WINDY 3

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa dan hari-hari penuh sensasi dengan Windy. Terhitung seminggu sekali aku mengunjunginya. Harinya tidak tentu, mengikuti jam dinas suaminya yang berubah-ubah. Meski sedikit merepotkan, aku oke-oke saja. Rasanya tidak ada bosan-bosannya menyetubuhi wanita cantik yang satu itu. Meski tidak semolek Tanti, tapi ada saja ulah dan perbuatannya yang mengejutkanku.

Pernah suatu kali ia membukakan pintu sambil telanjang. Tubuhnya basah oleh semacam minyak, terlihat sangat mulus dan mengkilat sekali. Tentu saja aku langsung panas, dan kutubruk ia saat itu juga. Kami bercinta di ruang tamu rumahnya. Empat kali Windy mendapatkan orgasme, sedangkan aku cukup sekali saja, karena selanjutnya kami meneruskan acara tukar lendir itu semalam suntuk setelah Windy menawariku makan malam.

Atau saat ia menjemputku di terminal, dan mengoral penisku selama perjalanan menuju rumahnya. Begitu sampai, ia malah bilang kalau lagi ’dapet’. Sial, ia sengaja mengerjaiku. Jadilah aku malam itu cuma tidur mengeloninya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Memang aku cukup puas juga karena selain masih bisa meraba-raba tubuh sintalnya, aku juga berkali-kali dioral hingga dalam semalam, terhitung empat kali aku muncrat di mulutnya. Dan Windy dengan senang menelan semuanya. Memang gokil sekali perempuan yang satu ini.

Dia juga sering mengajakku pindah-pindah tempat main; mulai dari kamar mandi hingga halaman belakang rumahnya. Pernah kami hampir dipergoki oleh tetangganya yang malam-malam mau buang sampah, untung wanita tua itu sudah katarak sehingga tidak melihat kami yang bertindihan telanjang di bawah pohon jambu. Kalau beneran ketahuan kan bisa berabe.

Tapi situasi yang ’menyeramkan’ itu malah semakin menambah gairah kami berdua. Windy jadi semakin liar dan geregetan, begitu pula denganku. Akibatnya, kami jadi begitu kecapekan pada keesokan harinya. Dan saat suaminya pulang di pagi hari, aku masih ada di kamar Windy. Ketiduran! Benar-benar mendebarkan. Aku sampai harus meloncat dari jendela untuk menyelamatkan diri, sementara Windy berusaha menyibukkan suaminya meski saat ia ia cuma bercelana dalam saja.

”Kok pakaianmu kaya gitu?” kudengar suaminya bertanya saat aku sibuk memakai celana di bawah ambang jendela.

Windy gelagapan menjawab, dan selanjutnya perempuan itu malah menjerit saat suaminya menyeret ia ke atas tempat tidur dan menyetubuhinya dua kali. Rupanya bukan aku saja yang terpana begitu menatap tubuh molek Windy, suaminya yang sudah menikahinya begitu lama, tetap berlaku sama. Memang, wanita cantik dan seksi seperti dia selalu bisa menggoda siapapun.

Tanpa sempat mandi apalagi gosok gigi, akupun pergi meninggalkan tempat itu. Kucegat taksi yang kebetulan melintas dan minta untuk diantarkan ke terminal. Saat kuceritakan kejadian itu kepada Tanty, dia langsung tertawa ngakak sambil menyumpahiku. Perempuan yang sekarang hamil 9 bulan itu menyuruhku agar lebih berhati-hati lagi.

”Jangan sampai ketangkep, nanti anakku ini bingung nyari-nyari ayahnya.” ia berkelakar. Bayi dalam kandungannya memang adalah anakku.

”Siap, Bos!” aku menyahut riang. Dan menutup telepon dengan ucapan ,”Aku kangen kamu, Tan.”

”Kangen aku apa kangen tubuhku?” godanya lagi.

”Dua-duanya,” Dan kamipun tertawa berbarengan. Aku membolos kerja hari itu karena siang baru sampai kembali ke kota S. Aku langsung menuju rumah kontrakan dan menelepon istriku yang akhir-akhir ini sedikit kuabaikan. Untung ia tidak curiga. Volume pekerjaan yang bertambah kujadikan alasan kenapa aku jarang pulang, padahal sebenarnya aku sibuk membagi benih kepada Windy dan Tanty.

Maafkan aku, istriku. Aku selingkuh bukan karena kamu kurang cantik, ataupun tubuhmu yang kurang seksi. Kamu sudah sangat sempurna; sabar, penyayang, pengertian, kalem, pokoknya segalanya deh. Kamu adalah malaikat dan bidadariku. Tapi… sekali lagi tapi, seperti kata pepatah: rumput tetangga lebih hijau, ataupun bosan tiap hari makan sate, sekali-kali nyoba gule… itulah yang terjadi kepadaku. Kamu sama sekali tidak bersalah. Akulah yang nakal dan tidak bisa menahan nafsu. Nafsu kepada dua wanita cantik semacam Tanty dan Windy, yang kuharap cukup dua itu saja karena kalau sampai ada lagi… aku juga masih mau, haha!

Siang itu panas sekali, dengan memakai taksi aku pergi ke rumah Windy. Dia sudah berkata kalau hari ini suaminya dinas malam. Seperti yang sudah-sudah, itulah saat yang tepat bagiku untuk mengunjunginya.

Sesampainya disana, segera kubuka pintu pagar. Tanpa perlu repot-repot mengetuk, Windy sudah keluar menyapaku. “Kangen aku, Mas,” rajuknya sambil menyerbu memelukku.

Segera kututup pintu dan cepat-cepat kubalas pelukannya. Kami berpagutan rakus di balik sambil tanganku lekas menggerayang di tubuh sintalnya.

“Ih, nafsu amat sih?” Dia tertawa dan memisahkan tubuhnya.

Kukejar dia dengan mengelus-elus bongkahan pantatnya saat mengajakku masuk ke ruang tengah. Disana, kembali ia kucium dan kugeluti sambil kupepet tubuh montoknya ke sofa merah di ruang tengah. Napasku sudah ngos-ngosan, sementara kuperhatikan Windy juga sudah merah padam. Tapi dia mencoba untuk bertahan saat aku ingin melepas baju panjangnya.

“Nanti dulu,” bisiknya serak. “ada yang ingin aku kasih tahu sama Mas.” Ditangkisnya tanganku yang ingin meraba kembali tonjolan payudaranya.

Kupandang wajahnya yang cantik jelita yang malam ini tertutup jilbab biru muda. Ia tersenyum membalasku dan mengangguk. “Dari senyummu, seharusnya ini berita bagus.” kataku.

Dia mengangguk, “Iya, aku hamil. Mas.” pekiknya ceria.

”A-apa?” meski sudah mengantisipasi jawaban ini, tak urung aku tetap terkejut juga.

”Sudah dua minggu ini aku telat, dan pagi tadi aku mual-mual.” Dia berbinar, membuatnya jadi tambah cantik. “Setelah diantar suami periksa ke dokter, ternyata positif,” lanjutnya.

“Wah, selamat ya.” Kupegang tangannya dan kucium pipinya, tapi Windy malah memberikan bibirnya untuk kulumat. Kami pun berciuman sekali lagi dan kembali tanganku menggerayangi tubuhnya yang sintal.

“Ih, nih tangan nakal amat,” serunya saat aku bergantian memijit-mijit kedua bongkahan payudaranya.

“Habis kamu sih, bikin aku gemes aja.” Kupagut lagi bibirnya yang tipis memerah, dan baru kulepas setelah napas kami sama-sama terengah-engah.

”Aku seneng sekali, Mas. Bayangkan, tiga tahun menunggu…” lirihnya sambil menaruh kepala di pundakku.

“Kalau reaksi suamimu, gimana?” tanyaku dengan tangan memeluk pinggangnya yang ramping.

“Dia juga seneng banget, dikiranya ini benih dari dia.” Windy tertawa getir.

Aku mencoba ikut tertawa. “Kalau dia sampai tahu gimana?”

“Asal kita pintar, aku yakin pasti aman.” Ia menyurukkan kepala di dadaku.

Kucium kembali pipinya, lalu hidungnya, dan terakhir belahan bibirnya yang selalu terlihat mengundang. “Berarti tugasku sudah selesai donk,” bisikku tak rela.

“Ah, ya nggak gitu juga kale…” Windy menggeleng. “Masa aku akan langsung melupakan jasa Mas gitu aja,”

”Lha terus?” tanyaku penasaran. Tak terasa, tanganku yang sudah sedari tadi menggerayang di pahanya, kini bisa menyingkap gaun gamisnya hingga ke pinggang. Membuat Windi yang duduk di atas pangkuanku jadi meringkuk setengah telanjang. Tak henti tanganku terus meraba dan mengelus-elus belahan pahanya yang terasa halus dan sangat hangat itu.

“Ehm…” Windy menggelinjang lirih, namun tetap membiarkannya saja. Malah yang ada ia seperti semakin memepetkan tubuhnya untuk menghimpit batang penisku yang sudah terjepit diantara perutnya. “Cepet amat, tahu-tahu dah ngaceng aja,” Dia tertawa.

Kucium lagi bibirnya yang merah tipis dan kulumat dengan rakus, yang diimbangi oleh Windy dengan senang hati. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” aku berbisik.

“Ahh… y-yang mana?” tanyanya sambil mendesah begitu tanganku menelusup ke balik baju untuk menggelitik perutnya yang masih terasa rata.

“Kelanjutan hubungan kita,” Tanganku terus merayap dan sebentar saja sudah sampai di bawah bongkahan payudaranya. Kuremas pelan-pelan benda empuk kenyal yang terasa hangat itu, meski masih tertutup beha tipis tapi aku bisa merasakan kalau putingnya yang mungil sudah sedikit menegang.

“Ahh… Mas!” Windy mengeluh lagi, tak sanggup menjawab pertanyaanku karena kini tanganku sudah menyusup ke dalam beha untuk mencengkeram kedua bongkahannya secara langsung.

“Susumu gede, Win.” bisikku sambil mengendusi pipi dan bibirnya.

Windy membuka mulut untuk menyambut ciumanku. Tubuhnya sudah lemas, terlihat pasrah sepenuhnya. Aku terus membelai dan menggerayangi tubuhnya yang sintal sebelum Windy tiba-tiba membuka mata dan menjauhkan tanganku yang mencoba melepas jilbabnya.

“J-jangan, Mas… uhh, sudah dulu dong meluknya, panas nih…” Ia bangkit dan dengan terhuyung-huyung masuk ke dapur.

Aku mengikutinya, ”Oh… sori, Win. Habis aku pengen banget. Mau apa lagi kesini kalau bukan meluk kamu,” kataku.

“Iya, tapi ntar dulu ya.” Dia mengajakku duduk di meja makan. “Mas sudah makan belum, tadi aku beliin steak kesukaan Mas. Ayo dicoba dulu, mumpung masih hangat.” Dia melayaniku, bagai seorang istri lagi melayani suami.

”Sip banget,” kuminta Windy untuk duduk di sebelahku. Sementara aku melahap apa yang ia sajikan, Windy mengambilkan air minum. Senyum cerah terus menghiasi wajah cantiknya saat ia mulai berbicara.

”Mas nggak usah kuatir masalah kelanjutan hubungan kita.” Dia berkata. “selama suamiku nggak curiga, pokoknya Mas tenang aja. Tapi hanya ingat kata dokter, di triwulan pertama si bayi masih rentan. Jadi…”

“Iya, untuk sementara kita berhenti dulu.” kataku sambil satu tangan meraih tonjolan payudaranya, sementara tangan yang satunya terus melanjutkan makan.

”Eh, bukannya gitu…” Windy menggelinjang geli. “Bisa kok, tapi kita harus lebih hati-hati.

“Hah?” Aku terpana seakan tak percaya. Dengan Tanti dan istriku, aku harus berpuasa di awal-awal kehamilan mereka. Sementara Windy tampak oke-oke saja. Sungguh sangat beruntung sekali.

“Waktu periksa tadi, dokter sudah mengecek… kandunganku kuat kok. Aku juga tanya masalah hubungan seks saat kehamilan, kata dokternya, silahkan saja asal tidak berlebihan. Mengenai sampai kapan boleh berhubungan, dokter bilang itu relatif. Tergantung dari masing-masing pasangan. Malah dokter itu bilang, ada juga pasangan yang hamil 9 bulan masih melakukannya. Kenyataannya libido wanita justru meningkat saat sedang hamil, juga memang tidak ditabukan berhubungan seks saat hamil, karena bisa memperlancar lobang wanita.” Windy menambahkan.

“Tapi tujuan perselingkuhan kita jadi lain sekarang,” aku mengingatkan.

“Kenapa, mas nggak suka?” tantangnya sambil tersenyum.

Aku mengangkat bahu. “Gila kalau aku sampai menolak.”

“Ya sudah kalau begitu.” Windy bangkit untuk merapikan piring dan gelas. Selama itu juga tanganku terus menggerayang di bokong sintalnya.

“Tubuhmu nggak pernah bikin bosan, Win.” bisikku jujur.

“Mas aja yang kegatelan,” dia tertawa ringan sebelum kemudian mengajakku pindah ke ruang teve. Tampaknya disana permainan kami akan dimulai.

Kami berpelukan mesra di atas sofa menonton film yang entah apa, karena tanganku lebih sibuk meraba-raba daripada melihat tayangan yang ada disana. Windy menggelinjang namun sama sekali tidak menolak. Terus kuremas-kuremas paha dan tonjolan payudaranya hingga sebentar saja gamis panjang yang ia kenakan sudah tersingkap kemana-mana, menampakkan tubuh bugil indah yang selalu bisa memancing hasrat dan gairahku.

Saat akan kucium bibirnya, barulah Windy berbisik sedikit serius. ”Mas, sekali lagi aku mau berterimakasih sama Mas, tak terhingga. Aku kini merasa lengkap sebagai seorang perempuan. Terima kasih, Mas.”

”Ah, nggak usah begitu juga,” kulumat lembut bibirnya. “Aku turut senang kalau kamu bahagia.” kataku sambil tambah memeluknya.

”Terimakasih sekali lagi, Mas,” Windy balas memelukku, kurasakan air matanya mulai menetes.

Segera kulepas pelukan dan kuhapus air mata itu dengan tanganku. Lalu aku tersenyum. Windy pun ikut tersenyum. ”Sudah ah, lagi bahagia gini jangan menangis.” rayuku.

”I-iya, Mas. Kalau kamu bilang begitu, aku nggak nangis lagi deh.” sahutnya.

”Nah gitu dong,” Kukecup lagi bibirnya.

”Kalau nanti aku gendut, Mas masih suka nggak?” tanyanya tiba-tiba.

”Justru gendutnya wanita hamil itu yang bikin pengen. Ininya jadi tambah gede,” kataku sambil memencet-mencet ringan bulatan payudaranya.

“Punyaku nanti jadi segede apa ya?” Windy memandangi dadanya yang memang sudah over size, tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil dan kurus.

“Tambah gede malah tambah bagus,” kataku bercanda.

“Kalau punya Tanti?” tanyanya ingin membandingkan.

“Jadi gede juga, tapi tampaknya bakal lebih gede punyamu.” Aku menunduk, satu persatu kujilati puting Windy yang masih nampak mungil memerah. Enam bulan lagi, puting itu akan jadi tambah hitam dan menonjol, siap untuk memberi ASI bagi si bayi.

“Tanti sekarang lagi nifas ya?” tanyanya sambil menggelinjang. Ditatapnya tampangku yang kepengen, sebelum tangannya mulai mengelus dan meremas pangkal celanaku.

“Iya,” aku mengangguk.

Tanti memang baru melahirkan dua minggu yang lalu. Bayinya cowok seperti yang ia idam-idamkan, dan wajahnya mirip denganku. Suaminya sepertinya tidak curiga karena kata Tanti, laki-laki itu sangat menyayangi anaknya. Aku jadi lega, setidaknya apa yang kulakukan selama ini bisa memberi manfaat bagi semuanya.

“Nggak kangen sama Tanti?” tanya Windy. Tangannya yang terus bermain di celanaku, akhirnya mau tak mau membuat batang penisku bangun juga.

“Kangen sih, tapi untung ada kamu.” sahutku sambil kubantu Windy memelorotkan celana.

“Lebih suka mana, aku apa Tanti?” tanyanya menggoda.

“Nih jawabannya,” Kusuruh dia untuk menunduk, dan tanpa menunggu lama, lidahnya yang basah mulai menjilati kepala penisku.

Windy menjilatinya dengan lembut, mulai dari lubang pipis hingga batangnya yang sudah merekah besar. Tangannya juga tak henti mengocok, sambil sesekali mempermainkan biji zakarku yang seakan seperti ingin meledak.

“Ssshhh… Win!” aku mendesah ketika mulutnya mulai menelan ujung penisku. Ia mengemut dan menghisap-hisapnya rakus hingga akhirnya seluruh batangku dilahapnya, sambil sesekali gantian mengenyot bijiku. Perbuatannya itu kontan membuat birahiku meningkat. Masih sambil rebahan di sofa, kubuka bajuku hingga aku pun terduduk telanjang bulat menikmati segala sentuhannya.

Setelah agak lama, Windy berdiri dan mulai menanggalkan busananya. Aku hanya tiduran saja, menyaksikan sambil mengocok-ngocok penisku. Kuperhatikan tubuhnya, belum ada perubahan yang mencolok; masih tetap ramping dan seksi. Tetek besarnya masih tetap indah, dengan puting dan lingkaran sekitarnya agak merah kecoklatan. Puting itu sedikit tegang, yang tentu saja jadi menambah keras batang penisku.

Windy lalu naik ke sofa, duduk di depanku dengan provokatifnya. Kedua tangannya dinaikkan dan diapitkan di belakang kepala, seperti ingin memperlihatkan gundukan payudaranya yang selama ini selalu kukagumi. Sementara kakinya dibuka lebar-lebar dengan kedua lutut menekuk, menampakkan rimbunnya bulu kemaluan yang menghiasi celah selangkangannya.

“Hmm,” Aku meneguk ludah menyaksikan keindahan di depanku itu.

Segera aku bangkit dan menyerbu gundukan buah dadanya, kujilati dan kuciumi bergantian sampai menjadi basah. Lalu kucari bibirnya, cepat kami saling bertautan lidah dengan gairah membakar. Pipi, mata, leher, dan belakang telinganya tak luput dari jilatanku. Windy blingsatan kegelian, apalagi saat mulutku kembali menyerbu tetek besarnya sambil tanganku juga meremas-remasnya gemas.

Yang jadi sasaran nafsuku adalah putingnya yang terlihat lebih tegang dan lebih besar, terasa enak sekali saat dijilat dan dimainkan dengan lidah. Kujilati dan kuemut-emut benda mungil itu, kugoyang-goyang dengan lidahku. Windy menggeliatkan badannya, campuran antara geli dan keenakan. Aku benar-benar gemes sama putingnya saat itu, jadi lama aku nenen disana. Kadang bergantian dengan menggerayangi bulu-bulu kemaluannya sebentar untuk membelai-belai belahan memeknya, hanya membelai belahannya saja, tidak lebih.

Ada 10 menit aku hanya nenen saja, Windy juga tidak meminta untuk berubah posisi, mungkin ia sengaja membiarkanku menikmati mainan baru; yaitu tonjolan putingnya.

Puas menghisap disana, aku mulai menuju ke lembah kenikmatan milik perempuan cantik itu. Bibirku mulai menciumi permukaan dan belahannya yang sempit, pelan-pelan kusodokkan jariku ke sana sebelum biji itilnya menjadi sasaran santapan lidahku. Kembali Windy mendesah dan menggeliatkan pinggulnya, kini dia agak menaikkan badan dengan tangan meraih belakang kepalaku untuk semakin membenamkannya ke celah selangkangan agar aku terus memainkan itilnya lebih kuat dan lebih nikmat lagi.

“Hmm… hmph…” Aku makin bersemangat saja dalam menjilat dan mengulum, rambutku diremas olehnya. Desah dan erangannya kini mulai berkepanjangan.

”Ahhh… ahhh… betul, Mas… d-di situu…” teriaknya keenakan.

”Ough… sshh….” Sambil menjilat, aku juga kembali meraih tonjolan payudaranya dan meremas-remasnya gemas.

”Yah…. jilat terus, Mas… ohh… gila!!” rintihnya tak tahan.

Kupenceti puting susunya yang mungil berkali-kali sambil sesekali juga kupilin-pilin mesra. ”Ahmhp…” Dan aku juga terus mencaplok liang surganya.

Akibatnya, “Mas… a-aku…” Windy menjerit keras begitu cairan orgasmenya menyembur kencang membasahi lubang senggamanya.

Aku segera bangkit dan tanpa perlu repot-repot membersihkannya, langsung memposisikan tubuh di antara kedua kakinya yang masih mengangkang lebar, dan… Bless!! Hanya perlu satu kali tusukan, penisku pun amblas ke dalam lubang nikmatnya.

“Auw!” Windy memekik, sementara aku secara naluri bertumpu di atas kedua lutut dan tanganku, berusaha tidak menindih perutnya. Kumulai pompaanku dalam lobang kemaluannya.

Kurasakan sesaat, belum ada rasa yang berubah, masih sama legit sebelum dia hamil. Aku memompa dengan santai saja, aku tidak mau menyodok dengan cepat atau kuat, takut terjadi sesuatu. Kugerakkan penisku keluar masuk dengan teratur, sementara tanganku mulai berkarya meremasi bulatan teteknya; kupilin dan kuputar-putar putingnya yang selalu membuatku gemas, sambil sesekali tanganku membelai bulu keteknya saat tangan Windy terangkat ke atas.

Boleh dibilang permainan kami berlangsung secara lembut dan penuh kehangatan, namun tidak menurunkan kenikmatannya. Malah semakin menambah keasyikan. Kami terus bergaya seperti itu sebelum aku cabut kejantananku dan mengajaknya berganti posisi favoritku; yaitu menggaulinya dengan posisi sejajar menyamping.

Segera kuangkat dengan lembut satu kaki Windy, dan aku langsung membenamkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya, sementara mulutku dengan leluasa menjilat serta menciumi bibirnya. Tak luput juga putingnya yang mungil kulumat bergantian sambil jariku memainkan itilnya yang kecil. Memang Windy paling senang kalau disodok dengan gaya ini, katanya semua bagian tubuhnya bisa aku mainkan sekaligus.

Maka desahan dan erangannya semakin menjadi-jadi, ”Ouw… ahhh… shh… hisap lagi, Mas… aduh… aduduh… itilku juga, jangan berhenti… ahh… auw!!”

Hasilnya, tak perlu waktu lama. Dia kembali orgasme. Aku masih tetap menyodokkan penisku dengan irama sedang saja; saat menarik, kukeluarkan sampai sebatas kepala, lalu kembali menusuk masuk secara perlahan-lahan. Begitu terus, dan tampaknya Windy sangat menikmati karena lubang memeknya kurasakan semakin basah dan lengket sementara itilnya jadi semakin mengeras oleh permainan jariku.

Akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kukenal. Segera kubenamkan dan kugoyang penisku dalam lubang kemaluannya sedikit lebih cepat…

Croot… croot… croot… spermaku meledak membanjiri lorong rahimnya. Kami terkulai lemas, sama-sama puas dan berkeringat. Windy mencium dan memelukku dengan mesra.

”Terima kasih, Mas, untuk kenikmatannya.” Ia berbisik, “dan juga karena telah memberiku anak.”

Lalu kami tertidur pulas. Lewat tengah malam kami bangun, main lagi dua kali sebelum kemudian mandi bareng karena hari sudah menjelang subuh. Di kamar mandi, kembali kunaiki tubuh sintalnya, namun kali ini kuguyurkan spermaku ke dalam mulutnya. Windy tersenyum saat menelannya. Setelah itu kami berpakaian dan kutemani dia memasak sarapan.

Menjelang suaminya pulang, kami pun berpisah. Windy berjanji akan mengabariku lagi kalau memang ada kesempatan. Namun itu ternyata sulit. Bukan karena suaminya berada di rumah terus, melainkan karena kandungan Windy yang tiba-tiba saja bermasalah. Dokter menganjurkan agar dia menghentikan sejenak kegiatan ranjang sampai kandungannya menginjak usia tiga bulan.

“Nggak apa-apa kan, Mas?” ia menelepon meminta pengertianku.

Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk menerimanya. Meski dengan berat hati, terpaksa aku berucap setuju. “Akan kutunggu,” kataku menyanggupi.

TANTRI

Gelora Joko tak terbendung melihat Tantri kembali dari dapur dan memasuki kamar dengan berbalut daster tipis warna merah yang membuat dadanya yang ranum itu semakin menonjol. Setitik selai cokelat di pipi perempuan sintal itu membuat Joko ingin melabuhkan lidahnya di sana dan menenggelamkan Tantri ke dalam pelukannya. Rambut panjangnya yang biasanya tertutup jilbab kini tergerai bergelombang, bergoyang seirama dengan lenggokan pantatnya yang bahenol. Tangan Joko tak kuasa untuk tidak menepuk bongkahan daging padat itu ketika Tantri naik ke atas ranjang. Perempuan itu lantas melenguh pelan. Birahinya ikut tersulut melihat Joko terlentang dengan hanya berbalut selimut tipis, memperlihatkan dada bidang berbulu pujaan para gadis, termasuk dirinya.

