MURTI 12

Gatot kaget bukan kepalang mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali oleh seseorang. Semakin keras saja ketukan itu membuat Gatot merasa marah. Ia melompat dari tempat tidur dan menerjang pintu bermaksud hendak mengumpat tamu yang menurutnya tidak sopan. Tapi setelah tahu siapa yang bertamu di siang bolong begini, ia urung mengumpat.

“Pak Camat. Silahkan masuk, Pak.” katanya kemudian.

Pak Camat masuk dan langsung duduk. Sempat memandangi Gatot cukup lama lalu menghela napas dan membuang muka keluar. “Kenapa semua bisa terbongkar, Tot?” tanyanya tiba-tiba.

“Maksud Pak Camat?” Gatot tak mengerti.

“Murti sudah tahu. Murti sudah memergoki aku.” kata laki-laki itu.

“Demi Tuhan! Saya tidak membocorkan rahasia itu, Pak.” sumpah Gatot.

“Lalu dari siapa lagi Murti sampai bisa tahu?” Pak Camat tampaknya tak percaya.

“Jadi Pak Camat menuduh saya?” tanya Gatot. ”Dimana Murti?” tanyanya lagi.

“Masih pingsan.” kata Pak Camat. ”Saya sama sekali tidak menuduhmu, Tot. Jangan marah.”elaknya.

“Terus terang saya kecewa dengan Pak Camat. Sebenarnya tadi pagi ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Saya sudah mengambil keputusan untuk berhenti, Pak.” kata Gatot.

“Jangan, Tot. Saya masih membutuhkanmu.” cegah Pak Camat.

“Saya sudah tidak diperlukan lagi, Pak. Dan dengan tuduhan bapak terhadap saya, semakin bulat niat saya.” kata Gatot dingin.

“Sabar, Tot. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Pak Camat masih berusaha membujuk.

Gatot terdiam, lalu kemudian mengangguk. “Kita tunggu sampai Murti siuman biar semua jelas.” katanya lagi.

Gatot ikut ke rumah Pak Camat dan bersama-sama Pak Camat menunggu Murti siuman. Gatot sangat terpukul. Kekhawatirannya terbukti. Murti telah sampai pada puncak penderitaan sehingga nekad menyatroni Pak Camat di rumah Mbak Ayu. Murti tidak bisa disalahkan. Gatot juga tidak mau disalahkan. Yang patut disalahkan adalah Pak Camat dan teringat tuduhan Pak Camat terhadapnya, Gatot menahan tinju dengan geram. Ingin sekali ia menghajar wajah lelaki tua itu biar tahu rasa, biar tahu akibatnya kalau mempermainkan hati sahabat kecilnya.

Murti mulai menunjukkan tanda-tanda siuman. Tubuhnya bergerak-gerak dan matanya setengah terbuka. Murti sempat bengong sesaat dan memperhatikan keadaan sekitar. Sadarlah ia dimana kini berada. Ia segera membuka mata lebar-lebar dan spontan berteriak histeris begitu melihat wajah-wajah yang ada di sekitarnya.

“Kita cerai, Mas! Ceraaaiiiii!!!” teriaknya kencang sambil melempar apa saja ke arah Pak Camat. Bantal, guling, selimut, cermin, dan semua isi kamar beterbangan dan berserakan, pecah berkeping-keping di lantai kamar.

Murti menerjang Pak Camat dengan pecahan kaca di tangannya. Untung Pak Camat sigap menghindar dan Gatot menghadang Murti, memegangi Murti yang terus meronta liar. “Aku benci kamu, Mas. Kejam!” teriaknya terus-terusan mengumpat Pak Camat dengan seribu caci maki.

Pak Camat menampar wajah Murti, membuat Murti semakin beringas. Gatot tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi antara suami istri itu. Gatot sempat menatap geram ke arah Pak Camat, membuat Pak Camat keder dan ciut nyali. Pak Camat segera sadar kalau Gatot bisa ikut beringas bila melihat Murti disakiti. Gatot segera keluar kamar dan begitu ia keluar, pintu kamar tertutup. Entah apa yang kemudian terjadi di dalam kamar itu, ia tidak mau tahu.

Murti semakin menderita sepeninggal Gatot. Pak Camat tiada henti menampar wajahnya berkali-kali, memukuli tubuhnya sampai jatuh bangun, menghajarnya hingga tersungkur. Tapi Murti menerima semua dengan tegar. Badan memang terasa sakit, tetapi hati lebih sakit lagi.

“Jahanam kamu, Mas!” ia mengumpat sekali lagi.

“Katakan siapa yang memberitahumu!” Pak Camat menjambak rambut Murti dan mengancam.

“Tidak akan saya katakan.” jerit Murti.

“Siapa dia, Murti?!” tanya Pak Camat lagi.

“Tidak akan, Mas. Sekalipun Mas membunuhku, tidak akan pernah.” ancam Murti.

“Keras kepala!” maki Pak Camat.

Murti menjerit-jerit ketika Pak Camat mengguntingi rambutnya. Tak cukup sampai situ, Pak Camat juga merobek celana dalam Murti dan mencabuti bulu-bulu kemaluannya, membuat Murti berlinang air mata perih. Sakit. Namun penderitaan belum berakhir. Pak Camat dengan cepat menelanjanginya, lalu mengikat kedua tangan dan kaki Murti. Dalam keadaan tak berdaya, Pak Camat membabi buta menggumuli Murti bagai binatang.

”Ahh…” Murti hanya bisa menjerit dalam hati karena mulutnya telah dikunci dengan ciuman liar. Pak Camat berubah menjadi binatang. Ia rasakan penis Pak Camat masuk ke dalam liang vaginanya secara paksa, dan mengoyak-ngoyak dengan brutal disana, tidak membiarkan Murti menikmati karena dirinya diselimuti rasa kesal yang mendalam terhadap perempuan cantik itu.

”Auw! Ahh… s-sakit!” rintih Murti sementara Pak Camat terus memperkosanya secara membabi buta. Laki-laki itu tanpa ampun menggerakkan batang penisnya mundur maju berkali-kali hingga membuat tubuh Murti mulai menegang. Ia merasakan wajah Pak Camat mendekat untuk mencumbunya, segera Murti menghindar dengan menggerakkan kepalanya menyamping, menggeleng-geleng.

Plak! Pak Camat langsung memukulnya dan mengancam, ”Diam! Atau kubunuh kamu!”

Tak terhindarkan, karena sakit dan juga ketakutan, Murti membiarkan Pak Camat kembali mengulum bibirnya, namun ia tak sudi bereaksi terhadap ciuman laki-laki tua itu. ”Auw!” Murti juga menjerit begitu merasakan tangan-tangan Pak Camat yang meraba-raba dan meremas payudaranya dengan kasar, sebelum kemudian tangan itu bergerak ke arah lehernya.

Tamatlah aku, dia ingin mencekikku sampai mati, batin Murti dalam hati. ”Aah… jangan, Mas, jangan bunuh aku!” ia menangis menghiba.

”Bwahaha!” Pak Camat tertawa mengejek, dan bersamaan dengan itu menghunjamkan penisnya semakin cepat.

”Arghh…!!” teriak Murti penuh kesakitan. Tubuh mulusnya tampak membilur-bilur memerah karena siksaan Pak Camat, sementara liang vaginanya mengeluarkan darah segar karena lecet. Sungguh sangat sakit sekali.

Setelah merasakan siksaan lahir batin berkali-kali, Murtipun jatuh lagi dalam dunia ilusi. Ia pingsan kembali sementara Pak Camat terus menyetubuhinya sampai puas. Sampai spermanya muncrat memenuhi liang rahim Murti.

***

Gatot gelisah di rumahnya. Kedatangan Aisyah tidak sanggup mengusir sedihnya. Ia sedih membayangkan kehidupan Murti. Sayup-sayup ia mendengar teriakan dan ratapan Murti yang kini telah berhenti. Hatinya bagai tersayat belati. Ia ikut membenci Pak Camat. Sempat terbersir keinginan di hati untuk melenyapkan Pak Camat agar Murti bebas dari derita. Tanpa sadar ia menggebrak meja, membuat Aisyah kaget.

“Ada apa, Mas Gatot?” tanya gadis cantik itu.

“Maaf, Aisyah. Aku hanya kesal.” jawab Gatot.

“Kesal pasti ada sebabnya.” balas Aisyah.

Gatot tersenyum menerima secangkir kopi dari Aisyah. Kegelisahannya sedikit berkurang meski tidak sepenuhnya hilang. Ia menyeruput sedikit kopi yang masih panas itu. “Aisyah mau tahu sebabnya?” katanya kemudian.

“Kalau Mas Gatot tidak keberatan cerita pada saya.” kata Aisyah.

“Saya keberatan,” sahut Gatot.

“Ya nggak usah cerita,” tutur Aisyah dengan wajah kecut.

“Aisyah, bagaimana kalau kamu yang membuatku kesal?” pancing Gatot.

“Saya hanya bisa katakan maaf dan janji tidak akan lagi membuat Mas Gatot kesal.” jawab Aisyah kalem.

“Cuma itu?” kejar Gatot.

“Mas Gatot maunya apa?” ganti Aisyah yang menantang.

“Kena juga kamu. Aku cuma bercanda kok,” Gatot tersenyum.

Ia mendapat hadiah dari Aisyah berupa cubitan berbisa. Kebetulan sinema siang di televisi menampilkan adegan cinta. Aisyah menunduk malu. Gatot tersenyum mau. Tapi belum saatnya adegan cinta itu ditiru. Gatot merubah saluran ke berita tanpa mempedulikan raut wajah Aisyah yang merengut kecewa. Mereka berebut remote control tapi demi keamanan, maka Gatot mengalah.

“Berita di negeri ini cuma korupsi, Mas. Bosan.” kata Aisyah mengomentari acara di tv.

“Saya juga bosan nonton sinetron yang isinya rebutan harta, rebutan wanita, dan perselingkuhan.” balas Gatot.

“Tergantung selera dong,” Aisyah tampak tak mau kalah.

Gatot menggelitik telapak kaki Aisyah, membuat Aisyah tertawa geli dan melipat kakinya menjauh dari jari-jari usil Gatot. Dengan kaki terlipat, maka paha Aisyah terlihat mengkilat. Gatot silau dan tak tahan untuk tidak menjahili paha itu. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, Aisyah sudah lebih dulu menutup pahanya dan mencibir kenakalan Gatot.

“Baru boleh kalau sudah nikah, Mas.” katanya menjelaskan.

“Kamu mau nikah dengan duda sepertiku?” tanya Gatot tak percaya.

“Kalau memang cinta, apa hendak dikata.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Berarti kamu cinta aku ya?” tanya Gatot meyakinkan.

Aisyah menghela napas dan memandang Gatot. “Sejujurnya tujuan utamaku tinggal disini adalah untuk bisa mengenal Mas Gatot lebih dekat.” terangnya.

“Aku suka kejujuranmu, Aisyah. Aku juga sebenarnya ingin dekat denganmu.” balas Gatot.

“Gombal,” Aisyah kembali mencibir.

Biar di bibir bilang gombal, tapi dalam hati sesungguhnya Aisyah menganggap semua itu benar karena secara fisik Aisyah sadar ia telah dekat dengan Gatot. Tinggal meyakinkan batin. Belenggu jiwa telah terpasang diantara hati mereka berdua.

“Aisyah?” bisik Gatot di telinga gadis cantik itu sambil berupaya memeluknya.

Gadis itu tertunduk malu, dan segera menutup mata saat Gatot mengangkat dagunya dan menciumnya tepat di bibir. Terasa lidah Gatot yang kasar mencoba mendesak masuk ke dalam mulut Aisyah. Sebenarnya Aisyah ingin menolak, tapi dorongan dari dalam hatinya tidak dapat berbohong. Iapun balas melumat bibir Gatot dan malahan tangannya meraih pundak laki-laki itu agar tubuh mereka semakin menempel hingga ciuman mereka menjadi terasa nikmat.

”Hmph… hmm…” Ciuman Gatot kini menjadi semakin buas. Dari bibir, Gatot turun ke leher dan menggerakkan lidahnya disana, berupaya menjelajahi leher Aisyah yang jenjang. Sambil berciuman, tangannya meraih kancing baju gadis itu dan mulai melepaskannya satu persatu. Lembut Gatot menelusuri gundukan dada Aisyah yang bulat padat, terasa sangat halus dan mulus sekali benda kembar itu. Melenguh dalam hati, Gatot tak menyangka kalau akan begitu menyukainya.

“Cukup disitu saja, Mas,” bisik Aisyah lemah dan pasrah ketika Gatot mulai menjajah di sekitar wilayah perutnya.

Gatot menurut, sama sekali tidak keberatan hanya diberi jatah sampai di situ saja. Sudah merupakan suatu keberuntungan baginya bisa diijinkan menikmati dada Aisyah yang ranum, yang tidak sembarang lelaki bisa mendapatkannya. ”Kamu cantik, Aisyah.” ujar Gatot lembut sambil menatap mata lentik Aisyah.

”Ahh…” tidak menjawab, Aisyah malah mengerang saat Gatot meremas-remas gundukan payudaranya semakin gemas. Ia melenguh agak keras dan Gatot pun semakin giat meremas-remas dadanya yang montok itu.

Perlahan Gatot melepaskan ciumannya dan memandangi Aisyah yang kini duduk hanya dengan mengenakan bra hitam dan rok panjang selutut. Ia memandanginya tanpa berkedip, terlihat begitu mengagumi kecantikan dan pesona tubuh sintal gadis itu. Aisyah yang malu dipandangi seperti itu segera menunduk dan berupaya menyilangkan tangan di depan dada untuk sekedar menutupi apa yang ada.

Gatot yang tak ingin kesempatannya menghilang, segera bergerak cepat dengan kembali memeluk tubuh mungil Aisyah dan melumat bibirnya dengan begitu rakus. Sambil ber-french kiss ria, tangannya dengan cekatan melepas kaitan bra Aisyah yang sudah melonggar. Kini dada Aisyah benar-benar telanjang bulat. Gatot langsung mengarahkan tangan kesana dan mulai meremasi kedua payudara Aisyah secara bergantian. Aisyah memilih untuk memejamkan mata saja menikmatinya.

”Auw! Mas!” rintih Aisyah saat merasa putingnya yang sudah tegang akibat nafsu tiba-tiba menjadi basah.

Ternyata Gatot sudah asyik menaruh mulut disana, menjilatinya dengan lidahnya yang panjang dan tebal, menghisapnya begitu rakus bagai anak kecil yang haus akan sentuhan air susu ibu. ”Uhh…” tentu saja perbuatan itu membuat Aisyah jadi menggelinjang geli karenanya. Tanpa terasa ia mengeluarkan erangan yang lumayan keras, yang mana itu malah membuat Gatot jadi semakin bernafsu.

”Aisyah, kamu seksi sekali. Badan kamu bagus, terutama yang ini…” bisik Gatot sambil memelintir puting Aisyah yang semakin mencuat dan menegang. Berkali-kali pula ia melumat, mencium, menarik dan menghisap-hisapnya secara bergantian, kiri dan kanan.

”Ahh… Mas… gelii…!” balas Aisyah manja. Ia hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Gatot dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya berusaha berpegangan pada sandaran kursi untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke depan.

Aisyah merasa badannya mulai mengejang serta cairan vaginanya terasa mulai meleleh keluar, sementara Gatot terus mengerjai bagian depan tubuhnya hingga mereka sama-sama mendesah lemah tak lama kemudian. Tampak noda hitam membekas di depan celana Gatot yang menggembung besar, yang dipandangi oleh Aisyah dengan penuh rasa jengah sekaligus penasaran. Sementara Aisyah sendiri juga merasa celana dalamnya menjadi begitu basah, namun tentu saja Gatot tidak bisa mengetahuinya karena itu tersembunyi di balik gaun.

Terengah-engah, mereka sama-sama puas meski tidak sampai saling memasukkan. Cuma meraba-raba dan saling bersentuhan, itu sudah cukup bagi keduanya untuk saat ini. Aisyah memejamkan mata dan memeluk Gatot dengan tubuh setengah telanjang. Dibiarkannya Gatot terus membelai dan meremas-remas gundukan payudaranya yang besar, sampai Gatot puas dan lelah hati datang melanda beberapa saat kemudian.

“Tok-tok-tok!!” terdengar ketukan pelan di pintu depan.

Gatot dan Aisyah terperanjat dan segera mengenakan pakaian masing-masing. Mereka berpandangan sejenak sebelum Aisyah lari masuk ke dalam kamarnya, sedang Gatot bergegas ke depan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Ningsih.

“Selamat sore, Tot.” sapa tetangga sekaligus teman Gatot itu.

“Ningsih, kukira siapa. Ayo masuk.” balas Gatot.

“Tidak usah. Ngobrol di teras saja lebih enak.” kata Ningsih.

“Baiklah. Kupanggil Aisyah dulu ya.” sahut Gatot.

“Tidak perlu. Aisyah pasti masih istirahat. Kita ngobrol berdua saja.” sela Ningsih.

“Ya sudah. Bagaimana kesanmu dengan suasana komplek?” tanya Gatot membuka obrolan saat mereka sudah duduk di teras.

“Memang tidak seperti dulu saat kita masih kecil. Tapi aku sungguh senang bisa kembali kesini, Tot. Kembali ke tanah kelahiranku.” jawab Ningsih.

“Jadi nostalgia nih,” Gatot tersenyum.

“Mauku sih begitu. Tapi rupanya anak-anak sebaya kita sudah pada kawin semua. Jadi malas mau main ke rumah mereka.” kata Ningsih.

“Makanya buruan kawin juga. Kita seusia, Ningsih. Aku saja sudah jadi duda.” balas Gatot.

“Hahaha, biar duda tapi kamu masih keren, Tot. Pria idamanku ya yang seperti kamu.” kata Ningsih dengan muka bersemu merah.

”Tidak baik membanding-bandingkan orang. Kesibukanmu apa, Ningsih?” Gatot berupaya mengalihkan topik.

“Macam-macam.” jawab Ningsih. ”Tapi aku paling sibuk kalau sudah memikirkan seseorang.”

“Siapa itu?” tanya Gatot penasaran.

“Kamu,” jawab Ningsih pendek.

Gatot tertawa mendengar kata-kata Ningsih yang dianggapnya lelucon belaka. Tawanya sampai terdengar ke dalam rumah, memancing aisyah untuk keluar dari kamarnya dan mengintai apa gerangan yang membuat Gatot tertawa. Demi melihat Gatot berdua dengan Ningsih, Aisyah seakan tidak rela. Tapi ia tidak cemburu buta. Ia biarkan saja Gatot bersama Ningsih sementara ia sendiri mencari kesibukan di dapur.

Aisyah merasa aneh melihat rumah Pak Camat yang sepi. Aisyah juga aneh dengan ketidak-munculan Murti sejak tadi pagi. Rekan sesama gurunya itu tidak mengajar, malah meminjam motornya dan pergi entah kemana. Sampai sekarang motornya belum kembali. Aisyah coba menghubungi handphone Murti tapi tidak aktif. Maka ketika Gatot datang menghampirinya, Aisyah langsung bertanya.

“Sudah selesai ngobrolnya dengan Mbak Ningsih?” tanyanya dengan nada sedikit ketus.

“Sudah. Ningsih sudah pulang.” jawab Gatot tanpa merasa bersalah.

“Apa Mas Gatot tahu apakah Bu Murti juga sudah pulang?” tanya Aisyah lagi.

“Aisyah, kamu belum tahu apa yang menimpa Murti?” bukannya menjawab, Gatot malah balik bertanya.

“Belum, Mas. Cuma Bu Murti tadi pagi tidak mengajar dan meminjam motorku. Eh sampai sekarang motorku belum balik.” seru Aisyah.

“Murti sedang susah, Aisyah. Dia bertengkar hebat dengan Pak Camat.” jelas Gatot.

“Lho, masalahnya apa, Mas? Bukankah mereka rukun-rukun saja?” tanya Aisyah tak percaya.

“Murti memergoki Pak Camat selingkuh dengan istri mudanya. Makanya mereka bertengkar dan Murti minta cerai.” jawab Gatot.

“Benarkah begitu, Mas?” Aisyah melongo.

“Benar. Dan motormu masih ada di perumahan Residence. Nanti kuambil ya?” tawar Gatot.

“Sungguh menyesal kalau mereka sampai cerai ya, Mas.” Aisyah menggeleng-gelengkan kepala.

Gatot mengangguk. “Oh ya, Aisyah, aku juga sudah berhenti kerja di rumah Pak Camat.” Ia memberi tahu.

“Apa ada kerjaan lain, Mas? Bagaimana dengan hutang Mas Gatot ke Pak Camat?” tanya Aisyah.

“Akan kuusahakan, Aisyah. Apalagi hutang itu juga menyangkut rumah ini.” kata Gatot penuh tekad.

“Mas Gatot, saya ada sedikit tabungan yang bisa mas pakai. Saya ikhlas, Mas.” kata Aisyah.

“Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Aisyah. Simpan saja uangmu ya,” tolak Gatot.

“Saya hanya tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan orang lain, Mas. Aku sudah anggap ini rumahku sendiri.” sahut Aisyah.

“Tidak akan pernah, Aisyah. Rumah ini akan tetap milikku, dan jika Tuhan mengijinkan, akan jadi milikmu juga. Milik kita.” kata Gatot sambil tersenyum dan memandang Aisyah penuh cinta.

“Makanya kubantu bayar ya hutang Mas Gatot ke Pak Camat.” Aisyah membalas senyum itu.

Gatot mengacak rambut Aisyah dengan gemas. Ia memeluk Aisyah dari belakang, mencium kepala gadis itu. “Adakah perasaan itu di hatimu, Aisyah?” tanya Gatot.

Aisyah berbalik dan balas memeluk Gatot, menyembunyikan wajah ayunya di balik ketiak Gatot. “Rasa itu sudah tumbuh sejak kali pertama saya melihat Mas Gatot. Dan kengototan saya pindah kemari semata demi rasa itu, Mas.” terang Aisyah.

Mereka berpelukan semakin erat seakan tidak memberi ruang bagi makhluk apapun menghalangi hangatnya pelukan itu. Mereka tidak peduli pada bau gosong ikan teri. Mereka hanya peduli pada perasaan hati.

“Apakah aku masih layak dan pantas, Aisyah?” kata gatot bertanya.

“Bagiku lebih dari pantas, Mas. Menjalani hidup bersama Mas Gatot adalah impianku.” jawab Aisyah lugas.

“Bagaimana jika mimpimu itu tidak terwujud?” tanya Gatot.

“Saya akan sangat membenci Mas Gatot. Aku kan sudah memberikan apapun, Mas.” yakin Aisyah.

“Aku akan mewujudkan mimpimu, Aisyah, tapi tidak sekarang. Sabar ya?” jawab Gatot.

Dua hati telah bicara. Maka lebih mudah untuk meneruskan semua yang tertunda. Gatot memagut bibir Aisyah dan lebur dalam ciuman membara. Hanya sekedar berciuman karena Gatot sudah bersumpah untuk tidak merusak kesucian Aisyah sampai pada saatnya nanti tiba. Setelah puas, merekapun melepaskan pelukan. Aisyah mengangkat ikan teri yang hangus sementara Gatot mengisi air di bak mandi.

***

Kekhusyukan sholat maghrib Gatot yang berjamaah dengan Aisyah buyar ketika dikejutkan oleh teriakan dan raungan sangat keras dari rumah Pak Camat. Gatot sangat hapal itu adalah suara Murti. Ternyata bukan hanya Gatot saja yang mendengar, tetapi hampir semua tetangga yang berdekatan dengan rumah Pak Camat juga mendengar. Gatot mengajak Aisyah untuk melihat apa yang terjadi. Ia berkerumun bersama puluhan warga komplek yang memenuhi halaman rumah Pak Camat. Beberapa orang mencoba membuka pintu rumah yang terkunci, sementara raungan Murti dari dalam rumah tidak kunjung berhenti. Orang-orang semakin panik dan berpikir macam-macam, menduga-duga apa yang terjadi dalam rumah itu.

Gatot mendekat dan orang-orang memberinya jalan. “Dobrak saja pintunya, Tot!” beberapa warga memberi usul.

“Sabar, Pak. Siapa tahu Murti dengar suara saya,” Gatot mengetuk pintu berkali-kali sambil berteriak-teriak memanggil Murti. Tapi sampai suaranya serak, pintu tak kunjung terkuak. Sementara orang-orang mulai tidak sabar.

Gatot juga hilang kesabaran karena di dalam sana murti makin histeris. Lima orang pemuda coba mendobrak pintu tapi tidak berhasil. Cuma Gatot yang tahu seberapa kuat dan tebalnya daun pintu rumah Pak Camat, juga cuma Gatot seorang yang tahu kunci bagian dalam dari pintu rumah Pak Camat. Ia meminta lima orang pemuda itu menyingkir. Ia mundur jauh ke belakang dan mengumpulkan tenaga lalu berlari cepat menerjang pintu itu. Sukses, daun pintu itu bukan cuma terbuka, tapi sampai patah jadi dua bagai di gergaji. Orang-orangpun percaya bahwa Gatot masih punya kekuatan yang hebat meski sudah tobat.

Beberapa orang tua bergegas masuk dan langsung menuju kamar dimana sumber suara Murti. Sekali lagi Gatot mendobrak pintu dan semuanya berdiri terpaku menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar. Murti langsung menghambur memeluk Gatot dan Gatot langsung membawa Murti ke rumahnya dengan ditemani oleh Aisyah dan Ningsih.

“Aisyah, Ningsih, tolong jaga Murti ya. Usahakan agar dia tenang,” kata Gatot lalu kembali lagi ke rumah Pak Camat.

“Pak Camat gantung diri! Pak Camat bunuh diri!!”

Berita itu langsung menyebar luas. Bukan hanya warga sekitar komplek, tapi sudah merambah hingga penjuru kota. Siapa yang tidak kenal Pak Camat, salah satu pejabat yang digadang-gadang bakal jadi bupati. Dari abang tukang becak sampai mbah-mbah juru pijat, semua kenal Pak Camat. Maka ketika berita hangat itu menyeruak di malam yang baru mulai, berduyun-duyunlah orang-orang berdatangan.

Gatot menyebar-luaskan berita tragis itu ke pegawai kantor kecamatan yang dikenalnya. Kini jalan menuju komplek telah macet total dan terpaksa ditutup. Ratusan mobil berjajar di sepanjang jalan mulai dari mobil plat merah milik pemerintah sampai mobil pickup yang mengangkut warga dari pelosok desa. Dan sebagian warga komplek memanfaatkan momen yang tidak bakal datang dua kali itu untuk mencari keuntungan.

Banyak warung dadakan di tepian jalan komplek. Banyak areal parkir beragam tarif yang ditawarkan pemuda-pemuda desa. Sebagian pemuda bahkan nekad menjadikan halaman rumah Gatot sebagai areal parkir. Untung Gatot mengijinkan. Suara sirene meraung-raung dari jauh dan satu ambulans masuk halaman rumah Pak Camat. Suara sirene terdengar lagi dan mobil mewah Pak Bupati melesat dikawal tiga motor petugas polisi. Gatot menemani Pak RT menerima setiap tamu di rumah duka.

Murti masih belum bisa diajak bicara. Masih menangis dan meraung lirih. Aisyah melihat beberapa bagian tubuh Murti memar dan lebam seperti bekas mengalami siksaan. Yang lebih membuat Aisyah miris adalah rambut Murti yang sudah tak berbentuk lagi. Ningsih juga dilanda kesedihan. Bagaimanapun Murti adalah sahabat kecilnya. Ningsih merengkuhnya penuh penyesalan.

“Istighfar, Mur. Ingat pada Allah,” bisik Ningsih di telinga Murti.

“Iya, Bu Murti. Serahkan semua pada kekuasaanNYA.” kata Aisyah memberi nasehat.

Murti terkulai lesu. Dua orang petugas kepolisian yang ingin meminta keterangan darinya mengurungkan niat karena Murti masih shock, masih terguncang dan pucat pasi. Wajah Murti datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong, hampa.

“Maaf ya, bapak-bapak. Bu Murti masih shock.” kata Aisyah.

“Tidak apa, Mbak. Kami hanya ingin meminta ijin untuk mengotopsi jenasah Pak Camat.” jawab salah satu dari mereka.

“Tidak perlu. Langsung kubur saja!” kata Murti pelan tapi tegas.

Maka malam itu juga pemakaman segera disiapkan. Polisi sudah selesai melakukan investigasi dan identifikasi. Hasilnya Pak Camat memang murni bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tanda-tanda keracunan pada diri Pak Camat. Murti juga sedikit memberi informasi bahwa ia sama sekali tidak tahu yang menimpa suaminya karena sedang pingsan. Murti juga menunjukkan bekas-bekas penyiksaan yang ia alami, membuat polisi tidak lagi memaksanya ikut ke kantor. Murti dinyatakan tidak bersalah. Jelas sudah Pak Camat murni bunuh diri dengan cara gantung diri. Tidak ada unsur-unsur kriminal, begitu penjelasan dari Pak Kapolres.

Setengah jam kemudian pemakaman dilaksanakan. Murti bersikeras tidak mau hadir ke pemakaman suaminya meski Aisyah dan Ningsih memaksa. Hati Murti telah beku. Pintu maafnya telah tertutup. Bahkan Murti tidak bersedia menerima karangan bunga dari Pak Bupati. Cintanya pada Pak Camat telah lama mati. Pengkhianatan suaminya tak termaafkan lagi. Biar saja Pak Camat mati, sekalipun nanti suaminya itu menjadi hantu yang membayanginya tiap hari.

Gatot datang bersama Dewi. Setelah pemakaman selesai, Gatot mengajak Dewi bicara empat mata di rumah Pak Camat. Ia mengajak Dewi ke garasi yang menjadi tempat paling aman tanpa gangguan orang-orang yang banyak berlalu lalang.

“Ini semua salah Mbak Dewi,” kata Gatot terus terang.

Karuan saja Dewi kaget disalahkan seperti itu. “Apa maksudmu, Tot? Apa hubunganku dengan kejadian ini?”

“Mbak Dewi bicara terlalu banyak bicara pada Murti. Mbak telah membuat kehidupan dan rahasia Pak Camat terbongkar.” jelas Gatot.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Tot. Bicara langsung saja ke intinya.” tegas Dewi.

“Mbak Dewi kan yang bilang ke Murti tentang perumahan residence?” tanya Gatot.

“Itu memang benar,” Dewi mengangguk.

“Mbak Dewi tahu itu rumah istri muda Pak Camat?” tanya Gatot lagi.

“Tidak. Aku malah baru tahu malam ini kalau Pak Camat punya istri muda.” terang Dewi jujur.

“Itulah, Mbak. Tadi pagi Murti langsung ke perumahan residence dan memergoki suaminya disana. Bisa mbak bayangkan apa yang terjadi?” tanya Gatot.

Dewi menyandarkan diri ke tembok garasi. Wajahnya pias dan serba tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar cerita Gatot. Dewi menyesal setengah mati karena secara tidak sadar dirinyalah yang membuka jalan bagi terbongkarnya perselingkuhan Pak Camat yang berujung maut.

“Aku menyesal sekali, Tot. Aku yang menyebabkan Mbak Murti kehilangan suaminya.” kata Dewi lirih.

“Sudah tidak ada gunanya, Mbak. Pak Camat sudah mati dan Murti terlanjur sakit hati.” sahut Gatot.

Memang sudah tidak ada gunanya menyesali yang telah terlanjur terjadi. Pak Camat tidak mungkin hidup lagi. Seandainya Pak Camat hidup sekalipun, Murti sudah pasti tidak akan sudi melanjutkan hidup bersama Pak Camat.

Gatot mengajak Dewi ke rumahnya. Kini Gatot berada di tengah-tengah para wanita pembelenggu. Tapi Gatot sadar hanya ada dua dari keempat wanita itu yang benar-benar kuat menanamkan belenggu dalam jiwanya. Murti dan Aisyah, dua wanita yang sama-sama ia cintai. Selebihnya hanya sesaat numpang lewat saja, seperti Dewi dan Ningsih.

NYAI SITI 12 : SALAMAH

Angin malam bertiup dingin dari lembah. Bayu masuk ke dalam kedai seenaknya sambil bersiul-siul. Orang tua pemilik kedai menyambutnya dengan muka bertanya. ”Anak muda,” katanya, ”baru kali ini kulihat dirimu. Kau ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?”

Bayu mengusap-usap dagunya yang licin. ”Bapak sudah lama tinggal di sini?” katanya balik bertanya.

”Sejak masih bayi….” jawab orang tua itu.

”Hem… kalau begitu tentu kenal dengan nama Dewo.” kata Bayu.

”Oh tentu… tentu sekali. Dia orang tua sepertiku, bapaknya dulu Kepala Kampung disini. Tapi sekarang dia tinggal bersama Kyai Kholil, setelah dia pulang merantau selama bertahun-tahun. Cuma sayang…” laki-laki itu menggantung kalimatnya.

”Sayang kenapa?” kejar Bayu.

Orang tua itu tak segera menjawab. Dia memandang keluar kedai seperti mau menembusi kegelapan malam, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. ”Sejak kedatangannya, kampung ini jadi aneh…” katanya kemudian menambahkan.

Bayu menelan ludahnya. ”Aneh bagaimana, kalau boleh saya tahu,”

Pertanyaan ini membuat si orang tua memandang lekat-lekat pada paras tampan pemuda itu. ”Semua perempuan sangat menurut kepadanya… penduduk yakin dia punya ilmu pelet, tapi sama sekali tidak bisa membuktikannya. Dengan begitu kami tidak bisa bertindak. Ditambah pula, kami juga segan pada Kyai Kholil yang dituakan di kampung ini. Dia selalu melindungi dan membela Dewo.” katanya.

Kemudian dituturkannya beberapa peristiwa perselingkuhan Dewo dengan wanita-wanita di desa ini. ”Tampaknya dia suka wanita yang berjilbab, buktinya istri Pak Lurah yang tidak berjilbab masih aman-aman saja sampai sekarang meski orangnya sangat cantik.” tutup pemilik kedai tersebut.

Sebenarnya kisah ini sudah diketahui dengan pasti oleh Bayu, karena tujuan kedatangannya ke desa adalah untuk menghentikan Dewo. Ini adalah perintah dari gurunya, yang juga adalah guru Dewo. Bedanya, kalau Dewo menggunakan ilmunya di jalan kesesatan, Bayu lebih memilih yang sebaliknya. Itulah sebabnya, mau tak mau dia harus melawan Dewo kalau tidak mau kemungkaran ini semakin merajalela.

Dan sebagai tahap awal, ia sudah mencampur sejenis ramuan khusus yang hanya ia sendiri yang bisa meraciknya ke dalam sumur-sumur penduduk. Dengan begitu ia berharap pelet si Dewo akan tertolak, atau malah luntur dan menghilang bagi wanita-wanita yang sudah terlanjur kena. Usahanya itu sepertinya tidak sia-sia, karena sudah seminggu ini dilihatnya Dewo kelimpungan dalam mencari mangsa. Bayu lega bahwa perempuan di desa ini sudah sanggup menolak permintaan Dewo. Berarti ramuan penangkalnya sudah mulai bekerja. Kini tinggal bagaimana meneruskan ke tahap selanjutnya.

Bayu mengulurkan tangannya untuk memotes sebuah pisang yang tergantung di para-para.

”Eee… apa kau punya uang untuk membayar pisang itu, anak muda?” tanya si pemilik kedai.

Bayu tertawa, ”Hutang dulu, tidak apa-apa kan?” sahutnya ringan sambil tertawa.

Si orang tua mengeluh dalam hati. Berarti tambah satu lagi ’langganan’nya yang makan tanpa bayar!

Sambil mengunyah pisangnya, Bayu bertanya, ”Kalau misalnya kedok Dewo terbongkar, apa yang akan dilakukan oleh penduduk?”

Si orang tua memandang lagi ke luar kedai dengan geram. Lalu katanya, ”Mungkin kami akan ramai-ramai memukulinya sampai mati, atau kalau tidak, mengusirnya dari kampung ini.”

”Wah, kejam juga ya,” sahut Bayu, lalu terdiam.

Kulit kening pemilik kedai itu mengkerut. “Dia yang lebih kejam, karena sudah merampas kehormatan istri dan anak-anak kami.”

”Kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja?” tanya Bayu.

”Tanpa adanya bukti, polisi tidak akan bisa berbuat apa-apa.” kata laki-laki itu. ”Kebanyakan korban si Dewo tidak mau bicara, mereka tidak bisa diajukan sebagai saksi. Kita butuh saksi mata yang benar-benar menyaksikan peristiwa itu, dan sampai sekarang kami belum menemukannya.”

”Hmm, begitu ya,” Bayu manggut-manggut dan meletakkan kulit pisang di tepi meja. ”Kemarin kulihat Dewo menggoda seorang gadis belia berparas cantik di depan musholla. Bahkan gadis itu hendak diperkosanya. Apakah itu bisa dijadikan bukti?”

”Mungkin bisa, tapi aku sendiri juga tidak tahu.” pemilik kedai mengidikkan bahunya, lalu menghela nafas. ”Agak sulit untuk melakukannya, karena begitu mendapat masalah, Dewo akan mempergunakan keampuhan ilmu peletnya untuk meredam kemarahan penduduk. Sebenarnya sudah berkali-kali kami ingin mengeroyoknya, tapi selalu saja urung setiap kali sudah berhadapan dengannya. Seperti ada rasa takut dan sungkan yang tiba-tiba menyerang, hingga akhirnya kami lebih memilih menyelamatkan keluarga sendiri-sendiri daripada bentrok dengan Dewo. Percuma, hasilnya sudah jelas. Ilmu pelet laki-laki itu mustahil untuk dilawan.”

Kini jelaslah bagi Bayu kenapa penduduk selama ini cuma diam melihat sepak terjang si Dewo, kakak seperguruannya yang memilih jalan sesat. Hukum sama sekali tidak mempan kepadanya, jadi tibalah saat bagi Bayu untuk balik melawan Dewo dengan menggunakan ilmu gaibnya.

Pemuda tampan itu memanggutkan kepala. ”Dia harus dihentikan, atau kampung ini tidak akan pernah tenteram.”

”Kata-katamu betul, anak muda.” balas si orang tua, tapi kemudian menggerendeng dan memaki panjang pendek ketika didengarnya Bayu berkata, ”Minta tehnya, Pak.”

Sementara si orang tua membuatkan segelas teh manis untuknya, Bayu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia teringat pada gadis berbaju biru yang telah ditolongnya kemarin. Salamah, anak Haji Tohir. Nama itu telah menarik perhatiannya. Hanya dia satu-satunya wanita di desa ini yang tidak mempan oleh pelet si Dewo. Entah apa sebabnya, yang jelas Bayu harus mengetahuinya. Siapa tahu dengan informasi tersebut ia bisa menolong banyak perempuan lain di kampung ini.

Ketika si orang tua datang membawakan teh, Bayu hendak bertanya sesuatu tapi mulutnya terkatup kembali karena di luar kedai dilihatnya sesosok tubuh renta yang berjalan pelan menuju ke suatu tempat. Tidak salah lagi. Itu Dewo. Mau kemana dia sekarang?

Segera Bayu berpaling pada orang tua pemilik kedai, orang tua ini menarik nafas panjang dan berkata, ”Sepertinya dia akan mencari korban baru lagi. Pasti akan ada suami atau ayah yang kehilangan kehormatan istri dan anaknya.”

”Menurut bapak begitu?” tanya Bayu memastikan.

Oran tua itu mengangkat bahu. ”Potong leherku kalau sampai salah,”

”Ayo cepat, Pak, kita hentikan!” kata Bayu sambil meneguk cepat teh manisnya, lalu bangkit berdiri.

”Coba saja,” laki-laki itu tertawa. ”kamu akan pingsan bahkan sebelum tahu ke arah mana Dewo menuju.”

Bayu tidak berkata apa-apa lagi, karena itu memang benar. Kalau saja tidak berilmu tinggi, kemarin ia pasti juga akan pingsan saat mecoba menolong Salamah. Itulah kenapa ia tidak meneruskan perhitungannya kepada Dewo meski lawannya itu sudah terkapar kaku tak bergerak di tanah. Badan Bayu juga merinding, semua persendiannya seakan lepas. Dan dia pingsan di gubuk tengah sawah saat mencoba untuk menenangkan diri. Melawan Dewo memang tidak boleh grusa-grusu, itulah pesan dari mbah gurunya di lereng Lawu.

”Baiklah, Pak. Saya hanya akan mencoba menguntitnya.” kata Bayu. ”Oh iya, satu lagi. Jangan sebarkan soal kedatangan saya ke kampung ini, anggap saja kita tidak pernah berjumpa. Dengan begitu Dewo tidak akan curiga.”

Habis berkata demikian, Bayu segera pergi meninggalkan kedai. Si orang tua mengangkat gelas bekas minuman pemuda itu. ”Ah, semakin tua umur dunia ini semakin banyak terjadi keanehan.” katanya dalam hati.

***

Dari balik sebuah rumpun bambu terdengar suara beradunya alat kelamin serta lenguhan dan rintihan hebat yang sangat membangkitkan birahi. Tanah sepetak yang ditumbuhi rumput pendek itu kini berubah menjadi sebuah medan ’pertempuran’. Satu orang laki-laki, dikeroyok oleh dua orang perempuan, atau gadis lebih tepatnya. Ada Dewo dan Mila, anak si Jamil juragan tahu. Juga seorang gadis lain, Nurmah, teman main Rohmah. Mereka tengah bercinta dengan sangat hebat dan cepat.

”Eesshh… nikmatnya, uuh!!” Nurmah merintih penuh nikmat ketika kepala kontol Dewo yang besar membelah bibir memeknya yang masih perawan dan mulai masuk secara perlahan-lahan. ”Ough… p-pelan-pelan aja, Paman Dewo! Eegh…” rintihnya menahan ngilu.

Terlihat betapa sempitnya memek Nurmah, baru masuk sepertiganya saja sudah hampir membuatnya penuh. Dewo juga melenguh merasakan remasan liang memek Nurmah yang membungkus batang penisnya. Ia terus menekan sedikit demi sedikit sehingga kontolnya semakin menembus masuk.

”Ough… Paman Dewo!” Nurmah kembali mengerang penuh birahi. Dan, blees…!! masuklah seluruh kontol Dewo, menusuk dan menghujam sepenuhnya, merobek selaput daranya dan mentok hingga ke dalam liang memeknya.

”Aughh….” Nurmah mengerang lebih panjang dengan tubuh menggeliat ketika akhirnya alat kelamin mereka bersatu erat. Terlihat selarik darah merah merembes dari sela-sela kemaluannya yang mulai berbulu.

”Aah…” Dewo pun mendesis. Luar biasa nikmat dan hangat memek gadis yang baru beranjak dewasa ini. Pelan-pelan Dewo menarik keluar batang penisnya lalu menekan lagi secara perlahan-lahan, dan mulai memompa tubuh indah Nurmah yang ada di dalam pelukannya.

”Eghh… ahh… esh…” Nurmah mengerang penuh nikmat.

Gerakan Dewo yang awalnya pelan, makin lama menjadi semakin kencang dan keras. Ia begitu terbuai dengan betapa sempitnya memek teman main Rohmah ini, yang terasa begitu kuat meremas batang penisnya. Kalau yang kurus saja seperti ini, bagaimana dengan Salamah yang tubuhnya sekal dan semok. Pasti berkali-kali lipat nikmatnya. Tapi sayang Dewo belum bisa mendapatkannya, padahal dia sudah mengerahkan segala cara untuk menaklukkan Salamah. Ilmu peletnya seakan mental kepada anak Haji Tohir tersebut.

Dewo tidak mengerti kenapa, tapi dia berniat untuk memikirkannya nanti saja. Sekarang ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Penuh tenaga ia memompa memek sempit Nurmah dengan desakan maju-mundur batang penisnya. Dengan bertambah cepatnya genjotan itu, semakin kencang pula Nurmah mengerang. Erangannya seperti mengungkapan perasaan puas dalam menikmati persetubuhan ini. Dan rupanya Nurmah sudah tidak kuat lagi, karena tiba-tiba tubuh kurusnya menekuk ke atas dengan mata terpejam rapat.

”Paman Dewo… augh… oohh… ehhh!!” ia mendesah panjang saat mencapai puncak birahinya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, Dewo merasakan tubuh gadis itu mulai melemas, Nurmah berbaring di atas rumput di bawah rumpun bambu. Terukir senyuman puas di bibirnya yang tipis. Sebagai jawaban, Dewo membenamkan kontolnya dalam-dalam untuk yang terakhir kali, setelah itu mencabutnya dan menyuruh Nurmah untuk mengulumnya hingga bersih. Gadis yang sehari-hari mengaji di musholla itupun dengan senang hati melakukannya. Kini bukan bibir vaginanya saja yang basah, mulut atasnya juga ikutan belepotan oleh cairan orgasmenya. Namun Nurmah sama sekali tidak terlihat keberatan.

Setelah benda panjang di selangkangan Dewo menjadi bersih, barulah Nurmah melepasnya dan memberikannya kepada Mila yang sudah duduk menanti. Pagi itu mereka memang sedang mencuci baju di sungai, yang merupakan kebiasaan gadis di kampung ini. Mereka ngobrol-ngobrol, mulai dari pelajaran sekolah hingga berita yang lagi heboh di kampung itu. Berita tentang banyaknya ibu-ibu dan anak perawan yang hamil tanpa diketahui bapaknya. Dan itu juga akan menimpa mereka berdua karena tak lama, Dewo berjalan lewat di tempat sepi itu.

Mengetahui ada mangsa yang bisa ia dapatkan dengan mudah, Dewo pun mendekat. Tanpa basa-basi ia melancarkan ilmu peletnya dan mereka pun takluk. Keduanya diam saja ketika Dewo mulai menelanjangi diri dan mengajak mereka untuk mandi berdua.

Sebenarnya Dewo lebih mengincar Mila, karena selain lebih cantik, tubuhnya juga lebih berisi, tidak seperti Nurmah yang masih kurus dan seperti anak kecil. Tapi begitu merasakan keperawanannya tapi, pendapatnya jadi sedikit berubah. Nurmah ternyata lumayan juga, Dewo cukup senang meski tidak sampai puas. Dan Dewo berniat untuk melampiaskan segala hasratnya yang tertunda kepada Mila, yang kini mulai merangkak naik ke atas tubuh kurusnya.

Mila yang susunya mulai tumbuh besar, dengan senang hati melayani ciuman Dewo. Mereka saling hisap dan saling lumat untuk sejenak. Penuh nafsu Dewo mengulum bibir Mila yang tipis, sementara di bawah, ia mulai menyelipkan batang kontolnya ke memek gadis muda itu. Kontras sekali pemandangan yang terlihat, Dewo yang berkulit hitam dan keriput, asyik menikmati tubuh Mila yang putih dan mulus.

Dewo menyingkap baju kurung Mila hingga ke pinggang, juga melepas kancing baju yang ada di dadanya. Sementara jilbabnya tetap ia biarkan terpasang dengan sempurna. Sambil memompa, kini Dewo bisa dengan leluasa mempermainkan payudara gadis muda itu. Ia cucupi puting Mila satu persatu, menghisapnya kuat-kuat, atau sesekali menggigit-gigitnya gemas begitu mendengar Mila merintih dan terengah-engah. Anak juragan Jamil itu semakin mendesis dilanda oleh api birahi yang sangat nikmat.

“Ahh…” Mila menggelinjang saat Dewo memintanya untuk menungging. Tanpa menolak dia mengikuti perintah itu.

Kini Dewo mengarahkan batang kontolnya ke liang memek Mila dari arah belakang, ia membelah dan menusuknya sampai mentok di mulut rahim gadis cantik itu. Kembali rintihan Mila terdengar saat Dewo mulai memaju-mundurkan penisnya secara cepat. Ia menekan dalam-dalam ke liang memek Mila. Begitu kerasnya hingga sampai membuat kepala Mila mendongak ke atas berkali-kali.

Dewo terus memacu dan menggerakkan penisnya sambil sesekali tangannya meremas pantat Mila yang bulat seksi. Penuh nafsu ia mengobrak-abrik liang senggama Mila yang masih terasa sempit dan rapat. Dewo merasakan kontolnya seperti diremas-remas, sungguh perpaduan yang menimbulkan kenikmatan pada alat kelamin masing-masing.

Sama seperti pada Nurmah tadi, juga terlihat darah menetes dari liang memek Mila yang masih perawan. Namun Dewo sama sekali tidak mempedulikannya, ia terus memompa dan memompa. Semakin banyak darah yang mengalir keluar, semakin ia bergairah. Begitulah tabiat si Dewo.

Dan Mila, hanya di awal-awal saja terdengar ia merintih dan menjerit. Namun seiring waktu, dan juga karena genjotan si Dewo yang semakin bertambah cepat, gadis itupun mulai mendesis dan merengek penuh nikmat. Kalau saja Dewo tidak membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, pasti Mila akan berteriak-teriak untuk meluapkan rasa nikmatnya, yang mana itu bisa mengundang kecurigaan orang yang mungkin kebetulan lewat disana.

Tentu saja Dewo tidak mau itu terjadi. Meski berilmu tinggi dan bisa menaklukkan kemarahan orang, tidak enak rasanya kalau lagi enak-enaknya ngentot tiba-tiba diteriaki seseorang. Jadi daripada itu terjadi, sambil terus menggoyang, Dewo tak lupa juga melumat mulut Mila secara bertubi-tubi. Dengan begitu gadis itu jadi sedikit terdiam, membuat Dewo bisa berkonsentrasi dalam menjemput klimaksnya.

Setelah berkali-kali memompa, Dewo merasakan sudah sampai waktunya bagi dia untuk menembakkan sperma. Maka segera ia percepat enjotan kontol di dalam memek Mila, dan menekannya sedalam mungkin sampai mentok menyentuh dinding rahim gadis berjilbab merah itu. Sambil meremas payudara Mila yang montok, Dewo melepas cairan spermanya yang pasti sangat kental dan banyak sekali. Memenuhi seluruh rongga vagina Mila, bahkan hingga tumpah ruah keluar.

Di saat yang sama, Dewo juga merasakan Mila menggapai puncaknya. Tubuh gadis itu mengejang ringan dan disusul sekitar enam kali muncratan cairan kenikmatannya. Mereka terdiam untuk sejenak, menikmati dahsyatnya persetubuhan tabu ini. Memang benar-benar berbeda sensasinya bercinta di alam liar, nikmatnya sungguh luar biasa.

Bayu baru tiba di tempat itu saat Dewo sudah mencabut penisnya dari liang senggama Mila. Pemuda itu terlambat! Sungguh sangat-sangat terlambat! Sudah tambah dua lagi anak gadis kampung yang kehilangan keperawanannya. Dilihatnya Mila yang bajunya acak-acakan tengah memeluk Dewo dengan penuh kemesraan, bagaikan sepasang kekasih saja layaknya. Nurmah ikut-ikutan memeluk, ketiganya saling membelai dan berciuman, merapatkan tubuh masing-masing dengan begitu eratnya.

”Sialan!” Bayu mengutuk kebodohannya. Ia memaki panjang pendek dalam hati. Kalau begini percuma, Dewo sudah melaksanakan niat jahatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.

Namun ia tidak menyerah. Bayu mencoba mengerahkan ilmunya, mengumumkan kehadirannya kepada Dewo. Siapa tahu dengan begitu Dewo jadi waspada dan melepaskan kedua mangsanya. Dan benar saja, Dewo tiba-tiba celingukan curiga. Perasaannya yang peka mendeteksi adanya ancaman.

”Hei, sebaiknya kalian pulang dulu.” katanya kepada Nurmah dan Mila.

”Kenapa? Kita baru main satu kali.” balas Nurmah enggan.

”Iya, saya masih belum puas merasakan enjotan kontol Paman Dewo.” timpal Mila sambil menggelayut manja.

Dewo segera menyingkirkan tubuh keduanya. ”Aku ada urusan penting,” sahutnya pendek sambil meraih celananya dan mengenakannya kembali.

Tahu kalau Dewo serius, dengan mendengus kecewa kedua gadis itu ikut merapikan baju masing-masing. Dari tempatnya mengintip, Bayu tersenyum gembira. Dibiarkannya Nurmah dan Mila berlalu sebelum dia keluar dari tempat persembunyiannya untuk menantang Dewo bertarung. Sudah cukup bukti baginya untuk menghentikan sepak terjang laki-laki tua itu.

Namun baru saja akan meloncat, Bayu dikejutkan oleh suara seseorang. ”Hei, kita berjumpa lagi,”

Bayu langsung menoleh. Ternyata Salamah, gadis itu sudah berdiri di sebelahnya. Di bibirnya yang tipis tersungging senyum semringah penuh kebahagiaan. Bayu segera menariknya turun, mengajaknya ikut berjongkok agar tidak dipergoki oleh Dewo. Semua rencananya jadi berantakan sekarang. Kehadiran Salamah membuatnya jadi mengurungkan niat untuk menyerang Dewo. Bisa-bisa gadis itu jadi terlibat dalam masalah kalau Bayu memaksa untuk bertarung sekarang.

”Eh, kok kamu bisa berada disini?” tanya Bayu dengan heran.

Salamah tertawa dan menjawab, ”Tadinya aku ingin menjemput Nurmah yang tidak pulang-pulang sehabis mencuci baju di sungai. Eh, aku malah melihatmu disini. Ya aku hampiri saja. Memangnya kamu lagi mengintip apaan sih?” tanyanya penasaran.

Bayu segera menghalangi pandangan gadis itu, memberi waktu bagi Nurmah dan Mila untuk berlalu dari tempat itu. Ia tidak ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Salamah. ”Bukan apa-apa. Aku hanya lagi menjerat burung untuk dimakan.” Bayu berkilah.

”Oh… kukira apaan,” Salamah terkekeh. ”Kalau lapar, ke rumahku saja. Masakanku enak lho.” tawarnya sungguh-sungguh.

”Terima kasih, mungkin besok atau nanti malam.” Bayu menggaruk perutnya.

”Aku juga terima kasih, atas pertolonganmu kemarin. Kalau saja kau tidak datang, mungkin Dewo s-sudah…” Salamah tidak sanggup meneruskan perkataannya.

”Ah, aku hanya kebetulan lewat.” kata Bayu merendah.

”Tapi aku benar-benar berterima kasih.” sahut gadis itu. ”oh iya… kalau boleh tahu, apa tujuanmu datang kemari?”

Bayu tidak langsung menjawab, tampak berpikir untuk sejenak. ”Aku pengangguran. Dimana kakiku melangkah, disitulah aku menuju.” sahutnya diplomatis.

Salamah tersenyum mendengarnya. Mata Bayu yang memandangnya tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. ”Aku senang bisa mengenalmu.”

Bayu menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. ”Aku juga.”

Salamah hendak menyibakkan tangan si pemuda, tapi tak jadi karena saat itu Bayu membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari darah di tubuh Salamah ketika bibir pemuda itu mulai mengecup bibirnya. Kemudian tangan yang lain dari si pemuda mengusap mukanya. Salamah diam saja. Juga masih diam ketika tangan Bayu meluncur turun ke bawah lehernya.

”B-Bayu… a-apa yang kau lakukan?” bisik Salamah setengah merintih.

Pemuda itu menyeringai. ”Kau cantik, Salamah…”

”K-kau… juga… tampan…” balas Salamah lirih.

Tidak banyak tanya lagi, Bayu segera menuntun tubuh gadis montok itu ke gubuk di tengah sawah. Saat itu Dewo sudah kembali ke perkampungan, hingga hanya tinggal desau angin dan burung-burung pipit yang menyaksikan bagaimana kedua insan yang berlainan jenis itu mulai melepas baju masing-masing.

Bayu merengkuh tubuh Salamah dan merebahkannya di atas lantai kayu. Bibirnya yang tipis mulai ia lumat pelan-pelan, sementara bulatan payudaranya ia remas-remas ringan. Salamah mengadakan perlawanan dengan mengimbangi kuluman Bayu, sambil diselingi dengan permainan lidahnya yang nakal. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman, Salamah sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiran Bayu.

”Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?” tanya Bayu heran.

Gadis itu mengangguk malu-malu. ”Sebenarnya aku sudah menikah siri, tapi suamiku sekarang lagi kerja ke luar pulau. Ngumpulin duit buat biaya nikah resmi nanti.”

”Kalau begitu kita tidak boleh melakukannya,” Bayu segera menjauhkan tubuh Salamah.

”Kenapa?” Salamah memprotes. ”Aku ikhlas melakukannya.”

”Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” Bayu tidak ingin menjadi seperti Dewo yang suka mengembat istri orang.

”Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin.” kata Salamah.

”Masih ada banyak cara untuk berterima kasih,” sahut Bayu. Pandangan matanya menerawang ke hamparan sawah yang mulai menguning, tidak ingin melihat Salamah yang masih terduduk dengan tubuh setengah telanjang.

”Kalau aku hanya ingin membalasnya dengan cara ini?” tantang gadis itu.

Bayu tidak menjawab. Hanya tangannya yang bergerak, menyuruh Salamah agar memakai pakaiannya kembali. Tapi gadis itu menepisnya.

”Lihat aku.” Salamah berteriak. ”Kalau kau tidak mau, lebih baik aku menyerahkan tubuhku kepada Dewo!”

Ancaman itu membuat Bayu langsung menoleh. Ditatapnya wajah cantik itu. ”Jangan! Jangan lakukan itu!”

”Kalau begitu, sentuh tubuhku!” pinta Salamah tegas, ”tidak tahukah kau betapa aku kesepian semenjak ditinggal pergi oleh suamiku?” lirihnya memelas.

Bayu terdiam, namun tak urung matanya kembali menjelajahi tubuh bugil Salamah yang kini hanya tinggal mengenakan jilbab dan celana dalam saja. Buah dada gadis itu yang tidak terlindungi bra terlihat bergerak turun-naik seiring dengan tarikan napasnya. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat begitu segar dan telah sepenuhnya mengeras.

”Kumohon… biarkan aku membalas budi baikmu,” Salamah kembali berkata.

Tanpa menunggu persetujuan Bayu, jari-jari tangannya mulai membuka ikatan celana pemuda tampan itu. Salamah memandangi dada Bayu yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontol Bayu yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalam. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak panas.

Situasi itu membuat Bayu jadi tidak bisa mundur lagi. ”Maafkan aku,” Perlahan ia pun mendekat dan memeluk tubuh mulus Salamah yang sudah terduduk pasrah. Kembali ia kulum bibir gadis itu dengan hangat dan mesra.

Salamah mengimbanginya. Dia memeluk leher Bayu sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dada pemuda itu. Payudara itu terasa begitu kenyal dan lembut. Putingnya yang telah mengeras terasa benar-benar kaku dan menggelitik, membuat keduanya saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

”Hmm…” Ciuman Bayu kini pindah ke leher jenjang Salamah. Dengan sedikit menyingkap jilbab gadis itu, terpancar keharuman parfum Salamah yang begitu segar dan menggairahkan.

Salamah mendongakkan dagunya agar Bayu dapat menciumi segenap pori-pori di kulit lehernya. ”Ahh… aku sudah menginginkan ini dari kemarin.” rintih gadis itu. “Gelutilah tubuhku… puaskan aku!” bisik Salamah terpatah-patah.

Bayu menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahnya bergerak ke arah payudara gadis itu. Payudara Salamah begitu menggembung dan padat, namun berkulit sangat lembut seperti bayi. Bayu menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudara itu, kemudian menggesek-gesekkan wajahnya di sana. Bergantian hidungnya menghirup keharuman yang terpancar dari kulit payudara Salamah. Puncak bukitnya yang kanan ia lahap masuk ke dalam mulutnya. Bayu menyedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutnya menjadi semakin banyak.

Salamah kontan menggelinjang. ”Auw! Jangan keras-keras… ngilu!” rintihnya.

Namun gelinjang dan rintihan gadis itu semakin membangkitkan hasrat Bayu. Diremasnya bukit payudara sebelah kiri Salamah dengan gemasnya, sementara puting yang kanan ia mainkan dengan ujung lidahnya. Puting itu kadang juga digencetnya dengan tekanan ujung lidah dan gigi. Kemudian secara mendadak disedotnya lagi kuat-kuat. Sementara jari tangannya menekan dan memelintir puting payudara yang kiri. Salamah semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah rindu.

”Aduh… sshh… ngilu, Bayu… shh… geli!” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulutnya yang merangsang.

Bayu yang tidak puas hanya dengan menggeluti payudara kanan, kini mulutnya berganti menggeluti yang kiri, sambil tangannya meremas-remas keduanya secara kuat. Kalau payudara yang kiri ia sedot kuat-kuat, tangannya memijit-mijit dan memelintir puting yang kanan. Sedang bila gigi dan ujung lidahnya menekan-nekan puting kiri, tangannya meremas sebesar-besarnya payudara Salamah yang kanan. Begitu terus berganti-ganti.

”Bayu, kamu nakal… ssh… hhh…” Membuat Salamah jadi tiada henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, Bayu meneruskan permainan lidahnya ke arah perut Salamah yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutnya berhenti di daerah pusar gadis itu. Ia berkonsentrasi mengecupi disana, sementara kedua telapak tangannya menyusup ke belakang dan meremas-remas pantat Salamah yang melebar dan menggembung padat. Kedua tangan Bayu menyelip ke dalam celana merah muda tipis yang melindungi pantat itu, dan perlahan-lahan memelorotkannya ke bawah. Salamah sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan bagi Bayu. Dengan sekali sentakan, celana dalam itupun sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang sungguh luar biasa merangsang. Jembut Salamah sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna merah tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusar, tangan Bayu mulai mengelus-elus paha Salamah yang berkulit licin dan mulus. Elusan itu semakin merambat ke dalam dan merangkak naik, hingga sampailah jari-jari tangan Bayu di tepi kiri-kanan bibir luar memek Salamah. Perlahan pemuda itu mengelus-elusnya dengan dua jari, bergerak dari bawah ke atas.

”Ahh… Bayu!” Dengan mata terpejam, Salamah berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau sangat menikmati permainan ini.

Perlahan Bayu menyibak bibir memek Salamah dengan ibu jari dan telunjuknya sampai kelentit gadis itu menongol keluar. Wajahnya kemudian bergerak kesana, sementara tangannya kembali memegangi payudara Salamah yang bergetar-getar indah. Bayu menjilati kelentit Salamah perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tangannya mempermainkan puting payudara gadis itu.

”Auw! Bayu… shh… betul… di situ… enak… shh…” Salamah mendesah-desah sambil matanya merem-melek keenakan. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas dan ke bawah mengimbangi gerakan merem-melek matanya. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Bayu sudah akan meneruskan permainan lidahnya dengan melakukan jilatan-jilatan panjang, saat lamat-lamat didengarnya suara langkah kaki mendekat. Spontan ia menghentikan jilatan dan mendongak untuk mengintip, sementara satu tangannya membungkam mulut Salamah agar berhenti bersuara.

”Ssst… ada orang kesini,” katanya berbisik.

Salamah segera duduk meringkuk sambil berusaha membenahi pakaiannya yang acak-acakan. Tidak jauh dari gubuk tempat dimana mereka berada, tampak seorang lelaki berperawakan gendut dengan peci putih melangkah tertatih-tatih menyusuri pematang sawah. Sekali lihat saja, Salamah sudah bisa menebak kalau itu adalah Haji Tohir.

Gawat! Kenapa ayahnya menyusul kemari?

PIPIT

Lelaki bertubuh kecil itu menyelinap diam-diam. Bilik kecil itu gelap, tapi ia sudah hafal sudut-sudutnya. Tangannya kini meraih handel laci meja dan perlahan menariknya. Dengan senter kecil, disorotinya selembar kertas dari dalam sebuah map. Tertulis di atasnya sejumlah nama. Dilipatnya kertas itu dan dimasukkan ke balik jaketnya.

”Penyusup!” kata-kata itu menggema di benaknya.

Ya, Faiz, lelaki itu, sadar betul. Ia adalah penyusup, mata-mata! Ia bekerja untuk militer, mengamat-amati aktivitas rakyat. Dua tahun sudah ia menyusup ke tempat ini, menyamar sebagai santri. Dua tahun cukup baginya untuk mendapat kepercayaan dari para pengasuh pondok di kawasan terpencil itu. Karena itu pula, ia bebas masuk ke sejumlah ruangan yang terlarang bagi banyak santri lainnya.

Sore tadi, ia bahkan bertugas menyiapkan minuman untuk sebuah pertemuan. Ia yakin ini pertemuan yang sangat rahasia. Sejumlah pengurus pondok hadir. Ia juga melihat orang-orang yang tampaknya lama tinggal di hutan, turut hadir. Orang-orang ini dilihatnya meletakkan senjata-senjata AK-47 di sudut ruangan.

Sambil menyiapkan minuman, Faiz leluasa mendengarkan pembicaraan mereka. Sangat jelas baginya, mereka tengah membicarakan rencana penyerbuan ke sebuah pos militer, pekan depan. Usai pertemuan, mereka semua bergegas pergi. Faiz sempat mendengar pimpinan pondoknya berpamitan kepada istrinya.

”Kira-kira seminggu kami pergi,” kata lelaki itu.

Seluruh rencana sudah terekam dalam benak Faiz. Tinggal satu yang belum, nama-nama mereka yang hadir. Daftar hadir di selembar kertas itulah yang kini dikantonginya.

“Aku harus segera mengabari markas,” ujarnya dalam hati sambil perlahan beranjak ke luar ruangan.

Namun baru saja memegang handel pintu, mendadak ia mendengar suara rintihan. Faiz berhenti sejenak. Itu rintihan seorang perempuan. Begitu jelas dan lebih mirip desahan. Faiz melupakan sejenak rasa cemasnya. Ia berbalik memasuki ruang dalam. Desahan itu begitu merangsangnya. Ia terus mendekat ke arah sumber suara di salah satu kamar.

Faiz tahu pasti, malam ini cuma seorang perempuan muda yang tinggal di rumah itu. Perempuan itu, Nurfitri, istri salah seorang pengasuh pondok. Faiz biasa memanggilnya dengan Ustazah Pipit. Pintu kamar Pipit hanya tertutup sehelai kain korden. Perlahan Faiz menyingkapkan korden itu.

Kamar Pipit tak cukup terang. Tapi kedua mata Faiz yang sejak tadi terbiasa dengan kegelapan dapat melihat dari arah samping, sesosok tubuh perempuan tampak duduk di ranjang dengan bersandar di dinding. Perempuan itu hanya mengenakan daster tipis. Rambutnya yang lebat terurai ke bawah bahu.

Faiz belum pernah melihat Pipit dalam keadaan seperti itu. Sehari- hari, ia hanya bisa melihat sepasang mata Pipit dari celah cadar yang dipakainya. Pakaiannya pun semacam jubah panjang yang menutupi sekujur tubuhnya.

Meski demikian, Faiz yakin perempuan itu adalah Pipit. Darah mudanya bergelora saat pertama kali melihat wajah perempuan itu. Perempuan itu begitu cantik. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis. Faiz makin tegang manakala melihat Pipit tengah meremas-remas kedua payudaranya dari luar daster. Dari bibirnya yang tipis keluar rintihan. Kepalanya mendongak.

Pipit baru sekitar tiga tahun menikah dan belum punya anak. Suaminya sangat sibuk di luar pondok. Mungkin karena itu, nafkah batinnya tak sepenuhnya terpuaskan.

Faiz melotot. Entah kapan Pipit melakukannya. Yang jelas, di depannya terlihat perempuan itu telah mengeluarkan sebelah payudaranya. Cukup besar. Dalam cahaya remang-remang, bagian indah itu tampak berkilauan. Pipit terus meremas dan merintih. Kini ia bahkan menarik-narik putingnya.

Faiz dengan tegang menanti adegan berikutnya saat dilihatnya Pipit menarik bagian bawah dasternya hingga ke pinggang. Kedua kakinya yang menekuk kini terlihat jelas. Faiz belum dapat melihat sasaran yang amat dinantinya karena posisinya terhalang kaki Pipit yang indah. Tapi dilihatnya sebelah tangan Pipit kini menetap di pangkal pahanya. Rintihan Pipit makin menggairahkan. Di sela rintihannya terdengar ia menyebut nama suaminya.

Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Faiz cepat bersembunyi di tempat yang aman. Suasana ruangan yang remang-remang memudahkan ia menemukan tempat sembunyi yang aman.

“Kak… Kak Pipit…” suara seorang gadis remaja terdengar.

Faiz melihat lampu di kamar Pipit menyala terang. Lalu kepala Pipit menyembul dari balik korden. Ia kini telah mengenakan jilbabnya. “Ada apa?” katanya.

“Pintu depan kok tak dikunci?”

“Masak? Tadi perasaan sudah kukunci. Iya lah, nanti kukunci.”

“Ya sudah, Kak. Aku balik ke kamar dulu.”

Pipit pun mengantar adiknya keluar. Lalu dikuncinya pintu rumah. Sepeninggal adiknya, Pipit kembali masuk ke kamarnya. Faiz pun berjingkat kembali ke tempat pengintaiannya. Lelaki itu bersorak dalam hati melihat Pipit tak mematikan lampu. Karena itu, ia kini dapat melihat dengan jelas suasana di dalam kamar.

Pipit masih mengenakan dasternya, tetapi kini berjilbab. Perempuan itu menghadapi sebuah kaca yang pantulannya membuat Faz dapat melihat wajah perempuan itu.

Pipit tampaknya belum terpuaskan dengan masturbasinya tadi. Di depan kaca, ia mulai kembali meremas payudaranya. Disampirkannya jilbab hitamnya yang panjang sampai pinggul ke belakang pundaknya. Dari kaca kini terlihat sepasang gundukan yang montok berlapis daster tipis.

Faiz mengusap pangkal pahanya yang mulai membengkak. Dilihatnya Pipit meremas-remas kedua payudaranya dengan mata terpejam. Dari bibirnya mulai terdengar suara merintih. Entah bagaimana awalnya, daster Pipit tahu-tahu sudah melorot ke lantai.

Faiz melotot. Pipit kini terlihat sangat menggairahkan dengan jilbab di kepalanya, namun di bagian bawah hanya bra dan celana dalamnya yang tersisa.

“Terus… terus…” Faiz berharap dalam hati. Dan harapannya terwujud.

Kedua tangan Pipit menekuk ke belakang dan melepaskan pengait bra-nya. Begitu terlepas, dilemparnya bra itu ke ranjang. Lalu, perempuan itu menunduk, melepas celana dalamnya. Faiz menahan napas. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal melihat perempuan yang sangat dihormatinya kini hanya mengenakan jilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Tubuh Pipit amat sempurna. Putih, mulus dan sangat proporsional. Dari cermin di hadapannya, Faiz bisa melihat sepasang payudara Pipit yang lumayan besar tapi kencang. Pangkal pahanya nyaris mulus, karena hanya sedikit bulu tumbuh di situ.

Pipit kembali meremas-remas kedua payudaranya. Kedua putingnya dipilin-pilin dan ditarik-tariknya sendiri. Sementara dari bibirnya terdengar desahan makin keras diselingi suaranya menyebut nama suaminya.

