MIRZA

Hingga hari ini, aku masih diliputi perasaan senang bercampur takut. Ini semua mengenai misteri yang mencakup seputar  kehamilanku. Atau  bisa juga dikatakan tentang hubungan seks dengan suamiku.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, sebaiknya aku ceritakan sekilas tentang latar belakangku. Panggil saja aku Mirza, wanita berusia 30 tahun. Sudah menikah  selama 6 tahun, dan memiliki anak yang masih berusia  6 bulan. Lucu dan imut  banget.
Aku mantan  guru sekolah dasar, tapi sekarang ini aku  mengabdikan diri  seutuhnya  untuk mengurus anak dan rumah tangga. Aku lahir di kota Yogya,  dan dibesarkan dalam keluarga yang  religius. Sehari-hari aku berjilbab,  Penampilanku anggun dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang dan jilbab lebar, semakin menambah kecantikanku. Tubuhku yang montok kadang tercetak jelas di balik kain jilbabku. Meski cenderung alim, namun di balik semua itu, aku tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.
Suamiku  sendiri juga pria Jawa, berusia 5 tahun lebih tua, dan merupakan pengusaha yang cukup sukses. Karena faktor pekerjaannya pula, dia sering keluar  kota sehingga tidak setiap hari suamiku berada di rumah. Kami jadi jarang bertemu.
Dalam 5 tahun pernikahan, sebenarnya kami ingin cepat-cepat punya momongan, tetapi kenyataan berbicara lain. Ada beberapa faktor yang menghambat. Diantaranya yaitu suamiku sering keluar kota untuk urusan bisnisnya. Disamping itu, ada satu permasalahan yang begitu mengganggu. Yaitu suamiku mengalami problem ejakulasi dini ( cepat keluar saat bercinta ).
Memang hal ini begitu mengganggu di dalam bercinta. Suamiku tidak bisa bertahan lebih dari 2 atau 3 menit. Kami sudah berusaha lewat berbagai cara, namun tidak begitu banyak menolong. Mulai latihan senam pernafasan, mengatur  makanan, berobat ke dokter, dan bahkan lewat pengobatan tradisional.
Disamping itu,  suamiku agak tertutup dalam soal seks, sehingga lama-lama menjadi minder. Asalkan aku tidak banyak menuntut, sepertinya dia menerima kenyataan.  Suamiku sepertinya juga tidak begitu menaruh perhatian banyak dalam urusan seks.
Sedangkan aku orangnya lain.  Justru aku banyak membaca artikel dan menambah pengetahuan mengenai hubungan seks. Saat masih gadis aku tidak pernah melakukan masturbasi. Karena menurut agama merupakan sikap yang tidak terpuji dan dosa.
Disaat menikah, aku juga tidak begitu  menikmati hubungan seks yang optimal. Walau suamiku sudah berusaha melakukan foreplay yang cukup, tetap saja aku tidak pernah merasakan orgasme. Karena aku sering sharing dengan sahabatku yang katanya bisa mendapatkan orgasme berkali-kali, maka rasa penasaranku menjadi semakin meningkat.
Aku dianjurkan bermasturbasi olehnya, kalo sedang sendiri. Karena bisa rileks dan lebih nyaman katanya. Hasilnya memang seperti yang dikatakan sahabatku itu. Aku memang bisa mendapatkan orgasme. Tetapi aku selalu diliputi perasaan bersalah, sehingga jadinya tidak sering aku lakukan.
Pada suatu hari, suamiku  pulang dari urusan bisnis di pulau Bali. Disana dia menyempatkan jalan-jalan ke  Ubud, suatu desa tempat seniman-seniman menghasilkan karya seni. Suamiku  membeli sebuah lukisan; gambar tentang seorang wanita telanjang yang ditemani oleh kucing. Lukisan  ini ia taruh di kamar tidur. Jika kita rebahan di ranjang, maka mata kita akan langsung menatap lukisan ini.
Aku selalu menyiapkan segalanya kalo suamiku pulang. Biasanya suamiku  kuanjurkan mandi yang bersih, kemudian ngobrol sambil  menikmati minuman segar, dengan cemilan ringan tentunya.  Dan tanpa disuruh, aku biasanya memijitinya. Sudah menjadi ritual, aku menggunakan baju yang ’enak dipandang’ suami.
Saat itu aku mengenakan baju tidur tipis berbentuk jubah yang diikat tali di bagian pinggang sehingga sedikit memamerkan bagian paha yang aku kira cukup untuk membuat suamiku menelan air liurnya. Selain memamerkan paha, belahan dadaku juga terbuka. Suamiku pasti tahu kalau saat itu aku tidak mengenakan bra sama sekali. Untuk daleman, aku mengenakan CD tipis berwarna pink.
Aku mulai memijit suamiku.
”Aduh, enak banget pijitannya, Ma.“ dari caranya berbicara, aku dapat menilai kalau dia sudah horny berdekatan dengan diriku.
“Idih, belum juga punya anak, udah dipanggil mama,” kataku menggodanya. Kutumpangkan kaki kiriku ke kaki kanan sehingga bagian bawah gaunku sedikit tertarik ke atas, membuat pahaku semakin jelas terlihat.
”Yaa,  semuanya kita serahkan saja sama yang Maha Kuasa,” celetuknya gugup sambil menatap pahaku yang terlihat sangat mulus sekali. “Tapi emang bener, enak banget kok pijitannya,“ tambahnya lagi. Dia mencoba untuk memperbanyak omongan karena dia masih ingin duduk di dekatku yang mengeluarkan bau sangat harum.
”Siapa dulu dong yang mijit. “ aku menurunkan kaki dan mengambil minuman di meja dengan setengah membungkuk. Kumajukan sedikit tubuhku sehingga gaunku yang belahan dadanya sangat rendah jadi bisa memamerkan tetekku yang tidak memakai beha.
“Iya deh, percaya.” kata suamiku. Aku tahu persis jika saat itu dia begitu terpesona dengan tetek yang menantang di dadaku ini. ”Kita ke kamar, yuk?” ajaknya kemudian sambil tangannya mencupit pinggulku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil mengerlingkan mata. “Emang tidak mau makan dulu?“ tanyaku saat dengan cepat dia membopongku ke  kamar tidur.
“Ah, nanti sajalah, ” jawabnya pendek.
Ketika aku direbahkan di atas kasur, mataku langsung menatap lukisan wanita telanjang yang ditemani oleh kucing tersebut. Demikian juga dengan suamiku. Saat itulah, tiba-tiba terjadi keanehan. Suamiku seperti menggerak-gerakkan kepalanya, matanya nanar menatapku dengan pandangan sayu. Dia lekas melepas t-shirt dan celana pendeknya. Dan terlihatlah mister P-nya yang sudah sangat menegang panjang.
Padahal rencananya aku mau memijitnya, malah saat itu aku yang dipijitnya. Sambil memijit, dia memuji dan mencumbui seluruh bagian tubuhku. Hal  seperti ini belum pernah dia lakukan sebelumnya.
”Ahh, Mas!” rintihku saat mulai merasa kegelian, badanku menggeliat dan kedua tanganku yang memegang sandaran tempat tidur jadi mencengkram erat sekali. Sementara suamiku terus asyik meraba ketiakku sambil mulai mendekati tetekku yang sebelah kanan.
”Nggak apa-apa, Ma… santai aja.” katanya sambil terus mengelus-elus ketiak kananku dan mulai melebar hingga mencapai pinggiran tetekku yang bulat besar.
”Udah, Mas, gelii…” badanku mulai melenting-lenting ke depan sehingga kedua tetekku yang berukuran 34B ini semakin tampak menantang indah.
”Kan belum dijilat, Ma… masa mau udahan?” balasnya dengan nakal.
Apa! Menjilat? Tidak biasanya dia berbuat seperti ini. Tangan kiriku segera berusaha mendorong tangannya yang masih berada di sekitar ketiak dan pinggiran tetek. ”Udah ah, geli… aku nggak tahan!” kataku.
Kemudian suamiku mengubah posisi; sekarang dia ganti menjilati ketiakku sampai pinggiran tetekku yang masih berlapiskan gaun satin tipis dan memainkan lidahnya di sana.
”Mas, udah dong… aku kegelian nih.” rintihku semakin menggelinjang.
Tapi bukannya berhenti, tangan kanannya yang sedang asyik mengelus-elus ketiak kiriku mulai bergerak semakin ke tengah hingga sampai di bulatan tetekku yang sebelah kiri, dan tanpa membuang-buang waktu langsung meremas-remasnya lembut.
”Hihi… udah ah!” aku tertawa menahan rasa geli yang teramat sangat sambil tangan kananku meremas-remas rambutnya yang licin.
Suamiku yang tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang, tangannya semakin liar meremas-remas di kedua tetekku, terkadang juga memainkan putingku dari luar gaun satinku.
”Ohh, Mas… ampun… jangan diterusin… aku nggak tahan!” kata-kataku mulai terbata-terbata menahan rasa tegang yang mulai mengalir ke ubun-ubun.
”Semakin geli semakin nikmat, Ma…” katanya dengan tangan masih memainkan kedua putingku, dan mulutnya mulai bergerak semakin mendekat ke arah tetek kananku. Dia mulai membuka ikatan gaunku yang berada di pinggang agar mulutnya dapat melahap dengan bebas kedua tetekku yang tidak memakai BH. Setelah gaunku merosot hingga ke perut, mulutnya langsung mengulum habis tetek kananku yang terlihat putingnya berwarna merah kecoklatan.
”Ssh… kok kamu sekarang jadi pinter, Mas!” aku mulai mendesah keenakan, sementara lidah suamiku terus bergerak dengan lincah memainkan puting tetek kananku, sedangkan tangannya yang satunya meremas-remas lembut tetekku yang sebelah kiri. Setelah puas dengan tetekku yang kanan, mulutnya pindah ke tetek kiriku, sambil tetekku yang kanan dimainkan dengan tangan kirinya.
”Kenapa nggak dari dulu-dulu suka ngisep tetek seperti ini?” kupancing suamiku dengan kata-kata yang menggairahkan sambil kedua mataku terpejam rapat.
”Nggak tahu, tiba-tiba pengen nyusu aja!” dia semakin kuat menyedot-nyedot tetek kiriku.
”Ahh…” aku merintih, tak sanggup untuk berkata lagi. Kedua tanganku meremas-remas rambutnya yang terasa sangat licin karena minyak. Sekarang tangan suamiku berpindah meraba dari perut sampai ke bagian bawah baju tidurku yang sudah tersingkap kemana-mana. Dia mengelus-elus terus paha kananku yang bagian dalam, sedangkan mulutnya tidak pernah diam untuk memainkan tetek kiriku.
”Kalau mau main, cepat lakukan, Mas… aku udah nggak tahan nih! Mmh…” kuregangkan kedua pahaku sehingga terbuka semakin lebar, menampakkan lubang senggamaku yang masih berlapis cd tipis, tapi sudah nampak basah tepat di bagian tengahnya.
”Belum, aku masih ingin mencicipi tubuhmu…” kata suamiku, tangannya semakin bergerak ke atas sehingga menyentuh celana dalamku, lalu mengusapnya dengan begitu lembut.
”Ssh… ohh… s-sudah, Mas! Mmhh…” rintihku sambil terpejam nikmat.
Tangan suamiku terus mengelus-elus lembut diatas cd miniku yang semakin basah memerah. Kadang ia mengelus-elus, kadang juga sedikit menekan-menekan pas berada diatas memekku yang berjembut lebat sehingga cd-ku tidak dapat lagi menutupinya. Jembutku yang menyeruak kemana-mana sesekali juga terkena usapannya. Oh, terasa sangat enak dan nikmat sekali.
Apalagi saat suamiku bertindak semakin berani; bukan hanya tangan, tetapi jari-jarinya sekarang dimasukkan ke dalam celana dalamku agar bisa menyentuh langsung bibir memekku yang memanas karena basah.
”Shh, Mas… kumohon… mhh… kalau mau entotin aku, lakukan SEKARANG!!” aku berteriak saking tidak dapat menahan rangsangan.
”Ok, Ma…” suamiku mengangguk. Ia mulai menarik celana dalam yang kukenakan hingga terlepas, tapi tetap membiarkan baju tidur menyelimuti tubuh mulusku. Posisiku saat itu masih bersandar di tempat tidur dengan pakaian yang sudah tidak karuan lagi. Suamiku menatap kawahku yang sudah amat sangat basah dan mencium bau harum ciri khas memek yang sedang terangsang.
Saat itulah, aku begitu kaget ketika tiba-tiba muncul seekor kucing yang berdiri di jendela yang tidak tertutup rapat. Anehnya, kucing ini sama persis seperti kucing yang ada di dalam lukisan. Kucing itu kemudian  meloncat masuk ke dalam kamar dan berdiri di sudut ruangan sambil memandang kami yang sedang bercinta.
”Mas, ada kucing!” aku  bilang ke suamiku, tetapi dia sama sekali tidak menghiraukan.
”Emang kenapa? Mungkin dia kepingin lihat kita, hehe…” suamiku tertawa dan mulutnya mulai menciumi paha dan sekujur kakiku hingga akhirnya masuk ke terminal utama, yaitu lubang senggamaku. Lidahnya langsung menyentuh pinggiran memekku.
”Aahh,” aku berteriak sambil menggeliat. Pikiran tentang si kucing langsung hilang sudah.
Suamiku mulai menjilati memekku dari bagian pinggir. Tanganku menarik kepalanya agar semakin dalam terbenam di selangkanganku. Sesekali mulutnya menyedot-nyedot bagian dalam liang memekku.
”Aah, Mas… enak!” aku merintih. Kuremas rambutnya dengan dua tangan saat lidahnya mulai bermain di itilku yang sudah membesar tajam sambil sesekali menghisap dan terkadang menyedot-nyedotnya ringan.
”Ahh, Mas… terusin… ahh… cepat!” Badanku menggeliat-menggeliat tidak karuan kesana kemari. Lidahnya terus bermain di dalam memekku, kedua tangannya juga mengangkat kedua kakiku agar mudah lidahnya menjilati setiap bagian dari memekku. Dia terus bermain disana dengan begitu rakusnya.
”Terus, Mass…” aku semakin bernafsu karena selama ini aku belum pernah merasakan jilatan di memek. Suamiku terus menjilati memekku yang sudah basah sekali dari bawah ke atas, lalu balik lagi ke bawah, dan kembali ke atas. Begitu terus berulang-ulang sampai badanku bergetar dan kepalaku menggeleng terus ke kiri dan ke kanan, sedangkan pinggulku berputar-putar mengikuti irama jilatannya yang semakin lama menjadi semakin cepat.
”Mas, aku udah nggak tahan… oohh!” aku menjerit saat lidahnya menerobos masuk ke dalam memekku lalu ditarik lagi, itu terus dilakukannya berulang-ulang, dengan diselingi sedotan ke liang memekku.
Aku yang tidak kuat menahan kenikmatan ini akhirnya menjepitkan kedua kakiku ke kepalanya dan tanganku menggapai langit-langit yang tidak bisa kuraih, sedangkan badanku membusung jauh ke depan. Aku lalui orgasme yang pertama sepanjang hidupku ini dengan teramat sangat indahnya, seperti melambungkan diriku ke impian yang selama ini tidak pernah kudapatkan. Semburan demi semburan terus keluar dari tubuhku, membuatku terus berkelojotan dan berkedut-kedut ringan.
Suamiku yang tahu kalau aku sudah orgasme, bukannya berhenti, malah semakin kuat menyedot-nyedot belahan memekku.
”Mas, ahh… ahh… oh enaknya…” Memekku terasa basah kuyup setelah orgasmeku yang begitu deras. Namun lidah suamiku ternyata belumlah berhenti untuk memainkan itilku, tangan kirinya terus meremes-meremes tetek kananku, sementara tubuhku masih tersandar di tempat tidur dengan gaun yang masih terpakai tapi sudah tersingkap kemana-mana.
”Cepet, Mas, kalau mau ngentot… mhh… mumpung punyaku sudah basah begini! Sshh…” aku meminta. Kedua pahaku masih berada di bahunya kiri dan kanan. Tangannya masih mengusap-mengusap memekku, kadang dia juga memainkan itilku dengan jari-jarinya.
Aku mencoba berdiri sehingga kepalanya terjepit di selangkanganku. Gaunku turun menutupi wajahnya, membuat bagian atas tubuhku tak berpenutup lagi. Payudaraku yang bulat besar terlihat menggantung dengan indahnya, yang langsung diremas-remas olehnya dengan dua tangan, membuatku kembali merintih dan menggelinjang suka.
Mulutnya sekarang pas berada di bawah memekku, dan dia memberikan sedotan yang sangat kuat. Aku langsung mencondongkan tubuh ke depan karena tidak kuat menahan sedotan itu, tapi tangan kananku menekan kepalanya yang tertutup baju tidurku. Suamiku mengulangi lagi sedotan itu, cuma yang sekarang jadi sasarannya adalah itilku yang merona tajam. Dan lagi-lagi, aku merintih keras sambil menekuk tubuh ke depan. Berkali-kali dia melakukan itu, dan berkali-kali pula aku tak tahan.
”Ahh, Mas… enak!” aku yang tidak kuat akhirnya menahan tubuh dengan kedua tangan di atas ranjang sehingga posisiku sekarang jadi setengah menungging. Lidah suamiku terus bergoyang menikmati itilku kiri dan kanan, sedangkan tangannya mengelus-elus bulatan payudaraku tiada henti.
”Entotin aku, Mas… aku udah nggak tahan!” jeritku setengah berteriak sambil mendesah kuat. Tangannya kini mengelus pusarku sambil mulutnya masih asyik bermain-main di belahan memekku.
”Buka celanamu, Mas… aku mau lihat kontolmu… shh.. ohh…” pintaku tak sabar ingin melihat benda yang selama ini tidak pernah bisa memuaskanku, yang anehnya kali ini kulihat begitu besar dan kuat.
”I-iya, Ma…” sambil terus mempermainkan memekku, suamiku sedikit mengangkat tubuhnya untuk membuka celana dalam. Dia langsung mengacungkan kontolnya yang sudah sejak tadi ngaceng keras ke depan mukaku.
Kulihat kontol yang begitu besar itu dengan penuh nafsu. Memekku rasanya sudah gatel sekali ingin dientot oleh kontol yang begitu perkasa tersebut. ”Duduk sini, Mas…” aku mencoba untuk meminta.
”Iya,” suamiku langsung duduk di sofa dengan kontolnya berdiri tegak seperti monas, tapi tangannya kembali menerobos masuk dari bagian bawah gaun satinku dan mulai mengelus-elus memekku lagi.
Aku langsung mengangkat baju tidurku dan berlutut di ranjang, di atas kontolnya. Jari tengah suamiku berusaha masuk menembus belahan memekku. Ia mengobok-obok sebentar isi memekku sebelum mengocoknya cepat tak lama kemudian hingga membuatku tak tahan. Dengan dua tangan aku menjerit dan bertumpu di bahunya.
”S-sudah, Mas… shh… ahh…” aku mendesah keenakan. Apalagi saat mulutnya ikut beraksi dengan mengulum kedua tetekku kuat-kuat, sambil tangannya terus bermain di dalam memekku.
”Aahh!!” aku memekik kalap, kubekap kepalanya hingga semakin terbenam di belahan tetekku. Mulutnya terus menyedot-nyedot lembut disana, sementara jari-jarinya yang nakal terus bermain di belahan memekku, membuatnya jadi semakin basah. Aku mencoba membalas dengan menggapai kontolnya lewat belakang pantat menggunakan tangan kiriku. Kuremas-remas kontol yang gede dan hitam itu dengan penuh nafsu.
”Ahh… pelan-pelan dong, Sayang!” suamiku yang keenakan semakin kuat mengobok-obok memekku sambil memainkan itilku.
”Sshh… s-sudah,  cepat masukin, Mas… aku mau kontolmu!” pintaku semakin tidak sabar.
“Iya, sayang…” suamiku mulai naik sedikit agar kontolnya bisa masuk ke dalam memekku. Di sebelah kami, si kucing mengeong, tapi suamiku terus mendekapku dan  terus melakukan panetrasinya.
”Achh…” aku merasakan kepala kontolnya masuk dan ditarik kembali. Dia memain-mainkan kontolnya di atas memekku dulu, ujungnya yang tumpul sengaja disentuh-sentuhkan ke itilku yang sudah sangat kaku dan sensitif.
“Masukin, Mas!! Oohh…” aku menjerit, memekku terasa semakin gatal dan aku menjadi binal dibuatnya.
“Iya,” suamiku kembali memasukan setengahnya, lalu diputar-diputar sebentar sebelum ditarik lagi.
“Masukin, Mas!” aku semakin berteriak tak sabar.
“Seret, Ma.. punya kamu sempit banget sih.” kata suamiku.
”Ahh… biar! Teruskan aja… ahh… uhh…” aku sendiri semakin meracau tak karuan, tidak kuat menahan kontol yang sekarang jadi begitu besar hingga jadi sangat sesak saat masuk ke dalam belahan memekku. Aku langsung melampiaskan dengan mengulum bibirnya kuat-kuat sambil meremas-remas rambutnya hingga jadi acak-acakan.
Suamiku langsung menekan kontolnya lagi dan bless…
”Mmhh…” aku kembali bergumam menikmati sodokan kontolnya yang begitu nikmat.
”Aduh! Enak banget memek kamu, Sayang…” suamiku ikut berteriak penuh kenikmatan karena ini yang pertama kali baginya bisa ngentotin aku begitu lama. Biasanya kan 2 – 3 menit sudah selesai.
”Aah… enak!” kembali kukulum bibirnya, tapi kali ini dengan lembut dan begitu mesra.
Suamiku menarik pelan-pelan kontolnya, lalu mendorong lagi. Sedangkan lidahnya bermain di mulutku. Terkadang dia bergerak memutar pantatnya agar kontolnya ikut bergoyang di dalam memekku. Aku mengimbangi putaran itu dengan menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Jadilah kemaluan kami saling menggesek dan memilin nikmat
”Mas, shh…” aku mendesis merasakan kontolnya yang begitu penuh berputar-putar di dalam liang memekku. Suamiku terus bergoyang ke kanan dan ke kiri
sambil memaju-mundurkan pantatnya semakin cepat.
”Sshh… enak banget, Sayang… terus!” erangnya karena aku menggoyangkan pinggul maju-mundur, atau kadang berputar sambil memainkan otot-otot liat di dinding memekku.
”Sshh… Mas… mhh…” aku ikut merintih.
”Ahh… terus, Sayang… enak!” suamiku rupanya sangat ketagihan dengan permainan memek yang kulakukan. Sambil tangannya meremas-remas tetekku, atau kadang sambil memainkan putingnya, ia mengimbangi goyanganku.
”Terus, Mas… kontol kamu enak! Sshh…” aku jadi ikut ketagihan dibuatnya, kukulum bibirnya begitu mesra sambil kusedot-sedot lidahnya. Suamiku yang tak ingin kalah, ikut menyedot lidahku juga, sementara tangannya masih menempel di putingku dan memainkannya dengan jari-jarinya yang kasar.
Aku bergerak naik turun semakin cepat karena memekku sudah basah sekali sehingga jalan keluar masuk kontolnya menjadi begitu lancar. ”Ayo, Mas… cepet keluarin! Hhss…” aku meminta. Tidak biasanya aku begini. Yang sering itu suamiku moncrot duluan, bahkan sebelum aku merasa nikmat. Tapi sekarang…
Aku malah sudah berada di titik pendakian, sementara dia tampak masih tenang-tenang saja. Berteriak-teriak penuh kenikmatan, kuangkat kedua tanganku ke atas untuk meremas-remas rambutku sendiri. Sementara suamiku meremas-remas kuat bulatan tetekku karena tahu kalau aku akan segera keluar.
”Ahh… enak, Mas… enak sekali!” aku bergerak naik turun dan memutar pinggul semakin gila. Dia ikut terbawa dengan menggerakkan pantatnya liar.
”Kita keluar bareng, Mas… shh!” aku merasakan nafsu sekali sehingga sudah
tidak kuat menahan detik-detik yang teramat sangat indah selama hidupku itu.
”I-iya, Sayang…” sahutnya.
Kutekan kuat-kuat memekku ke bawah dan menggesekkannya maju mundur dengan begitu cepat di batang kontolnya. Kedua tanganku terus meremas-remas rambutku sendiri sehingga jadi sangat berantakan. Tapi anehnya, meski permainanku sudah begitu hot, namun nampaknya suamiku tidak cepat ejakulasi. Dia terus bertahan, dan terus memompa hingga membuatku makin kelojotan tak karuan. Dan akhirnya, akupun kalah.
Aku orgasme. Cairanku meledak keras sambil tubuhku mengejang-ngejang ringan merasakan nikmat yang begitu hebat itu. Belum pernah aku merasakannya, dan sekali dapat, langsung begini nikmat. Oh, sungguh sangat beruntung sekali. Sementara suamiku seperti pria yang kesurupan, dengan tidak mengenal lelah ia terus menyetubuhiku.
”Ayo. Ma, kita main yang lebih nikmat!” ia meremas tetekku dan memainkan putingku dengan kedua jarinya sambil menjepit-menjepitnya gemas.
”Lakukan, Mas. Genjot terus tubuhku!” teriakku semakin binal sambil memutar-memutar kontolnya yang terbenam penuh di lorong memekku.
”Ahh… enak, Ma!” dia mulai menyedot-nyedot putingku bergantian.
”Cepet, Mas… semprot memekku dengan pejuhmu! Shh… aku udah nggak tahan nih!” teriakku semakin kencang, kemudian aku mengulum bibirnya dan menekan kepalanya sehingga semakin rapat ke arah wajahku.
”Tahan sebentar, Sayang.” suaranya kacau akibat bibirku yang mendekati bibirnya. Kami berciuman dan berpagutan dengan penuh nafsu sambil suamiku tak lepas memaju-mundurkan pantatnya, bahkan kadang bergoyang semakin kuat dan cepat.
Aku kembali melawan dengan memainkan otot-otot memekku sekuat tenaga agar dia lekas orgasme. Tubuhku terus menggeliat karena nikmat yang tiada tara ini. Kami bercinta dengan berbagai gaya yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Aku merasakan orgasme yang berulang-ulang. Karena kenikmatan dan perasaan bahagia, aku sampai meneteskan air mata saat bercinta.
”Terus, Sayang… ahhs… aku sudah mau keluar!” teriaknya yang sudah mulai kewalahan, tidak dapat menahan lagi orgasmenya lebih lama.
”Aahh…” kupenuhi permintaannya dengan bergoyang amat sangat liar dan akhirnya tubuhku kembali menggelepar-gelepar. ”Mas, aku mau keluar juga!” aku berbisik.
”Kita sama-sama, Sayang…” dia mengajak.
”Aah, Iya…” aku menyahut, dan meledak. Titik puncak itu dapat kuraih dengan begitu indahnya selama masa perkawinan kami. Tubuhku mengejat-mengejat sambil memeluk tubuh suamiku erat sekali. Anganku melayang jauh merasakan gelombang orgasme yang sedemikian hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan kontol ini.
”Ahhh…” suamiku ikut menyemprot dengan begitu kuat dan deras di dalam leiang memekku. Croot, croot, croot, begitu dia menyembur berulang-ulang.
”Aahhm…” aku kembali bergumam di alam mimpi yang indah ini.
Bibirnya mengecup bibirku yang ranum dan aku langsung mengulum bibirnya dengan liar sambil memeluknya. Tangannya mengelus tetekku lembut. ”Punya kamu enak sekali, Sayang!” bisiknya perlahan dengan napas yang masih terengah-engah.
”Sama! Aku puas sekali hari ini, Mas.” aku tersenyum dan berbisik di telinganya. Sambil tetap memeluk tubuhnya, kemudian kukecup bibirnya dengan begitu lembut dan mesra.
”Baru kali ini kita bercinta sehebat ini… kamu benar-benar hot sekali, Sayang… sungguh luar biasa!” jawabnya puas.
Tangan kananku memegangi pipinya. ”Mas juga! Bisa tahan lama begitu, aku jadi suka sekali!” kataku sambil memeluk erat tubuhnya seakan tidak ingin kehilangan dan mengecup keningnya.
Aku sempat melihat jam dinding sebelum tertidur. Astaga! Ternyata kami bercinta lebih dari 2 jam! Sungguh luar biasa. Pantas tubuhku jadi begini lelah. Di pojok ruangan, si kucing kembali mengeong sebelum menggulung tubuhnya menjadi lingkaran dan ikut tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika aku terjaga dari tidur, aku aku tidak menemukan kucing itu lagi. Aku bertanya dalam hati, apakah itu kucing liar yang sering ditemukan di dekat kuburan? Karena rumahku tidak jauh dari tempat pemakaman umum.  Aku segera bertanya kepada suami perihal kucing itu, tetapi dia bilang tidak melihatnya.
Tapi suamiku bilang kalau dia juga  merasakan keanehan saat bercinta tadi malam. Katanya kami seolah-olah dibawa melayang ke suatu tempat, dan bercinta di sebuah taman yang sangat indah. Dia melihat diriku begitu cantik seperti putri, yang tidak seperti sebelumnya. Karena itulah ia begitu bernafsu saat menyetubuhiku. Bahkan suamiku merasa badannya menjadi ringan dan tidak mengenal lelah, sehingga dia  ingin memuaskanku sepuas-puasnya.
Beberapa hari kemudian, aku secara kebetulan membaca artikel tentang seekor kucing. Saat itulah aku menjadi terkejut ketika membaca sejarah tentang kucing. Ternyata ribuan tahun sebelum masehi, kucing dianggap sebagai binatang suci di negeri Mesir. Dan bahkan jika meninggal dibuat mummi. Malah disamping Mummi raja Firaun, juga ditemukan mummi kucing kerajaan.
Kucing merupakan penjelmaan dari Dewi Kesuburan pada wanita,  yang  bernama Basted / Usbati atau Pesht, yang dipuja oleh orang-orang  Mesir. Sehingga orang yang membunuh kucing akan mendapatkan hukuman mati. Konon ada rombongan kereta tentara pasukan raja Firaun (Farau) yang secara tidak sengaja menabrak seekor kucing, dan  tentara tersebut langsung mendapatkan hukuman mati.
Kucing binatang suci  yang harus dilindungi. Dan jika ada kucing meninggal, maka  pemiliknya akan mencukur bulu alis matanya, sebagai tanda duka dan perkabungan. Kucing yang dalam  bahasa asingnya cat, merupakan serapan dari bahasa latin Felix Cattus, yang ditulis pertama kali oleh Rolladius, penulis asal Roma, pada abad ke-4 masehi.
Artikel yang nongol secara kebetulan. Anehnya, sejak malam itu kucing tersebut tidak pernah muncul lagi. Dan hebatnya, suamiku menjadi sembuh dari  gangguan ejakulasi dini. Bahkan dia menjadi bisa mengontrol ejakulasinya secara gampang. Kamipun bisa bercinta dengan leluasa, dan menggunakan berbagai variasi. Dan mulai saat itu aku  merasa gampang mendapatkan multi orgasme.
Empat minggu setelah seks yang ditunggui kucing tersebut, aku dinyatakan hamil. Ketika aku konsultasi ke dokter, beliau banyak menjelaskan masalah medis.
”Waduh, sejauh ini kok saya tidak pernah mendapatkan pasien, yang saat bercinta mendapatkan halusinasi melihat kucing ya…” kata dokter. ”Ibu waktu melakukan hubungan seks, tepat pada saat masa subur sehingga terjadi perubahan fisiologis, termasuk peningkatan libido.  Sehingga dipastikan pada malam  itu terjadi pembuahan sel telur oleh sperma di saluran telur,” katanya menambahkan.
“Lagian suami ibu sering keluar kota.  Jadi jika kebetulan ibu  pada masa subur, hal ini menjadi terlewatkan. Karena sel telur hanya mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuai hanya selama 1 – 2 hari.  Ibu sudah lama menanti momongan, dan  hal  sekarang ini layak  disyukuri,” kata dokter sambil mengusap-usap stetoskop yang mengalung di lehernya.
Cerita diatas memang terasa aneh, karena  aku juga merasakan seperti itu. Namun terlepas dari semuanya, semua pasti ada hikmahnya.

ZURAIDA AND FRIENDS 3

hilda yulis - hijabers mom community (2)

“Cantik,,,sangat cantik,,,”
Mata Bu Sofie menyapu panorama dari ruang tak berbatas, matahari pagi memberi warna berkilauan pada ombak yang pagi itu sedikit lebih jinak. Wanita berambut ikal yang diikat keatas itu melepas sendalnya, berjalan menyambut ombak kecil yang dengan cepat menjilati jari-jari dan telapak kakinya.
“Aku ingin seperti ini selamanya,,,” gumam Bu Sofie pelan, merentang kedua tangan seolah ingin memeluk langit. bibir tersenyum bahagia, bahagia dengan kebebasan yang tengah dinikmatinya.
Lepas dari sorotan mata bengis para wanita sosialita, lepas dari segala macam barang branded puluhan juta. Tas versace, gaun dari desainer ternama, jam tangan hingga kalung dan cincin berlian yang selalu menjadi barometer kesuksesan para suami. Bu Sofie menggerak-gerakkan tangannya yang serasa begitu bebas tanpa mata berlian yang setiap hari menjepit erat aliran darah, yang terkadang membuat jari-jarinya kebas.
“Bebaaass,,,” gumamnya, tersenyum lepas, terbebas dari segala beban.
Bukan sekedar bebas dari rintih persaingan para srikandi borjuis, tapi juga bebas dari kritik tajam Pak Prabu yang sehari-hari tak kalah cerewet dengannya. Tak ada pula komentar miring dari suaminya saat mendapati pantat montoknya hanya dibalut kain pantai tipis, tanpa underwear. Bahkan beberapa kali tubuh montoknya dipeluk Dako dan Munaf dihadapan suaminya, tapi lelaki berkumis itu hanya tersenyum, seolah mengizinkan dirinya mencari bahagia ditempat itu. Bibir Bu Sofia tersenyum kecut, saat teringat tingkah suaminya yang pura-pura tidak melihat saat tubuh montoknya diseret Dako ke kaki sebuah tebing.

“Pemuda yang nakal,” kepala Bu Sofie menggeleng-geleng, coba mengingat bagaimana lelaki muda itu menggumuli dirinya dengan begitu buas di atas pasir pantai.
Teringat pula bagaimana serunya persaingan antara dirinya dan Aida saat berebut mengendarai batang Adit subuh tadi. “Keponakan geloo,,dikira pingsan beneran, ga taunya malah main kuda-kudaan sama Aida,” umpat Bu Sofie sambil tertawa.
Parahnya lagi, beberapa saat lalu, secara terang-terangan dirinya menawarkan tubuh montoknya kepada Arga, “Uuugghhh,,,dasar betina gatel,,,ga punya maluuu,,” Bu Sofie memaki dirinya sendiri, sambil tertawa kecil. Kakinya menendang gumpala ombak kecil.
“Ibu baik-baik aja kan Bu?,,,”
Tanya Mang Oyik yang heran melihat tingkah Bu Sofie yang tertawa sendiri.
“Ehh,,, iyaa,, baik,, Mang,,kenapa di sini lebih banyak batu karangnya dibanding pantai di depan cottage?,,”
Bu Sofie berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, malu dengan tingkahnya sendiri, bertanya pada Mang Oyik, namun lelaki berambut kriwel itu mengangkat kedua pundaknya tanda tak tau.

Mata belo (baca: mata bola pingpong nya Bung Iwan Fals) yang dihias bulu mata lentik itu beralih menuyusuri bibir pantai. Tiba-tiba pandangannya beralih pada ATV yang masih diduduki Mang Oyik. “Mang,, ajarin saya nyetir ATV dong,,, kaya nya seru kalo bisa ngebut di pantai sepi begini,,” pinta Bu Sofie.
“Lhaa,, terus nyiapin peralatan game nya gimana Bu?,,” Mang Oyik menjawab pertanyaan bu Sofie dengan mata yang tak lepas dari payudara besar Bu Sofie yang dipastikan tidak mengenakan bra. “Gilaa,, pentilnya aja gede banget,,” gumam Mang Oyik penuh birahi.
“Kenapa Mang?,,,”
“Eenghh,, maksud saya,,, saya ga enak kalo mereka ke sini peralatan game belum siap,,,”
Kali ini mata Mang Oyik lebih beruntung, angin pantai begitu lihai meniup rok lebar Bu Sofie, hingga menampilkan pantat yang begitu montok.
“Itu gampang Mang,,lagian mereka masih lama ke sini,,kita aja yang terlalu pagi,, Ayolaaah, ajarin sayaaa,,,” rengek Bu Sofie, begitu acuh dengan kenakalan angin yang memanjakan mata Mang Oyik.
Mang Oyik meneguk ludah, saat Bu Sofia berbalik menghadapnya, memohon dengan gaya centil khas ABG, tak peduli dengan ulah angin yang berhasil menyingkap rok bagian depannya, hingga menampilkan gundukan vagina yang gemuk. Tangan Mang Oyik gemetar menyerahkan kunci, disambut tawa Bu Sofia yang sukses mengerjai lelaki berambut kriting itu.
“Ayo naik,, biar saya bonceng,” seru Bu Sofia yang sudah duduk manis mengangkangi ATV.
Dan ternyata,,, memang tidak sulit bagi Bu Sofia untuk menjinakkan ATV di atas pasir pantai, ulah ngebut Bu Sofie membuat membuat Mang Oyik sedikit terganggu menikmati tubuh dan paha mulus di depannya.
“Jangan terlalu ngebut Bu,,, pasir pantai bikin roda jadi liar lhoo,,apalagi kalo mau naik tanjakan bukit itu,,” seru Mang Oyik menunjuk bukit pasir yang menjauh dari bibir pantai, mencari-cari alasan agar dapat berpegangan pada pinggang yang sedikit berlemak.
Bu Sofia justru tertawa, menggeber gas semakin kencang. Namun tiba-tiba laju ATV mulai menurun saat Mang Oyik mengelusi paha. ATV Menaiki bukit pasir yang landai namun cukup tinggi dengan gas tertatih, akibat ulah Mang Oyik yang berhasil mengganggu konsentrasi wanita itu, hingga akhirnya kendaraan beroda 4 itu turun dengan sendirinya dari bukit.
“Mang,, kalo mamang takut jatuh, pegangan yang kenceng,,,” seru Bu Sofie, yang diamini mang Oyik, memindah telapak tangannya ke payudara besar Bu Sofia, dan meremasnya dengan kuat.
“Pegangan seperti ini Bu?,,,”
“Tidaaak,,, lebiiih kencaaang lagiii,,,” rintih Bu Sofie, menikmati kebrutalan tangan Mang Oyik. ATV terhenti ketika Mang Oyik berusaha menarik keluar sepasang payudara.
“Silahkan jalan lagi buu,,” bisik Mang Oyik, ditengah kekaguman, telapak tangannya yang kasar tak mampu sepenuhnya menangkup kedua daging milik Bu Sofie.
ATV berjalan dengan sangat lambat, bibir wanita itu terus mendesis, putingnya yang mengeras terasa sedikit pedih saat jari-jari Mang Oyik mencubit dan memelintir. Tubuh Bu Sofie semakin gemetar saat pantatnya merasakan menggesek batang yang sudah sangat keras.
“yang nempel di pantat saya ini apa Mang?,”
“Cuma tongkat persneling koq Bu,,,”
“Mana ada sih ATV pake persneling,hahahaa,,oowwwhsss,,,” Bu Sofie tertawa di sela rintihannya.
“hahahaa,, ya artinya ini tongkat persneling saya bu,, hahaha,,Pengen nyoba tongkat persneling saya?,,,”

Deg,,, Laju ATV direm mendadak, Bu Sofie memang sudah sering mencoba ketangguhan para pejantan muda yang menjadi bahan arisan teman-temannya, tentunya tanpa sepengetahuan suami-suami mereka, tapi Mang Oyik adalah manusia paling amburadul yang pernah menjamah tubuhnya. Matanya menyusur bibir pantai, menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada seorangpun selain mereka ditempat itu. Mengucap terimakasih pada bukit pasir yang tadi dinakinya, menutup akses pandangan dari arah cottage
“Boleehhh,,, biar saya coba,,” jawab Bu Sofie dengan jantung berdebar, coba merasakan batang keras yang terus menggesek-gesek sekitar pinggang dan pantatnya.
Wanita itu berdiri, mengangkangi jok ATV, perlahan menurunkan celana dalamnya dengan mata waspada mengamati sekitar pantai. Melihat pantat montok mulus yang terbuka di depan wajahnya Mang Oyik langsung membenamkan wajahnya ke belahan pantat Bu Sofie.
“Aaaakkkhhh,,, Maaaangssss,,,,” tubuh wanita terlonjak, tak menduga dengan serangan Mang Oyik, tangannya segera memegang stang menahan tubuhnya yang terhuyung kedepan.
“Oowwwhhssss,,,Ganas baangeetss ni Orang,,, Aaaggghhhsss,,,” gumam wanita itu tak jelas, merasakan lidah panas Mang Oyik yang dengan cepat melakukan sapuan panjang di selangkangannya, menjilati bibir vaginanya dan terus menyapu hingga ke lubang anusnya.
Terus berulang-ulang, menyapu, menggelitik, sesekali menusuk lorong vagina dan anusnya, membuat tubuhnya merinding.
“Aaaaggghhh,,, gilaaaa,,, masukin maaaaang kalo beraniii,,,” rintih Bu Sofie semakin membuka lebar pahanya, dan benar saja, sesaat kemudian Mang Oyik menjawab tantangannya

hilda - jilbab hot (7)
Lidah panas itu berusaha menguak lubang anus Bu Sofie. Akibatnya wanita itu semakin kalang kabut dilanda birahi. Tak pernah dirinya diperlakukan seperti ini, selama ini pejantan muda yang dibokingnya kebanyakan dari kalangan mahasiswa, yang minim pengalaman dan terlalu menjaga sopan santun. Tapi kini, wanita itu dapat merasakan lidah panas yang berhasil menerobos liang kotor itu, menggelitik liar berusaha masuk semakin dalam,
“Aaaaaggghhhh,, Maaaang,,,jilaaaatin dalam nyaaa jugaaaa Maaaangssshhh,,,” pantat besar Bu Sofie menekan wajah Mang Oyik.
Tak ingin mengecewakan tamunya, Mang Oyik tak lagi peduli dengan rasa pahit di lidah, daging tak bertulang itu menari, melengkung ke kiri ke kanan seolah mencari sesuatu di lorong anus Bu Sofie.
“Dasaaarrr,,, betinaaa binaaaallll,,,” rintihnya, mengakat pantatnya semakin tinggi, memberi akses sepenuhnya pada lidah Mang Oyik untuk bertualang. Bibirnya terus mendesis, merintih, menjerit histeris.
“Aaaaakkkkhhhhhh,,,,, pindaaaah depaaaaannn,,, sedooottt yang didepaaaan Maaaaang,,,,” jerit Bu Sofia tiba-tiba, menjambak rambut kriting Mang Oyik, mengangkangi wajah Mang Oyik, mengarahkan lidah yang masih terjulur itu kebagian depan.
Tapi, belum puas dengan gerakan lidah Mang Oyik di vaginanya, pantat Bu Sofie bergerak semakin liar, menggesek-gesek bibir vaginanya yang penuh lendir ke wajah mang Oyik dengan kuat. Hingga akhirnya gelombang orgasme menyerang tubuhnya.
“Aaaaggghhh,,, keluaaaaaarrrr,,,,”
“Sedooot Maaang,,, minuuuum,,,sedoooot semuaaaa,,,” perintah Bu Sofie yang merintih penuh kenikmatan, menjejalkan bibir vaginanya ke mulut Mang Oyik yang terbuka.
Tapi bukan Mang Oyik namanya jika pasrah begitu saja menjadi objek pelampiasan seorang wanita. Karena bibir tebalnya tiba-tiba membekap seluruh pintu vagina Bu Sofie, dan melakukan sedotan kuat, hingga wanita itu terkencing-kencing.

Didera orgasme panjang kaki montok itu gemetar, “Sudaaaah Maaaang,,,stooop,,,” namun bibir Mang Oyik terus menghisap, menyedot lorong vaginanya, memaksa semua cairan keluar dan beralih ke mulutnya.
“Uuuuggghhh,,,”
Seeeerrr…. lagi-lagi Bu Sofie squirt, memuntahkan air seni yang dipaksa keluar. Tubuhnya roboh memeluk stang ATV, menungging membelakangi Mang Oyik yang tertawa puas dengan wajah basah oleh cairan vagina.
“Saat nya beraksi,,,” batin Mang Oyik, Tangan kirinya mengocoki batang yang sudah mengeras, sementara tangan kanannya mengusap-usap bibir vagina yang penuh dengan tetesan lendir.
“Oooowwwwhhhssss,,,”lenguh Bu Sofie, saat merasakan batang Mang Oyik yang dengan mudah menerobos vagina yang basah, tanpa menunggu dirinya siap, Mang Oyik langsung menggenjot dengan kasar.
Bu Sofie tertawa melihat ulah Mang Oyik yang begitu bernafsu, wajar saja, sangat jarang lelaki itu bisa merasakan barang semulus milik Bu Sofie.
“Selamat menikmati,,” seru Bu Sofie dengan gaya yang sangat genit, menduduki batang Mang Oyik di atas ATV.
Menggerakkan pinggulnya pelan. Wanita itu sadar, lorong vaginanya yang terbiasa dengan batang besar, terasa sedikit longgar saat berusaha mengempot batang Mang Oyik.
“Waaahhh,,, Mang Oyik, ada barang bagus dipake sendiri nih,,,” seru seseorang dari arah belakang. Bu Sofie yang terlalu asik dengan Mang Oyik tak menyadari seorang pemuda menghampiri mereka. Bu Sofie berusaha meloncat turun dari atas tubuh Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya sambil tertawa. akhirnya wanita itu hanya bisa berusaha menutupi selangkangannya dengan rok yang terlalu pendek.
“Tenang Bu, dia si Kontet teman saya koq, penjaga cottage sebelah, ga usah takut, Kontet ini kalo ga diizinin ga bakalan ikut nyodok koq,” terang Mang Oyik, yang langsung dijawab Kontet dengan plototan mata.
“Gila lu Mang, barang bagus gini masa gue cuma disuruh nonton, aaahh,,, tai lu Mang, bini gue kemarin lu obrak-abrik gue santai aja, sekarang elu ada barang bagus dipake sendiri, liat aja ntar bini lu gue pake siang malam jangan protes lu,,,”
“Aaahh,, berisik Lu Tet, bikin orang ga khusu aja,” Mang Oyik melempar sendal ke arah Kontet.
Bu Sofie tak bisa menahan tawanya, meski tampangnya lebih sangar dan punya body yang jauh lebih besar dari Mang Oyik, ternyata lelaki itu cerewetnya minta ampun.
“Bu,, gimana?,,, boleh ikut gabung ga?,,,”
“Eeenghh,, iya deehh,, eemmh,,terserah deh maksud sayaa,,” wajah Bu Sofie panas seketika, bibirnya telah memperislahkan dua manusia amburadul itu untuk menikmati tubuhnya, tubuh istri dari seorang direktur cabang perusahaan besar di negeri maritim ini.

hilda yulis - hijabers mom community (4)

Tapi ulah Kontet yang tertawa girang menampilkan gigi yang sebagian ompong itu, membuat Bu Sofie tak mampu lagi menahan tawanya. Dan akhirnya hanya bisa merutuki nasibnya yang harus menjadi pemuas nafsu dua kura-kura pantai selatan.
“Tapi bilangin Mang, kalo nusuk punya saya ini mulut harus diam, ga boleh cerewet,,Hihihihi,,,”
Namun tawa Bu Sofie terhenti saat Kontet mengeluarkan batangnya. Batang yang lebih besar dari milik suaminya yang sudah termasuk kategori big size. Berselimut kulit yang coklat kehitaman, membuat tampilannya semakin sangar.
“Kenapa Bu,, gede banget ya,,,hehehee,,, makanya saya ga pernah ngizinin dia ngentotin bini saya, pasti ancur meqi Marni kalo disodok tu batang,,,hehehee,,,”
Jantung Bu Sofie bergemuruh mendengar paparan dari Mang Oyik yang begitu vulgar, khas orang pinggiran. Tapi batang itu memang sangat besar. Pinggul besar Bu Sofie kembali bergerak, berusaha sekuat mungkin menjepit batang Mang Oyik agar lelaki itu cepat selesai. Sementara Kontet berjalan ke depan ATV, seolah ingin memamerkan batang gorilanya kepada Bu Sofie yang tak berkedip memandang dengan bibir mendesis birahi. Tak sabar menunggu giliran.
“Bu,,, kelamaan kalo nungguin Mang Oyik kelar,,langsung masukin double dong Bu,,,”
“Gila kamuu,, bisa hancur beneran punya sayaa,,, Sini deehhh,,Aaawwwhh,, pelan Mangss,,”
Bu Sofie kembali menungging, agar mulutnya dapat menjangkau batang besar itu.
“Dasar kau Sofiee,, ga pernah bisa sabar kalo liat batang besar,” batinnya tertawa girang bercampur ngeri.
“Ooowwwhhh,,,yaaa,,, jilaaat buuu,,,yaaa,,,basaaahiin dulu batangnyaaa,, jilat memutar buuu,, oowwhhh,,,”
“yaaa sekarang masukin kemulut ibu,,, ooowwwhhhsss,,, gilaaa,, mulut ibuuu hangaaat bangeeettt,,masukiiin semua dong Buuu,,ayoo buuu semuaaa,,”
“AAAAWWWW,,, SAKIT BUUUU,,,”
Kontet menjerit seketika, batang besarnya digigit oleh Bu Sofie.
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ane masih Nobi,, kalo bikin cernas otaknya masih sering ngadat.”
(Naahhhh,, Lhooo,,, tepos kan ,,,lanjut ngaceng lagi yuuu,,,)
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ni batang gede banget,, ga bisa masuk semua tauu,,,”
“Tapi Bu, kan ga usah pake digi,,,”
“Diam!!!,,”
Kontet langsung menutup rapat mulutnya.
“Whuahahahaa,, emang bener Lu Tet, sampe ngentot aja mulut lu ga bisa diam,,,” Mang Oyik sontak tertawa. disambut tawa Bu Sofie yang ga sanggup melihat wajah Kontet yang seketika pucat, mendengar bentakannya.

Kehadiran Kontet membuat Bu Sofie bisa lebih rileks, seakan lupa dengan status sosialnya.
“Waduuuhh,,, koq malah ngecil sih ni batang,” Bu Sofie tiba-tiba panik saat mendapati batang Kontet yang keras seperti kayu mulai loyo.
“Sini dehh,, ibu masukin semuuaaa,, Eeemmmpphhh,,,, uuummpphhh,,,”
Bu Sofie berusaha menjejalkan batang gemuk itu kemulutnya, membekap dengan lidahnya. Namun batang itu hanya mampu masuk setengah.
“Uuugggmmpphhh,, Ooommppphh,,,” Bu Sofie gelagapan, saat batang kontet yang hitam kembali membesar di dalam mulutnya. Tapi mulut wanita itu enggan untuk melepaskan.
Ini adalah persetubuhan paling gila dari yang pernah dialaminya. Tangan Bu Sofie mencengkram pantat Kontet, memberi perintah agar batang itu bergerak di dalam mulutnya.
“Ooommmpphhh,,, uuggmmmppp,,,” jari lentiknya menekan pantat Kontet lebih kuat, hingga batang besar itu hampir masuk ke kerongkongannya, menutup saluran nafasnya.”
“Ooogghhhh,,,” mulut Bu Sofie tersedak, melepaskan batang besar, matanya berair akibat tersedak, tapi gilanya bibir sensualnya itu justru tersenyum.
“Gimanaa Tet,,,nikmat mana sama meqi binimu,,”
“Juancuuuk,, mulut Ibu ganas banget,,nikmat banget Bu,,,hampir aja saya muncrat di mulut ibuuu,” telinga Bu Sofie terasa panas saat mendengar Kontet hampir saja memenuhi mulutnya dengan sperma, batangnya saja sudah bau, bagaimana spermanya.
“Buu,, sebelum mulut ibu menampung sperma kita-kita,, saya cium dulu dong Buu,,” Mang Oyik yang merasa diacuhkan memalingkan wajah Bu Sofie, lalu dengan cepat melumat ganas.
“Eeemmpphhh,,, Mmaamgghhh,, emmpphh,,” Bu Sofie gelagapan, mulutnya dihisap Mang Oyik, lidahnya membelit, menarik masuk lidah wanita cantik itu ke dalam mulut yang bau tembakau.
Tak henti-hentinya Mang Oyik menyedot dan meneguk ludah Bu Sofie yang terkumpul. Sementara batangnya kembali bergerak menghajar kemaluan wanita itu. Belum lagi Kontet yang begitu ganas menyusu di payudara besarnya.
“Bolehkan? kalo saya nyemprot di mulut ibu?,,” tanya Mang Oyik, dengan nafas memburu. Pantatnya semakin cepat bergerak.
“mulut sayaa?,, Yaaa,, saya rasa itu lebih baik, saya sedang subuurrr,” ucap Bu Sofie terengah-engah, entah apa maksudnya, padahal subuh tadi keponakannya Adit berkali-kali memenuhi rahimnya dengan benih yang sangat subur. Tapi yang pasti, mulut Mang Oyik yang bau itu hampir saja menghantarnya pada orgasme yang liar.
“Buu,, isep punya saya lagi buuu,,,” pinta Kontet dengan suara memelas, sesaat Bu Sofie menatap wajah Kontet yang penuh harap. Haapp…
Kembali batang besar itu memenuhi mulut Bu Sofie.

“Eeemmpphh,, Oooommggghh,, Ooowwhhggg,,,”
“Ooowwhhhsss,, Buuu enaaaak Buuu,,,”
Tangan Bu Sofie kembali mencengkram pantat kekar Kontet, memandu agar batang besar itu bergerak lebih cepat di dalam mulutnya, begitu kompak dengan kedua tangan kontet yang memegangi kepala Bu Sofie, seakan benar-benar tengah menyenggamai mulut wanita cantik itu.
“Oooommmgggghh,,, Aaaaagghhmmm,,,”
Mata Bu Sofie kembali berair, berkali-kali batang besar itu menyodok tenggorokannya dengan kasar. Tapi wanita enggan melepaskan, bahkan lidahnya semakin liar menggelitik batang besar Kontet.
“Buuu,,, sayaaa keluaar duluaaannn,,, Aggghhhh,,,” tiba-tiba Mang Oyik mendengus liar, menghambur sperma di lorong kemaluan Bu Sofie.
Wanita itu berusaha berdiri, melepaskan batang Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya, menekan kuat pantatnya ke bawah, membuat Batang Mang Oyik semakin jauh tenggelam. Mati-matian Bu Sofie berusaha melepaskan batang yang terus berkedut menghambur benih, tapi sangat sulit, mulutnyapun masih dipenuhi oleh Batang besar. Bahkan gerakan batang itu semakin kasar. Bu Sofie menatap wajah Kontet yang habang ijo mengejar kenikmatan tertinggi.
“Uuugghhh,, Siaaal,,” hati Bu Sofie mengumpat melihat wajah Kontet yang menunjukkan bagaimana besarnya kenikmatan yang diberikan oleh mulut seorang wanita sosialitas kelas atas.
“Ooommmggghhh,,, uuuggmmhhhh,,,,” tangan Bu Sofie meremas erat pantat Kontet, pinggulnya besar wanita itu kembali bergerak, berharap batang Mang Oyik masih dapat melaksanakan tugasnya.

Terlanjur basah, dirinyapun tak ingin rugi, harus mendaptkan orgasme seperti yang tengah dikejar Kontet, dengan mulut menggeram, penuh dengan jejalan batang besar, mata wanita menatap Kontet memberi sinyal. Inilah saat yang tepat.
“Oooowwwhhhsss,, Buuu,,,Aaaagghhhh,,,”
“Gilaaa,, nikmat bangeeeet,,,” Kontet histeris menghambur sperma, yang sigap disambut mulut Bu Sofie, berkali-kali mulutnya meneguk sperma Kontet yang memancar, seiring lorong vaginanya yang juga menghambur cairan orgasme ditengah sumpalan batang Mang Oyik.
“Ooommpphh,, puiihh,,puaahh,, puihhh,, asin banget sperma mu Tet,,,”
“Haayyaaaahh,, kalo asin kenapa ditelan Buu,, heheheee,,”
“Terpaksa tau,,”
Bu Sofie mencoba berdalih, meski mulutnya sudah terbiasa dengan beberapa cita rasa sperma.
“Buu,,,” Kontet kembali merengek, meminta bibir mungil Bu Sofie membersihkan batangnya.
“Aaahhh,, ngelunjak Lu Tet,, gue kan juga mau disepong ama Bu Sofie,,,” protes Mang Oyik yang merasa tersisih.
“Iyaa,,iyaa,, sini gantian,,,” wanita itu melepaskan batang Mang Oyik dari vaginanya. Lalu turun dari ATV, tanpa tendeng aling langsung melahap batang yang masih mengeras, dan itu membuatnya sangat heran.
BREEMMM…BREEEMMMM… BREEEEMMMMM….tiba-tiba terdengar suara ATV di kejauhan. Bu Sofie terkaget, itu pasti rombongan suaminya. dan mereka pasti mencari dirinya yang tiba lebih dulu. Sebenarnya Bu Sofie bisa saja langsung melepaskan batang Mang Oyik, membenahi pakaiannya lalu menghampiri mereka. Tapi matanya menatap nanar batang Kontet yang besar dan masih mengeras. Yaa,, dirinya masih ingin merasakan batang yang lebih besar dari milik suaminya itu memasuki tubuhnya.

“Aaahh,, persetanlah,, ntar gampang cari-cari alasan,” batin Bu Sofie menghentak.
“Tet,, cepet tiduran,,” BU Sofie mendorong tubuh besar Kontet kepasir, lalu dengan sigap menggenggam batang besar pemuda itu, dan mengarahkan keliang kemaluannya.
“Oooowwhhhhsss,, Gilaaa,, emang besar bangeeeettsss,,”
“Aaagghhh,,, Tai Lu,, jangan diaaam,, cepet masukiin batang Luu,,”
Bentak Bu Sofie panik,kata-katanya terdengar vulgar. Tanpa pikir panjang Kontet menghentak dengan kuat, bahkan terlalu kuat, hingga batang besarnya menggelosor masuk menghentak hingga ke lorong rahim.
“Aaagghhhh,,, begooo,,,sakiiitt,,kegedeaaann,,”
“Tapi bisa masuk koq Bu,,,” jawab Kontet cengengesan, antara takut dan nikmat.
“Yaaa,, masuukk,,Aaahhhss,, sampe mentoookss,,” Bu Sofie coba meresapi kenikmatan di lorong vaginanya.
“Maaang,,,mau Apaa?,,,jangaaan disituuu,,”
“Aaagghhh,, gilaaa,,,masuuukk,,jangaaann,,sakiitt begooo,,,Aaagghhh,, dikit lagiii,,,”
Bu Sofie kalang kabut, kedua lubangnya dipenuhi batang.
“Buu Sofieee,,, Buuu,,,”
“Sayaaaang,,, yu huuuu,,,”
“Buuuu,,, bu Sofie dimana,,,,”
“Mang Oyiiiik,,, Woooyy,,, Maaaang,,,”
Terdengar teriakan-teriakan samar memanggil namanya. Tapi sudah terlambat untuk menyudahi permainan. Kini dua buah batang pejantan telah memenuhi kedua lorongnya.
“Ayoo Tett,, Hajaaarrr,,” seru Mang Oyik. Memegangi pantat Bu Sofie yang begitu indah, seperti berbentuk amor yang sangat besar, dengan dua panah besar menembusi bagian tengahnya. Assseeeeemm,, pantat besar kaya gini yang dari dulu gue cari-cari,”
“Hehehee,, iyaa Mang,,kapan lagi bisa ngerasain barang kelas atas yang bisa dipake join depan belakang kaya gini,,,” jawab Kontet,mulai bergerak liar, batang besarnya bergerak cepat memaksa sperma Mang Oyik keluar.
“Ooowwwhhhss,,, Gilaaa,,kaliaaan,,ayooo hajaaarr punya Ibuuu,,,” rintih Bu Sofie yang kerepotan menahan tubuhnya, menjaga posisi agar kedua batang itu dapat bergerak cepat dan leluasa menikmati sempit kedua liang kemaluannya.
“Oooowwhhhsss,,, seperti inikah nikmatnya di gangbang, seperti kata Bu Ningrum,, Aaahhhsss,,,” Bu Sofie teringat cerita temannya yang terbiasa digangbang oleh suami dan anak kandungnya.
“Aaarrrgghhhssss,,papii,,, yang cepeeeet,, Sandyyy,,hajar memek Ibuuuu muuu ,,,” tiba-tiba mulut Bu Sofie meracau, membayangkan yang tengah menyetubuhinya adalah suaminya dan anaknya Sandy Prabu, yang tengah kuliah di Australia. Menyodorkan payudara besarnya ke mulut Kontet yang segera melahap rakus.
“Aaaaggghh,,, teruusss soddoook yang kuaaaat Saaandyyy,, masukin memek ibuuu yang dalaaaam Naaak,,”
Tubuh wanita itu mulai gemetar bersiap menyambut orgasme, bertepatan dengan matanya yang menangkap sosok suaminya berdiri di atas bukit pasir, menatap tak percaya.

“Papiii,,, Maaf Piii,, mamiii,,keluaaarrrrhhhh,,, Aaaarrrgggghhh,,,”
Mata Pak Prabu melotot, mulutnya ternganga melihat istrinya dihimpit dua lelaki dengan kejantanan bersemayam di lorong vagina dan anusnya. Sangat persis saat dirinya menunggangi Aryanti bersama Dako, Tapi kenapa istrinya justru menyebut namanya dan anaknya Sandy saat menyambut orgasme. Terlihat jelas bagaimana tubuh montok itu bergetar, pantatnya menekan batang Kontet hingga ke muara rahimnya. Hingga akhirnyaaa,,
“Uuunnghhh,,,Arrggghhh,, masuuuk semuaaaa,,,”
Pak Prabu terbelalak saat Istrinya menghentak keras, sangat keras. Hingga batang yang besar dan panjangnya melebihi miliknya itu tenggelam sepenuhnya kedalam kemaluan istrinya. Mungkinkah batang itu menerobos pintu rahim istrinya yang sudah melahirkan 3 orang anak.
“Buuuu,,, sayaaaa ngecrooot di memek ibuuuuu,,” teriak Kontet yang tak lagi mampu bertahan, jepitan vagina wanita itu tiba-tiba begitu kuat mencengkram seluruh penisnya. Tak pernah ada wanita yang sanggup melumat seluruh batangnya, dan apa yang dilakukan Bu Sofie bener-bener membuat batangnya begitu nikmat.
“Gilaaa kau Teeet,,, cabuuuut,,, cepet cabuuuut,,,” Wanita itu panik, semprotan lahar hangat Kontet dengan cepat memenuhi rahimnya.
“Sayaaa jugaaa keluaaar Buuu,,,” teriak Mang Oyik, menekan kuat batangnya kedalam anus Bu Sofie, hingga menggagalkan usaha wanita itu melepaskan batang Kontet yang terus menghambur cairan kental.
“Ooowwwwghhhhh,,, gilaaa kaliaaaannn,,, aku keluaaar lageeehhhh,,,” lagi-lagi tubuh montok itu menggelinjang, saat merasakan kedua lorongnya terasa begitu penuh.
Akhirnya Bu Sofie jatuh lemas dalam pelukan Kontet, menatap mata suaminya yang berubah seperti orang linglung. “Ooggghh,,ooghh,,” sesekali bibir tipisnya melenguh saat salah satu penis dalam tubuhnya menggeliat ke kiri dan ke kanan.
“Mereka tidak ada disini,,,” teriak Pak Prabu parau. Menuruni bukit, meninggalkan istrinya yang masih terengah-engah kelelahan diantara dua pejantan yang begitu enggan melepaskan batangnya. “Fifty-fifty,,,” gumam lelaki berkumis itu,suaranya begitu lirih.
##############################
Prepare

hilda yulis - hijabers mom community (3)

Di saat yang sama, tepatnya beberapa menit sebelumnya. Di tepi kolam renang.
“Dako,, sudah kau kumpulkan semua milik mereka?,,,” tanya Pak Prabu tertawa cengengesan, memasukkan beberapa potong bra milik Sintya dan Bu Sofie kedalam kerdus besar yang dipegang Dako.
“Beres Paak, Semua udah ngumpul disini, dipastikan tak ada satupun yang tersisa,, Hahahahaaa,,,”
“Terus punya Aryanti mana?,,,”
“Tuhh,, dipegang sama Adit,,” Dako memonyongkan bibirnya menunjuk Adit yang berdiri bersandar ke tembok, matanya terpejam begitu khusu menciumi bra berwarna pink dan cream.
“Asseeem,,, terus punya Zuraida, istrimu mana?,,,”
“Tadi, diambil sama Munaf,,,” Mata Dako celingak-celinguk mencari Munaf
“Juancuk,,, taik kau Naf,, awas aja kalo sampe bra istriku basah ama coli mu,,,” rutuk Dako, ketika mendapati Munaf menggosok-gosok bra warna ungu, ke selangkangan celananya, sambil tertawa.
“Cepet banget sih kalian nyerobot hak atasan,,,” umpat Pak Prabu kesal.
“Tenang Pak, bra Aryanti yang sudah dipake dan belum dicuci ada di bagian bawah kerdus,,,hehehehee,,,” celetuk Dako, membuat wajah Pak Prabu berbinar. Dengan cepat tangannya mengais tumpukan bra dalam kerdus.
“Yang ini?,,,” Pak Prabu menarik tali bra warna hitam dengan bahan yang sangat lembut, hampir saja membenamkan wajahnya ke dalam mangkok bra, tapi untunglah matanya masih jeli menangkap gumpalan sperma yang masih basah di kain itu.
“Dakooo,,, taik kaaauu,,, siapa yang udah make bra ini buat coli?,,,”
“Hahahaa,,sorry Paak, habisnya ga tahan kalo ingat tadi malam, tapi itu bener punya Aryanti koq,,” teriak Dako yang sudah lebih dulu menghindar menjauh. Disambut tawa Munaf dan Adit. Lalu masuk ke ruang tengah cottage.
“Waahh,,Dari mana saja kalian, cepatlah makan, kita mau ngadain game paling panas dari semua game yang ada,,,hahahaa,,” sambut Munaf, saat Arga dan Zuraida memasuki ruang tengah cottage, di samping Munaf tampak Aida yang pagi itu terlihat begitu cantik.
Tak jauh dari mereka, Andini begitu mesra memeluk Adit yang tengah ngobrol dengan Pak Prabu. wajahnya masih terlihat kelelahan akibat permainan tadi malam. Tak berbeda dengan Aida, Andini juga mengenakan kaos ketat dan rok pendek dengan lipitan yang lebar, seolah menjadi seragam wajib bagi para wanita selama liburan ini. Tapi Arga tidak mendapati Aryanti, kemana istrinya? Sedang apa?,,, tanya itu lagi-lagi menyeruak.
“Arga,, Aku duluan ya,, perutku udah lapeeerrr,,,” ucap Zuraida seraya melambaikan tangan. Arga mengacungkan jempol tanda setuju.
“Gaa,, kalo gitu kami juga berangkat sekalian,,,” celetuk Munaf, menggandeng istrinya, Aida, wanita itu melempar senyum penuh makna kepada Arga.
Pak Prabu menghampiri Arga, lalu menepuk pundaknya,,“Mukeee gileee,, kayanya udah sukses nih eksekusi dokter cantik,” tanpa menunggu jawaban dari Arga yang sedikit kelabakan ditembak seperti itu, Pak Prabu berlalu sambil tersenyum.

“Aryanti,,,” gumam Arga, lalu bergegas menaiki tangga. Didalam kamar Aryanti baru saja selesai mandi, mengenakan kaos putih, dengan tulisan ‘Touch Me’ tepat dibagian payudara nya yang membusung. Begitu serasi dengan rok warna merah menyala yang begitu pendek.
“Haaiii Sayaaaang,,” sapa Aryanti sambil menyisir rambutnya yang masih basah.
“Cantik,,, kau memang cantik,,,” ucap Arga mendekat, lalu memeluk dari belakang. Membuat istrinya tersenyum. Wajah wanita itu begitu segar, seakan pertarungan ganas tadi malam adalah hal yang biasa bagi tubuh indahnya yang terbiasa mengikuti aerobik.
“Apakah kau sudah sarapan?,,,”
“Belum,” jawab Arga, tangannya menyusuri pinggang ramping yang bersinergi dengan pinggul dan pantat yang montok berisi. “Apa kau ingin menemaniku sarapan?,”
“Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu makan, tapi aku harus membawa barang-barang itu ke tempat game, mungkin Dako yang akan mengantarku,” jawab Aryanti dengan wajah menyesal.
“Yaa,, kurasa tak mengapa,,,” jawab Arga berusaha rileks saat telapak tangannya tiba di  selangkangan wanita yang mengikat janji setia untuk hidup bersamanya.
Tatapan mata sepasang suami istri bertemu di cermin, Aryanti tersenyum, namun seketika berubah murung saat suaminya mengusap lembut gundukan vaginanya.
“Cepatlah mandi sayang,,, kasian teman-teman mu menunggu terlalu lama,”
Hampir saja Arga menurunkan kain tipis di selangkangan Aryanti. Menarik nafas panjang, membaui rambut Aryanti, mengecup lembut rambut istrinya. Aryanti berjalan ke samping kasur, menunduk mengambil pakaian kotor yang ada di lantai, saat itulah jantung Arga tersentak, rok Aryanti terlalu pendek, siapapun dapat melihat pantatnya yang montok bila sedang menungging seperti itu. Jantung Arga semakin berdetak kencang, pakaian kotor yang ada di tangan Aryanti tidak lain adalah kaos dan leggins yang dipakainya tadi malam.
“Kenapa celana mu robek sayang?”
“Owwhhh ini,,, ini ulah teman-temanmu saat bermain game tadi malam,” jawab Aryanti dengan mimik salah tingkah.
“Game?,,,” Arga berpura-pura tak tau dengan apa yang dialami istrinya tadi malam.
“Yaaa,, hanya permainan yang sedikit nakal, yang diusulkan oleh sahabatmu Dako,,,”
“Hanya permainan?,,,” tanya Arga dengan suara lembut tapi begitu tajam.
Wajah Aryanti berubah pucat seketika, dirinya tidak pernah mampu berbohong saat Arga bertanya padanya dengan sebuah senyum yang menyejukkan. Seketika itu juga Aryanti memeluk tubuh Arga,
“Maaf sayaaang,,,” sesal Aryanti dengan suara berat, “aku terlalu terbawa permainan,” matanya yang indah mulai sembab, penyesalan mengalir tak terbendung.
Sangat sulit bagi Arga untuk meneruskan percakapan itu, yang akan membuat hatinya sakit saat harus mengingat kembali kejadian tadi malam, toh apa yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan Aryanti. Lagipula, istrinya sudah mengakui kesalahannya.
“Sudahalah,,, bukan kah itu hanya sebuah permainan?,,,” Arga tersenyum sambil menatap mata Aryanti. Tapi,,,
“Sayaaang,, apa kamu,, eenghh,, tidak memakai bra?,,,” tanya Arga ragu-ragu saat merasakan gumpalan empuk yang menyentuh dadanya tidak mengenakan pelindung bra.
“Oohh iya,, bra ku dan semua bra para wanita disita oleh Pak Prabu, karena kami kalah taruhan saat sarapan tadi pagi,,,”

“Taruhan?,,,”
“Yaaa,, bos mu itu menantang kami para wanita untuk menebak, batang siapa yang sanggup tetap tertidur bila Lik Marni memperlihatkan payudaranya yang kencang itu,,” Aryanti bercerita penuh semangat.
“Ohhh,, sayaaang,,, seharusnya kau ada di ruang makan saat itu, karena Lik Marni akhirnya benar-benar memperlihatkan dagingnya yang bulat besar dan kencang itu, kurasa batangmu pun pasti akan dengan cepat mengeras bila melihatnya. Hasilnyaa,,,semua batang milik teman-temanmu itu mengeras semua, hahahahaa,,,sesuai tebakan kami,,, tapi tidak dengan batang Pak Prabu,,”
“Ohh yaa,,,” Arga meneguk liurnya, apa yang digambarkan Aryanti sama persis dengan apa yang dinikmatinya dari tubuh istri penjaga cottage itu.
“Bagaimana kalian tau, bukankah mereka mengenakan celana,,,”
“Yaaa,, karena penasaran, dan untuk memastikan siapa yang memenangkan pertaruhan, kami mengecek batang mereka satu persatu,,”
“Ohh,, apakah kamu juga ikut mengecek batang mereka satu persatu?,,”
“Yaaa,, karena para wanita melakukannya, kurasa tidak mengapa jika aku turut memastikan,” jawab Aryanti, sambil menggelayut manja, tangannya merogoh ke dalam celana Arga mengelus lembut batang yang sudah mengeras.
“Tapi lucunya,,, batang Pak Prabu yang tetap tertidur setelah disentuh para wanita itu, justru mengeras saat kusentuh,,, dan itu membuat semua yang ada di ruang makan tertawa, jadi aku terus meremasnya hingga batang itu menegang sepenuhnya, tapi aku melakukannya dari luar celana, jadi,, kurasa itu tak masalah,, bukan begitu sayang?,,,”
“Eehhh,, iya,, selama kau tidak menyentuhnya langsung, tapi,,,”
tok,,tok,,tok,,
“Sayaaaang,, apa kau sudah siap?,,,”

hilda yulis - hijabers mom community (2)
Seseorang mengetuk pintu, dan pemilik suara itu lain adalah Dako. Pintu terkuak sebelum sempat Arga dan Aryanti menjawab.
“Tidak apa-apa kan, bila Dako yang mengantarku? Nanti kau susullah bersama Zuraida dan Sintya, sepertinya dia juga belum selesai bersiap-siap,”
“Okee,, berhati-hatilah,, jangan ngebut walau pake ATV,” Arga berusaha tidak mempermasalahkan panggilan sayang yang diucapkan Dako kepada istrinya.
“Sob,,, tolong bocengin istriku ya,,,” seru Dako sambil mengedipkan matanya, lalu menggamit pinggang Aryanti yang membawa kerdus berisi bola, menuruni tangga.
“Aryantii,,, Apa kau masih bisa membawa beberapa kain ini?” seru Sintya dari arah ruang makan, membawa segumpalan kain bali, “Pak Prabu memintaku untuk membawa kain ini,tapi sepertinya aku akan terlambat,”
“Waaahh,,,sudah penuh Sin, taruh aja di kamarku, nanti biar Arga yang bawa,” jawab Aryanti sambil memperlihatkan isi kotak.
“Owwhh,, okee,, biar kuantar kekamarmu,,” jawab Sintya yang melihat sosok Arga yang masih di atas, berdiri di pinggiran tangga. Lalu melambai kepada Aryanti yang kemudian menghilang di pintu keluar.

Sintya menaiki tangga, tersenyum penuh makna, manatap Arga dengan kerlingan nakal.
“Apa kau ke kamarku hanya untuk mengantar kain itu?,,,” goda Arga, matanya menatap tonjolan mungil pada kaos ketat Sintya yang membulat padat.
Saat tiba di hadapan Arga, wanita cantik itu menepis poni yang menutupi mata indahnya sambil membusungkan dada semakin ke depan.
“Menurutmu?,,, apalagi yang kubawa selain barang-barang ini?,,” Sintya mengerling mata menunjuk kain-kain yang ada di kedua tangannya. Tapi itu tak ubahnya seperti menunjuk kedua payudara yang membusung. Lalu berlenggok genit menuju kamar, sengaja menggoyangkan pantatnya sedikit berlebihan untuk menggoda Arga.
“Okeee,,bawalah barang-barang ini ke kamarku,,,” seru Arga yang menubruk tubuh Sintya dari belakang. Tangannya segera meremas payudara yang hanya ditutupi kaos tipis.
“Uuuugghhh,,, kurasa kau salah,,, karena barang ini milik Pak Prabu, Bos ku di kantor,,” rintih Sitya yang menahan geli ketika payudaranya diremas dengan kuat, memainkan puting yang begitu cepat mengeras.
“Ohh,, yaa?,,, kurasa Pak Prabu tak akan keberatan jika barang spesial ini dihibahkan untuk pimpinan cabang yang baru,,”
Blaam,,,Arga segera menutup pintu dengan kakinya, ketika kedua sudah berada di dalam. Lalu menyeret tubuh Sintya ke ranjang.
“Boleh aku mencobanya?,,,” tanya Arga, memandangi payudara yang kini terpapar bebas di depan matanya, tubuhnya beringsut menaiki, menindih tubuh Sintya yang menggeliat manja.
“Sudah kubilang, itu punya Bos ku di kantor,, jika kau adalah bos baruku, maka kau bebas untuk mencicipinya,,,” wajah Sintya memerah, menunggu bibir Arga yang berada beberapa senti dari putingnya.
“Ooowwwhhh,,, Emmmppphhh,,,”
“Yaaa,, yaaang kanaaan jugaaa,,,, aaaggghhh,,”
“Boosss,,, gimanaaa,,, apa aku masih layak jadi sekretarismu nanti,,” tangan Sintya mengelus wajah Arga yang masih sibuk mengenyoti dua puting yang sudah mengeras.
“Apa kau masih membawa alat tester kelamin para lelaki?” tanya Arga, membuat Sintya bingung, lalu tertawa terbahak saat teringat kejadian di gazebo, saat mereka bercanda dalam birahi, tentang barang siapa yang lebih besar, apakah milik Arga ataukah milik Pak Prabu.
“Hahahaa,,Yaa,, kurasa aku membawanya,, cobalah cek, apakah alat itu masih ada di bawah sana?” Sintya menunjuk selangkangannya dengan menggerakkan wajahnya.Arga tertawa girang, “kurasa kita harus menyelesaikan tugas kita di gazebo, mengukur punya siapa yang lebih besar,” tangan Arga menarik tepian celana panjang dari bahan katun yang membekap tubuh bagian bawah Sintya.
“Yaaa,, benar katamu,,kita harus menyelesaikannya,,” dengus Sintya, mengangkat pantat sekalnya memudahkan usaha Arga.
Tapi tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekat dari luar kamar
“Argaaaa,,,”
“Gaaa,,, Argaaaa,,,”
Zuraida memanggil dari depan pintu, sontak keduanya meloncat bangun, membenahi pakaian yang mulai berantakan.
“Yaa,, Ada apa,, engghhh,, apa kau sudah sarapan?,,, aku,, aku belum mandi,,” Arga gelagapan saat pintu terbuka, sementara Sintya baru saja berhasil memasukkan payudaranya yang besar kembali ke dalam kaos.
“Hohohohooo,,, ternyata kau nakal juga yaa,,” seru Zuraida sambil berkecak pinggang, bola matanya melotot menyelidik wajah Arga yang pucat, layaknya maling tertangkap tangan.
“Huuhh,, ku kira kau memang berbeda dengan mereka,, ternyata,,,” wajah Zuraida yang kaget berubah menggoda Arga, tertawa genit, lalu berjalan menghampiri Sintya yang masih di atas kasur.
“Tunggu Zee,,, kami hanyaaa,, emmhhh,, maksudku,,,”
Tapi Wanita anggun itu tampak cuek, mengacuhkan Arga yang mati-matian mencari alasan, menghampiri Sintya lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Iiihh,, mba Zuraida apaan sih,,,” wajah Sintya tersipu malu, entah apa yang dibisikkan Zuraida ke telinganya.
Zuraida balik menghampiri Arga, berdiri tepat di depan lelaki yang terlihat canggung itu.
“Sayaaang,, Pak Prabu, Munaf, Bu Sofie, Aida, bahkan suamiku dan istrimu, Sepertinya mereka benar-benar menikmati permainan ini, lalu kenapa kita harus menahan diri,” ucap Zuraida.
Tangan lentiknya perlahan meraih selangkangan Arga, lalu tertawa genit, saat mendapati batang Arga yang keras mulai lunglai karena kaget.
“Kau punya waktu beberapa menit, sampai aku selesai mandi, tapi ingat,,, berusahalah untuk tidak memasukkan barang ini kedalam tubuh Sintya, karena aku bisa cemburu,,” ucap Zuraida dengan suara bergetar, tangannya mencengkram erat batang Arga yang dengan cepat kembali keras.
“Weelll,, aku mandi dulu ya sayang, manfaatkan waktumu dengan baik,,, Sintya, ingat kata-kataku tadi ya,,” seru Zuraida melepaskan batang Arga, mengedip genit ke arah Sintya. Lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Tinggal Arga dan Sintya yang saling pandang.
“Apa yang dikatakan Zuraida tadi?,” tanya Arga, duduk ditepi ranjang.
“Adda aja,,,” Sintya tertawa genit, berusaha menurunkan celananya yang ketat hingga ke lutut, memamerkan gundukan vagina yang begitu indah, tersembunyi penuh misteri di balik kain segitiga berenda yang tipis.
“Soo,,, apa kau masih ingin alat ini mengukur batangmu itu,” tanya Sintya, jarinya mengusap-usap kain tepat di bibir vagina, membuat kain itu mulai basah.
“Aaaawwww,,, Argaaa,,,” Sintya terpekik, Arga membenamkan wajahnya ke selangkangannya, lalu mengusapi kain pelindung dengan hidung dan bibirnya.
“Gaaa,, ingaaat kata Zuraida, waktu kita hanya sebentaaar,,” Sintya berusaha melepaskan celana dalamnya, lalu membuka lebar pahanya.
Arga yang tengah melepas celana, harus meneguk ludahnya, barang itu statusnya memang milik Pak Prabu, tapi bos nya itu sangat jarang menggunakan, hanya pada saat berpergian keluar daerah bersama Sintya.
“Maaf Sin,, aku ga bisa memasukkan punyaku,,, tapi,,, kurasa bibir mu ini cukup mahir untuk mengukur seberapa besar batangku ini,,,” Arga memegangi batang besarnya yang sudah mengeras sempurna.
Mau tak mau Sintya harus mengakui keunggulan batang Arga dari milik Pak Prabu, tanpa menyentuhnya pun semua wanita pasti sudah tau.
“Sini Gaaa,, biar bibirku yang memastikan,,” Sintya membuka lebar mulutnya, tanpa basa-basi wanita itu ingin segera melumat seluruh batang Arga ke dalam mulutnya.
“Eeemmmhhh,,, Ghheedhheee bhhaaangheeed,,,” Sintya memutar-mutar wajahnya, membuat batang Arga serasa dipelintir. Menariknya keluar memandangi dengan takjub, lalu kembali memasukkan sambil menggerakkan kepalanya maju mundur.
Arga tertawa bangga. “hehehee,,,bagaimana? punya siapa yang lebih besar,,,”
Wanita itu memandangi Arga dengan tatapan birahi, “Masukkanlah ke dalam tubuhku,,, hingga aku benar-benar bisa mengukurnya,,,” Sitya mengangkat pinggulnya, seolah memamerkan kenikmatan yang siap diberikan oleh kemaluannya
Sintya menggeliat, tubuhnya sudah tak tahan untuk merasakan kejantanan Arga, apalagi saat teringat kejadi di gazebo, saat batang itu memenuhi lorong vaginanya dengan sempurna. Mata Arga memandangi vagina yang terus dielus-elus oleh Sintya, membuat permukaannya begitu basah. Tapi Arga menggelengkan kepala dengan sangat berat. “Aku ga bisaaa, Sin,,” pesan Zuraida terombang-ambing di pikirannya.
“Gaa,, Pleasee,,,” Sintya merengek, semakin tinggi mengakat vaginanya, memamerkan pada Arga yang masih berlutut di samping kepalanya. Menguak kedua pintu vagina, hingga mata Arga dapat melihat lorong yang begitu sempit.
“Aaagghhh,, Siaaal,,, Zeee,,, maaaf sayaaang,,aku ga tahaaaan pengen nusuuuk lubang Sintyaaa,,,” Arga menggeram, menindih tubuh montok Sintya, mengarahkan batangnya ke pintu vagina, dan dalam tiga hentakan batang besar itu berhasil masuk sepenuhnya.Tanpa sepengetahuan Arga, mata indah milik Zuraida mengamati dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Tersenyum lembut sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Gaa,,Usahamu untuk bertahan boleh juga,,” gumamnya pelan, lalu berbalik menuju kamar dengan birahi yang ikut tersulut.
“Gaaa,,, Oooowwwhhh,,, penuh banget Gaaa,,,”
“Mba Zuraidaaa,,,sudaaah masuk semua Mbaaa,,,”
“Oooowwwhh,,,”
Arga terkaget, menghentikan gerakannya, “Apa maksud mu Sin,,,”
“Mba Zuraida membisikiku,, menantang, apakah aku bisa menelan semua batangmu,,,”
“Owwhhh yaaa?,,,jadi memang ini yang diinginkannya?,,lalu apalagi,,” Arga menjadi bingung dengan Zuraida, dirinya dilarang tapi justru menantang Sintya untuk menggodanya. Tapi masa bodoh lah bila itu adalah ujian untuk dirinya, karena vagina Sintya sangat mahir memanjakan batangnya di dalam sana. Pinggulnya kembali bergerak menghentak dengan ganas.
“Mba Zuraida juga pengen Pak Arga nyemprot di dalam sebelum dia selesaai maandiiii,,, Aaahhhh,, yaaa,,,Oooowwwhhh,,,”
“Owwwhh,,,tapi apa kau sanggup membuat aku keluar secepat itu? Arrggghhh,,,”
“Aaahhhssss,,, bisaaa,, haruuusss bisaaa,,, Sintyaaa pengeeen disemproot punyaaa bapaaaak,,,” paha montok itu menjepit pinggul Arga, kakinya membelit kaki Arga dan menekan pinggulnya keatas. Membuat batang Arga masuk semakin dalam dan terjepit begitu erat.
“Gilaaa,, ada jugaaa ternyata tehnik seperti ini,,, Uuugghhh,, tapi ini belum cukup Sin,,,”
Sintya tertawa sambil terengah-engah di sela sodokan Arga yang semakin keras. Lalu mendorong Arga hingga duduk bersimpuh di atas kedua kaki, dan menaikinya, tanpa menunggu Arga siap, Sintya yang kini dalam posisi dipangku segera menggerakkan pantatnya dengan liar.
“Oooowwwhhh,,, Paaaak,,, bagaimanaaa,,, Aaagghhhh,,,”
Membekap wajah Arga di antara kedua payudara, pinggul montok itu kini bergerak menghentak dengan kasar dengan lorong vagina yang menjepit erat.
“Paaaak,,, cepeeet keluaaarin Paaaak,,, Sintya udaaah ga kuaaaaat,,”
“Ooowwwhhh,,, batang mu gedeee bangeeet Paaak,,,”
Gerakan liar wanita cantik berponi itu membuat Arga kelabakan, batangnya dengan cepat keluar masuk.
“Uuugghh,, gila kamu Sin,,, Aaaghhh,, barangmu ini haruss menjadi milikkuuu Aaarrgghh,,,”

hilda - jilbab hot (1)
“Please semprotin meeeemek aaahh,,,Sintyaaaa,,”
“Pleaseeee,,, Sintyaaa keluaaaarrrr,,,”
“Aaarrrgggghhh,,,”
“Akuuu semprooot memeeeeeek mu Siiin,,, Aaaarrrgghhhh,,,”
Kedua tubuh manusia berlainan jenis itu berkelojotan, saling melumat bibir, bertukar ludah, seiring cairan kelamin mereka yang menyatu dalam vagina Sintya.
“Oowwhh,, nikmat banget punyamu Sin,,,hehehee” ucap Arga, menjatuhkan tubuh Sintya ke kasur, dan menindihnya.
“Punya bapak tuh yang gila,, nusuknya dalem banget, sampe mentok,,hihihi,,,”
“Paak,, Apa bener bapak mau ngambil saya dari Pak Prabu,,,” tanya Sintya, tatapannya begitu serius, membuat Arga bingung.
“Eeeenghhh,, maksud ku,,”
“Hehehe,, tenang aja pak,, Sintya Cuma bercanda koq,,hehehe,,”
“Tapi kalo kapan-kapan bapak mau nyoba alatnya Sintya lagi, boleh koq,” Wanita itu tersenyum, menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Arga. Memeluk erat, dalam desir hati yang berbeda.