Joko bersyukur dalam hati, hidupnya sudah sempurna. Memiliki karir cemerlang di salah satu perusahaan swasta dan didampingi perempuan secantik Tantri, mungkin juga menjadi impian banyak laki-laki di seluruh dunia. Dan pagi itu, Joko hanya ingin bermalas-malasan di ranjang bersama perempuan pujaan hatinya itu. Perempuan yang bisa menjadi penyeimbang dirinya yang gila kerja. Dilumatnya terus bibir merah Tantri seolah tak ada hari esok. Joko menyalahkan aura sensual yang keluar dari bibir perempuan itu.

“Nggak kerja, Pak?”

“Aku kan ambil cuti. Pengen seharian ini sama kamu, Sayang. Kayanya enak ya, di kamar terus kaya gini.”

“Nggak keluar kamar? Nggak makan?”

“Makan kamu aja, Sayang.” jawab Joko dengan seringai nakal di bibir tipisnya itu. Kemudian dia melumat lagi bibir Tantri, kali ini ditambah menjelajah bagian leher dan juga dada. Tantri mengerang pelan. Tangannya bergerak nakal, menyibak selimut yang membungkus bagian bawah tubuh Joko, sementara mulutnya membalas lumatan bibir laki-laki itu dengan ganas dan gemas.

Tangan Joko sudah meremas-remas buah dada Tantri yang terhalang oleh daster longgar yang dikenakannya. Mata gadis itu terpejam menikmati ciumannya yang panas bergelora. Dan Tantri semakin liar mencium Joko sambil menahan agar erangan nikmat tak keluar dari mulutnya.

Nafas mereka berdua semakin tersengal-sengal, tangan Joko kini beralih ke bawah, menarik ujung daster merah yang dikenakan oleh Tantri. Begitu tersingkap, tangannya langsung menyusup ke selangkangan gadis manis itu. Bisa ia rasakan celana dalam Tantri yang sudah sangat basah, rupanya sensasi bercinta di pagi hari membuat gairah rangsangannya begitu terasa hingga dengan cepat membuat vagina Tantri menjadi banjir.

Joko menyisipkan jari dari pinggir celana dalam yang dikenakan gadis itu, kini bisa ia sentuh permukaan vagina Tantri yang ditumbuhi bulu-bulu lembut yang sangat lebat. Dengan penuh nafsu tangannya mengusap-usap bahkan mengobok-obok permukaan vagina yang selalu sanggup memacu gairahnya itu. Jari-jarinya mempermainkan lipatan vagina Tantri yang basah, sampai gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan giginya gemeretak menahan nikmat yang menimpa dirinya. Tantri berusaha keras menahan nafas agar suara erangan nikmatnya tidak sampai keluar.

Lalu jempol Joko memutar dan menekan klitorisnya yang menonjol keras. Badan Tantri langsung bergetar, mulutnya semakin rapat tertutup, sementara kepalanya terdongak dengan mata terpejam. Nafasnya semakin terengah-engah menahan nikmat yang tak terhingga.

Sementara jempolnya memberikan rangsangan kenikmatan, jari tengah Joko juga berputar dengan gerakan mengebor menembus liang vagina Tantri yang semakin basah dan licin. Tubuh gadis itu langsung bergelinjang hebat dan melonjak-lonjak melambungkan dirinya hingga ke awang-awang. Gerakan jari tengah Joko yang menerobos liang vaginanya sambil berputar kini terasa semakin dalam. Tantri hanya bisa menggelinjang hebat dengan pinggang melenting ke belakang, suara lenguhan yang dari tadi berusaha ia tahan kini keluar tanpa ia sadari.

“Uuhhhhh…”

Jempol Joko terus menekan dan memutar klitoris gadis itu, sedangkan jari tengahnya semakin cepat merangsang liang vagina Tantri yang terasa sangat sempit. Tubuh gadis itu semakin hebat terguncang hingga akhirnya melenting kejang dan kaku, dan dari mulutnya keluar suara tercekik. ”Akkkhhhhh…”

Jari tengah Joko terasa seperti dijepit oleh dinding basah dengan sangat kuat disertai dengan kedutan-kedutan yang keras dan cepat. Lalu tubuh Tantri melemas dan punggungnya terhempas pada sandaran ranjang. Nafasnya tersengal-sengal seperti atlit yang baru mencapai finish. Ya, gadis itu baru saja mencapai orgasme dengan penuh kenikmatan yang sangat sensasional.

Joko mencabut jarinya dari liang vagina Tantri yang becek, ia arahkan jari tengah itu ke hidungku dan menghirup dalam-dalam aroma lendir vagina yang menempel disana. Aroma itu begitu merangsang birahinya. Dengan penuh perasaan Joko menjilati lendir vagina Tantri hingga jadi kesat dan bersih.

Di dalam kelelahannya, Tantri memperhatikan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Dia merasa puas dan bangga melihat Joko dengan rakusnya menjilati seluruh lendir vaginanya yang menempel di jari. Gairahnya kembali bangkit mengalahkan rasa lelahnya yang mendera. Ia bangkit dan mulai mengelus-elus batang penis Joko yang sangat keras dan tegang.

Penis itu langsung berdiri bebas dengan gagahnya. Tantri menggenggam pangkalnya yang berurat dengan jari-jarinya yang halus dan secara perlahan namun pasti lidahnya mulai terjulur untuk menjilati ujungnya yang tumpul. Bahkan tidak cuma kepala, seluruh bagian penis Joko juga dijilatinya dengan penuh gairah seperti sedang menjilati es krim yang sangat nikmat.

Joko pun melenguh pelan menahan nikmat, ”Uhhh…”

Jilatan Tantri terasa begitu lincah dan bergairah, membuatnya melayang-layang penuh nikmat. Pantat Joko melonjak-lonjak sehingga kepala penisnya menekan-nekan mulut Tantri, seperti sedang mengejar sesuatu yang lebih nikmat lagi. Nafasnya juga semakin memburu ketika dengan asyik dan penuh gairah Tantri terus menjilati kepala penisnya tanpa memperhatikan gelinjang tubuh Joko yang semakin keras menekan mulutnya. Lalu…

“Akhhhh…” suara laki-laki itu seperti tercekik dan sesak nafas ketika secara tiba-tiba mulut Tantri mencaplok batang penisnya. Rongga mulut gadis itu terasa panas dan sangat nikmat sehingga membuat Joko ternganga, badannya kaku dan dadanya sesak susah bernafas.

Dengan lincahnya, Tantri terus mengocok dan menghisap penis Joko, membuatnya jadi semakin besar dan tegang saja. Rambut ikalnya bergoyang-goyang menampilkan pemandangan yang sangat erotis dari seorang wanita berjilbab lebar yang sehari-hari bertingkah laku alim.

Penis Joko yang berada dalam genggaman tangan dan mulut Tantri terasa semakin membengkak keras. Menyadari hal itu, Tantri semakin bergairah mengoral, berharap mulutnya dapat disemprot oleh sperma Joko pada saat laki-laki itu orgasme nanti. Sebagaimana yang sering terjadi selama mereka berhubungan dan dia sangat puas, Tantri merasa bahagia dan bangga jika dapat membuat Joko orgasme oleh oralnya. Dan selama ini dia selalu berhasil membuat laki-laki itu menyerah duluan.

Gerakan oralnya yang bervariasi membuat Joko semakin melayang, terbukti dari penisnya yang semakin membengkak kencang. Namun ia belum juga mencapai puncak, hanya nafasnya saja yang semakin tersengal-sengal dan batang penisnya yang semakin keras membengkak.

Akhirnya Tantri jadi tak tahan oleh nafsunya sendiri yang terus meningkat minta untuk dipuaskan, vaginanya terasa sangat basah dan gatal oleh gairah. Dia pun bangkit melepas penis Joko dari mulutnya dan kemudian melepas celana dalamnya yang sudah sangat basah. Kemudian ia berdiri membelakangi laki-laki itu dengan paha terbuka lebar. Lututnya menekuk agar pantatnya mendekati selangkangan Joko, ia raih penis laki-laki itu dan diarahkan ke mulut liang vaginanya yang sudah sangat-sangat basah.

”Blesshhh…” perlahan-lahan Tantri menurunkan pantatnya hingga kepala penis Joko menerobos liang vaginanya. Gerakannya demikian perlahan sehingga penerobosan itu jadi terasa begitu lama dan sangat nikmat.

Mata Joko terpejam menikmati apa yang tengah ia rasakan dan dengan pelan mulutnya mengeluh, “Uhhh…”

Gerakan penerobosan itu terhenti ketika pantat Tantri menekan sangat rapat bagian bawah perut Joko sehingga batang penis laki-laki itu amblas hingga ke pangkalnya. Joko menekan cukup lama, sampai merasakan sambutan meriah yang dilakukan oleh lubang kemaluan Tantri. Sekarang kepala penisnya bagai dihisap dan diremas-remas oleh vagina gadis pujaan hatinya ini. Dinding vagina Tantri tak henti-hentinya berkedut memberikan sensasi nikmat pada ujung-ujung syaraf nikmat yang ada pada seluruh permukaan kepala dan batang penis Joko.

Secara perlahan pinggul Tantri berputar agar batang penis Joko mengucek dan mengocok dinding vaginanya, kenikmatan semakin melambungkan laki-laki itu. Semakin lama gerakan pinggul Tantri menjadi semakin bervariasi; berputar, melonjak, bergoyang, patah-patah bahkan maju-mundur, membuat batang penis Joko seperti dipelintir dan digiling oleh mesin yang sangat nikmat.

Semakin lama gerakan gadis itu kian menjadi cepat, nafasnya juga semakin memburu dan tak lama kemudian badan Tantri yang molek melonjak-lonjak keras. Semua itu diakhiri oleh tekanan vaginanya yang sangat kuat sehingga penis Joko bisa masuk sedalam-dalamnya ke celah lorong kewanitaannya. Dinding vagina Tantri dengan dahsyat memeras dan menjepit batang penis laki-laki itu dengan sangat kuat serta kedutan-kedutan dinding vaginanya juga menjadi begitu cepat.

Badan gadis itu terdiam kaku, mulutnya terkatup rapat menahan agar jeritan nikmatnya tak sampai keluar. Kepalanya ditekan ke pundak Joko, lalu beberapa detik kemudian badannya terhempas, lunglai di atas tubuh laki-laki itu. Nafas Tantri masih terengah-engah ketika Joko menyibak helaian rambutnya yang menutupi wajah. Gadis itu menoleh dan mencium lembut bibir Joko sebagai tanda bahwa sangat puas dengan orgasme yang barusan ia gapai.

Sambil berciuman, Joko merasakan bahwa jepitan dan kedutan dari dinding vagina Tantri semakin melemah. Iapun menghentakkan pantatnya ke atas hingga batang penisnya yang masih tegang bisa kembali menggesek dinding vagina gadis itu. Rasanya yang basah dan licin mengakibatkan pantat Joko menghentak-hentak tanpa dapat dikendalikan. Gesekan dan kocokan alat kelamin mereka yang terus-menerus begitu memberikan rasa nikmat.

Gerakan tubuh Joko menyebabkan gairah Tantri bangkit kembali. Dia membalas hentakan-hentakan pantat Joko dengan gerakan pinggul yang liar, semakin lama semakin tidak beraturan dan tak lama kemudian kembali Tantri mengejang menggapai nikmatnya. Mulutnya terkatup rapat, hanya remasan dan jepitan yang kuat dari dinding vaginanya pada batang penis Joko yang menandakan kalau gadis itu sudah mencapai orgasmenya.

Tantri terkulai lemah, sama sekali tidak mampu membalas hentakan-hentakan Joko yang masih bertubi-tubi. Laki-laki itu memeluknya dari belakang. Joko menciumi pipi Tantri sambil secara perlahan-lahan meremas serta memijit-mijit tonjolan buah dadanya yang berayun-ayun indah.

Setelah merasakan tenaga gadis itu kembali terkumpul, Joko mengangkat tubuh Tantri agar berdiri. Ia melakukannya sambil menahan agar penisnya tidak sampai terlepas. Ia dorong tubuh Tantri agar mendekat ke kursi meja rian yang berada di belakang jendela. Ditekannya punggung Tantri agar gadis itu membungkukkan badan dengan berpegangan pada bagian atas sandaran ranjang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, sedangkan penis Joko masih menusuk liang vaginanya dari arah belakang. Mereka berposisi doggy.

Dengan kedua tangan memegangi pantat Tantri yang putih bulat menggairahkan, perlahan Joko mulai mengerakkan pantatnya. Kini penisnya terasa menusuk semakin dalam. Cengkeraman vagina Tantri juga terasa semakin kuat hingga membuat kenikmatan mereka jadi semakin bertambah. Ditambah basah dan licinnya vagina Tantri membuat gesekan dan kocokan penis Joko jadi begitu lancar. Kepala Tantri terangguk-angguk menerima setiap hentakan dan dorongan pinggul laki-laki itu.

Kenikmatan yang kembali menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua membuat Tantri mulai membalas setiap sodokan Joko. Ia goyang pinggulnya memutar laksana penari dangdut yang sedang berjoget, berharap bisa membuat kenikmatan yang ia terima semakin bertambah. Semakin lama goyangan pinggulnya semakin liar dan menghentak-hentak, dan tak memerlukan waktu lama kembali tubuh molek Tantri terkejang-kejang kaku. Tangannya mencengkeram sandaran ranjang dengan sangat kuat, kepalanya terdongak ke atas. Dengan jerit tertahan, kembali gadis itu mengalami orgasme yang sangat hebat.

Joko mendiamkan sejenak Tantri menikmati sensasi orgasmenya, karena pada saat itu ia sangat menikmati cengkeraman, jepitan dan kedutan-kedutan dinding vagina gadis itu pada batang penisnya. Setelah kedutan dan cengkeraman itu melemah, barulah Joko kembali menusuk-nusukkan penisnya. Tak menunggu lama, pinggul Tantri kembali bergerak liar membalas setiap sodokan-sodokannya, dan hanya beberapa menit berselang, kembali gadis itu mengalami orgasme entah untuk yang keberapa kalinya pagi itu.

Di saat yang sama, Joko juga merasa orgasme akan segera menghampiri dirinya. Maka segera ia balik tubuh Tantri agar telentang dengan kepala berada pada sandaran ranjang. Dengan kedua tangannya ia buka lebar-lebar paha gadis itu sehingga vaginanya yang basah dan licin semakin jelas terlihat. Joko mengarahkan kepala penisnya kesana dan dengan cepat mendorong hingga amblas sampai ke pangkalnya. Lalu dengan semangat yang menggila ia pompa tubuh gadis itu dengan hentakan-hentakan liar yang sangat tidak terkendali.

Namun beberapa saat sebelum spermanya muncrat, Joko mendengar suara bel rumah berbunyi. Keduanya tak ada yang bereaksi, menunggu sang tamu bosan menunggu dan pergi. Tapi harapan mereka sirna. Suara bel kembali terdengar. Joko mengerang, kesal karena kesenangannya pagi itu terganggu. Begitupun dengan Tantri.

“Bukain pintunya dong, Sayang.”

“Aku ya?” jawab perempuan itu sambil memasang wajah enggan.

Joko bergeming. Tangannya menunjuk bagian bawahnya yang tak tertutup apapun. Tantri bangkit dan mengganti dasternya dengan kombinasi kaos dan celana training. Jilbab juga tak lupa ia gunakan untuk menutupi rambutnya yang ikal.

Tak lama kemudian, pintu depan dibuka. Terdengar suara sang tamu yang familiar bagi mereka berdua. “Halo, Tantri! Kamu baik-baik aja kan selama aku pergi? Ini oleh-oleh dari Paris. Gimana Bapak? Nggak minta makanan aneh-aneh kan? Biasanya suka rewel… Lho, Pah, kok nggak ke kantor?” tanya perempuan gendut itu.

“Eh… Halo, Ma! Kok udah balik sih? Katanya masih lusa. Hehe..” Joko berusaha untuk tersenyum, sementara Tantri, sang menantu, hanya bisa menunduk di sebelahnya dengan wajah pucat pasi ketakutan.

MURTI 12

Gatot kaget bukan kepalang mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali oleh seseorang. Semakin keras saja ketukan itu membuat Gatot merasa marah. Ia melompat dari tempat tidur dan menerjang pintu bermaksud hendak mengumpat tamu yang menurutnya tidak sopan. Tapi setelah tahu siapa yang bertamu di siang bolong begini, ia urung mengumpat.

“Pak Camat. Silahkan masuk, Pak.” katanya kemudian.

Pak Camat masuk dan langsung duduk. Sempat memandangi Gatot cukup lama lalu menghela napas dan membuang muka keluar. “Kenapa semua bisa terbongkar, Tot?” tanyanya tiba-tiba.

“Maksud Pak Camat?” Gatot tak mengerti.

“Murti sudah tahu. Murti sudah memergoki aku.” kata laki-laki itu.

“Demi Tuhan! Saya tidak membocorkan rahasia itu, Pak.” sumpah Gatot.

“Lalu dari siapa lagi Murti sampai bisa tahu?” Pak Camat tampaknya tak percaya.

“Jadi Pak Camat menuduh saya?” tanya Gatot. ”Dimana Murti?” tanyanya lagi.

“Masih pingsan.” kata Pak Camat. ”Saya sama sekali tidak menuduhmu, Tot. Jangan marah.”elaknya.

“Terus terang saya kecewa dengan Pak Camat. Sebenarnya tadi pagi ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Saya sudah mengambil keputusan untuk berhenti, Pak.” kata Gatot.

“Jangan, Tot. Saya masih membutuhkanmu.” cegah Pak Camat.

“Saya sudah tidak diperlukan lagi, Pak. Dan dengan tuduhan bapak terhadap saya, semakin bulat niat saya.” kata Gatot dingin.

“Sabar, Tot. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Pak Camat masih berusaha membujuk.

Gatot terdiam, lalu kemudian mengangguk. “Kita tunggu sampai Murti siuman biar semua jelas.” katanya lagi.

Gatot ikut ke rumah Pak Camat dan bersama-sama Pak Camat menunggu Murti siuman. Gatot sangat terpukul. Kekhawatirannya terbukti. Murti telah sampai pada puncak penderitaan sehingga nekad menyatroni Pak Camat di rumah Mbak Ayu. Murti tidak bisa disalahkan. Gatot juga tidak mau disalahkan. Yang patut disalahkan adalah Pak Camat dan teringat tuduhan Pak Camat terhadapnya, Gatot menahan tinju dengan geram. Ingin sekali ia menghajar wajah lelaki tua itu biar tahu rasa, biar tahu akibatnya kalau mempermainkan hati sahabat kecilnya.

Murti mulai menunjukkan tanda-tanda siuman. Tubuhnya bergerak-gerak dan matanya setengah terbuka. Murti sempat bengong sesaat dan memperhatikan keadaan sekitar. Sadarlah ia dimana kini berada. Ia segera membuka mata lebar-lebar dan spontan berteriak histeris begitu melihat wajah-wajah yang ada di sekitarnya.

“Kita cerai, Mas! Ceraaaiiiii!!!” teriaknya kencang sambil melempar apa saja ke arah Pak Camat. Bantal, guling, selimut, cermin, dan semua isi kamar beterbangan dan berserakan, pecah berkeping-keping di lantai kamar.

Murti menerjang Pak Camat dengan pecahan kaca di tangannya. Untung Pak Camat sigap menghindar dan Gatot menghadang Murti, memegangi Murti yang terus meronta liar. “Aku benci kamu, Mas. Kejam!” teriaknya terus-terusan mengumpat Pak Camat dengan seribu caci maki.

Pak Camat menampar wajah Murti, membuat Murti semakin beringas. Gatot tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi antara suami istri itu. Gatot sempat menatap geram ke arah Pak Camat, membuat Pak Camat keder dan ciut nyali. Pak Camat segera sadar kalau Gatot bisa ikut beringas bila melihat Murti disakiti. Gatot segera keluar kamar dan begitu ia keluar, pintu kamar tertutup. Entah apa yang kemudian terjadi di dalam kamar itu, ia tidak mau tahu.

Murti semakin menderita sepeninggal Gatot. Pak Camat tiada henti menampar wajahnya berkali-kali, memukuli tubuhnya sampai jatuh bangun, menghajarnya hingga tersungkur. Tapi Murti menerima semua dengan tegar. Badan memang terasa sakit, tetapi hati lebih sakit lagi.

“Jahanam kamu, Mas!” ia mengumpat sekali lagi.

“Katakan siapa yang memberitahumu!” Pak Camat menjambak rambut Murti dan mengancam.

“Tidak akan saya katakan.” jerit Murti.

“Siapa dia, Murti?!” tanya Pak Camat lagi.

“Tidak akan, Mas. Sekalipun Mas membunuhku, tidak akan pernah.” ancam Murti.

“Keras kepala!” maki Pak Camat.

Murti menjerit-jerit ketika Pak Camat mengguntingi rambutnya. Tak cukup sampai situ, Pak Camat juga merobek celana dalam Murti dan mencabuti bulu-bulu kemaluannya, membuat Murti berlinang air mata perih. Sakit. Namun penderitaan belum berakhir. Pak Camat dengan cepat menelanjanginya, lalu mengikat kedua tangan dan kaki Murti. Dalam keadaan tak berdaya, Pak Camat membabi buta menggumuli Murti bagai binatang.

”Ahh…” Murti hanya bisa menjerit dalam hati karena mulutnya telah dikunci dengan ciuman liar. Pak Camat berubah menjadi binatang. Ia rasakan penis Pak Camat masuk ke dalam liang vaginanya secara paksa, dan mengoyak-ngoyak dengan brutal disana, tidak membiarkan Murti menikmati karena dirinya diselimuti rasa kesal yang mendalam terhadap perempuan cantik itu.

”Auw! Ahh… s-sakit!” rintih Murti sementara Pak Camat terus memperkosanya secara membabi buta. Laki-laki itu tanpa ampun menggerakkan batang penisnya mundur maju berkali-kali hingga membuat tubuh Murti mulai menegang. Ia merasakan wajah Pak Camat mendekat untuk mencumbunya, segera Murti menghindar dengan menggerakkan kepalanya menyamping, menggeleng-geleng.

Plak! Pak Camat langsung memukulnya dan mengancam, ”Diam! Atau kubunuh kamu!”

Tak terhindarkan, karena sakit dan juga ketakutan, Murti membiarkan Pak Camat kembali mengulum bibirnya, namun ia tak sudi bereaksi terhadap ciuman laki-laki tua itu. ”Auw!” Murti juga menjerit begitu merasakan tangan-tangan Pak Camat yang meraba-raba dan meremas payudaranya dengan kasar, sebelum kemudian tangan itu bergerak ke arah lehernya.

Tamatlah aku, dia ingin mencekikku sampai mati, batin Murti dalam hati. ”Aah… jangan, Mas, jangan bunuh aku!” ia menangis menghiba.

”Bwahaha!” Pak Camat tertawa mengejek, dan bersamaan dengan itu menghunjamkan penisnya semakin cepat.

”Arghh…!!” teriak Murti penuh kesakitan. Tubuh mulusnya tampak membilur-bilur memerah karena siksaan Pak Camat, sementara liang vaginanya mengeluarkan darah segar karena lecet. Sungguh sangat sakit sekali.

Setelah merasakan siksaan lahir batin berkali-kali, Murtipun jatuh lagi dalam dunia ilusi. Ia pingsan kembali sementara Pak Camat terus menyetubuhinya sampai puas. Sampai spermanya muncrat memenuhi liang rahim Murti.

***

Gatot gelisah di rumahnya. Kedatangan Aisyah tidak sanggup mengusir sedihnya. Ia sedih membayangkan kehidupan Murti. Sayup-sayup ia mendengar teriakan dan ratapan Murti yang kini telah berhenti. Hatinya bagai tersayat belati. Ia ikut membenci Pak Camat. Sempat terbersir keinginan di hati untuk melenyapkan Pak Camat agar Murti bebas dari derita. Tanpa sadar ia menggebrak meja, membuat Aisyah kaget.

“Ada apa, Mas Gatot?” tanya gadis cantik itu.

“Maaf, Aisyah. Aku hanya kesal.” jawab Gatot.

“Kesal pasti ada sebabnya.” balas Aisyah.

Gatot tersenyum menerima secangkir kopi dari Aisyah. Kegelisahannya sedikit berkurang meski tidak sepenuhnya hilang. Ia menyeruput sedikit kopi yang masih panas itu. “Aisyah mau tahu sebabnya?” katanya kemudian.

“Kalau Mas Gatot tidak keberatan cerita pada saya.” kata Aisyah.

“Saya keberatan,” sahut Gatot.

“Ya nggak usah cerita,” tutur Aisyah dengan wajah kecut.

“Aisyah, bagaimana kalau kamu yang membuatku kesal?” pancing Gatot.

“Saya hanya bisa katakan maaf dan janji tidak akan lagi membuat Mas Gatot kesal.” jawab Aisyah kalem.

“Cuma itu?” kejar Gatot.

“Mas Gatot maunya apa?” ganti Aisyah yang menantang.

“Kena juga kamu. Aku cuma bercanda kok,” Gatot tersenyum.

Ia mendapat hadiah dari Aisyah berupa cubitan berbisa. Kebetulan sinema siang di televisi menampilkan adegan cinta. Aisyah menunduk malu. Gatot tersenyum mau. Tapi belum saatnya adegan cinta itu ditiru. Gatot merubah saluran ke berita tanpa mempedulikan raut wajah Aisyah yang merengut kecewa. Mereka berebut remote control tapi demi keamanan, maka Gatot mengalah.

“Berita di negeri ini cuma korupsi, Mas. Bosan.” kata Aisyah mengomentari acara di tv.

“Saya juga bosan nonton sinetron yang isinya rebutan harta, rebutan wanita, dan perselingkuhan.” balas Gatot.

