd tersebut.

Tangan kananku langsung aktif membelai dan menekan-nekan vagina Indah yang semakin basah. Dan erangan nikmat semakin nyaring terdengar dan tak putus-putus, hingga akhirnya badannya melonjak-lonjak keras disertai dengan teriakan-teriakan nikmat ketika jari tengahku mengocok-ngocok liang vagina yang licin namun sempit memijit dan mengurut-ngurut jari tengahku yang berada di dalam liang vaginanya. Jari tengahku semakin semangat mengocok, memutar dan mengait-ngait seluruh ruangan di liang vagina yang dapat dicapai oleh jariku., mata Indah semakin mendelik, dan napasnya semakin terengah-engah seperti kehabisan napas disertai dengan teriakan-teriakan nikmat yang tiada henti “Auh…Kang…auh…euhhh.. auww….. oohhhh”.

Tanganku semakin lincah mengexploitasi setiap relung vagina Indah sedangkan bibirku semakin bernafsu menghisap, menjilat serta memilin-milin putting susu yang luar biasa indahnya. Tubuh Indah semakin berkelojotan menahan nikmat yang kuberikan, hingga akhirnya kelojotan itu semakin keras dan semakin keras diakhiri dengan teriakan panjang tercekik…”Aaaaaakkkhhhhhhhssss….:” badannya melenting kaku, kepala terdongak dan mata terbeliak, lalu terjadi perut dan pantatnya berkedut-kedut keras serta jari tengahku seperti dipijit, diremas dan duhisap-hisap dengan sangat keras. Setelah itu badannya terhempas lemah di sandaran jok belakang mobil dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang terpejam serta bibir yang menampakkan seulas senyum rasa puas yang teramat sangat.

Kucabut jariku tengahku dari liang vaginanya yang semakin banjir kurasakan, tanpa keraguan sedikitpun kujilati jariku yang basah oleh lendir kenikmatan dari vagina Indah.

Indah memandang apa yang kulakukan, dengan lemah tangannya menarik jari tengah yang sedang kujilati lalu dia menjilati dan menghisap jari tengahku seperti orang yang makan permen lolipop dengan nikmatnya dengan napas yang masih terengah-engah kecapaian..

Cukup lama Indah menghisap dan menjilati jari tanganku hingga perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan napasnya yang kembali memburu dan Indah mulai menjilati dada dan putting susuku. Aku melayang diperlakukan seperti itu, kemudian tangannya berusaha membuka celana panjangku, kubantu melepaskan celana panjang sekaligus dengan cd yang kukenakan. Indah terpana memandang penisku yang menjulang tegang dan keras.

Kakinya melangkahi pinggulku, sambil mencium bibirku dengan sangat bergairah, tangannya memegang penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat dimulut liang vagina yang licin dan basah.

Blesss…. Perlahan-lahan penisku menembus vaginanya, sangat perlahan karena sangat sempit walaupun sangat basah dan licin.. Seeerrrr rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh peredaran darahku membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Indah semakin menekan pantatnya dalam-dalam hingga seluruh batang penisku ditelan oleh vaginannya yang sempit menjepit dan menghisap-hisap penisku.

“Uhh…..” aku mengeluh nikmat, vagina Indah terus-menerus memijit dan menghisap penisku mendatangkan nikmat yang tiada henti sehingga aku terus menerus mengerang nikmat. Gerakan Indah makin lama semakin cepat, dan vaginanyapun semakin keras menghisap-hisap penisku. Kepala Indah terdongak kebelakang sambil mengerang nikmat, kedua tangannya merengkuh bahuku dan gerakannya semakin liar tak terkendali.

Akhirnya badannya melenting kaku dan mulutnya melepaskan teriakan panjang melepas nikmat “Aaaaakkkkkkkhhhhss….” Kemudian tubuhnya ambruk menindih dada dan bahuku. Sedangkan penisku merasa nikmat yang teramat sangat karena vagina Indah memijit, meremas dan menghisap dengan keras pada saat dia mencapai puncak.

Aku merasa orgasmeku akan datang, oleh sebab itu kubaringkan dia dijok mobil dan kubuka paha dan kuangkat betisnya dan blesss…. Kembali penisku menerobos liang vagina yang makin basah dan licin, tapi anehnya tetap sempit menjepit nikmat batang penisku. Aku mulai mengocok penisku keluar masuk liang vaginanya. Gairah Indah bangkit kembali dan mengimbangi gerakanku sehingga rasa nikmat semakin cepat menjalar disekujur tubuhku. Gerakan tubuhku semakin menghentak-hentak keras tak terkendali disambut dengan hentakan yang tak kalah kerasnya dari tubuh Indah, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang sangat besar mengalir dari pangkal penisku dan badanku melenting kaku dan “Akkkhhhh….. “ aku menjerit melepas nikmat dan Cretttt… Cretttt …Cretttt ….. sperma kentalku terpancar dengan keras di dalam vagina Indah. Dan seperti terpicu oleh semprotan spermaku, tubuh Indahpun kembali melenting sambil menjerit melepas nikmat dan terjadi pada tubuh Indah sehingga vaginanya kembali meremas, memijit dan menghisap-hisap penisku dengan kerasnya. Aku merasa seolah-olah vaginanya menyedot habis seluruh cadangan sperma yang ada di penisku, hingga akhirnya aku ambruk menindih tubuh Indah yang basah oleh keringat.

Aku bangkit dari atas tubuh Indah dan menyandar pada sandaran jok, sambil mengatur napas yang terengah-engah.

Selama beberapa menit kami terdiam menikmati sisa-sisa nikmat yang masih terasa dan memulihkan napas yang secara perlahan-laha mulai teratur kembali.

Walaupun diluar hujam masih sangat lebat, namun saat itu kami sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan kami merasa kegerahan.

Setelah kesadaran kami pulih, tiba-tiba Indah menjerit tertahan sambil menutup buah dadanya dengan jaket yang masih dikenakannya “Aahhh….!!!” Dan tangannya yang lain berusaha menutup vaginanya serta merapatkan kaki.

“Ada apa sayang…?” tanyaku heran

Indah tidak menjawab….. hanya dengan tergesa-gesa ia mengenakan Cd dan rok panjang yang masih basah oleh air hujan, kemudian dia berkata “Ohhh…., seharusnya hal ini tidak boleh terjadi…. , maafkan aku…maafkan aku..” terus menangis sesenggukan, aku bingung dengan apa yang dipikirkannya dan tak sanggup berkata-kata, kemudian aku berusaha membelainya di bergeser menjauh sambil tetap sesenggukan, akhirnya kudiamkan dirinya melepaskan tangis sedangkan aku berdiam diri melamun bingung.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat kerjanya karena waktu telah menunjukkan jam 13.30. Sepanjang perjalananan pulang kami lebih sering membisu dan terasa sangat kaku. Hingga sampai di tempat kerjanya, Indah lebih sering diam membisu dengan wajah yang menampakkan setumpuk kegundahan.

Beberapa hari setelah kejadian mengesankan di Tangkuban Perahu, Indah seperti yang menghindar dariku, berkali-kali kujemput, tidak pernah mau menemuiku.

Hal itu membuatku gelisah tak menentu. Aku menjadi kelimpungan dibuatnya. Di kantor aku menjadi mudah marah, hampir semua anak buahku kumarahi jika mereka berbuat kesalahan walaupun kesalahan yang sepele.

Perubahan sikapku ini membuat aneh anak buahku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegelisahanku demikian memuncak, sehingga kuputuskan untuk mendatangi rumahnya dan aku mulai mencari informasi dimana alamat rumahnya pada teman sepekerjaannya. Namun baru saja aku bertanya pada teman sepekerjaannya, Indah datang menemuiku dan berkata “Kang…, kita harus bicara…!”

“Kapan…?” tanyaku pula

“Nanti, setelah pulang kerja…” jawabnya pula

Masa penantian yang hanya 1 jam saja, terasa bagaikan bertahun-tahun, sehingga akhirnya masa penantian itupun berakhir. Indah keluar menghampiriku “Yuk, Kang..!” katanya.

“Mau kemana kita..?” tanyaku

“Kemana aja, yang penting kita bisa ngobrol..” sahutnya pula.

“Bagaimana kalo kita ke ‘Tea House’ Dago ?” usulku.

“Terserah Akang..!” jawabnya lagi.

Akhirnya aku membawanya ke Tea House, yaitu suatu tempat makan atau minum di daerah Dago Utara dengan suasana yang sangat nyaman dan indah. Setelah tiba, kami masuk ke saung-saung yang tersedia dan memesan manakan dan minuman ringan.

“Kenapa sich ? Indah susah ditemui akhir-akhir ini. Lagi ngambek yah…ke Akang ?” tanyaku memecah kebisuan.

