LARAS

Laras adalah seorang perempuan diantara Anto dan Markus, dua orang laki2 yang mengapitnya. Seorang gadis alim aktifis BEM dikampusnya, berparas cantik, kulit putih dan tubuh montok yang selalu tertutup oleh jilbab lebar dan pakaian muslimah yang longgar dan santun. Matanya yang indah dah lentik nampak sayu, tak kuasa menahan gejolak rasa yang sedang ia rasakan, dari sentuhan2 dua orang laki2 yang mengapitnya. Gadis alim itu tak kuasa melawan gejolak yang diakibatkan sentuhan2 dua orang laki2 dikiri dan kanannya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka, mendesahkan rintihan-rintihan birahi, dan sedikit kata2 penolakan yang tak berarti. Sang dara berjilbab itu sudah hanyut dalam permainan dua laki2 kotor yang berbafsu padanya.

jilbab semok akhwat montok (1)

Malam itu, Laras sang gadis alim yang santun itu sebenarnya mendapat undangan rapat mendadak persiapan mahasiswa baru di kampusnya, namun saat ia sampai di kAntor BEM, ternyata disana hanya ada Anto, sang ketua BEM, dan Markus, si pejantan kampus dari Irian, yang tahun ini bertugas menjadi ketua keamanan kampus. “lainnya mana pak Anto? Mas kholid? Mbak Sari? Mbak Yulia?” tanya Laras pada Anto. “Mereka ijin nggak bisa datang. Ada acara.” Kata Anto. Laras hanya mengangguk2 percaya. Bagaimana tidak, Anto, ketua BEM itu sudah sangat lama menjadi seorang yang Laras idamkan. Ketampanan dan kedewasaan Anto yang membuat Laras menaruh hati padanya. Anto bukannya tidak tahu hal itu, tapi tanpa sepengetahuan Laras, Anto sesungguhnya adalah seorang playboy yang sangat handal. Sudah banyak wanita baik yang menjadi korban sang ketua BEM itu, dari yang anak gaul sampai anak rohis jang berjilbab besar di kampus nya. Dan target Anto selanjutnya adalah Laras. undangan rapat itu juga sebenarnya hanya akal2an Anto dan Markus, karena yang diundang sebenarnya hanya Laras.

Rapat yang terjadi ternyata menyita waktu 3 jam, sampai sekitar pukul 10 malam. Diluar gedung, butir2 besar air hujan mengucur deras membasahi bumi. Setelah rapat selesai, belum ada tanda2 hujan akan reda. Laras hendak nekat pulang dibawah guyuran hujan deras, namun dengan lembut Anto menahannya dan memintanya untuk menunggu barang sebentar lagi. Gadis alim itu termakan rayuan Anto, dan menyetujuinya.

Beberapa saat kemudian, dua insan itu sudah terlibat percakapan yang hangat. Mereka tidak mengetahui Markus yang keluar. Saat2 berlalu, percakapan kedua insan berlainan jenis itu semakin menuju kearah BEMbicaraan pribadi, dan Laras, sang gadis alim yang lugu semakin larut kedalam rayuan hebat Anto, ketua BEM yang playboy itu. Pipi mulus Laras sedikit2 terlihat merona merah karena rayuan Markus. Bibir indahnyapun sedikit2 tersenyum simpul, tertipu malu. Perlahan tangan Anto mendekat ke Laras, dan dengan lembut meraih tangan Laras. Laras sedikit terkejut, namun gadis alim itu tidak menarik tangannya. Ia hanya tersipu malu.

jilbab semok akhwat montok (15)

“aku mau jujur sama dik Laras… aku sayang sama dik Laras…” kata Anto. Tangannya menggenggam erat dan meremas2 tangan Laras. Laras terdiam. Wajahnya merah padam karena malu. Tapi saat itu Markus datang. Laras salah tingkah dan hendak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anto, namun Anto melarangnya. Senyum menenangkan dari Anto membuat gadis lugu yang alim itu tenang. Markus mendekati mereka beredua dan memberikan dua gelas susu panas. “untuk teman dingin2.” Kata Markus. Segera Anto menerima gelas berisi susu yang diberikan Marku padanya,s ementara Laras menerima yang satu lagi. Setelah senyum2 sedikit dengan Anto, Markus segera menjauh dari Laras dan Anto, duduk disudut ruangan, dan membuka laptopnya. Laras dan Anto meneruskan perbincangan mesra mereka. Posisi duduk mereka semakin dekat satu sama lain, didepan komputer milik BEM.

Tak lama, Laras merasakan tubuhnya agak panas, dan kepalanya terasa ringan. Gadis lugu itu tak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti, ia merasakan didalam tubuhnys eolah ada sedikit gejolak2 yang aneh dan belum pernah ia rasakan, namun ia coba menafikkannya, karena ia mengira rasa itu hanya dari dalam dirinya saja. Ternyata, tanpa sepengetahuan Laras, Markus telah memberi obat perangsang pada minuman susu yang Laras minum. Obat itu tidak terlalu keras, namun sang peminumnya pasti tak bisa menolak gairah2 seks yang terjadi.

Tanpa terasa, posisi duduk Laras sudah sangat dekat dengan Anto, dan tanpa Laras sadari, tangan Anto sudah merentang dan merangkul Laras lembut. Gadis alim itu tak mampu menolak, karena gairah yang ia rasakan terus meninggi, dan ditambah perasaan cintanya pada Anto. “aku ingin cium kamu…” bisik Anto lembut. Wajah Laras terlihat kembali memerah. Laras hanya bisa menggeleng pelan. Untuk mengatakan “tidak”, ia tak mampu, karena perasaannya pada Anto menginginkannya. Walaupun Laras menggeleng namun Anto tetap mendekatkan bibirnya ke pipi Laras. Laras berusaha mengelak dengan halus, namun Anto tetap terus maju, sampai akhirnya bersentuhanlah bibir Anto dan pipi mulus Laras. Laras hanya bisa mendesah lirih. Setelah berhasil mencium untuk pertama kalinya, ciuman kedua tidak mengalami halangan yang berarti. Bahkan di ciuman ketiga, Laras memejamkan matanya. Gadis berjilbab lebar itu tak mampu menahan gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Dan jadilah, seorang gadis alim yang memakai jilbab lebar, sedah merintih dan mendesah dirangsang oleh sang ketua BEM. Sementara Anto terus menciumi Laras yang masih terus mendesah, Markus mendekat dan mengambil posisi disisi Laras yang lain. Anto, yang merangkul dan menciumi pipi gadis alim itu, kini mulai mengulurkan tangan yang satu lagi untuk mengusap2 paha Laras yang masih tertutup rok panjang. Terdengar desahan Laras semakin kencang saat tangan kiri Anto naik sampai atas, ke pangkal paha Laras, sang gadis berjilbab yang sedang birahi.

Tangan Anto tak sampai ditiu. Ia menaikkan tangannya keatas, mengusap2 daerah dada Laras. Gadis alim itu merasakan ngilu dan nikmat di puting Laras , dan membuat Laras merintih semakin kencang. Kemudian, “Antooo… janganmmhh…,” Laras merintih semakin kencang. “enak ya ras? Mau yang lebih enak lagi?” perlahan Markus menarik Laras dan perlahan Anto melepaskan gadis alim yang cantik itu. Markus memeluk Laras , tangannya Laras rasakan menyentuh dada Laras dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu dari luar baju longgar dan jilbabnya.

Sesaat Laras terdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Markus. Gadis alim itu merasakan putingnya mengeras dan menegang membuat aliran darah Laras terangsang keseluruh tubuh. Rasanya ngilu dan nikmat membuat seluruh tubuh gadis alim yang cantik itu merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingnya. Kemudian Laras rasakan bibir memek dan anus Laras berdenyut-denyut. Gadis alim yang berjilbab besar itu sedang terangsang hebat. Untung Markus tak menyentuh selangkangan Laras. “jangan too… kuusss…!” ucap Laras sambil kedua tangan Laras dengan lemah berusaha melepaskan kedua tangan Markus dari dada Laras. Walaupun sebenarnya gadis alim itu mulai menikmatinya, namun harga dirinya mengatakan tidak. Tiba2 gadis alim itu merasakan sebuah bibir mencium kupingnya dari luar jilbab merah yang ia kenakan. Mata Laras melirik ke arah wajah tersebut dan terlihat sekilas wajah Anto. Sesaat Laras terdiam kembali. Nikmat di dalam darah gadis alim itu mengalir kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telinga sang gadis alim yang sedang dilanda gejolak birahi itu dari luar jilbab merahnya. Laras rasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan membuat Laras tidak dapat mengelak dan menolak. “Ehhhmmmhhh….” hanya itu yang bisa Laras desahkan. Dagu Laras terangkat tinggi. Gadis berjilbab lebar itu merasakan putingnya mengeras dan menegang menjadi sensitif. Laras rasakan ngilu dan nikmat di putingnya.

jilbab semok akhwat montok (2)

Tampaknya Markus tak mau kalah. Segera tangannya kembali meremas-remas dada Laras. Perlahan mulut Markus mendekat dan melumat bibir gadis alim itu. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulut Laras. Laras hanya bisa terdiam tak bergerak, Laras rasakan pikiran Laras melayang jauh. Birahi gadis alim itu mengalir di dalam darahnya. Tubuh Laras semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiran Laras berharap mendapatkan yang lebih lagi. Gadis alim berjilbab itu merasakan buaian tangan Anto di pahanya sehingga membuat daerah sensitif di selangkangan Laras semakin menjadi. Laras rasakan rok Laras perlahan diangkat Anto. Tangan Anto dengan lembut mengelus-elus paha putih montok gadis alim berjilbab itu dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan selangkangan Laras. Tubuh Laras bergetar hebat, dan menggelinjang. Tak beberapa lama, diiringi rangsangan2 Anto dan Markus, Tubuh Laras menghentak2 hebat selama beberapa detik dan langsung lunglai. Desahan panjang keluar dari mulut Laras. Gadis alim yang berjlbab dan selalu santun itu mendapat orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya. Kedua pemerkosanya tersenyum karena melihat sang korban sudah jatuh ketangan mereka.

Beberapa saat kemudia Anto menghentikan kegiatannya dan berdiri, begitu juga Markus. “jangan disini to, ntar ada yang liat. Kita bawa ke tangga yang pernah kita pake buat ngerjain Silvi aja.” Kata Markus. Ternyata, Markus dan Anto juga pernah melakukan hal yang sedang mereka lakukan pada Laras pada Silvi, seorang gadis lugu yang juga berjilbab besar teman Laras. Segera mereka berdua menuntun Laras yang sudah lunglai tak berdaya keluar dari ruang BEM, menuju tangga. Tangga itu sudah tak pernah dipakai, karena penerangan yang minim juga lantai dan temboknya yang rusak. Biasanya para mahasiswa memakai tangga besar di sayap utara gedung atau lift yang ada ditengah gedung. Tangga ini tak pernah dipakai disiang hari, apalagi di malam hari. Mereka bertiga segera menuruni tangga dan berhenti diantara lantai tiga dan dua, dimana ada bagian datar yang besar.

Selesai turun tangga ternyata Markus langsung memeluk Laras. Kedua tangannya menggerayangi buah dada Laras. Gadis alim itu merasakan putingnya menegang ngilu yang nikmat. Birahi mengalir dalam darahnya membuat ia semakin terangsang. Kemudian mereka bertiga duduk dilantai, dengan Anto dikiri dan Markus dikanan Laras. Dan tak lama kemudian tubuh Laras kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba paha Laras , kemudian perlahan menyusup di rok gadis berjilbab itu. Tak lama kemudian celana dalam gadis alim itu yang membentuk belahan kemaluannya terlihat jelas, telah basah oleh cairan orgasmenya. Tangan Anto bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkangan Laras. Terasa bibir memek gadis berjilbab itu berdenyut dan sensitif. Rintihan gadis itu kembali terdengar. Jelas sekali sang gadis alim yang cantik itu sedang terangsang.

“Laras… Paha kamu mulus… putih… Kulit kamu lembut…,” sahut Anto dengan kedua tangan yang menikmati tubuh Laras. Sesaat kemudian gadis alim itu merasakan tangan Markus mendekap salah satu buah dadanya yang sedang terangsang. Sesaat nafasnya tertahan. Ia merasakan nikmat di dadanya. Puting Laras sedang dialiri darah birahi. Perlahan dagu Laras terangkat tinggi. Nafas gadis alim itu memburu.

Tampaknya Markus dan Anto tahu bila gadis cantik berjilbab besar itu sudah terangsang hebat. Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Markus yang mendekap dada Laras turun dan menyusup kedalam kemeja longgar yang dikenakan Laras. Gadis berjilbab yang cantik itu merasakan tangan Markus menyentuh Kulit perutnya yang mulus dan menyusup sampai mendekap dada montok mulusnya yang tertutup BH dan kemudian meremas-remasnya. Dagu Laras terangkat tinggi. Matanya yang sayu menatap bohlam 5 watt yang membuat tempat itu etrlihat temaram. Kemudian bibir Markus Laras rasakan mengecup dan mencuimi leher Laras yang masih tertutup jilbab. Mata Laras terpejam. Gadis alim berjilbab besar itu menggigit lembut bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak nikmat birahi yang seharusnya terlarang baginya.

jilbab semok akhwat montok (17)

“Oouuuhhhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulut Laras. Semakin gadis berjilbab itu keluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Laras rasakan tali BH- Laras terlepas dan BH-nya mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Gadis berjilbab itu merasakan tangan Markus mendekap dadanya secara langsung. “mmhhhh…,” Laras rasakan. Dada Laras diremas-remas lagi dan kemudian kedua puting Laras dimainkan oleh Markus. Nikmat yang membuat gadis berjilbab itu terasa melayang2 diudara.

Perlahan kemeja Laras dibuka dan kemudian BHnya. Udara pun menyentuh puting Laras langsung dan merangsang tubuh Laras. Celana dalam Laras dibuka Anto. Kaos dan BH-Laras dilepas Markus. Rok Laras tidak ketinggalan. Baju muslim yang menyelimuti tubuh putih montok sang dara alim berjilbab itu berserakan disekeliling mereka.

Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh gadis berjilbab itu, kecuali jilbab besar yang ujung2nya disampirkan ke pundak Laras, kaos kaki putih selutut dan sepatu yang masih terpakai. Ternyata jilbab dang sepatu serta kaos kaki itu memberi sensasi tersendiri pada gairah seks Markus dan Anto. Laras, gadis alim itu kini hanya bisa mendesah2 pasrah menerima rangsangan dari kedua pemerkosanya, seorang preman kampus dari daerah timur Indonesia dan seorang yang disukainya.

Perlahan tangan Anto membuat kaki Laras mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluan gadis berjilbab itu. Tiba2 gadis alim itu merasakan bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir memeknya. Dagu Laras terus terangkat tinggi dan dada Laras reflek membusung seakan menyodorkan diri. Mata gadis berjilbab itu terpejam erat. Gadis alim itu merasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir memek ke seluruh tubuh.

“Oouuhhhh…” dengan panjang Laras ucapkan. Laras rasakan tangan Markus meremas dada Laras dan memainkan puting Laras. Ah, dua titik sensitif Laras terangsang. Dengan reflek dada montok gadis berjilbab itu membusung sesampai-sampainya. Tampaknya Markus tidak diam melihat Laras begini. Segera ia menghisap salah satu puting Laras. Sekarang ketiga titik sensitif Laras terangsang. Gadis berjilbab itu merasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang memeknya. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Awalnya Laras memekik karena merasakan sakit yang sangat, namun sejenak kemudian Laras rasakan kenikmatan yang sangat, yang membuat birahi Laras melayang dan terangsang membuat Laras pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuh putih mulusnya. Gadis alim itu mearasakan kemaluannya basah kuyub. Terlihat banyak cairan cinta keluar dari memek sang gadis alim itu, bersama darah keperawanannya. Anusnya juga terkena air yang mengalir. Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anus gadis berjilbab itu. Semakin lama anus gadis berjilbab itu licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuh Laras. Jilbab yang masih ia kenakan basah kuyub oleh keringat. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perut Laras. Seperti listrik mengalir dalam darah gadis alim itu dan juga daerah daerah tubuhnya yang mereka sentuh. Tak beberapa lama gadis alim itu kembali meraih orgasmenya yang kedua, lalu ketiga. Tubuh montoknya yang putih terlonjak2 menahan birahi yang meledak2 dalam tubuhnya. Mulutnya memekik-mekik keras dan erotis. Sang gadis alim berjilbab, dara di kampus itu telah dikuasai oleh seks dan birahi.

Akhirnya Laras terbaring lemas saat ia lihat Anto melepaskan celananya. Laras lihat kontolnya terhunus dan ia tujukan ke liang memek Laras. Gadis alim itu merasakan sentuhan milik Anto di bibir memeknya. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dada gadis berjilbab besar itu terangkat tinggi, merasakan benda hangat, besar dan keras itu masuk menyeruak memenuhi liang memeknya. “Auuughhh!!!!” Laras memekik keras sambil akhirnya milik Anto menancap dalam di liang memek Laras. Kemudian ia keluar-masukkan. Gadis berjilbab itu merasakan gesekan milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anus gadis alim itu berdenyut-denyut. Mata Laras setengah terpejam dan kadang-kadang tubuh Laras ikut bergoyang karena tak tahan merasakan nikmat. Mulutnya mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Gadis berjilbab itu sudah terbuai sepenuhnya oleh kenikmatan terlarang. Sekilas terlihat Markus melepaskan celananya. Gadis berjilbab itu melihat milik Markus yang lalu oleh Markus langsung ditempelkan ke mulut Laras. Perlahan kontolnya dimasukkan ke dalam mulut Laras, dan langsung disodok2kan keluar masuk. Saking bersemangatnya Markus, sampai sering gadis berjilbab itu tersedak2 oleh kontol Markus yang hitam dan besar.

jilbab semok akhwat montok (18)

Beberapa saat kemudian Anto memutar posisi Laras jadi mengungging. Dengan begini Markus dapat dengan mudah memperkosa mulut gadis alim itu dengan kontolnya hitam besarnya yang terhunus. Perlahan Laras rasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari liang memek gadis alim itu dan kemudian Anto hunuskan ke anusnya yang terasa berdenyut-denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anus Laras yang sudah terangsang, basah dan longgar karena jemarinya. Tidak bisa masuks ecara cepat karena besarnya kontol Anto dan sempitnya anus Laras, namun akhirnya tertancap dalam juga dan segera Anto mengeluar masukkan dengan pelan. Laras memekik2mekik antara sakit dan nikmat. Karena sudah licin maka ia keluar-masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anus Laras, berbarengan dengan gadis berjilbab itu mencapai orgasmenya yang ketiga, juga dengan melonjak2. Lantai dibawah mereka semakin becek oleh permainan mereka bertiga.

jilbab semok akhwat montok (3)

“Ouuhh…” Laras ucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto mendiamkan kontolnya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anus Laras sangat licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena pada setiap tancapan, gadis berjilbab itu mendesah karena merasakan nikmat.

Beberapa saat kemudian Laras rasakan banyak cairan yang menyembur dari milik Markusmemenuhi mulutnya. Markus segera mencengkeram kepala Laras yag masih terbalut jilbab sembari membentak sang gadis berjilbab itu untuk menelan semua spermanya. Laras dengan susah paya menelan cairan sperma itu, namun karena saking banyaknya, cairan sperma Markus meluber sampai keluar dan membasahi dagu sampai ke jilbab Laras, bahkan menetes ke lantai. Setelah habis, Markus melepaskan kontolnya dari mulut Laras, dan gadis berjilbab itu langsung terbatuk dan muntah2. Markus dan Anto tertawa melihatnya. Anto kemudian menarik pundak Laras. Sehingga ia dapat memeluk Laras dari belakang. Tangannya meraba-raba dada Laras.

Gadis berjilbab itu merasakan Anto berdiri dan Laras tergantung di kontolnya yang menancap. Dari depan Laras lihat Markus ikut berdiri dan menghampiri Laras lagilalu langsung menancapkan kontolnya ke liang memek Laras. Gadis berjilbab itu merasakan kenikmatan tiada tara, merasakan kedua liangnya mereka penuhi dengan kontol besar hitam mereka. Dan akhirnya setelah genjotan demi genjotan, mereka sama-sama sampai puncak dan puas. Laras terbarih lemas dilantai, saat kedua pemerkosanya membenahi pakaian mereka.

Tak lama mereka segera membawa Laras naik kembali ke lantai tiga, lalu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang basah kuyup oleh cairan cinta. Didalam kamar mandi kembali Laras digilir oleh mereka. Diantara genjotan2 yang gadis alim itu rasakan, ia tahu itu bukanlah terakhir ia diperkosa oleh kedua laki2 itu, namun ia sudah tak bisa berbuat apa2, dan hanya bisa pasrah, bahkan terhanyut dalam kenikmatan terlarang itu. Kembali cairan orgasmenya menyemprot-nyemprot keluar ketikagadis alim yang cantik dan berjilbab lebar itu orgasme untuk yang kesekian kalinya.

…….

Suatu hari setelah terjadinya perkosaan itu, Laras masih terus teringat. Bukan takut yang ia rasakan, namun rasa ingin mengulanginya lagi, walaupun tak pernah ia mengungkapkannya. Ia tahu, itu akan membuat harga dirinya hancur. Namun saat ia mengingat kontol2 besar Markus dan Anto dan menusuk2 dua lubangnya, seringkali memeknya terasa basah. Gadis alim yang lugu itu ternyata sudah mulai kecanduan kontol.

Disebuah sore, saat Laras baru berjalan pulang keluar dari kampus islam tempatnya kuliah, tiba2 dari belakang sebuah mobil escudo memepoetnya. Ada satu orang yang keluar darinya, dan ternyata itu Markus! Langsung bayangan perkosaan yang pernah terjadi teringat dibenak Laras. Kenikmatan kontol besar Markus yang menyodok2 memek dan lubang anusnya juga ikut terbayang.
“hai, mbak Laras… ikut camping yuk!” kata Markus langsung. Laras menundukkan pandangannya antara malu, takut dan khawatir birahinya yang tersulut disadari oleh Markus. Segera dia menggelengkan kepala. “maaf mas Markus … saya mau pulang… banyak kerjaan di kost…” kata gadis alim itu dengan suara yang mendayu, terdengar seperti pasrah ditelinga Markus.
“cuman sampai besok mbak… besok kan sabtu, gak ada kuliah…” kata Markus. “bareng2 sama teman2ku kok…” kata Markus lagi. “ada ceweknya juga kok. Kalo gak mau ntar kampus heboh lhoo…” kata Markus sambil menyeringai. Laras, gadis alim itu terkesiap. Gadis berjilbab itu menyadari Markus sedang mengancamnya, dan pasti berhubungan dengan perkosaan yang ia alami dulu. Jangan2 Markus punya foto2 saat dia diperkosa. Dengan pucat pasi Laras mengangguk pelan.

jilbab semok akhwat montok (19)
“nhaaa… gitu donk!” kata Markus. Akhirnya Laras dengan setengah hati ikut mereka, tanpa pulang ke kost dulu. “pake baju gitu aja sudah cakep kok!” kata Markus. Laras yang memakai baju biru langit, rok hitam dan jilbab besar yang berwarna biru langit juga memang terlihat cantik sekali.
Didalam mobil, Laras berkenalan dengan teman Markus. Ada Robert, rekan Markus sesuku, yang nampak lebih hitam dan lebih gahar dengan tubuh tinggi kekar. Lalu ada William, yang mengaku dari Maluku, dan seorang wanita yang juga berjilbab besar, yang bernama Jannah. Jannah adalah seorang mahasiswi yang etrlihat pemalu, dengan wajah yang ayu. tubuhnya yang walaupun selalu dibalut baju terusan yang longgar, namun samar2 masih menampakkan kemontokannya. wajahnya yang dibalut jilbab lebar coklat tua terlihat putih dan cantik, walaupun ada beberapa noda bekas jerawat dipipinya yang putih dan agaks edikit tembam. Laras yang mengetahui bahwa Jannah adalah seorang mahasiswi semester tiga yang sangat alim dan pemalu juga pendiam dikampusnya heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Markus dan kawan2nya. Namun Laras tak mampu bertanya2 apa2, karena dia duduk didepan disamping Markus yang menyetir mobil, sementara Jannah ada di belakang, diapit Robert dan William. Ketika mobil berjalan, Laras menyadari ada gelagat buruk. iA tahu dia akan kembali diperkosa oleh orang2 dari luar jawa ini. Terlebih, nampaknya Jannah juga salah satu dari korban mereka.

Mobil berhenti didepans ebuah rumah gubug yang jauh dari peukiman. Seseorang tua keluar dari gubug dan menyambut Markus dan teman2nya. “barang baru ya bos? Masih seger2…” kata orang tua itu pada Markus pelan, namun terdengar oleh Laras yang kebetulan ada dibelakang Markus. “Markus terlihat menyeringai. “legit-legit semua… lugu-lugu.” Kata Markus. Setelah memarkir mobil dibelakang gubug itu, segera rombongan itu tanpa disertai sang orang tua yang menjaga tempat parkiran itu berjalan menembus hutan. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya sampailah mereka disebuah tanah yang agak lapang ditengah hutan, dimana segera Robert dan teman2nya mendirikan tenda. Laras memberanikan diri untuk meminta tendanya dan Jannah diletakkan agak jauh dari tenda Markus dan kawan2nya, dan sambil menyeringai lagi si Markus mengangguk. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1920.

Laras dan Jannah, sepasang gadis berjilbab itu hanya bisa duduk bersama ketiga orang dari daerah timur indonesia itu mengelilingi api unggun. Mereka berdua hanya diam, dan terkadang menjawab pertanyaan ketiga orang laki2 itu. Sementara itu markus, robert dan William sepertinya sangat menikmati malam itu, camping dengan dua dara cantik berjilbab, ditemani gitar dan beberapa botol minuman keras. Laras tidak melihat gelagat buruk dari ketiga laki2 itu, namun firasat Laras mengatakan bahwa perbuatan itu akan segera terjadi.

“Mbak, bisa antarkan aku sebentar? Aku pingin pipis…” bisik Jannah ditelinga Laras. “pipis dimana? Disini gak ada kamar mandi…” kata gadis berjilbab itu. “ada apa? Gak usah kasak-kusuk, ngomong aja sama kita2…” kata William yang melihat bisik-bisik kami. “anu mas Mas… kebelet pipis…” kata Jannah. “pipis beneran apa pipis enak?” tanya robert nakal, langsung disambut gelak tawa kegita lelaki itu, dan rona merah padam diwajah Jannah sang gadis berjilbab montok itu.

“terserah mau pipis beneran apa pipis enak, tapi harus kerumahnya pak penjaga tempat ini.. jalannya jauh…” kata William, masih cekikikan.

“gak papa… biar saya sama mbak Laras saja…” kata Jannah.

“jangan!” kata Masian langsung, seolah takut kami melarikan diri. “bahaya! Biar aku yang nganterin kamu, Nah. Laras, kamu disini aja…” segera mereka berdua pergi. Sebelum pergi, Laras melihat Jannah menatap padanya dengan tatapan takut dan khawatir.

Lima menit berlalu, Laras tak mamu menahan perasaannya. “aku juga mau nyusul mereka. Permisi sebentar.” Katanya pada Markus dan Robert yang langsung bengong. Segera Gadis montok berjilbab itu menyusuri jalan setapak membelah hutand engan senter robert yang tergeletak didekat api unggun. Belum ada 50 meter ia berjalan, ia melihat dikiri jalan ada cahaya. Ternyata cahaya lampu badai yang tadi dibawa William. Segera Laras terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia melihat Jannah, sang gadis berjilbab lebar dan berpayudara besar tadi sedang digeluti oleh William si pemuda hitam dari maluku, dengan bersandar dibawah pohon. Lampu badai diletakkan didahan diatas mereka, mampu memberi cahaya remang yang erotis.

Terlihat William menggeluti Jannah. Jannah memberikan meronta2 dan mengerang2 namun rontaan dan erangannya tak mampu mengimbangi kekuatan Jong Ambon yang kekar itu. Akhirnya rontaan gadis berjilbab itu tak lebih dari sekedar formalitas agar ia tidak dikira menikmati. lidah William menjalar bagai bagai ular menjilati semua bagian wajah gadis alim itu yang memang putih dan cantik. Bibirnya mengecup semua bagian wajah Dahia. Erangan tanda penolakan Jannah segera berubah menjadi desahan2 tanggung, menolak namun juga seakan tak kuasa menahan birahinya. sementara itu tangan William menyusup kebalik jilbab gadis alim itu, membuka kancing baju terusannya dan langsung masuk kedalamnya, meremas-remas payudara montok Jannah, yang menyebabkan gadis berjilbab itu mendesah-desah semakin keras. suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Sang gadis alim yang berwajah lugu itu telah terhanyut gelora birahi,.

William menyibakkan jilbab Jannah dan dililitkannya ke leher gadis alim itu, mempertontonkan buah dadanya yang montok, keluar dari baju terusannya yang telah terbuka kancingnya. BH yang ia gunakan juga sudah melorot, sehingga putihnya kulih buah dada itu dan putingnya yang merah jambu juga turut terlihat. Segera William membungkuk. Mulutnya mencaplok buah dada sang gadis alim yang sudah terhanyut gelombang birahi itu. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putting merah jambu gadis berjilbab itu, menghisap dan meremas-remas payudara Jannah. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif Jannah yang masih tertutup celana dalam dan baju terusan itu. William pelan2 menaikkan bagian bawah baju terusan Jannah, lalu setelah tersibak, ia berusaha membuka penutup terakhir sang gadis alim itu, tapi ketika jari2 besar William menyentuh celana dalam Jannah, seakan Jannah sadar dari birahinya dan langsung meronta keras

“Jangan Mas” tolak Jannah.
“Kenapa Nah, kemarin kamu keenakan…” tanya William.
“Jannah takut… jangan mas… ini dosa…”
“Ntar kalo dah keenakan lu bakalan lupa, cantik…” bujuk William.
“Jannah nggak mau..” Jannah memelas. Matanya berkaca2.
“Mas pelan2, kamu bakalan enak…” lanjut William membujuk
Gadis berjilbab itu diam. Kepalanya menggeleng.
“Kamu rileks aja ya…”, kata William sambil menciumi pipi dan bibir Jannah, sembari kembali meremasi buah dada montok sang gadis berjilbab itu. Mata Jannah kembali setengah tertutup. Birahi kembali menghinggapinya.

William tidak membuang-buang waktu, ia membungkuk dan kembali menikmati bukit kenikmatan Jannah yang indah itu, menyedot2 dan menggigit-gigit putingnya. Gadis berjilbab itu menggelinjang. perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun celana dalam putih berenda Jannah yang sudah basah kuyub. Dengan hati-hati William membuka kedua paha putih montok Jannah dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh montok gadis alim yangs elalu memakai jilbab lebar dan baju terusan itu bergetar merasakan lidah William. Kepalanya yang masih terbalut jilbab terdongak keatas. Tubuhnya kembali menggelinjang. Gadis alim berjilbab itu terus bergetar, berdiri bersandar sebuah pohon dengan jilbab yang tersibak, buah dada montok yang menggantung keluar penuh air liur dan cupangan, dan seorang laki-laki yang jongkok didepannya, menjilati dan mengorek2 memeknya dengan lidahnya. Desahan dan erangan nikmat terdengar semakin menjadi2 dari mulut sang gads berjilbab.

“Agghh.. Mas.. jangaaannhh…oouugghh.. enakk.. Mas…aaiiihh…”

Mendengar desahan Jannah, William semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan gadis alim yang lugu itu, dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Jannah, tubuh gadis berjilbab itu menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya kirinya mengusap-usap dan menarik-narik rambut William, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan, sementara tangan kanannya mulai meremas-remas buah dada montoknya sendiri, dan merangsang putingnya.

Jannah semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut William melahap kewanitaannya. Kepala gadis berjilbab itu mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai keatas, lalu mencengkeram erat pohon yang menjadi tempat bersandarnya. Mata sang gadis alim berjilbab itu terbalik dan hanya terlihat putihnya saja. Jannah sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. William yang sudah yakin rangsangannya berhasil, tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia segera membuka retsleting celana jeansnya, dan langsung memelorotkannya bersama celana dalamnya. Terlihat Kontol William yang besar dan hitam sudah mengacung. Ia segera bangkit dari jongkoknya, kembali menggeluti tubuh Jannah dengan berdiri. Jannah yang sudah terhanyut dalam lautan birahi tak mampu lagi melawan nafsunya, dan menyambut rangsangan2 dari William. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan.

Laras yang dari tadi terkesima melihat live show ditengah hutan itu merasakan degup jantungnya berdetak kencang. bagian-bagian sensitif di tubuhnya mengeras. Laras mulai terjangkit virus birahi mereka.

William kemudian dengan satu kakinya tanpa kesulitan merenggangkan kaki Jannah. Pemuda maluku itu lalu memepet sang gadis berjilbab di pohon tadi, memegang kejantannya, lalu mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha putih montok sang gadis alim. “Jangan Mas… Jannah takuut…” sergah Jannah. Tapi etrasa penolakannya tanpa tenaga apa2.
“Rileks Nah.. ntar pasti enak.. nikmati aja..” bujuk William, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan gadis alim itu.
“Tapi.. Mas.. oohh.. aahh” protes Jannah tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja Nah..kamu dulu juga keenakan, kan…” kata William sambil menyeringai.
“Ehh.. akkhh.. mpphh” Jannah semakin mendesah
“Gitu Nah…. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh Mas.. eesshh”
“Enak kan, Nah….?”
“Ehh.. Maaaasssshh…”
Laras yang melihat itu benar-benar ternganga dibuatnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Birahi yang ia rasakan semakin meninggi gara2 live show yang terjadi.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Jannah yang terdengar.
“Aku masukin ya Nah..” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
William langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan gadis alim berjilbab lebar itu.
“Aakhh.. Mas.. eengghh” erang Jannah cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuh Laras meremang mendengarnya.
William lebih merunduk lagi. Perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Jannah. Lidahnya kembali merangsang putting merah jambu sang gadis berjilbab.
“Eeemmhhh…teruss.. Mas.. enaaakhh.. ohh.. isep yang kerasss..” Jannah meracau.
“Aku suka sekali payudara kamu Nah…. mmhh”
“Isep terussss…massshh…aaahhh…” secara refleks sang gadis nberjilbab itu menyorongkan dadanya membuat William bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Jannah yang terayun-ayun gelombang birahi, Laras yang terus melihat semua dari balik belukar turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar jemari Laras menyusup kebalik jilbabnya, mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingnya sendiri dari luar bajunya, membuat mata Laras terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

William tahu Jannah sudah pada situasi yang sangat birahi, ia segera mencangkeram pinggul Jannah dengan kedua tangannya yang kekar seraya terus melumat mulut dan menciumi seluruh bagian wajah gadis alim itu. Terlihat William menekan pinggulnya lebih dalam dengan kasar. Laras menggelinjang membayangkan bagaimana kejantanan William yang besar, tebal dan hitam melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Jannah sang gadis berjilbab itu.
“Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Jannah.
“udaah…udah Maaassss…” air matanya mulai mengalir. Walaupun Jannah sudah tidak perawan karena keperawanannya sudah direnggut oleh William diperpustakaan kampus beberapa hari yang lalu, namun kontol William yang besar serta sodokan William yang kasar tetap menyakitinya.
“Rileks Nah…. supaya enak nanti” bujuk William, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
“Sakit Mas.. pleasee.. jangan diterusin”
Terlambat.. seluruh kejantanan William telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Jannah. Beberapa saat William tidak bergerak, masih sambil berdiri dan memepet Jannah di pohon, ia mengecup-ngecup bibir dan seluruh wajah Jannah, dan turun ke payudara gadis alim itu yang montok dan putih. Perlakuan William membuat birahi Jannah terusik kembali, gadis lugu berjilbab itu mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Tangan gadis alim itu merangkul leher William dan meremas2 rambut William.

William memahami sekali keadaan Jannah, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging gadis alim berjilbab itu yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.
“Uhh.. ohh.. Mas” desah kenikmatan Jannah, kakinya dibuka lebih melebar lagi.jilbabnya yang tersingkap, basah oleh keringat, bajunya yang terbuka memamerkan buah dada yang montok putih, dan bagian bawah yang tersingkap membuat segalanya semakin erotis.
William tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.
“Agghh.. ohh.. enak maass… terus Maaassss…” Jannah meracau merasakan kejantanan William yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya yang masih memakai jilbab tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon William tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.
“Aaauugghh.. sshh.. Mas.. ohh.. Mas” gadis alim yang biasanya santun itu tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka berdua bersetubuh dengan berdiri, bersandar di pohon besar ditemani cahaya remang lampu badai di malam buta. Desahan2 erotis mereka berdua mengisi hutan. Sang gadis montok berjilbab itu kembali takluk oleh sang pemuda maluku berkontol besar.

Pinggul William yang turun naik dan kaki Jannah yang terbuka lebar membuat darah Laras yang sedang mengintip berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifnya. Gadis berjilbab itu menyingkap rok panjangnya dengan tangan kiri dan menyusupkannya kebalik CD. Tubuh sintal Laras bergetar begitu jari-jemari lentiknya meraba-raba kewanitaannya.
“Ssshh.. sshh” desis Laras tertahan manakala jari tengah gadis balim itu menyentuh bibir kemaluannya sendiri yang sudah basah, sesaat ‘life show’ William dan Jannah terlupakan. Kesadaran Laras kembali begitu mendengar pekikan Jannah.
“Adduuhh.. Mas.. nikmat sekalii” Gadis alim yang lugu itu terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
“enak kan Nahhh.. makanya gak usah munafik… ahh.. nikmati ajaahh..”
“Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Mas”
“Punya kamu enaakk sekalii Nah…. uugghh.. memek gadis berjilbab kayak mau emang legiithh..”
“Ohh.. Mas.. eennaaakkk.. sshh…” desah Jannah seraya memeluk William. Gadis lugu yang berjilbab itu semakin agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat William.
“Enaak Nah…. terus goyang.. uhh.. eenngghh..cewek jilbab ternyata doyan ngentothhh…” merasakan goyangan Jannah William semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
“Ahh.. aahh.. Mas.. teruss.. mau keluaaarrhh…” pekik Jannah.
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.
“Mas.. tekan lagii.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh..ooouuugghhh….!!!” Gadis alim yang masih ebrjilbab itu melenguh keras dan panjang. Ia sudah mencapai orgasmenya.
William menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh Jannahpun mengejang. Gema erangan kenikmatan Jannah memenuhi malam dan kemudian Jannah terkulai lemas.

William melepaskan tubuh montok Jannah, dan pelan-pelan Jannah jatuh terduduk dibawah pohon itu. Nafasnya memburu, dari memeknya air kenikmatannya mengalir deras. Sementara itu William yang belum mencapai puncak kenikmatan nampaknya masih ingin meneruskan permainan.

Dari tempat Laras bersembunyi, terlihat kontol William yang besar berkilat-kilat karena terbaluri cairan cinta milik Jannah. Pelan2 William mengocok kontolnya sendiri dengan tangan kanan. Tangan kirinya menaikkan kaosnya agar penisnya bisa semakin jelas terlihat. Segera ia mendekati Jannah, si gadis berjilbab itu yang sedang terduduk bersimpuh, lemas karena baru saja meraih orgasmenya.

“Sekarang Jannah emut punyaku.” kata William sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah cantik gadis berjilbab itu dengan gaya santai. Jannah menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang besar dan legam itu, yang sudah basah oleh cairan cintanya sendiri.

“Jangan takut Nah, entar juga enak kok..” kata William masih dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Jannah kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat William tidak sabar, dicengkeramnya kepala Jannah yang masih terbalut jilbab dan ditariknya sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Jannah. Gadis alim itu pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen besar, penis William meluncur masuk ke mulutnya. Terasa cairan cintanya sendiri dilidahnya, yang kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali Jannah diperintahkan untuk mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan gadis alim itu mulai terbiasa dengan penis William dan mulai dapat menyesuaikan diri, sesuai dengan instruksi William. Gadis alim yang lugu dan berjilbab besar itu diajari cara memberi kenikmatan pada lelaki dengan mulut dan tangan oleh sag pemuda maluku, William.
Jannah diminta untuk menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Jannah diperintahkan untuk kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. William mendesah merasakan kehangatan mulut Jannah, sentuhan lidah gadis alim yang lugu itu memberi sensasi nikmat padanya.

“Uuhhh…gitu Nah, enakmmmm.. kamu pintarrrhh…!” gumamnya sambil memegangi kepala Jannah yang masih tertutup jilbab dan memaju-mundurkan pinggulnya. Jannah merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir William yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulut gadis lugu yang berjilbab itu semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

William yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Jannah makin meledak, lalu dengan menahan kepala gadis alim itu diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan kasarnya William menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut gadis berjilbab itu.

“Aggh..aggh… .” suara Jannah terdengar tersedak oleh penis William. Air liur gadis berjilbab itu mengalir keluar, deras membasahi dagunya, turun ke jilbabnya yang sudah tersibak, sampai bajunya yang awut2an. Airmatanya deras mengalir. Tangan Jannah berusaha menahan pinggul William agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Jannah sia-sia saja, William dengan kuat mencengkeram kepala Jannah yang masih memakai jilbabdan mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat gadis alim itu menggelepar berusaha untuk bernafas dengan baik.

Sekitar sepuluh menit lamanya gadis alim itu dipaksa untuk melakukan hal itu, sampai William menekan kepalanya sambil melenguh panjang. William masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah cantiks ang gadis alim yang berjilbab itu.

“Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.

Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

“Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.

Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

Beberapa menit Laras istirahat mengatur nafas. Orgasmenya benar2 membuat ia capek., namun ia semakin terangsang dan ingin ada kontol yang memasuki memeknya.

Setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk kembali ke tenda. Ketika ia melihat Jannah da William, ternyata William sudah kembali gairahnya dan sudah kembali menggenjot memek jannah, kali ini dengan tiduran dan Jannah terlentang pasrah dibawahnya kembali desahan mereka berdua terdengar. Namun Laras tidak melanjutkan acara mengintipnya, dan kembali ke tenda.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

sekembalinya di tenda, ia tidak menemui Markus dan Robert. Segera ia duduk didean api unggun dan berusaha mengusir bayangan tentang live show yang tadi ia lihat, namun alih-alih pergi, bayangan itu jstru terus membayanginya. Tak terasa kembali tangan kananya menyusup kebalik jilbabnya, meremasi buah dadanya sendiri dari luar bajunya. Tangan kirinya kembali turun kebawah, merangsang memeknya dari luar bajunya. Gadis alim yang berjibab dan berbadan sintal ini sudah sangat terangsang. Bibir bawahnya ia gigit 2 karena sangat terangsang.

Tiba-tiba, kegiatan Laras berhenti karena dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Ternyata Robert dan marku sudah kembali, entah darimana. Mereka berdua langsung tersenyum menyeringai dan mendekati Laras.

“tenang saja mbak, kami cuman mau duduk disamping mbak.” Kata Markus sambil tersenyum lebar.
Akhirnya mereka duduk beralaskan tikar, didepan api unggun. Laras di tengah. Pikiran gadis alim itu teringat pada perkosaan nikmat yang pernah ia rasakan, dan live show yang tadi ia saksikan. Wajahnya yang cantik jadi merah padam, dan jadi salah tingkah. Tanpa ia sengaja, kenikmatan yang dulu ia rasakan kembali membangkitkan birahi gadis berjilbab itu. Rasa gatal menyeruak dimemek Laras mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, Laras jadi salah tingkah. Markus yang pertama melihat kegelisahan Laras.

“Kenapa Mbak Laras…, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda.
“Ngga lagi, ngaco kamu Kus” sanggah Laras.
“Kalau horny bilang aja Mbak Laras….. hehehe.. kan ada kita-kita” Robert menimpali.
“Udah, jangan ngomong kayak gitu…” sanggah Laras lagi menahan takut. Tapi sesungguhnya dibenaknyapun rasa itu semakin menjadi.

Markus tidak begitu saja menerima sanggahannya, diantara mereka ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang Laras rasakan. Markus tidak menyia-nyiakannya, bahu gadis berjilbab itu dipeluknya. Laras sedikit menggeliat hendak menghindar namun pelukan Markus terlalu erat. “jangan kuss…” kata Laras. Suaranya yang lirih dan terkesan pasrah membuat Markus tahu bahwa Gadis alim berjilbab lebar ini sebenarnya juga sudah mulai terangsang.

jilbab semok akhwat montok (5)

“Santai Mbak Laras…, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal.. toh kamu juga dah pernah ngerasain kotolku. Enak kan?” bisik Markus sambil meremas pundak Laras yang tertutup baju dan jilbabnya. Kata2 markus membuat wajah putih gadis ebrjilbab itu merah padam. Gadis alim itu kembali menggeliat berusaha melepaskan diri, namun sekali lagi, tenaganya yangs etengah2 karena sudah terangsang itu tak mampu menandingi pelukan Markus.

Remasan dan terpaan nafas Markus saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuh Laras meremang, tanpa terasa tangan gadis berjilbab itu meremas-remas rok panjangnya. Matanya terpejam2 keenakan dan kembali ia menggigiti bibir bawahnya. Markus menarik tangan Laras meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tangan Laras jadi meremas paha Markus.
“Remas aja pahaku Mbak Laras… daripada rok” bisik Markus lagi.
Merasakan paha Markus dalam remasan Laras membuat darah Laras berdesir keras.
“Ngga usah malu Mbak Laras…, santai aja.. ntar juga enak..” lanjutnya lagi.
Entah karena bujukannya atau Laras sendiri yang sudah sangat terhanyut napsu birahi, tidak jelas, yang pasti tangan Laras tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang ‘wow’ Laras meremas pahanya. Merasa mendapat angin, Markus melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas paha gadis berjilbab yang alim itu yang masih terbungkus rok panjang hitam, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuat Laras merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa Laras sadari, Markus sudah menyingkap rok hitamnya keatas dan tangan Markus sudah berada dipaha dalamnya, tangan kasar Markus mengelus-elus paha putih laras yang selama ini tertutup rok dan baju yang longgar dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuat Laras semakin terbuai, membiarkan kenakalan tangan Markus yang semakin menjadi-jadi tanpa mampu berbuat apa2.
“Ras gue pengen deh liat leher sama pundak kamu” bisik Markus seraya mengecup pundak Laras dari luar baju dan jilbabnya..
A Laras yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu. Selama ini belum ada yang memperlakukan gadis alim itu seperti yang dilakukan Markus.
“Jangan Kus” namun Laras berusaha menolak.
“Kenapa Mbak Laras…, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakan Laras Markus tetap saja mengecup, bahkan ciuman Markus semakin naik keleher Laras yang masih tertutup jilbabnya, disini Laras tidak lagi berusaha ‘jaim’.
“Kus.. ahh” desah Laras tak tertahan lagi.
“Enjoy aja Mbak Laras…” bisik Markus lagi, sambil mengecup dan menggigiti daun telinga Laras dari luar jilbabnya.
“Ohh Kus” Laras sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat ‘live show’, perlahan merayapi lagi tubuh Laras.
Laras hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Markus di leher dan telinga Laras. Robert yang sedari tadi asik nonton melihat Laras seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiri Laras jadi sasaran mulutnya.

Melihat Laras sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Markus semakin naik hingga akhirnya menyentuh memek gadis alim berjilbab lebar itu yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di memeknya, remasan Robert di payudara Laras dan kehangatan mulut mereka dileher Laras membuat magma birahi Laras menggelegak sejadi-jadinya.
“Agghh.. Kuss.. Berthhh….. ohh.. sshh” desahan Laras bertambah keras.

jilbab semok akhwat montok (4)
Robert dengan tangkas menyibakkan jilbab lebar Laras dan menyampirkannya ke bahunya, lalu membuka kancing2 baju dan bra Laras. Bukit kenyal 34b- Laras yang putih bersih menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Markus juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba memek Laras yang sudah basah oleh cairan pelicin. Laras jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuh Laras bergelinjang keras. Baju longgar dan jilbab lebar yangs elama ini ia pakai untuk menjaga dirinya dari para hidung belang sudah awut2an.

“Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahan Laras berganti menjadi erangan-erangan. Sang gadis alim itu sudah tak lagi mampu menahan gejolak birahinya. Suara desahan birahinya mengisi keheningan lapangan ditengah hutan itu.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuh Laras kecuali jilbab biru langtnya dan kaus kaki putih bersih gadis alim itu. Tubuh sintal Laras dibaringkan dirumput beralas tikar dan mereka pun kembali menjarahnya. Robert melumat bibir Laras dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutnya, lidah mereka saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Markus menjilat-jilat paha Laras lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di memeknya, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisnya, bersamaan dengan itu Robert pun sudah melumat payudaranya, puting Laras yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuat Laras kehilangan kesadaran, tubuh Laras bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Mata sang gadis alim itu terbalik sampai hanya terlihat ptihnya, terlihat sangat erotis dengan jilbab yang masih ia kenakan. Laras mulai meremas2 punggung Robert sambil meracau tak karuan, meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.
“Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
“Nikmatin Mbak Laras….. nanti bakal lebih lagi” bisik Robert seraya menjilat dalam-dalam telinga Laras dari luar jilbabnya..
Mendengar kata ‘lebih lagi’ Laras seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul Laras angkat-angkat, seolah ingin Markus melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya memek Laras dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairan Laras. Tidak berapa lama kemudian Laras merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuh putih gadis alim itu menegang, Laras peluk Robert-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.

jilbab semok akhwat montok (6)
“Aaagghh.. Kuss.. Berthhh….. akuu.. oohh” jerit Laras keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam memek Laras. Tubuh mahasiswi yang biasanya selalu menjaga dirinya dengan baju longgar dan jilbab lebar itu menggeleppar2 lalu melemas.. lungai.

Markus dan Robert menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuh Laras beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata Laras ingat-ingat apa yang baru saja Laras alami. Permainan Robert di payudara dan Markus di memek Laras yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah Laras alami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuh Laras. Laras semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba Laras rasakan hembusan nafas ditelinga Laras dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Robert mulai lagi, tapi kali ini tubuh Laras seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Robert sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuh Laras. Begitupun Markus sudah bugil, ia membuka kedua paha Laras lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mata Laras terpejam, Laras sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuh Laras sebagai ‘hidangan’ utama. Gadis alim itu sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Gairah Laras bangkit merasakan lidah Markus menjalar dibibir kemaluannya, ditambah lagi Robert yang dengan lahapnya menghisap-hisap puting Laras membuat tubuh Laras mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuh Laras.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. nngghh.. aaghh” rintih Laras tak tertahankan lagi.
Markus kemudian mengganjal pinggul Laras dengan gulungan tikar sehingga pantat Laras menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluan Laras. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatannya, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuh Laras bagai tersengat aliran listrik Laras hilang kendali. Gadis manis berjilbab itu merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu Laras rasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibir Laras.. kontol Robert! Laras mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Robert tidak menggubrisnya ia malah manahan kepala Laras dengan tangannya agar tidak bergerak.

“Jilat.. Mbak Laras…” perintahnya tegas.
Gadis alim berdada sekal itu tidak lagi bisa menolak, Laras jilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Robert mendesah-desah merasakan jilatan Laras.
“Aaahh.. Mbak Laras…r.. jilat terus.. nngghh” desah Robert.
“Jilat kepalanya Mbak Laras…” Laras menuruti permintaannya yang tak mungkin Laras tolak.
Lama kelamaan Laras mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang kontol itu, lidah Laras berputar dikepala kemaluannya membuat Robert mendesis desis.
“Ssshh.. nikmat sekali Mbak Laras…r.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.

Laras tak tahu harus berbuat bagaimana, Laras ikuti saja apa yg pernah Laras lihat di film, kepala kontolnya pertama-tama Laras masukan kedalam mulut, Robert meringis.
“Jangan pake gigi Mbak Laras….. isep aja” protesnya, Laras coba lagi, kali ini Robert mendesis nikmat.
“Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Mbak Laras…”
Melihat Robert saat itu membuat Laras turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutnya, belum lagi kenakalan lidah Markus yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluan Laras. Tubuh mahasiswi berjilbab lebar itu sudah terkunci, dirangsang atas dan bawahnya. Laras semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhnya, Laras bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kontol Robert yang separuhnya berada dalam mulut Laras.

Beberapa saat kemudian Robert mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tangan Laras tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulut Laras. Laras menjadi gelagapan, Laras geleng-gelengkan kepala Laras hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepala Laras membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Robert bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..
“Aaagghh.. nikmatt.. Mbak Laras…aa…aakkuuuhh.. kkeelluaarr” jerit Robert, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulut Laras membuat Laras tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokan Laras sebagian lagi tercecer keluar dari mulut Laras, menetes turun membasahi jilbab biru langit laras. Laras sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulut Laras. Gadis alim itu shock dengan apa yang terjadi.

Belum Laras pulih dari syoknya, Markus merebahkan tubuh Laras kembali dilantai beralas karpet, kali ini dada Laras dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiri Laras tangannya melesat turun ke memeknya, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluan Laras. Birahi gadis alim itu kembali mennggi. Tubuh Laras langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Markus.
“Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desis Laras tak tertahan.
“mmmhh….Kuss.. aakkhh”
Laras menjadi lebih menggila waktu Markus mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluannya, seakan kurang lengkap kenikmatan yang Laras rasakan, kedua tangan Laras meremas-remas payudara Laras sendiri. Gadis alim itu sudah total terbakar api birahi nista.
“Ssshh.. nikmat Kuss.. mmpphh” desahan Laras semakin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian Markus merayap naik keatas tubuh Laras, sambil mengelap keringat yang muncul diwajah Laras dengan jilbab yang masih Laras pakai, lalu merapikannya. “ternyata emang kamu lebih cantik dan seksi kalo pake jilbab, mbak laras…jadi gak sabar pengen ngentot kamu.” Kata Markus. Terlihat binar birahi dimatanya. Gadis berjilbab itu pasrah menanti apa yang akan terjadi. Markus membuka lebih lebar kedua kaki Laras, dan kemudian gadis alim itu merasakan ujung kontol Markus menyentuh mulut memek Laras yang sudah basah oleh cairan cinta.

“Aauugghh.. Kuss.. jangaann..saakiitt…pelann..” jerit Laras lirih, saat kepala kontolnya melesak masuk kedalam rongga kemaluan Laras.
Markus menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang memek Laras. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu dulu pernah Laras rasakan kembali menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuh Laras. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuh Laras membuat pinggul gadis alim itu mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Markus.
“Ooohh.. Kuss.. sshh.. aahh.. Kuss..mmhh..” desah Laras lirih.
Laras benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut memek Laras. Mata Laras terpejam-pejam kadang Laras gigit bibir bawah Laras seraya mendesis.
“Enak.. nggaakk..mbaakk…Laraass..” tanya Markus berbisik.
“He ehh Kuss.. oohh enakk.. Kuss.. sshh”
“Nikmatin mbaakk.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
“Ooohh.. Kuss.. ngghh”

jilbab semok akhwat montok (7)

Markus terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kontolnya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi Laras terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Markus menekan kontolnya lebih dalam membelah memek Laras.
“Auuhh.. sakitt Kuss” jerit Laras. Markus menghentikan tekanannya.
“nanti juga hilang kok sakitnya” bisik Markus seraya menjilat dan menghisap telinga Laras tetap dari luar jilbabnya. Rupanya memang Markus dan Robert sengaja tidak melepas jilbab Laras, karena membuat Laras semakin nampak Innocent, sehingga menambah gairah dua pejantan dari indonesia timur itu untuk menggauli sang gadis alim.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti Laras mulai merasakan nikmatnya milik Markus yang keras dan hangat didalam rongga kemaluan Laras.