“Tergantung selera dong,” Aisyah tampak tak mau kalah.

Gatot menggelitik telapak kaki Aisyah, membuat Aisyah tertawa geli dan melipat kakinya menjauh dari jari-jari usil Gatot. Dengan kaki terlipat, maka paha Aisyah terlihat mengkilat. Gatot silau dan tak tahan untuk tidak menjahili paha itu. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, Aisyah sudah lebih dulu menutup pahanya dan mencibir kenakalan Gatot.

“Baru boleh kalau sudah nikah, Mas.” katanya menjelaskan.

“Kamu mau nikah dengan duda sepertiku?” tanya Gatot tak percaya.

“Kalau memang cinta, apa hendak dikata.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Berarti kamu cinta aku ya?” tanya Gatot meyakinkan.

Aisyah menghela napas dan memandang Gatot. “Sejujurnya tujuan utamaku tinggal disini adalah untuk bisa mengenal Mas Gatot lebih dekat.” terangnya.

“Aku suka kejujuranmu, Aisyah. Aku juga sebenarnya ingin dekat denganmu.” balas Gatot.

“Gombal,” Aisyah kembali mencibir.

Biar di bibir bilang gombal, tapi dalam hati sesungguhnya Aisyah menganggap semua itu benar karena secara fisik Aisyah sadar ia telah dekat dengan Gatot. Tinggal meyakinkan batin. Belenggu jiwa telah terpasang diantara hati mereka berdua.

“Aisyah?” bisik Gatot di telinga gadis cantik itu sambil berupaya memeluknya.

Gadis itu tertunduk malu, dan segera menutup mata saat Gatot mengangkat dagunya dan menciumnya tepat di bibir. Terasa lidah Gatot yang kasar mencoba mendesak masuk ke dalam mulut Aisyah. Sebenarnya Aisyah ingin menolak, tapi dorongan dari dalam hatinya tidak dapat berbohong. Iapun balas melumat bibir Gatot dan malahan tangannya meraih pundak laki-laki itu agar tubuh mereka semakin menempel hingga ciuman mereka menjadi terasa nikmat.

”Hmph… hmm…” Ciuman Gatot kini menjadi semakin buas. Dari bibir, Gatot turun ke leher dan menggerakkan lidahnya disana, berupaya menjelajahi leher Aisyah yang jenjang. Sambil berciuman, tangannya meraih kancing baju gadis itu dan mulai melepaskannya satu persatu. Lembut Gatot menelusuri gundukan dada Aisyah yang bulat padat, terasa sangat halus dan mulus sekali benda kembar itu. Melenguh dalam hati, Gatot tak menyangka kalau akan begitu menyukainya.

“Cukup disitu saja, Mas,” bisik Aisyah lemah dan pasrah ketika Gatot mulai menjajah di sekitar wilayah perutnya.

Gatot menurut, sama sekali tidak keberatan hanya diberi jatah sampai di situ saja. Sudah merupakan suatu keberuntungan baginya bisa diijinkan menikmati dada Aisyah yang ranum, yang tidak sembarang lelaki bisa mendapatkannya. ”Kamu cantik, Aisyah.” ujar Gatot lembut sambil menatap mata lentik Aisyah.

”Ahh…” tidak menjawab, Aisyah malah mengerang saat Gatot meremas-remas gundukan payudaranya semakin gemas. Ia melenguh agak keras dan Gatot pun semakin giat meremas-remas dadanya yang montok itu.

Perlahan Gatot melepaskan ciumannya dan memandangi Aisyah yang kini duduk hanya dengan mengenakan bra hitam dan rok panjang selutut. Ia memandanginya tanpa berkedip, terlihat begitu mengagumi kecantikan dan pesona tubuh sintal gadis itu. Aisyah yang malu dipandangi seperti itu segera menunduk dan berupaya menyilangkan tangan di depan dada untuk sekedar menutupi apa yang ada.

Gatot yang tak ingin kesempatannya menghilang, segera bergerak cepat dengan kembali memeluk tubuh mungil Aisyah dan melumat bibirnya dengan begitu rakus. Sambil ber-french kiss ria, tangannya dengan cekatan melepas kaitan bra Aisyah yang sudah melonggar. Kini dada Aisyah benar-benar telanjang bulat. Gatot langsung mengarahkan tangan kesana dan mulai meremasi kedua payudara Aisyah secara bergantian. Aisyah memilih untuk memejamkan mata saja menikmatinya.

”Auw! Mas!” rintih Aisyah saat merasa putingnya yang sudah tegang akibat nafsu tiba-tiba menjadi basah.

Ternyata Gatot sudah asyik menaruh mulut disana, menjilatinya dengan lidahnya yang panjang dan tebal, menghisapnya begitu rakus bagai anak kecil yang haus akan sentuhan air susu ibu. ”Uhh…” tentu saja perbuatan itu membuat Aisyah jadi menggelinjang geli karenanya. Tanpa terasa ia mengeluarkan erangan yang lumayan keras, yang mana itu malah membuat Gatot jadi semakin bernafsu.

”Aisyah, kamu seksi sekali. Badan kamu bagus, terutama yang ini…” bisik Gatot sambil memelintir puting Aisyah yang semakin mencuat dan menegang. Berkali-kali pula ia melumat, mencium, menarik dan menghisap-hisapnya secara bergantian, kiri dan kanan.

”Ahh… Mas… gelii…!” balas Aisyah manja. Ia hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Gatot dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya berusaha berpegangan pada sandaran kursi untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke depan.

Aisyah merasa badannya mulai mengejang serta cairan vaginanya terasa mulai meleleh keluar, sementara Gatot terus mengerjai bagian depan tubuhnya hingga mereka sama-sama mendesah lemah tak lama kemudian. Tampak noda hitam membekas di depan celana Gatot yang menggembung besar, yang dipandangi oleh Aisyah dengan penuh rasa jengah sekaligus penasaran. Sementara Aisyah sendiri juga merasa celana dalamnya menjadi begitu basah, namun tentu saja Gatot tidak bisa mengetahuinya karena itu tersembunyi di balik gaun.

Terengah-engah, mereka sama-sama puas meski tidak sampai saling memasukkan. Cuma meraba-raba dan saling bersentuhan, itu sudah cukup bagi keduanya untuk saat ini. Aisyah memejamkan mata dan memeluk Gatot dengan tubuh setengah telanjang. Dibiarkannya Gatot terus membelai dan meremas-remas gundukan payudaranya yang besar, sampai Gatot puas dan lelah hati datang melanda beberapa saat kemudian.

“Tok-tok-tok!!” terdengar ketukan pelan di pintu depan.

Gatot dan Aisyah terperanjat dan segera mengenakan pakaian masing-masing. Mereka berpandangan sejenak sebelum Aisyah lari masuk ke dalam kamarnya, sedang Gatot bergegas ke depan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Ningsih.

“Selamat sore, Tot.” sapa tetangga sekaligus teman Gatot itu.

“Ningsih, kukira siapa. Ayo masuk.” balas Gatot.

“Tidak usah. Ngobrol di teras saja lebih enak.” kata Ningsih.

“Baiklah. Kupanggil Aisyah dulu ya.” sahut Gatot.

“Tidak perlu. Aisyah pasti masih istirahat. Kita ngobrol berdua saja.” sela Ningsih.

“Ya sudah. Bagaimana kesanmu dengan suasana komplek?” tanya Gatot membuka obrolan saat mereka sudah duduk di teras.

“Memang tidak seperti dulu saat kita masih kecil. Tapi aku sungguh senang bisa kembali kesini, Tot. Kembali ke tanah kelahiranku.” jawab Ningsih.

“Jadi nostalgia nih,” Gatot tersenyum.

“Mauku sih begitu. Tapi rupanya anak-anak sebaya kita sudah pada kawin semua. Jadi malas mau main ke rumah mereka.” kata Ningsih.

“Makanya buruan kawin juga. Kita seusia, Ningsih. Aku saja sudah jadi duda.” balas Gatot.

“Hahaha, biar duda tapi kamu masih keren, Tot. Pria idamanku ya yang seperti kamu.” kata Ningsih dengan muka bersemu merah.

”Tidak baik membanding-bandingkan orang. Kesibukanmu apa, Ningsih?” Gatot berupaya mengalihkan topik.

“Macam-macam.” jawab Ningsih. ”Tapi aku paling sibuk kalau sudah memikirkan seseorang.”

“Siapa itu?” tanya Gatot penasaran.

“Kamu,” jawab Ningsih pendek.

Gatot tertawa mendengar kata-kata Ningsih yang dianggapnya lelucon belaka. Tawanya sampai terdengar ke dalam rumah, memancing aisyah untuk keluar dari kamarnya dan mengintai apa gerangan yang membuat Gatot tertawa. Demi melihat Gatot berdua dengan Ningsih, Aisyah seakan tidak rela. Tapi ia tidak cemburu buta. Ia biarkan saja Gatot bersama Ningsih sementara ia sendiri mencari kesibukan di dapur.

Aisyah merasa aneh melihat rumah Pak Camat yang sepi. Aisyah juga aneh dengan ketidak-munculan Murti sejak tadi pagi. Rekan sesama gurunya itu tidak mengajar, malah meminjam motornya dan pergi entah kemana. Sampai sekarang motornya belum kembali. Aisyah coba menghubungi handphone Murti tapi tidak aktif. Maka ketika Gatot datang menghampirinya, Aisyah langsung bertanya.

“Sudah selesai ngobrolnya dengan Mbak Ningsih?” tanyanya dengan nada sedikit ketus.

“Sudah. Ningsih sudah pulang.” jawab Gatot tanpa merasa bersalah.

“Apa Mas Gatot tahu apakah Bu Murti juga sudah pulang?” tanya Aisyah lagi.

“Aisyah, kamu belum tahu apa yang menimpa Murti?” bukannya menjawab, Gatot malah balik bertanya.

“Belum, Mas. Cuma Bu Murti tadi pagi tidak mengajar dan meminjam motorku. Eh sampai sekarang motorku belum balik.” seru Aisyah.

“Murti sedang susah, Aisyah. Dia bertengkar hebat dengan Pak Camat.” jelas Gatot.

“Lho, masalahnya apa, Mas? Bukankah mereka rukun-rukun saja?” tanya Aisyah tak percaya.

“Murti memergoki Pak Camat selingkuh dengan istri mudanya. Makanya mereka bertengkar dan Murti minta cerai.” jawab Gatot.

“Benarkah begitu, Mas?” Aisyah melongo.

“Benar. Dan motormu masih ada di perumahan Residence. Nanti kuambil ya?” tawar Gatot.

“Sungguh menyesal kalau mereka sampai cerai ya, Mas.” Aisyah menggeleng-gelengkan kepala.

Gatot mengangguk. “Oh ya, Aisyah, aku juga sudah berhenti kerja di rumah Pak Camat.” Ia memberi tahu.

“Apa ada kerjaan lain, Mas? Bagaimana dengan hutang Mas Gatot ke Pak Camat?” tanya Aisyah.

“Akan kuusahakan, Aisyah. Apalagi hutang itu juga menyangkut rumah ini.” kata Gatot penuh tekad.

“Mas Gatot, saya ada sedikit tabungan yang bisa mas pakai. Saya ikhlas, Mas.” kata Aisyah.

“Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Aisyah. Simpan saja uangmu ya,” tolak Gatot.

“Saya hanya tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan orang lain, Mas. Aku sudah anggap ini rumahku sendiri.” sahut Aisyah.

“Tidak akan pernah, Aisyah. Rumah ini akan tetap milikku, dan jika Tuhan mengijinkan, akan jadi milikmu juga. Milik kita.” kata Gatot sambil tersenyum dan memandang Aisyah penuh cinta.

“Makanya kubantu bayar ya hutang Mas Gatot ke Pak Camat.” Aisyah membalas senyum itu.

Gatot mengacak rambut Aisyah dengan gemas. Ia memeluk Aisyah dari belakang, mencium kepala gadis itu. “Adakah perasaan itu di hatimu, Aisyah?” tanya Gatot.

Aisyah berbalik dan balas memeluk Gatot, menyembunyikan wajah ayunya di balik ketiak Gatot. “Rasa itu sudah tumbuh sejak kali pertama saya melihat Mas Gatot. Dan kengototan saya pindah kemari semata demi rasa itu, Mas.” terang Aisyah.

Mereka berpelukan semakin erat seakan tidak memberi ruang bagi makhluk apapun menghalangi hangatnya pelukan itu. Mereka tidak peduli pada bau gosong ikan teri. Mereka hanya peduli pada perasaan hati.

“Apakah aku masih layak dan pantas, Aisyah?” kata gatot bertanya.

“Bagiku lebih dari pantas, Mas. Menjalani hidup bersama Mas Gatot adalah impianku.” jawab Aisyah lugas.

“Bagaimana jika mimpimu itu tidak terwujud?” tanya Gatot.

“Saya akan sangat membenci Mas Gatot. Aku kan sudah memberikan apapun, Mas.” yakin Aisyah.

“Aku akan mewujudkan mimpimu, Aisyah, tapi tidak sekarang. Sabar ya?” jawab Gatot.

Dua hati telah bicara. Maka lebih mudah untuk meneruskan semua yang tertunda. Gatot memagut bibir Aisyah dan lebur dalam ciuman membara. Hanya sekedar berciuman karena Gatot sudah bersumpah untuk tidak merusak kesucian Aisyah sampai pada saatnya nanti tiba. Setelah puas, merekapun melepaskan pelukan. Aisyah mengangkat ikan teri yang hangus sementara Gatot mengisi air di bak mandi.

***

Kekhusyukan sholat maghrib Gatot yang berjamaah dengan Aisyah buyar ketika dikejutkan oleh teriakan dan raungan sangat keras dari rumah Pak Camat. Gatot sangat hapal itu adalah suara Murti. Ternyata bukan hanya Gatot saja yang mendengar, tetapi hampir semua tetangga yang berdekatan dengan rumah Pak Camat juga mendengar. Gatot mengajak Aisyah untuk melihat apa yang terjadi. Ia berkerumun bersama puluhan warga komplek yang memenuhi halaman rumah Pak Camat. Beberapa orang mencoba membuka pintu rumah yang terkunci, sementara raungan Murti dari dalam rumah tidak kunjung berhenti. Orang-orang semakin panik dan berpikir macam-macam, menduga-duga apa yang terjadi dalam rumah itu.

Gatot mendekat dan orang-orang memberinya jalan. “Dobrak saja pintunya, Tot!” beberapa warga memberi usul.

“Sabar, Pak. Siapa tahu Murti dengar suara saya,” Gatot mengetuk pintu berkali-kali sambil berteriak-teriak memanggil Murti. Tapi sampai suaranya serak, pintu tak kunjung terkuak. Sementara orang-orang mulai tidak sabar.

Gatot juga hilang kesabaran karena di dalam sana murti makin histeris. Lima orang pemuda coba mendobrak pintu tapi tidak berhasil. Cuma Gatot yang tahu seberapa kuat dan tebalnya daun pintu rumah Pak Camat, juga cuma Gatot seorang yang tahu kunci bagian dalam dari pintu rumah Pak Camat. Ia meminta lima orang pemuda itu menyingkir. Ia mundur jauh ke belakang dan mengumpulkan tenaga lalu berlari cepat menerjang pintu itu. Sukses, daun pintu itu bukan cuma terbuka, tapi sampai patah jadi dua bagai di gergaji. Orang-orangpun percaya bahwa Gatot masih punya kekuatan yang hebat meski sudah tobat.

Beberapa orang tua bergegas masuk dan langsung menuju kamar dimana sumber suara Murti. Sekali lagi Gatot mendobrak pintu dan semuanya berdiri terpaku menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar. Murti langsung menghambur memeluk Gatot dan Gatot langsung membawa Murti ke rumahnya dengan ditemani oleh Aisyah dan Ningsih.

“Aisyah, Ningsih, tolong jaga Murti ya. Usahakan agar dia tenang,” kata Gatot lalu kembali lagi ke rumah Pak Camat.

“Pak Camat gantung diri! Pak Camat bunuh diri!!”

Berita itu langsung menyebar luas. Bukan hanya warga sekitar komplek, tapi sudah merambah hingga penjuru kota. Siapa yang tidak kenal Pak Camat, salah satu pejabat yang digadang-gadang bakal jadi bupati. Dari abang tukang becak sampai mbah-mbah juru pijat, semua kenal Pak Camat. Maka ketika berita hangat itu menyeruak di malam yang baru mulai, berduyun-duyunlah orang-orang berdatangan.

Gatot menyebar-luaskan berita tragis itu ke pegawai kantor kecamatan yang dikenalnya. Kini jalan menuju komplek telah macet total dan terpaksa ditutup. Ratusan mobil berjajar di sepanjang jalan mulai dari mobil plat merah milik pemerintah sampai mobil pickup yang mengangkut warga dari pelosok desa. Dan sebagian warga komplek memanfaatkan momen yang tidak bakal datang dua kali itu untuk mencari keuntungan.

Banyak warung dadakan di tepian jalan komplek. Banyak areal parkir beragam tarif yang ditawarkan pemuda-pemuda desa. Sebagian pemuda bahkan nekad menjadikan halaman rumah Gatot sebagai areal parkir. Untung Gatot mengijinkan. Suara sirene meraung-raung dari jauh dan satu ambulans masuk halaman rumah Pak Camat. Suara sirene terdengar lagi dan mobil mewah Pak Bupati melesat dikawal tiga motor petugas polisi. Gatot menemani Pak RT menerima setiap tamu di rumah duka.

Murti masih belum bisa diajak bicara. Masih menangis dan meraung lirih. Aisyah melihat beberapa bagian tubuh Murti memar dan lebam seperti bekas mengalami siksaan. Yang lebih membuat Aisyah miris adalah rambut Murti yang sudah tak berbentuk lagi. Ningsih juga dilanda kesedihan. Bagaimanapun Murti adalah sahabat kecilnya. Ningsih merengkuhnya penuh penyesalan.

“Istighfar, Mur. Ingat pada Allah,” bisik Ningsih di telinga Murti.

“Iya, Bu Murti. Serahkan semua pada kekuasaanNYA.” kata Aisyah memberi nasehat.

Murti terkulai lesu. Dua orang petugas kepolisian yang ingin meminta keterangan darinya mengurungkan niat karena Murti masih shock, masih terguncang dan pucat pasi. Wajah Murti datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong, hampa.

“Maaf ya, bapak-bapak. Bu Murti masih shock.” kata Aisyah.

“Tidak apa, Mbak. Kami hanya ingin meminta ijin untuk mengotopsi jenasah Pak Camat.” jawab salah satu dari mereka.

“Tidak perlu. Langsung kubur saja!” kata Murti pelan tapi tegas.

Maka malam itu juga pemakaman segera disiapkan. Polisi sudah selesai melakukan investigasi dan identifikasi. Hasilnya Pak Camat memang murni bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tanda-tanda keracunan pada diri Pak Camat. Murti juga sedikit memberi informasi bahwa ia sama sekali tidak tahu yang menimpa suaminya karena sedang pingsan. Murti juga menunjukkan bekas-bekas penyiksaan yang ia alami, membuat polisi tidak lagi memaksanya ikut ke kantor. Murti dinyatakan tidak bersalah. Jelas sudah Pak Camat murni bunuh diri dengan cara gantung diri. Tidak ada unsur-unsur kriminal, begitu penjelasan dari Pak Kapolres.

Setengah jam kemudian pemakaman dilaksanakan. Murti bersikeras tidak mau hadir ke pemakaman suaminya meski Aisyah dan Ningsih memaksa. Hati Murti telah beku. Pintu maafnya telah tertutup. Bahkan Murti tidak bersedia menerima karangan bunga dari Pak Bupati. Cintanya pada Pak Camat telah lama mati. Pengkhianatan suaminya tak termaafkan lagi. Biar saja Pak Camat mati, sekalipun nanti suaminya itu menjadi hantu yang membayanginya tiap hari.

Gatot datang bersama Dewi. Setelah pemakaman selesai, Gatot mengajak Dewi bicara empat mata di rumah Pak Camat. Ia mengajak Dewi ke garasi yang menjadi tempat paling aman tanpa gangguan orang-orang yang banyak berlalu lalang.

“Ini semua salah Mbak Dewi,” kata Gatot terus terang.

Karuan saja Dewi kaget disalahkan seperti itu. “Apa maksudmu, Tot? Apa hubunganku dengan kejadian ini?”

“Mbak Dewi bicara terlalu banyak bicara pada Murti. Mbak telah membuat kehidupan dan rahasia Pak Camat terbongkar.” jelas Gatot.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Tot. Bicara langsung saja ke intinya.” tegas Dewi.

“Mbak Dewi kan yang bilang ke Murti tentang perumahan residence?” tanya Gatot.

“Itu memang benar,” Dewi mengangguk.

“Mbak Dewi tahu itu rumah istri muda Pak Camat?” tanya Gatot lagi.

“Tidak. Aku malah baru tahu malam ini kalau Pak Camat punya istri muda.” terang Dewi jujur.

“Itulah, Mbak. Tadi pagi Murti langsung ke perumahan residence dan memergoki suaminya disana. Bisa mbak bayangkan apa yang terjadi?” tanya Gatot.

Dewi menyandarkan diri ke tembok garasi. Wajahnya pias dan serba tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar cerita Gatot. Dewi menyesal setengah mati karena secara tidak sadar dirinyalah yang membuka jalan bagi terbongkarnya perselingkuhan Pak Camat yang berujung maut.

“Aku menyesal sekali, Tot. Aku yang menyebabkan Mbak Murti kehilangan suaminya.” kata Dewi lirih.

“Sudah tidak ada gunanya, Mbak. Pak Camat sudah mati dan Murti terlanjur sakit hati.” sahut Gatot.

Memang sudah tidak ada gunanya menyesali yang telah terlanjur terjadi. Pak Camat tidak mungkin hidup lagi. Seandainya Pak Camat hidup sekalipun, Murti sudah pasti tidak akan sudi melanjutkan hidup bersama Pak Camat.

Gatot mengajak Dewi ke rumahnya. Kini Gatot berada di tengah-tengah para wanita pembelenggu. Tapi Gatot sadar hanya ada dua dari keempat wanita itu yang benar-benar kuat menanamkan belenggu dalam jiwanya. Murti dan Aisyah, dua wanita yang sama-sama ia cintai. Selebihnya hanya sesaat numpang lewat saja, seperti Dewi dan Ningsih.

NYAI SITI 12 : SALAMAH

Angin malam bertiup dingin dari lembah. Bayu masuk ke dalam kedai seenaknya sambil bersiul-siul. Orang tua pemilik kedai menyambutnya dengan muka bertanya. ”Anak muda,” katanya, ”baru kali ini kulihat dirimu. Kau ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?”

Bayu mengusap-usap dagunya yang licin. ”Bapak sudah lama tinggal di sini?” katanya balik bertanya.

”Sejak masih bayi….” jawab orang tua itu.

”Hem… kalau begitu tentu kenal dengan nama Dewo.” kata Bayu.

”Oh tentu… tentu sekali. Dia orang tua sepertiku, bapaknya dulu Kepala Kampung disini. Tapi sekarang dia tinggal bersama Kyai Kholil, setelah dia pulang merantau selama bertahun-tahun. Cuma sayang…” laki-laki itu menggantung kalimatnya.

”Sayang kenapa?” kejar Bayu.

Orang tua itu tak segera menjawab. Dia memandang keluar kedai seperti mau menembusi kegelapan malam, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. ”Sejak kedatangannya, kampung ini jadi aneh…” katanya kemudian menambahkan.

Bayu menelan ludahnya. ”Aneh bagaimana, kalau boleh saya tahu,”

Pertanyaan ini membuat si orang tua memandang lekat-lekat pada paras tampan pemuda itu. ”Semua perempuan sangat menurut kepadanya… penduduk yakin dia punya ilmu pelet, tapi sama sekali tidak bisa membuktikannya. Dengan begitu kami tidak bisa bertindak. Ditambah pula, kami juga segan pada Kyai Kholil yang dituakan di kampung ini. Dia selalu melindungi dan membela Dewo.” katanya.

Kemudian dituturkannya beberapa peristiwa perselingkuhan Dewo dengan wanita-wanita di desa ini. ”Tampaknya dia suka wanita yang berjilbab, buktinya istri Pak Lurah yang tidak berjilbab masih aman-aman saja sampai sekarang meski orangnya sangat cantik.” tutup pemilik kedai tersebut.

Sebenarnya kisah ini sudah diketahui dengan pasti oleh Bayu, karena tujuan kedatangannya ke desa adalah untuk menghentikan Dewo. Ini adalah perintah dari gurunya, yang juga adalah guru Dewo. Bedanya, kalau Dewo menggunakan ilmunya di jalan kesesatan, Bayu lebih memilih yang sebaliknya. Itulah sebabnya, mau tak mau dia harus melawan Dewo kalau tidak mau kemungkaran ini semakin merajalela.

Dan sebagai tahap awal, ia sudah mencampur sejenis ramuan khusus yang hanya ia sendiri yang bisa meraciknya ke dalam sumur-sumur penduduk. Dengan begitu ia berharap pelet si Dewo akan tertolak, atau malah luntur dan menghilang bagi wanita-wanita yang sudah terlanjur kena. Usahanya itu sepertinya tidak sia-sia, karena sudah seminggu ini dilihatnya Dewo kelimpungan dalam mencari mangsa. Bayu lega bahwa perempuan di desa ini sudah sanggup menolak permintaan Dewo. Berarti ramuan penangkalnya sudah mulai bekerja. Kini tinggal bagaimana meneruskan ke tahap selanjutnya.