Tangan kiri Pipit masih sibuk merangsang payudaranya ketika tangan kanannya bergeser turun dan berhenti di pangkal pahanya. Faiz melihat perempuan muda itu mulai meremas-remas kemaluannya. Pinggulnya yang bundar bergoyang-goyang perlahan.

Pipit kini agak menungging. Tangan kirinya berpegangan meja rias di depannya. Ia berdiri dengan kedua kaki melebar. Faiz melotot melihat dari belakang jemari Pipit bermain di kemaluannya sendiri. Sangat jelas terlihat, jari tengah Pipit keluar masuk celah vaginanya. Desahan Pipit makin keras. Tubuhnya terlihat mengkilap oleh keringat.

Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan langsung menelungkup. Posisi kakinya tepat menghadap Faiz. Karenanya, pandangan Faiz jadi makin jelas. Ia bisa melihat bagian dalam bibir vagina Pipit yang berwarna pink, membuka dan mengatup saat kini dua jarinya menusuk-nusuk makin cepat dan makin dalam.

Tiba-tiba Pipit membalik lagi. Kini ia berbaring dengan kedua kaki menekuk dan mengangkang luas. Makin jelas lagi bagi Faiz dapat melihat vagina Pipit yang basah dan kedua jarinya yang juga basah, terus keluar masuk dengan begitu cepat.

“Ahh… ahh… ouhh… Kakak… ouhh…” tiba-tiba tubuh Pipit menegang. Punggungnya melengkung diiringi rintihan panjang. Tampak ia berusaha menusukkan kedua jarinya sejauh mungkin sampai akhirnya tubuhnya ambruk ke ranjang. Sesekali terlihat lonjakan-lonjakan kecil, sisa-sisa terpaan orgasmenya.

Faiz terus memandangi Pipit yang kini terkulai lemas kehabisan tenaga di ranjangnya. Kakinya lurus, masih mengangkang luas. Tangannya tergeletak di sisi tubuhnya.

Sepuluh menit kemudian, Faiz melihat gerakan dada Pipit yang membusung, makin teratur. Melihat aksi Pipit tadi, Faiz yang semula hanya bermaksud mencuri dokumen mulai merancang tindakan lain. Dipasangnya topeng skinya, hingga kini hanya kedua matanya yang terlihat. Dengan jantung berdegub Faiz mengecek apakah Pipit sudah betul-betul tertidur. Diraihnya saklar lampu di dekat pintu. Ditekannya dan kamar pun gelap gulita. Lalu dihidupkannya lagi. Dilihatnya Pipit tak bereaksi.

“Bagus, sekarang waktunya,” katanya dalam hati sambil mulai berjingkat memasuki kamar.

Faiz kini berdiri di sisi ranjang. Dipandanginya perempuan yang dihormatinya itu sambil tersenyum licik. Pipit masih tampak anggun dengan jilbabnya yang agak kusut. Di bagian bawah, sepasang payudaranya yang amat putih dan mulus tampak menantang untuk dijamah. Kedua putingnya hanya berupa tonjolan kecil berwarna agak gelap dengan wilayah areola yang sempit.

Makin ke bawah, dilihatnya perut yang rata dan pinggang yang ramping. Lalu, sedikit di atas vaginanya adalah bagian yang ditumbuhi sedikit rambut kemaluan. Di bagian pangkal kedua pahanya yang mulus, Faiz melihat vagina yang gemuk dengan kulit kemerahan bekas diremas-remas. Bibir vaginanya tampak rapat, agak basah.

Faiz meraih bra Pipit dan menciumnya. Diambilnya juga daster Pipit di lantai. Dengan belatinya, disobeknya daster hijau itu menjadi potongan panjang. Lalu, perlahan diangkatnya tangan kiri Pipit ke atas kepalanya. Pipit tetap tak bereaksi. Ia tidur begitu pulas setelah kepuasan yang tadi diperolehnya.

Perempuan itu terus diam saat pergelangan tangan kirinya diikat dengan bra ke kaki ranjang. Faiz lalu beralih ke tangan kanan Pipit dan berhasil mengikat pergelangannya dengan potongan daster ke kaki ranjang pada sisi yang berseberangan.

Faiz puas memandangi hasil kerjanya. Kedua tangan Pipit yang terangkat membuat payudaranya makin membusung indah. Faiz kini melepas celananya, membebaskan penisnya yang sejak tadi menegang. Perlahan ia naik ke atas ranjang dan berlutut mengangkangi bagian dada Pipit. Perempuan itu masih terpejam.

Faiz menyentuh puting kanan Pipit dengan ujung penisnya. Gesekannya menimbulkan rasa geli yang makin menaikkan gairah mudanya. Dilakukannya hal yang sama pada puting kiri dan ditekannya hingga kini kepala penisnya tenggelam di kekenyalan payudara Pipit.

Faiz berhenti sejenak ketika merasakan kepala penisnya diselimuti ehangatan. Diperhatikannya perempuan itu mengerutkan dahinya dan mulai menggerakkan kepalanya. Faiz kini menjepit kedua puting Pipit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Perlahan mulai memilin-milinnya dan menariknya menjauh.

”Auw… ah…” dari bibir Pipit mulai terdengar rintihan pelan. Faiz memperkeras jepitannya dan mempercepat frekuensi pilinannya.

“Ouhh… ngghh… aduhh… Ap-apa ini… aaa… mmffff…” Pipit tiba-tiba membelalakkan matanya ketika Faiz dengan gemas menjepit kedua putingnya keras-keras sambil menariknya sejauh mungkin ke atas.

Namun jerit kesakitan dan keterkejutan Pipit langsung terbungkam. Sebab, saat bibir mungilnya terbuka, Faiz langsung menyumpalkan celana dalam perempuan itu ke mulutnya sendiri. Pipit panik dan menendang-nendang. Ia takut dan malu luar biasa melihat seorang lelaki di atas tubuhnya yang terikat dan telanjang.

“Tak usah teriak kalau tak ingin tetekmu ini kutikam,” ancam Faiz dengan suara yang diubahnya.

Pipit merintih kesakitan. Faiz mencengkeram payudara kirinya dan menekan ujung belatinya vertikal tepat di ujung putingnya.

“Saya akan tarik keluar celana dalam di mulut Ustazah. Tapi janji, Ustazah tak akan berteriak. Setelah itu, saya akan beri Ustazah pengalaman yang tak kan terlupakan. Janji?” desis Faiz.

Pipit yang ketakutan langsung menganggukkan kepalanya. Faiz lalu melepaskan sumpal di mulutnya itu.

“Ooh… jangan… jangan perkosa saya…” ucap Pipit begitu mulutnya terbebas.

“Tak usah banyak cakap. Sekarang kulum ini! Awas kalau sampai
tergigit!”

”Auw!” Pipit memekik ketika Faiz menyodorkan penisnya dan langsung memaksa untuk mengulumnya. Mau tak mau perempuan itu melakukan hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

Faiz seperti kesetanan. Kedua tangannya memegangi bagian belakang kepala Pipit yang berjilbab hitam. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat dan kasar. Pipit mengerang-erang. Ia ingin muntah dan kesulitan bernapas. Apalagi Faiz kemudian berhenti dengan ujung penis yang terasa menyumbat kerongkongannya. Hidung mancung Pipit tenggelam di kerimbunan rambut kemaluan Faiz.

Pipit panik merasakan penis Faiz berdenyut dan sedetik kemudian menyemburkan cairan yang kental, hangat dan beraroma menjijikkan. Tapi apa daya, Pipit tak kuasa melakukan apapun kecuali menelan sperma Faiz yang memenuhi rongga mulutnya.

Pipit terisak ketika akhirnya Faiz menarik keluar penisnya yang lemas. Ia tak sadar Faz merekam close up wajahnya dengan pen cam, memperlihatkan seputar bibirnya yang bernoda sperma.

Tapi Faiz belum berhenti. Ia kembali menyumpal mulut Ustazah Pipit dengan celana dalamnya sendiri. Perhatiannya kemudian tertuju pada sepasang payudara Pipit yang putih mulus. Begitu putihnya, sampai terlihat pembuluh darahnya yang berwarna biru kehijauan di balik kulit payudaranya. Faz kini dengan lembut meremas-remas gundukan daging kenyal itu. Sesekali disentuhnya kedua puting Pipit dengan ujung jarinya.

Pipit mulai kembali terdengar merintih. Sesekali terlihat Pipit bergidik. “Mmmfff… mmmffff…” Pipit merintih lagi saat lidah Faiz menyapu kedua putingnya berganti-ganti dengan gerakan memutar. Ujung lidah Faiz pun menyentil-nyentil tonjolan kecil yang mulai mengeras itu.

Lalu dengan gerak agak mengejutkan, Faiz melahap salah satu puting Pipit dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan. Pipit sampai mendongakkan kepalanya menahan perasaan persis seperti saat ia masturbasi tadi. Apalagi kemudian terasa pangkal pahanya diremas-remas. Faiz masih terus menghisap kedua puting Pipit berganti-ganti sambil jari tengahnya menekan klitoris Pipit dengan gerak berputar-putar.

Di tengah ketakutannya, Pipit sekuat tenaga melawan desakan dari bawah sadarnya untuk menikmati perlakuan lelaki yang tengah menindihnya itu. Tapi ia tak kuasa melawannya. Kerinduannya pada belaian suaminya tergantikan oleh perbuatan lelaki asing ini.

Pipit makin terlena saat lidah Faiz menelusuri kulitnya dari celah antara kedua payudaranya, terus ke pusar dan akhirnya berhenti di pangkal pahanya. Dari semula mengerang kesakitan, dari bibir Pipit kini justru keluar rintihan penuh kenikmatan. Bahkan napasnya makin memburu ketika Faiz menguakkan liang vaginanya lebar-lebar, sejenak memandanginya dan kemudian menyapu bagian dalamnya dengan lidah.

Tubuh Pipit menggigil, tanpa sadar ia mengangkat pinggulnya seolah menyodorkan kepada Faiz untuk dijilat habis-habisan. “Nghh… nghh… mmmff…” desahan Pipit makin keras terdengar. Faiz kini menyedot klitorisnya, seperti yang dilakukannya pada puting perempuan alim itu.

Faiz paham, Pipit segera mencapai orgasmenya. Tepat sedetik sebelum Pipit meledak dalam kenikmatan, ia berhenti. Dua jarinya langsung mencubit kuat-kuat klitoris Pipit. Pada saat bersamaan, sebelah puting Pipit digigitnya agak keras, sedang puting satunya dijepitnya dengan ibu jari dan telunjuknya, amat kuat.

Pipit yang tengah berada di awang-awang seolah dibanting keras-keras. Kenikmatan yang hampir sampai puncak, kembali berganti dengan rasa sakit luar biasa. Ia pun mengerang panjang tanda kesakitan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di ujung puting yang dijepit terlihat setitik darah.

Pipit masih kesakitan ketika akhirnya Faiz menempatkan dirinya di antara kedua pahanya. Kembali rintih kesakitan terdengar dari bibir Pipit. Penis Faiz tanpa ampun langsung menerobos vagina Pipit sedalam-dalamnya. Kalau saja mulutnya tidak tersumpal, ia pasti sudah menjerit sejadi-jadinya. Vaginanya yang jarang dimasuki oleh suaminya masih terlalu rapat untuk ukuran penis Faiz yang besar.

Pipit sudah terlalu lelah untuk melawan. Kedua kakinya hanya mampu menendang-nendang lemah ke udara. Sementara Faiz seperti kesetanan terus menghunjamkan penisnya ke vagina perempuan idamannya itu.

“Eungghh… ngghh… mmmff…” Pipit hanya bisa merintih panjang saat Faiz menyedot kuat-kuat putingnya yang berdarah. Sementara puting satunya pun dipilin dan dijepit kuat-kuat hingga menitik darah di pucuknya. Lalu, puting yang satu inipun mendapat gilirannya, disedot kuat-kuat.

Dari kedua mata indah Pipit menetes air bening. Tubuhnya terguncang hebat ketika Faiz akhirnya mencengkeram kedua payudaranya sampai ke pangkal dan menjadikannya seperti tali kekang kuda, sementara ia terus mendorong penisnya keluar masuk vagina dengan cepat dan kasar.

“Aaaagghhhhh…” terdengar suara Faiz agak keras saat akhirnya testisnya menumpahkan muatannya lewat batang penisnya, langsung memenuhi rongga vagina Pipit.

Pipit merasa vaginanya amat pedih. Maka, semburan sperma Faiz yang panas pun membuatnya makin tersiksa. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya tersengal-sengal, apalagi tubuh Faiz yang berat masih menindihnya. Perlahan Pipit merasakan penis Faiz mengecil dan akhirnya lelaki itu bangkit. Faiz kemudian menarik kain jilbab Pipit dan mengelap penisnya yang berlumur sperma dengan kain itu.

“Aku akan melepas ikatanmu, tapi jangan coba-coba bertindak bodoh,” bisik Faiz mengancam. “Mengerti?!” lanjutnya sambil mencengkeram payudara kiri Pipit.

Perempuan itu mengangguk. Faiz pun langsung melepaskan ikatan di tangan Pipit dan menarik keluar celana dalam yang menyumpal mulutnya. Begitu ikatan terlepas, Pipit langsung membenahi jilbabnya yang panjang untuk menutupi tubuhnya. Faiz membiarkannya. Namun ia kemudian menyuruh wanita itu bangkit dan menggiringnya ke kamar mandi.

Di kamar mandi, Faiz menyuruh Pipit membuka jilbabnya. Pipit menolak, tetapi akibatnya Faiz mencengkeram sebelah payudara yang tertutup jilbabnya sambil menempelkan belatinya ke pipi perempuan itu. Akhirnya, sambil terisak, Pipit melepas juga jilbabnya.

Faiz terpana. Pipit yang kini telanjang bulat itu tampak makin menggairahkan. Rambutnya yang panjang digulung hingga menampakkan leher yang jenjang. Kulit Pipit begitu putih. Di bagian dalam kedua pahanya yang mulus tampak mengalir spermanya.

“Mandi!” perintah Faiz.

Kali ini, tanpa diperintah dua kali, Pipit langsung mandi. Ia memang segera ingin membersihkan seluruh tubuh, terutama kemaluannya. Tapi ia merasa malu luar biasa. Bahkan, suaminya pun tak pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini.

Di luar dugaan Pipit, Faiz pun membuka seluruh pakaiannya, kecuali topeng skinya. Disuruhnya Pipit menyabuni penisnya. Sementara Faiz sendiri mulai menyabuni kedua payudara Pipit sambil menarik-narik putingnya. Pipit merintih ketika Faiz menyabuni selangkangannya. Apalagi, dua jari Faiz memaksa masuk ke situ.

Usai mandi, Pipit agak lega karena Faiz menyuruhnya berpakaian, bahkan lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Melihat Pipit kembali dalam keadaan yang biasa dilihatnya sehari-hari, Faiz makin bergairah. Didorongnya perempuan itu merapat ke dinding. Diremasnya kuat-kuat kedua payudara Pipit dari luar busananya. Tangan Faiz pun bergerak turun dan mencengkeram pangkal paha Pipit dari luar jubah hitamnya.

“Ohhh… sudah… jangan lakukan lagi…” Pipit mengiba-iba ketika Faiz memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap dinding.

Dari belakang, Faiz masih meremas-remas kedua payudara dan pangkal pahanya. Pipit merasakan kedua kakinya direnggangkan, lalu jubahnya diangkat ke atas. Pipit terisak, tangan Faiz kini berada di balik jubahnya dan langsung meremas lagi kedua payudaranya. Kali ini, bahkan mendorong ke atas branya hingga sepasang buah dadanya keluar dan langsung digenggam kedua tangan besar Faiz.

Faz seperti tergila-gila dengan payudara perempuan itu. Tak bosan-bosannya ia meremas, mencengkeram, menarik dan memelintir putingnya. Pipit kini menangis dan sesekali memekik ketika ulah Faz menyakiti bukit payudaranya.

“Oooh… tidak… tidak… jangan lagi…” rintih Pipit ketika merasakan tangan Faiz menyelinap ke balik celana dalamnya, mempermainkan vaginanya seperti bocah bermain tanah liat. Sesekali Pipit memekik karena Faiz dengan nakal menarik rambut kemaluannya yang tak seberapa banyak. Tubuh perempuan bercadar itu gemetar. Ia merasakan bagian belakang celana dalamnya disingkapkan. Lalu, ada tangan yang menarik dua gundukan pantatnya ke arah berlawanan.

“Aaakkhhh…” Pipit mengerang. Vaginanya sekali lagi diterobos penis Faiz yang seolah tak pernah puas.

Disetubuhi dari belakang membuat Pipit sangat tersiksa. Apalagi, kali ini Faiz lama sekali tak juga selesai. Sebelah kaki Pipit kini diangkat lelaki itu dan Faiz terus menyarangkan penisnya ke segala arah di dalam vagina perempuan cantik itu. Tubuh Pipit terus tergoncang-goncang dan akhirnya ia terjatuh dalam posisi merangkak. Hebatnya, penis Faiz masih tetap menancap di dalam liang vaginanya.

Pemandangan di dalam kamar itu sungguh luar biasa. Seorang perempuan dengan jilbab, cadar dan jubah serba hitam, merapatkan pipinya di lantai, sementara pinggulnya yang terbuka mendongak ke atas. Di belakangnya, lelaki bugil tengah menyetubuhinya.

Faiz tampaknya hampir selesai. Ia menggerakkan pinggulnya seperti kesetanan dan tangannya mencengkeram keras pantat Pipit yang besar. Pipit menahan sakit dengan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.

“Aaarrrgghhhhh…” Faiz mengerang keras sambil mendorong penisnya sejauh mungkin ke dalam liang vagina Pipit. Setelah sekian kali, spermanya masih tetap tersembur, menyakiti bagian dalam vagina Pipit yang terluka.

Pipit pun memekik kesakitan dan tubuhnya ambruk, hingga kini ia masih telungkup ditindih Faiz. Pemerkosa dan korbannya itu sama-sama terengah-engah. Pipit merasakan penis Faiz di dalam vaginanya perlahan menciut, hingga kini tinggal bagian kepalanya yang terjepit vaginanya. Akhirnya Pipit merasakan penis Faiz yang kini lemas, terlepas dari vaginanya, bersamaan dengan mengalirnya sperma Faiz dari dalam vaginanya.

TIba-tiba Faiz membalikkan tubuhnya. Kini Pipit terbaring telentang dan Faiz pun sudah mengangkangi wajahnya setelah sebelumnya menyingkapkan cadar hitamnya. Pipit memalingkan wajahnya saat melihat penis Faiz yang mengkerut, betul-betul basah kuyup oleh cairan kental.

“Bersihkan dengan lidah!” perintah Faiz.

Pipit tak bisa menolak, apalagi belati Faz diacungkan di depan wajahnya. Sambil menahan mual, dijilatinya penis Faz sampai bersih. Faiz kemudian menutup kembali wajah perempuan itu dengan cadar. Faiz beringsut mundur. Dijumputnya kain jubah di bagian dada Pipit dan dengan belatinya disobeknya bagian itu. Akibatnya, sepasang payudara Pipit terbuka, tepat di bagian putingnya.

“OK, aku sudah selesai. Kamu tak akan ceritakan ini pada siapapun bukan? Tak ada orang akan percaya dan kamu akan malu sendiri,” kata Faiz sambil memilin-milin puting Pipit.

“Di samping itu, aku akan datang lagi kapanpun aku ingin bercinta denganmu. Kamu akan menerimaku dengan kehangatan bukan? Katakan ya dan aku akan segera pergi,” kata Faiz sambil menjepit kedua puting Pipit agak keras.

“Aduh… aduh…. ya… iyaa…” Pipit cepat-cepat menjawab.

Faiz tersenyum dan langsung bangkit, mengenakan pakaiannya kembali dan pergi meninggalkan korbannya. Pipit masih meringkuk di lantai, terisak-isak menyesali nasibnya.

MURTI 11 : NINGSIH

Jam lima sore, Gatot pulang tanpa bersama Pak Camat. Ia pulang bersama seorang pegawai kantor, sementara Pak Camat entah kemana. Ia tidak menuju rumah Murti, tapi langsung ke rumahnya sendiri. Gatot melihat ada keramaian di depan rumahnya, tepatnya di rumah yang sudah seminggu ini kosong tak berpenghuni. Ah, mungkin ada orang baru yang menempati rumah itu. Gatot melihat banyak warga membantu menurunkan perkakas dari empat truk.

“Ada penduduk baru, Pak?” ia bertanya pada seorang warga yang kebetulan melintas.

“Penduduk baru tapi muka lama, Tot. Keluarganya si Ningsih.” jelas si tetangga. “Ayo ikut bantu, Tot.” ajak tetangga itu lagi.

Gatot urung masuk rumah dan bersama para waRga beramai-ramai membantu. Gatot sempat melihat Ningsih tapi sangat sibuk. Begitupula si Bejo yang cuma tersenyum kepadanya. Gatot senang karena Bejo dan keluarganya telah kembali ke komplek. Ia jadi punya teman sebaya.

menjelang maghrib, semua perkakas sudah selesai diturunkan dan empat buah truk itu juga sudah pergi. Barulah Gatot bisa menghampiri Bejo. “Hei, Jo, kenapa nggak bilang kalau mau balik ke komplek?” tanyanya.

“Kejutan. Ayo ikut aku, Tot. Kukenalkan ke istriku.” ajak Bejo.

Gatot ikut Bejo masuk ke dalam rumah yang masih berantakan. Di dalam, ia langsung disambut dengan akrab oleh keluarga Bejo. Gatot bersyukur semua masih ingat padanya, masih bersikap baik padanya seperti dulu. Beberapa tahun silam, mereka memang bertetangga, jadi wajar kalau kemudian jadi akrab. Memang ada tambahan orang baru yaitu istrinya Bejo.

Namun karena sudah maghrib, Gatot lekas mohon diri. “Mainlah ke rumah, Jo. Aku pulang dulu ya,”

“Itu pasti, Tot. Ini dari Mbak Ningsih buat kamu.” kata Bejo memberikan sebuah bungkusan.

“Mana Ningsih?” Gatot bertanya.

“Masih mandi. Nanti juga pasti ke rumahmu,” Bejo tersenyum.

“Terima kasih ya,” Gatot melambaikan tangan.

“Sama-sama, Tot.” Bejo mengangguk.

Gatot kembali pulang. Sesampainya di dalam rumah, ia mendapati Aisyah sedang sibuk di dapur. Gatot segera membuka baju yang penuh keringat lalu mendekati Aisyah, namun tidak terlalu dekat karena khawatir Aisyah akan terganggu oleh bau badannya. Aisyah menoleh dan tersenyum sebentar lalu kembali sibuk dengan masakannya.

“Masak apa, Aisyah?” tanya Gatot.

“Ini, sayur lodeh, Mas. Kok baru pulang?” tanya Aisyah.

“Iya, Aisyah, tuh masih membantu orang baru pindah. Gantian pakai kompornya ya? Aku mau masak juga.” kata Gatot.

“Tidak usah, Mas. Ini saya masak juga buat Mas Gatot.” jawab Aisyah. ”Mending mas mandi saja. Sebentar lagi maghrib lho,” ia mengingatkan.

“Kamu sudah mandi?” tanya Gatot.

“Belum, Mas.” jawab Aisyah.

“Pantas kamu bau,” canda Gatot.

“Mas Gatot yang bau,” balas Aisyah sambil tersipu malu. Gatot paling suka melihat wajah Aisyah seperti itu. “Mas Gatot pergi sana. Nanti merusak rasa masakanku.”

“Nanti malam jalan-jalan yuk, Aisyah.” Gatot berkata.

“Tapi habis makan malam ya?” Aisyah menyanggupi.

“Iya, aku kan belum ngerasain masakanmu enak apa tidak. Aku mandi dulu ya,”

Aisyah memukul Gatot dengan gagang sutil. Gatot ingin balas memukul tapi urung setelah teringat bahwa Aisyah terlalu murni untuk disakiti. Aisyah tidak sama dengan wanita-wanita lain. Cukuplah kekhilafannya dulu saat Aisyah tertidur pulas. Gatot tidak akan mengulanginya lagi sebelum Aisyah benar-benar resmi menjadi miliknya. Gadis itu terlalu suci untuk dicemari.

Selesai mandi dan sholat maghrib, Gatot duduk menunggu Aisyah sambil menonton tv. Telinganya menangkap suara-suara halus bersenandung dari kamar mandi. Terdengar sangat merdu, membuat Gatot mengecilkan volume tv dan menajamkan telinga untuk mendengar senandung itu lebih jelas lagi, senandung merdu yang menyejukkan hati. Sayang sekali senandung itu berhenti dan pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

“Mas Gatot, kesini sebentar.” panggil Aisyah.

“Ada apa, Aisyah?” Gatot berjalan menghampiri.

“Gotnya buntu ya, Mas. Airnya nggak jalan tuh,” kata Asiyah menunjuk selokan kamar mandi.

“Biar saya perbaiki. Kamu pergi saja,” sahut Gatot.

“Saya bantu, Mas, biar cepat. Saya juga belum selesai mandi.” kata Aisyah.

Gatot memang melihat Aisyah belum menyelesaikan mandinya karena air di lantai kamar mandi penuh akibat saluran pembuangan yang buntu. Ia membungkuk untuk memeriksa, Aisyah juga ikut jongkok untuk membantunya. Gatot menahan hasrat hati demi melihat bagian-bagian tubuh Aisyah yang tidak cukup terlindungi. Handuk yang membungkus tubuh Aisyah terlalu pendek. Dan Aisyah jongkok tepat dihadapannya, sama sekali tidak berusaha untuk menutupi sebagian buah dadanya.

“Aisyah! Berdiri!” Gatot memberi perintah demi menjaga kemurnian gadis itu. Ia tidak tega melihat dan menyaksikan seluruh bagian bawah tubuh Aisyah yang terpamoang jelas di hadapannya. Gatot tidak ingin tergoda kembali.

“Maaf, Mas!” kata Aisyah sambil berdiri dan pindah ke belakang Gatot, membuat Gatot jadi sedikit lega. Dan lebih lega lagi karena got selesai di perbaiki.

“Beres. Kamu bisa lanjutkan mandimu, Aisyah. Oh ya, nyanyi yang agak keras ya?” kata tersenyum menggoda.

Aisyah mengancam Gatot dengan segayung air, membuat Gatot lari terbirit-birit sebelum Aisyah menjalankan aksinya. Senandung suara Aisyah kembali terdengar dan terus terdengar meski Aisyah sudah selesai mandi dan kini ada di dalam kamarnya. Gatot menyimak senandung itu dengan hati ragu.

Sebelum keraguan hatinya terjawab, Aisyah sudah muncul. Mereka makan bersama dengan cepat karena ada acara yang akan mereka adakan. Malam ini Gatot dan Aisyah akan jalan-jalan. Memang masih jalan-jalan biasa, tapi siapa tahu itu akan jadi awal dari sesuatu yang luar biasa.

“Sudah siap, Aisyah?” tanya Gatot.

“Sudah, Mas. Ayo berangkat. Mumpung belum terlalu malam.” Aisyah mengangguk.

“Kamu cantik sekali, Aisyah.” Gatot menatap gadis itu tak berkedip.

“Mas Gatot bisa saja. Gombal ah.” Aisyah langsung tersipu malu. ”Ini kontak motornya.” ia memberikannya pada Gatot tanpa menoleh. Gatot hanya tersenyum saja melihatnya.

Mereka pun pergi meninggalkan komplek naik motor. Malam yang mendung tidak menyurutkan keinginan dua insan itu untuk mencoba mendekatkan hati. Walaupun tidak ada tujuan pasti mana yang harus mereka datangi. Mereka hanya ingin jalan-jalan, bukanlah untuk kencan. Gatot merasa sudah terlalu tua untuk kencan layaknya anak-anak muda. Ia bukan lagi anak remaja. Pun demikian Aisyah yang juga seorang wanita dewasa. Keinginan untuk bersenang-senang mungkin sudah tidak ada. Makanya mereka berputar-putar saja keliling pusat kota.

“Kemana enaknya, Aisyah?” tanya Gatot di tengah perjalanan.

“Ke stadion saja yuk, Mas. Sepertinya enak duduk santai disana.” kata Aisyah.

“Kamu tidak takut? Disana sangat sepi, Aisyah.” sahut Gatot.

“Kan saya bersama Mas Gatot. Pasti aman,” yakin Aisyah.

Gatot bukannya takut untuk datang dan nongkrong malam-malam di stadion. Daerah sepanjang stadion memang sangat sepi dan paling sering terjadi kejahatan. Mulai dari pemalakan, pemerasan, perampokan, sampai pemerkosaan, sudah berkali-kali terjadi di sana. Dan sampai sekarang tempat itu masih gelap, lampu-lampu banyak yang hilang dicuri orang yang butuh uang. Dulu Gatot juga sering mencuri apa saja dari stadion. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia sudah kapok dan tobat.

Sampai juga di stadion. Gatot membantu Aisyah turun dari motor lalu berjalan beriringan menuju sebuah bangku panjang. Disanalah mereka duduk berdua. Angin malam yang dingin langsung menerpa. Gatot membuka jaketnya dan mengenakan ke tubuh Aisyah untuk memberi rasa hangat.

“Saya belum tahu banyak tentangmu, Aisyah.” kata Gatot membuka pembicaraan.

“Saya ini hanya wanita desa, Mas. Tidak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita kota.” jawab Aisyah.

”Ceritakan tentang keluargamu, Aisyah.” Gatot meminta.

Ia menyimak cerita Aisyah. Gatot sudah tahu kalau Aisyah adalah anak Pak Asnawi. Yang ia baru tahu adalah tentang Pak Asnawi itu sendiri. Menurut cerita Aisyah, Pak Asnawi dulunya juga pria yang bergelimang dosa. Dari Aisyah masih kecil sampai Aisyah beranjak remaja, Pak Asnawi masih seorang penjahat terkenal. Tapi menjelang Aisyah masuk SMA, Pak Asnawi berubah menjadi sosok yang pendiam dan semakin alim setelah menunaikan ibadah haji.

Sejak itu orang tidak lagi mengingat Pak Asnawi sebagai penjahat. Orang-orang kemudian lebih mengenang kedermawanan Pak Asnawi. Sampai akhirnya menjadi kepala desa Cemorosewu. Aisyah sama sekali tidak menceritakan atau memang tidak tahu cerita kalau ayahnya juga seorang pembunuh dan pemerkosa. Ironisnya korban pemerkosaan dan pembunuhan Pak Asnawi adalah ibu kandung Gatot. Dan kini Pak Asnawi mungkin sudah menerima hukuman setimpal di alam kubur setelah anak dari si korban menuntut balas dendam. Hutang nyawa dibayar nyawa dan hutang itu kini terbayar lunas.

“Itulah cerita keluargaku, Mas. Selanjutnya Mas Gatot tahu sendiri kalau ummiku kawin lagi.” kata Aisyah mengakhiri ceritanya.

“Saya kagum dengan ayahmu, Aisyah. Dari penjahat kemudian tobat. Sedangkan ayahku entah dia tobat atau belum.” gumam Gatot.

“Mas Gatot yang sabar saja. Setiap rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.” balas Aisyah bijak.

“Kamu benar, Aisyah.” Gatot mengangguk. ”Dingin ya?” ia bertanya.

“Iya, Mas. Tapi tak apa,” Aisyah tersenyum karena hatinya terasa hangat bisa bersama orang yang dikasihi.

Gatot merengkuh bahu Aisyah dan gadis itu tidak menolak. Gatot merasakan getar yang tak biasa, bukan nafsu, tapi lebih kepada rasa sayang. Ia ingin memberi perlindungan kepada Aisyah. Dan bersama dengan Aisyah, Gatot seakan sedang bersama Zulaikha, mantan istrinya. Ia mengelus kepala Aisyah yang terbalut kerudung. Sangat terasa sekali hempasan napas Aisyah, hingga membuat Gatot jadi merinding.

“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, Aisyah.” Gatot berbisik.

“Maksud Mas Gatot?” tanya Aisyah tak mengerti.

“Kamu mengingatkanku pada Zulaikha, mantan istriku. Dia sama sepertimu, Aisyah.” jawab Gatot.

“Selagi Mas Gatot masih ingat mantan istri, berarti ada harapan suatu saat Mas pasti bertemu lagi dengannya.” sahut Aisyah.

“Aku selalu berharap seperti itu, Aisyah.” Gatot mengaku. ”Sepertinya gerimis. Mau pulang sekarang?” tanyanya kemudian sambil melihat langit.

“Iya. Ayo pulang, Mas.” angguk Aisyah.

Namun mereka tidak benar-benar pulang, lebih tepatnya mereka hanya meninggalkan stadion. Hujan sudah terlalu deras dengan disertai angin kencang.

“Berteduh di loket itu saja, Mas.” kata Aisyah sambil menunjuk sebuah bangunan loket di pintu masuk stadion.

Karena cukup jauh, praktis mereka harus berlari untuk bisa sampai, otomatis pula mereka basah kuyup. Gatot sudah biasa, tapi tidak demikian dengan Aisyah; gadis itu menggigil dengan wajah pucat.

“Pasti nanti kamu masuk angin, Aisyah.” kata Gatot kuatir.

“Sekarang saja perutku sudah mual, Mas.” Aisyah berkata lirih.

“Jadi bagaimana, mau memaksa pulang?” tanya Gatot.

“Sudah kepalang basah, mandi sekalian, Mas. Pulang saja.” Aisyah memutuskan.

Gatot tidak punya pilihan selain membonceng Aisyah pulang. Jalanan benar-benar sepi. Tidak ada satupun kendaraan ataupun manusia yang berani menantang hujan selain mereka berdua.

“Pegangan yang erat, Aisyah.” Gatot memberi perintah.

Ketika dirasakan lengan Aisyah sudah melingkar erat di pinggangnya serta tubuh gadis itu melekat di punggungnya, ia menggeber gas kuat-kuat untuk melesat kencang menembus tajamnya rinai-rinai hujan. Di tengah jalan, Gatot merasa menabrak sesuatu. Namun karena terlalu gelap, ia tidak bisa melihat apa itu. Terlalu riskan untuk mengerem disaat laju motor seperti jet. Aisyah sendiri semakin merapatkan tubuhnya.

Sesampainya di rumah, Gatot segera membopong tubuh Aisyah yang semakin lemah tak berdaya. Celakanya lagi, kamar Aisyah ternyata bocor. Gatot pun terpaksa membawa Aisyah ke kamarnya sendiri.

“Kupanggilkan dokter ya, Aisyah.” kata Gatot panik. Setelah membaringkan Aisyah, ia bermaksud keluar untuk mencari dokter.

Tapi Aisyah mencekal lengannya, menahan langkahnya. “Tidak usah, Mas. Saya minta tolong dikerokin saja.” kata gadis cantik itu.

“Tapi, Aisyah…” seru Gatot bimbang.

“Saya percaya Mas Gatot tidak akan menyakiti saya. Tolong ya, Mas,” pinta Aisyah pelan dan melas.

“Baiklah, Aisyah.” Gatot akhirnya mengangguk setuju. ”terima kasih kamu percaya padaku.”

Aisyah pun berbalik tengkurap, memasrahkan punggungnya untuk dikerok oleh Gatot. Anehnya, Gatot sama sekali tidak merasakan birahi kali ini. Padahal ia bebas memandangi tubuh mulus Aisyah dengan begitu rupa. Mungkin ini karena pengaruh benih kasih yang mulai tumbuh. Hingga membuat Gatot hanya merasa iba hati melihat Aisyah yang pasrah sedemikian rupa kepada dirinya.

Gatot bersumpah tidak akan menyakiti Aisyah. Aisyah juga sadar sepenuhnya membuka bajunya yang basah dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, sementara bagian atas dari kepala sampai pinggul dibiarkan telanjang. Gatot mulai mengerok punggung Aisyah sementara Aisyah hanya bisa meronta-ronta kecil. Untuk pertama kalinya, Gatot menang saat berperang melawan setan. Setan jahanam yang menggoda imannya ia berantas sampai tuntas, sampai tidak ada lagi setan yang berani mengganggunya.

“Jangan meronta terlalu keras, Aisyah. Nanti selimutmu jatuh.” kata Gatot.

Aisyah menahan selimut dengan kedua tangannya agar tidak jatuh, agar tidak mengundang nafsu Gatot. punggung yang awalnya putih mulus semurni susu, kini berubah warna menjadi garis-garis merah. Belum selesai dikerok, Aisyah sudah lebih dulu muntah, mengeluarkan isi perutnya.

“Kerok sampai bawah, Mas. Anginnya mulai keluar.” kata Aisyah dengan tubuh gemetar.

Gatot mengikuti alur punggung Aisyah sampai bawah, terpaksa menyingkap sedikit selimut gadis itu agar bisa mengeroki hingga pangkal paha. Hingga selesai sudah.

Aisyah berbalik telentang dengan keringat bercucuran. Gatot membetulkan tali kutang Aisyah tanpa sedikitpun menyentuh buah dada yang membuncah indah itu. Namun ia perlu meminta ijin untuk memasangkan celana panjang. Aisyah sudah memasang sendiri celana dalamnya dari balik selimut. Aisyah tersenyum mengangguk.

“Sekarang tidurlah, Aisyah. Biar panasmu turun.” kata Gatot penuh rasa lega.

“Mas Gatot tidur saja disini. Saya ikhlas, Mas.” balas Aisyah.

“Baiklah, Aisyah. Selamat tidur ya,” Gatot berbisik lirih.

Ia pun membaringkan diri disamping Aisyah dan membiarkan gadis itu membenamkan kepala ke dadanya. “Aisyah, ya, Aisyah… sungguh sempurna dirimu!” batin Gatot dalam hening. Aisyah mungkin sudah terlarut dalam mimpi karena tidak bergerak sama sekali saat Gatot mencium keningnya. Ciuman yang menjadi penghantar tidur malam itu.

***

Pagi-pagi sekali Gatot sudah menghadap Pak Camat. Ia hendak membicarakan keputusan maha penting yang telah dipertimbangkan masak-masak sejak semalam. Tapi Pak Camat sudah berangkat kerja ke kantor shubuh tadi, begitu yang disampaikan Murti kepadanya.

“Lho, kupikir Mas Joko berangkat bareng kamu, Tot?” kata Murti heran.

“Tidak, Mur. Ini malah aku ingin ketemu dan bicara dengan Pak Camat.” sahut Gatot.

“Mas joko sudah pergi. Aku saja yang istrinya tidak tahu jam berapa suamiku berangkat,” ketus Murti seperti biasa.

Semakin bulat saja keputusan Gatot. Pak Camat semakin sering berangkat kerja sendiri, semakin tidak membutuhkannya lagi. Terhitung sudah sebulan ini Pak Camat tidak menggunakan tenaganya lagi. Gatot yakin Pak Camat memang punya maksud tersembunyi.

“Mungkin kamu bisa sampaikan padaku, Tot. Nanti kuteruskan ke Mas Joko.” kata Murti.

“Tidak, Mur. Biar aku bicara langsung dengan Pak Camat.” kata Gatot.

“Ada masalah apa antara kamu dengan Mas Joko? Ayo ceritakan saja,” Murti mendesak.

“Sama sekali tidak ada masalah, Mur.” Gatot menggeleng. ”Kamu bersiap saja. Kutunggu di mobil ya,” iapun pergi keluar.

“Tot!” Murti memanggil.

Gatot tidak mempedulikan panggilan itu. Tentu saja sikapnya ini membuat Murti jadi kelabakan dan berpikir ada apa gerangan. Murti gelisah dan takut kalau-kalau suaminya membuat masalah yang menyebabkan Gatot marah. Murti khawatir karena bisa saja suaminya celaka. Bagaimanapun, Gatot adalah mantan bajingan dulu. Dengan hati gamang, Murti meneruskan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum mandi. Setengah jam kemudian, iapun sudah siap dan menyambar tasnya lalu menghampiri Gatot.

“Ayo jujurlah, Tot. Jangan membuatku takut,” desak Murti di dalam mobil.

“Mur, sudah kubilang berkali-kali, masa kamu tidak dengar? Tidak ada apa-apa antara aku dan suamimu. Titik!!!” hardik Gatot tiba-tiba.

Murti langsung mengkerut dibentak begitu oleh Gatot. Ia sama sekali tidak menduga Gatot akan begini emosi. Tidak seperti hari-hari biasanya. Tidak ada tawa dan canda, malah suasana mencekam yang terasa. Murti dicekam berbagai rasa yang membuatnya tidak sanggup lagi berkata-kata. Sampai tiba di tempatnya kerja, Gatot tak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Wajah Gatot dilihatnya murung dan bingung. Yakinlah Murti bahwa memang ada yang tidak beres.

“Tunggu sebentar, Tot. Aku mau ikut kamu ke kantor kecamatan.” kata Murti tiba-tiba.

Barulah saat itu Gatot menoleh agak kaget. Tapi Murti keburu keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Gatot terpaksa menunggu sesuai perintah Murti. Belum sempat Gatot menenangkan diri, Murti telah kembali lagi.

“Ayo berangkat, Tot.” kata istri Pak Camat itu.

“Tapi, Mur…” Gatot terlihat bimbang.

“Berangkat!!!” potong Murti cepat.

Kini giliran Gatot yang kaget dibentak oleh Murti. Namun ia harus segera berangkat sebelum Murti bertindak nekad. Perjalanan terasa lama dan membosankan. Gatot merutuk dalam hati kenapa ia harus membuat Murti sakit hati. Pasti Murti marah oleh sikapnya hari ini yang serba kaku.

“Maafkan aku, Mur.” kata Gatot sambil terus menyetir.

“Sudah kumaafkan,” balas Murti ketus.

“Belum. Kamu masih marah kan?” tanya Gatot.

“Aku memang marah. Tapi bukan padamu, Tot.” terang Murti.

“Syukurlah. Senyum dong,” Gatot berusaha mencairkan suasana.

Murti tersenyum sekedar menyenangkan hati Gatot. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan dan tidak menoleh kemana-mana sampai tiba di kantor kecamatan.

“Perlu kuantar sampai dalam?” tawar Gatot.

“Tidak usah. Biar aku sendiri saja.” Murti melangkah memasuki paseban kantor dan terus menyusuri koridor hingga berhenti di depan ruang kerja suaminya. Ia mengetuk pintu tiga kali lalu mendorong perlahan pintu sampai terbuka. Murti masuk dan berdiri terpaku. Tidak ada nampak suaminya. Tentu kedatangannya yang mendadak membuat kalang kabut pegawai yang ada di ruangan itu.

“Selamat pagi, Bu Camat,” kata beberapa pegawai menyambut kedatangannya. Sementara sebagian pegawai yang lain berbisik-bisik.

Murti tidak peduli bisik-bisik itu. “Selamat pagi juga. Mana Pak Camat?” tanyanya kaku.

“Waduh, Bu. Pak Camat malah belum datang,” kata salah seorang pegawai.

“Jadi Pak Camat belum ngantor?” tanya Murti mulai was-was.

“Pas Kami datang, Pak Camat tidak ada, Bu. Tapi coba ibu tanyakan ke Dewi.” kata pegawai itu.

“Baiklah. Terima kasih.” Murti mengangguk. ”Dewi, kumohon ikut aku sebentar saja.” ia memanggil gadis itu.

“Baik, Mbak Murti.” jawab Dewi penuh kebingungan.

Murti membawa Dewi menuju mobil dan disanalah ia menginterogasi Dewi dengan beragam pertanyaan yang berfokus pada seputar kegiatan Pak Camat. Gatot hendak keluar tapi Murti memintanya tetap di dalam. Jadilah Gatot ikut mendengar perbincangan antara Murti dan Dewi.

“Benarkah suamiku belum ke kantor?” tanya Murti.

“Benar, Mbak.” Dewi mengangguk.

“Aneh, padahal Pak Camat sudah berangkat sejak shubuh tadi.” Murti tampak berpikir keras.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu, Mbak.” kata Dewi.

“Kamu pernah bilang memergoki mobil suamiku di perumahan residence. Bisakah kamu jelaskan lebih detil?” tuntut Murti.

“Oh itu. Memang benar. Seingat saya waktu itu mobil Pak Camat ada di rumah paling ujung blok A.” jawab Dewi.

“Kamu kenal pemilik rumah itu?” tanya Murti.

“Tidak, Mbak. Mungkin Gatot tahu karena pasti dia pernah ngantar Pak Camat kesana.” Dewi menoleh pada Gatot.

“Percuma minta informasi ke Gatot. Dia sudah kongkalikong dengan suamiku.” ketus Murti sengit. Gatot hanya diam saja disindir seperti itu.

“Saya mohon Mbak Murti tidak melibatkan saya. Kamu juga, Tot. Jangan bilang apa-apa ke Pak Camat ya?” hiba Dewi memelas.

“Aku jamin aman, Dewi. Aku malah berterima kasih. Sekarang kembalilah bekerja.” Murti mempersilakan.

Dewi meninggalkan Murti dan Gatot. Kini Murti sudah menemukan titik terang. Yang justru bimbang adalah Gatot. Sekarang Gatot tahu dari siapa Murti tahu soal perumahan residence. Ternyata dari Dewi yang membeberkan semuanya. Mungkin Dewi tidak tahu bahwa keterus-terangannya pada Murti telah menciptakan prahara besar. Dewi telah memberi petunjuk yang bisa mengarahkan kecurigaan Murti. Gatot pusing memikirkan apa jadinya kalau Murti sampai minta diantar ke perumahan residence. Bahaya kalau Murti sampai nekad kesana.

“Aduh! Kepalaku pusing, Mur.” Gatot mengeluh secara tiba-tiba.

“Pusing? Bagaimana ini?!” Murti jadi panik.

“Kuantar dulu kamu ke sekolah ya? Setelah itu aku mau pulang. Tolong bilang ke Pak Camat.” Gatot berkata terbata-bata.

“Kamu sanggup? Jangan memaksakan diri, Tot. Nanti kecelakaan lagi. Aku bisa naik ojek dari sini.” kata Murti.

“Biar kuantar kamu dulu.”

Sesungguhnya itu hanya alasan Gatot saja untuk terbebas dari Murti. Ia pura-pura pusing dan berhasil dengan sukses. Setelah mengantar Murti, iapun kembali ke kantor kecamatan untuk menaruh mobil kemudian pulang menumpang motor Dewi yang kebetulan hendak keluar juga.

Sementara itu Murti segera meminjam motor Aisyah dan minta ijin ke kepala sekolah untuk bebas tugas hari ini. Ia sudah bulat dan memutuskan untuk pergi ke perumahan residence seorang diri karena Gatot tidak bisa mengantar. Ia harus mendapat kepastian dan kebenaran tentang gosip dan isu-isu yang selama ini berkembang. Ia mulai termakan oleh gosip itu, juga oleh bisik-bisik yang didengarnya dari pegawai kantor kecamatan.

***

Sementara itu di sebuah rumah mewah…

Seorang wanita berbody montok terlihat keluar dari kamar mandi dan kelihatan segar dengan kaos kutang kuningnya dipadu dengan celana pendek motif bunga yang bagian pahanya terlihat longgar. Pak Camat yang dari tadi duduk di ranjang, sekarang pindah selonjoran di lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Wanita itu pun duduk di sebelahnya, ikut selonjoran.

”Enak nggak, Mas, kopinya?” tanya Ayu membuka percakapan.

”Yah lumayan lah, kemanisan dikit.” sahut Pak Camat sambil lengannya sengaja menyenggol daging kenyal yang membusung indah di dada perempuan cantik itu.

”Ihh, nakal ah!” kata Ayu diiringi kerlingan matanya yang nakal.

”Eh, kamu nggak pake bh ya?” Pak Camat pura-pura kaget, padahal dalam hati tersenyum senang sekali.

Ayu hanya tersenyum penuh arti. ”Nggak suka ya, hmm?” kata-katanya begitu menantang gairah kelelakian Pak Camat.

Sebagai jawabannya, Pak Camat meraih kepala perempuan cantik itu kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibirnya yang tipis. Ayu pun membalas dengan penuh gairah dan tanpa dikomando, tangan Pak Camat mulai menjalar ke arah buah dadanya.

”Hmm… jangan, Mas,” kata Ayu setengah hati.

Pak Camat pun menjawabnya dengan setengah berbisik, ”Kalau jangan, trus ngapain kamu nggak pake BH, hayo?”

Wanita itu hanya membalas dengan mencubit perut Pak Camat. ”Nakal…!” kata Ayu manja tapi tidak berusaha menepis tangan Pak Camat atau ciuman mesra laki-laki itu.

Nafsu setan yang sudah membelenggu keduanya membuat Pak Camat melanjutkan lagi jelajahan tangannya, ia kini mulai menelusup ke balik kaos longgar yang dipakai oleh Ayu. Karena di balik kaos itu Ayu sudah tidak mengenakan apa-apa, maka tanpa kesulitan tangan Pak Camat bisa meraih bulatan daging kembar yang tumbuh subur disana. Buah dada Ayu walau sudah sering dipegang, masih terasa kencang dan kenyal dalam genggaman. Apalagi puting di puncak bukit itu, masih terasa kaku dan tegap kala terjepit di sela-sela jari, layaknya masih perawan saja.

Karena tidak sabar, Pak Camat segera menarik kaos Ayu ke atas hingga terpampanglah tonjolan buah dada perempuan perusak rumah tangga itu dengan begitu jelasnya. Bentuknya bulat dan padat, dengan puting mungil berwarna pink menghiasi puncaknya yang kuning kemerahan. Tak tahan, dengan penuh nafsu, Pak Camat mengarahkan kepalanya kesana. Sambil terus meremas-remas, ia mengecup kedua payudara Ayu yang bulat besar dengan menggunakan mulutnya.

”Uhh… geli, Mas.” Ayu berbisik pelan.

”Susumu empuk,” sahut Pak Camat sambil jemari tangan kirinya terus memilin puting payudara perempuan cantik itu hingga jadi semakin mencuat kemerahan, sedang mulutnya mengecupi yang satunya lagi.

Diperlakukan seperti itu, tentu membuat desahan nikmat Ayu semakin terdengar keras. Wanita itu menggeliat geli sambil memegangi kepala Pak Camat yang terus menyusu di bulatan payudaranya. Apalagi saat perlahan namun pasti, tangan Pak Camat mulai turun ke arah perutnya dan terus ke arah pangkal pahanya.

”Mas… udah ah, nggak usah ke bawah-bawah segala!” bisik Ayu sambil tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanan Pak Camat. Tapi apalah arti tangan sekecil itu melawan tangan kekar yang sudah dilanda nafsu birahi, dengan mudah Pak Camat bisa menyingkirkannya.

”Pagi-pagi aku kesini, tentu untuk merasakan yang ini, Sayang.” sergah laki-laki itu sambil mengarahkan jari-jari tangannya ke arah paha Ayu dan terus menerobos masuk ke selangkangan melalui bagian celana pendek Ayu yang terbuka longgar.

”Tapi, masa harus tiap pagi?” Ayu mencoba bertahan untuk yang terakhir kali.

”Bersamamu, tiap jam aku juga mau!” Sekarang mulut Pak Camat berpindah ke arah leher Ayu yang putih jenjang, ia menghisap lembut disana hingga meninggalkan beberapa bekas cupang merah.

”Ahh…” Ayu hanya bisa mendesah ketika jemari Pak Camat mulai menyentuh secarik kain yang sudah basah, yang masih menutupi bagian terlarang tubuh sintalnya. Laki-laki itu menyusupkan jarinya kesana dan sedetik kemudian merasakan kebasahannya yang mengalir deras.

”Ouhh… Mas!!” akhirnya Ayu menyerah saat Pak Camat mulai membelai mesra bibir vaginanya, atau memang sebenarnya dia sudah sangat bernafsu, sehingga mengharapkan tangan Pak Camat beraksi lebih jauh lagi.

Mengetahui hal itu, dengan perlahan Pak Camat segera menyusupkan jari tengahnya ke lorong kemaluan Ayu yang sudah terasa licin sambil ibu jarinya memainkan sebentuk biji mungil di bagian atas, itu adalah klitoris Ayu yang sudah menonjol kaku.

”Auwhh…” Ayu hanya bisa merintih keenakan begitu jemari Pak Camat semakin menusuk ke dalam, menerobos lubang vaginanya. Sementara tangannya seperti refleks, segera meremas batang kemaluan Pak Camat yang masih tersimpan rapi di balik celana pantalon.

”Cepet amat sih? Belum apa-apa udah banjir.” kata Pak Camat mengomentari liang kewanitaan Ayu yang sudah begitu basah dan lengket.

”Hehe,” Ayu hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi, lalu berkata pelan, ”Lepas aja, Mas, celanaku yang basah itu!”

Tidak menjawab, Pak Camat segera melakukannya. Ayu membantu dengan sedikit menaikkan pinggulnya yang bulat dan besar. Begitu celana pendek itu terlepas, Ayu menatap Pak Camat dengan pandangan sayu, ”Udah? Yang ini nggak dilepas juga?” Ayu menunjuk celana dalamnya.

Pak Camat tertawa, lalu dengan terampil segera memelorotkan juga celana dalam itu. Begitu terlepas, Pak Camat segera menciuminya. Melihat hal itu, kontan Ayu memprotes, ”Apa-apaan sih, Mas? Jorok deh ih! Ketimbang nyiumin yang itu, kenapa nggak yang aslinya aja dicicipin?” katanya sambil mengangkangkan kaki lebih lebar lagi, memamerkan belahan vaginanya yang sudah merekah indah kepada Pak Camat.

”Boleh! Siapa Takut? Lagian, udah lama kayaknya aku nggak ngerasain lendir kamu.” kata Pak Camat sambil tersenyum penuh arti.

Ayu menanggapi dengan tersenyum nakal, ”Iya nih, udah lama kayaknya mulut dan lidah Mas Joko nggak nengok punyaku.”

Mendengar kata-kata erotis itu, birahi Pak Camat jadi semakin terbakar. Cepat ia rebahkan tubuh montok Ayu di karpet, ia tekuk kedua kaki perempuan itu ke atas hingga terlihat lubang kawahnya yang menganga indah, membuat Pak Camat jadi semakin bergairah karenanya. Tanpa membuang waktu, iapun mengarahkan kepala ke daerah itu.

”Auh…” pekik Ayu saat Pak Camat mulai menciumi rambut halus yang tumbuh di daerah pubisnya. Lidah laki-laki itu menjalar ke bawah, mengikuti garis di lipatan pangkal pahanya.

Untuk memudahkan aksinya, Pak Camat memposisikan tubuh dengan tengkurap, sementara kedua tangannya menyusup di bongkahan pinggul Ayu, mengangkatnya hingga lubang kemaluan Ayu sejajar tepat di depan wajahnya. Dengan posisi seperti itu, sekarang ia jauh lebih leluasa menggarap semua bagian selangkangan perempuan cantik itu.

”Ahss…” pelan lidah Pak Camat mulai menyapu bagian bibir luar kemaluan selingkuhannya diiringi erangan nikmat dari mulut Ayu. Sambil tetap tangannya menyangga pinggul perempuan itu, ibu jari Pak Camat mencoba membuka lebih lebar liang kemaluan Ayu yang sudah merekah indah. Kemudian mulai menjulurkan lidah menelusup masuk ke bagian dalamnya yang sempit.

Perlahan Pak Camat menjelajahi bagian demi bagian pada lubang kemaluan Ayu. Dari mulai lubang pantatnya, kemudian naik terus melalui lorong surga milik kekasihnya ini. Hingga terdengar rintihan lirih keluar dari mulut manis Ayu, ”Ouff… shh… yah, terus, Mas… yah begitu… itilku dong dijilat! Ouww…”

Sesuai permintaan, Pak Camat segera memainkan klitoris Ayu yang mencuat ke depan seolah mengharapkan sebuah sentuhan. Dari hanya menjilat dan menyentil, mulutnya mulai menghisap biji mungil itu hingga perlahan rintihan Ayu berubah menjadi jeritan kecil penuh kenikmatan.

”Iya… begitu Mas… aduh… ouhh… enak… Mas Joko pinter banget sih… tahu aja yang Ayu suka… jangan berhenti… terus emut itilku, Mas!”

Pak Camat terus menjilati belahan lubang kemaluan yang sedikit terkuak itu dengan irama yang teratur, menelusuri lembah dan celah-celah di seantero lubang kemaluan Ayu. Aroma harum vagina yang khas semakin tajam menusuk hidungnya, semakin membuatnya mabuk kepayang dan bergairah. Terlihat dinding luar kemaluan Ayu yang semakin basah dan lengket, terasa gurih di lidah Pak Camat. Juga biji klitorisnya, terlihat semakin membesar dan tambah memerah, seolah mau meledak menahan gejolak nafsu birahi si empunya.

10 menit sudah berlalu dan tangan Pak Camat sudah terasa pegal menyangga bobot tubuh Ayu. Namun dengan penuh semangat ia terus mempercepat irama hisapannya hingga terdengar erangan dan rintihan Ayu yang semakin panjang. Nafas wanita itu juga terlihat memburu kencang, tubuhnya kelojotan, sementara gerakan pinggulnya menjadi semakin liar, seolah mengejar kenikmatan yang sebentar lagi datang menyerang.

”Ouw… nikmatnya… terus, Mas! Ooh… sedikit lagi… ssh… ouh… aduh, enak banget!” desah Ayu semakin keras. Dan beberapa detik kemudian, seerr… seerr… seerr… menyemburlah cairan bening yang sudah ditunggu-tunggu oleh Pak Camat.

Dengan penuh nafsu, Pak Camat segera menghisap dan menghirupnya dalam-dalam, terasa hangat dan gurih sekali saat mengalir memenuhi rongga mulutnya. Pak Camat langsung menelan semuanya, tidak membiarkan setetes pun luput dari hisapannya.

Terlihat bibir kemaluan Ayu jadi tambah memerah. Benda itu sepertinya juga berdenyut-denyut kencang, menandakan detik-detik dimana Ayu sedang mengalami masa orgasmenya. Satu menit berlalu, namun Pak Camat terus giat menjilati sisa-sisa cairan Ayu yang masih menetes mengalir keluar menyusuri belahan liang vaginanya.

”Ouhh… Mas… aduh… bener-bener deh… aku puas banget! Ouh…” puji Ayu di akhir puncak kenikmatannya. Sambil merapikan pakaiannya yang sudah acak-acakkan, dia kemudian bertanya, ”Mas, apa kamu nggak jijik, itukan kotor…”

”Eh, siapa bilang? Kamu aja suka nelen pejuhku. Ya sekali-kali kita gantian lah.” sahut Pak Camat sambil tertawa.

”Ok, berarti sekarang giliranku ya?” tanya Ayu polos.

Sebelum Pak Camat sempat menjawab, ia sudah mengarahkan tangan ke selangkangan Pak Camat dan dengan terampil membuka resletingnya. Tanpa kesulitan, Ayu mengeluarkan batang kemaluan laki-laki itu dan menaruhnya dalam genggaman. Sedetik kemudian, ia sudah dalam posisi siap menerkam. Lalu, ”Slruupp…” dengan lembutnya Ayu melahap batang Pak Camat ke dalam mulutnya.

”Ouh… ssh…” sekarang gantian Pak Camat yang merintih pelan, betapa ia merasakan kehangatan dan kelembutan mulut kekasihnya ini pada batang penisnya.

Ayu menjilatinya perlahan dari pucuk kepala terus menelusur ke bawah, sampai mendekati kedua bola pada pangkal kemaluan Pak Camat. Setelah menyapu perlahan, mulutnya dengan terampil mulai mengenyoti buah zakar itu dengan lembut, bergantian kiri dan kanan, sementara tangannya tetap mengurut dan meremas-remas batangnya yang terasa semakin menegang.

”Ya Sayang… terus… ehh… aduh… enak!” tanpa sadar keluar rintihan nikmat dari mulut Pak Camat.

”Ehhmm… mmhh…” sayup-sayup terdengar juga bunyi mulut Ayu yang semakin ganas mengenyot batang kemaluan Pak Camat. ”Ouhh… aauh… aku pingin lagi, Mas.” pintanya sambil memposisikan tubuh naik ke pangkuan Pak Camat dan mengarahkan batang kemaluan yang masih berada dalam genggamannya itu ke liang vaginanya.

”Ahh… nanti dulu!” Pak Camat berusaha untuk menahan, ingin hisapan itu berlangsung lebih lama lagi.

Namun bukannya menjawab, Ayu malah terus membimbing batang rudal Pak Camat dan menancapkannya di belahan lubang vaginanya yang sudah merekah lebar. Dengan posisi jongkok, ia mulai menggerakkan tubuh sintalnya naik turun di atas perut Pak Camat.

”Aduh… kok enak sih, Sayang! Belajar dimana?” rintih Pak Camat saat merasakan denyutan lembut dengan irama teratur di liang kemaluan Ayu yang seperti meremas dan menggigit-gigit sekujur batang kemaluannya.

Ayu hanya tersenyum sambil terus menggerakkan pinggulnya naik turun, otomatis rudal Pak Camat juga terus keluar masuk dalam dekapan bibir liang kemaluannya. Pak Camat sendiri membantu dengan menggerakkan pinggulnya seirama tubuh sang kekasih. Sementara di pusat kenikmatan mereka, terdengar kecipak-kecipak cairan yang keluar dari kemaluan Ayu, mengguyur dan membasahi batang rudal Pak Camat yang tidak begitu panjang.

Masih dengan posisi seperti itu, sepuluh menit pun berlalu. Terlihat Ayu sudah kelelahan, keringat tipis melumasi seluruh tubuhnya yang sintal, sebelum ambruk menindih tubuh Pak Camat tak lama kemudian. Pak Camat segera mengambil inisiatif dengan menggerakkan tubuhnya, tapi sekarang dengan dibantu kedua tangannya yang memegangi bulatan payudara Ayu dan meremas-remasnya pelan.

”Terus, Mas… ssh… terus…” desahan dari mulut Ayu kembali terdengar, mengiringi kelakuan bejat mereka di pagi yang sejuk itu.

Pak Camat segera mempercepat gerakannya. Terasa olehnya lelehan lendir yang keluar dari liang kemaluan Ayu menerobos melewati celah sempit di antara bibir dan batang penisnya. ”Ehh… punyamu bener-bener deh, Sayang… seperti meremas punyaku… aduh!” Pak Camat merintih keenakan.

Merasa sebentar lagi akan mencapai ujung pendakiannya, iapun semakin mempercepat genjotannya. ”Ohh… Sayang… aku keluar… arghhh…” tak sampai satu menit kemudian, batang kemaluan Pak Camat meledak mengeluarkan semua isinya. Benda itu berdenyut-denyut keras di dalam liang vagina Ayu, memenuhinya dengan cairan sperma yang begitu hangat dan kental.

Pak Camat membiarkan batang penisnya tetap terbenam dalam dekapan lubang kemaluan Ayu yang hangat dan nyaman, sampai akhirnya menyusut dan terlepas dengan sendirinya. Ayu segera bangkit sambil tangannya menangkup ke bawah selangkangan, berusaha menutupi daerah kewanitaannya.

”Takut nanti pejuh Mas jatuh ke karpet.” begitu alasannya. Kemudian ia berjongkok di samping Pak Camat sampai semua cairan yang menetes tertampung di telapak tangannya.

”Ngapain sih?” tanya Pak Camat heran.

Bukannya menjawab, Ayu malah tersenyum penuh arti. Kemudian tanpa disangka, ia mengarahkan sperma itu ke mulutnya dan dihirup sedemikian rupa sebelum ditelan semua tak lama kemudian. Bukan itu saja, Ayu juga menjilati telapak dan jari-jarinya hingga tak ada setetes pun cairan sperma Pak Camat yang tersisa. Dan seolah belum puas, ia menyambar batang penis Pak Camat yang sudah mengkerut lemas dan lekas menjilatinya hingga bersih.

Pak Camat hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah selingkuhannya itu, ”Dasar kamu! Doyan banget sama pejuh.” ia tertawa.

”Tapi ini kan yang Mas suka?” tanya Ayu.

Pak Camat mengangguk. ”Bener-bener deh, tidak ada wanita yang sebinal dirimu!”

”Biarin!” Ayu balas tertawa

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi. Waktunya Pak Camat untuk berangkat ke kantor. Lekas ia lepaskan tubuh perempuan cantik itu, kemudian mereka pun berbenah, merapikan baju masing-masing.

***

Murti sudah sampai di gerbang perumahan residence. Ia masih harus berhadapan dengan dua orang satpam yang menanyainya macam-macam. Ia bahkan sempat tidak diijinkan masuk. Tapi begitu ia memberi uang tips dan meninggalkan identitas, barulah para satpam itu membuka portal dan memberinya jalan. Sesaat ia dibuat terkagum-kagum oleh bangunan rumah yang serba mewah berjajar sepanjang jalan masuk. Tapi ia datang bukan untuk mengagumi rumah-rumah itu. Ia terus mencari rumah yang disebutkan oleh Dewi.

Murti sudah sampai di blok A. Rumah-rumah di blok ini tidak sebesar dan semewah yang tadi, tapi tetap saja bisa dibilang mewah. Nah, itu dia. Murti ragu sejenak dan sempat berniat mengurungkan niat untuk bertamu. Ia tidak kenal siapa pemilik rumah yang kini ada dihadapannya. Ia takut salah alamat yang bisa berakibat tidak baik. Bisa-bisa ia dilaporkan ke polisi karena dicurigai sebagai orang yang bermaksud jahat. Ah, tidak mungkin. Toh ia memakai seragam kerja khas pegawai negeri. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Murti melihat pintu pagar yang tinggi itu terbuka.

Tapi ia langsung terkaget-kaget karena orang yang muncul dari balik pagar benar-benar di luar dugaan. Murti serasa mati berdiri dengan wajah pucat pasi. “Mas Joko!” panggilnya pelan tanpa sadar.

“Murti!” seru Pak Camat, juga sama-sama kaget.

Murti merasakan dunia berputar. Tanah yang dipijaknya seperti pusaran yang menariknya ke bawah, semakin ke bawah sampai ia tidak melihat apa-apa lagi selain hitam dan kelam. Ia hanya sempat menampar suaminya dan memandang geram seorang wanita yang bersama suaminya sebelum pingsan. Pak Camat yang lebih kaget langsung membawa Murti pulang.

PENGGALI KUBUR 5

Sambil menunggu kedatangan orang yang sekarang sedang dijemput oleh Zaskia; bersama Inez, Linda, dan bu Martin, kembali aku saling meraba. Kontolku dijilati oleh mereka untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel, membuat benda kebanggaanku itu dengan cepat menjadi ngaceng kembali. Inez tampak menjilati ujungnya yang tumpul, sementara Linda mengocok batangnya yang besar, sedang bu Martin dengan gemas meraba dua kantung bola milikku. Oh, sungguh sangat nikmat sekali diperlakukan seperti itu. Aku merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh para selir.

Kubalas dengan memijit dan meremasi bongkahan payudara mereka secara bergantian, juga meraba dan menggelitik lubang memek ketiga wanita cantik itu secara bergiliran saat aku sudah merasa tak tahan. Bagaimanapun, biarpun sudah cukup lelah, aku jadi bergairah juga kalau terus diserang seperti itu.

”Luar biasa nikmatnya pesta seks ini, Mal.” bisik Inez sambil terus menjilati batang penisku, ia kini melakukannya bergantian dengan bu Martin, sedang Linda masih terus mempermainkan batangku dengan begitu gemasnya.

Tak tahan, istri Mang Kosim itupun segera memberikan tubuh montoknya kepadaku. Usia kandungannya yang sudah jalan 2 bulan membuat badannya jadi sedikit mekar, bikin tambah seksi sih, payudaranya jadi lebih gede sekarang. Kulabuhkan tanganku disana dan kembali kuremas-remas keduanya dengan penuh nafsu.

Linda yang melihatnya jadi ikut kepingin. Bergantian dengan Inez, ia memberikan tonjolan buah dadanya kepadaku, membuatku jadi sedikit geragapan juga mendapat hantaman empat bola empuk yang ukuran dan bentuknya sama-sama menggiurkan itu. Hanya bu Martin yang tidak ikut, wanita paro baya yang masih nampak cantik itu tetap setia mempermainkan batang penisku. Bahkan karena sekarang cuma sendirian, ia jadi begitu bebas menikmatinya. Jadilah bu Martin yang pertama mendapat sodokan kontolku di putaran yang kedua ini.

”Ah, bu Martin! Kok malah duluan sih,” keluh Inez sambil mempermainkan memeknya sendiri.

”Iya, nih. Kan kita yang udah nggak tahan.” dukung Linda.

”Hehe,” Bu Martin cuma tertawa menanggapinya, namun tetap meneruskan genjotan pinggulnya di atas tubuhku. Terasa vaginanya sudah sedikit agak longgar, mungkin karena pengaruh usia, lagian ia juga sudah melahirkan banyak enak. Namun bagaimanapun tetap saja mampu membuatku merintih nikmat.

”Ahh… sudah, sudah.” kataku sambil meremasi gundukan payudara Inez secara bergantian, sedangkan untuk Linda kutusuk-tusuk lubang memeknya. Kedua wanita cantik itupun langsung terdiam untuk menikmati aksiku. Di bawah, bu Martin terus menggoyangkan pinggulnya dengan sedikit heboh, bahkan kini sambil merintih-rintih penuh nikmat.

”Ayo, Mal… beri aku pejuhmu, tumpahkan di memekku!” pintanya dengan liar dan jalang, sudah hilang sosok bu Martin yang lugu dan pendiam di putaran pertama tadi.

Linda dan Inez tertawa mendengarnya, ”Ya nggak mungkin, Bu. Kemal yang sekarang jadi makin kuat, dia kan habis keluar. Satu jam juga oke-oke aja.” kata Linda.

”Betul, Bu. Bisa-bisa ibu yang KO nanti.” dukung Inez.

Aku cuma menanggapi komentar kedua wanita itu dengan anggukan ringan. Memang benar, di putaran kedua, pejuhku jadi makin sulit keluar. Dan sepertinya, para wanita sangat menyukai hal ini. Tak terhitung sudah berapa banyak tetanggaku yang ketagihan karena kemampuanku ini. Aku jadi sangat bersyukur karenanya.

Di atas tubuhku, bu Martin masih terus menggenjot tubuhnya. Tak lama, hanya selisih beberapa menit kemudian, tiba-tiba ia sudah berteriak kencang tanda kalau sudah orgasme. Cairan hangat dan kental terasa mengalir deras membasahi batang kontolku. Kutekan pinggulku dalam-dalam agar bu Martin makin lama menikmati orgasmenya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, wanita itupun akhirnya ambruk. Dengan nafas ngos-ngosan, bu Martin kemudian menyingkir. Penisku terlepas begitu saja dari jepitan liang memeknya. Linda yang melihat kontolku menganggur, segera mengambil alih. Lekas ia kulum batangku yang penuh oleh cairan bu Martin dengan begitu rakus. Inez yang melihatnya jadi ikut tertarik, maka bersama dengan Linda, ia mandikan batangku hingga bersih.

Kubiarkan ulah kedua wanita. Aku hanya terdiam pasrah di atas ranjang sambil tersenyum, merasa sangat puas dan bahagia dengan semua ini.