Markus kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memek Laras menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuat gadis alim itu menggelepar-gelepar. Jilbabnya sudah kembali awut2an.
“Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Kuss.. empphh” desah Laras tak tertahan.
“Ohh.. Mbak Laras…r.. bener-bener enak banget memek kamu.. oohh..tebell..oouuhh..” puji Markus diantara lenguhannya.
“Agghh.. terus Kuss.. teruss” Laras meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kontol Markus di kemaluan Laras.
Peluh-peluh birahi mulai membanjir membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan mereka. Menit demi menit kontol Markus menebar kenikmatan ditubuh Laras. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuh Laras tak lagi mampu menahan letupannya.
“Markusi.. oohh.. tekan Kuss.. agghh.. nikmat sekali Kuss” jeritan dan erangan panjang yang jalang terlepas dari mulut Laras.
Tubuh Laras mengejang, Laras secara refleks memeluk Markus erat-erat, magma birahi Laras meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung memek Laras.

jilbab semok akhwat montok (21)

Tubuh Laras terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Markus mulai lagi memacu gairahnya, hisapan dan remasan didada Laras serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahi gadis alim yang montok itu. Lagi-lagi tubuh Laras dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuh Laras dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali memek Laras berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Markus sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuh Laras. Selagi posisi Laras di atas Markus, Robert yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri mereka, dengan berlutut ia memeluk Laras dari belakang. Leher Laras dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dada Laras. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitoris Laras membuat Laras menjadi tambah meradang.

Kepala Laras yang masih terbalut jilbab bersandar pada pundak Robert, mulut Laras yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumat oleh Robert. Pagutan Robert Laras balas, mereka saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggul Laras semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Laras begitu menginginkan kontol Markus mengaduk-aduk seluruh isi rongga memek Laras yang meminta lebih dan lebih lagi.
“Aaargghh.. Mbak Laras…r.. enak banget.. terus Mbak Laras….. goyang terus” erang Markus.
Erangan Markus membuat gejolak birahi Laras semakin menjadi-jadi, Laras remas buah dada Laras sendiri yang ditinggalkan tangan Robert.. Ohh Laras sungguh menikmati semua ini.

jilbab semok akhwat montok (20)

Robert yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Markus duduk dengan kaki dibentangkan ditikar, Laraspun diperintahkan merangkak kearah batang kemaluannya.
“Isep Mbak Laras…” perintah Markus, segera Laras lumat kontolnya dengan rakus.
“Ooohh.. enak Mbak Laras….. isep terus…aah…emang enak banget emutan cewek jilbab…aaahh..”
Bersamaan dengan itu Laras rasakan Robert menggesek-gesek bibir kemaluan Laras dengan kepala kontolnya. Tubuh Laras bergetar hebat, saat batang kemaluan Robert-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Markus-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluan gadis berjilbab itu dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontol Robert serasa membakar tubuh, birahi Laras kembali menggeliat keras. Gadis yang biasanya alim itu kini menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kontol didalam tubuh Laras. Batang kemaluan Markus Laras lumat dengan sangat bernafsu. Kesadaran Laras hilang sudah. Naluri birahi gadis alim itu yang menuntun melakukan semua itu.

“Rasr.. terus Mbak Laras…r.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang Markus.
Laras tahu Markus akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutnya, Laras lebih siap kali ini. Selang berapa saat Laras rasakan semburan-semburan hangat sperma Markus.

jilbab semok akhwat montok (8)
“Aaagghh.. nikmat banget Mbak Laras…r.. isep teruss.. telan Mbak Laras…r” jerit Markus, lagi-lagi naluri Laras menuntun agar Laras mengikuti permintaan Markus, Laras hisap kontolya yang menyemburkan cairan hangat dan.. gadis alim itu menelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Markus yang mencapai klimaks, yang pasti Laras sangat menyukai cairan itu. Laras lumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

Markus beranjak meninggalkan Laras dan Robert untuk beristirahat sebentar. meski begitu, laras belum bisa istirahat. hujaman-hujaman kemaluan Robert yang begitu bernafsu dalam posisi ‘doggy’ dapat membuat Laras kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianus Laras. Bukan hanya itu, setelah diludahi Robert bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anus gadis alim itu. Sodokan-sodokan dimemek Laras dan Ibu jarinya dilubang anus membuat gadis berjilbab lebar itu mengerang-erang.
“Ssshh.. engghh.. yang keras Berthhh….. mmpphh”
“Enak banget Berthhh….. aahh.. oohh”
Mendengar erangan jalang Laras Robert tambah bersemangat menggedor kedua lubangnya, Ibu jarinya Laras rasakan tambah dalam menembus anusnya, membuat Laras tambah lupa daratan. Jilbab biru langtnya sudah semakin basah oleh keringat birahinya.

Sedang asiknya menikmati, Robert mencabut kontol dan Ibu jarinya.
“Roberti.. kenapa dicabutt” protes Laras.
“Masukin lagi Bert.. ” pinta gadis alim montok menghiba.
Sebagai jawaban Laras hanya merasakan ludah Robert berceceran di lubang anusnya, tapi kali ini lebih banyak. Laras masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Robert mulai menggosok kepala kontolnya dilubang anus baru Laras sadar apa yang akan dilakukannya.
“Roberti.. pleasee.. jangan disitu” Laras menghiba meminta Robert jangan melakukannya.
Robert tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluan Laras hilang sudah protes gadis alim itu. Tiba-tiba Laras rasakan kepala kemaluannya sudah menembus anus Laras. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anus Laras dan tenggelam habis didalamnya.

“Aduhh sakitt Berthhh….. akhh..!” keluh Laras pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Robert.
“Rileks Mbak Laras….. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitoris Laras.
Separuh tubuh Laras yang tengkurap diatas gulungan tikar sedikit membantunya, dengan begitu memudahkan Laras untuk mencengram dan mengigit tikar itu untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, Laras bahkan mulai menyukai batang keras Robert yang menyodok-nyodok anus Laras. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuh Laras. Gadis alim itu mulai merem melek keenakan, disodomi oleh orang papua diatas tikar ditengah hutan, dibawah sinar bulan dan cahaya api unggun.
“Aaahh.. aauuhh.. oohh Berthhh…” erang-erangan birahi Laras mewarnai setiap sodokan kontol Robert yang besar itu.
Robert dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Robert menghujamkan kontolya semakin gadis alim itu terbuai dalam kenikmatan.

Markus yang sudah pulih dari ‘istirahat’nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairah Laras. Atas inisiatif Markus mereka b erhenti dan mengatur posisi, jantung Laras berdebar-debar menanti permainan mereka. Markus merebahkan diri terlentang ditikar dengan kepala beralas gulungan tikar, tubuh Laras ditarik menindihinya. Sambil mencengkeram bagian belakang kepala laras yang masih terbalut jilbab, ia melumat mulut Laras, yang segera Laras balas dengan bernafsu. ia membuka lebar kedua paha Laras dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam memek Laras.
“mmhhhh….” Gadis alim itu hanya bisa mendesah pasrah ketika memeknya kembali ditembus kontol hitam. Robert yang berada dibelakang membuka belahan pantat Laras dan meludahi lubang anus Laras. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuh Laras. Sensasi sexual yang luar bisa hebat Laras rasakan saat kontol mereka yang keras mengaduk-aduk rongga memek dan anus Laras. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubang Laras memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Robert yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuh Laras terlentang diatasnya, kontolnya tetap berada didalam anus Laras. Markus langsung membuka lebar-lebar kaki Laras dan menghujamkan kontolnya dikemaluan Laras yang terpampang menganga. Posisi ini membuat Laras semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubang Laras yang digarap mereka tapi juga payudara Laras. Robert dengan mudahnya memagut leher Laras dan satu tangannya meremas buah dadanya, Markus melengkapinya dengan menghisap puting buah dada Laras satunya. Laras sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuh Laras. Hantaman-hantaman Markus yang semakin buas dibarengi sodokan Robert, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya Laras rasakan sesuatu didalam memek Laras akan meledak, keliaran Laras menjadi-jadi.

“Aaagghh.. ouuhh.. Kuss.. Berthhh….. tekaann” jerit dan erang Laras tak karuan.
Dan tak berapa lama kemudian tubuh Laras serasa melayang, Laras cengram pinggul Markus kuat-kuat, Laras tarik agar batangnya menghujam keras dikemaluannya, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritannya, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.
“Aduuhh.. Kuss.. Berthhh….. nikmat sekalii”
“Aaarrghh.. Mbak Laras…r.. enakk bangeett”
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubang Laras. Tubuh gadis alim itu bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuh Laras mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dimemek Laras dan akhirnya mereka.. terkulai lemas.

jilbab semok akhwat montok (9)

Sepanjang malam tak henti-hentinya mereka menggilir Laras. Ketika kemudian william dan jannah kembali, mereka melakukan pesta seks. Pesta seks dengan peserta tiga orang hitam dari bagian timur indonesia yang memperkosa dan menggilir dua orang gadis berjilbab yang berkulit putih, yang terus mendesah, mengerang dan menjerit, terhanyut dalam kenikmatan. Desahan dan jeritan kenikmatan mereka mengisi hutan. pesta seks dengan dua orang gadis alim berjilbab besar itu selesai pagi hari, dan ketiga koboy kampus itu mengembalikan kedua gadis alim kampus yang sudah sangat lemas itu kekost mereka masing2.

………..

Suatu hari, nampak Laras sedang duduk ruang tamu rumah kostnya. Sebenarnya, rumah itu bukanlah rumah kost, namun sebuah rumah kontrakan dengan satu ruang depan, ruang tamu dan tiga kamar. Rumah kontrakan itu disewa oleh Laras dan dua orang rekannya, Rika dan Tata. Sama seperti Laras, Rika dan Tata juga mahasiswi yang selalu memakai jilbab lebar dan baju longgar, yang juga aktifis di kampus. namun berbeda dengan Laras, Rika dan Tata adalah mahasiswi baru yang baru menginjak semester 2.

Hari itu, laras sedang sendirian di kontrakan. Tata sedang pulang kampung di Temanggung karena urusan keluarga, sementara Rika belum pulang dari kampus. Suasana rumah yang sepi membuat Laras mengingat kembali peristiwa yang menimpanya beberapa hari yang lalu, yaitu perkosaan yang terjadi padanya. Ia tidak menceritakan peristiwa itu pada teman2nya, satu karena ia takut, satu lagi karena ia malu kalau ketahuan bahwa ia juga menikmati perkosaan itu. Bahkan, saat rumah dalam keadaan sepi seperti sore itu, perasaan birahi dan rindu memeknya disodok kontol-kontol besar kembali datang. Ternyata tanpa Laras sadari, ia telah ketagihan seks. Namun Laras berusaha mengusir perasaan itu dengan menonton tivi diruang tengah.

Ditengah2 menonton tivi, tiba2 gadis alim itu mendengar pintu diketuk. Pasti bukan Rika, karena Rika membawa kunci cadangan. Segera Laras memakai jilbabnya dan keruang depan untuk membuka pintu.

“selamat sore Mbak Laras…” william berdiri didepan pintu dengan senyum yang lebar. “mau apa kamu?!” bentak Laras. “cuman mau main mbak… masak nggak boleh. Gak usah galak-galak gitu donk.” Kata William. Laras sudah hendak membanting pintu, namun langsung ditahan oleh William. “aku punya fotomu ho mbak, masak mau temen2 dikampus tahu semua…” kata William. Laras langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar karena marah. Namun ia menyerah. Akhirnya gadis alim berjilbab itu pelan2 membuka pintu, lalu William masuk.

“lagi ngapa mbak?” tanya william setelah duduk disofa diruang depan. Laras tidak menyaut, namun hanya berdiri. “mau apa kamu kesini?” tanya Laras ketus, meskipun terbersit ingatan tentang memeknya yang disodok2 William dan teman2nya. “ya cuman main, mbak. Kali aja mbak rindu sama saya. Or sama kontol besar saya.” Kata William, menyeringai sambil meremas2 selangkangannya sendiri. Laras melotot. Gadis alim berjilbab itu marah, namun memeknya terasa basah tanpa ia bisa menghambatnya.

“Sendirian mbak? Teman2nya pada dimana?” tanya laki-laki dari ambon itu. “pergi.” Kata Laras pendek. William tersenyum lebar. “marah ya mbak, saya lama gak kesini? Memeknya rindu disodok2 kontol saya yah? Wah, saya jadi kepingin nih. Mbak tambah cantik aja kayaknya.” Kata William. Laras hanya bis amemandang marah tanpa bisa berkata apa-apa. Terasa memeknya semakin basah. Kata-kata kotor William merangsangnya.

“sebelumnya boleh saya minta minum mbak?” kata William masih sambil menyeringai. Laras kembali memandang William dengan tatapan marah. Namun mahasiswi aktifis berjilbab itu akhirnya beranjak kedalam, mengambilkan minum bagi tamunya.

Ketika sudah didalam, ia baru sadar kalau william ikut masuk kedalam. Ketika gadis montok berjilbab itu berbalik, ia melihat william ada dibelakangnya. “saya pengen minum susu mbak. Susunya mbak. Enak dikenyot-kenyot.” Kata william lagi.

“Jangan ngelunjak Will… Sana cepet keluar!” hardik Laras dengan telunjuk mengarah ke pintu.

Bukannya menuruti perintah Laras, William malah melangkah mendekati Laras, tatapan mata William tajam seolah menembus baju ungu kaos longgar ungu muda, rok hitam dan jilbab lebar hitam yang dipakai oleh gadis lugu montok yang alim itu.

“William… Saya bilang keluar… Jangan maksa!” bentak Laras lagi.

“Ayolah Mbak Laras, cuma sebentar saja kok… Aku sudah kebelet nih, lagian masa Mbak Laras nggak kepingin sih, disodok2 kontol saya. Dulu itu mbak keenakan.” ucap William sambil terus mendekat.

Wajah Laras merah padam. Memeknya terasa semakin basah. Namun gadis berjilbab itu terus mundur selangkah demi selangkah menghindari William, jantung Laras semakin berdebar-debar. Perasaanya campur aduk, antara tidak mau diperkosa lagi, tapi juga sulit menahan nafsu. Akhirnya kaki gadis alim itu tersandung oleh tepi kasur busa yang berada didepan tivi diruang tengah, Laras hingga Laras jatuh terduduk di sana. Kesempatan ini tidak disia-siakan William. Lelaki Ambon itu langsung menerkam dan menindih tubuh Laras. Gadis alim berwajah cantik itu menjerit tertahan dan meronta-ronta dalam himpitan William. Namun sepertinya reaksi Laras malah membuat William semakin bernafsu, William tertawa-tawa sambil menggerayangi tubuh Laras. Laras menggeleng-gelengkan kepala Laras yang terbungkus jilbab lebar hitam kesana kemari saat William hendak mencium Laras dan menggunakan tangan putihnya untuk menahan laju wajah William.

“Mmhh… Jangan Will… Laras nggak mau!” mohon gadis manis berjilbab itu.

Aneh memang, sebenarnya Laras bisa saja berteriak minta tolong, tapi tidak Laras lakukan. Nafsu birahinya menahan gadis cantik berjilbab berwajah putih bersih itu untuk berteriak, ia hanya bisa merintih dan mengerang. Breettt… rok hitam Laras robek sedikit di bagian bawah dalam pergumulan yang tidak seimbang itu. William telah berhasil memegangi kedua lengan Laras dan direntangkannya ke atas kepala Laras. Gadis alim itu sudah benar-benar terkunci, hanya bisa menggelengkan kepalanya yang masih terbungkus jilbab hitam, itupun dengan mudah diatasi William. Bibir William yang tebal itu sekarang menempel di bibir Laras. Gadis manis alm berjilbab itu bisa merasakan kumis pendek yang kasar menggesek sekitar bibir Laras juga deru nafas William pada wajah Laras.

Kecapaian dan kalah tenaga membuat rontaan Laras melemah, mau tidak mau mahasiswi aktifis rohis dikampusnya itu harus mengikuti nafsunya. William merangsang Laras dengan mengulum bibir Laras, mata Laras terpejam, mengakui bahwa gadis montok alim itu menikmati cumbuan William. Lidah William terus mendorong-dorong memaksa ingin masuk ke mulut Laras. Mulut Laras pun pelan-pelan mulai terbuka membiarkan lidah William masuk dan bermain di dalamnya. Lidah Laras secara refleks beradu karena William selalu menyentil-nyentil lidah Laras seakan mengajaknya ikut menari. Suara desahan tertahan, deru nafas dan kecipak ludah terdengar jelas didalam ruangan berukuran 3X3 meter, disebuah kontrakan para gadis berjilbab itu.

jilbab semok akhwat montok (10)

Mata Laras yang terpejam terbuka ketika gadis alim itu merasakan tangan kasar William mengelusi paha mulusnya, dan terus mengelus menuju pangkal paha. Jari William menekan-nekan liang vagina Laras dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar. Birahi Laras naik dengan cepatnya, terpancar dari nafas gadis manis berjilbab itu yang makin tak teratur dan vagina Laras yang semakin becek.

Tangan William sudah menyingkap rok panjang hitam gadis alim itu, lalu menyusup ke balik celana dalam. Jari-jari William mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitoris Laras. Benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jari William membuat Laras menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat. Tangan gadis berjilbab itu sudah tidak berontak, namun merentang keatas kepala, meremas-remas kasur busa. Terlebih lagi ketika jari-jari lain William menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang aktifis dakwah kampus itu.

“Ooohhh… Mbak Laras Laras jadi tambah cantik saja kalau lagi konak gini!” ucap William sambil menatapi wajah Laras yang merona merah dengan matanya yang sayu karena sudah terangsang berat.

Lalu William tarik keluar tangannya dari celana dalam Laras. Jari-jarinya belepotan cairan bening dari vagina Laras.

“Mbak Laras cepet banget basahnya, ya. Lihat nih becek gini,” kata William memperlihatkan jarinya yang basah di depan wajah Laras yang lalu dijilatinya.

Kemudian dengan tangan yang satunya William sibakkan jilbab dan kaos longgar Laras sehingga payudara Laras yang memakai bra terbuka. Segera pula bra itu terlepas, dan teronggok dipinggir ruangan, membuat ppayudara putih sekal gadis manis alim itu terlihat jelas. Mata William melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudara Laras yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan serta kulitnya yang putih mulus.

“Nnngghhh… Will” desah Laras dengan mendongak ke belakang merasakan mulut William memagut payudara yang menggemaskan milik gadis alim itu.

Mulut William menjilat, mengisap, dan menggigit pelan putingnya. Sesekali Laras bergidik keenakan kalau kumis pendek William menggesek puting Laras yang sensitif. Tangan lain William turut bekerja pada payudara Laras yang sebelah dengan melakukan pijatan atau memainkan putingnya sehingga gadis cantik berjilbab lebar itu merasakan kedua benda sensitif itu semakin mengeras. Yang bisa Laras lakukan hanya mendesah dan merintih. Tangan putih mulusnya tak bisa berhenti meremasi kasur busa.

Puas menyusu dari Laras, mulut William perlahan-lahan turun mencium dan menjilati perut Laras yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil tangannya menyibakkan rok hitam gadis alim itu kepangkal paha, lalu menurunkan celana dalamnya. Sambil memeloroti William mengelusi paha putih mulus gadis montok berjilbab itu. CD itu akhirnya lepas melalui kaki kanan Laras yang William angkat, setelah itu William mengulum sejenak jempol kaki Laras dan juga menjilati kaki Laras. Darah Laras semakin bergolak oleh permainan William yang erotis itu. Selanjutnya William mengangkat kedua kaki Laras ke bahunya, badan gadis berjilbab itu setengah terangkat dengan selangkangan menghadap ke atas. Bajunya sudah awut2an, namun jilbabnya masih tetap saja terpasang.

Laras pasrah saja mengikuti posisi yang William inginkan karena dorongan nafsu Laras ingin menuntaskan birahi Laras ini. Tanpa membuang waktu lagi William melumat kemaluan Laras dengan rakusnya. Lidah William menyapu seluruh pelosok vagina Laras dari bibirnya, klitorisnya, hingga ke dinding di dalamnya, anus mahasiswi alim montok itu pun tidak luput dari jilatan William. Lidah William disentil-sentilkan pada klitoris Laras memberikan sensasi yang luar biasa pada daerah itu. Laras benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mata Laras merem-melek dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vagina Laras mengirimkan rangsangan ini ke seluruh tubuh yang membuat Laras serasa menggigil.

“Ah… Aahh… Will… Nngghh… Terus!” erang Laras lebih panjang di puncak kenikmatan, gadis alim itu meremasi payudaraya sendiri sebagai ekspresi rasa nikmat.

William terus menyedot cairan yang keluar dari memek gadis alim berjilbab lebar itu dengan lahapnya. Tubuh Laras jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah paha Laras semakin erat mengapit kepala William. Setelah puas menyantap hidangan pembuka berupa cairan cinta Laras, barulah William turunkan kaki Laras. Laras sempat beristirahat dengan menunggu William membuka baju, tapi itu tidak lama. Setelah William membuka baju, William langsung beraksi.

William dengan paksa melepaskan rok hitam Laras, lalu membentangkan kedua paha Laras dan mengambil posisi berlutut di antaranya. Bibir vagina Laras jadi ikut terbuka memancarkan warna merah merekah diantara bulu-bulu hitamnya, siap untuk menyambut yang akan memasukinya. Namun William tidak langsung mencoblosnya, terlebih dulu William gesek-gesekkan penisnya yang besar itu pada bibirnya untuk memancing birahi gadis alim bertubuh putih mulus itu agar naik lagi. Karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos, secara refleks Laras meraih batang itu, keras sekali benda itu waktu Laras genggam, panjang dan berurat lagi.

“Aaakkhh…!” erang Laras lirih sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penis William melesak masuk ke dalam memek becek gads berjilbab yang montok itu.

jilbab semok akhwat montok (11)

“Aauuuhhh…!” Laras menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan keras William hingga penis itu tertancap seluruhnya pada vagina Laras.

Dengan gerakan perlahan William menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal-gerinjal itu. Gadis alim itu ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginanya mengimbangi sodokan William. Respon mahasiswi aktifis yang biasanya selalu menjaga pergaulannya itu membuat William semakin menggila, penisnya semakin lama menyodok semakin kasar saja. Kedua gunung Laras jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang.

Laras merasakan selama menggenjot memeknya, otot-otot tubuh William mengeras, tubuhnya yang hitam kekar bercucuran keringat, sungguh macho sekali, pria sejati yang memberi Laras kenikmatan sejati. Suara desahan dan rintihan gadis montok berjilbab lebar itu bercampur baur dengan erangan jantan William dan derit ranjang. Butir-butir keringat nampak di sejukur tubuh Laras seperti embun, sampai kaosnya yang tersingkap juga jilbabnya basah oleh keringat.

“Uugghh… Mbak Laras Laras… Sayang… memek kamu emang enaakk… Oohh… Mbak Laras cewek paling cantik yang pernah Aku entotin,memek kamu juga tebel dan keset..” William memgumam tak karuan di tengah aktivitasnya.

Dia menurunkan tubuhnya hingga menindih Laras, Laras sambut dengan pelukan erat, kedua tungkai Laras Laras lingkarkan di pinggang William. William mendekatkan mulutnya bibir tipis yang indah milik Laras dan memagutnya. Sementara di bawah sana penis William makin gencar mengaduk-aduk vagina Laras, diselingi gerakan berputar yang membuat memek gadis alim montok itu terasa diaduk-aduk. Tubuh mereka sudah berlumuran keringat yang saling bercampur, Laras pun semakin erat memeluk William. Laras merintih makin tak karuan menyambut klimaks yang sudah mendekat bagaikan ombak besar yang akan menghantam pesisir pantai.

Namun begitu sudah di ambang klimaks, William menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa melepaskan penisnya, William bangkit mendudukkan dirinya, maka otomatis Laras sekarang diatas pangkuan William. Dengan posisi ini penis William menancap lebih dalam pada vagina Laras, semakin terasa pula otot dan uratnya yang seperti akar beringin itu menggesek dinding kemaluan Laras. Kembali gadis aktifis masjid di kampusnya itu menggoyangkan badannya, kini dengan gerakan naik-turun. Rintihannya semakin keras. William merem-melek keenakan dengan perlakuan Laras. Mulut William sibuk melumat payudara Laras kiri dan kanan secara bergantian membuat kedua benda itu penuh bekas gigitan dan air liur. Tangan William terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Laras, mengelusi punggung, pantat, dan paha. Jilbab yang Laras kenakan semakin menaikkan birahi William.

Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.

Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.

Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

Tiba-tiba, terdengar suara motor yang masuk kehalaman rmah kontrakan itu. “itu Rika!” Kata Laras yang langsung tergesa-gesa merapikan bajunya dan mengenakan roknya. Segera mereka berdua kembali keruang depan, duduk disofa berpura-pura tidak ada apa2.

“Assalamu alaikum…” Beberapa saat kemudian, Rika masuk. Laras dan William menjawabnya. “ada tamu ya mbak?” tanya Rika. Laras hanya mengangguk. “kenalkan, nama saya William.” Kata William sambil mengulurkan tangannya. Matanya jelalatan memandang Rika yang cantik dan ramping, yang memakai baju longgar putih, jilbab coklat muda dan rok yang berwarna sama dengan jilbabnya. Wajahnya manis dan putih, dengan bibir yang indah dan tipis. Rika tidak menyambut tangan William, namun langsung mengatupkan tangannya, :kenalkan, nama saya Rika.” Kata Rika. William langsung salah tingkah. “Mbak aku masuk dulu yah.” Kata Rika. Laras mengangguk. Kemudian Rika masuk. Tak berapa lama terdengar tivi diruang tengah didepan kasur busa yang tadi dipakai Laras dan William untuk bercinta terdengar dihidupkan. Ternyata Rika menonton tivi.

Beberapa saat, William mendekati Laras yang masih kepayahan. “Sudah segar lagi kan, Mbak Laras? Kita terusin lagi yuk!” sahut William senyum-senyum sambil mulai menggerayangi tubuh Laras kembali.

jilbab semok akhwat montok (12)

“jagan will..ntar Rika tahu..” kata Laras. “ya kita mainnya disini aja… diem-diem…” kata William sambil terus menggerayangi tubuh Laras. Tangan nakal William membuat Laras kembali mendesah. Kaki gadis berjilbab itu mulai terbuka. Namun William menginginkan gaya yang berbeda.

Kali ini tubuh Laras dibalikkan dalam posisi menungging telungkup diatas sofa. Kemudian William pelan2 menyibakkan rok hitam Laras, lalu mulai menciumi pantat Laras. Lidah William menelusuri vagina dan anus Laras memberi Laras sensasi geli. Kemudian Laras merasa William meludahi bagian dubur Laras, ya ketika gadis aktifis masjid kampus itu melihat ke belakang William memang sedang membuang ludahnya beberapa kali ke daerah itu, lalu digosok-gosokkan dengan jarinya. William mau main sodomi. Laras sudah lemas dulu membayangkan rasa sakitnya ditusuk kontol sebesar milik William pada daerah situ.

Benar saja yang Laras takutkan, setelah melicinkan daerah itu William bangkit lalu membuka retsleting celana jeansnya, mengeluarkan kontol besarnya, lalu dengan tangan kanan membimbing penisnya dan tangan kiri membuka anus Laras. Gadis alim itu meronta ingin menolak tapi segera dipegangi oleh William. “ssstt..jangan berontak..ntar Rika dengar..” bisik William ditelinga Laras.

“Jangan Will… Jangan disitu, sakit!” bisik Laras memohon, setengah meronta.

“Tenang Mbak Laras, nikmati saja dulu, ntar juga enak kok. Saya gak akan kasar. Dulu itu mbak juga keenakan khan?” bisik William.nafasnya terasa tersengal2, menahan gejolak birahi.

Gadis ayu berjilbab itu merintih tertahan sambil menggigit sofa menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada duburnya, yang lebih sempit dari vaginnya. Air mata Laras meleleh keluar.

“Aduuhh… Sudah Will… Laras nggak tahan,” rintih Laras yang tidak dihiraukannya.

“Uuhh… Sempit banget nih,” William berbisik mengomentari Laras dengan wajah meringis menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penis William. William diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga dipakai gadis manis berjilbab itu untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

Laras menjerit kecil saat William mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokan William bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh gadis berjilbab itu pun ikut terhentak-hentak. Tangan William meraih kedua payudara Laras dari luar kaos dan jilbabnya dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringat dan air mata Laras bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu, gadis manis berjilbab itu menangis bukan karena sedih, juga bukan karena benci, tapi karena rasa sakit bercampur nikmat. Rasa sakit itu Laras rasakan terutama pada dubur dan payudara, Laras mengaduh pelan setiap kali William mengirim hentakan dan remasan keras, namun gadis alim itu juga tidak rela William menyudahinya. Terkadang Laras harus menggigit bibir atau sofa untuk meredam jeritannya agar tidak keluar sampai keruang sebelah, dimana Rika ada disana.

Akhirnya ada sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuh Laras yang Laras ekspresikan dengan desahan panjang, ya Laras mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh gadis montok berjilbab itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. William sendiri menyusul Laras tak lama kemudian, William menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu William mencabut penisnya dari Laras dan membalikkan tubuh gadis aktifis kampus berjilbab lebar itu lalu mengarahkan kontolnya kewajah cantk dan putih Laras. Sperma William muncrat, menyemprot dengan derasnya dan berceceran di wajah Laras, menetes sampai membasahi jilbab hitam Laras.

Tubuh Laras tergolek lemas disofa, sementara William duduk terengah-engah dikursi empuk sebelah sofa panjang. Ia barusaja menikmati tubuh seorang gadis alim berjilbab yang biasanya menjaga dirinya. Terlebih lagi, william menikmatinya dikontrakan sang gadis berjilbab itu sendiri, tanpa melepas bajunya, dan ada rekannya sesama gadis berjilbab diruang sebelah. Sebuah senssi yang membuat gairahnya semakin tinggi dan orgasmenyapun semakin kuat. Pelan2 Laras duduk dan mengambil tissue dimeja, lalu membersihkan wajahnya yang berlumuran sperma, juga jilbabnya. Kemudian dengan pelan ia beranjak masuk kedalam, sepertinya hendak ke kamar mandi. Sementara itu tivi yang ada diruang dalam tidak terdengar lagi suaranya.

Tiba-tiba ditengah kelelahannya, William ingat Rika, rekan Laras sesama gadis berjilbab lebar yang tadi masuk ke dalam. Kembali pikiran bejatnya penasaran,s eperti apa rasa memek sang gadis yang terlihat lugu tadi. Setelah tenaganya sedikit terkumpul, ia kembali masuk ke ruang tengah.

Diruang tengah, ia menjumpai ruangan itu kosong, dan televisi yang tadi menyala telah mati. Segera ia melirik ke dua kamar di debelah ruang tengah. Dikamar yang satu, lewat pintu yangs edikit terbuka ia melihat Larasl, berbaring menelungkup dikasur. Wajahnya terbenam dalam bantal, dengan jilbab, baju longgar dan rok panjang yang masih ia pakai. Nampaknya gadis alim montok itu menangis. William tidak peduli. Langsung ia berpaling ke pintu satunya, yang tertutup. Segera ia berjongkok untuk mengintip dari lubang kunci, dan ketika ia mengintip, terkejutlah ia teramat sangat. Birahi yang tadi telah lepas, kini kembali datang. Ia melihat Rika, gadis alim berjilbab yang wajahnya terlihat lugu itu tidur terlentang. Baju, jilbab, kaus kaki putih dan roknya masih ia pakai, namun roknya sudah tersingkap keatas, memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Keterkejutan William ialah karena Rika, sang gadis cantik berjilbab itu sedang menyusupkan tangannya ke balik celana dalamnya dan meraba-raba memeknya sendiri.

Sesaat kemudian Rika melepaskan celana dalam putih berendanya, membuat William semakin terkesima melihat bentuk memek Rika yang indah, dihiasi bulu-bulu tipis. William merasakan nafsu birahi kembali bangkit, batang kemaluannya kembali mengeras. William terus mengintip. Tangannya turun ke kontolnya yang etrtutup celana jeans, dan mengelus2nya.

Detik-detik selanjutnya, gadis berjilbab itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangannya meraba-raba bibir memeknya yang merah merekah, sambil mulutnya tak berhenti mendesah. Pemandangan selanjutnya semakin membuat perasaan William tak karuan. Dimana, Rika mencucuk-cucuk memeknya sendiri dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Namun melihat sang gadis ayu berjilbab itu masturbasi tanpa melepas jilbab dan bajunya tetap membuat William semakin birahi.

jilbab semok akhwat montok (13)

“Akkhh.. oohh.. oughhtt.. ouhh.. akhh..” desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Rika semakin keras, sampai suatu saat William melihat tubuh gadis alim itu terhentak-hentak, pantatnya terangkat dan tubuhnya mengejang beberapa saat untuk kemudian terkulai lemas dan tertidur. Rupanya Rika sudah mencapai orgasme, pikir William dalam hati.

William yang sedari tadi mengintip tak dapat lagi membendung nafsu birahinya yang kembali datang.s egera ia ingat pada Laras.

Dengan segera William masuk kek amar Laras, dan menindih Laras. Laras yang terkejut tidak mampu berbuat apa-apa. “wil… udahhh…ampuuunnn… jangaaann… aku capeeeek…” rintih Laras sambil terisak-isak, namun William tidak peduli. Segera william bangkit dan menarik pantat gadis montok berjilbab itu kebelakang sehingga posisi Laras sekarang agak menungging. Laras yang sudah lemas tidak mampu berontak, kecuali hanya terisak dan merintih memohon ampun yang tidak digubris oleh William. Gadis berjilbab itu menjerit tertahan ketika william menyingkap rok panjangnya keatas dan memelorotkan celana dalamnya. Beberapa saat kemudian terasa sebuah benda hangat yang besar kembali menyeruak masuk lubang memeknya. Dengan amat bernafsu setelah melihat Rika, agdis berjilbab rekan Laras masturbasi, William melampiaskan birahinya dengan kembali memperkosa memek Laras. disodoknya memek Laras dari belakang.

“Ohh.. Mbak Laras.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Mbak Laraaashhngg”, William meracau histeris sambil memacu kontolnya menembusi memek gadis alim itu dengan cepat dan bertenaga.

Berkecipak-kecipak suara memek Laras dihajar kontol William yang masih kokoh dan tegang itu. Tangan kekarnya kadang menepuk pantat bahenol dan padat Laras sampai merah kulitnya, gadis alim itu meringis-ringis antara perih dan nikmat yang mulai kembali menjalar dari memeknya keseluruh tubuhnya. “Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Laras mulai bergairah kembali. Gadis alim itu mulai kembali tenggelam dalam birahi, diperkosa untuk kesekian kalinya dikamar kontrakannya olehs eorang asal indonesia timur. Kepalanya yang masih memakai jilbab ia benamkan kebantal, meredam desahan dan erangan nikmatnya.

Memek Laras berdenyut-denyut menyekap kontol William sehingga dari mulut William mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Mbak Laraaashhngghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. Heehghh..”, semakin liar sodokan William, sampai pantat Laras merah-merah karena hantaman-hantaman paha William.

Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Kemudian dengan kasar Laras ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke atas. William mendekatkan kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Laras, William memajukan dan menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali. Laras sang gadis berjilbab itu memejamkan matanya rapat0rapat. Bibirnya ia gigit, seolah menahan erangan nikmat yang akan keluar. Tidak berhasil, karena masih etrdengar dengusan nafas birahi dan desahannya yang erotis.

Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai baju yang masih mereka pakai basah kuyup. Tangan william merambat keatas, meremas kasar tetek Laras sambil terus menggenjot memek gadis alim montok itu dengan ganas. Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak, membuat Laras merasakan kenikmatan yang sangat dalam perkosaannya. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang.

“Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Mbak Laraaashhnngghh.”

Laras tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah mencapai orgasmenya. kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. keduanya memekik tertahan, takut ketahuan oleh Nuruk yang tertidur dikamar sebelah.

“Aahh!!”.

Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, William mencoba menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Laras, gadis alim itu terlihat seolah ingin mencakup seluruh milih William. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

jilbab semok akhwat montok (14)

Setelah beberapa saat menumpahkan spermanya ke memek Laras, William berbaring terlentang disamping Laras, kehabisan tenaga. Isak tangis Laras sudah tak terdengar. Gaids alim itu sepertinya sudah tak punya tenaga lagi juga. Beberapa saat istirahat, William kembali merapikan bajunya, dan beranjak pergi. Tidak lupa ia mengambil gambar Laras yang sedang tertidur dengan bagian bawah terbuka lebar. William tahu itu berguna suatu saat nanti.

Namun ia sekarang sudah puny target baru. Sang gadis alim yang berwajah lugu dan cantik, namun ternyata maniak masturbasi, Rika. Segera ia melenggang keluar kjontrakan gadis-gadis berjilbab itu dengan langkah ringan karena mendapat mangsa baru.

BU MAEMUNAH

Waktu itu senja pukul 04.00 sehabis melakukan kegiatan praktikum Biologi aku menghampiri kantor Dosen. Aku kaget di kantor tersebut masih ada Bu Maemunah seorang diri mengutak-atik sebuah alat peraga untuk praktik. Bu Maemunah waktu itu kelihatan cantik dengan jilbab warna coklat sampai menjulur menutupi dadanya.

JILBABER STW HOT (1)

Sementara bawahan menggunakan “Siap Bu!” kataku serius. “ Baiklah kamu tunggu sini sebentar Ibu tak ke belakang dulu?” Ah mau apa Bu Maemunah pakai ke belakang segala, aku masih termangu-mangu pekerjaan apa yang harus kulakukan. Lima menit kemudian Bu Maemunah keluar dengan santainya. Lalu menuju pintu dan menutupnya, setelah itu dia melirikku sambil tersenyum.

“Din bantu Ibu ya?”, katanya pelan. “Bantu apa Bu?”, aku masih bertanya-tanya. “Jangan banyak Tanya, ayo ikut Ibu ..?

Tak kusangka Bu Maemunah menuntunku menuju ke kantor yang biasa tempat bu Maemunah menerima mahasiswa untuk konsultasi ataupun diskusi. “Duduk Din”, Bu Maemunah menyuruhku duduk di sebuah kursi yang tempat duduknya bulat dan tidak ada sandaran.

JILBABER STW HOT (4)

Tapi anehnya Bu Maemunah justru berada di belakangku, “Pejamkan mata Din”, kata Bu Maemunah. Aku merasakan tubuhkan didesak oleh tubuh seseorang dari belakang dan yang kurasakan adalah sebuah benda yang kenyal. Astaga! Pikirku, ternyata Bu Maemunah di belakangku menggosok-gosokkan teteknya di punggunggku sambil terengah-engah dan gilanya aku merasakan tetek tersebut tidak ditutupi BH, aku merasakan tetek itu begitu terasa dan ternyata benar sebab Bu Maemunah mengenakan kemeja putih lengan panjang yang tipis.

“Balikkan tubuhmu Din”

Seketika itulah baru kali ini aku melihat tetek Bu Maemunah dengan sangat jelasnya, perlahan-lahan Bu Maemunah satu persatu membuka kancing kemejanya dan terlihatlah payudara itu. Gilanya Bu Maemunah kemudian mengangkat jilbabnya ke atas mengalungkannya dan terlihatlah tetek Bu Maemunah yang sebelumnya tak pernah aku lihat, bahkan mengira-ngira bentuk dan ukurannyapun aku kesulitan karena selalu tertutup jilbab. Tak kusangka gede amat, ku taksir 36 B. “Puas kamu Din” celotehnya.

JILBABER STW HOT (2)

“Aku tahu kau menginginkan ini, aku tahu kau selalu ingin melihatnya, menyentuhnya bukan. Sejak kamu masuk kuliah ini, aku tertarik padamu, kau mirip cowokku dulu, mu kan hisap tetek Ibu..?” Tanpa pikir panjang aku langsung sosor, karena inilah yang kutunggu-tunggu dari Bu Maemunah. Aku juga merasakan hal yang aneh, Bu Maemunah selalu baik padaku bahkan nilia-nilai ujianku selalu dapat baik, padahal nilaiku sebenarnya jelek.
Mulutku kini melumat tetek Bu Maemunah agak kendor memang tapi tetap indah, sesekali jilbabnya lepas dari lehernya dan menutupi teteknya. Tertutup jilbab dan kelihatan mengintip malah justru menarik. Pikirku. Lidahku mulai turun, menjalar ke bawah dan sampai di pusar, aku jilati hingga kudengar erangan Bu Maemunah sambil meremas payudaranya sendiri.

JILBABER STW HOT (3)

“Ohhh nikmat Din, ke bawah Din” pintanya. Aku langsung melorotkan rok hitamnya, ah tak ada celana dalam, ternyata Bu Maemunah ke belakang tadi melepas Cdnya, Gila! Aku langsung sosor, menjilati memeknya yang berbulu lebat dan kecoklatan. “Ahh kau hebat Din.. terus nak, jilati…” Ah aku rasakan memek Bu Maemunah berdenyut-denyut dan ya ampun cairan keluar dari memek Bu Maemunah. Tanpa disuruh, inilah saatnya menunjukkan kejantananku pada Bu Maemunah. Aku kemudian berdiri dan mendorong Bu Maemunah di atas meja, kini ia terlentang dengan jilbab yang masih utuh sementara BH, kemeja dan rok sudah aku preteli. Kontolku benar-benar sudah siap, aku langsung tancap, Bu Maemunah mengerang kenikmatan tubuhnya menggelinjing kenikmatan. Jilbabnya yang kembali menutupi susunya aku singkap dan kuhisap kembali teteknya. “ooooohhhh nikmat luar biasa…” pikirku, meski sudah tak perawan, Bu Maemunah tetap Hot. “ Din aku mau klimaks nih, cepet Din.. lebih kenceng!” Aku langsung tancap lebih keras, tubuhku mendidih. Alamak spermaku menyembur, dan Bu Maemunah mengerang keras tanda keenakan. “Sini nak, sisa spermanya biar Ibu lap pake jilbab ini” kata Bu Maemunah sambil menjulurkan kepalanya ke selangkanganku. Sejak peristiwa itu Bu Maemunah selalu minta bantuanku dan tentu saja masih tetap menggunakan jilbab, ada sensasi tersendiri.

RIKA

Hari itu hawa terasa sangat panas dikampus islam itu . matahari yang bersinar terik membuat semua orang ebrusaha menghindari panasnya. Kebanyakan berteduh dikantin, ada yang tinggal didalam gedung dan beberapa b erusaha menutupi diri mereka dengan jaket dan sapu tangan.

Dari sebuah gedung fakultas ekonomi islam, keluar seorang wanita cantik. Jilbab lebar berwarna coklat muda, kemeja longgar putih dan rok yang juga berwarna coklat muda tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Rika, nama gadis itu berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Ketika langkahnya sampai di parkiran motor, tiba-tiba HP nokia miliknya berdering. Ia ambil dari dalam tasnya dan ia lihat. Nomor asing. Segera ia memencet tombol ANSWER.
“Halo, Assalamu alaikum?” kata gadis cantik berjilbab itu.
“waalaikum salam. Rika ya?” kata sebuah suara laki2 yang sepertinya sudah bapak2.
“iya. Siapa yah?” tanya Rika.
“ini pakdhe Mitro.” Kata suara itu. Jantung Rika seakan berhenti untuk beberapa detik. Sebuah pengalaman yang menakutkan namun juga nikmat yang dulu pernah pakdhe Mitro ajarkan pada gadis alim itu bertahun2 yang lalu kembali terbersit.
“aa…ada apa nggih Pakdhe?” tanya Rika, berusaha untuk tenang.
“Pakdhe mau ke kota. Mungkin pakdhe akan mampir ke kostmu sebentar, diminta bapakmu. Ada titipan. Cuma mau ngabari itu.” Kata pakdhe Mitro.
“oh.. nggih pakdhe.” Kata Rika. Suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
“Si otong juga rindu sama remesanmu.” Kata pakdhe, datar saja seolah tidak bermaksud apa-apa, namun hati Rika kembali terasa berhenti. Perasaan bingung menderanya. Sebagian marah oleh perbuatan pakdhenya yang telah menghancurkan kegadisannya bertahun2 yang lalu, namun hasrat biologisnya bereaksi mendengar kata rangsangan dari pakdhenya tadi. Rika terdiam, tak mampu berkata apa2.
“ya sudah, besok kalau pakdhe sampai di terminal, tolong dijemput nggih. Assalamu alaikum.” Ujar pakdhe menyudahi pembicaraan.
Rika pun menutup teleponnya tanpa berkata apa2. Segera ia naik ke motornya, pulang dengan hati yang bimang dan bingung. Dalam perjalanan, ingatannya kembali kemasa saat ia masih SMA, ketika ia masih menjadi seorang gadis alim yang sangat lugu, saat ia berlibur ke rumah Pakdhenya.

**************************
pada suatu hari ketika liburan, Rika yang saat itu masih kelas 2 SMA berlibur selama dua pekan dirumah pakdhe Mitro di desa. Pakdhe Mitro adalah kakak dari bapaknya yang sudah menduda 0setelah ditinggal mati istrinya, budhe Murni setahun yang lalu. Sekarang ia tinggal bersama anaknya, Rika memanggilnya Mbak Santi, seorang gadis cantik yang berjilbab dan punya senyum manis, lulusan SMEA berumur 20 tahun yang bekerja di kelurahan. Rika memandang mbak Santi sebagai seorang yang cantik, berjilbab dan solehah, aktif di remaja masjid di desanya. Dia juga supel dan manis juga berkulit putih, membuat banyak lelaki di desa tersebut jatuh hati padanya. Namun dengan lembut mbak Santi menolaknya. Mbak Santi tidak mau pacaran yang tidak jelas, begitu alasannya.

Kejadian mengejutkan Rika adalah ketika suatu malam ketika Rika masih liburan dirumah pakdhe Mitro, Rika terbangun dan tidak menjumpai Mbak Santi disampingnya. Dengan pelan Rika bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Sebenarnya bukan untuk mencari mbak Santi, namun untuk mencari air minum karena haus. Rika mengira mbak Santi hanya ke kamar mandi. Rika kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamar Pakdhe Mitro yang setengah terbuka. Rika dengar suara Mbak Santi mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap Rika dekati pintu kamarnya dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Rika benar-benar kaget!! Ternyata di kamar Rika ada Mbak Santi dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan.

Saat itu pakaian bagian atas Mbak Santi sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan kain yang menutupi tubuh Mbak Santi hanyalah celana dalam dan jilbab coklat saja. Kacamata mbak santi masih bertengger diwajahnya.

Apa yang Rika lihat benar-benar membuat hati Rika tercekat. Rika lihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Santi kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Santi, wanita berjilbab yang Rika anggap alim itu meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Santi yang tertutup jilbab coklat bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Santi secara bergantian. jilbab Mbak Santi yang menutupi disibak keatas.

Rika yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuh Rika gemetar dan lututnya lemas. Hampir saja kepala Rika terbentur daun pintu saat Rika berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian Rika lihat Pakdhe menarik celana dalam yang melekat di tubuh Mbak Santi dan melemparkannya ke lantai. Kini hanya jilbab satu2nya kain yang masih melekat ditubuh Mbak Santi di bawah dekapan tubuh bapaknya sendiri yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.

Erangan Mbak Santi semakin keras saat Rika lihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Santi yang terbuka. Tangan Mbak Santi yang memegang kepala Bapaknya sendiri lihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Rika yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Rika membayangkan seolah-olah tubuhnya yang sedang digumuli Pakdhe.

Kedua kaki Mbak Santi melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Santi semakin keras mengerang dan tubuh sintalnya Rika lihat melonjak-lonjak saat Rika lihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Santi. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Santi, aktifis mesjid berjilbab itu mulai melemas dan terdiam.

Kemudian Rika lihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Rika lihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Santi dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Santi, yang terlihat sangat cantik dengan jilbab yang masih ia pakai.

Mbak Santi yang masih lemas Rika lihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Santi. Kini posisi mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.

Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Santi menjilati selangkangan Mbak Santi yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuh Rika mulai meriang. Vagina dan buah dadanya terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginanya sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tangan Rika bergerak ke arah vaginanya sendiri yang tertutup rok panjang dan mulai menggaruk-garuk. tangan Rika yang lain menyusup ke balik jilbab putih dan kaosnya, meremas2 buah dadanya sendiri, mendesah2 sambil terus mengintip perbuatan zina mbak santi, aktifis pengajian di masjid yang berjilbab yang sedang dirangsang oleh ayahnya sendiri.

Kejadian yang Rika lihat berikutnya membuat hatinya semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Santi. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Santi. mbak santi masih terus medesah seperti kepedasan.

Kemudian Rika lihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Santi yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Santi. Rika lihat kepala Mbak Santi yang nasih terlilit jilbab mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Santi. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.

Mbak Santi mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Rika lihat pantat Mbak Santi bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Santi dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidur Rika pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.

Tubuh Mbak Santi menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya yamh terbungkus jilbab yang sudah mulai basah oleh keringatpun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya Rika dengar Mbak Santi merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Santi mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.

Pakdhe lalu menarik pantatnya dan Rika lihat dari arah Rika yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Santi agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Santi yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Santi.

Rika lihat kepala Mbak Santi terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali Rika lihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Santi merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Santi. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempat Rika berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatan Rika saat ia mendorong pantatnya. Rika yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tangan Rika secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginanya dan meremas-remasnya. Vagina Rika mulai basah oleh cairan. Jari tangahnya Rika tekankan pada daerah sensitifnya dan Rika gerakkan memutar.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Rika dengar Pakdhe mulai menggeram. Tangan pakdhe meremas payudara anaknya sendiri yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Santi pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun Rika dengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.

Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Santi yang ambruk tengkurap di kasur. Rika pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutnya. Tubuhnya seperti melayang dan akhirnya Rika merasa lemas.

Rika yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan kembali kekamarnya, berpura-pura tidur. Paginya Rika pura-pura bersikap seperti biasa. Rika bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Santi dan bapaknya tadi malam. Selama beberapa hari itu pikiran Rika selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Santi dengan Bapaknya sendiri di kamar itu.

Tepat satu pekan setelah kejadian itu, Rika harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara kenaikan tingkat di tempatnya bekerja. Rika yang sedang liburan dirumah pakdhenya diminta menggantikan Mbak Santi. Rika sedang menyapu halaman ketika pakdhe memanggilnya. Ternyata pakdhe sudah membuatkan the untuknya dan untuk akdhe sendiri.

RIKA

RIKA

Rika menyempatkan diri meminum tehnya sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang Rika minum rasanya agak lain, tapi Ia tidak begitu curiga. Saat mandi itulah Rika merasa ada yang agak aneh dengan tubuhnya. Tubuh Rika terasa panas dan jantungnya berdebar-debar. Rasa aneh menyergapnya. Memek Gadis alim itu terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu dirinya. Tubuhnya terasa gerah sekali.

Rika menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin agar rasa gerahnya hilang. Apa yang Rika lakukan ternyata cukup menolong. Tubuh Rika merasa segar sekali. Lalu Rika menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang dirinya, apalagi saat Rika menyabuni daerah selangkangannya yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Rika merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Rika tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba angan Rika melayang pada apa yang Ia lihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarnya.

Cepat-cepat Rika membuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi paginya. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, Rika lari masuk kamarnya. Rika selalu berganti pakaian di kamarnya sambil mematut-matut dirinya di depan cermin. Kali ini jilbab biru muda dengan baju terusan berwarna senada dengan bordir bunga2 kuning dan putih ia kenakan. Dada Rika yang mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda mulai terlihat bentuknya walaupun ia menggunakan jilbab lebar dan jubah terusan. Pinggulnya mulai tumbuh membesar. Banyak teman2nya yang mulai suka melirik Rika, namun karena ia takut jatuh pada zina, Rika mengabaikan pandangan mereka.

Baru saja Rika selesai berpakaian, Rika dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapnya. Rika tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memeluknya langsung membekap mulutnya dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutnya, jilbab biru muda lebar yang dipakai Rika disingkap orang itu, bagian depannya dililitkan ke leher Rika sehingga dada Rika yang tertutup bra dan jubah terbuka. Rika benar-benar kaget sehingga bingung mau berbuat apa.

Kembali rasa aneh yang menyerang Rika semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam dirinya. Rika tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutnya sementara tangan satu lagi memeluk tubuh ranumnya. Mata Rika semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi Rika rasakan sentuhan tubuh kekar menempel hangat di punggungnya. Pantat sekal Rika yang terbalut jubah dan celana dalam pink terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Rika semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam dirinya saat terasa tangan kasar menyingkap bagian belakang jilbabnya, lalu dengan perlahan menurunkan retsleting hubah Rika sampai mentog. Sesaat kemudian jubah yang Rika kenakan teronggok dilantai dibawah kaki Rika tanpa ada perlawanan berarti darti Rika, membuat sang gadis abg alim itu tinggal memakai jilbab lebar biru muda yang telah tersingkap, bra, dan celana dalam. Mulailah sapuan-sapuan lidah panas menyerbu tengkuk Rika yang terbuka. Rika menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri lehernya.. pundaknya.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggung Rika, jilatan itu berhenti hanya untuk memberi waktu orang itu membuka kancing bra Rika, melepasnya, lalu melemparkannya kesudut kamar. Rika semakin menggelinjang, merasa payudara ranumnya tidak tertutup apa2 lagi. Lidah itu lalu meneruskan petualangannya ditubuh ranum Rika, merayap ke bawah dan pinggang Rika mulai dijilati, sembari sepasang tangan memelorotkan celana dalam pinknya. Kaki Rika serasa lemah tak bertenaga. Kini hanya jilbab biru muda yang sudah tersingkap yang masih melekat ditubuh ranumnya. Rika hanya pasrah saat tubuhnya didorong ke tempat tidurnya dan dijatuhkan hingga Rika tengkurap di tempat tidurnya. Tubuh Rika lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.

Kaki Rika mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulnya. Pantat sekal Rika terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatnya dengan gemas. Pantat sekal gadis manis yang selalu berjilbab itu terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatnya dan mulai menjilati lubang anusnya. Rika benar-benar seperti terbang mengawang. Rika belum tahu siapa yang memeluknya dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Rika hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatnya saat lidah itu mulai menjilati lubang anusnya.

Rika tercekik kaget saat tubuhnya dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurnya. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuli Rika adalah Pakdhe Mitro. Rika tak tak mampu berteriak karena mulutnya langsung dibekap dengan bibir Pakdhe. Lidah Rika didorong dorong dan digelitik. Gadis alim yng cantik itu terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuh Rika terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.

