PENGGALI KUBUR 5

Sambil menunggu kedatangan orang yang sekarang sedang dijemput oleh Zaskia; bersama Inez, Linda, dan bu Martin, kembali aku saling meraba. Kontolku dijilati oleh mereka untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel, membuat benda kebanggaanku itu dengan cepat menjadi ngaceng kembali. Inez tampak menjilati ujungnya yang tumpul, sementara Linda mengocok batangnya yang besar, sedang bu Martin dengan gemas meraba dua kantung bola milikku. Oh, sungguh sangat nikmat sekali diperlakukan seperti itu. Aku merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh para selir.

Kubalas dengan memijit dan meremasi bongkahan payudara mereka secara bergantian, juga meraba dan menggelitik lubang memek ketiga wanita cantik itu secara bergiliran saat aku sudah merasa tak tahan. Bagaimanapun, biarpun sudah cukup lelah, aku jadi bergairah juga kalau terus diserang seperti itu.

”Luar biasa nikmatnya pesta seks ini, Mal.” bisik Inez sambil terus menjilati batang penisku, ia kini melakukannya bergantian dengan bu Martin, sedang Linda masih terus mempermainkan batangku dengan begitu gemasnya.

Tak tahan, istri Mang Kosim itupun segera memberikan tubuh montoknya kepadaku. Usia kandungannya yang sudah jalan 2 bulan membuat badannya jadi sedikit mekar, bikin tambah seksi sih, payudaranya jadi lebih gede sekarang. Kulabuhkan tanganku disana dan kembali kuremas-remas keduanya dengan penuh nafsu.

Linda yang melihatnya jadi ikut kepingin. Bergantian dengan Inez, ia memberikan tonjolan buah dadanya kepadaku, membuatku jadi sedikit geragapan juga mendapat hantaman empat bola empuk yang ukuran dan bentuknya sama-sama menggiurkan itu. Hanya bu Martin yang tidak ikut, wanita paro baya yang masih nampak cantik itu tetap setia mempermainkan batang penisku. Bahkan karena sekarang cuma sendirian, ia jadi begitu bebas menikmatinya. Jadilah bu Martin yang pertama mendapat sodokan kontolku di putaran yang kedua ini.

”Ah, bu Martin! Kok malah duluan sih,” keluh Inez sambil mempermainkan memeknya sendiri.

”Iya, nih. Kan kita yang udah nggak tahan.” dukung Linda.

”Hehe,” Bu Martin cuma tertawa menanggapinya, namun tetap meneruskan genjotan pinggulnya di atas tubuhku. Terasa vaginanya sudah sedikit agak longgar, mungkin karena pengaruh usia, lagian ia juga sudah melahirkan banyak enak. Namun bagaimanapun tetap saja mampu membuatku merintih nikmat.

”Ahh… sudah, sudah.” kataku sambil meremasi gundukan payudara Inez secara bergantian, sedangkan untuk Linda kutusuk-tusuk lubang memeknya. Kedua wanita cantik itupun langsung terdiam untuk menikmati aksiku. Di bawah, bu Martin terus menggoyangkan pinggulnya dengan sedikit heboh, bahkan kini sambil merintih-rintih penuh nikmat.

”Ayo, Mal… beri aku pejuhmu, tumpahkan di memekku!” pintanya dengan liar dan jalang, sudah hilang sosok bu Martin yang lugu dan pendiam di putaran pertama tadi.

Linda dan Inez tertawa mendengarnya, ”Ya nggak mungkin, Bu. Kemal yang sekarang jadi makin kuat, dia kan habis keluar. Satu jam juga oke-oke aja.” kata Linda.

”Betul, Bu. Bisa-bisa ibu yang KO nanti.” dukung Inez.

Aku cuma menanggapi komentar kedua wanita itu dengan anggukan ringan. Memang benar, di putaran kedua, pejuhku jadi makin sulit keluar. Dan sepertinya, para wanita sangat menyukai hal ini. Tak terhitung sudah berapa banyak tetanggaku yang ketagihan karena kemampuanku ini. Aku jadi sangat bersyukur karenanya.

Di atas tubuhku, bu Martin masih terus menggenjot tubuhnya. Tak lama, hanya selisih beberapa menit kemudian, tiba-tiba ia sudah berteriak kencang tanda kalau sudah orgasme. Cairan hangat dan kental terasa mengalir deras membasahi batang kontolku. Kutekan pinggulku dalam-dalam agar bu Martin makin lama menikmati orgasmenya.

Setelah terkejang-kejang sebentar, wanita itupun akhirnya ambruk. Dengan nafas ngos-ngosan, bu Martin kemudian menyingkir. Penisku terlepas begitu saja dari jepitan liang memeknya. Linda yang melihat kontolku menganggur, segera mengambil alih. Lekas ia kulum batangku yang penuh oleh cairan bu Martin dengan begitu rakus. Inez yang melihatnya jadi ikut tertarik, maka bersama dengan Linda, ia mandikan batangku hingga bersih.

Kubiarkan ulah kedua wanita. Aku hanya terdiam pasrah di atas ranjang sambil tersenyum, merasa sangat puas dan bahagia dengan semua ini.

“Hajar aku, Mal… memekku udah gatel lagi nih,” kata Linda sambil menarik tanganku agar bangkit, sedangkan ia sendiri merebahkan tubuhnya, bersiap untuk kusetubuhi.

”Habis ini aku ya, Mal.” pinta Inez sambil memeluk dan memberikan bulatan payudaranya kepadaku.

“Iya, Mbak sabar dulu yaa.” kuremas dan kupijit-pijit benda itu sebentar sebelum aku beralih pada Linda. “Cuma butuh waktu sebentar kok sama dia.” Lanjutku dengan kontol melesak ke depan, menusuk Linda tepat di belahan memeknya.

”Auw! Mal…” Linda mengaduh. Bukan karena sakit, namun karena nikmat. Malah kini ia mulai menggerakkan pinggulnya guna mengimbangi genjotanku. Sambil terus menggoyang, kuraba dan kuremas-remas bongkahan payudara Inez dan Linda secara bergantian. Sementara bu Martin sudah terkapar tak sadarkan diri di sebelah kami.

Saat itulah terdengar pintu depan dibuka. Rupanya Zaskia sudah kembali. Aku harap dia berhasil memenuhi permintaanku untuk mengajak 1 orang lagi yang sangat spesial. Orang yang belum pernah kutiduri namun aku tahu kalau ia sudah terkena pelet telur. Istriku yang bilang secara tak sengaja, saat kami berbincang sebelum aku datang kemari. Dan sekarang, aku ingin membuktikannya.

Aku masih terus menggoyang tubuh mulus Linda saat pintu kamar terbuka. Masuklah Zaskia dengan seseorang yang sangat cantik, usianya masih muda, mungkin masih SMA. Sesuai dengan rencana, begitu di dalam, Inez dan Zaskia langsung menyergapnya. Gadis itu, yang sama sekali tidak siap, hanya bisa meronta tak berdaya saat digiring ke sebelahku. Tanpa berkedip kupandangi tubuhnya yang luar biasa indah serta anggun dengan jilbab lebarnya.

“Apa kabar, Tih?” tanyaku sambil menyeringai mesum.

Gadis yang bernama Ratih itu langsung terdiam. Pandangannya terpaku pada batang kontolku yang masih bergerak keluar-masuk dengan cepat di memek sempit Linda, sementara Linda sendiri terdengar merintih semakin keras, seperti ingin memancing birahi Ratih agar lekas bergabung dengan kami. Inez dan Zaskia masih memegangi tubuh Ratih agar tetap tidak bisa bergerak.

“Apa-apaan ini!” bentak Ratih marah, namun kentara kalau itu cuma pura-pura saja, hanya sekedar untuk menjaga harga dirinya yang kini sedang dipertaruhkan. ”Budhe, tolong jelaskan!” gadis itu menoleh pada Zaskia.

Ratih memang masih punya hubungan darah dengan Zaskia, kalau tidak salah masih terhitung keponakan. Itulah kenapa Zaskia bisa membujuknya datang kemari, Ratih sering main ke rumah ini. Ayah Ratih adalah kepala desa, dan menurut tebakanku, ayahnya telah menggadaikan tubuh Ratih pada Juragan Karta agar didukung saat pencalonan kepala desa tahun kemarin. Tidak mungkin ayah Ratih yang cuma pedagang kecil bisa punya banyak uang untuk pencalonan kalau tanpa bantuan Juragan Karta yang kaya raya. Meski untuk itu, kehormatan anaknya yang harus dipertaruhkan. Uh, dasar lurah brengsek. Sekarang rasakan akibatnya, anaknya yang cantik ini akan kutiduri.

Dengan bantuan Inez dan Zaskia, kuseret Ratih ke tempat tidur. Linda yang sudah mencapai orgasmenya, segera menyingkir untuk memberiku tempat. “Kita akan pesta seks, sayang.“ bisikku tertawa.

“Gila! Lepaskan aku! Dasar bajingan! Ini dosa! Kalian setan semua! Bangsat!“ namun Ratih terus memberontak sambil mengelurkan kata-kata kasar, tak kusangka ia yang kelihatan lugu dan berjilbab ternyata bisa mengumpat juga.

“Cepat telanjangi dia!“ perintahku pada Inez dan Zaskia. Keduanya langsung menyobek-nyobek pakaian Ratih tanpa bertanya-tanya lagi. Kuminta agar hanya jilbabnya yang disisakan, aku paling suka mengentoti perempuan yang masih berjilbab.

Kusingkap jilbab gadis itu dan kuperhatikan tanda hitam sebesar koin di lehernya. ”Sudah, nikmati aja. Nggak usah berpura-pura memberontak segala.” ejekku. Aku yakin, begitu merasakan batang kontolku, ia akan langsung menyerah, sama seperti semua korbanku.

Namun Ratih masih gigih melawan. ”Aku nggak mau! Tidak! Lepaskan aku! Bangsat! Kalian semua bangsat! Bajingan!” umpatnya sambil berusaha mengerakkan tubuh ke kiri dan ke kanan.

Zaskia jadi kelihatan sedikit panik, ”Gimana ini, Mal? Nanti bisa didengar para tetangga.”

Maka segera kubuat keputusan cepat. ”Sumpal mulutnya!” Meski tidak tega, terpaksa kuperhatikan saat Linda membekap mulut Ratih dengan kain bh. Entah bh siapa yang ia pakai, hehe.

“Jangan berontak, Rat… sebaiknya turuti kami,“ ancamku dengan sorot mata tajam. Jadi heran juga, kenapa ia tidak kunjung menyerah juga, padahal sudah jelas-jelas ia adalah salah satu korban juragan Karta. Apa iman Ratih begitu tebal hingga sanggup menolak peletku? Ah, sepertinya tidak. Indri, istri ustad Jafar yang terkenal alim saja bisa takluk kok, apalagi cuma seorang Ratih. Atau karena tekadnya yang begitu kuat? kalau itu sih masih mungkin. Namun kata kakekku, siapapun yang terkena pelet ini akan langsung tunduk kok. Semua, tanpa kecuali!

Lalu kenapa Ratih tidak? Itu yang nanti harus kutanyakan kepada kakek. Untuk sekarang, sebaiknya kugunakan waktu untuk menikmati tubuh sintal Ratih mumpung lagi siap sedia. Setelah beberapa kali mengentoti istri orang, aku jadi penasaran dengan tubuh gadis muda seperti miliknya. Gimana ya rasanya? Apa akan senikmat saat aku pertama kali mengentoti istriku dulu, yang sanggup membuatku keluar 7 kali dalam semalam. Ah, mudah-mudahan saja.

Setelah bentakanku tadi, Ratih sekarang menjadi diam, tidak memberontak lagi. Entah karena takut atau karena sudah terpengaruh peletku, aku tak peduli. Yang penting, ia sudah jatuh ke dalam pelukanku. Inez dan Zaskia dengan cepat melolosi sisa pakaian Ratih. Bra dan celdamnya ditarik lepas dan dibuang begitu saja ke lantai.

Ratih sekarang sudah sepenuhnya telanjang di depanku, hanya tersisa jilbab lebar yang masih membingkai wajah cantiknya, namun itupun juga sudah diikat ke belakang hingga menampakkan bulatan payudaranya yang meski berukuran sedang namun terlihat cukup tegak menantang. Maklum masih gadis, masih belum pernah hamil dan menyusui. Kemulusan tubuhnya benar-benar membuatku berdecak kagum dan ingin lekas menjilatinya.

“Apa yang akan kalian perbuat padaku?” tanya Ratih pasrah.

Inez yang berada di dekatnya langsung membisiki, “Ada kontol besar menunggumu, Sayang.“

“Tolong! Jangan perkosa aku!“ rintih Ratih untuk yang terakhir kali, dengan paras takut ia memandangi batang penisku yang sengaja kupamerkan di depannya. Gadis itu melotot sebentar sebelum kemudian memalingkan wajahnya agar tidak memandangi batangku.

“Kamu memang luar biasa cantik, Rat. Tak sabar rasanya pengen ngerasain tubuhmu.“ Aku bangun dan memeluk tubuhnya, Ratih sama sekali tidak melawan karena begitu ketakutan.

“Kumohon, lepaskan aku! Kenapa semua alim-alim kok bisa-bisanya berbuat maksiat seperti ini?“ keluh Ratih lirih.

Namun aku tak perduli, dan juga tidak berniat untuk menjawab, malah dengan cepat aku menunduk dan melakukan oral seks di vaginanya. Ratih terlihat sedikit memberontak, namun segera dipegangi kembali oleh Inez dan Zaskia. Kembali kujilati memek gadis itu sambil sesekali kuremas-remas buah dadanya yang tidak begitu besar. Tidak sanggup untuk melawan, kini hanya terdengar rintihan lirih bibir Ratih yang gemetar ketakutan akibat ulahku.

“Ampun! Ohh… ouhh… auwhh!” teriaknya kecil saat kudorong tubuhnya hingga rebah ke ranjang dan langsung menindihnya.

“Pegang yang kuat ya,” perintahku pada Inez dan Zaskia. “Nggak sabar rasanya pengin langsung nyoblos memeknya!“ kataku yang disambut anggukan oleh Inez dan Zaskia.

Kembali aku menjilati vagina Ratih yang tampak mulai ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna hitam. Aku jadi membayangkan, saat dientot juragan Karta dulu, pasti memek ini masih licin gundul. Uh, membayangkannya saja sudah membuatku tak tahan.

“Nggak usah teriak, Rat. Enak kok pesta seks itu, aku aja suka.“ hibur Zaskia sambil membenahi jilbab Ratih yang berantakan.

“Budhe gila! Kalian semua gila!” teriak Ratih ketus, namun langsung terdiam begitu lidahku mulai menari-nari di liang memeknya yang asin. Bahkan yang ada, erangan dan rintihan kecil mulai keluar dari mulutnya yang tipis meski terlihat Ratih berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Terus kujilati liang sempit itu, bau wangi tubuh Ratih semakin membuatku bergairah. Ratih memejamkan mata karena tidak tahan akan oralku yang memberikan sentuhan birahi sedikit demi sedikit, sehingga ia yang awalnya memberontak kini jadi menggemulai perlahan-lahan. Saat membuka mata, Ratih memang tidak menangis, namun dari matanya tampak mengalir cairan bening yang membasahi pipi mulusnya. Entah itu air mata penyesalan atau kepuasan, aku tak peduli.

“Nikmati aja, Rat, enak kok! Coba rasakan, kontol Kemal besar dan panjang, enak sekali kalau disodoki pake itu!” bujuk Zaskia lagi.

”Nggak mau! Dasar budhe edan!” jerit Ratih dengan suara bergetar.

“Cepetan, Mal. Masukkan kontolmu! Setubuhi dia!” bisik Inez yang gemas melihatku mengulur-ulur waktu.

”Eh, iya. Iya!” akupun langsung bangkit. Setelah meremas sebentar buah dada Ratih, aku langsung memasang kuda-kuda. Kuarahkan penis panjangku ke lubang senggama gadis itu, lalu kutekan perlahan saat sudah pas. Ratih sedikit melotot merasakan batangku yang mulai memasuki lubang kemaluannya.

”Ampun! Hentikan, Bang! Aku masih perawan!” jerit gadis itu mencoba mencegah perbuatanku, namun tentu saja tidak bisa. Yang ada, aku malah makin bersemangat. Terus kutekan batangku hingga membuat Ratih memekik dengan tubuh melengkung ke atas. Sepertinya sangat kesakitan sekali, apa batangku terlalu besar ya?

“Perawan apa!” protesku tanpa berniat untuk mengukurnya lebih lanjut. ”Nggak usah bohong deh, aku sudah tahu semua!” sahutku sambil terus menekan dan menarik batangku sehingga semakin tenggelam ke celah kemaluannya.

”Ohh… tidak! Hentikan! Aku mohon!” Ratih semakin menjerit kuat. Tubuhnya terdorong ke belakang seperti ingin menjauh, namun tidak bisa karena sudah dipegangi oleh Inez dan Zaskia.

Tak ingin lepas, akupun mendesak lagi. Kusentak pinggulku kuat-kuat sampai batangku amblas seluruhnya ke memek sempit gadis muda itu, membuat Ratih menjerit begitu kencang di sebelah telingaku, ”Aaaaauuww…!!!“

“Diam! Nggak usah pake nangis segala! Kamu sulit amat sih…” aku jadi sedikit hilang kesabaran. Aneh juga, Ratih adalah korbanku yang paling sulit untuk ditaklukkan. Padahal biasanya, dengan sekali pandang saja, setiap korbanku akan jatuh berlutut, menyerah seutuhnya. Namun dengan Ratih… ah, entahlah. Aku sendiri juga bingung.

”Ampun, Bang… aah… aah… uhh…“ lenguh Ratih ketika mulai kusodok-sodok tubuh sintalnya sambil kulumat pelan bibirnya yang tipis. Gadis itu tampak semakin menggeliat, tangisannya menjadi semakin keras. Namun sudah tidak melawan lagi, ia hanya pasif menerima segala seranganku.

Kugenjot terus pinggulku untuk menyetubuhinya. Terasa dinding vaginanya yang sempit seperti mencekik batang kontolku, namun bukannya sakit, malah aku merasa nikmat sekali. Memang beda memek gadis muda yang belum pernah melahirkan dengan punya ibu-ibu macam Inez maupun Linda. Meski sama-sama nikmat, tapi tetap saja ada sensasi yang berbeda.

“Ayo gerak donk, Rat.“ ajakku melihat Ratih yang masih pasif. Ia memadangku, dari sorot matanya terlihat kalau ia masih menolak segala sentuhanku. Namun aku tidak kekurangan akal, kembali kulumat bibir tipisnya sambil kusodok-sodok memeknya sedikit lebih cepat. Akibatnya, Ratih jadi agak sedikit melenguh karenanya.

“Auw… aah… aah… ampun… jangan… aah… ahh…” lenguhnya dengan air mata terus mengalir di pipi.

“Goyang donk, Rat… makin enak rasanya memekmu!” ajakku lagi, yang disambut senyum oleh Inez dan Zaskia yang masih setia mendampingi. Sementara Linda dan bu Martin sudah mendengkur halus, seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi di sebelahnya.

“Sudah… aah… aku mohon.. aauh… uuh…” desah Ratih tak karuan.

Bukannya kasihan, mendengarnya malah membuatku semakin bernafsu menggenjot tubuh sintalnya. Ratih memejamkan mata, kepalanya mendongak sambil ia menggigit bibirnya kuat-kuat, sementara tubuhnya kian terguncang menerima segala serbuanku. Gelora birahi, meski pelan, namun tampak mulai menyelubunginya. Membuat Ratih jadi terdiam dan perlahan pinggangnya mulai bergerak mengikuti ayunan pinggulku.

”Terus, Mal. Dia mulai menikmati,” seru Inez.

“Iya, Mal. Genjot terus!” dukung Zaskia.

”Uuh… ooh… aah…“ lenguhku sambil mengangguk. Aku tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi, tubuhku sudah begitu termakan api birahi. Rasanya benar-benar nikmat, membuatku jadi tak tahan. Ratih merapatkan kakinya, sementara vaginanya menyempit dengan begitu cepat, seperti mencekik batang kontolku hingga jadi sedikit ngilu. Namun aku terus menggenjotnya dengan begitu cepat, hingga tak lama kemudian kudengar Ratih melenguh panjang saat mendapatkan orgasmenya yang pertama.

“Aah… aaauuww!!!” erang gadis itu saat cairan kental mengucur deras dari lubang vaginanya, membasahi seluruh batang kontolku yang masih terbenam dalam. Tubuh Ratih kelojotan tak karuan, namun segera dipegangi oleh Inez dan Zaskia agar tidak sampai membentur tembok.

“Sudah, bang… aah… ampun!!“ rintih Ratih dengan suara lemah. Pijitan memeknya yang masih terus berkedut-kedut pelan membuatku kegelian meski aku tidak menggerakkan batang kontolku. Akibatnya, tanpa perlu capek-capek menggenjot, aku sudah dihantarnya menuju puncak kenikmatan.

Croot… croot… croot…

”Auh… aarrghhh…” aku melolong tak karuan saat cairan spermaku menyembur deras memenuhi lubang memeknya. Sesaat aku merasa ringan bagai kapas, bisa kurasakan cairan spermaku yang meleleh di sela-sela alat kelamin kami berdua yang masih bertaut erat. Terengah-engah penuh kepuasan, aku diam memeluknya.

Tak lama, setelah orgasmenya berlalu, Ratih menggeliat bangun dan kemudian menangis keras. “Jahanam! Bangsat kamu!!” raungnya marah.

Aku jadi bingung, kukira setelah mendapat nikmat, ia akan menyerah kepadaku. Tak tahunya, tetap saja marah-marah dan memberontak. Aku jadi bingung. Kenapa peletku tidak bekerja kepadanya?

Jawabannya baru kuketahui beberapa saat kemudian saat Inez memberitahuku sesuatu dengan suara bergetar. ”Mal, i-ini… d-darah!” bisiknya takut-takut.

Aku melirik ke bawah, dan DEG! Seperti mau pingsan rasanya saat kulihat lelehan darah di atas sprei, tepat di bawah bokong bulat Ratih. Orang bodohpun tahu, itu adalah darah perawan. Asalnya dari memek sempit Ratih yang masih tersumbat oleh batang kontolku. Masih ada sisa-sisa darah di kulit kelamin kami berdua. Namun itu tidak mungkin! Kenapa dia masih perawan? Bukankah juragan Karta sudah menidurinya lebih dulu? Harusnya…

”S-sudah kubilang, aku masih perawan!” bisik Ratih sambil terus menangis. Aku tidak menjawab, hanya terbengong-bengong menatapnya. Sementara Inez dan Zaskia juga sama, mereka tidak berani membuka suara dan kelihatan sangat takut sekali. Kami sudah salah memilih korban!

”Maaf, Rat. A-aku nggak tahu!” jawabku sambil menarik penis, kubiarkan Ratih menangis tersedu-sedu pelan. ”T-tapi, bagaimana bisa?” tanyaku bingung.

Ratih menatapku tajam. ”Tentu saja bisa!” semburnya kencang. ”Aku masih kecil, masih sekolah! Belum pernah aku melakukan hal sehina itu!”

Aku melongo. ”K-kamu belum pernah tidur dengan juragan Karta?” tanyaku lagi.

Ratih terdiam, lalu menggeleng pelan. ”Jangan bawa-bawa nama orang yang sudah mati. Kamu telah memperkosaku! Dan pasti akan menanggung akibatnya.” ia lalu menoleh pada Inez dan Zaskia. ”juga kalian semua!” ancamnya serius.

”M-maafkan kami,” kata keduanya secara bersamaan.

”Nggak!” Ratih menggeleng, bara dendam tampak menyala di matanya yang berair. ”Kalian akan merasakan yang lebih menyakitkan, terutama budhe!” ancamnya pada Zaskia.

”Maafkan aku, Rat. Aku nggak tahu,” geleng Zaskia sambil ikut menangis.

Tidak menjawab, Ratih bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya.

”J-jangan laporkan kami, Rat. Kami janji akan menutupi ini rapat-rapat.” pinta Inez.

Ratih menoleh, ”Nggak usah kuatir,” jawabnya. ”aku sudah punya rencana sendiri buat kalian.” dan setelah berkata begitu, ia mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar. Dengan diantar oleh Zaskia, ia kembali pulang.

Tinggallah aku dan Inez yang duduk terdiam berdua, mencoba menebak-nebak hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Ratih pada kami semua. Di ujung ranjang, Linda dan bu Martin masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui masa-masa kelam yang siap menanti di esok hari.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 2

Di sebuah rumah sederhana di daerah pinggiran Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tidak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan.” demikian suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar itu.

“Iya kok, pak. Saya mengerti, terima kasih lho sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat. Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum memasuki pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telepon, Farah, apakah ada urusan penting?” suara lembut Siti Nurhana, ibundanya, membangunkan Farah dari lamunannya.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah belum bisa masuk cetak,” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana sambil berkemas-kemas untuk berangkat.

“Nggak apa-apa koq, ummi, salam dari Farah yah sama Abi, semoga lekas sembuh dan dapat pulang kembali ke rumah,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah empat putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya. Di rumah hanya ada Farah dan Asma, yang masih SMA, dan ibundanya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik.

Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah.

Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal dua hari lagi. Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang. Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan, ia pun bertekad untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan bersedia bekerja melakukan apa saja demi menunjang keluarga yang dicintainya.

***

Sebagai rentenir kelas kakap di daerah kampung situ juga, pak Burhan sangat disegani karena tabiatnya yang keras dan penampilan yang terlihat cukup menyeramkan. Wajahnya hampir tidak pernah menunjukkan keramah-tamahan, jarang sekali tersenyum apalagi tertawa. Matanya selalu menatap setiap orang yang diajak bicara dengan sangat tajam seolah ingin menembus benak pikiran lawan bicaranya. Disamping itu lirikannya selalu menampilkan kesan kejam dan bahkan tersembunyi kesan sadis, terutama jika menghadapi langganan yang mempunyai hutang padanya namun belum mampu membayar kembali karena bunga yang diajukannya memang amat tinggi.