“Hajar aku, Mal… memekku udah gatel lagi nih,” kata Linda sambil menarik tanganku agar bangkit, sedangkan ia sendiri merebahkan tubuhnya, bersiap untuk kusetubuhi.

”Habis ini aku ya, Mal.” pinta Inez sambil memeluk dan memberikan bulatan payudaranya kepadaku.

“Iya, Mbak sabar dulu yaa.” kuremas dan kupijit-pijit benda itu sebentar sebelum aku beralih pada Linda. “Cuma butuh waktu sebentar kok sama dia.” Lanjutku dengan kontol melesak ke depan, menusuk Linda tepat di belahan memeknya.

”Auw! Mal…” Linda mengaduh. Bukan karena sakit, namun karena nikmat. Malah kini ia mulai menggerakkan pinggulnya guna mengimbangi genjotanku. Sambil terus menggoyang, kuraba dan kuremas-remas bongkahan payudara Inez dan Linda secara bergantian. Sementara bu Martin sudah terkapar tak sadarkan diri di sebelah kami.

Saat itulah terdengar pintu depan dibuka. Rupanya Zaskia sudah kembali. Aku harap dia berhasil memenuhi permintaanku untuk mengajak 1 orang lagi yang sangat spesial. Orang yang belum pernah kutiduri namun aku tahu kalau ia sudah terkena pelet telur. Istriku yang bilang secara tak sengaja, saat kami berbincang sebelum aku datang kemari. Dan sekarang, aku ingin membuktikannya.

Aku masih terus menggoyang tubuh mulus Linda saat pintu kamar terbuka. Masuklah Zaskia dengan seseorang yang sangat cantik, usianya masih muda, mungkin masih SMA. Sesuai dengan rencana, begitu di dalam, Inez dan Zaskia langsung menyergapnya. Gadis itu, yang sama sekali tidak siap, hanya bisa meronta tak berdaya saat digiring ke sebelahku. Tanpa berkedip kupandangi tubuhnya yang luar biasa indah serta anggun dengan jilbab lebarnya.

“Apa kabar, Tih?” tanyaku sambil menyeringai mesum.

Gadis yang bernama Ratih itu langsung terdiam. Pandangannya terpaku pada batang kontolku yang masih bergerak keluar-masuk dengan cepat di memek sempit Linda, sementara Linda sendiri terdengar merintih semakin keras, seperti ingin memancing birahi Ratih agar lekas bergabung dengan kami. Inez dan Zaskia masih memegangi tubuh Ratih agar tetap tidak bisa bergerak.

“Apa-apaan ini!” bentak Ratih marah, namun kentara kalau itu cuma pura-pura saja, hanya sekedar untuk menjaga harga dirinya yang kini sedang dipertaruhkan. ”Budhe, tolong jelaskan!” gadis itu menoleh pada Zaskia.

Ratih memang masih punya hubungan darah dengan Zaskia, kalau tidak salah masih terhitung keponakan. Itulah kenapa Zaskia bisa membujuknya datang kemari, Ratih sering main ke rumah ini. Ayah Ratih adalah kepala desa, dan menurut tebakanku, ayahnya telah menggadaikan tubuh Ratih pada Juragan Karta agar didukung saat pencalonan kepala desa tahun kemarin. Tidak mungkin ayah Ratih yang cuma pedagang kecil bisa punya banyak uang untuk pencalonan kalau tanpa bantuan Juragan Karta yang kaya raya. Meski untuk itu, kehormatan anaknya yang harus dipertaruhkan. Uh, dasar lurah brengsek. Sekarang rasakan akibatnya, anaknya yang cantik ini akan kutiduri.

Dengan bantuan Inez dan Zaskia, kuseret Ratih ke tempat tidur. Linda yang sudah mencapai orgasmenya, segera menyingkir untuk memberiku tempat. “Kita akan pesta seks, sayang.“ bisikku tertawa.

“Gila! Lepaskan aku! Dasar bajingan! Ini dosa! Kalian setan semua! Bangsat!“ namun Ratih terus memberontak sambil mengelurkan kata-kata kasar, tak kusangka ia yang kelihatan lugu dan berjilbab ternyata bisa mengumpat juga.

“Cepat telanjangi dia!“ perintahku pada Inez dan Zaskia. Keduanya langsung menyobek-nyobek pakaian Ratih tanpa bertanya-tanya lagi. Kuminta agar hanya jilbabnya yang disisakan, aku paling suka mengentoti perempuan yang masih berjilbab.

Kusingkap jilbab gadis itu dan kuperhatikan tanda hitam sebesar koin di lehernya. ”Sudah, nikmati aja. Nggak usah berpura-pura memberontak segala.” ejekku. Aku yakin, begitu merasakan batang kontolku, ia akan langsung menyerah, sama seperti semua korbanku.

Namun Ratih masih gigih melawan. ”Aku nggak mau! Tidak! Lepaskan aku! Bangsat! Kalian semua bangsat! Bajingan!” umpatnya sambil berusaha mengerakkan tubuh ke kiri dan ke kanan.

Zaskia jadi kelihatan sedikit panik, ”Gimana ini, Mal? Nanti bisa didengar para tetangga.”

Maka segera kubuat keputusan cepat. ”Sumpal mulutnya!” Meski tidak tega, terpaksa kuperhatikan saat Linda membekap mulut Ratih dengan kain bh. Entah bh siapa yang ia pakai, hehe.

“Jangan berontak, Rat… sebaiknya turuti kami,“ ancamku dengan sorot mata tajam. Jadi heran juga, kenapa ia tidak kunjung menyerah juga, padahal sudah jelas-jelas ia adalah salah satu korban juragan Karta. Apa iman Ratih begitu tebal hingga sanggup menolak peletku? Ah, sepertinya tidak. Indri, istri ustad Jafar yang terkenal alim saja bisa takluk kok, apalagi cuma seorang Ratih. Atau karena tekadnya yang begitu kuat? kalau itu sih masih mungkin. Namun kata kakekku, siapapun yang terkena pelet ini akan langsung tunduk kok. Semua, tanpa kecuali!

Lalu kenapa Ratih tidak? Itu yang nanti harus kutanyakan kepada kakek. Untuk sekarang, sebaiknya kugunakan waktu untuk menikmati tubuh sintal Ratih mumpung lagi siap sedia. Setelah beberapa kali mengentoti istri orang, aku jadi penasaran dengan tubuh gadis muda seperti miliknya. Gimana ya rasanya? Apa akan senikmat saat aku pertama kali mengentoti istriku dulu, yang sanggup membuatku keluar 7 kali dalam semalam. Ah, mudah-mudahan saja.

Setelah bentakanku tadi, Ratih sekarang menjadi diam, tidak memberontak lagi. Entah karena takut atau karena sudah terpengaruh peletku, aku tak peduli. Yang penting, ia sudah jatuh ke dalam pelukanku. Inez dan Zaskia dengan cepat melolosi sisa pakaian Ratih. Bra dan celdamnya ditarik lepas dan dibuang begitu saja ke lantai.

Ratih sekarang sudah sepenuhnya telanjang di depanku, hanya tersisa jilbab lebar yang masih membingkai wajah cantiknya, namun itupun juga sudah diikat ke belakang hingga menampakkan bulatan payudaranya yang meski berukuran sedang namun terlihat cukup tegak menantang. Maklum masih gadis, masih belum pernah hamil dan menyusui. Kemulusan tubuhnya benar-benar membuatku berdecak kagum dan ingin lekas menjilatinya.

“Apa yang akan kalian perbuat padaku?” tanya Ratih pasrah.

Inez yang berada di dekatnya langsung membisiki, “Ada kontol besar menunggumu, Sayang.“

“Tolong! Jangan perkosa aku!“ rintih Ratih untuk yang terakhir kali, dengan paras takut ia memandangi batang penisku yang sengaja kupamerkan di depannya. Gadis itu melotot sebentar sebelum kemudian memalingkan wajahnya agar tidak memandangi batangku.

“Kamu memang luar biasa cantik, Rat. Tak sabar rasanya pengen ngerasain tubuhmu.“ Aku bangun dan memeluk tubuhnya, Ratih sama sekali tidak melawan karena begitu ketakutan.

“Kumohon, lepaskan aku! Kenapa semua alim-alim kok bisa-bisanya berbuat maksiat seperti ini?“ keluh Ratih lirih.

Namun aku tak perduli, dan juga tidak berniat untuk menjawab, malah dengan cepat aku menunduk dan melakukan oral seks di vaginanya. Ratih terlihat sedikit memberontak, namun segera dipegangi kembali oleh Inez dan Zaskia. Kembali kujilati memek gadis itu sambil sesekali kuremas-remas buah dadanya yang tidak begitu besar. Tidak sanggup untuk melawan, kini hanya terdengar rintihan lirih bibir Ratih yang gemetar ketakutan akibat ulahku.

“Ampun! Ohh… ouhh… auwhh!” teriaknya kecil saat kudorong tubuhnya hingga rebah ke ranjang dan langsung menindihnya.

“Pegang yang kuat ya,” perintahku pada Inez dan Zaskia. “Nggak sabar rasanya pengin langsung nyoblos memeknya!“ kataku yang disambut anggukan oleh Inez dan Zaskia.

Kembali aku menjilati vagina Ratih yang tampak mulai ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna hitam. Aku jadi membayangkan, saat dientot juragan Karta dulu, pasti memek ini masih licin gundul. Uh, membayangkannya saja sudah membuatku tak tahan.

“Nggak usah teriak, Rat. Enak kok pesta seks itu, aku aja suka.“ hibur Zaskia sambil membenahi jilbab Ratih yang berantakan.

“Budhe gila! Kalian semua gila!” teriak Ratih ketus, namun langsung terdiam begitu lidahku mulai menari-nari di liang memeknya yang asin. Bahkan yang ada, erangan dan rintihan kecil mulai keluar dari mulutnya yang tipis meski terlihat Ratih berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Terus kujilati liang sempit itu, bau wangi tubuh Ratih semakin membuatku bergairah. Ratih memejamkan mata karena tidak tahan akan oralku yang memberikan sentuhan birahi sedikit demi sedikit, sehingga ia yang awalnya memberontak kini jadi menggemulai perlahan-lahan. Saat membuka mata, Ratih memang tidak menangis, namun dari matanya tampak mengalir cairan bening yang membasahi pipi mulusnya. Entah itu air mata penyesalan atau kepuasan, aku tak peduli.

“Nikmati aja, Rat, enak kok! Coba rasakan, kontol Kemal besar dan panjang, enak sekali kalau disodoki pake itu!” bujuk Zaskia lagi.

”Nggak mau! Dasar budhe edan!” jerit Ratih dengan suara bergetar.

“Cepetan, Mal. Masukkan kontolmu! Setubuhi dia!” bisik Inez yang gemas melihatku mengulur-ulur waktu.

”Eh, iya. Iya!” akupun langsung bangkit. Setelah meremas sebentar buah dada Ratih, aku langsung memasang kuda-kuda. Kuarahkan penis panjangku ke lubang senggama gadis itu, lalu kutekan perlahan saat sudah pas. Ratih sedikit melotot merasakan batangku yang mulai memasuki lubang kemaluannya.

”Ampun! Hentikan, Bang! Aku masih perawan!” jerit gadis itu mencoba mencegah perbuatanku, namun tentu saja tidak bisa. Yang ada, aku malah makin bersemangat. Terus kutekan batangku hingga membuat Ratih memekik dengan tubuh melengkung ke atas. Sepertinya sangat kesakitan sekali, apa batangku terlalu besar ya?

“Perawan apa!” protesku tanpa berniat untuk mengukurnya lebih lanjut. ”Nggak usah bohong deh, aku sudah tahu semua!” sahutku sambil terus menekan dan menarik batangku sehingga semakin tenggelam ke celah kemaluannya.

”Ohh… tidak! Hentikan! Aku mohon!” Ratih semakin menjerit kuat. Tubuhnya terdorong ke belakang seperti ingin menjauh, namun tidak bisa karena sudah dipegangi oleh Inez dan Zaskia.

Tak ingin lepas, akupun mendesak lagi. Kusentak pinggulku kuat-kuat sampai batangku amblas seluruhnya ke memek sempit gadis muda itu, membuat Ratih menjerit begitu kencang di sebelah telingaku, ”Aaaaauuww…!!!“

“Diam! Nggak usah pake nangis segala! Kamu sulit amat sih…” aku jadi sedikit hilang kesabaran. Aneh juga, Ratih adalah korbanku yang paling sulit untuk ditaklukkan. Padahal biasanya, dengan sekali pandang saja, setiap korbanku akan jatuh berlutut, menyerah seutuhnya. Namun dengan Ratih… ah, entahlah. Aku sendiri juga bingung.

”Ampun, Bang… aah… aah… uhh…“ lenguh Ratih ketika mulai kusodok-sodok tubuh sintalnya sambil kulumat pelan bibirnya yang tipis. Gadis itu tampak semakin menggeliat, tangisannya menjadi semakin keras. Namun sudah tidak melawan lagi, ia hanya pasif menerima segala seranganku.

Kugenjot terus pinggulku untuk menyetubuhinya. Terasa dinding vaginanya yang sempit seperti mencekik batang kontolku, namun bukannya sakit, malah aku merasa nikmat sekali. Memang beda memek gadis muda yang belum pernah melahirkan dengan punya ibu-ibu macam Inez maupun Linda. Meski sama-sama nikmat, tapi tetap saja ada sensasi yang berbeda.

“Ayo gerak donk, Rat.“ ajakku melihat Ratih yang masih pasif. Ia memadangku, dari sorot matanya terlihat kalau ia masih menolak segala sentuhanku. Namun aku tidak kekurangan akal, kembali kulumat bibir tipisnya sambil kusodok-sodok memeknya sedikit lebih cepat. Akibatnya, Ratih jadi agak sedikit melenguh karenanya.

“Auw… aah… aah… ampun… jangan… aah… ahh…” lenguhnya dengan air mata terus mengalir di pipi.

“Goyang donk, Rat… makin enak rasanya memekmu!” ajakku lagi, yang disambut senyum oleh Inez dan Zaskia yang masih setia mendampingi. Sementara Linda dan bu Martin sudah mendengkur halus, seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi di sebelahnya.

“Sudah… aah… aku mohon.. aauh… uuh…” desah Ratih tak karuan.

Bukannya kasihan, mendengarnya malah membuatku semakin bernafsu menggenjot tubuh sintalnya. Ratih memejamkan mata, kepalanya mendongak sambil ia menggigit bibirnya kuat-kuat, sementara tubuhnya kian terguncang menerima segala serbuanku. Gelora birahi, meski pelan, namun tampak mulai menyelubunginya. Membuat Ratih jadi terdiam dan perlahan pinggangnya mulai bergerak mengikuti ayunan pinggulku.

”Terus, Mal. Dia mulai menikmati,” seru Inez.

“Iya, Mal. Genjot terus!” dukung Zaskia.

”Uuh… ooh… aah…“ lenguhku sambil mengangguk. Aku tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi, tubuhku sudah begitu termakan api birahi. Rasanya benar-benar nikmat, membuatku jadi tak tahan. Ratih merapatkan kakinya, sementara vaginanya menyempit dengan begitu cepat, seperti mencekik batang kontolku hingga jadi sedikit ngilu. Namun aku terus menggenjotnya dengan begitu cepat, hingga tak lama kemudian kudengar Ratih melenguh panjang saat mendapatkan orgasmenya yang pertama.

“Aah… aaauuww!!!” erang gadis itu saat cairan kental mengucur deras dari lubang vaginanya, membasahi seluruh batang kontolku yang masih terbenam dalam. Tubuh Ratih kelojotan tak karuan, namun segera dipegangi oleh Inez dan Zaskia agar tidak sampai membentur tembok.

“Sudah, bang… aah… ampun!!“ rintih Ratih dengan suara lemah. Pijitan memeknya yang masih terus berkedut-kedut pelan membuatku kegelian meski aku tidak menggerakkan batang kontolku. Akibatnya, tanpa perlu capek-capek menggenjot, aku sudah dihantarnya menuju puncak kenikmatan.

Croot… croot… croot…

”Auh… aarrghhh…” aku melolong tak karuan saat cairan spermaku menyembur deras memenuhi lubang memeknya. Sesaat aku merasa ringan bagai kapas, bisa kurasakan cairan spermaku yang meleleh di sela-sela alat kelamin kami berdua yang masih bertaut erat. Terengah-engah penuh kepuasan, aku diam memeluknya.

Tak lama, setelah orgasmenya berlalu, Ratih menggeliat bangun dan kemudian menangis keras. “Jahanam! Bangsat kamu!!” raungnya marah.

Aku jadi bingung, kukira setelah mendapat nikmat, ia akan menyerah kepadaku. Tak tahunya, tetap saja marah-marah dan memberontak. Aku jadi bingung. Kenapa peletku tidak bekerja kepadanya?

Jawabannya baru kuketahui beberapa saat kemudian saat Inez memberitahuku sesuatu dengan suara bergetar. ”Mal, i-ini… d-darah!” bisiknya takut-takut.

Aku melirik ke bawah, dan DEG! Seperti mau pingsan rasanya saat kulihat lelehan darah di atas sprei, tepat di bawah bokong bulat Ratih. Orang bodohpun tahu, itu adalah darah perawan. Asalnya dari memek sempit Ratih yang masih tersumbat oleh batang kontolku. Masih ada sisa-sisa darah di kulit kelamin kami berdua. Namun itu tidak mungkin! Kenapa dia masih perawan? Bukankah juragan Karta sudah menidurinya lebih dulu? Harusnya…

”S-sudah kubilang, aku masih perawan!” bisik Ratih sambil terus menangis. Aku tidak menjawab, hanya terbengong-bengong menatapnya. Sementara Inez dan Zaskia juga sama, mereka tidak berani membuka suara dan kelihatan sangat takut sekali. Kami sudah salah memilih korban!

”Maaf, Rat. A-aku nggak tahu!” jawabku sambil menarik penis, kubiarkan Ratih menangis tersedu-sedu pelan. ”T-tapi, bagaimana bisa?” tanyaku bingung.

Ratih menatapku tajam. ”Tentu saja bisa!” semburnya kencang. ”Aku masih kecil, masih sekolah! Belum pernah aku melakukan hal sehina itu!”

Aku melongo. ”K-kamu belum pernah tidur dengan juragan Karta?” tanyaku lagi.

Ratih terdiam, lalu menggeleng pelan. ”Jangan bawa-bawa nama orang yang sudah mati. Kamu telah memperkosaku! Dan pasti akan menanggung akibatnya.” ia lalu menoleh pada Inez dan Zaskia. ”juga kalian semua!” ancamnya serius.

”M-maafkan kami,” kata keduanya secara bersamaan.

”Nggak!” Ratih menggeleng, bara dendam tampak menyala di matanya yang berair. ”Kalian akan merasakan yang lebih menyakitkan, terutama budhe!” ancamnya pada Zaskia.

”Maafkan aku, Rat. Aku nggak tahu,” geleng Zaskia sambil ikut menangis.

Tidak menjawab, Ratih bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya.

”J-jangan laporkan kami, Rat. Kami janji akan menutupi ini rapat-rapat.” pinta Inez.

Ratih menoleh, ”Nggak usah kuatir,” jawabnya. ”aku sudah punya rencana sendiri buat kalian.” dan setelah berkata begitu, ia mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar. Dengan diantar oleh Zaskia, ia kembali pulang.

Tinggallah aku dan Inez yang duduk terdiam berdua, mencoba menebak-nebak hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Ratih pada kami semua. Di ujung ranjang, Linda dan bu Martin masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui masa-masa kelam yang siap menanti di esok hari.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 2

Di sebuah rumah sederhana di daerah pinggiran Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tidak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan.” demikian suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar itu.

“Iya kok, pak. Saya mengerti, terima kasih lho sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat. Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum memasuki pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telepon, Farah, apakah ada urusan penting?” suara lembut Siti Nurhana, ibundanya, membangunkan Farah dari lamunannya.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah belum bisa masuk cetak,” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana sambil berkemas-kemas untuk berangkat.

“Nggak apa-apa koq, ummi, salam dari Farah yah sama Abi, semoga lekas sembuh dan dapat pulang kembali ke rumah,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah empat putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya. Di rumah hanya ada Farah dan Asma, yang masih SMA, dan ibundanya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik.

Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah.

Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal dua hari lagi. Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang. Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan, ia pun bertekad untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan bersedia bekerja melakukan apa saja demi menunjang keluarga yang dicintainya.

***

Sebagai rentenir kelas kakap di daerah kampung situ juga, pak Burhan sangat disegani karena tabiatnya yang keras dan penampilan yang terlihat cukup menyeramkan. Wajahnya hampir tidak pernah menunjukkan keramah-tamahan, jarang sekali tersenyum apalagi tertawa. Matanya selalu menatap setiap orang yang diajak bicara dengan sangat tajam seolah ingin menembus benak pikiran lawan bicaranya. Disamping itu lirikannya selalu menampilkan kesan kejam dan bahkan tersembunyi kesan sadis, terutama jika menghadapi langganan yang mempunyai hutang padanya namun belum mampu membayar kembali karena bunga yang diajukannya memang amat tinggi.

Pakaiannya terlihat cukup rapih menutupi tubuhnya yang tegap dan dibalik pakaian itu tersembunyi banyak bekas luka, karena Burhan di masa muda sangat galak sering berkelahi. Bahkan ada periode dimasa mudanya Burhan hilang lenyap dari desa kelahirannya, tak satupun yang tahu dimana dan apa yang dilakukannya. Hanya Burhan sendiri yang menyimpan rahasia itu : ia merantau sebagai anak kapal di negara jiran, dimana di samping bekerja di sebuah perkebunan, ia juga memasuki kelompok penyamun yang di malam hari merampok penduduk, terutama orang tua yang tinggal seorang diri dan janda kembang yang baru ditinggalkan suami. Bukan hanya harta yang dijadikan sasaran perampokannya, namun tak ada satupun janda kembang yang lolos dari perlecehan dan perkosaannya.

Setelah Burhan berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi yang memburunya bertahun-tahun, akhirnya ia memutuskan untuk menghilang lagi tanpa meninggalkan jejak dan muncul kembali sebagai rentenir. Tempat bermukimnya sekarang berada di pulau Jawa, sedangkan Burhan sebenarnya berasal dari pedalaman Sulawesi. Tak heran jika semua orang di kampung dan sekelilingnya tak mengetahui asal usul latar belakang Burhan.

Setahun setelah bermukim di desa ini, Burhan menikah dengan seorang janda kembang. Namun ketika melahirkan anak mereka yang pertama, terjadi komplikasi yang tak terduga sehingga keduanya meninggal. Sejak saat itu Burhan belum lagi menikah, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ada langganan yang belum atau tak mampu membayar hutang kepadanya, maka Burhan selalu bersedia memberikan ‘keringanan’ dan menunda pembayaran berdasarkan ‘syarat tertentu’. Burhan akan bermurah hati jika yang datang memohon penundaan bayaran hutang itu bukan si lelaki kepala keluarga, melainkan sang istri atau anak perempuan mereka.

Semakin cantik sang istri langganannya yang memohon, maka semakin senang hati rentenir cabul ini–apalagi yang datang menggantikan permohonan si kepala keluarga adalah anak perempuan yang baru meningkat dewasa berusia belasan belum memasuki dua puluhan. Selera Burhan terhadap wanita tidak pandang bulu : entah perempuan biasa dengan gaya hidup bebas maupun yang alim shalihah berjilbab atau bahkan memakai cadar, semua dimana ada kemungkinan dan kesempatan akan dijerat dan dijadikan mangsanya. Jika belum ada lagi mangsa yang dijeratnya maka Burhan memuaskan nafsu birahinya yang besar terhadap istri-istri tetangganya, terutama yang tak cukup dipuasi oleh suami sendiri, entah karena telah uzur atau ditinggal tugas terlalu lama.

Sebagai bahan ‘jajanan’ extra, maka Burhan juga sering melecehkan pembantu rumahnya yang memang janda kembang dan cukup manis bernama Marwati atau sering disebut Wati. Karena selalu diberikan bayaran ekstra jauh melebihi pendapatan seorang pembantu, maka Wati dengan senang hati menjadi kaki tangan Burhan untuk membantu menaklukkan calon mangsanya!

Telah hampir setengah jam lamanya Farah duduk di ruang tamu menantikan kedatangan sang tuan rumah, pak Burhan yang diharapkan Farah akan bersedia untuk mendengarkan kesulitan yang sedang dihadapi oleh keluarganya. Farah telah merancang kalimat-kalimat paling bagus dan paling sopan dalam negosiasi dengan rentenir kakap di desa itu.

Kalimat-kalimat yang dipertimbangkan oleh Farah akan menggugah hati pak Burhan, terutama jika mendengar bahwa ayahnya sakit dan masih membutuhkan biaya perawatan tak sedikit, sedangkan pemasukan berupa buku agama yang dikarangnya belum lagi diterima dan dipublikasikan oleh para penerbit. Demikian pula hasil jualan ibundanya hanya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, sementara tulisan ustadz Mamat masih belum tahu apakah akan berhasil dijual memasuki bulan puasa ini.

Sedemikian naif-nya jalan fikiran Farah yang masih membayangkan semua orang sejujur dan sepenuh hati untuk menolong sesamanya, padahal pak Burhan bersedia menerima kedatangannya di hari itu karena mempunyai maksud lain, ada udang di balik batu yang akan menjebaknya memasuki sebuah dunia lain : dunia gelap terselubung kabut tebal dan juga lumpur mengambang menanti mangsa yang jatuh tergelincir, yang akan sukar membebaskan diri lagi dari tarikannya yang semakin dalam.

Akhirnya pintu pemisah ruang tamu dengan ruang bagian dalam rumah pak Burhan kembali dibuka, namun yang muncul bukanlah pak Burhan sendiri melainkan wanita usia pertengahan tiga puluhan yang tadi membukakan pintu masuk ketika Farah baru saja datang, seorang wanita yang masih cukup cantik dalam usianya itu, terutama disebabkan dandanan yang cukup menor.

”Pak Burhan sedang kurang enak badan, jadi beliau mohon maaf tak dapat menerima adik,” demikian ujar si wanita yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Wati dan mengaku bahwa ia di rumah itu hanyalah seorang pembantu.

Farah menjadi semakin putus asa mendengar harapan kedatangannya akan sia-sia, oleh karena itu ia berusaha menekan perasaannya dan bertanya, “Sakit apa pak Burhan? Apakah mbak Wati dapat menolong memberitahukan bahwa kedatangan saya karena ada urusan penting yang tak dapat ditunda. Apakah ada kemungkinan lain untuk bertemu pak Burhan, misalnya jika beliau sedang tidur, saya bersedia menunggu,”

Di dalam kegelisahannya itu, Farah tak sempat memperhatikan sedikit perubahan di wajah licik Wati yang memang telah bersepakat dengan pak Burhan untuk menjebak mangsanya. Ujung bibir Wati menyembunyikan senyum ibarat seringai mulut buaya yang telah melihat mangsanya.

“Kalau begitu mari kita lihat bersama ke dalam, mungkin pak Burhan sudah bangun. Tadi beliau telah berpesan agar tak membangunkannya karena badannya terasa agak menggigil, tapi siapa tahu untuk mbak Farah beliau bersedia membuat perkecualian,”

Demikian pancingan Wati yang sebenarnya tak sukar untuk diduga apa maksudnya. Namun Farah yang sedang bingung memikirkan bagaimana nasib keluarganya tak berpikir panjang, hanya kepentingan keluarganya yang menjadi masalah dibenaknya saat itu.

“Kalau begitu baiklah, saya bersedia bersama ibu masuk ke dalam. Tolong ibu sampaikan bahwa saya selalu membawa balsem dan minyak kayu putih, mungkin beliau mau pakai dan siapa tahu akan sedikit meringankan sakitnya saat ini,” demikian Farah yang selalu bermanis budi.

Wati mengangguk dan lalu masuk ke dalam diikuti oleh Farah yang berusaha menabahkan hatinya.

Setelah melewati hijab pemisah ruang tamu dan ruang dalam rumah, Farah merasakan ada bisikan yang memperingatkannya agar sebaiknya balik lagi dan meninggalkan ruangan, bahkan lebih baik lagi meninggalkan tempat itu secepatnya. Namun bisikan peringatan itu sangat terlambat karena pada saat Farah ingin memutar balik diri ke ruang tamu, dirasakannya sepasang tangan yang sangat kuat dan berbulu lebat membekap mulutnya sehingga tak dapat menjerit, sedangkan satu tangan lagi menelikung kedua tangannya ke punggung dan dipelintir keras ke atas hingga terasa sangat sakit.

Akibatnya Farah menghentikan rontaannya dan kini merasakan tubuhnya disérét ke arah bagian dalam rumah itu menjauhi hijab pemisah yang tadi dilewatinya. Kekasaran lengan dan tangan yang menelikungnya menyebabkan Farah sadar bahwa yang membekapnya pasti seorang lelaki, apalagi ketika tercium bau rokok dari dengusan nafas di samping telinganya.

“Hmmpf… l-lepaskaan! Emmpfh… nggak m-mau! J-jangan!” Farah berusaha menjerit ketika merasakan tubuhnya kini diseret memasuki sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu samar-samar, namun terlihat ada ranjang cukup besar dan di sudut ada lemari pakaian.

“Sssh… jangan berontak. Percuma saja, anak manis. Bapak sudah lama dengar nama putri Ustadz Arief Ubaidillah yang pandai mengarang buku. Bapak hanya mau mesra-mesraan dengan gadis shalihah dan nanti kamu bisa ceritakan di buku kamu pengalaman dengan bapak dalam beberapa jam ini,”

Demikian suara pak Burhan yang berat dan serak disertai dengan dengusan nafasnya yang menggelitik telinga Farah. Dengan sengaja pak Burhan menghembuskan nafas panasnya ke telinga gadis itu sambil disusul dengan jilatan lidah hangatnya menyapu liang telinga Farah sehingga sang gadis jadi semakin meronta-ronta kegelian.

Tanpa berdaya untuk melawan, Farah terus didorong ke arah ranjang dan dihempaskan dalam posisi tengkurap, kemudian langsung dibalikkan sehingga telentang dengan kedua tungkainya masih tergantung di luar kasur. Farah berusaha segera bangun, namun pak Burhan yang agak gemuk dan berat sekali badannya langsung menindihnya sehingga gadis alim ini jadi tak mampu melawan.

Pak Burhan memang sangat senang menggagahi wanita alim shalihah, tapi berusaha selalu untuk membiarkan jilbab tetap selalu menutupi rambut korbannya. Mungkin itu obsesinya bahwa ia selalu bangga menaklukkan wanita alim yang di awal menolak keinginan hewaniahnya namun akhirnya akan dikalahkan keperkasaannya meskipun tetap memakai lambang ‘kesucian dan kemurnian’, yaitu jilbab yang menutupi kepala. Di dunia kriminalitas di pelbagai negara dengan mayoritas wanita berjilbab, fenomena ini bukan hal aneh, melainkan justru sering terjadi!

Farah mulai menangis terisak-isak menyesali kebodohannya bahwa ia akan mengalami aib yang sama sekali tak diharapkannya. Bukan seorang suami yang telah menikahinya setelah akad nikah ijab kabul dengan penuh kasih sayang dan pengertian akan merenggut mahkota kegadisan yang selalu dijaganya dengan penuh kesalehan. Harta tertinggi yang dimiliknya sebagai wanita muslim sebentar lagi direbut paksa oleh rentenier kelas kakap yang diharap untuk menolongnya.

Rasa ketidakberdayaan Farah semakin menjadi-jadi ketika dirasakannya ada sepasang tangan lain yang kini menarik dan merentangkan kedua pergelangan tangannya di atas kepala lalu diikat ke ujung pilar ranjang. Ternyata Wati kini telah ikut membantu majikannya untuk menaklukkan gadis malang itu–dan dengan keadaan Farah yang terentang terikat kedua tangannya di atas kepala, maka semakin mudah bagi pak Burhan untuk melanjutkan niat maksiatnya. Dengan sangat sigap karena ia memang sudah sering melakukan perbuatan tak senonoh ini, pak Burhan melepaskan jubah serta gaun panjang Farah tanpa memperdulikan makian dan rontaan korbannya.

Di balik gaun panjang itu, ternyata Farah masih memakai lapisan semacam daster tipis berwarna merah muda yang juga langsung di tarik ke bawah dan dilepaskan sekaligus dengan kaus kaki panjang berwarna kuning muda agak krem. Wati yang rupanya juga telah sering membantu membantai mangsa majikannya ikut melepaskan kaitan BH Farah sehingga tampaklah kedua gunung buah dada yang sedemikian montok dan putih dengan kulit halus licin sehingga seekor semut pun akan tergelincir jika berusaha mendaki gunung daging tersebut. Di tengah kedua buah dada sekal montok itu, mencuatlah puting yang berwarna merah muda kecoklatan, menjulang ke atas bagaikan menantang dan mengundang setiap tangan lelaki untuk menjamah dan mengelus-ngelusnya.

Semakin Farah meliuk-liukkan dan menggeliatkan tubuhnya, maka semakin terlihat goncangan-goncangan kedua gunung itu, menyebabkan pak Burhan menelan ludahnya beberapa kali dan matanya semakin beringas menatap. Dengan penuh rasa gemas dan sadis, pak Burhan meremas bergantian kedua buah dada putih mulus itu. Diciuminya dengan rakus, dicupanginya ketiak Farah serta bukit susu kebanggaannya itu, kemudian dicaploknya kedua puting yang begitu peka, lalu dipilin dan digigitinya serta dihisap-hisapnya bagaikan bayi kehausan yang ingin menyedot susu segar langsung dari sumbernya.

Setelah melepaskan BH Farah, maka Wati membantu pak Burhan untuk memegang kedua pergerangan kaki Farah yang masih berontak menendang kesana-sini. Dengan dipegangi kedua pergelangan kakinya oleh dua orang, maka dengan mudah pak Burhan kini menarik celana dalam Farah yang berwarna biru muda dan lalu membuangnya begitu saja ke lantai–sehingga gadis malang itu sempurna telanjang bulat, terkecuali jilbabnya.

Sementara Wati sekuat tenaga memegang kedua pergelangan kaki Farah, maka pak Burhan berdiri dan dengan cepat melepaskan semua pakaiannya sehingga terlihatlah tubuhnya yang agak gemuk, hitam legam dan masih cukup kekar berotot meskipun telah memasuki usia lima puluhan.

Farah memalingkan mukanya ke samping sambil menangis terisak-isak karena merasa sangat malu dengan keadaannya yang telanjang bulat di hadapan mata lelaki asing. Seumur hidupnya Farah tak pernah membayangkan akan ada lelaki yang bugil di hadapannya terkecuali suami sendiri yang akan menagih haknya di malam kemantin. Namun yang terjadi saat ini adalah lelaki asing yang bukan suami, bahkan berusia jauh lebih tua, sambil tersenyum cabul penuh nafsu iblis tanpa ada rasa segan sedikitpun memperlihatkan batang kemaluannya. Farah hanya tahu bentuk penis lelaki dari keponakannya yang memang masih kecil ketika dibantunya mandi, tak pernah ia melihat penis orang dewasa, apalagi yang telah mulai menegang mengacung ke atas.

“Ayo lihat nih senjata ampuh bapak, udah enggak sabar lagi pengen ngerasain masuk ke mémék bageur asli… pasti mémék nduk belon pernah ngerasain alat paculan lelaki ya, mmh… mémék gadis alim shalihah lagi, gimana rasanya ya?” pak Burhan kini berlutut disamping kepala gadis Farah yang meléngos itu.

Dicekalnya kepala dengan rambut ikal bergelombang namun masih terlindung jilbab itu, dan dengan sangat kasar dipencétnya hidung bangir Farah sehingga gadis itu langsung megap-megap mencari udara karena tak bisa bernafas. Setelah meronta-ronta dua menit tanpa berdaya memperoleh oksigen, maka Farah terpaksa bernafas melalui mulutnya, namun hanya dibukanya sedikit. Pak Burhan yang melihat hal itu, kembali muncul senyum iblisnya karena ia tahu bagaimana mengatasi pertahanan gadis yang masih malu dan murni ini. Satu tangannya yang berjari-jari kasar, dengan brutal meremas bukit kembar dada Farah sebelum kemudian ibu jari serta telunjuknya menjepit dan menarik puting susu kanan korbannya.

Perlakuan sadis semacam ini tak pernah diduga sama sekali oleh Farah sehingga iapun tanpa sadar menjerit kesakitan dan membuka mulutnya, “Auw!! S-sakit… auuw… ughh… uhh… emmpfh!!” jeritan Farah hanya bergema beberapa detik karena mulutnya yang terbuka itu langsung disumbat dijejali oleh kemaluan pak Burhan yang terasa beraroma memuakkan.

“Ayo, neng manis. Buka mulutnya dong yang lebar, cobain nih singkong bapak… jangan kaget, neng, ntar makin lama makin gede… iya gitu, siip banget gadis Parahiangan begeur teuing… bapak ajarin jadi juara ngisep, bapak mau masukin lebih dalem lagi ya!” pak Burhan tanpa kasihan mendorong penisnya lebih dalam sambil menatap air mata yang mengalir di kedua pipi Farah yang halus itu.

“Aaah… anget bener nih mulut! Emang pinter si neng, punya bakat alami bisa nyepong kontol… iyah, teruus… kulum, jilat, awas jangan digigit… nih barang mahal, ntar lagi neng rasain dijebol ama lembing… aaah!!” Bagaikan kesurupan, pak Burhan merem melek merasakan kehalusan dan lembutnya bagian dalam mulut dan lidah Farah.

Dengan penuh nafsu pak Burhan kini memaju-mundurkan pinggulnya sehingga rudal dagingnya menggesek langit-langit mulut Farah. Beberapa kali pak Burhan memaksakan penisnya menusuk lebih dalam, namun karena memang terlalu besar dan panjang, maka hanya setengah saja yang dapat masuk dan telah menyentuh pintu gerbang awal tenggorokan Farah, menyebabkannya si gadis terbatuk-batuk dan ingin memuntahkan barang menjijikkan yang tengah merajahi mulutnya. Tapi tekanan tangan pak Burhan di kepalanya terlalu kuat sehingga kemaluan lelaki itu tetap saja bertahta dan berjaya di mulutnya, mengakibatkan rasa ingin muntah yang semakin menyiksa Farah.

Sementara itu Wati telah berhasil merentangkan kedua paha Farah dan kedua pergelangannya yang langsing kini diikat pula di ujung-ujung ranjang, menyebabkan tubuh bugil Farah membentuk huruf X dan tak sanggup lagi untuk melawan atau memberontak sedikitpun. Setelah melaksanakan tugasnya itu, Wati tersenyum dengan penuh arti kepada pak Burhan dan meninggalkan kamar.

Melihat mangsanya kini terikat kaki tangannya ke ujung-ujung ranjang tak mampu melawan, maka pak Burhan merasa sangat puas dan segera melaksanakan langkah berikutnya. Sambil tak henti-hentinya meremas buah dada montok kesenangannya itu, pak Burhan berbisik ke telinga Farah, “Neng Farah pasti belum pernah senam olahraga di ranjang dengan lelaki kan? Nah, sekarang udah waktunya belajar dari bapak, hehehe… Neng Farah kebetulan lagi subur nggak, mau nggak punya anak dari bapak? Pasti cakep lah kaya neng… bapak gali liang kegadisannya ya, hehehe…”

Tentu saja mendengar komentar cabul itu menyebabkan Farah sangat ketakutan, bukan hanya takut karena ia tahu bahwa selain sudah nasibnya sebentar lagi akan diperkosa habis-habisan oleh pak Burhan, namun bagaimana kalau sampai terjadi apa yang dikatakan oleh lelaki itu bahwa ia akan hamil? Farah mengingat-ingat bahwa memang benar dirinya sedang berada di masa subur sehingga kemungkinan ia akan hamil besar sekali.

Sekuat tenaga Farah memberontak dan berhasil melepaskan wajahnya dari cengkeraman tangan pak Burhan dan ia langsung meratap tersedu-sedu, “Tolong, pak Burhan, kasihani saya… saya masih gadis, jangan dihamili, pak… tolong jangan berikan aib kepada saya, lepaskanlah saya… saya tak akan lapor kepada siapapun dan kemanapun… tolong, pak, jangan perkosa saya, jangan hamili saya…”

Senyuman iblis kembali muncul di wajah pak Burhan mendengar ratapan korbannya itu, karena tentu saja dia pun tak mau langsung mendapat beban bayi yang harus ditanggung-jawabkan. Pak Burhan ingin mengambil kegadisan Farah namun sebaiknya jangan dihamili dulu saat ini.

“Hehehe, neng takut hamil ya? Emmh… kalau gitu bapak akan sumbangkan benih bapak yang mahal ini sementara di tempat yang kurang subur, tapi neng harus ikut kemauan bapak ya!”

Farah tak langsung mengerti apa maksud kata-kata dan kalimat terakhir itu, juga sampai saat pak Burhan berubah menelungkup di atas tubuhnya sedemikian rupa sehingga selangkangan pak Burhan dengan penisnya yang gagah tegak dikhitan kembali berada dihadapan wajahnya. Sebaliknya pun wajah pak Burhan kini tepat berada di atas bukit kemaluannya dan apapun usaha Farah mengatupkan selangkangannya, tetap tak berhasil karena pergelangan kakinya terikat erat ke ujung ranjang, hingga nafas hangat pak Burhan kini terasa menghembus di bukit kewanitaannya yang gundul klimis tercukur rapih. Farah meronta-ronta bagaikan orang sekarat ketika dirasakannya jari tangan pak Burhan mulai mengusap-usap bibir luar kelaminnya.

“Ayolah, neng manis… hisap, sepong dan kulum lagi barang antik bapak nih biar lama, coba rangsang sampai keluar pejuhnya, coba minumlah habis semuanya… kalau dah habis diminum kan nggak bisa nyiram dan nanam bibit lagi hari ini, hmm… tapi bapak juga mau coba gimana rasanya air madu neng, pasti manis kan… memeknya aja udah wangi begini, hehehe…” celoteh pak Burhan sambil melekatkan bibirnya yang tebal ke bibir kemaluan Farah.

Kini barulah Farah menyadari apa maunya pak Burhan : alat kejantanannya yang kaku tegak dihadapan wajahnya itu harus dikulum dan dihisapnya juga, dan jika sampai berhasil menyembur habis semua spermanya maka kemungkinan besar tak dapat membuahinya lagi.

Selain itu siapa tahu jika sudah ejakulasi dan dihisap habis di dalam mulutnya, maka pak Burhan akan tak dapat ereksi lagi dan hal itu mungkin akan menyelamatkan selaput kagadisannya. Farah harus pilih dari dua kemungkinan yang buruk, namun daripada diperawani dan sampai hamil, maka lebih baik jika mengulum penis yang menjijikkan dan sangat dibencinya itu.

Disertai dengan linangan air mata, Farah membuka bibir mungilnya dan mulai mengulum penis besar berurat-urat yang memancarkan aroma tak menyenangkan, lalu dijilat dan dihisap kepala jamurnya. Tanpa sadar apa yang dilakukan, Farah kini menjilati lubang kencing pak Burhan!

“Hmmh… sshh… ahhh… iya, ohhh… pinter! Teruus… bapak juga mulai cicipi air madu di celah memek yang rapet sempit milik neng, oooh… ntar dibelah ya, neng!” ujar pak Burhan sambil menjulurkan lidahnya menyelusup di celah vagina Farah yang mulai licin pula.

Sangat terkejut dan malu Farah merasakan hembusan nafas panas pak Burhan di permukaan kulit bukit kemaluannya, selanjutnya kumis baplang pak Burhan mulai menggelitik bibir luar memeknya sehingga ia kembali meronta-ronta karena kegelian. Rasa geli itu bahkan terkadang membuat Farah lupa akan ‘tugas’ yang harus dilakukannya. Apalagi ketika dirasakannya lidah nakal pak Burhan mulai menyelinap masuk di celah kegadisannya, dan menyapu-nyapu dinding kiri-kanan, mendorong serta membelah ke atas mencari tujuan utamanya, yaitu daging kecil yang tersembunyi diantara lipatan labia-nya.

Setelah ketemu yang dicarinya itu, maka pak Burhan dengan sengaja menjepit kelentit mungil itu diantara barisan gigi-giginya, kemudian digerakkannya rahangnya ke kiri dan ke kanan. Akibat gerakan rahang pak Burhan ini ternyata sangat luar biasa, Farah merasakan kelentitnya amat ngilu tapi juga geli dan sedikit sakit, sukarlah diuraikan dalam kalimat, sehingga ia hanya bisa menggeliat-geliat.

“Auuh… iiih… j-jangan, aiih… emmpfh… geli, pak, udah… hentikan… auw, emmpfh…” Farah menjerit-jerit dan bagaikan sedang histeris sebelum kemudian mulai mengulum kemaluan pak Burhan, seolah ingin ‘membalas’ perbuatan pemerkosanya.

Sementara itu tentu saja pak Burhan juga meningkatkan usahanya untuk membuat gadis muda yang masih murni dan alim ini menjadi mangsanya yang selalu haus akan seks. Selain kumisnya menggelitik kulit halus Farah, juga digesek-geseknya ke permukaan klitoris bagaikan sapu ijuk yang menusuk-nusuk. Selain itu jari-jari tangannya juga membuka paksa belahan bibir kemaluan Farah yang kemerah-kemerahan itu.

Kini terlihatlah bagian dalam kemaluan gadis itu yang masih tertutup selaput kegadisan tipis, dan juga lubang kencingnya yang kecil amat menggiurkan mata lelaki. Pak Burhan langsung menjadikannya sasaran, lidahnya mengusap dan mendorong-dorong selaput gadis pelindung kemurnian Farah hingga menyebabkan rasa ngilu nyeri agak sakit, sebelum ujung lidah itu menggelitik-gelitik lubang kencing yang membuat pinggul Farah makin bergeser-geser memberontak kegelian.

Tak hanya bergeser ke kiri dan ke kanan, namun Farah tanpa disadari mulai mengangkat pinggulnya sejauh mungkin namun tidak bisa karena kakinya terikat erat, itu seolah-olah menunjukkan kalau Farah sudah ketagihan!

Pak Burhan mengerti semua tanda ini : gadis alim shalihah ini mulai kehilangan rasa harga dirinya, ingin merasakan lebih banyak kenikmatan yang sedang menyiksanya. Selain itu Farah semakin mantap mengulum menyepong menjilat-jilat ujung saluran kencing pak Burhan yang tadi sangat membuatnya jijik, namun kini tak diperdulikan lagi aromanya yang khas kelaki-lakian.

Rentenir kelas kakap ini pun tak luput dari pengaruh mulut dan lidah serta gigi Farah, alat kemaluannya semakin tegang mengeras dan gejolak lahar di dalam biji pelirnya semakin mendekati titik mendidih untuk meluap. Pak Burhan menekan pinggulnya ke wajah Farah menyebabkan gadis malang ini semakin sukar untuk bernaas, masuk masuk masuk semakin dalam dan akhirnya dengan suara geraman bagai hewan terluka, pak Burhan menyemburkan spermanya.

“Ooooh… aaaah… iyaa, hisaap… hisaap… ayo terus, neng geulis manis, minum semua air mukjizat bapak… itu bagus untuk obat awet muda, aaah!!” teriaknya.

Surrrr… surrrr… jrooot… jrooot… surrrr… air mani pak Burhan dengan aroma khas lelaki menyembur memenuhi rongga mulut Farah, seolah-olah tak akan berhenti hingga menyebabkan Farah hampir tersedak dan terbatuk-batuk. Namun mengingat dan mengharapkan habisnya lahar panas dari biji pelir pak Burhan akan membuatnya tak mampu lagi ereksi untuk mengoyak selaput tipis kegadisannya saat itu, apalagi sampai menghamilinya, maka Farah berusaha terus menjilat mengulum dan menghisap kepala penis pak Burhan, meskipun lambungnya telah berontak dan rasa mualnya semakin menjadi-jadi menyebabkannya hampir muntah.

Untunglah rasa mualnya terganti dan bahkan terkalahkan oleh rasa gatal, geli dan nikmat di selangkangannya, karena pak Burhan disaat itu menggigit klitorisnya dengan sadis dan sekaligus tanpa diduga menusuk anusnya dengan jari tengahnya yang lebar dan kuku kasar tak terawat agak tajam.

Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Farah dan merupakan pemantik melewati batas daya tahannya sebagai gadis masih murni alim dan patuh pada agama. Ledakan orgasme tak dapat ditahan menjalar di seluruh tubuhnya. Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Farah yang demikian langsing semampai kini mengejang-ngejang melawan ikatan tangan dan kakinya. Jari-jari tangannya menutup membuat kepalan tinju, membuka, menutup–demikian pula jari-jari kakinya. Kepala Farah yang masih setengah tertutup jilbab ikut menengadah, menggeleng ke kiri dan ke kanan, lalu kembali menengadah. Sementara matanya seolah terbalik sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Cuping hidungnya nan bangir mancung kembang kempis menyertai aliran deras air mata di pipinya sementara bibirnya terbuka lebar.

“Aaah… aduh, aduduh… perihh… keluarin! Maluu… haram, pak! Aihh… oooh… t-tolong, auw… auw… auw… ampun!!” jeritan dan lolongan Farah menggema menimbulkan iba bagi yang mendengar, namun tidak menggerakkan rasa belas kasihan untuk pak Burhan yang sudah kemasukan setan.

Penuh kepuasan ia membaringkan dirinya di samping kanan tubuh Farah yang kejang-kejang terikat, mulutnya kembali menggigit puting buah dada kiri sementara tangan kirinya meremas dan mencubit buah dada kanan Farah. Tanpa memperdulikan Farah yang telah kehabisan tenaga serta lemas dilanda orgasme, tangan kanan pak Burhan tetap menjarah kemaluan mangsanya, dengan jari telunjuk dan ibu jari meraba, mengusap dan menjepit mencubit-cubit kelentit Farah yang masih agak menonjol diantara bibir kemaluannya. Dengan demikian pak Burhan seolah-olah ingin merangsang terus dan mempertahankan agar Farah tiada henti dilanda orgasme yang menyebabkan ia lupa segalanya .

Tujuan maksiat ini memang berhasil, Farah jadi meraung-raung, menjerit, meronta, dan menggeliat-geliat bagaikan kesurupan. “Udah, pak… oooh… udah, Farah nyerah… ampun… Farah pipis lagi, auw… auw… auw… ya Ilahi, tolong… aah, aiihh, oohh…” teriakan Farah semakin melemah dan akhirnya hampir tak terdengar karena gadis alim ini mencapai batas kemampuannya dalam mengalami orgasme dan sudah setengah pingsan.

Pak Burhan tersenyum bagaikan iblis karena telah mencapai kemenangan pertama–mangsanya telah kehabisan tenaga dan tergeletak terikat kaki tangannya dalam keadaan bugil telanjang bulat. Kini telah tiba saatnya untuk merenggut satu-satunya milik Farah yang selama ini dipertahankan dengan sebaik-sebaiknya oleh gadis itu dengan maksud untuk dipersembahkan di malam syahdu kepada suaminya yang sah.

Namun kini yang akan merenggut kegadisannya bukanlah sang suami, melainkan seorang lelaki jauh lebih tua yang ganas dan haus seks, seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya. Tanpa upacara agama yang diharapkannya untuk meresmikan akad nikah, tak ada ijab kabul yang diucapkan dihadapan penghulu agama. Pak Burhan mana peduli, yang penting nafsu birahinya akan terpuaskan dengan menembus selaput dara Farah. Apakah sang gadis rela menyerahkan kegadisannya itu bukan urusan lagi, semakin tampak keputusasaan dan rasa sakit tercermin di wajah begitu cantik itu maka akan semakin puaslah pak Burhan.

Penisnya yang besar hitam penuh dengan pembuluh darah telah menyemburkan mesiunya beberapa saat lalu ke dalam mulut Farah. Namun senjata kebanggaannya itu masih tegak kukuh berjaya bagaikan kayu pemukul kasti dan kembali siap maju untuk menghantam benteng pertahanan yang tersembunyi di tengah liang hangat yang mulai licin dengan air mazi lendir yang telah mengalir deras karena orgasme yang dipaksakan beberapa menit lalu…

Pak Burhan mengambil bantal guling yang agak keras diranjang itu lalu diletakkannya di bawah pantat Farah, menyebabkan bukit kemaluannya menonjol ke atas, terutama liang kewanitaan yang tampak berkilat basah kini muncul merekah. Dengan jari-jari tangan kirinya, pak Burhan kini menguakkan bibir kemaluan Farah, dan dengan tangan kanannya diarahkan kepala penisnya yang berbentuk topi baja seorang serdadu untuk meretas dan membelah memek idaman itu.

Keringat telah membasahi tubuh keduanya yang telah telanjang bulat, hanya perbedaannya adalah keringat Farah tetap tarasa harum di hidung pak Burhan, sebaliknya keringat pak Burhan yang menetes-netes dari dahinya ke perut Farah yang datar langsing itu terasa menyengat asam tak menyenangkan di penciuman gadis yang tengah dijarah. Tubuh Farah telah basah mengkilat dengan keringat yang keluar akibat semua daya upaya pergulatannya melawan orgasmenya, sedangkan keringat pak Burhan diakibatkan oleh usahanya merangsang dan menaklukkan gadis idamannya. Kini arus keringat yang membasahi tubuh Farah juga diakibatkan oleh rasa takut yang menyelubungi nuraninya karena sadar akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga. Sebaliknya pak Burhan makin mengucur keringatnya karena berusaha menerobos lubang kenikmatan Farah yang masih sangat sempit dan beberapa kali penisnya terpeleset ke kiri dan ke kanan.

Namun dia tak mudah menyerah, dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya, pak Burhan membuka celahan bibir kemaluan Farah. Tampaklah isi di dalamnya yang terkuak berwarna merah muda ibarat pepaya mengkal yang dibelah, di atasnya menonjol kelentit yang seolah malu-malu mengintip di antara lipatan bibir kemaluan. Mata pak Burhan yang telah terlatih dalam menilai liang kelamin wanita semakin mengarah ke bagian dalam vagina korbannya. Kira-kira sedalam satu ruas jari tengah, terlihatlah selaput dara Farah yang berbentuk bulan sabit tipis merayang penuh pembuluh darah sehalus rambut. Pak Burhan sangat puas melihat memang benar Farah masih utuh kegadisannya.

Pak Burhan hanyut dalam fantasi pikirannya bagaimana ia akan merasakan nikmatnya jepitan selaput perawan gadis alim ini. Namun sebelumnya ia akan berusaha kembali menghanyutkan Farah ke dalam arus gelora nafsu birahi, yang mana akan dirangsangnya lubang kencing Farah yang sangat mungil hampir tak terlihat di atas selaput daranya itu. Tak beda dengan lubang air seninya sendiri yang tadi dijilat dan dan disapu-sapu oleh lidah Farah, maka kini tiba gilirannya untuk melakukan hal yang sama. Pak Burhan menekan sedikit perut Farah di atas tulang kemaluannya dan ini menyebabkan si kandung kemih agak menyeruak keluar menampilkan lubang yang amat mungil itu dan langsung disambut oleh lidah pak Burhan yang menggelitik tiada hentinya.

Pinggul Farah yang begitu bahenol bergoyang ke kiri-kanan menahan rasa geli diperlakukan oleh lelaki yang sangat berpengalaman itu, ditahannya semua siksaan yang sangat memalukan itu dengan tabah, hanya air matanya semakin membasahi pipinya dan mulutnya semakin terbuka.

“Emmpfh… aaihh… oooh… ssssh… aaaah… j-jangan dijilat lagi… udah, pak, gelii… oooh… hiyahh… g-geli… ampuun!!” Farah menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, terkadang digigitnya bibirnya sendiri untuk menahan geli.

“Uuh, basah banget… hangat, tapi sempit amat nih lobang… tahan sedikit ya, neng… memang sakit, tapi pasti nanti jadi enak bagaikan masuk taman firdaus… hmmh… aah…” geram pak Burhan penuh nafsu, sambil berusaha merayu dan menghibur bidadari mangsanya yang akan segera diperawaninya.

Kini diarahkannya kepala penisnya ke tengah lipatan bibir kemaluan Farah, dan setelah beberapa kali gagal meleset, kini terjepitlah tombak pemecah selaput dara itu di celah surgawi tujuannya, dan dengan penuh rasa kepuasan pak Burhan mulai mendorong maju, menekan dan membelah…

“A-aduuh… auuww… a-ampuun, pak, h-hentikan! S-sakiit… udah… j-jangan dimasukin, pak… ampunn… aauuw!!” jeritan Farah menggema menyayat keheningan kamar, menimbulkan rasa iba bagi yang mendengar.

Namun hal itu malah semakin memicu nafsu birahi pak Burhan. Tanpa rasa belas kasihan, sang rentenier kakap ini semakin memajukan pinggulnya, maju, menekan, mendorong, membelah sehingga akhirnya jebollah pertahanan selaput tipis di dalam liang vagina Farah, si gadis alim shalihah.

Rasa ngilu dan sakit sedemikian mendera bagian kemaluannya bahkan terasa menusuk sehingga ke ulu hatinya, menyebabkan Farah tak mampu lagi mengeluarkan suara. Yang terlihat hanyalah mulut mungil dengan bibir basah setengah terbuka yang kembali diserbu diciumi sangat rakus oleh bibir tebal pak Burhan. Lidahnya yang sangat memuakkan itu kembali memasuki rongga mulut Farah, menyebabkan si gadis yang sedang disiksa ini semakin sesak nafasnya. Apalagi air liur pak Burhan penuh bau rokok keretek bertetesan mencampuri ludah Farah sehingga ciuman-ciuman pak Burhan terdengar berkecipak di tengah-tengah dengusan nafasnya.

Laju, masuk, menusuk, mundur sejenak, kemudian masuk lebih dalam, bagaikan pisau menyayat sekaligus lebarnya kemaluan pak Burhan bagaikan pentungan satpam memenuhi dinding vagina Farah. Pentungan daging ini menerobos tak henti-hentinya dan setelah bermenit-menit yang dirasakan bagaikan berabad-abad oleh Farah, maka terhentilah hantaman itu karena telah terbentur dan terhalang oleh mulut rahim.

“Oooh… nikmaaaaatnya neng houri! Gimana, mulai biasa kan dengan lumpang sakti bapak? Kasihan… masih perih ya diperawani? Tapi sebentar lagi neng pasti merengek minta tambah… ayo goyang dong pantatnya, kan mojang parahiangan paling jago ngebor dengan pantat bahenolnya… goyang yang mantep, neng… iya, gituu… terus, neng, pinter!!” pak Burhan tak peduli bahwa Farah berusaha menggeser pinggulnya ke kanan dan ke kiri karena merasa ngilu kesakitan.

Pak Burhan kini mulai lagi dengan meremas-remas buah dada Farah dengan penuh kegemasan, puting yang selalu mencuat itu kembali dijadikannya sasaran pilinan, pjitan, cubitan dan gigitan sadis.

“Hhhm… putihnya nih susu. Neng punya darah amoy kali ya, geli nggak neng dijarah teteknya? Belajar deh neng dari sekarang, siapa tahu neng ntar jadi bini bapak. Bangun pagi bapak paling seneng minum kopi susu asli, hhmm… nih puting, kenyal digewel-gewel…“ Tak habis-habisnya pak Burhan memuji kedua bukit daging yang kini telah kemerahan penuh cupangan dan gigitan.

Dengan keahliannya pak Burhan terus menerus memancing keluar hormon kewanitaan Farah yang biar bagaimanapun adalah wanita normal, tubuhnya sedang diperkosa habis-habisan, semuanya dirasakan bagaikan siksaan di neraka. Namun para iblis di neraka tak henti-hentinya menyebarkan jaringan dan jeratan rasa lain di tubuh Farah. Sakit, ngilu, perih tak hentinya, namun dari sudut dan dasar paling dalam di benaknya muncullah rasa lain; rasa panas, geli dan nikmat. Semua bercampur baur, bergantian menerpa ujung-ujung ribuan syaraf tubuhnya. Semua panca indera Farah yang semula hanya mengenal satu : kemuakan dan kebencian terhadap si pemerkosa, perlahan-lahan di transformasi menjadi rasa keinginan untuk mempertahankan apa yang sedang dialami.

Telinga pak Burhan yang sudah sedemikian ahli menangkap perubahan dari jeritan dan rintihan sakit menjadi desah dan dengusan nafas memburu seorang wanita yang dipengaruhi rasa birahi!

“Mulai enak ya, neng? Ngaku lah, nggak ada salahnya jujur ama bapak. Ntar lagi neng akan masuk firdaus, bapak cepetin nih genjotannya. Bilang ya kalo udah mau nambah, hehehe…” ujar pak Burhan yang melihat tanda-tanda gadis yang telah diperawaninya itu mulai hancur pertahanannya yang terakhir. Oleh karena itu pak Burhan makin meningkatkan tempo genjotan dan tusukannya.

“Hmmpfh… sssh… aaah… pak, ooohh… u-udah, pak… saya nggak kuat lagi, oooh…” Farah mulai hanyut terbawa arus godaan dan bujukan rasa hangat gatal di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kemaluannya yang semakin lama semakin terasa panas akibat tergesek-gesek dengan batu lumpang daging.

“Tahan dikit ya, neng, bapak mau nyumbang pejuh nih… siapa tahu ada buahnya, aaah… oooh… sempit amat… duh, angetnya nih memek mojang parahiangan tulen… iya gitu, goyang terus, terus… pijit-pijit batang pusaka bapak, oooh… bapak keluar nih…”

Pak Burhan untuk kedua kalinya menyemburkan lahar panasnya dan kali ini menyiram mulut rahim korbannya, kemaluannya berdenyut-denyut kencang membuat Farah jadi menjerit histeris ketakutan.

“Aaih, sssh… keluarin, pak, jangan buang di dalam… ntar hamil, aauoh… shhh… ngilu, pak, udah dong… aauw, a-ampun!!” Kali ini Farah bagaikan disergap oleh gelombang tsunami menderu-deru di otaknya, hanya jutaan bintang berkunang-kunang. Kepalanya terasa terputar-putar dan akhirnya semua mulai kabur, berwarna abu-abu dihadapan matanya dan hitam gelap pada saat Farah tak tahu apa-apa lagi karena jatuh pingsan…

Harapan Farah hanya sia-sia saja, pak Burhan ternyata sama sekali tidak berkurang daya kemampuannya setelah ejakulasi pertama di mulutnya tadi. Rentenir cabul ini tetap sanggup mempertahankan ereksi-nya, sehingga dapat menembus selaput kegadisan Farah. Bahkan setelah sempat menyemburkan spermanya ke dalam rahim Farah maka ia cukup beristirahat sebentar. Pada waktu mana Wati memberikan teh jahe dicampur ramuan-ramuan desa yang rupanya dalam waktu singkat dapat memulihkan daya kemampuannya memasuki ronde berikutnya.

Kali ini dengan penuh kemesraan pak Burhan memeluk tubuh Farah yang masih telanjang bulat dan setengah pingsan itu dalam posisi menyamping. Dalam posisi mana pak Burhan memeluk Farah dari arah belakang, nafasnya yang hangat menggelitik kuduk dan telinga Farah. Tangan pak Burhan yang besar dan kasar mengusap pundak, kedua buah dada nan montok dan dipilin-pilinnya puting yang kembali mengeras dan mencuat indah disertai lenguhan Farah secara tak sadar.

Tangan itu kemudian turun mencari celah kemaluan Farah yang masih basah licin karena campuran lendir vagina, sperma dan juga darah keperawanannya. Tak dapat menahan nafsunya, maka pak Burhan beberapa menit kemudian membalikkan tubuh Farah menjadi terlentang dan diperkosanya kembali. ‘Luka’ dinding memek Farah akibat proses penembusan selaput daranya kembali tergesek-gesek dan dirasakan sangat nyeri ngilu. Namun Farah sudah terlalu lemah untuk protes apalagi melawan, ia hanya bisa menangis terisak tersedu-sedu dan pasrah ditaklukkan si rentenir tua.

Pak Burhan menyetubuhinya tanpa rasa kasihan, sambil membisikkan sesuatu ke telinga Farah, menyebabkannya menggeleng kepalanya dan tangisannya semakin menimbulkan iba.

Namun sejak itu pak Burhan tak pernah lagi mempersoalkan hutang keluarga Ustadz Arief Ubaidillah, dan buku-buku karangan Farah dapat dirilis oleh percetakan lainnya…

Beberapa bulan kemudian dirayakan sebuah pesta pernikahan besar di sebuah balai desa di luar kota Bandung. Siapakah pasangan mempelai itu–banyak pengunjung berbisik-bisik mengatakan bahwa pasangan pengantin yang duduk di pelaminan itu amat tidak serasi, baik usia maupun penampilannya.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 1

Sobri Handoko, 50 tahun, akhirnya menghela napas lega setelah berhasil memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah yang hampir-hampir dikatakan kumuh itu. Jalan depan yang begitu sempit memaksa duda beranak satu ini harus berjibaku, mengeluarkan seluruh kemampuan mengemudinya hanya demi memarkir CRV hitamnya di halaman rumah yang sedari pagi tadi dicari-carinya. Rumah itu berdesain kuno, bukan antik. Sepertinya rumah itu telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan belum pernah sekalipun direnovasi. Untungnya, rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan hijau sehingga setidaknya sedikit membuatnya berkesan teduh dan menyenangkan para tamu.

Pak Sobri yang bertubuh kurus dengan keriput yang jelas nampak di sana sini, khas pria yang sudah menginjak usia tuanya, langsung menutup pintu mobilnya sendiri begitu ia keluar. Ototnya terlihat masih berisi di usia senjanya membuat ia belum tampak seperti kakek-kakek setengah renta. Di sisi mobil mewah tersebut, telah menunggunya seorang lelaki paruh baya yang berusia sekitar 30 tahunan yang tadi juga ikut membantu pak Sobri memarkirkan mobilnya

Lelaki itu berparas tampan dengan jenggot tipis menggantung di dagunya. Walau pakaiannya biasa saja, kaos oblong dengan sarung, namun tubuhnya terlihat begitu tegap. Penampilannya kontras sekali dengan Pak Sobri yang tampil sedikit perlente namun tetap saja wajahnya terkesan buruk rupa dan bahkan sinar matanya yang tajam melirik kiri kanan terlihat amat menyeramkan.

“Assalamualaikum, Ustadz Mamat. Lama tak ketemu nih, apa kabar di rumah?” tanya pak Sobri pada lelaki yang jauh lebih muda dari dirinya itu sambil menjabat tangannya.

Ternyata lelaki muda itu adalah Ustadz Mamat Salam, seorang dari lulusan Universitas Islam Madinah yang lumayan cukup terkenal di wilayah Cibubur. “Waalaikumsalam, Pak Sobri. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Bapak juga sehat-sehat saja kan?“ demikian jawab Ustadz Mamat mulai berbasa-basi dengan Pak Sobri yang baru datang. Dari cara berbicara mereka tampak bagaikan dua teman akrab yang sejak lama tidak pernah bertemu.

“Ya, begitulah baik-baik saja. Rumah ustadz terpencil begini, jadinya saya kesasar melulu, hehe.“ jawab pak Sobri menyambut ucapan ustadz Mamat sambil berusaha membuat gurauan.

“Yah, beginilah keadaan saya, Pak. Mari silahkan masuk sajalah ke dalam,” sambung ustadz Mamat mempersilahkan tamunya melewati pintu rumahnya.

Begitu masuk Pak Sobri langsung melihat sekelilingnya. Ternyata interior rumah tersebut tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya. Hanya ada sebuah meja dan empat buah kursi dari bambu di ruang tamu tersebut, tak ada yang lain. Ruang tamu dipisahkan dengan bagian belakang rumah tersebut oleh sebuah tirai hijau besar yang berfungsi sebagai hijab.

“Mari-mari, silahkan duduk, pak Sobri. Seadanya saja, jangan malu-malu. Anggap rumah sendiri,” ustadz Mamat mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu.

“Ummi, ummi… coba tolong ambilkan minuman, abbi kedatangan tamu nih,” teriak Ustadz Mamat pada isterinya yang ada di balik hijab.

Begitu Pak Sobri duduk, mereka kembali melanjutkan dialog yang renyah dan santai. Sepertinya mereka sudah lama kenal dan terlihat begitu akrab. “Hehe, lalu bagaimana kabar buku terbaru Ustadz, kira-kira kali ini akan mengambil tema baru apa, atau melanjutkan pelbagai tema lama tapi yang tetap hangat itu?” tiba-tiba Pak Sobri memulai pembicaraan yang sedikit serius.

Sudah sekitar 2 tahun lebih Ustadz Mamat bekerja sama dengan Pak Sobri dalam penerbitan buku-bukunya. Pak Sobri yang cukup kaya dan dermawan itu dengan ikhlas membantu Ustadz Mamat menyediakan dana untuk penerbitan buku-buku berisikan tema agama. Ia adalah mantan juragan tanah yang ingin bertobat dari perbuatan-perbuatan nistanya di masa lalu dan berguru pada Ustadz Mamat. Saat ini pun, kedatangan Pak Sobri adalah untuk membahas soal penerbitan buku-buku agama.

Sejak dahulu, mereka membahas segala sesuatu tentang penerbitan buku, pada umumnya hanya lewat tilpon. Paling hanya sekitar 4-5 kali mereka bertemu di kantor penerbitan. Namun kali ini, Pak Sobri ingin berbicara langsung dengan Ustadz Mamat di rumahnya. Selain untuk bersilaturrahmi dengan Ustadz Mamat, pak Sobri sebagai ayah satu orang putri ini memang ingin mengunjungi putri dan menantunya yang juga tinggal di daerah Cibubur. Ia sendiri tinggal di Bandung. Oleh karena itu, tadi pagi Pak Sobri sedikit kerepotan mencari rumah Ustadz Mamat yang ternyata cukup terpencil, karena memang ia baru pertama kalinya mengendarai mobil sendiri memasuki daerah terpencil itu, beberapa kali ia harus turun dan menanyakan jalan pada orang yang lewat.

“Kemungkinan besar sih bertemakan Ramadhan, Pak. Seperti yang kita tahu bulan Ramadhan kan sudah dekat, jadi sepertinya ini waktu yang tepat untuk menerbitkan buku bertemakan Ramadhan, sehingga dapat dipakai renungan.” demikian Ustadz Mamat berusaha menerangkan isi karangan bukunya.

Mulailah mereka membahas banyak hal seputar penerbitan buku, mulai dari budget, deadline, dan desain buku. Mereka begitu asyik berbincang hingga hampir-hampir mereka tak mendengar ketika isteri Ustadz Mamat memanggil suaminya dengan suara yang halus hampir tak terdengar.

“Abi, ini silahkan dicoba minumannya bersama,” demikian desah suara lembut nan merdu terdengar dari balik tirai.