Tubuh Rika menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kaki Rika dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuh ranum Rika yang sudah telanjang bulat di antara kedua paha Rika yang terkangkang. Gadis belia berjilbab iitu merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluan Rika di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhnya. Dari mulut Rika, bibir Pakdhe bergeser turun ke dua belah payudaranya. Tubuh Gadis alim itu semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudara Rika hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Rika sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawah Gadis manis lugu berjilbab iitu.

Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perut Rika menjadi sasaran jilatan lidah Pakdhe. Tubuh Gadis belia berjilbab iitu semakin menggelinjang hebat. Akal sehat Rika sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjerat Gadis alim itu. Pantat sekal Rika terangkat tanpa dapat Rika cegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkangan Gadis manis lugu berjilbab iitu yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Rika merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkangannya.

RIKA

RIKA

Tubuh Rika serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluan Rika dan menggelitik kelentit Gadis alim yng cantik itu. Lubang memek Rika semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidah Pakdhe yang panas. Rika hanya mampu menggigit bibir Rika sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkangan Gadis belia berjilbab iitu. Tubuh Rika semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.

Rika tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutnya. Pantat sekal gadis alim itu terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluannya. Lalu tubuh Gadis alim itu seperti terhempas ke tempat kosong. Rika merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahnya. Tubuh Rika menggelepar dan tanpa sadar Gadis belia berjilbab iitu mejepit kepala Pakdhe dengan kedua kaki Rika untuk menekannya lebih ketat menempel selangkangannya.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba mulut Gadis manis lugu berjilbab iitu sudah disodori batang kontol Pakdhe Mitro yang tanpa Rika tahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahnya. Batang kontol Pakdhe yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajah Rika seperti hendak menggebuk Rika kalau Gadis alim itu menolak menciuminya.

Dengan rasa jijik Rika terpaksa menjulurkan lidah Rika dan mulai menjilati ujung topi baja Pakdhe yang mengkilat. Rika hampir muntah saat lidah Rika menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang memek Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajah Rika tidak memberi Gadis alim itu kesempatan lain.

Rika hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kontol Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulut Rika dan menjejalkan batang kontolnya ke dalam mulutnya. Rika menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kontol Pakdhe yang besar memenuhi mulut Gadis alim yng cantik itu yang masih kecil.

Rika dengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantat Pakdhe digerak-gerakannya hingga batang kontol Pakdhe yang masuk ke dalam mulut Gadis alim itu mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutnya. Rika hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkongannya. Rika hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tangan Gadis belia berjilbab iitu mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.

Setelah puas “mengerjai” mulut Rika dengan batang kontolnya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindih Rika lagi dengan posisi sejajar. Kedua paha Gadis manis lugu berjilbab iitu dikuak Pakdhe dan dengan tangannya, dicucukannya batang kontolnya ke arah bukit kemaluannya. Gadis alim itu merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang memek Rika yang sudah basah.

Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba Rika merasa perih di selangkangan Rika saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kontol Pakdhe mulai menerobos ke dalam lubang memek Gadis alim itu yang masih perawan. Rika merintih kesakitan dan air mata Gadis alim itu mulai mengalir. Rika tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayu Rika dan mengatakan kalau sakit Rika hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.

Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kontolnya yang terjepit di dalam lubang memek Rika tertarik keluar. Gesekan batang kontol Pakdhe yang besar di dalam dinding lubang memek Gadis alim yng cantik itu menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Rika mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang Rika minum sehingga Rika benar-benar belum sadar akan bahaya yang Rika hadapi. Yang Rika inginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam dirinya.

Rika kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kontolnya menerobos lebih dalam ke dalam lubang memeknya. Lagi-lagi Pakdhe membisiki Rika kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kontol Pakdhe ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang memeknya.

Lubang memek Rika yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kontol Pakdhe dalam jepitan lubang memeknya. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kontol Pakdhe menerobos semakin dalam ke dalam lubang memeknya. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat Rika menggigit bibir Rika keras-keras saat selangkangan Rika terasa perih sekali. Selangkangan Rika terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kontol Pakdhe hampir masuk separuh ke dalam lubang memeknya.

Rika sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkangannya. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberi Gadis alim yng cantik itu kesempatan untuk bernapas. Rika merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini Rika dapat merasakan lubang memek Rika seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang memeknya.

Kembali rasa sakit yang tadi menyentak Rika berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kontol Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang memeknya. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar Rika menggoyangkan pantat sekal Rika untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Rika seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kontolnya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantat Gadis alim itu terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.

Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perut Rika terasa kejang. Tubuh Gadis alim itu mulai melayang. Tangan Rika semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangnya. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang Rika dengar bergemuruh di telinganya.

Mata Rika semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahnya. Gadis belia berjilbab iitu hampir menjerit saat ada sesuatu yang Rika rasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibir Rika menghentikan teriakannya. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirnya. Rika merasa tubuh ranum Rika seolah-olah terhempas di awan. Tubuh ranum Rika mengejat-ngejat saat Gadis alim itu mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibir Rika pun mulai berkelojotan di atas perutnya. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..

Dan akhirnya Rika rasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kontol Pakdhe yang terjepit dalam lubang memeknya. Batang kontol Pakdhe berkedut-kedut dalam jepitan lubang memeknya. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihnya. Napas Rika hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun Rika dengar menggemuruh di telinganya.

RIKA

RIKA

Air mata Rika mengalir saat Gadis alim itu sadari segalanya telah terlambat baginya. Kegadisan Rika telah terenggut oleh Pakdhe.

peristiwa itu terulang malam harinya. bahkan Rika digagahi berkali2 oleh pakdhe mitro sejak malam sampai pagi. setelah liburan itu, Rika tidak lagi mau berlibur dirumah pakdhe Mitro, meski terkadang ia merindukan batang kontol besar pakdhe Mitro menyodok2 lubang memeknya.

—–

Akhirnya hari itu tiba. Rika terlihat menunggu dengan resah di terminal. Sudah satu jam ia menunggu, namun bus yang ditumpangi pakdhe belum terlihat. Akhirnya, setelah lima belas menit ia menunggu, gadis alim berjilbab yang manis itu melihat bus yang membawa pakdhenya maemasuki terminal.

” pakdhe.” Kata Rika menyambut sang bapak yang ada dihadapannya. Rasa canggung berusaha ia tutupi, namun pandangannya secara refleks melihat selangkangan pakdhe, dimana terdapat benda yang dulu pernah membuatnya mabuk kepayang. Ia berusaha menghilangkan pikiran itu namun tidak sanggup. Segera gadis alim itu mencium tangan pakdhenya, dan memimpinnya ke parkiran. Hujan rintik mulai turun.

Sesampainya di parkiran, hujan turun semakin deras. Rika yang tidak mau basah kuyub segera membuka mantel hujannya dan mengenakannya. Segera dia memboncengkan pakdhe pergi dari terminal itu. Sebersit terlintas senyum samar pakdhe yang penuh arti, namun sang gadis manis berjilbab itu tidak mampu menerkanya.

Tiba-tiba ditengah perjalanan, Rika tersentak merasakan sentuhan pada buahdadanya yang tertutup baju biru langit longgar, jilbab putih dan jaket. Ternyata pakdhe nekat merangsang dirinya ditengah hujan itu, tertutup oleh mantel hujan yang tebal. Terus tangan pakdhe menelusup masuk kedalam jaket dan jilbab lebarnya, lalu sekali sentil terbukalah satu kancing bagian dadanya. Gadis manis berjilbab itu mendesah tertahan saat ia merasakan tangan kekar dan kasar pakdhe menyentuh buahdadanya, lalu meremas-remasnya lembut. Ternyata pakdhe Mitro sudah tidak tahan dengan kemolekan tersembunyi dari keponakannya yang cantik namun alim ini, dan merangsangnya agar nanti lebih mudah mendapatkan tubuh sekal sang mahasiswi berjilbab lebar itu. Rika memekik pelan ketika ia merasa tangan pakdhe yang satunya turun lalu meremas memeknya. Ia menggigit bibirnya, agar pekikan dan rintihannya tidak terdengar. Perasaan malu, marah, takut namun juga terangsang membuatnya bingung dan tak mampu berbuat apa-apa, sampai mereka tiba di kontrakan.

Didepan kontrakan, ternyata Rika melihat salah satu teman dari Mbak Laras sedang menunggu di teras. Memang Laras sedang pergi kuliah, sementara Tata belum kembali dari kampung, jadi Rika sekarang dikontrakan sendiri bersama dua orang pria. Yang satu adalah pakdhenya, yang satu adalah William, teman Laras. Tanpa diketahui Rika, sebenarnya William sudah tahu kalau Laras sedang kuliah, William sengaja datang ketika Rika sendirian di kontrakan, untuk menikmati tubuhnya. Lelaki ambon itu kecewa melihat Rika pulang bersama seorang lelaki, namun di atidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula ketika Gadis manis berjilbab lebar itu, yang dengan wajah masih merah padam karena birahi, mengenalkan sang pakdhe, lalu mempersilahkan William masuk ke ruang depan, sementara ia dan pakdhenya masuk ke ruang dalam. Rika mempersilahkan pakdhe duduk diruang tengah, didepan televisi dimana dulu tanpa sepengetahuan Rika, pernah digunakan William untuk menyetubuhi Laras yang montok. Rika yang masih agak syok dengan perlakuan pakdhe segera pergi tanpa permisi menuju kamar mandi. Namun tanpa Rika ketahui, pelan-pelan pakdhe yang sudah tidak tahan oleh kecantikan dan kesekalan tubuh keponakannya yang alim dan berjilbab lebar itu mengikutinya ke kamar mandi dari belakang.

Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Rika tidak sempat berteriak karena tiba-tiba pakdhe sudah memeluk Rika. Tubuh pakdhe yang kekar berpakaian lengkap sudah basah penuh keringat nafsu, memeluk Rika erat-erat. Gadis manis berjilbab lebar itu tidak berani berteriak karena malu terhadap William. Dengan air mata yang Rika tahan Gadis manis berjilbab lebar itu pasrah akan apa yang dilakukan pakdhe pada Rika.

Tanpa membuang waktu pakdhe segera melepas seluruh bajunya dan telanjang bulat. Batang kemaluan pakdhe yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai, namun tetap membuat Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu berdebar-debar. Kemudian pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh Rika yang masih berpakaian lengkap ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibir Gadis alim yang manis itu dengan rakusnya.

Mulut Rika masih tertutup saat lidah pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Rika. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidah pakdhe yang mendesak-desak bibir Rika, akhirnya bibir Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu pun terbuka. pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Rika dan mendorong-dorong lidah Rika. Mula-mula Rika diam saja, namun lama-kelamaan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perut Rika yang nasih tertutup baju dan jilbab. Rika mulai bereaksi. Lidah Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu tanpa sadar membalas dorongan lidah pakdhe.

Tubuh Rika mulai menggerinjal dalam pelukan pakdhe saat tangan pakdhe mulai menggerayangi buah pantat Gadis manis alim itu dari luar rok panjangnya. Tangan pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantat Rika lalu ditariknya tubuh Gadis alim yang manis itu hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.

Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulut Rika, tangan pakdhe menekan kepala Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluan pakdhe yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajah Rika yang putih dan halus itu. Ditariknya wajah Rika ke selangkangannya dan disuruhnya mulut Rika menciumi batang kemaluannya itu. Awalnya Rika berusaha menolak, namun karena cengkeraman tangan pakdhe begitu kua, Gadis lugu yang berjilbab lebar itu tak bisa menghindar. Apalagi akdhe terus menepuk-nepukkan batang kontolnya yang besar dan coklat juga keras itu kewajah Rika sehingga membuat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu semakin terangsang. Dengan pelan Rika membuka mulutnya dan mulai menciumi batang kemaluan pakdhe yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.

RIKA

RIKA

Kepala Rika didorong maju mundur oleh tangan pakdhe yang mencengkeram kepala Akhwat manis alim itu yang masih terbungkus jilbab hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulut Rika. Kerongkongan Rika tersodok-sodok ujung kepala kemaluan pakdhe yang keluar masuk dalam mulut Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Rika dengar napas pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluan pakdhe semakin mengeras dalam kuluman mulut Gadis alim yang manis itu.

Mungkin karena tak tahan, pakdhe segera menarik tubuh Rika agar berdiri lalu mendudukan Gadis manis alim itu di sisi bak mandi. Tangan pakdhe dengan kasar menyampirkan jilbab lebar Rika kesamping, membuka baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, dan memelorotkan bra Rika kebawah, membuat payudara putih bersih kenyal milik Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu terpampang jelas. pakdhe langsung membuka Mulutnya dan segera mencecar payudara Rika kanan dan kiri silih berganti. Rika menggelinjang hebat manakala mulut pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudara Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tangan pakdhe pun tak tinggal diam. Tangan pakdhe mulai merayap ke selangkangan Rika yang masih tertutup rok hitam dan mulai meremas gundukan bukit kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Lalu dengan kasar pakdhe menyingkap rok Rika ke pinggang dan merenggut lepas celana dalam Gadis alim yang manis itu, dan kembali meremas gundukan bukit kemaluan Rika.

Rika sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Gadis manis alim itu semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut pakdhe lalu merayap menyusuri perut Rika dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Dikuakkanya kedua bibir kemaluan Rika dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu.

Tubuh Akhwat manis alim itu yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluan Rika. Tanpa sadar tangan Rika mencengkeram rambut pakdhe dan menekankan kepala pakdhe agar lebih ketat menekan bukit kemaluan Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

Rika semakin blingsatan menahan rangsangan yang dibeRikan pakdhe di selangkangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Tanpa sadar mulut Rika mendesis-desis dan duduk Gadis alim yang manis itu bergeser tak karuan. Perut Rika mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuh Rika terasa mulai mengawang dan pandangan mata Gadis mahasiswi santun berjilbab itu nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang Rika mencapai orgasme Rika.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba pakdhe sudah berdiri di hadapan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Batang kemaluan pakdhe yang keras dicocokkan ke bibir kemaluan Rika dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluan Gadis manis alim itu yang sudah basah dan licin. Rika menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluan Rika. Bibir pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibir Rika sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Rika masih duduk di bibir bak mandi sementara pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluan Rika sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluan Rika. Tubuh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu lalu diturunkan dari bibir bak mandi. Dengan kasar pakdhe melepas semua baju Rika, tanpa ada perlawanan yang berarti dari Rika yang sudah sangat terangsang. Akhirnya terlepas semualah baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, kecuali jilbab yang memang dibiarkan pakdhe tetap dipakai Rika. Segera pakdhe membalik tubuh Rika hingga Gadis manis alim itu berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu pakdhe menempatkan diri di belakang Rika dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluan Rika dari celah bongkahan pantat Gadis manis alim itu.

Punggung Rika didorong pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kaki Gadis alim yang manis itu lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluan Rika. Setelah arahnya tepat, pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Kembali Rika mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu. Dinding-dinding lubang kemaluannya serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut. pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluan pakdhe pada dinding lubang kemaluan Akhwat manis alim itu semakin cepat.

Pinggul Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu yang dipegang pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari pakdhe mulai mencengkeram. Pinggul Rika ditarik dan didorong oleh tangan kuat pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuh Rika mulai terhentak dan Rika mulai limbung. Kembali Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napas pakdhe semakin menderu.

RIKA

RIKA

Pantat Rika yang ditarik dan didorong pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari pakdhe semakin terasa di pinggul Rika. Gerakan ayunan pantat pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu kembali mencapai orgasme Rika. pakdhe pun Rika kira mencapai puncak kenikmatannya karena Rika merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan pakdhe ke dalam lubang kemaluan Rika dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut pakdhe.

pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluan Rika selama beberapa saat. Napas pakdhe yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipi Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tulang kemaluan pakdhe menekan kuat di bukit buah pantat Rika. Rika merasa sedikit geli karena rambut kemaluan pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantat Rika. Batang kemaluan pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.

Tubuh Gadis alim yang manis itu sudah terasa lemas tak bertenaga. Rika hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya Gadis manis alim itu berhasil digagahi pakdhe Rika sendiri. Rika membiarkan saja saat pakdhe memandikan Rika seperti bayi. Tangan pakdhe yang kokoh menyibak lepas jilbab Rika, membuat rambut lurus sebahu Rika tergerai lepas terlihat indah. segera pakdhe menyabuni seluruh lekuk tubuh Gadis manis alim itu. Tubuh Rika kembali menggerinjal saat tangan pakdhe yang kokoh mulai menyabuni payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Puting Gadis manis alim itu yang mencuat dipermainkan pakdhe dengan gemas.

Tubuh Rika semakin menggelinjang saat tangan pakdhe mulai menyentuh perut Rika lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluan Rika yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jari pakdhe menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluan Rika dan berlama-lama menyabuni daerah itu.

Rika tak berani memandang pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tangan Rika dan menyuruh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu menyabuninya. Dengan agak kaku tangan Rika mulai menyabuni punggung pakdhe yang kekar. Tangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu bergerak hingga seluruh punggung pakdhe Rika gosok merata dengan sabun. Lalu pakdhe membalikkan tubuhnya menghadap Rika. Tangan pakdhe mengelus-elus kedua payudara Rika sementara Rika disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.

Tangan Rika bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas pakdhe mulai memburu saat tangan Rika yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluan pakdhe yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tangan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu yang agak ragu dipegang pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan pakdhe. Rambut kemaluan pakdhe sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras.

jilbab toket gede memek basah (4)

pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruh Rika menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuh Rika yang masih agak basah ditarik pakdhe dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Rika. pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluan pakdhe yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolornya.

Baru saja pintu ditutup, tubuh Akhwat manis alim itu sudah langsung disergap pakdhe. Diloloskannya handuk yang melilit tubuh Rika hingga Gadis alim yang manis itu telanjang bulat. pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapan Rika. Mulut pakdhe segera menyergap bibir Rika dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudara Rika segera menjadi bulan-bulanan remasan tangan pakdhe hingga tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu menggelinjang dalam dekapannya.

Tangan Rika segera dibimbing pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluan pakdhe yang sudah semakin mengembang. Bibir pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibir Rika ke dagu, lidahnya menjilat-jilat dagu Rika terus turun ke leher Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu semakin menggelinjang karena kumis pakdhe yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leher Rika.

Rika semakin mendesis karena kini bibir pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudara Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kanan dan kiri secara bergantian. Tangan Rika secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas batang kontol pakdhe. Napas pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudara Rika. Jilatan pakdhe semakin liar di seluruh bukit payudara Gadis manis alim itu tanpa terlewatkan sejengkalpun.

Batang kemaluan pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tangan Rika. Sementara tangan pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggung Rika dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantat Rika dan meremas-remas kedua buah pantat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu dengan gemasnya. Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahan Rika adalah pada buah pantat Rika dan pada kedua puting payudara Rika. Tubuh Gadis manis alim itu sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan pakdhe.

Mengetahui kalau tubuh Rika sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukan pakdhe, pakdhe segera mendorong tubuh Rika ke kasurnya hingga Gadis alim yang manis itu berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjang Rika oleh tubuh kekar pakdhe. Dibentangkannya kedua kaki Rika lebar-lebar dan Rika kembali digumuli pakdhe Rika. Lidah pakdhe kembali menyerbu bibir Rika lalu bergeser ke leher Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

batang kontol pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawah Rika. Rambut kemaluan pakdhe yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perut Rika menimbulkan rasa geli.

Lidah pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leher Rika hingga Gadis manis alim itu mendesis-desis kegelian. Tubuh Rika semakin menggelinjang menahan geli saat lidah pakdhe mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudara Rika di sekitar puting Rika. Tubuh Rika semakin menggerinjal saat lidah pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudara Rika. Tubuh Gadis lugu yang berjilbab lebar itu serasa semakin melayang.

Lidah pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusar Rika dijilatnya dengan rakus lalu lidah pakdhe mulai bergerak turun ke perut bagian bawah Rika. Otot-otot perut Rika terasa seperti ditarik-tarik saat bibir pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawah Rika di atas pangkal paha Rika. Geli sekali rasanya, apalagi kumis pakdhe yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perut Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang halus.

RIKA

RIKA

pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajah pakdhe menghadap selangkangan Rika sementara batang kontol pakdhe dihadapkan ke wajah Rika. Diturunkannya pantat pakdhe hingga batang kemaluannya menempel bibir Gadis alim yang manis itu. Dibimbingnya batang kontolnya ke mulut Rika. Rika tahu Rika harus membuka mulut Rika menyambut batang kontol pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulut Rika. Dengan terpaksa Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu mulai mengulum batang kontol pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.

Tubuh Rika terhentak saat mulut pakdhe mulai melumat bibir kemaluan Rika. Kedua tangan pakdhe menarik kedua bibir lubang kemaluan Rika dan membukanya lebar-lebar lalu lidah pakdhe yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluan Rika. Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluan Rika yang terbuka lebar.

Tanpa sadar pantat Rika terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah pakdhe yang menggesek-gesek kelentit Rika. Gerakan lidah pakdhe yang liar seolah membuat Rika semakin gila. Tanpa dapat Rika cegah lagi, mulut Gadis mahasiswi santun berjilbab itu merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan pakdhe yang menyumpal mulut Rika tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulut Akhwat manis alim itu.

Mata Gadis lugu yang berjilbab lebar itu kembali nanar. Perut Rika terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawah Rika sudah hampir tak dapat Rika tahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuh Rika menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuh Gadis manis alim itu lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuh Rika terdiam beberapa saat. Rika telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.

Tubuh Rika terasa lemas tak bertenaga. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu hanya pasrah saat pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulut Rika bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuh Rika dan mendudukan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu di pangkuannya. Tubuh Rika dihadapkan pakdhe ke dirinya dan kaki Rika dipentangkannya hingga Gadis alim yang manis itu terduduk mengangkang dipangkuan pakdhe dengan saling berhadapan. Kemudian tangan pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkangan Rika.

Bless!! Rika terhenyak saat pantat Rika diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluan Rika. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu terasa berdenyut-denyut. Kelentiti Rika yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Rika merasa sangat terangsang! Kelentit Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu serasa tergesek penuh pada batang kemaluan pakdhe.

Dengan dibantu kedua tangan pakdhe yang menyangga kedua buah pantat Rika tubuh Rika bergerak naik turun di pangkuan pakdhe. Payudara Rika yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuh Gadis manis alim itu di pangkuan pakdhe. Batang kemaluan pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluan Rika terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluan Rika yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.

Tubuh Rika terasa menggigil bergetar saat mulut pakdhe tak tinggal diam. Mulut pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika bergantian. Mulut pakdhe menyedot buah dada Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sepenuhnya. Gerakan Rika menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Rika mempercepat gerakan Rika naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika.

RIKA

RIKA

Karena tak tahan lagi tanpa sadar Rika dorong tubuh pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuh Rika yang tadi di pangku pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki pakdhe yang berbaring telentang. Gerakan Rika kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada pakdhe yang bidang Rika terus menggerakan pantat Rika memutar dan maju mundur. Kelentiti Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kian ketat tergesek batang kemaluan pakdhe. Gadis yang biasanya alim dan santun itu berubah liar dan binal, disetubuhi pakdhe.

Tangan pakdhe yang memegang kedua pantat Rika semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakan Rika. Rika merasa tubuh Rika kembali mulai mengawang. Gerakan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu kian tak terkendali. Mata Rika mulai membeliak dan mulut Rika menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat..

Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuh Gadis alim yang manis itu berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuh Rika berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut pakdhe. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu benar-benar tak bertenaga. Ya akibat batang kontol pakdhe Rika mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa pakdhe Rika ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat Rika yang masih muda bertekuk lutut.

pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuh Rika dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Sekarang tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang telentang gantian digenjot pakdhe. Rika yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkangan Rika dengan tusukan-tusukan batang kemaluan pakdhe. Batang kontol pakdhe tanpa ampun menghajar lubang kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu.

Perlahan-lahan napsu Rika mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan batang kontol pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada Rika berusaha menyambut setiap tusukan batang kontol dengan menggoyangkan pantat Rika ke kanan dan kiri.

Napas pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudara Rika yang dilumat bibir rakus pakdhe. Genjotan pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuh Gadis manis alim itu semakin menguat. Rika sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuh Akhwat manis alim itu kembali mengejang. Pantat Rika terangkat dan dengan merintih panjang Rika mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.

Tubuh Rika terhempas di tempat kosong dan pandangan mata Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu makin nanar. Rika merasa betapa di saat-saat itu tubuh pakdhe yang menindih perut Rika mulai bergetar. Mulut pakdhe menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan batang kontolnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Tubuh pakdhe berkejat-kejat lalu Rika merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluan Rika. Ada rasa berdesir menyergap Rika saat semprotan itu menyembur ke liang rahim Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu. Tubuh pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perut Rika.

Sungguh melelahkan pergumulan di hari itu. Akhirnya pakdhe tertidur karena terlalu lelah, sementara Rika segera berpakaian dan memakai jilbabnya lalu keluar kamar dan masuk ke kamar mandi, membersihkan lubang memeknya yang berlepotan sperma pakdhe. sementara itu William sudah pulang dengan perasaan menang karena mendapat mangsa baru, sembari menimang2 handphone berkameranya yang tadi ia gunakan untuk merekam adegan ranjang Rika dan pakdhenya.

TANTI

”Kapan suamimu pulang, Tan?” bisikku letih kepadanya, sejenak setelah hampir sekitar kurang lebih satu jam aku menggeluti dan menyetubuhinya sebanyak dua kali. Kami berbaring kelelahan di atas kasur kamarnya. Kuelus-elus mesra bukit payudaranya yang membusung indah dan sedikit basah berkeringat sehabis kusenggamai. Begitu bulat dan montok bukit payudara wanita cantik itu. Kucubit gemas berulang kali putingnya yang empuk dan kenyal.

”Nghh… Nanti sore, Mas. Emang kenapa?” ujarnya setengah merintih menikmati elusanku.

”Apa katanya nanti, Tan… kalau tahu kau tiba-tiba hamil?” tanyaku sedikit khawatir.

”Ahh, selalu itu saja yang kau tanyakan, Mas. Tentu saja dia akan senang.” Tanti mengelus penisku yang menempel di paha mulusnya.

”Tapi ini bukan darah dagingnya.” kubalas dengan menggelitik vaginanya dan memasukkan satu jariku ke belahannya yang masih sangat basah, hasil persetubuhan kami tadi.

”Ahss… dia tidak akan tahu…” Tanti kembali merintih. Genggamannya pada penisku semakin erat.

”Bisa-bisa aku dibunuhnya, Tan!” tanyaku masih tak puas.

Tanti membuka kedua matanya yang setengah terpejam lalu memandangku gemas. ”Mas, dia tidak akan curiga. Dipikirnya pasti ia yang menghamili aku. Dia tidak akan menyangka kalau ini adalah anakmu.”

”Kau gila, Tan.” kukecup bibirnya yang tipis dan sensual.

hijabers community bohay (1)

Tanti membalasnya dengan mengejar bibirku. ”Mas yang lebih gila. Berani-beraninya merayuku sampai hamil begini…” bisiknya lirih masih kelelahan.

“Kau yang memancingku lebih dulu,” kataku berkilah. ”Lagian, kenapa kamu mau juga dirayu?” ujarku tak mau kalah.

”Bodoh, ah…” sahutnya malas. “Aku kan cuma pengen punya anak.”

”Tapi bagiku, itu seperti menawari.” kuremas-remas lagi bukit payudaranya. Entahlah, aku begitu gemas melihat benda bulat itu.

”Ah, pikiran mas aja yang terlalu jorok.” Tanti terlihat letih. Bibirnya yang sedikit tebal tampak basah mengundang.

Kupandangi tubuh bugilnya yang putih dan montok. ”Aku cuma ingin menolongmu, Tan.” bisikku.

”Ya sudah kalau begitu, tidak usah dibahas lagi.” Tanti meremas dan mengocok alat vitalku yang mulai menegang lagi. Kedua buah dadanya tampak bergoyang-goyang indah saat ia melakukannya. Kedua putingnya yang keras berwarna coklat kemerahan menggelitik dadaku.

”Eghhh…” aku melenguh keenakan. ”Tan…” kukecup pipinya.

Tanti mendongak dan menyambar bibirku. Dengan cepat kami segera terlibat dalam pagutan mesra yang panas dan penuh gairah. Tanganku yang melingkar di perutnya, perlahan merambat menuju pinggulnya yang bundar dan padat. Pahanya yang seksi dan putih mulus tampak begitu merangsang. Saat kuelus, terasa sangat empuk dan licin sekali. Ohh, begitu menggairahkan. Apalagi ditambah tonjolan bukit kemaluannya yang tertutup jembut tipis, makin lengkaplah sudah kesempurnaannya. Tanti adalah perempuan cantik yang sangat merangsang birahi.

”Suamimu benar-benar bodoh, Tan. Tidak tahu bagaimana memanfaatkan tubuhmu.” bisikku gemas.

”Dia tahu kok, cuma kurang beruntung aja,” Tanti berkilah, membela suaminya. Selama itu, dia terus mengocok penisku hingga dalam sekejap saja, benda itu sudah kembali menggeliat.

”Dan itu jadi keberuntungan untukku, sehingga bisa mencicipi tubuhmu.” penisku kembali perkasa. Kepalanya perlahan membesar bak buah sawo manis.

”Aku juga beruntung, jadi bisa cepat hamil. Nggak usah nunggu lebih lama lagi.” Tanti menelusuri urat-urat di sekujur batang penisku yang mulai bertonjolan keluar, menandakan ereksi-ku yang telah sempurna.

”Kamu tidak menyesal punya anak dariku?” aku bertanya.

”Kalau menyesal, sudah sejak awal mas kutolak.” Tanti melirikku sekilas dan tersenyum.

”Apa pertimbanganmu hingga memilihku?” kupegangi tangannya, kuminta untuk mengocok penisku lagi.

”Rafael tampan. Kalau aku punya anak, kan minimal bisa tampan kayak dia,” sahut Tanti. Rafael adalah nama anakku yang baru berusia 1 tahun.

”Kalau ternyata nanti cewek gimana?” aku menggodanya.

”Ya pasti cantik lha, kayak ibunya.” Tanti tertawa.

Aku ikut tertawa, tidak membantah. Kuakui, Tanti memang cantik. Sangat-sangat cantik malah. Anak hasil hubungan kami pasti akan sangat sempurna nantinya.

“Tapi, mas… aku tidak pernah menyangka kita akan seperti ini.” bisiknya lemah.

Aku tersenyum dan kembali mengecup bibirnya. “Aku juga, Tan.” Awalnya memang kami akan berhenti begitu Tanti hamil, tapi ternyata… kami keterusan! Aku tidak sanggup meninggalkan tubuhnya yang begitu molek dan montok. Begitu juga dengan Tanti, sepertinya dia juga ketagihan dengan permainan seksku.

“Mau sampai kapan, mas?” dia bertanya.

”Entahlah, Tan. Sampai kandunganmu cukup besar…” itu antara 8 atau 9 bulan, masih lama.

”Setelah itu, Mas, setelah aku melahirkan?” akankah kita mengulanginya lagi? Tanti tidak melontarkan pertanyaan itu. Tapi aku sudah mengerti.

”Kita lihat nanti saja, Tan. Toh itu masih lama.” aku tidak berani berjanji apa-apa kepadanya. Bisa saja kan terjadi sesuatu selama beberapa bulan ke depan yang bisa mengganggu hubungan ini.

Tanti mengangguk dan memelukku. Kuanggap itu sebagai tanda selesainya diskusi. Jadi, menyeringai senang, dengan penuh gairah aku kembali menaiki dan menindih tubuhnya. Kupentangkan lebar-lebar kedua paha mulus wanita cantik itu dan kumasuki vaginanya. Tanti hanya bisa memekik kecil dan merintih panjang saat untuk kesekian puluh kalinya batang penisku kembali menembus dan mengoyak liang kemaluannya yang hangat sampai mentok.

” Auw! Ooh.. Mas.. kamu benar-benar pejantan tangguh…” bisiknya letih.

Aku tahu dia sudah tak sanggup lagi melayani nafsu seksku… Tapi sayang, aku tak peduli. Tubuh montoknya sukar untuk di sia-siakan. Salah sendiri, punya badan kok bagus kayak gitu. Aku jadi terangsang terus kalau berduaan dengannya. Tanti hanya bisa mengeluh dan merintih berulang kali ketika aku mulai mengayuh pinggulku turun naik menyetubuhinya lagi beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya air maniku kembali menyembur keluar dengan hebatnya memenuhi liang vaginanya, menyebar benih-benih spermaku ke dalam rahimnya, meski aku tahu itu tidak berguna, karena dia sekarang sudah hamil anakku!

***

Semuanya berawal di pagi yang dingin 3 bulan yang lalu… aku sedang asyik main game di laptop, ketika HP-ku yang ada di atas kulkas bergetar. Kulihat di layar, nomernya tidak dikenal. Diterima apa nggak ya? Aku memang malas menerima telepon bukan dari nomor yang ada di ’kontak’ku. Tapi entahlah, pagi itu aku seperti mendapat dorongan untuk menerimanya.

”Halo?” kuangkat telepon itu.

”Halo, mas. Gimana kabarnya?” tanya suara merdu di seberang. Aku seperti familier dengan suara itu. Tapi siapa ya? Aku lupa.

hijabers community bohay (2)

”Ya, kabarku baik-baik saja.” Aku masih menebak-nebak dan terus mengingat-ingat siapa dia. Sementara di seberang, si empunya suara terus mengoceh.

“Mas sekarang dimana? Istri mas ada nggak?” tanya perempuan itu. Oh ya, hampir lupa, suara itu suara perempuan.

“Ehm, aku di kota S. Lagi di kontrakan ini, sendirian. Istriku ada di kota B, sejak melahirkan kemarin belum balik kemari.” entah kenapa aku menjawab terus terang kepadanya. Aku tahu perempuan itu bertanya tentang istriku karena takut istriku akan marah kalau sampai tahu aku menerima telepon dari wanita lain. Tapi kalau sedang sendirian di kontrakan begini, berarti aman, pembicaraan bisa dilanjutkan.

Karena tidak bisa menebak siapa dia, aku akhirnya bertanya. ”Eh, bentar ya, ini siapa sich?”

Perempuan itu merajuk, ”Masa lupa sih, Mas. Aku Tanti.”

Ah, ya… Tanti. Baru ingat aku sekarang. ”Oh, kamu toh, Tan. Nomormu ganti lagi?” aku bertanya. Memang kebiasaan dia sejak dulu, suka gonta-ganti nomor.

Tanti tertawa. Dan selanjutnya, kami pun segera terlibat dalam obrolan ringan dua sahabat yang sudah hampir dua tahun tidak ketemu. Tanti adalah mantan rekan kerjaku yang kini sudah keluar. Setelah menikah, dia ikut suaminya ke kota M. Sejak itu kita putus hubungan, hanya kadang-kadang saja ngobrol di FB kalau pas lagi online bareng. Padahal dulu kita akrab sekali.

Sedikit gambaran tentangnya, Tanti adalah perempuan yang ’tinggi besar’. Tinggi karena dia memang 170cm, aku saja harus mendongak kalau berbicara dengannya. Dan besar karena dada dan bokongnya memang sangat besar. Wajahnya juga cantik, dengan gaya bicara yang begitu manja dan menggemaskan. Kesannya jadi geregetan kalau ngobrol dengannya. Sehari-hari dia memakai jilbab. Aku tidak pernah tahu rambutnya bagaimana sampai saat aku tidur dengannya. Dan untuk masalah tidur ini, aku juga tidak pernah membayangkannya sama sekali. Boro-boro tidur, pacaran dengannya saja aku tak pernah, apalagi tidur. Tapi itulah takdir, semuanya bisa terjadi begitu cepat. Kita tidak pernah bisa menebaknya sama sekali.

Jujur, sejak pertama kenal dulu, aku sudah tertarik kepadanya. Tertarik dalam arti ’nafsu’, bukan tertarik untuk dijadikan pacar. Aku tahu diri, dengan keadaanku yang seperti ini – badanku pendek dan aku cuma pegawai biasa – Tanti tidak akan pernah tertarik kepadaku. Jadi aku mendekatinya hanya sekedar sebagai teman ngobrol dan curhat saja. Dan Tanti tampaknya juga menikmatinya. Dia jadi sering menceritakan masalahnya kepadaku, termasuk apabila ada masalah dengan pacar-pacarnya yang semuanya kaya dan tajir-tajir. Bahkan tidak jarang dia meneleponku tengah malam hanya untuk menangis apabila disakiti oleh salah satu pacarnya. Yah, itulah aku, cuma bisa menjadi pendengar setianya, dan sesekali memberikan saran kalau masalahnya cukup berat.

Tapi aku cukup menikmatinya, karena dengan begitu aku bisa akrab dengannya. Bahkan lebih akrab dari pacar-pacarnya, karena dengan mereka, Tanti sering bertengkar. Sedangkan denganku, dia selalu tertawa dan bergembira. Hubungan ini berjalan begitu lama, hampir satu tahun. Dan selama itu, Tanti tidak pernah tahu kalau aku menggunakan tubuhnya sebagai objek fantasiku. Hampir setiap hari aku onani sambil membayangkan tubuhnya. Cuma itu yang bisa kulakukan agar bisa ikut memiliki dirinya. Maafkan aku, Tan…

Sampai akhirnya aku menikah 2 tahun yang lalu. Tanti ikut merancang semuanya, bahkan dia memilihkan jas yang akan kupakai saat akad nikah nanti. Dia lebih perhatian daripada calon istriku! Dia juga terlihat gembira karena melihat aku sudah menemukan calon pendamping.

”Kamu kapan nyusul?” tanyaku saat kita makan bareng untuk yang terakhir kali.

”Nggak tahu, Mas. Mungkin tahun depan. Nunggu bisnis si Ferdi stabil dulu.” Ferdi adalah nama pacarnya yang sekarang, anak orang kaya.

Dan bulan-bulan berikutnya, setelah aku menikah, Tanti makin menjauh. Mungkin dia sadar kalau sudah tidak bisa memiliku seperti dulu lagi. Dan juga, dia sudah mulai disibukkan persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Sedangkan aku, juga sibuk mempersiapkan kelahiran bayiku. Kami makin putus hubungan. Apalagi setelah dia menikah dan pindah ke kota M ikut suaminya, aku jadi tidak bisa menghubunginya lagi. Nomornya sering ganti, dan juga aku takut kalau sampai ketahuan suaminya. Bisa runyam nanti.

Kami hanya bertegur sapa di dunia maya, itu pun cuma beberapa bulan sekali, kalau pas lagi online bareng. Kalau nggak, ya aku lebih sibuk merawat istriku daripada memikirkan si Tanti. Kandungan istriku kini semakin besar.

Sesekali Tanti meneleponku, kalau aku lagi berada di kantor. Dia tidak mau menyakiti perasaan istriku. Dari situ aku tahu kalau ternyata dia masih belum hamil juga, padahal sudah enam bulan menikah. Aku sempat menertawakannya kala itu, karena kalah denganku.

hijabers community bohay (3)

”Aku aja yang pendek gini cespleng, sebulan langsung jadi. Suamimu kurang pinter tuh.” selorohku. Tapi ternyata dia memang sengaja KB dulu karena masih belum siap punya anak.

Di lain waktu, beberapa bulan berikutnya, saat anakku sudah lahir, dia telepon lagi. Kali ini mengabarkan kalau sudah hamil. Aku segera memberinya selamat. Tanti bertanya soal kehamilan awal dan saat-saat melahirkan. Kujawab sesuai yang kulihat pada istriku.

”Tiga bulan awal muntah-muntah dan badan lemas. Itu suamimu suruh berhenti dulu, jangan nyerbu terus. Bisa jatuh kandunganmu nanti,” kataku. Tanti mengiyakan sambil tertawa.

”Tiga bulan berikutnya, kandungan sudah kuat. Boleh main, tapi tetap harus pelan dan hati-hati.” jelasku. ”Rasanya enak banget saat itu. Aku dulu jadi nafsu terus sama istriku.” aku menambahkan.

”Enak bagaimana?” Tanti bertanya.

”Ya, pokoknya enak. Badan kamu nanti jadi tambah montok dan gemuk, susumu jadi tambah besar. Begitu juga paha dan bokong kamu. Laki-laki mana coba yang tahan lihat istri seperti itu?” aku tertawa.

Tanti juga tertawa. ”Ah, jorok nih ngomongnya.”

”Eh, ini kenyataan. Nanti tanyakan sama suamimu.”

”Iya deh, nanti. Terus, tiga bulan selanjutnya bagaimana?” tanya Tanti.

”Asal tidak ada masalah dalam kandunganmu, tetep boleh main. Bahkan ada beberapa dokter yang menganjurkan agar memperbanyak ML untuk melebarkan jalan lahir dan juga memberi pelumasan agar waktu lahir nggak begitu sakit. Tapi tetap harus pelan dan ekstra hati-hati.” jelasku.

”Emang melahirkan itu sakit ya?” dia bertanya.

”Kalau lihat istriku yang sampai pucet dan menangis sih, sepertinya sakit.” aku tertawa.

Tanti ikut tertawa. ”Ah, payah nih, nggak bisa diajak serius.” selanjutnya dia bertanya banyak hal tentang proses kelahiran dan cara merawat bayi. Aku berusaha menjawabnya semampuku.

Diakhir pembicaraan kukatakan kepadanya, ”Tapi tenang saja, lebih sakit sunat kok daripada melahirkan.”

”Lho, kok bisa?” Tanti bertanya tidak percaya.

”Buktinya, saking sakitnya… aku kapok nggak mau sunat lagi, cukup satu kali saja. Hahaha…” aku tertawa terbahak-bahak. ”Sedangkan melahirkan, bilangnya sakit… tapi mau aja tahun depan hamil lagi.” tambahku.

”Hahaha…” Tanti ikut ngakak. ”Coba aja sunat lagi, bisa habis burung Mas!”

Setelah saling mengucapkan salam, kami pun mengakhiri pembicaraan pagi hari itu. Tanti memang sering meneleponku di pagi hari, saat suaminya pergi kerja.

Beberapa bulan berikutnya, dia menelepon lagi. Kukira akan mengabarkan berita bahagia, ternyata malah kabar buruk. Dia keguguran!

”Berapa bulan?” aku bertanya.

”Dua bulan.” Tanti menjawab tanpa semangat. Nada ceria dalam suaranya menghilang. Aku jadi tidak tega untuk menggodanya.

”Kamu kecapekan mungkin.” kataku.

”Iya, kata dokter sih begitu.” sahutnya. ”Aku habis mengantar mertua ke bandara.”

Hmm, pantas saja. Dalam situasi seperti itu, aku cuma bisa memberinya semangat dan dorongan agar tetap sabar dan tidak putus asa untuk terus berusaha. Toh, umur mereka masih sangat muda. Tapi melihat proses kehamilannya yang dulu, yang harus menunggu 8 bulan, Tanti kelihatannya pesimistis.

”Jangan gitu dong, rejeki kan dari yang kuasa. Kita cuma bisa berusaha dan berdoa!” kataku.

Tanti mengiyakan, lalu mengucapkan terima kasih dan menutup telepon.

Empat bulan berikutnya, setelah makan siang, HP-ku berdering. Itu dari Tanti. ”Halo, Tan, apa kabar?” aku segera menyapanya.

”Halo, mas, nggak sibuk kan?” jawabnya ramah, rupanya dia sudah bisa melupakan kesedihannya.

”Nggak, ini habis makan. Ada apa?” aku bertanya.

”Nggak ada apa-apa. Cuma pengen say hello aja.” Tanti menjawab.

”Kangen ya sama aku?” aku menggodanya.

”Yee, siapa juga yang kangen!” dia tertawa.

”Gimana, sudah hamil lagi?” tanyaku penasaran.

Tanti mendesah. ”Belum nih, mas. Nggak jadi-jadi.”

”Sudah bener belum caranya?” tanyaku.

”Sudah.” Tanti menjawab, tidak ada nada malu sama sekali dalam suaranya. ”segala macam gaya sudah kita lakukan.”

Aku menelan ludah mendengarnya. Segala gaya? Membayangkannya saja sudah membuatku bergairah. Penisku perlahan menggeliat. ”Jangan banyak gaya, malah nggak jadi-jadi nanti. Yang biasa aja.” tambahku.

”Biasa bagaimana?” tanya Tanti.

Aduh, dia bertanya lagi. Masa nggak tahu sih? Apa harus kujelaskan? ”Ya biasa, kamu di bawah, suamimu di atas.”

”Itu mah sudah sering, Mas. Malah pake diganjal bantal segala biar punyaku naik, biar sperma mas Ferdi nggak ada yang tumpah.” haduh nih anak, ngomongnya kotor banget setelah menikah.

hijabers community bohay (4)

Karena dia yang mengajak, jadi aku pun meladeninya. ”Mungkin punya suamimu kurang panjang kali, jadi nggak nyampe.”

”Nyampe kok. Rasanya mentok kalau dia nusuk keras-keras.” haduh, makin jorok omongannya. Apa sih maunya?

“Kira-kira berapa besar penis suami kamu?” aku bertanya lagi.

“Berapa ya? Aku nggak tahu, mas!” jawabnya bingung. “Kayanya masih ada lebihnya deh pas aku genggam, kepalanya masih nongol!” sambungnya.

Aku mencoba membayangkan, membandingkan dengan punyaku. “Aku perkirakan penis suami kamu sekitar 10 sampai 14 cm, masih normal.” Kubayangkan kalau Tanti menggenggam penisku, ugh aku makin ngaceng!

”Ya emang normal, siapa juga yang bilang nggak!” Tanti memprotes.

Aku tertawa mendengarnya. “Bagaimana dengan kekerasannya?” tanyaku lagi.

“Keras sekali, mas, kayak batu!” sahut Tanti mantab.

Aku diam sejenak, mencoba berfikir tentang penghambatnya memiliki anak, sebab dari pembicaraan barusan sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Tanti masih belum hamil juga?

“Kok diam, mas?” tanya Tanti, dikiranya aku tertidur.

“Aku lagi mikir penyebabnya, Tan.” sahutku. ”Ehm, sudah periksa belum, nggak ada masalah kan dengan kalian berdua?” aku bertanya. Kuelus penisku yang ada di balik celana, sudah terasa keras sekali.

”Hmm, iya sih. Sperma mas Ferdi katanya terlalu encer.” sahut Tanti.

“Suruh banyak-banyak makan tauge biar nggak encer. Tauge bagus tuh buar ngentelin sperma.” kataku. Sperma encer, mungkin itu penyebabnya.

”Oh, gitu ya?” Tanti tampaknya baru tahu.

“Atau kurang lama, mungkin?” aku memberi alternatif.

”Lama gimana?” Tanti bertanya tidak mengerti.

”Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?” tanyaku.

“Ehm, mungkin sekitar 5 menit.” jawabnya tak pasti.

5 menit? Masih lumayan. ”Sering nggak dia moncrot duluan sebelum kamu keluar?” tanyaku lagi.

”Sering sih nggak, hanya kadang-kadang saja.” jawab Tanti.

”Kadang-kadangnya itu berapa?” aku ingin kepastian.

”Ehm,” Tanti bergumam seperti mengingat-ingat. ”Dua diantara tiga deh.” jawabnya kemudian.

”Itu mah termasuk sering, Tan. Aku aja nggak pernah keluar duluan.” aku menyombong, biar saja dia pengen.

”Ah, benarkah? Aku nggak percaya!” Tanti meledek.

”Eh, dibilangin juga!” dasar nih anak, nantangin banget.

”Kan nggak ada buktinya.” Tanti berkilah.

”Mau bukti? Ayo kesini, kubuktikan! Akan kubikin kamu KO seharian!” selorohku, penisku makin terasa keras dan ngilu. Membayangkan menyetubuhinya saja sudah membuatku begini bergairah.

Tanti tertawa. ”Hahaha, kenapa bukan mas aja yang kesini? Nih rumahku lagi kosong, Mas Ferdi lagi kerja.” tantangnya.

Gila! Meski sangat ingin, aku tak mungkin bisa melakukan itu. Jarak kotaku ke kotanya lumayan jauh, hampir 4 jam kalau naik angkutan umum. Sedikit lebih cepat kalau naik kereta. ”Awas ya! Kalau ada waktu, aku samperin kamu!” aku mengancam.

”Ok, aku tunggu, mas.” Tanti tertawa semakin keras.

Meski cuma bercanda, tapi tak urung tetap membuatku panas dingin juga. Karena tak tahan, aku pun segera menutup pembicaraan. . “Ya udah, Tan, kita sambung lain waktu ya. Aku harus kembali kerja.” Ada hal lain yang lebih penting yang harus aku lakukan sekarang. Tidak bisa ditunda, mumpung lagi panas-panasnya.

“Oke deh!” sahutnya riang.

”Kudoakan cepat hamil.” kataku untuk terakhir kali.

Setelah saling mengucap salam, kami pun berpisah. Aku cepat lari ke kamar mandi dan onani disana. Gila kamu, Tan! Padahal cuma ngobrol, tapi kamu sanggup bikin aku ngaceng seperti ini! Sambil mengocok penisku, kuputar kembali percakapanku dengan Tanti tadi. Sebenarnya ada peluang untuk memanfaatkan situasi ini. Dia sudah menawariku, meski sambil guyon, tapi siapa tahu itu beneran?! Hanya masalahnya, jarak rumahnya yang sangat jauh. Butuh seharian kalau harus bolak-balik menemuinya, sedangkan pekerjaanku nggak bisa ditinggal. Kalo istriku sih beres, dia kan tinggal di kota lain sejak melahirkan kemarin, jadi pasti aman. Apa harus nunggu libur akhir pekan? Giliran suami Tanti yang ada di rumah. Hmm, serba repot.

Lama aku berfikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan untuk menunggu saja apa yang terjadi selanjutnya. Kalau memang sudah rejeki, aku pasti bisa menidurinya. Tunggu aja, Tan, aku akan datang!

***

Satu bulan berlalu tanpa ada kejadian apapun. Tanti tidak menghubungiku lagi, padahal aku sudah sangat berharap. Sebagai pelampiasan, aku cuma bisa onani sambil membayangkan tubuh indahnya. Istriku yang kutemui 1 minggu sekali setiap akhir pekan, sudah tidak bisa lagi memuaskanku, padahal dia cukup cantik dan seksi. Selama menyusui anakku, payudaranya jadi tambah besar dan mengkal. Tapi entahlah, hanya bayangan Tanti yang ada di kepalaku. Bahkan tak jarang saat main dengan istriku, Tanti lah yang kuangankan sedang kupeluk dan kucium.

Di kala sedang asyik melamun sambil menyelesaikan laporan bulanan, tiba-tiba ada SMS yang masuk. Dari Tanti! Akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kubaca SMS-nya dengan cepat, ”Menurut mas, apakah bodyku cukup bagus?” dia bertanya.

Gila! Nggak pernah ngomong, tahu-tahu SMS seperti ini. Aku jadi kaget. Apa sih maunya? ”Ya nggak tahu, Tan. Dulu sih bagus, nggak tahu sekarang. Emang kenapa?” aku tanya balik.

”Mas Ferdi akhir-akhir ini malas kalau kuajak berhubungan, apa dia bosan ya dengan tubuhku?” Tanti menjawab beberapa detik kemudian. ”Kalau begini terus, kapan kami bisa punya anak?!” tambahnya lagi sebelum aku sempat membalas yang pertama.

”Sabar! Kalau suamimu malas, aku siap kok bikinkan kamu bayi!” jawabku menggoda.

”Mas, aku serius nih!” balas Tanti.

“Aku juga serius!” aku tak mau kalah. Jaring sudah kutebar, pantang untuk ditarik kembali. Salah sendiri sudah menggodaku.

hijabers community bohay (5)

”Aku pikir-pikir lagi deh.” begitulah jawaban yang kuterima, membuat hatiku senang dan berbunga-bunga.

”Ok deh,” balasku penuh semangat.

Keesokan paginya, aku baru saja membuka berkas dan HP baru aku aktifkan, sudah ada SMS dari Tanti, bunyinya singkat, ”Golongan darah mas apa?”

“A” aku juga menjawab singkat.

“Perfect! Nanti aku kabari lagi.” balas Tanti.

Apaan sih? Aku tidak mengerti. Sejenak aku terdiam penuh kebingungan. Ah sudahlah, lebih baik aku segera bekerja, hari sudah siang sedangkan pekerjaanku lumayan menumpuk. Tapi kutunggu sampai sore hari, ternyata tidak ada SMS dari Tanti. Aku yang tak sabar sudah ingin meneleponnya, tapi begitu teringat kalau jam segini suaminya pasti sudah pulang dari kantor, akhirnya kuurungkan niatku.

***

Seminggu berlalu begitu cepat. Aku sudah putus asa akan kelanjutan hubunganku dengan Tanti. Aku memang terlalu berharap. Seharusnya aku tahu diri, Tanti yang cantik jelita tidak mungkin mau denganku yang pendek dan gemuk ini, meski wajahku ganteng. Mungkin kemarin dia bener-bener bercanda, aku saja yang menganggap semua itu serius. Dasar! Begini ini jadinya kalau terlalu bernafsu.

Disaat sudah siap mengikhlaskan diri, hapeku tiba-tiba berbunyi. Dari Tanti! Ada apa lagi sekarang? ”Ya, halo?” aku menerimanya. Harapan yang kembali tumbuh di hatiku, berusaha kutekan kuat-kuat ke bawah. Aku tidak ingin kecewa untuk kedua kali.

”Mas, sekarang suamiku diklat ke bandung, pulang baru minggu depan.” kata Tanti pendek.

”Iya, terus apa hubungannya denganku?” aku tidak mengerti.

”Mas nggak ingin main kemari?” sahut Tanti.

Hah! Dia mengundangku! ”K-kamu serius, Tan?” aku bertanya tergagap.

“Ya iyalah. Katanya kemarin mas juga serius! Gimana sih!” dia kelihatan kecewa.

”O-oke, Tan, oke. Aku cuma nggak nyangka aja kalau kamu beneran mau main denganku.” sahutku menenangkan.

”Baik, mas. Nanti aku jemput di terminal ya, bye!” Tanti menutup telepon, mungkin dia terlalu malu untuk berbincang lama denganku. Dasar wanita!

Aku menghela nafas sambil tersenyum lebar. Akhirnya apa yang kuimpikan selama ini bakal segera terwujud. Rasanya sudah tidak sabar menunggu minggu depan. Bagaimana ya rupa Tanti sekarang, apa dia tambah cantik dan seksi? Ugh, selama sisa hari, aku jadi tidak bisa konsentrasi ke pekerjaan. Bayangan tubuh mulus dan montok milik Tanti lebih menyita perhatianku. Tak tahan, akupun menuju kamar mandi dan onani disana.

***

Sesuai janji yang sudah disepakati, jumat sore aku meluncur ke kota M. Aku sengaja naik bis agar mudah ketemu sama Tanti, dia akan menjemputku di terminal. Kalau naik sepeda, bisa-bisa sebelum nyampai kota M, aku sudah kesasar duluan. Aku tidak begitu paham jalanan menuju kota itu. Lagian hari juga sudah malam. Kepada istriku, aku beralasan ada lembur minggu ini, jadi aku tidak bisa pulang. Istriku bisa mengerti.

Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, aku pun sampai. Begitu turun dari bis, kusapukan pandanganku ke ruang tunggu terminal, tidak kulihat Tanti berada disana. Aku sudah akan melangkahkan kaki saat dari arah parkiran mobil kudengar suara merdunya memanggilku, ”Hei, mas, sini!” dia melambaikan tangan agar aku bisa melihatnya. Sebenarnya itu tidak perlu karena wajah cantik dan postur tubuhnya yang tinggi besar tampak mencolok diantara deretan orang-orang yang lalu lalang di tempat itu.

Tersenyum lebar, aku pun segera menghampirinya. ”Sudah lama nunggu?” kujabat tangannya dan kutatap wajah cantiknya yang tampak tidak berubah sedikit pun. Bahkan dia terlihat makin menggairahkan sekarang karena bulatan payudara dan pinggulnya menjadi sedikit lebih besar, postur khas ibu-ibu. Ugh, aku jadi tak tahan.

”Yuk masuk. Kita langsung ke rumah apa makan dulu?” dia mengajakku masuk ke mobilnya, sebuah Karimun pink tahun 2006.

”Makan aja deh, aku lapar.” jawabku, meski penisku sudah ngaceng penuh melihat tubuh sintalnya.

Tanti mengajakku ke sebuah warung sate. ”Biar tambah greng!” katanya.

Aku hanya tertawa menanggapinya. Selama makan, kami mengobrol basa-basi, saling bercerita tentang keluarga dan pekerjaan, sesekali juga bercanda dan tertawa, tidak sedikit pun menyinggung masalah perselingkuhan kami nanti. Di perjalanan menuju rumah Tanti, kami juga tidak membahasnya. Kami sama-sama diam. Mungkin Tanti sungkan untuk memulai, dia kan perempuan. Entah apa yang ada di benaknyai sekarang, mungkin dia pusing lihat kemacetan yang ada di depannya, maklum dia yang jadi sopir. Sementara aku bersantai-ria di sampingnya sambil membayangkan apa saja yang akan kulakukan saat sudah berdua di kamar dengan Tanti nanti, aku tidak ingin membuat dia kecewa. Suara merdu Agnes Monica dari tape mobil mengisi kesunyian itu.

”Kenapa sih, kok mas ngelirik aku terus?” tanya Tanti tiba-tiba.

”Yeee, Ge-Er aja! Siapa juga yang ngelirik, aku cuma liatin jalan kok.” sahutku.

”Jalan tuh di depan, bukan di dada aku. Kalau yang ini namanya susu!” balas Tanti sengit.

”Hahaha,” aku tertawa. Tanti ikut tertawa. ”Kelihatan banget ya kalau aku gelirik kamu?” aku bertanya.

”Weleh, muka lihat jalan, tapi biji mata mas melotot ke arah sini.” Tanti menunjuk bulatan payudaranya. ”Emang susuku bagus ya?” tanyanya.

Aku tersenyum mendengar pertanyannya. ”Bukan bagus lagi, tapi perfect!” kuberikan dua jempolku padanya.

”Tunggu sampai mas lihat dalamnya!” sahutnya nakal.

”Ehm, boleh kulihat sekarang?” aku menawar.

”Hush, nggak boleh. Banyak orang!” Tanti menepis tanganku.

”Tapi kan kacanya gelap, Tan.” aku mencoba berkilah.

”Tapi aku lagi nyetir, mas. Kalau nubruk gimana?” balasnya.

hijabers community bohay (6)

”Susumu bikin aku nggak tahan, Tan. Kok bisa gede banget sih sekarang?” kupandangi benda kembar yang masih tertutup kaos dan jilbab itu tanpa berkedip.

”Kan ada yang ngerawat. Tiap malam dipenceti terus sama mas Ferdi, ya jadi gede gini. Emang punya istri mas nggak gede ya?” tanya Tanti.

”Gede juga sih, hehe.” aku tertawa.

”Lha itu sama.” Tanti memencet klakson saat ada pejalan kaki menyeberang sembarangan.

”Kamu yakin mau melakukan ini, Tan. Kalau suamimu curiga gimana?” aku bertanya.

“Tenang, kemarin sebelum berangkat, dia sudah kukasih jatah. Jadi kalau nanti aku hamil, waktunya pas. Lagian wajah mas mirip banget dengan mas Ferdi, ditambah golongan darah mas juga sama, jadi anak yang lahir nanti akan sulit sekali diketahui siapa ayah sebenarnya.” kata Tanti meyakinkanku. Rupanya dia sudah mempersiapkan semua ini dengan matang.

Tapi aku masih belum tenang. ”Kalau tingginya gimana? Aku kan pendek.” nggak mungkin kan Ferdi dan Tanti yang tinggi mempunyai anak pendek?

”Nggak bakal pendek-pendek amat kok, kan nanti juga dapat sumbangan dari aku.” sahut Tanti. Ah iya ya, aku jadi sedikit lebih tenang sekarang.

Tak lama, kami pun sampai di rumahnya. Rumah Tanti terletak di komplek perumahan baru yang masih jarang penghuninya. Sepertinya ini perumahan elit karena tipe rumahnya besar-besar. Bangunan di kiri dan kanan rumah Tanti masih kosong, tidak tampak ada lampu menyala disana. Hmm, sip lah. Kami jadi bisa bebas melakukan apapun nanti.

Setelah menaruh mobil di garasi, Tanti mengajakku masuk ke rumahnya. ”Jangan sungkan-sungkan, mas. Anggap aja rumah sendiri.” katanya sambil menutup pintu depan dan menguncinya.

”Termasuk juga menganggap kamu sebagai istri sendiri?” langsung kupeluk dia dan kuhujani mukanya yang cantik dengan ciuman.

”Hmmm, mas!” Tanti mendesah saat tanganku mulai bergerilya di tonjolan payudaranya yang besar. Kupijit dan kuremas-remas daging bulat itu hingga Tanti menggelinjang kegelian. ”S-sudah, mas. Kamu mandi dulu sana.” katanya sambil menyingkirkan tanganku dan menyeretku menuju ruang belakang.

”Maindiin,” aku menggelayut manja di pundaknya dan sekali lagi menciumi pipi dan bibirnya.

”Yeee, maunya!” Tanti mendorongku masuk kamar mandi. Terpaksa kulepaskan tubuh sintalnya. Dengan cepat aku melepas pakaian dan membersihkan diri dari keringat di sepanjang perjalanan, sementara Tanti pamit pergi ke kamar untuk mempersiapkan ajang pertarungan kita nanti.

Selesai mandi, kutemui Tanti di kamarnya. Rupanya dia sudah melepas jilbab serta bajunya tadi, sekarang dia cuma mengenakan daster tipis tanpa lengan yang mencetak jelas bentuk tubuhnya. Dengan rambut panjang lurus yang terurai hingga ke punggung, dia terlihat sangat menggairahkan sekali.

”Tan?” aku memanggilnya dengan suara bergetar, benar-benar terpesona. ”Kamu sungguh cantik!” kataku jujur.

Tanti tersenyum dan mengajakku duduk di sebelahnya. ”Sebenarnya aku berat melakukan ini, mas. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa hamil lagi.” bisiknya sambil memamerkan lekuk kakinya yang jenjang dan indah, yang terlihat putih mulus tanpa noda.

Ugh, kalau kakinya saja sudah seperti itu, bagaimana yang lain ya? Tanpa menunggu lama, penisku pun menggeliat dan mulai terbangun. ”Rileks, Tan. Anggap saja aku suami kamu sendiri. Kita kan melakukan ini mau sama mau, aku nggak memperkosa kamu kok seandainya kamu nggak mau!” bisikku di telinganya. Sambil terus berbicara, aku mencoba memeluk pundaknya dari samping, kupegang tangan kirinya dengan tanganku. Kucoba merasakan kehalusan kulitnya dengan sentuhan-sentuhan halus ujung jariku.

Dari pundak, sentuhanku turun ke telapak tangannya, silih berganti. Aku memang tidak ingin langsung menyerbunya, aku ingin membangkitkan gairah Tanti secara perlahan-lahan. Meski sudah tidak tahan, aku harus bersabar. Aku ingin Tanti juga menikmati permainan ini. Perselingkuhan pertamanya ini akan kubuat senikmat dan seindah mungkin hingga sukar untuk ia lupakan.

Sentuhan-sentuhan lembut yang aku lakukan, tidak dipungkiri membuat Tanti terpengaruh juga meski dia tidak merespon sama sekali pada awalnya. Tanti cuma terdiam pasrah tanpa melakukan apapun, hanya nafasnya saja yang terdengar semakin keras dan berat. Kulihat bulu-bulu di tengkuknya sudah meremang berdiri. Dia mulai terangsang.

Kutambah sentuhanku dengan sesekali mencium pundaknya. Tanganku yang dari tadi menyentuh tangannya, kini berpindah ke perutnya, dan terus beranjak naik hingga aku menyentuh payudaranya. Walau masih dibalut bra dan kain dasternya, benda itu terus sangat empuk dan kenyal saat kuremas-remas. Dengusan Tanti terdengar semakin keras, dia mulai gemetar dan menggelinjang. ”Auhh… mas!” desahnya.

Lama aku melakukan aksi tersebut sampai akhirnya aku tak tahan. Pelan kuturunkan tanganku kembali untuk kemudian menyusup ke balik dasternya. Sentuhan pada perut Tanti yang ramping membuatku bergidik. Setelah berputar-putar cukup lama, tanganku kemudian naik sampai aku menemukan sasaran utamaku, tonjolan payudaranya yang masih terbungkus bra!

Pelan, masih sambil menciumi telinga, pipi dan lehernya, kuremas-remas benda itu. Rasanya begitu padat dan kenyal, nikmat sekali. Kuelus-elus terus dengan lembut sambil aku berusaha mencari-cari putingnya yang masih tersembunyi, malu untuk menampakkan diri.

Tanti yang sudah mulai terangsang, memejamkan matanya, dan terdiam. Dia tidak merespon ulahku, tapi juga tidak melarangnya. Hanya diam begitu saja, seperti patung. Hingga tiba-tiba dia menepis tanganku dan menariknya keluar dari balik daster. ”Sudah ya.” bisiknya sambil menoleh dan mengecup bibirku.

Aku membalasnya dengan melumat bibirnya rakus sambil terus memberi sentuhan. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah kakinya. Karena posisi Tanti agak sedikit miring ke arahku, sedikit demi sedikit aku bisa menyentuh pahanya yang putih mulus. Saat kuusap, benda itu terasa begitu licin dan hangat. Darahku berdesir. Aku ketagihan. Tanganku terus meraba disana, menyingkap dasternya makin ke atas hingga bisa kulihat pinggulnya yang lebar, yang masih terbalut CD tipis warna merah.

”Ahhh… mas!” lenguh Tanti saat tanganku mulai mencari-cari pangkal pahanya. Rangsangan yang aku berikan sepertinya makin menambah gairahnya, karena Tanti menyambut lumatanku dengan bergairah. Bahkan tanganya mulai bergerak untuk meraba-raba gundukan di balik celana pendekku yang sejak dari tadi menegang hebat.

”Nggak usah malu-malu lagi, Tan. Kita nikmati malam ini sepuasnya.” kubimbing tangannya untuk masuk ke dalam celanaku, sementara aku terus melanjutkan aksiku di celah pangkal pahanya. Kugesek vagina gadis itu berulang-ulang sampai CD-nya jadi basah. Aku sengaja ingin menggodanya, kubelai pinggiran vaginanya berulang kali tanpa kumasukkan tanganku ke lubangnya. Dan itu rupanya berhasil, nafas Tanti menjadi semakin berat dan memburu. Sementara tangannya yang berada di dalam celanaku, kini sudah memijat-mijat penisku begitu keras, membuatku jadi sangat bernafsu sekali.

Aku pun menyudahi lumatan dan kecupanku pada bibirnya. ”Mas…” Tanti memajukan wajahnya, berusaha mengejar bibirku. Tapi aku sudah terlanjur turun menuju celah kakinya. Kukecup pelan pahanya yang putih mulus, gantian kiri dan kanan. ”Aahhh…!” Tanti langsung mendesah sambil memegang kepalaku, menekannya agar cepat menuju ke lubang vaginanya. Tapi seperti tadi, aku masih ingin bermain-main lebih lama.

Dengan lidahku, kujilati kulit pahanya yang licin bagai porselen. ”Ughhh…!” Tanti makin mendesah tak karuan. Kecupan dan hisapanku pada permukaannya membuat paha itu jadi bertotol-totol merah, sungguh sangat indah sekali. Setelah semuanya basah oleh air liurku, aku pun memajukan mulutku, menuju ke arah pangkal pahanya.

”Ahhh… ya, disitu, Mas. Jilat disitu!” rengek Tanti saat sedikit demi sedikit aku memberi sentuhan, kecupan dan jilatan pada tonjolan bukit vaginanya. Terasa sudah sangat basah disitu. Baunya juga sangat harum, lebih enak daripada punya istriku di rumah.

Karena rangsanganku, sambil mendesah, Tanti merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi kaki menjuntai ke bawah tempat tidur. Aku semakin bebas bergerilya di alat vitalnya. Kujilat terus daging sobek yang masih tertutup celana dalam itu sambil tanganku meraih ke atas. Kugenggam tonjolan bukit payudaranya yang bulat membusung dan kuremas-remas dengan penuh nafsu, membuat Tanti makin merintih dan menggelinjang keenakan.

Akibat ciuman dan gigitanku, sekarang posisi celana dalamnya jadi miring ke samping, membuatku jadi bisa mengintip sedikit belahan vaginanya yang berwarna coklat kemerahan dengan bulu-bulu keriting halus yang tumbuh terawat rapi di bagian atasnya. Untuk beberapa saat, aku kagum dan takjub dengan pemandangan itu.

”Ayo, mas, lakukan! Jangan cuma dilihat saja!” rengek Tanti sambil menarik kepalaku.

”I-iya, Tan.” dengan lidah terjulur, kusentuh benda itu perlahan-lahan.

Tanti sedikit bergidik saat lidahku menyapu sebagian bibir vaginanya. ”Oughhh… mas!” dia menekan kepalaku semakin keras.

Kujilat lagi vaginanya hingga dia semakin menggelinjang. Sambil terus mengecup dan menyentuhnya, sedikit demi sedikit kutarik turun celana dalamnya. Begitu terlepas, segera kubuka kaki Tanti lebar-lebar hingga bisa kulihat dengan jelas lubang senggamanya yang sudah basah memerah. Aku menciumnya berulang kali sebelum akhirnya menghisap dan melahapnya dengan rakus.

”Ahhh… mas… aku… ya, begitu…” Tanti merintih tak jelas. Erangan terus terdengar dari mulut manisnya seiring jilatan dan hisapanku yang semakin liar dan kasar. Tubuh montoknya menggeliat kesana kemari, membuat kain daster yang dikenakannya tersingkap kemana-mana. Benda itu kini sudah tidak berguna lagi, semuanya teronggok mengumpul di pinggangnya yang ramping.

hijabers community bohay (7)

Sambil terus menjilat, aku melirik ke atas. Disana, di atas dada Tanti, bulatan payudaranya terlihat menyembul indah. Meski masih tertutup BH warna krem, tapi aku bisa melihat putingnya yang sesekali mengintip malu-malu saat wanita itu menggeliat. Sama dengan pahanya, payudara Tanti juga terlihat licin dan putih mulus. Aerola dan putingnya berwarna coklat kemerahan, sama dengan warna bibir vaginanya. Ughh! Membuatku jadi makin tak tahan.

”Aghhh… terus, mas! Terus! Jilat terus! Ahhh… ya, yang itu! Aghhh…!” erangan dan rintihan Tanti membuatku lupa diri. Aku terus melumat dan menjilat vaginanya, sambil tanganku memberi sentuhan halus pada kedua belah pahanya yang indah.

”Ahhh… mas!” desis Tanti saat elusanku merambat ke atas. Dari balik dasternya, aku memberi sentuhan-sentuhan halus ke kulit perutnya, menggelitik pusarnya, sampai akhirnya aku meremas lembut kedua bukit payudaranya. Tanpa mengeluarkan dari cupnya, kucari putingnya yang kini sudah terasa kaku dan keras. Kupilin dan kupencet-pencet benda mungil itu hingga membuat Tanti makin merintih tak karuan.

”Oughhh… mas! Enak! Nikmat sekali! Ahhh… kok mas pinter sih?!” racaunya sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Kedua kakinya menjepit kepalaku saat dari dalam liang vaginanya memancar cairan bening yang banyak sekali. Dia orgasme.

”Mas, aku pipis. Aduh, maaf ya!” Tanti segera menutup pahanya begitu aku menarik kepala untuk mencari nafas. Kuperhatikan dia masih mengejang-ngejang dan bergetar beberapa kali sebelum akhirnya terdiam dengan nafas masih terdengar berat dan sesak.
.
Sambil mengangguk mengerti, aku merangkak naik menindih tubuhnya. Tanti menggeliat pelan saat kusibak cup BH-nya untuk melihat payudaranya. ”Mas, aghh..!” desahnya ketika aku mulai mencium dan menjilatinya dengan lahap. Dia yang masih keletihan setelah orgasme yang pertama, hanya terlihat pasrah saja.

Karena aku sudah sangat bernafsu sekali, langsung kulepas celanaku. Batangku yang sudah sangat keras dari tadi, langsung meloncat keluar. Tanti sedikit terhenyak saat melihatnya. ”B-besar sekali, mas.” bisiknya tak berkedip. Kubimbing tangannya untuk menggenggamnya. Tapi Tanti menolak saat kusuruh dia untuk mengulumnya.

”Jijik, mas. Aku tidak pernah melakukannya.” gumamnya.

”Dicium-cium aja, Tan. Yang penting punyaku jadi basah.” kataku tidak kurang akal. Segera kusodorkan penisku ke depan bibirnya.

Tanti mulai menciuminya, tapi cuma batang dan telurnya. Ujungnya yang berlendir, sengaja ia hindari. Benar-benar jijik rupanya dia. Ok, aku bisa mengerti. Kubiarkan saja dia menjilat-jilat dan menciumi batangku hingga akhirnya aku merasa bosan. Tanti sangat kaku sekali saat melakukannya hingga aku jadi tidak bisa menikmati sama sekali. Sama sekali tidak ada enak-enaknya.

Daripada menunggu lama-lama, aku yang sudah tidak tahan untuk merasakan tubuh sintalnya, segera membaringkan Tanti di ranjang. Kutindih tubuhnya sambil kutempatkan pinggulku tepat di depan selangkangannya. Tanti sudah membuka pahanya lebar-lebar hingga penisku yang sudah menegak kencang terasa menempel di lubang vaginanya.

”Siap, Tan?” tanyaku sambil menggesek-gesekkan ujung penis ke bibir vaginanya. Tanti mengangguk. Kurasakan lubang vaginanya sudah basah dan merekah lebar, siap untuk dimasuki.

Sambil berpegangan ke pundaknya, kudorong penisku. Masih belum berhasil. Penisku melenceng ke kiri. ”Kurang ke bawah, mas.” bisik Tanti pelan. Dia membuka pahanya makin lebar agar aku makin leluasa melakukan gerakan.

Kudorong lagi. Kali ini terasa penisku masuk ke lubangnya. ”Bener yang ini, Tan?” aku bertanya takut salah lagi.

Tanti mengangguk. ”Iya, yang itu. Cepat dorong, mas!” ah, rupanya sudah tak tahan ia.

Sambil meremas dan menciumi payudaranya, kudorong lagi penisku. Tapi karena terlalu keras, yang ada malah melenceng lagi. Kali ini ke kanan. ”Aghhh…” kami mendesah kecewa bersamaan. ”Mas…!” Tanti melenguh manja. Dia segera meraih penisku dan mengarahkannya lurus ke depan lubangnya. ”Ayo, mas, kupegangi.” bisiknya.

Tersenyum, kucium bibirnya sekali lagi. Tanti menyambut ciumanku sambil pinggulnya maju ke depan mengejar penisku yang sudah masuk sebagian. ”Sabar, sayang!” Dengan satu hentakan keras, kutusukkan lagi penisku kuat-kuat.

”Ughhhh…” Tanti melenguh. Aku juga melenguh. Kami sama-sama merasakan nikmat. Penisku sudah masuk seluruhnya, menghunjam keras hingga mentok ke dalam memek Tanti yang sempit, dan bersarang dengan begitu sempurna disana. Rasanya seret, tapi nikmat sekali. Keinginanku untuk menyutubuhinya sudah terpenuhi sekarang.

”Aduh, ahh…” desah Tanti sambil memejamkan matanya. Kurasakan sebentar kedutan-kedutan di dinding vaginanya sebelum akhirnya kutarik sedikit demi sedikit batang penisku, kemudian aku masukkan lagi pelan-pelan, lebih dalam. Mulai kugenjot pelan tubuh mulusnya sambil tanganku tak henti meremas-remas payudaranya yang bulat dan kencang, sementara mulutku dengan rakus menciumi bibir dan lehernya.

”Ahh… Mas! Auw… ahh… ahh…” desahan Tanti membuatku makin bernafsu. Sambil memeluk tubuh mulusnya yang masih berbalut daster, kupercepat tusukanku. Gesekan kelamin kami yang terasa begitu nikmat membuat Tanti makin merintih dan menggelinjang. Tubuhnya yang montok terhentak-hentak begitu rupa, segera kupegangi agar dia tidak sampai jatuh dari ranjang.

Begitu panasnya persetubuhan kami hingga dalam hitungan menit, aku sudah tidak tahan untuk menyemburkan lahar panasku. Sambil menekan penisku dalam-dalam ke lubang vaginanya, kudekap tubuh Tanti erat-erat. ”Ahh… aku keluar, Tan!” dengan nafas tertahan dan mulut menempel ketat di ujung puting payudaranya, kusemburkan cairan cintaku di dalam rahim wanita cantik itu.

hijabers community bohay (8)

Perasaan nikmat segera menjalar di seluruh tubuhku. Untuk beberapa saat kunikmati sisa-sisa orgasmeku dengan terus mendekap tubuh mulus Tanti. Aku masih belum rela melepas rasa nikmat itu. Baru setelah nafasku sudah agak tenang dan cairan maniku sudah tidak menetes lagi, kucabut penisku dan bergulir terlentang di sampingnya. Sambil meremas-remas payudaranya, aku berbisik, ”Enak banget punya kamu, Tan. Untung kamu bukan istriku. Kalau istriku, nanti aku jadi malas ke kantor gara-gara nafsu terus sama kamu.”

”Hehehe… punya mas juga enak. Cuma sayangnya, cepet amat!” sahut Tanti.

”Ya habisnya, tubuhmu nafsuin banget sih.” kucubit putingnya yang sebelah kiri.

”Auw!” Tanti memekik nikmat. Dia membalasnya dengan meremas kuat penisku yang mulai melembek dan mengkerut.

”Kalau mau yang lama, nanti aja kita coba lagi, yah?” kuraba selangkangannya yang terasa sangat basah, kumasukkan jari telunjukkku ke sana untuk menggesek klitorisnya.

”Ehm… Mas!” dia menggelinjang pelan. ”Emang mas nggak capek?” tanyanya kemudian sambil mengocok pelan penisku, berusaha untuk membangkitkannya lagi. ”S-sepertinya burung mas lebih besar deh dari punya suamiku.” bisiknya.

”Masa sih? Ah, kamu bisa aja.” kucium bibirnya. Tanti membalasnya dengan melumat bibirku mesra.

”Iya, soalnya tadi terasa mampet dan sesak banget.” katanya sambil tertawa renyah.

Aku yang gemas kembali melumat bibirnya yang seksi itu. Lama aku melumatnya karena Tanti juga mengimbanginya dengan baik, dia menyusupkan lidahnya agar bisa bertarung dengan lidahku. Kuremas-remas lagi payudaranya sebelum akhirnya aku bangkit untuk pergi membersihkan diri ke kamar mandi. Di dalam, kubersihkan sisa-sisa spermaku yang masih melekat di batangku, benda itu sudah agak sedikit menegang karena kocokan Tanti barusan.

Tidak lama, Tanti menyusul masuk. Sambil mengangkat kaki kanannya ke atas closet dan menghadap ke cermin besar, dia membersihkan cairan maniku yang meleleh keluar dari vaginanya dengan menggunakan tisu WC. Dari belakang, kuperhatikan tubuh mulusnya yang indah itu. Dengan kaki jenjang dan sepasang paha yang putih bersih, dia tampak menggairahkan sekali. Ditambah dengan dua bongkahan pantat yang bulat dan padat, libidoku dengan cepat terkerek naik.

Rupanya Tanti juga memperhatikanku melalui pantulan cermin di depannya. Dia tersenyum saat melihat penisku yang perlahan mulai menggeliat dan menegang kembali. Aduh, senyumannya itu lho, bikin aku tak tahan. Segera kurangkul dia sambil kuremas-remas lagi bulatan payudaranya. ”Eh, ngapain sih senyum-senyum gitu?” tanyaku gemas. Kuciumi pipi dan lehernya.

Tanti mendesah, tapi tetap sibuk membersihkan cairan maniku yang merembes di paha sisi dalamnya. ”Mas pengen lagi ya?” sahutnya sambil menggesek-gesekkan bokong bulatnya ke batang penisku. Terasa penisku seperti diremas-remas dan dipijat-pijat pelan. Ugh, nikmat sekali.

“Emang kamu nggak pengen?” kuremas payudaranya semakin keras, kedua putingnya yang masih terasa kaku dan keras, kujepit dan kupilin-pilin.

Tanti menggelinjang. “Ehhss… geli, mas!” dia memprotes karena aku menganggu acara bersih-bersihnya.

”Kok dibersihin sih, Tan? Biar aja masuk, katanya mau hamil?” tanyaku heran. Tanganku tetap berada di atas gundukan bukit payudaranya.

”Cuma yang di luar aja, kok. Tadi sudah banyak yang masuk. Lagian nggak enak kalau kotor gini.” jawabnya pelan.

Sambil terus meremas-remas, kucium lagi lehernya. ”Nggak usah bersih-bersih, nanti jadi seret lagi pas dimasukin.” bisikku di telinganya. Kulepas daster yang ada di pinggangnya, juga BH krem yang menggantung tak berguna di atas payudaranya. Sekarang kami sudah sama-sama telanjang. Kupandangi tubuh montoknya sejenak sebelum akhirnya aku menunduk untuk melumat kedua putingnya.

”Ehh… ahhh… mas!” Tanti memegangi kepalaku saat aku mencucup dan menghisapnya penuh nafsu.

”Lagi ya, Tan?” aku meminta, mulutku penuh oleh bongkahan payudaranya sekarang.

Dia mengangguk dan tidak menolak saat ciumanku terus turun menuju perut dan pinggulnya. Sambil jongkok, kuciumi kedua pahanya yang putih mulus, juga kuelus-elus bulatan pantatnya yang terasa empuk dan kenyal. ”Ahhh… mas!” Tanti mendesis saat ciumanku berhenti di depan selangkangannya. Kujilati sebentar lubang vaginanya sebelum akhirnya aku berdiri dan bersiap untuk menyetubuhinya.

”Disini?” tanya Tanti heran melihatku mempersiapkan penis.

Mengangguk pelan, kubuka kakinya lebar-lebar. Kutumpangkan salah satu kaki Tanti ke kloset agar vaginanya bisa terbuka lebar. Sambil terus menciumi bibir dan lehernya, kugesek-gesekkan ujung penisku ke lubang kemaluannya. ”Ehmmm… mas!” Tanti merintih dan memelukku saat aku mulai memasukinya. Matanya terpejam menikmati tusukan penisku yang perlahan memenuhi lubang vaginanya.

Dalam posisi berdiri dan setengah berpelukan, aku kembali menyetubuhinya. Kugenjot tubuh mulus Tanti sambil tanganku bermain-main lembut di kedua putingnya. ”Mas… ahh… ahh…” meski tidak seenak kalau tiduran di ranjang, tapi tetap saja posisi ini membuat Tanti mendesis dan menggeram penuh kenikmatan.

hijabers community bohay (9)

Aku juga merasakan hal yang sama. Rasa geli dan hangat menyelubungi batang penisku saat aku menyodokkannya lebih dalam ke belahan memek Tanti yang sempit. Benda itu kini sudah kembali basah, membuat gesekan antar alat kelamin kami menjadi benar-benar nikmat dan menggairahkan. Sambil terpejam dan sesekali menggigit bibirnya, Tanti mendesah lembut. ”Ehm, mas… aku… ahh… ahhh…” dia menceracau tak jelas.

Aku sudah akan mencium lehernya saat dengan tiba-tiba, Tanti menurunkan kakinya dari atas closet dan membelakangiku. Aku sedikit melenguh saat batang penisku terlepas dari jepitan vaginanya. ”Ngapain, Tan?” tanyaku protes.

”Ganti gaya. Capek!” jawab Tanti pendek sambil menunggingkan pantatnya ke belakang dan berpegangan pada cermin besar di dinding. Rupanya dia memintaku untuk menusuknya dari belakang.

Ok, no problem. Aku juga menyukai gaya ini. Sangat menyukainya malah. Sambil menikmati bongkahan pantatnya yang indah, kumasukkan lagi penisku. ”Eghhss…” kami mendesah berbarengan saat alat kelamin kami kembali menyatu.

Kuperhatikan Tanti dari kaca saat aku mulai menggoyang tubuhnya, betapa dia terlihat sangat menggairahkan sekali. Goncangan payudaranya, desahan kenikmatannya, juga ekspresi mukanya yang manis dan sensual, membuatku jadi tambah tergoda. Goblok sekali suaminya yang telah menyia-nyiakan istri secantik dan senikmat ini. Biar aku saja memanfaatkannya, daripada nganggur tidak terjamah.

Terus kutusukkan penisku, sementara Tanti mengimbanginya dengan memutar pantatnya yang bulat dan menekannya kuat-kuat ke pangkal pahaku, membuat batang penisku yang kaku dan tegang, masuk dan menusuk dalam sekali, bahkan hingga mentok ke bibir rahimnya. ”Aghhh…!” melenguh keenakan, sambil meremas-remas payudaranya, kugerakkan penisku semakin cepat.

Tanti yang mendapat serangan bertubi-tubi atas dan bawah, tidak bisa bertahan lagi. Beberapa detik kemudian kurasakan denyutan halus di dalam liang vagina, memijit penisku pelan dan nikmat. ”Ssshh… uhh… emm… aku mau sampai, mas!” bisiknya berat.

“Tahan sebentar, Tan. Aku juga sudah hampir.” kuremas terus payudaranya. “Uhh, nikmat banget, Tan, tubuhmu!” di bawah, kutusukkan penisku semakin cepat dan dalam. Kurasakan denyutan di vaginanya menjadi kian terasa, bahkan kini disertai jeritan dan rintihan darinya. ”Mas… aku… Oughh… ahh.. ahh…!”

Tubuh mulus Tanti mengejang keras seiring semburan dari dalam liang kemaluannya. Aku yang juga sudah hampir klimaks, dengan rapat memeluknya dari belakang dan terus memberinya sodokan-sodokan terakhir yang keras dan nikmat. Kubenamkan penisku dalam-dalam saat spermaku muncrat memenuhi liang rahimnya. Tubuh kami bergetar hebat bersama. Cairan maniku terasa hangat bercampur dengan cairan cintanya. Mudah-mudahan saja dengan begini Tanti bisa hamil. Kalau tidak juga nggak apa-apa, aku jadi bisa terus menidurinya, sampai hamil, hehehe… Sepertinya aku tidak akan pernah bosan menikmati tubuh mulusnya.

Sambil melepas penisku, kukecup lembut tengkuk Tanti yang sedikit berbulu. Dia berbalik dan membalas dengan mencium bibirku mesra. Kami saling memagut dan melumat beberapa saat. Entah kenapa, aku merasa senang sekali diperlakukan Tanti seperti itu. Serasa aku adalah suaminya yang sah. Sentuhan, kecupannya yang lembut, aroma tubuhnya, serta hembusan nafas dan dekapannya membuatku melayang.

***

Aku terbangun oleh suara TV di ruang tengah. Kulirik sebelah, Tanti sudah tidak ada. Hari ini sabtu pagi, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Setelah bertempur semalaman, rupanya membuatku terlalu lelah. Tidak biasanya aku bangun sesiang ini.

Segera kucari celana dan bajuku. Aku menemukannya di gantungan belakang pintu. Kukenakan dengan cepat dan segera keluar. Kutemukan Tanti sedang memasak di dapur.

”Sudah bangun, mas?” sapa Tanti sambil tersenyum. Dia sudah rapi dengan baju panjang motif bunga dan jilbab merah berenda membingkai wajahnya yang cantik.

Kupeluk dia dari belakang dan kukecup pipinya pelan. Kulingkarkan tanganku ke depan untuk meremas-remas payudaranya. ”Egh…” Tanti sedikit menggelinjang saat aku melakukannya. Terasa empuk sekali benda itu meski masih terhalang BH.

Tanti menyingkirkan tanganku, dan sambil mengecup bibirku, dia membimbingku ke kamar mandi. ”Mandi dulu, mas. Masa bangun tidur sudah minta lagi.” kerlingnya nakal.

”Emang nggak boleh? Aku sudah pengen loh!” kutarik tangannya dan kutempelkan ke selangkanganku yang sudah mengeras tajam.

Tanti tersenyum. ”Mas ini nggak ada capek-capeknya ya?” bisiknya mesra. Dengan bantuannya, kulepas kaos dan celanaku. Tanti mengusap-usap penisku lembut, ”Habis main semalaman, tetap kaku dan tegang!” bisiknya, tampak kagum dan menyukainya.

”Emut dong, Tan.” pintaku manja.

Tersenyum mengiyakan, Tanti segera menunduk dan mengulumnya. Tapi baru saja aku menggeram keenakan, dia sudah melepasnya lagi. ”Sudah ah, nanti keterusan.” Tanti bangkit dan mendorong tubuhku agar segera masuk kamar mandi.

”Tan, ayo dong!” aku masih berusaha, kutarik lagi tangannya agar menggenggam penisku lagi.

”Masih banyak waktu, mas.” Tanti mencium bibirku. ”Aku harus masak sekarang, tuh ikanku nanti gosong.” dia menunjuk ikan mujaer yang ada di penggorengan.

Sedikit kecewa, aku pun mengalah. ”Bener ya, nanti habis aku mandi?”

”Habis sarapan!” Tanti mengoreksi.

Tanpa berkata lagi, aku segera mengguyur tubuhku. Sementara Tanti kembali ke dapur untuk meneruskan kegiatannya. Sengaja aku tidak menutup pintu kamar mandi, buat apa? Toh Tanti sudah melihat tubuh telanjangku sejak kemarin.

Setelah terkena air dingin, penisku jadi mengkerut dan tidak bersemangat lagi. Tanti tertawa saat melihatnya. ”Kayak uler!” komentarnya. Kupeluk dan kuciumi dia sebelum aku beranjak menuju kamar untuk ganti baju. Setelah itu kami sarapan bareng. Menunya sayur sop dan ikan mujaer. Aku makan dengan lahap untuk mengganti tenagaku yang hilang, juga sebagai persiapan pertempuran hari ini.

Selesai makan, segera kutarik tubuh Tanti ke pangkuanku. ”Eh, mas! Aku harus nyuci piring.” kilahnya saat kuraih gundukan payudaranya. Kuremas-remas benda empuk itu sambil tanganku yang lain berusaha menyingkap baju terusannya yang panjang semata kaki.

”Nyuci bisa nanti, yang ini tidak bisa ditunda!” kucium bibirnya dengan mesra dan kulumat kuat-kuat. Tanti tidak bisa menolak. Pada dasarnya dia juga menginginkannya lagi, jadi begitu kuserang sebentar, dia pun pasrah tidak melawan.

Bahkan sekarang dia membalas kelakuanku dengan menghisap dan menyedot mulutku rakus. Lidahnya dengan cepat menerobos masuk dan membelit lidahku, sementara tangannya turun ke bawah untuk mengusap-usap penisku yang sudah mengeras dan menegang dari tadi.

”Aghhh… mas!” rintihnya pelan saat sambil terus berpagutan, kudorong tubuhnya perlahan-lahan rebah ke atas meja makan. Piring dan mangkok yang ada disana kusingkirkan ke samping agar Tanti bisa mendapatkan tempat.

Kusingkap baju terusannya ke atas hingga aku bisa melihat selangkangannya yang masih tertutup CD warna putih, seputih kulit paha dan pinggulnya. Kusingkirkan CD itu dengan menariknya ke samping, tak berkedip kupandangi vagina Tanti yang merekah basah kemerahan. Dengan cepat kuturunkan kepalaku dan mulai menjilatinya.

jilbab lover

”Ughhh… mas!” Tanti menggelinjang kegelian. Seperti yang sudah-sudah, dia menekan kepalaku agar menghisap dan melumat vaginanya semakin dalam. Kuturuti kemauannya dengan menjulurkan lidahku sepanjang mungkin, kujilat lubang vaginanya, terutama klitorisnya yang kini sudah terasa semakin keras dan menonjol. Kugigit dan kucucup benda mungil itu hingga menjadi cukup basah.

Saat aku sudah tidak tahan lagi, dalam posisi duduk di kursi meja makan, kupangku tubuh montok Tanti dengan tanpa melepaskan pagutan kami berdua. Segera kulepas baju panjang yang ia kenakan. Buah dadanya yang masih terbungkus BH tampak ranum menggiurkan. Langsung aku menciumi dan meremas-remasnya sementara Tanti berusaha melepas kait BH-nya. Setelah terlepas, segera ia tarik benda itu dan dibuangnya ke bawah, menyusul baju dan jilbabnya yang sudah lolos lebih dahulu.

Dia sudah telanjang, sedangkan aku masih belum. Tanti segera mencopoti seluruh bajuku hingga kami sama-sama telanjang sekarang. Kami berpagutan sekali lagi. Tanganku menggerayangi buah dadanya untuk memelintir kedua putingnya yang terasa mengganjal keras. Kuremas-remas lembut sepasang dagingnya yang berukuran besar itu dengan penuh kasih sayang. Kuciumi permukaannya yang halus dan mulus saat Tanti melepaskan pagutannya.

”Eghhh… mas! Ahh.. ahh.. uhh..!” desahan Tanti semakin menjadi-jadi setelah ia memasukkan penisku ke dalam vaginanya secara perlahan-lahan. Sambil memeluknya, kuciumi seluruh area payudaranya, juga bahu dan ketiaknya. Sementara Tanti dengan perlahan tapi pasti mulai menaik-turunkan tubuhnya sambil sesekali memutar pantatnya dengan halus tatkala penisku tertancap jauh di dalam lubang kewanitaannya.

Menit demi menit berlalu, goyangan Tanti menjadi kian cepat. Kudekap erat tubuh mulusnya sambil kuberikan sodokan-sodokan ke atas untuk mengimbangi. Aku terus melakukannya sampai akhirnya jeritan panjang Tanti mengakhiri semua itu. ”Arrghhhhh… mas! Aku… keluaaar…!!!” tubuhnya mengejang beberapa saat sebelum kemudian ambruk kelelahan dalam pelukanku,

Kukecup pipi dan bibirnya penuh rasa sayang. Kubelai rambut panjangnya yang kini kusut oleh keringat. Tanti terlihat sangat cantik tapi juga letih. Tubuh mulusnya tampak basah mengkilat bermandikan keringat. Begitu juga denganku. Penisku yang masih ngaceng berat masih menancap di dalam liang kewanitaannya.

”Kalo capek, istirahat aja dulu, Tan.” kataku. Melihat kondisinya, aku jadi tak tega untuk meneruskan goyangan.

”Nggak, aku memang capek, tapi seneng banget main sama mas. Habis enak banget sih!” dia memaksakan diri tersenyum.

Kucium lagi bibirnya. ”Penisku yang enak, atau memang kamu yang doyan ngesex?” tanyaku menggoda.

”Dua-duanya sih, hahaha…” Tanti tertawa. ”Tapi jujur, mas. Aku nggak pernah merasa senikmat ini kalau main dengan mas Ferdi.”

Aku tertawa mendengar pengakuannya. ”Yuk, Tan!” kuajak dia ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa cairan cinta kami berdua, juga sekalian buang air kecil. Sementara Tanti pipis sambil jongkok, kupandangi cermin di depanku. ”Bermimpikah aku ini?” batinku dalam hati. Aku cubit-cubit mukaku, perih. ”Berarti aku tidak bermimpi. Aku beneran menyetubuhi Tanti! Wanita yang selama ini menjadi hayalanku. Wah…!!!” aku tersenyum bangga sekaligus senang.

”Aku balik dulu ya, mas. Kutunggu di kamar,” kata Tanti begitu selesai menunaikan hajatnya. Dia segera berlalu dari tempat itu.

”Nggak usah pake baju ya?” aku berpesan sambil menyempatkan diri mencubit puting susunya. Ternyata aku cukup lama berada di kamar mandi, hampir setengah jam. Selain pipis, kuputuskan untuk sekalian buang air besar. Begitu kembali ke kamar, kulihat Tanti sudah tertidur pulas. Kasihan dia menunggu lama.

Posisi tubuhnya setengah tengkurap miring ke kiri, satu kaki tertekuk ke depan, dan kaki satunya lurus sejajar dengan tubuhnya. Pemandangan yang sangat erotis sekali, pantatnya yang bulat terlihat menyembul ke atas, denganlubang kemaluan yang mengintip malu-malu di sela-sela pahanya mulusnya. Melihatnya, dengan cepat membuat libidoku naik kembali. Perlahan-lahan aku merangkak menghampirinya.

Kuraba lubang vaginanya, masih terasa basah. Segera kuludahi penisku hingga sama-sama basah, lalu tanpa membangunkannya, kutusuk dia dari belakang. Bless! Batangku menancap telak. ”Egh…!” Tanti agak melenguh sedikit, tapi tetap tertidur. Sambil membelai bongkahan pantatnya, mulai kugoyang pinggulku pelan-pelan. Aku maju-mundurkan batang penisku menggesek dinding vaginanya. Sodokan-sodokan halus yang kulakukan akhirnya membuat Tanti tersadar dari tidurnya, memang sungguh terlalu kalau sampai dia tetap tertidur saat kusetubuhi seperti ini.

Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. ”Auhh… uhh… mas! Gila, nggak pake permisi langsung main sodok aja.” protesnya, tapi tidak menolak. Malah dia mengatur posisi tubuhnya dengan agak menungging agar aku makin leluasa memasukinya. ”Ehm, nikmat juga begini! Ugh, geli-geli enak!” kata Tanti kemudian.

Goyanganku kini semakin cepat dan berirama. Kuusap sekujur tubuh mulus Tanti, mulai dari punggung hingga bongkahan pantatnya yang seksi. Buah dadanya yang terhimpit dengan kasur juga tidak luput dari remasan tanganku. Sodokan demi sodokan terus kuberikan sementara keringat makin membanjiri tubuh telanjang kami berdua. Erangan, rintihan dan desahan membuat gelora birahi kami memuncak dengan cepat. Sampai pada akhirnya, aku menyuruh Tanti untuk terlentang. Dengan gaya konvensional, kusetubuhi dia sambil memeluk erat tubuhnya untuk mengakhiri sesi ini.

Hampir bersamaan, kami mencapai klimaks. Bermula dari aku yang mengejang sambil mendekap erat tubuh montok Tanti. Kugigit lehernya saat spermaku muncrat berhamburan memenuhi liang vaginanya. Tanti menyusul tak lama kemudian. Dia mendekap punggungku dengan himpitan kakinya, menyuruhku agar menusukkan penis dalam-dalam saat cairan cintanya menyembur keluar, bercampur dengan air maniku.

Vagina Tanti terasa sangat becek sekali sekarang. Kuganjal bokongnya dengan menggunakan bantal agar kedua cairan itu tidak sampai merembes keluar. Pelan kucabut penisku sambil memberikan ciuman mesra kepadanya dengan penuh rasa sayang. Aku sudah melupakan istriku sepenuhnya. Yang ada dalam pikiranku sekarang cuma bagaimana menikmati saat-saat intim ini dan memuaskan Tanti hingga ia hamil.

Aku ambruk di sampingnya. Tanti memelukku mesra. Payudara yang kenyal terasa mengganjal di bahuku. Peluh kami masih bercucuran disertai nafas kami berdua yang masih tersengal-sengal. Kecapekan, kami pun akhirnya tertidur pulas sambil masih berpelukan dengan mesra tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

***

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur, sampai kurasakan geli-geli nikmat pada selangkanganku. Kubuka mata, disana kulihat Tanti sedang mengulum dan menjilati penisku seperti makan es krim. Mulai dari biji pelir sampai lubang penisku, tidak luput dari sergapan lidah dan bibirnya. Rasa nikmat segera menjalar di sekujur tubuhku. Penisku dengan cepat mengeras mendapat perlakuan seperti itu. Melihatnya telah siap, Tanti kemudian mengambil posisi jongkok di atas penisku. Sambil mencengkram dan membimbing penisku ke arah lubang cintanya, dia menurunkan pinggulnya perlahan-lahan hingga sedikit demi sedikit penisku menerobos masuk ke dalam lubang cintanya.

Setelah amblas semua sampai biji pelirku menyentuh bibir kemaluannya, Tanti mulai menaik-turunkan tubuhnya pelan-pelan. Aku yang merasa keenakan juga tidak tinggal diam, kuremas-remas pantatnya silih berganti sebelum akhirnya beralih pada buah dadanya. Kupegangi daging kembar itu sementara Tanti bergerak naik turun semakin cepat. Dia juga memutar-mutar pantatnya di atasku, membuat rasa sensualitas pada gairah kami berdua semakin menggelora.

”Mas…” Tanti menunduk untuk merapatkan tubuhnya di atas dadaku. Segera kudekap tubuhnya mesra dan kuciumi bibirnya bertubi-tubi sambil terus memberikan sodokan keras dari bawah.

Menit demi menit berlalu tanpa terasa, masih dengan posisi yang sama, kusetubuhi Tanti sambil terus meremas-remas buah dadanya dengan lembut. Sodokan-sodokan liar, gigitan kecil dan usapan lembut pada sekujur tubuhnya membuatku tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sodokanku dari bawah dan himpitan selangkangan Tanti dari atas menambah menit akhir orgasmeku kian dekat. Begitu juga dengan Tanti, sepertinya dia juga sudah hampir sampai.

Dengan tubuh saling mendekap erat, kami akhiri persetubuhan siang itu dengan saling mengejang dan mengerang nikmat. Cairan cinta kami menyembur deras untuk sekali lagi bertemu dan mengisi liang rahim Tanti yang kering dan gersang. Setelah semuanya berakhir, Tanti jatuh di sisiku sambil tersenyum penuh kebahagiaan. ”Uhhff, baru kali ini aku merasakan enaknya bercinta,” bisiknya.

”Kalau tahu seperti ini, sudah dari dulu aku entoti kamu, Tan!” sahutku sambil mencium bibirnya.

”Enak aja. Nggak mungkin aku ngasih perawanku sama mas! Jangan konyol.” kata Tanti sambil memukulku pakai guling. ”Ini kan karena aku mau cepet dapat anak, bukan karena aku suka sama mas! Eh, sorry, jangan marah ya!” Tanti tersenyum.

“Mau marah bagaimana, lha wong aku sudah dikasih yang enak-enak!” ucapanku itu disambut dengan lemparan bantal oleh Tanti.

***

Begitulah, selama 2 hari 3 malam, aku menginap di rumah Tanti. Selama itu pula, kuisi terus rahimnya dengan spermaku. Kegiatan kami selain untuk makan dan mandi cuma ngentot, ngentot, dan ngentot. Aku rasanya tidak pernah bosan menyetubuhinya karena tubuh Tanti memang sangat nikmat sekali. Permainannya juga sangat variatif dan penuh kejutan. Segala posisi dan gaya yang kuminta dilakukannya tanpa banyak bertanya. Istriku yang SMS di minggu pagi, cuma kujawab pendek karena saat itu aku sedang asyik menunggangi tubuh bugil Tanti di kamar mandi. Baru saat dia telepon, aku sedikit menghentikan aksiku. Tapi tidak dengan Tanti. Sementara aku menerima telepon, dia menghisap dan mengulum penisku penuh nafsu hingga membuatku sedikit merintih dan mendesis kegelian. Istriku yang curiga bertanya, dan kujawab kalau aku lagi sarapan pake sambel yang sangat pedas. Untungnya dia percaya.

Sehabis dari kamar mandi, Tanti mengajakku ke ruang makan. Disitu kami sarapan dengan tubuh masih tetap bugil. Sambil mengunyah kugerayangi terus tubuhnya. Tanti sempat sedikit protes, ”Udah dong, mas. Nggak bosan apa? Lagi makan nih, nanti kan bisa.” dia kegelian karena kupenceti terus bulatan payudaranya.

Aku tertawa dan meremas payudaranya semakin keras. Setelah itu tanpa perlu repot mencuci tangan, kutindih tubuhnya di atas meja makan, dan sekali lagi kusiram vaginanya dengan spermaku. Tanti geleng-geleng kepala melihat nafsuku. ”Kaya kuda!” begitu komentarnya, jelas sangat menyukainya.

Selanjutnya kami melakukannya lagi di ruang tengah, lalu di kamar saat tidur siang, dan di dapur saat Tanti memasak sore hari. Malam tak perlu diomongkan karena sudah pasti kami melakukannya lagi. Setelah makan dan menonton TV sebentar, kuseret tubuh bugil Tanti ke dalam kamar. Sprei sudah diganti baru karena di permainan terakhir kami, Tanti ’pipis’ banyak sekali hingga tembus sampai ke kasur.

Diawali dengan ciuman dan rabaan mesra, akhirnya kugenjot tubuh mulus Tanti semalam suntuk. Kami hanya tidur sebentar-sebentar, sekedar untuk memulihkan diri. Aku 5 kali orgasme, spermaku sampai tidak kental lagi karena saking seringnya kuperas. Warnanya juga tidak putih lagi, agak sedikit bening. Jumlahnya juga tidak banyak. Sedangkan Tanti, entahlah, 10 kali mungkin, tidak bisa lagi kuhitung karena saking banyaknya. Kami seperti ingin memanfaatkan saat-saat terakhir sebelum perpisahan itu dengan sebaik mungkin, karena jam 3 aku sudah harus balik ke kota S kalau tidak mau telat datang ke kantor.

Waktu sudah menunjukkan pukul 03.10 ketika Tanti mengantarku ke terminal. Kudekap dia erat dan kukecup pipinya sebagai rasa sayang dan terimakasih. Setelah itu kami pun berpisah, Tanti kembali pulang dengan membawa banyak sekali benihku sedangkan aku naik bis AKDP untuk balik ke kota S.

Sampai 2 minggu kemudian, Tanti mengabari kalau dia sudah positif. Aku yakin sekali kalau itu adalah anakku karena banyak sekali spermaku yang kutuang ke dalam rahimnya di pertemuan terakhir kami yang panas dan penuh gairah. Dan asyiknya, Tanti tidak cuma mengabari itu, dia juga mengatakan kalau suaminya akan kembali dinas keluar kota selama dua minggu.

”Main lagi ke rumah, mas. Aku kangen sama mas!” undangnya penuh harap.

”Kangen aku apa kangen kontolku?” tanyaku menggodanya.

Tanti tertawa ngakak sebelum menjawab, ”Kangen dua-duanya!”

”Aku juga kangen kamu.” sahutku.

”Kangen aku apa kangen memekku?” balasnya.

Aku ikut tertawa. Kuperhatikan kalender dan jadwal kerjaku, sepertinya bisa. Kalaupun tidak bisa, akan kuusahakan agar bisa, hehe… siapa juga yang bisa menolak undangan wanita secantik dan semolek Tanti. ”Oke, jemput aku di terminal jumat malam ya?” aku berkata menyanggupi.

”Ok, mas!” jawab Tanti penuh antusias.

Aku segera mengabari istriku kalau minggu depan tidak bisa pulang karena ada ’lembur’. Istriku bisa menerimanya. Dan begitulah, dari perselingkuhan pertama kami hingga kini, telah 4 kali aku meniduri Tanti lagi. Persetubuhan yang awalnya hanya untuk hamil, kini berubah jadi ajang pemuas nafsu masing-masing. Tanti ketagihan dengan permainanku, sedangkan aku menyukai rasa tubuhnya yang hangat dan menggiurkan. Entah kapan kami bisa berhenti? Yang ada malah semakin panas karena seiring jabatan Ferdi yang naik jadi CEO, dia jadi semakin sering pergi ke luar kota, hampir tiap akhir pekan. Dan akibatnya, semakin sering pula kunikmati dan kutiduri istrinya yang cantik dan seksi itu.

DINA

Oh ya, keasikan neh, perkenalkan namaku Dina Fitriana (dina ), 26 tahun, masih single, aku bekerja sebagai seorang guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil menghayalkan pria pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tidak dapat kubendung, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini. Satu hobi yang mungkin sangat aneh buat wanita berjilbab seperti aku. Tapi itulah aku yang sebenarnya. Tetapi untuk menjaga imej baikku sebagai guru yang sopan dan berjilbab tentu saja aku menyembunyikan hobiku ini sehingga tidak seorangpun tahu.

payudara besar akhwat (1)

Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku. Balik ke cerita tadi…

Sangkin nikmatnya masturbasi di toilet sekolah, aku sampai tidak menyadari kalau pintu toilet meski kututup tapi tidak kukunci. Aku semakin tidak peduli, yang kutahu aku harus memuaskan birahiku yang sedang terbakar, kucoba menahan desahanku, meski terkadang terlepas juga desisan desisan kecil dari bibir tipisku.

“sshh..emhhh”, desisan kecil sesekali kelaur dari bibir tipisku.

Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki, guru olah raga baru disekolah tempatku bekerja, pak Oki sungguh tampan dan tubuhnya yang sangat kekar, tadi siang aku memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu keakar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi ga kaut lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di toilet sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki di toilet ini, dia memompa kontolnya yang besar di vaginaku dari arah belakang, tubuhnya mendorong tubuhku sehingga aku terpaksa menahan tubuhku di tembok toilet dan sedikit menungging.

Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan.
‘uuuh pak oki’, desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama aku merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba,

‘braaak’, pintu toilet tiba tiba terbuka.

‘bu dina’, kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun melihatku. Aku tersentak kaget,

‘pak parman ehhhh…’, kataku kaget ketika melihat pak parman, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sanking kagetnya dan tidak tau berbuat apa aku jongkok merapatkan kakiku, namun tanganku masih berada diantara selangkanganku, aku begitu kaget sampai lupa menarik tanganku.

‘pak parmaan keluar’, kataku dengan suara pelan. Wajahku pucat sanking takut dan malunya. Kurang ajar benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya.

‘ngapain pak… keluar,’ perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul.
‘Bu dina’, kata parman sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tidak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku masturbasi di toilet sekolah.

‘jangaan pak’, kataku berusaha melepaskan dekapannya, kugeser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding.

‘jangan paak’, kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku setelah menyampirkan jilbabku ke pundak dan menggesernya.,’jangaaan’, kataku lagi.

Melihat parman yang begitu beringas dengan nafas mendengus-dengus menciumi leherku dan tangannya mulai meraba raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan sekuat tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet.

payudara besar akhwat (2)

Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku tertahan oleh tangan parman yang kekar,

‘Lepaskan’, kataku, namun parman yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, tangannya yang lain menahan tangan kiriku didinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, tubuhku seperti terkunci dan tidak bisa bergerak.

‘Pak parmman jangan…sakit..lepaskan’, kataku memohon dengan suara memelas.