Bayu mengulurkan tangannya untuk memotes sebuah pisang yang tergantung di para-para.

”Eee… apa kau punya uang untuk membayar pisang itu, anak muda?” tanya si pemilik kedai.

Bayu tertawa, ”Hutang dulu, tidak apa-apa kan?” sahutnya ringan sambil tertawa.

Si orang tua mengeluh dalam hati. Berarti tambah satu lagi ’langganan’nya yang makan tanpa bayar!

Sambil mengunyah pisangnya, Bayu bertanya, ”Kalau misalnya kedok Dewo terbongkar, apa yang akan dilakukan oleh penduduk?”

Si orang tua memandang lagi ke luar kedai dengan geram. Lalu katanya, ”Mungkin kami akan ramai-ramai memukulinya sampai mati, atau kalau tidak, mengusirnya dari kampung ini.”

”Wah, kejam juga ya,” sahut Bayu, lalu terdiam.

Kulit kening pemilik kedai itu mengkerut. “Dia yang lebih kejam, karena sudah merampas kehormatan istri dan anak-anak kami.”

”Kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja?” tanya Bayu.

”Tanpa adanya bukti, polisi tidak akan bisa berbuat apa-apa.” kata laki-laki itu. ”Kebanyakan korban si Dewo tidak mau bicara, mereka tidak bisa diajukan sebagai saksi. Kita butuh saksi mata yang benar-benar menyaksikan peristiwa itu, dan sampai sekarang kami belum menemukannya.”

”Hmm, begitu ya,” Bayu manggut-manggut dan meletakkan kulit pisang di tepi meja. ”Kemarin kulihat Dewo menggoda seorang gadis belia berparas cantik di depan musholla. Bahkan gadis itu hendak diperkosanya. Apakah itu bisa dijadikan bukti?”

”Mungkin bisa, tapi aku sendiri juga tidak tahu.” pemilik kedai mengidikkan bahunya, lalu menghela nafas. ”Agak sulit untuk melakukannya, karena begitu mendapat masalah, Dewo akan mempergunakan keampuhan ilmu peletnya untuk meredam kemarahan penduduk. Sebenarnya sudah berkali-kali kami ingin mengeroyoknya, tapi selalu saja urung setiap kali sudah berhadapan dengannya. Seperti ada rasa takut dan sungkan yang tiba-tiba menyerang, hingga akhirnya kami lebih memilih menyelamatkan keluarga sendiri-sendiri daripada bentrok dengan Dewo. Percuma, hasilnya sudah jelas. Ilmu pelet laki-laki itu mustahil untuk dilawan.”

Kini jelaslah bagi Bayu kenapa penduduk selama ini cuma diam melihat sepak terjang si Dewo, kakak seperguruannya yang memilih jalan sesat. Hukum sama sekali tidak mempan kepadanya, jadi tibalah saat bagi Bayu untuk balik melawan Dewo dengan menggunakan ilmu gaibnya.

Pemuda tampan itu memanggutkan kepala. ”Dia harus dihentikan, atau kampung ini tidak akan pernah tenteram.”

”Kata-katamu betul, anak muda.” balas si orang tua, tapi kemudian menggerendeng dan memaki panjang pendek ketika didengarnya Bayu berkata, ”Minta tehnya, Pak.”

Sementara si orang tua membuatkan segelas teh manis untuknya, Bayu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia teringat pada gadis berbaju biru yang telah ditolongnya kemarin. Salamah, anak Haji Tohir. Nama itu telah menarik perhatiannya. Hanya dia satu-satunya wanita di desa ini yang tidak mempan oleh pelet si Dewo. Entah apa sebabnya, yang jelas Bayu harus mengetahuinya. Siapa tahu dengan informasi tersebut ia bisa menolong banyak perempuan lain di kampung ini.

Ketika si orang tua datang membawakan teh, Bayu hendak bertanya sesuatu tapi mulutnya terkatup kembali karena di luar kedai dilihatnya sesosok tubuh renta yang berjalan pelan menuju ke suatu tempat. Tidak salah lagi. Itu Dewo. Mau kemana dia sekarang?

Segera Bayu berpaling pada orang tua pemilik kedai, orang tua ini menarik nafas panjang dan berkata, ”Sepertinya dia akan mencari korban baru lagi. Pasti akan ada suami atau ayah yang kehilangan kehormatan istri dan anaknya.”

”Menurut bapak begitu?” tanya Bayu memastikan.

Oran tua itu mengangkat bahu. ”Potong leherku kalau sampai salah,”

”Ayo cepat, Pak, kita hentikan!” kata Bayu sambil meneguk cepat teh manisnya, lalu bangkit berdiri.

”Coba saja,” laki-laki itu tertawa. ”kamu akan pingsan bahkan sebelum tahu ke arah mana Dewo menuju.”

Bayu tidak berkata apa-apa lagi, karena itu memang benar. Kalau saja tidak berilmu tinggi, kemarin ia pasti juga akan pingsan saat mecoba menolong Salamah. Itulah kenapa ia tidak meneruskan perhitungannya kepada Dewo meski lawannya itu sudah terkapar kaku tak bergerak di tanah. Badan Bayu juga merinding, semua persendiannya seakan lepas. Dan dia pingsan di gubuk tengah sawah saat mencoba untuk menenangkan diri. Melawan Dewo memang tidak boleh grusa-grusu, itulah pesan dari mbah gurunya di lereng Lawu.

”Baiklah, Pak. Saya hanya akan mencoba menguntitnya.” kata Bayu. ”Oh iya, satu lagi. Jangan sebarkan soal kedatangan saya ke kampung ini, anggap saja kita tidak pernah berjumpa. Dengan begitu Dewo tidak akan curiga.”

Habis berkata demikian, Bayu segera pergi meninggalkan kedai. Si orang tua mengangkat gelas bekas minuman pemuda itu. ”Ah, semakin tua umur dunia ini semakin banyak terjadi keanehan.” katanya dalam hati.

***

Dari balik sebuah rumpun bambu terdengar suara beradunya alat kelamin serta lenguhan dan rintihan hebat yang sangat membangkitkan birahi. Tanah sepetak yang ditumbuhi rumput pendek itu kini berubah menjadi sebuah medan ’pertempuran’. Satu orang laki-laki, dikeroyok oleh dua orang perempuan, atau gadis lebih tepatnya. Ada Dewo dan Mila, anak si Jamil juragan tahu. Juga seorang gadis lain, Nurmah, teman main Rohmah. Mereka tengah bercinta dengan sangat hebat dan cepat.

”Eesshh… nikmatnya, uuh!!” Nurmah merintih penuh nikmat ketika kepala kontol Dewo yang besar membelah bibir memeknya yang masih perawan dan mulai masuk secara perlahan-lahan. ”Ough… p-pelan-pelan aja, Paman Dewo! Eegh…” rintihnya menahan ngilu.

Terlihat betapa sempitnya memek Nurmah, baru masuk sepertiganya saja sudah hampir membuatnya penuh. Dewo juga melenguh merasakan remasan liang memek Nurmah yang membungkus batang penisnya. Ia terus menekan sedikit demi sedikit sehingga kontolnya semakin menembus masuk.

”Ough… Paman Dewo!” Nurmah kembali mengerang penuh birahi. Dan, blees…!! masuklah seluruh kontol Dewo, menusuk dan menghujam sepenuhnya, merobek selaput daranya dan mentok hingga ke dalam liang memeknya.

”Aughh….” Nurmah mengerang lebih panjang dengan tubuh menggeliat ketika akhirnya alat kelamin mereka bersatu erat. Terlihat selarik darah merah merembes dari sela-sela kemaluannya yang mulai berbulu.

”Aah…” Dewo pun mendesis. Luar biasa nikmat dan hangat memek gadis yang baru beranjak dewasa ini. Pelan-pelan Dewo menarik keluar batang penisnya lalu menekan lagi secara perlahan-lahan, dan mulai memompa tubuh indah Nurmah yang ada di dalam pelukannya.

”Eghh… ahh… esh…” Nurmah mengerang penuh nikmat.

Gerakan Dewo yang awalnya pelan, makin lama menjadi semakin kencang dan keras. Ia begitu terbuai dengan betapa sempitnya memek teman main Rohmah ini, yang terasa begitu kuat meremas batang penisnya. Kalau yang kurus saja seperti ini, bagaimana dengan Salamah yang tubuhnya sekal dan semok. Pasti berkali-kali lipat nikmatnya. Tapi sayang Dewo belum bisa mendapatkannya, padahal dia sudah mengerahkan segala cara untuk menaklukkan Salamah. Ilmu peletnya seakan mental kepada anak Haji Tohir tersebut.

Dewo tidak mengerti kenapa, tapi dia berniat untuk memikirkannya nanti saja. Sekarang ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Penuh tenaga ia memompa memek sempit Nurmah dengan desakan maju-mundur batang penisnya. Dengan bertambah cepatnya genjotan itu, semakin kencang pula Nurmah mengerang. Erangannya seperti mengungkapan perasaan puas dalam menikmati persetubuhan ini. Dan rupanya Nurmah sudah tidak kuat lagi, karena tiba-tiba tubuh kurusnya menekuk ke atas dengan mata terpejam rapat.

”Paman Dewo… augh… oohh… ehhh!!” ia mendesah panjang saat mencapai puncak birahinya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, Dewo merasakan tubuh gadis itu mulai melemas, Nurmah berbaring di atas rumput di bawah rumpun bambu. Terukir senyuman puas di bibirnya yang tipis. Sebagai jawaban, Dewo membenamkan kontolnya dalam-dalam untuk yang terakhir kali, setelah itu mencabutnya dan menyuruh Nurmah untuk mengulumnya hingga bersih. Gadis yang sehari-hari mengaji di musholla itupun dengan senang hati melakukannya. Kini bukan bibir vaginanya saja yang basah, mulut atasnya juga ikutan belepotan oleh cairan orgasmenya. Namun Nurmah sama sekali tidak terlihat keberatan.

Setelah benda panjang di selangkangan Dewo menjadi bersih, barulah Nurmah melepasnya dan memberikannya kepada Mila yang sudah duduk menanti. Pagi itu mereka memang sedang mencuci baju di sungai, yang merupakan kebiasaan gadis di kampung ini. Mereka ngobrol-ngobrol, mulai dari pelajaran sekolah hingga berita yang lagi heboh di kampung itu. Berita tentang banyaknya ibu-ibu dan anak perawan yang hamil tanpa diketahui bapaknya. Dan itu juga akan menimpa mereka berdua karena tak lama, Dewo berjalan lewat di tempat sepi itu.

Mengetahui ada mangsa yang bisa ia dapatkan dengan mudah, Dewo pun mendekat. Tanpa basa-basi ia melancarkan ilmu peletnya dan mereka pun takluk. Keduanya diam saja ketika Dewo mulai menelanjangi diri dan mengajak mereka untuk mandi berdua.

Sebenarnya Dewo lebih mengincar Mila, karena selain lebih cantik, tubuhnya juga lebih berisi, tidak seperti Nurmah yang masih kurus dan seperti anak kecil. Tapi begitu merasakan keperawanannya tapi, pendapatnya jadi sedikit berubah. Nurmah ternyata lumayan juga, Dewo cukup senang meski tidak sampai puas. Dan Dewo berniat untuk melampiaskan segala hasratnya yang tertunda kepada Mila, yang kini mulai merangkak naik ke atas tubuh kurusnya.

Mila yang susunya mulai tumbuh besar, dengan senang hati melayani ciuman Dewo. Mereka saling hisap dan saling lumat untuk sejenak. Penuh nafsu Dewo mengulum bibir Mila yang tipis, sementara di bawah, ia mulai menyelipkan batang kontolnya ke memek gadis muda itu. Kontras sekali pemandangan yang terlihat, Dewo yang berkulit hitam dan keriput, asyik menikmati tubuh Mila yang putih dan mulus.

Dewo menyingkap baju kurung Mila hingga ke pinggang, juga melepas kancing baju yang ada di dadanya. Sementara jilbabnya tetap ia biarkan terpasang dengan sempurna. Sambil memompa, kini Dewo bisa dengan leluasa mempermainkan payudara gadis muda itu. Ia cucupi puting Mila satu persatu, menghisapnya kuat-kuat, atau sesekali menggigit-gigitnya gemas begitu mendengar Mila merintih dan terengah-engah. Anak juragan Jamil itu semakin mendesis dilanda oleh api birahi yang sangat nikmat.

“Ahh…” Mila menggelinjang saat Dewo memintanya untuk menungging. Tanpa menolak dia mengikuti perintah itu.

Kini Dewo mengarahkan batang kontolnya ke liang memek Mila dari arah belakang, ia membelah dan menusuknya sampai mentok di mulut rahim gadis cantik itu. Kembali rintihan Mila terdengar saat Dewo mulai memaju-mundurkan penisnya secara cepat. Ia menekan dalam-dalam ke liang memek Mila. Begitu kerasnya hingga sampai membuat kepala Mila mendongak ke atas berkali-kali.

Dewo terus memacu dan menggerakkan penisnya sambil sesekali tangannya meremas pantat Mila yang bulat seksi. Penuh nafsu ia mengobrak-abrik liang senggama Mila yang masih terasa sempit dan rapat. Dewo merasakan kontolnya seperti diremas-remas, sungguh perpaduan yang menimbulkan kenikmatan pada alat kelamin masing-masing.

Sama seperti pada Nurmah tadi, juga terlihat darah menetes dari liang memek Mila yang masih perawan. Namun Dewo sama sekali tidak mempedulikannya, ia terus memompa dan memompa. Semakin banyak darah yang mengalir keluar, semakin ia bergairah. Begitulah tabiat si Dewo.

Dan Mila, hanya di awal-awal saja terdengar ia merintih dan menjerit. Namun seiring waktu, dan juga karena genjotan si Dewo yang semakin bertambah cepat, gadis itupun mulai mendesis dan merengek penuh nikmat. Kalau saja Dewo tidak membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, pasti Mila akan berteriak-teriak untuk meluapkan rasa nikmatnya, yang mana itu bisa mengundang kecurigaan orang yang mungkin kebetulan lewat disana.

Tentu saja Dewo tidak mau itu terjadi. Meski berilmu tinggi dan bisa menaklukkan kemarahan orang, tidak enak rasanya kalau lagi enak-enaknya ngentot tiba-tiba diteriaki seseorang. Jadi daripada itu terjadi, sambil terus menggoyang, Dewo tak lupa juga melumat mulut Mila secara bertubi-tubi. Dengan begitu gadis itu jadi sedikit terdiam, membuat Dewo bisa berkonsentrasi dalam menjemput klimaksnya.

Setelah berkali-kali memompa, Dewo merasakan sudah sampai waktunya bagi dia untuk menembakkan sperma. Maka segera ia percepat enjotan kontol di dalam memek Mila, dan menekannya sedalam mungkin sampai mentok menyentuh dinding rahim gadis berjilbab merah itu. Sambil meremas payudara Mila yang montok, Dewo melepas cairan spermanya yang pasti sangat kental dan banyak sekali. Memenuhi seluruh rongga vagina Mila, bahkan hingga tumpah ruah keluar.

Di saat yang sama, Dewo juga merasakan Mila menggapai puncaknya. Tubuh gadis itu mengejang ringan dan disusul sekitar enam kali muncratan cairan kenikmatannya. Mereka terdiam untuk sejenak, menikmati dahsyatnya persetubuhan tabu ini. Memang benar-benar berbeda sensasinya bercinta di alam liar, nikmatnya sungguh luar biasa.

Bayu baru tiba di tempat itu saat Dewo sudah mencabut penisnya dari liang senggama Mila. Pemuda itu terlambat! Sungguh sangat-sangat terlambat! Sudah tambah dua lagi anak gadis kampung yang kehilangan keperawanannya. Dilihatnya Mila yang bajunya acak-acakan tengah memeluk Dewo dengan penuh kemesraan, bagaikan sepasang kekasih saja layaknya. Nurmah ikut-ikutan memeluk, ketiganya saling membelai dan berciuman, merapatkan tubuh masing-masing dengan begitu eratnya.

”Sialan!” Bayu mengutuk kebodohannya. Ia memaki panjang pendek dalam hati. Kalau begini percuma, Dewo sudah melaksanakan niat jahatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.

Namun ia tidak menyerah. Bayu mencoba mengerahkan ilmunya, mengumumkan kehadirannya kepada Dewo. Siapa tahu dengan begitu Dewo jadi waspada dan melepaskan kedua mangsanya. Dan benar saja, Dewo tiba-tiba celingukan curiga. Perasaannya yang peka mendeteksi adanya ancaman.

”Hei, sebaiknya kalian pulang dulu.” katanya kepada Nurmah dan Mila.

”Kenapa? Kita baru main satu kali.” balas Nurmah enggan.

”Iya, saya masih belum puas merasakan enjotan kontol Paman Dewo.” timpal Mila sambil menggelayut manja.

Dewo segera menyingkirkan tubuh keduanya. ”Aku ada urusan penting,” sahutnya pendek sambil meraih celananya dan mengenakannya kembali.

Tahu kalau Dewo serius, dengan mendengus kecewa kedua gadis itu ikut merapikan baju masing-masing. Dari tempatnya mengintip, Bayu tersenyum gembira. Dibiarkannya Nurmah dan Mila berlalu sebelum dia keluar dari tempat persembunyiannya untuk menantang Dewo bertarung. Sudah cukup bukti baginya untuk menghentikan sepak terjang laki-laki tua itu.

Namun baru saja akan meloncat, Bayu dikejutkan oleh suara seseorang. ”Hei, kita berjumpa lagi,”

Bayu langsung menoleh. Ternyata Salamah, gadis itu sudah berdiri di sebelahnya. Di bibirnya yang tipis tersungging senyum semringah penuh kebahagiaan. Bayu segera menariknya turun, mengajaknya ikut berjongkok agar tidak dipergoki oleh Dewo. Semua rencananya jadi berantakan sekarang. Kehadiran Salamah membuatnya jadi mengurungkan niat untuk menyerang Dewo. Bisa-bisa gadis itu jadi terlibat dalam masalah kalau Bayu memaksa untuk bertarung sekarang.

”Eh, kok kamu bisa berada disini?” tanya Bayu dengan heran.

Salamah tertawa dan menjawab, ”Tadinya aku ingin menjemput Nurmah yang tidak pulang-pulang sehabis mencuci baju di sungai. Eh, aku malah melihatmu disini. Ya aku hampiri saja. Memangnya kamu lagi mengintip apaan sih?” tanyanya penasaran.

Bayu segera menghalangi pandangan gadis itu, memberi waktu bagi Nurmah dan Mila untuk berlalu dari tempat itu. Ia tidak ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Salamah. ”Bukan apa-apa. Aku hanya lagi menjerat burung untuk dimakan.” Bayu berkilah.

”Oh… kukira apaan,” Salamah terkekeh. ”Kalau lapar, ke rumahku saja. Masakanku enak lho.” tawarnya sungguh-sungguh.

”Terima kasih, mungkin besok atau nanti malam.” Bayu menggaruk perutnya.

”Aku juga terima kasih, atas pertolonganmu kemarin. Kalau saja kau tidak datang, mungkin Dewo s-sudah…” Salamah tidak sanggup meneruskan perkataannya.

”Ah, aku hanya kebetulan lewat.” kata Bayu merendah.

”Tapi aku benar-benar berterima kasih.” sahut gadis itu. ”oh iya… kalau boleh tahu, apa tujuanmu datang kemari?”

Bayu tidak langsung menjawab, tampak berpikir untuk sejenak. ”Aku pengangguran. Dimana kakiku melangkah, disitulah aku menuju.” sahutnya diplomatis.

Salamah tersenyum mendengarnya. Mata Bayu yang memandangnya tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. ”Aku senang bisa mengenalmu.”

Bayu menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. ”Aku juga.”

Salamah hendak menyibakkan tangan si pemuda, tapi tak jadi karena saat itu Bayu membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari darah di tubuh Salamah ketika bibir pemuda itu mulai mengecup bibirnya. Kemudian tangan yang lain dari si pemuda mengusap mukanya. Salamah diam saja. Juga masih diam ketika tangan Bayu meluncur turun ke bawah lehernya.

”B-Bayu… a-apa yang kau lakukan?” bisik Salamah setengah merintih.

Pemuda itu menyeringai. ”Kau cantik, Salamah…”

”K-kau… juga… tampan…” balas Salamah lirih.

Tidak banyak tanya lagi, Bayu segera menuntun tubuh gadis montok itu ke gubuk di tengah sawah. Saat itu Dewo sudah kembali ke perkampungan, hingga hanya tinggal desau angin dan burung-burung pipit yang menyaksikan bagaimana kedua insan yang berlainan jenis itu mulai melepas baju masing-masing.

Bayu merengkuh tubuh Salamah dan merebahkannya di atas lantai kayu. Bibirnya yang tipis mulai ia lumat pelan-pelan, sementara bulatan payudaranya ia remas-remas ringan. Salamah mengadakan perlawanan dengan mengimbangi kuluman Bayu, sambil diselingi dengan permainan lidahnya yang nakal. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman, Salamah sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiran Bayu.

”Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?” tanya Bayu heran.

Gadis itu mengangguk malu-malu. ”Sebenarnya aku sudah menikah siri, tapi suamiku sekarang lagi kerja ke luar pulau. Ngumpulin duit buat biaya nikah resmi nanti.”

”Kalau begitu kita tidak boleh melakukannya,” Bayu segera menjauhkan tubuh Salamah.

”Kenapa?” Salamah memprotes. ”Aku ikhlas melakukannya.”

”Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” Bayu tidak ingin menjadi seperti Dewo yang suka mengembat istri orang.

”Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin.” kata Salamah.

”Masih ada banyak cara untuk berterima kasih,” sahut Bayu. Pandangan matanya menerawang ke hamparan sawah yang mulai menguning, tidak ingin melihat Salamah yang masih terduduk dengan tubuh setengah telanjang.

”Kalau aku hanya ingin membalasnya dengan cara ini?” tantang gadis itu.

Bayu tidak menjawab. Hanya tangannya yang bergerak, menyuruh Salamah agar memakai pakaiannya kembali. Tapi gadis itu menepisnya.

”Lihat aku.” Salamah berteriak. ”Kalau kau tidak mau, lebih baik aku menyerahkan tubuhku kepada Dewo!”

Ancaman itu membuat Bayu langsung menoleh. Ditatapnya wajah cantik itu. ”Jangan! Jangan lakukan itu!”

”Kalau begitu, sentuh tubuhku!” pinta Salamah tegas, ”tidak tahukah kau betapa aku kesepian semenjak ditinggal pergi oleh suamiku?” lirihnya memelas.

Bayu terdiam, namun tak urung matanya kembali menjelajahi tubuh bugil Salamah yang kini hanya tinggal mengenakan jilbab dan celana dalam saja. Buah dada gadis itu yang tidak terlindungi bra terlihat bergerak turun-naik seiring dengan tarikan napasnya. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat begitu segar dan telah sepenuhnya mengeras.

”Kumohon… biarkan aku membalas budi baikmu,” Salamah kembali berkata.

Tanpa menunggu persetujuan Bayu, jari-jari tangannya mulai membuka ikatan celana pemuda tampan itu. Salamah memandangi dada Bayu yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontol Bayu yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalam. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak panas.

Situasi itu membuat Bayu jadi tidak bisa mundur lagi. ”Maafkan aku,” Perlahan ia pun mendekat dan memeluk tubuh mulus Salamah yang sudah terduduk pasrah. Kembali ia kulum bibir gadis itu dengan hangat dan mesra.

Salamah mengimbanginya. Dia memeluk leher Bayu sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dada pemuda itu. Payudara itu terasa begitu kenyal dan lembut. Putingnya yang telah mengeras terasa benar-benar kaku dan menggelitik, membuat keduanya saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

”Hmm…” Ciuman Bayu kini pindah ke leher jenjang Salamah. Dengan sedikit menyingkap jilbab gadis itu, terpancar keharuman parfum Salamah yang begitu segar dan menggairahkan.

Salamah mendongakkan dagunya agar Bayu dapat menciumi segenap pori-pori di kulit lehernya. ”Ahh… aku sudah menginginkan ini dari kemarin.” rintih gadis itu. “Gelutilah tubuhku… puaskan aku!” bisik Salamah terpatah-patah.

Bayu menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahnya bergerak ke arah payudara gadis itu. Payudara Salamah begitu menggembung dan padat, namun berkulit sangat lembut seperti bayi. Bayu menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudara itu, kemudian menggesek-gesekkan wajahnya di sana. Bergantian hidungnya menghirup keharuman yang terpancar dari kulit payudara Salamah. Puncak bukitnya yang kanan ia lahap masuk ke dalam mulutnya. Bayu menyedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutnya menjadi semakin banyak.

Salamah kontan menggelinjang. ”Auw! Jangan keras-keras… ngilu!” rintihnya.

Namun gelinjang dan rintihan gadis itu semakin membangkitkan hasrat Bayu. Diremasnya bukit payudara sebelah kiri Salamah dengan gemasnya, sementara puting yang kanan ia mainkan dengan ujung lidahnya. Puting itu kadang juga digencetnya dengan tekanan ujung lidah dan gigi. Kemudian secara mendadak disedotnya lagi kuat-kuat. Sementara jari tangannya menekan dan memelintir puting payudara yang kiri. Salamah semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah rindu.

”Aduh… sshh… ngilu, Bayu… shh… geli!” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulutnya yang merangsang.