Pakaiannya terlihat cukup rapih menutupi tubuhnya yang tegap dan dibalik pakaian itu tersembunyi banyak bekas luka, karena Burhan di masa muda sangat galak sering berkelahi. Bahkan ada periode dimasa mudanya Burhan hilang lenyap dari desa kelahirannya, tak satupun yang tahu dimana dan apa yang dilakukannya. Hanya Burhan sendiri yang menyimpan rahasia itu : ia merantau sebagai anak kapal di negara jiran, dimana di samping bekerja di sebuah perkebunan, ia juga memasuki kelompok penyamun yang di malam hari merampok penduduk, terutama orang tua yang tinggal seorang diri dan janda kembang yang baru ditinggalkan suami. Bukan hanya harta yang dijadikan sasaran perampokannya, namun tak ada satupun janda kembang yang lolos dari perlecehan dan perkosaannya.

Setelah Burhan berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi yang memburunya bertahun-tahun, akhirnya ia memutuskan untuk menghilang lagi tanpa meninggalkan jejak dan muncul kembali sebagai rentenir. Tempat bermukimnya sekarang berada di pulau Jawa, sedangkan Burhan sebenarnya berasal dari pedalaman Sulawesi. Tak heran jika semua orang di kampung dan sekelilingnya tak mengetahui asal usul latar belakang Burhan.

Setahun setelah bermukim di desa ini, Burhan menikah dengan seorang janda kembang. Namun ketika melahirkan anak mereka yang pertama, terjadi komplikasi yang tak terduga sehingga keduanya meninggal. Sejak saat itu Burhan belum lagi menikah, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ada langganan yang belum atau tak mampu membayar hutang kepadanya, maka Burhan selalu bersedia memberikan ‘keringanan’ dan menunda pembayaran berdasarkan ‘syarat tertentu’. Burhan akan bermurah hati jika yang datang memohon penundaan bayaran hutang itu bukan si lelaki kepala keluarga, melainkan sang istri atau anak perempuan mereka.

Semakin cantik sang istri langganannya yang memohon, maka semakin senang hati rentenir cabul ini–apalagi yang datang menggantikan permohonan si kepala keluarga adalah anak perempuan yang baru meningkat dewasa berusia belasan belum memasuki dua puluhan. Selera Burhan terhadap wanita tidak pandang bulu : entah perempuan biasa dengan gaya hidup bebas maupun yang alim shalihah berjilbab atau bahkan memakai cadar, semua dimana ada kemungkinan dan kesempatan akan dijerat dan dijadikan mangsanya. Jika belum ada lagi mangsa yang dijeratnya maka Burhan memuaskan nafsu birahinya yang besar terhadap istri-istri tetangganya, terutama yang tak cukup dipuasi oleh suami sendiri, entah karena telah uzur atau ditinggal tugas terlalu lama.

Sebagai bahan ‘jajanan’ extra, maka Burhan juga sering melecehkan pembantu rumahnya yang memang janda kembang dan cukup manis bernama Marwati atau sering disebut Wati. Karena selalu diberikan bayaran ekstra jauh melebihi pendapatan seorang pembantu, maka Wati dengan senang hati menjadi kaki tangan Burhan untuk membantu menaklukkan calon mangsanya!

Telah hampir setengah jam lamanya Farah duduk di ruang tamu menantikan kedatangan sang tuan rumah, pak Burhan yang diharapkan Farah akan bersedia untuk mendengarkan kesulitan yang sedang dihadapi oleh keluarganya. Farah telah merancang kalimat-kalimat paling bagus dan paling sopan dalam negosiasi dengan rentenir kakap di desa itu.

Kalimat-kalimat yang dipertimbangkan oleh Farah akan menggugah hati pak Burhan, terutama jika mendengar bahwa ayahnya sakit dan masih membutuhkan biaya perawatan tak sedikit, sedangkan pemasukan berupa buku agama yang dikarangnya belum lagi diterima dan dipublikasikan oleh para penerbit. Demikian pula hasil jualan ibundanya hanya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, sementara tulisan ustadz Mamat masih belum tahu apakah akan berhasil dijual memasuki bulan puasa ini.

Sedemikian naif-nya jalan fikiran Farah yang masih membayangkan semua orang sejujur dan sepenuh hati untuk menolong sesamanya, padahal pak Burhan bersedia menerima kedatangannya di hari itu karena mempunyai maksud lain, ada udang di balik batu yang akan menjebaknya memasuki sebuah dunia lain : dunia gelap terselubung kabut tebal dan juga lumpur mengambang menanti mangsa yang jatuh tergelincir, yang akan sukar membebaskan diri lagi dari tarikannya yang semakin dalam.

Akhirnya pintu pemisah ruang tamu dengan ruang bagian dalam rumah pak Burhan kembali dibuka, namun yang muncul bukanlah pak Burhan sendiri melainkan wanita usia pertengahan tiga puluhan yang tadi membukakan pintu masuk ketika Farah baru saja datang, seorang wanita yang masih cukup cantik dalam usianya itu, terutama disebabkan dandanan yang cukup menor.

”Pak Burhan sedang kurang enak badan, jadi beliau mohon maaf tak dapat menerima adik,” demikian ujar si wanita yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Wati dan mengaku bahwa ia di rumah itu hanyalah seorang pembantu.

Farah menjadi semakin putus asa mendengar harapan kedatangannya akan sia-sia, oleh karena itu ia berusaha menekan perasaannya dan bertanya, “Sakit apa pak Burhan? Apakah mbak Wati dapat menolong memberitahukan bahwa kedatangan saya karena ada urusan penting yang tak dapat ditunda. Apakah ada kemungkinan lain untuk bertemu pak Burhan, misalnya jika beliau sedang tidur, saya bersedia menunggu,”

Di dalam kegelisahannya itu, Farah tak sempat memperhatikan sedikit perubahan di wajah licik Wati yang memang telah bersepakat dengan pak Burhan untuk menjebak mangsanya. Ujung bibir Wati menyembunyikan senyum ibarat seringai mulut buaya yang telah melihat mangsanya.

“Kalau begitu mari kita lihat bersama ke dalam, mungkin pak Burhan sudah bangun. Tadi beliau telah berpesan agar tak membangunkannya karena badannya terasa agak menggigil, tapi siapa tahu untuk mbak Farah beliau bersedia membuat perkecualian,”

Demikian pancingan Wati yang sebenarnya tak sukar untuk diduga apa maksudnya. Namun Farah yang sedang bingung memikirkan bagaimana nasib keluarganya tak berpikir panjang, hanya kepentingan keluarganya yang menjadi masalah dibenaknya saat itu.

“Kalau begitu baiklah, saya bersedia bersama ibu masuk ke dalam. Tolong ibu sampaikan bahwa saya selalu membawa balsem dan minyak kayu putih, mungkin beliau mau pakai dan siapa tahu akan sedikit meringankan sakitnya saat ini,” demikian Farah yang selalu bermanis budi.

Wati mengangguk dan lalu masuk ke dalam diikuti oleh Farah yang berusaha menabahkan hatinya.

Setelah melewati hijab pemisah ruang tamu dan ruang dalam rumah, Farah merasakan ada bisikan yang memperingatkannya agar sebaiknya balik lagi dan meninggalkan ruangan, bahkan lebih baik lagi meninggalkan tempat itu secepatnya. Namun bisikan peringatan itu sangat terlambat karena pada saat Farah ingin memutar balik diri ke ruang tamu, dirasakannya sepasang tangan yang sangat kuat dan berbulu lebat membekap mulutnya sehingga tak dapat menjerit, sedangkan satu tangan lagi menelikung kedua tangannya ke punggung dan dipelintir keras ke atas hingga terasa sangat sakit.

Akibatnya Farah menghentikan rontaannya dan kini merasakan tubuhnya disérét ke arah bagian dalam rumah itu menjauhi hijab pemisah yang tadi dilewatinya. Kekasaran lengan dan tangan yang menelikungnya menyebabkan Farah sadar bahwa yang membekapnya pasti seorang lelaki, apalagi ketika tercium bau rokok dari dengusan nafas di samping telinganya.

“Hmmpf… l-lepaskaan! Emmpfh… nggak m-mau! J-jangan!” Farah berusaha menjerit ketika merasakan tubuhnya kini diseret memasuki sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu samar-samar, namun terlihat ada ranjang cukup besar dan di sudut ada lemari pakaian.

“Sssh… jangan berontak. Percuma saja, anak manis. Bapak sudah lama dengar nama putri Ustadz Arief Ubaidillah yang pandai mengarang buku. Bapak hanya mau mesra-mesraan dengan gadis shalihah dan nanti kamu bisa ceritakan di buku kamu pengalaman dengan bapak dalam beberapa jam ini,”

Demikian suara pak Burhan yang berat dan serak disertai dengan dengusan nafasnya yang menggelitik telinga Farah. Dengan sengaja pak Burhan menghembuskan nafas panasnya ke telinga gadis itu sambil disusul dengan jilatan lidah hangatnya menyapu liang telinga Farah sehingga sang gadis jadi semakin meronta-ronta kegelian.

Tanpa berdaya untuk melawan, Farah terus didorong ke arah ranjang dan dihempaskan dalam posisi tengkurap, kemudian langsung dibalikkan sehingga telentang dengan kedua tungkainya masih tergantung di luar kasur. Farah berusaha segera bangun, namun pak Burhan yang agak gemuk dan berat sekali badannya langsung menindihnya sehingga gadis alim ini jadi tak mampu melawan.

Pak Burhan memang sangat senang menggagahi wanita alim shalihah, tapi berusaha selalu untuk membiarkan jilbab tetap selalu menutupi rambut korbannya. Mungkin itu obsesinya bahwa ia selalu bangga menaklukkan wanita alim yang di awal menolak keinginan hewaniahnya namun akhirnya akan dikalahkan keperkasaannya meskipun tetap memakai lambang ‘kesucian dan kemurnian’, yaitu jilbab yang menutupi kepala. Di dunia kriminalitas di pelbagai negara dengan mayoritas wanita berjilbab, fenomena ini bukan hal aneh, melainkan justru sering terjadi!

Farah mulai menangis terisak-isak menyesali kebodohannya bahwa ia akan mengalami aib yang sama sekali tak diharapkannya. Bukan seorang suami yang telah menikahinya setelah akad nikah ijab kabul dengan penuh kasih sayang dan pengertian akan merenggut mahkota kegadisan yang selalu dijaganya dengan penuh kesalehan. Harta tertinggi yang dimiliknya sebagai wanita muslim sebentar lagi direbut paksa oleh rentenier kelas kakap yang diharap untuk menolongnya.

Rasa ketidakberdayaan Farah semakin menjadi-jadi ketika dirasakannya ada sepasang tangan lain yang kini menarik dan merentangkan kedua pergelangan tangannya di atas kepala lalu diikat ke ujung pilar ranjang. Ternyata Wati kini telah ikut membantu majikannya untuk menaklukkan gadis malang itu–dan dengan keadaan Farah yang terentang terikat kedua tangannya di atas kepala, maka semakin mudah bagi pak Burhan untuk melanjutkan niat maksiatnya. Dengan sangat sigap karena ia memang sudah sering melakukan perbuatan tak senonoh ini, pak Burhan melepaskan jubah serta gaun panjang Farah tanpa memperdulikan makian dan rontaan korbannya.

Di balik gaun panjang itu, ternyata Farah masih memakai lapisan semacam daster tipis berwarna merah muda yang juga langsung di tarik ke bawah dan dilepaskan sekaligus dengan kaus kaki panjang berwarna kuning muda agak krem. Wati yang rupanya juga telah sering membantu membantai mangsa majikannya ikut melepaskan kaitan BH Farah sehingga tampaklah kedua gunung buah dada yang sedemikian montok dan putih dengan kulit halus licin sehingga seekor semut pun akan tergelincir jika berusaha mendaki gunung daging tersebut. Di tengah kedua buah dada sekal montok itu, mencuatlah puting yang berwarna merah muda kecoklatan, menjulang ke atas bagaikan menantang dan mengundang setiap tangan lelaki untuk menjamah dan mengelus-ngelusnya.

Semakin Farah meliuk-liukkan dan menggeliatkan tubuhnya, maka semakin terlihat goncangan-goncangan kedua gunung itu, menyebabkan pak Burhan menelan ludahnya beberapa kali dan matanya semakin beringas menatap. Dengan penuh rasa gemas dan sadis, pak Burhan meremas bergantian kedua buah dada putih mulus itu. Diciuminya dengan rakus, dicupanginya ketiak Farah serta bukit susu kebanggaannya itu, kemudian dicaploknya kedua puting yang begitu peka, lalu dipilin dan digigitinya serta dihisap-hisapnya bagaikan bayi kehausan yang ingin menyedot susu segar langsung dari sumbernya.

Setelah melepaskan BH Farah, maka Wati membantu pak Burhan untuk memegang kedua pergerangan kaki Farah yang masih berontak menendang kesana-sini. Dengan dipegangi kedua pergelangan kakinya oleh dua orang, maka dengan mudah pak Burhan kini menarik celana dalam Farah yang berwarna biru muda dan lalu membuangnya begitu saja ke lantai–sehingga gadis malang itu sempurna telanjang bulat, terkecuali jilbabnya.

Sementara Wati sekuat tenaga memegang kedua pergelangan kaki Farah, maka pak Burhan berdiri dan dengan cepat melepaskan semua pakaiannya sehingga terlihatlah tubuhnya yang agak gemuk, hitam legam dan masih cukup kekar berotot meskipun telah memasuki usia lima puluhan.

Farah memalingkan mukanya ke samping sambil menangis terisak-isak karena merasa sangat malu dengan keadaannya yang telanjang bulat di hadapan mata lelaki asing. Seumur hidupnya Farah tak pernah membayangkan akan ada lelaki yang bugil di hadapannya terkecuali suami sendiri yang akan menagih haknya di malam kemantin. Namun yang terjadi saat ini adalah lelaki asing yang bukan suami, bahkan berusia jauh lebih tua, sambil tersenyum cabul penuh nafsu iblis tanpa ada rasa segan sedikitpun memperlihatkan batang kemaluannya. Farah hanya tahu bentuk penis lelaki dari keponakannya yang memang masih kecil ketika dibantunya mandi, tak pernah ia melihat penis orang dewasa, apalagi yang telah mulai menegang mengacung ke atas.

“Ayo lihat nih senjata ampuh bapak, udah enggak sabar lagi pengen ngerasain masuk ke mémék bageur asli… pasti mémék nduk belon pernah ngerasain alat paculan lelaki ya, mmh… mémék gadis alim shalihah lagi, gimana rasanya ya?” pak Burhan kini berlutut disamping kepala gadis Farah yang meléngos itu.

Dicekalnya kepala dengan rambut ikal bergelombang namun masih terlindung jilbab itu, dan dengan sangat kasar dipencétnya hidung bangir Farah sehingga gadis itu langsung megap-megap mencari udara karena tak bisa bernafas. Setelah meronta-ronta dua menit tanpa berdaya memperoleh oksigen, maka Farah terpaksa bernafas melalui mulutnya, namun hanya dibukanya sedikit. Pak Burhan yang melihat hal itu, kembali muncul senyum iblisnya karena ia tahu bagaimana mengatasi pertahanan gadis yang masih malu dan murni ini. Satu tangannya yang berjari-jari kasar, dengan brutal meremas bukit kembar dada Farah sebelum kemudian ibu jari serta telunjuknya menjepit dan menarik puting susu kanan korbannya.

Perlakuan sadis semacam ini tak pernah diduga sama sekali oleh Farah sehingga iapun tanpa sadar menjerit kesakitan dan membuka mulutnya, “Auw!! S-sakit… auuw… ughh… uhh… emmpfh!!” jeritan Farah hanya bergema beberapa detik karena mulutnya yang terbuka itu langsung disumbat dijejali oleh kemaluan pak Burhan yang terasa beraroma memuakkan.

“Ayo, neng manis. Buka mulutnya dong yang lebar, cobain nih singkong bapak… jangan kaget, neng, ntar makin lama makin gede… iya gitu, siip banget gadis Parahiangan begeur teuing… bapak ajarin jadi juara ngisep, bapak mau masukin lebih dalem lagi ya!” pak Burhan tanpa kasihan mendorong penisnya lebih dalam sambil menatap air mata yang mengalir di kedua pipi Farah yang halus itu.

“Aaah… anget bener nih mulut! Emang pinter si neng, punya bakat alami bisa nyepong kontol… iyah, teruus… kulum, jilat, awas jangan digigit… nih barang mahal, ntar lagi neng rasain dijebol ama lembing… aaah!!” Bagaikan kesurupan, pak Burhan merem melek merasakan kehalusan dan lembutnya bagian dalam mulut dan lidah Farah.

Dengan penuh nafsu pak Burhan kini memaju-mundurkan pinggulnya sehingga rudal dagingnya menggesek langit-langit mulut Farah. Beberapa kali pak Burhan memaksakan penisnya menusuk lebih dalam, namun karena memang terlalu besar dan panjang, maka hanya setengah saja yang dapat masuk dan telah menyentuh pintu gerbang awal tenggorokan Farah, menyebabkannya si gadis terbatuk-batuk dan ingin memuntahkan barang menjijikkan yang tengah merajahi mulutnya. Tapi tekanan tangan pak Burhan di kepalanya terlalu kuat sehingga kemaluan lelaki itu tetap saja bertahta dan berjaya di mulutnya, mengakibatkan rasa ingin muntah yang semakin menyiksa Farah.

Sementara itu Wati telah berhasil merentangkan kedua paha Farah dan kedua pergelangannya yang langsing kini diikat pula di ujung-ujung ranjang, menyebabkan tubuh bugil Farah membentuk huruf X dan tak sanggup lagi untuk melawan atau memberontak sedikitpun. Setelah melaksanakan tugasnya itu, Wati tersenyum dengan penuh arti kepada pak Burhan dan meninggalkan kamar.

Melihat mangsanya kini terikat kaki tangannya ke ujung-ujung ranjang tak mampu melawan, maka pak Burhan merasa sangat puas dan segera melaksanakan langkah berikutnya. Sambil tak henti-hentinya meremas buah dada montok kesenangannya itu, pak Burhan berbisik ke telinga Farah, “Neng Farah pasti belum pernah senam olahraga di ranjang dengan lelaki kan? Nah, sekarang udah waktunya belajar dari bapak, hehehe… Neng Farah kebetulan lagi subur nggak, mau nggak punya anak dari bapak? Pasti cakep lah kaya neng… bapak gali liang kegadisannya ya, hehehe…”

Tentu saja mendengar komentar cabul itu menyebabkan Farah sangat ketakutan, bukan hanya takut karena ia tahu bahwa selain sudah nasibnya sebentar lagi akan diperkosa habis-habisan oleh pak Burhan, namun bagaimana kalau sampai terjadi apa yang dikatakan oleh lelaki itu bahwa ia akan hamil? Farah mengingat-ingat bahwa memang benar dirinya sedang berada di masa subur sehingga kemungkinan ia akan hamil besar sekali.

Sekuat tenaga Farah memberontak dan berhasil melepaskan wajahnya dari cengkeraman tangan pak Burhan dan ia langsung meratap tersedu-sedu, “Tolong, pak Burhan, kasihani saya… saya masih gadis, jangan dihamili, pak… tolong jangan berikan aib kepada saya, lepaskanlah saya… saya tak akan lapor kepada siapapun dan kemanapun… tolong, pak, jangan perkosa saya, jangan hamili saya…”

Senyuman iblis kembali muncul di wajah pak Burhan mendengar ratapan korbannya itu, karena tentu saja dia pun tak mau langsung mendapat beban bayi yang harus ditanggung-jawabkan. Pak Burhan ingin mengambil kegadisan Farah namun sebaiknya jangan dihamili dulu saat ini.

“Hehehe, neng takut hamil ya? Emmh… kalau gitu bapak akan sumbangkan benih bapak yang mahal ini sementara di tempat yang kurang subur, tapi neng harus ikut kemauan bapak ya!”

Farah tak langsung mengerti apa maksud kata-kata dan kalimat terakhir itu, juga sampai saat pak Burhan berubah menelungkup di atas tubuhnya sedemikian rupa sehingga selangkangan pak Burhan dengan penisnya yang gagah tegak dikhitan kembali berada dihadapan wajahnya. Sebaliknya pun wajah pak Burhan kini tepat berada di atas bukit kemaluannya dan apapun usaha Farah mengatupkan selangkangannya, tetap tak berhasil karena pergelangan kakinya terikat erat ke ujung ranjang, hingga nafas hangat pak Burhan kini terasa menghembus di bukit kewanitaannya yang gundul klimis tercukur rapih. Farah meronta-ronta bagaikan orang sekarat ketika dirasakannya jari tangan pak Burhan mulai mengusap-usap bibir luar kelaminnya.

“Ayolah, neng manis… hisap, sepong dan kulum lagi barang antik bapak nih biar lama, coba rangsang sampai keluar pejuhnya, coba minumlah habis semuanya… kalau dah habis diminum kan nggak bisa nyiram dan nanam bibit lagi hari ini, hmm… tapi bapak juga mau coba gimana rasanya air madu neng, pasti manis kan… memeknya aja udah wangi begini, hehehe…” celoteh pak Burhan sambil melekatkan bibirnya yang tebal ke bibir kemaluan Farah.

Kini barulah Farah menyadari apa maunya pak Burhan : alat kejantanannya yang kaku tegak dihadapan wajahnya itu harus dikulum dan dihisapnya juga, dan jika sampai berhasil menyembur habis semua spermanya maka kemungkinan besar tak dapat membuahinya lagi.

Selain itu siapa tahu jika sudah ejakulasi dan dihisap habis di dalam mulutnya, maka pak Burhan akan tak dapat ereksi lagi dan hal itu mungkin akan menyelamatkan selaput kagadisannya. Farah harus pilih dari dua kemungkinan yang buruk, namun daripada diperawani dan sampai hamil, maka lebih baik jika mengulum penis yang menjijikkan dan sangat dibencinya itu.

Disertai dengan linangan air mata, Farah membuka bibir mungilnya dan mulai mengulum penis besar berurat-urat yang memancarkan aroma tak menyenangkan, lalu dijilat dan dihisap kepala jamurnya. Tanpa sadar apa yang dilakukan, Farah kini menjilati lubang kencing pak Burhan!

“Hmmh… sshh… ahhh… iya, ohhh… pinter! Teruus… bapak juga mulai cicipi air madu di celah memek yang rapet sempit milik neng, oooh… ntar dibelah ya, neng!” ujar pak Burhan sambil menjulurkan lidahnya menyelusup di celah vagina Farah yang mulai licin pula.

Sangat terkejut dan malu Farah merasakan hembusan nafas panas pak Burhan di permukaan kulit bukit kemaluannya, selanjutnya kumis baplang pak Burhan mulai menggelitik bibir luar memeknya sehingga ia kembali meronta-ronta karena kegelian. Rasa geli itu bahkan terkadang membuat Farah lupa akan ‘tugas’ yang harus dilakukannya. Apalagi ketika dirasakannya lidah nakal pak Burhan mulai menyelinap masuk di celah kegadisannya, dan menyapu-nyapu dinding kiri-kanan, mendorong serta membelah ke atas mencari tujuan utamanya, yaitu daging kecil yang tersembunyi diantara lipatan labia-nya.

Setelah ketemu yang dicarinya itu, maka pak Burhan dengan sengaja menjepit kelentit mungil itu diantara barisan gigi-giginya, kemudian digerakkannya rahangnya ke kiri dan ke kanan. Akibat gerakan rahang pak Burhan ini ternyata sangat luar biasa, Farah merasakan kelentitnya amat ngilu tapi juga geli dan sedikit sakit, sukarlah diuraikan dalam kalimat, sehingga ia hanya bisa menggeliat-geliat.

“Auuh… iiih… j-jangan, aiih… emmpfh… geli, pak, udah… hentikan… auw, emmpfh…” Farah menjerit-jerit dan bagaikan sedang histeris sebelum kemudian mulai mengulum kemaluan pak Burhan, seolah ingin ‘membalas’ perbuatan pemerkosanya.

Sementara itu tentu saja pak Burhan juga meningkatkan usahanya untuk membuat gadis muda yang masih murni dan alim ini menjadi mangsanya yang selalu haus akan seks. Selain kumisnya menggelitik kulit halus Farah, juga digesek-geseknya ke permukaan klitoris bagaikan sapu ijuk yang menusuk-nusuk. Selain itu jari-jari tangannya juga membuka paksa belahan bibir kemaluan Farah yang kemerah-kemerahan itu.

Kini terlihatlah bagian dalam kemaluan gadis itu yang masih tertutup selaput kegadisan tipis, dan juga lubang kencingnya yang kecil amat menggiurkan mata lelaki. Pak Burhan langsung menjadikannya sasaran, lidahnya mengusap dan mendorong-dorong selaput gadis pelindung kemurnian Farah hingga menyebabkan rasa ngilu nyeri agak sakit, sebelum ujung lidah itu menggelitik-gelitik lubang kencing yang membuat pinggul Farah makin bergeser-geser memberontak kegelian.

Tak hanya bergeser ke kiri dan ke kanan, namun Farah tanpa disadari mulai mengangkat pinggulnya sejauh mungkin namun tidak bisa karena kakinya terikat erat, itu seolah-olah menunjukkan kalau Farah sudah ketagihan!

Pak Burhan mengerti semua tanda ini : gadis alim shalihah ini mulai kehilangan rasa harga dirinya, ingin merasakan lebih banyak kenikmatan yang sedang menyiksanya. Selain itu Farah semakin mantap mengulum menyepong menjilat-jilat ujung saluran kencing pak Burhan yang tadi sangat membuatnya jijik, namun kini tak diperdulikan lagi aromanya yang khas kelaki-lakian.