“Maafkan Indah, Kang..! Akang tidak salah… Indah sengaja menjauhi Akang, karena Indah takut terlalu dalam mencintai Akang …. “ jawabnya dengan nada perlahan penuh kesedihan.

“Mengapa Indah takut mencintai Akang..? Bukankah Indah juga tahu, bahwa Akang sangat mencintai Indah ? Bahkan Akang merasa sangat bahagia kalau tahu Indah begitu dalam mencintai diri Akang…” jawabku sambil tersenyum dan meraih pundaknya dan mendekapnya.

Indah membiarkan tubuhnya direngkuh olehku dan meletakkan kepalanya di dadaku, melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Kemudian berkata “Tapi.., tetap saja Indah merasa takut. Karena semakin lama, Indah makin mencintai Akang…. Dan ini sebenarnya tidak boleh….” Katanya pelan

“Udahlah… nggak perlu takut…, bukankah Indah pernah bilang, kita jalani aja hubungan seperti ini…., Akang tidak akan mendatangi rumah Indah dan bertanya tentang pribadi Indah , kalau Indah tidak mengijinkan…. Percayalah ‘Ndah..! Akang cukup bahagia dengan keadaan seperti ini, walaupun terasa janggal. Akang akan menunggu keikhlasan Indah untuk hal-hal yang lebih lanjut.” Kata-kataku meluncur menenangkan dirinya sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta….?

Ya… aku merasa bahwa aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya, walaupun aku belum tahu siapa dia sebenarnya.

Selanjutnya, obrolan diisi dengan curahan rasa cinta masing-masing diselingi kecupan mesra. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu, demikian juga nampaknya dengan Indah. Wajahnya bersinar semakin cantik dan anggun, dia selalu tersenyum manis setiap kali bicara, dan bibirnya begitu menggoda setiap kali dia bicara, sehingga berkali-kali kukecup bibirnya dengan gemas. Dan nampaknya Indah begitu bangga dan bahagia menerima perlakuanku tersebut.

Tak terasa waktu telah memasuki waktu magrib, maka kami segera pulang. Dan seperti biasa aku mengantarnya sampai depan gang rumahnya.

Selanjutnya hari-hariku kembali ceria dan tidak ngambek-ngambek lagi di kantor, dan perubahan ini tentu saja menggembirakan anak buahku, sehingga semangat kerja mereka muncul kembali.

Dua minggu setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, aku mengajaknya jalan-jalan pada hari dimana dia OFF. Saat itu aku mengajaknya menikmati keindahan situ Cileunca di daerah Pangalengan – Bandung Selatan. Kami ketemuan di depan tempat dia kerja. Sebelum menemuinya aku ke kantor terlebih dahulu dan mendelegasikan semua pekerjaan kepada anak buahku. Kemudian aku menjemputnya sekitar jam 09.30 dengan menggunakan sepeda motor inventaris kantor.

Sepanjang perjalanan, dia mendekapku dengan mesra dari belakang, desiran darahku membuat perasaanku melayang ketika kurasakan punggungku dihimpit oleh buahdadanya yang montok. Kurasakan perjalanan Bandung – Pangalengan demikian singkat, karena tanpa terasa kami sudah tiba di Situ Cileunca.

Kami menikmati keindahan alam situ Cileunca sambil bergandengan tangan dengan mesra bagaikan pasangan suami istri yang sedang dalam masa bulan madu, naik perahu, jalan-jalan diantara kebun teh dan bercanda tawa selama menikmati keindahan alam ini.

Mendekati tengah hari aku mengajak Indah ke villa milikku yang berada di daerah tersebut, kusebutkan bahwa aku udah janjian untuk mengunjungi teman di daerah tersebut. Indah mengikuti saja kemana aku ajak, karena dia benar-benar menikmati dan merasa bahagia dengan kebersamaannya denganku saat itu.

Ketika tiba di depan gerbang villa, aku langsung menghubungi penjaga villa dan kubisikan agar ia bersandiwara seolah-olah aku adalah teman dari si pemilik villa dan memberikan sejumlah uang untuk menyiapkan makanan dan minuman. Penjaga villaku cepat tanggap akan situasi yang kuinginkan.

Dia berkata padaku dihadapan Indah “Wah…! Sayang Pak Agus…! Pak Dedi pergi ke Majalaya dan pulangnya besok, tapi beliau berpesan bahwa kalo Pak Agus datang disuruh istirahat aja dulu”

“Wah…! Gimana nich ‘Ndah ? temanku pergi, tapi kita istirahat aja dulu yach..?” Kataku pada Indah.

Indah hanya mengangguk setuju. Kamipun masuk ke villa tersebut diantar oleh penjaga villa tersebut. Dan tak lama kemudian istri penjaga villa menyuguhkan makanan dan minuman yang masih hangat, kemudian mempersilahkan kami menikmati hidangan tersebut sementara mereka kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua. Tapi sebelum meninggalkan kami, penjaga villa tersebut berkata “Kalo perlu apa-apa, hubungi mamang aja ke rumah, Mamang pamit dulu..!”

“Terima kasih , Mang !” kataku.

Sepeninggal mereka, Kamipun menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan tentang komentar kami akan keindahan alam di sekitar situ cileunca dan juga tentang nikmatnya masakan khas daerah tersebut yang baru saja kami nikmati.

Setelah dirasakan cukup rileks, kami menuju balkon yang terletak di lantai 2 dan memiliki view situ cileunca dari kejauhan , sehingga terlihat keindahan situ cileunca yang dikelilingi oleh perkebunan dan gunung-gunung.

Kami duduk berdampingan dikursi panjang, tangan kananku memeluk pundaknya, sedangkan kepalanya disandarkan ke pundakku.

“’Ndah…! Betapa bahagianya Akang saat ini., apakah Indah merasakan hal yang sama seperti Akang..?” tanyaku sambil mengecup keningnya

“Kebahagiaan Indah, sukar diucapkan dengan kata-kata…., Pokoknya mah banget…” jawab Indah sambil wajahnya menoleh terhadapku.

Bibirnya mencari bibirku dan memberikan ciuman yang hangat penuh rasa cinta padaku. Aku membalas ciumannya, dengan menghisap dan mengecup bibir tipisnya yang menggemaskan. Cukup lama bibir kami saling mengecup dan menghisap, sampai akhirnya Indah berusaha melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan napas.

Tanpa kami sadari napas kami sudah tersengal-sengal dipacu oleh nafsu birahi yang mulai merasuki diri kami. Sehingga tak lama kemudian kami berciuman kembali, namun kali ini, ciuman yang terjadi adalah ciuman yang sudah dirasuki oleh nafsu birahi sehingga terasa begitu panas bergelora dengan napas yang terengah-engah.

Rangsangan yang kurasakan semakin tinggi, dan kubisikan padanya “Ke kamar Yuk..!”

Indah menatapku penuh harap dan mengangguk lemah. Aku berdiri dan menuntunnya untuk menuju kamar.

Sesampainya di kamar, aku mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, kemudian kembali berciuman, dan ciuman kali ini jauh lebih bergelora dibandingkan dengan yang tadi kami lakukan, sambil berciuman dan mempermainkan lidah, tangan kananku mulai meremas buahdadanya yang montok dari balik bajunya. Ciumannya terlepas dan terdengar erangan nikmat dari bibirnya dengan mata yang terpejam rapat “Euhhh…. Uuhhhh… “

Erangan yang keluar dari bibirnya yang tipis memberikan rangsangan yang semakin tinggi bagiku, napasku semakin menggebu demikian juga dengan napasnya, helaan napas kami bagaikan sedang berpacu, saling menghela dengan terengah-engah. Tubuh kami terasa panas, mengalahkan hawa dingin pegunungan daerah Pangalengan. Jilbab yang dikenakannya kusut masai, maka secara perlahan kulepas jilbab tersebut, Indah hanya diam saat jilbabnya terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, lalu kuciumi lehernya yang jenjang dan menggairahkan.

Indah menggelinjang dan terdongak sehingga lehernya semakin terbuka dan kuhisap-hisap penuh nafsu, mata Indah terpejam menikmati rangsangan yang kuberikan.

Secara perlahan, aku mulai berusaha melepaskan gaun yang dikenakannya. Indah membantu melepaskan gaun tersebut terlepas dari tubuhnya. Mataku berbinar dan terpana menatap tubuh mulus dan halus dari bagian atas tubuh Indah yang terbuka dan hanya secarik bh krem yang menutupi buahdadanya yang montok.