Pak Sobri pun mengerti karena memang para akhwat biasanya memerdukan dan merendahkan suara bila berbicara dengan suaminya. Sungguh beruntung Pak Sobri bisa mendengar suara suci nan merdu tersebut, apalagi sesaat kemudian sepasang tangan yang begitu putih, mulus, terawat, tanpa cela milik seorang isteri yang shalihah dengan jari-jarinya yang lentik keluar dari bawah tirai sambil menyodorkan nampan. Dengan mendengar suara dan melihat jarinya saja, darah kejantanan Pak Sobri yang sudah 5 tahun menduda dan tak tak pernah puas ingin selalu merasakan belaian wanita itu langsung berdesir.

Namun ia cepat-cepat menghapus pikiran kotornya, ia sadar bahwa wanita di balik tirai itu adalah isteri Ustadz Mamat yang merupakan gurunya. Walaupun sebenarnya, Pak Sobri telah lama sekali benar-benar penasaran terhadap isteri Ustadz Mamat tersebut, bahkan terbersit keinginan untuk berkenalan, melihat dan menjamah kulitnya yang pasti halus sangat terawat.

Pak Sobri pun mengingat-ingat akad nikah Ustadz Mamat yang dihadirinya sekitar satu setengah tahun yang lalu di Bandung. Isteri Ustadz Mamat bernama Aida Handayani, anak pertama dari pasangan Arief Ubaidillah, seorang keturunan Arab, dan Siti Nurhana, mantan sinden cantik asli Bandung. Pasangan itu mempunyai 4 orang puteri yang, kata orang, semuanya cantik-cantik dan taat beragama. Baru Aida yang telah menikah dengan Ustadz Mamat, yang lainnya masih gadis.

Putri kedua mereka bernama Farah Wulandari, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang kini menjadi seorang penulis novel islami. Adiknya yang masih 20 tahun, Nurul Tri Lestari, masih menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Sedangkan yang paling bungsu, Asma Maharani, masih duduk di bangku SMA di Bandung.

Pak Sobri mendapatkan informasi itu semua dari Ustadz Mamat sendiri ketika beliau akan menikah. Waktu itu memang Pak Sobri turut membantu persiapan pernikahan tersebut karena ia juga tinggal di Bandung. Pikiran kotor Pak Sobri pun langsung melayang tinggi, “Melihat tangan udah bikin horny, bagaimana kalau gue bisa melihat seluruh tubuh Ukhti Aida yang katanya cantik itu, huhu, bagaikan kena undian berhadiah ratusan juta.” demikian pikir pak Sobri.

Sebelum bertobat dan berguru dengan Ustadz Mamat, Pak Sobri adalah seseorang yang boleh dibilang cukup bejat. Dengan harta yang dimiliki, ia sering main perempuan. Entah berapa orang pelacur yang sudah ia pakai. Minuman keras dan judi pun telah menjadi makanan sehari-harinya. Sampai-sampai isterinya tak kuat menahan beban berat seperti itu dan jatuh sakit kemudian meninggal. Sejak kematian isterinya itulah Pak Sobri mulai ingin bertobat, dan kebetulan ia bertemu dengan Ustadz Mamat.

Ustadz Mamat membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar, dan sebagai gantinya pak Sobri membantu Ustadz Mamat menerbitkan buku-buku Islam. Namun akhir-akhir ini, beberapa teman lamanya datang ke rumahnya dan Pak Sobri pun sedikit terpengaruh dan kembali menyewa pelacur-pelacur di Bandung. Jadi wajar kalau pikirannya pun kini dipenuhi dengan imajinasi-imajinasi yang kotor membayangkan tubuh dari istri gurunya itu.

Seperti doa yang langsung terkabul, tiba-tiba sebuah angin kencang menerobos masuk dari arah pintu depan dan langsung menembus tirai hijau besar itu. Ustadz Mamat baru sadar kalau ia telah lupa menutup pintu depan tadi. Seketika itu pula tirai itu terbuka lebar menampakkan dengan jelas apa yang ada di baliknya. Pak Sobri pun mendapatkan apa yang baru saja diimpikannya.

Aida Handayani, isteri Ustadz Mamat yang baru berusia 26 tahun itu sedang terduduk sambil sedikit menunduk. Ia tampak kaget ketika tirai di hadapannya tertiup angin sehingga terbang dan terbuka lebar. Dan begitu ia menyadari kalau tamu suaminya yang seumuran ayahnya itu sedang memandangi tubuhnya, ia langsung berusaha menahan gamis panjang dan cadarnya agar tidak ikut terbang. Ia menahan cadarnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya berusaha menutup bagian dada yang terhias dua gunung montok dan juga perutnya yang sangat langsing datar.

Namun sayangnya, angin nakal itu cukup lama berhembus sehingga Pak Sobri mampu menatap dan mengingat setiap detail tubuh ummahat yang cantik itu dengan jelas. Usaha Ustadz Mamat menutup tirai itu pun tampak sia sia karena tidak juga mampu menutupi tubuh isterinya dari pandangan lapar mata tamunya tersebut. Seketika Pak Sobri meneguk ludahnya sendiri. Ternyata isteri gurunya itu tak hanya cantik, tapi juga seksi dan bahenol. Ia harus banyak berterima kasih pada angin tadi yang telah menunjukkan segalanya, masa bodoh apakah itu angin iblis, pikirnya.

Dahulu ia hanya mampu membayangkan kira-kira wajah Aida sejak mengetahui ayahnya keturunan Arab. Ummahat itu pasti mempunyai hidung yang mancung. Pak Sobri memang tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya bagian matanya saja karena Aida memakai cadar. Namun mata yang indah dan tajam itu telah cukup memberitahu bahwa pemiliknya adalah seorang bidadari yang cantik jelita dengan kulit yang putih mulus tanpa cela.

Namun yang paling membuat birahi Pak Sobri meledak-ledak adalah gunung kembar di dada Aida. Ia mampu melihatnya dengan jelas karena posisi Aida yang sedikit menunduk tadi. Ummahat itu ternyata memiliki payudara yang berukuran melebihi normal. Ia taksir dari cetakan bra di gamisnya tadi bahwa isteri Ustadz Mamat yang begitu alim itu berukuran 38. Ukuran payudara sebesar itu benar-benar mampu membuat para pria begitu bernafsu untuk meremas dan menghisap putingnya yang pasti masih segar, walaupun se-shalihah apapun pemiliknya tak ada yang wanita yang sanggup melawan nafsunya sendiri jika buah dadanya diremas dan putingnya dipilin, dicubit serta digigit oleh lelaki yang tahu bagaimana caranya menaklukkan wanita.

Tak hanya besar, payudara Aida pasti juga mempunyai bentuk yang kencang, montok dan indah. Pak Sobri dapat mengetahuinya ketika Aida memeluk perutnya sendiri, payudara itu tampak membuncah-buncah seakan memanggil-manggil minta dihisap dan diremas. Body ummahat itu pun sekilas tampak proporsional, begitu seksi menggairahkan bagaikan bentuk gitar Spanyol.

Merasa risih akan tatapan Pak Sobri yang seperti menelanjanginya itu, Aida langsung berdiri dan berjalan cepat ke belakang menjauh dari ruang tamu. Namun malang bagi Aida, karena angin belum juga berhenti bertiup saat itu. Ketika ia berjalan, Pak Sobri sempat melihat dengan jelas bayangan celana dalam dan belahan pantatnya yang tercetak jelas di gamisnya yang kebetulan berbahan tipis dan berwarna cerah karena ia sedang ada di rumah. Pantat ummahat yang seksi dan bahenol itu bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, berputar mengebor naik turun, seolah sedang menggoda mengundang tangan lelaki untuk meremas-remas dan mencari belahan tangahnya.

Pak Sobri bagaikan telah tak mampu lagi menahan nafsu birahinya yang selama ini terpendam. Ia ingin langsung saja menyelipkan kemaluannya yang cukup besar dan telah mulai berdenyut-denyut ke selangkangan ummahat itu. Namun karena ia sadar bahwa masih ada Ustadz Mamat di hadapannya, maka ia pun menyembunyikan gundukan daging di selangkangannya yang sudah berontak. Ia mencoba bersikap tenang, walaupun bayangan seorang Aida Handayani yang berpayudara besar dan berbody sintal nan seksi itu begitu memancing semangat kejantanannya.

“Pak Sobri, anda tidak apa-apa?“ demikian teguran Ustadz Mamat dengan nada yang bersifat mengingatkan memecah semua khayalan cabul pak Sobri.

“Owh, tidak ada apa-apa, cuma pusing sedikit. Sampai dimana tadi pembicaraan kita?” demikian pak Sobri berusaha menutup-nutupi gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Mereka pun kembali memperbincangkan bisnis sampai sekitar 45 menit. Selama itu pula Pak Sobri terus melirik ke arah hijab berwarna hijau itu, berharap ada angin lagi dan ia bisa melihat tubuh ummahat seksi impiannya tadi. Namun semuanya sia-sia, sampai pembicaraan itu selesai, tak ada lagi kejadian aneh di rumah itu. Hingga akhirnya Pak Sobri pun dengan rasa sedikit penasaran pamit dan langsung menuju ke rumah anak perempuannya yang berada di daerah Cibubur juga, namun sepanjang jalan pak Sobri tetap melamunkan istri Ustadz Mamat.

“Aida Handayani, ahh… aku harus bisa merasakan tubuh indahmu itu, persetan sudah menikah dengan Ustadz Mamat, bagaimana dan apapun terjadi aku harus mendapatkan dan merogolmu.” pikir Pak Sobri di dalam mobil sambil mengocok-ngocok kemaluannya sendiri ketika menyetir mobil setelah ia membuka rits celana dan mengeluarkan si ‘otong’nya dari celana dalamnya.

Di malam itu pak Sobri tak dapat tidur dengan tenang, di dalam bayangan mimpinya Aida telah berhasil dijebak dan berada sepenuhnya di dalam genggamannya. Bantal guling yang dipeluk dan ditindihnya semalaman itu diimpikannya adalah tubuh telanjang Aida yang meliuk meronta-ronta menggeliat putus asa ketika berhasil dikuasai dan direjang di kasurnya sebelum akhirnya dengan rintih memilukan merasakan sadisnya nafsu pak Sobri.

***

Sementara itu di sebuah rumah lain di kawasan Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan,” demikianlah suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar.

“Iya, pak. Saya faham dan mengerti sepenuhnya, terima kasih sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas dan amat kecewa.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya. Disadarinya bahwa tak mudah menjual buku agama pada saat ini.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat.

Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak pemuda ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum ia dengan hati sukacita dan penuh rela akan memasuki jenjang pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telpon, Farah, apakah ada urusan penting untuk diselesaikan?” suara lembut Siti Nurhana, ibunda Farah, membangunkannya dari lamunannya yang tak menentu.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah saat ini belum bisa masuk untuk dicetak.” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang menandakan kecewa.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana mulai menukar pakaiannya sambil berkemas-kemas untuk berangkat menuju ke pangkalan bus.

“Nggak apa-apa koq, ummi. Salam dari Farah yah sama Abi, semoga Abi lekas sembuh dan cepat dapat pulang kembali ke rumah di tengah keluarga kita,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah 4 putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga lagi. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya.

Di rumah hanya ada Farah, Asma yang masih SMA, dan ibunya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik. Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah. Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal tiga hari lagi, dan Mang Burhan telah menelpon kemarin pagi untuk menagih kembali hutang itu.

Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang?

Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis berkacamata itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan ia pun berniat untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan melakukan apa saja demi keluarga yang begitu dicintainya.

***

Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida

Aida menarik nafas sangat dalam, kemudian dilanjutkan dengan menguap sangat panjang dan lama sambil menahan rasa kantuknya. Hari ini ia memang bangun amat dini : sekitar jam 5 pagi Aida telah menyiapkan makan pagi bagi suaminya karena ustadz Mamat mempunyai tugas. Tugas panggilan yang ditawarkan oleh pak Sobri, yaitu memberikan ceramah kepada para calon peserta Musabaqoh Tillawatil Qur’an. Pak Sobri meminta agar ustadz Mamat bersedia memberikan ceramah mengenai agama kepada para calon, karena adik terbungsu dari istrinya yang bernama Asmirandah – panggilan sehari-hari Asmi – diharapkan akan ikut pertandingan.

Asmirandah adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang kelakuannya sehari-hari mulai agak menyimpang dari ajaran agama, sehingga mencemaskan orang tuanya. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan dengan menyuruhnya untuk ikut perlombaan membaca ayat-ayat Qur’an dan sebelumnya mendengarkan ceramah agar bisa memperdalam pengetahuan agamanya.

Apakah pak Sobri kini berubah menjadi seorang yang alim saleh sehingga sangat memperdulikan persiapan iman dari calon pengikut musabaqoh, apakah tidak ada udang dibalik batu?

Jawabannya mudah sekali diduga : tempat dari pemberian ceramah itu bukan dekat rumah ustadz Mamat, melainkan di desa Jamblang yang tak jauh dari kota Cirebon. Selain itu, ceramah yang diminta oleh pak Sobri kepada ustadz Mamat cukup memakan waktu lama sehingga tak dapat diselesaikan dalam sehari. Memang Pak Sobri menanggung semua biaya perjalanan, biaya penginapan dan segala akomodasi, di samping itu sebagai balas jasa, ustadz Mamat juga diberikan honorarium dalam jumlah cukup besar yang dapat dibandingkan dengan penjualan buku hasil karya sang Ustadz setahun lalu.

Apakah pak Sobri sedemikian baik hati dan menjalankan fitrah sebagai dermawan?

Semuanya itu ternyata hanyalah muslihat belaka untuk memancing ustadz Mamat agar bisa meninggalkan istrinya, Aida, selama dua malam. Selama kesempatan itu, pak Sobri ingin mendekati Aida, ingin merayunya dengan palbagai cara, ingin merasakan kehangatan tubuh bidadari idamannya itu. Pak Sobri telah dikuasai oleh bujukan iblis untuk mengatur semuanya – dan memang kemampuan iblis mengatur tak boleh dipandang ringan.

Seolah awan gelap sedang menyelubungi keluarga ustadz Mamat, maka di hari pertama yang sama ketika ustadz Mamat berangkat ke Jamblang untuk memberikan ceramah, Farah pun kebetulan pergi menemui pak Burhan si rentenier kakap untuk negosiasi memperoleh pinjaman uang. Bacalah episode lain dari cerita ini : « Tragedi Farah »

Setelah memasak sederhana seadanya untuk makan siang dan menjemur pakaian kotor yang telah dicucinya di halaman belakang, maka Aida akhirnya memutuskan untuk sebentar memejamkan mata menghilangkan rasa kantuknya. Adiknya, Farah, juga telah pergi pagi tadi untuk mencari percetakan lain yang bersedia menerbitkan buku-buku agama karangannya. Farah tak mau cerita kepada Aida mengenai rencananya negosiasi dengan pak Burhan karena Farah tahu bahwa Aida tak senang dan selalu mencurigai pak Burhan sebagai lelaki mata keranjang. Setelah itu Farah mengatakan akan mengunjungi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, karena itu kemungkinan besar akan lama meninggalkan rumah dan makan seadanya di kantin rumah sakit.

Aida menghela nafas panjang dan merebahkan diri di bangku panjang di dekat ruang makan. Sayup-sayup seolah muncul terbawa deru angin, Aida mendengar ketukan pintu dan terdengar namanya dipanggil. Pertama Aida mengira bahwa itu hanya sekedar mimpi, namun setelah empat lima menit ketukan di pintu depan dan panggilan namanya tak kunjung berhenti, disadarilah olehnya bahwa itu memang bukan mimpi, tapi benar-benar ada orang yang mengetuk pintu.

Sebagai istri yang alim shalihah, Aida agak ragu menjawab ketukan pintu, apalagi mendengar suara panggilan itu jelas keluar dari mulut seorang lelaki. Aida menjadi takut dan bertekad tak akan buka pintu!

“Ummi Aida, ummi Aida, tolonglah buka pintu. Ban mobil saya rupanya kena paku hingga bocor, dan saya butuh air karena karburator terlalu panas sehingga tak mau jalan motornya. Tolonglah, ummi, hanya sebentar saja minta air dan ganti ban, lalu saya langsung pergi lagi, ” demikian terdengar suara lelaki di depan pintu yang akhirnya dikenali Aida sebagai suara dari pak Sobri.

Di dalam benaknya Aida mulai ragu, bukankah menolong orang sedang kesusahan sudah menjadi kewajiban setiap manusia, apalagi seorang tekun beragama seperti ia sendiri. Lagipula yang membutuhkan pertolongan itu bukan lelaki yang sama sekali asing, melainkan pak Sobri yang di masa lalu sering kerja sama dengan suaminya untuk menerbitkan buku, juga pak Sobri bahkan hadir ketika pesta pernikahannya sendiri dengan ustadz Mamat.

Sangat hati-hati Aida mendekati jendela kecil yang tertutup gorden untuk mengintip keluar dan diharapkannya tak langsung akan terlihat oleh pak Sobri. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak Sobri bahwa ban mobil belakangnya di bagian kiri kempés sehingga mobil itu terlihat miring sebelah. Namun yang mengejutkan Aida adalah ketika melihat kemeja pak Sobri telah basah kuyup dengan keringat dan tangan kirinya terlihat berlumuran cairan merah menetes dari jari-jarinya. Pak Sobri agaknya terluka dan berdarah.

Apakah kealiman dan ke-shalihahan seorang istri setia tetap dipertahankan dengan tidak menolong atau bahkan mengusir lelaki bukan suaminya itu, ataukah kesediaan untuk membantu sesuai dengan rasa peri kemanusiaan harus lebih diutamakan?

Aida tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Di satu pihak hati nuraninya menuntut untuk wajib menolong, sementara di lain pihak fikiran sehatnya masih ragu tak yakin apakah ia tak akan salah langkah?

“Tolonglah, ummi… saya hanya ingin diberikan air dingin untuk karburator motor, juga minum sedikit sebelum saya ganti ban dan cuci tangan. Kemudian saya segera akan pergi secepatnya, ” demikian ucapan pak Sobri memecahkan keheningan sejenak, dan dengan kalimat terakhir ini Aida memutuskan untuk melepaskan prinsip ke-aliman-nya dan bersedia menolong.

Padahal semuanya sudah diatur dan dirancang masak-masak oleh pak Sobri : ban mobilnya sebenarnya tidak bocor, namun beberapa menit lalu dilepaskan ventil-nya sehingga sebagian besar udara keluar menjadikan mobil itu miring. Selama perjalanan ke rumah Aida, dengan sengaja semua jendela ditutup dan airco tak dipasang, sehingga di tengah teriknya matahari pak Sobri sudah basah dengan keringat. Cairan merah yang terlihat membasahi jari-jari tangannya adalah tomato ketchup yang disimpannya minggu lalu ketika makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken. Sedangkan karburatornya sama sekali tidak kekurangan air.

Namun seorang wanita seperti Aida tentu saja tak paham mengenai persoalan mesin mobil, sehingga dengan mudah dapat ditipu! Aida merapihkan pakaian dan jilbab putihnya yang lebar itu dan dengan menundukkan kepala dibukanya pintu depan rumahnya dengan perlahan…

Pak Sobri melangkah masuk – Aida telah masuk dalam jebakan!!

“Terima kasih banyak, ummi, saya ambil air saja di jerigen kecil ini. Mohon untuk ke belakang sebentar untuk hajat kecil dan cuci tangan, dan saya akan segera pergi lagi,” demikian pak Sobri melihat arah belakang rumah di balik hijab yang ditunjuk oleh Aida.

Setelah itu Aida segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum tamunya. Tak disadari oleh Aida bahwa nafsu birahi pak Sobri telah naik ke-ubun-ubun ketika melihat betapa menggairahkan langkah Aida di balik gamisnya yang tak mampu menyembunyikan goyangan bongkah pantat yang begitu padat bulat, goyangan dan putaran sedemikian alamiah tanpa dibuat-buat!

Aida telah meletakkan segelas air putih di atas meja kecil ruang tamu dan ingin berbalik untuk kembali ke dapur, ketika mendadak tubuhnya disergap dan dipeluk dari arah belakang. Teriakannya juga segera teredam karena mulutnya dibekap oleh tangan lelaki yang sangat besar kasar dan berbulu, tangan yang beberapa menit lalu dilihatnya berlumuran cairan merah kental kini menyekat bibir mungilnya.

Aida berontak dan menggelinjang sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari ancaman bahaya yang akan menimpa, namun apalah arti tenaga seorang istri setia bertubuh asri semampai menghadapi lelaki yang telah lama menginginkannya dan kini telah menerkamnya bagai singa menerkam kancil lemah – dan kancil ini segera diseret untuk memasuki kamar tidur!

“Hmmppffh… iieeehmph… tolooong ! N-nggak maau… lepaskan ! Auuw… ieeffhhh… ” caci maki suara Aida yang teredam sehingga tak keluar semuanya.

Pak Sobri tak perduli atas protes dan rontaan korbannya, karena dengan tenaganya yang sangat kuat ia telah berhasil menyeret mangsanya memasuki kamar tidur yang selama ini hanya dihuni dan ditiduri oleh Aida dan suaminya yang sah, yaitu ustadz Mamat. Pergulatan dua insan tak sebanding tenaga itu semakin menjadi ketika pak Sobri telah berhasil menghempaskan Aida ke atas ranjangnya.

Tubuh pak Sobri yang agak gemuk di atas 75 kilo itu semakin penuh dengan keringat ketika ia semakin ganas menindih tubuh Aida yang hanya sekitar 46 kilo. Mulut Aida yang selalu terhias dengan senyum manis itu kini tertutup oleh bibir dowér pak Sobri. Bukan hanya ciuman-ciuman rakus yang sangat mengganggu, namun aroma tidak menyenangkan disertai bau rokok membuat Aida sangat muak. Apalagi ketika dirasakannya bahwa pak Sobri menjulurkan lidahnya yang penuh ludah menjijikkan menerobos masuk, Aida mulai sangat mual dan terasa ingin muntah.

Aida berusaha mencakar muka dan terutama mata si pemerkosanya, namun pak Sobri sangat sigap dan langsung dengan hanya satu tangan berotot dan jari-jari sangat besar bagaikan beruang merejang kedua pergelangan tangan Aida. Ditekan dan diringkusnya kedua nadi nan langsing itu ke atas kepala yang masih terlindung jilbab, sehingga Aida tak mampu bergerak apalagi mencakar. Dengan ditindih tubuh sedemikian berat, Aida merasakan sangat sukar bernafas dan semua gelinjang gelisah serta rontaannya justru semakin memacu birahi pak Sobri.

Dirasakan oleh lelaki durjana ini betapa lembut nan montok dua bukit gunung penghias dada Aida, membuatnya jadi semakin horny. Dengan kasar dan tanpa kesabaran sama sekali, Aida merasakan selembar demi selembar, lapis demi lapis baju gamis penutup pelindung tubuhnya dihentak ditarik oleh pak Sobri. Amat berbeda dengan apa yang dialami jika sedang bercinta dengan suaminya, ustadz Mamat… kini tubuhnya yang muda dan penuh hormon kewanitaan dipaksa menikmati nafsu hewaniah!!

Aida menjerit dan meratap di dalam jiwanya yang tak rela untuk digagahi lelaki asing bertubuh kekar yang telah mandi keringat menyebabkan terlihat agak mengkilat. Aida tak rela menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya akibat kebodohannya membiarkan lelaki asing masuk rumahnya saat ia hanya seorang diri. Kini semuanya telah terlambat, pak Sobri yang selama ini membantu sang suami untuk menerbitkan buku-buku berisi agama telah menindih badannya, merejangnya hingga jadi tak berdaya di atas ranjang, juga menarik dan melepaskan jubah baju kurungnya satu persatu, menciumi serta menyapu-nyapu lidahnya di rongga mulut, mencampurkan ludahnya yang berbau rokok dengan ludah Aida yang harum.

Semuanya menyebabkan Aida mulai menangis tersedu terisak menimbulkan iba. Namun itu tidak menyebabkan pak Sobri menjadi kasihan, bahkan sebaliknya ia jadi semakin ganas! Lapisan demi lapisan pelindung tubuh istri setia ini dihentakkan dan ditarik lepas olehnya, sehingga kini hanya tinggal jilbab putih yang menutupi rambut Aida yang hitam bergelombang sepanjang bahu. Selain itu masih ada BH berukuran 36B serta celana dalam putih yang menutupi bagian tersembunyi dari tubuhnya yang sampai saat ini hanya pernah dilihat oleh suami Aida.

Pak Sobri yang telah kesetanan menyeringai buas melihat betapa montoknya tubuh istri ustadz gurunya itu. “Hmm… harum, wangii nih bibir, mulut atas kamu… hmmh! Cuup, cuup, apalagi mulut bawah kamu… pernah dicium nggak mulut dan bibir bawah kamu oleh suami?” tanya pak Sobri diantara kecupan dan dekapan mulutnya menutup bibir Aida yang memang selalu terlihat merah muda merekah seolah mengundang untuk dicium.

Aida tak sanggup lagi bertahan terlalu lama, tenaganya mulai habis ditindih dan direjang habis-habisan, terutama membela pakaiannya yang kini telah tersebar di atas ranjang dan sebagian jatuh ke lantai.

Pak Sobri paham sekali bahwa wanita idamannya ini mulai takluk di tangannya, suaranya pun telah lunak terisak-isak dan serak karena tangisannya. Karena itu ciuman pak Sobri kini mulai meninggalkan mulut Aida, menjalar ke pipinya, mengecup dan meniup-niup liang telinga Aida, lalu juga dijilatinya rakus.

Tak pernah suaminya melakukan hal ini padanya sehingga Aida merasa merinding kegelian, terlihat dari bulu-bulu sangat halus yang menutupi kulitnya jadi agak berdiri, dan isak tangisnya mulai berubah menjadi lenguhan, keluhan dan desahan-desahan halus sebagai tanda wanita alim ini mulai terangsang!

“Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Sobri !” keluh Aida sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Sobri yang begitu kekar.

Desahan lemah lembut dari mulut Aida terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Sobri setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Aida. Disitu pak Sobri menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Sobri yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Aida yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.

Rasa geli tak terkira membuat Aida menggeliat berusaha meronta, tapi apa daya kedua nadinya tetap direjang di atas kepala oleh satu tangan pak Sobri yang begitu kuat ibarat belenggu besi. Geliatan dan gelinjang tubuh atas Aida tak membebaskan kedua nadi tangannya, namun justru membuat buah dadanya tanpa disadari semakin membusung dan menonjol ke atas. Dan gundukan daging kenyal montok ini adalah sasaran pak Sobri berikutnya setelah BH-nya ditarik lepas.

Kedua bukit daging yang selama ini menjadi idaman dan impian pak Sobri kini terpampang di hadapan matanya, dan tanpa menunggu lagi segera dijadikan sasaran jari-jari tangan kanannya yang bebas. Pak Sobri tahu bahwa Aida akan mulai lagi melawan dan menjerit-jerit – oleh karena itu ia membekap lagi bibir merekah itu dengan ciuman ganas sementara jari tangan kanannya meremas dan mengelus buah dada idamannya sehingga terlihat mulai memerah dan putingnya semakin keras mencuat ke atas. Kedua paha betis langsing Aida yang kini tak terlindung lagi juga ditekannya sekuat tenaga ke kasur oleh paha dan betisnya yang penuh bulu bagaikan gorila.

“Ummh… ini tetek montok banget, kenyal tapi kencang. Pasti tiap malam dijadikan mainan suaminya, kini jadi milik aku. Biar belum punya anak tapi mungkin keluar susunya jika diperas,” demikianlah pikir pak Sobri dan oleh karena itu semakin seru dan ganas ia meremas dan memijit puting kedua payudara mangsanya, membuat Aida jadi semakin menggelinjang-gelinjang karena kesakitan.

“Enggak mau! Aiihh… j-jangann… auww! U-udah, eemphff… auuw!! S-sakiit…” Aida meronta-ronta dan berusaha bicara, namun suaranya hanya keluar sebagian karena terus menerus mulutnya diciumi oleh pak Sobri dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aida disertai ludahnya yang sangat dibenci dan amat memuakkan bagi Aida karena berbau rokok.

Mendadak, sangat mendadak pak Sobri menghentikan kegiatan jari-jari tangan kanannya meremas buah dada Aida, dan sebelum Aida dapat memahami apa yang terjadi, dirasakannya celana dalam sebagai pelindung auratnya yang terakhir ditarik dan diselusurkan ke bawah melewati paha betis dan kakinya. Kini sempurnalah Aida telanjang bulat di dalam cengkraman pemerkosanya, pak Sobri. Terlihat sangat kontras tubuh bidadari yang putih mulus itu ditindihi oleh tubuh besar hitam legam berbulu, istri ustadz yang alim shalihah itu tak berdaya lagi membela kesuciannya!

“Yaa Allah, ampunilah aku ! Hambamu tak kuat lagi menahan malu dan aib ini,” tangis Aida di dalam batinnya ketika menyadari musibah yang segera akan menimpanya. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sedemikian halus, tubuhnya terasa panas dingin dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena pergumulan dan pergulatan serta rontaannya yang sia-sia.

Tak ada yang dapat menghalangi pak Sobri dengan tenaganya, ibarat kesetanan kini ia melepaskan baju kaos dan celana dalamnya sehingga terlihatlah batang kejantanannya yang disunat telah menegang dan siap menerobos liang surgawi Aida.

“Tak usah takut, manis. Bapak tak mau sakiti Aida, rela dan pasrah sajalah. Menyerahlah pada bapak, nanti Aida akan merasakan surga kenikmatan yang belum pernah kamu alami,” bisik pak Sobri sambil jari-jari tangan kanannya mengusap-usap kemaluan Aida yang licin tercukur rapih.

Setelah menemukan celah yang dicarinya, maka mulailah jari telunjuk dan jari tengah pak Sobri yang besar memasuki perlahan-lahan liang vagina Aida, sementara ibu jarinya mengusap diantara belahan bibir kemaluan perempuan alim itu. Perlahan-lahan tanpa dikehendaki oleh Aida, muncullah tonjolan daging kecil merah muda diantara bibir kemaluannya dan setiap kali klitorisnya ini tersentuh ibu jari pak Sobri, maka dirasanya selain geli juga bagaikan terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya.

Sesuatu yang tak dimengerti oleh Aida : ia diperkosa, tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi saat dirangsang? Padahal itu sama sekali bukan salahnya sendiri – tubuhnya yang begitu padat montok sebagai wanita muda sehat jasmani mempunyai hormon-hormon kewanitaan yang secara normal membutuhkan ‘nafkah’ lawan jenisnya – itu sudah kodrat alam, itu naluri dasar perkembangbiakan manusia.

Pak Sobri yang bukan pertama kali memperkosa wanita muda yang melawan menolak diawal mula merasakan bahwa daya pertahanan Aida sudah sangat lemah, sebentar lagi bukan saja ia menerima pasrah terhadap perkosaan, melainkan akan menyerah dan ‘membalas’nya dengan cara yang biasanya diberikannya kepada sang suami, namun kali ini kepada sang pemerkosanya…!

Namun pak Sobri bukanlah pak Sobri jika ia dengan tergesa-gesa melakukan perkosaan. Pak Sobri bukanlah anak kemarin dulu, bukan anak belasan tahun disaat masuk usia pubertas melakukan sanggama dengan cara quicky. Pak Sobri mempunyai rasa ego yang besar, ia menginginkan agar Aida justru akan ketagihan dan selalu merenungkan, mengingat dan bahkan mengharap agar peristiwa perkosaan yang dialaminya akan selalu terulang lagi di masa depan. Untuk mencapai tujuan itu maka Aida harus dibantainya habis-habisan, harus dibangunkan seluruh nafsu birahinya, harus dihilangkan rasa malunya, pendek kata : ditransformasi menjadi slutty.

Pak Sobri menghentikan sementara ciuman dan gigitannya di puting buah dada Aida yang kini jelas semakin tegang dan mengacung peka itu. Ia memandang wajah Aida yang telah sayu dan kuyu penuh linangan air mata, namun justru terlihat semakin ayu cantik. Pak Sobri merebahkan diri agak menyamping di sisi kanan Aida, lengan kanan Aida ditindihnya dengan dadanya yang bidang penuh bulu itu. Lengan kiri pak Sobri dengan biseps amat keras diletakkan di bawah Aida yang masih tertutup jilbab seolah menjadi bantal, sedangkan tangan kiri pak Sobri berada di atas kepala Aida tetap merejang dan menekan nadi pergelangan perempuan itu ke ranjang sehingga tak dapat berkutik. Kaki kiri pak Sobri yang juga berbulu dan sangat kuat menindih paha kanan Aida serta direntangkan melebar ke samping kanan, sedangkan kaki kanan pak Sobri mulai menekan dan menguakkan paha kiri Aida semakin melebar ke arah samping kirinya. Dengan demikian Aida telentang telanjang bulat di ranjangnya dengan kedua tangan tak mampu digerakkan, demikian pula selangkangannya terbuka lebar tanpa pertahanan untuk melawan jari-jari pak Sobri.

Menyadari betapa tak berdaya dan lemah keadaan tubuhnya, maka Aida hanya dapat menangis tersedu-sedu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencerminkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang dialami, hidung mancung bangir dengan lubang mungil kembang-kempis menahan isak tangis pada saat dirasakan tubuh bugilnya mengkhianati kemauannya untuk tetap melawan nafsu.

Pak Sobri semakin laju meningkatkan rabaan, usapan dan gesekan jari-jarinya di dalam liang Aida yang mulai basah licin berlendir karena limpahan air mazi dari dinding vaginanya. Isakan tangis Aida kini mulai berubah menjadi lenguhan, desahan dan rintihan wanita dewasa yang dilanda rasa gairah dan kenikmatan terlarang. Semakin lama lenguhan dan desahan itu semakin nyata di telinga pak Sobri yang semakin cepat menggesek ibu jarinya di kelentit Aida, sementara dua jari lain masuk semakin dalam ke dalam liang wanita Aida yang telah basah kuyup berlendir.

Akhirnya dengan rintihan memilukan hati, tubuh Aida melengkung ke atas dan menegang bagai sedang sekarat, kemudian mengejang dan gemetar bagai menggigil disaat ia mencapai orgasme!

Pak Sobri harus mengerahkan semua tenaganya untuk tetap dapat merejang tubuh Aida yang dilanda orgasme pertama akibat ulah sang pemerkosa. Beberapa menit kemudian tubuh Aida perlahan-lahan berkurang ketegangannya, menghempas lemah dan lemas basah keringat.

Saat inilah yang telah dinantikan oleh pak Sobri yang tak kalah basah kuyup dengan keringatnya, dan kini telah siap bersetubuh dengan wanita idamannya tanpa perduli Aida telah setengah pingsan!

“Gimana sayang, apa yang kamu rasakan sekarang, letih dan lemas tapi puas kan? Itu hanya sedikit permulaan saja. Bapak baru mulai merasa gairah dan segera akan melanjutkan permainan. Nanti neng akan merengek meminta tambah terus, bapak jamin nanti neng akan selalu ketagihan untuk dirogol. Mau ya, neng manis?” ujar pak Sobri sambil meletakkan dirinya diantara belahan paha korbannya.

Betapapun Aida berusaha menutup dan merapatkannya, tapi ia jauh kalah tenaga. Pak Sobri kini telah bertahta di tengah selangkangannya, kedua pergelangan kaki Aida nan langsing itu dicekal dengan geram sehingga terlihat kemerahan, kemudian diletakkannya kedua betis belalang nan langsing dengan lutut tertekuk itu di pundaknya yang bidang dan lebar. Pak Sobri kemudian menundukkan kepalanya dan mulai menciumi bagian dalam paha Aida yang begitu halus. Karena pak Sobri memang sengaja belum cukur selama tiga hari maka bukan hanya kumisnya tapi juga janggutnya telah ditumbuhi bulu jenggot pendek namun kasar ibarat sapu ijuk.

Kini pak Sobri dengan sengaja menggesek-gesek dan menciumi paha bagian dalam Aida yang begitu halus dan peka sehingga terasa sangat geli ibarat ditusuk-tusuk ijuk. Akibatnya keadaan Aida yang telah lemas setengah sadar setengah pingsan itu dipaksa kembali bangun melawan rasa geli yang menyiksanya. Istri setia yang malang ini berusaha membalikkan tubuhnya tapi tak mampu karena kedua kakinya telah terkangkang lebar dan tergantung di pundak kiri-kanan sang pemerkosa.

Pak Sobri semakin meningkatkan kegiatannya merangsang istri ustadz idaman dengan menangkap dan meremas-remas lagi kedua buah dada Aida, terutama putingnya dijadikan sasaran dipilin dan dicubit ditarik-tarik sehingga Aida jadi menjerit kesakitan. Pak Sobri tidak perduli semua rintihan dan jeritan Aida yang memilukan, bahkan kini mulut dan bibirnya tak cukup memberikan cupangan-cupangan ganas di kedua betis Aida yang putih, namun juga mencapai lipatan paha dan akhirnya melekat di tengah selangkangan Aida untuk memulai perantauannya disana!

“Ummh… cckkk… sluurpp… uuh wanginya! Neng mandi pake air mawar ya, bisa harum kayak gini?! Bapak jadi ketagihan, mmmh… nggak puas-puas bapak rasanya… nih bapak ciumin dan jilatin ya?!” celoteh pak Sobri diselang-seling dengan ciuman dan gigitan gemas di bukit kemaluan Aida yang gundul kelimis karena selalu dicukur.

Lidah pak Sobri bagaikan ular menyapu-nyapu bibir kemaluan Aida, lalu berusaha memasuki celah di tengahnya untuk mencari tonjolan daging kecil sebesar butir jagung yang tersembunyi diantara lipatan atas bibir vaginanya.

“Oooh… jangaan! U-udah, Pak! Tolong kasihani saya! Saya ini istri ustadz, Pak! Oohh… saya tak mau selingkuh, Pak! A-ampun… saya tak akan lapor! Tolong, Pak… jangan! Aaiihh…” Aida menggelinjang dan berontak mati-matian melawan rasa lemasnya, dan selain itu melawan rasa lain yang tak pernah dialaminya karena suaminya tak pernah melakukan bercinta oral di vagina. Rasa menyesal dan bersalah silih berganti mulai terdesak rasa ingin tahu, ingin terus mencoba!

Tanpa menghentikan remasan dan pilinannya di puting tetek Aida yang begitu montok tegang mengacung itu, pak Sobri kini menjilat-jilat penuh nafsu celah kewanitaan Aida yang semakin basah berlendir. Bagaikan bunga di pagi hari mulai merekah, maka bibir kemaluan Aida sebagai wanita dewasa menjawab jilatan lidah pak Sobri dan memberikannya kesempatan menampilkan klitorisnya yang seolah malu tersembunyi, dan kelentit ini segera dijadikan sasaran gigi-gigi tajam!

“Auuw! Aiihh… oohh… ahhh… emmh… u-udah, Pak! Ngiluu…   saya tak tahan! Auww… oooh… j-jangaan digigit, Pak! Sakiiit… ampuun!” jerit Aida sambil tubuhnya mulai kembali kejang-kejang dan gemetar bagaikan terkena aliran listrik, kedua tangannya mencengkeram jari-jari pak Sobri yang tak puas-puas terus menerus meremas buah dadanya.

Tak hanya mencengkeram, namun kuku-kuku jari Aida yang juga begitu bagus rapih terawat mencakar-cakar lengan bawah pak Sobri, menandakan perlawanan sia-sia menahan rasa nikmat kembali menyiksanya. Kini pak Sobri berganti-ganti menjilat, menggigit-gigit dan menyapu klitoris Aida dengan janggutnya yang berhias jenggot sekasar sapu ijuk.

Tak lama kemudian Aida sama sekali telah kehilangan rasa malu, kehilangan pertahanan dan akal sehat sebagai istri setia seorang ustadz. Terlalu hebat siksaan kenikmatan yang sedang dialaminya dan ini tak pernah diterimanya dari suaminya yang sah, tak pernah ustadz Mamat mengajarkannya serta memberikan seni percintaan sebagaimana yang selalu diharapkan dan didambakan wanita sehat, tak perduli betapa suci, alim dan shalihahnya si wanita, itu sudah kodrat naluri alamiah.

Menyadari bahwa kemenangannya telah berada dihadapan mata, maka pak Sobri mengecup dan melekatkan seluruh mulutnya di ambang celah surgawi Aida. Buah kelentit Aida yang bagaikan butir jagung berulang-ulang dijepit diantara barisan gigi depan pak Sobri, bergantian dengan lidahnya yang kasar makin sering memasuki lubang vagina mangsanya. Bergonta-ganti pak Sobri menjepit kelentit diantara deretan giginya, lalu digeser-gesernya gigi itu ke kiri dan ke kanan.

Kemudian dilepaskannya sebentar kelentit mungil itu dan sebagai gantinya lidah pak Sobri menyentuh dan menggelitik lubang kencing Aida yang juga demikian peka di bagian dalam. Sekaligus kedua ibu telunjuk dan ibu jarinya memulin serta mencubit-cubit kedua puting Aida yang telah amat tegang mengeras bagaikan batu kerikil mungil.

Aida merasakan dirinya terbawa putaran deras arus gelombang kenikmatan, semakin lama semakin dalam dan akhirnya menyeretnya tenggelam kemudian dilemparkan setinggi-tingginya ke udara. Disitu seluruh syaraf di otaknya mengalami ledakan dahsyat tanpa ada tandingan, disertai sebaran jutaan bintang kecil di pelupuk matanya dan jeritan melengking wanita mendengung di telinganya: jeritannya sendiri!

“Aaah… auuw… oooh… i-iya! Auuw… Pak, aduuh… eemh… aaihh… u-udah, Pak! Oooh… terruus… oooh… saya mau pipiis!!” Aida tak sadar lagi apa yang dikatakannya, ia memohon kepada pak Sobri agar berhenti atau justru meneruskan dan meningkatkan penggarapan yang sedang dilakukannya.

Tubuh Aida kembali kaku menegang dan kejang-kejang disaat orgasme lagi-lagi menerpanya, gelombang demi gelombang seolah tak henti-henti. Jari-jari kakinya menekuk melengkung ke dalam seolah ingin membentuk kepalan tinju, pahanya yang begitu lembut halus mengerahkan semua kekuatan otot-ototnya menjepit kepala pak Sobri, lalu membuka kembali, menggesek-gesek maju mundur seolah ingin menggaruk kegatalan tak terhingga.

Pak Sobri yang telah berpengalaman, merasakan denyutan-denyutan dinding vagina Aida seperti meremas dan memijit-mijit lidahnya yang menjulur menyentuh lubang kencing. Inilah saat terbaik untuk menguasai wanita alim seperti Aida : menyetubuhinya disaat dinding vaginanya berdenyut-denyut. Disaat inilah seorang wanita akan merasakan vaginanya ngilu dibuka, dilebarkan dan dibelah!

Pak Sobri meraih bantal yang berada di ranjang di samping tubuh mereka, lalu diletakkannya di bawah pinggul Aida dengan menurunkan perlahan-lahan betis dan kaki belalang yang tergantung di pundaknya. Dengan adanya bantal itu maka pinggul Aida jadi terangkat tinggi dengan kedua kaki masih terbentang ke kiri dan ke kanan, sehingga liang kemaluannya jadi terlihat sangat menantang dengan dihiasi bibir berwarna coklat muda kemerah-merahan dan dinding yang masih berdenyut-denyut lemah tapi nyata!

Aida yang masih tenggelam di dalam badai orgasmenya dan tak perduli lagi tubuhnya yang selalu terlindung jubah gamis berlapis-lapis kini telanjang bulat di hadapan lelaki asing, tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirasakannya kembali tubuh pak Sobri yang penuh bulu tebal bagai gorila menindih tubuhnya, dirasakannya ada sesuatu yang mulai menerobos liang surgawinya. Aida sudah terlalu lemas untuk melawan, ia hanya dapat melenguh panjang menyatakan ketidaksetujuan terhadap apa yang akan terjadi. Namun semuanya sudah terlambat : milimeter demi milimeter celah kesuciannya yang selalu terlindung kini mulai dimasuki oleh alat kemaluan lelaki asing.

Namun rasa putus asa, ketidakperdulian dan penyerahan yang telah menguasainya terganggu dan terhenti mendadak ketika Aida merasakan bahwa rudal daging yang mulai memasukinya sangat ‘tidak normal’. Suaminya selalu dengan mudah melakukan senggama meskipun harus diakui bahwa ustadz Mamat tidak memperdulikan apakah istrinya cukup licin basah atau belum. Kali ini Aida merasakan bahwa dirinya telah licin dan basah sekali, namun senjata pak Sobri sangat besar, berusaha beberapa kali pun tetap gagal menerobos liangnya yang kecil sempit.

Namun dengan usaha yang terus-menerus, akhirnya pak Sobri berhasil meretas belahan bibir vagina Aida dan… bleees !

“Auuw, hentikan! Hentikan! U-udah, Pak, jangan diteruskan! A-aduh… aduduh… aaah… auw! Pak! Aauuw… s-sakiit! Oooh… ampuun!” jeritan Aida menggema bagaikan hewan akan disembelih ketika dirasakan vaginanya bagaikan dibelah kayu.

Pak Sobri hanya tersenyum sadis melihat wajah ustazah ayu manis di bawahnya menengadah ke atas dengan mata penuh air mata dan bibir merekah mengeluarkan rintih sakit memilukan. Tanpa rasa belas kasihan, pak Sobri terus melaju menekan kejantanannya menembus dan membelah dua dinding memek Aida. Sambil merejang kembali kedua pergelangan tangan Aida di samping kepalanya, pak Sobri menghentakkan pinggulnya, menancapkan dan menumbukkan kepala penisnya yang berbentuk jamur topi baja ke mulut rahim mangsanya, sehingga terasa amat nyeri sakit.

“Hehehe… akhirnya tercapai juga keinginan bapak mencicipi memek istri ustadz alim shalihah! Uuhh… emang empuk banget! Enak nggak, neng? Jangan malu-malu deh, ngaku aja sama bapak, hehe.” seru pak Sobri dengan semangat lelaki setengah baya sedang berjaya memperkosa wanita muda.

Aida tak mempercayai apa yang sedang dialaminya, ia sedang digarap habis-habisan oleh lelaki tua bukan taraf usianya. Gempuran dan hunjaman penis perkasa pak Sobri terasa bagaikan sedang merobek vaginanya, sedang menumbuk rahimnya sekuat-kuatnya hingga terasa begitu ngilu sakit di ulu hati.

Istri setia yang malang ini berusaha menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping serta menggigit bibir bawahnya menahan segala campuran rasa yang sedang menimbunnya. Namun pak Sobri terus, terus dan terus menggenjotnya sekuat tenaga seolah diberikan kekuatan oleh setan yang menguasai rumah ustadz yang kosong itu. Maju, mundur, maju, mundur maju menghantam alat kewanitaan yang halus lembut milik Aida, sehingga terasa sekali semakin lama jadi semakin panas, perih dan pedih serta ngilu sakit yang dialami oleh si cantik alim ini.

Namun di samping itu semua, ujung-ujung syaraf peka di tubuh Aida – terutama di bagian yang paling sensitif – mempersembahkan gejolak kegatalan dan nikmat tak terlukiskan dengan kata-kata. Semua silih berganti semakin lama semakin cepat hingga Aida tak dapat lagi membedakan pada saat hunjaman penis pak Sobri membentur rahimnya : apakah ngilu atau enak, apakah perih atau gatal, apakah sakit atau nikmat, sakit tapi nikmat, apakah nikmat atau sakit, apakah ini khayalan ataukan kenyataan? Apakah dosa jika dia tidak melawan, ataukah dosa jika Aida mengakui bahwa semuanya memang menyakitkan tapi nikmat.

Aida tak tahu lagi apa yang sedang menghantui benak dan tubuhnya – keinginannya untuk tak menatap mata sang pemerkosa akhirnya terkalahkan. Masa bodohlah semuanya, jilbabnya pun telah terlepas, apa lagi yang harus ia pertahankan? Kesuciannya telah hancur, suaminya selama ini tak pernah memberikan nafkah batin seperti ini, sedangkan pak Sobri memang memaksakan hasrat kelaki-lakiannya dengan sangat nikmat, mengajarkannya bagaimana menjadi wanita dewasa yang dapat mengalami kepuasan badaniah sepenuhnya, yang selama ini selalu tersembunyi.

Dengan kuyu dan sayu penuh rasa putus asa dan kepasrahan, Aida menatap mata pak Sobri yang bersinar karena sedang menikmati kemenangannya. Dengan sedikit gemetar kedua belahan paha Aida yang sejak tadi dipaksakan merebah terkuak di ranjang, kini mulai bergerak, lutut yang bulat mulus itu menekuk dan melurus. Tanpa dipaksakan, paha mulus Aida mengatup dan menjepit merangkul pinggang pak Sobri, dan seirama dengan hunjamannya ikut menekan seolah ingin membantu penis yang semula sangat menyakitinya itu masuk semakin dalam.

Hampir satu jam sudah pergumulan kedua insan itu berlangsung, menandakan betapa hebat kejantanan pak Sobri. Inilah memang saat yang telah lama diimpikan oleh pak Sobri : ustazah Aida yang cantik jelita bertubuh sintal bahenol dengan buah dada montok dan goyangan pinggul denok bahenol berada di bawah tindihan tubuhnya. Menyerah pasrah di bawah cengkraman kekuasaannya, kedua matanya penuh rasa putus asa meratap memohon belas kasihan, namun tak tahu pasti apakah penyiksaan nikmat yang dialami harus dilanjutkan atau dihentikan.

Pak Sobri menyadari bahwa ia tak boleh terlalu serakah dan tamak : istri setia ini telah menyerah dan menikmati perkosaannya, lain kali masih ada kesempatan, jangan sampai perbuatan maksiat ini dipergoki oleh Farah yang mungkin tak lama lagi akan pulang ke rumah. Biarlah cukup untuk kali ini – dan… entah… siapa tahu wanita ini sedang subur, mungkin ia akan menanamkan benih di dalam rahimnya.

Pak Sobri tak dapat menahan lagi ledakan lahar panasnya menyembur dari kedua biji pelirnya, sedemikian banyak sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Aida. Semprotan bermenit-menit menyirami mulut rahim Aida, disaat mana istri alim shalihah ini mengalami orgame ketiga!

“Iyaa… auuh… oooh… Paak, emmh… iyaa, terus! Nikmaat…” dengus dan rintih Aida saat dilanda oleh gelombang orgasme bagaikan tsunami untuk yang ketiga kalinya!

Setelah membantu Aida membersihkan diri di kamar mandi dan membantunya memakai baju kurung serta jilbabnya,   pak Sobri memberikan sebuah amplop tertutup kepada Aida dengan pesan agar tak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun karena hanya merupakan aib bagi Aida. Pak Sobri berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia mengatakan bahwa amplop itu boleh segera dibuka namun jika ia telah pergi jauh dengan mobilnya dan tak terlihat lagi di ujung jalan.

Tanpa banyak kesulitan pak Sobri menyambungkan alat kompressor bersaluran udara panjang ke ban mobilnya dan ansteker – ban yang memang kempes tapi tak ada lubang sama sekali itu hanya dalam dua menit telah terisi lagi udara sebagaimana semula, lalu pak Sobri menghidupkan mesin dan melaju menghilang di tikungan ujung jalan.

Aida membuka amplop putih itu dan tercengang ketika menghitung uang yang tersisip disitu : tiga puluh juta! Dengan uang itu maka sementara kehidupan keluarganya dapat dilanjutkan, demikian pula pengobatan ayahnya di rumah sakit, serta pinjaman mereka kepada pak Burhan si rentenier.

Aida duduk terhempas di kursi : pikirannya kacau, apakah ia berdosa mengalami ini semua? Ini semula tidak ia inginkan sama sekali, namun akhirnya Aida sangat menikmatinya. Apakah uang ini haram, apakah boleh dipakai untuk menolong ayahnya yang sakit parah?

Aida tak tahu apa jawaban dari 1001 pertanyaan yang memenuhi benaknya, kepalanya dirasakan pusing dan sangat berat, apalagi badannya yang kini telah tertutup rapih kembali dengan baju berlapis-lapis, namun disana sini pasti masih penuh dengan cupangan merah kebirua-biruan akibat ciuman ganas pak Sobri. Aida merasakan pipi dan telinganya memerah mengingat apa yang dialaminya…

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta, oooh… masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menggarap Aida dengan cara lain dan mengajarinya menjadi budak sex yang patuh 100%

TAMAT BAGIAN PERTAMA

Akan berhasilkah usaha pak Sobri ini? Apakah yang terjadi dengan Farah ketika negosiasi dengan pak Burhan? Bertahankah iman ustadz Mamat ketika memberikan ceramah dan kuliah kepada banyak calon pengikut Musabaqoh Tilawatil Qur’an yang masih sangat muda, karena tak semua calon memiliki iktikad yang murni memperdalam ilmu agama. Selain itu, apakah ustadz Mamat juga sanggup menghadapi godaan melihat betapa cantiknya adik istrinya, terutama Nurul Tri Lestari dan Asma Maharani yang betul-betul masih merupakan ‘daun muda’?

MURTI 10 : AISYAH

Adzan subuh membangunkan Gatot dari mimpi. Ia keluar kamar dan menuju belakang untuk mengambil wudlu. Tapi ia heran karena tidak biasanya Aisyah masih tertidur. Ia tidak berani membangunkan. Selesai sholat subuh, Gatot bersiap-siap untuk menuju rumah Murti. Hari mulai beranjak pagi tapi Aisyah masih dilanda mimpi. Gatot ingat hari ini merupakan hari pertama Aisyah mengajar setelah dua minggu lamanya libur. Jangan-jangan Aisyah masih merasa libur. Mau tak mau Gatot membangunkan Aisyah juga karena jarum jam sudah menunjuk angka enam.

“Aisyah bangun, sudah jam enam pagi.” kata Gatot.

“Huaaahm, aku masih ngantuk.” bukannya bangun, Aisyah malah semakin melipat tubuhnya dan menarik selimut.

“Ayo bangun, Aisyah. Kamu kan harus ngajar.” kata Gatot lagi.

Aisyah menggeliat dan mengucek-ngucek mata, dan sejurus kemudian mata itu terbelalak kaget. “Mas!!” pekik Aisyah tertahan sambil mengamati tubuhnya sendiri.

Gatot mengerti apa yang ada di kepala Aisyah. “Aku hanya membangunkanmu, Aisyah. Tidak ada maksud lain.” ia berusaha menjelaskan.

“Jam berapa ini, Mas?” tanya Aisyah.

“Jam enam. Hampir setengah tujuh.” jawab Gatot.

Aisyah langsung melompat dan hampir terjerembab. Untung Gatot cukup sigap menahan tubuh Aisyah agar tidak terjatuh meski dengan begitu ia harus memeluk Aisyah. Gatot segera melepaskan Aisyah dan membiarkannya berlarian ke kamar mandi dengan panik. Gatot pun meninggalkan kamar Aisyah dan langsung menuju rumah Pak Camat.

Murti sudah siap tapi Gatot belum melihat Pak Camat. Yang terlihat cuma Murti dengan penampilan baru. Tidak ada lagi baju muslimah yang biasanya dikenakan Murti. Juga tidak ada kerudung yang membingkai wajah cantik Murti. Semua yang dilihat Gatot benar-benar serba baru, sama seperti ia melihat Murti puluhan tahun lalu.

“Jangan memandangku seperti itu, Tot. Ayo berangkat,” kata Murti.

“Tidak nunggu Pak Camat?” tanya Gatot.

“Mas Joko sudah berangkat jam lima pagi. Tapi dia pesan agar kamu ke kantor kecamatan saja.”

“Oh begitu. Baiklah.” Gatot mengangguk.

Gatot mengantar Murti ke tempat kerjanya yang baru. Sebenarnya satu tujuan dengan Aisyah tapi Aisyah lebih suka naik motor. Sebenarnya baik Gatot maupun Murti selalu menawari Aisyah agar berangkat bersama-sama tapi Aisyah selalu menolak dengan halus. Merekapun tidak bisa memaksa.

Dengan penampilan baru Murti, maka Gatot juga dilanda suasana hati baru. Sama seperti yang ia rasakan puluhan tahun lalu. Dan Murti tidak berubah tingkahnya dengan masa-masa sekolah dulu. Tetap duduk sesuka hati dan bergerak kesana kemari, menunjukkan apapun yang disukai Gatot pada tubuh sintalnya. Perjalanan masih jauh.

“Penampilanmu mengingatkanku pada masa SMA kamu yang dulu, Mur.” kata Gatot.

“Mana yang paling kamu ingat? Kenakalanmu itu kan?” sela Murti.

“Iya. Aku ingat bila mengantarmu ke sekolah, aku selalu menjahilimu.”

“Sekarang kamu juga mengantarku, Tot. Kamu juga bisa menjahiliku seperti yang sering kamu lakukan dulu.” goda Murti.

“Benarkah?” Gatot melirik suka.

“Benar. Lakukan saja sesukamu. Aku rela menjadi pelacurmu, Tot.” Murti meyakinkan.

“Jangan bicara begitu, Mur.” Gatot menggeleng tak setuju. ”Kamu bukan pelacur. Berhentilah merutuki dirimu sendiri.” katanya.

Murti balas menggelengkan kepala dan melabuhkan diri di pangkuan Gatot. Ia memejamkan mata dan membiarkan tangis kecilnya tumpah membasahi celana Gatot. “Takdir hidupku sungguh buruk, Tot.” bisik Murti pilu.

“Jangan menyalahkan takdirmu, Mur. Kita sudah sampai. Jam berapa nanti kujemput?” tanya Gatot.

“Jam satu. Hati-hati di jalan, Tot.” Murti merapikan seragam kerjanya yang awut-awutan lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang SMA 3. Ia tidak menoleh lagi ke belakang dan langsung menuju ruang kantor. Ia harus memperkenalkan diri kepada semua orang yang belum mengenalnya. Sebagai guru baru, ia perlu menyesuaikan diri dengan tugas mengajar yang jauh berbeda dan materi pelajaran. Sekolah negeri tentu tidak sama dengan sekolah swasta, terlebih dengan madrasah. Semalam saja ia bekerja keras untuk kembali belajar dan membuka buku-buku.

“Bu Murti sudah sampai?” tanya Aisyah.

“Baru saja, Ais. Kok aku tidak ketemu kamu di jalan tadi?” balas Murti.

“Iya, Bu. Saya masih ngisi bensin. Bu Murti pulangnya nanti juga dijemput?” tanyanya balik.

“Begitulah, Ais.” Murti mengangguk. ”Bagaimana suasana di rumah Gatot, apa kamu kerasan?”

“Sangat nyaman, Bu. Mas Gatot juga tidak macam-macam.” jawab Aisyah tanpa curiga, sama sekali tidak mengetahui perbuatan Gatot beberapa malam yang lalu.

Murti bersyukur dalam hati. Bahaya kalau sampai Gatot berani macam-macam pada Aisyah. Ia sangat tidak menginginkan ada apa-apa antara Gatot dan Aisyah. Ia berharap tidak ada hubungan spesial antara Gatot dan Aisyah. Gatot adalah segalanya baginya saat ini, saat kehidupan rumah tangganya semakin tidak harmonis. Sedangkan perselingkuhannya dengan Gatot berjalan dengan manis. Ia serahkan semua pada sang waktu.

Gatot juga sedang memburu waktu untuk bisa segera sampai di kantor kecamatan. Jangan sampai ia terlambat gara-gara keluyuran di jalan memakai mobil dinas. Bisa-bisa Pak Camat marah. Pak Camat sendiri yang mengingatkan agar kalau membawa mobil dinas jangan sampai jauh-jauh dari kantor. Untung ia datang tepat waktu, jam setengah delapan sudah sampai di kantor kecamatan. Dan seperti biasa ia langsung duduk santai menunggu perintah. Siapa saja siap ia antar kemana saja.

“Gatot, dipanggil Pak Camat tuh.” seru seorang wanita.

“Saya segera kesana, Mbak Dewi.” balas Gatot tanggap.

“Oh ya, Tot, jam istirahat nanti antar aku ya?” pinta Dewi.

“Mbak Dewi mau kemana?” tanya Gatot.

“Pokoknya antar saja.” balas Dewi sambil tersenyum manis. ”Sudah pergi sana, Pak Camat sudah nunggu kamu.”

Gatot lekas menuju ruang kerja Pak Camat dan duduk di hadapan majikannya itu. Belum ada yang disampaikan Pak Camat dan Gatot menunggu. Panggilan Pak Camat pasti ada sebabnya. Dan melihat wajah Pak Camat yang masam, Gatot pun paham ada yang salah dengan dirinya.

“Begini, Tot, saya mau mengurangi beban kerjamu.” akhirnya Pak Camat berkata.

“Maksud Pak Camat?” tanya Gatot belum mengerti.

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu berjaga malam di rumahku. Tugasmu kembali seperti dulu, mengantar aku dan Murti kerja.” kata Pak Camat.

“Apakah ada kesalahan yang saya perbuat, Pak?” tanya Gatot penasaran.

“Sama sekali tidak ada, Tot. Ini juga demi kamu. Apalagi sekarang di rumahmu ada Aisyah. Dia yang lebih penting untuk kamu jaga.” Pak Camat tersenyum.

“Saya bisa terima keputusan Pak Camat.” Gatot mengangguk.

“Satu hal lagi, Tot. Entah dari mana Murti bisa tahu perumahan residence.” pancing Pak Camat.

“Demi Tuhan, saya tidak pernah melanggar kesepakatan kita, Pak. Mungkin Murti tahu dari orang lain. Yang pasti saya sama sekali tidak memberitahu Murti apapun.” Gatot berusaha meyakinkan.

“Aku percaya padamu, Tot. Cuma lain kali lebih berhati-hatilah.” pesan Pak Camat.

“Baik, Pak.” Gatot mengangguk.

“Kembalilah ke tempatmu.”

Gatot kembali ke tempat semula, di paseban kantor kecamatan. Ia duduk termenung menelaah segala yang telah disampaikan oleh Pak Camat. Mulai hari ini tugasnya kembali seperti dulu, sebatas mengantar jemput Pak Camat dan Murti kerja. Pasti ada pertimbangan lain yang membuat Pak Camat tidak lagi mempercayainya sebagai petugas jaga malam. Selain itu ia juga agak marah karena Pak Camat seolah olah telah menuduhnya membocorkan rahasia. Padahal ia sama sekali tidak pernah menyampaikan hal itu pada Murti. Ia bertanya-tanya dalam hati siapa orang yang telah mempersulit posisinya. Siapa orang yang memberitahu Murti tentang keberadaannya di perumahan residance. Pasti ada mata-mata yang berniat membuat kacau hubungannya dengan Pak Camat.

Jam dua belas siang pas, Dewi minta dijemput. Gatot memenuhi permintaan itu dengan setengah hati, sedangkan setengah hati yang lain masih memikirkan hasil pembicaraannya dengan Pak Camat. Kediamannya membuat Dewi gigit jari. Padahal Dewi berharap bisa bercakap-cakap dengan Gatot. Daripada menunggu Gatot yang pasif, Dewi memilih untuk lebih aktif dan berinisiatif memecah kebisuan.

“Mikir apaan sih, Tot?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Tidak ada apa-apa kok, Mbak.” Gatot berusaha untuk tersenyum. ”Jadi Mbak Dewi ini mau kemana?” tanya Gatot kemudian.

“Pulang. Aku sudah ijin ke Pak Camat untuk kerja setengah hari saja.” jawab Dewi.

“Enak ya, Mbak, jadi pegawai negeri. Kerja nggak kerja tetap dapat gaji.” kata Gatot.

“Tapi lebih banyak nggak enaknya, Tot. Apalagi kalau dapat pimpinan kayak Pak Camat.” seru Dewi.

“Memangnya kenapa dengan Pak Camat, Mbak?” tanya Gatot penasaran.

“Jangan bilang-bilang ya. Pak Camat itu genit, suka ngintip.” bisik Dewi

“Masa sih?” tanya Gatot tak percaya.

“Semua pegawai wanita sudah tahu keburukan Pak Camat itu. Aku ini pernah jadi korbannya lho.” mata Dewi mendelik.

“Maaf, Mbak. Tapi saya kok tidak percaya dengan kata-kata Mbak Dewi ini,” sahut Gatot.

“Ya terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti Pak Camat itu bukan contoh pemimpin yang baik.” tegas Dewi.

Nah, untuk yang terakhir itu Gatot sangat setuju dan seratus persen percaya bahwa Pak Camat memang bukanlah contoh pemimpin yang baik. Gatot juga sepakat kalau Pak Camat itu orang yang genit, suka lirik-lirik daun muda, terlebih pada paha-paha mulus. Gatot yakin pasti Dewi pernah diintip Pak Camat. Apalagi dengan kebiasaan Dewi yang sembarangan dan semau gue. Pasti Pak Camat sudah sering melihat-lihat paha mulus Dewi dan sering mencuri-curi ke belahan dada Dewi. Jangankan Pak Camat, ia sendiri juga sering menyaksikan kemulusan dan kehalusan kulit Dewi.

“Makanya Mbak Dewi harus hati-hati.” kata Gatot pada akhirnya.

“Saya sudah hati-hati, tapi kebiasaan sulit diubah, Tot. Tak apalah, toh Pak Camat cuma melihat, nggak sampai menjilat.” Dewi tertawa terkikik.

“Kalau itu terjadi, gimana?” pancing Gatot.

“Kamu mulai nakal juga ya?” Dewi memukul pundak Gatot. Mereka telah sampai di tempat kosnya Dewi. Setelah memarkir mobil, mereka masuk. Dewi sendiri yang mengajak Gatot.

“Istirahat disini aja, Tot. Kalau kamu kembali ke kantor sekarang pasti banyak kerjaan disana.” seru Dewi.

“Apa dibolehkan seorang pria masuk ke kamar wanita?” tanya Gatot.

“Tempat kos ini bebas. Siapa saja boleh membawa tamunya sampai kamar, wanita ataupun pria.” Dewi menerangkan.

Gatot masuk ke kamar kos Dewi yang tidak begitu luas, kira-kira berukuran tiga kali tiga meter. Hanya ada satu tempat tidur dan satu almari, itupun sudah membuat kamar terasa sesak. “Kalau Mbak Dewi mau ganti baju, biar saya keluar dulu.” kata Gatot, merasa tidak nyaman dengan keberadaannya sendiri.

Tapi Dewi tak ambil peduli. “Duduk aja, atau kamu bisa berbaring.” katanya sambil membuka dan melepasi satu persatu seragam kerjanya lalu berjalan di hadapan Gatot hanya dengan mengenakan cawat dan bh.

Bahaya, Gatot segera membuang muka dan menunggu sampai Dewi selesai berganti busana. Tapi busana yang dikenakan Dewi tetap saja mengundang bahaya.

“Aku mau pindah ke komplek, Tot.” kata Dewi memulai obrolan, ia duduk di sebelah Gatot.

“Mbak Dewi mau kos di komplek? Tinggal di mana, Mbak?” tanya Gatot sedikit rikuh.

“Di rumah yang paling ujung. Memang lumayan jauh dari rumahmu, Tot.” Dewi menjelaskan.

“Kalau tidak salah rumah yang di ujung itu dulunya milik Mbah Surti.” Gatot mengingat-ingat.

“Benar. Kebetulan cucunya Mbah Surti itu teman kuliahku. Aku akan tinggal bersamanya.” sahut Murti.

“Mbak Dewi mau tinggal bersama Karmila yang janda itu?” tanya Gatot memastikan.

“Iya.” Dewi mengangguk. ”Aku boleh kan sewaktu-waktu main ke rumahmu?” tanyanya kemudian.

“Boleh, Mbak. Apalagi Aisyah belum punya teman. Mbak Dewi bisa berteman dengannya,” jawab Gatot ringan.

“Aisyah yang guru itu? Jadi dia tinggal bersamamu ya?” ada sedikit nada cemburu di suara Dewi.

“Iya. Kok Mbak Dewi kenal?” tanya Gatot heran.

“Kebetulan saja kami bertemu di rumah sakit pas kamu koma. Dia juga salah satu pendonor buatmu, Tot!” jawab Dewi.

“Pendonor? Maksud Mbak Dewi?” tanya Gatot tak mengerti.

“Memangnya Mbak Murti belum cerita ke kamu?” tanya Dewi bingung.

“Belum,” Gatot menggeleng.

“Baiklah. Kuberitahu sekarang. Kamu waktu itu butuh banyak darah. Jadi kami berempat yang kebetulan cocok dengan darahmu mendonorkan darah buatmu.” terang Dewi.

“Siapa saja empat orang yang menyelamatkan nyawa saya, Mbak?” tanya Gatot penasaran.

“Aku, Mbak Murti, si Aisyah itu, dan yang satu lagi kalau tidak salah namanya Ningsih. Kami adalah penyumbang darah.” jelas Dewi.

“Astaga, bagaimana saya harus berterima kasih pada mereka? Pada Mbak Dewi?” tanya Gatot rikuh, malu karena baru mengetahui kenyataan ini sekarang.

“Tidak usah berterima kasih. Cukuplah kamu mengerti saja.” Dewi tersenyum.

Gatot sangat mengerti dan khusus terhadap Dewi, ia memberi tanda terima kasih sesuai yang diinginkan oleh perempuan cantik itu. Waktu yang singkat tidak disia-siakan untuk menjalankan sebuah niat. Dalam panasnya udara siang, Dewi berhasil membuat Gatot mabuk kepayang. Itulah kelemahan paling mendasar yang dimiliki Gatot. Ia belum sanggup meninggalkan dunia hitam sepenuhnya. Ia tidak bisa mengabaikan wujud indah seorang wanita.

Gatot memang sedikit kaget saat bibir Dewi mulai menyentuh bibirnya, namun itu cuma di awal saja, karena begitu Dewi memasukkan lidahnya, Gatot dengan pintar segera mengimbangi dengan ikut menghisap dan menjelajahi setiap rongga mulut perempuan cantik itu. Ia bahkan menahan kepala Dewi agar ciuman mereka tidak sampai terlepas.

Lama mereka saling berpagutan, sebelum akhirnya Gatot mengalihkan ciumannya ke pangkal telinga Dewi dan menjelajahinya turun hingga ke leher. Dewi mengerang dan menarik tangan Gatot agar berpindah ke tonjolan buah dadanya. Dengan mesra Gatot segera meremas-remasnya.

”Ohh… akhh…” Dewi mulai mengerang dan semakin membusungkan dadanya ke depan.

Gatot menurunkan ciumannya sampai ke belahan buah dada Dewi, ia berusaha memasuki dada gadis itu tanpa membuka pakaiannya. Lidahnya menari-nari di dada Dewi yang membusung indah, tapi yang dapat dijangkau lidahnya hanya setengah dari gundukan buah dada itu.

Tak sabar menerima perlakuan Gatot, Dewi lekas membuka kancing bajunya sendiri dengan satu tangan, sementara yang satunya masih menekan kepala Gatot ke arah buah dadanya. Baju itupun terbuka, kini tinggal beha warna krem yang masih menutupi. Mata Gatot terbelalak menyaksikan semua itu. Mulusnya buah dada Dewi dan ukurannnya yang begitu besar sungguh melebihi perkiraannya. Tampak beha 36B yang dikenakan oleh Dewi seperti tidak muat menampung tonjolan buah dadanya. Sedikit terburu-buru, ia segera menyingkap beha itu ke atas. Muncullah puting susu Dewi yang sebesar jari kelingking. Masih rapi bentuknya, dengan aerola yang berukuran mungil. Mulut Gatot langsung turun untuk menyambutnya dengan sedotan dan hisapan yang begitu kuat dan ketat.