Rentenir kelas kakap ini pun tak luput dari pengaruh mulut dan lidah serta gigi Farah, alat kemaluannya semakin tegang mengeras dan gejolak lahar di dalam biji pelirnya semakin mendekati titik mendidih untuk meluap. Pak Burhan menekan pinggulnya ke wajah Farah menyebabkan gadis malang ini semakin sukar untuk bernaas, masuk masuk masuk semakin dalam dan akhirnya dengan suara geraman bagai hewan terluka, pak Burhan menyemburkan spermanya.

“Ooooh… aaaah… iyaa, hisaap… hisaap… ayo terus, neng geulis manis, minum semua air mukjizat bapak… itu bagus untuk obat awet muda, aaah!!” teriaknya.

Surrrr… surrrr… jrooot… jrooot… surrrr… air mani pak Burhan dengan aroma khas lelaki menyembur memenuhi rongga mulut Farah, seolah-olah tak akan berhenti hingga menyebabkan Farah hampir tersedak dan terbatuk-batuk. Namun mengingat dan mengharapkan habisnya lahar panas dari biji pelir pak Burhan akan membuatnya tak mampu lagi ereksi untuk mengoyak selaput tipis kegadisannya saat itu, apalagi sampai menghamilinya, maka Farah berusaha terus menjilat mengulum dan menghisap kepala penis pak Burhan, meskipun lambungnya telah berontak dan rasa mualnya semakin menjadi-jadi menyebabkannya hampir muntah.

Untunglah rasa mualnya terganti dan bahkan terkalahkan oleh rasa gatal, geli dan nikmat di selangkangannya, karena pak Burhan disaat itu menggigit klitorisnya dengan sadis dan sekaligus tanpa diduga menusuk anusnya dengan jari tengahnya yang lebar dan kuku kasar tak terawat agak tajam.

Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Farah dan merupakan pemantik melewati batas daya tahannya sebagai gadis masih murni alim dan patuh pada agama. Ledakan orgasme tak dapat ditahan menjalar di seluruh tubuhnya. Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Farah yang demikian langsing semampai kini mengejang-ngejang melawan ikatan tangan dan kakinya. Jari-jari tangannya menutup membuat kepalan tinju, membuka, menutup–demikian pula jari-jari kakinya. Kepala Farah yang masih setengah tertutup jilbab ikut menengadah, menggeleng ke kiri dan ke kanan, lalu kembali menengadah. Sementara matanya seolah terbalik sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Cuping hidungnya nan bangir mancung kembang kempis menyertai aliran deras air mata di pipinya sementara bibirnya terbuka lebar.

“Aaah… aduh, aduduh… perihh… keluarin! Maluu… haram, pak! Aihh… oooh… t-tolong, auw… auw… auw… ampun!!” jeritan dan lolongan Farah menggema menimbulkan iba bagi yang mendengar, namun tidak menggerakkan rasa belas kasihan untuk pak Burhan yang sudah kemasukan setan.

Penuh kepuasan ia membaringkan dirinya di samping kanan tubuh Farah yang kejang-kejang terikat, mulutnya kembali menggigit puting buah dada kiri sementara tangan kirinya meremas dan mencubit buah dada kanan Farah. Tanpa memperdulikan Farah yang telah kehabisan tenaga serta lemas dilanda orgasme, tangan kanan pak Burhan tetap menjarah kemaluan mangsanya, dengan jari telunjuk dan ibu jari meraba, mengusap dan menjepit mencubit-cubit kelentit Farah yang masih agak menonjol diantara bibir kemaluannya. Dengan demikian pak Burhan seolah-olah ingin merangsang terus dan mempertahankan agar Farah tiada henti dilanda orgasme yang menyebabkan ia lupa segalanya .

Tujuan maksiat ini memang berhasil, Farah jadi meraung-raung, menjerit, meronta, dan menggeliat-geliat bagaikan kesurupan. “Udah, pak… oooh… udah, Farah nyerah… ampun… Farah pipis lagi, auw… auw… auw… ya Ilahi, tolong… aah, aiihh, oohh…” teriakan Farah semakin melemah dan akhirnya hampir tak terdengar karena gadis alim ini mencapai batas kemampuannya dalam mengalami orgasme dan sudah setengah pingsan.

Pak Burhan tersenyum bagaikan iblis karena telah mencapai kemenangan pertama–mangsanya telah kehabisan tenaga dan tergeletak terikat kaki tangannya dalam keadaan bugil telanjang bulat. Kini telah tiba saatnya untuk merenggut satu-satunya milik Farah yang selama ini dipertahankan dengan sebaik-sebaiknya oleh gadis itu dengan maksud untuk dipersembahkan di malam syahdu kepada suaminya yang sah.

Namun kini yang akan merenggut kegadisannya bukanlah sang suami, melainkan seorang lelaki jauh lebih tua yang ganas dan haus seks, seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya. Tanpa upacara agama yang diharapkannya untuk meresmikan akad nikah, tak ada ijab kabul yang diucapkan dihadapan penghulu agama. Pak Burhan mana peduli, yang penting nafsu birahinya akan terpuaskan dengan menembus selaput dara Farah. Apakah sang gadis rela menyerahkan kegadisannya itu bukan urusan lagi, semakin tampak keputusasaan dan rasa sakit tercermin di wajah begitu cantik itu maka akan semakin puaslah pak Burhan.

Penisnya yang besar hitam penuh dengan pembuluh darah telah menyemburkan mesiunya beberapa saat lalu ke dalam mulut Farah. Namun senjata kebanggaannya itu masih tegak kukuh berjaya bagaikan kayu pemukul kasti dan kembali siap maju untuk menghantam benteng pertahanan yang tersembunyi di tengah liang hangat yang mulai licin dengan air mazi lendir yang telah mengalir deras karena orgasme yang dipaksakan beberapa menit lalu…

Pak Burhan mengambil bantal guling yang agak keras diranjang itu lalu diletakkannya di bawah pantat Farah, menyebabkan bukit kemaluannya menonjol ke atas, terutama liang kewanitaan yang tampak berkilat basah kini muncul merekah. Dengan jari-jari tangan kirinya, pak Burhan kini menguakkan bibir kemaluan Farah, dan dengan tangan kanannya diarahkan kepala penisnya yang berbentuk topi baja seorang serdadu untuk meretas dan membelah memek idaman itu.

Keringat telah membasahi tubuh keduanya yang telah telanjang bulat, hanya perbedaannya adalah keringat Farah tetap tarasa harum di hidung pak Burhan, sebaliknya keringat pak Burhan yang menetes-netes dari dahinya ke perut Farah yang datar langsing itu terasa menyengat asam tak menyenangkan di penciuman gadis yang tengah dijarah. Tubuh Farah telah basah mengkilat dengan keringat yang keluar akibat semua daya upaya pergulatannya melawan orgasmenya, sedangkan keringat pak Burhan diakibatkan oleh usahanya merangsang dan menaklukkan gadis idamannya. Kini arus keringat yang membasahi tubuh Farah juga diakibatkan oleh rasa takut yang menyelubungi nuraninya karena sadar akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga. Sebaliknya pak Burhan makin mengucur keringatnya karena berusaha menerobos lubang kenikmatan Farah yang masih sangat sempit dan beberapa kali penisnya terpeleset ke kiri dan ke kanan.

Namun dia tak mudah menyerah, dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya, pak Burhan membuka celahan bibir kemaluan Farah. Tampaklah isi di dalamnya yang terkuak berwarna merah muda ibarat pepaya mengkal yang dibelah, di atasnya menonjol kelentit yang seolah malu-malu mengintip di antara lipatan bibir kemaluan. Mata pak Burhan yang telah terlatih dalam menilai liang kelamin wanita semakin mengarah ke bagian dalam vagina korbannya. Kira-kira sedalam satu ruas jari tengah, terlihatlah selaput dara Farah yang berbentuk bulan sabit tipis merayang penuh pembuluh darah sehalus rambut. Pak Burhan sangat puas melihat memang benar Farah masih utuh kegadisannya.

Pak Burhan hanyut dalam fantasi pikirannya bagaimana ia akan merasakan nikmatnya jepitan selaput perawan gadis alim ini. Namun sebelumnya ia akan berusaha kembali menghanyutkan Farah ke dalam arus gelora nafsu birahi, yang mana akan dirangsangnya lubang kencing Farah yang sangat mungil hampir tak terlihat di atas selaput daranya itu. Tak beda dengan lubang air seninya sendiri yang tadi dijilat dan dan disapu-sapu oleh lidah Farah, maka kini tiba gilirannya untuk melakukan hal yang sama. Pak Burhan menekan sedikit perut Farah di atas tulang kemaluannya dan ini menyebabkan si kandung kemih agak menyeruak keluar menampilkan lubang yang amat mungil itu dan langsung disambut oleh lidah pak Burhan yang menggelitik tiada hentinya.

Pinggul Farah yang begitu bahenol bergoyang ke kiri-kanan menahan rasa geli diperlakukan oleh lelaki yang sangat berpengalaman itu, ditahannya semua siksaan yang sangat memalukan itu dengan tabah, hanya air matanya semakin membasahi pipinya dan mulutnya semakin terbuka.

“Emmpfh… aaihh… oooh… ssssh… aaaah… j-jangan dijilat lagi… udah, pak, gelii… oooh… hiyahh… g-geli… ampuun!!” Farah menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, terkadang digigitnya bibirnya sendiri untuk menahan geli.

“Uuh, basah banget… hangat, tapi sempit amat nih lobang… tahan sedikit ya, neng… memang sakit, tapi pasti nanti jadi enak bagaikan masuk taman firdaus… hmmh… aah…” geram pak Burhan penuh nafsu, sambil berusaha merayu dan menghibur bidadari mangsanya yang akan segera diperawaninya.

Kini diarahkannya kepala penisnya ke tengah lipatan bibir kemaluan Farah, dan setelah beberapa kali gagal meleset, kini terjepitlah tombak pemecah selaput dara itu di celah surgawi tujuannya, dan dengan penuh rasa kepuasan pak Burhan mulai mendorong maju, menekan dan membelah…

“A-aduuh… auuww… a-ampuun, pak, h-hentikan! S-sakiit… udah… j-jangan dimasukin, pak… ampunn… aauuw!!” jeritan Farah menggema menyayat keheningan kamar, menimbulkan rasa iba bagi yang mendengar.

Namun hal itu malah semakin memicu nafsu birahi pak Burhan. Tanpa rasa belas kasihan, sang rentenier kakap ini semakin memajukan pinggulnya, maju, menekan, mendorong, membelah sehingga akhirnya jebollah pertahanan selaput tipis di dalam liang vagina Farah, si gadis alim shalihah.

Rasa ngilu dan sakit sedemikian mendera bagian kemaluannya bahkan terasa menusuk sehingga ke ulu hatinya, menyebabkan Farah tak mampu lagi mengeluarkan suara. Yang terlihat hanyalah mulut mungil dengan bibir basah setengah terbuka yang kembali diserbu diciumi sangat rakus oleh bibir tebal pak Burhan. Lidahnya yang sangat memuakkan itu kembali memasuki rongga mulut Farah, menyebabkan si gadis yang sedang disiksa ini semakin sesak nafasnya. Apalagi air liur pak Burhan penuh bau rokok keretek bertetesan mencampuri ludah Farah sehingga ciuman-ciuman pak Burhan terdengar berkecipak di tengah-tengah dengusan nafasnya.

Laju, masuk, menusuk, mundur sejenak, kemudian masuk lebih dalam, bagaikan pisau menyayat sekaligus lebarnya kemaluan pak Burhan bagaikan pentungan satpam memenuhi dinding vagina Farah. Pentungan daging ini menerobos tak henti-hentinya dan setelah bermenit-menit yang dirasakan bagaikan berabad-abad oleh Farah, maka terhentilah hantaman itu karena telah terbentur dan terhalang oleh mulut rahim.

“Oooh… nikmaaaaatnya neng houri! Gimana, mulai biasa kan dengan lumpang sakti bapak? Kasihan… masih perih ya diperawani? Tapi sebentar lagi neng pasti merengek minta tambah… ayo goyang dong pantatnya, kan mojang parahiangan paling jago ngebor dengan pantat bahenolnya… goyang yang mantep, neng… iya, gituu… terus, neng, pinter!!” pak Burhan tak peduli bahwa Farah berusaha menggeser pinggulnya ke kanan dan ke kiri karena merasa ngilu kesakitan.

Pak Burhan kini mulai lagi dengan meremas-remas buah dada Farah dengan penuh kegemasan, puting yang selalu mencuat itu kembali dijadikannya sasaran pilinan, pjitan, cubitan dan gigitan sadis.

“Hhhm… putihnya nih susu. Neng punya darah amoy kali ya, geli nggak neng dijarah teteknya? Belajar deh neng dari sekarang, siapa tahu neng ntar jadi bini bapak. Bangun pagi bapak paling seneng minum kopi susu asli, hhmm… nih puting, kenyal digewel-gewel…“ Tak habis-habisnya pak Burhan memuji kedua bukit daging yang kini telah kemerahan penuh cupangan dan gigitan.

Dengan keahliannya pak Burhan terus menerus memancing keluar hormon kewanitaan Farah yang biar bagaimanapun adalah wanita normal, tubuhnya sedang diperkosa habis-habisan, semuanya dirasakan bagaikan siksaan di neraka. Namun para iblis di neraka tak henti-hentinya menyebarkan jaringan dan jeratan rasa lain di tubuh Farah. Sakit, ngilu, perih tak hentinya, namun dari sudut dan dasar paling dalam di benaknya muncullah rasa lain; rasa panas, geli dan nikmat. Semua bercampur baur, bergantian menerpa ujung-ujung ribuan syaraf tubuhnya. Semua panca indera Farah yang semula hanya mengenal satu : kemuakan dan kebencian terhadap si pemerkosa, perlahan-lahan di transformasi menjadi rasa keinginan untuk mempertahankan apa yang sedang dialami.

Telinga pak Burhan yang sudah sedemikian ahli menangkap perubahan dari jeritan dan rintihan sakit menjadi desah dan dengusan nafas memburu seorang wanita yang dipengaruhi rasa birahi!

“Mulai enak ya, neng? Ngaku lah, nggak ada salahnya jujur ama bapak. Ntar lagi neng akan masuk firdaus, bapak cepetin nih genjotannya. Bilang ya kalo udah mau nambah, hehehe…” ujar pak Burhan yang melihat tanda-tanda gadis yang telah diperawaninya itu mulai hancur pertahanannya yang terakhir. Oleh karena itu pak Burhan makin meningkatkan tempo genjotan dan tusukannya.

“Hmmpfh… sssh… aaah… pak, ooohh… u-udah, pak… saya nggak kuat lagi, oooh…” Farah mulai hanyut terbawa arus godaan dan bujukan rasa hangat gatal di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kemaluannya yang semakin lama semakin terasa panas akibat tergesek-gesek dengan batu lumpang daging.

“Tahan dikit ya, neng, bapak mau nyumbang pejuh nih… siapa tahu ada buahnya, aaah… oooh… sempit amat… duh, angetnya nih memek mojang parahiangan tulen… iya gitu, goyang terus, terus… pijit-pijit batang pusaka bapak, oooh… bapak keluar nih…”

Pak Burhan untuk kedua kalinya menyemburkan lahar panasnya dan kali ini menyiram mulut rahim korbannya, kemaluannya berdenyut-denyut kencang membuat Farah jadi menjerit histeris ketakutan.

“Aaih, sssh… keluarin, pak, jangan buang di dalam… ntar hamil, aauoh… shhh… ngilu, pak, udah dong… aauw, a-ampun!!” Kali ini Farah bagaikan disergap oleh gelombang tsunami menderu-deru di otaknya, hanya jutaan bintang berkunang-kunang. Kepalanya terasa terputar-putar dan akhirnya semua mulai kabur, berwarna abu-abu dihadapan matanya dan hitam gelap pada saat Farah tak tahu apa-apa lagi karena jatuh pingsan…

Harapan Farah hanya sia-sia saja, pak Burhan ternyata sama sekali tidak berkurang daya kemampuannya setelah ejakulasi pertama di mulutnya tadi. Rentenir cabul ini tetap sanggup mempertahankan ereksi-nya, sehingga dapat menembus selaput kegadisan Farah. Bahkan setelah sempat menyemburkan spermanya ke dalam rahim Farah maka ia cukup beristirahat sebentar. Pada waktu mana Wati memberikan teh jahe dicampur ramuan-ramuan desa yang rupanya dalam waktu singkat dapat memulihkan daya kemampuannya memasuki ronde berikutnya.

Kali ini dengan penuh kemesraan pak Burhan memeluk tubuh Farah yang masih telanjang bulat dan setengah pingsan itu dalam posisi menyamping. Dalam posisi mana pak Burhan memeluk Farah dari arah belakang, nafasnya yang hangat menggelitik kuduk dan telinga Farah. Tangan pak Burhan yang besar dan kasar mengusap pundak, kedua buah dada nan montok dan dipilin-pilinnya puting yang kembali mengeras dan mencuat indah disertai lenguhan Farah secara tak sadar.

Tangan itu kemudian turun mencari celah kemaluan Farah yang masih basah licin karena campuran lendir vagina, sperma dan juga darah keperawanannya. Tak dapat menahan nafsunya, maka pak Burhan beberapa menit kemudian membalikkan tubuh Farah menjadi terlentang dan diperkosanya kembali. ‘Luka’ dinding memek Farah akibat proses penembusan selaput daranya kembali tergesek-gesek dan dirasakan sangat nyeri ngilu. Namun Farah sudah terlalu lemah untuk protes apalagi melawan, ia hanya bisa menangis terisak tersedu-sedu dan pasrah ditaklukkan si rentenir tua.

Pak Burhan menyetubuhinya tanpa rasa kasihan, sambil membisikkan sesuatu ke telinga Farah, menyebabkannya menggeleng kepalanya dan tangisannya semakin menimbulkan iba.

Namun sejak itu pak Burhan tak pernah lagi mempersoalkan hutang keluarga Ustadz Arief Ubaidillah, dan buku-buku karangan Farah dapat dirilis oleh percetakan lainnya…

Beberapa bulan kemudian dirayakan sebuah pesta pernikahan besar di sebuah balai desa di luar kota Bandung. Siapakah pasangan mempelai itu–banyak pengunjung berbisik-bisik mengatakan bahwa pasangan pengantin yang duduk di pelaminan itu amat tidak serasi, baik usia maupun penampilannya.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 1

Sobri Handoko, 50 tahun, akhirnya menghela napas lega setelah berhasil memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah yang hampir-hampir dikatakan kumuh itu. Jalan depan yang begitu sempit memaksa duda beranak satu ini harus berjibaku, mengeluarkan seluruh kemampuan mengemudinya hanya demi memarkir CRV hitamnya di halaman rumah yang sedari pagi tadi dicari-carinya. Rumah itu berdesain kuno, bukan antik. Sepertinya rumah itu telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan belum pernah sekalipun direnovasi. Untungnya, rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan hijau sehingga setidaknya sedikit membuatnya berkesan teduh dan menyenangkan para tamu.

Pak Sobri yang bertubuh kurus dengan keriput yang jelas nampak di sana sini, khas pria yang sudah menginjak usia tuanya, langsung menutup pintu mobilnya sendiri begitu ia keluar. Ototnya terlihat masih berisi di usia senjanya membuat ia belum tampak seperti kakek-kakek setengah renta. Di sisi mobil mewah tersebut, telah menunggunya seorang lelaki paruh baya yang berusia sekitar 30 tahunan yang tadi juga ikut membantu pak Sobri memarkirkan mobilnya

Lelaki itu berparas tampan dengan jenggot tipis menggantung di dagunya. Walau pakaiannya biasa saja, kaos oblong dengan sarung, namun tubuhnya terlihat begitu tegap. Penampilannya kontras sekali dengan Pak Sobri yang tampil sedikit perlente namun tetap saja wajahnya terkesan buruk rupa dan bahkan sinar matanya yang tajam melirik kiri kanan terlihat amat menyeramkan.

“Assalamualaikum, Ustadz Mamat. Lama tak ketemu nih, apa kabar di rumah?” tanya pak Sobri pada lelaki yang jauh lebih muda dari dirinya itu sambil menjabat tangannya.

Ternyata lelaki muda itu adalah Ustadz Mamat Salam, seorang dari lulusan Universitas Islam Madinah yang lumayan cukup terkenal di wilayah Cibubur. “Waalaikumsalam, Pak Sobri. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Bapak juga sehat-sehat saja kan?“ demikian jawab Ustadz Mamat mulai berbasa-basi dengan Pak Sobri yang baru datang. Dari cara berbicara mereka tampak bagaikan dua teman akrab yang sejak lama tidak pernah bertemu.

“Ya, begitulah baik-baik saja. Rumah ustadz terpencil begini, jadinya saya kesasar melulu, hehe.“ jawab pak Sobri menyambut ucapan ustadz Mamat sambil berusaha membuat gurauan.

“Yah, beginilah keadaan saya, Pak. Mari silahkan masuk sajalah ke dalam,” sambung ustadz Mamat mempersilahkan tamunya melewati pintu rumahnya.

Begitu masuk Pak Sobri langsung melihat sekelilingnya. Ternyata interior rumah tersebut tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya. Hanya ada sebuah meja dan empat buah kursi dari bambu di ruang tamu tersebut, tak ada yang lain. Ruang tamu dipisahkan dengan bagian belakang rumah tersebut oleh sebuah tirai hijau besar yang berfungsi sebagai hijab.

“Mari-mari, silahkan duduk, pak Sobri. Seadanya saja, jangan malu-malu. Anggap rumah sendiri,” ustadz Mamat mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu.

“Ummi, ummi… coba tolong ambilkan minuman, abbi kedatangan tamu nih,” teriak Ustadz Mamat pada isterinya yang ada di balik hijab.

Begitu Pak Sobri duduk, mereka kembali melanjutkan dialog yang renyah dan santai. Sepertinya mereka sudah lama kenal dan terlihat begitu akrab. “Hehe, lalu bagaimana kabar buku terbaru Ustadz, kira-kira kali ini akan mengambil tema baru apa, atau melanjutkan pelbagai tema lama tapi yang tetap hangat itu?” tiba-tiba Pak Sobri memulai pembicaraan yang sedikit serius.

Sudah sekitar 2 tahun lebih Ustadz Mamat bekerja sama dengan Pak Sobri dalam penerbitan buku-bukunya. Pak Sobri yang cukup kaya dan dermawan itu dengan ikhlas membantu Ustadz Mamat menyediakan dana untuk penerbitan buku-buku berisikan tema agama. Ia adalah mantan juragan tanah yang ingin bertobat dari perbuatan-perbuatan nistanya di masa lalu dan berguru pada Ustadz Mamat. Saat ini pun, kedatangan Pak Sobri adalah untuk membahas soal penerbitan buku-buku agama.

Sejak dahulu, mereka membahas segala sesuatu tentang penerbitan buku, pada umumnya hanya lewat tilpon. Paling hanya sekitar 4-5 kali mereka bertemu di kantor penerbitan. Namun kali ini, Pak Sobri ingin berbicara langsung dengan Ustadz Mamat di rumahnya. Selain untuk bersilaturrahmi dengan Ustadz Mamat, pak Sobri sebagai ayah satu orang putri ini memang ingin mengunjungi putri dan menantunya yang juga tinggal di daerah Cibubur. Ia sendiri tinggal di Bandung. Oleh karena itu, tadi pagi Pak Sobri sedikit kerepotan mencari rumah Ustadz Mamat yang ternyata cukup terpencil, karena memang ia baru pertama kalinya mengendarai mobil sendiri memasuki daerah terpencil itu, beberapa kali ia harus turun dan menanyakan jalan pada orang yang lewat.

“Kemungkinan besar sih bertemakan Ramadhan, Pak. Seperti yang kita tahu bulan Ramadhan kan sudah dekat, jadi sepertinya ini waktu yang tepat untuk menerbitkan buku bertemakan Ramadhan, sehingga dapat dipakai renungan.” demikian Ustadz Mamat berusaha menerangkan isi karangan bukunya.

Mulailah mereka membahas banyak hal seputar penerbitan buku, mulai dari budget, deadline, dan desain buku. Mereka begitu asyik berbincang hingga hampir-hampir mereka tak mendengar ketika isteri Ustadz Mamat memanggil suaminya dengan suara yang halus hampir tak terdengar.

“Abi, ini silahkan dicoba minumannya bersama,” demikian desah suara lembut nan merdu terdengar dari balik tirai.

Pak Sobri pun mengerti karena memang para akhwat biasanya memerdukan dan merendahkan suara bila berbicara dengan suaminya. Sungguh beruntung Pak Sobri bisa mendengar suara suci nan merdu tersebut, apalagi sesaat kemudian sepasang tangan yang begitu putih, mulus, terawat, tanpa cela milik seorang isteri yang shalihah dengan jari-jarinya yang lentik keluar dari bawah tirai sambil menyodorkan nampan. Dengan mendengar suara dan melihat jarinya saja, darah kejantanan Pak Sobri yang sudah 5 tahun menduda dan tak tak pernah puas ingin selalu merasakan belaian wanita itu langsung berdesir.

Namun ia cepat-cepat menghapus pikiran kotornya, ia sadar bahwa wanita di balik tirai itu adalah isteri Ustadz Mamat yang merupakan gurunya. Walaupun sebenarnya, Pak Sobri telah lama sekali benar-benar penasaran terhadap isteri Ustadz Mamat tersebut, bahkan terbersit keinginan untuk berkenalan, melihat dan menjamah kulitnya yang pasti halus sangat terawat.

Pak Sobri pun mengingat-ingat akad nikah Ustadz Mamat yang dihadirinya sekitar satu setengah tahun yang lalu di Bandung. Isteri Ustadz Mamat bernama Aida Handayani, anak pertama dari pasangan Arief Ubaidillah, seorang keturunan Arab, dan Siti Nurhana, mantan sinden cantik asli Bandung. Pasangan itu mempunyai 4 orang puteri yang, kata orang, semuanya cantik-cantik dan taat beragama. Baru Aida yang telah menikah dengan Ustadz Mamat, yang lainnya masih gadis.