Kuciumi dan kujilati perut Indah yang rata dan halus bagai porselen. Setiap kukecup dan kujilati permukaan perut Indah, terlihat otot-otot perutnya tergetar seolah teraliri oleh arus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Indahpun semakin mengerang nikmat sambil menggeliat “Uhhh…… ouuhhhh…. Kang…. Kang….ouhhh…”

Erangan nikmat itu semakin merangsang diriku, dan tanganku berusaha melepaskan bh krem yang menghalangi keindahan buahdadanya. Begitu terlepas…. Kedua tanganku langsung meremas-remas buahdada yang montok itu. Indah semakin menggelinjang nikmat dan mengerang semakin keras “Ouh…. Kang… Ouh… Kang…. “

Kepalanya terdongak dengan mata terpejam dan tubuh yang melenting serta kedua tangan yang bergerak kesana-kemari mencari pegangan dan akhirnya meremas sprey dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

Lidahku terus mengulas permukaan perutnya yang halus bak pualam, sementara Indah terus menerus mengerang dan meregang dan napas yang tersengal-sengal. Dengan penuh nafsu lidahku merayap ke atas, kearah buah dadanya yang montok, Indah semakin mengerang “Ouhh…. “ tubuhnya semakin menggeliat, putting susunya menonjol keras dan runcing.

Jari-jari tangan kananku memilin-milin putting susu sebelah kiri, tubuh Indah semakin bergetar dengan erangan yang semakin bergemuruh “Euhhh…. Ouh… kang… kang…”.

Lidahku menghisap dan mengecup permukaan buahdada di sekitar putting susu yang semakin menonjol, geliat tubuh Indah semakin keras dan menggeliat dengan erangan nikmat yang tak terputus-putus serta napas yang semakin tersengal. Dan akhirnya lidah dan bibirku mulai mengecup dan menghisap putting susu yang semakin menonjol, tubuh Indah semakin melenting dan cengkraman jari-jari tangannya pada sprey semakin kuat menahan rasa nikmat yang tak terperi, kepalanya terdongak semakin dalam “Auh…. Ahhh… Kang….”

Napasku semakin terengah-engah terdorong oleh nafsu yang semakin menggebu, kedua tanganku mulai melolosi rok panjang dan cd yang dikenakannya. Pantat Indah terangkat memudahkan tanganku melepaskan tanganku melapaskan sisa pakaian yang menempel pada tubuhnya.

Napasku semakin tersengal-sengal dengan pandangan mata yang semakin nanar, terpukau oleh kemulusan dan keindahan tubuh bugil Indah yang semakin memompa gairahku

“Ohhh… “ mulutku berguman kagum akan keindahan ini.

Tanpa ragu wajahku langsung mengarah ke selangkangan Indah dan dengan penuh nafsu aku menjilati dan mengecup vagina Indah yang ditutupi oleh jembut yang halus dan menggairahkan. Tubuh Indah bergetar keras seperti teraliri listrik ribuan volt dengan tubuh yang melenting kaku dan jeritan keras “Akkkkhhhs……”

Begitu lidahku menyusuri lipatan vaginanya yang bahsah dan harum menggairahkan. Setiap lidahku menyusuri lipatan vagina dan berhenti di klitoris yang menonjol keras, tubuh bergetar dan mengeliat serta mengerang cukup keras “Akkhhhsssss……..”

Dengan cepat dan penuh gairah, lidahku kukorek-korekan kedalam liang vagina Indah yang terasa asin dan gurih. Kedua kaki Indah menghentak-hentak dan tubuh menggeliat serta kepala yang semakin terdongak, hingga akhirnya tubuh Indah melenting kaku bagaikan ulat yang tertusuk duri diserta jeritan nikmat yang sangat panjang dengan napas yang tercekik “Aaaaaaakkkkkkhhhhhsssss……..”

Lidahku terasa bagaikan dijepit oleh dinding-dinding vagina yang berkontrkasi sangat kuat, dan akhirnya tubuh Indah terhempas bagaikan layangan putus, deru napasnya tersengal-sengal seperti kehabisan napas lalu terkulai lemas

“Ouhhhh…. Kang…., nikmat banget….. ouhhh…” katanya sambil menghembuskan napas panjang penuh kepuasan.

Pakaian yang kukenakan basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-poriku. Kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sementara Indah masih terbaring lemah sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang baru diraihnya.

Setelah tubuhku bugil, kembali aku merangkak mendekati tubuh Indah yang tergolek lemah. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra, Indah menyambut kecupanku. Kuhisap bibir indah tersebut, Indah balas menghisap dan akhirnya lidahku kumainkan untuk menjilat bibir Indah dan berusaha memasuki rongga mulutnya. Indah membalas ciumanku dengan gairah yang mulai bangkit kembali, tangannya merengkus tengkukku agar ciuman kami semakin rapat. Akhirnya tubuhku menindih tubuhnya dan bergumul dengan nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku yang tegang dan keras menganjal permukaan vaginanya, membuat gairah Indah semakin tinggi dengan deru napas yang semakin cepat.

Tiba-tiba Indah menggulingkan tubuhnya sehingga dia berada diatas tubuhku dan mulai mengambil inisiatif untuk merangsangku. Dia menciumi pipi, leher, dada, menghisap-hisap putting susuku baik yang kiri maupun yang kanan membuat tubuhku menggelinjang dilanda rangsangan yang sangat tinggi. Dan Indah semakin bergairah melihat mataku terpejam-pejam menahan nikmat. Ciumannya pindah ke perut dan terus turun ke bawah hingga akhirnya mata Indah terlihat nanar penuh gairah memandang batang penisku yang mengacung tegak menjulang, dan “Ouhh……” tanpa sadar erangan nikmat keluar dari mulutku ketika kurasakan Indah mulai memasukan batang penisku kedalam mulutnya.

Kepala Indah berputar-putar agar batang penisku mengocok-ngocok rongga mulutnya, tubuhku semakin menggeliat menahan nikmat dan mulutku hanya sanggup mengeluarkan keluhan nikmat terputus-putus “Ouhhh….Ndah…. Ouhhh….. eeenn…nak… ohhh…”

Indah semakin bergairah bisa memberikan kenikmatan padaku, lidah tidak tinggal diam, dia gunakan untuk menjilati kepala penisku, aku semakin melayang…., penisku semakin bengkak dan keras.

Gairah Indah sudah tak tertahankan lagi, karena vagina mulai terasa sangat basah, berkedut dan gatal. Dia menghentikan kegiatannya mengulum batang penisku, Dia merangkak menghadapku dan menempatkan vagina tepat diatas batang penisku yang mengacung semakin keras, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada diliang vaginanya yang semakin berdenyut gatal, lalu …. Blessshh…..

“Ooouuhhhh…..” Rasa nikmat menjalar dari syarat nikmat yang terdapat dipermukaan kepala dan batang penisku, ketika Indah menurunkan pantatnya perlahan .

Kepala penisku menyeruak dan menyusuri lorong nikmat dari liang vagina Indah yang basah, licin dan berdenyut-denyut serta meremas-remas nikmat.

“Ouhhh…..Kang….” Indahpun mengerang ketika rasa nikmat menderanya, ketika dia merasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya. Gerakan menekan pantatnya demikian perlahan, sehingga rasa nikmat yang kurasakan terasa lama dan sensasional dan akhirnya terhenti setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya dan selangkangan kami menempel sangat rapat. Indah menekan pantatnya sangat kuat sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang menderanya, kedua tangannya mencengkram kuat dadaku.

Lalu pinggul dan pantatnya mulai bergerak keatas-kebawah sehingga batang penisku mengocok-ngocok liang vaginana, erangan nikmat keluar dari mulut kami sahut menyahut. Indah semakin cepat menggerakan pantatnya, terkadang bergerak memutar sehingga kurasakan batang penisku seperti dipelintir dan akupun melotot sambil mengerang nikmat “Ouhhh….. Ouhhh…. “

Sementara itu, gerakan Indah semakin cepat dengan kepala terdongak kebelakang dan mengerang dengan mata terpejam. Buahdadanya berguncang-guncang indah, dengan nafsu yang tak pernah surut kedua tanganku menjulur dan mulai meremas-remas buahdada montok itu, Indah semakin terdongak dan melonjak-lonjak nikmat disertai dengan lenguhan dan erangan yang semakin keras.

Gerakan pinggul Indah semakin cepat tak terkendali dan kejang-kejang, hingga akhirnya tubuhnya melenting kaku, dengan kepala terdongak ke belakang, kuku-kuku jarinya mencengkram erat dadaku dan “Aaaa…… aakkkkkkhhhsssss……….”

Jeritan panjang keluar dari mulut Indah, selama beberapa detik tubuhnya kaku seperti itu dan akhir tubuhnya terhempas, melayang dan ambruk menindih tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Sementara itu penisku seperti diremas dan dijepit dengan sangat kuat membuat akupun melayang nikmat.