”Auuwww… akhh,” erang Dewi sambil tangannya semakin kuat menekan kepala Gatot.

Dengan rakus Gatot terus menghisap puting susu Dewi yang sebelah kanan, sementara tangan kirinya memilin-milin puting susu yang satunya. Bergantian ia menjilat dan menghisapnya, dengan lincah lidahnya terus menari-nari di gundukan payudara Dewi hingga membuat benda bulat padat itu jadi begitu basah dan lengket oleh air liurnya.

“Ohh… terus… yang lama… aku mau yang lama…” kata Dewi mengerang penuh kenikmatan. ”Ayo, Tot… ahh… ambil semuanya… sekarang ini milikmu… ayo ambil…” Dewi meracau dengan dada semakin membusung ke depan, sementara pinggulnya ia angkat tinggi-tinggi menyambut remasan tangan Gatot di belahan vaginanya. Batang zakar Gatot yang tegang juga ikut menekan tonjolan vaginanya dari luar. Dewi membalas dengan menjulurkan tangan ke bawah dan dengan gemas segera meremas-remas batang zakar Gatot dengan begitu kuatnya.

Puas bermain di dada, jilatan Gatot kini turun ke bawah. Ia gelitik pusar dan perut Dewi yang masih tampak langsing dan rata dengan mulutnya. Dewi memekik dan menggelinjang, terdengar semakin kegelian, apalagi saat jilatan Gatot terus merambat ke bawah sambil berusaha membuka rok kerjanya. Setelah terbuka, tampaklah gundukan vaginanya yang tebal dan basah. Dewi tersipu malu, namun tak urung tetap membuka kakinya juga.

Gatot tak berkedip menatap dua paha putih mulus milik Dewi, juga belahan vaginanya yang masih tertutup celana dalam. Pelan ia menyelipkan lidah, berusaha memasuki bagian atas vagina Dewi tanpa membuka celana dalamnya. Tentu saja ini membuat Dewi jadi tak sabar.

“Ayo, Tot… jilat semua… cepatan… ahh…” erangnya dengan pinggul mulai bergerak berputar dan menghentak-hentak ke mulut Gatot.

Perlahan Gatot mengintip sedikit vagina Dewi dengan membuka bagian atas celana dalam gadis itu. Samar-samar ia bisa melihat bentuk vagina Dewi yang mengembang tebal dengan bulu-bulu tipis yang tumbuh rapi dan teratur, rupanya Dewi rajin mencukurnya. Gatot memandanginya sejenak sebelum akhirnya dengan tak sabar memelorotkan celana dalam itu hingga terbukalah belahan vagina Dewi secara utuh di depan matanya.

”Ooohh,” erang Gatot manakala menyaksikan vagina Dewi yang ternyata jauh lebih indah dari yang ia bayangkan sebelumnya. Lama Gatot memandanginya. Karena Dewi terus mengangkat-angkat pinggulnya ke atas hingga membuat gundukan vaginanya jadi tampak semakin cembung dan menantang dengan klitoris yang menonjol indah melewati kedua bibir vaginanya.

Perlahan Gatot menjulurkan lidah, ia sentuh klitoris Dewi pelan-pelan, diusapnya dari bawah ke atas. Reaksinya sungguh spontan, pinggul Dewi langsung menghentak kuat, bahkan sampai berbenturan dengan mulut Gatot. Melihat yang seperti itu, Gatot jadi suka. Dengan juluran lidah yang lebih panjang, ia segera menyerbu vagina Dewi. Dijilatnya benda sempit itu, diusapkannya lidahnya berulang-ulang, bahkan hingga sampai ke lubang anus Dewi. Perbuatannya itu membuat Dewi semakin cepat menghentakkan pinggul, bibir vaginanya juga jadi semakin terkuak dan mengembang lebar, menampakkan lorongnya yang begitu hangat dan basah.

”Oohh… terus, Tot… jilat semuanya… ayo jilat… lebih kuat…” erang Dewi sambil tangannya berusaha membuka celana panjang Gatot. Begitu sudah terlepas, dengan gemas ia meremas-remas batang kontol Gatot kuat-kuat hingga membuat laki-laki itu jadi sedikit kaget. Namun Gatot membiarkannya saja karena setelah mengocok-ngocok, Dewi tiba-tiba memutar tubuhnya hingga mereka jadi berposisi 69 sekarang.

Dengan rakus Dewi memasukkan penis Gatot ke dalam mulutnya dan mulai menghisapnya, membuat Gatot jadi merasa nyaman dan nikmat. Gatot mengimbangi dengan kembali mengulum dan mencucup bibir kemaluan Dewi. Ia masukkan lidahnya ke lubang vagina Dewi yang sudah sangat licin dan basah, juga ia hisap biji klitoris Dewi yang kini tampak semakin membusung dan menonjol indah. Terus diperlakukan seperti itu membuat Dewi semakin cepat menaik-turunkan pantatnya.

”Ooh Tot… enak banget… ahh… aku nggak tahan lagi…” dia semakin meracau dengan hentakan pantatnya yang semakin liar dan kulumannya di batang zakar Gatot yang semakin kuat.

Tiba-tiba paha Dewi menjepit kepala Gatot dan berkontraksi keras. Lubang vaginanya yang masih disantap oleh Gatot berdenyut-denyut cepat sebelum akhirnya menyemprotkan cairan kental yang banyak sekali, membasahi lidah dan bibir Gatot yang tidak sempat menjauh. Gatot ikut merintih karena sambil orgasme, Dewi juga menyedot penisnya dengan begitu kuat, menahannya di dalam mulut.

Bersama-sama mereka saling merintih dan menggelinjang sampai akhinya Dewi melepaskan jepitan pahanya, juga kulumannya di batang penis Gatot. Gadis itu telentang lemas di bawah tubuh Gatot dengan mata masih tertutup rapat. Dewi nampak lelah, namun juga puas. Pahanya yang masih terbuka membuat Gatot bisa melihat dengan jelas liang vaginanya yang begitu basah dan lengket. Gatot kembali menjilatinya hingga Dewi jadi kembali merintih dibuatnya.

”S-sudah, Tot…” desah Dewi setelah nafasnya sedikit agak tenang.

Gatot segera memutar tubuh. Masih tetap saling bertindihan, mereka kini saling berpandangan. Gatot menekan pinggulnya, membiarkan batang penisnya yang masih tegang mengganjal di bibir kemaluan Dewi yang licin dan hangat. Gatot hanya menggesek-gesekkannya, masih belum ingin memasukkan.

”Enak, Mbak?” tanya Gatot dengan senyum.

Dewi mengangguk, ”Enak banget, Tot. Sentuhanmu begitu indah dan nakal,” sahutnya

”Masih ada yang lebih indah, Mbak.” goda Gatot.

”Iya, Tot. Aku mau lebih lagi, berikan padaku ya,” balas Dewi dengan senyum juga.

”Berapa yang Mbak Dewi mau?” tantang Gatot penuh percaya diri.

”Sampai aku nggak bisa bangun, apa kamu kuat?” tantang Dewi balik.

”Jangan kuatir, Mbak. Saya akan berusaha memuaskan Mbak, sebagai ungkapan terimakasih karena Mbak Dewi sudah nolong saya.” kata Gatot menyanggupi.

”Kupegang kata-katamu, Tot,” Dewi tersenyum.

Kembali mereka saling melumat. Tangan Gatot yang nakal kembali memijit dan meremas-remas buah dada Dewi yang membusung indah, sementara kakinya dijepitkan ke pinggang Dewi yang kurus dan ramping. Puas dengan itu, ia beranjak dan berjongkok diantara paha Dewi yang putih mulus dan merentangkannya lebar-lebar. Dengan menatap mata Dewi yang pasrah, pelan Gatot memegang batang zakarnya dan mengarahkan menuju ke lubang vagina Dewi yang sudah menganga lebar, menunggu penetrasinya.

”Aku masukkan ya, Mbak?” tanya Gatot. Dewi menjawab dengan satu anggukan ringan.

Pelan Gatot menempelkan kepala penisnya ke bibir vagina Dewi, menggesek-gesekkannya sebentar sebelum akhirnya mulai menusuk tak lama kemudian.

”Akhh…!!!” Dewi langsung mengerang ketika kepala penis Gatot mulai memasuki lubang vaginanya. Tangannya langsung menangkap pantat Gatot.

”Sakit, Mbak?” Gatot bertanya, dorongan pinggulnya spontan berhenti.

”E-enggak… t-terus aja… m-masukkan semua… ahh.. e-enak kok…” erang Dewi dengan bibir vagina terkuak lebar oleh batang penis Gatot yang sudah masuk setengahnya.

”S-saya juga enak, Mbak.” Gatot merintih merasakan jepitan vagina Dewi yang sangat ketat, seolah tidak mengijinkannya untuk masuk lebih dalam. Ia membiarkannya sejenak, berharap agar vagina Dewi bisa menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya yang besarnya diatas rata-rata laki-laki Indonesia.

Kembali Gatot melumat bibir tipis Dewi yang mendesah-desah. Dewi membalas dengan mengangkat kakinya dan menempatkannya di atas pantat Gatot. Ia tekan pinggul laki-laki itu untuk semakin memperdalam masuknya kontol Gatot ke belahan vaginanya.

”Ayo tekan lagi, Tot… ahh…” bisik Dewi tak sabar. Vaginanya mengempot seperti menyedot penis Gatot.

Mengangguk mengerti, Gatot segera menekan pantatnya. Dengan sekali hentakan, batang penisnya yang besar dan panjang meluncur masuk membelah lorong vagina Dewi yang licin dan hangat, memenuhinya hingga sampai ke rongganya yang terdalam.

”Auwww… Tot… ahh…” jerit Dewi sambil mendekap tubuh kurus Gatot kuat-kuat. ”Ohh enaknya… sungguh luar biasa… ayo, Tot, ambil… ambil semua… puaskan aku dengan tubuhmu… jangan sisakan sedikitpun… sampai nggak bisa bangun… ahh…” erang Dewi dengan pinggul mulai berputar pelan.

Gatot pun ikut menggoyang. Pelan ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, menyetubuhi Dewi. Dengan kemalauan saling menjepit dan bergesekan ringan, bisa ia rasakan beapa sempit dan hangatnya lorong vagina Dewi yang melingkupi batang penisnya. Meski sudah tidak perawan lagi, namun rasanya masih tetap nikmat. Apalagi ditambah body tubuh Dewi yang begitu menggairahkan, membuat semua urat syaraf yang ada di tubuh Gatot seperti terbangkitkan.

Dengan kedua tangan terjulur ia membetot gundukan payudara Dewi yang bergoyang-goyang indah dan lantas memijitnya dengan penuh nafsu, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda bulat padat itu. Putingnya yang mungil kemerahan juga ia pilin-pilin ringan sebelum dicucupnya secara bergantian tak lama kemudian dengan pinggul terus menghentak semakin cepat menggenjot tubuh langsing Dewi.

”Enak banget, Tot… aku kamu apain sih?” tanya Dewi sambil mengerang.

Gatot bisa merasakan siraman hangat di kepala penisnya. rupanya Dewi sudah orgasme lagi dengan jurus pembuka ini. Ia yang masih belum apa-apa lekas mempercepat goyangan pinggulnya. Seperti piston, penisnya terus keluar masuk di lorong vagina Dewi. Begitu keras dan cepatnya hingga mengeluarkan suara decakan-decakan yang memenuhi seluruh dinding-dinding kamar.

Dewi yang masih lemas hanya bisa pasrah dengan tubuh terlonjak-lonjak menerima segala serangan Gatot. Kedua tangannya mencengkeram kasur sambil berusaha menegakkan kepala untuk melihat keluar masuknya kontol Gatot di lorong vaginanya. Dewi tampak seperti mau menangis padahal itu adalah ekspresi rasa nikmat yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki lain selain Gatot. Inilah persetubuhan terindah yang pernah ia alami.

Tak berapa lama, kembali Gatot merasakan kepala penisnya disiram oleh cairan hangat. ”Ahh… aku keluar lagi, Tot… kamu memang hebat…” kata Dewi memuji dengan tubuh semakin lemas.

Sebenarnya saat itu Gatot juga telah berada di puncak gairah, namun karena melihat Dewi yang masih terus memburu kenikmatan, ia jadi tidak sampai hati untuk menumpahkan spermanya. Gatot bertekad akan memuaskan perempuan cantik itu sekuat tenaga sebagai wujud rasa terima kasihnya. Biarlah ia ejakulasi di saat berikutnya, saat Dewi mendapatkan kembali orgasmenya. Mereka akan keluar secara bersama-sama.

Dengan tekad seperti itu, Gatot terus menggerakkan penisnya. bahkan ia membalik tubuh Dewi sehingga gadis itu sekarang menungging dengan kaki tertekuk ke bawah, sementara buah dadanya yang besar tergencet hingga melesak pipih ke tempat tidur.

”Auhh… enak, Tot!” erang Dewi saat Gatot semakin kuat menghentak-hentakkan pantatnya sambil memeluk tubuhnya dengan begitu erat. ”Ohh… Tot, kamu pintar sekali… nyaman bangat posisi gini…” erang Dewi mendesah-desah.

Gatot terus mempercepat kocokan penisnya di vagina sempit Dewi yang terasa semakin membanjir. Sepertinya gadis itu kembali mendekati puncak permainannya, terlihat dari pantatnya yang semakin menungging menyambut setiap sodokan penis Gatot pada lubang vaginanya.

”Ayo, Tot… tekan yang kuat… ayo puaskan aku…” rintih Dewi penuh gairah.

Gatot yang merasakan waktunya juga semakin mendekat, lekas mempercepat kocokan penisnya. Semakin lama menjadi semakin cepat, cepat, dan semakin kuat hingga tiba-tiba Gatot mendekap dan memeluk tubuh telanjang Dewi erat-erat. Dengan satu sodokan akhir yang menghunjam begitu dalam, Gatot melepaskan cairan spermanya. Cairan putih kental itu muncrat berhamburan memenuhi liang rahim Dewi yang jadi begitu basah karena di saat yang sama, Dewi sendiri juga melepaskan orgasmenya.

”Ahh… a-aku keluar, Tot… ahh… ahh…” Erang Dewi dengan tubuh terhentak-hentak dan pantat semakin menungging ke atas.

Gatot memeluknya semakin erat. ”Ah… enak sekali, Mbak.” bisiknya mengakhiri sisa-sisa orgasmenya yang masih mengucur pelan.

”Kamu sungguh luar biasa, Tot… aku puas… beneran nggak bisa jalan ini,” kata Dewi dengan ekspresi geli di wajahnya yang cantik. Sementara penis Gatot masih tertancap di liang vaginanya dan tubuh laki-laki itu masih menindih tubuhnya yang tengkurap lemas.

Setelah sedikit tenang, barulah Gatot mencoba mencabut penisnya dari jepitan vagina Dewi yang terus berkedut-kedut ringan. Mereka saling tersenyum dan merubah posisi rebahan di tempat tidur dengan kepala Dewi bersandar di dada Gatot yang bidang.

”Makasih, Tot, aku belum pernah merasa sepuas ini,” kata Dewi bahagia.

“Saya tidak bisa mempertanggung jawabkan semua ini, Mbak.” kata Gatot saat Dewi mulai memeluk tubuhnya.

“Aku tidak butuh itu. ini kehendakku, Tot. Aku sendiri yang akan mempertanggung-jawabkannya.” bisik Dewi lirih.

Gatot mengangguk. Sebenarnya ia masih lapar, tubuh telanjang Dewi begitu menggodanya. Namun jam di dinding sudah berdentang satu kali, menandakan ia harus segera kembali ke kantor kecamatan.

“Terima kasih, Mbak.” kata Gatot pada akhirnya.

“Akulah yang harus berterima kasih. Jangan bilang siapa-siapa ya,” pesan Dewi sebelum Gatot pergi.

Gatot kembali mengangguk dan lekas pamit. Dewi tersenyum sendiri. Ada arti di balik senyuman itu yang Gatot tidak mengerti. Yang Gatot mengerti ialah ini; saatnya ia menjemput Murti. Gatot segera mengarahkan mobil ke SMA 3. Belum sampai di tujuan, di tengah jalan ia melihat Aisyah dan motornya melaju sambil membonceng Murti. Ia segera memutar dan berbalik arah mengejar Aisyah sampai akhirnya bisa menjajari motor itu. Ia bunyikan klakson dan membuka kaca mobil. Aisyah juga berhenti dan Murti turun. Gatot sempat berbagi senyum dengan Aisyah sebelum gadis itu melanjutkan perjalanan pulang seorang diri sementara Murti sudah berada bersama Gatot untuk meneruskan perjalanan juga.

“Tumben kamu lambat, Tot?” tanya Murti agak sedikit curiga.

“Maaf, Mur. Aku banyak kerjaan. Disuruh ini dan diminta itu oleh suamimu.” jawab Gatot berbohong.

“Kalau memang sibuk jangan dipaksakan menjemput. Tuh wajahmu seperti nggak ikhlas.” Murti menunjuk.

“Ikhlas kok. Ini kan sudah kewajibanku.” Gatot tersenyum. Ini karena capek habis ngentot, Mur, bukan karena nggak ikhlas, terangnya dalam hati.

“Mas Joko ada di kantor? Ada acara apa lagi dia hari ini?” tanya Murti menyelidik.

“Pak camat ada. Menurut Mbak Dewi, bapak mau ada pertemuan dengan anggota dewan. Bisa jadi sampai malam.” jawab Gatot.

“Sampai malam tapi kalau masih bisa pulang nggak masalah, Tot. Yang kutakutkan Mas Joko kerja sampai malam tapi nyantol di rumah orang.” ketus Murti.

“Curiga terus bawaanmu.” Gatot mencoba menengahi. ”Bagaimana dengan tempat barumu?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

“Sama saja. Yang namanya mengajar ya begitulah. Ada murid yang pintar ada juga murid yang kurang ajar.” jawab Murti kaku.

“Kurang ajar gimana?” tanya Gatot tak mengerti.

“Ya itu, ada segelintir murid yang suka menggoda guru, suka ngintip guru.” terang Murti.

“Kalau yang digoda dan diintip adalah guru seksi sepertimu, ya wajar dong.” Gatot tersenyum.

“Kamu mulai kurang ajar ya. Nih rasakan!”

Cubitan-cubitan Murti mulai menyerang bertubi-tubi dan Gatot segera memperlambat mobil. Satu tangannya memegang setir, satu tangan lagi menghadang cubitan Murti. Cubitan berhenti tapi kenakalan Murti tidak kunjung mati dan terus menggoda Gatot bahkan sampai tiba di rumah.

“Sudah ah, Mur, aku mau balik ke kantor.” kata Gatot mencoba berkilah.

“Sebentar saja, Tot.” tapi Murti terus memaksa.

Maka, meski masih berada di dalam mobil, terjadilah hubungan kilat. Murti sendiri yang nekad memaksa Gatot agar mau melayaninya. Gatot yang masih belum puas main dengan Dewi, melampiaskan sisa nafsunya pada Murti. Dan hasilnya, biar hanya hubungan kilat, tapi yang terjadi malah lebih dahsyat. Gatot sangat puas, begitu juga dengan Murti.

Begitulah kalau kebiasaan kemudian tumbuh subur menjadi perselingkuhan. Tiada hari yang terlewat tanpa maksiat. Entah berapa kali sudah Murti dan Gatot melakukan seks sebebas-bebasnya tanpa halangan apapun. Yang pasti mereka sadar sepenuhnya itu sangatlah beresiko. Tapi Murti siap menanggung resiko apapun dan juga siap mempertaruhkan rumah tangganya.

“Sudah cukup, Tot,” Murti mendorong dan menyingkirkan Gatot, lalu memasang lagi seragam kerjanya tanpa memasang pakaian dalam karena ia sudah ada di dalam rumah. Sebuah ciuman panjang mengakhiri pertarungan di hari siang itu.

Gatot kembali pada rutinitas, kembali ke kantor kecamatan dengan hati puas. Hari ini dua wanita dengan sangat mudahnya menggoda iman, menuntunnya kembali ke lembah hitam. Baginya lebih baik berjudi dan mabuk berat daripada meniduri wanita. Ia dulu memang bejat tapi sekarang ia mencoba tobat dari segala jenis maksiat.

Apalah daya, setan berwujud wanita mulus seksi sungguh lebih kuat dan membelenggu jiwanya dengan erat. Ia di kelilingi wanita wanita pembelenggu, wanita-wanita yang lapar akan kasih sayang, para wanita yang serba mau dan tak punya malu. Gatot sampai hapal seperti apa dan bagaimana memperlakukan wanita-wanita itu. Ada satu wanita lagi tapi Gatot sangat berharap wanita yang ia pikirkan bukanlah budak setan. Ia berharap wanita yang satu ini bisa memberinya jalan terang.

NYAI SITI : ROHMAH

Salamah asyik menyapu dedaunan yang gugur di halaman depan musholla saat didengarnya sebuah langkah kaki mendekat. Ia tidak mengacuhkannya karena menyangka bahwa itu adalah ayahnya yang biasa ikut membantu bersih-bersih. Namun nyatanya, Salamah segera berhenti menyapu ketika di belakangnya terdengar teguran seseorang. Suara yang sangat ia kenal.

”Rajin sekali kamu, Nduk. Sudah cantik, rajin lagi. Hehe…”

Gadis delapan belas tahun yang membungkuk di muka musholla itu lekas memutar kepala. Seorang lelaki tua yang selama ini menghantui mimpi-mimpi buruknya, dilihatnya berdiri disitu. Tubuhnya jangkung, janggutnya lebat tak terawat, tampangnya meski tidak seram namun memiliki rona gelap. Dialah kakek Dewo!

”Hehe… kamu memang cantik, Nduk!” kembali laki-laki itu membuka suaranya sambil terkekeh pelan. “Sangat bisa memuaskan seleraku, namun sayang kamu selalu menolak.”

”Paman jangan kurang ajar ya!” bentak gadis berbaju biru itu. Dengan garang ia berdiri tegak, tangannya memegangi gagang sapu, siap untuk memukul Dewo kapan saja.

”Eh, cantik-cantik kok galak. Nanti nggak ada yang mau lho!” kata Dewo santai.

”Paman jangan macam-macam ya! Cepat pergi dari sini, atau mau aku pukul?!” ancam Salamah berani.

”Ah, jangan, jangan! Aku cuma mau bicara sebentar,” kata Dewo sambil mengusap-usap brewoknya.

”Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah tahu maksud paman Dewo!” balas Salamah sengit, tangannya makin erat memegangi gagang sapu.

”Bukan itu! Dengarkan dulu…”

Namun sebelum Dewo sempat menyelesaikan kata-katanya, tahu-tahu Salamah sudah memekik sambil mengayunkan senjatanya. Dalam keterkejutannya, cepat Dewo membuang diri ke samping. Sebuah refleks yang cukup bagus untuk orang serenta dia, kalau tidak, pasti kepalanya sudah benjol terkena pukul gagang sapu.

”Dasar sundal!” gertak Dewo hilang kesabaran. ”Meski kau punya tampang cantik dan tubuh mulus, jangan harap aku akan kasihan. Nggak mempan pake bujukan, terpaksa aku memakai cara kekerasan!”

Sehabis berkata, cepat Dewo mengayunkan tangan merebut sapu yang dipegang oleh Salamah. Ia menariknya kuat-kuat, namun Salamah tidak mau melepasnya. Meski tahu kalau kalah tenaga, gadis itu berusaha untuk mempertahankannya sekuat tenaga. Demi harga diri, Salamah akan terus bertahan.

Dewo yang heran dengan kekerasan hati gadis ini, lama-lama jadi kecut juga. Namun ia tidak hilang akal. Memanfaatkan kelengahan Salamah, iapun beraksi. ”Breet… breet… breet… breet…!!!”

”Auw!” Salamah terpekik dan lekas mundur. Mukanya merah gelap ketika menyadari bagaimana Dewo telah membuat lebih dari sepuluh robekan pada baju kurungnya sehingga ia kini hampir berada dalam keadaan setengah telanjang di depan musholla!

”Dasar manusia cabul..!!” rutuk Salamah. ”Akan kuadukan pada Abah!!” Dengan kalap dia menyerbu ke depan, mengayunkan senjatanya. Namun dengan mudah Dewo kembali mengelak dan membalas dengan memukul pergelangan tangan gadis itu, membuat sapu yang dipegang oleh Salamah terlepas dan mental menjauh.

”Hahaha… hari ini kamu akan menjadi milikku!!” Tangan Dewo kembali bergerak cepat, mempreteli sisa baju Salamah. Suara breet… breet… breet… kembali terdengar. Dan tak lama kemudian, Salamah sudah berdiri di depan Dewo dalam keadaan sudah hampir telanjang. Baju kurungnya yang robek-robek sudah tidak sanggup lagi menutupi keputihan buah dada, perut, punggung serta kulit pahanya!

”Auw! Tidak!” menjerit panik, lekas Salamah menggulingkan diri ke tanah, berjongkok untuk menyembunyikan kemontokan tubuhnya dari pandangan lapar si Dewo.

”Sreet…!” namun kembali tangan Dewo meraih, kali ini BH Salamah yang menjadi sararan. Kain krem itupun tertarik putus sehingga jatuh ke pangkuan Salamah.

”J-jangan!” kembali anak Haji Tohir itu menjerit, menyadari kalau salah satu auratnya telah terburai keluar. Kalau bukan karena jilbab lebar yang ia kenakan, payudaranya pasti sudah ter-ekspos jelas saat ini. ”Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh! Daripada aku kamu perkosa!” teriak Salamah putus asa.

Dewo tertawa ngakak. ”Sungguh sayang, membunuh gadis secantik dirimu. Mending kupakai buat teman tidur di ranjang!” katanya sambil mulai mengelus pelan pipi sang gadis.

Salamah berusaha menepisnya, namun Dewo dengan cepat mendorong gadis itu ke tanah kemudian menyergapnya dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu berusaha untuk mempertahankan kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan kehormatan itu!

Keadaan Salamah sudah benar-benar kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Tangan Dewo dengan ganas terus menggerayang di seluruh tubuhnya yang telentang. Gadis itu menangis meratapi nasibnya! Ia berusaha menghantamkan lututnya ke perut laki-laki itu, namun hantamannya yang tidak bertenaga sama sekali tidak dirasakan oleh Dewo.

”Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Salamah putus asa.

”Itu gampang, Nduk! Perawanmu dulu, baru nyawamu!” Dewo mengekeh sambil terus menjilat dan menciumi puncak payudara Salamah yang terasa begitu lembut di jepitan bibirnya. Disaksikan oleh desau angin pagi, ia terus menindih gadis itu. Dewo bahkan sudah melepas celananya, bersiap untuk melaksanakan niat terkutuknya.

Merasakan gesekan benda tumpul di pintu gerbang kewanitaannya, runtuhlah harapan Salamah untuk bisa selamat dari perkosaan itu. Air mata meleleh semakin deras di pipinya yang bulat. Namun nasib ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Tiba-tiba saja sebuah bayangan putih berkelebat dari sebelah timur musholla. Salamah hanya merasakan sambaran angin, namun di atasnya, Dewo tiba-tiba memekik dan tersentak. Laki-laki itu terlempar ke samping, menjauh dari tubuh Salamah.

Terkejut sekaligus tak percaya, Salamah segera membuka kedua matanya. Ia bangkit dengan cepat, lupa akan keadaan dirinya yang masih telanjang. Dia memandang sekeliling, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Namun yang dilihatnya cuma Dewo yang tergolek pingsan dengan ditutupi sehelai kain sarung. Melihat benda itu, mengingatkan Salamah pada keadaan dirinya. Tanpa perduli lagi siapa pemilik sarung itu, langsung saja Salamah melompat, menyambar pakaian itu dan mengenakannya. Meski kedodoran, namun sarung itu memberi banyak pertolongan bagi dirinya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Salamah merasa sangat bersyukur karena sekali lagi ia selamat dari perbuatan bejad si Dewo.

Ketika memandang si Kakek yang masih meringkuk di bawah tubuhnya, meluaplah amarah Salamah. Darahnya mendidih. Lekas ia mengambil sebongkah batu yang tergeletak di tanah, bersiap untuk memukul kepala Dewo sekuat tenaga.

”Jangan! Itu sudah cukup jadi peringatan buat dia. Kau tidak ingin masuk penjara bukan, karena membunuh orang?!” seru suara seseorang di belakangnya.

Lekas Salamah membalikkan tubuh. Disana, berdiri di bawah pohon waru, tampak seorang pemuda berambut gondrong. Salamah terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini ternyata adalah seorang pemuda bertampang keren! Tampan sekali. Mirip malaikat! Apakah pemuda ini yang telah menolongnya? Salamah berharap semoga saja begitu.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, pemuda itu sudah berbalik dan berjalan pergi. ”Hei, siapa namamu?!” tanya Salamah sambil berteriak.

”Bayu! Panggil saja Bayu!” kata pemuda itu tanpa menoleh.

Salamah tersenyum. Hatinya berbunga-bunga. Tanpa mempedulikan peristiwa yang barusan ia alami, ataupun Dewo yang masih tergolek pingsan, Salamah kembali ke dalam rumah. Ada binar cinta di matanya yang bulat. Cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang telah menolongnya!

***

”Paman Dewo kenapa?” tanya Nyai Siti kuatir melihat Dewo pulang dengan tertatih-tatih.

”Ah, nggak apa-apa. Cuma jatuh tadi.” jawab Dewo berbohong, malu untuk mengatakan yang sebenarnya.

”Duduklah dulu, aku buatkan minum.” Nyai Siti memapah Dewo ke ruang tengah.

”Eh, Nyai. Gimana dengan permintaanku?” Dewo bertanya.

Nyai Siti menunduk, ”Sulit, Paman. Entah kenapa, Dewi sama sekali nggak bisa dipengaruhi.”

Dewo menggeram. Ini sudah ke lima kalinya ia kehilangan mangsa. Biasanya ia begitu mudah mendapatkan wanita incaran, namun sudah seminggu ini keadaan menjadi sulit. Jangankan korban baru, korban-korban lamanya saja seperti menjauh dari dirinya. Mereka sepeti tersadar kalau Dewo adalah pembawa bencana, karena itu harus dijauhi. Hanya Nyai Siti sekeluarga yang masih setia melayani dirinya.

”Sabar, Paman. Pasti ada cara lain.” Nyai Siti berusaha menenangkan.

Dewo menggeleng, apalagi bila teringat peristiwa tadi pagi. Salamah, gadis itu benar-benar tidak mempan dipelet. Entah apa yang terjadi, masa ilmunya sudah luntur?! Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena Dewo masih bisa mendapatkan wanita lain. Meski kadarnya sudah sangat berkurang. Kalau dulu satu pelet bisa untuk seminggu,sekarang bisa tahan sehari saja sudah bagus. Sepertinya para wanita di desa ini sudah mulai kebal, itulah yang bisa dipikirkan oleh si Dewo. Ia tidak bisa menemukan alasan lain.

Dan yang menyerangnya tadi. Dewo tidak sempat melihat, namun ia jadi takut orang itu akan melaporkan perbuatannya kepada penduduk desa. Kalau Salamah tidak mungkin buka suara, karena ia sudah mengancam akan menghabisi nyawa ayahnya kalau gadis itu sampai macam-macam.

Nyai Siti yang melihat kecemasan Dewo, lekas membimbingnya ke dalam kamar. ”Mungkin paman perlu istirahat.” katanya penuh perhatian. Dewo mengangguk dan tidak menolak saat Nyai Siti mengeloninya pagi hari itu.

***

Hari sudah menjelang siang ketika Kyai Kholil pulang dari masjid. Dilihatnya pintu kamar Dewo tertutup rapat, sedang Nyai Siti tidak ada di dapur padahal istrinya itu biasanya masih memasak pada jam segini. Dalam hati Kyai Kholil sudah bisa menebak apa yang terjadi. Padahal ia sudah merasa kangen dengan pelukan Nyai Siti; dengan ciumannya, dengan kulumannya dan dengan jepitan memeknya. Hanya dengan membayangkan semua itu membuat batang kemaluan Kyai Kholil berdiri tegak.

Menghela nafas, ia lekas meletakkan kopiahnya di atas meja TV dan melangkah ke kamarnya sendiri. Namun ia berhenti dan berbelok begitu melihat pintu kamar Wiwik yang sedikit terbuka. Dengan perlahan Kyai Kholil membukanya, kemudian menutup pintu kamar itu dengan perlahan setelah berada di dalam. Melihat Wiwik yang masih tertidur pulas, Kyai Kholil melangkahkan kakinya mendekat, kemudian dengan perlahan ia duduk di samping adik iparnya yang cantik itu.

Cepat Kyai Kholil menyibak selimut yang menutupi tubuh molek Wiwik. Ia tersenyum begitu melihat tubuh Wiwik yang hanya berbalutkan daster putih tipis, sehingga kedua payudaranya yang bulat terbayang jelas, lengkap dengan kedua putingnya yang mungil kemerahan. Dengan perlahan Kyai Kholil mulai menjamahnya, meremasnya perlahan. Selain itu ia juga menunduk untuk mengecup bibir tipis Wiwik.

Remasan kedua tangan Kyai Kholil di payudaranya, serta kecupan-kecupan laki-laki itu di bibirnya, membuat Wiwik tersentak bangun. Ia tampak kaget karena merasakan kedua payudaranya ada yang meremas-remas dan bibirnya ada yang mengecup. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap, mulut Wiwik terbuka mencoba untuk berteriak, namun Kyai Kholil cepat membungkam dan melumat bibir gadis itu dengan satu ciuman panjang.

”Hmmph!” Wiwik melenguh, mendapat serangan yang mendadak itu tak urung membuatnya gelagapan juga. Matanya semakin terbelalak, namun setelah tahu siapa yang melakukannya, hasrat untuk marahnya jadi hilang. Malah yang ada, Wiwik mulai membalas ciuman Kyai Kholil. Lidahnya dengan nakal mulai bermain di rongga mulut laki-laki itu, membuat kedua lidah mereka jadi saling bertaut dan menempel mesra.

Di bawah, mengetahui Wiwik yang sudah pasrah sepenuhnya, remasan tangan Kyai Kholil jadi semakin menjadi. Wiwik dibuatnya mendesah, nafas keduanya memburu, nafsu birahi mereka semakin memuncak. Wiwik membalas dengan meraih belakang kepala Kyai Kholil, seolah tidak mau melepaskan kakak iparnya itu untuk terus mencumbu dirinya. Tangan kanannya merayap ke selangkangan Kyai Kholil, mengelus-elus batang kontol Kyai Kholil yang sudah tegang dari balik kain sarungnya. Tangan Kyai Kholil pun semakin asyik meremas-remas kedua payudara Wiwik yang ukurannya semakin hari tampak semakin besar saja. Sekarang sudah pas segenggaman tangan. Terasa empuk dan hangat sekali.

”Ahh… ahh… uhh…” desahan dan lenguhan kerap terdengar dari mulut mereka berdua.

Tidak puas dengan hanya mengelus-elus batang kemaluan Kyai Kholil dari luar sarung, Wiwik mulai beraksi dengan mencoba menyingkapnya. Setelah berhasil, tangannya dengan lincah menyusup masuk ke dalam cd Kyai Kholil. Batang kontol Kyai Kholil yang sudah tegang segera diremasnya, akibatnya Kyai Kholil jadi menggelinjang mendapat serangan nikmat seperti itu.

Saat mereka sedang asyik bercumbu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Keduanya segera menghentikan kegiatan mereka. ”Ya?” sahut Wiwik dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Ia tersenyum pada Kyai Kholil dan membiarkan laki-laki itu mengecup mesra puncak payudaranya.

”Mbak, maaf, kamarnya mau aku sapu!” terdengar suara Rohmah menjawab.

”Hmm, ya boleh. Masuk aja,” jawab Wiwik. Kyai Kholil mendelik memandangnya, seolah memprotes jawaban adik iparnya itu karena takut dipergoki oleh Rohmah, anaknya sendiri. Namun Wiwik hanya tersenyum sambil mengecup kembali bibir Kyai Kholil.

Terdengar suara gerendel pintu dibuka dan, “Eh, ada Abah. Kapan pulang?” tanya Rohmah begitu menyadari ada Kyai Kholil di kamar Wiwik.

”B-barusan aja,” jawab Kyai Kholil sambil tersenyum kikuk, tak tahu harus berbuat apa. Lekas ia lepaskan pelukannya pada tubuh molek Wiwik.

Wiwik yang melihat tingkah Kyai Kholil, tersenyum dan kemudian berbisik, ”Pasti Abang sedang membayangkan tubuh Rohmah ya, dan pasti berharap untuk bisa menyetubuhinya?” bisik Wiwik sambil menjilat telinga sang kakak ipar.

”Ah, enggak lah,” jawab Kyai Kholil perlahan dan tersipu.

”Hehehe, Abang jangan bohong. Dari cara Abang menatap tubuh Rohmah, saya bisa langsung tahu,” bisik Wiwik kembali.

Kyai Kholil terdiam.

”Kalau Abang pengen nyobain, saya bisa bantu.” goda Wiwik.

”Eh, memang bisa?” tanya Kyai Kholil penasaran.

”Abang mau?” Wiwik kembali menggoda.

”Hhm… mau aja, tapi…” dengan malu Kyai Kholil mengiyakan.

”Tapi kenapa?” tanya Wiwik sambil mendesah. Selama itu, Rohmah hanya berdiri saja di depan pintu sambil memperhatikan mereka berdua.

”D-dia kan, anakku sendiri!” jawab Kyai Kholil.

”Emang kenapa, saya juga adik Abang sendiri. Tapi Abang juga berlaku begini sama saya, lalu kenapa sama Rohmah harus berbeda?” sergah Wiwik.

Kyai Kholil tidak mampu untuk menjawab.

”Ayo kita main bertiga, itupun kalau Abang kuat!” tawar Wiwik.

”K-kalau soal itu, nggak usah khawatir,” jawab Kyai Kholil sambil tersenyum. Memang, sejak diterapi oleh Dewo, ia jadi kuat main seks.

”Okelah kalau begitu,” sahut Wiwik riang, kemudian menoleh pada Rohmah. ”Dik, sini sebentar,” panggilnya.

”Ya, mbak,” sahut Rohmah yang segera menghampiri bibinya ini. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat tubuh molek Wiwik yang membayang dengan jelas dari balik daster tipisnya. Rohmah melihat kedua payudara Wiwik yang indah dan besar dihiasi oleh dua puting yang kemerahan. Sementara di selangkangan, ia melihat bayangan hitam yang mulai melebat, sama seperti miliknya. Rohmah menyadari bahwa bibinya yang masih muda ini tidak mengenakan pakaian dalam di balik dasternya yang tipis itu.

”Sini, Dik, duduk sini,” ajak Wiwik sambil menepuk pinggiran tempat tidur di sebelah kirinya.

”Ah, nggak usah, Mbak. Biar aku disini saja, bajuku basah,” jawab Rohmah sungkan, terutama kepada ayahnya, Kyai Kholil, yang terus memandangi tubuhnya.

”Eh, nggak apa-apa, sini duduk,” kata Wiwik.

Dengan berat hati akhirnya Rohmah duduk di sebelah bibinya itu. ”Maaf kalau menganggu.” katanya kemudian.

Wiwik tersenyum, ”Sama sekali nggak. Bener kan, Bang?” tanyanya pada Kyai Kholil.

Laki-laki itu mengangguk, matanya terus menatap dan memandangi Rohmah, seperti baru menyadari kalau putrinya ini adalah sosok yang manis. Kulit Rohmah yang kuning langsat, bentuk tubuhnya yang sempurna, langsing, dengan kedua payudara yang meski nampaknya tidak terlalu besar namun cukup besar juga, membuat hati Kyai Kholil jadi tergerak. Ia harus bisa meniduri Rohmah, putrinya sendiri!

“Gini, Dik. Aku mau tanya, gimana rasanya ngentot sama paman Dewo?” tanya Wiwik memulai.

”E-enak… memang kenapa?” jawab Rohmah sambil tersipu malu.

”Kamu nggak kangen sama itunya paman Dewo?!” tanya Wiwik sambil tersenyum.

”Maksud Mbak?” tanya Rohmah balik, masih belum mengerti maksud Wiwik.

”Itu lho, kan sudah seminggu ini dia nggak nyentuh kita. Kamu nggak pengen ngentot?” Wiwik menjelaskan.

”Oh itu, eeh… gimana yah, malu ngomongnya. Pengen sih, tapi…” jawab Rohmah tersipu.

”Tapi kenapa?” desak Wiwik.

”Iih, Mbak… malu ah,” kata Rohmah. Pipinya merona merah karena malu. Kyai Kholil yang terus mendengarkan jadi semakin bernafsu melihat anaknya yang tersipu malu karena semakin terlihat manisnya.

”Inimu nggak gatel?!” kata Wiwik sambil tangan kirinya mengusap-usap permukaan selangkangan Rohmah.

Rohmah tentu saja langsung menggelinjang kegelian oleh rabaan tangan itu. ”Aah… geli, Mbak!” jerit Rohmah.

”Abahmu bisa nolongin,” kata Wiwik.

Rohmah terdiam, tidak berani menatap Kyai Kholil. Terlihat kalau ia begitu malu meski dalam hati menginginkannya juga.

”Tidak apa-apa,” Wiwik berusaha menengahi. ”mungkin nggak sekarang.” katanya.

Rohmah mengangguk dan menatap bibinya ini penuh rasa lega, namun ia kembali mengernyit saat Wiwik kembali berkata, ”Tapi kamu mau tolongin Mbak, kan? Aku sudah lama tidak merasakan punyanya laki-laki, memekku jadi gatel banget!”

”Eeh… gimana caranya tuh, kita kan sama-sama perempuan?” kata Rohmah bingung.

”Kamu lakukan dengan tanganmu, seperti ini!” jelas Wiwik sambil meraih tangan Rohmah lalu diletakkan di atas selangkangannya. Ia membuka kedua kakinya, dan mengangkat dasternya, tangan Rohmah lalu ia gerakkan di permukaan memeknya yang sudah membanjir.

Rohmah terperanjat dengan ulah bibinya ini, tapi karena penasaran, iapun mengikuti kemauan Wiwik. Perlahan tangannya bergerak mengelus-elus memek Wiwik, dari bawah ke atas. Tak lama kemudian Wiwik pun mulai ikut beraksi, tangan kanannya menyelusup ke dalam baju kurung Rohmah dan menyelinap ke dalam bra gadis itu. Payudara Rohmah langsung diremas-remasnya, sementara tangan kirinya mengusap-usap punggung putri Kyai Kholil tersebut. Rohmah tentu saja kaget mendapat perlakuan seperti ini, namun sama sekali tidak bisa menolak.

”Eehh… Mbakk… j-jangan! Ooohh… jangaan!” tolak Rohmah sambil mendesah begitu merasakan gairah birahinya yang mulai timbul.

Mulut berkata jangan, tapi tubuhnya tidak bisa menolak dengan perlakuan Wiwik. Tangan Rohmah pun semakin aktif bermain di memek Wiwik, hasrat birahi kedua wanita muda ini dengan perlahan bangkit, permainan mereka semakin menjadi. Entah sejak kapan tubuh mereka berdua sudah telanjang bulat. Dari posisi duduk di pinggiran ranjang, sekarang posisi mereka sudah berbaring bertindihan di atas ranjang. Rohmah berbaring mendesah-desah menikmati jilatan lidah Wiwik di vaginanya, juga hisapan Wiwik yang mendera kelentitnya. Perasaannya melambung seiring tubuhnya yang menggelinjang menikmati serangan-serangan Wiwik di memek dan kelentitnya.

”Oooh… ssh… aah… shh… aah… ooh…” Rohmah mendesah.

”Hhm… slrupp… slrupp… enaak, Dik? Slrupp…” tanya Wiwik sambil tetap menghisap kelentit Rohmah dan menjilati memeknya.

”Ooh… enaak, Mbak… nikmaat!” jawab Rohmah.

Tak lama kemudian Wiwik memutar tubuhnya sambil mulutnya tetap bermain di selangkangan Rohmah, ia menempatkan bagian selangkangannya tepat di atas muka gadis itu. Mereka berposisi 69!

”Kamu juga jilati punyaku,” kata Wiwik.

”Ooh… i-iya, Mbak!” Rohmah menuruti kehendak bibinya yang lebih berpengalaman ini.

”Ooh… hisap juha itilku, Dik!” Wiwik mendesah.

Kyai Kholil yang melihat pemandangan itu jadi semakin terangsang, kontolnya semakin mengeras, namun dengan sabar ia menunggu kode dari Wiwik. Walaupun hatinya ingin segera memasukkan kontolnya ke memek Rohmah yang terlihat sempit dan kenyal, tetap berusaha ia tahan sekuat tenaga. Sabar, nanti ada waktunya sendiri. Sekarang biarlah kedua gadis itu memuaskan nafsunya masing-masing. Kyai Kholil terus memperhatikan dengan nafas yang semakin memburu, tanda kalau nafsu birahinya sudah semakin memuncak.

Sementara itu di ranjang, aksi Rohmah dan Wiwik sudah semakin menggila. Keduanya saling menghisap dan mengerang silih berganti, saat itulah terlihat Wiwik memberi kode kepada Kyai Kholil agar masuk ke arena pertempuran. Bergabungnya Kyai Kholil tidak diketahui oleh Rohmah yang saat itu sibuk menikmati jilatan dan hisapan mulut Wiwik pada lubang memeknya, juga sibuk dengan aksi mulutnya sendiri di memek sempit Wiwik.

Dengan pelan Kyai Kholil bergeser, ia melihat memek Rohmah yang sedang dijilati oleh Wiwik sudah merekah indah, siap untuk dimasuki. Lubangnya yang sengaja dibuka oleh Wiwik terlihat basah kemerahan, juga sedikit berdenyut-denyut seiring hisapan Wiwik pada biji kelentitnya. Dengan dibantu oleh Wiwik, perlahan Kyai Kholil menyelipkan kepala kontolnya ke lubang tersebut.

Sleeepp…!! Kepala kontolnya terjepit di lubang vagina Rohmah.

Rohmah yang merasakan lesakan di lubang kemaluannya kontan tersentak, tapi ia tidak bisa bergerak karena tubuhnya sedang ditindih oleh Wiwik. Ia yang bertubuh mungil jadi tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang mengganjal di lubang kemaluannya itu.

”Oughh… i-itu apa, Mbak, yang masuk ke dalam lubangku?” tanya Rohmah kaget.

”Tenang, Dik, nikmati saja kontol Abah kamu. Pasti kamu nggak kecewa,” jawab Wiwik menenangkan.

”Eeh… j-jangan! Jangan dimasukkan, Bah! Arghh… pelan-pelan! Kontol Abah gede banget… nggak kalah sama punya paman Dewo! Ooughh… robek memekku!” Rohmah menjerit saat Kyai Kholil mulai meneroboskan kontolnya ke dalam lubang memek sang putri tercinta.

Perlahan tapi pasti batang kemaluan Kyai Kholil mulai menyeruak ke lubang memek Rohmah yang sudah seminggu tidak dikunjungi oleh batang kemaluan lelaki. Sedikit demi sedikit kontolnya mulai terbenam dalam lubang memek Rohmah yang masih sempit dan kesat.

Bleeess…!!! Dengan sekali hentak, Kyai Kholil mendorong masuk semua batang kemaluannya sehingga terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Rohmah.

”Arghhh… memekmu sempit juga, Nduk!” Kyai Kholil mengerang keenakan merasakan jepitan ketat memek putrinya sendiri, hal yang sudah lama ia inginkan namun baru kali ini berani ia lakukan.

”Oohh… sakit, Abah! Aahh…” Rohmah mengerang merasakan kontol Kyai Kholil yang memenuhi rongga kewanitaannya.

”Sabar, Dik., nanti juga nggak sakit. Ini karena kamu sudah lama tidak merasakan batang kemaluan lelaki,” Wiwik berusaha menenangkan.

Kyai Kholil mendiamkan kontolnya sejenak dalam jepitan memek Rohmah. Sementara Wiwik kembali menjilati kelentit Rohmah, jilatan yang dilakukannya perlahan-lahan mulai menghilangkan rasa sakit di memek gadis itu. Namun ternyata bukan hanya Rohmah yang menikmati jilatan itu, Kyai Kholil pun ikut merasakannya karena Wiwik sesekali juga menghisap pangkal kontol sang Kyai yang berada berdekatan dengan posisi kelentit Rohmah.

”Ooh… ssh… hhh…” erangan Rohmah mulai terdengar lagi, isak tangisnya telah berganti dengan lenguhan nikmat akibat jilatan Wiwik. Ia sudah tidak merasakan sakit di memeknya, yang ada malah perasaan enak akibat kontol Kyai Kholil yang memenuhi lubang memeknya.

Kyai Kholil sendiri juga merasakan memek Rohmah mulai berdenyut-denyut pelan, seolah meremas-remas batang kontolnya dengan begitu lembut. Tanpa menunggu lebih lama, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya; menggesek dinding memek Rohmah dengan batang kontolnya yang besar dan panjang. Kyai Kholil mengayunkannya keluar-masuk secera perlahan-lahan di lubang memek Rohmah, putrinya sendiri, yang kini semakin melenguh dan menggelinjang nikmat akibat persetubuhannya.

Wiwik yang masih asyik menjilati kelentit Rohmah, melihat bagaimana kontol Kyai Kholil keluar masuk di memek Rohmah dengan begitu perlahan. Menyadari bahwa Rohmah sudah dapat menikmati lesakan-lesakan kontol Kyai Kholil, iapun bangkit dari posisi membungkuknya dan lalu berbaring di samping Rohmah, sambil tangannya bermain di kedua payudara gadis itu. Benda yang mulai mengkal itu silih berganti ia remas-remas dan ia hisap-hisap ringan, dengan lidahnya Wiwik bermain di kedua puting Rohmah. Gigitan-gigitan lembut ia lakukan di kedua puting itu, akibatnya erangan dan desahan nikmat dari Rohmah jadi semakin kerap terdengar.

”Auw… ahh… ahh…” Rohmah merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Selain batang kontol besar yang memenuhi rongga memeknya, hisapan dan jilatan serta gigitan Wiwik di puting payudaranya membuatnya bergairah luar biasa. Matanya kadang terpejam kadang mendelik, sementara mulutnya terus mendesah dan mengerang penuh gairah.

”Oughh… enaak, Bah! Ssh… ahh… kontol Abah enak! Genjot terus… memekku enak!” Rohmah mendesah tak karuan.

”Sssh… ughh… memekmu juga enak, Nduk!” Kyai Kholil balas mengerang.

”Bener kan, Dik, kamu pasti merasa nikmat,” gumam Wiwik sambil terus mencucupi puting Rohmah satu per satu, menghisap dan menjilatinya dengan penuh nafsu.

”I-iya, Mbak… oughh… kontol Abah nggak kalah sama punya paman Dewo… enakk… gede banget! Aaghh…” erang Rohmah dengan tubuh semakin menggelinjang. Batas antara ayah dan anak sudah hilang sekarang, berganti dengan nafsu binatang yang menuntut untuk dipuaskan.

Nampak kepala Rohmah bergoyang ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang juga terangkat saat lesakan kontol Kyai Kholil masuk lebih dalam di lubang vaginanya. Lenguhan dan desahannya juga semakin sering terdengar, gairah birahinya yang terpendam selama satu minggu ini terlampiaskan sudah. Gejolak birahinya meledak-ledak menikmati sodokan-sodokan kontol Kyai Kholil, ayahnya sendiri. Rohmah bahkan merasakan puncak pendakiannya akan segera tercapai, ia merasakan lahar kenikmatannya akan segera meletup keluar.

”Oohh… terus genjot memekku, Bah! Yang cepat! Yang kuat! Auw… yah begitu! Terus! Ahhh… makin cepat, Bah! Makin kuat! Aku… oghh… mau keluarr…” Rohmah mengerang sejadi-jadinya merasakan nikmatnya digenjot oleh ayahnya sendiri.

Mendengar erangan sang putri tercinta, Kyai Kholil semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Saat merasakan kedutan kuat di dinding-dinding memek Rohmah yang melingkupi batang penisnya, iapun menekan kontolnya kuat-kuat ke dalam lubang kenikmatan gadis itu, bllessh…!!!

”Oughh… Bah! E-enak! Nikmaat! Hhm…” Rohmah mengerang keenakan saat vaginanya mulai menyemburkan cairan kenikmatannya yang sudah terpendam selama satu minggu ini.

Kyai Kholil mendiamkan sejenak kontolnya dalam lubang vagina gadis itu untuk memberi kesempatan kepada Rohmah menikmati puncak kenikmatannya. Ia merasakan bagaimana memek Rohmah yang berkedut-kedut kuat seiring dengan menyemburnya cairan kenikmatannya.

Terlihat nafas Rohmah masih memburu, matanya terpejam, namun di mulutnya tersungging senyum tipis penuh kepuasan. Untuk pertama kalinya ia bersetubuh dengan ayahnya sendiri dan untuk pertama kalinya juga ia dipuaskan oleh laki-laki itu. Setelah nafasnya mereda, barulah Rohmah membuka kedua matanya, tapi ia langsung tersipu begitu tahu kalau Kyai Kholil sedang menatap dirinya. Mukanya langsung memerah, kedua tangannya secara otomatis menutupi kedua payudaranya yang terbuka. Meski baru saja bersetubuh, dan malah kontol Kyai Kholil masih menancap di liang rahim Rohmah, namun gadis itu merasa malu. Ini memang tidak seharusnya dilakukan, kalau bukan karena pelet maut si Dewo tidak mungkin ini terjadi.

Tingkah Rohmah itu membuat Wiwik dan Kyai Kholil tersenyum. Dengan kontol masih terbenam di lubang kenikmatan Rohmah, kembali Kyai Kholil menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Rohmah yang masih tersipu malu terhenyak dengan ulah ayahnya itu, namun ia hanya bisa melenguh merasakan gesekan batang kemaluan Kyai Kholil di dinding-dinding vaginanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya mukanya yang semakin memerah saat kedua tangan Kyai Kholil mulai menggerayangi kedua payudaranya yang sedang ia tutupi dengan menggunakan tangan. Lembut Kyai Kholil menyingkirkan tangan Rohmah hingga payudara yang masih ranum itu kembali terpampang jelas. Segera Kyai Kholil meremas-remasnya sambil terus menggenjot lubang memek Rohmah dengan batang kontolnya yang masih ngaceng penuh. Erangan Rohmah pun kembali terdengar, nafsu birahinya yang tadi sudah sedikit padam, perlahan mulai menyala kembali.

Wiwik yang melihat Kyai Kholil mulai menggenjot ringan, segera beranjak ke belakang tubuh kakak iparnya itu, ia peluk Kyai Kholil dari belakang. Mesra ia ciumi punggung, telinga, tengkuk dan leher Kyai Kholil, sambil salah satu tangannya bergantian mengelus-elus batang dan biji peler sang Kyai yang bergoyang-goyang seiring hentakannya.

”Ahh…” Kyai Kholil yang merasakan sentuhan Wiwik jadi ikut melenguh. Ia merasakan sensasi nikmat yang berbeda. Akibatnya, kontolnya jadi semakin gencar keluar masuk di liang memek Rohmah. Gerakan ayunannya menjadi bertambah cepat.

”Aughh… shhh… ahh…” Rohmah yang merasakan kontol sang ayah semakin gencar keluar masuk di lubang vaginanya, jadi semakin melenguh. Desahan dan erangannya kini semakin menjadi. Cairan pelicin semakin banyak mengalir dari lubang vaginanya, bercampur dengan cairan orgasmenya yang tadi sudah menyembur keluar. Akibatnya lubang vaginanya jadi semakin basah sekarang. Suara kecipak aneh terdengar begitu alat kelamin mereka beradu, yang mana itu semakin menambah gairah birahi mereka bertiga.

”Ooh… enak, Bah! Terus genjot! Memekku… oooh…” Rohmah merintih-rintih keenakan.

Sambil kedua tangannya tetap meremas-remas kedua payudara putrinya, genjotan-genjotan Kyai Kholil pun semakin bertambah cepat. Sementara itu ia sendiri merasakan elusan-elusan Wiwik di biji pelernya berubah menjadi remasan-remasan lembut. Sangat nikmat sekali. Tangan adik iparnya itu seperti tidak mau lepas dari sana.

”Hhm… jangan lupa, Bang, sisakan kontolmu buat aku!” Wiwik berbisik lirih di telinga Kyai Kholil.

”Oughh… pasti, Wik, aku masih kuat kok!” jawab Kyai Kholil penuh keyakinan.

”Ayo, Bah… genjot lebih kuat! lebih cepat! Aku mau keluar!” rintih Rohmah yang merasakan puncak kenikmatan akan segera ia raih kembali untuk kedua kalinya.

Kyai Kholil tersenyum mendengar jeritan Rohmah. Hatinya membatin, obat yang diberikan Dewo memang betul-betul ampuh. Untuk kedua kalinya ia bisa mengantarkan Rohmah meraih puncak kenikmatannya.

”Keluarin, Nduk, keluarin!” kata Kyai Kholil sambil mempercepat genjotannya.

”Ahh… aku nggak kuat lagi, Bah! Arghh… aku keluar!!” Rohmah menjerit keenakan saat memeknya memuntahkan lahar kenikmatan untuk yang kedua kalinya, membuat lubang itu jadi semakin basah oleh cairan lendir bening.

Nafas Rohmah masih memburu menikmati puncak pendakian yang berhasil ia raih, dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya yang masih berat, sementara kedua payudaranya yang bergoncang-goncang terus dipegangi oleh Kyai Kholil. Laki-laki itu kembali mendiamkan kontolnya terbenam di lubang memek sang putri untuk memberikan kesempatan bagi Rohmah menikmati sensasi orgasmenya.

Wiwik tersenyum melihat Rohmah kelojotan untuk kedua kalinya oleh terjangan kontol Kyai Kholil. Ia segera memagut bibir Kyai Kholil penuh nafsu, lidahnya menerobos ke rongga mulut kakak iparnya itu, yang disambut oleh Kyai Kholil dengan penuh nafsu juga. Keduanya asyik berciuman sementara Rohmah yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya melihat pemandangan itu dengan iri. Ia lihat tangan sang Abah mulai meremas-remas kedua payudara bulat milik Wiwik, desahan-desahan birahi mereka terdengar saling bersahutan. Meski masih ingin merasakan lagi keperkasaan kontol Abahnya, namun Rohmah tahu diri. Sekarang adalah giliran Wiwik, jadi iapun segera mendorong tubuh Kyai Kholil sehingga jepitan alat kelamin mereka terlepas.

Sekarang Kyai Kholil berbaring telentang di tempat tidur, tepat di sebelah Rohmah. Kontolnya yang masih ngaceng keras tampak bergoyang-goyang indah menantang Wiwik agar segera menaikinya. Tanpa membuang waktu, Wiwik menaiki tubuh Kyai Kholil. Dengan mulut masih berpagutan mesra, ia mulai menggesek-gesekkan lubang memeknya di batang kemaluan sang kakak ipar sehingga membuat kontol Kyai Kholil semakin keras dan kaku saja. Selanjutnya, dengan tidak sabar Wiwik meraihnya dan mengarahkan benda itu ke lubang vaginanya.

Slleeepp…!! dengan mudah kontol Kyai Kholil terjepit di bibir vagina Wiwik, dan dengan satu dorongan ringan, melesaklah benda itu ke dalam lubang memek Wiwik hingga membelahnya jadi dua bagian sama lebar.

”Arghh… Bang, masuk semua kontolmu… di memekku… aah!” Wiwik melenguh puas.

”Hmm… memekmu sempit, Wik, nggak kalah sama punya Rohmah!” balas Kyai Kholil merasakan sempitnya lubang memek Wiwik.

Tanpa menunggu lama, mereka pun mulai menggerakkan pantat maju mundur sehingga kontol Kyai Kholil bergerak keluar masuk dengan sendirinya di memek sempit Wiwik. Mereka berpelukan erat, tubuh keduanya seolah menyatu. Wiwik terlihat semakin bernafsu memagut bibir Kyai Kholil, yang dibalas oleh Kyai Kholil dengan meremas-remas payudara Wiwik mesra.

Wiwik yang sudah berpuasa selama satu minggu inipun semakin liar beraksi, goyangan pantatnya betul-betul hebat; kadang bergerak maju-mundur, kadang berputar-putar, bahkan juga beberapa kali turun naik dengan begitu cepat saat merasakan kontol Kyai Kholil yang seperti sedang mengebor lubang kemaluannya.

”Oooh… enak, Bang! Kontolmu enak!” Wiwik merintih keenakan.

”Aah… terus goyang, Wik! Memekmu betul-betul enak!” balas Kyai Kholil yang merasakan kontolnya seperti dipijit-pijit saat Wiwik memutar-mutar pantatnya.

Rohmah yang mulai tersadar, begitu melihat kedua payudara Wiwik yang bergoyang-goyang indah seiring dengan gerakan pantatnya, segera memberanikan diri untuk mendekat. Ia peluk Wiwik dari belakang dan mulai meremas-remas kedua payudara gadis itu. Bahkan tidak hanya tangannya yang beraksi, tapi mulut Rohmah pun ikut bekerja dengan silih berganti menjilat kedua puting Wiwik yang mungil kemerahan.

“Arghh…” akibatnya, Wiwik jadi mengerang penuh kenikmatan. Jilatan Rohmah di puting payudaranya dan serangan kontol Kyai Kholil di kemaluannya benar-benar membuatnya tak tahan.

Gerakannya maju mundurnya kini semakin bertambah cepat, juga tidak beraturan. Akibatnya kontol Kyai Kholil pun semakin gencar menyodok-nyodok ke dalam lubang memeknya. Nampaknya gadis itu sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya.

”Aarggh… aku mau keluar, Bang! Kontolmu memang nikmat!” Wiwik mengerang, tubuhnya mengejang saat vaginanya memuntahkan lahar kenikmatannya. Cairan itu menyembur membasahi batang kontol Kyai Kholil yang masih berada dalam jepitan liang vaginanya.

Kyai Kholil yang melihat tubuh Wiwik mengejan-ejan nikmat, segera buru-buru membenamkan penisnya dalam-dalam. Tanpa aba-aba ia muntahkan spermanya ke liang rahim gadis itu. Mereka melenguh secara berbarengan dan saling berpelukan. Rohmah melihat dengan iri, namun ia segera tersenyum begitu Wiwik bangkit dan membagi sisa pejuh Kyai Kholil yang merembes dari liang memeknya sama rata. Berdua mereka menjilatinya hingga bersih, sampai tidak ada yang tersisa. Selanjutnya mereka tertidur berpelukan dengan Kyai Kholil berada di tengah-tengah, tubuh mereka masih sama-sama telanjang.

Di kamar sebelah, Dewo juga melakukan hal yang sama. Ia muntahkan spermanya untuk yang ketiga kalinya di pagi ini ke mulut Nyai Siti. Dan wanita itu terus menelannya dengan penuh rasa suka. Tersenyum puas, Dewo kembali meraih tubuh molek Nyai Siti ke dalam pelukannya.

ROSITA

Orang-orang di sekitarku selalu memuji ingatanku sebagai ingatan paling tajam yang pernah dimiliki seorang manusia. Istilah jaman sekarang, ‘photographic memory’. Aku begitu mudah mengingat segala hal yang pernah aku alami atau bahkan sekadar aku lihat dan aku dengar. Misalnya saja, poster kampanye calon walikota yang sekilas saja kulihat di pinggir jalan. Aku bisa ingat warna latar belakangnya, motif bajunya, bahkan semua kata yang ada dalam poster itu dari atas hingga bawah. Semua. Ingatan tajam itu memang kumiliki sejak lahir, meski kedua orang tuaku biasa-biasa saja.

Mereka malah kebingungan ketika aku menanyakan perihal ingatan superku. “Mungkin ini mukjizat Tuhan,” jawab Ayah, dan “Kamu tidak diciptakan dengan ingatan seperti itu kalau tidak ada tujuannya. Yang penting kamu harus menggunakannya untuk kebaikan,” jawab Ibu.

Pelajaran dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi kulahap dengan mudah dan kumuntahkan kembali ketika ujian. Ranking tertinggi dan predikat magna cum laude melekat di memorabilia pendidikan yang pernah kujalani. Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba memburuku dan menawarkan gaji selangit. Akhirnya aku mendarat pada sebuah perusahaan minyak dan gas bumi asing sebagai asisten kepala riset dan teknologi. Pretty cool, huh?

Namun ingatan ini bukanlah tanpa cacat. Ada satu momen pada tujuh tahun yang lalu, ketika masih duduk di sekolah menengah atas, yang sama sekali tak bisa kuingat. Momen itu melibatkan sepatu kecil di kamarku yang kini tinggal sebelah. Entah kenapa bisa seperti itu. Ayah dan Ibu selalu bungkam ketika kutanyakan kejadian tersebut. Mereka hanya menjawab ‘mungkin satunya jatuh dan hilang” lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan. Rumah ini tak pernah punya pembantu dan aku anak tunggal, jadi tak ada orang lain yang bisa kutanyai lagi. Aku harus puas dengan jawaban itu selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini. Sepuluh menit yang lalu, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu berusaha menggapai tombol bel rumah yang tak terjangkau tangannya yang mungil. Aku yang kebetulan melihat karena hendak berangkat ke kantor, menanyakan tujuannya dengan ramah. Tapi alih-alih menjawab, laki-laki itu hanya menatap wajahku lekat-lekat, entah apa yang dicarinya di situ.

“Maaf, bapak ini mau cari siapa?” tanyaku lagi.

Beliau masih tak menjawab. Akhirnya, karena jengkel kutinggalkan saja dia di depan pagar. Barulah beliau memanggilku dan meminta maaf.

“Saya ingin bertemu orang tuamu. Kau anak dari Bapak dan Ibu Roestam kan?”

“Iya. Bapak siapa?” tanyaku dengan nada waspada bercampur ingin tahu. Seumur-umur, belum pernah kulihat wajahnya di antara deretan teman dan kolega orang tuaku, sehingga aku harus waspada.

“Panggil saja Pak Ustad,” jawab beliau sambil membetulkan peci warna hitam yang dikenakannya.

“Siapa, Nang?” rupanya Ibu mendengar percakapan kami.

“Pengen ketemu ibu, namanya Pak Ustad.” jawabku sambil membukakan pagar.

Ibu mengernyit mendengar nama itu, seperti habis melihat kotoran anjing di kebun. Lebih-lebih setelah bertatapan muka langsung dengan laki-laki itu. “Mau apa kamu ke sini?” tanya ibu tanpa basa-basi. Aku ikut memasang sikap defensif dan siap-siap mengusir Pak Ustad yang ternyata kedatangannya tak dikehendaki oleh Ibu.

“Tenang, Bu. Saya cuma ingin menagih janji.” jawab beliau tenang. Dapat kulihat tak ada perubahan ekspresi ketika bercakap-cakap dengan Ibu.

“Tak ada janji di antara kita. Itu cuma akal-akalanmu saja!”

“Saya bawa surat itu, lho! Ada tanda tangan ibu juga.” jawab Pak Ustad sambil mencari sesuatu dari tas jinjing coklat tua yang dibawanya.

“Masuk saja, jangan di sini. Tak enak kalau dilihat tetangga. Danang, kamu bukannya harus berangkat ke kantor?” kata ibuku.

“Tapi, Bu, apa aku harus memanggil polisi? Atau beliau disuruh pulang saja?” tanyaku mulai gusar.

“Tak apa. Ibu bisa menanganinya sendiri.” jawaban yang singkat lugas, dan tegas, mengusirku dengan halus.

Aku menghela napas lalu segera berangkat dengan mobil sedan keluaran tahun 1995 milik Ayah. Dari spion dapat kulihat Ibu masih berdiri di pagar, mengawasiku untuk benar-benar pergi ke kantor.

Menjelang malam, aku baru bisa pulang. Salahkan kerjaan yang menumpuk dan beberapa rekan kerja yang cuti secara bersamaan. Aku mendapati Ayah dan Ibu tengah bercakap serius dengan volume yang nyaris seperti bisikan. Begitu halus dan pelan. Suara lemari ruang tamu yang tak sengaja kutendang, segera mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Pandangan mereka tak kumengerti, campuran antara takut, kalut dan sedih.

Ayah lebih dulu membuka suara setelah berhasil menguasai diri. “Duduk sini, Nang. Ada yang harus kami sampaikan padamu.”

“Serius amat sih. Ada hubungannya ama si bapak yang tadi ke sini?”

“Sayangnya iya. Sebelumnya kami mau minta maaf karena selama ini nggak jujur sama kamu. Sebetulnya, kamu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Ayah yang lebih tegas, segera mengambil alih. “Kamu bukan anak kami. Kamu anak Pak Ustad yang kami ambil dan kami asuh selayaknya anak kami.”

Cangkir yang kupegang langsung jatuh begitu mendengar kata-kata itu. Ya, seperti di film atau sinetron-sinetron. Ibu buru-buru mengambil sapu dan membereskan pecahan gelas itu, sementara aku masih memandang Ayah dengan tatapan tak percaya.

Beliau lalu melanjutkan ceritanya. “Ingat sepatu kecil di kamarmu yang tinggal sebelah? Itu adalah hadiah dari Pak Ustad saat datang pertama kali ke rumah ini, untuk mengambilmu.”

”Kenapa cuma sebelah?”

”Kami menolak ia mengambilmu. Kami terlalu sayang kepadamu, Nang. Jadi kami melawan. Sebelum mengusir Pak Ustad dan mengunci pintu, ibu melemparkan sepatu itu. Namun cuma sebelah, yang satunya tetap kamu pegang, sampai sekarang.” ujar Ibu sembari mengusap pipinya yang berlinang air mata.

“Jadi ini semua ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang tentang hari itu?”

Ayah menghela napas sejenak sebelum mulai menjawab. “Iya. Kamu begitu terguncang mengetahui kalau cuma anak angkat, sama seperti saat ini. Ingatanmu melawan, dan akhirnya… semua memorimu malah hilang. Sepertinya kamu sangat tidak bisa menerima hal ini sehingga berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran. Namun ternyata, ingatanmu malah hilang semua. Ingatan di hari itu. Semua hilang.”

“Lalu, kenapa sekarang tidak?”

”Mungkin karena kamu telah cukup dewasa. Kamu sudah bisa berpikir secara lebih kalem dan bijaksana. Mungkin benar kata Pak Ustad, inilah saatnya bagi kita untuk berpisah.”

Aku mengangguk. “Ijinkan aku bertemu Pak Ustad. Aku ingin tahu jati diriku yang sebenarnya.” jawabku menahan gentar. Jauh di lubuk hatiku, ada ketakutan tersendiri.

“Kami tak ingin berpisah denganmu, Nang!” kata ibu.

“Tak akan, Bu. Percaya padaku!” kupeluk mereka berdua.