“Waahh,,, cepet banget,,, tau-tau udah makan disini,,,” Sapa Zuraida saat mendapati Arga dan Sintya sudah berada di ruang tamu. “Tapi kamu sudah mandi kan Ga?,,”
“Ya sudahlah,, kamu aja yang terlalu lama mandinya,,” jawab lelaki itu sambil memandangi tubuh Zuraida yang dibalut kaos putih yang ketat. lebih ketat dari biasanya.
“Gimana tadi?,,,” bisik Zuraida, duduk di sisi Sintya.
“Aku menang,,Mba kalah,,,” jawab Sintya malu-malu.
Zuraida langsung melotot ke arah Arga, yang tiba-tiba keselek dipandangi wanita berwajah cantik itu. penutup kepalanya diikat keleher seakan sengaja memamerkan sepasang gundukan payudara yang membulat padat.
“Aku ke kamar sebentar, ngambil kacamata, pasti panas banget nanti,,” pamit Sintya, menuju kamar.
“Sempurnaaa,,” ucap Arga pelan. Matanya tak sengaja menangkap tonjolan mungil, puting Zuraida tercetak jelas di kaos putihnya yang ketat. Bulatan payudara yang tidak ditopang oleh bra itu tetap membusung tegak, bergerak begitu indah mengikuti gerakan tubuh sang wanita. Sontak wanita itu tersipu malu, menundukkan wajahnya.
“Argaa,,, apakah aku masih terlihat cantik?,,” Hati Zuraida bergemuruh, ingin mendapatkan pengakuan dari lelaki yang dulu begitu dikaguminya.
“Cantik, bahkan sekarang kau bertambah lebih montok,,” Arga berdiri, mendekati bangku Zuraida. “Tapi bagiku, kau lebih dari sekedar cantik dan seksi, kau masih yang terindah,,”
“hohohoo,,, tidak,,tidaaak, jangan menggodaku lagi,,,” Zuraida bangkit, berusaha mengelak dari Arga yang ingin merengkuh pinggangnya. “Kau sudah gagal tadi,, u are a looser,, hahaaha,,,” berjalan menuju keluar.
“Aaahhh Siaaaal,,,” Arga memang sudah menduga jika Zuraida tadi tengah mengujinya.
“Zeee,,, Sayaaaang,,,” Arga menggenggam tangan Zuraida, menahan wanita itu. Menatap dengan penuh harap.

Setidaknya…
Biarkan di waktu yang tersisa ini aku memilikimu…
Merengkuh hatimu yang begitu jauh…
Meski sesaat, itu sangat berarti bagiku…
Aku ingin dirimu…

Lagi-lagi Zuraida harus menyerah pada tatapan teduh itu. Berjalan mendekat, masuk dalam pelukan sang lelaki.
“Arga,,, meski untuk sesaat, liburan ini juga sangat berarti bagiku,,, berusahalah untuk mendapatkan ku,, mendapatkan tubuhku,,,” ucap wanita yang hatinya tengah goyah itu.
Ada hasrat untuk menyerahkan tubuhnya dalam keperkasaan sang pejantan, tapi tidak dalam birahi liar. Wanita itu menginginkan sang pejantan menikmati tubuhnya dalam ritual hasrat yang sengaja dicipta, mencinta dan dicinta.
“Mbaaa,, Hehehee,, sorry,, lagi-lagi aku ngeganggu, Cepet Yuk,,, udah ditunggu sama yang lain,” seru Sintya, tepat saat Arga mengecup lembut Zuraida, yang menyambut dengan bibir terbuka.

***********************************
“Ayooo Aidaaaa,,, satu putaran lagiii,,,”
“Aryantiii,,, cepeeet,,, jangan mau kalaaahh,,,, loncat yang tinggi,,hahahaaa,,,”
Teriakan para suami terdengar ramai, tapi mereka bukan memberi semangat kepada istri masing-masing, teriakan itu justru ditujukan kepada istri yang memiliki gerakan paling liar.  Yaa,, lomba balap karung dipilih sebagai laga pembuka untuk game pantai.  Mata para suami tertuju pada Aida yang begitu semangat meloncat memacu tubuhnya, memimpin paling depan, dan bisa ditebak, mata jalang para suami tertuju pada sepasang payudara besarnya yang bergerak naik turun.  Sementara di belakangnya Aryanti berusaha menyusul, meloncat dengan cepat, tak peduli dengan payudara mereka yang tidak dilindungi bra, bergerak liar. Memang sangat merepotkan bagi mereka yang memiliki buah dada dengan ukuran besar, ketika harus meloncat, jelas sepasang benda menggiurkan itu akan ikut bergerak tak terkendali. Andini yang berada diurutan ketiga memang lebih diuntungkan dengan payudaranya yang tidak terlalu besar, namun ukuran karung yang hampir menutup seluruh tubuhnya itu membuatnya sangat kerepotan.
“Ayooo cepeeeet,,, yang nyampe duluan saya kasih piala,,” seru Pak Prabu yang berdiri di garis finish, sambil menggosok-gosok penisnya, membuat para suami lainnya tertawa. Tapi justru membuat para wanita yang tengah berloncat dan berlari tersipu malu.
Siapapun dapat melihat tojolan penis Pak Prabu, yang telah mengeras dengan sempurna, dan itu diakibatkan ulah payudara mereka yang bergerak brutal tak terkendali. Aryanti yang sudah pernah merasakan keperkasaan batang besar itu, tertawa. Terlintas dipikiran nakalnya untuk menabrak Pak Prabu, dan memberi pelajaran buat lelaki paruh baya itu dengan meremas batangnya saat tubuh mereka terjatuh.  Aryanti lagi-lagi tertawa, menertawakan pikiran mesumnya. Tapi ternyata hal yang sama juga terlintas dibenak Aida, meski tidak tau pasti ukuran pusaka Bos suaminya itu, dari balik kacamata minusnya Aida dapat memastikan batang itu memeiliki ukuran yang menggiurkan birahinya. Tak ayal kedua wanita cantik itu memacu kakinya lebih cepat, bersaing menuju tempat Pak Prabu berdiri. Saling bersenggolan sambil tertawa. Membuat Munaf yang berdiri tak jauh dari Pak Prabu sangat cemburu.
“Kyaaaaa,,,”
“Aaaaaa,,,hahahaahaa,,,”
“Mba Aida curaaaang,,, Hahahaaa,,”
Bruaakkk!!! Kedua tubuh montok itu bersamaan menubruk Pak Prabu yang tertawa menyambut sambil merentangkan kedua tangannya, jatuh terjengkang ditindih dua wanita cantik. Membuat para lelaki begitu iri dengan keberuntungan Pak Prabu. Apalagi mata mereka menangkap gerakan tangan Aida dan Aryanti yang berebut mencengkram selangkangan Pak Prabu bersamaan. Andini yang tepat berada di belakang mereka seakan tak mau kalah ikut meloncat ketubuh Pak Prabu, menindih Aida dan Aryanti. Membuat tawa semakin riuh.Tentu saja Pak Prabu juga berusaha sebaik mungkin memanfaatkan kesempatan, tangannya yang terentang dengan bebas meremasi payudara para wanita yang menyerahkan tubuh pada dirinya.
“Asseeeemmm,, mantap bener pantat istri kalian,,, uggghh,,, pasti nikmat banget kalo di Doggy,,” celetuk Mang Oyik kepada Arga dan Munaf, meremas-remas selangkangnya saat melihat rok ketiga wanita itu tersingkap, memamerkan pantat yang dibalut celana dalam aneka warna.
hilda - jilbab hot (2)
“Kan mamang udah pernah nyobain, kemaren nyemprot didalam juga kan?,,hehehe,,” jawab Arga terkekeh.
“Mamang udah pernah nyobain? Sama siapa? Istrimu Ga?,,,” tanya Munaf bingung.
“Ya istri mu lah,,, ngeliat sendirikan gimana lemesnya istri mu tadi malam? Hahahahaa,,,” Arga tertawa, seakan ingin membalas ulah Munaf yang sempat merayon tubuh Aryanti saat bermain kartu.
“Heehhh,, yang beneeer?,, ahh sialan kau Mang,,,” wajah Munaf seketika berkerut, tak pernah terlintas diotaknya kalau tubuh mulus istrinya turut dinikmati oleh lelaki seperti Mang Oyik.
Aryanti menghampiri Arga sambil tertawa. “Huuufff,,, capek banget sayang,, kakiku pegel seperti ingin keram,”
Sementara Munaf dan Mang Oyik harus meneguk liur menatap payudara Aryanti yang tercetak jelas di balik kaos, bergerak naik turun dengan teratur, mengikuti tarikan nafas yang masih tersengal.
“Kalau gitu istirahat lah dulu,” ucap Arga santai tanpa menoleh.
“Sayang,,, masih marah ya?” tanya Aryanti yang bingung melihat Arga sedikit agak cuek dari biasanya. “Atau kau marah karena kejadian tadi, saat aku menabrak Pak Prabu, aku memang melakukannya dengan sengaja, maaf,,,”
“Ngga koq sayang,, aku tau kau cuma terbawa permainan,” Arga menoleh sambil tersenyum lembut, tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati Aryanti. Perlahan dipeluknya Arga dari samping.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, cepaaat,,, jangan mau kalaah sama Bu Sofie,,,”
DEEEGGG, hati Aryanti terasa sakit saat Arga memberi semangat kepada Zuraida. Tapi kenapa?,,, Zuraida adalah teman baiknya, dan Zuraida pula yang menjodohkan mereka. Wanita cantik itu semakin erat memeluk pinggang Arga. Tapi bukan hanya Arga, karena mata semua lelaki kini tertuju pada Zuraida yang terlihat malu-malu untuk meloncat, menghindari gerakan di dadanya, sesekali kakinya berusaha berjalan di dalam karung yang sempit. Akibatnya Bu Sofie yang berada di belakang perlahan mulai mendekat, padahal tenaga wanita dengan tubuh padat berisi itu telah terkuras habis akibat ulah Mang Oyik dan Kontet.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, loncat yang tinggiii!!!,,, Awwww,,,” Munaf yang berteriak memberi semangat seketika terpekik akibat cubitan Aida yang cemburu.
Teriakan Munaf justru membuat gerakan Zuraida semakin pelan, tapi sepelan apapun gerakan, payudara dengan ukuran menggiurkan itu pasti akan bergerak tanpa topangan bra.
“Hahahahaaa,, Hooosshh,, Hooshhh,, haahh,,hahaaahh,,,” Bu Sofie yang tertinggal dibelakang, kembali bersemangat saat melihat gerakan Zuraida semakin pelan, kini dirinya sudah menyusul beberapa langkah di depan, berusaha memperpendek jarak dengan Sintya yang ada di depannya.“Siaaal,,, Uuuhhhh,, Kenapa semua melihat ke aku sih,, padahal masih ada Sintya dan Bu Sofia yang nenennya lebih gedeeee,, Uuuhh,,, ,” Hati Zuraida berteriak kesal seakan ingin menangis.
Tubuh nya yang selalu tertutup hingga kekepala itu, tak pernah sekalipun dipertotonkan seperti itu kepada banyak orang, meskipun hanya dengan pakaian yang ketat. Tapi kini semua lelaki dapat melihat puting payudara yang tercetak jelas. Apalagi saat dirinya menangkap pandangan mata Pak Prabu, Adit dan munaf yang menatap penuh birahi. Parahnya lagi, di belakang ketiga lelaki itu, Mang Oyik begitu bernafsu menggosok selangkangannya, mulut lelaki berwajah amburadul itu membuka dan menutup mengikuti gerak payudaranya yang naik turun. Ada penyesalan dihati wanita itu, kenapa tadi dirinya memilih kaos ketat, padahal tujuannya tidak lain hanya untuk menggoda Arga, tapi jika ranum buah dadanya itu turut dipelototi oleh lelaki lain, jelas dirinya sangat malu.
“Begoooo,,, kenapa ga ditutup pake jilbab aja,,, uugghhh,, begoo, begooo,,,” rutuk hati Zuraida, ketika teringat bagian bawah jilbabnya yang terikat ke belakang. Dengan sekali hentakan ikatan kain putih itu terlepas, menutupi bagian depan payudaranya. Sontak teriak kecewa menghambur dari mulut para lelaki.
“Whooooo,,, Zuraidaaa pelit,, Aaaaww,,, koq dicubit terus sih mahh,,” protes Munaf ketika teriakan kecewanya beroleh cubitan di perutnya yang mulai buncit.
“Mamahkan enak, udah nyobain banyak batang dimari,,,” sungut Munaf.
“Tu kan,,, salahnya papah juga sih suruh-suruh mamah pake rok beginian, pasti biar bisa pamerin punya mamah kan?, jadi kalo ada orang yang minta isi dalam rok mamahh, papah ga boleh marah dong,,,” protes Aida lalu melenggang meninggalkan Munaf yang terbengong.
“Eeee,,, busyet dah, sejak kapan bini ku binal kaya gitu, main kasih memek seenaknya,, kan tu punya kuu,,,” dengus Munaf kesal, melototi istrinya yang melenggang cuek, sesekali memamerkan pantat yang tak mampu ditutupi oleh rok yang pasrah tertiup angin.
“Yeeeeaaahhhh,,,,” terdengar teriakan Sintya yang berhasil mencapai finish.
“Aaahhh,,, tungguuu,,tungguuu,,, curang kaliaaan,,,” Bu Sofie berteriak histeris dengan nafas ngos-ngosan, mulai keteteran tak mampu menyaingi Zuraida yang memacu tubuhnya, menyalip dengan cepat mencapai garis finish.
“Yaaaaaaaa,,,, hahahahahaaa,,,” Zuraida ikut tertawa heboh berdiri digaris finish. Mengangkat tinggi kedua tangannya, terlihat jelas wanita itu mulai menikmati permainan.
“Maaf ya buu,, sekali-sekali ibu yang belakangan,,,heheehee,,” ucap Zuraida menyambut Bu Sofie yang menggerutu lucu, di garis finish.
Sekilas Zuraida melirik Arga yang mengangkat jempolnya, membuat wanita itu tertawa tersipu. Dokter cantik itu tidak menyadari, Aryanti yang berdiri di samping suaminya tersenyum kecut, cemburu melihat kemesraan Suaminya dan Zuraida
“Wokkeeeee,,, game kali ini dimenangkan oleh Aidaaa,,,” Pak Prabu mengumumkan pemenang lomba.
“Lhoo koq bisa Pak?,,, aku kan lebih dulu nginjak garis finis dibanding Aida,,” protes Aryanti.
“Yaa,, tapi Aida sepersekian detik lebih cepat memegang punyaku,,,hahahaa,,,”
“Whhoooooo,,, Pak Prabu curang,,Hahahahaaa,,,”
“jurinya mupeng tuuuhhh,,,Hahahaa”

Teriakan dan tawa menghambur di bibir pantai. Terik matahari seakan tak mampu mengurangi keceriaan para suami istri.
“kali ini biar adil, biar aku yang jadi jurinya, karena game berikutnya bakal lebih panas, lomba makan sosis hahahaa,,” ucap Bu Sofie sambil bertolak pinggang.
“Ayooo sini,,,, semua ngumpul,,, para wanita silahkan pakai kalung pita ini,” lanjutnya, lalu menyerahkan pita merah kepada Aryanti, pita biru untuk Andini, pita ungu diserahkan pada Aida, Pita putih untuk Sintya, dan pita hijau untuk Zuraida. Bu Sofie meminta para istri mengalungkan di leher.
“Ayooo,, sekarang giliran para suami, cepet sini,,,” teriaknya sambil menenteng kain kantongan berisi beberapa bola.
“Dako kau duluan,, silahkan pilih wanita mu,,,, hehehee,,,” Bu Sofie mengulurkan kantong. Mata Dako berusaha mengintip melalui celah.
“Eeehh,, ga boleh ngintip,,, semua tergantung keberuntungan tanganmu,, ayo cepat ambil satu bola,”
“Warna Unguuu,, Aidaa,,,hahahaa,,” Bu Sofie mengumumkan pasangan Dako adalah Aida.
“Hehehehee,,, hay bu guru cantik, udah siap untuk menang?,,” Dako sengaja mencolek pinggang Aida, menggoda Munaf yang lagi uring-uringan.
hilda - jilbab hot (6)
“Yaaa,, meraahh,,Aryantiii,,,”
“Yeeeaaahhh,,,” Adit berteriak girang, menghampiri Aryanti, “Sorry ya calon boss,, aku pinjam dulu istrimu,,,hehehee,,” Adit menggoda Arga, menarik tangan Aryanti yang masih memeluk pinggang suaminya.
“Awas aja kalo sampe lecet, aku jadiin OB kamu,,” ancam Arga bercanda, walau ada rasa was-was dihati, permainan seperti apa yang bakal digelar.
“Sintyaaa,,, Putih,,,”
“Weeew,,, boleh juga nih,,, game nya harus hot Bu,,” seru Munaf, jengkelnya sedikit berkurang. Sudah lama dirinya tertarik dengan wanita yang setiap hari duduk manis di depan ruang Pak Prabu dengan rok ketat dan minimalis.
“Argaa,, kau dapat Andini,,, hahahaa,, mau ditukar dengan ibu?” goda Bu Sofie, ketika Arga maju mengambil bola warna Biru.
“Emang ibu sanggup makan sosis saya?,,” jawaban Arga membuat Bu Sofie terdiam dengan jantung berdegub kencang.
“Tunggu tanggal mainnya, pasti kulahap habis sosis besarmu itu,,” balas Bu Sofie, berbisik dengan jantung menderu merasa ditantang.
“Tersisa satu bola hijau, artinya Zuraida berpasangan dengan suamiku, pak Prabu,,,” terang Bu Sofie, sepeninggal Arga yang mendekati Andini.“Jadi permainannya seperti ini,, Sosis yang dibagikan Mang Oyik ini harus diikat dipinggang para istri, dan mereka harus mendekati pasangan mainnya dengan mata tertutup, dan pasangan mainnya harus memberi aba-aba kemana si wanita harus menuju, terus,,,” Bu Sofie menghentikan ucapannya sambil wajah tersenyum nakal, membuat peserta lomba penasaran menunggu.
“Terus,,, sosis itu harus dimasukkan ke dalam mulut para lelaki yang berbaring di pasir, dan ingat,, tidak boleh dibantu oleh tangan,,,hehehee,,” Bu Sofie tertawa sambil bertolak pinggang. Permainan itu tak ubahnya seperti permainan memasukkan pensil dalam botol, hanya saja dilakukan dengan cara yang vulgar.
“Haahhh???,, yang benar aja bu,, masukin sosis kemulut Adit yang tiduran, berarti kami harus ngangkangin mereka dong?,,,” Aryanti coba protes, tangannya reflek menahan rok yang tertiup angin, entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa malu, pasti lomba ini akan terlihat sangat vulgar.
“Hehehee,, itulah tantangan dari game ini, kalian boleh berusaha menutupi rok kalian bila mau, tapi ingat tangan kalian tidak boleh memegang sosis itu,,.” terang Bu Sofie, tersenyum puas melihat wajah para wanita mulai pucat.
hilda - jilbab hot (3)
“Tenang aja mba,, ntar saya merem koq,,,”
“Merem? aku make rok aja kamu masih usaha buat ngintip ke bawah, gimana kalo aku ngangkang depan matamu,,, awas aja kalo ngga merem, bakal ku colok matamu,,,”
“Hahahahaaa,, nih Yan,,, buat jaga-jaga, kalo ngintip colok aja,” celetuk Zuraida, menyerahkan potongan ranting kepada Aryanti.
Wanita yang selalu setia dengan penutup kepalanya itu dapat sedikit bernafas lega, karena dirinya memakai celana leggins putih. Meski celana dalam warna hitamnya dapat terlihat dengan samar, setidaknya itu masih lebih baik dibanding para istri lainnya yang mengenakan rok. Mang Oyik membagikan potongan sossis yang ujungnya dibungkus plastik, agar dapat diikat oleh tali, wajah mesumnya cengengesan membayangkan kegilaan yang bakal terjadi.
“Lho Mang,,, koq tali punya saya pendek banget sih, tuker yang lebih panjang dong,,” sela Zuraida saat menerima sosisnya.
“Waduh,, udah habis bu,, itu yang terakhir,,” jawaban Mang Oyik membuat wajah cantiknya cemberut.
“Aaahhhh,,, tu kaaaann,,, pendek banget,,” Zuraida mulai panik, sosis yang sudah diikat kan di pinggang menggantung hanya beberapa senti dari pantatnya.
“Heheheheee,,,, cuma game aja koq Bu Dokter,,,ga usah terlalu diambil hati,, hehehee,,,” ucap Pak Prabu, hatinya berteriak girang, dengan mata tak lepas dari pantat montok Zuraida.Dokter cantik itu cuma bisa tersenyum kecut, andai saja partner game nya adalah Adit atau Munaf mungkin Zuraida bisa main bentak kalo mereka nakal, tapi ini adalah Pak Prabu. Akhirnya wanita itu cuma bisa berharap game dapat selesai dengan cepat.
“Ko,,, koq pendek banget sih ngiketnya,, lagian kenapa ngiketnya dibelakang,,,” protes Munaf kepada Dako yang membantu mengikatkan sosis di pinggang belakang istrinya, membuat sosis itu menggantung tepat di depan selangkangan istrinya.
Dako mengangkat kedua pundaknya, “Tapi Istrimu ga protes tuh,,,” jawaban itu membuat Munaf melototi istrinya yang jadi salah tingkah, wajah berhias kacamata itu memerah malu.
“Sayaaaang,,, Kan ini cuma permainan aja,, ngga lebih koq,” bujuk Aida, membuat Munaf tidak bisa berkata apa-apa.
“Hanya permainan,,,” hati Aida berkali-kali mengucap kalimat itu dengan jantung berdegub kencang.
Protes yang sama juga dilontarkan Adit yang melihat Istrinya, Andini, dengan sengaja memutar sosis yang berada di belakang ke depan, hingga menggantung tak jauh dari selangkangannya. Begitu juga dengan Pak Prabu yang melototi ulah Munaf, meski sosis itu tetap berada di belakang, tapi wanita simpanannya tidak protes saat Munaf menggulung tali menjadi lebih pendek.
“Okeeee,,, para suami silahkan berbaris disana,,, dan kalian berbaris di sini,, silahkan menutup mata dengan syal ini,,,” Bu Sofie kembali memberi perintah.
Berbeda dengan para lelaki yang tampak terlihat girang, para wanita justru terlihat pucat, saling pandang dengan bingung, masing-masing merasa tidak nyaman.
“Duuuhhh,,, aku ga bisa,,, kasian kamu Zuraidaa,,,” ucap Aida, memutar posisi sosisnya ke belakang, lalu menurunkan tali menjadi lebih panjang.
Perbuatan Aida ternyata diikuti wanita lainnya, yang berusaha menjauhkan gantungan sosis dari selangkangan mereka. Perbuatan para istri itu jelas membuat para lelaki yang berbaris 5 meter dari para wanita, terlihat kecewa.
“Kalian harus mendengarkan intruksi dari pasangan kalian, kemana kalian harus melangkah,, dan kalian yang cowok, setelah pasangan kalian sudah mendekat tepuk pundaknya lalu kalian boleh berbaring dan memakan sosis itu sampai habis,” Bu Sofie terpaksa harus sedikit berteriak agar semua dapat mendengar suaranya.
“Yaaa,,,Silahkan pasang penutup mata kalian,,” seru Bu Sofie sambil memeriksa mata para wanita, memastikan sudah benar-benar tertutup.
“Semua sudaahh siaaap?,,,”
“Satuuuu,,,,”
“Duaaaaa,,,,”
“Tigaaaaaa,,, Gooo,,,!!!”
Aba-aba dari Bu Sofie langsung disambut teriakan para lelaki yang heboh memberi komando kepada pasangannya agar menuju ke arah mereka. Para wanita harus bekerja sedikit ekstra untuk mengenali suara, untungnya Bu Sofie memberi jarak dua meter antar wanita dan pasangan mainnya agar suara teriakan tidak terlalu kacau dan membingungkan. Sintya yang lebih dulu sampai di hadapan Munaf, pundaknya segera ditepuk oleh Munaf, dan dengan wajah sumringah Munaf segera berbaring di kaki Sintya.
hilda - jilbab hot (4)
“Yaaa,, buka kakimu Sin,,, turunin sosisnya pelan-pelan,,,”
“Ooowwwhh,,, Shit!!!,,,” Munaf mengumpat saat Sintya mengangkangi wajahnya, pantat semok milik sekretaris seksi itu tepat di depan matanya, perlahan mulai turun mendekati wajahnya. Meski mulutnya sudah menyentuh sosis, Munaf tetap saja menyuruh Sintya menurunkan pantatnya.
“Yaa,,, cukup,,, aku akan makan sosis ini pelan-pelan,,,” seru Munaf saat selangkangan Sintya tinggal sejengkal dari mulutnya.
“Makan yang cepet Pak,, jangan lama-lama,,,” seru Sintya, entah kesal, entah marah, tapi yang jelas liang vaginanya yang kini berada satu jengkal dari wajah Munaf, mulai basah.
“Ayooo Bu,,,, Yaaa,, cepet buka kaki mu,,,turuuniiin,, Oooowwwhhh,,, punyamu mantap banget Buuu,,,” seru Dako tak kalah heboh, langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di antara kedua kaki Aida.
“Ckckckck,,, bener-bener mantap ni pantat, apalagi meki nya gemuk banget,,pasti jepitannya mantap nih,,” Dako dengan cueknya berkomentar, tak peduli dengan kondisi Aida yang panas dingin. “curang tu si Arga, dapet barang bagus ga bilang-bilang,,,”
DEG,,,
“Jangan-jangan Dako juga melihat perselingkuhannya dengan Arga?,,,” hati Aida semakin tidak karuan.
“Ayooo Dakoo,, cepet makan sosisnya,,,” pinta Aida tidak karuan.
“Aku ga mau sosis,,, aku mau nya kue apem,,, hehehe,,,” jawab Dako.
“Huusss,, jangan nakal,,, makan aja cepat,,,” Aida perlahan semakin menurunkan pantatnya, hingga hidung Dako dapat merasakan aroma dari vagina yang mulai basah.
Hal yang sama juga dirasakan Zuraida, yang tidak menyangka dirinya menuruti begitu saja untuk mengikuti permainan gila itu. Dirinya yang berhasil sampai di tempat Pak Prabu berdiri, disambut dengan cara yang sangat nakal. Yaaa,, Pak Prabu yang seharusnya memberi kode dengan menepuk pundak atau tangannya, justru mencolek puting payudaranya.
“Maaf Bu Dokter,,, ga tahan pengen nyolek, habisnya kenceng banget,,,Hehhehe,,,” ucap Pak Prabu pelan, yang begitu menikmati kenakalannya mengerjai wanita alim itu.
Seandainya lelaki itu bukan atasan suaminya, ingin sekali Zuraida menampar wajah Pak Prabu, tapi dirinya cuma bisa menahan emosi,  Toh,, sebentar lagi lelaki itu akan pergi meninggalkan kantor suaminya, akhirnya Zuraida berusaha untuk tetap tersenyum di antara wajah kagetnya.
“Kakinya buka yang lebar ya Bu Dokter,,, kepala saya mau masuk,,,”
“Ooowwwhh,,, pantat ibu mantap banget Bu,,, ga terlalu besar, tapi nungging kaya itik,,,”
Komentar-komentar nakal Pak Prabu sangat menganggu pikiran jernih Zuraida. Tak pernah dirinya merasa senakal ini di hadapan orang lain, selain dengan Arga. Tak ubahnya seperti eksibisi berselubung persaingan dalam permainan.
“Paakk,, berhenti mengomentari tubuh saya, selesaikan saja permainan ini secepatnya,,” ucap Zuraida dengan intonasi tinggi, untuk menunjukka rasa tidak senangnya atas kenakalan atasan suaminya itu.Tapi tanpa disadari Zuraida, rasa dari amarah yang menyeruak itu tidak lebih dari pelarian rasa malu dan bersalahnya. Dan parahnya permainan ini baru saja dimulai.
“Pelan-pelan aja bu nurunin meqi nya,,, ga usah buru-buru,,,hehehee,,”
“Uuuugghhhh,,,” Zuraida bingung, sangat bingung, komentar Pak Prabu semakin nakal.
Zuraida masih bingung, bagaimana bisa dirinya terjebak permainan gila seperti ini. ingin sekali dirinya menyudahi permainan itu, tapi itu hanya akan membuat suaminya malu. Dengan bertopang pada tangan yang berpegangan dilutut, Zuraida perlahan menurunkan pantatnya. Meski matanya tertutup tapi wanita itu sangat yakin tepat di bawah selangkangannya wajah Pak Prabu sedang tersenyum girang. Dirinya cukup sering menemani suaminya dalam acara-acara kantor, dan Pak Prabu selalu memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya, dan saat ini lelaki itu tengah memuaskan rasa penasaran atas tubuhnya.
“Terus Bu,, turunin pantatnya, mulut saya belum bisa menjangkau meqi ibu,, ehh,, maksud saya sosisnya bu,,,Hehehehee,,”
Zuraida tau, lelaki berkumis lebat itu tidak berbohong, karena tali pengikat sosisnya memang sangat pendek, dengan sangat terpaksa menurunkan tubuhnya lebih rendah, membuat siapapun yang melihat akan tergoda untuk menghajar pantat montok yang semakin menungging.
“Ooowwhhggg,,,” tubuh Zuraida kembali terangkat, dirinya sangat kaget saat sesuatu yang lembut menyentuh lapisan celana leggins nya, tepat di bibir vagina.
“Lho koq diangkat lagi sih Bu,,, saya baru pengen ngegigit meqi ibu, eehh,, sosis nya bu,,,”
“Paaak,,, jangan nakal,, plisss,, saya mohon,,,” Zuraida serasa ingin menangis, sungguh dirinya tidak ingin menjadi wanita yang nakal. Meski dirinya pernah menggoda Arga, tapi itu tidak lebih dari ungkapan perasaan hatinya yang masih memiliki rasa terhadap Arga.
“Heheehee,, maaf bu,,, tadi ga sengaja bibir saya nyenggol itunya ibu,,,”
“Tapi meqi punya Bu Dokter emang indah banget, gemuk, mukung,,, seperti punya Sintya,, hehehehe,,,”
“Tuuu kaaaan,,, Pak Prabu memang mengincar vagina ku yang gemuk,,,” hati Zuraida semakin panik. Tapi kata-kata Pak Prabu yang membeber bentuk vagina Sintya membuat Zuraida teringat pada Arga.
Teringat ketidaksengajaan dirinya saat memergoki percumbuan Arga dan Sintya. Zuraida yang sangat mengerti dengan kondisi para lelaki, merasa kasihan dengan kondisi Arga yang berkali-kali menggantung setelah bercumbu setengah jalan dengan dirinya, dan akhirnya memilih untuk mendukung kenakalan Arga pada Sintya.
“Mukung seperti punya Sintya?,,, uggghhh,,, apa vagina Sintya memang seperti milik ku?,,, Apa Arga juga suka bentuk vaginaku,,, Aaaggghhhh,,,” kepala Zuraida menggeleng-geleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakal.
“Ooowwwhh Paaaak,,,” Zuraida terkesiap, pantatnya bergetar, dirasakannya mulut Pak Prabu bergerak-gerak dibibir vaginanya. Lewat celah dibawah matanya, wanita itu melihat Pak Prabu yang mulai mengunyah sosisnya, bergerak pelan sesekali menggesek vaginanya.
Zuraida tak yakin dirinya dapat bertahan dengan godaan ini, apalagi saat merasakan ada cairan yang merembes dicelah kemaluannya. Ingin sekali mengangkat tubuhnya, tapi para istri lainnya pun pasti tengah mengalami hal yang sama dengan dirinya, berusaha menyelesaikan lomba secepatnya.
“Batang Pak Prabu bangun!!!,,,” Jantung wanita itu berdegub semkain keras, mata indahnya tidak sengaja melihat celana Pak Prabu yang menonjol.
“Kenapa Bu?,,,”
“Ngga apa-apa,,, cepat pak makan sosisnya,,,”
Tapi permintaannya itu justru membuat tubuhnya semakin tidak karuan, Zuraida tidak bisa memastikan apa saja yang tengah dilakukan mulut lelaki itu dibawah selangkangannya, tapi yang pasti mulut lelaki itu semakin cepat bergerak, menggesek bibir vaginanya semakin cepat. Pak Prabu yang tau apa yang tengah dipelototi oleh wanita itu, sengaja menggerakkan otot penisnya, memamerkan keperkasaan batangnya. Meski tertutup kain celana, Dokter cantik itu pasti dapat melihat dan memastikan seberapa besar betang yang bergerak nakal
“Owwwhhhh,,, Pak cepaaat habiiiskaaan,,, Aaagghhhh,,, Paak,,”
Tubuh wanita itu melejit, refleks terangkat saat kumis tebal Pak Prabu berhasil menyelinap dan menusuk bibir vaginanya. Lagi-lagi wanita itu harus menyesal, kenapa tadi pagi memilih celana leggins yang tipis, tak mengira akan ada permainan seperti ini. Tak jauh dari dokter cantik itu, Aryanti juga tengah berjuang membunuh rasa malunya. Komentar-komentar Adit membuat Aryanti ingin menghajar bibir pemuda itu.
“Mbaaa,, tebel banget kayanya tu jembi,,, bener-bener bikin konti ku ngaceng,, jadi pengen masukin kaya malam kemarin,,, hehehee,,,”
“Banyak omong ni bocah, tinggal nikmatin aja masih sempat komentar, kalo masih cerewet aku bekep mulut mu pake ni pantat,,” Aryanti benar-benar gerah dengan komentar Adit, terlintas keajadian malam itu saat bibirnya dan bibir Sintya meberikan servis pada batang Adit.
“Ooowwhhh,,, mauu dong dibekep ama pantat montok mu mbaaa,,,”
“Cepeeet habisin,, atau ku pecahin dua telur mu ini,,,” seru Aryanti sambil mencengkram dua telur kehidupan milik Adit, dan ancamannya ternyata cukup manjur, Adit yang kesakitan segera melahap sosis yang menggantung.
Tampaknya wanita cantik itu tengah berusaha untuk tidak nakal, dan menyelesaikan permainan secepatnya. Tapi nafas Adit yang mendengus panas tepat mengenai bibir vaginanya yang hanya dibalut kain tipis. Lutut Aryanti gemetar, berusaha untuk tidak menurunkan pantatnya lebih dekat kewajah Adit.
“Oooowwwhhh,,, Diiiit,,, jangan nakaaaal,,,” lirih Aryanti saat Adit dengan sengaja menggesekkan hidung ke bibir vaginanya. Mati-matian wanita itu bertahan untuk tidak lagi mengkhianti suaminya.
Karena saat ini hatinya sudah cukup sakit melihat kemesraan pandangan mata suaminya dan Zuraida. Yaaa,, sebatas pandangan mata yang mesra, karena Aryanti percaya akan kesetiaan suaminya, lagipula dirinya yakin Zuraida bukan wanita yang mudah tergoda oleh lelaki. Tapi hatinya jadi penasaran, apa yang tengah dilakukan Arga pada Andini, istri dari lelaki yang tengah dikangkanginya.
hilda - jilbab hot (5)
Tepat disamping Aryanti, beberapa langkah dari tempat wanita cantik itu mengangkangi wajah Adit, Arga telihat tengah digoda oleh Andini yang menarik segitiga pelindungnya kedalam belahan pantat, seolah memamerkan kulit pantat yang putih mulus. Sepertinya gadis itu sengaja ingin membalas ulah nakal Arga dikolam renang tadi malam. Arga tertawa lalu meremas pantat mungil Andini yang kencang, entah apa yang diucapkan Arga, hingga membuat Andini terlihat tertawa, lalu menyentil batang nya yang mengeras. Perlahan Arga makan sosis yang menggantung. Siapapun tau, jika gadis itu tengah menggoda Arga, tapi lelaki itu hanya berani mengusap-usap paha dan pantat mulusnya. Berkali-kali Andini menurunkan tubuhnya hingga vagina yang masih terbalut celana dalam putih itu mengenai bibir Arga, tapi lelaki itu menghindar dengan membuang wajahnya ke samping sambil tertawa.
“Hihihi,, ternyata Pak Arga juga jinak-jinak merpati, kalo ada istri nya sok jaim, tapi kalo ga ada,, wuuuhhhh,,, habis-habisan meqi ku dihajaaarr,,, hihihii,,” bisik Andini yang agak kesal dengan sikap sok cool lelaki itu. Sementara birahi mudanya tengah terbakar.
Padahal saat itu hati Arga tengah gundah, berkali-kali matanya melirik istrinya yang tengah dinakali oleh Adit, berkali-kali pemuda itu dengan sengaja mengakat kepala agar lidahnya dapat mengusap vagina istrinya. Dilihatnya Aryanti tampak berusaha untuk bertahan, namun saat kain celana dalam yang mulai basah itu disapu oleh lidah Adit, mau tidak mau bibir seksinya melenguh menahan nikmat. Sementara di sebelah kanannya Zuraida tampak menggeliat menahan godaan bibir Pak Prabu yang menciumi bibir vaginanya. Berkali-kali bibir nya merintih saat Pak Prabu membenamkan wajahnya setelah menggigit potongan sosis, dan dengan cepat Zuraida mengangkat kembali pantatnya dengan wajah yang tersipu malu. Tanpa disadari Arga yang tengah mengamati sekitar, tiba-tiba Andini menarik celana dalamnya ke samping, lalu mengambil sosis yang menggantung dan meletakkannya di bibir vagina, perlahan pantatnya turun, mengarahkan sosis ke bibir Arga.
“Asseeeemm,,, ni cewek, bener-bener ngerjain aku dah,,,” umpat Arga, saat melihat batangan sosis terjepit divagina Andini.
“Aaahh,, Masa Bodoh lahh,,,” dengan cepat Arga menggigit sebagian sosis, tapi gerakannya yang terburu-buru itu justru membuat sebagian sosis yang tersisa masuk semakin dalam ke vagina Andini.
“Oooowwhhh,,, Paaakk,,, Jangan nakaaall,,”
Meski pelan, Rintihan Andini membuat Aryanti menoleh,,,
“Mas Argaaa,,, Maaass!!!,,,”
Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak, Aryanti yang sengaja membuka sedikit penutup matanya, melihat Arga seperti tengah memasukkan batangan sosis ke dalam vagina mungil Andini.
Tapi Aryanti juga heran, jika suaminya memang tengah menakali Andini, kenapa suaminya justru begitu takut bibirnya tersentuh vagina gadis mungil itu. Dengan giginya Arga berusaha menarik keluar batangan sosis, tapi gerakan pinggul Andini justru membuat sosis itu masuk semakin dalam. Membuat wajah Arga kebingungan.
“Dasar,, gadis nakal,,,” gumam Aryanti kesal, “lihat apa yang bisa kulakukan pada suami mu,,,”
Perlahan Aryanti menurunkan pantatnya, membenamkan wajah Adit di belahan pantat dan vaginanya, membuat pemuda itu terkejut tapi juga kegirangan.
“Mbaaa,,, Owwwhh,, wangi banget mba meqi muuu,, owwhhh,,,” Adit mendengus disela belahan vagina Aryanti, menggerak-gerakkan hidungnya seolah ingin membelah vagina Aryanti yang masih tertutup kain.Kini justru Aryanti yang kelimpungan, gerakan Adit membuat vaginanya begitu cepat basah, berusaha sekuat tenaga menahan lenguhan agar Arga yang berada beberapa meter darinya tidak mendengar dan menoleh.
“Ooooggghhh,, Adiiittt,,, jangan digigiiiit,,,” Aryanti terpekik tertahan, Adit yang memegangi pinggulnya tiba-tiba menekan pantat montoknya hingga wajah pemuda menghilang sepenuhnya, dan tanpa diduga mengigit bibir vaginanya.
Aryanti berusaha mengangkat tubuhnya, tapi tenaga Adit mampu menahan.
“Diiitt,,, jangaaaan,, Oooowwwhh,, Aku bisaaa keluar kalooo diginiiin teruusss,,”
“Suuudaaaahhh,,,”
Aryanti semakin kaget, disaat bibirnya merintih akibat ulahnya sendiri, saat itulah Arga menoleh, pandangan mata mereka bertemu,,,”
“Maaaasss,, aku dikerjai Adiiiit,,,”
“Eeeeeenghhhhkkss,,Ooooowwhhhhhsss,,,,” Aryanti melenguh menghantar orgasme dihujung tatapan suaminya.
Ingin sekali Aryanti menerangkan bahwa dirinya tengah dikerjai Adit, tapi sulit baginya untuk berkelit, tubuhnya yang menggelinjang orgasme telah menerangkan segalanya. Bu Sofie yang melihat permainan mulai panas justru tertawa.
“Ayooo,,, cepaaaat,,, habiskan sosisnya,,, Yang cowok jangan nakal yaa,,,hahahaaa,,”
“Saya hitung sampaai sepuluh,,, kalo ga habis bakal saya kasih sosisnya Mang Oyik lhoo,, hahahaa,,,”
Mendengar nama nya disebut untuk ditawarkan, membuat Mang Oyik tertawa girang. “Waaahh,, bener nih punya saya mau dikasihin keteman-teman ibu?,,,heheee,,makasih Buu,,,”
“Yeee,, jangan girang dulu,, bukan buat yang cewek,, tapi buat cowok yang kalah,,”
“Anjrit,,,”
“Asseeemm,,,”
Serentak para cowok yang mendengar obrolan Mang Oyik dan Bu Sofie mengumpat, bergegas menghabiskan sosisnya. Zuraida tersenyum kecut, saat Pak Prabu menghentikan kenakalannya, kain celana leggins nya tampak sangat basah, entah oleh ludah Pak Prabu, entah oleh rembesan cairan vaginanya, tapi yang pasti Dokter cantik itu mampu bertahan.  Begitu juga dengan Munaf dan Adit, sambil tertawa kedua orang itu mengunyah habis sosisnya. Lidah Dako yang tengah asik menikmati labia mayora milik guru cantik bernama Aida, mengumpat berkali-kali. Yaaa Aida dengan sukarela menyibak celana dalamnya kesamping karena tak mampu bertahan atas rayuan Dako.
“Asseeem,,, emang aku Maho,,,” umpat Dako, setelah menarik lidahnya dari lorong vagina Aida yang baru saja mendapat orgasme, tapi sosisnya masih utuh, belum digigit sedikitpun.
Sambil tersenyum nakal, dengan bibirnya Dako menarik lepas sosis yang masih utuh menggantung, lalu dengan mulutnya memasukkan sosis yang memiliki potongan cukup besar itu ke vagina Aida. Membuat wanita itu menjerit kaget.
“Akuu,, titip dulu,,, ntar setelah lomba baru kuambil,,,” bisik Dako, sementara Aida cuma bisa mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Kakinya terlihat gemetar, menahan geli akibat sosis yang bersemayam di dalam vagina. Tersisa Arga yang kelimpungan, terpaksa mengais-ngais vagina Andini, berusaha menarik keluar sosis yang masuk semakin dalam ke vagina Andini.“Ooowwhhsss,,Ni Paaak,,, aku bantu ngeluarin,,,” ucap Andini disela desahannya, mengencangkan otot vaginanya, hingga membuat batangan sosis yang tersisa sedikit itu meloncat keluar, seiring dengan cairan orgasme yang menghambur.
“Ooowwhhhh,,,” kaki Andini gemetar, orgasme diatas wajah Arga yang kelimpungan, di bawah tatapan Aryanti dan peserta lomba lainnya.
Terlihat jelas wajah malu Aryanti, meski ia tau suaminya tengah dikerjai, tapi tidak bagi yang lainnya, yang hanya menonton prosesi hebohnya orgasme Andini. Jika yang lainnya justru tertawa dan bersorak menganggap itu adalah kemenangan Arga sebagai seorang lelaki, tidak begitu halnya dengan Zuraida, wanita cantik itu terlihat sangat kecewa. Menggenggam erat ujung kaosnya untuk meredam emosi, cemburu, marah yang membaur menjadi satu. Tapi wanita itu cuma bisa terdiam, sedikitpun dirinya tidak memeliki hak untuk marah, Arga bukan suaminya, bukan pula kekasihnya, karena masa bagi dirinya dan Arga telah habis beberapa tahun yang lalu.
“Okeee,,, permainan selesai,,”
“Sambil menunggu Mang Oyik mengambil minuman, kita istirahat sebentar,,,” Seru Bu Sofie, tanpa rasa bersalah setelah memberikan permainan yang begitu gila.
“Ingat,,, permainan selanjutnya bakal lebih gila,,, tapi bagi mereka yang menang akan mendapatkan mobil saya sebagai kenang-kenangan,,,” Sambungnya, lalu berjalan menuju kesebuah pohon.
Mereka yang awalnya ingin protes menjadi tertawa, saling pandang, tertantang untuk mendapatkan Honda CRV milik Bu Sofie.

ZURAIDA AND FRIENDS 2

Setiba di meja makan, Arga tak mampu sepenuhnya mengikuti obrolan yang semakin panas, berbagai ocehan nakal semakin deras mengalir. Suara tawa meledak serentak ketika Bu Sofia dengan gaya yang centil memainkan sebatang sosis dimulutnya.
“Masukkanlah daging sosis itu kebelahan dadamu, mungkin daging itu merasa kesepian tak memiliki teman,” seru Munaf seraya menunjuk payudara Bu Sofia dengan bibirnya.
“Ow, ow, ow,, aku tidak mungkin mengambil talenta yang dimiliki oleh Aryanti,” jawab Bu Sofia sambil melirik Aryanti dengan mata mengedip, membuat semua tertawa. Dan kini semua mata tertuju pada Aryanti.
“Tidak,tidak,,, Aku memenuhi permintaan kalian tadi sore hanya karena penasaran, dan sekarang tidak ada yang dapat memaksaku,” sela Aryanti.
Jidat Arga berkerut, dan Aryanti membaca tanda tanya dikepala suaminya.
hilda yulis - toge montok jilbaber (5)
“Sayang, tadi sore setelah berjalan-jalan sebentar kami kembali ke gazebo tempat kita berkumpul selumnya, dan aku sudah tidak mendapatimu disana.
“lalu, apa hubungannya dengan sosis itu,” Tanya arga penasaran.
“Istrimu memang hebat, mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh istri-istri kita,” Jawab pak Prabu cepat dengan bibir nyengir.
“Ya,ya,,, itu Cuma kebetulan saja Sayang,, Adit menantang bu Sofia, apakah payudara tantenya itu dapat memeras jeruk yang sudah terbelah dua, imbalannya Adit bersedia memijiti kaki Bu Sofia yang memang terus mengeluh capek karena terlalu lama jalan-jalan tadi sore” jawab Aryanti berusaha menerangkan, tak ingin membuat suaminya salah paham.
”Lalu Bu Sofia meladeni tantangan Adit dengan memasukkan jeruk itu kedalam kaos dan dijepit oleh kedua payudaranya yang besar, Namun ternyata air yang keluar dan mengalir kepusarnya hanya sedikit,So,,,Karena penasaran aku turut mencobanya, dan ternyata air jeruk yang diperah kedua payudara istrimu ini lebih banyak, hahahaha,,,”
”Dengan menjepitkan kedua payudaramu?” Tanya Arga cepat yang dijawab dengan anggukan.
”Semuanya sudah mencoba, jadi tidak ada salahnya kan jika aku turut mencoba, sekuat tenaga aku mengepit balon ini dengan lenganku dan ternyata aku berhasil,” sahutnya sambil memperagakan kedua tangannya yang saling menggenggam lalu menjepit kedua payudaranya dengan kuat.
Tak ayal sepasang payudara Aryanti menyembul seakan ingin melompat dari kaosnya yang longggar, Mata Arga bisa menangkap bagaimana mata teman-temannya melotot melihat aksi Aryanti yang me-replay usahanya tadi sore.
“Sebenarnya aku tidak kalah dari istrimu, hanya saja air jeruk hasil perahanku tertahan oleh bra ku, sementara istrimu bisa mengalirkan air itu langsung kepusarnya tanpa terhalang,” celetuk Bu Sofia yang masih belum bisa menerima kekalahannya, tapi justru membuat mata Arga melotot kaget.
“Haahahahaa,,, Ya,,yaa,, aku memang sudah melepas bra ku karena sudah terlalu lengket oleh keringat akibat berlarian dipantai dengan Zuraida, tapi setidaknya aku tidak melepas bra-ku karena permainan itu,” jawab Aryanti dengan santai seakan semua itu adalah hal yang biasa.
“Pasti saat itu semua mata dapat memandang dengan bebas kearah gumpalan payudara istriku,” gumam Arga sedikit cemburu.Arga perlahan menarik nafas panjang mencoba untuk lebih rileks, toh apa yang telah dilakukannya lebih dahsyat dari istrinya, sesekali matanya melirik Zuraida yang malam itu terlihat berpakaian lebih santai, baju tidur berwarna biru lengkap dengan penutup kepala jenis bergo. Sangat berbeda dengan istri Arga yang berpakaian lebih menantang dari biasanya, kaos longgarnya kali ini lebih kedodoran dari biasanya, memperlihatkan pundaknya yang putih begitu kontras dengan tali bra yang berwarna merah.
”Shit,,, sejak kapan Aryanti memeiliki baju model seperti ini,” dengus hati Arga saat menyadari pakaian baru yang dikenakan istrinya. Pasti bosnya memberikan uang sangu yang cukup besar untuk cutinya kali ini.
Namun Arga terlihat puas saat memergoki semua mata teman-temannya yang diam-diam menyatroni bagian tubuh Aryanti yang terbuka dengan rasa kagum.
“Tapi tunggu,,, jika semua wanita melakoni permainan itu, artinya Zuraida juga melakukannya kan?” bisik Arga ketelinga Aryanti.
“Ya,, dia juga melakukannya, hanya saja kami tidak dapat melihat dengan jelas aksinya karena terhalang oleh penutup kepalanya,,, Heeeyy,,, apa kau mengagumi istri temanmu itu?” tanya Aryanti, menatap penuh selidik kewajah Arga yang tiba-tiba salah tingkah.
“Tidak juga, hanya penasaran apakah wanita seperti dia juga seberani istriku yang seksi ini,” jawab Arga memandang istrinya berusaha memberikan ketegasan.
“Tidak mengapa sayang, itu wajar, karena Zuraida memang cantik,,, apa kau tau?,, tadi sore dia mengenakan celana dalam berwarna pink lhoo,, itu terlihat saat dia mengangkat kaos bawahnya untuk memperlihatkan pusarnya yang hanya dialiri beberapa tetes air jeruk,”
GLEEEKK,,,, Arga yang sedang minum untuk menenangkan hati tiba-tiba tersedak, tapi Aryanti justru tertawa terpingkal, membuat mereka yang ada disitu bingung melihat Aryanti yang tiba-tiba tertawa setelah berbisik-bisik dengan suaminya.
”Hey, apakah ada yang melihat istriku,” celetuk Munaf tiba-tiba yang masih menunggu istrinya.
Lagi-lagi Arga tersedak, Aida istri Munaf yang begitu menggairahkan mungkin masih terlelap dikamar Lik Marni, setelah kelelahan bertempur dengannya.
”Tadi sih jalan-jalan denganku ke belakang cottage, dan mungkin dia sedang kelelahan di kamar, karena kami berjalan terlalu jauh,” jawab Arga sesantai mungkin takut mengundang kecurigaan teman-temannya, dan untunglah Munaf tak ambil pusing lalu mengunyah makanannya.
Seusai makan Munaf mengeluarkan rokoknya, lalu berjalan kearah tepian kolam renang, ”Kapan kita akan memulai permainan ini?,,” ucapnya kepada para lelaki yang berkumpul.
”Hey,,hey,,hey,,,apakah kau tidak sadar jika pesta sudah lama dimulai, bahkan istrimulah yang telah menjadi hidangan pembuka,” mendengar paparan Pak Prabu, Munaf dan Dako serentak melotot.
”Assem,,, pantes dari tadi aku nyari istriku ga ketemu. Ni orang pake ga ngaku lagi kalo udah make bini orang,” Arga hanya tersenyum cengengesan. “Gimana,, mantap ga servis bini ku,” tanya Munaf dengan santai.
“Sialan ni orang, cuek bener istrinya digagahin orang,” hati Arga jelas heran dengan respon Munaf. Tapi masa bodohlah, yang jelas dirinya telah berhasil menjajal keindahan tubuh montok itu, dan membuat ibu muda itu kembali menagih untuk dipuaskan.

“Apa rencana kita malam ini,” tanya Munaf sambil menatap Dako dan dan Arga.
“Terserah, tapi yang pasti aku telah memiliki janji dengan Bu Sofia, hehe,,” jawab Dako sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang tersenyum simpul.
Pak Prabu yang asik dengan Handphone nya langsung melotot ke arah Dako, meski sadar permainan must go on, namun tetap saja terasa berat untuk melepas tubuh wanita yang telah menemani hidupnya selama bertahun-tahun, untuk disantap para srigala mesum.
“Bolehkan Pak Prabu?,”
“Terserah kalian lah, tapi ingat tidak ada pemaksaan, pengeoroyokan dan kekerasan,” kata-kata Pak Prabu begitu tegas, setidaknya dengan cara itu dirinya dapat sedikit memastikan wanitanya dalam keadaan lebih baik.
“Mungkin untuk syarat yang lain, aku dapat memenuhi, tapi untuk kekerasan sepertinya tidak mungkin, karena bagaimana tombakku dapat menghujam membelah tubuhnya jika dalam keadaan loyo,” kelakar Dako sontak membuat semua yang ada disitu tertawa, begitu juga dengan Pak Prabu yang hanya bisa tersenyum masam.
“Weeehhh,, rame bener nih, ada apa,” sura lembut itu, siapa lagi jika bukan milik Zuraida.
Seketika tawa mereda, masing-masing berusaha menyembunyikan rahasia, jika para wanita mengetahui sebelum permainan berjalan panas, maka semuanya akan menjadi lebih sulit.
“Tidak ada yang spesial, hanya membicarakan pembagian jabatan dikantor,” jawab Pak Prabu cepat, meski diucapkan dengan santai dari bicaranya lelaki paruh baya itu ingin mengukuhkan kuasanya dalam kelompok itu kepada Zuraida.
Gadis itu mendekati bangku Arga yang memang duduk didekat suaminya. Dari jarak sedekat ini pesona Zuraida seakan begitu nyata, ditambah dengan kaos tidur yang melekat sedikit lebih ketat dibandingkan baju yang biasa digunakannya. Kini Zuraida berdiri tepat di depannya, berbicara dengan suaminya, entah apa yang dibicarakan Arga tidak terlalu peduli karena posisinya yang tengah duduk membuat wajahnya berhadapan langsung dengan pantat membulat yang terangkat, layaknya pantat bebek yang memiliki kaki yang langsing.
“Ternyata berani juga Zuraida memakai celana seketat ini,” gumam Arga.
“Arrrgghh,,, sialan,” ulah Dako yang memeluk pinggul Zuraida dan memberikan sedikit remasan nakal, seakan sebuah tantangan dari Dako untuk menaklukan Zuraida bersama tubuh indahnya.
Tampak Zuraida sedikit berkelit, jelas dirinya malu jika diperlakukan seperti itu di depan umum, walau itu oleh suaminya sendiri. Zuraida menoleh ke belakang dan mendapati Arga masih duduk di kursinya berhadapan tepat dengan pantatnya yang tengah diremas Dako. wajah Zuraida terlihat tak nyaman dan menahan malu oleh ulah suaminya.
“Ok,,, aku pamit dulu, ada yang harus ku kerjakan,” ucap Arga sambil menggerutu melihat ulah Dako.
“Arga, malam ini aku ingin ngobrol dengan Aryanti, tapi ada yang harus aku bereskan sebelumnya dengan suamiku ini,”
“Baiklah, nanti akan aku sampaikan kepadanya,” ucap Arga menjawab rencana Zuraida yang kini menggantikannya duduk di kursi.
Ketika melewati persimpangan yang menuju kearah dapur, Arga bingung, di ujung lorong itu telah menunggu tubuh montok Aida yang masih mengharapkan sentuhannya.
“Mungkin aku akan menyelesaikan tanggung jawabku dengan gadis itu sebentar,” ucap Arga sambil berbelok ke lorong.

“Arrgghhh,, Adduuuhhh,,, pelaann dikit dong Pak, Aarrghh,,”
Itu jelas suara Aida, tapi bukankah semua teman-temannya tengah duduk santai di pinggir kolam renang, lalu siapa yang telah membuat wanita itu mendesah dan menjerit tertahan, langkah kaki Arga semakin cepat ingin mencari tau. Tampak Lik Marni sedang mencuci beberapa peralatan makan yang baru saja mereka gunakan, suara gemericik air kran bersahutan dengan lenguhan seorang wanita yang tengah dilanda orgasme.
“Aaarrggghhh,,, aaahh,,”
Dari celah pintu Arga mengintip dua tubuh yang saling menindih, tampak sang wanita telah terkapar mengakang lebar, hanya bisa pasrah membiarkan seorang pejantan menggasak selangkangannya. Dari rambutnya yang kriting jelas itu adalah Mang Oyik, penjaga cottage, tapi kenapa Lik Marni bisa begitu cuek dengan pekerjaannya, sementara suaminya tengah menggagahi tamu dikamar tidur mereka. Lik Marni menolehkan wajahnya saat menyadari ada orang yang mendekati kamarnya, sesaat wajahnya sedikit pucat.
“Maaf Den’ Saya udah ngelarang bapak yang pengen nyicipin, tapi Nona nya juga mau, jadi saya ga bisa ngelarang lagi Den,” ucapnya berusaha menerangkan sekaligus membela ulah suaminya.
“Nikmat banget kayanya, biar gayanya standar tapi serangannya mantap juga,” ucap Arga bersandar pada dinding yang menghadap kaca pemisah antara ruang dapur dan kamar Lik Marni. Dirinya baru tersadar, dari tempat itu segala kejadian diruang itu terlihat dengan jelas, tapi tidak sebaliknya. Artinya, semua yang dilakukannya bersama Aida tadi sore ditonton oleh pasangan penjaga villa ini.“Gedean mana Lik, punya saya ama punya Mang Oyik,”
“Gede? Apanya sih Den yang gede,”

Lik Marni hanya tersenyum dengan wajah menunduk, Arga telah mengetahui semua rahasia kaca itu. “Mang Oyik udah sering ikut icip-icip tamu? Wajah manis khas wanita jawa tengah itu menganguk pelan.
“Berarti Lik Marni juga sering dong dicicipin ama tamu,” dengan cepat wajahnya menggeleng, “Ngga juga Den’ saya kan jarang dibolehin keluar dapur ama Mamang,”
Arga tersenyum mendengar keegoisan Mang Oyik, “Ngga juga? Berarti pernah juga kan?” Arga terus menggoda.
“Aaaarrrgg,,, Maaaaang,,,” lagi-lagi lenguhan Aida kembali terdengar, serentak Lik Marni dan Arga menoleh ke kaca, menyaksikan tubuh montok Aida menggeliat dan bergetar seiring tubuh Mang Oyik yang berkelojotan dan semakin mengukuhkan penancapan batangnya keselangkangan Aida. Meski tidak sepanas saat melayani Arga, namun Aida tidak melakukan penolakan ketika tubuh ceking itu menghamburkan sperma kedalam tubuhnya, mengosongkan kantung sperma. Tampak Aida terkikik, entah kata-kata apa yang diucapkan Mang Oyik sehingga membuat Aida kembali melingkarkan paha sekalnya kepinggul Mang Oyik dan kembali bergerak pelan menyambut pinggul Mang Oyik yang kembali bergerak menumbuk dengan pelan.
“Punya suami saya walo udah keluar bisa tetap keras Den” ucap Lik Marni menjawab kebingungan Arga. “kalo Aden mau, saya masih punya jamu nya,” imbuhnya sambil berjalan ke sudut dapur mengambil ceret yang bodynya menghitam karena gosong.
Dengan cepat air dengan warna hijau pekat dan sedikit kental mengisi gelas kecil yang dipegang Lik Marni.
“Kalo Aden mau tarung lagi ama pasangannya boleh diminum sekarang, khasiatnya bisa sampai dua hari koq,” ucapnya sambil tersipu malu.
“Takut ahh,,, Ntar punya saya ngaceng terus dong, kan malu jalan-jalan di pantai bawa pentungan satpam,”
“Hahaha,,, Ihh,, Aden bisa aja,” Lik Marni tidak dapat menahan tawanya. “Ramuan rumput laut plus kuda laut ini beda ama ramuan yang lain Den’ kalo kita udah ga pengen ntar bisa tidur sendiri, tapi kalo Aden mau beraksi lagi langsung on lagi, Aden ngecrot mpe 10 kali lagi juga ga bakal loyo koq,”
Penuturan Lik Marni jelas membuat Arga terkesima, apalagi miliknya kini tengah tegak sepenuhnya, sementara dirinya masih ingin menghabiskan malam ini dengan berbagai petualangan. Dengan cepat tangannya meraih gelas yang dipegang Lik Marni,

“Pelan-pelan aja Den, lagian pasangannya masih betah ditindih bapak tuh,” Arga tertawa, ternyata wanita berwajah pedesaan ini bisa juga bercanda.
(Sumpah,,, jangan percaya dengan ramuan Lik Marni, karena Ane sendiri belum pernah nyicipin tu jamu, Cuma terlintas diotak mesum khasiat Kuda Sumbawa, So,, berhubung lokasi lagi di pantai ya akhirnya ane ganti dengan kuda laut)
“Berarti giliran saya masih lama dong?” ucap Arga setelah menghabiskan jamunya. Lik Marni hanya tertawa lalu kembali meneruskan membilas beberapa piring yang masih kotor.
“Kalo ngetem disini dulu boleh?” bisik Arga sambil memeluk Lik Marni dari belakang, tangannya langsung menuju selangkangan yang dibalut kain jarik.
Lik Marni hanya tertawa, rupanya wanita muda itu memang telah menduga apa yang akan dilakukan oleh tamunya. Tapi jantungnya langsung berdegub kencang ketika teringat penis Arga yang terlalu besar. Memorynya langsung mengingatkan dirinya pada sosok pak Nathan lelaki India yang secara terang-terangan meminta kepada Mang Oyik untuk menemaninya dikamar selama menginap di Vila itu. Dimata Lik Marni, Pak Nathan betul-betul seorang petarung seks sejati yang memiliki penis begitu besar dan mampu menggasak kemaluannya semalam suntuk. Melihat tidak ada penolakan, tangan Arga segera menyelusup masuk kedalam kebaya sementara tangan lainnya berusaha mengurai puntelan jarik yang cukup panjang.
“Weeeww,, koq bisa sih Mang Oyik ngedapetin body sebagus ini.” Ucap Arga setelah berhasil menjatuhkan kain jarik itu ke lantai.
“eegghhh, saya dijodohin Den, eenghh,,” Lik Marni mulai mendesah saat merasakan sebuah batang mulai menyelinap di antara paha montoknya, perlahan cairan vagina mulai membasahi batang yang sesekali menusuk klirotisnya.
“Den,,Adeeen,,”
“Ada apa Lik, takut ketahuan Mang Oyik,” ucap Arga sambil meremasi payudara dari balik kebaya, dengan pakaian atas yang tetap lengkap memberikan gairah tersendiri baginya.
“Bukaaan, saya boleh minta cium Aden?” Arga tergelak, tak perlu diminta dua kali bibirnya langsung menyambar bibir basah Lik Marni.
“Eemmhhh,,, uummhh,,”
Ternyata wanita ini buas juga, lidah Arga yang terjulur disedoti oleh bibir Lik Marni. Bagi wanita yang tinggal di pesisir yang sepi terpisah dari keramaian ini, sangat jarang mendapati para lelaki tampan, rupanya dirinya telah lama bosan, tiap hari hanya memelototi wajah Mang Oyik yang penuh bopeng akibat cacar air. Dan kini tubuhnya tengah dipeluk oleh lelaki yang biasa hanya muncul di televisi, meminta pelayanan dari tubuhnya, maka tak ada alasan bagi Lik Marni untuk menolak, masalah apakah nantinya Mang Oyik akan marah melihat istrinya digagahi tanpa seijinnya itu urusan belakangan. Dengan sigap tangannya menggenggam batang Arga dan mengarahkan keliang kemaluannya, seakan takut Arga berubah pikiran.
“Uuugghhh,,, Deeenn,,”
Batang yang terlalu besar membuat vaginanya sedikit nyeri, tapi Arga lebih cekatan memiting pinggul wanita muda itu dan terus memaksa masuk.
“Deenn,, tunggu dulu deen,,” Mata Lik Marni mendelik dengan air mata menahan perih, kepalanya coba menunduk ingin melihat batang yang tengah berusaha membelah tubuhnya. Benar saja, penis lelaki ini terlalu besar, lebih besar dari milik Pak Nathan yang dikiranya merupakan ukuran maksimal dari penis lelaki.“Aaahhh,,, nyonyaaa,,, iseepp dong,,,” tiba-tiba terdengar suara Mang Oyik yang meloncat kewajah Aida, namun ibu muda itu terlalu jijik dengan penis Mang Oyik dan menutup mulutnya dengan rapat, akibatnya cairan itu menghambur kewajah cantiknya.
“Uuuugghhh,,, Deenn,” Lik Marni sepertinya tak ingin kalah dengan aksi suaminya.
“coba teruuss deen,,,masukiiinn,, pasti bisa koq” tubuhnya membungkuk agar batang Arga lebih mudah menerobos kemaluan yang sehari-hari hanya menyantap batang dengan ukuran standar.
Lik Marni terlonjak saat Arga tiba-tiba melesakkan penisnya dengan kuat. Tanpa menunggu dirinya bersiap-siap untuk menerima serangan selanjutnya Arga sudah kembali menghentak dengan keras. Entah kenapa Arga sangat menikmati wajah Lik Marni yang begitu tersiksa tapi pada saat yang bersamaan juga menikmati perlakuan kasarnya.
“Adeeenn,,, batang gede kayaaa giniii emang divagiinnaa sayaa tempatnyaaa,,” Lik Marni menggoda Arga dengan menggoyang-goyangkan pantatnya yang besar. Setelah beberapakali batang itu keluar masuk, akhirnya Lik Marni dapat merasakan batapa nikmatnya kejantanan milik lelaki berparas ganteng itu.
“Deenn,, kalo saya ketagihaaan gimaanaa,,,” bibir wanita berwajah oval itu mulai meracau akibat ekstasi yang disuguhkan kejantanan Arga disaluran kencingnya.
“Tenang saja Lik,, teman-teman saya yang menginap disini ukuran batangnya juga besar-besar koq,” bisik Arga yang tengah berusaha mengenali kekenyalan pantat besar Lik Marni sambil menggerak-gerakkan batangnya kekiri dan kanan.
“Kalo Lik Marni mau nyicipin batang mereka satu-satu bisa koq, atau kalau Lik Marni pengen dikeroyok, mereka juga siap koq,” goda Arga yang begitu menikmati mimik wajah Lik Marni yang merem melek dengan bibir terbuka lebar membentuk huruf O.
Sambil menghujamkan batangnya Arga berusaha melolosi kebaya Lik Marni, cukup sulit ternyata, tanpa bantuan Lik Marni yang sibuk berpegangan ke meja dapur, memberikan perlawanan atas batang yang menerobos jauh ke lorong kemaluannya.
“Lik,, kancingnya lepas dulu dong, ditusuk sambil netek kan lebih enak,,” bisik Arga tanpa menghentikan tusukannya.
Seakan tak ingin rugi, Lik Marni melepasi kancingnya sambil terus menggoyangkan pantatnya. “Ini Deenn suudaaahhh,, aahhh,,” seru Lik Marni sambil sedikit memutar tubuhnya ke belakang, menyerahkan payudara yang bergelantungan dengan bebas dan dengan cepat dilahap oleh Arga dengan rakus.
“Ooowwwhhhh,,,Deeennn,,, ga kuaaatt,,, jangan terlalu dalaaamm sayaa ga mau nyampee duluuuaaan,,,” Lik Marni menjerit penuh kenikmatan berusaha menghindari titik sensitif yang dirojok batang besar. Tampaknya wanita itu tidak ingin orgasme terlalu cepat.
Arga tertawa saat mengetahui kelemahan dari wanita itu, dan mempercepat tusukan dengan hujaman yang lebih dalam.
“Aaagghhhh,,, gaa maaauuuu,,, ga maauuu,, saya masih pengen dientot yang laamaa,,” rengek Lik Marni, tapi apa daya, batang Arga yang memang belum masuk sepenuhnya terus digeber semakin dalam hingga membuat Lik Marni melonjak-lonjak diterpa orgasme.
“Aaaggghhh,, tuu kaaann,, aaahh,,, Oowwwgghhhh,,,,,”
Tubuh Lik Marni bergetar hebat, “Aagghhh,,, Awass Deeenn cabuuuttt,, sayaa mauu kencing Deeenn,,”
Arga menarik keluar batangnya hingga hanya kepala batang yang tertinggal didalam, dan saat itulah cairan menghambur dengan derasnya.

“Busyeett,,, gila juga ni cewek,, squirt mpe segitu banyaknya,,” gumam Arga yang kaget melihat cairan yang menghambur deras.
Lik Marni menolehkan kepalanya sambil cengengesan malu-malu, “Maaf Deen,, seharusnya tadi tusuk yang dalam biar saya ga terkencing-kencing gini,” ucap Lik Marni polos.
Arga menarik tubuh Lik Marni ke arah dipan. Wanita itu mengerti dengan keinginan tamunya, dengan malu-malu mengangkangi tubuh Arga yang kini duduk dengan kejantanan tegang mengacung.
“Oowwwhhssss,,, masih sesak banget Deenn,,,” rintihnya sambil menikmati batang yang perlahan menyelusup memenuhi lorong peranakan.
“Aaawww,,, udah mentok Deeenn,,”
Arga yang asik mengenyoti payudara besar Lik Marni, merasakan ujung helm yang menyentuh dasar lorong, masih tersisa beberapa centi batangnya yang berada diluar.
“Uuugghhh,,, emang udah ga bisa masuk lagii,,” rengek Lik Marni yang masih bermain-main dengan batangnya berusaha melahap seluruh batang Arga.
“Awwwgghhh,,, Aden nakaall aaahh,,,” wanita itu menjerit saat Arga dengan usil menghentakkan pinggulnya dengan keras, hingga menggedor dinding rahim.
“Kalo satu batang aja udah kewalahan, gimana kalo nanti dikeroyok teman-teman saya,,” ledek Arga seraya menikmati pinggul Lik Marni yang bergoyang pelan memanjakan batang yang ada dalam tubuhnya.
“Dikeroyoookkk,,, takuuut ah Deenn,, ntar semua lubang saya dimasukin sama teman-teman Aden,”
JEDUGG,,, semua lubang?,, lubang anal?…
“Lik Marni udah pernah ditusuk disini?” tanya Arga sambil mengusap-usap pintu anus Lik Marni yang kegelian.
“Belum Den,, takut sakit,, lagian jorok ahh,,,”
“Seeepp,, daripada ntar ni lubang diperawanin teman-temannya, mending ku sikat duluan daahh,,,” gumam Arga.
“Saya tusuk ya Lik,,” Pinta Arga seraya berusaha menjajalkan telunjuknya ke lorong yang masih perawan itu.
“Ooogghh,,, gelii Deenn,, Cuma pake tangan kan?,”
“Ya pake inilah,” jawab Arga sambil memonyongkan bibirnya menunjuk kejantanannya.

Pantat Lik Marni berhenti bergoyang, keningnya berkerut, sesaat kepalanya menoleh ke kaca menatap Mang Oyik yang tengah menghajar Aida yang menungging mengangkat tinggi pantatnya. Meski bibirnya terus mengerang nikmat, tampak jelas Aida sudah sangat kewalahan meladeni batang Mang Oyik.

 “Emmmhhh,, boleh aja sih,,Tapiii,, jangan kasar seperti tadi ya Deeenn,,” ucapnya setelah memastikan suaminya masih dapat bertahan cukup lama dengan tamu cantik yang tengah digenjotnya.
“Tenaaang aja,, pasti saya masukin dengan lembut koq sayang,,”
Lik Marni tersenyum senang saat dirinya dipanggil sayang, lalu mengangguk dengan pasti sambil tersenyum.
Plop!!!,,, Batang Arga terlepas, Lik Marni yang masih mengangkangi Arga kini memegang erat batang besar, mengarahkan ke bagian belakang dari pintu vaginanya.
“Eeenghh,,,” kening Lik Marni mengerucut, wajahnya meringis saat pintu anusnya dipaksa untuk menerima batang Arga.
Terlihat jelas wanita itu sangat ingin memenuhi keinginan Arga dengan terus memaksa menekan pantatnya.
“Deeenn ga bisaaa,, batang Aden kegedean,,” ucapnya sambil meringis menahan perih.
Lik Marni turun dari tubuh Arga,lalu memasukkan batang besar itu kemulutnya, lalu melepaskan batang dengan air liur yang memenuhi bagian helm batang.
“Uuugghh,, emang gede banget ternyata,,pantas sulit banget,” dengus Lik Marni dengan mata mengagumi kelamin Arga yang berdiri tegak dalam genggaman tangan lentik.
Arga berusaha menahan tawa melihat ulah Lik Marni yang kini berusaha kembali memasukkan kepintu anusnya sambil membelakangi Arga. Tapi lagi-lagi usahanya gagal.
“Kalo pake ini gapapa kan Deen,,” tanya Lik Marni sambil meraih botol Bimoli yang masih tersisa setengah.
“Hahahaa,, boleh juga, tapi abis itu jangan dimasukin wajan yaa,,”
“Ihh,, Aden,,” Lik Marni menyentil batang Arga dengan gemes.
“Ayo cepat olesin,,ntar Mang Oyik keburu kelar lhoo,,” bisik Arga, menarik tubuh Lik Marni hingga terduduk diperutnya menghadap batang besar Arga, dengan cepat tangan lelaki itu mengubel-ubel vagina Lik Marni yang sudah mulai mengering.
“Ooowwhhsss,,,Deeenn,,” sambil mengerang menikmati korekan tangan Arga di vaginanya, Lik Marni mengolesi batang Arga dengan minyak goreng. Dalam hati Lik Marni masih belum puas menikmati batang besar itu dengan vaginanya, tapi entah kenapa dirinyapun kini merasa penasaran untuk menikmati batang itu dengan menggunakan pintu belakang.“Ayo Deeenn,,,” Lik Marni beranjak dari tubuh Arga, mengambil posisi telentang di dipan, mengangkang, lalu menarik lututnya hingga selangkangannya terangkat dan terekspos bebas.
“Ayo Deeenn,, tekan,,,” pinta Lik Marni saat yakin batang Arga berada di depan liang sempit yang mengerucut.
“Eeeemmgghhh,,,” Sambil berdiri disisi dipan, Arga mengejan agar penisnya mengeras maksimal, dirinya memang memiliki pengalaman mengawini liang dubur istrinya, tapi pintu belakang Lik Marni kali ini jelas lebih rapat.
“Ooowwggghhh,,, Deeen,,,,,” tangan Lik Marni mencengkram lengan Arga saat merasakan penis Arga berhasil menguak perlahan. Bulir air mata menggenang akibat perih yang menyerang, “Teruss ajaaa,, gapapa Deenn,,” Wanita itu memberi izin kepada Arga yang terhenti, wajahnya tampak memucat.
“Eeeeenggghhhh,,, bisaaa masuuuukkk,, Deeeenn,,,” Kepala Lik Marni terangkat mengamati kepala penis yang telah menghilang diliang anusnya.
“Boleh saya teruskan,,,” ucap Arga meragu saat melihat air mata Lik Marni menetes.
Wanita itu mengangguk pelan “Yang lembut ya sayaaang,,,” pintanya.
Sebagai gadis kampung, dalam percaturan birahi, Arga adalah lelaki dengan kualitas yang terbaik dari para lelaki yang pernah menikmati tubuhnya, dan Lik Marni tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Tentu saja sayaaang,,,” jawab Arga seraya menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh montok Lik Marni, lalu melumat bibirnya dengan lembut, dalam pagutan bibir Arga bibir Lik Marni tersenyum, membalas melumat seiring batang Arga yang menusuk semakin dalam.
“Ooowwwhhh,,, lagi-lagi mentok, penuh banget,” bisik Lik Marni manja, lalu mata keduanya tanpa dikomando sama-sama melototi sebagian batang Arga yang masih tersisa di luar.
“Masih sakit?,,,”
“Sedikit,,,”
“Sudah siap?,,,”
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Aaahhhh,,, yaaa,, yang lembut,, yaaa,,, tusuuuk lagiii,, pelaannn,,Eemmmhhh” Lik Marni mengomando pergerakan batang Arga, menusuk pantat nya yang terangkat, berusaha menikmati.
“Lebih cepaaatt,,, ini mulai membuatku melayaaang,,Ooowwwhhh,,,” rintih Lik Marni.
Arga tersenyum, saat bisa melakukan hentakan-hentakan sesuai keinginannya. Tapi lorong itu memang sempit, erat mencengkram batangnya.
“Ooowwhhh,,, Saaayaaang,,, jangan terlalu cepaaat,,” Lik Marni merintih berusaha mengimbangi sodokan Arga, tubuhnya menggelinjang liar saat Arga memainkan vaginanya yang menganggur.
“Aaaarrrggghhhh,,, minggir Deeeenn,, saya mau kencing,, cabuuut,,,”
Permohonan Lik Marni tak dihiraukan, Arga terlalu menikmati hangatnya liang belakang Lik Marni.
“Oooowwwhhhhssss,, Maaf Deeeenn,, Maaaaaff,,,” teriak Lik Marni yang menghantar orgasme seiring air kencing yang menghambur ketubuh Arga, tapi itu sungguh menjadi pemandangan yang luar biasa bagi Arga. Tak ayal lelaki itu semakin cepat menusuk-nusuk tubuh Lik Marni berusaha mengejar orgasmenya sendiri.

Lik Marni yang sudah bisa menguasai ekstasi orgasmenya tersenyum, melihat Arga yang begitu bernafsu menjejalkan batang besar ke dalam tubuhnya.
“Nikmati sepuasmu Den,,” suara Lik Marni terdengar lirih diantara dengusan nafas Arga.
“Tapi ngecrotnya disini aja ya Deenn,,” Lik Marni mengusap-usap vaginanya, menyibak gerbang dengan kedua jarinya seakan mengundang batang Arga untuk kembali masuk kelorong vagina yang dangkal. “Kali aja saya bisa dapat anak dari Aden” sambungnya manja namun dengan nada serius.
“hahaha,,, bisa aja Lik Marni ini,,,” Arga semakin cepat menghajar Lik Marni.
“Ooowwwgghhh,,, nihh,,, terimaaa,,,” suara Arga terdengar serak, saat mencabut batangnya dari anus Lik Marni dan dengan cepat kembali menghujamkannya ke vagina yang basah.
“Aaakkkhhhh,,,” Lik Marni terkaget-kaget dengan gerakan Arga yang tak diduganya, berusaha mengangkang lebih lebar, membiarkan batang Arga masuk lebih dalam dan dengan bebas menghamburkan benihnya di pintu rahim.
Lik Marni tertawa melihat tubuh Arga yang kelojotan diantara selangkangannya.
“Sedaap,, punyamu sedap banget Lik,,” bisik Arga sambil memaju mundurkan pantatnya menikmati ekstasi yang tersisa.
“Heeyy,, ternyata jamu mu emang manjur Lik,, rasakanlah batangku yang masih mengeras dalam vaginamu,” Lik Marni kembali tertawa saat Arga yang mencabut batangnya dan berusaha memasukkan batang itu ke lubang belakangnya.
“Ooowwhhh,, masih sempit aja punyamu Lik,” dengus Arga merayu.
Blaamm…
“Hhhhmmm,, pantes aja ditungguin lama banget,” suara Aida mengagetkan keduanya.
Sontak Arga dan Lik Marni menoleh ke pintu, namun disitu hanya ada Aida yang berdiri dipintu dapur dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan. Dari kaca mereka dapat melihat Mang Oyik yang tertidur kelelahan.
“Sini Non,,, kalo ga salah dengar tadi Den Arga juga pengen nusuk pintu belakang si Non,,” ajak Lik Marni seramah mungkin, dia sadar jika dirinya sudah menyerobot selingkuhan wanita itu.
“Pintu belakang?,, Arga,,apa kau tengah menusuknya di lubang belakang?” tanya Aida yang terkaget sekaligus penasaran, dengan cepat mendekati Arga yang kembali menusuk-nusuk anus Lik Marni sambil cengengesan.
“Siaalan,, ga dapat di aku, lubang dobol Lik Marni yang kau embat, Huuhh,,,” ada nada cemburu dari suara Aida saat melototi batang besar yang tadi sore membuatnya 2 kali orgasme kini menusuk tubuh Lik Marni.
“Ayo sini Nonn,, mumpung batang Den Arga masih keras,,” ajak Lik Marni sambil menarik lengan Aida yang ada dalam jangkauannya.
“Tidak,, aku masih terlalu capek,, nanti sajalah,,”
“Ayolah tak apa,, kurasa kau masih kuat, setidaknya untuk satu ronde,” bisik Arga melepaskan batangnya lalu memepet tubuh Aida ketembok, menarik pinggulnya kebelakang hingga menungging.

hilda yulis - toge montok jilbaber (4)
“Ooowwhhh Shiiit,,mana celana dalam mu,, ,” Arga keheranan saat menyibak rok Aida dan mendapati pantat yang menungging tanpa tertutup kain pelindung.
“Tuhh,, dikelonin sama Mang Oyik,,”
Arga dan Lik Marni sontak tertawa.

Setelah meremas-remas pantat montok Aida, Arga beranjak mengambil Bimoli dan melumuri batangnya. Sementara Aida terbengong, apa benar Arga ingin menusuk lubang belakanganya sekarang, setelah usahanya tadi sore gagal, namun dirinya tak yakin.
“Aaaggghhh,,, Argaaa,,, bilang dong kalo mo nusuk disitu,,” mata Aida melotot menahan sakit. “Aaawwwhhhh,,, koq bisaa massuuukk cepet bangeeett siihhh,,, aaaggghhh,” minyak goreng ternyata cukup ampuh untuk dijadikan pelumas.
Meski sulit, lorong Aida tidak sesempit milik Lik Marni, kali ini batangnya lebih mudah menerobos masuk. Setelah yakin Aida bisa menyesuaikan dengan batang besarnya Arga perlahan memompa maju mundur.
“Ooowwwwhhh,, Pelan Gaaa,,,punyamu gede banget,,”
“Tenang aja Non, sama persis waktu Non pertama kali ditusuk di depan, sakitnya sebentar aja koq,,” ucap Lik Marni, terinspirasi dari ulah Arga yang mengobel vaginanya, jari Lik Marni terulur menggapai vagina Aida.
“Mau ngapain Lik?,,,”
Tapi Lik Marni Cuma cengengesan, lalu menyelusupkan sebuah timun berukuran sedang ke vagina Aida. “Semoga ini bisa membantu,” ulah iseng Lik Marni benar-benar mebuat Aida kelojotan, dua lorong kemaluannya dipenuhi oleh batang. “Saya mau istirahat sebentar, biar sperma Den Arga bisa ngetem di dalam,” ucapnya berlalu menuju kamarnya, tanpa rasa bersalah pada Aida yang kini kewalahan.
“Aaarrggghh,, Gilaaa,,,” Aida menikmati sambil sesekali meringis saat batang Arga masuk terlalu jauh.
“Duuuhhhh,,, kali ini bener-bener sesak banget Gaaa,,, udaahh mau nyampe nihhh,,,” erang Aida yang memainkan timun keluar masuk di vaginanya.
“Wadduuuhhh,,, Bu Guru koq cepet banget,,” tanya Arga, namun tak dihiraukan oleh Aida yang sibuk menyambut orgasmenya.
“Aaaaagghhh,, Gaaaa,,,” Aida mengangkat pantatnya lebih tinggi untuk mendapatkan penetrasi yang lebih dalam.
“Siaaal,,,,,” Kini giliran Arga yang ikut panik, pantat montok dan mulus yang tersekspos menerima eksplorasi batangnya ditambah gaya menungging Aida yang begitu menggairahkan memberi fantasi tersendiri bagi Arga.
“Ooooowwwhhhsss,,,aaahhhhhhhh,,, keluaaarrr,,” Tubuh Aida bergetar menoleh, menatap Arga dengan pandangan penuh birahi.
hujaman Arga yang tidak menurunkan ritmenya membuat wajah Aida yang menatapnya semakin terengah-engah.
“Sialan,, Innocent banget sih wajah ni guru,,,” geram Arga tak tahan memandangi wajah Aida yang begitu pasrah.
“Mampuuuusss,,,, Aaagghhh,,,” Batang Arga yang terbenam erat serasa membesar dan tiba-tiba menghamburkan sperma, meski tidak sebanyak sebelumnya tetap saja membuat Aida kegelian.
“Gila,, hanya beberapa menit udah ngecrot lagi,,” gumam Arga seraya melepas batangnya dan terduduk didipan.
“Emang,,, gila banget,, tubuhku juga serasa remuk dipake dua orang,” imbuh Aida yang terhuyung membetulkan roknya.
“Iiiikkhhh,, dari ujung kaki sampai ujung rambut bau sperma,” kali ini Arga tertawa terpingkal mendengar ucapan Aida yang tengah membaui tangan dan rambutnya.
“aku kekamar dulu,,mandi, makan, tiduuuurrr mpe besok,”
“Hahahaaa,,,” Arga geleng-geleng kepala, menyusul Aida sambil mengagumi pantat Aida yang berayun mengikuti langkah kaki menuju pintu samping.