Tubuh kami yang berpelukan, basah oleh keringat yang mengucur deras. Sementara itu penisku masih menancap dengan kokohnya di dalam liang vagina Indah.

Kugulingkan tubuhku sehingga tubuhku diatas tubuhnya dengan batang penis yang tetap menancap di liang vagina, kuarahkan mulutku pada buahdadanya dan mulai menghisap dan menjilati putting susu Indah, Indah mengerang lemah “Euhhhh…”, sementara itu secara perlahan pantatku mulai mengayun hingga batang penisku mengocok-ngocok liang vagina Indah. Rasa nikmat kembali menjalar di sekujur tubuh Indah, perlahan namun pasti gairah Indah bangkit kembali. Indah menggerakan pinggulnya untuk membalas gerakan pantatku, kenikmatanpun semakin menjalar pada tubuh kami berdua. Aku semakin cepat mengayun pantatku, gerakan pinggul Indah semakin bervariasi dan memabukkan, dan hanya beberapa menit kemudian , tubuh Indah kembali melenting kaku dan menjerit menjemput nikmatnya Orgasme “Aaakkkkkksssshhh…..” Pantatnya terangkat dan akhirnya terhempas. Kudiamkan sejenak pantatku untuk menikmati remasan dan hisapan yang dilakukan dinding vagina Indah pada batang penisku.

Setelah kurasakan kedutan dan hisapan dinding vagina Indah melemah pada batang penisku, kembali aku mengayun pantatku untuk mngocok-ngocok liang vaginanya, sambil mulut dan tanganku mempermainkan buahdada dan putting susunya yang tak membosankan untuk diremas dan dihisap.

Kurang dari semenit, Indah kembali membalas gerakan pantatku dengan menciumku dan menggerakan pinggulnya sambil kembali mengerang nikmat, namun hanya berselang beberapa menit kemudian, kembali tubuhnya melenting kaku dan kembali dia menjemput orgasme yang menghampiri dirinya. Dan aku kembali mendiamkan pantatku sejenak untuk menikmati remasan dan hisapan dinding vagina Indah pada batang penisku pada saat dia mengalami fase orgasme. Pantatku kembali mengayun setelah kurasakan remasan pada penisku melemah, dan pinggul Indah kembali membalas gerakan pinggulku setelah beberapa detik kemudian hingga akhirnya kembali ia menjemput orgasme.

Perolehan orgasme bagi Indah, terjadi berulang-ualng, entah berapa kali, yang jelas tubuhku terus menggenjot tubuh Indah tanpa mengenal lelah, sementara badanku basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras.

Kuhentikan ayunan pantatku setelah Indah memperoleh orgasme entah yang ke berapa kali. Kuletakkan ke dua lututku dibawah kedua pangkal pahanya, kedua tanganku memegang kedua tumit kaki Indah dan membukanya lebar-lebar, sementara Indah nampak tergoleh kelelahan, namun tatapan matanya masih menampakkan gairah yang belum surut, apalagi melihat batang penisku yang masih kokoh menancap di dalam liang vaginanya.

Dalam posisi paha Indah yang terbuka lebar aku mulai mengayun pantatku agar batang penisku kembali mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok liang vaginanya. Rasa nikmat yang kurasakan semakin bertambah, karena jepitan dinding vagina Indah serasa semakin sempit dan menjepit, dan kulihat vagina Indah terkempot-kempot setiap kali aku melesakkan batang penisku.

Kulihat kepala Indah terbanting ke kiri dan ke kanan setiap kali aku menghela pantatku diiringi erangan nikmat yang dia perdengarkan. Kedua tangannya mencengkram erat seprey yang ada di sekitarnya.

Kurasakan badai orgasme akan menghantamku, mataku mulai berkunang-kunang, asaku terasa melayang dan gerakan pantatku mulai kejang-kejang dan menghentak. Indah merasakan bahwa aku akan mencapai orgasme, karena dia merasakan penisku semakin bengkak menyesakkan liang vaginanya dan gerakanku terasa semakin keras dan kasar menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa, sehingga diapun merasa orgasme akan kembali menghampiri dirinya. Dengan terengah-engah menahan nikmat, sambil menggerakan pinggulnya membalas gerakanku diapun berkata “Ayo…. Kang… ayo… bareng…. Bareng……. “ dan “Aaaa… aakkkkkkkh…. hhhsss……….” Seperti mengeluarkan tenaga yang penghabisan Indah menjerit keras menjemput orgasme yang dirasakannya sangat luar biasa, berbeda dengan orgasme-orgasme yang terdahulu, tubuhnya mengejang sangat kaku. Secara bersamaan, akupun menjerit melepas nikmat menjemput badai orgasme yang sangat dahsyat “Akkkhhhhhhhssss……..”.

Tubuhkupun berkelojotan sambil crettt…cretttt…crett… sperma kental memancar sangat deras membasahi lorong vagina Indah. Beberapa detik kemudian, kurasakan tubuhku terasa ringan bagaikan layang-layang putus dan aku ambruk menghempaskan tubuhku disamping tubuh Indah yang terkulai lemas. Napas kami tersengal-sengal seperti yang baru selesai balap lari.

Tubuh kami terasa sangat lelah, setiap persendian bagaikan dilolosi dan kami terbaring lemas dengan kesadaran yang melayang-layang. Cukup lama kami dalam keadaan seperti itu.

Setelah perlahan-lahan kesadaran kami pulih, Indah menggulirkan tubuhnya menghadapku dan tangannya mengusap pipiku sambil berkata “Akang….hebat… saya benar-benar sangat puas…., saya semakin sayang ke Akang…” lalu wajahnya menghampiri wajahku dan mengecup bibirku sangat mesra….

Aku tersenyum bangga dan bahagia, kemudian balas mencium bibirnya dengan penuh kemesraan.

Basahnya tubuh oleh keringat yang lengket, membuatku tidak nyaman, lalu dengan malas aku berusaha bangkit dan berdiri, namun hampir aku terjatuh…. Lututku gemetar dan terasa copot hingga hampir tak sanggup untuk berdiri, kembali aku duduk dipinggir tempat tidur yang sepreynya acak-acakan oleh pertempuran hebat yang baru saja selesai. Indah tersenyum melihat keadaan lututku yang gemetar dan hampir jatuh lalu berkata “Ada apa Kang ? cape ya..? ”

“Iya…nich. Lutut terasa copot…, habis Indah sich… luar biasa…” sahutku sambil tersenyum

“Ahhh…Akang!” sahutnya bahagia.

Lama aku terduduk, setelah kurasakan tenagaku benar-benar pulih, aku berdiri dan menuju kamar mandi, lalu mandi menyegarkan diri, tak lama kemudian Indahpun mandi dan mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbabnya. Lalu Indah merapihkan tempat tidur yang acak-acakan.

Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, kamipun pulang setelah aku memberitahu penjaga villa. Sepanjang perjalanan pulang, Indah semakin menempel mesra padaku, dia hanya menjauhkan tubuhnya setelah kami berada dekat dengan gang rumahnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku memutuskan kembali ke kantorku untuk mengambil mobilku.

Kesan yang kudapatkan pada hari itu, menjerumuskan aku semakin dalam terhadap rasa cintaku pada Indah. Aku merasa tidak mampu berpisah dengannya.

Gundah…. Gelisah….. Takut….

Itulah yang dirasakan Indah saat ini, sore itu, setelah diantar pulang hingga ke mulut gang oleh Agus, Indah benar-benar gundah, gelisah, dan takut.

Persetubuhannya yang kedua kali denganku, benar-benar telah menjeratnya, Dia telah benar-benar mencintaiku dan tak sanggup untuk melupakannya, padahal perasaan ini adalah perasaan yang selama ini berusaha dia tolak karena merupakan sesuatu yang salah. Tadinya dia berencana bahwa Aku hanya sebagai lelaki yang mengisi kekosongan batinnya, dan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk berselingkuh denganku. Namun dalam usianya yang masih muda, gairahnya yang menyala-nyala, tak pernah dapat tersalurkan, sehingga membuat dirinya demikian mudah terangsang dan akhirnya terjadilah persetubuhan yang sangat memuaskan dirinya, bahkan sangat puas hingga dia mampu memperoleh orgasme berulang-ulang. Sementara kepuasan seperti itu belum pernah dia alami sebelumnya.

Sebenarnya Indah adalah istri Dedi berusia 30 tahun, mereka menikah pada saat Indah berusia 20 tahun dan Dedi berusia 26 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat bahagia, Dedi yang seorang karyawan sebuah perusahaan, mampu membahagiakan Indah baik lahir maupun batin. Namun akibat pola hidup yang salah, setelah dua tahun menikah dan belum sempat memperoleh buah hati, Dedi terserang penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga membuat dirinya impoten.