Putri kedua mereka bernama Farah Wulandari, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang kini menjadi seorang penulis novel islami. Adiknya yang masih 20 tahun, Nurul Tri Lestari, masih menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Sedangkan yang paling bungsu, Asma Maharani, masih duduk di bangku SMA di Bandung.

Pak Sobri mendapatkan informasi itu semua dari Ustadz Mamat sendiri ketika beliau akan menikah. Waktu itu memang Pak Sobri turut membantu persiapan pernikahan tersebut karena ia juga tinggal di Bandung. Pikiran kotor Pak Sobri pun langsung melayang tinggi, “Melihat tangan udah bikin horny, bagaimana kalau gue bisa melihat seluruh tubuh Ukhti Aida yang katanya cantik itu, huhu, bagaikan kena undian berhadiah ratusan juta.” demikian pikir pak Sobri.

Sebelum bertobat dan berguru dengan Ustadz Mamat, Pak Sobri adalah seseorang yang boleh dibilang cukup bejat. Dengan harta yang dimiliki, ia sering main perempuan. Entah berapa orang pelacur yang sudah ia pakai. Minuman keras dan judi pun telah menjadi makanan sehari-harinya. Sampai-sampai isterinya tak kuat menahan beban berat seperti itu dan jatuh sakit kemudian meninggal. Sejak kematian isterinya itulah Pak Sobri mulai ingin bertobat, dan kebetulan ia bertemu dengan Ustadz Mamat.

Ustadz Mamat membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar, dan sebagai gantinya pak Sobri membantu Ustadz Mamat menerbitkan buku-buku Islam. Namun akhir-akhir ini, beberapa teman lamanya datang ke rumahnya dan Pak Sobri pun sedikit terpengaruh dan kembali menyewa pelacur-pelacur di Bandung. Jadi wajar kalau pikirannya pun kini dipenuhi dengan imajinasi-imajinasi yang kotor membayangkan tubuh dari istri gurunya itu.

Seperti doa yang langsung terkabul, tiba-tiba sebuah angin kencang menerobos masuk dari arah pintu depan dan langsung menembus tirai hijau besar itu. Ustadz Mamat baru sadar kalau ia telah lupa menutup pintu depan tadi. Seketika itu pula tirai itu terbuka lebar menampakkan dengan jelas apa yang ada di baliknya. Pak Sobri pun mendapatkan apa yang baru saja diimpikannya.

Aida Handayani, isteri Ustadz Mamat yang baru berusia 26 tahun itu sedang terduduk sambil sedikit menunduk. Ia tampak kaget ketika tirai di hadapannya tertiup angin sehingga terbang dan terbuka lebar. Dan begitu ia menyadari kalau tamu suaminya yang seumuran ayahnya itu sedang memandangi tubuhnya, ia langsung berusaha menahan gamis panjang dan cadarnya agar tidak ikut terbang. Ia menahan cadarnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya berusaha menutup bagian dada yang terhias dua gunung montok dan juga perutnya yang sangat langsing datar.

Namun sayangnya, angin nakal itu cukup lama berhembus sehingga Pak Sobri mampu menatap dan mengingat setiap detail tubuh ummahat yang cantik itu dengan jelas. Usaha Ustadz Mamat menutup tirai itu pun tampak sia sia karena tidak juga mampu menutupi tubuh isterinya dari pandangan lapar mata tamunya tersebut. Seketika Pak Sobri meneguk ludahnya sendiri. Ternyata isteri gurunya itu tak hanya cantik, tapi juga seksi dan bahenol. Ia harus banyak berterima kasih pada angin tadi yang telah menunjukkan segalanya, masa bodoh apakah itu angin iblis, pikirnya.

Dahulu ia hanya mampu membayangkan kira-kira wajah Aida sejak mengetahui ayahnya keturunan Arab. Ummahat itu pasti mempunyai hidung yang mancung. Pak Sobri memang tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya bagian matanya saja karena Aida memakai cadar. Namun mata yang indah dan tajam itu telah cukup memberitahu bahwa pemiliknya adalah seorang bidadari yang cantik jelita dengan kulit yang putih mulus tanpa cela.

Namun yang paling membuat birahi Pak Sobri meledak-ledak adalah gunung kembar di dada Aida. Ia mampu melihatnya dengan jelas karena posisi Aida yang sedikit menunduk tadi. Ummahat itu ternyata memiliki payudara yang berukuran melebihi normal. Ia taksir dari cetakan bra di gamisnya tadi bahwa isteri Ustadz Mamat yang begitu alim itu berukuran 38. Ukuran payudara sebesar itu benar-benar mampu membuat para pria begitu bernafsu untuk meremas dan menghisap putingnya yang pasti masih segar, walaupun se-shalihah apapun pemiliknya tak ada yang wanita yang sanggup melawan nafsunya sendiri jika buah dadanya diremas dan putingnya dipilin, dicubit serta digigit oleh lelaki yang tahu bagaimana caranya menaklukkan wanita.

Tak hanya besar, payudara Aida pasti juga mempunyai bentuk yang kencang, montok dan indah. Pak Sobri dapat mengetahuinya ketika Aida memeluk perutnya sendiri, payudara itu tampak membuncah-buncah seakan memanggil-manggil minta dihisap dan diremas. Body ummahat itu pun sekilas tampak proporsional, begitu seksi menggairahkan bagaikan bentuk gitar Spanyol.

Merasa risih akan tatapan Pak Sobri yang seperti menelanjanginya itu, Aida langsung berdiri dan berjalan cepat ke belakang menjauh dari ruang tamu. Namun malang bagi Aida, karena angin belum juga berhenti bertiup saat itu. Ketika ia berjalan, Pak Sobri sempat melihat dengan jelas bayangan celana dalam dan belahan pantatnya yang tercetak jelas di gamisnya yang kebetulan berbahan tipis dan berwarna cerah karena ia sedang ada di rumah. Pantat ummahat yang seksi dan bahenol itu bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, berputar mengebor naik turun, seolah sedang menggoda mengundang tangan lelaki untuk meremas-remas dan mencari belahan tangahnya.

Pak Sobri bagaikan telah tak mampu lagi menahan nafsu birahinya yang selama ini terpendam. Ia ingin langsung saja menyelipkan kemaluannya yang cukup besar dan telah mulai berdenyut-denyut ke selangkangan ummahat itu. Namun karena ia sadar bahwa masih ada Ustadz Mamat di hadapannya, maka ia pun menyembunyikan gundukan daging di selangkangannya yang sudah berontak. Ia mencoba bersikap tenang, walaupun bayangan seorang Aida Handayani yang berpayudara besar dan berbody sintal nan seksi itu begitu memancing semangat kejantanannya.

“Pak Sobri, anda tidak apa-apa?“ demikian teguran Ustadz Mamat dengan nada yang bersifat mengingatkan memecah semua khayalan cabul pak Sobri.

“Owh, tidak ada apa-apa, cuma pusing sedikit. Sampai dimana tadi pembicaraan kita?” demikian pak Sobri berusaha menutup-nutupi gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Mereka pun kembali memperbincangkan bisnis sampai sekitar 45 menit. Selama itu pula Pak Sobri terus melirik ke arah hijab berwarna hijau itu, berharap ada angin lagi dan ia bisa melihat tubuh ummahat seksi impiannya tadi. Namun semuanya sia-sia, sampai pembicaraan itu selesai, tak ada lagi kejadian aneh di rumah itu. Hingga akhirnya Pak Sobri pun dengan rasa sedikit penasaran pamit dan langsung menuju ke rumah anak perempuannya yang berada di daerah Cibubur juga, namun sepanjang jalan pak Sobri tetap melamunkan istri Ustadz Mamat.

“Aida Handayani, ahh… aku harus bisa merasakan tubuh indahmu itu, persetan sudah menikah dengan Ustadz Mamat, bagaimana dan apapun terjadi aku harus mendapatkan dan merogolmu.” pikir Pak Sobri di dalam mobil sambil mengocok-ngocok kemaluannya sendiri ketika menyetir mobil setelah ia membuka rits celana dan mengeluarkan si ‘otong’nya dari celana dalamnya.

Di malam itu pak Sobri tak dapat tidur dengan tenang, di dalam bayangan mimpinya Aida telah berhasil dijebak dan berada sepenuhnya di dalam genggamannya. Bantal guling yang dipeluk dan ditindihnya semalaman itu diimpikannya adalah tubuh telanjang Aida yang meliuk meronta-ronta menggeliat putus asa ketika berhasil dikuasai dan direjang di kasurnya sebelum akhirnya dengan rintih memilukan merasakan sadisnya nafsu pak Sobri.

***

Sementara itu di sebuah rumah lain di kawasan Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan,” demikianlah suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar.

“Iya, pak. Saya faham dan mengerti sepenuhnya, terima kasih sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas dan amat kecewa.

Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya. Disadarinya bahwa tak mudah menjual buku agama pada saat ini.

Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat.

Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah. Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak pemuda ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum ia dengan hati sukacita dan penuh rela akan memasuki jenjang pernikahan.

“Siapa itu tadi yang bicara di telpon, Farah, apakah ada urusan penting untuk diselesaikan?” suara lembut Siti Nurhana, ibunda Farah, membangunkannya dari lamunannya yang tak menentu.

“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah saat ini belum bisa masuk untuk dicetak.” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang menandakan kecewa.

“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana mulai menukar pakaiannya sambil berkemas-kemas untuk berangkat menuju ke pangkalan bus.

“Nggak apa-apa koq, ummi. Salam dari Farah yah sama Abi, semoga Abi lekas sembuh dan cepat dapat pulang kembali ke rumah di tengah keluarga kita,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.

Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah 4 putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga lagi. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya.

Di rumah hanya ada Farah, Asma yang masih SMA, dan ibunya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik. Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.

Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah. Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal tiga hari lagi, dan Mang Burhan telah menelpon kemarin pagi untuk menagih kembali hutang itu.

Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang?

Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis berkacamata itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan ia pun berniat untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan melakukan apa saja demi keluarga yang begitu dicintainya.

***

Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida

Aida menarik nafas sangat dalam, kemudian dilanjutkan dengan menguap sangat panjang dan lama sambil menahan rasa kantuknya. Hari ini ia memang bangun amat dini : sekitar jam 5 pagi Aida telah menyiapkan makan pagi bagi suaminya karena ustadz Mamat mempunyai tugas. Tugas panggilan yang ditawarkan oleh pak Sobri, yaitu memberikan ceramah kepada para calon peserta Musabaqoh Tillawatil Qur’an. Pak Sobri meminta agar ustadz Mamat bersedia memberikan ceramah mengenai agama kepada para calon, karena adik terbungsu dari istrinya yang bernama Asmirandah – panggilan sehari-hari Asmi – diharapkan akan ikut pertandingan.

Asmirandah adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang kelakuannya sehari-hari mulai agak menyimpang dari ajaran agama, sehingga mencemaskan orang tuanya. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan dengan menyuruhnya untuk ikut perlombaan membaca ayat-ayat Qur’an dan sebelumnya mendengarkan ceramah agar bisa memperdalam pengetahuan agamanya.

Apakah pak Sobri kini berubah menjadi seorang yang alim saleh sehingga sangat memperdulikan persiapan iman dari calon pengikut musabaqoh, apakah tidak ada udang dibalik batu?

Jawabannya mudah sekali diduga : tempat dari pemberian ceramah itu bukan dekat rumah ustadz Mamat, melainkan di desa Jamblang yang tak jauh dari kota Cirebon. Selain itu, ceramah yang diminta oleh pak Sobri kepada ustadz Mamat cukup memakan waktu lama sehingga tak dapat diselesaikan dalam sehari. Memang Pak Sobri menanggung semua biaya perjalanan, biaya penginapan dan segala akomodasi, di samping itu sebagai balas jasa, ustadz Mamat juga diberikan honorarium dalam jumlah cukup besar yang dapat dibandingkan dengan penjualan buku hasil karya sang Ustadz setahun lalu.

Apakah pak Sobri sedemikian baik hati dan menjalankan fitrah sebagai dermawan?

Semuanya itu ternyata hanyalah muslihat belaka untuk memancing ustadz Mamat agar bisa meninggalkan istrinya, Aida, selama dua malam. Selama kesempatan itu, pak Sobri ingin mendekati Aida, ingin merayunya dengan palbagai cara, ingin merasakan kehangatan tubuh bidadari idamannya itu. Pak Sobri telah dikuasai oleh bujukan iblis untuk mengatur semuanya – dan memang kemampuan iblis mengatur tak boleh dipandang ringan.

Seolah awan gelap sedang menyelubungi keluarga ustadz Mamat, maka di hari pertama yang sama ketika ustadz Mamat berangkat ke Jamblang untuk memberikan ceramah, Farah pun kebetulan pergi menemui pak Burhan si rentenier kakap untuk negosiasi memperoleh pinjaman uang. Bacalah episode lain dari cerita ini : « Tragedi Farah »

Setelah memasak sederhana seadanya untuk makan siang dan menjemur pakaian kotor yang telah dicucinya di halaman belakang, maka Aida akhirnya memutuskan untuk sebentar memejamkan mata menghilangkan rasa kantuknya. Adiknya, Farah, juga telah pergi pagi tadi untuk mencari percetakan lain yang bersedia menerbitkan buku-buku agama karangannya. Farah tak mau cerita kepada Aida mengenai rencananya negosiasi dengan pak Burhan karena Farah tahu bahwa Aida tak senang dan selalu mencurigai pak Burhan sebagai lelaki mata keranjang. Setelah itu Farah mengatakan akan mengunjungi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, karena itu kemungkinan besar akan lama meninggalkan rumah dan makan seadanya di kantin rumah sakit.

Aida menghela nafas panjang dan merebahkan diri di bangku panjang di dekat ruang makan. Sayup-sayup seolah muncul terbawa deru angin, Aida mendengar ketukan pintu dan terdengar namanya dipanggil. Pertama Aida mengira bahwa itu hanya sekedar mimpi, namun setelah empat lima menit ketukan di pintu depan dan panggilan namanya tak kunjung berhenti, disadarilah olehnya bahwa itu memang bukan mimpi, tapi benar-benar ada orang yang mengetuk pintu.

Sebagai istri yang alim shalihah, Aida agak ragu menjawab ketukan pintu, apalagi mendengar suara panggilan itu jelas keluar dari mulut seorang lelaki. Aida menjadi takut dan bertekad tak akan buka pintu!

“Ummi Aida, ummi Aida, tolonglah buka pintu. Ban mobil saya rupanya kena paku hingga bocor, dan saya butuh air karena karburator terlalu panas sehingga tak mau jalan motornya. Tolonglah, ummi, hanya sebentar saja minta air dan ganti ban, lalu saya langsung pergi lagi, ” demikian terdengar suara lelaki di depan pintu yang akhirnya dikenali Aida sebagai suara dari pak Sobri.

Di dalam benaknya Aida mulai ragu, bukankah menolong orang sedang kesusahan sudah menjadi kewajiban setiap manusia, apalagi seorang tekun beragama seperti ia sendiri. Lagipula yang membutuhkan pertolongan itu bukan lelaki yang sama sekali asing, melainkan pak Sobri yang di masa lalu sering kerja sama dengan suaminya untuk menerbitkan buku, juga pak Sobri bahkan hadir ketika pesta pernikahannya sendiri dengan ustadz Mamat.

Sangat hati-hati Aida mendekati jendela kecil yang tertutup gorden untuk mengintip keluar dan diharapkannya tak langsung akan terlihat oleh pak Sobri. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak Sobri bahwa ban mobil belakangnya di bagian kiri kempés sehingga mobil itu terlihat miring sebelah. Namun yang mengejutkan Aida adalah ketika melihat kemeja pak Sobri telah basah kuyup dengan keringat dan tangan kirinya terlihat berlumuran cairan merah menetes dari jari-jarinya. Pak Sobri agaknya terluka dan berdarah.

Apakah kealiman dan ke-shalihahan seorang istri setia tetap dipertahankan dengan tidak menolong atau bahkan mengusir lelaki bukan suaminya itu, ataukah kesediaan untuk membantu sesuai dengan rasa peri kemanusiaan harus lebih diutamakan?

Aida tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Di satu pihak hati nuraninya menuntut untuk wajib menolong, sementara di lain pihak fikiran sehatnya masih ragu tak yakin apakah ia tak akan salah langkah?

“Tolonglah, ummi… saya hanya ingin diberikan air dingin untuk karburator motor, juga minum sedikit sebelum saya ganti ban dan cuci tangan. Kemudian saya segera akan pergi secepatnya, ” demikian ucapan pak Sobri memecahkan keheningan sejenak, dan dengan kalimat terakhir ini Aida memutuskan untuk melepaskan prinsip ke-aliman-nya dan bersedia menolong.

Padahal semuanya sudah diatur dan dirancang masak-masak oleh pak Sobri : ban mobilnya sebenarnya tidak bocor, namun beberapa menit lalu dilepaskan ventil-nya sehingga sebagian besar udara keluar menjadikan mobil itu miring. Selama perjalanan ke rumah Aida, dengan sengaja semua jendela ditutup dan airco tak dipasang, sehingga di tengah teriknya matahari pak Sobri sudah basah dengan keringat. Cairan merah yang terlihat membasahi jari-jari tangannya adalah tomato ketchup yang disimpannya minggu lalu ketika makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken. Sedangkan karburatornya sama sekali tidak kekurangan air.

Namun seorang wanita seperti Aida tentu saja tak paham mengenai persoalan mesin mobil, sehingga dengan mudah dapat ditipu! Aida merapihkan pakaian dan jilbab putihnya yang lebar itu dan dengan menundukkan kepala dibukanya pintu depan rumahnya dengan perlahan…

Pak Sobri melangkah masuk – Aida telah masuk dalam jebakan!!

“Terima kasih banyak, ummi, saya ambil air saja di jerigen kecil ini. Mohon untuk ke belakang sebentar untuk hajat kecil dan cuci tangan, dan saya akan segera pergi lagi,” demikian pak Sobri melihat arah belakang rumah di balik hijab yang ditunjuk oleh Aida.

Setelah itu Aida segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum tamunya. Tak disadari oleh Aida bahwa nafsu birahi pak Sobri telah naik ke-ubun-ubun ketika melihat betapa menggairahkan langkah Aida di balik gamisnya yang tak mampu menyembunyikan goyangan bongkah pantat yang begitu padat bulat, goyangan dan putaran sedemikian alamiah tanpa dibuat-buat!

Aida telah meletakkan segelas air putih di atas meja kecil ruang tamu dan ingin berbalik untuk kembali ke dapur, ketika mendadak tubuhnya disergap dan dipeluk dari arah belakang. Teriakannya juga segera teredam karena mulutnya dibekap oleh tangan lelaki yang sangat besar kasar dan berbulu, tangan yang beberapa menit lalu dilihatnya berlumuran cairan merah kental kini menyekat bibir mungilnya.

Aida berontak dan menggelinjang sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari ancaman bahaya yang akan menimpa, namun apalah arti tenaga seorang istri setia bertubuh asri semampai menghadapi lelaki yang telah lama menginginkannya dan kini telah menerkamnya bagai singa menerkam kancil lemah – dan kancil ini segera diseret untuk memasuki kamar tidur!

“Hmmppffh… iieeehmph… tolooong ! N-nggak maau… lepaskan ! Auuw… ieeffhhh… ” caci maki suara Aida yang teredam sehingga tak keluar semuanya.

Pak Sobri tak perduli atas protes dan rontaan korbannya, karena dengan tenaganya yang sangat kuat ia telah berhasil menyeret mangsanya memasuki kamar tidur yang selama ini hanya dihuni dan ditiduri oleh Aida dan suaminya yang sah, yaitu ustadz Mamat. Pergulatan dua insan tak sebanding tenaga itu semakin menjadi ketika pak Sobri telah berhasil menghempaskan Aida ke atas ranjangnya.

Tubuh pak Sobri yang agak gemuk di atas 75 kilo itu semakin penuh dengan keringat ketika ia semakin ganas menindih tubuh Aida yang hanya sekitar 46 kilo. Mulut Aida yang selalu terhias dengan senyum manis itu kini tertutup oleh bibir dowér pak Sobri. Bukan hanya ciuman-ciuman rakus yang sangat mengganggu, namun aroma tidak menyenangkan disertai bau rokok membuat Aida sangat muak. Apalagi ketika dirasakannya bahwa pak Sobri menjulurkan lidahnya yang penuh ludah menjijikkan menerobos masuk, Aida mulai sangat mual dan terasa ingin muntah.

Aida berusaha mencakar muka dan terutama mata si pemerkosanya, namun pak Sobri sangat sigap dan langsung dengan hanya satu tangan berotot dan jari-jari sangat besar bagaikan beruang merejang kedua pergelangan tangan Aida. Ditekan dan diringkusnya kedua nadi nan langsing itu ke atas kepala yang masih terlindung jilbab, sehingga Aida tak mampu bergerak apalagi mencakar. Dengan ditindih tubuh sedemikian berat, Aida merasakan sangat sukar bernafas dan semua gelinjang gelisah serta rontaannya justru semakin memacu birahi pak Sobri.

Dirasakan oleh lelaki durjana ini betapa lembut nan montok dua bukit gunung penghias dada Aida, membuatnya jadi semakin horny. Dengan kasar dan tanpa kesabaran sama sekali, Aida merasakan selembar demi selembar, lapis demi lapis baju gamis penutup pelindung tubuhnya dihentak ditarik oleh pak Sobri. Amat berbeda dengan apa yang dialami jika sedang bercinta dengan suaminya, ustadz Mamat… kini tubuhnya yang muda dan penuh hormon kewanitaan dipaksa menikmati nafsu hewaniah!!

Aida menjerit dan meratap di dalam jiwanya yang tak rela untuk digagahi lelaki asing bertubuh kekar yang telah mandi keringat menyebabkan terlihat agak mengkilat. Aida tak rela menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya akibat kebodohannya membiarkan lelaki asing masuk rumahnya saat ia hanya seorang diri. Kini semuanya telah terlambat, pak Sobri yang selama ini membantu sang suami untuk menerbitkan buku-buku berisi agama telah menindih badannya, merejangnya hingga jadi tak berdaya di atas ranjang, juga menarik dan melepaskan jubah baju kurungnya satu persatu, menciumi serta menyapu-nyapu lidahnya di rongga mulut, mencampurkan ludahnya yang berbau rokok dengan ludah Aida yang harum.

Semuanya menyebabkan Aida mulai menangis tersedu terisak menimbulkan iba. Namun itu tidak menyebabkan pak Sobri menjadi kasihan, bahkan sebaliknya ia jadi semakin ganas! Lapisan demi lapisan pelindung tubuh istri setia ini dihentakkan dan ditarik lepas olehnya, sehingga kini hanya tinggal jilbab putih yang menutupi rambut Aida yang hitam bergelombang sepanjang bahu. Selain itu masih ada BH berukuran 36B serta celana dalam putih yang menutupi bagian tersembunyi dari tubuhnya yang sampai saat ini hanya pernah dilihat oleh suami Aida.

Pak Sobri yang telah kesetanan menyeringai buas melihat betapa montoknya tubuh istri ustadz gurunya itu. “Hmm… harum, wangii nih bibir, mulut atas kamu… hmmh! Cuup, cuup, apalagi mulut bawah kamu… pernah dicium nggak mulut dan bibir bawah kamu oleh suami?” tanya pak Sobri diantara kecupan dan dekapan mulutnya menutup bibir Aida yang memang selalu terlihat merah muda merekah seolah mengundang untuk dicium.

Aida tak sanggup lagi bertahan terlalu lama, tenaganya mulai habis ditindih dan direjang habis-habisan, terutama membela pakaiannya yang kini telah tersebar di atas ranjang dan sebagian jatuh ke lantai.

Pak Sobri paham sekali bahwa wanita idamannya ini mulai takluk di tangannya, suaranya pun telah lunak terisak-isak dan serak karena tangisannya. Karena itu ciuman pak Sobri kini mulai meninggalkan mulut Aida, menjalar ke pipinya, mengecup dan meniup-niup liang telinga Aida, lalu juga dijilatinya rakus.

Tak pernah suaminya melakukan hal ini padanya sehingga Aida merasa merinding kegelian, terlihat dari bulu-bulu sangat halus yang menutupi kulitnya jadi agak berdiri, dan isak tangisnya mulai berubah menjadi lenguhan, keluhan dan desahan-desahan halus sebagai tanda wanita alim ini mulai terangsang!

“Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Sobri !” keluh Aida sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Sobri yang begitu kekar.

Desahan lemah lembut dari mulut Aida terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Sobri setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Aida. Disitu pak Sobri menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Sobri yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Aida yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.

Rasa geli tak terkira membuat Aida menggeliat berusaha meronta, tapi apa daya kedua nadinya tetap direjang di atas kepala oleh satu tangan pak Sobri yang begitu kuat ibarat belenggu besi. Geliatan dan gelinjang tubuh atas Aida tak membebaskan kedua nadi tangannya, namun justru membuat buah dadanya tanpa disadari semakin membusung dan menonjol ke atas. Dan gundukan daging kenyal montok ini adalah sasaran pak Sobri berikutnya setelah BH-nya ditarik lepas.

Kedua bukit daging yang selama ini menjadi idaman dan impian pak Sobri kini terpampang di hadapan matanya, dan tanpa menunggu lagi segera dijadikan sasaran jari-jari tangan kanannya yang bebas. Pak Sobri tahu bahwa Aida akan mulai lagi melawan dan menjerit-jerit – oleh karena itu ia membekap lagi bibir merekah itu dengan ciuman ganas sementara jari tangan kanannya meremas dan mengelus buah dada idamannya sehingga terlihat mulai memerah dan putingnya semakin keras mencuat ke atas. Kedua paha betis langsing Aida yang kini tak terlindung lagi juga ditekannya sekuat tenaga ke kasur oleh paha dan betisnya yang penuh bulu bagaikan gorila.