Minggu berikutnya, dengan berbekal alamat dari ibu, aku mulai mencari rumah Pak Ustad, orang tua kandungku. Kukira bakal gampang, namun ternyata cukup sulit juga. Letaknya di pinggiran kota, bahkan hampir ke perbatasan propinsi.

Setelah cukup lama berputar-putar, tanya sana tanya sini, capek dan lelah, namun tetap tidak bisa kutemukan juga. Mengeluh jengkel, akupun berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli jus. Terlihat beberapa jenis buah segar dipajang di bagian depan warung. Sangat cocok untuk membasahi kerongkonganku yang kering.

Kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangannya. Busananya serba tertutup. Ia memakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya, terlihat tonjolan payudaranya yang menggelantung indah.

Namun yang pertama menarik perhatianku justru pantatnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan pantat perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi. Yang malah mmebuatku jadi ingin mengelus dan meremasnya.

Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut. “Eh, mau beli apa, dik?” katanya di tengah keterkejutan.

Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tidak muda lagi. Mungkin sudah sekitar empat puluh tahunan. Tapi wajahnya itu lho yang bikin aku nggak bosan memandanginya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut.

”Anu, bu. Mau beli jus.” aku berlagak memilih-milih buah sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak dia untuk ngobrol. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai kotor. Membayangkan rintihannya ketika memeknya kutembus batang kontolku. Ah, entah kenapa aku jadi seperti ini. Mungkin karena pengaruh fisik dan pikiranku yang kelelahan.

Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya tiga anak. Tidak menyangka aja, wanita secantik dan semolek dia. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

“Jadi ibu sendirian nih?” komentarku.

“Iya, dik. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau pengupas buah yang tergeletak. Cepat sekali itu terjadi.

“Aduh, bu… saya kok kebelet pipis ya. Bisa numpang ke belakang nggak?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.

“Eh… gimana ya?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di dalam rumah.

“Gimana nih… udah nggak tahan, bu,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya. Kulihat wajahnya langsung memerah.

“Eh, tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh sebuah bh kotor ke mesin cuci.

“Gimana, bu, udah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

Ibu itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

Karena menunduk itulah, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

“Sst… jangan melawan!” kataku setengah berbisik.

Ia tampak sangat ketakutan. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan bh yang kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

“Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.

“Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yang tertutup jilbab lebar.

”Auw! Jangan!” Ibu itu memekik kecil. Wow! Payudaranya terasa kenyal dan mantap.

“Ibu pake bh ya?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.

“Siapa nama ibu?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.

“Aduh! Aduh! Rosita… aduh, jangan keras-keras!” ia merintih-rintih.

Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yang ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di depan selangkangannya. Kuremas-remas gundukan lubang kewanitaannya.

“Ohhh… jangan! Jangan!” bu Rosita menggeliat-geliat.

“Jangan takut, bu… saya cuma mau main-main sebentar.” kataku lalu berlutut di hadapannya.

Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yang mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow! indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi lubang kewanitaan cantik itu.

Bu Rosita terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah lubang kewanitaannya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng ia ke sofa yang ada di ruangan itu. Setengah kubanting tubuhnya ke atas sana. Ibu itu menjerit-jerit kecil ketika dengan pelan kutarik gamisnya. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali bh dan jilbabnya.

Kupandangi tubuh yang putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi sofa. susunya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua susunya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

“Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau ibu berteriak terlalu keras, nanti ada yang dengar,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan lidahku ke sisinya. Bu Rosita tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang kewanitaannya dari bawah ke atas.

“Eungghhhhh…” terdengar bu Rosita mengerang.

Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yang merah muda dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang kewanitaan. Lebih berdebar lagi, karena lubang kewanitaan yang satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar!

Tiba-tiba bu Rosita membuka mulut dan kemudian diteruskan oleh rabaan dan lama-kelamaan tangannya berlanjut ke arah selangkanganku. Dan tiba-tiba saja ia sudah memelukku, dengan cepatnya bu Rosita mencium bibirku dengan liarnya. Maka akupun tak kalah bernafsunya, aku balas dengan liar pula.

Dan bu Rosita terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku. Ketika bajuku terlepas, tiba-tiba saja ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku. Maka langsung saja alat vitalku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga langsung diremas dengan liarnya oleh sebuah tangan halus. Ketika kulihat, ternyata bu Rosita yang melakukannya. Dengan ganasnya ia memijiti batang penisku.

Tanpa melepas jilbabnya, langsung saja bu Rosita memegang alat vitalku dan diarahkan ke lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah sedari tadi. Setelah pas, maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya…

Bless!!!

“Aah…” desah bu Rosita saat batang besarku menusuk lubang senggamanya, memenuhinya hingga ke bagian yang terdalam.

Sementara dia asyik menaik-turunkan pantatnya diatasku, maka aku tarik bh-nya ke atas dan aku jilati susunya yang bulat besar dengan penuh nafsu.

“Ahh… enak, dik! Terus… ohh…” desahnya. “Ahh… ohh… jilat putingku! Ohh…” ia meracau ketika puncak susunya aku pelintir dengan menggunakan lidah.

Sementara itu, juga aku gesekkan jari tengahku ke biji klitorisnya yang menonjol indah hingga membuat bu Rosita meracau dan semakin kuat meliuk-liukkan badannya yang sintal. “Ohh… enak, dik!” rintihnya.

Setelah berada dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, akhirnya bu Rosita menggenjot tubuhnya semakin cepat dan mengerang, “Ahh… ibu dapet, dik… ahh… ahh..,” desahnya dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang di sampingku.

Aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan lubang kewanitaannya. Aku lalu turun dari sofa dan kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaannya. Kali ini aku yang berada di atas. Bu Rosita menanggapi seranganku dengan kembali menggoyangkan pinggulnya naik turun dan kadang memutar, sementara susunya yang besar ia sodorkan ke mulutku, yang langsung kujilat dan kuhisap-hisap dengan penuh nafsu.

Setelah 5 menit, kembali tubuh bu Rosita mengejang sambil ia berteriak, “Ahh… ibu dapet lagi… ahh!” Terasa sekali cairanya mengalir deras membahasi batang kemaluanku dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang.

Selang beberapa saat, ternyata bu Rosita sudah fit lagi. Rupanya ia tipe wanita yang bersyahwat besar. Didorongnya tubuhku hingga jatuh ke sofa, lalu ia tindih. Kembali aku disusuinya. Sementara aku sibuk menjilati putingnya yang kini terasa semakin basah, bu Rosita perlahan menurunkan pinggulnya dan, bless! Kembali alat vitalku masuk ke lubang kewanitaannya.

“Ahh… uhh… mentok, dik!” desahnya sambil mulai menggoyangkan pinggul.

Untuk yang ketiga ini, aku tidak ingin ketinggalan lagi. Selain sudah lelah, aku juga takut anak bu Rosita pulang sewaktu-waktu. Jadi aku segera berkonsentrasi. Kugenjot pantatku keluar masuk di kewanitaan Bu Rosita dengan begitu cepat. Terasa sempit sekali lubang kewanitaannya meski sudah melahirkan tiga orang anak.

“Ahh… terus, dik… enak… ohh… lebih dalam lagi…” racaunya.

Maka aku membalik posisi, kini dia yang berada di bawah, berbaring di sofa dengan posisi kaki berada di bahuku. Dengan posisi seperti itu, membuatku semakin leluasa melakukan tusukan dan hujaman.

“Dik, ibu keluar lagi… ohh…” desah bu Rosita dengan tubuh terkejang-kejang.

Namun aku tidak peduli, aku terus menggenjot tubuh sintalnya karena aku sendiri juga mengejar klimaks. Terus kutusukkan penisku ke lorong kewanitaannya sambil kuremas-remas juga buah dadanya yang berukuran 36D.

Tubuh bu Rosita sudah benar-benar melemas. Melihat kondisinya yang seperti itu, aku jadi tidak tega. Tanpa berniat menahan lebih lama lagi, akupun menggeram, “Bu, aku juga mau keluar… di dalem ya?” pintaku.

Ia mengangguk tanpa suara.

Akhirnya, sambil menusukkan penisku dalam-dalam, akupun ejakulasi. Terasa deras sekali semprotan air maniku di lubang kewanitaannya. Kembali tubuh bu Rosita terkejang-kejang saat menerimanya.

Kami masih berpelukan erat saat tak sengaja mataku menatap sebuah potret kecil berbingkai kayu di atas lemari. Foto yang ada disana sedikit mengguncang ingatan fotografisku. Laki-laki itu sepertinya kukenal! Belum sempat aku bertanya, sebuah benda lain juga menghantam pikiranku.

Benda itu… kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi? Rupanya terlalu menuruti nafsu membuat pikiranku jadi tumpul. Lekas aku mengambilnya.

”Itu hadiah buat anak sulung ibu. Kami berpisah sejak lahir, ia diadopsi orang kota. Rencananya 7 tahun lalu mau ibu ambil, namun ternyata gagal. Hanya sepatu itu yang bisa mengingatkan ibu kepadanya.” kata bu Rosita.

Ya Tuhan! Kuambil sepatu yang cuma sebelah itu dengan hati terguncang. Aku telah menemukan orang tua kandungku. Dan tanpa sengaja, aku juga telah menyetubuhinya!

RIFA AND FRIENDS

Namaku riki, aku hanyalah seorang pelajar kelas 3 dari sebuah SMA di kota B. Tinggi badanku sekitar 170 cm . Dalam cerita ini aku hanya ingin menceritakan kisah seks-ku bersama pacarku dan mantan pacarku.
ninis jilbab montok (1)
Kejadian ini berawal ketika ku dekat dengan salah satu teman 1 SMP-ku di kota yang sama. Sebut saja namanya Rifa. Orangnya ramah dengan memiliki wajah baby-face. Kepalanya diselimuti oleh kerudung sehingga membuat wajahnya terilhat lebih manis. Tingginya hanyalah sekitar 155 cm. Tapi justru karena itu aku menyukainya. Saat ini, dia bersekolah di suatu boarding school di luar kota.
Saat itu status kami hanyalah sepasang sahabat. Namun dari status sahabat tersebut aku mulai merasakan jatuh cinta kepadanya. Kucoba untuk menyatakan cinta kepadanya. Ku ajak dia untuk bertemu di salah satu Mall ternama di kota ini. Dia pun menyetujuinya. Dan akhirnya kami pun bertemu di tempat tersebut.
Sengaja kusiapkan sekuntum mawar merah sebagai alat bantu dalam menyatakan cintaku kepadanya. Tapi karena malu untuk menembak dia di keramaian orang. Maka kuajak dia untuk ke bioskop. Biar nembaknya di bioskop aja menurutku. Dia menyetujuinya dan kami pergi ke bioskop yang ada di mall tersebut. Kami memilih sebuah film yang memang saat itu studionya sudah dibuka sehingga kami bisa lansung masuk ke studio tersebut.
Kami menduduki jejeran bangku F, aku tidak menikmati film yang ditayangkan karena aku dari awalnya Cuma berniat nembak dia. Dan aku mengajak dia berbincang. “Fah, ada yang mau gue omongin ke lu.” “Apa ki? Hmm kok serius gitu ngomongnya?” jawab dia sedikit heran dengan gaya omonganku. “Gini fah. Sebenernya gue tuh sayang sama lu..’’ belum selesai aku melanjutkan, dia sudah memotong omonganku.”hmm lu mau nembak gue yaa? Iyaa gue juga sayang lu kii.. tapi inget kii kita tuh sahabat.” Aku pun menjawab pernyataannya dengan sedikit murung. “hmm gitu ya? Ya mungkin lu jadi pacar gue hanya pikiran gue semata dan ga mungkin terwujud’’. “kata siapa eh? Haha gue tuh Cuma bercana kii tadi. Gue mau kok jadi pacar lu mulai dari sekarang.’’ Dia menjawab lagi dengan sedikit malu.
Mulai detik tersebut kami pun berstatus ‘pacaran’. Setelah berbincang’’ dengannya kami pun melanjutkan menikmati film yang ditayangkan, tentunya dengan gaya orang pacaran. Pegang tangan, rangkulan. Lalu ku cium tangannya yang kupegang, aku biasa melakukan hal ini kepada pacarku. Mantan’’ku pun pernah kucium tangannya. Tapi respon dari pacarku ini berbeda. Pada awalnya dia tarik tangannya. Katanya sih geli, tapi kok dia tempel lagi tangannya ke bibirku? Malah diteken’’. Alhasil tangannya pun sedikit berwarna merah di bagian yang kuciumi.
Setelah dari tangannya, kucoba untuk mencium mulutnya. Kutengokkan wajahnya ke wajahku. Seketika aku pertemukan bibirku dengannya. Dia tidak merespon negatif. Lalu perlahan kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia pun tidak menolaknya. Hingga kedua lidah kami saling bertemu dan akhirnya kami French kissing. Saat melakukan kiss tersebut , sempat aku bukakan mataku dan melihat cantik wajahnya. Dan ternyata terlihat dari ekspresinya tersebut bahwa dia menikmati kiss tersebut. Kami ber French kissing cukup lama.
Tiba-tiba kami dikagetkan oleh seseorang gadis. Gadis itu ternyata adalah mantan pacarku. Sebut saja namanya Rina. Wajahnya juga cantik namun dia tidak menggunakan jilbab saat itu. ‘’Hmm deeeuh si riki pacaran enak banget, sorry ganggu ya, nih gue duduk Cuma 3 bangku di samping pacarlu. Gue kira siapa gitu, eh ternyata elu. Hahah yauda gua sapa deh drpd Cuma pura’’ galiat.’’ Ejek dia. “hahah dasar lu na. udah urus itu cowo lu. Gaenak gara’’ gue, dia jadi dicuekin kan sama lu.’’ Jawabku.
Rina pun kembali ke bangkunya, lalu dia sedikit berbincang dengan pacarnya. Ah peduli apa aku dengannya? Toh dia Cuma mantan. Walaupun bagiku dia mantan terbaik, tapi aku kan udah punya pacar. Rada kesel juga sih, lagi enak’’ French kiss eh diberhentiin seseorang. Jadinya sekarang aku dan pacarku hanya bisa menikmati kembali film tersebut walaupun ga ngerti alur ceritanya.
Tiba’’ pacarku berkata, ‘’sayang, coba kamu liat itu mantan kamu sama cowonya. Mereka bukan Cuma ciuman kyk kita tadi yang. Liat tangan cowonya, itu dadanya mantan kamu diremes’’ dari dalem kaosnya gitu. Tangannya mantan kamu juga nakal, masuk’’ ke celana cowonya. Hmm jangan’’ kamu juga pernah gitu ya sama dia?’’ aku diam sejenak. “hmm itu? Jujur aja yang, aku semaksimalnya dulu sama dia sampai remas’’ dada tapi masih diluar pakaian.’’ Jawabku. ‘’enak ga sih yang? Kalau enak, kamu mau ga gituin aku?’’ jawab dia. Permintaan dia membuatku kaget, wah pacar aku udah kerangsang ini mah. “hmm mantan aku sih keenakan, tuh liat aja sekarang dia keenakan banget kan. Kamu mau?” dia hanya mengangguk. Lalu aku pun kembali mencium bibirnya. Kami kembali melakukan French kiss namun tanganku mulai meraba-raba dadanya. Kutaksir dadanya berukuran 34 B.
Sepertinya dia sangat menikmatinya. Terasa dari ciumannya yang semakin ganas dan tangannya mulai meraba’’ tubuhku. Tiba’’ dia menuntun tanganku ke dalam pakaiannya. Dia menuntunku untuk meremas’’ dadanya dari dalam pakaiannya. Terasa sebuah kain masih menutupi payudaranya. Perlahan ku turunkan cup BHnya dan kumulai untuk meremas-remas payudaranya. Terasa ada yang menonjol dari tonjolan itu. Pentilnya. Sesekali kupijit-pijit kecil pentilnya itu. Saat dipijt. Pacarku pun sedikit menggelinjang.
ninis jilbab montok (2)
Pacarku mulai kehilangan akal sehatnya. Tangannya sudah mulai meremas’’ adik mungilku dari luar celana jeansku. Lalu dia membuka kancing jeansku dan tangannya menyusup ke dalam celana dalamku. Sehingga saat itu penisku yang sudah menegang tersebut diraihnya. Dia-pun memijit penisku dan sesekali dikocoknya. Jujur aku merasa keenakan saat itu, tapi aku menutupi rasa tersebut dengan wajahku seolah-olah ga kenapa’’.
Kami menyelesaikan French kiss kami, namun tangan kami masih saling memijat. Dia pun melihat kea rah mantanku. Astaga! Terlihat dia sedang mengulum’’ penis pacarnya. Gelapnya bioskop membuat pemandangan itu menjadi remang-remang. Tapi ketara jelas dia sedang mengulum penis pacarnya. “yang aku mau gituin kamu juga dong.’’ Jelas dia. Eh buset ini cewe gue udah kesetanan bukan?? Aku awalnya mikir’’ dulu. Tapi tangan ceweku yang nakal. Itu penisku dikeluarin dari celanaku. Dia mulai menundukan kepalanya kea rah penisku. Dia ciumi, jilati, dan tak lama kemudian dia kulum penisku. Awalnya pelan’’, lama’’ kencang. Asli saat itu kalau aku mau keluarin peju aku juga bisa. Tp aku tahan aja. Ga enak sama ceweku.
Ga lama, rina selesai mengulum penis cowonya. Entah apa yang terjadi di sana aku tidak tahu. Tapi ini ceweku masih aja ngulum’’ penisku dengan nikmatnya. Ku bilang ke dia, ‘’yang udahan dong. Itu liat rina juga udahan. Lagipula kayaknya ini film udah mau beres’’. Dia pun menurut, penisku dilepasnya dan celanaku kembali dibereskan. Lalu kami kembali menikmati film tersebut . dan benar 15 menit setelah itu, film pun selesai.
Kami keluar dari studio. Di luar studio ternyata kami ditunggu oleh Rina dan pacarnya. “heh! Maksud lu apa ngikutin gua tadi di dalem studio? Gua gini, lu ikut gini. Gua gitu, lu ikut gitu.” Rina labrak rifa. “Gue Cuma ga seneng aja sama gaya lu pas tadi lu kagetin gue sama cowo gue!” Rifa pun melabrak balik. Tiba’’ Rina berkata kepada pacarnya, “yang, kamu bawa duit berapa?” “sisa 500rb nih. kenapa yang?” Tanya pacarnya. Dengan nada rendah dia berkata “Kita sewa kamar.” “hmm mending di rumah aku aja.” Jawab pacarnya. “aku mau nunjukkin ke jablay itu kalau kita lebih hebat’’ Rina jawab kembali.
Aku kaget bukan main dengar kata’’nya. Ingin ku labrak balik mantanku itu karena telah memanggil pacarku dengan sebutan jablay. Tapi tiba’’ pacarku yang menjawab. “oh lu mau saingan? Oke! Gue ga takut sama lu. Lu tuh yang jablay!” Labrak balik dari pacarku. Aku dan pacarnya rina pun Cuma bisa kaget aja melihat pacar kita berdua.
Singkat cerita, Kami berempat menyewa sebuah kamar. Kamar tersebut berisi 2 tempat tidur. Sesampai di kamar tersebut, Aku dan pacarnya rina, sebut sama Prad, didorong oleh pacar masing-masing ke atas tempat tidur. Dan benar, mereka mulai berlomba memuaskan pacarnya.
ninis jilbab montok (3)
Rifa secara cepat melepas semua pakaianku. Dia mulai menciumi kembali penisku. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu. Penisku yang berukuran 16cm tersebut memang tak bisa dihisapnya secara penuh. Tapi dia punya teknik tersendiri. Dia mengulum biji zakar ku. Lalu menciumi dan menghisapi batang penisku dari pangkal hingga ujungnya. Teknik tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
Berbeda dengan rifa, Rina justru lansung ke arah yang lebih ekstrim. Dia memulainya dengan lansung berhubungan kelamin. Posisi yang digunakannya adalah Women on top. Ya wajar secara dalam peraturan pertandingannya, sang pacar tidak boleh beraksi. Hanya diperbolehkan menikmati pelayanan ekstra dari pasangan masing-masing.
Raungan dari pasangan rina prad pun terdengar di ruangan tersebut. Sedangkan pasangan rifa dan aku masih senyap. Hanya aku yang sedikit meringis keenakan karena rifa sedang sibuk melayani penisku itu. Tiba rifa melepas penisku dari mulutnya. Badannya beranjak ke atas tubuhku. Dibuka celana dalamnya. Dengan tetap memakai rok, Penisku diarahkan ke arah vaginanya. Dia menggesek’’an penisku dengan vaginanya. Setelah siap, dia mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Saat kepala penisku masuk seutuhnya ke dalam vagina. Mulai terasa nikmatnya ML. terasa penisku semakin lama semakin menembus lubang vaginanya. Namun tiba-tiba penisku terasa menemui sesuatu. Kupikir itu adalah selaput perawannya. Ya memang itu sepertinya. Rifa pun menyadari penisku menemui selaput daranya. Tapi secara cepat dia menjatuhkan badannya. Sehingga otomatis penisku menembus selaput daranya dengan seketika. Dia berteriak kesakitan. Namun hanya sebentar. Karena di tempat tidur yang lain. Rina tertawa mendengar jeritan rifa.
Rifa mulai memompa vaginanya ke atas dan kebawah. Isak tangisnya yang terjadi akibat hilangnya keperawanannya tersebut lama-lama menghilang dan kemudian berubah menjadi desahan nikmat. Rifa merasa berat melakukannya dengan busana. Maka ia lepas semua busana yang ia pakai. Alangkah indah tubuhnya. Kulit putih, wajah cantik baby face. Rambut lurus sebahu, payudara 34B mengantung dengan puting berwarna pink lalu vagina berwarna pink dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Rifa pun kembali memompa vaginanya. Payudaranya bergoncang ke atas dan ke bawah saat ia memomba vaginanya. Wajahnya terlihat sangat menikmati hal tersebut. Tiba-tiba ia mendenguh keras. Terasa ada cairan tersemprot membasahi kemaluanku dan mulai merembes keluar dari vaginanya. Dia telah mengalami orgasme hebat. Bukan hanya sekali. Terasa 2 3 kali derasan air vaginanya membasahi kemaluanku.
Rina tertawa melecehkan rifa, “ hahah jablay murahan emang baru gitu aja udah keluar.’’ Tap tak lama justru pacarnya mencabut penisnya. Saat penisnya tercabut lansung muncrat spermanya membasahi tubuhnya hingga ada yang mengenai wajahnya. Jujur saja, aku terangsang bukan hanya karena rifa. Tapi karena rina juga. Tak bisa terlupakan wajahnya saat tersemprot sperma dari pacarnya itu. Ditambah lagi, sperma yang ada di tubuhnya diratakan hingga ke seluruh tubuhnya.
Prad menyerah, dia sudah terlampau capek. Karena dia sudah dilayani oleh rina sejak di bioskop tadi dengan sangat bergairah. Dia bebaring dan tak lama ia tertidur. “Anjir cowo gua payah ah. Masak tidur sekarang? Gua gimana ini?” Cetus Rina. “Rasakan! Makanya jadi orang jangan sok jago. Eh malah pasangannya yang KO duluan.” Ledek rifa.
Rina tidak terima perkataan dari rifa tersebut. Ia menghampiri rifa dan menamparnya. Aku kaget segera beranjak dan menampar balik rina. “dari awal gue ga suka perilaku lu ke cewe gue na. gue tau lu lebih berpengalaman. Sedangkan cewe gue tuh baru sekarang kayak gini. “ lalu aku bicara ke rifa “Kamu juga yang. Ga usah lah make berantem kyk gini, kita damai-damai aja.” “aah udah ah mending tidur aja dari pada pusing.” Dengan kesal kututup mataku.
Sekitar 5 menit berlalu. Tiba-tiba bibirku disambar bibir lain. Kupikir itu rifa, jadi kuterima ciuman itu. Tapi ketika kubuka mataku, yang menciumku bukanlah rifa melainkan rina. Rifa hanya bisa kaget di sebelahku melihatku dengan rina berciuman. Kulepas ciuman dari rina segera ku minta maaf kepada rifa. “yang maaf. Aku kira yang cium aku tadi itu kamu.’’ Dia tidak menjawab dengan kata-kata. dia meraih wajahku dan menciumi bibirku. Sesaat dia melepas ciumannya dan berkata,’’gapapa yang. mungkin dia masih sayang sama kamu jadi dia gitu.’’ Kami pun berciuman mesra.
‘’Ki, gue emg masih sayang sama lu. Gue masih mengharapkan lu. Tapi tadi gua seketika sakit hati pas liat lu French kiss sama dia. Makanya gua kagetin kalian.” kata Rina tiba’’. Aku kaget mendengarnya. Kuhentikan aktifitas lidahku, kubiarkan rifa yang menggerayangi lidahku sendirian. Aku benar-benar tercengang. Tiba-tiba rifa berkata, “yauda na, lu ga ada temen main kan? Sini aja. Sekali ini aja gapapa main sama cowo gua.” “Kamu yakin yang? gapapa nih?” Tanyaku kepada pacarku. Ia menjawab dengan senyuman manisnya sambil menangguk. Lalu wajahnya berpindah ke arah penisku. Ia mulai mengulumnya kembali.
Mendengar pernyataan dari Rifa, Rina merasa bebannya telah hilang sebagian. Ia mulai mendekatkan diri kepadaku. “Mungkin ini hari terbaik dalam hidup gua ki” ia mulai menciumi bibirku lagi. Awalnya aku hanya diam tidak merespon. Namun setelah beberapa saat, aku mulai menerima ciumannya. Rifa pun tidak komentar saat melihat kejadian ini.
Setelah beberapa saat, rifa berkata kepada rina. “Na, giliran gua dong” Rina mengerti dan melepas bibirnya dariku. Lalu rifa meniduriku, dan vaginanya dihadapkan dengan mulutku. Dia menyuruhku untuk menjilatnya. Ku jilat-jilat vaginanya hingga dalam. Rifa hanya bisa terengah-engah keenakan. Di saat yang sama Rina mulai mengulum penisku. Kulumannya sangat hebat menarik narik kemaluanku. Dia menjilati seluruh bagian penisku. Mengulum biji zakarku. dan menikmati bulu-bulu kemaluanku.
Setelah sekitar 15 menit, Rina melepas penisku dari mulutnya. Lalu dia beranjak dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dia menggenjotnya dengan nafsu yang tinggi. Tak lama,’’Ahhhh kiiii guee keluaaar nihhh..” dia mengalami orgasmenya. Setelah itu dia hanya bisa terengah-engah capai. Dia melepas penisku dan pindah ke tempat tidurnya kembali. “Thanks ya ki, walaupun gini juga gua nikmatin banget. Jujur selama sama cowo gua, ga pernah gua bergairah kayak gini.’’ Tak lama pun ia tertidur.
Rifa yang vaginanya masih dalam posisi dijilati olehku sekarang mulai tak karuan aksinya. Dan benar. Tak lama setelah itu ia merasakan orgasmenya yang ke 2 kali untuk hari ini. Dia beristirahat sebentar menenangkan dirinya. Lalu dia berbaring di sebelahku dan berkata . “yang giliran kamu yang beraksi. Aku nikmatin aja” aku pun beranjak dan mulai mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Dan perlahan kumasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Bless… masuk sebagian penisku, kumulai untuk menggenjotnya. Dia hanya bisa merintih.. “ahhh sayaaangg enaaak aahhhhh.”
ninis jilbab montok (4)
Sekitar 15 menit ku menyetubuhinya seperti itu. Lalu ku minta dia untuk berbalik badan. Aku akan menyetubuhinya dengan doggy style. Mulai kugenjot lagi tubuh pacarku itu. Sekarang aku pun ikut merintih keenakan menyetubuhinya. Di ronde tersebut dia merasakan beberapa kali orgasme lagi. Namun tiba-tiba kemaluanku berdenyut siap mengeluarkan cairannya. “ssh Yaangh aku mmmau keluar hh , keluarin dimmana nih ssh ?’’ “hhh hmmph dhii dalamm phhh ajja yangg sshh. Akku llaghii nggha massa shubbur ..hhh.” CROT CROT.. berkali kali penisku menyemprotkan spermanya ke dalam vagina pacarku itu. Lalu ku keluarkan penisku dari vaginanya. Pacarku kembali mengulum penisku untuk merasakan sisa-sisa spermaku yang ada di penisku. Setelah itu kami hanya berbaring lemas dan tertidur.
Ku terbangun dan melihat ke HPku. Ku lihat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sudah saatnya kita semua pulang ke rumah. Ku bangunkan Prad,Rina dan Rifa. ku suruh bergegas pulang. Namun Rina dan prad tidak ingin pulang cepat. Sepertinya mereka masih ingin bermain beberapa ronde lagi. Aku dan rifa pun mandi bersama membersihkan tubuh kami. Saat mandi kami pun sempat melakukan aktivitas seks lagi walaupun tidak maksimal.
Kami pun berpamitan dengan Prad dan Rina. Dan kami pun pulang. Kuantar rifa ke rumahnya dengan motorku. Lalu aku pun pulang ke rumahku. Sungguh hari yang luar biasa.
10 Tahun kemudian…
Saat ini aku sudah berkeluarga namun belum dianugerahi anak. Wajar karena aku dan isteriku baru menikah bulan lalu. Dan tentu saja isteriku adalah Rifa. Kami bertekad akan menjadi keluarga yang harmonis. Aku sebagai kepala keluarga sewajibnya mencari nafkah, dan isteriku menjaga rumah.
Suatu hari, aku pulang kerja jam 6 sore. Saat ku sampai di rumah, aku disambut oleh isteriku dengan ciuman hangat di bibirku. Dan setelah itu isteriku memberitahu bahwa aku kedatangan seorang tamu istimewa. Dan ternyata tamu tersebut adalah Rina. Isteriku bertanya kepadaku dengan manja. “Bolehkah kita melakukan hal tersebut bersamanya seperti waktu itu?”

FARAH

Nama gue Zacky seorang pelajar SMP. tampang gue emang ga terlaku ganteng, hanya muka keturunan india yg melekat.
tapi gue mempunyai badan yg profesional, dengan tinggi 179cm dan berat 68kg serta badan yg berbentuk itulah sebabnya gue digandrungi cewe cewe disekolah gue.
bulan Maret adalah bulan yg penuh dengan jadwal tryout dan ulangan harian. sehingga wali kelas membuat beberapa kelompok belajar yg terdiri dari 5 orang.
dan akhirnya gue berkelompok dengan Bayu, Echa, Putri & Farah. “mimpi apa gue semalem bisa sekelompok sama farah!” ucap gue dalam hati.
Farah adalah siswi tercantik dikelas gue, dengan kulit yg putih terawat, hidung mancung, dan body yg oke. tetapi Farah adalah pribadi yg alim, bahkan ia tak mau melepas jilbabnya disekolah. dan ia juga berprestasi dibidang keagamaan.
kami pun berunding dimana tempat untuk kami belajar kelompok, dan akhirnya rumah Farah menjadi solusi.
rumahnya emang hanya rumah kecil dengan 2 kamar tidur. wajar, karna Ayahnya hanya seorang supir pribadi dan ibunya seorang Baby Sitter. sering kali rumah dia kosong.
keesokan harinya kami pun belajar bersama disana, sering kali canda gurau melengkapi suasana belajar.
berhari hari sudah kami belahar disana. sampai suatu hari hujan cukup deras turun, ketiga temen gue itu ga bisa ikut belajar bareng, sehingga hanya ada gue dan Farah dirumahnya. “Kesempatan! gue bisa Pedkate sama Farah” pikir gue.
Pada waktu itu Farah tidak terlihat seperti biasanya yg tertutup. kali ini dia hanya mema kai Kaos yg cukup ketat dengan kerah sampai belahan dada.
dada dia ternyata cukup besar, samar sama bra hitam terlihat. dan dia juga hanya memakai celana legging berwarna hitam. dengan rambut yg basah terurai dia nyamperin gue ” Hai, udah lama? yuk masuk masih hujan tuh” sapa dia. gue juga kurang percaya apakah bener itu Farah apa bukan.
dengan kaki yg masih basah karna kena hujan, gue pun masuk kerumahnya. “mana yg lainnya?” tanya dia. “enggg…. yg laennya gabisa dateng far” jawab gue dengan terbata bata karna masih mengagumi kecantikannya. “oh, yaudah mau minum apa? kopi, apa teh? kasian kamu abis kehujanan” tanya dia. “teh, ajadeh. makasih yah” jawab gue. Farah emang sopan gapernah manggil gue-lo.
ga selang beberapa lama, dia pun kembali dengan membawa segelas teb hangat. “nih, silahkan diminum” kasih farah. dengan posisi merunduk sehingga branya pun kelihatan dengan jelas. “cleguk..” gue pun menelan ludah sehabis melihat keindahan. “makasih yah far, eh ngomong ngomong bokap nyokap lu kemana?” tanya gue. ” oh bapak aku lagi nganterin bosnya ke bali, sementara ibu aku masih kerja. jam 7 malem pulangnya”.
“jadi lu sendirian disini?”
“iya, untung ada Zacky jadi punya temen ngobrol hehehe” jawab Farah. aktivitas belajad pun dimulai seringkali gue keluarin beberapa gombalan disela sela waktu belajar. gak terasa waktu udah jam 7 malem. tiba tiba hape Farah pun berbunyi, ternyata ibunya pulang agak malam karna anak majikannya sakit.
“Zack, kamu temenin aku yah. sampe ibu a ku pulang, ya kira kira jam 9. bisa kan?” tanya Farah.
“okedeh. demi bidadari cantik apapun aku lakuin” jawab gue dengan sedikit gombalan.
sembari menunggu ibunya pulang gue pun iseng iseng jepret foto dia, cuma buat menggoda sih. “gue kasih tau anak anak sekolah nih. lu pake pakaian begitu.” canda gue sambil foto dia. dia pun berusaha ngambil hape gue. dan tanpa sengaja tangan gue kena toketnya yg mulus, cukup lama dia terdiam. birahi gue mulai menanjak.
setelah dia berhasil ngambil hape dari gue dia pun cari foto yg tadi gue jepret. sampe akhirnya..
“Waa, apaan ini zack. kamu simpen foto cewek telanjang! wah aku bilangin temen temen nih”
gue pun hanya terpaku. y”mampus gue lupa nge-hide folder bokep gue” ucap gue dalem hati.
tiba tiba Farah ngomong “Emang lelaki harus begini yah?”
“maksudnya?” tanya gue.
“maksudnya tuh emang lelaki harus nyimpen foto foto / video kaya gitu yah? emang buat apasih?”
“ya buat ngelampiasian nafsu aja” keceplosan gue.
“hah? maksudnya?” Farah heran.
“Enggg….” gue salting.
secara tiba tiba Farah cium bibir gue. “oh, gue tau maksud kamu itu kan?”.
birahi guepun semakin naek, gue cipok lagi farah, sambil grepe grepe toketnya.
nampaknya kamu terbawa suasana & keterusan. sampai akhirnya farah ngajak pindah ke kamarnya.
Setiba dikamarnya gue pun dengan brutal ngelanjutin aksi gue yg tadi. gue lepas pakaian farah satu per satu sehingga dia pun bugil.
terpesona gue liat toketnya yg putih bersih dengan puting yg berwarna pink. dengan nafsunya gue jilat dari mulai leher hingga sampai ke toketnya gue kulum tuh puting yg indah dan memain mainkannya. Farah hanya menikmati rasa nikmat itu.
dan jilatan gue pun turun hingga bawah. gue mulai terpana ngeliat meki mulus nan bersih yg ditumbuhi oleh bulu bulu yg baru tumbuh.
gue jilat lah meki yg super dahsyat itu sampai ia menggelinjang kegelian. ga beberapa lama gue suruh dia buat sepongin gue. dengan nafsunya diemut lah konti gue dengan bibirnya yg seksi. dia cukup kesusahan buat ngemut konti gue yg berukuran 15cm dan diameter 4cm. sampai akhirnya konti gue pun ga sabar buat nyobain meki dia. dengan posiai MOT gue pun memulai, dimasukanlah konti gue ke meki dia yg sangat rapet itu. “aaaakhhh…” jerit Farah menahan sakit ketika konti gue masuk ke mekinya.
ternyata Farah ini masih perawan sehingga konti gue pun merobek selaput daranya. meringis ia kesakitan. namun kenikmatan yg tidak tertandingi ini membuat gue makin semangat. digenjotlah makin cepat dan kuat. sehingga terlihat jelas darah keluar dari mekinya. kami melakukan itu sekitar 10 menit. dan lanjut dngn berbagai variasi. sampai akhirnya konti gue pun gatahan buat ngeluarin peju. gue suruh dia buat mangap. dan..
crott, crott. peju pun keluar mnghiasi muka dan toketnya. tanpa sadar waktu sudah jam 8 lewat waktunya gue buat siap siap pulang.
tiba tiba farah nangis sambil ngomong. “kalo nantinya aku hamil gimana. ?”
” ya gue nikahin lo dong. lagian ga mungkin soalnya tadi dikeluarin di luar” yakinin gue.
pada saat itu

ICA

Perkenalkan namaku Faiz aku sekarang berkuliah di salah satu universitas ternama di ibukota. Aku adalah tipe orang yang mudah horny jika melihat wanita cantik yang ada disekeliling. Beberapa wanita sudah pernah aku setubuhi. Kali ini aku akan menceritakan kisah persetubuhanku dengan teman sekelas ku bernama Nisa atau biasa dipanggil Ica.
aulia jilbab montok (1)
Ica berusia 21 tahun,sama dengan usiaku. Sejak awal aku masuk di kelas perkuliahan ada banyak wanita cantik di kelasku. Namun dari sekian banyak wanita tersebut. Ica lah yang menurutku paling menarik. Menarik karena dia berjilbab dan aku piker diantara wanita di kelasku dialah yang mempunyai ukuran payudara yang paling besar mungkin sekitar 34 B. Untuk sejak awal pula aku mentargetkan dan bertekad untuk menikmati payudaranya suatu saat nanti.
Sejak awal masuk perkuliahan pula aku rela berkorban untuk mengantar dia pulang. Walaupun rumahku dengan rumahnya sangat jauh sekitar 2 jam perjalanan. Tapi, demi bias mewujudkan tekadku aku rela melakukan itu.
Aku  : Ca,rumah lu dimana ? mau gue antar ga sampe rumah lu?
Ica    : Wah, apa ga ngerepotin lu iz,rumah lu kan di Bekasi. Gue di Kebon Jeruk
Aku  : Ya gpplah, klo yg gue bonceng cewek secantik lu sih mau sampe bogor juga gue jabanin ca. hehe
Ica    : Ah,lo bisa aja. Yaudah deh gue numpang lu aja daripada kena macet di jalan.
Aku  : Oke,mantap yuk ah neng kita jalan.
aulia jilbab montok (2)
Sejak saat itulah aku rajin mengantar dia pulang. Seringkali aku suka horny sendiri ketika sedang membonceng dia. Tas yang dia pakai kebetulan aku suruh taruh di bagian depan motorku. Jadi selama diperjalan aku bisa menikmati gumpalan daging empuk kepunyaannya. Kontolku selalu ngaceng tiap kali payudaranya menyatu dengan punggungku. Ditambah aku menyuruh tangannya berpegangan dengan tubuhku. Ya,mungkin ini yang dimaksud rezeki.
Suatu hari ketika aku mengantar sampai di depan rumahnya. Aku bertanya pada dia
Faiz  : Ca,rumah lu sepi banget. Lagi ga ada orang ya?
Ica   : Iya iz,keluarga gue lagi pada ke Bandung lagi ada acara keluarga. Emang kenapa lo mau nemenin gue di rumah biar ga kesepian?
Faiz  : Wah boleh tuh, pasti seru bisa nemenin gadis secantik elu di rumahnya.
Ica    : Ah lu iz kebanyakan gombal deh. Yaudah yuk masuk anggap aja rumah sendiri.
Faiz  : Oke. Gue parker motor dulu ya. Lu masuk aja duluan nanti gue nyusul.
Ica    : Oke,gue bikin minuman dulu ya,lo nanti tinggal duduk di ruang tamu aja.
Sesampainya aku di ruang tamu aku melihat sosok Ica yang masih memakai kerudung namun kini sudah berganti dengan memakai baju lebih seksi dan membuat kontolku makin menegang melihatnya.
Ica : Nih iz gue udah buatin sirup lo pasti haus kan abis boncengin gue sampe sini terus belum lagi lo harus pulang ke rumah lo.
Faiz : Wah lo tau aja klo gue haus.
Ica : Iyadoong gue gitu.
Faiz : Ca,tadi ingetkan Pak Supri kasih tugas ke kita. Gimana klo kita ngerjain bareng sekarang. Mumpung lagi sepi nih ga ada yang ganggu kan enak ngerjainnya.
Ica : Enak apanya nih? Wah awas aja lu Iz klo lo macem macem sama gue. Gini gini gue masih perawan looh (sambil menantang)
Faiz : Ah,yang bener? Ya deh gue iyain aja daripada lo nangis ntar
Ica : haha bisa aja,bentar gue ke kamar dulu ambil tas.
Ketika dia beranjak ke kamarnya akupun mulai mengatur siasat untuk dapat menikmati siasat untuk bisa mulai merasakan tubuhnya. Dan tak lama ica turun membawa setumpuk kertas.
Ica : Nih iz yuk kita kerjaiin.
Faiz : Yuuk
aulia jilbab montok (3)
Di saat kita mulai mengerjakan soal tangankupun mulai beraksi mula mula aku merangkul bahu tangannya. Kemudian ketika obrolan makin seru dan lancer akupun mulai meraba raba punggungnya,pinggulnya,pantatnya,dan kepalanya.
Hingga aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya.
Faiz : Ca, akhirnya kita selesai juga ya ngerjainnya.
Icha : Iya iz (sambil tersenyum)
Mulailah aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan disaat itu pula aku mulai mengecup bibirnya “Sluuurp” dengan hentakan nafas yang menggelora akupun mulai mencumbu bibirnya. Ica pun hanya bisa pasrah mengimbangi irama bibirnya dengan bibirku. “Cup cup” “ah hmm ah” begitulah suara ketika kami sedange bercumbu dan suara ica yang sedikit meracau menikmati percumbuan kita. Cukup lama kita bercumbu mungkin sekitar 3 menit. Lalu Ica pun tersadar.
aulia jilbab montok (4)
Ica : Eh iz, elu apaan sih cium cium gue. Kita kan bukan siapa siapa Cuma temen kok lo berani banget nyium gue.
Faiz : Oh jadi klo bukan temen boleh gitu ?
Ica : Hmm boleh dong tapi ya lo harus jadi pacar gue (nantang)
Faiz : Jadi pacar lo? Boleh deh gue juga mau kok jadi pacar dari wanita secantik lo Ca.
Ica : hehe bisa aja. Jadi ?
Faiz : Jadi kita sekarang pacaran ya. Dan gue bisa dong nyium lo lagi. Hehe
Ica : Haha elo nafsu banget kayaknya ama gue. Ya udah bolehdeh tapi jangan ditempat rame ya ditempat sepi aja ga enak klo di liat orang.
Faiz : Oke deh sayang. (sambil senyum horny)
Ica : Oh ya Iz udah sore nih lo pulang gih ntar dicariin keluarga lo lagi.
Faiz : Iya nih bisa jam sampe jam berapa klo gue belom pulang. Oke gue pulang ya. Oh ya besok kan weekend kita jalan jalan yuk kemana gitu.
aulia jilbab montok (5)
Ica : Boleh kita ke TMII aja. Gue suka aja sama tempat itu ga terlalu rame soalnya.
Faiz : Oke. Tapi klo weekend mah pasti rame
Ica : Ya kita nyari tempat yang sepi dooong.
Faiz : Oke (sambil menyalakan motor dan akupun pergi)
Keesokan harinya aku sudah sampai di tempat dimana kita janjian sambil melihat handphone ku.
Faiz : Sayang kamu udah sampai mana?
Ica : Ini nih udah sampe tuh aku bisa kok liat kamu . Aku pake baju merah yang lagi dadah dadah.
Faiz : Oh iya itu ya oke.
Setelah kita bertemu
Ica : Kita mau kemana dulu nih ? gimana klo naik kereta gantung habis itu nonton keong mas.
Faiz : Boleh boleh yuk ah kita kesana. (dia tau aja tempat sepi yang bisa buat gue leluasa grepe grepein dia)
Sesampainya kita di wahana skylift pun aku masuk dan ica masuk kita menaiki kereta gantung berwarna hijau.
Ica : Assiiiik udah jalan nih Iz bisa deh kita liat pemandangan dari atas.
Faiz : hehe iya sayang. Bisa deh aku mesra mesraan sama kamu. (sambil mencubit pipinya)
Ica : Ah kamu bisa ajaa yailah aku juga sengaja kali naik begini biar bisa berduaan sama kamu.
Seketika aku mulai memegang kedua tangannya kemudian mencium tangannya dan setelah itu aku beralih ke wajahnya sambil tanganku mulai mendekati payudaranya. “Cup” aku mencium keningnya lalu ke pipinya dan tibalah ke bibirnya. Uh uh iz enaaak (racau ica) iya sayang nikmatin ya “Sluurp slurp”. Lidah kita pun saling beradu cukup lama kemudian tanganku mulai bergerak memeluknya dan tangan kanan ku mulai memberanikan diri merasakan payudara kiri nya.
aulia jilbab montok (6)
Ica : “Ah,pegang aja iz toket gue enak iz.”
Faiz : Kamu tiduran ya sayang. Biar aku leluasa.
Kemudia ica pun tertidur. Sambil memejamkan matanya dia mulai menikmati setiap kecupan dari aku dan senturan jari jemariku yang memaikan payudayaranya meski dengan posisi baju yang masih terpakai.
Ica : iz klo lo mau buka baju gue,buka aja.
Faiz : oke
Seketika aku membuka bajunya sampai lehernya untuk kemudian bisa mengulum toketnya. Dan kubukan BHnya kemudian aku masukan kedalam tas ku. Ketika aku melihat sepasang gunung kembar ada di depan ku. Aku pun terpana dengan 2 guunung kembar yang berukuran cukup besar dengan puncaknya yang berwarna coklat. Langsung saja aku bagai orang kesetanan. Aku menyergap toketnya dengan serakah aku kulum kanan dan kiri aku remas dengan kencang keduanya dan aku pun menjilati kedua toketnya. Ica pun hanya bisa terhentak dan meracau terus menerus.
Ica : iiiiiizz enak banget geliiii ah.
aulia jilbab montok (7)
Aku pun terus focus menikmati toketnya yang mulai mengeras sambil seluruh bagian toketnya memenuhi mulutku.
Kemudian aku menyuruhnya bangkit kembali sambil membelakangi badanku.
Faiz : Sayang kamu duduk lagi ya tapi belakangin aku. Aku pengen remes dari belakang.
Icapun langsung bangkit dan menuruti perintah aku
Dengan muka yang memerah dan pasrah Wajahnya pun mulai bersender dengan kepalaku.
Akupun mulai mengecup lehernya sampai benar benar merah. Dan tangankupun mulai meremas remas payudaranya dengan ganas.
Hemm hemm uuuuh uuuh (racau Ica)
Faiz : Sayang kereta kita udah mau sampe tuh. Udahan yuk
Ica :Iya udahan aku rapihin baju aku ya. Eh BH aku tadi di tas kamu ya? Iih nakal kamu. Sini BH aku.
Faiz : Hehe tadi itu ribet mau ditaro mana tuh BH jadi aku taro aja deh di tas aku.
Ica : (tersenyum)
Faiz : Tapi kayaknya BH nya ga usah dipake aja deh yang,biar pas lagi di keong mas aku bisa grepe grepe lagi
Ica: kamu ih nafsu banget yaudah deh aku simpen di tas aku aja.
Lalu kitapun turun. Dengan kondisi leher Ica yang memerah hasil dikecup aku beberapa kali selama di kereta gantung. Lalu kita bergegas menuju keong mas. Sampainya di dalam akupun memilih tempat duduk paling atas
Ica agaknya mengerti kenapa aku memilih posisi duduk disini. Diapun duduk di bangku paling pojok sedang aku disamping kirinya. Selama film berlangsung praktis aku tidak banyak melihat filmnya lebih banyak berkonsentrasi memainkan payudaranya Ica. Aku merangkul bahunya lalu pelan pelan tanganku menelusup lewat bawah bajunya dan mulailah aku meremas remas. Icapun mulai terangsang tapi dia sadar bahwa ini bukan saatnya untuk mendesah keras karena kondisi di sekeliling banyak orang. Maka dia hanya melepaskan nafas nafasnya dengan pelan sambil menonton film nya.
Setelah selesai kita berdua pun keluar sambil Ica berbisik padaku.
Ica : Kamu tuh tadi nakal banget sih berani banget megang toket aku. Kalau ketauankan bisa berabe.
Faiz : Iiih gpp tau aku soalnya tadi masih agak nafsu liat kamu jadi ga bisa ditahan deh. Hehe.
Kemudian akupun pulang dengannya. Namun karena aku ada kesibukan lain aku hanya mengantarkannya sampai transjakarta.
Keesokan harinya ketika hari kuliah. Akupun ingin merasakan sensasi bercinta di kamar mandi. Berbada dengan hari hari sebelumnya kini aku duduk berdampingan dengan Ica ketika di kelas. Aku pun berbisik ke Ica
Faiz : Ca,ntaar pulang sorean ya aku pengen main di kelas ini
Ica : apa nanti ga ketauan orang kalau kita main disini?
Faiz : Ya tenang aja aku yakin ga akan ketauan.
Seiring waktu berjalan Kuliah pun selesai pada siang hari menjelang sore. Satupersatu teman teman kami di kelas mulai keluar hingga akhirnya tinggal tersisa aku dan Ica.
Faiz : Sayang,udah sepi nih kita mulai yuk.
Ica : Yuk ah.
Aku pun langsung mengkunci pintu kelas dan mematikan lampu kelas. Dan tak lupa menyingkirkan bangku sampai ada tempat kosong untuk kita bisa beraksi di kelas. Aku pun mulai memeluknya dengan erat kemudian dengan senyumnya Icapun mulai menyergap bibirku dengan halus.
Sluur slurp hmmm hmm aku mulai menikmati bibir nya dan menikmati setiap gerakan gerakan lidahnya hingga iya terpejam menikmati peraduan ini. Kemudian akupun menidurkannya di lantai dengan mengangkat kedua kakinya, aku mulai membuka kedua roknya dan tinggal tersisa celana dalamnya saja. Aku mulai dengan menjilati jari jemari kakinya kemudian jilatanku naik dari betis hingga pahanya. Ica terlihat sangat menggelinjang kegelian. Lalu aku putuskan mengambil sapu tangan untuk kemudian dipasangkan di mulutnya supaya ketika dia meracau tidak terdengar sampai luar. Aku kembali focus menjilati pahanya yang putih mulus dan tibalah di bagian vitalnya. Aku kini melepaskan celana dalamnya dan makin melebarkan kedua kakinya hingga kepala ku leluasa untuk menjilati vaginanya. Aku mulai menjulurkan lidahku pelan pelan sesekali aku melihat ekspresi ica yang merem melek menikati setiap rangsanganku. Huuummmph huuummh (seloroh aku menikmati indahnya vagina ica) wangi vaginanya pun harum . Sepertinya dia rajin merawat sisi vitalnya.
aulia jilbab montok (8)
Setelah puas dan bosan menikmati vaginanya aku pun mulai menaikan jilatanku kearah perutnya dengan bantuan kedua tanganku aku mulai menaikan bajunya sambil menjilati bagian perutnya hingga sampai pada belahan toketnya. Aku lepaskan BH nya dan mulailah aku menikmati belahan dadanya. Aku jilat jilat kesuluruhan toketnya dan ica pun seperti biasa hanya meracau saja. Emmmh emmh (racau ica dengan mulut terhalang sapu tanganku) aku menikmati lenguhan demi lenguhan ica ketika aku menjilati dan meremas payudaranya juga ketika aku menciumi kembali tenguh lehernya dan hingga berakhir pada ciuman mesra antara aku dengannya.
Cukup lama kita beraksi namun aku memang belum punya nyali untuk memasukkan kontolku ke dalam vaginanya. Mungkin suatu saat nanti aku bisa melakukan itu dengannya.
Namun tidak butuh waktu lama untuk akhirnya aku memberanikan diri mengeksekusi ica, saat seluruh anggota keluargaku pergi ke luar kota dalam waktu lama aku mengajak ica untuk menginap di rumah ku,
Faiz : sayang,kamu mau ga main ke rumah aku? Aku kesepian nih di rumah Cuma sendirian
Ica : Oh ya? Emang pada kemana penghuninya ?
Faiz : Ya biasalah ada urusan keluarga yg mendesak jadi harus ke luar kota, aku sebenernya diajak Cuma aku alesan aja mau focus uas jadi aku dibolehin deh di rumah sendirian. Ga sendirian sih klo ada kamu yang nemenin aku.. hehe
Ica : hmm gitu ya… yaudah aku ke rumah kamu deh, tapi besok aja ya ga bisa sekarang…
Faiz : oke ya gpp aku kan bisa ngehias hias kamar dulu biar suasananya romantic..
Ica : Iiiiih kamu pasti nafsuan lagi sama aku… tapi aku ga mau ya main sama kamu klo nanti ketauan sama tetangga
Faiz : gak kok , ga bakalan ketauan rumah ku agak jauh dari rumah lainnya, kamu mau mendesah apa juga ga bakalan kedengeran..
Ica : kamu tau aja klo aku mendesah desah..
Faiz : tau dong kita kan udah biasa main, pokoknya aku bakalan ngeragain yang lebih hot lagi deh dari yang kemarin kemarin….
Ica : serius ? waaah pasti seru tuh…. Oke see u tomorrow ya sayang
Keesokan harinyaa.. aku bangun pagi untuk kemudian berdandan rapih menghampiri rumah Ica,,, sesampainya disana aku melihat dirinya tampil lebih seksi dengan baju dan celana yang lebih ketat dari yang biasanya dia pakai.
Faiz : sayang kamu cantik dan seksi banget hari ini
Ica : iya aku begini demi kamu nih.. hehe
Faiz : yaudah yuk jalan….
Akhirnya kita berduapun jalan menuju rumah aku… waktu masih pagi menjelang siang ketika jalanan ibukota masih terlihat lengang.. waktu yang tepat untuk aku bisa menikmati indahnya hari ini bersama kekasih ku.
Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai rumahku dari rumah ica.
Aku sengaja memilih jalan belakang rumahku agar tidak ada yang curiga dengan kami. Segera aku membuka gembok dan gerbang rumahku lalu memakirkan sepeda motorku. Dan ica melepas helm yang dipakainya.
Kami melangkah menuju pintu rumah dan aku membuka pintunya. Setelah pintu terbuka aku menyalakan kipas angin untuk melepas lelah ku sementara. Sementara Ica sibuk melihat lihat seisi rumahku.
aulia jilbab montok (9)
Faiz : Kamu santai aja dulu liat liat isi rumah aku atau nonton tv juga boleh
Ica : Iya,iya kamu pasti capek ya boncengin aku jauh jauh. Mau aku pijitin ?
Faiz : Boleh banget sekalian burung ku dipijitin
Ica : Idiiiih mau banget itunya dipijitin (sambil nyubit)
Faiz : mau doooong :P
Ica : Yaudah sini aku pijitin punya kamu
Dengan cepat Ica segera membuka resleting celanaku dan melorotkan punyaku. Kemudian dia mulai mengocok ngocok punyaku.
Ica : Gimana enak kan pijitannya ? (sambil mengocok punya aku)
Faiz : aaah iya yank enak banget, coba deh kamu isep punya aku sekalian
Ica : Oke
Icapun langsung menancapkan kontolku ke dalam mulutnya sambil dengan gerakan kepalanya yang naik turun mengulum kontolku, sementara aku hanya bisa mendesah “mmmh” sembari melepas satu persatu kancing bajuku kemudian kaosku dan selanjutnya aku buang jauh jauh untuk kemudian berdiri sambil membuka kerudungan ica dan menjambak jambak rambutnya. (saking tidak tahannya merasakan sensasi kuluman dari pacarku ini)
Faiz : Sayyaaaank aku mau keluaaarrr
Crroooot crooot cairan mani ku keluar dan tertelan oleh Ica
Ica : Idiiiih ke telen nih yank, aduuuh rasanya kok asin yaaaa
Faiz : iya dong rasanya asin namanya juga Peju….
Langsung saja aku mengangkat kedua tangannya untuk kemudian saling berciuman satu sama lain. Dengan nafas yang membara antara aku dan dia kita seperti sepasang kekasih yang sedang kesetanan menikmati nafsu birahi masing masing. Aku berciuman sangat mesra sekali posisi bibir kami bergerak ke kanan dan ke kiri sesekali melepas ciuman kemudian saling menatap penuh nafsu dan kembali berciuman kembali. Sementara kedua tanganku bergerilya melepas pakaiannya hingga BHnya dan setelah itu aku melepas celana jeansnya hingga tersisa celana dalam saja yang dipakai Ica…..
Ciuman ku pun naik menuju kupingnya kemudian menikmati lehernya dengan puas bagai drakula yang ini menghisap darah mangsanya….. Sementara kedua tangan Ica dengan eratnya memegang punggungku sambil memejamkan mata dan mendesah penuh nafsu…. Aku menurunkan posisi kepala ku menuju kedua toketnya…. Ketika aku merasakan hangat dan kenyalnya toket ica aku merasa ada yang berubah dari Ica….
Faiz : sayank toket kamu kayaknya makin gede ya??? Wah ini sih bukan 34B lagi tapi udah 34C
Ica : Masa sih? Gimana caranya kamu tau?
Faiz : ga tau ya,, pas awal aku ngemut punya kamu kan ga sekenyel dan segede ini sekarang udah tambah gede dan kenyel nikmaaat…. Aku lanjuuuut yaaaa
Aku melanjutkan hisapanku… bagai bayi besar yang sangat membutuhkan ASI dari Ibunya begitulah aku menikmati toketnya Ica…… Sementara Ica makin tidak bisa menahan nafasnya dan terus menerus mendesah tidak karuaaaan….
Ica : aaaaah mmmmmhh uuuuuh
aulia jilbab montok (10)
Aku pun menurunkan posisiku dengan melepaskan celana dalamnya…… dan mulai menjilati vaginanya…. Ica semakin beringas… .ketika aku menjilati miss V nya dia menjambak rambut aku berkali kali…. Aku menikmati momen ini dan terus menerus menjilati vaginanya hingga keluar cairan dari daerah kewanitaannya… aku jilat jilat sampai akhirnya vaginanya bersih kembaliiii…. Mmmh sungguh momen yang sulit dilupakan….
Kemudian aku membalikkan badannya dan menyuuruh dia menungging menghadap tembook…. Aku lesakkkan pelor ku ke dalam pantatnya…. “pokk poook poook” begitulah kira kira bunyinyaaa…. Ica semakin beringas saja teriakannya… maka aku putuskan untuk menyalakan tv dengan volume yang keras supaya desahannya tidak terdengar tetangga dekat rumahkuuu…
Ica : aaaaaaaah aaaaah aaaah
Aku menyenderkan punggungnya ke dalam dada ku sembari masih menancapkan kontolku ke pantatnya sementara kedua tanganku meremas remas payudaranya dan mulutku menciumi lehernya kanan dan kiri kemudian aku kembali menunggingkannnya kembaliii sampai cairan maniku kembali keluar menyemprotkannya ke dalam pantat Ica….
Faiz : (pok pok pok) aaaaah sayang aku mau keluar niiih aaah aaah aaah mmmhhh
Ica : aaah aaaaaah
Ica sedikit terkulai lemas.. langsung saja aku membopongnya menuju kamar pribadiku membiarkannya istirahat sejenak untuk kemudian bermain kembali.. aku beranjak ke dapur menuju ke disepenser air putih untuk kembali mengisi bahan bakar maniku… tidak kurang dari 5 gelas aku minum… supaya maniku bisa kembali terisi untuk menikmati permainan ini….
Aku kembali beranjak ke kamar… dan melihat ica terkulai setengah tiduur….
Kemudian aku membalikan badannya untuk menciumi seluruh bagian tubuhnya dari mulai rambuuut kemudian kuping,leher dan punggung belakangnya sampai kepada betisnya…..
Faiz : Sayang aku mau sodok kamu lagi nih,kamu madep depan yaaa
Ica : Iya,aku agak lemes nih ga bisa ngimbangin permainan kamu…. (sambil tersenyum)
Aku pun segera membalikkan badannya dan mengangkat kedua kakinya untuk kemudian memasukkan kontolku ke dalam vaginanya…. Percobaan pertama gagal… kemudian aku menyuruhnya membimbing punya ku untuk dapat masuk ke dalam liang vaginanya…
Faiz : Sayang,tangan kamu tuntun punya ku yaaaa masukin nih susah banget
Ica : (langsung menyergap dan perlahan lahan memasukkan kontalku)
Dan akhirnya masuk…. Aku pun menghentakkkan sodokan pertama ku dan membuat Ica berteriak
Ica : aaaaah sakiiiiit
Faiz : tenang aja sayaaang nanti juga lama lama enak kok.
aulia jilbab montok (11)
Aku kembali menyodok berpuluh puluh kali dan ica pun hanya bisa mendesah berteriak teriak menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit dan rasa nikmaaat…..
“Pok pok pok” (suara sodokkan ku)
Aaaaah aaaaaah (racau Ica berkali kali)
Dan akhirnya blesssss maniku kembali keluar sebagian aku alirkan ke dalam sebagain aku muncratkan kea rah perutnya…..
Ica semakin lemas…. Kemudian aku memberinya kecupan kecil kea rah bibirnyaaaa.
Faiz : “Cup” , gimana sayang enak kan ?
Ica : Iya iz aku capek nih tapi masih mau lanjut….
Hayuuuk lanjut sekarang kamu yang diatas yaaaah
Dan akupun kini yang tiduraaaan dan Ica menaiki kontolku untuk kemudian dimasukkan ke Vaginanya….
“bleeees” “Pok Pok Pok”
“aaaaaha aaaaaahhhha sakit aduuuh aaaaah”
Ica semakin menggila….. aku menundukkan pala Ica untuk kemudian menghisap kedua payudaranya dan mencium bibirnya … Icapun kini dalam posisi santai memeluk aku dengan posisi tengkurap sementara dadaku merasakan kekenyalan toketnya….
Ica : Iz aku mau keluuuuaarrr .
Dan tak lama ica mengeluarkan cairannya kembali…
Aku kini membangkitkannya kembali dari tempat tidur untuk kemudian menyandarkannya ke pintu kamarku….
Aku mengangkat kaki kirinya ke atas bahu ku dan memasukkan kontol ku ke dalam lubang vaginaanyaa….
Faiz : Sayaaang maaf ya kakinya aku angkat…tahan ya ini lebih sakit dan lebih asiiik
Ica : (kedua tangannya melingkat diatas leherku)
Dan akupun mulai memasukkkan kontolku ke vaginanya yang sudah licin dengan lancarrrr “bleeesss” mulailah aku menyodok nyodok vaginanya dengan cepat… Ica hanya bisa mendesah meringis kesakitan menjambak dan menggigit bahu ku…. Sementara aku juga tak mau kalah ikut mendesah sama sepertinyaaa….
“aaha aaaah aku mau keluar lagi Ca’’ dan akhirnya cairan itupun keluar……
Tak terasa sudah cukup lama kita bermain dan Icapun tampaknya sudah kelelahan menikmati permainan ini….. Kitapun sama sama merapihkan dan memakai baju masing masing untuk kemudian mengantarkan Ica pulang kembali ke rumahnya….

RISKA

Inilah kisah nyataku ditahun 2010. Aku bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang sales di Kota Semarang, tentunya aku sudah lama kerja di sana, aku sebagai supervisor team. diperusahaanku ada administrasinya kebetulan ada 3 perempuan dan berkerudung semua karna bos utama udah naik Haji. Disuatu hari ada Admin baru namanya Riska Asal Bojonegoro, umurnya masih 20an dia berwajah manis jawa, kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, tingginya sekitar 150 cm, Riska ga gemuk juga ga kurus, standar lah. tapi padat dan sintal, buah dadanya kira kira 34b dan pantatnya udah membentuk kalo Riska memakai rok panjang ketat.
Disuatu hari aku memberanikan diri tuk kenalan. Pertama kali Riska agak kurang bersahabat. Karena kegigihanku tak sampai seminggulah Riska mampu tersenyum padaku.
Dan akhirnya seiring waktu Riska sering minta bantuanku. Dan dimalem minggu, aku mencoba mengajak Riska main ke warnet, dan Riskapun setuju, dia ingin sekali membuat FACEBOOK, dan kebetulan sekali aku diminta bantuan tuk buatin FACEBOOK. Kamipun satu USER ROOM seperti KBU Wartel tertutup dari bawah sampe atas, dilengkapi pintu dan kuncinya, Riska pun kayaknya tidak peduli. Akupun sangat berhati hati dalam berucap ataupun bertindak. Maklum Riska adalah wanita berkerudung yang sopan.
2jam kami bercanda gurau di dalam USER ROOM, kebetulan tempatnya lesehan cukup untuk 2 orang, yah agak sempit sih tapi bisa selonjor kaki. Dan saat aku ingin mengambil mouse yg terletak dikanan keyboard komputer, tanpa sengaja lenganku menyentuh buah dadanya, dan Riskapun berteriak Oww, Akupun terkejut “maafkan aku Mbak Riska Aku ga sengaja” ucapku. “ga papa kok pak, Kan ga sengaja” Riskapun menenangkanku. “hmm,,,, padat sekali toket Riska, pasti belum pernah dipegang cowo” dalam hati aku berucap.
Akhirnya FACEBOOK pun udah selesai terbuat. Riska pun senang “makasih yua pak” ucap Riska. “iya sama sama Mbak Riska” akupun menjawab.
Setelah Riska dah selesai FBan karna waktu paketanya masih lama, maka aku tanya ama Riska. “Mbak Riska mau Browsing apa? mumpung waktunya masih lama? “. “terserah Bapak ajah Riska sih ngikut”Ucap Riska. “mau ngga Mbak Riska Aku bukain Film bagus?” tanyaku.
Film apa pak? jawab Riska. dan akupun membuka situs porno ternama. Ketika Halaman pertama muncul Riska berteriak “Aaaaa…. Apa itu Pak?”.
“Ini film untuk 17 tahun keatas Mbak Riska” Akupun menenangkanya. “Mbak Riska udah 17tahun keataskan??, kalo belum Halaman ini aku tutup”.
“ya udah tah Pak, saya udah 20 tahun, Saya juga penasaran sama yang beginian.” ucap Riska.
“BINGGO” dalam hati aku berucap. senangnya kalo Riska ga marah. Akhirnya dari Film ke Film Aku putarkan buat Riska. Aku liat wajah Riska yg mulai memerah dan ketawa kecil. kayaknya dia senang. Dan kuperhatikan tangan Riska yg udah mulai salah tingkah gugup, nafasnya mulai panjang, dan kakinya mulai merapat. Dan saat itu aku memberanikan diri untuk memegang pundak Riska. Riska pun tampak Tak menghiraukan dengan apa yang aku lakukan. Yang tertuju hanyalah Layar komputer yang terputar Film Bokep. Tangan Kanankuku mulai aku gerakan di pundak Riska mengusap usap pundaknya sampai ke siku naik lagi ke pundak dan diteruskan ke leher samping Riska. Walau Riska merinding, tapi tetep membiarkan tanganku bergerilya di pundaknya. Wajahku mulai mendekat ketelinga Riska.
Dengan sadar mulutku ku dekatkan ditelinga Riska “Baumu harum banget Mbak??” jurusku mulai aku keluarkan. “Ahhhh…. ba..bapak bi..bisa ajah.” Riskapun merendah dan suaranya mulai terbata bata. “boleh nggak Saya mencium leher Mbak Riska??” jurusku memelas. Riskapun hanya tersenyum. ku ciumlah leher Riska yg terbalut kerudung panjang. Kusigapkan Kerudung yg menutupi lehernya. Riska masih terpaku di layar komputer, Akupun tak menyia nyiakan moment ini. kuciumi senti demi senti. Ku gigit kecil kecil leher Riska. Kurapatkan tubuhku dibelakang tubuh Riska. Kupeluk Riska dengan erat. Cuaca diluar sedang hujan dan didukung udara AC yg dingin, suasana yg tepat ini. Akupun memeluk Riska dan Tanganku mulai menggrayangi perutnya sambil memijat kecil kecil. Riskapun merebahkan tubuhnya Didadaku, seperti Pasrah dia. Akhirnya kutarik dagunya yg lembut, Kutatap wajah Riska yg kosong, langsung kulumat bibirnya yg mungil. Riska ga membalas ciumanku cuman pasrah ajah ketika lidahnya aku hisap. 5 menit aku menghisap Lidah dan memainkan bibirnya yg tanpa perlawanan, kemudian aku lepaskan ciumanku dan aku bertanya ” kok ciuman saya ga dibalas?” . “Saya belum pernah ciuman Pak, saya ga tau harus bagaimana?” jawab Riska sambil terengah engah. “yawdah Mbak Riska nikmatin ajah ya? biar saya yang membuat Mbak Riska Fly?”
Riskapun hanya menganggukan kepala pelan,
Akupun langsung menciumi wajah Riska. dengan suasana USER ROOM yang privat. Kami leluasa berbuat, dan saat itu pula. kunaikan kaos panjang Riska yg berwarna Ungu, tersembulah 2 bukit cantik yang dititupi Bra warna Ungu pula.*Tanganku mulai memegang meremas payudara Riska, tapi tiba tiba Riska menyikap Tanganku, karna tanganku lebih kuat dan remasanku semakin keras Riska mulai mengelijang dan tanganya hanya memegang tanganku erat.. Karna Riska mengeluarkan desahan kecil. Akupun langsung bertindak mencium bibirnya lagi.
Riska mulai memjamkan matanya. Ku angkat Bra warna ungu itu, nampaklah. 2 bukit surganya para lelaki.
payudaranya tepat sesuai perkiraanku 34b, dengan lingkaran puting agak lebar berwarna hitam dan dihiasi puting hitam yg masih kecil. Kumainkank ke 2 puting itu, kutarik tarik,
aku plintir plintir sehingga membuat badan Riska jadi tidak karuan.
Ku senderkan badan Riska di tembok dan aku disamping kirinya, Riska pasrah sambil menutup matanya.
Saat itu aku mulai menjilati Buah dadanya yang mulai mengeras. Aku jilat melingkar dari dasar sampai pucuk secara bergantian payudara. puting aku kenyot, Riska hanya menggigit bawah bibirnya supaya desahan ga didengar seluruh USER. kuciumi perut riska, kakinya ku regangkan sambil menyibakkan rok panjangnya. Tanganku mulai meraba kedua pahanya, sampai menuju pangkal pahanya. Riska sudah melayang tinggi, kucari gundukan dibalik CD itu. dan aku raba raba vaginanya. sepertinya CDnya sudah basah.
Akupun menarik tanganku, kumasukan tanganku ke atas rok di bagian perutnya. Aku meraba vagina Riska yang masih di tumbuhi Bulu bulu yg halus. Kugesek gesekan telunjuku di garis Vagina Riska. Dan Kumasukan jari tengahku kedalam lubang memiawnya. Riska mengejang dan berteriak kecil “Aoooww.. sakit pak”. kulumat langsung bibirnya tanpa ampun, supaya tak bersuara lagi. Kukocok memiawnya Riska, sampai 5 menit tubuhnya mengelijang.. tanganku dibasahi Cairan sugawinya. Riskapun lemas.
Aku membantu merapikan Pakaianya. dan ku cium kening Riska sambil mengucapkan “maafkan saya yg lancang Mbak Riska”.
Riska hanya diam. seperti menyesal dengan perbuatan kami tadi.
Waktu paket udah hampir selesai, kami pun berkemas untuk pulang. Riska hanya linglung tak berkata. didalam perjalanan tak henti hentinya aku mengucapkan maaf pada Riska.
Aku antar di di kost. Tak terasa udah jam 1 malam, pintu gerbang Kostnya Riska sudah terkunci. Riska mulai bingung.
“duh gimana nih pak udah di tutup gerbangnya?? gara gara bapak sih” Riska hampir nangis.
karna memang peraturan kost tidak boleh pulang larut malam.
“yawdah tidur di kontrakan bapak ajah?? kan bapak hari ini sendirian karna Pak Manager lagi rapat keluar kota” tawaranku.
(kontrakan rumah fasilitas perusahaan untuk Manager dan Supervisor)
“tapi??” Riska hanya bingung.
“udah ga papa.. nanti Mbak Riska Tidur dikamar Pak Manager atau kamar Saya”,
karna hari udah terlalu larut. tanpa pikir panjang Riska menyetujui tawaranku.
Tak lama sampailah ke kontrakanku., kubukakan pintu dan kupersilahkan Riska milih kamar. dan akhirnya Riska memilih kamarku. karna takut kalo ada apa apa ketika dia mendiami kamar Managernya.
Akupun mengalah tidur diluar, di kursi malas di Ruang tamu.
“mbak Riska ga mandi dulu??” tanyaku.
“engga pak capek bgt, Dingin lagey” alasan Riska.
“yawdah met tidur yua mbak, Maafkan saya tadi” lontarku.
” iya pak, sama sama” balas Riska.
Akupun merebahkan badanku di kursi malas, tanpa henti hentinya aku mebayangkan kejadian yg spontan tadi, yng tak pernah terencana sebelumnya, aku berpikir, “kuk Riska ga marah sama aku yua” dalam hati aku bicara.”apa Riska juga suka tapi dia malu?? atau Riska takut sama aku karna aku pimpinanya” ah… bikin semakin bingung ajah, jalan pikiranya Riska
lama kelamaan aku mengingat kejadian tadi si otong pun memberontak karena si otong belum terlampiaskan.
Dan aku pun beranjak dari kursi malas itu, ku melangkah ke kamar yang Riska tiduri. Ku gedor gedor pintu tapi Riska ga menjawab, Nekatku ku buka handlenya, tenyata ga terkunci. Ku lihat Riska terbaring berselimut. “kayaknya Riska dah tidur”. tanyaku dalam hati.
ku goyang goyang badan Riska riska pun tak bangun juga. mungkin karna cape’. kutarik slimutnya yang di pake Riska. Oh ya.. Riska udah tanpa kerudung. rambut nya teruarai panjang, dan masih menggunakan baju yang sama tadi.
Tanpa basa basi karna menuruti si otong yg udah tak bisa tertahankan
lalu ku peluk Riska yang terbaring lagey. Riska pun terbangun karna kaget.
“Pak… pak mau ngapain?” Tanya Riska dgn kaget.
“maafkan saya lagi Mbak Riska, saya mencintai Mbak Riska?? memelasku sambil menggombali Riska.
“Jangan pak.. Jangan… kenapa lakukan ini,, saya masih perawan pak…
saya mohon… saya menyesal kelakuan kita tadi tanpa kontrol…”
“saya takut dosa pak… saya takut Allah mengutuk saya…”
Riska ketakutan sambil memohon belas kasihan supaya aku melepaskanya. Tapi disisi lain aku tak mendengarkan rengekan Riska karna perasaanku tertutupi napsu yang menggebu.
Tanpa daya Riska kalah dengan kekuatanku….
kulucuti semua pakeanya sampai Bra dan CDnya.. tampaklah Riska yg telanjang bulat Indah bgt.
Kuciumi mulutnya tapi mulut Riska menghindar menolak ciumanku.. hanya tangisan yg dikeluarkan Riska…
“udah pak saya cape’.. hiks hiks” Tangis Riska.
ku ta peduli ku remas payudara Riska kulumat puting Riska..
dan berjalan menuju perut sampai vaginanya.. Ku jilati Vaginanya tapi riska menahan kepalaku dengan kedua tanganya sambil menggeleng nggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dia tidak setuju.
Kusibakan tanganya Riska dari kepalaku berakhri bibirku menyetuh vaginanya…. Riska hanya mengelijang…
setelah 7menit kemudian badanku naik keatas menuju bibirnya .
karna Riska menangis malah membuat tenaganya habis dan hanya bisa pasrrah. ku bisikan di telinga Riska “Saya mencintaimu” dengan nada lirih. dan kusiapkan otong tuk menembus lubang memiawnya.
ku oles oleskan si Otongku di bibir vaginanya Riska. Riska tak berani memandang aku, hanya menoleh kesamping.
Tak lama kepala si otong mulai masuk walau sempit ku masukan ber ulang ulang… hingga masuk semuanya… Riska menjerit kesakitan “aduuhh pakkk… saa..sa.. kit…” rintih Riska
“sabar sayang nanti juga enak kok” Jawabku dgn tertawa kemenangan.
“ah… uh… ahhh aadduuuhhh pak” suara desahan Riska.
semakin Riska mendesah kencang semakin kupercepat gerakan maju mundurku dan tanganku hanya berpegang pada payudaranya.
“ohhh yyaaa… enak bgt memiaw ini…” sambil aku meremas payudara Riska.
setelah 15 menit. aku belum berganti posisi.
Riska berteriak ” pak saya dah ga kuat.. ahhh.. ahhh ahh oohhh”
seiring Riska mendesah kllimak Akupun juga mencapai klimaks dan kurasakan cairan hangatku dan Riska bercampur baur didalam..
akupun tekulai di atas tubuh Riska sambil memeluknya…
dan si otongpun mulai aku cabut dari sarang surga.
saat bersamaan cairan berwarna pink keluar dari memiawnya Riska.
sperma kita yg bercampu darah… mengalir lambat…
dan kubersihkan cairan itu dengan tisu basah milik Riska.
jam menunjukan pukul 3 kami pun ber istirahat bersama masih telanjang. Ku peluk Riska ku ciumi Riska
“Aku sangat mencintaimu Mbak Riska” terucap dari mulutku.
“bapak harus tanggung jawab sama perbuatan bapak. Nikahin aku sebelum aku positif Hamil” minta Riska padaku.
“pasti… sayang…” Jawabku dengan yakin
setelah kejadian itu kami melakukan seminggu sekali dan Riska menjadi pacarku hanya 3 bulan.
karna aku di pindah tugaskan ke beda kota. Aku pun lama kelamaan Los contact dengan Riska. terakhir kabar Riska pindah kerja Ke jakarta. sampai sekarang.