Dia sudah berobat kesana-kemari hingga harta bendanya habis terjual namun penyakitnya tak sembuh juga, bahkan diperparah dengan PHK yang menimpanya sehingga otomatis Indahlah yang menjadi tulang punggung rumah tangga mereka, sementara Dedi kerja serabutan bahkan lebih sering berada di rumah.

Dedi masih bisa merasakan rangsangan yang cukup besar melihat kemolekan tubuh istrinya oleh sebab itu berkali-kali mereka mencoba untuk melakukan hubungan suami istri, tapi penis Dedi tidak mampu berdiri tegak, berbagai cara rangsangan telah dilakukan Indah agar batang penis suaminya bisa berdiri tegak, tangan Indah berusaha meremas dan mengocok memberikan rangsangan pada batang penis Dedi, tapi tidak juga bisa berdiri, bahkan pernah mulut Indah mengoral penis Dedi hampir setengah jam sampai Indah merasakan kaku pada tulang rahangnya, namun penis Dedi tetap tergantung lemah. Jika sudah demikian nampak sekali kegelisan dan kekecewaan yang mendalam terpancar dari sorot mata Indah, dan Dedi benar-benar merasa terpukul dengan keadaan dirinya seperti itu. Dedi merasa malu dan rendah diri di hadapan istrinya.

Namun walaupun demikian, Indah tetap mencintai suaminya, baginya Dedi adalah hidupnya, dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya. Indah selalu memberi semangat dengan penuh cinta pada Dedi untuk memperoleh kesembuhan ataupun memperoleh pekerjaan yang layak dan selalu berkata pada Dedi bahwa apapun pekerjaan Dedi, dia akan selalu mencintai Dedi.

Rasa cintanya yang besar seolah mengabaikan kebutuhan hidupnya. Dalam usia yang masih muda, tentu saja gairah biologisnya sering meronta-ronta minta penyaluran, namun selalu dia tekan dengan mencurahkan rasa cintanya pada Dedi.

Selama 2 tahun, Indah berhasil mengekang kebutuhan biologisnya walaupun terkadang dia merasa tersiksa dengan keadaan ini.

Namun akhirnya pertahanan Indah bobol, setelah berkenalan denganku. Dia melihatku sebagai lelaki yang sopan dan enak diajak ngobrol. Jika sedang bersama denganku, Indah seolah mampu menghilangkan sejenak masalah berat yang sedang dihadapinya. Dan perasaan suka timbul didalam hatinya, karena aku selalu berbuat sopan padanya. Dan akhirnya perasaannya menjadi terjerat padaku, terutama setelah kami melakukan persetubuhan yang sensasional dan mampu membasahi kekeringan yang melandanya selama 2 tahun terakhir ini.

Indah semakin terjerat akan pesona seksual yang ada pada diriku, dan dia benar-benar telah jatuh cinta padaku. Perasaan cintanya padaku sangat menyiksanya, karena diapun sangat mencintai suaminya dan tak ingin meninggalkan suaminya.

Disisi lain, Dedi sadar benar akan kebutuhan biologis istrinya, namun apadaya dia tak mampu memberikannya akibat penyakit yang dideritanya. Cintanya yang besar pada istrinya membuat dirinya berpikir untuk rela membiarkan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya pada orang lain, namun ia takut, takut istrinya terkena penyakit kalau menyalurkan sembarangan, atau takut istrinya akan meninggalkannya, karena istrinya adalah sumber semangat hidupnya.

Perasaan ingin membahagiakan istrinya dengan merelakan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain dan perasaan takut ditinggalkan istrinya selalu berkecamuk di pikiran Dedi, sehingga tanpa sepengetahuan istrinya, sebenarnya Dedi sering menguntit istrinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan istrinya.

Selama 2 tahun memata-matai istrinya, Dedi melihat bahwa Indah adalah istri yang setia, karena dia melihat istrinya tidak pernah menanggapi godaan lelaki lain. Dedipun melihat perhatian dan pelayanan istrinya tidak berkurang padanya, walaupun dirinya impoten dan tidak memiliki pekerjaan tetap setelah diPHK. Oleh sebab itu Dedi semakin mencintai istrinya dan semakin tidak sanggup ditinggalkan oleh istrinya.

Rasa cinta yang semakin besar, semakin memperbesar keinginan Dedi untuk merelakan istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada lelaki lain dengan syarat Indah tidak akan meninggalkannya. Berkali-kali dia merencanakan untuk membicarakan hal ini pada Indah, namun ia takut. Apakah Indah akan setuju ? Apakah Indah tidak akan tersinggung ? kembali niat itu surut untuk diajukan ke istrinya. Namun kerelaannya agar istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain tetap besar.

Itulah sebabnya, sebenarnya Dedi telah mengetahui, jika aku sering menjemput istrinya. Dedi bisa melihat bahwa istrinya menyukai diriku, hal itu terlihat dari tatapan mata Indah dan gerak-gerak Indah bila bersamaku, bahkan Dedi mengetahui jika istrinya telah dua kali pergi denganku entah kemana pada saat istrinya OFF. Dan Dedi merasa curiga bahwa Istrinya telah selingkuh denganku, sebab Dia bisa melihat keceriaan dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah Indah setelah bepergian denganku, namun hal itu tidak pernah dia tanyakan pada istrinya, karena dia tidak melihat berkurangnya limpahan cinta dari istrinya.

Dedi berusaha menyelidiki diriku, dan akhirnya dia tahu siapa diriku sebenarnya. Dedi menjadi takut ditinggalkan istrinya setelah mengetahui statusku, maka dia langsung mendatangiku.

Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerjaku sambil merencanakan bahwa sore nanti aku akan menemui Indah di tempat kerjanya. Aku merasa sangat rindu padanya, karena sudah 10 hari aku tidak bertemu dengannya disebabkan kepergianku ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tiba-tiba sekretarisku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin menemuiku. Akupun mempersilahkan tamuku masuk.

“Perkenalkan…, Nama saya Dedi..” kata tamuku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Aku menyambut uluran tangannya sambil berkata “Agus…, silahkan duduk..!”

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Dedi ?” tanyaku

“Begini, Pak….., bapak kenal dengan Indah, yang rumahnya di Gang Gwan An “ tanya Dedi dengan tatapan menyelidik.

DEG…, jantungku serasa mau copot, mendengarkan pujaan hatiku disebut.

“Bbbee….benaarr…, Ada apa dengan dia, Pak ? Dan bapak ini siapa ?” jawabku gugup

Terlihat Dedi tersenyum puas mendengar jawabanku

“Dia baik-baik saja….., Oh ya… saya suaminya !” katanya tenang, tak terlihat nada emosi dari ucapannya.

TENGGG…….

Dunia serasa gelap, badanku mendadak lemas tertimpa perasaan bersalah karena telah menyintai dan berselingkuh dengan istri seseorang yang berada di hadapanku.

“Tenang aja, Pak ! tidak perlu sekaget itu ! “ Dedi berusaha menenangkanku dengan tulus

“Apakah bapak tahu bahwa Indah telah bersuami ? Dan apakah bapak mencintai Indah ? Tolong Bapak jawab dengan jujur, percayalah Pak! Saya tidak akan marah dan menuntut bapak “ katanya lagi tersenyum tulus sehingga Aku percaya akan isi kata-katanya

“Ya…., saya mencintai istri Bapak.., maaf saya tidak tahu kalau Indah telah bersuami. Dia hanya berkata bahwa dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat, namun saya tidak boleh tahu apa masalahnya. Masalah itu pula yang menyebabkan saya tidak boleh mengantarnya sampai ke rumahnya.” Terangku panjang lebar.

“Pak, saya mohon, jangan rebut Indah dari saya. Saya sangat mencintainya dan saya tak sanggup ditinggalkan olehnya. Tapi saya juga mengerti akan kebutuhan Indah yang tak mampu saya penuhi, oleh sebab itu jika Bapak memang mencintai istri saya, bapak boleh menikmati rasa cinta Bapak, tapi jangan rebut dia dari saya…, saya mohon “ katanya memelas…

“Apa maksudnya, pak ?” tanyaku yang tak mengerti akan maksud ucapannya.