“Ummh… ini tetek montok banget, kenyal tapi kencang. Pasti tiap malam dijadikan mainan suaminya, kini jadi milik aku. Biar belum punya anak tapi mungkin keluar susunya jika diperas,” demikianlah pikir pak Sobri dan oleh karena itu semakin seru dan ganas ia meremas dan memijit puting kedua payudara mangsanya, membuat Aida jadi semakin menggelinjang-gelinjang karena kesakitan.

“Enggak mau! Aiihh… j-jangann… auww! U-udah, eemphff… auuw!! S-sakiit…” Aida meronta-ronta dan berusaha bicara, namun suaranya hanya keluar sebagian karena terus menerus mulutnya diciumi oleh pak Sobri dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aida disertai ludahnya yang sangat dibenci dan amat memuakkan bagi Aida karena berbau rokok.

Mendadak, sangat mendadak pak Sobri menghentikan kegiatan jari-jari tangan kanannya meremas buah dada Aida, dan sebelum Aida dapat memahami apa yang terjadi, dirasakannya celana dalam sebagai pelindung auratnya yang terakhir ditarik dan diselusurkan ke bawah melewati paha betis dan kakinya. Kini sempurnalah Aida telanjang bulat di dalam cengkraman pemerkosanya, pak Sobri. Terlihat sangat kontras tubuh bidadari yang putih mulus itu ditindihi oleh tubuh besar hitam legam berbulu, istri ustadz yang alim shalihah itu tak berdaya lagi membela kesuciannya!

“Yaa Allah, ampunilah aku ! Hambamu tak kuat lagi menahan malu dan aib ini,” tangis Aida di dalam batinnya ketika menyadari musibah yang segera akan menimpanya. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sedemikian halus, tubuhnya terasa panas dingin dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena pergumulan dan pergulatan serta rontaannya yang sia-sia.

Tak ada yang dapat menghalangi pak Sobri dengan tenaganya, ibarat kesetanan kini ia melepaskan baju kaos dan celana dalamnya sehingga terlihatlah batang kejantanannya yang disunat telah menegang dan siap menerobos liang surgawi Aida.

“Tak usah takut, manis. Bapak tak mau sakiti Aida, rela dan pasrah sajalah. Menyerahlah pada bapak, nanti Aida akan merasakan surga kenikmatan yang belum pernah kamu alami,” bisik pak Sobri sambil jari-jari tangan kanannya mengusap-usap kemaluan Aida yang licin tercukur rapih.

Setelah menemukan celah yang dicarinya, maka mulailah jari telunjuk dan jari tengah pak Sobri yang besar memasuki perlahan-lahan liang vagina Aida, sementara ibu jarinya mengusap diantara belahan bibir kemaluan perempuan alim itu. Perlahan-lahan tanpa dikehendaki oleh Aida, muncullah tonjolan daging kecil merah muda diantara bibir kemaluannya dan setiap kali klitorisnya ini tersentuh ibu jari pak Sobri, maka dirasanya selain geli juga bagaikan terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya.

Sesuatu yang tak dimengerti oleh Aida : ia diperkosa, tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi saat dirangsang? Padahal itu sama sekali bukan salahnya sendiri – tubuhnya yang begitu padat montok sebagai wanita muda sehat jasmani mempunyai hormon-hormon kewanitaan yang secara normal membutuhkan ‘nafkah’ lawan jenisnya – itu sudah kodrat alam, itu naluri dasar perkembangbiakan manusia.

Pak Sobri yang bukan pertama kali memperkosa wanita muda yang melawan menolak diawal mula merasakan bahwa daya pertahanan Aida sudah sangat lemah, sebentar lagi bukan saja ia menerima pasrah terhadap perkosaan, melainkan akan menyerah dan ‘membalas’nya dengan cara yang biasanya diberikannya kepada sang suami, namun kali ini kepada sang pemerkosanya…!

Namun pak Sobri bukanlah pak Sobri jika ia dengan tergesa-gesa melakukan perkosaan. Pak Sobri bukanlah anak kemarin dulu, bukan anak belasan tahun disaat masuk usia pubertas melakukan sanggama dengan cara quicky. Pak Sobri mempunyai rasa ego yang besar, ia menginginkan agar Aida justru akan ketagihan dan selalu merenungkan, mengingat dan bahkan mengharap agar peristiwa perkosaan yang dialaminya akan selalu terulang lagi di masa depan. Untuk mencapai tujuan itu maka Aida harus dibantainya habis-habisan, harus dibangunkan seluruh nafsu birahinya, harus dihilangkan rasa malunya, pendek kata : ditransformasi menjadi slutty.

Pak Sobri menghentikan sementara ciuman dan gigitannya di puting buah dada Aida yang kini jelas semakin tegang dan mengacung peka itu. Ia memandang wajah Aida yang telah sayu dan kuyu penuh linangan air mata, namun justru terlihat semakin ayu cantik. Pak Sobri merebahkan diri agak menyamping di sisi kanan Aida, lengan kanan Aida ditindihnya dengan dadanya yang bidang penuh bulu itu. Lengan kiri pak Sobri dengan biseps amat keras diletakkan di bawah Aida yang masih tertutup jilbab seolah menjadi bantal, sedangkan tangan kiri pak Sobri berada di atas kepala Aida tetap merejang dan menekan nadi pergelangan perempuan itu ke ranjang sehingga tak dapat berkutik. Kaki kiri pak Sobri yang juga berbulu dan sangat kuat menindih paha kanan Aida serta direntangkan melebar ke samping kanan, sedangkan kaki kanan pak Sobri mulai menekan dan menguakkan paha kiri Aida semakin melebar ke arah samping kirinya. Dengan demikian Aida telentang telanjang bulat di ranjangnya dengan kedua tangan tak mampu digerakkan, demikian pula selangkangannya terbuka lebar tanpa pertahanan untuk melawan jari-jari pak Sobri.

Menyadari betapa tak berdaya dan lemah keadaan tubuhnya, maka Aida hanya dapat menangis tersedu-sedu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencerminkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang dialami, hidung mancung bangir dengan lubang mungil kembang-kempis menahan isak tangis pada saat dirasakan tubuh bugilnya mengkhianati kemauannya untuk tetap melawan nafsu.

Pak Sobri semakin laju meningkatkan rabaan, usapan dan gesekan jari-jarinya di dalam liang Aida yang mulai basah licin berlendir karena limpahan air mazi dari dinding vaginanya. Isakan tangis Aida kini mulai berubah menjadi lenguhan, desahan dan rintihan wanita dewasa yang dilanda rasa gairah dan kenikmatan terlarang. Semakin lama lenguhan dan desahan itu semakin nyata di telinga pak Sobri yang semakin cepat menggesek ibu jarinya di kelentit Aida, sementara dua jari lain masuk semakin dalam ke dalam liang wanita Aida yang telah basah kuyup berlendir.

Akhirnya dengan rintihan memilukan hati, tubuh Aida melengkung ke atas dan menegang bagai sedang sekarat, kemudian mengejang dan gemetar bagai menggigil disaat ia mencapai orgasme!

Pak Sobri harus mengerahkan semua tenaganya untuk tetap dapat merejang tubuh Aida yang dilanda orgasme pertama akibat ulah sang pemerkosa. Beberapa menit kemudian tubuh Aida perlahan-lahan berkurang ketegangannya, menghempas lemah dan lemas basah keringat.

Saat inilah yang telah dinantikan oleh pak Sobri yang tak kalah basah kuyup dengan keringatnya, dan kini telah siap bersetubuh dengan wanita idamannya tanpa perduli Aida telah setengah pingsan!

“Gimana sayang, apa yang kamu rasakan sekarang, letih dan lemas tapi puas kan? Itu hanya sedikit permulaan saja. Bapak baru mulai merasa gairah dan segera akan melanjutkan permainan. Nanti neng akan merengek meminta tambah terus, bapak jamin nanti neng akan selalu ketagihan untuk dirogol. Mau ya, neng manis?” ujar pak Sobri sambil meletakkan dirinya diantara belahan paha korbannya.

Betapapun Aida berusaha menutup dan merapatkannya, tapi ia jauh kalah tenaga. Pak Sobri kini telah bertahta di tengah selangkangannya, kedua pergelangan kaki Aida nan langsing itu dicekal dengan geram sehingga terlihat kemerahan, kemudian diletakkannya kedua betis belalang nan langsing dengan lutut tertekuk itu di pundaknya yang bidang dan lebar. Pak Sobri kemudian menundukkan kepalanya dan mulai menciumi bagian dalam paha Aida yang begitu halus. Karena pak Sobri memang sengaja belum cukur selama tiga hari maka bukan hanya kumisnya tapi juga janggutnya telah ditumbuhi bulu jenggot pendek namun kasar ibarat sapu ijuk.

Kini pak Sobri dengan sengaja menggesek-gesek dan menciumi paha bagian dalam Aida yang begitu halus dan peka sehingga terasa sangat geli ibarat ditusuk-tusuk ijuk. Akibatnya keadaan Aida yang telah lemas setengah sadar setengah pingsan itu dipaksa kembali bangun melawan rasa geli yang menyiksanya. Istri setia yang malang ini berusaha membalikkan tubuhnya tapi tak mampu karena kedua kakinya telah terkangkang lebar dan tergantung di pundak kiri-kanan sang pemerkosa.

Pak Sobri semakin meningkatkan kegiatannya merangsang istri ustadz idaman dengan menangkap dan meremas-remas lagi kedua buah dada Aida, terutama putingnya dijadikan sasaran dipilin dan dicubit ditarik-tarik sehingga Aida jadi menjerit kesakitan. Pak Sobri tidak perduli semua rintihan dan jeritan Aida yang memilukan, bahkan kini mulut dan bibirnya tak cukup memberikan cupangan-cupangan ganas di kedua betis Aida yang putih, namun juga mencapai lipatan paha dan akhirnya melekat di tengah selangkangan Aida untuk memulai perantauannya disana!

“Ummh… cckkk… sluurpp… uuh wanginya! Neng mandi pake air mawar ya, bisa harum kayak gini?! Bapak jadi ketagihan, mmmh… nggak puas-puas bapak rasanya… nih bapak ciumin dan jilatin ya?!” celoteh pak Sobri diselang-seling dengan ciuman dan gigitan gemas di bukit kemaluan Aida yang gundul kelimis karena selalu dicukur.

Lidah pak Sobri bagaikan ular menyapu-nyapu bibir kemaluan Aida, lalu berusaha memasuki celah di tengahnya untuk mencari tonjolan daging kecil sebesar butir jagung yang tersembunyi diantara lipatan atas bibir vaginanya.

“Oooh… jangaan! U-udah, Pak! Tolong kasihani saya! Saya ini istri ustadz, Pak! Oohh… saya tak mau selingkuh, Pak! A-ampun… saya tak akan lapor! Tolong, Pak… jangan! Aaiihh…” Aida menggelinjang dan berontak mati-matian melawan rasa lemasnya, dan selain itu melawan rasa lain yang tak pernah dialaminya karena suaminya tak pernah melakukan bercinta oral di vagina. Rasa menyesal dan bersalah silih berganti mulai terdesak rasa ingin tahu, ingin terus mencoba!

Tanpa menghentikan remasan dan pilinannya di puting tetek Aida yang begitu montok tegang mengacung itu, pak Sobri kini menjilat-jilat penuh nafsu celah kewanitaan Aida yang semakin basah berlendir. Bagaikan bunga di pagi hari mulai merekah, maka bibir kemaluan Aida sebagai wanita dewasa menjawab jilatan lidah pak Sobri dan memberikannya kesempatan menampilkan klitorisnya yang seolah malu tersembunyi, dan kelentit ini segera dijadikan sasaran gigi-gigi tajam!

“Auuw! Aiihh… oohh… ahhh… emmh… u-udah, Pak! Ngiluu…   saya tak tahan! Auww… oooh… j-jangaan digigit, Pak! Sakiiit… ampuun!” jerit Aida sambil tubuhnya mulai kembali kejang-kejang dan gemetar bagaikan terkena aliran listrik, kedua tangannya mencengkeram jari-jari pak Sobri yang tak puas-puas terus menerus meremas buah dadanya.

Tak hanya mencengkeram, namun kuku-kuku jari Aida yang juga begitu bagus rapih terawat mencakar-cakar lengan bawah pak Sobri, menandakan perlawanan sia-sia menahan rasa nikmat kembali menyiksanya. Kini pak Sobri berganti-ganti menjilat, menggigit-gigit dan menyapu klitoris Aida dengan janggutnya yang berhias jenggot sekasar sapu ijuk.

Tak lama kemudian Aida sama sekali telah kehilangan rasa malu, kehilangan pertahanan dan akal sehat sebagai istri setia seorang ustadz. Terlalu hebat siksaan kenikmatan yang sedang dialaminya dan ini tak pernah diterimanya dari suaminya yang sah, tak pernah ustadz Mamat mengajarkannya serta memberikan seni percintaan sebagaimana yang selalu diharapkan dan didambakan wanita sehat, tak perduli betapa suci, alim dan shalihahnya si wanita, itu sudah kodrat naluri alamiah.

Menyadari bahwa kemenangannya telah berada dihadapan mata, maka pak Sobri mengecup dan melekatkan seluruh mulutnya di ambang celah surgawi Aida. Buah kelentit Aida yang bagaikan butir jagung berulang-ulang dijepit diantara barisan gigi depan pak Sobri, bergantian dengan lidahnya yang kasar makin sering memasuki lubang vagina mangsanya. Bergonta-ganti pak Sobri menjepit kelentit diantara deretan giginya, lalu digeser-gesernya gigi itu ke kiri dan ke kanan.

Kemudian dilepaskannya sebentar kelentit mungil itu dan sebagai gantinya lidah pak Sobri menyentuh dan menggelitik lubang kencing Aida yang juga demikian peka di bagian dalam. Sekaligus kedua ibu telunjuk dan ibu jarinya memulin serta mencubit-cubit kedua puting Aida yang telah amat tegang mengeras bagaikan batu kerikil mungil.

Aida merasakan dirinya terbawa putaran deras arus gelombang kenikmatan, semakin lama semakin dalam dan akhirnya menyeretnya tenggelam kemudian dilemparkan setinggi-tingginya ke udara. Disitu seluruh syaraf di otaknya mengalami ledakan dahsyat tanpa ada tandingan, disertai sebaran jutaan bintang kecil di pelupuk matanya dan jeritan melengking wanita mendengung di telinganya: jeritannya sendiri!

“Aaah… auuw… oooh… i-iya! Auuw… Pak, aduuh… eemh… aaihh… u-udah, Pak! Oooh… terruus… oooh… saya mau pipiis!!” Aida tak sadar lagi apa yang dikatakannya, ia memohon kepada pak Sobri agar berhenti atau justru meneruskan dan meningkatkan penggarapan yang sedang dilakukannya.

Tubuh Aida kembali kaku menegang dan kejang-kejang disaat orgasme lagi-lagi menerpanya, gelombang demi gelombang seolah tak henti-henti. Jari-jari kakinya menekuk melengkung ke dalam seolah ingin membentuk kepalan tinju, pahanya yang begitu lembut halus mengerahkan semua kekuatan otot-ototnya menjepit kepala pak Sobri, lalu membuka kembali, menggesek-gesek maju mundur seolah ingin menggaruk kegatalan tak terhingga.

Pak Sobri yang telah berpengalaman, merasakan denyutan-denyutan dinding vagina Aida seperti meremas dan memijit-mijit lidahnya yang menjulur menyentuh lubang kencing. Inilah saat terbaik untuk menguasai wanita alim seperti Aida : menyetubuhinya disaat dinding vaginanya berdenyut-denyut. Disaat inilah seorang wanita akan merasakan vaginanya ngilu dibuka, dilebarkan dan dibelah!

Pak Sobri meraih bantal yang berada di ranjang di samping tubuh mereka, lalu diletakkannya di bawah pinggul Aida dengan menurunkan perlahan-lahan betis dan kaki belalang yang tergantung di pundaknya. Dengan adanya bantal itu maka pinggul Aida jadi terangkat tinggi dengan kedua kaki masih terbentang ke kiri dan ke kanan, sehingga liang kemaluannya jadi terlihat sangat menantang dengan dihiasi bibir berwarna coklat muda kemerah-merahan dan dinding yang masih berdenyut-denyut lemah tapi nyata!

Aida yang masih tenggelam di dalam badai orgasmenya dan tak perduli lagi tubuhnya yang selalu terlindung jubah gamis berlapis-lapis kini telanjang bulat di hadapan lelaki asing, tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirasakannya kembali tubuh pak Sobri yang penuh bulu tebal bagai gorila menindih tubuhnya, dirasakannya ada sesuatu yang mulai menerobos liang surgawinya. Aida sudah terlalu lemas untuk melawan, ia hanya dapat melenguh panjang menyatakan ketidaksetujuan terhadap apa yang akan terjadi. Namun semuanya sudah terlambat : milimeter demi milimeter celah kesuciannya yang selalu terlindung kini mulai dimasuki oleh alat kemaluan lelaki asing.

Namun rasa putus asa, ketidakperdulian dan penyerahan yang telah menguasainya terganggu dan terhenti mendadak ketika Aida merasakan bahwa rudal daging yang mulai memasukinya sangat ‘tidak normal’. Suaminya selalu dengan mudah melakukan senggama meskipun harus diakui bahwa ustadz Mamat tidak memperdulikan apakah istrinya cukup licin basah atau belum. Kali ini Aida merasakan bahwa dirinya telah licin dan basah sekali, namun senjata pak Sobri sangat besar, berusaha beberapa kali pun tetap gagal menerobos liangnya yang kecil sempit.

Namun dengan usaha yang terus-menerus, akhirnya pak Sobri berhasil meretas belahan bibir vagina Aida dan… bleees !

“Auuw, hentikan! Hentikan! U-udah, Pak, jangan diteruskan! A-aduh… aduduh… aaah… auw! Pak! Aauuw… s-sakiit! Oooh… ampuun!” jeritan Aida menggema bagaikan hewan akan disembelih ketika dirasakan vaginanya bagaikan dibelah kayu.

Pak Sobri hanya tersenyum sadis melihat wajah ustazah ayu manis di bawahnya menengadah ke atas dengan mata penuh air mata dan bibir merekah mengeluarkan rintih sakit memilukan. Tanpa rasa belas kasihan, pak Sobri terus melaju menekan kejantanannya menembus dan membelah dua dinding memek Aida. Sambil merejang kembali kedua pergelangan tangan Aida di samping kepalanya, pak Sobri menghentakkan pinggulnya, menancapkan dan menumbukkan kepala penisnya yang berbentuk jamur topi baja ke mulut rahim mangsanya, sehingga terasa amat nyeri sakit.

“Hehehe… akhirnya tercapai juga keinginan bapak mencicipi memek istri ustadz alim shalihah! Uuhh… emang empuk banget! Enak nggak, neng? Jangan malu-malu deh, ngaku aja sama bapak, hehe.” seru pak Sobri dengan semangat lelaki setengah baya sedang berjaya memperkosa wanita muda.

Aida tak mempercayai apa yang sedang dialaminya, ia sedang digarap habis-habisan oleh lelaki tua bukan taraf usianya. Gempuran dan hunjaman penis perkasa pak Sobri terasa bagaikan sedang merobek vaginanya, sedang menumbuk rahimnya sekuat-kuatnya hingga terasa begitu ngilu sakit di ulu hati.

Istri setia yang malang ini berusaha menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping serta menggigit bibir bawahnya menahan segala campuran rasa yang sedang menimbunnya. Namun pak Sobri terus, terus dan terus menggenjotnya sekuat tenaga seolah diberikan kekuatan oleh setan yang menguasai rumah ustadz yang kosong itu. Maju, mundur, maju, mundur maju menghantam alat kewanitaan yang halus lembut milik Aida, sehingga terasa sekali semakin lama jadi semakin panas, perih dan pedih serta ngilu sakit yang dialami oleh si cantik alim ini.

Namun di samping itu semua, ujung-ujung syaraf peka di tubuh Aida – terutama di bagian yang paling sensitif – mempersembahkan gejolak kegatalan dan nikmat tak terlukiskan dengan kata-kata. Semua silih berganti semakin lama semakin cepat hingga Aida tak dapat lagi membedakan pada saat hunjaman penis pak Sobri membentur rahimnya : apakah ngilu atau enak, apakah perih atau gatal, apakah sakit atau nikmat, sakit tapi nikmat, apakah nikmat atau sakit, apakah ini khayalan ataukan kenyataan? Apakah dosa jika dia tidak melawan, ataukah dosa jika Aida mengakui bahwa semuanya memang menyakitkan tapi nikmat.

Aida tak tahu lagi apa yang sedang menghantui benak dan tubuhnya – keinginannya untuk tak menatap mata sang pemerkosa akhirnya terkalahkan. Masa bodohlah semuanya, jilbabnya pun telah terlepas, apa lagi yang harus ia pertahankan? Kesuciannya telah hancur, suaminya selama ini tak pernah memberikan nafkah batin seperti ini, sedangkan pak Sobri memang memaksakan hasrat kelaki-lakiannya dengan sangat nikmat, mengajarkannya bagaimana menjadi wanita dewasa yang dapat mengalami kepuasan badaniah sepenuhnya, yang selama ini selalu tersembunyi.

Dengan kuyu dan sayu penuh rasa putus asa dan kepasrahan, Aida menatap mata pak Sobri yang bersinar karena sedang menikmati kemenangannya. Dengan sedikit gemetar kedua belahan paha Aida yang sejak tadi dipaksakan merebah terkuak di ranjang, kini mulai bergerak, lutut yang bulat mulus itu menekuk dan melurus. Tanpa dipaksakan, paha mulus Aida mengatup dan menjepit merangkul pinggang pak Sobri, dan seirama dengan hunjamannya ikut menekan seolah ingin membantu penis yang semula sangat menyakitinya itu masuk semakin dalam.

Hampir satu jam sudah pergumulan kedua insan itu berlangsung, menandakan betapa hebat kejantanan pak Sobri. Inilah memang saat yang telah lama diimpikan oleh pak Sobri : ustazah Aida yang cantik jelita bertubuh sintal bahenol dengan buah dada montok dan goyangan pinggul denok bahenol berada di bawah tindihan tubuhnya. Menyerah pasrah di bawah cengkraman kekuasaannya, kedua matanya penuh rasa putus asa meratap memohon belas kasihan, namun tak tahu pasti apakah penyiksaan nikmat yang dialami harus dilanjutkan atau dihentikan.

Pak Sobri menyadari bahwa ia tak boleh terlalu serakah dan tamak : istri setia ini telah menyerah dan menikmati perkosaannya, lain kali masih ada kesempatan, jangan sampai perbuatan maksiat ini dipergoki oleh Farah yang mungkin tak lama lagi akan pulang ke rumah. Biarlah cukup untuk kali ini – dan… entah… siapa tahu wanita ini sedang subur, mungkin ia akan menanamkan benih di dalam rahimnya.

Pak Sobri tak dapat menahan lagi ledakan lahar panasnya menyembur dari kedua biji pelirnya, sedemikian banyak sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Aida. Semprotan bermenit-menit menyirami mulut rahim Aida, disaat mana istri alim shalihah ini mengalami orgame ketiga!

“Iyaa… auuh… oooh… Paak, emmh… iyaa, terus! Nikmaat…” dengus dan rintih Aida saat dilanda oleh gelombang orgasme bagaikan tsunami untuk yang ketiga kalinya!

Setelah membantu Aida membersihkan diri di kamar mandi dan membantunya memakai baju kurung serta jilbabnya,   pak Sobri memberikan sebuah amplop tertutup kepada Aida dengan pesan agar tak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun karena hanya merupakan aib bagi Aida. Pak Sobri berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia mengatakan bahwa amplop itu boleh segera dibuka namun jika ia telah pergi jauh dengan mobilnya dan tak terlihat lagi di ujung jalan.

Tanpa banyak kesulitan pak Sobri menyambungkan alat kompressor bersaluran udara panjang ke ban mobilnya dan ansteker – ban yang memang kempes tapi tak ada lubang sama sekali itu hanya dalam dua menit telah terisi lagi udara sebagaimana semula, lalu pak Sobri menghidupkan mesin dan melaju menghilang di tikungan ujung jalan.

Aida membuka amplop putih itu dan tercengang ketika menghitung uang yang tersisip disitu : tiga puluh juta! Dengan uang itu maka sementara kehidupan keluarganya dapat dilanjutkan, demikian pula pengobatan ayahnya di rumah sakit, serta pinjaman mereka kepada pak Burhan si rentenier.

Aida duduk terhempas di kursi : pikirannya kacau, apakah ia berdosa mengalami ini semua? Ini semula tidak ia inginkan sama sekali, namun akhirnya Aida sangat menikmatinya. Apakah uang ini haram, apakah boleh dipakai untuk menolong ayahnya yang sakit parah?

Aida tak tahu apa jawaban dari 1001 pertanyaan yang memenuhi benaknya, kepalanya dirasakan pusing dan sangat berat, apalagi badannya yang kini telah tertutup rapih kembali dengan baju berlapis-lapis, namun disana sini pasti masih penuh dengan cupangan merah kebirua-biruan akibat ciuman ganas pak Sobri. Aida merasakan pipi dan telinganya memerah mengingat apa yang dialaminya…

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta, oooh… masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menggarap Aida dengan cara lain dan mengajarinya menjadi budak sex yang patuh 100%

TAMAT BAGIAN PERTAMA

Akan berhasilkah usaha pak Sobri ini? Apakah yang terjadi dengan Farah ketika negosiasi dengan pak Burhan? Bertahankah iman ustadz Mamat ketika memberikan ceramah dan kuliah kepada banyak calon pengikut Musabaqoh Tilawatil Qur’an yang masih sangat muda, karena tak semua calon memiliki iktikad yang murni memperdalam ilmu agama. Selain itu, apakah ustadz Mamat juga sanggup menghadapi godaan melihat betapa cantiknya adik istrinya, terutama Nurul Tri Lestari dan Asma Maharani yang betul-betul masih merupakan ‘daun muda’?

