BU IDA, PENGUJI IDOLAKU

Mutasi pekerjaan bagi setiap orang memiliki arti yang beragam. Ada yang keberatan karena pisah keluarga, tapi ada yang enjoy saja atau bahkan bahagia karena promosi jabatan. Demikian halnya dengan saya (Fendi), yang harap-harap cemas ketika dimutasi ke lain daerah. Berharap karena promosi, tetapi cemas karena harus meninggalkan istriku yang baru kunikahi setahun yang lalu. Sementara dia sebagai pegawai pula yang tidak dengan mudah meninggalkan pekerjaan atau minta mutasi mengikuti suami.

Hari itu merupakan hari pertama saya mutasi masuk tempat baru di kota propinsi yang jaraknya 200 km dari tempat tinggalku semula. Pagi itu saya sudah siap di lobby kantor baru, sambil menunggu untuk melapor calon atasan saya yang belum datang. Para pegawai kebanyakan belum aku kenal, hanya beberapa teman yang kenal karena satu angkatan, ketika menjalani test rekrutmen dan pelatihan bersama, tiga tahun yang lalu. Hampir satu jam saya duduk di lobby, lalu aku lihat seorang perempuan yang tinggi kira-kira 165 cm, anggun, dengan pakaian uniform abu-abu tua dan kerudung warna putih dengan motif bunga warna biru tua gradasi dan cantik tentu saja. Saya agak kaget, karena aku cukup kenal perempuan itu; bu Ida (bukan nama sebenarnya), dia-lah yang menjadi salah satu pengujiku di kantor pusat, ketika saya masuk di instansi ini. Aku masih ingat betul, karena di samping cantik, diam-diam aku juga mengidolakannya, sebagai perempuan yang menarik. Kala itu saya baru berusia 24 tahun, masih calon pegawai lagi! Sementara dia kelihatannya sudah di atas 30an lebih, Teman-teman juga banyak yang bilang, sebagai penguji yang paling cantik.

Ketika aku dipanggil masuk, langsung aku menghadap atasanku yang baru itu, ternyata bu Ida-lah bosku yang baru. Lalu aku memperkenalkan diri. Rupanya dia lupa, ketika aku menerangkan bahwa aku pernah diuji olehnya.

“Siapa… ya, lupa aku?” katanya tanpa ekspresi, mungkin juga untuk menjaga wibawanya atau memang dia lupa. Maklum banyak calon pegawai seangkatanku.

Posisiku dua tingkat di bawah bu Ida, namun aku membawahi beberapa pegawai, walaupun mereka lebih lama bekerja daripada aku, karena faktor ijasah formal dan establish manajemen. Sebagai bawahannya saya sering diperintah bu Ida untuk membuat laporan, analisis data dan tidak jarang pula aku ikut serta dalam rapat dinas. Lama kelamaan kami berdua menjadi berkesempatan untuk bertukar pikiran, tidak hanya masalah pekerjaan tetapi sampai masalah pribadi, konon suaminya ada di luar kota, tapi aku tidak berani menanyakannya lebih jauh. Di rumah ditemani oleh dua orang gadis, keponakannya. Aneh juga, saya sudah demikian akrab, tapi bertandang di rumahnya saja tidak boleh.

Di sisi lain kami berdua makin akrab saja. Pernah suatu kali ketika kami menuruni tangga, saya coba gandeng tangannya, dia menyambut dengan memegang tanganku erat-erat. Kami berpandangan mata cukup berarti, dia tersenyum. Pandangan mata yang penuh arti, aku bergembira walau hatiku bergetar. Sebuah pengalaman yang tak kan kulupakan. Sejak saat itu ada perasaan aneh menyelimuti pikiranku, ada suatu kontak istimewa. Dari pandangannya yang tajam berwibawa, tapi mempesona itu, kini sering berkerling, membuat hati ini berdetak lebih kencang. Ada perasaan aneh!

Di suatu hari, saya diajak survey tempat untuk rencana acara in house training perusahaan, yang akan diadakan di suatu resort tempat wisata luar kota yang jaraknya 30an km dari kota. Di Sabtu pagi itu kami berangkat bertiga bersama bu Ida, seorang teman perempuan, sebut saja namanya Susie dan saya. Pagi itu sekitar pukul setengah sembilan, aku berangkat bersama Susie, kemudian kami meluncur ke rumah bu Ida. Rupanya dia sudah menunggu, langsung naik ke mobilku.

“Ibu di depan, saya di belakang saja” kata Susie sungkan yang semula memang duduk di jok depan.

“Enggak usah, kamu aja di depan” sahut bu Ida

“Maaf Bu, saya membelakangi Ibu…” sahut Susie dengan takzim.

“Ya, enggak apa-apa, silakan…” kata wanita cantik berusia 38 tahun itu langsung duduk di jok tengah.

Pagi itu Bu Ida tampak cantik. Dengan memakai celana panjang agak ketat warna hitam, baju putih motif bunga lengan panjang, leher bajunya berkacing pada leher bagian depan, seperti dipakai untuk mengikat kerudungnya dengan warna dasar putih berbunga coklat. Modis. Penampilannya sangat berbeda dengan pakaian kesehariannya, yang selalu memakai seragam kantor dan rapat.

Bu Ida mengajak kami berkeliling melihat-lihat lokasi di sekitar resort. Setelah urusan di resort selesai, Susie minta pamit duluan, karena Sabtu itu akan keluar kota bersama suaminya dan sudah izin kemarin pada bu Ida. Suaminya sudah menjemput, lalu Susie pamit dengan hormat pada bu Ida. Sekarang tinggal aku dan bos ku ini, lalu meninggalkan resort. Kemudian kami menikmati pemandangan indah di pagi itu. Saya memarkir mobil di tempat agak sepi, menghadap hamparan lembah curam, dengan latar belakang pegunungan. Indah sekali pemandangan pagi yang beranjak siang itu. Di atas mobil bu Ida memakai kacamata hitam lebar, kami berpegang tangan, jemari kami saling mengusapi, meremas lembut, sesekali mencium tangannya. Saya senang sekali. Aku ingin sekali mengecup bibirnya, tapi ada perasaan takut, hanya memandangi wajah ayunya saja, dia menyambut dengan senyum khasnya, akupun tersenyum. Lalu aku beranjak memberanikan diri mengecup bibirnya. Wanita yang memiliki bentuk bibir indah inipun menyambut dengan kecupan mesra. Kami berciuman lembut dan lidah kami saling beradu dan menari-nari bersama. Gejolak hati berdebar sangat seru. Namun hal itu tidak lama, dia mendorong saya, katanya:

“Jangan Fen, dilihat orang….” suaranya lirih

“Ibu cantik sekali pagi ini…” kataku merayu.

Pengalaman pertama mengecup bibirnya. Dalam situasi seperti itu, dorongan kuat dan keras untuk berbuat lebih jauh semakin memburu rasa dan perasaanku.       

“Bu kita ke sana..yuk…” ajakku sambil menunjuk sebuah hotel.

“Enggak…ah..”katanya sambil menggeleng acuh lalu berpaling ke hamparan luas.

“Kalau gitu, kita makan dulu” maksudku kuajak ke restauran.

“Enggak …ah di sini saja, aku enggak lapar kok” 

Aku diam sejenak, hatiku gundah gulana, rasa malu, menyesal dan cemas, bercampur menjadi satu, karena ditolak. Namun aku tetap menutupi apa yang kurasakan dalam hatiku, aku tetap berusaha untuk bersikap manis.

“Lalu… gimana ya, Bu?”

“Kamu ini mabuk Fendi, tapi jangan ngawur! Gimana kata orang nanti, kata teman kita, bila mereka tahu kita makan bersama, apalagi di hotel, enggak lucu, kan?!” katanya dengan nada tinggi.

“Maafkan aku, Bu…” kataku kubuat menghiba, walau sebenarnya aku takut juga.

Dia menjawab dengan senyuman. Ternyata dia tidak marah, lalu kukecup bibir indahnya kamipun kembali bermesraan.

Akhirnya aku memahami pikirannya, memang dia dapat dikenal oleh banyak orang karena posisinya di kantor. Dan dapat kutangkap yang dipermasalahkan hanya tempatnya, bukan ‘acaranya’ yang aku rencanakan, yang mungkin pula dia tahu. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke kota, dalam hati aku punya ide cemerlang untuk mengajak mampir di rumahku. (Rumah ini dikontrakkan oleh perusahaan untukku).

Namun aku masih ragu untuk mengajaknya. Tapi namanya usaha, mengapa tidak dicoba? Pikirku.

“Mampir di rumahku dulu ya Bu? pintaku

“Ntar ketemu istrimu, bisa perang…?!” katanya

“Jangan kawatir Bu, istriku belum tahu, kalau aku menempati rumah itu dan nggak mungkin dia ke sini karena ndak ada rencana” kataku menyakinkan.

Perempuan ini hanya diam saja, berarti dia setuju atas usulku. Sampai di rumah sekitar pukul sebelas siang. Kebetulan rumah ini menghadap sisi rumah tetangga yang berpagar tembok tinggi, jadi cukup aman tanpa diketahui tetangga, dan merekapun cukup acuh terhadap lingkungan. Aku membuka pintu pagar dan garasi, bu Ida tidak turun. Setelah mobil masuk garasi pintu pagar dan garasi aku tutup rapat-rapat dan saya kunci dari dalam. Kami berjalan menuju ruang tengah, sambil memeluk mesra bu Ida. Sesampainya di ruang tengah, dia melihat-lihat setiap sudut ruangan, bahkan melongok ke kamarku. Sepertinya tak mempedulikan pelukanku, meskipun tangan kanannya memeluk pinggangku.

“Rumahmu bersih… rapi…” komentarnya.

“He….he…terima kasih Bu” kataku agak bangga.

“Biasanya cowok amburadul, jorok, tak cakap atur rumah” komentarnya berikutnya. Aku tersenyum dan berterima kasih kembali.

Aku memeluknya dengan nafsu, dan kuciumi sejadi-jadinya. Kami berdua kembali masih dalam alam percumbuan seperti di mobil tadi, tapi ini lebih leluasa dan hebat. Kami berpelukan erat. Bau harum merambah dari seantero tubuhnya. Bibir kami beradu, lidah kami sedot-menyedot enak sekali, kemudian menelusuri setiap sudut mulut.

“Istrimu seharusnya kamu ajak kesini” katanya dalam pelukanku

“Lho kok gitu?” Aku tak paham?

“Iya, nafsumu tinggi sekali, dan aku menjadi sasaranmu”   katanya sambil tersenyum

“Ah, ibu….” kataku sambil menyalakan remote AC kamar.

Dadaku bergemuruh, perasaanku terasa membara dan seakan berkobar-kobar panas. Detak-detak jatungku makin kencang berlarian, dengan nafsu lelakiku yang kian memuncak. Tanganku kususupkan pada bajunya, aku kembali meraba-raba lembut pinggangnya, halus sekali. Getaran-getaran itu juga terasa pada dada bu Ida, ketika telingaku kupepetkan pada dadanya. Dengan deru dada yang bergoncang itu, aku beranikan diri membuka kancing bajunya satu persatu sampai pada kancing terakhir, hingga tampak indah susunya di balik beha berwarna putih itu. Bahu dan dadanya, push up bra style, seakan tidak muat menyangga buah dadanya. Mengundang dan menambah melonjak-lonjak nafsu birahiku.

Dengan tangan bergetaran aku membuka kait celananya dan kutarik ke bawah. Pahanya teramat sangat mulus. Sembari menciumi bibir, pipi, kemudian lehernya yang menjadi sasaran empuk dan dia meronta-ronta. Lalu kain yang melilit pada leher dan kepalanya ku preteli. Perempuan yang ternyata berambut sebahu itu nampak jelas lekuk-lekuk tubuhnya, di balik beha dan cede yang berwarna putih cemerlang pula, senada dengan warna kulitnya yang putih bersih khas kulit perempuan; halus dan lembut. Tubuhnya indah padat berisi, perutnya ramping menawan.

Saya dengan serta merta mencopot semua pakaianku, sehingga akupun berbugil ria. Penisku ngaceng bukan main kencangnya. Melihat senjataku yang maksimal itu, bosku itu melirik sambil tersenyum penuh arti. Tangan kanannya memeluk bahuku, sementara yang kiri menimang dan mengelus-elus tititku. Kami saling memagut bibir dengan lembut penuh perasaan, sambil bergetaran membuka kait behanya. Susunya berbentuk indah, putih, empuk. Bibirku kugigit-gigitkan pada permukaan susunya dan ku edot, kanan-kiri berkali-kali dengan lembutnya. Rupanya diapun menikmati permainan ini, terlebih ketika pentil susunya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kuedot dan ujung lidahku menari-nari dipuncaknya.

“Ahhh,…. uahh…. engh” desahnya lembut menggairahkan.

Masih sambil berdiri, kami berangkulan ketat sambil berpagutan bibir, tanganku mengusap lembut pahanya. Diapun membalas dengan ciuman-ciuman mesranya. Mulai pada dadaku, leherku dan tangannya mengelus-elus lembut tititku yang terasa maksimal itu.

“Di kamar aja….yuk… Fen …” katanya terbata-bata dan gemetar.

Lalu tangan kananku mengangkat pantatnya dia merangkul aku dan kuangkat dia ke kamar. Setelah merebahkan diri di tempat tidur saya tarik cedenya dengan pelan melalui kaki-kaki indahnya. Saya benar-benar tertegun sambil menelan ludah, betapa indahnya dan sempurnanya tubuh atasanku ini. Benar-benar perfect body. Wajahnya memang cantik, yang sering aku lihat, tapi bahunya, payudaranya yang montok, bentuk pinggangnya bagai gitar spanyol dan kakinya, paha dan betisnya. Menakjubkan. Tiada noda di sana, tiada gumpalan lemak di balik kulit mulusnya. Perutnya ramping, indah sekali! Apalagi aku lihat di antara pangkal paha dan pinggulnya membentuk huruf “V”, posisinya tepat di bawah perut. Benar-benar seperti boneka barbie.

“Wah.. sampai melotot ya.. ngliatin. ACnya kecilin dikit dong, dingin nih..” katanya, saya tersentak

Setelah mengurangi dinginnya AC, saya kembali ke ranjang mendekati bu Ida yang berbaring. Kami berdua yang sudah berbugil ria itu, bergulat saling mencium, menyerang dan memeluk, rasanya tak ingin menjauh walau semilimeter. Gesek menggesek di antara kami terus berlangsung. Suara desah mendesah silih berganti di antara kami. Saya dengan leluasa meremas-remas lembut susunya dan memainkan puntingnya sambil kudot dengan lidahku menari-nari pada puntingnya. Cukup lama dan mengasyikkan, saya senang sekali. Sementara jemarinya yang runcing dengan kuku yang dipotong tumpul rapi itu memegang penisku dengan lembut, rasanya enak sekali, dielus dan dikocok-kocok lembut.

“Mantap milikmu, Fen…” bisiknya agak malu-malu.

“He-em, thanks…”kataku tersenyum

Sungguh siang itu merupakan moment yang menyenangkan, yang sebenarnya tak terbayangkan secepat itu.

Ketika kata-kata sudah tidak efektif lagi dalam kondisi demikian, suara desah mendesah, berarak-arakan dengan detak-detak jam dinding di siang bolong itu. Aku menyusuri lehernya, bahunya, kemudian wajahku tertambat di antara payudaranya. Di saat yang bersamaan pahaku menggesek-gesek lembut selakangannya dan tangannya mengelus manja penisku. Wajahku menyisir sampai ke perut dan mengecupnya, dia kegelian bergelincang. Kemudian tanganku menyisir ke rerumputan tipis pada selakangannya, mengelus dan memainkan kletorisnya sambil jari tengahku masuk ke lubang kewanitaannya, warna pink merekah dan basah. Ujung jari yang masuk menggelitik lembut sisi atas lobang. Klitorisnya saya cubit lembut antara ibu jari dengan jari telunjukku. Mendapat perlakuan begini dia tambah bergelincangan, kayak kena sengatan kalajengking saja. Matanya memandang sayu ke arah wajahku, seolah berbicara kepasrahan. Selakangannya basah, ada cairan yang keluar, cairan kenikmatan. Tubuhnya bergerak mengambil posisi 69, dia mengedot-edot penisku, sementara lidahku menari-nari di atas kletirosnya. Bu Ida bergelincangan hebat, akupun menjadi geli walaupun nikmatnya bukan main. Akupun mencoba melepas tititku dari kulumannya, walau sebenarnya nikmat pula, tapi aku tak tahan.

“Maaf, saya masukkan, ya Bu?!” aku minta izin.

“He-em… Wah nggak muat nih, Fen. Aku merinding lihat milikmu” bisiknya melemah.

“Ya, kita coba dulu….”

“Pelan-pelan….” katanya lirih.

“Beres….”

Lalu aku menindih bos ku itu yang sudah siap tidur telentang, sambil merenggangkan kaki dengan kedua lututnya ditekuk sedikit. Senjataku kuarahkan pada tempik (vagina)nya dan dia beringsut untuk menyiapkan miliknya yang paling pribadi itu, untuk saya nikmati. Setelah terasa posisi pas, saya tekan dengan pelan sekali, dia beringsut lagi, lalu tangannya memegang penisku menuntun pada lobang miliknya, baru masuk walau agak seret. Peristiwa itu menimbulkan efek rasa nikmat luar biasa, bukan saja pada saya tapi juga pada bu Ida.

“Ahh… Fen….kamu….…” desahnya wajahnya serius menikmati, ketika penisku masuk dengan mulusnya.

“Ibu molek sekali, terasa nikmat…” jawabku balik memujinya.

“Enak.. Fen…Ah…”

Tangannya mengusap-usap punggungku, kemudian menarik leherku memeluk erat-erat, dan menaikkan pinggulnya, seolah ingin rasanya aku menghujamkan lebih dalam lagi. Sejenak aku tarik dan ku tekan lagi pinggulku, yang selalu menimbulkan rasa enak bukan kepalang. Gerakan itu saya lakukan berulang-ulang, namun pelan sekali dan bu Idapun mengimbangi dengan gerakan menggoyang pinggulnya seperti menari-nari di bawah himpitanku. Pinggulnya selalu diangkat, ketika senjataku kutekan ke bawah, seperti menyambut penetrasiku. Tangannya merangkul ketat, bibirku menutup dan melumat bibirnya, sementara kedua tanganku meremas-remas lembut susunya. Dan pusat kegiatan terasa berporos pada penisku yang menghujam kuat pada tempiknya. Kedua kakinya digerakkan merenggang-mengatup, sambil menggoyang pinggulnya lalu kakinya dililitkan pada kakiku. Kami benar-benar menyatu, dan saya benar-benar menikmati setiap milimeter tubuhnya.

“Sudah setahun lebih aku tak beginian lho, Fen….” katanya terengah-engah.

“Oh…, aku juga sudah satu minggu Bu” jawabku

“Gundulmu.. ah..!” katanya, kami tertawa kecil

Suaminya di luar kota, dia pernah bercerita, suaminya menghamili bawahannya, sehingga dia terpukul lalu jarang pulang. Lalu aku lanjutkan dengan tembakan demi tembakan, seperti orang sedang memompa dan sesekali berputar ngebor. Dan manakala saya genjot lebih keras, diapun mengimbangi dengan gerakan cepat dengan mengangkat pinggangnya lebih ke atas. 

“Enak ya Bu…” kataku

“He..em…Kamu jangan panggil aku Bu lagi, sudah beginian kok masih panggil Bu. Di kantor saja panggil Bu” katanya di sela-sela goyangan pinggulnya

“Ya, Bu… eh… panggil siapa?” tanyaku

“Terserah kamu” dengan ekspresi wajah serius, menikmati permainan ini.

Tiba-tiba dia mengerang lembut:

“Ah…. Fen aku keluar..” desisnya

“Tuntaskan Da, tuntaskan sayang…” kataku terus menggenjot. Sejak saat itu saya memanggilnya hanya dengan sebutan ‘Ida’ atau ‘Da’ begitu saja dan dia suka dengan panggilan itu. Sejenak aku berhenti menggenjot memberi waktu untuk menikmati orgasmenya.

“Akh…..ukh…ekh….” desisnya. Wajahnya merona merah dan menarik wajahku menciumi bibirku habis-habisan. Pemandangan yang mengasyikkan. Beberapa menit kemudian nampak nafasnya normal kambali.

Aku memandangi wajahnya dengan seksama, betapa perempuan ini menyerah padaku siang ini. Semula aku mengira wanita ini sepintas nampak angkuh dan sombong, tapi di sisi lain sangat romantis.Tanpa terasa sudah lebih dari dua puluh menit, aku menikmati tubuh bu Ida dari atas, sekarang kami berguling dan perempuan berkulit putih bersih itu gantian menindihku, tanpa melepas alat seks kami. Gerakannya makin mempesona dia bergoyang makin bersemangat tidak hanya naik turun saja, tapi berputar kayak mengebor saja. Payudaranya bergelantungan indah dan sangat menggairahkan, aku sapu dengan kumisku dan kudot habis-habisan. Setiap gerakannya menghasilkan rasa nikmat luar biasa. Rasanya gerakan kami maksimal, wajahnya serius pertanda kenikmatan. Desah mendesah dan leguhan yang mempesona mengiringi goyangan-goyangan indah. Merasakan kenikmatan bersama.

Getaran-getaran kecil mengembang menjadi gejolak nafsu yang makin bergelora, dan permainan ini makin susah dikendalikan. Punting susunya disodorkan pada mulutku dan langsung ku hisap-hisap. Sementara tanganku mencengkeram ketat bongkahan pantatnya. Gerakannya makin tak beraturan, getaran dinding-dinding vagina menggesek-gesek permukaan batang penis, terasa menghisap-hisap ketat membuat gairah dan birahi kian melonjak tinggi. Lalu dari rasa yang bercampur-aduk itulah keluar desahan panjang dari mulut bu Ida, berulang-ulang.

“Aaah…..uhhhhhh…. aaah, aku ke..lu..ar… lagi …Fen…. Aehh .” katanya memecah kesunyian siang dengan ekspresi wajah memerah jambu nampak serius, tanda menikmati orgasme.

“Teruskan.. tuntaskan, Ida Sayang…..” kataku

“Ohh..ahh….yah…” suaranya sambil mempercepat gerakan, tangannya sambil membelai-belai kepalaku dan mengacak-acak rambutku, sementara mulutnya melumat bibirku. Setelah istirahat sejenak dia memutar pinggulnya meliuk-liuk lagi, diiringan desahan nafsu.

Rasa nikmat luar biasa tercurah dalam tubuhnya, hal ini terpancar dari raut wajahnya merona pink saat merasakannya. Mengasyikan juga melihat bos orgasme, kelihatannya benar-benar menikmati permainan ini. Aku makin menjadi bernafsu. Gerakannya masih kentara menggoyangku, keras dan menghebohkan. Beberapa menit kemudian, lambat laun berkurang dan akhirnya tak bergerak, hanya sesekali pinggulnya bergoyang pelan untuk merasakan nikmatnya sisa-sisa orgasmenya. Aku membelai-belai rambutnya dan kemudian menciumnya.

Setelah selesai melampui rasa nikmatnya, bu Ida terkapar lemas di atasku sambil mengatur nafasnya, karena habis kerja keras. Saya merangkulnya sambil membelai punggung dan meremas pantatnya, aku menatap langit-langit yang menjadi saksi bisu.

“Ganteng, aku puas puas dengan kamu. Aku suka kamu…” bisiknya, kusambut dengan cium dahinya.

Menit-menit berikutnya gantian aku yang ngebet, lalu berbalik menindihnya dengan menghujamkan kembali penisku pada alat pribadi wanita yang belum pernah melahirkan ini, makanya rasanya seret dan enak sekali. Gerakanku sebenarnya hanya sederhana saja, naik-turun, keluar-masuk dan sedikit berputar, namun rasa nikmatnya luar biasa. Dan hal ini tidak hanya aku yang merasakan tetapi wanita ini juga.

Kami ingin mengulang kenikmatan demi kenikmatan, dan aku kumpulkan tenaga dan perasaan menjadi satu untuk menyambut badai kenikmatan. Sejuknya ruangan, memicu makin terasa nikmatnya tubuh bu Ida. Sesekali kedua kakinya diangkat ke atas dan kadang dililitkan pada kedua kakiku. Saya menjadi bersemangat dan sangat bergairah atas permainan wanita yang 11 tahun lebih tua dari saya ini. Tubuhnya tergoncang-goncang menahan gempuranku yang bertumpu pada pertemuan dan gesekan antara penisku dan hisapan V-nya.

Rasanya matahari mulai condong ke barat, terlihat dari jarum jam menunjukkan jam satu lebih, tapi permainan babak pertama belum usai juga.

“Kita keluarkan bersama, ya Sayang, aku mau keluar lagi” katanya terbata-bata

“Yaaah….” kataku terengah-engah

Kembali aku mulai mengebor kuat-kuat namun berirama, tubuh molek ini sampai bergoncang-goncang. Aku benar-benar mengaduk-aduk dan mengeksploitasi V-nya. Saya menjadi gemas dengan kemolekan tubuhnya ini, lalu kutingkatkan lagi dengan genjotan yang agak keras, tubuhnya bergetar dan mengerang. Darahku mendidih, tekanan yang luar biasa keluar mendorong dan menghempas urat nadi dan memenuhi lorong-lorong birahi yang berkobar-kobar. Dan menyatu berpusat pada ujung penisku dengan dorongan seperti suara bergemuruh yang sudah tidak terkendali lagi dan menghentak dengan kerasnya menekan-nekan, bagai gunung berapi yang akan memutahkan lahar panas. Bersamaan dengan itu terasa air maniku menyemprot keluar tanpa kendali memancar dengan tekanan dahsyat memenuhi lubang kehormatan bu Ida. Peristiwa itu diiringi rasa nikmat luar biasa. Most wonderful! Dengan desahan bersahut-sahutan antara saya dan atasanku itu. Pelukannya makin diperketat, bibir kami beradu ketat. Tak lupa, kedua tanganku meremas susunya

“Keluar Fen…..?!” katanya

“Yah…, aku keluarr…Akh… Ukh….” jawabku terengah-engah

“Aku juga keluar lagi Sayang, kamu hebat….” bu Ida menyambut dengan kecupan dan memelukku kembali sangat erat.

Wanita berusia 38 tahun ini benar-benar menjadikan aku puas, tidak salah aku mengidolakannya. Puncak kenikmatan belum berlalu lama, nafasku belum teratur, aku menjadi lemas terdampar di atas tubuh molek itu. Walau melelahkan namun merasakan sisa-sisa kenikmatan luar biasa rasanya. Beberapa menit kemudian setelah nafasku teratur aku ingin mencabut senjataku dari vaginanya, tapi dia melarang.

“Jangan Fen… biar di situ dulu…” katanya manja.

Tangannya sambil meraba-raba punggungku dan kakinya digerak-gerakkan pelan. Lalu diikuti dengan gerakan pinggulnya. Kepala penisku terasa geli, dengan gesekan vaginanya dan gerakannya makin kencang. Mungkin dia masih merasakan kenikmatan, dan kepuasannya belum berlalu.

“Kamu juga hebat Sayang….” kataku, sambil membelai-belai dan mencium rambutnya yang harum itu. Dia tersenyum puas.

Setelah benar-benar puas, pelan-pelan aku cabut, diapun terkapar lemas tapi puas. Aku menarik nafas panjang-panjang. Luar biasa, puncak kenikmatan yang sungguh dahsyat. Setelah beberapa saat, kulihat selakangannya bergelepotan cairan putih kental, spermaku sampai tumpah keluar dari Vnya. Kami beranjak mencuci selakangannya dan dia membersihkan penisku di kamar mandi, lalu kami kembali berbaring di tempat tidur. Masih membayangkan rasa kenikmatan yang baru saja kami raih bersama itu. Karena letih kami tertidur dibalik selimut, dengan berpelukkan dan masih telanjang sampai terlena. Sekitar setengah jam dia bangun, menciumi aku sambil membelai-belai lembut tititku,

“Lagi yuk Fen…” pintanya setelah tititku tegak lagi karena jepit dengan payudaranya dan diemut habis-habisan.

Senja menjelang malam aku minta dia bermalam di rumahku, setelah berpikir sejenak dia mengangguk setuju dan kemudian menelepon keponakannya mengatakan; “tidak pulang karena ada tugas mendadak di luar kota” Semalaman kami mengarungi samodra birahi bersama bu Ida, berbagai gaya menghasilkan berbagai kenikmatan sensanional.

“Enak ya Fen…, kamu kaya variasi..”katanya mengomentari setiap style yang aku lakukan.

“Kamu juga hebat Da… Senang bisa bermain dengan kamu” kataku sambil mencium keningnya.

Minggu, keesokan harinya saya terbangun sekitar pukul 06.00, bu Ida masih tidur dalam pelukanku, sesekali menimang-nimang tititku, merangsek untuk mengusir dinginnya pagi. Perempuan cantik itu tidur memakai kaosku yang panjangnya sampai di atas lututnya, bercede tanpa beha. Setelah ia bangun, sekitar pukul 06.30 kami mandi bersama. Hari itu, seharian kami berdua di rumah sambil bercinta sampai menjelang malam harinya, entah sampai berapa kali. Sesudah agak gelap saya bertanya:

“Pulang jam berapa, Da?” kataku

“Sekarang! Tapi… main sekali lagi” katanya sambil tiduran di sofa berbantal pada pahaku.

“Katanya sakit…, tadi?” kataku, karena ia mengeluh sakit pada selakangannya.

“Ya, kalau pas masuk sakit, tapi kalau sudah di dalam tidak” katanya pelan sambil memegangi selakangannya. 

Senja itu bu Ida saya tembak sekali lagi sesuai permintaannya, baru mengantarnya pulang pukul tujuh malam. Setelah melanjutkan isapan madu bersama, mulai Sabtu siang, semalam dan Minggu, baru saja aku menyelesaikan arungan samudera raya yang bertaburan bunga kenikmatan. Hanya kami berdua yang memiliki event itu. Sungguh menakjubkan luar biasa. Rasanya baru saja bangun dari mimpi, ya mimpi indah, seolah tidak percaya bahwa kejadian kemarin di alam nyata. Penisku juga terasa pedih, habis dua hari bergesekan terus dengan cepitan milik bu Ida.

Keesokan harinya, Senin pagi saya bertemu di kantor, kami bersikap seolah tidak ada kejadian apa-apa antara aku dan dia. Dan ketika dia memimpin meeting awal pekan juga seperti biasa, semuanya biasa saja. Siapa sangka? Betapa perempuan yang sedang memimpin meeting dan didengar banyak orang itu, kemarin kujelajahi seluruh tubuhnya yang sekarang terbungkus rapi itu. Bahkan lebih dari itu, sampai pada milik yang paling pribadi diserahkan padaku untuk saya nikmati secara utuh. Mungkin dia juga dahaga? Dahaga sebagai seorang perempuan dewasa yang sesekali butuh belaian bahkan limpahan nikmat dari lelaki. Lelaki yang selama ini menjadi tumpuhannya yaitu suaminya, telah menyalurkan kepada orang lain sampai hamil. Ini alasannya, karena istrinya belum bisa memberi anak dan melahirkan. Bu Ida memang belum bisa memberi anak. Tetapi rupanya bu Ida ingin menikmati pula di tengah-tengah hari kosongnya, dengan menyambut kehadiranku di sisinya.

Usai meeting, setelah rekan-rekan kembali ke ruangan masing-masing, kucium keningnya.

“Istrimu apa tidak kewalahan menghadapimu” katanya setengah berbisik, mengenang kejadian Sabtu siang malam dan Minggu kemarin. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.

Hari-hari selanjutnya kutapaki menuju bulan-bulan dan tahun-tahun dengan aroma gairah menggelegak bersama bu Ida, pengujiku idolaku. Sering kami melakukan di rumahku, bahkan aku pernah nekat main di ruang kerjanya, saat libidoku memuncak. Waktu itu pagi hari, kantor masih dalam keadaan sepi, tapi cleaning service sudah selesai membersihkan ruangannya bu Ida. Dan seperti biasanya, cleaning service melanjutkan cuci mobil di tempat parkir. Aku datang pagi sekali dan bu Idapun datang lebih awal.

Setelah mengunci pintu ruangannya, kami bercumbu.

“Da, sebentar aja yuk…” bisikku di dekat telinganya

Pagi itu dia memakai bleser dan rok warna abu-abu tua, roknya panjang hampir sampai mata kaki, berkaos kaki warna krem. Roknya belahan bagian belakang dari betis sampai ujung rok bawah. Kutarik ke atas rok itu, terlihat pahanya yang putih mulus. Dadaku bergetar, menggoncang-goncang keras.

“Sebentar…” katanya sambil membuka cedenya sendiri.

Aku melanjutkan menarik roknya kembali sampai pinggul gitarnya kelihatan indah sekali. Posisinya berdiri kemudian kedua tangannya bertumpu pada meja, membungkuk sedikit, kedua belahan pantat indah itu makin menyembul, lalu aku mendekatkan senjataku ke arah selakangannya dan memompanya dengan lembut. Benar-benar nikmat pagi itu. Kedua tanganku menyusup di balik bleser dan kaos kemudian sampai menyusup behanya meraih susunya, beberapa menit kemudian, dia berbisik:

 “Aku mau keluar..” suaranya terbata-bata.

“Keluarkan Sayang, tuntaskan”

Saya makin mempercepat gerakanku, dan peristiwa dahsyat lagi-lagi terulang kembali. Aku menyemprotkan spermaku pada Mrs. Vnya, dengan kenikmatan luar biasa. Selesai, dia bergegas ke kamar mandi yang ada di bagian ruangan itu. Ini petualang yang menakjubkan walau riskan.

Dalam lamunanku, di satu sisi bu Ida sebagai seorang leader yang tegas, anggun dan berwibawa, di sisi lain (ini mungkin hanya aku yang tahu), sebagai seorang perempuan yang butuh belaian dan hangatnya birahi dari seorang laki-laki. Sementara suaminya di luar kota dan sedang bermasalah. Dan laki-laki yang dipilih untuk mengisi kekosongan hari-harinya itu adalah saya! Betapa orang tiada menyangka, akupun tidak mengira sebelumnya, betapa seorang bawahan bisa menjelajah, menyisir, mengekploitasi dengan leluasa pada seluruh tubuh molek bosnya dan menikmati bukan hanya terbatas pada pandangan mata, tetapi menikmati tubuh dan perasaan dalam arti yang sebenarnya. Dia wanita pengujiku idolaku, cantik dan menarik.

Tamat.    

ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…

ZURAIDA AND FRIENDS PART 10

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

Zuraida menatap Arga dengan jantung berdegub kencang, berharap lelaki itu tidak melepaskan pelukannya, tidak membiarkan Pak Prabu mengambil dirinya.

Namun wajah tegang itu berubah menjadi kecewa, sangat kecewa, ketika Arga tersenyum sambil menatap wajahnya, perlahan melepaskan pelukan.

“Argaaa,,, kenapa kau lepaskan aku,, peluk aku Gaa,,, jangan biarkan lelaki lain menjamah tubuhku,,,” hati Zuraida berteriak, dengan bibir yang terkatup rapat. Tapi ini bukan salah Arga, lelaki itu tidak tau apa yang dimaksud Pak Prabu dengan meminjam.
Yaaa,, meminjam tubuhnya, untuk melunasi janji yang terucap.

Arga mundur beberapa langkah, mempersilahkan atasannya untuk menghampiri Zuraida. Lalu berjalan menuju meja mengambil botol yang masih tersisa setengah.

Pak Prabu menatap Zuraida, meminta izin untuk meletakkan kedua tangannya dipinggul yang ramping. Dengan berat wanita itu menganguk, lalu balas meletakkan jari-jari lentik dipundak Pak Prabu. Perlahan keduanya bergerak mengikuti alunan musik.

“Bu Dokter,,” bisik Pak Prabu, merapatkan tubuhnya, “Malam ini terlihat semakin cantik, saya selalu kagum dengan penampilan anda yang begitu anggun,” lanjut Pak Prabu, membuat Zuraida bingung harus bersikap.

Hati Zuraida semakin kalut, matanya menatap Arga yang mengawasi. Tatapan kosong, tak terbaca oleh Zuraida.

Sementara, dari deru nafas lelaki yang tengah memeluknya, Zuraida bisa merasakan hasrat yang memburu dihati lelaki berkumis tebal itu. merapatkan tubuh, berusaha mencuri-curi sentuhan dari bulatan payudaranya yang membusung.

“Terus terang, Saya tidak tau kapan harus menagih janji yang ibu ucapkan, karena saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk mendekati ibu,,,” ucap Pak Prabu. Tidak seperti perkiraan Zuraida yang menduga tangan kekar itu akan segera meremas kedua payudaranya dengan brutal, saat kaki mereka dengan perlahan menjauh dari keramaian.

“Saya adalah lelaki yang begitu mudah tertarik pada wanita, khususnya wanita seanggun Bu Dokter, yang selalu tampil begitu feminim,,,” sambung Pak Prabu seraya merapatkan keningnya kekepala Zuraida yang terbalut jilbab.

Zuraida memejamkan matanya, merutuki keadaan.

Tapi sialnya itu diartikan oleh Pak Prabu sebagai persetujuan, tangannya yang berada dipinggul bergerak turun, dengan gemetar meremas pantat montok yang membulat padat. Sementara tangan kirinya bergerak keatas, coba mencumbu gundukan dagung didada si wanita, dengan siluet puting mungil yang begitu nyata.

“Argaaa,,,” ucap Zuraida tanpa suara, saat melihat lelaki yang tadi masih mengawasinya melangkah menjauh, menuju sofa, dimana Andini yang tengah mabuk digerayangi oleh Mang Oyik.

“Apakah Arga melihat semua kenakalan Pak Prabu pada tubuhku?,,,” hatinya bertanya-tanya dengan panik.

Tapi wanita itu juga bingung dengan cara kerja pikiranya, yang tiba-tiba merasa lebih tenang, karena tak ingin lelaki yang dicintainya menyaksikan ulah Pak Prabu yang mulai menggerayangi tubuhnya dengan remasan-remasan nakal.

Nafas Pak Prabu semakin berat, dua bongkahan payudara yang masih terbalut gaun menempel erat didada bidangnya. seakan-seakan lelaki itu ingin memasukkan seluruh tubuh zuraida dalam pelukannya yang kokoh.

Kini wanita itu dapat merasakan hembusan nafas khas lelaki yang menderu, menyapu wajahnya, aroma tembakau dan alkohol yang merangsek indra penciuman membuatnya merinding.

Zuraida tertegun, seolah sedang terhipnotis, mebiarkan Pak Prabu melabuhkan ciuman dibibirnya yang terbuka, mengecup lembut, memberikan gigitan kecil dibibir bawahnya.

“Paak,,, cukup,,,” seru Zuraida tersentak, saat merasakan lidah yang panas mencoba menyelusup disela bibirnya. Mendorong tubuh Pak Prabu.

Lagi-lagi pikiran Zuraida keliru, wanita itu mengira dirinya harus meronta kuat untuk melepaskan cengkraman Pak Prabu dipinggulnya. Tapi nyatanya lelaki itu membiarkan tubuhnya lepas dari dekapan dan mundur beberapa langkah.

“Maaf Bu,, saya hanya menagih apa yang ibu janjikan,”

“Tapi tidak sekarang pak,,” jawab Zuraida dengan jantung berdebar.

“Lalu kapan lagi, ditempat praktek Bu Dokter? Atau dirumah?,,, itu lebih tidak mungkin kan?” tanya Pak Prabu.

Apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya, tidak mungkin dirinya membiarkan lelaki itu menggagahi tubuhnya di tempat prakteknya bekerja, apalagi dirumah. Seketika sesal kembali mencuat, kenapa harus terucap janji itu, sebuah izin akan kenikmatan dari tubuhnya yang bisa didapatkan oleh lelaki itu.

“Pak,,, saya meneyesal sudah mengucapkan janji itu, saya tidak mungkin melakukannya pak,,,mohon mengertilah,,, pintalah hal lain yang saya bisa memenuhinya,, saya mohon Pak,,,”

Kaki Zuraida mundur beberapa langkah, mencoba menghindar dari Pak Prabu yang melangkah mendekat.

“Bu Dokter, saya tau ini sangat sulit bagi ibu, kerena ibu bukan wanita yang begitu saja membiarkan tubuhnya digagahi lelaki lain. Seperti kata ibu,, tak ingin melakukan tanpa cinta,,, dan ibu bisa melihat sendiri bagaimana tampilan saya yang yang jauh dari kata tampan, yang tidak mungkin membuat ibu jatuh cinta,,,”

Pak Prabu berdiri sambil merentang kedu tangannya, seakan ingin menunjukkan seperti apa dirinya, lelaki bertubuh besar dengan kumis lebat dan perut yang mulai berlemak. Seandainya dalam situasi yang berbeda, gaya Pak Prabu tentu akan membuat Zuraida tertawa.

Hati Zuraida yang awalnya takut menjadi kesal, bagaimana mungkin lelaki dihadapannya masih bisa mengajak bercanda saat hatinya begitu takut.

“Bu,,, maaf kalo ibu menganggap saya licik, memanfaatkan janji yang ibu ucap dalam kondisi kacau, tapi saya tidak tau lagi bagaimana cara untuk mendapatkan sedikit kenikmatan dari tubuhmu ini,,,”

Pak Prabu memepet tubuhnya kedinding, tangan kanannya terhulur mengusap selangkangan yang tertutup long dress dari kain yang lembut. Kedua tangan Zuraida segera menahan kenakalan Pak Prabu, tapi tangan kiri lelaki itu segera menyusul, meremas payudaranya.

“Eeenngghhh Paaak,,, jangaaaan,,” kepala Zuraida menggeleng, berharap lelaki itu sadar dengan apa yang tengah diperbuatnya.

“Pliss,,, saya mohon,,, hanya ini kesempatan terbaik yang saya punya,, tak ada yang melihat keberadaan kita disini, lagipula mereka sudah mulai mabuk,,,” rayu Pak Prabu, mencari peruntungan.

Zuraida terdiam, menatap sekitar, baru sadar tubuhnya telah digiring Pak Prabu kedinding, tersembunyi dibalik pohon hias yang ada dipojok tepi kolam renang, dekat dengan pintu keluar samping yang jarang digunakan.

“Pak,,,, saya,,,”
Zuraida bingung, tak lagi memiliki cara untuk berkelit, tak lagi memiliki alasan untuk menepis tangan kekar yang perlahan meremas payudaranya. Hanya debar jantung yang semakin kuat.

Tangan Pak Prabu menyusur kebelakang, meraba setiap lekukan bagian atas tubuh Zuraida,,,, seperti mencari-cari sesuatu. “Maaf,,, boleh saya menagih sekarang,,” ucap Pak Prabu, saat menemukan resluiting dari gaun putih panjang yang membalut tubuh dokter cantik itu.

Zuraida membuang wajah kesamping, namun itu dianggap Pak Prabu sebagai izin, menurunkan resluiting, lalu dengan perlahan mengusapi punggung yang terbuka.

Mata Zuraida terpejam ketika merasakan telapak tangan yang kasar dikulit punggung yang mulus, merangsek diantara belahan ketiaknya. Bulu kudunya merinding, pasrah menerima jamahan.

Memang ada niat dihatinya untuk sedikit nakal disaat pesta, tapi hanya dengan Arga, tidak dengan yang lain.

“Paaak,, saya tidak bisa melakukannya disini,,, saya mohon,, mengertilah pak,,,” pinta Zuraida lirih, menahan tangan Pak Prabu yang ingin menurunkan gaun dari pundaknya.

Dari celah dedaunan, mata wanita itu mengamati Arga yang kini di goda oleh Andini yang mulai mabuk. Menaiki tubuh Arga, dan dengan ganasnya menciumi wajah dan leher lelaki yang hanya duduk pasrah menikmati service sibetina mungil.

Membuat Mang Oyik tersisih dan beralih mendekati Aida yang masih tampak kelelahan setelah melayani Adit. Beberapa orang terlihat mulai mabuk. Begitupun dengan Aryanti, namun wanita itu masih berada dipelukan Dako yang sibuk menambahkan beberapa tanda kecupan dipayudara kanan yang mencuat diluar gaun.

“Oowwgghh,,,” tiba-tiba tubuh Zuraida gemetar tertahan saat selangkangannya kembali diusap dengan lembut. Usapan yang ringan namun mengena tepat dibibir vagina. Tanpa sadar pantatnya bergerak kedepan mengejar tangan Pak Prabu. Menagih untuk usapan berikutnya.

Zuraida membuang wajahnya kesamping tak berani memandang wajah Pak Prabu yang tersenyum penuh kemenangan. Dengan riang jari-jari leleki berkumis tebal itu menggelitik lipatan vagina milik wanita yang tak lagi berusaha menghindar.

“Eeemmmhhhh,,,” wanita berjilbab itu merintih tertahan, memejamkan mata dengan kuat saat jari tengah Pak Prabu menusuk lipatan vaginanya, membuat celana dalam tipisnya ikut masuk kedalam, menyentuh kacang mungil yang begitu sensitif.

Berkali-kali jari Pak Prabu menusuk-nusuk, terkadang lembut, namun acapkali tusukan itu begitu kuat menggelitik pintu kelamin yang mulai basah.

Tiba-tiba mata lentik Zuraida menangkap tubuh Andini yang bergerak liar diatas pangkuan Arga. Naik turun dengan penuh semangat. Mungkinkah Arga tengah menyetubuhi gadis mungil itu.

Hati Zuraida begitu nelangsa, merintih bertanya pada hati yang terluka, kenapa Arga tidak mencumbu dirinya, padahal tadi tubuhnya telah pasrah untuk melayani apapun keinginan lelaki itu.

“Argaaa,,,” ucap Zuraida lirih, membuat Pak Prabu ikut menoleh mencari sosok Arga.

“Pak,,, apa mereka sedang bercinta?,,,” tanya Zuraida, seolah ingin meyakinkan apa yang dilihatnya.

“Mungkin,,,” jawab Pak Prabu ditelinga wanita yang masih tertutup jilbab itu.

Berbeda dengan Zuraida, Hati Pak Prabu justru bersorak girang. “Thanks Argaaa,,, Its time for me,,,”

Melihat kesempatan yang baik, dengan perlahan wajah Pak Prabu menunduk lalu menciumi gundukan payudara yang hanya tertutup gaun tipis, lidahnya dapat merasakan puting kecil yang mencuat.

“Oooowwhhhh,,,, Eeenngghhh,,,” bibir wanita itu melenguh saat lidah yang basah berlabuh diputing mungilnya. Kain tipis yang melindungi payudaranya dengan capat basah oleh ludah Pak Prabu.

Merintih saat bagian kecil dipuncak gunung yang hangat dihisap, dicucup, disedot dengan cara yang lembut. Meringis saat kumis yang tajam menembus kain dan menusuk gundukan payudaranya.

Perlahan mata Zuraida turun, menatap sendu lelaki yang tengah menyusu dipayudaranya dengan begitu bersemangat, menjilati puting yang mengeras dibalik kain tipis.

Mata bening itu beralih memandang kekejauhan, pada sosok mungil yang naik turun bergerak penuh semangat, layaknya mengendarai kuda rodeo, sesekali gadis yang gaun atasnya sebagian telah melorot itu menunduk, membiarkan pejantan yang ada dibawahnya untuk menyucup payudara. Menggeliat menikmati permainan lidah yang panas.

“Arga,,, Seharusnya kau yang menikmati tubuh ini,,, tapi kenapa kau lebih memilih gadis itu daripada diriku,,,” hatinya sangat kecewa, tapi sedikitpun tidak ada amarah, Karena kondisinya kinipun jelas akan membuat Arga marah. Karena dia tau, Arga bukan pria yang bertindak semaunya, tapi sialnya dirinya sedikitpun tidak tau apa alasan Arga melepaskannya.

Zuraida menyandarkan kepalanya ketembok, bibirnya melenguh saat puting kecilnya digigit dengan lembut.

“Ooowwhhhh,,, Paaak,,, kenaapaaa digigiiit,,,,”

Tapi Pak Prabu justru tertawa, lalu kembali memainkan puting mancung layaknya milik para gadis remaja.

“Eeeeengghhh,,, Eeemmmpphhh,,,” Zuraida mengatup rapat bibirnya, kepalanya mengeleng-geleng berusaaha mengenyahkan rasa nikmat yang merambati tubuhnya.

Walau bagaimanapun Zuraida adalah seorang wanita normal, sulit untuk mengingkari segala kenikmatan yang diberikan oleh Pak Prabu. Cumbuannya bersama Arga selama berdansa membuat tubuhnya menagih lebih.

Merasa yakin wanita yang dicumbunya telah bisa menerima apa yang tengah mereka lakukan. Pak Prabu berusaha menurunkan gaun Zuraida, lidahnya sudah sangat gatal untuk merasakan langsung lembutnya puting yang ada dalam genggaman.

“Paaak,,, jangan disini,,, jangan disiniii,,,” elak Zuraida. Menahan gaunnya.

Lelaki itu tersenyum, tersenyum sangat lembut dibalik kumis tebal yang melintang. Menatap Zuraida dengan pandangan yang sedikit berbeda.

Membuat si wanita salah tingkah, ada sesuatu dimata Pak Prabu, pandangan penuh kasih yang tadi siang dilihatnya dari mata Arga.

“Buu,,, seandainya ibu tau,, saya selalu mengaggumi ibu. Saya selalu terpesona setiap ibu mampir kekantor, seorang wanita yang energik, cerdas, namun juga begitu lembut, saya selalu mendambakan punya pasangan seperti ibu,,,” ucap Pak Prabu coba merayu.

Tak ada wanita yang tidak tersangjung bila dipuji. tapi Zuraida menggeleng, seakan menyatakan usaha Pak Prabu akan sia-sia.

“Maaf saya bukan sedang merayu untuk mendapatkan tubuh Bu Dokter,” Pak Prabu kembali membetulkan gaun Zuraida.

Sikap Pak Prabu membuat Zuraida benar-benar salah tingkah. Zuraida bukan wanita yang mudah tertarik pada pesona seorang pria, tapi hati yang limbung membuat segalanya menjadi tak menentu.

“Lalu apa yang bapak ingin sekarang?”
Pertanyaan yang lugas dan tegas, kini giliran Pak Prabu yang bingung. Bohong bila dirinya tidak menginginkan tubuh wanita yang kini ada didepannya.

Bisa saja dirinya memaksa wanita yang kini ada didepannya untuk melayani hasratnya atas dasar janji yang diucap. Tapi entah kenapa hal itu tidak dilakukannya. Bibirnya justru tersenyum lalu tertawa.

“Hehehee,,, maaf,,, saya benar-benar minta maaf sudah memperalat ibu, saya menjadi merasa sangat berdosa pada ibu, lupakanlah janji itu. Tapi,,, emmhh,, boleh saya mengecup bibir ibu,,,”

Zuraida sangat kaget dengan perubahan Pak Prabu, tapi ia bisa menangkap kesungguhan seorang lelaki yang disampaikan dalam keremangan malam. Wanita itu mengangguk, memejamkan matanya, membiarkan bibir Pak Prabu berlabuh dibibirnya yang hangat.

“Terimakasih Bu,,,” ucap lelaki itu setelah melepaskan bibir Zuraida, memenuhi janjinya, hanya sebuah kecupan. “Sebenarnya pengen lebih lama sih,,, tapi takut tegangan ini saya naik lagi,,,” Pak Prabu mencoba berkelakar sambil menunjuk selangkangannya.

Tapi hanya dijawab Zuraida dengan senyuman, senyum manis yang begitu memikat kelelakian Pak Prabu. Tampak wanita itu berusaha untuk bertahan, tidak terlena dengan kehangatan yang ditawarkan Pak Prabu.

“Saya lebih suka melihat ibu tersenyum seperti ini daripada merintih karena itunya saya tusuk,,,hehehe,,”

Kali ini mau tidak mau Zuraida tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Lalu mencubit tangan Pak Prabu.

“Ayo kita kembali kesana,,,” ajak Pak Prabu, menggandeng tangan siwanita.

Pooong !!!,,,
Selesai begitu saja? Zuraida tertegun, apakah Pak Prabu telah menyerah untuk mendapatkan tubuhnya. Sisi kewanitaannya yang liar cepat mengambil alih. Entah kenapa rasa Kecewa menyergap hatinya, kecewa dengan sikap Pak Prabu yang mengangkat bendera putih.

Masih dirasakannya gaun nya yang basah setelah dijilati Pak Prabu, rasa gatal pada bagian puting yang baru saja menerima gigitan nakal seorang penjantan.

Tapi wanita itu berusaha menghormati keputusan Pak Prabu, keputusan yang menyelamatkan kehormatannya sebagai seorang wanita, keputusan yang menyelamatkannya dari rasa bersalah kepada Arga dan Dako.

“Paaak,,, maaf saya tidak bisa memenuhi janji saya,,, tapi,, emmh,, kalau bapak ingin memeluk saya,,, eenghh boleh koq,” tawar Zuraida tiba-tiba. Entah apa yang dibenak wanita itu. Benarkah sekedar ucapan terimakasih atas aksi heroik Pak Prabu?

Pak Prabu tertawa, lalu merentangkan kedua tangannya. Membiarkan si wanita yang masuk kedalam pelukannya.

Dengan malu-malu Zuraida mendekat, menempelkan tubuhnya, dan membiarkan tangan yang kekar mendekap erat tubuh. Tangannya balas memeluk punggung Pak Prabu.

Masih dengan gaya yang malu-malu, Zuraida menekuk wajahnya dileher yang berkeringat, memancarkan wewangi tubuh seorang lelaki. Seketika tubuhnya merinding, otaknya merespon aroma seorang pejantan.

Lama keduanya terdiam, terdiam dalam kisruh yang melanda hati, tanpa disadari , pelukan tangan Zuraida justru semakin erat.

Pelukan memang selalu mampu memberikan kedamaian, semakin erat Zuraida memeluk, semakin dirinya merasakan sisi kewanitaannya. Kodrat sebagi wanita yang juga membutuhkan kehangatan. Kodrat sebagai wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang menjadi pelampisan hasrat pandangan para lelaki.

Pak Prabu berusaha menaikkan kembali resluiting yang terbuka. Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa sangat menyayangi istri bawahannya itu. Kebersamaan selama liburan memang membuat interaksi diantara mereka menjadi lebih intens, meski kadang dilakukan dengan cara yang nakal.

“Pak,,, emmhh,, biarin aja,,,” ucap Zuraida terbata.

Deg,,,, Pak Prabu terdiam,,, pikirannya tidak berani berasumsi macam-macam, apa maksud dari kalimat yang terucap tepat disamping telinganya. Lalu kembali mengusap-usap punggung yang terbuka, menikmati kehalusan kulit seorang Zuraida.

“Kamu ngga dingin?,,,” ucap Pak Prabu memecah sunyi.

“Dingin bangeeet,,,”

Pak Prabu semakin bingung, kenapa wanita itu justru menolak saat tangannya ingin mengancingkan resluiting untuk menutupi tubuhnya. Apa yang diinginkan wanita itu. Tapi dirinya hanya berani memeluk, meski hasratnya kembali terpercik.

Tiba-tiba Pak Prabu merasakan kecupan lembut dilehernnya, hanya sesaat, tapi itu cukup untuk membangkit gairah kelelakiannya. Tangannya kembali beredar, mengusap setiap sisi pundak dan punggung yang terbuka.

“Paaak,,,”

“Maaf sayaaang,,, maaf,,,” ucap Pak Prabu, menarik tangannya kembali kebelakang setelah memberikan remasan nakal dipayudara yang membusung.

“Paaak,,, Sentuh dari dalam,,,”

DEG,,, Pak Prabu kaget, tapi telinganya tidak mungkin salah dengar. Kata-kata itu diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Lalu kembali meremas payudara dengan lebih kuat, untuk meyakinkan apa yang didengarnya.

“Emmmpphh,,, Paaak,,, sentuh dari dalam,,”

Pak Prabu semakin bingung. Melepaskan pelukannya, memegang sisi gaun Zuraida, saling tatap dengan mata bening yang indah.

Ditingkahi nafas yang memburu, wanita itu mengangguk.

Setelah mengambil nafas, Pak Prabu coba menurunkan gaun dari pundak Zuraida. Dikegelapan matanya masih dapat melihat kemulusan pundak si dokter Cantik.

Zuraida menatap wajah Pak Prabu, dengan tangan yang gemetar berusaha melolosi kain yang dikenakannya. Ada rasa bangga dihati saat melihat binar mata sang pejantan yang mengagumi payudara yang terhampar didepan wajah.

“Paaaak,,, iniii punyaaa sayaaa,,, seperti iniii punyaaa saayaaa,,,” lirih suara Zuraida saat kedua payudaranya mulai disapa, diusap, dan diremas berulang-ulang.

“Indah banget Bu,,, besar,,, kencang,,, mancung seperti anak remaja,,,” Mata Pak Prabu tak beralih dari sepasang daging yang terus diremasinya. Tak menghiraukan kondisi si wanita yang mulai terengah-engah.

“Buuu,,, boleehh sayaaa,,,”

Sambil beradu pandang, Zuraida meremas rambut Pak Prabu, “Sebentar aja ya Pak,,,” ucapnya gemetar, lalu menarik kepala Pak Prabu kepayudara kirinya.

“Aaahhhss,,”
“Aaaahhh,,,” bibirnya mendesis setiap lidah Pak Prabu berlabuh. Ada rasa gregetan saat menyaksikan lelaki itu hanya menjilat-jilat putingnya yang mengeras.

“Paaaak,,,”
Masih dengan lidah terjulur, mata Pak Prabu melirik keatas.

“Paaaak,,, maaf,,,,” ucap Zuraida pelan, lalu menjambak rambut Pak Prabu, bukan mendorong, tapi membenamkan wajah lelaki itu pada kenyalnya daging yang membusung menantang.

“Owwwgghhh,,,” bibirnya terpekik,,, menatap nanar mulut lelaki yang melumat bulat payudara, mengunyah dengan sedikit kasar. Membuat tubuh wanita itu semakin tersandar ke dinding.

Belum lagi kumis yang menusuk-nusuk kulit yang memiliki tekstur sangat lembut, membuatnya harus menggigit bibir, meredam rasa geli.

Tubuh Zuraida semakin merinding saat pahanya tersentuh oleh sesuatu yang keras, yang tersembunyi dibalik selangkangan Pak Prabu.

“itu penis Pak Prabu,,,” pekik hati Zuraida, “Penis yang tadi pagi hampir saja memasuki liang kemaluanku, penis yang menghambur sperma didepan vaginaku,”

Zuraida membiarkan penis Pak Prabu bermain-main dengan pahanya. Membiarkan lelaki itu menggesek-gesek batang yang mengeras kesetiap sisi bagian bawah tubuhnya.

Tubuhnya merespon dengan mendorong pantatnya kedepan, seolah meminta agar batang itu menggeseki bibir vagina yang gemuk.

Gayung bersambut, Pak Prabu menatap Zuraida, lalu menggesekkan batang yang sudah sangat mengeras kebagian cembung dari selangkangan. Tak ingin kalah, si wanita justru semakin mendorong pantatnya kedepan, seakan berkata inilah milikku, mana milikmu,,,

Semakin kuat gesekan, semakin cepat nafas Zuraida membuuru.

Tak puas dengan gesekan batang penisnya yang terhalang oleh celana, Tangan Pak Prabu terhulur turun. Dibawah tatapan siwanita, telapak tangannya mengusap lembut vagina berbalut kain, membuat pemiliknya mendesah tertahan.

“Buka lebih lebar, Bu,,,” pinta Pak Prabu, yang segera dikabulkan siempunya dengan melebarkan paha. Tapi gaun yang ketat membuat gerakannya terhalang.

Zuraida mengangguk, menyetujui usaha tangan Pak Prabu yang bergerak kebelakang tubuhnya, menarik turun resluiting hingga kesudut mati, tepat didepan pantat siwanita.
Lalu perlahan menyelusup, meremas pantat yang membulat padat yang hanya dilapisi celana dalam tipis.

Zuraida cepat menarik tangan Pak Prabu, bukan untuk mengenyahkan tapi agar masuk langsung kebalik celana dalamnya, lalu kembali memeluk tubuh Pak Prabu.

Entah apa yang ada dikepala Zuraida, saat mengatup rapat bibirnya, membiarkan telapak tangan yang kasar menyelusup kebalik celana dalamnya. Menyusuri belahan pantatnya, menggelitik liang anusnya,,, dan,,,

“Ooowwwhhh,,,, Paaaak,,,,” tubuh wanita itu melejit seketika, gemetar ketika bagian paling sensitif ditubuhnya merasakan sentuhan dari kulit yang kasar. Meski bisa menebak arah yang dituju oleh tangan Pak Prabu, tetap saja tubuhnya kaget.

Bila tadi pantatnya terdorong kedepan, kini pantat yang membulat itu justru menungging kebelakang.
“Eeeenggghhh,,,

“Lembut bangeeet Buuu,,, vaginamu lembut bangeeet,,, sayaaang,,,”

Mendapatkan pujian itu Zuraida justru mencubit pinggang Pak Prabu. “Emmhh,,,kalo pintu rumah baru keraass,, Pak,,” ucapnya disela nafas yang naik turun.

“Paaak,,, jangaaan tusuuuk terlaluuu dalaaam,,, geliiii,,,” rintihnya, namun pinggulnya justru bergerak mengejar jari Pak Prabu yang bergerak keluar. Seakan berharap jari yang kasar itu tetap berada didalam liang kemaluannya.

“Bibirmu mana sayaaaang,,,” seru Pak Prabu.

Zuraida seperti kesurupan, seperti bukan dirinya yang biasa, seperti wanita yang telah lama tidak merasakann jamahan tangan seorang lelaki, seperti wanita yang begitu haus akan belaian manja seorang lelaki.

Wanita itu tidak mengelak saat Pak Prabu melabuhkan bibir, berusaha menyelusup kedalam mulutnya, menghirup aroma nafas dari hidung mereka yang bertemu, membiarkan lelaki itu mengecapi lidahnya, menyedot ludah dengan sangat rakus.

Tangan Pak Prabu tak lagi bergerak, terdiam didalam liang kemaluan yang basah, terkonsentarasi pada bibir Zuraida.

Merasa kenikmatan yang tengah dirasakan oleh selangkangannya terhenti, pinggul wanita itu reflek bergerak sendiri, memainkan bibir vagina pada telapak tangan yang kasar dan jari tengah yang menusuk kedalam lorong yang membanjir.

“Paaaaak,,, eeengghhhh,,, aaahhssss,,,” Zuraida terengah-engah, pantatnya bergerak semakin cepat, seolah tengah mengawini tangan kekar yang mematung diselangkangannya.

Melihat keadaan Zuraida, dengan cepat tangan kiri Pak Prabu mengeluarkan batang penisnya, lalu menarik tangan Zuraida agar menggenggam.

Mata Zuraida melotot, tidak menyangka, dirinya yang selalu mengenakan penutup kepala kini justru menggenggam batang kemaluan, milik atasan suaminya.

“Buuu,,, biarkan penis saya yang melakukannya Bu,,,,”

Dengan pinggul yang masih bergerak menyenggamai tangan Pak Prabu, wanita itu menggeleng, wajahnya tampak pucat mengejar orgasme yang bersiap menghampiri.

Tapi wanita itu tidak mengelak saat Pak Prabu dengan tangan kirinya berusaha menyingkap gaun panjangnya keatas.

“Bu,,, bantu saya menuntaskan hasrat saya Bu,,, saya janji tidak akan menusuk liang kemaluan ibu,,, cuma jepitin dengan paha ibu seperti tadi pagi.,,,” mohon Pak Prabu, sambil terus menarik gaun Zuraida keatas. Tapi terlalu sulit, gaun itu membekap cukup ketat.

“Bu,,, ikut sayaaa,,” pinta Pak Prabu tiba-tiba, menarik tangan dari selakangan, lalu membopong tubuh Zuraida yang tengah sakau akan orgasme, keluar melalui pintu yang ada disamping mereka bercumbu.

“Paaaaak,,, bapak mau ngapain?,,,” tanyanya saat tiba ditembok luar, Pak Prabu membalik tubuhnya kearah tembok.

“saya mohooon Paaak,,, jangan ingkari janji bapaaak,,,” pinta Zuraida pada lelaki yang kini berusaha menarik gaunnya lebih tinggi. Lalu dengan cepat menurunkan celana dalamnya.

“Oooowwgghhh,,, Paaaak,,, Ooogghhh,,,” Zuraida tidak menyangka, vaginanya yang tak lagi memiliki pelindung dilumat dengan rakus. Tubuhnya menggeliat liar. Kumis yang ikut menusuk kulitnya, membuat pinggul wanita itu bergerak tak menentu.

“Zuraidaaaaa,,,”

Sluuuurrpppsss,,,,

“Memeeeqmuuu,,, ooowwhhss,,,”

Sluuurrrppss,,,

Pak Prabu tak menyangka, akhirnya bisa merasakan cairan gurih dari seorang wanita bernama Zuraida, selama ini matanya hanya bisa memandang bulatan pantat dan selangkangan yang selalu tertutup kain itu. hanya bisa membayangkan seperti apa bentuk dari benda yang ada didalamnya.

Selama ini, otak mesumnya hanya bisa berkhayal, kenikmatan seperti apa yang ditawarkan oleh liang surga seorang wanita cantik yang selalu mengenakan jilbab.

Tapi kini,,, selangkangan wanita itu bergerak mengikuti kemanapun lidahnya menari. Memohon lidahnya masuk lebih dalam, mengais-ngais cairan yang terus merembes keluar.

Berkali-kali Pak Prabu menyedot bibir vagina yang mengeluarkan cairan bening, begitu haus mengecapi vagina yang teramat basah. Tak henti-henti pula bibir wanita itu mendesis dan menjerit ketika bibir Pak Prabu menyedot terlalu kuat.

“Sudaah ya paaak,,, saya takut kebablasan,,,” mohon Zuraida ketika Pak Prabu menghentikan aksinya, memutar tubuhnya berhadapan.

“Bu,,, saya akan menepati janji sayaa,, tapi bolehkan kalo saya nyelipin dipaha ibu seperti tadi pagi,,,” pinta Pak Prabu.

“Tapi pak,,”

“Buu,, apa saya pernah mengingkari janji?,,, saya hanya butuh penyelesaian, Bu,,,” potong Pak Prabu.

Zuraida memandang wajah Pak Prabu dengan bingung, memang hingga saat ini atasan dari suaminya itu selalu menepati janji.

Akhirnya, dengan berat hati Zuraida mengangguk, membiarkan lelaki itu mendekat, lalu membuka pahanya lebih lebar. Pak Prabu harus sedikit menekuk kakinya untuk memposisikan batangnya berada tepat dibawah vagina Zuraida.

“Eeengghh,, Paaak,,, koqhh,, sepertii iniii,,,” protes Zuraida, merasakan batang itu justru menggesek-gesek bibir vaginanya yang basah.

“Maaf Bu,,, posisinya sulit bangeeet,,,” jawabnya sambil menekuk kaki semakin dalam, berusaha menggesek batangnya lebih kebawah.

Sambil menahan rangsangan Zuraida mengamati posisi Pak Prabu yang memang sulit.
“Eeengghh,,, yaa sudaaaah,,, tapi tolooong paaaak,, jangaaan sampaai massuuukk,,, Aaaahhhsss,,,”

“Buuuu,,, nikmaaat bangeeeet,,,Eeesshhhh,,,” Pak Prabu memandang wajah Zuraida sambil mendesis nikmat, bergerak maju mundur menyenggamai bibir vagina yang sangat basah.

Sementara Zuraida hanya bisa mengagguk, tubuhnya ikut bergerak, menyambut setiap tusukan yang menyusur didepan bibir vagina.

Hati Zuraida mulai goyah saat memandangi wajah Pak Prabu, wajah yang galak tapi tegas, dengan rahang yang lebar layaknya wajah sang legenda Gajahmada. Hanya saja kumisnya terlalu lebat. Hati Zuraida tersenyum sendiri.

“Seandainya kumis itu dibersihin, meski sudah memasuki usia paruh baya, pasti lelaki ini akan terlihat lebih cute,” bisik hati Zuraida.

“Paaak,,, Terimakasih,,, selalu menemani saat hatiku sedang kacau,,,” ucap Zuraida tiba-tiba, membuat Pak Prabu kaget, Memandang wajah Zuraida. “Ingin sekali saya membiarkan punya bapak masuk kedalam tubuh saya, tapi saya,,, saya akan merasa sangat bersalah,,, maaf ya pak,,,” lanjutnya. Tangannya mengusap wajah Pak Prabu.

“Saya juga tidak akan meminta lebih koq Bu,,,, saya bisa mengerti kondisi ibu,,” Pak Prabu menghentikan gerakan pinggulnya. Membuka tangannya lebar, mengajak tubuh Zuraida masuk kedalam pelukannya.

Tapi Zuraida menggeleng, menolak ajakan Pak Prabu, dengan gaya yang manja memanyunkan bibirnya. Tangannya yang masih mengusapi pipi berpindah mengusap kumis yang lebat. Lalu iseng menyelipkan telunjuknya dibibir Pak Prabu.

Birahi membuat wanita itu ingin berlaku nakal, seperti Aryanti dan lainnya.

Dibalik tembok tempat dirinya bersandar, ada suaminya yang terus menemani Aryanti, ada Arga, cinta masa lalu yang kini kembali menyulut gelora cinta yang terpendam. Tapi lelaki itu kini berada dalam dekapan wanita lain.

Dan ditempat ini,,, hanya ada dirinya dan seorang pria yang sangat menggilai tubuh dan kecantikannya. Tak ada yang tau jika dirinya membiarkan batang keras yang berada tepat diselangkangan memasuki tubuhnya.

“Paaak,,, bapak diam aja yaa,,,”
Tangannya mencengkram pinggang Pak Prabu , lalu menggerakkan pinggulnya, menggesek bibir vagina pada batang yang mengeras layaknya kayu.

“Eeemmmpphhh,,, Eeemmmppphhhh,,,” Zuraida merintih.

Birahi mengambil alih akal sehatnya, menyilangkan kedua pahanya, membuat penis Pak Prabu sulit untuk menyelusup hingga akhirnya merangsek keatas, membelah gerbang kemaluannya.

“Oooowwhhsss,,, Paaak,” Zuraida terpekik, helm besar itu hampir saja menerobos memasuki kemaluannya. Segala sarafnya menegang.

Dengan menyilangkan kedua paha. Otomatis helm penis itu kini bergerak kesatu arah, bergerak intens menguak gerbang vagina yang basah.

Tapi jepitan pahanya terlalu kuat, membuat batang itu tertahan dipintu masuk.
Zuraida panik, sementara Pak Prabu mulai menggerakkan batangnya, terus mencoba merangsek masuk.

“Sayaaang,,, berbalik yaaa,,,” pinta Pak Prabu dengan gemetar, tak tahan dengan gaya nakal Zuraida.

“Paaak,,, cepet selesein yaa,,,” Zuraida menatap Pak Prabu, pandangan yang mengundang lelaki itu untuk menikmati tubuhnya secara nyata.

Setelah menghadap tembok, wanita yang masih mengenakan jilbab itu menoleh kebelakang, sekali lagi menatap wajah mesum Pak Prabu, lalu merentang lebar kakinya.

“Zuraidaaaa,,, kamu nakal Zuraidaaa,,, kamu nakaaaal,,,” teriaaaak hatinya, seiring tubuhnya yang perlahan membungkuk, menunggingkan pantat montok yang membulat kedepan penis Pak Prabu.