“Begini, Pak ! Saya sangat mencintai Indah, namun saya tak sanggup memberikan nafkah batin padanya karena penyakit yang saya derita. Namun saya kasihan pada Indah yang menanggung beban akan penyakit saya derita. Padahal dia masih muda, penuh gairah dan perlu menyalurkan hasrat biologisnya yang masih bergelora. Itulah sebabnya saya punya usul, bapak boleh menggauli istri saya kapan dan dimanapun bapak kehendaki dengan syarat saya harus melihatnya atau mengetahuinya, bahkan bapak boleh melakukannya di rumah kami. Memang usul ini terdengarnya gila…., namun inilah bukti, betapa besar rasa cinta saya pada istri saya. Tapi usul ini tidak pernah saya kemukakan pada istri saya, takut dia tersinggung” jelasnya panjang lebar

Aku termenung mendengar penjelasannya.

“Bagaimana, Pak ? Bapak setuju dengan usul saya ? Bapak ngga usah ragu…, saya tidak akan memeras bapak, saya melihat bapak orang baik-baik dan tidak akan menyakiti hati istri saya dan sayapun melihat bahwa istri saya menyukai bapak.”

Lalu lanjutnya “Saya hanya meminta bapak tidak merebut Indah dari sisi saya, Bagaimana ?” kembali dia mengajukan usulan.

“Baik…, saya menerima usul Pak Dedi, walaupun terdengar aneh…, sayapun sangat mencintai Indah dan jujur saja, saya juga tak sanggup berpisah dengannya” jawabku.

“OK dech kalau begitu…! Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku, kebetulan Indah OFF hari ini dan dia ada di rumah” dia mengajakku ke rumahnya

Ajakan ini sangat mendadak, dan tentu saja kuterima ajakan tersebut dengan senang hati. Kamipun berangkat menuju rumah Dedi dengan sepeda motor inventaris. Sepanjang jalan Dedi menjelaskan rencananya, bahwa aku dan Dedi adalah teman lama semasa SMA yang baru ketemu lagi, sengaja diajak Dedi untuk diperkenalkan pada Indah dan setelah itu Dedi akan pura-pura meminjam motorku untuk pergi mengambil order pekerjaan sekitar 2 jam, padahal dia akan membawa motorku ke tempat pencucian motor dan kembali jalan kaki ke rumah untuk mengintip apa yang aku dan Indah lakukan. Aku setuju dengan rencananya.

Sesampainya di rumah Dedi, Indah yang saat rambutnya hanya tertutup oleh ‘ciput’ (penutup kepala) sehingga terlihat lehernya yang putih dan jenjang. Indah tampak kaget melihat kami berdua berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi, namun Dedi seolah-olah tidak memperhatikan perubahan pada wajah istrinya, Dedi hanya berkata “Ndah…, kenalkan teman lamaku waktu di SMA. Namanya Agus !” katanya memperkenalkanku pada istrinya.

Aku menjulurkan tanganku mengajaknya besalaman sambil berkata basa-basi “Agus”

Dengan gemetar Indah menyambut jabatan tanganku.

Dedi bertindak seolah-olah aku dan Indah belum saling mengenal, dan dia memainkan perannya begitu meyakinkan, sehingga aku dan Indah terbawa oleh suasana yang diciptakannya. Tak lama kemudian Dedi berkata padaku

“Gus, pinjam motornya Ya ! Aku mau ngambil order. ‘Nggak lama kok, paling 2 jam-an. Kamu ngobrol aja dulu dengan istriku, kalau mau istirahat, tidur aja di kamar” katanya lagi sambil menunjuk kamar yang biasa diperuntukkan untuk tamu keluarga.

Aku mengerti akan sandiwara yang dibawakannya, lalu kuberikan kunci motorku berikut STNKnya.

Kami mengantar Dedi ke depan pintu hingga Dedi menjalankan motor. Kerinduan yang begitu mendalam membuatku tak tahan, begitu pintu depan ditutup dan belum terkunci, aku langsung memeluk Indah dari belakang penuh kerinduan dan menciuminya dengan gemas. Kukecup dan kuhisap lehernya yang putih dengan penuh nafsu. Indah hanya bergelinjang manja, nampaknya dia masih kaget bahwa aku adalah teman lama suaminya. Dihati Indah terbayang sebuah kesempatan bahwa dia akan sedikit bebas bisa berduaan denganku. Membayangkan hal itu, gairah Indah dengan cepat bangkit, apalagi rangsangan dariku semakin gencar maka gairahnyapun semakin cepat merayap naik. Indah membalikkan badannya dan menyambut ciumanku dengan gairah yang menyala dengan napas yang memburu.

Kami berciuman dengan penuh gelora sambil berdiri di balik pintu depan rumahnya, kakinya terjinjit menikmati percumbuan ini. Erangan dan lenguhan penuh rangsangan sesekali keluar dari mulutnya yang sedang tersumpal oleh bibirku. Kedua tangannya memeluk erat punggungku. Deru napas kami semakin memburu.

Lalu kubisikkan “Kita punya waktu 2 jam…., aku kangen banget padamu ‘Ndah!”

“Saya juga .., Kang..!” jawabnya mesra, dan pergulatan dua bibir yang didorong oleh nafsupun terjadi dengan panasnya.

Sambil berpelukan dan tetap melakukan percumbuan yang memompa gairah, Indah berusaha membawa tubuhku menjauhi pintu depan, menuju kamar tidur yang biasa digunakan oleh tamu, kamar tidur tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya ditutupi oleh tirai gordyn. Kami melanjutkan percumbuan sambil berdiri, tidak ada rasa takut dipergoki orang lain dalan diri Indah, karena di rumah ini dia hanya berdua dengan suaminya yang saat ini sedang keluar.

Kugeser posisi diriku hingga Indah membelakangiku sehingga kami sama-sama menghadap meja hias yang terdapat di kamar tersebut. Dari cermin, Ku lihat bayangan tubuh Indah yang sedang menggeliat menggairahkan, matanya terpejam menikmati cumbuanku, kepalanya dimiringkan kesamping sehingga lehernya yang jenjang serta putih, mulus merangsang terhidang tepat di depan bibirku, tak kusia-siakan kesempatan yang menggairahkan ini. Bibir dan lidahku mengecup, menghisap dan menjilat leher, pundak hingga bagian belakang telinga Indah, sementara kedua tanganku dengan gemasnya meremas kedua buahdada yang masih tertutupi oleh baju.

“Uhhhh…. Kang… ouhhh…” Indah mengerang nikmat penuh rangsangan. Matanya semakin terpejam dan kepalanya semakin terdongak ke belakang, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan, akupun semakin nafsu meremas-remas buahdada tersebut.

Sementara itu, Setelah tiba di tempat penyucian motor dan menitipkan motor untuk dicuci, Dedi kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Setiba di rumahnya, Dedi bergerak perlahan agar tidak bersuara, dia memeriksa pintu depan yang ternyata tidak terkunci, secara hati-hati

Dedi membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara. Dedi tersenyum, karena tidak melihat aku dan istrinya di ruang tamu. Dengan perlahan dia mencari keberadaan diriku dan istrinya, akhirnya samar-samar dia mendengar desahan dan erangan penuh rangsangan dari kamar tidur dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.

Dia mencari celah diantara tirai gordyn, agar bisa mengintip apa yang sedang kami lakukan. Terlihat olehnya bahwa aku dan Indah dalam keadaan polos sedang bercumbu di depan cermin hias dengan napas yang tersengal-sengal dipacu oleh nafsu berahi yang menguasai diri kami. Semua pakaian kami telah terlepas dan berceceran di lantai.

Terlihat olehnya bahwa aku sedang menciumi leher istrinya dari belakang dan kedua tanganku meremas-remas buahdada Indah dengan penuh nafsu, terkadang jari-jari tanganku memilin-milin putting susu Indah yang menonjol tegak dan keras. Selangkanganku menempel rapat pada bongkahan pantat Indah yang bulat dan montok dan pastinya Indah merasakan batang penisku yang keras dan tegang mengganjal di belahan pantatnya. Tubuh Indah menggeliat menahan nikmat, pinggangnya melenting dan kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang diterimanya, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan.

Tubuh Indah yang menggeliat-kegeliat menahan nikmat dan disertai lenguhan dan erangan nikmat yang keluar dari bibir mungil istrinya demikian merangsang. Dan rangsangan itu juga menjalar di tubuh Dedi walaupun belum sanggup membangunkan batang penisnya. Timbul rasa cemburu, dari dalam hati Dedi melihat aku yang sedang mencumbu Indah, tapi betapa dilihatnya bahwa Indah begitu menikmati apa yang kulakukan yang selama ini tidak pernah dapat dia berikan.

Dedi begitu bahagia melihat istri tercintanya begitu menikmati dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Akhirnya Dedi benar-benar menikmati apa yang dilihatnya dan menghapus rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, tangan kananku telah merayap ke bawah menuju selangkangan Indah, sementara tangan kiri tetap mempermainkan buahdada Indah yang semakin membusung. Lidah dan bibirku mengulas pundak, leher dan tengkuk Indah membuat Indah semakin menggelinjang.