MURTI 10 : AISYAH

Adzan subuh membangunkan Gatot dari mimpi. Ia keluar kamar dan menuju belakang untuk mengambil wudlu. Tapi ia heran karena tidak biasanya Aisyah masih tertidur. Ia tidak berani membangunkan. Selesai sholat subuh, Gatot bersiap-siap untuk menuju rumah Murti. Hari mulai beranjak pagi tapi Aisyah masih dilanda mimpi. Gatot ingat hari ini merupakan hari pertama Aisyah mengajar setelah dua minggu lamanya libur. Jangan-jangan Aisyah masih merasa libur. Mau tak mau Gatot membangunkan Aisyah juga karena jarum jam sudah menunjuk angka enam.

“Aisyah bangun, sudah jam enam pagi.” kata Gatot.

“Huaaahm, aku masih ngantuk.” bukannya bangun, Aisyah malah semakin melipat tubuhnya dan menarik selimut.

“Ayo bangun, Aisyah. Kamu kan harus ngajar.” kata Gatot lagi.

Aisyah menggeliat dan mengucek-ngucek mata, dan sejurus kemudian mata itu terbelalak kaget. “Mas!!” pekik Aisyah tertahan sambil mengamati tubuhnya sendiri.

Gatot mengerti apa yang ada di kepala Aisyah. “Aku hanya membangunkanmu, Aisyah. Tidak ada maksud lain.” ia berusaha menjelaskan.

“Jam berapa ini, Mas?” tanya Aisyah.

“Jam enam. Hampir setengah tujuh.” jawab Gatot.

Aisyah langsung melompat dan hampir terjerembab. Untung Gatot cukup sigap menahan tubuh Aisyah agar tidak terjatuh meski dengan begitu ia harus memeluk Aisyah. Gatot segera melepaskan Aisyah dan membiarkannya berlarian ke kamar mandi dengan panik. Gatot pun meninggalkan kamar Aisyah dan langsung menuju rumah Pak Camat.

Murti sudah siap tapi Gatot belum melihat Pak Camat. Yang terlihat cuma Murti dengan penampilan baru. Tidak ada lagi baju muslimah yang biasanya dikenakan Murti. Juga tidak ada kerudung yang membingkai wajah cantik Murti. Semua yang dilihat Gatot benar-benar serba baru, sama seperti ia melihat Murti puluhan tahun lalu.

“Jangan memandangku seperti itu, Tot. Ayo berangkat,” kata Murti.

“Tidak nunggu Pak Camat?” tanya Gatot.

“Mas Joko sudah berangkat jam lima pagi. Tapi dia pesan agar kamu ke kantor kecamatan saja.”

“Oh begitu. Baiklah.” Gatot mengangguk.

Gatot mengantar Murti ke tempat kerjanya yang baru. Sebenarnya satu tujuan dengan Aisyah tapi Aisyah lebih suka naik motor. Sebenarnya baik Gatot maupun Murti selalu menawari Aisyah agar berangkat bersama-sama tapi Aisyah selalu menolak dengan halus. Merekapun tidak bisa memaksa.

Dengan penampilan baru Murti, maka Gatot juga dilanda suasana hati baru. Sama seperti yang ia rasakan puluhan tahun lalu. Dan Murti tidak berubah tingkahnya dengan masa-masa sekolah dulu. Tetap duduk sesuka hati dan bergerak kesana kemari, menunjukkan apapun yang disukai Gatot pada tubuh sintalnya. Perjalanan masih jauh.

“Penampilanmu mengingatkanku pada masa SMA kamu yang dulu, Mur.” kata Gatot.

“Mana yang paling kamu ingat? Kenakalanmu itu kan?” sela Murti.

“Iya. Aku ingat bila mengantarmu ke sekolah, aku selalu menjahilimu.”

“Sekarang kamu juga mengantarku, Tot. Kamu juga bisa menjahiliku seperti yang sering kamu lakukan dulu.” goda Murti.

“Benarkah?” Gatot melirik suka.

“Benar. Lakukan saja sesukamu. Aku rela menjadi pelacurmu, Tot.” Murti meyakinkan.

“Jangan bicara begitu, Mur.” Gatot menggeleng tak setuju. ”Kamu bukan pelacur. Berhentilah merutuki dirimu sendiri.” katanya.

Murti balas menggelengkan kepala dan melabuhkan diri di pangkuan Gatot. Ia memejamkan mata dan membiarkan tangis kecilnya tumpah membasahi celana Gatot. “Takdir hidupku sungguh buruk, Tot.” bisik Murti pilu.

“Jangan menyalahkan takdirmu, Mur. Kita sudah sampai. Jam berapa nanti kujemput?” tanya Gatot.

“Jam satu. Hati-hati di jalan, Tot.” Murti merapikan seragam kerjanya yang awut-awutan lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang SMA 3. Ia tidak menoleh lagi ke belakang dan langsung menuju ruang kantor. Ia harus memperkenalkan diri kepada semua orang yang belum mengenalnya. Sebagai guru baru, ia perlu menyesuaikan diri dengan tugas mengajar yang jauh berbeda dan materi pelajaran. Sekolah negeri tentu tidak sama dengan sekolah swasta, terlebih dengan madrasah. Semalam saja ia bekerja keras untuk kembali belajar dan membuka buku-buku.

“Bu Murti sudah sampai?” tanya Aisyah.

“Baru saja, Ais. Kok aku tidak ketemu kamu di jalan tadi?” balas Murti.

“Iya, Bu. Saya masih ngisi bensin. Bu Murti pulangnya nanti juga dijemput?” tanyanya balik.

“Begitulah, Ais.” Murti mengangguk. ”Bagaimana suasana di rumah Gatot, apa kamu kerasan?”

“Sangat nyaman, Bu. Mas Gatot juga tidak macam-macam.” jawab Aisyah tanpa curiga, sama sekali tidak mengetahui perbuatan Gatot beberapa malam yang lalu.

Murti bersyukur dalam hati. Bahaya kalau sampai Gatot berani macam-macam pada Aisyah. Ia sangat tidak menginginkan ada apa-apa antara Gatot dan Aisyah. Ia berharap tidak ada hubungan spesial antara Gatot dan Aisyah. Gatot adalah segalanya baginya saat ini, saat kehidupan rumah tangganya semakin tidak harmonis. Sedangkan perselingkuhannya dengan Gatot berjalan dengan manis. Ia serahkan semua pada sang waktu.

Gatot juga sedang memburu waktu untuk bisa segera sampai di kantor kecamatan. Jangan sampai ia terlambat gara-gara keluyuran di jalan memakai mobil dinas. Bisa-bisa Pak Camat marah. Pak Camat sendiri yang mengingatkan agar kalau membawa mobil dinas jangan sampai jauh-jauh dari kantor. Untung ia datang tepat waktu, jam setengah delapan sudah sampai di kantor kecamatan. Dan seperti biasa ia langsung duduk santai menunggu perintah. Siapa saja siap ia antar kemana saja.

“Gatot, dipanggil Pak Camat tuh.” seru seorang wanita.

“Saya segera kesana, Mbak Dewi.” balas Gatot tanggap.

“Oh ya, Tot, jam istirahat nanti antar aku ya?” pinta Dewi.

“Mbak Dewi mau kemana?” tanya Gatot.

“Pokoknya antar saja.” balas Dewi sambil tersenyum manis. ”Sudah pergi sana, Pak Camat sudah nunggu kamu.”

Gatot lekas menuju ruang kerja Pak Camat dan duduk di hadapan majikannya itu. Belum ada yang disampaikan Pak Camat dan Gatot menunggu. Panggilan Pak Camat pasti ada sebabnya. Dan melihat wajah Pak Camat yang masam, Gatot pun paham ada yang salah dengan dirinya.

“Begini, Tot, saya mau mengurangi beban kerjamu.” akhirnya Pak Camat berkata.

“Maksud Pak Camat?” tanya Gatot belum mengerti.

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu berjaga malam di rumahku. Tugasmu kembali seperti dulu, mengantar aku dan Murti kerja.” kata Pak Camat.

“Apakah ada kesalahan yang saya perbuat, Pak?” tanya Gatot penasaran.

“Sama sekali tidak ada, Tot. Ini juga demi kamu. Apalagi sekarang di rumahmu ada Aisyah. Dia yang lebih penting untuk kamu jaga.” Pak Camat tersenyum.

“Saya bisa terima keputusan Pak Camat.” Gatot mengangguk.

“Satu hal lagi, Tot. Entah dari mana Murti bisa tahu perumahan residence.” pancing Pak Camat.

“Demi Tuhan, saya tidak pernah melanggar kesepakatan kita, Pak. Mungkin Murti tahu dari orang lain. Yang pasti saya sama sekali tidak memberitahu Murti apapun.” Gatot berusaha meyakinkan.

“Aku percaya padamu, Tot. Cuma lain kali lebih berhati-hatilah.” pesan Pak Camat.

“Baik, Pak.” Gatot mengangguk.

“Kembalilah ke tempatmu.”

Gatot kembali ke tempat semula, di paseban kantor kecamatan. Ia duduk termenung menelaah segala yang telah disampaikan oleh Pak Camat. Mulai hari ini tugasnya kembali seperti dulu, sebatas mengantar jemput Pak Camat dan Murti kerja. Pasti ada pertimbangan lain yang membuat Pak Camat tidak lagi mempercayainya sebagai petugas jaga malam. Selain itu ia juga agak marah karena Pak Camat seolah olah telah menuduhnya membocorkan rahasia. Padahal ia sama sekali tidak pernah menyampaikan hal itu pada Murti. Ia bertanya-tanya dalam hati siapa orang yang telah mempersulit posisinya. Siapa orang yang memberitahu Murti tentang keberadaannya di perumahan residance. Pasti ada mata-mata yang berniat membuat kacau hubungannya dengan Pak Camat.

Jam dua belas siang pas, Dewi minta dijemput. Gatot memenuhi permintaan itu dengan setengah hati, sedangkan setengah hati yang lain masih memikirkan hasil pembicaraannya dengan Pak Camat. Kediamannya membuat Dewi gigit jari. Padahal Dewi berharap bisa bercakap-cakap dengan Gatot. Daripada menunggu Gatot yang pasif, Dewi memilih untuk lebih aktif dan berinisiatif memecah kebisuan.

“Mikir apaan sih, Tot?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Tidak ada apa-apa kok, Mbak.” Gatot berusaha untuk tersenyum. ”Jadi Mbak Dewi ini mau kemana?” tanya Gatot kemudian.

“Pulang. Aku sudah ijin ke Pak Camat untuk kerja setengah hari saja.” jawab Dewi.

“Enak ya, Mbak, jadi pegawai negeri. Kerja nggak kerja tetap dapat gaji.” kata Gatot.

“Tapi lebih banyak nggak enaknya, Tot. Apalagi kalau dapat pimpinan kayak Pak Camat.” seru Dewi.

“Memangnya kenapa dengan Pak Camat, Mbak?” tanya Gatot penasaran.

“Jangan bilang-bilang ya. Pak Camat itu genit, suka ngintip.” bisik Dewi

“Masa sih?” tanya Gatot tak percaya.

“Semua pegawai wanita sudah tahu keburukan Pak Camat itu. Aku ini pernah jadi korbannya lho.” mata Dewi mendelik.

“Maaf, Mbak. Tapi saya kok tidak percaya dengan kata-kata Mbak Dewi ini,” sahut Gatot.

“Ya terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti Pak Camat itu bukan contoh pemimpin yang baik.” tegas Dewi.

Nah, untuk yang terakhir itu Gatot sangat setuju dan seratus persen percaya bahwa Pak Camat memang bukanlah contoh pemimpin yang baik. Gatot juga sepakat kalau Pak Camat itu orang yang genit, suka lirik-lirik daun muda, terlebih pada paha-paha mulus. Gatot yakin pasti Dewi pernah diintip Pak Camat. Apalagi dengan kebiasaan Dewi yang sembarangan dan semau gue. Pasti Pak Camat sudah sering melihat-lihat paha mulus Dewi dan sering mencuri-curi ke belahan dada Dewi. Jangankan Pak Camat, ia sendiri juga sering menyaksikan kemulusan dan kehalusan kulit Dewi.

“Makanya Mbak Dewi harus hati-hati.” kata Gatot pada akhirnya.

“Saya sudah hati-hati, tapi kebiasaan sulit diubah, Tot. Tak apalah, toh Pak Camat cuma melihat, nggak sampai menjilat.” Dewi tertawa terkikik.

“Kalau itu terjadi, gimana?” pancing Gatot.

“Kamu mulai nakal juga ya?” Dewi memukul pundak Gatot. Mereka telah sampai di tempat kosnya Dewi. Setelah memarkir mobil, mereka masuk. Dewi sendiri yang mengajak Gatot.

“Istirahat disini aja, Tot. Kalau kamu kembali ke kantor sekarang pasti banyak kerjaan disana.” seru Dewi.

“Apa dibolehkan seorang pria masuk ke kamar wanita?” tanya Gatot.

“Tempat kos ini bebas. Siapa saja boleh membawa tamunya sampai kamar, wanita ataupun pria.” Dewi menerangkan.

Gatot masuk ke kamar kos Dewi yang tidak begitu luas, kira-kira berukuran tiga kali tiga meter. Hanya ada satu tempat tidur dan satu almari, itupun sudah membuat kamar terasa sesak. “Kalau Mbak Dewi mau ganti baju, biar saya keluar dulu.” kata Gatot, merasa tidak nyaman dengan keberadaannya sendiri.

Tapi Dewi tak ambil peduli. “Duduk aja, atau kamu bisa berbaring.” katanya sambil membuka dan melepasi satu persatu seragam kerjanya lalu berjalan di hadapan Gatot hanya dengan mengenakan cawat dan bh.

Bahaya, Gatot segera membuang muka dan menunggu sampai Dewi selesai berganti busana. Tapi busana yang dikenakan Dewi tetap saja mengundang bahaya.

“Aku mau pindah ke komplek, Tot.” kata Dewi memulai obrolan, ia duduk di sebelah Gatot.

“Mbak Dewi mau kos di komplek? Tinggal di mana, Mbak?” tanya Gatot sedikit rikuh.

“Di rumah yang paling ujung. Memang lumayan jauh dari rumahmu, Tot.” Dewi menjelaskan.

“Kalau tidak salah rumah yang di ujung itu dulunya milik Mbah Surti.” Gatot mengingat-ingat.

“Benar. Kebetulan cucunya Mbah Surti itu teman kuliahku. Aku akan tinggal bersamanya.” sahut Murti.

“Mbak Dewi mau tinggal bersama Karmila yang janda itu?” tanya Gatot memastikan.

“Iya.” Dewi mengangguk. ”Aku boleh kan sewaktu-waktu main ke rumahmu?” tanyanya kemudian.

“Boleh, Mbak. Apalagi Aisyah belum punya teman. Mbak Dewi bisa berteman dengannya,” jawab Gatot ringan.

“Aisyah yang guru itu? Jadi dia tinggal bersamamu ya?” ada sedikit nada cemburu di suara Dewi.

“Iya. Kok Mbak Dewi kenal?” tanya Gatot heran.

“Kebetulan saja kami bertemu di rumah sakit pas kamu koma. Dia juga salah satu pendonor buatmu, Tot!” jawab Dewi.

“Pendonor? Maksud Mbak Dewi?” tanya Gatot tak mengerti.

“Memangnya Mbak Murti belum cerita ke kamu?” tanya Dewi bingung.

“Belum,” Gatot menggeleng.

“Baiklah. Kuberitahu sekarang. Kamu waktu itu butuh banyak darah. Jadi kami berempat yang kebetulan cocok dengan darahmu mendonorkan darah buatmu.” terang Dewi.

“Siapa saja empat orang yang menyelamatkan nyawa saya, Mbak?” tanya Gatot penasaran.

“Aku, Mbak Murti, si Aisyah itu, dan yang satu lagi kalau tidak salah namanya Ningsih. Kami adalah penyumbang darah.” jelas Dewi.

“Astaga, bagaimana saya harus berterima kasih pada mereka? Pada Mbak Dewi?” tanya Gatot rikuh, malu karena baru mengetahui kenyataan ini sekarang.

“Tidak usah berterima kasih. Cukuplah kamu mengerti saja.” Dewi tersenyum.

Gatot sangat mengerti dan khusus terhadap Dewi, ia memberi tanda terima kasih sesuai yang diinginkan oleh perempuan cantik itu. Waktu yang singkat tidak disia-siakan untuk menjalankan sebuah niat. Dalam panasnya udara siang, Dewi berhasil membuat Gatot mabuk kepayang. Itulah kelemahan paling mendasar yang dimiliki Gatot. Ia belum sanggup meninggalkan dunia hitam sepenuhnya. Ia tidak bisa mengabaikan wujud indah seorang wanita.

Gatot memang sedikit kaget saat bibir Dewi mulai menyentuh bibirnya, namun itu cuma di awal saja, karena begitu Dewi memasukkan lidahnya, Gatot dengan pintar segera mengimbangi dengan ikut menghisap dan menjelajahi setiap rongga mulut perempuan cantik itu. Ia bahkan menahan kepala Dewi agar ciuman mereka tidak sampai terlepas.

Lama mereka saling berpagutan, sebelum akhirnya Gatot mengalihkan ciumannya ke pangkal telinga Dewi dan menjelajahinya turun hingga ke leher. Dewi mengerang dan menarik tangan Gatot agar berpindah ke tonjolan buah dadanya. Dengan mesra Gatot segera meremas-remasnya.

”Ohh… akhh…” Dewi mulai mengerang dan semakin membusungkan dadanya ke depan.

Gatot menurunkan ciumannya sampai ke belahan buah dada Dewi, ia berusaha memasuki dada gadis itu tanpa membuka pakaiannya. Lidahnya menari-nari di dada Dewi yang membusung indah, tapi yang dapat dijangkau lidahnya hanya setengah dari gundukan buah dada itu.

Tak sabar menerima perlakuan Gatot, Dewi lekas membuka kancing bajunya sendiri dengan satu tangan, sementara yang satunya masih menekan kepala Gatot ke arah buah dadanya. Baju itupun terbuka, kini tinggal beha warna krem yang masih menutupi. Mata Gatot terbelalak menyaksikan semua itu. Mulusnya buah dada Dewi dan ukurannnya yang begitu besar sungguh melebihi perkiraannya. Tampak beha 36B yang dikenakan oleh Dewi seperti tidak muat menampung tonjolan buah dadanya. Sedikit terburu-buru, ia segera menyingkap beha itu ke atas. Muncullah puting susu Dewi yang sebesar jari kelingking. Masih rapi bentuknya, dengan aerola yang berukuran mungil. Mulut Gatot langsung turun untuk menyambutnya dengan sedotan dan hisapan yang begitu kuat dan ketat.

”Auuwww… akhh,” erang Dewi sambil tangannya semakin kuat menekan kepala Gatot.

Dengan rakus Gatot terus menghisap puting susu Dewi yang sebelah kanan, sementara tangan kirinya memilin-milin puting susu yang satunya. Bergantian ia menjilat dan menghisapnya, dengan lincah lidahnya terus menari-nari di gundukan payudara Dewi hingga membuat benda bulat padat itu jadi begitu basah dan lengket oleh air liurnya.

“Ohh… terus… yang lama… aku mau yang lama…” kata Dewi mengerang penuh kenikmatan. ”Ayo, Tot… ahh… ambil semuanya… sekarang ini milikmu… ayo ambil…” Dewi meracau dengan dada semakin membusung ke depan, sementara pinggulnya ia angkat tinggi-tinggi menyambut remasan tangan Gatot di belahan vaginanya. Batang zakar Gatot yang tegang juga ikut menekan tonjolan vaginanya dari luar. Dewi membalas dengan menjulurkan tangan ke bawah dan dengan gemas segera meremas-remas batang zakar Gatot dengan begitu kuatnya.

Puas bermain di dada, jilatan Gatot kini turun ke bawah. Ia gelitik pusar dan perut Dewi yang masih tampak langsing dan rata dengan mulutnya. Dewi memekik dan menggelinjang, terdengar semakin kegelian, apalagi saat jilatan Gatot terus merambat ke bawah sambil berusaha membuka rok kerjanya. Setelah terbuka, tampaklah gundukan vaginanya yang tebal dan basah. Dewi tersipu malu, namun tak urung tetap membuka kakinya juga.

Gatot tak berkedip menatap dua paha putih mulus milik Dewi, juga belahan vaginanya yang masih tertutup celana dalam. Pelan ia menyelipkan lidah, berusaha memasuki bagian atas vagina Dewi tanpa membuka celana dalamnya. Tentu saja ini membuat Dewi jadi tak sabar.

“Ayo, Tot… jilat semua… cepatan… ahh…” erangnya dengan pinggul mulai bergerak berputar dan menghentak-hentak ke mulut Gatot.

Perlahan Gatot mengintip sedikit vagina Dewi dengan membuka bagian atas celana dalam gadis itu. Samar-samar ia bisa melihat bentuk vagina Dewi yang mengembang tebal dengan bulu-bulu tipis yang tumbuh rapi dan teratur, rupanya Dewi rajin mencukurnya. Gatot memandanginya sejenak sebelum akhirnya dengan tak sabar memelorotkan celana dalam itu hingga terbukalah belahan vagina Dewi secara utuh di depan matanya.

”Ooohh,” erang Gatot manakala menyaksikan vagina Dewi yang ternyata jauh lebih indah dari yang ia bayangkan sebelumnya. Lama Gatot memandanginya. Karena Dewi terus mengangkat-angkat pinggulnya ke atas hingga membuat gundukan vaginanya jadi tampak semakin cembung dan menantang dengan klitoris yang menonjol indah melewati kedua bibir vaginanya.

Perlahan Gatot menjulurkan lidah, ia sentuh klitoris Dewi pelan-pelan, diusapnya dari bawah ke atas. Reaksinya sungguh spontan, pinggul Dewi langsung menghentak kuat, bahkan sampai berbenturan dengan mulut Gatot. Melihat yang seperti itu, Gatot jadi suka. Dengan juluran lidah yang lebih panjang, ia segera menyerbu vagina Dewi. Dijilatnya benda sempit itu, diusapkannya lidahnya berulang-ulang, bahkan hingga sampai ke lubang anus Dewi. Perbuatannya itu membuat Dewi semakin cepat menghentakkan pinggul, bibir vaginanya juga jadi semakin terkuak dan mengembang lebar, menampakkan lorongnya yang begitu hangat dan basah.

”Oohh… terus, Tot… jilat semuanya… ayo jilat… lebih kuat…” erang Dewi sambil tangannya berusaha membuka celana panjang Gatot. Begitu sudah terlepas, dengan gemas ia meremas-remas batang kontol Gatot kuat-kuat hingga membuat laki-laki itu jadi sedikit kaget. Namun Gatot membiarkannya saja karena setelah mengocok-ngocok, Dewi tiba-tiba memutar tubuhnya hingga mereka jadi berposisi 69 sekarang.

Dengan rakus Dewi memasukkan penis Gatot ke dalam mulutnya dan mulai menghisapnya, membuat Gatot jadi merasa nyaman dan nikmat. Gatot mengimbangi dengan kembali mengulum dan mencucup bibir kemaluan Dewi. Ia masukkan lidahnya ke lubang vagina Dewi yang sudah sangat licin dan basah, juga ia hisap biji klitoris Dewi yang kini tampak semakin membusung dan menonjol indah. Terus diperlakukan seperti itu membuat Dewi semakin cepat menaik-turunkan pantatnya.

”Ooh Tot… enak banget… ahh… aku nggak tahan lagi…” dia semakin meracau dengan hentakan pantatnya yang semakin liar dan kulumannya di batang zakar Gatot yang semakin kuat.

Tiba-tiba paha Dewi menjepit kepala Gatot dan berkontraksi keras. Lubang vaginanya yang masih disantap oleh Gatot berdenyut-denyut cepat sebelum akhirnya menyemprotkan cairan kental yang banyak sekali, membasahi lidah dan bibir Gatot yang tidak sempat menjauh. Gatot ikut merintih karena sambil orgasme, Dewi juga menyedot penisnya dengan begitu kuat, menahannya di dalam mulut.

Bersama-sama mereka saling merintih dan menggelinjang sampai akhinya Dewi melepaskan jepitan pahanya, juga kulumannya di batang penis Gatot. Gadis itu telentang lemas di bawah tubuh Gatot dengan mata masih tertutup rapat. Dewi nampak lelah, namun juga puas. Pahanya yang masih terbuka membuat Gatot bisa melihat dengan jelas liang vaginanya yang begitu basah dan lengket. Gatot kembali menjilatinya hingga Dewi jadi kembali merintih dibuatnya.

”S-sudah, Tot…” desah Dewi setelah nafasnya sedikit agak tenang.

Gatot segera memutar tubuh. Masih tetap saling bertindihan, mereka kini saling berpandangan. Gatot menekan pinggulnya, membiarkan batang penisnya yang masih tegang mengganjal di bibir kemaluan Dewi yang licin dan hangat. Gatot hanya menggesek-gesekkannya, masih belum ingin memasukkan.

”Enak, Mbak?” tanya Gatot dengan senyum.

Dewi mengangguk, ”Enak banget, Tot. Sentuhanmu begitu indah dan nakal,” sahutnya

”Masih ada yang lebih indah, Mbak.” goda Gatot.

”Iya, Tot. Aku mau lebih lagi, berikan padaku ya,” balas Dewi dengan senyum juga.

”Berapa yang Mbak Dewi mau?” tantang Gatot penuh percaya diri.

”Sampai aku nggak bisa bangun, apa kamu kuat?” tantang Dewi balik.

”Jangan kuatir, Mbak. Saya akan berusaha memuaskan Mbak, sebagai ungkapan terimakasih karena Mbak Dewi sudah nolong saya.” kata Gatot menyanggupi.

”Kupegang kata-katamu, Tot,” Dewi tersenyum.