Tak ada pertahanan sedikitpun, sangat mudah bagi Pak Prabu untuk menusuk vagina dokter cantik itu.

“Buuuu,,, tubuhmu benar-benar indah,” Pak Prabu mendekat, meremas bongkahan daging yang tersaji, memposisikan batang tepat didepan gerbang vagina yang terkuak basah.

Wanita itu memejamkan matanya, dengan jantung berdebar menunggu penis Pak Prabu menguak bibir vaginanya dengan perlahan.

“Ooowwwhhh,,,, Pak,,,”
Tapi tiba-tiba batang itu melengos keluar, hanya menyusur lipatan bibir vagina. Tangan Zuraida mencengkram pohon kecil yang ada disampingnya dengan gregetan.

Zuraida bingung, kenapa hatinya justru kecewa saat batang itu urung memasuki tubuhnya. Seharusnya ia bersyukur.

Sementara Pak Prabu menggeram, menahan hasratnya. Bergerak menyetubuhi wanita yang telah pasrah hanya dari sisi luar.

“Buuu,,, saya akan selalu berusaha menepati janji saya,,, Eeemmpphh,,,” Tangannya merengkuh kedepan, menggenggam sepasang payudara yang menggantung.

“Terimakasih Pak,,,” jawab Zuraida setengah hati. Membiarkan tubuh dibelakangnya bergerak menggeseki bibir vaginanya. Membiarkan tangan lelaki itu menggerayangi setiap bagian tubuhnya

“Buuu,,, saya tidak tau seperti apa rasa nikmat dari lorong kemaluan ini,,,,”

Sesekali dengan nakal Prabu memasukkan sebagian jamur penisnya kebibir vagina seperti sengaja menggoda Zuraida.

Berkali-kali pula bibir tipis itu merintih kecewa saat jamur yang besar, memasuki sebagian lipatan vagina, tapi kembali melengos keluar.

“Bu,,, pegangin punya saya Bu,,,” pinta Pak Prabu, menarik tangan kanan Zuraida kebatang yang ada diantara kedua pahanya.

“Basaaaah,,, batang ini sudah sangat basah,,,” pekik hati Zuraida saat menggenggam penis Pak Prabu yang penuh dengan cairan yang keluar dari bibir kemaluannya.

Pak Prabu kembali menggerakkan pinggulnya, namun saat ini kendali batang penis lelaki itu berada dijari lentik Zuraida sepenuhnya. Jari lentik itu dapat mengarahkan batang besar kemanapun dirinya mau.

“Oooowwwhhhssss,,,Paaak,,,” Zuraida terkaget, saat jari-jarinya menekan penis itu menyusuri bibir kemaluan.
Akibat tekanan dari tangannya, Sentuhan yang dirasakan oleh bibir vaginanya terasa lebih kuat. Membuat tubuhnya menggelinjang.

Begitu pun pak prabu yang merasakan batangnya terjepit diantara telapak tangan dan bibir kemaluan. Semakin cepat pinggulnya bergerak menusuk, semaki kuat tangan wanita itu menekan keselangkangannya.

“Buuu,,, saya tidaaaak kuat Buu,,,, masukin Buu,,, Ooowwhhh,,, biarkan batang saya menjamah bagian terdalam memek ibu,,,”

“Buuu,,, memek muuu manaaaa,,, masukin Buuu,,, sayaaa mohooon,,,”

“jepit kontol saya kedalam memek ibuuu,,,”

Pak Prabu mulai meracau vulgar, meminta kenikmatan yang lebih. membuat birahi Zuraida semakin terbakar.

Bibirnya mendesis, badannya menggeliat tak menentu, pantatnya bergerak melakukan perlawanan, telapak tangannya dengan kuat menekan batang kebelahan bibir vagina.

Diantara kewarasan yang tersisa, Zuraida mengumpat kesal, lelaki yang tengah menunggangi tubuhnya itu memiliki kuasa penuh untuk menikmati liang kemaluannya, tapi kenapa justru meminta dirinya untuk melakukan.

“Aaaahhhsss,,, jangan paaaak,,, jaaangaaan buat sayaaa sepertii perempuaaan murahaaann,,, Ooowwwhhsss,,,”

“Buuuu,,,, saayaaa berusahaaa menepatii janjii sayaaa,,, sekaaraang tepati janjii ibuuu,,, plisss sayaaanng,,,”

“Oooowwhhhssss,,,,, siaaaaal,,,” Zuraida mengumpat kesal. Haruskah ia mendustakan prinsip yang selalu dipegangnya, hanya akan melakukan diatas dasar cinta.

Sementara batang Pak Prabu semakin sering menyelinap kedalam, membuat alat senggamanya berteriak menagih sebuah hujaman batang penis yang sesungguhnya.

“Paaaak,,, jangan buaaat sayaaa merasaaa berdosaaa, paaakk,,, aaaaeeenggghhhss,,,”

Zuraida semakin menungging, berusaha memamerkan sebagian pintu vaginanya kemata Pak Prabu, dikegelapan. Sisi liarnya berharap lelaki itu bersedia merojok pintu vagina yang terbuka lebar didepan penis yang mengacung.

“Ooowwwwhhhh,,, paaaak,,,, haaaampiiirr paaaak,,,” jantung Zuraida berdebar kencang, ketika kepala jamur yang besar tanpa sengaja berhasil melewati pintu vaginanya. Tapi dengan cepat Pak Prabu menarik kembali batangnya.

“Aaaawwwwhh paaaak,,,”

“Paaaak,,, kenapaaa punya sayaaa digituiiiin,,,”
“Eeeengggghh bapaaaak curaaaang,,,” jerit Zuraida.

Sadar kejadian tadi bukan suatu ketidaksengajaan, tapi Pak Prabu memang tengah bermain dengan lorong bibir vaginanya. Hanya memeasukkan sebagian kepala jamur, lalu kembali menarik keluar. Terus dan terus,, membuat Zuraida menggila.

“Argaaa,, maafin Zeeee,, maafin Zeeee,,, Zeee ngga kuaaat sayaaang,,,”
Air mata menetes dari mata yang bening, saat tangannya menggengam kuat batang Pak Prabu, membuat pinggul lelaki itu berhenti bergerak.

Dengan jantung berdebar Zuraida perlahan meletakkan kepala penis itu tepat digerbang peranakannya, dengan kaki dan paha yang gemetar, pantatnya bergerak menekan, membuat batang Pak Prabu perlahan menghilang kedalam alat senggama.

“Oooowwwssshhh,,,,, aaahhh,,,,,” seketika bibirnya melenguh saat rongga yang basah merasakan tekstur dari batang yang keras. Terus dan terus masuk hingga kebagian terdalam.

“Buuuu,,, terimakasih Buuuu,,,, punyamu benar-benar nikmaaat,,, owwhh,,,”

Zuraida mengagguk lemah, “Silahkan paaak,,, silahkaan bapaaak nikmatii,,, saya sudah memenuhi janji sayaaa,,”

Pak Prabu mengecup punggung Zuraida yang terbuka, mencengkram bulatan pantat yang tengah dibelah oleh penis besarnya. Lalu bergerak menyenggamai wanita yang jilbabnya tampak lusuh, pasrah akan apapun yang akan dilakukan si lelaki.

“Oooowwhh,,,, Akhirnya aku bisa ngentotin memek istrimu, Dakooo,,,”

“Argaaaa,,, pacaaaarmu aku entotin, Gaaaa,,,” teriak Pak Prabu ditelinga Zuraida, pantatnya bergerak

Zuraida meradang mendengar kata-kata Pak Prabu. tangan kekar lelaki itu begitu kuat mencengkram pinggulnya, vaginanya dengan cepat ditusuki batang yang begitu keras.

“Argaaaa,,, memeknya benar-benar nikmat, Gaaa,,,” semakin kasar kata-kata yang keluar dari mulut Pak Prabu, semakin cepat lelaki itu menghentak vagina si Dokter cantik.

“Maaaasss,,, aku disetubuhi bosmu maaass,,,”

“Argaaaa,,, tolong aku, Gaaaa,,,”

“Eeeeengghhh,,,,” suara rintihan Zuraida begitu memelas.

Tubuhnya terguncang menerima hentakan yang kasar, tapi siapa yang menyangka bila pantat mulus yang membulat itu justru semakin menungging, bergerak liar menerima setiap tusukan. Menggenggam tangan Pak Prabu yang kini meremasi kedua bulatan payudara, menjadikannya sebagai tali kekang untuk mengatur gerak tubuh siwanita.

“Oooowwwhhhssss,,, Paaaaakkk,,, sayaaaa ngga kuaaaat,,,,”
Kata-kata kasar Pak Prabu justru membuat dirinya bersiap menerima badai orgasme.

“Sayaaaa keluaaaaar,,, Aaaarrggghhhsss,,,”
“Sayaaaa keluaaaaar,,,,” tubuh indah itu menari menggelinjang, menahan batang Pak Prabu jauh didalam lorong, mencengkram erat sambil memuntahkan cairan yang menyiram kepala jamur.

“Buuuu,,, sayaaa jugaaa buu,,,, sayaaaa jugaaaaaa Aaarrrgghh,,,”
“Sayaaaa semprot memeeek ibuuu,,,”

“Paaaak,, jangaaaan didalaaaam,, jangan didalam,” tersadar dari buai orgasme, berubah menjadi panik.

Tangannya dengan cepat menggenggam batang yang hendak kembali menusuk,, dan,,,

“Aaaarrgghh,,,,” tubuh Pak Prabu mengejang, sperma menghambur dalam genggaman tangan si wanita, tepat didepan bibir vagina. Sebagian menyemprot celah kemaluan yang masih terbuka.

Zuraida panik, menarik tubuhnya,,, jari tengahnya dengan cepat mengorek kelorong kemaluan, berharap bisa mengeluarkan cairan sperma yang bisa saja menyelusup kedalam, meski dirinyapun tak yakin ada cairan yang berhasil menyelusup masuk.

Lalu membersihkan ceceran kental yang menghias dibibir vagina dengan gaun panjangnya.

“Argaaa,, Argaaa,,,” wajah Zuraida pucat seketika, matanya menangkap sosok Arga yang berdiri tepat dipintu keluar.

Lelaki itu terlihat syok dengan apa yang dilihatnya. Tak mampu berkata apapun, hanya amarah yang meluap.

“Argaaaa,,, jangaaaan pergi Gaaa,,, aku bisa menjelaskan semua ini Gaaa,,,”
“Argaaaa,,, jangan pergi lagi sayang,,,” rengek Zuraida, dengan tangis yang memecah suasana.

“Buuu tunggu, bu,,, maafkan saya,,,” Pak Prabu berusaha menahan tangan Zuraida, berniat untuk menenangkan. Sekaligus tidak tega melihat wanita itu menangis.

“Pak, perjanjian kita sudah selesai. Segala janji yang terucap telah saya penuhi,,, tolong jangan ganggu saya lagi,,, saya mohon dengan sangat,,” ucapnya sambil terisak, berusaha melepaskan pegangan Pak Prabu. Lalu berlari mengejar Arga kedalam cottage.

Sebagian tubuhnya masih terbuka, bahkan payudara kanannya masih tertinggal diluar gaun, tapi wanita itu terus berlari mengejar Arga.

Tak menghiraukan pandangan Mang Oyik yang tengah menyetubuhi Sintya yang terbaring diatas sofa.
Tak peduli pada ulah Kontet yang tengah meremasi payudara mungil milik Andini.
Tak peduli pada tatapan bingung Aryanti yang berbaring diatas kursi untuk berjemur, dibawah tindihan tubuh suaminya, Dako, yang tertidur lelap diantara gundukan payudara.

“Argaaaa,,, kumohon dengarlah sayaaaang,,, aku mohooon,,” Zuraida terisak dihadapan Arga yang baru saja membuka pintu kamarnya.

“Yup,,, ada apa?,,,” ucap Arga datar, berusaha meredam emosi. Melangkah kedalam kamar.

“Masih kurang?,,, masih pengen minta kepuasan dariku,,,”

“Aku tau siapa kamu Zeeee,,, wanita yang tidak mudah menyerahkan tubuhnya kepada lelaki lain,,,”

“Aku tau kamu seorang wanita yang menjunjung tinggi norma, dan karena itu pulalah aku begitu mencintaimu,,,”

“Tapi tadi aku melihat mu benar-benar seperti wanita liar,,,, aku seperti tidak mengenalmu,,, lihatlah pakaianmu,,, lihatlaaaah,,, kau tak ubahnya seperti,,, sepertiii,,,, Sudahlah,,, cerita kita memang harus diakhiri,,, dan memang sudah berakhir,,,”

Kata-kata Arga begitu menyakitkan hatinya. Tak pernah sekalipun telinganya mendengar kata-kata kasar terucap dari bibir Arga. Tapi memang itulah yang terjadi

Zuraida menangis semakin kencang,,, seperti gadis kecil yang ditinggalkan ibunya, jatuh meringkuk disisi kasur dengan tubuh gemetar.

“Maaf kan akuuu,,, aku memang salah,,, maaaaf sayaaaang,,, hiksss,,,”

“Tapi aku ini wanita, aku telah memohon kepadamu,,, menyerahkan tubuh yang kau anggap hina ini sepenuhnya kepadamu,,, tapi kau menolak dengan dingin,,,”

“Kau yang melepaskanku, kau yang meninggalkanku dengan pria lain,,,”

Suara Zuraida hampir tak terdengar, hilang ditelan isak tangis.

“Arga,,, terimakasih untuk cintamu,,, maafkan laah aku,,, aku memang tidak pantas untuk dirimu,,,” wanita itu berusaha untuk bangkit, dengan mata berlinang berusaha menatap wajah Arga, seolah itulah terakhir kali dirinya dapat menatap wajah lelaki itu.

“Arga,,, meski berulang kali kau acuhkan aku,, meski berulang kali kau meninggalkan ku, aku selalu mencintaimu, sangat mencintaimu,,hikss,,, selamat tinggal, sayang.” ucapnya terbata, tak kuat mengucap kata terakhir.

Pertahanan Arga ambrol, lelaki perkasa itu melelehkan air mata. Air mata yang mampu ditahannya saat tubuh adiknya meregang nyawa dipangkuan, akibat kecelakaan.

Tapi air mata itu jatuh saat mendengar kata perpisahan dari seorang Zuraida. Mendengar jerit hati wanita yang tak terucap.

“Zeee,,, jangan menangis sayaaaang,,, jangaaaan menangis wahai kekasih hatiku,,, maafkan semua kebodohan dan ego ku,,,”

“Aku pun tak sesuci yang engkau harapkan, bahkan hatiku lebih kotor darimu,,”

Tubuh Arga menghambur memeluk tubuh Zuraida yang tampak begitu ringkih. Mengecupi air mata yang meleleh dipipi.

“Zeee,,, ” Arga menuntun Zuraida untuk duduk disisi kasur, menyapu wajah lembut yang basah oleh air mata.

“Maafkan aku, semua yang kulakukan selalu saja salah, meski itu untuk kebaikan mu,,,,” Arga menggenggam tangan Zuraida.

“Seharusnya diwaktu yang tersisa,, aku selalu memeluk mu, menghabiskan setiap detik bersamamu, tapi aku justru sengaja mengacuhkanmu, bahkan meninggalkanmu bersama lelaki lain. Maafkan aku,,,,”

“Arga,,, aku menyayangimu,,,, masih mencintaimu seperti dulu,,,” bibir Zuraida mengucap pelan, seperti tidak mendengarkan apa yang dikatakan Arga. Pikirannya masih merutuki kejadian beberapa menit lalu, saat tubuhnya bergerak begitu liar melayani Pak Prabu. Seorang wanita jalang yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Iya sayaaang,,, aku tauu,,, kau membuatku semakin merasa bersalah,,,”

Zuraida menatap lekat mata Arga, seolah mencari sesuatu dibalik tatapan tajam seorang lelaki. Tidak seperti tadi yang begitu dingin, binar mata yang beberapa tahun lalu selalu dirindukannya.

“Arga,,,” bibir tipisnya tampak ragu untuk mengucapsesuatu. Gundah terbaca jelas dari wajahnya.

“Ada apa sayang,,, tak perlu memikirkan sesuatu yang membuatmu bersedih, hingga waktu itu tiba, aku akan selalu berada disampingmu, tak akan meninggalkanmu sedetikpun,,,,”

“Sekarang beristirahatlah, aku tau kejadian tadi bukan sesuatu yang membuatmu gembira,,” membaringkan tubuh wanita yang sesekali masih sesenggukan menangis, berusaha melepas jilbab dan gaun yang melekat ditubuh Zuraida.

Wanita itu bingung dengan apa yang dilakukan Arga, tapi tubuhnya hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan lelaki itu pada tubuhnya. Tapi Arga hanya tersenyum. Meletakkan gaun yang sudah terlepas kelantai. Lalu beranjak menuju kamar mandi.

Lelaki itu kembali dengan membawa handuk kecil dan gayung yang terisi air. Dengan perlahan dan telaten menyeka wajah Zuraida, mengusap leher dan setiap sisi tubuh. Zuraida merapatkan pahanya saat usapan Arga tiba diselangkangannya.

“Jangan, Gaa,,,” larangnya, tak ingin lelaki itu mendapati cairan sperma yang masih tersisa diselangkangannya.

Arga mengangguk sambil tersenyum, meminta wanita merentangkan kedua pahanya. Senyuman yang tulus. Zuraida membuang wajahnya saat Arga mengangkat pahanya membuka lebih lebar.

Tangan Arga terdiam, meski sudah tau apa yang akan didapatinya dilipatan tersebut, tetap saja hatinya terasa sakit. Setelah menguatkan hati, tangannya bergerak mengusap membersihkan cairan kental yang melekat pada paha dan bibir vagina.

Setelah merasa cukup bersih, tangan Arga bergerak kebawah, membersihkan bagian yang lain.

“Wuuuhh,,, kaki mu kotor banget sayang,,, pasti tadi seru banget ya,,,” goda Arga.

Wajah Zuraida memerah, memukul tubuh Arga sambil merengut. “Jangan menggodaku, kata-katamu membuatku sedih, sayang,,,”

Setelah membersihkan tubuh Zuraida hingga kemata kaki, diselimutinya Zuraida, mengusap rambut wanita itu memintanya beristirahat. Zuraida kembali merengut manja, meminta Arga ikut masuk kedalam selimut.

ZURAIDA AND FRIENDS PART 9

Arga mendengus kesal, seharusnya malam ini bisa menjadi malam yang indah, tapi hati kecilnya seakan memberi perintah untuk membuat benteng pertahanan untuk luka yang lebih, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Setelah menikmati cinta dan kasih sayang yang diluahkan oleh Zuraida, membuat lelaki itu sempat berfikir untuk terus menjalin hubungan dengan Zuraida, walaupun itu harus menghianati Aryanti dan Dako.

Tapi akal waras nya masih bisa memprotect, maka tak ada pilihan selain menjaga jarak dengan Zuraida secara perlahan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk wanita itu.

Niat itu sempat goyah saat menatap keanggunan Zuraida malam itu, tubuh semampai yang dibalut longdress putih, begitu memukau matanya. Arga coba menegarkan hati saat wanita itu membawakan lagu ‘Broken Angel’.

Tak tega melihat kemurungan Zuraida akibat sikap cuek yang sengaja dipertontonkannya. Ingin sekali dirinya berlari menghampiri dan memeluk wanita yang begitu cantik dalam balutan jilbab putih.

Tapi semakin dirinya mencinta, semakin besar kesadarannya, Cinta mereka tidak mungkin bersatu, bertahan dalam hubungan semu hanya akan membuat Zuraida dan dirinya semakin terluka.

Sepanjang pesta, mata Arga silih berganti menatap Zuraida dan Aryanti. Antara ego hati dan rasa bersalah, bagai dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisah, namun tak mungkin pula untuk dipertemukan menjadi satu.

Ajakan Aryanti untuk bertukar pasangan hanya membuat keadaan semakin rumit. Hingga akhirnya hatinya kembali terjerembab dalam pelukan cinta Zuraida yang syahdu. Menikmati segala cumbu Zuraida diantara irama tubuh mereka yang mengalir mengikuti irama musik, dengan cinta yang tertahan, tak mampu diluahkan.

Ada rasa rindu saat telapak tangannya mengusapi kemaluan si betina, tentang kenikmatan yang ditawarkan, kepasrahan yang nyata untuk dipuaskan oleh batangnya yang tengah menagih kenikmatan yang sama.

Ingin sekali Arga menggagahi tubuh Zuraida, menikmati tubuh indahnya disaat sang wanita merintih untuk sebuah penyelesaian.

Tapi persetubuhan hanya membuat ikatan mereka semakin kuat, tak mungkin mengakhiri sebuah kisah, sementara tubuh mereka menyatu dalam hasrat yang sama.

Hingga akhirnya Pak Prabu menghentikan irama kaki mereka, meminjam sang tercinta untuk sebuah fantasi yang tak pernah mampu diluahkan oleh atasannya itu.

Tak ada yang tak berhasrat pada wanita secantik Zuraida, pada tubuh indah yang malam itu dibalut kain tipis yang ketat. Begitupun dengan semua pejantan ditepat itu, pernah mengungkapkan hasrat untuk menunggangi tubuh dokter cantik itu.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

Bola mata bening yang menatap wajahnya, memohon tak ingin dilepaskan. Pikiran Arga kacau. Haruskah dirinya menceritakan semua pada Zuraida. Tentang besarnya rasa kasih yang ingin diluahkan kepada wanita yang berada dalam pelukannya.

Tentang ketidak berdayaan nya atas kuasa Pak Prabu. Tentang permainan yang tengah para lelaki jalani, menjadikan para tubuh para wanita sebagai piala yang mereka perebutkan.

Hingga akhinya tangan Arga jatuh terlepas, tanpa suara, bagai sebuah robot menarik setiap sisi bibir agar bisa tersenyum, mempersilahkan Pak Prabu mengambil si cantik dari pelukannya.

Begitu berat Arga melepaskan pelukannya dari tubuh Zuraida. Seandainya yang meminta adalah Munaf atau Adit mungkin dirinya masih bisa menolak, tapi,,,

Arga mundur beberapa langkah menuju meja, menatap langkah kaki gemulai Zuraida mengikuti gerakan dalam pelukan lelaki lain.

Dibias cahaya temaram, Tubuh Arga gemetar, mengutuki dirinya sebagai pecundang. Menatap wanita yang hanya bisa pasrah, saat si lelaki menelusuri pinggang yang ramping menuju pinggul yang sensual. matanya menangkap bagaimana geliat tangan Pak Prabu mengusap pantat Zuraida yang membulat.

“Uggghhh,,, aku harus melepasnyaaa, tapi aku juga tidak sangggup melihatnya dalam pelukan lelaki lain,” batin Arga berkecamuk.

Berkali-kali matanya menangkap bagaimana tubuh semampai itu menggeliat saat Pak Prabu melakukan usapan nakal pada gundukan payudara yang tidak terlindung oleh bra, hanya kain dari gaun tipis yang seolah tak berarti apa-apa.

Kaki Arga gemetar meninggalkan tempatnya berdiri, tak ada daya, perjanjian telah disepakati, setiap orang berhak untuk mendekati siapapun dalam liburan ini. Gontai, menuju sofa yang dihuni oleh Andini yang tengah dibius oleh cumbuan tangan Mang Oyik.

Mengabaikan pandangan Andini yang menyirat pesan birahi kepadanya, menggeliat menerima usapan tangan Mang Oyik diselangkangan yang tak lagi terlindung oleh kain.

“Paak,,” ucap gadis itu, menepis tangan Mang Oyik, beralih memeluk Arga yang duduk disampingnya.

“Andini kangen bapak,,, Dini kangen punya bapak,,,”

“Din,,, kamu mabuk,,,”

Tak menjawab, tapi gadis itu langsung memagut bibir Arga dengan ganas. Arga dapat merasakan bau alkohol dalam balutan rum dari bibir tipis itu. Arga berusaha mengelak mendorong istri Adit itu dengan pelan, namun si mungil justru menaiki tubuhnya, mengangkangi pahanya, bergerak liar menggoda, menari memberi sentuhan ketubuhnya dengan payudara mungil yang menggantung.

“Zeeee,,,” panggil Arga lemah. Dikejauhan, dilihatnya Zuraida membuang muka, seolah takut menatap padanya, saat tangan Pak Prabu bertamasya digundukan payudara yang membulat, meremas, mengusap dan,,, merangsek tubuhnya seolah ingin menyatu dengan sicantik.

“Aaaggghh,,, Sialaaan,,,” Dengus Arga kesal melihat ketidakberdayaan Zuraida untuk menolak. “Tepislah sayang, kau berhak melakukan itu, kau tidak terikat apapun, tamparlah wajah yang berusaha mengejar bibirmu,,,” batin Arga berteriak, protes pada kepasrahan Zuraida.

Sementara, dihadapannya,,, ranum tubuh seorang Andini meliuk diatas pangkuannya, memohon untuk sebuah percumbuan.

Membuang rasa kesal, dengan cepat Arga melumat payudara mungil Andini dengan beringas, membuat bibir gadis itu meringis tertahan. Merintih menikmati gigitan nakal. Tak puas dengan aksi bibirnya, tangan Arga ikut bergerak meremas. Membuat Andini yang tengah mabuk semakin belingsatan.

Disamping mereka, Mang Oyik yang tersisih cukup tau diri, tak ada guna dirinya duduk disamping dua tubuh yang tengah bergulat dalam birahi yang panas. Matanya segera menyisir tepian kolam renang, mencari betina lain yang dapat dimangsa olehnya.

Tersenyum girang saat mendapati tubuh Aida yang tertelungkup dimeja bar, kelelahan setelah melakukan pacuan birahi. Beranjak mendekati. Menegur untuk mencari tau kondisi si betina yang kelelahan. Bagian bawah gaunnya masih tersingkap, memamerkan bulatan pantat yang seksi.
.
Mang Oyik tersenyum girang, beringsut kebelakang tubuh Aida, Dibawah tatapan garang Munaf yang masih sibuk menunggangi tubuh montok Bu Sofie, Mang Oyik mengagguk kalem, seolah meminta izin untuk memasukkan perkakasnya kebelahan vagina yang masih basah oleh sperma Adit.

“Mang,,, jangan Mang,,, Awas kalo berani,”

“Iiisshh,,, udah jangan ribut,,, cepet selesein, punya ku udah mulai perih nihh,,, Oowwhhhsss,,, jangan dipelintir Naf,,,” celetuk Bu Sofie yang meringis akibat putingnya yang dipelintir oleh Munaf. mengangkang diatas bangku, menikmati batang yang sedari tadi masih bertahan.

“Aaaagghh,,, sialan kau Mang,,,” teriak Munaf saat menyaksikan Mang Oyik menarik pantat istrinya lebih kebelakang, wajah cantik Aida hanya bisa meringis, ketika Mang Oyik meremas-remas pantat yang semakin menungging.

“Ooowwghhh,,, Pahh,,, Papaahh,,, siapa lagi yang nusuk memeq mamah, Paah,,,” Rupanya wanita itu benar-benar mabuk, menoleh kebelakang mencari tau siapa lagi yang tengah menggarap liang kawinnya.

“Mang Oyik Mah,,, Mang Oyik yang ngentotin mamaah,,, Ugghhh,,” Munaf mencengkram pinggul Bu Sofie dengan kuat.

“,,, pelan-pelaaan ya Mang,,,Eeengghh,,, jangan kasar seperti kemaren,,”

DEEGG,,,
Munaf kaget bukan kepalang, Aida memang sudah pernah melayani penjaga cottage itu,,, saat mereka baru tiba dipantai,,, dikamar lelaki berambut kriwel itu,,,. Hatinya semakin panas saat menyaksikan cara Aida melayani lelaki bertampang mesum itu, membetulkan duduknya, memastikan batang Mang Oyik dapat bergerak bebas menusuk vaginanya dari belakang.

“Naaafff,,, udaaah cuekin ajaaa,,, ngentotnya pindah kepintu belakang yaa,,, memek ku udaaah panass nih,,,” ucap Bu Sofie menarik batang Munaf keluar, lalu mengarahkan kepintu belakang.

“,,, kenapa ngga dari tadi Bu,,, Aaagghh,,, yang belakang masih sempit banget Bu,,,” Munaf menggeram saat batangnya mulai tenggelam dilubang anal. Bu Sofie tertawa, mengangkang semakin lebar.


“Zuraidaa,,, mana Zuraida ku,,,” ucap Arga panik, tersadar dari hasrat yang ditawarkan tubuh ranum Andini.

Matany bergerak liar mencari sosok Zuraida, namun wanita itu sudah tidak berada ditempatnya semula. Semakin jauh, disisi seberang kolam, masih dalam pelukan Pak Prabu.

“Zuraidaaa,,, tepis lah tangannya sayaaang,,, jangan biarkan menjamah tubuhmuu,,,” ucap Arga, meski jauh matanya masih bisa menangkap gerakan tangan Pak Prabu yang bergerak nakal disekitar selangkangan Zuraida. Perlahan keduanya semakin jauh, hingga akhirnya menghilang direrimbunan tanaman hias.

“Tidak,, tidak mungkin,,, aku mengenal Zuraida lebih dari siapapun,, tidak mungkin menyerahkan tubuhnya semudah itu kepada lelaki lain,,, usaha Pak Prabu pasti akan sia-sia,,,” Arga mencoba menghibur sekaligus menguatkan hatinya.

Walau bagaimanapun tidak mungkin dirinya merelakan wanita yang begitu dikasihi dijamah oleh lelaki lain.

“Ooowwsshhh,,,, siaaaal,,, Diiiin,,, kamu ngapaain,,,” Arga merasakan batangnya kini sudah berada dalam genggaman jemari yang lentik, sementara tubuh mungilnya bergerak maju mundur menggesek batangnya didepan pintu vagina yang tak lagi berkain pelindung.

“Paaak,,,, Dini kangeeen punya Bapaaaak,,, entotin Dini lagi ya paaak,,”
Pinggul dan pantatnya bergerak sinergis menggesek batang Arga yang tertekuk keatas. Bagaikan sebuah hot dog,, batang besar Arga diapit oleh pintu vagina yang membekap basah, bergerak maju mundur seakan melumuri batang Arga dengan selai putih yang semakin banyak.

“Paaaak,, Dini masukin yaaa Paaak,,, Diniii masuuukin,,, Dini udah ngga kuaaaat,, Aaaeeeengghhh,,,” Andini mengangkat tubuhnya, memposisikan batang Arga tepat didepan liang yang mungil, dan,,,,

“Aaggghhh,,, Paaaak,, punya bapak besar bangeeeet,,,” Pantat Andini yang memang tidak begitu besar, sesuai dengan tubuh nya yang mungil, bergerak turun. Sungguh pemandangan yang kontras dengan batang Arga yang besar, yang perlahan membelah tubuhnya.

“Ngga bisa masuk semua Paaak,,” Andini terengah-engah, vaginanya hanya mampu melumat tiga perempat penis Arga. Setelah merasa liangnya bisa beradaptasi dengan batang yang menusuk jauh kedalam, pantatnya mulai bergerak. Bibirnya mendesis menikmati saraf-saraf sensitif yang mengirim sinyal kenikmatan.

Arga menatap wajah cantik Andini, wajah berkeringat yang tengah mendesis menikmati batang didalam tubuhnya. Bergerak naik turun melahap batang yang terlalu panjang bagi liang vaginanya yang dangkal.

“Paaaak,,,” Andini tersenyum sayu, menggenggam tangan Arga yang terhulur menjamah payudara yang hanya berukuran 32b, pengaruh alkohol mulai memudar, berganti dengan birahi yang menguasai otak remajanya.

“Gadis kecil yang nakal, kasian suami mu bila kemaluan mu ini terlalu sering menerima batang besar seperti milikku dan Pak Prabu,”

Wajah Andini merajuk, tangannya cepat menutup mulut Arga, tapi memang seperti itulah yang tengah dirasakannya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada gaya bercinta oleh lelaki yang bukan suaminya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada batang besar.

Gerakan tubuh Andini berubah-ubah, kadangkala bergerak naik turun, lalu bergerak maju mundur, sesekali pantatnya bergerak memutar, memelintir batang Arga.

Lama Arga terdiam, menikmati kenakalan Andini.

Praaaang,,,
Praaang,,,

Seketika mata Arga mencari asal suara, gelas kaca yang jatuh dan pecah tepat disamping Aryanti yang dibaringkan Dako diatas meja kecil. Tampak sahabatnya itu tengah mencucupi selangkangan Aryanti, geliat tubuh istrinya membuat semua yang ada dimeja terjatuh.

“Maaf, aku tidak bisa menjaga istrimu, Sob,,,” lirih batin Arga. Lalu mengawasi pohon hias yang sesekali bergerak. Entah apa yang tengah terjadi pada Zuraida.

Tiba-tiba Matanya menangkap langkah Zuraida yang terhuyung, dibopong Pak Prabu menuju pintu keluar.

Hati Arga semakin kacau saat melihat bagian bawah jilbab Zuraida yang tersimpan rapi dibalik gaun putih kini terurai keluar. Sementara gaun panjang yang menutup hingga kemata kaki, tampak terangkat keatas, beberapa senti dibawah selangkangan, memapar paha dan kaki yang putih mulus.

Apakah Pak Prabu sudah berhasil menikmati tubuh Zuraida?,,, ataukah mereka baru memulai dan bersiap menyelesaikan semua dibalik tembok kolam renang.

Arga menggeram emosi.

Sekilas terbayang geliat liar tubuh Zuraida, saat vagina tembem milik wanita berjilbab itu melayani kejantanan nya, ditepian pantai yang sepi.

“Paaak,,, jangan liat kelain,,, liatin memeq Dini aja Paaak,,,” rengek Andini meminta perhatian.

Arga yang tengah panik dan cemburu menjadi kesal, lalu membentak gadis itu dengan kasar.

“Diam kamu Din,,, apa kamu tidak melihat Zuraida tengah dikerjai Pak Prabu, Heh?,,,”

Sontak gerak tubuh Andini terhenti, wajahnya menjadi pucat, tubuhnya merinding melihat kemarahan Arga, nafsu yang tadi menggelegak sirna begitu saja. Sekalipun dirinya tak pernah melihat lelaki yang selalu ramah itu marah,,, sangat marah.

“Maaf Din,,, Maaf,,, terlalu banyak pikiran yang mengganggu,” ucap Arga sambil mengusap pundak Andini yang terbuka. Merasa kasihan melihat wajah gadis yang ketakutan melihat amarahnya.

Sesaat mata Arga mengamati pintu yang cukup jauh dari mereka, tak ada tanda-tanda kedua insan itu kembali ketempat. Menghempas deru dihati dengan membuang nafas panjang.

“Maaf bila selama ini aku egois,, tak pernah mencoba menyelami hatimu, aku selalu sibuk dengan egoku,,,,” Arga membatin, memaksa hatinya untuk merelakan apapun yang akan dilakukan Zuraida.

“Dini bisa mengerti koq pak,,,” jawab Andini tiba-tiba, mengagetkan Arga, berusaha untuk bangkit, melepaskan batang Arga yang masih berada didalam vaginanya.

“Kamu belum selesaikan?,,,” tanya Arga sambil menahan pinggul gadis itu, tidak membiarkan batangnya terlepas.

“Eeeh,, ngga apa-apa,,,”

“Yaa,, kalo gitu aku yang belum selesai,,, bantuin yaa,, boleh semprot didalem lagi kan?,,” tanya Arga, bangkit sambil menggendong tubuh Andini, lalu membaringkan gadis itu diatas sofa.

Andini mengangguk sambil tersenyum masih dihantui rasa takut akan amarah Arga yang tadi sempat meledak. membiarkan Arga merentang kedua kakinya, memandangi kemaluannya yang masih basah. Lalu kembali mengangguk saat Arga bersiap kembali memasukkan batangnya.

“Eeeengghhh,,, Paaak,,,” bibirnya mengerang, meski kali ini batang itu lebih mudah memasuki tubuhnya, tetap saja gadis itu mengerang.

“Maafin aku tadi ya,,, aku terlalu banyak pikiran,,,” terang Arga, mencoba merayu Andini.

“Iyaaa,,, ngga apa-apaa Paaak,,, tapi sekaaarang,, sayangin Dini duluuu ya Pak,,,” ucap gadis itu, setelah yakin Arga kembali menjadi lelaki dewasa yang dikenalnya.

“Pengen disayang,,, atau pengen dientot?,,,”

“Dua-duanya,,,hihihi,,,Aaahhsss,,,”

Hentakan-hentakan penuh tenaga dalam ritme yang teratur dengan cepat membuai keduanya, desahan dan rintihan Andini cukup membantu Arga untuk lebih memperhatikan gadis yang tengah ditungganginya.

“Paaak,,, Ooowwhhsss,,, sesak banget Paaak,,,”
“Mentok sampe keujuuung Paaak,,,”

Arga tertawa melihat tingkah Andini yang kembali liar.

“Din,,, siapa aja sih yang pernah nyicipin lubang sempit mu ini?,,,” tanya Arga, setelah menjatuhkan tubuhnya menindih tubuh mungil Andini. Gerakan pinggulnya berubah menjadi pelan, sesekali mengulek kekiri dan kekanan.

“Eeenghh,,, banyak sih pak,,,” jawab gadis itu malu-malu. “Tapi cuma punya bapak yang bikin Dini ketagihan,,,” sambungnya cepat.

“Kenapa?,,, kan punya Pak Prabu juga gede,,,” Arga menghentikan gerak pinggulnya, membiarkan gadis itu bermain-main dengan batang yang ada didalam tubuhnya.

“Punya bapak bukan cuma gede, tapi juga panjang banget,,, berasa banget nyundul didalam memeq Dini,,, enak banget Pak,,,”

“Aahh maca ciiihh,,,”

Andini tertawa melihat lelaki yang tengah menindih tubuhnya itu bergaya sok imut. Mungkin gaya bercanda Arga juga mempengaruhi penyebab dirinya lebih senang bila tubuh mungilnya dinikmati lelaki itu.

“Itu bukan karena punya ku yang panjang,, tapi type memek mu yang cendek banget, makanya sampe nyundul mentok gini,,,” Arga menggerak-gerakkan batangnya, seolah ingin menunjukkan kepala jamurnya memang menyentuh bagian terdalam dari liang kemaluan gadis itu, semakin Arga menusuk, semakin menggeliat Andini dibuatnya.

“Paaak,,, masukin yang dalam yuuuk,,, Dini pengen ngerasain gimana rasanya melumat batang gede ampe habis,,,hihihi” Andini mulai berani memeluk leher Arga.

“dikolam kemarin kan udah,,, ngga tega aku Din, liat kamu sampe njerit-njerit,,,”

“Tapi Dini ngejerit itu kan gara-gara Dini,, engghh,, orgasme,,,” Arga bisa merasakan bagaimana gadis itu tersipu malu, menuai orgasme oleh lelaki lain tepat dipangkuan suaminya.

“Bener mau dimasukin semua?,,,”
Andini mengangguk sambil tersenyum lucu.

“Ngga takut sakit?,,,”
lagi-lagi kepalanya mengangguk, membuka lebar pahanya, mempersilahkan Arga beraksi.

“Kalo ngga bisa masuk semua, ngga boleh keluar dimemeq Dini,,,hehehee,,,”

Sontak Arga tertawa mendengar tantangan gadis yang baru beberapa bulan lulus dari bangku SMA dan langsung dipinang oleh Adit.

“Hahahaa,, ternyata Adit bener-bener pinter milih istri,,, kamu nakal sayaaang,,,” bisik Arga ditelinga Andini, lalu bergerak menusuk pelan, merasa tak ada perubahan penisnya mulai menghentak, berusaha menggendor pintu rahim.

“Ooowwwhh,,, Paaak,, lebih keraaas,,,” rengek Andini seketika. Permohonan gadis itu dikabulkan Arga dalam hentakan berikutnya, terus menggedor, menggasak pintu rahim.

Andini mulai meringis, selangkangannya terasa ngilu, hentakan batang Arga semakin keras dan kasar, jepitan vagina Andini semakin kuat membuat Arga menjadi lebih beringas.

Perlahan penis Arga memasuki wahana baru yang tidak biasa dimasuki penis para lelaki.

“Paaaaak,,, masukin ke rahim Dini paaak,,,” terengah-engah gadis itu mengangkat pinggulnya, semakin kasar Arga menyetubuhi vagina mungilnya semakin liar pinggulnya bergerak, terangkat tinggi seakan menantang batang Arga untuk memasuki tubuhnya lebih dalam.

“Aaagghhhh,,, sudaaaahh masuuuk semuaaa sayaaaang,,, boleh nyemprot sekaraaaang?,,,”

Mulut Andini terbuka lebar, begitu sulit tuk bersuara, liang vaginanya terasa begitu penuh oleh batang Arga, memasuki bagian yang tak pernah terjangkau oleh semua penis lelaki yang pernah menikmati tubuhnya. “Phhaaak,,, semprooot,,, semprooot,,, rahim Dini udah siaaaap,,,”

Dalam hentakan yang keras, Arga menghempas tubuh Andini kesofa, penisnya menghambur sperma tepat dirahim Andini yang menggeliat meregang orgasme. Kaki nya membelit paha Arga, memastikan batang yang tengah menyetor sperma tetap berada ditempatnya.

“Paaak,,, Andini sayaaang Pak Argaaa,,,” rintih Andini, memandang sayu wajah Arga yang masih meretas kenikmatan didalam tubuhnya.

Arga tercekat, ucapan Andini terdengar serius ditelinganya, balas menatap mata Andini yang pasrah dalam dekapannya. Tak ada kebohongan hanya ketulusan seorang gadis belia. Pelan dikecupnya bibir Andini. Lalu melumat dengan lembut.

“Maaf Din, tapi aku,,,”

“Hehehehe,,, iya,,,iya Dini cuma bercanda koq pak,,,” potong Andini cepat. Membenamkan wajahnya dibalik tubuh Arga yang tinggi besar. Terdiam. Menyembunyikan perasaan yang terucap tanpa sengaja.

Tiba-tiba keduanya terkejut, batang Arga yang masih berada didalam vagina Andini mengejat mengeluarkan sperma yang masih tersisa.

“Masih belum habis ya,,, hihihi,,, Ayo cepat keluarin semua, punya Dini masih sanggup nampung koq,,,”

Arga ikut tertawa, lalu mengejan memaksa keluar sperma yang tersisa, memenuhi rahim gadis yang masih memeluknya dengan mesra.

“Tuuu kan,,, masih ada,, ayo keluarin lagi,,,”

“Hahahaa,, sudah habis sayang,, punya mu bener-bener hebat,,, lebih hebat dibanding dikolam kemarin.”

Andini tertawa bangga. “Paaak,, kalo nanti bapak kangen punya Dini, Waktu Mas Adit ngga ada dirumah, bapak boleh koq datang, make punya Dini ampe bapak puas,,hehehe,,”

“Huuusss,,, nakal kamu,,, ngga boleh,, cukup diliburan ini aja,,, ntar aku dibunuh sama Adit kalo ketahuan,,,”

“Bener nih ngga mau,,, padahal Dini pengen nyobain ditusuk dipintu belakang,, masih perawan lho, belum pernah ada yang nyobain,,,” Andini mengerling genit menggoda Arga. “Kalo ngga ketahuan sama Mas Adit berarti ngga apa-apa kan? Hihihi,,,”

“Ihhh,, dasar nakal,,, memeq mu aja sempit banget, ngga kebayang kalo aku harus merawanin pintu yang belakang,,,”

Merasa penasaran, tangan Arga terhulur kebawah meraba pantat Andini,lalu perlahan mengusap liang anus yang imut.

“Pengen ngga?,,,” tantang Andini lagi, menggeliat geli akibat ulah jari tengah Arga yang coba menusuk-nusuk analnya, tepat dibawah batang yang masih memenuhi liang vagina.

“Kata mba Aryanti, nikmatnya beda kalo ditusuk dibelakang,,, lagian Pak Arga juga senengkan nusuk dibelakang?,,,hehehe,,,”

“Hahahaa,,, kalo gitu jangan izinin siapapun nyicipin ni lubang, sampai nanti aku yang nyobain, termasuk Adit, Ok?,,,”

Andini tertawa saat nama suaminya disebut,,, tapi kepalanya mengagguk menyetujui, “hahaha,,, ya termasuk Mas Adit,,,,” ucapnya riang tanpa merasa berdosa, pola pikir perselingkuhan khas anak ABG begitu mendominasi. Lalu keduanya kembali beradu bibir bersilat lidah dengan panas.

“Paak,, kalo sama Bu Zuraida pernah nyicipin dimana aja?,,,”
Entah sadar apa yang diucapkannya, tapi pertanyaan Andini menyadarkan Arga.

“Zuraida,,, Mana Zuraida?,,,” dengat cepat mata Arga menyapu sisi kolam renang, tapi tak ada “Maaf Din,, aku harus mencari Zuraida,,, maaf banget,,,” ucap Arga.

Andini terhenyak, menyesali apa yang diucapnya, penis yang memenuhi vaginanya terlepas. Mencoba tersenyum saat Arga meminta maaf, memaksa hatinya untuk memaklumi posisi Arga yang tengah terjerat cinta terlarang, dan posisinya sebagai wanita cadangan, pelarian dari hasrat kelelakian Arga yang liar.

ZURAIDA PART 8

“Heeyyy cint,, Ayo bangun,, kita siap-siap,,, ntar dicariin bu Sofie lhoo,,” Zuraida coba membangunkan Aryanti yang masih tertidur.

Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Aryanti yang masih agak lembab. Memandang wajah cantik sahabatnya yang terlelap. Terbersit rasa bersalah dihati Zuraida atas permainan hati yang tengah dilakoninya bersama Arga.

“Eehh,, Zuraidaa,,,”
Aryanti terbangun, kaget, dengan panik menutupi bagian atas tubuh yang terbuka dengan selimut.

“kamu sudah pulang?,,,” bangkit, lalu bersandar didinding. Tangannya berusaha menutupi beberapa tanda merah disekitar leher dan dada dengan selimut.

“Ya sudah pulanglaaah,, emang ini jam berapa,, hampir jam tujuh sayang,,, diluar sudah mulai gelap,,” jawab Zuraida sambil tersenyum melihat tingkah Aryanti yang panik. Matanya sudah terlanjur melihat tanda merah itu, dan menebak-nebak siapa yang membuat ulah, memberi tanda bibir begitu banyak ditubuh sahabatnya.

“Sayaaang,,, aku pinjam celana pendek Arga dong,,,”

Tiba-tiba Zuraida mendengar suara suaminya, Dako, dari arah kamar mandi. Reflek wanita itu menoleh. Benar saja, suaminya tampak keluar dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian, terkaget.

Zuraida diam membisu, nalarnya dengan cepat memberi isyarat tentang apa yang baru saja terjadi.

Aryanti yang mengira Dako sudah kembali kekamarnya tak kalah kaget, wajahnya seketika pucat, memandang Zuraida dengan rasa bersalah.

Seketika hening tercipta, kekakuan merambati tiga hati.

Dako dengan kikuk menutupi kemaluannya dengan tangan. Entah merasa malu pada siapa.

“Zuraidaa,,, maaf,, kami,,,”

“hahaha,,, ngga apa-apa sayang,,, kita impas koq” sela, Zuraida. Raut wajah kikuk nya berubah menjadi senyum malu-malu, tapi rona bahagia tak mampu disembunyikan wanita berjilbab itu.

Aryanti balas tersenyum, tersenyum kecut, tersenyum bersama sembilu yang menusuk jauh kedasar hati, mendengar penuturan sahabatnya yang tampak bahagia.

“Mas,, koq bengong sih, cepet sana ganti baju,,,”
celetuk Zuraida. Membuat Dako kaget, matanya celingak-celinguk mencari pakaian tapi nihil. Sambil terus menutupi selangkangannya dengan tangan, lelaki itu ngacir kearah pintu keluar, setelah yakin tidak ada orang dengan cepat berlari kekamarnya.

“Hahahaa,,, dasar Mas Dako,,,” Zuraida tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti maling ketangkap basah.

Aryanti ikut tertawa, lalu beralih mengamati wajah Zuraida yang terlihat begitu ceria, wajah bahagia yang diciptakan oleh suaminya. Meski sakit, Aryanti merasa tidak tega untuk memberangus senyum diwajah sahabatnya.

Setelah mengambil nafas panjang, perlahan tubuhnya beringsut mendekati Zuraida, memeluk sahabatnya dari samping.

“Mba,,, aku pengen ngomong sesuatu, tapi bingung harus memulai dari mana,,” ucap Aryanti, lebih sopan dengan memanggil mba kepada Zuraida, yang memang lebih tua darinya, meski usia mereka hanya terpaut tiga tahun.

“Ada apa yant?,,, ngomong aja,,,” Zuraida bingung dengan sikap sahabatnya yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Dulu,,, waktu kalian menjodohkan aku dengan Arga, aku percaya bahwa kalian memilihkan pasangan yang terbaik untukku, tapi aku tidak tau jika ada,,, emmhh,,, ada cerita yang rumit antara kalian bertiga,,,”

Zuraida kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang bertelanjang dada itu, selimut yang menutupi tubuhnya dibiarkan jatuh. Memeluk tubuhnya erat, layaknya seorang kekasih.

“Maaf Yant,,, itu hanya cerita masa lalu, tapi harus kuakui,,, eengghh,,,” bibir wanita berjilbab itu terdiam, tidak yakin dengan apa yang ingin diucap oleh bibirnya, matanya menatap baju yang berserakan dilantai, celana Dako tampak terselip diantara baju Aryanti.

“Karena aku sempat terbuai oleh kisah masa lalu itu,,,” Sesaat mata Zuraida beralih menatap wajah Aryanti melalui cermin, “Tapi,, Kau memiliki hati lelaki itu,,, sepenuhnya,, percayalah padaku,,” ucap Zuraida meyakinkan.

“Terimakasih mba,,,” Aryanti memeluk Zuraida erat, air mata perlahan menggenangi pelupuk.

“Aku percaya, Arga akan menjagamu lebih baik dari siapapun,,, kumohon,,jangan nakal lagi ya, sayang,,,”

Aryanti mengangguk, air mata tak lagi mampu dibendungnya. “Aku janji mbaak,,, aku janji,,,”

“Yant,,, kamu sakit ya?,,,” tanya Zuraida tiba-tiba. Melepas pelukan, lalu memeriksa kening Aryanti yang agak panas.

“Ngga mba,,, mungkin cuma kecapean aja koq,,, ngga usah dipikirin,, hehehe,,,” jawab Aryanti, beranjak menuju meja, mengambil cincin nikahnya yang tergeletak.

“Mau bertukar?,,, hanya untuk malam ini,,”

“Maksudmu?,,,” wanita berjilbab itu bingung hingga keningnya mengkerut, menatap lekat wajah Aryanti.

Tapi Aryanti hanya tersenyum, menarik tangan kiri Zuraida, menukarkan cincinnya dengan cincin wanita itu.

“Malam ini, kita bertukar peran, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Dako atas pertolongannya selama ini,, begitupun sebaliknya, Mas Arga jadi milik Mba,,, So,, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,,, hehehe,,, Deal?,,”

Zuraida tertawa. “Kamu ini ada-ada aja Yant,, mana bisa seperti itu,, sini balikin cincinku,,,,”

“Kenapa ngga?,,, ini hanya antara kita,” ucap Aryanti dengan wajah serius, namun perlahan wajah itu tersenyum, lalu mengerling genit. “Kita buktiin, siapa yang paling jago diantara kita,, jangan marah kalo nanti Dako sering menyebut namaku waktu kalian bercinta,,,” sambungnya sambil memeletkan lidah.

Zuraida ikut tertawa mendengar ajakan nakal. Tapi wanita yang terlihat cantik dalam balutan jilbab itu tau, permintaan Aryanti yang ingin mengucap terimakasih kepada suaminya hanya alasan yang dibuat-buat.

Sahabatnya itu ingin memberinya kesempatan terakhir bersama Arga. Sebuah penawaran yang pastinya sangat sulit bagi Aryanti sendiri, membagi seseorang yang dicintai kepada orang lain, meski itu untuk seorang sahabat.

“hhmmm,,, kamu ini,,, Terimakasih Yant,,,” bibir Zuraida tertawa sekaligus menangis, air mata yang meleleh dipipi semakin deras mengalir. Sesenggukan dipelukan Aryanti. Tak mampu berkata, hanya ucapan trimakasih yang diucapkannya berulang-ulang.

“Nakal-nakalan yuk malam ini,,,” ajak Aryanti.

Zuraida mengangguk,,, “Tapi aku ngga berani nyobain punya yang lain, Yant,,,”

“Hhmmm,,, kalo cuma sama Arga namanya belum nakal Cint,, cobain aja sambil ngumpet-ngumpet,,, pasti seru,, hihihi,,,”

“Hahahaa,,, Nakal kamu Yant,,,” Zuraida melepaskan pelukannya, menatap wajah sahabatnya, lalu memandangi beberapa cupang dipayudara Aryanti. “Mas Dako nakal ya Yant,,,” ucapnya sambil mengusap cupang dipayudara Aryanti.

DEEG,,,
Aryanti kaget, tubuhnya menggelinjang,,,

“Ihh,,,, geli tauu,,, Emangnya tadi Mas Arga ngga ngusilin punyamu,,, sini aku liat,,,”

“Eeehh,,, mau ngapain kamu Yant,,,” Zuraida berusaha menahan tangan Aryanti yang berusaha mengangkat kaosnya keatas. Tapi usahanya sia-sia.

“Ckckckck,,, koq bisa mancung seperti ini sih, Cint,,,” Aryanti tak mampu menahan tangannya untuk menyentuh sepasang payudara yang ada didepan.

“Eemmpphh,,, Yaaaant,,, tapi punya mu lebih besar dari punyaku,,,” Zuraida melengug geli. Tangannya merambat, kembali meremas payudara yang sedikit lebih besar dari miliknya.

Keduanya membisu, Saling mengagumi, saling meremas, sama-sama menahan desahan yang bisa saja keluar dari bibir yang berusaha dikatup rapat. Malu untuk mengakui apa yang dilakukan oleh lawannya berhasil memberi sensasi birahi

“Eeeengghhh Yaaaant,,, jangan-jangan keras,,,”

“Sakit?,,,”

Zuraida menggeleng, “Geli,,,hihihi,,, Yaant,,, mau ngapain lagi?,,” tawanya terhenti, menatap wajah yang mendekat bongkahan payudaranya.

“Eeeempphhh,,, Yaaant,,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, menaha geli yang merambat dari sapuan lidah Aryanti. “Jangaaan curaaang, sayaaang,,,”

Wanita berjilbab itu terengah,,, balik mendorong Aryanti hingga tertelentang, lalu tertawa nakal, dengan cepat menaiki tubuh dan menyambar payudara yang penuh dengan cupang dari suaminya.

“Aaawwwhh,,, koq digigit mbaaa,,” pekik Aryanti.

“hahahaa,,, Habisnya aku gemes,,,” jawab Zuraida sambil tertawa.

Keduanya bergulat diatas kasur, saling meremas, bergantian saling menghisap, mendesah bersahutan. Hingga keduanya kelelahan. Dan sepakat bersama-sama menghentikan kenakalan mereka.

“Baru kali ini aku menyentuh milik wanita selain punyaku sendiri,,, hahahaa,,,,,” Aryanti tertawa melihat ulahnya sendiri, nafasnya masih memburu, menindih tubuh Zuraida.

“Kalo aku sering,, waktu memeriksa pasien,,, tapi tidak dalam kondisi seperti ini,,, hehehe,,,” Zuraida, memeluk tubuh sahabatnya, membiarkan payudara mereka bertemu, tergencet oleh tubuh yang saling menindih.

“Kalo nyobain ciuman sesama cewek pernah?,,,”

“Kalo itu sama sekali ngga pernah,,, ngapain ciuman sama cewek,,, hahaha,, ada-ada saja kamu ini Yant,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,,” panggil Aryanti, menghentikan tawa Zuraida. Keduanya saling tatap, wajah mereka begitu dekat. “Mbaa,,, aku pengen nyobain yaa,,,”

Zuraida tidak menjawab, jantungnya berdebar melihat bibir Aryanti yang mendekat, otaknya memberi perintah untuk membuka bibir, menyambut lidah Aryanti yang merambat masuk.

“Eeemmmpphhh,,, eemmmhhh,,,”
“Eeeengghhh,,,,”

Lidah lembut kedua wanita itu saling membelit, berkejaran didalam mulut Zuraida. Tampak Aryanti lebih dominan, mengajak lidah Zuraida menari, mengaduk ludah mereka yang terkumpul dimulut.

Bibir Aryanti mengatup rapat mulut Zuraida, lalu dalam sekali hisapan yang kuat menyedot semua ludah kedalam mulutnya,,, membuat lidah Zuraida ikut tersedot, masuk kedalam mulutnya. “Slluuurrpphhh,,,”

“Eeemmmyhaant,,,,” wanita berjilbab itu terkaget, menatap wajah syahdu yang memancar birahi. Lalu membalas bermain-main dimulut Aryanti. Berlari dari lidah yang berusaha membelit, saling menghisap cairan yang ada dilidah mereka.

Setelah merasa paru-paru mereka kepayahan memasok oksigen, kembali mereka sepakat untuk melepas. Saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

“Baru tau aku,,, ternyata mba ganas juga,,, pantes aja Mas Arga mpe klepek-klepek,,, aku aja sampai merinding tauuu,, hahahaa,,,”

“Hahahaa,,, jangan ngomong gitu ahh,,, bikin aku malu aja,,, kamu tuh yang ganas banget nyedotnya,,,, coba kita lamaan sedikit lagi,,, pasti keluar nih punyaku,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,, pengen keluar ?,,, hihihi,,, diem aja yaa,,, jangan protes,,,” Aryanti menyelusup kan tangannya kedalam celana Zuraida.

“Jangan Yaaant,,, aku maluuu,,, Aaawwhhhhsss,,, jangaaaan,,,”
Wajah wanita berjilbab itu bersemu merah, ketika tangan Aryanti mendapati vagina yang sangat basah. “Awaaas kamuuu yaaa,,,” tangannya membuka selimut Aryanti lalu merogoh bibir vagina yang lebih basah dari miliknya.

“Yaaant,,, ini punya suamiku ya,,, hihihi,,,”

“Iyaaaa,,, mbaaa,,, tadi Dako banyak banget buang didalem,,,” jawab Aryanti yang kini ikut terengah-engah, liang vaginanyanya diobok-obok oleh jari lentik Zuraida. “Mbaaa,,,, ciuman lagi yuuuk,,,” pintanya.

Kembali kedua wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang didamba para wanita itu saling meraba, silih berganti menindih, meremas, bertukar ludah, mengayuh vagina yang basah. Memburu orgasme yang berbeda dari biasanya.

Berbeda dengan Aryanti yang membuka lebar pahanya dan membiarkan jari-jari Zuraida bermain-main diliang kemaluan, Zuraida justru mengapit rapat pahanya, menjepit jari-jari yang masuk begitu dalam, merogoh tepian yang tidak dapat dilakukan oleh batang penis.

“Yaaant,,, Aku mau keluar,,, aku mau keluar,,,”
Wajah Zuraida pucat pasi, menjepit tangan Aryanti semakin kuat.

Begitu pun dengan Aryanti yang menggerakkan pinggul mengejar kemanapun jari Zuraida menari. Nafasnya semakin berat. Hingga akhirnya kedua tubuh itu mengejat, gemetar, menghambur cairan yang membasahi jari-jari yang lentik.

“Mbaaa,,, aku keluaaaarr,,,, oowwhhh,,, mbaaa,,,” Aryanti berteriak-teriak histeris, melumat bibir Zuraida yang juga gemetar, mengangkat tinggi pinggulnya.

“Yaaant,,, jarimu pinter banget,,, aku sampai gemetar gini,,,” ucap Zuraida setelah Aryanti mejatuhkan tubuhnya kesamping.

“Mba jugaaa,,,” ucap Aryanti, masih tersengal-sengal tak bisa berbicara banyak.

* * *
I’m so lonely broken angelI’m so lonely listen to my heartOne and only broken angelCome and save me before I fall apart

Suara Zuraida yang menemani Pak Prabu berduet, mengalun lembut. Membawakan ‘Broken Angel’ dari Arash feat Helena. Sebuah lagu dengan lyric timur tengah, yang memapar jalinan sepasang kekasih, namun terhalang oleh belenggu pernikahan yang mengikat si wanita. (ini salah satu lagu favorit ts lho,, mpe sekarang ngga bosen dengerin tu lagu,,,)

Siapa menyangka, Pak Prabu mampu membawakan lagu itu dengan cukup baik, meski beberapa kali lidahnya keliru dalam mengucap syair yang cukup sulit. Namun bagi Adit yang memang piawai memainkan organ tak begitu kesulitan untuk mengiringi.

Pesta kecil itu memang sengaja mengambil tempat ditepian kolam renang yang memang cukup luas, dengan sinaran cahaya lampu hias yang remang-remang, membuat suasana malam itu terlihat begitu romantis.

Tubuh Zuraida yang dibalut long dress putih ketat, meliuk gemulai mengikuti alunan musik, suaranya terdengar lirih, diatas panggung yang hanya setinggi 30 cm. Seolah ingin menyampaikan pesan dari hati. Layaknya seorang bidadari yang menari diantara rintik hujan, berharap ada malaikat yang menemani.

Dikeremangan, mata Zuraida menatap tiga sosok yang duduk dimeja yang sama.
Aryanti yang selalu melemparkan senyum saat mata mereka bertemu, lalu beralih pada Dako yang berusaha melemparkan senyum serupa. Dan Arga,,, Arga, entah kenapa Zuraida merasakan ada sesuatu yang berubah pada lelaki itu.

Hati Zuraida memang tengah gundah melihat perubahan Arga, tak ada yang menyadari selain dirinya, karena ini memang antara dirinya dan Arga. Senyum lelaki itu terlihat begitu hambar.

Sesekali matanya menatap cincin milik Aryanti yang melingkar dijari manis. Sebuah pertukaran posisi yang terasa begitu ganjil tapi begitu diharapkannya. Teringat akan ajakan nakal sahabatnya, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi malam ini.

Zuraida sadar, Walau bagaimanapun, hubungan nya dengan Arga tak lebih dari kilas balik masa lalu. Seindah apapun cerita yang terukir pasti akan berujung pada kepedihan. Tak mungkin dirinya merebut Arga dari sahabatnya, Aryanti. Dan tidak mungkin dirinya meninggalkan Dako, untuk mengejar ego cinta.

Mungkinkah Arga mulai menjaga jarak untuk cerita yang memang harus mereka akhiri?…

Sekuat hati Zuraida berusaha menetralisir rasa, kebahagiaan yang tadi siang menyapa dengan paksa diberangus, karena hanya dengan cara itu pula lah dirinya dapat bertahan dari rasa sakit.

Tanpa disadari wanita itu, Dako dan Aryanti menangkap setiap perubahan ekspresi yang sebenarnya tidak ingin ditunjukkan oleh Zuraida. Tapi Zuraida adalah sicantik yang tak pandai bersandiwara. Selalu kesulitan untuk menyembunyikan suasana hatinya.

Lagu yang dinyanyikan membuat hati Zuraida semakin terhanyut dalam kepedihan. Pak Prabu yang memeluk pinggang rampingnya dengan erat, seakan menjadi penopang untuk menguatkan pijakan hatinya yang tengah melemah.

Zuraida sendiri tak habis pikir, kenapa selalu Pak Prabu yang ada disampingnya, disaat hatinya tengah berkecamuk.

Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Prabu yang turun kebawah pinggulnya, mengusap lembut bulatan pantat nya. Mengusap punggungnya dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping.

Dengan pelan, Zuraida menepis tangan Pak Prabu , saat lagu telah usai. Berusaha untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu tak lepas dari tubuhnya.

“Terimakasih,,,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.

“Ternyata suara istri Dako ini merdu banget,, senang berduet dengan Bu Dokter,” ucap Pak Prabu, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat sambil tertawa renyah.

“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kemarin ibu tawarkan,,”

DEEGG,,,
Zuraida sangat kaget mendengar ucapan Pak Prabu yang begitu pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.

Zuraida tersenyum kikuk, balas membungkuk. Turun dari panggung mendekati Aryanti yang menghampirinya, lalu kembali menuju meja dimana Arga dan Dako duduk.

“Kalian mau minum apa? Biar aku ambilkan,” ucap Arga menawarkan minuman dengan suara datar, tanpa ekspresi.

“Terserah,,, yang penting bisa menghangatkan tubuh,” jawab Dako.
“Aku apa aja boleh,,,” sambung Zuraida, matanya menatap Arga yang cepat berbalik sebelum kata-katanya selesai terucap.

“Aku tau minuman spesial untukmu Cint,,, hehehe,,, Ayo mas, aku temenin,” celetuk Aryanti, menyusul suaminya.

“Suaramu memang indah sayang,,, Aku selalu bangga memilikimu,,” ujar Dako, saat mereka tinggal berdua dimeja itu.

“Haahahaha,,, Mas seperti tidak mengenal aku saja,,” jawab Zuraida, berusaha naik ketas kursi yang cukup tinggi.

“Apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Zuraida tak langsung menjawab, berusaha membaca maksud pertanyaan suaminya dari raut wajah. “Lumayan, tapi sebenarnya apa tujuan Mas Dako mempertemukan aku dengan Arga dalam situasi seperti ini?,,” wanita itu balik bertanya dengan suara datar.

Dako menggenggam tangan Zuraida, bibirnya tersenyum tulus, seakan mengatakan bahwa situasi ini di cipta memang untuk Zuraida.

Wanita itu tertawa pelan, entah menertawakan gaya Dako yang begitu romantis, entah menertawakan dirinya yang terpuruk pada nostalgia masa lalu yang justru membuatnya semakin terpuruk.

“Aku tau, pasti ini sulit bagi Mas Dako, Mas tidak perlu melakukan hal gila seperti ini, apa Mas tidak takut kehilangan aku?,, atau Mas memang tidak percaya pada hatiku?,,,” ucap Zuraida, begitu terbuka sekaligus tajam. Seakan menyimpulkan segala isi yang ada dihati Dako.

“Heeyy Cint,,,”
Seru Aryanti yang membawa dua gelas cocktail, disusul Arga yang menenteng dua botol chivas regal, menyelamatkan Dako yang bingung harus menjawab pertanyaan istrinya.

“Suaramu tadi mantap banget lho, bikin aku minder mau nyumbang lagu,,,” ucap Aryanti. Menyerahkan gelas.

“Hehehe,, biasa aja koq Yant,,,” jawab Zuraida yang diam-diam kembali menatap cincin milik Aryanti. Otaknya tengah mengkaji ulang tentang tawaran Aryanti. Walau bagaimanapun hatinya sulit untuk menerima pertukaran itu.

“Yant,,, tentang yang tadi sore,, sepertinya aku tidak bisa untuk,,,,”

“Owwhh,, iya,,,” Seru Aryanti tiba-tiba, memotong ucapan Zuraida.

“Mas Arga,, Dako,,,Tadi sore aku dan Zuraida sepakat untuk bertukar cincin, dan itu artinya,,, Emmhh,,,” Aryanti dengan wajah jenaka menghentikan kata-katanya, bergantian menatap tiga pasang mata yang tertuju padanya, “Artinya adalah sebuah,,, sebuah pertukaran pasangan, Apa kalian para suami bisa menerima?,,,”

Sontak Arga dan Dako mengamati cincin yang melingkar dijari manis Aryanti dan Zuraida. Tidak menyadari bila cincin yang dikenakan oleh pasangannya bukanlah cincin yang mereka berikan saat menikah.

“Kalo aku tidak masalah,” jawab Dako cepat, tersenyum lebar, membuat Arga kaget dan bingung, lalu dengan terpaksa mengangkat kedua pundaknya, sebagai tanda menyerahkan keputusan kepada yang lain.

“Okeee,,, Deal,,,” seru Aryanti. Menghentikan usaha Zuraida yang ingin mengutarakan keberatan. Wanita berjilbab itu akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah sahabatnya.

Ting,, Ting,, Ting,,”Maaf,,, minta perhatiannya sebentar,,,”
Ucap Pak Prabu tiba-tiba, mengetuk gelus dengan cincin akiq yang ada dijarinya. Lampu sorot yang terang mengarah ke tempat lelaki berdiri, diatas panggung, ditemani istrinya Bu Sofie.

“Sebelumnya, boleh saya meminta Sintya untuk ikut naik keatas sini,, biar komplit laahh,,”

“Hahahaa,,, mantap,,,”
“Sing rukun yooo,,, hahaha,,,”

Teriakan dan tawa seketika menggema. Rupanya Pak Prabu sudah berterus terang tentang status Sintya kepada Bu Sofie, dan hebatnya Bu Sofie dengan lapang dada bisa menerima.

Itu terlihat bagaimana Bu Sofie menyambut Sintya yang naik keatas panggung dengan senyum dan tangan terbuka, berpelukan dan saling cipika-cipiki, membuat para lelaki yang ada disitu menjadi iri.

“Harap tenang,,,” ucap Pak Prabu dengan gaya cool yang dibuat-buat, menegakkan kerah bajunya, lalu menggandeng Sintya dan Bu Sofie, begitu pongah menggoda para lelaki yang ada ditempat itu. Tak ayal suara tawa semakin menggema.

“Agar tidak mengganggu acara kita, Langsung to the poin saja,,, Jadi begini,,,” ucap Pak Prabu, saat suara tawa mulai mereda.

“Saya tadi pagi ditelpon Pak Andre Diaz, tentang rotasi mutasi manager empat tahunan, mungkin dalam minggu ini saya akan ke Jakarta untuk memastikan hal tersebut,” saat membicarakan hal-hal yang serius, wibawa Pak Prabu sebagai seorang pemimpin muncul seketika, Arga, Dako, Munaf dan Adit serius memperhatikan.

“Tapi saya mendapatkan bocoran tentang rotasi kali ini, yang bagi saya sendiri cukup mengejutkan. Seperti yang kita ketahui, saya memang mendapatkan promosi untuk untuk menduduki salah satu jabatan penting dipusat, dan posisi saya akan digantikan oleh Arga sebagai pimpinan cabang. Tapi berdasarkan pencapaian prestasi kita semua,,,” Pak Prabu menarik nafas panjang, bibirnya tersenyum lebar.

“Adit dipromosikan untuk memegang tampuk wakil pimpinan cabang, menemani Arga,, selamat,,,” Tepuk tangan dan ucapan selamat segera mengalir, sementara Adit sendiri tersenyum lebar, tak menyangka dengan karirnya yang begitu cepat naik. Bahkan terlalu cepat untuk remaja seusianya.

“Dan untuk Pak Munaf, kemungkinan besar akan menggantikan Pak Andree Jeff, yang pensiun dari pimpinan Cabang Kota Surabaya.”

“Whooo,,, selamaat,, selamaaat,,,”
“Akhirnyaaa,,, naik jugaaa,, selamaat,,”
Tepuk tangan semakin riuh, jabatan pimpinan cabang itu memang pantas untuk Munaf yang terbilang cukup senior.

“Sedangkan Dako,,,” suasana seketika menjadi hening saat Pak Prabu mulai melanjutkan pengumumannya, “Dengan pertimbangan perlunya perusahaan ini melebarkan sayap, jajaran direksi mempercayakan kepada Dako untuk merintis pembukaan cabang central untuk daerah Kalimantan,, selamaat!!!,,,”

“Yeeaaahhh,,,” Dako mengepalkan tangannya, berteriak girang, tertawa lebar, menerima jabat tangan Arga dan Aryanti yang mengucapkan selamat. Lalu berpaling kearah Zuraida dan memeluknya erat, kita akan pindah ke Kalimantan sayang, seperti yang memang aku inginkan,,,” bisik Dako.