INTAN

“Buuuuugghhh . . .“
saskya larasati jilbabsemok (1)
Aku menoleh ke belakang ke arah suara tersebut, kulihat Azmi tertunduk, tersungkur sambil memegang perutnya, sambil meringis kesakitan.
Di depannya berdiri seorang yang tinggi,bersiap mengokang tangannya sekali lagi ke arah Azmi.
Aku yang tadinya asyik mengobrol di depan kelas berlari ke arah Azmi yang masih terduduk pasrah, disusul teman teman yang lain, menyusulku.
“Woyy boss”, aku berteriak ke arah Anggoro, anak kelas 3 yang barusan menghajar Azmi.
Anggoro menoleh ke arahku , maju mendekatiku dengan gayanya yang tengil sambil petentang petenteng, meninggalkan Azmi yang masih meringis.
“Knapa Jon ?”
“Azmi kok mbok jotos knopo ?”
“Lho itu masalahku, kamu ga usah ikut ikutan. Masalahmu apa ?!” sambil bertolak pinggang Anggoro memelototiku, menggertakku
“Azmi temenku, kalo urusan sama dia berarti ya urusan sama aku,” Aku menegaskan
Yowis to, di selesaikke nanti di parkiran pas pulang sekolah!” gertak Anggoro lantang.
“Sip tak tunggu !” jawabku tak kalah tegas.
Anggoro berlenggang pergi ke arah kelasnya. Aku menghampiri Azmi yang masih bangun dengan tertatih tatih.
saskya larasati jilbabsemok (2)
“Makasih jon ya,” hanya kata kata itu yang keluar dari bibirnya.
“Sip sip, emang kenapa mi masalahnya?” tanyaku pada Azmi.
Lalu Azmi menceritakan perihal masalahnya dengan Anggoro, yaitu Mutiara Intan, atau biasa dipanggil Intan oleh teman temannnya. Gadis manis berhijab yang duduk di kelas 1. Intan yang baru kelas 1 mampu mencuri hati para senior senior di sekolah tersebut. Hidungnya yang mancung dan murah senyum serta body yang baru tumbuh ranum khas anak remaja sma membuat betah mata yang memandang, serta sikapnya yang supel dan ramah membuat banyak cowok cowok abg di buat kegeeran sama dia.
Anggoro, dedengkot kelas 3 yang merasa sok jagoan. Sok keren dan tengil adalah mantan pacar Intan. Dan masalahnya disini Anggoro tidak terima jika Intan di deketin sama cowok lain. Dan Anggoro tahu jika akhir akhir ini Azmi sering smsan sama Intan.
Aku secara pribadi sebenarnya sudah dari dulu tidak suka dengan gayanya Anggoro, tapi aku juga tidak mungkin nyari masalah tanpa sebab dengan dia.
Di tiap angkatan di sekolah ku, tidak ada yang namanya senioritas atau apalah, semuanya saling menghormati dan menjaga gengsi tiap angkatannya. Jadi tidak ada seorangpun yang berani mengaku ‘memegang’ sekolahku.
Azmi sendiri teman sekelasku sewaktu masuk kelas 2 ips ini, itupun hanya sebatas teman biasa, tidak terlalu akrab, karena dia lebih memilih untuk sekolah-pulang sekolah-pulang. Lain halnya denganku yang menjadikan sekolah sebagai hiburan. hahaha.
Jadi setelah tau duduk perkaranya dari Azmi, aku yakin jika Azmi tak sepenuhnya salah. Ah peduli setan mana yang benar mana yang salah. vini vidi vici . aku terlanjur menantang Anggoro.
*****
Bel sekolah sudah berdering, kulihat handphone jam 1.30 pas. Aku sudah menunggu dari jam 1 tadi, sengaja aku tidak ikut pelajaran yang terakhir, mood belajarku sudah hilang, berganti dengan semangat tawuran, gejolak khas anak muda.
Azmi yang biasanya tidak pernah bolos sekolah kali ini ikut menemaniku. Sebenarnya dia sendiri yang ingin ikut denganku ke parkiran. Mungkin karena dia sungkan melibatkanku dalam masalahnya, tapi toh bagiku memang aku sendiri yang ingin melibatkan diri, dan ini juga sudah bukan mengenai soal wanita lagi, ini urusanku dengan si Anggoro itu.
Anak anak sudah pada keluar ke parkiran. Sebenarnya ini bukan parkiran resmi dari sekolah, ini adalah rumah penjaga sekolah yang memang di buat parkiran oleh anak anak nakal, sudah turun temurun dan yang jelas entah kenapa aku ikut parkir disini, padahal sebenarnya aku anak baik.
“Jon, katanya mau ribut sama Anggoro ya?” tanya Adi dengan tengil, teman se geng Anggoro.
“Emang kenapa?” tanyaku balik.
Ati ati wae kalo ga pengen bonyok bonyok.” Jawab Adi dengan ketus. Dan memasang senyumnya yang sinis.
Seperti ada yang merasukiku ketika Adi bicara demikian, aku yang sedari tadi duduk diatas motor, tiba tiba langsung melayangkan pukulan tepat di sudut bibirnya, dan darah segar langsung mengalir di sela bibirnya, begitu juga sekitar pipi yang langsung melebam.
“Woy woy woy,” anak anak yang sadang bersenda gurau langsung mengerubuti, memegangiku , mencoba menahan, dan memisah ‘perkelahian pembukaku’ dengan Adi.
Adi yang masih shock dengan pukulanku, hanya bisa meringis memgang pipinya, sambil berusaha menghentikan laju darahnya yang masih mengucur. Dan akhirnya Adi di bawa menjauh oleh temannya.
*****
“Hhuuuuuuffffffhhhh….” hembusan asap Djarum Super menemaniku setelah beberapa saat lalu emosiku terpancing oleh Adi, aku berusaha menenangkan diri, sembari menunggu Anggoro.
Terlihat samar samar dari jauh, pria yang sedari tadi sudah aku tunggu tunggu, tapi ada yang salah dengannya, dia berjalan ke parkiran di dampingi gadis berjilbab.
“Itu Anggoro sama Intan jon,” bisik Azmi kepadaku.
saskya larasati jilbabsemok (3)
“Maksudnya apa to kok bawa Intan juga?” aku membuang rokok yang tersisa, berjalan mendekati Anggoro yang sudah beberapa meter di depanku.
“Trap… trap… trap…” suara sepatuku berderap, ketika aku berlari ke arah Anggoro yang masih terkaget melihatku, aku meloncat dan melayangkan tendanganku ke arahnya dan “buuuuuuuuggggghhhhhhh. . . .” flying kick ku, tepat bersarang di dadanya tanpa meleset satu inchi pun.
Anggoro pun langsung tumbang, terjerembab ke belakang , tanpa ba bi bu lagi aku berjalan mendekat kepadanya, Anggoro berusaha bangkit duduk, tapi sebelum duduk, kuhajar pipinya secara brutal, entah sudah berapa kali kupukul, ketika ada tangan yang memegang pundakku, Azmi menahanku dan tangisan wanita di sebelahku yang memohon untuk menyudahi perkelahian ini.
Aku berdiri, menjaga jarak dengan Anggoro. Kullirik ke sebelah, Intan hanya berdiri mematung, menangis sambil menatapku, seakan memohon.
Aku melihat Anggoro yang hanya mengaduh dan meringis, sudah tak terlihat Anggoro dengan gaya tengilnya. Hanya Anggoro yang lemah dan tak berdaya, aku yang tak tega entah kenapa malah menjulurkan tangan ke arah Anggoro membantunya untuk bangun. Dengan lemas Anggoropun menyambut tanganku.
“Heeeggghhh,” aku sedikit menahan ketika Anggoro menarik tanganku.
“Udah selesai ya? Udah clear semua kan?” tanyaku pada Anggoro, dan hanya di jawab dengan muka Anggoro yang masih meringis.
Aku yang kesal, kembali bertanya “opo arep di teruske maneh ?”.
Langsung dengan sigap Azmi yang sedari tadi berdiri di belakangku dan Intan disebelahku maju untuk menahanku.
“Bentar dulu, tak jelasin dulu,” suara wanita yang setengah berteriak di tengah emosi para lelaki, Intan.
“Aku kesini tadi sama kak Anggoro buat nyelesaiin masalah sama kak Azmi”, lanjut Intan.
“Maksutnya?” aku masih belum ngerti.
“Aku pengen ngejelasin ke semuanya kalo aku sama kak Anggoro sudah tidak ada apa apa lagi, dan aku sama kak Azmi hanya temenan biasa, kak Azmi sudah aku anggep sebagai kakakku sendiri”
“Makanya jangan asal pukul !!” kata Anggoro Nyolot sambil mendorongku mundur.
“Asssuuuuuuuu !!” umpatku sambil menendang sekenanya ke tubuh Anggoro, dan sekali lagi Anggoro terlambat menghindar, dan tendanganku mengenai perutnya.
saskya larasati jilbabsemok (4)
“Udah cukuupp !!” teriak Intan keras.
Aku tak menggubris teriakan itu, aku meninggalkan Anggoro, Intan serta Azmi di parkiran. Bagiku entah masalah ini mau berakhir bagaimana aku tak terlalu perduli. Persetan lah dengan urusan percintaan mereka.

*****
Esoknya sewaktu di kelas, aku melihat Azmi lebih murung daripada biasanya, pikiranku menerka mungkin dia masih diancam atau diterror sama si Anggoro itu.
“Knapa mi, raimu kok kecut ngono?” kataku duduk disebelah Azmi sambil merangkulnya.
“Hehe, engga jon, ga apa apa kok.” Jawabnya sembari mencoba tersenyum.
“Serius mi? Masih di ganggu Anggoro opo piye ?”
“Ah enggak serius, enggak “
“Oh yaudah,” kataku sambil bangkit dari duduk tapi Azmi menahanku
“Sebenarnya masalahku bukan sama Anggoro tetapi sama Intan jon”.
Aku mengenyirkan dahi tanda tidak mengerti.
“Kamu inget yang kemaren Intan bilang bahwa dia nganggep aku cuman sebagai kakak?”
“Heem, terus masalahnya?”
“Masalahnya aku nganggep dia lebih dari itu, aku suka jon sama dia, aku mulai sayang sama dia”
‘ya ampun soal cinta cintaan lagi’ batinku yang mulai jengah tentang curhatan lelaki mellow.
Dan bla bla bla Azmi mulai curhat sedikit demi sedikit tentang kedekatannya dan hubungannya dengan Intan. Dan dari masalah ini juga yang mendasari kedekatanku dengan Azmi hingga saat ini.
Setelah Azmi bercerita panjang lebar tentang Intan, dan intinya Azmi ingin meminta bantuanku untuk mendekati Intan, apalagi melihat teman yang setengah memohon aku menyanggupi permintaan si Azmi, padahal kenal aja enggak, kok bisa nge janjiin mau nyomblangin sama Intan. ‘goblok koe jon !!’ hatiku setengah kesal.
Siang itu juga aku minta nomer Intan ke anak kelas 1, dan bukan Jhonny namanya kalo engga bisa dapet nomer handphone, mengandalkan sedikit kepopuleran di sekolah, dan banyak dusta serta tipu muslihat, hanya dalam beberapa jam, dan mengambil kesempatan dari sikap ramah dan supel Intan, aku sudah janjian jalan besok sore, sekedar minum jus dan makan makanan pinggir jalan, sudah cukup lah untuk ukuran anak SMA jamanku.
*****
Sore yang dijanjikan telah tiba, aku dan Azmi menunggu beberapa menit sebelum mio merah datang persis di tempat kami duduk.
Sekedar basa basi dan akhirnya kami larut dalam obrolan ringan diselingi canda tawa khas remaja yang seolah tak memikirkan beban hidup yang akan menantinya.
Jarum jam pendek sudah menunjukan pukul 5 sore, sebelumnya Intan sudah ngomong kalo, dia tidak bisa pergi maen sampe larut sore. Oleh karena itu dia pamit pulang,
“Aku pulang dulu ya kak Azmi, kak Jon. Maksih lho es jusnya udah di traktir”
saskya larasati jilbabsemok (5)
“Oh iya ga apa apa, santai aja”, jawab Azmi, dan aku hanya tersenyum, membaca strategi untuk mengajak dia keluar selanjutnya.
Setelah Intan pamitan pergi, aku dan Azmi masih meneruskan cerita ngalor ngidul. Tiba tiba pundakku di tepuk dari belakang.
“Jhonn, lama ga ketemu, kmana aja kamu?” sapa orang asing itu, aku yang agak lupa sembari mengingat ingat satu sosok yang familiar di depanku, dan aku ingat !
“Lho, kamu to wan, dari mana kamu?” tanyaku kepada kawan lama satu ini,
Wawan. Dulu sewaktu smp kami pernah sekelas di kelas 3. Wawan ini dari SMP terkenal sebagai penjahat kelamin tapi kenakalan dia hanya sebatas di wanita, untuk urusan yang lain dia nol besar.
Dari yang masih kimcil kimcil smp sampai tante tante girang pemilik karaoke pernah dibawanya ke ranjang. Untuk urusan wanita aku harus mengakui Wawan jauh lebih berilmu dan mempunyai jam terbang tinggi ketimbang aku.
“Sekarang seleramu kerdus jon. Hahaha,” sapaan hangat dari Wawan.
“Maksutnya ?”
“Haalaaaah, tadi lho yg makan sama kamu, si Intan tuuhhh.”
“Lho kamu kenal wan ?”
“Kalo kenal baik si enggak, tau aja sih”
“Oooohh, terus maksutnya kerdus?”
“Kerudung dusta brayyy. hahahaha”
“Kok iso kerudung dusta wan ?”
“Lho ga ngerti to ?”
Aku menggelengkan kepala.
“Bispak modal speak dul, deketin aja, abis itu jadian, pake, tinggal deh. hahaha”
saskya larasati jilbabsemok (6)
“Lho moso? Ah ojo gawe isu aneh2 cuk.”
“Yaaah dibilangin kok ga percaya Intan tu mantannya temenku jon, dulu pas sama temenku itu wis pernah di ajak cek in,”
“Masa sih?” aku masih belum percaya.
“Gini wae jon , sekarang aku pernah bohongin kamu ndak?”
“Ga tau laah, kalo orang boong ngaku ya namanya engga bohong dong.”
“Hahahahahahaha” kami tertawa berbarengan tapi ada yang lain dengan senyum Azmi kali ini, kecut.
Lalu aku dan Wawan bercerita tentang pengalaman kami setelah lulus smp, dan tak lupa pula tukar menukar kenalan bispak bispak, waktu itu belum musim pin BB, jadi kami bertukar nocan nocan bispak.
Adzan maghrib berkumandang, lalu kami bertiga membubarkan diri, pulang ke rumah masing masing.
Sekitar abis isya, piip piip piip. Bunyi aplikasi Mxit dari handphoneku berbunyi, kulihat dari Azmi .
Azmi (19.32) jon, Intan sikat kamu aja gapapa wes,Don juan (19.33) lho knopo ?Don juan (19.33) ill feel cuk ?

Azmi (19.36) iyo ik, omongane temenmu tadi bener gak sih ?

Don juan (19.40) kaya nya si bisa di pertanggung jawabkan. Terus gimana nih ?

Azmi (19.41) kamu mau ga ?

Don juan (19.42) kalo beneran bispak, yo tak embat cuk. hahaha

Azmi (19.42) sip .

Don juan (19.42) serius ?

Azmi (19.42) yowes jon, sukses yo ! semangat !

Nah, ini yang ku tunggu tunggu, lampu hijau dari seorang sahabat yang mengijinkan atau cenderung mengoper gebetannya padaku sangat penting, karena jujur aku ga mau di bilang tukang tikung.
Dan malam itu juga aku mulai mendekati Intan, smsan sampe larut malam dan diakhiri dengan telpon dariku, sekedar basa basi untuk mengucapkan selamat malam.
Beberapa hari aku mendekati Intan,dan mungkin dia sadar jika aku sedang mendekati dia. Sering ngobrol dan cerita sebelum dan sesudah pulang sekolah, pergi ke kantin saat istirahat.
Banyak teman teman yang mengira aku sudah jadian dengan Intan,dan tidak sedikit pula juga yang memandang sinis jika aku berjalan dengan Intan. Bagaimana tidak, Jhonny yang terkenal brengsek di sekolah bisa dekat dengan Intan yg bak berlian.
Tapi yasudahlah, niatku cuma ingin membuktikan ucapan si Wawan, temanku. Terserah orang di luar mau ngomong apa.
Don juan (11.43) mau makan bareng d kantin?Intan (11.44) engga dulu deh kak, aku lagi di perpus nih, ada tugas banyak, bantuin dong. Don juan (11.44) meluncur kesana cantik.

Sesampainya di perpustakaan, kusapukan pandanganku ke seluruh ruangan. Di sudut ruangan, kulihat sesosok wanita berhijab tersenyum,
“Sini kak,” panggilnya pelan, takut mengganggu pengunjung yang lain. Aku melangkahkan kaki ke arahnya.
“Ngerjain apa si?” tanyaku balik.
“Ini ada tugas dari bu Ambar, di suruh ngeresume ini nih” kata Intan sambil menunjuk tumpukkan buku yang menggunung di depannya.
Aku, berusaha membantu dia meresume, lebih tepatnya ngrecokin dia dengan candaan dan gurauan, sambil sedikit merayu, dan mukanya merah padam ketika dia tersenyum tersipu.
Aku pegang tangannya, ku genggam, mirip sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Intan tidak menolak, hanya menunduk dan menyembunyikan senyumnya. Sikap inilah yang membuatku ragu. Apakah benar dia seperti yang dikatakan Wawan. ‘Tidak akan pernah tau kalo tidak mencoba’, batinku.
“Teeeett . . . teeeett . . . teeeett . . .” bel sekolah memanggil para siswa untuk masuk ke kelas kembali.
“Kamu masuk sana lho kak,”
“Males ah, habis ini bahasa jepang, ga mudeng, mending di sini aja nemenein kamu” jawabku sambil mencubit hidungnya yang mancung.
saskya larasati jilbabsemok (7)
“Hiih nyebelin” jawabnya sambil manyun.
Setelah jam istirahat selesai anak anak yang berada di perpustakaan kembali ke kelas. hanya tinggal Intan dan sedikit teman kelasnya yang tinggal di perpustakaan menyelesaikan tugas resume dari ibu Ambar.
Dan akhirnya waktu menunjukkkan jam 1.30. bel berbunyi lagi, pertanda siswa untuk pulang.
“Yuk pulang?” ajakku ke Intan.
“Aku nanti ada latihan PBB buat seleksi masuk paskibra kak,”
“Ya kan nanti jam 3, ini masih jam setengah 2 loh.”
“Tapi kan tanggung kak, aku juga ga bawa motor”
“Yaudah aku anterin pulang yuk” kataku sambil menarik tangannya ke parkiran.
“Ga usah deh kak, aku disini aja, kalo kamu mau pulang ya duluan deh, tak kira kamu rela disini demi aku” balas Intan sambil tersenyum manja.
Duhdeeeeeeekk, rasanya mau lumer, ini pertama kalinya Intan menggoda aku.
“Yaudah deh, tak tungguin wis, tak temenin. Tapi nyari tempat yang enak ya buat ngobrol” ajakku untuk berpindah tempat dari perpustakaan sumpek ini.
“Yaudah yuk”
Aku memutuskan mengajak Intan duduk di bangku taman, di belakang sekolah, adem karena persis di bawah pohon rambutan yang rindang. Anak anak sering menyebutnya DPR (dibawah pohon rindang).
Kami duduk bersebelahan, sambil bercanda, tertawa, sambil aku menggenggam tangannya dia menatapku, kali ini berbeda dengan sikapnya tadi yang hanya menunduk malu.
“Aku sayang kamu lho tan”, aku memberanikan diri mengucapkan kalimat tersebut.
“Gombal,” jawabnya singkat
“Serius,” aku meyakinkannya meski hatiku sama sekali tak yakin
“Omonganmu kaya sales, ga iso di percoyo
“hahaha” kami berdua gelak tertawa berbarengan.
Dan setelah itu kami tidak melanjutkan obrolan tersebut. Kami mengobrol yang lain, tapi dengan posisi tangan yang masih tergenggam.
saskya larasati jilbabsemok (8)
Dan di sela obrolan tersebut ada masa jeda dimana kami kehabisan bahan pembicaraan atau kata kata, aku memandang gadis itu dari samping, selagi dia melamun, dan “Cuuupp . . .” kecupan kecil di pipi hanya diresponnya dengan menunduk sambil tersenyum, duh manisnya.
‘Oke lampu hijau’ pikirku. Tapi tidak, tidak disini dan tidak sekarang. Apalagi tidak terasa jam sudah menunjukan setengah tiga lewat. Sebentar lagi anak anak pasti akan datang.
Dan benar, teman teman seangkatanku sudah datang dan gaduh untuk menyiapkan penyeleksian calon paskibra.
“Kamu siap siap deh, udah mau mulai tuh” kataku sambil menunjuk teman temanku yang menyiapkan peralatan untuk acara sore ini.
“Iya kak, aku titip tas ya?”
“Yaudah, sini aku bawain”
Dan latihan pun dimulai, aku sebenarnya jarang ikut ekstrakulikuler semacam ini, bahkan sewaktu kelas 1 aku tidak mendapatkan raport karena absen ekstra kulikulerku kosong, sama sekali tidak pernah datang.
Tapi sore ini aku bela belain di sekolah dan tidak pulang kerumah untuk menemani Intan, targetku, agar rencanaku sukses.
Aku mengamati Intan dari depan kelas, nampak mukanya sedikit lelah, terlihat dari bibirnya, yang biasanya merah merekah kali ini pucat pasi. ‘Mungkin hanya sedikit kecapean’ pikirku.
Akan tetapi perkiraanku salah ketika beberapa saat kemudian Intan ambruk, dan kontan para senior dan pembina melakukan pertolongan pertama, dan untung saja saat itu Intan hanya pingsan.
Aku yang berlari mendekat kearah kerumunan siswa yang lain, ikut membopong Intan ke UKS.
Sampe UKS pak Imam segera membalurkan minyak kayu putih ke pelipis dan melipirkannya di dekat hidung Intan.
“Jon, kamu nungguin Intan ya, ini minyak kayu putihnya, olesin sedikit sedikit sampe dia sadar, bapak mau ngawasin yang lain dulu,” pak Imam guru olahragaku.
Dan beberapa saat setelah pak Imam meninggalkanku sendiri di UKS, Intan mulai siuman.
“Kak. . .” sapa Intan lirih, sambil berusaha untuk bangun.
“Eh, tiduran aja dulu,” sambil aku menahan pundaknya.
“Aku lemes banget,” katanya, dan aku baru ingat kalo tadi sewaktu istirahat dia tidak makan, dan kebiasaanya, dia memang tidak pernah sarapan.
saskya larasati jilbabsemok (9)
“Yaudah, tiduran dulu aja” sembari aku memijat pundaknya.
Aku keluar UKS, menuju warung di depan sekolah membeli sebungkus roti dan air mineral, buru buru aku kembali untuk menjaga Intan. Sampai di UKS aku menyuapinya roti. Dan setelah selesai makan aku menyuruhnya untuk rebahan kembali.
“Makasih kak ya,” katanya sambil sedikit memaksa tersenyum di tengah kelelahannya.
“Iya, sama sama”
Kami terdiam beberapa lama, aku yang dari tadi memegang tangannya sekarang sudah mulai mengelus elus dan menciumi punggung tangannya. Dan Intan hanya tersenyum ketika aku menciumi tangannya.
Tanganku naik ke arah lengannya ketika aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya, tak disangka dia malah memalingkan wajahnya ke arahku, dan “cup. . .” satu kecupan singkat di bibirnya, dan dia hanya tersenyum.
Kulanjutkan kecupanku ke ciuman . ciuman ke lumatan, tanganku yang sedari tadi di lengannya sudah berpindah ke dadanya, menikmati isi dari kantung saku berlambang OSIS, sedang tangan kananku mulai mengelus pahanya.
“Kaaaakkhhhh . . .” Intan merintih di sela sela ciuman yang kuhentikan sebentar,
Tanganku berusaha melepas kancing seragam yang melekat di tubuhnya, Intan hanya menatap sayu, tangannya memegang tanganku, tapi hanya memegang , bukan menahan.
Satu demi satu kancing mulai terlepas , terlihat miniset membungkus payudaranya sebelum BH. Perutnya yang rata, ku elus halus. Intan hanya mendesis, “Ssshhhh . . .”
Kini seragam sekolahnya telah terbuka, kusingkap BH dan minisetnya, ku tarik ke atas, sementara Intan hanya sayu menatap apa yang kulakukan terhadap dirinya.
Menyembulah kedua payudara ranum miliknya, nampak puting yang merah kecoklatan sudah tegang dengan rangsanganku sedari tadi. Kuplintir putingnya, serta ku elus lembut kedua payudaranya
Intan hanya meringis, sambil memejamkan mata.
Kembali ku kecup bibirnya, dan kali ini Intan merespon dengan agresif, serasa ada dorongan atau gairah pada dirinya, yang memberikan tenaga ekstra setelah pingsan.
Kami mulai bermain lidah, Intan memegang kepalaku, menjambak rambutku. Sementara aku mesih sibuk meremas, dan memelintir putingnya. Semakin kencang, dan dengusan nafas Intan semakin menderu.
Ciumanku kulepaskan, sekedar untuk memberikan jeda, tapi itupun tak lama ketika aku menciumi pipinya, dan mulai merangsak menciumi lehernya yang masih terbungkus hijab.
Sedangkan kedua tanganku mulai menurunkan area jelajahnya ke bawah tubuh. Mulai meraba rok panjang abu abunya.
“Kaaaakkkk, jangaaaaan disiniiiihhh . .” katanya merintih sambil mendekap tubuhku.
Aku menatapnya dan dengan mataku seolah aku bertanya ‘kenapa?’
Seolah dia mengerti dan menjawab, “Aku takuut kakk”
Tak kujawab langsung, dan hanya kubalas dengan ciuman, seolah menenangkan hatinya yang masih ragu.
saskya larasati jilbabsemok (10)
Dan tangan kupun bergerilya ke bawah pinggulnya, mencari resleting, kubuka . dan “sreeeeeetttt,” Kupelorotkan sedikit roknya sebatas lutut.
Lalu jemariku naik merambat melalui pahanya. Dekapan Intan semakin erat, menandakan dia semakin terangsang dengan keadaan ini.
Sampai di gundukan halus celana dalamnya, aku menyusuri belahan vaginanya, dan lembab ! ku gesek gesekan jariku ke celana dalamnya tepat di belahan vaginanya, semkain ku tekan dan dia semakin gelisah, aku yang masih menciumnya mencoba meredam erangan yang tertahan dari mulutnya, sementara tanganku yang satu menyelesaikan tugasnya dengan mengeksplore bagian payudara gadis ini.
Dan its show time, aku memeloorotkan celana dalamnya, sampai kelutut, sebatas rok yang tadi kupelorotkan ,
Tanganku yang kanan mencoba meraba vaginanya, halus dan kurasakan sedikit rambut yang tumbuh.
Ciumanku turun keleher dan bersinggah di payudaranya, sementara tangan kiriku, berusaha membuka sabuk dan celanaku yang masih lengkap.
Intan memelukku seakan ingin mengatakan ‘hisap susuku lebih dalam’.
Celanaku yang sudah terlepas jatuh ke lantai, juga dengan celana dalamku.
Penisku yang sudah tegang ku elus dengan kiriku. Kagok ! Aku tidak biasa beronani dengan tangan kiri.
Melihat kekikukanku Intan mengerti,dan mencoba meraih penisku, dan hap, aku sedikit kaget, lalu Intan mulai mengelusnya pelan kemudian mengocoknya.
“Duh deeeeeekkkkk . . .” erangku menikmati perbuatan dosa ini.
Aku pun tak mau kalah, aku tidak hanya menekan dan menggosok vaginanya, tapi juga mulai mencoloknya, kami berdua sudah terbang ke langit dengan tangan masing masing pasangan.
“kriiiieeeeekkkk” pintu UKS terbuka. Dan itu cukup mengagetkan kami berdua, sehingga kami serempak melihat ke arah pintu. Tidak ada siapa siapa.
Aku dengan ragu mendekat ke arah pintu, menyembunyikan tubuhku yang setengah telanjang sambil melongok keluar jika tiba tiba ada yang mengintip atau mendekat. Dan hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada orang.
Aku buru buru mengunci pintu UKS, Intan menatapku dengan penuh tanya, aku hanya tersenyum pertanda aman. Dan Intan membalas senyumku. Aku buru buru naik ke tempat tidur dimana Intan berbaring, aku mengambil posisi setengah berdiri di tengah paha Intan, meneruskan foreplay yang sempat terpotong.
Dan ini inti pengorbananku yang selama ini kulakukan ke Intan, ‘ga ono mulyo tanpo rekoso,’ kata orang dulu.
Aku mengarahkan penisku ke lubang vagina Intan, sengaja kuplesetkan untuk percobaan pertama, dan untuk yang kedua, kugesek gesekan dulu batang kemaluanku ke vaginanya untuk beberapa lama.
Cairan di vaginanya mulai membasahi, lebih tepatnya membanjiri.
“Pegangin dong sayang, aku ga tau” tanpa diduga dengan cekatan, Intan langsung menangkap penisku dan mengarahkannya ke dalam vaginanya.
saskya larasati jilbabsemok (11)
Sedikit demi sedikit, penisku mulai masuk pelan ke liang senggamanya. Intan sedikit menganga sambil melihat kedua alat kelamian kami menyatu. Sementara aku pura pura memejamkan mata dan mendongak keatas, mencoba menikmati setiap mili rongga vagina Intan.
“Blesshh. . . .” aku mendiamkan penisku sejenak menikmati denyutan rahim Intan.
Serasa dipijit, aku semakin lama semakin geli, tidak tahan untuk memulai apa yang aku idam idamkan selama ini.
Aku yang masih memegangi pahanya mengelus elus paha bagian dalam, sangat mulus, sedikit kontras dengan pahaku yang ditumbuhi rambut.
Tanganku merayap keatas, melewati sedikit jembut yang rapi dicukur, atau bahkan sengaja dibentuk seperti segitiga terbalik.
Terus mengelus keatas, ke perutnya yang rata, tidak kurus juga tidak cembung, membuncit. Rata , ya rata. Mungkin bila Intan rela menanggalkan hijabnya, dan rela untuk di foto ‘berani’, aku yakin jika Intan akan menjadi model top. Mengingat sempurnanya, tubuhnya, tanpa cacat, dipadu dengan wajahnya yang manis, kurang sempurna apa makhluk hawa satu ini. Sempurna .
Sampai tanganku di kedua payudaranya, spontan aku mulai memainkannya seperti anak kecil menemukan sesuatu yang baru dikenalnya lalu di mainkannya dengan asyik.
Putih, padat, kenyal. Tak tahan hanya dengan meremas, aku membungkukkan badanku, mulai menjilat dari perut, kusapukan lidahku ke seluruh permukaan kulit perut Intan, lalu naik menuju payudaranya, wangi parfum bercampur dengan bau khas keringat wanita abg yang habis latihan baris berbaris, menambah gelora birahi ku untuk menyetubuhinya.
Kujilati kedua payudaranya secara bergantian, sesekali ku kulum puting merah kecoklatan milik Intan, sambil menggigit gigit kecil putingnya, “Aaahhwww . . . aaahhwww . . .” rintih Intan.
Aku menyudahi adegan jilat menjilat, penisku yang sudah masuk ke vagina Intan belum sama sekali kugenjot, sengaja kudiamkan agak lama, agar moment moment seperti ini terekam dalam memory setiap detiknya.
Aku mengangkat sedikit tubuhku, melihat sekali lagi tubuh yang sedang aku gagahi. Gadis abg, yang masih memakai hijabnya menatapku sayu dan pasrah, dengan seragam sekolah menempel, hanya terbuka seluruh kancingnya, bh dan miniset yang tersingkap di atas dadanya. Dibawahnya rok panjang yang telah melorot sampai betis, diatasnya terdapat celana dalam putih polos. Dan aku sedang berada di antara kedua pahanya, penisku telah masuk dan membelah belahan vaginanya.
Perlahan aku mulai memaju mundurkan penisku dalam vaginanya, pelan, tangannya mulai memegang tanganku, dan pahanya mulai dirapatkan.
Intan meringis sambil menatap pasrah dengan apa yang aku lakukan.
“Ga apa apa sayang?” tanyaku di sela sela genjotan.
Intan hanya mengangguk pelan, pertanda aku boleh mulai meneruskan aktifitasku, vaginanya terasa sangat rapat, sempit.
Aku menaikkan rpm sedikit demi sedikit, merojok vaginanya, matanya yang terpejam dan dia menggigit bibir bawahnya menambahkan kesan bitchy pada diri seorang Intan.
Tak tahan aku mencium bibirnya, Intan sedikit kaget tapi hanya sebentar sebelum Intan membalasnya dengan lumatan yang tak kalah dahsyat.
Aku terus memaju mundurkan pantatku, kaki Intan, seperti gelisah , seperti ingin melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Ternyata dia ingin melepaskan rok terusan abu abu dan celana dalamnya yang masih tersangkut di sepatunya.
Aku yang mengetahui itu langsung mendorong dengan kaki, membantu melepaskan rok tersebut. Tidak sulit sebelum rok dan celana dalam Intan jatuh ke lantai.
Setelah itu, baru Intan leluasa, ikut meliuk liukan tubuhnya yang sedang aku jajah. Terlihat dari liukannya ke kiri dan ke kanan membantuku mengaduk isi vaginanya, juga sambutan sambutan dari pinggulnya ketika aku menusuk lebih dalam, maka Intan menyambutnya dengan mengangkat pantatnya lebih tinggi. Sehingga timbul suara paha yang beradu.
Sedang tak mau kalah, tangan kiriku, melihat kesempatan untuk hinggap di susu putih Intan. Tak menunggu lama payudara kenyal itu menjadi obyek elusan, remasan, dan beberapa kali puting Intan juga kuplintir.
Aku masih berciuman, entah berapa banyak kami sudah bertukar ludah. Teriakan teriakan dari anak anak yang berlatih paskibra, menambah adrenalin kami, bisa saja sewaktu waktu anak anak tersebut datan kemari, menjenguk Intan.
saskya larasati jilbabsemok (12)
Akan tetapi adrenalin dan rasa cemas itulah yang semakin membuat aku semakin bernafsu.
Paha Intan sudah berada diatas pinggangku, menjepit badanku. Tusukan tusukanku serasa semakin dalam. Intan juga lebih leluasa bergoyang. Aku sudah berada dalam dekapan Intan, sebelum dekapan itu semakin kencang, dan jemari Intan mencakar punggungku, bibir ku semakin di lumat oleh Intan. Sodokanku disambut dengan jepitan paha yang kuat serta pantat mulus Intan mengangkat dengan tinggi.
“Kaaaaaaakkkhhhh, . . . . . sssshhhhhh”
Aku mengatur tempo lagi pelan, sebenarnya aku juga sudah ingin orgasme, kubuang pikiran itu jauh jauh, kumaju mundurkan pelan pinggulku.
“Sleph. . . sleph. . . sleph. . .” vagina Intan yang semakin becek dan licin membuat penisku lebih gampang menerobos masuk.
Intan,yang tadi sempet orgasme dan kelelahan, kini kembali dengan goyangannya.
“Aahhh. . aahhh. . aahhh. .” Intan berdesah.
“Duh deeeekkk a.aku meh metu, ke.keluarin dimana?” aku bertanya sambil menahan nikmat, sementara penis msemakin berkedut dengan keras.
Tapi Intan tak memberikan jawaban
“Keluarin di dalem ya?” tanyaku sekali lagi, dan kali Intan hanya menggeleng sedikit, pasrah, tanpa berucap satu katapun.
Aku bimbang, terus mempercepaat kocokanku. “hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . .” Intan menahan desahan dan rintihannya takut terdengar sampai luar.
Dan “heeekk heeekk heeekkk” spermaku keluar di rahim Intan, Intan hanya bisa melihatku dengan sayu dan pasrah.
Dia menatapku, aku memberikan senyuman kepuasan dan Intan dengan senyuman kebahagiaan.

RAISYA

Namaku Raisya. Usiaku kini 26 tahun, sudah bekerja di salah satu bank swasta yang ternama tapi belum siap untuk berkeluarga. Sekarang aku akan berbagi cerita pengalamanku 7 tahun lalu ketika aku masih kuliah dan tinggal di rumah kakak perempuanku dimana aku mulai pertama kali merasakan kenikmatan dunia yang selama ini aku simpan sebagai rahasia pribadi.
Menurut banyak teman-teman priaku, wajahku sangat cantik,
dan sangat merangsang, namun dalam sehari-hari aku selalu memakai jilbab lengkap dengan celana daleman. Demkian juga pendapat mereka bentuk tubuhku.Dengan tinggi badan 168cm dan berat 57kg, Aku tahu walaupun berjilbab seperti ini, diriku selalu mengundang tatapan napsu setiap lelaki. aku tau dari gerakan mata mereka biasanya setelah melihat wajahku dia akan turun melihat dadaku dan s*****kanganku, aku sering risih kalau dipandangi. walau aku menundukkan pandangan tapi aku bisa melirik arah geraj bola mata mereka.

Aku menyadari betul bahwa bagian tubuhku yang paling menarik perhatian kaum pria adalah buah dadaku yang berukuran 34B dan pantatku yang besar dan membulat. Pada masa itu kendati aku selalu menjadi pusat perhatian kaum lelaki, sampai usiaku 25 tahun aku belum pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan lelaki. Buah dadaku yang bulat, kenyal dan kencang belum pernah dijamah lelaki. Demikian pula
kemaluanku yang berbulu tipis belum pernah juga merasakan dahsyatnya hunjaman kemaluan lelaki yang katanya bisa membuat kaum wanita merintih-rintih dan menggelinjang karena rasa nikmat yang luar biasa. Jangankan di masuki kemaluan,diraba saja oleh lelaki atau dikutik dan dijilatnya sedikit ujung biji kelentitku akupun belum pernah merasakannya.

Oh ya, ada satu hal lagi yang katanya membuatku terlihat sangat sexy, yaitu bulu
lengan tanganku yang tipis-tipis menambah gairah yang melihatnya. Kata orang bulu itu pertanda wanita hangat
yang pantang menyerah ditempat tidur. Kerapkali terlihat jika aku mengenakan gaun yang lengannya agak lonngar dan lupa memakai manset (karet perg*****an tangan). Sebagai wanita normal, pada usia sedemikian matang tentu saja kadang-kadang timbul gejolak birahi yang menggebu-gebu untuk mereguk kenikmatan cinta bersama lelaki yang kusukai.

Sayangnya, lingkungan tempat tinggalku dulu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah kurang memungkinkan bagiku untuk bergaul agak bebas dengan lelaki. Aku tinggal bersama sepupu perempuanku yang sudah bersuami sekitar 3 tahun namun belum mempunyai seorang anakpun. Saat itu aku masih kuliah disalah satu perguruan tinggi dikota itu. Orang tuaku di Jakarta menitipkan diriku pada kakak sepeupuku ini
untuk dibimbing sambil membantu-bantu kesibukannya dirumah. Kami tinggal di sebuah rumah tua yang cukup besar dan memiliki halaman luas serta kebun yang luas juga.

Suatu hari, seperti biasanya aku pulang menj***** sore. Setelah mandi dan makan malam, aku segera beranjak kekamar untuk tidur karena sangat mengantuk. Dengan cepatnya aku terlelap tanpa sadar bahwa aku belum lagi berganti pakaian. Tengah malam aku terbangun karena kegerahan, dan seperti biasa akupun menanggalkan pakaianku hingga tinggal memakai kutang dan celana dalam saja (setiap hari aku memang sudah biasa tidur dalam keadaan setengah telanjang). Saat akan membaringkan tubuhku kembali, samar-samar aku mendengar suara-suara aneh dari arah kamar kakakku. Sepertinya ada suara orang mendesah-desah dan merintih.
Karena ingin tahu, aku segera mengendap-endap menuju kamar kakakku yang hanya dibatasi oleh sehelai gorden tipis.

Kupasang telingaku baik-baik dan kutajamkan mataku untuk menembus kegelapan kamar kakakku. Kini jelas terdengar desahan dan rintihan kakakku:
“Aaaaah….. haduuuuuh….sedaap, maassss! Truus..teruuus… lagiiii…masss!!!!
Ooohhhh…. nikmatnya….hsss…hsss hs..ssss..mmm,…tekan dikit lagi maasss !!!”
Kulihat dengan jelas tubuh kakakku yang hanya dililit sehelai kutang hitam sedang ditindih oleh suaminya. Keduanya nampak sudah basah kuyup oleh keringat.

Tiba-tiba kulihat suami kakakku menggenjotkan pantatnya dengan lebih keras dan cepat. Tubuh kakakku nampak gegemetaran menahan hunjaman kemaluan suaminya. Aku dapat melihat jelas batang kemaluan kakak iparku itu begitu besar dan panjang masuk habis kedalam kemaluan isterinya, kemudian ditariknya keatas, masuk lagi kedalam, tarik lagi, masuk lagi, layaknya iparku sedang memompa kemaluan kakaku,
dan aku lihat dengan jelas betapa bibir kemaluan kakak perempuanku begitu penuh dimasuki tongkat dahsyat itu hingga tertarik menyembul keatas dan mengempis melesak kedalam mengikuti irama gerakan keluar masuk batang besar suaminya.
Seluruh vagina kakak perempuanku terlihat olehku begitu penuh menggelembung keatas saking besarnya barang suaminya. “Hiiiiiiii… gimana ya itu rasanya?”
pikirku. Dan sampai suatu saat terdengar lagi olehku ia merintih lagi dalam puncak kenikmatan: “Aaaaah, maaas…… aku…aku tak tahan lagi maaaas, aku..aku….aaaaaaaAAHHHhh!!!!!”

Seketika tersirap darahku. Badanku gemetar, gairahku mulai bergelora menelusuri seluruh tubuhku. Kutangku terasa sesak, puting susuku jadi keras dan biji kelentitku terasa geli-geli gatal seperti ada sesuatu yang menggelitik ujungnya,disebabkan oleh pemandangan dan suara rintihan yang kudengar itu. Tambahan lagi sejenak kemudian aku lihat tubuh kakakku yang putih itu menggeliat kekiri
kekanan sambil memeluk erat tubuh suaminya, kemudian iapun terkulai dengan tubuh lemas mandi keringat !

Terus terang, napsu birahiku ikut bergolak menyaksikan adegan yang demikian mendebarkan. Itulah untuk pertama kalinya aku menyaksikan alat kejantanan seorang lelaki yang memberikan kenikmatan bersetubuh luar biasa kepada pasangannya.

Aku berdebar melihat betapa kemaluan suami kakakku yang amat besar, panjang dan keras itu menghunjam dengan kuatnya turun naik kedalam kemaluan kakakku. Tidak tangung-tanggung, ukuran kemaluan kakak iparku itu aku perkirakan sebesar lenganku dan panjangnya, waduuuh, lebih dua kali dari lebar telapak tangan isterinya ketika si isteri mengelus dan memegang tongkat dahsyat kesayangannya
itu. Tiba-tiba akupun ingin merasakan nikmatnya persetubuhan seperti itu.! Tanpa terasa, sekujur tubuhku terasa lemas dan berkeringat sehingga kutangku yang ketat terasa bertambah sesak serta celana dalamku menjadi basah semua. Akupun kembali ketempat tidur dengan perasaan tidak keruan. Sambil telentang aku membayangkan diriku sedang disetubuhi oleh iparku, suami kakakku.

Diam-diam tangan kananku meraba-raba kemaluanku sendiri, dan tangan kiriku memelorotkan tali kutangku untuk memilin-milin puting buah dadaku. Rasanya sungguh nikmat. Puting susuku mulai mengeras dan buah dadaku semakin terasa menekan behaku sehingga terasa bertambah ketat membelit dadaku. Demikian pula kemaluanku mulai terasa basah mengeluarkan cairan kenikmatan (happy oil). Aku
mulai merintih dan mendesah perlahan. Karena perasaan geli dan nikmat semakin dahsyat, tanpa kusadari aku merintih-rintih semakin keras.
“Aaah…aahhkkhhh….duuuuhhhh,..ssssshhh..mmm..nik matnya…!!” aku merintih sendirian.

Tiba-tiba timbul rasa geli dan nikmat yang sangat luar biasa, sehingga tubuhku mengejang dan bergelojotan:
“HssssS…Haduuuhhh ….hs..hs..hsss..hhmmmm….AAHHH!!!!!!”
Cairan hangat menyembur dari kemaluanku, dan akupun terkulai lemas dan tertidur kembali dengan nyenyak.

ditengah malam aku terbangun, terasa berat seperti ada yang menindihku, ah… ternyata aku lupa mengunci pintu kamar sehingga kakakku iparku telah masuk dan sekarang sedang menciumiku mmh.. mmmh.. bibirku dilumatnya sambil buah dadaku yang kenyal di remas remas oleh tangannya yang kekar.. oh jangan mas….aoh..” Dadamu ini sangat indah sekali, aku telah bermain banyak wanita, tetapi tidak ada yang sesempurna dirimu, Ra. U r perfect.” bisiknya sambil tersenyum. aku baru tau kalau kakaku iparku ternyata suka main perempuan.

“jangan mas, jangan perkosa saya … Plzzzz…., aku masih perawan.. ” Kataku dengan memelas.
“Tenang ja Ra, kamu akan merasakan enaknya.. Kamu harus tenang, dan menikmatinya supaya kamu merasa enak , Ok ?”

Saya mulai menangis, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa, karena aku juga tidak kuat melawan tenaga kakak iparku. Walaupun aku tau kakak perempuanku selalu bangunnya kesiangan tapi jika aku teriak maka kakakku akan bangun dan aku tidak ingin merusak rumah tangga kakakku. oh..gimana ini.. aku dalam kebimbangan…

Kali ini dengan kecepatan luar biasa, dia sudah mengulum putingku yang berwarna merah muda itu. Dengan lahap, dan tidak penuh nafsu dia menjilatnya dengan pelan.Dan kadang dia juga menggigitnya kecil.

Saya yang belum pernah melakukan ML, malah terasa sangat nikmat. Dia menghisap puting kananku sambil jarinya memilin puting kiri. Saya seakan sedang berada di awang awang. D
Dengan sangat lembut, dia mengganti puting susu ku yang dijilat dan dihisapnya.

Tetapi saya telah tersadar, langsung berontak.Dan menamparnya beberapa kali, saya bilang “jangan mas, atau saya teriak!” walaupun aku masih dalam kebimbangan tetapi apa salahnya mencoba untuk melawan. Namun anehnya dia tidak marah. Malah kembali dia dekap aku dan mencium bibirku dengan sangat mesra. Ciuman seperti ini tidak pernah kurasakan, bahkan pacar pertamaku semenjak SMA tidak pernah menciumku begitu lembut. Tanpa terasa saya mulai menikmati dan mulai membalas ciumannya.Sekitar 5 menit dia menciumku,
Ciuman dari bibirnya kemudian turun ke perut, sesekali dia menjilati perut, pusar, sehingga membuatku gelincang geli. Terakhir turun ke pangkal pahaku.Dengan lembut dia mencium, menjilat dan mencari sesuatu disana. Dan setelah ketemu Beny menjilati dengan perlahan dan penuh perasaan. Sesekali dia menghisapnya. Pada saat itu seakan akan saya telah kehilangan kesadaran, otakku juga tidak bekerja lagi semestinya.Saya merasa sangat enak dan nyaman.

Setelah itu Kakak iparku Bangkit kembali.Tiba tiba saya merasakan ada sesuatu yang hangat dan tumpul telah bersentuhan dengan vaginaku.
Dan tanpa ancang ancang telah ditekan dengan lembut. Pertama tama seakan mental.
Dan kemudian diulanginya beberapa kali sambil berkata, “Ra, kuatkan dirimu yah.”
Dengan kekuatan agak keras dia menghujamnya. Dan akhirnya masuk juga sekitar 1/2 dari kemaluan Kakak iparku. Lantas saya berteriak tertahan, ” ah..Sakitt…. AWh….

Aduuhh,.. sakitttttttt…..” setengah berbisik takut kedengaran kakak perempuanku.

Dengan cepat dia menciumku lembut dan mulai menggoyangnya secara perlahan selama 2 menit. Dikeluarkan dan dimasukkannya batang kemaluannya dengan gerakan dan tempo yang sangat pelan. Lama kelamaan kemaluan ku terasa sudah basah.Kemaluannya sudah terbiasa dengan rapatnya vagina ku.
Dia terus menggenjot, kali ini kecepatannya sudah mulai naik.
Saya yang sedang berbaring kemudian melihat batang kemaluannya yang mulai keluar masuk dengan bebas. Besar juga pikirku, mungkin sekitar 20 cm.

” Ahh… Ahh… Ahh.. ” Desahku, seakan sedang menikmati seks, padahal saya sedang diperkosa oleh kakak iparku sendiri. Saya sendiri juga tidak tahu perasaan semacam begini.

“Sekarang sudah lumayan enak kan Ra? ” Katanya sambil tersenyum.

Tanpa sadar saya juga mengangguk, dan mulai mengikuti iramanya, pinggulku tanpa sengaja naik turun mengikuti irama goyangannya.

Sekitar 15 menit dia memompa kemaluanku. Walau terasa perih namun tidak kupedulikan karena rasa enaknya mengalahkan rasa sakit di pangkal paha ku.Dan kulihat kembali ternyata sudah keluar sedikit bercak darah dari kemaluanku.

Kemudian seakan akan ada sesuatu yang keluar dari diriku,Dan saya berteriak,” tetapi cepat-cepat dia sumpal mulut saya dengan bibirnya dan saya juga menahan teriakan saya sambil meremas kain sprei kuat-kuat…
Oohh…..” Ternyata saya orgasme.

” Wah, ternyata kamu benar masih perawan yah Ra.Maaf ya Ra, tapi tenang saja , kita lanjutin lagi kapan-kapan sayang…?” Kata Kakak iparku..

DIANA DAN ATIKA

Pada suatu hari di sekolah tempat istriku mengajar sedang diadakan Perkemahan Sabtu Minggu atau yang biasa disingkat Persami. Saat itu aku iseng-iseng menyusul istriku di perkemahan yang kebetulan diadakan di halaman sekolah, karena pesertanya adalah anak usia dini yaitu kelas 3-6 SD. Aku berfikir gak mungkin bisa cuci mata karena semuanya anak-anak, untuk itu aku hanya memakai celana pendek, Tshirt dan sandal jepit. Tapi setelah sampai di sekolah, aku terkejut sekaligus bahagia karena yang kemah adalah ibu-ibu. Bagaimana Tidak, siswa kelas 3 dan 4 boleh di dampingi orang tuanya, maka dipastikan separuh pesertanya adalah tante-tante yang berusia antara 30-35 tahun.

Karena sudah terlanjur, aku cuek saja nyelonong masuk untuk mencari istriku tetapi ternyata sedang sibuk karena memang dia yang bertanggung jawab pada kegiatan ini. Alhasil, aku malah disuruh pulang dan menjemputnya minggu sore jam 3an. Aku menurut saja dan berjalan menuju ke parkiran, tapi saat aku hendak menyalakan mobil mendadak HPku berbunyi dan itu dari istriku. Dengan nada tergesa aku disuruh menjemput kepala Yayasan yang mobilnya rusak ditengah jalan karena menabrak sebuah becak. Aku iyakan saja permintaanya walau dalam hati aku sangat kesal. Setelah berjalan hampir 20 menit akupun tiba di lokasi kejadian, setelah memperkenalkan diri aku langsung memintanya agar ikut denganku karena sudah ditunggu.

“Mari Pak, saya antar ke perkemahan! Kataku

‘maaf Mas saya tidak bisa menghadiri acara api unggun saya mau mengantar korban ke RSU, biar ibu Diana saja yang kesana. Jawab kepala yayasan yang aku sendiri tidak tahu namanya

“tapi….saya…. jawabku heran

‘sama saja Mas, ibu Diana adalah wakil saya! Jawabnya menjelaskan

“iya Pak, dimana Ibu Diana?! Tanyaku

‘itu yang memakai baju pramuka… jawabnya sambil menunjuk ke arah kerumunan orang

Wow….ibu Diana ternyata orangnya masih muda, mungkin seumuran istriku sekitar 24 tahun, tinggi sekitar 170, toket 36B serta body yang sangat bohay kalau artis seperti bodinya Sarah Azhari yang padat berisi dan yang pasti penuh gizi. Di perjalanan Diana terlalu sibuk dengan Hpnya sehingga kamipun mengobrol secukupnya meskipun sebenarnya itu tidak cukup untuk mengenalnya lebih jauh. Entah apa yang dialami Diana, wajahnya begitu panik!

Hanya sekitar 10 menit Diana memberikan sambutan dan membuka acara, kemudian kembali ke mobilku dan meminta tolong supaya mengantarnya kerumah karena anaknya sedang demam tinggi.

Diperjalanan pulang Diana tetap sibuk dengan Hpnya dan mencuekin aku, bahkan belum apa-apa sudah menyuruhku mengantar anaknya sekalian ke dokter seakan menganggap aku adalah sopirnya. Semua sudah aku lakukan, termasuk mengantar anaknya. Saat aku berpamitan pulang, ucapan terima kasih pun tidak ada. Benar-benar malam yang sial!

Tapi anehnya semua ini tidak membuatku marah, pantat diana selalu terlintas di otak kotorku dan menghipnotis. Dengan berat hati aku kembali dan iseng-iseng aku menuju sekolahan dengan harapan dapat mencuci mata melihat tante-tante muda yang kedinginan. Ternyata parkiranya semakin penuh, padahal sudah menunjukkan pukul 21:45 WIB sehingga memaksaku untuk memarkir mobil agak jauh dari area perkemahan.

Semoga aku mendapat obat atas rasa kesal dan sesal yang baru saja aku rasakan, itulah doaku dalam hati. Saat memasuki area sekolah aku sengaja menepikan langkah kaki di tempat yang gelap dan sepi karena memang niatku untuk mencuci mata dan aman dari istri. Mendadak aku ingin pipis dan dengan cuek aku acungkan kont*lku di sebuah taman di depan kelas karena keadaan di tempatku berdiri sangat gelap dan sepi jadi aku pikir aman. Cuuuuuuuuurrrrrrrr…………tanpa rasa berdosa aku kencingi bunga yang kebetulan paling tinggi dan lebat, tapi sebelum kencingku selesai mendadak berdiri sesosok orang dari balik bunga tersebut. Aku yang terkejut spontan memasukkan kont*lku kedalam celana alhasil, ngompol deh. Tapi aku tidak sendirian, orang yang ada di depanku juga mengompol karena sebenarnya dia juga sedang duduk berjongkok dan kencing dibalik bunga serta mendadak berdiri sesaat setelah aku kencing. Samar-samar terlihat jelas air kencingnya mengalir di kakinya saat kedua tangannya masih menjinjing rok. Kami sama-sama merasa malu dan salah tingkah, harus berkata apa atau bersikap bagaimana karena kami memang tidak saling kenal. Mendadak terdengar seseorang berjalan menuju tempat kami, karena takut ketahuan dan disangka aneh-aneh akupun meloncat disebelah wanita tersebut dan menutup mulutnya.

“please, aku mohon jangan bersuara nanti ketahuan orang! Bisikku lirih

Wanita itu hanya mengangguk pertanda mengerti dan dengan respek mendekatkan tubuhnya ke tubuhku hingga untuk beberapa menit kami seperti saling berpelukan. Sepeninggat orang yang lewat aku sempatkan meminta maaf dan menawarkan pakaian ganti yang rencananya aku bawakan untuk istriku. Karena butuh dia yang ternyata bernama Atika mengiyakan tawaranku. Aku kembali berjalan menuju mobil untuk mengambil rok panjang istriku dan meminta Atika untuk tetap bersembunyi. Untuk kali ini aku tidak tahu harus kesal atau senang, sempat muncul dalam otakku untuk merayu dan mencumbunya tapi buru-buru aku menepisnya karena selain ramai juga sangat sulit merayu wanita berjilbab dalam satu malam. Kecuali kalau terpaksa seperti tadi, pikirku licik. Dengan membawa rok, aku menghampiri Atika dan mengantarnya ke kamar mandi.

“enggak Pak, aku takut kata orang-orang tempatnya angker makanya aku tadi di taman! Kata Atika menjelaskan

‘udah gak apa, sebagai permintaan maaf aku akan mengantarmu! Kataku menawarkan kebaikan, padahal jauh dalam hatiku ada niat untuk membuat keadaan menjadi terpaksa.

Akhirnya Atika mau dan segera menuju kamar mandi yang jauh berada di belakang, sungguh seram memang apalagi tempatnya dibawah rimbunnya pohon bambu. Tapi, apa mungkin sesama setan saling mengganggu?! Heheheee, tawaku dalam hati. Atika pun masuk kamar mandi dan aku cepat-cepat mencari celah untuk mengintipnya dan ternyata ada. Dengan berdiri diatas tumpukan kayu aku mengintip Atika dari celah angin-angin, jantungku serasa ingin berhenti sesaat setelah tahu ternyata Atika yang berjilbab memakai CD bikini dan tato di pinggulnya. Aku semakin bernafsu dan dengan cepat mendorong paksa pintu kamar mandi tersebut yang ternyata kuncinya hanya sebuah kayu kecil yang di silangkan. Pintu itupun terbuka dan aku langsung menerobos masuk, sengaja agar Atika tidak sempat menutupi keseksiannya dan berpakaian.

‘Apa-apaan Pak?! Tanya Atika terkejut sambil menyilangkan kedua tangan di CDnya

“Maaf, ada penjaga malam yang menuju kemari! Kataku berbohong

‘ngapain masuk, kan bisa sembunyi diluar…. bantahnya dengan wajah marah

“ssssssssssttttttt….jangan bicara lagi, orangnya di depan. Kamu mau semua orang mengetahui kita berduan dikamar mandi dengan keadaan kamu setengah bugil begini?! Bisikku lirih dan ternyata membuat Atika larut dalam kepanikan yang aku ciptakan.

Tak mau membuang waktu, aku mencoba memaksimalkan kesempatan ini. Aku tarik kedua tali simpul CDnya dengan kedua tanganku secara bersamaan dan tanpa sempat dicegah, aku berhasil membugili setengah bagian bawah tubuhnya.

“coba aja kamu teriak biar kita ketahuan dan sama-sama malu, keluargamu malu dan kamu pasti diceraikan suamimu!! Ancamku sambil mendorong tubuh Atika ke sudut kamar mandi. Tetes air matanya tidak mampu memadamkan nafsu dan niatku untuk menikmati tubuhnya. Aku langsung mendekapnya erat-erat, mencium dan melumat bibirnya yang pasrah tidak berdaya. Lidahku menggelitik bibirnya, menyusuri rongga mulutnya dan memilin lidahnya, sementara tanganku langsung menuju selangkangan yang sudah tidak berCD. Aku elus jembutnya yang lembut, aku raba pahanya dan terus merangsangnya.

Aku tahu Atika sudah mulai terangsang, hal ini terlihat dari nafasnya yang semakin memburu, perlawanan tangannya mereda dan yang paling membuatku yakin adalah memeknya sudah licin tapi dia terus berusaha menutupinya. Aku semakin bersemangat mencumbunya, bibirku kini mulai menuruni lehernya yang masih tertutup jilbab, kebawah menuju toketnya, kebawah lagi di perutnya dan aku hentikan jilatanku di memeknya.

Lirih desahan nafsunya mulai terdengar, pertanda Atika sudah ikhlas aku perkosa dan benar saja kedua pahanya semakin merenggang mempersilahkan aku menjilati memeknya. Lidahku meliuk dan menari memutari bibir memeknya. Sementara jari telunjukku mengelus dan menekan pelan di lubang memeknya.

“SSSSSSSSSSSSSTTTTTTTTT………AAAAAAAAAAAAAAAAAA A….AAAAAAHHHHHHH……….. desahan Atika terdengar jelas saat aku mulai memaju-mundurkan jariku. Aku pijit dan putar-putar klitorisnya memaksa Atika menggerakkan pinggulnya ke kiri dan kanan. Orgasme pertamanya begitu cepat terjadi,… lendir di memeknya telah mengalir di jari telunjukku.

“Tika….sayaaaaaaaaaaanng….masukin ya?? Pintaku

Atika ternyata masih ragu dan malu, ada pertentangan dalam hatinya. Aku arahkan badannya ke tembok dan menunggingkan pantatnya. Aku langsung keluarkan senjata andalanku dari dalam CD dan langsung mengambil ancang-ancang menyerang tapi ternyata lendir orgasmenya tidak mampu melicinkan kont*lku yang terlalu gede. Aku ludahi palkon dan aku tekan-tekan ke memeknya, aku masukkan aku cabut, aku masukkan lebih dalam dan aku cabut lagi…. terus dan terus. Desahan dan erangan Atika yang tertahan membuatku semakin ingin cepat-cepat menggoyangnya. Setelah sepertiga kont*lku masuk, aku memaksa dengan sekuat tenaga mendorongnya.

AAAAAAAAAAAAAAAAAUUUUUHHHHHHHHHHHH….ADUH SAKIIIIIIIIIIITTTTTTTTTT….. rintihnya sambil mengigit bibir, untung suara sound system acara api unggun berdentang keras jadi bisa menutup suara parau Atika.

‘aduh…gede banget Pak….sakiiiiiiiiiitttttt…. rengeknya sambil menengok ke arahku

“panggil yang mesra dong,… sebentar lagi pasti sakitnya berganti nikmat! Jawabku sambil berjongkok memeluk tubuhnya dari belakang.

Pelan-pelan aku goyangkan pantatku maju-mundur dan ke kiri-kanan sambil memberi ciuman dan rangsangan di belakang telinganya dengan sesekali tiupan dan desahan memanja. Atika semakin terangsang dan melayang, pantatnya meliuk mengimbangi goyanganku. Kini entotanku sudah tidak terlihat seperti perkosaan tapi kemesraan dua kekasih yang dilanda kerinduan. Aku semakin mempercepat goyanganku, sepasang toketnya bergelantungan kedepan belakang seirama dengan goyangan pinggulnya.

MMM……HEMMMMMMM……..UUUUUHHHHHHHH……….O OOOOO….ayo sayaaaaaang puaskan nafsuku. Ayooo….mainlah yang kasar, aku suka kamu perkosa! Rengek Atika terbata-bata

Aku sangat terkejut mendengarnya, wanita berjilbab yang binal! Gumamku dalam hati. Aku mulai meremas dan memukul pantatnya seirama dengan dentuman sound di depan. Terlihat jelas wajahnya begitu puas saat aku pukul pantatnya. Aku terus berusaha bermain kasar, jari telunjukku aku tusukkan ke anusnya…Blesssssssss……..blessssssssss……. …

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAUUUUHHHHHHHHHHH…..jangan di anus sayang, ampuuuuuuunnnn! Rengeknya memelas, tapi aku tidak menghiraukannya dan terus mengobok-obok anusnya dengan jari tangan kananku sementara tangan kiriku meremas gemas toketnya.

Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh….memeknya benar-benar nikmat, disepanjang goyangan aku rasakan himpitan, pijitan dan hisapan dari memeknya. Jujur memeknya lebih berasa di bandingkan dengan memek istriku, pujiku penuh kemenangan. Sesaat aku hentikan goyanganku dan memintanya menyepong kont*lku yang sudah berlumuran lendir memek. Awalnya dia menolak tapi aku terlanjur menikmati permainan kasar yang dimintanya, dengan menutup hidungnya aku memaksanya membuka mulut dan segera aku masukkan kont*lku.