Kembali mereka saling melumat. Tangan Gatot yang nakal kembali memijit dan meremas-remas buah dada Dewi yang membusung indah, sementara kakinya dijepitkan ke pinggang Dewi yang kurus dan ramping. Puas dengan itu, ia beranjak dan berjongkok diantara paha Dewi yang putih mulus dan merentangkannya lebar-lebar. Dengan menatap mata Dewi yang pasrah, pelan Gatot memegang batang zakarnya dan mengarahkan menuju ke lubang vagina Dewi yang sudah menganga lebar, menunggu penetrasinya.

”Aku masukkan ya, Mbak?” tanya Gatot. Dewi menjawab dengan satu anggukan ringan.

Pelan Gatot menempelkan kepala penisnya ke bibir vagina Dewi, menggesek-gesekkannya sebentar sebelum akhirnya mulai menusuk tak lama kemudian.

”Akhh…!!!” Dewi langsung mengerang ketika kepala penis Gatot mulai memasuki lubang vaginanya. Tangannya langsung menangkap pantat Gatot.

”Sakit, Mbak?” Gatot bertanya, dorongan pinggulnya spontan berhenti.

”E-enggak… t-terus aja… m-masukkan semua… ahh.. e-enak kok…” erang Dewi dengan bibir vagina terkuak lebar oleh batang penis Gatot yang sudah masuk setengahnya.

”S-saya juga enak, Mbak.” Gatot merintih merasakan jepitan vagina Dewi yang sangat ketat, seolah tidak mengijinkannya untuk masuk lebih dalam. Ia membiarkannya sejenak, berharap agar vagina Dewi bisa menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya yang besarnya diatas rata-rata laki-laki Indonesia.

Kembali Gatot melumat bibir tipis Dewi yang mendesah-desah. Dewi membalas dengan mengangkat kakinya dan menempatkannya di atas pantat Gatot. Ia tekan pinggul laki-laki itu untuk semakin memperdalam masuknya kontol Gatot ke belahan vaginanya.

”Ayo tekan lagi, Tot… ahh…” bisik Dewi tak sabar. Vaginanya mengempot seperti menyedot penis Gatot.

Mengangguk mengerti, Gatot segera menekan pantatnya. Dengan sekali hentakan, batang penisnya yang besar dan panjang meluncur masuk membelah lorong vagina Dewi yang licin dan hangat, memenuhinya hingga sampai ke rongganya yang terdalam.

”Auwww… Tot… ahh…” jerit Dewi sambil mendekap tubuh kurus Gatot kuat-kuat. ”Ohh enaknya… sungguh luar biasa… ayo, Tot, ambil… ambil semua… puaskan aku dengan tubuhmu… jangan sisakan sedikitpun… sampai nggak bisa bangun… ahh…” erang Dewi dengan pinggul mulai berputar pelan.

Gatot pun ikut menggoyang. Pelan ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, menyetubuhi Dewi. Dengan kemalauan saling menjepit dan bergesekan ringan, bisa ia rasakan beapa sempit dan hangatnya lorong vagina Dewi yang melingkupi batang penisnya. Meski sudah tidak perawan lagi, namun rasanya masih tetap nikmat. Apalagi ditambah body tubuh Dewi yang begitu menggairahkan, membuat semua urat syaraf yang ada di tubuh Gatot seperti terbangkitkan.

Dengan kedua tangan terjulur ia membetot gundukan payudara Dewi yang bergoyang-goyang indah dan lantas memijitnya dengan penuh nafsu, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda bulat padat itu. Putingnya yang mungil kemerahan juga ia pilin-pilin ringan sebelum dicucupnya secara bergantian tak lama kemudian dengan pinggul terus menghentak semakin cepat menggenjot tubuh langsing Dewi.

”Enak banget, Tot… aku kamu apain sih?” tanya Dewi sambil mengerang.

Gatot bisa merasakan siraman hangat di kepala penisnya. rupanya Dewi sudah orgasme lagi dengan jurus pembuka ini. Ia yang masih belum apa-apa lekas mempercepat goyangan pinggulnya. Seperti piston, penisnya terus keluar masuk di lorong vagina Dewi. Begitu keras dan cepatnya hingga mengeluarkan suara decakan-decakan yang memenuhi seluruh dinding-dinding kamar.

Dewi yang masih lemas hanya bisa pasrah dengan tubuh terlonjak-lonjak menerima segala serangan Gatot. Kedua tangannya mencengkeram kasur sambil berusaha menegakkan kepala untuk melihat keluar masuknya kontol Gatot di lorong vaginanya. Dewi tampak seperti mau menangis padahal itu adalah ekspresi rasa nikmat yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki lain selain Gatot. Inilah persetubuhan terindah yang pernah ia alami.

Tak berapa lama, kembali Gatot merasakan kepala penisnya disiram oleh cairan hangat. ”Ahh… aku keluar lagi, Tot… kamu memang hebat…” kata Dewi memuji dengan tubuh semakin lemas.

Sebenarnya saat itu Gatot juga telah berada di puncak gairah, namun karena melihat Dewi yang masih terus memburu kenikmatan, ia jadi tidak sampai hati untuk menumpahkan spermanya. Gatot bertekad akan memuaskan perempuan cantik itu sekuat tenaga sebagai wujud rasa terima kasihnya. Biarlah ia ejakulasi di saat berikutnya, saat Dewi mendapatkan kembali orgasmenya. Mereka akan keluar secara bersama-sama.

Dengan tekad seperti itu, Gatot terus menggerakkan penisnya. bahkan ia membalik tubuh Dewi sehingga gadis itu sekarang menungging dengan kaki tertekuk ke bawah, sementara buah dadanya yang besar tergencet hingga melesak pipih ke tempat tidur.

”Auhh… enak, Tot!” erang Dewi saat Gatot semakin kuat menghentak-hentakkan pantatnya sambil memeluk tubuhnya dengan begitu erat. ”Ohh… Tot, kamu pintar sekali… nyaman bangat posisi gini…” erang Dewi mendesah-desah.

Gatot terus mempercepat kocokan penisnya di vagina sempit Dewi yang terasa semakin membanjir. Sepertinya gadis itu kembali mendekati puncak permainannya, terlihat dari pantatnya yang semakin menungging menyambut setiap sodokan penis Gatot pada lubang vaginanya.

”Ayo, Tot… tekan yang kuat… ayo puaskan aku…” rintih Dewi penuh gairah.

Gatot yang merasakan waktunya juga semakin mendekat, lekas mempercepat kocokan penisnya. Semakin lama menjadi semakin cepat, cepat, dan semakin kuat hingga tiba-tiba Gatot mendekap dan memeluk tubuh telanjang Dewi erat-erat. Dengan satu sodokan akhir yang menghunjam begitu dalam, Gatot melepaskan cairan spermanya. Cairan putih kental itu muncrat berhamburan memenuhi liang rahim Dewi yang jadi begitu basah karena di saat yang sama, Dewi sendiri juga melepaskan orgasmenya.

”Ahh… a-aku keluar, Tot… ahh… ahh…” Erang Dewi dengan tubuh terhentak-hentak dan pantat semakin menungging ke atas.

Gatot memeluknya semakin erat. ”Ah… enak sekali, Mbak.” bisiknya mengakhiri sisa-sisa orgasmenya yang masih mengucur pelan.

”Kamu sungguh luar biasa, Tot… aku puas… beneran nggak bisa jalan ini,” kata Dewi dengan ekspresi geli di wajahnya yang cantik. Sementara penis Gatot masih tertancap di liang vaginanya dan tubuh laki-laki itu masih menindih tubuhnya yang tengkurap lemas.

Setelah sedikit tenang, barulah Gatot mencoba mencabut penisnya dari jepitan vagina Dewi yang terus berkedut-kedut ringan. Mereka saling tersenyum dan merubah posisi rebahan di tempat tidur dengan kepala Dewi bersandar di dada Gatot yang bidang.

”Makasih, Tot, aku belum pernah merasa sepuas ini,” kata Dewi bahagia.

“Saya tidak bisa mempertanggung jawabkan semua ini, Mbak.” kata Gatot saat Dewi mulai memeluk tubuhnya.

“Aku tidak butuh itu. ini kehendakku, Tot. Aku sendiri yang akan mempertanggung-jawabkannya.” bisik Dewi lirih.

Gatot mengangguk. Sebenarnya ia masih lapar, tubuh telanjang Dewi begitu menggodanya. Namun jam di dinding sudah berdentang satu kali, menandakan ia harus segera kembali ke kantor kecamatan.

“Terima kasih, Mbak.” kata Gatot pada akhirnya.

“Akulah yang harus berterima kasih. Jangan bilang siapa-siapa ya,” pesan Dewi sebelum Gatot pergi.

Gatot kembali mengangguk dan lekas pamit. Dewi tersenyum sendiri. Ada arti di balik senyuman itu yang Gatot tidak mengerti. Yang Gatot mengerti ialah ini; saatnya ia menjemput Murti. Gatot segera mengarahkan mobil ke SMA 3. Belum sampai di tujuan, di tengah jalan ia melihat Aisyah dan motornya melaju sambil membonceng Murti. Ia segera memutar dan berbalik arah mengejar Aisyah sampai akhirnya bisa menjajari motor itu. Ia bunyikan klakson dan membuka kaca mobil. Aisyah juga berhenti dan Murti turun. Gatot sempat berbagi senyum dengan Aisyah sebelum gadis itu melanjutkan perjalanan pulang seorang diri sementara Murti sudah berada bersama Gatot untuk meneruskan perjalanan juga.

“Tumben kamu lambat, Tot?” tanya Murti agak sedikit curiga.

“Maaf, Mur. Aku banyak kerjaan. Disuruh ini dan diminta itu oleh suamimu.” jawab Gatot berbohong.

“Kalau memang sibuk jangan dipaksakan menjemput. Tuh wajahmu seperti nggak ikhlas.” Murti menunjuk.

“Ikhlas kok. Ini kan sudah kewajibanku.” Gatot tersenyum. Ini karena capek habis ngentot, Mur, bukan karena nggak ikhlas, terangnya dalam hati.

“Mas Joko ada di kantor? Ada acara apa lagi dia hari ini?” tanya Murti menyelidik.

“Pak camat ada. Menurut Mbak Dewi, bapak mau ada pertemuan dengan anggota dewan. Bisa jadi sampai malam.” jawab Gatot.

“Sampai malam tapi kalau masih bisa pulang nggak masalah, Tot. Yang kutakutkan Mas Joko kerja sampai malam tapi nyantol di rumah orang.” ketus Murti.

“Curiga terus bawaanmu.” Gatot mencoba menengahi. ”Bagaimana dengan tempat barumu?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

“Sama saja. Yang namanya mengajar ya begitulah. Ada murid yang pintar ada juga murid yang kurang ajar.” jawab Murti kaku.

“Kurang ajar gimana?” tanya Gatot tak mengerti.

“Ya itu, ada segelintir murid yang suka menggoda guru, suka ngintip guru.” terang Murti.

“Kalau yang digoda dan diintip adalah guru seksi sepertimu, ya wajar dong.” Gatot tersenyum.

“Kamu mulai kurang ajar ya. Nih rasakan!”

Cubitan-cubitan Murti mulai menyerang bertubi-tubi dan Gatot segera memperlambat mobil. Satu tangannya memegang setir, satu tangan lagi menghadang cubitan Murti. Cubitan berhenti tapi kenakalan Murti tidak kunjung mati dan terus menggoda Gatot bahkan sampai tiba di rumah.

“Sudah ah, Mur, aku mau balik ke kantor.” kata Gatot mencoba berkilah.

“Sebentar saja, Tot.” tapi Murti terus memaksa.

Maka, meski masih berada di dalam mobil, terjadilah hubungan kilat. Murti sendiri yang nekad memaksa Gatot agar mau melayaninya. Gatot yang masih belum puas main dengan Dewi, melampiaskan sisa nafsunya pada Murti. Dan hasilnya, biar hanya hubungan kilat, tapi yang terjadi malah lebih dahsyat. Gatot sangat puas, begitu juga dengan Murti.

Begitulah kalau kebiasaan kemudian tumbuh subur menjadi perselingkuhan. Tiada hari yang terlewat tanpa maksiat. Entah berapa kali sudah Murti dan Gatot melakukan seks sebebas-bebasnya tanpa halangan apapun. Yang pasti mereka sadar sepenuhnya itu sangatlah beresiko. Tapi Murti siap menanggung resiko apapun dan juga siap mempertaruhkan rumah tangganya.

“Sudah cukup, Tot,” Murti mendorong dan menyingkirkan Gatot, lalu memasang lagi seragam kerjanya tanpa memasang pakaian dalam karena ia sudah ada di dalam rumah. Sebuah ciuman panjang mengakhiri pertarungan di hari siang itu.

Gatot kembali pada rutinitas, kembali ke kantor kecamatan dengan hati puas. Hari ini dua wanita dengan sangat mudahnya menggoda iman, menuntunnya kembali ke lembah hitam. Baginya lebih baik berjudi dan mabuk berat daripada meniduri wanita. Ia dulu memang bejat tapi sekarang ia mencoba tobat dari segala jenis maksiat.

Apalah daya, setan berwujud wanita mulus seksi sungguh lebih kuat dan membelenggu jiwanya dengan erat. Ia di kelilingi wanita wanita pembelenggu, wanita-wanita yang lapar akan kasih sayang, para wanita yang serba mau dan tak punya malu. Gatot sampai hapal seperti apa dan bagaimana memperlakukan wanita-wanita itu. Ada satu wanita lagi tapi Gatot sangat berharap wanita yang ia pikirkan bukanlah budak setan. Ia berharap wanita yang satu ini bisa memberinya jalan terang.

NYAI SITI : ROHMAH

Salamah asyik menyapu dedaunan yang gugur di halaman depan musholla saat didengarnya sebuah langkah kaki mendekat. Ia tidak mengacuhkannya karena menyangka bahwa itu adalah ayahnya yang biasa ikut membantu bersih-bersih. Namun nyatanya, Salamah segera berhenti menyapu ketika di belakangnya terdengar teguran seseorang. Suara yang sangat ia kenal.

”Rajin sekali kamu, Nduk. Sudah cantik, rajin lagi. Hehe…”

Gadis delapan belas tahun yang membungkuk di muka musholla itu lekas memutar kepala. Seorang lelaki tua yang selama ini menghantui mimpi-mimpi buruknya, dilihatnya berdiri disitu. Tubuhnya jangkung, janggutnya lebat tak terawat, tampangnya meski tidak seram namun memiliki rona gelap. Dialah kakek Dewo!

”Hehe… kamu memang cantik, Nduk!” kembali laki-laki itu membuka suaranya sambil terkekeh pelan. “Sangat bisa memuaskan seleraku, namun sayang kamu selalu menolak.”

”Paman jangan kurang ajar ya!” bentak gadis berbaju biru itu. Dengan garang ia berdiri tegak, tangannya memegangi gagang sapu, siap untuk memukul Dewo kapan saja.

”Eh, cantik-cantik kok galak. Nanti nggak ada yang mau lho!” kata Dewo santai.

”Paman jangan macam-macam ya! Cepat pergi dari sini, atau mau aku pukul?!” ancam Salamah berani.

”Ah, jangan, jangan! Aku cuma mau bicara sebentar,” kata Dewo sambil mengusap-usap brewoknya.

”Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah tahu maksud paman Dewo!” balas Salamah sengit, tangannya makin erat memegangi gagang sapu.

”Bukan itu! Dengarkan dulu…”

Namun sebelum Dewo sempat menyelesaikan kata-katanya, tahu-tahu Salamah sudah memekik sambil mengayunkan senjatanya. Dalam keterkejutannya, cepat Dewo membuang diri ke samping. Sebuah refleks yang cukup bagus untuk orang serenta dia, kalau tidak, pasti kepalanya sudah benjol terkena pukul gagang sapu.

”Dasar sundal!” gertak Dewo hilang kesabaran. ”Meski kau punya tampang cantik dan tubuh mulus, jangan harap aku akan kasihan. Nggak mempan pake bujukan, terpaksa aku memakai cara kekerasan!”

Sehabis berkata, cepat Dewo mengayunkan tangan merebut sapu yang dipegang oleh Salamah. Ia menariknya kuat-kuat, namun Salamah tidak mau melepasnya. Meski tahu kalau kalah tenaga, gadis itu berusaha untuk mempertahankannya sekuat tenaga. Demi harga diri, Salamah akan terus bertahan.

Dewo yang heran dengan kekerasan hati gadis ini, lama-lama jadi kecut juga. Namun ia tidak hilang akal. Memanfaatkan kelengahan Salamah, iapun beraksi. ”Breet… breet… breet… breet…!!!”

”Auw!” Salamah terpekik dan lekas mundur. Mukanya merah gelap ketika menyadari bagaimana Dewo telah membuat lebih dari sepuluh robekan pada baju kurungnya sehingga ia kini hampir berada dalam keadaan setengah telanjang di depan musholla!

”Dasar manusia cabul..!!” rutuk Salamah. ”Akan kuadukan pada Abah!!” Dengan kalap dia menyerbu ke depan, mengayunkan senjatanya. Namun dengan mudah Dewo kembali mengelak dan membalas dengan memukul pergelangan tangan gadis itu, membuat sapu yang dipegang oleh Salamah terlepas dan mental menjauh.

”Hahaha… hari ini kamu akan menjadi milikku!!” Tangan Dewo kembali bergerak cepat, mempreteli sisa baju Salamah. Suara breet… breet… breet… kembali terdengar. Dan tak lama kemudian, Salamah sudah berdiri di depan Dewo dalam keadaan sudah hampir telanjang. Baju kurungnya yang robek-robek sudah tidak sanggup lagi menutupi keputihan buah dada, perut, punggung serta kulit pahanya!

”Auw! Tidak!” menjerit panik, lekas Salamah menggulingkan diri ke tanah, berjongkok untuk menyembunyikan kemontokan tubuhnya dari pandangan lapar si Dewo.

”Sreet…!” namun kembali tangan Dewo meraih, kali ini BH Salamah yang menjadi sararan. Kain krem itupun tertarik putus sehingga jatuh ke pangkuan Salamah.

”J-jangan!” kembali anak Haji Tohir itu menjerit, menyadari kalau salah satu auratnya telah terburai keluar. Kalau bukan karena jilbab lebar yang ia kenakan, payudaranya pasti sudah ter-ekspos jelas saat ini. ”Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh! Daripada aku kamu perkosa!” teriak Salamah putus asa.

Dewo tertawa ngakak. ”Sungguh sayang, membunuh gadis secantik dirimu. Mending kupakai buat teman tidur di ranjang!” katanya sambil mulai mengelus pelan pipi sang gadis.

Salamah berusaha menepisnya, namun Dewo dengan cepat mendorong gadis itu ke tanah kemudian menyergapnya dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu berusaha untuk mempertahankan kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan kehormatan itu!

Keadaan Salamah sudah benar-benar kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Tangan Dewo dengan ganas terus menggerayang di seluruh tubuhnya yang telentang. Gadis itu menangis meratapi nasibnya! Ia berusaha menghantamkan lututnya ke perut laki-laki itu, namun hantamannya yang tidak bertenaga sama sekali tidak dirasakan oleh Dewo.

”Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Salamah putus asa.

”Itu gampang, Nduk! Perawanmu dulu, baru nyawamu!” Dewo mengekeh sambil terus menjilat dan menciumi puncak payudara Salamah yang terasa begitu lembut di jepitan bibirnya. Disaksikan oleh desau angin pagi, ia terus menindih gadis itu. Dewo bahkan sudah melepas celananya, bersiap untuk melaksanakan niat terkutuknya.

Merasakan gesekan benda tumpul di pintu gerbang kewanitaannya, runtuhlah harapan Salamah untuk bisa selamat dari perkosaan itu. Air mata meleleh semakin deras di pipinya yang bulat. Namun nasib ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Tiba-tiba saja sebuah bayangan putih berkelebat dari sebelah timur musholla. Salamah hanya merasakan sambaran angin, namun di atasnya, Dewo tiba-tiba memekik dan tersentak. Laki-laki itu terlempar ke samping, menjauh dari tubuh Salamah.

Terkejut sekaligus tak percaya, Salamah segera membuka kedua matanya. Ia bangkit dengan cepat, lupa akan keadaan dirinya yang masih telanjang. Dia memandang sekeliling, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Namun yang dilihatnya cuma Dewo yang tergolek pingsan dengan ditutupi sehelai kain sarung. Melihat benda itu, mengingatkan Salamah pada keadaan dirinya. Tanpa perduli lagi siapa pemilik sarung itu, langsung saja Salamah melompat, menyambar pakaian itu dan mengenakannya. Meski kedodoran, namun sarung itu memberi banyak pertolongan bagi dirinya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Salamah merasa sangat bersyukur karena sekali lagi ia selamat dari perbuatan bejad si Dewo.

Ketika memandang si Kakek yang masih meringkuk di bawah tubuhnya, meluaplah amarah Salamah. Darahnya mendidih. Lekas ia mengambil sebongkah batu yang tergeletak di tanah, bersiap untuk memukul kepala Dewo sekuat tenaga.

”Jangan! Itu sudah cukup jadi peringatan buat dia. Kau tidak ingin masuk penjara bukan, karena membunuh orang?!” seru suara seseorang di belakangnya.

Lekas Salamah membalikkan tubuh. Disana, berdiri di bawah pohon waru, tampak seorang pemuda berambut gondrong. Salamah terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini ternyata adalah seorang pemuda bertampang keren! Tampan sekali. Mirip malaikat! Apakah pemuda ini yang telah menolongnya? Salamah berharap semoga saja begitu.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, pemuda itu sudah berbalik dan berjalan pergi. ”Hei, siapa namamu?!” tanya Salamah sambil berteriak.

”Bayu! Panggil saja Bayu!” kata pemuda itu tanpa menoleh.

Salamah tersenyum. Hatinya berbunga-bunga. Tanpa mempedulikan peristiwa yang barusan ia alami, ataupun Dewo yang masih tergolek pingsan, Salamah kembali ke dalam rumah. Ada binar cinta di matanya yang bulat. Cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang telah menolongnya!

***

”Paman Dewo kenapa?” tanya Nyai Siti kuatir melihat Dewo pulang dengan tertatih-tatih.

”Ah, nggak apa-apa. Cuma jatuh tadi.” jawab Dewo berbohong, malu untuk mengatakan yang sebenarnya.

”Duduklah dulu, aku buatkan minum.” Nyai Siti memapah Dewo ke ruang tengah.

”Eh, Nyai. Gimana dengan permintaanku?” Dewo bertanya.

Nyai Siti menunduk, ”Sulit, Paman. Entah kenapa, Dewi sama sekali nggak bisa dipengaruhi.”

Dewo menggeram. Ini sudah ke lima kalinya ia kehilangan mangsa. Biasanya ia begitu mudah mendapatkan wanita incaran, namun sudah seminggu ini keadaan menjadi sulit. Jangankan korban baru, korban-korban lamanya saja seperti menjauh dari dirinya. Mereka sepeti tersadar kalau Dewo adalah pembawa bencana, karena itu harus dijauhi. Hanya Nyai Siti sekeluarga yang masih setia melayani dirinya.

”Sabar, Paman. Pasti ada cara lain.” Nyai Siti berusaha menenangkan.

Dewo menggeleng, apalagi bila teringat peristiwa tadi pagi. Salamah, gadis itu benar-benar tidak mempan dipelet. Entah apa yang terjadi, masa ilmunya sudah luntur?! Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena Dewo masih bisa mendapatkan wanita lain. Meski kadarnya sudah sangat berkurang. Kalau dulu satu pelet bisa untuk seminggu,sekarang bisa tahan sehari saja sudah bagus. Sepertinya para wanita di desa ini sudah mulai kebal, itulah yang bisa dipikirkan oleh si Dewo. Ia tidak bisa menemukan alasan lain.

Dan yang menyerangnya tadi. Dewo tidak sempat melihat, namun ia jadi takut orang itu akan melaporkan perbuatannya kepada penduduk desa. Kalau Salamah tidak mungkin buka suara, karena ia sudah mengancam akan menghabisi nyawa ayahnya kalau gadis itu sampai macam-macam.

Nyai Siti yang melihat kecemasan Dewo, lekas membimbingnya ke dalam kamar. ”Mungkin paman perlu istirahat.” katanya penuh perhatian. Dewo mengangguk dan tidak menolak saat Nyai Siti mengeloninya pagi hari itu.

***

Hari sudah menjelang siang ketika Kyai Kholil pulang dari masjid. Dilihatnya pintu kamar Dewo tertutup rapat, sedang Nyai Siti tidak ada di dapur padahal istrinya itu biasanya masih memasak pada jam segini. Dalam hati Kyai Kholil sudah bisa menebak apa yang terjadi. Padahal ia sudah merasa kangen dengan pelukan Nyai Siti; dengan ciumannya, dengan kulumannya dan dengan jepitan memeknya. Hanya dengan membayangkan semua itu membuat batang kemaluan Kyai Kholil berdiri tegak.

Menghela nafas, ia lekas meletakkan kopiahnya di atas meja TV dan melangkah ke kamarnya sendiri. Namun ia berhenti dan berbelok begitu melihat pintu kamar Wiwik yang sedikit terbuka. Dengan perlahan Kyai Kholil membukanya, kemudian menutup pintu kamar itu dengan perlahan setelah berada di dalam. Melihat Wiwik yang masih tertidur pulas, Kyai Kholil melangkahkan kakinya mendekat, kemudian dengan perlahan ia duduk di samping adik iparnya yang cantik itu.

Cepat Kyai Kholil menyibak selimut yang menutupi tubuh molek Wiwik. Ia tersenyum begitu melihat tubuh Wiwik yang hanya berbalutkan daster putih tipis, sehingga kedua payudaranya yang bulat terbayang jelas, lengkap dengan kedua putingnya yang mungil kemerahan. Dengan perlahan Kyai Kholil mulai menjamahnya, meremasnya perlahan. Selain itu ia juga menunduk untuk mengecup bibir tipis Wiwik.