“Ok,,, untuk sementara mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, tapi bocoran ini dapat dipercaya, karena disampaikan langsung oleh Pak Andre, selanjutnya,, silahkan melanjutkan party kita,,,” ucap Pak Prabu menutup pengumumannya sambil mengangkat gelas ditangan, mengajak untuk bersulang.

Kebahagiaan begitu nyata terlihat, masing-masing mengucapkan selamat kepada rekannya. Berkelakar tentang daerah yang akan mereka tempati.

Sambil memainkan jari-jari diatas Yamaha Keyboard PSR-E433, Adit membawakan lagu dari Daniel Bedingfield dengan pelan.

If your not the one then way does my soul feel glad today…
If your not the one then way does my hand fit yours this way…
If you are not mine then way does your heart return my call…
If you are not mine would i have the strenght to stand at all…

Pak Prabu mengajak Bu Sofie untuk berdansa, memeluk sang pejantan sambil memamerkan senyum kepada yang lain.

“Pah,, mending papah nemenin Sintya, kasian dia sendiri,,,” ucap Aida saat melihat raut wajah gadis itu berubah ketika Pak Prabu mengajak Bu Sofie berdansa. Memang tidak mudah untuk menjadi yang kedua.

“Iya,,, Boleh koq,,, tapi jangan dinakalin, kasian dia,,,” ucap Aida, menjawab tatapan tak percaya dari Munaf. Seketika lelaki itu tersenyum lebar, mengecup kening Aida, lalu mendekati Sintya.

“Aryanti,,, mau berdansa dengan ku?,,,”

Aryanti tersenyum mendengar ajakan Dako, sesaat menatap Arga dan Zuraida meminta izin, lalu dengan gaya yang gemulai mengangkat tangan kanan nya yang dengan cepat disambut oleh Dako. Berjalan mendekati Munaf dan Pak Prabu yang ada didepan panggung.

“Zee,,,” panggil Arga lembut, mengagetkan Zuraida, meski dirinya memang tengah menunggu ajakan Arga, tetap saja suara yang terdengar lembut itu mengagetkannya.

Zuraida tersenyum canggung, menyambut Arga yang meletakkan tangan dipinggul yang ramping.

Tubuh kedua insan berlainan jenis itu bergerak mengikuti lagu, ditempat yang sama, tidak bergabung dengan yang lain. Gerakan kedua nya terlihat kaku, padahal beberapa jam yang lalu mereka bercinta dengan mesranya.
Membisu, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Malam semakin larut, beberapa pasangan terlihat saling bertukar, kini Munaf terlihat tengah menggandeng Andini, sementara Pak Prabu begitu mesra bersama Sintya. Dan Bu Sofie,,, wanita itu kini terlihat sibuk dimeja bar mini, meracik minuman dari beberapa botol beraneka warna yang berbentuk unik. Sebuah hobby baru yang didapatnya setelah lama menetap di Paris.

Aryanti dan Dako pun tampak beristirahat, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih baru, duduk dengan saling pangku, tangan Dako yang nakal tak henti menggarayangi paha Aryanti yang hanya dibalut mini dress warna merah muda.

Sesekali Aryanti menuangkan whiskey ke gelas mereka. Dan terlihat jelas bagaimana keduanya mulai mabuk.

***
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Zuraida menyerah, membuka mulutnya membuka percakapan.

“Argaa,,,”

“Yaa,,,” sahut lelaki itu datar. Sesuai dengan dugaan Zuraida, jawaban yang terasa begitu hambar. Namun Zuraida tidak peduli, wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak si lelaki.

“Aku akan pergi jauh,, mungkin,,, mungkin kita tidak akan bertemu lagi,,, aku tidak mungkin terus menyakiti Aryanti,,,,” Air mata perlahan berkumpul dipelupuk mata, jatuh berderai tak terbendung, sesenggukan dipundak Arga. Tapi lelaki itu tak bergeming, tak menjawab, hanya tangan kekar yang memeluk semakin erat.

“Argaaa,,, plisss,, jangan diam seperti ini,,, acuh mu membuat hatiku semakin menderita,,,” tangis wanita itu semakin dalam.

“Jangan menangis sayang,,, inilah jalan hidup, takdir hanya ingin membantu kita untuk menyelesaikan hubungan terlarang ini,,,” bisik Arga, mengusapi rambut Zuraida yang tertutup oleh jilbab.

“Percayalah,,, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,,,”

Tangis Zuraida terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Arga. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Arga memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zuraida selain menerima.

Matanya yang basah menatap Arga. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda.

Kakinya berjinjit, mengecup bibir sipejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.

“Zeee,,,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Arga saat menyambut bibir sicantik. Walau bagaimanapun sulit bagi Arga untuk mengabaikan jamahan bibir seorang Zuraida.

Lampu sorot kolam yang tadi sempat menyala terang, kembali meredup. Membuat suasana semakin syahdu.

“Bu,,, tengoklah Bu Zuraida dan Pak Argaa,,, soo sweeett,, romantis bangeeet,,,” ucap Andini yang menghampiri Aida yang duduk disofa panjang. membawa dua gelas cocktail hasil racikan tangan Bu Sofie.

“Sepertinya antara mereka emang ada sesuatu deh,,,” jawab Aida, menyambut obrolan Andini.

“Padahal aku pengen banget dansa ama Pak Arga,,,kali aja ntar dikasih lagi,,, itu nya lhooo,, ngangenin bangeet,,,” ucap Andini yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sejak awal gadis itu memang sudah banyak minum.

“Hahahaa,, ternyata kamu udah nyicipin punya Arga juga ya,,, tapi emang sih,, wanita mana yang ngga klepek-klepek dihajar batang gede nya,,, Uuugghh,,, Dini sihh,, aku jadi pengen nih,,, hihihi,,,”

Tapi obrolan dua wanita terhenti, dikeremangan mata mereka menyaksikan bagaimana tangan Arga meremasi payudara Zuraida. Wanita yang terlihat begitu setia dan alim itu begitu pasrah atas ulah dua tangan Arga yang meremasi payudara, pantat dan selangkangannya.

“Duuuuhh,,, Aku jadi ikut merindih nih Din,,, pengen diremes-remes juga,,,” keluh Aida, menjepit tangan dengan kedua pahanya.

“Buuu,,, Pak Munaaaf Buuu,,,” seru Andini tiba-tiba. Menunjuk Munaf yang tengah menggarayangi tubuh Bu Sofie dari belakang, tapi wanita bertubuh montok itu hanya tertawa. Tangannya terus bekerja meracik minuman untuk Adit yang duduk didepan Bar.

Begitupun saat Munaf berusaha mengeluarkan sepasang payudara berukuran 36D dari gaunnya. Bu Sofie justru tertawa semakin lebar, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Bu Sofie melemparkan kain kecil hingga menutupi wajah Munaf.

Tiba-tiba tubuh Bu Sofie beringsut turun kebawah, membuat Andini dan Aida bertanya-tanya apa yang dilakukan wanita itu dibawah meja bar, tapi saat melihat wajah Munaf yang terlihat begitu menikmati aktifitas Bu Sofie dibawah sana, baru lah mereka mengerti apa yang tengah terjadi.

Tak berapa lama, Munaf menarik tubuh Bu Sofie kembali berdiri, meminta wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Terlihat Bu Sofie mewanti-wanti saat Munaf mengangkat gaun mini yang membungkus tubuh montoknya. Tapi Munaf seperti tidak peduli, meminta Bu Sofie lebih membungkukkan badannya, dan tiba-tiba tubuh wanita terhentak kedepan, mulutnya terbuka melepaskan lenguhan tanpa suara.

“Buuu,,, mereka ngen,, ngentot ya?,,” tanya Andini dengan suara tertahan.

“Huuhh,,, dasar si papah,,, padahal tadi udah janjian ga boleh main serong lagi,,, uuggghhh,,,” Aida terlihat sebal, menenggak habis cocktailnya, merasa kurang, Aida juga menenggak chivas milik suaminya yang ada dimeja kecil.

Seketika wajahnya mengernyit ketika merasakan kerasnya rasa dari minuman itu. Tak ambil pusing dengan rasa, ibu muda itu kembali menenggak beberapa kali.

“Hihihihi,,, ibu kalo marah lucu,,,” Andini mengamati tingkah Aida yang tengah sewot. “Balas aja bu,,,” usul Andini.

“Balas?,,,”

“Iya,,, ibu balas aja, tu suami saya lagi nganggur,,,” jawab nya sambil menunjuk Adit yang duduk menonton sambil meremasi batang yang ada dicelana, seolah sedang menunggu giliran.

Tanpa minta persetujuan lebih lanjut, Aida beranjak mendekati Adit, dan langsung memberikan ciuman yang ganas. Adit yang sempat kaget langsung mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Pasrah ketika Aida menariknya kedalam bar. Tak menunggu lama terjadilah pacuan dua tubuh betina yang sama-sama memiliki tubuh montok.

Pinggul Adit menghentak dengan kasar, menjejali vagina Aida dengan batangnya, sambil melempar senyum kepada Munaf. Terbalas sudah dendamnya tadi pagi, saat Munaf menyutubuhi Andini dalam lomba pantai, tepat didepan matanya.

“Asseeeem,,, pelan-pelan Dit, jangan kasar gitu, kasihan istriku,” seru Munaf geram.

Tapi peringatan Munaf justru dijawab oleh istrinya sendiri dengan lenguhan panjang, dibalik kacamata minusnya wanita itu tersenyum nakal, sambil sesekali meringis akibat hentakan Adit yang kelewat kasar. Tapi itu justru membuat Aida semakin liar, pantatnya bergerak kebelakang dan kedepan memberikan perlawanan.

Wajah Munaf semakin geram, tidak menyangka istrinya yang dulu kalem kini berubah menjadi begitu binal. Tubuh montok yang selama bertahun-tahun selalu setia melayani kebutuhan seksualnya kini tengah melayani lelaki lain. Menawarkan kenikmatan liar yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Melihat hal itu Bu Sofie tertawa, seolah tak ingin kalah tubuhnya ikut bergerak liar, otot vaginanya mengencang, memberi pesan kepada Munaf bahwa vaginanya tidak kalah dari milik istri Munaf itu.

Tak ayal terjadilah persaingan pacuan liar, Adit yang membalas dendam, Munaf yang geram dibakar cemburu, Aida yang ingin membalas ulah suaminya dan Bu Sofie yang terbawa dalam arus persaingan. Begitu kontras dengan alunan musik yang mendayu lembut, mengiringi Arga dan Zuraida yang masih melangkah berirama sambil berpelukan

Sementara disisi lain kolam, Mang Oyik dan Kontet yang kini menjadi operator musik dan lampu, cuma bisa manahan konak. Nafsu kedua jongos itu semakin menderu saat menyaksikan Aryanti yang kini duduk mengangkangi Dako yang asik menyusu dikedua payudaranya.

Berkali-kali jari lentiknya memasukkan kembali payudara kebalik mini dressnya, berkali-kali pula tangan Dako menarik keluar seolah sengaja ingin memamerkan sepasang buah ranum itu kepada Mang Oyik dan Kontet.

Akhirnya Aryanti pasrah, membiarkan payudaranya menggantung diluar, menjadi santapan bibir dan lidah Dako. Menjadi santapan nafsu liar kedua jongos yang hanya bisa menatap sambil mengusapi selangkangan.

Birahi telah menguasainya, dicumbui tatapan liar yang semakin membuat tubuhnya semakin terbakar sensasi eksibionis. Wanita cantik itu balas menggoda
Menggesek-gesek batang Dako diselangkangan yang masih terbalut celana dalam yang juga berwarna merah

Sepertinya kedua pasangan itu tidak ingin terburu-buru, menikmati setiap kenakalan yang dilakukan oleh pasangannya. Menikmati segala cumbu nafsu yang menyapa.

“Mang,,, Mang Oyik,,, tu ada yang nganggur Mang,,,” seru Kontet mengagetkan konsentrasi Mang Oyik. Keduanya menatap Andini yang sudah mulai mabuk, mengamati persetubuhan pacuan birahi suaminya.

“Samperin yuk,,, kali aja kita dikasih nenen sama tu cewek,,, sepertinya lagi mabuk, Mang,,”

“Eittsss,,, itu jatah ku,,, kamu tungguin lampu ama sound system, lagian idolamu lagi show tuh,,, kali aja ntar kamu ditawarin ikut nyoblos memeknya,,,” ucap Mang Oyik, lalu meninggalkan Kontet yang ingin protes.

* * *
“Argaaa,,, Gaaa,,, kau membuatku basah sayang,,,” rintih Zuraida, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zuraida masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Arga mengusapi vaginanya. Puting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Arga.

“Argaa,,, Aku ngga tahan, sayaang,,,” mata indahnya menatap Arga, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ketempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang tengah diidamkan oleh vagina mungilnya.

“Jangaaann,, cukup seperti ini ya sayang,,,” jawab Arga, mengangetkan Zuraida.

Berbagai pertanyaan berseliweran diotak dokter cantik itu, Apakah Arga tidak mencintainya lagi?,,, Apakah Arga sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi?,,,

Zuraida termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedada si lelaki, nafsu yang bergemuruh dengan cepat sirna, kerisauan hati lah yang kini meraja. Bertanya-tanya, Ada apa dengan cintanya.

“Sayaang,,, Tidak usah berfikir macam-macam, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik buat kita,,,” ucap Arga, hatinya pun sedih tidak bisa memenuhi keinginan wanita yang begitu dikasihi. “Maaf,,,”

Zuraida tidak menjawab, memejamkan matanya, waktu mereka tak banyak. Tak ingin menghabiskan dengan perdebatan. “Argaa,,, hikss,,,” wanita itu kembali terisak dipelukan si lelaki.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

ZURAIDA AND FRIENDS PART 6

“Wooyy,,, Ga,,, tu bini orang mau diculik kemana ,” teriak Adit, yang sedang duduk santai di gazebo bersama Bu Sofie dan Aida.

Arga menoleh kesumber suara, lalu melambaikan tangannya sambil tertawa. Disampingnya berjalan Zuraida yang terlihat begitu feminim, jilbab hijau muda, dipadu dengan kaos lengan panjang dengan warna senada, sementara rok hitam panjang yang menutup hingga kemata kaki melekat cukup ketat, membungkus kaki jenjang yang berujung pada paha dan pinggul yang aduhai.

“Memangnya kau mau mengajak ku kemana?,,,”

“Ngga ada tujuan pasti, cuma ingin jalan-jalan bersamamu,,, tenang aja, kan tadi udah izin ama Dako,, kamu ngga capek kan?,,,” Arga balik bertanya sambil memandangi wajah Zuraida yang tampak tersenyum malu-malu layaknya gadis SMA yang pertama kali diajak kencan.

“Capek sih,, tapi ngga apa-apa, aku juga ingin jalan-jalan,,” Bibir tipis Zuraida yang bergerak menjawab pertanyaan, tak lepas dari pandangan Arga.

“Kamu cantik banget,,, lebih cantik dibanding saat kuliah dulu, kau yang sekarang terlihat lebih matang sebagai seorang wanita,,,”

“Kalo cantik kan emang dari dulu, hehehee,,, kalo matang,,, emmhh,, mungkin proses hidup,,,” Zuraida yang berjalan sambil melipat tangan didepan dada, segera menurunkan tangannya, saat melihat mata Arga yang memandangi payudaranya yang membusung.

“Mateng banget,,,hehehee,,”

“Iiihh,,, dasar cowok mesum, pikirannya ngga pernah jauh dari situ,,,hahahaahaa,,,” Zuraida tertawa sambil menggelng-gelengkan kepala.

“Ya maklumlah,, aku masih normal,, Aki-aki aja banyak yang masih doyan ama begituan,,,”

Zuraida menyambut tangan Arga yang perlahan menggamit jemari lentiknya. Berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai. Sesekali kaki mereka disapa oleh ombak yang datang menghampiri.

“Hahaha,,,, emang bisa apa kalo udah jadi aki-aki,,,”

“Lhoo,, jangan salah,,, seorang cowok, selama tangannya masih bisa mengangkat ember penuh air, ya hasrat dan pikirannya ga bisa jauh ama yang begituan,, apalagi kalo ceweknya cantik seperti kamu,,,”

“Hahahahaa,,, macam-macam ajaa,,,”

* * *
“Iiiihhh,,, duduknya geseran kesana dikit dong,,,” keluh Sintya sambil mendorong tubuh Munaf.

“Geser kemana lagi,, emang tempat nya sempit gini?,,” jawab Munaf, sambil menarik tubuhnya kesamping, bersandar pada pintu mobil pick up, sementara Mang Oyik hanya bisa tertawa melihat tingkah gadis disampingnya.

Sintya merengut, bibirnya manyun, wanita yang tidak terbiasa dengan angkutan darurat itu terlihat begitu gelisah, apalagi tatapan mata Mang Oyik yang berulangkali menyatroni pahanya yang terbuka.

“Ngapain sih Pak Prabu pake suruh aku ikut segala,” sungutnya, tangannya berusaha menarik roknya lebih kebawah, berharap bisa lebih menutupi pahanya yang mulus.

Munaf berusaha menahan tawa, wajahnya dipalingkan kearah jendela. Yaa,,, Munaflah dalang dari kesialan Sintya yang siang itu diminta Pak Prabu untuk menemani Munaf dan Mang Oyik ke pasar, dekat kantor kecamatan.

Sebenarnya pemandangan hamparan padi yang menghijau disepanjang jalan yang mereka lewati cukup menarik bagi orang-orang perkotaan seperti mereka, khususnya bagi Sintya. Tapi jangankan menikmati pemandangan, untuk duduk dengan tenang saja gadis itu terlihat kerepotan.

Pundak Munaf yang berada didepannya, berkali-kali mengambil kesempatan dengan menggesek-gesek bongkahan payudara Sintya. Sementara tangan Mang Oyik begitu terampil memainkan jari-jarinya saat memindah persneling yang berada tepat disamping Paha wanita itu.

“Pak,,, bapak mundur kebelakang dikit,,” pinta Sintya. Lalu memajukan badannya kedepan, menurutnya posisi ini mungkin lebih baik untuk tempat sesempit itu.

Tapi, Munaf yang menarik lengannya kebelakang, dengan iseng justru meletakkan telapak tangannya dipundak Sintya.

“Iiiihhh,,, bapak ini, tangannya bisa nyamper di jok kan?,,,”

“Disini?,,,” jawab Munaf seraya menurunkan tangan kepantat Sintya.

“Keatas sanderan Joooook,,,,” suara Sintya meninggi, tak mampu lagi menahan emosinya.

“Hahahaa,,,, ihh,,, galak banget sih,,, padahal tadi bapak lihat ikhlas banget waktu dimasukin itunya sama si Adit,” ucap Munaf sambil tertawa.

“Yaaa,,, terserah saya dong,,, lagian itukan kondisi yang memaksa,,,” Sintya mencoba berkelit.

“Sama dong dengan sekarang,,, kondisinya maksa banget nih Sint,,,”

“Berani megang,,, saya tonjok lho Pak,,,”

“Hahahaahaa,,, iya Nooon,,, iyaaa,,,”

“Dah nyampe Pak?,,, tu mini marketnya,,,” seru Mang Oyik, memotong tawa Munaf, sekaligus memecah tensi Sintya yang sedang memuncak.

Munaf keluar, menuju mini market, tapi berbalik lagi kearah pick up. “Mang,,, mamang aja deh yang beli,, Ni duitnya Mang,,, Dji Sam Soe, dua selop,,,”

“Siap Den,,,” jawab Mang Oyik, lalu bergegas menuju mini market yang merupakan satu-satunya ada di dikecamatan pesisir pantai itu.

“Tunggu,,,, tunggu,,, Pak Munaf kesini cuma buat beli rokok doang?,,,”

Munaf tidak menjawab, tapi tertawa lebar, tak lama tawa itu berubah menjadi senyum kecut saat melihat wajah Sintya yang sekuat tenaga menahan emosi..

“Gilaaa,,, ini benar-benar gilaa,,, kalian emang kelewatan,,,” wajah sintya tertunduk, menekuk kepalanya dipintu pick up sambil meratapi nasib sialnya.

Tapi tadi si Dako juga nitip kondom kan?,,,” Munaf mencoba mengingatkan Sintya tentang pesanan rekan kerja nya itu.

“Ohh,, iyaa,, ya udah,,, temenin kedalam yuk pak,,,” Sintya melangkah gontai, tubuhnya sebenarnya sudah cukup lelah setelah permainan game yang menguras banyak stamina.

Tak berapa lama, ketiga orang itu keluar dari supermarket.

“Mang,,, pulangnya biar aku yang nyetir ya,,,”

Sintya menghela nafas, saat mendengar Munaf meminta Mang Oyik untuk bertukar tempat duduk. Bersiap untuk menghadapi kejahilan apaalagi yang akan diterimanya.

* * *

Sementara itu, di bagian belakang cottage, tepatnya dikamar Mang Oyik. Suara rintihan tertahan terdengar dari bibir seorang wanita, tangannya berpegangan dipinggiran meja dengan gemetar, mencoba menikmati permainan lidah seorang lelaki yang tampak begitu menikmati liang di selangkangannya.

“Ooowwwhhhsss,, Yaaa,, disituuu,,, jilatin yaaang lembut yaaa,, ”
perintahnya pada seorang lelaki yang tertawa-tawa dengan lidah terjulur menusuk kecelah vagina yang sempit.

Tanpa menunggu persetujuan, wanita berparas cantik itu dengan liar menggasak mulut dan wajah lelaki yang begitu pasrah melayani segala permintaan, dengan bibir vaginanya yang sudah sangat basah.

Wajah cantiknya semakin terlihat bergairah saat menyaksikan wajah seseorang yang tampak bersemangat menyeruput setiap tetes cairan pelumas yang merembes dicelah alat senggamanya.

Sesekali ujung hidung si lelaki menyentuh pintu anusnya, membuat tubuh wanita itu semakin menggelinjang.

“Ooowwwhhh,,, jilat yang belakang beraaaniii ngga,,,?,,,” Mulutnya memohon, ingin mencoba sensasi yang baru.

Wanita itu tak lain adalah Aryanti, teller bank cantik dengan tubuh sempurna, yang sering diidamkan para wanita. Tengah asik mengangkangi wajah Kontet.

Yaa,,, siang itu, disaat yang lain tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, Aryanti dan Andini justru terjebak pada situasi birahi yang liar. Awalnya kedua wanita cantik itu pergi kedapur untuk meminjam pisau, tapi disana mereka justru mendapati Lik Marni yang bersimbah keringat, tubuhnya terlihat bergerak lincah melayani dua pria yang menggasak kedua lubangnya.

Keduanya sangat kaget, bukan hanya karena pertarungan 2 lawan 1 saja, tapi juga kemampuan Lik Marni mengimbangi tusukan dua bilah batang kemaluan yang menggasak kedua lubang diselangkangannya.

“Pak Prabu,, sama Dako kan itu?,,,” tanya Andini berusaha menegaskan apa yang dilihatnya.

“Iya,,, asik banget kayanya,,, hebat juga Lik Marni, bisa ngimbangin mereka,,,” jawab Aryanti, teringat aksinya yang cukup kewalahan saat meladeni nafsu liar Pak Prabu dan Dako. “Balik aja yuk,,,” sambung Aryanti, menarik tangan Andini.

Saat berbalik, mereka dikagetkan dengan kehadiran Kontet dari arah belakang. Pemuda bertubuh besar dengan perut agak buncit itu memang sering hilir mudik di cottage Mang Oyik.

“Ada apa Bu? Mencari Mang Oyik?,, maaf,, kalo ga salah tadi saya liat si mamang naik pick up kekecamatan,,, kalo Lik Marni mungkin ada dikamarnya,” ucap Kontet, berusaha tersenyum seramah mungkin.

“Kami cuma mau pinjam pisau pak,,,” ucap Aryanti berusaha menyembunyikan kekagetannya.

“Owwhhh,,, ada tu bu, ambil aja didalam,,, biasa sih Lik Marni naruh pisau diatas lemari.”

“Eehh iya,,,, Kalo ga salah namamu Mang kontet kan?,,,,” tanya Aryanti, berusaha menguasai situasi., dan segera masuk kedalam mencari-cari benda yang dimaksud.

Kontet tersenyum, saat mengikuti Aryanti kedalam dapur, melalui kaca, diruang sebelah tampak istri Mang Oyik tengah asik melayani dua orang lelaki, pikirannya segera berasumsi bahwa kedua wanita itu baru saja mengintip.

Wajah Kontet tersenyum nakal kearah Andini yang menunggu didepan pintu dapur, yang memang berdampingan dengan kamar Mang Oyik, membuat hati wanita itu bergidik. Lalu berpaling menatap tubuh Aryanti dengan penuh nafsu.

“Mana Mang? Pisaunya ngga ada?,,,”

Andini tau, seperti dirinya, mata Aryanti juga tidak fokus mencari pisau, tapi lebih tertarik menyaksikan live show Lik Marni dari balik kaca satu arah yang semakin panas. Namun kehadiran mereka tidak disadari oleh Lik Marni yang kini asik menduduki penis Dako, pantat besarnya bergerak turun naik dengan cepat, melumat batang Dako tanpa masalah berarti.

“Pisaunya disini Bu,,,”

“Aakkhhh,,, Mamang, ngapain disituuu,,,” bukan hanya Aryanti, Andini pun terkaget saat melihat Kontet berjongkok dibelakang Aryanti, wajahnya tepat menghadap pantat montok Aryanti, sementara tangannya berusaha menjangkau pisau yang ada dirak bawah, melalui kedua kaki jenjang Aryanti.

“Buu,,, kenalaaan dikit boleeehkaaan?,,, sayaaa ngga tahan ngeliatnya buu,,,” ucap Kontet, lalu membenamkan wajahnya kesela-sela pantat yang masih dibalut rok span longgar.

“Eeehh,, si Mamang,,, main sosor aja, bahaya kalo kenalan dengan punya sayaaa,, bikin ketagihan lhooo,,,” Aryanti semakin kaget dengan kenekatan Kontet, tapi melihat ulah lelaki yang terlihat seperti kerbau yang kelaparan membuat bibirnya tertawa, niat usilnya muncul seketika.

“Din,,, tunggu bentar yaaa,,, ada kebo yang kelaparan,, hiihihi,,,” Aryanti mengedipkan matanya kepada Andini yang bisa maklum dengan ulah usil Aryanti yang sering kumat, tapi cara menggoda Aryanti, menurut Andini yang masih hijau itu sedikit kelewatan.

Aryanti mencoba membungkuk dan semakin menunggingkan pantatnya, membiarkan lelaki dengan wajah amburadul itu menciumi pantatnya, sambil tertawa.

Berkali-kali Kontet menggigit lembut, dan berkali-kali pula berusaha membenamkan wajah nya lebih dalam diantara belahan pantat yang tertutup kain, hingga hidung nya menggelitik anus Aryanti.

“Buu,,, buka yaaa,,,,” Kontet memohon sambil mengusap-usapkan wajahnya di bongkahan pantat.

“Hhhmmm,,, boleh ngga ya?,,, Din,,, boleh ngga nih?,,” Aryanti menatap wajah Kontet yang begitu berhasrat pada bongkahan daging miliknya, bola matanya berputar genit keatas menatap langit-langit plafon, lalu berbalik menatap Andini yang bersandar didinding, menatap ulah nakal Aryanti. Mengangkat kedua pundaknya mengembalikan pertanyaan.

“Kasih aja dikit, tapi awas kebablasan lhoo mba,,,” celetuk Andini tiba-tiba, gadis itu tau, meski dilarang pun Aryanti akan tetap menggoda Kontet dengan tubuh indahnya.

“Tuhh,,, dibolehin koq ama teman ku,,,” Kontet nyengir lebar, “eittss,,, tapi tangannya ngga boleh ikutan lhooo,,,” serunya, ketika tangan besar berbulu ingin menyibak rok nya.

Seakan takut kehilangan kesempatan, tanpa fikir panjang Kontet menyelusupkan kepala kedalam rok Aryanti. “Iiihh,,, Mamaaang, pelan-pelan atuuuh, nafsu banget sih,,,hihihii,,, Aawww,,,” wanita itu hampir terjengkang kedepan, ketika kepala Kontet menyundul pantatnya, bibir tipisnya tertawa melihat ulah si penjaga cottage sebelah.

Tapi tawanya terhenti seketika, saat wajah kasar yang penuh bopeng mengusap belahan kulit mulusnya. Hidungnya menghirup dalam, coba mengenali aroma dari selangkangan wanita yang begitu menggoda nafsunya.

“Ooowwwhhhh,,,,” Aryanti melenguh lembut, mencoba membuka selangkangannya semakin lebar. Jarinya mencengkaram tepian meja dengan kuat.

“Mba Yanti,,,,” Andini coba mengingatkan, baginya apa yang dilakukan Aryanti sudah terlalu jauh.

Aryanti menoleh, lalu tersenyum, ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O, sebagai tanda Ok, bahwa dirinya masih bisa mengontrol permainan yang disuguhkannya kepada Kontet.

Meski bibirnya masih bisa dipaksakan untuk tersenyum, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan mimik birahi yang dirasakan oleh tubuhnya. Sesekali mulutnya terbuka, melepaskan lenguhan tanpa suara.

Sementara dibawah sana, diantara kedua paha nya lidah Kontet berusaha menjangkau vagina Aryanti yang terbalut kain tipis.

Kepala Andini menggeleng pelan, kembali mengingatkan Aryanti, saat wanita itu mengangkat paha kanannya dengan perlahan, wajahnya memelas, memohon sedikit pengertian dari gadis itu.

Kini Andini dapat melihat aktifitas Kontet, wajah lelaki penuh bopeng itu tenggelam dibelahan pantat Aryanti, bergerak-gerak keatas kebawah seiring sapuan lidahnya divagina Aryanti.

Tanpa sadar Andini menyilangkan kedua kakinya, nafasnya ikut memburu, tangannya yang bersedekap didepan dada mulai gelisah.

“Maaangss,,, panas banget sih lidahnyaaa,,,eemmmhhh,,” suara Aryanti terdengar lirih. Sesekali menggigit bibirnya saat lidah Kontet berusaha menyingkap sisi kain yang menutupi belahan vaginanya.

Kini Andini mulai cemas, celana dalam tipis yang dikenakan Aryanti seakan tak berdaya melindungi kemaluan wanita itu. Andini bergerak reflek, menggeser tubuhnya, matanya berusaha mengawasi usaha lidah Kontet yang mencoba menyingkap kain tipis yang sudah sangat basah..

Aryanti pun tidak berdiam diri, pahanya semakin membuka, seakan memberi dukungan, tubuhnya semakin membungkuk, pantatnya bergerak saat lidah Kontet sesaat berhasil mengait tepian kain dan berusaha menyibaknya, tapi kain itu terlalu ketat membungkus selangkangan montok Aryanti.

“Ayooo Maaang,,, kamu pasti bisaaa,,,,” ucapnya , namun karet celana nya masih terlalu tangguh untuk lidah Kontet. Bukan hanya Aryanti yang dag dig dug melihat usaha Kontet, karena Andini pun mulai belingsatan, dirasakannya lipatan bibir kemaluannya mulai terasa gatal, seakan ikut merasakan geliat lidah Kontet di selangkangan Aryanti.

“ Mba Yaaant,,, jangan mbaa,,” seru Andini pelan tapi tegas,, matanya melotot memberi peringatan saat tangan Aryanti terhulur turun menjangkau sisi celana dalam yang menutupi bagian intimnya.

“Jangan lapor Mas Arga yaa,,, cuma main-main aja koq,,,, ga pake penetrasi,,,,” Aryanti memelas, meminta persetujuan Andini atas ulah nakalnya.

Kini berbalik Andini yang bingung,, bingung harus mengizinkan atau tidak, sementara nafsunyanya juga tengah memburu, ingin melihat sejauh mana kedua kedua anak manusia itu berulah.

Akhirnya kepala Andini mengangguk pelan, disambut gerak cepat Aryanti, namun tangannya bukan menyibak sisi celana dalam, tapi justru menarik turun seluruh kain segituga itu.

Kontet yang terus asik dengan selangkangan milik Aryanti, tidak menggubris interaksi kedua wanita itu, seketika terkaget saat disodori bongkahan daging putih dan mulus.

Hidung lelaki itu bergerak maju, menoel pantat Aryanti dengan gemas, dengan sangat perlahan lidahnya yang terjulur menyapu lembut dari bagian paha yang mulus, terus menyusur menuju bongkahan pantat.

Nafas Andini terasa begitu berat melihat aksi kontet yang mungkin bagi sebagian orang menjijikkan, kini kedua bongkahan pantat sahabatnya itu terlihat basah, mengkilat oleh air liur Kontet.

Sementara Aryanti hanya bisa mendesah menikmati servis mandi kucing ala lidah Kontet. “Lanjutin yang di tengah Maangss,,,” Aryanti membungkuk, mengitip dari sela kedua pahanya.

Pandangan kedua nya bertemu, terlihat jelas bagaimana bernafsunya pemuda bertubuh tambun itu pada lubang vagina basah dipenuhi rambut kemaluan, yang memisahkan wajahnya dan Wajah Kontet.

Ketika Kontet kembali menjulurkan lidahnya yang panjang, Aryanti membentang pahanya semakin lebar, menunggu sapuan lidah Kontet yang mencoba menjangkau klirotisnya.

“Oooowwhhh,,,, teruuuuussss,,,, teruuuussssss,,,” Bibir mungil wanita itu terpekik tertahan, menggelinjang menahan geli saat lidah yang hangat memberikan sapuan panjang dari gerbang kemaluan hingga kelubang anusnya.

“Gilaaaa,,,, gilaaaa bangeeeet,,,, ini benar-benar nikmat Din,, Oooowwhh,,,” rintih Aryanti dengan mata setengah terpejam, menikmati ulah Kontet yang melakukan sapuan panjang berulang-ulang.

Bukan hanya tubuh Aryanti yang dibasahi oleh keringat, karena Andini yang berdiri terpaku pun juga bersimbah keringat, wanita yang hanya pernah melihat adegan itu di blue film, untuk pertama kalinya menyaksikan lidah seorang lelaki menyapu lorong anus seorang wanita.

Jepitan paha Andini semakin kuat. Nafasnya memburu, ingin sekali tangannya menggaruk lorong vaginanya yang terasa begitu gatal.

“Mangsss,,, masukin lidahnya kebelakang yaaa,,, masukin ke anus sayaaa,,,” rintih Aryanti, kedua tangannya berusaha membuka bongkahan pantat, memamerkan pintu Anus yang masih tertutup rapat.

Sesaat Kontet meneguk liurnya, memandang pintu anal yang mengerucut imut tepat didepan matanya.

“Ooowwgghh,,, Oooowwwhhhgg,,, Aaakkhhh,,,, panasss bangeeeet lidah mu Maaang,,, Oooowwhhh,,,,” Aryanti melenguh, lalu merintih tertahan saat lidah yang kasar perlahan menguak pintu belakangnya.

Tangan kanannya bepindah, berusaha menjambak rambut Kontet yang cepak, terengah-engah membantu Kontet menikmati tubuh bagian belakangnya. “Teruss Mangss,,, mainin lidahnya didalaaam sanaaa,,, terussshhh Owwhh,,,”

“Diiin,,, enak banget, beneraaaan dimasukiiiin,,, ooqqhhhh,,,” tubuh Aryanti terlonjak-lonjak kegelian saat lidah panas Mang Oyik menyelusup kedalam lorong analnya.

Sementara wajah Andini tampak mengernyit jijik. Tapi saat matanya menatap Aryanti yang tampak menggeliat geli berselubung kenikmatan, terbayang sensasi yang tengah dinikmati, membayangkan lorong sempit itu menerima sapuan panas lidah seorang lelaki yang begitu berhasrat pada wanita secantik mereka.

“Seru banget ya Non?,,, pasti nikmat banget tuh,,,”

Tiba-tiba terdengar suara berat tepat disamping Andini, dengan cepat gadis itu menoleh. “Mang Oyiik,,, ngapain Mamang disini,,,” tanya nya dengan panik., tak menyangka akan kehadiran Mang Oyik yang baru datang mengantar Munaf dan Sintya.

“Maaf Non,,,, ini kan memang tempat kerja saya,,,” jawab Mang Oyik berusaha sopan, tapi matanya liar memandang dada Andini yang bergerak naik turun, akibat nafas yang terasa berat. Meski tertutup kaos orange, pesonanya masih dapat membuat batang Mang Oyik siaga 1.

“Oooaaagghh,,, eemmmgghhhhh,,, ga kuaaaat,,, Ooowwhh,,,” desahan Aryanti menyadarkan lamunan Mang Oyik.

“Pasti gurih banget tu lubang,,,sluurrpp,,, beruntung banget si Kontet” ucap Mang Oyik, ikut menyandarkan tubuhnya didinding, tepat disamping Andini.

“Hehehee,,, pengen juga ya Mang?,,,” tanya Andini sambil tertawa., melihat ulah Mang Oyik yang menyapu bibir tebalnya denga lidah.

“Non, mau ngasih?,,,” tanya Mang Oyik cepat menoleh, penuh harap.

“Eeettss,,, siapa bilang saya mau ngasih,,,” Andini reflek menutupi payudara dan selangkangannya dengan tangan, menyesal karena menggoda Mang Oyik. “Sono nohh,, minta ama tante cantik, kalo beruntung pasti dikasih juga koq,,,”

“Eeehhh,,, adaaa Mang Oyikk yaa,,,” Aryanti menoleh tersipu malu, berusaha mendorong kepala Kontet lalu berbalik sambil merapikan rok nya.

“Santai aja Bu,,, kita disini emang buat mbantu-bantu tamu koq,,, tu istri saya aja sampe ngos-ngosan mbantuin Pak Prabu dan Pak Dako,”

Serentak Andini dan Aryanti menoleh kearah kaca yang menjadi perantara pandangan antara dapur dan kamar Mang Oyik. Tampak tubuh Lik Marni yang sedang menungging bermandikan keringat, sementara Pak Prabu tak bosan-bosan menikmati pintu belakang wanita bertubuh montok itu. Dari arah depan Dako terlihat begitu menikmati servis lidah Lik Marni yang begitu memanjakan batangnya.

“Oooowwhhh,,, Liiik,,, aku mo ngecrot liiik,, ngecrooot,,,,”

Bukannya menghindar Lik Marni justru semakin mempercepat gerakan mulutnya, dan beberapa detik selanjutnya mata wanita itu melotot, sperma Dako menyemprot kuat, tapi wanita itu berusaha menjaga batang Dako tetap berada dimulutnya.

“Ooowwwhhhh,,, Liiik,,, nikmaaaat bangeeeet,,, ooowwwgghh,,,” Dako menjambak rambut Lik Marni, sesekali memaju mundurkan pantatnya layaknya tengah menyetubuhi mulut wanita itu.

“Tukeran dong Ko,, kayaknya enak banget nyemprot disitu,,,” Pak Prabu melepas batangnya, berpindah kebagian depan. Dako hanya terkekeh, duduk dipinggiran ranjang, mengatur nafas untuk aksi selanjutnya.

“Mamang ngga marah istrinya dipake kaya gitu,,,” tanya Andini penuh keheranan, apalagi batang yang ada dicelana lelaki itu mulai menggelembung melihat aksi istrinya. Mang Oyik mengangkat kedua pundaknya. “Kalo istri saya yang mau, saya mesti gimana lagi,,,”

“Bu Aryanti yang cantik,,, tenang aja, tu anak penurut banget koq,,, cuma ngelakuin apa yang disuruh, jadi ga perlu takut,,,” Sambung Mang Oyik, yang melihat Aryanti mulai kesal dengan ulah Kontet yang berusaha kembali mendapatkan kemaluannya.

“Beneeerr,,, dia ga bakal mintaaa,,, eemmhh,,,mintaa masukin tu batang kan?,,,” tanya Aryanti sambil melirik Kontet yang masih berjongkok seperti anjing yang penurut didepannya.

Mang Oyik mengangguk dengan gaya yang dibuat cool. Membuat Aryanti dan Andini yang masih was-was, tertawa… Cool nggilani…

“Sini Teett,,, tapi pelan-pelan yaaa,,” tangan kanan wanita yang masih digantung birahi itu mengangkat rok depannya, sementara tangan kirinya meraih kepala Kontet, yang dengan cepat menghilang dibalik kain katun itu.

“Ooowwwhhh,,, eeemmmhh,,, tunggu sebentar ya Diiin,,, satu kali ngecrit aja koq,,,” pinta nya pada Andini yang membuang nafas panjang melihat tingkah wanita didepannya.

Tapi geliat nafsu dan birahi selalu berhasil mengenyahkan kesadaran manusia.
Ganasnya permainan lidah Kontet dikemaluan Aryanti, membuat wanita itu harus meletakkan pantatnya keatas meja, dan membuka pahanya lebar-lebar.

Meremas rambut Kontet dengan gemas. Melenguh liar. Sesekali mengangkat pantatnya agar lidah Kontet dapat menjangkau anusnya.

Dan Andini,,, kembali menjepit kedua pahanya saat menyaksikan lidah Kontet menerobos membelah vagina yang basah.

“Maaang,,, tolong bantu teman sayaaa yaaa,,,” pinta Aryanti tiba-tiba. Merasa tidak enak dengan Andini yang hanya melihat kenakalannya.

“Waahhh,,, dari tadi saya juga pengen mbantuin Bu,, tapi si Non geulis nya yang ngga mau,,,” jawab Mang Oyik yang menghulurkan tangan mencoba memegang pundak Andini, tapi segera ditepis gadis itu.

“Ya Udaahh sini,,, minggir dulu Tet,,,” Aryanti beranjak mendekati Andini yang terlihat bingung. Gadis itu memang sudah mengalami beberapa petualangan nakal, tapi keluguannya sebagai seorang gadis remaja membuatnya menjadi agak kikuk.

“Mba Yanti mau ngapain?,,, Emmppphh,,,” mata Andini melotot ketika Aryanti melumat bibirnya. Mengajaknya untuk saling melumat dalam hisapan yang dalam.

“Eeemmmppp,,, mbaaa,,, mbaaa,,,,” Andini mulai ngos-ngosan. Nafasnya tertahan oleh hisapan Aryanti yang cukup lama, hingga akhirnya tautan bibir mereka terlepas.

“Dari tadi aku pengen banget dicium, tapi ngga mau sama mereka,,, hihihii,,, mau lagi?,,,”

Andini yang memang tengah bernafsu mengangguk dengan malu-malu, lalu membuka mulutnya. “Eeemmmpphhh,,,,”

Dan kedua wanita cantik itu kembali saling melumat, tapi kali ini tangan mereka mulai ikut aktif, saling meremas, saling mengagumi keindahan tubuh lawannya. Dan ini adalah pengalaman pertama mereka melakukan hubungan sesama jenis, yang ternyata tidak kalah mendebarkannya.

Kontet yang mematung melihat aksi dua wanita itu terkaget saat tangannya ditoel oleh Mang Oyik. “Ayo Tet, hajaaar,, kamu garap yang muda, biar aku yang muasin Bu Yanti,” bisik Mang Oyik.

Rupanya Mang Oyik sudah cukup lama penasaran dengan keindahan tubuh Aryanti yang lebih matang sebagai seorang wanita. Dengan cepat lelaki itu berjongkok, lalu membenamkan wajahnya dipantat Aryanti.

“Oooowwhhhssss,,, Diiinn,,, punya ku dijilatin lagiii,,, kamu mau jugaaa?,,,”
Andini tidak menjawab, tapi tidak pula menolak saat Kontet menurunkan celana nya.

“Oooowwwhhh,,, mbaaa,,, anus kuuu diciuuumin mbaaa,, dijilaaaat jugaaa,,, Uuuggghhhh,,, geli mbaaa,,, eemmpp,,,” erangan Andini terhenti. Mulutnya dibekap oleh Aryanti.

Gadis muda itu mencoba mengikuti gerakan tangan Aryanti yang menyelusup kedalam kaosnya. “Mbaaa,,, nenen mbaaa,, gedeee,,, kenceeeng,,” seru nya, ketika jari-jarinya berusaha membekap kedua payudara Aryanti.

“ Diniii maauuu?,,,Oooowwhhhss,,, Maaaang,,, itil nyaaa jangaaaan digiiiigitt,, Eeeeengghhh,,,” Aryanti yang ingin menjawab komentar Andini menjerit, bagian mungil yang berada didepan bibir kemaluannya dihisap dengan kuat oleh Mang Oyik, hingga terasa seperti digigit.

“Maaang,, jangan ditusuuuk,,, anusss sayaaa jangan ditusuuuk,, Ooowwgghh,,” Andini balas menjerit saat merasakan jari-jari kontet mencoba menyelusup kepintu belakangnya. Kaki gadis itu sampai berjinjit karena ulah Kontet.

“Oooowwhhh,,, Maang,,,” Andini lagi-lagi menjerit, jari-jari kontet yang besar, beralih menusuk-nusuk liang vaginanya. Pegangann tangannya beralih mencengkram tangan Kontet, tapi cengkraman itu melemah seiring lidah kontet yang kembali menyelusup kedalam anusnya.

“Buuu,,, boleeeh sayaaa tussuuuk jugaaa,” bisik Mang Oyik lembut ditelinga Aryanti.

“kalo tusuk pake tangan boleeh,, tapi kalo dientot,,, saya ngga maaauu,,,”

Mang Oyik menggesek-gesekan batangnya yang sudah mengeras dibelahan pantat Aryanti. Sementara tangannya meremas-remas payudara wanita itu dengan sangat bernafsu.

“Terus batang sayaa,, gimana buuu,,,” nafsu Mang Oyik sudah sampai keubun-ubun, ingin sekali langsung menusukkan batangnya ke pintu vagina basah yang ada didepan batangnya. Apalagi saat itu pantat Aryanti yang membulat, mampu membekap batangnya dengan begitu nikmat. “Buuu,,, saaaya entotin yaaa buuu,,,”

“I,, Iyaa deehh,,,Maaang,,, tapi sebeeentar aj,,, Ooowwhh Gilaaaa,, itu bataang monster,,” gerakan tangan Aryanti yang sudah memegang batang Mang Oyik terhenti, tidak lain akibat ulah Kontet didepannya yang ikut-ikutan mengeluarkan penis dari balik celana.

Sejak awal Aryanti yakin Kontet memiliki batang yang besar, tapi tidak menyangka jika sebesar seperti yang tengah dilihatnya. Aryanti merinding, Yaaa,, batang itu lebih besar dari milik Arga yang sangat dibanggakannya.

Kontet berdiri, memeluk Andini dari belakang, dan batang monster itu kini tegak mengacung disela-sela paha Andini.

“Mang Oyyyiiik,,, masukiinn ke tempat Andini ajaa yaaa,,, kasiaan diaa kalo dimasuukin batang sebesar ituuu,,,” ucap Aryanti, melepas batang Mang Oyik yang ada dalam genggamannya.

“Tapi buu,,,”

“Stsstsss,,, jangan ngebantaah,,, punya Andini juga enak koq,, malah lebih sempit lhoo,,” terang Aryanti. Lalu menarik Kontet untuk bertukar.

“Gilaaa,,,” hanya itu yang keluar dari bibir Andini, saat menyadari batang yang tengah menggesek-gesek selangkangannya ternyata memiliki ukuran luar biasa.

“Ooowwhh,,, Maaaang,,, kenapaaa, dimasukiiiin,,,” Andini menjerit, meski cukup pelan, tapi penetrasi batang Mang Oyik yang tidak disadarinya membuat gadis itu terpekik kaget.

“Nooon geuliss,, nikmatin ajaa,, saya lembut koq mainnya,,,”

Sementara Aryanti mendorong tubuh Kontet kedinding, tangannya dengan terampil meremas dan menggosok batang yang berdiri tegak mengacung.

“Teeett,,,, ni batang udaaah masuk kemana ajaaa,,,” tanya Aryanti, sambil mengoosok kepala jamur yang besar kebibir kemaluannya.

“Cuma ke istri saya bu,, soalnya Mang Oyik ngga pernah ngizinin saya nyicipin bininya,, katanya takut memek Lik Marni ndower,,,”

“Hihihiii,,, kamu ini ada-ada aja,,, tapi kalo ketempat saya bisa ngga yaaa,,, Ooowwhhsss,, Teeett,,, liaaat,, bibirnya sampai ndoweeer gituuu,,,” bibir Aryanti mengoceh, mengomentari pintu vaginanya yang dipaksa menganga saat disundul jamur besar, hingga membuat bibir vaginanya menyeruak keluar.

“Eeeiittsss,,, jaaangaaan ditusuuuuk Teeet,,,” Aryanti memundurkan pinggulnya saat menyadari Kontet ingin melakukan tusukan. Entah kenapa wanita itu terlihat ragu-ragu untuk melakukan persetubuhan. Ada rasa ngeri jika kemaluannya harus melumat batang sebesar itu. Ada rasa takut jika Arga sampai mengetahui kenakalannya.

“Gosok-gosok didepan aja yaa Tettt,,,” bisiknya, lalu menjepit batang Kontet dengan pahanya, pinggul dan pantatnya mulai bergerak, memainkan batang besar yang menggesek-gesek bibir vaginanya.

“Uuuuggghh,,, gini juga enaaaakkan?,,,”

“Iyaaa buuu,, tapiii memeeek ibuuu lebiiiihh enaaak kalooo buat ngetoot,,,”

Telinga Aryanti terasa panas mendangar komentar nakal Kontet. Apalagi pemuda gempal itu mulai menunjukkan powernya sebagai seorang lelaki. Tangannya yang besar mengangkat rok Aryanti lebih tinggi lalu mencengkram pinggulnya dengan kuat, sementara batangnya semakin cepat menggesek-gesek selangkangan Aryanti.

“Ooowwwhhh,,, Maaang,,,, saaaaya maauuu keluaaaar,,,” terdengar rintihan Andini yang setengah membungkuk, menikmati aksi Mang Oyik yang menyetubuhi kemaluannya dari belakang.

Dengan cepat Mang Oyik melempas kan batangnya, menarik tubuh mungil Andini berbaring keatas meja, lalu dengan rakusnya lelaki itu melumat, menghisap, mengunyah kemaluan Andini dengan rakusnya.

“Maaanng,,, ooowwhh,,, isap teruuuss,, Aaahhhkkkss,,,” pinggul gadis itu terangkat tinggi, dengan bibir vagina yang menghambur kelenjar bening, membasahi wajah Mang Oyik yang tertawa puas, mampu menaklukkan mangsanya. Lalu berdiri lagi bersiap kembali memasukkan batangnya kekemaluan gadis bertubuh mungil itu.

“Buuu,,, saaayaaa masuuukiiin ya buu,,,” Kontet sudah tak mampu lagi menahan hasratnya, memutar tubuh, menyandarkan tubuh Aryanti kedinding.

“Teeet,,, aku ngga maaau dimasuuukiiin,,,” lenguh Aryanti, matanya menatap sendu kemata Kontet yang terlihat beringas diumbar nafsu, tiba-tiba tenaga Aryanti terasa menghilang, tak mampu menolak kehendak tangan kontet yang membuka kakinya lebih mengangkang.

“Konteeeet,,,uuugghhh,,,”
“Aaahhssss,,, ga bakal bisa massuuuk,, jangaaan teeet,,,”

Bibir Aryanti mendesah, merintih, saat batang besar itu mencoba memasuki alat senggamanya. Tapi berkali-kali meleset keluar, membuat wanita itu melenguh.

“Weeeiiittsssss,,,, Woleeess brooo,,,” tiba-tiba terdengar suara lelaki dari arah pintu, yang dengat cepat menarik tubuh Kontet menjauh dari tubuh Aryanti.

Sementara lelaki satunya mendorong tubuh Mang Oyik menjauh dari tubuh Andini.

“Sorry ya Mang,, kita emang berterimakasih banget diizinin nyicipin istri Mamang,, tapi kalo mau minta imbalan yang kaya gini ya jangan dong,,,hehee,,” ucap lelaki yang ternyata Dako.

“Hehehee, iyaa,, maaf banget yaa mang,,, istri ponakan saya ini emang masih lugu,, jadi kalo mau minta ya mesti izin sama suaminya dulu,,,” timpal Pak Prabu yang mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Mamang coba aja nyicipin cewek-cewek yang ada diwarung remang-remang pinggir jalan dekat sini, kemarin saya liat banyak koq yang barangnya masih bagus-bagus.,” lanjutnya, lalu memapah Andini yang masih terkaget, turun dari meja.

“Ehh,, iya,, maaf Gan,, kami kebawa suasana, tadi cuma disuruh ngebantuin malah kebablasan,,” Mang Oyik tampak cengengesan.

Rupanya Pak Prabu tidak ingin apa yang terjadi pada istrinya terulang, apalagi pada istri ponakannya yang masih terbilang belia untuk wanita yang sudah menikah. “Ya sudah,, ngga apa-apa,, ni ambil aja,,” ucapnya lalu beranjak keluar sambil menggandeng Andini, diiringi Dako dan Aryanti.

“Mang,,, aku ngga tahan nih,,, pinjam istri Mamang yaa,,,” seru Kontet, lalu berlari menuju kamar Mang Oyik. Mengagetkan Lik Marni yang masih bugil, tersenyum-senyum sendiri setelah melayani Pak Prabu dan Dako.

“Teeet,, mau ngapain,, eehh,,, Teett,,, batangmu,,, Gilaaaa,,, Aaaauugghh,,,, Bapakeee,, aku dientotin Konteeeet,,, Aaaauuuwww,,, pelan-pelan bego,n Oooowwgghhh,,” Lik Marni menjerit histeris, tubuh bugilnya diterjang Kontet, yang langsung memaksa membenamkan batang besar kekemaluannya.

“Asseeeem,,, Teeett,,, Woooyyy,,, kurang ajar tu bocah,,,” Mang Oyik yang asik menghitung uang ditangannya kaget dengan gerak cepat Kontet yang menyerbu masuk kekamarnya. Mang Oyik kelabakan mencari celana yang ternyata nyampir diatas kompor gas.

“Teeet,,, buka pintunya,,, Wooyyy,,, Edan ni anak,,,” Mang Oyik menggedor-gedor pintu yang ternyata sempat dikunci oleh Kontet. “Duuuh,,, bakal bonyok dah tu memek,,” dengusnya, meratapi nasib istrinya dari kaca dapur, yang tengah merem melek menahan gempuran Kontet.

“Kamu ngapain sih Yan,, jangan kaya wanita murahan gitu lahh,,” bisik Dako pelan, dari nada suaranya tersirat perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan Aryanti.

“Kamu itu yang kenapa?,,, habis ngegarap bini orang, terus marah-marah, dan sekarang bilang aku wanita murahan,,,” suara Aryanti meninggi. Emosinya tersulut. Memang Dako sudah menyelamatkannya dari persetubuhan yang liar. Tapi kata-kata yang diucapkan lelaki itu membuat telinganya panas.

Dako terdiam, menyesali apa yang diucapkannya, dirinya juga tidak tau bagaimana bisa hatinya tidak bisa menerima jika Aryanti diperlakukan seperti itu.

“Yaan,, Yantii,, maksudku bukan seperti itu,,, maaf Yan,,” Dako berusaha mengejar Aryanti yang berlari kekamarnya dengan cepat.

“Yant,,, dengar dulu,,,” cegah Dako, saat Aryanti ingin menutup pintunya.

“Mau apalagi,, masih kurang?,,, masih mau nunjukin keegoisan para lelaki lagi?,,,”

Dako tidak menjawab, tapi mendorong pintu lebi kuat dan masuk kekamar Aryanti.

“Coba jawab dengan jujur, istri siapa aja yang sudah kamu cicipin?,,, dan sekarang kamu dengan gaya pahlawan mencoba ‘menyelamatkan’ aku dari lelaki lain?,,”

“Tadi malam,, tadi malaam ingat?,,, saat kamu tertawa menggarap tubuhku dengan Pak Prabu?,,, benar-benar menjadikanku seperti wanita murahan,,, dan sekaraang?,,, Dasar cowok MUNAFIK,,”

“YANTII!!!,,, aku bukan cowok munafik, ITU KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU?,,”

Deeeg..
Aryanti terdiam, gendang telingannya seperti ditepuk kalimat tak lazim, coba menafsirkan kata-kata yang diucapkan Dako.

Dan Dako,,, Kakinya lemah menuju kasur,,, lalu menghempas tubuhnya dengan pikiran kacau. Termenung,,, bagaimana bisa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya,, benarkah iya menyayangi wanita yang kini ada dihadapannya?..

“Keluarlah,,, aku ingin istirahat,,” ucap Aryanti pelan, tangannya membukakan pintu.

Dako menghembus nafas dengan berat, melangkah gontai, tepat didepan pintu langkahnya terhenti, menatap Aryanti yang menitikkan air mata..

“Maaf,, aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini,, Maaf,,,” ucapnya. Lalu berbalik, keluar kamar.

“Dako,,,” Aryanti mengejar lelaki yang tengah berjalan diselasar depan kamar. Tanpa diduga wanita itu melumat bibir Dako. Memberikan ciuman yang dirasakan Dako kali ini sedikit berbeda.

“Kamu mau menemani ku istirahat?,,,” suara Aryanti terdengar kikuk, namun berusaha tersenyum lembut.

“Tapi kamuu?,,,”

“Hanya istirahat,, tidak yang lain koq,, badanku capek banget,,,” Aryanti mencoba tersenyum diantara air mata yang mengalir.

Dako mengikuti langkah Aryanti yang menggandeng tangannya.

Membaringkan tubuhnya disamping Aryanti yang kemudian memeluk tubuhnya erat. Melabuhkan ciuman yang lembut,, sangat lembut.

“Dako,,, aku ngga mau ada rasa itu diantara kita, karena pasti akan sangat menyakitkan bagi pasangan kita,,,” ucapnya lirih,, lalu membenamkan wajah yang dibasahi oleh air mata dipelukan Dako.

Dako coba merengkuh tubuh wanita yang setengah menindih tubuhnya, suasana menjadi kaku, jari-jarinya coba menyisir rambut Aryanti, dengan pikiran yang melayang, mencoba mencari tau perasaan hatinya yang terasa begitu asing.

Masih terlintas dipelupuk matanya, saat menangkap binar gembira istrinya, ketika Arga meminta izin padanya untuk mengajak Zuraida jalan-jalan dipantai.

Tak ada yang tau, dibalik sikap urakan, selalu tertawa cengengsan, dan sifat cueknya, lelaki itu ternyata memendam rasa perih dihati yang mendalam. Meski telah mempersiapkan dirinya sedemikan rupa, tapi apa yang disaksikan oleh mata ternyata lebih menyakitkan.

Semua yang diucapkannya pada Arga saat dipantai tidak lebih dari usahanya untuk membuktikan semua

Bertahun-tahun mencinta wanita yang menyimpan rasa terhadap lelaki lain.

“Yaant,,,Seandainya,,,”

“Ststssss,,, tenangkan hatimu,,, Trust me,, All is well,,,” bisik Aryanti, seolah bisa membaca pikiran lelaki itu.

Aryanti beringsut menaiki tubuh Dako, meletakkan kepalanya didada lelaki itu, memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan untuk dirinya sendiri. Lalu mencoba untuk terlelap dalam dekapan insan yang tengah terluka, dan mencoba melarikan hati pada dirinya.

* * *
“Waaahh,,, udah jauh juga kita jalan,,,” celetuk Arga, saat mereka melewati tempat game tadi pagi, tempat yang mungkin tak akan pernah mereka lupakan. “Masih pengen jalan terus?,,,”

“Ayoo,,,siapa takut, tapi jangan cepat-cepat, santai aja,,,”

“Owwhh Sorry,, aku kecepatan ya,,, Kata Mang Oyik ni pantai dipisah oleh tebing karang itu,,,”

“Ngga terlalu capek sih, tapi belahan rok ini terlalu sempit,,, biar aku buka sedikit,,,”

Kreeek,,, kreeek,,,
Zuraida merobek belahan rok nya hingga kelutut, membuat kakinya lebih mudah melangkah.

“Waduuuhh,,, ngga sayang roknya dirobek,,,”

Tapi Zuraida hanya tersenyum, lalu menarik tangan Arga untuk kembali berjalan. Keduanya melangkah pelan beiringan, layaknya dua remaja yang tengah dimabuk asmara.

“Gaa,, tadi Dako sempat marah padaku,,,”

“Kenapa? Memang sih,, yang kita lakukan saat game tadi memang kelewatan? Tapi bukankah dia melakukan hal yang sama pada Aryanti?,,,”

“Ngga tau,,, mungkin dia marah karena aku membiarkanmu membuang didalam,,,”
Jawab Zuraida lemah.

Arga terdiam mencoba memahami reaksi emosi Dako yang membuatnya bingung, disatu sisi sahabatnya itu terus menggoda kelalakiannya untuk menaklukkan istrinya, tapi setelah semua terjadi justru mengumbar emosi. “Ku kira hatimu seperti batu, Ternyata kau masih menyimpan rasa cemburu,,,” bisik hati Arga, sambil tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Hati sahabatnya ternyata tidak berbeda jauh dengan dirinya.

“Kenapa? Koq malah senyum-senyum sendiri,,”

“Ehh,,, ngga apa-apa,,, Emm,, Apa kamu benar-benar dalam masa subur,,,”

Zuraida mengangguk, tersenyum kecut, “Kami memang tidak pernah menggunakan kontrasepsi, Dako sudah sangat ingin memiliki anak,” terang Zuraida.

Arga manggut-manggut. Berbeda dengan dirinya dan Aryanti, yang sepakat menggunakan kontrasepsi implant. Aryanti terpaksa menunda kehamilannya dengan alasan karir, dan Arga cuma bisa mengangguk setuju.

Tangan Arga tak lagi menggandeng Zuraida, tapi beralih memeluk pundak dokter cantik itu. Tak ada lagi kata-kata yang terucap, masing-masing sibuk dengan lamunannya, pikiran mereka dipenuhi oleh segala keterbatasan yang memagari hubungan rasa dan hati mereka yang terlarang.

Melebihi tingginya tebing karang yang memisahkan bibir pantai, yang tak terasa kini berada tepat didepan mereka.

“Berani menyebrang kesebelah sana?,,,” tantang Arga sambil menunjuk celah tebing. “Kalo sore celah itu hilang, tertutup air pasang,,, Berani?,,,”

“Ngga ahhh,,, takut ngga bisa balik,,,”

“apa kamu tidak percaya padaku?,,,” kata-kata Arga berubah menjadi serius.

Zuraida terdiam, bingung dengan sikap Arga, mencoba membaca apa yang diingin oleh lelaki yang memeluk pundaknya erat.

“Aku percaya padamu,,, Ayoo,,” jawab Zuraida sambil tersenyum.

“Waaaahhh,,,, disini pasirnya lebih putih dan lembut,,, koq bisa sih,, padahal kan cuma terpisah beberapa meter,,,” seru Zuraida, ketika mereka berhasil melewati celah karang yang cukup sempit itu.

Wanita bertubuh semampai itu berlari, menyusuri pasir yang masih menyisakan riak ombak yang baru saja menyapa. Arga tertawa melihat tingkah Zuraida, yang sedang menampilkan sisi childish nya.

Ujung kaki Zuraida terlihat sibuk mengukir sesuatu diatas pasir, “ARGA JELEK”,,,

“Hahahaaa,,, Biariiinnn,,, yang penting disayang Zee,,,” teriak lelaki itu sambil tertawa, lalu duduk diatas pasir. Membiarkan sang betina yang tengah menikmati panorama pantai pasir putih yang memang sangat jarang ditemui.

Zuraida membentang kedua tangannya, seakan memasrahkan tubuhnya pada angin yang menjilati tubuhnya dengan sapuan yang lembut. Jilbabnya berkibar menari-nari mengikuti irama alam yang begitu tenang dan sepi, sangat sepi, jauh dari jamahan keserakahan anak manusia.

Zuraida berjalan menghampiri Arga, matanya menyapu setiap sisi pantai, seolah mencari tau, lalu berbalik menatap Arga, dengan senyum yang terlihat genit, perlahan wanita itu melepas kain yang menutup kepalanya.

Arga tertawa, mencoba memaklumi kebebasan yang tengah dinikmati wanita yang dulu terpaksa ditinggalkannya demi seorang sahabat.

Bibir Arga berdecak kagum, saat rambut Zuraida yang panjang terurai tertiup angin, kecantikan seorang Zuraida terlihat begitu nyata, bibir tipisnya yang tersenyum tak mampu menutupi wajah yang tersipu malu. Entah apa yang ada dipikiran wanita yang kini berdiri sekitar 10 meter dari tempat nya duduk.

“Zeee,,, apa kau ingin?,,, owwhh Zee,,,” suara Arga begitu pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Matanya tak berkedip saat tangan Zuraida mengangkat kaosnya keatas, menayang sesosok tubuh yang putih mulus, sepasang payudara yang tampak ranum dan kencang menghias sempurna, mengokohkan keindahan tubuh dokter cantik itu.

“Cukup,,, Zeee,,, cukuuuup,,, kau bisa membuatku memperkosamu,,, Owwwhh,,, Shiiitt,,,” gumam Arga pelan dengan suara tercekat, nafsunya bergemuruh seiring rok hitam yang dibiarkan jatuh kepasir, menayang sosok wanita seksi yang sedang bertingkah layaknya seorang model. Bibirnya tersenyum nakal.

Dengan genitnya, telunjuk Zuraida bergerak seolah memanggil Arga. “Apa kau ingin membiarkan gadis cantik ini berenang sendiri?,,,” seru Zuraida.

“Hahahaa,,, jangan salahkan aku jika nanti kau kuperkosa,,, hahahaa,,,” teriak Arga, melapas kaosnya, lalu mengejar Zuraida yang berlari kegolongan ombak kecil yang menyambut tubuh mulusnya.

“Kyaaaa,,, Arggaaaa,,, ummpphh,,,” Zuraida berteriak kencang saat tubuhnya dipeluk Arga dari belakang, keduanya berguling di air gelombang yang kembali kelaut.

“Gaaa,, akuuu ga bisaaa berenaaang,,, Aaargaaa,, ummbbllbb,, ugghh,,” Zuraida tersedak, terminum air laut yang asin. Tangannya memegang tubuh sang pejantan dengan erat, mencari perlindungan.

“Hahahaa,, tenang sayang,,, kamu baik-baik saja,,,” ucap Arga, sambil membantu kaki Zuraida menapak lebih kuat.

“Kamu jahaaat,, aku sampai keminum air,,, asin bangeeet”

“Hhhmm,,, maaf yaa,,,” jemari Arga menyibak rambut yang menutup mata indah wanita, yang mempercayakan tubuhnya sepenuhnya pada dekapan erat tangan Arga.

“Gaa,,, akuu,,, emmpphh,,,” kalimat Zuraida terputus oleh kecupan bibirnya. Mata mereka bertemu, saling menatap, mencoba mencari cinta yang tersisa dibola mata Arga.

Arga kembali mendekatkan bibirnya, untuk mengulangi pertemu bibir yang terasa hangat, yang perlahan menjadi lumatan yang lembut.

Lidah sang pejantan mencoba mengundang lidah lembut si betina untuk bertandang dirongga mulut yang hangat, sesaat daging lembut itu menyapa bibir Arga, lalu dengan malu-malu mencoba mengejar lidah sang pejantan yang menggelitik menggoda.

Saling memberi dan menerima, saling membelit dan menggelitik, saling bertukar ludah seperti yang diminta oleh pasangannya. Ciuman yang begitu cepat berubah menjadi panas sekaligus terasa begitu menghanyutkan.

Hingga membuat nafas kedua nya terengah-engah, dan sepakat untuk rehat, mencari oksigen yang terasa begitu langka disekitar mereka.

Zuraida tersenyum, lalu membuka mulutnya, memberi sinyal kepada Arga untuk mencoba bertualang dimulutnya yang menjanjikan kehangatan lebih dari apa yang diinginkan lelaki itu.

Sebagaimana lidah mereka yang begitu kompak menari berkejaran. Tangan keduanya pun mencoba menari diatas kulit lawannya yang basah. Dengan malu-malu tangan Zuraida mencoba mengikuti geliat tangan Arga yang berselancar diatas tubuhnya.

Wanita itu hampir tertawa, saat tangannya mencoba meremas pantat Arga yang berotot, sebagaimana jari-jari Arga yang meremasi pantatnya.

Namun canda yang tercipta diantara mereka mulai surut seiring anggukan Zuraida yang mengizinkan jari-jari Arga menyapa bibir kemaluan, mengusap lembut lipatan yang begitu sensitif, lalu perlahan menyelusup kedalam belahan senggama yang mulai basah.

Dengan mulut terus saling melumat, Arga menganggukkan kepalanya, memberi izin serupa pada jari-jari lentik yang begitu ingin mengenali perkakas alat kawin sang pejantan. Jantung Zuraida berdegub kencang ketika kedua tangannya menggenggam batang besar yang sudah mengeras.

Mata Zuraida terpejam, meremas lembut batang yang ada digenggamannya, saraf-saraf ditangannya dengan begitu jelas menyatakan keperkasaan batang yang dimiliki Arga.

“Gaaa,,,” ucap Zuraida pelan, saat Arga membopong tubuh telanjangnya ketepi pantai.
Membaringkannya diatas hamparan pasir putih.

Jemarinya yang lentik mengusap pipi lelaki yang kini sudah menindih tubuhnya, perlahan mengucap putingnya yang sudah mengeras.

Tak ada lagi kata yang terucap selain lenguhan pelan dari bibir si wanita yang mengusapi rambut lelaki yang tengah bertualang dikedua payudaranya. Suatu pemasrahan diri kepada sang kekasih, dibalut rasa cinta yang terpendam sekian tahun, yang seketika kembali tersulut dalam hitungan nafas.

Sepasang mata penuh cinta kembali bertemu, saling meminta dan dipinta untuk babak percitaan selanjutnya.

Zuraida mengangguk, meng-amini segala kehendak sang pejantan yang juga dituntut oleh hatinya yang penuh gairah, seiring kain kecil yang perlahan turun menayang gundukan mungil yang terbelah menjadi dua.

Wanita cantik itu membuang pandangannya kesamping ketika si lelaki merentang kedua pahanya. Wajahnya memerah saat lantun kekaguman mengalir dari bibir.

“Zee,,, milikmu indah,,, cantik,,,”
Jari-jari pejantan mengusap lembut, sesekali mencoba menguak gundukan daging yang berisi kismis dengan warna merah muda, begitu bersih, begitu terawat. Dirembesi cairan cinta yang mencoba membasahi sisi-sisi yang dengan cepat menjadi mengkilat.

“Uuuuhhhssss,,, Saayaaaaang,,,”
Sapuan lidah yang lembut, berusaha menyambut tetesan bening yang telah sampai diujung aliran sungai. Memaksa bibir si betina melantun kan lagu nirwana,

Alunan rintihan semakin nyaring terdengar seiring kerakusan lidah sang pejantan yang tak sabar menunggu tetes cinta, mencoba menguak dasar mata air, dan menyeruput dalam hisapan yang penuh hasrat.

“Argaaaa,,, Emmmpphhh,,,” wanita itu mengatup bibirnya, mencoba menyembunyikan nafsu yang menguasai tubuh yang telah polos sepenuhnya. Tapi sungguh itu suatu usaha yang sia-sia. Saraf-saraf ditubuh wanita itu bekerja dengan sempurna menyampai pesan keotak akan rangsangan yang mendera.

“Ooooowwwwhhhssss, Saaayaaaang,,, Stooopss,,, Aaakkhhsss,,,

Nafas menderu, terengah-engah menerima orgasme yang begitu saja mendera, diproklamirkan oleh cairan bening yang mengalir deras dicelah kemaluan yang masih dicumbu lidah yang semakin basah.