Sementara Arga berbelok ke gazebo. Suasana pantai sudah sangat gelap, untunglah bulan yang tengah menuju purnama cukup membantu mata Arga mengamati sekitarnya.
“Eaalaaahh,, koq malah gerimis sih,,” dengus Arga seraya mengangkat kedua telapak tangan meyakinkan adanya rintikan air dari langit.
“Gaaa,,,” Adit setengah berlari, melambaikan tangannya dari kejauhan. Sementara dibelakangnya tampak Aryanti dan Sintya mengiringi sambil tertawa.
“Ternyata istrimu emang pelit banget, Masa aku dibiarin kentang,,,” tanpa basa-basi Adit ngedumel dengan wajah super mupeng, Lalu bergegas menuju cottage.
“Mau kemana Dit?,,,”
“Nyari Istri kuuu,,,udah ga tahan nih,,,” Teriak Adit tanpa menoleh.
Sementara Arga hanya terdiam bingung, tidak tau apa yang telah antara istrinya Aryanti dan Adit.
“Adit kenapa?,,,”
“Tuhh,,tanya sama istrimu, tega banget ngerjain anak orang, hahahahaa,,,”
“Tidak apa-apa sayang, bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan, hanya memberi sedikit pelajaran bagi pemula,,Hihihhi,,,” jawaban Aryanti disambut tawa Sintya.
“Tau ga? Tadi istrimu membiarkan Adit meremas payudaranya,, Hahahaha,,,”
GLEKK,,, meremas payudara? Dan itu bukan masalah yang besar?..
“Kita ke sana dulu lah,, biar ku ceritakan semua,,lagipula kakiku capek banget, ingin istirahat sebentar,” Aryanti mendahului melangkah menuju Gazebo, disusul Sintya.
Arga menelan ludah saat menyadari bagian belakang rok ketat Sintya tampak lusuh dan sedikit terangkat, namun Aryanti jelas lebih berantakan, bahkan bagian atas kaos nya yang lebar dan terjatuh dikedua sisi lengannya hanya menampakkan satu tali bra, Apakah tali satunya memang sudah terlepas? Tapi oleh siapa? Dan bagaimana bisa tali itu bisa terlepas?,,, APA Yang sebenarnya terjadi.
“Huuufff,,, Jadi begini,,” tutur Aryanti setelah menghempas pantat montoknya di atas bangku dari kayu. “Setelah makan malam tadi, Aku dan Sintya mendapati Dako yang tampak merayu Bu Sofia, karena curiga aku dan Sintya mengajak Adit untuk menguntit kemana tantenya itu pergi,”
“Ternyata mereka menuju sebuah tebing yang sepi, meski agak jauh kami dapat melihat bagaimana Dako akhirnya berhasil menelanjangi bagian bawah tubuh Bu Sintya, yang terlihat pasrah,”
“Sayang,,, Seharusnya kau melihat bagaimana rakusnya Dako melumat kemaluan Bu Sofia, hingga membuat perempuan itu mengerang keras di kegelapan, memang tadi sehabis makan kamu kemana? Aku tidak melihatmu diantara teman-teman,” tanya Aryanti.
“Ehh,, akuuu,, menemui Mang Oyik, untuk menanyakan perlengkapan yang ada disini,” jawab Arga serampangan.

“Aku yakin, Dako berhasil membuat Bu Sofia orgasme di mulutnya,, Ooowwhh,, aku jadi merinding bila mengingat rintihan Bu Sofia tadi,” celetuk Sintya, menyelamatkan rasa bersalah Arga.
“Yaa,, orgasme di mulut seorang lelaki memang sangat menantang sekaligus menggairahkan,” balas Aryanti sambil memejamkan matanya seolah saat itu dirinya dapat merasakan kenikmatan itu.
“Sial, pasti Aryanti teringat permainan nakal yang dilakukan bos dikantornya,” Arga menggeram kesal melihat ulah istrinya.
“Yaa,, apalagi saat Dako menghajar kemaluan Bu Sofia yang menungging di tengah hamparan pasir pantai,, Ugghhhh,,, pengeeeennn,,” jerit Sintya menahan hasratnya, disambut ulah istriku yang menjepit lengan dengan kedua pahanya. Arga sangat hapal, itu adalah gelagat istrinya bila tengah horny.
“Lalu apa hubungannya dengan adit,”
“Adit,, hahahaa,, Adit merajuk kepada kami, dan menuntut kami untuk bertanggung jawab karena telah menyeretnya untuk mengikuti Dako dan Sofia, kau taukan? Adit sangat bernafsu pada tubuh tantenya itu. Dan adegan itu membuat batangnya mengeras dengan sempurna,” Jawab Aryanti.
“Dan aku tidak dapat menghindar saat dengan tiba-tiba ia memelukku dari belakang, apa kau tau sayang? Anak muda itu ternyata sangat rakus, belum sempat aku memberi izin, mulutnya telah mencomot payudaraku hingga tali braku terputus,”
“Ooowwwhhh,, lalu?,,” Suara Arga tercekat hampir tak terdengar.
“Yaaa,, dia bagai orang kesurupan, melumat kedua payudaraku, mungkin di dalam kamar nanti kau bisa melihat beberapa tanda merah di payudaraku ini akibat gigitannya,”
“Asseeemmm,,, kenapa istriku bisa sesantai ini bercerita tentang pencabulan pada tubuhnya, mana aku disuruh melihat cupangan ulah mulut Adit,, uugghhh,, juangkrriikk,,” Arga menggumam dengan hati yang kesal.
“Apakah hanya itu?,,”
“Tentu saja tidak, setelah puas bermain dengan payudaraku Adit meminta hal yang sama pada Sintya, dan ternyata payudara Sintya jauh lebih besar dari milikku,”
“Tidak,,tidaak,,, punyamu lah yang lebih besar, hahahaa,,” elak Sintya sambil tertawa.
Aryanti melotot genit kepada Sintya, “Sayang, dari gumpalan dibalik kaosnya kau pasti sudah bisa menebak payudara siapa yang lebih besar diantara kami, atau,,,jika kau tidak percaya remaslah punya Sintya,, hingga kau bisa menilai payuadara siapa yang lebih besar,hahahaa,,”
ZLEEBBB,,,
meski aku tidak yakin apakah perintah istriku untuk meremas payudara Sintya sebuah gurauan ataukah serius, yang pasti tanpa kuduga dengan mudahnya tanganku melayang, menyentuh payudara Sintya yang membuat tubuh gadis itu tegang seketika. Aku meremas cukup kuat untuk merasakan tekstur gumpalan payudara istri simpanan Pak Prabu itu.
“Kurasa payudara kalian sama besarnya,” ucap Arga tanpa menghentikan remasannya.

hilda yulis - toge montok jilbaber (1)

“Sayang,, jangan membuatku cemburuu,, kau meremas payudara Sintya tepat di depanku,,” Aryanti merajuk, membuat Arga terkaget melepaskan remasannya, sementara wajah Sintya bersemu merah.
“Aku hanya mengikuti intruksimu sayang,,” jawab Arga cengengesan.
“Huuhh,, paling pinter kalo ngeles,,” sambut Aryanti yang akhirnya tertawa karena tidak bisa berpura-pura marah kepada lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Sudahlah aku mau kekamar dulu,, celana ku terasa sangat lengket,” ucap Aryanti pamit, lalu beranjak mendekati Arga, mengecup kening lelaki itu dengan lembut.
“Heehh,,, kenapa tubuhmu seperti ada bau pesing? Dan ada bau,, bauu apa ya ini?,, minyak goreng?,,”
JEDEERRR,,,
“Yaa,, aku menyempatkan membantu Mang Oyik membenarkan mesin genset, bukan minyak goreng, tapi Oli,,”
“Oli?,,, tapi koq seperti minyak goreng ya?,,” tanya Aryanti sambil membaui tubuh suaminya. Untunglah sesaat kemudian wanita cantik dengan tubuh semampai itu berbalik dan melangkah menuju cottage.
“mandi,,dan gantilah bajumu sayang,, aku tunggu kamu dikamar,,” teriak Aryanti dengan gaya yang genit, lalu melanjutkan langkahnya.
“Istrimu cantik banget Mas, plus seksi,,,aku yang sesama cewek aja kagum, apalagi mata lelaki,,”
“Yaa,, aku memang beruntung memilikinya,”
“Jaga bener-bener, banyak lelaki yang menginginkan tubuhnya lhoo,,”
“Iya,, Heh,, tunggu maksudmu,,,?,,”
Sintya hanya menjawab dengan senyuman.
“Apa benar yang terjadi tadi hanya sebatas itu?,,,” Arga berusaha mengorek dari Sintya, sesaat gadis itu memandang mencari sesuatu dimata Arga yang memiliki tatapan tajam.
“Huufff,, Lebih dari itu,,”
Arga berusaha bersabar menunggu bibir Sintya membeber cerita.
“Adit terus merajuk kepada kami, aku sempat meremas batangnya yang ternyata memang sudah sangat keras, dan aku terpekik karenanya. Aryanti yang penasaran akhirnya juga meremas batang Adit yang tersembunyi dibalik celana pantainya, ohh,,, tidak,,tidak,, Aryanti langsung merogoh ke  dalam celana Adit, dan merasakan batang itu langsung dengan telapak tangannya, sepertinya istrimu tertarik dengan bentuk batang Adit yang bengkok itu,” Sintya berusaha mengingat-ingat detil kejadian yang terasa begitu cepat dengan mata menatap buih ombak yang bergulung.
Sementara nafas Arga tertahan. “Laluu,,”
“Laluuu,, yaa,, kami terpaksa mengizinkan Adit mencumbu tubuh kami bergantian tanpa dengan syarat tidak melepas pakaian kami, kami terbawa gairah permainan Dako dan Bu Sofia yang begitu panas.
Arga semakin penasaran, apakah kejadian di kantor istrinya terulang lagi, “Laluu,,?,,”
“Istrimu sungguh wanita yang memiliki gairah yang meletup-letup,, akupun begitu,,,” bibir Sintya hening sesaat, pahanya menjepit erat. “karena tidak tahan, istrimu yang berinisitif lebih dulu menurunkan celana hingga kedengkul dan meminta Adit memanjakan vaginanya dengan mulut pemuda itu, sementara ia berpegangan pada pohon kelapa, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana lidah Adit menyapu setiap inci pintu vagina dan anus Aryanti,,Uuugghhh,,” Suara Sintya tertahan saat merasakan tangan Arga meremas pahanya yang terbuka.

“Sialan,, rupanya istriku tadi bukan menghayalkan kejadian di kantornya, tapi justru teringat ulah Adit yang menservis vaginanya,, siaaal,,siaaal,, aku kecolongan lagii,,” Arga ngedumel dalam hati.
“Apakah Adit juga melakukan itu padamu?,,,”
“Iyaaa,,, aku penasaran dengan lenguhan orgasme istrimu saat wajah Adit sepenuhnya terbenam diantara pantatnya dengan lidah terjulur masuk ke dalam vagina, aku tau itu karena aku juga meminta Adit melakukannya pada vaginaku, memang benar kata istrimu,, orgasme sambil mengangkangi wajah lelaki itu sungguh sesuatu yang luar biasa,, Owwhhh,,,” suara Sintya tertahan saat jari-jari Arga berusaha menyelusup kedalam roknya yang sempit.
“Apakah terjadi enghhh,, terjadi sesuatu yang lebih jauh setelah itu,,”
“Tidaakk,, yaaa,, eeenghh,, aku tidak tau pastinya, karena setelah Adit berhasil membantu kami menuntaskan hasrat, giliran dirinya yang meminta kepada kami, aku menawarkan oral tapi Adit menolak dan ingin menyetubuhi salah satu dari kami,”
“Dan akhirnya istrimu bersedia karena setau ku istrimu sangat tertarik dengan bentuk penis Adit yang lucu, pastinya ia ingin merasakan bagaimana sensasi bila batang bengkok itu bergerak didalam vaginanya, tapi dengan syarat Adit memuntahkan spermanya diluar,” Duduk Sintya mulai gelisah, pahanya menjepit jemari Arga yang berhasil mengusap-usap vagina gemuk yang terbalut kain tipis.
“Istrimu beralasan, tak ada bedanya antara lidah dan batang penis, toh Adit sudah merasakan bagaimana bentuk vagina kami, sama-sama daging hanya bentuknya saja yang berbeda, dan aku mengangguk setuju, hanya ukurannya saja yang berbeda,”
“Apakah batang Adit lebih besar dari ini,” ucap Arga sambil mengeluarkan batangnya hingga membuat mata Sintya melotot.
“Tidaakk,, milikmu jelas lebih besar,,” tanpa diminta wanita berambut sepundak itu menggapai batang Arga, menyusuri otot yang terukir. “Tapi jika dibandingkan dengan milik Pak Prabu aku tidak tau, karena punya Bapak juga berukuran besar sepertimu,” suara Sintya bergetar, meremas batang Arga dengan gemes.
“Apa kau bersedia mengukurnya, agar kita tau milik siapa yang lebih besar,,?,,” ucap Arga, menarik pinggul Sintya, tanpa menunggu persetujuan mengangkat rok ketat yang membalut paha sekal sang sekretaris.
“Mungkin,, jika kau mau, aku bisa mengukurnya sebentar, yaa,, hanya sebentar,, untuk memastikan batang siapa yang lebih besar,” ucap Sintya, matanya mengamati sekeliling, lalu mengangkangi Arga, mengangkat roknya semakin ke atas dan menyibak celana dalamnya ke samping.

 hilda yulis - toge montok jilbaber (2)
Semua terjadi begitu cepat dan,,,, “Oooowwwgghhh,,,,,” Sintya menekan pinggulnya kebawah, vaginanya sedikit kesulitan saat harus menelan ujung batang Arga yang besar. “Oooowwwhhhsss,,, Siiinn,, Kau tidak akan tau jika tidak menekannya lebih dalaaaamm”
“Yaa,, kurasa kau benar Gaaa,,Aaahhh,,,”
“Punyaaamuuu,, punyamuuu lebih besaaarr dan panjaaaaaaang darii batang Bapaaak,,” lenguh Sintya saat berhasil melumat seluruh penis Arga.
“Pantas saja Aryanti begitu mencintaimu,,” bisik Sintya yang bergerak liar mengiringi remasan tangan Arga dipantatnya.
“Istrikuu,, Laluu,, apa Adit berhasil memasukkan batangnya ketubuh istriku,,seperti aku memasuki tubuhmu ini?,,,”
“Aku tidak tau pastinya, karena Adit menindih istrimu yang berbaring diatas pasir menutupi pandanganku,,, kalaupun Adit berhasil menyelusup kan batangnya kevagina istrimu kurasa itu tidak lama,, karena saat Adit menggerakkan pantatnya yang membuat istrimu mengarang, Dako dan Bu Sofia yang telah selesai bejalan menuju kami, dan aku segera memberi tahu hal itu kepada Aryanti, Akhirnya tubuh Adit terjengkal akibat dorongan istrimu yang kaget,”
“Adit masih merajuk, tapi kami sudah berlari meninggalkannya,” ucap Sintya sambil mempercepat goyangan pantatnya membuat batang Arga begitu dimanjakan.
Tapi tiba-tiba Sintya meloncat turun melepaskan batang Arga. “Ada yang menuju kemari,,” ucapnya dengan takut.
“Siaaaall,,,” kondisi Arga tidak jauh berbeda dengan Adit. Namun terpaksa menyarungkan pusakanya.
“Heeyyy,,, sedang apa kalian gelap-gelapan disini, Hayoooo,,,” terdengar suara lembut Zuraida yang menghampiri mereka, diiringi Pak Prabu yang menatap penuh selidik kepada Arga dan Sintya.
“Hahahaa,, kami hanya mengobrol koq,,,” jawab Sintya cepat. “Kalian dari mana?,,”
“Aku habis jalan-jalan sama Pak Prabu,, dijalan kami ketemu warung yang ngejual kentang goreng, renyah banget lhooo,, Arga mau?,,” ucap Zuraida dengan sangat lembut menyerahkan bungkusan kepada Arga.
“Kentang?,,, owhh,, tidak,, terimakasih,,,” jawab Arga dengan lesu…
**************************************************
“Arga,, aku pinjam istrimu sebentar ya,,,” ucap Zuraida pada Arga yang tengah melahap sandwich yang baru saja diantar oleh Lik Marni.
“emang mau ngapain?”
“Adda aja, urusan kaum hawa, weee,,,”
“Aiiihhh,,, bisa juga istri Dako ini genit, mana pake melet lagi,,” gumam Arga, matanya nanar menatap Zuraida yang berdiri di depan pintu dengan balutan kaos lengan panjang yang sedikit ketat, tak ketinggalan jilbab yang selalu membalut wajah cantiknya.
“Ok, Ashal wakthu balek dhi mharhi tethap utuh,,,” Arga memaksakan menjawab meski mulutnya sedang penuh, matanya beralih ke sosok istrinya yang malam itu kelihatan lebih centil, tak ubahnya seperti anak ABG. Mematut diri didepan cermin memiringkan tubuh ke kanan dan kekiri, celana lagging hitam dan kaos longgar berbelahan rendah dengan tulisan ‘Awesome’ tepat dibagian payudara.
“Hahahahaa…bisa aja kamu, emang bagian mana yang bisa hilang dari istrimu,,” Zuraida tergelak tertawa.
“Tenang saja sayang,,, kalo ntar balik kesini nenen ku hilang, tagih saja sama Zuraida,,”
“Aaaaaaa,,,” Zuraida terpekik, tak menduga bila Aryanti akan meremas kedua payudaranya.
“GLEEKK,,, Uhhuuugg,,,” Arga tersedak, kerongkongannya begitu sesak akibat segumpal roti yang dipaksa masuk tanpa dikunyah. Matanya dengan jelas bagaimana bentuk payudara Ziraida yang menyembul dibalik kaos akibat remasan jemari Aryanti.
“Hahahahaa,,, Ayo cint,,, ntar kamu diterkamnya lhoo,,” tawa Aryanti melihat tingkah suaminya. Lalu menarik Zuraida yang wajahnya memerah malu, keluar kamar.
“Aseeeemmm,,, besar juga nenen istri si Dako,” Arga mengumpat, selama ini dirinya hanya bisa memandang tubuh yang dibalut pakaian yang lebar.
Wajah lelaki itu tersenyum saat menyadari batangnya mengeras, ternyata begitu besar hasrat nya pada wanita yang selalu mengenakan jilbab itu. Tapi hingga saat ini tak ada sedikitpun kesempatan untuk SSI, selalu dikawal ketat oleh teman-temannya yang juga memliki hasrat yang sama. Tak betah sendiri berada dikamar Arga menuju selasar yang memisahkan kamar-kamar, sesaat matanya tertuju pada jam besar yang ada di dinding, pukul 9.15. Di pelataran cottage dirinya tak mendapati seorang pun, gara-gara ulah Aryanti dan Zuraida tadi pikiran sange nya kembali kambuh, otaknya memilah-milah betina mana yang dapat dijadikan mangsa, Aida, Lik Marni, Sintya,,, Ahhh Sintyaa,,, hampir saja lelaki itu menyumbangkan benih cinta kepada si montok istri simpanan Pak Prabu.Hari ini pikiran lagi ga karuan
Nyesel tapi sengaja nonton film begituan
Otak penuh khayalan juga bayang-bayang
Ingin cepat lepaskan, bingung cari saluran

Lalu cari solusi yang sehat dan alami
Bukan ngga punya uang, sumpah haram jajan
Biar sedikit bandel utamakan kesehatan
Belum sempat mikir panjang Setan langsung kasih jalan

“Heeiii Gaa!!,,,”
Terdengar panggilan saat dirinya melewati tepian kolam.
“Aditya daaan,, Andini,, Owwhh,,, itu benar Andini kan?,” Arga memicingkan mata seolah dengan cara itu matanya dapat lebih jelas melihat.
Tampak gadis itu hanya mengenakan pakaian renang two piece. Pintar juga ni bocah, sengaja mematikan lampu di pinggir kolam, jadi apapun yang mereka lakukan di dalam air takkan terlihat jelas.
“Gilaaa,, bisa-bisanya berenang di air dingin gini,” celetuk Arga setelah memasukkan kedua kakinya ke air, duduk menjutai.
“Dingin?,, panas koq,,, liat aja aku ampe keringatan begini,hehehe,,” Aditya terkekeh sambil berjalan didalam air mendekati Arga, meninggalkan Andini disisi sebrang. “Baru pemanasan doang sih,, pengen nyobain bercinta dalam air,” imbuhnya.
“Gimana body bini ku, mantap?,,,lagi seger-segernya anak ABG tuh,, hehehe,, masih 19 my age,”
“Dasar,, Vicky oriented!!,,,”
“Hahahahaa,,,”
Blubuk blubuk blubuk,,, tawa keduanya terhenti saat Andini tiba-tiba menyelam, 2 pasang mata lelaki sange itu melotot saat beberapa detik kemudian muncul pantat montok Andini yang dibalut celana renang model thong, muncul ke permukaan bergerak mengikuti kaki yang berkecipak mendorong tubuh di dalam air.

hilda yulis - toge montok jilbaber (3)
“Aku paling suka kalo dia lagi nungging, mana ada cowok yang tahan kalo bergesekan dengan pantat montok nya,,”
“Asseeemm,,,” Arga misuh-misuh mendengar celoteh Adit yang sengaja manas-manasin
“Tapi lebih nikmat mana dengan vagina istriku?,,, bukankah kamu sudah merasakan jepitannya,, dan bagaimana gurihnya cairan cintanya?,,”
“Heehhh,,, jadi istrimu cerita kejadian di tepi tebing tadi?,, gilaa,,,”
Arga terkekeh.
“Memang sih,, legit banget,,Tapi Cuma dua menit ni batang sempat masuk, belum sempat ngecrot aku sudah ditendang gara-gara Dako mau lewat,”
“Dua menit??? Wooyy,, itu lumayan lama begoo,,” Hati Arga mendengus kesal, tapi berusaha tetap santai.
“Tapi bukankah istriku sudah memberi kesempatan padamu untuk menikmati tubuhnya, Ya artinya kamu sedang sial, jadi tidak salah bila sekarang adalah giliranku,” ucap Arga, otak mesum nya bekerja dengan cepat melihat peluang. Dengan cepat tangannya melepaskan kaos lalu menceburkan diri ke air yang dingin.
“Still there Boy!!!,,, dan lihatlah bagaimana aku mengajarimu cara bercinta dengan gadis secantik istrimu ini,” teriak Arga sambil berjalan mundur didalam air.

“Juancuuukk,,,” Adit mengumpat dengan jari tengah mengacung, hatinya tak karuan, saat harus melihat dengan matanya sendiri bagaimana istrinya akan digagahi oleh lelaki lain.
Ingin sekali Adit mencengkram tubuh Arga, tapi Arga adalah calon bosnya setelah pamannya pindah ke kantor pusat. Artinya Arga lah saat ini yang memiliki kuasa di kantornya.
“Uuuugghhh,,,” Adit benar-benar kesal sekaligus menyesal telah memamerkan tubuh ranum istrinya.
Sementara disebrang, Andini terlihat bingung saat sosok besar seorang laki-laki mendekati dirinya, tubuhnya beringsut masuk kedalam air berusaha menyembunyikan payudara yang hanya tertutup kain kecil dengan untaian tali. Sempat terdengar oleh telinganya pujian sang lelaki yang memuji cantik wajahnya, tapi mengajari bercinta, apa maksudnya?…. Andini tiba-tiba merasa tubuhnya panas dingin saat berhadapan dengan dada bidang sedikit berbulu saat Arga tiba di hadapannya.
“Ada apa Mas?,,,?”
“Tidak ada apa-apa, hanya suamimu tadi meminta untuk menemani bidadari mungil sepertimu berenang,,” Arga mencoba tersenyum seramah mungkin.
Sontak wajah Andini memerah, tersipu malu.  Merasa tidak percaya dengan ucapan Arga, gadis itu menatap suaminya yang terlihat hanya duduk ditepi kolam renang, meski saat ini ada seorang lelaki mendekati istrinya yang hampir telanjang.
“Kenapa cantik,,,tidak percaya?, pastinya suamimu akan menghajarku bila aku berbohong,” Arga mengangkat dagu Andini untuk memenadang wajahnya yang memiliki tatapan tajam.
Dalam hati Arga bersorang girang, gadis itu terlalu lugu, begitu mudah memikatnya. Semakin gemetar tubuh Andini dibuatnya. Tapi ada letupan birahi saat matanya menatap pundak Arga yang tegap dan kokoh, apalagi lelaki itu memiliki wajah yang sangat menarik.
“Aku lihat tadi kau cukup mahir berenang, mau adu cepat dengan ku, berapa putaran kau sanggup?,,” kini Arga memasang wajah jenaka. Tersenyum sambil mengambil kuda-kuda untuk menyelam.
“Jika hanya sekedar berenang mungkin tak mengapa, toh suamiku bisa melihat dan melindungi bila laki-laki ini berbuat nakal.” Gumam Andini yang kemudian ikut tersenyum menampilkan deretan gigi yang rapi terawat.
Seakan tidak ingin kalah dari Arga, Andini mencoba mendahului menyelam dan dengan cepat berenang ke tepi dimana Adit berada. Arga tertawa melihat tingkah Andini, mengangkat kedua tangannya kearah Adit. Tapi Hal itu diartikan Adit sebagai tanda ketidakmampuan Arga menaklukan istrinya.
“Hahahahaaa,,, Kau tidak akan bisa menaklukkan istriku,, cobalah sepuasmu!!!,,,” teriak Adit sambil tertawa.
Andini yang telah sampai di tepi kolam, sekuat tenaga kakinya menendang dinding kolam untuk memberikan dorongan tambahan. gadis itu tampak yakin jika dirinya menyelesaikan dua putaran dan lebih cepat dari Arga. Melihat Andini sudah berbalik ke arahnya, Arga dengan cepat menyelam berusaha menyusul Andini. Saat tubuh mereka berselisihan di tengah kolam, dengan begitu kreatif dan cekatan tangan Arga mengelus payudara gadis mungil itu, dilanjutkan dengan tarikan hingga bra Andini terlepas, lalu melanjutkan berenang ke arah Adit.

hilda yulis toge jilbab (2)
Sebelum berbalik menyusul Andini, tangan Arga muncul kepermukan sambil mengacungkan bra. Aksi Arga itu jelas tidak luput dari mata Adit.
“Juancuuuukkk!!!,,,,” Adit hanya bisa mengummpat, bra siapa lagi yang ada di tangan Arga jika bukan milik istrinya.
Sementara di sebrang sana Andini telah sampai di tepian, tak lama kemudian disusul Arga yang tampak terengah-engah mencari udara.
“Menaaaang,,,” Andini berteriak girang mengangkat kedua tangannya, meloncat-loncat seolah ingin keluar dari air.
Tapi tawa gadis itu sirna seketika, wajahnya pucat pasi saat melihat bra nya berada di genggaman Arga. Secepat kilat tubuhnya beringsut masuk ke dalam air, berusaha menyembunyikan payudara mungil dengan puting yang menantang kedepan. Gadis itu tidak sadar kapan bra itu terlepas, terlalu semangat berenang.  Arga tersenyum, lalu dengan sopan memberikan bra itu kepada Andini. Dengan cepat jemari lentik itu menyambar, dan dengan tergesa-gesa mengenakan kembali bra nya.
“Boleh aku bantu mengikat di bagian belakang?,”
Andini mendesah, sesaat mengambil nafas panjang setelah sadar tidak mampu mengikat bra, menyesali keputusannya memilih bra jenis tali yang diikatkan di belakang punggung. Andini berbalik dengan malu-malu, setidaknya dengan membelakangi lelaki itu tidak bisa melihat payudaranya yang menyembul. Dengan perlahan Arga memasang simpul tali bra, seraya mendekati telinga gadis itu.
“32b, mungil, tapi putingnya mancung banget, seharusnya untuk gadis seusia mu aerola nya sudah mulai coklat, tapi warna milikmu masih telihat sangat ranum seperti milik gadis SMP, bentuk seperti ini yang sering bikin para lelaki penasaran.”
Nafas Andini seakan tertahan mendengar pujian Arga, tubuhnya tak mampu bergerak saat telapak tangan yang kokoh menyusuri pinggang yang ramping, mengusap perut yang rata tanpa lemak, dan terus naik hingga telapak itu menggenggam payudara Andini dengan dengan cengkraman yang kuat namun terasa lembut.
“Uuugghhhh,,,,eeeengghhhsss,,,” nafas Andini terasa begitu sesak, bra basah yang baru dikenakannya seakan tidak memiliki arti. Putingnya yang seketika mengeras dapat dengan jelas merasakan tekstrur kasar dari telapak tangan Arga.
“Maaasss,,, jaaangaaaaan,,,,”
Tapi arga memakai jurus budeg, dan terus melanjutkan aksinya. Tangannya begitu gemes dengan payudara mungil Andini, meremas dan terus meremas dengan lembut.
“Ooowwwhh,,, ternyata benar dugaanku, payudaramu sangat kencang,,, apa kau meinginzinkan bila aku sedikit berkenalan dengan payudaramu ini,,”“kaauu,, sudah melakukannyaaa,, apa lagiii,, suddaaahh masss,,, Aaaawwwhsss,,,” Andini terpekik saat puting mungilnya dijepit, ditarik, dan dipelintir dengan lembut.
“Maasss,,, jangan yang ituuu,, jaaaang,,, Aaaaakkkhhh,,,” tubuh Andini semakin berkelojotan, tanpa disadarinya telunjuk tangan kanan Arga berhasil menyelinap kedalam lipatan vagina. “uuugghhh,,, suuddaaaahhh maasss,, ada Mas Adiiitt,, jangaaaaann,”
Sekuat tenaga Andini menarik lengan Arga agar keluar dari celana dalamnya, tapi Arga yang usil tak kalah akal, telunjuknya yang berhasil menyelinap kedalam vagina mungil itu berubah layaknya jangkar pengait. Semakin kuat Andini menarik tangan Arga, semakin kuat tekanan yang dialami vaginanya, dan semakin kuat pula lenguhan yang keluar dari bibirnya.
“Jangaaannn,, jangaaaann,, Diniii ga maauu,, jangaaaaaaaaaaaaaaann” tubuh Andini bergetar hebat. Mendapatkan pelecehan dihadapan suaminya justru menjai sensasi tersendiri, dan ini adalah orgasme tercepat yang pernah dialaminya.
“Iiiihhh,,, tanganku dikencingin cewek cantik,, pasti pertanda sesuatu nih,, koq cepet banget ya,,,” ucapa Arga, menarik tangannya keluar lalu berlagak seperti orang yang mencuci tangan di dalam air.
“Jahaaaat,,, dasar manager mesum,” Andini mencubit lengan Arga, wajahnya tersipu malu, cowok itu sudah membuatnya ngos-ngosan dan berkelojotan di tengah malam, tapi setelahnya justru meledeknya, menganggap hal itu seperti hal biasa.
Sementara di sebrang Adit yang mengamati mengamati dengan tegang, dapat sedikit bernafas lega saat Arga melepaskan tubuh istrinya, lalu sedikit menjauh. Matanya dapat melihat bagaimana tadi tangan Arga yang memeluk istrinya dari belakang, tapi dirinya tidak tau apa yang tengah terjadi, matanya juga mengawasi pinggul Arga yang tidak bergerak, berarti calon atasannya itu tidak berhasil melakukan penetrasi.
“Wooyyy,, Aku ambil minum sebentar, still there, jangan kemana-mana,,,” Teriak Adit yang langsung bergegas masuk ke dalam, tubuhnya sangat enggan beranjak dari tempat itu untuk memastikan istrinya baik-baik saja, tapi tenggorokannya terasa kering akibat ulah Arga yang mengerjai istrinya.
“Yooiii,, jangan lama-lama, ntar istrimu ku makan lhoo,,hahaha,,” balas Arga sambil tertawa.
Arga bersandar di tepian kolam, “Malam yang indah, bintangnya banyak, lampionnya jua cantik” ucap Arga sambil mengamati lampion yang berjejer diatas kolam, terikat pada tali yang direntang.
“Iyaa,”
“Iyaa? Bagaimana kau bisa tau, dari tadi kau hanya menunduk, mana bisa melihat bintang,”
“Iiihhh,, resee,,” Andini mendorong pinggang Arga tapi meleset dan mengenai batang Arga yang masih menegang. Tiba-tiba gadis itu terkesiap.
“Itu kayu ya? Koq keras banget, piting sedikit aja pasti patah tuh kayu,, hahaha,,”
“Idiiihh,,, baru ditinggal suami sebentar aja genit nya nongol, giliran suami disamping anteng kaya kelinci makan kwaci,hihihi,,,”
“Mas emang rese yaaa,, jadi heran, koq bisa ditunjuk ngegantiin Pak Prabu,”
“Hahahaha,,, Ehhh,, ada bintang jatuh,,”
“Mana? ngga ada koq,,,” mata Andini cepat menyapu hamparan langit.
“Jatuhnya naik angkot biar cepet,,hahaha,,”

hilda yulis toge jilbab (1)

“Idiihh garing banget, emang kalo ada bintang jatuh mau minta apa?” tanya Andini sambil memainkan air hingga menciptakan gelombang-gelombang kecil. Perasaan tegang dan malunya sedikit berkurang, diam-diam matanya melirik tubuh tinggi tegap disampingnya.
“Aku mau mintaaa,, eemmm,,, apa ya,, kalo minta kayu ku dipiting pake punyamu, mungkin ga yaa?,,”
“Weekksss,, ngelunjak, emang aku cewek apaan, ingat,, tadi itu Cuma karena aku menghormati mas Adit yang menyuruh mu menemaniku berenang lhoo,”
“Masa sih, jadi bukan jinak-jinak merpati,”
“Apaan sihh,, lagian batang segede gini mana ada yang mau, Cuma bisa bikin cewek nangis kesakitan, hahahaa,,”
“Awww,,, sakit tau,” Arga menjerit ketika tiba-tiba tangan Andini benar-benar memiting batangnya yang dalam kondisi siap tempur sempurna, dan sialnya gadis itu justru tertawa melihat deritanya.
Tanpa setau Arga, dibalik tawa Andini, jantung gadis itu justru berdebar, tidak menyangka batang yang tadi sempat digenggamnya meliki ukuran yang benar-benar besar.
“Woooyyy,,, ni ku bawain air, kalo mo minum cepet kesini,” terdengar teriakan Adit yang membawa tiga botol pulpy orange.
“Terimakasih Gan, tapi air disini masih banyak, apalagi ada sumurnya, dijamin ga bakal habis,” jawab Arga serampangan.
“Sumur?,, mana ada?” tanya Andini yang bingung.
“Ada koq, biar kecil tapi juga bisa nambahin air kan?”
“Iiihhh ngaco,,” Andini segera memalingkan tubuhnya membelakangi Arga saat menyadari mata Arga yang melototi selangkangannya yang terendam.
“Tuu kan, jinak-jinak merpati, kalo ada suami langsung balik kanan nyari aman,”
“ngga Koq,,” jawab Andini sambil melengos.
“Berani nerima tantangan?,,buktikan dengan ambil tu lampion ”
Tubuh Andini kembali berbalik, “mana bisa?,,tinggi banget,, lagian itu tidak menantang”
Bukannya menjawab Arga justru menyelam ke dalam air.
“Aaaaaaa,,,, Andini menjerit ketika tubuhnya terangkat dari dalam air, dan gilanya wajah Arga tepat berada di depan selangkangannya.
“Sialan kau Argaaa,, Kupastikan Aryanti akan menerima balasannya,,” dengus Adit, tekadnya semakin bulat untuk kembali menunggangi tubuh montok Aryanti dan menuntaskan permainan yang tertunda.
“Cepet ambil, tubuhmu ternyata berat juga,,”
Jelas Arga berbohong, tangannya yang menopang tubuh Andini justru meremas-remas pantat Andini, membuat gadis itu salah tingkah dihadapan Adit. Tangannya berusaha meraih lampion yang masih dua jengkal diatasnya. Berharap Arga segera menurunkan tubuhnya.
“Aaaahhssss,, Argaaaa,, kamu ngapaaaaiinnn,, Aggghhhh,,,” Andini terkaget, celana dalamnya dibentot Arga ke samping, dan dengan cepat bibir Arga yang telah siaga menyerang bibir bawahnya.
“Aaaggghhh,,, gila kau Gaaa,,, itu ada suamikuuu,,Ooowwwhhh,, stoop,”
Arga mendongakkan wajahnya yang tepat berhadapan dengan vagina ranum yang menganga, “Ternyata benar, kau memang jinak-jinak merpati,” ledek Arga. Lalu kembali menyelipkan lidahnya ke vagina yang tengah galau.
“Ooowwwwhh,, tidaaak kau saaalaaahh,,aku berani koq nakal didepaaan Adiiitt,, Aaahhh,,,
masuuukiiiinn lidaaahhhmuu lebbiiihhh dalaaaammm,, Aaggghhh gilaaaaa,,,”

Andini kembali mencoba meraih-raih lampion, berharap suaminya tidak tau dengan apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Arga.
“Ooowwwhhhssss,, Aaaahhh,,, dasar lidah buayaaaa,, panjang banget lidaaahh masuuukkk,” Pantat Andini bergerak-gerak, bukan untuk mengelak, tapi untuk memudahkan lidah Arga mencecapi kalenjer vaginanya yang semakin deras keluar.
“Sayaaaaang,,, apa kau tidak melihaaat,, vagina istrimuuu,, Aaahhh,,,”
“Vaginaaa istrimuuu dinikmati lelaki laaaiiinn,,, Uuuuggghhh,,, Aaahhhssss,,,”
Seeerrr,,, seeerrr,,, seeerrr,,,tubuh Andini mengejang, bibir vaginanya menyemburkan cairan yang tepat memasuki mulut Arga yang tengah terjulur menjilat-jilat.
“Aaaahhhhh,,, Gaaaa,,,, gila kamuuu,,”
Arga perlahan menurunkan tubuh mungil Andini, menggendong menahan dengkulnya dengan kedua tangan, kini wajah mereka berhadap-hadapan. Mata bulat Andini dapat melihat dengan jelas wajah Arga yang basah oleh cairan vaginanya.
“Ternyata hanya sebatas itu kenakalanmu,, baru sebentar udah keluar,,hehehee,,”

“Asseeemm,, apa tadi kurang nakal,, Ok, kalo masih kurang, tapi jangan salahkan aku jika Adit menghajarmu,”
Tangan Andini terulur kedalam air, menyelusup kedalam celana pantai Arga, meski gemetar dengan pasti tangannya menarik keluar batang yang sedari tadi sudah dalam kondisi siap tempur.
“Aku yakin,,, kau pun tidak akan bertahan lama jika kayumu ini dipiting oleh milikku,,, Aaaahhhh,,,” meski tidak yakin vagina mungilnya dapat menerima besarnya batang Arga, tapi Andini tidak ingin terus diledek dan diremehkan.
Kedua insan yang tengah diamuk birahi itu kini begitu kompak bekerjasama. Arga perlahan menurunkan tubuh Andini, sementara jemari lentik gadis itu memastikan batang Arga berada pada jalur yang benar menuju vaginanya.
“Aaaggghhhh,,, pelaaann,,, coba lagiii,,, turunkaan lagiii,, Aaahhh,,,”
Batang Arga melengos kedepan dan kebelakang, tak mampu menembus vagina mungil dan sempit milik istri temannya.
“Oooowwwhhh,,, taaahhhaaann,,, biar aku yang bergeraaakk,, aaaaggghhhh,,, massssuuuk,,”
Andini yang merasakan kepala penis Arga telah berada di dalam vaginanya, perlahan semakin menurunkan tubuhnya, hingga lorong kemaluannya benar-benar terasa penuh.
“Maassss,, maaf maaasss,,, aku benar-benar telah memasukkan penis temanmu ke dalam tubuhku,” rintih hati Andini, yang masih tidak percaya tubuhnya dinikmati lelaki lain tepat di depan suaminya.
“Argaa,, Apaaakaaahh ini cukuuup untuk membuktikaaan kalo aku naakaaal,,”
“belum, ini belum cukup, cantik.”
“Yaaa,, aku rasa jugaa begituuu,,, ini belum cukuuup,, setidaknya hingga vagina mungilku dapat memaksa spermamu memenuhi rahimkuuu,, Aaagghhh,,,”
Di sebrang kolam, mata Adit melotot saat mendapati celana dalam istrinya telah mengambang di atas air. “Siaaalaan kau Argaaa,”
“Arrgaaaa,,, kauuu diaaam sajaaa,,,bukankah kau ingiiin aku terlihaaat nakaaall di depaaan suamikuuu,,, Aahh,,aahhh,,,aahh,,,”
Andini meminta Arga berhenti bergoyang, gadis itulah kini yang memegang kendali, pantatnya bergerak cepat, turun naik diatas air menciptakan riak yang semakin besar.
“Gaaa,,, sesaaaak bangeeeett,,, aku gaa kuaaaat,,, aku kalaaaahh lagiii Aaahhhh,,,”
“Bila kau memang ingin terlihat nakaaal, biarkan aku menyetubuhi mu di depan Adit,,, beraniii?,,, Eeeehhhsss,,”

hilda - toge jilbab (4)

Andini yang sudah benar-benar tak berdaya hanya dapat mengangguk. Meski tak tau apa yang akan dilakukan Arga, tapi baginya sama saja. Andini memejamkan matanya, pantat montoknya terus bergoyang menikmati batang yang begitu besar bagi vagina mungilnya. Sementara Arga perlahan berjalan mendekati Adit yang dasar kolamnya lebih dangkal. Nafas Adit tercekat, kini di hadapannya terpapar pemandangan yang begitu ironis, dengan mata terpejam tubuh mungil Andini bergerak liar. Lorong kemaluan mungil dan sempit milik istrinya yang selalu dibanggakannya, memaksakan melumat sebuah batang besar, lebih besar dari miliknya.
“Aaaaghhhh,,,, Argaaaa,,,,” Andini terpekik saat Arga mulai memberikan perlawanan, ini jauh lebih nikmat dari apapun, mata sendu yang menyiratkan kepasrahan menatap Arga dengan mesra, namun sesaat kemudia terkaget saat mendapati tubuhnya tepat berada di antara kedua kaki suaminya yang menjuntai.
“Maaasss,,, maaaf maasss,,, ini hanya sebuah permainan tantangaaaaannn,,,”
“Aaaagghhhh,,,,ooowwwwwhhh,,, ga kuaaaat,,, Andini ga kuat Masss,,” tangan Andini terulur meraih tangan suaminya seiring tubuhnya yang bergetar hebat mendapat gempuran batang Arga yang semakin brutal. Vaginanya semakin sempit menjepit, “Aaaaaaggghhhhhh,,, Massss,,, besaaaar maaassss,,, batang temaan mu sangaaaat besaaaaarrr,,, Aaaahhh,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, Diiittt,,, sempit bangeeet,, milik istrimu sempiiitt bangeeeeettt,,,”
“Akkuuuu harusss menyemprot di daaalaaam Dit,,, Semproooottt di daaalaaam vaginaa istrimuuu,,, Aaahhhhh,,,” Arga mencengkram pinggul Andini dengan kuat, menancapkan batangnya jauh ke dalam lorong yang semakin menyempit. bermili-mili sperma menghambur, berdesakan memenuhi kantong rahim Andini.
Andini seakan tidak percaya melihat kehebohan Arga, lelaki itu orgasme di dalam tubuhnya dengan begitu dahsyat. Tanpa sepengetahuan Adit, Andini berusaha semakin mengencangkan otot vaginanya, meyakinkan Arga dapat benar-benar menikmati liang kemaluannya.
“Maafin Andini Mas,,”
Adit berusaha tersenyum. Lalu jatuh pingsan… Gubrak..

##########################

Arga terbangun dari tidur dengan perasaan cemas, istrinya Aryanti tidak ada disamping. Seingatnya, setelah menggotong Adit ke kamarnya, Arga menyempatkan diri untuk sekali lagi menggarap Andini di samping suaminya yang tepar, entah tidur, entah memang benar pingsan. Dan ketika kembali ke kamar, Aryanti sudah tertidur dengan pulas. Rasa was-was segera menyergap dirinya, Arga sangat sadar dengan perjanjian yang mereka terapkan dalam liburan ini. Sebuah pertanyaan mencuat dipikirannya ‘Siapa yang tengah menindih tubuh Aryanti saat ini’. Dengan langkah perlahan menghindari timbulnya suara Arga mendekati pintu kamarnya, dan menyelinap keluar bagai seorang maling. Pendengarannya bekerja lebih ekstra mencari kemungkinan adanya suara ganjil, buah dari persetubuhan. Arga sendiri tidak mengerti kenapa dirinya harus begitu hati-hati, seakan memang mengharapkan dapat memergoki istrinya yang berbuat nakal, atau pasangan lain yang tengah berlomba memacu birahi. Tapi nihil, cottage begitu sepi. Sekilas Arga melirik celah di bagian bawah pintu kamar Dako dan Zuraida yang tampak masih menyala terang, mungkin saja penghuninya masih belum tidur, ada keinginan untuk mengetuk, tapi diurungkannya. Perlahan Arga menuruni tangga, lantai satu pun sepi. Begitu juga dengan beranda dan gazebo. Jam dinding menunjukkan pukul 1.25. Dengan cemas bercampur bingung Arga kembali masuk ke dalam cottage, namun langkahnya terhenti saat telinganya sayup-sayup mendengar gelak tawa dari arah ruang samping yang biasa digunakan untuk menggelar pertemuan, bangunan itu memang terpisah dan hanya dibuka jika ada pertemuan atau pesta. Bergegas kakinya melangkah, dan ternyata pintu nya memang terbuka, lampu di bagian tengah ruangan tampak masih menyala. Kembali dirinya mendengar gelak tawa. Tak salah lagi itu adalah tawa Pak Prabu dan Dako. Ketika dirinya ingin menghampiri teman-temannya yang asyik bercengkarama mengelilingi sebuah meja bundar, langkahnya tertahan saat melihat sosok Aryanti yang tengah dipangku oleh Munaf. Sementara di sebrang mejanya, Andini tengah dipangku oleh Pak Prabu. Dengan sangat pelan Arga menyelinap, melewati pintu yang terbuka, ada keinginan hatinya untuk melihat langsung, bagaimana sikap Istrinya jika dirinya tidak ada disamping. Tampaknya Pak Prabu, Dako dan Munaf tengah bermain kartu. Namun yang membuat Arga heran kenapa istrinya sampai bersedia duduk di pangkuan Munaf dan tertawa melihat ulah nakal tangan Munaf yang mencoba bergerilya di tubuh indahnya. Tangan kanan Munaf yang tampak aktif mengelus paha istrinya yang saat itu hanya mengenakan celana lagging sedengkul yang biasa digunakannya ketika berada di rumah, sementara kaos tanpa lengan yang digunakannya tampak kebesaran. Meladeni kenakalan tangan Munaf yang semakin tidak terkendali, Aryanti harus berulangkali memukul jemari yang berusaha menyelusup ke dalam kaosnya, bibir dari istri Arga itu terus tertawa sambil menahan pangkal lengan Munaf yang berusaha menerobos kaos longgar istrinya. Setelah merasa kurang beruntung dengan serangan bagian atas, kini Munaf mencoba meraba selangkangan Aryanti, meremas dengan rasa gregetan akan benda yang ada di antara dua paha montoknya.

Arga sedikit lega ketika melihat Aryanti segera menyilangkan kedua pahanya, mencoba menutup akses serangan, setidaknya istrinya tidak membiarkan lelaki lain menjamah tubuhnya dengan bebas. Tapi tiba-tiba Aryanti tertawa terpingkal, rupanya telunjuk Munaf masih berhasil menyelusup di antara pahanya, bahkan berulangkali menekan telunjuknya pada kemaluan yang tertutup rapat. Awalnya Aryanti terus berusaha menahan lengan Munaf, tapi entah kenapa jemari-jemari lentik itu tiba-tiba melepaskan genggamannya, dan mengambil botol chivas yang masih tersisa setengah. Dituangkannya air berwarna putih bening itu ke gelas yang tidak pernah lepas dari tangan kirinya. Tangan Munaf kini bisa sedikit lebih bebas menggasak selangkangan Aryanti yang tertutup lipatan paha dan usahanya mulai membuahkan hasil ketika Aryanti mulai melonggarkan lipatan pahanya tapi masih dengan posisi menyilang. Rupanya Aryanti merasa kasihan dengan usaha Munaf yang begitu gencar, tidak ada salahnya jika dirinya sedikit berbaik hati membiarkan teman sekantor suaminya itu untuk sedikit mengenali bagian intimnya. Namun tetap saja remasan itu tidak membuat puas Munaf karena masih terhalang oleh lagging yang sangat ketat.  Bibir Aryanti sesekali tertawa ketika merasakan Munaf berhasil mendorong celana dalamnya masuk kesela-sela belahan vagina. Dan itu jelas membuat perempuan itu menggelinjang. Sementara Pak Prabu tampaknya lebih beruntung, karena lengan kanannya dapat dengan bebas menyelusup kebalik kaos Andini, mengelus, meremas dan sesekali memelintir payudara mungil yang masih terbilang ranum itu. Andini dan Pak Prabu sebenarnya lebih terlihat seperti anak dengan bapak, karena pertautan umur mereka yang sangat jauh. Arga tersenyum ketika teringat Aditya, suami Andini yang mungkin saja saat ini masih pingsan. Sesekali tangan kiri Andini mengarahkan gelas yang dipegangnya ke bibir Pak Prabu, diselingi kecupan bibir Andini yang membersihkan martini yang menetes di samping bibir Pak Prabu. Namun Andini tidak membiarkan bibir Pak Prabu berlabuh ke bibirnya, meski sesekali dirinya tidak dapat mengelak ketika Pak Prabu menyosor dan memagut bibirnya dengan cepat. Permainan kartu itu terasa sangat lambat, karena masing-masing pemain sibuk dengan pialanya. Bahkan sesekali pak Prabu memaksa Andini untuk membuka kaosnya, Aksi itu hanya membuahkan jeritan protes diiringi seringai tawa dari bibir mungilnya, dengan tangan kanannya Andini berusaha menahan kaosnya. Rupanya Andini hanya mengizinkan tangan Pak Prabu menggerayangi payudaranya, tetapi tidak untuk diekspos, karena dirinya masih terlalu malu untuk itu. Aksi pak Prabu itu membuat Aryanti tergelak tertawa dan melupakan aksi tangan Munaf yang terus berusaha menyusup di belahan selangkangannya. Ketika merasakan tangan Munaf yang dingin mencoba menyusup ke balik kaos, dan merabai pusarnya, dengan cepat Aryanti menarik tangan itu sambil tertawa.
“Hahahahaa,,, kalo mau netek, sama Andini aja tuh,,” kelakar Aryanti disambut Andini dengan memeletkan lidahnya lalu ikut tertawa.Tapi anehnya, Aryanti justru kembali meletakkan tangan Munaf yang nakal ke selangkangannya yang masih saling terjepit menyilang. Seakan memberi tanda bahwa izin bagi jemari Munaf hanyalah pada bagian luarnya.
“YEEEAAHHH,,,,,” tiba-tiba Dako berteriak keras dan menghempaskan kartu yang dipegangnya kemeja. Gelasnya yang terisi penuh ditelannya dalam satu tegukan.
Penderitaan Dako memang cukup panjang, hanya dapat membagikan kartu sambil menyaksikan pak Prabu dan Munaf mencumbu pialanya. Kini dirinya memiliki wewenang penuh untuk memilih Piala yang akan duduk di pangkuannya. Sementara kartu Munaf yang lebih unggul dari milik Pak Prabu harus menerima wanita yang tidak dipilih oleh Dako. Sesaat Dako menatap tubuh indah Andini yang kaosnya sedikit terangkat di depan payudara, memperlihatkan perut ramping yang mulus, dan kemudian beralih kepada Aryanti yang selangkangannya masih menjepit jemari Munaf.
“Aryantiii,,,” teriak Dako sambil menepuk paha kanannya sebagai isyarat bahwa Aryanti lah yang harus duduk di pangkuannya.
Sekilas Arga melihat Munaf membisikkan sesuatu ke telinga Aryanti yang masih dipangkunya. Kemudian Aryanti berdiri menghadap Munaf yang menunggu aksi apa yang akan dilakukan Aryanti kepada dirinya.
“Hahahaha,, Jadi kau ingin sedikit hadiah sebelum aku meninggalkan pangkuan mu?,,lalu apa yang kau mau?” ucap Aryanti yang terlihat pongah berkecak pinggang, namun bibir mungilnya tersenyum genit.
“Terserah kau,,, tapi ku harap itu sesuatu yang luar biasa,,,,”
Sesaat tubuh semapai Aryanti mematung dihadapan Munaf, telunjuknya memegang dagu seolang sedang berfikir.
“Okkk,,, ini pasti cukup untuk mu,” seru Aryanti, matanya mengerling nakal kearah Dako dan pak Prabu, seolah ingin mengatakan bahwa hadiah yang akan diberikannya memang hanya untuk Munaf.
“Owwwhhhh shit,,, apa yang kau lakukan Sayang,” jerit hati Arga ketika tiba-tiba Aryanti memasukkan kepala munaf ke dalam baju kaosnya sambil tertawa terpingkal disambut tepuk tangan yang lainnya.
Dengan cepat kepala Munaf bergerak liar, menyerang payudara yang selama ini hanya pernah dinikmati oleh Arga. Aryanti tampak berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya ketika kepala Munaf melakukan berbagai gerakan kekiri dan kekanan, sesekali bibir mungilnya mendesis menahan erangan, entah apa yang dilakukan Munaf di dalam sana. Kedua tangan manager SDM itu memeluk erat belahan pantat Aryanti untuk menahan badan Aryanti yang menggelinjang geli akibat aksinya. Arga benar-benar penasaran apa yang dilakukan pria itu di balik kaos istrinya, apakah bibirnya berusaha menghisap putting istrinya yang masih terbalut bra, tentu bukan pekerjaan yang mudah karena istrinya biasa menggunakan bra yang kencang untuk menopang payudaranya yang cukup besar.
“Yup berhasiiiiil,” teriak Munaf saat kepalanya menyembul keluar dari kaos istri Arga, sambil mengepal kedua tangannya keatas tanda kemenangan, disambut sorak mereka yang ada disitu. Aryanti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sekarang bra mu sudah terlepas lalu untuk apalagi kain merah itu terselip dibalik kaosmu,” seru Munaf.
Arga terkejut, artinya kini payudara istrinya tidak lagi terlindungi oleh bra. Artinya tadi Munaf bergulat dengan kancing bra milik Aryanti yang berkait di depan. Namun Arga masih merasa beruntung karena Aryanti menjitak kepala Munaf, meski sambil tertawa tetap saja itu adalah tanda penolakannya.
“Lepas,Lepas,lepas,,,” yel-yel yang diteriakkan oleh Dako serentak diikuti oleh Pak Prabu dan Munaf, bahkan oleh Andini.

Arga sangat berharap Aryanti tetap pada keputusan awalnya. Meski dirinya tidak yakin, karena tantangan yang dilontarkan Munaf mendapat dukungan dari semua pemain.
“Oke, oke,,, kalian memang selalu berhasil memaksaku,,,”
“DUERRRR,,,” lagi-lagi tubuh Arga bagai terhantam palu godam yang sangat besar.
Apakah itu artinya istrinya akan melepaskan kaos untuk melepas bra. Dibalik persembunyiannya Arga sudah merasa tidak sanggup untuk menyaksikan usaha teman-temannya menelanjangi pakaian istrinya. Perjanjian yang mengikat mereka membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Tapi rupanya Aryanti masih memegang kepercayaan sebagai seorang istri Arga, tanpa melepas kaosnya tangan Aryanti menyusup masuk untuk melepas branya. Melalui pangkal lengannya Aryanti melepas satu persatu tali bra yang tersampir dipundak.
“Ini kan yang kalian mau?” teriak Aryanti sambil mengangkat bra merah dengan renda warna pink. Jelas saja aksi itu membuat kecewa Dako, Pak Prabu, dan tentunya Munaf sendiri. Karena mereka ingin melepas serta kaosnya untuk membuang bra tersebut.
Tapi, kini mereka dapat lebih jelas melihat puting payudara dari istri Arga yang tercetak pada kaos tipis itu. Bahkan dari sela-sela kaos yang kebesaran itu terlihat dengan jelas bagaimana kedua bukit putih itu tampak bergoyang mengikuti hentakan tubuh Aryanti yang tertawa puas karena dapat memenuhi keinginan teman-teman suaminya.
“Andini, untuk babak berikutnya ini apakah kau akan tetap seperti itu, tidak adakah sedikit bonus untuk kami, seperti yang dilakukan Aryanti?” tantang Dako.
Arga kembali bergairah untuk kembali menyaksikan pertunjukan, tubuh ranum Andini memang menggoda setiap lelaki. Jika Andini turut melepas branya, dengan kaos warna kuning yang ngepres dibadannya itu jelas akan mencetak keseluruhan bentuk payudaranya. Meski telah menikmati bagimana ranumnya payudara mungil Andini, tetap saja rasa penasaran bercokol diotak mesum, membayangkan aerola merah muda yang mengelilingi puting mungil milik remaja itu terpapar bebas di depan publik. Apa yang dilakukan Andini rupanya melebihi dari apa yang diharapkan oleh Dako, Pak Prabu dan Munaf. Dengan perlahan, Andini memasukkan tangannya ke bagian rok samping, gerakan slow motion yang sengaja dilakukan Andini membuat jantung para pria berdegub kencang, apakah Andini akan lebih berani mengekspos miliknya.
“Owhhh,,, shit,,,” Arga tidak dapat menutupi kekagumannya atas kenakalan gadis itu, jari-jari lentik Andini menarik turun celana dalam berwarna putih yang dibagian tengahnya sudah tampak basah.
Andini mengangkat CD nya tepat di wajah Pak Prabu yang dengan sigap membaui aroma yang tersaji, lalu menarik kain itu dengan giginya, membuat semua yang ada di ruangan tertawa. Gadis itu merapikan limpitan roknya yang lebar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengintip ke selangkangan yang tak lagi memiliki pelindungan. Lalu beranjak hendak meninggalkan pangkuan Pak Prabu.
“Heeyyy tunggu,, itu adalah hadiah kecil yang kau berikan untuk semua, apakah tidak ada yang lebih spesial untukku,” seru Pak Prabu, menahan lengan dari istri keponakannya itu.
Andini tertawa sendiri memikirkan hadiah apalagi yang akan diberikan khusus untuk Pak Prabu. Lalu sambil menutup wajah dengan tangan kanan, tangan kirinya mengangkat bagian depan rok.

“Wwwhhhoooo,,, mantaaaap,, bener-bener hadiah yang spesial, hahahaa,,” Teriak Dako bertepuk tangan, sambil berusaha ikut mengintip,namun terhalang tepian rok.
Andini yang nekat mengambil keputusan gila itu hanya dapat menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil terus tertawa, semua hanya gara-gara gairah mudanya yang tertantang oleh aksi berani yang dilakukan Aryanti. Sebuah persaingan terselubung antara betina dewasa dan remaja. Ketika Pak Prabu berusaha menundukkan kepala untuk mengecup vagina mungil yang dapat dinikmati oleh matanya, tiba Dako berteriak.
“Ok,,, saatnya pertukaran,” teriak Dako yang sudah tidak sabar mendapatkan pialanya.
“Berikanlah aku salam perpisahan, sayaang,” rengek Pak Prabu yang merasa berat melepas tubuh Andini.
Melihat Andini hanya tertawa, Pak Prabu segera melabuhkan lidahnya kebibir vagina yang masih tertutup rapat namun dihiasi precume yang merembes keluar, hingga membuat Andini menjerit, tak menduga.
“Owghh,, cukup pak, sudaaaahh,,aaahh, Sudaaahhh,,” Andini berusaha mendorong kepala Pak Prabu menjauh, posisi Pak Prabu yang duduk dikursi membuat lidahnya cukup sulit untuk menjelajah celahnya. Namun lelaki paruh baya itu terus saja bereksplorasi.
Dengan badan masih menunduk, Pak Prabu berusaha menatap Andini mencoba meminta sedikit kemudahan bagi lidahnya yang haus, dengan wajah super memelas. Proposal yang diajukan Pak Prabu melalui lirikan mata itu tampaknya berhasil, karena Andini berusaha mengangkat kakinya ke sisi kursi Pak Prabu.
“Aaahh,,, cukuuupp,, jangan terlalu daaaalaaaamm,,,” jerit Andini saat lidah Pak Prabu dengan cepat menyelusup kecelah vagina yang semakin basah. Namun Pak Prabu seolah tak peduli.
Sesekali Andini menjerit kecil ketika bibir vaginanya yang mulus tertusuk oleh kumis Pak Prabu, tapi tusukan itu bagaikan sengatan birahi bagi Andini untuk semakin menyodorkan vaginanya ke lidah milik paman dari suaminya itu. Setelah beberapa saat wajah Pak Prabu terangkat sambil tersenyum lebar, bibirnya dan kumisnya berlepotan selai putih, puas mencecapi vagina ranum, membiarkan Andini yang terombang-ambing birahi. Ingin sekali Andini menahan kepala Pak Prabu untuk melanjutkan cumbuan hingga menuju puncak, namun rasa malu sebagai wanita baik-baik berhasil menahan. Munaf yang saat itu menonton aksi Pak Prabu sambil memeluk pinggul Aryanti dibuat iri dengan salam perpisahan yang diberikan Andini kepada atasannya.
“Andini sudah memberikan salam perpisahannya, apakah aku juga akan mendapatkannya darimu cantik,” rayu Munaf sambil mengadopsi wajah melas Pak Prabu yang telah sukses mencecapi payudara Andini.

“Bukankah kalo kau menang nanti aku akan kembali berada di pangkuanmu,” jawab Aryanti yang kembali berbalik menghadap Munaf, sementara Munaf semakin mengokohkan pelukannya di pinggul Aryanti.
“Please,,,Ayolah Yant,,,”
Belum sempat Munaf menyelesaikan kata-katanya Aryanti sudah kembali memasukkan kepala Munaf kedalam kaosnya. Bagai orang kesurupan, Munaf langsung menyedot dengan keras puting Aryanti yang tidak lagi terhalang oleh bra, seakan takut payudara itu akan menghilang.
“Aaaaahhh,,, ooowwhhhhssssss,,,”
Aryanti merintih, dirinya memang menginginkan seseorang melakukan sesuatu kepada putingnya yang mulai mengeras. Beberapa kali Aryanti mengelinjang, terkadang kepalanya terangkat ke atas ketika Munaf mengigit putingnya. Desahannya sambung menyambung, setelah salah satu tangan Munaf ikut masuk ke dalam kaosnya.
“Aassshhh,,, Muunnaaaf,,,” teriak Aryanti sambil mengarahkan kepala Munaf ke daerah yang ingin dijamah oleh lidah pria itu,”
“Yaaa,, iyaaaa,,, pelaaan,,,”
“Owwwhhhss,,,”
Aryanti yang asyik menikmati permainan bibir Munaf pada daerah payudara yang diinginkannya terpekik ketika kepala yang ada dalam kaosnya kembali menggigit sedikit lebih keras.
“Ok,,,cukup bro,,, Kita harus melanjutkan permainan,” seru Dako yang rasa iri yang memuncak, berkali-kali Dako meremas penisnya yang terasa sakit karena tidak dapat bebas menghirup udara.
“Ayolah kawaaaannn,,,” seru nya kembali ketika melihat tidak ada tanda-tanda kedua rekannya ingin mengakhiri percumbuan.
Setelah cukup lama, akhirnya Munaf menampakkan batang hidungnya, rambutnya tampak kusai berantakan, sementara Aryanti berusaha mengatur nafasnya. Dengan langkah terhuyung Aryanti melangkah ke pangkuan Dako. Andini yang juga harus beralih kepangkuan Munaf memilih berjalan di depan tempat Dako duduk dengan kaki yang masih gemetaran menahan birahi. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dako untuk menyelusupkan tangan nakalnya ke balik rok Andini, lalu mencoleh pintu vagina yang begitu basah.
“Aaawww,,” jerit Andini berusaha menarik tangan Dako keluar, yang dijawab dengan pekikan tawa. Aryanti pun tidak tinggal diam dirinya turut meremas dengan gemes pantat Andini. Suara tawa bersahutan menggema di ruangan yang memang terpisah dengan kamar-kamar.
Dako sempat tergiur dengan kemolekan tubuh Andini yang telah terbuka disana-sini, tapi melihat kecantikan Aryanti dan misteri dibalik pakaiannya kembali meneguhkan pilihannya. Kapan lagi dirinya dapat menikmati tubuh Aryanti dan payudaranya yang selama ini membuatnya penasaran.Dako membuka pahanya lebar-lebar mempersilahkan Aryanti untuk duduk di salah satu pahanya. Berbeda dengan posisi ketika dirinya duduk di pangkuan Munaf yang membelakangi, kini dengan duduk di paha kanan Dako Aryanti dapat lebih leluasa apakah harus menghadap Dako ataukah ke arah teman-temannya yang lain. Tapi sial bagi Arga, posisi duduk Dako justru membelakangi tempat persembunyianya. Ada rasa cemas dihati Arga dengan apa yang akan terjadi pada istrinya, karena matanya tidak dapat mengawasi aktifitas tangan Dako dengan jelas. Baru saja Aryanti menghenyakkan pantatnya yang padat montok pada paha yang disediakan, tangan Dako langsung bergerilya menyusup ke balik kaosnya. Lagi-lagi Aryanti hanya tertawa, melalui kerah lehernya yang lebar mata indah Aryanti mengintip payudaranya yang dimainkan oleh Dako, sesekali tawanya menggelegar mendominasi suara diruangan saat Dako membisikkan sesuatu ke telinganya. Sementara Andini belum sempat duduk di paha Munaf, lagi-lagi harus merelakan payudaranya diremas oleh Munaf yang memaksa Andini mengakat kaos nya lebih tinggi, lelaki itu tidak peduli dengan penolakan Andini, Yang ada dibenaknya saat ini adalah menikmati sepuas-puasnya payudara yang kini menjadi piala miliknya.

hilda - toge jilbab (3)
“Sebelum kita memulai babak ini sepertinya ada peraturan yang harus ditambahkan, karena dari tadi saya melihat tangan kanan piala-piala kita ini lebih banyak menganggur, bagaimana jika kalian memainkan ‘perseneling’ kami, agar kami dapat menanjak dengan cepat,”
“Setujuuuu,” teriak Munaf sementara Pak Prabu hanya mengumpat, kenapa peraturan itu tidak ditetapkan dari tadi, saat dirinya masih memangku Andini. Tapi Aryanti dan Andini yang terlihat mulai mabuk justru tertawa. Keduanya sesaat saling melemparkan senyum penuh persaingan.
Meskipun istrinya dalam keadaan mabuk, Arga berharap rasa malu yang tersisa dalam diri Aryanti dapat mengajukan penolakan.
“Ok, Siapa takut,” teriak Aryanti sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Yang disambut tawa Andini yang telah duduk manis dipangkuan Munaf.
Persetujuan Aryanti bagaikan kilatan petir yang menyambar kepala Arga, bagaimana mungkin istrinya yang selama ini selalu menjaga sopan santun, kini secara terbuka akan menggenggam penis lelaki lain di depan banyak orang. Tubuh Arga merinding, sampai mana kegilaan ini akan berakhir, berhasilkah Dako menjejalkan penisnya kedalam tubuh indah istrinya. “Aaakhhh,,,” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang pikiran akan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
“Kyaaaaa,,,,”
Arga terjaga saat mendengar teriakan Aryanti, wajah cantik istrinya menunjukkan raut keterpesonaan akan sesuatu yang kini ada dalam genggamannya.
“Bagaimana mungkin milikmu bisa seperti ini,” pertanyaan Aryanti yang penuh rasa kagum mengalir ringan dari bibir mungilnya.
Aryanti yang akhir-akhir ini mulai mengenal beberapa bentuk penis selain milik suaminya, dibuat kaget oleh pusaka kebanggan Dako, dengan bentuk yang melengkung ke atas. Kepala batangnya memang standar tapi semakin membesar menuju ke pangkal.
“Lalu,, kau ingin aku melakukan apa dengan milikmu ini,” birahi Aryanti bergemuruh, dirinya tidak dapat menghindari pikiran mesum, membayangkan jika batang bengkok itu menyerang kemaluannya dinding vagina bagian mana sajakah yang harus menerima hantaman-hantaman keras milik Dako.
“Arggghhh,,,” pekik Aryanti pelan ketika pikiran-pikiran mesum semakin meracuni otaknya.
“Hey,hey,, Aryanti, kurasa kita dapat melakukannya dengan pelan-pelan,” bisik Dako ketika penisnya diremas dengan keras oleh jemari Aryanti.
“Letakkanlah gelasmu, sehingga kau dapat membantuku untuk memegang kartu-kartu yang merepotkan ini,” pinta Dako setelah menerima kartu yang dibagikan Pak Prabu.

“Owh,,, tentu sayang,” balasnya sambil mengambil kartu-kartu diatas meja yang baru dibagikan Pak Prabu.
“Hei, lihatlah kartu-kartu mu, aku tidak yakin untuk babak selanjutnya aku dapat terus memegang batangmu ini,” ucap Aryanti dengan kening berkerut, ada rasa enggan dihatinya bila harus melepas penis teman suaminya itu.
“Yaaa,,, itu artinya kau harus membantuku untuk memecah konsentrasi pak Prabu, agar aku tetap bisa meremas dua payudaramu ini,” jawab Dako yang kini sibuk mengenali dua gunung kembar yang ada di telapak tangannya.
Berbeda dengan Munaf, yang mendapatkan kartu cukup baik, sepertinya lelaki tidak perlu takut akan kemungkinan kemenangan Pak Prabu yang tertawa puas mengamati kartunya, karena kalaupun menang atau menjadi yang kedua, Munaf pasti akan tetap mendapatkan Andini yang terlihat kewalahan meladeni isapan lidah Munaf pada payudaranya, sedangkan tangan kanannya terus mengocoki penis Munaf yang sudah sangat keras. Artinya dia hanya perlu mengalahkan Pak Prabu.
Aryanti kembali tertawa, “Boleh juga usulmu, aku akan menolongmu, tapi aku tidak yakin ini bisa berhasil,”
Dengan gerakan pelan Aryanti menggeliat bagai cacing, meregangkan otot tubuhnya, dua tangannya yang terangkat ke atas memberikan pemandangan yang eksotis bagi Pak Prabu. Melalui celah lebar di ketiak kaos, lelaki yang telah memasuki usia 50an itu dapat melihat dengan jelas bagaimana ganasnya jemari Dako meremas dan memilin putting Aryanti.
“aaahhhh,,, jangan disitu Dakooo,,,” Aryanti menggelinjang manja ketika Dako menggelitik kupingnya dengan lidah. Tapi Dako justru memeluknya semakin erat.
“Siaaaal,,,, kenapa bagian itu harus terjamah olehnya,” pekik Arga dengan kesal, telinga adalah bagian paling sensitive bagi Aryanti, Arga berani bertaruh jika selangkangan istrinya pasti akan semakin membanjir.
“Bila Munaf telah meminta salam perpisahan, apakah kau tidak ingin memberikan salam sambutan kepada tubuhku ini, Dako?”
“Kurasa aku bisa membantumu memainkan kartu-kartu ini selama kau beraksi didalam kaosku?,” tawar Aryanti yang mulai gerah dengan suasana. Tidak perlu pertimbangan bagi Dako untuk segera menenggelamkan kepalanya kedalam kaos Aryanti.
“Ooowwgghhh,,,hahahhahahassss,, oopppsss,, pelaaann…uugghhhsss,”
Aryanti tidak dapat menahan serangan Dako, ketika kulit payudaranya yang kedinginan merasakan panasnya lidah Dako. Membelit, menghisap, menggigit. Penis Dako yang ada dalam genggamanyan semakin mengeras, kepala penis unik yang mencuat keatas itu mulai mengeluarkan lendirnya. Namun sayangnya penis itu sekali-sekali harus dilepasnya untuk mengambil kartu tambahan yang terus dibagikan Pak prabu sekaligus membuang kartu yang tidak dibutuhkannya. Arga seakan tidak percaya, bila wanita yang tengah mengerang dan terus bergerak erotis menggoda Pak Prabu itu adalah istrinya, seorang wanita yang selama ini dikenalnya sangat setia dan selalu menjaga sopan santun
“Aaahhh,,, apa yang kau lakukan,” jerit Aryanti saat merasakan jemari Dako berhasil menerobos leggins nya.
“Aaahhh,,, cepat tarik tangan mu daaari sana Daaakkkkooo,” tangan kanan Aryanti terpaksa melepas penis Dako untuk menahan tangan lelaki itu.
Tapi telunjuk Dako terlanjur menyentuh pintu vagina yang masih terlindung kain tipis, membuat kaki Aryanti terhentak menahan kilatan birahi, wanita itu bingung apa yang harus dilakukan.

“Aku tidak pernah menduga jika milikmu sesempurna ini, beruntung sekali Arga bisa melesakkan penisnya kapanpun dia mau ke vagina gemuk mu,,” bisik Dako.
Mendengar kata-kata Dako, Aryanti bukannya menarik tangan Dako keluar tetapi justru menekan semakin ke dalam. Bahkan ada rasa sesal di hati Aryanti yang telah dipenuhi oleh nafsu, kenapa tadi dirinya tidak mengenakan rok pendek seperti Andini, dengan celana leggins yang dikenakannya saat ini jemari Dako begitu sulit untuk beraksi di dalam sana.
“Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan milikku sempurna, sedangkan kau tidak pernah melihatnya,” sela Aryanti sambil berusaha melebarkan pahanya, seakan memberikan izin jemari Dako untuk terus beraksi.
“Aku bisa merasakan, celana dalam mu ini menyembunyikan sebuah lorong yang indah dan mempesona, yaaahh,,, setidaknya sempurna untuk batang yang tengah kau remas ini,” ucap Dako sambil sesekali merasakan rambut yang tumbuh lebat di sekitarnya.
“Tapi jika kau mengizinkan aku untuk melihat langsung bagaimana bentuk yang sebenarnya, pastinya aku tidak akan menolak,”
“Hahaha,,, dasar gombaaal, memang lelaki kalau sudah ada maunya bisa mengatakan apa saja,” gelak tawa Aryanti mengagetkan Andini yang tengah menikmati jemari Munaf yang berhasil mengobok-obok vaginanya.
Rok longgar selutut yang dikenakan Andini rupanya cukup membantu menyembunyikan jemari Munaf, beraksi dengan bebas divagina mungil Andini yang tidak lagi memiliki pelindung. Membuat gadis itu merintih tertahan, menikmati jari tengah Munaf yang bergerak keluar masuk, menjelajah dan mengorek precume nya keluar.
“Lalu, kenapa kau tidak meminta padaku agar jari-jarimu bisa lebih mengenali milik sahabat mu ini, kurasa tidak ada bedanya ketika kau meremasnya di luar ataupun di dalam kain segitiga ini,” bisik Aryanti sambil menarik tangan Dako keluar, tapi kemudian justru menarik karet leggins dan celana dalamnya ke depan.
“Hahahahaaa,, ternyata benar apa yang sering dikatakan Arga, kau memang baik hati dan dermawan,” tawa Dako, yang sontak membuat Arga bingung, apa yang tengah terjadi di antara mereka.
“Huusss,, diamlah, kalau kau tak mau, aku akan menutupnya,” Aryanti merasa tidak nyaman saat nama suaminya disebut.
Dengan cepat Dako menahan tangan Aryanti, mencoba mengintip, namun begitu gelap, hanya rambut-rambut yang begitu tebal yang tampak. Dengan sangat bernafsu Dako segera melesakkan tangannya.
“Owwghhh,,,pelaaaan Dako,,,” jerit Aryanti dengan keras ketika dua jemari Dako langsung menciduk ke bagian dalam vaginanya yang memang sudah sangat basah.
“Hei,,, adakah dari kalian yang ingin menikmati ice cream ini,” teriak Dako sambil mengacungkan tangannya yang sudah penuh oleh cairan milik Aryanti.
Tentu saja Aryanti sangat malu, lalu memukul-mukulkan bantal kecil ke kepala Dako. “Kalau kau terus membuatku malu, maka aku akan menutup milikku ini selamanya,” ancam Aryanti.

Dako hanya tertawa, ancaman Aryanti dianggapnya pepesan kosong, karena Dako sangat yakin bila istri Arga itu telah tunduk sepenuhnya pada dirinya. Dengan pasti Dako kembali memasukkan tangannya.
“Aaahhh,,,” Andini yang tidak dapat menahan rangsangan dari jemari Munaf kembali merintih. Kocokannya pada penis Munaf bertambah cepat, membuat suasana semakin panas, berkali-kali Pak Prabu melirik Andini dan Aryanti dengan pandangan iri.
“Yeaaahhhh,,,,” sepertinya salah satu diantara kalian harus kembali ke pangkuanku, teriak Pak Prabu ketika berhasil mendapatkan kartu yang lebih bagus.
Namun permainan masih beberapa putaran lagi, Pak Prabu cukup kewalahan menahan birahinya yang tidak tersalurkan.  Teriakan Pak Prabu menyadarkan Dako dan Munaf yang asik mencumbu tubuh panas di pangkuan mereka. The game must go on.
“Hey,,, rasanya tidak adil bila kita tidak berbagi dengan Pak Prabu, bukan begitu Aryanti?”
Aryanti menjadi bingung, apalagi yang akan dilakukan Dako pada dirinya.
Tiba-tiba Dako menyuruh Aryanti berdiri merubah posisi dengan mengangkangi kedua pahanya, membuat penisnya menyundul tepat di bawah vaginanya.
“Krraaaaakkk,” Aryanti terkaget, dengan kasar tangan Dako merobek leggins nya tepat di tengah selangkangannya, dan dengan cepat Aryanti menutupi celana dalam berwarna putih yang telah basah dari tatapan mata Pak Prabu.
“Dakoooooo,,,,,” Aryanti berteriak keras, untuk kesekian kali pria itu membuatnya malu. Namun disambut decak kagum dan gelak tawa Pak Prabu dan Munaf.
“Ayolah,,, bukankah kau ingin membantuku untuk mengalahkan Prabu,” bisik Dako sambil menarik kedua tangan Aryanti yang menutupi selangkangannya.
Sambil membuang muka kesamping Aryanti menarik tangannya, dan terpampanglah celana dalam yang sudah sangat basah, sehingga mencetak sebuah garis yang melintang tepat di selangkangannya. Beberapa rambut kemaluannya mengintip keluar.  Dada Aryanti semakin bergemuruh, saat menyaksikan nafas Munaf dan Pak Prabu mendengus penuh nafsu memandang selangkangannya yang terbuka bebas.
“Tatapan mereka seperti ingin melumat vaginakuuu,,, Uuuhhhh,,, permainan ini benar-benar membuatku gila” dengus hati Aryanti yang terbakar birahi.
Ingin sekali Aryanti membuka kain terakhir yang tersisa untuk memberikan hiburan kepada teman-teman suaminya itu, namun rasa malu masih merajai hatinya. Dengan sedikit gerakan Dako berhasil membuat penisnya menyembul, tepat didepan kain penutup vagina Aryanti yang telah basah, seandainya tidak ada kain tipis berwarna putih itu, pastinya kedua kulit mereka akan bertemu. Dengan sedikit malu Aryanti kembali meremas penis unik yang menggeliat manja didepan vaginanya.

“Ooohhh yeeaaahhh,,,” Sako memegang pinggul Aryanti dengan kuat,
Aryanti tidak hanya mengocok penisnya, namun berulangkali menggesekkan batang itu kevaginanya yang terbalut kain tipis. Kartu yang dipegangnya tergeletak di meja ketika tangannya terayun ke belakang untuk menjambak rambut Dako, lenguhan semakin sering terdengar saat tangannya terlalu keras menekan batang Dako ke vaginanya. Aryanti tidak berani bertaruh apakah dirinya mampu bertahan dengan godaan ini, apalagi setelah Pak Prabu juga mengeluarkan penisnya yang besar diselimuti kulit yang kecoklatan, dipenuhi dengan rambut-rambut yang mengelilingi tongkat kebanggaannya. Persis seperti miliknya yang sangat rimbun. Aryanti bergidik, menatap batang kekar yang cukup besar, mungkin seukuran milik Arga hanya saja milik Pak Prabu belum disunat. Tapi saat ini dirinya hanya dapat menyaksikan bagaimana tangan Pak Prabu yang penuh bulu mengocok penisnya dengan cepat.
“Aku ingin batang itu lagi,,,” lirih Aryanti.
“Apaa?,,, kau ingin batang Pak Prabu lagi? Apa sebelumnya kau sudah pernah mencoba?,,” tanya Dako yang bingung.
“Ohh tidaak,, kau salah dengar,,”
Jawab Aryanti cepat, tidak berani berangan lebih jauh, saat ini saja dirinya sudah sangat malu, apalagi bila harus meminta Pak Prabu menghujamkan penis hitam itu ke kemaluannya.
“Aaahhhhh,,,,eehhhhmmm,,” terdengar teriakan tertahan dari mulut Andini, mengagetkan khayalan dan birahi Aryanti.
Tanpa sepengetahuan Aryanti, Dako dan Pak Prabu, Rupanya Andini yang sudah tidak mampu menahan birahi akhirnya menyerah, dan mengijinkan Munaf untuk menghujamkan penis ke liang kemaluannya. Lagi-lagi rok mini itu berhasil menyembunyikan bagaimana beringasnya penis Munaf menjelajah masuk ke kemaluan mungil gadis muda itu. Meski Dako, Munaf dan Aryanti sangat tau dengan apa yang tengah dialami Andini, namun tetap saja wanita muda itu terlihat malu-malu untuk menunjukkan ekspresi kenikmatan yang tengah melanda tubuhnya. Tidak ada gerakan dari pantat itu, namun membiarkan batang penis milik teman suaminya itu menghujam keras di belahan vagina.
“Ooowwwhhh,, itu pasti sangat nikmat,” gumam Arga saat teringat bagaimana batangnya berhasil menyelinap masuk ke dalam kemalaun Andini, dan berhasil memenuhi rahimnya dengan sperma.
Munaf menyelipkan empat lembar kartu yang dipegangnya pada rok Andini, membuat gadis itu terlihat semakin nakal. Kini tangan yang telah bebas itu mulai memegang pinggul Andini dan mengayun pelan, mengomando Andini untuk bergerak ke depan dan ke belakang dengan malu-malu. Semua pandangan tertuju kearah Rok Andini yang mulai berkibar mengiringi goyangan yang kini semakin cepat. Dengan matanya Pak Prabu mencoba memberi isyarat kepada Munaf untuk menyingsingkan kain yang sangat mengganggu pandangannya. Andini yang rupanya sempat membaca isyarat itu segera memegang roknya dengan kuat. Dirinya terlalu malu bila vaginanya yang merah merona tengah melumat penis yang bukan milik suaminyam, menjadi tontonan.
“Apakah kau tidak ingin sedikit berbagi dengan Pak Prabu, lihatlah wajahnya yang memelas untuk sebuah pemandangan indah dari tubuhmu,” rayu Munaf.
Namun Andini tetap kekeuh memegang erat kain roknya dengan tubuh yang terus bergoyang ke depan dan belakang yang diarahkan oleh lengan Munaf pada pinggulnya.

Posisi ini memang cukup sulit jika si wanita tidak berperan aktif menggoyang tubuhnya, tak perlu waktu lama tubuh Munaf telah bermandi keringat. Tapi dirinya tidak memiliki pilihan lain selain posisi ini. Tapi tetap saja, perubahan wajah Andini yang terkedang mendesah, meringis, bahkan sesekali menjerit memberi tanda kuatnya serangan Munaf di sela-sela pantatnya.
“Bila aku menjadi Andini tentunya akupun akan malu jika tubuhku yang tengah disetubuhi oleh orang lain menjadi tontonan,” ucap Aryanti sambil terus meremas batang Dako digenggamannya.
“Lalu kenapa tidak kau ambil selimutmu itu, dan biarkan aku bermain di kemaluanmu tanpa diketahui orang lain,” balas Dako cepat ketika melihat peluang.
“Hahahahaa,,,Tapi bukan itu yang kumaksud, tunggulah Munaf menyelesaikan aksinya, mungkin Andini akan sedikit berbelas kasihan pada dirimu,” jawab Aryanti sambil tertawa.
“Mba Aryantiii,, ga booleeeh cuurang yaaa,,” seru Andini yang terengah-engah meladeni serangan penis Munaf, tubuh indah itu tidak lagi bergerak maju mundur, tapi sudah mulai menghentak, dan terus semakin keras hingga membuat vaginanya yang belumur oli putih, mencengkram erat penis Munaf.
Rok mini itu tak mampu lagi melindungi tubuh pemiliknya setelah kedua tangannya berpindah ke pegangan kursi.
“Mbaaa Aryantiii,,, tolongin akuu mbaa,,” desahan Andini semakin menjadi, entah apa maksud teriakan permintaan tolongnya, karena sangat jelas jika wanita muda itu tengah menikmati permainan Munaf.
Permainan kartu itu sepertinya telah berhenti total, karena kini Pak Prabu pun sibuk memainkan penisnya sendiri. Tanpa diduga Aryanti berdiri dari pangkuan Dako, dengan cepat mengambil selimut tebal yang sangat lebar sehingga dapat menyembunyikan tubuh semampainya.
“Siaaaalll,,, itukan selimut kesayanganku, ngapain Aryanti membawa kesitu,” umpat Arga saat melihat selimut dengan gambar Hello kitty. (Weeww,,, )
Dengan cepat Aryanti membalutkan kain tersebut ke tubuhnya dan kembali ke pangkuan Dako, dengan sangat mesra Dako mempersilahkan Aryanti untuk duduk di atas pangkuannya, dan kembali ke posisi semula, memangku dan dipangku.
“Aku rasa aku dapat memberikan permainan yang lebih hebat dari mereka,” bisik Dako sambil menggigit telinga Aryanti.
“Oh yaaa,,, dengan kain ini kurasa kau dapat dengan bebas membuktikannya,” seru Aryanti sambil tertawa nyaring.
Hati Arga memanas, bagaimana mungkin istrinya bisa begitu mesra terhadap Dako sahabatnya. Kini dua tubuh yang berselimut kain itu tampak sibuk dengan aksi mereka. Kepala Dako menghilang ke dalam selimut, lidahnya menjangkau puting Aryanti, membuat wanita terpaksa sedikit memiringkan tubuhnya, menyambut keinginan Dako.