‘Bu dina… biarkan aku entot tempik ibu…’, katanya pelan didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku.

“ahhh lepaskan’, aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku kedinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku.

‘ahh konntolnya udah tegang, dia akan memperkosaku’, jerit batinku

Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yang menahan kedua tanganku.
‘Sebaiknya bu dina jangan berisik, nanti ada orang yang dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu dina yang terkenal alim dan santun ternyata punya kesukaan masturbasi di kamar mandi’, katanya mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Aku menghentikan perlawananku…berpikir sejenak.

Kesempatan itu tidak disia siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat didinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku.

‘jangan paak, kumohhhon jangaan’, aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba-raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tetapi aku takut malah ada yang dengar.

“Aaahh bu dina..toked bu dina gede banget emmhh’, kata-kata kotor yang memuji keindahan tubuhku keluar dari mulutnya.Kurang puas meraba buah dadaku yang masih ditutupi kemeja, dia menarik kemejaku keatas dan melepaskannya dari tubuhku. Tidak lupa rokku pun dipelorotkan dan dilepasknnya. Hanya jilbab saja yang dibiarkan tetap berada di kepalaku. Aku benar-benar merasa terhina. Telanjang bulat di hadapan laki-laki, tanya jilbab aja yang kupakai, itupun disampirkan ke belakang punggungku oleh pak parman, sehingga seluruh bagian tubuhku terbuka lebar. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba raba perutku,

‘Ammpuun pak lepaskan’, kucoba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku.

‘emmh bu dina, gede banget toket bu dona, nikmat sekali meremasa dada ibu, ibu sukakan kuremas-remas”, katanya lagi melecehkanku dengan berbisik dari belakang. Ketika aku diam saja, dia meremas dadaku dengan sangat keras hingga aku kesakitan, ahirnya karena tidak tahan kujawab aja sekenanya “terus pak, remas terus…enak sekali remasan bapak”. Dengusan nafasnya yang berderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak nabrak pantatku.
Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat ingin menyetubuhiku.

‘Bu dina ijinkan saya ngentotin ibu’, bisiknya pelan. Aku kaget mendengarnya, tetapi tenagaku tidak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya.

‘Pak..jangan jangan kasihani aku’, kataku memelas. Sepertinya apapun yang kukatakan tidak dapat membendung nafsunya, sejenak tidak kurasakan tangan kanannya meraba raba tubuhku.

Penasaran apa yang dilakukannya. aku menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya..’oooh jangan pak’, aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan kontolnya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Parman menekan tubuhku merapat kedinding, aku merasakan benda kenyal dan keras mengesek dan menabrak pantatku.

‘Aduuh pantat bu dina montok banget’, katanya meremas remas pantatku. Aku terkaget, aku baru teringat jika ketika masturbasi tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet.

‘Gawat nih’, pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dengan mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi vaginaku udah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Kucoba lagi memberontak, tapi tetap sia sia.

Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, kontol pak parman sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya.

‘Pak parman ampun pak’, kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik kontolnya akan segera masuk kedalam tubuhku.

‘Bu dina udah lama saya pengen giniin bu dina, bu dona seksi banget, dengan pakaian bu dina sehari-hari, jilbab putih kesukaan ibu,ibu tampak anggun dan menggemaskan. Ingin rasanya saya dapat ngentot bu dina, ternyata kesampaian juga ahirnya’, katanya, dan tiba tiba kurasakan kontolnya mulai masuk, aku panik mencoba melawan sengan sisa sisa harapanku, bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuhku kontol itu malah semakin terbenam masuk ke dalam lubang vaginaku,

‘Aaaaah tidaaak’, pekikku dalam hati ketika kurasakan kontolnya terasa terbenam memenuhi vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis.

Sungguh sial, vaginaku yang sudah basah ketika aku masturbasi tadi malah memudahkan batang itu masuk, tetapi kupikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa lecet karena ada benda yang memaksa masuk, tapi berkat cairan yang sebelumnya memang udah membanjiri vaginaku membuat kontol pak parman yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vaginaku perlahan.

‘Eemmmh bu dina, vagina bu dina enak banget, ooohhh’, desahnya didekat telingaku ketika kontolnya dibenamkan sedalam dalam mungkin dan terasa menyentuh rahimku,

‘Ya ampuuun panjang banget kontol laki laki ini, ampuuun’, pekikku dalam hati. Aku berharap kontol itu udah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur aja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batangan itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk dikepalaku… aku benar benar terdiam, tidak bergerak.

payudara besar akhwat (3)

Aku pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak kusangka khyalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampean juga, tetapi bedanya bukan dengan pak oki dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki laki yang sedang mendesah desah dibelakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami.

Kenyataan yang harus kuterima, parman sedang menikmati vaginaku, menikmati memompa penisnya keluar masuk di lubang kemaluanku.

‘oooh bu dina…ohhh enaknya’, desah parman ga karuan berkali kali

‘emmmh’, aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski tersamar oleh rasa takutku.Pak Parman terus mengocok kontolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet.

‘oooh ya ampppuuun kontolnya teraasa banget’, teriakku dalam hati. Ketika aku mulai tenang, aku menyadari kalau kontol pak parman memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan kontolnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar diseluruh tubuhku.

Diam diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini,di satu sisi aku mengutuk diriku sendiri, betapa tidak seorang guru muda berjilbab yang terkenal cantik anggun dan berkarisma diperkosa cleaning service tapi malah menikmatinya, di sisi yang lain aku benar2 tak ingin perkosaan ini berhenti. tiap kali dia menggerakkan batang kontolnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang kudapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, kucoba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batangan itu sungguh memberikan kenikmatan padaku, tetapi tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku.

‘mmmh mmmmh’, desisku pelan.

‘enakkan bu?, katanya tiba tiba.

Ternyata dia mengetahui kalau aku mulai menikmati tusukan kontolnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau kubilang tidak atau memaki makinya, dia pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati enjotan kontolnya. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku.

‘Tunggingin dikit bu dina’, katanya sambil menarik pantatku keatas.

‘Kurang ajaaar… berani beraninya dia malah menyuruhku menungging’, umpatku dalam hati.

‘emmh pantat bo dina memang montok banget, ga salah apa yang aku khayalin selama ini’, katanya sambil meremas remas bokongku gemas.

‘Gila, ternyata aku sudah lama jadi objek fantasi laki laki ini’, pikirku dalam hati.

Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan kontolnya kembali.

‘emmh pak pelan’, kataku ketika kurasakan penetrasi kontolnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku menunggingkan pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan.

Pak Parman tidak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aku mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku,

‘emmh emmmh’, desisku pelan merasakan gesekan batangannya di lubang vaginaku.

payudara besar akhwat (4)

Melihat tubuhku yang terdorong dorong kedepan, parman sepertinya sengaja melepaskan kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan tubuhnya, dengan kedua tanganku bertopang pada tembok.

‘emmmh gila seret banget’, erangnya. Kini kedua-tangannya meremas remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok kontolnya.

‘ooh bu oooh’, parman semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu.

“pak parman..ja..jangan berisik pak..”, kataku memohon takut desahannya didengar orang.

‘I..i..iya bu emhh abis enak banget’, katanya pelan dengan nafas menderu.

Kocokan kontolnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menguakkan belahan pantatku. dan kurasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan aja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian.

‘oooh pak parman..oooh’, aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan kontol pak parman ditambahi gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar diseluruh tubuhku.

‘oooh ahhh’, aku semankin menggila desahanku bertambah keras saja, parman bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin kutungingin, tiap kali dia menarik kontolnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas dibenakku untuk melakukan anal sex dengan pak parman, seperti yang dulu pernah kulakuan dengan pacarku.

Parman semakin mengerang tak karuan, tidak kuhiraukan lagi apa yang dikatakan parman, rasanya aku sudah mau orgasme.

‘saya mau keluar..ahh bu dina’, kudengar samar samar erangannya, namun tidak kupedulikan karena aku juga merasa sudah mau orgasme.

‘ooh emmmh oooh’ desahku lebih keras, kurapatkan tubuhku kedinding, parman mengikuti tubuhku dan menekan keras keras kontolnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas didalam anusku

‘ahhhh setaaan kau parmaaaaan’, lirihku panjang, aku orgasme, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa orgasme ketika diperkosa.

Kutelan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih kurasakan penis parman memenuhi liangku, tetapi tidak kurasakan lagi jari parman di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa kontolnya dengan ganas.

‘oooh bu dina oooh’, tiba tiba parman mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau orgasme, tapi terlambat, diringi erangannya, k*ntol parman sudah menyemburkan sperma hangat menyirahi rahimku. Berkali kali dia mengehentakkan penisnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok.

‘ooooh emmmh’, entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika parman orgasme di liangku, denyutan-denyutan kecil batang kontolnya terasa di sinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku.

‘Ahhh apa yang kulakukan? Pak parman orgasme di vaginaku’, pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, kurapatkan tubuhku kedinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur dirahimku.

‘ahh bu dina emmh’, dia mencoba mencium pipiku tapi kudorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kontolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku.

payudara besar akhwat (5)

‘Cepat keluar pak’, kataku dengan suara lantang tapi dengan muka agak menunduk karena perasaan yang bercampur aduk. Inilah kesalahan berikutnya yang kubuat. Tak beberapa Pak parman keluar toilet sambil berkata “terima kasih bu dina, wanita berjilbab seperti ibu memang nikmat sekali dientot, tempik bu dina memang rapat sekali. Bapak yakin dengan modal foto yang ada di ponsel babak ini ibu dina akan selalu memanjakan kontol bapak”. Aku langsung terpekik dan berusaha mengejar pak parman, beberapa lama kami berkejaran, aku sampai lupa kalau masih telanjang bulat, hanya jilbab saja kain yang menempel di tubuhku. Aku baru berhenti mengejar ketika pak parman berlari menuju gerbang sekolah. Aku tidak mungkin menyusulnya dengan tubuh telanjang berhias jilbab. Di depan sekolahku jalan raya yang cukup ramai meskipun sore hari.

‘gila..’, umpatku dalam hati.”apa yang akan dilakukan pak parman selanjutnya?”. Aku gelisah tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Aku kembali ke toilet mengenakan celana dalam dan merapikan baju serta jilbab yang kukenakan. Aku mengendap endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, kulihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing masing. Aku sedikit bernafas lega, sepertinya mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Mereka tentu tidak akan menyangka bahwa rekan kerja mereka, seorang guru berjilbab, alim dan anggun telah jadi korban perkosaan. Meski perasaan kotor masih ada dipikiranku. Dan sore itu aku pulang kerumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, takjub dan takut.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dihari-hari esok pada diriku.Pak Parman berhasil mem-foto aku di toilet dengan ponselnya. Meskipun aku tidak melihat foto yang ada di ponselnya itu, aku yakin kalau gambarnya adalah fotoku dalam keadaan telanjang bulat, hanya memakai jilbab yang tersampir ke belakang.Foto itu pasti dengan jelas menampakan tubuh telanjangku dari depan pada posisi jongkok dan pahaku yang terkangkang lebar. Menampakkan sisa sperma pak parman yang mengalir keluar…Aahh hidup..apakah selamanya aku, guru berjilbab yang terkenal alim harus menjadi budak seks pak parman, seorang cleaning service..?

MAYANG

seperti yang banyak kita ketahui, internet sekarangs eperti lampu bagi laron2 yangs edang etrbang. Hampir semua orang di dunia ini tersambungkand engan internet. Tak terkecuali gadis2 berjilbab yang jadi sasaranku heheheheheh. Nhaaa mudahnya dengan internet, semua bisa kita tulis dan biasanya orang lebih jujur dengan dirinya. Jadi, kalo kita sedang menargetkan seorang gadis berjilbab, lebih mudah dan cepat mendapatkan kepercayaannya kalo kita lewat internet karena memang lebih mudah bicara dari hati ke hati. Tapi, biasanya kalo kita salah tebak dan salah ambil tindakan, juga mudah hilangnya.

muslimah seksi (1)

Nhaaa ini kisahku dengan target baruku. Target baruku adalah seorang wanita muda berjilbab bernama Mayangsari Arumadewi, yang kupanggil mbak mayang karena memang usianya lebih tua dariku. Kukenal wanita manis berjilbab berkulit agak gelap namun cantik ini melalui jejaring sosial facebook. Dia berusia 28 tahun dan telah bersuami yang bekerja diluar kota sehingga seringkali hanya seminggu sekali pulang kerumah. Untungnya sang suami tidak tahu account facebook yang Mbak mayang pakai berhubungan denganku, sehingga aku dengan mudah bisa melancarkan rayuan2 mautku berkedok curhat2 palsu heheheheheh. Setelah beberapa waktu DKT, akhirnya mbak mayang mulai mau membuka rahasianya bahwa dia eorang wanita yang mempunyai libido tinggi dan ia selalu kesepian jika suaminya tidak ada dirumah. Wah, kebetulan ni heheheehheeh. Terus kukorek, akhirnya aku dapat no hpnya, juga alamat rumahnya. Ingin ku segera kerumah mbak mayang yang ternyata masih bersama orangtuanya, namun kupending beberapa saat lagi, karena kupakai untuk semakin memantapkan PDKTku melalui telepon.

Sejak saat itu aku selalu menemani mbak mayang melalui line telepon ketika Mbak Mayang kesepian. Bahkan aku akhirnya seringkali berhasil menggiring pembicaraan kami untuk menyerempet hal-hal yang agak “nakal”. Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Mayang berubah menjadi sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku semakin yakin untuk segera meksekusinya eheheheh.

Tak terasa satu bulan sudah kami berhubungan melalui facebook dan dilanjutkan telepon tanpa pernah bertemu muka. Suatu malam, ketika aku sedang menelpon Mbak Mayang dan suara gadis berjilbab itu terdengar mulai berat dan mendesah yang kuyakini karen aterangsang karena pembicaraan “nakal” kami, aku segera mengambil kesempatan.

“mbak Mayang, boleh gak aku main kerumah?” tanya diriku langsung.

“emm… kapan..” tanya wanita berjilbab itu balik setelah berpikir sebentar.

“sekarang..” jawabku cepat, mumpung momen tepat eheheheh.

“gila kamu..” jawab mbak mayang pelan. Suaranya terdenagr semakin berat.

“ya nggak gila mbak.. gapapa yah.. aku kesana..ortu juga dah tidur kan..” kataku karena sudah tahu kalau ortunya sudah tidr pada jam itu.

“ehh.. tapi.. iya deh… tapi.. motornya dimatiin sebelum sampai rumah ya.. malu kalo dlihat orang..” kata wanita berjilbab itu lagi.

“ok bos..” jawabku sambil segera bergegas kerumahnya, mumpung dia mau eheheheh.

Sekita 30 menit kemudian, jam 21.15 malam aku sampai ke kampungnya, yang ternyata memang sudah sangat sepi. Nampak semua orang sudah masuk kerumah mereka masing2, dan diluar sudah tidak nampak tanda2 orang diluar. Aku segera mengendarai motorku ke arah rumah mbak mayang. Untung aku seorang petualangs ejati, sehingga arah2 yang wanita berjilbab itu berikan padaku, aku tahu betul. Sekitar 4 rumah sebelum sampai didepan rumahnya, kumatikan mesin motorku dan kutuntun kerumahnya. Ternyata sang wanita berjilbab yang kesepian itu sudah menunggu dengan diam didepan rumahnya.

“wawan ya?” sapa wanita berjilbab itu sambil mengulurkan tangan.

“Ya, mm.. Mbak Mayang ya.. salam kenal.. belum pernah ketemu yah.,” aku membalas dengan senyum. Kalo cuman nampak cool didepan cewek mah keciiiiiil eheheheh..

“Maaf ya, rumahnya jauh yah..” katanya kemudian.

“Nggak apa-apa kok Mbak, saya juga sekalian jalan2.”, jawabku santai.

muslimah seksi (2)

Sosok tubuh Mbak Mayang lumayan tinggi saja, tingginya 165 cm, berat sekitar 50 kg, kulitnya agak gelap namun halus. Jilbab yang ia pakai membuatnya semakin cantik. Wajah wanita berjilbab itu ayu memancarkan kelembutan dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang tipis membuat aku ingin segera melumatnya. Saat itu mbak mayang memakai jilbab kecil hijau dengan bahan tipis, kaos ketat lengan panjang dan rok hitam, nampak cantik dan manis.

“Kita kesamping rumah yuk, motornya dituntun kesamping rumah aja..”, ajak mbak mayang sambil berjalan didepanku menunjukkan jalan.

Rumah mbak mayang yang terlihat besar terlihat khas, sama seperti rumah gaya desa dikampungnya, tidak memakai pagar besi yang tinggi dan rapat. Pekarangannya hanya dipagari dengan pagar tembok setinggi sekitar 1 meter tanpa pintu gerbang. Segera kutuntun motorku kesamping rumah mbak mayang, yang didepannya banyak tumbuh pepohonan buah2an dan semak sehingga tidak terlihat dari jalan kampung.

Aku diajak masuk ke teras samping rumahnya, yang agak masuk kedalam. Sepertinya tempat itu bukan teras yang biasa dipakai menerima tamu karena disitu hanya ada sebuah kursi bambu yang biasa dipakai tiduran, dan tidak ada perabot lain.

muslimah seksi (8)

“duduk wan..” kata mbak mayang pelan. “disini aja ya… gak enak kalo didepan tar dilihat orang, dan dekat dengan kamar bapak ibu..” kata mbak mayang, lalu dia masuk sebentar, keluar lagi dengan dua gelas muniman jahe hangat.

“Jadi, ada apa, malam2 maksa main kesini?” tanya mbak mayang setelah duduk di sebelahku. Tempat duduk yang sempit membuat bada n kami berdekatan.

“ooh, aku kan cuman mau nemeni mbak…”

akhirnya kami bercakap-cakap dan terlarut dalam percakapan kami. Kemmapuanku dalam menguasai suasana juga nampaknya membuat mbak mayang rileks dan walaupun kami masih harus berbisik2 karena takut terdengar orang tuanya, mbak mayang sudah nampak lebih santai.

Pelan2 tubuhku kugeser lebih merapat ketubuh Mbak Mayang, lalu dengan santai tanpa gerak kejut, kusentuh tangannya dan kubelai. Mbak mayang tertegun, memandang tanganku, lalu memandang mataku. Dari kerutan di dahinya, wajah cantik mbak mayang berusaha menolak perbuatanku namun bibir tipisnya tidak mengucapkan sepatah katapun.

Pelan2 kuremas tangan kiri mbak mayang yang ada paling dekat denganku sambil terus menatap matanya. Wanita berjilbab itu memandangku terus, namun kudengar nafasnya mulai kembali berat. Terlihat wanita berjilbab yang sudah beberapa minggu tidak disentuh suaminya karena ada tugas keluar daerah itu mulai menikmati rangsangan lembutku.

Kemudian kurangkul perlahan pundak mbak mayang, lalu kutarik kepalanya yang terbungkus jilbab agar menyandar di bahuku dan kupegang tangan kanannya sambil terus memandangnya. Mbak mayang menggelengkan kepalanya sambil sedikit meronta, namun rontaan itu lenyap dengan segera karena aku mengusap jari-jariku ke pipinya, dan ke kepalanya yang terbalut jilbab. Tatapan Mbak Mayang kepadaku berubah dari tatapan marah, menjadi sayu. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, kemudian kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis. Mbak Mayang memejamkan mata diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas ciumanku, bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi semakin nekat, kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.

Akhirnya Mbak Mayang bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia membalas ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Mayang menghentikannya sambil mendesahkan namaku.

“jangan wawan..mbak udah bersuami..” kata mbak mayang dan sedikit berontak, tapi tak mampu menahanku. Kutarik tangannya, lalu kuciumi jari2nya. tidak hanya kuciumi, aku juga mulai memasukkan jari halus wanita cantik berjilbab itu ke dalam mulutku dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan kugigit-gigit kecil.

“jangan waan.. ada yang liat..”, bisiknya.
“gak ada mbak.. tenang aja..”, bisikku sambil melepas tangannya dan berganti mengecup pipinya lalu kugigit2 telinganya dari luar jilbabnya. Mbak Mayang menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi daerah sensitif wanita alim berjilbab itu. Akhirnya istri alim berjilbab yangs edang kesepian itu mulai takluk juga, kurangsang diters rumahnya digelapnya malam.

“Aaahh Wawan..” Mbak Mayang mendesah lagi.
“Kamu nakal..”
“Tapi suka kan..?” kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Pelan2 Kali ini Mbak Mayang membalas ciumanku dengan bergairah sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah kami saling berpagutan. Tangan Mbak Mayang mulai meremas dadaku. Aku pun tak mau kalah, kuusapkan tangan kiriku pada daerahdadanya dari luar kaos ketatnya, lalu tanganku menyusup ke dalam blusnya.

muslimah seksi (3)

“Hmm..” terdengar Mbak Mayang menggumam dalam kuluman bibirku.
“Ouuhh.. uuhh..” desah wanita berjilbab itu sambil tangannya mencengkeram leherku ketika kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
“aduuh,, jangan dibuka, waan..” kata Mbak Mayang ketika aku menyingkap kaos dan BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal. Tak sabar, kutarik tangan kanan Mbak Mayang agar selangkanganku. kuremas-remaskan tangannya ke batang kemaluanku yang sudah tegang dari luar celana. Mbak mayang semakin keras mengerang dan mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengulum lidah. Kupilin puting susu Mbak Mayang dengan jari-jariku sambil meremas dadanya. Ingin sekali rasanya aku menciumi dada itu serta menghisap dan menjilati putingnya. Tangan Mbak Mayang pun kini tanpa kupaksa sudah dengan sendirinya mengusap dan meremas selangkanganku.

“Buka dong Waan..” desah Mbak Mayang sambil berusaha untuk membuka zipper celanaku. Akhirnya wanita berjilbab itu tidak tahan juga. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait ikat pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Mayang memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih tertutup celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk meremas biji-biji kemaluanku. Uuhh.. nikmatnya.

muslimah seksi (7)

Mbak Mayang lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana dalamku ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya. Kurasakan kehangatan tangan Mbak Mayang ketika mencengkeram batang kemaluanku, meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala batang kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang mengalirkan nikmat di sekujur tubuhku. Ternyata wanita alim berjilbab ini pandai juga melakukan hand job eheheheh.

Karena tak kuat menahan nafsuku, kurengkuh wajah Mbak Mayang dengan tangan kiriku dan kucium bibir wanita berjilbab itu yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Mayang semakin intens meremas dan mengocok batang kemaluanku, sementara mulut wanita berjilbab itu sesekali menggumam dalam pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif dibuah dadanya yangs ekarang sudah terbuka tanpa penutup apapun karena kaos dan Bhnya sudah kusingkapkan.

Tangan kiriku meremas dadanya yang kenyal serta mempermainkan puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Mayang merubah posisi duduknya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang kemaluanku ke tangan kirinya.

“Aaahh.. oouuhh..” Mbak Mayang medesah ketika aku kembali memilin kedua puting susunya yang telah mengeras dan kemudian kulihat tangan kanan wanita berjilbab itu bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan kirinya semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap kepala kejantananku dengan ibu jarinya. Kurasakan aliran darah di selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.

“Mbak pengen, Wawaan..” desah wanita berjilbab itu sambil menarik satu tanganku ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh nafsu.

muslimah seksi (4)

“pengen banget ya mbak?” tanyaku. Mak mayang hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menahan nafsu. Wajah wanita berjilbab itu merah padam karena birahi. kurebahkan dengan perlahan-lahan tubuh indah di kursi bambu diteras samping rumahnya itu dan kukecup bibirnya, wanita manis berjilbab itu diam saja, dengan nafas yang masih berat menahan nafsu birahi. Targetku turun ke kedua bukit padat dengan putingnya yang mengeras tapi nikmat. Kusingkap jilbabnya dan terlihat jelas dadanya yang sekal. Desahan nikmat terdengar dari mulutnya ketika aku menghisap serta menggigit-gigit kecil kedua puting susunya.

“Ooohh.. Waan.. teruuss Wawaanhh..!” jerit wanita berjilbab itu perlahan dan tertahan-tahan, aku terus mengulum susunya dan putingnya dengan kegilaan yang memuncak.

Bibirku menyapu kedua susunya, terus turun ke arah perut, pusar, kujilat sekeliling pusarnya sambil tanganku meremas lembut kedua susunya yang montok serta putih itu. Tangannya Mbak Mayang menggenggam dengan kuat pada rambutku yang pendek serta tipis itu sambil menjepitkan kedua kakinya yang indah ke badanku.

Wanita berjilbab itu mendesahdan merintih tidak kuat akan rangsanganku. aku tetap berusaha menguasai diriku jangan sampai aku lepas kendali. Kulepaskan remasan tanganku pada kedua susunya yang montok itu, kusingkap rok panjang hitamnya sampai kepinggangnya dan kutarik lepas CD yang berwarna kuning pupus yang terlihat basah pada bagian bawah. Sekarang semua bagian sensitif mbak mayang sudah terbuka bebas menunggu untuk aku jamah, dengan jilbab yang masih terpakai. Perlahan-lahan aku turun menciumi pusarnya, lalu berpindah di atas vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang aslinya lebat. Rupanya mbak mayang amat rajin mengguntinginya sehingga terasa halus dan rapih terlihat. Kujilati dengan lembut, terus turun menyentuh belahan vagina indah itu, kunikmati bibir indah itu perlahan-lahan dengan tangan kiriku membuka kedua belah bibir vagina itu.

Tiba-tiba, dengan disertai jeritan kecil, Mbak Mayang menekan kepalaku ke arah vaginanya sambil mendesah, “Wawan.. oohh.. ngg.. nikmaatt.. Waanhh..!”
Aku mulai merasakan denyutan yang tidak teratur di balik CD-ku, dengan tangan kananku kuturunkan celanaku dan CD-ku sampai lutut sehingga penisku bebas bergantung dan aku yakin dengan ketegangannya mulai mencapai titik atas. Sementara mulutku, lidahku terbenam di antara bibir vagina Mbak Mayang yang terasa basah dengan keluarnya cairan bening dengan aroma yang khas, agak asin, kental dan kunikmati, kuhisap serta kutelan tanpa pikir panjang. Kukecup klitorisnya yang mungil. Dia menjerit kecil. Mbak Mayang menggoyangkan pantatnya naik turun disertai erangan dan desahan nikmat kadang jeritan-jeritan kecil. Sementara kepalaku tetap dengan tangan kanan wanita berjilbab itu ditekannya di atas vaginanya yang kunikmati habis-habisan sementara tangan kiri wanita berjilbab itu meremas dan memuntir susu dan putingnya sendiri disertai desahan-desahan nikmat yang keluar dari mulutnya.

Dia mengerang panjang, “Ooohh Wawan.. aku keluaarr.. mmff..” sambil menjepitkan kedua pahanya yang mulus di kepalaku sampai aku sulit bernafas.

muslimah seksi (5)
Akhirnya terasa jepitan itu berangsur-angsur melemah dan Mbak Mayang tergeletak sambil membukakan kedua pahanya dan aku bisa menghirup udara segar sejenak.

Ini saatnya, pikirku. Segera aku bangun, naik ke kursi panjang bambu dan merayap di atas tubuh indah yang masih mengenakan jilbab itu, penisku yang bergelantung di pangkal pahaku terasa bertambah tegang serta berdenyut-denyut, kugesek-gesekkan dengan bulu-bulu vaginanya Mbak Mayang.

“mbaak.. aku juga sudah nggak tahan.. sekarang yaa..?” jawabku sambil memegang penisku yang kuarahkan ke vagina wanita berjilbab itu yang merekah karena pahanya sudah terbuka lebar-lebar.
“Pelan-pelan Wawan.. penismu besaarr, oohh..” rintih wanita alim berjilbab yang cantik itu lirih.
Kutempelkan kepala penisku ke bibir indah itu dan perlahan-lahan kutekan masuk sedikit demi sedikit, bukan main sempitnya seperti vagina perawan, mbak mayang mengeluh pendek.
“pelan pelaan.. mmff..Terus Wawan.. emmff.. teruus Wawan.. enaakk, oohh..” desah kenikmatan terdengar lembut di kupingku.

“Bleess..!” akhirnya masuk semua 16 cm batang penisku ke dalam vagina Mbak Mayang yang memang sempit dan terasa agak dalam.
Aku merasakan ujung penisku tertahan sesuatu dan berdenyut-denyut karena mbak mayang sepertinya merasakan nikmatnya sambil mempermainkan otot vaginanya. oohh nikmat sekali rasanya, dan aku mulai menggerakkan turun naik pantatku, Mbak Mayang refleks menggoyangkan pinggul seirama dengan gerakan pantatku.
“Aaahh.. Sayaangg.. enak sekali goyanganmu, teruuss.. oohh..” aku sendiri merintih penuh nikmat.

Ada kira-kira 5 menit kami saling bergoyang dan berpagut. Kukecup bibir wanita berjilbab itu yang tipis dan berwarna merah muda basah itu dan mbak mayang membalas dengan gigitannya yang menambah gairahku. Kukecup kedua puting susunya bergantian dan rintihannya tiada henti-hentinya terdengar dan kurasakan aku tidak tahan lagi.
“Ooohh.. sayaangg.. aku nggak tahan lagi..” rintihku dekat telinganya yang harum.
Tiba-tiba Mbak Mayang menjepit pinggangku dengan kedua belah pahanya dengan kuat disertai jeritan kecil yang tertahan.
“Wawan.. oohh.. akuu.. mmff..!” penisku terasa berdenyut-denyut dan tersedot dengan hebat, terasa hangat, geli-geli basah.
Dia telah mencapai orgasme, aku pun tanpa sadar memeluk wanita berjilbab itu dengan erat sambil mengecup bibirnya, kami berpagut entah berapa lama seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Kutekan pantatku sedalam-dalamnya sehingga penisku tenggelam habis ke dalam vagina seret wanita berjilbab itu, tenggelam habis.
Dan, “Sroott.. sroott.. sroott..” entah berapa banyak air maniku yang kusemprotkan di dalam vagina Mbak Mayang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kami berdua mencapai klimaks orgasme pada saat yang sama, Aku masih tertelungkup lelah di atas tubuh indah yang cantik itu. Peluh sudah membanjiri tubuh kami berdua, bahkan jilbab yang mbak mayang masih kenakanpun basah karena keringat. Kami berdua terdiam beberapa saat, berbaring kelelahan di kursi panjang bambu di teras samping rumah mbak mayang yang sunyi. Setelah beberapa saat mengumpulkan tenaga, kami segera membenahi baju kami kembali. Mbak mayang memakai kembali celana dalamnya yang jelas akan basah oleh spermaku yang tadi kusemprotkan ke vaginanya. Untuk beberapa saat, kami terduduk membisu berdampingan, masih terengah2 mengumulkan tenaga. Kulirik mbak mayang, yang nampak kelelahan namun masih cantik memakai jilbabnya. Dia nampak bingung harus marah karena aku telah menzinahinya, atau tersenyum karena aku telah memberinya kenikmatan. Aku tahu wanita berjilbab yang sudah bersuami itu telah aku taklukkan.

IDA ZULAIKHA

Namanya Ida Zulaikha, wanita muda berwajah teramat cantik dan alim berjilbab. Baju panjang muslimah, senantiasa menutupi sekujur tubuhnya yg putih mulus. Ya … walau hanya wajah dan telapak tangannya saja yang terlihat, saya tahu kulit tubuhnya tentulah seputih dan semulus wajahnya. wanita muda idaman setiap pria, itulah sosok Ida Zulaikha. alim berjilbab lebar anggun, cantik, sopan, alim, sungguh menawan. Bibirnya yang bibir sexy, berdagu lancip dan….cantik deh pokoknya. Dia alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fakultas Hukum. Beruntunglah Budiman, wakilku di perusahaan milikku, yang berhasil memperistrinya. Seringkali aku menatapi wajahnya yang lembut dan anggun setiap kali aku ke rumahnya kalau ada urusan dengan Budiman. Wah …. betapa enaknya ini tubuh wanita muda alim berjilbab. Sudah cantik, anggun, lembut, sopan, rapi, alim … pokoknya segudang pujian dan sanjungan pantas kuberikan padanya. Namun karena sifatnya yang alim dan sangat menghragaiku sebagai atasan suaminya, membuatku tak berani menggodanya, ya … mengingat dia sangat alim, juga posisinya sebagai istri dari pegawaiku sendiri. Sering setiap aku bertandang ke rumahnya, Ida Zulaikha ikut duduk menemani suaminya ngobrol denganku. Nah … seringpula mata nakalku mencoba menatapi dan mencuri-curi pandang ke istri Budiman ini. Betapa cantik dan anggunnya wanita muda ini, wah wah wah …. bagaimana ya nikmatnya kalo aku bisa menelanjangi tubuhnya yang selalu tertutup jilbab dan baju panjang ini … bahkan lebih jauh menidurinya?. Bulan Juli 2004 Pameran berskala internasional diselenggarakan di Jakarta, sudah menjadi kebiasaan perusahaanku ikut berpartisipasi.

jilbab-toge-0137

Perencanaan harus matang, agar tak membuat malu. Dari persiapan mengurus stand, ijin, dan berbagai sarana harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Ya … akhirnya Budiman selaku wakilku, kutugaskan untuk mengurus semuanya itu. Senin pagi berangkatlah Budiman bersama 5 orang pegawai kami ke Jakarta.

Tepat jam 08.00 WIB, kereta api senja utama meluncur meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta … dan nampak Ida Zulaikha mengantarkan kepergian suaminya. Rona muka kemerahan, ah … barangkali ia merasa sedih dan berat ditinggal suaminya. “Mbak Ida … udah, nggak usah sedih … sebentar juga pulang” ucapku menghibur. “Ah…,iya Pak.” ia tersenyum. Nggak papa kok Pak, mari Pak kita pulang”.

Mobil sedan susuki Baleno warna biru metalik yang kukemudikan, perlahan bergerak meninggalkan stasium tugu menuju komplek perumahan elit di Yogya utara, ya … aku hendak mengantarkan mbak Ida yang cantik ini pulang ke rumahnya. Deg-degan juga hatiku, baru sekarang aku duduk bersandingan berduaan di dalam mobil bersama wanita muda yang selama ini aku kagumi. Jilbab putih bersih terjuntai hingga hampir ke perut, dipadu baju muslimah panjang warna ungu kembang-kembang, sangat indah dan serasi dengan kecantikannya. “Mbak Ida mau langsung pulang?” tanyaku. “Ya Pak…”, jawabnya. Rasanya deg2an semakin kuat. Aku bingung bagaimana mengakrabkan diriku dengan mbak Ida ku ini. “Wah … mbak Ida asli Indonesia nggak sih?” tanyaku sambil mencari-cari akal bagaimana mencairkan suasana. ”Iya, Memangnya kenapa Pak” “Nggak, kok kayak orang Indo Arab?” “Kok…?” “Iya … hidung mancung, alis item, kulit kuning, dan…cantik lagi.” jawabku mencoba menggoda.. “Hehehehhe..”, ia tertawa renyah sekali. Hatiku bersorak gembira, rupanya suasana makin akrab dan ia sudah tidak kaku lagi. “Masak sih Pak?” Iya, beruntung ya dik Budiman dapet istri kayak mbak Ida. Cantik, alim berjilbab, alim, sopan, wah wah … kalo aku punya istri kayak mbak, nggak bakal aku tinggalin deh satu detikpun.” “Hahahahhaha” ia kembali tertawa. Sesekali ia sampirkan jilbab putihnya ke pundak. Wow….cantik sekali segala gerak dan gayanya. “Iya lho mbak…bagi saya, cewek cantik alim berjilbab sangat menarik dan … sangat sempurna., apalagi cantik seperti mbak.” Emang pacar bapak siapa sih, alim berjilbab juga ya?” “Hehe…belum punya” ”cariin dong mbak Ida yang kayak mbak Ida.” Kulirik Ida, ia tersenyum sungguh cantik sekali. “Kenapa sih Bapak suka wanita muda alim berjilbab?” “Sebab wanita muda alim berjilbab, sangat menjaga jarak dengan lawan jenis, sangat menjaga, kealiman dan kesuciannya. Dan karenanya, kalau bercinta … tentu sangat hot, hehehhe….!” “Ah bapak bisa aja”. “Iya lho mbak, walau saya orangnya metal gini, saya sangat menyukai wanita muda alim berjilbab.” Penampilanku saat ini memang metal, kaos ketat, celana jeans, dan memakai ikat kepala warna biru.

toge

Akhirnya sampailah di rumah nomor 158, sebuah rumah mewah warna krem bersih dan genting warna merah. “Masuk dulu Pak” tawar Ida. “Ya…makasih.” Jantungku semakin deg-degan. Dalam hati aku sudah tak tahan lagi menelanjangi dan menggauli wanita muda cantik alim berjilbab ini. Sambil melangkah masuk ke dalam rumah, kubetulkan ikat kepala yang melilit di kepalaku sambil mata nakalku tak lepas menatap pantat Ida yang kelihatan montok. Celana dalamnya kadang tercetak jelas di balik bongkahan pantatnya. Ouww….ingin sekali aku mencolek dan meremas pantat bahenol tersebut wanita muda alim berjilbab ini. Sampai di dalam rumah, ia persilahkan aku duduk, ”Pak….duduk dulu ya, mau bikin minum”. Tanganku cepat menarik tangannya. “Nggak usah Mbak” jawabku sambil menggenggam tangannya. Ia memandangku dengan tenang. Wow…..betapa lembut tatapan mata itu. Ia nampak tak menolak saat tangannya berada dalam genggamanku. “Mbak Ida … kamu cantik sekali.” kataku merayunya. Aku sungguh tak tahan dengan kecantikan mbak. Akhirnya kebaranikan diri, kupeluk tubuhnya yang masih mengenakan jilbab putih dan baju panjangnya itu. “Mbak Ida … kamu cantik sekali …” kuciumi wajahnya, pipinya….dan kupeluk kuat2 tubuhnya yang sangat menggiurkan itu. jilbab putih segara kuangkat di bagian dadanya. Wajahku menciumi buah dadanya yang masih tertutup baju jubah panjang. Ida menggeliat-geliat kegelian. “Pak….jangan…”, ia merintih. Aku tak peduli lagi. Semuanya sudah terlanjur basah. Kugenggam kain jilbab di belakangnya punggungnya … sambil tanganku yang satunya turun ke bawah … meraih pantatnya … meremasnya … dan mengusap-usapnya…dan meremas-remasnya. Mulutku terus menciumi buah dadanya, pipinya, bibirnya, lehernya, sambil tanganku terus bergerilya membelai, mengusap, meraba. dan merenmas-remas pantatnya. wanita muda alim berjilbab ini menggelinjang, tubuhnya menggeliat-geliat, rupanya ia telah mulai bernafsu. Tanganku kini mengelus-elus selangkangannya yang tertutup jubah panjang itu. Ida Zulaikha … wanita muda alim berjilbab ini akhirnya pasrah dan tak menolak perlakuanku. Kulepaskan semua pakaianku. Aku sudah tak tahan lagi ingin mengentot wanita muda alim berjilbab ini. Aku ingin mengentotnya…sambil kubiarkan ia tetap memakai jilbab dan baju muslimahnya. Wow….Ida…..aku ingin merasakan vagina wanita muda alim berjilbab … “Ida … aku suka kecantikanmu.” “Aku telah lama mendambakan yang seperti ini.” Kuangkat tubuhnya ke atas meja, hingga posisinya kini Ida Zulaikha duduk di atas meja. Dengan begitu kemaluannya tepat sejajar dengan kontolku yang telah mengacung tegak ini.

jilbab-toge-0259

Dengan bersandar dan duduk di atas meja,aku semakin mudah memandangi kecantikan wajahnya. Mata wanita muda cantik alim berjilbab ini meredup, menahan gejolak birahi. Namun sesekali bibirnya tersenyum, menandakan iapun menikmati permainan sex dari lelaki brutal sepertiku. jilbab putih semakin membuatku bernafsu, sungguh suatu pemandangan yang erotis sekali. Seorang wanita muda cantik, alim berjilbab, kini duduk mengangkang di atas meja, berhadapan dengan tubuhku yang telah bugil dan polos..

Akhirnya … kusibakkan ke atas jubah panjang muslimahnya … kutarik ke bawah celana dalamnya yang berwarna hitam, kupeluk erat tubuhnya, … dan segera kuarahkan kontolku ke dalam kemaluannya. Dengan gerakan yang lembut daan pelan, kuarahkan kontol ku yang telah tegang ini ke dalam vagina Ida Zulaikha. Sementara tanganku terus memompa buah dadanya yang masih terlindungi jilbab dan baju panjangnya … bibirku tiada henti mengecup bibirnya … menyedotnya dengan mesra. Dan saat itu kini datang, vagina Ida Zulaikha telah basah oleh lendir birahi yang melanda. Kini kudorong kontolku masuk ke vaginanya … bles … kepala kontolku menyeruak ke dalam liang kewanita mudaan wanita muda alim berjilbab ini. Kutarik dan kudorong lagi kontolku secara berulang-ulang, dengan pelan-pelan, hingga akhirnya aku mempercepat gerakanku.

Ida Zulaikha., istri temanku yang alim berjilbab itu kini tak mampu lagi berkata-kata. Hanya desahan dan geliatan tubuh saja yang dapat dilakukan, karena gejokak nafsu birahi telah membakar jiwanya. Bagiku, gerakan tubuhnya yang menggeliat-geliat dan expresi wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab putih … membuatku semakin merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Terus terang aku telah biasa bermain perempuan.Tak terhitung lagi perempuan yang pernah kutiduri. Dari gadis2 toko, teman2 kuliah, sampai gadis2 nakal di komplek2 pelacuran. Namun mengentotin seorang wanita muda yang cantik dan alim berjilbab, baru sekarang ini aku lakukan. Betul2 nikmat … erotis … sensasional. Apalagi wanita muda alim berjilbab secantik Ida Zulaikha, benar2 membuatku ingin memuncratkan sperma sebanyak mungkin kedalam vaginanya.

Sekitar 15 menit aku menyetubuhi Ida Zulaikha dalam posisi di atas meja seperti ini. Keringat birahi telah membasahi tubuhku dan juga tubuh Ida Zulaikha. Jilbab putih yang dikenakannya nampak kusut dan awut-awutan, namun aku tetap konsisten membiarkan jilbab putihnya itu tetap membalut wajah dan kepala Ida Zulaikha. Sementara baju panjang warna ungu yang dikenakan Ida Zulaikha juga nampak kian amburadul. Gerakan maju mundur kontolku yang panjang menimbulkan bunyi yang sensasional.

Ida Zulaikha nampak sangat bernafsu menikmatu gerakan-gerakan ini. Ya….nikmat sekali rasanya … Bunyi yang ditimbulkan oleh gerakan kontolku yang mengobrak-abrik seisi liang kewanita mudaannya yang dipadu dengan denyut-denyut nikmat otot di vaginanya menimbulkan gejolak dan nafsu yang membakar jiwa. Dan aku memang sengaja ingin menunjukkan segala daya dan kekuatan sexku. Aku ingin Ida Zulaikha mengakui kejantananku, kebrutalanku … ya … aku tak mau kalah dibanding suaminya dalam memuaskan wanita muda. Aku ingin membuat kesan yang sangat mendalam pada diri wanita muda alim berjilbab ini. Setidaknya aku ingin membuatnya ketagihan bercinta denganku.

Bukankah akan menyenangkan jika ternyata wanita muda alim berjilbab ini ketagihan dan merengek-rengek minta bermain seks denganku? Di tengah-tengah kami berdua menikmati percintaan yang heboh ini, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Thing..thong..!!! “Assalamu’alaikum……”. Suara seorang wanita muda mengucapkan salam mengagetkan sekaligus menghentikan gerakan erotis kami berdua. Ida Zulaikha nampak agak gugup, karena ada seorang tamu datang. Ya…wajar, ia nampak kuatir kalau skandal ini terungkap dan diketahui tetangga. “SSSSttt…..tenang nggak usah gugup, siapa sih itu?”, tanyaku mencoba menenangkan. “Itu Bu Siti Maesaroh tetangga sebelah”, jawab Ida Zulaikha. “Sekarang betulkan dulu jilbab dan pakaianmu, kamu boleh keluar dan temui tamu kamu itu, bersikaplah seolah tak ada apa2. Tenangkan hatimu sayang….”, pintaku.

jilbab-toge-0260

Ida Zulaikha membetulkan jilbab dan baju muslimahnya lalu melangkah keluar membuka pintu. Aku mengintip dari dalam, wow rupanya wanita muda yang bernama Siti Maesaroh ini seorang wanita muda cantik yang juga mengenakan jilbab. Baju panjang merah hati dipadu jilbab warna merah pula. “Eh … Bu Maesaroh, silahkan masuk Bu’. ”’Makasih Bu Ida Zulaikha, saya Cuma mau ngasih undangan Pengajian nanti malam kok. Dan…kebetulan nanti malam Bu Ida Zulaikha yang mendapat jatah mengisi ceramah pengajian. Aku lihat wanita muda cantik yang juga alim berjilbab itu menyodorkan secarik kertas kepada Ida Zulaikha, yang rupanya undangan untuk menghadiri pengajian yang biasa diselenggarakan rutin di komplek perumahan tempat Ida Zulaikha tinggal. Namun itu tak terlalu menarik bagiku, tubuhku yang masih telanjang bulat dengan kontol mengacung tegak lebih tertarik memelototi Maesaroh yang tak kalah cantik dengan Ida Zulaikha. Wow … tangan kananku mengocok kontol sambil memandangi wanita muda cantik alim berjilbab yang bernama Siti Maesaroh itu.

Aku menghayalkan bagaimana indahnya sendainya Maesaroh turut serta dalam percintaanku dengan Ida Zulaikha ini. Ya … dua wanita muda cantik alim berjilbab kuembat sekaligus … tentu nikmat sekali. Namun akhirnya Bu Maesaroh itupun pulang, kini Ida Zulaikha kembali menutup pintu dan melangkah masuk ke dalam. Langsung aku memeluk tubuhnya. Kembali menciuminya, menggelutinya dan membawa tubuhnya ke dalam kamar. Namun tiba2 Ida Zulaikha memandangku. “Pak…..aku ingin di atas, bapak tiduran saja di karpet lantai.” bisik Ida Zulaikha. Belum juga sadar menangkap maksudnya ,ia telah mendorongku hingga terdoromg ke belakang hingga tertidur di lantai.

Wah … wah … wah … rupanya Ida Zulaikha benar2 buas Juga. Aku terlentang di lantai, segera Ida Zulaikha mengangkangiku dan kini ia berdiri mengangkang persis di atas tubuhku yang terlentang di lantai. Ida Zulaikha meraih kain bawah baju panjangnya, disingkapkan dan ditariknya ke atas sampai ke perutnya dan ia kini berjongkok mengarahkan kontol tegakku agar tepat menuju lobang vaginanya. Wow … benar2 nikmatnya seorang wanita muda cantik yang masih mengenakan jilbab dan baju panjang kini rela mempertontonkan keindahan pahanya, tubuhnya, vaginanya, jembutnya, bahkan ikhlas membiarkan kontol lelaki lain selain suaminya menerobos dan mendobrak dan mengobrak-abrik liang kemaluannya. Aku menunggu saat2 indah vaginanya menyentuh kontolku, aku menunggu dengan jantung berdebar-debar sambil mata nakalku terus memandangi wajah cantik Ida Zulaikha, wanita muda alim berjilbab ini. Akhirnya … kontolku yang tegang menelusupi lobang vagina wanita muda alim berjilbab ini. Nampak Ida Zulaikha menggigit bibir bawahnya dengan desahan dan rintihan. Ida Zulaikha tak mampu menyembunyikan perasaan nikmat tiada tara ini. Dengan gerakan2 yang semakin cepatdan cepat, Ida Zulaikha naik turun … naik turun … dengan sangat erotis sekali. Kepalanya oleng ke sana ke mari mengikuti geliatan tubuh dan mengimbangi gerakan maju mundur kontolku ke dalam vaginanya. jilbab putih itu kini sungguh sangat menawan bergetar-getar, berkibar-kibar, sungguh suatu pemandangan indah dan sensasional.

Wanita muda cantik alim berjilbab kini bergerak naik turun dengan bersemangat, mengeluar masukkan kontolku ke dalam vaginanya … wow …aku tak ingin semua ini cepat selesai. Ya … aku ingin menikmati pemandangan indah ini selama mungkin … di mana Ida Zulaikha adalah seorang wanita muda cantik alim berjilbab kini naik turun di atas tubuhku yang bugil, dan wanita muda alim berjilbab yang sangat cantik itu tengah memompa seluruh isi kemaluannya dengan kontolku yang besar ini.

Naik…..turun…dengan berulang-ulang. Begitulah gerakan kontinyu terus dilakukan wanita muda alim berjilbab ini. Hingga sampailah pada saatnya, kontolku terasa sangat tegang, sangat kuat, ya … tekanan dan denyutan di kontolku kurasakan sangat kuat … dan akhirnya cairan sperma itu muncrat dengan deras dan kuat … memancar dan membanjiri seluruh isi lobang vagina Ida Zulaikha.

jilbab-toge-0261

Seiring dengan menyemburnya spermaku ke dalam vaginanya … Ida Zulaikha menjerit sangat kuat …. begitupun diriku …. “Aaaaahhhhhh …… ooouwww ……… Ahhhhhhhhhh.!!!!!!…Ida Zulaikha….Oouuhh….”’Pak…..Enaaaaaakkkk…!!!!! Oouuuhh…!!!”, teriakan histeris mengiringi semburan sperma dan cairan kenikmatan kami berdua.

BELLA

Bella, seorang wanita cantik. Jilbab lebar, kemeja longgar putih dan rok tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Bella berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki. Kacamata kecil menghiasi wajahnya membuatnya terlihat makin berwibawa. Dia juga yang terlihat paling dewasa diantara kawan-kawannya.

ngentot jilbab semok (1)

Sebagai mahasiswi kedokteran, Bella bertugas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Dia juga sering bertugas di puskesmas sebagai tenaga medis karena di desa itu tidak ada dokter yang bertugas. Satu-satunya petugas kesehatan yang ada hanyalah mantri kesehatan yang kemampuannya jelas kurang memadai.

Suatu ketika saat Bella sedang bertugas di puskesmas, tiba-tiba datang seorang pria setengah baya yang terburu-buru menemuinya. Bella mengenalnya, pria itu adalah Pak Hasan, salah satu kerabat dekat kepala desa. Pak Hasan walaupun sudah tua, limapuluh tahun tapi terlihat masih kuat dan kekar. Dulunya Pak Hasan adalah jawara desa yang sangat ditakuti. Tampangnya seram, rambutnya yang penuh uban tumbuh tidak teratur seolah tidak pernah tersentuh air, senada dengan kumis dan janggut kambingnya yang juga tidak terawat, tampangnya semakin sangar dengan sebuah bekas luka yang menoreh pipi kirinya, separti luka bekas bacokan senjata tajam

“Pak Hasan… ada apa Pak?” Tany Bella dengan tergopoh-gopoh. Pak Hasan yang terengah-engah tidak segera menjawab. Dia masih terbungkuk mencoba mengatur nafasnya, sepertinya dia baru saja berlari mengelilingi desa.

“Eh.. tolong Neng Dokter.. ibunya.. anu.. maksud saya.. istri saya..” Pak Hasan berujar terputus-putus di tengah nafasnya yang tidak teratur.

“Istri Bapak kenapa..?”

“Tidak tahu Neng Dokter.. tahu-tahu panasnya tinggi dan muntah-muntah.”

“Di mana sekarang istri Bapak?” Bella bertanya bingung. “Kenapa tidak dibawa ke sini..?”

“Di rumah Neng.. boro-boro dibawa ke sini, jalan saja susah, kalau bisa Neng Dokter yang ke sana,” Pak Hasan menunjuk ke arah luar, maksudnya mungkin menunjuk ke arah rumahnya.

“Iya Pak.. sebentar saya ambil tas dulu.” Bella segera menyambar tas peralatannya, dan tanpa menunggu persetujuan, Pak Hasan menarik tangan Bella, Bella mengikuti dengan langkah terseret.

“Aduh.. tunggu Pak.. jangan cepat-cepat,” Bella mengeluh, dia memakai sepatu hak tinggi, tentu saja susah kalau diajak jalan cepat.

“Kalau tidak cepat nanti keburu hujan Neng,” Pak Hasan menunjuk ke atas. Bella ikut menengok, langit terlihat suram karena tertutup mendung tebal. Mereka segera mempercepat jalannya. Tapi perkiraan Pak Hasan tepat, baru setengah perjalanan hujan sudah mulai turun dan makin lama makin deras, membuat keduanya basah kuyup. Bella merasakan tetes air sebesar kelereng seperti hempasan peluru yang menghajar tubuhnya. Tubuhnya menggigil kedinginan sementara tidak ada tempat untuk berteduh. Akhirnya mereka terpaksa berjalan di tengah badai.

Sampai di rumah Pak Hasan hujan belum reda sedikitpun, bahkan makin deras. Bella merasa lega akhirnya bisa berteduh, baju yang dipakainya sudah basah kuyup oleh air hujan menciptakan genangan kecil tiap kali dia berhenti. Di teras rumah Pak Hasan ada dua orang pria yang sepertinya juga sedang berteduh menghindari hujan yang kian menggila.

“Lho.. Parjo.. Somad.. kalian di sini..?” Pak Hasan mengenali mereka, mereka adalah petugas Hansip desa yang sering ronda kalau malam hari.

“Eh iya Pak.. tadi barusan dari desa sebelah, baru sampai di tengah prjalanan kehujanan,” ujar Parjo, pria bertubuh gemuk dengan rambut botak di bagian depannya, menyeringai. Di sebelahnya, Somad yang bertubuh pendek tapi gempal dengan rambut dipangkas pendek bak tentara, juga menyeringai.

“Kok sama Neng Dokter ini Pak..?” Parjo bertanya dengan nada tertahan seolah tidak ingin mencampuri urusan pribadi Pak Hasan. Sesekali matanya melirik ke arah Bella. Tatapannya bagaikan srigala lapar yang siap menerkam mangsanya. Bella mendadak merasa risih ditatap oleh Parjo dan Somad, seolah kedua orang itu mampu melihat menembus ke balik jilbab putih dan kemejanyanya.

“Istri saya sedang sakit.” Pak Hasan menjawab kalem. Parjo dan Somad hanya menjawab dengan O panjang. Pak Hasan lalu menyuruh mereka masuk.

“Neng Dokter bajunya basah kan.. nanti pakai saja baju punya anak saya.” Kata Pak Hasan. Dia masuk ke salah satu kamar dan tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa lembar pakaian.

“Eh.. “ Bella menatap Pak Hasan. “Boleh saya numpang ganti baju Pak?”

“Oh ya.. di situ saja..” Pak Hasan menunjuk ke arah kamar belakang yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu triplek tipis.

Bella yang sudah kedinginan bergegas masuk ke dalam kamar itu dan segera mengunci pintunya. Kamar itu tidak seberapa luas, hanya berukuran dua kali tiga meter dan terkesan kosong, ada sebuah ranjang kayu usang di dekat dinding sebelah kiri pintu dan sebuah lemari kayu yang juga usang. Beberapa poster artis India tertempel di dinding secara acak dan tidak teratur.