Pantat dan paha wanita itu terangkat tinggi, mengejat berkali-kali hingga akhirnya kembali jatuh kembali bumi seiring kesadaran yang berusaha menyapa hasrat yang terhempas, begitu terpuaskan oleh layanan sang lelaki.

“Argaa,,, apa kamu mauu,,,” Zuraida tak menyelesaikan kata-katanya saat melihat penis Arga yang mengeras sempurna. Merentang kedua kakinya, memberi tempat pada yang terkasih untuk mengayuh bagian tubuh terdalamnya.

“Peluk akuu,,” rengek Zuraida begitu manja, tangannya meraih leher Arga dan menyambutnya dengan ciuman yang begitu mesra.

“Sudah siap?,,,” tanya Arga dengan wajah jenaka.

“Siaaap,,,”
“Eenghh,,, pelaaaann,,”
“Gaa,, geli bangeeet,, uuhhhsss,,, duuuhhh,, dalaam bangeet sihh masuknyaaa,,,”
“Udaaahh,,, nyampee beluuumm,,”
Bibir Zuraida terus berceloteh, entah untuk menghilangkan rasa malu, entah tengah menikmati penetrasi yang dilakukan dengan perlahan.
“Uuugghh,, mentook,, daleeem bangeeet,,, Gaa,,”

Arga tersenyum, “Aku tidak menyangka, vaginamu yang mungil ini bisa menampung seluruh panjang batangku,,,,, hangat banget didalam,,, licin,, lembut,, tapi lorongnya mencengkram banget,,”

“Iiiihh,, apaan sih,, ga usah dikomentarin gitu dong,,, tapi punyamu emang panjang banget,,, aku ga pernah ditusuk sampe sedalam ini,,, aku juga bisa merasakan otot-otot dari batangmu,,, kerasa banget,, bikin gelii,,,” ucap Zuraida sambil menyampirkan kedua kakinya diatas paha Arga. Mengokohkan posisi batang didalam kemaluannya.

“Lhooo,, katanya ngga boleh ngomentarin,,, ehh,, kalo sambil meremas ini bolehkan?,, habisnya kenyal banget,, apalagi,,,”

“Sayaaang,,Kita mau ngobrol atau mau apa sih ini,,, punyaaaku,, punyaakuu,,” Zuraida mulai menggeliat, menikmati ulah Arga yang memanjakan kedua payudaranya, sementara lorong vaginanya penuh dijejali batang si pejantan.

“Punyamu mulai gatal?,, pengen digaruk seperti ini?,,” sambut Arga, perlahan menggerakkan batangnya, menikmati setiap inci dekapan daging lembut milik seorang wanita yang setiap hari mengenakan jilbab.

“Eeeenghh,, iyaa,,, Eeeuuuhhhss,,,”
“Gaaa,, punya mu besar bangeeet,,,” rintih wanita itu, Arga yang mengangkat tubuh memberi Zuraida kesempatan untuk melihat langsung bagaimana alat senggama mereka bertemu.

Menghilangnya batang besar kedalam bibir kemaluan yang mungil menjadi pemandangan yang penuh sensasi bagi keduanya. Tanpa bisa dicegah tubuh keduanya bergerak semakin cepat. Mencari kenikmatan yang ditawarkan.

“Oooowwhhh,,, Argaaa,,, akuuu keluaaarrr,,,” vagina Zuraida berkedut, tubuhnya mengejang, memeluk tubuh Arga dengan kuat.

“Zeee,,, aku jugaaa,,,, aku jugaaa mauu keluaarrr,, emmpphh,,,”

Seketika wajah Zuraida yang masih menikmati sensasi orgasme terlonjak kaget. “Gaa,, please,, jangaaan dikeluariin didaalaaam,,,oowwhhh,,, kumohooon jangaaaann,, Aaagghh,,,”

Payudara Zuraida bergerak liar seiring hujaman batang yang semakin cepat menggempur selangkangannya. Matanya memohon pengertian Arga.

“Aaaagghhh,,,Zeee,, akuuu ingiiin didaaaalam tubuuuhmuuu,, akuuu,,,”

“Jaaangaaan Gaaa,, kumoohoooonnn,,,”

“Aaaaakkkhhssss,,, Ooowwhhh,,,Ooowwhhh,,,,” seketika semprotan sperma menghambur diatas perut yang mulus, beberapa menyapa leher dan dagu si cantik yang terengah-engah.

“Maaf Gaa,, maaf,,, aku pun ingin cairan cintamu memenuhi rahimku,, sangat ingin,, tapi itu tidak mungkin,,,” didasar hatinyah, wanita itu ingin memberikan kesempurnaan dalam persetubuhan, menyediakan tubuhnya untuk menerima hasrat lelaki yang yang dicintainya. Tapi secuil kesadaran coba mengingatkan status mereka. Dan akibat fatal yang bisa saja terjadi.

“Tidak apa-apa?,,, inipun sudah luar biasa banget,,, lebih joss dan nikmat dibanding saat kita melakukannya sambil berlari tadi?,,,”

“Ihhh,, Argaaa,,” Zuraida mencubit pinggang Arga, saat lelaki itu membalikkan tubuh mereka, lalu memeluk Zuraida yang kini berada diatas, membiarkan tubuhnya dibawah tindihan penuh kasih sayang.

“Kapan ya kita bisa-jalan-jalan seperti ini lagi?,,,” celetuk Arga tiba-tiba.

Arga menarik tangan Zuraida, lalu mengecup punggung jari-jari yang lentik, tapi sesaat kemudian geraknya terhenti ketika secara tidak sengaja pandangannya terbentur cincin pernikahan yang menghias jari manis Zuraida.

“Mungkin ini untuk yang terakhir kali,,” Jawab Zuraida, lirih. Sebuah pertanyaan yang saat itu sangat tidak ingin didengar oleh telinganya.

“Maaf,,,, Zee,,,”

Namun terlambat, mata indah wanita itu perlahan dialiri air mata. Bola matanya yang bening menatap wajah Arga, berusaha menyampaikan pesan tentang kepedihan hati yang kini mendera.

Lalu membenamkan kepalanya di leher Arga dengan pelukan yang begitu erat. Air mata mengalir semakin deras, menumpah segala beban cinta yang tak pernah mampu mengalir dengan sempurna.

Arga mengusap lembut rambut basah Zuraida yang mulai mengering.
“Zee,,,
Sampai kapanpun aku akan selalu mengingatmu,,,
Memujamu dalam diam,,,
Mencintamu dengan caraku sendiri,,, ”

ZURAIDA PART 5

yessi ecii - jilbab bahenol (5)
zuraida
“Mang,, tempat gamenya pindah ya?,, kemana?,,” tanya Aida, berjalan beriringan dengan Arga.
“Iya buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem,,,” Mang oyik tampak kerepotan membawa beberapa balon yang tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Di depan Mang Oyik tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu menggelendot manja di lengan Pak Prabu. Tertawa menanggapi banyolan yang dilontarkan oleh Dako dan yang lainnya.
“Buuu,,, tolong tangkepin tu balon Buu,,,” tiba-tiba Mang Oyik yang berusaha secepatnya tiba di tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
“Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,,” goda Arga.
“Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,”
“Hahahaaa,, masa tadi ga dikeluarin dulu sih,,”
“Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriak-teriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Gaa,,, banyak banget,,”
“Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,”
Apa yang diucapkan Arga ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya terasa geli.
“Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam sih,,,” Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Arga, berharap dapat membantu agar jalannya bisa sedikit lebih normal.
“Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,”
Arga mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau. “Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,”
Tanpa disadari Arga, beberapa langkah di belakangnya, Zuraida menatap dirinya dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena dihantui rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
“All is well,,,” gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombang-ambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
“Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,”
“Eeehh,,, Mas Adit, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,,” Zuraida kaget mendengar sapaan Adit.Arga yang mendengar suara Zuraida dan Adit menoleh ke belakang.
“Zee,,” sapa Arga ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zuraida membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Arga, lalu kembali menoleh kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
“Hati plong?,,,Maksud ibu?,,” Adit kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“yaaa plong aja,, hehehee,,,” Zuraida tersenyum, melangkahkan kaki dengan santai. Ternyata senyum Arga juga mampu memberikan ketenangan yang sama pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diam-diam Adit yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan natural seorang Zuraida. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang mencolok.  Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan bentuk puting yang samar terlihat.
“Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,”
Zuraida bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Adit, tapi dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar.  Di benak Zuraida, Adit, seperti hal nya Mang Oyik yang terkagum-kagum pada tubuh indahnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum. Sementara Adit yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zuraida, yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu, berkali-kali menelan ludah. Sambil mengerem langkahnya, lagi-lagi Adit harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan padat.
“Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,,” tiba-tiba Adit nyeletuk.
“Maksudnya?,,,” kini giliran Zuraida yang balik bertanya.
“Hehehee,, tuh ngalir sampai ke paha ibu,,,” Adit tertawa, matanya tertuju pada tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!!… Wajah Zuraida pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
“Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,,” Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Adit memandang dengan tak percaya.
“Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,,” dengan terpaksa Zuraida menjilat cairan itu dengan lidahnya, “Mauuu?,,”
“Gilaaa,, aku menjilat sperma Pak Prabu,,,” Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Adit.
“Owwhh,, ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu yang nempel tuh,,” jawab Adit sambil menunjuk beberapa tetesan sperma yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zuraida tak mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.

“Uuuugghhhh,,, Pak Prabuuuu,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,,” ingin sekali wanita itu berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran. “Uuuhhhggg,,,” lagi-lagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya, ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Arga berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
“Kamu baik-baik aja kan Zee,,,”
“Ehhh,, iya,, gapapa koq,,,” Zuraida tersenyum kecut menjawab pertanyaan Arga.
“Cepet dikit Ga,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama Zuraida,,” Pinta Aida lalu menggamit tangan Arga untuk melangkah lebih cepat.
“Sini mba,, biar aku bersihkan,” tawar Adit. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
“Eeehh,, ga usah Dit, aku bisa sendiri.”
“Ststsss,, udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zuraida berisik, ntar Arga sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,”
“Diiitt,,, ga usaaahh,,,”
“Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apa-apa,,”
Zuraida menutup mulutnya, apa yang dilakukan Adit sebenarnya sangat lancang. Mengusap-usap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Adit untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya selalu tertutup kain. Tapi Arga yang berjalan beberapa langkah di depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
“Uuugghh,, Adiiit,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diiit!!! jangan nakaaaal,,” Dengus Zuraida, berusaha menepis tangan Adit yang awalnya mengusap, tiba-tiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
“Bener-bener pemuda yang nakal,,,” gumam Zuraida, yang menoleh memperhatikan wajah Adit yang tersenyum-senyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan pemuda itu bergerak meremas, Zuraida dapat melihat gelora nafsu yang tertahan.
“Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,” Zuraida mulai mengaggumi wajah Adit yang cukup ganteng, seperti artis korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acak-acakan.
“Sudah belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Dit,,,” mata Zuraida menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
“Bentar mba,,, susunya lengket banget,,”
“Egghhh iyaa,, tapi cepet,,” langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah jari-jari Adit yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya. Matanya nanar mengawasi ke depan.

“Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,”
“Ststssss,,, jangan berisik Dit,,,” jemari lentiknya mencengkram pegelangan Adit, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
“Mbaa,, yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,,” telapak tangan Adit mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan mereka bertemu, bila Zuraida menahan birahi yang tersulut dengan wajah yang memerah, wajah Adit justru menunjukkan hasrat yang begitu besar, berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita cantik itu.
“Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,”
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, mengomando tangan Adit dengan cepat.
“Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,”
“Gemeeesss,,, kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,” Zuraida kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu bernafsu mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah liang senggama yang berbentuk vertikal.
“Ya samaaa,,, punya Andini dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zuraida yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,”
BUUGGG…kata-kata Adit menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa penasaran yang tercipta.
“Sudaaahh Diiit,,, cukup,,, Aaagghhh,,, kamu mau ngapaiiinn,,” tubuh Zuraida telonjak, kakinya menjingkit, saat dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Adit dengan cepat menyelusup di sela celana legginsnya.
“Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Adit ngga mau mba malu diliat Arga sama Bu Sofie,”
“Uuugghh,,, pinter bener ni bocah manfaatin situasi,,” Hati Zuraida menggumam kesal, kondisi dan situasi memang sangat mendukung Adit untuk mengintimidasi Zuraida.
“Oooowwhhh,, Diiitt,, jangan Diiit,, pliss,,” wanita itu menatap Adit dengan wajah menghiba.
“Mbaaa,, maaf mba,, kalo saya meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,”
Adit memelas, berharap Zuraida mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan, “maaf banget mbaa,,, cuma saat-saat seperti ini saya bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zuraida,, pliss,,,”
“Diittt,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,”

Tapi tangan Adit terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zuraida.
“Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Adit rela koq kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,”
Zuraida membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Arga yang dapat kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Adit tengah mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu membuatnya tersipu.
“Diiit,, jangaaann,, kesituuu,,plisss,,,” wanita berjilbab itu menggelengkan kepala saat jarii-jari Adit berusaha menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah memohon.
“Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep banget ama selangkangan kuuu,,” pertahanan hati Zuraida mulai goyah, cengkramannya mengendur.
“Owwwhhh,, Diiit,,” Zuraida terus menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan, tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jari-jari seorang lelaki yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali bagaimana jari-jari Adit berformasi. 1 jari Adit, jari telunjuk, menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zuraida gemetar menahan rangsangan.
“Oooowwwhh,, Argaaa,, Plisss,, jangan liat ke belakaaaang,,” Jantung Zuraida berdebar, seseorang yang sangat berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke belakang.
“Owwwgghhhh,,, Adiiittt,,, punya mba diapaaaiiinn,,,” tubuh wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Adit, jari manis yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu mengenakan penutup kepala itu, menerima pesan-pesan birahi, yang bergerak liar. Tangan Zuraida tak lagi mencengkram lengan Adit, tapi justru berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jari-jari Adit. Matanya bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan oleh yang lain.
“Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,,” pantat Zuraida bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Adit.
“Seperti inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari rombongan. Dan gilanya Zuraida justru berharap tempat yang mereka tuju masih jauh.
“Diiitt,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,, Uuugghh,,,” Zuraida harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Adit berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat, gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
“Oooowwwhhhsss,, Diiittt,,, tarriikkk tangaaaanmuuu,, aduuuuhh,,” paha Zuraida menjepit tangan Adit dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.

“Suddaaaah,, Ditt,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,,” wajah Zuraida memerah. Mengamati tangan Adit yang keluar dari legginsnya dalam kondisi basah oleh cairan.
“Gilaaa,, ini benar-benar gila,” tubuh Zuraida membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengaduk-aduk liang kemaluannya.
“Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,,” Adit menunjuk pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremas-remas batang di balik celananya.
“Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,,” mata Zuraida tertuju pada batang Adit yang tegak mengacung ke depan, mengarah tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Adit, sebuah penyelesaian dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita itu tengah mengira-ngira seperti apakah bentuk dari batang Adit.
“Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,”
“Tidaaak Ditt,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,”
“Plisss mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Adit Mbaaa,,” Adit menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok kekiri.

Deeeg…
“Diiiit,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,”
Zuraida kaget plus bingung, seperti halnya Aryanti ketika pertama kali melihat batang Adit saat memberikan servis kilat bersama Sintya.
“Gaa taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Aryanti aja juga suka koq,”
“Aryanti??,,,” Zuraida melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Adit bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi seingatnya, Aryanti dulu memang seorang gadis yang supel, tapi selalu menjaga sopan santun.
“Malah Mba Aryanti udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,”
“Aryanti,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,,” jantung Zuraida kembali berdetak tak teratur.
Batinnya bertanya-tanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi. Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah.  Zuraida yang tengah mengenali dunia barunya, dunia ekhibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan dan kealimannya, kini mulai tergoda. Kebimbangannya meraja, sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Aryanti, memasukkan batang milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, menatap Arga dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya, lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Adit.
“Ugghhh,,, haruskah aku mengangguk menerima tawaran Adit untuk disetubuhi, tapi bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Prabu, setelah Arga,, yaaa,, setelah Arga,,” batin Zuraida berkecamuk hebat.
Sesaat Zuraida menatap Adit, wajah putih dengan style remaja korea. “Diiitt,,, Engghhh,,,” kata-kata Zuraida terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.

“Zeee,,, kamu baik-baik ajakan?,,,” terdengar teriakan lantang dari Arga, yang bergegas menghampirinya.
“Kamu baik-baik ajakan?,,,” terlihat wajah cemas Arga yang tak dapat disembunyikan saat mendapati tubuh Zuraida membungkuk, tampak lemas dan gemetar.
“Dit,, kamu apain Zee ku?,,,” suara Arga pelan tapi menebar ancaman tersembunyi pada Adit. Membuat pemuda itu mulai ketakutan, tak pernah dirinya melihat Arga seemosi itu.
Apalagi saat Arga mendapati batang Adit yang menyembul dari balik celana, sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zuraida justru termenung,
“Zee ku,,,” bibir tipis wanita itu mengulang apa yang tadi dikatakan Arga, kata-kata yang mengungkapkan perasaan Arga yang masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika, tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“Argaa,, aku ngga apa-apa koq,,, Adit cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa kakiku keram, mungkin terlalu capek,,” Zuraida berusaha menenangkan Arga.
“Ya udaahh,, kau jalan duluan sana,,” Arga menyuruh Adit dengan suara datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Adit yang mengeras, Arga mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan Zuraida.
“Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,,” ucap Adit, lalu meninggalkan keduanya.
“Gaa,, ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,,” Zuraida bisa membaca curiga dari wajah Arga. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak, tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
“Iya aku percaya koq, kamu adalah Zuraida,,,karena itu aku selalu percaya, justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini biar aku gendong,,”
Meski hati Arga ketar-ketir tak berani untuk menduga-duga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan hatinya.
“Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,,” tapi Arga tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zuraida.
“Aaakkhh,,,” Zuraida terpekik, tertawa, “Gaa jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin turun di pelaminan,,, hihihii,,,”
Arga yang sudah hendak melangkah terhenti, “Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,,” lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zuraida menyebut kata-kata pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.

“Ayoo,, aku gendong dibelakang aja yuk,,,” Arga menebar senyum, mencairkan suasana. Membungkukkan tubuhnya agar Zuraida bisa naik ke atas punggungnya.
“Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,,” Arga tertawa menggoda Zuraida.
“Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,”
“Apalagi apa?,,,”
“Eeengghh,,,Apalagi punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,,” Zuraida merasa malu, karena sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung Arga.
“Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi kemaren waktu aku emut-emut gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,”
“Iiiihh,, tu kan,, seneng banget ngeledekin,,” Zuraida mencubit lengan Arga. Teringat saat Arga mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
“Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,”
“Nggaa,, nggaa koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,”
“Oowwhhh,,, ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,,” Arga memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zuraida sambil tersenyum. Dimata Zuraida senyum itu sangat manis.
“Gaa,, ni aku kasih mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,,” Zuraida tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
“Waahhh,, lagi dong,, lagii,,”
“Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh kemaruk,,hahaha,,,”
Entah kenapa hati Zuraida serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya.
“Argaaa,,, maafin aku ya,,,” ucap Zuraida mempererat pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Arga. Hati kecilnya berharap, dapat terus memeluk Arga, bukan hanya saat ini, tapi selamanya.
“Maaf untuk apa?,,,”
“Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,,” bibir tipis Zuraida terdiam.
“Kenapa tadi?,,,”
“Tadii,, aku udah nakal,, nakal banget,,,” Ada rasa sesal dihati Zuraida, telah mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja dirasakannya.

“Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,”
“Gaaa,,,hikss,,” Zuraida tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang diberikan oleh Arga untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha tetap tersenyum untuk dirinya.
“Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,”
“Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,,” Zuraida segera mengusap air matanya.
“Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,”
Zuraida bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
“Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zee,,,”
“Nggaaa,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,”
Meski Arga tak dapat melihat wajah Zuraida yang tersipu malu setelah mengatakan itu, tapi Arga tau tidak mudah bagi Zuraida untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,”
Zuraida tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Arga tau wanita cantik itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya, “Kapanpun Arga mau,,”
Lalu lengannya memeluk pundak Arga semakin erat, merasakan bagaimana dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh lelaki itu.
“Gaaa,,, Zuraida kenapa?,,,” Aryanti menghampiri Arga dengan cemas.
Mengagetkan Zuraida yang tengah terbuai digendongan. “Koq Arga ga bilang sih kao udah nyampe,” hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
“Aku ngga apa-apa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,”
Arga menurunkan tubuh Zuraida diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
“Bener ngga apa-apa?,,,” tanya Aryanti, lalu memijat kaki Zuraida pelan.
“Iya ga apa-apa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,,” Aryanti tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
“Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Mendengar pertanyaan Aryanti itu, Zuraida sedikit kaget, apakah wanita di depannya ini memang sudah mengetahui hubungan tersenyum antara dirinya dan Arga. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin dibicarakan untuk sekedar berbasa-basi, entah kenapa kedua wanita yang sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok Arga yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat sibuk meniup balon.
“aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,”
“Eeehh,, maksudmu?,,,” Zuraida mulai was-was, mungkinkah Aryanti akan menanyakan langsung tentang sejau mana hubungannya dengan Arga, dan membongkarnya dihadapan umum.
Tapi Aryanti justru tersenyum, “Jujur,, aku tau Arga suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada hatinya,” Aryanti menghela nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat kaki Zuraida.
“Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Arga bercanda hatiku terasa sakit,,,” Aryanti tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk disamping Zuraida, memeluk pundak sahabatnya. “Tapi kurasa itu tidak lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu nakal, dan lagi-lagi Arga bisa memaklumi itu,”
“Yan,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Arga, dan aku,,,”
“Hahahaa,, udah jangan dipikirin,, suamimu Dako udah cerita koq,,, dan aku tidak keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,”
DEGG,,, Zuraida keget dengan jawaban Aryanti.
“Yan,,, maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,,” Zuraida merasa bersalah pada sahabatnya itu.
“Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,”
“Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Yan,,,”
“Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,”
“Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,,” Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
“Permainan kali ini sangat mudah, tetap berpasang-pasangan, dan penentuan pasangan masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila aku yang menentukan pasangan kalian dengan bola-bola ini?,”
Para lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie yang memang terlihat begitu berkuasa. Dako akhirnya senyum sumringah kembali menghias bibir para lelaki. Munaf yang kali ini mendapatkan Andini dengan cepat merasakan batangnya mengeras, meski tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Prabu dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan malu-malu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Adit tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada dengan pita milik Sintya. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya. Dako tertawa girang, mengusap-usap batang dibalik celana saat tau partnernya kali ini adalah Aryanti. Dan tingkah Dako itu membuat Aryanti tertawa tergelak.
“Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,”
Tapi di antara mereka Zuraida dan Arga lah yang paling merasa senang, wanita itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola warna hijau.
“Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut saya,,, Mang Oyik,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,,” Bu Sofie meminta penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi, untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat naik kendaraan roda dua.

“Kita mau ngapain Bu?,,,” tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri. “Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,”
“Ooowwhh,,, ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,, heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,,” tanya Andini ikut penasaran.
“Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku menghampiri kalian satu persatu,,” teriak Bu Sofie saat para wanita satu persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki Zuraida. Di dalam, Zuraida yang tengah melepas celana legginsnya sempat terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya. “Zuraida, lepas celana dalam mu juga ya,,”
“Hehh,,, maksud ibu?,,,”
“Pokoknya lepas aja,,,” ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zuraida masih tampak bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang kemaluannya dari batang ganas Pak Prabu.
“Ayolaaahh,, lepas aja,,, aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah berusaha memasangkan dirimu dengan Arga, meski suamiku sempat ngotot untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,”
“Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,,” Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zuraida.
“Aku merasa kalian sangat serasi, jadi tolong jangan sia-siakan kesempatan ini,, ok?,,, aku harus ke bilik yang lain,,” Bu Sofie membuka pintu hendak melangkah keluar.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan. “Inget ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya mu emang lebih cocok buat Arga, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga pengen nyicipin,,,hihihi,,,”
“Ada apa ini sebenarnya,,,” Zuraida tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi, darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya adalah milik suaminya, Pak Prabu.
Di bilik sebelah, bu Sofie kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan oleh wanita itu. Zuraida keluar dari bilik, disusul para istri lainnya. Mata mereka saling pandang, masing-masing tau dibalik kain yang mereka kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua membisu, cukup saling tau dengan kondisi masing-masing, dengan jantung berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang menuju arena permainan.
“Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,”
“Maksud ibu gendong didepan?,,” tanya Aryanti ragu-ragu.
“Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,”
Bu Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher Mang Oyik, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Oyik dengan cueknya.
“Sudah paham?,,,”
Para suami mengangguk cepat sambil tertawa, sementara para istri menayangkan wajah pucat, memaksakan untuk menganggukkan kepala mereka.

“Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku pinjam suami ibu dulu,,” ucap Andini, dirinya bisa merasakan permainan ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
“Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hati-hati ya, jangan sampai jatuh,” jawab Aida ragu-ragu, berusaha mengajak bercanda.
“Ayolaaahh,,, nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi siapapun yang menang dari kalian,” Rupanya Bu Sofie gregetan dengan tingkah para istri yang malu-malu seperti kucing, yang berusaha menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
“Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,”
Bu Sofie memberi aba-aba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,, jantung Zuraida tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang Arga, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.  Dengan cepat Zuraida menoleh ke Aryanti, rupanya sahabatnya itu juga tengah kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu sia-sia.
“Zee,,, daleman kamu mana?,,” bisik Arga saat menyadari wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan sehelain kain pun.
“Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,,” Zuraida pucat, entah kenapa dirinya takut bila Arga marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zuraida, wajah Arga tampak sedikit emosi, “Gila,,, bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan kemaluan terbuka seperti ini?,,,” suara Arga meninggi.
“Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,”
“Tunggu,,tunggu,,,apa Aryanti dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,”
Zuraida mengangguk pelan, tak berani menatap Arga. Keributan tidak hanya terjadi pada Arga dan Zuraida, tapi juga pasangan lainnya. Munaf yang merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Andini untuk memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Andini. Alasan Munaf, bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu Adit, gadis itu menggeleng tegas.
“Ayolah Din,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,”
“Jangaan,, ada mas Adit, ntar dia marah,,” Munaf tertawa mendengar jawaban Andini, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Adit.
Sementara di samping mereka Adit berusaha menyembunyikan hasratnya untuk menusuk vagina Sintya. Adit menahan bukan karena tak ingin, tapi karena memikirkan kondisi vagina Andini yang pastinya kini tengah mengangkangi batang Munaf. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan tangan Munaf yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat keluar.

Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak Prabu yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan cepat menggoda vagina Aida dengan gesekan-gesekan lembut. Aida kini merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Prabu adalah batang terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
“Koq sudah basah banget Bu?,,,” tanya Pak Prabu, kedua tangannya memeluk pantat Aida, selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan batangnya yang bergerak menggoda.
“Okey,,, sudah siap?,,, perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,”
“Siaaap,,, tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,, haahhhaha,,,” Munaf tertawa, sambil menepuk-nepuk pantat Andini, dan ulahnya itu membuat Adit meradang.
“Diiitt,,, jangan pikirkan istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,,” ucap Sintya, membisiki telinga Adit dengan cara yang sangat menggoda.
Adit tertawa, matanya beralih ke payudara Sintya yang kini berada di depannya. “Ayolah buat game ini semakin panas,,,”
Kini giliran Sintya yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Adit. “Liat saja nanti,,” bisik Sintya tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Prabu yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
“1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo…” Bu Sofie berteriak memberi aba-aba penuh semangat.
Kaki para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Adit menghentak batangnya ke liang kemaluan Sintya, tepat saat aba-aba Goo berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Prabu yang memaksa Aida untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang vaginanya yang sudah sangat basah.
“Ooowwgghhhh,, Paaakk,,,” Aida melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Prabu setengah berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
“Ugghhh,, apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah bener,,,” Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Arga dan Zuraida yang berlari sangat pelan.
Tubuh Zuraida tampak sesekali menggeliat saat batang Arga yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
“Gaaa,,, aku ga kuaaat kalo seperti iniii,,” Zuraida merintih pilu di telinga Arga, berusaha bertahan, sudah berkali-kali tubuhnya menerima rangsangan hebat, dari pak Prabu dan Munaf.

Sementara Aryanti yang berada tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi, tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Dako yang berusaha menyelusup masuk.
“Masss,,,” bibir Aryanti terbuka, seolah meminta izin untuk menerima batang milik Dako kedalam tubuhnya. Sangat sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Arga, istrinya justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di hati lelaki itu. Mungkinkah Dako sudah berhasil menyetubuhi istrinya. Tapi diamnya Arga, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
“Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,”
Tubuh Arga menggigil, saat Aryanti menutup mata, tubuh nya beringsut turun, menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Dako yang tegak mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit. Arga dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan, ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena gerakan Dako yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata Aryanti terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang tengah dirasakan oleh vaginanya.
“Dakooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Argaaaa, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,,” pinggul Aryanti bergerak semakin cepat.
“Apa kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas menikmati batangku,,” tanya Dako yang mulai kewalahan, menyetubuhi wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang mudah.
“Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benar-benar menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dakooo,,, aku merasa batangmu semakin besar di vaginakuuu,,,” Aryanti tidak lagi bergerak naik turun, tapi pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
“ooo,,, aku keluaaaarrr,,,” bibir Aryanti terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Dako.
“Ooowwhhhhsss,, Kooo,, batangmu keras bangeeett,,, meqi ku mpe klengeeerrrsss,,,” Aryanti seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi rangsangan tersendiri baginya.
“Yaaan aku juga mau keluaaarr,, terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,,” Dako mulai kewalahan, langkahnya tak lagi teratur.
“Zeee,,,, mereka sudah melakukaannyaaa,,,” ucap Arga pada Zuraida yang tengah terengah-engah merasakan gesekan batang Arga yang masih terbalut celana.
Tiba-tiba langkah Dako terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Aryanti, menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Aryanti tak kalah liarnya, berusaha menekan batang Dako jauh ke dalam kemaluannya, pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.

“Maaasss Dakooo,,” seru Zuraida pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat itu jualah sperma Dako menghambur, memenuhi rahim Aryanti yang juga tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat rintihan Aryanti tak lepas dari tatapan Arga yang langkahnya sempat terhenti tepat di samping mereka. Arga tau vagina istrinya tengah menerima transfer sperma milik Dako, sebanyak apapun cairan yang keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
“Gaaa,,,” wajah Zuraida yang terkejut dengan aksi Dako dan Aryanti kini menatap Arga, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang baru saja diterima Aryanti.
Ingin sekali Zuraida berteriak bahwa vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Arga menyusur ke bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zuraida, bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Arga.
Arga dan Zuraida saling tatap, “Zee,,, bolehhh?,,,” tanya Arga terengah-engah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zuraida mengangguk, meski dirinya selalu berharap Arga menyetubuhinya dalam suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benar-benar memaksa tubuhnya untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie. Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zuraida menurunkan pantat mulusnya. Bibir vaginanya mencari-cari ujung dari batang milik Arga.
“Gaaa,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,,” kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Arga bener-bener gemas.
Tapi bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka lebar, akan dengan mudah menerima batang Arga, itu adalah salah. Vagina Zuraida yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Arga.
“Kegedeaaann,, ga bisa masuuuk,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, tapi pinggulnya terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah penetrasi darurat.
“Gaaa,,, ayooo dong,, jangan malah diketawain,,,” dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin disetubuhi seperti saat ini.
“Wooyyy,,, Argaaa,, perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,,” seru Bu Sofie, mengagetkan Arga dan Zuraida, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata Zuraida kembali mengawasi suaminya Dako, yang masih berada di belakang mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Aryanti untuk menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya berpegangan erat di leher Pak Prabu. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah menerima setiap hujaman batang besar Pak Prabu. Lain lagi halnya dengan Adit dan Munaf yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas terlihat. Munaf begitu puas bisa mempencundangi Adit dengan memberikan orgasme pada istrinya Andini yang tidak berkutik di hadapan suaminya. Sementara bagi Adit sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya masih lebih hebat dengan menghantar Sintya pada orgasme yang sangat liar.
“Gaaa,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,”
Zuraida kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang Arga dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan yang lebih jauh.

“Zeee,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,”
Zuraida bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya, “Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,”
Arga tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat ke vagina Zuraida. Menyunul-nyunul pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita cantik itu.
“Gaaa,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,”
Mulut Zuraida terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Arga perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
“Aku tau kamu tadi masih ragu,” ucap Arga disela nafas Zuraida yang tercekat.
Kini tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
“Gaaa,, seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,,” vaginanya masih berusaha memasukkan batang Arga lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
“Gaaa,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,,” pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari-cari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Arga seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahun-tahun menjadi fantasi liar nya.
“Zeee,,, aku entot yaaa,,,”
Mata Zuraida terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka bertemu.
“Gaaa,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,”
Mata Zuraida nanar menatap batang Arga yang bergerak cepat keluar masuk lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil mengobok-obok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk kesetiaan.
“Argaaa,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh gaaa,, aku pipisss,,,Aaaggghhh,,,” Kaki Zuraida berusaha memiting pinggul Arga, memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat liar.
“Zeee,,, kau memaaang indaaahh,, Zee,,,” batang penis Arga serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh kenikmatan.
“Argaa,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Gaaa,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Gaaa,,,”
Mendengar kata-kata Zuraida, Arga justru semakin bernafsu, mencengkram erat pantat Zuraida, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam, merasakan empotan vagina Zuraida yang masih dilanda orgasme. Sia-sia bagi Zuraida berusaha melepas batang Arga dari vaginanya, karena saat ini kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
“Zeee,, aku keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaaang,,,oowgghhhh,,,” batang Arga berkedut, lalu menghambur bermili-mili sperma, menghentak dinding rahim Zuraida dengan deras.

“Ooowwhhhh,, Argaaa,,,keluarkaaan sayaaaaang,,, keluar semuaaa dirahimkuuu,,,” Zuraida menatap wajah Arga yang orgasme dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali menjepit pinggul Arga, memaksa otot vaginanya memijat batang Arga, seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
“Gaa,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,,” bisik Zuraida.
Whoooo,,, Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,,tepuk tangan dan sorak terdengar riuh, mengagetkan Arga dan Zuraida. Tanpa mereka sadari semua mata menatap ke arah mereka. Wajah Zuraida memerah seperti udang rebus, turun dari tubuh Arga dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
“Duduk dulu sayaaang,, kau terlihat sangat kelelahan,,” sambut Aryanti, wajahnya tersenyum menahan tawa.
“Maaf yaaan,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilang-bilang,,,”
“Ststsss,, udah jangan ributin itu,,,” jawab Aryanti, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zuraida yang hampir terlepas.
“Hey,, Pak Prabu, ngapain ngintip-ngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,” Aryanti mengusir Pak Prabu yang berusaha mengintip selangkangan Zuraida. Tampak sperma milik Arga perlahan mengalir keluar dari celah sempit itu.
“Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Ga,,,” seru Munaf, sambil terus bertepuk tangan.
“Asseeeem,,, sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Naf,,, lombanya siapa yang menang,,,” Arga berusaha mengalihkan obrolan.
“ngga ada yang menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua tuh,,,hahaahaa,,,” seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
“Okeeey,,, masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan.” Pak Prabu kembali mengambil alih komando.
“Ada beberapa kabar, entah ini baik atau buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,”
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Prabu.

6 SAHABAT PART 3

Gio secara refleks menahan badan Revi yang terpeleset di tanjakan itu. Mereka kemudian tertawa dan melanjutkan perjalanan ke kawah Domas, Minggu ini sesuai rencana mereka pergi berdua ke Tangkuban Perahu. Ada rasa tidak enak sebetulnya yang dirasakan oleh Revi, namun sedikit dalam hatinya senang dia pergi berdua dengan Gio.

Beberapa bulan terakhir, disela-sela waktu mereka belajar, Gio selalu menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik. Revi sangat berterima kasih untuk itu. Tanpa terasa matahari mendekati titik tertingginya, dan mereka memutuskan untuk kembali ke parkiran. Di tengah perjalanan yang menanjak, Revi mengajak Gio untuk istirahat sebentar.
Tempat duduk itu masih sama, beberapa tahun kebelakang Revi pernah duduk di tempat yang sama dengan mantannya. Gio menyadari perubahan di diri Revi, “Kenapa Vi? Ko jadi Murung?”
“Engga. Mmm, cuman dulu pernah kesini berdua ama mantan. Duduk di sini.”
“Wah, gak enak kalo gitu, mau ganti posisi?”
“Gak usah Mas, di sini juga gak apa-apa. Dulu ke sini, awal kelas akhir kelas X. Dan, hehehe, tau gak? Dia ngebawa Revi ke balik pohon di sana.” Revi menunjuk ke arah kumpulan pohon yang lumayan lebat.
“Ngapain ke sana Vi?” Gio bertanya walaupun dia tau ceritanya mengarah kemana.
“Ya biasa Mas, ciuman. Hehe, lumayan lama, sejam. Mas pernah ciuman di tempat umum ama Ima?”
“Pernah sih, di tempat makan, tempat sate kelinci. Kebeneran lagi sepi, di lantai dua. Sampe bisa buka kancing seragam Ima malah, mayan, dapet maenin puting dia yang mancung dan seger. Hahahaha.”
“Ih, dasar.”
Mereka masih duduk, namun lama kelamaan, posisi dukuk mereka semakin dekat. “Vi.” Gio memanggil nama Revi, mata mereka saling menatap. Revi menunduk sambil tersenyum manis, namun matanya masih menatap mata Gio. Wajah mereka seling mendekat, Revi sendiri sudah pasrah, perasaannya tidak menentu, peperangan batin dia rasakan, antara jangan karena Gio adalah kekasih sahabatnya, dan antara kenyataan bahwa dia butuh ini, keadaan ini, bukan untuk Gio menjadi kekasihnya, hanya sebatas perasaan yang sudah lama tak dia rasakan. Semua ketegangan ini, sebuah kecupan.
“Boleh saya cium Vi?” Revi hanya tersenyum, dan bisbir mereka kemudian bertemu, “Empuk, nikmat, manis, gak seperti punya Ima.” Pikir Gio. Dan itu menambah semangatnya, semakin ganas dia melumat bibir Revi sampai, “Udah ah, tar ada yang lewat.”
Nafas mereka berdua terdengar, pandangan mereka lurus ke depan, tegang di wahaj mereka jelas terlihat. Tiba-tiba Gio menangkap tangan Revi, dan menariknya ke arah pepohonan yang tadi ditunjuk Revi. Jauh ke dalam lagi. Gio menyandarkan Revi di salah satu pohon. Dia kembali menciumi bibir Revi, keduanya saling melumat, menghisap dan menggigit. Suara desahan Revi terdengar jelas. “Hmmm, oohhhhh.”
Tidak puas dengan bibir, Gio mencium telinga Revi dari luar jilbabnya, “Aaah, geli Mas.” Suara desahan Revi yang menggairahkan menambah nafsu Gio, disibakkannya sedikit jilbab Revi, dijilatnya leher putih Revi dan terus turun. Bibirnya menemukan gundukan daging kenyal, melumatnya, menggigitnya dengan gemas. “Aaaahhhhh, haah.”
Tangan kanan Gio menjamah dada kanan Revi, meremasnya. Nafas mereka semakin memburu, jantung mereka berdetak sangat kencang, badan Revi sendiri gemetar tidak terkontrol. Bibir Gio kembali melumat bibir Revi, pinggulnya menekan lebih keras ke badan Revi, kemudian Gio mengatur agar penisnya menekan vagina Revi. Masih dengan celana jeans mereka.
“Ngapain aja sampe sejam dulu di sini Vi? Ciuman aja?” Bisik Gio di telinga Revi.
“Aaaahh, nggaaaak. Dia ngemutin dada Revi juga.”
“Terus?”
“Ah, jilatin puting Revi, hah, geli Mas.”
Mendengar itu Gio langsung mengangkat atasan Revi, menemukan BH nya yang juga dia angkat, dan terlihatlah benda yang sangat ingin di lihat Gio, sepasang buah dada yang besar dan bulat. Lebih besar dari punya Ima, lebih bulat, dengan puting yang lebih kecil dari ima.
Tanpa menghabiskan banyak waktu, Gio langsung melumat dada kanan Revi, menyedotnya, memainkan putingnya. “Sssshhhh, ahh, aaaahhhh.” Revi semakin mendesah keenakan, lalu Gio membuka mulutnya lebar-lebar, dan menyedot seluruh buah dada kanan Revi, masuk ke dalam mulutnya.
“Aaaaaaahhhhh!!!!” Revi berteriak cukup keras, namun dengan wajah yang mengisyaratkan rasa nikmat. Namun teriakan itu menbuat Gio berhenti, takut ada orang lain disekitar situ. Gio kemudian merapihkan pakaian Revi, mencium bibirnya lalu keningnya, “Bibir kamu dahsyat Vi, nikmat, empuk, jauh lebih enak dari pada Ima.”
Mendengar nama Ima disebut, rasa bersalah datang lagi. “Kamu gak apa-apa Vi?”
“Harusnya kita gak boleh kaya gini.”
“Ya, saya tahu, tapi kamu bener-bener ngebuat saya gak bisa berfikir jernih. Bibir kamu, wajah kamu, suara kamu, badan kamu, dada kamu.” Berkata begitu sambil tangan Gio meremas buah dada Revi. “Bener-bener ngalihin dunia saya.”
Revi terdiam, tersenyum manis, dan bibir mereka kembali bertemu.
============================
Perjalanan pulang dari mengantar Revi membuat Gio berfikir. Kejadian tadi membuat dia senang, bahagia namun juga takut. Suara SMS membuat dia meminggirkan motornya. Ima meminta dia maen kerumahnya.
 ====================
Bima duduk di tepian kasur, merenung. Terdiam. Dua buah tangan memeluk Bima dari belakang. “Mikirin apa Bim?” Yuni bertanya. Bima menoleh ke kiri, tersenyum. Bibir mereka bertemu. Mereka baru bermain satu ronde. Namun yang membuat Bima tidak meneruskan ke ronde sebelumnya ialah kenyataan bahwa Bima memikirkan Ima ketika dia dan Yuni bercinta tadi.
Badannya berbalik, menidurkan kembali Yuni ke kasur. Bima tersenyum, lalu posisinya berpindah ke bawah Yuni, mengangkankan kakinya, lalu menenggelamkan kepalanya di selangkangan Yuni. Bima kemudian menjilati vagina Yuni.
“Ahh, sshh, aaahhh.” Yuni hanya medesah, dan berteriak kecil kala Bima menemukan klitoris Yuni. Tangan Yuni menjambak rambut Bima. Pinggulnya diangkat, ditekankan kepada kepala Bima. “Terus sayang, ya, gituuu. Ahhhhhh.”
Bima menghentikan jilatannya, “Kenapa berhenti Bim?”
Bima terkekeh, membalikan badan Yuni “Bima perawanin ini ya?” Sambil memegang anu Yuni.
“Sakit Bim.”
“Gak akan sayang, Bima pake pelumas deh.” Bima kemudian mengambil lotion dan menunjukannya ke Yuni. “Gak akan sakit deh, ya?”
Yuni terdiam beberapa saat, lalu berkata “Ya sok, tapi pelan-pelan. Punya kamu itu gede Bim. Masuk memek Yuni aja suka masih kerasa sakit, apalagi ke pantat Yuni yang masih perawan.”
“Lah Yun, waktu kamu diperawain Satrio sakit ga?”
“Sakit lah.”
“Tapi jadinya enak kan?”
“Hehehe, iya. Ya sud, pelan-pelan ya?”
Bima menindih Yuni dari belakang, menciumi tengkuk Yuni, menjilati telinga kanannya, kemudian mencium pipi untuk berakhir melumat bibir Yuni. Mereka beriuman beberapa saat sampai Yuni merasakan sesuatu yang dingin pada anusnya. Rupanya Bima mulai memasukan pelumas dengan jari-jarinya.
“Siap Yun.” Dan perlahan Bima menekankan penisnya ke anus Yuni. Awalnya baru kepalanya yang masuk. Itupun dibantu oleh jari-jari Bima.
“Sssssss….. ah. Pelan Bim, sakittt….”
Bima terus menusuk. Tidak mempedulikan rintihan dan air mata yang keluar dari pinggir mata Yuni. Semakin dalam, hingga setengah penis Bima sudah masuk. Bima berhenti, mengeluarkan penisnya, Yuni hanya bisa merintih. Bima kemudian memasukan lagi penisnya sampai setengahnya. Kemudian mencabutnya lagi, terus berulang ulang sampai Yuni merasa tenang sedikit, bahkan menikmati.
“Ah, ya, geli juga Bim.” Desah Yuni.
Bima masih melakukan hal sama, sampai akhirnya tanpa ba bi bu lagi menenggelamkan seluruh penisnya ke dalam anus Yuni.
“Aaaaahhh! Bima, jahat, aaakh, sakiiitttt … aduh. Pelan Bim. Bimaaa!!! Pelan. Ah, mmpphh.” Teriakan Yuni dihilangkan oleh kuluman bibir Bima pada bibirnya.
“Bima jahat, sakitt Bim.” Yuni mulai menangis, tapi Bima mencium keningnya, “Maaf sayang, habis kamu bener-bener nafsuin.” Bima menjawab, “Saya terusin ya?” Lanjut Bima. Kemudian Bima mulai memompa penisnya, pelan, lalu semakin cepat. “Ah, ah, ahhh, aahh.” Lama kelamaan Yuni mulai bisa menikmati. Apalagi ketika jari tangan kanan Bima mulai bermain di klitorisnya. Menggesek-gesekan jarinya dan sesekali mencubit klitorisnya.
“Bima, ah, keluar Bim.”
“Bareng sayang, pantan kamu bener-bener sempit, ah ah, gak kuat, saya keluar sekarang, aaahhhhhh.” Bima memuncratkan spermanya dalam anus Yuni, menancapkan penisnya dalam-dalam, baru kemudian Yuni meraih orgasme, “Ah, keluar Bim.”
Keduanya langsung menghempaskan badannya ke atas kasur. Nafas mereka ngos-ngosan. “Gila, enak banget pantat kamu Yun. Mantep, hah hah, lebih dari pantatnya Lia lo.”
Yuni tidak menjawab, nafasnya masih berat, pantatnya terasa sakit dan panas. Bima memeluk tubuh Yuni dari belakang. Badan mereka menyatu, keringat mereka saling bercampur. “Ma kasih sayang, maaf kalo tadi saya kasar.” Bima lalu mencium kepala belakang Yuni. Dan sekali lagi hatinya merasa terganggu, ketika tadi dia memasukan seluruh penisnya ke anus Yuni, Bima memikirkan Ima.
===================================
Malam itu Revi susah tidur. Kejadian siang tadi dengan Gio benar-benar mengganggunya. Revi menikmati, amat sangat malah, akhirnya rasa yang dia ingin rasakan kembali dia dapatkan. Namun rasa bersalah tetap ada, walaupun masih kalah dengan kenyataan bahwa dia membutuhkan yang tadi.
Khayalannya terhenti ketika HP nya berbunyi. Rian. Perlahan dia mengambil HP nya, membalas WA Rian dengan perasaan kosong. “Rian, maaf.”
====================================
Gio menghentikan kulumannya pada dada Ima. Jari-jarinya kemudian memainkan puting Ima. Tanpa sadar, Gio membandingkan puting Ima dengan puting Revi. Cepat-cepat dia hilangkan pikiran itu, Gio kemudian melumat bibir Ima, sedangkan tangan kanannya turun ke bawah. Bagian atas Ima sudah tidak mengenakan pakaian. Jilbabnya pun sudah terserak di lantai. Ima dan Gio bermain di atas sofa ruang keluarga, kebetulan keluarganya sedang tidak di rumah.
Tangan kanan Gio turun lebih bawah, berhenti di selangkangan Ima, dan mulai menekankan tangannya pada vagia Ima, tekanan tangan Gio dirasa oleh Ima, sakit, linu, tapi lama-kelamaan terasa enak. Jari Gio perlahan membuka kancing celana Ima, berusaha membukanya, Ima sendiri kini mulai membantu, mengangkat pantatnya, membuat Gio lebih mudah menurunkan jeans yang digunakan Ima.
Celana Ima turun sampai lutut, terlihat jelas celana dalam Ima yang berwarna biru, Gio terus meulumat bibir Ima, namun tangannya kini masuk ke dalam celana dalam Ima.
“Aaaahhh, Masssss…. “ Ima hanya bisa merintih, geli terasa, apalagi ketika jari-jari Gio mulai bermain di lubang kewanitaannya.
******************************************************
“Udah basah sayang.” Seru Gio ketika merasakan tangannya berlumuran cairan kewanitaan Ima.
“Sssssshhhhh. Ahhhh.” Ima tidak menjawab, melainkan mendesah sejadinya. Hal ini malah membuat Gio merasa di atas angin. Dilepaskannya celana dalam Ima, kini terlihatlah rambut vagina Ima yang halus dan bersih. Juga terlihat vagina Ima yang terawat dan berwarna merah muda. Permainan jari Gio di vagina Ima semakin menggila, klitoris Ima pun menjadi sasaran.
“Masssssss….. gak lama lagi, ah, Ima mau keluar mas, ah, massss…… “ Mendengar itu, Gio semakin bernafsu, dilahapnya buah dada kanan Ima, sementara jari tangan kananya tetap bermain di klitoris kekasihnhya itu. “Mmmm,,,, slurpp.”
Lidah Gio teru bermain di puting Ima sampai akhirnya Ima berteriak, dan melepaskan orgasme yang dahsyat. Memberi waktu untuk beristirahat sebentar, Gio melepaskan jarinya dari vagina Ima. Kemudian dia melorotkan celananya sendiri. Penisnya sudah sangat tegang, dan disodorkan kepada mulut Ima.
Ima kali ini tidak menolak, dia membuka bibirnya yang tipis itu, dan perlahan, penis Gio memasuki mulutnya, “Uhuk, uhuk.” Terbatuk pada awalnya, namun lama kelamaan Ima mulai terbiasa, kepalanya dia maju mundurkan, posisi Ima duduk di sofa, sedangkan Gio berdiri dihadapan Ima. Mata Ima dengan genit namun sayu melirik ke arah Gio, seakan-akan meminta lebih. Karenanya, tak puas hanya berdiam diri, Gio pun mulai memaju mundurkan pinggulnya. Terus, sampai akhirnya “Akh, Ima sayang, keluarrrr … “ Cairan sperma Gio muncrat dengan cepatnya tanpa persiapan dari Ima. Hanya bisa kaget, Ima menerima semua sperma Gio. Tertelan semua.
“Aaaahhhh, iikh, apaan, hueekk, ah Mas mah, gak enak. Uhuk, huek.” Ima kemudian minum. “Ah, masih ada di sini.” Sambil menunjuk ke arah tenggorokannya. Gio hanya tertawa, hari itu, dia mendapatkan dua hal indah. Bibir Revi yang dilumatnya, dan bibir Ima yang melumat penisnya.
==============================
Ujian Nasional semakin dekat, ke enam sahabat itu semakin jarang bertemu. Namun tanpa sepengatahuan siapapun Revi masih bertemu dengan Gio. Kadang mereka menyempatkan waktu untuk sekedar makan bareng, keliling-keliling dengan motor Gio atau nonton.
Hari ini pun sama, hari ke dua UN, setelah Fisika terlewati, Revi setuju untuk nonton bareng Gio. Sebetulnya perasaan Revi masih tidak menentu, namun, karena perhatian dan kasih sayang Gio untuknya sangat dia butuhkan, dahaga akan perasaan itu biarlah sementara dia dapatkan dari Gio. Ya, sementara, karena toh, Revi belum sepenuhnya jatuh hati kepada Gio. Lagi pula, ciuman Gio yang hangat dan lembut menghanyutkannya.
Gio menempelkan kartu itu ke alat pembaca RFID, memilih film, tempat duduk, dan mencetak tiketnya. Rupanya tidak telalu banyak penonton. Sengaja dia memilih bangku paling atas. “Yuk, udah dapet.” Ajaknya pada Revi.
==============================
“Saya suka sama kamu.” Bima mengucapkannya dengan pasti. Ima hanya terdiam. Mata mereka saling bertemu. “Saya gak suka nyimpen di hati Ma. Kamu tahu itu kan. Ya, Cuma pengen ngomong itu aja.”
“Kenapa Bim? Kenapa Ima?”
“Kamu baik, cantik, in control, dan saya buta, selama ini kamu ada di depan mata. Tapi saya gak sadar, mungkin karena kita udah deket.”
“Nah, karena kita udah deket pula, Ima hanya bilang, makasih. Lagian Ima udah ada Gio.”
“Ya, beruntung Gio dapetin kamu Ma.”
Tanpa mereka sadari, Udin dan Rian mendengar pembicaraan mereka. Dalam hati, Udin hanya tertawa, melihat sahabatnya yang satu itu. Namun Rian berfikiran lain, Rian mereasa kecil. Pengecut. Ketika Bima berani mengucapkan perasaannya, dia sendiri takut dan lebih memilih menjauh. “Andai saya bukan pengecut Vi.”
“Hei, ngapain lu pade di sini?” Gusti tiba-tiba muncul dari belakang, Udin dan Rian otomatis kaget dan panik, namun sepertinya, Bima dan Ima tidak mendengar. “Ah, gak ada apa-apa, yu, kita menuju pemuas dahaga beuteung aing.” Udin mengalihkan. Dan mereka berjalan ke arah kantin.
Di belakang kelas, Ima masih tertunduk, dan Bima sendiri masih memandangi wajah cantik Ima.
==============================
Film itu sudah setangah jalan ketika Gio mulai menciumi leher Revi, dibalik jilbab putihnya. “Ah, geli Mas.” Cegah Revi. Namun dia tetap diam, menikmati setiap ciuman dan jilatan Gio di jilbabnya.
Gio kemudian memeluk Revi yang ada diseblah kanannya. Tangannya langsung menuju buah dada kanan Revi yang bulat indah itu, meremasnya. Tersenyum, Revi menoleh ke samping yang langsung disambut oleh lumatan bibir Gio pada bibirnya.
“Mmmmmppp, slurrp. Hmmm. Ahhh.” Tidak peduli dengan tempat di mana mereka berada, keduanya tetap berciuman. Tangan Gio semakin bermain, dilepasnya dua kancing seragam Revi paling atas, dan ditelusupkannya tanganke dalam seragam Revi, tujuannya sudah pasti, puting Revi yang imut itu. Namun sebelumnya, kembali Gio meremas dengan gemas buah dada Revi yang bulat. Keras. Sampai Revi meringis dan mendesah.
Pandangan mereka berdua kembali kepada film, namun Gio tetap memainkan buah dada Revi, bahkan tanagn kirinya mengelus-ngelus paha kiri Revi yang entah sejak kapan, rok nya sudah dia angkat, sehingga paha Revi yang putih mulus terbuka.
Lama-kelamaan, tanpa dikomando, tangan kiri Revi mulai bermain di atas penis Gio, meremasnya, mengelusnya, mempermainkannya. Terus, sampai bagian akhir film. Ketika anti klimaks film itu, aktifitas mereka berhenti, Revi mulai merapikan pakaiannya. Dan sepanjang perjalanan pulang, Revi memeluk Gio dari belakang. Pulang ke tempat Gio.
==============================
“Ya Atika gak tau, coba kalo Rian bilang, hehe.”
“Yasud lah, entar saya kasih tau deh. Saya SMSin tar malem, okeh?”
“Janji ya?”
“Iyaaaaaaaaa neng cantik. Janji.”
“Ya udah, Atika ke kelas dulu.”
“Cieeeeee, neng cantik.” Gusti mengejek Rian. “Gelo, sejak kapan maneh ngagoda perempuan Yan? Biasana juga kamu mah ngegoda mang Encang.” Udin menambahkan.
“Jrit, kudu ada kemajuan bro. Si Gusti aja bisa, masa seorang Rian gak bisa?” Dan mereka tertawa. Sedangkan mata Rian terus memandang Atika yang berjalan menjauh. Pantatnya. Bodinya yang bagaikan gitar spanyol. Kecantikannya selevel dengan Ima. Malah mungkin lebih, mengingat bodi Atika yang lebih seksi dibanding Ima. Hanya saja, kulitnya memang tidak seputih Ima.
Terlintas di pikiran Rian untuk menyerah dengan Revi. Atika pun sudah lebih dari cukup. Namun bayangan wajah Revi dengan senyumnya yang khas itu kembali. Revi, terpatri dalam hati.
==============================
Satu demi satu kancing seragam Revi terbuka. Hingga akhirnya seluru kancing telah terbuka. Bibir Gio masih rakus melumat bibir Revi. Desahan Revi terdengar keras tak terkontrol. Gio duduk bersandar pada tembok kamarnya, sedangkan Revi duduk mengangkang dipangkuan Gio. Tangan kanan Gio meremasi kedua buah dada Revi silih berganti, sedangkan tangan kirinya meremasi pantat Revi.
Secara insting, Revi menekankan selangkangannya kepada penis Gio. Pantatnya maju mundur, apalagi dengan dorongan tangan kiri Gio yang kini bukan hanya meremasi, namun langsung meremasi pantatnya di balik celana dalam yang dikenakan Revi. Jari-jari tangan kanan Gio masih bermain di puting, sedangkan bibirnya tak puas melumat bibir indah Revi.
Merasa pegal, Gio kemudian merabahkan badannya, Revi kini di atas, rok seragamnya diangkat sampai ke perut. Sedangkan celana dalamnya setengah terbuka, akibat tangan kiri Gio yang terus meremas pantan bulatnya. Peting dalam posisi ini terus mereka lakukan sampai tiba-tiba Revi menegang, “Hmmmppp, aahhhhhhhh.” Revi keluar.
Gio membalikan badan Revi, tak mau menunggu sampai orgasme Revi hilang, dia meremas buah dada kanan Revi dengan kedua tangannya, keras, sampai ada bekas bwerwarna merah, dan mulutnya tidak tinggal diam menyedoti buah dada itu, dilumat, disedot, digigit.
“Aaahh, ahahhhhhhh, Mas, aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh.” Revi berteriak, kesakitan dan keenakan. Gio ingin lebih dari itu, mulutnya mulai turun, menciumi perut Revi, dan langsung dilahapnya selangkangan Revi. “Aaah, jangan disitu, geli. Masss, aaaahhhhhhhhhhh.” Gio tidak peduli, bahkan kini dipelorotkannya celana dalam Revi.
Revi berfikir, belum pernah sebelumnya sampai seperti ini, bahkan dengan mantannya dulu. Celana dalamnya selalu berada pada tempatnya, namun kini, kekasih sahabatnya telah berhasil melepaskan celana dalamnya, dan kini, bibirnya sudah ada di depan vaginanya.
“Cup, slurp, muach, slurpp.” Gio mulai menjilati dan mencium vagina Revi. Bahkan punya Ima saja belum pernah, pikir Gio. “Aaaaaaaaaaaaaaaaah, memek Revi diapain masss? Enakk banget, ahhh, ssssssssssssss …. “
Revi memang berisik jika sedang bermain, namun ini keterlaluan, batin Gio. Namun dia tidak peduli, justru hal ini menambah gairahnya. Disedotinya terus vagina Revi. Kedua tangannya kini bergerak ke atas, meremasi kedua buah dada bulat Revi. Remas, keras. Hingga kembali, tubuh Revi menegang. Orgasme yang dahsyat, yang lebih dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya melanda Revi. Ngos-ngosan dan telentang lemas. Dengan baju seragam yang acak-acakan, jilbab yang juga acak-acakan dan rok yang terangkat, membuat Gio semakin naik. Dilepaskannya celana jeans yang dia kenakan beserta boxernya. Penisnya langsung mengacung. Ditindihnya badan Revi. Dan mulailah, digesek-gesekan penisnya diantara belahan vagina Revi. Otomatis, Revi kembali merintih, mendesah dan bibir mereka kembali saling lumat.
Vagina Revi yang sudah sangat basah menambah permainan ini semakin nikmat, Gio sendiri baru merasakan peting tanpa celana dalam. Penis bertemu vagina. Begitupun dengan Revi. Dan ini kembali membawa Revi ker orgasme berikutnya, disusul oleh Gio, yang memuntahkan lahar panasnya ke perut Revi.
Namun rupanya belum cukup. Nafsunya masih naik, begitu pula penisnya, belum turun. Kemudian Gio bangkit, naik, dan menduduki perut Revi, penisnya disimpan diantara buah dada Revi yang memang besar dan bulat menantang. Mulailah dia melakukan breast fuck, perlahan kemudian cepat, dan tanpa ijin, Gio langsung memasukan penisnya ke dalam mulut Revi yang sensual itu.
“Mmmmppppfff. Hmmmmmm. Ahhhhh.” Revi kembali merintih dan mendesah, membuat Gio semakin mempercepat entotannya di mulut Revi, dan “Aaaaahhhhhhhh.” Muncrat sudah sperma Gio dalam mulut Revi, tidak sebanyak yang pertama tadi di perut Revi, dan semuanya habis di telan Revi. Dibiarkan penis itu berada di mulut Revi sampai mengecil, Revi sendiri kemudian menjilatinya beberapa kali, dan ini membuat Gio bertanya, “Vi, sori, tapi beneran kamu baru sekali ngemut punya mantan?”
“Hahahaha, sebenernya sih enggak. Hehe.”
“Jiah, dasar.” Sambil berka begitu, Gio membalikan tubuh Revi, dan kembali menekankan penisnya. Kali ini ke pantat Revi.
“Hah, mas, masih pengen?”
“Gak tau Vi, padahal ama Ima kalo sekali ya udah, ama kamu, ini adek bangun lagi.”
“Dasar. Habis deh ini badan.”
Dan mereka kembali melakukan peting. Tangan kiri Gio meremasi buah dada Revi. Disuruhnya Revi menoleh kesamping, untuk kemudian dilumatnya dengan rakus bibir Revi. Dan tangan kanan Gio bergerilya mengkobel vagina Revi. Sedangkan penisnya, dia tekan dan gesekkan di pantat Revi. Kali ini Revi tidak sampai orgasme, walaupun cairan vaginanya sudah sangat banjir, Gio lah yang merasakan orgasme, dimuncratkannya air mani ke punggung Revi. Masih lumayan banyak. Lalu, kecapean, Gio merebahkan badannya di samping Revi, Revi sendiri tetap tengkurap. Lemas. Baru kali ini dia orgasme lebih dari dua kali berturut-turut.
==============================
Bima berjalan lesu ke arah kantin, pandangannya tertunduk ke bawah, langkahnya terhenti ketika dia melihat sepasang kaki indah berkulit putih. Dia tau itu kaki siapa.
“Jadi, rupanya Ima yang ada di hati kamu ya Bim?”
Yuni memandang wajah Bima. Cemburu, lega, iri, bahagia bercampur.
***************************
Ima termenung. Ucapan temannya tadi benar-benar membuat terhenyak. “Mas Gio dan Revi? Gak mungkin.” Pagi tadi dia salah seorang temannya mengatakan bahwa dia melihat Gio dan Revi lagi berduaan, berjalan saling berpegangan tangan.
Ima tidak mau percaya, hanya saja perasaannya sebagai seorang wanita berkata lain. Beberapa waktu belakangan ini, Gio memang tampak berbeda. Tapi dia menganggap itu sebagai hal biasa.
Tapi pegangan tangan?
Dan Ima memutuskan untuk bertanya ke sahabatnya yang sering jalan-jalan berdua dengan Revi. Rian.
=============================
Rian bengong. Tidak percaya. Tapi sikap Revi akhir-akhir ini memang beda. Lebih sering sendiri dan menjauh.
“Revi. Memang gak ada perasaan sedikitpun buat saya.”
=============================
“Sialan, pada ada apaan sih barudak?” Udin menggerutu, hari ini ingin sekali dia karaoke menghilangkan stress, tapi semua sahabatnya gak bisa diajak. Berdua saja dengan Icha gak asik. Tapi apa boleh buat, akhirnya dia pergi berdua dengan Icha.
Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di mall yang ada di jalan Cihampelas. Lagi asik berjalan berdua, Udin meilihat sosok yang dia tau. Perempuan cantik berambut sebahu, Lidya. “Hei, sendiri aja Lid?”
“Eh, kamu Din, gak lah, ama Gusti. Nah, ini makhluk cantik disebelah siapa?” Lidya menunjuk ke Icha. Sore itu, Icha menggunakan kemeja berwarna pink dengan jeans biru dan sepatu kets kesayangan. Terlihat cantik dan menggemaskan. Lidya sendiri menggunakan rok mini, menunjukan pahanya yang kuning langsat dan panjang.
“Kenalin, pacar Udin. Icha.” Udin memperkenalkan.
“Icha.”
“Lidya. Eh, mau pada nonton?”
“Gak.” Icha menjawab. “Tadinya mau karaokean, tapi cuman bedua mah kurang asik.”
“Ya hayu lah, karaokean ama gadis cantik kayak kamu ditemani dua lelaki, yang satu kekar dan yang satu, kamu kaya gimana ya Din?” Lidya menimpali.
“Ganteng surenteng jauh lebih ganteng dari pada Justien Bebek.” Sambil nyengir mempertontonkan giginya yang putih terawat Udin menjawab.
“Idiiihhhh.” Dan Lidya tertawa. Icha sendiri terbahak-bahak.
“Halah, ngapain ada makhluk ini di sini?” Gusti keluar dari lorong di belakang mereka. WC.
“Lah, ente sendiri ngapain Betawi? Ganggu aja.”
“Udah, kaya anak kecil aja. Kita karaokean Gus.” Lidya menegaskan.
“Gak jadi nonton?”
“Gak ah, males, palingan di dalem juga kamu cuman ngeremesin ini dada ama maenin meki.” Dengan enteng Lidya menjawab.
Gusti terdiam, raut kecewa terlihat jelas di wajahnya, Icha sendiri tersipu dan tertunduk. Sedangkan Udin nyengir sambil merasakan adeknya yang di bawah bangkit.
“Kita karaokean aja.”
Dan mereka memutuskan karokean. Ruangan yang mereka ambil yang small. Ruangannya terletak di bawah, namun karena lobinya di atas, seolah-olah mereka turun ke basement. Dapat ruangan paling pojok di belakang. Satu jam sudah mereka bernyanyi. Sepanjang satu jam itu, Udin sering mencuri pandang ke paha Lidya. Dan ini disadari oleh Icha, Icha yang merasa cemburu, mulai merapatkan posisi duduknya di sebelah Udin, memeluk Udin dan mulai menggoda Udin. Gusti tidak sadar akan hal ini, karena sejak beberapa menit yang lalu dia tertidur. Memak anak yang satu ini tidak begitu suka bernyanyi dan tidak keberatan dengan suara bising sebagai teman tidur. Padahal, suara Udin benar-benar bising.
Melihat perlakuan Icha, akhirnya Lidya berkomentar. “Makin nembpel aja Cha, cium aja sekalian.” Icha termakan oleh tantangan Lidya, dan dia langsung mencium bibir Udin. Udin yang beneran tidak menyakngka Icha bakal seberani ini gelagapan, namun lama kelamaan mulai menikmati. Tangan Udin bahkan sudah meremasi dada Icha, dari luar kemejanya dan perlahan membuka kancing bagian atas.
Lidya sendiri melongo tidak menyangka hal ini, namun dia mulai panas. Diciumnya Gusti yang sedang tidur sampai dia terbangun. Panik, Gusti merasa malu, namun akhirnya jengah juga, terutama ketika melihat pemandangan di kanannya, Udin memangku Icha. Icha sendiri duduk di pangkuan Udin, membelakanginya. Tangan kanan dan kiri Udin mempermainkan buah dada Icha yang BH nya sudah disingkirkan ke atas. Bibir mereka saling melumat, dan lidah mereka melilit.
Gusti gelagapan saat Lidya kembali menyerangnya, dan berteriak, “Stop. Hey, kalian gila apa? Gimana kalo ada kamera. Sarap lu pada.”
“Yeee, Lidya yang nantangin.” Saut Icha. “Icha sih gak takut.”
“Lu nantang apa sih Lid?”
“Nantang berani ga Icha nyium Udin di depan saya, gila ni anak. Udah gituan belum kalian?”
“Gituan apa Lid?” Ujin berusaha mengelak.
“ML lah. Pernah?”
“Peting doang, belum ampe ML. Icha gak mau.” Udin menjawab.
“Nah Cha, bernai gak kalian peting di depan saya. Ama depan Gusti juga. Berani ga?” Tantang Lidya kembali.
Icha diam, gak langsung menjawab, namun melihat kondisi dia sekarang dimana sepasang buah dadanya yang ranum sudah terpampang jelas dia menjawab, “Boleh, tapi gak disini. Terus, kamu mau ngasih apa kalo berani?”
“Gak ngasih apa-apa. Cuman nantangin kamu aja.”
“Oke, mau di mana?”
“Di kostan saya aja, sekarang, mumpung belun telalu malem.”
“Heh, kalian itu kayak apa aja, belum tentu si Udin itu mau. Dan ngapain juga gue liatin burung item si Udin, gedean gua malah. Ogah ah gua.”
“Jrit, maneh belum liat nu saya. Lebih gede dari punya lo Betawi. Dan enak aja item, paling juga lebih item punya lo.” Udin sewot menimpali.
“Ah kagak mungkin, okeh, gue ikut. Gua bakal saksiin, mana yang lebih gede, punya lo ato punye gue. Ayo cabut say, kamu ikutin motor gue.” Tantang Gusti ke Udin.
“Nah, gimana cara mastiinnya? Lo juga harus maen ama Lidya. Baru kita bisa tau. Tul ga Cha?” Tantang Udin pada Gusti.
Gusti melihat Lidya, dan Lidya hanya mengangguk, “Okeh, yang kalah traktir nonton. Yang Premiere. Plus makannya. Gimana?
“Aing tidak pernah takut. Apalagi ama lo Betawi edan. Kita liat siapa yang paling gede.”
Kini giliran Lidya dan Icha yang saling pandang melihat dua sahabat itu beradu mulut, kemudian keduanya tersenyum. Manis.
=============================
Revi melihat jam tangannya, jam 19:30. Memandang ke luar rumah, masih sepi. Gio janji dateng ke rumahnya malam ini. Perasaannya kini tak menentu, benih-benih sayang mulai tumbuh di diri Revi, seiring waktu yang mereka habiskan bersama.
Revi masih merasa bersalah, namun apa yang dia rasa bukanlah sepintas, dia memang mulai menyayangi Gio. Suara motor terdengar memasuki pelataran rumahnya, dengan cepat dia turun dan menuju pintu, membukakannya. Gio tersenyum.
“Masuk Mas, lama amet, katanya jam tujuh.”
“Kenapa? Kangen yaaaaa??”
“Idih, sapa juga yang kangen?” Revi memasang wajah cemberutnya, namun yang ada hanya menambah kecantikannya.
Lalu mereka bercengkrama di ruang tamu. “Si mamah dimana Vi?”
“Di dalem, lagi nonton OVJ. Kenapa?”
“Gak, cuman pengen ini aja.” Gio langsung mencium Revi, dan dibalas dengan lumata khas Revi, benar-benar melumat bibir Gio, kadang menggigitnya sampai Gio kesakitan. Tangan Gio sendiri sudah memainkan selangkangan Revi.
“Coba liat dulu gih, lagi ngapain si mamah.” Perintah Gio. Revi langsung bangkit, membenahi jilbabnya lalu masuk ke dalam. Tak lama, dia keluar lagi sambil tersenyum.
“Tidur.”
Giliran Gio yang tersenyum, dan ketika Revi hendak duduk, Gio memeluk Revi dan memposisikannya di depan dia. Memeluk Revi dari belakang. Dengan begitu, dia bebas memainkan kedua gunung kembar Revi yang kenyal. Diangkatnya kaos yang dikenakan Revi, disingkirkannya BH Revi ke atas, dan dimulailah remasan-remasan pada dada Revi. Lalu tangan kanannya turun ke bawah, masik ke balik piyama yang dikenakan Revi, masuk lebih dalam, dan mulailah Gio memainkan vagina Revi, dikobelnya, di geseknya sampai Revi mengeluarkan desahan dan rintihan yang lumayan keras. Gio langsung menyumbal bibir Revi dengan bibirnya.
“Aaahhhhh, hhhmmpppfff. MMmmmmmmm.”
“Berisik sayang, entar ketauan.”
“Hah hah, abis enaaaakkkkkkkkk, aaahhhhh. Ya mas, terus. Ah, mau keluaaarrr.”
Namun Gio berhenti. “Ah, kenapa berhenti, mau keluar tadi.” Protes Revi dengan nafas memburu.
“Hehe, pengen ngemut punya kamu Vi, yang ini.” Gio menekan jarinya di vagina Revi.
“Ah, hmmm, ke kamar aja kalo gitu.”
“Gak apa-apa?”
“Gak, pelan-pelan aja naekya.”
Kedua insan yang dilanda nafsu itu kemudian bergandengan perlahan naik ke atas. Revi memastikan kakaknya tidak ada. Kemudian keduanya masuk ke kamar Revi. Setelah mengunci kamar, Revi langsung dipeluk Gio. Mereka kembali berciuman, tangan Gio perlahan mulai mengangkat jilbab Revi, perlahan dibukanya jilbab putih yang Revi pakai, dan terlihatlah rambut panjang Revi. Hitam. Diciumnya perlahan, dihirup wanginya rambut Revi, dan tangannya tetap bergerak, melepas kaos Revi, kemudian BH Revi.
“Hmm, mau nelanjangin ni Mas?”
“He eh.”
Dan Gio benar-benar menelanjangi Revi. Kini tak ada sehelai benangpun di tubuh gadis cantik ini. Buah dadanya yang bulat indah menggantung sempurna. Puting kecilnya yang berwarna merah muda menantang mulut Gio untuk segera melahapnya. Rambut kemaluan Revi yang tidak begitu lebat terpampang, dan Gio sudah tidak tahan. Dia kemudian melucuti pakaiannya sendiri.
“Kita 69 yu?” Ajak Gio. Revi tersenyum “Kenapa, mau nyumpal mulut Revi pake punya Mas ya?”
“Iya, habis kamu berisik Vi.”
Merekapun mengambil posisi, saling menyamping, Revi mulai melumat penis Gio, sambil mengocoknya dengan tangan juga.
“Aaahh, Masss, aaahhhhhh, sssssssssss, owwhhh, mmhhhhpppff.” Desahan dan rintihan Revi tertahan oleh penis yang terbenam di mulutnya, Gio sendiri mulai menjitati vagina Revi, sambil jari-jarinya berusaha melebarkan vagina Revi agar lidahnya lebih leluasa memainkan klitoris Revi.
“Hah hah, hheeeuuugg, wennnkk. Trus aooohhh. “ Setelah dipermainkan selama 30 menitan, akhirnya Revi klimaks, cairan vaginanya deras dan tetap disedot oleh Gio, Gio sendiri sudah hampir sampai. Dia mendorong tubuh Revi hingga Revi tertlentang. Dan Gio mulai mengentot mulut Revi, sampai, “Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh.” Muncratan sperma Gio sangat banyak, terlihat dari beberapa masih bisa mengalir di sela-sela mulut Revi.
Tiba-tiba HP Revi berbunyi, ada telephon masuk. “Ima Mas.”
“Angkat aja Vi.”
“Halo, ya Ma, kenapa?”
“Kamu kenapa Vi? Ngos-ngosan gitu?”
“Gak kenapa-kenapa. Ada apa?”
“Gak, pengen ngobrol aja. Gak ada temen ngobrol.”
“Loh, Mas Gio kemana?” Revi bertanya pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.
“Ada arisan keluarga katanya, jadi dari kemaren di luar kota.”
“Oh, bentar atuh ya, saya mau ke aer dulu, mau cuci muka dulu, tar di sambung lagi.”
“Iya.”
Dan Revi terdiam, memandang ke arah Gio, rasa bersalah kembali merasuk.
“Kenapa Vi?”
“Enggak. Revi harus nelepon Ima. Mas gak apa-apa kalo pulang sekarang?”
“Hmmmm, boleh minta satu kali lagi gak? Singkat ko.”
“Hmmm, cepet tapi ya?”
Tidak menjawab, Gio langsung menidurkan Revi, tangan kanannya memegang penisnya, kepala penisnya dia arahkan ke mulut vagina Revi, dan dia mulai menggesekkan kepalanya naik turun di bibir Vagina Revi yang mulai mengering.
“Hmmmm, aaaaaahhhhh, ooohhhh, geli, enak masssssss.”
Gio semakin cepat memainkan kepala penisnya, lama kelamaan agak masuk, namun dia masih berfikiran sehat untuk tidak memasukan seluruh penisnya ke dalam vagina Revi, hanya butuh 3 menit sampai akhirnya Gio memuntahkan spermanya di perut Revi.
=============================
Sepanjang perjalanan pulang Gio berfikir, kenapa sekarang, kenapa Revi, apa kurangnya Ima. Lebih cantik Ima ko. Lebih baik Ima ko. Apa dia akan menyia-nyiakan gadis cantik yang telah meluluhkan hatinya dengan sifat, sikap dan penampilan yang cantik seorang Ima?
Kesal dengan perasaannya sendiri, Gio mulai mempercepat laju kendaraannya.
=============================
“Tika, hmmm, bisa nemenin saya besok?”
“Kemana Yan?”
“Nemenin liat layar gede yang ada gambarnya.”
“Ahahahaha, ngajak nonton nih?”
“Iya. Mau gak?”
“Dengan kamu sih, ayo.”
“Ya udah, saya jemput besok jam 11 ya?”
“Oke”
**********************************************************************
“Oke, sok”
“Sok sok sok, lo yang duluan, kan pertamanya juga kalian pada yang mau nunjukin.”
Udin dan Icha saling pandang. Kini mereka mulai merasakan panik yang teramat sangat. Malu dan tegang.
“Lah, katanya tadi berani Cha?” Lidya menambahkan dengan nada merendahkan dan senyum sinis di bibirnya.
“Okeh, siapa takut?” Icha langsung memeluk Udin dan mencium bibirnya. Udin juga mungkin berfikir jalanin aja, toh nanti dia bisa melihat Lidya tanpa busana. Dan dia mulai membalas ciuman Icha, dengan lebih bernafsu. Namun kemudian Udin berhenti. “Serius nih harus buka-bukaan?”
“Yaelah, serius dodol. Sana.”
“Awas siah mun ada kamera.”
“Kagak bakal. Nyantey aja bro. Maen sana.”Kemudian Udin kembali menciumi Icha, dibawanya Icha menempel ke tembok kostan Lidya. Diremasinya buah dada Icha keras.
“Hmmmppp. Ahhhssss…. “ Icha mulai merintih dan mendesah tidak menentu. Tangan Icha mulai melepas kancing celana Udin, dan dengan cepat melorotkan celana panjang Udin, tidak tinggal diam, Udin melepaskan semua kancing kemeja Icha, dan juga BH yang Icha kenakan. Kini terlihat topless, Icha semakin menggairahkan di mata Udin, bahkan Gusti pun merasakan hal yang sama. Tanpa sadar, adeknya sudah sangat keras. Lidya sendiri sudah beberapa kali menelan ludah, ini hal gila yang baru dia lakukan, melihat orang lain bermesraan. Lidya mengambil kursi dan duduk di sebelah Gusti.
Ciuman Udin sudah turuh ke leher Icha, dan terus turun sampe ke dada kanan. Dijilatinya puting Icha yang sudah tegang sedari tadi, digigitnya bagian bawah dada Icha. “Ah, Udin, hmmmmppp.”