Dari sela-sela kursi yang tidak tertutup selimut Arga dapat melihat bagaimana lidah Dako bermain-main dengan sepasang payudara yang selama ini selalu dibanggakannya. Sementara tangan Aryanti memeluk kepala Dako dengan erat, memaksa kepala itu tidak pergi jauh dari kedua putingnya.
“Kyyaaaa,,,Dakooo”,,,
“Yeeeaaahhh,,,,”
Teriakan Aryanti disambut dengan pekik kemenangan Dako, lengan kanannya muncul dari balik selimut dengan membawa serta sepasang kain, dengan semangat Dako mengibarkan kedua kain itu ke atas sambil tertawa riang.
“Sudahlah,,, kau hanya membuatku malu,,,” teriak Aryanti berusaha merebut kain tersebut. Namun dako terlebih dahulu melempar kain itu ke arah Pak Prabu.
Arga semakin terkesiap, ketika kedua lengan Pak Prabu merentangkan kain yang tidak lain adalah leggins dan celana dalam Aryanti.
“Arga pernah bertanya kepadaku, milik siapa yang lebih nikmat, apakah milik Zuraida istriku, ataukah milikmu ini,” ucap Dako pelan sambil tersenyum, tangannya mengusap-usap bibir klentit Aryanti yang sudah sangat basah.
“Owwwhhh,, yaaa?,,,kurasaaaa,, sebelum Arga dapat membuktikannya, Emmmhhh,,, kau bisa lebih dulu untuk menilai milik siapa yang lebih nikmat,,,”
Dada Aryanti bergemuruh seiring tubuhnya yang mengangkat sedikit pinggulnya,, dengan kepala tertunduk kebawah seakan ingin memastikan sesuatu yang ada diantara tubuh mereka dapat melakukannya tugasnya dengan baik.
“Oooowwwhhhhssss,,,Ughh,,Yaaa,, sedikiiit lagiiii, yeaahhh,,,,” teriak Aryanti.
“Aaaaaakkkhhhhh,,, Dakooo,,,”seketika kepalanya terdongak keatas. Dako tersenyum puas, sesaat tubuh keduanya terdiam saling meresapi kenikmatan yang tengah terjadi.
“Aryantiiii,,,” gumam Arga lirih, saat mendengar bibir istrinya yang memproklamirkan kenikmatan dari batang yang berhasil masuk kedalam kemaluannya.
Arga merasa benar-benar kacau, disaat hatinya begitu sakit, penisnya justru mengeras dengan sempurna.
“Akhirnya kau berhasil menempatkan senjatamu dikemaluanku, kau telah mendapatkan tubuhku,” bisik Aryanti, kedua telapak tangannya mengelusi wajah Dako dengan penuh birahi.
“Bukankah kau memang menginginkan ini, sebuah petualangan yang panas,” balas Dako, tangannya tidak lagi memegangi selimut yang menutupi tubuh mereka, telah masuk ke balik kaos Aryanti, merabai punuk, punggung, pinggul hingga pantat Aryanti, meresapi dengan sepenuh hati keindahan dan kemulusan kulit pegawai bank swasta tersebut.
“Aku juga pernah mendengar dari Arga, vaginamu memiliki kemampuan yang jarang dimiliki oleh wanita lain, jika kau tidak keberatan aku ingin sedikit merasakannya,”
Kening Aryanti berkerut tidak mengerti. Pinggulnya mulai bergerak. “Bukan,, bukan itu yang kumaksud,” sergah Dako cepat, seraya menahan pinggul Aryanti.
“Lalu,,,” Aryanti semakin, bingung, namun dinding vaginanya berkedut setelah merasakan pergesekan dua kulit kemaluan, otot vaginanya berkontraksi. “Yaa,, terusss,,, Aaahhh,,, empotan ini yang membuatku penasaran selama iniii,,,”
“Hahahahahaaa,, berarti kau sudah lama ingin mencicipi tubuhkuuu,, sekarang nikmatilah sepuasssmuuu,,, eeeemmhhhh,,,” Aryanti tersenyum genit, tubuhnya tak bergerak, tapi otot vaginanya membetot erat batang Dako,, melonggar,, dan kembali mencengkram dengan kuat, membuat Dako mendesah nikmat. “Oooowwwhhhh,,, gilaaaa,,,”

Kini selimut itu hanya menutupi bagian bawah tubuh mereka. Sesekali kepala Aryanti menoleh ke arah Pak Prabu dan memainkan lidahnya dengan nakal, menggoda pria yang hanya bisa memegangi penisnya sendiri.
“Baiklah, aku menyerah, permainan usai, boleh aku bergabung dengan salah satu dari kalian,” Pak Prabu berdiri dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Penisnya yang hitam besar dengan congkak menantang ke depan. Namun harapannya pudar saat melihat Aryanti yang begitu erat menempel ketubuh Dako, kembali bergerak liar, mengacuhkan semua yang ada disitu, Dako sendiri tampak kewalahan dengan hentakan tubuh Aryanti yang bergerak cepat. Tak ada lagi rasa malu pada wanita itu. Yang ada hanya bagaimana cara untuk mendapatkan orgasme ternikmat yang bisa diberikan oleh penis selain milik suaminya. Kini harapan Pak Prabu hanya pada Andini, yang juga tak lagi mampu mengontrol birahinya, pinggulnya bergerak maju mundur, bermain-main dengan penis Munaf yang sesekali membuatnya berteriak nikmat. Dengan nakal Andini mengangkat tangannya dan dengan telunjuknya memberi tanda larangan. Bibirnya masih tersenyum dengan selangkangan yang kembali bergoyang mengiringi semua kehendak Munaf.
”Muungkiiin,, Andiniii bisaa membantu Baapaak,” suara Aryanti tersengal-sengal.
”Aaahh,, kenapa dilepaaasss,” rengek Aryanti tiba-tiba saat Dako mengangkat tubuhnya hingga batang yang memenuhi rongga vaginanya terlepas.
”Kenapa kau bisa begitu pelit dengan bos dari suamimu, berilah dia sedikit tontonan mungkin itu bisa sedikit membantunya.”
“Yup,, sekarang saatnya show,” teriak Dako dan seketika melempar selimut yang menutupi tubuh mereka.
Dan tampaklah tubuh Aryanti yang berjongkok di atas kedua paha Dako, memamerkan vagina yang menganga basah, berhadapan dengan penis Dako yang dipenuhi lendir senggama Aryanti
”Kyaaaaaaa,,,” Aryanti berusaha meloncat, dan mengambil selimut yang terlempar ke arah Pak Prabu.
Namun Dako sudah lebih siap dan menekuk tubuhnya, hal ini justru membuat penisnya tertanam semakin dalam dan seakan mengunci tubuh Aryanti.
”Hahahahaaa gilaaaa kauu Dakoooo,, Aku maaluuu tauuu,,, punyaku lebaaat kaya giniii,” jerit yang diselingi suara tawa Aryanti memenuhi ruangan yang penuh aura birahi.
Sambil menutupi kedua wajahnya Aryanti mencoba menutup kedua lututnya, dari sela jemarinya Aryanti mengintip Pak Prabu yang melongo memandang tubuhnya penuh rasa kagum. Sepasang paha yang begitu mulus berujung pada selangkangan yang merekah dengan rambut kemaluan yang rimbun. Sementara pintu vaginanya terbuka lebar seakan ingin melahap batang kokoh yang ada di depannya.
”Whuaahhaaha,,, Dakooo,,,” lagi-lagi Aryanti dibuat terpekik dan tertawa setelah kedua pahanya di angkat ke atas dan terbuka lebar, membuat Pak Prabu sekilas dapat dengan jelas melihat setiap sisi pintu vagina yang mengkilat.
Kini hanya kaos longgar yang menutupi bagian atas tubuhnya, sementara bagian bawah tubuhnya terpampang di hadapan dua pria perkasa, dengan selangkangan yang terbuka lebar, seakan pasrah menerima setiap hujaman penis. Sungguh dirinya merasa sangat malu, belum pernah seumur hidupnya tubuh indahnya dapat dinikmati dengan bebas oleh para lelaki, tapi ini terlalu menantang untuk dilewatkan.

Darahnya berdesir, terbesit dalam hati untuk membiarkan tubuhnya dinikmati oleh mereka secara bersamaan, seperti yang ada diotak liarnya selama ini. Dan kini salah satu penis telah berada dalam tubuhnya, mungkinkah dirinya memohon penis yang telah siaga didepannya untuk ambil bagian masuk ke dalam lorong tubuhnya yang lain. Namun Aryanti teralalu malu untuk meminta itu, tapi jika tidak sekarang, kapan lagi dirinya bisa mewujudkan keinginan liarnya.
“Apakaah kau bisa membuatnya semakin bergairah dengan aksi nakal mu?,,,” bisik Dako menggoda Aryanti.
Aryanti menarik tangannya, membiarkan vaginanya terekspos bebas, lalu kedua tangannya menarik setiap sisi pintu vaginanya, hingga lorong gelap yang mengalirkan cairan dapat terlihat oleh mata Pak Prabu.
“Batang bapak ingin dilumat seperti ini?,,, Oooowwwhhhh,,,,” dengan sangat perlahan kemaluan Aryanti yang terpapar melahap batang Dako,, sangat perlahan, seakan sangat menikmati setiap inci gesekan kulit kedua kelamin.
”Uuuhhh,,,” bibirnya melenguh saat batang Dako tiba-tiba menghentak.
Wanita yang tengah dipenuhi birahi itu tak mampu lagi untuk berfikir, kini dirinya hanya bisa pasrah menerima perlakuan Dako yang juga tersulut aksi nakalnya. Aryanti memandang wajah Pak Prabu dengan nafas terengah, bersahutan dengan suara kecipak kemaluan yang basah. Andaipun Pak Prabu ingin ambil bagian atas tubuhnya, Aryanti tak yakin dirinya mampu menolak.
”Yeeaaaahhhh,,,, aaaggrrhh,,,” Suara Munaf melengking, tubuhnya bergetar hebat, memeluk gadis yang menelan penisnya disela selangkangan dengan erat. Jemarinya dengan kuat meremas payudara yang ada di genggaman seakan menjadi pelarian dari rasa nikmat yang dirasakan seluruh tubuhnya.
Namun tidak begitu halnya dengan Andini yang masih sibuk mengejar orgasme. Pantatnya masih bergerak, menggesek dan menghentak batang yang ada didalam tubuhnya, berharap penis itu dapat menghantarkan kenikmatan serupa. Namun batang itu mulai mengecil sang empunya pun hanya dapat tersenyum kecut mengakui kekalahannya. Melihat peluang itu, Pak Prabu dengan cepat menarik tubuh Andini dari pangkuan Munaf. Tak pernah terpikir olehnya jika kini dirinya dapat menikmati tubuh dari istri keponakannya. Tanpa diminta Andini yang dibaringkan di atas karpet lantai, membuka selangkangannya selebar mungkin, memberi tempat kepada tubuh pak Prabu yang terbilang besar, agar dapat menempatkan pinggulnya didepan selangkangannya yang terus berkedut minta diisi, berusaha memberikan akses seluas-luasnya kepada batang besar yang menghitam dan penuh dengan rambut yang mengelilingi. Namun tetap saja penis itu agak kesulitan menerobos lubang yang terbiasa dengan batang yang memiliki diameter lebih kecil.
“Uuugghhh,, tekan aja om, punya Dini bisa nelen punya om koq,,” suara Andini merintih. Gadis itu tau jika lelaki yang ingin menikmati tubuhnya ini tak ingin menyakitinya.
Tapi Andini sangat yakin jika vagina mungilnya mampu menampung seluruh diameter batang itu. Seperti saat Arga menghujamkan batangnya dikolam renang, meski sangat sulit akhirnya lelaki itu dapat bersemayam divaginanya, tepat didepan suaminya.

“Aaaarrrgghhh,,, Ooomm,,,,,eehmmh,,,,” Seluruh tubuhnya bekerjasama, berusaha menyelusupkan penis Pak Prabu jauh kedalam lorong kemaluannya. Pahanya dengan keras menjepit pinggul, tangannya dengan kuat menekan, dan selangkangannya terangkat bergoyang, bibir vaginanya menganga lebar menyambut batang yang begitu susah payah menghadapi otot vagina yang tiba-tiba menjepit saat merasakan sebuah benda menggasak dinding-dinding yang sensitif.
“Bisakan Ooom,, Eeehhh,” tubuh Andini bergetar, bibirnya mengerang penuh birahi saat merasakan batang besar itu akhirnya berhasil menerobos celah sempit yang telah basah oleh sperma Munaf.
“Uuugghh,,” Namun Pinggul montoknya sekali lagi menghentak keatas saat merasakan masih ada bagian dari rongga vaginanya yang kosong dan tentunya batang Pak Prabu masih terlalu panjang untuk lorong vagina Andini yang dangkal.
“Arrggghhhh,,,Adduuuuuuuhhhh,,Aaaaaaahh,,,” jemari kecilnya mencengkram pantat Pak Prabu seiring tubuh yang bergetar hebat menyambut orgasme yang sangat tiba-tiba dan begitu mudah menghampiri syaraf ektasinya.
Pak Prabu tertawa dengan ulah Andini, menikmati batang yang diguyur oleh cairan birahi Andini yang cukup banyak. Sesaat dibiarkannya tubuh sintal itu menikmati orgasmenya.
“Sekarang giliran Om ya,” ucap Pak Prabu sambil menggoyang-goyang batang yang menghujam jauh ke dalam kemaluan Andini.
Sementara gadis yang begitu pasrah ditindih oleh paman dari suaminya itu hanya tersipu malu, dengan malu-malu tangannya merabai tubuh besar yang selama ini memang menghantui fantasi seksualnya.
”Aaauugghh,,, udah mentok om, jangan terlalu dalam, ntar punya dede sakit,” Prabu tersenyum dengan kalimat manja yang begitu saja terlontar.

hilda - toge jilbab (2)
Kedunya melihat ke bawah menyaksikan bagaimana batang besar itu menggasak pintu vagina yang dipaksa menelan batang yang lebih besar dari biasanya. Perlahan Prabu menarik pinggulnya, belum sempat helm besar itu keluar, pinggulnya kembali menghujam jauh ke dalam.
“Ooomm,, gede banget om,,, seperti punya Pak Arga,, Adduuuhh,,Aaahhh,,”
“Arga?,,, apa Arga sudah pernah menyetubuhi mu?,,,”
“Ststsssss,,, jangan kenceng-kenceng, entar kedengeran sama Mba Aryanti,” Andini mengutuki kecorobohannya menyebut nama Arga.
“Hahahaaa,, dasar kau Arga,, jangan-jangan kedua istriku juga sudah kau cicipi,” gumam Pak Prabu. Lalu menghentak batangnya dengan lebih keras dan cepat.
“Ooomm,,, pelan Ooomm,, memek Andini ntar jeboooll,, aaagghhhh,,,” gadis itu meringis menahan perih didinding rahimnya yang digedor-gedor. Apa semua batang besar emang beringas seperti ini, pikir Andini yang kewalahan, berpegangan pada pundak Pak Prabu.

Melihat aksi Pak Prabu, Aryanti menjadi semakin panas, iri melihat kemujuran Andini yang hanya dalam beberapa menit bisa menikmati dua buah batang.
“Aaaggghhhh,,, Dakooo,,, lalkukan apapun yang ingin kaauuu lakukaaaannn,, Aaaahhh,,,”
Wajah Andini memucat, puncak birahi tengah menantang pertahanannya, namun akhirnya harus menyerah dalam lenguhan yang panjang.
“Oooommm,,, Andiniiiii,,, keluaaaaaarrrr,, Aaagghhhh,,,” pangkatnya terangkat tinggi menantang hentakan batang Pak Prabu. “Aaahhh,,, Ahhh,,, ga Kuat lagi Oommm,,” rintih Andini menyerah, vaginanya terasa panas akibat gesekan yang terlalu ketat dan cepat.
“Mbaaa,,,Aaarrr,, tolongin aku mbaaa,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, keluaaaar lagiiiii,,,,”
Rintih gadis itu dengan nafas terengah, tak menyangkan orgasme begitu cepat, silih berganti menyapanya, membuat tubuhnya terasa begitu lemas. Sementara Pak Prabu terus saja menghajar vagina mungil itu, semakin bergairah melihat rintihan Andini,”
“Dakooo,,, Aaahhhsss,,, apa kauuu ingiiiin sediiikit berbaaaagi dengan Pak Prabuuuhhhh?,,, aku haaanya ingin membantu gadis itu,” rintih Aryanti.
“Boleh,, tapi setelah aku selesaaaii menikmati vaginamu iniii,,,”
Dako jelas menolak jika kenikmatannya terpotong oleh Pak Prabu.
“Tak perluu takuuuut,,, bahkaaan kau akaaan merasakaaann apa yaaang tidak pernaaahhh diberikaaan istrimuuu Zuraidaaa,,,” jawab Aryanti, lalu melumat bibir Dako dengan ganas.
Ploopp….batang Dako terlepas, tapi belum sempat protes, Aryanti telah menggenggam penisnya, lalu mengarahkan ke pintu belakang.
“Masukkan dengan perlahaan, sayaaang,,” bisik Aryanti dengan nakal.
“Ooowwwhhhh shhhiiiitttt,,,” teriak Dako, saat kepala penisnya perlahan menghilang ditelan pintu anus yang telah lama ingin ikut dihajar.
“Aaaahhh,,, gimaaanaaa,, apa kaauu sukaaa,,aaaahhh,,,”
“Sempiiiitt,,, sempiiit bangeeeett,,, ini nikmaaat bangeeet,, kau nakaaaal Aryantiii,,”
Aryanti terkekeh disela lenguhannya, mendengar pengakuan Dako yang mencengkram pinggulnya Aryanti, agar menghentak lebih kuat.
“Sekarang undanglaaahh Pak Prabuuu untuk bergabuuung,,,”
“Apa kaauu yakinnn,,,”
“sangaaat yakiiinnn,,, akuuu bisaaa meladenii keberingasaaan kaliaaan berduaaa,,,” lenguh Aryanti yang benar-benar terlihat nakal.
“Pak Prabuu,, ada yang menantang kita berdua nihh,,, Apa kau beranii,,” teriak Dako, membuat gerakan Pak Prabu terhenti tepat disaat lenguhan Andini yang kembali mendapatkan orgasmenya.
“Hahaahahaaaa,, aku tak menyangka, jika istri Arga bisa sebinal ini,,,Okkeee,,, Dakoo, kita penuhi tantangan teller Bank cantik ini,” Pak Prabu menjawab sambil tertawa melihat Aryanti menggosok-gosok bibir vaginanya, sesekali menguak pintunya sebagai tantangan pada Pak Prabu. Sementara anusnya membetot batang Dako dengan sempurna. Lelaki paruh baya itu mengecup bibir Andini yang tersenyum lemah, setelah tenaganya dikuras rentetan orgasme, lalu melepaskan batangnya, beranjak menuju kursi Dako dan Aryanti sambil terus mengocok batangnya yang penuh lendir milik Andini.
“Sayaaaang,,, apalagi yang kau inginkaaan,,” tak pernah Arga secemas ini,,, tanpa sadar lelaki itu mencengkram tepian meja dengan begitu kuatnya.

Kini batang besar Pak Prabu telah berada tepat didepan wajah Aryanti.
“Cobalahh dulu dengan bibirmu ini,, bial kau mampu melahapnya, kurasa bibir bawahmupun takkan kesulitan,”
Mata Aryanti tersenyum nakal, jemarinya dengan gemulai meraih batang Pak Prabu dan menariknya ke atas, dengan tenang gadis itu menjulurkan lidah, perlahan mendekat, menyapa kantong zakar Pak Prabu,menyentil-nyentil kedua bola sambil melirik wajah Pak Prabu dengan genit. Lalu perlahan menyisir keatas, menyapu setiap gumpalan lendir putih, hingga akhirnya sampai pada kepala penis yang menyembul disela kulup yang tidak disunat, Aryanti mencengkram batang Pak Prabu dengan kuat sebelum akhirnya kepala penis itu masuk kedalam mulut Aryanti yang panas.
“Aaaaagggghhhhh,,, gilaaaaa,,,Argaaa,,, istrimu benar-benar dahsyaaaaat,,, aaarrgghh,,” Pak Prabu tak tahan melihat ulah Aryanti, lalu mencengkram rambut wanita.
“Nikmatilaaahh,,, rasakanlaaaahh batangkuuu,,,Aaaagghhh,,” Pak Prabu dengan sangat bernafsu menyenggamai mulut Aryanti. Batangnya keluar masuk dengan cepat.
“Gila, ini memang sudah benar-benar gila,” gigi Arga gemeretak menahan amarah, tetapi tangannya bergerak mengurut penisnya yang membatu.
Tak tahan melihat kenikmatan yang diperoleh Pak Prabu, Dako kembali mengangkat pinggul Aryanti, meminta wanita itu kembali bergerak.
“Aaaaggghhhh,,, kau nakal Yaaaan,, bener-bener nakaaal,,,” dengus Dako dengan pantat naik turun menghajar dubur Aryanti. Pantat Aryanti terdiam, pasrah dengan serangan Dako di belakang tubuhnya yang semakin cepat.
“Yaaaantiiii,,, Bapaaak Semprooot yaaann,, telaaaannn,,,Arrrgghhhh,,,”
Sontak wajah Aryanti terkaget, matanya melotot saat tiba-tiba batang besar dalam mulutnya menghambur cairan kental yang panas, memenuhi mulutnya. Tapi bibir Aryanti justru semakin kuat mengatup rapat batang Pak Prabu, seakan tak ingin setetespun keluar dari bibirnya, sesekali meneguk cairan yang memenuhi mulut, mengalir membasahi tenggorokannya, disambung dengan tegukan berikutnya, matanya menatap wajah Pak Prabu yang terengah-engah penuh kepuasan dengan heran.
“Gilaaa,, banyak banget spermanya,” gumam Aryanti yang kini bibirnya berusaha menyedot, memaksa sperma yang tersisa untuk keluar.
“Aaaaarrrgghhhhh,,, Yaaaann,,, aku jugaaa gaa kuaaaat laggiii,,,” Dako menarik turunkan pinggulnya dengan semakin cepat. “Oooowwwgghhhhh,,, Yaaaannn,,,”
Sadar jika Dako juga tengah menghantar orgasme di anusnya, Aryanti menekan pantatnya semakin kebawah, melumat habis batang, membuat Dako semakin kesurupan dan akhirnya memeluk tubuh Aryanti dari belakang dengan kuat seiring spermanya yang mengalir deras. Dengan usil Aryanti memutar-mutar pantatnya, membuat Dako semakin tersika dalam kenikmatan.
“Bajingaaaaann,,,” rutuk Arga saat menyaksikan bagaimana temannya orgasme dengan begitu dahsyatnya didalam tubuh istrinya. Kakinya gemetar.
Sementara lantai di depannya berceceran sperma yang kental… ya sperma Arga yang turut menghambur, seiring teriakan nikmat kedua temannya.
“Aaahhh,, payaahh,, baru segitu aja sudah tepar,,,aku kan belum apa-apaaa,, kalian tak ada apa-apanya dibandingkan keberingasan suamiku di atas ranjang,,” dengus Aryanti, lidahnya masih menjilati lubang kencing Pak Prabu, sementara pantatnya masih bergerak ke depan dan ke belakang, memainkan batang Dako, yang tersandar di kursi menikmati keindahan pantat montok Aryanti yang begitu sensual bergoyang.

Di balik persembunyiannya Arga tersenyum kecut, tapi tetap saja kata-kata Aryanti membuatnya bangga, sedikit mengobati hati yang remuk redam.
“Kenapa cantik,, kesal yaaa?” Ledek Pak Prabu, seraya menarik kaos Aryanti keatas.
“Aku yang kanan!!!,,,”
“Okeee,, Aku yang kiriii,,”
“Oooowwwhhhhsssss,,, kaliaaaannnn iniiii,,,” Aryanti terpekik seketika, kedua payudaranya dimainkan oleh Pak Prabu dan Dako bersamaan, seperti anak kecil yang berebut bakpao besar.
“Heeeiii,,, kenapaa batang kalian masih sangat kerass?,,,” Aryanti terkaget saat menyadari batang besar yang kini mengusap-usap pipinya dan batang yang bersemayam dalam anusnya ternyata masih tetap seperti semula, keras menantang.
“Jangaaann,, jangaaaann,,, owwhhh tidaaak,,, apa kalian jugaa meminum jamu Lik Marni?,,,”
Pak Prabu tertawa, tidak menjawab pertanyaan Aryanti. “Siap untuk pertarungan yang sesungguhnya cantik?,,” wajah Aryanti tiba-tiba sumringah, jantungnya berdetak keras, merinding membayangkan permainan seperti apa lagi yang akan terjadi.
“Dako,, apa kau ingin bertukar tempat?”
“Ohh tidak,,trimakasih,,, aku masih belum puas menikmati pintu belakang ini, lagipula,, Sepertinya Aryanti juga belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Aryanti tersipu malu, dalam fantasi gilanya, hasrat akan permainan seperti ini memang telah lalang merongrong hatinya. Wanita itu membuka kedua kakinya, mempersilahkan Pak Prabu untuk mengambil tempat di antara selangkangannya.
“Ooowwwhhhhsss,,,, batangmu mulaaaaiii membuaaaatss tubuuuhh ku begitu penuhhh Paaak,,,” rintih wanita itu, seiring batang Pak Prabu yang merangsek memaksa masuk lorong vaginanya, bersaing dengan batang Dako yang menjajal lorong anusnya.
“Ooopppsss,,, Shhiiitttt,,, ini benar-benaaar gilaaa,,, adegan seperti ini sering kulihat di videoo,, tapi tidaaak menyangka jika bakal sedahsyat ini,,, bukan begitu Pak Prabu,,? Tangan Dako meremasi payudara Aryanti, matanya terpejam menikmati batangnya yang semakin tergencet di lubang belakang Aryanti.
“Yeeeaaahhhhh,,, ini benar-benar dahsyaaaaat,,,eeeengggghhh,,,tubuhku berhasil melumat batang kaliaaann,, Oooowwwhhhh,,, tidaaaakk,,,”
Tubuh Aryanti bergetar, saat merasakan batang Dako dan Pak Prabu yang bekerjasa, keluar masuk menusuk tubuhnya begitu dalam.
Layaknya dua buah piston yang begitu teratur, bergantian menusuk tubuh basah Aryanti.
“Paaaaakk,,, jaaangaaaaannnn,,,”
Mata Aryanti melotot, berusaha menahan rasa nikmat dari aksi brutal teman-teman suaminya, terlihat jelas bagaimana wanita berkeringat itu menahan orgasme yang menggulung. Yaaa,, Aryanti tidak ingin takluk terlalu cepat dalam himpitan dua tubuh lelaki.
“Aaaaggghhhh,,, Dakooooo,,,, sakiiiiittt,, kau curaaaaang,,,,Emmmmhhhh,,, ”
Aryanti merintih tertahan merasakan putingnya yang digigit oleh Dako, tapi justru karena itulah Aryanti menuai orgasme.
“Hahahahahaa,,, bagaimana sekarang?,,,” tanya Dako, tangannya seakan tak puas terus meremasi payudara Aryanti.
“Sepertinya dia memang kewalahan meladeni kita,, Hahahaa,,,” timpal Pak Prabu, melepaskan batangnya dari jepitan Aryanti.

“Hehehehehee,, jangan bercanda, posisi kita semua sekarang adalah sama, 1-1,,,” jawab Aryanti terengah-engah, Aryanti menarik leher Pak Prabu mendekat, lalu melumat bibir atasannya itu dengan liar.
“Eeeemmmppphhhh,,,, masukkan kembali batangmu ketubuhhh kuuuu,,, Aaaahhh,,, yaaa,, aaakuuu beluuumm,,, menyeraaaahh,,”
Tubuh Aryanti kembali terhempas, kakinya yang menopang tubuh gemetar, terombang-ambing di antara dua serangan pejantan. Mulutnya bergantian meladeni permainan lidah Dako dan Pak Prabu. Hingga beberapa menit selanjutnya Dako berteriak frustasi. Hidung Dako terbenam di ketiak Aryanti membaui aroma wangi keringat dari tubuh istri Arga itu, tapi justru membuat pertahanannya semakin melemah, tak mampu lagi menahan kenikmatan yang ditawarkan anus Aryanti.
“Siaaaalll,,, akuuu ga kuaaaat lagiiii,,,”
Pak Prabu pun tak jauh berbeda, hidungnya mendengus liar dengan mulut tersumpal jari-jari kaki Aryanti yang dijilatinya. Tanganya memeluk dan mengelusi sekujur batang paha yang mulus, sementara pantatnya seakan tak terkendali merojok kemaluan Aryanti, “Shhiaaaaalllhhhh,,,,” Pekik Pak Prabu tak jelas. Kondisi Aryanti yang lebih tragis, harus menggigit bibirnya coba mengenyahkan rasa nikmat, orgasme dapat menyapanya kapan saja. Menaklukkan kejantanan kedua pejantan itu adalah tekadnya, tapi tubuhnya berkata lain.
“AAAAGGGGHHHH,,,, TUUUSSSUUK YAAAANG DAAAAALAAAAAMMM,,,”
“AAAAKUUU MENYEEERAAAAAHHH,,, OOOWWWHHHHSSS,,,,, EEMMMHHHH,,,”
“UUUGGGHHHH,,, GILAAAAA KAAMUUUU YAAAAAANNNN,,,,GIILAAAASSSHHH”
Ketiga anak manusia itu menjerit bersamaan, menjepit tubuh mulus yang berkelojotan, bermili-mili sperma menghambur ke dalam tubuh si betina yang terus menjerit histeris dengan orgasme yang paling gila, yang pernah dirasakan oleh tubuhnya. Hingga tak ada lagi kata-kata yang keluar, hanya dengus nafas yang berebut mencari oksigen. Sesekali pinggul kedua pejantan masih bergerak mengejan, berusaha menyerahkan tetes sperma yang tersisa kedalam tubuh milik wanita cantik yang, terengah-engah sambil tersenyum penuh rasa puas. Jantung Arga seakan berhenti berdetak, kakinya serasa lumpuh, Wanita yang begitu berati dalam hidupnya, saat ini tampak bercucuran berkeringat, membisu dalam genangan lendir para pejantan. Tiba-tiba mata Arga menangkap kelebat bayangan dari jendela, bayangan yang tercipta oleh cahaya lampu luar yang menunjukkan keberadaan seseorang juga mengintip kejadian itu. Perlahan berjalan menjauh menuju tepian pantai.
“Siapa pula itu,,,” gumam Arga penuh curiga dan rasa was-was, takut bila pemilik bayangan itu adalah juga seorang pejantan, dan nantinya menagih hal yang sama kepada istrinya.
Arga menarik nafas panjang, menguatkan hati, baginya tak ada lagi yang harus dibuktikan. Mengendap-endap di kegelapan meninggalkan pergumulan panas Aryanti, berusaha menuju pintu dengan kaki gemetar.
“Aku rasa tubuhmu masih mampu untuk menahan beberapa serangan lagi,,”
Sebelum menghilang dibalik pintu, Arga kembali menoleh ke belakang, tampak Aryanti tersenyum lemas, tubuhnya terhuyung saat Munaf membaringkannya ke atas meja. Sementara di atas karpet lantai, Andini tersenyum pucat saat Pak Prabu dan Dako menghampirinya. Mata Arga menyapu pantai yang gelap. Sesekali mencoba mengatur nafas untuk meredakan emosi di hati, marah, kecewa, sedih, dan gelora birahi membaur di dada yang masih bergemuruh. Tertatih dalam samar cahaya bulan yang dilumat oleh awan mendung.

“Wajar saja Adit sampai pingsan,,” gumamnya sambil tertawa lirih. Teringat bagaimana ia menyenggamai istri Adit yang belia dengan penuh nafsu tepat di hadapan lelaki itu.
Meski Arga telah mencicipi beberapa wanita di petualangan pantai itu, tapi ternyata hatinya juga belum siap untuk menerima perlakuan yang sama atas istrinya. Begitupun saat birahi menyeruak dihatinya ketika menyaksikan pergumulan Aryanti, namun hatinya tetap saja terasa sakit saat melihat teman-temannya yang tertawa terbahak sambil menghamburkan sperma dan memenuhi kemaluan istrinya.
“Aryanti hanya sedang mabuk,,,” bisik Arga sambil berusaha tersenyum. Mencoba menguatkan hati, Kepalanya terdongak mencoba mengisi penuh rongga paru dengan udara pantai. Lalu menghembus dengan pelan.
“Argaaa,,,”
Deg!!!,,,
“Siapa?,,,” Arga menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya menyipit mencoba mencari tau saat mendapati sosok yang duduk bersandar pada sebuah pohon kelapa, yang baru tumbuh sepanjang tiga meter.
“aku,, Zuraida,,” suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar tergulung suara ombak.
“Heehh?,, Zuraida,, lagi ngapain disitu”
Arga mendekat, menghempas pantatnya di atas pasir, di samping dokter muda itu.
“Sebenarnya apa yang ada dibenak para lelaki, saat mendapati wanita yang mungkin saja dapat ditaklukkannya?,,,” tanya Zuraida lirih.
Arga mencoba mengamati wajah Zuraida namun tak terbaca di kegelapan.
“Apa kau juga melihat kejadian tadi?,,,” Arga justru balik bertanya. Mencoba menerka-nerka suasana hati istri temannya itu. Mungkin kondisinya juga tak berbeda jauh dengan dirinya.
“Yaa,, aku melihat semuanya,,,”
“Apa sih sebenarnya yang kalian rencanakan dalam liburan ini,,, kalian,, kaliaan,, begitu berbeda dengan keseharian yang kukenal,, begitupun Dako, suamiku, tidak biasanya dia meminta ini itu kepadaku,,”
DEGG!!!,,, Arga bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Zuraida, menatap lekat wajah bening yang menerima sinar rembulan, yang perlahan terbebas dari gulungan awan.
“Cantik,,” gumam lelaki yang tengah terluka itu, pesona keanggunan Zuraida, perlahan mengenyahkan perih hati.
Mata Arga mengaggumi lekukan dagu yang menjutai di bawah bibir yang mungil, menyusuri garis hidung mancung yang bertaut pada mata yang memiliki tatapan tajam, bulu mata lentik seakan semakin menyempurnakan kecantikan yang dimiliki seorang Cut Zuraida. Zuraida menoleh saat merasa dirinya terus diamati lelaki disampingnya, mendapati mata Arga yang penuh rasa kagum akan kecantikannya. Perlahan bulir air mata menggenang di pelupuk, menciptakan kilatan kecil yang mendayu.

“Apa kau ingin membalas ulah suamiku, atas istrimu?,,,” tanya Zuraida seiring air mata yang mengalir tak terbendung.
Arga terkaget dengan ucapan Zuraida, dan semakin kaget saat wanita itu dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas pasir, menarik turun risluiting sweater yang melindungi tubuhnya dari sergapan angin pantai. Arga menahan nafas ketika jemari lentik yang gemetar, dengan rasa takut wanita anggun itu menarik bagian bawah kaosnya ke atas, perlahan memapar perut yang rata dan mulus, terus naik keatas hingga tiba pada sepasang payudara yang didekap bra merah muda. Payudara yang kencang meski pemiliknya tengah berbaring, sedikit lebih kecil dari milik Aryanti. Tapi gumpalannya begitu sempurna. Wajah Zuraida menoleh menjauhi tatapan Arga, menatap gulungan ombak dengan tatapan kosong.
“Lakukankanlah, untuk memuaskan hasrat lelakimu,,, puaskan sakit hatimu pada suamiku,,, lalu anggaplah semua tidak pernah terjadi,” bibir Zuraida gemetar bergerak mengucap kata, dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Mata Arga melotot mendengar tawaran Zuraida yang pasrah, tubuh dan kecantikan wanita itu begitu sempurna di mata Arga. Aryanti memang cantik, tapi Zuraida memiliki keanggunan seorang wanita yang tidak dimiliki istrinya. Tangan Arga terkepal erat menahan birahi, tubuh itu, yaa tubuh itu telah menawarkan diri untuk dinikmati.
“Tutuplah tubuhmu,,, dan bangunlah,,, udara pantai terlalu dingin dan keras untuk tubuh indahmu,,”
JLEGG!!!….
“Juancuuk kau Argaaa,,,menolak tubuh seindah itu,,” setan dihati Arga menyumpah atas kata-kata yang mengalir dari bibir lelaki itu.

hilda - toge jilbab (1)
Arga benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkannya, sejak kapan ia menjadi seorang idiot seperti ini. Kecantikan Zuraida dan misteri keindahan tubuhnya yang bertahun-tahun menjadi fantasi, tersia-sia oleh ego kepahlawanannya.
“Ternyata benar,, kau memang berbeda,,tidak seperti mereka,,,” ucap Zuraida yang tergopoh bangun dan menutupi tubuhnya. Wajahnya memerah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya, seorang wanita baik-baik dengan pasrah menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati lelaki lain.
“Berbeda bagaimana?” Arga terkekeh mendengar kata-kata Zuraida, tak taukah wanita itu jika dirinya juga petualang birahi, bahkan sebelum menikah dirinya pernah membeli perawan seorang gadis kelas satu SMP hanya untuk memenuhi rasa penasaran.
“Yaa,, kau berbeda, saat teman-temanmu berlomba menggoda diriku di pantai ini, bahkan beberapa kali mencolek beberapa bagian tubuhku dengan alasan tak sengaja, tapi kau,,, justru lebih suka menyendiri. Tak mempedulikan aku dan wanita-wanita di sekelilingmu. Kau hanya peduli pada istrimu.

“Wuedaaaann,, kau salah Zuraida,,, di pantai ini justru akulah yang pertama kali menghambur sperma ke tubuh istri temanku,,” teriak hati Arga, namun tak berani terucap.
“Itu karena kau juga berbeda dari wanita lainnya,, kau begitu anggun, begitu sempurna di mataku,,,harus kuakui aku sangat mengagumi,”
Kata-kata Arga mengagetkan Zuraida, menatap wajah lelaki itu dengan hati tak menentu.
“Terimakasih karena sudah mengagumiku,,” ucap Zuraida dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang dingin membeku. “Tapi aku takkan mengulangi kebodohan diriku tadi, salahmu tak memanfaatkan kesempatan,, hehehe,,,”
Srsrsrrrrtttt… Zuraida menarik resluiting sweaternya, menutup rapat tubuhnya dari sergapan angin pantai yang dingin.
Arga tersenyum kecut, “Ingat ya cantik, Aku tak menyesal koq,, karena aku ingin terus mengaggumi,, maka tetap seperti ini,” ucap Arga seraya mengusap pipi Zuraida.
“Gombaaalll,,, baru kali aku mendengar kau menggombaaal,,hahahaa,,,” Zuraida tertawa melihat gaya Arga, tapi hatinya berdebar tak karuan, ada desir dihati yang telah lama tak dirasakannya.
“Hahahahaaa,,,” Arga ikut tertawa, sepertinya kedua insan itu sepakat untuk mengenyahkan sakit hati mereka terhadap pasangan masing-masing.
“Ayolah kita kembali,,, udara disini terlalu dingin untukmu, cantik,” ucap Arga, lalu beranjak, membersihkan celananya dari pasir.
“Arga,, tunggu,,” Zuraida menahan tangan Arga agar kembali duduk.
Sesaat Arga menatap mata Zuraida yang begitu dekat dengan wajahnya, menatap sendu, ada getar dari mata indah itu, yang tak bisa diartikan oleh Arga. Tanpa diduga bibir mungil Zuraida terbuka, mendekat, mengecup bibir Arga dengan lembut. Arga tersentak, bibir itu begitu lembut dan hangat.
“Boleh minta lagi?,,”
Zuraida tersipu malu, menunduk layaknya gadis belia yang baru mengenal cinta.
“Boleh?,,,” tanya Arga kembali sambil mengangkat dagu Zuraida.
Dada Zuraida berdetak cepat saat dagunya mengangguk, memberi izin pada Arga untuk menjamah bibirnya. Lalu terpejam ketika bibir Arga mengatup bibir bawahnya, melumat lembut, menyapu bibir nya denga lidah yang basah, perlahan masuk menyelusup mencari lidah Zuraida.
“Eeemmmpphhhh,, Ghhaaa,,” Zuraida melenguh saat lidah mereka bertaut, membelit, menghisap, bertukar ludah dengan penuh hasrat.
“Eeeengghhhh,,,Argaaaa,,,uuuhhhh,,,” Kepala Zuraida terbenam dileher Arga, seakan tak percaya dengan apa yang diperbuatnya, jemarinya yang lentik, menuntun tangan Arga memasuki sweater dan kaosnya, terus masuk hingga jemari kekar itu menangkup payudaranya. “Oooooowwwsssshhhhh,,,,,eemmmpphhhh,,,”
Zuraida semakin tak percaya, ketika naluri memaksa tangan kirinya menarik tubuh Arga untuk menindih tubuhnya yang perlahan menjatuhkan diri kepasir yang putih.
“Gaaa,,”
“Iyaaa cantik,,”
Sesaat hening, Zuraida bingung untuk berkata apa, saat mata mereka saling menatap,, sementara jari-jari kanan Arga tengah berusaha menyelusup ke dalam bra, untuk mendapatkan puting yang telah mengeras.
“Ooowwhhh,, Aaakuuu menyukaaaimuu sejaak duluuu,, kenapa kauu membiarkaan Dakoo memilikiku Gaaa,,” rintih Zuraida sambil menikmati kemahiran jari-jari Arga yang berhasil mendapatkan putingnya.
Tiba-tiba Arga menghentikan aksinya, menarik tangannya keluar, lalu mengecup bibir Zuraida dengan sangat lembut.
“Suatu saat kau akan tau dan mengerti, dan tetaplah menjadi bintang yang tak terjangkau oleh tanganku yang kotor, agar aku bisa terus mengaggumi,” ucap Arga sambil tersenyum, mendamaikan.
“jangan berharap terlalu besar Ga,, Aku tidak seindah yang bayangkan,,” jawab Zuraida, telapak tangannya yang lembut mengusapi pipi Arga penuh rasa sayang.
“Sini,, masuklah dalam pelukanku,,, aku ingin tidur sambil memeluk wanita yang kukagumi,,”
“Tidur? Disini? Di pantai ini?,,,”
Arga mengangguk pasti, disambut senyum Zuraida yang beringsut masuk dalam pelukan Arga.

ZURAIDA AND FRIENDS 1

“Gilaa,, dah miring otak ni orang,,,”
 Dalam hati Arga mengumpat mendengar usul yang ditawarkan oleh Dako, usul gila yang dengan cepat disetujui oleh atasannya Pak Prabu, dan kedua teman yang juga memegang jabatan manager. Hari itu, Kantor Arga menerima kunjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya sebagai cabang perusahaan dengan kinerja terbaik, memberikan bonus liburan dan berhak untuk menggunakan cottage milik perusahaan yang ada disalah satu pesisir pulau jawa. Tentunya ditambah bonus sejumlah uang. Namun di antara berbagai kegembiraan itu mungkin Arga lah orang yang paling berbahagia. Ya,,, atas bantuan Pak Prabu, Arga disetujui oleh pimpinan pusat untuk menempati bangku pimpinan yang sebelumnya ditempati oleh Pak Prabu. Prabu sendiri atas prestasinya diminta untuk membantu pusat. Setelah rombongan pusat meninggalkan ruangan, Pak prabu langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral mengajak bawahannya untuk bertoast ria. Walau bagaimanapun ada kebanggaan atas penghargaan yang diberikan. Namun Pak Prabu dengan berat hati menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janji tersendiri dengan istrinya untuk sebuah liburan di pulau dewata. Arga tidak begitu peduli dengan keabsenan Pak Prabu, toh dirinya tetap dapat mengikuti liburan rombongan kantor bersama istrinya. Dan ini dapat menjadi kado bulan madu bagi istrinya yang baru dinikahi 3 bulan lalu.
“Tapi apakah Pak Prabu tetap tidak mau ikut rombongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah game dengan perjanjian yang menarik?,” celetuk Dako.
“Perjanjian?, emang kalian udah bikin perjanjian apa?” Tanya pak Prabu sambil menatap dako dan Arga bergantian. Seperti halnya Pak Prabu, Arga yang tidak pernah membuat perjanjian apapun tentang liburan pada Dako, pun dibuat bingung.
“Ya, sebagai ucapan terimaksih, Saya dan Arga ingin mengusulkan sebuah permainan, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan disana kita membebaskan pasangan kita untuk dirayu oleh sesama kita,” papar Dako
“Maksudmu?,” Tanya Pak Prabu meminta penjelasan yang lebih mendetil.
“Ya,,, bagi mereka yang beruntung, mungkin dapat dilanjutkan dengan rayuan diatas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak boleh melarang untuk ‘penuntasan akhir’ atas usaha kawan kita,”
“Saya pikir permainan ini bisa menjadi referensi kepuasan bagi kita, yang setau saya selalu setia dengan istri masing-masing, tentang ‘cita rasa’ dan ‘varian kenikmatan’ dari wanita selain istri kita,” tambahnya.
“Gila,, bagaimana mungkin usul itu meluncur dengan lancar dari mulut Dako, apalagi dengan membawa-bawa namaku,” Hati Arga mengumpat. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Dako, Arga melihat wajah Pak Prabu yang berbinar sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.
 “Kenapa perjanjian ini harus mengatasnamakan balas budi, sialan,” hati Arga kembali mengumpat ketika menyadari sulit baginya untuk mengelak dari permainan ini.
“Yang bener Meennn,,, pastinya loe juga ngajak istri loe yang alim itukan?,” seru Munaf memastikan Dako mengajak istrinya yang biasa menggunakan busana tertutup lengkap dengan penutup kepalanya. Dako mengangguk pasti.
Sesaat Arga terdiam, Cut Zuraida istri sahabat karibnya itu memang memiliki daya tarik tersendiri dari tubuhnya yang selalu tertutup, wajah putih bersih, berdagu lancip dan hidung yang mancung. “Uuuugghhh,,,benar-benar tawaran yang menggiurkan, terlalu sayang untuk dilewatkan, tapiii,,,” Kini justru Arga yang bingung.
Mungkinkah, dalam liburan ini dirinya dapat mencumbu tubuh Zuraida, atau bahkan kalau memungkinkan dapat sedikit berkenalan dengan selangkangan wanita yang menjadi fantasi seksnya sebelum menikah dengan Aryanti, istrinya.
“Tapi, agar permainan ini semakin seru, kita tidak boleh memberitahukan istri-istri kita tentang permainan ini, disamping untuk menghindari timbulnya pertengkaran suami istri, saya rasa ada tantangan tersendiri bagi kita untuk dapat menikmati tubuh target kita,” ucap Dako dengan tatapan tajam ke arah Arga, dihias senyum penuh makna.
Arga bingung dengan tatapan itu, muncul pertanyaan besar di kepalanya, apakah Dako yang menjadi temannya sejak bangku SMP itu memang menjadikan istrinya sebagai target utama dalam permainan ini. Sekilas Arga teringat pernyataan Dako dihari pernikahannya, yang mengakui keindahan tubuh istrinya, saat melototi tubuh Aryanti yang dibalut kebaya transparan yang sangat ketat dengan puring tipis yang hanya menutupi bagian dada.
 “untuk Pak Prabu, sepertinya kita harus memberikan persyaratan tambahan, bapak hanya boleh mengajak simpanan bapak,”
“Hahahaha,,,”
 celetukan dari Munaf, kontan membuat Pak Prabu terbahak tertawa, Argapun tersenyum kecut mengingat istri sah Pak Prabu, Bu Sofia yang merupakan aktifis arisan ibu-ibu pejabat.
Sebenarnya, Bu Sofia, istri pak Prabu yang telah memasuki umur 40-an, masih terbilang cantik dan selalu tampil seksi dengan pakaiannya yang selalu mengekspos daerah terlarang, dan pastinya masih sangat layak pakai. Hanya saja yang membuat tidak kuat adalah mulutnya yang selalu aktif mengkritik setiap sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Alias cerewet. Mungkin itulah sebabnya Pak Prabu memilih sebuah hubungan rahasia dengan Sintya, resepsionis kantor yang terkenal montok dan murah hati kepada kaum lelaki dalam hal berpakaian, dan tentunya lebih penurut dibandingkan Bu Sofia
“Tidak, tidak,,, Pak Prabu silahkan saja mengajak kedua istrinya, dengan tetap merahasiakan hubungannya dengan Sintya bukankah kita melakukan permainan ini dengan diam-diam, karena bisa saja saya berhasil mendapatkan tubuh Bu Sofia dengan meminjam kamar kalian, dan pastinya Pak Prabu tidak bisa melarang saya untuk melakukan itu, bukan begitu Pak prabu?” papar Dako.
Pernyataan Dako sontak membuat Arga, Munaf dan Aditya terkejut, kata-kata Dako sudah kelewat batas, meskipun dirinya memang memiliki hasrat yang sama untuk menunggangi tubuh montok istri Pak Prabu itu, tapi tidak selayaknya hal itu diungkapkan langsung dihadapan Pak Prabu, yang nota bene adalah atasannya.
 hilda - jilbab montok (2)
“Whuahahaha,,, saya selalu suka dengan ide gilamu, Dako, silahkan nikmati Sofia sepuasmu bahkan kalau kau juga ingin mencicipi Sintya silahkan saja, tapi jangan salahkan saya bila nanti membuat istrimu yang alim itu terkapar oleh ku,” jawaban Pak prabu membuat Dako tersenyum kecut. ternyata tidak hanya dako yang tersenyum menyambut tawaran Pak Prabu tetapi juga Aditya, Munaf dan tentu saja Arga.
“OK,,, jika semua memang semua telah sepakat, ada baiknya kita mempersiapkan istri-istri kita untuk menyambut pertempuran yang panjang besok lusa,” Pak Prabu menyudahi rapat tambahan para pimpinan itu dengan tertawa terbahak.
“Tunggu pak, saya hanya ingin memastikan, perjanjian ini hanya berlaku saat liburan sajakan?” semua tersenyum dengan pertanyaan Aditya yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya mengangguk-agukkan kepala.
Andini, gadis remaja yang dinikahi Aditya hampir berbarengan dengan hari pernikahan Arga itu memang seorang gadis lugu yang dinikahinya satu bulan setelah gadis itu lulus dari bangku SMU. Pastinya Aditya tidak berbeda dengan Arga yang merasa keberatan dengan permainan yang diusulkan dako, karena mereka sendiri masih belum puas mengayuh tubuh istri mereka.
“Itu Pasti, permainan kita ini cukuplah menjadi skandal saat liburan, karena tentunya kita tidak ingin rumah tangga kita ataupun rumah tangga rekan kita berantakan,” pungkas Dako sambil merapikan beberapa berkas yang ada dihadapannya.
########################
hilda - jilbab montok (1)
 Arga yang duduk santai di depan TV rumahnya sesekali menatap istrinya yang tengah menyiapkan makan malam mereka.
 “Ada-ada saja permintaan Pak Egar itu, komentar dan sikapnya selalu saja bikin orang emosi,” keluh istrinya sambil meletakkan piring berisi ikan Nila yang baru digoreng.
 “Ada apalagi dengan Pak Egar, Dia masih sering menggodamu,” Arga memandangi tubuh semampai yang berjalan menuju freezer disampingnya. tubuh Aryanti terbilang langsing dengan pinggul yang bertaut serasi dengan bongkahan pantat montok yang selalu bergetar mengiringi tiap langkah kakinya.
“Sungguh aku gak relaaa,,,” bibir Arga mendesah pelan ketika teringat obrolan dikantornya tadi siang, bagaimana mungkin dirinya membiarkan tubuh indah itu ditunggangi oleh teman-teman sekantornya.
“Apa? Bicaramu selalu saja pelan, bagaimana aku bisa mendengar,”
“Oh,,, Tidak,, aku hanya memanggilmu,” Arga memeluk istrinya dari belakang, membaui rambut tergerai yang masih sedikit basah, tangannya mengelus lembut bongkahan pantat yang selalu saja membuatnya bergairah.
Telah sering Arga ingin mencoba lubang bagian belakang yang ada ditengah-tengah pantat itu, sebuah seks anal, tapi Aryanti selalu saja menolaknya, dengan berbagai macam alasan, jijik, jorok, takut sakit, dan puluhan alasan lainnya.
“Sayang,,, aku masih terlalu capek hari ini, aku tidak yakin dapat melayanimu malam ini, bahkan mungkin aku akan langsung tertidur ketika menyentuh kasur,” keluh Aryanti saat Arga meremasi payudaranya.
“Hahaha,,, Tidak sayang, aku hanya ingin menawarkan sebuah liburan kepadamu, apakah kau bisa mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan? Bukankah kau belum mengambil cuti tahun ini,” Arga mencoba mengingat-ingat, bahkan pada saat perkawinan mereka, tepat tiga bulan yang lalu Aryanti tidak dapat mengambil jatah cutinya, semua gara-gara ulah pak Egar manager personalia salah satu Bank swasta tempat Aryanti bekerja.
“Liburan? Kemana? Kapan?,” Wajah Aryanti langsung berbinar, mungkin inilah kesempatan untuk sesaat melepas semua rutinitas yang melelahkan.
 “Aku yakin kali ini pasti bisa mendapatkan jatah cutiku,” sambungnya cepat, seakan takut Arga menarik kembali tawarannya.
“Besok lusa kantorku mengadakan liburan kesalah satu villa di pesisir pantai, rasanya sangat sayang bila kita melewatkan kesempatan itu, hitung-hitung kita dapat berbulan madu dengan gratis,”
“Bersama rombongan kantormu?,” dahi Aryanti mengerut, dirinya memang telah lama ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan suaminya. Ingin sekali Aryanti mencoba beberapa busana yang menantang, memperlihatkan keindahan tubuhnya dalam berbagai balutan busana yang sengaja dibelinya untuk bulan madu, tapi hanya di depan Arga.
Arga membaca rona kecewa pada wajah cantik itu. “Kau boleh mengenakan apapun yang kau mau, bahkan kau boleh melakukan apa saja disana,” Arga bingung sendiri dengan kalimat yang dilontarkannya, kenapa ia justru begitu takut Aryanti tidak bisa ikut dalam liburan kantornya.
“Tapi aku malu, disana banyak teman-temanmu,,,”
“Kenapa harus malu, mereka Cuma teman-teman sekantorku, bahkan beberapa dari mereka sudah pernah menginap dirumah kita, Ayolah sayang,,,”
“Tapi,,, apakah nanti aku boleh mengenakan hadiah yang diberikan Sintya pada saat perkawinan kita?” Aryanti bertanya dengan pelan, takut mengundang kemarahan Arga.
“Hadiah dari Sintya?” Arga mencoba mengingat-ingat hadiah apa yang telah diberikan oleh staff yang menjadi istri simpanan Pak Prabu itu.
“Owwgghh,,, dua lembar pakaian renang One Piece dan two piece, kenapa pula Sintya menghadiahkan pakaian semacam itu diacara pernikahan,” Arga mengumpat, jika Aryanti menggunakan itu maka tak ubahnya seperti menjajakan tubuhnya untuk dijamah dan dilahap teman-temannya.
“Yah,, mungkin kau bisa menggunakan salah satunya, dan menurutku one piece tidak terlalu jelek untukmu,” timpal Arga cepat, One piece lah pilihan terbaik dari yang terburuk.
Arga merinding ketika Aryanti menyambut usulnya dengan wajah yang tersenyum. Ruangan menjadi senyap, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tidak ada lagi percakapan serius hingga mereka selesai makan dan beranjak ke tempat tidur. Paginya Arga melahap roti selai kacang dengan sedikit enggan, matanya terus memandangi tubuh Aryanti yang dibalut seragam biru muda dengan list putih disetiap sisinya. Sungguh tubuh yang mempesona, apalagi seragam itu melekat ketat, wajarlah bila banyak lelaki yang menggoda. Tapi, heeyy,,, kenapa Aryanti mengenakan seragam yang lebih ketat dari hari-hari biasanya, tidak salah lagi itu adalah seragam yang telah lama dikeluhkannya karena sudah terlalu kecil untuk membalut tubuhnya yang semakin montok. Seragam itu telah lama tidak digunakannya. Bahkan rok yang sudah terlalu kecil itu berhasil mencetak dengan indah segitiga celana dalam yang membalut bongkahan pantat yang padat, dan lebih tinggi beberapa sentimeter dari rok yang biasa dikenakannya.
“Mas, sebenarnya aku tidak yakin bisa mendapatkan cuti untuk liburan besok,” suara Aryanti mengagetkan lamunan Arga,
“Memangnya kenapa?”
“Ya, kau tau sendiri bagaimana sikap dan tingkah laku Pak Egar, aku tidak mau dia mengambil kesempatan atas permohonan cutiku ini,” ucap Aryanti sambil mengangkat roknya lebih tinggi untuk mengenakan stocking, hingga Arga dapat melihat celana dalam yang dikenakan istrinya, dengan cepat birahinya terbakar.
“Ayolah sayang, aku rasa kau bisa sedikit menggodanya untuk mendapatkan izin itu, dan aku yakin kau dapat melakukannya,” kalimat itu mengalir dari mulutnya dengan dada yang bergemuruh, paha jenjang yang mulus siapa yang tidak tergiur bila kaki indah itu melenggang dengan seksi. Arga bingung dengan perasaan yang menyesak didadanya, entah kenapa dirinya kini justru ingin sekali memamerkan keindahan itu kepada teman-temannya.
“Baiklah sayang, semoga aku bisa melakukannya, tapi kau harus tau aku melakukan ini semua hanya untukmu,” ucap Aryanti yang telah siap dengan sepatu hak tinggi. Jemari lentiknya mengambil kunci mobil Yaris yang tergeletak disamping tv.
 hilda - jilbab montok (3)
############################
 Di kantor Arga tidak dapat bekerja dengan tenang, pikirannya dihantui berbagai misteri yang akan disuguhkan dalam liburan mereka nantinya. Di ruang sebelah, dari dinding pemisah ruangan yang keseluruhan menggunakan kaca, Arga tersenyum melihat Aditya, keponakan Pak Prabu yang tampak asyik berbincang dengan Sintya. Tampaknya pemuda yang masuk dalam lingkungan kerjanya dengan jalan KKN itu mulai berusaha menggoda Sintya, wajar saja karena dalam liburan nanti dirinya memiliki kebebasan penuh untuk mendapatkan tubuh bahenol dari simpanan pamannya itu. Pukul 15.30, Arga yang melirik jam di ruangan, merasakan waktu berjalan dengan sangat lambat.
“Heeii,,heii,,heeiii,,Apakah kalian sudah siap dengan liburan esok,” teriak Dako ketika melewati pintu kacanya yang terbuka.
Arga mendapati sesosok tubuh semampai terbalut jilbab putih dibelakang Dako. Melemparkan senyum termanis dengan lesung pipit yang mengapit dikedua pipinya, matanya berbinar indah, dengan raut muka yang penuh keramahan dan keakraban. Ya,,, sebuah senyum yang selalu saja membuat hati Arga tak berkutik.
Cut Zuraida, dokter muda istri sahabatnya itu memang memiliki sejuta pesona bagi dirinya. Arga sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin gadis kalem dan lembut itu justru memilih Dako yang terkadang urakan, untuk menjadi teman hidupnya.
“Untuk liburan besok, Aku dan Zuraida telah mempersiapkan semuanya, dan aku harap kau dan istrimu juga begitu,” ucap Dako sambil memeluk pundak istrinya.
“Aku harap kau mengajak Aryanti, karena liburan ini pasti akan sangat menyenangkan,” sambung Zuraida, Dako mengedipkan matanya ke arah Arga sambil menyeringai.
“Ya pasti liburan ini akan sangat menyenangkan,” balas Arga yang tersenyum kecut.
Seandainya Zuraida tau, Dako suaminya telah mempersilahkan kepada mereka untuk berlomba mendapatkan tubuh indahnya.
“Apa kau benar-benar merelakan wanita alim itu disantap oleh teman-temanmu,” bisik Arga, setelah Zuraida meninggalkan mereka untuk mengambil beberapa barang di ruang kerja Dako.
“Justru itu, aku sangat ingin melihat semuanya terjadi, tentunya tanpa membuatnya marah, dan aku rasa kau bisa membantuku,” Arga tercengang dengan jawaban sahabatnya sejak di bangku SMP itu.
Dengan langkah santai Dako menggamit pinggul Zuraida melangkah keluar. Tepat didepan pintu, tanpa diduga Dako meremas pantat istrinya yang dibalas tatapan tajam Zuraida yang marah atas ulah suaminya.
##############################
 Arga mencoba mencoba memejamkan matanya di atas sofa di ruang tamu rumahnya.
“Uuuggghhh,,,” Arga menghela nafasnya, minggu ini benar-benar hari yang melelahkan bagi batinnya.
Aryanti dan Zuraida, dua sosok wanita yang memiliki kesempurnaan tubuh yang sering diimpikan dan dimiliki kaum hawa. Aryanti dengan gayanya yang riang dan supel membuat semua lelaki berlomba untuk berakrab ria dengannya sambil mengagumi setiap lekuk bagian tubuh yang sempurna. Sedangkan Zuraida, sosok wanita kalem dengan senyum yang menawan dan mata yang teduh, membuat para lelaki merasa betah untuk berlama-lama mencumbu keindahannya. Hanya saja bagi Arga, Zuraida memiliki arti lebih dari sekedar seorang wanita yang ramah, di balik tubuhnya yang selalu tertutup oleh gaun putih khas seorang dokter, Zuraida memang memiliki mistery yang begitu besar. Sayup-sayup dirinya mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Tak lama terdengar suara Aryanti yang bersenandung riang, memasuki rumah. Arga terjaga dari lamunannya.
“Sayang, aku telah mendapatkan cuti seperti yang kau mau,” seru Aryanti riang, mengecup kening Arga yang tengah tiduran.
“Oh yaa?,,, bagaimana cara kau mendapatkannya, bukankah itu tidak mudah?,”
“Ya, seperti yang kau katakan tadi pagi, aku harus sedikit menggodanya,” Aryanti mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Untuk mendapatkan cuti yang kau inginkan, aku harus melepas dua kancing bagian atas blazer ku ketika memasuki ruangannya, bahkan ketika duduk di depannya aku sengaja melipat kedua pahaku untuk memberikan Pak Egar sedikit tontonan yang menarik, berharap orang tua itu dapat langsung memberikan izinnya.”
“Lalu?” sambar Arga cepat dengan suara yang dibuat sesantai mungkin. Matanya menatap rok Aryanti yang semakin tertarik keatas ketika istrinya itu duduk disampingnya, pikirannya mecoba membayangkan suguhan apa saja yang telah diberikan istrinya.
“Dan seperti katamu, tidak mudah untuk mendapatkan izin itu, orang tua itu justru semakin ngelunjak ketika aku mengajukan permohonan cuti, dia memintaku untuk menemaninya mengobrol disofa diruangannya, dan tahu kah kau apa yang dilakukannya selama obrolan itu terjadi,” Aryanti berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
“Dia mulai berani meraba pahaku ini, bahkan berulangkali mencoba memasukkan jemarinya kedalam rok sempit yang jelas tidak akan cukup untuk tangan gemuknya, meski aku tau usahanya sia-sia, aku tetap menepis ulah usilnya itu,” Aryanti mencoba menutup ceritanya sambil mengecup bibir suaminya.
Dengan sangat bernafsu Aryanti meneguk minuman dingin milik Arga yang ada di depannya.
“Baiklah, Banyak persiapan yang harus kulakukan untuk besok, dan aku tidak ingin ada barang penting yang tertinggal nantinya,” Aryanti beranjak dari duduknya, meski wajahnya sedikit pucat karena kelelahan setelah bekerja sehari penuh, namun wanita cantik itu terlihat begitu bersemangat menyambut liburan.
 hilda - jilbab montok (4)
Sementara Arga sibuk mengingat-ingat sosok tambun Pak Egar, dengan jari-jari tangan yang juga dipenuhi lemak. Tubuhnya yang pendek membuat pria paruh baya itu semakin membulat. Namun seberkas noda yang mengering pada rok bagian belakang Aryanti membuat Arga meloncat dari peraduan.
“Apakah hanya itu yang dilakukannya padamu,” sela Arga sambil perlahan menarik Aryanti hingga kembali duduk disampingnya. Entah mengapa Arga begitu penasaran dengan noda yang dilihatnya.
“Ya,,,Setelah tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya pada bagian bawah tubuhku, tangan yang dipenuhi bulu itu menghiba kepadaku untuk bisa merasakan sedikit kepadatan payudaraku,”
Arga mendengarkan cerita istrinya dengan jantung yang mulai berdegub kencang, meski ada rasa cemburu disana tapi tak ada sebersitpun gelora amarah, entah mengapa?.
“Selama dia melakukannya dari luar blezerku kupikir tak mengapa, dan bisa kau tebak bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, tangannya bergerak cepat meraba, meremas dan terkadang mencubit dengan kuat hingga membuatku sedikit menjerit. Tapi tak lama kemudian Pak Egar mengeluhkan blazerku yang terlalu tebal dan memintaku untuk melepas beberapa kancing yang tersisa. Aku teringat akan pesanmu tadi pagi untuk memberikan sedikit tontonan pada orang tua yang sudah hampir pensiun itu, jadi biarlah dirinya mendapatkan sedikit keindahan dari tubuhku, toh aku masih mengenakan blus yang menutupi tubuhku” Suara Aryanti semakin berat, matanya menerawang mencoba mengingat kejadian tadi siang.
“Lalu?” Tanya Arga dengan suara tercekat.
“Yaaa,, aku mempersilahkan tangan gemuknya itu masuk kedalam blazerku, tohhh masih ada blus yg menutupi tubuhku,”
“Dan Mungkin hari itu memang hari keberuntungan baginya, karena aku mengenakan bra yang terlalu tipis, jadi sangat mungkin jemarinya dapat merasakan kedua puting payudaraku yang mengeras karena godaannya. Tapi bukan Pak Egar jika tidak melakukan berbagai kejutan-kejutan,”
“Kejutan? Apakah dia mencoba memperkosamu?”
“Tidak,tidak,,, kukira dia tidak akan berani melakukan itu, dia hanya menyerang bibirku dan berusaha memasukkan lidahnya yang basah kedalam untuk merasakan lidahku. Bibirku yang tertutup rapat dan terus menolak justru membuat wajahku basah oleh jilatannya, karenanya aku membuka sedikit bibirku agar pria itu tidak melakukan tindakan yang menjijikkan itu. Bagai orang yang haus, lidahnya berusaha menarik bibirku untuk bertandang ke dalam mulutnya, bahkan berulangkali menyedot ludahku, aku tak kuasa menolak undangan itu, dan tau kah kau sayang?,,,ternyata lidahnya begitu panas, mengait dan menghisap lidahku yang akhirnya ikut menari-nari dalam mulutnya,”
Tanpa sadar Arga meneguk liurnya.  (Kalo pembaca budiman yang lagi tegang mendengar penuturan Aryanti, ingin meneguk ludah juga, boleh koq,,,)
“Namun justru di situ kesalahanku, di saat lidahnya beraksi dengan nakal dan harus kuakui aku terbuai, tanpa kusadari tangannya berhasil membuka beberapa kancing atas blus-ku dan terus menyelusup kedalam bra, dan akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, kedua payudaraku diremasnya bergantian, sesekali mulutku menjerit tertahan dalam pagutan bibir tebalnya ketika tangannya meremas terlalu keras.”
Arga tak mampu menahan tangannya untuk tidak bertandang kedalam blus Aryanti yang telah melepas blezernya, seakan tak ingin kalah dengan cerita istrinya Arga meremas kedua bukit kembar itu dengan kuat, membuat Aryanti memekik. Aryanti mencoba mengangkat pantatnya mencoba membantu Arga yang kini berusaha menyingsingkan rok ketat itu ke pinggulnya. Aryanti sangat paham dengan tingkah suaminya yang sedang birahi. Sesaat Arga memandangi dua paha mulus yang bertemu pada kuncup selangkangan yang begitu indah. Stocking yang masih melekat pada kaki Aryanti membuat bagian bawah Aryanti semakin menggoda. Arga membaui vagina istrinya yang basah. Tanpa menunggu persetujuan Aryanti, Arga yang sudah melepas celana kolornya berusaha melolosi celana dalam putih yang menutupi kemaluan yang ditumbuhi semak hitam.  Aryanti hanya bisa pasrah ketika kakinya semakin terbuka, mengangkang, menyambut hujaman batang milik suami tercinta,
“Uuuummhhhh,,, milikmu masih yang terbaik sayaaaang,,,,” dengusnya saat batang itu memenuhi rongga yang semakin basah. beberapa saat Arga menggoyangkan pantatnya dengan pelan.
“Lalu, apakah bibirnya berhasil mencicipi dua payudaramu ini?” Tanya Arga dengan suara bergemuruh.
“Oooohhh,,, tidak sayaaang,,, diaa justru memaksa bibirku untuk menerima penisnya, yang entah sejak kapan sudah terpampang di depan wajahku, dengan sedikit ancaman akan membatalkan izin cuti untukku, dan lagi-lagi dia berhasil mendapatkan yang diinginkannya, memasukkan penis hitam ituuu,, ke dalam mulutkuuuu,” Suara Aryanti terengah-engah, disatu sisi dirinya harus jujur dan menceritakan semua yang telah terjadi, di sisi lain vaginanya yang terus mendapat hujaman-hujaman keras dari batang Arga memberikan stimulan kenikmatan ke otaknya, membuatnya tak mampu lagi menyortir apa dan bagian mana dari pengalaman gilanya yang harus disembunyikan.
“Apakah miliknya panjang dan sebesar milikku?” keegoan sebagai seorang lelaki muncul dihati. Arga semakin cepat mengobok-obok vagina yang menganga pasrah.
“Tidak sayang, miliknya jauh lebih pendek dari milikmu, hanya saja batang itu begitu gemuk, mulutku sempat kewalahan meladeni goyangannya yang semakin cepat, dan akhirnyaaaaaa,,,”
“Mampukah mulutmu ini memasukkan semua batang penisnya,” dengus Arga, pantatnya menghantam selangkangan Aryanti bagai orang kesurupan. Dirasakan orgasme hampir menyapanya.
“Yaaa,,, bahkan aku dapat merasakan bagaimana batang itu berkedut,” Aryanti yang terbawa permainan Arga juga bersiap menyambut orgasmenya. Dengan kuat Aryanti membelitkan kaki indahnya dipinggang Arga, membuat penis Arga semakin terjepit.
 hilda - jilbab montok (5)
“Aaaapa diaaa,,, berhasil menyiramkan speeermanya dimulutmuuu,,,,,” teriak Arga bersamaan dengan semprotan pertama yang menghambur keluar.
“Tidaaakkk,,, sayaaaang dia menyemprotkan spermanya tepat dilubang anuuussskuuuu,,, Aaaahhh,,aahh,,”
Badan Aryanti berkelojotan ketika tak mampu lagi membendung orgasme, pantat nya terangkat keatas agar penis suaminya itu menohok semakin dalam. Pengakuan terakhir yang keluar dari bibir Aryanti memberikan jawaban akan noda yang mongering pada roknya, justru membuat orgasme Arga semakin dahsyat. Batang besar itu menghujam semakin dalam, dan terus menghentak kasar dengan sperma yang terus menghambur keluar. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?, bukankah Aryanti tidak pernah bersedia melakukan anal seks?
 “Aaaahhh,,,, Eeemmhhh,,,Aaaarrgghhh,” keberingasan Arga membuat kenikmatan yang diterima Aryanti semakin sempurna. Seakan tak ingin kehilangan vagina itu terus mengemut dengan kuat mencari-cari kenikmatan yang tersisa.
Sesaat keduanya mengatur nafas, pergumulan mereka memang selalu menghantarkan pada kenikmatan yang dahsyat, tapi kali ini ada sensasi yang berbeda. Membuat ego Arga memuncak untuk membuktikan dirinyalah yang terbaik, dan memaksa Aryanti untuk berimajinasi dengan liar atas pengalaman yang didapatnya hari ini.
“Eee,,,Apakah kau marah padaku?,” Tanya Aryanti ragu-ragu disisa gemuruh nafasnya, walau bagaimanapun Arga adalah suaminya, dan Aryanti sangat takut kehilangan orang yang disayanginya itu.
“Aku telah berusaha untuk jujur meskipun itu pahit, aku,,, akuu,, mengakui semua kesalahanku membiarkannya terus bermain dengan tubuhku,” tambahnya, mencoba menghiba.
Arga merasa kasihan dengan posisi Aryanti yang merasa bersalah, ingin sekali Arga mengerjai Aryanti dengan berpura-pura marah, namun hatinya tak tega, dan lagi-lagi entah mengapa, sungguh,,, tak ada rasa amarah di dada, hanya cemburu membara yang justru membangkitkan libido untuk bercinta.
“Kurasa tergantung bagaimana kondisimu saat itu, jadi ceritakanlah semuanya,” ucap Arga sambil memainkan payudara Aryanti yang penuh dengan tanda merah.
Seingatnya, cerita Aryanti tidak pernah menyinggung tentang permainan bibir atau sedotan pada payudara yang membuat tanda merah, hanya remasan-remasan nakal dari lelaki tua itu.
“Ku berharap kau tidak menyesal mendengar kejujuran ku ini, dan berjanjilah untuk tidak marah sayang, karena aku melakukan ini semua untukmu,” lirih Aryanti dengan wajah serius sekaligus memelas.
Arga yang asyik menambahkan beberapa tanda merah di dada istrinya itu akhirnya terdiam, “Kenapa aku harus menyesal dan marah, apakah dia bertindak kasar terhadapmu,” selidiknya.
“Seperti yang kukatakan tadi, mulut ku cukup kewalahan untuk melayani penis kecilnya, aku tak tau bagaimana mungkin batangnya dapat bertahan begitu lama, dan aku merasa kasihan dengan wajahnya yang mulai kelelahan dengan keringat yang mengalir deras dikulit putih pucatnya,”
Penis Arga menggeliat manja didalam selimut vagina Aryanti.
 “Lalu apa yang kau lakukan untuk membantunya?,” Tanya Arga, dirasakannya batang itu mulai terjaga, menggelitik dinding vagina Aryanti dengan nakal.
“Ya, akhirnya aku mencoba sedikit menarik rokku, dan dia membaca apa yang ingin kutawarkan untuk menyelesaikan permainan ini. Seakan takut aku menarik tawaranku, dengan sigap tangannya menarik rok ku semakin keatas dan menyibak celana dalamku.
Kau pasti tau sayang aku sangat ingin mnyelesaikan permainan itu secepatnya, agar tidak terlalu merasa berdosa kepadamu, tapi aku juga tak mampu menolak ketika kepalanya dengan cepat menghilang di selangkanganku dan lagi-lagi aku merasakaaa,,n lidahnya yang panas menjilat, mengusap dan menyedot klitoris ku yang sudah sangat basaaah,, Aaahhh,,,” Mata Aryanti terpejam, bayangan akan kejadian tadi siang ditambah vaginanya yang kembali menerima sodokan pelan membuat wanita itu kembali melayang mengejar kenikmatan.
“Aku harus mengakui permainan lidahnya begitu nikmat, dan aku tak mampu menolak orgasme yang menyerang diriku, kulihat Pak Egar menyeringai tersenyum dengan kumis dipenuhi selai putih milikku. Meski baruuu,, saja mendapatkan orgasme, birahiku memaksa tanganku untuk kembali membenamkan wajahnya di selangkanganku dan berharap lidahnya memasuki liaaa,,angku sekali lagiii,,,. Aku ingin lidahnya menggelitik dinding-dinding vaginaku, menggigiiiitt,, klirotiskuuu,,,. Dan memang, akhirnya lagi-lagi aku menyerah pada orgasme yang begitu nikmaaat,”
Rambut kemaluan Aryanti yang begitu lebat membuat Arga jarang memainkan lidahnya pada selangkangan istrinya, dan dirinya tidak menyangka jika istrinya justru sangat menyukai itu, dan kini istrinya telah mendapatkan kenikmatan itu dari pria lain. Cerita Aryanti bagaikan dongeng mesum yang menghantarkan pada persetubuhan yang sedikit berbeda, penisnya kembali menyodok dengan mantap. Sementara Aryanti berkali-kali mendesah dalam keasyikannya bercerita.
“Setelah membiarkanku beristirahat beberapa saat, Pak Egar menawarkan padaku sebuah kesepakatan. Bila aku bersedia menerima penisnya pada vaginaku maka dirinya akan mempromosikan sebuah jabatan baru yang selama ini memang kuinginkan.”
“Lalu, apa kau menyetejuinya?” seru Arga cepat, penisnya semakin mengeras menghentak selangkangan istrinya.
 “Yaaa,,, dirinya telah melihat semua bagian intim tubuhku, lagipula penis miliknya begitu kecil, jadi kupikir tak apalah jika penis itu beberapa saat mencari kenikmatan di kemaluanku. Sekali merangkuh dayung dua pulau terlampaui, itulah pikirku, dengan memenuhi keinginannya aku bisa mendapatkan cutiku dan jabatan yang baru,”
 hilda - jilbab montok (6)
“Aku membuka kedua pahaku dengan lebar, mempersilahkan tubuhnya yang tambun untuk merapat di selangkanganku dan melakukan penetrasi di kemaluanku. Awalnya dia memintaku untuk melepas rok dan seluruh pakaian atasku, tapi aku malu, tapi kurasa cukup dengan melepas celana dalam dan mengangkat rokku hingga ke pinggul, dia dapat dengan bebas menyetubuhiku dan melakukan apapun yang dimaunya dengan selangkanganku,”
 “Seperti yang kuduga, dengan mudah batang itu berhasil memasuki vaginaku, dan menggoyang selangkanganku dengan kasar. Namun aku harus kecewa, perutnya yang buncit ditambah penisnya yang begitu pendek membuat batang itu berkali-kali terlepas dari vaginaku, dan Pak Egar menangkap kekecewaanku,”
 “Agar dia dapat menuntaskan nafsunya dengan cepat Aku mencoba membuka blus dan bra ku, dan membiarkan bibirnya bertandang didadaku, namun apa yang dilakukannya itu justru membuatku semakin terangsang, lidahnya menjilat dan menggigiti putingku ini. Namun usahaku tak juga membuahkan hasil, penisnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai,”
 “Akhirnya, aku harus pasrah ketika Pak Egar memintaku mengangkat kedua lenganku untuk melepas blus ketat ini, tapi dia agak kesulitan ketika harus melepas rokku yang telalu ketat, sehingga aku harus melakukannya sendiri dengan berdiri membelakanginya, tapi belum sempat rok ini jatuh menyentuh lantai aku merasakan lidah yang basah berusaha menyelusup dibelahan pantatku,”
“Ooowwgghhh,,, sayaaang itu benar-benar suatu pengalaman yang sangat menggairahkan, seorang atasan yang memiliki wajah galak dan selalu menggerutu kepada semua staf bawahanya, tengah mendengus penuh nafsu menjilati lubang anusku. Aku membungkukkan badanku mencoba memberi ruang untuk lidahnya yang menjelajah anus dan vaginaku, dan entah kenapa aku marasa sangat puas ketika melihat matanya diantara belahan pantatku memohon sedikit kenikmatan dari tubuh istrimu ini sayang,”
“Pak Egar mencoba posisi yang lain, dia memintaku untuk menduduki penisnya dengan cara membelakangi tubuhnya, Ooohhh,, tahukah kau sayang? aku sangat malu dengan kondisi dan apa yang sedang kulakukan saat itu, aku merasa bagaikan seorang pelacur yang bersedia melayani apapun yang diinginkan pelanggannya. Tapi posisi itu tetap saja sulit, penis itu selalu terlepas dari vaginaku, bahkan beberapa kali penis itu menusuk-nusuk liang anusku karena salah sasaran.”
“Lalu Pak Egar kembali menanyakan keinginanku akan jabatan baru yang ditawarkannya, dia telah berhasil membuatku telanjang di hadapannya bahkan penisnya telah menjajal vaginaku tentu saja aku tidak ingin rugi, karenanya aku mengangguk dengan cepat,”
“Tapi lagi-lagi Pak Egar membuat kejutan, yang sebenarnya lebih cocok dengan mencurangi diriku,,” erang Aryanti.
“Mencurangimu?, memang apa yang dilakukannya?” kening Arga berkerut.
“Ya,,, dengan sedikit kasar dia menghentak tubuhku ke belakang, penis nya yang tepat berada dibawah liang anusku menumbuk dengan keras, aku berusaha untuk menghindar tapi karena tak mampu menjaga keseimbangan tubuh, penisnya yang sudah sangat basah oleh cairanku justru semakin tenggelam dalam anuskuuu,,,”
“Dan lagi-lagi dia berhasil mendapatkan yang diinginkannya, dengan sedikit hentakan anusku menelan semua batang itu, tapi yang membuatku heran aku tidak merasakan sakit sedikitpun, eeentah karena penisnya yang terlalu kecil atau mungkin juga nafsu yang telah menguaaasaiii,,kuuu,,,,”
 “Dan sungguh tak kuduga aku sangat menikmati posisi itu. Aku menggoyang tubuhku mengikuti irama hentakan penisnya yang semakin dalam, aku mencoba mencari orgasme ku sendiri, tapi aku lagi-lagi harus kecewa saat penis itu menyembur dengan cepat, membasahi liang anuskuuu,, aku hampir tertawa ketika tangannya memeluk tubuhku dengan kuat dan memantapkan posisinya penisnya yang menghamburkan bibit benihnya di anusku, dia mengaku kalah dan mengakui kehebatan jepitan kedua lubangku”
 “Aaawww,,,pelan sayaaang,” cerita Aryanti terpotong oleh jeritannya sendiri, ketika Arga kembali menghentak dengan kasar, menggedor dinding rahimnya dengan keras.
“Berarti kau telah melayaninya dengan anusmu, Apakah kau menikmatinyaaa sayaaaaang,,,” Tanya Arga dengan suara mendengus bagai banteng.
“Maafkan aku sayaaang,,, tapi itu benar-benar nikmat, aku bahkan menunggu penisnya kembali mengeras dan rela memasukkan penis itu kedalam mulutku agar kembali mengeras, dengan sedikit memaksa untuk menusuk anusku lagi, dan rasanya sungguh nikmaaaat, berkali-kali aku merasakan orgasme dan berkali-kali pula Pak Egar memuji lubangku ini, katanya diriku adalah tubuh ternikmat yang pernah disetubuhinya,”
“Mungkin kau juga perlu mencoba pintu belakangku iniii,,” tawar Aryanti, masih subur diingatannya bagaimana eforia kenikmatan saat dirinya mengayuh penis kecil pak Egar pada liang anusnya, dan kini dirinya ingin kembali menikmati hal itu dengan batang yang lebih besar, milik suaminya.
Arga menghentikan pompaannya, dan mencabut penis yang diselimuti selai putih. Aryanti mengangkat paha jenjangnya dan memeluk lututnya hingga menyentuh payudaranya. Dan tampaklah vagina yang merekah basah, dirembesi sperma dari orgasme Arga sebelumnya yang mencoba keluar dari lorong sempit vagina, namun bukan vagina itu yang menjadi perhatian Arga saat ini, tapi lubang mungil yang mengerucut imut yang ada tepat dibelakang vagina itulah yang menjadi perhatiannya. Arga tidak yakin penis besarnya dapat menerobos lubang yang masih tertutup rapat itu.
 “Ayolah Saaayaa,,ang,” erang Aryanti merayu.
 Arga mencoba memasukkan telunjuknya untuk sedikit membuka, telunjuk itu bermain-main keluar masuk dengan lembut, dan kini jari tengahnya ikut ambil bagian, terdengar desahan Aryanti yang semakin keras.
“Saayyyaaaannng,, lakukanlah sekarang, ceeepaaattt,,,” teriak Aryanti yang semakin erat memeluk lututnya membuat lubang pantatnya begitu menantang untuk dihujam.
“Aaaarrrgghhh,,, aarggmmhhhh,,,” Arga mengejangkan otot penisnya agar dapat memasuki lubang sempit itu.
“Eeeemmhhhh,,, Iyaaaa,,,yaa,, yeeeaaahhh,,” batang yang perlahan namun pasti mulai tenggelam dan terus memenuhi setiap rongga anal Aryanti. Istrinya menggeram, menjerit dan berteriak dengan keras.
 hilda - jilbab montok (7)
Tidak seperti yang dirasakannya saat menerima penis Pak Egar tadi siang, batang milik Arga jauh lebih panjang dan besar. Dan kini batang itu terus masuk semakin dalam membuat analnya begitu penuh. Setelah dirasakan penisnya menyentuh pangkal bagian terdalam, Arga menghentikan hujamannya, dirasakannya dinding anus yang tergencet oleh batangnya berkedut-kedut.
“Aaaahhh,,, sayaaang,,, ini jauh lebih nikmaaat, mulailah mengayuh tubuhku.”
“Yaaa,,, ini sangat sempiiit,,, sangaaatt nikmaaat,,,” sahut Arga dengan nafas mendengus liar.
 Arga mencoba mengayun penisnya namun lubang itu bukannya melebar tapi semakin menyempit akibat kontraksi birahi yang terjadi pada otot anal. Dan itu benar-benar menghasilkan sebuah kenikmatan. Sofa kecil yang menampung dua tubuh manusia itu mulai berderit ketika Arga mengayuh semakin cepat. Aryanti tidak lagi memeluk lututnya, selangkangannya telah terbuka lebar. Sementara jemarinya kini aktif mengusap dan menusuk-nusuk liang vaginanya yang kosong. Tampaknya vaginanya yang melompong menuntut pula untuk diisi, meski hanya dengan jemari Aryanti. Sempat terbesit diotaknya, membayangkan kenikmatan bila kedua lubangnya itu diisi oleh dua penis sekaligus, tak peduli penis siapapun itu.
“Aaaahhh,,,,” gara-gara fantasinya Aryanti jadi semakin liar, jemarinya mengobok-obok vaginanya dengan cepat. Arga mencoba mengimbangi dengan mengayun batangnya dengan lebih cepat. Seluruh otot vagina dan anal Aryanti berkontraksi dengan dahsyat dan,,,,,,
“Aaaaggrrrgghhhh,,, aaahh,,,” vagina Aryanti menghambur kalenjar cintanya, membanjiri telapak tangannya yang masih menstimulasi dinding vagina, sebuah orgasme yang begitu dahsyat.
“Yeeeaaahhhh,,, saaayyyaaaa,,,anng,,,” penis Arga berkedut dengan cepat menghantar bermili-mili sperma. Penisnya berkali-kali menghentak hingga keujung lorong.
Tak lama, tubuhnya ambruk menindih sang istri tercinta. Bersahutan nafas mereka memburu udara sekitar, paru-paru mereka memaksa untuk diisi setelah dibiarkan kosong saat mereka terus mengejan menghamburkan cairan cinta.
“ini jauh dari yang aku bayangkan selama ini,” bisik Aryanti.
 “Ya,, milikmu memang selalu nikmat,” sambung Arga.
 “Jadi, kau tidak marah aku melakukan itu?”
 Arga terdiam, harga dirinya sebagai seorang suami tengah dipertanyakan oleh sang istri. “Hhhmm… Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi, aku marahpun takkan berguna karena aku sadar kau melakukannya demi kita,” ucap Arga, berusaha untuk tersenyum.
********
 hilda - jilbab montok (8)
Aryanti meloncat dari ranjangnya dengan wajah kaget. Jam di samping ranjang menunjukkan Pukul 07.30, Aryanti khawatir mereka akan ditinggalkan oleh rombongan yang berangkat pukul 09.00 tepat. Bagaimana tidak, sejak kemaren sore mereka bermain gila-gilaan hingga semalam suntuk, mungkin ini sebuah pemanasan yang berlebihan untuk bulan madu mereka yang tertunda. Namun Aryanti terpaksa sedikit lebih lama menyabuni tubuhnya, setiap bagian tubuhnya terasa lengket, entah oleh keringat mungkin juga karena cairan mereka yang menghambur keluar. Aryanti tersenyum sendiri saat teringat aksinya tadi malam, dirinya berhasil meyakinkan Arga suaminya bahwa sperma yang mengalir keluar dari vaginanya adalah milik Pak Egar dan disebabkan keadaan yang sangat memaksa. Busa sabun yang menutupi sebagian kulitnya membuat tubuh itu semakin eksotis, baru kali ini dia merasa bangga ketika Pak Egar memuji tubuhnya dan mencumbunya dengan sangat bernafsu. Padahal sebelumnya dirinya selalu jijik jika pria itu memandangi nya dengan penuh nafsu. Aryanti berdecak kagum dihadapan cermin kamar mandinya, dibiarkannya shower manyapu busa sabun yang tersisa. Jika suaminya memang mengizinkannya untuk bersenang-senang pada liburan nanti, lalu kenapa dia harus menahan diri untuk mencari kesenangan, begitulah yang ada diotak Aryanti saat ini. Air shower yang hangat membuatnya betah untuk berlama-lama melihat tubuh telanjangnya dialiri air yang menciptakan sungai-sungai kecil, mengalir disela bukit payudaranya yang membusung dan akhirnya menyelusup keselangkangannya. Komentar apa yang akan keluar dari bibir teman-teman suaminya itu jika dirinya membiarkan tubuhnya ditelanjangi oleh pandangan mereka. Adakah kekaguman bila dirinya membiarkan payudaranya tersenggol oleh ulah mereka yang usil?  Adakah celoteh-celoteh nakal yang terlontar bila dirinya membiarkan selangkangannya diintip oleh mata nakal mereka?. Oohhh,,, tampaknya Aryanti sangat ingin menikmati petualang-petualangan yang mendebarkan. Tapi Aryanti kemudian mendesah panjang, tidak mungkin semua itu terjadi, dia adalah seorang istri yang baik-baik dari suami yang baik-baik pula. Biarlah kegilaan yang kemarin menjadi intermezzo dalam kehidupannya yang takkan terulang lagi.
“Duk,duk,duk,,,”
“Sayang, buka dong pintunya, bakal telat nih kita,” teriak Arga, yang bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah dibukakan pintu oleh Aryanti.######################
hilda - jilbab montok (9)
Arga hanya bisa tersenyum kecut, ketika kedatangannya disambut oleh kicauan Dako dan Munaf. Tapi setidaknya pria itu bisa bernafas lega karena bis wisata yang mereka carter belum datang. Arga menurunkan istrinya beserta tas dan koper dan memarkir mobil di basemen gedung. Setelah meyakinkan tidak ada yang tertinggal dimobil, Arga bergegas untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dari kejauhan Arga melihat Aryanti sedang asik berbincang dengan Zuraida dan Bu Sofia tepat didepan pintu masuk kantor. sementara disamping mereka Aditya bersama istrinya Andini yang masih sangat muda sedang bercengkrama dengan Sintya, rupanya diam-diam Aditya mencoba menjalin keakraban antara Andini dengan Sintya. Tak jauh dari mereka, Pak Prabu, Munaf dan Dako asik mengisap rokok mild mereka, tapi yang membuat Arga jengah adalah tatapan ketiga cowok itu yang tak pernah lepas dari tubuh para wanita, khususnya Aryanti yang mengenakan celana jeans ketat selutut dipadu kaos lengan panjang yang cukup kebesaran untuk tubuh rampingnya.  Sambil berjalan mendekati Aida, Istri Munaf yang duduk terpisah disamping gedung, Arga mengeluarkan rokoknya. Aida mencoba tersenyum ketika melihat Arga mendekat namun kemudian kembali asik dengan telpon celuler yang dipegangnya. Arga mencoba menilai-nilai wanita disampingnya, Munaf sering bercerita tentang istrinya yang pemalu dan agak kuper dalam bersosialisasi. Tak heran jika dirinya menyendiri agak jauh dari yang lain. Namun yang membuat Arga terkesima adalah dandanan Aida yang sedikit nakal dari yang biasa dikenakannya. Rok putih lebar yang sangat pendek dipadu kaos merah menyala tanpa lengan yang ngepres dibadannya.
“Kostum yang bagus untuk liburan,” seru Arga sambil memantik api ke rokoknya.
Aida langsung mengangkat kepalanya, dengan wajah memerah Aida mencoba mengapitkan kedua lengannya untuk melindungi dadanya yang menjadi pemandangan indah bagi Arga, tapi payudara itu justru semakin membusung.
Arga yang ikut kikuk karena komentarnya sendiri tertangkap basah melototi dada istri temannya itu. “Kamu semakin terlihat cantik dengan baju itu, dan saya rasa liburan ini akan semakin menarik dengan kehadiranmu,” ucap Arga berusaha membuat suasana lebih santai.
Wajah wanita berkacamata dengan lesung pipit dikedua pipinya itu semakin memerah, namun apa yang diucapkan Arga membuatnya sedikit rileks. “suami saya yang memilihkan baju-baju ini, karena tidak ingin dirinya malu dihadapan teman-teman,” kata Aida jujur.
“Hei, apakah itu gambar mu,” sela Arga ketika melihat sebuah gambar kecil dengan pose yang menantang di sebuah laman jejaring sosial pada HP yang tengah dipegang Aida.
Aida sontak tertawa dan dengan cepat menyembunyikan HP nya kedalam tas, “Hahaha,,, kau tidak berhak untuk melihat ini”.
“Lalu siapa yang berhak, ayolah,,, sepertinya banyak sekali komentar yang kau kumpulkan untuk gambar itu, pasti gambar itu benar-benar menarik minat para lelaki,” seloroh Arga penasaran.
“Tidak juga, hanya beberapa gambar request dari beberapa teman yang tidak pernah aku kenal,” jawab Aida dengan sedikit ragu menyerahkan HP nya ke telapak tangan Arga.
Dengan cepat Arga menyambut, dan dengan cepat pula decak kagum mengalir dari mulutnya seiring jempolnya yang mengekplorasi beberapa gambar menantang lainnya.“Aku tidak percaya, kau dapat berubah menjadi begitu menggairahkan, lihatlah ratusan komentar yang kau dapat, sepertinya kau benar-benar memikat mereka,” ucap Arga ketika mendapati sebuah gambar yang begitu menantang, tubuh montok dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan handuk.
“Mungkin,,, tapi dalam dunia nyata aku tetap saja menjadi seorang pecundang, dan tidak akan pernah mampu menyaingi istri mu atau bu Zuraida yang selalu menjadi pusat perhatian, dan begitu mudah bergaul dengan siapa saja.” lirih wanita berkacamata itu.
“Dan kau dapat melihat sendiri, hanya didunia maya aku berani berekspresi, karena disitu tidak seorang pun yang mengenal jati diriku sebenarnya,”
Ada nada kecewa akan keterbatasan yang dimilikinya sebagai wanita desa yang dipinang oleh perjaka Kota dan harus bergaul dengan istri-istri suaminya yang selalu tampil modis dan percaya diri. Tepat seperti yang diceritakan Munaf, Munaf sendiri sudah ribuan kali berusaha membangkitkan kepercayaan diri istrinya itu.
“Saya tidak melihat satupun cacat pada diri mu yang dapat membuat mu malu, bahkan bibir mungil dipadu dengan lesung pipit yang manis, dan mata lentik berhias kacamata yang manis itu dapat membuat para lelaki tergila-gila pada mu, yaa,, seperti aku ini,,”
Aida terkekeh, “Hahaha,,, kamu bisa saja, lelaki mana yang melirik wanita yang sudah beranak satu ini, bahkan suami ku pun kini sudah jarang memuji, apalagi sampai memuji tubuh yang sudah mulai berantakan setelah melahirkan,”
“O, ya? Maaf, bolehkah saya meminta anda untuk berdiri sebentar,”
Dengan ragu-ragu Aida mengikuti permintaan pria yang sempat beberapa kali diajak oleh Munaf untuk bertamu ke rumah mereka.
“Eemmmhhh,,, bisakah kamu berdiri agak tegak, yaaa,, mungkin kamu dapat sedikit membusungkan dada mu, yaa begitu,,” Arga terus memberi intruksi, matanya tak melihat adanya gumpalan lemak pada perut yang ramping itu, bahkan bukan hanya payudaranya saja yang menggairahkan, kakinya yang membunting padi dengan pangkal paha yang sekal membuat gairah Arga semakin menggelitik. Namun mata nakal Arga agak kesulitan untuk mengamati pantat yang terbalut rok dengan lipatan-lipatan lebar. Tampaknya Munaf berhasil menyulap istrinya untuk liburan ini. Seakan mempersiapkan istrinya untuk disantap. Sebuah transformasi yang sempurna dari seorang gadis desa menjadi seorang wanita yang menggairahkan, hanya saja yang menjadi kendala adalah rasa percaya dirinya yang bermasalah.
“Bila kamu berdiri seperti itu, mungkin tidak akan yang mengira bila kamu sudah meliki satu anak, dan ku rasa dada mu tidak kalah dengan istri ku, bahkan lebih besar,”yulis - jilbab semok (1)

Walau birahinya bergejolak saat menyaksikan dengan bebas bagaimana wanita yang sangat pemalu itu membusungkan payudaranya yang terbilang besar dan masih kencang, namun Arga berusaha membuat suaranya setenang mungkin. Entah bagaimana, obrolan yang awalnya kaku itu semakin mencair bahkan lebih terbuka. Aida merasa senang dengan pujian yang dilontarkan Arga. percaya dirinya menyeruak dengan malu-malu. Matanya berkali-kali memergoki pria disampingnya itu memandangi payudaranya berlama-lama dengan binar kagum.
“Aku berani bertaruh, aku dapat membuat mu memiliki percaya diri dan menjadi pusat perhatian pada liburan ini, asalkan kamu mengikuti saran yang ku berikan,” ucap Arga setelah Aida kembali duduk disampingnya. Jarak mereka yang cukup jauh dari rombongan membuat rasa malu Aida sedikit berkurang, setidaknya tidak ada yang memperhatikan dirinya selain Arga.
“Ah,,, Kamu ada-ada saja. Sudahlah,,, kamu terus saja mengomentari tubuhku, Apa kamu tidak tertarik dengan wanita-wanita yang lebih menggairahkan itu” jawab Aida tidak percaya.
Sesaat Arga mengalihkan pandangannya, tampak Zuraida yang megenakan rok panjang lengkap dengan penutup kepala nya sedang merangkul Dako yang ikut bergabung dengan Aryanti dan Bu Sofia. namun Aida yang kini dihadapan lebih menarik perhatiannya.
“Ayolah,,, Aku berani berbugil ria keliling monas bila aku gagal,”
Sontak Aida mengernyitkan dahinya namun sesaat kemudian bibir mungil itu tertawa lebar. Baru kali ini Aida dapat bercanda lepas dengan pria selain suaminya.
“Tapi, apabila Aku berhasil, mungkin Aku dapat sedikit mengambil upah atas tubuhmu ini,” kalimat yang dilontarkan Arga semakin nakal, Aida yang tertawa langsung terdiam.
“Aaa,, apa yang akan kamu minta dari tubuh saya?” dengan tergagap Aida bertanya.
Ada tekad dihati Arga untuk dapat meraih satu orgasme dari tubuh istri temannya itu, apalagi secara tidak sengaja tiupan angin nakal menyingkap kain rok yang ringan, sepasang paha mulus yang sekal terpampang di depannya. Dengan malu-malu Aida segera merapikan roknya, mengapit sisi kain diantara pahanya.
“Mungkin akan ku pikirkan nanti, setelah usaha ku menumbuhkan rasa percaya diri mu berhasil. Tapi satu yang pasti, aku sangat berminat dengan apa yang tersembunyi di balik kaos merah ini, bahkan jika diizinkan aku ingin sedikit berkenalan dengan milik mu yang tersembunyi dalam kain indah ini,” ucap Arga sambil meletakkan telapak tangannya diatas paha Aida yang tertutup rok.
“Eehh,ehm,,jangan nakal ya,,” seru Aida, menepis tangan Arga dengan cepat.
“Shit,,,” Arga mengumpat dalam hati, hanya gara-gara tak mampu membendung nafsu, telapak tangannya itu telah merusak semua rencana, mungkin dirinya harus sedikit bersabar, Aida memang bukan wanita seperti Sintya atau wanita lainnya yang begitu mudah diajak ke tempat tidur.