Bayu yang tidak puas hanya dengan menggeluti payudara kanan, kini mulutnya berganti menggeluti yang kiri, sambil tangannya meremas-remas keduanya secara kuat. Kalau payudara yang kiri ia sedot kuat-kuat, tangannya memijit-mijit dan memelintir puting yang kanan. Sedang bila gigi dan ujung lidahnya menekan-nekan puting kiri, tangannya meremas sebesar-besarnya payudara Salamah yang kanan. Begitu terus berganti-ganti.

”Bayu, kamu nakal… ssh… hhh…” Membuat Salamah jadi tiada henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, Bayu meneruskan permainan lidahnya ke arah perut Salamah yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutnya berhenti di daerah pusar gadis itu. Ia berkonsentrasi mengecupi disana, sementara kedua telapak tangannya menyusup ke belakang dan meremas-remas pantat Salamah yang melebar dan menggembung padat. Kedua tangan Bayu menyelip ke dalam celana merah muda tipis yang melindungi pantat itu, dan perlahan-lahan memelorotkannya ke bawah. Salamah sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan bagi Bayu. Dengan sekali sentakan, celana dalam itupun sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang sungguh luar biasa merangsang. Jembut Salamah sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna merah tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusar, tangan Bayu mulai mengelus-elus paha Salamah yang berkulit licin dan mulus. Elusan itu semakin merambat ke dalam dan merangkak naik, hingga sampailah jari-jari tangan Bayu di tepi kiri-kanan bibir luar memek Salamah. Perlahan pemuda itu mengelus-elusnya dengan dua jari, bergerak dari bawah ke atas.

”Ahh… Bayu!” Dengan mata terpejam, Salamah berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau sangat menikmati permainan ini.

Perlahan Bayu menyibak bibir memek Salamah dengan ibu jari dan telunjuknya sampai kelentit gadis itu menongol keluar. Wajahnya kemudian bergerak kesana, sementara tangannya kembali memegangi payudara Salamah yang bergetar-getar indah. Bayu menjilati kelentit Salamah perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tangannya mempermainkan puting payudara gadis itu.

”Auw! Bayu… shh… betul… di situ… enak… shh…” Salamah mendesah-desah sambil matanya merem-melek keenakan. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas dan ke bawah mengimbangi gerakan merem-melek matanya. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Bayu sudah akan meneruskan permainan lidahnya dengan melakukan jilatan-jilatan panjang, saat lamat-lamat didengarnya suara langkah kaki mendekat. Spontan ia menghentikan jilatan dan mendongak untuk mengintip, sementara satu tangannya membungkam mulut Salamah agar berhenti bersuara.

”Ssst… ada orang kesini,” katanya berbisik.

Salamah segera duduk meringkuk sambil berusaha membenahi pakaiannya yang acak-acakan. Tidak jauh dari gubuk tempat dimana mereka berada, tampak seorang lelaki berperawakan gendut dengan peci putih melangkah tertatih-tatih menyusuri pematang sawah. Sekali lihat saja, Salamah sudah bisa menebak kalau itu adalah Haji Tohir.

Gawat! Kenapa ayahnya menyusul kemari?

PIPIT

Lelaki bertubuh kecil itu menyelinap diam-diam. Bilik kecil itu gelap, tapi ia sudah hafal sudut-sudutnya. Tangannya kini meraih handel laci meja dan perlahan menariknya. Dengan senter kecil, disorotinya selembar kertas dari dalam sebuah map. Tertulis di atasnya sejumlah nama. Dilipatnya kertas itu dan dimasukkan ke balik jaketnya.

aldila nur dianiati jilbab manis (8)

”Penyusup!” kata-kata itu menggema di benaknya.

Ya, Faiz, lelaki itu, sadar betul. Ia adalah penyusup, mata-mata! Ia bekerja untuk militer, mengamat-amati aktivitas rakyat. Dua tahun sudah ia menyusup ke tempat ini, menyamar sebagai santri. Dua tahun cukup baginya untuk mendapat kepercayaan dari para pengasuh pondok di kawasan terpencil itu. Karena itu pula, ia bebas masuk ke sejumlah ruangan yang terlarang bagi banyak santri lainnya.

Sore tadi, ia bahkan bertugas menyiapkan minuman untuk sebuah pertemuan. Ia yakin ini pertemuan yang sangat rahasia. Sejumlah pengurus pondok hadir. Ia juga melihat orang-orang yang tampaknya lama tinggal di hutan, turut hadir. Orang-orang ini dilihatnya meletakkan senjata-senjata AK-47 di sudut ruangan.

Sambil menyiapkan minuman, Faiz leluasa mendengarkan pembicaraan mereka. Sangat jelas baginya, mereka tengah membicarakan rencana penyerbuan ke sebuah pos militer, pekan depan. Usai pertemuan, mereka semua bergegas pergi. Faiz sempat mendengar pimpinan pondoknya berpamitan kepada istrinya.

”Kira-kira seminggu kami pergi,” kata lelaki itu.

Seluruh rencana sudah terekam dalam benak Faiz. Tinggal satu yang belum, nama-nama mereka yang hadir. Daftar hadir di selembar kertas itulah yang kini dikantonginya.

“Aku harus segera mengabari markas,” ujarnya dalam hati sambil perlahan beranjak ke luar ruangan.

Namun baru saja memegang handel pintu, mendadak ia mendengar suara rintihan. Faiz berhenti sejenak. Itu rintihan seorang perempuan. Begitu jelas dan lebih mirip desahan. Faiz melupakan sejenak rasa cemasnya. Ia berbalik memasuki ruang dalam. Desahan itu begitu merangsangnya. Ia terus mendekat ke arah sumber suara di salah satu kamar.

Faiz tahu pasti, malam ini cuma seorang perempuan muda yang tinggal di rumah itu. Perempuan itu, Nurfitri, istri salah seorang pengasuh pondok. Faiz biasa memanggilnya dengan Ustazah Pipit. Pintu kamar Pipit hanya tertutup sehelai kain korden. Perlahan Faiz menyingkapkan korden itu.

aldila nur dianiati jilbab manis (7)

Kamar Pipit tak cukup terang. Tapi kedua mata Faiz yang sejak tadi terbiasa dengan kegelapan dapat melihat dari arah samping, sesosok tubuh perempuan tampak duduk di ranjang dengan bersandar di dinding. Perempuan itu hanya mengenakan daster tipis. Rambutnya yang lebat terurai ke bawah bahu.

Faiz belum pernah melihat Pipit dalam keadaan seperti itu. Sehari- hari, ia hanya bisa melihat sepasang mata Pipit dari celah cadar yang dipakainya. Pakaiannya pun semacam jubah panjang yang menutupi sekujur tubuhnya.

Meski demikian, Faiz yakin perempuan itu adalah Pipit. Darah mudanya bergelora saat pertama kali melihat wajah perempuan itu. Perempuan itu begitu cantik. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis. Faiz makin tegang manakala melihat Pipit tengah meremas-remas kedua payudaranya dari luar daster. Dari bibirnya yang tipis keluar rintihan. Kepalanya mendongak.

Pipit baru sekitar tiga tahun menikah dan belum punya anak. Suaminya sangat sibuk di luar pondok. Mungkin karena itu, nafkah batinnya tak sepenuhnya terpuaskan.

Faiz melotot. Entah kapan Pipit melakukannya. Yang jelas, di depannya terlihat perempuan itu telah mengeluarkan sebelah payudaranya. Cukup besar. Dalam cahaya remang-remang, bagian indah itu tampak berkilauan. Pipit terus meremas dan merintih. Kini ia bahkan menarik-narik putingnya.

Faiz dengan tegang menanti adegan berikutnya saat dilihatnya Pipit menarik bagian bawah dasternya hingga ke pinggang. Kedua kakinya yang menekuk kini terlihat jelas. Faiz belum dapat melihat sasaran yang amat dinantinya karena posisinya terhalang kaki Pipit yang indah. Tapi dilihatnya sebelah tangan Pipit kini menetap di pangkal pahanya. Rintihan Pipit makin menggairahkan. Di sela rintihannya terdengar ia menyebut nama suaminya.

Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Faiz cepat bersembunyi di tempat yang aman. Suasana ruangan yang remang-remang memudahkan ia menemukan tempat sembunyi yang aman.

“Kak… Kak Pipit…” suara seorang gadis remaja terdengar.

aldila nur dianiati jilbab manis (6)

Faiz melihat lampu di kamar Pipit menyala terang. Lalu kepala Pipit menyembul dari balik korden. Ia kini telah mengenakan jilbabnya. “Ada apa?” katanya.

“Pintu depan kok tak dikunci?”

“Masak? Tadi perasaan sudah kukunci. Iya lah, nanti kukunci.”

“Ya sudah, Kak. Aku balik ke kamar dulu.”

Pipit pun mengantar adiknya keluar. Lalu dikuncinya pintu rumah. Sepeninggal adiknya, Pipit kembali masuk ke kamarnya. Faiz pun berjingkat kembali ke tempat pengintaiannya. Lelaki itu bersorak dalam hati melihat Pipit tak mematikan lampu. Karena itu, ia kini dapat melihat dengan jelas suasana di dalam kamar.

Pipit masih mengenakan dasternya, tetapi kini berjilbab. Perempuan itu menghadapi sebuah kaca yang pantulannya membuat Faz dapat melihat wajah perempuan itu.

Pipit tampaknya belum terpuaskan dengan masturbasinya tadi. Di depan kaca, ia mulai kembali meremas payudaranya. Disampirkannya jilbab hitamnya yang panjang sampai pinggul ke belakang pundaknya. Dari kaca kini terlihat sepasang gundukan yang montok berlapis daster tipis.

Faiz mengusap pangkal pahanya yang mulai membengkak. Dilihatnya Pipit meremas-remas kedua payudaranya dengan mata terpejam. Dari bibirnya mulai terdengar suara merintih. Entah bagaimana awalnya, daster Pipit tahu-tahu sudah melorot ke lantai.

Faiz melotot. Pipit kini terlihat sangat menggairahkan dengan jilbab di kepalanya, namun di bagian bawah hanya bra dan celana dalamnya yang tersisa.

“Terus… terus…” Faiz berharap dalam hati. Dan harapannya terwujud.

Kedua tangan Pipit menekuk ke belakang dan melepaskan pengait bra-nya. Begitu terlepas, dilemparnya bra itu ke ranjang. Lalu, perempuan itu menunduk, melepas celana dalamnya. Faiz menahan napas. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal melihat perempuan yang sangat dihormatinya kini hanya mengenakan jilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Tubuh Pipit amat sempurna. Putih, mulus dan sangat proporsional. Dari cermin di hadapannya, Faiz bisa melihat sepasang payudara Pipit yang lumayan besar tapi kencang. Pangkal pahanya nyaris mulus, karena hanya sedikit bulu tumbuh di situ.

Pipit kembali meremas-remas kedua payudaranya. Kedua putingnya dipilin-pilin dan ditarik-tariknya sendiri. Sementara dari bibirnya terdengar desahan makin keras diselingi suaranya menyebut nama suaminya.

Tangan kiri Pipit masih sibuk merangsang payudaranya ketika tangan kanannya bergeser turun dan berhenti di pangkal pahanya. Faiz melihat perempuan muda itu mulai meremas-remas kemaluannya. Pinggulnya yang bundar bergoyang-goyang perlahan.

Pipit kini agak menungging. Tangan kirinya berpegangan meja rias di depannya. Ia berdiri dengan kedua kaki melebar. Faiz melotot melihat dari belakang jemari Pipit bermain di kemaluannya sendiri. Sangat jelas terlihat, jari tengah Pipit keluar masuk celah vaginanya. Desahan Pipit makin keras. Tubuhnya terlihat mengkilap oleh keringat.

aldila nur dianiati jilbab manis (5)

Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan langsung menelungkup. Posisi kakinya tepat menghadap Faiz. Karenanya, pandangan Faiz jadi makin jelas. Ia bisa melihat bagian dalam bibir vagina Pipit yang berwarna pink, membuka dan mengatup saat kini dua jarinya menusuk-nusuk makin cepat dan makin dalam.

Tiba-tiba Pipit membalik lagi. Kini ia berbaring dengan kedua kaki menekuk dan mengangkang luas. Makin jelas lagi bagi Faiz dapat melihat vagina Pipit yang basah dan kedua jarinya yang juga basah, terus keluar masuk dengan begitu cepat.

“Ahh… ahh… ouhh… Kakak… ouhh…” tiba-tiba tubuh Pipit menegang. Punggungnya melengkung diiringi rintihan panjang. Tampak ia berusaha menusukkan kedua jarinya sejauh mungkin sampai akhirnya tubuhnya ambruk ke ranjang. Sesekali terlihat lonjakan-lonjakan kecil, sisa-sisa terpaan orgasmenya.

Faiz terus memandangi Pipit yang kini terkulai lemas kehabisan tenaga di ranjangnya. Kakinya lurus, masih mengangkang luas. Tangannya tergeletak di sisi tubuhnya.

Sepuluh menit kemudian, Faiz melihat gerakan dada Pipit yang membusung, makin teratur. Melihat aksi Pipit tadi, Faiz yang semula hanya bermaksud mencuri dokumen mulai merancang tindakan lain. Dipasangnya topeng skinya, hingga kini hanya kedua matanya yang terlihat. Dengan jantung berdegub Faiz mengecek apakah Pipit sudah betul-betul tertidur. Diraihnya saklar lampu di dekat pintu. Ditekannya dan kamar pun gelap gulita. Lalu dihidupkannya lagi. Dilihatnya Pipit tak bereaksi.

“Bagus, sekarang waktunya,” katanya dalam hati sambil mulai berjingkat memasuki kamar.

Faiz kini berdiri di sisi ranjang. Dipandanginya perempuan yang dihormatinya itu sambil tersenyum licik. Pipit masih tampak anggun dengan jilbabnya yang agak kusut. Di bagian bawah, sepasang payudaranya yang amat putih dan mulus tampak menantang untuk dijamah. Kedua putingnya hanya berupa tonjolan kecil berwarna agak gelap dengan wilayah areola yang sempit.

Makin ke bawah, dilihatnya perut yang rata dan pinggang yang ramping. Lalu, sedikit di atas vaginanya adalah bagian yang ditumbuhi sedikit rambut kemaluan. Di bagian pangkal kedua pahanya yang mulus, Faiz melihat vagina yang gemuk dengan kulit kemerahan bekas diremas-remas. Bibir vaginanya tampak rapat, agak basah.

Faiz meraih bra Pipit dan menciumnya. Diambilnya juga daster Pipit di lantai. Dengan belatinya, disobeknya daster hijau itu menjadi potongan panjang. Lalu, perlahan diangkatnya tangan kiri Pipit ke atas kepalanya. Pipit tetap tak bereaksi. Ia tidur begitu pulas setelah kepuasan yang tadi diperolehnya.

Perempuan itu terus diam saat pergelangan tangan kirinya diikat dengan bra ke kaki ranjang. Faiz lalu beralih ke tangan kanan Pipit dan berhasil mengikat pergelangannya dengan potongan daster ke kaki ranjang pada sisi yang berseberangan.

aldila nur dianiati jilbab manis (4)

Faiz puas memandangi hasil kerjanya. Kedua tangan Pipit yang terangkat membuat payudaranya makin membusung indah. Faiz kini melepas celananya, membebaskan penisnya yang sejak tadi menegang. Perlahan ia naik ke atas ranjang dan berlutut mengangkangi bagian dada Pipit. Perempuan itu masih terpejam.

Faiz menyentuh puting kanan Pipit dengan ujung penisnya. Gesekannya menimbulkan rasa geli yang makin menaikkan gairah mudanya. Dilakukannya hal yang sama pada puting kiri dan ditekannya hingga kini kepala penisnya tenggelam di kekenyalan payudara Pipit.

Faiz berhenti sejenak ketika merasakan kepala penisnya diselimuti ehangatan. Diperhatikannya perempuan itu mengerutkan dahinya dan mulai menggerakkan kepalanya. Faiz kini menjepit kedua puting Pipit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Perlahan mulai memilin-milinnya dan menariknya menjauh.

”Auw… ah…” dari bibir Pipit mulai terdengar rintihan pelan. Faiz memperkeras jepitannya dan mempercepat frekuensi pilinannya.

“Ouhh… ngghh… aduhh… Ap-apa ini… aaa… mmffff…” Pipit tiba-tiba membelalakkan matanya ketika Faiz dengan gemas menjepit kedua putingnya keras-keras sambil menariknya sejauh mungkin ke atas.

Namun jerit kesakitan dan keterkejutan Pipit langsung terbungkam. Sebab, saat bibir mungilnya terbuka, Faiz langsung menyumpalkan celana dalam perempuan itu ke mulutnya sendiri. Pipit panik dan menendang-nendang. Ia takut dan malu luar biasa melihat seorang lelaki di atas tubuhnya yang terikat dan telanjang.

“Tak usah teriak kalau tak ingin tetekmu ini kutikam,” ancam Faiz dengan suara yang diubahnya.

Pipit merintih kesakitan. Faiz mencengkeram payudara kirinya dan menekan ujung belatinya vertikal tepat di ujung putingnya.

“Saya akan tarik keluar celana dalam di mulut Ustazah. Tapi janji, Ustazah tak akan berteriak. Setelah itu, saya akan beri Ustazah pengalaman yang tak kan terlupakan. Janji?” desis Faiz.

Pipit yang ketakutan langsung menganggukkan kepalanya. Faiz lalu melepaskan sumpal di mulutnya itu.

“Ooh… jangan… jangan perkosa saya…” ucap Pipit begitu mulutnya terbebas.

“Tak usah banyak cakap. Sekarang kulum ini! Awas kalau sampai
tergigit!”

”Auw!” Pipit memekik ketika Faiz menyodorkan penisnya dan langsung memaksa untuk mengulumnya. Mau tak mau perempuan itu melakukan hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

Faiz seperti kesetanan. Kedua tangannya memegangi bagian belakang kepala Pipit yang berjilbab hitam. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat dan kasar. Pipit mengerang-erang. Ia ingin muntah dan kesulitan bernapas. Apalagi Faiz kemudian berhenti dengan ujung penis yang terasa menyumbat kerongkongannya. Hidung mancung Pipit tenggelam di kerimbunan rambut kemaluan Faiz.

Pipit panik merasakan penis Faiz berdenyut dan sedetik kemudian menyemburkan cairan yang kental, hangat dan beraroma menjijikkan. Tapi apa daya, Pipit tak kuasa melakukan apapun kecuali menelan sperma Faiz yang memenuhi rongga mulutnya.

aldila nur dianiati jilbab manis (3)

Pipit terisak ketika akhirnya Faiz menarik keluar penisnya yang lemas. Ia tak sadar Faz merekam close up wajahnya dengan pen cam, memperlihatkan seputar bibirnya yang bernoda sperma.

Tapi Faiz belum berhenti. Ia kembali menyumpal mulut Ustazah Pipit dengan celana dalamnya sendiri. Perhatiannya kemudian tertuju pada sepasang payudara Pipit yang putih mulus. Begitu putihnya, sampai terlihat pembuluh darahnya yang berwarna biru kehijauan di balik kulit payudaranya. Faz kini dengan lembut meremas-remas gundukan daging kenyal itu. Sesekali disentuhnya kedua puting Pipit dengan ujung jarinya.

Pipit mulai kembali terdengar merintih. Sesekali terlihat Pipit bergidik. “Mmmfff… mmmffff…” Pipit merintih lagi saat lidah Faiz menyapu kedua putingnya berganti-ganti dengan gerakan memutar. Ujung lidah Faiz pun menyentil-nyentil tonjolan kecil yang mulai mengeras itu.

Lalu dengan gerak agak mengejutkan, Faiz melahap salah satu puting Pipit dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan. Pipit sampai mendongakkan kepalanya menahan perasaan persis seperti saat ia masturbasi tadi. Apalagi kemudian terasa pangkal pahanya diremas-remas. Faiz masih terus menghisap kedua puting Pipit berganti-ganti sambil jari tengahnya menekan klitoris Pipit dengan gerak berputar-putar.

Di tengah ketakutannya, Pipit sekuat tenaga melawan desakan dari bawah sadarnya untuk menikmati perlakuan lelaki yang tengah menindihnya itu. Tapi ia tak kuasa melawannya. Kerinduannya pada belaian suaminya tergantikan oleh perbuatan lelaki asing ini.

Pipit makin terlena saat lidah Faiz menelusuri kulitnya dari celah antara kedua payudaranya, terus ke pusar dan akhirnya berhenti di pangkal pahanya. Dari semula mengerang kesakitan, dari bibir Pipit kini justru keluar rintihan penuh kenikmatan. Bahkan napasnya makin memburu ketika Faiz menguakkan liang vaginanya lebar-lebar, sejenak memandanginya dan kemudian menyapu bagian dalamnya dengan lidah.

Tubuh Pipit menggigil, tanpa sadar ia mengangkat pinggulnya seolah menyodorkan kepada Faiz untuk dijilat habis-habisan. “Nghh… nghh… mmmff…” desahan Pipit makin keras terdengar. Faiz kini menyedot klitorisnya, seperti yang dilakukannya pada puting perempuan alim itu.

Faiz paham, Pipit segera mencapai orgasmenya. Tepat sedetik sebelum Pipit meledak dalam kenikmatan, ia berhenti. Dua jarinya langsung mencubit kuat-kuat klitoris Pipit. Pada saat bersamaan, sebelah puting Pipit digigitnya agak keras, sedang puting satunya dijepitnya dengan ibu jari dan telunjuknya, amat kuat.

Pipit yang tengah berada di awang-awang seolah dibanting keras-keras. Kenikmatan yang hampir sampai puncak, kembali berganti dengan rasa sakit luar biasa. Ia pun mengerang panjang tanda kesakitan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di ujung puting yang dijepit terlihat setitik darah.

Pipit masih kesakitan ketika akhirnya Faiz menempatkan dirinya di antara kedua pahanya. Kembali rintih kesakitan terdengar dari bibir Pipit. Penis Faiz tanpa ampun langsung menerobos vagina Pipit sedalam-dalamnya. Kalau saja mulutnya tidak tersumpal, ia pasti sudah menjerit sejadi-jadinya. Vaginanya yang jarang dimasuki oleh suaminya masih terlalu rapat untuk ukuran penis Faiz yang besar.

Pipit sudah terlalu lelah untuk melawan. Kedua kakinya hanya mampu menendang-nendang lemah ke udara. Sementara Faiz seperti kesetanan terus menghunjamkan penisnya ke vagina perempuan idamannya itu.

“Eungghh… ngghh… mmmff…” Pipit hanya bisa merintih panjang saat Faiz menyedot kuat-kuat putingnya yang berdarah. Sementara puting satunya pun dipilin dan dijepit kuat-kuat hingga menitik darah di pucuknya. Lalu, puting yang satu inipun mendapat gilirannya, disedot kuat-kuat.

Dari kedua mata indah Pipit menetes air bening. Tubuhnya terguncang hebat ketika Faiz akhirnya mencengkeram kedua payudaranya sampai ke pangkal dan menjadikannya seperti tali kekang kuda, sementara ia terus mendorong penisnya keluar masuk vagina dengan cepat dan kasar.

“Aaaagghhhhh…” terdengar suara Faiz agak keras saat akhirnya testisnya menumpahkan muatannya lewat batang penisnya, langsung memenuhi rongga vagina Pipit.

Pipit merasa vaginanya amat pedih. Maka, semburan sperma Faiz yang panas pun membuatnya makin tersiksa. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya tersengal-sengal, apalagi tubuh Faiz yang berat masih menindihnya. Perlahan Pipit merasakan penis Faiz mengecil dan akhirnya lelaki itu bangkit. Faiz kemudian menarik kain jilbab Pipit dan mengelap penisnya yang berlumur sperma dengan kain itu.

“Aku akan melepas ikatanmu, tapi jangan coba-coba bertindak bodoh,” bisik Faiz mengancam. “Mengerti?!” lanjutnya sambil mencengkeram payudara kiri Pipit.

Perempuan itu mengangguk. Faiz pun langsung melepaskan ikatan di tangan Pipit dan menarik keluar celana dalam yang menyumpal mulutnya. Begitu ikatan terlepas, Pipit langsung membenahi jilbabnya yang panjang untuk menutupi tubuhnya. Faiz membiarkannya. Namun ia kemudian menyuruh wanita itu bangkit dan menggiringnya ke kamar mandi.

aldila nur dianiati jilbab manis (2)

Di kamar mandi, Faiz menyuruh Pipit membuka jilbabnya. Pipit menolak, tetapi akibatnya Faiz mencengkeram sebelah payudara yang tertutup jilbabnya sambil menempelkan belatinya ke pipi perempuan itu. Akhirnya, sambil terisak, Pipit melepas juga jilbabnya.

Faiz terpana. Pipit yang kini telanjang bulat itu tampak makin menggairahkan. Rambutnya yang panjang digulung hingga menampakkan leher yang jenjang. Kulit Pipit begitu putih. Di bagian dalam kedua pahanya yang mulus tampak mengalir spermanya.

“Mandi!” perintah Faiz.

Kali ini, tanpa diperintah dua kali, Pipit langsung mandi. Ia memang segera ingin membersihkan seluruh tubuh, terutama kemaluannya. Tapi ia merasa malu luar biasa. Bahkan, suaminya pun tak pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini.

Di luar dugaan Pipit, Faiz pun membuka seluruh pakaiannya, kecuali topeng skinya. Disuruhnya Pipit menyabuni penisnya. Sementara Faiz sendiri mulai menyabuni kedua payudara Pipit sambil menarik-narik putingnya. Pipit merintih ketika Faiz menyabuni selangkangannya. Apalagi, dua jari Faiz memaksa masuk ke situ.