Dan kembali Udin menurunkan ciumannya, kali ini sasarannya adalah perut Icha yang rata. Dimainkannya pusar Icha dengan lidah, sambil kedua tangan Udin melepaskan celana jeans Icha, tak lupa pula CD nya, Icha kini sudah bertelanjang bulat.
Di sebrang ruangan, Gusti yang sudah bernafsu sedari tadi mulai duduk dibelakang Lidya, kedua tangannya sudah merekasi kedua buah dada Lidya. Lidya sendiri menyandakan kepalanya di dada bidang Gusti, nafasnya terdengar cepat dan berat.

“Aaaaakkkkhhhhhhhhhh.” Udin kini sedang mempermainkan klitoris Icha dengan lidahnya, Icha sendiri terlihat sudah tidak kuat mempertahankan tubuhnya untuk tidak ambruk. Kaki kirinya memang kini berada bahu Udin, kaki kanan Icha lah yang masih menapak di lantai. Jari-jari Udin membuka vagina Icha lebih lebar, dan lidahnya masuk lebih dalam ke lubang vagina Icha.
Udin berdiri, mulutnya belepotan dengan cairan vagina Icha, membuka bajunya dan melepaskan celana dalamnya, penis Udin sudah berdiri tegang, dan dia berbalik ke arah Gusti, tertegun. Dihadapannya terlihat Lidya yang sudah tidak menggunakan pakaian bagian atasnya. Kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar itu di remas oleh Gusti, bibir mereka saling melumat.

“Heh, Betawi, mana liat punya lo?”
Gusti menghentikan aktifitasnya, berdiri dan langsung membuka celananya, penisnya lebih besar dari Udin diameternya, namun milik Udin lebih panjang. Mereka berdua tersenyum, namun tidak lama. Gusti langsung memasukan penisnya ke mulut Lidya yang duduk di kursi, dan Udin pun melakukan hal yang sama, disuruhnya Icha berlutut dihadapannya, dan diapun memeasukan penisnya, ke dalam mulut Icha.
“Hmmm,mmmmmm,sss,mmmmmmmm.” Desahan dan rintihan keluar dari mulut Lidya dan Icha ketika mereka mengoral penis pasangannya masing-masing.
Tidak lama, Udin menarik Icha ke kasur, menidurkannya dan melakukan breast fuck. Ukuran dada Icha yang lebih besar dari Lidya membuat hal ini lebih nikmat. Gusti pun menyadari hal itu. Namun tidak lama, Gusti minta Lidya ganti posisi, kini Gusti yang duduk, dan Lidya didudukan dipangkuannya.
Blessss. Penis Gusti masuk di vagina Lidya, mulutnya kembali melumat buah dada Lidya, tangan kirinya memainkan puting kanan Lidya, memutar-mutarnya seperti mencari frekuaensi, Lidya sendiri seperti kesetanan menaik turunkan pinggangnya, kadang memutarnya sehingga Gusti merasa penisnya dipermainkan di dalam sana.
“Aaahhh, akh, aahhh…..jrit, enak banget Gus, ah, yah, terus keras Gus, memek ku penuh Gust. Ah, ah.”

“Yah, memek lo emang nikmat banget Lid, hah hah, anjrit, sempit banget sayang.”
Bibir mereka kemudian bertemu, saling lumat dan saling gigit. Kemudian Gusti mengangkat badan Lidya, membalikannya, den kembali memangu Lidya, penisnya pun kembali menemukan lubang kenikmatan Lidya, keduatangannya bergerak ke depan, ke arah buah dada Lidya, meremasnya dengan keras. Lidya sendiri kembali menggoyangkan badannya, berusaha memasukan penis Gusti sedalam-dalamnya.

Di ranjang Udin terus menggesekkan penisnya ke vagina Icha, namun melihat apa yang dilakukan pasangan yang ada di samping mereka, jelas membuat Udin iri dan sangat bernafsu. Dia melihat Icha, matanya pun sama, tefokus pada Lidya dan Gusti yang sedang bermain tanpa lelah walaupun keringat sudah bercucuran. Lidya yang masih menggunakan rok mini tanpa pakaian atasan yang sedang naik turun dan bergoyang, dadanya dipermainkan oleh Gusti dari belakang.
Melihat ini Udin terdiam, kemudian dia menatap dalam mata Icha, terdiam, kemudian Icha mengangguk. Udin lalu meraih penisnya, mengarahkannya ke lubag Vagina Icha, perlahan, kepalanya masuk.

“Aaahhhh, pelan-pelan say, sssshhhhhhhhhhhhhhh, sakitttt.”
“Heh, aaahhhhh, yakin kamu mau masukin, aaa, pelan Gus, masuk ah, masukin itu?” Lidya bertanya ke Udin. Tidak menjawab, Udin malah terus mendorong pinggulnya, masuk setengah, dan Icha kembali merintih kesakitan.
“Heheh, ayo Din, ah, lo pasti bisa.” Gusti memanasi.
“Aaaaaahhkkkkkk, sakkkkit. Udin. Aahhhhhh.” Dan akhirnya Udin memasukan semua penisnya yang pajang itu ke dalam vagina Icha. Mereka berdua diam sesaat. Menarik nafas, mengatur nafas. Icha sendiri menangis, air matanya mengalir.

“Sakit Din. Banget ini mah. Hiks.”
“Sabar sayang, awalnya doang ko.” Udin mengecup kening Icha, lalu mulai menarik penisnya keluar.
“Isssshhh, aukh, pelan, sakit.”
Seluruh penis Udin tercabut, dan dari sela-sela vagina Icha terlihat darah mengalir. Begitupun di penis Udin, ada sedikit darah menempel disana. Tidak untuk waktu yang lama Udin berdiam, kembali ia menusukan penisnya.

“Hmmppp, sempit banget Cha, enak banget memek kamu Cha. Hah, hah. “ Mulai memompan perlahan pelan. Lalu Udin mulai mempercepat genjotannya. Icha masih terlihat belum menikmati. Dia masih menangis.
“Hah, gelo, memek kamu Cha, sempit banget.”
“Goblog, hah, hah, jelas lah sempit, kamu baru aja merawanin dia, aaahhhhhkkk, Gusti, bilang dong kalo mau masuk ke situ.”

Udin melihat kesamping, ternyata kini Lidya sedang nungging, dada dan perutnya ada di kursi, Gusti sedang menikmati lubang anus Lidya.
“Weits, hah, ditusuk oge eta bujur Lid, hah, aahh, jrit, peret Cha.” Udin berkomentar. Namun entotannya tetap cepat, sampai Icha menegang, berteriak “Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh… keluar, keluar, ahhhhhh.”

Udin mendengar itu semakin bernafsu, semakin cepat genjotannya, dan dia merasakan mau keluar. Takut Icha hamil, Udin mencabut penisnya, dan crrottt, spermanya tumpah di perut rata Icha. Nafas mereka masih ngos-ngosan ketika mereka melihat Gusti selesai memuncratkan spermanya di mulut Lidya.
Setelah beristirahat sebentar, Lidya membuka rok mininya, hingga kini ia sama seperti Icha, telanjang bulat. Melangkah mendekati Icha, memeluknya, “Cup cup, saya tau tadi sakit, tapi entar juga bakalan terbiasa ko. Tahan ya?”
Icha hanya mengangguk. “Enak si enak, tapi sakit.” Jawab Icha sambil meringis. Mendengar itu semua tertawa. Gusti mendekati Lidya dan Icha, “Enak Cha dientot kontol si Udin yang item dan kecil itu?”

“Anjing siah, emang nu aing lebih kecil, tapi lebih panjang men. Dan mana, yey, sarua hideungna. Sama-sama item juga gak usah saling menghina lah. Nu penting, baru juga nyobain, bisa tahan lama. Padahal memek Icha masih sempit.”
“Heh, maksudnya apa Din? Memek saya udah gak sempit gitu? Hah, mau coba?” Lidya menantang Udin dan langsung relfeks di jawab “Mau!”
Merasa salah bicara Udin terdiam. Keheningan terjadi, detik jam bahkan terdengar. Sampai Gusti menjawab. “Okeh, lo cobain punya Lidya, rasain betapa nikmatnya memek cewek gue. Tapi gue juga mau nyobain memek Icha. Giamana?”

Icha kemudian menoleh ke arah kemaluan Gusti, besar. Memang tidak sepanjang milik Udin.
“Hah, saya ini baru kehilangan keperawanan, masa dah mau digilir.”
“Udah, gak apa-apa, ngebiasain Cha, udah, sini kamu Din, entotin nih memek.” Lidya berkata sambil menunjuk memeknya. Entah apa yang ada dipikiran dia sampai mengajukan ajakan seperti ini, namun rupanya suasana sudah membuat pikiran mereka berempat ancur.
Tanpa diperintah dua kali Udin langsung mendekati Lidya yang terduduk di lantai kamar. Perlahan dan dengan gemetar yang kentara, Udin menyentuh wajah Lidya, lau kemudian menuburknya hingga Lidya telentang di atas lantai. Udin langsung menyambar bibir tipis Lidya, melumatnya dan menyedot lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Udin.

“Hmmppppfffff. Mmmmmm.”
Tangan Udin menuntun penisnya ke arah lubang vagina Lidya, tidak sabar, dia langsung memasukan seluruhnya dalam sekali dorongan.
“Aaaaaaaaahhhhhhhhhhh, pelan Dinnnnnnnn…”
Icha hanya bisa melongo melihat kejadian itu, dan terkaget saat Gusti memegang kakinya, merangkak, Gusti mendekati kepala Icha yang duduk bersandar pada dinding di atas kasur. Perlahan mata mereka bertemu, lalu bibir mereka saling melumat, menggigit dan menyedot.
“Mmmmm, slurp, ahhhhh.” Tangan Gusti meremas buah dad Icha yang memang lebih besar dari Lidya, ini buah dada kedua yang dia remas, puting ke dua yang dia mainkan, dia sedot, gigit dan buah dada ke dua yang dia berikan cupang.

Melihat Lidya yang kini sedang melakukan Woman On Top, Gusti merasa nafsunya sudah ada di ubun-ubun. Begitu pula Icha, namun sebenarnya untuk memeasukan penisnya ke dalam Icha, Gusti masih berfikir dua kali, karena dia buakn tipe pemain, tidak seperti Bima atau Udin, dia bingung, apa harus melangkah lebih jauh atau berhenti sampai di situ. Namun belum habis Gusti berfikir, Icha sudah memegang penisnya, mengocoknya dan mendekatkan penis itu ke lubang vaginanya.
Pertahanan Gusti roboh, dan akhirnya dia memasukan penis itu ke dalam.
“Aaaahhhhh, perih Gus, pelan ya?”

Gusti mengangguk, pelan dia masuki Icha, sepertempat, setengah, tiga perempat, dan seluruh penis yang diamternya lebih besar dari penis pertama yang masuk itu membuat Icha tersentak. Merintih. Mendesah. Kembali air matanya turun, menahan sakit, Icha mencoba tersenyum ketika Gusti menanyakan apakah penetrasinya sakit atau tidak.
Tadinya Gusti akan menunggu beberapa saat untuk mulai menggenjot Icha, namun melihat keadaan Lidya yang sudah kepayahan menerima sodokan Udin, Gusti seakan ingin membalas dendam. Mulailah dia mengentot Icha, tanpa mulai dari pelan langsung cepat.

“Haaaaaaaahhhhh, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakh.” Icha berteriak. Bahkan mungkin teriakannya terdengar sampai kamar sebelah atau sampai beberapa meter dari kamar kost Lidya. Namun Gusti tidak peduli, dia terus menggenjot Icha.
“Cha, memek kamu anget, sempittttt, hah hah, nikmat.” Gusti kemudian mengangkat tubuh Icha, menyimpan bantal di bahah pinggang Icha, dan kembali menggenjot dengan kecepatan tinggi. Kaki Icha sudah direnggangkan, disimpan di atas bahu Gusti, dan dengan kecepatan yang tidak berkurang, Gusti membungkukkan badannya, kedua tangannya meraih buah dada Icha, meremasnya keras.

“Ssssssshhhhh, ah, ah, enak Gust, terus. Ah, mau keluar, bentar lagiiiiiii.” Gusti terus memompa dengan kecepatan yang sama, sampai akhirnya badan Icha menekuk, otot di lehernya sampai terlihat, dan Gusti dengan sengaja meremas kedua buah dada Icha keras-keras menambah sensasi orgasme yang Icha rasakan.
“Hah, gila Din, kontol kami mentok banget ampe ujung, hah, keluar, masih lama ga?”
“Bentar lagii Lid, ahhh, nikmat, masih peret banget, padahal pasti sering dipake Gusti. Ah. Enak banget. Mau, hah, dikeluarin dimana nih?”
“Dalem lah, lebih enaaaakkkkkkkkk, ah, gila, nyampe ujung tah.”
“Hah, hah, ya, di dalem entar, bentar lagi tapi. Lidyaaaaaa……………… Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.” Udin menyemprotkan spermanya banyak di dalam Lidya, lebih banyak dari pada yang dia keluarkan tadi karena kali ini dia tidak harus menahan diri. Lidya pun kemudian menyusul, “Ohhhhhhh…… Keluar juga Din….”

Gusti masih belum keluar, dia terus menggenjotkan penisnya di vagina Icha. “Heh Betawi, hah, entar, keluarin di luar lo. Jangan lupa.” Udin mengingatkan Gusti. Untung dia mengingatkan, karena tak lama setelah itu Gusti menusuk dalam-dalam penisnya di dalam vagina Icha, menahannya beberapa detik kemudian menariknya. Mungkin idenya ingin mengeluarkan sperma itu di mulut Icha, namun belum sampe ke mulut, spermanya sudah menyemprot keluar, mengenai wajah, mata dan hidung Icha, membuat Icha gelagapan dan panik. Gusti meminta maaf, dan memberikan anduk kecil ke Icha untuk mengelap spermanya yang muncrat kemana-mana.
“Dasar kamu, sini, saya bersihin penisnya.” Lidya mengambil penis Gusti dan mulai menjilatinya, membersihkan semua sisa sperma dan cairan vagina Icha. Namun ternyata tidak berhenti sampai situ, Lidya terus menyedot dan menjilati penis Gusti, sampai penisnya kembali tegang. “Ah, say, ngapain? Gila, gak cape.”
“Belum Gus, kagok. Hmmmmm.”

Udin melihat ini kembali naik, dia mendekati Icha, namun melihat Icha yang terlentang sambil mencoba bernafasnormal dia merasa iba juga, kemudian melihat Lidya, yang kini sekarang sedang tertidur terlentang dan Gusti yang sedang mengentot mulut Lidya.
“Hmm, memeknya bebas.” Pikir Udin. Kemudian dia mendekati Lidya, mengangkangkan kakinya.
“HHmmm, Din mau ngapai,,, aaaaahhhhh.”

Udin memasukan penisnya sekali lagi ke dalam vagina Lidya, Gusti baru akan protes ketika Lidya kembali mencaplok penisnya. Dan kembali mengoralnya. Kini lubang atas dan bawah Lidya dimasuki dua penis. Ini hal baru bagi Lidya, dinikmati dua orang laki-laki pada saat yang bersamaan. Sensasinya beda. Gusti terlihat masih ingin protes, tapi isyarat mata Lidya membuat dia mengurungkan niatnya.

Mereka terus melakukan itu sampai Gusti mencabut penisnya dan meminta Udin tiduran, Udin melakukan apa yang diperintahkan Gusti, dan lalu Lidya diposisikan di atas Udin, blesss, penis Udin kembali masuk. Lidya kemudian mulai gerakannya, bergoyang sensual. Gusti kemudian memegang bongkahan pantat Lidya.
“Heh say, ah, jangan-jangan kamu mau …. ahhhhhhhhhhh, gila, anjing, kaliannnn, akhhhhh, penuh.”

Gusti memasukan penisnya ke pantat Lidya. Lidya mendongkakkan kepalanya, keenakan. Buah dadanya menggantung bebas, dan ini tidak disiasiakan Udin, dimainkannya puting Lidya. Gusti sendiri terus menusuk pantat Lidya, tangannya memainkan pantat dan pinggul Lidya.
“Hahhhh, anjrit, mau keluar nih. Ahhh, kalian parah, ah ah ah ah, keluarrrrrr….” Lidya akhirnya keluar, lalu ambruk ke atas badan Udin. Mereka berdiam diri, “Gus, tukeran Gus.” Udin meminta. Gusti kemudian mencabut penisnya dari dalam pantat Lidya. Udin kemudian mengangkat badan Lidya yang sudah tidak bertenaga, menggulingkannya pelan kemudian bangkit. Gusti mengambil posisi Udin, dan Udin membantu Lidya untuk mengambil posisi, blesss, kali ini penis Gusti yang masuk ke vagina Lidya, Gusti mulai menaik turunkan pinggulnya, membantu Lidya yang sudah kepayahan. Dari belakang, Udin yang sudah memposisikan badannya, mulai memasuki Lidya, pelan, membiasakan penisnya dengan lubang pantat yang memang kecil, lalu blesss, masuk semua.
“Aaahhhhhhh, abis nih memek ama pantat. Kalian edan. Curang, aaahhhhh.”

Udin muai memompa. Pada saat itu, Icha yang sudah mulai bertenaga bangun, melihat kekasihnya sedang menikmati Lidya, dia tidak marah, malah nafsunya kembali naik. Mendekati Udin, memeluknya dari belakang kemudian kepalnya disodorkan ke depan. Bibir mereka kemudian saling lumat. Udin kemudian memposisikan Icha di sebelah kirinya, mereka berciuman sambil tangan Udin memainkan vagina Icha, memasukan jari tengahnya, lalu mengobel vagina Icha, ini dilakukan Udin sambil memegang pantat Lidya dan menggenjot pantat Lidya.

Terus sampai akhirnya Udin meraih orgasme, disemprotkannya sperma ke dalam pentat Lidya. Kemudian Udin menarik diri, membiarkan Lidya kini yang di genjot Gusti dengan gaya misionaris. Mengatur nafas sambil tangannya tetap di dalam vagina Icha, dan setelah nafasnya teratur, Udin meminta Icha melakukan woman on top. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Icha mulai bergoyang, berputar, naik dan turun.
Gusti dan Lidya sendiri sudah berhenti. Lidya sudah terkapar di atas lantai. Kakinya mengangkang, tangan kanannya melintang di atas wajahnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Gusti sendiri beristirahat bersender pada meja.
“Gila,” pikir Udin “Tapi enak bisa dapetin perawan Icha dan nyobain Lidya. Dream come true.”
“Udinnnn, Icha mau keluar.”
“Ya, sok, keluarin.”
“Ah, keluar Dinnnnnnnnnnn.”
Memberi waktu icha bernafas sejenak, Udin lalu bangkit, memasukan penisnya ke dalam mulut Icha, mengentot mulutnya, Icha hanya bisa pasrah, mempertahankan agar mulutnya tetap terbuka. Tak lama Udin menarik penisnya, mengocoknya di depan wajah Icha, dan crroooooo. Kembali wajah Icha di hias oleh sperma.

**************************************************************
Mata Revi terpejam. Tiga hari yang lalu satu jam dia ngobrol dengan Ima dan diteruskan dengan ngobrol di WA. Ima tahu, ya, Revi yakin kalau Ima tahu, hanya saja Ima terlalu baik untuk melakukan konfrontasi. Ima memang baik. Dia sendiri apa? Kotor. Dulu hampir setiap hari badannya yang tertutup jilbab itu dijamah dan dinikmati oleh mantannya. Dia selalu bilang kepada Ima bahwa hubungan mereka masih sebatas pas foto. Ke Gio pun hanya bilang baru beberapa kali peting sambil oral dengan mantannya dulu. Walaupun kenyataanya lebih. Revi sudah biasa ditelanjangi, bahkan kadang-kadang meminta untuk ditelanjangi. Entah berapa liter sperma yang sudah dia telan atau tertelan. Walaupun dia masih bisa mempertahankan agar vaginanya masih perawan.
Revi merasa malu, dulu pernah beberapa kali dia kepergok oleh orang lain sedang bercinta dengan keadaan jilbab yang acak-acakan dan baju atasan yang telah terbuka, namun tetap melakukannya dengan mantannya itu.Revi merasa kotor. Badannya, hatinya dan lebih lagi, penghianatannya. Berhari-hari dia bertanya kenapa. Iya, Gio ada sebagai tempat dia curhat. Tempat dia berkeluh kesah, bahkan meminta tolong. Gio adalah orang yang Revi tidak merasa malu untuk bercerita tentang hubungan yang dia lakukan dengan mantannya, sebagai balasan, Gio bercerita tentang apa saja yang sudah dilakukan bareng Ima. Revi sampai tahu bahwa Ima menyenangi permainan yang sedikit kasar.
Tapi kenapa Gio? Kenapa bukan Bima? Yang jelas-jelas penjahat kelamin, namun toh dia memang menyukai Bima. Dari pertama dia melihat Bima, dia sudah jatuh hati. Jadi kenapa tidak tanggung kotor dengan Bima? Apa Revi hanya memanfaatkan Gio karena dia ingin merasakan hal yang pernah dia rasakan. Geli. Nikmat. Orgasme. Tapi kenapa kini dia mulai memiliki hati untuk Gio?

Lalu ada Rian. Tidak. Rian terlalu baik. Rian terlalu sempurna. Tidak pernah macem-macem dan selalu menjaga hati dan perasaan. Revi tahu, bahwa Rian mencintai dia. Revi tahu, ketika dia memutuskan untuk menerima ajakan jadian mantannya dulu, Rian sangat terpukul. Dan Revi merasa malu, bahwa disaat-saat dia jatuh karena kekasihnya ternyata sudah bertunangan, Rian yang selalu ada biat dia. Dikala sahabat lainnya sedang sibuk, Rian selalu ada.

Revi bangkit dari tidurnya, berdiri menghadap cermin. Perlahan, dia membuka kaosnya, kemudian celana pendeknya. Terlihat sebuah badan yang indah, padat, dan buah dada yang rapih terbungkus BH. Dia pun perlahan membuka seluruh daleman yang dia kenakan higga kini bertelanjang bulat.
Badan ini. Badan kotor ini, yang sudah dinikmati berkali-kali oleh mantannya. Dada ini, yang tiga hari kemarin dicupang oleh Gio. Bekasnyapun masih ada. Vagina ini, yang kemarin dimainkan oleh lidah Gio dan bertahun yang lalu oleh lidah, tangan dan ujung kemaluan mantannya.

Air mata kemudian turun membasahi pipi Revi. Tertunduk Revi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Revi langsung berlari membuka pintu, keluar kamar tanpa pakaian sedikitpun, berlari ke kamar mandi yang memang tidak jauh dari kamarnya. Menyalakan air, dan menangis sebisa-bisanya.

==================
“Jadi?”
“Jadi?”
“Ima?”
“Iya, Ima.”
Sore itu di atas loteng rumah Bima, dia dan Yuni duduk memandang taman samping rumah. Keduanya duduk berdekatan, kepala Yuni direbahkan di bahu Bima. Kaki mereka berdua terayun perlahan. Sore itu langit sedikit mendung. Padahal bukan musimnya hujan.
Kepala Bima menoleh, lalu dia mencium kening Yuni. Air mata mengalir membasahi pipi Yuni yang tirus dan mulus. Bima membiarkannya mengalir. Mereka kembali terdiam.
“Satrio tahu Bim.”
“Hah, terus? Tahu sampai batas mana? Dia marah?”
“Dia gak marah. Yuni gak tahu sampai mana dia tahu. Tapi dia nanya, siapa yang mau Yuni pilih. Sepertinya, jawabannya udah ada ya?”
Bima terdiam, lalu berkata “Saya tetep sayang kamu Yun.”

==================
Icha memutuskan untuk membeli sepatu itu, sesuai dengan selera dan terutama kantongnya.
“Bagus Cha, cocok di kamu.”
Icha kemudian menoleh ke asal suara, Lidya.
“Hai.”
“Hai.”
Kaku. Kejadian tiga hari yang lalu berujung semuanya menjadi kaku. Icha diantar pulang Udin. Namun mereka berpamitan dengan tanpa perasaan, dingin. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.
“Kemarin kita gila ya?” Lidya memulai.
“Iya. Maaf ya, sampe kamu di, yaaa, ngerti kan, ama Udin. Dan maaf ampe saya ama Gusti juga gitu.”
“Cha, kamu gak salah, yang salah itu saya. Saya yang mulai. Hehe. Tapiiii, hihi, saya seneng ko. Gak tau kenapa, tapi setelah kejadian itu, sensainya masih terasa ampe sekarang.”
“Iya sih. Tapi sakit juga, kamu mungkin udah biasa. Tapi Icha kemarinkan baru.”
“Hahahaha. Iya, tapi saya juga baru loh di DP kemaren.”
“Hah? Apaan DP.”
“Double penetration. Dimasukin depan dan belakang.”
“Ooooh. Oya, sakit gak?”
“Banget, tapi nikmat.”
“Hm, Udah sering ya ama Gusti? Pertama juga ama Gusti?
“Sering si enggak. Minimal seminggu sekali tapi, hahaha, sering ya itu? Hmmm, yang depan si bukan ama Gusti, ama temen SMA dulu. Nah yang belakang, baru sama si Betawi edan itu. Dia masuk gak bilang-bilang lagi, saya ladi tiduran, eh, dia maen masuk aja.”
“Hahahaha, parah juga si Gusti. Berarti masuk tanpa ijin dong? Tindakan pemerkosaan itu.”
“Hehe, tapi enak ko, jadi saya juga nikmatin aja.”
“Dasar, eh, ama siapa ke sini, Gusti mana?”
“Sendiri, dia lagi ke rumah Udin. Memastikan bahwa persahabatan mereka tetap utuh.”
“Ow, dan mudah-mudahan kita berdua di sini membuat persahabatan yang baru.”
“Akur.”
“Ya, asal jangan ujungnya kayak kemaren aja.”
“Kenapa gitu? Kan enak”
“Hmmm, iya sih, tapi takutnya kita nanti jadi main hati. Gimana kalo Icha jadi suka ama Gusti dan kamu jadi suka ama Udin ato kebalikanya?”
“Iya sih, tapiiii, itu kan belum tentu, hhmmm, mau nyoba lagi gak?”
“Kamu mau?”
“Jujur ya, mau sih. Sensasinya beda.”
“Hmm, takut ah, takut entar di DP juga.”
“Ya elah, dasar. Gitu aja takut.”
“Lah, liat kamu dijepit gitu sampe teriak-teriak siapa yang jadi gak takut coba?”
“Iya deh. Tapi mau lagi ga?”
Membayangkan penis Udin yang panjang dan milik Gusti yang besar diameternya, juga badan Gusti yang kekar, Icha kemudian menjawab.
“Kapan?”

==================
Gio hanya terdiam, perkataan Ima barusan menusuk hatinya. Ima tahu, dan Ima tidak marah. Perepmpuan can tik dihadapannya ini tersenyum dengan air mata yang mengalir. Senyumnya tidak dibuat-buat. Tulus dia bertanya, apakah Gio akan terus dengan Ima atau dengan Revi, Ima tahu masa lalu Revi. Dan kalo Gio bisa menjadi obat buat sahabatnya itu, Ima pasrah.
Gio merasa kecil. Malu. Mata Gio mulai berkaca-kaca.
“Enggak Ma, Mas memilih Ima. Kemarin-kemarin Mas hilaf. Karena terlalu sering ketemu, tiap minggu, dan Revi sering cerita, kita jadi deket, dan memutuskan untuk maen, tapi udah ko. Mas udah mutusin kalo pilihan hati Mas itu Ima.”
“Tapi kasian Revi Mas, dia udah mengharapkan Mas.”
“Tau dari mana?”
“Kami sahabatan, pasti tau.”
“Ya tapi gak gitu juga Ma. Pokoknya kami udah selesai ko. Gak lagi. Mas hanya menginginkan Ima buat jadi pendamping hidup Mas.”
Mereka terdiam untuk beberapa menit. Ima kemudian mengambil teh dan mulai minum. Gio masih memandang lekat-lekat wajah Ima. Cantik. Pikir Gio, paling cantik diantara mantan-mantan dia dulu. Lebih cantik daripada Revi.
“Mas udah ngapain aja ama Revi? Selain pegangan tangan? Udah pelukan? Ciuman? Ato jangan-jangan udah pernah diemut lagi ama Revi?”
“Jiah. Enggak lah. Pegangan tangan doang ko. Suer.”
“Hehe. Ya sudah. Jadi mau milih Ima aja nih?”
“Iya. Selalu Ima.”

==================
“Hahahahaha, bodoh.” Atika berkomentar melihat adegan di layar lebar itu.
“Parah ya?” Tanya Rian sambil menoleh ke arah Atika. Pada saat yang bersamaan, Atika pun menoleh ke arah Rian. Mata mereka bertemu. Waktu seakan-akan berhenti. Dunia serasa milik berdua. Wajah mereka saling mendekat. Mata Atika sudah sedikit terpejam. Mata indah itu sangat menggoda, pikir Rian. Namun di kepalanya masih ada Revi. Di hatinya masih ada Revi. Tapi mata itu, bibir itu yang merah merekah siap untuk di lumat.
Akhirnya Rian menyerah. Diciumnya bibir Atika. Dilumatnya. Dimainkannya. Mereka berciuman sampai beberapa saat kemudian berhenti. Lalu keduanya tersenyum.
“Rian sayang kamu Tika.”
“Tika juga sayang Rian.”
Kemudian Atika memeluk tangan kanan Rian, kepalanya bersandar dibahu Rian.
“Hangat, empuk.” Pikir Rian ketika merasakan buah dada Atika menempel ditangannya, dikecukpnya jilbab Atika di bagian kepala. Kemudian mereka berdua kembali menonton, dengan jantung yang berdebar-debar. Karena senang, bahagia, dan takut ada yang melihat kejadian tadi.

*****************************************************

“Mau ampe jam berapa Ka?”

“Hm, paling lama kita di jalan sekitar 2 jam an. Pulang pergi ambil 4 jam. Disana kita 5 jam aja. Itung aja sendiri Say.”

“Wuih, lama dong. Revi tapi pulang dengan utuh kan ampe rumah?”

“Hmmm, utuh gak ya? Hahahaha. Utuh sih, ngan paling juga penuh dengan cupangan sana sini.”

“Ihhh, nyebelin deee.”

Enam bulan mereka jadian. Kebetulan, tanggalnya pas di hari Minggu. Revi diajak mantannya main ke Ciwidey, rencananya mereka mau berendam di tempat pemandian air hangat.

Perjalanan pergi mereka lalui dengan canda nan ceria. Mereka pergi pagi-pagi sekali, untuk menghindari macet. Hanya dibutuhkan satu jam lebih, melalui jalur Cimahi mereka sampai. Berhubung masih pagi, tujuan pertama mereka adalah Kawah Putih.

“Sepi. Tapi baguslah, kabutnya juga bagus. Sini Ka, foto.”

“Hm, ni anak, centil banget.”

“Hahaha, tapi suka kan?”

“Hahahaha, banget. Dah, duduk sana, biar Kaka foto. Satu, dua, sepuluh. Nah.”

“Mana liat? Hahaha, bagus-bagus. Huft, duduk dulu ah, cape.”

“Yeee, dasar, baru jalan dikit juga, geseran.”

Mereka duduk bersampingan, Kawah Putih pagi itu masih sepi, cuaca dingin dan memang sedikit gerimis, sebetulnya bukan waktu yang baik untuk jalan-jalan di Ciwidey. Tapi ini sudah mereka jadwalkan.

“Dingin.”

“Haha, bilang aja mau di peluk. Dasar.”

“Hehehe, anget Ka.”

“Vi?”

“Huh?”

Dan bibir Sang Mantan menyentuh bibir Revi. Lembut. Saling melumat, lidah mereka bertautan. Tangan kanan Sang Mantan turun, dari bahu Revi menuju pinggang, memainkan pinggang Revi, sedikit meremasnya.

“Mmmm, geli … “

Kemudian mulai naik, menyusuri bentuk badan Revi, dan berakhir di bawah lengan kanan, kemudian disusupkannya tangannya, sasarannya bukan lain buah dada Revi. Dimainkannya jemari di atas gundukan daging itu, mulai dia remas, perlahan, namun keras. Jaket yang digunakan Revi keliatannya bukan sebuah penghalang.

“Aaaaahhhh, Kaa, malu, tar adaaaa, ahh, orang.”

Sang Mantan tidak peduli, kini dia mencium telinga kiri Revi. Membuat Revi semakin mendesah.

“Aaaaaaahhhhhh, sssssssssssss.”

Badan Revi semakin didekatkan ke badannya, hal ini mempermudah dia meremas buah dada Revi. Dan bibirnya kali ini mendapatkan leher Revi, masih tertutup jilbab hitamnya.

Tangan kirinya bergerak, mendapatkan buah dada kiri Revi, kini kedua buah dada Revi dipermainkan. Diremas, keras, namun perlahan. Mulut Sang Mantan pun kini kembali melumat bibir Revi yang indah itu. Memasukan lidahnya jauh ke dalam rongga mulut Revi.

“Mm, slurpp, mmmmmmppp.” Air liur mereka mengalir di sela-sela mulut.

“Vi, pindah ke belakang.”

Revi tidak menjawab, matanya masih sayu dan nafsu terlihat jelas dari wajahnya yang cantik. Dia menurut ketika badannya sedikit ditarik ke arah semak-semak lebat di belakang mereka. Sepanjang perjalanan menuju semak-semak, Sang Mantan memeluk Revi, namun tangan kirinya bukan memeluk pinggang, melainkan tetap memainkan buah dada Revi. Sampai akhirnya mereka sampai di belakang semak yang lumayan lebat. Mereka melihat keadaan, masih gerimis kecil, dan masih sepi.

Dipeluknya tubuh Revi, dan Revipun balas memeluk Sang Mantan. Lidah mereka kembali bertemu. Ciuman mereka semakin dahsyat, saling gigit dan saling lumat. Sang Mantan kemudian membuka sleting jaket Revi, kemudian dengan tidak sabar mengangkat kaos Revi, terlihatlah gundukan daging putih nan indah dibalik BH berwarna hitam. Dan itu pun tidak lama, Bh itu disingkirkan ke atas. Kini buah dada Revi terpapar indah, dengan puting yang masih belum keluar sempurna. Namun itu tidak mengurungkan jari-jari Sang Mantan untuk mencubitnya, mencoba menarik puting-puting itu keluar.

“Aaaaahhhhhss, Ka, geli yang. Ah ah ah, jangan di sedot, geli bangettttttttt…. “

Namun Sang Mantan terus menyedot kedua puting itu silih berganti, meremasi dua gunung kembar yang bulat indah itu. Membusung kencang. Sang Mantan merasa bahagia dan senang, baru satu bulan yang lalu dia melihat benda ini. Sebelumnya mereka baru sebatas ciuman. Bahkan meremas dada Revi dari luarpun baru dua kali. Namun ini, langsung dari dalam, dan dia bisa langsung melumatnya habis.

“Sssttt, berisik Yang, pelanin dikit suaranya.”

“Abisan geli nih.”

“Geli banget?”

“Banget.”

“Hehehe, ya deh, Kaka berhenti dulu ngemutnya, dimainin aja.” Sang Mantan lalu membalikan badan Revi.”

“Eh, mau ngapain?” Revi bertanya.

“Mau gini.” Tangan Sang Mantan memeluk Revi dari belakang, kemudian meremas kedua buah dada Revi. Meremasnya, kali ini lebih cepat dan keras. Membuat nafas Revi semakin memburu. Bibirnya tidak henti menciumi telinga dan leher Revi, masih dari luar jilbabnya. Dan kini, penisnya mulai dia tekankan keras, ke belahan pantat Revi yang masih tertutup celana jeans.

Revi merasakan benda keras itu, dia tau itu apa, tapi dia tidak mempedulikannya. Rasa geli ini, dan sensasi bermain di luar, membuatnya serasa di dunia lain. Walaupun begitu, matanya tetap awas, melihat keadaan.

Tiba-tiba kepalanya ditarik ke belakang, dan Sang Mantan mulai melumat bibirnya, rakus.

“Hmmmmmmmppppppp, ah, ssssss. Cup, slurppp. Kaaaa, ahhhh, remes yang keras.”

Tanpa menunggu perintah dua kali, Sang Mantan kembali meremas buah dada Revi, kali ini lebih keras. Setelah beberapa lama, tangan kanannya turun ke arah selangkangan Revi, dengan cepat diselikpannya tangan ke dalam celana jens Revi.

“Aaaahhhhh, jangan kesitu Ka.” Revi berusaha menepiskan tangan Sang Mantan, namun kalah tenaga dan dia sendiri pun sudah sangat bernafsu, membuat usahanya sia-sia. Di bahwah sana, tangan Sang Mantan mulai memainkan jemarinya di atas belahan vagina Revi, masih di luar celana dalamnya, namun ini membuat dia semakin tak kuasa, sebelumnya, cairan vagina Revi sudah mulai membasahi selangkangan, kini, ditambah dengan permainan Sang Mantan, perasaan yang Revi rasa semakin dahsyat. Dan tiba-tiba “Aaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh.” Gelombang itu datang, orgasme. Orgasme pertama yang dia rasakan seumur hidupnya. Nikmat. Dan membuat dia lemas hingga hampir terjatuh, jika tidak ditahan oleh Sang Mantan.

“Kenapa Yang? Keluar ya?”

Revi hanya diam dengan nafas yang memburu.

“Yasud, istirahat. Trus kita langsung berendam aja, enak, dingin-dingin gini berendem aer anget.”

Mereka merapikan diri, terutama Revi, yang jilbabnya hitamnya sudah acak-acakan dan BH nya dia rapihkan kembali.

Tak lama, mereka sampai di tempat pemandian air panas. Revi awalnya berfikir mereka akan menggunakan kolam besar, namun dia di bawa ke belakang, ke arah kolam yang berada di dalam kamar.

“Huh? Serius Ka? Mau masuk ke situ? Berdua?”

“Emang kenapa Yang? Gak mau?”

“Hmmmm, bukan gitu. Tapiiiiii, tadi aja di tempat terbuka Revi abis, apalagi di dalem, pasti lebih abis lagi.”

“Hahaha, dasar. Gak lah. Emang mau diapain? Udah, yuk masuk.”

Mereka berdua kemudian masuk ke salah satu kamar. Disertai pandangan mesum dari penjaga. Di dalam Sang Mantan mulai membuka pakaian, sampai hanya boxernya yang tersisa.

“Buka bajunya Yang.”

“Idih, maunya. Weee.”

Revi berpura-pura tidak mau kala sesaat kemudian Sang Mantan maju dan mulai membuka jaketnya. Sambil berusaha mencium, Sang Mantan perlahan melawan penolakan Revi yang tidak seberapa. Perlahan jaketnya dilepas, kemudian kaosnya lepas dari badan Revi. Masih dengan kerudungnya, Sang Mantan kemudian diam, “Idah Yang.” Dan lalu dilanjutkan dengan tangannya yang menyentuh jilbab Revi, “Buka ya?” bertanya namun tidak berharap jawaban, jemarinya mulai melepaskan bros Revi, melepaskan penitik yang ada di jilbanya. Kemudian dia melepas ciput Revi. Rambut Revi kemudian jatuh tererai, hitam, panjang sepunggung.

Revi hanya tersenyum, dan disambut uleh ciuman Sang Mantan di leher Revi yang putih dan mulus. Ciumannya terus merambat ke bawah, dada revi habis dijilati, sebelum lidah Sang Mantan menyapu habis kedua buah dada Revi. Dia melakukan itu sambil melepaskan kancing celana jeans Revi. Melepasnya sampai bawah, namun tangannya berhenti kala dia akan melepas celana dalam.

“Hmmm, gak boleh Ka. Sampe sini aja ya?”

Rasa kecewa terpancar, namun Sang Mantan cukup baik untuk menurut. Setelah menyimpan dengan rapi seluruh pakaian, mereka berdua turun, masuk ke dalam kolam, beberapa saat mereka bercengkrama sambil menikmati air hangat, sampai Sang Mantan mulai menggoda lagi buah dada Revi. Dan Revi pun mulai tergoda.

“Aaaahhhh, enak banget Ka, terus, mainin puting Revi. Sedootttttt, aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.”

“Susu kamu bagus banget Yang, bulet, empuk, slurrppp, gemes. Udah dipegang siapa aja?”

“Kaka doang. Ihhhhhhhhhh, aaahhhhhhhhm, di apain? Enak banget. Aaaakhhhhh, pelannnnn. Akh, pelan-pelan Ka, akh, kaaaa. Owh, pasti susah ilang deh.”

Nafas ke duanya sudah berat. Dan Sang Mantan kemudian mengangkat Revi untuk duduk dipangkuannya, membelakangi dia. Kembali kedua tangannya mempermainkan buah dada Revi dari belakang, meremasnya keras-keras.

“Oooooooooohhhhh, Kakaaaaaaaaaaaaa….. “

Revi berteriak, ketika tangan kanan Sang Mantan kembali mengelus vaginanya dari dalam air. Dan kini, lebih gilanya lagi, jari telunjuk Sang Mantan menyentuh langsung bibir vagina Revi dengan cara menyingkirkan kain celana dalam Revi ke samping.

Dalam keadaan saling bernafsu, Revi kemudian menyambar bibir Sang Mantan, melumatnya, atau lebih tepatnya menggigitnya.

“Aaakh, sakit Yang, pelan.” Sang Mantang mengeluh ketika dirasakan sakit di bibir bawahnya yang digigit Revi.

Revi hanya tersenyum, kemudian diam, panik.

“Ka, ada yang ngintip.”

“Gak ada.”

“Ada, itu.”

“Biarin aja.” Dan kembali dia menciumi telinga Revi, berusaha membangkitkan lagi nafsu Revi. Dia berhasil. Revi sudah tidak peduli lagi dengan ada atau tidak adanya pengintip. Dia hanya peduli dengan orgasme yang akan dia dapatkan.

Dan “Aaaaaaaa, Kaaaaa, pipissssssssssss..”

Keluar, badan Revi mengejang hebat dalam air. Sang Mantan tau, Revi sudah sampai. Dia kemudian mengangkat badan Revi keluar dari air, membaringkannya, dan kembali mencium bibirnya yang indah itu seakan tidak mau dilepaskan. Tangannya kembali ke bawah, namun kali ini menyusup dari atas celana dalamnya, pertama rambul vaginanya yang basah di sentuh oleh Sang Mantan, kemudian lubang kenikmatannya, lalu kitorisnya dimainkan.

“Kakaaaaaaaaaaaaa, udahhhh, lemes. Ah, ah, aaaaaaaaaaaaaaaa….. “

Sang Mantan kini bebas untuk menggesek vagina Revi dengan tangannya. Menekannya. Dan mempermainkannya, mulut Sang Mantan kini mempermainkan buah dada kanan Revi. Menggigit puting Revi dengan keras, gemas dia lalu meremas buah dada kiri Revi. Sampai tubuh Revi terangkat. Mulut Revi terbuka, namun tidak mengeluarkan suara, badan Revi mengejang dahsyat. Menggelepar beberapa saat untuk kemudian diam. Cairan vagina Revi dirasakan oleh Sang Mantan keluar sangat banyak.

UFAIROH 2

Berenang  adalah olahraga kegemaran hijaber toge satu ini, demi mencapai tinggi badan yand dia inginkan, menjaga bentuk tubuhnya yang seksi, juga memamerkan Payudaranya yang montok.

Mata Ufairoh  menyapu panorama dari Kolam renang, matahari pagi memberi warna berkilauan pada air kolam yang masih segar “Aku ingin seperti ini selamanya,,,” gumam Ufairoh  pelan, merentang kedua tangan seolah ingin memeluk langit. bibir tersenyum bahagia, bahagia dengan kebebasan yang tengah dinikmatinya. Lepas dari sorotan mata bengis para wanita aktivis lainya, lepas dari segala macam tugas dan kewajiban aktivis.

“Bebaaass,,,” gumamnya, tersenyum lepas, terbebas dari segala beban. Juga dari permintaan Ardi untuk  bersedia disetubuhi lagi, bagi Ufairoh, kontolnya tak lagi memuaskan.

“Pemuda yang nakal,” kepala Ufairoh  menggeleng-geleng, coba mengingat bagaimana lelaki muda itu menggumuli dirinya dengan begitu buas di ruang KMMTP

 “Mbak baik-baik aja kan Bu?,,,”

Tanya Mang Oyik yang heran melihat tingkah Ufairoh  yang tertawa sendiri.

“Ehh,,, iyaa,, baik,, Mang,,”

Mang oyik adalah penjaga kolam renang langgananya. Ufairoh  berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, malu dengan tingkahnya sendiri, bertanya pada Mang Oyik, namun lelaki berambut kriwel itu mengangkat kedua pundaknya tanda tak tau.

 “Mang,, ajarin saya nyetir renang dong,,, kaya nya seru kalo bisa reanag pake macem-macem gaya,,” pinta Ufairoh.

“Lhaa,, terus yabg jaga kolam siapa mbak?,,” Mang Oyik menjawab pertanyaan Ufairoh  dengan mata yang tak lepas dari payudara besar Ufairoh  yang dipastikan tidak mengenakan bra. “Gilaa,, pentilnya aja gede banget,,” gumam Mang Oyik penuh birahi.

“Kenapa Mang?,,,”

“Eenghh,, maksud saya,,, saya ga enak kalo penungjung kesini penjaganya  belum siap,,,”

 “Itu gampang Mang,,lagian mereka masih lama ke sini,,kita aja yang terlalu pagi,, Ayolaaah, ajarin sayaaa,,,” rengek Ufairoh, begitu acuh dengan kenakalan mata Mang Oyik.

Mang Oyik meneguk ludah, saat Bu Sofia berbalik menghadapnya, memohon dengan gaya centil khas ABG, tak peduli dengan payudara montoknya yang bergoyang, dan kerah rendah, hingga menampilkan gundukan payudaranya yang besar dan montok. Tangan Mang Oyik gemetar ketika ditarik, disambut tawa Ufairoh yang sukses mengerjai lelaki berambut kriting itu.

“Ayo nyebuur,” seru Bu Sofia yang sudah didalam kolam.

 “Jangan terlalu semangat Bu,,, nanti cepet  cape” seru Mang Oyik ketika mengajarkan Ufairoh gaya kupu-kupu, sambil mencari-cari alasan agar dapat berpegangan pada pinggang yang sedikit berlemak.

 “Mang,, kalo beneran ngajarin  pegangan yang beneer,,,” seru Ufairoh, yang diamini mang Oyik, memindah telapak tangannya ke payudara besar Bu Sofia, dan meremasnya dengan kuat.

“Pegangan seperti ini Bu?,,,”

“Tidaaak,,, lebiiih kencaaang lagiii,,,” rintih Ufairoh, menikmati kebrutalan tangan Mang Oyik. Gerakan renang Ufairoh berhenti sejenak ketika Mang Oyik berusaha menarik keluar sepasang payudara.

“Silahkan latihan lagi “ bisik Mang Oyik, ditengah kekaguman, telapak tangannya yang kasar tak mampu sepenuhnya menangkup kedua daging milik Bu Sofie.

Gerakan kaki dan tangan ufairoh melambat , bibir wanita itu terus mendesis, putingnya yang mengeras terasa sedikit pedih saat jari-jari Mang Oyik mencubit dan memelintir. Tubuh Ufairoh  semakin gemetar saat pantatnya merasakan menggesek batang yang sudah sangat keras.

“yang nempel di pantat saya ini apa Mang?,”

“Cuma pelampung koq Mbak,,,”

“Mana ada sih penjaga pake pelampung di kolam yang cuman  semester ,hahahaa,,oowwwhsss,,,” Ufairoh  tertawa di sela rintihannya.

“hahahaa,, ya artinya ini pelampung  saya mbak,, hahaha,,Pengen nyoba pake pelampung saya?,,,”

Deg,,, gerakan renang Ufarioh berhenti mendadak, Ufairoh  memang sudah sangat terangsang dan sangat ingin mencoba ketangguhan pejantan tua ini, tapi Mang Oyik adalah manusia paling amburadul yang pernah menjamah tubuhnya. Matanya menyusur bibir pantai, menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada seorangpun selain mereka ditempat itu. Akhirnya mereka naik dan berjalan menuju kamar ganti.

“Boleehhh,,, biar saya coba,,” jawab Ufairoh  dengan jantung berdebar, coba merasakan batang keras yang terus menggesek-gesek sekitar pinggang dan pantatnya.

Wanita itu berdiri, mengangkangi toilet, perlahan menurunkan celana dalamnya dengan mata waspada mengamati sekitar kolam. Melihat pantat montok mulus yang terbuka di depan wajahnya Mang Oyik langsung membenamkan wajahnya ke belahan pantat Ufairoh.

“Aaaakkkhhh,,, Maaaangssss,,,,” tubuh wanita terlonjak, tak menduga dengan serangan Mang Oyik, tangannya segera memegang pinggiran bak mandi menahan tubuhnya yang terhuyung kedepan.

“Oowwwhhssss,,,Ganas baangeetss ni Orang,,, Aaaggghhhsss,,,” gumam wanita itu tak jelas, merasakan lidah panas Mang Oyik yang dengan cepat melakukan sapuan panjang di selangkangannya, menjilati bibir vaginanya dan terus menyapu hingga ke lubang anusnya.

Terus berulang-ulang, menyapu, menggelitik, sesekali menusuk lorong vagina dan anusnya, membuat tubuhnya merinding.

“Aaaaggghhh,,, gilaaaa,,, masukin maaaaang kalo beraniii,,,” rintih Ufairoh  semakin membuka lebar pahanya, dan benar saja, sesaat kemudian Mang Oyik menjawab tantangannya Lidah panas itu berusaha menguak lubang anus Bu Sofie. Akibatnya wanita itu semakin kalang kabut dilanda birahi. Tak pernah dirinya diperlakukan seperti ini, Tapi kini, wanita itu dapat merasakan lidah panas yang berhasil menerobos liang kotor itu, menggelitik liar berusaha masuk semakin dalam,

“Aaaaaggghhhh,, Maaaang,,,jilaaaatin dalam nyaaa jugaaaa Maaaangssshhh,,,” pantat besar Ufairoh  menekan wajah Mang Oyik.

Tak ingin mengecewakan tamunya, Mang Oyik tak lagi peduli dengan rasa pahit di lidah, daging tak bertulang itu menari, melengkung ke kiri ke kanan seolah mencari sesuatu di lorong anus Bu Sofie.

“Dasaaarrr,,, betinaaa binaaaallll,,,” rintihnya, mengakat pantatnya semakin tinggi, memberi akses sepenuhnya pada lidah Mang Oyik untuk bertualang. Bibirnya terus mendesis, merintih, menjerit histeris.

“Aaaaakkkkhhhhhh,,,,, pindaaaah depaaaaannn,,, sedooottt yang didepaaaan Maaaaang,,,,” jerit Ufairoh tiba-tiba, menjambak rambut kriting Mang Oyik, mengangkangi wajah Mang Oyik, mengarahkan lidah yang masih terjulur itu kebagian depan.

Tapi, belum puas dengan gerakan lidah Mang Oyik di vaginanya, pantat Ufairoh  bergerak semakin liar, menggesek-gesek bibir vaginanya yang penuh lendir ke wajah mang Oyik dengan kuat. Hingga akhirnya gelombang orgasme menyerang tubuhnya.

“Aaaaggghhh,,, keluaaaaaarrrr,,,,”

“Sedooot Maaang,,, minuuuum,,,sedoooot semuaaaa,,,” perintah Ufairoh  yang merintih penuh kenikmatan, menjejalkan bibir vaginanya ke mulut Mang Oyik yang terbuka.

Tapi bukan Mang Oyik namanya jika pasrah begitu saja menjadi objek pelampiasan seorang wanita. Karena bibir tebalnya tiba-tiba membekap seluruh pintu vagina Ufairoh, dan melakukan sedotan kuat, hingga wanita itu terkencing-kencing.

Didera orgasme panjang kaki montok itu gemetar, “Sudaaaah Maaaang,,,stooop,,,” namun bibir Mang Oyik terus menghisap, menyedot lorong vaginanya, memaksa semua cairan keluar dan beralih ke mulutnya.

“Uuuuggghhh,,,”

Seeeerrr…. lagi-lagi Ufairoh  squirt, memuntahkan air seni yang dipaksa keluar. Tubuhnya roboh menungging membelakangi Mang Oyik yang tertawa puas dengan wajah basah oleh cairan vagina.

“Saat nya beraksi,,,” batin Mang Oyik, Tangan kirinya mengocoki batang yang sudah mengeras, sementara tangan kanannya mengusap-usap bibir vagina yang penuh dengan tetesan lendir.

“Oooowwwwhhhssss,,,”lenguh Ufairoh, saat merasakan batang Mang Oyik yang dengan mudah menerobos vagina yang basah, tanpa menunggu dirinya siap, Mang Oyik langsung menggenjot dengan kasar.

Ufairoh  tertawa melihat ulah Mang Oyik yang begitu bernafsu, wajar saja, sangat jarang lelaki itu bisa merasakan barang semulus milik Ufairoh.

“Selamat menikmati,,” seru Ufairoh  dengan gaya yang sangat genit, menduduki batang Mang Oyik di atas toilet

Menggerakkan pinggulnya pelan. Wanita itu sadar, lorong vaginanya yang terbiasa dengan batang besar, terasa sedikit longgar saat berusaha mengempot batang Mang Oyik.

“Waaahhh,,, Mang Oyik, ada barang bagus dipake sendiri nih,,,” seru seseorang dari arah depan, karena terlalu bernafsu mereka lupa mengunci pintu. Ufairoh  yang terlalu asik dengan Mang Oyik tak menyadari seorang pemuda menghampiri mereka. Ufairoh  berusaha meloncat turun dari atas tubuh Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya sambil tertawa. akhirnya wanita itu hanya bisa berusaha menutupi selangkangannya dengan rok yang terlalu pendek.

“Tenang Bu, dia si Kontet teman saya koq, penjaga sini juga, ga usah takut, Kontet ini kalo ga diizinin ga bakalan ikut nyodok koq,” terang Mang Oyik, yang langsung dijawab Kontet dengan plototan mata.

“Gila lu Mang, barang bagus gini masa gue cuma disuruh nonton, aaahh,,, tai lu Mang, bini gue kemarin lu obrak-abrik gue santai aja, sekarang elu ada barang bagus dipake sendiri, liat aja ntar bini lu gue pake siang malam jangan protes lu,,,”

“Aaahh,, berisik Lu Tet, bikin orang ga khusu aja,” Mang Oyik melempar sendal ke arah Kontet.

Ufairoh  tak bisa menahan tawanya, meski tampangnya lebih sangar dan punya body yang jauh lebih besar dari Mang Oyik, ternyata lelaki itu cerewetnya minta ampun.

“mbak,, gimana?,,, boleh ikut gabung ga?,,,”

“Eeenghh,, iya deehh,, eemmh,,terserah deh maksud sayaa,,” wajah Ufairoh  panas seketika, bibirnya telah memperislahkan dua manusia amburadul itu untuk menikmati tubuhnya, tubuh akhwat dari aktivis masjid kampus.

Tapi ulah Kontet yang tertawa girang menampilkan gigi yang sebagian ompong itu, membuat Ufairoh  tak mampu lagi menahan tawanya. Dan akhirnya hanya bisa merutuki nasibnya yang harus menjadi pemuas nafsu dua kura-kura pantai selatan.

“Tapi bilangin Mang, kalo nusuk punya saya ini mulut harus diam, ga boleh cerewet,,Hihihihi,,,”

Namun tawa Ufairoh  terhenti saat Kontet mengeluarkan batangnya. Batang yang lebih besar dari milik ardi yang sudah termasuk kategori lumayan besar.  Berselimut kulit yang coklat kehitaman, membuat tampilannya semakin sangar.

“Kenapa Bu,, gede banget ya,,,hehehee,,, makanya saya ga pernah ngizinin dia ngentotin bini saya, pasti ancur meqi Marni kalo disodok tu batang,,,hehehee,,,”

Jantung Ufairoh  bergemuruh mendengar paparan dari Mang Oyik yang begitu vulgar, khas orang pinggiran. Tapi batang itu memang sangat besar. Pinggul besar Ufairoh  kembali bergerak, berusaha sekuat mungkin menjepit batang Mang Oyik agar lelaki itu cepat selesai. Sementara Kontet berjalan ke depan ATV, seolah ingin memamerkan batang gorilanya kepada Ufairoh  yang tak berkedip memandang dengan bibir mendesis birahi. Tak sabar menunggu giliran.

“Bu,,, kelamaan kalo nungguin Mang Oyik kelar,,langsung masukin double dong Bu,,,”

“Gila kamuu,, bisa hancur beneran punya sayaa,,, Sini deehhh,,Aaawwwhh,, pelan Mangss,,”

Ufairoh  kembali menungging, agar mulutnya dapat menjangkau batang besar itu.

“Dasar kau Ufairoooh,, ga pernah bisa sabar kalo liat batang besar,” batinnya tertawa girang bercampur ngeri.

“Ooowwwhhh,,,yaaa,,, jilaaat,,,yaaa,,,basaaahiin dulu batangnyaaa,, jilat memutar buuu,, oowwhhh,,,”

“yaaa sekarang masukin kemulut mba,,, ooowwwhhhsss,,, gilaaa,, mulut mbaa hangaaat bangeeettt,,masukiiin semua dong Mbaaa,,ayoo semuaaa,,”

“AAAAWWWW,,, SAKIT MBAA,,,”

Kontet menjerit seketika, batang besarnya digigit oleh Bu Sofie.

“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ane masih Nobi,, kalo bikin cernas otaknya masih sering ngadat.”

 “Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ni batang gede banget,, ga bisa masuk semua tauu,,,”

“Tapi,,,,,

“Diam!!!,,”

Kontet langsung menutup rapat mulutnya.

“Whuahahahaa,, emang bener Lu Tet, sampe ngentot aja mulut lu ga bisa diam,,,” Mang Oyik sontak tertawa. disambut tawa Ufairoh  yang ga sanggup melihat wajah Kontet yang seketika pucat, mendengar bentakannya.

Kehadiran Kontet membuat Ufairoh  bisa lebih rileks, seakan lupa dengan status sosialnya.

“Waduuuhh,,, koq malah ngecil sih ni batang,” Ufairoh  tiba-tiba panik saat mendapati batang Kontet yang keras seperti kayu mulai loyo.

“Sini dehh,, mbaa masukin semuuaaa,, Eeemmmpphhh,,,, uuummpphhh,,,”

Ufairoh  berusaha menjejalkan batang gemuk itu kemulutnya, membekap dengan lidahnya. Namun batang itu hanya mampu masuk setengah.

“Uuugggmmpphhh,, Ooommppphh,,,” Ufairoh  gelagapan, saat batang kontet yang hitam kembali membesar di dalam mulutnya. Tapi mulut wanita itu enggan untuk melepaskan.

Ini adalah persetubuhan paling gila dari yang pernah dialaminya. Tangan Ufairoh  mencengkram pantat Kontet, memberi perintah agar batang itu bergerak di dalam mulutnya.

“Ooommmpphhh,,, uuggmmmppp,,,” jari lentiknya menekan pantat Kontet lebih kuat, hingga batang besar itu hampir masuk ke kerongkongannya, menutup saluran nafasnya.”

“Ooogghhhh,,,” mulut Ufairoh  tersedak, melepaskan batang besar, matanya berair akibat tersedak, tapi gilanya bibir sensualnya itu justru tersenyum.

“Gimanaa Tet,,,nikmat mana sama meqi binimu,,”

“Juancuuuk,, mulut Mbaa ganas banget,,nikmat banget mbak hampir aja saya muncrat di mulut mbaa,” telinga Ufairoh  terasa panas saat mendengar Kontet hampir saja memenuhi mulutnya dengan sperma, batangnya saja sudah bau, bagaimana spermanya.

“sebelum mulut mbaa menampung sperma kita-kita,, saya cium dulu dong Buu,,” Mang Oyik yang merasa diacuhkan memalingkan wajah Ufairoh, lalu dengan cepat melumat ganas.

“Eeemmpphhh,,, Mmaamgghhh,, emmpphh,,” Ufairoh  gelagapan, mulutnya dihisap Mang Oyik, lidahnya membelit, menarik masuk lidah wanita cantik itu ke dalam mulut yang bau tembakau.

Tak henti-hentinya Mang Oyik menyedot dan meneguk ludah Ufairoh  yang terkumpul. Sementara batangnya kembali bergerak menghajar kemaluan wanita itu. Belum lagi Kontet yang begitu ganas menyusu di payudara besar montoknya.

“Bolehkan? kalo saya nyemprot di mulut mbaa?,,” tanya Mang Oyik, dengan nafas memburu. Pantatnya semakin cepat bergerak.

“mulut sayaa?,, Yaaa,, saya rasa itu lebih baik, saya sedang subuurrr,” ucap Ufairoh  terengah-engah, entah apa maksudnya, padahal subuh tadi setelah shalat ardi berkali-kali memenuhi rahimnya dengan benih yang sangat subur. Tapi yang pasti, mulut Mang Oyik yang bau itu hampir saja menghantarnya pada orgasme yang liar.

“Buu,, isep punya saya lagi buuu,,,” pinta Kontet dengan suara memelas, sesaat Ufairoh  menatap wajah Kontet yang penuh harap. Haapp…

Kembali batang besar itu memenuhi mulut Ufairoh.

“Eeemmpphh,, Oooommggghh,, Ooowwhhggg,,,”

“Ooowwhhhsss,, mbaaaa enaaaak mbaa,,,”

Tangan Ufairoh  kembali mencengkram pantat kekar Kontet, memandu agar batang besar itu bergerak lebih cepat di dalam mulutnya, begitu kompak dengan kedua tangan kontet yang memegangi kepala Ufairoh, seakan benar-benar tengah menyenggamai mulut wanita cantik itu.

“Oooommmgggghh,,, Aaaaagghhmmm,,,”

Mata Ufairoh  kembali berair, berkali-kali batang besar itu menyodok tenggorokannya dengan kasar. Tapi wanita enggan melepaskan, bahkan lidahnya semakin liar menggelitik batang besar Kontet.

“sayaaa keluaar duluaaannn,,, Aggghhhh,,,” tiba-tiba Mang Oyik mendengus liar, menghambur sperma di lorong kemaluan Bu Sofie.

Wanita itu berusaha berdiri, melepaskan batang Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya, menekan kuat pantatnya ke bawah, membuat Batang Mang Oyik semakin jauh tenggelam. Mati-matian Ufairoh  berusaha melepaskan batang yang terus berkedut menghambur benih, tapi sangat sulit, mulutnyapun masih dipenuhi oleh Batang besar. Bahkan gerakan batang itu semakin kasar. Ufairoh  menatap wajah Kontet yang habang ijo mengejar kenikmatan tertinggi.

“Uuugghhh,, Siaaal,,” hati Ufairoh  mengumpat melihat wajah Kontet yang menunjukkan bagaimana besarnya kenikmatan yang diberikan oleh mulut seorang akhwat “Ooommmggghhh,,, uuuggmmhhhh,,,,” tangan Ufairoh  meremas erat pantat Kontet, pinggulnya besar wanita itu kembali bergerak, berharap batang Mang Oyik masih dapat melaksanakan tugasnya.

Terlanjur basah, dirinyapun tak ingin rugi, harus mendaptkan orgasme seperti yang tengah dikejar Kontet, dengan mulut menggeram, penuh dengan jejalan batang besar, mata wanita menatap Kontet memberi sinyal. Inilah saat yang tepat.