“Upss,,, maaf,,, aku terlalu bergairah saat melihat kulit mulus mu,” Ujar Arga serampangan, dan hatinya kembali mengumpat, kenapa mulutnya harus begitu jujur menturkan isi hatinya.
Suasana kembali kaku, Arga tidak lagi memiliki kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana. “Kemana eemm,,anak Anda dititipkan,” ucapnya asal, meski tak yakin kalimat itu dapat memperbaiki suasana, bahkan suara yang keluar dari mulutnya agak serak dan terbata.
“Sial, sial,sial,,” umpatnya dalam hati, saat melihat Aida justru tertawa melihat kegugupannya. Bahkan tubuh wanita itu sampai terguncang membuat payudara turut bergoyang. “Apakah kata-kataku memang lucu,” hati Arga menjadi kesal dengan sikapnya sendiri.
“Eemmm,, lalu apa yang harus aku lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diriku,” ucap Aida tanpa menjawab pertanyaan Arga, Aida sadar lelaki di depannya kini merasa bersalah dan menjadi serba salah.
“Yaa,, mungkin kita bisa memulai dari sekarang,” ucap Arga.
“Apakah harus menggunakan telapak tanganmu,” balas Aida cepat, sepertinya wanita itu justru ingin meledek Arga.
“Tidak, tidak, maaf atas perbuatanku tadi. seperti yang kubilang tadi, kamu dapat memulai dengan belajar menegakkan punggung, sehingga payudara itu semakin membusung, dan biarkan kedua bukit itu mendominasi pemandangan dari tubuhmu,” Arga kembali berusaha menguasai keadaan setelah sadar dirinya sedang dikerjai oleh istri temannya itu.
Dan benar saja, kini giliran Aida yang kembali kikuk dan bingung, haruskah dirinya mengikuti saran lelaki yang hanya dikenal dari suaminya. Tapi tak urung saran itu diikutinya juga.
“Apakah seperti ini?” ucapnya menahan malu, payudaranya memang terbilang besar, apalagi jika harus duduk tegak seperti itu.
“Ya,ya,,, mungkin kamu bisa sedikit bersandar agar tidak terlalu capek, tapi jangan pernah lagi menekuk pundak dan menundukkan kepala, biarkan kepala mu tetap tegak, dan yakinlah kamu tidak kalah cantik dengan wanita manapun…dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk menguji kelebihan yang kamu miliki, aku yakin dengan keindahan tubuh yang kau miliki, kamu dapat menggoda penjaga kantor itu,” ucap Arga sambil menunjuk seorang pria paruh baya di sebrang mereka, Mang Engky.
“Tapi apa yang harus ku lakukan,” balas Aida yang kebingungan,”
“Sekarang ikuti intruksiku,,, Ok, coba rentangkan kedua kakimu,,, ya,, terus,, biarkan angin menyapa kulit, bagus,,,dan tetaplah menatapku seolah kita sedang mengobrol,, bagus,,,” Mata Arga yang begitu tajam menatap Aida seakan memberikan semangat kepada ibu muda yang berusaha menahan malu mengikuti intruksinya.
Tak urung aksi itu membuat jantung Aida berdegup kencang, ini adalah untuk pertama kalinya Aida memperlihatkan selangkangannya yang hanya tertutup oleh pakaian dalam kepada pria lain. Jemarinya meremas bangku kayu dengan kuat, Aida sangat yakin jika penjaga kantor itu memang tengah menatap selangkangannya pasti mendapati sepasang paha montok yang menggairahkan.
“berapa lama saya harus melakukan ini,” Tanya Aida, dirasakannya semilir angin dengan mesra mengecupi kulit pahanya, membuat bulu-bulu halus yang menghias paha sintalnya berdiri.

yulis - jilbab semok (2)

“Teruslah, Biarkan rasa malu menguasai dirimu, biarkan rasa malu menyelimuti seluruh tubuhmu, rasakanlah wajah mu yang mulai terasa panas dan memerah, dan terus nikmati rasa malumu,” Aida memejamkan matanya, membayangkan ekspresi pria di hadapannya yang siap menerkam tubuhnya.
“Nikmati rasa malu itu, hingga kamu mampu menguasai tatapan nakal pria itu,” kata-kata Arga bagai menghipnotis geraknya, Tanpa sadar Aida semakin membuka pahanya semakin lebar.
“Dan sekarang tarik sedikit rok mu, biarkan pria itu menikmati selangkangan mu, biarkan pria itu menerkam kemaluan mu dengan matanya.”
Sontak mata Aida terbuka, Wajahnya menunjukkan kata-kata protes, jika hanya mengangkangkan kakinya mungkin tidak terlalu masalah, tapi dengan membuka roknya semakin keatas sama saja memberi undangan terbuka kepada Mang Engky. Meski wajah Arga dan Aida tetap saling menatap, tapi mata mereka sesekali melirik dan memperhatikan apa yang tengah dilakukan Mang Engky.
“Tidak Arga, Aku tidak mau jika harus melakukan itu,”
“Ayolah, Aku yakin kamu dapat menggoda pria itu, lihatlah dia mulai memperhatikanmu, Oowwhh,, pria itu mulai menundukkan tubuhnya mengambil sesuatu tapi aku yakin dirinya hanya ingin mencari tau apa yang tersembunyi dibalik rok mu itu, mungkin kau bisa memberinya sedikit rejeki di pagi hari,” goda Arga.
“Tapi aku tidak mengenakan apapun selain celana dalam,” balas Aida cepat.
Lagi-lagi Arga menganggukkan kepalanya menegaskan kepada wanita muda itu bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengubah pribadinya. Sementara hati Aida mencoba mencari-cari pembenaran atas apa yang dilakukannya saat ini. Setelah menghela nafas panjang, jemari nya secara pasti menarik rok itu semakin ke atas. Meski tidak yakin dapat merubah sifat pemalunya, setidaknya Aida ingin menikmati sedikit kenakalan yang tidak pernah dilakukannya. Sepasang paha putih nan sekal, perlahan mulai terpampang dengan lebih jelas berujung pada secarik kain pelindung, seandainya Arga sedikit menundukkan kepalanya maka dirinya akan dapat pula menikmati suguhan indah di pagi hari nan indah itu.
“Apakah ini cukup,” suara Aida terdengar berat. Beberapa tetes keringat menetes diwajah wanita berkacamata itu. Sementara jemarinya kini meremas tangan Arga dengan kuat, seakan meminta dukungan atas apa yang dilakukannya.
“Ya, kurasa cukup,” ada nada-nada cemburu dan iri dimata Arga atas keburuntungan yang tengah dinikmati Mang Engky. Tekad Arga untuk dapat menyetubuhi Aida semakin menggebu, dan ini adalah jalan pintas terdekat untuk cita-cita nya tersebut.
Mang Engky yang memang sedang menikmati pemandangan indah itu, semakin dibuat kelimpungan ketika dua paha sekal yang membuat batangnya berdenyut keras mulai memberikan akses pemandangan yang lebih gila, Sepasang batang mulus yang berujung pada segitiga bermuda berbalut kain biru muda, yang menjadi misteri bagi lelaki yang tak pernah lulus SD ini. Aida merasakan vaginanya mulai basah, seandainya Mang Engky berada lebih dekat mungkin pria paruh baya itu dapat melihat bagaimana celana dalam itu mulai lengket dan basah. Sementara Arga berulangkali mengumpat dalam hati atas kemujuran yang didapat Mang Engky, ingin sekali Arga menyibak rok Aida dan melihat bagaimana keindahan selangkangan wanita di sampingnya itu. Tanpa diduga, Aida memalingkan wajahnya dan menatap Mang Engky yang hampir terjengkang karena kaget dan berlalu pergi dengan cepat.

yulis - jilbab semok (3)

“Kenapa pria itu pergi,,,” keluh Aida, padahal dirinya hanya ingin melihat wajah lelaki yang telah menikmati keindahan tubuh yang ditawarkannya.
“Tidak,tidak,,, justru kau telah berhasil menguasai rasa malumu dengan berani menatap pria itu, lihat pada akhirnya dia yang malu, bukan kamu, kaulah pemenangnya”
“Ya kurasa ini sudah lebih dari cukup, pria itu tak mampu melawan godaanku,” ucap Aida dengan senyum lebar.
“Teeett,,,Teeet,,,” suara klakson bis wisata yang begitu kencang membuat Arga dan Aida terkaget.
Mang Engky yang sempat menghilang dibalik gedung kembali menunjukkan batang hidungnya dan bergegas mengarahkan bis besar yang memasuki halaman kantor. Sesekali matanya mencoba melirik Aida berharap menemukan pemandangan seperti yang dinikmatinya tadi.
“Lihatlah, apa yang telah dilakukan selangkangan mu pada pria paruh baya itu, ternyata kau memang nakal,” bisik Arga sambil beranjak.
“Tapi ku rasa bukan hanya pria itu yang menikmati,,,” balas Aida menggoda. Entah kenapa Aida merasa memiliki kebebasan untuk bercanda dan sedikit menggoda pria yang telah berhasil ‘menelanjangi’ tubuhnya ditengah umum.
Arga hanya terkekeh, “Eitss,, ingat tubuh mu harus selalu tegak, dan biarkan aku menikmati keindahan payudara mu, ehmm,, maksud saya para lelaki,” ucap Arga mencoba mengiringi langkah kaki Aida menuju rombongan yang sibuk mengepak tas mereka kebagasi.
Mungkin ada benarnya yang diinginkan Pak Prabu, dengan menggunakan bis wisata, mereka akan lebih cepat akrab dibanding menggunakan mobil pribadi masing-masing.

############################
Aryanti merentangkan kedua tangannya dan mengambil nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan udara pantai yang begitu segar. Zuraida yang ada disampingnya hanya tersenyum melihat ulahnya. Di hadapan mereka tampak sebuah cottage yang keseluruhan bangunannya menggunakan kayu dan atap dari rumbia, dikeliling sebuah pagar yang cukup tinggi. Sebuah pemandangan yang sangat artistik dengan nuansa natural, mungkin pencipta bangunan ini sengaja mempertahankan kealamian pemandangan yang ada, walaupun disana-sini terdapat beberapa tambahan bangunan permanen untuk menjaga keamanan dan penunjang fasilitas. Dengan ditemani Munaf, Arga menemui penjaga cottage yang dijaga oleh seorang lelaki berumur 40an dan seorang wanita muda yang bertugas sebagai juru masak bagi para tamu yang menginap, kulit mereka yang hitam seakan memberi tanda bahwa mereka memang telah lama mendekam dipulau tersebut.
Sementara Pak prabu terlihat sibuk memberikan beberapa isyarat kepada Sintya, memang cukup sulit menjaga kerahasiaan hubungan dengan simpanannya itu. Walau bagaimanapun Sintya adalah wanita normal yang mengharapkan kemesraan perlakuan penuh kasih sayang dari pasangannya. Untungnya semua wanita, selain Bu Sofia, telah mengetahui skandal itu, dan mereka mencoba menemani Sintya.
“Hei,,hei,,, disini menyediakan 7 kamar, dan pada kunci-kunci ini terdapat nomor dari kamar, dan aku bersama Aryanti akan mengambil kamar nomor lima, dan untuk menghormati Pak Prabu yang akan meninggalkan kita, ada baiknya kamar dengan nomor satu kita persilahkan kepada bapak untuk menempati,” terang Arga sambil menyerahkan kunci kamar kepada Pak Prabu.
Arga sengaja mengambil kamar nomor lima karena kamar tersebut ada dilantai dua dengan jendela tepat mengarah ke kolam renang dibawahnya. Sedangkan Munaf mengambil kamar paling belakang. Setelah membagi kunci yang akan menentukan dikamar mana mereka akan tidur, ruang lobby sekaligus ruang untuk bersantai itu perlahan kembali sepi. Matahari masih memberikan mereka beberapa menit untuk melepas lelah sebelum bersama-sama menyaksikan sunset pertama dipantai yang indah itu.

###############################
Pak Prabu menghisap dalam-dalam rokok yang masih tersisa setengah, pandangannya tidak lepas dari tubuh sekal Aida yang asik menanti ombak yang datang silih berganti, menyapa jemari kaki, membuat kaki indah itu sedikit terbenam dalam timbunan pasir. Telah lama memang dirinya menyimpan hasrat pada wanita berkacamata itu. Dan mungkin inilah masa-masa yang tepat untuk menjajal kehebatannya pada tubuh wanita yang memiliki tubuh bohay itu. Sesekali roknya terangkat tertiup angin laut yang nakal, memperindah pemandangan dengan latar belakang sunset dipantai eksotis itu. Arga yang ada disampingnya masih sibuk mengotak-atik GPS yang dipinjamnya dari Mang Oyik, si penjaga cottage. Sesekali Arga tersenyum menyaksikan keberhasilannya menyulap pribadi seorang Aida, Arga sangat yakin jika wanita itu menyadari tatapan nakal Pak Prabu karena matanya sesekali melirik kearah Pak Prabu yang tak bergeming dari pandangannya. tampaknya ia tengah menguji saraf rasa malunya di hadapan Pak Prabu.
“The party is begin, tentukan targetmu, taklukkan dan nikmati sepuasmu,” seru Dako yang datang diiringi Munaf dan Aditya.
“Naf, sepertinya sudah ada yang menjadikan istrimu sebagai target,” tambah Dako melontarkan umpan. Sementara yang disinggung mengangkat kedua bahunya dan tertawa lebar, Munaf sepertinya memang sudah mempersiapkan hatinya untuk pesta ini, bahkan dirinya mendadani Aida seindah mungkin seakan menawarkan kepada para gladiator yang berminat.
“Terus terang saja, aku telah menetapkan seluruh wanita disini sebagai target ku, dan tentu saja termasuk istrimu,” ucap Munaf sambil menepuk bahu Dako, lelaki itu memang terbiasa bicara ceplas-ceplos namun solidaritasnya kepada teman patut diacungi jempol.
“Silahkan saja, jika kau mampu menaklukkannya,” jawab Dako tak ingin kalah.
“Aidaaa,,, ayo sini,,,” terdengar suara Zuraida yang tengah menuju gazebo bersama para wanita lainnya.
Sore itu Zuraida tampak anggun dengan penutup kepala berwarna biru muda, senada dengan kaos yang dikenakannya, celana panjang dari bahan tisyu yang dikenakannya cukup sukses mencetak kaki indah yang tak pernah terekspos didepan umum. Siapa pulakah yang beruntung mengayuh tubuh indah dengan paras yang cantik itu
“Ok, agar liburan ini lebih berarti saya ingin menawarkan beberapa acara, dan untuk diketahui acara ini tidak mengikat siapapun jadi apabila ada diantara kita tidak dapat ikut ataupun malas untuk ikut berkumpul tak mengapa,,,” Sebagai calon pemimpin yang baru pada anak perusahaan, Arga mencoba menunjukkan power dengan gayanya sendiri.

yulis - jilbab semok (4)

Bibir Arga dengan tenang memaparkan beberapa ide acara yang ada dikepalanya, dan tampaknya semua yang ada disitu mengaggukkan kepala tanda setuju. Tanpa disadari yang lain, tampak sepasang mata penuh rasa kagum terhadap pribadi Arga yang tenang dan terkadang cukup humoris. Obrolan berlanjut pada hal-hal yang ringan. Munaf yang mencoba mendekati Andini dengan menawarkan sepotong kentang goreng yang sudah jatuh kelantai, ulah Munaf itu tentu saja membuat Andini terpingkal. Aditya yang paham dengan gelagat Munaf mencoba memberi tempat dengan alasan mengambil wedang jahe untuk gelasnya yang memang telah kosong. Gazebo itu memang terbilang cukup besar dengan atap daun nipah, dengan beberapa tempat duduk yang terbuat dari batangan-batangan pohon dipotong seukuran kursi yang diletakkan secara acak. Empat buah meja dari batu besar berwarna hitam sepanjang satu meter terletak disetiap sudutnya. Suara canda dan tawa mulai mengalir menandakan keakraban yang mulai terjalin, sungguh suasana keakraban yang sangat hangat, sehangat wedang jahe yang dihidangkan Lik Marni, istri Mang Oyik. Namun siapa yang menduga kehangatan tersebut dalam beberapa jam kedepan akan menjadi sangat panas, dihias berbagai desahan dan jeritan yang tertahan dari para betina, berselimut rasa solidaritas penjantan terhadap pemiliknya. Pak Prabu sesekali melirik tubuh Lik Marni yang telah menyulap dirinya dengan pakaian ala pelayan dengan kain kebaya lengkap dengan jariknya, sementara Mang Oyik mengenakan celana hitam yang longgar dengan kain sarung yang dilipat rapi. Harus diakui, Lik Marni memang memiliki wajah yang hitam manis khas wanita jawa pesisir, meski kulitnya sawo matang namun tubuhnya begitu kencang mendukung gerakannya yang lincah dalam melayani berbagai permintaan para tamu cottage. Pak Prabu meneguk ludahnya ketika Lik Marni berjalan menjauh, meninggalkan pemandangan yang begitu indah, bokongnya yang cukup besar berayun gemulai seakan mengundang untuk dijajal. Dan sepertinya bukan hanya Pak Prabu yang tertarik dengan olah gerak dari tubuh wanita muda itu, karena tatapan Aditya dan Munaf pun tak terlepas dari geol nakal tubuh yang terbalut erat kain khas wanita desa itu. Mang Oyik yang menangkap tatapan nakal para lelaki hanya tersenyum, dirinya telah terbiasa menghadapi para tamu yang menunjukkan minat pada tubuh istrinya.
“Silahkan disantap tuan-tuan, kalo ada keperluan lain bisa memanggil saya atau istri saya,” ucap Mang Oyik sambil tersenyum penuh makna, lalu pergi meninggalkan gazebo.
Arga yang sibuk meladeni celoteh manja Aryanti beberapa kali melotot melihat ulah Aida sepeninggal Munaf. Tampaknya wanita itu telah begitu pandai menonjolkan keindahan tubuhnya, dengan tatapan genit sesekali Aida merentangkan sayap pahanya dengan begitu lebar memamerkan paha sekal dan selangkangan yang terbalut kain putih. Ada sensasi luar biasa pada diri Arga dan Aida ketika berusaha untuk saling memberi dan menerima keindahan ditengah hiruk pikuk tawa dan canda. Untuk kesekian kalinya Aida merentangkan kakinya, hanya saja kali ini lebih lama dari sebelumnya, seakan mempersilahkan kepada Arga untuk lebih mengenali bagian paling sensitifnya. Sementara matanya bersiaga mengawasi sekelilingnya. Untung tak dapat dicegah, Zuraida yang masih penasaran dengan keindahan pulau itu mengajak Aryanti untuk sedikit berjalan-jalan. Bagi Zuraida sinar mentari senja yang menapaki setiap bulir pasir dapat menghadirkan ketenangan. Langkah kaki Zuraida dan Aryanti tampaknya diiringi oleh yang lain. Kini tinggallah Arga yang semakin bebas melumat pemandangan di hadapannya, tapi Arga harus mendengus kecewa ketika Aida beranjak dari tempat duduknya dan menuju kearahnya. Dan kini wanita itu telah duduk di sampingnya, dan terhentilah semua pemandangan itu.
“Aku lebih berharap kau tetap duduk di sana dan menikmati hidangan yang kau tawarkan,” ucap Arga dengan suara sepelan mungkin.
“Ooo Ya?,, apakah kau tidak ingin mencicipi hidangan itu,” jawab Aida dengan suara tak kalah pelan. “kapan lagi kau akan mengambil upah atas terapi nakal mu ini,” belum sempat Arga menjawab Aida telah beranjak, namun wanita itu tidak menuju pintu cottage tapi kearah samping kebagian salah satu sisinya.
Dengan pandangan penuh kemenangan Arga menatap Aditya dan Pak Prabu yang tertinggal di cottage.
“Ga,,, jangan langsung dihabisin, sisain gue buat ntar malam,” teriak Pak Prabu sambil tertawa, yang dijawab Arga dengan mengacungkan jari tengah.
“Om, Ntar malam, Adit pinjam tante ya?,,,” ucap Adit dengan sedikit ragu dan takut.
Sontak Pak Prabu tertawa terbahak, “Emang kamu sanggup ngeladenin tantemu itu? Hati-hati lho dia itu predator daun muda,” bisik Pak Prabu menggoda Adit. Wajah Aditya sumringah setelah mendapatkan lampu hijau dari Pamannya.
Aida yang melangkah cepat agak kebingungan mencari ruang yang sedikit terlindung. Gairahnya begitu menggebu, sejak obrolannya bersama Arga tadi pagi Aida terus mengeksploitasi tubuhnya di hadapan para pria. Ada kepuasan tersendiri ketika dirinya menikmati tatapan nakal para lelaki.
“Ibu bisa pakai kamar saya dan istri saya,” terdengar sebuah suara bariton yang ternyata adalah Mang Oyik, pria berjambang dan berkumis lebat itu tersenyum ramah sambil menunjukkan sebuah kamar dekat dengan dapur. Sepertinya Mang Oyik sudah sangat hapal dengan ulah para tamunya.
Aida melangkah cepat, tepat dipintu dirinya berpapasan dengan Lik Marni yang tengah memasak untuk makan malam mereka. Lagi-lagi keduanya melemparkan senyum, Maaf Bu kamarnya saya pinjam ya, ucap Aida sambil menahan malu, namun Lik Marni justru tersenyum dan membukakan pintu kamarnya yang berada tepat di samping pintu dapur. Arga yang menyusul Aida harus sedikit berbasa-basi dengan Lik Marni namun perempuan kalem itu justru memberi isyarat agar Arga secepatnya masuk kekamar.
“Kasian lho mas warungnya kelamaan nunggu, kalo warungnya tutup kan situ yang repot,” ujarnya sambil tersenyum simpul setelah Arga memaksakan sedikit obrolan yang tidak penting.
Mendapat sindiran yang begitu menohok akhirnya Arga membuka pintu kamar tidur pasangan penjaga cottage itu.
“Nanti malam warung saya juga buka lho, kalo mau mampir boleh koq,” seru Lik Marni cepat sebelum Arga menutup pintu.
Arga sempat kaget mendengar undangan itu, namun kemudian dirinya tersenyum, diundang untuk mampir ke ‘warung’ milik wanita semontok Lik Marni tentunya tak akan ada lelaki yang menolak. Apalagi Arga yang setelah menikah tidak pernah lagi mencicipi warung milik wanita lain. Di dalam kamar yang gelap hanya diterangi bias lampu luar yang menorobos dari sela ventilasi, Arga dapat dengan jelas melihat sosok Aida yang bertelungkup pada sebuah bantal. Body sekal dengan pantat montok yang sedari tadi pagi telah menghantui pikirannya kini tergeletak pasrah menunggu untuk dijamah. Apalagi dengan posisi telungkup tubuh itu semakin menggoda, rok pendek yang dikenakan tak lagi mampu menutupi dua buah pantat yang membulat padat. Arga mencoba memanggil Aida namun tidak mendapatkan jawaban. Arga bisa mengerti karena ini adalah perselingkuhan pertama wanita itu. Dengan perlahan Arga menyingkap semakin keatas kain yang menutupi bagian bawah tubuh.

Dengan pandangan takjub tangannya meremas dengan gemas dua bongkahan daging kenyal yang kini berada dalam teritorialnya, sadar waktu yang dimiliki hanya sebentar Arga bergegas melepas levi’s pendek dan kaos yang dikenakan, dan segera menduduki kedua paha putih mulus. Tangannya kembali bermain, meremas dan menekan bokong yang ditelantarkan pemiliknya dalam kebisuan. jemarinya dengan nakal mengusap klitoris yang masih terbungkus pengaman membuat pemiliknya harus mengerang geli. Arga mencoba mengukur panjang penisnya ditengah-tengah bongkahan, agak ragu Arga, apakah penisnya dapat masuk sepenuhnya seperti saat dirinya menjejalkan penis panjang dan gemuk itu ke vagina istrinya, Aryanti. Hal itu tak membuatnya pusing, namun kepasrahan Aida yang hanya membenamkan wajahnya dibantal itulah yang membuatnya bingung. Apakah wanita itu tengah menyembunyikan rasa malu untuk perselingkuhan pertamanya ataukah memang telah pasrah untuk disetubuhi. Arga mencoba menyulusupkan kedua tangannya kedalam kaos Aida, cukup sulit memang karena terhimpit oleh tubuh, tapi Aida mengerti dan sedikit mengangkat tubuhnya, membiarkan jemari Arga bertandang kepayudaranya.
“Hati-hati neng, ntar balonnya pecah lho kalo ditindih terus,” goda Arga yang dijawab dengan sikutan Aida ketubuhnya.
“Cepatlah, ambil imbalan yang kau mau, sebentar lagi makan malam,” balas Aida dengan memalingkan wajahnya kesamping. Arga semakin menyadari kecantikan dari istri temannya itu, kaca mata yang menghias wajah bundarnya membuat wanita itu semakin menggoda.

yulis - jilbab semok (5)
Dengan telunjuknya Arga mencoba menyibak kain yang menutupi lubang kemaluan, pikirnya tak perlu melepas segitiga pengaman itu, tapi kain itu terlalu ketat membungkus vagina dan bongkahan pantat yang cukup besar. Dengan dibantu Aida, Arga akhirnya memilih melepas kain yang menghalangi usaha birahinya. Debaran jantung Aida yang berdetak cepat menanti sentuhan dari pertemuan kedua kulit kemaluan mereka, dapat dirasakan oleh Arga.
“Eemmhhpp,,,” erangan Aida tertahan ketika vaginanya mulai menerima kepala penis Arga, cukup sulit memang bagi Arga untuk melesakkan penisnya ke vagina yang ternyata belum terbiasa dengan batang sebesar miliknya, apalagi dengan posisi memeluk Aida yang telungkup. Dengan berdiri pada kedua lututnya Arga menarik bongkahan pantat semakin menungging membuat vagina Aida semakin merekah. Mungkin dengan begini penisnya dapat lebih mudah melakukan ekspansi pikir Arga.
“Aarrggaa,,, gaaa,,” Aida terpekik ketika Arga sedikit memaksakan kepala penisnya menjelajah lebih jauh, meskipun sudah sangat basah tetap saja begitu sulit. Jemari Aida mencengkram tangan Arga dengan kuat untuk meredam perih yang dirasakannya.
Tapi pantat itu terus saja menyorong ke belakang, seakan meminta Arga untuk terus menghujamkan penisnya. Sesekali bergoyang untuk memuluskan jalan masuk dari batang besar yang terus menohok semakin dalam.
“Taahhaaannn,, duluu,,Gaaa,,” dengus Aida, sambil meminta Arga kembali memeluk tubuhnya yang telungkup. “Asal kau tauuu,, penismuu ituu terlaalu besar untuk kemaluankuu,, dan ini adalah penis pertama selain milik suamiku yang kubiarkan memasuki tubuuhhkuuu,,” seru Aida ketelinga Arga yang sibuk menciumi pipinya.
“Lalu,,,” jawab Arga dengan enteng.
Jawaban Arga yang begitu santai tentu saja membuat Aida menjadi jengkel. Arga yang melihat wajah Aida yang cembetut dengan bibir yang manyun segera mendaratkan bibirnya dan dengan dengan cepat lidahnya masuk mencari-cari tuan rumah dari bibir indah itu.

Aida memang tidak begitu mahir dalam permainan lidah, karenanya dirinya membiarkan saja lidah Arga menulusuri rongga mulutnya. Sesekali lelaki itu menyedot lidah Aida dengan kuat membuat wanita itu kalang kabut tak dapat bernafas.
“Aaaarrgghhhmm,,” tiba-tiba bibir Aida terlepas, menggeram kencang.
“Sedalam apalaaagi kaaau mauu menusuk kemaluanku Gaaa,,,” lengkingan Aida semakin menjadi ketika Arga terus saja menohok vaginanya meskipun batang itu telah sampai kepangkal rahimnya.
Aida tidak menyangka jika penis itu masih dapat masuk lebih dalam lagi, dan serangan Arga yang begitu tiba-tiba membuatnya terkejut.
“Mungkin ini sudah cukup,” jawab Arga setelah yakin penisnya tak dapat masuk lebih jauh lagi. Dengan perlahan Arga mengayun penisnya mencari kenikmatan yang dihidangkan dengan sukarela oleh tubuh istri temannya itu. Pantat Aida semakin terangkat, batang besar yang belum pernah dirasakannya itu ternyata mampu memberikan kenikmatan baru bagi dirinya. Mata Aida terpejam menikmati gesekan otot berselimut daging yang semakin lama semakin keras. Dinding vaginanya mencoba mengenali urat-urat yang menonjol di antara dinding kulit yang telah basah oleh lendirnya.
“Gaaa,,, masukin yang daaalaammm,,,please,” lirih Aida. Dinding rahimnya menagih untuk kembali disapa ketika Arga asik bermain dipermukaan vaginanya.

yulis - jilbab semok (6)
“Argaaa,,,” teriaknya dengan kesal. Disaat vaginanya begitu mendamba kembali disesaki oleh batang besar itu, Arga justru mencabut penisnya. Raut muka Aida yang jengkel membuat wanita itu semakin cantik.
“Sssttsss,,, aku ingin menidurimu, bukan menindihmu seperti ini,” bisik Arga sambil membalik tubuh Aida dan melepas kaos serta bra yang masih melekat, dengan nakal telujuk dan jempol Arga memelintir puting merah muda yang telah terpampang di hadapannya.
Sesaat keduanya saling menatap dalam temaram bias cahaya, dengan posisi seperti ini Aida tersadar dirinya yang selama ini berhasil menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus seorang guru teladan di sekolahnya mengajar, kini bersiap melayani birahi seorang pria, teman suaminya dengan keadaan yang sangat sadar. Dan sialnya dirinya pun memang menghendaki persetubuhan ini, entah mengapa seorang Arga telah berhasil menumbuhkan gairah liarnya, mengeksploitasi keindahan tubuhnya di depan umum, memohon selangkangannya kembali disesaki oleh batang luar biasa itu. Debaran jantungnya semakin cepat ketika merasakan vaginanya yang merekah kembali menagih untuk dikayuh oleh penis yang kini berada dalam genggamannya, berlumur lendir cintanya. Dengan kesadaran penuh Aida membuka selangkangnnya lebih lebar, memohon Arga untuk mengambil tempat diantara kedua paha yang sekal. Matanya yang terus menatap wajah Arga sesekali melirik batang yang kini berada tepat di depan gerbang kemaluannya. Gemeretak gigi terdengar cukup jelas ketika Aida menahan rasa penasaran dan gregetan karena batang itu tak kunjung amblas ke lorong yang begitu berhasrat untuk merasakan hujaman penuh nafsu. Ya,,,hanya bermain dipintu vagina yang tembem, menggosok, terkadang menyapu hingga kerambut-rambut yang tumbuh cukup lebat, dan sesekali mencelupkan sebagian kepalanya namun kembali keluar untuk bermain.

“Ooohh,, please Gaaa,,, setubuhi akuuuu,,, pleeaassse,”  rintih Aida seraya berusaha melepas kacamatanya yang berembun oleh deru nafasnya yang memburu.
“Ohh,,, tidak, biarkan kacamata itu tetap menghias kacamata ibu guru,” pinta Arga sambil menyinggung profesi Aida yang notabene bekerja sebagai guru Bahasa di sebuah SMU.
“Terserah kaulah, tapi cepatlah penuhi vaginaku,” rengek Aida semakin gregetan dan kesal.
Meski jemari Arga yang kini bermain dengan payudaranya membuat getaran nikmat Namun Aida tak ingin menunggu lebih lama, setelah mengangkangkan kakinya dengan lebar, wanita itu memegang pinggul Arga dan menekannya ke bawah berharap penis yang menggantung di depan kemaluannya kembali mengayuh vagina yang terus berdenyut minta diisi.
“Uuugghhh,,, yaaa,,yaaa,,,” tanpa melepaskan pandangan mata yang saling bertaut Aida begitu menikmati setiap dentuman penuh birahi yang menghentak keras.
Arga sendiri dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik berkacamata itu melotot meredam hentakan Arga yang semakin cepat. Sesekali mulutnya melenguh ketika hujaman Arga mengenai daerah paling dalam. “Ugghhhh,,,”
Kedua bibir mahluk berlainan jenis itu terus mendesis bersahutan, sesekali saling bertukar ludah dalam lumatan yang panjang.
“Yeeaahhh,, Gaaa,,, terusss,, yaa sayaaang,,,”
“Ummghhh,,,,aaahhh,,aahhh”
tubuh Aida melengkung, tak mampu lagi dirinya menahan orgasme yang melanda, kedua paha sekalnya menjepit pinggang lawannya dengan kuat, dengan tangan mencengkram punggung. Beberapa kali tubuhnya menghentak mengikuti orgasme yang begitu dahsyat, mulutnya meneriakkan lolongan kepuasan begitu keras, begitu nyaring. Tubuh putih nan sekal itu beberapa kali masih terhentak, orgasme datang silih berganti akibat ulah Arga yang terus menghentak tak memberi kesempatan bagi Aida untuk sejenak menikmati orgasme yang begitu dahsyat.
“Aaaarggghhhaaa,,, aahhh,,,” Setali tiga uang, ternyata Argapun tak mampu lagi menahan orgasmenya, bermili-mili sperma kental menghambur memenuhi lorong kemaluan yang semakin banjir.
“Uuggghh,,ughh,ughh,” disisa orgasmenya Arga kembali mengehentakkan penisnya, mencari-cari kenikmatan yang tersisa sekaligus mengalirkan tetesan sperma yang tertinggal.
Aida hanya tersenyum melihat ulah Arga, dibiarkannya lelaki itu terus menghentak vaginanya dengan segenap kekuatan yang dimiliki, mengeksploitasi kepuasan diatas tubuh bugilnya. Menggeram kuat dengan jemari mengcengkram erat kedua payudaranya, Mengejang penuh birahi di sela selangkangannya. mengosongkan kantong spermanya hingga memenuhi rongga vagina.

yulis - jilbab semok (7)

Meski dalam masa subur Aida tidak ingin memupus kenikmatan yang tengah dinikmati pria diatas tubuhnya itu. Dibiarkannya aliran sperma yang hangat memenuhi rongga rahimnya, apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi. Namun yang pasti saat ini dirinya begitu menikmati kepuasan yang terpancar dari wajah seorang pria yang bukan suaminya, terus memburu rentetan kenikmatan orgasme dari tubuh telanjangnya. Ada kepuasan dibatin Aida melihat wajah dan tubuh Arga yang bermandikan keringat tersenyum kelelahan, dipeluknya kepala Arga dan menempatkan wajah yang dihias kumis tipis itu diantara payudaranya. Obrolan ringan mengalir dari mulut mereka tanpa ada niat memisahkan dua kemaluan yang masih bertaut berselimut kehangatan lendir-lendir cinta mereka.
“Dugaanku tidak meleset, ternyata kau memang luar biasa,” ucap Arga sambil menyisir alis Aida dengan telunjuknya. Keringat dari pacuan birahi yang baru saja selesai masih terus keluar dari pori-porinya yang halus.
Tubuh Arga memang lebih besar dari suaminya, dengan badan atletis yang selalu terjaga. Dan Aida merasa tenang berada dalam rengkuhan dan tindihan pria tersebut.
“Hahaha,,, sudahlah,, tak perlu merayuku lagi, kau sudah mendapatkan segalanya dariku, aku harus mengakui pesonamu begitu mengagumkan, dan aku yakin sudah banyak wanita yang telah berhasil kau gagahi dan sialnya salah satunya adalah aku,,,. Jadi sekarang, sebaiknya cepatlah kau kenakan pakaianmu dan berkumpul dengan teman-temanmu di meja makan,” kata-kata Aida yang begitu panjang tak mendapatkan respon dari Arga yang kini mengukir bentuk bibir Aida dengan jemarinya.
“Ayolah Arga,, kau tidak mungkin terus menindih tubuhku, lagipula aku tidak ingin suamiku mendapati kemaluanku melebar karena terus menelan batang besarmu ini,” dengus Aida dengan berpura-pura kesal
Arga yang lebih banyak diam dan hanya menatap wajah dan tubuh telanjangnya membuatnya rikuh. Walau bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya mempersilahkan seorang pria, selain suaminya, dengan bebas menggasak selangkangannya. Bahkan suaminyapun tidak pernah melakukan itu, biasanya Munaf langsung tergeletak tertidur di sampingnya begitu berhasil menghamburkan sperma di rahimnya, dan kini ada seorang lelaki yang belum begitu dikenalnya, berlama-lama menindih tubuhnya tanpa melepaskan batang yang menghujam dan masih saja mengeras.
“Apakah kau benar-benar ingin aku turun dari tubuhmu?” Tanya Arga sambil mengambil ancang-ancang menjatuhkan tubuhnya ke samping.
“Emhh,, Arga, jangan membuatku terus merasa malu dong,” rajuk Aida sambil kembali memeluk tubuh Arga dan menyembunyikan mukanya yang memerah ke dada bidang Arga.
Kedua pahanya menjepit erat pinggul Arga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin batang besar itu lepas dari kemaluannya. Arga hanya tersenyum melihat tingkah Aida, namun kedua sikunya yang terus menahan berat tubuhnya untuk menghindari beban di tubuh Aida sedikit membuatnya capek, akhirnya Arga berguling kesamping dan menempatkan Aida di atas tubuhnya tanpa melepaskan penis yang masih mendekam manja. Wanita itu sempat terpekik, namun setelah mendapati posisi yang memberikan dominasi pada dirinya, Aida tersenyum. Dengan percaya diri yang dipaksakan Aida menduduki penis Arga dan membiarkan lelaki itu memandangi tubuhnya yang terekspos bebas. Aida sangat ingin memperlihatkan semua kelebihan yang dimilikinya. Aida mengakui tubuhnya lebih berisi dibandingkan wanita lainnya, hampir menyaingi kemontokan tubuh Bu Sofia.

yulis - jilbab semok (8)

Jemari kanan Arga terulur menjemput payudara besar yang menggantung, sementara tangan kirinya menyusuri pinggangnya yang ramping. “Ternyata kau benar-benar gemuk, untungnya lemak itu berada sesuai pada tempatnya,” desis Arga saat meremasi kedua bokong Aida yang begitu montok dan membuat batangnya terbenam semakin dalam.
“Tapi itu justu membuatmu sial, karena kau harus melayaniku sekali lagi,”
“Oh ya,,, tampaknya upah yang kuberikan masih kurang, baiklah,,, kau boleh kembali mengambil upahmu,” balas Aida seraya mengarahkan payudaranya kebibir Arga.
Tak perlu waktu lama, bibir indah itu kini kembali mendesis menikmati bibir Arga yang bermain nakal, menjilat, menyedot bahkan mengigiti kedua putingnya. Tak dihiraukannya telunjuk Arga yang kini mengusap-usap sekitar anusnya, namun ketika dirasakannya jari itu mencoba memasuki anusnya, Aida terkaget dan dengan cepat mencengkram tangan Arga.
“Jangan sayang, itu jorok sekali,”
“Tapi aku ingin mengambil upahku di lubang kecil itu,” ucap Arga dengan merengek manja.
“yang benar saja Arga, milikmu tidak akan mungkin cukup masuk kesana,” tubuh Aida bergidik, vaginanya saja begitu sulit melahap batang besar itu, dan kini batang itu ingin menjajal anusnya yang begitu sempit.
“Jujur saja, istriku telah melayani dua orang pria dengan anusnya, dan itu sungguh nikmat, Ayolah,,,” Arga bingung bagaimana lagi cara merayu, dirinya begitu terpesona dengan pantat montok itu, dan terus membayangkan bagaimana nikmatnya jika penis besarnya berhasil melesak masuk dan terjepit diantaranya.
“Istrimu? Aryanti? Telah melayani dua pria? Denga anusnya?” kening Aida berkerut terkejut oleh pernyataan Arga. “Ta,ta,tapi,,, aku tidak berani, itu pasti sakit sekali,” jawab Aida.
“Tuan, makan malam sudah siap, dan sepertinya tuan dan nyonya sudah ditunggu oleh teman-teman untuk makan bersama,” terdengar suara lembut Lik Marni, memutus perdebatan antara keduanya.
Arga kembali memandang mata Aida penuh harap, sekaligus menyampaikan pesan bahwa waktu mereka tak banyak.
“Baiklah,,, kau menang Arga, tapi lakukan dengan pelan,” Aida menyerah, melepas penis Arga yang masih menancap kemudian mengambil posisi menunging sambil memeluk bantal.
Tampak penis Arga begitu mengkilat, entah oleh spermanya tadi ataukah oleh cairan vagina Aida yang kembali basah. Sekali lagi Arga meremasi pantat besar Aida, dengan posisi itu vagina dan anus Aida terpampang jelas, begitu pasrah bersiap menerima tusukan penis pertama yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, terbayangkanpun tidak. Setelah mengambil posisi diantara kaki Aida yang tertekuk, Arga mencoba menusuk-nusuk lubang yang telah basah oleh liurnya. Dan memang kepala penisnya terlalu besar untuk lubang imut itu. Berkali-kali helm besar itu meleset ke atas dan sesekali terpleset ke vagina Aida, membuat bibir wanita itu mendesis.

“Sepertinya memang tidak bisa, sayang, dan mungkin aku akan melakukannya lain kali,” ucap Arga yang menyerah dan kemudian menusukkan batangnya ke kemaluan Aida.
Aida menggeram tertahan, mendapati selangkanganya ditusuk dengan tiba-tiba. “yaaa,yaa, teruusss,, kurasaaa iniii lebih baiiieek,” rintih Aida mengimbangi sodokan-sodokan keras dari Arga.
Dengan erat kedua lengan kekar itu memegangi pinggul Aida, untuk memantapkan serangannya, kamar gelap yang tadi senyap kini kembali riuh oleh gemuruh birahi. Masing-masing ingin menunjukkan kelihaian dalam memuaskan lawan mainnya. Aida berusaha mengejang untuk mempererat cengkraman otot vaginanya, dan itu cukup membuahkan hasil, Arga berkali-kali mendengus garang ketika penisnya tertahan cukup lama didalam lubang sempit itu, menikmati gerakan otot kelamin Aida yang mengempot. Aida tersenyum puas oleh usahanya.  Namun ketika Arga tiba-tiba menghentak keras jauh kedalam kemaluannya pekiknya terlontar. Dinding rahimnya tak pernah mampu membungkam hentakan nikmat batang yang terus menggedor ganas. Ranjang kayu dengan per busa yang tak lagi kencang terus menghantam tembok kamar. Membuat suara semakin gaduh. Aida mengangkat paha kanannya, memperlebar akses bagi batang itu untuk bergerak lebih bebas.
“Adduuuuhhh,,, duhh,,Gaa,,,Argaaa,,, masukiiin semuaaa,,, biar kutelaaann smuaaa,,,” jeritan birahi Aida begitu nyaring membuat Lik Marni yang ada didapur geleng-geleng kepala, meski telah terbiasa dengan ulah tamu-tamunya, tapi tak ada yang seganas mereka berdua.
Tubuh Aida tak mampu menahan hentakan pinggul Arga yang menggila, membuat pipi mulusnya menempel kedinding, kedua tangannya mencoba menahan di tembok kamar. Meski demikian pinggulnya masih memberikan perlawanan, bergoyang mengikuti hentakan yang membabi buta.
“Aarrrgghhh,,, Gaaa,,, keluaaarrr,,, Aiieedaaa sampaaaii Gaa,,”
“Aaahhm,, aahh,,, yang dalaaaamm,, daalaaam,,”
Aida tak lagi peduli dengan jeritannya yang memekik nyaring. Orgasmenya begitu dahsyat saat Arga memaksakan penis yang terlalu panjang itu berhasil masuk sepenuhnya ke dalam lorong kemaluannya. Tangan Arga berusaha menahan pinggul Aida yang berkelojotan, dengan punggung melengkung naik turun seiring orgasme yang perlahan mulai menyurut. Sudut matanya melirik Arga yang berusaha mengatur nafasnya dengan senyum tersungging. Keegoan Arga sebagai seorang lelaki melonjak saat melihat orgasme gila yang dialami Aida. Bertambah satu lagi wanita yang mengakui kehebatan barang pusaka miliknya. Terdampar di pantai orgasme, melenguh bersahutan bagai ombak yang datang silih berganti. Kini, lagi-lagi Arga memeluk tubuh montok yang tertelungkup kehabisan tenaga.
“Ga,,lakukanlah semua yang kau inginkan pada tubuhku, tapi beri aku waktu beberapa menit,” kata Aida tersengal-sengal.
Wajah cantik berkacamata yang kini bermandikan keringat memberikan pemandangan yang begitu indah.

yulis - jilbab semok (9)

“Mungkin aku akan membobol anusmu lain kali, dan hingga sampai waktunya tak ada seorangpun yang boleh menjamah lubang itu, dan sekrang berbaliklah,” bisik Arga dengan lidah menjilati kuping Aida.
Aida bingung dengan apa yang akan dilakukan Arga pada dirinya. Dengan penuh nafsu Arga mengangkangi payudara Aida yang terbaring pasrah. Kini tampak dengan jelas di depan mata Aida bagaimana bentuk dari batang yang telah memberikannya orgasme yang begitu dahsyat. Tepat di depan hidungnya, Arga mengocok batang raksasa yang menampakkan urat-urat yang mengelilingi, membuat daging besar itu semakin sangar. Entah dorongan dari mana Aida membuka bibirnya menawarkan batang itu untuk bertandang ke dalam mulutnya. Padahal Aida selalu menolak melakukan itu saat suaminya meminta dan memohon. Rezeki tak boleh ditolak, dengan cepat batang itu memenuhi rongga mulutnya, terkadang lidah Aida menyedot batang itu dengan kuat berharap batang itu menghilangkan dahaganya dengan sperma cinta. Sekelebat Aida teringat kesehariannya yang bekerja sebagai seorang guru, seorang guru cantik yang menjadi idola di sekolah. Namun kini terbaring pasrah dengan mulut penuh dijejali penis seorang pria yang bukan suaminya. Namun dalam setiap geraknya Aida justru ingin memastikan bahwa semua yang dilakukannya itu benar-benar nyata, bukan sekedar mimpi. Dengan jemarinya sesekali Aida menarik penis itu keluar dan memainkan di wajahnya yang mulus, menyusuri hidung dan telinganya. Sementara lidahnya menjilati kantung testis yang meggantung. Aida sangat sadar dengan apa yang dilakukannya, hatinya ingin mendobrak kungkungan moral dan hukum yang selama ini membelenggu. Berbagai kejadian yang dialaminya selama mengajar disekolah silih berganti hadir dipelupuknya, bagaimana mata para siswa cowok memandangi belahan roknya dengan sangat liar, terkadang Aida merasa risih ketika beberapa muridnya sengaja menundukkan badan untuk mengambil barang yang sengaja mereka jatuhkan. Aida harus mengakui sesekali murid-muridnya kadang sedikit beruntung saat dirinya terlupa menurunkan dan menjepit roknya yang selutut ketika duduk dibangku guru. Itu terlihat jelas dari mata mereka berbinar ketika berhasil mendapatkan pemandangan yang indah. Atau ulah penjaga sekolah yang mengiringinya setiap kali dirinya ke kamar kecil yang sebenarnya dikhususkan bagi para guru. Akibat ulah penjaga sekolah yang nakal tersebut Aida berusaha ekstra hati-hati dengan memastikan tidak ada celah lubang untuk mengintip. Bahkan tidak sekali dua kali, Pak Darno mengedipkan mata dan dengan sedikit isyarat yang dipahaminya sebagai permohonan untuk sedikit mengintip dua bukit yang tersembunyi di balik seragam PNSnya. Meski tidak mengabulkan permohonan itu, Aida tidak dapat memungkiri ada gairah yang menggelegak dalam dadanya. Ada rasa bangga ketika setiap bagian tubuhnya dikagumi oleh para lelaki. Hanya saja kenyataan dirinya sebagai gadis kampung yang diboyong kekota dan berprofesi sebagai guru lah yang menjadi rambu-rambu akan semua tingkah lakunya. Tetapi kini, dirinya terbaring pasrah di bawah tindihan seorang lelaki, merelakan setiap lubang di tubuhnya dijejali oleh batang berotot, gerakannya begitu pasrah mengikuti semua kehendak pejantan yang mengayuh tubuhnya, gairahnya menderu mengejar kenikmatan dan kepuasan yang dijanjikan oleh Arga, teman suaminya.

Dengus nafasnya kadang tertahan, ketika tubuh Arga yang berat menduduki kedua payudaranya, menjepitnya dengan keras, tapi entah mengapa tubuhnya justru semakin pasrah, menikmati bibir Arga yang mendesah dan merintih semakin keras di atas tubuhnya. Hatinya sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita jalang yang sanggup memuaskan para lelaki.
“Keluarkanlah semua saaayaaaang,,,” teriak Aida sambil membuka lebar mulutnya, seakan memberi tanda bibir indah itu siap menampung setiap tetes sperma Arga yang mengalir keluar.

yulis - jilbab semok (10)
“Aaaarrgghhhh,,,, iseeeppp yang kuat,iseeppp, semuaaaa,,,” teriak Arga ketika tak mampu lagi bertahan atas pelayanan yang begitu sempurna dari seorang guru yang cantik. Jemari Arga menjambak rambut Aida dengan kasar, memastikan penisnya tidak akan terlepas dari mulut Aida.
“Emmgghhhh,,mgghhh,,,” Aida menggeram berusaha memenuhi hajat pejantan yang melenguh melepas orgasme dirongga mulutnya, lidahnya berusaha menyedot batang yang berkedut kencang menghantar cairan kental ke mulutnya. Berkali-kali Aida meneguk untuk mengosongkan mulutnya yang telah penuh. Wajahnya begitu pasrah ketika batang berlendir ditarik keluar dan menghambur tetes terakhirnya di kacamata dan wajahnya. Aroma yang khas membuat mulutnya terbuka lebar berharap batang besar itu kembali masuk untuk mendapatkan pelayanan dari lidahnya. Satu lagi pelayanan yang begitu dahsyat dirasakan oleh Arga, yang tak pernah didapatkannya dari Aryanti istrinya. Ada rasa puas dan bangga ketika berhasil melukis wajah seorang guru yang cantik dengan aliran sperma. Dengan kekuatan yang tersisa Arga menjatuhkan tubuhnya ke samping Aida, perlahan mengatur nafasnya. Wajahnya meringis ketika Aida menggoda dengan menggenggam kepala penisnya dengan kuat, membuat kemaluannya terasa ngilu.
“Cepatlah berbenah, nanti kita dicari yang lain,” bisik Arga seraya mencari pakaiannya, jemarinya meraba-raba mencari kaosnya yang terlempar entah kemana.
“Kau duluan saja aku akan menyusul nanti, kau benar-benar luar biasa dan aku harus beristirahat sebentar,” jawab Aida yang justru mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh montoknya yang terbuka.
“Ok,, tapi jangan terlalu lama, aku takut suamimu cemas,” balas Arga sambil meremas payudara Aida dari balik selimut, membuat siempu-nya tertawa. “Kalau kau ada waktu, mungkin aku bersedia untuk sekali lagi melayanimu malam ini,” jawab Aida sambil terkikik sebelum Arga menghilang.

*****************

VIVI

astrid anjani - jilbab bohay (1)

Ini kisah aktivis kampus yang perduli terhadap lingkungan sosial yang ada (Pemerhati nasib ANJAL) di ibu kota Jakarta. Saat ini Vivi masih duduk di semester 4 di salah satu perguruan tinggi swasta. Dia adalah salah satu kembang di kampusnya, selain dia memang berparas cantik dengan di topang tubuh yang proporsianal, dia terkenal cukup peduli dengan lingkungan sekitar. Jadi tidaklah heran jika banyak Mahasiswa yang berharap ingin jadi orang yang selalu ada di dekatnya.

Tapi Vivi mempunyai segudang alasan untuk menolak curahan perasaan dari banyak pria di kampusnya. Memang sejak bergabung dengan sebuah yayasan social yang bekerjasama dengan kampusnya Vivi bersama rekan-rekannya Ratna, Kristin dan Teddy terlihat sedang sibuk mengajak anak-anak jalanan untuk belajar dengan mendirikan sekolah gratis. Sebuah bangunan yang sederhana mereka sewa sebagai basecamp. Meskipun dikatakan jauh dari kata layak tapi mereka berhasil membuat beberapa Anjal tertarik untuk untuk mengikuti kegiatan yang mereka pelopori. Diantara mereka ada Tuti bocah umur 7 tahun yang belum pernah mengenal baca dan tulis, Retno, Yani, Muksin, dan Tina yang umurnya lebih tua sekitar 2 tahun bernasib kurang lebih sama dengan Tuti. Dan diantara mereka juga ada yang telah Remaja diantaranya Noordin, Fajri dan Ulfah umur mereka kurang lebih 15-16 tahun. Mereka setiap pagi sampai siang hari selalu setia belajar bersama dan terkadang bagi yang tidak sempat baru sore harinya sampai jam 7 petang mereka bisa belajar bersama. Kondisi seperti itu di lakoni setiap hari oleh Vivi teman-temannya dengan cara bergantian memberi pengajaran terhadap anak jalanan tersebut.

Siang itu giliran Vivi dan Kristin yang mengajar anak jalanan.Mereka tampak begitu semangat mendengarkan para Mahasiswi itu mengajar. Saat itu Vivi bukan hanya terlihat sabar memberikan materi pelajaran Matematika yang di jadwalkan hari itu. Tapi dia juga tampak mempesona dengan baju gamisnya yang panjang namun tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh dan payudaranya yang besar.

“Noordin.. kamu kenapa?” tegur Vivi yang melihatnya tampak melamun dan kurang memperhatikan apa yang dia ajarkan.

Noordin yang disebut namanya segera sadar dari lamunannya dan terlihat gelagapan dan tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

“Ya…kak? Sahut Noordin dengan nada datar. “Coba kamu maju dan jawab pertanyaan nomor 5 !!” kata Vivi yang menyuruh Noordin mengerjakan soal perkalian yang ada di papan tulis itu. Noordin yang sejak tadi kurang memperhatikan pelajaran tampak bingung dan sedikit panik. Hal itu memang terlihat ketika dia hanya garuk-garuk kepala melihat soal yang di tunjuk oleh Vivi tadi. Melihat Noordin yang celingukan dan tampak serba salah Vivipun mendekat,

“ada apa dengan kamu Din..?” Noordin yang ditanya agak bingung untuk menjawabnya. “Kamu tadi ngelamun ya…dan gak merhatiin apa yang kakak ajarkan..!!” Vivi semakin mendekatkan wajahnya untuk meminta penjelasan dari Noordin.

Noordin semakin tidak nyaman dibuatnya. Tapi di sela-sela kebingungannya, dia bisa mencium aroma tubuh Vivi yang harum dan menggoda saat begitu dekat dengannya. “Maaf kak..” katanya singkat tanpa memberikan penjelasan apapun pada Vivi. Pelajaran kembali di mulai saat suara Kristin memecah kegugupan Noordin yang kemudian dia di suruh kembali duduk, tapi ketika Noordin mau kembali ke tempat duduknya, dia melihat sekilas terlihat Muksin begitu asik dengan coretan-coretan di buku tulisnya, yang membuatnya cukup penasaran.

astrid anjani - jilbab bohay (2)

Malam itu usai kegiatan yang menyibukkan mereka, Noordin, Fajri dan Muksin tampak sedang asik bersenda gurau di pos ronda yang biasa mereka buat untuk tempat mangkal. Di tempat yang tampak lusuh, dengan tiang-tiang kayu yang telah cukup rapuh mereka bertiga masih juga belum tidur. Fajri yang sejak tadi belum sedikitpun istirahat setelah berbagai kegiatannya mencari uang sekedar mengganjal perut kecilnya itu tampaknya sudah sangat ngantuk,hingga ketika punggungnya ia sandarkan ke sisi tiang pos ia mulai tak kuat untuk tidak memejamkan matanya.

“Tadi aku melihat kamu asik menulis di bukumu, memang apa yang kamu tulis Sin” tanya Noordin memuaskan rasa penasarannya pada Muksin,

Muksin yang di Tanya seperti di selidiki pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan Noordin tadi.

“Hei…kamu dengar gak sih, budek kamu ya?” sergah Noordin lebih tegas lagi.

Dengan agak gugup Muksin menjawab pertanyaan itu berusaha menyembunyikan sesuatu. “aku cuma nyatet apa yang diajarkan tadi kok”.

“Oh… klo gitu aku pinjem catatan kamu dong” kata Noordin lagi seakan mau memojokkan Muksin.

“Jangan…!!!” Muksin menolak dan tampak tidak nyaman akan sikap Noordin. Tapi hal itu rupanya percuma karena Noordin berusaha merebut buku catatan itu dari tangannya. Memang diantara mereka bertiga Noordinlah yang memiliki badan lebih besar. Jadi usaha apapun yang Muksin lakukan untuk mempertahankan bukunya itu akan percuma saja. Dengan tidak sabar Noordin melihat buku catatan Muksin yang saat itu telah ia pegang. Lembar demi lembar dengan penuh semangat ia buka, rupanya di buku itu ada yang membuat Noordin begitu tertarik.

“Gila kamu Sin…jadi kamu selama ini gambar kak Vivi ya !!” tiba-tiba Noordin nyeletuk masih dengan memperhatikan beberapa lukisan yang Muksin buat. Rahasianya yang selama ini ia tutup-tutupi kini telah terbongkar, roman muka Muksin yang sejak tadi biasa saja kini telah memerah menahan malu.

Gambar-gambar muksin yang di perhatikan Noordin dengan penuh semangat dan mungkin bisa dikatakan dilihatnya dengan penuh gairah, memang bukanlah gambar yang biasa-biasa saja di dalamnya terdapat gambar Vivi yang berpose cukup menantang dengan memakai jilbabnya. Bahkan diantaranya sedang tidak menggunakan busana sama sekali. Noordin beberapa kali berdecak kagum akan hasil karya muksin saat itu. Memang tidak mengherankan jika Muksin memiliki kemampuan gambar yang cukup baik. Itu di sebabkan karena Muksin adalah putra dari seorang seniman kondang dibidang seni lukis di Yokyakarta. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, dan sejak saat itu dia di titipkan ke bibinya di Jakarta. Tapi karena perlakuan bibinya yang sering bertindak kasar terhadapnya, akhirnya Muksin memutuskan untuk melarikan diri dari rumah bibinya itu. Mungkin peribahasa Buah jatuh tidah jauh dari pohonnya, itulah yan berlaku pada muksin. Darah seni dari kedua orang tuanyalah yang mengalir di darahnya sekarang.

“kembalikan Din…bukuku” pinta Muksin yang tampak mulai tidak senang akan sikap temannya itu.

Tapi Noordin bukan memberikannya kembali pada Muksin malah ia membangunkan Fajri yang telah mulai terlelap.

astrid anjani - jilbab bohay (3)

“Bangun…bangun” teriak Noordin. Fajri yang digoyang kedua kakinya tampak agak kaget dan bingung ketika Noordin menggoyang kakinya dengan keras. Dan dia lebih bingung lagi ketika Noordin menyodorkan sebuah buku yang ia tahu buku itu milik Muksin.

“Coba lihat gambar Muksin” sembari ia menunjuk buku yang saat itu telah ada di genggaman Fajri.

Fajri segera membuka buku itu lembar demi lembar. Darah Fajripun seakan berdesir kencang ketika ia melihat beberapa gambar Vivi yang berpose menantang di dalamnya. Tanpa sadar Fajri yang sejak tadi mengantuk malah jadi bersemangat dan malah terangsang di buatnya. Dan malam itu merupakan malam yang panjang bagi ketiganya, dengan fantasi liar masing-masing.

******************************

Siang itu kelas yang saat itu tengah mengajarkan mata kuliah Bahasa Indonesia, terasa amat membosankan bagi Vivi dan begitu juga bagi Kristin, mereka malah membayangkan yayasan yang hampir 1 tahun ini mereka dirikan dengan dana patungan yang sebagian mereka dapat dari yayasan dan sebagian lagi sumbangan dari kampus.

“lagi belajar apa ya anak-anak di sana dengan Teddy dan Ratna” kata Kristin dalam hati.

Pelajaran bahasa yang di ajarkan Pak Darto memang membuat hampir semua mahasiswa mengantuk. Mereka malah lebih suka melihat kepala Pak Darto yang botak licin yang tidak diumbuhi rambut sehelaipun dan membayangkannya seperti arena ski yang sangat menantang. Tapi di samping itu memang Pak Darto orangnya kurang begitu perduli dengan beberapa mahasiswanya yang tidak memperhatikan mata pelajaran yang ia ajarkan, yang terpenting baginya adalah bahwa ia telah mengerjakan tugas dan menyelesaikannya itu saja.

****************************

Di tempat lain tepatnya di perempatan jalan di daerah Bintaro Noordin, Fajri dan Muksin terlihat dengan penuh semangat seperti merencanakan sesuatu, Fajri dan Muksin terlihat dengan penuh semangat memperhatikan apa saja yang dikatakan oleh Noordin.

“aku telah mendapatkan obat itu dari temanku yang kerja di apotik”,

“jadi sore ini kita laksanakan rencana itu” tanya Fajri yang tampak antusias mendengar penjelasan Noordin tadi

“Jadi nanti sore sebelum kita masuk kelas kita kempesin ban mobilnya” kata Noordin tampak dengan berapi-api, “Bagaimana dengan tugas kamu Faj” kata Noordin yang menanyakan kesiapan rencananya kepada Fajri.

“Beres Din…aku dapat Kamera yang kita butuhkan” jelas Fajri yang merespon pertanyaan Noordin dengan cepat.

” Bagus!” kemudian mereka bertiga segera beranjak meninggalkan tempat itu yang kemudian telah kembali sunyi.

****************************

Sore hari itu jadwal Vivi dan Kristin yang kembali akan mengajar, di halaman yayasan telah tampak sepeda motor Mio milik Kristin telah parkir di sana. Dan tak ketinggal juga mobil Avanza berwarna perak milik Vivi pun telah terlihat. Itu menandakan bahwa mereka telah datang untuk mengajar pelajaran yang materinya telah mereka siapkan sebelumnya. Di kelas terbatas itu tampak beberapa anak telah dengan sabar mendengarkan apa yang di katakana oleh Vivi dan Kristin. Tapi di dalam kelas itu mereka belum melihat Noordin, dan Fajri sedang Muksin telah datang dan ada di kelas itu. Beberapa menit pelajaran telah berlangsung. Ketika itu tiba-tiba saja Noordin dan Fajri datang dengan pakaian yang penuh dengan peluh.

“Dari mana kalian Din, Faj..kok terlambat?” kata Kristin dengan penuh selidik.

Noordin dan Fajri yang di tanya dengan serempak menjawab “maaf kak…tadi kami bantu tukang panggul di pasar, jadi kesininya agak terlambat”.

astrid anjani - jilbab bohay (4)

Mendengar penjelasan itu Kristin dan Vivi mengangguk hampir bersamaan. Pelajaranpun dilanjutkan, Vivi dan Kristin bergantian memberikan penjelasan materi matematika lanjutan kemarin dengan begitu sabar pada mereka. Beberapa tanya jawab mereka lontarkan untuk membuat suasana kelas agar lebih hidup. Dan beberapa kali Noordin dan Fajri pun jadi bahan ejekan dan bahan tertawaan dari teman lain karena tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya kelas itu di tutup dengan do’a bersama yang di pimpin Kristin. Semua anak segera beranjak dan bergegas pulang dengan tujuan ke tempat masing-masing.

“Vivi aku pulang dulu ya..! aku harus belikan buku LKS untuk adikku ke toko buku” kata Kristin yang tampak terburu-buru untuk pamit pulang.

“Oh..ya sebentar lagi aku juga pulang kok” jawab Vivi segera. masih dalam kelas itu,

Vivi mendengar deru motor Kristin yang tampak melaju menjauh dari yayasan, yang menandakan Kristin telah jauh dari lokasi tersebut.

Setelah membereskan semua peralatan dan alat tulis yang ada, Vivi segera beranjak menuju ke mobilnya untuk pulang. Tapi mungkin hari itu adalah hari yang paling naas bagi Vivi, Dia sadar ban mobilnya kempes setelah ia mendapati jalan mobilnya yang oleng dan terasa berat untuk melaju. Vivi segera mematikan mesin mobil dan turun memeriksa ban mobilnya tersebut. Dan benar ternyata dugaannya itu. Vivi tampak bingung dan panik pada saat itu, ia tidak terbiasa mengganti ban mobil sendiri. Apalagi hari itu telah beranjak petang dan di sekitar situ tampak sepi tanpa ada seorangpun yang bisa membantunya, di tengah kebingungannya tiba-tiba saja Fajri dan Muksin datang menghampirinya.

“Loh ada apa kak..?” tanya Fajri tampak penasaran,

“Fajri.., Muksin…Untung kalian masih belum pulang. Ban kak Vivi bocor…tolong kakak ya ganti ban mobil “.

Fajri dan Muksin mengangguk serempak mendengar permintaan Vivi yang tampak begitu bingung dan dengan nada memelas. Tapi kejadian yang tidak Vivi duga sebelumnya, ketika ia asik memperhatikan Fajri dan Muksin yang mau mencoba mengganti ban mobilnya, di saat itu pula sebuah tangan tiba-tiba membekapnya dengan sangat erat dari arah belakang. Vivi yang segera menyadari hal itu berinisiatif memberontak. Tangan orang yang menyekapnya itu segera berusaha ditepisnya. Tapi entah kenapa tubuhnya mulai tak bisa ia kendalikan, kesadarannyapun perlahan-lahan mulai menghilang seiring tubuhnya yang mulai limbung. Dengan sisa kesadarannya ia melihat tiga sosok yang selama ini dia kenal tengah mengelilingi tubuhnya.

******************************

Di dalam sebuah kamar di yayasan itu tubuh Vivi tampak tergolek lemas tak sadarkan diri, di sebuah dipan kayu yang biasanya oleh anak jalanan digunakan untuk beristirahat,.

“cepat ikat dia, sebelum ia sadar” perintah Noordin kepada Fajri dan Muksin. Tak berapa lama kemudian kedua tangan Vivi telah terikat kuat dia kedua sisi dipan kayu itu. Sedang kedua kakinyapun telah terikat kuat yang ujung-ujung talinya di lewatkan di balik kolong dipan sehingga terlihat kedua kaki Vivi yang terbuka cukup lebar. Vivi yang mengenakan baju gamis sutra terusan berwarna merah dengan assesoris sabuk lebar berwarna putih dan sepatu yang berwarna putih pula, terlihat sangat cantik dan sangat menggoda dimata ketiga anak yang telah terbakar nafsu itu. Untuk mendapatkan kesempatan seperti itu mungkin semua laki-laki di dunia ini rela akan membayar mahal untuk mendapatkan kenikmatan tubuh Vivi. Noordin yang merasa punya hak lebih dulu untuk menggauli tubuh Vivi mulai merapatkan tubuhnya ke tubuh yang tergolek lemas itu. Tak berapa lama bibir mungil Vivi yang lembut, telah ia lumat dengan penuh nafsu, melihat hal itu Fajri dan Muksinpun mulai bergerak. Tangan-tangan nakal Fajri mulai menggerayangi daerah payudara Vivi dan sesekali menciuminya. Sedang Muksin tengah nyaman berada pada tempatnya, ia telah merengsek masuk dan asik membenamkan diri di sela-sela selangkangan Vivi. Saat itu Vivi seperti piala bergilir bagi ketiganya. Perlahan-lahan Fajri mulai membuka kancing pakaian Vivi sehingga terlihat tonjolan putih yang tampak masih tertahan oleh Bra Putih yang dikenakannya. Sedang Noordin masih asik melumat bibir Vivi.

astrid anjani - jilbab bohay (5)

“Kak malam ini aku akan memberimu kepuasan yang belum pernah kamu rasakan” kata Noordin dalam hatinya dan yang telah mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Vivi.

Seakan tidak mau kalah dengan Noordin Fajri-pun telah berhasil melucuti bra yang sejak tadi menjadi penghalang dari keindahan payudaranya. Dada sintal Vivi yang tampak masih kencang dan begitu putih. Menjadi korban dari hasrat Fajri selanjutnya. Perlahan-lahan kesadaran Vivi mulai pulih dari pengaruh obat bius yang dibekapkan kepadanya tadi.

Betapa terkejutnya ia begitu mendapati kenyataannya waktu itu. Dia mendapati tubuhnya yang hampir telanjang di kerubungi anak-anak didiknya yang tidak pernah ia sangka akan menjahatinya seperti ini. Vivi berusaha berontak dari perbuatan biadap mereka bertiga, Muksin yang bertubuh kecil dan sedang berada diantara selangkangannya di terjangnya dengan keras. Sampai-sampai muksin hampir terpelanting ke bawah tanah. Mendapatkan perlawanan seperti itu Noordin segera mengikat mulut Vivi dengan kaos miliknya yang telah sejak tadi ia lepaskan. Vivi makin tak berdaya ketika kedua tangannya telah di pegangi oleh Fajri dan Muksin yang masih merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Sedang Noordin telah menindih tubuhnya dengan penuh Hasrat.

“Percuma kak Vivi melawan…kakak sudah tidak bisa apa-apa ?” kata Noordin menyadarkan Vivi.

Dengan kondisi seperti itu memang tidak mungkin ia bisa meloloskan diri lagi. Kedua tangan dan kakinya telah terbelenggu, ditambah lagi kedua tangannya yang di pegangi dengan erat oleh Fajri dan Muksin. Sejenak kemudian ia merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan, tubuhnya seakan tak bertulang lagi ketika dengan lahap Noordin memainkan punting payudaranya. Jilatan dan gigitan-gigitan kecilnya seakan menggelitik dan membuat darahnya seakan dipompa sangat cepat kearah ubun-ubunnya. Seakan tak ingin membuang waktu dengan tangkasnya Noordin meluruhkan baju yang sejak tadi masih belum di tanggalkan dari tubuh Vivi. Kini Noordin dengan jelas melihat keindahan secara langsung tubuh yang kemaren masih dalam fantasinya.

“Kenapa kalian tega melakukan ini pada kakak” dengan suara yang kurang jelas Vivi tampak bergumam.

Noordin yang telah tak begitu perduli lagi akan siapa Vivi semakin agresif. Dada Vivi yang tegak menantang di remas-remasnya dengan kasar, menjilatinya dengan penuh semangat dan digigitinya sampai berbekas merah di atasnya. Fajri dan Muksin yang telah tahu bahwa kini Vivi telah tidak melawan lagi segera melepaskan kedua tangannya yang masih dalam belenggu. Fajri mulai melumat bibir Vivi yang terikat kaos Noordin. Sedang Muksin mengganti posisi Noordin yang telah mulai asik menjilati daerah vagina Vivi yang masih terbungkus di celana dalamnya yang berwarna putih.

Mendapati serangan yang bertubi-tubi dari ketiga anak itu, tangis Vivi mulai tak terbendung mendapatkan kenyataan pahit yang saat ini dia alami, tapi iapun takkan bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ada perasaan nikmat di alaminya atas apa yang dilakukan ke 3 anak didiknya itu. Perasaan itu semakin tak tertahan ketika Noordin dengan aktif menjilati permukaan vaginanya yang masih terbungkus. Vivi mengejangkan tubuhnya ketika dorongan kenikmatan itu sudah tak bisa ia tahan lagi. Orgasme-nya itu telah membuat kain pembungkus vaginanya itu basah dan disertai bau anyir yang aneh tepat berada dimuka Noordin. Melihat hal itu Noordin tersenyum puas

“Bagaimana rasanya kak..nikmat kan?” tanyanya

mendapatkan pertanyaan itu Vivi tak bisa menjawabnya ia hanya menata nafasnya yang tersengal-sengal menahan kenikmatan yang baru saja ia dapatkan. Noordin tak sabar rasanya untuk segera menuntaskan hasratnya. Dengan sentakan keras kain penutup vagina Vivi telah robek dibuatnya. Kini Noordin melihat kedua bukit kecil kemerah-merahan dengan bulu tipis di atasnya. Dengan tak sabar Noordin segera menyiapkan penisnya yang cukup besar dan mulai diarahkan ke liang kenikmatan Vivi, dengan sedikit melebarkan kedua kaki Vivi dengan mantap Noordin menyondokkan penisnya ke liang vagina Vivi tapi begitu kuatnya pelindung selaput dara Vivi itu bertahan,yang menandakan bahwa ia memang masih perawan.

“Jangan Din… tolong jangan lakukan ini pada kakak”. Desah Vivi yang tampak lemah.

Noordin tak perduli semua ucapan Vivi lagi saat itu, tak mungkin ia menghentikan semua usahanya hanya sampai di situ. Dengan beberapa kali mencoba akhirnya sodokan kerasnya berhasil merobek selaput dara Vivi yang sejak tadi kokoh melindunginya. Jerit kesakitan Vivi membelah ruangan pengap dan semakin terasa panas bagi mereka berempat, di barengi dengan bercak darah segar yang berontak lewat di sela-sela vaginanya dan melekat di bagian batang penis Noordin yang masih masuk setengah. Noordin merasakan penisnya sangat ngilu di cengkeram erat oleh liang vagina gurunya yang masih rapat saat itu.

astrid anjani - jilbab bohay (6)

Pelan namun pasti Noordin berusaha membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam liang vagina Vivi. Beberapa kali Vivi terlihat menggigit bibirnya menahan perih di bagian vaginanya. Dengan ilmu yang sering ditontonnya dari video Porno, Noordin seakan telah tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang, diangkatnya kedua kaki Vivi ke atas dan di panggulkannya di kedua bahunya. Sehingga saat ini kaki Vivi mengangkang lebar dan liang vaginanya semakin lebar terbuka. Beberapa saat kemudian Vivi tampak terhenyak ketika merasakan sebuah benda tumpul telah mengorek isi dari vaginanya yang sempit itu. Fajri yang semakin panas tak mau berdiam diri ia segera membuka kaos yang sejak tadi menutupi mulut dari Vivi. Penisnya yang sejak tadi telah mengeras di arahkan segera kemulut Vivi. Vivi berontak dan tidak mau menuruti kemauan Fajri. Tapi akibat dari penolakannya tamparanlah yang ia dapatkan dari remaja yang mau beranjak dewasa itu. Rasa sakit akibat tamparan Fajri tidak akan mau dia rasakan untuk kedua kalinya. Meskipun dengan perasaan jijik dan ingin muntah, ia terpaksa memenuhi keinginan Fajri yang dengan tidak sabar memasukkan penisnya yang tak begitu besar kemulutnya. Sedang Muksin masih dengan lugunya menjilati dan memainkan puting Vivi. Sondokan demi sondokan dilakukan Noordin mulai memberikan kenikmatan yang tak bisa ia bayangkan sebelumnya. Dengan bahasa tubuhnya Vivi mulai menerima gerakan-gerakan yang Noordin lakukan bahkan terkadang dia mengimbanginya. Semakin cepat Noordin melakukan gerakan penisnya semakin siap vagina Vivi menyambutnya. kini perasaan itu mulai semakin cepat menerjang batas-batas angan dan siap menerbangkannya dalam fantasi kenikmatan.

Noordinpun mengalami perasaan yang sama, dikala ia sudah tak sanggup menahan aliran deras yang entah dari mana datangnya. Seakan membuat ia bagai terbang kelangit tujuh membawa fantasi kenikmatan bersama Vivi.

“kak aku sudah tidak kuat la…a .gii”. Dan tak menunggu lama lagi dengan semakin cepatnya gerakan pinggul Noordin yang membenamkan penisnya ke dalam vagina Vivi, secara bersamaan pula Noordin dan Vivi mencapai kenikmatan itu, di tandai dengan melubernya noda-noda putih yang meleleh dari liang vagina Vivi. Vivi mengejang seakan-akan tak ingin membiarkan moment-moment itu pergi darinya. Noordin memeluk tubuh indah itu dengan erat dan sepertinya ia tak mau untuk melepaskan untuk selamanya. Tapi itu tidaklah berlangsung lama ia harus segera sadar, karena Fajri sudah tak sabar menunggu gilirannya. Tubuh Vivi yang telah lemah seakan tak berdaya menolak perlakuan Fajri yang mulai meminta jatah gilirannya. Ia terlihat pasrah ketika tubuhnya mulai dibalik membelakanginya. Dan kakinya yang panjang dilipat rapat ke kanan menjadi satu. Dan tak lama kemudian ia telah merasakan benda yang mulai akrab di dalam vaginanya mengobrak-abrik isi di dalamnya. Penis Fajri yang memiliki ukuran tidak sebesar punya Noordin dengan sangat lancar keluar masuk dari liang vagina Vivi yang telah becek, tapi semua itu tidak mengurangi rasa nikmat yang dirasakan oleh Fajri.