Bella untuk sesaat hanya berdiri seperti bengong. Dia kemudian meletakkan baju pemberian Pak Hasan di atas ranjang. Kemudian dengan gerakan perlahan dia mulai membuka satu persatu pakaiannya. Mula-mula kemejanya yang basah kuyup sehingga tubuh bagian atasnya sekarang hanya berbalut Bra berwarna pink berenda dan jilbab putih. Tubuhnya jelas sekali terawat dengan baik. Putih dan mulus. Payudaranya terlihat padat dan ketat di balik mangkuk Branya. Lalu Bella mulai menurunkan rok panjangnya, sepasang kaki yang jenjang dan mulus terlihat begitu elok dipandang, pahanya yang padat dengan pinggul membulat berakhir pada pinggang yang ramping. Sebuah celana dalam yang juga berwarna pink berenda melekat di bagian segitiga selangkangannya. Pantatnya terlihat begitu padat, dan meskipun masih berada di balik celana dalam, tidak dapat dipungkiri pantat itu sangat bagus, padat dan mulus, semulus bagian tubuh Bella yang lain.

Bella kemudian menyeka seluruh tubuhnya dengan selembar handuk dengan gerakan tenang seolah di rumah sendiri, bahkan Bella terdengar bersenandung kecil. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang bergerak liar di luar mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan mata yang liar. Rupanya di luar kamar, Parjo sedang berkasak-kusuk di dekat tembok kamar tempat Bella berganti baju. Rupanya sejak dari awal Parjo bertemu Bella di rumah Pak Hasan, Parjo mempunyai niat jahat pada Bella. Dia hafal seluk beluk rumah Pak Hasan karena sering sekali menginap di situ. Dia tahu di dinding kamar itu ada celah kecil yang tersembunyi jika diilihat dari dalam, letaknya agak di bawah dekat dengan lemari. Parjo dengan nekat mencoba melebarkan celah itu dengan menggunakan pisau hansip yang saat itu dibawanya. Celah itu membuka cukup lebar untuk Parjo bisa mengintip ke dalam. Dan Parjo dengan jelas bisa melihat apa yang terjadi di dalam, dan dengan jelas pula dia bisa melihat kemulusan tubuh Bella yang hanya berbalut celana dalam dan Bra serta selembar jilbab menutup kepalanya.

Parjo meneguk ludahnya menyaksikan kemulusan dan kemolekan tubuh Bella. Tubuhnya panas dingin dan gemetar menahan dorongan seksualnya yang tiba-tiba bangkit saat menyaksikan tubuh yang nyaris telanjang itu.

“Apa yang..” Pak Hasan dan Somad yang tahu-tahu sudah ada di dekat Parjo melongo tertegun menatap ulah Parjo. Parjo terkejut sesaat dan beringsut mundur. “Ngapain kamu..?” Pak Hasan bertanya, tapi dengan suara lirih. Parjo menunjuk ke arah celah yang dibuatnya. Pak Hasan lalu ikut mengintip ke dalam. Seperti Parjo, diapun meneguk ludah menyaksikan tubuh Bella yang mulus itu. Gairah kelelakiannya bangkit seketika, nafasnya terengah-engah menahan gejolak liar dari dalam tubuhnya.

“Mulus banget Pak…” Parjo berbisik. Pak Hasan hanya mengangguk tanpa menggeser tubuhnya dari tempat mengintip itu. Dilihatnya Bella sedang menimbang-nimbang apakah perlu melepaskan Bra dan celana dalamnya juga.

“Buka… ayo buka..” Pak Hasan bergumam lirih pada dirinya sendiri. Tapi dia kecewa karena Bella memutuskan untuk tetap memakai pakaian dalamnya dalam keadaan basah. Pak Hasan makin kecewa saat Bella memakai baju pemberiannya, seolah menyesali keputusannya memberikan baju itu pada Bella.

Ketika Bella keluar kamar, Pak Hasan dan Parjo bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun begitu Parjo tidak dapat menahan diri untuk terus menatap tubuh Bella, terutama pada bagian payudara, selangkangan dan pantatnya. Bella sendiri tidak tahu kalau beberapa saat yang lalu tubuhnya dijadikan obyek wisata. Dia segera bergegas memeriksa keadaan istri Pak Hasan yang sedang sakit, yang terbaring lemah di ranjang. Bella kemudian memriksa kadaan istri Pak Hasan. Tanpa disadari oleh Bella, Pak Hasan dan Parjo sedang berkasak-kusuk merencanakan sesuatu.

Bella lalu berdiri sambil menatap ke arah Pak Hasan.

“Dia nggak apa-apa, cuma terserang flu berat, sekarang sudah tidur.” Kata Bella lembut. “Dia cuma perlu istirahat.”

“Terima kasih Neng Dokter,” Pak Hasan mengucapkan terima kasihnya sambil menyilakan Bella duduk di ruang tengah. Ada secangkir minuman di tangan Pak Hasan.

“Silakan diminum dulu Neng,” Pak Hasan menyodorkan cangkir di tangannya sambil tersenyum aneh. Bella menerimanya dengan canggung sambil mengucapkan terima kasih. Bella perlahan meneguknya sedikit, bukan teh, bukan pula kopi, cairan hangat yang mengalir di dalam tenggorokannya terasa aneh, segar dan membangkitkan sesuatu dari dalam dirinya, seperti kehangatan yang sulit dilukiskan.ngentot jilbab semok (2)

“Minuman apa ini Pak..?” tanya Bella sambil menatap penuh tanda tanya.

“Oh.. itu minuman tradisional desa ini Neng, dibuat dari daun teh liar dari hutan sini..” Pak Hasan menjawab ringan. “Habiskan Neng.”

Bella agak ragu untuk meneguknya lagi, tapi dia merasakan tubuhnya yang tadi kedinginan mendadak menjadi hangat, maka Bella sedikit demi sedikit meneguk minuman itu sampai habis.

Sesaat Bella merasakan tubuhnya hangat dengan kehangatan yang tidak lazim. Seperti ada yang menyalakan api kecil di dalam tubuhnya, kepalanya perlahan seperti berputar dan pandangannya mengabur membuat keadaan di sekelilingnya menjadi berwarna abu-abu. Bella juga merasakan dorongan aneh di dalam tubuhnya, seperti seekor kuda liar yang berusaha mendesak keluar. Mendadak badannya menjadi terasa gelisah, keringat mulai menetes dari tubuh Bella. Desakan asing dari dalam tubuhnya membuat Bella seolah ingin secepatnya melepaskan seluruh pakaiannya dan membuatnya seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu Bella merasa tubuhnya seperti diangkat dan dipindahkan dari ruangan tengah dan direbahkan ke sebuah tempat yang lembut dan lebar. Setelah beberapa saat Bella kemudian benar-benar hilang kesadaran.

Beberapa saat kemudian Bella terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat Bella merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang berada di sebuah kamar sempit dan terbaring di atas sebuah ranjang lebar berbau melati. Samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang berdiri di dekatnya mengelilingi tubuhnya.

“Pak Hasan..” Bella mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas, perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk aslinya, Pak Hasan, Parjo dan Somad berdiri mengelilinginya di pinggir ranjang. Ketiganya hanya memakai celana kolor.

Bella berusaha bangun, tapi tubuhnya lemas sekali, pengaruh minunam yang diminumnya membuat sekujur badannya lemas.

“Sudah bangun Neng..” Pak Hasan berujar sambil tersenyum dengan tatapan matanya memelototi Bella. Parjo dan Somad bahkan menatap Bella tanpa berkedip sedikitpun sambil sesekali menguk ludahnya. Bella merasa ada yang salah dengan tubuhnya melihat ketiga orang itu menatapnya. Dan beberapa detik kemudian Bella baru sadar kalau dirinya terbaring di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya.

“Apa yang kalian lakukan pada saya..?” Bella menjerit, tapi suaranya terdengar terlalu lemah, dia berusaha mundur dan bangkit, tapi tubuhnya tidak bertenaga, dia hanya mampu menutupi payudaranya yang telanjang sambil berusaha merapatkan kakinya, sementara jilbabnya sudah tersingkap hingga leher.

“Hehehehe..” Pak Hasan tertawa pelan. “Belum ada sih Neng, soalnya kami baru saja selesai menelanjangi Neng Dokter.”

“Jangan Pak.. jangan.. jangan sakiti saya..” Bella mulai menangis sambil berusaha berontak, meskipun dia terlalu lemah untuk itu, yang dilakukannya hanya mengejang-ngejang di atas ranjang yang justru membuat gerakan erotis karena dirinya dalam keadaan bugil.

“Oh.. tentu tidak Neng, Bapak hanya ingin senang-senang sedikit saja,” kata Pak Hasan sambil menoleh ke arah Parjo dan Somad yang menyeringai liar.

“Tidak apa-apa Neng.. Bapak hanya minta Neng melayani Bapak sebentar saja, Bapak sudah lama tidak mendapat jatah dari istri Bapak.” Kata Pak Hasan

“Jangan Pak.. jangan.. saya tidak mau..” Bella menangis sesenggukan sambil menggeleng ketakutan.

“Jangan nangis Neng, Bapak janji bakal muasin Neng Dokter juga, malah mungkin Non yang ntar ketagihan” katanya setengah berbisik, hembusan nafasnya terasa di telinganya. Bella merinding mendengar usapan itu, sama sekali tidak disangkanya Pak Hasan tega melakukan hal ini padanya, Bella memang sudah tidak perawan karena pernah melakukan masturbasi dengan timun sehingga selaput daranya robek, tapi dia tidak mau dijadikan pelampiasan nasu seorang tua bangka seperti Pak Hasan.

“Neng Dokter cantik sekali..” Pak Hasan menyeka air mata yang membasahi pipi Bella lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya. Bella memejamkan mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan Pak Hasan, malah rontaan itu membuat Pak Hasan makin bernafsu mengerjainya. Ketika tangan Pak Hasan mulai merogoh bagian kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah lidah Pak Hasan menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya habis-habisan, lidah Pak Hasan menyapu telak rongga mulutnya. Bella merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Pak Hasan masuk lebih jauh, namun dengan begitu Pak Hasan malah senang bisa sekalian membelai paha mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan. Sekali lagi tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Pak Hasan telah berhasil mengelus belahan vaginanya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya. Tangan Pak Hasan menyusup menyentuh permukaan kemaluan Bella yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

ngentot jilbab semok (3)

Bella mengejang sesaat ketika tangan itu menyentuh kemaluannya, campuran antara sensasi yang ditimbulkan sentuhan tangan itu dan pengaruh minuman yang tadi diminumnya membuat tubuhnya menegang sesaat. Bella mulai merasakan getaran-getaran yang mengenai syaraf seksualnya, tanpa sadar Bella mendesah.

“Ahhhhhh… ehsssss…. ohhhkkkhhhh…’ Bella merintih dan bergerak liar merespon sentuhan Pak Hasan. Pak Hasan melihat reaksi itu semakin bersemangat. Pak Hasan lalu berusaha membuka kedua belah paha Bella lebar-lebar sambil terus menerus menciumi bibir Bella. Nafas gadis itu semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena rangsangan-rangsangan gencar Pak Hasan. Tangan Pak Hasan akhirnya berhasil membuka paha Bella membuat vagina Bella sekarang terbuka lebar, vagina itu terlihat bagus dengan ditumbuhi rambut halus dan rapi.

Parjo dan Somad yang melihat aksi Pak Hasan mengerjai Bella hanya bisa meneguk ludah sambil mengocok penis mereka sendiri.

“Ohh.. jangan lama-lama Pak.. kami juga kebelet..” Parjo mengerang pelan sambil meneguk ludah.

Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang gadis cantik yang alim, berjilbab lebar dan berbaju longgar yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari pikiran kotor para lelaki bejat, kini terbaring tak berdaya dengan jilbab tersingkap dan buah dada serta perut yang terbuka lebar, penuh liur dari orang yang memperkosanya. Dari mulutnya terdengar lenguhan dan desahan birahi yang terdengar semakin meninggi, disela jeritan dan kata2 penolakan yang seperti dikatakan hanya untuk menjaga kehormatannya.

“Hehehe.. giliran kalian nanti ya..” Kata Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan mulai memainkan jari-jarinya di vagina Bella sambil terus menciumi dan mengulum bibir Bella Lidah Bella yang berusaha menolak lidahnya justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya. Beberapa saat lamanya Pak Hasan terus menciumi bibirnya dan mengelus-elus bibir vaginanya. Jari-jari Pak Hasan yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah, Pak Hasan menyerang daerah lainnya, payudara Bella yang telanjang perlahan mulai diremas oleh Pak Hasan. Bella berusaha menepis tangan Pak Hasan dan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Pak Hasan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping badan. Dia memejamkan mata dan menangis, seorang bertampang buruk dan seusia ayahnya meremas, menjilati dan mengenyot payudaranya.

Gadis berjilbab itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi pemerkosanya. Cukup lama Pak Hasan menyedoti payudara Bella sehingga meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya terus memainkan payudara Bella.

‘Tidak…jangan Pak, jangan !” ucap Bella memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Pak Hasan mau menjilati vaginanya.

Pak Hasan hanya menyeringai lalu membuka paha Bella dengan setengah paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Bella menggelinjang begitu lidah Bella yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, bagi Bella lidah itu adalah lidah pertama yang pernah menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya. Pak Hasan berlutut di ranjang dan menaikkan kedua paha Bella ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis berjilbab  itu setengah terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti sedang makan semangka.

ngentot jilbab semok (4)

“Sudahhh Pak…ahh…aahh !” desah Bella memelas saat lidah Pak Hasan masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya.

Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan ngerinya bercampur baur dengan birahi dan naluri seksual.

Sekitar seperempat jam Pak Hasan menikmati vagina Bella demikian rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis berjilbab itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

“Eenngghh…aaahh !” Bella pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang. dia menyedoti bibir vagina Bella sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. Parjo dan Somad yang melihat Bella orgasme tertawa senang.

“Hehehehe.. ternyata konak juga, tadi nolak-nolak tuh.. dasar pelacur, dimana-mana sama saja..meski pakai jilbab kalo pelacur yah konak juga ” Parjo berujar datar.

“Iya nih… tadi berlagak alim nggak mau, ternyata nyampe juga..” timpal Somad yang juga masih mengocok-ngocok penisnya sendiri.

“Nah.. kalau begitu Neng dokter sudah siap ya..” kata Pak Hasan. Bella tahu maksud ‘siap’ yang dilontarkan Pak Hasan. Dirinya memang terangsang hebat oleh perlakuan Pak Hasan, meskipun pikirannya menolak, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bella yang sudah mulai kehilangan akal sehatnya hanya terdiam. Diamnya Bella itu bagi Pak Hasan dan kawan-kawannya dianggap sebagai lampu hijau dari Bella untuk menidurinya. Perlahan Pak Hasan mulai menarik kedua belah kaki jenjang Bella ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak. Lalu perlahan Pak Hasan mulai menindih tubuh mulus Bella yang telanjang bulat. Pak Hasan merasakan kenyalnya payudara Bella menekan dadanya dengan lembut.

Perlahan-lahan, Pak Hasan lalu menaikkan kedua kaki Bella yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang kekar. kedua pahanya kini melingkari bagian perut Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Bella.membuatnya kegelian merasakan kemaluan Pak Hasan yang menyentuh kemaluannya. Setelah penis Pak Hasan mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, dia lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir kemaluan Bella. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu Pak Hasan mendorong pinggangnya maju mendesak pinggul Bella membuat penisnya masuk ke dalam vagina Bella. Saat penis Pak Hasan melesak ke dalam kemaluan Bella, spontan Bellapun mengejang. Jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba. Pak Hasan masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Bella. Bella pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Pak Hasan.

Mengetahui tangisan Bella saat menerima penisnya masuk, Pak Hasan lalu memeluk Bella dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Bella. Ia peluk Bella dan diciuminya bibir Bella seakan tidak ingin terpisahkan. Pak Hasan ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti tubuh mereka yang telah menyatu saat itu.

Bella meronta mencoba mendorong tubuh Pak Hasan yang menindihnya tapi dirinya terlalu lemah, rontaan Bella bukannya membuat Pak Hasan bergeser justru membuatnya semakin bernafsu, sensasi yang didapatnya saat vagina Bella mencengkeram penisnya benar-benar membuatnya merasa nikmat. Pak Hasan tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Bella. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh gadis berjilbab cantik itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari cengkeraman vaginanya. Apalagi dinding-dinding kemaluan Bella terasa berdenyut-denyut. meremas penis Pak Hasan yang keras. Ia pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Bella dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat. Dari tengkuk Bella jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Bella. Nafsu Pak Hasan terus terpacu karena wangi tubuh Bella yang juga masih tercium aroma minyak wangi mahal yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu. Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Bella yang bernomer 34B itu. Mulut Pak Hasan terus bermain-main dengan puting dan belahan Payudara Bella. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu.

Diperlakukan sebegitu rupa, pelan-pelan bertahanan Bella jebol, tubuhnya sudah tidak mematuhi perintah otaknya yang menolak cumbuan Pak Hasan, desakan luar biasa sebagai akibat pengaruh minuman yang diberikan Pak Hasan benar-benar bagaikan kuda binal yang menghentak-hentak di setiap ujung syaraf kenikmatan seksual Bella. Cengkeraman Bella pada bahu Pak Hasan makin mengers dan tubuh Bella akhirnya mengejang keras seperti dialiri listrik yang membuatnya terhentak. Wajah Bella merah padam seperti menahan sesuatu yang inginn dilepaskan. Akhirnya diiringi desahan lirih, Bella mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya.

Pak Hasan menyadari Bella kembali dilanda orgasme, karena vagina Bella dirasakan mencengkeram penisnye dengan kuat seperti cengkeraman tangan baja. Pak Hsan kemudian mulai mengerakkan pantatnya maju mundur untuk menggenjot kemaluannya ke dalam liang vagina Bella. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Bella agar tetap di tempatnya. Bella perlahan-lahan menikmati genjotan Pak Hasan yang kasar itu. sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei yang sudah tak jelas warnanya itu. itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua orang yang sedang bersetubuh itu.

Selama setengah jam lamanya Pak Hasan menyetubuhi Bella, ditonton oleh Parjo dan Somad yang sudah blingsatan setengah mati menahan gejolak yang menggebu. Sungguh sebuah ketahanan yang luar biasa, terutama mengingat umur Pak Hsan yang sdah tua, Sementara Bella semakin lama makin menikmati persetubuhan itu. Tanpa sadar dia mulai mengimbangi gerakan Pak Hasan, bahkan saat Pak Hasan berhenti menggenjot vaginanya, Bella spontan menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur. Respon yang diberikan Bella membuat Pak Hasan makin bersemangat. Kemudian Pak Hasan membuat gerakan memutar-mutarkan pantatnya sehingga penisnya seperti mengaduk vagina Bella. Bella merasakan batang penisnya menyentuh seluruh rongga vaginanya, terasa berputar putar, terasa sangat penuh, sampai akhirnya Bella merasakan penis Pak Hasan berdenyut denyut di dalam rongga vaginanya dan Bella sendiri sudah akan mencapai orgasme yang ketiga kalinya. Tubuh Bella kembali mengejang, tanpa sadar Bella memeluk badan Pak Hasan dan mencakari punggungnya dengan garukan keras.

“AHHHHHKKKKHHHHHHHHH………………….” Bella mengerang kuat, seluruh enersinya tumpah keluar saat orgasme untuk ketiga kalinya, pada saat itulah Pak Hasan mencapai puncaknya.

“AAAARRRRGGGGHHHHHH …..” Pak Hasan berteriak kuat-kuat sambil menjambak jilbab Bella, badannya melengkung ke atas sambil wajahnya menunjukkan ekspresi puas luar biasa dan kemudian spermanya menyembur bagitu banyak di dalam rongga rahim Bella. Akhirnya tubuh kedua insan yang baru saja melakukan persenggamaan itu melemas kembali. Pak Hasan selama beberapa menit membiarkan tubuhnya menindih tubuh putih mulus Bella, mencoba merasakan sebanyak mungkin kenikmatan dari tubuh gadis berjilbab cantik dan terpelajar itu sepuas-puasnya sambil sesekali mulutnya mencium dan mengulum bibir Bella. Bella kembali meneteskan air matanya, tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dirinya baru saja menerima pengalaman seksual yang sangat luar biasa sehingga di dalam hatinya dia ingin lagi dan lagi disetubuhi oleh mereka.

Pak Hasan akhirnya melepaskan penisnya dari jepitan vagina Bella. Dia sendiri kemudian terkapar lemas di samping Bella sambil mengelus kepala berbalut jilbab Bella.

“Sekarang giliran saya Pak..” suara Parjo yang bergetar membuat Pak Hasan tersadar. Dia lalu berdiri dan menjauh.

“Nah.. giliranmu sekarang Jo..” kata Pak Hasan. Parjo hanya tersenyum liar sambil memandangi tubuh Bella yang basah oleh keringat. Parjo tipe orang yang tidak sabaran, apalagi dia memang sudah sejak tadi terangsang hebat melihat adegan persetubuhan Bella dengan Pak Hasan, Parjo segera menarik tubuh bugil Bella yang tergolek lemas di atas ranjang lalu dibalikkannya tubuh Bella sampai menelungkup.

“Saya mau nyoba gaya anjing boleh ya Neng..” Parjo berlagak sopan. Lalu dengan kasar ditariknya pantat Bella sampai menungging membuat Bella sekarang dalam posisi pantat lebih tinggi dari kepalanya. Parjo kemudian berlutut tepat di belakang Bella sambil segera melepaskan celananya, dan sebatang penis sepanjang 20 cm dengan diameter sekitar 4 cm segera mengacung keras. Parjo mengarahkan penisnya ke bibir vagina Bella yang sudah basah oleh cairan lendir dan sperma Pak Hasan kemudian Parjo segera menekankan penisnya ke dalam vagina Bella, Bella menjerit kecil sambil mendongak, meskipun penis itu masuk tanpa perlawanan akibat vaginanya yang sudah licin, tapi karena ukurannya yang besar membuat Bella merasa kesakitan.

ngentot jilbab semok (5)

“Oookkkhhh….” Bella meringis menahan sakit pada vaginanya. Air matanya sampai meleleh kembali di pipinya yang mulus. Sementara Parjo memejamkan matanya merasakan sensasi jepitan vagina Bella pada penisnya. Kemudian Parjo pelan-pelan mulai menggoyangkan pantatnya membuat penisnya mendesak lebih dalam di dalam vagina Bella. Sentakan itu membuat Bella mengejang sambil merintih.

“Akkhh… sakiit Paak.. aduuuhhh.. sakiit..” Bella merintih sambil menghiba.

“Sakit ya? Tenang saja Neng, sebentar lagi juga enak, tadi kan Neng dokter seneng banget waktu digenjot sama Pak Hasan..” Parjo mengejek. Sambil memegangi pantat Bella, Parjo mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan frekuensi genjotan makin naik. Setiap pria itu menyentakkan pinggulnya, Bella mendesah keras sampai suaranya terdengar keluar, dia merasa perihpada vaginanya, namun juga ada rasa nikmat bercampur di dalamnya, penis yang menyesaki liang kemaluan itu menggesek-gesek klitorisnya yang tentu saja merangsang gairahnya. Parjo melenguh-lenguh menikmati penisnya menggesek-gesek dinding vagina Bella yang masih ketat. Bella sendiri mulai bangkit kembali gairah seksualnya. Dia lama-lama bisa mengimbangi gerakan kasar Parjo. Pinggul Bella kini malah ikut bergoyang mengimbangi sentakan-sentakan Parjo. Lama-lama Bella pun tidak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang karena klimaks.

“Ooohhhhhh……….” desahan panjang terdengar dari mulutnya, dia merasakan mengeluarkan cairan dari vaginanya meleleh keluar dari selangkangannya. Selama klimaksnya, Parjo tidak sedikitpun berhenti maupun memperlambat genjotannya, sebaliknya dia semakin bersemangat melihat gadis berjilbab cantik itu telah takluk.

Setelah selama sekitar limabelas menit menggagahi Bella dengan gaya anjing, rupanya Parjo kurang puas, dengan gerakan kasar dia mendorong tubuh Bella membuat penisnya yang masih menancap di vagina Bella terlepas dari jepitan vagina itu. Lalu Dipaksanya Bella duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Bella yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat Parjo merasa iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah.

“Sekarang Neng dokter yang goyang ya..” kata Parjo. Bella hanya bisa mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Parjo. Parjo mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Bella dan mendorong pantatnya maju mundur. Sementara bibirnya sibuk menyusu pada payudara Bella sambil sesekali mengulum dan menjilati puting payudara Bella. Selama beberapa menit berikutnya yang terdengan hanyalah gesekan penis Parjo di dalam vagina Bella diiringi dengan desahan erotis dari bibr Bella yang mungil, sementara Parjo tanpa henti terus mengaduk-aduk vagina Bella membuat Bella makin merasa nikmat, pelan-pelan birahi Bella kembali meninggi dan akhirnya Bella bersedia mengimbangi setiap gerakan Parjo, membuat mereka bisa berpadu dengan serasi dalam mencapai puncak kenikmatan seksual.

Selang beberapa menit, Parjo perlahan merebahkan kembali tubuh mulus Bella yang sekarang kembali basah oleh keringat membuat posisinya kembali tertindih tubuh Parjo, tapi dengan kedua kaki masih melingkari pinggul Parjo. Parjo tanpa berhenti terus menggenjotkan penisnya di dalam vagina Bella, hal itu membuat Bella makin terhanyut, desahannya makin menjadi-jadi, tubuhnya makin lama makin menegang, tangannya mencngkeram kasur dengan sangat erat dan beberapa menit kemudian Bella akhirnya tidak tahan lagi, orgasmenya meledak.

“OOOOHHHHH……………………..” Bella mengerang kuat-kuat sambil badannnya melengkung membuat payudaranya mencuat menekan dada Parjo dengan lembut. Parjo merasakan vagina Bella berdenyut-denyut, seolah menyempit dan meremas penisnya dengan kekuatan cengkeraman tangan, sensasi itu membuat Parjo megap-megap, dia tidak tahan lagi, sensasi dahsyat menghantam sekujur tubuhnya seolah cakar harimau yang merobek tubuhnya dari dalam.

“AHHHHHKKHHHH…………….” Parjo tidak tahan lagi, dengan erangan keras dia menyentakkan penisnya dengan keras ke dalam vagina Bella, lalu saat itu juga spermanya menyembur dengan deras membanjiri rahim Bella. Tubuh Parjo menegang sesaat sebelum melemas lagi. Parjo ambruk setelah mendapat orgasme yang luar biasa. Belum pernah Parjo melakukan hubungan seks senikmat ini, kenikmatan yang diperolehnya daripara pelacur yang pernah digaulinya jelas tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkannya saat menggauli tubuh gadis secantik Bella.

“Ohhh… gila, enak banget memeknya Neng dokter..” kata Parjo lirih di telinga Bella. Bella hanya diam saja meskipun air matanya meleleh membasahi pipinya. Tapi meskipun sedih, Bella juga merasakan kenikmatan yang tiada taranya saat digauli oleh Parjo. Pacarnya sekalipun belum pernah memberikan kenikmatan begitu dahsyat seperti yang baru saja dialaminya bersama Parjo dan Pak Hasan. Karena itu Bella diam saja ketika dilihatnya Somad naik ke ranjang menggantikan posisi Parjo.

“Sekarang giliran saya Neng..” ujar Somad sambil cengar-cengir. Bella hanya menatapnya dengan tatapan sayu. Somad untuk beberapa saat hanya mengagumi tubuh telanjang Bella yang terlentang di hadapannya.

“Astaganaga, gila bodinya Neng dokter mantap banget nih, wah beruntung banget nih kita, ” kata Somad, ” Lalu tanpa ba bi bu lagi tubuh Bella langsung diterkamnya.

ngentot jilbab semok (6)

“Hmmphhh ungghhh pak… hmmph,” Bella merasa sangat sesak sekali, karena selain tubuh Somad yang gempal itu, nafas dan bau badannya sangat mengganggu, tapi Somad tidak mempedulikannya, Mulut Bella langsung dijilatnya tanpa menghiraukan rintihan Bella, lidahnya mulai berhasil menembus mulut Bella, dan selama beberapa saat keduanya saling bergulat bibir dengan ganas.

Tiba–tiba tanpa peringatan Somad langsung menjambak jilbab dan rambut Bella membuat Bella kesakitan.

“AAhhh sakit pak.” Bella merintih, Somad justru menyeringai.

‘Keluarin lidahnya Neng dokter…” Somad memberi perintah, dan dalam keadaan seperti itu Bella hanya pasrah, dijulurkannya lidahnya yang berwarna pink. Somad tanpa pikir panjang langsung mengulum lidah Bella tanpa merasa jijik sedikitpun. Lidah Bella bahkan di permainkan di mulutnya Kemudian Somad mulai meremas remas payudara Bella, ia mainkan puting susu Bella seperti orang ingin mencari gelombang radio, Somad juga menjilat-jilati puting susu Bella dan dimainkan terus sehingga puting susu Bella mengeras dan mengacung dengan indahnya, Bella kembali menegang, birahinya seperti dibakar kembali, dan tanpa sadar Bella kembali hanyut dalam permainan yang kali ini dilakukan oleh Somad. Bella hanya mampu mengerang menahan gejolaknya yang kembali menggebu.

Melihat Bella yang sudah kembali terangsang, Somad segera melepaskan celana kolornya, dan penisnya yang hitam legampun mengegang keras siap untuk dihujamkan ke dalam vagina Bella. Somad kemudian mengatur posisi kaki Bella supaya mengangkang lebar membuat vaginanya yang sudah basah itu membuka lalu Maan mngatur posisi tubuhnya tepat di depan celah kemaluan itu. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menggesek-gesekkan ujung kemaluannya di bibir vagina Bella, hal itu membuat Bella mengerang lirih. Somad kemudian mendorong pantatnya maju dengan gerakan pelan, membuat penisnya sdikit demi sedikit mendesak masuk ke dalam liang vagina Bella. Bella merasakan vaginanya seperti melebar ketika menerima penis Somad yang lebih besar dari penis Parjo, membuatnya meringis kesakitan.

“Ahhh… sakiiitt.. sakit Pak…” Bella merintih lirih. Air matanya kembali meleleh, dia berusaha melebarkan kakinya agar vaginanya bisa menanpung penis Somad.

“Sakit ya Neng..? Bentar lagi juga enak.. tahan ya Neng..” Somad berujar santai sambil menindih tubuh mulus Bella lalu mendekapnya dengan kedua tangannya yang kekar. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menarik penisnya, membuat Bella sedikit bisa bernafas lega. Tapi sedetik kemudian Somad kembali menusukkan penisnya ke dalam vagina Bella, kali ini dengan sentakan kasar.

“Ahhhkk….!!” Bella merintih sambil menggeliat, membuat tubuhnya melengkung dan tulang rusuknya seperti menjiplak di kulitnya. Tanpa sadar Bella mencengkeram punggung Somad dengan kuat membuat goresan kecil dengan kuku-kukunya. Tapi Somad tidak merasakan goresan kecil itu, konsentrasinya sepenuhnya berpusat pada kemaluannya yang sudah bersatu dengan kemaluan Bella. Sensasi luar biasa mengalir ke dalam setiap pembuluh darahnya membuat darahnya seperti menggelegak. Somad lalu mengulangi aksinya, meanirk penisnya pelan dan menghunjamkannya ke dalam vagina Bella dengan kasar. Kembali Bella menjerit lirih menerima perlakuan itu. Somad lalu mengulanginya lagi, membuat Bella kembali menjerit. Dan selama sepuluh menit kemudian yang terdengar di kamar itu adalah jeritan-jeritan lirih Bela ketika vaginanya digenjot oleh Somad dengan kasar. Rupanya jeritan Bella yang sensual itu menjadi sensasi tersendiri yang menambah kenikmatan Somad dalam melakukan persenggamaan dengan Bella.

Bella sendiri meskipun merasa tersiksa, tapi mulai bisa menikmati sensasi yang dihasilkan dari persetubuhannya dengan Somad. Pelan-pelan rintihannya berubah dari rintihan kesakitan menjadi rintihan kenikmatan. Bella perlahan juga mulai mengimbangi gerakan-gerakan Somad yang kasar dengan gerakan pinggulnya. Sensasi yang dibuat oleh Somad pada diri Bella membuat Bella tak berkutik lagi, lenguhan dari bibirnya yang mungil makin menjadi-jadi seolah meracau. Karena itu Bella tidak menolak ketika Somad memintanya berganti posisi. Somad yang masih mendekap tubuh Bella yang mulus berguling sehingga sekarang posisinya terbalik, tubuh mulus Bella yang telanjang sekarang berada di atas Somad. Somad lalu meminta Bella untuk menggerakkan pantat sehingga penis Somad yang masih mendekam di dalam vagina Bella kembali terkocok oleh jepitan vaginanya. Bella melakukannya sambil terengah-engah, Somad meresponnya dengan melumat bibir Bella yang megap-megap dengan rakus seolah berusaha menelan bibir itu mentah-mentah. Selama sepuluh menit keduanya berada dalam posisi berdekapan dan saling berpagutan bibir.

Masih tidak puas dengan gaya itu, Somad lalu bangkit dalam posisi duduk tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Bella sehingga sekarang keduanya saling menempel dalam posisi duduk di ranjang. Kaki Bella sekarang melingkari pinggul Somad, lalu keduanya bergantian menggerakkan pinggulnya membuat kemaluan mereka yang bersatu kembali terbenam dalam sensasi seksual yang menggebu. Bella mendesah penuh kenikmatan diperlakukan sedemikian rupa. Dan Somad membalas aksi Bella dengan memagut bibirnya kemudian menelusuri leher dan belahan payudara Bella dengan ciuman-ciuman, meninggalkan bekas kemerahan di bagian yang diciuminya.

Setelah bebarapa menit Somad kembali kepada posisinya semula, direbahkannya tubuh Bella dan ditindihnya kembali tubuh mulus itu. Somad kemudian menggenjotkan penisnya lagi, kali ini gerakannya teratur, membuat Bella serasa melayang ke angkasa oleh sensasi yang dihasilkan genjotan Somad. Menit demi menit berlalu, Somad masih bersemangat menggenjot Bella. Sementara Bella sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Somad. Bella merasakan ingin selamanya disetubuhi seperti ini, Bella tanpa sadar memeluk Somad dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Bella mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan kokoh Somad.

“Aaaaaahh…ooooohh !” desah Bella sambil memeluk Somad dengan kuat saat penis Somad melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Bella menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Bella membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Clara dan meremasnya kuat-kuat membuat Bella meringis kesakitan bercampur nikmat. Bella merasa dirinya seperti mau meledak. Tubuhnya bergetar dan kemudian mengejang kuat sekali.

“AHHKHHH….. OHHHHH…..” Lolongan kuat meluncur begitu saja dari bibir mungil Bella, untuk kesekian kalinya Bella mengalami orgasme gila-gilaan. Somad akhirnya menyerah, diapun kemudian melepaskan sensasi yang sedari tadi ingin dilepaskannya.

“Ahhhhh….. “ Somad melenguh penuh kepuasan saat spermanya menyembur mengisi rahim Bella.

“Minggir Mad!” Terdengar suara Pak Hasan dan Parjo, Somad yang masih dikuasasi sensasi orgasme gelagapan, dia menyingkir dan melihat Pak Hasan dan Parjo tiba-tiba naik ke atas ranjang sambil berlutut tepat di atas wajah Bella sambil mengocok penisnya. Lalu.

ngentot jilbab semok (7)

“Crtt…crt…crt….,” sperma kedua orang itu muncrat membasahi wajah Bella. Rupanya selama mereka melihat Bella disetubuhi oleh Somad, mereka kembali naik birahinya dan melakukan onani. Setelah puas menyemprotkan spermanya di wajah Bella mereka terkapar di ranjang dengan nafas terengah-engah. Dibiarkannya Bella ranjang itu, wajahnya tampak sedih dan basah oleh keringat, air mata dan cairan sperma yang sangat banyak melumuri wajahnya, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yang dialaminya dan rasa benci pada ketiga orang yang baru saja memperkosanya.

Selama sehari semalam penuh, ketiga orang itu kembali menikmati kemulusan tubuh Bella dengan berbagai macam cara. Bella dipaksa untuk melakukan oral seks sambil mengocok penis yang lain, lalu dipaksa pula untuk melayani tiga orang sekaligus. Ketiganya melakukan hal itu secara bergantian membuat Bella berkali-kali orgasme. Bella juga dipaksa untuk menari dalam keadaan telanjang bulat, lalu mereka menyuruhnya untuk menjilati penis mereka satu-persatu sambil kemudian menyemprotkan spermanya di wajah dan tubuh Bella. Baru keesokan paginya setelah semalam suntuk menggarap tubuh Bella habis-habisan mereka mengantar Bella pulang ke pondokan sambil disertai ancaman akan melakukan sesuatu yang buruk jika Bella berani buka mulut tentang perlakuan mereka semalam. Gadis berjilbab itu segera mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Sementara Pak Hasan tidak lupa untuk berpesan agar Bella setiap saat siap jika mereka ingin menikmati tubuhnya lagi.

INDAH

Sore itu aku begitu suntuk di kantor, karena sekretarisku melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga perusahaanku ditolak untuk mengikuti tender yang bernilai Rp 12M. Sekretarisku hanya menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dan dia berjanji akan melakukan apa saja untukku untuk menebus kesalahannya itu agar ia tidak dipecat olehku. Aku tidak menanggapi tangisan dan janjinya, karena perasaan dongkol di dalam dada telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai cukup besar bagi perusahaanku. Untuk menghilangkan kekesalanku, aku meninggalkan kantor berjalan kaki menyusuri jalan berusaha menghilangkan kekesalan yang melanda dada, sedangkan BMW-ku kutinggalkan di kantor.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini, kuperkenalkan terlebih dahulu identitasku. Namaku adalah Agus, umur 32 tahun dan karena keuletan dan kerja keras, saat ini aku telah berhasil sebagai direktur utama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan penyediaan barang di kota kembang Bandung. Statusku saat ini masih bujangan, karena waktuku kugunakan untuk kerja keras. Menurut teman-temanku wajahku termasuk wajah yang memperlihatkan karakter lalaki yang sangat jelas walaupun tanpa kumis dan janggut yang lebat, oleh sebab itu sudah banyak cewe yang berusaha mendekatiku dan mengajak kencan, termasuk sekretarisku yang baru saja membuatku kesal.

Namun sebagai lelaki normal, tentu saja aku membutuhkan penyaluran biologis, tapi hal itu bukanlah masalah besar bagiku. Setiap wanita yang mendekatiku selalu memberikan apa yang kubutuhkan dengan harapan agar dipilih olehku untuk kunikahi. Namun aku cukup hati-hati dalam menyalurkan arus bawah ini, karena aku tidak ingin terjebak oleh perangkap cewe-cewe yang mendekatiku.

Walaupun aku bukanlah tipe lelaki yang suci, tetapi mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat memperistri seorang wanita baik-baik khususnya yang berjilbab, karena dimataku mereka begitu cantik, anggun dan mempesona.

Kakiku terus melangkah menyusuri jalan Asia-Afrika sambil melamun. Keringat yang membasahi kemejaku membuatku kurang nyaman, kucopot dasi dan kumasukkan ke dalam saku celana, kemudian satu kancing kemeja kulepas untuk mengurangi rasa gerah. Disekitar alun-alun Bandung, aku berhenti sejenak dan membeli teh botol yang dijual dipinggir halte bis kota jurusan Cicaheum – Cibeureum. Aku meminumnya dengan rakus untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ketika menjauhkan botol dari mulutku, tiba-tiba aku terpana melihat senyuman yang dilontarkan oleh seorang gadis berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Rupanya dia melihat apa yang kulakukan pada saat aku minum teh botol dengan rakusnya, dan merasa kelakuan itu lucu sehingga ia tersenyum. Ketika dia sadar aku memandangnya terpesona, dia langsung membuang muka.

Walaupun pertemuan pandangan mata itu hanya sesaat, namun cukup menggetarkan hatiku dan melepaskan kekesalan yang sedang melandaku. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya sedetikpun, tapi dia hanya tertunduk dan sekali-sekali melihat apakah bis kota yang dinantinya ada atau tidak.

jilbab montok bohay (2)

Aku terus memperhatikannya, umurnya kuperkirakan sekitar 24 tahun dan dari pakaian yang dikenakan aku menebak bahwa ia adalah karyawati salah satu departement store yang ada di sekitar alun-alun Bandung.

Aku sadar akan kekurang ajaran tatapanku padanya, maka ikut-ikutan melihat seolah-olah sedang menunggu bis kota juga. Begitu bis kota yang ditunggu datang, dia berusaha naik, tanpa sadar aku turut naik bis kota tersebut dan tepat berada di belakangnya. Penumpang bis demikian penuhnya hingga berdesak-desakan sambil berdiri, karena bertepatan dengan waktu pulang kerja. Bis kota yang penuh sesak itu bergoyang-goyang, namun aku berusaha untuk tidak menempelkan badanku padanya, aku berusaha agar dia merasa nyaman walaupun sambil berdiri. Rupanya dia menyadari apa yang kulakukan, kemudian dia memandangku dan tersenyum manis, lalu menunduk kembali.

Serrrr… dadaku bergetar mendapat senyum manis darinya. Aku tidak ada keberanian untuk menanyainya, bahkan merasa bingung apa yang harus kulakukan. Sepanjang jalan aku hanya melamunkan bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya.

Disekitar Gang Gwan An, kulihat gadis itu turun. Karena jalanan macet, maka aku dapat terus memperhatikan langkah kakinya hingga ia belok ke arah suatu Gang. Hatiku semakin tergetar dan terpana melihatnya berjalan demikian anggunnya. Setelah dia hilang dari pandangan mata, baru aku tersadar bahwa aku sudah terlalu jauh dari kantorku. Langsung aku turun dipemberhentian selanjutnya dan ke kantor menggunakan taxi. Kemudian aku bergegas pulang ke rumahku di Margahayu Raya.

Di rumah, aku terus-menerus gelisah. Bukan gelisah memikirkan kegagalan tender, tetapi gelisah karena bayangan gadis cantik berjilbab itu terus menggodaku. Senyum manis dan tatapan mata yang teduh betul-betul menggetarkan hatiku dan tidak bisa kulupakan. Sambil berbaring dan memeluk bantal aku terus melamunkan gadis cantik berjilbab yang telah meruntuhkan hatiku… sampai aku tertidur dan memimpikan tentang dirinya.

Keesokan harinya aku ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Sekretaris dan anak buahku yang lain terheran-heran karena melihatku tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah kecewa dan marah akibat kegagalan kemarin, Sekitar jam 4 sore, dengan terburu-buru aku keluar dari kantor dan meninggalkan mobil BMW-ku, kemudian mencari taxi untuk mengantarku ke halte tempat aku bertemu dengan gadis idamanku. Aku tiba disana terlalu cepat, dengan sabar aku menantinya, hingga akhirnya gadis pujaanku datang. Jantungku berdebar sangat keras, keringat dingin keluar dari pori-poriku dan membuatku salah tingkah. Aku benar-benar bagaikan pemuda ingusan yang baru mengenal cinta.

jilbab montok bohay (3)

DEG… jantungku berhenti berdetak ketika dia memandangku dan tersenyum manis lalu menundukkan kepala. Aku semakin salah tingkah, dorongan untuk menegurnya begitu besar, namun badanku terasa kaku dan mulutku terasa terkunci. Aku hanya dapat merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan keras serta napas yang memburu. Dan seperti kemarin, hari inipun aku naik bis kota mendekati dirinya, walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Namun aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dan berdekatan dengannya. Dia turun di sekitar Gg. Gwan An kemudian aku kembali ke kantorku menggunakan taxi.

Kejadian seperti itu kulakukan setiap hari selama seminggu, namun pada minggu kedua aku tidak menemuinya ditempat pemberhentian bis kota walaupun aku mencarinya hampir setiap hari.Baru minggu ke tiga aku kembali bertemu dengannya dan dengan memberanikan diri aku bertanya padanya ketika sama-sama menunggu bis kota.“Pulang kerja Neng ?” pertanyaan basa-basi kulontarkan.

“Iya, Kang. Akang pulang kerja juga ?” dia balik bertanya.

“Iya, Neng. Eneng kerja dimana?” tanyaku lagi

“Di Matahari, kalau akang? “ dia balik bertanya

“Ah, akang mah supir di perusahaan…“ tanpa sadar kuucapkan nama perusahaanku dan alamat kantorku.

“Oohhh, akang baru kerja di sana ya?” dia mulai berani bertanya padaku.
“Iya, baru dua minggu…” jawabku berbohong, sebab aku baru dua minggu bertemu dengannya disini.

Pembicaraan terhenti, karena bis yang ditunggu tiba, kami menaikinya dan kebetulan penumpang tidak begitu ramai, sehingga ada tempat duduk kosong untuk ukuran dua orang. Kamipun duduk berdampingan.

“Ehh, ngomong-ngomong, perkenalkan. Nama saya Agus!” kataku seraya menyodorkan tangan, dia menyambut jabatan tanganku dengan lembut dan menjawab, “Indah..”

Aku terpana merasakan kelembutan tangannya dan tanpa sadar terucap “Oohhh… Indah, seindah wajah dan penampilannya.” kataku berguman.

“Ada apa, Kang ?” dia bertanya padaku karena ucapanku tak didengarnya.

Aku gugup dan dengan tergagap menjawab “Ti-tidak, anu…ehh… Namanya Indah, seindah wajah dan penampilan yang menyandangnya. Maaf…” kataku takut dia tersinggung dan menganggap aku kurang ajar.
“Ah, Akang bisa aja.” katanya sambil tersenyum . Serrrr… hatiku kembali bergetar.

Sepanjang jalan kami bercakap-cakap, aku tetap hati-hati menjaga sikap dan seperti biasa Indah selalu menundukkan wajahnya setiap setelah bertanya ataupun menjawab pertanyaanku. Perasaanku saat itu benar melayang bahagia, sehingga tanpa terasa Indah harus turun. Dan seperti biasa aku pulang sebagaimana biasa.

Hari-hari berikutnya, betul-betul merupakan hari-hari yang indah bagiku, aku selalu mengerjakan dengan cepat semua pekerjaanku. Dan sekitar jam empat, aku sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengannya. Bahkan kadang-kadang aku sudah menongkrong didepan Matahari menunggu dia keluar sehingga aku punya banyak waktu untuk ngobrol dengannya, bahkan kadang-kadang kubawa mobilku dengan alasan Boss mengijinkanku membawa mobilnya untuk alasan tertentu. Dari obrolanku dengannya, kuketahui bahwa dia sudah 1,5 tahun bekerja di sana dan dia bekerja dengan sistem shift, seminggu pagi hingga sore dan seminggu lagi sore hingga malam sekitar jam sembilan.

Sampai saat ini aku masih menjaga sikapku padanya agar dia tidak menjauh dariku. Bahkan kadang-kadang dengan alasan ingin jalan-jalan ke Matahari, Aku sengaja menemuinya ditempatnya bekerja

Sikapku yang terlihat begitu menghargai dan menghormati dirinya menimbulkan rasa simpati yang cukup besar dari dalam diri Indah. Perasaan simpati itu lambat laun berubah menjadi rasa suka dan rasa sayang yang membingungkan bagi diri Indah, namun sejauh ini hubungan itu masih tetap terjaga dari perbuatan tercela, hal itu membuat Indah semakin suka dan merasa nyaman bila berdekatan denganku, sehingga ada kerinduan dalam diri Indah jika satu atau beberapa hari tidak bertemu denganku. Namun demikian, Indah sendiri merasa bingung dan gundah dengan perasaannya pada diriku.

Sedangkan aku merasa sangat berbahagia dengan hubungan ini, walaupun hanya sebatas ngobrol didalam bis kota yang hanya beberapa menit setiap hari, namun sanggup mengisi kekosongan jiwaku selama ini.

Hubunganku dengan Indah semakin akrab dan indah menurutku, kami bisa tertawa bersama, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan kepada hal-hal pribadi diriku. Namun ada satu masalah yang masih mengganggu pikiranku, Indah selalu menghindar jika kutanyakan hal-hal pribadi dirinya bahkan menolak dengan keras jika aku ingin ke rumahnya. Dia hanya berkata, “Kang, Indah memiliki masalah yang sangat berat dan tiada seorangpun yang dapat mengurangi beban berat ini. Indah mohon Akang bisa mengerti.”

Berkali-kali aku mendesaknya untuk membantu meringankan bebannya, tapi setiap kali itu pula dia menolak dengan keras, bahkan pernah mengancam untuk tidak usah bertemu lagi, jika aku tetap memaksanya. Aku menyerah dan dalam hati aku berpikir biarlah keadaan tetap seperti ini daripada tidak bisa lagi bertemu dengannya, sebab dengan keadaan seperti inipun aku sudah merasa sangat bahagia dan tenang.

Sore ini telah masuk bulan keempat perkenalanku dengan Indah, dan aku sangat gelisah, karena hujan turun sejak siang dan sampai jam empat belum berhenti juga. Dan akhirnya kugunakan mobilku menuju Matahari tempat kerja Indah. Di tempat kerja Indah, terlihat olehku Indah sedang tertunduk ketakutan sedang dibentak dan dimarahi oleh supervisornya, karena tanpa disengaja olehnya seorang pelanggan telah merusak barang dagangan yang harganya cukup mahal, dan harus diganti oleh Indah. Kutawar barang yang sudah rusak itu untuk kubeli dengan harga normal agar Indah terhindar dari sanksi.

Supervisor menyetujuinya dan akhirnya barang itu kubayar, kemudian Indah berkata padaku tanpa sepengetahuan supervisornya. “Tunggu di depan ya, Kang, kita pulang bareng lagi.”

Aku mengangguk sambil membawa barang yang kubeli.

Aku menunggu di depan dan hujan masih turun dengan lebatnya. Tak lama kemudian Indah muncul dan berkata dengan nada khawatir. “Waduh, gimana nich? Hujannya lebat banget. Kita tungguin aja ya, Kang?”

Tapi aku mengajaknya ke tempat parkir sambil berkata, “Kita pulang sekarang aja. Akang bawa mobil Boss kok.” kemudian menuju tempat dimana BMW-ku kuparkir.

Indah berkata, ”Masa sich mobil BMW Boss, Akang bawa-bawa terus.”

“Boss sedang Diklat di Preanger selama 3 malam dan di karantina, sehingga nggak boleh kemana-mana, jadi selama 3 malam ini BMW ini boleh Akang bawa-bawa. “ kataku memberikan alasan membawa BMW.

“Oh gitu…” kata Indah mengerti.

Di sepanjang jalan, Indah meminta maaf telah merepotkanku sehingga harus mengganti barang yang rusak dan dia berjanji akan mengganti uang yang kukeluarkan. Tapi aku menolaknya dan berkata. “Nggak apa-apa, Ndah, nggak usah diganti. Kebetulan Akang dikasih tip sama Boss cukup besar, jadi barangkali itu bukan rezeki Akang.”

“Walaupun bagaimana, Indah pasti akan mengganti uang Akang.” katanya memaksa.

jilbab montok bohay (4)

“Yah terserah Indah lah.” kataku menyerah.

Setelah mobil tiba di mulut gang menuju ke rumahnya, aku mengambil payung yang ada di dalam mobil dan berniat untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Namun kembali dengan tegas dia menolak keinginanku dengan berkata, “Kang, seperti yang pernah saya katakan, jika Akang ingin kita terus bisa bertemu, Akang tidak boleh datang ke rumah saya sebelum masalah berat yang saya hadapi dapat diselesaikan. Sekali lagi saya mohon pengertian Akang. Payung ini saya pinjam dan besok saya kembalikan.” Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan diriku yang termangu kecewa.

Hari-hari berikutnya aktivitasku dengan Indah berjalan seperti biasa, namun sekali-sekali aku membawa mobilku dengan memberikan berbagai alasan padanya, bahkan Indah mulai bersedia kuajak makan sebelum kuantar pulang ke depan gang rumahnya.

Pada hari suatu hari sabtu sekitar jam 8 pagi, saat aku sedang membaca koran di ruang kerjaku, tiba-tiba hp-ku bunyi dan betapa berbunga-bunganya hati ini ternyata yang menghubungiku adalah Indah.

“Assalamu’alaikum, ada apa, ‘Ndah?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, Akang ada waktu nggak?” balasnya.

“Lagi kosong nich.” jawabku bersemangat. ”Kenapa?” lanjutku.

“Akang bisa ke sini, ke Matahari…”

Ucapannya belum selesai dan langsung kupotong. “Ok. Tunggu 10 menit. Akang kesana!” jawabku semangat, dan kututup hp dan bergegas menuju ke tempat dimana mobilku diparkir.

Tak sampai 10 menit, aku sudah tiba di Matahari dan menemuinya. Setelah bertemu, Indah menjelaskan. “Seharusnya hari ini Indah masuk pagi, tapi teman Indah minta tukeran jadwal, karena nanti malam ada acara yang sangat penting. Indah setuju karena ingin membantu teman. Tapi sekarang Indah bingung, di rumah suntuk, sedangkan masuk kerja nanti sekitar jam 3.30 sore. Gimana nich?”

“Kita jalan-jalan aja, kebetulan Akang bawa mobil karena tadi pagi Akang baru mengantar boss ke Bandara, besok pagi baru Akang jemput,” usulku.

“Jalan-jalan kemana, Kang?” tanyanya ragu-ragu.

“Bagaimana kalau ke Tangkuban Perahu, nanti sebelum jam 4 sore kita udah disini lagi.” usulku lagi.

“Bolehlah, Kang.” jawabnya setuju. Lalu kami menuju ke mobilku berangkat ke arah utara kota Bandung.

Di tengah perjalanan kutanyakan padanya kenapa suntuk di rumah dan dia tidak mau menunggu di rumah saja hingga menjelang sore.

“Masalah yang dihadapi Indah makin berat aja sehingga akan semakin suntuk kalo Indah pulang ke rumah. Indah pingin ngobrol agar rasa suntuk ini berkurang.” jawabnya.

“Kenapa sich Indah tidak mau ngasih tahu Akang tentang masalah yang sedang dihadapi? Mungkin Akang bisa bantu meringankan.” tanyaku.

“Nanti pada waktunya akan Indah terangkan dan rasanya sekarang Indah belum sanggup menjelaskan ke Akang, maaf ya, Kang.”

Aku hanya menghela napas panjang dan tak berani menanyakan lebih lanjut. Dan akhirnya ganti topik pembicaraan.

Sepanjang perjalanan hatiku berbunga-bunga, karena baru kali ini aku bisa berlama-lama bersama dengannya dan terlihat olehku, walaupun dari sorot matanya dia seperti memendam masalah yang berat, namun tidak mampu menyembunyikan keanggunan dan kecantikan wajahnya. Dadaku berdebar-debar keras, tapi aku sangat menikmati suasana debaran jantung yang membuat napasku terasa berat dan sesak ini.

Kurang lebih 40 menit kemudian, kami telah tiba di Tangkuban Perahu. Kuparkirkan mobilku tak jauh dari kawah Ratu dan berjalan-jalan menikmati pemandangan indah kawah tersebut.