“Oooowwwhhhsss,, mbaaa,,,Aaaagghhhh,,,”

“Gilaaa,, nikmat bangeeeet,,,” Kontet histeris menghambur sperma, yang sigap disambut mulut Ufairoh, berkali-kali mulutnya meneguk sperma Kontet yang memancar, seiring lorong vaginanya yang juga menghambur cairan orgasme ditengah sumpalan batang Mang Oyik.

“Ooommpphh,, puiihh,,puaahh,, puihhh,, asin banget sperma mu Tet,,,”

“Haayyaaaahh,, kalo asin kenapa ditelan Buu,, heheheee,,”

“Terpaksa tau,,”

Ufairoh  mencoba berdalih, meski mulutnya sudah terbiasa dengan beberapa cita rasa sperma.

“Buu,,,” Kontet kembali merengek, meminta bibir mungil Ufairoh  membersihkan batangnya.

“Aaahhh,, ngelunjak Lu Tet,, gue kan juga mau disepong ama Ufairoh,,,” protes Mang Oyik yang merasa tersisih.

“Iyaa,,iyaa,, sini gantian,,,” wanita itu melepaskan batang Mang Oyik dari vaginanya. Lalu turun dari ATV, tanpa tendeng aling langsung melahap batang yang masih mengeras, dan itu membuatnya sangat heran.

“Aaahh,, persetanlah,,,” batin Ufairoh  menghentak.

“Tet,, cepet tiduran,,” Ufairoh  mendorong tubuh besar Kontet kepasir, lalu dengan sigap menggenggam batang besar pemuda itu, dan mengarahkan keliang kemaluannya.

“Oooowwhhhhsss,, Gilaaa,, emang besar bangeeeettsss,,”

“Aaagghhh,,, Tai Lu,, jangan diaaam,, cepet masukiin batang Luu,,”

Bentak Ufairoh  panik,kata-katanya terdengar vulgar. Tanpa pikir panjang Kontet menghentak dengan kuat, bahkan terlalu kuat, hingga batang besarnya menggelosor masuk menghentak hingga ke lorong rahim.

“Aaagghhhh,,, begooo,,,sakiiitt,,kegedeaaann,,”

“Tapi bisa masuk koq mbaa,,,” jawab Kontet cengengesan, antara takut dan nikmat.

“Yaaa,, masuukk,,Aaahhhss,, sampe mentoookss,,” Ufairoh  coba meresapi kenikmatan di lorong vaginanya.

“Maaang,,,mau Apaa?,,,jangaaan disituuu,,”

“Aaagghhh,, gilaaa,,,masuuukk,,jangaaann,,sakiitt begooo,,,Aaagghhh,, dikit lagiii,,,”

Ufairoh  kalang kabut, kedua lubangnya dipenuhi batang.

“Ufairoooh,,, aaaghhh,,,”

“Sayaaaang,,, yu huuuu,,,”

“saayaang,,, Ufairoh  dimana,,,,”

“Mang Oyiiiik,,, Woooyy,,, Maaaang,,,”

Terdengar teriakan-teriakan samar memanggil namanya. Tapi sudah terlambat untuk menyudahi permainan. Kini dua buah batang pejantan telah memenuhi kedua lorongnya.

“Ayoo Tett,, Hajaaarrr,,” seru Mang Oyik. Memegangi pantat Ufairoh  yang begitu indah, seperti berbentuk amor yang sangat besar, dengan dua panah besar menembusi bagian tengahnya. Assseeeeemm,, pantat besar kaya gini yang dari dulu gue cari-cari,”

“Hehehee,, iyaa Mang,,kapan lagi bisa ngerasain barang kelas atas yang bisa dipake join depan belakang kaya gini,,,” jawab Kontet,mulai bergerak liar, batang besarnya bergerak cepat memaksa sperma Mang Oyik keluar.

“Ooowwwhhhss,,, Gilaaa,,kaliaaan,,ayooo hajaaarr punya Mbaa,,,” rintih Ufairoh  yang kerepotan menahan tubuhnya, menjaga posisi agar kedua batang itu dapat bergerak cepat dan leluasa menikmati sempit kedua liang kemaluannya.

“Oooowwhhhsss,,, seperti inikah nikmatnya di gangbang, seperti kata Tia,, Aaahhhsss,,,” Ufairoh  teringat cerita temannya yang terbiasa digangbang oleh suami dan anak kandungnya.

“Aaarrrgghhhssss,,anjas,,, yang cepeeeet,, riaaan,,hajar memek Mbaamuuu ,,,” tiba-tiba mulut Ufairoh  meracau, membayangkan yang tengah menyetubuhinya adalah pacarnya dan sahabatnya. Menyodorkan payudara besarnya ke mulut Kontet yang segera melahap rakus. Dan Mang oyik meremas payudara satunya sambil menyedoot dan menggit putting Ufairoh

“Aaaaggghh,,, teruusss soddoook yang daleeeem sedooot tokeeeet guaaa yang kuaaaat Riaaan,, masukin memek mbaa yang dalaaaam aaak,,”

Tubuh wanita itu mulai gemetar bersiap menyambut orgasme “Uuunnghhh,,,Arrggghhh,, masuuuk semuaaaa,,,”

 “,,, sayaaaa ngecrooot di memek mbaa,,” teriak Kontet yang tak lagi mampu bertahan, jepitan vagina wanita itu tiba-tiba begitu kuat mencengkram seluruh penisnya. Tak pernah ada wanita yang sanggup melumat seluruh batangnya, dan apa yang dilakukan Ufairoh  bener-bener membuat batangnya begitu nikmat.

“Gilaaa kau Teeet,,, cabuuuut,,, cepet cabuuuut,,,” Wanita itu panik, semprotan lahar hangat Kontet dengan cepat memenuhi rahimnya.

“Sayaaa jugaaa keluaaar Buuu,,,” teriak Mang Oyik, menekan kuat batangnya kedalam anus Ufairoh, dan meremaaas kuat-kuat payudara biadab milik Ufairoh yang Kenyal padat itu, hingga menggagalkan usaha wanita itu melepaskan batang Kontet yang terus menghambur cairan kental.

“Ooowwwwghhhhh,,, gilaaa kaliaaaannn,,, aku keluaaar lageeehhhh,,,” lagi-lagi tubuh montok itu menggelinjang, saat merasakan kedua lorongnya terasa begitu penuh.

Akhirnya Ufairoh  jatuh lemas dalam pelukan Kontet.

Sejak itu berenang adalah kenikmatan baru yang Ufairoh dapat, dan dia bisa mendapat kenikmatan dari kontet dan Mang Oyik.  Anehnya setelah di pakai, Ufairoh justru semakin terlihat begitu merangsang, dan payudara biadab kebangganya tidak dapat lagi ditutupi oleh jilbab kurungnya. Dan itu semakin membuat Ufairoh menjadi binal dan siap  disetubuhi oleh semua laki-laki yang memandanginya di kelas.

BU ANDI

Banyak orang memanggil namaku Egiek, nama kesayangan yang diberikan keluargaku. Setelah menyelesaikan SMA di kota T, saya masuk kuliah dan tamat S1 di kota B ini, sebuah kota besar yang memancarkan kesibukannya setiap hari, yang mendorong kesibukan bagi warganya. Studi lanjut S2 di Jakarta saya selesaikan selama 2 tahun, kemudian kembali di kota B bekerja dan menetap di kota ini pula.

Malam itu sekitar jam delapan, saya bergegas menuju stasiun kereta api menjemput mama yang bersama dengan seorang temannya dari kota T. Setelah salam hormat cium tangan dan pelukan sama mama, sayapun memberi salam kepada temannya yang memperkenalkan diri, namanya Andi, kemudian kami bertiga masuk mobil. Saya menyetir, mama duduk di sebelah saya, sementara temannya di jok belakang.

“Tadi mama mau naik taksi saja, katanya kamu fitness Giek” kata mama memecah kesunyian

“Ya Ma, tadi fitnesnya Egiek ajukan Ma, supaya bisa jemput mama”

“Ini Bu Andi, bosnya mama” kata mama memperkenalkan

“Boss apaan Bu…?” sahut Bu Andi merendah, menyanggah ucapan mama.

“Yang mama ceritakan tempo hari, Bu Andi mau masuk S2, di kota B ini, nanti kamu bantu ya…”

“Ya Ma, siap Ibu…” kataku penuh hormat.

“Terima kasih…Giek” sahutnya dari belakang.

Lamunanku melayang ke waktu sekitar satu tahun yang lalu. Sebenarnya saya sudah tahu dengan bu Andi ini, ketika itu saya mengantar mama pada acara perkenalannya sebagai pejabat baru di kantor tempat mama bekerja, kebetulan waktu itu saya pulang ke kota T. Dalam acara perkenalan itu dia duduk di kursi deretan terdepan, beserta dengan bos lainnya, saya bersama mama di kursi lain. Hanya dalam hati saya, perempuan ini berparas elok, kulitnya putih bersih ditunjang dengan tinggi badan, kira-kira 165 cm. Nampak anggun malam itu, memakai kebaya, berjilbab dan seleyer yang disampirkan pada bahu sebelahnya. Nama Andi, semula saya kira nama suaminya, ternyata memang namanya aslinya ‘Andi’. Pembawaannya kurang banyak bicara, hingga kesannya seolah sombong, tapi sebenarnya tidak sombong-sombong amat kalau sudah kenal.

Pesan mama, saya harus membantu kebutuhannya selama dia studi di kota B ini, tidak hanya saat pendaftaran ini saja, tetapi kalau perlu kebutuhan studi lainnya termasuk mencarikan kost-kosan dan sebagainya dan saya tidak keberatan. Saya mencoba memenuhi pesan mama dan mengatur antara tugas pekerjaan saya dengan membantu bu Andi. Keesokan harinya, hari Sabtu seperti biasanya saya libur, sesuai jadwal yang telah ditentukan saya antar bu Andi ke kampus untuk proses pendaftaran, kemudian mereka berdua saya ajak jalan-jalan keliling kota.

Pada waktu seleksi masukpun masih diantar mama, seperti saat pendaftaran dulu. Mama bercerita, suaminya tidak sempat mengantar, lagi pula sakit-sakitan, sehingga merasa repot untuk bepergian jarak jauh. Dia mengambil kuliah weekend, Sabtu dan Minggu. Biasanya tiba di kota B Jumat malam, Sabtu-Minggu pagi hingga sore masuk kuliah dan Senin pagi baru pulang dengan kereta atau travel.

Karena sering bertemu dalam membantu kebutuhan studinya, lama-kelamaan kami menjadi dekat, enak juga diajak ngobrol dan diskusi. Mungkin karena merasa lebih tua, saya kadang dinasehati. Usianya 35 tahun, sedangkan saya baru 26 tahun, jadi seperti kakak jauh atau tante begitu. Saya sering berkunjung ke kostnya, ngobrol atau sekedar makan malam bersama. Terus terang saya mulai tertarik dengan sikapnya yang tenang, tapi cerdas yang menambah point kecantikannya. Dan saya menghormatinya, saya berinisiatif, ketika turun dari mobil saya sering membukakan pintunya, walau dia tidak mau diperlakukan demikian. Lambat laun ingin rasanya dalam hati untuk berhubungan lebih dekat lagi, misalnya mencium pipinya yang ranum itu dan ingin selalu berdekatan.

Di suatu Jumat siang saya di telepon bu Andi, dia minta untuk dijemput di stasiun pukul 17.00. Tidak seperti biasanya yang langsung ke tempat kost.

“Aku mau pinjam printermu untuk selesaikan tugas. Besok dikumpulkan” katanya dari seberang.

“Ya Bu, bisa…” jawabku

Sorenya cuaca hujan, dari kantor saya langsung ke stasiun menjemputnya. Beberapa menit kemudian kulihat dia muncul dari peron, memakai celana hitam dan blouse warna putih lengan panjang dan kerudung biru muda, menenteng tas dan mengembangkan senyum khasnya. Aku langsung bergegas menghampirinya meminta tasnya, kami berdua berpayung menuju tempat parkir. Saya senang sekali bisa berdekatan, karena satu payung sampai mepet, hingga bau harum tubuhnya sampai di hidungku. Tapi ada perasaan aneh, dadaku tiba-tiba bergetar, ingin rasanya memeluk sosok perempuan cantik ini, tapi saya tidak berani. Sebelum sampai di rumah kami berdua makan bersama, namun tidak lama-lama seperti biasanya, karena terburu dengan menyelesaikan tugasnya. Dia harus selesaikan tugas malam ini di rumahku, karena di tempat kostnya tidak ada printer.

Sampai di rumah, saya langsung menyiapkan untuk mengerjakan tugasnya, saya membantu mengedit, melengkapi referensi dan data, sementara bu Andi saya persilakan mandi dulu. Bagi saya, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan berat karena sayapun pernah mendapat tugas perkuliahan semacam ini. Keluar dari kamar mandi dia memakai jilbab putih, kaos ketat warna putih bergambar dan celana panjang warna hitama. Berjalan menuju meja mengentry data yang belum sempat dibuat. Cantik memang, apapun yang dikenakan perempuan ini pantas dan tampak indah.

Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lebih, saya berfikir; dalam rumah ini hanya ada saya lelaki dewasa dan bu Andi, perempuan cantik dan bukan muhrim. Kalau ada orang yang tahu tentu akan berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi. Saya memang mempunyai hasrat untuk memeluk atau mencium. Tapi suatu hal yang tidak mudah aku lakukan, bagai ada ‘tembok’ yang menghalangiku untuk berbuat seperti itu. Tembok itu adalah kedudukan bu Andi sebagai atasan mamaku dan saya harus menghormatinya. Mungkin aku bisa ‘melompat tembok’ itu dengan cara memaksa mencium atau memeluknya, tapi aku masih sadar; dia bisa marah dan akibatnya fatal. Tidak hanya pada diri saya saja, hubungan menjadi putus berantakan, tetapi juga bisa marah kepada mamaku sebagai anak buahnya. Dan ini tidak baik hanya pada diri saya saja, tetapi juga pada karier mamaku.

Lamunanku menjadi buyar, ketika perempuan bertahilalat di pipi ini berkata:

“Peralatan jilidmu lengkap juga ya Giek, bisa buka percetakan nih….kalau pensiun.” selorohnya ketika tahu tugasnya sudah terjilid.

“He…he… dulu ini juga untuk bikin tugas-tugas begini, Bu” kataku sambil membersihkan ruangan dan beranjak ke kamar mandi.

Dalam kamar mandi pikiran itu masih menggelanyut di kepalaku, bahkan ketika aku mulai melepas pakaian, tanpa sebab yang jelas tititku tegang dan membesar, aku tersenyum sendiri. “Ngapain lu..” pikirku. Ini dia, efek dari pikiranku yang tertuju pada sosok perempuan cantik itu.

Selesai mandi, waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, kudapati bu Andi duduk sambil membalik-balik buku tugasnya. Saya mendekatinya dan berdiri di sebelahnya, cukup dekat. Dia berpaling ke arahku tersenyum dan berkata:

“Terima kasih ya Giek, atas bantuanmu selama ini dan terima kasih semuannya, aku selalu merepotkanmu” katanya.

“ Terima kasih, sama-sama, Bu Andi…”

Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, tapi aku tidak berusaha menjauh darinya, sehingga kami sangat dekat sekali, aroma wewangian tubuhnya sampai ke hidungku kembali. Wanita yang punya bibir indah itu belum beranjak dari tempat berdirinya, dia agak mendongakkan kepalanya ke arah wajahku.

“Kamu baik sekali…” katanya bergetar, tatapan matanya tertangkap penuh arti.

“Ibu jangan risau, saya hanya bantu, itupun tidak sepenuhnya. Sering Ibu berangkat sendiri ke stasiun dan dari stasiun” kataku mulai bergetar juga. Saya memang sering bantu dia, tidak hanya antar jemput, tetapi juga mengerjakan tugas-tugas, mencarikan referensi buku.

Kemudian saya memberanikan diri memegang tangannya. Kedua tanganku meraih tangannya menggenggam lembut. Kami berhadap-hadapan dekat sekali, saling memegang tangan dengan eratnya dan mata kami beradu saling memandang. Kebersaman selama lebih dari empat bulan ini membuat kami merasa semakin dekat saja. Rasa hatiku sebagai lelaki dewasa bergeser dengan kesadaran menghadapi seorang perempuan dewasa pula. Getaran-getaran itu merambat yang kemudian mendorong hasrat yang kuat untuk memeluk dan mencium sosok perempuan pns ini. Jantungku berdetak lebih keras lagi, kami berdua tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Masih saling memandang, mengikuti aliran pikiran masing-masing yang berkecamuk dalam kepala dan bergetar sampai dada. Namun aku merasa; mungkin pikiran bu Andi ini juga tidak jauh berbeda dengan benakku. Perasaanku mengatakan demikian. Kemudian dia mengatupkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajahku. Aku sambut dengan kecupan pada keningnya, kemudian memeluknya dengan ketat, sambil mencium keningnya. Angan-anganku tadi di taman parkir stasiun, kini menjadi kenyataan.

Dadaku mulai bergetar kencang demikian pula yang kurasakan dadanya bergetar kuat. Kami berdua saling berpelukan, ada sesuatu yang ingin saya katakan tapi tidak kuasa mengungkapkannya. Ada seribu kata tak terucapkan, demikian pula dia berdiam tapi makin mempererat pelukannya, seolah tidak ingin berpisah dan melepas. Kedua tangannya merangkul pinggangku dengan ketat, kami berdua ingin menyatu. Dada kami berdua bertalu-talu saling berkejaran. Aku mulai mengecup bibirnya agak ragu, tetapi bu Andi menyambut dengan kecupan lembut. Kami berciuman bibir, menyisir bibir indah itu, kemudian saling melumat lembut, meluapkan perasaan masing-masing dan saling merasakan kenikmatan pada sudut-sudut bibir kami berdua.

Sementara dari luar terdengar hujan rintik-rintik, tapi di dada ini semakin membara. Beberapa menit bu Andi aku peluk kembali dan kedua tangannyapun memeluk aku. Berpelukan, berciuman kembali bergantian, lidah kami saling berinteraksi saling mengisap dan menari. Aku mundur pelan dan mengarahkan pantatku di meja tulis, bu Andi tetap merangsek ke depan dalam pelukanku, seakan tidak mau kulepaskan. Aku setengah duduk di meja, sementara berciuman ketat, lidah kami menari bersama dan saling memagut.

“Ibu cantik sekali…” rayuku

“Thanks Giek, kau pria gagah, tampan dan pintar, tapi perasaanmu lembut. Aku suka kamu…” katanya bergetar, terus terang, sambil tersenyum dan memandangiku penuh arti.

“Saya juga senang bersanding bersama Ibu. Sekarang sudah larut malam, kalau berkenan, Ibu menginap di sini saja malam ini” kataku memberanikan diri dan disambut dengan mengangguk dengan pandangan mata ke arahku, tanpa kata walaupun bibirnya bergetar.

Lalu dia merebahkan kepalanya di dadaku, kubelai-belai keningnya. Rasa dan perasaanku sangat dekat dengannya, rupanya pelukan itu mempunyai arti sejuta kata dan rasa. Saya tidak bisa membedakan antara rasa sayang dan nafsu, yang campur aduk menjadi satu. Saya berusaha memilah-milah dan mengurai dua kata itu; ‘sayang’ karena selama ini dalam kebersamaannya, tapi juga ‘nafsu’, karena tititku menjadi tegak teramat sangat.

“Ada bagian lain yang bergerak-gerak…!” katanya sambil ketawa dan agak menjauh melepaskan pelukan.

“Iyaa…, he…he…” kataku ketawa pula.

Yang dimaksud tentu tititku, yang berontak saat kutempelkan ketat pada tubuhnya. Ini yang tidak bisa ditipu. Aku raih tangannya, dengan pelan aku membalikkan tubuhnya, sehingga dia memunggungiku. Tanganku mendekap dari belakang, Telapak tanganku posisinya persis pada teteknya, tapi aku tidak berani meremas. Hanya karena dekapanku kuat sehingga telapak tanganku kena sasaran. Dia meraba-raba wajahku dengan jari lentiknya. Roamantis sekali.

Beberapa menit kemudian kuangkat tubuh perempuan itu, tangan kananku mengangkat kedua pahanya, sedangkan tangan kiriku mengangkat punggungnya, lalu kubawa ke kamar, agak berat. Kurebahkan pelan-pelan di tempat tidur, kami mulai bergumul dengan cumbuan-cumbuan yang meningkatkan getaran-getaran pada tubuh kami. Dadaku bergemuruh kembali, berdetak dengan kerasnya sampai menggoncang-goncang dadaku dengan keras dan cepat, lebih cepat dari detak-detak jam dinding di kamar itu. Pertanda menanjaknya birahi kami berdua, tanda yang lebih nyata adalah tititku tegak sangat kuat sekali.

Saat dia tidur terlentang dan kaki kananku menindih kakinya, sementara tangan kananku menyusup pada susunya.

“Maaf, aku buka ya bu…” kataku sambil memegang kaosnya

“Sudah Sayang, sampai di sini saja ya” katanya lembut sambil menahan tanganku, dan katanya lagi:

“Mestinya kita nggak boleh sampai begini, aku kilaf tadi. Maafkan aku Giek ”

“Ibu nggak usah minta maaf, akulah yang bersalah”

Walaupun aku meminta maaf, aku tetap kecewa, mestinya aku segera bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan, diusia 26 tahun ini. Tinggal selangkah lagi sudah sampai pada puncaknya, ternyata menjadi mentah. Nafsu yang sudah memuncak, tiba-tiba menurun dengan derasnya. Dalam hati aku bertanya: “Mengapa ketika saya angkat ke kamar tadi dia diam saja, mestinya dia melarang?” “Mengapa pula dia bersedia menginap di rumahku?” Namun aku tetap berusaha menutupi kekecewaan hatiku kepada bu Andi yang berbaring di sisiku. Sebenarnya akupun bisa memaksa dia untuk melayaniku, tapi itu tidak aku lakukan, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas tadi. Paling tidak dia tetap ada di sampingku, kami bisa tetap ngobrol dan memandangnya sepuasnya dikala tidur nanti. Aku tetap menghendaki perempuan cantik ini tidur di rumahku malam ini. Lalu dia beranjak kekamar mandi, setelah beberapa saat keluar lagi. Kini dia memakai gaun tidur warna putih motif bunga, tanpa kerudung. Kemudian mendekat saya, tidur di sampingku, sambil mencium keningku.

Malam semakin larut, jam menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Kami berdua belum tidur, masih ngobrol ngalor-ngidul.

“Aku tahu perasaanmu Giek, kamu pasti kecewa. Tapi saya percaya kamu bisa memahami ‘kan?” katanya sambil membelai-belai bahuku.

“Ya Bu, saya paham 1000%” kataku, tersenyum sambil berbaring miring menghadap ke arahnya. Diapun memiringkan tubuhnya ke arahku. Tiba-tiba kaki kirinya ditimpakan pada kakiku. Aku senang sekali.

“Sudah, kita tidur, supaya besok fresh…” katanya.

Aku lihat jam 00.30, aku beranjak mematikan lampu terang dan kuganti lampu bad yang temaram. Seumur-umur baru kali ini aku tidur bersama perempuan, pikirku menghibur diri. Hatiku tetap bergetar walaupun aku tahu dia membatasi diri. Bagaimanapun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku pura-pura tidur sambil melihat sosok perempuan cantik berbaring di sampingku. Perempuan ini benar-benar cantik, nafasnya teratur, mulutnya mengatup indah. Dalam kondisi tidur saja kelihatan cantik, gumanku. Kemudian kakiku kutimpakan pada kakinya, tanganku ku taruh pada pinggulnya. Dia diam saja, mungkin sudah tidur beneran. Akhirnya dia beringsut mendekatkan diri pada tubuhku, akupun menyambut dengan memeluknya. Di bawah selimut bersama, tangan kiriku menyusup di bawah lehernya, sementara kaki kiriku menyusup pada selakangannya. Batapa aku senang sekali, dia tidak mengelak, bahkan menyambutku dengan pelukan pula. Kamipun berpelukan ketat, tapi lagi-lagi gejolak kelelakianku menanjak naik. Dia merangsek tubuhnya ke arahku katanya.

“Giek……” katanya lirih sambil tangannya disusupkan di balik kaosku dan mengelus-elus dadaku dan perutku.

“Ya Bu, saya dekap Ibu” aku mendekap seperti induk ayam yang melindungi anaknya.

“Belum tidur Bu..?

“Aku enggak bisa tidur. Tadi tidur sebentar, sekarang terjaga lagi…” katanya sambil mengusap-usap wajahku. Kemudian katanya lagi

Dengan gemetaran tanganku mulai menyusup di balik gaunnya setelah membuka beberapa kancing di bagian dadanya, tampak behanya yang berwarna putih, seolah tidak muat menyangga susunya yang montok itu.

“Behaku buka saja, biasanya kalau tidur aku tidak berbeha. Sesak rasanya”

“Baik Bu, Maaf…” kataku, sambil menarik gaunnya ke atas, membuka kait behanya pada bagian punggung. Saya bertambah terkesima melihat indahnya payudaranya, yang mendorong untuk meraba dan meremas lembut bongkahan daging ajaib ini. Saya remas dengan lembut dan pentilnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kupilin-pilin lembut. Bu Andi membuka matanya memandangiku, rona wajahnya menampakan sebuah kenikmatan, sambil menatap langit-langit. Wajahku menyapu berkali-kali payudaranya sesekali membenamkan pada sela antara keduanya. Tangannya juga masuk merayap lembut pada tubuhku, kemudian sampai pada cedeku, dielus-elus tititku. Senjata yang sejak tadi tegak maksimal itu, sekarang tambah ngaceng berat! Betapa tidak? Dipegang oleh tangan lembut, tangan seorang wanita ayu. Kemudian kubuka celanaku supaya tidak sakit tertekan celana.

Keberanian semakin meningkat, aku meraba bokongnya di balik cedenya, sambil menggesek-gesekkan pada pahanya yang mulus itu. Ketika aku bermaksud membuka cedenya, aku berkata:

“Ini boleh aku buka?”

“Jangan… Nggak, Giek, masa aku telanjang bulat… Kan nggak boleh itu?” sambil menahan tanganku.

“OK, I’m sorry, Mrs” kataku walaupun aku kecewa berat.

Namun tititku tegak bukan kepalang, melihat pahanya yang putih mulus dan bersih itu.

“Kita tidak lebih jauh ya Giek… Gini aja, kan sudah enak…? ” katanya sambil memegang tititku dibelai-belai lembut dan agak sedikit manja.

“OK, maaf Bu” kataku walau aku kecewa untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu jangan panggil aku Bu, Panggillah aku ‘Andi’ saja, agar lebih karib”

“Ya, terima kasih” kataku senang berbunga-bunga.

“Tapi aku takut Giek…” katanya lagi.

“Takut apa?”

“Kalau tetanggamu tahu..”

“Jangan kawatir Bu”

“Bu lagi…!” sergahnya. Aku memang masih kikuk memanggil ‘Andi’ saja.

“Mereka tidak akan tahu. Seandainya tahu, merekapun tidak akan peduli. Lihat saja pagar mereka tinggi-tinggi, sehingga setiap aktivitas tetangganya tidak akan diketahui. Mereka individualis, dan tidak peduli.” kataku meyakinkan.

Kemudian aku tetap membuka kaosku, jadi aku sudah telanjang bulat. Walau hanya bercumbu aku tidak peduli, aku tetap telanjang, terserah dia mau telanjang atau tidak. Sebenarnya aku ingin sekali mencapai klimaknya, seperti yang tergambar dalam bf yang sering aku lihat. Aku ingin mempraktikkan, ingin merasakan yang sebenarnya! Walau aku pernah onani, tapi ingin sekali merasakan dengan perempuan. Namun saya tidak bisa memaksanya, saya takut fatal akibatnya, dia mau setengah telanjang, itu sudah luar biasa bagiku. Toh saya masih boleh ngeloni, meraba-raba pahanya mulusnya, memainkan puntingnya dan menciuminya dan menjelajah seluruh tubuhnya. Sudah cukuplah, pikirku. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saya pun tidak mengira sebelumnya sampai begini, paling tidak sejak di parkiran tadi. Peringatan bu Andi tadi membuat aku jera. Sekarang saya tidak mau merusak suasana indah ini. Kalaupun tidak boleh dimasukkan, akan aku masukkan lewat jepitan pahanya. Itu sudah lebih dari bagus, pikirku. Mungkin di antara pembaca berpikir, apa yang aku lakukan bisa menjadi bahan ejekan: “Bodoh amat itu orang, hanya dijepit saja sudah senang…” Ya begitulah kondisinya, Bro.

“nDik..” kataku

“Lah.. gitu, enakkan..?”

“Saya sudah telanjang begini, nih” kataku menggoda.

“Itu kan urusanmu, bukan urusanku” sambil tersenyum

Sebenarnya urusannya juga. Dia menikmati juga, terlihat cede pada bagian selakangannya sudah basah oleh cairan dari Mrs-Vnya. Lalu dalam lamunanku aku punya ide dan pikiranku berkembang: “Mengapa aku tidak bikin mainan miliknya yang lain, kan lebih mengasyikkan. Seperti di BF itu?”

Sementara dia terlentang, posisiku seperti merangkak, tanganku membuka kedua pahanya dan ku sibak cedenya ke samping pada bagian selakangannya yang ditumbuhi rambut tipis itu. Saya menyinari dengan lampu hp, selakangannya becek sampai membasahi cedenya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya mempermainkan antara ibu jari dan jari telunjukku. Dia sendiri membuka pahanya agak lebar lagi, sehingga belahan warna pink kelihatan jelas walau sebagian terhalang oleh cedenya.  Bu Andi mendesah lembut ketika aku memilin-pilin klitorisnya, dan jemariku yang lain masuk lorong pink yang mengeluarkan cairan itu, menari-nari menekan bagian atas lorong itu. Dia bergelincangan. Lalu aku mendekatkan mulutku pada tempik (vagina)nya itu, ujung lidahku menari-nari pada benda sensitifnya.

“Ah….” desahnya tertahan sambil kakinya bergelincangan.

Sesekali kedua bibirku mengatup-katup benda kecil berwarna pink itu, kemudian mengisap-isapnya berirama. Perempuan bertubuh indah itu mulai bergelincangan hebat seperti cacing kepanasan.

“Ah…uh… ah… uh… Giek..” suaranya lembut hampir tak terdengar. Saya tidak peduli, bahkan aku sedot-sedot terus kletorisnya dengan nafsuku, menyaksikan tingkahnya ini aku tambah bergairah dan bernafsu. Setelah bergelincangan hebat dia mengejang sambil mulutnya mendesis-desis. Sampai kepalaku dijepit kedua pahanya, aku tetap menyedot-sedot benda kecil itu, untuk menghilangkan kekecewaanku. Aku tidak peduli!

“Ahhh ….Mas…” desahnya lagi, dia rupanya orgasme. Baru pertama kali ini dia menyebut aku ‘mas’

Aku menghentikan aktivitasku mengeksploitasi V-nya, terlihat cairan dari vagina atasan mamaku itu mulai mengalir dan becek sekali, sehingga cedenya tambah basah kuyup. Kemudian aku mengambil tisu membersihkan V-nya, agak lembab lalu kutaruh lipatan tisu kering di antara Mrs. V-nya dengan cedenya. Saya berbaring di sampingnya sambil mengecup bibirnya. Setelah nafasnya teratur, kembali aku memilin-pilin pentil susunya. Lambat laun dia bergerak menindihku menciumi dadaku, kemudian bibirku dengan penuh nafsu tapi lembut. Menyodorkan susunya pada mulutku, lalu melorotkan tubuhnya ke arah kakiku, tititku dicepit di celah kedua susunya dan digesek-gesekkan. Beberapa saat kemudian melorot lagi, gerakannya seperti ular yang mlungsungi (ular yang mau ganti kulit), dia memasukkan tititku ke mulutnya dan dikulum-kulum lembut. Saya merasakan surprise enak luar biasa, seperti aku melayang-layang di angkasa luas. Nikmat abizz.

Bagaimana kalau saya keluarkan di mulutnya? Belum sampai saya keluarkan, tapi kemudian dia bergerak merayap ke atas dan menindih tubuhku sambil menggoyang-goyang pinggulnya setelah posisi selakangannya di tempatkan ketat pada tititku, kemudian digesek-gesek lembut. Tititku terasa basah oleh cedenya itu.

Kami tertidur sambil berpelukan, rasanya baru saja memejamkan beberapa menit, ternyata subuh tiba, sekitar jam lima dia bangun lalu ke kamar mandi. Akupun ikut bangun merapikan tempat tidur. Bu Andi memanggil aku dari kamar mandi. Aku mendekat dan pintu kamar mandi terbuka:

“Mandi sekalian yuk…”

“Sip…”kataku langsung mebuka seluruh pakaianku, lalu masuk kamar mandi. Di kamar mandi kudapati bu Andi sudah polos tanpa kain selembarpun. Saya menjadi takjub, seumur-umur baru kali ini melihat dengan mata kepala sendiri seorang perempuan telanjang. Tubuhnya benar-benar indah, cantik tidak hanya wajahnya tetapi sekujur tubuhnya cantik, indah mengundang gairah lelakiku bertambah. Pagi itu aku baru melihat tubuh bu Andi utuh, tanpa busana. Polos.. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat indah, susunya montok, pinggulnya bulat dan perutnya ramping, bentuk kakinya indah sekali. Pada pangkal pahanya membentuk huruf ‘V’ dihiasi rambut tipis. Tadi malam di tempat tidur, tidak seluruhnya kelihatan. Benar-benar perfect body orang ini, pikirku.

“Kok polos nDik, enggak pakai pakaian?” tanyaku heran

“Nggak. Kan mau mandi? Masak mandi pakai pakaian? Kalau saat mandi boleh polos” katanya.

“O.. gitu” kataku nggobloki. “Apa ya bedanya di tempat tidur?” pikirku.

Kami berdua mandi di bawah guyuran shower, saling menggosok dan menyabun. Saya senang sekali saya menyabun susunya, pinggulnya dan selakangannya. Demikian pula dia menyabun seluruh tubuhku dan menggosok tititku dengan sabun. Busa-busa sabun memenuhi seluruh tubuh kami berdua. Kami berangkulan sesekali membersihkan tubuh dari busa sabun di bawah guyuran air. Tititku yang ngaceng dipegang-pegang, kemudian dia agak berjinjit, dan saya agak menekuk lututku supaya alat kami beradu. Dia hanya menggesek-gesekkan kepala tititku pada klitoris dan lubang Mrs Vnya. Tapi aku diam saja, katanya tidak boleh lebih jauh tapi kok begini? Saya tidak habis berpikir. Kemudian dia memutar air shower lagi dan kami kembali bergulat di bawah guyuran air. Setelah mengeringkan badan dengan handuk, dia melilitkan handuk pada tubuhnya dan kuangkat ke tempat tidur.

“Bahumu kekar dan kokoh Giek. Aku suka kamu”

“Aku juga suka kamu nDik. Kamu cantik sekali” kataku

Aku membungkuk membaringkannya, tangannya tetap bergelayut pada bahuku dan menariku, katanya:

“Tuntaskan sekarang Yuk, Giek. Aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku tahu, kamu semalam sangat ingin kan? Aku sebenarnya juga seperti kamu, sudah lama aku jarang melakukan dan tidak terpuaskan. Mengapa tidak kita coba?” katanya retorik sambil meneteskan air mata. Lalu dia bercerita, bahwa suaminya sakit-sakitan, dan sudah jarang bermain kalaupun berhubungan, tidak sampai mampu memuaskannya.” katanya, aku menjadi iba lalu mengusap air matanya.

“Sayang, anduknya agak basah. Nanti kamu kedinginan” kataku

“Ganti yang lain aja, baru ambil anduknya” sahutnya. O ya, aku teringat dia tidak mau telanjang bulat di tempat tidur.

Aku meraih sarungku yang saya taruh di atas bantal, tidak saya buka lipatan seluruhnya, setengah terlipat kemudian saya tumpangkan pada bagian perutnya, sehingga pada bagian dada dan pinggulnya masih polos. Supaya dia tidak telanjang bulat.

Kemudian kami berdua bergumul di tempat tidur, saling mencium dan meraba. Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia membiarkan aku menikmati susunya yang ranum dan kenyal itu, sementara dadanya terasa bergemuruh. Puntingnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu aku dot kanan-kiri. Sesekali wajah kubenamkan di antara kedua susu indah itu. Sementara tangannya menyusup ke bawah, aku masih belum berpakaian sejak dari kamar mandi tadi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegak, seperti meriam itu. Akupun membelai selakangannya yang sudah basah oleh cairan hangat.

“Basah lagi nDik”  kataku

“Ya, sejak tadi malam juga sudah basah begitu” katanya agak malu-malu.

Kami kembali bergumul saling serang dengan ciuman-ciuman dan saling meraba, tititku dipegang dan di kocok-kocok lembut.

“Mantap… besar”

“Apa tidak biasa segitu”

“Enggak, ini besar, jumbo lagi..” katanya seketika itu.

Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegas, dan akupun membelai selakangannya. Lalu aku mempermainkan Mrs Vnya, sekarang sudah tidak terhalang cedenya, aku agak leluasa. Sementara aku menikmati selakangannya, dengan lidahku pada klitorisnya, jemariku membuka Vnya lebar-lebar dengan dominasi warna pink itu. Sekarang jelas sekali pemandangan indah itu. Sementara itu di sisi lain dia memegang tititku dan berusaha memasukkan pada mulutnya. Aku bergeser supaya senjataku dekat dengan mulutnya. Lalu di kocok-kocok sebentar kemudian dicepong kepalanya dan seluruh batangnya. Nikmatnya luar biasa.

Kembali kami bergumul, perempuan berkulit putih bersih itu menindihku, pada bagian pinggulnya saya taruh sarungku. Pinggulnya beringsut untuk mengambil posisi tepat pada senjataku, tapi tidak bisa, beberapa kali. Baru ketika tangannya memegang tititku dan menuntun pada lobang kewanitaannya sambil dia mendesah:

“Ahhh…” Agak seret, tapi bebas hambatan. Suatu kenikmatan yang teramat sangat. Betapa nikmatnya apa yang aku rasakan. Inilah kenikmatan baru yang aku rasakan, seolah-olah aku melayang-layang ke angkasa di antara awan-awan.

Setengahnya aku tidak percaya, semalam melarang, pagi itu dia yang mengajak dan lebih aktif? Tetapi rasa heranku segera aku kesampingkan. Saya fokus pada kenyataan apa yang saya hadapi. Rasanya nikmat dan enak sekali, luar biasa. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya bersenggama ini. Selama ini saya hanya berkhayal dan kemudian onani. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi, tititku masuk di tempik perempuan dan perempuan itu Bu Andi, atasannya mama. Dia tidak banyak bergerak hanya sesekali saja, akupun mengimbangi gerakannya di atas tubuhku, dengan lembut tapi menimbulkan rasa nikmat luar biasa. Rupanya dia menganut pepatah slow but sure itu. Pelan tapi pasti. Pasti enak!

“nDIk, semalam kamu menahan saya, tapi sekarang kamu yang aktif? Apakah kamu merasa saya paksa?”

“Enggak Giek… enggak. Saya tidak tahan dengan gempuranmu semalam dan tadi itu, aku menyerah… pertahanku bobol” katanya sambil menggoyang pinggulnya.

“Iya… boleh juga” kataku puas.

“Saya belum pernah diperlakukan seperti tadi oleh suamiku, seumur-umur. Dia selalu konvensional dan cepat selesai” katanya

Perempuan beranak satu yang berumur 10 tahun itu, kembali menggoyang-goyang lembut pinggulnya yang berbentuk sangat indah itu. Dadaku bergemuruh seperti langit akan menurunkan hujan lebat, bergetar keras bercampur dengan rasa nikmat tiada tara. Rasanya darahku mendidih dengan dahsyatnya, seluruh ototku rasanya ikut merasakan kenikmatan, yang dalam anganku aku setengah tidak percaya. Inikah Bu Andi, atasannya mama? Ini kenyataan bukan bayang-bayang dalam anganku atau mimpi.

“Pentilku emut Mas….” katanya manja, terbata-bata tanpa menghentikan aktivitas pinggulnya yang bergerak memutar, meliuk dan naik-turun, keluar masuk. Mulutku nyepong pentilnya, kedua tanganku mencengkeram ketat pantatnya, mengiikuti irama pinggulnya.

Gerakan perempuan lembut ini makin mempesona di atasku, sekitar lima menit dia meningkatkan gerakan pinggulnya, makin keras dan kuat sampai menggoncang-goncang tubuhku. Aku makin kuat mencengkeram kedua pantatnya yang indah itu.

“Ah….keluar…. Mas…. “ katanya terengah-engah, sambil menyapu mulutku dengan bibirnya, tapi aku belum mencapai puncak.

Sejenak diam, tetapi kemudian menggerakkan lagi dan lagi-lagi meleguh..”Ahh…” sampai akhirnya terkapar lemas di atasku.

Nafasnya berkerjar-kejaran, terengah-engah seperti habis fitness saja. Tanganku mengelus-elus punggungnya yang halus itu, sementara dia mencium bibirku dan sesekali menggerakkan pinggulnya. Beberapa menit kemudian kami bergulung, sehingga posisiku menindih tubuhnya. Kembali dia mencari sesuatu yang tertindih, kemudian aku menyambar lipatan sarungku kutaruh pada bagian perutnya untuk menutupi tubuhnya, walau di bawah tindihanku. Pelan-pelan aku mulai memompa perempuan bertubuh molek ini dengan pelan. Seperti gerakannya tadi naik-turun, keluar masuk. Sementara saya tembak, dia memandangi wajahku sambil meraba-raba dadaku dan punggungku, demikian juga pinggulnya digoyang yang berlawanan dengan irama gerakanku, sehingga menimbulkan efek nikmat. Ketika aku genjot masuk, dia menyambut dengan mengangkat pinggulnya, ketika aku berputar kekiri dia bergerak ke kanan. Selalu berlawanan dalam gerakannya, yang menambah kenikmatan. Tapi sebenarnya gerakan apapun yang kami lakukan membawa nikmat tersendiri.

Udara dingin tanpa terasa menusuk kulit kami, justru menambah nikmatnya kami bergumul. Suara detak-detak jam dinding memecah kesunyian kamarku, tetapi sebenarnya detak jantung kedua insan lain jenis, laki-perempuan ini saling berpacu dengan memburu, kejar-kejaran mencari puncak kenikmatan. Susunya yang montok selalu menjadi sasaran bibir, wajah dan tanganku untuk menyalurkan nafsu yang tiada terbendung ini.

“Rasanya terjepit nDik.., punyaku….” kataku karena merasakan lobangnya cukup sempit untuk punyaku. Tapi ini ternyata membawa nikmat sendiri.

“He-eh, milikmu yang kelewat gedhe. Pelan-pelan saja, biar lebih lama” katanya, sambil tangannya mengelus punggungku.

Sambil memompa tubuhnya dengan lembut dan berirama, aku memandangi wajah ayunya, demikian juga ia memandangiku. Aku teringat, ketika malam perkenalan itu, setahun yang lalu, saat dia memberi kata sambutan, pelan tapi wibawa sebagai seorang pemimpin. Demikian juga ketika memberi nasehat di suatu waktu, dengan ucapan:

“Secara akademik kamu lebih tinggi dari aku, tapi aku kan lebih lama menghirup udara dunia ini dan lebih banyak makan asam garam kehidupan ini daripada kamu”

“Ya Bu, terima kasih atas nasihatnya” kata ketika itu.

Sudah beberapa menit aku di atas, kedua kakinya kadang dililitkan pada kakiku, pahanya direnggangkan dan bahkan dirapatkan sambil mengatupkan kedua pahanya, sehingga terimbas pada kewanitaannya sepertinya mengisap-isap tititku dengan kuatnya. Aku memutar-putar pinggulku seakan mengebor milik bu Andi dan tubuhnya tergoncang diiringi dengan suara lirih “Ah….Say…”   Dengan perlakuan ini jelas membawa nikmat luar biasa.

Sesekali kedua tanganku lurus menompang berat badanku, lalu kuturunkan, bertumpu pada siku-siku sambil kedua telapak tanganku mempermainkan puntingnya dan meremas susunya. Kadang-kadang jemari kami berdua saling bertautan. Cukup capai, tapi aku tidak berusaha untuk melepas kenikmatan yang tiada tara ini.

Dari himpitanku itu, perempuan yang mengaku jarang diajak bermain cinta dengan suaminya itu berusaha keras menggerakkan pinggulnya memutar dan menggoyang lembut, dengan pesona dalam ritme yang tinggi. Wajah dan lehernya mulai membasah, berkeringat.

Rasa nikmat mulai menjalar keseluruh tubuhku mulai dari darah yang mengalir dalam tubuh secara deras dan terus menerus menerjang dan membakar dinding-dinding birahi, mendidih sampai menghempas dari berbagai penjuru tubuh.  Dengan tenaga yang menghentak-hentak itu akhirnya aku sudah tidak mampu mengendalikan laju semprotan sperma yang dahyat memancar dengan daya dorong tinggi dan kuat sekali masuk ke lobang kewanitaan Bu Andi, diiringi dengan rasa kenikmatan yang dahsyat pula.

“Ahh…. aku keluar Sayang” kataku…

“Akh… tuntaskan Yang, aku juga keluar lagi” katanya terengah-engah… dengan pipinya merona merah jambu sebagai ekspresi kepuasannya.

Puncak kenikmatan telah kami raih bersama, suatu kenikmatan yang seumur hidupku, baru kali ini kudapat dari seorang perempuan. Dan orang pertama yang saya nikmati adalah Bu Andi. Sosok wanita pendiam, tegas dan cantik tentu saja. Aku puas sekali.

Sesaat dia bergerak lagi dan “Ah..” rupanya dia orgasme lagi.

Beberapa menit aku masih menindihnya, sementara tititku masih kuat menancap, sayang kalau dicabut, saya masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.

“Aku puas sekali…Terima kasih ya nDik, kamu memuaskan aku” kataku sesaat setelah tititku lepas dari tempiknya, setelah beberapa menit mencapai puncak kenikmatan.

“Aku juga terima kasih. Kau mampu memuaskan aku, nikmat sekali rasanya. Tititmu terasa pas di milikku, walau agak ketat… Semula aku mengira, wah ini nggak muat, ternyata muat walau agak seret” bisiknya tersenyum. Setelah nafasku pulih membersihkan selakangannya dengan wash lap hangat, lalu tititku, dia yang membersihkan.

Pagi itu tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 06.27 menit, astaga kami bermain satu jam lebih. Kami masih berbaring bersebelahan, dia menutup tubuhnya dengan sarungku, kemudian memakai gaunnya. Hujan mulai reda, hening terdengar tetesan-tetesan air dari genting ke pelimbahan.

Saya ke dapur membuat roti bakar dan dia menyusul membuat teh panas.

“Wah, enak itu Giek…”

“Sip…” kataku sambil mengacungkan jempol dan mencium keningnya.

Kami berdua duduk di sofa di ruang tengah, sambil menikmati sajian pagi itu. Duduknya beringsut mepet denganku, tangannya ditaruh di paha saya dan membelainya, aku tersenyum, sesekali menyuapi aku dengan roti bakar.

“Jam berapa Giek..?”

“Setengah tujuh. Kamu berangkat ke kampus jam berapa?”

“Setengah delapan, nanti. Jam delapan masuk”

“Perjalanan cuma seperempat jam, dari sini..” kataku disambut anggukan kepala.

Aku mencium keningnya, lalu duduk dipahaku berhadapan dengan ku lalu menciumiku. Pertama pipi kemudian bibir saya. Sayapun menyambut ciuman pagi itu dengan senang bahkan aku melumatnya dengan hebat, sampai nafasnya terengah-engah. Dia merangkulku dengan kuat lalu menciumi leherku dan wajahku. Kami saling menyambut ciuman dengan ciuman penuh nafsu, kembali tanganku menyusup di balik gaunnya. Kemudian aku melanjutkannya ke atas meraih susunya, dia tidak berbeha. Dia rupanya lebih bernafsu pagi itu, dia merangsek terus dan duduk dipangkuanku sambil memeluk leherku.

“Lagi yuk…” katanya

Tanpa dimintapun, dalam kondisi begini aku tetap mempunyai hasrat yang sama, saya sangat bernafsu dengan perempuan ini. Sambil duduk, tangannya berpegangan pada sandaran sofa, saya melorotkan cedenya kemudian cede saya. Aku tidak membuka gaunnya, supaya tidak telanjang bulat. Kedua tanganku menompang sepasang bongkahan pantat bulat indah menggiurkan itu. Tititku jelas sudah siap tembak itu, dipegang dan dimasukkan ke lobang Mrs Vnya. Dengan gerakan naik-turun dan diselingi putaran eksotik, aku menarik roknya bagian depan ke atas dan nyepong dan meremas lembut susunya yang mengeras dan kenyal itu. Dalam waktu tidak terlalu lama dia mengerang lembut. Dia orgasme dan diam sesekali menggerakkan pinggulnya dan Ah.. keluar lagi rupanya.

“Aku keluar.…” katanya dengan wajah serius

Aku belum keluar. Supaya lebih leluasa, maka bu Andi saya angkat ke kamar dan saya naiki di tempat tidur seperti yang pertama tadi. Dan di atas tempat tidur itu saya mengulangi adegan menggairahkan yang penuh dengan pesona keindahan tubuh bu Andi.

Setelah selesai, bersiap ke kampus. Aku mengantarnya ke kampus, dalam perjalanan pulang saya mampir belanja di super market dan kembali ke rumah. Rasanya lama menunggu perempuan cantik itu sampai sore. Akhirnya tiba juga dia SMS minta dijemput.

Sesampainya di kampus, sore itu dia masuk ke mobilku, duduk di sampingku, sambil berkata:

“Aku nginap lagi di rumahmu ya Giek..” katanya sambil tersenyum penuh arti.

“Ya, saya welcome selalu..” kataku

Sore itu, sesampai di rumah, kembali kami bercumbu. Saling membelai dan mencium.

“Kita mandi dulu, yuk…” katanya sambil beranjak menarik tanganku memasuki kamar. Dia mulai membuka pakaiannya mulai dari jilbabnya, bleser dan kemudian celana panjangnya, aku membantu sampai menarik cedenya ke bawah. Lalu ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarku.

Dimulai sore itu sampai malam itu, aku mengarungi samudera birahi bersama bu Andi, sampai beberapa kali mencapai puncak, tiada bosan untuk mengulanginya. Relung-relung perasaan menyatu dengan tegarnya tititku ketika menghujam dalam-dalam Mrs Vnya Bu Andi. Perempuan ini memancarkan kepuasan pada guratan wajah bersihnya dengan rona merah jambu setiap mencapai orgasme. Kami merayakan setiap kepuasan malam itu dengan erangan yang dahsyat.

Minggu pagi harinya, aku terbangun pukul 05.00, biasanya aku lalu bangun, namun saat ini sayang aku tinggalkan tempat tidur. Bu Andi kelihatan masih pulas, dalam dekapanku, kaki kami saling berlilitan. Saya hanya memakai kaos, tanpa cede sementara Bu Andi hanya pakai cede dan kaos ku yang longgar sampai pada pahanya.

“Nggak usah pakai celana Giek..” katanya manja, tadi malam

Kami berangkulan dalam hangatnya selimut dan malas untuk bangun. Apalagi tangan Bu Andi memainkan tititku dan tubuhnya terus merangsek ketat ke arahku. Jam 06.00 kami baru bangun dan langsung mandi bersama. Ada bercak merah jambu di kedua pantatnya bekas cengkeraman telapak tangan saya. Setelah mandi kuangkat tubuhnya ke kamar, tidak lupa dia melilitkan handuk pada pinggulnya. Sebelum dia memakai cedenya, aku tarik dia untuk mengelus tititku, kemudian dielus-elus lalu dimasukkan dalam mulutnya. Pertama lidahnya menari-mari di atas kepala titit, lidahnya berjalan dari pangkal bagian bawah ke arah puncaknya, kemudian dikulum lembut, berkali-kali. Karena aku tak tahan, lalu aku minta main dogy style dan dia menurut saja. Jam setengah delapan baru aku antar ke kampusnya.

Lusanya, Senin pagi, aku terbangun jam 5, lalu kuantar ke stasiun, kali ini Bu Andi tidak sendirian, tetapi saya antar sampai di kota T. Saya tidak sampai hati, selama tiga malam aku keloni, masak saya biarkan saja pulang sendirian.

“Nggak apa-apa Giek, biasanya pulang sendiri, kan” katanya ketika aku berniat mengantar.

Akhirnya aku tetap mengantar, Senin itu aku mengatur tugas kantor untuk mengambil tugas dinas di kota T, mengunjungi kantor cabang perusahaan di kota T, dengan supervisi di sana. Itu alasan yang saya kemukakan ke atasanku.

“Kita seperti manten baru ya…Giek” bisiknya saat di atas kereta.

“Ya, manten baru tiga hari” jawabku

“Sampai milikku sakit, kena rudalmu selama dua siang-malam…” bisiknya lagi

“Sama nDik, saya juga begitu, rasanya lecet” kami tersenyum bersama.

“Kamu hebat sekali Giek, aku puas…” katanya

Di atas kereta tangan kami ‘bekerja’ di bawah selembar selimut, dia memegang tititku sementara aku, mengelus pahanya, karena Vnya katanya masih sakit. Kami tertidur.

Di stasiun T kami berpisah, saya langsung ke kantor cabang kami. Sesuai dengan izinku, aku supervisi beneran. Saat istirahat siang, saya menolak untuk makan bersama rekan kerja di kantor cabang, karena ada janji dengan Bu Andi makan siang bersama. Sesampainya di kantor Bu Andi, saya menuju ruangan mama, setelah saya telepon mama dan bilang; kalau nanti mampir saat istirahat. Tanpa mengetahui latar belakang kedatanganku, tahunya memang supervisi ke kantor semata, maka oleh mama saya dianjurkan menemui bu Andi dan di antar ke ruangannya.

Ketika membuka pintu, Bu Andi yang sudah tahu kedatanganku, dia pura-pura surprise dan menyalamiku. Bener-bener pemain watak. Setelah basa-basi seperlunya kami; mama, bu Andi dan saya makan bersama.

Sejak kejadian itu, setiap Jumat sampai Minggu, Bu Andi sering menginap di rumahku bahkan pernah walau kuliahnya libur, dia tetap berkunjung ke kota B, tentu saja menginap di rumahku. Saat liburan itu, dia mengajak keluar kota dengan bersepeda motor. Sabtu pagi saya ajak ke sebuah perkebunan buah di sana menikmati udara segar, indahnya panorama pegunungan dan makan buah tentu saja setelah bayar kepada yang punya kebun. Di sebrang sana ada hamparan bangunan tempat wisata. Siang itu kami berangkat menuju sebuah vila dan bermalam di sana. Jarak tempat wisata ini tidak jauh hanya 30 km dari kota. Kami menginap sampai minggu sore baru pulang.

Pernah pula kuliahnya berhenti satu semester dalam kurun waktu kuliahnya, dia cuti karena hamil, di saat itu aku yang berkunjung ke T. Hari-hari berikutnya bahkan ganti tahunpun, kami selalu meluangkan waktu untuk mengarungi lautan asmara, mengisap madu libido menuruti hasrat seksualitas kami berdua. Saya sering mengisi rahimnya dengan pancaran sperma yang menyenangkan dan dia puas. Pernah sehabis kami ML dia mengaku, walau sepertinya menguras tenaga, tapi selalu memetik kenikmatan dan kepuasan bulat dariku. Hebat.

Tamat.

SYARIFAH

Namanya Syarifah. Kulitnya putih bersih. Kulitnya terlihat sangat terawat, halus dan licin (tapi tentu saja saya belum pernah menyentuhnya). Wajahnya mirip banget sama Aishwarnya Rai, Miss Universe itu lho. Hidungnya mancung, matanya indah, bulu matanya lentik. Bibirnya apa lagi…nggak pernah kena lipstick tapi selalu basah dan menggoda. Bikin pengen nyipok dan French kiss habis-habisan. Pipinya sering merekah indah kalo digodain cowok-cowok. Semua cowok napsu sama dia…wajar lah, primadona kampus.

Gak Cuma wajahnya yang oke. Bodinya juga montok banget. Payudaranya yang gede dan indah itu gak bisa disembunyiin gamisnya yang longgar. Bokongnya yang indah apalagi. Kalo lagi jalan lenggak-lenggok indah, bikin ngaceng. Tubuhnya tinggi semampai, 178 centian lah. Kalo mau jadi model, pasti deh gak ada yang nolak. Aku jadi penasaran dengan betis, leher, atau kakinya bagaimana. Pasti indah banget.

Suaranya merdu. Kalo lagi nanya sama dosen, suara indahnya bikin terangsang. Apalagi kalo lagi ketawa. Wauh…gak nahaan.

sayangnya, gue Cuma bisa ngiler doang. Jilbabnya gede banget khas aktivis kampus. Pengen ngentotin dia tapi kayaknya gak mungkin. dia udah nikah. Sama mahasiswa juga. Huh, bikin emosi aja.

Tapi, mimpi itu akhirnya jadi kenyataan. Gue bisa ngentotin dia habis-habisan. Dari memek, mulut, sampai bokong semuanya gue tusuk. Sempet malah penis gue jepitin ke toketnya yang gede itu. “uh…ah…”suaranya yang indah dan matanya yang sayu bikin pengalaman itu gak pernah terlupakan.

Semuanya berawal ketika suaminya main ke kampus. Kebetulan gue lagi nongkrong di tempat sepi. Dasar suami-istri, si suami gak nahan lagi. Iya lah, kalo punya istri seperti itu siapa sih yang tahan. Akhirnya, di pojokan kampus mereka mulai beraksi.

Suaminya mengecup dahinya, terus bibirnya dilumat. Gila, jago juga French kissnya. Lidah keduanya dengan buas saling berpagutan. Wajah keduanya sayu, menyiratkan nafsu yang amat sangat. Tangan suami Syariffah kemudian meraba-raba payudaranya dari luar gamis. Diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Beberapa saat kemudian, lidahnya kemudian menjilat-jilat payudaranya tersebut.

Aku tegang luar biasa. Tanganku udah memegang penis yang mulai membesar. Apalagi setelah Syarifah mulai mengerang-erang. “Ahhh…enak…terus…enak…masss…”. Rupanya gamisnya udah dirogoh rogoh sama suaminya. Tangannya menyelusup dari bawah. Gamisnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang luar biasa indah itu. Betisnya juga indah banget. cepat, kancutnya udah dilepas turun. Warnyanya pink. Tapi, gamisnya masih kepake, sementara baju atasnya udah kebuka. Beha tidak lagi mampu menampung payudaranya yang sempurna. Seakan meloncat, toket gedenya lepas dari beha dan membusung iindah. Oohhh…seandainya gue suaminya.

Payudaranya semakin membusung karena terangsang. Warnanya putih mulus, sampai uratnya kelihatan dikit. Pentilnya yang merah jambu tegang menantang. Wajahnya juga semakin sayu merayu. Ahh…mass…

Suaminya mengeluarkan kontolnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata ia nggak ada reaksi apa-apa. Kontolnya tetep pada ukuran normal.

Keduanya lalu bergumam lirih. “Maafin mas ya…mas gak bisa muasin adek…”. Syarifah Cuma tersenyum merana. “Gak papa kok bang. Ini kan bagian dari terapi. Pasti bisa suatu saat nanti…”

Suaminya terduduk lesu, sementara Sarifah kemudian memainkan putingnya dengan tangannya sendiri. Diputar-putar dan dipilin pilin toketnya yang indah dan besar itu. Matanya merem melek menyiratkan kehausan atas kenikmatan seksual yang nggak pernah didapatnya dari suaminya. Sesekali dia meremas toketnya dan membawanya ke atas untuk dijilati dengan lidahnya sendiri. Ia menjilatinya kehausan seperti menjilati permen. Suaranya indah, merayu, tapi sendu.

Kesempatan nih! Kontol gue yang udah ngaceng akhirnya bisa ngentotin dia juga. Suaminya yang sedih segera gue bekap sementara Ifah masih asik masturbasi. Gua ikat dia. Nih, tonton cara laki-laki sejati memuaskan Istri.

Aku segera meluncur. Sayrifah gelagapan ketika toketnya tiba-tiba gue remas-remas dengan penuh nafsu. Keterkejutannya gua sumpal dengan ciuman maut di bibirnya yang seksi dan ranum. Dasar nafsu, ternyata ia menyambut juga dengan lidahnya.

Gamisnya segera gue pelorotin.wow, gadis berjilbab ini tinggal polos. Tinggal jilbabnya aja yang semampir. Aku tidak bosan memandang tubuh yang sudah haus seks ini. Dadanya membusung dan mulai berwarna kemerahan. Bodinya ideal: pantat gede, betis oke, kaki jenjang, jemari lentik. Memeknya terlihat indah. Kue apemnya terlihat besar merangsang dan mulai basah oleh cairan nafsu.

Tadinya, dia protes. Tapi nafsu rupanya udah gak ketahan. Istri sholehah ini akhirnya diam saja ketika gua raba-raba. Aku pilin pilin putingnya dengan teknik canggih. Kutelusuri tubuhnya dari bawah ke atas. Mulai dari kakinya yang mulus itu. Gua jilat jmarinya yang bersih karena selalu tertutup kaos kaki. Terus ke atas, ke betisnya yang indah. Aku gigit-gigit kecil. “Awww….awas….nanti kamu kulaporinn,,,uhh….”

Mulutnya memang protes, tapi tubuhnya mendukung aksiku. Lidahku naik dan menemukan sasarannya. Pertama, kucium-cium dan jilat perutnya yang rata dan indah itu. Sementara tanganku masih memutar-mutar dan memilin-milin toket dan putingnya yang tegang dan membusung terangsang. Berikutnya, lidahku akhirnya mengaduk-adik liang kewanitaannya yang sudah terangsang berat. Rasanya yang unik menambah nafsuku. jembutnya halus menggelitik penisku.

Akhirnya, kumasukkan jari-jariku bermain di liang rahasianya. Sementara mulutku gentian … …meskipun sudah lemas. Aku masih ingin menikmati tubuhnya.

Penisku segera kuangkat ke atas. Kusuruh gadis sholehah ini duduk berjongkok. TAngannya kubimbing mengocok penisku. Ia meronta tapi sia-sia. Sensasi yang kurasakan luar biasa ketika tangannya yang halus lembut dan lentik itu mengocok kontolku. Nikmat sekali.

Akhirnya, kumasukkan kontolku ke mulutnya yang indah itu. Wajahnya yang masih memakai jilbab terlihat semakin cantik dan terangsang. Tadinya ia menolak dengan menutp mulutnya. Namun, kontol yang udah licin karena cairan kewanitaannya ini akhirnya bisa masuk. Ia akhirnya mengulumnya dengan indah. Jauh lebih enak daripada pacarku.

Hampir 10 menit penisku dikocok di mulutnya. Auh….seruku kenikmatan, Akhirnya, aku meledak juga. Tumpahlah spermaku di mulutnya. Matanya kelihatan terkejut karena spermaku tertelan. Ia muntah-muntah dari bibirnya yang seksi.

Aku kemudian mengocok penisku yang mengecil. Ku French kiss dia beberapa menit. Payudaranya tiba-tiba mengencang lagi. Wow…indah membusung. Dengan sigap, burungku yang tadinya kecil ini membesar lagi. Kujepitkan di antara payudaranya yang besar. Payudaranya berguncang-guncang indah ketika kugenjot dia. Ahhh uhhh…desisnya gak karuan.

Payudaranya yang ngaceng semakin besar. Mulutnya semakin basah oleh air liur. Memeknya mulai basah lagi. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ia orgasme lagi yang kedua. Awwww….Kali ini cairannya menyemprot jauh.

Kuambil sisa-sisa cairannya sambil merogoh-rogoh memeknya yang basah dan memerah jambu. Kuusap-usap di pentilnya yang indah. Kemudian, kujilati dan kugigit-gigit toketnya itu dengan bernafsu. Ia menggelinjang keenakan lagi, meskipun terlihat sangat lemas.

Akhirnya, tiba saatnya bagiku. Kubalik badannya dan terlihatlah bodinya yang indah. Bongkah pantatnya sangat menggoda. Tadinya aku pengen doggy style. Tapi, sepertinya lebih enak untuk anal seks.

Kumasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan indah. Kujejalkan ke anusnya yang sempit. Ia berteriak kesakitan. Teriakan yang indah. Kugenjot-genjot terus pantatnya yang padat berisi itu. Tubuhnya putihnya berguncang-guncang. Payudaranya naik turun sementara ia terus mendesah-desah. Kepalanya yang tertutup jilbab mengangguk-angguk kenikmatan. Lidahnya terjulur keluar, tidak mampu menahan nikmatnya. Tanganku menangkap toketnya dan memilin-milinnya. Akhirnya kami orgasme bersamaan.

Ohhhh! Crottt!

Kucabut penisku yang belum selesai muncrat. Kuhadapkan wajahnya yang cantik itu. Wajah sayu yang cantik itu kutembak dengan sperma. Wajahnya berlumuran cairan cinta, sebagian mengenai jilbabnya.

Tidak berhenti di situ, kusiramkan spermaku di tubuhnya kemudian kuoles-oleskan ke seluruh tubuhnya yang idah. Betisnya, lehernya yang jenjang, kakinya yang indah, perutnya yang sempurna, sekarang semuanya terkena sperma, ludah, dan cairan kewanitaannya. Ia tampak berkilauan. Bodinya yang montok semakin indah. Ia tergolek lemas….dan berbisik…”innalillahi….”

Untuk terakhir kalinya. Aku ngentot cewek yang udah lemes ini dengan doggy style sampai beberapa kali. Kumasukkan juga pisang ke vaginanya. Suaminya pingsan melihat istrinya diperlakukan sebejat itu. Sebaliknya, Syarrifah seperti menikmatinya. Ia orgasme sampai beberapa kali. Yang paling aku suka, tubuhnya menggelinjang indah, dengan pantat padat dan toket yang bergoyang-goyang menggoda. Matanya menyiratkan kesedihan, sekaligus kepuasan yang luar biasa.

6 SAHABAT PART 2

“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut
“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut

***********************

“Gini?”
“Bukan neng, gini harusnya.”
“Ah, bener, lebih pas.”
“Nah kan, apa saya bilang, kalo udah pas gini kan enak.”
“Ya tapi mas, soalnya kan susah, jadi gak bisa langsung ke baca.” Kilah Revi di hari Rabu itu. Jadwal belajar Fisikanya dengan Gio. Kali ini di rumah Revi.
“Vi, kemaren kamu udah bisa baca jenis soal kayak gini. Sekarang kenapa? Ko gak fokus. Problem?”
“Engga, ga ada apa-apa mas.”
“Yakin? Ya sudah kalo emang gak ada apa-apa mah. Tapi kamu jadi kurang fokus aja.”
“Hm, sebenernyaaaa ada sesuatu sih, tapi masih bisa dihandle.” Revi tersenyum. Senyum yang Gio tahu pasti dibuat-buat.
“Kalo ada apa-apa, kamu jangan ragu-ragu cerita ke saya. Nyantey aja. Ya?”
“Siap deh mas.”

“Tapi, itu ko ada kecoa di kerudungnya gak bilang-bilang?” Ucap Gio kala ia melihat memang ada kecoa di kerudung Revi.
“Hah, aaaaa, mana? Mana?”. Revi teriak, meloncat, dan refleks memeluk Gio, Gio sendiri tidak menyangka hasilnya bakalan seperti ini.
“Glek.” Empuk, ketika Gio merasakan sepasang buah dada Revi yang bulat empuk itu menyentuh dadanya. Gio menyingkirkan kecoa itu, tapi Revi masih juga memeluk dirinya. Dibiarkan beberapa saat walaupun hal ini mau tak mau mebuat penisnya keras, kemudian Gio berkata, “Mau ampe kapan nih meluknya? Bayar loh.”
Revi kaget, tersipu, dan melepaskan pelukannya pada Gio. Pelajaran kali ini diakhiri dengan perasaan canggung di kedua pihak.

Tak lama setelah Gio pulang, Revi terbaring di kasurnya, tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, namun kembali dia teringat Bima, pertemuannya dengan Bima dan Yuni Jumat kemarin masih berbekas di benak Revi. “Apa benar Bima ama Yuni? Tapi Yuni kan udah ada Satrio, ato mereka emang backstreet?” Ada perasaan iri dan cemburu di hati Revi. Perasaan yang segera ia simpan. Kemudian ia ingat Rian. Membuka HP nya, masuk ke Gallery, dan melihat foto Rian. Revi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Udahlah.” Pikirnya, dan kemudian Revi berdiri, membuka kerudungnya, dan masuk ke kamar mandi.

Teringat lagi kejadian tadi dengan Gio, dan Revi berusaha mengingat-ngingat kembali, kapan terakhir kali dia dipeluk oleh laki-laki. “Sudah lama.” Revi lalu menanggalkan seluruh pakaiannya, bersiap untuk mandi. Dan ketika menyabuni dirinya, pas dia memegang buah dadanya, kembali dia berpikir, mengingat terakhir kali dadanya itu diemut, dan putingnya dipilin. Tanpa Revi sadari, dia mulai menyenyuh dirinya, meremas sendiri buah dadanya.
“Aaaahhhh, ssssss” Revi mulai merintih, dan merasa geli. Tangan kanannya turun ke arah selangkangannya, menyentuh vaginanya, bermain disekitar belahan vaginanya.

“Hhhheeeeuuu, ah, sssss, ahhhh …… “ Jarinya menemukan klitorisnya, dan Revi bermain disitu, di tempat yang belum pernah disentuh oleh laki-laki. Mantannya pun dulu, walaupun pernah memainkan vaginanya, namun belum menemukan bagian ini.
Lima menit sudah revi menyentuh dirinya sendiri, sampai. “Aaaaaaahhhhhsssssss …… hah hah hah.” Orgasme dahsyat melanda Revi, setelah hampir 2 tahun dia tidak merasakannya.

================================

Gio memacu motornya dengan cepat, tujuannya sudah pasti, rumah Ima. Kejadian tadi dengan Revi benar-benar membuatnya naik. Di simpannya kuda besi di halaman rumah Ima, dan langsung dia menuju pintu, baru saja hendak digoyangkannya bel gantung di pinggir pintu, ibu Ima keluar. “Eh, Gio, mau ke Ima? Imaaaa, ada mas Gio nih.”

“Loh, Ibu mau ke mana?” Tanya Gio.
“Ke rumah neneknya Ima, sakit katanya, bapaknya Ima udah di sana, jadi Ibu mau nyusul. Udah makan belum? Kalo belum di meja masih ada makanan.”
“Udah ko Bu, tapi nanti kalo tiba-tiba rasa lapar datang menerjang, pasti ikut makan, haha.”
“Ya sudah, Ibu pergi dulu.”
“Ya, hati-hati Bu.” Gio memperhatikan sampai ibunya Ima menghilang dari pandangan sambil berpikir, “Mana nih si Ima, lama banget keluarnya.” Namun tak lama kemudian Ima keluar, segar, rupanya dia baru beres mandi, menggunakan kaos putih pendek, yang ditutup oleh jaket hitam, celana piyama dan kerudung langsung pakai berwarna putih.

“Hai Mas, dari Revi?”
“Iya, kangen Ima, jadi langsung ke sini.”
“Huuuu, gombal. Masuk mas”
“Pada kemana Ma?”
“Si kakak pulang malem, mamah dan papah di nenek, Ima tadinya udah ma….. mmmppphhhhf.”

Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Gio langsung menyambar bibir Ima. “Mas? Mhmm …. ah, slurp.”
Tangan Gio langsung meremas buah dada Ima, padat, kenyal, “Aaaahhh … mas.”
Bernafsu, Gio membalikan tubuh Ima, memeluknya dari belakang, tangan kirinya menyentuh pipi kiri Ima, mendorongnga agar Ima melihat ke arah kanan, kemudian kembali melumat bibir Ima, lembut, namun tetap bernafsu.

Lidah mereka saling melilit satu sama lain, kedua tangan Gio kini sudah berada di atas kedua buah dada Ima, meremasnya, memainkannya. “Ah, massss, masih di ruang tamu ini, aaahhhhhh, enak tapi, terusin dulu, aahhhhhh ….. “
Gio tidak menyia-nyiakan kesempatan, dilepaskannya jaket hitam Ima, dan dinaikannya kaos Ima ke atas, dia langsung menyentuh buah dada Ima dari atas BH nya. Tidak puas dengan itu, Gio melepaskan kaitan BH Ima, dan langsung memainkan puting Ima yang sudah berdiri, memilinnya, dan kembali meremas dada Ima.
Ima sendiri tampaknya terbawa oleh nafsu, dari mulutnya keluar rintihan yang menggairahkan, hal ini menambah nafsu Gio. Mereka terus berciuman, dan Gio pun mulai beralih dari mulut Ima ke arah telinga Ima yang masih tertutup kerudungnya. “Mas, aaaahhh, geli mas.”
Gio menyingkapkan bagian kanan kerudung Ima, dan dia langsung mencium leher Ima yang putih mulus, menjilatinya, membasahinya. Penis Gio dia tekan dengan keras ke pantat Ima “Ah, Ima, susu kamu bener-bener bagus Ma. Putingnya juga.”

Tangan kanan Gio kemudian turun ke selangkangan Ima. Ima sendiri langsung berteriak kecil. Piyama yang digunakannya terbuat dari kain yang tipis. Otomatis, kini jari Gio lebih terasa menyentuh belahan vaginanya. Gio sadar akan hal ini, apalagi dari nafas Ima yang semakin memburu dan rintihannya.
Sementara tangan kirinya tak henti meremas dada kiri Ima, tangan kanannya terus saja menggesek vagina Ima dari luar piyamanya, dan penisnya terus Gio tekan ke pantat Ima. Bibirnya sendiri sedari tadi sudah kembali menemukan bibir Ima. Dan tangan Gio sudah merasakan selangkangan Ima semakin lembab. Gio paham betul hal ini, karenanya terus dia mainkan jari-jarinya sampai akhirnya Ima mendapatkan orgasmenya.

“Mas, Imaaaa, aahhhh, keluar mas.” Lemas, Ima langsung duduk di lantai ruang tamunya. Gio mengangkat Ima dan mendudukannya di sofa. “Saya belum keluar Ma.”
“Ya, mas mau peting?”
Rupanya Gio ingin lebih, ini dibuktikannya dengan langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya, tidak mempedulikan protes Ima.
“Tolong kocokin sayang, ya? Mau ya?”
Kali ini Ima merasa sangat tidak enak, kemudian dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh penis Gio, untuk pertama kali Ima menyentuh kemaluan laki-laki, “Ya, kocok Ma.”

“Gini?” Ima bertanya sambil mengoco penis Gio dengan tangannya yang halus. “Iaaa, gitu sayangngng, ah, terus Ma.” Gio mendesah dan mengerang. Cairan pelumasnya pun sudah banyak yang keluar dari ujun penisnya. “Ma, mau keluar Ma, kocok yang lebih cepet lagi Ma. Ah ah ah, Ma, keluar, Imaaaaaa …”
Dan, crooott, spermanya keluar, muncrat, sebagian mengenai kerudung Ima, sebagian ke sofa, dan sebagian ke kaos Ima.

“Ahh!” Ima berteriak kaget. “Ih, Mas, jorok banget deh.” Apalagi ketika Ima sadar di tangannya pun terdapat sperma Gio. Gio sendiri hanya tersenyum puas. Ima kemudian membersihkan semua sperma Gio dengan tisu. Gio kembali memeluk Ima dan berucap, “Terima kasih cinta.”

Tapi rupanya itu tadi itu belum cukup buat Gio, dia kembali menciumi Ima, dan kali ini yang menjadi sasarannya sudah pasti adalah puting Ima. Ima yang masih kaget kembali tersentak, namun kali ini oleh rasa nikmat yang dirasa, apalagi ketika Gio membuka mulutnya lebar-lebar dan menyedot buah dada kananya, hampir seluruh buah dadanya masuk ke mulut Gio, “Aaahh, mas, enak mas, ah, ya, itu, mainin puting Ima mas.” Rengek Ima.
Gio menidurkan Ima di atas sofa, menindihnya, kembali melumat buah dada Ima. “Cupangin mas.” Kembali Ima merengek. “Kiri ato kanan?”
“Dua-duanyaaaaa, ah, enak.”

Gio terus membuat tanda, tapi dia tidak berhenti di dada, naik ke atas, Gio memberikan cupangan di leher, membuka sedikit kerudungnya ke atas, dan dia mencium telinga Ima langsung, tanpa tertutup oleh kerudung.
“Mas, geliiiii, aaaakhhhh ….”
“Tahan sayang, ntar juga enak.”
“Geli mas, gak kuat. Ssssss … Aaakhhh.”

Sedikit demi sedikit Gio mengangkat kerudung Ima, sampai akhirnya kerudung langsung pakai itu terlepas dari kepala Ima, dan terlihatlah rambut Ima yang hitam dan panjang, lehernya yang benar-benar jenjang dan putih. Gio langsung menyambar mulut Ima, dengan kedua tangannya bergerak dikepala Ima di antara rambut Ima yang indah.

Penis Gio yang belum dimasukkan ke dalam celananya menekan-nekan vagina Ima dari luar piyama, dan ini otomatis lebih dirasakan pula oleh Ima. Penis Gio langsung dan piyamanya yang tipis. Mereka terus saling tekan, saling raba, dan saling cium. Sampai mereka merasakan orgasme hampir berbarengan. Dimulai dari Gio, yang keluar dan disertai dengan dorongan pinggulnya yang kuat ke selangkanyan Ima, dan diikuti oleh Ima. “Ah, mas, Ima keluar mas.”
Ngos-ngosan, Gio masih berada di atas tubuh Ima. Memeluk Ima, dan mencium keningnya.

Gio merasa puas, kali ini permainannya dengan Ima sudah lebih jauh, tapi dia merasakan hal lain. Ya, peristiwa dengan Revi tadi. Dan yang jadi masalahnya, dia sempat bekhayal bahwa yang tadi dia remasi dan mainkan adalah buah dada Revi.

*****************************

Hari Sabtu, beberapa minggu setelah pertemuan Rian-Revi dan Bima-Yuni di bioskop, Ima mentraktir para sahabatnya makan. Hari ini ulang tahunnya ke 18. Udin membawa Icha, dan menyatakan kalo mereka udah jadian lagi. Namun yang sempat membuat suasana canggung adalah Bima yang membawa Yuni. Karena semua tahu, Yuni masih berstatus pacarnya Satrio.

Namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama, namun tetap saja, Yuni merubah suasana. Bahkan Rian pun beberapa kali mencuri pandang pada paha Yuni yang kebetuan saat itu menggunakan gaun dengan rok di atas lutut. Putih dan bersih.
Udin pun walaupun ada Icha, masih mencuri-curi pandang juga. Setiap ada kesempatan, pasti di ambil. Hal ini diketahui oleh Revi. Berkali-kali dia melihat ujung mata Rian melirik kaki Yuni yang panjang dan seksi. Namun dia diam saja. Bingung harus bertindak seperti apa.

“Saya ke aer dulu.” Bima berkata pada suatu waktu.
“Bareng Bim.” Rian mengajak. Di toilet Rian memberanikan diri bertanya ke Bima “Bim, kamu sahabat saya, saya gak mau ada apa-apa ama kamu dan Satrio. Maksud saya, siapa sih yang gak seneng ama Yuni. Cantik, seksi, putih, pokokna mah, wah! Tapi status dia masih ama Satrio. Kamu yakin?”
Bima hanya tertawa kecil, lalu menjawab “Ya, mau gimana lagi Yan, untuk saat ini kami nempel kayak perangko.”
“Gelo maneh Bim. Cari masalah. Tapi, ya, kalo ada apa-apa saya ada buat kamu. Terus maksudna nempel itu apa? Udah ah uh ah uh kalian?”
“Jiah, kayak gak tau Bima aja Yan. Udahlah, hahaha.” Jawab Bima dengan nada bangga.
“Anjrit, sirik uy.”
“Lah, kamu juga yang gak baleg. Si Ifa yang cantiknya bukan maen itu kenapa kamu jauhin. Si Atika juga, perempuan cantik gitu dengan body aduhai, walopun pake kerudung juga, tetep cakep, kenapa kamu gak mau?”
“Belum mau Bim. Bukan gak mau. Ngomong-ngomong, udah diapain aja si Yuni?”
“Hahahaha, mau tau? Tar saya ceritain.”

=======================

“Huft, cape mas, udah dulu ah.”
“Ya udah Vi, gimana tuan putri ajaaaaa.”
Sore itu kembali Revi dan Gio belajar bersama. Revi bener-bener mengejar ketinggalannya di Fisika. Supaya lulus UN ujarnya.
“Eh Vi, sori nih nanya, kenapa kamu masih jomblo, kamu cantik, baik, tapi ko sendiri?”
Revi terdiam, tapi akhirnya menjawab “Gak ah mas, sakit hati ama yang kemaren juga. Tar aja lagi. Nyantey.”
“Dasar, emang sakit hati kenapa?” Gio bertanya lebih jauh.
“Ya gitu deh, dia ternyata udah tunangan.” Entah kenapa, Revi ingin menjawab. Beberapa waktu berdua dengan Gio membuat Revi nyaman. Gio enak untuk diajak cerita, tidak menghakimi, dan tidak pernah sekalipun melihat dari sisi negatif.
“Ya, bodo dia. Perempuan cantik kayak kamu disia-siain.”
“Emang Revi cantik mas? Cantik mana ama Ima?”
“Ya gak bisa dibandingin gitu atuh Vi, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kamu pasti kalo lagi, ehm, gitu,” Gio menekankan pada kata ‘gitu’ “pasti berisik. Ya?”
“Ih, sok tau. Hehehe. Tapi bener sih, pernah Revi ampe di tutup mulutnya gara-gara berisik.” Jelas Revi.
“Tar, ditutup mulutnya? Emang lagi diapain?”
“Hm, jangan bilang-bilang ya? Itu, di emut.”
“Apanya? Hahahahaha.”
“Idih, itunya. Emang mas suka ngemut apanya Ima?”
“Baru dada ama putingnya si Vi.”
“Jiah, baru, emang mau ngemut apa lagi mas? Dasar.”
“Tapi, kamu udah pernah oral?” Gio kembali bertanya.
“Hm, udah sih, terakhir gitu, Revi ngoral dia. Ampe disuruh bersihin mani nya dia malah. Tapi udah itu tunangan dia dateng. “
“Hmmm.” Gio merenung, entah apa yang ada dipikirannya.
“Mas udah pernah di oral Ima?”
“Belum, baru dikocokin doang. Enak, hahahaha.”
“Dasar cowok, udah ah, ganti topik.”
“Haha, iya, tapi ngomong-ngomong, suka ngerasa pengen lagi ga Vi?”
“Hm, gimana ya? Hehehehe, masih mas.”

====================================

“Serius Ma? Bima udah gituan ama Yuni?” Revi mengklarifikasi ucapan Ima sebelumnya.
“Beneran, kata Yuni. Dia Ima tanya waktu itu, Ima gak mau Bima dan Yuni jadi susah. Kamu kan tau, Ima ama Yuni sebangku di kelas X. Terus dia cerita, kalo sebenernya Yuni suka ama Bima. Dan mereka udah beberapa kali ML. Tapi Yuni juga masih ada rasa ama Satrio.” Jelas Ima.
“Gak bisa gitu dong. Itu kan sama aja maenin Bima. Ko gitu si Yuni.” Protes Revi bersemangat. Padahal, sebagian kecil dari hatinya luka. Revi sadar akan hal ini. Cemburu dan iri. Cemburu pada Yuni dan iri dengan apa yang dilakukan Bima pada Yuni.
“Gak juga. Soalnya dilakukan tahu sama tahu dan suka sama suka, tanpa ikatan. Mereka bisa berhenti kapanpun mereka mau, kata Yuni. Tapi, yaaaa, gitu deh. Apalagi si Bima, kaya kucing nemu ikan. Pasti didahar, kayak gak tau sahabat kita satu itu Vi. Makhluk nekad dia mah.” Ima menjelaskan. “Pokoknya, kita gak usah ngehakimin mereka. Yang penting, sebagai sahabat kita harus selalu ada.”

Perbincangan di waktu istirahat tadi membuat Revi diam selama sisa jam pelajaran. Menjadi tidak fokus malah, berkali-kali dia ditegur guru pada jam-jam itu. Revi kembali melikah bangku kosong Bima dengan pandangan kosong. Ini tidak luput dari perhatian Rian.
“Revi, kamu bener ada hati buat Bima ya?” Pikir Rian, dan terlintas dipikirannya bahwa kedekatan Rian dengan Revi selama ini sebatas sahabat bahkan hubungan adik dan kaka. Revi sudah melihatnya seperti itu. Rian menarik nafas panjang dan melepaskannya. Sampai Udin di sebelehnya berkomentar, “Ngantuk maneh Yan? Ke aer gih, sambil saya nitip gorengan.”
“Maneh waeee. Jenuh aja Din, kalo kamu mau gorengan, sana, saya nitip minum.”
“Jiah, teu jadi ah.” Keluh Udin.

================

Beberapa hari ke depan semua berjalan sama seperti biasa, hanya saja ditambah Revi yang sedikit out of focus dan Rian yang berbeda, Rian masih memuja Revi. Namun kini dia mau ngobrol berlama-lama dengan Ifa, Atika dan siswi lain yang mendekatinya.
Terutama Atika. Ifa memang cantik, sangat cantik malah. Namun entah kenapa Rian lebih senang dengan siswi berjilbab. Menurutnya terkesan lebih seksi dan menggairahkan.

Hal ini pun tak luput dari mata Revi. Pernah suatu waktu, Revi melihat Rian sedang tertawa lepas bersama Atika di pojok sekolah dekat parkir motor. Revi cemburu, ya, dia merasakan cemburu. Namun tidak seperti apa yang Revi rasa ketika mendengar hubungan Bima dengan Yuni. Tanpa rasa iri, namun rasa cemburunya lebih besar sebetulnya, hanya Revi belum sadar.

========================
Hari berganti hari dan minggu pun berganti, tidak terasa ini minggu terakhir Gio mengajar Revi. Tiga minggu lagi Ujian Nasional di mulai. Perkembangan Revi sangat baik menurut Gio, walaupun akhir-akhir ini Revi sedikit malas dalam belajar. Dan hal ini yang membuat Gio menawarkan solusi bagi Revi.
“Minggu besok ada kegiatan ga Vi?” Tanya Gio di akhir sesi belajar itu.
”Gak ada, kenapa Mas? “
“Tangkuban perahu yu? Kita Refreshing aja. Mau?”
“Hmmm, gimana ya? Ima gimana?”
“Gak apa-apa. Ya, tapi dia gak perlu tahu juga. Nyantey aja. Gak bakalan terjadi hal-hal yang amat sangat saya inginkan ko.” Tengan Gio menjawab. Kalimat terakhir sebetulnya sangat dia harapkan ada. Lumayan, Revi, siswi berjilbab yang cantik. Memang kalah cantik dari Ima, tapi setiap Gio berduaan dengan Revi, pandangannya selalu mencuri kesempatan untuk melihat buah dada Revi yang membusung kencang. Bulat.
“Hmm, liat entar deh ya. Kalo gak ada kegiatan apa-apa.”
“OK.”

====================================
Rian memandangi layar memandangi layar HP nya, dia memandang chat window antara dia dengan Revi. Sudah beberapa hari Rian ingin menghubungi Revi, dan ngobrol lagi sampai malam, namun rupanya dia masih belum berani. Alih-alih mengawali percakapan, dia membuka beberapa foto Revi yang dia miliki. Menciumnya, kemudian melakukan hal yang biasa dia lakukan sambil melihat foto Revi, onani.

====================================
Bima memandang keluar jendela kamarnya. Dia lebih menyukai perempuan berambut panjang. Apalagi mereka yang dengan tidak segan mempertontonkan keindahan tubuh mereka, putihnya paha mereka atau indahnya leher mereka. Namun tadi, ketika dia melihat Rian bersama Atika jalan bareng di toko buku, dia menyadari sesuatu, jilbab atau tidak, mereka tetap cantik dan seksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba adiknya naik, hanya memikirkan Atika dan membayangkannya. “Sial.” Gerutu Bima dalam hati, dan dia mulai memikirkan Ima dan Revi, sahabatnya yang cantik. Terutama Ima, karena Bima memang menyukai perempuan dengan kulit putih, dan Ima memang sangat putih dan mulus.
Tidak kuat, Bima langsung lari ke kamar mandi.

====================================

Udin melihat foto bareng dia dengan Icha. Mereka tadi sore iseng berfoto di booth foto. “Icha.” Gumannya lirih, dulu dia sangat mencintainya, kini pun masih, walaupun tidak dengan sangat. Dia mengelus foto itu. Icha memang cantik. Sawo matang, eksotis, bodi yang aduhai. Tapi ada yang kurang, ya, mantan Udin. Mantannyaterakhir bukan perempuan tomboy seperti Icha ataupun mantan-mantan dia yang lain, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dia gambarkan. Mungkin hanya sebuah pembenaran keadaan, dia laki-laki dan menyukai perempuan, titik. Bukan perempuan tomboy.

====================================

Ima melihat dada kanannya di cermin. Melihat cupangan baru yang tadi Gio buat. Tersenyum. Entah kenapa dia suka dilakukan keras, atau lebih tepatnya kasar ketika melakukannya dengan Gio. Dan dia menyentuh buah dadanya itu, meremasnya. “Kencang, masih kencang.” Pikirnya, dia sedikit khawatir, karena remasan tangan Gio di buah dadanya itu seringkali keras, belum lagi sedotannya.

Kemudian diamenyibakan rambutnya, sebuah tanda kecil juga ada di lehernya sebelah kiri. Kembali dia tersenyum, lalu berdiri, mematikan lampu kemudian berbaring di tempat tidur. Ima tidak langsung tidur, melainkan tangannya turun, membelai kemaluannya. Tadi Gio memainkan tangan dan jarinya disana, setelah satu tahun pacaran, baru tadi kemaluannya disentuh langsung oleh Gio. Basah, geli tapi nikmat. Dan Ima tahu ini salah, namun dia berharap, pada pertemuan lain kali, dia menginginkan Gio bertindak lebih.

====================================

“Cantik.” Pikir Revi ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Melihat alisnya yang lurus den lumayan tebal. Hidungnya yang bagus dan mancung, dan bibirnya yang memang indah. Bibir itu sudah dipuji oleh banyak orang, diantaranya Gio dan Rian, ya, bahkan Rian terlalu sering memuji bibirnya. Bima? Belum pikir Revi, Bima belum pernah memujinya.

Menguap, Revi kemudian berjalan menuju tempat tidur. “Huft, harus tidur nyenyak. Besok mau ke Tangkuban.”
Memejamkan mata namun tak lama kemudian dia kembali membuka matanya. “Mas Gio.” Rupanya ketika menutup mata tadi, Revi melihat bayangan Gio, laki-laki yang selama ini menjadi kekasih Ima, namun baru dia sadari kalo Gio penuh perhatian dan baik, dan diapun menyadari, kalo sebenarnya Gio sering memperhatikan dia. Tapi Revi membuang jauh-jauh pikiran itu. “Gio punya Ima.” Kemudian Revi tertidur.

====================================

Gusti belum memejamkan mata. Di sampingnya Lidya tertidur pulas tanpa pakaian. Tangannya mengelus rambut Lidya. Permainan tadi benar-benar dahsyat, dia sampai keluar 5 kali. Lidya sendiri entah berapa kali.
Dia mencintai perempuan satu ini. Walaupun masih belum pernah mengucapkannya. Namun dia yakin, jika ini adalah cinta. Karena dia tidak peduli kenyataan bahwa Lidya 2 tahun lebih tua dan bukan perawan lagi. Gusti tidak pernah bertanya siapa yang mengambil keperawanannya, dia selalu beralasan, nanti juga Lidya bilang kalo sudah waktunya.

Tangan kanan Gusti perlahan meraih buah dada Lidya, meremasnya. “Hmmmmmm….” Lidya mendesah, Gusti tersenyum, sadar bahwa adiknya mulai bangun. Dia melihat jam, pukul 11.30. Dia belum bisa tidur. Baru kali ini dia menginap di kamar Lidya. Masih belum terasa kerasan. Gusti memejamkan matanya berusaha tidur, namun di kepalanya kembali terulang adegan-adegan tadi, adegan gila yang mereka lakukan ………

**********

Gusti mengingat-ngingat kejadian tadi, ketika mereka baru saja sampai kamar kostan Lidya.
Gusti melucuti semua pakaian Lidya, kini Lidya tidak mengenakan sehelai benangpun. Terlihat badannya yang meliuk indah dengan kulit kuning langsat yang bersih. Rambut sebahunya tercium harum kala gusti menciumi telinga Lidya.

Malam ini keduanya memutuskan untuk tidur bersama di kostan Lidya. Tidak begitu jauh dari tempat Lidya bekerja, dan bukan kostan yang memiliki peraturan ketat dari para penyewa. Tadi siang Gusti dan Lidya berkeliling kota sampai malam ini, dan kini, mereka memutuskan untuk salking mengeskplorasi diri.
Ciuman Gusti merambat semakin turun, kini berada pada buah dada Lidya yang kanan, diciumnya dada Lidya dengan lembut, turun lagi ke perut Lidya yang rata, dijilatnya pusar Lidya dan dimainkannya lidah disitu.

“Mmmmm, geli Gus.”
Terus turun, ciuman Gusti bersarang di paha Lidya, dijitatinya paha yang mulus itu. Kemudian Gusti berdiri, dilumatnya bibir tipis Lidya, disedotnya bibir Lidya, kemudian dimainkan lidahnya.
Berhenti, Gusti memandang wajah Lidya, keduanya tersenyum. “Malam ini kamu milik saya Lid.” Gusti langsung mendorong Lidya ke tembok. Melumat bibirnya, sementara tidak henti kedua tangannya meremas kedua buah dada Lidya. Keras.
“Aaaakkhhhh, pelan Gus, sakitttttt…. “ Namun Gusti tidak mempedulikan rintihan Lidya, kini jarinya memainkan kedua puting Lidya, memilinnya. Tidak puas, mulutnya kembali turun, menjilati puting Lidya, menyedotnya, lalu menggigitnya.
“Guusssss ……. , ah ah, aaaaaahhhhh ….. “ Buah dada kanan Lidya masuk seluruhnya ke dalam mulut Gusti. Gusti benar-benar menikmati hal ini. Apalagi melihat wajah Lidya yang kesakitan namun menikmati.

Tangan kanan Gusti turun ke bawah, mengarah ke selangkangan Lidya, basah, jari-jari Gusti mencari klitoris Lidya, menggesekan jarinya dalam proses. Setelah ketemu, Gusti menggesekkan jarinya pada vagina Lidya, keras dan cepat.
“Sssshhhhhh. ….. aaaaaaahhhhh, Gus, ah ah, enak Gus, ya, gitu, ah ah aaaahhhhhh…” Tangan Gusti masuk ke dalam vagina Lidya, mengobel-ngobelnya, dan Gusti melakukan sesuatu yang baru pernah dia lakukan pertama kali, meniru dari film-film bokep yang sering dia tonton. Gusti mengangkat kaki kanan Lidya, menopangkannya pada kursi. Dan Gusti memompa vagina Lidya dengan dua jari yang dia masukan dalam vagina Lidya, semakin lama semakin keras, samapi terdengar kecipakan air vagina.

“Gus, pelan, gilaaa, aaaahhhh, Gustiiiiii, keluar, keluar, aaahhhhhhh.” Badan Lidya mengejang, membungkuk dan kedua tangannya memegan tangan kanan Gusti yang jemarinya asih berada dalam vagina Lidya.
“Hah, hah, hah, lemes, enak banget Gus. Tapi jijik ah, itu lantai basah banget.”
“Yey, punya sapa tu coba yang basahin? Hehehehe” Gusti kemudian membuka pakaiannya, dan menyodorkan penisnya ke Lidya. Tanpa diperintah, Lidya langsung bersimpuh di lantai. Memegang penis Gusti yang sudah mengeras, menjilatinya, tak lupa pelir Gusti dia basahi.
Namun rupanya Gusti tidak sabar, dipegangnya kepala Lidya, dan diarahkan mulutnya ke arah penis Gusti, memasukannya dan Gusti mulai mengentot mulut Lidya. Kedua tangannya meremasi rambut sebahu Lidya, terus memompa mulut Lidya, cepat dan dalam.

“Heggg, pwweln Gwus.” Namun Gusti terus memeompa penisnya, tanpa memberikan Lidya waktu untuk bernafas lega. Terus, terus dan terus. Gusti beberapa kali menekan pinggulnya ke kepala Lidya, menyebabkan penisnya masuk sampai ke tenggorokan Lidya, terus memompa sampai, “Aaaaaarrrggh… “ Melenguh panjang, Gusti menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Lidya menekankan lagi pinggulnya, mendiamkan penisnya beberapa saat dalam mulut Lidya, lalu beru mencabutnya.
“Uhuk huk, aahhhh.” Lidya terbatuk, meludahkan sebagian dari sperma Gusti dan berusaha untuk bersandar di tembok, namun Gusti rupanya belum selesai, alih-alih membiarkan Lidya beristirahat, Gusti mengangkat tuguh Lidya untuk berdiri, membalikan badannya ke arah tembok dan memeluknya dari belakang. Menciumi telinga Lidya juga lehernya dari belakang. Kemudian Gusti memposisikan tubuh Lidya agar menungging.

Pasrah, Lidya mengikuti apa keinginan Gusti, dia menungging, dengan kedua tangannya menempel pada tembok kamarnya. Gusti mulai menggesek-gesekan penisnya pada vagina Lidya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia mulai melesakkan penis itu ke dalam vagina Lidya.
“Aahhh …. Ya, yang cepet Gus.”
“Kamu pengen saya gerak cepet sayang?”
“Ahm, iya, yang cepeeetttt, yang kerasss. Ya, kaya gitu say, hah hah hah, yaaaa, aaaaakkkhhh.” Mendengar rintihan dan desahan Lidya membuat Gusti memompa vagina Lidya seperti kesetanan, tanpa henti, bertubi-tubi dan tanpa kenal lelah, keringat mereka berdua sudah bercucuran di lantai, dan mereka berdua sudah mengeluarkan suara dan desahan yang cukup keras.

Beruntung kostan Lidya bukanlah kostan dengan peratruan dan penghuni yang ketat. Suara seperti ini bagi para penghuni adalah hal yang biasa.
Gusti terus memompa vagina Lidya samapi tubuh Lidya menegang keras, Lidya sendiri berteriak cukup keras menikmati orgasmenya yang ke dua ini, kemudian lemas, dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Untuk Gusti cepat tanggap dan menahannya. Mengangkatnya kembali, dan kali ini menekan tubuh Lidya hingga seluruh tubuhnya menempel pada tembok. Tangan kanan Gusti kembali mencari lubang kenikmatan Lidya, dan mengarahkan penisnya ke arah situ. Setelah ketemu, langsung tancap, Gusti memasukan penisnya ke dalam vagina Lidya.

“Mmmmmppppp, ah, ah , ah .. aaahhh.” Lidya kembali merintih, Gusti menekan pinggulnya sehingga penisnya yang besar itu masuk semakin dalam. Tangan kiri Gusti memainkan buah dada kiri Lidya, dan pada saat yang bersamaan tangan kanannya bergerak menuju anus Lidya, tanpa ijin, Gusti membenamkan jempolnya ke dalam anus Lidya.

“Aaaaaakkkhhh, Gusti, ahhhh. Annnjrit, sakiiitttt, aaaaahhh.” Lidya berusaha berontak, namun kemudian Gusti memeluk Lidya erat, dan melakukan pompaan lebih cepat lagi. Tubuh Lidya kembali dia buat menungging, Gusti kembali memompa Lidya dengan kecepatan tinggi. Cairan vagina Lidya sudah keluar banyak, membasahi penis Gusti dan lantai di mana mereka bercinta. Jempol kanan Gusti masih berada di dalam anus Lidya, namun kini Gusti mulai memaju mundurkannya, sakit, Lidya mulai meringis, tampak air mata keluar dari ujung matanya yang indah, namun Gusti seakan tak peduli, dia tetap memompa penisnya dan tetap menekankan jempolnya pada anus Lidya.

Permainan itu berlangsung bebepa saat, samapi Lidya kembali menegang, orgasme kembali melanda, kali ini lebih dahsyat dari yang sebelumnya, “Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh, anjrrit, enak Gus, ahhhh, mainin anus Lidya terus, ah, yaaaa, aaahhhhhhhhhhhhhhhhh.”
Tak lama setelah Lidya mendapatkan orgasmenya, nafas Gusti tertahan, menakankan pinggulnya sekali samapi penisnya masuk dalam pada kemaluan Lidya hanya untuk mencabutnya, dan menyimpannya diantara pantat Lidya. Spermanya muncrat membasahi pantat dan punggung Lidya.
Nafas mereka terdengar ngos-ngosan. Lidya masih bertopang pada tembok, namun itu tidak lama. Gusti menarik badan Lidya ke arah kasur. Kemudian menidurkannya.

=============================

Ketika Gusti mengingat kembali bagaimana akhirnya dia bisa memerawani pantat Lidya, disebelahnya Lidya menggeliat, terbangun, Lidya bertanya “Belum tidur?”
“Ada mkhluk cantik di sebelah, mana bisa tidur, pengennya si terus dinikmati.”
“Gelo, kuat eman?”
“Nah itu dia, gak kuat. Tar, tunggu sejam, baru kita maen lagi.”
“Parah, habis deh ini memek ama pantat.”

6 SAHABAT : BIMA & YUNI (PRE EPISODE 1)

Bandung, mendung. Sore itu Bima masih belum memutuskan untuk pulang. Kembali hari ini dia tidak masuk sekolah, rasa malas bertemu banyak orang kembali merasuki. Katana yang dia kendarai dalam hal ini mungkin merasakan hal yang berbeda, kalo saja mobil bisa berfikir. Hujan sebentar lagi pasti turun. Rasa lapar sesungguhnya sudah membuat perut Bima bergejolak, namun dia tetap enggan hanya untuk menghentikan mobil dan turun. Dari pagi sampai siang tadi dia berkeliling tidak jelas di Dago Pakar.
Menjelang pukul 16. Matanya memandang sosok yang di kenal. Yuni. Temannya satu sekolah. Perempuan cantik berkulit putih dan berambut indah sepunggung. Berjalan sendiri. Bima merasa heran, biasanya selalu ada Satrio disamping dia. Seolah menjaga Yuni dari seluruh laki-laki yang mendekati.

Refleks dia meminggirkan Katana kesayangannya, membuka jendela. “Yun, ngapain sendirian di sini?”
“Eh, makhluk setengah, gak tau nih, lagi males, jadi jalan geje aja.”
“Sama dong, mau bareng ber geje ria? Yu, masuk.”
“Hahaha, kamu mah perasaan setiap hari juga pemalesan Bim.” Jawab Yuni sambil masuk ke mobil Bima. “Jadi, mau kamu culik kemana Yuni?”

Langit tiba-tiba memuntahkan air dengan derasnya. Langit tetiba menjadi gelap. Dan angin yang sedari tadi sudah kencang menjadi lebih kencang. Bima menjalankan kembali mobilnya, pelan-pelan. Dia menikmati hujan yang turun ini, dingin, gelap tapi membersihkan.
Katana hitam modifikasi itu kembali berjalan di atas jalanan kota Bandung yang berlubang, membelah hujan deras. Percakapan antara Bima dan Yuni hampir dibilang tidak ada. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Satu jam mereka berdiam merasakan AC mobil. Hingga Yuni menggigil merasakan suhu mobil yang semakin dingin.

“Dingin?” Tanya Bima.
“Mayan, jaket ketinggalan di rumah Satrio.”
“Hmmm, ngomong-ngomong, dah sejauh mana hubungan kamu ama penjaga mu itu Yun?”
“Jahat banget, penjaga, kesannya gimanaaa …. gitu.”
“Lo, emang dia terkenal sebagai, ehem, monyet penjaga paling setia, hehehe, kata yang lain lo. Ya, menurut saya juga si, hehe.”
“Dasar.”
“Jadi?”
“Jadi, gimana ya? Ya gitu lah, sama dengan pasangan anak muda lainnya.”
“Owwww…”

Hening kembali melanda. Diam. Bahkan ketika mobil masuk ke SPBU, mengisi bensin dan keluar dari SPBU, keheningan tetap terjaga. Hingga Bima bertanya.
“Kalo, sori nih, hubungan ehem ehemnya udah nyampe mana Yun?”
Diam beberapa saat. Membuat Bima merasa bersalah telah bertanya.
Tersenyum Yuni menjawab, “Ya gitu de Bim. Udah gitu deh.”
“Udah gimana? Udah masuk belum?”
“Masuk kemana dulu nih? Hehehehehe.”
“Ya, kamu kan ada tiga lubang Yun.”
“Ih, apan nih, Bima jorok.” Sambil mencubit lengan kiri Bima. Bima berpura-pura kesakitan dan tertawa.
“Atas dan bawah.” Yuni menjawab singkat.

Bima langsung diam. Salah satu perempuan idaman banyak lelaki di sekolah sudah bukan perawan. Menelan ludah, setengah menyayangkan. Dia sendiri tidak bisa dibilang laki-laki baik dalam hal hubungan pria-wanita. Bima sudah menganal SPA, PP dan Lokalisasi terkenal kota Kembang sejak beberapa waktu lalu. Dia juga pernah bermain cinta dengan beberapa teman di sekolahnya. Sejak saat keluarganya berantakan, Bima terkesan tidak peduli dengan benar dan salah.
“Kenapa?” Sambung Yuni. “Jijik? Ilfil? Ato nyesel kamu memasukan perempuan murahan ke mobil ini?”
“Gak, justru seneng, ada makhluk yang sama kotornya dengan saya. Bedanya, kamu cantik seperti bidadari, saya jelek kaya gini.” Jawab Bima kalem.

“Kamu cakep ko Bim. Kalo aja dulu kamu … hahahahaha.”
“Kalo aja saya gimana?” Bima memandang penuh kedalam dua mata Yuni.
“Bim.” Perlahan Yuni mendekatkan wajahnya ke Bima. Bima pun tidak melewatkan kesempatan, dan akhirnya mereka berciuman.
“Manis.” Bima mengkomentari.
“Ma kasih.”
“Yun, mau maen kerumah saya bentar?”
“Yakin cuman bentar Bim?”
Dan Bima pun tertawa.

================================================== ========

Bima membukakan pintu kamarnya untuk Yuni, mempersilahkan untuk masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup dan mengunci pintu.

Tanpa menunggu, Bima memeluk Yuni dari belakang. Menghirup wangi dari leher jenjang Yuni, menempelkan hidungya. Kedua tangan Bima disimpan di atas pinggang Yuni yang ramping, “Kamu cantik sekali Yun.” Tersenyum Yuni memalingkan lehernya, dan di sambut dengan ciuman mesra oleh Bima.

“Hmmmmmmm…” Lidah mereka saling berpagut, makin lama makin bernafsu, tangan Bima naik, dari pinggang ke atas, dan berhenti tepat di atas kedua buah dada Yuni. Bima mulai meremas, “Aaaahhh …. “ Yuni melepaskan ciumannya, dan Bima beralih, dari bibir menuju telinga. Menggigit-gigit kecil daun telinga Yuni.
“Bimaaaaa, geliiiii ……”

Tak puas, masih memeluk dari belakang, Bima mulai membuka kancing seragam Yuni, satu demi satu, melepas seragam Yuni hingga jatuh ke lantai. Kemudian dia menyibakkan BH Yuni ke atas untuk merasakan langsung buah dada Yuni. Memilin-milin putingnya, mempermainkannya. Bibir Bima menemukan tengkuk Yuni, dan langsung menciumnya, terus merangsang yuni.
“Mmmmmmm, Bimaa, terus, geli, geliii…. “ Bima membalikan Yuni sehingga kini mereka saling berhadapan. Bibir mereka kemudian bertemu, saling memagut, melumat, lidah mereka berdansa bagai diiringi irama merdu.

Bima perlahan membuka resleting rok Yuni. Menjatuhkannya ke lantai. Kemudian melorotkan celana dalam Yuni hingga kini Yuni telanjang bulat menunjukan keindahan badannya. Bima menelan ludah, melihat badan yang indah, dengan kulit putih mulus, melihat wajah cantik Yuni, bibirnya yang tipis, dan sampai di situ pertahanannya sudah habis.
Bima merengkuh Yuni, memangkunya ke arah kasur. Menidurkannya dengan lembut. Kini yang jadi sasaran bibir Bima adalah buah dada Yuni, bibirnya langung mengarah ke puting merah muda Yuni, puting yang sudah mengeras sedari tadu itu benar-benar dinikmati Bima, di jilat, gigit, sedot, pilin.

“Ahhh, geli Bima. Yaaa, teruss, isep, aaa, gigit Bim…. Aaaahhhhh.”
Dan Yuni pun tidak mau tinggal diam, diarahkan tanganna ke penis Bima, diusap dari luar celana seragamnya. Membuka sabuk lalu kancing dan resletingnga. Kemudian dia raih penis Bima menyelusup ke balik celana dalamnya, “Udah keras Bim.”
“Jelas aja keras, setiap liat kamu nungging pake seragam di sekolah aja keras.” Pikir Bima.

Bima kemudian menghetikan aksinya, membuka seluruh seragam yang dia kenakan. Dan tanpa menunggu kembali dia menerkam. Tapi kali ini angsung ke vagina Yuni yang bersih dan berwarna pink. Dengan bulu kemaluan yang lumyan lebat tapi halus. Lahap dia mencium vagina indah dihadapannya. Mencari klitorisnya, dan mulai memainkan lidahnya.

“Aaahhhh, ssssssss, enak Bim, terus. Ah, ya, itu, di situ Bimaaaaa.” Kala Bima menyedot-nyedot klitoris Yuni, kemudian dia mulai memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Yuni yang sudah basah itu. Keluar masuk, mengobel vagina Yuni dengan semangat 45 seperti tak ada lagi hari esok.

“Bimaaa, pelaaannn, ahhhhh, pelan.” Bima tidak peduli, dia mengocokan jarinya semakin lama semakin cepat. Buci vagina Yuni yang sudah penuh oleh cairan kewanitaan pun cukup keras dia dengar. Semakin cepat, dan “Aaaaaaahhhhhhhh …. “ Yuni mengejang. Tubuhnya melenting, buah dada yang sempurna itu bergetar, orgasme yang dahsyat, belum pernah pacarnya mengocokan jari di liang vagina Yuni seerti itu.

Lemas, ngos-ngosan Yuni berucap, “Gila, memek Yuni kamu apain Bim? Sakit, tapi enak banget.”
“Udah, gak usah tau, sekarang mah, nih, emut ya?” Bima mengarahkan penisnya ke mulut Yuni.
“Gede Bim.”
“Ama Satrio gedean punya siapa?”

“Kamu dikit. Dikit lo ya? Hahahaha.” Dan Yuni langsung mencium penis Bima, menjilatinya, menjilatinya sampai ke pelir.
“Ah, ya, disitu Yun, nikmat, udah, isep sayang, isep.”
Dan Yuni pun langsung menghisap penis Bima, keluar masuk, dahsyat, bagaikan artis-asrtis di film porno, Yuni mengoral penis Yuni dengan cepat. Dalam, sampe ‘deepthroat’ pun dia lakukan.

“Yun, enak banget sayang, ah, ahhhhhh, gila, enak, mulut kamu enak , terus, yang dalem.” Tangannya tidak diam. Tangan kanan Bima memegang kepala Yuni dan memeju mundurkannya, dan tiba-tiba Bima menekankan pinggulnya ke depan sembari menarik kepala Yuni, memastikan seluruh penisnya masuk ke mulut Yuni.

“Heekkkkkkk, mmmmmmm.” Setelah beberapa saat, kembali kegiatan oral itu dilakukan, semakin cepat, “Ah, Yun, mau keluar. Aaaahhhhh.” Cepat muncratan sperma yang keluar dari penis Bima di dalam mulut Yuni, banyak dan kental.
“Banyak banget Bim, ampe belepotan gini mulut Yuni.”
“Hahaha, wajar, kamu si Yun, bener-bener ngebuat saya on abis.”
“Masih On gak?” Tanya Yuni.
“Masih sangat, sekarang, giliran lubag surgamu Yun.”

Bima mengarahkan penisnya ke vagina Yuni. “Siap?”, Yuni mengangguk. “Saya masuk Yun.” Dengan bantuan tangannya, Bima mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Yuni, seperempat, setengah, dan langsung tancap sampe seluruh penis itu dilahap oleh vagina Yuni.

“Aaaahhhhh.” Keduanya mendesah. “Memek kamu enak banget Yun, udah dimasukin ama siapa aja?” Tanya Bima sambil tangan kanannya meremas dada dikir Yuni sambil telunjuk dan jempolnya memilin-milin puting Yuni. “Ama Satrio aja ko Bim, waktu acara perpisahan kelas X kita dulu di Ciwidey.”

Bima tertawa, mengingat kembali saat itu, dia juga menikmatinya dengan salah satu teman wanitanya.
“Dasar, yasud, Bima mulai ya Yun?” Dan tanpa banyak bicara lagi, Bima mulai memompa vagina Yuni, pelan, namun perlahan-lahan mulai cepat, “Ahm iya, gitu Bim, cepet, yang keras, enak Bimmmm, enak banget say, ahhhh, gila, memek Yuni penuh, punya Bima keras banget, masuk, ahhh, mentok Bim.”

Mendengar itu Bima semakin bersemangat, dia mengangkat ke dua kaki Yuni, mengangkangkannya, ditekukannya kaki Yuni hingga lututnya menempel di dada Yuni, dan kembali Bima memompa vagina Yuni hingga bersuara, dan tentu saja, seprei Bima sendiri sudah basah oleh cairan vagina Yuni dan keringat mereka berdua. Pompaannya terus berlangsung, hingga. “Keluar, Bim, Yuni mau keluar, ah, ah, ya, ah, keluaaaarrr….”

Bima menghentikan pompaannya, membiarkan Yuni menikmati orgasmenya. Kemudia memulai kembali, kali ini tidak secepat yang tadi, dan dia kini melakukannya dalam gaya misionaris, sambil melumat bibir Yuni dan meremasi buah dada Yuni, tak lama kemudian dia mencabut penisnya, mengarahkannya ke wajah Yuni, mengocoknya, dan, crottttt ….

Spermanya muncrat memenuhi wajah Yuni, sebagian mengenai mata dan lubah hidung. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam mulut Yuni, hingga bersih Yuni mengoralnya.

“Hah, hah, gila Yun, kamu emang hebat. Beruntung si Satrio bisa dapetin kamu.” Bima kemudian memeluk Yuni, mengecup keningnya, dan berkata, “Masih jam 8, gimana kalo kamu ampe jam 10 di sini?”
“Hahahaha. Ngapain aja ampe jam 10 Bim?” Tanya Yuni sambil tertawa.
“Saya entotin.” Jawab Bima kalem.

6 SAHABAT PART 1

Rian mulai membuka matanya, tugas yang dia selesaikan tadi malam benar-benar membuat dia harus begadang sampai jam 4 pagi. Setelah percobaan tidur yang gagal, akhirnya dia memutuskan langsung ke kamar mandi. Tugas Matematika dari guru killer, Pak Bonang, ya gak killer-killer banget sih, cuman punya kebiasaan menyimpan siswanya di tengah lapang dan menghormat tiang bendera selama jam pelajaran. Jam sudah menunjukan pukul 6.15 ketika Rian hendak pergi sekolah, “santai” gumannya. Jarak kostan Rian ke sekolah memang tidak jauh, 10 menit menggunakan motor kesayangannya juga udah nyampe kantin malah .

Seperti biasa, guru olahraga itu sudah berdiri di depan gerbang. Pak Ujang berdiri dengan tampang menyeramkan dengan senyum paksaan. Setelah merapikan motor di parkiran, Rian langsung menuju tempat favoritnya. Kantin sekolah. Sambil menyapa ke bu Nunung penjual soto, dia langsung ke kedai mang Encang, membeli sebungkus nasi kuning.

“Woi, pagi-pagi udah memamah biak begini.” Revi, sahabat Rian, satu dari 5 setengah bersahabat. Satu lagi disebut setengah karna anak yang bersangkutan jarang masuk sekolah. Revi, wanita yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpi Rian, baik yang kering maupun yang basah. Objek onani dan sahabat sejati. “Maklum lah Vi, anak kost.” “Alesan, bilang aja cari makanan kantin sekolah biar murah. Lagian kita kan udah tau semua Yan, kasbon kamu di mang Encang udah berapa? Hahaha.”
“Sialan.” Umpal Rian, “Gak gede-gede banget kali, masih dalam tingkat yang wajar. Gak kaya tabungan soto si Udin di bu Nunung.”
“Ya deh, iyaaaaaaaa. Eh, pe er udah Yan?” “Ya udah lah, napa? Mau nyontek? Mau bayarin nasi ini dulu ga?”
“Ogah.” Jawab Revi, “Lagi seret uang nih. Pe er mana pe er? Ada dua nomor yang belum.” Rian lalu memberikan buku Matematikanya. Sebenernya dalam hati Rian selalu berkata kapan saja kalo Revi meminta sesuatu, pasti, apapun yang kamu minta Vi. Namun itu tentunya hanya dalam hati. Revi, gadis cantik dengan tinggi sekitar 160 cm. Alis matanya yang lurus, hidungnya yang mancung, matanya yang teduh, dan yang paling utama, bibirnya yang sensual. Ingin sekali Rian melumat bibir itu. Mengelus rambut yang berada di balik jilbabnya, dan meremas buah dada Revi yang bulat sempurna.

“Sakit Bim, pelan-pelan.” Yuni berteriak kecil kala Bima menyedot buah dada Yuni sebelah kanan. Bima hanya tersenyum kecil dan tetap menyedot puting Yuni dengan penuh nafsu. Tangan kanannya merayap melewati perut Yuni yang rata dan menyelusup ke pantat Yuni, mencari resltering di rok SMA nya. Membukanya, dan langsung menarik rok SMA Yuni ke bawah melewati lutut Yuni. Yuni sedikit membantu dengan mengangkat pantat. Tangan Bima langsung diarahkan ke selangkangan Yuni yang sudah basah sedari tadi, setelah dicumbu selama setengah jam lebih, pastilah cairan vagina Yuni sudah keluar banyak.

Jari tengah Bima mulai digesek-gesekkan di belahan vagina Yuni. Basah. Dan Yuni semakin menggeliat. Jari-jari Bima mulai menyingkirkan bagian celana dalam yang menghalangi belahan vagina Yuni. Dengan sekali hentak, jari telunjuk Bima mulai menikmati liang vagina Yuni. Gemas, Bima mempercepat frekuensi kocokan jari tengahnya. “Bim, pelan Bim, aaahhh, Bimmmmm …. , Bimaaaa.”
“Yunnn.” Bibir Bima melumat bibir Yuni, “Mmpphhpfff … ” Bibir mereka saling berpagut, lidah pun saling bergumul di dalam mulut. Air liur mereka mengalir melalui sela bibir.

“Bimaaa, Yuni mau …. aaaahhhh …. ” Gelombang orgasme melanda Yuni. “Keluar Yun?” Dan Yuni pun mengangguk.
“Udah siap ya?” Tanya Bima lagi. Pelan Yuni mengangguk. “Tapi pelan-pelan Bim, lemes banget.” Bimapun langsung membuka celana seragam dan celana dalamnya. Dia memposisikan badannya di atas Yuni. “CD Yuni nya buka dulu Bim.” “Gak usah sayang, biar saya entot kamu dengan CD kamu masih dipake, saya singkirkan aja dikit ke pinggir.”

Perlahan Bima mulai memasukan penis nya ke dalam vagina Yuni, pelan, dan blessss. Masuk semua. “Bimaaaa.” Rintih Yuni, “Katanya pelan-pelan, aaaahhhhhh, Bim, ah.” Tanpa memberikan jawaban, Bima mulai menggenjot vagina Yuni. Tak berselang lama, keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua.

Masih jelas diingatan Bima, bagaimana dia pertama kali menikmati vagina Yuni. Yuni, salah satu siswi cantik disekolahnya, dengan rambut hitam lurus sepunggung, wajah cantik sedikit oriental walaupun Sunda asli, badan yang kurus tinggi dan langsing, berkulit putih bersih, namun memang ukuran buah dadanya tidak begitu besar, namun pas digenggaman Bima. Perempuan yang jadi incaran para lelaki di sekolah. Di sini, di atas ranjang tanpa dipan Bima, Yuni pertama kali dinikmatinya, walaupun sudah bukan perawan, karena keperawanannya sudah diambil oleh pacar Yuni saat ini, ya, mereka kini hanya menikmati seks tanpa ikatan kekasih, namun itu bukan masalah bagi Bima, seks bukanlah hal baru apalagi tabu buatnya.

“Bim, ahh, Bim, Yuni mau keluar lagi Bim. Ahhhh.” Rintihan Yuni semakin terdengar menggairahkan, menambah nafsu Bima yang mempercepat kocokan penisnya dalam vagina Yuni, “Keluarin aja Yun, ugh, memek kamu masih rapet juga, padahal udah di entot berapa kali Yun?” Tanya Bima. “Gak tau, sama kamu baru dua kali dengan ini, ama Satrio udah, aahhh, tiap malem … ahhhhkkk Bima, pelan-pelan, malem minggu, kalo Yuni gak dapet. Bim, keluar Bim, keluaaaarrrrr….” Tubuh Yuni menekuk, tegang, dan Bima langsung meremas sekeras-kerasnya kedua buah dada Yuni, menambah kenikmatan orgasme yang dirasakan oleh Yuni.

“Cape Yun? Saya belum mau. Bentar ya? Tahan.” Pinta Bima, Yuni cuman bisa diam. Dan Bima membalikan badan Yuni, telungkup. Dia lalu menyimpan sebuah bantal di perut Yuni. “Lubang ini udah pernah dimasukin Yun?” Tanya Bima waktu jarinya menyentuh anus Yuni. “Belum, takut. Katanya sakit banget.” “Owww, baguslah, tar bagian saya, hahahahaha.” Bima tertawa “Enak aja, sakit tau, gak mau.” Jawab Yuni ketus. “Kata si Lia anak IPS 1 sakiiiiittttt, Bima, bilang-bilang dong kalo mau masuk!” Teriak Yuni, ketika tiba-tiba Bima memasukan penisnya ke vagina Yuni. Bima hanya tertawa. “Ah, bohong dia, ugh, soalnya, hmppf, saya udah pernah nyobain.” “Serius Bim? Lia udah kamu cobain pantatnyaaaa? Agh, pelan sayang. Kirain kamu gak suka ama cewek pake kerudung.” Sela Yuni diantara rintihannya. “Saya suka siapapun yang cantik, kaya kamu Yun, ah, Yun, dah mau keluar nih, keluarin dimana?” Tanya Bima dengan cepat. “Di dalem aja Bim, lagi pake pil kok, ah, ah, Bim, bentar Bim, tahan dulu, Yuni dah mau keluar lagi, bareng Bim, Bim, ah, Bimaaa, keluarrrrrrrrr….!” Dan mereka pun merasakan orgasme yang dahsyat pada saat yang hampir bersamaan.

“Gila Yun, memek kamu bener-bener.” Merekapun berpelukan. Sisa-sisa air mani dan cairan kewanitaan Yuni meleleh keluar dari vaginanya. Dan Bima mencium bibir Yuni dengan lembut. Hmmm, ciuman ini, ini yang membuat Bima berbeda dengan pacarnya yang selalu langsung tidur, atau langsung meninggalkan Yuni sendiri tanpa ciuman ataupun pelukan setelah berhubungan badan.
“Bim, ini yakin gak apa-apa kita bolos? Ya, kamu sih udah disebut setangah ama gengmu malah, gara-gara jarang sekolah. Nah Yuni kan engga.” Tanya Yuni beberapa saat kemudian. “Gak apa-apa. Nyantey aja, justru dengan gini kita punya waktu lama buat maen.” Jawab Bima.
“Habis dah kalo gini badan Yuni. Terserah deh, tapi inget, jangan ampe ada bekas cupang, tar Satrio curiga.” Sambut Yuni, dan Bima hanya bisa tersenyum sambil kembali menindih tubuh mulus Yuni.

==========================================

Revi memandangi kursi kosong di seberang ruangan. Bima, sahabat mereka satu geng. Dan kursinya yang kosong, sekosong hati Revi saat ini. Sama kosongnya dengan hati Rian yang diam-diam memperhatikan Revi. Namun secepat kilat dia memalingkan wajah ketika Revi melihat ke arahnya. “Revi, apa dia ada hati ama Bima?” Batin Rian, karena hampir setiap hari jika Bima tidak masuk, Revi selalu melihat kursi kosong itu.

Rian, Revi, Ima, Gusti, Udin dan Bima. Lima setengah, julukan dari wali kelas mereka. Selalu bersama, dan selalu terlihat kompak. Waktu kelas XI, ketika mereka pertama kali dipertemukan, yang ada hanyalah Enam Sahabat, namun setelah orang tua Bima, bercerai, sosok Bima perlahan mulai menghilang namun selalu ada bagi mereka.

Sama halnya seperti hari ini, Bima masih belum masuk. Biasanya dalam satu minggu, Bima paling tidak masuk 3 hari, namun ini sudah hari ke empat. Udin pernah berkata bahwa Bima itu adalah sebuah anomali, anak orang kaya, pinter, ganteng, tapi pemalesan. Tapi bagian anomalinya ialah dia pandai menarik hati guru, segala urusan jadi mudah kalo ada Bima. Dan yang pasti, bu Nunung gak akan nagih uang soto ke Udin kalo Bima ada, karena Bima selalu ngebayarin dia. “Seneng ada temen untuk bisa berbagi.” Jawab Bima. Selalu saja seperti itu.

Tak terasa, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, tanpa dikomando, anak-anakpun langsung berhamburan keluar kelas. Namun Ima masih duduk di bangkunya, termenung. Sampai pundaknya ditonjok Gusti, “Woi, makhluk tercantik se kelas, ngapain lu bengong sendiri?” Ya, Ima memang lebih cantik dibandingkan Revi bahkan dibandingkan dengan semua siswi di kelas mereka. Dengan warna kulit yang lebih putih dari Revi, karena ada turunan china dari neneknya, dan hidung yang lebih indah, bahkan semuanya yang ada di diri Ima memang lebih cantik dari Revi, cara dia menggunakan kerudungnyapun yang selalu sederhana malah membuat dia lebih cantik.

Ya, guman Rian, namun Revi tetap yang terindah dihati ini. Ima dan Revi, dua wanita dalam geng. Keduanya berkerudung. Sama-sama gila kalo udah kumpul-kumpul. Cantik-cantik, walopun kata Udin bukan selera dia. Udin lebih menyenangi perempuan dengan potongan rambut pendek dan sedikit tomboy. Hampir semua mantannya seperti itu. Hanya satu yang tidak. Gusti sendiri, entah makhluk apa Gusti ini. Berbadan tegap dan kekar. Baik hati. Ganteng. Banyak perempuan yang suka, namun sepanjang sepengetahuan para sahabatnya, belum sekalipun dia menjalin cinta. Ima sendiri saat ini sedang memadu kasih dengan kaka kelas yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung ini. Dan Revi? Bidadari hati ini memiliki masa lalu yang pahit dalam percintaan. Lalu Bima, ya, makhluk ini bisa saja mendapatkan siapa saja yang dia mau. Dan dia sendiri? Rian berfikir, selalu saja ada Revi. Dari pertama kali dia melihat wajahnya ketika MPLS, sampai sekarang. Hanya ada Revi, namun dia tidak berani untuk melangkah.
“Gustiiiii, sebel. Ngapain ganggu?” Teriak Ima. “Jangan gangguin Ima Gus, lagi ada masalah dengan masnya.” Jelas Revi, “Udah sana, kejar dulu pak Guntur, itu tugas kamu kumpulin.” Lanjutnya.

“Kenapa Ma?” Revi bertanya ketika semua sudah keluar kelas. “Mas Gio, mmm, jangan bilang siapa-siapa ya? Janji?” Revi mengangguk. “Kemarin dia minta, hmmmm, kamu tau kan Vi, Ima baru ampe ciuman dan mmm, paling jauh remes dada Ima dari luar. Kemaren dia udah ngedapetin dada Ima dari dalem, udah nyedot puting Ima, terus, ini, nyupangin.” Revi tersenyum dan bertanya “Cuman gitu aja Ma?” Ima menjawab, “Nah, engga Vi, dia minta ngemut punya nya dia. Ima takut, bilang gak mau.” Revi kembali tersenyum, “Jadi dia pundungceritanya ?” Lanjutnya. “Pundung beneran, bukan ceritanya neng. Gak enak sih, pengenna muasin mas Gio, tapi takut”. Revi memeluk sahabatnya ini dan berkata “Nyantey aja Ma, kalo dia sayang ama kamu, dia pasti biasa lagi, cowok emang kaya gitu.” Ima lalu memandang tajam ke arah Revi, “Kamu pernah Vi kaya gitu?”. Revi tertawa, “Eeeee, gimana ya? Belum si, tapi kalo ampe pas foto sih udah lah. Hahahaha. Tapi gak pernah ampe dicupangin kaya kamu ya. Gak leveeeelll, aduh.” Ima menutup perkataan Revi dengan cubitan di tangan. “Ngomong-ngomong,” Lanjut Revi kemudian,”Enak gak diemut Ma?”. Dengan tersipu Ima menjawab, “Banget.”

*************

“Mas, kelapa muda dinginnya satu.”
“Kopi satu.”
“Ayamnya tambah lagi dua, di bakar.”
“Sialan, minta sama mas yang jualanna, jangan ka saya.” Gio mengeluh.
“Lah, sama-sama mas mas kan?” Ejek Revi. Semua tertawa. Sore ini seluruh geng 5 setengah kumpul di Punclut, plus satu, Gio, kekasih Ima. Menikmati sore hari kota Bandung sambil makan ayam bakar, nasi merah dan kelapa muda dingin. “Ga gitu juga kali.” Bela Ima, “Ganteng-ganteng gini juga pacar Ima.”
“Cieee, tapi masih kekar gue Ma, ni liat.” Gusti menimpali seraya memamerkan otot tangannya yang memang kekar. “Heh, Betawi edan, lu mah mikirin otot mulu, otak juga pake dong, masa body kayak gitu masih juga jomblo.” Ledek Bima, semua, kecuali Gusti pastinya ketawa. “Eh, Jawa kurang asem, gue bukan gak mampu dapet cewek, cuman belum mau aja.”
“Ya ni Gus, kamu homo ya? Perasaan dari kamu pindah ke Bandung kalo gak ama kita-kita, kamu maen ama sepupumu aja deh.” Ima menambahkan, “Kita semua sebenernya penasaran, tapi ga enak aja nanya, suer, kita-kita gak mau kalo kita nanya ama kamu, kalo kamu itu suka laki-laki ato perempuan?”
Tawa kembali meledak kencang, membuat tamu lain di rumah makan itu melirik ke arah mereka. Tak terkecuali para pelayan dan pemilik tempat makan itu.

Edan, 7 orang aja berisiknya kaya kebun binatang. “Say, kamu si itu sama aja nanya ama si Gusti. Parah lah.” Sambung Gio. “Ga papa mas, kali-kali, emang harus digituin tu anak.” Rian menimpali enteng.
“Lah, lu sendiri gimana Yan? Yuni, Atika, Ifa, mereka pada demen ama lu, eh, lu nya dingin, jangan-jangan lu yang gak normal.” Gusti membalas dengan cepat. “Udah, kalian cocok ko, jadian aja, kami ikhlas ko.” Sambil menikmati daging dalam mulut Revi memberi pendapat. Gusti kembali mengelak, namun Rian diam. Omongan Revi tadi walaupun becanda cukup membuat hati dia berdetak lebih kencang.

“Eh, serius mereka suka ama si Rian? Si Ifa yang cantiknya bukan main tapi dingin kaya putri es?” Bima bertanya ke Gusti. “Suer, potong tuh telinga si Udin kalo gue bo’ong.” Jawab Gusti. “Nah lu lagi Betawi, gue lagi enak-enak makan mau maen potong aja, potong tuh kemaluan lo. Ato jangan-jangan lu gak punya lagi?” Komentar Udin. Dan kemudian terjadilah perang mulut yang dahsyat membahana.

==========================================
“Mas, mau teh anget ato susu anget?”
“Susu Ima aja boleh?”
“Apaan ah. Genit. Weee.”
“Hahahahaha. Teh aja, jangan anget. Suhu ruangan aja.”
“Berapa derajat itu mas?”
“Ni anak, dicium geura.”
“Ah, gak usah mas ngomong gitu juga, biasanya maen terkam aja, hehe.”
Tak lama kemudian, Ima masuk ke kamar membawa dua cangkir teh. Kamarnya di lantai dua. Ima sendiri anak bungsu dari 3 bersaudara. Yang paling tua sudah menikah, tinggal di Jakarta, yang kedua anak laki-laki, malem minggu gini pasti ngilang entah kemana, orang tuanya jam segini pasti lagi asik nonto para wayang kocak di TV.

“Kamu seksi kalo udah pake kaos itu Ma.” Gombal Gio. “Apalagi kao gak dipake.” Senyum setan terpancar dari bibir Gio. “Uuuu, maunya.” Ima menjawab sambil mencibir. Menambah kecantikannya. Pulang dari Punclut, mereka langsung pulang ke rumah Ima. Hari ini Ima menggunakan celana jeans biru, kaus ketat dan kerudung warna putih dan jaket hitam. Ima menyimpan kedua gelas di atas meja belajarnya. Kemudian duduk di samping Gio di atas kasur dengan dipan warna coklat kayu. Di layar TV terlihat adegan laga dari sebuah film yang di putar di HBO. Sebetulnya, sedari tadi mata dan pikiran Gio sudah tidak fokus ke TV, melainkan ke Ima, kekasih cantiknya ini benar-benar mempesona.

Tanpa menunggu lagi, Gio memeluk Ima, dan mulai melumat bibir indahnya, mereka berciuman, awalnya pelan, lama kelamaan semakin bernafsu. Nafas mereka semakin memburu. Perlahan tangan Gio bergerak ke arah buah dada Ima, dia meremas pelan buah dada sebelah kanan, bergantian ke sebelah kiri, berharap menemukan putingnya dari balik kaos putih dan BH yang digunakan Ima.

Sampai pada suatu saat, saking bernafsunya, tangan kanan Gio meremas kedua buah dada Ima secara bersamaan. “Aaaaahhhh, massss, pelan, mmmm, slurp, mas, geli mas.” Gio melumat bibir indah Ima seperti tak ada hari esok. Gio sudah tidak sabar, diangkatnya kaos Ima ke atas, dan dilepaskan kaitan BH Ima, kemudian
dia kembali meremas dua gunung kembar yang indah itu. Ukurannya yang pas dengan puting merah muda yang tidak kecil dan tidak besar. Tangan kanan dan kiri Gio mulai memilin kedua puting Ima, Ima sendiri sudah gelagapan, rasa geli dan enak menyerang dirinya. “Mas, ooohhh…. ” Gio mengarahkan ciumannya ke telinga Ima yang masih tertutup kerudung. Ima merinding tapi merasakan kenikmatan yang tiada tara. “Enak sayang?” Gio bertanya. Ima hanya bisa mengangguk. Lemas. Ini kali kedua putingnya dipilin oleh kekasihnya. Laki-laki pertama yang melakukannya.

Ciuman Gio turun, ke arah leher, sedikit menyibakkan kerudung Ima, mencium lehernya yang putih jenjang itu, membasahinya, menjitatnya, menggigitnya, menciumnya kembali. Membuat Ima semakin tidak karuan. Kerudung Ima pun sudah sama tidak karuannya. Turun, bibir Gio diarahkan ke puting kanan Ima, menjilatnya, memutarinya dengan lidah, membuat Ima mendesah. Dan tiba-tiba, Gio membuka mulutnya lebar-lebar, menyedot buah dada kanan Ima kuat-kuat, memasukkan hampir seluruh buah dada kanan Ima ke dalam mulutnya. “Heggg.” Menahan nafas sebentar karena kaget dan nikmat. “Maaassss!!! pelan-pelan mas, enak tapi, terus, terus mas. Aaaahhhhh. Mas, iikhh, hah hah hah.” Ima tak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya. Tangan Gio terus meraja lela, kini turun ke atas perut rata Ima, turun lagi, dan berhenti di atas paha kirinya. Membelai, meremas, dan naik lagi sampai ke selangkangan Ima, “Aaaahhh, mas, jangan kesitu, geli.”

“Tahan bentar say, ntar juga enak.” Gio menjawab sambil terus menjilati puting Ima. “Puting kamu ngegemesin Ma, sluuurrppp, Ma, enak ga diginiin?” Ima menjawab dengan nafas yang tidak teratur, “Enak, tapi jangan yang di bawah, sakit mas.” Gio seakan tidak mendengar rengekan Ima tetap melakukan tindakannya. Kemudian dia menaiki Ima, menindih Ima di bawahnya, dan mulai menekankan kemaluannya di atas vagina Ima. Kembali Gio mencium bibir Ima, meremas dada Ima, memilin puting Ima, sampai dia mengerang. “Aaaaarrrghhh.” Dia orgasme dari peting yang mereka lakukan. Kemudian Gio membalikan badan, terlentang di samping Ima yang masih bernafas cepat. Kemudian dia mencium kening Ima, “I love you my angel.”

==========================================
Motor itu sampai di depan gerbang sebuah rumah. “Makasih Yan.” “kembali kasih Revi.”
“Masuk dulu gak? Kalo gak salah masih ada bandrek di dalem.” Ajak Revi. “Hayu, ada makanannya juga gak?”. “Dasar perut naga, makanan mulu ni anak. Bisa di atur lah.”Dengan perasaan gembira Rian memesukan motor ke halaman rumah Revi. Dan dimalam itu mereka berdua bercengkrama, berdebat, berargumen, curhat, tertawa bersama. Hati Rian sangat berbunga, melihat lirikan Revi dan senyumnya, bibirnya, ah, betapa indahnya itu bibir, coba kalo dilumat, pasti empuk.

Rian sudah terbiasa duduk berdekatan dengan Revi, apalagi kalo anak-anak lagi kumpul. Jadi tukang ojek pribadinya juga sering. Nonton berdua pun sudah gak bisa diitung lagi. Namun kali ini, berdua, di ruang tamu yang sepi, duduk bersampingan, saking dekatnya wangi kerudung Revi tercium dengan jelas. Hatinya selalu berdebar, setiap kali mata mereka bertemu lama. Dekat. Indah.

Tiba-tiba terdengar lagu tema Power Ranger, HP Rian berbunyi, SMS, dari Udin ngajakin maen DotA. Sialan si sarkudin, batin Rian, padahal udah ada chemistry. “Vi, saya pulang dulu ya, si Udin ngajak maen game.” Lagian, kalo kelamaan di sini nanti yang lain curiga, jam 11 malem masih di rumah Revi. Ada apa. “Ya udah, gih pulang sana. Ati-ati Yan, ma kasih ya.”

Malam itu Rian membawa motor dengan ringan dan bahagia.

==========================================
Suara bola biliar beradu keras. Pulang dari Punclut, Bima, Udin dan Gusti langsung ke arena biliar langganan mereka. Taruhan. Yang kalah harus menggoda mbak Lidya, kasir disana. Gusti yang minim pengalaman dengan perempuan jelas saja berjuang keras untuk menang. Bima, dilain pihak, berjuang agar menang, dia ingin menyaksikan usaha GUsti merayu mbak Lidya. Udin yang gak bisa maen diputuskan menjadi wasit, atau lebih tepatnya, saksi peristiwa yang akan datang.

“Sialan lu Jawa, gue kali ini kalah, tapi liat besok, pasti gue bales.” Kata Gusti.
“Udah, kalah mah kalah, noh, mbak Lidya noh, si cantik kutilang darat nan mempesona. Ini adik gue juga bangun terus kalo liat dia.” Bima menjawab sambil terkekeh. “Nah, lo aja kalo gitu.” Sambung Gusti. “Ogaaah, the deal is, the loser, that is you, must seduce her, hahahaha. Kecuali kalo lo pengecut.”

“Gue, pengecut? Kagak. Liat ni. Gue buktiin kalo gue bisa.” Dan Gusti dengan muka merah berjalan ke arah mbak Lidya, setengah jalan dia berbalik dan melangkah kembali, namun melihat Bima dan Udin joged bergaya seperti ayam dia kembali berbailk. Gak tau apa yang mereka bicarakan, Bima hanya melihat dari jauh ketika tangan Gusti di tarik oleh mbak Lidya ke atas. Terlihat raut muka Gusti yang panik. Bima dan Udin hanya bisa melongo dan tak sadar ketika bibir Gusti membentuk sebuah kata. “Tolong”

***********************

Musik keras yang keluar dari komputer di ruangan itu tidak terdengar jelas. Namun yang pasti jelas adalah pemandangan yang ada di pojok ruangan. Lidya dan Gusti sedang berciuman, atau lebih teptnya, Lidya sedang mencium Gusti dengan ganas. Gusti sendiri hanya bisa menerima sambil mencoba bernafas normal, tapi tidak bisa. Tangan kanan lidya menarik tangan kiri Gusti dan mengarahkannya ke buah dada seblah kanan. Gusti yang hanya pernah melihat adegan di film-film porno hanya bisa meremas tak beraturan, keras, dan kencang. Lidya memang tidak memiliki buah dada yang besar, namun remasan Gusti cukup membangkitkan gairahnya.
Lama kelamaan gusti mulai bisa mengimbangi. Dan pada saat itu, Lidya membuka resleting jeans Gusti dan langsung melorotkannya. Tonjolan kemaluan Gusti tercetak jelas di celana boxer yang ia kenakan. Dan itu pun tak lama. Sedetik berikutnya bagian bawah Gusti sudah tak tertutup sehelai benang pun.

“Mbak, ah, ini mau ngapain?” Gusti gelagapan bertanya. “Udah, diem aja, dari dulu saya suka liatin kamu, ganteng, kekar, udah lama saya bisa mimpiin bisa, aahh, Gus, gede banget.” Komentar Lidya ketika dia memegang penis Gusti. “Gila, anak SMA ko bisa segene gini, tapi kamu udah pernah ginian belum?” Tanyanya kemudian. “Belum mbak, paling cuman onani doang.” Jujur Gusti menjawab. “Bagus, berarti saya yang pertama. Oke, kamu diem sayang, saya udah siap.” Dan blesss…. penis Gusti kini berada di dalam vagina Lidya. Tanpa membuka rok, hanya melepas CD dan keduanya dalam keadaan berdiri.
“Aaahh, gede banget kontol mu Gus, enakkk… “ Rintih Lidya. “Ahh, mbak, enak, memek mbak juga, aahhhh, kalo tau ginian enaknya kayak gini, udah dari, aaahhhh, duluuuu …. “ Gusti merasa keeanakan. “Mbak, gak kuat mbak, mau keluar.” Tapi Lidya membentak sambil telunjuk kirinya menekan bagian dekat lubang anus Gusti, “Tahan, saya masih pengen ngerasain kontol gede kamu. Udah, kamu tiduran, biar saya yang di atas.”