Usai mandi, Pipit agak lega karena Faiz menyuruhnya berpakaian, bahkan lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Melihat Pipit kembali dalam keadaan yang biasa dilihatnya sehari-hari, Faiz makin bergairah. Didorongnya perempuan itu merapat ke dinding. Diremasnya kuat-kuat kedua payudara Pipit dari luar busananya. Tangan Faiz pun bergerak turun dan mencengkeram pangkal paha Pipit dari luar jubah hitamnya.

“Ohhh… sudah… jangan lakukan lagi…” Pipit mengiba-iba ketika Faiz memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap dinding.

Dari belakang, Faiz masih meremas-remas kedua payudara dan pangkal pahanya. Pipit merasakan kedua kakinya direnggangkan, lalu jubahnya diangkat ke atas. Pipit terisak, tangan Faiz kini berada di balik jubahnya dan langsung meremas lagi kedua payudaranya. Kali ini, bahkan mendorong ke atas branya hingga sepasang buah dadanya keluar dan langsung digenggam kedua tangan besar Faiz.

Faz seperti tergila-gila dengan payudara perempuan itu. Tak bosan-bosannya ia meremas, mencengkeram, menarik dan memelintir putingnya. Pipit kini menangis dan sesekali memekik ketika ulah Faz menyakiti bukit payudaranya.

“Oooh… tidak… tidak… jangan lagi…” rintih Pipit ketika merasakan tangan Faiz menyelinap ke balik celana dalamnya, mempermainkan vaginanya seperti bocah bermain tanah liat. Sesekali Pipit memekik karena Faiz dengan nakal menarik rambut kemaluannya yang tak seberapa banyak. Tubuh perempuan bercadar itu gemetar. Ia merasakan bagian belakang celana dalamnya disingkapkan. Lalu, ada tangan yang menarik dua gundukan pantatnya ke arah berlawanan.

“Aaakkhhh…” Pipit mengerang. Vaginanya sekali lagi diterobos penis Faiz yang seolah tak pernah puas.

Disetubuhi dari belakang membuat Pipit sangat tersiksa. Apalagi, kali ini Faiz lama sekali tak juga selesai. Sebelah kaki Pipit kini diangkat lelaki itu dan Faiz terus menyarangkan penisnya ke segala arah di dalam vagina perempuan cantik itu. Tubuh Pipit terus tergoncang-goncang dan akhirnya ia terjatuh dalam posisi merangkak. Hebatnya, penis Faiz masih tetap menancap di dalam liang vaginanya.

Pemandangan di dalam kamar itu sungguh luar biasa. Seorang perempuan dengan jilbab, cadar dan jubah serba hitam, merapatkan pipinya di lantai, sementara pinggulnya yang terbuka mendongak ke atas. Di belakangnya, lelaki bugil tengah menyetubuhinya.

Faiz tampaknya hampir selesai. Ia menggerakkan pinggulnya seperti kesetanan dan tangannya mencengkeram keras pantat Pipit yang besar. Pipit menahan sakit dengan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.

“Aaarrrgghhhhh…” Faiz mengerang keras sambil mendorong penisnya sejauh mungkin ke dalam liang vagina Pipit. Setelah sekian kali, spermanya masih tetap tersembur, menyakiti bagian dalam vagina Pipit yang terluka.

Pipit pun memekik kesakitan dan tubuhnya ambruk, hingga kini ia masih telungkup ditindih Faiz. Pemerkosa dan korbannya itu sama-sama terengah-engah. Pipit merasakan penis Faiz di dalam vaginanya perlahan menciut, hingga kini tinggal bagian kepalanya yang terjepit vaginanya. Akhirnya Pipit merasakan penis Faiz yang kini lemas, terlepas dari vaginanya, bersamaan dengan mengalirnya sperma Faiz dari dalam vaginanya.

TIba-tiba Faiz membalikkan tubuhnya. Kini Pipit terbaring telentang dan Faiz pun sudah mengangkangi wajahnya setelah sebelumnya menyingkapkan cadar hitamnya. Pipit memalingkan wajahnya saat melihat penis Faiz yang mengkerut, betul-betul basah kuyup oleh cairan kental.

“Bersihkan dengan lidah!” perintah Faiz.

Pipit tak bisa menolak, apalagi belati Faz diacungkan di depan wajahnya. Sambil menahan mual, dijilatinya penis Faz sampai bersih. Faiz kemudian menutup kembali wajah perempuan itu dengan cadar. Faiz beringsut mundur. Dijumputnya kain jubah di bagian dada Pipit dan dengan belatinya disobeknya bagian itu. Akibatnya, sepasang payudara Pipit terbuka, tepat di bagian putingnya.

“OK, aku sudah selesai. Kamu tak akan ceritakan ini pada siapapun bukan? Tak ada orang akan percaya dan kamu akan malu sendiri,” kata Faiz sambil memilin-milin puting Pipit.

“Di samping itu, aku akan datang lagi kapanpun aku ingin bercinta denganmu. Kamu akan menerimaku dengan kehangatan bukan? Katakan ya dan aku akan segera pergi,” kata Faiz sambil menjepit kedua puting Pipit agak keras.

“Aduh… aduh…. ya… iyaa…” Pipit cepat-cepat menjawab.

Faiz tersenyum dan langsung bangkit, mengenakan pakaiannya kembali dan pergi meninggalkan korbannya. Pipit masih meringkuk di lantai, terisak-isak menyesali nasibnya.

MURTI 11 : NINGSIH

Jam lima sore, Gatot pulang tanpa bersama Pak Camat. Ia pulang bersama seorang pegawai kantor, sementara Pak Camat entah kemana. Ia tidak menuju rumah Murti, tapi langsung ke rumahnya sendiri. Gatot melihat ada keramaian di depan rumahnya, tepatnya di rumah yang sudah seminggu ini kosong tak berpenghuni. Ah, mungkin ada orang baru yang menempati rumah itu. Gatot melihat banyak warga membantu menurunkan perkakas dari empat truk.

“Ada penduduk baru, Pak?” ia bertanya pada seorang warga yang kebetulan melintas.

“Penduduk baru tapi muka lama, Tot. Keluarganya si Ningsih.” jelas si tetangga. “Ayo ikut bantu, Tot.” ajak tetangga itu lagi.

Gatot urung masuk rumah dan bersama para waRga beramai-ramai membantu. Gatot sempat melihat Ningsih tapi sangat sibuk. Begitupula si Bejo yang cuma tersenyum kepadanya. Gatot senang karena Bejo dan keluarganya telah kembali ke komplek. Ia jadi punya teman sebaya.

menjelang maghrib, semua perkakas sudah selesai diturunkan dan empat buah truk itu juga sudah pergi. Barulah Gatot bisa menghampiri Bejo. “Hei, Jo, kenapa nggak bilang kalau mau balik ke komplek?” tanyanya.

“Kejutan. Ayo ikut aku, Tot. Kukenalkan ke istriku.” ajak Bejo.

Gatot ikut Bejo masuk ke dalam rumah yang masih berantakan. Di dalam, ia langsung disambut dengan akrab oleh keluarga Bejo. Gatot bersyukur semua masih ingat padanya, masih bersikap baik padanya seperti dulu. Beberapa tahun silam, mereka memang bertetangga, jadi wajar kalau kemudian jadi akrab. Memang ada tambahan orang baru yaitu istrinya Bejo.

Namun karena sudah maghrib, Gatot lekas mohon diri. “Mainlah ke rumah, Jo. Aku pulang dulu ya,”

“Itu pasti, Tot. Ini dari Mbak Ningsih buat kamu.” kata Bejo memberikan sebuah bungkusan.

“Mana Ningsih?” Gatot bertanya.

“Masih mandi. Nanti juga pasti ke rumahmu,” Bejo tersenyum.

“Terima kasih ya,” Gatot melambaikan tangan.

“Sama-sama, Tot.” Bejo mengangguk.

Gatot kembali pulang. Sesampainya di dalam rumah, ia mendapati Aisyah sedang sibuk di dapur. Gatot segera membuka baju yang penuh keringat lalu mendekati Aisyah, namun tidak terlalu dekat karena khawatir Aisyah akan terganggu oleh bau badannya. Aisyah menoleh dan tersenyum sebentar lalu kembali sibuk dengan masakannya.

“Masak apa, Aisyah?” tanya Gatot.

“Ini, sayur lodeh, Mas. Kok baru pulang?” tanya Aisyah.

“Iya, Aisyah, tuh masih membantu orang baru pindah. Gantian pakai kompornya ya? Aku mau masak juga.” kata Gatot.

“Tidak usah, Mas. Ini saya masak juga buat Mas Gatot.” jawab Aisyah. ”Mending mas mandi saja. Sebentar lagi maghrib lho,” ia mengingatkan.

“Kamu sudah mandi?” tanya Gatot.

“Belum, Mas.” jawab Aisyah.

“Pantas kamu bau,” canda Gatot.

“Mas Gatot yang bau,” balas Aisyah sambil tersipu malu. Gatot paling suka melihat wajah Aisyah seperti itu. “Mas Gatot pergi sana. Nanti merusak rasa masakanku.”

“Nanti malam jalan-jalan yuk, Aisyah.” Gatot berkata.

“Tapi habis makan malam ya?” Aisyah menyanggupi.

“Iya, aku kan belum ngerasain masakanmu enak apa tidak. Aku mandi dulu ya,”

Aisyah memukul Gatot dengan gagang sutil. Gatot ingin balas memukul tapi urung setelah teringat bahwa Aisyah terlalu murni untuk disakiti. Aisyah tidak sama dengan wanita-wanita lain. Cukuplah kekhilafannya dulu saat Aisyah tertidur pulas. Gatot tidak akan mengulanginya lagi sebelum Aisyah benar-benar resmi menjadi miliknya. Gadis itu terlalu suci untuk dicemari.

Selesai mandi dan sholat maghrib, Gatot duduk menunggu Aisyah sambil menonton tv. Telinganya menangkap suara-suara halus bersenandung dari kamar mandi. Terdengar sangat merdu, membuat Gatot mengecilkan volume tv dan menajamkan telinga untuk mendengar senandung itu lebih jelas lagi, senandung merdu yang menyejukkan hati. Sayang sekali senandung itu berhenti dan pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

“Mas Gatot, kesini sebentar.” panggil Aisyah.

“Ada apa, Aisyah?” Gatot berjalan menghampiri.

“Gotnya buntu ya, Mas. Airnya nggak jalan tuh,” kata Asiyah menunjuk selokan kamar mandi.

“Biar saya perbaiki. Kamu pergi saja,” sahut Gatot.

“Saya bantu, Mas, biar cepat. Saya juga belum selesai mandi.” kata Aisyah.

Gatot memang melihat Aisyah belum menyelesaikan mandinya karena air di lantai kamar mandi penuh akibat saluran pembuangan yang buntu. Ia membungkuk untuk memeriksa, Aisyah juga ikut jongkok untuk membantunya. Gatot menahan hasrat hati demi melihat bagian-bagian tubuh Aisyah yang tidak cukup terlindungi. Handuk yang membungkus tubuh Aisyah terlalu pendek. Dan Aisyah jongkok tepat dihadapannya, sama sekali tidak berusaha untuk menutupi sebagian buah dadanya.

“Aisyah! Berdiri!” Gatot memberi perintah demi menjaga kemurnian gadis itu. Ia tidak tega melihat dan menyaksikan seluruh bagian bawah tubuh Aisyah yang terpamoang jelas di hadapannya. Gatot tidak ingin tergoda kembali.

“Maaf, Mas!” kata Aisyah sambil berdiri dan pindah ke belakang Gatot, membuat Gatot jadi sedikit lega. Dan lebih lega lagi karena got selesai di perbaiki.

“Beres. Kamu bisa lanjutkan mandimu, Aisyah. Oh ya, nyanyi yang agak keras ya?” kata tersenyum menggoda.

Aisyah mengancam Gatot dengan segayung air, membuat Gatot lari terbirit-birit sebelum Aisyah menjalankan aksinya. Senandung suara Aisyah kembali terdengar dan terus terdengar meski Aisyah sudah selesai mandi dan kini ada di dalam kamarnya. Gatot menyimak senandung itu dengan hati ragu.

Sebelum keraguan hatinya terjawab, Aisyah sudah muncul. Mereka makan bersama dengan cepat karena ada acara yang akan mereka adakan. Malam ini Gatot dan Aisyah akan jalan-jalan. Memang masih jalan-jalan biasa, tapi siapa tahu itu akan jadi awal dari sesuatu yang luar biasa.

“Sudah siap, Aisyah?” tanya Gatot.

“Sudah, Mas. Ayo berangkat. Mumpung belum terlalu malam.” Aisyah mengangguk.

“Kamu cantik sekali, Aisyah.” Gatot menatap gadis itu tak berkedip.

“Mas Gatot bisa saja. Gombal ah.” Aisyah langsung tersipu malu. ”Ini kontak motornya.” ia memberikannya pada Gatot tanpa menoleh. Gatot hanya tersenyum saja melihatnya.

Mereka pun pergi meninggalkan komplek naik motor. Malam yang mendung tidak menyurutkan keinginan dua insan itu untuk mencoba mendekatkan hati. Walaupun tidak ada tujuan pasti mana yang harus mereka datangi. Mereka hanya ingin jalan-jalan, bukanlah untuk kencan. Gatot merasa sudah terlalu tua untuk kencan layaknya anak-anak muda. Ia bukan lagi anak remaja. Pun demikian Aisyah yang juga seorang wanita dewasa. Keinginan untuk bersenang-senang mungkin sudah tidak ada. Makanya mereka berputar-putar saja keliling pusat kota.

“Kemana enaknya, Aisyah?” tanya Gatot di tengah perjalanan.

“Ke stadion saja yuk, Mas. Sepertinya enak duduk santai disana.” kata Aisyah.

“Kamu tidak takut? Disana sangat sepi, Aisyah.” sahut Gatot.

“Kan saya bersama Mas Gatot. Pasti aman,” yakin Aisyah.

Gatot bukannya takut untuk datang dan nongkrong malam-malam di stadion. Daerah sepanjang stadion memang sangat sepi dan paling sering terjadi kejahatan. Mulai dari pemalakan, pemerasan, perampokan, sampai pemerkosaan, sudah berkali-kali terjadi di sana. Dan sampai sekarang tempat itu masih gelap, lampu-lampu banyak yang hilang dicuri orang yang butuh uang. Dulu Gatot juga sering mencuri apa saja dari stadion. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia sudah kapok dan tobat.

Sampai juga di stadion. Gatot membantu Aisyah turun dari motor lalu berjalan beriringan menuju sebuah bangku panjang. Disanalah mereka duduk berdua. Angin malam yang dingin langsung menerpa. Gatot membuka jaketnya dan mengenakan ke tubuh Aisyah untuk memberi rasa hangat.

“Saya belum tahu banyak tentangmu, Aisyah.” kata Gatot membuka pembicaraan.

“Saya ini hanya wanita desa, Mas. Tidak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita kota.” jawab Aisyah.

”Ceritakan tentang keluargamu, Aisyah.” Gatot meminta.

Ia menyimak cerita Aisyah. Gatot sudah tahu kalau Aisyah adalah anak Pak Asnawi. Yang ia baru tahu adalah tentang Pak Asnawi itu sendiri. Menurut cerita Aisyah, Pak Asnawi dulunya juga pria yang bergelimang dosa. Dari Aisyah masih kecil sampai Aisyah beranjak remaja, Pak Asnawi masih seorang penjahat terkenal. Tapi menjelang Aisyah masuk SMA, Pak Asnawi berubah menjadi sosok yang pendiam dan semakin alim setelah menunaikan ibadah haji.

Sejak itu orang tidak lagi mengingat Pak Asnawi sebagai penjahat. Orang-orang kemudian lebih mengenang kedermawanan Pak Asnawi. Sampai akhirnya menjadi kepala desa Cemorosewu. Aisyah sama sekali tidak menceritakan atau memang tidak tahu cerita kalau ayahnya juga seorang pembunuh dan pemerkosa. Ironisnya korban pemerkosaan dan pembunuhan Pak Asnawi adalah ibu kandung Gatot. Dan kini Pak Asnawi mungkin sudah menerima hukuman setimpal di alam kubur setelah anak dari si korban menuntut balas dendam. Hutang nyawa dibayar nyawa dan hutang itu kini terbayar lunas.

“Itulah cerita keluargaku, Mas. Selanjutnya Mas Gatot tahu sendiri kalau ummiku kawin lagi.” kata Aisyah mengakhiri ceritanya.

“Saya kagum dengan ayahmu, Aisyah. Dari penjahat kemudian tobat. Sedangkan ayahku entah dia tobat atau belum.” gumam Gatot.

“Mas Gatot yang sabar saja. Setiap rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.” balas Aisyah bijak.

“Kamu benar, Aisyah.” Gatot mengangguk. ”Dingin ya?” ia bertanya.

“Iya, Mas. Tapi tak apa,” Aisyah tersenyum karena hatinya terasa hangat bisa bersama orang yang dikasihi.

Gatot merengkuh bahu Aisyah dan gadis itu tidak menolak. Gatot merasakan getar yang tak biasa, bukan nafsu, tapi lebih kepada rasa sayang. Ia ingin memberi perlindungan kepada Aisyah. Dan bersama dengan Aisyah, Gatot seakan sedang bersama Zulaikha, mantan istrinya. Ia mengelus kepala Aisyah yang terbalut kerudung. Sangat terasa sekali hempasan napas Aisyah, hingga membuat Gatot jadi merinding.

“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, Aisyah.” Gatot berbisik.

“Maksud Mas Gatot?” tanya Aisyah tak mengerti.

“Kamu mengingatkanku pada Zulaikha, mantan istriku. Dia sama sepertimu, Aisyah.” jawab Gatot.

“Selagi Mas Gatot masih ingat mantan istri, berarti ada harapan suatu saat Mas pasti bertemu lagi dengannya.” sahut Aisyah.

“Aku selalu berharap seperti itu, Aisyah.” Gatot mengaku. ”Sepertinya gerimis. Mau pulang sekarang?” tanyanya kemudian sambil melihat langit.

“Iya. Ayo pulang, Mas.” angguk Aisyah.

Namun mereka tidak benar-benar pulang, lebih tepatnya mereka hanya meninggalkan stadion. Hujan sudah terlalu deras dengan disertai angin kencang.

“Berteduh di loket itu saja, Mas.” kata Aisyah sambil menunjuk sebuah bangunan loket di pintu masuk stadion.

Karena cukup jauh, praktis mereka harus berlari untuk bisa sampai, otomatis pula mereka basah kuyup. Gatot sudah biasa, tapi tidak demikian dengan Aisyah; gadis itu menggigil dengan wajah pucat.

“Pasti nanti kamu masuk angin, Aisyah.” kata Gatot kuatir.

“Sekarang saja perutku sudah mual, Mas.” Aisyah berkata lirih.

“Jadi bagaimana, mau memaksa pulang?” tanya Gatot.

“Sudah kepalang basah, mandi sekalian, Mas. Pulang saja.” Aisyah memutuskan.

Gatot tidak punya pilihan selain membonceng Aisyah pulang. Jalanan benar-benar sepi. Tidak ada satupun kendaraan ataupun manusia yang berani menantang hujan selain mereka berdua.

“Pegangan yang erat, Aisyah.” Gatot memberi perintah.

Ketika dirasakan lengan Aisyah sudah melingkar erat di pinggangnya serta tubuh gadis itu melekat di punggungnya, ia menggeber gas kuat-kuat untuk melesat kencang menembus tajamnya rinai-rinai hujan. Di tengah jalan, Gatot merasa menabrak sesuatu. Namun karena terlalu gelap, ia tidak bisa melihat apa itu. Terlalu riskan untuk mengerem disaat laju motor seperti jet. Aisyah sendiri semakin merapatkan tubuhnya.

Sesampainya di rumah, Gatot segera membopong tubuh Aisyah yang semakin lemah tak berdaya. Celakanya lagi, kamar Aisyah ternyata bocor. Gatot pun terpaksa membawa Aisyah ke kamarnya sendiri.

“Kupanggilkan dokter ya, Aisyah.” kata Gatot panik. Setelah membaringkan Aisyah, ia bermaksud keluar untuk mencari dokter.

Tapi Aisyah mencekal lengannya, menahan langkahnya. “Tidak usah, Mas. Saya minta tolong dikerokin saja.” kata gadis cantik itu.

“Tapi, Aisyah…” seru Gatot bimbang.

“Saya percaya Mas Gatot tidak akan menyakiti saya. Tolong ya, Mas,” pinta Aisyah pelan dan melas.

“Baiklah, Aisyah.” Gatot akhirnya mengangguk setuju. ”terima kasih kamu percaya padaku.”

Aisyah pun berbalik tengkurap, memasrahkan punggungnya untuk dikerok oleh Gatot. Anehnya, Gatot sama sekali tidak merasakan birahi kali ini. Padahal ia bebas memandangi tubuh mulus Aisyah dengan begitu rupa. Mungkin ini karena pengaruh benih kasih yang mulai tumbuh. Hingga membuat Gatot hanya merasa iba hati melihat Aisyah yang pasrah sedemikian rupa kepada dirinya.

Gatot bersumpah tidak akan menyakiti Aisyah. Aisyah juga sadar sepenuhnya membuka bajunya yang basah dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, sementara bagian atas dari kepala sampai pinggul dibiarkan telanjang. Gatot mulai mengerok punggung Aisyah sementara Aisyah hanya bisa meronta-ronta kecil. Untuk pertama kalinya, Gatot menang saat berperang melawan setan. Setan jahanam yang menggoda imannya ia berantas sampai tuntas, sampai tidak ada lagi setan yang berani mengganggunya.

“Jangan meronta terlalu keras, Aisyah. Nanti selimutmu jatuh.” kata Gatot.

Aisyah menahan selimut dengan kedua tangannya agar tidak jatuh, agar tidak mengundang nafsu Gatot. punggung yang awalnya putih mulus semurni susu, kini berubah warna menjadi garis-garis merah. Belum selesai dikerok, Aisyah sudah lebih dulu muntah, mengeluarkan isi perutnya.

“Kerok sampai bawah, Mas. Anginnya mulai keluar.” kata Aisyah dengan tubuh gemetar.

Gatot mengikuti alur punggung Aisyah sampai bawah, terpaksa menyingkap sedikit selimut gadis itu agar bisa mengeroki hingga pangkal paha. Hingga selesai sudah.

Aisyah berbalik telentang dengan keringat bercucuran. Gatot membetulkan tali kutang Aisyah tanpa sedikitpun menyentuh buah dada yang membuncah indah itu. Namun ia perlu meminta ijin untuk memasangkan celana panjang. Aisyah sudah memasang sendiri celana dalamnya dari balik selimut. Aisyah tersenyum mengangguk.

“Sekarang tidurlah, Aisyah. Biar panasmu turun.” kata Gatot penuh rasa lega.

“Mas Gatot tidur saja disini. Saya ikhlas, Mas.” balas Aisyah.

“Baiklah, Aisyah. Selamat tidur ya,” Gatot berbisik lirih.

Ia pun membaringkan diri disamping Aisyah dan membiarkan gadis itu membenamkan kepala ke dadanya. “Aisyah, ya, Aisyah… sungguh sempurna dirimu!” batin Gatot dalam hening. Aisyah mungkin sudah terlarut dalam mimpi karena tidak bergerak sama sekali saat Gatot mencium keningnya. Ciuman yang menjadi penghantar tidur malam itu.

***

Pagi-pagi sekali Gatot sudah menghadap Pak Camat. Ia hendak membicarakan keputusan maha penting yang telah dipertimbangkan masak-masak sejak semalam. Tapi Pak Camat sudah berangkat kerja ke kantor shubuh tadi, begitu yang disampaikan Murti kepadanya.

“Lho, kupikir Mas Joko berangkat bareng kamu, Tot?” kata Murti heran.

“Tidak, Mur. Ini malah aku ingin ketemu dan bicara dengan Pak Camat.” sahut Gatot.

“Mas joko sudah pergi. Aku saja yang istrinya tidak tahu jam berapa suamiku berangkat,” ketus Murti seperti biasa.

Semakin bulat saja keputusan Gatot. Pak Camat semakin sering berangkat kerja sendiri, semakin tidak membutuhkannya lagi. Terhitung sudah sebulan ini Pak Camat tidak menggunakan tenaganya lagi. Gatot yakin Pak Camat memang punya maksud tersembunyi.

“Mungkin kamu bisa sampaikan padaku, Tot. Nanti kuteruskan ke Mas Joko.” kata Murti.

“Tidak, Mur. Biar aku bicara langsung dengan Pak Camat.” kata Gatot.

“Ada masalah apa antara kamu dengan Mas Joko? Ayo ceritakan saja,” Murti mendesak.

“Sama sekali tidak ada masalah, Mur.” Gatot menggeleng. ”Kamu bersiap saja. Kutunggu di mobil ya,” iapun pergi keluar.

“Tot!” Murti memanggil.

Gatot tidak mempedulikan panggilan itu. Tentu saja sikapnya ini membuat Murti jadi kelabakan dan berpikir ada apa gerangan. Murti gelisah dan takut kalau-kalau suaminya membuat masalah yang menyebabkan Gatot marah. Murti khawatir karena bisa saja suaminya celaka. Bagaimanapun, Gatot adalah mantan bajingan dulu. Dengan hati gamang, Murti meneruskan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum mandi. Setengah jam kemudian, iapun sudah siap dan menyambar tasnya lalu menghampiri Gatot.