Terkadang tangannya kupegang sehingga kami tampak bagaikan sepasang suami istri yang sedang berlibur. Kami sangat menikmati suasana ini, dan tanpa kami sadari pegangan tangan kami semakin erat mengalirkan getar-getar nikmat diseluruh peredaran darahku, mungkin juga Indah merasakan hal yang sama denganku sebab seringkali tanganya meremas-remas erat tanganku. Kami duduk di tempat yang memiliki view keindahan kawah yang indah tersebut dan mengobrol sambil berpegangan tangan, hawa dingin tangkuban perahu seolah tidak kami rasakan.

Karena saat itu adalah musim hujan, maka langit mendung dan makin lama makin pekat menghitam seolah-olah akan segera turun hujan. Namun kami yang sedang asyik ngobrol seolah tidak menghiraukan keadaan cuaca tersebut. Sehingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Kami tersentak dan langsung berlari menuju tempat berteduh, tetapi posisi kami berada jauh dari kios-kios pedagang bahkan lebih dekat ke areal parkir, maka kuputuskan untuk berteduh di dalam mobilku. Badan kami basah kuyup ketika kami masuk ke dalam mobil karena cukup jauh kami kehujanan. Diluar, hujan semakin lebat dan kami mulai kedinginan, karena mengenakan pakaian yang basah oleh air hujan ditambah lagi dengan dinginnya hawa gunung Tangkuban Perahu.

Untuk mengurangi rasa dingin dari bajuku yang basah, dengan meminta maaf padanya kubuka bajuku dan kuperas bajuku agar seluruh air yang menempel dibajuku keluar lalu kuhanduki tubuhku dengan handuk yang biasa aku bawa di dalam mobil. Indah memandang dadaku yang telanjang, selintas kulihat ada tatapan kagum melihat tubuhku yang atletis. Dia terpana melihat tubuhku yang basah kemudian tertunduk. Entah apa yang ada dipikirannya

Aku kasihan melihat Indah mengigil kedinginan, kutawarkan handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya dan kutawarkan pula jaket yang selalu ada didalam mobilku untuk dia kenakan. Indah menerima handuk dan jaket yang kutawarkan, namun sejenak dia bingung. Aku paham yang dibingungkannya, lalu berkata, “Ganti aja baju basahmu dengan jaket itu di jok belakang. Aku tidak akan melihat pada saat kamu buka baju.”

Indah memandangku sejenak dan karena rasa dingin semakin menusuk tulangnya maka dia berkata, “Awas lho… Akang nggak boleh ngintip waktu Indah buka baju.“

Aku mengangguk, kemudian dia beranjak ke jok belakang dan membuka baju basahnya untuk diganti dengan jaket yang kuberikan. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha untuk tidak mengintip, tapi dari kaca spion yang ada di atas kaca depan, terlihat olehku dia membuka baju basahnya dengan tergesa-gesa.

Napasku sesak dan jantungku berdebar kencang, ketika dari kaca spion terlihat betapa putih dan mulusnya tubuh gadis berjilbab itu. Dan Indah tidak sadar bahwa aku dapat melihat dia bertelanjang dada, hanya tertutup oleh bh krem yang menopang buahdada yang montok dan ranum serta jilbab basah yang menutupi kepalanya. Dengan perlahan dia mulai mengeringkan badannya dengan handuk dan napasku semakin memburu dan gairahku bangkit dengan cepat melihat pemandang indah itu.

Setelah badannya dirasakan cukup kering, maka Indah mulai mengenakan jaket yang kuberikan sementara baju basahnya dia peras dan digantungkan di jok depan menggantung ke belakang. Kemudian berkata, “Sekarang sudah agak mendingan, tidak terlalu kedinginan seperti tadi. Makasih, Kang.”

Aku tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhku ke belakang sehingga dapat menatap tubuhnya yang sudah mengenakan jaketku, sementara jilbab dan rok panjang yang basah masih dia kenakan.

Aku mengeluh dalam hati, Uhhh… gadis ini memang luar biasa cantik. Menggunakan pakaian apa saja tetap saja terlihat cantik. Aku terpana memandangnya tanpa berkata-kata membuat Indah malu dan berkata, ”Ada apa sich, Kang, melihat Indah seperti ada yang aneh?”

“Ah nggak.” jawabku malu.

Sambil menunggu hujan yang kian lebat, kami mengobrol banyak hal. Namun posisi tersebut membuatku kurang nyaman, akhirnya aku melangkahi jok depan untuk pindah ke jok belakang. Indah tidak protes ketika aku pindah ke jok belakang sehingga duduk kami berdampingan. Hawa gunung tangkuban perahu yang dingin menusuk tulang ditambah lagi dengan hujan lebat yang tak kunjung reda, membuat badannya menggigil kedinginan apalagi aku yang pada saat itu sedang bertelanjang dada, sehingga tanpa kami sadari duduk kami semakin rapat dan kedua tanganku memegang kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Perlahan namun pasti, ada hawa lain yang menyertai rasa dingin yang kami alami, yaitu suatu hawa yang membuat peradaran darah kami mengalir dengan cepat disertai dengan getaran-getaran yang mulai menghangatkan tubuh serta menarik kedua tubuh kami semakin rapat, tanpa kami sadari napasku semakin memburu demikian juga deru napas Indah semakin jelas terdengar. Dingin yang kurasakan semakin berkurang tergantikan dengan dorongan gairah yang meronta-ronta. Aku tak tahu, apakah Indah juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kepala kami, makin lama semakin mendekat hingga suatu ketika kulihat dengan napas yang terengah-engah Indah menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk mengecup bibir sensual yang menantang tersebut. Pertemuan bibir itu terasa kaku, namun hanya beberapa detik dilanjutkan dengan hisapan-hisapan yang membuat perasaanku melayang-layang, beberapa detik kemudian Indah mulai membalas hisapan bibirku dengan gairah yang sama, sehingga kedua bibir kami saling hisap dan saling kecup. Gairahku semakin meninggi dan tubuhku mulai terasa panas menggantikan dingin yang tadi kurasakan.

Indahpun semakin bergairah menciumku dan lidahnya mulai menerobos mulutku sehingga kedua lidah kami saling bertemu dan saling menjilat. Ciuman itu semakin panas, kedua napas kami semakin terengah-engah didorong oleh nafsu yang semakin menggebu, tanpa kami sadari tanganku telah memeluk tubuhnya dengan sangat erat demikian juga Indah, tangannya memeluk, membelai dan mengusap punggungku yang telanjang.

Tiba-tiba, dengan napas yang masih terengah-engah. Indah melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku serta berkata, ”Apa yang kita lakukan, Kang? Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh.” katanya terbata-bata seperti ketakutan.

Aku terkejut dan menghentikan cumbuanku. Aku tidak ingin memaksakan gairahku padanya, takut hal itu menyakiti hatinya, karena Aku mencintai Indah sejak pertama kali bertemu. Dengan nafas yang masih memburu, aku berkata, “Tahukah, Ndah? Bahwa Akang sudah jatuh cinta ke Indah sejak pertama kali melihat Indah mentertawakan kelakuan Akang di halte bis 4 bulan yang lalu. Oleh sebab itu akang selalu ingin bertemu dengan Indah.”

“Indah juga suka ke Akang… dan Indah tahu bahwa Akang suka ke Indah, tapi Indah takut, Akang akan kecewa. Indah tidak pantas dicintai oleh Akang.” setelah berkata demikian, Indah menangis tersedu-sedu seperti ingin menumpahkan segala beban yang dideritanya.

Aku terkejut dengan perkataannya dan berkata dengan suara bergetar “Apanya yang tidak pantas, apa karena Akang hanya seorang supir sehingga Indah merasa tidak pantas?”

Indah terkejut mendengar ucapanku dan memelukku serta merebahkan kepalanya di dadaku sambil berkata, ”Bukan. Bukan itu. Ohhh, kenapa jadi begini?” terlihat Indah sangat bingung dan kembali menangis bahkan lebih tersedu-sedu.

Aku semakin heran dan bingung, sambil mengelus-elus jilbabnya aku berkata dengan lembut “Kalau gitu, apa dong?” tanyaku sambil terus membelai-belai kepalanya yang terhalang jilbab agar dia merasa aman dan nyaman.

Lama Indah tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya sesenggukan di dadaku. Tak lama kemudian dengan suara bergetar dia berkata. “Indah suka ke Akang, Indah juga ingin selalu bertemu dengan Akang, dan Indah merasa aman dan nyaman berdekatan dengan Akang, tapi…”

“Tapi apa, Ndah?” tanyaku memaksa.

jilbab montok bohay (5)

“Saya mohon, Akang jangan memaksa, yang penting Akang sudah tahu… Indah suka ke Akang dan selalu merindukan Akang.” katanya lagi sambil menyusupkan kepalanya di dadaku. Aku tidak mau memaksanya lebih lanjut, yang penting saat ini aku sudah tahu bahwa Indah ternyata suka padaku dan selalu merindukanku. Dan hal itu merupakan jawaban yang cukup membahagiakan bagi diriku. Maka aku memeluknya semakin erat.

Lambat laun gairahku dan gairahnya mulai bangkit melawan hawa dingin yang kembali menyerang kami. Aku mulai mencium kepalanya, bergeser ke kening, Indah memejamkan matanya dan napasnya semakin memburu.

Kuciumi matanya yang kiri dan kanan, dan nampaknya Indah menikmati apa yang kulakukan. Kugeser lagi bibirku hingga mencium pipinya yang kiri dan kanan hingga akhirnya mulut Indah terbuka sambil memejamkan mata. Kusambut bibir indah yang terbuka itu dan langsung kuhisap dan kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir dan bagian dalam mulut. Diluar dugaanku, Indah menyambut ciumanku kali ini dengan hangat dan lebih bergairah, dengan napas terengah-engah penuh gairah, bibir Indah balas menghisap dan menjilat bibirku, kedua tangannya merayap membelai punggung dan dadaku.

Kembali badanku melayang diombang ambing oleh kenikmatan percumbuan ini. Secara perlahan, sambil berciuman dengan penuh gairah tangan kananku menarik sleting jaket yang menutupi dadanya, tangannya menahan dengan ragu tanganku, namun tidak ada penolakan yang berarti ketika tanganku terus bergerak menarik sleting hingga kebawah, tanganku mulai merayap mengusap kulit perut yang halus dan ramping, tanganku terus bergerak ke atas hingga mengusap dan membelai dada yang tak tertutup bh.

“Uhhh… euh…” Indah melenguh disela-sela ciumanku merasakan nikmat ketika dia rasakan telapak tanganku meremas buah dadanya dengan penuh gairah dari balik bh-nya.

Lenguhan itu membuat gairahku semakin terpompa, kembali kuremas buah dada itu. “Uuh… oohhh…” kembali dia mengeluh. Rasa dingin sudah tak kurasakan lagi tergantikan oleh hawa panas yang keluar dari dalam tubuh kami. Tanganku merayap kepunggung dan menarik pengait bh hingga terlepas, kemudian menarik bh itu ke atas hingga buah dadanya putih, mulus dan montok terpanpang jelas didepan mataku. Mataku nanar memandang keindahan itu, dan napasku semakin sesak dihimpit oleh gairah yang semakin menggebu.

Tangan kananku meremas-remas buah dada indah itu dengan penuh nafsu. ”Uhhh… Ohhh…” kembali Indah melenguh nikmat sambil mendongakkan kepala. Mulut turun kebawah menyusuri dagu, kemudian leher yang masih tertutup jilbab, lalu ke dadanya yang putih mulus, kukecup, kuhisap dan kujilat permukaan dada itu, kembali Indah melenguh. ”Ouh… Kang… ouh…”

Bibirku semakin mengulas menuju buah dada yang montok sekal menggemaskan, Indah semakin mengerang nikmat. Hingga akhirnya bibirku menghisap dan menjilat-jilat putting susunya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar dan erangan nikmatnya semakin nyaring ketika lidahku menjilati dan memilin putting susu yang semakin keras menjulang. Sambil lidahku mempermainkan putting susunya, kedua tanganku berusaha mencopot rok basah yang masih dikenakan Indah. Kembali tangan Indah menahan ragu, tapi nampaknya gairah nafsu sudah membakar tubuhnya, sehingga tangan itu membiarkan ketika tanganku mulai menarik rok panjang tersebut, bahkan pantatnya diangkat turut membantu agar rok tersebut dapat lepas dengan mudah dari tubuhnya.

Kembali tanganku merasakan permukaan paha yang sangat lembut dan halus, kemudian kubelai kemulusan paha Indah yang kiri dan kanan secara bergantian, gairah Indah semakin meninggi dan dirinya semakin merasa melayang dibuai nikmat. Dan tiba-tiba badannya bergetar keras dan dari mulutnya keluar erangan nikmat yang cukup panjang ketika tanganku menggesek-gesek vaginanya dari balik Cd yang ia kenakan. “Euuuhhhhh… euhhhhhhhh… auhhh… auh…” Permukaan cd itu semakin basah oleh cairan gairah yang keluar dari vaginanya, ketika tanganku berusaha menarik cd yang ia kenakan, kali ini tidak ada lagi penolakan, bahkan tangannya membantu melepaskan cd tersebut.

Tangan kananku langsung aktif membelai dan menekan-nekan vagina Indah yang semakin basah. Dan erangan nikmat semakin nyaring terdengar dan tak putus-putus, hingga akhirnya badannya melonjak-lonjak keras disertai dengan teriakan-teriakan nikmat ketika jari tengahku mengocok-ngocok liang vagina yang licin namun sempit memijit dan mengurut-ngurut jari tengahku yang berada di dalam liang vaginanya. Jari tengahku semakin semangat mengocok, memutar dan mengait-ngait seluruh ruangan di liang vagina yang dapat dicapai oleh jariku.

Mata Indah semakin mendelik, dan napasnya semakin terengah-engah seperti kehabisan napas disertai dengan teriakan-teriakan nikmat yang tiada henti. “Auh… Kang… auh… euhhh… auww… oohhhh…”

Tanganku semakin lincah mengexploitasi setiap relung vagina Indah sedangkan bibirku semakin bernafsu menghisap, menjilat serta memilin-milin putting susu yang luar biasa indahnya. Tubuh Indah semakin berkelojotan menahan nikmat yang kuberikan, hingga akhirnya kelojotan itu semakin keras dan semakin keras diakhiri dengan teriakan panjang tercekik.

”Aaaaaakkkhhhhhhhssss…” badannya melenting kaku, kepala terdongak dan mata terbeliak, lalu terjadi perut dan pantatnya berkedut-kedut keras serta jari tengahku seperti dipijit, diremas dan duhisap-hisap dengan sangat keras. Setelah itu badannya terhempas lemah di sandaran jok belakang mobil dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang terpejam serta bibir yang menampakkan seulas senyum rasa puas yang teramat sangat.

Kucabut jariku tengahku dari liang vaginanya yang semakin banjir kurasakan, tanpa keraguan sedikitpun kujilati jariku yang basah oleh lendir kenikmatan dari vagina Indah.

Indah memandang apa yang kulakukan, dengan lemah tangannya menarik jari tengah yang sedang kujilati lalu dia menjilati dan menghisap jari tengahku seperti orang yang makan permen lolipop dengan nikmatnya dengan napas yang masih terengah-engah kecapaian..

Cukup lama Indah menghisap dan menjilati jari tanganku hingga perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan napasnya yang kembali memburu dan Indah mulai menjilati dada dan putting susuku. Aku melayang diperlakukan seperti itu, kemudian tangannya berusaha membuka celana panjangku, kubantu melepaskan celana panjang sekaligus dengan cd yang kukenakan. Indah terpana memandang penisku yang menjulang tegang dan keras.

Kakinya melangkahi pinggulku, sambil mencium bibirku dengan sangat bergairah, tangannya memegang penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat dimulut liang vagina yang licin dan basah.

Blesss…. Perlahan-lahan penisku menembus vaginanya, sangat perlahan karena sangat sempit walaupun sangat basah dan licin.. Seeerrrr rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh peredaran darahku membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Indah semakin menekan pantatnya dalam-dalam hingga seluruh batang penisku ditelan oleh vaginannya yang sempit menjepit dan menghisap-hisap penisku.

“Uhh…” aku mengeluh nikmat, vagina Indah terus-menerus memijit dan menghisap penisku mendatangkan nikmat yang tiada henti sehingga aku terus menerus mengerang nikmat. Gerakan Indah makin lama semakin cepat, dan vaginanyapun semakin keras menghisap-hisap penisku. Kepala Indah terdongak kebelakang sambil mengerang nikmat, kedua tangannya merengkuh bahuku dan gerakannya semakin liar tak terkendali.

Akhirnya badannya melenting kaku dan mulutnya melepaskan teriakan panjang melepas nikmat. “Aaaaakkkkkkkhhhhss….” Kemudian tubuhnya ambruk menindih dada dan bahuku. Sedangkan penisku merasa nikmat yang teramat sangat karena vagina Indah memijit, meremas dan menghisap dengan keras pada saat dia mencapai puncak.

Aku merasa orgasmeku akan datang, oleh sebab itu kubaringkan dia dijok mobil dan kubuka paha dan kuangkat betisnya dan blesss…! Kembali penisku menerobos liang vagina yang makin basah dan licin, tapi anehnya tetap sempit menjepit nikmat batang penisku. Aku mulai mengocok penisku keluar masuk liang vaginanya. Gairah Indah bangkit kembali dan mengimbangi gerakanku sehingga rasa nikmat semakin cepat menjalar disekujur tubuhku.

Gerakan tubuhku semakin menghentak-hentak keras tak terkendali disambut dengan hentakan yang tak kalah kerasnya dari tubuh Indah, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang sangat besar mengalir dari pangkal penisku dan badanku melenting kaku. “Akkkhhhh… “ aku menjerit melepas nikmat. Cretttt… Cretttt… Cretttt…!!! sperma kentalku terpancar dengan keras di dalam vagina Indah.

Dan seperti terpicu oleh semprotan spermaku, tubuh Indahpun kembali melenting sambil menjerit melepas nikmat dan terjadi pada tubuh Indah sehingga vaginanya kembali meremas, memijit dan menghisap-hisap penisku dengan kerasnya. Aku merasa seolah-olah vaginanya menyedot habis seluruh cadangan sperma yang ada di penisku, hingga akhirnya aku ambruk menindih tubuh Indah yang basah oleh keringat.

Aku bangkit dari atas tubuh Indah dan menyandar pada sandaran jok, sambil mengatur napas yang terengah-engah. Selama beberapa menit kami terdiam menikmati sisa-sisa nikmat yang masih terasa dan memulihkan napas yang secara perlahan-laha mulai teratur kembali. Walaupun di luar hujan masih sangat lebat, namun saat itu kami sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan kami merasa kegerahan.

Setelah kesadaran kami pulih, tiba-tiba Indah menjerit tertahan sambil menutup buah dadanya dengan jaket yang masih dikenakannya “Aahhh…!!!” Dan tangannya yang lain berusaha menutup vaginanya serta merapatkan kaki.

“Ada apa, sayang?” tanyaku heran.

Indah tidak menjawab, hanya dengan tergesa-gesa ia mengenakan Cd dan rok panjang yang masih basah oleh air hujan, kemudian dia berkata. “Ohhh, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, maafkan aku… maafkan aku.” terus menangis sesenggukan.

Aku bingung dengan apa yang dipikirkannya dan tak sanggup berkata-kata, kemudian aku berusaha membelainya di bergeser menjauh sambil tetap sesenggukan, akhirnya kudiamkan dirinya melepaskan tangis sedangkan aku berdiam diri melamun bingung.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat kerjanya karena waktu telah menunjukkan jam 13.30. Sepanjang perjalananan pulang kami lebih sering membisu dan terasa sangat kaku. Hingga sampai di tempat kerjanya, Indah lebih sering diam membisu dengan wajah yang menampakkan setumpuk kegundahan.

***

Beberapa hari setelah kejadian mengesankan di Tangkuban Perahu, Indah seperti yang menghindar dariku, berkali-kali kujemput, tidak pernah mau menemuiku.

jilbab montok bohay (6)

Hal itu membuatku gelisah tak menentu. Aku menjadi kelimpungan dibuatnya. Di kantor aku menjadi mudah marah, hampir semua anak buahku kumarahi jika mereka berbuat kesalahan walaupun kesalahan yang sepele. Perubahan sikapku ini membuat aneh anak buahku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegelisahanku demikian memuncak, sehingga kuputuskan untuk mendatangi rumahnya dan aku mulai mencari informasi dimana alamat rumahnya pada teman sepekerjaannya. Namun baru saja aku bertanya pada teman sepekerjaannya, Indah datang menemuiku dan berkata, “Kang, kita harus bicara!”

“Kapan?” tanyaku pula.

“Nanti, setelah pulang kerja.” jawabnya.

Masa penantian yang hanya 1 jam saja, terasa bagaikan bertahun-tahun, sehingga akhirnya masa penantian itupun berakhir. Indah keluar menghampiriku. “Yuk, Kang!” katanya.

“Mau kemana kita?” tanyaku.

“Kemana aja, yang penting kita bisa ngobrol.” sahutnya.

“Bagaimana kalo kita ke ‘Tea House’ Dago?” usulku.

“Terserah Akang!” jawabnya lagi.

Akhirnya aku membawanya ke Tea House, yaitu suatu tempat makan atau minum di daerah Dago Utara dengan suasana yang sangat nyaman dan indah. Setelah tiba, kami masuk ke saung-saung yang tersedia dan memesan manakan dan minuman ringan.

“Kenapa sich, Indah susah ditemui akhir-akhir ini. Lagi ngambek yah ke Akang?” tanyaku memecah kebisuan.

“Maafkan Indah, Kang! Akang tidak salah. Indah sengaja menjauhi Akang, karena Indah takut terlalu dalam mencintai Akang.“ jawabnya dengan nada perlahan penuh kesedihan.

“Mengapa Indah takut mencintai Akang? Bukankah Indah juga tahu bahwa Akang sangat mencintai Indah ? Bahkan Akang merasa sangat bahagia kalau tahu Indah begitu dalam mencintai diri Akang.” jawabku sambil tersenyum dan meraih pundaknya dan mendekapnya.

Indah membiarkan tubuhnya direngkuh olehku dan meletakkan kepalanya di dadaku, melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Kemudian berkata, “Tapi, tetap saja Indah merasa takut. Karena semakin lama, Indah makin mencintai Akang. Dan ini sebenarnya tidak boleh.” katanya pelan.

“Udahlah, nggak perlu takut. Bukankah Indah pernah bilang, kita jalani aja hubungan seperti ini, Akang tidak akan mendatangi rumah Indah dan bertanya tentang pribadi Indah, kalau Indah tidak mengijinkan. Percayalah, Ndah! Akang cukup bahagia dengan keadaan seperti ini, walaupun terasa janggal. Akang akan menunggu keikhlasan Indah untuk hal-hal yang lebih lanjut.” kata-kataku meluncur menenangkan dirinya sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta?

Ya, aku merasa bahwa aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya, walaupun aku belum tahu siapa dia sebenarnya.

Selanjutnya, obrolan diisi dengan curahan rasa cinta masing-masing diselingi kecupan mesra. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu, demikian juga nampaknya dengan Indah. Wajahnya bersinar semakin cantik dan anggun, dia selalu tersenyum manis setiap kali bicara, dan bibirnya begitu menggoda setiap kali dia bicara, sehingga berkali-kali kukecup bibirnya dengan gemas. Dan nampaknya Indah begitu bangga dan bahagia menerima perlakuanku tersebut.

Tak terasa waktu telah memasuki waktu magrib, maka kami segera pulang. Dan seperti biasa aku mengantarnya sampai depan gang rumahnya.

***

Selanjutnya hari-hariku kembali ceria dan tidak ngambek-ngambek lagi di kantor, dan perubahan ini tentu saja menggembirakan anak buahku, sehingga semangat kerja mereka muncul kembali.

Dua minggu setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, aku mengajaknya jalan-jalan pada hari dimana dia OFF. Saat itu aku mengajaknya menikmati keindahan situ Cileunca di daerah Pangalengan – Bandung Selatan. Kami ketemuan di depan tempat dia kerja. Sebelum menemuinya aku ke kantor terlebih dahulu dan mendelegasikan semua pekerjaan kepada anak buahku. Kemudian aku menjemputnya sekitar jam 09.30 dengan menggunakan sepeda motor inventaris kantor.

Sepanjang perjalanan, dia mendekapku dengan mesra dari belakang, desiran darahku membuat perasaanku melayang ketika kurasakan punggungku dihimpit oleh buah dadanya yang montok. Kurasakan perjalanan Bandung – Pangalengan demikian singkat, karena tanpa terasa kami sudah tiba di Situ Cileunca.

Kami menikmati keindahan alam situ Cileunca sambil bergandengan tangan dengan mesra bagaikan pasangan suami istri yang sedang dalam masa bulan madu, naik perahu, jalan-jalan diantara kebun teh dan bercanda tawa selama menikmati keindahan alam ini.

Mendekati tengah hari aku mengajak Indah ke villa milikku yang berada di daerah tersebut, kusebutkan bahwa aku udah janjian untuk mengunjungi teman di daerah tersebut. Indah mengikuti saja kemana aku ajak, karena dia benar-benar menikmati dan merasa bahagia dengan kebersamaannya denganku saat itu.

Ketika tiba di depan gerbang villa, aku langsung menghubungi penjaga villa dan kubisikan agar ia bersandiwara seolah-olah aku adalah teman dari si pemilik villa dan memberikan sejumlah uang untuk menyiapkan makanan dan minuman. Penjaga villaku cepat tanggap akan situasi yang kuinginkan.

Dia berkata padaku dihadapan Indah. “Wah sayang, Pak Agus! Pak Dedi pergi ke Majalaya dan pulangnya besok, tapi beliau berpesan bahwa kalo Pak Agus datang disuruh istirahat aja dulu.”

“Wah, gimana nich, Ndah? Temanku pergi, tapi kita istirahat aja dulu yach?” kataku pada Indah.

Indah hanya mengangguk setuju. Kami pun masuk ke villa tersebut diantar oleh penjaga villa tersebut. Dan tak lama kemudian istri penjaga villa menyuguhkan makanan dan minuman yang masih hangat, kemudian mempersilahkan kami menikmati hidangan tersebut sementara mereka kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua. Tapi sebelum meninggalkan kami, penjaga villa tersebut berkata, “Kalo perlu apa-apa, hubungi mamang aja ke rumah, Mamang pamit dulu!”

“Terima kasih, Mang!” kataku.

Sepeninggal mereka, Kamipun menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan tentang komentar kami akan keindahan alam di sekitar situ cileunca dan juga tentang nikmatnya masakan khas daerah tersebut yang baru saja kami nikmati.

Setelah dirasakan cukup rileks, kami menuju balkon yang terletak di lantai 2 dan memiliki view situ cileunca dari kejauhan, sehingga terlihat keindahan situ cileunca yang dikelilingi oleh perkebunan dan gunung-gunung. Kami duduk berdampingan di kursi panjang, tangan kananku memeluk pundaknya, sedangkan kepala Indah disandarkan ke pundakku.

“Ndah, betapa bahagianya Akang saat ini, apakah Indah merasakan hal yang sama seperti Akang?” tanyaku sambil mengecup keningnya

“Kebahagiaan Indah sukar diucapkan dengan kata-kata, Kang. Pokoknya mah banget.” jawab Indah sambil wajahnya menoleh terhadapku. Bibirnya mencari bibirku dan memberikan ciuman yang hangat penuh rasa cinta padaku. Aku membalas ciumannya, dengan menghisap dan mengecup bibir tipisnya yang menggemaskan. Cukup lama bibir kami saling mengecup dan menghisap, sampai akhirnya Indah berusaha melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan napas.

Tanpa kami sadari napas kami sudah tersengal-sengal dipacu oleh nafsu birahi yang mulai merasuki diri kami. Sehingga tak lama kemudian kami berciuman kembali, namun kali ini, ciuman yang terjadi adalah ciuman yang sudah dirasuki oleh nafsu birahi sehingga terasa begitu panas bergelora dengan napas yang terengah-engah.

Rangsangan yang kurasakan semakin tinggi, dan kubisikan padanya. “Ke kamar, yuk!”

Indah menatapku penuh harap dan mengangguk lemah. Aku berdiri dan menuntunnya untuk menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, kemudian kembali berciuman, dan ciuman kali ini jauh lebih bergelora dibandingkan dengan yang tadi kami lakukan, sambil berciuman dan mempermainkan lidah, tangan kananku mulai meremas buahdadanya yang montok dari balik bajunya.

Ciumannya terlepas dan terdengar erangan nikmat dari bibirnya dengan mata yang terpejam rapat. “Euhhh… Uuhhhh…“ Erangan yang keluar dari bibirnya yang tipis memberikan rangsangan yang semakin tinggi bagiku, napasku semakin menggebu demikian juga dengan napasnya, helaan napas kami bagaikan sedang berpacu, saling menghela dengan terengah-engah. Tubuh kami terasa panas, mengalahkan hawa dingin pegunungan daerah Pangalengan.

Jilbab yang dikenakannya kusut masai, maka secara perlahan kulepas jilbab tersebut, Indah hanya diam saat jilbabnya terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, lalu kuciumi lehernya yang jenjang dan menggairahkan. Indah menggelinjang dan terdongak sehingga lehernya semakin terbuka dan kuhisap-hisap penuh nafsu, mata Indah terpejam menikmati rangsangan yang kuberikan.

Secara perlahan, aku mulai berusaha melepaskan gaun yang dikenakannya. Indah membantu melepaskan gaun tersebut terlepas dari tubuhnya. Mataku berbinar dan terpana menatap tubuh mulus dan halus dari bagian atas tubuh Indah yang terbuka dan hanya secarik bh krem yang menutupi buahdadanya yang montok.

Kuciumi dan kujilati perut Indah yang rata dan halus bagai porselen. Setiap kukecup dan kujilati permukaan perut Indah, terlihat otot-otot perutnya tergetar seolah teraliri oleh arus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Indahpun semakin mengerang nikmat sambil menggeliat. “Uhhh… ouuhhhh… Kang… Kang… ouhhh…!”

Erangan nikmat itu semakin merangsang diriku, dan tanganku berusaha melepaskan bh krem yang menghalangi keindahan buahdadanya. Begitu terlepas, kedua tanganku langsung meremas-remas buahdada yang montok itu. Indah semakin menggelinjang nikmat dan mengerang semakin keras. “Ouh… Kang… Ouh… Kang…“ Kepalanya terdongak dengan mata terpejam dan tubuh yang melenting serta kedua tangan yang bergerak kesana-kemari mencari pegangan dan akhirnya meremas sprey dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

Lidahku terus mengulas permukaan perutnya yang halus bak pualam, sementara Indah terus menerus mengerang dan meregang dan napas yang tersengal-sengal. Dengan penuh nafsu lidahku merayap ke atas, kearah buah dadanya yang montok. Indah semakin mengerang, “Ouhh…!“ tubuhnya semakin menggeliat, putting susunya menonjol keras dan runcing.

Jari-jari tangan kananku memilin-milin putting susu sebelah kiri, tubuh Indah semakin bergetar dengan erangan yang semakin bergemuruh. “Euhhh… Ouh… kang… kang…”

Lidahku menghisap dan mengecup permukaan buah dada di sekitar putting susu yang semakin menonjol, geliat tubuh Indah semakin keras dan menggeliat dengan erangan nikmat yang tak terputus-putus serta napas yang semakin tersengal. Dan akhirnya lidah dan bibirku mulai mengecup dan menghisap putting susu yang semakin menonjol, tubuh Indah semakin melenting dan cengkraman jari-jari tangannya pada sprey semakin kuat menahan rasa nikmat yang tak terperi, kepalanya terdongak semakin dalam. “Auh… Ahhh… Kang…”

Napasku semakin terengah-engah terdorong oleh nafsu yang semakin menggebu, kedua tanganku mulai melolosi rok panjang dan cd yang dikenakannya. Pantat Indah terangkat memudahkan tanganku melepaskan sisa pakaian yang menempel pada tubuhnya. Napasku semakin tersengal-sengal dengan pandangan mata yang semakin nanar, terpukau oleh kemulusan dan keindahan tubuh bugil Indah yang semakin memompa gairahku

“Ohhh… “ mulutku berguman kagum akan keindahan ini. Tanpa ragu wajahku langsung mengarah ke selangkangan Indah dan dengan penuh nafsu aku menjilati dan mengecup vagina Indah yang ditutupi oleh jembut yang halus dan menggairahkan.

Tubuh Indah bergetar keras seperti teraliri listrik ribuan volt dengan tubuh yang melenting kaku dan jeritan keras. “Akkkkhhhs…” Begitu lidahku menyusuri lipatan vaginanya yang bahsah dan harum menggairahkan. Setiap lidahku menyusuri lipatan vagina dan berhenti di klitoris yang menonjol keras, tubuh bergetar dan mengeliat serta mengerang cukup keras, “Akkhhhsssss…”

jilbab montok bohay (7)

Dengan cepat dan penuh gairah, lidahku kukorek-korekan ke dalam liang vagina Indah yang terasa asin dan gurih. Kedua kaki Indah menghentak-hentak dan tubuh menggeliat serta kepala yang semakin terdongak, hingga akhirnya tubuh Indah melenting kaku bagaikan ulat yang tertusuk duri diserta jeritan nikmat yang sangat panjang dengan napas yang tercekik. “Aaaaaaakkkkkkhhhhhsssss…!!!”

Lidahku terasa bagaikan dijepit oleh dinding-dinding vagina yang berkontrkasi sangat kuat, dan akhirnya tubuh Indah terhempas bagaikan layangan putus, deru napasnya tersengal-sengal seperti kehabisan napas lalu terkulai lemas. “Ouhhhh… Kang, nikmat banget… ouhhh…” katanya sambil menghembuskan napas panjang penuh kepuasan.

Pakaian yang kukenakan basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-poriku. Kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sementara Indah masih terbaring lemah sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang baru diraihnya.

Setelah tubuhku bugil, kembali aku merangkak mendekati tubuh Indah yang tergolek lemah. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra, Indah menyambut kecupanku. Kuhisap bibir indah tersebut, Indah balas menghisap dan akhirnya lidahku kumainkan untuk menjilat bibir Indah dan berusaha memasuki rongga mulutnya. Indah membalas ciumanku dengan gairah yang mulai bangkit kembali, tangannya merengkus tengkukku agar ciuman kami semakin rapat. Akhirnya tubuhku menindih tubuhnya dan bergumul dengan nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku yang tegang dan keras menganjal permukaan vaginanya, membuat gairah Indah semakin tinggi dengan deru napas yang semakin cepat.

Tiba-tiba Indah menggulingkan tubuhnya sehingga dia berada diatas tubuhku dan mulai mengambil inisiatif untuk merangsangku. Dia menciumi pipi, leher, dada, menghisap-hisap putting susuku baik yang kiri maupun yang kanan membuat tubuhku menggelinjang dilanda rangsangan yang sangat tinggi. Dan Indah semakin bergairah melihat mataku terpejam-pejam menahan nikmat. Ciumannya pindah ke perut dan terus turun ke bawah hingga akhirnya mata Indah terlihat nanar penuh gairah memandang batang penisku yang mengacung tegak menjulang, dan “Ouhh…” tanpa sadar erangan nikmat keluar dari mulutku ketika kurasakan Indah mulai memasukan batang penisku ke dalam mulutnya.

Kepala Indah berputar-putar agar batang penisku mengocok-ngocok rongga mulutnya, tubuhku semakin menggeliat menahan nikmat dan mulutku hanya sanggup mengeluarkan keluhan nikmat terputus-putus. “Ouhhh… Ndah… Ouhhh… eeennnak… ohhh…”

Indah semakin bergairah bisa memberikan kenikmatan padaku, lidah tidak tinggal diam, dia gunakan untuk menjilati kepala penisku, aku semakin melayang, penisku semakin bengkak dan keras.

Gairah Indah sudah tak tertahankan lagi, karena vagina mulai terasa sangat basah, berkedut dan gatal. Dia menghentikan kegiatannya mengulum batang penisku, Dia merangkak menghadapku dan menempatkan vagina tepat diatas batang penisku yang mengacung semakin keras, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya yang semakin berdenyut gatal, lalu… Blessshh!!!

“Ooouuhhhh…” Rasa nikmat menjalar dari syarat nikmat yang terdapat dipermukaan kepala dan batang penisku, ketika Indah menurunkan pantatnya perlahan. Kepala penisku menyeruak dan menyusuri lorong nikmat dari liang vagina Indah yang basah, licin dan berdenyut-denyut serta meremas-remas nikmat.

“Ouhhh… Kang…” Indah pun mengerang ketika rasa nikmat menderanya, ketika dia merasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya. Gerakan menekan pantatnya demikian perlahan, sehingga rasa nikmat yang kurasakan terasa lama dan sensasional dan akhirnya terhenti setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya dan selangkangan kami menempel sangat rapat. Indah menekan pantatnya sangat kuat sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang menderanya, kedua tangannya mencengkram kuat dadaku.

Lalu pinggul dan pantatnya mulai bergerak keatas-kebawah sehingga batang penisku mengocok-ngocok liang vaginana, erangan nikmat keluar dari mulut kami sahut menyahut. Indah semakin cepat menggerakan pantatnya, terkadang bergerak memutar sehingga kurasakan batang penisku seperti dipelintir dan akupun melotot sambil mengerang nikmat. “Ouhhh… Ouhhh…“

Sementara itu, gerakan Indah semakin cepat dengan kepala terdongak kebelakang dan mengerang dengan mata terpejam. Buahdadanya berguncang-guncang indah, dengan nafsu yang tak pernah surut kedua tanganku menjulur dan mulai meremas-remas buahdada montok itu, Indah semakin terdongak dan melonjak-lonjak nikmat disertai dengan lenguhan dan erangan yang semakin keras.

Gerakan pinggul Indah semakin cepat tak terkendali dan kejang-kejang, hingga akhirnya tubuhnya melenting kaku, dengan kepala terdongak ke belakang, kuku-kuku jarinya mencengkram erat dadaku dan, “Aaaa… aakkkkkkhhhsssss…” Jeritan panjang keluar dari mulut Indah, selama beberapa detik tubuhnya kaku seperti itu dan akhir tubuhnya terhempas, melayang dan ambruk menindih tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Sementara itu penisku seperti diremas dan dijepit dengan sangat kuat membuat akupun melayang nikmat. Tubuh kami yang berpelukan, basah oleh keringat yang mengucur deras. Sementara itu penisku masih menancap dengan kokohnya di dalam liang vagina Indah.

Kugulingkan tubuhku sehingga tubuhku diatas tubuhnya dengan batang penis yang tetap menancap di liang vagina, kuarahkan mulutku pada buah dadanya dan mulai menghisap dan menjilati putting susu Indah, Indah mengerang lemah, “Euhhhh…” sementara itu secara perlahan pantatku mulai mengayun hingga batang penisku mengocok-ngocok liang vagina Indah. Rasa nikmat kembali menjalar di sekujur tubuh Indah, perlahan namun pasti gairah Indah bangkit kembali. Indah menggerakan pinggulnya untuk membalas gerakan pantatku, kenikmatanpun semakin menjalar pada tubuh kami berdua.

Aku semakin cepat mengayun pantatku, gerakan pinggul Indah semakin bervariasi dan memabukkan, dan hanya beberapa menit kemudian, tubuh Indah kembali melenting kaku dan menjerit menjemput nikmatnya Orgasme. “Aaakkkkkksssshhh…” Pantatnya terangkat dan akhirnya terhempas. Kudiamkan sejenak pantatku untuk menikmati remasan dan hisapan yang dilakukan dinding vagina Indah pada batang penisku.

Setelah kurasakan kedutan dan hisapan dinding vagina Indah melemah pada batang penisku, kembali aku mengayun pantatku untuk mngocok-ngocok liang vaginanya, sambil mulut dan tanganku mempermainkan buah dada dan putting susunya yang tak membosankan untuk diremas dan dihisap.

Kurang dari semenit, Indah kembali membalas gerakan pantatku dengan menciumku dan menggerakan pinggulnya sambil kembali mengerang nikmat, namun hanya berselang beberapa menit kemudian, kembali tubuhnya melenting kaku dan kembali dia menjemput orgasme yang menghampiri dirinya. Dan aku kembali mendiamkan pantatku sejenak untuk menikmati remasan dan hisapan dinding vagina Indah pada batang penisku pada saat dia mengalami fase orgasme. Pantatku kembali mengayun setelah kurasakan remasan pada penisku melemah, dan pinggul Indah kembali membalas gerakan pinggulku setelah beberapa detik kemudian hingga akhirnya kembali ia menjemput orgasme.

Perolehan orgasme bagi Indah, terjadi berulang-ualng, entah berapa kali, yang jelas tubuhku terus menggenjot tubuh Indah tanpa mengenal lelah, sementara badanku basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras.

Kuhentikan ayunan pantatku setelah Indah memperoleh orgasme entah yang ke berapa kali. Kuletakkan ke dua lututku dibawah kedua pangkal pahanya, kedua tanganku memegang kedua tumit kaki Indah dan membukanya lebar-lebar, sementara Indah nampak tergoleh kelelahan, namun tatapan matanya masih menampakkan gairah yang belum surut, apalagi melihat batang penisku yang masih kokoh menancap di dalam liang vaginanya.

Dalam posisi paha Indah yang terbuka lebar aku mulai mengayun pantatku agar batang penisku kembali mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok liang vaginanya. Rasa nikmat yang kurasakan semakin bertambah, karena jepitan dinding vagina Indah serasa semakin sempit dan menjepit, dan kulihat vagina Indah terkempot-kempot setiap kali aku melesakkan batang penisku.

Kulihat kepala Indah terbanting ke kiri dan ke kanan setiap kali aku menghela pantatku diiringi erangan nikmat yang dia perdengarkan. Kedua tangannya mencengkram erat seprey yang ada di sekitarnya.

Kurasakan badai orgasme akan menghantamku, mataku mulai berkunang-kunang, asaku terasa melayang dan gerakan pantatku mulai kejang-kejang dan menghentak. Indah merasakan bahwa aku akan mencapai orgasme, karena dia merasakan penisku semakin bengkak menyesakkan liang vaginanya dan gerakanku terasa semakin keras dan kasar menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa, sehingga diapun merasa orgasme akan kembali menghampiri dirinya.

Dengan terengah-engah menahan nikmat, sambil menggerakan pinggulnya membalas gerakanku diapun berkata, “Ayo, Kang… ayo… bareng-bareng…“ dan… “Aaaa… aakkkkkkkh… hhhsss…” seperti mengeluarkan tenaga yang penghabisan, Indah menjerit keras menjemput orgasme yang dirasakannya sangat luar biasa, berbeda dengan orgasme-orgasme yang terdahulu, tubuhnya mengejang sangat kaku.

Secara bersamaan, akupun menjerit melepas nikmat menjemput badai orgasme yang sangat dahsyat. “Akkkhhhhhhhssss…” Tubuhku berkelojotan sambil crettt… cretttt… crett… sperma kental memancar sangat deras membasahi lorong vagina Indah. Beberapa detik kemudian, kurasakan tubuhku terasa ringan bagaikan layang-layang putus dan aku ambruk menghempaskan tubuhku disamping tubuh Indah yang terkulai lemas. Napas kami tersengal-sengal seperti yang baru selesai balap lari.

Tubuh kami terasa sangat lelah, setiap persendian bagaikan dilolosi dan kami terbaring lemas dengan kesadaran yang melayang-layang. Cukup lama kami dalam keadaan seperti itu.

Setelah perlahan-lahan kesadaran kami pulih, Indah menggulirkan tubuhnya menghadapku dan tangannya mengusap pipiku sambil berkata, “Akang hebat, Indah benar-benar sangat puas, Indah semakin sayang ke Akang.” lalu wajahnya menghampiri wajahku dan mengecup bibirku sangat mesra.

Aku tersenyum bangga dan bahagia, kemudian balas mencium bibirnya dengan penuh kemesraan. Basahnya tubuh oleh keringat yang lengket, membuatku tidak nyaman, lalu dengan malas aku berusaha bangkit dan berdiri, namun hampir aku terjatuh. Lututku gemetar dan terasa copot hingga hampir tak sanggup untuk berdiri, kembali aku duduk dipinggir tempat tidur yang sepreynya acak-acakan oleh pertempuran hebat yang baru saja selesai.

Indah tersenyum melihat keadaan lututku yang gemetar dan hampir jatuh lalu berkata. “Ada apa, Kang? Capek ya?”

“Iya nich. Lutut terasa copot, habis Indah sich… luar biasa!” sahutku sambil tersenyum.

“Ahhh… Akang!” sahutnya bahagia.

Lama aku terduduk, setelah kurasakan tenagaku benar-benar pulih, aku berdiri dan menuju kamar mandi, lalu mandi menyegarkan diri, tak lama kemudian Indah pun mandi dan mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbabnya. Lalu Indah merapihkan tempat tidur yang acak-acakan.

jilbab montok bohay (8)

Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, kamipun pulang setelah aku memberitahu penjaga villa. Sepanjang perjalanan pulang, Indah semakin menempel mesra padaku, dia hanya menjauhkan tubuhnya setelah kami berada dekat dengan gang rumahnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku memutuskan kembali ke kantorku untuk mengambil mobilku.

Kesan yang kudapatkan pada hari itu, menjerumuskan aku semakin dalam terhadap rasa cintaku pada Indah. Aku merasa tidak mampu berpisah dengannya.

***

Gundah… Gelisah… Takut… Itulah yang dirasakan Indah saat ini, sore itu, setelah diantar pulang hingga ke mulut gang oleh Agus, Indah benar-benar gundah, gelisah, dan takut.

Persetubuhannya yang kedua kali denganku, benar-benar telah menjeratnya, Dia telah benar-benar mencintaiku dan tak sanggup untuk melupakannya, padahal perasaan ini adalah perasaan yang selama ini berusaha dia tolak karena merupakan sesuatu yang salah. Tadinya dia berencana bahwa Aku hanya sebagai lelaki yang mengisi kekosongan batinnya, dan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk berselingkuh denganku. Namun dalam usianya yang masih muda, gairahnya yang menyala-nyala, tak pernah dapat tersalurkan, sehingga membuat dirinya demikian mudah terangsang dan akhirnya terjadilah persetubuhan yang sangat memuaskan dirinya, bahkan sangat puas hingga dia mampu memperoleh orgasme berulang-ulang. Sementara kepuasan seperti itu belum pernah dia alami sebelumnya.

Sebenarnya Indah adalah istri Dedi berusia 30 tahun, mereka menikah pada saat Indah berusia 20 tahun dan Dedi berusia 26 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat bahagia, Dedi yang seorang karyawan sebuah perusahaan, mampu membahagiakan Indah baik lahir maupun batin. Namun akibat pola hidup yang salah, setelah dua tahun menikah dan belum sempat memperoleh buah hati, Dedi terserang penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga membuat dirinya impoten.

Dia sudah berobat kesana-kemari hingga harta bendanya habis terjual namun penyakitnya tak sembuh juga, bahkan diperparah dengan PHK yang menimpanya sehingga otomatis Indahlah yang menjadi tulang punggung rumah tangga mereka, sementara Dedi kerja serabutan bahkan lebih sering berada di rumah.

Dedi masih bisa merasakan rangsangan yang cukup besar melihat kemolekan tubuh istrinya oleh sebab itu berkali-kali mereka mencoba untuk melakukan hubungan suami istri, tapi penis Dedi tidak mampu berdiri tegak, berbagai cara rangsangan telah dilakukan Indah agar batang penis suaminya bisa berdiri tegak, tangan Indah berusaha meremas dan mengocok memberikan rangsangan pada batang penis Dedi, tapi tidak juga bisa berdiri, bahkan pernah mulut Indah mengoral penis Dedi hampir setengah jam sampai Indah merasakan kaku pada tulang rahangnya, namun penis Dedi tetap tergantung lemah. Jika sudah demikian nampak sekali kegelisan dan kekecewaan yang mendalam terpancar dari sorot mata Indah, dan Dedi benar-benar merasa terpukul dengan keadaan dirinya seperti itu. Dedi merasa malu dan rendah diri di hadapan istrinya.

Namun walaupun demikian, Indah tetap mencintai suaminya, baginya Dedi adalah hidupnya, dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya. Indah selalu memberi semangat dengan penuh cinta pada Dedi untuk memperoleh kesembuhan ataupun memperoleh pekerjaan yang layak dan selalu berkata pada Dedi bahwa apapun pekerjaan Dedi, dia akan selalu mencintai Dedi.

Rasa cintanya yang besar seolah mengabaikan kebutuhan hidupnya. Dalam usia yang masih muda, tentu saja gairah biologisnya sering meronta-ronta minta penyaluran, namun selalu dia tekan dengan mencurahkan rasa cintanya pada Dedi.

Selama 2 tahun, Indah berhasil mengekang kebutuhan biologisnya walaupun terkadang dia merasa tersiksa dengan keadaan ini.

Namun akhirnya pertahanan Indah bobol, setelah berkenalan denganku. Dia melihatku sebagai lelaki yang sopan dan enak diajak ngobrol. Jika sedang bersama denganku, Indah seolah mampu menghilangkan sejenak masalah berat yang sedang dihadapinya. Dan perasaan suka timbul didalam hatinya, karena aku selalu berbuat sopan padanya. Dan akhirnya perasaannya menjadi terjerat padaku, terutama setelah kami melakukan persetubuhan yang sensasional dan mampu membasahi kekeringan yang melandanya selama 2 tahun terakhir ini.

Indah semakin terjerat akan pesona seksual yang ada pada diriku, dan dia benar-benar telah jatuh cinta padaku. Perasaan cintanya padaku sangat menyiksanya, karena diapun sangat mencintai suaminya dan tak ingin meninggalkan suaminya.

Disisi lain, Dedi sadar benar akan kebutuhan biologis istrinya, namun apadaya dia tak mampu memberikannya akibat penyakit yang dideritanya. Cintanya yang besar pada istrinya membuat dirinya berpikir untuk rela membiarkan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya pada orang lain, namun ia takut, takut istrinya terkena penyakit kalau menyalurkan sembarangan, atau takut istrinya akan meninggalkannya, karena istrinya adalah sumber semangat hidupnya.

Perasaan ingin membahagiakan istrinya dengan merelakan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain dan perasaan takut ditinggalkan istrinya selalu berkecamuk di pikiran Dedi, sehingga tanpa sepengetahuan istrinya, sebenarnya Dedi sering menguntit istrinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan istrinya.

Selama 2 tahun memata-matai istrinya, Dedi melihat bahwa Indah adalah istri yang setia, karena dia melihat istrinya tidak pernah menanggapi godaan lelaki lain. Dedipun melihat perhatian dan pelayanan istrinya tidak berkurang padanya, walaupun dirinya impoten dan tidak memiliki pekerjaan tetap setelah diPHK. Oleh sebab itu Dedi semakin mencintai istrinya dan semakin tidak sanggup ditinggalkan oleh istrinya.

Rasa cinta yang semakin besar, semakin memperbesar keinginan Dedi untuk merelakan istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada lelaki lain dengan syarat Indah tidak akan meninggalkannya. Berkali-kali dia merencanakan untuk membicarakan hal ini pada Indah, namun ia takut. Apakah Indah akan setuju? Apakah Indah tidak akan tersinggung? kembali niat itu surut untuk diajukan ke istrinya. Namun kerelaannya agar istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain tetap besar.

Itulah sebabnya, sebenarnya Dedi telah mengetahui, jika aku sering menjemput istrinya. Dedi bisa melihat bahwa istrinya menyukai diriku, hal itu terlihat dari tatapan mata Indah dan gerak-gerak Indah bila bersamaku, bahkan Dedi mengetahui jika istrinya telah dua kali pergi denganku entah kemana pada saat istrinya OFF. Dan Dedi merasa curiga bahwa Istrinya telah selingkuh denganku, sebab Dia bisa melihat keceriaan dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah Indah setelah bepergian denganku, namun hal itu tidak pernah dia tanyakan pada istrinya, karena dia tidak melihat berkurangnya limpahan cinta dari istrinya.

Dedi berusaha menyelidiki diriku, dan akhirnya dia tahu siapa diriku sebenarnya. Dedi menjadi takut ditinggalkan istrinya setelah mengetahui statusku, maka dia langsung mendatangiku.

Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerjaku sambil merencanakan bahwa sore nanti aku akan menemui Indah di tempat kerjanya. Aku merasa sangat rindu padanya, karena sudah 10 hari aku tidak bertemu dengannya disebabkan kepergianku ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tiba-tiba sekretarisku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin menemuiku. Akupun mempersilahkan tamuku masuk.

“Perkenalkan, nama saya Dedi.” kata tamuku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya sambil berkata, “Agus, silahkan duduk!” “Ada yang bisa saya bantu, Pak Dedi?” tanyaku.

“Begini, Pak, bapak kenal dengan Indah, yang rumahnya di Gang Gwan An?“ tanya Dedi dengan tatapan menyelidik.

DEG! Jantungku serasa mau copot, mendengarkan pujaan hatiku disebut. “B-benar. Ada apa dengan dia, Pak? Dan bapak ini siapa?” jawabku gugup.

Terlihat Dedi tersenyum puas mendengar jawabanku “Dia baik-baik saja. Oh ya, saya suaminya!” katanya tenang, tak terlihat nada emosi dari ucapannya.

TENGGG…!!! Dunia serasa gelap, badanku mendadak lemas tertimpa perasaan bersalah karena telah menyintai dan berselingkuh dengan istri seseorang yang berada di hadapanku.

“Tenang aja, Pak! Tidak perlu sekaget itu!“ Dedi berusaha menenangkanku dengan tulus. “Apakah bapak tahu bahwa Indah telah bersuami? Dan apakah bapak mencintai Indah? Tolong Bapak jawab dengan jujur. Percayalah, Pak! Saya tidak akan marah dan menuntut bapak.“ katanya lagi tersenyum tulus sehingga Aku percaya akan isi kata-katanya.

“Ya, saya mencintai istri Bapak, maaf saya tidak tahu kalau Indah telah bersuami. Dia hanya berkata bahwa dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat, namun saya tidak boleh tahu apa masalahnya. Masalah itu pula yang menyebabkan saya tidak boleh mengantarnya sampai ke rumahnya.” terangku panjang lebar.

“Pak, saya mohon, jangan rebut Indah dari saya. Saya sangat mencintainya dan saya tak sanggup ditinggalkan olehnya. Tapi saya juga mengerti akan kebutuhan Indah yang tak mampu saya penuhi, oleh sebab itu jika Bapak memang mencintai istri saya, bapak boleh menikmati rasa cinta Bapak, tapi jangan rebut dia dari saya, saya mohon!“ katanya memelas.

“Apa maksudnya, pak?” tanyaku yang tak mengerti akan maksud ucapannya.

“Begini, Pak! Saya sangat mencintai Indah, namun saya tak sanggup memberikan nafkah batin padanya karena penyakit yang saya derita. Namun saya kasihan pada Indah yang menanggung beban akan penyakit saya derita. Padahal dia masih muda, penuh gairah dan perlu menyalurkan hasrat biologisnya yang masih bergelora. Itulah sebabnya saya punya usul, bapak boleh menggauli istri saya kapan dan dimanapun bapak kehendaki dengan syarat saya harus melihatnya atau mengetahuinya, bahkan bapak boleh melakukannya di rumah kami. Memang usul ini terdengarnya gila, namun inilah bukti, betapa besar rasa cinta saya pada istri saya. Tapi usul ini tidak pernah saya kemukakan pada istri saya, takut dia tersinggung.” jelasnya panjang lebar.