“Ouuh… VAGINA mu nikmat sekali kak”. Desah Fajri yang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Malam itu Vivi digilir oleh tiga anak itu sekaligus berulang-ulang. sampai batas dia sudah tidak mampu lagi menjaga kesadarannya. Di sela-sela waktu menggilir tubuh Vivi mereka mulai mendokumentasikan aksi mereka dengan foto-foto syur mereka berempat.

FATIMAH

Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya T. Shirt yang gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.
Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,”Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..”
Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini. Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika ‘klakep’ sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.
Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.
Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang, “Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..” kembali istriku ‘klakep’ dan sepi. Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku. Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Fatimah istriku itu.
Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Fatimah istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.
Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik, “Diam nyonya cantiikk..” saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya piama yang cenderung transparan tipis karena udara panas di kamar kami yang sempit ini. “Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.
Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan Memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga. Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa- apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah. Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku. Karena tak mendapatkan apa yang dicari Maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik, “Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?”
Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Fatimah yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima. Kini aku benar-benar sangat takut. Segala Kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Fatimah dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang. “Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?” sambil tangan turun menyentuh tubuh Fatimah yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannyaterikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.
Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Fatimah demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil Memperdengarkan suara dari hidungnya, “Hheehh.. Hheehh.. Heehh..”. Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya. Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus- elus dan kemudian meremas-remas buah dada Fatimah serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bias menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.
“Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,”dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.
Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu Yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku kecuali jilbabnya. Dia benar-benar membuat Fatimah telanjang kecuali celana dalamnya dan jilbab dikepalanya yang masih melekat. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.
Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Fatimah istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya.
Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.
Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi. Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Fatimah. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Fatimah istriku ini.
Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Fatimah dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati puser Fatimah sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya. Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya ‘down’ dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat- jilat bagian-bagian sensual tubuhnya. Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.
Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kontol maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya kontol itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang. Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan. Dalam ketakutan dan panik istriku Fatimah melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya ‘surprise’ yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.
Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Fatimah bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah ‘surprise’ yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya. Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Fatimah yang terikat. Dia meraih kaki Fatimah yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.
Aku menyaksikan kaki Fatimah yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang- regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jialatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.
Dengan caranya maling itu memang sengaja Menjatuhkan martabatku sebagai suami Fatimah. “Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku entot ya? Boleh.. Ha ha. Aku entot istrimu yaa..”
Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah. Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Fatimah saat kont*l maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita kont*lku jadi menegang. Aku ngaceng.
Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke Selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Fatimah serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.
Aku memastikan bahwa Fatimah telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Fatimah dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kont*lku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yangharus aku saksikan itu. Dan klimaks dari pergulatan ‘perkosaan’ itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke Bibir vagina Fatimah. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..
Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Fatimah menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Fatimah menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Fatimah meraih orgasmenya.. Nittaa..
Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap Diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang. Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Fatimah Kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kontolnya ke lubang vaginanya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjangnya itu tembus dan amblas ditelan memek istriku.
Maling itu langsung mengayun-ayunkan kontolnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kontol itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.
Aku sendiri demikian terbakar birahi Menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatugh ke dahi dan alisnya. kontolku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk Melepaskan dorongan syahwatku. Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kontolnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi memek istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kontol lelaki maling itu.
Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang ke dua. Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya pagutan. Dan ahh.. ahh.. aahh….
Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Fatimah terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Fatimah istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya. Hingga… “Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr..
Hhoohh.. Ampun enaknyaa..”
Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah. Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kontolnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan spermanya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang vagina Fatimah. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.
Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T.Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Fatimah yang telanjang sesudah diperkosanya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku. Fatimah nampak bengong sambil melihati aku, “Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..” Fatimah sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.
Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam. Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.

ANI

Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berbuat seperti ini sebelumnya. Di kalangan masyarakat komplek perumahan yang kutinggali, aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Wardi, yang berusia 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan pula, dia adalah seorang insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi.

Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik, hingga mereka bilang aku mirip Annisa Trihapsari, itu lho artis cantik mantan istri Adjie Pangestu yang sekarang berjilbab. Sama seperti dia, setiap keluar rumah, aku selalu memakai jilbab panjang yang tersampir hingga ke pinggang, lengkap dengan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuhku. Aku pun aktif di pengajian-pengajian yang sering diadakan di sekitar rumahku.

toge montok (1)

Memang kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah, aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula. Aku sering membesarkan hati sendiri, bahwa tak ada yang kurang dari diriku. Pakaian islami, tubuh sintal, kulit putih, ukuran payudara 36B, pantat pun masih montok, tak mungkinlah suamiku mencari wanita lain di luar sana.

Demikianlah pada suatu ketika karena aku ada sedikit gangguan kesehatan, aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya suamiku sendiri yang mengantar ke RS Medika Kuningan, tetapi karena sedang tugas keluar kota jadi aku harus ke dokter sendiri. Hari itu aku memakai jubah panjang yang berwarna putih serta jilbab berwarna merah muda yang juga panjang.

Saat aku turun dari angkot, nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai saja karena memang tak ada urusan yang menunggu sehingga harus buru-buru. Mas Wardi, keluar kota untuk 1 minggu sejak kemarin pagi. Aku juga tak perlu masak memasak. Kami berlangganan makanan dari tetangga yang mengusahakan catering.

Sesudah beberapa saat menunggu, aku berasa kepingin ke toilet untuk kencing. Sesudah melalui lorong poliklinik yang cukup panjang dan kemudian deretan pintu toilet untuk lelaki aku sampai ke toilet perempuan. Pada saat inilah peristiwa itu terjadi hingga melahirkan cerita ini.

Tanpa sengaja, saat melewati toilet lelaki, aku menengok ke sebuah toilet yang pintunya menganga terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget, seakan tersengat listrik. Kusaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang nampak tidak tersunat. Yang membuat aku tertegun adalah kemaluan lelaki itu, sungguh luar biasa gede dan panjang.

Dalam pandangan yang singkat itu aku sudah berkesimpulan, dalam keadaan belum ngaceng saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau kemaluan itu dilanda birahi dan ngaceng. Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Mungkin untuk menuntaskan kencingnya, atau juga untuk memamerkannya padaku. Entahlah…

Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas tadi. Tetapi entahlah. Barangkali lelaki tadi telah sempat melihat mataku yang setengah melotot melihat kemaluannya. Aku sendiri jadi resah. Hingga sepulang berobat itu perasaanku terus terganggu.

Aku akui, oleh sebab peristiwa itu, selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang-layang. Aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Mungkin aku tergoda. Dan tidak sebagaimana biasanya, libidoku terganggu. Bayangan akan seandainya kemaluan sebesar itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini?! Seorang Ani Nurul Hidayah yang cantik, terhormat, dan alim tak boleh berpikir seperti ini!

Tapi aku malah mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok-tengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras dan halaman kebun, namun aku tak pernah menjumpainya lagi. Khayalanku bahkan terus bergerak menjadi demikian jauh. Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan aku berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati kemaluan tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin puting susu dari balik jilbab panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung-ujung pentilku, begitu hebat.

Dua hari kemudian. aku sedang menyirami kembang di halaman saat aku dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku, “Koran bekas.. Koraan…” teriakannya yang khas kudengar. Sudah lebih dari 3 bulan koran bekas numpuk dekat lemari buku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah.

Tanpa banyak pikir lagi, “Bang, tunggu, saya punya koran bekas, tuhh…” sambil aku beranjak memasuki rumah untuk mengambilnya. Namun ternyata koran sebanyak itu cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya. Sesudah mengikatnya dengan rapi dan menimbangnya, dia memberikan Rp. 10.000, padaku untuk harga koran itu.

“Terima kasih, Bu..” Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang. Saat menyerahkan uang di ruang tamu rumahku itu, tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan.. Aku kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin?!! Orang yang telah membuat jantungku berdebar keras-keras.

Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah. Bu Ani yang alim ini kini tertegun penuh birahi di hadapan seorang kuli pengumpul koran bekas. Tak terelakkan mataku mencari-cari. Mataku menyapu pandang pada tubuhnya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon presiden itu, aku memperhatikan gundukan menggunung pada selangkangannya yang bercelana jeans kumel. Namun bila dilihat lebih jelas lagi, ternyata Abang ini bersih dan..

Sangat jantan!

“Hahh… rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh,” begitu aku berpura kelupaan. Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang, aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia?

toge montok (2)

Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan, “Yaa.. kita ketemu di poliklinik, bu. Waktu itu ibu menengok saya yang sedang kencing?!”

Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum, dia mendesah berbisik. “Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu,” dengan bisik desah serak-seraknya, tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku.

Dan yang lebih hebat lagi. “Nih, Ibu mau lihat?” tanpa ragu lagi dia cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri.

Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan. Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya? Ahh, dia telah melumpuhkan pertahanan diriku yang berjilbab panjang ini.

“Nggak, Bang. Cukup. Terima kasih. Sudah, tinggalkan saya. Tinggalkan rumah ini,” kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga. Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.

“Lihat dulu, Bu. Jangan takut. Saya nggak akan menyakiti ibu, kok,” bisiknya setengah bergetar, terdengar begitu penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapannya seperti rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.

“Lihat dulu, Bu…” sekali lagi diucapkannya. Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.

Aku yang masih mengenakan jilbab panjang berwarna hitam ini kini tengah berhadapan langsung dengan kemaluan seorang pria yang bukan suamiku, dan aku tengah terangsang. Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Ani yang santun dan alim, istri manager yang juga insinyur itu.

Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada, mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat keras bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku. Aku menyaksikan lubang kencingnya yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan kontol yang dahsyat itu. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat pesonanya.

Demikian pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, dan makin mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya ‘suara jauh dari angkasa’ yang penuh vibrasi, “Jilat, Bu Jilbab, Hisap kontol saya. Banyak kok ibu-ibu pengajian yang sudah menikmati ini juga. Hisap kontolku, Bu. Aku ingin merasakan bibir Bu Jilbab yang sangat cantik dan seksi ini. Aku ingin merasakan hisapan mulut ibu yang pake jilbab panjang ini.”

Tangan kanannya menekan kepalaku yang masih berbalut jilbab dan tangan kirinya mengasongkan kontolnya ke mulutku. Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri merasa lumpuh, sendi-sendiku tak bisa digerakkan. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar, namun segalanya sudah terlambat. Hisapan itu tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya, si Abang dengan sangat kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik kontolnya ke mulutku. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku. Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku!!

Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Wardi.

toge montok (3)

Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku. Dengan tenaga kelelakiannya, dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Demikian pula pakaian dalamku. Namun yang aneh, dia menyisakan balutan jilbab panjang berwarna hitam, tetap menempel di kepalaku. Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula direnggutnya celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar gairah. Kemudian ia rebah menindih tubuh telanjangku.

“Bu muslimah, biar saya buat ibu ketagihan yaa. Nikmati kontolku, Bu. Mahal nih. Gak sembarang ibu-ibu bisa merasakannya. Saya pilih-pilih orangnya,” begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku, sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku.

Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku. Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia kemot-kemot pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia hisep dan jilat seluruh tubuhku hingga meninggalkan cupang-cupang kotor pada seluruh permukaan kulit buah dadaku, leherku, bahuku, bahkan ketiakku. Kemudian ciumannya turun ke perut, ke selangkangan, ke pahaku. Dan adduuhh.. Ini sungguh sangat keterlaluan. Dia menjilati liang vaginaku! Tapi aku tidak bisa menolak, karena aku juga menikmatinya. Rasanya sungguh geli, tapi sangat enak. Suatu kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini.

“Tolong, Bang.. Ayo, Bang.. Aku sudah nggak tahan.. Toloong.. Enak banget, Bang.. Aku cinta kontol abang.. Biar aku minum lagi pejuh abang nanti ya…” kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuik menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.

toge montok (4)

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya. Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubangku. Dan bless..! Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku. Ternyata memang inilah dia.

Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama dua jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan.

Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya, “Sayang, apa kabar? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?” demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu menyempatkan diri mencari barang-barang kerajinan asli setempat. Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu.

Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya. Ternyata dengan gampang aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang. Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat?Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi.

Tumpukan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya seakan di bawah kita.

Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Wardi mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 5 atau 6 kali aku telah meraih orgasme dalam berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu akan menjadi rekor seumur hidupku.

MBAK IRA

“Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan, meskipun tubuhnya masih tertutup jilbab rapat. Maklum, rumah sakit ini milik yayasan Islam. Justru jilbabnya itu bikin Mbak Ira, nama suster manis ini, tambah cantik.

jilbab seksi - mega agustin (1)

“Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar. Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.

“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu. “

Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.

jilbab seksi - mega agustin (2)

Suster Ira tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. “Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak. Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Ira kepadaku. “Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara. “Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi. “Belum mbak” jawabku lagi.

“Aku juga belum. Sampai hari ini aku belum pernah.” Katanya tiba-tiba sedih. Matanya menerawang. Jilbabnya melambai-lambai.

“Aku terus menjadi idealis sampai hari ini. Tapi ternyata…aku dikhianati…aku memakai jilbab karena ajakan seorang kakak kelas. Aku menyukainya, karena itu aku memakainya sampai sekarang… ternyata…ia malah menikah dengan wanita lain!”

Hening sejenak. wajahnya sendu dalam balutan jilbab seragam suster itu.

“Mau bantu mbak balas dendam?”

Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong. Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya. Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku. Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya. “Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

jilbab seksi - mega agustin (3)

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya. Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu dari luar seragamnya.

Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri. “Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Saat ia mau melepas jilbabnya, aku menahannya.

“Lebih cantik pake jilbab”, kataku. Ia hanya tersenyum.

Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya, sambil kuremas jilbabnya. “Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.

jilbab seksi - mega agustin (4)

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya. Kepalanya yang berjilbab bergoyang-goyang.

“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat. Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri. Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali. Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki. “Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras. Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga. “Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton. “Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar. “Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu. Kupegang kepalanya yang berjilbab untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali. Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Ira menghisap semakin kencang, disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali. “AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.

jilbab seksi - mega agustin (6)

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan kancing dan Bra terbuka serta jilbab yang kusut. ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira. Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Ira. Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

jilbab seksi - mega agustin (7)

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu. “Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Ira sambil mendekati diriku. Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya. “Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya mendengar tolakannya ini. Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri.

jilbab seksi - mega agustin (5)

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya. Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya. “Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu. Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku. “Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini. Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya. “Ahh.. ahh..”, desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu. Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas.Akhirnya, kulap spermaku dengan jilbabnya.

MIA 1

Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.
Aku malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.
Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.
Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang vagina ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik penis besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman. Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.
“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.
“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.
“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)
Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.
“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”
Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.
“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.
Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….
“Alex… kamu?”
“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”
“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.
“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”
“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.
Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.
Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!
“Hallo…” kataku.
“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.
“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”
“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”
“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”
“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…
Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…
“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.
“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”
“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, kontolnya Om Alex besar banget deh Fan….”
“Kontol apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.
“Kontol itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.
“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan memek kanak-kanaknya.
“Iya… tapi belum boleh dimasukkin kontol… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin kontol ke itunya Fanny”
“Emangnya kontol itu kaya gimana sih mam?”
Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”
“Emangnya kenapa?”
“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”
Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku ganti pakaian, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..
Suamiku gak curiga dengan pakaianku. Aku memakai jilbab, baju kurung dan celana panjang ( aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang), Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-jokenya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji. Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”
“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.
Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”
Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.
Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”
“Apa itu?” tanyanya…
“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”
“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…
Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”
Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.
Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini.

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.
Setelah selesai nelfon, Alex langsung membuka jilbab dan pakaianku meninggalkan Bh dan g-string. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.
Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.
“Mami lagi ngapain?” tanyanya.
Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang vaginaku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… kontolnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”
Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.
“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.
“Iya, Om… mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngisep kontolya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.
Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah kontol. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.
“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”
Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.
Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bialang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”
“Iya mam…” jawab Fanny polos.
“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, memekku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati kontolmu yang besar ini!”
Alex tertawa, “Kalo’ memekmu punyaku, berarti kontolku boleh kamu acak-acak!”
Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, vaginaku mulai dijajah oleh jari dan lidahya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi vaginaku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan penisnya yang besar itu kedalam vaginaku.
“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”
Aku tahu kalo’ vaginaku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, memek kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex. Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam vaginaku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.
Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena memekku sudah basah banget. Lalu Alex melepas kontolnya dan menyuruhku berbaring miring.
Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan kontolnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;
“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”
Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam vaginaku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.
Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas kontolnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala kontolnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku. Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa. Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan vaginaku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari vaginaku.

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!
“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”
Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”
Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang penis Alex. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.
Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”
“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya. Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara memekku dan kontol Alex.
Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya. Seteha tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***

Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium kontol Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.
“Pagi sayang!” kataku.
“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”
“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”
Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”
“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.
“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”
Aku kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan penisnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”
“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju yang aku pakai waktu pergi (jilbab, baju kurung dan celana panjang). Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh…  ) Jadi, aku aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada ; Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Alex langsung melepas jilbab dan bajuku dan aku melepaskan bauju Alex. kembali bugil! Setelah mengunci pintu, penis Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk. Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati memekku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali memek tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging. Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, penis Alex terkadang diputar-putarkan didalam memekku.
Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena vaginaku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.
Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit kontolnya dengan memekku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar. Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi kontol Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, vaginaku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan kontol Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…
“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.
Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”
“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.
“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”
“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.
“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta”
“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.
“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”
“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari kontol. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”
“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”
Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada kontol satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”
“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”
Hubungan terputus………

“Ku berangkat dulu ya sayang…” kata suamiku sambil mengecup keningku. Aku masih terbaring di tempat tidur, baru bangun. “Iya… hati-hati ya!” jawabku, “pulang jam berapa nanti?”
“Gak tahu. Tapi kayaknya gak pulang deh.”
Aku sedikit tersentak mendengar jawaban suamiku, setengah senang-setengah bingung. “Kok tumben? Kenapa?” tanyaku.
“Mia…” jawab suamiku, “hari ini, aku harus ngawasin proyek yang di Sukabumi. Soalnya sudah mau deadline, dan harus segera dibuat laporannya. Jangan marah ya…”
Aku menjawab sambil pura-pura kesal, padahal aku seneng banget. “Ya sudah lah, terserah! Tapi jangan lupa makan… biar gak sakit!”
“Iya… iya… ya sudah, aku berangkat dulu. Luv U!”
“Luv U too!”
Lalu suamiku berangkat.

Setelah suamiku pergi, aku ngulet sebentar. Aku melihat jam… Mmh… jam 6. Aku bangun dari tempat tidur. Aku masih telanjang bulat, sisa pertarungan gak seru semalam. Aku melihat di cermin lemariku, melihat vaginaku yang agak tebal dan sedikit merekah… ulah Alex! Selama sebulan ini, aku digenjot terus-terusan. Ya main berdua lah. Bonyok memek gue bisa-bisa, pikirku. Walaupun begini, suamiku sepertinya gak sadar, tapi kayaknya, dia memang gak ngerti. Tapi gak apa-apa… mereka semua punya zakar yang besar, jadinya aku juga ikut puas… lagipula, akunya juga suka kok!
Sepanjang pagi itu, aku hanya memakai daster dirumah. Aku tidak memakai jilbab. Pembantuku sedang pulang kampung dan Fanny lagi di rumah ibuku. Bener-bener sendiri. Setelah mandi, aku sarapan terus nonton TV sampai jam ½ 9. Sekitar jam 9 kurang seperempat, Alex telfon. Dia bilang, dia harus ke Surabaya selama 2 minggu, tugas kantor katanya. HUH… BT! Gak ada orang di rumah, gak ada Alex… emangnya memekku mau nganggur selama 2 minggu? Ya sudah… aku terusin aja nonton Tv.

Sekitar jam 10an, ada yang memencet bel rumah. Siapa sih pagi-pagi begini? Pikirku malas-malasan, dan aku memang malas kalau harus berapih-rapih. Ya sudah… aku tutupi saja tubuhku dengan jilbab dan daster tanpa mekai bra dan celana dalam. Daster bercorak bunga-bunga dengan warna dasar biru! Dasterku itu agak panjang, juga gak lebar. Jadi, setelah aku pakai, tubuhku tertutup  sampai dibawah lutut. Tetap saja  payudaraku yang besar ini, kelihatan banget walaupun sudah tertutup jilbab. Sementara di dalam tidak memakai apa-apa,. Lagipula, mungkin itu tamu yang gak penting. Lalu aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Ternyata, tamunya adalah teman kantor suamiku, namanya Andre. Kami sudah saling kenal.
“Eh ‘Ndre… ada apa? Kok gak ke kantor?” tanyaku setelah mempersilahkan dia duduk. Andre tampak kaget sekali melihat dandananku. Tapi bodo amat, paling Cuma sebentar.
“Eh… mmhh… anu…” katanya sedikit gugup. “Aku mau ngambil gambar blue print proyek nya Tino (suamiku-pen). Tadi katanya ketinggalan”
“Tinonya mana?” tanyaku lagi.
“Dia buru-buru ke Sukabumi, ke proyek. Maka itu dia nyuruh aku…” jawab Andre sudah lebih tenang.
“Ooo… ya sudah. Kamu cari sendiri aja di kamar! Aku nggak tahu… ngomong-ngomong, mau minum apa say?”
“Mmh… es teh manis aja deh…” katanya sambil tersenyum. (Anjrit… manis juga senyumnya, pikirku). Lalu dia pergi ke kamarku. Tapi kayaknya dia sempet melihat celana dalamku deh… soalnya, yang bangun duluan kan aku, pas bangun, aku agak sedikit mengangkang. Aah… bodo amat!

Pas lagi bikin teh didapur, aku mikir… Andre… Mmh… dia sudah married, dia temen suamiku, tapi dia ganteng banget. Tinggi, putih… jujur saja, waktu aku lihat dia berenang di laut waktu ada acara outing kantor suamiku dulu, dia tuh keren banget. Pas ngeliat dia pakai celana renangnya… Uuh… aku dan 4 ibu muda lainnya yang lagi ngumpul di teras bungalow, langsung pada ber-fantasi ria. Menurut kami, dan itu disetujui oleh semua, enak kali ya, kalau di ‘hajar’ pake barang segede gitu?! Hihihi…. Nakal ya kami…. Tanpa di duga, tiba-tiba selangkanganku basah. Anjing! Gue horny, pikirku.
”Hei… kok bengong?” kata Andre mengagetkan aku dari belakang.
“Eh… eee… mmhhh…. Gak apa-apa kok” sahutku sedikit panik dan gugup. “Sudah ketemu anunya?”
Andre tersenyum, “Anunya apa?”
“Ee… blue printnya maksudku…”
“Oo… sudah… nih!” Kata Andre lagi sambil menunjukkan 3 gulung kertas blue print yang tadi dicarinya. “Mi, mana teh ku?”
“Ini…” kataku sembari memberikan gelas tehnya. “Liat-liat apa di kamarku? Soalnya aku belum beres-beresin kamar!”
“Nggak liat apa-apa… Cuma jilbab, lingerie yang sexy banget, bra, kondom, g-string hitam yang tipis, 3 vcd blue, sama fotomu” jawab Andre sambil tersenyum.
“Aah… kamu tuh, iseng banget sih?” kataku sambil memukul pelan pundaknya (dan berharap dia agak-agak terangsang melihat aku. Horny berat niiihhh!!!)
“Lagian berantakan gitu!” katanya lagi, “Mi, kamu tuh sexy banget ya…”
“Mmh… genit deh. Kenapa? Karena dandananku sekarang?”
“Enggak… mmhh…. Iya juga sih!”
“Lagian,… males ganti baju. Kirain gak ada siapa-siapa yang dateng.”
“Ya… tapi kan….”
“Aah… udah ah…” potongku genit, “gak usah di omongin!”
“Ya sudah… tapi aku penasaran deh… itu kamu gak pake…”
Aku memotong lagi, “Enggak… gak pakai apa-apa!”
“Bohong…..”
“Nih lihat!” kataku sambil mengangkat jilbab yang menutupi dasterku. Sekarang terlihat pentil buah dadaku. Aku tersenyum.
“Bangsat…” kata Andre, “Sumpah! Bagus banget bodymu Mi!” Tiba-tiba, Andre membungkuk dan melepaskan jilbab dan dasterku.
“Ngeliat apa kamu say?”
“Ini lho…” kata Andre, “memekmu basah gini… kamu lagi horny ya Mi?” tanya Andre sambil tersenyum.
“Kalo iya, kenapa?” tantangku.
Tanpa banyak cingcong, Andre segera memeluk dan menciumku. Dia melumat bibirku dengan liar, ya sudah, aku membalas lebih liar lagi. Lalu Andre melingkarkan tangannya ke belakang tubuhku dan meremas kedua belahan pantatku. Demikian juga aku, ku tarik kepalanya dan ku hisap dalam-dalam lidahnya. Andre memanas… Dia membuka baju dan celananya, tapi ketika hendak membuka CD-nya, dia kutahan.
“Ini bagianku!” kataku. Akupun langsung melepas celana dalam Andre, pelan… pelan… pelan… sampai aku berlutut di depannya, sementara mulutku face to face dengan batang kontolnya yang baru setengah bangun. Setelah melihat Andre dan saling tersenyum, zakarnya langsung aku masukkan ke mulutku dan ku kulum, perlahan tapi pasti. Butuh sekitar 3 menitan untuk membuatnya benar-benar menjadi KONTOL. Setelah mengeras, aku lepas kulumanku, dan ku genggam erat-erat dan mengocoknya perlahan-lahan, sambil sesekali menjilati bagian kepalanya.

Tak lama setelah itu, Andre menyuruhku berdiri dan membopongku ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, Andre membaringkan aku terlentang. Dan dia pun ‘balas budi’. Vaginaku di ciumi, di jilati, dan kelentitku di gosok-gosok menggunakan jarinya. Cairan pelumasku keluar lagi. Vaginaku sudah basah kuyup. Tanpa banyak basa-basi, Andre membuka pahaku lebar-lebar dan memasukkan benda keras dan panjang itu ke dalam lubang kesayanganku. Sumpah! Rasanya enak banget. Setelah itu, batangannya mulai merangsak maju mundur (kadang berputar) di dalam memekku.

Sekitar 10 menit kemudian, Andre menyruhku menungging. Dia ingin doggy style rupanya. Lalu dia berlutut dan menghajar memekku dari belakang. Tusukan-tusukannya sangat cepat tapi berirama, dan membawa dampak kurang baik bagiku, karena orgasmeku cepat sekali mau datang. Sesekali Andre menghentikan serangannya, membiarkan dinding vaginaku merasakan denyutan urat kontolnya. Dan itu enak banget! Pada kali keempat dia berhenti, aku orgasme! Merasa batangannya disiram mendadak, teman suamiku ini malah menggenjot aku semakin cepat. Andre memegang kedua sisi pinggangku dengan erat, dan dia menghajar, menusuk dan mengeweku semakin keras dan liar. Goyangan buah dadaku yang seperti lampu gantung kena gempa, menandakan buasnya serangan bapak beranak 2 ini. Keringat kami deras sekali mengucur, sementara desahan, erangan dan teriakan kenikmatan ku sangat keras sekali terdengar.

Tiba-tiba, aku merasakan akan orgasme lagi… “Gila!”, pikirku… “cepet banget!” Tak lama setelah aku orgasme kedua (dan itu enak banget!), Andre mengerang. Aku tahu…. Dia mau orgasme. Benar saja, tak lama kemudian, Andre menghentikan serangannya, dan menarik pinggulku dengan cepat, supaya kontolnya masuk semua. Dia muncrat di dalam memekku. Nikmat sekali rasanya, bagian dalam itil kesayanganku disiram cairan hangat, kental dan lengket. Dan kayaknya banyak banget! Lalu dia mengeluarkan penis besarnya dan membaringkan aku terlentang, setelah itu, dia menumpahkan sisa spermanya ke mulutku, yang segera aku minum dan telan.

“Gurih juga pejumu, Ndre!” kataku. Andre hanya tersenyum mendengar komentarku tentang cairan kenikmatannya itu. Lalu kami berdua berbaring kelelahan. Setelah bercumbu sebentar, kami ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak pertempuran kami yang hebat sekali. Kemudian, Andre berpakaian dan akan langsung ke Sukabumi. Sejujurnya, aku gak mau… tapi, mau gimana lagi?

Aku mengantarkan Andre sampai pintu depan, hanya memai daster. Di depan pintu (yang belum dibuka) aku secara terang-terangan ngomong ke Andre…
“Sayang… Usahain nanti bikin Tino agak lama di sana ya… 2 – 2 harian gitu deh. Syukur-syukur sebulan….?!”
“Kenapa?” tanya Andre bingung.
“Mmh… aku mau lagi di perkosa sama kamu…”
Andre tersenyum mendengar ucapanku, “Ya sudah… pasti aku usahain!”
“Tapi kamu nanti balik lagi kesini, ya…. Bilang aja sama istrimu, kamu nginep di Sukabumi…!”
“Ya sudah. Aku usahain jam-jam 7 aku sudah sampai disini lagi!” sahut Andre.
“Bener ya…?” rengekku agak manja, “Janji lho! Aku beneran nih hornynya….!”
“Iya… iya….!”
Lalu kami berpelukan dan berciuman dengan bernafsu sekali. Akibatnya… kami ML lagi di depan pintu sambil berdiri (Andre hanya melepas celananya saja). Setelah selesai, Andre berangkat ke Sukabumi. Sementara aku berbaring kelelahan di sofa dengan sperma Andre mengalir pelan, keluar dari vagina indahku yang kian menebal dan lubang surganya yang mulai merekah, karena selalu dihajar oleh batang-batang zakar yang besar-besar. Dan aku berfikir, semua orang yang ML sama aku selalu membuang cairan kenikmatannya di dalam memekku (tapi aku nggak khawatir hamil. Soalnya aku selalu minum pil KB)… Tapi nggak apa-apa… akunya juga suka kok!

Sekitar jam ½ 8, Andre sudah sampai lagi dirumahku, sementara suamiku (atas usaha Andre) tetap di Sukabumi, dan baru pulang besok malam. Kami 4 kali ML malam itu. Top banget stamina Andre. Pada game ke 3, suamiku telfon. Aku berbicara dengan sumiku dalam posisi nungging, sementara Andre bergerak pelan sekali… Lucu juga melihat tampang teman suamiku ini.
O iya… aku lupa bilang. Anakku tersayang juga melihat memek ibunya ini dihajar oleh Andre. Anakku pulang sekitar jam 9 malam (beberapa saat setelah game 1). Dia diantar oleh ibuku. Ketika melihat Andre yang mengenakan kaos dan celana pendek (dia gak sempat pake cd, buru-buru banget!), ibuku bertanya kepadaku didapur…
“Mia… itu siapa? Kok malem-malem ada laki-laki kesini?”
“Dia itu namanya Andre, bu… tetanggaku kok. Dia kesini nyari mas Tino…” ucapku asal.
“Ya sudah… suruh dia pulang! Sudah malam!”
“Iya… iya…!”
Pada saat itu, aku hanya mengenakan daster (no bra, no cd!). Tak lama kemudian, ibuku pulang dengan berpesan kepadaku (dan ini membuatku kaget sekali… )
“Hati-hati… jangan sampai Tino dan tetangga yang lain tahu!”
“Ha…??? Tahu apa bu?”
“Jangan pura-pura bego kamu! Itu seprai buktinya. Di situ ada celana dalam laki-laki, baju laki-laki, bh dan celana dalammu. Terus di situ juga ada tissu yang lengket-lengket basah. Ibu tahu kamu habis ngapain…”
“Maafin Mia ya bu…”
“Ya sudah… asal hati-hati saja!”
Tentu saja, aku kaget, terharu tapi senang. Langsung aku peluk ibuku dan dia tersenyum bijak. Setelah itu, ia memesankan hal yang sama kepada Andre, dan dia menghormati ibuku. Andre berjanji pada ibuku untuk merahasiakan hal ini…
“Bu…” kata Andre, “saya janji, gak akan nyakitin Mia…”
“Bagus… bagus….” Sahut ibuku.
“Kecuali….”
“Kecuali apa?” tanya ibuku bingung.
“Kecuali… mmhh… sakit-sakit enak!” sahut Andre.
Kami bertiga tertawa… “Bisa aja kamu!” kataku. Saking senangnya dengan suasana ini, aku memperlihatkan penisnya Andre ke ibuku, yang cuma bisa tersenyum dan kagum.
Setelah itu, ibu pulang…

Paginya, aku terbangun karena suara telefon yang berdering dari arah ruang tamu. Tanpa berepot-repot mengenakan pakaian, aku langsung mengangkat telfon… Rupanya suamiku. Dia ngecek keadaan rumah dan berpesan supaya hati-hati. Dia pulang malam ini. Setelah menutup telfon, akupun langsung menuju ke kamar mandi. Ketika sedang membasuh sisa sabun di sekitar kemaluanku, Andre masuk ke kamar mandi (aku tidak menutup pintu kamar mandi. Dan dia juga masih telanjang.)
“Siapa tadi yang telfon Mi?” tanyanya.
“Tino…” jawabku.
“Ngapain? Iseng amat pagi-pagi nelfon?”
“Yaa… ngecek istrinya lah…”
“Buat apa? Kan istrinya ditemenin sama laki-laki yang baik ini…”
“Justru itu… dia mungkin takut kalo istrinya yang sexy ini diperkosa sama laki-laki itu…” kataku sambil mulai menggenggam kontol teman suamiku ini dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang bidang itu.
“Tapi istrinya kan nggak diperkosa…” Kata Andre sambil meremas kedua buah dadaku yang ranum. “Dia di perlakukan dengan baik… karena…. (tangannya mulai turun ke bawah) memeknya… (tangannya mulai mengelus memekku) enak banget…!”
Andre langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku langsung membalas serangan Andre. Ku hisap dalam-dalam lidahnya… dan kugenggam dengan erat kontolnya dan mulai mengurut dan mengocok batangan yang makin lama makin keras dan memanjang itu.

“Mami…”
Aku dan Andre segera menghentikan kegiatan kami ini ketika Fanny memanggilku, tapi kami tetap berpelukan dengan erat sekali.
“Kenapa sayang?” kataku.
“Mami sama Om Andre lagi ngapain?” tanyanya.
“Mami sama Om Andre lagi mandi…” Jawabku.
“Kok madinya pelukan?” tanyanya lagi.
“Mmmhhh….” Belum selesai menjawab, Andre memotong…
“Mami kedinginan… makanya Om peluk supaya badannya anget!”
Aku tersenyum mendengar jawaban Andre. “Iya sayang… airnya dingin banget!”
Andre lalu melepas pelukannya dan langsung berlutut didepan Fanny, “Fanny mau mandi bareng sama Om, sama mami?”
“Mau…”
Lalu kami bertiga telanjang bulat dan masuk kedalam Bath tub, dan berendam bersama-sama. Walaupun itu tidak lama. Karena 10 menit kemudian, Fanny kembali menjadi saksi, bagaimana lubang tempat dia keluar dulu disumbat oleh batangan besar milik teman papinya itu.

RARA

Kejadian ini merupakan suatu sejarah kehidupan biruku beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Maret 1993, hampir setahun setelah lulus SMA di Magelang dan sedang menunggu panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (7)

Pagi itu, aku bangun dengan penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama mantan adik kelasku di SMA. Hari itu hari libur sekolah. Namanya Rara, dia seorang mantan penyiar remaja yang cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu.

Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Rara memang baru menungguku. Sementara menunggu Rara mandi, aku ngobrol dengan mamanya. O iya, si Rara tinggal berdua dengan mamahnya (dia panggil ibunya ‘emak’)

Tak lama kemudian Rara selesai mandi, mamahnya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua. setelah Rara berganti baju, kami lalu bercakap – cakap. Wajah Rara yang cantik, dibalut dengan jilbab cekak putih dan baju ketat merah jambu membuatnya semakin menggairahkan. Lama mata kami berpandang – pandangan. Saat aku membelai pipinya, ia hanya tersenyum malu. Segera aku merapaykan tubuhku ke tubuhnya. Tangan kiriku segera hinggap ke pahanya yang ditutupi jins ketat, mulai membelainya. Ia mencoba menghindar saat aku mencoba menciumnya, tapi akhirnya ia pasrah, dan ia juga tidak berontak, bahkah menutup matanya saat bibirku mendekati bibirnya. adegan French Kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita, kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat untuk jalan-jalan saja.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (8)

Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang. Dan di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank “American style” gitu… Kita belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yang tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main). “Nno… kayaknya mau hujan nih..”. gadis cantik berjilbab itu diam saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Rara tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (6)

Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Rara memegang stang kiri.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (10)

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Change, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan. Terdengar desahan tertahan dari bibir gadis cantik berjilbab itu.

Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur – Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Rara mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, gadis berjilbab itu tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakang gadis berjilbab itu, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca yang lumayan dingin karena gerimis.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (9)

Lalu bagai tak sadar, tangan Rara merayap ke belakang, dengan gemetar tangan itu mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…

Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang – Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (10)

Kupacu sepeda motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tidak akan menolak. Sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli. Rara masih melayang dengan kedua tangan di dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (4)

Sementara hujan akan segera mengucur… Sampai di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipi gadis berjilbab itu dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

Seiring dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama. Kurasakan tangan gadis berjilbab itu mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Sedikit kunaikkah jilbab ketenya, sehingga lehernya terlihat. Kuturunkan bibirku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dengan derasnya bagai kesetanan.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (3)

Rara sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya. Irama hujan seolah menabuhi apa yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu dengan kasar kunaikkan t-shirt ketatnya sampai ke lehernya, kupegang pantat gadis berjilbab itu dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi. Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku. Tapi kutahu gadis berjilbab ini menikmatinya. Wajahnya yang merah memperlihatkan bahwa ini juga adalah pengalaman pertama baginya. Jilbab putih ketatnya, bajunya yang sudah tersibak, dan desahan – desahan erotis yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernapsu.

Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi. Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susu gadis berjilbab itu, kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang.

Kini badannya lemas tidak.., kakupun tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang putih dan sangat cantik itu.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (2)

Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celana jeans gadis berjilbab itu sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, gadis berjilbab itu melenguh dan menggerinjal – gerinjal di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas, kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.

Akhirnya setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong “hidung” pinokioku ke arah lubang sorga gadis berjilbab itu. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya. Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang waktu lagi. Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku, tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vagina gadis berjilbab itu. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya dengan gemas.

Agak lama juga kami saling mengocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (1)

Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

“Rara..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah…. Ya, sore itu aku mendapatkan keperawanannya. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.

RINI DAN MEGA

Di salah satu pusat pembelanjaan di kota palembang. Dua orang akhwat berjilbab besar sedang memilih-milih pakaian. Memang di sana tersedia berbagai jenis baju dari yang murah sampai yang bermerk mahal.

jilbab hot - dewi yunita (13)

Sudah sejak pagi mereka di sana untuk memilih baju baru menyambut bulan ramadhan yang sebentar lagi tiba. setelah beberapa setel pakaian mereka pilih, maka mereka berdua sebut saja namanya Rini dan Mega berangkat menuju kamar ganti. Rini dan Mega ingin mencobai pakaian-pakaian tersebut.

Pusat pembelanjaan itu memiliki beberapa kamar ganti yang ruangannya cukup besar dengan pintu yang bisa dikunci dari dalam. Keduanya memilih satu kamar untuk mereka berdua. Pandangan mereka sepertinya satu kamar cukup untuk mereka berdua untuk mencobai baju-baju yang telah dipilih.

jilbab hot - dewi yunita (12)

Rini dan Mega masuk ke dalam kamar ganti dan kemudian Rini mengunci pintunya dari dalam. Mulailah mereka melepas pakaian yang mereka gunakan untuk diganti dengan pakaian yang mereka pilih tadi.

Mega dan Rini adalah aktivis berjilbab dengan parasnya yang cantik dan bodi yang aduhai yang selama ini walau tubuh mereka terbungkus, tetap saja mata-mata para lelaki tak berkedip untuk memperhatikan kecantikan tubuh seksi mereka walau tertutup baju panjang dan jilbab.

jilbab hot - dewi yunita (11)

Saat mereka membuka pakaiannya, Mega dan Rini tak sadar kalau di ruanagan itu telah terpasang kamera pengintai yang bisa memperhatikan seluruh aktivitas orang-orang di dalamnya. Kamera itu ternyata tersambung dengan kabel menuju ruang pemilik tempat pembelanjaan tersebut. Aksi buka pakaian itu diperhatikan oleh seorang wanita yang ternyata adalah bos dari pusat pembelanjaan itu.

jilbab hot - dewi yunita (10)

Wanita itu begitu terangsang memperhatikan kedua akhwat yang sedang mengganti pakaian dan mencoba pakaian satu persatu.

Terdengar suara cekikikan dari kedua akhwat yang sedang berganti baju. Saat Rini memakai salah satu pakaian
Mega tersenyum senyum geli ketika Rini bertanya “Bagaimana Mega cantik ngga?”

jilbab hot - dewi yunita (9)

Mega semakin tertawa…Rini heran “Kenapa Mega? Ada yang lucu?”
Mega secara refleks meremas tetek Rini dengan berkata “Ini Non tetekmu nonjol banget, hi hi hi…”

“Uhhh…desahan Rini sambil menepis tangan Mega yang sedang tersenyum itu.

jilbab hot - dewi yunita (8)

Sepasang mata bos pemilik pusat pembelanjaan itu terlihat horny menyaksikan adegan itu. Sehingga bersuara kecil dengan mengatakan “ayo bales tuchhhh pegang juga teteknya…”

Pada giliran Mega yang memakai baju gantinya, ternyata Rinipun tergelak tertawa. Ternyata baju mega pun terlalu ketat sehingga teteknya yang juga besar ikut terlukis langsung aja Rini mengarahkan tangannya meremas tetek Mega dengan maksud membalas. “He he he, Baju kamu juga nich kecil dan tetekmu nonjol juga..”

jilbab hot - dewi yunita (7)

Rini dan Mega tertawa-tawa kecil…
Rini dan Mega ternyata jadi terangsang juga dengan sentuhan yang secara refleks mereka lakukan. Ketika Rini hendak mengganti pakaian yang lain sehingga membuka pakaian sebelumnya terlibatlah buah dada montok Rini yang membayang dari beha tipis dan transparan yang Rini gunakan. Sehingga terlihat tonjolan putingnya yang menonjol berbayang.

Mega pun juga ternyata menggunakan beha tipis transparan agak ketat sehingga teteknya yang montokpun terlihat mempesona. Bos pemilik pusat pembelanjaan itupun menelan ludah.

jilbab hot - dewi yunita (6)

Rini dan Mega entah dirasuki apa mereka menjadi terbakar birahinya saat melihat pandangan di depannya dengan tetek yang menantang indah walau tertutup beha. Kembali mereka menggerakkan tangannya untuk menyentuh tetek temannya.. mereka menggelinjang, terangsang. semakin lama semakin keras remasan keduanya. desahan dan rintihan mulai terdengar. Kamar itu memang kedap suara ke luar tapi terdengar jelas sampai ke ruangan monitor Bos pemilik pusat pembelanjaan ini yang juga wanita.

jilbab hot - dewi yunita (4)

Terlihat aksi mMega dan Rini yang tidak lagi menyibukkan diri untuk mencobai baju, tapi asyik memperhatikan buah dada. ternyata mereka tertarik dengan buah dada temannya masing-masing sehingga aksi saling melepaskan beha di depannya. Bergantian mereka meraba tetek di depannya. Rini dan Mega hanyut dengan nafas menderu.

Sang pemilik toko tak berkedip menyaksikan kedua akhwat itu sudah saling berciuman sambil meremas toket.
Diapun membuka pakaian atasnya yang ternyata tidak menggunakan beha. Ternyata dia juga pemilik tetek yang cukup besar…Pemilik toko inipun juga meremas-remas teteknya sendiri sambil menyaksikan adehgan yang dipertontonkan oleh kedua akhwat itu.

Tanpa malu-malu, kedua akhwat yang telah terbakar syahwatnya itu menelanjangi dirinya sendiri dan saling berpelukan. Tangannya saling mengerayangi. dari aksi isap tetek, jilat putingnya yang menyebabkan masing-masing puting mereka telah tegang.

jilbab hot - dewi yunita (5)

Sebenarnya Rini sering sekali sebelumnya memergoki Mega sedang bermasturbasi di kamarnya. Tapi di biarkan aja oleh Rini. Dan karena seringnya melihat Mega sering bermasturbasi. Rini pun juga terikut-ikut sering memperhatikan tubuhnya dan berakhir dengan menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang memeknya.

Sekarang ini aksi mereka sambil berbaring menyilangkan kaki mereka dan merapatkan memek memek mereka berdua. Ada sensasi dahsyat yang mereka rasakan tatkala itil mereka tergesek-gesek. Tangan kedua akhwat berjilbab lebar itu terus saja meremas-remes tetek tapi meremas tetek sendiri. memek mereka terus saja saling digempetkan.

jilbab hot - dewi yunita (3)

Sang pemilik toko ternyata telah menelanjangi dirinya tanpa sehelai pakaian pun. terlihat memeknya sudah sangat basah. dia mengeluarkan sebuah dildo darim dalam laci mejanya.

Suara-suara erangan Rini dan Mega terdengar cukup keras ke dalam ruangan pemilik pusat pembelanjaan ini. Lalu dildo yang mirip kontol yang sangat besar dan panjang ditusukkan ke dalam lubang memeknya…Wanita ini menjerit. Dildopun terus dipompakan di dalam memeknya.

semakin cepat ternyata hentakan-hentakan yang mempertemukan kedua memek antara Rini dan Mega dan akhirnya meledaklah jeritan tertahan dari keduanya Arrghhhh…. tanda klimaks

jilbab hot - dewi yunita (2)

Rupanya wanita pemilik pusat pembelanjaan ini juga menjerit karena dildo yang keluar masuk di dalam memeknya membuat wanita ini orgasme.

Rini dan Mega tersenyum malu karena mereka ternyata punya nafsu syahwat besar yang sama dan kemudian memakai kembali pakaian muslimahnya dan beranjak ke luar dari kamar ganti lalu meletakkan kembali pakaian-pakaian yang dipilihnya. Rini dan Mega tidak jadi membeli karena baju-baju itu tidak pas besarnya dengan mereka.

jilbab hot - dewi yunita (1)

Dalam bathin mereka akankah pengalaman ini terulang lagi?

Wanita pemilik pusat pembelanjaan ini terlihat tertidur setelah orgasme tadi di atas sofa.

Siti Maghfiroh

Hari itu aku berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasa, mau nyontek PR teman. O,ya aku sekolah di SMA negeri di kota X. sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.

Jam 6 pagi aku sampai di sekolah, segera kucontek PR temanku yang terlebih dahulu datang. Tidak terasa aku mengerjakan PR hingga bel masuk berbunyi. Untungnya PRku selesai lebih dulu. Pelajaran pertama biologi.

Aku sih enjoy aja mengikutinya apalagi gurunya manis, masih muda lebih tinggi sedikit dariku dengan berat badan yang ideal, dan berjilbab. Dia baru mulai mengajar 3 hari yang lalu. Namanya Siti Maghfiroh. Kami biasa memanggilnya Bu Firoh. Pagi itu Bu Firoh datang memakai baju warna hitam dan jilbab dengan warna sama. Dia menggunakan jilbab selengan. Selain mengajar biologi, dia juga menjadi pengurus UKS maklum sekolah kami masih baru minim SDM.
Aku tidak konsen menerima pelajaran karena memperhatikan tubuh Bu Firoh. Aku membayangkan apabila Bu Firoh yang selalu berjilbab dan berbusana muslimah itu telanjang. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana. Selama ini aku hanya bisa mengkhayal bu Firoh yang berjilbab telanjang di depanku. Memikirkan hal itu aku jadi ngaceng. Tak terasa pelajaran selesai kulihat jilbabnya melambai-lambai.

Pukul 1 siang “teeeeeeeeeee………….t” bel pulang berbunyi aku segera mempersiapkan diri untuk ikut ekskul. Aku menjadi kapten tim sepak bola di sekolahku. Sehingga harus bertanggung jawab pada ekskul itu. Ekskul yang kuikuti berlangsung mulai jam 2 siang hingga 4 sore.
Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua anggota tim pulang, sedangkan aku masih ada di sekolah untuk membereskan peralatan ekskul. Memasuki sekolah, suasana terasa lain. Jika setiap pagi sangat ramai, keadaan di sore hari berbeda 180 derajat. Koridor yang tadinya ramai kini menjadi sepi.
Aku berjalan menuju gudang untuk meletakkan bola sepak. Pada saat perjalanan kembali aku melewati ruang guru. Kulirik sebentar hanya tinggal tas Bu Firoh. Guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah. Aku menyempatkan diri mandi di kamar mandi dekat ruang guru. Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.

Di kamar mandi bajuku tidak segera kulepas. Aku menunggu keringatku mengering. Belum selesai aku menunggu keringatku kering, terdengar suara kamar mandi sebelah terbuka. Aku hanya diam saja karena kupikir bisa mendapat pemandangan bagus. Saat mengintip aku terkejut karena ternya di sana kulihat Bu Firoh, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis seperti artis sinetron. Aku lebih terkejut lagi karena bu Firoh saat itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya. Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Aku menduga dia tengah menonton bokep, karena terlihat dia tidak bias mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya. Tak kusangka walaupun berjilbab, Bu Firoh sangat bernafsu. Kuabadikan masturbasi bu Firoh tersebut dalam ponsel kameraku. Bu Firoh tidak sampai mengerang, muungkin dia malu apabila terdengar orang lain. Walaupun berjilbab namun suka masturbasi ternyata dia masih punya malu.

15 menit setelah Bu Firoh muslimah berjilbab yang “alim” itu keluar dari kamar mandi, aku selesai mandi. Kulihat foto hasil jepretanku tadi. Kulihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang berada di vaginanya. Kulihat kakinya putih dan mulus sekali. Aku jadi ternagsang melihatnya.
Sengaja kulewati ruang guru, kulihat Bu Firoh masih di sana.
Segera kuhampiri dia kemudian kuelus-elus jibab hitamnya.
“Ngapain kamu!” dia menggertak Kutunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, kulihat dia sangat syok. “kalo ibu tidak mau melayani saya, foto ini akan kusebar luaskan” ancamku sambil terus mengelus-elus jilbabnya.
Dia hanya terdiam tanpa kata-kata. Kujambak jilbabnya agar dia mengikutiku menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu kukunci.

“Ibu meskipun pakai jilbab ternyata libidonya tinggi yah” kataku. Kulihat air matanya hampir keluar. Segera kuperintah Bu Firoh untuk mengoral kontolku. Dia menurutiku karena takut gambarnya tersebar. Kuusap-usap jilbab Bu Firoh. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun aku tertawa penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya. 15 menit kemudian kurasakan gejolak di penisku, tak mampu menahan lebih lama, spermaku keluar dengan deras. Karena kaget Bu Firoh melepas kulumannya sehingga spermaku tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Kulihat jilbabnya yang semula hitam polos kini ada motif putih karena spermaku. Namun aku belum puas. Kuperintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan aku juga segera melepas bajukku. “impianku melihat Bu Firoh berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kataku dalam hati.

Kulihat dugaanku tidak salah, bu Firoh terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut. Segera kuraih dada kanannya dan kukulum dengan rakus.
“ah..ah…ah..” walau kupaksa ternyata Bu Firoh menikmatinya. Kulihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuatku “ON” lagi.
Bu Firoh kubaringkan di ranjang dalam UKS dan kuserbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sekitar 10 menit kulakukan hal itu. Kemudian kupandangi wajahnya yang masih terbalut jilbab manis sekali. Kemudian kusuruh dia menungging. Segera kutancapkan kontolku ke memeknya, rasanya semppit sekali. Kugenjot tubuh guruku sambil memegangi jilbab hitamnya. Seperti joki yang memacu kuda. Sekitar 20 menit kurasakan kontolku tidak kuat menahan sperma yang akan keluar.
“ah…………” aku berteriak bersamaan dengan keluarnya spermaku dalam memeknya. Setelah keluar semua. Kucopot jilbab guruku untuk membersihkan kontolku dan memeknya dari cairan yang …keluar baik dari memeknya maupun dari kontolku. Terlihat rambutnya yang hitam sebahu yeang selama ini tersembunyi di balik jilbabnya.

Aku sangat terangsang melihatnya, apalagi saat itu Bu Firoh terlihat sangat menggairahkan dengan keringat di sekujur tubuhnya.
Setelah aku merasa masih mampu untuk mengocok bu Firoh, kuminta dia untuk berbaring telentang. Tanpa membuang waktu segera kutusuk vaginanya. Dia terlihta sangat menikmati permainanku ini. Puas dengan posisi itu, gentian aku yang telentang, kemudian kuminta dia menggenjot kontolku dari atas. Jepitan vaginanya terasa enak sekali. Genjotannya yang liar membuatku tidak bisaertahan lama. Lima menit kemudian aku memuncratkan spermaku di lubang kenikmatan Bu Firoh. Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan.
Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai baju. Aku cukup penasaran mengapa tadi waktu kuentot tidak keluar darah, dari ceritanya aku tahu walau berjilbab,dulu Bu Firoh pernah nge-seks dengan pacarnya.
Ngesex pertama dilakaukan saat masih SMA. Sebenarnya Bu Firoh sudah berjilbab sejak SMA. Saat kuliah pun ia selalu berjilbab. Ternyata walau berjilbab ia termasuk wanita berpikiran modern. Ia menganut sex bebas.

Setelah itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.
Tak terasa terdengar adzan maghrib Bu Firoh kulihat segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya. Akupun segera pulang dengan penuh senyum kemenangan

ADELIA

Edies Adelia baru beberapa bulan memakai jilbab, perilakunya semakin alim dan religius. Saban hari mencerminkan seseorang yang tidak nakal lagi, lebih banyak waktunya dihabiskan untuk menekuni dunia akhirat, dan yang pasti pengin berbuat kebajikan. Namun semuanya itu harus dibayar mahal, naluri seks yang mengebu kini harus ditahan tahannya. Jilbab seakan akan menjadi penghalang untuk berekspresi lebih bebas, siapa tidak ingin menjadi manusia yang bebas walau dalam kehidupan yang tidak bebas ini. Walau selalu mengaku, semenjak memakai jilbab dirinya merasa menikmati, namun dalam urusan seks yang kian terbatas, karena kesibukan suaminya, juga aturan baku yang dalam urusan seks lebih mengarah hanya kewajiban belaka sehingga naluri dan fantasi seks tertahan di benak kepalanya, dulu sebelum memakai jilbab kelakuannya bebas, menikmatinya namun kini dengan balutan jilbab kebebasan itu sudah tidak didapatkan lagi. Sayangnya, entah kenapa Edies Adelia bertemu denganku ketika aku secara tak sengaja berada di sebuah studio, padahal aku juga tidak ada maksud datang ke studio itu yang nyatanya hanya berisi beberapa orang karena pada sibuk shooting di luar kota.
Awalnya aku tidak tahu kalo itu Edies Adelia karena beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengannya tidak berjilbab, namun kini dengan balutan jilbab itu, kecantikannya justru malah memukau, apalagi dengan pakaian gamisnya itu, menambah keanggunan dan keseksiannya, kubayangkan selingkuhku dengan beberapa artis berjilbab yang sangat menarik minatku untuk memburu artis berjilbab lagi, begitu sangat sopannya di luar, namun di ranjang mengerang penuh kenikmatan dengan masih berjilbab.
“Haaaan .. Burhaaaan “ panggil Edies Adelia ketika aku sedang suntuk dengan netbook, aku tak menyadari kalo itu Edies Adelia.
“Siapa ya “ tanyaku dengan seksama.
“Owalaaah .. kamu Edies .. gila maaah .. duh tambah cakep kamu “ pujiku dengan memandangnya sambil tersenyum plus mupeng alias muka pengin.
“Kok sepi sih Haan .. kemana nich orang orang “ tanya Edies Adelia dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
“Tumben kamu jilbaban Edies “ tanyaku heran sambil duduk di sampingnya, uh bau wangi tubuhnya menusuk hidungku.
“Iya deh .. demi kebaikanku donk .. “ ucap Edies Adelia dengan tersenyum.
“Kau tambah cantik. Edies .. malah aku jadi kesengsem nih “ godaku yang dijawab dengan melototnya mata Edies Adelia itu.
“Kamu sejak dulu memang jahil, Han .. “ balas Edies Adelia dengan mengibaskan tangannya karena mulai panas di ruangan itu.
Mendadak beberapa pegawai pulang, tinggal satu sekretaris yang memanggilku. Anita mengatakan akan pergi ke tempat shooting yang jaraknya di luar Jakarta, Anita justru tidak keluar lewat depan, namun lewat belakang, naluri seksku langsung kambuh, bagaimana menggarap Edies Adelia ini, kebetulan tinggal aku berdua dengan Edies Adelia di studio ini. Sekeluar Anita aku langsung mengunci pintu belakang, segera aku membuka tasku dan kuambil obat perangsang agar bisa menjebak Edies Adelia berbirahi denganku. Kubawa minuman teh manis itu ke depan, ruangan sofa yang bagian depannya sudah ditutup, sedang bagian samping merupakan ruangan terbuka, namun masuknya tetap dari ruangan tengah. Kuberikan minuman itu di meja
“Waah .. kamu kok repot repot sih .. aku nggak lama kok ..” sahut Edies Adelia dengan tersenyum
“Ndak apa apa .. aku juga hendak pulang .. istirahat dikitlah .. jalanan jakarta jam segini juga macet “ kataku diplomatis untuk menahan Edies Adelia agar tertahan dan meminum minuman yang kuberikan, kutenggak juga gelas yang aku bawa.
Obrolan demi obrolan kami menyangkut masalah pekerjaan di mana aku sering membantu di studio yang sering membuat sinetron gombal ini, walau aku tidak suka sinetron namun karena tuntutan pekerjaan maka kulakoni juga sekalian berburu artis yang gemas berselingkuh.
Edies Adelia membenahi jilbabnya warna merah muda itu dan tersenyum padaku
“Eh Haaan .. aku mau tanyaaa .. tapi aaah .. “ tanya Edies Adelia dengan suara yang mulai tak teratur karena pengaruh obat perangsang itu, dosisnya aku atur dalam jangka sepuluh menit akan merasakan khasiatnya
“Tanya apa Mbak .. soal seks ya “ pancingku membuat Edies Adelia menjadi terkejut
“Iyaa .. eeeh tidak aah . anuu .. soal komputer “ ralat Edies Adelia yang semakin kacau, panas tubuhnya semakin membakar gairahnya.
“Kenapa nggak tenang Mbak .. panas ya .. apa Mbak Edies geraaah “ tanyaku dengan mendekatkan tubuhku agar lebih dekat, Edies Adelia sendiri juga tidak menyingkir, malah memijit kepalanya
“Aku sedang .. tak enaak badan nich .. uuh .. Haaan .. gimana yaa akuu mau minta tolong .. tapi aaah “ ujar Edies Adelia semakin bingung. Aku langung ambil inisiatif memandangnya dengan tersenyum sampai membuat Edies Adelia terkejut dipandangi dengan tersenyum itu, Edies Adelia menjadi malu dan tangannya meremas sofa itu.
“Kau cantik dengan balutan jilbab Mbak Edies .. kau makin seksi kok .. sungguh “ kupuji puji itu membuat Edies Adelia malah melambung dan tersenyum, minuman itu ditengguk sisanya, namun badannya kian panas. Aku terus mendekat sedikit demi sedikit, Edies Adelia memejamkan matanya merasakan panas tubuhnya, apalagi rangsangan dari minuman itu kian menggerogoti tubuhnya, kugenggam tangannya, Edies Adelia menjadi terkejut
“Tenang Mbak Edies .. rilekslaaah .. aaaku akan membuatmu rileks “ kataku dengan memijit lengannya itu. Edies Adelia kemudian merebah, jilbabnya diatur sebentar kemudian memejamkan matanya, pelan pelan aku memijatnya, kupegang tangannya.
“Pejamkan matamu .. jangan dibuka .. hembuskan nafasmu pelan pelan “ perintahku yang bertujuan aku agar bisa menggiring tangannya agar menyentuh pada selakanganku, pelan pelan sambil kupijit itu tangannya semakin dekat dengan selakanganku. Edies Adelia tetap tidak tenang
“Uuh Haaan .. rasanya panas “ keluh Edies Adelia
“Tenang Mbaaak .. sedikit lagi .. kau sungguh sangat menggairahkan Mbak dengan berjilbab “ rayuku membuat Edies Adelia membuka matanya namun dipejamkan kembali
“Iyaa Haan .. eeeh masaak sih “ ucap Edies Adelia tak karuan, kubawa tangannya semakin dekat dan akhirnya nemplok di selakanganku yang ngaceng itu, kontan saja Edies Adelia langsung membuka matanya, sialnya tangan Edies Adelia langsung merengut batangku tak sengaja
“Iiiiiiiih . apa apaan ini .. “ selidik Edies Adelia dengan terkejut, namun aku sudah tidak tahan lagi, kuserongkan kepalaku dan langsung melumat bibir Edies Adelia, kupegang kepalanya yang berjilbab itu. Sangat kontras, jika mengerang erang berjilbab ketika memeknya kucoblos akan sangat indahnya. Tangannya masih nemplok di selakanganku
“Oh Haaan … aaaaaaaahh .. “ jerit Edies Adelia dengan mata tertutup kemudian. Edies Adelia justru malah menanggapi lumatanku itu akibat pengaruh obat perangsang. Pelan pelan aku mengendurkan lumatan menuju pagutan, Edies Adelia menikmati pagutan itu dengan memejamkan matanya, kupagut dan kumainkan lidahku. Tiba tiba Edies Adelia terkejut ketika ada yang menggerayangi dadanya, kontan saja membuka matanya lalu mendorngku
“Haan .. apa apan ini .. dosa aaku . aku muslimaah .. jangan Han “ tolak Edies Adelia, namun aku tidak mundur, kupeluk dan kuhujani dengan pagutan lagi, kuremas buah dadanya kembali, besarnya buah dadanya itu yang membuatku semakin bernafsu, kenyal dan enak sekali.
“Haan aaaaaaah .. enaaak Haaaan .. teruus .. uuuuuuh “ kembali Edies Adelia terangsang, aku semakin nakal.
“Aakan kuberikan kenikmatan surgawi, Mbak Edies, sayang “ rayuku semakin menggila. Edies Adelia kini semakin tenggelam dalam lautan asmara, kutekan dan kutinih tubuhnya. Edies Adelia membuka matanya
“Haan … jangan .. jangan lakukaan .. please .. “ tahan Edies Adelia yang di mana tanganku sudah masuk ke dalam rok panjangnya menerobos sampai di celana dalamnya, kurasakan jembutnya itu
“Uuuh .. enaak Haaan .. uuh “ lenguh Edies Adelia ketika dengan nakal aku mengelus dan menekan nekan vaginanya yang membasah itu
“Marilah bercinta denganku, Mbak Edies “ kataku pada wanita berjilbab ini, Edies Adelia membuka matanya.
“Iya Haan . uuuh .. penismu gedhee “ ungkap Edies Adelia dengan tak karuan, racauan mulutnya sudah keluar dari logika, kutahan tubuhnya sebentar, kuberikan pagutan lagi, lalu aku langsung berdiri, kubuka celanaku dengan cepat, Edies Adelia masih terpejam merasakan panasnya birahi itu, aku menarik tangan Edies Adelia dan duduk lalu membuka matanya, di depannya sudah tersaji penisku yang ngaceng. Edies Adelia sampai melotot melihat penisku yang besar itu, kepalanya menggeleng geleng, namun matanya tak berkedip, kudorong belakang kepalanya yang berjilbab itu.
“Kulum Mbaaak .. enaak kok .. ayo deeeh .. besar khan kontolku “ kataku jorok. Kutarik tangannya dan kembali kuarahkan penisku. Edies Adelia kemudian tersenyum memandang batangku, nafsu seksnya naik dengan drastis. Pelan pelan kepala Edies Adelia maju dan membuka mulutnya. Kuatur jilbabnya itu agar lebih rapi kebelakang, tanganku semakin nakal meremas buah dadanya yang tertutup pakaian gamis itu. Roknya tak karuan karena aku singkapkan, kelihatan betapa mulusnya, Edies Adelia menelan batangku dengan pelan pelan, setelah telan Edies Adelia mengulum dengan pelan pelan.
“Tahan, sayaang “ kataku dengan menahan kepala Edies Adelia, dikeluarkan batangku itu, aku kemudian duduk, kuelus pahanya itu Edies Adelia pun kemudian membungkuk.
“Ssssh .. sssssshh .. enaak aaaaaaaah .. teruus kulum .. kontolku sayaang . kau benar benar menggiarahkan berjilbab sambil kulum kontol “ kataku dengan menarik kuciran jilbabnya agar tidak ke depan, aku semakin terlanda birahi, namun aku menahan untuk mengontrol nafsuku agar bisa bercinta dengan Edies Adelia lebih lama.
Pelan pelan batangku kini diisep oleh Edies Adelia yang sudah terbakar birahi, kehormatan sebagai seorang istri kini telah disingkirkan, kubuka bajuku pelan pelan dan aku bertelanjang dada. Hanya celanaku melorot sampai lutut.
“Teruus Mbaaak .. Mbak Edies benar benar cantik deeh ..makin cakep dengan berjilbab .. makin merangsang “ rayuku semakin menggila membuat Edies Adelia semakin cepat mengulum batangku itu. Pelan pelan Edies Adelia kini semakin instan mengulum batangku, aku semakin nakal dengan mengelus pahanya, menaikan tangan kiriku
Kutahan kuluman itu, lalu aku menghujani dengan pagutan kembali, Edies Adelia memejamkan matanya menikmati pagutanku.
“Sssssssssshh ssssssssssssssssssshhh ssssssshhh hhhh “ desis Edies Adelia dengan suara yang terdengar jelas, bibirnya sampai bergetar merasakan kenikmatan pagutan kami. Kudorong tubuhnya lagi dan aku langsung mengangkat pantatnya, kutarik celana dalamnya, tiba tiba setelah tertarik celana dalamnya itu,
“Haaan .. jangan Haan .. apa apaan ini “
“Sudahlah sayaaang .. nikmati saja “ kataku dengan menaikan roknya dan langsung kuserbu vaginanya itu. Edies Adelia kemudian memejamkan matanya lagi
“Ooh Haan .. enaaknya aaaaah aaaaauuh teruus Haan .. teruuus “ ucap Edies Adelia kembali terlanda birahi. Antara sadar dan tidak sadar bercmpur menjadi satu, kukuliti vaginanya dengan membungkuk, Edies Adelia sampai berdegup kencang merasakan oralku yang dengan cepat mengorek itu. Edies Adelia sampai menggeliat tak karuan, tubuhnya sudah mulai membasah tak karuan itu.
“Haan .. nakaal aah .. eeenaak .. teruus, sayaaang eeeh .. aaah ssssssshh sssssshh aaaaaauh “ lenguh dan erang Edies Adelia yang jilbabnya kini semakin tak teratur akibat gelengan kepalanya itu, namun dengan sigap tanganku naik memegang kepalanya, kubenahi sebentar namun agak susah juga, bibirku masih bermain di vaginanya yang sangat basah itu, apalagi celana dalamnya nemplok di lututnya itu.
Kupagut lagi bibirnya setelah Edies Adelia mengerang merasakan oralku
“Mari Mbak Edies .. kontolku siap mencoblos memekmu “ bisiku yang dijawab membuka matanya
“Jangan Haan .. jangan “ tolak Edies Adelia itu
“Enaaak .. copot celdamu sayaaang .. ceepet aaah “ tarikku pada tubuh Edies Adelia yang kini berdiri, kutahan roknya agar tidak terjatuh. Aku langsung mengangkat kakiku, menekan celana dalam itu. Mata Edies Adelia sendiri masih memandang dengan mata membesar itu batangku itu. Aku sampai mengocok dengan cepat agar batangku semakin ngaceng. Celana dalam itu akhirnya tertanggal dari mata kakinya
“Naikan aku Mbaak .. pengin mencoblos memekmu “ ajakku dengan memangku Edies Adelia yang mengangkang itu
“Haaan .. pleasee .. ini dosa aaaaaaah aaaaaaaakuu aaaaah … “ elak Edies Adelia tak kuat menahan birahinya, pelan pelan selakangannya mendekat dengan penisku, kupegang batang, tanganku masuk ke gamisnya meremas buah dadanya membuat Edies Adelia semakin meresapi birahi lebih dalam, tubuhnya menggeliat, namun Edies Adelia kemudian menekan membuat batangku mulai menerobos.
Tangan kiriku merapikan jilbabnya
“Tekan Mbaaak “ ajakku yang disambut dengan tekanan selakangan Edies Adelia itu, batangku mulai tenggelam dan Edies Adelia merasakan kesakitan
“Sakit Haaan duuuuuh .. aaaaaaaaaauh “
“Tenang Mbaak .. wanita seindah dirimu yang berjilbab akan nikmat ketika menggenjotku “ rayuku lagi, kutekan batangku ke atas.
“Iyaa Haan .. aaoh .. batangmu gedhe Haaan “
“Kontol namanya Mbak .. “ sahutku
“Iyaa kontol .. aaah jorok aaaaaah .. nggak maauu “ sahut Edies Adelia semakin tak karuan.
Desakan tekana itu semakin besar, vaginanya bak ular yang menelan mangsa, ukuran mangsa yang besar itu bisa tertelan dengan pelan pelan, luar biasa vagina Edies Adelia yang sempit membuka dengan pelan pelan tertutup roknya itu. Jeritan Edies Adelia semakin menggila, namun lama lama kesadarannya pulih, namun rangsangan birahi masih membelenggunya, kutekan pinggangnya membuat batangku semakin melesak lebih dalam
“genjotin pelan pelan “ ajakku yang disambut genjotan itu, akibatnya batangku melesak lebih dalam
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “
“Aaaayoo genjot teruuus “ ajakku
Edies Adelia semakin menggenjotku, batangku luar biasa diperas dalam vaginanya, Edies Adelia terus menggenjotku
“Huuuh aaah .. aaaaaauh eneaaaaaaak “ erang Edies Adelia, kuhujani dengan pagutan dan lumatan dan Edies Adelia pun semakin larut dalam birahinya.
“Aaayoo Haan .. enaaaaaak sssssshhh ..sssssssshhh uuuuuuuuh “ lenguh Edies Adelia yang naik turun dengan cepat karena tak tahan akan penisku yang mengoyak vaginanya itu, kurapikan jilbabnya agar tidak terlepas
“kaau Haan . aaahkaaau kurang ajaaar “ teriak Edies Adelia dengan menggenjotku lebih cepat. Genjotan demi genjotan cepat itu karena Edies Adelia hendak mencapai orgasme, genjotan itu semakin menekan lebih dalam sampai mentok di dalam bagian vaginanya.
“Haaaaaan .. nggak kuaat kuaaat .. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Edies Adelia dengan menghujamkan selakangannya keras keras. Vaginanya menyempit dengan cepat, matanya terpejam erat, kepalanya mendongak ke atas merasakan orgasme, Edies Adelia membusung menegang dengan bola mata memutih. Kuremas buah dadanya dari luar gamisnya itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuu “ erang Edies Adelia mendapatkan orgasme dengan menekan kuat kuat ke selakanganku. Tubuhnya kemudian berkelonjotan dalam pangkuanku. Kupeluk tubuhnya yang ngos ngosan itu untuk memberikan ketenangan, kedua tangan Edies Adelia memelukku. Kurasakan vaginanya membasah banyak sekali sampai membasahi sofa itu.Masih dalam pelukanku Edies Adelia merasakan ketenangan, badannya mulai membasah di sana sini membuatku semakin bersemangat untuk terus menggenjot Edies Adelia yang sudah terbakar birahi. Gairah seksnya kini sudah dalam genggamanku, nafasnya masih tak teratur setelah menggenjotku dengan penuh kenikmatan. Aku menenangkan dengan mengelus elus kepalanya yang berjilbab itu. penisku masih dalam vaginanya yang hangat menyedot nyedot batangku. Tangan Edies Adelia memelukku erat, kedua tangannya merangkul di pundakku, kepalanya yang berjilbab itu menempel ketat di sisi kiri kepalaku. Sesekali tangan Edies Adelia mengelus elus bagian bawah belakang kepalaku. Tak lama kemudian menarik kepalanya dan memandangku dengan perasaan setengah marah.
“Kau merangsangku dengan obat ya Han .. kamu benar benar bangsat “ maki Edies Adelia dengan nada masih marah.
“Aku sudah tidak tahan dengan kemolekan tubuhmu, sayaang “ kataku dengan membual
“Ini dosa tauk .. nggak baik .. duh .. aku sudah aaaaah .. “ ungkap Edies Adelia dengan menunduk mengusap mukanya dan kemudian hendak membuka jilbabnya
“Nggak usah dibuka, sayaaang .. ayo deeh .. tinggal selangkah lagi .. tuh memekmu menjepit kontolku “ ajakku memandang kecantikan wanita ini yang tidak mencopot jilbabnya.
“Han tolong deeh .. kita sudahin .. aku mau pulang “ rengek Edies Adelia dengan memelas
“Sekali lagi deeh .. mosok kamu sudah orgasme .. sedang aku belum “ kataku dengan menyelusupkan tanganku masuk ke dalam roknya mengelus elus pahanya yang mulus
“Haaan . pleasee .. kamu nakal aaaaah .. geli nich ..” Edies Adelia menggelinjang karena aku semakin nakal menyelusupkan ke bagian dadanya, cup branya sudah lepas semenjak Edies Adelia menggenjotku, kuremas buah dadanya itu, kunaikan pakaian bagian atas itu, kuangkat terus dan kulepas, Edies Adelia tidak melawan atau mencegahku, kubuka ke atas melewati jilbabnya, luar biasa juga buah dada Edies Adelia yang berjilbab itu, Edies Adelia memandangku dengan menggeleng geleng
“Jangan Haan . pleasee .. ini dosaa .. “ ucap Edies Adelia dengan perasaan ditahan tahan, apalagi kontolku terjepit itu sering membuat Edies Adelia menjadi lupa daratan.
“Akan kuberikan kenikmatan tak kau lupakan, Mbak Edies .. aku pengin menggenjotmu dengan menungging “ ajakku dengan memeluk Edies Adelia dan menggulingkan ke samping, kutindih Edies Adelia yang langsung melenguh merasakan desakan batangku yang tenggelam itu.
“Haaaaaaan eeh .. enaak sih .. kontolmu itu “ aku Edies Adelia dengan memejamkan matanya, apalagi aku sesekali menggenjotnya pelan
“Mau ndak nich .. kita selesaikan .. setelah itu urusan selesai “ ajakku dengan mulai bergerak lagi, gerakanku sampai ditahan tangan Edies Adelia, Edies Adelia menyampirkan ekor jilbabnya yang menutupi mukanya dan menggeleng geleng.
“Nggak mau ? masak sih .. rasakan ini “ kataku dengan menarik batangku dan menghujamkan sehingga membuat Edies Adelia menjerit kesakitan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh .. pleasee .. oke deeh .. kita selesaikan .. janji ya Haan .. jangan kau ganggu aku lagi dalam kemaksiatan … aakuu nggak sukaa, aku pengin berubah Han. “ Edies Adelia mencoba berdalih
“Aku takut kamu ketagihan sama kontolku, lagian kau berjilbab juga tidak mengubahmu .. tetep suka seks khan ? “ tahanku dengan menekan tangan Edies Adelia yang menahanku agar aku bisa kembali menyodokinya.
“Aaah nggak .. karena kau yang merangsangku “ kembali Edies Adelia mencoba mencari pembenaran
“Ntar kita lihat saja .. kalo kau ketagihan kontolku jangan salahkan aakuu .. “ aku kemudian menarik batangku pelan pelan, Edies Adelia sampai melenguh karena gesekan batangku yang besar itu, kemudian aku melepaskan batangku itu. Edies Adelia menggigit bibirnya karena batangku lepas, secercah kecewa ketika batangku lepas, sikapnya masam. Namun kemudian berubah senyum lagi ketika aku menarik tangannya, membawanya ke dekat meja yang ada jendelanya. Kembali aku meremas buah dadanya sampai membuat Edies Adelia melenguh dan mendesah keenakan, jilbabnya kemudian diatur lagi agar tidak lepas.
“Kau naikan kakimu ke meja, sayaang “ perintahku yang disambut senyum Edies Adelia.
“Oke deeh Haaan .. belum pernah aku diginiin .. “ aku Edies Adelia
“Naaah .. kau akan suka sayaang .. aku coblos lagi memekmu ya Mbaaak .. tahaan deh “ ajakku dengan merapatkan selakanganku ke pantat Edies Adelia yang bahenol itu.
“Iya Haan “ jawab Edies Adelia dengan singkat
“Ntar malam aku ke rumahmu Mbak Edies .. aku akan memberikan kepuasan lagi “ pancingku membuat mata Edies Adelia membesar
“Jangan Han . jangan .. bahayaa .. pleasee .. cukup di sini saja .. aku janji tak lapor polisi “ jawab Edies Adelia dengan berat hati.
“Kau tahu Mbak .. aku ada foto kita sedang bersetubuh .. kalo Mbak Edies nggak mau .. aku bisa menyebarkan ke internet .. gimana ?” kataku dengan berdalih
“Haaaaaaaaaaaah ! jangan Haan .. please .. aku takut ini dosaaa “ ingatan logika Edies Adelia kembali normal namun aku sudah kembali menusukan batangku membuat Edies Adelia menjerit kecil
“Uuuuuuh Haaaaan .. uuh .. aayoo .. tusuuk .. enaaaaaak .. oke .. aaayoo ….. ssssshhh ssssshhh sssshh ssssshhh .. hhhhh .. huuuh .. penismuu kegedeaaan “ jerit Edies Adelia dengan menggeleng gelengkan kepala, ekor jilbabnya ikut bergerak ke kanan kiri.
“Kontol namanya sayaaang “ racunku kembali agar lebih jorok
“Iiih .. kamu kok jorok banget .. nyebut nyebut dengan kontol segala“ sahut Edies Adelia dengan memalingkan wajahnya, ketika memalingkan itu langsung kusambar bibirnya, Edies Adelia pun langsung menanggapi pagutanku, kupagut bibir itu, Edies Adelia pun semakin tenggelam dalam lautan birahi, batangku kutekan terus sambil berpagutan, tanganku yang memeluk di bagian dadanya itu ikut meremas remas buah dadanya sehingga Edies Adelia semakin kembali terbuai birahi.
“Uuuuuh .. remeees Haaan .. remeess .. enaak .. ssssshhh sssssshh ssssssshh hhhh “ erang Edies Adelia semakin tenggelam dalam birahi bersamaku
“Ntar malam aku ke rumahmu ya Mbaaak .. “ ajakku
“Iyaaa eeeh .. jangaaan “ sahut Edies Adelia dengan bingung.
“Pokoknya aku dataaang deeh .. tunggu aja “ kataku dengan memancing.
“Hati hati Haaan .. aaaaaauh ayoo sayaang .. genjot donk .. katanya mau entotin aaaku . pleasee .. aku suka sama kontol yang besaaar .. rasanya nggak aaaaaahh aaaaaaaauh pleasee .. teruuus desaaak .. aaaaauh ..aaaaah .. sssssshh ssssshhh … “ Edies Adelia sampai merem setelah melepaskan pagutan itu. Roknya yang tersingkap tak karuan itu membuat pahanya yang mulus menjadi daerah rabaan setelah dadanya, branya copot tak berada di bagian yang benar, kedua buah dadanya menyembul dengan sangat indahnya, sedang di depan jendela itu, are kebun yang agak rindang, sepoi sepoi angin menerpa kami.
Aku kemudian menarik batangku dan mendesak lagi membuat jeritan Edies Adelia meninggi karena batangku menjadi ludes mentok di bagian terdalam vaginanya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw .. Ouuh Haaan .. pleasee .. enaaknya sssssshh sssssssssh .. aayoo sayaang .. aduuh nggak tahaan nich .. pleasee .. entotin .. teruus .. ayoo geraaak “ erang Edies Adelia semakin menggila dan bersemangat, bahkan Edies Adelia justru menekan ke belakang dan maju lagi sehingga batangku menjadi keluar masuk
“Duuh .. enaaak bangeeeeet .. ayoo genjot . sodok… sodook ! “ ajak Edies Adelia dengan merem kuat menahan keenakan memeknya dimasukin kontolku
Aku lalu bergerak pelan pelan membuat Edies Adelia menjadi mulai menggelinjang, tangan kiri meremas buah dadanya sebelah kanan dan tangan kananku mengelus pahanya yang naik ke meja itu. Kusodokan pantatku maju mundur
“Yees .. yesss .. enaak Haaan .. Oh .. nikmaaaaaaat .. teruuus, sayaaang aaaaaah aaaaaaauh sssssssh .. ssssssshh .. “ erang Edies Adelia semakin senang.
“Jilbabmu jangaaan sampai lepaas, sayaang “ ingatku yang dijawab dengan tangan Edies Adelia memperbaiki letak jilbabnya itu, aku terus menggenjotnya dengan pelan pelan untuk memberikan kenikmatan.
“Iyaa sayaaang .. pelan pelaan ajaaa .. enaak .. duuuh .. kok bedaaa kontolmuu aaay eeeeh penis .. aaah .. uuuh “ sahut Edies Adelia dengan membuka matanya kemudian memaling ke belakang dan tersenyum padaku
“Enak khan ? sebut kontol deeh ” ajakku dengan terus menggenjot memek Edies Adelia itu, kupegang ekor jilbabnya sampai menutupi buah dadanya, lalu aku meremas buah dadanya dengan beralaskan jilbab itu.
“Iyaa kontol .. aayoo .. Haan . teruus .. ssssssh ..aaaaaaah .. uuuh “ lenguh Edies Adelia dengan membuka matanya, tangan kirinya mengelus elus bagian atas vagiananya yang menggelembung karena penisku yang besar itu.
“Cepetan dikit yaaaa .. ayoo Haan .. aaayoo sayaaang “ ajak Edies Adelia semakin menikmati gaya seks di meja itu.
Aku langsung bergerak dengan cepat membuat tubuh Edies Adelia menjadi tergoncang dengan hebat, tubuhnya bergerak seiring genjotanku, kuremas terus buah dadanya, kupindahkan tangan kananku meremas pantatnya yang bahenol itu. Edies Adelia kemudian membungkuk sehingga aku semakin cepat menggenjotnya.
“Haaaaaaan .. aaayoo nggak tahaan nih .. ayoo .. cepetaaan aaakuu sudaaaah maaaauuu maaau muncaaak “ jerit Edies Adelia dengan merem melek keenakan, buah dadanya yang menggelantung indah itu terus kuremas. Edies Adelia tidak tahan akan rangsangan itu, aku terus menggenjotnya dengan cepat, kuhujamkan batangku dengan keras membuat Edies Adelia sampai menjerit jerit. Jepitan vaginanya semakin sempit menjepit batangku
“Aaaaaaaah aaaaaah ..aaaaaaaaaauh aaaaaaah .. nggaaaaaak .. aaaaaauh “ erang Edies Adelia semakin melemah karena tenaganya kian habis, kugenjot terus, Edies Adelia mendapatkan orgasme dengan menjerit panjang, dari vaginanya mengucur cairan panas membasahi batangku, sehingga aku semakin lancar memaju mundurkan batangku keluar masuk vaginanya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah sssssssssssssssssssssssssshhhhhhhh ssssssssssssssshhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhh “ desis Edies Adelia panjang dengan menegang kaku, kuremas buah dadanya dengan kuat untuk memberikan daya maksimal sensasi seks. Edies Adelia berkelonjotan, aku terus menggenjotnya sampai membuat Edies Adelia kelimpungan rebah di meja, namun kaki kanannya menjadi selonjor. Kugenjot dengan cepat karena aku tidak tahan.
“Aaaah ..eeeh ..aaah ..eeeeh ..sudaaah daaaah … “ erang Edies Adelia tidak tahan akan sodokanku yang menggila itu. Aku menghujamkan berkali kali sampai Edies Adelia tergoncang ke sana kemari, aku sudah tidak kuat lagi, kubenamkan dalam dalam batangku ke dalam vagina Edies Adelia, kepalanya yang berjilbab menekan ke meja dengan kuat, bibirnya menggigit dengan kuat.
“Craaaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaat “
Kusemburkan air maniku ke dalam rahimnya sampai membuat Edies Adelia terkejut
“Aaaaaaauh .. bissaaa haaamiil .. siaaalaan kaaau Burhaaaaan .. siaaal aaaaaaah “ keluh Edies Adelia yang dengan nafas masih berantakan, aku menindih tubuhnya setelah aku menyemburkan isi batangku itu, nafasku tak teratur. Edies Adelia sampai menekanku ke atas agar aku tidak menindihnya.
Kutarik badannya dan penisku yang menciut itu keluar dari vaginanya, lendir kental berlepotan di batangku demikian pula dengan vagina Edies Adelia itu. Edies Adelia langsung bangun kemudian meninggalkan aku ke kamar mandi dan menutup pintu tanpa mengucapkan kata kata. Aku langsung duduk di sofa itu, kulap penisku dengan pakaian Edies Adelia. Penisku menjadi bersih kembali. Tak lama kemudian Edies Adelia masuk ke dalam ruangan itu dengan menunduk. Seolah menyesali perbuatannya. Edies Adelia kemudian langsung menjewerku melihat pakaiannya ada lendir kental
“Siaaalaan kau Haan .. “ maki Edies Adelia dengan kesal. Aku tak berkata apa apa.
Edies Adelia memakai pakaiannya kembali, celana dalamnya aku sembunyikan agar tidak dipakai, Edies Adelia sampai bingung mencari celana dalamnya. Aku tak mengubris kebingungan Edies Adelia itu, kupakai pakaianku sampai aku rapi, Edies Adelia masih mencari cari celana dalamnya tanpa bertanya. Ketika berdiri itu Edies Adelia kepeluk, namun Edies Adelia menolak lagi, namun aku terus memaksanya sampai kembali kutindih di sofa itu.
“Maumu apa Haan ? belum puas yaa ?” tanya Edies Adelia dengan wajah masam
“Nanti malam yaa .. “ ajakku
“Tapi di rumah banyak orang .. bahayaa “ sahut Edies Adelia dengan menolak pagutanku.
“Makanya kamu atur orang orangmu donk .. “ desakku lagi
“Aku mohon Haan .. jangan ganggu aku .. aku ini orang alim dan nggak macam macam “ tolak Edies Adelia yang hendak memagut namun bibirnya kembali membuka karena aku tak menyerah, Edies Adelia pun menanggapi pagutanku itu, kami berpagutan mesra, kuakhir pagutan itu dan aku bangun, merapikan pakaian Edies Adelia yang ada lendirnya di bagian bawah.
Edies Adelia langsung memungut tasnya kemudian keluar tanpa pamit, ketika menutup pintu depan itu, Edies Adelia memandangku sebentar sambil menggeleng geleng. Aku membenahi ruangan itu, kulap sperma yang menetes ke lantai itu, habis itu aku keluar dari ruangan itu, menuju ke lantai atas, dari jendela itu aku memandang Edies Adelia keluar menuju mobilnya, sesampai di dalam mobilnya Edies Adelia menutup mukanya, kepalanya ditundukan ke stir mobilnya, entah menyesali atau memang pengin lagi, kemudian kepalanya dinaikan dan menggeleng geleng, mengusap mukanya. Edies Adelia memandang ke atas dan melihatku sedang memperlihatkan celana dalamnya.
“Sialan kau Haan, balikin sini “ maki Edies Adelia dengan suara keras ke atas.
“Nanti malam aku kembalikan Mbaaak “ kataku dengan tersenyum. Edies Adelia kemudian menutup kaca samping mobilnya kemudian mobilnya melaju meninggalkan aku yang tersenyum penuh kemenangan, tak lama kemudian Edies Adelia menelponku
“Haaan .. aaku tak mau lagi .. jangan datang ke rumahku .. “ hardik Edies Adelia dengan tegas
“Sudahlah sayaaang .. tak akan kulepaskan dirimu, sayaaang .. “
“Han, tolong donk .. tolong yaa .. ini aib “ sahut Edies Adelia
“tapi enak khan ? kamu ketagihan sama kontol besarku .. “ godaku
“Aaaaaaaaaaaaaaah .. “ tiba tiba Edies Adelia menutup telepon itu karena kesal. Aku langsung bergegas turun ke bawah dan mengambil netbookku, kumasukan dalam tas, aku keluar dari ruangan itu. Kukunci pintu studio itu dan kuncinya aku berikan pada rumah sebelah yang biasa menjaga studio milik temanku itu. Malam nanti aku akan datang menggeluti Edies Adelia di rumahnya.