HLEEBBBBBBBBBBBBBBBB…..kont*lku hanya separuh yang bisa masuk dan aku belum puas! Aku paksakan terus dengan mendorongnya kuat-kuat hingga berasa menthok di tenggorokannya. Begitu becek dan berlendir rongga dimulutnya, begitu hangat dan dahsyat. Apalagi saat Atika mengambil nafas dengan mulutnya sambil melotot terengah-engah, aku sangat puas melihat ekspresi wajah yang beberapa menit lalu meminta bermain kasar tapi kini tampak menyerah kalah.

Uhuk…uhukkkk….Atika tersedak dan mencabut kont*lku dari mulutnya!

‘kamu benar-benar nakal sayang, aku suka permainanmu! Pujinya dengan mulut mengeluarkan lendir dan ludah. Dengan nafas yang masih terengah, Atika duduk di bibir bak mandi dan membuka pahanya lebar-lebar memintaku segera menuntaskan permainan ini karena sudah hampir 2 jam dia meninggalkan tenda anaknya. Dengan senang hati aku hujamkan kont*lku hingga mentok di dinding memeknya, aku genjot dengan semangat 45, lebih cepat, lebih cepat, terus dan teruuuuussss sambil berciuman penuh hasrat,

Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh…………aaaaaaaaaaahh hhhhhhhhhhhh………..oooooooooooooooooohhhhhhhhh hhhhh………..hhhhhhhmmmmmmmmmmmmmmmmmm……uuu uuuuuuuuuuuuuuuuuuuugggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ………..mantap banget kont*lmu, aku mau sepanjang hidup diperkosa kont*lmu. Puji Atika sambil menjambak dan mencubit dadaku.

Lima belas menit dalam posisi ini, detik-detik orgasmeku terasa semakin dekat. Kakiku gemetar tak kuasa menyangga beban nikmat yang tersaji, keringatpun bercucuran seperti hujan dan puncaknya sekujur tubuhku seakan mengejang.

“ayo sayaaaaaaaaaaang….aku hampir sampai…aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh….aaaayo semprotin brengggg………uuuuuuuuuuuuugggggggggghhhhhhhhhh hhhhh………… pintaku!

‘iyaaaaaaaaa….satu dua tigaaaaaaaaaaaaa…….aaaaaaaahhhhhhhhhhhh…. sahutnya!

CROT……CROT…CROT……..CROOOOOOOOOOTTTTTTTTT …….. spermaku memenuhi ruang di memeknya, entah mengapa dia menahan kont*lku saat akan aku tarik keluar. Kamipun berpelukan erat penuh nikmat. Sejenak kami bermanja-manja berdua dan saling memuji , tapi sesaat sebelum pergi Atika berpesan: AKU SANGAT MENIKMATI APA YANG TERJADI, AKU TIDAK MENYESAL DAN AKU TIDAK AKAN MELUPAKANNYA…. TAPI TOLONG, JANGAN PERNAH HADIR LAGI DI DEPANKU! AKU TAKUT TIDAK BISA MENAHAN NAFSUKU MEMILIKIMU… SAYANGI ISTRIMU! Satu kecupan di bibir menandai perpisahanku dengannya. Aku membisu dibuatnya!!

Pagi itu aku bangun agak kesiangan, badanku terasa letih dan lesu seakan tenagaku telah terkuras dalam sensasi perkosaan semalam. Tapi yang sangat mengherankan, begitu aku terbangun yang ada diotakku adalah Diana bukan Atika yang memberiku kenikmatan. Entahlah, mungkin karena masih penasaran bagaimana rasanya ngentot tubuh bohaynya.

Akupun pergi mandi agar bayang-bayang Diana terhapus dari otakku, tapi ternyata percuma bayangan Diana seakan sebuah benih yang kian bersemi tersiram air. Aku minum sebutir obat kuat untuk mengembalikan staminaku, bukan seperti biasanya saat akan ngentot karena hari ini aku tidak ada niat untuk bercinta. Aku keluarkan motor ninja yang baru 2 hari aku beli, dengan niat test drive aku menyusuri jalanan yang terik dan berdebu. Benar juga kata orang-orang, jangan ngaku kaya kalau belum punya ninja! Heheee maaf melenceng dari cerita. Aku hentikan raungan knalpotku di depan sebuah Cafe dan memesan sebuah kopi. Entah setan mana yang berbisik ditelingaku, saat mendengar percakapan seseorang yang bilang anaknya sakit karena tidak dibelikan mobil remote control tiba-tiba terngiang dalam telingaku untuk membeli RC sebagai bahan pendekatan pada Diana. Tanpa menunggu lagi aku tinggalkan selembar uang diatas meja untuk secangkir kopi yang baru di buat, aku melaju menuju sebuah toko RC membeli miniatur Hammer H3 berwarna orange dan membawanya ke RSU tempat Rafel, anaknya Diana dirawat.

Sesampainya disana, aku melihat Rafel ditemani oleh seorang suster bukan orang yang aku impikan. Dengan berat hati aku menyerahkan mobil RC dan berpamitan pulang. Rafel sangat senang dengan RC yang aku berikan, semoga saja ibunya juga demikian! Harapanku dalam hati. Disaat jalan menuju parkiran aku bertemu seorang teman yang menunggui anaknya yang sedang sakit, karena sungkan akupun berbasa-basi dan menengok anaknya yang sedang sakit. Tak terasa satu jam telah berlalu dan aku mohon diri untuk pulang. Sesampainya di parkiran, aku mendengar ada suara yang memanggil namaku dan itu adalah Diana.

“Terima kasih ya Mas, atas perhatiannya pada Rafel. Kata Diana

‘gak apa Mbak, semoga bisa membuatnya senang dan cepat sembuh! Jawabku sok cool

“kalau gak keberatan, kita ngobrol di dalam ya? Rafel sendirian susternya pamit pulang! Tawar Diana yang langsung aku iyakan.

Sesampainya dikamar kami bercanda dan tertawa mengakrabkan diri, hingga suara Rafel menyela dan mengejutkan aku dan Diana.

‘Mah, aku mau Papah yang seperti Om Adith! Kata Rafel lugu

‘iya-iya, ayo diterusin mainnya….jangan nakal! Kata Diana dengan nada agak gugup

‘enggak mau, aku mau sama Om… kata Rafel sambil duduk dipangkuanku, padahal tangannya masih di infus.

“Rafel jangan nakal ya, turuti kata mamah… kataku sambil membelai rambunya.

Akhirnya Rafel kembali ketempat tidur dan meninggalkan aku dan Diana dalam kebisuan. Kami jadi salah tingkah dengan wajah yang memerah. Hanya menebarkan senyuman dan tatapan mata yang menerawang kata hati masing-masing.

‘udah berapa wanita yang sudah kamu tiduri? Tanya Diana dengan telak

“maksud kamu… tanyaku terkejut

‘udah, jangan sok cool gitu….aku yakin kamu pasti banyak koleksi wanita? Katanya memvonis aku

“iya Mbak, naluri lelaki…. jawabku pelan

‘kamu pasti suka wanita yang agresif kan? Tanya Diana sambil membuka 2 kancing bajunya

“suka banget Mbak! Jawabku sambil menelan ludah, aku lihat lehernya yang jenjang dan bagian atas dadanya yang begitu putih seakan sengaja memancing aku.

‘heheee…tuh, lihat aku lagi kegerahan aja udah bangun! Ngebet banget ya pengen ngentot aku? Tanya Diana dengan Vulgar dan nada memanja

Diana mendadak beranjak dari tempat tempat duduknya menghampiri Rafel yang ternyata sudah tertidur, sambil menatapku manja dan lidah yang menggoda diana mengajakku masuk kedalam kamar mandi. Tanpa berpikir ulang aku langsung menuju kamar mandi dengan penuh nafsu. Begitu aku membuka pintu, di depan mataku sudah terpampang pemandangan yang sangat-sangat menggiurkan tubuh bohay Diana hanya tertutup CD dan BH. Kalau begini Sarah Azhari yang asli kalah sexy deh, pikirku dalam hati sambil menelan ludah. Diana langsung menarik tanganku dan mengarahkanya ke dua bongkahan togenya yang menantang. Aku langsung meremasnya dan mencium bibirnya yang sensual. Kami berciuman dengan penuh nafsu, lidah kami saling memilin, menghisap dan menggigit bibir sambil tangan aktif membelai, meraba dan merangsang bagian-bagian sensitif.

Ooooooooohhhh….kont*lmu boleh juga, aku suka yang begini! Kata Diana saat mengeluarkan kont*Lku dari celah resleting. Kini jari-jarinya mulai mengelus dan mengocok kont*lku dengan lembut. Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh….aku tidak tahan dibuatnya, dengan tergesa aku membuka baju dan memelorotkan celanaku. Tingga akhirnya tampak sepenuhnya! Sambil terus mencium dan menggigit leherku Diana mempercepat kocokannya.

‘dalam waktu satu jam kamu harus membuatku puas, bahkan kalau bisa sampai puas sebelum perawat datng! Ungkapnya sambil menjongkokkan tubuhnya. Dengan rakus Diana langsung melahap kont*l yang ada di depanya, menghisap dan menggigitnya pelan sambil mengocok pangkal kont*lku .

AAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGHHHHHHH……aku dibuat mengejang olehnya, hisapannya begitu kuat dan yang pasti penuh dengan kenikmatan hingga kont*lku terasa sangat ngilu. Untuk mengimbangi agresifnya, aku menjambak rambutnya dan mendorongnya hingga menthok ke tembok dengan posisi masih menyepong kont*lku.

HAEEMMMMMMMMM………..OUHMMMMMM……suara desahannya saat menyepong kont*lku.

Sekitar 10 menit aku menahan posisi ini dan dengan mata merem melek aku menggoyangkan pantat maju-mundur semakin dalam. Mendadak aku teringat deadline 1 jam yang diberikanya, akupun langsung menyuruhnya menungging sambil berpegang pada bibir bak mandi. Aku sengaja tidak memaksimalkan rangsangan disekitar memeknya karena aku ingin merasakan memek kesednya. Aku langsung menekan palkon ke lubang memeknya, maju mundur dengan setengah memaksa.

AAAAAAAAAAAHHHHHHHH….sakiiiiiiiiiiiiiiiiittt…. perih Mas, aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh

BLES..BLESSSSSSSSS….BLESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS SSS! rintihan panjangnya menandakan kont*lku sudah ambles kedalam memeknya! Dengan sepenuh tenaga aku ayunkan kontl’ku maju-mundur secara teratur. Ah…ah….ah….ahhhhh……hemmmmmm…..bibir Diana tak henti-hentinya melenguh penuh nikmat, membuatku kian bernafsu menjejali memek gembulnya dengan kont*l. Aku cengkeram kedua belahan pantatnya dengan kuat, sambil mempercepat goyangan maju mundurku tanpa henti.

“aaaahhhhhhhhh…..Massssss….aku sudah sampai Mas, aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr

“OOOOOOOOOOOOOuuuuhhhhhhhhhhhhhhh……kont*lmu enak banget mas! Puji Diana bersamaan dengan keluarnya lendir orgasme! Ternyata Diana tidak setangguh penampilannya, begitu cepat orgasme dan mendadak lemas. Ngentot di ruangan berAC tidak mampu mendinginkan tubuh bohaynya, dengan bermandi peluh Dia terus mengaduh dan mengeluh kont*lku kegedean padahal sudah licin. Aku tarik tubuhnya ke belakang, menjauhi tembok dan bak mandi memaksa tubuhnya menungging dengan tangan menyangga dari lantai. Tubuhnya semakin bergerak tak menentu, kakinya semakin goyah menopang tubuhnya dan erangan kenikmatan terus mengalun dari mulutnya.

Aaaaaaaaaah…..mass…aku gak kuat…aaaaaaaaaaaaaaaaagggggghhhhhhhhhhhhhhhhh… ..

Mendadak tubuh Diana terjatuh ke lantai dan terlepaslah kont*lku dari dalam memeknya. Dengan nafas terengah Diana mencoba untuk berdiri namun aku melarangnya dan menyuguhi kont*l agar diemut. Dipegangnya kont*lku yang berlumuran lendir memeknya dan mengocoknya degan kedua tangannya, lidahnya menjulur mengelus palkon dan mulai mengulumnya sedikit demi sedikit. Sempat aku utarakan untuk ngentotin anusnya tapi Diana menolaknya dengan alasan, memek aja penuh sesak apalagi anus! Sebentar lagi susternya pasti datang aku harus cepat-cepat memandikan Diana dengan spermaku, gumamku dalam hati.

Akupun duduk dengan kaki lurus dilantai dan tanpa diminta Diana duduk diatas paha menghadap kearahku dan langsung mencium dan menghisap leherku dengan penuh nafsu. Tangan kanan Diana langsung memegang dan mengelus kont*lku sambil menggesek-gesekkan di memeknya. Begitu geli ujung palkonku, hingga kakiku berasa seperti kesemutan.

“aaaaaahhhhhh……Ayo sayang, buruan masukin keburu ada yang datang….bisikku saambil meremas pantat dan toketnya

‘iya sayaaaang! Jawabnya sambil memasukkan kont*lku kedalam memeknya

BLEEEEEESSSSSSSSSSSSSSSSSS………BLEEEEEEEEEEEEE SSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS…….. seluruh kont*lku ambles memasuki memek nya, sungguh sangat berasa nikmatnya dan jujur baru kali ini kont*lku bisa masuk seluruhnya kedalam memek, biasanya selalu menyisakan 3-5cm diluar. Ternyata selain tembem, memek Diana juga lebih dalam. Dengan semangat baru aku meladeni nafsu Diana yang semakin menggebu, aku rebahkan tubuhku dilantai dan memberikan ruang untuk Diana menggoyangkan pantat bohaynya.

AAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH……HEMMMMMMMM……….OOO OOOUUUUUUUUUUUHHHHHHHHHHH……………AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH….. desahan panjang langsung aku suarakan sesaat setelah Diana mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur. Semakin cepat dan cepat dengan selingan goyangan memutar yang dahsyat, layaknya inul kaalau sedang ngebor.

‘enak kan mas goyanganku, gak kalah dengan inul! Katanya memuji diri sendiri sambil tersenyum manja

“mantap banget say, baru kali ini aku merasakan nikmat yang teramat….aku genjot jangan berhenti! Pintaku sambil mencubit dan meremas toket gedenya.

Begitu lama kami berML ria dengan gaya ini, hingga kami dikejutkan dengan suara seseorang yang memasuki kamar rawat inap Rafel. Sejenak Diana menghentikan hentakan pantatnya, memandangku dengan wajah panik. Sempat terlihat Diana berusaha mencabut kont*lku tapi aku buru-buru memegang pantatnya dan memaju mundurkan.

‘ayo lanjutin, yang penting jangan bersuara! Kataku lirih

Diana hanya mengangguk setuju dan kembali memanjakan kont*lku dengan goyangan mautnya. Rasa geli bercampur nikmat tidak dapat aku ungkapkan, hanya bisa menahan sambil menutup rapat mulutku. Aaaaaaahhhhhhhhhh….semalam memperkosa, gantian sekarang diperkosa. Teriakku dalam hati. Dari celah bawah pintu kamar mandi aku melihat ada sepasang sepatu putih yang sedang berhimpit menempel di pintu, mungkin ada yang mengintip atau mencuri dengar dari lubang kunci. Ah masa bodoh sajalah! Sanggahku dalam hati, bahkan iseng-iseng aku mulai mendesah lembut, semakin keras hingga akhirnya mendesah lepas. Diana yang sedang birahi tinggi tidak lagi memperdulikan desahanku, Dia terus menggenjot hingga kurasakan palkonku semakin cenat-cenut hendak menyemprot!

“Ooooooooooooooooohhhhh….nikmat banget say…aku hampir keluar nih! Rengekku manja

Mendengar itu Diana semakin mempercepat goyangannya, lebih cepat dan cepat hingga beberapa detik kemudian aku tidak dapat menahannya.

CROT…CROOOOOOOTTTTTTTTTTTTTTTTT…….CROOOOOTTT TTTTTTTTT…………AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH…..

Ternyata sedetik sebelum aku nyemprot Diana telah terlebih dahulu menyemburkan lendir orgasmenya yang ketiga. Goyangan Diana tetap berlanjut walaupun memeknya sudah penuh terisi sperma, seakan sengaja ingin menyedot tenagaku. Bagaimana tidak saat menyemprot sperma, seluruh tubuhku mengejang terangsang dan sensitif tapi Diana terus memberi rangsangan yang bertubi-tubi. Kami terengah dan bersusah payah menghirup udara….. lendir kami yang telah tercampur perlahan mengalir menuruni belahan pantatku. Hingga akhirnya tubuh Diana melunglai diatas tubuhku. Satu ciuman mesra mendarat dibibirku menutup pergulatan kami.

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian, Diana membuka pintu sedikit-deki sedikit dan setelah dirasa aman Diana menyuruhku bergegas keluar. Entah sengaja atau tidak, sesaat kami keluar dari kamar Mandi tiba-tiba ada suster yang membuka pintu dan masuk. Entah apa maksud dan tujuannya, yang pasti sepatu putihnya menunjukkan bahwa Dialah yang berada di depan pintu kamar mandi tadi. Aku putuskan untuk berpamitan pada Diana dan pulang menuju sekolah untuk menjemput istriku. Akhirnya rasa penasaranku pada tubuh Diana terhapuskan bahkan setelah kejadian itu gantian Diana yang mengajak ngentot, tapi aku tidak selalu menurutinya hanya saat aku sedang free saja.

AYU

Perkenalkan namaku Muhlis, aku adalah seorang pria yang dari segala sisi yang bisa dilihat sangat pas – pasan. Baik dari segi dompet apalagi tampang. Namun kemampuanku untuk berkomunikasi membuat aku mudah untuk memiliki banyak teman dekat, termasuk teman wanita. Apalagi aku ini orang yang sangat suka bercanda. Katanya, wanita paling suka dengan pria yang suka bercanda. Mungkin itulah banyak wanita yang mau dekat denganku meski dengan kondisiku yang aku jelaskan di atas.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (1) Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Aku sekarang sedang tinggal di sebuah Kota di pulau jawa. Aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studiku di jenjang strata 1. Aku berkesempatan untuk kuliah di salah satu PTN terbesar di negeri ini. Di kota ini aku tinggal di kost, jauh dari pengawasan orang tuaku. Mungkin hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya cerita ini. Petualanganku bersama beberapa wanita yang berteman atau berpacaran denganku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (2)

Pada suatu hari, di akhir semester pertama aku kuliah, aku kedatangan tamu dari kota sebelah. Dia bernama Ayu, dia adalah teman sekelasku waktu SMA dulu, walaupun dulu aku tak terlalu akrab dengannya. Karena pada dasarnya dia sangat pendiam. DIa cantik, kaya, sehingga aku cukup segan padanya. Tapi beberapa bulan yang lalu, di awal dunia perkuliahan, tiba – tiba dia mengirim pesan padaku. Pada saat itu ia meminta tolong aku untuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena kebetulan tugas itu memang sesuai dengan bidang yang aku pelajari di universitasku. Dia kuliah di kampus kesehatan di kota sebelah kota dimana aku tinggal. Pada saat itu ia nampak panik, karena tugas itu harus dikumpulkan malam itu juga. Aku ingat, bahkan ia sempat menelponku untuk meminta bantuan. Aku menyanggupinya, karena memang tugas itu tidak terlalu susah, toh aku sedang tidak ada kerja.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (3)

Dalam waktu sejam aku sudah berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Aku mengirimkan tugas itu padanya, agar dia bisa mengecek sebelum dikirim. Katanya itu sudah cukup bagus. Ia kembali menelponku untuk mengucapkan terima kasih. Mulai dari situlah komunikasiku dengannya terbangun. Sering berkirim pesan, hingga saling telfon. Hingga kami sepakat untuk bertemu. Awalnya aku mengunjungi kampusnya. Aku bertemu dia disana. Kemudian ia mengajakku ke asramanya. Ya, dia di asrama, sehingga aku tak bisa mengajaknya jalan – jalan karena akan sangat tanggung. Akhirnya kami hanya ngobrol di ruang tamu asramanya. Tapi itu cukup membuat aku dan dia menjadi lebih akrab.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (4)

Kemudian di suatu hari, di akhir semester pertama, dia berencana datang ke kampusku. Katanya ia pengen melihat kampusku. Aku bersedia untuk mengajaknya berkeliling kampusku itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang di akhir minggu. Ia datang naik bis, aku menjemputnya di halte. Aku menunggu disana, di atas sepeda motorku. Aku melihat beberapa bis datang bergantian. Tapi Ayu tak kunjung muncul di pandanganku. Hingga akhirnya bis keempat datang, dan di halte aku melihat sesosok gadis kecil dan sangat cantik. Bibirnya merah sensual, dengan berbalut baju lengan panjang warna putih dan rok warna hitam. Dikepalanya terlilit jilbab senada dengan warna bajunya. Sangat cantik. Dari dulu aku sangat suka melihat bibirnya. Sangat sensual.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (5)

Dia menengok – nengok mencariku. Saat ia berusaha menelponku, aku sudah tiba dengan motorku di depannya. “silahkan tuan putri”kataku sambil tersenyum padanya. “eh kamu”katanya membalas senyumku dengan senyuman yang sangat manis. Kemudian ia memboncengku. Aku mulai melajukan sepeda motorku. Suasana sedikit canggung, karena walaupun dulu sekelas, baru pertama kalinya aku jalan berdua dengannya seperti ini. Hingga akhirnya aku memecahkan suasana “Mau makan dulu nggak?, aku punya tempat yang harus kamu coba disini”kataku menawarinya. “emmm boleh, aku laper, kamu traktir kan? Hehe” balasnya. Aku tersenyum lalu menjawab “tentu saja, hari ini full service untukmu”. Dia tertawa lalu memukul manja pundakku. Aku tersenyum, lalu mengarahkan motor ke tempat makan yang aku maksud.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Selesai makan, dia nampak sangat menyukai tempat itu. Selain tempatnya rapid an nyaman, masakannya juga sangat enak katanya. “Sekarang mau kemana?”tanyaku. “terserah kamu, katanya mau ngajak aku keliling kampusmu?” balasnya. “hmmm masih jam 5 sore, akan lebih bagus kalau kita keliling habis magrib nanti”jawabku. “baiklah, lalu kemana?”tanyanya. “ayo ke kosku saja. Kamu harus mandi juga kan?, biar gak bau hehe”ledekku. Dia mencubitku sambil tersenyum manis. Lalu aku mengarahkan motorku ke kosku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (7)

Habis magrib, aku mulai keliling kampus dengannya. Aku menjelaskan satu per satu gedung yang ada disana. Dia merasa cukup senang, apalagi pemandangan lampu di kampusku cukup menawan di malam hari. “aku lelah, kita istirahat dulu yuk. Kamu pasti pengen foto – foto kan?” tanyaku sambil tersenyum. Dia mengangguk. Aku membelokkan motorku ke tempat yang sangat strategis, tempat itu memnag menjadi spot favorit untuk foto – foto. Biasanya ramai setiap malam, tapi entah kenapa malam itu cuman ada aku dan Ayu disana. Memang kebetulan hari itu mendung cukup tebal menggantung di langit kotaku. Aku mulai menawarinya berfoto. Awalnya dia bergaya sendiri, hingga kemudian dia mengajakku foto bersama. Aku menyanggupinya dengan malu – malu. Hingga tanpa sengaja, ketika berpose foto, pipiku dengan pipinya berdempetan. Aku rasa dia tidak menyadarinya, tapi aku jadi salah tingkah karenanya. “Sudah ah capek foto – foto mulu, sini kamu, ayo ngobrol”katanya menarik tanganku untuk duduk disampingnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (8)

Kami ngobrol tentang banyak hal, hingga tanpa aku sadari tanganku sudah menggenggam erat tangannya. Tangan kiriku mulai membelai kepalanya yang bersandar di pundakku. Elusanku turun kepipinya, sangat lembut kulit pipinya itu. “Kamu cantik banget Yu”kataku berbisik. Dia menoleh ke arahku, aku mengecup pipinya. Dia terdiam. Kemudian memejamkan matanya, aku tau yang dia maksud. Aku mendekatkan wajahku, lalu mulai mencium hidungnya. Lalu mulai turun ke bibirnya. Awalnya hanya menempelkan bibirku ke bibirnya saja, karena aku ragu. Tapi kemudian dia menganggukkan kepala, dan menurutku itu pertanda bahwa yang aku lakukan benar. AKu mulai melumat bibirnya yang aku kagumi sejak dulu. “emhh.. emhh.. slurp”suara lidah kami saat mulai bertautan di rongga mulutnya. Dia mendesah desah, menikmati setiap sapuan lidahku. Kemudian dia melepas ciumannya. “Aku ganti posisi, aku mau menghadapmu dulu” katanya lalu bergeser menghadapku. Kemudian dia menyorongkan bibirnya lagi. Aku melumat bibirnya lagi. Aku sangat bernafus, hingga tubuhku seperti mendorong tubuhnya. Dia menjaga tubuhnya dengan meletakkan tangannya ke belakang sebagai penyangga tubuh, aku terus mendekatkan tubuhku. Aku memeluknya, mengelus elus punggungnya. Kakiku sudah mengangkangi kedua kakinya yang terbujur lurus.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (9)

Dalam posisi ini aku merasa sangat bernafsu. Tanganku terus bergerak dipunggungnya sampai akhirnya aku beranikan untuk meraih tangannya, sehingga kini aku menindih tubuhnya yang mungil. Tangannya beralih memeluk leherku, sementara tanganku berpindah kedepan. Aku ingin menyentuh susunya, walaupun aku masih ragu. Aku penasaran, dulu aku lihat dari seragam SMAnya dia memiliki susu yang kecil sesuai dengan ukuran badannya, sehingga aku juga tidak terlalu berminat untuk menjamahnya. Tapi lama kelamaan aku mulai tak bisa menahan laju tanganku, dengan sedikit ragu aku mulai mengelus susunya dari luar baju. Ia kaget, membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Aku pun menarik tanganku takut ia marah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (10)

Ta;pi diluar dugaanku, justru tangannya meraih tanganku untuk menjamah dadanya. Aku mulai meremasnya, dan aku merasa benda yang aku genggam tersebut memiliki ukuran yang cukup besar. Aku cukup kaget dibuatnya. Lalu aku lepas ciumannya. “kenapa?” katanya sedikit kecewa. “Besar sekali, aku kira dulu waktu SMA punyamu tak sebesar ini Yu?” tanyaku sambil meraba dadanya. Wajahnya bersemu merah karena malu.”aku juga tak tahu, tapi kamu suka yang besar kan?” katanya memancing. Aku mengangguk semangat.”yaudah lanjutin, aku masih pengen kamu cium”katanya. “Hemmm ayu, jangan disini, tempat ini sangat terbuka. Kita ke kosku aja”kataku menawari.Dia mengangguk. Kami merapikan pakaian lalu menuju sepeda motor untuk pulang ke kosku. Kali ini dia membonceng dengan tanpa ragu menempelkan dadanya di punggungku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (11)

Sesampainya di kamar kostku, aku menyuruhnya untuk berganti kaos dulu karena sedari tadi ia memakai kemeja yang tentu saja sangat gerah. Setelah dia berganti pakaian, aku masuk kamar. “Lagi yuk”kataku.”Sini dong”katanya sambil terlentang di Kasur kecilku. Aku segera menyusulnya, menindih tubuhnya lalu menciumi bibirnya. “ahh.. ahh.. ssshhh” desahnya saat aku mulai meremasi susunya. “Aku buka bajumu ya Yu”tanyaku. “jangan muklis, nanti kita kebablasan. Kamu tidak puas pegng dari luar?” tanyanya. Aku bisa mengerti. Walau sedikit kecewa akhirnya aku melanjutkan remasanku. “Aku buka BHku saja dulu. Nanti kamu raba dari dalam kaos. Aku gak mau kamu lihat, aku malu”katanya. Aku setuju, lalu membalikkan badan. Beberapa menit berselang, sebuah BH terlempar kedepanku. Aku membalikkan badanku lalu melihat dadanya. Aku bisa melihat putingnya, karena kebetulan kaos yang ia gunakan cukup tipis. “Tunggu apa muklis?”katanya. Aku menyergapnya, memasukkan tanganku ke dalam kaosnya. Aku memainkan daging kenyal yang cukup mantap ditanganku. Aku memainkan tanganku pada ujung putingnya. Membuat Ayu mendesah desah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (12)

“ahhh muklisssshhh shhh ohhh geli”desahnya. Aku menciumi pipinya, seluruh wajahnya, juga telinganya yang tertutup jilbab. Aku menyibakkan jilbabnya, lalu mulai membuka cupangan di leher putihnya.”Aku suka muhlis, terussshh”desahnya. Tanpa aku dan dia sadari, kedua tanganku yang bersemangat main di susunya membuat kaosnya tersingkap hingga atas. “Ayu, aku terlanjur melihat dadamu”kataku tersenyum. “kamu jahat nih, curang’katanya cemberut.”Lepas aja ya?”kataku. Dia mengangguk. Lalu dia melepas kaosnya. Dia juga berusaha melepas jilbabnya, tapi aku larang. Aku lebih suka dia menggunakan jilbab. Sekarang dia tak menggunakan kaos, dadanya terpampang jelas di mataku.Aku bengong melihatnya. “Kenapa bengong?”katanya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. “Aku masih tak menyangka, sekarang bisa sebesar ini” kataku terpana. Tanganku mulai mengalihkan tangannya. Memainkan susunya dengan gemas. Aku mendekatkan bibirku, mulai mengulum putting susunya. “enggghhh geli sayang”katanya menggeliat saat aku hisap putting susunya. Aku memainkan susunya tanpa henti. Hingga tanpa aku sadari, tangannya bergerak ke arah selakanganku. Memegang kontolku dari luar celana. “Aku mau lihat ini boleh?” katanya. “Tentu saja, lepas saja celanaku “kataku sambil berdiri.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (15)

Ia berjongkok dan membuka celana sekaligus celana dalamku. Kontolku langsung menyembul memukul bibirnya. “Besar”katanya kaget. “69 yuk Yu”kataku. “apa itu?” katanya tak mengerti. “Kamu jilati burungku, aku jilati punyamu”jawabku menjelaskan. “Apa gak jijik?”tanyanya ragu. “kita coba aja”kataku. Dia mengangguk. AKu mulai melepas rok panjang beserta cela dalamnya, aku terpana melihat memeknya. Sangat sempit. Aku menciumnya. “auhh geli”katanya. “aku tiduran, kamu naik di atasku, tapi badanmu terbalik. Punyamu tepat di mukaku”kataku memberi penjelasan. Dia mengangguk. Aku mulai menjilati memeknya. Sangat aneh rasanya, tapi aku suka. “enggghhh ahhh terus sayang”katanya. Aku berusaha mencari klitorisnya dengan lidahku, tanganku meremasi pantatnya. “Mukhlis.,,, nikmat ahhh” desahnya lagi saat aku menemukan klitorisnya. “Ayu, kamu juga mainin burungku dong biar aku juga enak” kataku protes. Dia menggenggam burungku penuh ragu, dia mencium kepala penisku. Kemudian menjilatnya. “emuuut sayang”kataku tak tahan lagi. Dia membuka mulutnya lalu memasukkan kontolku dan mulai mengulumnya. Aku sangat menikmati karena ini pengalaman pertamaku. 15 menit lamanya kami saling menjilat dengan posisi itu.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (13)

“Muklis, aku mau keluarrr ahhhh ahhh”katanya berteriak. “Aku juga sayang, hisap terus”kataku. Beberapa detik kemudian, “ahhhhh muklisshhhh ahhhh geli”katanya dan disusul cairan yang keluar dari memeknya. Sementara kontolku belum terpuaskan oleh lidahnya. “Ayu aku belum keluar”kataku padanya. “baiklah, lakukan sesukamu, asal jangan kamu masukin. Aku masih perawan”katanya. Aku kemudian membuka selakangannya. “jangan masukin muklis, pliss”katanya mengiba. “aku gesek gesek aja sayang sampai keluar”kataku, aku mulai menggesek kontolku yang tegang ke memeknya. Sambil mulutku memainkan payudaranya. “ahhh… shhh,, ahh ohh”hanya itu yang terdengar dari mulutku. Aku tak tahan lagi, aku ingin memasukkannya tapi masih ragu. Tapi nafsuku benar – benar sudah sangat tinggi. Kepala kontolku mulai menyeruak. Dia terbelalak. Aku memandang matanya penuh ketenangan. Untuk mendapatkan kepercayaannya. AKhirnya ia mengangguk, aku tahu dia mulai terpancing birahi.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (14)

AKu mulai memasukkan kontolku. Sangat sulit karena memeknya sangatlah sempit. “pelan sayang,, perihh,, uhh”katanya. AKu memaju mundurkan kontolku. Hingga akhirnya aku merasa ada yang menahan. Aku yakin itu selaput daranya. Aku memaksanya masuk, dengan satu hentakan keras. “ahhh sakittt ahhh….”katanya menahan perih. AKu mendiamkan kontolku didalam memeknya. AKu melihat nafasnya mulai ngos – ngosan. Kemudian aku menindihnya, memeluknya dan menciumi wajahnya agar dia tenang. Tanganku bermain di putting susunya yang mungil. Aku mulai mengayun pinggulku. “ahhh,, terus,, ahh”desahnya di telingaku. “ahhh ayuu… nikmat banget… ahh..” desahku menahan nikmat. “Muklis, burungmu mentok ohh uhh” sahutnya. “Ayu, ini pengalaman pertamaku. Dan aku beruntung mendapatkan pengalaman seks pertama dengan kamu. Cantik, badan kamu bagus” aku memujinya sambil terus memainkan pinggulku. Kakinya mengait di punggungku, tangannya merangkul leherku, sementara bibirku terus ia lumat. Bibirku berpindah ke puttingnya. Sangat romantic, percintaan di kamar kost ini.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (17)

Desahan kami bersahutan, tapi aku sangat menyukai suara desahan ayu. Sangat sensual. “ahhh muhlis, hampir sampai,,, goyang yang kenceng sayang”katanya sambil mencakar punggungku. Ia menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyanganku. “ahhh muklis aku keluaarrr.. ahhh ahhh”katanya disusul orgasme yang sangat dasyat. Aku menghentikan goyanganku memberi ia kesempatan bernafas. “mau lagi?” tanyanya. “tentu, aku belum keluar. Balikkan badanmu sayang, nungging lah”kataku memberi aba aba. Dia menuruti, ia menunggingkan badannya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (19)

Aku mengambil posisi, merabu memeknya lalu menancapkan kontolku disana. “ahh muklis ini nikmat sekali”katanya sambil meraih tanganku untuk memainkan payudaranya yang bergelantungan. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku memompanya dengan kencang. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi, “aku akan keluar ayu”kataku. “Cabut sayang, jangan didalem”katanya. “ahhh aku terus mengocok kontolku sampai akhirnya aku mencabutnya dan crot crot crot, spermaku melebur ke punggungnya. Aku tersungkur menindihnya dari belakang. Tanganku masih memainkan puttingnya. “nikmat sekali muklis”katanya. “Tubuhmu sempurna Yu”kataku membalasnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (18)

Kami beristirahat setelah pertempuran itu, walaupun semalaman itu aku terus bermain dengan tubuhnya. Aku mengajarinya berbagai macam gaya seks dan dia sangat menyukainya. Hingga kami berdua tertidur di kamar kostku.

Pagi harinya aku mendengar suara sesenggukan, aku melihat ayu menangis. “kamu menyesal?” tanyaku. “sedikit. Tapi aku juga menikmatinya. Dan ini sudah terlanjur. Kamu sangat pandai membuatku senang Muklis. Termasuk dengan kejantananmu”jawabnya. “lalu bagaimana?” kataku bingung harus berkata apa. “tidak usah kau fikirkan, ini salah kita berdua. Akupun sangat menikmatinya semalam. Sekarang antarkan aku ke kotaku, aku masih ingin memelukmu walau di motor. Nanti aku akan sering kesini lagi. Kita main lagi. Katanya tersenyum. Aku membalas senyumnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (20)

 Akhirnya aku mengantarkannya ke asrama, dan dia memelukku di sepanjang perjalanan di atas motorku. Dan hari hari setelahnya dia lebih sering menghubungiku. Tentu saja, sesuai janjinya ia akan mengunjungiku lagi untuk bermain denganku lagi

BU IDA, PENGUJI IDOLAKU

Mutasi pekerjaan bagi setiap orang memiliki arti yang beragam. Ada yang keberatan karena pisah keluarga, tapi ada yang enjoy saja atau bahkan bahagia karena promosi jabatan. Demikian halnya dengan saya (Fendi), yang harap-harap cemas ketika dimutasi ke lain daerah. Berharap karena promosi, tetapi cemas karena harus meninggalkan istriku yang baru kunikahi setahun yang lalu. Sementara dia sebagai pegawai pula yang tidak dengan mudah meninggalkan pekerjaan atau minta mutasi mengikuti suami.

gladys jilbab horny (1) gladys jilbab horny (9)

Hari itu merupakan hari pertama saya mutasi masuk tempat baru di kota propinsi yang jaraknya 200 km dari tempat tinggalku semula. Pagi itu saya sudah siap di lobby kantor baru, sambil menunggu untuk melapor calon atasan saya yang belum datang. Para pegawai kebanyakan belum aku kenal, hanya beberapa teman yang kenal karena satu angkatan, ketika menjalani test rekrutmen dan pelatihan bersama, tiga tahun yang lalu. Hampir satu jam saya duduk di lobby, lalu aku lihat seorang perempuan yang tinggi kira-kira 165 cm, anggun, dengan pakaian uniform abu-abu tua dan kerudung warna putih dengan motif bunga warna biru tua gradasi dan cantik tentu saja. Saya agak kaget, karena aku cukup kenal perempuan itu; bu Ida (bukan nama sebenarnya), dia-lah yang menjadi salah satu pengujiku di kantor pusat, ketika saya masuk di instansi ini. Aku masih ingat betul, karena di samping cantik, diam-diam aku juga mengidolakannya, sebagai perempuan yang menarik. Kala itu saya baru berusia 24 tahun, masih calon pegawai lagi! Sementara dia kelihatannya sudah di atas 30an lebih, Teman-teman juga banyak yang bilang, sebagai penguji yang paling cantik.

Ketika aku dipanggil masuk, langsung aku menghadap atasanku yang baru itu, ternyata bu Ida-lah bosku yang baru. Lalu aku memperkenalkan diri. Rupanya dia lupa, ketika aku menerangkan bahwa aku pernah diuji olehnya.

“Siapa… ya, lupa aku?” katanya tanpa ekspresi, mungkin juga untuk menjaga wibawanya atau memang dia lupa. Maklum banyak calon pegawai seangkatanku.

gladys jilbab horny (2)

Posisiku dua tingkat di bawah bu Ida, namun aku membawahi beberapa pegawai, walaupun mereka lebih lama bekerja daripada aku, karena faktor ijasah formal dan establish manajemen. Sebagai bawahannya saya sering diperintah bu Ida untuk membuat laporan, analisis data dan tidak jarang pula aku ikut serta dalam rapat dinas. Lama kelamaan kami berdua menjadi berkesempatan untuk bertukar pikiran, tidak hanya masalah pekerjaan tetapi sampai masalah pribadi, konon suaminya ada di luar kota, tapi aku tidak berani menanyakannya lebih jauh. Di rumah ditemani oleh dua orang gadis, keponakannya. Aneh juga, saya sudah demikian akrab, tapi bertandang di rumahnya saja tidak boleh.

Di sisi lain kami berdua makin akrab saja. Pernah suatu kali ketika kami menuruni tangga, saya coba gandeng tangannya, dia menyambut dengan memegang tanganku erat-erat. Kami berpandangan mata cukup berarti, dia tersenyum. Pandangan mata yang penuh arti, aku bergembira walau hatiku bergetar. Sebuah pengalaman yang tak kan kulupakan. Sejak saat itu ada perasaan aneh menyelimuti pikiranku, ada suatu kontak istimewa. Dari pandangannya yang tajam berwibawa, tapi mempesona itu, kini sering berkerling, membuat hati ini berdetak lebih kencang. Ada perasaan aneh!

Di suatu hari, saya diajak survey tempat untuk rencana acara in house training perusahaan, yang akan diadakan di suatu resort tempat wisata luar kota yang jaraknya 30an km dari kota. Di Sabtu pagi itu kami berangkat bertiga bersama bu Ida, seorang teman perempuan, sebut saja namanya Susie dan saya. Pagi itu sekitar pukul setengah sembilan, aku berangkat bersama Susie, kemudian kami meluncur ke rumah bu Ida. Rupanya dia sudah menunggu, langsung naik ke mobilku.

gladys jilbab horny (3)

“Ibu di depan, saya di belakang saja” kata Susie sungkan yang semula memang duduk di jok depan.

“Enggak usah, kamu aja di depan” sahut bu Ida

“Maaf Bu, saya membelakangi Ibu…” sahut Susie dengan takzim.

“Ya, enggak apa-apa, silakan…” kata wanita cantik berusia 38 tahun itu langsung duduk di jok tengah.

Pagi itu Bu Ida tampak cantik. Dengan memakai celana panjang agak ketat warna hitam, baju putih motif bunga lengan panjang, leher bajunya berkacing pada leher bagian depan, seperti dipakai untuk mengikat kerudungnya dengan warna dasar putih berbunga coklat. Modis. Penampilannya sangat berbeda dengan pakaian kesehariannya, yang selalu memakai seragam kantor dan rapat.

Bu Ida mengajak kami berkeliling melihat-lihat lokasi di sekitar resort. Setelah urusan di resort selesai, Susie minta pamit duluan, karena Sabtu itu akan keluar kota bersama suaminya dan sudah izin kemarin pada bu Ida. Suaminya sudah menjemput, lalu Susie pamit dengan hormat pada bu Ida. Sekarang tinggal aku dan bos ku ini, lalu meninggalkan resort. Kemudian kami menikmati pemandangan indah di pagi itu. Saya memarkir mobil di tempat agak sepi, menghadap hamparan lembah curam, dengan latar belakang pegunungan. Indah sekali pemandangan pagi yang beranjak siang itu. Di atas mobil bu Ida memakai kacamata hitam lebar, kami berpegang tangan, jemari kami saling mengusapi, meremas lembut, sesekali mencium tangannya. Saya senang sekali. Aku ingin sekali mengecup bibirnya, tapi ada perasaan takut, hanya memandangi wajah ayunya saja, dia menyambut dengan senyum khasnya, akupun tersenyum. Lalu aku beranjak memberanikan diri mengecup bibirnya. Wanita yang memiliki bentuk bibir indah inipun menyambut dengan kecupan mesra. Kami berciuman lembut dan lidah kami saling beradu dan menari-nari bersama. Gejolak hati berdebar sangat seru. Namun hal itu tidak lama, dia mendorong saya, katanya:

gladys jilbab horny (4)

“Jangan Fen, dilihat orang….” suaranya lirih

“Ibu cantik sekali pagi ini…” kataku merayu.

Pengalaman pertama mengecup bibirnya. Dalam situasi seperti itu, dorongan kuat dan keras untuk berbuat lebih jauh semakin memburu rasa dan perasaanku.       

“Bu kita ke sana..yuk…” ajakku sambil menunjuk sebuah hotel.

“Enggak…ah..”katanya sambil menggeleng acuh lalu berpaling ke hamparan luas.

“Kalau gitu, kita makan dulu” maksudku kuajak ke restauran.

“Enggak …ah di sini saja, aku enggak lapar kok” 

Aku diam sejenak, hatiku gundah gulana, rasa malu, menyesal dan cemas, bercampur menjadi satu, karena ditolak. Namun aku tetap menutupi apa yang kurasakan dalam hatiku, aku tetap berusaha untuk bersikap manis.

“Lalu… gimana ya, Bu?”

“Kamu ini mabuk Fendi, tapi jangan ngawur! Gimana kata orang nanti, kata teman kita, bila mereka tahu kita makan bersama, apalagi di hotel, enggak lucu, kan?!” katanya dengan nada tinggi.

“Maafkan aku, Bu…” kataku kubuat menghiba, walau sebenarnya aku takut juga.

Dia menjawab dengan senyuman. Ternyata dia tidak marah, lalu kukecup bibir indahnya kamipun kembali bermesraan.

Akhirnya aku memahami pikirannya, memang dia dapat dikenal oleh banyak orang karena posisinya di kantor. Dan dapat kutangkap yang dipermasalahkan hanya tempatnya, bukan ‘acaranya’ yang aku rencanakan, yang mungkin pula dia tahu. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke kota, dalam hati aku punya ide cemerlang untuk mengajak mampir di rumahku. (Rumah ini dikontrakkan oleh perusahaan untukku).

Namun aku masih ragu untuk mengajaknya. Tapi namanya usaha, mengapa tidak dicoba? Pikirku.

gladys jilbab horny (5)

“Mampir di rumahku dulu ya Bu? pintaku

“Ntar ketemu istrimu, bisa perang…?!” katanya

“Jangan kawatir Bu, istriku belum tahu, kalau aku menempati rumah itu dan nggak mungkin dia ke sini karena ndak ada rencana” kataku menyakinkan.

Perempuan ini hanya diam saja, berarti dia setuju atas usulku. Sampai di rumah sekitar pukul sebelas siang. Kebetulan rumah ini menghadap sisi rumah tetangga yang berpagar tembok tinggi, jadi cukup aman tanpa diketahui tetangga, dan merekapun cukup acuh terhadap lingkungan. Aku membuka pintu pagar dan garasi, bu Ida tidak turun. Setelah mobil masuk garasi pintu pagar dan garasi aku tutup rapat-rapat dan saya kunci dari dalam. Kami berjalan menuju ruang tengah, sambil memeluk mesra bu Ida. Sesampainya di ruang tengah, dia melihat-lihat setiap sudut ruangan, bahkan melongok ke kamarku. Sepertinya tak mempedulikan pelukanku, meskipun tangan kanannya memeluk pinggangku.

“Rumahmu bersih… rapi…” komentarnya.

“He….he…terima kasih Bu” kataku agak bangga.

gladys jilbab horny (6)

“Biasanya cowok amburadul, jorok, tak cakap atur rumah” komentarnya berikutnya. Aku tersenyum dan berterima kasih kembali.

Aku memeluknya dengan nafsu, dan kuciumi sejadi-jadinya. Kami berdua kembali masih dalam alam percumbuan seperti di mobil tadi, tapi ini lebih leluasa dan hebat. Kami berpelukan erat. Bau harum merambah dari seantero tubuhnya. Bibir kami beradu, lidah kami sedot-menyedot enak sekali, kemudian menelusuri setiap sudut mulut.

“Istrimu seharusnya kamu ajak kesini” katanya dalam pelukanku

“Lho kok gitu?” Aku tak paham?

“Iya, nafsumu tinggi sekali, dan aku menjadi sasaranmu”   katanya sambil tersenyum

“Ah, ibu….” kataku sambil menyalakan remote AC kamar.

Dadaku bergemuruh, perasaanku terasa membara dan seakan berkobar-kobar panas. Detak-detak jatungku makin kencang berlarian, dengan nafsu lelakiku yang kian memuncak. Tanganku kususupkan pada bajunya, aku kembali meraba-raba lembut pinggangnya, halus sekali. Getaran-getaran itu juga terasa pada dada bu Ida, ketika telingaku kupepetkan pada dadanya. Dengan deru dada yang bergoncang itu, aku beranikan diri membuka kancing bajunya satu persatu sampai pada kancing terakhir, hingga tampak indah susunya di balik beha berwarna putih itu. Bahu dan dadanya, push up bra style, seakan tidak muat menyangga buah dadanya. Mengundang dan menambah melonjak-lonjak nafsu birahiku.

Dengan tangan bergetaran aku membuka kait celananya dan kutarik ke bawah. Pahanya teramat sangat mulus. Sembari menciumi bibir, pipi, kemudian lehernya yang menjadi sasaran empuk dan dia meronta-ronta. Lalu kain yang melilit pada leher dan kepalanya ku preteli. Perempuan yang ternyata berambut sebahu itu nampak jelas lekuk-lekuk tubuhnya, di balik beha dan cede yang berwarna putih cemerlang pula, senada dengan warna kulitnya yang putih bersih khas kulit perempuan; halus dan lembut. Tubuhnya indah padat berisi, perutnya ramping menawan.

Saya dengan serta merta mencopot semua pakaianku, sehingga akupun berbugil ria. Penisku ngaceng bukan main kencangnya. Melihat senjataku yang maksimal itu, bosku itu melirik sambil tersenyum penuh arti. Tangan kanannya memeluk bahuku, sementara yang kiri menimang dan mengelus-elus tititku. Kami saling memagut bibir dengan lembut penuh perasaan, sambil bergetaran membuka kait behanya. Susunya berbentuk indah, putih, empuk. Bibirku kugigit-gigitkan pada permukaan susunya dan ku edot, kanan-kiri berkali-kali dengan lembutnya. Rupanya diapun menikmati permainan ini, terlebih ketika pentil susunya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kuedot dan ujung lidahku menari-nari dipuncaknya.

“Ahhh,…. uahh…. engh” desahnya lembut menggairahkan.

Masih sambil berdiri, kami berangkulan ketat sambil berpagutan bibir, tanganku mengusap lembut pahanya. Diapun membalas dengan ciuman-ciuman mesranya. Mulai pada dadaku, leherku dan tangannya mengelus-elus lembut tititku yang terasa maksimal itu.

“Di kamar aja….yuk… Fen …” katanya terbata-bata dan gemetar.

gladys jilbab horny (7)

Lalu tangan kananku mengangkat pantatnya dia merangkul aku dan kuangkat dia ke kamar. Setelah merebahkan diri di tempat tidur saya tarik cedenya dengan pelan melalui kaki-kaki indahnya. Saya benar-benar tertegun sambil menelan ludah, betapa indahnya dan sempurnanya tubuh atasanku ini. Benar-benar perfect body. Wajahnya memang cantik, yang sering aku lihat, tapi bahunya, payudaranya yang montok, bentuk pinggangnya bagai gitar spanyol dan kakinya, paha dan betisnya. Menakjubkan. Tiada noda di sana, tiada gumpalan lemak di balik kulit mulusnya. Perutnya ramping, indah sekali! Apalagi aku lihat di antara pangkal paha dan pinggulnya membentuk huruf “V”, posisinya tepat di bawah perut. Benar-benar seperti boneka barbie.

“Wah.. sampai melotot ya.. ngliatin. ACnya kecilin dikit dong, dingin nih..” katanya, saya tersentak

Setelah mengurangi dinginnya AC, saya kembali ke ranjang mendekati bu Ida yang berbaring. Kami berdua yang sudah berbugil ria itu, bergulat saling mencium, menyerang dan memeluk, rasanya tak ingin menjauh walau semilimeter. Gesek menggesek di antara kami terus berlangsung. Suara desah mendesah silih berganti di antara kami. Saya dengan leluasa meremas-remas lembut susunya dan memainkan puntingnya sambil kudot dengan lidahku menari-nari pada puntingnya. Cukup lama dan mengasyikkan, saya senang sekali. Sementara jemarinya yang runcing dengan kuku yang dipotong tumpul rapi itu memegang penisku dengan lembut, rasanya enak sekali, dielus dan dikocok-kocok lembut.

“Mantap milikmu, Fen…” bisiknya agak malu-malu.

“He-em, thanks…”kataku tersenyum

Sungguh siang itu merupakan moment yang menyenangkan, yang sebenarnya tak terbayangkan secepat itu.

Ketika kata-kata sudah tidak efektif lagi dalam kondisi demikian, suara desah mendesah, berarak-arakan dengan detak-detak jam dinding di siang bolong itu. Aku menyusuri lehernya, bahunya, kemudian wajahku tertambat di antara payudaranya. Di saat yang bersamaan pahaku menggesek-gesek lembut selakangannya dan tangannya mengelus manja penisku. Wajahku menyisir sampai ke perut dan mengecupnya, dia kegelian bergelincang. Kemudian tanganku menyisir ke rerumputan tipis pada selakangannya, mengelus dan memainkan kletorisnya sambil jari tengahku masuk ke lubang kewanitaannya, warna pink merekah dan basah. Ujung jari yang masuk menggelitik lembut sisi atas lobang. Klitorisnya saya cubit lembut antara ibu jari dengan jari telunjukku. Mendapat perlakuan begini dia tambah bergelincangan, kayak kena sengatan kalajengking saja. Matanya memandang sayu ke arah wajahku, seolah berbicara kepasrahan. Selakangannya basah, ada cairan yang keluar, cairan kenikmatan. Tubuhnya bergerak mengambil posisi 69, dia mengedot-edot penisku, sementara lidahku menari-nari di atas kletirosnya. Bu Ida bergelincangan hebat, akupun menjadi geli walaupun nikmatnya bukan main. Akupun mencoba melepas tititku dari kulumannya, walau sebenarnya nikmat pula, tapi aku tak tahan.

gladys jilbab horny (8)

“Maaf, saya masukkan, ya Bu?!” aku minta izin.

“He-em… Wah nggak muat nih, Fen. Aku merinding lihat milikmu” bisiknya melemah.

“Ya, kita coba dulu….”

“Pelan-pelan….” katanya lirih.

“Beres….”

Lalu aku menindih bos ku itu yang sudah siap tidur telentang, sambil merenggangkan kaki dengan kedua lututnya ditekuk sedikit. Senjataku kuarahkan pada tempik (vagina)nya dan dia beringsut untuk menyiapkan miliknya yang paling pribadi itu, untuk saya nikmati. Setelah terasa posisi pas, saya tekan dengan pelan sekali, dia beringsut lagi, lalu tangannya memegang penisku menuntun pada lobang miliknya, baru masuk walau agak seret. Peristiwa itu menimbulkan efek rasa nikmat luar biasa, bukan saja pada saya tapi juga pada bu Ida.

“Ahh… Fen….kamu….…” desahnya wajahnya serius menikmati, ketika penisku masuk dengan mulusnya.

“Ibu molek sekali, terasa nikmat…” jawabku balik memujinya.

“Enak.. Fen…Ah…”

Tangannya mengusap-usap punggungku, kemudian menarik leherku memeluk erat-erat, dan menaikkan pinggulnya, seolah ingin rasanya aku menghujamkan lebih dalam lagi. Sejenak aku tarik dan ku tekan lagi pinggulku, yang selalu menimbulkan rasa enak bukan kepalang. Gerakan itu saya lakukan berulang-ulang, namun pelan sekali dan bu Idapun mengimbangi dengan gerakan menggoyang pinggulnya seperti menari-nari di bawah himpitanku. Pinggulnya selalu diangkat, ketika senjataku kutekan ke bawah, seperti menyambut penetrasiku. Tangannya merangkul ketat, bibirku menutup dan melumat bibirnya, sementara kedua tanganku meremas-remas lembut susunya. Dan pusat kegiatan terasa berporos pada penisku yang menghujam kuat pada tempiknya. Kedua kakinya digerakkan merenggang-mengatup, sambil menggoyang pinggulnya lalu kakinya dililitkan pada kakiku. Kami benar-benar menyatu, dan saya benar-benar menikmati setiap milimeter tubuhnya.

“Sudah setahun lebih aku tak beginian lho, Fen….” katanya terengah-engah.

“Oh…, aku juga sudah satu minggu Bu” jawabku

gladys jilbab horny (8)

“Gundulmu.. ah..!” katanya, kami tertawa kecil

Suaminya di luar kota, dia pernah bercerita, suaminya menghamili bawahannya, sehingga dia terpukul lalu jarang pulang. Lalu aku lanjutkan dengan tembakan demi tembakan, seperti orang sedang memompa dan sesekali berputar ngebor. Dan manakala saya genjot lebih keras, diapun mengimbangi dengan gerakan cepat dengan mengangkat pinggangnya lebih ke atas. 

“Enak ya Bu…” kataku

“He..em…Kamu jangan panggil aku Bu lagi, sudah beginian kok masih panggil Bu. Di kantor saja panggil Bu” katanya di sela-sela goyangan pinggulnya

“Ya, Bu… eh… panggil siapa?” tanyaku

“Terserah kamu” dengan ekspresi wajah serius, menikmati permainan ini.

Tiba-tiba dia mengerang lembut:

“Ah…. Fen aku keluar..” desisnya

“Tuntaskan Da, tuntaskan sayang…” kataku terus menggenjot. Sejak saat itu saya memanggilnya hanya dengan sebutan ‘Ida’ atau ‘Da’ begitu saja dan dia suka dengan panggilan itu. Sejenak aku berhenti menggenjot memberi waktu untuk menikmati orgasmenya.

“Akh…..ukh…ekh….” desisnya. Wajahnya merona merah dan menarik wajahku menciumi bibirku habis-habisan. Pemandangan yang mengasyikkan. Beberapa menit kemudian nampak nafasnya normal kambali.

Aku memandangi wajahnya dengan seksama, betapa perempuan ini menyerah padaku siang ini. Semula aku mengira wanita ini sepintas nampak angkuh dan sombong, tapi di sisi lain sangat romantis.Tanpa terasa sudah lebih dari dua puluh menit, aku menikmati tubuh bu Ida dari atas, sekarang kami berguling dan perempuan berkulit putih bersih itu gantian menindihku, tanpa melepas alat seks kami. Gerakannya makin mempesona dia bergoyang makin bersemangat tidak hanya naik turun saja, tapi berputar kayak mengebor saja. Payudaranya bergelantungan indah dan sangat menggairahkan, aku sapu dengan kumisku dan kudot habis-habisan. Setiap gerakannya menghasilkan rasa nikmat luar biasa. Rasanya gerakan kami maksimal, wajahnya serius pertanda kenikmatan. Desah mendesah dan leguhan yang mempesona mengiringi goyangan-goyangan indah. Merasakan kenikmatan bersama.

gladys jilbab horny (9)

Getaran-getaran kecil mengembang menjadi gejolak nafsu yang makin bergelora, dan permainan ini makin susah dikendalikan. Punting susunya disodorkan pada mulutku dan langsung ku hisap-hisap. Sementara tanganku mencengkeram ketat bongkahan pantatnya. Gerakannya makin tak beraturan, getaran dinding-dinding vagina menggesek-gesek permukaan batang penis, terasa menghisap-hisap ketat membuat gairah dan birahi kian melonjak tinggi. Lalu dari rasa yang bercampur-aduk itulah keluar desahan panjang dari mulut bu Ida, berulang-ulang.

“Aaah…..uhhhhhh…. aaah, aku ke..lu..ar… lagi …Fen…. Aehh .” katanya memecah kesunyian siang dengan ekspresi wajah memerah jambu nampak serius, tanda menikmati orgasme.

“Teruskan.. tuntaskan, Ida Sayang…..” kataku

“Ohh..ahh….yah…” suaranya sambil mempercepat gerakan, tangannya sambil membelai-belai kepalaku dan mengacak-acak rambutku, sementara mulutnya melumat bibirku. Setelah istirahat sejenak dia memutar pinggulnya meliuk-liuk lagi, diiringan desahan nafsu.

Rasa nikmat luar biasa tercurah dalam tubuhnya, hal ini terpancar dari raut wajahnya merona pink saat merasakannya. Mengasyikan juga melihat bos orgasme, kelihatannya benar-benar menikmati permainan ini. Aku makin menjadi bernafsu. Gerakannya masih kentara menggoyangku, keras dan menghebohkan. Beberapa menit kemudian, lambat laun berkurang dan akhirnya tak bergerak, hanya sesekali pinggulnya bergoyang pelan untuk merasakan nikmatnya sisa-sisa orgasmenya. Aku membelai-belai rambutnya dan kemudian menciumnya.

Setelah selesai melampui rasa nikmatnya, bu Ida terkapar lemas di atasku sambil mengatur nafasnya, karena habis kerja keras. Saya merangkulnya sambil membelai punggung dan meremas pantatnya, aku menatap langit-langit yang menjadi saksi bisu.

“Ganteng, aku puas puas dengan kamu. Aku suka kamu…” bisiknya, kusambut dengan cium dahinya.

Menit-menit berikutnya gantian aku yang ngebet, lalu berbalik menindihnya dengan menghujamkan kembali penisku pada alat pribadi wanita yang belum pernah melahirkan ini, makanya rasanya seret dan enak sekali. Gerakanku sebenarnya hanya sederhana saja, naik-turun, keluar-masuk dan sedikit berputar, namun rasa nikmatnya luar biasa. Dan hal ini tidak hanya aku yang merasakan tetapi wanita ini juga.

Kami ingin mengulang kenikmatan demi kenikmatan, dan aku kumpulkan tenaga dan perasaan menjadi satu untuk menyambut badai kenikmatan. Sejuknya ruangan, memicu makin terasa nikmatnya tubuh bu Ida. Sesekali kedua kakinya diangkat ke atas dan kadang dililitkan pada kedua kakiku. Saya menjadi bersemangat dan sangat bergairah atas permainan wanita yang 11 tahun lebih tua dari saya ini. Tubuhnya tergoncang-goncang menahan gempuranku yang bertumpu pada pertemuan dan gesekan antara penisku dan hisapan V-nya.

Rasanya matahari mulai condong ke barat, terlihat dari jarum jam menunjukkan jam satu lebih, tapi permainan babak pertama belum usai juga.

“Kita keluarkan bersama, ya Sayang, aku mau keluar lagi” katanya terbata-bata

“Yaaah….” kataku terengah-engah

Kembali aku mulai mengebor kuat-kuat namun berirama, tubuh molek ini sampai bergoncang-goncang. Aku benar-benar mengaduk-aduk dan mengeksploitasi V-nya. Saya menjadi gemas dengan kemolekan tubuhnya ini, lalu kutingkatkan lagi dengan genjotan yang agak keras, tubuhnya bergetar dan mengerang. Darahku mendidih, tekanan yang luar biasa keluar mendorong dan menghempas urat nadi dan memenuhi lorong-lorong birahi yang berkobar-kobar. Dan menyatu berpusat pada ujung penisku dengan dorongan seperti suara bergemuruh yang sudah tidak terkendali lagi dan menghentak dengan kerasnya menekan-nekan, bagai gunung berapi yang akan memutahkan lahar panas. Bersamaan dengan itu terasa air maniku menyemprot keluar tanpa kendali memancar dengan tekanan dahsyat memenuhi lubang kehormatan bu Ida. Peristiwa itu diiringi rasa nikmat luar biasa. Most wonderful! Dengan desahan bersahut-sahutan antara saya dan atasanku itu. Pelukannya makin diperketat, bibir kami beradu ketat. Tak lupa, kedua tanganku meremas susunya

“Keluar Fen…..?!” katanya

“Yah…, aku keluarr…Akh… Ukh….” jawabku terengah-engah

“Aku juga keluar lagi Sayang, kamu hebat….” bu Ida menyambut dengan kecupan dan memelukku kembali sangat erat.

Wanita berusia 38 tahun ini benar-benar menjadikan aku puas, tidak salah aku mengidolakannya. Puncak kenikmatan belum berlalu lama, nafasku belum teratur, aku menjadi lemas terdampar di atas tubuh molek itu. Walau melelahkan namun merasakan sisa-sisa kenikmatan luar biasa rasanya. Beberapa menit kemudian setelah nafasku teratur aku ingin mencabut senjataku dari vaginanya, tapi dia melarang.

“Jangan Fen… biar di situ dulu…” katanya manja.

Tangannya sambil meraba-raba punggungku dan kakinya digerak-gerakkan pelan. Lalu diikuti dengan gerakan pinggulnya. Kepala penisku terasa geli, dengan gesekan vaginanya dan gerakannya makin kencang. Mungkin dia masih merasakan kenikmatan, dan kepuasannya belum berlalu.

“Kamu juga hebat Sayang….” kataku, sambil membelai-belai dan mencium rambutnya yang harum itu. Dia tersenyum puas.

gladys jilbab horny (10)

Setelah benar-benar puas, pelan-pelan aku cabut, diapun terkapar lemas tapi puas. Aku menarik nafas panjang-panjang. Luar biasa, puncak kenikmatan yang sungguh dahsyat. Setelah beberapa saat, kulihat selakangannya bergelepotan cairan putih kental, spermaku sampai tumpah keluar dari Vnya. Kami beranjak mencuci selakangannya dan dia membersihkan penisku di kamar mandi, lalu kami kembali berbaring di tempat tidur. Masih membayangkan rasa kenikmatan yang baru saja kami raih bersama itu. Karena letih kami tertidur dibalik selimut, dengan berpelukkan dan masih telanjang sampai terlena. Sekitar setengah jam dia bangun, menciumi aku sambil membelai-belai lembut tititku,

“Lagi yuk Fen…” pintanya setelah tititku tegak lagi karena jepit dengan payudaranya dan diemut habis-habisan.

Senja menjelang malam aku minta dia bermalam di rumahku, setelah berpikir sejenak dia mengangguk setuju dan kemudian menelepon keponakannya mengatakan; “tidak pulang karena ada tugas mendadak di luar kota” Semalaman kami mengarungi samodra birahi bersama bu Ida, berbagai gaya menghasilkan berbagai kenikmatan sensanional.

“Enak ya Fen…, kamu kaya variasi..”katanya mengomentari setiap style yang aku lakukan.

“Kamu juga hebat Da… Senang bisa bermain dengan kamu” kataku sambil mencium keningnya.

Minggu, keesokan harinya saya terbangun sekitar pukul 06.00, bu Ida masih tidur dalam pelukanku, sesekali menimang-nimang tititku, merangsek untuk mengusir dinginnya pagi. Perempuan cantik itu tidur memakai kaosku yang panjangnya sampai di atas lututnya, bercede tanpa beha. Setelah ia bangun, sekitar pukul 06.30 kami mandi bersama. Hari itu, seharian kami berdua di rumah sambil bercinta sampai menjelang malam harinya, entah sampai berapa kali. Sesudah agak gelap saya bertanya:

“Pulang jam berapa, Da?” kataku

“Sekarang! Tapi… main sekali lagi” katanya sambil tiduran di sofa berbantal pada pahaku.

“Katanya sakit…, tadi?” kataku, karena ia mengeluh sakit pada selakangannya.

“Ya, kalau pas masuk sakit, tapi kalau sudah di dalam tidak” katanya pelan sambil memegangi selakangannya. 

Senja itu bu Ida saya tembak sekali lagi sesuai permintaannya, baru mengantarnya pulang pukul tujuh malam. Setelah melanjutkan isapan madu bersama, mulai Sabtu siang, semalam dan Minggu, baru saja aku menyelesaikan arungan samudera raya yang bertaburan bunga kenikmatan. Hanya kami berdua yang memiliki event itu. Sungguh menakjubkan luar biasa. Rasanya baru saja bangun dari mimpi, ya mimpi indah, seolah tidak percaya bahwa kejadian kemarin di alam nyata. Penisku juga terasa pedih, habis dua hari bergesekan terus dengan cepitan milik bu Ida.

Keesokan harinya, Senin pagi saya bertemu di kantor, kami bersikap seolah tidak ada kejadian apa-apa antara aku dan dia. Dan ketika dia memimpin meeting awal pekan juga seperti biasa, semuanya biasa saja. Siapa sangka? Betapa perempuan yang sedang memimpin meeting dan didengar banyak orang itu, kemarin kujelajahi seluruh tubuhnya yang sekarang terbungkus rapi itu. Bahkan lebih dari itu, sampai pada milik yang paling pribadi diserahkan padaku untuk saya nikmati secara utuh. Mungkin dia juga dahaga? Dahaga sebagai seorang perempuan dewasa yang sesekali butuh belaian bahkan limpahan nikmat dari lelaki. Lelaki yang selama ini menjadi tumpuhannya yaitu suaminya, telah menyalurkan kepada orang lain sampai hamil. Ini alasannya, karena istrinya belum bisa memberi anak dan melahirkan. Bu Ida memang belum bisa memberi anak. Tetapi rupanya bu Ida ingin menikmati pula di tengah-tengah hari kosongnya, dengan menyambut kehadiranku di sisinya.

Usai meeting, setelah rekan-rekan kembali ke ruangan masing-masing, kucium keningnya.

“Istrimu apa tidak kewalahan menghadapimu” katanya setengah berbisik, mengenang kejadian Sabtu siang malam dan Minggu kemarin. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.

Hari-hari selanjutnya kutapaki menuju bulan-bulan dan tahun-tahun dengan aroma gairah menggelegak bersama bu Ida, pengujiku idolaku. Sering kami melakukan di rumahku, bahkan aku pernah nekat main di ruang kerjanya, saat libidoku memuncak. Waktu itu pagi hari, kantor masih dalam keadaan sepi, tapi cleaning service sudah selesai membersihkan ruangannya bu Ida. Dan seperti biasanya, cleaning service melanjutkan cuci mobil di tempat parkir. Aku datang pagi sekali dan bu Idapun datang lebih awal.

Setelah mengunci pintu ruangannya, kami bercumbu.

“Da, sebentar aja yuk…” bisikku di dekat telinganya

Pagi itu dia memakai bleser dan rok warna abu-abu tua, roknya panjang hampir sampai mata kaki, berkaos kaki warna krem. Roknya belahan bagian belakang dari betis sampai ujung rok bawah. Kutarik ke atas rok itu, terlihat pahanya yang putih mulus. Dadaku bergetar, menggoncang-goncang keras.

“Sebentar…” katanya sambil membuka cedenya sendiri.

Aku melanjutkan menarik roknya kembali sampai pinggul gitarnya kelihatan indah sekali. Posisinya berdiri kemudian kedua tangannya bertumpu pada meja, membungkuk sedikit, kedua belahan pantat indah itu makin menyembul, lalu aku mendekatkan senjataku ke arah selakangannya dan memompanya dengan lembut. Benar-benar nikmat pagi itu. Kedua tanganku menyusup di balik bleser dan kaos kemudian sampai menyusup behanya meraih susunya, beberapa menit kemudian, dia berbisik:

gladys jilbab horny (11)

 “Aku mau keluar..” suaranya terbata-bata.

“Keluarkan Sayang, tuntaskan”

Saya makin mempercepat gerakanku, dan peristiwa dahsyat lagi-lagi terulang kembali. Aku menyemprotkan spermaku pada Mrs. Vnya, dengan kenikmatan luar biasa. Selesai, dia bergegas ke kamar mandi yang ada di bagian ruangan itu. Ini petualang yang menakjubkan walau riskan.

Dalam lamunanku, di satu sisi bu Ida sebagai seorang leader yang tegas, anggun dan berwibawa, di sisi lain (ini mungkin hanya aku yang tahu), sebagai seorang perempuan yang butuh belaian dan hangatnya birahi dari seorang laki-laki. Sementara suaminya di luar kota dan sedang bermasalah. Dan laki-laki yang dipilih untuk mengisi kekosongan hari-harinya itu adalah saya! Betapa orang tiada menyangka, akupun tidak mengira sebelumnya, betapa seorang bawahan bisa menjelajah, menyisir, mengekploitasi dengan leluasa pada seluruh tubuh molek bosnya dan menikmati bukan hanya terbatas pada pandangan mata, tetapi menikmati tubuh dan perasaan dalam arti yang sebenarnya. Dia wanita pengujiku idolaku, cantik dan menarik.

Tamat.    

ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

    yessi ecii jilbab hot (5)

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

yessi ecii jilbab hot (2)

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

yessi ecii jilbab hot (4)

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

yessi ecii jilbab hot (3)

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

yessi ecii jilbab hot (6)

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

yessi ecii jilbab hot (1)

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…