Aku termenung mendengar penjelasannya.

“Bagaimana, Pak? Bapak setuju dengan usul saya? Bapak nggak usah ragu, saya tidak akan memeras bapak, saya melihat bapak orang baik-baik dan tidak akan menyakiti hati istri saya dan sayapun melihat bahwa istri saya menyukai bapak.” Lalu lanjutnya. “Saya hanya meminta bapak tidak merebut Indah dari sisi saya, Bagaimana?” kembali dia mengajukan usulan.

“Baik, saya menerima usul Pak Dedi, walaupun terdengar aneh. Sayapun sangat mencintai Indah dan jujur saja, saya juga tak sanggup berpisah dengannya.” jawabku jujur.

“OK dech kalau begitu! Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku, kebetulan Indah OFF hari ini dan dia ada di rumah.” dia mengajakku ke rumahnya.

Ajakan ini sangat mendadak, dan tentu saja kuterima ajakan tersebut dengan senang hati. Kamipun berangkat menuju rumah Dedi dengan sepeda motor inventaris. Sepanjang jalan Dedi menjelaskan rencananya, bahwa aku dan Dedi adalah teman lama semasa SMA yang baru ketemu lagi, sengaja diajak Dedi untuk diperkenalkan pada Indah dan setelah itu Dedi akan pura-pura meminjam motorku untuk pergi mengambil order pekerjaan sekitar 2 jam, padahal dia akan membawa motorku ke tempat pencucian motor dan kembali jalan kaki ke rumah untuk mengintip apa yang aku dan Indah lakukan. Aku setuju dengan rencananya.

Sesampainya di rumah Dedi, Indah yang saat rambutnya hanya tertutup oleh ‘ciput’ (penutup kepala) sehingga terlihat lehernya yang putih dan jenjang. Indah tampak kaget melihat kami berdua berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi, namun Dedi seolah-olah tidak memperhatikan perubahan pada wajah istrinya, Dedi hanya berkata, “Ndah, kenalkan teman lamaku waktu di SMA. Namanya Agus!” katanya memperkenalkanku pada istrinya.

Aku menjulurkan tanganku mengajaknya besalaman sambil berkata basa-basi “Agus!” Dengan gemetar Indah menyambut jabatan tanganku.

Dedi bertindak seolah-olah aku dan Indah belum saling mengenal, dan dia memainkan perannya begitu meyakinkan, sehingga aku dan Indah terbawa oleh suasana yang diciptakannya. Tak lama kemudian Dedi berkata padaku, “Gus, pinjam motornya ya! Aku mau ngambil order. Nggak lama kok, paling 2 jam-an. Kamu ngobrol aja dulu dengan istriku, kalau mau istirahat, tidur aja di kamar.” katanya lagi sambil menunjuk kamar yang biasa diperuntukkan untuk tamu keluarga.

Aku mengerti akan sandiwara yang dibawakannya, lalu kuberikan kunci motorku berikut STNKnya. Kami mengantar Dedi ke depan pintu hingga Dedi menjalankan motor. Kerinduan yang begitu mendalam membuatku tak tahan, begitu pintu depan ditutup dan belum terkunci, aku langsung memeluk Indah dari belakang penuh kerinduan dan menciuminya dengan gemas. Kukecup dan kuhisap lehernya yang putih dengan penuh nafsu. Indah hanya bergelinjang manja, nampaknya dia masih kaget bahwa aku adalah teman lama suaminya. Dihati Indah terbayang sebuah kesempatan bahwa dia akan sedikit bebas bisa berduaan denganku. Membayangkan hal itu, gairah Indah dengan cepat bangkit, apalagi rangsangan dariku semakin gencar maka gairahnyapun semakin cepat merayap naik. Indah membalikkan badannya dan menyambut ciumanku dengan gairah yang menyala dengan napas yang memburu.

Kami berciuman dengan penuh gelora sambil berdiri di balik pintu depan rumahnya, kakinya terjinjit menikmati percumbuan ini. Erangan dan lenguhan penuh rangsangan sesekali keluar dari mulutnya yang sedang tersumpal oleh bibirku. Kedua tangannya memeluk erat punggungku. Deru napas kami semakin memburu. Lalu kubisikkan, “Kita punya waktu 2 jam, aku kangen banget sama kamu, Ndah!”

“Saya juga, Kang!” jawabnya mesra, dan pergulatan dua bibir yang didorong oleh nafsupun terjadi dengan panasnya.

jilbab montok bohay (18)

Sambil berpelukan dan tetap melakukan percumbuan yang memompa gairah, Indah berusaha membawa tubuhku menjauhi pintu depan, menuju kamar tidur yang biasa digunakan oleh tamu, kamar tidur tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya ditutupi oleh tirai gordyn. Kami melanjutkan percumbuan sambil berdiri, tidak ada rasa takut dipergoki orang lain dalan diri Indah, karena di rumah ini dia hanya berdua dengan suaminya yang saat ini sedang keluar.

Kugeser posisi diriku hingga Indah membelakangiku sehingga kami sama-sama menghadap meja hias yang terdapat di kamar tersebut. Dari cermin, Ku lihat bayangan tubuh Indah yang sedang menggeliat menggairahkan, matanya terpejam menikmati cumbuanku, kepalanya dimiringkan kesamping sehingga lehernya yang jenjang serta putih, mulus merangsang terhidang tepat di depan bibirku, tak kusia-siakan kesempatan yang menggairahkan ini. Bibir dan lidahku mengecup, menghisap dan menjilat leher, pundak hingga bagian belakang telinga Indah, sementara kedua tanganku dengan gemasnya meremas kedua buahdada yang masih tertutupi oleh baju.

“Uhhhh… Kang… ouhhh…” Indah mengerang nikmat penuh rangsangan. Matanya semakin terpejam dan kepalanya semakin terdongak ke belakang, buah dadanya semakin membusung indah menggairahkan, akupun semakin nafsu meremas-remas buah dada tersebut.

Sementara itu, Setelah tiba di tempat penyucian motor dan menitipkan motor untuk dicuci, Dedi kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Setiba di rumahnya, Dedi bergerak perlahan agar tidak bersuara, dia memeriksa pintu depan yang ternyata tidak terkunci, secara hati-hati Dedi membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara. Dedi tersenyum, karena tidak melihat aku dan istrinya di ruang tamu. Dengan perlahan dia mencari keberadaan diriku dan istrinya, akhirnya samar-samar dia mendengar desahan dan erangan penuh rangsangan dari kamar tidur dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.

Dia mencari celah diantara tirai gordyn, agar bisa mengintip apa yang sedang kami lakukan. Terlihat olehnya bahwa aku dan Indah dalam keadaan polos sedang bercumbu di depan cermin hias dengan napas yang tersengal-sengal dipacu oleh nafsu berahi yang menguasai diri kami. Semua pakaian kami telah terlepas dan berceceran di lantai.

Terlihat olehnya bahwa aku sedang menciumi leher istrinya dari belakang dan kedua tanganku meremas-remas buahdada Indah dengan penuh nafsu, terkadang jari-jari tanganku memilin-milin putting susu Indah yang menonjol tegak dan keras. Selangkanganku menempel rapat pada bongkahan pantat Indah yang bulat dan montok dan pastinya Indah merasakan batang penisku yang keras dan tegang mengganjal di belahan pantatnya. Tubuh Indah menggeliat menahan nikmat, pinggangnya melenting dan kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang diterimanya, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan.

Tubuh Indah yang menggeliat-kegeliat menahan nikmat dan disertai lenguhan dan erangan nikmat yang keluar dari bibir mungil istrinya demikian merangsang. Dan rangsangan itu juga menjalar di tubuh Dedi walaupun belum sanggup membangunkan batang penisnya. Timbul rasa cemburu, dari dalam hati Dedi melihat aku yang sedang mencumbu Indah, tapi betapa dilihatnya bahwa Indah begitu menikmati apa yang kulakukan yang selama ini tidak pernah dapat dia berikan.

Dedi begitu bahagia melihat istri tercintanya begitu menikmati dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Akhirnya Dedi benar-benar menikmati apa yang dilihatnya dan menghapus rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, tangan kananku telah merayap ke bawah menuju selangkangan Indah, sementara tangan kiri tetap mempermainkan buahdada Indah yang semakin membusung. Lidah dan bibirku mengulas pundak, leher dan tengkuk Indah membuat Indah semakin menggelinjang.

Tangan kananku yang telah berada di depan vagina Indah, mulai mengorek-ngorek lipatan liang vagina Indah, terasa basah olehku, tubuh Indah bergetar dan bibirnya mengerang nikmat, “Ouhhh… ouhhh… auw…” Erangan nikmatnya semakin keras ketika jari tengahku memasuki liang vaginanya dan mengucek-ngucek dinding vaginanya. “Auh… Owhh… Kang… Kang… Ouhhhh…”

Kudorongkan semakin dalam jari tengahku sambil jari tengahku berputar, mengait dan mengorek-ngorek. Tubuh Indah semakin bergetar menahan nikmat diserta erangan nikmat. “Ouuhhh… Kang… Ouhh…“ Kugunakan jempolku menekan dan memutar-mutar klitorisnya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar keras dan, “Aaaauhhh… Aaauhhh… K-kang…” ia makin mengeliat-geliat dengan kepala semakin terdongak ke belakang.

Klitoris Indah terus kuputar dan kutekan oleh jempolku, sementara jari tengahku mengucek-ngucek semakin cepat. Tubuh Indah melonjak-lonjak dengan keras menahan nikmat yang semakin melambungkannya, hingga akhirnya Indah merengek dengan tersengal-sengal, “Masukkan, Kang! Sekarang! Ouhh… Nggak tahan… Nggak tahan… Ouhhhh… ouuhhhh…!!”

Akupun sebenarnya sudah tak tahan, kudorong punggungnya agar membungkuk, kedua tangannya diletakkan agar bertumpu di pinggir meja rias, pantatnya diangkat dan kutekan pinggangnya agar agak kebawah, sehingga Indah berada dalam posisi tubuh melenting sambil membungkuk, kedua kakinya kurenggangkan, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan penisku kepala penisku kearah mulut liang vagina Indah yang sudah basah dan licin dari belakang melalui belahan pantatnya. Lalu…

Bleshh…!!! Batang penisku terasa hangat dan basah menguak liang vagina Indah yang sempit dan nikmat. ”Ouhhhh…” Erang nikmat Indah keluar dari bibirnya sambil mendongakkan kepala. Posisi Indah yang sedang mengerang dan menggeliat ketika vaginanya diterobos batang penisku, begitu menggairahkan Dedi yang sedang mengintip perbuatan kami. Dedipun merasakan ada getaran-getaran nikmat yang terjadi pada batang penisnya, padahal selama ini, walaupun sudah dirangsang sedemikian rupa oleh Indah hingga membuat Indah kepayahan, Penisnya tidak juga merasakan getaran-getaran nikmat yang dapat membuatnya mengeras.

Namun saat ini, Dedi merasa aneh sekaligus gembira, karena dia merasakan ada getaran-getaran nikmat yang diakibatkan oleh aliran darah yang mengalir cukup cepat pada batang penisnya. Dedipun merasakan batang penisnya agak mengeras tidak seperti biasanya, walaupun belum bisa dikatakan batang penisnya telah tegang dengan sempurna, namun perubahan ini membuatnya sangat gembira dan menimbulkan harapan bahwa suatu saat nanti Dia akan mampu berfungsi sebagai lelaki normal kembali. Oleh sebab itu Dedi semakin asyik menikmati persetubuhan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Sementara saat itu, aku dengan penuh gairah memompa pantatku agar batang penisku mengaduk-ngaduk liang vagina Indah. Kepala Indah terangguk-angguk menerima helaan dan sodokan dariku sambil tak henti-hentinya mengerang nikmat. “Ouh… ouhh… Kang… Kanggg…”

Buah dadanya yang montok terayun-ayun dengan indahnya. Indahpun menggerakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku membuat rasa nikmat semakin melambungkan kami berdua. Terkadang pinggul Indah berputar-putar sehingga batang penisku serasa dipelintir dengan sangat nikmat.

Hentakan tubuhku dan gerakan pinggul Indah semakin lama semakin cepat dan telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras diiringi dengan erangan nikmat yang semakin nyaring. Hingga akhirnya lonjakan tubuh Indah menjadi tak terkendali dan mulai kejang-kejang dan akhirnya tubuh Indah melenting kaku terdiam dengan kaki terjinjit disertai teriakan, “Aaaaakkkkkkhhhs…!!!”

Selama beberapa detik batang penisku seperti diremas-remas dan dijepit oleh dinding vagina Indah dengan sangat kuat membuat napasku berhenti dihimpit oleh rasa nikmat yang luar biasa. Sesaat kemudian tubuh Indah melemas, lututnya dan sikunya goyah dan akhirnya ambruk terduduk di lantai sehingga Batang penisku yang sedang menancap pada liang vaginanya terlepas.

Indah baru saja memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sungguh luar biasa, meninggalkan diriku yang masih sedang berada di awang-awang kenikmatan dan belum mencapai puncak. Napasku terengah-engah dengan perasaan sedikit kecewa karena kenikmatan yang kurasakan seolah terputus.

Disisi lain, Dedi juga merasakan kenikmatan rangsangan yang sangat tinggi melihat ekspresi wajah istrinya saat meraih puncak orgasme. Lututnya terasa lemas dan goyah menikmati apa yang dilakukan istrinya.

Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu sejenak Indah merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan napas yang terengah-engah. Beberapa detik kemudian, aku membangkitkan Indah dan menuntunnya menuju tempat tidur, Indah naik ke tempat tidur dan berbaring telentang, napasnya perlahan-lahan normal dan pancaran matanya masih menampakkan gairah yang masih menyala. Aku merangkak mendekatinya, gairah Indah semakin berkobar ketika dia melirik batang penisku yang berdiri dengan kokohnya.

jilbab montok bohay (1)

Sementara itu, dada Dedi kembali berdegup menantikan detik-detik dimana tubuh Istrinya akan kembali digenjot olehku di tempat tidur. Dalam hatinya Dedi memuji akan kemampuan sex diriku yang belum juga ejakulasi padahal telah mampu membuat istrinya melonjak-lonjak meraih orgasme.

Kuciumi bibir Indah dengan lembut, Indah membalas dengan tak kalah lembutnya. Kemudian kuhisap-hisap bibirnya dan dibalas dengan hisapan dan kecupan, lalu kutindih tubuhnya, kaki Indah terkangkang mempermudah, tangan Indah meraih batang penisku dan mengarahkan kepala penis agar berada tepat di mulut liang vaginanya dan…

Bleshhhh…!! Kepala penisku kembali menyeruak liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, “Aaahhhh…” Indahpun kembali mengerang nikmat.

Bibirku mengecup dan menyosor bibir dan leher Indah secara acak dan penuh nafsu, sementara pantatku mulai mengayuh mengaduk-ngaduk dan mengocok-ngocok liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, namun tetap sempit dan menjepit. Rasa nikmatpun kembali menjalar keseluruh penjuru nadiku.

Genjotan tubuh demikian cepat dan bertenaga membuat buahdada Indah terguncang-guncang menggemaskan. Kuhisap dan kujilati buahdadanya yang kiri dan kanan secara bergantian. Erangan nikmatpun kembali merasuki disekujur tubuh Indah. “Ouhh… Kang… Ouhhh… ouh…”

Pinggul Indah berputar dan bergoyang menyambut setiap helaan dan sodokan batang penisku menimbulkan suara deritan tempat tidur yang cukup keras. Selama beberapa menit aku mengayuh dan memompa disambut dengan goyangan pinggul Indah yang erotis dan kadang menghentak-hentak disertai erangan-erangan nikmat. “Aouh… aouhhh… Kang… Kang…”

Dedi yang mengintip dari balik tirai juga merasakan nikmatnya rangsangan yang cukup tinggi, batang penisnyapun semakin mengeras tegang, dan hal ini semakin menggembirakannya. Disamping itu, dia semakin kagum akan stamina sex yang dimiliki olehku.

Goyang pinggul Indah telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dan menghentak, sementara aku tetap mengayuh pantatku untuk mengocok liang vagina Indah dengan kecepatan yang tetap. Indah menginginkan kenikmatan yang lebih, dia menggulingkan tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku dan langsung menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat dan keras dengan tubuh yang mulai melenting dan kepala terdongak ke belakang. Dan beberapa menit kemudian…

”Aaakkkaaangggg… kkhhhss…” Tubuh Indah melenting kaku, kembali Indah memperolah orgasme yang luar biasa. Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh di dalam liang vaginanya.

Ya, Indah baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini, dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Indah merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Sementara itu, Dedi kembali merasakan puncak kenikmatan rangsangan, ketika dia menyaksikan istrinya memperoleh puncak orgasme dan dia semakin asyik menikmati apa yang istrinya lakukan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Indah terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Indah, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Indah tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Indah membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya merangsang. “Auhh, Kangg… aouhh… ouhhhhh… Kangghh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya, “Aaaaakkkhhss…”

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Indah kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Indah terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Indah telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Indah mencapai orgasme.

Dedi semakin kagum akan staminaku, karena sudah berjalan hampir 1 jam dia mengintip apa yang kulakukan, Aku belum juga ejakulasi. Sementara itu Dedipun merasa bahagia karena dilihatnya Indah bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah.

Indah merasa tubuhnya sangat lelah namun gairahnya masih berkobar-kobar mengalahkan rasa lelah yang merasuki dirinya, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya. Aku mengambil inisiatif dengan memompanya lebih aktif dan Indah menyambutnya dengan goyangan dan lonjakan dari bawah sambil mengerang dan menjerit seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat didambakan. “Ouh… ouhh… Kang… Kang… hekss… ouhhh…”

Hingga akhirnya kembali Indah menggapai apa yang didambakannya, Indah melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena gairahnya kembali meronta-ronta ketika vaginanya diaduk-aduk dan dikocok-kocok oleh diriku tiada henti dan tak lama kemudian, diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Indah yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan Indahpun merasakan itu dan dia pun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan, “Aaakkkkkksssss…!” secara berbarengan kami meraih orgasme.

Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Indah. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan. Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Saat kami mencapai puncak orgasme secara bersamaan, Dedipun merasakan puncak rangsangan yang sama, tubuhnya terasa lemas dan oleng, matanya berkunang-kunang menikmati sensasi puncak rangsangan yang diperolehnya.

Disaat aku dan Indah masih tergolek lemah, dengan mengendap-ngendap Dedi keluar dari rumah menuju tempat pencucian motor dan ternyata motorku sudah lama selesai dicuci. Dedipun membawa pulang motorku.

Hanya beberapa menit kami tergolek lemah, lalu dengan tergesa-gesa bangkit dan memunguti pakaian yang berserakan dan mengenakannya. Indah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, sementara aku menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, kulihat Dedi pulang dari tempat pencucian motor. “Gus, kamu hebat bisa membuat istriku terlonjak-lonjak kenikmatan!” katanya sambil mengedipkan mata padaku, “Istriku mana?” lanjutnya lagi.

“Sedang di kamar mandi.” jawabku tersipu. Aku heran bagaimana ia bisa tahu, padahal aku tidak merasa diintip olehnya. Mungkin aku terlalu terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh Indah, sehingga tidak sadar bahwa aku telah diintip olehnya.

“Gus, kamu harus menepati janji untuk tidak merebut Indah dariku!” kembali dia mengingatkanku sambil berbisik takut didengar oleh istrinya.

“Aku janji.” jawabku meyakinkannya.

***

Sejak itu aku sering mengunjungi rumah Indah untuk menumpahkan segala kerinduan sekaligus meraih nikmat bersama Indah dan ada saja alasan Dedi untuk meninggalkanku agar aku dan istrinya merasa bebas bercinta. Bahkan seringkali Dedi pura-pura pergi dari rumah sebelum aku datang.

Aku semakin akrab dengan Dedi, bahkan Dedi kupekerjakan pada perusahaanku sehingga kami bisa mengatur rencana pertemuanku dengan istrinya secara lancar.

Penyakit impoten yang diderita oleh Dedipun secara perlahan-lahan mulai membaik, penisnya bisa tegang hampir sempurna jika melihat aku menggauli istrinya dan ketegangan penisnya semakin keras ketika menyaksikan istrinya meraih orgasme. Namun apabila dia bermesraan dengan istrinya saat berduaan, penisnya susah sekali bangun, dan seperti biasa Indah selalu berusaha keras merangsangnya dengan berbagai cara.

Akhirnya Dedi mengusulkan padaku, untuk menggantikan posisiku menggenjot istrinya pada saat istrinya mencapai puncak orgasme yang pertama dan aku boleh menggenjot istrinya kembali setelah dia mencapai ejakulasi. Aku menerima usulnya, namun rencana ini tidak dibicarakan ke istrinya.

Ketika rencana ini dilaksanakan, Indah sangat kaget begitu melihat suaminya masuk dalam keadaan telanjang saat dia sedang terengah-engah karena baru mencapai puncak orgasme. Namun Indah sangat heran karena suaminya tidak marah melihat perselingkuhannya dengan temannya, dan yang lebih aneh sekaligus menggembirakan hatinya adalah Indah melihat penis suaminya mampu tegang dengan sempurna.

Dedi langsung menghampiriku yang terdiam melihat Dedi masuk kamar ketika aku sedang menikmati remasan dan jepitan vagina istrinya, Dedi berkata: “Gus, gantian dong, mumpung penisku sedang tegang nich!”

Dengan berat hati aku mencabut batang penisku yang sedang menancap kokoh dari liang vagina Indah, dan beranjak ke meja rias kemudian duduk dikursi yang terdapat di sana menyaksikan apa yang akan dilakukan Dedi pada istrinya.

Mulanya Indah malu dan ragu melihat situasi seperti ini, namun kebahagiaannya melihat batang penis suaminya yang dapat tegang sempurna setelah 2 tahun tertidur lemas, menggantikan keraguannya dengan gairah yang menyala-nyala. Indah berusaha bangkit dengan tangan terbuka menjemput tubuh bugil suaminya dengan cinta yang membara. Dedi langsung memposisikan batang penisnya tepat di liang vagina Indah, dan langsung menyodokkan batang penisnya ke liang vagina Indah dan disambut dengan erangan nikmat penuh kebahagiaan dari Indah. “Ohhhhh… Kang Dedi… Ouhhh…”

Dedi mengayun pantatnya dengan sangat cepat, seolah takut ketegangan penisnya akan surut kembali, tangannya meremas-remas buahdada istrinya dengan penuh semangat, sementara itu Indah membalas setiap perlakuan suaminya dengan lonjakan-lonjakan yang luar biasa bergairah, bahkan gairah seperti ini belum pernah dia pertunjukkan padaku, mereka saling mengerang penuh kenikmatan, disertai hentakan-hentakan tubuh cepat dan keras serta kaku.

Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan gairah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Batang penisku yang belum terpuaskan semakin tegang dan keras menyaksikan persetubuhan mereka yang sangat erotis dan merangsang.

Beberapa menit kemudian, terlihat kedua tubuh mereka melenting kaku dan menjerit nikmat bersamaan meraih orgasme, sebelum akhir berkelojotan dan akhirnya terhempas lemas.

Dedi menggulirkan tubuhnya menjauh dari tubuh istrinya, dada mereka turun-naik menghirup napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Terpancar di wajah mereka kepuasan dan kebahagiaan yang sukar tuk dibayangkan.

Setelah kulihat napas mereka berangsur-angsur normal, kuhampiri mereka yang tergolek lemah dan berkata pada Dedi. “Ded, bagaimana dengan ini?“ kataku sambil menujuk batang penisku yang mengacung-ngacung minta dipuaskan.

“Terserah Indah…” jawab Dedi sambil melirik ke Indah.

Indah balas menatap mata Dedi, minta persetujuan. Dedi hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu Indah menatapku dengan tatapan mengundang. Kuhampiri tubuh Indah, dan kutuntaskan permainanku yang tertunda. Terasa agak becek, liang vagina Indah, namun tidak mengurangi rasa nikmat yang kuterima. Dan Permainan kali ini sungguh luar biasa. Indah bergoyang dan menggeliat tiada henti, walaupun telah berkali-kali mencapai orgasme, Indah terus meladeni dengan semangat yang tak pernah padam. Sampai akhirnya aku benar-benar terkulai lemas diatas tubuhnya.

Hubunganku yang ganjil ini terus berlangsung, hingga Indah memperoleh 2 orang anak yang kini telah berusia SD. Aku tidak tahu, apakah itu anakku atau anak Dedi, Aku sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anakku sendiri, demikian juga Dedi, dia sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anaknya sendiri.

Walaupun sekarang aku telah beristri dan memiliki anak dari istriku, hubungan cintaku dengan Indah masih berlangsung, sebab hingga kini Dedi belum sanggup melakukan persetubuhan dengan istrinya tanpa didahului menyaksikan istrinya dirangsang dan digauli olehku.

Entah kapan hubungan ini akan berakhir, akupun tak tahu…

TITI

Siang itu entah kenapa, Titi yang tertidur setelah menyusui Andra, anaknya yang baru berumur satu tahun di kamarnya sepertinya mendengar suara aneh dari ruang tamu. Ia segera bangun, merapikan jilbab dan pakaian dinas PNS-nya yang belum sempat diganti ketika pulang mengajar, kemudian mengintip apa yang terjadi.

Dengan membuka tirai kamarnya sedikit ia dapat melihat ke ruang tamu yang berada di depan kamarnya. Rupanya di ruang tamu ada seseorang bertopeng yang sedang berusaha masuk ke rumahnya melalui jendela depan.

Pasti orang itu ingin merampok, pikir Titi melintas dalam otaknya. Ia segera menyambar tas kerjanya dan mencari handphonenya, tapi ia terkejut ketika mengetahui handphonenya mati karena waktu pulang dari SD tempatnya mengajar ia berencana meng-charge-nya di rumah.

birahi akhwat (1)

Sialnya lagi, ia lupa mengunci kamarnya. Ketika ia mendekat ke pintu kamar untuk menguncinya, daun pintu sudah dibuka dari luar. Sekarang di depan pintunya telah berdiri seseorang bertopeng yang menggenggam pisau dan bersiap mengancamnya.

“Jangan bergerak atau kau dan anakmu kubunuh!!” gertak si perampok.

“Jangan sakiti anakku, ambil saja apa yang benda yang kamu mau, tapi jangan sakiti anakku!” seru Titi gugup dengan wajah ketakutan. Ia segera mengendong Andra yang masih tertidur ke dalam dekapannya.

“Kalau mau selamat, turuti kata-kataku!” kata si perampok. “Taruh saja anakmu di kasur, kau ikut aku!” lanjut si perampok.

Dengan ketakutan Titi menuruti perintah si perampok, ia kembali menaruh anaknya kembali di tempat tidur, sepertinya anak tersebut tidak terganggu dengan suasana rumah yang mencekam.

Jantung Titi terasa berdebar-debar menghadapi situasi yang menegangkan ini. Tiba-tiba si perampok menariknya keluar kamar tidur lalu membawanya menuju ruang tamu kemudian melemparkan tubuh mulus Titi ke sofa.

Titi yang tidak dapat berjalan cepat karena rok panjang yang dikenakannya sampai mata kaki akhirnya terjerembab ke sofa. Perampok itu menarik jilbab panjangnya sehingga wajah Titi mendekat ke mukanya. “Jangan macam-macam kalau mau selamat!” gertak si perampok.

Tak terasa karena menahan ketakutan yang sangat, air mata Titi yang sejak tadi berkaca-kaca mulai membasahi pipinya, wajahnya yang cantik di usia 26 tahun itu menunjukkan ketakutan yang amat sangat.

Perampok itu kemudian menyumpal mulut Titi dengan taplak dan mengikat tangan dan kakinya dengan tali yang dibawanya. Dalam keadaan terikat, tubuh Titi dimasukkan ke dalam kamar tamu lalu dikunci. Dari dalam kamar tamu itu Titi dapat mendengar perampok itu seperti mencari sesuatu di rumahnya.

Terlihat beberapa kali bayangan perampok itu mondar-mandir di depan pintu kamar tamu. Pikiran Titi berkecamuk memikirkan apa yang akan dilakukan perampok dengan dirinya dan anaknya. Ia sudah memasrahkan bila harta bendanya diambil perampok itu.

Tak lama kemudian pintu kamar tamu terbuka, si perampok masuk dengan membawa segelas air. “Minum sampai habis!” perintah perampok itu sambil membuka sumpalan mulut Titi.

“Apa ini?” tanya Titi.

“Minum! Abisin!” hardik si perampok.

Karena takut Titi akhirnya terpaksa meminum air di dalam gelas itu sampai habis. Ia memang merasa haus ketika dikurung di dalam kamar tamu. Entah air apa itu, rasanya seperti mencekik tenggorokannya, dan membuat kepala pusing. Titi pun tak sadarkan diri.

Titi terbangun dan mendapati dirinya berada di atas kasur dan kaki tangannya sudah bebas dari ikatan. Ia pun segera berlari ke kamarnya, di dalam kamar ia melihat anaknya masih tidur dengan nyenyaknya.

Pikirannya bingung dengan keadaan ini, ia segera membuka lemari tempat ia menyimpan perhiasan, ia terkejut melihat perhiasannya masih ada di tempatnya dan dalam keadaan utuh. Apakah tadi ia benar-benar dirampok atau ia hanya tertidur di kamar tamu?

Otaknya menjadi pusing memikirkan banyak hal sekaligus. Setelah berusaha menenangkan dirinya, Titi pun berniat keluar rumah sambil membawa anaknya. Tapi langkahnya urung ketika dari sudut matanya ia melihat sesosok bayangan di belakangnya. Ternyata bayangan itu adalah si perampok.

Perampok itu menarik jilbab Titi sehingga kepalanya tertarik ke belakang. Belum sempat Titi menyeimbangkan posisi berdirinya yang agak susah karena rok panjang, tiba-tiba ia merasakan mulutnya dibekap dengan sangat kencang sehingga ia kesulitan bernapas.

“Diam, atau kamu mati!” Titi tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Perampok itu kembali membawa Titi ke kamar tamu lalu mendudukkannya di kursi.

Perampok itu mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Titi hingga bagian depan tubuh Titi terbuka dan memperlihatkan buah dada berukuran 32B. Sejenak perampok itu memandangi buah dada Titi yang tertutup oleh BH putih berenda.

Perampok itu meraba-raba buah dada Titi yang masih tertutup BH itu, tangan kasarnya segera dapat menemukan kedua puting susu dan menariknya dengan sangat kuat.

”Auw!” Titi menjerit kecil ketika merasakan sakit pada puting susunya. Kepalanya yang ditutupi Jilbab bergerak tak karuan melampiaskan kesakitannya. Tapi apa lacur? Perlahan-lahan Titi merasakan sakit pada puting susunya berkurang dan ia merasakan perasaan aneh dari dalam dirinya.

Di dalam pikirannya, Titi merasa melayang-layang dan merasakan suatu hal yang sangat indah. Hatinya juga merasakan sesuatu hal yang indah dan merasa berbunga-bunga.

Tanpa Titi sadari ia tersenyum kepada si perampok. Si Perampok membalas senyuman Titi, karena ia tahu bahwa obat perangsang yang sangat kuat yang ia minumkan kepada Titi telah bereaksi.

birahi akhwat (2)

Perampok itu kemudian mendekat dan membelai-belai jilbab Titi. Karena pengaruh obat perangsang Titi lupa bahwa ia merupakan korban perampokan, dan sebentar lagi akan menjadi korban pemerkosaan, akal dan pikirannya telah mati dan remasan serta jepitan perampok pada puting susunya telah membangkitkan nafsunya. Ya, birahinya telah keluar dengan sangat menggebu-gebu, lupa bahwa ia seorang guru agama pada sebuah sekolah dasar negeri, lupa bahwa ia seorang muslimah yang berjilbab.

Titi sudah tak kuasa lagi menahan birahinya yang meledak-ledak ingin dipuaskan. Dengan napas memburu penuh nafsu, Titi mendekatkan wajahnya ke arah si perampok ketika jilbabnya ditarik ke atas.

Ketika si perampok menarik jilbabnya lebih mendekat, bibirnya segera mencium bibir Titi yang merekah menahan birahi, Titi membalas ciuman si perampok, dia tidak bisa menahan gelombang birahi yang menerpanya, terlebih saat itu tangan perampok sedang menggerayangi segenap penjuru tubuhnya.

Kedua telapak tangan perampok itu berhenti di pantat Titi dan masing-masing mencaplok satu sisi. Dirasakannya kedua bongkahan daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang berasal dari kalangan berada, Titi merawat benar tubuhnya dengan fitness dan diet.

Ciuman perampok makin merambat turun ke leher jenjangnya setelah melampirkan jilbab Titi ke belakang lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudara Titi yang BH-nya telah dilepaskan.

Titi sudah tidak bisa menahan diri lagi, birahi telah membuyarkan akal sehatnya. Si perampok menjilati payudaranya dengan liar hingga permukaannya yang halus dan mulus jadi basah oleh air liur, terkadang dia juga menggigiti putingnya, memberikan sensasi tersendiri bagi Titi. Tangan satunya turun meraba-raba rok panjang korbannya dan berusaha membukanya.

Titi seperti mengerti kemauan si perampok, ia kemudian berdiri dan membuka resleting roknya, diikuti rok dalemannya dan tak lama kemudian terpangpanglah paha dan kaki mulusnya, kemaluannya masih ditutupi oleh CD putih berenda.

Kemudian si perampok membuka resleting celananya dan menyembullah penis yang sudah mengeras tajam di depan wajah Titi. Mata wanita itu melotot melihat penis si perampok yang hitam berurat dengan ujungnya disunat menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik suaminya.

“Gede kan, Sayang, pasti punya suamimu ga segede gini kan!” kata si perampok dengan bangga memamerkan senjatanya. “Nah, ayo sekarang servisnya mana?!”

Titi tersenyum memandangi penis si perampok lalu dengan tangan dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan. Si perampok menarik jilbab Titi agar wajah perempuan itu mendekat ke penisnya.

“Servis mulutnya mana, Sayang, masa cuma tangan doang sih?!” suruhnya tak sabar.

Kembali Titi tersenyum, pelan-pelan memajukan wajahnya sambil memandang penis si perampok, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu dengan ragu-ragu, karena Titi belum tahu caranya melakukan oral sex seperti keinginan si perampok, sehingga perampok pun menjadi gusar.

“Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah disentil-sentil gitu!” bentaknya. “Gini nih yang namanya pake mulut!” seraya menjambak Jilbab Titi dan menjejalkan penisnya ke dalam mulut perempuan cantik itu.

“Mmmhhppphh…!!” hanya itu yang keluar dari mulut Titi yang telah dijejali penis. Mulutnya yang mungil membuatnya tidak bisa menampung seluruh batang itu, tapi ia sangat menikmati sex gaya barunya tersebut.

“Ayo, yang bener nyepongnya! Nah, kaya gitu! Kamu cepat belajar, Say, pantes murid-murid kamu cepat pintarnya diajarin kamu!” si perampok mendesah merasakan belaian lidah Titi pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya.

“Uuhhh… gitu dong, Say, enak…! Mmmm!” gumamnya sambil memegangi kepala Titi yang masih ditutupi Jilbab dan memaju-mundurkan pinggulnya semakin cepat.

Titi merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir si perampok yang berbulu lebat, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai si perampok menekan kepalanya sambil melenguh panjang.

“Ooouuugghhhhh… keluar nih, Say! Isep! Isep terus! Jangan dimuntahin, sekalian bersihin kontolnya!” perintah laki-laki itu dengan nafas memburu saat cairan putih kentalnya menyembur deras di dalam mulut Titi.

Mau tidak mau, Titi harus menelannya. Rasanya yang asin dan kental membuatnya hampir muntah dan tersedak. Beberapa saat kemudian, barulah semburannya melemah dan berhenti. Titi langsung terbatuk-batuk begitu si perampok mencabut penis itu dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah mencari udara segar, dia baru saja lulus dalam ujian blow job pertamanya. Si perampok terus saja menahan memegangi Jilbab Titi agar wajah perempuan itu tetap berada di depan penisnya

“Sudah… cukup… Sayang!” Titi menggoda si perampok.

birahi akhwat (3)

“Cukup apanya, Say? Baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh!” ujar si perampok sambil berjongkok di depan Titi, tangannya meraih ujung baju Titi, hendak menyingkapnya.

“Jangan cepat-cepat, Say!” ucap Titi mengiba sambil mengedipkan matanya ke arah si perampok yang akan menaikkan bajunya.

Tangan si perampok menyingkapkan baju dinas yang Titi kenakan, kemudian melepaskan baju itu dari pemiliknya. Tinggallah Titi hanya mengenakan Jilbab putihnya, seluruh pakaiannya telah dilucuti, keringat masih membasahi kulit putihnya yang tak terlindungi lagi.

Kini mulut si perampok dengan rakus menjilat dan menyedot puting Titi yang berwarna merah dadu. Setelah beberapa saat, tangannya yang menggerayangi payudara yang lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulus Titi lalu menjejahi kemulusan paha dalam perempuan itu sebelum akhirnya menjamah selangkangan Titi yang tertutupi rambut yang tercukur rapi.

Titi terlihat senang menerima perlakuan itu, dia mendesah saat tangan si perampok mulai meraba-raba kemaluannya dari luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan si perampok terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal ini membuat laki-laki itu menjadi semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya melalui pinggiran vagina dan menyentuh bibir vagina Titi yang telah becek.

“Hehehe… Jilbaban asik-asik aja yach dientot.” ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan Titi yang basah itu. Titi hanya mengangguk-angukkan kepala yang masih ditutupi Jilbab putih.

“Buka kakinya, Say!” perintah si perampok pada Titi sambil mengelus-elus kontolnya karena keasikan dioral oleh Titi. “Ayo buka…!” katanya lagi dengan lebih keras.

Dengan perlahan-lahan, Titi mulai membuka pahanya dan memperlihatkan kemaluannya yang berbulu cukup lebat tapi tertata rapi kepada si perampok yang duduk berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini di depan lelaki seperti itu.

“Wah, ternyata ibu gak cakep mukanya aja, memeknya juga cakep!” kata si perampok sambil tak berkedip menatap daerah pribadi milik Titi dan mengelusnya pelan. Tak lama kemudian, dia pun melumat vagina Titi dengan ganas, diserangnya setiap sudut vagina itu, mulai dari bibir hingga klitorisnya, disertai gigitan-gigitan kecil yang menggemaskan. Sementara tangan kanannya meraih payudara Titi dan meremas-remasnya kuat, sedangkan yang kiri menelusuri kemulusan pantat Titi yang putih dan montok.

“Uhh… ahh… uhh… ahh… ahh…!” desah Titi dengan tubuh menggeliat-geliat menahan rasa geli yang bercampur nikmat luar biasa, suatu perasaan yang tidak bisa ditahan-tahannya lagi. Tubuhnya telah basah oleh keringat, wajahnya yang memerah tampak makin menarik dan serasi dengan jilbab putih yang dikenakannya dan nafasnya makin memburu.

Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua, secara reflek dia merapatkan kedua pahanya, mengapit kepala si perampok karena sebuah sensasi dahsyat tiba-tiba diterimanya, ternyata si perampok membenamkan lidahnya pada bagian yang lebih dalam dari vaginanya, dia merasakan dinding vaginanya menjepit lidah si perampok. Selain itu dia juga merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh laki-laki itu. Air susunya pun tak henti-hentinya diisapi oleh si perampok.

birahi akhwat (4)

Puas bermain-main dengan vaginanya, si perampok membaringkan tubuh Titi hingga telentang, dan kemudian menindihnya. Kini posisi mereka berhadap-hadapan, dengan ujung penis si perampok tepat berada di depan lubang surga milik Titi. Tanpa menunggu lama, laki-laki itu segera menusukkannya. Sesaat kemudian, dia sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat.

Titi benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali penis si perampok menghujam ke dalam vaginanya, gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya sehingga mata Titi membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan.

Perampok itu lalu mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Titi sambil terus menggenjot. Sementara tangannya menggenggam bulatan payudara Titi dan meremas-remasnya keras.

Menit demi menit berlalu, si perampok masih bersemangat menggenjot tubuh mulus Titi. Sementara Titi sendiri kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah si perampok. Kemudian tanpa melepas penisnya, dia mengangkat paha Titi yang satunya dan digendongnya menuju kursi meja rias dimana dia mendaratkan pantatnya.

Anehnya, tanpa disuruh, Titi memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan si perampok karena kini bukan lagi pikiran dan perasaannya yang bekerja, melainkan naluri seksnya.

Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah si perampok yang masih tertutup topeng itu sedang menatapnya dengan takjub. Dengan posisi demikian, si perampok dapat mengenyot payudara Titi sambil menikmati goyangan pinggulnya.

Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Titi merintih kesakitan, juga keenakan.

Namun dia merasakan sesuatu yang lain dari persenggamaan ini, lain dari yang dia dapat dengan suami tercintanya, gaya bercinta si perampok yang barbar justru menciptakan sensasi yang khas bagi dirinya yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.

birahi akhwat (5)

Di ambang klimaks, tanpa sadar Titi memeluk si perampok dan dibalas dengan pagutan liar di mulutnya. Titi membalasnya tanpa ragu. Mereka berpagutan sampai Titi mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh si perampok.

Sungguh dahsyat orgasme pertama yang didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari suaminya melainkan dari seorang perampok mesum yang memanfaatkan situasi tidak menguntungkan ini. Setelah dua menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan si perampok.

Rupanya penis perampok yang masih menancap di vaginanya belumlah terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit, dia bangkit sehingga penis itu terlepas dari tempatnya menancap. Titi yang belum pulih sepenuhnya disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi.

“Oohh… udah dong, Say, aku udah gak kuat lagi, tolong!” Titi memelas dengan lirih.

Mendengar itu, si perampok cuma nyengir saja, dia merenggangkan kedua paha Titi dan menempelkan penisnya pada bibir kemaluan perempuan itu.

“Uugghh… oohh…!” desah Titi sambil mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat penis si perampok kembali melesak ke dalam vaginanya.

Tangan laki-laki itu memegang dan meremas pantat bulat Titi sambil menyodok-nyodokkan penisnya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Titi menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam.

Suara desahan Titi membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Titi dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal wanita cantik itu.

Lima belas menit lamanya si perampok menyetubuhinya dalam posisi demikian, seluruh bagian tubuh Titi tidak ada yang lepas dari jamahannya. Sekalipun merasa pedih dan ngilu oleh cara si perampok yang barbar, namun Titi tak bisa menyangkal dia juga merasakan nikmat yang sulit dilukiskan, yang tidak dia dapatkan dari sang suami.

Akhirnya, si perampok menggeram saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, penisnya dia tekan lebih dalam ke dalam vagina sempit Titi, serangannya juga makin gencar sehingga Titi dibuatnya berkelejotan dan merintih. Kemudian dia melepaskan penisnya dan cret… cret… cret… spermanya muncrat membasahi pantat Titi yang bulat dan padat.

Belum cukup sampai disitu, disuruhnya Titi menjilati penisnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas dan memakai kembali celananya.

birahi akhwat (6)

Titi bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya yang berjilbab tampak lesu berkeringat dan badannya merasa keletihan yang sangat, dalam hatinya berkecamuk kepuasan yang sensasional ini. Tak lama kemudian karena kelelahan Titi merasa mengantuk.

Keadaan telah malam, ketika Titi tersadar dari tidurnya, ia menajamkan matanya untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, dilihatnya Andra masih tertidur di atas dadanya yang terbuka, anak itu tertidur dengan masih mengenyot puting susu ibunya.

Setelah memindahkan anaknya agar tidur dengan lebih nyaman, Titi merasakan seluruh tubuhnya terasa nyeri dan lemas sekali, seperti habis bekerja berat.

Ia menuju ke arah lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya yang dari tadi pagi belum dia ganti dan agak kusut kelihatannya. Ia terkejut ketika membuka baju dinasnya, disekujur badan atasnya terlihat bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di sekitar dada dan perutnya.

Dengan perasaan was-was, Titi segera membuka seluruh pakaiannya dan terkejutlah ia melihat banyaknya bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di seluruh tubuhnya.

Ia melihat ke kaca rias sambil meraba bekas-bekas bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan di sekitar payudaranya, tiba-tiba ia tersenyum dengan penuh arti. Buru-buru ia menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya sambil memeriksa bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di tubuhnya.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, Titi dengan masih mengenakan handuk yang membelit dari dada hingga pahanya, kembali rebahan disamping anaknya yang masih tertidur pulas.

Dini hari keesokannya daerah tempat tinggal Titi geger, suami Titi yang baru pulang dari dinas luar kotanya menemukan lemari tempat menyimpan uang telah ludes isinya, begitu juga dengan kotak perhiasan dan benda berharga lainnya.

Istrinya tidak ingat ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya dan memang polisi tidak menemukan kerusakan pada pintu dan jendela rumah tersebut.

Akhirnya Titi dibawa ke kantor polisi terdekat untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi Titi sama sekali tidak sadar bahwa ia mengalami perampokan.

BU EKA

Namaku Arly dan sekarang umurku baru 15 tahun, dan perawakanku tinggi 171.5 cm dan kulitku sawo matang, sedangkan mataku berwarna coklat, dan kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata sekaligus pengalaman hidupku. Tahun 2010 beberapa hari yang lalu, saat ini aku sekolah di salah satu SMK yang ada di Tanjung Pinang (kepulauan Riau). Sekolahku letaknya jauh di luar kota (kira-kira 20 km dari kota tempat tinggalku), dan sehari-hari aku pergi menggunakan bus jemputan sekolahku, dan dari sinilah kisahku bermula.

toge besar jilbaber  (1)
Pada suatu siang saat di sekolahan aku dan teman-teman sedang istirahat di kantin sekolah dan sambil bercanda ria, dan saat itu pula ada guruku (berjilbab) sedang makan bersama kami, pada saat itu pula aku merasa sering di lirik oleh ibu itu (panggil saja Eka), bu Eka badannya langsing cenderung agak kurus, matanya besar, mulutnya sedikit lebar dan bibirnya tipis, payudaranya kelihatan agak besar, sedangkan pantatnya padat dan seksi, bu Eka adalah guru kelasku yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris, dan dalam hal pelajarannya aku selalu di puji olehnya karena nilaiku selalu mendapat 8 (maaf bukan memuji diri sendiri!!) Saat didalam pelajaran sedang berlangsung bu Eka sering melirik nakal ke arahku dan terkadang dia sering mengeluarkan lidahnya sambil menjilati bibirnya, dan terkadang dia suka meletakkan jari tangannya di selangkangannya dan sambil meraba di daerah sekitar vaginanya. Dan terkadang saya selalu salah tingkah di buatnya (maklum masih perjaka!!!!), dan kelakuannya hanya aku saja yang tahu. Saat istirahat tiba aku di panggil ke kantor oleh ibu itu, dan saat itu aku di suruh mengikutinya dari belakang.
Jarak kami terlalu dekat sehingga saat aku berjalan terlalu cepat sampai-sampai tangan ibu Eka tersentuh penisku (karena bu Eka kalau berjalan sering melenggangkan tangannya) yang saat itu sedang tegang akibat tingkahnya di kelas. Namun reaksi ibu Eka hanya tersenyum dan wajahnya sedikit memerah. Sampai saat aku pulang menaiki bus jemputan kami. Aku dan temanku duduk paling belakang, sedangkan bu Eka duduk di kursi deretan paling depan. Saat semua teman-temanku sudah turun semua (saat itu tinggal aku, bu Eka dan supirnya) bu Eka melirik nakal ke arahku, dan tiba-tiba ia langsung pindah duduknya di sebelahku, dia duduk paling pojok dekat dinding, dan dia menyuruhku pindah di sebelahnya, dan aku pun menanggapi ajakannya. Saat itu dia meminjan handphoneku, katanya dia mau beli hp yang mirip punyaku (Nokia tipe 6600) entah alasan atau apalah. Saat dia memegang hpku, tiba-tiba hpku berbunyi, dan deringan hpku saat itu berbunyi desahan wanita saat di kentot.

toge besar jilbaber  (2)
“Aaaahhhhh……. ahhhhshhhhshshh…. ooooo…. oooohhhhhh” dan seterusnya ternyata temanku yang menelepon. Tanpa basa basi bu Eka bilang…
“Apa ngga ada yang lebih hot, ibu mau dong”. dengan nada berbisik.
Yang membuatku nafsu.
“Jangan malu-malu tunjukin aja ama ibu…”
Saat itu kupasang earphone dan langsung aku perlihatkan rekaman video porno yang ku dapat dari temanku. Tanpa aku sadari bu Eka meraba kontolku yang saat itu sedang tegang-tegangnya, dan dia terkejut,
“Wooow besar sekali anumu…”
Padahal aku punya ngga gede-gede amat, panjangnya 15 cm dan diameternya 2.3 cm aja yaaa standart lahhhh. Dan terjadilah percakapan antara aku dan bu Eka. Saat itu dia berbisik padaku…
“Aku masih perawan looo……” diiringi dengan desahan.
Lalu jawabku
“Oh yaaa, saya juga masih perjaka bu…”
“Jadi klo gitu kita pertemukan saja antara perjaka dan perawan, pasti nikmat”.
Tanpa basa basi lagi.
“Ngga ah bu, saya ngga berani!!”
“Ayolah… (dengan nada memelas)”
“Tapi di mana bu?” tanyaku!
“Di hotel aja biar aman”
“Tapi saya ngga punya uang bu”
“Ngga apa-apa ibu yang bayarin!!!”
Dan saat tiba di kamar hotel ibu itupun langsung beraksi tanpa basa basi lagi. ia melucuti bajunya satu persatu sambil di iringi dengan desahan yang pertama ia lepaskan adalah jilbab yang menutupi kepalanya, lalu baju, kemudian rok panjangnya dan tibalah saat ia melepaskan BHnya, yang kulihat saat itu adalah toket bu Eka yang putih mulus (mungkin karena sering di tutupi kalleeee) dan putingnya yang masih merah dan pada saat ia mau melepaskan celana dalamnya.
“Mau bantuin ngga…..” tanya bu Eka kepadaku.
Lalu hanya kujawab dengan mengangguk saja tanpa basa basi juga, aku mulai melepaskan celana dalamnya yang berwarna putih tipis yang kulihat saat itu adalah jembut tipis saja, lalu aku mulai menyandarkannya di dinding kamar sambil kujilati. Dan timbullah suara desahan yang membuat tegang kontolku.
“Aah… ahh….. ahhhshhh… terruusss……. ohhh…… yeahhh……. ooohhhh……. au….. udahh dong ibu ngga tahan lagi…. ooohhhh….. yeah….. o..o… oo…. ohhhh…”
Tanpa ku sadari ada cairan yang membasahi wajahku. Cairan putih ituku hisap dan kutumpahkan ke dalam mulutnya, ternyata bu Eka suka.
“Mau lagi donggg……….” lalu aku kembali menghisap pepek bu Eka yang basah dan licin kuat-kuat…
“Aaahhhh…. ahhh… aarrgghh…… uh..uh… uh…uh… ouuu….. yeah….. dan di sela teriakan kerasnya muncrat lagi cairan putih kental itu dengan lajunya.

toge besar jilbaber  (3)
“Crroot…. crooot…..” di saat dia terbaring lemas aku menindih badan bu Eka dan selangkangannya kubuka lebar-lebar, lalu aku mencoba memasukkan kontolku ke dalam pepeknya bu Eka dan yang terjadi malah ngga bisa karena sempit. Saat kutekan kepala kontolku sudah masuk setengah dan ibu itu berteriak.
“Ahhhh…. ahhhhhhhhh….. ahhhhh………, sakitttt.. ahhh… pelan-pelan dong…”
Seakan tak perduli kutekan lagi. Kali ini agak dalam ternyata seperti ada yang membatasi. ku tekan kuat-kuat.
“Ahhhhhh…… aaaaaa……. aaaauuuuu…… sakit…. ohh…. oh….. ooghhhhhh…” aku paksakan saja… akhirnya tembus juga.
“Aahhhhhhhhhh……….. aaaahhhhhh….. sakitttttttt…..” bu Eka berteriak keras sekali.
Sambil kudorong kontolku maju mundur pelan dan kupercepat goyanganku.
“Aaahhhhh…… auhhhhhh….. u.h…. u.u.. hh… a…. u.. u…… hhhhh.hhhh………
Dia terus menjerit kesakitan, dan sekitar 20 kali goyanganku aku terasa seperti mau keluar. Lalu aku arahkan kontolku ke mulutnya dan….
Croot……… crroootttt…… sekitar 5 kali muncrat mulut bu Eka telah di penuhi oleh spermaku yang berwarna putih kental (maklum udah 2 minggu ngga ngocok). Selang beberapa menit aku baru menyadari kalau pepek bu Eka mengeluarkan cairan seperti darah. Lalu ibu Eka cepat-cepat ke kamar mandi. Setalah keluar dari kamar mandi bu Eka langsung menyepong kontolku sambil tiduran di lantai. Ternyata walaupun perawan bu Eka pandai sekali berpose. Lalu ku pegang pinggul bu Eka dan mengarahkan ke posisi menungging. Lalu aku arahkan kontolku ke pepek bu Eka, lalu ku genjot lagi….
“Oohhh….. oh……. o….. h.h.h.h.hh.. h.hhhhh…… hhhhhh.. hhhhh… yeahhhhh oouu…. yesssss….. ooohhhhh… yeahhhhh…”
Saat aku sudah mulai bosan ku cabut kontolku lalu ku arah kan ke buritnya
“Sakit ngga…..” tanya bu Eka.
“Paling dikit bu…..” jawabku sambil aku mencoba memasukkan tetapi ngga bisa karena terlalu sempit.
“Ngga apa-apa kok kan masih ada pepekku mau lagi nggaaaa…..” tanya bu Eka.
Lalu kukentot lagi pepeknya tapi sekarang beda waktu aku memasukkan kontolku ke dalam, baru sedikit saja sudah di telan oleh pepeknya. Ternyata pepek bu Eka mirip dengan lumpur hidup. Aku mengarahkan kontolku lagi .
“Aahhh… ahhh… ahhh…. ahh…. oooouuuhh….. yeah… ou…. ou… ohhhhhh… dan saat sekitar 15 kali goyanganku bu Eka melepaskan kontolku.
“Aku mau keluar….”
“Aku juga bu…., kita keluarin di dalem aja buu…”
“Iya deeh” jawabnya.
Lalu kumasukkan lagi kontolku kali ini aku menusuknya kuat-kuat.

toge besar jilbaber  (4)
“Aaaahhhh……. ahhhh………. aaaahhhhhh. ooooouuuuuuhh…..” saat teriakan panjang itu aku menyemprotkan spermaku ke dalam pepeknya.
Crroooot…. crootttt… aku mendengar kata-katanya.
“Nikmat sekali…….”
Dan aku pun tidur sampai pagi dengan menancapkan kontolku di dalam pepeknya dengan posisi berhadapan ke samping.