BU INDIRA DAN BU NURMALA

Sutikno ­yang sudah dipanggil “Tik” sejak hari pertamanya di taman kanak-kanak- berdiri dalam kegelapan lemari. Kakinya terasa kram dan ia fobia pada gelap. Ia tak sabar ingin membuka gerendel pintu lemari itu dan keluar  dari dalamnya, tapi ia tahu ia harus menunggu lima menit lagi.
tante jilbab hot (1)
Tik mengintip dari celah-celah pintu. Mengesalkan juga karena celah-celah itu menghadap ke bawah sehingga ia hanya dapat melihat lantai putih lorong sekolah. Suara bel tanda sekolah berakhir sudah berbunyi lama sebelumnya, dan Tik tahu pada saat ini hampir semua murid sudah berada di luar sekolah. Mungkin mereka sedang menunggu jemputan atau berjalan pulang. Beberapa orang yang tertinggal masih berkeliaran di lorong. Salah seorang diantaranya berhenti di depan sel penjara Tik dan tertawa mengejek.
“Semoga kau bisa keluar sebelum waktu makan malam, Tik Gendut Pantat Bau!” kata anak laki-laki itu. Lalu ia menendang pintu lemari, menimbulkan bunyi keras dari logam yang bergema memekakkan telinga. “Jangan menangis, Tik. Aku bisa melihat mata kecilmu yang basah.” Lalu sebuah tendangan lagi.
Tik memejamkan mata, dia tidak menangis, hanya sedikit berkeringat. Menarik nafas, ia menguatkan diri untuk mengabaikan anak bodoh di luar. Biasanya para penggencet akan pergi begitu saja kalau dia tetap diam. Sedangkan melawan balik berarti…
Anak laki-laki di luar tertawa lagi, kemudian pergi.
Tik sudah memutuskan untuk menerima nasib sebagai anak yang dipilih anak lain untuk diganggu. Dengan begitu hidupnya terasa jauh lebih mudah. Ketika suasana di lorong betul-betul telah sepi, ia membuka gerendel pintu.
BU NURMALA

BU NURMALA

Pintu terbuka, mengayun keras dan menabrak lemari di sebelahnya. Tik melangkah keluar dan meregangkan tangan serta kakinya yang kram. Terkurung dua jam di lemari memang menyiksa, tapi ia tidak mempedulikannya. Ini hari Sabtu dan kedua orang tuanya telah membelikannya komputer baru untuk ulang tahunnya yang keempat belas besok. Liburan sekolah juga sudah di depan mata. Ia merasa betul-betul gembira. Apalagi mengingat janjinya dengan bu Nurmala tadi, ia jadi tambah bersemangat.
Menatap sekitarnya, Tik memastikan tidak ada seorangpun yang masih berada disana untuk menyiksanya lagi. Ia membetulkan bajunya yang kusut dan berjalan menyusuri lorong, menuju pintu terdekat yang akan membawanya pada ruangan bu Nurmala. Ia merapat ke sisi lorong ketika melihat bu Indira, guru kimianya, keluar dari ruang guru sambil membawa berkas-berkas di tangannya yang lentik.
BU NURMALA

BU NURMALA

“Hmm, Tik, kamu ‘kah itu?” wanita tinggi langsing itu berkata dengan senyum lebar memenuhi wajahnya yang cantik. “Kenapa masih disini? Tidak sabar ingin mendapatkan PR lebih banyak?” jilbab hitamnya yang lebar jatuh sempurna menutupi payudaranya yang besar. Tik tahu ibunya pasti akan berkomentar bahwa bu Indira perlu mengecilkan ukuran buah dadanya. Tapi menurut Tik, bu Indira justru kelihatan keren dengan dada seperti itu.
Bocah itu tertawa singkat, “Tidak, bu. PR dari ibu sudah banyak sekali. Saya sudah beruntung kalau bisa menyelesaikannya hari senin nanti.”
“Hmm,” jawab bu Indira. Ia meraih bahu Tik dengan tangan lentiknya dan menepuk punggungnya pelan. “Kalau begitu, untuk apa kamu masih disini. Jangan bilang kalau kamu mau mencuri.”
BU NURMALA

BU NURMALA

Tik menggeleng cepat, “Tidak, tentu saja tidak!”
“Lalu?” bu Indira menuntut penjelasan.
Tik menelan ludah, “Emm, s-saya harus menemui bu Nurmala.”
“Ohh,” bu Indira mengangguk mengerti. “Dia sudah menunggumu di ruang guru.” ucapnya, lalu buru-buru menambahkan. “Kamu terlalu pintar untuk anak tingkat delapan, Tik. Seharusnya kamu dinaikkan satu tingkat lagi.”
BU NURMALA

BU NURMALA

“Ehm, terima kasih, bu. Tapi saya tidak mau gangguan pada saya semakin bertambah.” Tik menyahut.
Wajah bu Indira mengerut. “Aku tidak suka dengan yang anak-anak itu lakukan padamu. Jika aku bisa…”
“Saya tahu, bu. Ibu akan memukuli mereka jika bukan karena urusan hukum yang menyebalkan itu ‘kan? Bu Nurmala juga pernah bilang begitu.” jawab Tik.
“Ah, benarkah?” wanita itu kembali tersenyum.
Tik mengangguk. “Karena tidak bisa melakukan itu, bu Nurmala akhirnya cuma bisa menghibur saya dengan cara lain yang ternyata lebih menyenangkan.”
BU NURMALA

BU NURMALA

“Apa itu?” bu Indira bertanya penasaran.
“Kenapa kita tidak kesana saja sama-sama agar ibu bisa langsung tahu jawabannya.” sahut Tik sambil menyeringai licik.
Bersama-sama mereka pergi ke ruangan bu Nurmala. Di belakang meja, Tik melihat seorang wanita berjilbab merah yang berumur sekitar empat puluhan. Meskipun sudah tidak muda lagi, tapi badannya masih terlihat sangat terawat dan seksi. Payudaranya tampak membulat indah dan cukup kencang, tidak kalah dengan punya bu Indira yang usianya jauh lebih muda. Kulitnya putih bersih dan wajahnya juga masih tampak cantik.
BU NURMALA

BU NURMALA

Bu Nurmala tampak sibuk menulis sesuatu. Tik memberanikan diri mengetuk pintunya. “Maaf, bu, menganggu.” sapanya sopan.
Wanita itu berhenti menulis dan mendongak, menatap Tik. “Hai, Tik. Aku sudah menunggumu dari tadi. Kukira lain kali aku harus turun tangan untuk mengatasi anak-anak nakal itu.”
“Ah, tidak usah, bu. Saya tidak apa-apa kok.” Tik masuk ke ruangan itu, diikuti oleh bu Indira.
“Lho, Indira? Nggak jadi pulang?” tanya bu Nurmala pada guru muda cantik itu.
“Tik mau menunjukkan saya sesuatu,” jawab bu Indira sambil duduk di kursi di depan meja, sedangkan Tik tetap berdiri.
“Tik?” bu Nurmala memandangnya, meminta penjelasan.
“Ehm, anu… Saya ingin mengajaknya bergabung, bu. Itu juga kalau ibu mengijinkan,” sahut Tik lirih, takut Ibu guru yang disayanginya itu marah.
Di luar dugaan, bu Nurmala malah tersenyum, “Pede sekali kamu? Yakin nanti kuat?”
“Ehm, lihat saja nanti.” ucap Tik sambil memainkan ujung sepatunya.
“Sama aku aja kamu sering kewalahan, ini malah minta bertiga. Bu Indira itu masih muda lho.” wanita itu tertawa.
BU NURMALA

BU NURMALA

BU NURMALA

BU NURMALA

Tik tidak menjawab, hanya ikut tertawa ringan.
“Tapi masalahnya, bu Indiranya mau nggak?” tanya bu Nurmala lagi.
“Ehm, sepertinya sih begitu.” Tik melirik guru muda yang ada di sebelahnya.
Bu Indira yang tidak tahu maksud pembicaraan mereka tampak agak sedikit bingung. “Apaan sih?” tanyanya penasaran.
“Tik, bisa keluar sebentar.” kata bu Nurmala. “Aku ingin bicara berdua dengan bu Indira.”
Tik bergegas keluar. Cukup lama dia menunggu hingga bu Nurmala memanggilnya, menyuruhnya untuk masuk kembali. “Ini hari keberuntunganmu, Tik.” kata perempuan cantik itu.
“Kenapa tidak bilang dari dulu, Tik?” tambah bu Indira, mereka tersenyum mendekati Tik.
Tik ikut tersenyum, dan sama sekali tidak menolak saat bu Indira memeluk dan mencium bibirnya. Bu Nurmala segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dia lalu berbalik dan memeluk Tik dari belakang. “Aku dah kangen sama inimu…” bisiknya sambil mengelus penis Tik yang sudah mulai ngaceng berat.
Tanpa basa-basi, mereka saling berciuman. Tik awalnya agak canggung melayani dua bibir yang begitu kelaparan itu, tapi begitu sudah mendapatkan ritmenya, ia dengan penuh nafsu melumat dan menghisapnya secara bergantian. Terutama milik bu Indira, bibir tipis perempuan cantik itu terasa hangat dan begitu lembut di dalam mulutnya. Bu Indira juga begitu pandai memainkan lidah, sesuai dengan kesehariannya yang cerewet dan ceplas-ceplos.
Bu Nurmala hanya tersenyum menyaksikan semua itu, ia kemudian menarik tangan Tik, mengajaknya duduk di sofa. Bocah itu ia letakkan di tengah, sementara dia dan bu Indira mengapitnya di kiri dan kanan.
Bu Nurmala mengenakan terusan panjang berwarna biru dengan hiasan bunga warna emas di dadanya yang bulat. Meski tertutup jilbab lebar, lekuk tubuhnya yang tidak terlampau tinggi membayang jelas dari balik busana yang ia kenakan. Buah dadanya tampak begitu besar, kontras dengan tubuh mungilnya yang imut-imut.
tante jilbab hot (7)
Sedangkan bu Indira memakai kemeja lengan panjang warna pink polos, menambah kesegaran kulitnya yang putih mulus. Rok yang dikenakannya adalah rok panjang agak longgar berwarna putih, ketika dia duduk -sekalipun rok itu panjang- bu Indira seperti sengaja sedikit menyingkapkannya sehingga betis jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat tampak mengintip malu-malu dari bagian bawahnya. Sungguh sangat menggairahkan sekali.
Tik tanpa membuang waktu segera memeluk keduanya. Ia daratkan ciuman lembut ke bibir bu Nurmala dan bu Indira secara bergantian. Keduanya membalas dengan nikmat dan penuh nafsu hingga untuk beberapa lama mereka terus saling melumat dan berciuman.
BU NURMALA

BU NURMALA

Bu Nurmala melepaskan ciumannya saat Tik meremas buah dadanya pelan, “Layani bu Indira, Tik. Dia tadi begitu penasaran saat kuceritakan betapa kuatnya dirimu.” Bu Nurmala berkata dengan nada menggoda.
“Ihh… bu Nurmala bisa aja.” Bu Indira membalas candaan bu Nurmala dengan tak kalah genitnya.
Begitulah keduanya, terkenal ramah dan suka bercanda di sekolah. Banyak murid yang menyukainya. Begitu juga dengan rekan sesama guru, meski dengan alasan yang sedikit berbeda.
Tik segera menghadap ke kiri. Bu Indira sama sekali tidak menolak ketika ia memeluknya. Malah wanita itu membalas dengan melingkarkan lengannya ke leher Tik. Si bocah mengecup lembut keningnya yang putih, sambil semakin mempererat pelukannya. Bau parfum bu Indira yang harum dan lembut segera memenuhi rongga hidungnya.
“Tik… seperti kata bu Nurmala tadi, kalau tubuhku ini memang bisa menghiburmu, lakukanlah apa saja. Ibu ikhlas, asal kamu juga bisa memuaskan ibu.” bisik bu Indira kalem.
BU NURMALA

BU NURMALA

“Ah, i-iya, bu. Saya pasti akan memuaskan ibu, seperti yang biasa saya lakukan pada bu Nurmala.” sahut Tik sambil melirik bu Nurmala yang tersenyum di sampingnya.
“Heh, sombong banget kamu!” timpal bu Nurmala. “Tapi, emang bener sih,” tambahnya sambil tertawa.
Mereka tertawa berbarengan, lalu dengan sangat lembut Tik mendaratkan bibir ke atas bibir bu Indira yang tipis dan mungil. Perlahan ia rapatkan sambil sedikit menghisapnya. Bu Indira membalasnya dengan lembut dan balik menghisap bibir tebal Tik.
“Ehm, bu…” melenguh keenakan, lidah Tik mulai bergerak menelusuri mulut bu Indira yang sedikit terbuka. Wanita itu menerimanya dengan pasrah, ia biarkan lidah Tik menggelitik giginya yang rapi dan putih dengan begitu leluasa. Bahkan saat Tik menghisap lidah dan sedikit melumat dengan mulutnya, ia juga tidak menolak. Begitu panas dan nikmatnya ciuman itu hingga untuk beberapa saat mereka seperti melupakan kehadiran bu Nurmala yang masih setia menonton sambil berkeringat dingin.
“Hah, hah,” perlahan bu Indira melepaskan bibirnya dari pagutan bibir Tik saat dia merasa sedikit kesulitan untuk bernafas. Dilihatnya kepala Tik yang terkulai manja di atas bulatan dadanya. Tangan mereka masih saling berangkulan erat.
BU NURMALA

BU NURMALA

Tik tak tahan untuk tidak melakukan apa-apa dalam waktu lama, apalagi bisa dirasakannya tubuh bu Indira yang sintal terasa begitu menggoda di dalam dekapannya. Maka dengan cepat tangannya menyelip ke balik kemeja perempuan cantik itu dan segera menyusup di antara BH dan buah dada bu Indira yang bulat padat. Tik mengelus-elus putingnya yang terasa mengganjal kaku dengan ujung jari sambil tak lupa mulai meremas dan memijit bulatannya secara perlahan-lahan.
Tubuh mulus bu Indira sedikit bergetar mendapat rangsangan seperti itu. “Ehm, Tik!” rintihnya dengan tubuh menekuk ke depan.
Bu Nurmala yang dari tadi cuma jadi penonton, rupanya mulai tak tahan. Pelan ia tarik tangan kiri Tik yang menganggur dan dijulurkannya sepanjang mungkin sehingga bisa menjangkau pangkal kemaluannya. Dari luar baju kurung, ia meminta agar mengusap-usapnya. Sambil terus meraba buah dada bu Indira, Tik pun melakukannya. Kedua tangannya lekas berkreasi, satu menggesek pelan celah selangkangan bu Nurmala, satunya lagi tetap asyik meremas dan memenceti payudara bu Indira yang bulat besar. Kedua ibu guru cantik yang haus akan sentuhan laki-laki berusaha ia puaskan dalam waktu hampir bersamaan.
“Auh, Tik…” bu Nurmala melenguh saat Tik dengan susah payah menyingkap baju panjangnya ke pinggang, lalu dengan jari-jemarinya yang terampil, mulai memelorotkan celana dalamnya hingga terlepas. Ia menarik nafas cepat saat benda mungil berwarna hijua lumut itu tergeletak di lantai dekat kaki Tik.
tante jilbab hot (11)
Sekarang dia sudah setengah telanjang, begitu juga dengan bu Indira. Kalau dia di bagian bawah, bu Indira sebaliknya. Kancing kemejanya sudah terbuka lebar, menampakkan gundukan payudaranya yang masih terbalut beha putih tipis. Nampak beha itu hampir tidak bisa memuat payudara bu Indira yang bulat besar. Dengan cekatan jari-jari Tik membuka kaitan behanya, membebaskan payudara bu Indira hingga benda itu bisa menyembul dan bernafas lega.
“Wow, besar sekali, bu.” kagum Tik dengan mata melotot tanpa berkedip.
“Hehe, baru tahu ya,” sahut bu Indira, ia menyingkap jilbabnya ke belakang agar Tik bisa semakin leluasa memandangi tonjolan buah dadanya.
Dengan air liur yang hampir menetes, Tik segera mendekatkan mulutnya ke puting kanan bu Indira dan mulai menjilatinya pelan. “Ahh, Tik…” ibu guru muda itu menerimanya dengan mendesah penuh nikmat.
Sementara itu, dengan bibir menjejahi gundukan payudara bu Indira, jari tangan kiri Tik masih lincah menusuk-nusuk kewanitaan bu Nurmala yang sudah mulai basah berlendir. Dengan ujung jari tengah, ia usap klitoris perempuan cantik itu dan menggosoknya pelan ke atas dan ke bawah hingga membuat bu Nurmala semakin menggelinjang nikmat. “Aah, Tik… geli!” desahnya.
Sambil terus menggesek klitoris bu Nurmala yang sudah tegak berdiri, Tik sedikit membungkukkan badan sehingga mulutnya bisa mengulum puting bu Indira yang sebelah lagi. Ia menghisapnya lambat-lambat sambil menjilati ujungnya dengan lidah. Bisa dirasakannya badan ramping bu Indira yang mulai kaku, seluruh ototnya menegang, sementara rintihan dan lenguhannya semakin terdengar kencang.
“Jangan keras-keras, bu. Nanti didengar orang.” Bu Nurmala mengingatkan.
BU INDIRA

BU INDIRA

Bu Indira segera menutup mulutnya dengan tangan. “I-iya, maaf. Tik sih, kulumannya begitu nikmat.” bisiknya pelan.
Tik tersenyum mendengarnya. Ia berpandangan dengan bu Nurmala dan tersenyum puas karena bisa memberi kenikmatan kepada bu Indira di pertemuan pertama mereka. Bu Nurmala kemudian merapat, kepalanya disandarkan di buah dada bu Indira yang tampak mengkilat, basah oleh air liur Tik. Dia memandang Tik dengan lembut, bibirnya sedikit terbuka. Tersenyum, Tik pun mendekatkan kepala dan mencium bibir perempuan setengah baya yang masih tampak cantik itu. Sebuah ciuman untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menjerat bu Indira sehingga bisa ikut dalam permainan tabu ini.
“Ngomong-ngomong, sudah sejak kapan kalian melakukan ini?” tanya bu Indira sambil mengelus puncak kepala Tik lembut.
“Emm… kapan ya?” Tik mencoba mengingat-ingat.
“Sudah lama pokoknya, lebih dari dua bulan.” sahut bu Nurmala.
“Bagaimana bisa terjadi?” tanya bu Indira penasaran.
BU INDIRA

BU INDIRA

“Sebenarnya ini nggak sengaja. Tik memergokiku yang sedang masturbasi di kamar mandi guru, dia saat itu habis dipanggil kepala sekolah setelah menang lomba matematika. Daripada dia cerita ke murid lain, terpaksa kubungkam mulutnya dengan tubuhku. Benar ‘kan, Tik?” jelas bu Nurmala.
Tik mengangguk mengiyakan.
“Bu Nurmala aneh-aneh sih, masturbasi kok di sekolah. Emang dah nggak tahan banget ya?” goda bu Indira.
“Haha, habisnya… sudah 1 minggu suamiku tugas keluar, daripada kegatelan, mending kugaruk aja punyaku.” terang bu Nurmala.
“Akibatnya, jadi dipergoki sama Tik.” kata bu Indira.
“Yang mana itu sama sekali tidak kusesali.” sahut bu Nurmala.
“Maksud ibu?” tanya bu Indira tak mengerti.
“Sekarang, kalau suamiku dinas ke luar kota, aku sudah nggak bingung lagi. Sudah ada Tik yang menemaniku.” jawab bu Nurmala sambil mencium mesra bibir Tik.
Tik tersenyum, senang dipuji seperti itu.
BU INDIRA

BU INDIRA

“Aku juga mau donk, suamiku kan juga sering pergi.” kata bu Indira.
“Coba aja. Aku jamin, kamu pasti puas.” Bu Nurmala memberi garansi. “Lagipula, dengan begini, kita juga bisa menghibur Tik yang suka di-bully sama anak-anak lain.”
Bu Indira memandangi Tik yang masih bersandar di puncak buah dadanya. ”Betapa beruntungnya kamu, Tik. Bisa merasakan tubuh kita berdua.” katanya sambil tersenyum.
Tik ikut tersenyum, dan tanpa berkata apa-apa, memperhatikan saat kedua gurunya itu mulai mencopoti baju masing-masing. Bu Nurmala yang ada di sebelah kirinya, baju panjangnya sudah terbuka lebar, mempertontonkan buah dadanya yang meski tidak sebesar milik bu Indira, tapi terlihat sangat serasi dengan tubuh bugilnya yang mungil. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan tampak mencuat di puncaknya yang mulus. Lingkaran gelap aerola-nya yang sebesar koin seratusan rupiah makin menambah indahnya payudara bulat itu.
Sementara bu Indira, kini sudah menyingkap rok panjangnya ke atas hingga ke pinggang. Tik bisa melihat tubuh rampingnya yang begitu molek dan mulus. Tak henti-hentinya ia mengagumi tubuh guru kimia-nya itu. Pinggang bu Indira begitu kecil dan ramping karena memang belum pernah melahirkan, ia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Lebih ke bawah lagi, tampak kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu pendek saat bu Indira melepas celana dalamnya. Bukitnya tampak begitu ranum dan menggairahkan, diapit oleh sepasang paha yang mulus dan langsing, sungguh sangat mengundang birahi. Berani sumpah, Tik belum pernah melihat secara langsung tubuh yang begini indah dan menggairahkan.
“Wow…” ia berseru dalam hati, di hadapannya kini terpampang dua orang wanita cantik dan mulus dengan paha yang menganga lebar memperlihatkan alat kewanitaan masing-masing. Bu Indira dengan belahan kemaluannya begitu kecil, juga klitoris yang berwarna pink menyala, sedikit menyembul seakan mengundang Tik untuk segera menikmatinya. Sedangkan milik bu Nurmala, tampak tumbuh berlapis-lapis. Warnanya begitu terang, coklat sangat muda. Meski sudah sering melihat dan menikmatinya, tak urung Tik tak tahan juga dibuatnya.
BU INDIRA

BU INDIRA

Tanpa basa-basi ia segera mencium seluruh selangkangan bu Nurmala. Bau wangi yang khas segera menyambut lubang hidungnya. Perlahan ia menjulurkan lidah dan mulai menjilatinya naik turun. Pantat bu Nurmala sedikit gemetar menahan gejolak kenikmatan akibat perbuatan itu.
“Ooh… ohh… shh…” desahannya seakan sorakan penyemangat di telinga Tik, membuat si bocah terus menjepit dan menggigit klitoris bu Nurmala dengan kedua bibirnya. Sekarang paha bu Nurmala ikut bergetar karena rangsangan nafsu. Gairahnya semakin menyala. Apalagi saat lidah Tik mulai menyapu lorong kewanitaannya, pahanya terbuka semakin lebar dan pantatnya sedikit terangkat, membuat vaginanya yang menganga lebar semakin terjangkau oleh lidah Tik.
“Ooh… yah, begitu… Tik! Ooh… iyah!” desah bu Nurmala serak, terdengar semakin keras.
“Aah… ahh!” erangan bu Indira menimpali. Ternyata, sambil mengoral vagina bu Nurmala, Tik juga menusukkan tangannya untuk mengocok-ngocok kemaluan bu Indira. Jadilah kedua guru yang di luar kelihatan alim itu, merintih bersahut-sahutan oleh rangsangan nakal Tik.
BU INDIRA

BU INDIRA

“Ahh… s-sudah, Tik. Aku nggak tahan.” kata bu Nurmala dengan tubuh mulai bergetar pelan. Tik yang sudah hafal dengan reaksi itu, segera menggerakkan lidahnya semakin cepat. Ia tusukkan lidahnya dalam-dalam ke liang sanggama bu Nurmala yang masih terasa sempit meski sudah melahirkan tiga orang anak. Ia cucup klitorisnya yang sudah sangat keras dengan kedua bibirnya hingga tubuh bu Nurmala menggelinjang liar. Tangannya mencengkeram kepala Tik, memintanya agar menghisap lebih kuat lagi. Dan akhirnya…
“Aah… ahh… ibu sampai, Tik… ssh… ahh!!” teriak bu Nurmala dengan paha mengatup erat, menjepit kepala Tik yang masih berada disana. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, sementara otot vaginanya menjadi sedikit kaku. Dari dalam liang kemaluannya, menyembur cairan bening yang banyak sekali, menyiram lidah dan mulut Tik hingga jadi terasa lengket.
“Aaah… Tik!” bu Nurmala sudah mencapai puncak kenikmatannya. Untuk beberapa saat tubuhnya kaku tak bergerak. Pahanya masih menjepit kuat kepala Tik sehingga bocah itu terperangkap di celah selangkangannya. saat otot-otot vaginanya mulai mengendur, barulah ia melepaskannya.
“Hah, hah, hh,” Tik segera menarik nafas. Dengan bu Nurmala yang sudah mencapai puncak, ia segera mengalihkan perhatian pada bu Indira yang masih setia menunggu.
BU INDIRA

BU INDIRA

“Sekarang giliran ibu,” kata Tik dengan mulut masih belepotan lendir kenikmatan bu Nurmala.
“Lakukan, Tik. Cepat! Aku juga nggak tahan.” sambut bu Indira dengan paha terbuka lebar.
Tik segera menusukkan lidah ke lubang vagina perempuan cantik itu. Tangannya yang tadi mengusap-usap klitoris bu Indira, ia sisipkan ke bawah. Sekalipun tubuh bu Indira kurus dan ramping, tapi pantatnya ternyata cukup padat berisi. Tik segera memijit dan meremas-remasnya penuh nafsu sambil mulut dan lidahnya terus bergerak liar.
“Ohh… iya, Tik… ooh… shh!” desah bu Indira penuh birahi. Pantatnya yang bulat sudah mulai bergoyang menikmati permainan lidah Tik di liang senggamanya. Semakin lama, semakin kuat goyangan pantat itu. Dengan susah payah Tik harus mengikuti agar lidahnya tidak terlepas dari selangkangan bu Indira.
“Ohh… Tik, aku nggak tahan… aah!!” Paha bu Indira sudah mengangkang maksimal. Dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, bahkan sampai berjinjit  dengan ujung jari saat Tik mencucup klitorisnya kuat-kuat. Punggungnya sudah tidak menyentuh sandaran sofa, dengan dinding vagina bergerak berkedut-kedut naik turun tak terkendali.
BU INDIRA

BU INDIRA

“Ohhh… Tik!” dengan jeritan terakhir, bu Indira menyemburkan cairan kenikmatannya. Tubuh montoknya sedikit bergetar saat cairan itu meleleh keluar dari liang vaginanya.
“Hamp!” Tik segera menampung dan menyapunya dengan lidah. Cukup banyak cairan yang keluar, tapi semuanya ia telan, sampai akhirnya bu Indira berhenti mengejang dan mulai menurunkan pantatnya. Namun nafas perempuan itu masih sedikit memburu.
“Ooh… nikmat sekali, Tik… aku puas. Suamiku bahkan tidak pernah berbuat seperti itu!” puji bu Indira.
Tik beringsut dan lalu berbaring telentang diantara kedua ibu gurunya, bu Nurmala di sebelah kanan, sedangkan bu Indira di sebelah kiri. Mereka memeluk dan tanpa henti menghujani wajah bulat Tik dengan ciuman. Beberapa saat mereka saling bercumbu, atau lebih tepatnya, bu Indira dan bu Nurmala yang mencumbui Tik. Tik sendiri hanya telentang pasrah sambil menikmati rasanya jadi raja, dilayani oleh dua wanita yang begitu cantik dan seksi, yang meski beda umur mereka begitu jauh, tapi tidak mengurangi hasrat dan birahinya.
“Ini dilepas donk,” tangan bu Nurmala yang nakal mulai menggerayangi perut Tik. Dengan sekali sentakan lembut, celana yang membelit tubuh bagian bawahnya terbuka, melorot ke bawah. Penis Tik yang sudah sedari tadi mengacung tegak, langsung menyembul berdiri.
Perhatian bu Nurmala dan bu Indira segera tersedot kesana. Tangan keduanya saling berlomba untuk menggerayangi dan mengusap-usap penis itu. Namun bu Nurmala yang menang. Ia lekas beringsut dan berjongkok di dekat kaki Tik. Bibirnya yang tebal sensual mulai menciumi batang penis bocah itu. Saat Tik asyik berciuman dengan bu Indira, bu Nurmala segera memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya yang hangat dan mulai mengulumnya mesra. Lidahnya yang basah dengan pintar menggelitik batang kejantanan Tik yang terasa semakin menegang di dalam mulutnya.
BU INDIRA

BU INDIRA

Bu Indira yang melirik ke bawah memperhatikan apa yang dilakukan oleh bu Nurmala, dari raut mukanya, terlihat kalau dia mulai tertarik juga. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, bu Indira melepaskan ciumannya dan ikut jongkok di dekat kaki Tik, bersebelahan dengan bu Nurmala. Kini bergantian mereka mencium dan mengulum penis panjang Tik.
“Ahh…” Tik melenguh keenakan diperlakukan seperti itu. Dengan mata tertutup ia mengelus lembut kepala kedua ibu gurunya yang cantik itu; yang kiri untuk bu Nurmala dan yang kanan jatah bu Indira. Kedua-duanya masih tertutup jilbab lebar sedada.
“Ohh…”  tubuh Tik seakan terangkat ke kayangan, rasanya sungguh sangat nikmat. Cara bu Indira mengoral sungguh halus, tidak seperti bu Nurmala yang agak sedikit binal. Bu Indira menggerakkan bibirnya dengan sangat lembut, kadang penis Tik disedotnya pelan, diselingi jilatan lidah di sekitar leher penis. Tik sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh perempuan cantik itu. “Ooh… terus, bu… yah, nikmat sekali… ooh!” membuatnya jadi mulai mengerang penuh kenikmatan.
Bu Nurmala yang melihat tubuh Tik mulai gemetar, cepat menghentikan aksi bu Indira. “Stop dulu, bu. Nanti dia bisa keluar duluan.” peringatnya.
“Hah,” Bu Indira segera menarik mulutnya. Dengan terengah-engah ia memperhatikan Tik yang wajahnya merah padam karena menahan ejakulasi. Seluruh bulu di tubuh bocah itu berdiri meremang.
Tik yang merasa gairahnya diputus di tengah jalan, perlahan membuka matanya dan melirik ke bawah. Ditariknya tubuh mulus kedua ibu gurunya yang cantik itu dan dipeluknya dengan mesra. Masing-masing ia hadiahi kecupan hangat di bibir. Dengan manja bu Nurmala dan bu Indira menyandarkan kepala ke dada Tik, membiarkan payudara mereka yang besar menghimpit ketat ke lengan si bocah.
“Sekarang kita lihat, kuat nggak kamu melayani kita berdua.” kata bu Nurmala sambil  tangannya menggerayangi selangkangan Tik. Penis Tik yang masih tegak mengacung dibelainya pelan. Jari-jarinya yang lentik dan mungil mempermainkan penis Tik dengan begitu lembut. Telaten dipijit-pijitnya kepala penis Tik, lalu dengan halus dibelitnya batang kejantanan Tik dengan jari telunjuknya.
Adik kecil Tik langsung bereaksi, perlahan benda coklat panjang itu mendongak dan mengangguk-angguk. Bu Indira yang melihatnya tersenyum gembira. Lekas dia berbaring dan membimbing Tik agar menaiki tubuh sintalnya. Bu Nurmala mengangguk memberi ijin. Maka, sambil membungkuk, Tik pun mengarahkan kepala penisnya yang masih tampak mengkilat ke lubang kenikmatan bu Indira yang terlihat sangat mengundang.
“Aku masukkan, bu.” kata Tik. Perlahan ia menusukkan batang kelelakiannya menembus gua vagina sang ibu guru.
“Ahh…” Tubuh bu Indira sedikit bergetar menyambut penis Tik yang memasuki tubuhnya. Perlahan seluruh batang penis bocah itu terbenam ke dalam liang vaginanya. Selanjutnya dengan perlahan Tik mulai memompa pantatnya maju mundur secara berirama. Bu Indira mengimbangi dengan menggoyang pantatnya memutar tak beraturan. Gerakannya semakin lama semakin cepat dan kuat. Tangannya memegangi pinggul Tik sehingga Tik semakin leluasa menyodokkan batang penisnya.
“Aaah…” Tik merasakan vagina bu Indira mengetat kencang, mencekik batang penisnya, lalu disusul oleh semburan cairan hangat yang banyak sekali. Rupanya perempuan cantik itu sudah mencapai orgasmenya. Bukannya berhenti, Tik malah semakin dalam menghujamkan batang penisnya, hingga semakin banyak cairan bu Indira yang meleleh keluar.
“Hah, hah, hah,” dengan tubuh lemas namun puas, bu Indira terdiam bagai patung. Hanya nafasnya yang terdengar tersengal-sengal. Senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis. “Ah, k-kamu hebat, Tik.” pujinya tulus.
Perlahan Tik mencabut penisnya. Bu Nurmala yang sudah menunggu giliran, lekas mempersiapkan diri. “Sekarang giliranku,” katanya sambil merangkak dengan posisi pantat mengarah ke selangkangan Tik.
Tik membelai sebentar pantat bulat bu Nurmala sebelum ia arahkan senapannya yang masih terisi penuh ke lubang kenikmatan perempuan setengah baya itu dari arah belakang. Inilah posisi favorit bu Nurmala; doggie style. Dengan lembut Tik menusukkan kepala penisnya sambil menekan perlahan sampai seluruh batang kelelakiannya amblas ditelan gua surga bu Nurmala.
Meski tidak sesempit milik bu Indira , namun Tik terlihat sangat menikmatinya. Bagaimanapun, inilah vagina pertama yang ia rasakan selama ia tumbuh dewasa. Dengan sangat perlahan Tik mulai memompa pantatnya maju mundur dengan teratur.
Bu Nurmala sepertinya juga sangat menikmati. Terbukti dari kepalanya yang terangguk-angguk sambil mulutnya mendesis mengeluarkan berbagai macam rintihan, “Ahh… terus, Tik. Tusuk yang dalam! Ahh… yah, begitu! Terus! Oughh…”
Tik semakin kuat menggoyangkan pantat. Tangannya dengan terampil terulur ke depan untuk meremas-remas payudara bu Nurmala yang menggantung indah di depan dadanya. Ia memilin dan memelintir-lintir putingnya yang mungil begitu gemas, membuat benda bulat kemerahan itu jadi makin menegak dan mengacung ke depan. Sementara pantatnya semakin ia rapatkan, membuat batang penisnya jadi menusuk semakin dalam.
Tubuh bu Nurmala  jadi kaku tak bergerak, rupanya serangan Tik yang beruntun membuatnya menyerah begitu cepat. “Aah… Tik, aku keluar! arghh…” jeritnya dengan tubuh terkapar KO di lantai. Dari dalam liang kemaluannya, merembes cairan kenikmatan yang sangat banyak, membasahi paha dan baju kurungnya. Dinding vaginanya terasa berdenyut-denyut, memeras batang penis Tik yang masih tertancap erat di dalam sana.
“Ooh… ooh…” Tik yang juga sudah tak tahan, ikut menyusul tak lama kemudian. Badannya gemetar hebat, sementara tangannya meremas bulatan payudara bu Nurmala kuat-kuat saat spermanya menyembur keluar, bercampur dengan cairan hangat dari vagina sang ibu guru.
BU INDIRA
“Shh… hah, hah,” Seluruh tubuh Tik masih merinding ketika bu Nurmala setengah memaksa memundurkan selangkangannya sehingga penis Tik tercabut dari jepitan liang vaginanya. Bertiga mereka berbaring kelelahan. Tik menciumi keduanya ibu gurunya secara bergantian, hangat dan mesra.
“Gimana,  penis Tik enak ‘kan?” tanya bu Nurmala pada bu Indira.
“Iya, bu… beneran enak.” Bu Indira lalu berpaling pada Tik, “Kamu belajar dimana sih, pinter banget nyenengin cewek. Siapapun yang jadi istrimu nanti, pasti akan bahagia. Bukan saja kamu pintar, tapi juga perkasa di atas ranjang.”
“Ah, ibu bisa aja.” sahut Tik dengan muka bersemu merah.
Mereka masih saling berbincang dan sesekali saling berciuman. Tik sungguh beruntung bisa mendapatkan dua orang guru yang menjadi idola di sekolah. Meski sehari-hari ia murid yang tidak populer, bahkan sering jadi sasaran bully, tapi nyatanya ia lebih beruntung daripada mereka semua.

MURTI 8

Jam setengah lima sore, Gatot pergi lagi. Ia sengaja tidak membangunkan Murti yang masih tertidur pulas. Ia juga sangat hati-hati saat mengambil kunci pintu kamar dari sela paha Murti, lalu melangkah perlahan-lahan tanpa suara. Aman. Gatot kembali menutup pintu kamar dan langsung ke garasi. Ia tidak menghidupkan mobil, tapi mendorong mobil itu sampai ke jalan raya. Barulah ia menyalakan mesin. Gatot sudah akan melaju tapi ada yang menghalangi mobilnya.
Persis di depannya tiba-tiba ada sebuah motor melintang di jalan. Motor itu tidak juga menyingkir meski sudah di klakson berkali-kali. Gatot hilang kesabaran. Iapun keluar dari mobil dan melangkah cepat menghampiri motor itu. Belum sempat ia menegur, pengendara motor itu mendahului membuka helm dan mengurai rambut panjangnya, lalu berbalik memandang Gatot dengan senyuman yang menghanguskan kemarahan. Emosi Gatot yang siap meledak jadi jinak. Sekarang pengendara motor itu menepi.

“Masih ingat aku?” kata pengendara motor.
“Ya Tuhan! Ningsih?!” seru Gatot senang.
“Benar, Tot. Lama sekali kita tidak jumpa.” kata Ningsih.
“Iya.” Gatot mengangguk. ”malah kupikir kamu sudah punya anak banyak.” candanya.
Ningsih tertawa, “Boro-boro beranak, nikah aja belum. Kamu mau kemana?” tanyanya kemudian.
“Jemput majikanku. Kamu sendiri?” tanya Gatot.
“Mau jalan-jalan ke komplek. Aku kan juga lahir di sini, Tot.” jawab Ningsih. ”Gimana si murti?” ia bertanya lagi.
“Kamu langsung ke rumahnya aja.” sahut Gatot. ”Maaf ya, Ning, aku buru-buru.” serunya.
“Baiklah. Sampai ketemu lagi, Tot.” Ningsih tersenyum.
Mereka berjabat tangan sebelum berpisah. Sayang sekali waktu tidak mengijinkan, padahal Gatot sangat ingin ngobrol lama dengan Ningsih. Iapun tancap gas dan ngebut karena sudah jam lima sore lewat sedikit. Berarti ia sudah terlambat menjemput Pak Camat. Semoga Pak Camat tidak marah, batinnya.
Sesampainya di tujuan, Gatot disambut senyum ramah sang pemilik rumah; seorang wanita yang cantik dan seksi. Pak Camat belum menampakkan batang hidungnya, yang nampak hanya hidung mancung wanita pemilik rumah. Gatot mengedarkan mata dan berharap Pak Camat segera muncul, tapi harapannya sia-sia. Daripada menunggu lama, tidak ada salahnya bertanya.
“Pak Joko ada, mbak?” tanya Gatot pada wanita muda itu.
“Masuk saja dulu. Ayo,” ajak wanita tersebut.
Gatot ikut masuk sampai ruang tamu, lalu duduk di kursi yang empuk dan berhadapan dengan si wajah ayu. Inilah wajah wanita idaman lain Pak Camat. Gatot mulai dilanda gelisah karena yang ia tunggu tak juga muncul. Ia tidak mau bertanya dua kali. Sesekali ia memandang sebentar ke tuan rumah. Ia memandang hanya ke bagian wajah saja karena kalau memandang lebih ke bawah ia takut imannya goyah. Wanita itu duduk serampangan, begitu juga pakaiannya yang melekat sembarangan. Gatot ingin secepatnya keluar dari ruang tamu ini, tapi si wanita malah menyuguhkan segelas susu hangat. Keinginan Gatot pun tertahan.
“Mana Pak Joko, mbak?” tanyanya lagi dengan terpaksa.
“Sudah pulang,” kata wanita itu dengan gaya centil dan suara mendayu.
“Sudah pulang? Kok Mbak Ayu tidak bilang dari tadi?” Gatot merasa ditipu. ”Naik apa Pak Joko pulang?” tanyanya sengit.
Rentetan pertanyaan Gatot dijawab oleh Ayu dengan kerling mata merayu. Gatot jadi serba salah, serba tak tahu harus berkata apa lagi dan tak tahu harus berbuat apa menghadapi situasi yang sangat berbahaya ini. Gatot sudah terbiasa menghadapi berbagai jenis marabahaya, tetapi menghadapi bahaya berupa wujud wanita, ia seringkali kalah. Contohnya; ia sudah kalah dan takluk di pelukan Murti. Ini ada tanda-tanda ia akan kalah lagi di hadapan Ayu.
“Baiklah, Mbak. Saya pulang dulu,” Gatot mencoba untuk pamit.
“Jangan buru-buru.” Ayu mencegah. ”Nanti aku bantu cari alasan ke Pak Joko,” ia tersenyum lagi.
“Terima kasih, Mbak.” sahut Gatot. ”tapi saya masih punya banyak kerjaan di rumah Pak Camat.” katanya. ”selamat sore,” ia pamit kembali.
“Yah, mau gimana lagi.” Ayu tampak kecewa, tapi tidak bisa lagi mencegah. ”Habiskan dulu susunya sebelum pulang,” ia meminta.
Gatot menenggak habis susu itu tanpa tersisa barang setetespun. Setelah itu ia pamit pulang dan menjabat tangan mulus Ayu. Sungguh terlalu, sungutnya setelah berada dalam mobil. Gatot masih terbayang-bayang segala bentuk tingkah laku Ayu. Memang wajar kalau ia menyumpahinya, wanita itu memang benar-benar terlalu. Gatot tak habis pikir, betapa Ayu tidak sedikitpun merasa malu mempertontonkan diri, menampakkan berbagai gaya dan aksi yang mengundang birahinya.
Tiba-tiba Gatot merasakan kepalanya nyeri. Ia mencoba untuk bertahan, tetapi nyeri itu semakin keras menghantam, membuat kepalanya serasa dipukul-pukul, pusing sekali. Konsentrasinya pun buyar dan ia tak sadar telah mengemudikan mobil ke jalur yang tak semestinya. Sekuat tenaga ia terus mencoba kembali fokus, namun pandangannya malah ikut-ikutan kabur.
Ketika sampai di sebuah perempatan, Gatot sudah tak bisa lagi membedakan yang mana rem yang mana pedal gas. Dalam keadaan tak sepenuhnya sadar, mobil melaju kencang menerobos lampu merah, tepat di saat sebuah tronton melintas. Dalam panik, Gatot tak bisa lagi berbuat apa-apa. Ia masih sempat melihat dan merasakan benturan sebelum semuanya menjadi sangat gelap. Bahkan ia tidak sempat melihat darah mengucur deras, darahnya sendiri. Gatot pingsan di dalam mobilnya yang ringsek.
***
“Praaaangg…!!!”
Murti terkaget-kaget ketika mendengar suara gaduh dari dapur. Ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke asal suara. Ia berdiri tercenung. Tidak ada siapapun di dapur, baik itu manusia ataupun hewan. Pintu dapur juga tertutup rapat, pun demikian dengan jendela. Aneh. Tidak ada angin tidak ada badai, tiba tiba piring sudah pecah, berserakan di lantai.
Perasaan Murti seketika menjadi galau. Ia ingat petuah dari para orang tua bahwa jika ada barang atau apa saja jatuh dan pecah tanpa sebab, berarti akan ada hal-hal buruk yang akan terjadi. Semacam firasat. Murti memungut pecahan piring dengan hati kalut. Ia berharap tidak terjadi apapun yang menimpa diri dan keluarganya. Ia maghsul. Perasaannya makin tak nyaman, membuatnya gelisah. Ada apa ini? batinnya.
“Mur, cepat pakai baju dan ikut aku,” seru sebuah suara.
“Mas Joko! Bikin kaget saja!” Murti sama sekali tidak menduga suaminya sudah berdiri di belakangnya. Dalam hati ia bersyukur suaminya pulang dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat. Berarti kekhawatirannya tidak terbukti. “Ikut kemana, Mas?” tanya Murti kemudian.
“Ke rumah sakit. Gatot kritis!” jawab Pak Camat.
“Apa?!!” Murti berteriak dengan mulut menganga dan wajah penuh tanda tanya. “A-apa yang terjadi dengan Gatot, Mas?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Kecelakaan.” jawab Pak Camat pendek. ”Waktu kita sedikit. Cepatlah.” desak laki-laki itu.
Kalau menyangkut Gatot maka Murti tak mau terlambat. Ia berlari cepat menyambar pakaian dan tanpa make up langsung menyusul suaminya di mobil. Tak lama merekapun melesat. Murti gelisah. Ternyata piring pecah itu memang sebuah firasat buruk. Petuah dari para orang orang tua itu benar. Terjadi hal-hal yang sangat tidak diharapkan. Gatot kecelakaan dan sekarang tengah kritis di rumah sakit. Murti ingin segera sampai di rumah sakit.
“Cepat dikit, Mas.” ia meminta.
“Ini sudah cepat, Murti.” jawab Pak Camat. ”Kamu mau kita kecelakaan juga?” tanyanya mengingatkan.
Murti mencubit perut suaminya dengan wajah merengut. Tentu ia tidak ingin mengalami kecelakaan. Masih banyak keinginannya yang belum tercapai dan ia tak ingin mati sekarang. Murti merasa mobil terlalu lambat padahal jarum speedometer sudah menunjuk angka seratus lebih. Berarti suaminya memang ngebut, sama-sama ingin segera sampai di rumah sakit. Dan akhirnya memang sampai juga.
“Yang mana kamarnya, Mas?” tanya Murti sedikit panik.
“Sabar, kita tanya dulu,” sahut Pak Camat.
Murti paling benci birokrasi, tapi kalau mau tahu kamar pasien memang mau tidak mau harus bertanya ke bagian administrasi. Setelah informasi didapat, iapun berkelebat cepat mendahului Pak Camat menuju ruang perawatan. Pak Camat cuma tersenyum samar lalu menyusul istrinya. Kini mereka sudah berada di instalasi gawat darurat. Murti ingin masuk, tapi perawat yang berjaga melarang. Ia cuma bisa mengintip dari lubang pintu. Murti langsung pucat begitu tahu apa gerangan yang terjadi di dalam ruangan. Buru-buru ia berbalik dan menyandarkan kepala di bahu suaminya, duduk berdua dengan suaminya di bangku depan IGD. Perawat yang berseliweran keluar masuk tidak bersedia memberi pernyataan.
“Kita tunggu dokter saja. Sabar ya,” kata Pak Camat.
“Bagaimana bisa terjadi, Mas?” tanya Murti.
“Entahlah, Mur. Aku sendiri tidak tahu. Malah polisi yang memberitahuku tadi.” jawab Pak Camat.
“Mas Joko bagaimana sih? Memangnya Mas nggak pulang bareng Gatot?” ketus Murti dengan curiga.
“Tidak.” jawab Pak Camat. ”Tadinya aku memang minta dijemput. Tapi karena Gatot lama, terpaksa aku pulang bareng Pak Hasan. Ternyata malah kecelakaan gini,” gumamnya.
“Mas Joko rapat dimana?” tanya Murti, masih tak percaya.
“Ya di kantor dong, sayang.” jawab Pak Camat, mencoba untuk tersenyum.
“Bohong.” potong Murti. ”Orang kecamatan bilang Mas Joko tidak ngantor sama sekali hari ini.” terangnya.
“Aku memang tidak ngantor, tapi rapat di gedung DPRD.” kilah Pak Camat, berusaha tetap bersikap tenang. ”Jangan curiga, ah!” katanya kemudian.
“Gimana nggak curiga kalau tiap hari Mas Joko lupa sama istri.” ketus Murti.
“Aku tidak melupakanmu, Mur. Aku sibuk.” kata Pak Camat. ”Sudahlah, ini rumah sakit, bukan tempat untuk berdebat.” tutupnya.
Mulut Murti langsung mengatup rapat, tidak bicara lagi. Tapi dalam hati ia yakin ada yang tidak beres dengan suaminya. Pak camat memang mengalami perubahan besar, itu yang dirasakan oleh Murti, mengingat suaminya yang akhir-akhir ini jarang di rumah. Liburpun Pak Camat tidak di rumah. Kepercayaannya pada sosok suami perlahan luntur, digerus oleh kecurigaan yang semakin hari semakin tak terbendung lagi. Satu-satunya orang yang tahu betul adalah Gatot. Sayang Gatot tidak berani membuka rahasia, malahan kini Gatot tengah menghadapi maut.
Teringat Gatot, lagi-lagi Murti mendesah. Padahal tadi siang ia masih bersama Gatot, melewati masa-masa bahagia dan suka, menghiasi siang dengan tumpahan kasih dan mesra. Tapi di sore menjelang petang ini, Gatot tak bisa lagi diajak bercanda dan tertawa. Murti jadi gelisah.
“Maafkan aku, Mas.” ia akhirnya berkata.
“Tidak apa, Mur. Aku tidak pernah menganggapmu bersalah. Kita berdoa saja buat keselamatan Gatot.” sahut Pak Camat bijak.
Tanpa diminta, Murti memang sudah berdoa sejak mendapat firasat tadi. Kini doanya semakin ia perbanyak, tak peduli Tuhan masih sudi mendengar doanya atau tidak. Yang pasti sebagai makhluk penuh dosa, ia tak pernah berhenti berdoa. Terlebih ini menyangkut hidup mati seorang pria yang sangat melekat kuat dalam hatinya. Pria yang sejak kecil telah menjadi idaman yang abadi, dan setelah dewasa menjadi tempatnya melipur duka.
“Bagaimana pelantikan tadi pagi?” tanya Pak Camat.
“Baik-baik aja, Mas.” sahut Murti. ”Tapi aku dimutasi ke SMA 3. Jadi jauh kerjaku sekarang.” tambahnya.
“Tidak apa. Sementara biar aku antar kamu sampai Gatot sembuh.” kata Pak Camat.
“Tidak usah, Mas. Aisyah bersedia berangkat bersamaku,” tolak Murti halus.
“Kasihan Aisyah, Mur. Sudah jauh dari Cemorosewu, masih harus jemput kamu.” kata Pak Camat.
“Aisyah berencana pindah ke komplek kita, Mas. Dia lagi nyari kontrakan atau kos-kosan.” terang Murti.
“Bagaimana kalau kita tawarkan rumah Gatot saja?” usul Pak Camat.
“Sudah. Aisyah sendiri yang ngomong langsung ke Gatot. Tapi Gatot masih pikir-pikir.” jawab Murti.
“Itu bisa diatur,” sahut Pak Camat.
Seorang dokter keluar dari ruangan. Murti dan Pak Camat serempak berdiri dan memburu dokter itu.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Pak Camat. Murti yang ada di sebelahnya berusaha untuk ikut mendengarkan.
“Masih koma. Tapi tidak usah khawatir. Dia tidak mengalami luka fatal.” jawab sang dokter.
“Syukurlah.” Pak Camat menghela nafas lega. ”Bagaimana dengan tulang-tulangnya?” tanyanya lagi.
“Baik.” jawab dokter itu. ”Memang ada beberapa tulang kaki yang retak. Tapi kami usahakan tidak diamputasi,” lanjutnya.
“Bisakah kami masuk ke ruangan itu?” tanya Murti.
“Silahkan. Tapi jangan terlalu dekat dengan pasien,” pesan dokter.
“Terima kasih, Dok.” Murti mengangguk.
Mereka bergegas masuk dan berdiri agak jauh dari tempat dimana Gatot terbaring koma. Tidak ada yang berani bersuara. Hanya mata mereka saja yang berkaca-kaca menyaksikan Gatot dikelilingi beragam jenis peralatan medis yang serba canggih. Selang infus menempel di sana-sini dan perban membalut hampir seluruh bagian wajah dan kaki. Belum ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Alat pendeteksi detak jantung masih menampilkan garis lurus.
“Maaf, adakah diantara bapak dan ibu yang bergolongan darah AB?” seorang perawat bertanya.
“Saya, Mbak. Silahkan kalau mau ambil darah,” sahut Murti cepat.
“Baik. Silahkan ibu berbaring di kasur itu.” kata si perawat.
Murti tidak menunggu persetujuan Pak Camat. Ia mematuhi perintah si perawat untuk berbaring dan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mendonorkan darah. Ia rela dan ikhlas, bahkan biar darahnya tersedot sampai habis ia rela demi kesembuhan Gatot.
“Kami sangat butuh pendonor untuk memenuhi persediaan darah.” kata perawat itu sambil terus bekerja.
“Mas Joko, cari dong orang kantor yang bergolongan darah AB.” seru Murti pada suaminya.
“Baiklah. Kamu tunggu sebentar ya,” Pak Camat keluar dari ruangan dan menelepon beberapa pegawai kecamatan. Wajahnya tampak kecewa karena hanya satu yang punya golongan darah AB.
“Dewi, bisakah kamu datang ke rumah sakit?” tanya Pak Camat.
“Baik, Pak. Saya langsung kesana,” jawab Dewi dari seberang telepon. Pak Camat tidak pernah tahu kalau Dewi menjawab sambil tubuhnya berada di dalam pelukan seorang laki-laki.
”Siapa?” tanya laki-laki itu yang rupanya adalah Pak Rahmad, bapak kost Dewi.
”Atasan saya, Pak. Ada yang kecelakaan, saya disuruh cepat ke rumah sakit.” jawab Dewi, tubuhnya sedikit menggelinjang saat Pak Rahmad kembali menggerakkan penisnya. Mereka memang sedang bersetubuh saat itu. Seperti biasa, setiap kali ibu kos tidak ada, Pak Rahmad akan pergi ke kamar Dewi untuk mengambil jatahnya. Termasuk malam ini.
”Sekarang?” tanya Pak Rahmad dengan mimik muka kecewa. Baru saja dapat enak, masa harus diputus di tengah jalan.
”Bapak selesaikan aja dulu,” Dewi tersenyum. Ia berhitung, paling lama permainan ini berlangsung 5 menit lagi, itu sebentar untuk ukuran seorang wanita.
Pak Rahmad pun kembali menggerakkan penisnya, sambil tangannya membelai rambut dan payudara Dewi yang bulat membusung. Kecepatan tusukannya mulai bertambah, dari yang semula pelan kemudian berubah menjadi semakin cepat. Nafsu laki-laki itu rupanya kembali memuncak, hingga setelah beberapa menit, ia berbisik mesra di telingan Dewi, ”Wi, aku sudah nggak tahan lagi, mau orgasme.”
”Iya, Pak. Akan Dewi temani sampai ke puncak sama-sama.” sahut Dewi sabar.
Pak Rahmad makin mempercepat gerakannya, ia tampak berkonsentrasi ke tubuh Dewi yang mulus dan sintal. Sambil terus menggenggam dan meremas-remas payudara Dewi, ia pun menyemprotkan air maninya kuat-kuat; creet… creet… creet… berkali-kali penis tuanya berkedut kencang, menumpahkan segala isinya memenuhi lorong vagina Dewi hingga jadi terasa begitu basah dan lembab.
“Ahh… bapak sampai, Wii,” rintih Pak Rahmad sambil memeluk dan mendekapkan kakinya ke pinggul Dewi, dengan begitu batang penisnya bisa tertanam sangat dalam di belahan vagina gadis cantik itu.
Dewi membelai tubuh gendut bapak kos-nya itu. Tidak ada cinta disana, cuma pelampiasan nafsu. ”Cabut ya, Pak. Dewi harus lekas pergi ke rumah sakit,” ia berbisik.
”Ah, i-iya.” Pak Rahmad segera mencabut penisnya.
Dewi buru-buru bangun dan mengambil kertas tissue yang ada di atas meja, ia lap penis Pak Rahmad dengan hati-hati sekali. Setelah itu bibir vaginanya yang basah ia lap juga, lalu ia pergi ke lemari untuk mengambil baju ganti.
”Kamu nggak mandi dulu?” tanya Pak Rahmad sambil rebahan di ranjang, tubuhnya masih telanjang. Penisnya yang tadi menegang, kini sudah mengkerut kembali ke ukuran semula.
Dewi tersenyum saat melihatnya, ”Nanti nggak keburu, Pak.” jawabnya singkat dan lekas pergi meninggalkan kamar.
***
Pak Camat masih berusaha menghubungi siapa saja yang dikenalnya. Sungguh repot mencari, dan sampai habis pulsa, tidak ada yang cocok dengan permintaan si perawat. Murti juga sibuk menelpon dan mengirim sms pada rekan-rekannya sesama guru, juga kawan-kawannya, siapapun yang ia kenal segera ditelponnya. Tapi Murti ragu untuk menelpon Aisyah karena malam ini adalah acara tujuh hari meninggalnya ayah Aisyah. Tapi demi Gatot, ia menepis keraguan itu dan coba untuk menghubunginya. Beberapa kali belum juga diangkat. Murti paham Aisyah pasti sibuk. Sekali lagi ia coba, dan kali ini langsung tersambung.
“Assalamu’alaikum, Aisyah.” sapa Murti.
“Wa’alaikum salam, Bu Murti. Ada apa?” tanya Aisyah.
“Begini, Aisy. Kami sangat butuh pendonor. Apa golongan darahmu?” tanya Murti.
“AB.” jawab Aisyah, yang langsung memberi kelegaan di hati Murti. ”Buat siapa, Bu? Siapa yang sakit?” tanya Aisyah kemudian.
“Buat Gatot. Tadi sore dia kecelakaan dan sekarang masih koma.” sahut Murti.
“Astaghfirullah.” Aisyah berseru kaget. ”Ada di rumah sakit kan? Saya segera kesana, Bu.” janjinya.
“Terima kasih, Aisyah.” Murti mempersilahkan. ”Assalamualaikum…” ia kemudian menutup pembicaraan.
Murti lega. Setidaknya ada empat orang termasuk dirinya sendiri yang bersedia menjadi pendonor. Tiga orang yang lain adalah Aisyah, Ningsih, dan Dewi. Tidak sampai setengah jam, Ningsih dan Dewi sudah berada di rumah sakit. Pak Camat mengantar keduanya ke ruang gawat darurat. Murti menyambut mereka dengan jabat tangan dan ucapan terima kasih. Pengambilan darah berlangsung cepat. Meski sudah selesai, tapi Ningsih dan Dewi tetap bertahan di rumah sakit bersama Murti. Pak Camat ijin pulang untuk mengambil beberapa kebutuhan Gatot.
Sepeninggal Pak Camat, Aisyah datang dengan keringat bercucuran. Murti maklum, pasti Aisyah naik angkot sampai keringetan begitu. Semua berlangsung sama dengan tadi. Dalam sekejap tiga kantong darah sudah siap. Mereka memang memaksa perawat untuk mengambil darah sebanyak-banyaknya.
“Terima kasih, kalian semua mau membantu kami.” kata Murti.
“Saya juga senang bisa membantu.” sahut Ningsih. ”Padahal tadi sore aku bertemu Gatot. Katanya sih dia mau jemput suamimu,” tambahnya.
“Iya, Mbak Murti. Aku juga sempat lihat mobil Pak Camat di perumahan Residence. Pasti gatot yang bawa mobil itu,” kata Dewi.
“Perumahan Residence?” tanya Murti mulai berpikiran curiga. Ia tidak lagi tertarik pada obrolan ketiga tamunya. Ia lebih tertarik pada penjelasan yang disampaikan oleh Dewi; mobil suaminya kedapatan memasuki perumahan Residence.
Selama bertahun-tahun berumah tangga, belum pernah sekalipun Pak Camat  membawanya ke perumahan mewah itu. Suaminya juga tidak pernah menyinggung kawasan elit itu. Tapi yang dibilang Dewi membuatnya berpikir seribu kali. Ada apa gerangan dengan keberadaan mobil suaminya di sana? Apakah itu berhubungan dengan perubahan suaminya? Siapa yang ditemui oleh suaminya disana? Kenapa Gatot tidak bilang apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan itu bergentayangan merasuki alam pikirannya, membuat Murti semakin yakin dengan gosip yang dihembuskan di arisan darma wanita.
“Kok Bu Murti malah diam?” tanya Aisyah.
“Tidak apa, Aisy.” jawab Murti. ”Kamu serius mau tinggal di komplek?” tanyanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan.
“Benar, Bu. Ini saya malah bawa seragam kerja. Rencana saya malam ini mau menginap di rumah Bu Murti.” kata Aisyah.
“Nanti bilang sama Pak Camat dulu ya,” sahut Murti.
“Baik, Bu.” Aisyah mengangguk.
“Oh ya, Mur, aku lupa sampaikan kalau keluargaku berencana kembali ke komplek,” kata Ningsih memberitahu.
“Benarkah? Dimana keluargamu mau tinggal, Ning?” tanya Murti gembira.
“Ya di rumah yang dulu.” jawab Ningsih. ”Abah sudah membeli kembali rumah itu. Kami tidak betah di tengah kota, berisik.” terangnya.
“Syukurlah, kita bisa berkumpul lagi, Ning.” jawab Murti.
“Harapanku juga begitu, Mur. Bukan cuma dengan kamu, tapi aku berharap bisa berkumpul dengan teman-teman kecil yang dulu.” kata Ningsih.
“Sepertinya komplek sangat menarik buat dihuni ya, Mbak Murti?” tanya Dewi yang sedari tadi cuma diam mendengarkan.
“Kamu juga mau pindah ke komplek?” tanya Murti penasaran.
“Melihat antusias kalian, terus terang membuat saya tertarik, Mbak.” jawab Dewi.
“Sayang sekali komplek sudah penuh, Dewi. Si Aisyah saja masih bingung cari kontrakan.” kata Murti.
“Sayang sekali.” Dewi kelihatan kecewa. ”Aku juga mulai nggak kerasan di kos-kosan yang sekarang, tidur sering nggak nyenyak.” bagaimana bisa tidur nyenyak kalau Pak Rahmad terus menyatroninya setiap malam.
“Nantilah kutanyakan ke tetangga,” janji Murti.
Ada-ada saja. Kenapa semua orang ingin tinggal di komplek yang tersohor sebagai kawasan buram itu? Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang. Murti hanya bisa menebak isi hatinya sendiri.
Jam sepuluh malam Pak Camat kembali ke rumah sakit. Murti dan Aisyah membantu membawakan empat tas besar berisi pakaian dan kebutuhan Gatot selama dirawat, sementara Dewi dan Ningsih setengah jam yang lalu sudah meninggalkan rumah sakit karena jam besuk sudah berakhir.
“Mur, kamu tahu kemana Gatot mau pergi?” tanya Pak Camat.
“Maksud Mas Joko?” tanya Murti tak mengerti.
“Begini, tadi aku masuk ke rumah Gatot. Aku lihat satu setel baju koko dan kopiah seperti sudah disiapkan olehnya. Makanya kutanya kamu, tau dia kondangan dimana?” jelas Pak Camat.
Murti dan Aisyah berpandangan. Aisyah lalu memandang Pak Camat dengan wajah sedih. “Mungkin Mas Gatot mau tahlilan ke rumah saya, Pak. Tadi siang saya memang undang dia.” jawabnya.
“Ooh begitu.” Pak Camat manggut-manggut. ”Saya juga mohon maaf kalau tidak bisa hadir ya, Aisyah. Saya sibuk.” tambahnya.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya memahami kesibukan Pak Camat.” kata Aisyah.
“Sudah malam. Ayo kita pulang. Aisyah mau ikut?” tanya Pak Camat.
“Iya, Pak.” Aisyah mengangguk. ”Saya harap bapak tidak keberatan menerima saya semalam saja. Terlalu malam kalau saya pulang ke Cemorosewu.”
“Saya malah senang. Ayo,” jawab Pak Camat sambil tersenyum.
Merekapun meninggalkan rumah sakit dengan hati berat, terutama Murti. Ia sangat ingin lebih lama di rumah sakit, bahkan kalau perlu menginap untuk memastikan keadaan Gatot baik-baik saja. Sayangnya semua itu tak mungkin karena ia bersuami. Cukup doa saja yang ia panjatkan bersama mekarnya seribu harapan.
***
Di dalam kamar, Dewi memekik kaget saat seseorang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. ”Auw! Pak Rahmad… saya kira sudah tidur.” gelinjangnya.
Laki-laki tua itu tertawa, ”Tadi belum puas,” bisiknya sambil mengendus leher jenjang Dewi.
Si cantik yang baru pulang dari rumah sakit itu tersenyum, ”Dasar, bapak ini nggak ada bosan-bosannya ya!”
”Sama gadis secantik kamu, masa aku bisa bosan?” balas Pak Rahmad, mulutnya perlahan mencari dan memagut pelan bibir Dewi yang tipis mungil, lalu mengulumnya lembut.
Mereka saling berciuman, lidah Pak Rahmad dijulurkan ke dalam rongga mulut Dewi, yang diterima Dewi dengan senang hati. Langsung saja mereka saling melumat dengan penuh gairah. Tangan mereka juga saling meraba. Dewi yang saat itu mengenakan hem agak longgar, mulai dibuka kancingnya satu persatu oleh Pak Rahmad. Dadanya pun akhirnya terbuka, menampakkan sepasang payudara indah miliknya yang terlihat begitu mulus dan menggiurkan.
Dewi tak berkutik saat Pak Rahmad menggiringnya naik ke atas ranjang, laki-laki itu merebahkannya ke tempat tidur tanpa melepaskan lumatannya, sambil tangan kanannya mulai meremas-remas payudara Dewi yang bulat besar dengan penuh nafsu.
Dewi yang sudah mulai horny langsung melucuti sisa pakaiannya hingga telanjang bulat, ia juga membantu Pak Rahmad untuk melepas kain sarungnya. Setelah sama-sama bugil, mereka kembali berpelukan dan saling bertindihan di atas ranjang. Dengan gemas Dewi memegang dan meremas-remas batang kemaluan Pak Rahmad yang pendek tapi sangat besar, cepat sekali benda itu ereksi. Kini sudah terasa sangat keras dan tegang sekali.
Tangan kanan Pak Rahmad terus meremas-remas payudara Dewi, bibirnya juga tak henti melumat dan menghisap mulut perempuan cantik itu, bahkan kini ciumannya turun ke arah leher Dewi yang jenjang. Ia menghisap lembut disana sambil memberikan gigitan-gigitan kecil yang sangat diinginkan oleh Dewi.
”Ah, Pak…” gadis itu merintih, paha kanannya ditumpangkan ke paha kiri Pak Rahmad, sementara lututnya ia gesek-gesekkan ke atas pinggul laki-laki tua itu hingga alat kelamin mereka bisa saling bersentuhan.
Pak Rahmad memindahkan tangannya, kini ia menggesek naik turun tepat di bagian luar vagina Dewi yang sudah mulai basah berlendir, sementara bibirnya terus menciumi bagian-bagian tubuh Dewi yang sensitif. Dengan piawai Pak Rahmad memainkan ujung jarinya di belahan vagina Dewi, sambil sesekali menyentuh dam merangsang klitorisnya. Dengan sengaja ia menyentil-nyentil daging mungil itu hingga Dewi sampai menghentak-hentakkan tubuhnya karena saking gelinya.
Pelan ciuman Pak Rahmad juga mulai turun ke bawah dan berhenti di payudara Dewi yang bulat besar, dengan lembut lidahnya menggelitik puting susu Dewi yang ranum dan berwarna merah kekuningan. Buah dada itu habis dilumatnya, Pak Rahmad sudah hafal dimana titik-titik sensitif di tubuh Dewi, dan semuanya habis ia kerjai.
Sekarang tinggal yang bawah. Dewi melenguh saat merasakan nikmatnya belaian tangan Pak Rahmad di lubang vaginanya. Jari laki-laki itu yang besar menggosok-gosok bagian luar vaginanya, berkali-kali sengaja mengenai bulatan klitorisnya, sambil jari tengahnya seperti dimain-mainkan di lorongnya yang sempit sehingga vagina Dewi dengan cepat menjadi basah dan becek. Terdengar bunyi kecipak keras saat Pak Rahmad terus merangsangnya.
Tak ingin kalah, Dewi mengulurkan tangan. Kembali ia meremas dan mengocok-ngocok batang kemaluan laki-laki tua itu. Ia terus melakukannya saat dengan telapak tangannya, Pak Rahmad mendorong lutut Dewi ke atas dan mengangkangkan pahanya lebar-lebar sehingga bagian vagina Dewi yang mungil terpampang jelas.
Pak Rahmad lalu mengarahkan kepalanya ke situ, dengan rakus mulutnya langsung menyerbu mulut vagina Dewi, semua cairan yang ada disana dijilat dan langsung ditelannya sampai habis. Seakan tidak puas, laki-laki itu terus menjulurkan lidahnya, menjilat belahan pantat Dewi hingga lubang anusnya juga. Tak ketinggalan liang vagina Dewi yang sempit juga jadi sasaran lidahnya, Pak Rahmad mengorek dan menusuk-nusuknya hingga dalam sekali.
”Augh… Pak!” diperlakukan seperti itu, nafsu Dewi jadi semakin memuncak. ”Ooo… ampun, Pakk… aduh… aduduh… uhh… bapak gila! Aah…” rintihnya kesetanan.
Pak Rahmad yang tidak ingin memberi Dewi kesempatan untuk menarik nafas, segera merangkak naik mencium bibirnya, sambil tangan kanannya kembali meremas-remas puting susu perempuan cantik itu.
”Ahh…” Dewi melenguh saat merasakan benda lunak padat menempel di bibir vaginanya.
Dengan tangan kirinya Pak Rahmad menuntun batang kemaluannya agar tepat berada di pintu masuk vagina Dewi. Setelah tepat, segera didorongnya dengan sepenuh tenaga. Sleepp… bleessh! Masuklah batang gemuk itu, memenuhi lorong vagina Dewi dengan segala pesonanya.
”Arghh…!” Dewi mengernyit, tapi terlihat menikmatinya. Apalagi saat Pak Rahmad mulai memompa penisnya maju-mundur, mengocok lubang vaginanya, rasanya bukan main. Dewi jadi semakin menggelinjang keenakan dibuatnya.
”Aduh… enak banget, Pak… terus!” rintih Dewi penuh kepuasan, karena sambil tetap mengocok batang kemaluannya, ibu jari tangan kanan Pak Rahmad ditempelkan ke klitorisnya dan digesek-gesekkan dengan lembut disana, sementara tangan kirinya meremas-remas payudara Dewi sambil juga memilin-milin puting susunya.
”Ooo… ooh! Dewi, aku sudah mau keluar lagi.” rintih Pak Rahmad tiba-tiba. Seperti biasa, laki-laki itu tidak bisa tahan lama.
”Sebentar, Pak! Kita keluarkan sama-sama.” kata Dewi sambil ikut menggerakkan pinggulnya, dengan begitu ia berharap rangsangan pada tubuhnya akan lebih nikmat lagi.
Pak Rahmad hanya bisa menggeleng-geleng dan menyusupkan kepalanya  ke belahan payudara Dewi yang besar saat menerima semua itu. ”Ooh… s-sudah, Dewi… aku nggak tahan!” jerit laki-laki tua itu, dan akhirnya ia orgasme sambil memeluk tubuh montok Dewi erat-erat.
Dengan selangkangan masih basah dan belepotan oleh cairan sperma Pak Rahmad yang sedikit kental, Dewi meneruskan genjotannya. Mumpung penis laki-laki itu masih belum melemah, ia membatin. Dan akhirnya bisa juga menjemput orgasmenya tak lama kemudian. Cairannya memancar keluar banyak sekali, begitu deras, bahkan hingga sampai membasahi bantal dan sprei. Pak Rahmad tersenyum saat melihatnya.
”Enak?” tanya laki-laki tua itu, tangannya kembali meremas-remas payudara Dewi yang begitu putih dan montok.
”He-em,” Dewi mengangguk. ”Bapak juga enak kan?” tanyanya balik.
Pak Rahmad tersenyum, ”Kalau nggak enak, nggak mungkin aku bisa ketagihan sama tubuh kamu.” jawabnya diplomatis.
Mereka saling berangkulan dan akhirnya tertidur pulas tak lama kemudian, sama-sama puas dan kelelahan.

EVA

jilbab sexy hot - ayu (10)

Ini kisahku yang lain dengan adik kelasku yang lain. Namanya Eva Devi. Saat itu ia kelas tiga. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku sudah tertarik dengan wajah manisnya yang mengenakan kacamata dan jilbab; tapi aku tidak terlalu memperhatikannya karena aku sudah pernah merasakan persetubuhan dengan gadis lain yang jauh lebih cantik. Memang aku ini obsesif terhadap jilbaber, mungkin karena aku selalu melihat siswi-siswi berjilbab selama masa SMA-ku.

jilbab sexy hot - ayu (1)
Wajah manis Eva manis yang menggodaku selama ini akhirnya bisa kunikmati juga. Dengan “bantuan”dari teman seangkatannya yang untuk lebih amannya kita sebut saja Andria. Kusebut “bantuan’”(dengan tanda petik), karena sebenarnya ia juga kuancam bahwa jika ia menolak membantuku, aku akan menyebarkan foto-foto seksinya yang ku-bluetooh dari HP-nya ketika kupinjam HP-nya. Kuminta ia untuk membantuku serta mengkhianati dan menjebak beberapa teman satu angkatannya. Akhirnya Andria pun bersedia untuk membantuku.
Akhirnya jebakan yang kupasang mulai mengena ketika suatu ketika kulihat Andria yang masih berseragam lengkap termasuk jilbab lebarnya, mengajak Eva yang juga masih berjilbab ke lantai atas yang sepi. Aku pun bersembunyi dan saat Andria mulai menciumi bibir Eva, aku pun mulai merekam adegan itu. Saat tangan Andria mengelus leher Eva yang masih berjilbab, Eva yang menyadari bahayanya semakin gelisah dan mencoba untuk menyadarkan Andria. Kulihat dari tempat persembunyianku, Andria mulai memeluk dan menggerayangi punggung Eva. Kulihat juga bahwa Andria semakin bernafsu dan mulai meraba-raba tetek Eva. “Mmmmhhh… sudah dong Ndri” kudengar suara Eva mencoba menyadarkan Andria. “Ah, Eva, nih. Ga’ ada siapa-siapa juga” kudengar sanggahan Andria.

jilbab sexy hot - ayu (2)
Melihat Eva sepertinya hendak mencoba kabur dari Andria, akupun keluar dari persembunyianku. Eva yang terkejut karena melihatku membawa HP Nokia N73-ku pun berhenti. “Lho, Kakak ngapain di sini?” tanyanya kaget. Melihatku yang memegang N73 yang tutup kameranya terbuka, ia pun segera mengerti. “Kakak mau aku bayar berapa?” tanyanya panik. Dengan tenang kujawab, “Kakak, sih gak butuh uang kamu. Simpen aja, deh. Kakak maunya perawan kamu” jawabku dingin. Jawabanku tentunya membuat Eva terkejut. Kulihat Andria pun tak kalah terkejutnya mengingat aku hanya memintanya untuk berciuman dengan Eva. “Bajingan” bentak Eva yang mulai marah seakan hendak menabrakku. Kujawab dengan dingin, “Eh, daripada marah ke Kakak, mending marah ke dia aja ”sambil menunjuk Andria, “Kan dia juga ikutan rencana ini”. “Hah jadi kamu juga, Ndri?” tanyanya. “Sori, Va. Habis aku juga diancem ama dia” jawab Andria pasrah. Sambil menatapku Andria berkata, “Pliz, Kak. Biar aku aja. Pliz, jangan libatin Eva”. “Gak mau. Kan kamu udah janji biar duduk manis” jawabku melecehkan.

jilbab sexy hot - ayu (3)
Kusuruh Eva duduk di tumpukan matras dekat situ. Sambil berusaha menahan perasaannya, Eva pun mematuhi arahanku. Kudorong tubuhnya agar berbaring sedangkan kakinya menjuntai ke lantai, lalu kusuruh Andria melakukan blowjob untukku. Eva yang terkejut dengan keadaan Andria hanya bisa terperangah melihat teman seangkatannya itu mengoralku. Kubuka bajuku, lalu kuelus elus dan kuciumi bibir Eva. Kurasakan nikmat yang luar biasa saat mengerjai dua orang gadis berjilbab ini. Kubuka kancing-kancing kemeja batik Eva, lalu kuminta ia agar membuka kancing dan menurunkan reluiting rok panjang putihnya. Saat ia menurunkan rok panjangnya Gilaaa pikirku kagum. Kulihat sepasang paha putih mulus yang memakai celana dalam krem tipis berenda. Kulumat bibirnya dan kuremas-remas teteknya yang masih terbungkus BH berwarna krem, lalu kulepas BH-nya. Terlihatlah sepasang tetek 30A yang sangat indah; yang pantas dimiliki oleh pemilik tubuh itu. Sengaja tidak kulepas jilbabnya karena menurutku akan lebih menggairahkan apabila ia disetubuhi dengan jilbab masih terpasang.

jilbab sexy hot - ayu (3)
Kembali kuraba, kuremas, kuciumi, kucupangi dan bahkan kuhisap sepasang tetek berukuran 30A milik Eva. “Aaaaah… jangan, Kak” ujanya lirih. Tentunya ia tak mau mengerang lebih keras lagi. Masih untung jika yang datang adalah salah seorang dari guru-gurunya dimana ia bisa minta perlindungan. Kalau misalnya yang datang itu pesuruh pria, habislah dia karena bisa-bisa dia digilir oleh para pesuruh pria di sekolah ini yang jumlahnya kuhitung tidak kurang dari sepuluh orang.
Ketika kuraba pangkal pahanya, kurasakan bahwa memeknya mulai basah. Kulepas celana dalamnya, kemudian kukorek-korek liang nikmatnya dengan jari telunjukku sampai cairan memeknya mulai mengucur dengan derasnya. “Ooooogh…” desahnya ketika sampai ke puncak orgasmenya akibat jariku.

jilbab sexy hot - ayu (4)
Kutarik tangannya agar berdiri dan kusuruh dia membungkuk dengan bertumpu pada sepasang lutut dan telapak tangannya. Kuhentikan blowjob yang kusuruh Andria agar melakukannya, lalu kuselusupkan kontolku yang sudah menegang lewat belakang pangkal paha Eva. Kurasakan dan kulihat badan Eva gemetar ketika kurasakan bahwa ujung kontolku menyentuh bibir memeknya. Kudorong kontolku agar memasuki liang senggamanya sedikit demi sedikit. Kusadari bahwa gadis ini masih perawan. “Aargh…” erangnya ketika kontolku memasuki kemaluannya. Begitu kepala kontolku telah masuk sepenuhnya dalam lubang memeknya, langsung kudorong kontolku dengan kecepatan penuh hingga mentok menyentuh rahimnya. “AAAAAHHHH” jerit Eva sambil mendongakkan kepalanya yang masih berjilbab itu. Kuyakin sakit sekali rasanya baru pertama kali sudah digenjot sekencang itu. Aku pun mendesah nikmat karena kontolku terjepit erat. “Kakak nggak nyangka, lho kalo kamu masih perawan. Temen kamu si Andria aja udah jebol duluan. Hehehe…” ejekku yang kuyakin membuat telinga Eva dan Andria panas. Setelah semenit kudiamkan kontolku, langsung kutarik kontolku dengan cepatsampai hanya kepalanya saja yang tinggal dalam memeknya. Kutahu perlakuanku ini akan membuatnya merintih kesakitan. Setelah itu langsung kusentak ke dalam hingga ujung kontolku menyentuh rahimnya. Slackk!! Scrrct!!, terdengar bunyi kontolku yang menggesek dinding memeknya. “AAAAAAWWWGH” jerit Eva keras sekali sampai sampai ia kembali mendongakkan kepalanya yang masih berjilbab itu lagi. Kuulangi hingga lima sampai sepuluh kali seperti itu.

jilbab sexy hot - ayu (5)

Kuyakin bahwa dinding memeknya pasti bakal lecet total karena lendirnya takkan sempat melumasi seluruh kontolku. “AAAWWGH, AWWGH, AAAAWWGH” jerit Eva seolah anusnya yang kujebol karena gesekan keras antara kontolku dengan dinding liang senggamanya yang masih rapat dan masih belum banyak lendirnya. Sekilas kulirik wajah Andria yang shock melihat caraku memperkosa Eva. Kuraih dan kuremas-remas kencang tetek 30A yang indah milik Eva yang kuyakin makin menambah deritanya. Seiring dengan cairan memeknya yang semakin banyak, akupun merasa bahwa sudah cukup penyiksaan seperti itu. Kugenjot dengan lambat dan lembut hingga Eva merasa heran dengan perubahanku. Lima genjotan yang agak keras menaikkan kembali birahinya dan kembali kugenjot ia dengan lambat, kemudian kupercepat karena aku tidak ingin buru-buru keluar. Eva membuka pahanya agar tidak terlalu perih. Pelan-pelan, Kak. Perih keluhnya lirih. Mendengar hal ini akupun jadi iba padanya, tapi aku harus bilang apa; bagaimanapun nafsuku harus kulampiaskan. Kugenjot dengan tempo yang berganti-ganti lambat dan cepat tapi dengan irama yang tidak terlalu kasar. Sepertinya ia sudah kehabisan tenaga akibat menahan sakit ketika aku menggenjotnya dengan gaya yang brutal sebelumnya dan memilih untuk menikmati perkosaan ini. Nafasnya pun terengah-engah akibat kelelahan yang dideritanya. Sesekali kuremas pantat sekal dan tetek 30A miliknya; putingnya yang berwarna coklat muda itu kutarik-tarik dan kupilin-pilin. “Ohhh…ohhh…ohhh…” desahan nikmatnya pun mulai terdengar seirama dan makin mencapai kemerduan yang kuinginkan. Seiring dengan genjotanku, Eva pun tak sanggup lagi menahan orgasmenya. Oooough lenguhnya pelan sambil mendongakkan kepalanya yang masih berjilbab. Wajahnya yang masih berkacamata pun terlihat erotis. Kurasakan bahwa kontolku terbaluri dengan cairan memeknya dan setelah kucabut kontolku, kulihat memeknya yang kini basah akibat cairan memeknya yang kulihat berwarna kemerahan karena bercampur dengan darah perawannya.

jilbab sexy hot - ayu (6)
Setelah ia mengalami orgasmenya yang kedua ini, kubalikkan tubuh telanjangnya dengan kepalanya yang masih mengenakan jilbab hingga menghadapku dan kubaringkan ia di tumpukan matras. Kubersihkan memeknya dengan sapu tangannya, kemudian kutindih tubuhnya dan kuciumi serta kucupangi seluruh wilayah dadanya. Eva hanya dapat melenguh pelan dan menggigiti jarinya ketika kugigiti dan kuhisap puting susunya. Dalam waktu tak kurang dari lima menit wilayah dada Eva sudah basah kuyup oleh keringatnya dan air liurku.
Kuposisikan tubuhku sehingga tepat berada di atasnya dan kubuka kedua belah paha Eva yang sepertinya sudah pasrah sehingga kedua alat vital kami bersentuhan, lalu kuarahkan kontolku ke arah memeknya. Badan Eva gemetar ketika kontolku memasuki relung tubuhnya dengan perlahan; tangannya pun mencengkram bahuku. Begitu kontolku masuk sebagian, kusentak pantatku ke depan sehingga kontolku pun meluncur deras hingga menyentuh rahimnya. Kurasa adik kelasku ini pun kembali merasa nyeri pada dinding memeknya karena kulihat wajahnya yang masih mengenakan jilbab itu mengernyit dan, “Aaa…auhhh” kudengar jeritannya saat kontolku kembali memasuki rahimnya.

jilbab sexy hot - ayu (7)
Kembali kuciumi serta kulumat bibir ranumnya lalu kutautkan lidahku dengan lidahnya. “Mmmmppph…” desahnya tertahan oleh lumatanku. Kembali kugenjot tubuh bugilnya yang hanya mengenakan jilbab di kepalanya itu. Secara refleks ia melingkarkan tangannya ke punggungku. Kedua kakinya pun melingkari pinggangku, seolah mengatakan, “Terus, Kak. Masukin lebih dalam lagi. Please”. Sambil menggenjotnya, kuturunkan kepalaku ke arah lehernya. Kuberi beberapa cupangan di lehernya dan kuturunkan lagi kepalaku ke arah dadanya. Ketika bibirku sampai di wilayah dadanya, kembali kujilati tetek 30A-nya dan kuhisap puting susunya; bahkan sesekali kujilati puting susunya dan kucupangi belahan dadanya. Sebagai akibatnya, iapun makin kelojotan. Kedua tangannya yang disampirkannya di kepalaku pun tak mau ketinggalan bereaksi dengan meremas-remas kepalaku dan mendekatkan mukaku ke dadanya. “Ahh, Vaiiii…naaaa. Ouuhhh… Memmmekkk… kammuu… emangg… nikmaaatth…. Kakakh… enggak…nyangkaa… kalloo… kammu… bisaa… senikh…math… inniiih…” sindirku. Eva sepertinya tidak mempedulikan sindiran itu lagi. Ia sudah tidak bisa memperhatikan lagi.

jilbab sexy hot - ayu (8)

Tenaganya agaknya sudah benar-benar terkuras akibat kugenjot memeknya habis-habisan dengan tempo yang berubah-ubah ketika orgasmenya tiba kembali. Aaaaakh erangnya pelan menikmati orgasmenya yang kedua kalinya. Cairan memeknya kembali menyembur memenuhi liang senggamanya. Sebagian cairan nikmatnya pun keluar membasahi pangkal pahanya dan matras yang kupakai sebagai alas.
Batang kontolku yang berada dalam liang senggamanya pun terasa direndam dengan cairan memeknya yang hangat. Bersamaan dengan itu pun, kurasakan kontolku akan berejakulasi dan, “Ahhh…” lenguhku nikmat. Liang senggamanya pun dipenuhi campuran antara cairan spermaku dan cairan memek. Kucabut kontolku, dan kulihat Andria menghampiri Eva yang ambruk ke samping, menarik tubuhnya, dan memeluknya untuk menenangkannya. Kulihat juga Eva menangis tersedu-sedu dalam pelukan Andria, kacamata yang masih dipakainya itu pun ikut basah karena air mata. Sepertinya ia menyesal karena sempat terjebak dalam perangkap seks ini, bahkan iapun ikut menikmatinya juga. Kulihat pula wajah Andria yang menatap ke arahku seolah dipenuhi nafsu untuk membunuhku, dan juga bagaimana Andria akhirnya memakaikan lagi pakaian Eva untuknya.

jilbab sexy hot - ayu (9)
Sejak itu hidup Eva sepertinya berubah dari seorang gadis alim serta bertampang cerdas dan manis yang berjilbab dan berkacamata hingga menjadi budak seksku yang binal. Bahkan pada akhirnya kudengar ia jadi bispak papan atas di wilayah dekat sekolahnya. Evalah, bukan Andria, yang pada akhirnya kugunakan untuk menjebak Nisbel, salah seorang yuniornya, di laboratorium kimia bekas sekolahku, serta Dinda, teman seangkatan Eva yang tidak kalah manisnya dengan Eva.