“Ayo jujurlah, Tot. Jangan membuatku takut,” desak Murti di dalam mobil.

“Mur, sudah kubilang berkali-kali, masa kamu tidak dengar? Tidak ada apa-apa antara aku dan suamimu. Titik!!!” hardik Gatot tiba-tiba.

Murti langsung mengkerut dibentak begitu oleh Gatot. Ia sama sekali tidak menduga Gatot akan begini emosi. Tidak seperti hari-hari biasanya. Tidak ada tawa dan canda, malah suasana mencekam yang terasa. Murti dicekam berbagai rasa yang membuatnya tidak sanggup lagi berkata-kata. Sampai tiba di tempatnya kerja, Gatot tak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Wajah Gatot dilihatnya murung dan bingung. Yakinlah Murti bahwa memang ada yang tidak beres.

“Tunggu sebentar, Tot. Aku mau ikut kamu ke kantor kecamatan.” kata Murti tiba-tiba.

Barulah saat itu Gatot menoleh agak kaget. Tapi Murti keburu keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Gatot terpaksa menunggu sesuai perintah Murti. Belum sempat Gatot menenangkan diri, Murti telah kembali lagi.

“Ayo berangkat, Tot.” kata istri Pak Camat itu.

“Tapi, Mur…” Gatot terlihat bimbang.

“Berangkat!!!” potong Murti cepat.

Kini giliran Gatot yang kaget dibentak oleh Murti. Namun ia harus segera berangkat sebelum Murti bertindak nekad. Perjalanan terasa lama dan membosankan. Gatot merutuk dalam hati kenapa ia harus membuat Murti sakit hati. Pasti Murti marah oleh sikapnya hari ini yang serba kaku.

“Maafkan aku, Mur.” kata Gatot sambil terus menyetir.

“Sudah kumaafkan,” balas Murti ketus.

“Belum. Kamu masih marah kan?” tanya Gatot.

“Aku memang marah. Tapi bukan padamu, Tot.” terang Murti.

“Syukurlah. Senyum dong,” Gatot berusaha mencairkan suasana.

Murti tersenyum sekedar menyenangkan hati Gatot. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan dan tidak menoleh kemana-mana sampai tiba di kantor kecamatan.

“Perlu kuantar sampai dalam?” tawar Gatot.

“Tidak usah. Biar aku sendiri saja.” Murti melangkah memasuki paseban kantor dan terus menyusuri koridor hingga berhenti di depan ruang kerja suaminya. Ia mengetuk pintu tiga kali lalu mendorong perlahan pintu sampai terbuka. Murti masuk dan berdiri terpaku. Tidak ada nampak suaminya. Tentu kedatangannya yang mendadak membuat kalang kabut pegawai yang ada di ruangan itu.

“Selamat pagi, Bu Camat,” kata beberapa pegawai menyambut kedatangannya. Sementara sebagian pegawai yang lain berbisik-bisik.

Murti tidak peduli bisik-bisik itu. “Selamat pagi juga. Mana Pak Camat?” tanyanya kaku.

“Waduh, Bu. Pak Camat malah belum datang,” kata salah seorang pegawai.

“Jadi Pak Camat belum ngantor?” tanya Murti mulai was-was.

“Pas Kami datang, Pak Camat tidak ada, Bu. Tapi coba ibu tanyakan ke Dewi.” kata pegawai itu.

“Baiklah. Terima kasih.” Murti mengangguk. ”Dewi, kumohon ikut aku sebentar saja.” ia memanggil gadis itu.

“Baik, Mbak Murti.” jawab Dewi penuh kebingungan.

Murti membawa Dewi menuju mobil dan disanalah ia menginterogasi Dewi dengan beragam pertanyaan yang berfokus pada seputar kegiatan Pak Camat. Gatot hendak keluar tapi Murti memintanya tetap di dalam. Jadilah Gatot ikut mendengar perbincangan antara Murti dan Dewi.

“Benarkah suamiku belum ke kantor?” tanya Murti.

“Benar, Mbak.” Dewi mengangguk.

“Aneh, padahal Pak Camat sudah berangkat sejak shubuh tadi.” Murti tampak berpikir keras.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu, Mbak.” kata Dewi.

“Kamu pernah bilang memergoki mobil suamiku di perumahan residence. Bisakah kamu jelaskan lebih detil?” tuntut Murti.

“Oh itu. Memang benar. Seingat saya waktu itu mobil Pak Camat ada di rumah paling ujung blok A.” jawab Dewi.

“Kamu kenal pemilik rumah itu?” tanya Murti.

“Tidak, Mbak. Mungkin Gatot tahu karena pasti dia pernah ngantar Pak Camat kesana.” Dewi menoleh pada Gatot.

“Percuma minta informasi ke Gatot. Dia sudah kongkalikong dengan suamiku.” ketus Murti sengit. Gatot hanya diam saja disindir seperti itu.

“Saya mohon Mbak Murti tidak melibatkan saya. Kamu juga, Tot. Jangan bilang apa-apa ke Pak Camat ya?” hiba Dewi memelas.

“Aku jamin aman, Dewi. Aku malah berterima kasih. Sekarang kembalilah bekerja.” Murti mempersilakan.

Dewi meninggalkan Murti dan Gatot. Kini Murti sudah menemukan titik terang. Yang justru bimbang adalah Gatot. Sekarang Gatot tahu dari siapa Murti tahu soal perumahan residence. Ternyata dari Dewi yang membeberkan semuanya. Mungkin Dewi tidak tahu bahwa keterus-terangannya pada Murti telah menciptakan prahara besar. Dewi telah memberi petunjuk yang bisa mengarahkan kecurigaan Murti. Gatot pusing memikirkan apa jadinya kalau Murti sampai minta diantar ke perumahan residence. Bahaya kalau Murti sampai nekad kesana.

“Aduh! Kepalaku pusing, Mur.” Gatot mengeluh secara tiba-tiba.

“Pusing? Bagaimana ini?!” Murti jadi panik.

“Kuantar dulu kamu ke sekolah ya? Setelah itu aku mau pulang. Tolong bilang ke Pak Camat.” Gatot berkata terbata-bata.

“Kamu sanggup? Jangan memaksakan diri, Tot. Nanti kecelakaan lagi. Aku bisa naik ojek dari sini.” kata Murti.

“Biar kuantar kamu dulu.”

Sesungguhnya itu hanya alasan Gatot saja untuk terbebas dari Murti. Ia pura-pura pusing dan berhasil dengan sukses. Setelah mengantar Murti, iapun kembali ke kantor kecamatan untuk menaruh mobil kemudian pulang menumpang motor Dewi yang kebetulan hendak keluar juga.

Sementara itu Murti segera meminjam motor Aisyah dan minta ijin ke kepala sekolah untuk bebas tugas hari ini. Ia sudah bulat dan memutuskan untuk pergi ke perumahan residence seorang diri karena Gatot tidak bisa mengantar. Ia harus mendapat kepastian dan kebenaran tentang gosip dan isu-isu yang selama ini berkembang. Ia mulai termakan oleh gosip itu, juga oleh bisik-bisik yang didengarnya dari pegawai kantor kecamatan.

***

Sementara itu di sebuah rumah mewah…

Seorang wanita berbody montok terlihat keluar dari kamar mandi dan kelihatan segar dengan kaos kutang kuningnya dipadu dengan celana pendek motif bunga yang bagian pahanya terlihat longgar. Pak Camat yang dari tadi duduk di ranjang, sekarang pindah selonjoran di lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Wanita itu pun duduk di sebelahnya, ikut selonjoran.

”Enak nggak, Mas, kopinya?” tanya Ayu membuka percakapan.

”Yah lumayan lah, kemanisan dikit.” sahut Pak Camat sambil lengannya sengaja menyenggol daging kenyal yang membusung indah di dada perempuan cantik itu.

”Ihh, nakal ah!” kata Ayu diiringi kerlingan matanya yang nakal.

”Eh, kamu nggak pake bh ya?” Pak Camat pura-pura kaget, padahal dalam hati tersenyum senang sekali.

Ayu hanya tersenyum penuh arti. ”Nggak suka ya, hmm?” kata-katanya begitu menantang gairah kelelakian Pak Camat.

Sebagai jawabannya, Pak Camat meraih kepala perempuan cantik itu kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibirnya yang tipis. Ayu pun membalas dengan penuh gairah dan tanpa dikomando, tangan Pak Camat mulai menjalar ke arah buah dadanya.

”Hmm… jangan, Mas,” kata Ayu setengah hati.

Pak Camat pun menjawabnya dengan setengah berbisik, ”Kalau jangan, trus ngapain kamu nggak pake BH, hayo?”

Wanita itu hanya membalas dengan mencubit perut Pak Camat. ”Nakal…!” kata Ayu manja tapi tidak berusaha menepis tangan Pak Camat atau ciuman mesra laki-laki itu.

Nafsu setan yang sudah membelenggu keduanya membuat Pak Camat melanjutkan lagi jelajahan tangannya, ia kini mulai menelusup ke balik kaos longgar yang dipakai oleh Ayu. Karena di balik kaos itu Ayu sudah tidak mengenakan apa-apa, maka tanpa kesulitan tangan Pak Camat bisa meraih bulatan daging kembar yang tumbuh subur disana. Buah dada Ayu walau sudah sering dipegang, masih terasa kencang dan kenyal dalam genggaman. Apalagi puting di puncak bukit itu, masih terasa kaku dan tegap kala terjepit di sela-sela jari, layaknya masih perawan saja.

Karena tidak sabar, Pak Camat segera menarik kaos Ayu ke atas hingga terpampanglah tonjolan buah dada perempuan perusak rumah tangga itu dengan begitu jelasnya. Bentuknya bulat dan padat, dengan puting mungil berwarna pink menghiasi puncaknya yang kuning kemerahan. Tak tahan, dengan penuh nafsu, Pak Camat mengarahkan kepalanya kesana. Sambil terus meremas-remas, ia mengecup kedua payudara Ayu yang bulat besar dengan menggunakan mulutnya.

”Uhh… geli, Mas.” Ayu berbisik pelan.

”Susumu empuk,” sahut Pak Camat sambil jemari tangan kirinya terus memilin puting payudara perempuan cantik itu hingga jadi semakin mencuat kemerahan, sedang mulutnya mengecupi yang satunya lagi.

Diperlakukan seperti itu, tentu membuat desahan nikmat Ayu semakin terdengar keras. Wanita itu menggeliat geli sambil memegangi kepala Pak Camat yang terus menyusu di bulatan payudaranya. Apalagi saat perlahan namun pasti, tangan Pak Camat mulai turun ke arah perutnya dan terus ke arah pangkal pahanya.

”Mas… udah ah, nggak usah ke bawah-bawah segala!” bisik Ayu sambil tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanan Pak Camat. Tapi apalah arti tangan sekecil itu melawan tangan kekar yang sudah dilanda nafsu birahi, dengan mudah Pak Camat bisa menyingkirkannya.

”Pagi-pagi aku kesini, tentu untuk merasakan yang ini, Sayang.” sergah laki-laki itu sambil mengarahkan jari-jari tangannya ke arah paha Ayu dan terus menerobos masuk ke selangkangan melalui bagian celana pendek Ayu yang terbuka longgar.

”Tapi, masa harus tiap pagi?” Ayu mencoba bertahan untuk yang terakhir kali.

”Bersamamu, tiap jam aku juga mau!” Sekarang mulut Pak Camat berpindah ke arah leher Ayu yang putih jenjang, ia menghisap lembut disana hingga meninggalkan beberapa bekas cupang merah.

”Ahh…” Ayu hanya bisa mendesah ketika jemari Pak Camat mulai menyentuh secarik kain yang sudah basah, yang masih menutupi bagian terlarang tubuh sintalnya. Laki-laki itu menyusupkan jarinya kesana dan sedetik kemudian merasakan kebasahannya yang mengalir deras.

”Ouhh… Mas!!” akhirnya Ayu menyerah saat Pak Camat mulai membelai mesra bibir vaginanya, atau memang sebenarnya dia sudah sangat bernafsu, sehingga mengharapkan tangan Pak Camat beraksi lebih jauh lagi.

Mengetahui hal itu, dengan perlahan Pak Camat segera menyusupkan jari tengahnya ke lorong kemaluan Ayu yang sudah terasa licin sambil ibu jarinya memainkan sebentuk biji mungil di bagian atas, itu adalah klitoris Ayu yang sudah menonjol kaku.

”Auwhh…” Ayu hanya bisa merintih keenakan begitu jemari Pak Camat semakin menusuk ke dalam, menerobos lubang vaginanya. Sementara tangannya seperti refleks, segera meremas batang kemaluan Pak Camat yang masih tersimpan rapi di balik celana pantalon.

”Cepet amat sih? Belum apa-apa udah banjir.” kata Pak Camat mengomentari liang kewanitaan Ayu yang sudah begitu basah dan lengket.

”Hehe,” Ayu hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi, lalu berkata pelan, ”Lepas aja, Mas, celanaku yang basah itu!”

Tidak menjawab, Pak Camat segera melakukannya. Ayu membantu dengan sedikit menaikkan pinggulnya yang bulat dan besar. Begitu celana pendek itu terlepas, Ayu menatap Pak Camat dengan pandangan sayu, ”Udah? Yang ini nggak dilepas juga?” Ayu menunjuk celana dalamnya.

Pak Camat tertawa, lalu dengan terampil segera memelorotkan juga celana dalam itu. Begitu terlepas, Pak Camat segera menciuminya. Melihat hal itu, kontan Ayu memprotes, ”Apa-apaan sih, Mas? Jorok deh ih! Ketimbang nyiumin yang itu, kenapa nggak yang aslinya aja dicicipin?” katanya sambil mengangkangkan kaki lebih lebar lagi, memamerkan belahan vaginanya yang sudah merekah indah kepada Pak Camat.

”Boleh! Siapa Takut? Lagian, udah lama kayaknya aku nggak ngerasain lendir kamu.” kata Pak Camat sambil tersenyum penuh arti.

Ayu menanggapi dengan tersenyum nakal, ”Iya nih, udah lama kayaknya mulut dan lidah Mas Joko nggak nengok punyaku.”

Mendengar kata-kata erotis itu, birahi Pak Camat jadi semakin terbakar. Cepat ia rebahkan tubuh montok Ayu di karpet, ia tekuk kedua kaki perempuan itu ke atas hingga terlihat lubang kawahnya yang menganga indah, membuat Pak Camat jadi semakin bergairah karenanya. Tanpa membuang waktu, iapun mengarahkan kepala ke daerah itu.

”Auh…” pekik Ayu saat Pak Camat mulai menciumi rambut halus yang tumbuh di daerah pubisnya. Lidah laki-laki itu menjalar ke bawah, mengikuti garis di lipatan pangkal pahanya.

Untuk memudahkan aksinya, Pak Camat memposisikan tubuh dengan tengkurap, sementara kedua tangannya menyusup di bongkahan pinggul Ayu, mengangkatnya hingga lubang kemaluan Ayu sejajar tepat di depan wajahnya. Dengan posisi seperti itu, sekarang ia jauh lebih leluasa menggarap semua bagian selangkangan perempuan cantik itu.

”Ahss…” pelan lidah Pak Camat mulai menyapu bagian bibir luar kemaluan selingkuhannya diiringi erangan nikmat dari mulut Ayu. Sambil tetap tangannya menyangga pinggul perempuan itu, ibu jari Pak Camat mencoba membuka lebih lebar liang kemaluan Ayu yang sudah merekah indah. Kemudian mulai menjulurkan lidah menelusup masuk ke bagian dalamnya yang sempit.

Perlahan Pak Camat menjelajahi bagian demi bagian pada lubang kemaluan Ayu. Dari mulai lubang pantatnya, kemudian naik terus melalui lorong surga milik kekasihnya ini. Hingga terdengar rintihan lirih keluar dari mulut manis Ayu, ”Ouff… shh… yah, terus, Mas… yah begitu… itilku dong dijilat! Ouww…”

Sesuai permintaan, Pak Camat segera memainkan klitoris Ayu yang mencuat ke depan seolah mengharapkan sebuah sentuhan. Dari hanya menjilat dan menyentil, mulutnya mulai menghisap biji mungil itu hingga perlahan rintihan Ayu berubah menjadi jeritan kecil penuh kenikmatan.

”Iya… begitu Mas… aduh… ouhh… enak… Mas Joko pinter banget sih… tahu aja yang Ayu suka… jangan berhenti… terus emut itilku, Mas!”

Pak Camat terus menjilati belahan lubang kemaluan yang sedikit terkuak itu dengan irama yang teratur, menelusuri lembah dan celah-celah di seantero lubang kemaluan Ayu. Aroma harum vagina yang khas semakin tajam menusuk hidungnya, semakin membuatnya mabuk kepayang dan bergairah. Terlihat dinding luar kemaluan Ayu yang semakin basah dan lengket, terasa gurih di lidah Pak Camat. Juga biji klitorisnya, terlihat semakin membesar dan tambah memerah, seolah mau meledak menahan gejolak nafsu birahi si empunya.

10 menit sudah berlalu dan tangan Pak Camat sudah terasa pegal menyangga bobot tubuh Ayu. Namun dengan penuh semangat ia terus mempercepat irama hisapannya hingga terdengar erangan dan rintihan Ayu yang semakin panjang. Nafas wanita itu juga terlihat memburu kencang, tubuhnya kelojotan, sementara gerakan pinggulnya menjadi semakin liar, seolah mengejar kenikmatan yang sebentar lagi datang menyerang.

”Ouw… nikmatnya… terus, Mas! Ooh… sedikit lagi… ssh… ouh… aduh, enak banget!” desah Ayu semakin keras. Dan beberapa detik kemudian, seerr… seerr… seerr… menyemburlah cairan bening yang sudah ditunggu-tunggu oleh Pak Camat.

Dengan penuh nafsu, Pak Camat segera menghisap dan menghirupnya dalam-dalam, terasa hangat dan gurih sekali saat mengalir memenuhi rongga mulutnya. Pak Camat langsung menelan semuanya, tidak membiarkan setetes pun luput dari hisapannya.

Terlihat bibir kemaluan Ayu jadi tambah memerah. Benda itu sepertinya juga berdenyut-denyut kencang, menandakan detik-detik dimana Ayu sedang mengalami masa orgasmenya. Satu menit berlalu, namun Pak Camat terus giat menjilati sisa-sisa cairan Ayu yang masih menetes mengalir keluar menyusuri belahan liang vaginanya.

”Ouhh… Mas… aduh… bener-bener deh… aku puas banget! Ouh…” puji Ayu di akhir puncak kenikmatannya. Sambil merapikan pakaiannya yang sudah acak-acakkan, dia kemudian bertanya, ”Mas, apa kamu nggak jijik, itukan kotor…”

”Eh, siapa bilang? Kamu aja suka nelen pejuhku. Ya sekali-kali kita gantian lah.” sahut Pak Camat sambil tertawa.

”Ok, berarti sekarang giliranku ya?” tanya Ayu polos.

Sebelum Pak Camat sempat menjawab, ia sudah mengarahkan tangan ke selangkangan Pak Camat dan dengan terampil membuka resletingnya. Tanpa kesulitan, Ayu mengeluarkan batang kemaluan laki-laki itu dan menaruhnya dalam genggaman. Sedetik kemudian, ia sudah dalam posisi siap menerkam. Lalu, ”Slruupp…” dengan lembutnya Ayu melahap batang Pak Camat ke dalam mulutnya.

”Ouh… ssh…” sekarang gantian Pak Camat yang merintih pelan, betapa ia merasakan kehangatan dan kelembutan mulut kekasihnya ini pada batang penisnya.

Ayu menjilatinya perlahan dari pucuk kepala terus menelusur ke bawah, sampai mendekati kedua bola pada pangkal kemaluan Pak Camat. Setelah menyapu perlahan, mulutnya dengan terampil mulai mengenyoti buah zakar itu dengan lembut, bergantian kiri dan kanan, sementara tangannya tetap mengurut dan meremas-remas batangnya yang terasa semakin menegang.

”Ya Sayang… terus… ehh… aduh… enak!” tanpa sadar keluar rintihan nikmat dari mulut Pak Camat.

”Ehhmm… mmhh…” sayup-sayup terdengar juga bunyi mulut Ayu yang semakin ganas mengenyot batang kemaluan Pak Camat. ”Ouhh… aauh… aku pingin lagi, Mas.” pintanya sambil memposisikan tubuh naik ke pangkuan Pak Camat dan mengarahkan batang kemaluan yang masih berada dalam genggamannya itu ke liang vaginanya.

”Ahh… nanti dulu!” Pak Camat berusaha untuk menahan, ingin hisapan itu berlangsung lebih lama lagi.

Namun bukannya menjawab, Ayu malah terus membimbing batang rudal Pak Camat dan menancapkannya di belahan lubang vaginanya yang sudah merekah lebar. Dengan posisi jongkok, ia mulai menggerakkan tubuh sintalnya naik turun di atas perut Pak Camat.

”Aduh… kok enak sih, Sayang! Belajar dimana?” rintih Pak Camat saat merasakan denyutan lembut dengan irama teratur di liang kemaluan Ayu yang seperti meremas dan menggigit-gigit sekujur batang kemaluannya.

Ayu hanya tersenyum sambil terus menggerakkan pinggulnya naik turun, otomatis rudal Pak Camat juga terus keluar masuk dalam dekapan bibir liang kemaluannya. Pak Camat sendiri membantu dengan menggerakkan pinggulnya seirama tubuh sang kekasih. Sementara di pusat kenikmatan mereka, terdengar kecipak-kecipak cairan yang keluar dari kemaluan Ayu, mengguyur dan membasahi batang rudal Pak Camat yang tidak begitu panjang.

Masih dengan posisi seperti itu, sepuluh menit pun berlalu. Terlihat Ayu sudah kelelahan, keringat tipis melumasi seluruh tubuhnya yang sintal, sebelum ambruk menindih tubuh Pak Camat tak lama kemudian. Pak Camat segera mengambil inisiatif dengan menggerakkan tubuhnya, tapi sekarang dengan dibantu kedua tangannya yang memegangi bulatan payudara Ayu dan meremas-remasnya pelan.

”Terus, Mas… ssh… terus…” desahan dari mulut Ayu kembali terdengar, mengiringi kelakuan bejat mereka di pagi yang sejuk itu.

Pak Camat segera mempercepat gerakannya. Terasa olehnya lelehan lendir yang keluar dari liang kemaluan Ayu menerobos melewati celah sempit di antara bibir dan batang penisnya. ”Ehh… punyamu bener-bener deh, Sayang… seperti meremas punyaku… aduh!” Pak Camat merintih keenakan.

Merasa sebentar lagi akan mencapai ujung pendakiannya, iapun semakin mempercepat genjotannya. ”Ohh… Sayang… aku keluar… arghhh…” tak sampai satu menit kemudian, batang kemaluan Pak Camat meledak mengeluarkan semua isinya. Benda itu berdenyut-denyut keras di dalam liang vagina Ayu, memenuhinya dengan cairan sperma yang begitu hangat dan kental.

Pak Camat membiarkan batang penisnya tetap terbenam dalam dekapan lubang kemaluan Ayu yang hangat dan nyaman, sampai akhirnya menyusut dan terlepas dengan sendirinya. Ayu segera bangkit sambil tangannya menangkup ke bawah selangkangan, berusaha menutupi daerah kewanitaannya.

”Takut nanti pejuh Mas jatuh ke karpet.” begitu alasannya. Kemudian ia berjongkok di samping Pak Camat sampai semua cairan yang menetes tertampung di telapak tangannya.

”Ngapain sih?” tanya Pak Camat heran.

Bukannya menjawab, Ayu malah tersenyum penuh arti. Kemudian tanpa disangka, ia mengarahkan sperma itu ke mulutnya dan dihirup sedemikian rupa sebelum ditelan semua tak lama kemudian. Bukan itu saja, Ayu juga menjilati telapak dan jari-jarinya hingga tak ada setetes pun cairan sperma Pak Camat yang tersisa. Dan seolah belum puas, ia menyambar batang penis Pak Camat yang sudah mengkerut lemas dan lekas menjilatinya hingga bersih.

Pak Camat hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah selingkuhannya itu, ”Dasar kamu! Doyan banget sama pejuh.” ia tertawa.

”Tapi ini kan yang Mas suka?” tanya Ayu.

Pak Camat mengangguk. ”Bener-bener deh, tidak ada wanita yang sebinal dirimu!”

”Biarin!” Ayu balas tertawa

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi. Waktunya Pak Camat untuk berangkat ke kantor. Lekas ia lepaskan tubuh perempuan cantik itu, kemudian mereka pun berbenah, merapikan baju masing-masing.

***

Murti sudah sampai di gerbang perumahan residence. Ia masih harus berhadapan dengan dua orang satpam yang menanyainya macam-macam. Ia bahkan sempat tidak diijinkan masuk. Tapi begitu ia memberi uang tips dan meninggalkan identitas, barulah para satpam itu membuka portal dan memberinya jalan. Sesaat ia dibuat terkagum-kagum oleh bangunan rumah yang serba mewah berjajar sepanjang jalan masuk. Tapi ia datang bukan untuk mengagumi rumah-rumah itu. Ia terus mencari rumah yang disebutkan oleh Dewi.

Murti sudah sampai di blok A. Rumah-rumah di blok ini tidak sebesar dan semewah yang tadi, tapi tetap saja bisa dibilang mewah. Nah, itu dia. Murti ragu sejenak dan sempat berniat mengurungkan niat untuk bertamu. Ia tidak kenal siapa pemilik rumah yang kini ada dihadapannya. Ia takut salah alamat yang bisa berakibat tidak baik. Bisa-bisa ia dilaporkan ke polisi karena dicurigai sebagai orang yang bermaksud jahat. Ah, tidak mungkin. Toh ia memakai seragam kerja khas pegawai negeri. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Murti melihat pintu pagar yang tinggi itu terbuka.