Lidya kemudian menidurkan Gusti, dan kembali memasukan vaginanya. Sleppp. “Aaaahhhh, gede banget Gus, memek saya penuh, hah hah hah, gila.” Gusti hanya bisa merem melek, tapi kali ini dia tidak tinggal diam, tangannya mengangkat baju seragam Lidya, dan langsung mengangkat BH nya ke atas. Kedua tangannya mulai memainkan kedua puting Lidya, diremasnya kedua buah dada yang menggantung bebas itu. Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka Lidya, Gusti memasukkan jari tengah kirinya ke dalam anus Lidya. “Aaaaaaaahhhh, Gus, jangan, saya belum pernah di situ, hey, stop, aaahhhhh.” Tapi Gusti tak mau tau, dia sangat menikmati sampai lupa diri, tapi akhirnya “Mbak, udah mbak, gak kuat.” “Yaaa, saya juga dah mau keluar, bareng Gus, hah hah, hmmmmppfff, keluaaaarrrrrr.” Gusti menyemprotkan spermanya banyak sekali ke dalam vagina Lidya, dan Lidya sendiri menekukan badannya, kejang dan tegang, terasa oleh Lidya cairan sperma Gusti masuk ke dalam rahimnya. Untung dia lagi dalam program. Kalo gak celaka, ini masa subur dia.

Setelah beres-beres dan menggunakan pakaian, Lidya berkata “Jangan panggil saya mbak, saya baru lulus SMA 2 tahun lalu, panggil nama aja. Dan kamu kurang ajar, pantat saya ini masih perawan ting ting, untung tadi gak dalem.”
Gusti cuman menyeringai, “Ya maaf, habisnya mbak, eh, lo juga sih, beneran dah, gua nyerah. Tapiii, mmm …” Lidya memandang Gusti, “Tapi apaan?” Tanyanya. “Boleh kapan-kapan lagi gak?” Gusti bertanya. “Hmmmm, boleh gak ya?” Lidya berkedip manja, dan mencium Gusti, keduanya kembali berciuman untuk beberapa saat. “Boleh.” Jawab Lidya. Dalam hati Gusti merasa bahagia, bisa dapetin perempuan secantik Lidya. Cantik dengan kulit kuning langsat bersih dan mata tajam yang menggoda. Bibir tipis nan sensual, juga badan yang kecil namun padat.

==========================================
“Gila, ngapain aja kalian bedua di atas?” Bima bertanya ketika Gusti sudah bersama mereka lagi.
“Gue udah bukan perjaka lagi pren.” Jawab Gusti dengan muka merah dan bibir sumringah. “Bangsat lo Gus, tau gitu gua yang kalah tadi. Mbak Lidya, kasir cantik model gitu.” Omel Bima. Udin mengomentari, “Udahlah, bukan rejeki.” Bima mengusap dada. “Tapi tetep, tau gitu gue tadi ngalah.”
Dan merekapun pulang ke rumah masing-masing. Dua dengan rasa kecewa dan iri, satu dengan rasa puas teramat sangat.

==========================================
“Ma, bisa bantuin ga?” WA dari Revi ke Ima siang itu.
“Kenapa say?” Ima membalasnya.
“Ajarin Fisika dong”
“Gak bisa oon. Saya aja minta tolong mas Gio. Eh, tanya dia aja”
“Gpp nih saya nanya dia?yakin?”
“Yakin, gpp kok. Mas Gio gak bakalan mau ama kamu”
“Heh, dasar, gini-gini juga termasuk cewek incaran di sekolah ya”
“Ya, incarannya mang Encang, xixixixixi”
“Imaaaaaaaa…… “

==========================================
Jam 3, pusat elektronik Bandung, Rian berjalan pelan diantara counter komputer. VGA Card. Game yang kemaren dia beli membutuhkan VGA yang lebih bagus dari yang dia pakai. “Sial.” Gerutu Rian. “Uang tabungan kepake lagi nih.”
Brukkk. Dia menabrak seseorang. Empuk.
“Yan, ngapain di sini?”
“Vi? Lah, kamu juga ngapain?”
“Ngisi pulsa modem. Sekalian sambil nyari mouse. Yang di rumah udah lari entah kemana. Kamu ngapain?” Jawab Revi. Rian menjawab kalo dia nyari VGA card. Dan mereka sepakat untuk nyari bersama. Setelah dapet, keduanya memutuskan untuk makan dulu di lantai atas. Tapi langkah Revi terhenti. Sesosok laki-laki berdiri mematung dihadapannya.

“Revi?”
“Ka?”
“Sehat?”
“Sehat, oya, kenalin, Rian, pacar Revi.” Revi berbohong. Rian sendiri hanya diam melongo.
Ingatan Revi kembali ke satu tahun silam. Ketika dia masih memiliki kisah dengan orang dihadapannya. Bagaimana orang ini menjadi orang pertama yang melumat bibir indahnya. Bagaimana dia sering main ke kostan orang ini hanya untuk memberikan bibir, telinga dan leher juga sepasang buah dada yang bulat padat.

Masih teringat ketika Revi dan dia berciuman, lama, lama sekali. Dan rangsangan yang diberikan padanya membuat dia tidak tahan. Revi pernah orgasme dari permainan orang ini di kedua buah dadanya. Revi masih ingat, bagaimana dengan lembut, dia memainkan puting Revi dengan lidahnya. Bagaimana pada suatu hari, ketika keduanya bertemu setelah sebulan tak bertemu, bergumul dengan dahsyat di atas ranjang, peting seperti biasanya, namun kali itu, saking bernafsunya, rok Revi sudah melorot. Celana dalamnya pun sudah hampir turun. Kalau bukan ada telepon masuk, pasti Revi bakal ditelanjangi bulat-bulat di hari itu.

Dan Revi pun ingat, terakhir kali ketika mereka melakukannya. Ketika dia membuat Revi mengoral penisnya. Membuat Revi merasakan benda itu keluar masuk mulutnya. Melintasi bibirnya yang indah. Ketika orang itu menyelipkan penisnya diantara bongkahan dada Revi yang besar dan bulat, ketika spremanya muncrat ke wajahnya, dan ketika Revi harus membersihkan sisa-sisa dari sperma dengan menjilati pebis orang itu.

Dan di hari itu pula, Revi dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang mengaku tunangan orang itu. Brengsek. Kenangan yang lama disimpan keluar lagi.

==========================================
“Mas, hmmm, bentar, udah dulu, aaahhh, geli. Stop!” Ima menyingkirkan kepala Gio dari buah dadanya. “Dengerin dulu bentar ih.” Gio mendengus, “Iya, kenapa?”
“Revi minta diajari Fisika. Dan Ima bilang mas pasti mau.”
“Oh, gak apa apa, asal ada bayarannya aja.” Jawab Gio.
“Ih, ko gitu. Apa bayarannya?” Tanya Ima.
“Hmmmm, emutin punya mas.”
“Ogah ah, minta aja ntar ke Revi.” Tukas Ima.
“Oh, oke lah kalo gitu, tar mas minta ke Revi, sapa tau dia mau.” Jawab Gio sambil nyengir kuda.
“Iiiihhh, mas ko gitu, nyebelin deh. Udah, sini, emut lagi dada Ima.”
“Ah, bilang aja kali Ima lagi pengen.” Gio menimpali sambil tersenyum.
“Iya, emang, pengen diemut, yang keras. Tandain lagi ya mas.” Ima menjawab pelan, tertunduk malu.
“Dengan senang hati malaikatku.” Dan Gio pun melahap kedua buah dada Ima, menyupanginya satu persatu.

==========================================
“Yun,lg dimana.” SMS dari Bima. “Di rumah, kenapa? Kangen ya?”
“Ya nih, kangen bgt.” Bima menjawab.
“Kangen apanya nih? Yuni ato lubang Yuni?” Tanya Yuni.
“Semuanya Yun. Badan kamu juga, wangi tubuh kamu, dan sepongan kamu. Mantap.”
“Ini orang jorok banget deh, iiiiihhhh. Hhe. Yasud,tar malem km maen ke rmh , Yuni tunggu.”
Bima tersenyum. Kejadian tadi malam antara Gusti dengan mbak Lidya membuat dia terangsang berat. Sampai rumah dia langsung onani. Mikirin mbak Lidya yang cantik dan menggairahkan. Siang ini tadinya dia berencana ke SPA untuk menyalurkan keinginan si otong. Tapi dia lebih memilih Yuni, bisa diapain aja, segalanya, dan tanpa biaya alias gratis. Cantik, manis, baik, dan nikmat.
Segera dia bangun dari tempat tidur, bersiap untuk mandi, tapi langkahnya terhenti di sebelah tangga, dia mendengar suara ibunya di telepon. Keras, lantang dan mengancam. Secepat kilat dia memalingkan muka. Muak. Kenapa mereka memutuskan menikah, melahirkan dia, kalo akhirnya hanya menyia-nyiakannya.

==========================================
Hal yang sama berlaku pada Udin. Bermain DotA semaleman dengan Rian sepertinya kurang mengalihkan pikiran. Setelah Onani tadi malam, dilanjutkan pagi dan siang tadi, entah sore ini mau diterusin atau tidak, dia memutuskan menghubungi salah satu mantan pacarnya. Siapa tau bisa ‘sakecrot dua kecrot’ pikirnya.
Yang ada dipikirannya adalah Icha, dan langsung dia menghubunginya. Beruntung sekali Icha mau diajak ketemuan. Lagi bosen juga, katanya. Dan malam ini mereka bakal ketemu di tempat mereka jadian dulu. Mall di jalan Merdeka.

==========================================
“Jadi itu orangnya?” Tanya Rian kepada Revi. Mereka kini duduk bersebrangan di salah satu meja di food court itu. “Iya, dia.” Jawab Revi. “Maaf tadi ngaku-ngaku kamu pacar Revi. Dan tolong, jangan diungkit-ungkit ya? Revi muak ama si bajingan itu.”
“Gak perlu minta maaf, malah kalo emang iya pacar beneran saya pasti senang.” Pikir Rian, ah Revi, betapa indahnya dirimu. “Iya, nyantey aja kali, kaya ke siapa aja. Udah, gak usah dipikirin. Kita nonton aja yu? Sapa tau kamu bisa lupa.”
“Rian yang bayarin ya?”
“Yeeeee, ni anak. Iya deh.”

ULVAH

Aku adalah salah seorang anak pengurus DPP Partai, dan sering hilir mudik ke DPP membantu Bapak. Penampilanku sopan dan bersahaja, katanya ganteng dan murah senyum. Waktu keluar dari DPP Partai di daerah Mampang, aku berpapasan dengan serombongan akhwat yang akan menuju Monas untuk berkumpul berdemonstrasi.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (9)

Setelah semua persiapan selesai, aku naik bus way dan ternyata bertemu dengan rombongan tadi, yang berjumlah 5 orang, 1 orang murrobiyah dan 4 muttarobinya, sang murrobiyah berumur 45 tahunan tampang cukup dewasa, sambil membawa 2 orang anak. Ke empat muttarobi masing masing Rina, Ulva, Saskia dan Dila, mereka semua berpakaian panjang dengan jilbab sampai pantat. Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.

Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.

Meski jilbab menutup sampai ke bawah, keindahan tubuh ke empat akhwat itu tampak terlihat jelas, dengan kulit wajah yang senantiasa berseri tanpa meninggalkan kesan pemalu, dada yang menonjol dan pinggang yang membesar layaknya biola.

Mendekati pasar festival, seorang akhwat terpaksa berdiri karena ada ibu yang lebih tua masuk demikian juga aku ikut berdiri karena banyak penumpang lain berdatangan, kebanyakan ibu-ibu arisan dan anak-anak seumuran SMP dan SD.Kondisi bus jadi lumayan padat,aku dan akhwat tadi berdiri berdekatan bahkan akhirnya bersentuhan. Tak dapat tidak mataku tertuju pada bongkahan pantat akhwat yang sintal dan menggairahkan.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (8)

Si akhwat juga asyik berbicara dengan temannya yang duduk, aku memutuskan mengambil kesempatan untuk menempelkan tubuhku ke badannya, maklum goyangan bus mendukung niat jailku itu. Nyaman sekali ketika penisku menggesek pantatnya, si akhwat sepertinya maklum karena kondisi bus yang bergoyang dan sedang asyik ngobrol dengan temannya, tapi lama-kelamaaan dia menyadari ada batang penis yang menempel di belahan pantatnya, dia pun mulai terdiam, kesempatan ini aku ambil untuk membuka pembicaraan
dengan dia, “Mau ke mana mbak?”, tanyaku. ”Ke Monas ada munasyoroh” jawabnya, merdu sekali suaranya. “Maafya desek-desekan”, kataku. Sejak dari pasfest aku sering menggesekkan penis ku ke pantatnya, nikmat sekali belahan pantat akhwat ini, empuk dan berisi, dia kadang tampak risi, tapi karena tahu kondisi dia diam saja, sesampainya HI kondisi macet total karena ratusan ribu massa Partais berkumpul di sana, setelah 30 menit menunggu kondisi tetap seperti semula, banyak suara sound system yang meraung keras. Aku makin berani menempelkan penisku dan tanganku mulai meraba pinggulnya, dia tampak menyadari hal tersebut namun karena malu dia diam saja, tanganku meremas pantatnya beberapa kali dan kadang turun ke paha, tanganku yang satunya berusaha menelusup lewat ketiaknya untuk menyentuh bukit indah di dadanya.Setelah sekitar 5 menit aku meremas pantatnya, akhwat itu tampak menikmati bercampur marah, dan kemudian membalikkan badannya sambil mendelik melotot.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (1)

Kemudian aku memanfaatkan kondisi itu untuk secepat kilat mengambil pisau di saku, dan menusuk ke perutnya. Si akhwat tampak kaget, sambil bertatapan aku berkata “diam”. Kemudian kuambil tangannya dan ku tempelkan kepada penisku dan menuntunnya untuk membelainya, mau tak mau akhwat itu harus menuruti perintahku, kemudian ku keluarkan penisku dan tangan mungil itu kupaksa mengocok penisku, nikmat sekali rasanya. Mata kami terus bertatapan, dan lama kelamaan tampak sayu lah mata gadis itu. Tangan ku yang satu mulai bergerilya ke bagian payudara, dan meremas-remas dadanya. Karena posisi yang rapat orang di sekeliling tidak menyadari, dan hanya melihat-lihat keramaian di luar.

Di tengah keheningan kami, sang murrobiyah dari jauh berkata, ”Ayo turun saja”. Aku pun bersungut dan mengikuti mereka dan berbisik ke pada si akhwat yang kuketahui bernama Ulva, jangan bilang ke mereka. Ulvah hanya menunduk mungkin karena malu dan takut. Aku terus berbaur dengan mereka sambil ikut meneriakkan yel-yel.

Aku menempel Ulvah dan berada di paling belakang dari kami ber enam, mereka sibuk dengan aktivitasnya serta mengurusi kedua anak sang murrobiyah.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (7)

Aku mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol ulvah tapi tidak dijawab,sepanjang perjalanan aku sering meremas pantat ulvah dan kalau kondisi berdesakan aku keluarkan penis untuk minta dikocok, suatu saat aku tidak tahan dan muncratlah air maniku ke luar, aku pun pura-pura bego dan tetap bersama mereka.

Ketika sampai di perkebunan Monas, aku paksa Ulvah untuk memisahkan diri, tentu saja dengan pisau ditodong ke balik jilbab ulvah. Aku mencari tempat di sebelah mushola di mana kondisi tidak terlihat siapapun, dan kembali memaksa ulvah untuk mengulum penisku dengan mulut mungilnya.

Setelah selesai aku kembali membaur, saat acara selesai kami pun pulang bersama…Di Bus Ulvah hanya diam dan tampak lelah, sebagaimana yang lain juga kelelahan. Sepanjang perjalanan penisku senantiasa menempel di belahan pantatnya….nikmat sekali pengalaman hari itu.

Sesampai di DPP aku hanya bertukar senyum dengan murrobiyah, aku berharap esok hari bertemu Ullvah lagi.

Beberapa hari sesudah kejadian di Busway dan taman Monas itu, Ulvah agak menjaga jarak denganku. Mungkin dia takut, walaupun aku merasa kalau Ulvah juga menikmati pelecehan yang aku lakukan atas dirinya. Namun dia menjaga jarak sebab dia tau kalau aku sudah punya istri dan anak. Namun aku bermaksud menjadikan Ulvah bini keduaku. Aku ingin menikmati Ulvah lebih dari sekedar melecehkan akhwat berjilbab lebar itu.

Maka aku bercita-cita pengen banget bisa menculik akhwat cantik itu untuk tau isinya itu seperti apa sih….. Waktu itu aku lihat Ulvah yang sedang memakai pakaian yang serba hitam, berjubah panjang hitam dan berjilbab sampai lutut. Aku tahu kebiasaannya setiap hari kalo pas keluar dari kos-kosannya. Ternyata setiap hari libur dia pasti keluar untuk pergi ke toko buku yang ada di sekitar komplek tempat kosnya Ulhav.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (2)

Keingintahuan diriku makin membesar, muncul lah ide buat menculik Ulvah. Waktu itu dia pas siang hari seperti biasa dia keluar rumah jalan sendirian dengan pakaiannya yang serba hitam lengkap dengan cadarnya. Walau hanya matanya saja yang terlihat tapi mata itu kelihatan begitu indah dan jalannya begitu anggun yang bikin aku makin napsu aja.

Aku langsung ikuti Ulvah dengan mobil. Di tempat yang agak sepi, aku sedikit pepetkan mobilku yang lagi jalan pelan itu ke pinggir ke tempat dia lagi jalan. Tentu saja dia kaget dan terjatuh. Lalu aku keluar untuk melihat dan meminta maaf.

“Maaf Vah, kamu tidak apa-apa?” tanyaku. Dia baru saja bangun dari jatuhnya dan kaget tapi dia menjawab juga sapaanku itu sebab kami memang sudah saling kenal.

“Oh nggak papa mas, cuma lain kali hati-hati dong nyetirnya,” sahutnya.

“Maaf ya sekali lagi maaf nih saya tidak sengaja, tiba tiba ban mobil saya terasa aneh nih. Begini saja deh sebagai tanda maaf saya saya akan antar adik ke tempat tujuan adik dengan aman tentunya, saya janji deh,” kataku

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (6)

Terlihat dia sedikit ragu dan curiga dengan ajakan saya, sebab tentu dia ingat perlakuanku di Busway dan Monas dulu. Setelah lama terdiam akhirnya diapun mau dengan alasan kakinya sedikit sakit dan dia berpikir mungkin itu niat baikku sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Akhirnya saya bukakan pintu mobil agar dia masuk, setelah itu aku berputar untuk kembali masuk ke posisi kemudi.

Sambil jalan, aku mengeluarkan saputanganku yang sudah saya kasih chlorofom atau obat bius yang memang sudah aku siapkan. Waktu aku masuk, aku langsung bekap aja dia dengan saputangan yang sudah mengandung obat bius itu. Dia segera meronta, namun walau dia menggunakan cadar tapi akhirnya dia mulai lemas juga karena aku kasih obatnya lumayan banyak.

Di dalam mobil waktu dia sudah setengah pingsan, aku lepas bekapanku dan aku segera menjalankan mobil ke tempat temenku yang waktu itu memang kosong. Karena kita begitu akrab, aku sudah biasa dan punya kunci serep rumah dia karena aku sering maen ke rumahnya dan aku menunggu dia pulang seperti rumah aku sendiri.

Setelah memarkir mobil aku angkat Ulvah untuk dipindahkan ke dalam rumah. Waktu aku angkat terasa sekali tubuhnya ternyata begitu empuk dan tangan Ulvah yang sedang aku pegang itu juga begitu halus dan itu membuat aku semakin ingin cepat-cepat ke dalam untuk memuaskan rasa ingin tahuku.

Aku letakkan dia terlentang di tempat tidur yang keempat sisinya terbuat dari besi. Pertama yang aku lakukan adalah membuka cadarnya sehingga aku akan dengan leluasa melihat wajahnya yg selama ini disembunyikan di balik cadarnya. Aku nikmati kecantikannya tanpa cadar  beberapa saat..

Wowwwwwww..!! cakep bangettttttttttt..!!!!!

Bibir Ulvah yang tipis dan sedikit basah mengkilap itu begitu indah dan kayanya enak untuk dinikmati. Aku berpikir sejenak, apa yang akan aku lakukan. Untuk jaga-jaga kalo nanti dia sadar dan berteriak gimana? Kemudian aku ambil beberapa women handkerchief dan aku gulung2 jadi seperti bola dan dengan pelan2 aku buka mulutnya dan aku sumpalkan bola saputangan tadi ke dalam mulutnya..aku akan tambah beberapa lembar women hanky lagi ke dalam mulutnya kalo aku rasa kurang penuh.. (aku sengaja pake women hanky krn selain warna-warni, aku juga bisa nambahin beberapa kalo kurang penuh tanpa takut kepenuhan krn bentuknya yg kecil2 dan tipis..kalo pake kain yg tebel2 takut terlalu penuh dan tidak nyaman).

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (5)

Aku ambil scarf yg rada tipis dan aku pilin jadi seperti tali agak tebal dan aku ikatkan di tengah sumpal mulutnya yg terlihat penuh dan menyembul keluar.. aku ikatkan scarf tadi dengan kuat ke belakang kepalanya dan sekarang yg terlihat di mulutnya adalah sumpal yg penuh dan di tengahnya tertahan oleh scarf yg terikat kencang. Aku ambil lagi sebuah bandana berwarna, aku lipat lebih lebar dari scarf tadi kemudian aku ikatkan menutup seluruh sumpal yg ada dimulutnya. Aku sedikit tekan sumpal di mulutnya biar lebih masuk lagi krn aku mau sumpalan itu bener-bener kencang jadi Ulvah bener bener nggak bisa mengeluarkan suara apapun kalo sudah sadar nanti. yang terdengar cuma mmmmppphhh…mmmppphh..

Aku pastikan lagi kuatnya sumpalan di mulutnya itu dan yakinkan kalo dia sudah tidak akan mampu mendorong sumpal mulutnya keluar sehingga berteriak saat sadar nanti. Aku perhatikan wajah cantik yang sudah nggak berdaya itu, dia begitu seksi dengan mulut tersumpal kaya gitu. Setelah itu aku mulai pasangkan lagi jilbab dan cadarnya dengan rapi seperti semula sehingga kalau ada yg melihat dia gak akan tau kalo sebenernya mulutnya disumpal dengan erat dan tidak bisa bersuara. Kemudian aku singkapkan pakaiannya karena aku akan mengikat tangan dan kakinya supaya dia tidak bisa lari waktu sadar nanti..

Wow tubuh yang sangat indah dan montok. Tubuh Ulvah yang ditutupi dengan jubah yang panjang dengan jilbab dan cadar. Nikmatnya tubuh Ulvah! Aku ambil beberapa tali dan aku ikat tangannya jadi satu ke belakang sehingga toketnya semakin membumbung ke atas dan terlihat semakin seksi. Kemudian dengan tali panjang ikat ke tiang besi di atas kepalanya lalu aku ikatkan ke lehernya tapi tidak terlalu kencang jadi Ulhav nggak tercekik. Aku ikatkan tali ke tiang yang berada di bawah satu aku ikat ke kaki kiri dan tiang satunya aku ikatkan ke kakinya yang satu lagi. Sehingga sekarang posisi kakinya sudah “mengangkang”.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (4)

Akhirnya sedikit demi sedikit Ulvah mulai sadar, dia kebingungan memandang sekeliling dan ke arahku… Kemudian dia menggerakkan badannya dan mulai sadar apa yg terjadi….

“MMMmmmmpppphhhh….!!!!” Sekarang dia sadar betul kalo dia sedang dalam kesulitan.. Dia mulai menyadari kalo dia terikat dan hanya bisa sedikit saja meronta..Dan dia sadar mulutnya sekarang tersumbat penuh dan erat sehingga dia tidak bisa berteriak minta tolong kecuali …mmmmmpppphhhh…yg keluar dari mulutnya.. Dia sepenuhnya sadar kalo dia tidak berdaya sampai berusaha bangkit pun sama sekali tidak bisa karena tali yang mengikat lehernya itu tersambung ke tiang di ujung tempat tidur yg menahannya utk tetep nempel di ranjang.. dan dia akhirnya sadar bahwa dia sekarang sedang DICULIK!!….mmmppphh..

Semua keadaan tadi aku perhatikan dan aku bener-benar sangat menikmati keadaan tidak berdayanya itu, terutama keadaan di saat dia kaget dan melotot takut dan bingung ke arahku saat pertama sadar keadaannya yg nggak berdaya dan hanya bisa..mmpphh.. tanpa bisa lakukan yg lain.. Ekspresi bingung, takut dari sorotan matanya ditambah suara dari mulutnya yg tertahan oleh sumpalan itu..mmmppphh..mmmppphh.. itu yg membuat aku bener2 puas dan senang dan semakin ingin lebih lagi nyicipin bagian yang lain!

Aku sedikit menghardik dan membentak menyuruhnya diam saat dia tetep merengek di balik sumpalannya … Aku memintannya tenang dan berjanji tidak akan melukainya kalo dia tetep tenang dan menuruti perintahku. Aku mulai naik ke atas ranjang sambil membuka celana panjang lalu cd aku, yang memang sudah terasa sempit karena kontolku yag memang sudah bangun dari tadi. Ulvahh tetap berusaha meronta. Tapi untuk berapa lama?! pasti sebentar lagi dia akan mulai lemas dan terangsang juga. Merontanya sudah mulai memelan. Dan itu saatnya aku memuaskan hasratku sebagai laki-laki. Dia mulai menangis, terlihat dari airmatanya yang muali keluar dari ujung matanya, tapi aku nggak perduli, aku sudah semakin “horny”. Langsung aja “adik” ku, aku gue masukan ke dalam memek Ulhav yang terasa begitu sempit (ternyata dia memang masih asli alias masih perawan). Darahpun mulai keluar dari pinggir vaginanya. Sambil melihat seluruh tubuhnya yang sudah nggak berdaya dan tidak mengunakan pakaian sehalai pun kecuali cadar yang masih menempel di wajahnya itu, aku semakin merasa “on” dan makin kuat “memompa” dari lubang vaginanya itu sambil maju mundur dengan pelan-pelan dan menikmati gesekan di dinding vagina yang masih sempit itu. Wow asik bener sesekali terdengar suara rintihannya yang hanya terdengar mmmmmppppphhh!

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (3)

Nafasnya yang mulai ter-engah engah sepertinya dia juga menikmatinya. Hehehe… hari itu aku memang mendapatkan pengalaman yang tidak dapat terlupakan, aku bisa mencicipi gadis bercadar yang begitu alim ini.

Aku tidak melakukannya sekali, dia nggak langsung aku lepaskan, sesekali aku ngaso dulu sambil menikmati suara “mmmppppphh” itu dari mulutnya yang aku yakin bunyinya itu “tolongg, lepasin gue, jangan lakukan lagi” Hehehe aku sangat puas hari itu, sampai 5 kali aku menyetubuh Ulvah akhwat yang cantik dan sintal ini. Wow, pengalaman yang luar biasa. Ternyata di balik cadarnya itu tersimpan kecantikan yang siap dinikmati kapan saja dan oleh kontolku!

MIA 7

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (4)
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (3)

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (2)
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

yessy purnamasari - jilbab memek seret (1)

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David

yessi eci - jilbab semok (6)
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”

yessi eci - jilbab semok (2)
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

yessi eci - jilbab semok (4)

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.

UFAIROH

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (5)

Ufairoh  begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke pesantren dimana dia menuntut ilmu agama sambil kuliah di Yogjakarta. Ufairoh Nurulhayah adalah seorang aktivis muslimah di kampusnya dia menjadi pengurus dalam HMMTP perkumpulan mahasiswa muslim di fakultasnya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (6)

Meskipun Ufairoh adalah seorang aktivis muslimah, tapi jubah yang dia pakai tidak bisa menutupi kemolekan dan kemontokan tubuhnya terutama payudaranya yang montok dan besar itu. Sebenarnya semua ikhwan-ikhwan di sekitarnya juga sangat bernafsu ketika melihat gundukan kelenjar susu yang besar dan montok itu. Bukan tidak sadar, Ufairoh mengetahui jika Payudaranaya itu istimewa, sehingga dia tidak pernah menggunakan jilbab yang panjang untuk menutupinya, karena tanpa diketahui semua orang, Ufairoh adalah seorang pecandu seks, dan dia sangat binal.

*******

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Ufairoh  begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor HMMTP. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (12)

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Ufairoh . Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu disaa sudah ada ina teman sekamarnya yang mengatakan jika ada seoran ikhwan mencarinya di luar .

Ufairoh  hanya membuka pagar itu sedikit, dan ternyata sudah ada Ardi yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berjumpa denganya dikantor HMMTP . “Ada apa, Ardi? “

“ada keributan antara Faizah dan Ummu Nida di Sekretarian HMMTP, saya disuruh menjemput kamu untuk melerai mereka.,“

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (11)

Ufairoh yang memang terlibat dalam organisasi itu dan merasa bertanggung jawab pada mereka karena berdebat langsung bersiap-siap untuk ke kantor HMMTP di kampusnya

****

Sesampainya di sekerteriatan Ufairoh  pun langsung menuju ruangan rapat sementara Ardi mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Ufairoh  yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi payudaranya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Ardi . Karena itu begitu Ummu Nida menyuruhnya  menjemput Ufairoh  , ia langsung mengiyakan.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (13)

Di dalam ruangan, Ufairoh  langsung mencari berkas untuk membantu Ummu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di laci meja. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Ardi sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Ufairoh  pasrah dirinya dipeluk Ardi dari belakang. Selain itu Ufairoh  sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Ardi. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Ufairoh , rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Ardi meraih rambut Ufairoh  dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Ardi jangan, aku geli,,,” , “Emang dik Ufairoh  nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Ardi lalu kembali memeluk perut Ufairoh dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Ardi menaikan pelukan di Payudaranya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan Payudaranya.” Ardi, apaan sih aku malu,..” sambil dia berputar ke arah depan Ardi. Ardi melihat wajah Ufairoh  yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Ardimempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Ardi. Pertama lidah Ufairoh  begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Ardi merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Ardimemasukkan lidahnya. Ragu-ragu Ufairoh menyambut lidah Ardi. Libido Ufairoh terpacu dan gairah seksnya meninggi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (1)

Perlahan tangan Ardi menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Ardimeraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Ufairoh  dibuka Ardi, dan Ardi langsung mengelus dan meremas-remas payudara biada Ufairoh yang besar dan menggoda itu, Ardi merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Ardii jangan, ardii…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Ardimulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Ardi yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Ardiaaa…”. Tangan Ardi meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Ardi. Ciuman Ardipindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Ufairoh  dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (15)

Perlahan ciuman Ardi turun sampai ke target utamanya yaitu payudara montok milik ufairoh yang putih dan kenyal, Ardi mencupang payudara putih itu, “ Eerrrrhh…ardiiiii.. haaah…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Ardi yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Arditelah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Ardimembelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh….., aku geli” tiap kali Ardi menyentuh anusnya. Ciuman Ardi telah meninggalkan cupang merah di leher dan di payudara akhwat cantiik ini, tangan Ardi meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke Payudaranya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Ardi ikut turun ke Payudara montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Ardiuntuk mengecup payudaranya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (14)

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Ardimenyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Ufairoh  kian menyusup menahan kenikmatan,” Ardiiiii , aku geli aaaaah,,,” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Ardi ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Ardi menempelkan telinga ke Payudara montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Ardimembalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Ardi telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Ardi, kemudian secara cepat Ardi melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Ardi cepat membuka baju dan celananya sendiri. Ardi mendudukkan ufairoh ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Ufairoh  terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Ardi buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Ardi menarik puting Payudaranya dengan tangan kiri. “Och.., ardiii” lirihnya. Dengan jari Ardi memelintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Ufairoh  mengejan, punggungnya menempel ke Payudara Ardidan tangan kanannya meremas penis Ardidengan lembut. ”Enak dik Ufairoh ??”, “Aah…” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Ardi tak henti-henti mengecup Payudara sebelah kanan  dan tangan Ardi aktif menarik puting payudara biadab kiri itu hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Ardi memangku Ufairoh di atas paha, Ardi membuka ke dua paha akhwat semok nan binal ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Ardi ke belakang, Ardi mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Ardi turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Ardi yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (10)

Mengingat Ufairoh  adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Ardi. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Ardi, keringat deras mengalir di Payudara dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Ardi dengan lembut. Ketika tangan kanan Ardimulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Ardi mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Ardi mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….ardiii, kau apakan tubuhku ini ardiii?”, ”Rilex dik Ufairoh , enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….iyaahh hahh yaaah nikmaat, enaaakh…..” Ufairoh   hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Ardi kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Ardi menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Ardi turun menelusuri labia mayora. Ardi menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Ahhh….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Ardi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (2)

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Ardi dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Akuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek ufairoh Ngak usah ditahan”, Ardi mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Ardiiii aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Ardi merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Ardi melihat dari cermin di mana Payudaranya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Ardi menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Ardi menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di meja ruanga itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Ardimenurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Ardi mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Ardi. Ardi mengambil posisi di samping kanan Ufairoh , tangan kiri Ardi merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Ardi nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Ardi berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Ufairoh . Payudara Ufairoh  terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Ardi menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Ufairoh boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Ardi menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Ardi dan tangan kirinya menekan kepala. Ardi merasakan keringat asin dari puting akhwat semok ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Ardi adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Ardi aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Ardi beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Ufairoh  di saat putingnya tenggelam di bibir Ardi. Ardi menggigit lembut, menarik ke atas, Ufairoh  meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Ardi. Sementara tangan kanan Ardi menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Ardi mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Ardi menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Ardi melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Ardi. ”Ardi…. jangan…”, saat Ufairoh  melihat kepala Ardiberada di antara dua pahanya, dengan lembut Ardimenjilat klitorisnya, ”Aah….ardi…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Ardi mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Ardimenggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh…. …. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Ardi.” Ardii….aku mau pipis lagi ardii” kepala Ardi tersanggkut.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (4)

Di paha Ardi air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Ufairoh. Ardi mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Ardi membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba ufairoh membuka matanya, “Ardi masukann masukaaan” kata ufairoh lirih ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Ufairoh .

Memandang Ufairoh  yang sudah terserang birahi membuat Payudara Ardi seolah meledak, Ardi menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Ufairoh . Perlahan kontol Ardimendesak masuk ke memek Ufairoh , perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Ardimenguasai pikirannya. Ardimelambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Ufairoh , Ardi menghempaskan tubuh ke samping Ufairoh . Perlahan Ufairoh  membuka mata. ” Kenapa Ardi? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”,”Hah? Kenapa berhenti Ardi”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Ufairoh ”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (3)

Rangsangan jari Ardiini membuat Ufairoh  menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Ardi meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Ardidengan sekali gerakan k Ard imeraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Ardi berpindah menarik punggungnya agar Payudara akhwat cantik ini dirapatkan ke Payudaranya, rasa hangat menerpa Payudara Ardi keringat mereka saling menyatu.

Ardi menempatkan kontol ke posisi vertikal. Ufairoh  kemudian mengesek naik turun kontol Ardi yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Ardi menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Ardi menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Ufairoh  sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Ardi menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Ardi masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Ardi tenggelam di gerbang vagina Ufairoh , tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Ardi hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Ardi merasa itu adalah selaput daranya. Ardi melihat Ufairoh  tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. “ Miliki aku, Aardiii…”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (9)

Kemudian dengan menarik nafas panjang Ufairoh  menaikkan tangannya di atas dada Ardi, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol Ardihingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…ardiiiih, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh Ardi. Ardi mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Ufairoh  mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Ardi, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Ufairoh  mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Ardii….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Ufairoh , biar Ardi lihat”. Ufairoh  berjongkok dengan kontol Ardi yang masih tersarung di memeknya, Ardimelihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…Ardii.. aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Ardi menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Ardi.. ardiiii…ardii…ouch” kontol Ardi keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (8)

Rasanya kontol Ardi dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Ufairoh . Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Ardi seiring dengan makin terangsangnya Ufairoh . Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Ardi aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Ardi keluar masuk vagina Ufairoh  semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Ufairoh  memasukkan kontol. Ardimengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Ardi aku mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Ufairoh  tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, Ardi juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Ufairoh , Ardi juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Ardi sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Ardi nyampe…….ah….” dengan kerasnya Ardimengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Ufairoh  masih bergoyang di atas kontol abu.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (7)

“Ardii…aku juga…..aaahhhh ” Tiga goyangan Ufairoh  mengejan di atas tubuh Abu, Ardi merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh Ardi dan kukunya menancap di punggung abu, Dada mereka saling menempel hingga Ardi merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Ardi serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan Ardi memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Ardi membiarkan Ufairoh  beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Ardi mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Setelah merasakan Seks dengan orang yang dikagumi, maka Ufairoh lupa akan urusanya,  dan mereka melakukan itu lagi dan lagi, sampai mereka tak sanggup berdiri.

Beginilah hidup ufairoh nurulhaya, penuh seks, dia tak lagi peduli dengan yang lain kecuali seks, dan semua masturbasinya selama ini terbayar dengan kontol asli milik Ardi.

ARINA AND FRIENDS

Namanya Okta, sebut saja begitu. Ia adalah salah satu mahasiswi di universitas ternama di Jawa Barat. Wajahnya tidak cantik, tapi memiliki aura eksotis. Badannya tidak tinggi, tapi sintal berisi, membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas. Gemas ingin menjamah tubuh montok itu. Dengan payudara berukuran 36B, Okta merupakan sosok gadis menggairahkan yang membuat siapapun ingin merasakan tubuhnya.
Siang itu, Okta sendirian di kontrakannya. Ia menyewa sebuah rumah kontrakan besar bersama ketiga temannya : Eva, Arina, dan Hani. Kedua temannya itu masih kuliah, satu sudah bekerja. Ia sendiri tidak ada kuliah hari itu. Dengan hanya menggunakan bra dan celana hotpants, Okta terlihat asik melihat layar laptopnya.

”Main ke kontrakanku aja, yuk. Lagi sendiri juga nih aku.” ketiknya, saat itu ia sedang asik chatting dengan temannya di sebuah aplikasi chatting.

”Serius, mbak, boleh? Deket sih kontrakan mbak dari kosanku. Aku juga penasaran nih gimana aslinya. Hehehe.” balas teman chatnya tersebut.
Di layar, tampak foto Okta hanya dengan menggunakan bra dan foto lain dirinya yang tidak mengenakan bra, hanya kedua telapak tangannya yang menutupi dada besarnya itu. Sepertinya ia sedang bertukar foto seksi dengan lawan chattingnya itu.
”Boleh lah. Ini nomerku, nanti kalo sudah sampai sms saja.” balasnya sambil mengetik sebuah nomor handphone.
”Oke, mbaak. Aku ke sana yaa.” balas sang pria di ujung chatting.
Okta tersenyum simpul seraya bangkit dari kasurnya. Ia melepas branya dan mematut diri di depan cermin di kamarnya. ”Masih bagus kok,” ujarnya sambil memegang buah dadanya yang montok.
Sejak kehilangan keperawan di awal kuliah, Okta seolah ketagihan dengan aktivitas seksual. Hampir semua pacarnya pernah merasakan lubang di tubuh Okta. Sadar organ vitalnya sering digunakan, Okta benar-benar merawatnya sehingga dadanya tetap kencang dan vaginanya tetap rapat. Hal ini membuat pacar-pacarnya semakin betah berlama-lama menggarap dirinya.
Tanpa menggunakan branya, Okta keluar untuk mengambil handuk. Ia hendak mandi sebelum kedatangan teman chattingnya itu. Payudara besarnya dibiarkan terbuka sehingga bergoyang kesana kemari seiring langkahnya. Teras kontrakannya adalah halaman parkir yang cukup luas untuk 3 mobil dengan pagar besar dan kanopi yang menutupinya, sehingga Okta tidak perlu khawatir ada yang melihatnya setengah telanjang saat ke teras untuk mengambil handuk di jemuran. Sekitar kontrakannya pun tidak terlalu ramai sehingga membuatnya semakin tenang menuju teras dengan telanjang dada.
”Kamu masuk aja, mbak lagi mandi.” begitu balasannya saat sebuah pesan singkat masuk menanyakan kondisi kontrakannya.
Sambil menyabuni dan mencukur bulu vaginanya, Okta mendengar suara pintu pagarnya dibuka. ”Datang juga dia,” pekiknya senang. Seolah membayangkan kenikmatan yang akan segera ia dapatkan dari cowok yang baru dikenalnya, Okta tersenyum sambil terus membersihkan vaginanya dari rambut-rambut tipis.
“Lama, dek?” tanyanya kepada seorang pemuda yang katanya baru berusia 18 tahun. Edwin namanya.
“Eh, ohh. Ehmm… ngg… nggak kok, mbak.” jawabnya gugup saat melihat kedatangan Okta. Siapa yang tidak gugup saat melihat sesosok tubuh sintal dan montok hanya berbalut handuk tipis yang pendek. Setengah payudara besarnya menyembul sehingga terlihatlah belahan dadanya yang membuat Edwin menelan ludah.
“Ini minum dulu.” ujar Okta sambil meletakkan segelas teh. “Gimana, mau langsung apa gimana nih? Kamu mau liat aslinya kaaan?” tanya Okta genit sambil memegang bongkahan dadanya.
“Eh… ohh… ter-terserah mbak aja.”
“Kamu kok gugup gitu sih, padahal di chat tadi kamu semangat banget. Hehehe… nih mbak udah beres-beres sesuai kesukaan kamu.” ujarnya sambil memegang tangan Edwin dan menggiringnya ke area sensitifnya.
Edwin yang nampaknya baru pertama kali memegang benda bernama vagina langsung terlihat sangat gugup. Walau begitu, tangannya menikmati memegang daging tebal milik Okta. Bahkan, di tengah remasan-remasan itu, Edwin iseng memasukkan jarinya ke dalam vagina Okta.
“Auw!” pekik Okta. “Sabar dong, dek. Nanti ada waktunya. Kamu suka yang gak ada rambutnya kan?”
“I-iya, mbak.” jawab Edwin gugup. Ia bahkan tidak menyadari ada atau tidaknya rambut di sana karena begitu menikmati memegang alat kelamin gadis berusia 21 tahun itu.
Tidak ingin menunggu lama, Okta langsung mengajak Edwin masuk ke kamarnya. Duduk berdua di tepi ranjang, Okta hanya senyum-senyum melihat lawan chattingnya itu terlihat kikuk. Edwin, yang notabene masih perjaka, tentu gugup dengan pengalaman pertamanya ini.
“Sebelum mulai, mbak mau kamu oral dulu dong.”
“O-oke, mbak.”
Tidak lama-lama, Okta segera membuka handuk hijaunya. Di depan Edwin, Okta kini tidak mengenakan sehelai benangpun. Dadanya yang montok dan vaginanya yang tebal menjadi santapan mata Edwin dengan bebasnya. Putingnya yang bulat agak besar dengan warna agak hitam terlihat menantang di puncak bukit susu Okta.
“Kenapa, dek? Kok diem aja? Mau yaaa?” tanya Okta genit sambil menyodor-nyodorkan buah dadanya ke Edwin.
Edwin hanya menelan ludah melihat tubuh telanjang Okta di depan matanya. “Mbak, ge-gede banget.” pujinya.
“Iya dong. Cowok suka yang gede kan?” jawab Okta bangga sambil memilin-milin putingnya sendiri. “Kamu buka baju juga dong. Masa aku doang yang bugil.” pinta Okta.
Tanpa disuruh lagi, Edwin langsung membuka seluruh baju dan celananya. Jadilah keduanya kini telanjang di kamar Okta.
“Punyamu gede juga ya, dek.” kata Okta.
“Iya dong. Cewek kan suka yang gede, mbak.” balas Edwin meniru ucapan Okta.
“Hahaha. Kamu bisa aja. Ya udah yuk, mbak udah gak tahan nih. Kamu oral mbak dulu ya.”
“Siap, mbak.”
Okta langsung telentang di atas kasur. Kakinya tetap terjulur ke bawah sehingga vaginanya terekspose sepenuhnya ke arah Edwin. Hal ini sengaja agar Edwin mudah men-servis alat kelaminnya yang terlihat sudah menggembung karena nafsu.
“Shhh… oohhh… aahhhh… enakkhhh dekk… aaahhhhh…” desah Okta saat lidah Edwin mulai menyapu vaginanya. Meski belum pernah, Edwin sudah belajar dari film-film porno yang dimilikinya. Lidahnya menyapu bagian luar vagina Okta yang tebal. Sesekali menulusup ke dalam vaginanya, membasahi liang kenikmatan yang sudah berkali-kali mencicipi rasa penis itu.
“Ahhhh… terussshhh dekkk… aaahhhh…” desahan Okta semakin keras saat tangan Edwin mulai aktif menjamah payudaranya yang menganggur. Jarinya asik memilin-milin, memencet, dan menarik-narik puting Okta yang bulat tebal. Mendapat serangan di dua arah, Okta semakin bergelinjang tidak tahan menahan gairah yang semakin memuncak.
Puas bermain dengan dada montok Okta, Edwin menggunakan tangannya untuk melebarkan paha Okta, membiarkan lidahnya semakin leluasa bermain di liang surgawi gadis itu. “Slurrrrppppp…” Edwin coba menghisap memek tebal Okta kuat-kuat.
“Aaaaaaahhhhh… ssshhh… aaaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi-jadi.
Edwin membuka vagina Okta dengan kedua jarinya sehingga merekah. Terlihatlah isi memek Okta dengan lebih jelas. Lidah Edwin pun merasuk lebih dalam, bermain-main dengan klitorisnya. Sesekali diemut dan digigit kecil biji sensitive Okta tersebut. Serangan tersebut membuat Okta semakin  bergelinjang ke sana kemarin, membuat buah dadanya berguncang hebat seiring gerakan badan seksinya.
“Dekk… aaaaahhhhhh… ssshhhh… mbaaakkkk… mauuuuu… keluaaarrrr… aaaaaaaa…”
Croot… croot… crooot… Cairan cinta Okta pun keluar membasahi mulut Edwin. Edwin menghisapnya kuat-kuat hingga semua cairan itu terminum semua olehnya.
“Ohhhhhh… aaahhhhhhh…” desah Okta saat menyadari Edwin tidak mengendurkan serangannya. Edwin tetap asik bermain di liang surgawi Okta meski tahu gadis itu baru saja orgasme. Ia tampak asyik menghisap, mengemut, dan menggigit kecil biji klitoris Okta.
“Woi!!!” sebuah suara yang dikenal tiba-tiba mengagetkan dua insan tersebut.
Edwin yang kaget membuatnya tidak sengaja mengigit klitoris Okta. “Aww!!!!” pekik Okta saat area sensitifnya itu tergigit Edwin. Dengan kaget, Okta dan Edwin menoleh ke arah pintu kamar yang memang lupa mereka tutup. Edwin yang panik langsung berusaha menutupi penisnya dengan tangan, sedangkan Okta tampak santai-santai saja duduk dan membiarkan tubuh telanjangnya terbuka lebar.
“Ah, gila lu, Han! Lagi enak-enak juga. Untung nggak pas tadi gue mau keluar, jadi gak gantung.” kata Okta.
Rupanya itu Hani, teman kontrakan Okta. Hani baru pulang kuliah saat mendapati Okta sedang diservis oleh cowok lain yang belum pernah dibawanya ke kontrakan sebelumnya.
“Biasa aja kali, dek. Gue udah sering liat penis cowok. Hahaha. Ini juga udah sering nyobain nih.” tawa Hani saat melihat wajah kikuk Edwin sambil menunjuk vaginanya sendiri. “Lagian elu, mentang-mentang libur malah asik-asikan sendirian di kontrakan. Siapa lagi nih cowok?” tanyanya pada Okta.
“Ada deh. Lagian gue sendirian di kontrakan. Daripada bête juga kan. Mending kasih makan nih si tembem.” ujar Okta sambil mengelus vaginanya yang masih mengeluarkan lelehan cairan orgasmenya.
“Gila lo ah! Haha. Ya udah sana lanjutin, gue mau mandi dulu. Panas banget gila.”
“Sono-sono, ganggu orang aja nih.”
“Yeee, makanya tutup tuh pintu. Ngablak amat, gue dari pintu depan juga bisa ngeliat ke dalem kalo memek lo lagi diservis.” jawab Hani sambil ngeloyor.
Hani

Hani, 21 tahun, teman satu kampus Okta. Perawakannya sangat berbeda dengan Okta. Kalo Okta tidak cantik tapi eksotis dan manis, Hani tergolong cantik dan manis. Badannya putih, tapi kecil dengan buah dada yang juga kecil, cuma 32B. Meski begitu, tidak sedikit pengalamannya soal ML karena Hani sudah merasakan namanya ML sejak SMP. Ia sudah biasa melihat Okta bersetubuh dengan cowok di kontrakan, pun sebaliknya. Bahkan cowok yang dibawa Okta untuk bersetubuh kerap berbeda.

“Maaf ya, dek. Lanjut yuk. Sekarang terserah deh kamu mau ngapain. Nih tubuh mbak hari ini punya kamu.” kata Okta pada Edwin.
“I-iya, mbak.” jawab Edwin singkat. Setelah nafsunya naik kembali setelah terpotong karena kehadiran Hani, Edwin langsung merangsek naik. Bibirnya langsung diarahkan ke puting dada Okta yang bulat.
“Aaahhhh… enakkk…” desah Okta menikmati kuluman Edwin di puting payudaranya. Edwin sesekali menghisap, mengigit, dan menarik puting Okta dengan gemasnya.
TING-TONG…!!!
“Mbaaak… kiriman gas dan air, mbaaaak!!!” teriak seseorang dari luar.
“Ih, siapa lagi sih?” gumam Okta sebal karena kenikmatannya terpotong lagi. “Hanii! Ada orang tuh di luar!” teriaknya pada Hani.
“Pasti tuh anak lagi mandi.” dengusnya sebal saat tidak mendapat jawaban. ”Bentar ya dek.” Okta pun memakai handuknya kembali sambil meninggalkan Edwin yang terlihat kecewa karena eksplorasinya di bukit susu Okta harus terpotong.
“Iya, mbak.” jawab Edwin singkat sambil beranjak duduk di kasur, menampakkan penisnya yang berukuran 20 cm yang sudah tegang, siap menyodok liang memek Okta kapan pun.
“Gila, memeknya oke banget. Toketnya super. Duh, nggak rugi deh ngerasain ML pertama sama mbak Okta. Super banget bodinya.” ujar Edwin dalam hati sambil memperhatikan Okta yang keluar kamar hanya dengan berbalut handuk.
***
“Eh, Bang Kiki. Pesenan galon sama gas ya, bang? Masuk aja. Nggak dikunci kok.” ujar Okta kepada pengantar yang dikenal bernama Bang Kiki.
Bang Kiki berusia sekitar 28-an, adalah pengantar di warung Bu Kosim, yang sering mengantar barang-barang pesanan pembeli. Tubuhnya agak jangkung dengan pipi tirus, wajahnya mirip Wendi Cagur dengan kumis dan janggut tebal yang menempel di wajahnya.
“Duh alahhhh, neng Okta seksi banget dah ah! Tau aja abang mau dateng. Mau kasih bonus nih, neng? Tuh toket makin mengkel aja. Udah ada susunya belom, neng? Hehehe.” goda Bang Kiki mesum yang melihat tubuh molek Okta yang hanya berbalut handuk tipis. Bang Kiki memang kerap mendapat bayaran berbeda kalau mengantar barang ke kontrakan ini.
“Ih, si abang mah, gak ada bonus-bonusan lah, tetep tergantung abang itu mah. Hehehe.” balas Okta tidak kalah genit. Ia yang sudah terbiasa dengan ulah Bang Kiki dan memang sering “membayar” tidak merasa terganggu dengan godaan mesum laki-laki itu.
“Semua berapa, bang?” tanya Okta sambil mengeluarkan dompetnya.
“Harga lagi pada naik, Neng. Totalnya jadi Rp 150.000,00 semuanya.”
“Ah, serius, Bang? Mahal banget!” ujar Okta terkejut mendengar nominal yang disebutkan Bang Kiki.
“Yaaa, tapi kan neng gak perlu bayar pake duit semua. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil tersenyum mesum. Matanya tidak lepas menatap bongkahan dada Okta seolah tidak sabar ingin “dibayar” seperti biasa.
Okta terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.  “Hmm… kemaren Bang Kiki pada dibayar gimana sama yang lain?” tanya Okta yang ingat sebelum-sebelumnya bukan dia yang menghampiri kalo Bang Kiki datang mengantar pesanan barang.
“Beda-beda, neng. Tergantung kurangnya sih. Tapi terakhir kali kalo sama neng Hani, burung abang diisep sama dia sampe peju abang keluar. Habis, abang mau isep teteknya tapi kan neng Hani teteknya kecil, nggak semontok neng Okta. Hehehe. Kalo yang terakhir sama neng Eva sih dia mau abang masukin burung abang ke pantatnya. Hehehe.” jawab Bang Kiki senang karena sudah bisa mencicipi tubuh gadis-gadis penghuni kontrakan di sini.
“Hah? Kok Eva mau dianal? Emang dia beli apa, Bang? Kalo sama Arina?” tanya Okta sambil menyebut Eva, satu-satunya perawan di kontrakan dan Arina, satu-satunya gadis berjilbab di kontrakan, yang tetap saja sudah pernah mencicipi rasa penis di vaginanya.
“Sama kayak sekarang, neng. Gas sama galon air 4, tapi neng Eva nggak bayar sama sekali. Jadi gantinya ya full servis, tapi tetep kan neng Eva gak mau dientot memeknya, Neng.” jawab Bang Kiki seolah paham kebiasaan Eva yang suka anal demi menjaga selaput dara di vaginanya.
“Kalo mbak Arina mah selalu bayar full, mbak. Abang belom pernah tuh cobain dia. Padahal mah biar kerudungan jugaa… keliatan toketnya montok atuh, nggak kalah sama neng Okta. Bulet pisan, euy. Mengkel.” lanjut Bang Kiki sambil menceritakan Arina, penghuni tertua di kontrakan tersebut.
“Ouhhh… ya udah deh, ni aku bayarnya Rp 50.000,00 aja ya, bang. Sisanya biasaaa…” ujar Okta pada akhirnya.
“Walahhh… gede atuh abang nomboknya ini, Neng.”
“Yeee… mau nggak, bang? Nanti aku kasih yang setara deh sama tombokan Bang Kiki.” kata Okta sambil menjulurkan uang 50ribuan.
“Bener ya, Neng? Abang mau dong tombok-tombok memek Neng. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil mengeluarkan senyum mesum khasnya.
“Yeee… si abang. Nggak lah, kan perjanjiannya tombok-tombok memek kalo gak bayar sama sekali.”
“Sekarang abang mau dibayar apa nih sisanya?” lanjut Okta sambil duduk di kursi teras.
“Abang mau minum susunya neng dong, kangen nih. Susu neng kan paling montok di antara temen-temen Neng. Hehehe. Sama main-main di memek neng ya. Tanggung tuh kayaknya, Neng. Hehehe.” pinta Bang Kiki yang melihat masih ada lelehan cairan cinta yang keluar dari vagina Okta.
Okta yang menyadari bahwa vaginanya masih memuntahkan lahar nikmat langsung reflek merapatkan pahanya. “Ih, abang ngintip-ngintip.”
“Ya udah dibuka atuh, Neng.”
Sambil masih duduk di bangku teras, Okta membuka handuknya, membiarkan tubuh moleknya menjadi santapan Bang Kiki yang terlihat seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
“Ya ampuuun… makin montok aja si neng, mah. Teteknya gak nahan nih, Neng, beda bener sama punya neng Hani sama neng Eva.” kagum Bang Kiki sambil mulai memilin-milin puting susu Okta.
“Shhhh… aahhhh… abangghh bisa ajaahhh… belom pernah liat teteknya Arina kaannhhh… aaahhh…” desah Okta pelan karena sadar mereka berada di teras, yang walau tertutup dan jalanan memang sepi, suaranya masih bisa terdengar kalau ada orang lewat.
“Belom, Neng, belom kesampean nyusu di teteknya mbak Arina.” jawab Bang Kiki sambil terus memainkan puting besar Okta.
Setelah kedua putingnya mengeras, barulah Bang Kiki mulai menyodorkan bibirnya ke pentil tetek Okta. “Aaahhh… sshhh… aaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi saat serangan Bang Kiki berubah menjadi hisapan di bukit kembarnya. “Bang… aaaahhhh… terussshhiiinnn… aaaahhhhh…”
Badan Okta langsung bergelinjang saat Bang Kiki menghisap kuat-kuat putingnya dan tiba-tiba Bang Kiki menusuk vagina Okta dengan 2 jari sekaligus. “Aaaaaaaaa…” pekik Okta saat mendapat serangan kedua di area kelaminnya.
Bang Kiki terus menusuk-nusuk vagina Okta yang sudah basah dengan 2 jari, menyebabkan tubuh molek itu berguncang kesana kemari. Pergerakan badan Okta pun menyebabkan putingnya yang sedang digigit Bang Kiki tertarik sendiri sehingga menimbulkan sensasi geli dan sakit yang bercampur nikmat.
“Enak gak, Neng? Abang terusin ya sampe neng keluar,”
“Enakkkhhh bangghhh… aaaahhhh…”
Slup, slup, slup, slup, bunyi kedua jari tangan kanan Bang Kiki yang menusuk-nusuk vagina basah Okta. Berganti ke payudara sebelahnya, Bang Kiki menyiapkan serangan baru saat puting payudara Okta yang sebelah kanan mulai dicocor bibir birahi Bang Kiki sambil keempat jari tangan kanannya bersiap menghajar memek Okta.
“AAAAAAA…” teriak Okta saat keempat jari itu mulai menusuk vaginanya bertubi-tubi. Vagina Okta benar-benar dihajar sampai mengeluarkan cairan lebih banyak lagi. “Enakkk… aaahh… terussshhhhhh bangggghh…”
Sambil mengigit kecil puting Okta yang sebelah kanan, Bang Kiki mengorek-ngorek vagina Okta dengan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan kelamin Okta, yang satu lagi masuk ke dalam vaginanya, bermain di sana sambil sesekali menyentil biji klitorisnya yang belum lama tergigit Edwin sehingga masih ada sedikit rasa perih di sana.
“Aaahhh… yeess bang… aaahhhhhh…”
Merasa sudah menguasai Okta, Bang Kiki pun langsung meminta permintaan terlarang. “Neng, abang entot aja ya biar cepet neng keluarnya? Dari tadi gak keluar keluar sih si neng.” bisik Bang Kiki sambil terus menyerang vagina Okta.
“Shhhh… aaahhhhh… iiiyaaahhh bang… terserahhh abanggg ajahhhh…”
Mendapat lampu hijau, Bang Kiki langsung mengeluarkan penisnya dari balik celana pendeknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap bermain di dalam vagina Okta untuk memastikan tegangan birahi gadis itu tidak turun. Penis berukuran 18 cm mengacung tegak siap menghunus ke dalam memek Okta yang sudah cukup pemanasan dari tadi.
“Hmmpphhhh… hhmppphhh…” Okta kaget saat bibirnya tiba-tiba dicium Bang Kiki. Lidahnya perlahan tapi pasti coba menyapu mulut Okta bagian dalam. Terbawa birahi, Okta pun membalas sapuan lidah Bang Kiki tanpa sadar ada benda tumpul yang sedang mendekati alat kelaminnya.
SLEPP…!!! Dalam sekali hentak, penis Bang Kiki menerobos masuk ke vagina Okta dengan mudah.
“Akkhhh…!!” pekik Okta tertahan saat tiba-tiba dirasakannya vaginanya penuh oleh penis Bang Kiki.
“Akkhhh… bangghhhh…” belum sempat melanjutkan ucapannya, Okta kembali mendesah hebat saat Bang Kiki mulai memompa liang vaginanya.
“Akkkhhh… aaahhhh…” Bang Kiki memompa kelamin Okta dengan tempo pelan, membiarkan vagina mahasiswi itu terbiasa dengan penisnya. Sambil meremas-remas payudara Okta, Bang Kiki terlihat sudah dikuasai nafsu untuk menyetubuhi Okta.
“Tahan ya, Neng, abang cepetin nihh… aaaahhhh…” ucap Bang Kiki sambil mempercepat genjotannya di kelamin Okta.
Okta yang sudah terjebak birahi hanya bisa mendesah nikmat mengikuti irama genjotan Bang Kiki. “ Ssshhh… aaahhh… terusshh banggghhh… enakkkhhh… ooohhhh…”
Plok, plok, plok, plok, begitu bunyi pertemuan kelamin dua insan itu seiring semakin cepatnya Bang Kiki menggenjot tubuh Okta. Sudah 30 menit sejak persetubuhan itu dimulai, belum ada satu pun yang terlihat akan keluar.
“Ahhhh… ahhhhh… ahhhhh… ahhhh…” tubuh Okta berguncang hebat karena genjotan Bang Kiki di vaginanya. Dadanya berguncang hebat seiring gerakan tubuhnya.
“Ahhhh baaanngggghhhh… akhuuu mauuu kheluarrr… sshhhhh…”
“Ahhh… iya Neng… bareng atuhhhhh…”
Crooott crooott crooott… Sperma Bang Kiki muncrat memenuhi liang senggama Okta yang juga kembali mengeluarkan cairan kenikmatannya.
“Ahhhhhh…” rintih Bang Kiki seolah berusaha mengeluarkan seluruh spermanya tanpa sisa ke dalam memek Okta.
“Ahhh baaannggg…” Okta tidak kalah bersuara saat merasakan liang vaginanya disiram cairan hangat yang sangat kental.
Selesai orgasme pertama, Bang Kiki dan Okta seolah terdiam dengan kedua kelamin mereka masih menyatu. Rasanya mereka masih berusaha menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Duuhhh… ini si abang nagihnya gak liat-liat tempat ya!!” tiba-tiba terdengar sebuah suara menegur pasangan yang baru saja dilanda orgasme itu.
Arina

Ternyata itu Arina, penghuni kontrakan yang lain. Arina adalah penghuni kontrakan yang paling tua di antara yang lain. Ia bekerja di salah satu bank swasta. Perawakannya yang berkerudung dan alim membuat siapa pun segan kepadanya. Namun, siapa yang menyangka bahwa pemilik buah dada berukuran 34B itu bukan orang baru dengan aktivitas seperti yang baru saja dilakukan Bang Kiki dan Okta.

“Eh, mbak Arina. Hehehe. Biasa mbak…” jawab Bang Kiki tanpa canggung walau Arina jelas-jelas bisa melihat penisnya masih tertancap di vagina Okta yang masih berusaha mengatur nafas.
Okta sendiri tidak menyadari kedatangan Arina. Ia masih bersandar sambil memejamkan mata, berusaha mengatur nafas dan menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Mbak mau?” lanjut Bang Kiki tanpa sungkan. Memang, di antara semua penghuni kos, hanya mbak Arina lah yang belum pernah dicicipi tubuhnya, bahkan untuk sekadar melihat dadanya saja Bang Kiki belum pernah.
“Yeeee… enak ajaaa. Aku kan selalu bayar full, Bang.” ujar Arina sambil sesekali melirik ke arah penis Bang Kiki yang tertancap di memek Okta.
“Ya sudah lanjutkan sana, Bang. Aku masuk dulu ya,” ujar Arina sambil masuk ke dalam, meninggalkan Okta yang tubuhnya masih tertindih Bang Kiki.
“Oke, mbak.”
Mata Okta perlahan mulai terbuka, ia mulai menyadari apa yang baru saja terjadi. Saat pandangannya mulai jelas, dilihatnya Bang Kiki yang sedang asik menjilati putting susunya, sambil tetap membiarkan penisnya tertancap.
“Ehh, Bang Kiki! Apaan nih!?” pekiknya kaget sambil mendorong tubuh Bang Kiki.
Plop!!! Begitu bunyi saat penis Bang Kiki terlepas dari memek Okta. Okta yang tersadar pun langsung mengambil handuknya dan memakainya.
“Lebih banget nih aku bayarnyaa…” tegas Okta.
“Hehehe. Neng Okta seneng juga kok waktu itu.” senyum mesum Bang Kiki mengembang sambil terus mengocok-ngocok penisnya yang perlahan bangkit kembali.
“Ihhh… mana keluar di dalem lagi. Untung aku lagi gak subur tau, gak?” ujar Okta setengah kesal saat meraba vaginanya penuh dengan lelehan peju Bang Kiki. “Udah ya, Bang. Udah lebih tuh bayarnyaaa.”
“Iya, neng. Hehehe. Makasih yak bonusnya. Puas banget dah abang sama badan montok neng. Hehehe.” ujar Bang Kiki sambil memasukkan penisnya kembali ke dalam celana.
“Ihhh dasar. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan nih si abang.” gerutu Okta sambil melihat Bang Kiki pergi meninggalkan kontrakannya. Tidak lupa seutas senyum mesum ditebar pengantar barang itu sebelum pandangannya dari Okta yang hanya berlilitkan handuk menghilang.
”Niatnya perjakain anak orang, malah diperawanin Bang Kiki.” keluh Okta dalam hati mengingat seharusnya penis pertama yang menghujam vaginanya hari ini adalah penis perjaka milik Edwin, tapi malah penis Bang Kiki yang pertama menerobos liang senggamanya hari ini.
Sambil melangkah ke dalam kontrakan, Okta melihat Arina sedang makan di meja makan. “Eh, mbak Arina. Kapan pulang, mbak?” tanya Okta bingung melihat tiba-tiba Arina sudah di dalam.
“Baru aja, tadi kamu nggak liat mbak masuk. Kamu kan lagi digenjot sama Bang Kiki tadi.” jawab Arina,
“Duhhh,,, jadi malu. Mbak lihat ya?” tanya Okta. Mukanya memerah karena malu. Meski sudah biasa dengan aktivitas tersebut, tapi Okta masih merasa segan kalau melihat penampilan Arina yang masih rapi seperti sekarang.
“Pake malu segala, kayak sama siapa aja sih. Keliatan banget lah. Wong kamu main di teras, untung gak ada orang lain liat.”
“Habisnya Bang Kiki sih. Orang tadinya cuma ngasih ngisep-ngisep tetekku aja jadi kelewatan.”
“Ya iyalahhh. Siapa juga gak tahan kalo cuma dikasih isep tetekmu itu tapi kamunya telanjang. Selain mbak, di kontrakan ini yang teteknya besar ya kamu, jelas Bang Kiki nafsu banget, dari kemarin dapetnya kecil-kecil.” jelas Arina sambil menyinggung Eva dan Hani yang payudaranya tidak seberapa besar.
“Hehehe. Iya sih, aku juga yang salah.”
“Yowes, tuh udah ditunggu sama cowokmu di kamar. Tumben kamu suka yang kecil, Ta? Biasanya kan cowok-cowokmu dulu gede-gede penisnya. Sampe melar ini punya mbak kalo gak minum jamu.” tanya Arina sambil menggosok-gosok selangkangannya, menyinggung tentang masa-masa saat Arina suka ‘meminjam’ pacar-pacar Okta, Hani, atau Eva untuk memenuhi kebutuhan biologisnya mengingat Arina belum pernah pacaran lagi sejak lulus kuliah.
“Oh iya! Oke deh. Aku tinggal dulu ya mbak. Itu bukan cowokku kok.” ujar Okta sambil berlalu. Mahasiswi itu segera masuk ke kamarnya yang lupa ia tutup lagi. Di meja makan, Arina hampir tersedak saat mendengar kalimat terakhir Okta.
“Loh!” pekik Okta kaget saat melihat Edwin sedang tertidur di ranjangnya… dengan penis mengkerut.

Author : Rieska

MIA 6

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.

yessi ecii - jilbab bahenol (6)
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

yessi ecii - jilbab bahenol (5)

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

yessi ecii - jilbab bahenol (4)

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”

yessi ecii - jilbab bahenol (3)
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

yessi ecii - jilbab bahenol (2)

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…

yessi ecii - jilbab bahenol (1)
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.

MIA 5

Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) J.

yessy eci - hijabers mom community (3)

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster, no bra dan no cd) dan memakai jilbab, sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku).

Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.
“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Fachri!” katanya tegas.
“Mmh.. Tino.”
Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”
“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.
“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.
“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.
“Belum!”
“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”
“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..
“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.
Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah memekku sambil mengelus dan menggosok memekku. Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

yessy eci - hijabers mom community (5)

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku. Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino.
Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku memakai jilbab putih, kemeja tangan panjang dan rok lebar semata kaki. Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon. Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan memberitahu Fachri dan ibu bahwa Tino menyuruhku segera pulang. Aku dan Fachri segera berpakaian lalu aku pulang menggunakan taksi agar Tino tidak curiga.

Keesokan harinya, Fachri menelfonku, katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia hrs melayani istrinya yang minta ML J. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh…. Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

yessi eci - jilbab semok (5)

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.

Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”
RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”
“Iya Mas, nggak papa!”
“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi apalagi memakai jilbab…” kata Mas Pras memujiku.
“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.
“Kamu bercanda apa serius nih?”
“Serius!!!”
“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.
“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”
“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”
“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”
“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”
“Kapan?”
“Mmmhh… maunya kapan?”
“Nanti malem aja!”
“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.
“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”
“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.
“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.
“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.
“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

yessy eci - toge jilbab montok (4)

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Mami…”
Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.
“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”
“Mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.
“Iya Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”
“Iya Om….”
“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.
“Aku laper… mau makan…”
“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”
Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.
“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”
“Iya…!!”
“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.
Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam kontolnya itu.
“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala kontol besar yang setengah bangun itu ke arah memekku yang ada dibalik g-stringku yang masih tersembunyi di balik rok panjangku yang sudah terangkat bagian depannya.
“Mi…” kata Mas Pras, “buka dong cd mu!”
Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.
“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.
“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua pakain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai daster tanpa lengan. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny. Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny. Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.
“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.
“Buat Mas!” jawabku singkat.
Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah memekku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam kontol yang setengah bangun itu. Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. Kontolnya menegang dengan cepat sekali.
“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”
Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. Kontolnya mulai memasuki liang memekku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali. Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam memekku.
“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.
“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.
Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)

Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras. Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak memek adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam memekku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.
“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”
“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

yessi eci - horny jilbaber montok (2)

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.
“Mi,… ML dong!” katanya.
“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”
“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”
“Aku kocokin aja ya….”
“Ya udah deh… nggak papa!”
Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok kontol suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi memekku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana kontolnya gede banget!” J

*****

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku hanya pakai daster dan jilbab.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.
“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.
“Kok Tante pentil teteknya kelihatan?” tanya Haikal, anak Fachri.
“Tante lagi lagi malas pakai daleman Ikal…” jawabku sambil menunjukkan menunjuk tetekku ke arahnya.
Sambil meremas tetekku, Fachri berkata, “Tante mau ngentot ama papa ya!”
“iya….” Sahutku.

Sambil menggandeng tangan Fachri, Fachri mengajakku ke kamar mandi untuk menemaninya buang air kecil. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!
Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di kontolnya.
Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan  daster. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.