MBAK IDA

Gan perkenalin ane Ian sekarang ane kerja di kota terbesar kedua di Jatim (you know lah..), ini cerita ane beberapa tahun lalu. Waktu itu ane lagi magang di Jakarta selama disini ane tinggal di rumah om ane. Tapi lebaran ne ane ndak bisa pulang coz mahalnya tiket pp n banyaknya kerjaan.

akademi perawat bugil - uthipoenya (4)

nah, dirumah om ane ne ada anak yang ngekos sebut saja namanya mbak Ida. Dia uda dianggap keluarga sendiri jadi uda dipercaya ma keluarga om ane. Ida ne kerja di rumah sakit deket sini sebagai suster. dia juga ndak bisa pulang coz dia g dapet cuti.. anaknya sih lumayan imut, item manis (kesukaan ane ne). tapi badannya lebih kecil daripada ane tapi toketnya ukuran 34b ma bokongnya juga lumayan montok. Selama di rumah dia tetep pakai jilbab walaupun Cuma pake kaos lengan pendek sama celana panjang. Pernah dia make kaos ketat n clana training, maaak bikin ane selalu curi2 pandang ke dia.
well selama ane disini ane uda mulai akrab ma dia n dia uda anggep ane adiknya (katanya dia sih gitu, emang sih dia lebih tua 3 tahun) jadi kita sering bencanda2 gitu.. awalnya sih cuma bcanda biasa tapi akhir2 ne dia mulai berani nyentuh2 ane duluan mulai nggenggam tangan ane sampe mbelai kepala ane. nah beberapa waktu kemaren ane iseng ne tidur di pundaknya trus turun di pangkuannya dia, eh dia ngebiarin n malah mbelai2 rambut ane.. pokoknya manjain ane banget dah gan cowok mana tu yang g seneng?? otomatis ane jadi mikir yang aneh-aneh juga
nah lebaran pasti identik dengan mudik g terkecuali om ane sekeluarga bakal mudik so ane bakal beduaan ma dia dirumah om ane.. Wah kesempatan banget ne pikirku..
setelah beberapa hari setelah lebaran ane ajak aja si Ida buat jalan2 ke mall makan malam bareng sekalian nonton dan dia ngeiyain. Kebetulan besok dia dapet shift pagi, jadi sorenya jadwa dia kosong. Ane jemput dia pake motor V-xion kesayangan ane. Sampai di RS ane sms dia
“mbak, aku di depan”

akademi perawat bugil - uthipoenya (3)
G lama dia bales “ok, langsung berangkat ne?”“iya, males kalau balik ke rumah”
5 menit setelah itu dia keluar, tapi dia da ganti baju. Memang sih biasanya dia berangkat pakai baju bebas tapi di kantor dia ganti baju seragamnya yang putih2 itu. Hari itu dia pakai jilbab putih, kaos lengan panjang lumayan ketat, n clana jins. Hmmm sopan, tapi ******
Waktu mau naik dia ngrasa kesulitan, otomatis ane langsung sodorin tangan ane buat pegangannya dia. Mulus gan tangannya.. langsung kita cabut ke salah satu mall, makan bareng di resto fastfood jepang. Trus nonton, waktu itu genre filmnya drama-action cukup lah buat curi2 kesempatan. Dia emang ga bawa jaket so ane tawarin buat ngasih jaket ane dia mau.. dapet bonus gan, dia meluk lengan ane trus nyenderin kepalanya ke pundak ane. Hmmm lengan ane nempel ke dadanya gan. Huft clana ane langsung sempit ne..
Perawat Berjilbab Imut Anak Kost Om Ku
Pulang dari mall kita langsung pulang coz takut kemaleman. Nyampe rumah jam 9 ane langsung rebahan di sofa depan TV. Ida pun protes “iiih jorok, ayo mandi dulu adekq cayaang.” Ane heran juga dipanggil gitu, ane pun ngelunjak “g mau ah, males.” “ayo mandi.. aku mandiin loh.” “ah, mbak jangan becanda ah.” Batinku bilang mulai nakal ni orang. “yauda sih.. mbak mandi dulu ya, ntar klo aku da mandi gantian.” Dia pun langsung ke kamar, ambil peralatan mandi trus ke kamar mandi. Pikiranku langsung melayang mikirin gimana kulit sawo matangnya mengkilat terkena air. Ah, bangun lagi kan si otong.. yauda lah ane buat tidur aja daripada mupeng tapi g bisa disalurin hasratnya. Mana acara di TV g ada yang menarik.
Ane pun tertidur di sofa. Bangun2 ane liat di jam dinding uda jam 11 malem ne, tapi ane ngrasa ada seseorang di sebelahku. Mbak Ida ikutan nimbrung, dia bilang lagi g bisa tidur n lagi bete. Malem itu dia pakai jilbab pendek hitam, n baju tidur warna kuning. Tiba2 dia bilang ”Ian, boleh pinjem tangannya g?” aq jawab ”buat apa?” ”gpp biar tenang dikit” wah pikiranku mulai macem2 neh ”ywda pegang aja. Tapi di karpet yuk biar aq bisa tiduran” dia pun setuju
aq pura-pura tidur di samping kanannya. Nah waktu pura-pura tidur ane miringin badan ane trus meluk pinggangnya dari belakang pke tangan kanan ane. Tapi dia diem aja sambil tetep genggam tangan kiri ane pke tangan kanannya n tangan kirinya belai-belai rambutku. 5 menit kemudian aq melek trus ane tanya ”emang masalah apa sih?” ” gpp g usah dibahas ya,, btw tadi kamu meluk aku loh,, kamu kira aku guling? Nakal ya” ujarnya sambil nyubit tanganku. Ane pura2 ngrasa bersalah ”ah masa sih? Ya maaf klo kamu g suka” ” gpp kk, aku jadi lebih tenang” jawabnya sambil tersenyum.
Wah ada kesempatan nih pikirku. ”Aku isengin lagi ah” ujarku dalam hati. ”ywda mau ku peluk lagi?” ”emm gimana ya.. Iy deh”
wuih kesempatan emas neh. Lalu ane duduk dibelakangnya trus meluk dia dari belakang sambil ngajak dia ngobrol. Uda hampir setengah jam ane diposisi gini. Mulai bosen ane iseng masukin tangan ke bajunya jadi tangan kanan ane meluk langsung ke kulit perutnya yang mulus itu dia diem aja, tangan kiriku pun g mau ketinggalan kasih serangan ngelus2 pahanya. Ane rasa nafasnya mulai g teratur. Lalu ane bilang ke dia, “mbak kamu sayang aku g?” “iya ian.. mbak sayang kamu, selama ne mbak ngrasa punya seseorang yang bisa ngelindungin mbak…” ane langsung ngelus2 pipinya trus nyium pipinya, dia diem aja. Ane coba langsung ngecup bibirnya, dia awalnya diem tapi akhirnya dia membalas.

akademi perawat bugil - uthipoenya (2)
Tanganku kananku mulai naik ngelus2 dada 34b nya yang masih tertutup BH dan yang kiri tetep mbelai pahanya n semakin dekat ke mrs. V nya. “ian.. jangan..” ucapnya lirih menahan nafsu. “mbak, jujur aku slama ne slalu terbayang sama dadamu ini. boleh kan aku nyentuh sebentar.. aja” “emmmf terserah kamu sayang..” tangang langsung masuk ke dalam BH nya, “kenyal banget sih..” dia Cuma bisa melenguh saat aku putar2 dada kanannya. Ku buka BH nya pakai tangan kiriku, tess langsung ku putar2 kedua payudaranya pakai kedua tanganku. Dia menggelinjang seperti tersengat oleh listrik watt saat tangan ane terus meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara mbak ida dengan jariku. lalu aq tarik badannya agar bersandar di dadaku lalu aku menciumi bukit indah itu, lidahku mengulum dan menggigit kecil puting susu Ida yang masih berwarna coklat tua itu. “enak mbak??” “enak sayaang.. teruuus”
Lalu tangan kiriku langsung mengusap mrs. Vnya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya aku tak sabar dan segera memasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya dan memainkan permukaan mrs. Vnya. Dia langsung menjambak rambutku, tak ku hiraukan, aku menikmati reaksinya yang menggelinjang hebat. Aku semakin liar menciumi payudaranya.. jariku mulai memasuki liang vaginanya.
“aaaah.. iaaaan emmmmmf” Ida semakin liar dan jilbabnya pun berantakan. Tangan ane g merasakan ada halangan apapun. “mbak, kamu da pernah ML ya?” “emmmf iya ian, sama mantan mbak waktu sma. Sudah lama banget mbak g ngrasain kenikmatan ini.” ah tak masalah dia g perawan, yang penting dapet.. “kamu juga uda pernah ya ian?” “iya mbak.” “pantes pinter bangeet.. emmf terus ian…” ucapnya memohon.
Perawat Berjilbab Imut Anak Kost Om Ku
Aku pun mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, ane melakukannya dengan lembut sambil sesekali mengulum bibirnya dan dadanya bergantian. “argh …. ian.” kata Ida terbata-bata. Ia lalu mulai meraba2 isi celanaku dan bergerak ke sisi kanan dengan tetap membiarkan tanganku mengobok2 mrs. Vnya. Dikeluarkanlah si otong yang uda on banget dan mulai mengelus2nya. Kepala si otong uda mulai keluar cairan pelumasnya lalu dikocoknya dengan tangannya yang lembut. Ukuran panjang otongku normal sih.. 13 cm dengan tebal 4 cm. “ian, gede juga ya kontolmu.” Ia lalu mengocoknya perlahan sesekali diemutnya. “aaaaaahh mbak.. enaaaaak” ida pun tersenyum dan langsung menggarap otongku dengan ganas. Ane g mau kalah dengan makin cepat mengocok Mrs. Vnya.
Lalu dia pun berhenti mengocok otongku. “Ian, masukin kontolmu ya.. plisss mbak kangen pengen ML.” “iya,, g sabaran amat sih say..” jawab ane sambil meremas dadanya. “jilbabmu jangan dilepas ya.” “iya ian..” lalu ane mlorotin celananya dan kini dia Cuma memakai jilbab dan kaosnya yang suda ane singkap ke atas. Meninggalkan pemandangan indah, seorang gadis berjilbab dengan kulit sawo matang terhampar di depan ane. Lalu ane bertumpu dengan lututku dan pelan2 aku menggesek2an si otong ke mrs. Vnya “mmmf gelii” ujar mbak Ida terbata “ahhhh …. pelan2 ian.. mbak uda lama g ML.” “Iya mabk, tahan ya…” jawab Toni penuh perhatian.. aku pun pelan2 masukin kepala si otong ke dalam mrs. V mbak Ida. Mrs. V mbak ida rapet banget gan mungkin karena dia da lama g maen sama cowok kali ya.. “emmmmf… memekk mu rapet banget sih mbak…..” sambil pelan2 ane masukin si otong ke dalam liang kenikmatan itu.

akademi perawat bugil - uthipoenya (1)
“arghhh… ian…” Ida mendesis pelan sambil memejamkan matanya menahan rasa nikmat itu. Ane diemin dulu aja, biar dia nikmati rasa yang sudah lama g dia rasain. Lalu ane pelan2 gerakin pinggul ane, maju mundur semakin lama semakin cepat. Sesekali aku sodok sampai mentok “ah ah ah iiaaaan… mmmf sssh..” “enak mbak?” “enaaak bangeet” jawabnya terbata2 mrs. Vnya pun semakin becek.. mbak Ida pun akhirnya ikut menggerakkan pinggulnya.
Setelah 10 menit ane Bosan gaya ini, ane angkat kakinya dan ane letakkan di pundak ane supaya sodokanku bisa lebih dalam. Terbukti mbak ida makin liar mendesah. “aaaahh.. iaaan nikmat yaan..” 10 menit kemudian rasanya aku mau mencapai puncak kenikmatan “mbak, kayaknya aku da mau keluar ini..” “yauda keluarin aja yan.. mbak juga da mau kluar ne.. kluarin didalem aja.. mbak kemaren baru selesai dapet kok.. jadi gpp.. ahhh…”
Benar saja tak lama ane n mbak ida mencapai puncaknya “ian…. aku mau keluar.. geli bangeeeett aaaahhhhhghh.. “ teriak mbak Ida lalu badan mbak Ida kejang, dan aku pun mengeluarkan semburan spermaku ke dalam liang kenikmatan itu “arghhhh…..”
Hah.. hah.. hah.. kami berdua sama2 ngos2an setelah bertempur.. benar2 kenikmatan yang tiada tara. Lalu aku pun mengajak mbak ida untuk tidur berdua di kamarku, sama2 telanjang tapi aku suruh dia agar ga melepaskan jilbabnya. Esoknya kami ga kemana2 , mandi, makan, tidur2an kami lakukan berdua tanpa pakaian, hanya dia yang menggunakan jilbabnya. Benar2 pengalaman yang gila dan tak terlupakan. Kini aku kembali ke Jatim dan bekerja disini sementara dia masih di Jakarta. Kami pun masih berhubungan baik sampai sekarang dan setiap aku ke jakarta pasti aku sempatkan memuaskan nafsu birahiku dengannya..

NYAI SITI : ASTRI

Hari masih sangat pagi ketika Dewo melangkahkan kaki menyusuri jalanan kampung yang mulai ada aktivitas. Beberapa orang menyapanya; mulai dari para petani yang akan berangkat ke sawah, hingga ibu-ibu genit yang sudah pernah merasakan kontol panjang si Dewo. Ya, sejak bisa menguasai Nyai Siti, Wiwik, dan Rohmah, Dewo bisa meniduri semua wanita yang ia inginkan. Tentunya dengan bantuan mereka bertiga.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (25)
Dan kini, setelah 3 bulan berlalu, hampir separuh wanita di kampung ini pernah dientotinya. Karena terkena pelet Dewo, mereka rela memberikan mulut, memek dan anusnya untuk dientot oleh laki-laki tua itu. Tidak cuma ibu-ibu, Dewo juga mengincar anak gadis dan cewek-cewek yang masih perawan, meski untuk mendapatkannya harus sedikit sulit karena ilmu peletnya harus ia gandakan berkali-kali lipat. Sangat menguras tenaga, namun hasilnya sungguh setimpal. Dewo merasa lebih muda sepuluh tahun kalau sehabis meniduri gadis perawan!
hijaber seksi - ayyun azzuyin (24)
“Mau kemana Pak Dewo?” tanya Nuning, istri si Jamil juragan tahu.
Dewo tersenyum pada wanita itu. “Cuma jalan-jalan aja.” jawabnya sambil tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang hitam dan tak rata.
Nuning mengerling genit, “Nggak mampir dulu? Tahu saya enak lho, sudah dari tadi malem saya angetin.” tawarnya nakal.
Dewo hanya mengangguk saja menanggapinya. Nuning memang adalah salah satu korbannya. Ia sudah menidurinya dua kali. Yang pertama atas bantuan Nyai Siti, sedang yang kedua saat ada pengajian di Musholla. Dewo yang disuruh untuk mengambil kue di rumah Nuning, memanfaatkannya untuk mencicipi sebentar wanita yang masih kelihatan cantik meski sudah punya dua anak itu, sebelum kembali ke Musholla tak lama kemudian. Tidak ada yang curiga.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (23)
Dan Nuning sendiri tampak ketagihan, sejak saat itu ia selalu merayu Dewo dan mencari-cari kesempatan agar bisa berdua saja dengan laki-laki tua itu untuk mengulangi lagi perbuatan mereka. Sayang kesempatan itu tidak pernah tiba. Yang ada Dewo malah mendapatkan wanita lain untuk menyalurkan hasratnya yang menggebu-gebu. Nuning harus sekuat tenaga menahan nafsunya. Dan hari ini, kembali ia harus menelan ludah karena Dewo terus berlalu tanpa sedikit pun berniat mampir di tempatnya.
Dewo meneruskan langkah. Di depan, ada sekumpulan gadis berseragam SMA yang akan berangkat sekolah. Dewo segera menyapa mereka. “Pada mau sekolah nih?” tanyanya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (22)
Mereka tersenyum, salah satu diantaranya menjawab. “Iya, Paman.”
Dewo mengenalinya sebagai Rizka, anak Pak RW. Ia juga sudah menikmati tubuh gadis itu, bahkan diantara tiga anak yang ada disana, Dewo sudah mengentoti 2 orang. Tinggal satu yang belum, dan Dewo yakin bisa mendapatkannya dalam waktu dekat dengan bantuan dari Wiwik tentunya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (21)
Dewo melanjutkan langkah. Tujuannya sudah semakin dekat sekarang. Di belokan ujung kampung, beberapa orang kembali menyapanya. Disana Dewo sedikit mengerjapkan mata saat melihat sesosok perempuan yang sangat cantik. Dewo mengenalnya sebagai Salamah, anak Haji Tohir, yang sebentar lagi akan segera menikah. Dewo sudah lama mengincarnya, namun tidak pernah bisa mendapatkannya. Kalau perawannya gagal, saat sudah menikah juga boleh. Yang penting ia bisa menikmati tubuh sintal gadis itu.
Dewo menganggukkan kepala, yang dibalas Salamah dengan cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Gadis itu risih dengan tatapan mata si Dewo yang seperti menelanjanginya. Kalau Salamah risih, beda dengan Nurul, kakak iparnya, yang langsung saja tersenyum melihat kedatangan Dewo.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (20)
“Mau kemana, Paman?” tanya ibu muda beranak satu tersebut. Ya, benar, Nurul memang sudah takluk kepada Dewo. Mereka sudah tidur berdua berkali-kali. Bahkan Nurul yang saat ini hamil 2 minggu, kemungkinan besar mengandung anak si Dewo.
Dewo hanya menyahut seperlunya, ia lagi males dengan wanita itu. Hamil muda membuat Nurul jadi tidak bisa dipakai. Dewo sudah punya incaran lain, wanita yang tidak kalah cantik dan seksi, yang bersedia melakukan apapun demi bisa mendapatkan sepongan di mulut, memek dan anusnya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (19)
Langkah Dewo memelan di depan sebuah rumah. Pintunya tampak terbuka sedikit, menampakkan bagian dalamnya yang mungil dan sederhana. Dewo segera berbelok kesana. Ia memutar langkah ke belakang saat dilihatnya seorang laki-laki sedang asyik merokok di bawah pohon jambu. Itulah Kang Hamdi, salah satu teman akrab Kyai Kholil. Bukan laki-laki itu yang ingin ditemui oleh Dewo, tapi Astri, istrinya yang cantik dan seksi.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (17)
Pertama kali menjumpai Astri, Dewo langsung tertarik padanya. Selain cantik, Astri juga sangat pemalu dan pendiam, tipe yang sangat disukai oleh Dewo karena bisa bikin penasaran. Beberapa kali ia mencoba merayu wanita itu saat Astri bertamu ke rumah Kyai Kholil, tapi tidak pernah berhasil. Kalau bukan karena Kyai Kholil yang tiba-tiba muncul, pasti karena Kang Hamdi yang buru-buru ngajak pulang. Pendeknya, Dewo jadi makin mupeng dan makin penasaran dibuatnya. Hingga akhirnya, ia menemukan suatu cara.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (18)
Saat membuka-buka kitab lama warisan sang guru, Dewo tak sengaja membaca sebuah pelet ‘khusus’. Disebut khusus karena yang dipelet adalah laki-laki agar mau menyerahkan istrinya. Dewo langsung mencobanya pada Kyai Kholil, dan berhasil!
Buktinya malam kemarin, saat Kyai Kholil baru pulang dari sholat isya di musholla, ia segera menjebak laki-laki itu agar mau diajak ke dapur. Disana Dewo memberikan secangkir kopi yang sudah dimasuki pelet. Hasilnya; Kyai Kholil sama sekali tidak marah saat Dewo mengentoti Nyai Siti tepat di depannya. Malah yang ada, laki-laki itu ikut terangsang dan turut menggoyang tubuh sintal Nyai Siti setelah Dewo selesai.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (16)
Nyai Siti sendiri tampak tersenyum gembira dan bahagia. Impiannya untuk bebas main dengan Dewo kapanpun dan dimanapun akhirnya terwujud. Ia kini tidak takut lagi dimarahi oleh sang suami. Wiwik dan Rohmah yang melihat semua itu, pelan-pelan ikut bergabung. Jadilah di malam yang gelap tanpa bintang itu, Kyai Kholil sekeluarga nge-seks bareng, dengan dipimpin dan diatur oleh Dewo.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (14)
Kyai Kholil bergantian menyetubuhi Wiwik dan Nyai Siti, sedangkan kepada Rohmah ia masih sungkan, mengingat kalau gadis ini adalah anak kandungnya sendiri. Padahal kalau seandainya Kyai Kholil meminta, Rohmah akan dengan senang hati memberikan tubuhnya. Pelet maut Dewo membuat pikiran gadis muda ini jadi tumpul, tidak bisa membedakan lagi mana yang benar dan yang salah. Yang ada cuma hasrat birahi menggebu-gebu yang harus dituntaskan saat itu juga.
“Mulai sekarang, setiap bikin kopi buat suamimu, pake gula yang ada di kaleng ini. Kalau gulanya habis, bilang padaku, nanti akan aku kasih lagi.” kata Dewo pada Nyai Siti yang tergolek pasrah di bawah tubuhnya. “Dengan begitu, kita bisa terus bebas melakukan apa saja di rumah ini.” tambahnya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (15)
Nyai Siti mengangguk mengiyakan, ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar mengucapkan sesuatu. Di sebelah mereka, Rohmah sudah tampak tertidur pulas. Sementara agak sedikit lebih jauh, terlihat tubuh molek Wiwik yang meringkuk lemah di dalam pelukan Kyai Kholil.
Begitulah, saat pagi tiba, Dewo bergegas pergi ke rumah Kang Hamdi. Ia yakin, dengan pelet ini ia bisa mendapatkan tubuh molek Astri. Kang Hamdi segera menoleh dan tersenyum kepadanya saat melihat Dewo berjalan mendekat.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (13)
“Tumben nih, ada perlu apa sampai membuat Pak Dewo datang kemari?” tanya Kang Hamdi.
“Nggak ada apa-apa. Saya cuma jalan-jalan, dan kebetulan lihat kamu lagi sendirian. Emang nggak boleh ngajak ngobrol?” tanya Dewo berkilah.
Kang Hamdi tersenyum. “Boleh, tentu saja boleh. Sini, Pak Dewo, duduk sini.” Dia mempersilahkan Dewo untuk duduk. Kang Hamdi sama sekali tidak tahu, itu adalah kesalahan terbesarnya hari ini.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (12)
Dewo pun duduk dan mulai mengajak laki-laki itu untuk ngobrol. Mereka berbincang-bincang mulai dari masalah tanaman hingga cuaca. Sambil ngobrol, Dewo menawari Kang Hamdi rokok. Yang tentu saja bukan sembarang rokok, sudah ada ‘pelet khusus’ di dalamnya. Kang Hamdi mengambil satu dan mulai menghisapnya. Dewo tertawa puas dalam hati.
Mereka melanjutkan obrolan sampai mentari mulai merangkak naik menerangi bumi. Dari dalam rumah, terdengar kesibukan Astri yang lagi memasak di dapur. Dewo tidak bisa melihatnya, tapi ia bisa membayangkan bagaimana rupa perempuan cantik itu. Dalam pikirannya, Dewo menebak kalau Astri mengenakan baju panjang dan jilbab lebar seperti biasanya, yang makin menambah kecantikan, juga kemontokan tubuhnya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (11)
Dewo melirik ke samping, dilihatnya Kang Hamdi mulai tidak fokus. Pelet Dewo sudah mulai bekerja mempengaruhi pikirannya. Dewo mencoba bertanya untuk mengetes, “Istri Akang cantik ya, siapa namanya?”
“Astri,” jawab Kang Hamdi tenang, seharusnya ia curiga dengan pertanyaan seperti itu.
“Saya selalu ngaceng lho kalau lihat istri Akang.” kata Dewo lagi.
Kang Hamdi menatapnya, tetap tidak marah. Tidak ada sedikit pun emosi di dalam wajahnya. “Saya juga, karena itu tiap malam dia saya entoti. Tapi saya selalu kalah, selalu muncrat duluan.”
hijaber seksi - ayyun azzuyin (10)
Dewo tertawa. “Mau aku bantu? Saya bisa lho bikin dia puas…”
Kang Hamdi mengangguk. “Hm, gimana ya… kalau saya sih nggak masalah, tapi nggak tahu kalau istri saya.” Ini dia jawaban orang yang sudah kena pelet si Dewo.
Dewo tertawa samar. “Ah, itu gampang. Serahkan itu sama saya. Sekarang dimana istrimu?” tanyanya tak sabar.
Kang Hamdi menunjuk pintu dapur yang terbuka lebar. “Dia di dalam, coba Pak Dewo cari ke dalam.” jawabnya tanpa rasa berat sedikitpun.
Dewo segera beranjak, tapi sebelum pergi ia sempat berpesan, “Akang tunggu disini, jaga pintu ini. Kalau ada orang datang, Akang harus menghalangi orang itu masuk ke dalam. Dengan begitu aku bisa total memuaskan istrimu. Gimana, Akang sanggup?”
Kang Hamdi dengan tanpa membantah mengangguk mengiyakan, tingkahnya persis seperti boneka penguin di pasar malam yang bisanya cuma menganguk-angguk.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (9)
Dewo masuk ke dalam rumah. Di dapur, ia tidak menemukan keberadaan Astri. Tapi didengarnya ada suara dari arah kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Dewo segera pergi kesana. Dibukanya ganggang pintu kamar yang tidak terkunci dengan cepat, pemandangan vulgar yang sangat segar dan indah langsung tersaji di depannya. Disana, tanpa tertutup oleh sehelai benangpun, tampak Astri yang sedang membasuh tubuh sintalnya. Ia tepat menghadap ke arah pintu, hingga kontan saja perempuan itu menjerit-jerit kaget saat melihat Dewo yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Astri berusaha menutupi tubuhnya, namun tidak bisa semuanya.
“Pak Dewo! Apa yang bapak lakukan disini?! Keluar! Cepat tutup pintunya kembali!“ teriak Astri sambil menarik handuknya yang tersampir.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (8)
Kontol Dewo langsung ngaceng bak gagang cangkul melihat semua itu. Kesintalan tubuh Astri benar-benar luar biasa indahnya. Dewo terus memandanginya sepuas hati sambil tersenyum. Astri yang ketakutan kini meringkuk ke pojokan kamar mandi, ia terus berusaha menutupi tubuhnya meski tidak pernah berhasil karena begitu kecilnya handuk yang ia pakai.
Dewo yang sudah tidak tahan, segera melucuti pakaiannya dengan cepat. Tak lama, ia sudah telanjang bulat seperti Astri. Dilihatnya istri Kang Hamdi itu makin terkaget-kaget menyaksikan aksinya.
“Akang! Tolong! Tolong aku!“ teriak Astri pada sang suami, yang tentu saja sia-sia. Suaranya bahkan lenyap ketika Dewo dengan paksa menarik handuk yang ia pegang dan ganti menggunakan kain itu untuk membekap mulutnya agar tidak lagi menjerit-jerit.
“Tenang, Mbak Astri.“ bisik Dewo sambil mendekap tubuh montok Astri erat, ia memeluknya dengan begitu mesra dan mulai meraba bagian buah dadanya yang sintal dan padat.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (7)
Astri berontak dengan kuat, namun tentu saja ia tidak berdaya melawan Dewo yang kadung diburu nafsu. “Tolong! Lepaskan aku!” hibanya saat sudah tidak bisa meronta lagi.
“Kamu seksi sekali, Mbak…“ bisik Dewo lagi, lalu dengan gemas merangsang Astri dengan mengarahkan tangannya ke belahan vagina perempuan cantik itu.
Astri melonjak ketakutan saat Dewo mulai mengusap-usap selangkangannya yang penuh dengan rambut itu, ia kembali berusaha untuk memberontak. Namun setelah dirasa percuma dan sia-sia, lama-lama ia menjadi pasrah. Anehnya ia tidak menangis, tapi tangannya masih berusaha mencakar-cakar tubuh Dewo. Dewo membalas dengan meremas buah dada Astri kuat-kuat hingga membuat istri Kang Hamdi itu menjerit kesakitan.
“Auw! Hentikan, Pak Dewo! Sakit!” teriak Astri menghiba.
“Aku pengin ngentot denganmu, Mbak Astri sayang!“ kata Dewo dengan vulgar, membuat Astri sampai mendelik. Apalagi sekarang kontol Dewo sudah menempel ketat di bongkahan pantatnya, membuat Astri semakin melotot saja jadinya. Tapi di lain pihak, perlawanannya malah semakin melemah,  sehingga Dewo dengan berani melepaskan bekapan tangannya.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (6)
“Pak Dewo… jangan! Jangan lakukan! Jangan perkosa saya! Lepaskan! Aku mohon!“ Astri berkata memelas, namun tidak berusaha untuk memberontak, malah bagian pantatnya terlihat semakin menempel ketat di selangkangan Dewo.
Dewo tersenyum gembira, peletnya sudah mulai bekerja sekarang. Tadi sambil merangkul tubuh montok Astri, Dewo memasukkan pengaruhnya. Dan berhasil. Astri kini sudah sepenuhnya takluk dalam kekuasaannya. Meski masih sedikit melawan, itu hanya dorongan sesaat saja. Begitu Dewo makin merapatkan kontolnya, perempuan itupun langsung terdiam.
“Mbak, kita sudah sama-sama telanjang… aku pengin menikmati tubuhmu!” rayu Dewo semakin nakal, ia terus menekan-nekan selangkangannya sambil memberikan ciuman di pipi Astri yang putih mulus.
Astri berusaha menyingkirkan kepalanya agar tidak dicium, namun Dewo terus mengejarnya hingga mendapatkan bibir Astri yang memerah tipis. Dewo langsung melumatnya dengan rakus dan penuh nafsu. Astri berusaha memberontak lagi, namun Dewo menguatkan dekapannya sambil pantatnya mulai bergoyang-goyang, menggesekkan batang kontolnya ke selangkangan perempuan cantik itu. Membuat Astri jadi kembali melotot lebar.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (5)
“Jangan, Pak Dewo! Ampun… ini dosa… tidak boleh! Jangan berbuat kurang ajar… aku ini istri orang… bukan istrimu!“ debat Astri untuk yang terakhir kali.
“Sudahlah, Mbak… sebaiknya nikmati saja!” kata Dewo sambil terus menyerbu bibir Astri dengan rakus.
Setelah tidak ada perlawanan lagi, ia pun memutar tubuh istri Kang Hamdi itu dengan cepat. Dewo mengangkat dan kemudian mendudukkan Astri di atas bak mandi. Astri berusaha untuk turun, namun saat melihat batang Dewo yang sudah ngaceng keras, ia langsung terdiam pasrah. Memang tangannya masih sempat digunakan untuk menutupi mukanya. Namun dari tutupan tangan itu, Dewo bisa melihat kalau celah-celah jari Astri sedikit terbuka, menandakan kalau wanita itu penasaran dan ingin mengintip batang kontol Dewo yang besar panjang!
“Nggak usah malu-malu, Mbak… waktu cuma milik kita berdua saat ini.” kata Dewo sambil berusaha merangsang, ia elus-elus paha Astri yang putih mulus, terasa begitu licin dan halus dalam genggagam tangannya. Begitu juga buah dada perempuan cantik itu. Selain ukurannya yang besar, bentuknya juga sangat bulat dan padat sekali. Rasanya jangan ditanya lagi, sudah dari tadi Dewo tidak berhenti-berhenti memijit dan meremas-remasnya, ia seperti ketagihan oleh bulatan daging kembar itu.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (4)
“Ahh… Pak Dewo… jangan!“ Astri mulai merintih.
Dewo langsung menyerbu bibirnya dengan rakus, ia pancing Astri dengan menjulurkan lidahnya sambil terus meremas-remas buah dadanya. Astri memang tidak membalas, ia masih tetap mengatupkan bibirnya rapat, namun istri Kang Hamdi itu sudah terlihat pasrah, tidak memberontak lagi seperti tadi.
“Ssh… shh… hhh…“ dan tak lama, Astri pun mulai mendesis ketika Dewo  semakin gencar meremas buah dada dan menghujani bibirnya dengan pagutan dan ciuman yang sangat membangkitkan gairah. Pelan-pelan bibirnya mulai terbuka dan menyambut lumatan Dewo. Ia mulai menanggapi walau masih kaku.
Dewo terus mengajaknya untuk saling berpagut mesra, dan kali ini Astri membalas dengan lebih lembut. Dan tak lama, saat Dewo merangsangnya semakin gencar, ia pun terlena. Astri tidak membantah saat Dewo mengangkat dan membopong tubuhnya menuju ke kamar.
“Pak Dewo, kita mau kemana?” tanyanya dengan lemas tak berdaya.
Tidak menjawab, Dewo membawa Astri keluar dari kamar mandi dan membuka sebuah kamar yang ada di dekat dapur dengan kakinya. Rupanya itu kamar tamu, terlihat jarang sekali dipakai. Dewo melemparkan tubuh montok Astri yang masih basah ke atas ranjangnya yang berdebu dan langsung menindihnya. Dewo menghujani perempuan cantik berambut panjang itu dengan pagutan dan rangsangan. Ia remas-remas buah dada Astri dengan dua tangan, sambil mulutnya menjelajah ke daerah yang lain.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (3)
“Uuh… Pak Dewo! Kenapa begini?! Ahh…” sergah Astri sambil menahan kepala Dewo yang ingin menjilati ujung putingnya. Tapi Dewo terus memaksa hingga Astri jadi tak bisa melawan lagi, terpaksa ia relakan dua tonjolan mungil yang sangat sensisif di puncak buah dadanya itu menjadi sasaran mulut Dewo. Astri cuma bisa merintih dan menggigit bibir untuk menahan rasa nikmatnya. Ia sudah tidak melakukan pemberontakan lagi.
Melihat itu, setelah puas menikmati bongkahan payudara Astri, Dewo melorot turun dan menyorongkan kepalanya ke bawah. Tanpa aba-aba, ia langsung menjilati memek Astri yang berambut tebal.
“Pak Dewo, jangan aah… jijik!“ tahan Astri dengan menutupi lubang memeknya memakai tangan, namun Dewo segera menariknya hingga terlepas, lalu pelan-pelan ia kembali menjilati lubang mungil yang terlihat sangat menjanjikan tersebut.
“Auh… jangan, Pak Dewo… aah… aah… ssh… hhh…“ desis Astri sambil menggigit bibirnya semakin keras. Ia terus mendesis tak karuan, tubuhnya menggelinjang kesana-kemari saat Dewo dengan gemas terus menjilat sambil meremas-remas lembut kedua buah dadanya.
Astri sudah tidak meronta lagi, kali ini malah memegang kepala Dewo agar tidak menjauh dari selangkangannya. Ia sampai terpejam merasakan jilatan Dewo yang menusuk semakin nakal mengorek liang surgawinya. Dewo menjilat rakus liang itu dengan lidahnya sampai membuat Astri mendesis dan pelan-pelan tubuhnya merebah pasrah.
“Terus, Pak Dewo…“ kata Astri pada akhirnya, memberi akses bagi Dewo untuk merangsang tubuhnya sepuas-puasnya.
Dewo yang tersenyum senang, terus menyusuri segitiga emas milik Astri dengan lidahnya, ia menghisap-hisap lembut lubang sempit itu hingga membuat Astri makin mendengus terangsang. Meski penuh jembut, tapi belahan memeknya terlihat sungguh rapat, tidak mudah bagi Dewo untuk mencobloskan lidahnya. Perlu perjuangan keras untuk menaklukkan belahan itu. Dewo menghitung, ukuran kontolnya tampak tidak sebanding dengan ukuran memek Astri yang sempit. Namun ia lekas mengesampingkan semua urusan itu, yang penting baginya sekarang adalah bagaimana merangsang birahi Astri agar saat bercinta nanti ia bisa merasa nikmat.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (2)
Astri terus berbaring telentang ketika Dewo menjilati vaginanya dengan posisi membungkuk, “Ssh… shh… auh… aah… ssh… hhh…“ desisnya dengan suara mendesah.
Dewo menyingkap belahan daging yang menutup lubang itu pelan-pelan, ia rasakan ada cairan yang keluar dari lorongnya yang sempit, membuat area terlarang itu kini mulai membasah deras. Dewo kembali menjilat, menyusupkan lidah ke dalam sana sambil tangannya terus memegang dan meremas-remas buah dada Astri dengan lembut, hingga membuat istri Kang Hamdi itu sampai menggeleng-gelengkan karena saking enaknya. Astri memejamkan matanya dengan erat, tampak sangat meresapi setiap juluran lidah dan bibir Dewo yang mengobok-obok liang vaginanya.
“Terus, Pak dewo… aah… j-jangan berhenti… aah… auh… ssh…“ lenguh Astri semakin menggila. Di luar, hari tampak mulai terang menuju siang.
Astri terus menggeliat tak karuan, kakinya bergerak-gerak, kadang ditekuk kadang diluruskan merasakan jilatan Dewo yang semakin lama semakin membuat lubang vaginanya membelah dengan cepat. Penolakannya kini sudah mulai menghilang, matanya tetap terpejam, sementara tangannya meremas sprei kuat sekali.
“Pak Dewo, aah… uuh… enak sekali… sssh… ahh…“ erang Astri semakin tidak karuan, antara penolakan dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Namun ketika sudah dibuai oleh birahi, ia pun lupa akan segalanya; lupa kalo dirinya seharusnya tidak layak melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi dengan pria tua seperti Dewo yang pantas menjadi ayahnya!
Dewo semakin gencar melakukan rangsangan, terlihat Astri semakin lama semakin menikmati jilatannya yang semakin nakal. Badan perempuan itu menggeliat kesana-kemari, sambil kaki kirinya menopang ke punggung Dewo.
“Terus, Pak Dewo… aah… enak… ngg… ahh… a-aku nggak tahan… terus… duh enaknya!“ erang Astri semakin menggila. Nafsu buta akibat pelet Dewo telah menutupi logika dan mata hatinya, yang ada kini hanyalah kepuasan birahi yang harus dituntaskan.
Gelora rangsangan itu datang cepat sekali, mata Astri terbuka, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Dewo yang masih asyik bermain di belahan vaginanya. “Ooh… aah… vaginaku… rasanya… aah… nikmat…“ desis Astri dengan kedua kaki menjepit kepala Dewo kuat-kuat.
hijaber seksi - ayyun azzuyin (1)
Dewo yang tahu kalau memek Astri sudah hampir memuntahkan segala isinya, terus menjilati semakin kuat.  Ia tahan gerakan tubuh Astri yang semakin menggeliat-geliat dengan tangan kiri, sementara yang kanan terus memegang dan meremas-remas bulatan dada perempuan cantik itu. Hingga tak lama, gelombang orgasme yang mereka tunggu-tunggupun datang menghampiri.
Astri langsung melenguh panjang. “Aaauuuwww…!!!“ dengan tubuh menegang dan berkelojotan tak karuan, kepala Astri mendongak ke belakang. Dari liang vaginanya mengucur cairan panas yang sangat banyak, menerpa bibir Dewo. Lidah Dewo terus menjilat, merasakan betapa cairan itu ternyata asam dan sangat amis, namun begitu nikmat. Dewo mengelus-elus paha mulus Astri untuk menunjukkan perhatiannya.
Kemudian Dewo membuka paha perempuan itu agar lebih melebar, sementara Astri masih terpejam rapat menikmati orgasmenya. Dewo maju dan segera meludahi tangannya, lalu ia kocok-kocok batangnya yang sudah menjulang tajam. Astri masih terpejam dengan nafas ngos-ngosan. Dewo mengarahkan batangnya ke vagina Astri yang sudah membuka, lalu pelan- pelan ia tekan memek perempuan cantik itu dengan sekuat tenaga.
“Eh, tunggu… jangan!“ erang Astri membuka matanya, kakinya langsung merapat agar bisa menolak tubuh Dewo supaya tidak lebih maju lagi. Namun terlambat, kontol panjang Dewo sudah keburu mencoblos duluan.
“Aaaaaaaaaaah…“ Astri menjerit kesakitan, ia bangun untuk menahan dada Dewo, sementara matanya tertuju pada lubang mungil di selangkangannya yang kini sudah dipenuhi oleh batang kontol laki-laki tua itu.
Dewo meneruskan tusukannya, kemaluannya kian melesak hingga membuat Astri kembali mengerang kesakitan, “Aaaaah… aduh, sakit…!“ teriaknya dengan mata kembali terpejam.
“Jangan kau tolak kenikmatan yang kuberikan, Mbak Astri yang cantik… kau pantas mendapatkan kontol besarku!“ bisik Dewo membuat Astri membuka matanya, memandang kepadanya dengan sorot sayu.
“Tapi sakit…“ Astri masih mengeluh, namun sudah tidak menolak lagi seperti tadi.
“Sudah terlambat, nikmati saja!” kata Dewo sambil menekan lagi sampai membuat Astri menjerit merasakan kontol besar Dewo yang lebih dalam menyeruak di liang surgawinya.
“Aah… uhh… s-sakit… aah… batangmu…“ erang Astri dengan memegang kepala Dewo yang kembali menyerbu bibirnya.
“Enak kan kontolku, sayang?“ rayu Dewo semakin edan. Astri hanya mengangguk perlahan, nafasnya memburu dengan cepat.
“Siap-siap ya, akan kugenjot dirimu…“ kata Dewo lagi sambil menarik batangnya dan lalu memajukannya perlahan hingga membuat Astri menjerit lagi.
“A-ampun… aah… s-sakit!!!“ lenguh Astri kesakitan karena sempitnya lubang memek miliknya saat menampung batang Dewo yang besar lagi panjang, ia sampai menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Dewo kembali meremas-remas buah dada Astri, ia memainkannya untuk beberapa saat sementara batangnya terus ia tekan agar menusuk lebih dalam lagi. Kini sudah masuk hampir separo, Astri semakin menggigit bibirnya ketika tangannya telentang menggapai-gapai apa saja yang bisa ia raih. Desakan kontol Dewo sudah semakin dalam dan sudah mencapai lebih dari separo, Astri jadi semakin menggeliat dan meronta dibuatnya, ia terlihat begitu kesakitan. Dewo terus memaksa batangnya tenggelam di liang vagina Astri yang sempit dan legit.
“Pak Dewo, aah… pelan-pelan!” Astri kembali merintih, namun terlihat semakin ingin dimasuki lebih dalam lagi. Kakinya mengangkang sangat lebar hingga bagian atas vaginanya semakin menggelembung karena batang Dewo yang semakin tenggelam di liang senggamanya.
“Ooh Pak Dewo… sakit… tapi enak… aah… terus… masukkan batangmu!“ erang Astri dengan membuka matanya.
“Sebut dengan kontol, Lonteku!“ balas Dewo tak mau kalah. ”Ini namanya kontol, bukan batang!“ desaknya sambil kembali meremas-remas buah dada Astri penuh nafsu.
“Ah iya… kontol… ooh… auh… ayo tenggelamkan kontolmu!” sahut Astri menyerah bulat.
Dewo mendesakkan kontolnya lebih dalam lagi hingga tinggal beberapa centi saja yang masih ada di luar. Astri kembali menjerit keras dibuatnya, “Aaaah… a-aduh… kontolmu gede banget, Pak Dewo!“ jeritnya sambil memandang Dewo dengan mata membesar.
“Enak kan?” tanya Dewo saat mulai bergerak memaju-mundurkan pantatnya.
“Iya, aah… enaknya… ayo, Pak Dewo… terus genjot!!“ pekik Astri tak tahan.
“Genjot apanya?” tanya Dewo nakal.
“Aah… uhh… y-ya vaginaku donk!“ sahut Astri dengan tersenyum.
“Itu namanya memek, sayang!“ goda Dewo lagi sambil menggenjot tubuhnya pelan-pelan.
“Aduh… iya… memek… uhh… memekku sakit… tapi enak!!“ sahut Astri  dengan tertawa kemudian.
“Kamu suka?” tanya Dewo lagi.
“Sudah… jangan ngomong terus, ayo genjot memekku dengan lebih cepat!“ ajak Astri, ia sudah menyerah total pada nafsu bejat Dewo.
Dewo memandangnya sejenak. “Ini, rasakan genjotanku!“ katanya kemudian sambil menggenjot tubuhnya lebih cepat lagi. Batangnya mulai lancar keluar-masuk di memek sempit Astri karena perempuan itu membuka belahan kakinya dengan lebih lebar lagi.
“Aah… enak, Pak Dewo… terus… aah… duh enaknya… aku jadi nggak kuat… terus… jangan berhenti…“ erang Astri dengan mata terpejam, ia tampak menikmati sekali batang kontol Dewo yang menyodok-nyodok hingga mentok di bagian terdalam dari liang vaginanya. Namun meski begitu, batang Dewo tetap tidak amblas seluruhnya karena saking panjangnya bagi vagina Astri yang pendek dan dangkal.
Sodokan demi sodokan terus dilakukan oleh Dewo dengan semakin cepat. Astri semakin terlihat tidak tahan; jeritan, lenguhan, erangan, dan desahan serta rintihan semakin lama semakin membuncah dengan liarnya dari mulut perempuan itu. Badannya juga menggeliat-geliat kuat bak cacing kepanasan. Dewo terus menggenjot dengan cepat, tampak memek Astri sudah tidak tahan menghadapi semua serbuan itu.
“Pak Dewo, aah… aku nggak kuat…” teriak Astri yang hendak mencapai orgasmenya. Bola matanya sudah memutih, seolah-olah matanya terbalik. Sementara nafasnya semakin kacau tak beraturan.
Dewo melihat buah dada perempuan cantik itu ikut bergoncang kuat seiring genjotannya yang kini semakin kuat. Dewo terus menusuk dan menghujam dalam-dalam beberapa kali sampai bisa mengantar Astri mencapai orgasmenya tak lama kemudian.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaah…!!!” erang Astri panjang, tubuhnya menegang dan matanya terpejam sangat erat, sementara bibirnya tergigit kuat. Ia berkelojotan tak karuan bagai ikan yang kena setrum.
Dewo segera menghentikan sodokannya, ia peluk tubuh Astri begitu mesra sambil ia remas-remas buah dadanya yang besar. Ia belai kepala Astri yang berambut panjang, sementara di bawah, Dewo merasakan batangnya dijepit kuat oleh vagina Astri dengan sangat luar biasa. Dewo jadi sedikit mengernyit dibuatnya.
“Pak Dewo hebat, kuat banget… padahal sudah tua! Suamiku aja sering kalah main sama aku…“ ujar Astri sambil tersenyum samar.
“Tentu saja! Jangan panggil aku Dewo kalau tidak bisa memuaskanmu!” bangga Dewo.
”Sesuai dengan nama, punya Pak Dewo gede dan dowo!” sahut Astri mesra.
“Jadi enakan mana, kontolku atau kontol suamimu?” tanya Dewo ingin lebih tahu masalah pilihan besar penis itu.
“Ya jelas enak yang gede donk… semakin sesak semakin baik!“ ucap Astri kembali tersenyum.
“Kalo aku kapan-kapan mau ngentotin Mbak Astri lagi, boleh nggak?” tanya Dewo, ingin mengajak Astri untuk lebih jauh lagi mengeksplorasi gairah seksualnya.
“Seharusnya saya yang ngomong gitu…” Astri tertawa ringan. ”tapi nggak papa, saya selalu siap kalau Pak Dewo… duuuh… bapak jangan gerak… memekku jadi sakit lagi!“ Astri mengerang karena Dewo yang tiba-tiba menggeliat di depan pantatnya.
“Kita ganti gaya, Mbak… aku cabut dulu kontolku ya?!“ ajak Dewo, tapi ditahan oleh Astri.
“Aah, kok gitu? Saya masih pengin menjepit kontol Pak Dewo terus… jangan dilepasin!“ rengek Astri dengan mesra, ia tersenyum mesum sekali.
“Iya, nanti aku tancepin lagi.“ Dewo membuat alasan, pelan ia mencabut batangnya yang terasa sesak.
“Auw! Aah… gesekannya… b-bikin… aah… enak!“ erang Astri yang kemudian tertawa dan menghembuskan nafasnya dengan panjang.
Dewo diam sebentar dan berguling ke samping, dilihatnya sebentuk kain biru yang teronggok di sebelah bantal. Melihat Dewo yang tetap diam, Astri segera beraksi dengan langsung menindihnya. Ia memegang batang kontol Dewo dan cepat diarahkan ke arah lubang vaginanya, namun Dewo lekas mencegah. Kontan Astri menjadi heran.
“Kenapa, Pak Dewo?” tanya Astri dengan kesal karena tak sabar ingin memeknya segera dimasuki kontol lagi.
Dewo menarik jilbab yang ada dekat kepalanya dan diberikannya pada perempuan cantik itu. “Aku pengin ngentotin Mbak Astri dengan berjilbab… kamu lebih cantik kalo berjilbab!“
“Hah? Nggak boleh!” sahut Astri cepat.
”Kenapa nggak boleh?” tanya Dewo.
”Pokoknya nggak boleh!” Astri tetap bersikukuh.
“Kalo begitu… nggak aku entotin lagi!“ tolak Dewo dengan mendorong dada Astri menjauh. Astri justru malah melawan agar tubuh telanjang mereka tetap menempel erat. Namun akhirnya, setelah menyadari kalau Dewo serius dengan ancamannya, Astripun mengangguk.
“Baiklah, akan kupakai… tapi awas kalau Pak Dewo nggak bisa muasin aku lagi!“ ucapnya dengan menerima jilbab warna biru itu, lalu cepat dipasangnya dengan tetap menduduki selangkangan Dewo. Tak lama ia sudah selesai. Astri tersenyum, tampak cantik dan anggun dengan jilbabnya. Tapi tidak dengan bagian bawah tubuhnya, malah Astri menyampirkan untaian jilbabnya ke samping agar tidak menutupi tonjolan buah dadanya yang bulat besar, yang sejak dari tadi terus dipegang dan diremas-remas olehsi Dewo.
”Nah, sudah… sekarang masukin kontolmu ya!“ ucap Astri dengan memegangi kontol panjang Dewo.
“Lakukan saja sesukamu, Mbak Astri jalang!“ sambut Dewo yang disambut cubitan tangan Astri di kulit pahanya.
”Pak Dewo jahat… alim-alim begini masak dibilang jalang…” Astri menunjuk jilbabnya, ia sepertinya lupa dengan kondisi tubuhnya yang lain.
Dewo tertawa gembira.
”Sudah ah… aku masukin kontol Pak Dewo sekarang… tahan ya!” ucap Astri sambil menekan pelan, matanya memandang ke arah selangkangannya. “Uuh… besar sekali kontolmu… pantesan bikin memekku jadi sesak begini!“ tambahnya dengan tertawa renyah, kemudian ia meringis keenakan ketika batang si Dewo pelan-pelan mulai menyeruak masuk ke dalam lubang memeknya yang sempit dan memerah itu.
“Aduh… benar-benar enak memekmu, Mbak… nggak salah aku memilihmu…“ erang Dewo yang disambut tawa oleh Astri.
“Hihihi… rasain, ini akibat kalo nyatroni memek milik istri orang!“ ejek Astri sambil dengan gemas menarik pantatnya, kemudian turun lagi.
“Auw!” Dewo melenguh puas. ”Habis aku nggak punya memek sendiri, ya terpaksa nyari memek lain yang bisa aku entoti!“ erangnya semakin tenggelam dalam lautan birahi bersama istri Kang Hamdi ini.
Astri sendiri juga lupa, perjuangannya menjadi istri yang baik dan alim lenyap bersama Dewo. Ia terlibat perzinahan dengan laki-laki tua itu, suatu perselingkuhan yang diawali oleh ilmu pelet, yang ternyata kini sangat dinikmatinya. Gairah seksnya yang tertahan selama 7 tahun pernikahannya dengan Kang Hamdi, kini terlampiaskan sudah.
“Saya boleh kan minta dientoti terus sama Pak Dewo?” ajak Astri dengan tersenyum.
“Selalu, Mbak… aku akan selalu memenuhi keinginan Mbak Astri… akan kuberikan siraman birahi padamu, lonteku sayang!“ jawab Dewo enteng.
“Janji?” tanya Astri minta ketegasan.
“Tentu saja!“ Dewo menjawab singkat.
“Kalo gitu… nih rasain!“ ujar Astri sambil menekan kuat-kuat pinggulnya sehingga batang kontol Dewo melesak sampai separo.
“Aaah!!” rintih Dewo gemas sambil mengelus buah dada Astri yang mulus dan bulat.
”Ayo goyang bareng , Pak Dewo… bantu aku masukin kontolmu ke dalam memekku…“ ajak Astri.
Dewo segera menaikkan pantatnya, sementara Astri menurunkan selangkangannya sehingga alat kelamin saling bertemu dan terus semakin mengisi satu sama lain. Mili demi mili, batang kontol Dewo semakin tenggelam di liang vagina Astri. Astri sampai mendongak ke atas merasakan batang kontol Dewo yang membelah tajam di liang surgawinya.
“Dikit lagi, Pak Dewo… uuh… enak sekali kontolmu… aku bisa ketagihan disetubuhi…“ Astri semakin gemas menarik dan menekan pinggulnya.
“Mau telan spermaku, Mbak?” tawar Dewo yang disambut tawa oleh Astri.
“Siapa takut… bisa awet muda lho itu…” sambutnya. Ia terus menekan, dan…
“Luar biasa, Pak Dewo… kontolmu bisa menusuk sampe dalam sekali. Suamiku aja nggak sanggup lebih dari separoh, kalo nyodok kudu kuat-kuat agar bisa mentok… ini malah masih ada sisa… ahh!” Astri meracau penuh kepuasan.
Dewo pun merasakan hal yang sama, ia semakin tidak tahan dengan memek Astri yang sempit, apalagi kedua kaki Astri kini melebar sehingga Dewo bisa merasakan kuatnya jepitan vagina perempuan cantik itu.
“Sudah, cepat lakukan!” perintah Dewo sambil memegangi pantat Astri yang bulat padat.
“Oke, aku genjot ya?” sahut Astri sama-sama tak tahan. Ia mulai bergerak pelan-pelan.
Dewo pun menyambut gerakan itu dengan memeluk tubuh sintal Astri erat-erat. Tangan kirinya memegang buah dada perempuan cantik itu, sementara yang kanan mengelus dan meremas-remas bulatan pantatnya.
“Ooh, Pak Dewo… enak… kontolmu enak… ssh… ahh…“ erang Astri bak cacing kepanasan, ia terus menunggagi badan kurus Dewo bagai seorang koboi yang menunggangi kudanya. Di selakangannya, batang kontol Dewo terus bergerak keluar-masuk dengan lancar.
“Uuh… aku juga enak, Mbak… memek Mbak enak!“ sambut Dewo sambil terus meremas dan mempermain buah dada Astri yang bulat kenyal.
“Iya, Pak Dewo… ssh… ahh…“ desis Astri dengan mata terpejam rapat.
“Aku nggak tahan, Mbak…“ keluh Dewo sambil tetap bergerak menyodoki vagina Astri yang makin lama kian bertambah cepat.
“Sama… aku juga…” sahut Astri dengan vaginanya terasa semakin menyempit. Ia semakin menggila dengan bergerak semakin cepat.
Dewo pun jadi tidak tahan lagi. Sementara Astri kelojotan melepas orgasmenya, ia ikut menjerit sambil menyemburkan seluruh isi buah pelirnya dengan menyodok dalam-dalam di memek sempit Astri.
Craaat… craaat… craaat… cairan itu menembak dengan keras dan kuat sampai membuat Astri memekik kegelian, “Aah… spermamu… keras nembaknya, Pak Dewo… aah!“ erang Astri dengan suara lenguhan lemah.
Tubuh mereka terkapar dengan nafas hancur, dada mereka bergemuruh. Kontol Dewo melemas namun tidak loyo, masih terasa ngaceng di lorong memek Astri yang kini sudah menjadi sangat-sangat basah.
“Janji ya, mulai sekarang, Pak Dewo kudu rajin ngentotin aku…” pinta Astri dengan manja.
“Asal tetep memakai jilbab.“ sahut Dewo sambil memeluknya, ia elus-elus pelan punggung Astri, kemudian turun ke bawah dan meremas-remas gemas bongkahan pantat perempuan cantik itu.
“Itu bisa diatur.” jawab Astri pendek.
”Dan satu lagi,” Dewo memberi syarat.
”Apa?” Astri bertanya menunggu.
”Aku mau lubangmu yang ini dan yang ini.” Dewo menunjuk anus dan mulut Astri.
Astri mengangguk ringan saja, mengiyakan. ”Terserah Pak Dewo. Semua lubang di tubuhku adalah milikmu.”
Dewo tersenyum. Untuk kedua lubang itu, sebaiknya disimpan untuk cerita di lain waktu. Sudah siang, sudah waktunya Dewo untuk pulang.

MBAK AYU

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (1)

Mbak Ayu dalam keadaan terikat, tangannya diikat di pojok sebuah dangau ditengah sawah. membuat posisi Gadis alim berjilbab itu terlentang dengan kaki terbuka. Ia masih mengenakan gamis cremnya, namun sudah tersibak sampai ke pinggang memperlihatkan celana dalam putihnya. bra berwarna biru muda yang ia pakai juga terlihat, karena jilbabnya sudah disibak kelehernya dan kancing gamisnya dibagian dada sudah dibuka lebar. mata dan mulutnya tertutup erat dengan ikatan sapu tangan. Tubuh Mbak Ayu yang putih mulus meronta-ronta di atas dangau itu seolah menuntut dilepaskan. Suaranya hanya ehmmm…ehmmm… seperti berteriak, tapi tak bisa lepas karena mulutnya tersumbat.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (24)

Gadis berjilbab itu menyesali tindakannya berhenti untuk jajan mie ayam, membiarkan rekan2 pengajiannya berangkat meninggalkannya menuju ke acara mnginap di sebuah desa. Dia sudah merasa curiga dengan tatapan 2 orang pembeli mie ayam tadi, yang menatap tubuhnya yang tertutup gamis dan jilbab namun masih menampakkan kesekalan samar. Ia segera pergi dari kedai mie ayam sepi di sudut desa itu dan bergegas menyusul rekan2nya, namun tak begitu jauh ternyata ban motornya bocor. Terpaksalah gadis cantik lugu berjilbab semester 8 di sebuah kampus itu menuntun motornya. Ketika itu pula tiba2 ada motor datang dan dua orang pria bertopeng itu meringkusnya, menyeretnya ke sebuah dangau sepi di temgah sawah itu, menyumpal mulutnya dengan kain dan matanya.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (23)

Seorang penyerangnya segera membuka bajunya melihat korbannya yang manis dan berjilbab itu sudah tak berdaya. Ia hanya tinggal menggunakan kolor putih, di baliknya nampa penisnya yang mulai menonjol tegang. Dadanya yang bertato tuyul terlihat naik turun menahan nafsu, tidak tahan lagi menikmati tubuh sekal seorang gadis muda berjilbab yang mulus. Si tato tuyul menyeringai sambil lidahnya menjilati bibir sendiri seakan hendak menyantap makanan lezat.

Si tato tuyul segera mendekati Mbak Ayu yang terikat. Ia berlutut di antara kaki Mbak Ayu sambil tanganya mulai mengusapi kaki mulus Mbak Ayu yang masih memakai sepatu dan kaus kaki putih, yeng membuat kaki gadis alim berjilbab itu semakin menggiurkan. Mbak Ayu memberontak meronta-ronta, teriakan tertahan terdengar keras.

“Eit.. eit… percuma mbak… lebih baik mbak nikmati saja, ketimbang melawan ntar malah sakit lho.. he..he..he..,” ejek Si tato tuyul dengan seringai mesumnya.

Si tato tuyul terus meraba Mbak Ayu mulai dari kaki, paha, perut, dan kini tangannya mulai menjalar ke payudara Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu yang masih terbungkus bra. Mbak Ayu terus meronta berusaha melawan, tetapi percuma karena ikatan di tangan dan kakinya sangat kuat menggunakan tali plastik jemuran, semakin kuat ia meronta justru membuatnya semakin sakit pada pergelangannya.

kini tangan Si tato tuyul mencabik paksa bra gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu itu hingga tanggal. Payudara montok Mbak Ayu sampai tergoncang-goncang. Pemandangan itu membuat Si tato tuyul makin bernafsu dan seketika bibirnya mulai menjelajahi payudara Gadis alim berjilbab itu, bergantian, satu dihisap satu diremas-remas.

“Ehmmhhkk… ehmhkkk…jangan!!” Mbak Ayu terus meronta berusaha melawan, tapi Si tato tuyul tak peduli dan terus melakukan aksinya menikmati payudara gadis alim berjilbab itu.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (22)

“Eihh.. tenang aja mbak.. nanti juga wenak..,” kata Si tato tuyul menyeringai seram.

“Waduh.. ini bayi tua lagi netek nih…, cucu mamah gede sih,” kata si penyerang yang lain, yang Nampak memiliki tompel besar di tangannya. Nampak jelas bagaimana lidah Si tato tuyul bermain di putting susu Mbak Ayu, sesekali dihisap dengan keras, lalu dijilati lagi pelan perlahan.terlihat jelas juga bagaimana putting susu Mbak Ayu perlahan-lahan mengeras setelah menerima jilatan dan hisapan Si tato tuyul. Si tangan tompel Nampak belum maju, mungkin karena dia tidak mau mengganggu rekannya sedang menikmati tubuh sang gadis alim berjilbab yang lugu itu.

Sementara itu tangan kiri Si tato tuyul yang mulai menggerayangi CD Mbak Ayu. pinggul Gadis alim berjilbab itu bergerak kencang berusaha menghindari sentuhan Si tato tuyul, namun percuma. Jemari-jemari kekar Si tato tuyul mulai menyusup ke balik CD dan menggelitik klitoris Mbak Ayu, sementara di bagian atas Si tato tuyul makin bergairah menghisapi susu Mbak Ayu. Si tato tuyul bergerak membuka penutup mata Mbak Ayu, lalu ia mencabik CD Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu dan menjilatinya beberapa kali.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (21)

“Ha.. ha.. ha.. sudah kubilang, mbak pasti suka. Ini buktinya cairan memeknya sudah mulai netes. Makanya jangan melawan ya,” Si tato tuyul menghisap celana dalam Mbak Ayu di bagian tengah yang ada bercak basahnya, lalu menghempasnya ke sawah. Gadis alim berjilbab itu melotot marah dan mulutnya yang masih tertutup ikatan sapu tangan mengeluarkan suara tertahan seperti membentak protes.

“Waduh.. si mbak makin galak makin seksi nih.. ayo embat aja kang.., ntar gantian kita..,” Si tangan tompel menyemangati Si tato tuyul.

“Santai aja bleh.. makin galak makin asyik rasanya. Sekarang kita lihat masih galak nggak kalau itilnya diisapin,,”

Si tato tuyul meremas susu Mbak Ayu dan menjawil dagunya, Mbak Ayu semakin marah, lalu ia mengarahkan kepalanya ke selangkangan Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu. Jemari Si tato tuyul membelai-belai vagina Mbak Ayu yang sudah telanjang penuh, sementara Mbak Ayu tetap berusaha melawan dan meronta-ronta. Bibir vagina Gadis alim berjilbab itu direngkah dua jemari Si tato tuyul hingga terbuka, warnanya merah muda dan mulai basah lantaran klitorisnya dimainkan jemari Si tato tuyul.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (20)

“Ini itil namanya frend.. makin digosok, mbak berjillbab ini makin kenikmatan… nggak tahan.. ha ha ha…,”suara Si tato tuyul bergairah. jempolnya menekan dan menguyak klitoris Mbak Ayu.

Bibir Si tato tuyul kemudian mendekat ke vagina Mbak Ayu, lidahnya mulai menjulur menjilati klitorisnya. Telapak tangannya menekan bagian atas vagina Gadis alim berjilbab itu yang ditumbuhi bulu halus tercukur rapi.

“Hmmm.. sedep bener nih mbak. Wangi…nggak ada bau terasinya memeknya nih, ga kaya lonte-lonte di gang itu…he he..” Si tato tuyul kembali menjilati vagina Mbak Ayu, kali ini sambil dihisap-hisap.

Sekejap itu ekspresi Mbak Ayu berubah. Matanya kini terpejam dan mulutnya yang tersumpal masih berusaha teriak, namun tubuhnya sudah lemah tak mampu meronta lagi. Tenaga Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu sudah terkuras karena berusaha melawan ikatan di tangan dan kaki.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (19)

“Ehmmhh.. ehmmmhhpp.,” suara Mbak Ayu melemas juga, rontanya justru menjadi gemulai membuat Si tato tuyul makin nafsu menghisap vaginanya. Jilatan-jilatan lidah Si tato tuyul di vagina Gadis alim berjilbab itu membuat tubuhnya tidak bisa menahan kenikmatan yang baru kali ini ia rasakan. Tubuhnya yang selalu ia jaga dengan baju gamis lebar dan jilbab panjang tidak tahan menerima kenikmatan ini. Ia mulai merasakan kenikmatan yang tak tak terkira, yang selama ini ia menganggapnya dosa yang sangat besar..

“Ehmm.. kenapa mbak? Nikmat ya?,”  Si tangan tompel bertanya sambil menghina mendekati wajah Mbak Ayu. Mbak Ayu melotot sambil berusaha mengangkat kepalanya, ia berusaha berteriak lagi.Si tato tuyul dan Si tangan tompel terus mengerjai gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu.

Si tangan tompel tiba-tiba melepaskan sapu tangan penutup bibir Mbak Ayu. Tapi Gadis alim berjilbab itu justru terpejam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi teriakan.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (18)

“Ayo mbak.. mau marah apa? Mau ngomong apa.. ayo teriak lagi?,” suara Si tangan tompel meledek Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu.

“Ehmm.. jangan… amphuunnn.. amphunnn,” suara Mbak Ayu memelas dengan nafas yang mulai berat dan mulai terangsang. Matanya mulai mencucurkan air mata, namun tubuhnya bergetar hebat tak mampu menakan kenikmatan yang baru kali ini ia rasakan.

“Ampun kenapa mbak..?,” suara Si tangan tompel kembali menggoda.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (17)

“Akhhss.. amphuunnnn… oughhh… mmpphh..,” mata Mbak Ayu kembali terpejam, tubuhnya bergetar seperti menahan birahi yang memuncak. Ternyata di bagian bawah Si tato tuyul terus menjilati vagina Gadis alim berjilbab itu. Kepala Si tato tuyul seakan terbenam di selangkangan Mbak Ayu, Nampak vagina Gadis alim berjilbab itu sudah sangat basah dan cairannya terus dijilati dan dihisap Si tato tuyul. Pinggulnya bergoyang mengikuti irama jilatan Si tato tuyul.

“Oughh.. ampphhhuuunnn… akhhsss..,” suara Mbak Ayu terdengar.

“nah lihat nih.. mbak udah nggak tahan mau dientotin nih..,” kata Si tato tuyul sambil jemarinya membuka bibir vagina Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (16)

vagina Mbak Ayu yang terkuak oleh jemari Si tato tuyul Nampak basah. Terlihat jelas dinding vagina Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu berkedut-kedut dan nampak dibaluri lendir birahinya sendiri. Si tato tuyul masih menahan vagina Mbak Ayu dengan jarinya, lalu Si tato tuyul yang ternyata sudah membuka CDnya segera mengarahkan penisnya yang sudah tegang mengacung mendekati bibir vagina Gadis alim berjilbab itu.

“Eh bro.. aku entotin dulu nih mbak, ntar habis aku selesai, baru kamu.. ha ha..,” Si tato tuyul menyeringai. Si tangan topel hanya bisa menggerutu karma nampaknya si tato tuyul ini lebih senior daripada dia.

Si tato tuyul mengambil posisi tepat di tengah kaki Mbak Ayu, dan perlahan menuntut penisnya ke bibir vagina Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu.

“Amphhuunn.. tolong lepaskan saya.. jangan.. saya masih perawan.. ini dosa paak.. tolong jangan lakukan” Mbak Ayu memelas pasrah, sadar sesaat lagi ia akan disetubuhi oleh pria yang bahkan ia tidak kenal.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (15)

“Nah.. begitu dong.. yang halus.. jangan marah marah kayak tadi hah..!! Ayo sekarang mau apa, mau dilepas?. Rud turuti mbak ini, lepas ikatan kakinya Rud, cepat…,” Si tato tuyul tetap pada posisi siap menindih Mbak Ayu, ujung penisnya sudah menyentuh bibir vagina Gadis alim berjilbab itu yang merekah.

“Akhhss.. jangan pak.. amphun.. jangan..,” Mbak Ayu memelas sejadi-jadinya dengan suara parau saat merasakan benda hangat menempel di bibir vaginanya.

Si tangan tompel segera melepas ikatan di kaki Mbak Ayu. Dari posisi itu nampak jelas penis Si tato tuyul sudah menempel di bibir vagina Gadis alim berjilbab itu.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (14)

“Sudah siap mbaakkhh.. ouh.. akan kuperawani kamu, mbak jilbab lonthekuu.. sudah siap kubawa ke alam nikmathhh.. ahh..,” Si tato tuyul menindih tubuh Mbak Ayu dan memegang kedua pipi Mbak Ayu agar wajah Gadis alim berjilbab itu menghadap ke wajahnya. Pinggulnya mulai ditekan membuat kepala penisnya menembus bibir vagina Mbak Ayu.

“Tahan yah mbakk, agak sakit, tapi nantinya bakal enak deh.. saya ga bakal kasar kok kalo mbak nurut, siap yah..!” sahut Si tato tuyul lalu dia mulai menekan kepala penisnya yang sudah menempel di bibir vagina Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu..

*****************

“Aahh…sakit…!! Oohh…tolong hentikan !” rintih Mbak Ayu menahan sakit sampai tubuhnya menggeliat dan dadanya terangkat hingga makin membusung, keringat mengucur membasahi tubuhnya.

“Sabar yah Non, sabar heheheh..” si tangan tompel sok menenangkannya sambil terkeheh.

“Sempit oi, enak banget bro!” teriak si tato tuyul sambil terus mendorong-dorongkan penisnya ke vagina Mbak Ayu.
Kepala penis yang seperti jamur itu sudah menancap di vagina Mbak Ayu, lalu Si tato tuyul mendorong lebih dalam lagi.
“Aakkhh…aaaahhh !” jerit Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu mengakhiri keperawanannya dengan tubuh makin mengejang.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (13)

“Pheeww…masuk juga akhirnya, asoy banget memek perawan nih !” kata Si tato tuyul sambil menghembuskan nafas panjang.
preman itu membiarkan sebentar penisnya menancap di sana merasakan eratnya himpitan vagina Gadis alim berjilbab itu yang baru sekali ini dimasuki benda itu. Terlihat sedikit darah menetes dari pinggir bibir kemaluannya, darah dari selaput daranya yang dia selama ini sangat dijaga oleh gadis berjilbab itu. Air mata yang meleleh dari matanya semakin banyak, dia merasa dirinya telah begitu kotor, saat itu juga terbayang wajah rekan2nya di pengajian, apakah dirinya yang telah ternoda itu masih pantas ada di pengajian itu,

. Sekarang Si tato tuyul memulai gerakan memompanya.

“Uuuhh…asyik baget memeknyahh.. uhh.. seret bangett.. !” komentar Si tato tuyul sambil terus menggenjot Gadis alim berjilbab itu.
“Ngghhh… amphuunnn.. jangahhnnn…tolong janganhhh… engghhhmmm… ouuhhhhggghhh… akhhhssss,” suara Mbak Ayu yang memekik menjerit dan memelas berubah menjadi desahan tak tertahan saat Si tato tuyul mulai lancar memasukkan penis ke vaginanya dan mulai memompa keluar masuk.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (11)

Sangat terlihat jelas bagaimana tubuh mulus gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu menggelinjang setiap sentakan pinggul Si tato tuyul terjadi. Mbak Ayu mendesah tak karuan ditindih tubuh Si tato tuyul yang kekar. Perawakan Si tato tuyul agak pendek Tapi penis hitam Si tato tuyul jauh lebih panjang, gemuk dan lebih tegar dari tubuhnya. Bibir vagina Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu sampai monyong-monyong didera penis Si tato tuyul. Si tato tuyul menghentak pinggulnya semakin cepat semakin keras.

“Akhhss… ouhhh.. ahhhh… sssttt…ughhh…,” Mbak Ayu terpejam sambil mendesah menahan nikmat, ia tak sadar wajahnya yang bersemu kemerahan karena terangsang . kaki mulus Mbak Ayu kini justru merangkul pinggul Si tato tuyul yang semakin cepat memacunya, nafasnya terdengar keras memburu. Desahan Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu juga makin keras, dan kepalanya bergerak ke kanan-kiri.

“Ougghhh… argghhh… huh… nikmat sekalih tubuhmuuhh  mbak jilbabbhhh… ouhhh.. aaahhhhhkkkk…ouhhh nikhhhmmaaathhhh….,” Si tato tuyul mencabut penisnya dan berlutut di hadapan Mbak Ayu dengan kepala menengadah dan tubuh bergetar, sesaat kemudian penisnya menyemburkan sperma sampai ke perut Gadis alim berjilbab itu. Si tato tuyul mencapai puncaknya.

“Waduh.. akang ini belum apa-apa tuh udah ngecrot kemana-mana maninya.., sini gantian.. biar saya ambil alih memuaskan si mbak” Si tangan tompel memposisikan diri diantara selakangan Lalila yang sudah basah kuyup oleh ludah si tato tuyul dan cairan cinta sang gadis alim berjilbab itu, menggantikan posisi Si tato tuyul.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (10)

Segera  Si tangan tompel sudah bugil menindih tubuh Mbak Ayu. Penis Si tangan tompel sangat kekar, panjang dan besar. Kotak-kotak kekar di perut Si tangan tompel menggambarkan keperkasaan,

“Sudahhh… amphuunnn… jangan lagihh.. amphunnnhhh…,” pinggul Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu bergerak ingin menghindari penis Si tangan tompel yang sudah mengarah ke vaginanya, tapi percuma karena kedua tangannya masih terikat membuat posisinya tertahan terlentang.

“Tenang mbak sayang.. kan masih tanggung tadi.. sekarang saya kasih biar mbak puas..,” Si tangan tompel tiba-tiba menindih Mbak Ayu, ia melumat bibir ranum Mbak Ayu, meremas susunya, dan mulai menggenjot penisnya keluar masuk ke vagina gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu. Mbak Ayu mulai mendesah, gerakan Si tangan tompel membuat ia kembali terangsang hebat setelah puncak klimaksnya hampir sampai bersama Si tato tuyul tadi. Terlihat bagaimana gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu mulai hilang kontrol dan tak menyadari sedang berhubungan intim dengan lelaki lain yang menikmati vaginyanya, yangs elama ini ia anggap sebagai suatu dosa besar. Mbak Ayu terpejam dengan bibir terus dilumat Si tangan tompel, malah Gadis alim berjilbab itu nampak membalas lumatan-lumatan Si tangan tompel, nafas mereka sama-sama memburu bercampur desahan.

“Goyang yang keras bleh.. si mbak dah mau sampai puncak tuh…,” kata Si tato tuyul menyemangati temannya.
Sementara itu Mbak Ayu dan Si tangan tompel terus berpagutan bibir. Si tangan tompel menggocok semakin kencang, kaki Gadis alim berjilbab itu merangkul pinggul Si tangan tompel seolah ingin hantaman yang lebih sempurna di vaginanya.
“Oughh… ghimmana mbak jilbaabbhhh… enakkhhhss…??,” Si tangan tompel melepas pagutannya dan terus menggenjot Mbak Ayu sambil mengeluarkan obrolan nakal.

Nampak ludah mereka saling bertaut ketika bibir mereka berpisah. Mbak Ayu semakin lepas kendali di saat puncak kenikmatan nyaris dirasakannya di bawah himpitan tubuh Si tangan tompel yang kekar.
“Gimana mak jilbabbhh… jawabbbhhh aghhh…,”

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (9)

“Ngghhhmm ahhsss….,” Mbak Ayu mendesis. Si tangan tompel menggenjotnya lebih keras, dan terus meluncurkan pertanyaan mengejek pada Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu.

“Akhhss.. amphunnn… ahhhsss enakhhhmaaass.. sssttt..,”

“Apa mbaakk??? Yang keras bilang…,”

“Ughhh… ssstnnikkhhmmmaatt… ssshhh aaahhh… ihhh…,”

“Enakh digoyanghhh… ayo bilang…,” Si tangan tompel terus memancing Mbak Ayu.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (8)

Mbak Ayu menggelinjang kenikmatan dengan nafas semakin berat memburu. Peluh mereka bercampur menetes,mebasahi gamis Mbak Ayu yang masih terpakau, walau sudah tidak mampu menutup tubuh sekal sang gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu. Mbak Ayu dapat merasakan urat-urat penis Si tangan tompel yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginanya. Vaginanya yang perawan langsung diberi kenikmatan yang tiada tara oleh Benda panjang yang demikian keras dan perkasa itu hingga mampu memabukkanya dalam birahi, sebuah sensasi yang baru kali ini sang gadis alim berjilbab lugu itu rasakan.

“Apanya yang nikmat mbakhh? Apanya hah? Omong yang jelas!”

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (2)

“aahh.. sstthh.. peenniishhh..” desis Mbak Ayu penuh brahi..

“Kontol, gitu! Cepet, bilang!”

“Ssttt.. ahhgg.. konthhh… tholll… assttt  oughhh…,” Mbak Ayu menjawab refleks di luar kendalinya.

“Yahhkk begithuu mbak jilbab aliiimmhh… akhhhsss… nihhhh.. ouh…memekmu juga enakhh loh” Si tangan tompel semakin liar menggenjot Gadis alim berjilbab itu.

Kini kaki kanan Mbak Ayu diangkat ke bahunya lalu dengan posisi itu Mbak Ayu kembali dihajarnya. Ia terus menyetubuhi gadis alim berjilbab itu sambil tangan satunya meremasi payudaranya yang montok.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (7)

“Hajar terus bro!” Si tato tuyul terdengar terus menyemangati temannya.

“mbak jilbab enakhh diapainnn hahh..??,” Si tangan tompel memacu penisnya semakin cepat, ia mulai merasakan kedutan dari dinding vagina Mbak Ayu menandakan Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu hampir klimaks.

Terlihat wajah Mbak Ayu memareah dengan mata yang terpejam, sementara Si tangan tompel menggenjot Mbak Ayu sambil terus bertanya nakal. Si tato tuyul berusaha melepaskan ikatan tangan Mbak Ayu karena mengetahui gadis yang mereka nikmati itu sudah dalam kekuasaan mereka.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (3)

“Aghh.. dihennntoothhinnhh aaakhhsss… ahhh. Amphunnnn uhhh enthooottt… akhhhsss ouhhh.. sssttt enghhhmmm,”desah Gadis alim berjilbab itu.

“Diperkosa ini mbaakk.. enakhss diperkosaaa..??,”

“Yeahhh… akhhsss eeehhhnnn…naaakkhhh.. perkohhssaa…aahhhsss…,” Mbak Ayu menceracau mengukuti pertanyaan Si tangan tompel.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (6)

Tangan Mbak Ayu yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Si tangan tompel tapi justru merangkul leher Si tangan tompel dan meremasi rambut Si tangan tompel dari belakang. Gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu sudah mencapai klimaksnya, suara Mbak Ayu terdengar sangat menggairahkan saat itu. Tanpa sadar penis Rahmat mulai tegang, sungguh tak disangka, gadis alim berjilbab bertubuh sekal menggiurkan itu terlihat begitu menikmati hubungan badan dengan pria yang telah memperkosanya.

“Ayooo.. mbak.. ahhh.. ayohh…,” Si tangan tompel juga hampir mencapai klimaks, secara maksimal tenaganya dipacu menggoyang Mbak Ayu.

Tubuh Mbak Ayu mulai bergetar hebat dan kakinya seperti kejang merangkul pinggul Si tangan tompel yang terus bergoyang di atas tubuhnya.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (6)

“Akkhsss.. ahhhh… ammphuuunnnnhhhh… ssttttt akkhhhsssss…. Mmmmphhhmmmm… emmphhhhpppp,” pertahanan Mbak Ayu akhirnya bobol, tubuhnya seakan kejang, tangannya menarik rambut Si tangan tompel, dan kepalanya terangkat meraih wajah pria itu. Saat klimaksnya membludak, Gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu justru melumat bibir Si tangan tompel, memeluk Si tangan tompel kuat-kuat, melepaskan kedutan-kedutan nikmatnya.

“Akhhh… ouhh.. yeahhh.. yeahhhh… ouhhh… yeaaahhhhh…,” Si tangan tompel melenguh kejang melepas lumatan Mbak Ayu. Si tangan tompel juga mencapai klimaksnya sambil memeluk erat tubuh Mbak Ayu, mereka berpelukan erat dan saling menekan kenikmatan di vital mereka secara bersamaan, lalu lemas beberapa saat kemudian.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (4)

Setelah puas, Si tangan tompel mencabut penisnya. Air sperma Si tangan tompel terhujam di dalam vagina Mbak Ayu perlahan menembus keluar meleles di bibir vagina Mbak Ayu. Si tangan tompel berbaring di sisi Mbak Ayu, sementara Si tato tuyul mengangkangkan kaki Mbak Ayu dan menguak vagina Mbak Ayu dengan tangan kirinya. Terlihat vagina Gadis alim berjilbab yang selalu memakai jilbab dan gamis untuk menjaga dirinya itu masih berkedut-kedut.

Selanjutnya setelah kedua pemerkosa gadis alim berjilbab itu beristirahat sebentar, kedua pria itu mulai lagi menggarap Mbak Ayu yang sudah lemas secara threesome, Si tangan tompel duduk selonjoran sambil bersandar pada sebuah tiang dangau dan memaksa Mbak Ayu mengulum penisnya yang masih berlepotan cairan cinta mbak ayu dan spermanya, sementara dari belakangnya Si tato tuyul menyetubuhinya daalam posisi doggie. Sesekali tangan Si tato tuyul menyibak kembali gamis mbak ayu yang sesekali turun, dan juga menepuk pantat Gadis alim berjilbab itu yang semok itu. Tiap sodokan penisnya mendorong keluar sperma Si tangan tompel meleleh di bibir vagina gadis alim berjilbab yang lugu dan berkulit putih itu.

JILBAB PECUN CROTT - A'IDAH ANBAR HABIBI (5)

Akhirnya mbak ayu yang alim dan berjilbab itu malam itu dibolak balik di dangau itu, diperkosa oleh dua orang prema n itu. Gadis alim berjilbab itu pingsan berkali-kali karena kelelahan setelah orgasme berkali-kali. Jilbab dan gamisnya yang berlepotan sperma dan cairan cintanya menjadi saksi bisu perkosaan itu.

LIA

jilbab smp - ukhti (2)

kenalin namaku lia, umur 15 th, wajah cantik kata temen2ku sih.cerita ini berawal ketika kenakalanku sudah sulit di benahi,akhirnya ortuku pun memasukkan diriku ke pesantren.tapi pesantrennya terkesan keras,ga kaya yang lainnya.awalnya aku ga mau masuk,tapi ortu tetap memaksaku…singkat cerita aku menjadi santriwati di ponpes yang keras itu,kok menurutku malah mengajarkan kekerasan ya?belum lagi ustadz2nya yang keliatan seperti haus sex gitu,terutama yg namanya pak nur.jika beliau melihatku pasti tak mau mengalihkan pandangannya dari susuku. Timbul niat isengku ngerjain pak nur, waktu mau berangkat ngaji,sengaja aku tak memakai bra, hanya ku tutupi dengan jilbab saja.pak nur pun datang, dan segera memulai pelajarannya.setelah beberapa menit menerangkan,pak nur melihatku juga..langsung ku buka jilbab bagian bawahku dg alasan gerah.pak nur pun tk berkedip sdikitpun.liaa kamu sudah paham belum??emm masih agak bngung pak.lngsung pk nur mndekatiku, yg mna lia??ini pak, owh ini smbil tngan pak nur menempel tepat di putingku, tp seolah2 keliatan menempel di buku.sssshhh ahhhhh gelii bangett rasanya, namun diriku tak brani mendesah keras, pak nur masih meneruskan keterangannya sambil terus memilin putingku dari luar bajuku.gmna lia?hu uhhhh pak,aku hanya pura2 paham.anak2,sudah dlu plajarannya, bpk mau ada acara.setelah salam, pak nur memanggilku” lia,ada yang nunggu kamu di rumahku” ayo k sna, iya pak

jilbab smp - ukhti (3)

setelah nyampai rumah pak nur,siapa yang nungggu pak?aku sendiri mmmmmhhh tiba2 bibirku di lumat pak nur.mmmhhhhh ahhh paak,susuku lngsung d rmasnya.rasanya seperti naik ke langit.mmmuuaacchh lidah kmi pun sling berbelit,liaa pegangin kontolku ya,hu uh pak, tanganku segera ku masukkan ke sarung pak nur, wahhh gede banget pak?ia lia,sering aku kocok kok, skarang lia yang ngocokin ya,iya pak, sini masuk ke kamar bpk.pkeanmu d cpot dlu lia,ku cpot semuanya hanya tinggal jilbabku saja,ini kamar apa pak?ini biasanya menjadi tempat untuk merakit bom…owh,sni aku ajarin lia tp smbil kocokin kontolku lho,siap pak. Pak nur pun memulai keterangannya,beliau menerangkan sambil ku kocok kntolnya.owhh liaaa mau kluarr nihh..stop stop stop,npa pak?smbil brhenti tanganku,di taruh tempikmu aja lia,biar ga mubadzir,jngan pak,aku kn msh prawan, jangan bantah ustd! Bentak pak nur, aku langsung gemetar seketika. Plaakk, tamparan mendarat di pipiku.aduwwh pak, cpet nungging!iya pak, owwhhhh anusku seperti de belah, sakiiit paaaak, ampuuun, aww awwwh kocokan pak nur malah semakin cepat,arrgghh pakk pak,aku mendongak ke atas langit2 menahan kesakitan.

jilbab smp - ukhti (1)

Sudahh paaak,,,sakittt awwhh awhh,diem lia plaaak plaaak, susuku di tamparinya. Lia ohhh silitmu enk bngt ahhh ahh aaaakhhhhh croot croot.peju beliau membasahi anusku. enak bnget liaaaa ahh hh. Sudah ya pak,tak terasa air mataku mengalir sendiri. ya udah, pergi sana lia, kalau aku butuh segera kesini! Iya pakkk. Perih dan sulit berjalan karena habis dihajar ustazdku