Tapi ia langsung terkaget-kaget karena orang yang muncul dari balik pagar benar-benar di luar dugaan. Murti serasa mati berdiri dengan wajah pucat pasi. “Mas Joko!” panggilnya pelan tanpa sadar.

“Murti!” seru Pak Camat, juga sama-sama kaget.

Murti merasakan dunia berputar. Tanah yang dipijaknya seperti pusaran yang menariknya ke bawah, semakin ke bawah sampai ia tidak melihat apa-apa lagi selain hitam dan kelam. Ia hanya sempat menampar suaminya dan memandang geram seorang wanita yang bersama suaminya sebelum pingsan. Pak Camat yang lebih kaget langsung membawa Murti pulang.

PENGGALI KUBUR 5

Sambil menunggu kedatangan orang yang sekarang sedang dijemput oleh Zaskia; bersama Inez, Linda, dan bu Martin, kembali aku saling meraba. Kontolku dijilati oleh mereka untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel, membuat benda kebanggaanku itu dengan cepat menjadi ngaceng kembali. Inez tampak menjilati ujungnya yang tumpul, sementara Linda mengocok batangnya yang besar, sedang bu Martin dengan gemas meraba dua kantung bola milikku. Oh, sungguh sangat nikmat sekali diperlakukan seperti itu. Aku merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh para selir.

Kubalas dengan memijit dan meremasi bongkahan payudara mereka secara bergantian, juga meraba dan menggelitik lubang memek ketiga wanita cantik itu secara bergiliran saat aku sudah merasa tak tahan. Bagaimanapun, biarpun sudah cukup lelah, aku jadi bergairah juga kalau terus diserang seperti itu.

”Luar biasa nikmatnya pesta seks ini, Mal.” bisik Inez sambil terus menjilati batang penisku, ia kini melakukannya bergantian dengan bu Martin, sedang Linda masih terus mempermainkan batangku dengan begitu gemasnya.

Tak tahan, istri Mang Kosim itupun segera memberikan tubuh montoknya kepadaku. Usia kandungannya yang sudah jalan 2 bulan membuat badannya jadi sedikit mekar, bikin tambah seksi sih, payudaranya jadi lebih gede sekarang. Kulabuhkan tanganku disana dan kembali kuremas-remas keduanya dengan penuh nafsu.

Linda yang melihatnya jadi ikut kepingin. Bergantian dengan Inez, ia memberikan tonjolan buah dadanya kepadaku, membuatku jadi sedikit geragapan juga mendapat hantaman empat bola empuk yang ukuran dan bentuknya sama-sama menggiurkan itu. Hanya bu Martin yang tidak ikut, wanita paro baya yang masih nampak cantik itu tetap setia mempermainkan batang penisku. Bahkan karena sekarang cuma sendirian, ia jadi begitu bebas menikmatinya. Jadilah bu Martin yang pertama mendapat sodokan kontolku di putaran yang kedua ini.

”Ah, bu Martin! Kok malah duluan sih,” keluh Inez sambil mempermainkan memeknya sendiri.

”Iya, nih. Kan kita yang udah nggak tahan.” dukung Linda.

”Hehe,” Bu Martin cuma tertawa menanggapinya, namun tetap meneruskan genjotan pinggulnya di atas tubuhku. Terasa vaginanya sudah sedikit agak longgar, mungkin karena pengaruh usia, lagian ia juga sudah melahirkan banyak enak. Namun bagaimanapun tetap saja mampu membuatku merintih nikmat.

”Ahh… sudah, sudah.” kataku sambil meremasi gundukan payudara Inez secara bergantian, sedangkan untuk Linda kutusuk-tusuk lubang memeknya. Kedua wanita cantik itupun langsung terdiam untuk menikmati aksiku. Di bawah, bu Martin terus menggoyangkan pinggulnya dengan sedikit heboh, bahkan kini sambil merintih-rintih penuh nikmat.

”Ayo, Mal… beri aku pejuhmu, tumpahkan di memekku!” pintanya dengan liar dan jalang, sudah hilang sosok bu Martin yang lugu dan pendiam di putaran pertama tadi.

Linda dan Inez tertawa mendengarnya, ”Ya nggak mungkin, Bu. Kemal yang sekarang jadi makin kuat, dia kan habis keluar. Satu jam juga oke-oke aja.” kata Linda.

”Betul, Bu. Bisa-bisa ibu yang KO nanti.” dukung Inez.

Aku cuma menanggapi komentar kedua wanita itu dengan anggukan ringan. Memang benar, di putaran kedua, pejuhku jadi makin sulit keluar. Dan sepertinya, para wanita sangat menyukai hal ini. Tak terhitung sudah berapa banyak tetanggaku yang ketagihan karena kemampuanku ini. Aku jadi sangat bersyukur karenanya.

Di atas tubuhku, bu Martin masih terus menggenjot tubuhnya. Tak lama, hanya selisih beberapa menit kemudian, tiba-tiba ia sudah berteriak kencang tanda kalau sudah orgasme. Cairan hangat dan kental terasa mengalir deras membasahi batang kontolku. Kutekan pinggulku dalam-dalam agar bu Martin makin lama menikmati orgasmenya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, wanita itupun akhirnya ambruk. Dengan nafas ngos-ngosan, bu Martin kemudian menyingkir. Penisku terlepas begitu saja dari jepitan liang memeknya. Linda yang melihat kontolku menganggur, segera mengambil alih. Lekas ia kulum batangku yang penuh oleh cairan bu Martin dengan begitu rakus. Inez yang melihatnya jadi ikut tertarik, maka bersama dengan Linda, ia mandikan batangku hingga bersih.

Kubiarkan ulah kedua wanita. Aku hanya terdiam pasrah di atas ranjang sambil tersenyum, merasa sangat puas dan bahagia dengan semua ini.

“Hajar aku, Mal… memekku udah gatel lagi nih,” kata Linda sambil menarik tanganku agar bangkit, sedangkan ia sendiri merebahkan tubuhnya, bersiap untuk kusetubuhi.

”Habis ini aku ya, Mal.” pinta Inez sambil memeluk dan memberikan bulatan payudaranya kepadaku.

“Iya, Mbak sabar dulu yaa.” kuremas dan kupijit-pijit benda itu sebentar sebelum aku beralih pada Linda. “Cuma butuh waktu sebentar kok sama dia.” Lanjutku dengan kontol melesak ke depan, menusuk Linda tepat di belahan memeknya.

”Auw! Mal…” Linda mengaduh. Bukan karena sakit, namun karena nikmat. Malah kini ia mulai menggerakkan pinggulnya guna mengimbangi genjotanku. Sambil terus menggoyang, kuraba dan kuremas-remas bongkahan payudara Inez dan Linda secara bergantian. Sementara bu Martin sudah terkapar tak sadarkan diri di sebelah kami.

Saat itulah terdengar pintu depan dibuka. Rupanya Zaskia sudah kembali. Aku harap dia berhasil memenuhi permintaanku untuk mengajak 1 orang lagi yang sangat spesial. Orang yang belum pernah kutiduri namun aku tahu kalau ia sudah terkena pelet telur. Istriku yang bilang secara tak sengaja, saat kami berbincang sebelum aku datang kemari. Dan sekarang, aku ingin membuktikannya.

Aku masih terus menggoyang tubuh mulus Linda saat pintu kamar terbuka. Masuklah Zaskia dengan seseorang yang sangat cantik, usianya masih muda, mungkin masih SMA. Sesuai dengan rencana, begitu di dalam, Inez dan Zaskia langsung menyergapnya. Gadis itu, yang sama sekali tidak siap, hanya bisa meronta tak berdaya saat digiring ke sebelahku. Tanpa berkedip kupandangi tubuhnya yang luar biasa indah serta anggun dengan jilbab lebarnya.

“Apa kabar, Tih?” tanyaku sambil menyeringai mesum.

Gadis yang bernama Ratih itu langsung terdiam. Pandangannya terpaku pada batang kontolku yang masih bergerak keluar-masuk dengan cepat di memek sempit Linda, sementara Linda sendiri terdengar merintih semakin keras, seperti ingin memancing birahi Ratih agar lekas bergabung dengan kami. Inez dan Zaskia masih memegangi tubuh Ratih agar tetap tidak bisa bergerak.

“Apa-apaan ini!” bentak Ratih marah, namun kentara kalau itu cuma pura-pura saja, hanya sekedar untuk menjaga harga dirinya yang kini sedang dipertaruhkan. ”Budhe, tolong jelaskan!” gadis itu menoleh pada Zaskia.

Ratih memang masih punya hubungan darah dengan Zaskia, kalau tidak salah masih terhitung keponakan. Itulah kenapa Zaskia bisa membujuknya datang kemari, Ratih sering main ke rumah ini. Ayah Ratih adalah kepala desa, dan menurut tebakanku, ayahnya telah menggadaikan tubuh Ratih pada Juragan Karta agar didukung saat pencalonan kepala desa tahun kemarin. Tidak mungkin ayah Ratih yang cuma pedagang kecil bisa punya banyak uang untuk pencalonan kalau tanpa bantuan Juragan Karta yang kaya raya. Meski untuk itu, kehormatan anaknya yang harus dipertaruhkan. Uh, dasar lurah brengsek. Sekarang rasakan akibatnya, anaknya yang cantik ini akan kutiduri.

Dengan bantuan Inez dan Zaskia, kuseret Ratih ke tempat tidur. Linda yang sudah mencapai orgasmenya, segera menyingkir untuk memberiku tempat. “Kita akan pesta seks, sayang.“ bisikku tertawa.

“Gila! Lepaskan aku! Dasar bajingan! Ini dosa! Kalian setan semua! Bangsat!“ namun Ratih terus memberontak sambil mengelurkan kata-kata kasar, tak kusangka ia yang kelihatan lugu dan berjilbab ternyata bisa mengumpat juga.

“Cepat telanjangi dia!“ perintahku pada Inez dan Zaskia. Keduanya langsung menyobek-nyobek pakaian Ratih tanpa bertanya-tanya lagi. Kuminta agar hanya jilbabnya yang disisakan, aku paling suka mengentoti perempuan yang masih berjilbab.

Kusingkap jilbab gadis itu dan kuperhatikan tanda hitam sebesar koin di lehernya. ”Sudah, nikmati aja. Nggak usah berpura-pura memberontak segala.” ejekku. Aku yakin, begitu merasakan batang kontolku, ia akan langsung menyerah, sama seperti semua korbanku.

Namun Ratih masih gigih melawan. ”Aku nggak mau! Tidak! Lepaskan aku! Bangsat! Kalian semua bangsat! Bajingan!” umpatnya sambil berusaha mengerakkan tubuh ke kiri dan ke kanan.

Zaskia jadi kelihatan sedikit panik, ”Gimana ini, Mal? Nanti bisa didengar para tetangga.”

Maka segera kubuat keputusan cepat. ”Sumpal mulutnya!” Meski tidak tega, terpaksa kuperhatikan saat Linda membekap mulut Ratih dengan kain bh. Entah bh siapa yang ia pakai, hehe.

“Jangan berontak, Rat… sebaiknya turuti kami,“ ancamku dengan sorot mata tajam. Jadi heran juga, kenapa ia tidak kunjung menyerah juga, padahal sudah jelas-jelas ia adalah salah satu korban juragan Karta. Apa iman Ratih begitu tebal hingga sanggup menolak peletku? Ah, sepertinya tidak. Indri, istri ustad Jafar yang terkenal alim saja bisa takluk kok, apalagi cuma seorang Ratih. Atau karena tekadnya yang begitu kuat? kalau itu sih masih mungkin. Namun kata kakekku, siapapun yang terkena pelet ini akan langsung tunduk kok. Semua, tanpa kecuali!

Lalu kenapa Ratih tidak? Itu yang nanti harus kutanyakan kepada kakek. Untuk sekarang, sebaiknya kugunakan waktu untuk menikmati tubuh sintal Ratih mumpung lagi siap sedia. Setelah beberapa kali mengentoti istri orang, aku jadi penasaran dengan tubuh gadis muda seperti miliknya. Gimana ya rasanya? Apa akan senikmat saat aku pertama kali mengentoti istriku dulu, yang sanggup membuatku keluar 7 kali dalam semalam. Ah, mudah-mudahan saja.

Setelah bentakanku tadi, Ratih sekarang menjadi diam, tidak memberontak lagi. Entah karena takut atau karena sudah terpengaruh peletku, aku tak peduli. Yang penting, ia sudah jatuh ke dalam pelukanku. Inez dan Zaskia dengan cepat melolosi sisa pakaian Ratih. Bra dan celdamnya ditarik lepas dan dibuang begitu saja ke lantai.

Ratih sekarang sudah sepenuhnya telanjang di depanku, hanya tersisa jilbab lebar yang masih membingkai wajah cantiknya, namun itupun juga sudah diikat ke belakang hingga menampakkan bulatan payudaranya yang meski berukuran sedang namun terlihat cukup tegak menantang. Maklum masih gadis, masih belum pernah hamil dan menyusui. Kemulusan tubuhnya benar-benar membuatku berdecak kagum dan ingin lekas menjilatinya.

“Apa yang akan kalian perbuat padaku?” tanya Ratih pasrah.

Inez yang berada di dekatnya langsung membisiki, “Ada kontol besar menunggumu, Sayang.“

“Tolong! Jangan perkosa aku!“ rintih Ratih untuk yang terakhir kali, dengan paras takut ia memandangi batang penisku yang sengaja kupamerkan di depannya. Gadis itu melotot sebentar sebelum kemudian memalingkan wajahnya agar tidak memandangi batangku.

“Kamu memang luar biasa cantik, Rat. Tak sabar rasanya pengen ngerasain tubuhmu.“ Aku bangun dan memeluk tubuhnya, Ratih sama sekali tidak melawan karena begitu ketakutan.

“Kumohon, lepaskan aku! Kenapa semua alim-alim kok bisa-bisanya berbuat maksiat seperti ini?“ keluh Ratih lirih.

Namun aku tak perduli, dan juga tidak berniat untuk menjawab, malah dengan cepat aku menunduk dan melakukan oral seks di vaginanya. Ratih terlihat sedikit memberontak, namun segera dipegangi kembali oleh Inez dan Zaskia. Kembali kujilati memek gadis itu sambil sesekali kuremas-remas buah dadanya yang tidak begitu besar. Tidak sanggup untuk melawan, kini hanya terdengar rintihan lirih bibir Ratih yang gemetar ketakutan akibat ulahku.

“Ampun! Ohh… ouhh… auwhh!” teriaknya kecil saat kudorong tubuhnya hingga rebah ke ranjang dan langsung menindihnya.

“Pegang yang kuat ya,” perintahku pada Inez dan Zaskia. “Nggak sabar rasanya pengin langsung nyoblos memeknya!“ kataku yang disambut anggukan oleh Inez dan Zaskia.

Kembali aku menjilati vagina Ratih yang tampak mulai ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna hitam. Aku jadi membayangkan, saat dientot juragan Karta dulu, pasti memek ini masih licin gundul. Uh, membayangkannya saja sudah membuatku tak tahan.

“Nggak usah teriak, Rat. Enak kok pesta seks itu, aku aja suka.“ hibur Zaskia sambil membenahi jilbab Ratih yang berantakan.

“Budhe gila! Kalian semua gila!” teriak Ratih ketus, namun langsung terdiam begitu lidahku mulai menari-nari di liang memeknya yang asin. Bahkan yang ada, erangan dan rintihan kecil mulai keluar dari mulutnya yang tipis meski terlihat Ratih berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Terus kujilati liang sempit itu, bau wangi tubuh Ratih semakin membuatku bergairah. Ratih memejamkan mata karena tidak tahan akan oralku yang memberikan sentuhan birahi sedikit demi sedikit, sehingga ia yang awalnya memberontak kini jadi menggemulai perlahan-lahan. Saat membuka mata, Ratih memang tidak menangis, namun dari matanya tampak mengalir cairan bening yang membasahi pipi mulusnya. Entah itu air mata penyesalan atau kepuasan, aku tak peduli.

“Nikmati aja, Rat, enak kok! Coba rasakan, kontol Kemal besar dan panjang, enak sekali kalau disodoki pake itu!” bujuk Zaskia lagi.

”Nggak mau! Dasar budhe edan!” jerit Ratih dengan suara bergetar.

“Cepetan, Mal. Masukkan kontolmu! Setubuhi dia!” bisik Inez yang gemas melihatku mengulur-ulur waktu.

”Eh, iya. Iya!” akupun langsung bangkit. Setelah meremas sebentar buah dada Ratih, aku langsung memasang kuda-kuda. Kuarahkan penis panjangku ke lubang senggama gadis itu, lalu kutekan perlahan saat sudah pas. Ratih sedikit melotot merasakan batangku yang mulai memasuki lubang kemaluannya.

”Ampun! Hentikan, Bang! Aku masih perawan!” jerit gadis itu mencoba mencegah perbuatanku, namun tentu saja tidak bisa. Yang ada, aku malah makin bersemangat. Terus kutekan batangku hingga membuat Ratih memekik dengan tubuh melengkung ke atas. Sepertinya sangat kesakitan sekali, apa batangku terlalu besar ya?

“Perawan apa!” protesku tanpa berniat untuk mengukurnya lebih lanjut. ”Nggak usah bohong deh, aku sudah tahu semua!” sahutku sambil terus menekan dan menarik batangku sehingga semakin tenggelam ke celah kemaluannya.

”Ohh… tidak! Hentikan! Aku mohon!” Ratih semakin menjerit kuat. Tubuhnya terdorong ke belakang seperti ingin menjauh, namun tidak bisa karena sudah dipegangi oleh Inez dan Zaskia.

Tak ingin lepas, akupun mendesak lagi. Kusentak pinggulku kuat-kuat sampai batangku amblas seluruhnya ke memek sempit gadis muda itu, membuat Ratih menjerit begitu kencang di sebelah telingaku, ”Aaaaauuww…!!!“

“Diam! Nggak usah pake nangis segala! Kamu sulit amat sih…” aku jadi sedikit hilang kesabaran. Aneh juga, Ratih adalah korbanku yang paling sulit untuk ditaklukkan. Padahal biasanya, dengan sekali pandang saja, setiap korbanku akan jatuh berlutut, menyerah seutuhnya. Namun dengan Ratih… ah, entahlah. Aku sendiri juga bingung.

”Ampun, Bang… aah… aah… uhh…“ lenguh Ratih ketika mulai kusodok-sodok tubuh sintalnya sambil kulumat pelan bibirnya yang tipis. Gadis itu tampak semakin menggeliat, tangisannya menjadi semakin keras. Namun sudah tidak melawan lagi, ia hanya pasif menerima segala seranganku.

Kugenjot terus pinggulku untuk menyetubuhinya. Terasa dinding vaginanya yang sempit seperti mencekik batang kontolku, namun bukannya sakit, malah aku merasa nikmat sekali. Memang beda memek gadis muda yang belum pernah melahirkan dengan punya ibu-ibu macam Inez maupun Linda. Meski sama-sama nikmat, tapi tetap saja ada sensasi yang berbeda.

“Ayo gerak donk, Rat.“ ajakku melihat Ratih yang masih pasif. Ia memadangku, dari sorot matanya terlihat kalau ia masih menolak segala sentuhanku. Namun aku tidak kekurangan akal, kembali kulumat bibir tipisnya sambil kusodok-sodok memeknya sedikit lebih cepat. Akibatnya, Ratih jadi agak sedikit melenguh karenanya.

“Auw… aah… aah… ampun… jangan… aah… ahh…” lenguhnya dengan air mata terus mengalir di pipi.

“Goyang donk, Rat… makin enak rasanya memekmu!” ajakku lagi, yang disambut senyum oleh Inez dan Zaskia yang masih setia mendampingi. Sementara Linda dan bu Martin sudah mendengkur halus, seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi di sebelahnya.

“Sudah… aah… aku mohon.. aauh… uuh…” desah Ratih tak karuan.

Bukannya kasihan, mendengarnya malah membuatku semakin bernafsu menggenjot tubuh sintalnya. Ratih memejamkan mata, kepalanya mendongak sambil ia menggigit bibirnya kuat-kuat, sementara tubuhnya kian terguncang menerima segala serbuanku. Gelora birahi, meski pelan, namun tampak mulai menyelubunginya. Membuat Ratih jadi terdiam dan perlahan pinggangnya mulai bergerak mengikuti ayunan pinggulku.

”Terus, Mal. Dia mulai menikmati,” seru Inez.

“Iya, Mal. Genjot terus!” dukung Zaskia.

”Uuh… ooh… aah…“ lenguhku sambil mengangguk. Aku tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi, tubuhku sudah begitu termakan api birahi. Rasanya benar-benar nikmat, membuatku jadi tak tahan. Ratih merapatkan kakinya, sementara vaginanya menyempit dengan begitu cepat, seperti mencekik batang kontolku hingga jadi sedikit ngilu. Namun aku terus menggenjotnya dengan begitu cepat, hingga tak lama kemudian kudengar Ratih melenguh panjang saat mendapatkan orgasmenya yang pertama.

“Aah… aaauuww!!!” erang gadis itu saat cairan kental mengucur deras dari lubang vaginanya, membasahi seluruh batang kontolku yang masih terbenam dalam. Tubuh Ratih kelojotan tak karuan, namun segera dipegangi oleh Inez dan Zaskia agar tidak sampai membentur tembok.

“Sudah, bang… aah… ampun!!“ rintih Ratih dengan suara lemah. Pijitan memeknya yang masih terus berkedut-kedut pelan membuatku kegelian meski aku tidak menggerakkan batang kontolku. Akibatnya, tanpa perlu capek-capek menggenjot, aku sudah dihantarnya menuju puncak kenikmatan.

Croot… croot… croot…

”Auh… aarrghhh…” aku melolong tak karuan saat cairan spermaku menyembur deras memenuhi lubang memeknya. Sesaat aku merasa ringan bagai kapas, bisa kurasakan cairan spermaku yang meleleh di sela-sela alat kelamin kami berdua yang masih bertaut erat. Terengah-engah penuh kepuasan, aku diam memeluknya.

Tak lama, setelah orgasmenya berlalu, Ratih menggeliat bangun dan kemudian menangis keras. “Jahanam! Bangsat kamu!!” raungnya marah.

Aku jadi bingung, kukira setelah mendapat nikmat, ia akan menyerah kepadaku. Tak tahunya, tetap saja marah-marah dan memberontak. Aku jadi bingung. Kenapa peletku tidak bekerja kepadanya?

Jawabannya baru kuketahui beberapa saat kemudian saat Inez memberitahuku sesuatu dengan suara bergetar. ”Mal, i-ini… d-darah!” bisiknya takut-takut.

Aku melirik ke bawah, dan DEG! Seperti mau pingsan rasanya saat kulihat lelehan darah di atas sprei, tepat di bawah bokong bulat Ratih. Orang bodohpun tahu, itu adalah darah perawan. Asalnya dari memek sempit Ratih yang masih tersumbat oleh batang kontolku. Masih ada sisa-sisa darah di kulit kelamin kami berdua. Namun itu tidak mungkin! Kenapa dia masih perawan? Bukankah juragan Karta sudah menidurinya lebih dulu? Harusnya…

”S-sudah kubilang, aku masih perawan!” bisik Ratih sambil terus menangis. Aku tidak menjawab, hanya terbengong-bengong menatapnya. Sementara Inez dan Zaskia juga sama, mereka tidak berani membuka suara dan kelihatan sangat takut sekali. Kami sudah salah memilih korban!

”Maaf, Rat. A-aku nggak tahu!” jawabku sambil menarik penis, kubiarkan Ratih menangis tersedu-sedu pelan. ”T-tapi, bagaimana bisa?” tanyaku bingung.

Ratih menatapku tajam. ”Tentu saja bisa!” semburnya kencang. ”Aku masih kecil, masih sekolah! Belum pernah aku melakukan hal sehina itu!”

Aku melongo. ”K-kamu belum pernah tidur dengan juragan Karta?” tanyaku lagi.

Ratih terdiam, lalu menggeleng pelan. ”Jangan bawa-bawa nama orang yang sudah mati. Kamu telah memperkosaku! Dan pasti akan menanggung akibatnya.” ia lalu menoleh pada Inez dan Zaskia. ”juga kalian semua!” ancamnya serius.

”M-maafkan kami,” kata keduanya secara bersamaan.

”Nggak!” Ratih menggeleng, bara dendam tampak menyala di matanya yang berair. ”Kalian akan merasakan yang lebih menyakitkan, terutama budhe!” ancamnya pada Zaskia.

”Maafkan aku, Rat. Aku nggak tahu,” geleng Zaskia sambil ikut menangis.

Tidak menjawab, Ratih bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya.

”J-jangan laporkan kami, Rat. Kami janji akan menutupi ini rapat-rapat.” pinta Inez.

Ratih menoleh, ”Nggak usah kuatir,” jawabnya. ”aku sudah punya rencana sendiri buat kalian.” dan setelah berkata begitu, ia mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar. Dengan diantar oleh Zaskia, ia kembali pulang.

Tinggallah aku dan Inez yang duduk terdiam berdua, mencoba menebak-nebak hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Ratih pada kami semua. Di ujung ranjang, Linda dan bu Martin masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui masa-masa kelam yang siap menanti di esok hari.