Tangan kananku yang telah berada di depan vagina Indah, mulai mengorek-ngorek lipatan liang vagina Indah, terasa basah olehku, tubuh Indah bergetar dan bibirnya mengerang nikmat “Ouhhh….. ouhhh…. Auw….”. Erangan nikmatnya semakin keras ketika jari tengahku memasuki liang vaginanya dan mengucek-ngucek dinding vaginanya “Auh…. Owhh….. Kang…Kang… Ouhhhh…”.

Kudorongkan semakin dalam jari tengahku sambil jari tengahku berputar, mengait dan mengorek-ngorek. Tubuh Indah semakin bergetar menahan nikmat diserta erangan nikmat “Ouuhhh… Kang…. Ouhh…. “

Kugunakan jempolku menekan dan memutar-mutar klitorisnya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar keras dan “Aaaauhhh…. Aaauhhh…Kkkk..kang…”, mengeliat-geliat dengan kepala semakin terdongak ke belakang.
Klitoris Indah terus kuputar dan kutekan oleh jempolku, sementara jari tengahku mengucek-ngucek semakin cepat. Tubuh Indah melonjak-lonjak dengan keras menahan nikmat yang semakin melambungkannya, hingga akhirnya Indah merengek dengan tersengal-sengal “Masukan…Kang! Sekarang….! Ouhh…. Nggak tahan …. Nggak tahan….Ouhhhh….ouuhhhh…!!”

Akupun sebenarnya sudah tak tahan, kudorong punggungnya agar membungkuk, kedua tangannya diletakkan agar bertumpu di pinggir meja rias, pantatnya diangkat dan kutekan pinggangnya agar agak kebawah, sehingga Indah berada dalam posisi tubuh melenting sambil membungkuk, kedua kakinya kurenggangkan, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan penisku kepala penisku kearah mulut liang vagina Indah yang sudah basah dan licin dari belakang melalui belahan pantatnya. Lalu…..

Bleshh…. Batang penisku terasa hangat dan basah menguak liang vagina Indah yang sempit dan nikmat..

”Ouhhhh……….” Erang nikmat Indah keluar dari bibirnya sambil mendongakkan kepala. Posisi Indah yang sedang mengerang dan menggeliat ketika vaginanya diterobos batang penisku, begitu menggairahkan Dedi yang sedang mengintip perbuatan kami. Dedipun merasakan ada getaran-getaran nikmat yang terjadi pada batang penisnya, padahal selama ini, walaupun sudah dirangsang sedemikian rupa oleh Indah hingga membuat Indah kepayahan, Penisnya tidak juga merasakan getaran-getaran nikmat yang dapat membuatnya mengeras.

Namun saat ini, Dedi merasa aneh sekaligus gembira, karena dia merasakan ada getaran-getaran nikmat yang diakibatkan oleh aliran darah yang mengalir cukup cepat pada batang penisnya. Dedipun merasakan batang penisnya agak mengeras tidak seperti biasanya, walaupun belum bisa dikatakan batang penisnya telah tegang dengan sempurna, namun perubahan ini membuatnya sangat gembira dan menimbulkan harapan bahwa suatu saat nanti Dia akan mampu berfungsi sebagai lelaki normal kembali. Oleh sebab itu Dedi semakin asyik menikmati persetubuhan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Sementara saat itu, aku dengan penuh gairah memompa pantatku agar batang penisku mengaduk-ngaduk liang vagina Indah. Kepala Indah terangguk-angguk menerima helaan dan sodokan dariku sambil tak henti-hentinya mengerang nikmat “Ouh… ouhh… Kang…Kanggg..”

Buahdadanya yang montok terayun-ayun dengan indahnya. Indahpun menggerakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku membuat rasa nikmat semakin melambungkan kami berdua. Terkadang pinggul Indah berputar-putar sehingga batang penisku serasa dipelintir dengan sangat nikmat.

Hentakan tubuhku dan gerakan pinggul Indah semakin lama semakin cepat dan telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras diiringi dengan erangan nikmat yang semakin nyaring. Hingga akhirnya lonjakan tubuh Indah menjadi tak terkendali dan mulai kejang-kejang dan akhirnya tubuh Indah melenting kaku terdiam dengan kaki terjinjit disertai teriakan “Aaaaakkkkkkhhhs……….”

Selama beberapa detik batang penisku seperti diremas-remas dan dijepit oleh dinding vagina Indah dengan sangat kuat membuat napasku berhenti dihimpit oleh rasa nikmat yang luar biasa. Sesaat kemudian tubuh Indah melemas, lututnya dan sikunya goyah dan akhirnya ambruk terduduk di lantai sehingga Batang penisku yang sedang menancap pada liang vaginanya terlepas.

Indah baru saja memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sungguh luar biasa, meninggalkan diriku yang masih sedang berada di awang-awang kenikmatan dan belum mencapai puncak. Napasku terengah-engah dengan perasaan sedikit kecewa karena kenikmatan yang kurasakan seolah terputus.

Disisi lain, Dedi juga merasakan kenikmatan rangsangan yang sangat tinggi melihat ekspresi wajah istrinya saat meraih puncak orgasme. Lututnya terasa lemas dan goyah menikmati apa yang dilakukan istrinya.

Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu sejenak Indah merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan napas yang terengah-engah. Beberapa detik kemudian, aku membangkitkan Indah dan menuntunnya menuju tempat tidur, Indah naik ke tempat tidur dan berbaring telentang, napasnya perlahan-lahan normal dan pancaran matanya masih menampakkan gairah yang masih menyala. Aku merangkak mendekatinya, gairah Indah semakin berkobar ketika dia melirik batang penisku yang berdiri dengan kokohnya.

Sementara itu, dada Dedi kembali berdegup menantikan detik-detik dimana tubuh Istrinya akan kembali digenjot olehku di tempat tidur. Dalam hatinya Dedi memuji akan kemampuan sex diriku yang belum juga ejakulasi padahal telah mampu membuat istrinya melonjak-lonjak meraih orgasme.

Kuciumi bibir Indah dengan lembut, Indah membalas dengan tak kalah lembutnya. Kemudian kuhisap-hisap bibirnya dan dibalas dengan hisapan dan kecupan, lalu kutindih tubuhnya, kaki Indah terkangkang mempermudah, tangan Indah meraih batang penisku dan mengarahkan kepala penis agar berada tepat dimulut liang vaginanya dan…..

Bleshhhh…. Kepala penisku kembali menyeruak liang vagina Indah yang semakin basah dan licin “Aaahhhh………”. Indahpun kembali mengerang nikmat.

Bibirku mengecup dan menyosor bibir dan leher Indah secara acak dan penuh nafsu, sementara pantatku mulai mengayuh mengaduk-ngaduk dan mengocok-ngocok liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, namun tetap sempit dan menjepit. Rasa nikmatpun kembali menjalar keseluruh penjuru nadiku.

Genjotan tubuh demikian cepat dan bertenaga membuat buahdada Indah terguncang-guncang menggemaskan.

Kuhisap dan kujilati buahdadanya yang kiri dan kanan secara bergantian. Erangan nikmatpun kembali merasuki disekujur tubuh Indah “Ouhh.. Kang… Ouhhh….ouh….”

Pinggul Indah berputar dan bergoyang menyambut setiap helaan dan sodokan batang penisku menimbulkan suara deritan tempat tidur yang cukup keras. Selama beberapa menit aku mengayuh dan memompa disambut dengan goyangan pinggul Indah yang erotis dan kadang menghentak-hentak disertai erangan-erangan nikmat “Aouh… aouhhh.. Kang…Kang…”

Dedi yang mengintip dari balik tirai juga merasakan nikmatnya rangsangan yang cukup tinggi, batang penisnyapun semakin mengeras tegang, dan hal ini semakin menggembirakannya. Disamping itu, dia semakin kagum akan stamina sex yang dimiliki olehku.

Goyang pinggul Indah telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dan menghentak, sementara aku tetap mengayuh pantatku untuk mengocok liang vagina Indah dengan kecepatan yang tetap. Indah menginginkan kenikmatan yang lebih, dia menggulingkan tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku dan langsung menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat dan keras dengan tubuh yang mulai melenting dan kepala terdongak ke belakang. Dan beberapa menit kemudian…”Aaakkkaaangggg….. kkhhhss……”

Tubuh Indah melenting kaku, kembali Indah memperolah orgasme yang luar biasa.

Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…….” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh didalam liang vaginanya.

Ya…., Indah baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini, dan tak pernah dia peroleh dari suaminya.

Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Indah merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Sementara itu, Dedi kembali merasakan puncak kenikmatan rangsangan, ketika dia menyaksikan istrinya memperoleh puncak orgasme dan dia semakin asyik menikmati apa yang istrinya lakukan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Indah terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Indah, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Indah tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Indah membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya merangsang “Auhh Kangg.. aouhh … ouhhhhh… Kangghh…..” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya “Aaaaakkkhhss…..”.

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Indah kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Indah terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Indah telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Indah mencapai orgasme.

Dedi semakin kagum akan staminaku, karena sudah berjalan hampir 1 jam dia mengintip apa yang kulakukan, Aku belum juga ejakulasi. Sementara itu Dedipun merasa bahagia karena dilihatnya Indah bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah.

Indah merasa tubuhnya sangat lelah namun gairahnya masih berkobar-kobar mengalahkan rasa lelah yang merasuki dirinya, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya. Aku mengambil inisiatif dengan memompanya lebih aktif dan Indah menyambutnya dengan goyangan dan lonjakan dari bawah sambil mengerang dan menjerit seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat didambakan “Ouh… ouhh…Kang… Kang… hekss….ouhhh…”

Hingga akhirnya kembali Indah menggapai apa yang didambakannya, Indah melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena gairahnya kembali meronta-ronta ketika vaginanya diaduk-aduk dan dikocok-kocok oleh diriku tiada henti dan tak lama kemudian, diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Indah yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan Indahpun merasakan itu dan diapun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan “Aaakkkkkksssss…..” secara berbarengan kami meraih orgasme dan Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Indah. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan

Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Saat kami mencapai puncak orgasme secara bersamaan, Dedipun merasakan puncak rangsangan yang sama, tubuhnya terasa lemas dan oleng, matanya berkunang-kunang menikmati sensasi puncak rangsangan yang diperolehnya.

Disaat aku dan Indah masih tergolek lemah, dengan mengendap-ngendap Dedi keluar dari rumah menuju tempat pencucian motor dan ternyata motorku sudah lama selesai dicuci. Dedipun membawa pulang motorku.

Hanya beberapa menit kami tergolek lemah, lalu dengan tergesa-gesa bangkit dan memunguti pakaian yang berserakan dan mengenakannya. Indah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, sementara aku menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, kulihat Dedi pulang dari tempat pencucian motor.

“Gus…, kamu hebat bisa membuat istriku terlonjak-lonjak kenikmatan…!” katanya sambil mengedipkan mata padaku , “istriku mana ?” lanjutnya lagi.

“Sedang di kamar mandi…” jawabku tersipu. Aku heran bagaimana ia bisa tahu, padahal aku tidak merasa diintip olehnya. Mungkin aku terlalu terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh Indah, sehingga tidak sadar bahwa aku telah diintip olehnya.

“Gus…, kamu harus menepati janji untuk tidak merebut Indah dariku…!” kembali dia mengingatkanku sambil berbisik takut didengar oleh istrinya.

“Aku janji…” jawabku meyakinkannya.

Sejak itu aku sering mengunjungi rumah Indah untuk menumpahkan segala kerinduan sekaligus meraih nikmat bersama Indah dan ada saja alasan Dedi untuk meninggalkanku agar aku dan istrinya merasa bebas bercinta. Bahkan seringkali Dedi pura-pura pergi dari rumah sebelum aku datang.

Aku semakin akrab dengan Dedi, bahkan Dedi kupekerjakan pada perusahaanku sehingga kami bisa mengatur rencana pertemuanku dengan istrinya secara lancar.

Penyakit impoten yang diderita oleh Dedipun secara perlahan-lahan mulai membaik, penisnya bisa tegang hampir sempurna jika melihat aku menggauli istrinya dan ketegangan penisnya semakin keras ketika menyaksikan istrinya meraih orgasme. Namun apabila dia bermesraan dengan istrinya saat berduaan, penisnya susah sekali bangun, dan seperti biasa Indah selalu berusaha keras merangsangnya dengan berbagai cara.

Akhirnya Dedi mengusulkan padaku, untuk menggantikan posisiku menggenjot istrinya pada saat istrinya mencapai puncak orgasme yang pertama dan aku boleh menggenjot istrinya kembali setelah dia mencapai ejakulasi. Aku menerima usulnya, namun rencana ini tidak dibicarakan ke istrinya.

Ketika rencana ini dilaksanakan, Indah sangat kaget begitu melihat suaminya masuk dalam keadaan telanjang saat dia sedang terengah-engah karena baru mencapai puncak orgasme. Namun Indah sangat heran karena suaminya tidak marah melihat perselingkuhannya dengan temannya, dan yang lebih aneh sekaligus menggembirakan hatinya adalah Indah melihat penis suaminya mampu tegang dengan sempurna.

Dedi langsung menghampiriku yang terdiam melihat Dedi masuk kamar ketika aku sedang menikmati remasan dan jepitan vagina istrinya, Dedi berkata “Gus..! Gantian dong…, mumpung penisku sedang tegang nich..!”.

Dengan berat hati aku mencabut batang penisku yang sedang menancap kokoh dari liang vagina Indah, dan beranjak ke meja rias kemudian duduk dikursi yang terdapat di sana menyaksikan apa yang akan dilakukan Dedi pada istrinya.

Mulanya Indah malu dan ragu melihat situasi seperti ini, namun kebahagiaannya melihat batang penis suaminya yang dapat tegang sempurna setelah 2 tahun tertidur lemas, menggantikan keraguannya dengan gairah yang menyala-nyala. Indah berusaha bangkit dengan tangan terbuka menjemput tubuh bugil suaminya dengan cinta yang membara. Dedi langsung memposisikan batang penisnya tepat di liang vagina Indah, dan langsung menyodokkan batang penisnya ke liang vagina Indah dan disambut dengan erangan nikmat penuh kebahagiaan dari Indah “Ohhhhh.. Kang Dedi…. Ouhhh…”.

Dedi mengayun pantatnya dengan sangat cepat, seolah takut ketegangan penisnya akan surut kembali, tangannya meremas-remas buahdada istrinya dengan penuh semangat, sementara itu Indah membalas setiap perlakuan suaminya dengan lonjakan-lonjakan yang luar biasa bergairah, bahkan gairah seperti ini belum pernah dia pertunjukkan padaku, mereka saling mengerang penuh kenikmatan, disertai hentakan-hentakan tubuh cepat dann keras serta kaku.

Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan gairah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Batang penisku yang belum terpuaskan semakin tegang dan keras menyaksikan persetubuhan mereka yang sangat erotis dan merangsang.

Beberapa menit kemudian, terlihat kedua tubuh mereka melenting kaku dan menjerit nikmat bersamaan meraih orgasme,sebelum akhir berkelojotan dan akhirnya terhempas lemas.

Dedi menggulirkan tubuhnya menjauh dari tubuh istrinya, dada mereka turun-naik menghirup napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Terpancar di wajah mereka kepuasan dan kebahagiaan yang sukar tuk dibayangkan.

Setelah kulihat napas mereka berangsur-angsur normal, kuhampiri mereka yang tergolek lemah dan berkata pada Dedi “Ded…? Bagaimana dengan ini ….? “ kataku sambil menujuk batang penisku yang mengacung-ngacung minta dipuaskan.

“terserah Indah…?” jawab Dedi sambil melirik ke Indah.

Indah balas menatap mata Dedi, minta persetujuan. Dedi hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu Indah menatapku dengan tatapan mengundang.

Kuhampiri tubuh Indah, dan kutuntaskan permainanku yang tertunda. Terasa agak becek, liang vagina Indah, namun tidak mengurangi rasa nikmat yang kuterima. Dan Permainan kali ini sungguh luar biasa. Indah bergoyang dan menggeliat tiada henti, walaupun telah berkali-kali mencapai orgasme, Indah terus meladeni dengan semangat yang tak pernah padam. Sampai akhirnya aku benar-benar terkulai lemas diatas tubuhnya.

Hubunganku yang ganjil ini terus berlangsung, hingga Indah memperoleh 2 orang anak yang kini telah berusia SD. Aku tidak tahu, apakah itu anakku atau anak Dedi, Aku sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anakku sendiri, demikian juga Dedi, dia sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anaknya sendiri.

Walaupun sekarang aku telah beristri dan memiliki anak dari istriku, hubungan cintaku dengan Indah masih berlangsung, sebab hingga kini Dedi belum sanggup melakukan persetubuhan dengan istrinya tanpa didahului menyaksikan istrinya dirangsang dan digauli olehku.

Entah kapan hubungan ini akan berakhir, akupun tak tahu….?

TAMAT

p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s