Remasan kedua tangan Kyai Kholil di payudaranya, serta kecupan-kecupan laki-laki itu di bibirnya, membuat Wiwik tersentak bangun. Ia tampak kaget karena merasakan kedua payudaranya ada yang meremas-remas dan bibirnya ada yang mengecup. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap, mulut Wiwik terbuka mencoba untuk berteriak, namun Kyai Kholil cepat membungkam dan melumat bibir gadis itu dengan satu ciuman panjang.

”Hmmph!” Wiwik melenguh, mendapat serangan yang mendadak itu tak urung membuatnya gelagapan juga. Matanya semakin terbelalak, namun setelah tahu siapa yang melakukannya, hasrat untuk marahnya jadi hilang. Malah yang ada, Wiwik mulai membalas ciuman Kyai Kholil. Lidahnya dengan nakal mulai bermain di rongga mulut laki-laki itu, membuat kedua lidah mereka jadi saling bertaut dan menempel mesra.

Di bawah, mengetahui Wiwik yang sudah pasrah sepenuhnya, remasan tangan Kyai Kholil jadi semakin menjadi. Wiwik dibuatnya mendesah, nafas keduanya memburu, nafsu birahi mereka semakin memuncak. Wiwik membalas dengan meraih belakang kepala Kyai Kholil, seolah tidak mau melepaskan kakak iparnya itu untuk terus mencumbu dirinya. Tangan kanannya merayap ke selangkangan Kyai Kholil, mengelus-elus batang kontol Kyai Kholil yang sudah tegang dari balik kain sarungnya. Tangan Kyai Kholil pun semakin asyik meremas-remas kedua payudara Wiwik yang ukurannya semakin hari tampak semakin besar saja. Sekarang sudah pas segenggaman tangan. Terasa empuk dan hangat sekali.

”Ahh… ahh… uhh…” desahan dan lenguhan kerap terdengar dari mulut mereka berdua.

Tidak puas dengan hanya mengelus-elus batang kemaluan Kyai Kholil dari luar sarung, Wiwik mulai beraksi dengan mencoba menyingkapnya. Setelah berhasil, tangannya dengan lincah menyusup masuk ke dalam cd Kyai Kholil. Batang kontol Kyai Kholil yang sudah tegang segera diremasnya, akibatnya Kyai Kholil jadi menggelinjang mendapat serangan nikmat seperti itu.

Saat mereka sedang asyik bercumbu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Keduanya segera menghentikan kegiatan mereka. ”Ya?” sahut Wiwik dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Ia tersenyum pada Kyai Kholil dan membiarkan laki-laki itu mengecup mesra puncak payudaranya.

”Mbak, maaf, kamarnya mau aku sapu!” terdengar suara Rohmah menjawab.

”Hmm, ya boleh. Masuk aja,” jawab Wiwik. Kyai Kholil mendelik memandangnya, seolah memprotes jawaban adik iparnya itu karena takut dipergoki oleh Rohmah, anaknya sendiri. Namun Wiwik hanya tersenyum sambil mengecup kembali bibir Kyai Kholil.

Terdengar suara gerendel pintu dibuka dan, “Eh, ada Abah. Kapan pulang?” tanya Rohmah begitu menyadari ada Kyai Kholil di kamar Wiwik.

”B-barusan aja,” jawab Kyai Kholil sambil tersenyum kikuk, tak tahu harus berbuat apa. Lekas ia lepaskan pelukannya pada tubuh molek Wiwik.

Wiwik yang melihat tingkah Kyai Kholil, tersenyum dan kemudian berbisik, ”Pasti Abang sedang membayangkan tubuh Rohmah ya, dan pasti berharap untuk bisa menyetubuhinya?” bisik Wiwik sambil menjilat telinga sang kakak ipar.

”Ah, enggak lah,” jawab Kyai Kholil perlahan dan tersipu.

”Hehehe, Abang jangan bohong. Dari cara Abang menatap tubuh Rohmah, saya bisa langsung tahu,” bisik Wiwik kembali.

Kyai Kholil terdiam.

”Kalau Abang pengen nyobain, saya bisa bantu.” goda Wiwik.

”Eh, memang bisa?” tanya Kyai Kholil penasaran.

”Abang mau?” Wiwik kembali menggoda.

”Hhm… mau aja, tapi…” dengan malu Kyai Kholil mengiyakan.

”Tapi kenapa?” tanya Wiwik sambil mendesah. Selama itu, Rohmah hanya berdiri saja di depan pintu sambil memperhatikan mereka berdua.

”D-dia kan, anakku sendiri!” jawab Kyai Kholil.

”Emang kenapa, saya juga adik Abang sendiri. Tapi Abang juga berlaku begini sama saya, lalu kenapa sama Rohmah harus berbeda?” sergah Wiwik.

Kyai Kholil tidak mampu untuk menjawab.

”Ayo kita main bertiga, itupun kalau Abang kuat!” tawar Wiwik.

”K-kalau soal itu, nggak usah khawatir,” jawab Kyai Kholil sambil tersenyum. Memang, sejak diterapi oleh Dewo, ia jadi kuat main seks.

”Okelah kalau begitu,” sahut Wiwik riang, kemudian menoleh pada Rohmah. ”Dik, sini sebentar,” panggilnya.

”Ya, mbak,” sahut Rohmah yang segera menghampiri bibinya ini. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat tubuh molek Wiwik yang membayang dengan jelas dari balik daster tipisnya. Rohmah melihat kedua payudara Wiwik yang indah dan besar dihiasi oleh dua puting yang kemerahan. Sementara di selangkangan, ia melihat bayangan hitam yang mulai melebat, sama seperti miliknya. Rohmah menyadari bahwa bibinya yang masih muda ini tidak mengenakan pakaian dalam di balik dasternya yang tipis itu.

”Sini, Dik, duduk sini,” ajak Wiwik sambil menepuk pinggiran tempat tidur di sebelah kirinya.

”Ah, nggak usah, Mbak. Biar aku disini saja, bajuku basah,” jawab Rohmah sungkan, terutama kepada ayahnya, Kyai Kholil, yang terus memandangi tubuhnya.

”Eh, nggak apa-apa, sini duduk,” kata Wiwik.

Dengan berat hati akhirnya Rohmah duduk di sebelah bibinya itu. ”Maaf kalau menganggu.” katanya kemudian.

Wiwik tersenyum, ”Sama sekali nggak. Bener kan, Bang?” tanyanya pada Kyai Kholil.

Laki-laki itu mengangguk, matanya terus menatap dan memandangi Rohmah, seperti baru menyadari kalau putrinya ini adalah sosok yang manis. Kulit Rohmah yang kuning langsat, bentuk tubuhnya yang sempurna, langsing, dengan kedua payudara yang meski nampaknya tidak terlalu besar namun cukup besar juga, membuat hati Kyai Kholil jadi tergerak. Ia harus bisa meniduri Rohmah, putrinya sendiri!

“Gini, Dik. Aku mau tanya, gimana rasanya ngentot sama paman Dewo?” tanya Wiwik memulai.

”E-enak… memang kenapa?” jawab Rohmah sambil tersipu malu.

”Kamu nggak kangen sama itunya paman Dewo?!” tanya Wiwik sambil tersenyum.

”Maksud Mbak?” tanya Rohmah balik, masih belum mengerti maksud Wiwik.

”Itu lho, kan sudah seminggu ini dia nggak nyentuh kita. Kamu nggak pengen ngentot?” Wiwik menjelaskan.

”Oh itu, eeh… gimana yah, malu ngomongnya. Pengen sih, tapi…” jawab Rohmah tersipu.

”Tapi kenapa?” desak Wiwik.

”Iih, Mbak… malu ah,” kata Rohmah. Pipinya merona merah karena malu. Kyai Kholil yang terus mendengarkan jadi semakin bernafsu melihat anaknya yang tersipu malu karena semakin terlihat manisnya.

”Inimu nggak gatel?!” kata Wiwik sambil tangan kirinya mengusap-usap permukaan selangkangan Rohmah.

Rohmah tentu saja langsung menggelinjang kegelian oleh rabaan tangan itu. ”Aah… geli, Mbak!” jerit Rohmah.

”Abahmu bisa nolongin,” kata Wiwik.

Rohmah terdiam, tidak berani menatap Kyai Kholil. Terlihat kalau ia begitu malu meski dalam hati menginginkannya juga.

”Tidak apa-apa,” Wiwik berusaha menengahi. ”mungkin nggak sekarang.” katanya.

Rohmah mengangguk dan menatap bibinya ini penuh rasa lega, namun ia kembali mengernyit saat Wiwik kembali berkata, ”Tapi kamu mau tolongin Mbak, kan? Aku sudah lama tidak merasakan punyanya laki-laki, memekku jadi gatel banget!”

”Eeh… gimana caranya tuh, kita kan sama-sama perempuan?” kata Rohmah bingung.

”Kamu lakukan dengan tanganmu, seperti ini!” jelas Wiwik sambil meraih tangan Rohmah lalu diletakkan di atas selangkangannya. Ia membuka kedua kakinya, dan mengangkat dasternya, tangan Rohmah lalu ia gerakkan di permukaan memeknya yang sudah membanjir.

Rohmah terperanjat dengan ulah bibinya ini, tapi karena penasaran, iapun mengikuti kemauan Wiwik. Perlahan tangannya bergerak mengelus-elus memek Wiwik, dari bawah ke atas. Tak lama kemudian Wiwik pun mulai ikut beraksi, tangan kanannya menyelusup ke dalam baju kurung Rohmah dan menyelinap ke dalam bra gadis itu. Payudara Rohmah langsung diremas-remasnya, sementara tangan kirinya mengusap-usap punggung putri Kyai Kholil tersebut. Rohmah tentu saja kaget mendapat perlakuan seperti ini, namun sama sekali tidak bisa menolak.

”Eehh… Mbakk… j-jangan! Ooohh… jangaan!” tolak Rohmah sambil mendesah begitu merasakan gairah birahinya yang mulai timbul.

Mulut berkata jangan, tapi tubuhnya tidak bisa menolak dengan perlakuan Wiwik. Tangan Rohmah pun semakin aktif bermain di memek Wiwik, hasrat birahi kedua wanita muda ini dengan perlahan bangkit, permainan mereka semakin menjadi. Entah sejak kapan tubuh mereka berdua sudah telanjang bulat. Dari posisi duduk di pinggiran ranjang, sekarang posisi mereka sudah berbaring bertindihan di atas ranjang. Rohmah berbaring mendesah-desah menikmati jilatan lidah Wiwik di vaginanya, juga hisapan Wiwik yang mendera kelentitnya. Perasaannya melambung seiring tubuhnya yang menggelinjang menikmati serangan-serangan Wiwik di memek dan kelentitnya.

”Oooh… ssh… aah… shh… aah… ooh…” Rohmah mendesah.

”Hhm… slrupp… slrupp… enaak, Dik? Slrupp…” tanya Wiwik sambil tetap menghisap kelentit Rohmah dan menjilati memeknya.

”Ooh… enaak, Mbak… nikmaat!” jawab Rohmah.

Tak lama kemudian Wiwik memutar tubuhnya sambil mulutnya tetap bermain di selangkangan Rohmah, ia menempatkan bagian selangkangannya tepat di atas muka gadis itu. Mereka berposisi 69!

”Kamu juga jilati punyaku,” kata Wiwik.

”Ooh… i-iya, Mbak!” Rohmah menuruti kehendak bibinya yang lebih berpengalaman ini.

”Ooh… hisap juha itilku, Dik!” Wiwik mendesah.

Kyai Kholil yang melihat pemandangan itu jadi semakin terangsang, kontolnya semakin mengeras, namun dengan sabar ia menunggu kode dari Wiwik. Walaupun hatinya ingin segera memasukkan kontolnya ke memek Rohmah yang terlihat sempit dan kenyal, tetap berusaha ia tahan sekuat tenaga. Sabar, nanti ada waktunya sendiri. Sekarang biarlah kedua gadis itu memuaskan nafsunya masing-masing. Kyai Kholil terus memperhatikan dengan nafas yang semakin memburu, tanda kalau nafsu birahinya sudah semakin memuncak.

Sementara itu di ranjang, aksi Rohmah dan Wiwik sudah semakin menggila. Keduanya saling menghisap dan mengerang silih berganti, saat itulah terlihat Wiwik memberi kode kepada Kyai Kholil agar masuk ke arena pertempuran. Bergabungnya Kyai Kholil tidak diketahui oleh Rohmah yang saat itu sibuk menikmati jilatan dan hisapan mulut Wiwik pada lubang memeknya, juga sibuk dengan aksi mulutnya sendiri di memek sempit Wiwik.

Dengan pelan Kyai Kholil bergeser, ia melihat memek Rohmah yang sedang dijilati oleh Wiwik sudah merekah indah, siap untuk dimasuki. Lubangnya yang sengaja dibuka oleh Wiwik terlihat basah kemerahan, juga sedikit berdenyut-denyut seiring hisapan Wiwik pada biji kelentitnya. Dengan dibantu oleh Wiwik, perlahan Kyai Kholil menyelipkan kepala kontolnya ke lubang tersebut.

Sleeepp…!! Kepala kontolnya terjepit di lubang vagina Rohmah.

Rohmah yang merasakan lesakan di lubang kemaluannya kontan tersentak, tapi ia tidak bisa bergerak karena tubuhnya sedang ditindih oleh Wiwik. Ia yang bertubuh mungil jadi tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang mengganjal di lubang kemaluannya itu.

”Oughh… i-itu apa, Mbak, yang masuk ke dalam lubangku?” tanya Rohmah kaget.

”Tenang, Dik, nikmati saja kontol Abah kamu. Pasti kamu nggak kecewa,” jawab Wiwik menenangkan.

”Eeh… j-jangan! Jangan dimasukkan, Bah! Arghh… pelan-pelan! Kontol Abah gede banget… nggak kalah sama punya paman Dewo! Ooughh… robek memekku!” Rohmah menjerit saat Kyai Kholil mulai meneroboskan kontolnya ke dalam lubang memek sang putri tercinta.

Perlahan tapi pasti batang kemaluan Kyai Kholil mulai menyeruak ke lubang memek Rohmah yang sudah seminggu tidak dikunjungi oleh batang kemaluan lelaki. Sedikit demi sedikit kontolnya mulai terbenam dalam lubang memek Rohmah yang masih sempit dan kesat.

Bleeess…!!! Dengan sekali hentak, Kyai Kholil mendorong masuk semua batang kemaluannya sehingga terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Rohmah.

”Arghhh… memekmu sempit juga, Nduk!” Kyai Kholil mengerang keenakan merasakan jepitan ketat memek putrinya sendiri, hal yang sudah lama ia inginkan namun baru kali ini berani ia lakukan.

”Oohh… sakit, Abah! Aahh…” Rohmah mengerang merasakan kontol Kyai Kholil yang memenuhi rongga kewanitaannya.

”Sabar, Dik., nanti juga nggak sakit. Ini karena kamu sudah lama tidak merasakan batang kemaluan lelaki,” Wiwik berusaha menenangkan.

Kyai Kholil mendiamkan kontolnya sejenak dalam jepitan memek Rohmah. Sementara Wiwik kembali menjilati kelentit Rohmah, jilatan yang dilakukannya perlahan-lahan mulai menghilangkan rasa sakit di memek gadis itu. Namun ternyata bukan hanya Rohmah yang menikmati jilatan itu, Kyai Kholil pun ikut merasakannya karena Wiwik sesekali juga menghisap pangkal kontol sang Kyai yang berada berdekatan dengan posisi kelentit Rohmah.

”Ooh… ssh… hhh…” erangan Rohmah mulai terdengar lagi, isak tangisnya telah berganti dengan lenguhan nikmat akibat jilatan Wiwik. Ia sudah tidak merasakan sakit di memeknya, yang ada malah perasaan enak akibat kontol Kyai Kholil yang memenuhi lubang memeknya.

Kyai Kholil sendiri juga merasakan memek Rohmah mulai berdenyut-denyut pelan, seolah meremas-remas batang kontolnya dengan begitu lembut. Tanpa menunggu lebih lama, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya; menggesek dinding memek Rohmah dengan batang kontolnya yang besar dan panjang. Kyai Kholil mengayunkannya keluar-masuk secera perlahan-lahan di lubang memek Rohmah, putrinya sendiri, yang kini semakin melenguh dan menggelinjang nikmat akibat persetubuhannya.

Wiwik yang masih asyik menjilati kelentit Rohmah, melihat bagaimana kontol Kyai Kholil keluar masuk di memek Rohmah dengan begitu perlahan. Menyadari bahwa Rohmah sudah dapat menikmati lesakan-lesakan kontol Kyai Kholil, iapun bangkit dari posisi membungkuknya dan lalu berbaring di samping Rohmah, sambil tangannya bermain di kedua payudara gadis itu. Benda yang mulai mengkal itu silih berganti ia remas-remas dan ia hisap-hisap ringan, dengan lidahnya Wiwik bermain di kedua puting Rohmah. Gigitan-gigitan lembut ia lakukan di kedua puting itu, akibatnya erangan dan desahan nikmat dari Rohmah jadi semakin kerap terdengar.

”Auw… ahh… ahh…” Rohmah merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Selain batang kontol besar yang memenuhi rongga memeknya, hisapan dan jilatan serta gigitan Wiwik di puting payudaranya membuatnya bergairah luar biasa. Matanya kadang terpejam kadang mendelik, sementara mulutnya terus mendesah dan mengerang penuh gairah.

”Oughh… enaak, Bah! Ssh… ahh… kontol Abah enak! Genjot terus… memekku enak!” Rohmah mendesah tak karuan.

”Sssh… ughh… memekmu juga enak, Nduk!” Kyai Kholil balas mengerang.

”Bener kan, Dik, kamu pasti merasa nikmat,” gumam Wiwik sambil terus mencucupi puting Rohmah satu per satu, menghisap dan menjilatinya dengan penuh nafsu.

”I-iya, Mbak… oughh… kontol Abah nggak kalah sama punya paman Dewo… enakk… gede banget! Aaghh…” erang Rohmah dengan tubuh semakin menggelinjang. Batas antara ayah dan anak sudah hilang sekarang, berganti dengan nafsu binatang yang menuntut untuk dipuaskan.

Nampak kepala Rohmah bergoyang ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang juga terangkat saat lesakan kontol Kyai Kholil masuk lebih dalam di lubang vaginanya. Lenguhan dan desahannya juga semakin sering terdengar, gairah birahinya yang terpendam selama satu minggu ini terlampiaskan sudah. Gejolak birahinya meledak-ledak menikmati sodokan-sodokan kontol Kyai Kholil, ayahnya sendiri. Rohmah bahkan merasakan puncak pendakiannya akan segera tercapai, ia merasakan lahar kenikmatannya akan segera meletup keluar.

”Oohh… terus genjot memekku, Bah! Yang cepat! Yang kuat! Auw… yah begitu! Terus! Ahhh… makin cepat, Bah! Makin kuat! Aku… oghh… mau keluarr…” Rohmah mengerang sejadi-jadinya merasakan nikmatnya digenjot oleh ayahnya sendiri.

Mendengar erangan sang putri tercinta, Kyai Kholil semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Saat merasakan kedutan kuat di dinding-dinding memek Rohmah yang melingkupi batang penisnya, iapun menekan kontolnya kuat-kuat ke dalam lubang kenikmatan gadis itu, bllessh…!!!

”Oughh… Bah! E-enak! Nikmaat! Hhm…” Rohmah mengerang keenakan saat vaginanya mulai menyemburkan cairan kenikmatannya yang sudah terpendam selama satu minggu ini.

Kyai Kholil mendiamkan sejenak kontolnya dalam lubang vagina gadis itu untuk memberi kesempatan kepada Rohmah menikmati puncak kenikmatannya. Ia merasakan bagaimana memek Rohmah yang berkedut-kedut kuat seiring dengan menyemburnya cairan kenikmatannya.

Terlihat nafas Rohmah masih memburu, matanya terpejam, namun di mulutnya tersungging senyum tipis penuh kepuasan. Untuk pertama kalinya ia bersetubuh dengan ayahnya sendiri dan untuk pertama kalinya juga ia dipuaskan oleh laki-laki itu. Setelah nafasnya mereda, barulah Rohmah membuka kedua matanya, tapi ia langsung tersipu begitu tahu kalau Kyai Kholil sedang menatap dirinya. Mukanya langsung memerah, kedua tangannya secara otomatis menutupi kedua payudaranya yang terbuka. Meski baru saja bersetubuh, dan malah kontol Kyai Kholil masih menancap di liang rahim Rohmah, namun gadis itu merasa malu. Ini memang tidak seharusnya dilakukan, kalau bukan karena pelet maut si Dewo tidak mungkin ini terjadi.

Tingkah Rohmah itu membuat Wiwik dan Kyai Kholil tersenyum. Dengan kontol masih terbenam di lubang kenikmatan Rohmah, kembali Kyai Kholil menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Rohmah yang masih tersipu malu terhenyak dengan ulah ayahnya itu, namun ia hanya bisa melenguh merasakan gesekan batang kemaluan Kyai Kholil di dinding-dinding vaginanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya mukanya yang semakin memerah saat kedua tangan Kyai Kholil mulai menggerayangi kedua payudaranya yang sedang ia tutupi dengan menggunakan tangan. Lembut Kyai Kholil menyingkirkan tangan Rohmah hingga payudara yang masih ranum itu kembali terpampang jelas. Segera Kyai Kholil meremas-remasnya sambil terus menggenjot lubang memek Rohmah dengan batang kontolnya yang masih ngaceng penuh. Erangan Rohmah pun kembali terdengar, nafsu birahinya yang tadi sudah sedikit padam, perlahan mulai menyala kembali.

Wiwik yang melihat Kyai Kholil mulai menggenjot ringan, segera beranjak ke belakang tubuh kakak iparnya itu, ia peluk Kyai Kholil dari belakang. Mesra ia ciumi punggung, telinga, tengkuk dan leher Kyai Kholil, sambil salah satu tangannya bergantian mengelus-elus batang dan biji peler sang Kyai yang bergoyang-goyang seiring hentakannya.

”Ahh…” Kyai Kholil yang merasakan sentuhan Wiwik jadi ikut melenguh. Ia merasakan sensasi nikmat yang berbeda. Akibatnya, kontolnya jadi semakin gencar keluar masuk di liang memek Rohmah. Gerakan ayunannya menjadi bertambah cepat.

”Aughh… shhh… ahh…” Rohmah yang merasakan kontol sang ayah semakin gencar keluar masuk di lubang vaginanya, jadi semakin melenguh. Desahan dan erangannya kini semakin menjadi. Cairan pelicin semakin banyak mengalir dari lubang vaginanya, bercampur dengan cairan orgasmenya yang tadi sudah menyembur keluar. Akibatnya lubang vaginanya jadi semakin basah sekarang. Suara kecipak aneh terdengar begitu alat kelamin mereka beradu, yang mana itu semakin menambah gairah birahi mereka bertiga.

”Ooh… enak, Bah! Terus genjot! Memekku… oooh…” Rohmah merintih-rintih keenakan.

Sambil kedua tangannya tetap meremas-remas kedua payudara putrinya, genjotan-genjotan Kyai Kholil pun semakin bertambah cepat. Sementara itu ia sendiri merasakan elusan-elusan Wiwik di biji pelernya berubah menjadi remasan-remasan lembut. Sangat nikmat sekali. Tangan adik iparnya itu seperti tidak mau lepas dari sana.

”Hhm… jangan lupa, Bang, sisakan kontolmu buat aku!” Wiwik berbisik lirih di telinga Kyai Kholil.

”Oughh… pasti, Wik, aku masih kuat kok!” jawab Kyai Kholil penuh keyakinan.

”Ayo, Bah… genjot lebih kuat! lebih cepat! Aku mau keluar!” rintih Rohmah yang merasakan puncak kenikmatan akan segera ia raih kembali untuk kedua kalinya.

Kyai Kholil tersenyum mendengar jeritan Rohmah. Hatinya membatin, obat yang diberikan Dewo memang betul-betul ampuh. Untuk kedua kalinya ia bisa mengantarkan Rohmah meraih puncak kenikmatannya.

”Keluarin, Nduk, keluarin!” kata Kyai Kholil sambil mempercepat genjotannya.

”Ahh… aku nggak kuat lagi, Bah! Arghh… aku keluar!!” Rohmah menjerit keenakan saat memeknya memuntahkan lahar kenikmatan untuk yang kedua kalinya, membuat lubang itu jadi semakin basah oleh cairan lendir bening.

Nafas Rohmah masih memburu menikmati puncak pendakian yang berhasil ia raih, dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya yang masih berat, sementara kedua payudaranya yang bergoncang-goncang terus dipegangi oleh Kyai Kholil. Laki-laki itu kembali mendiamkan kontolnya terbenam di lubang memek sang putri untuk memberikan kesempatan bagi Rohmah menikmati sensasi orgasmenya.

Wiwik tersenyum melihat Rohmah kelojotan untuk kedua kalinya oleh terjangan kontol Kyai Kholil. Ia segera memagut bibir Kyai Kholil penuh nafsu, lidahnya menerobos ke rongga mulut kakak iparnya itu, yang disambut oleh Kyai Kholil dengan penuh nafsu juga. Keduanya asyik berciuman sementara Rohmah yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya melihat pemandangan itu dengan iri. Ia lihat tangan sang Abah mulai meremas-remas kedua payudara bulat milik Wiwik, desahan-desahan birahi mereka terdengar saling bersahutan. Meski masih ingin merasakan lagi keperkasaan kontol Abahnya, namun Rohmah tahu diri. Sekarang adalah giliran Wiwik, jadi iapun segera mendorong tubuh Kyai Kholil sehingga jepitan alat kelamin mereka terlepas.

Sekarang Kyai Kholil berbaring telentang di tempat tidur, tepat di sebelah Rohmah. Kontolnya yang masih ngaceng keras tampak bergoyang-goyang indah menantang Wiwik agar segera menaikinya. Tanpa membuang waktu, Wiwik menaiki tubuh Kyai Kholil. Dengan mulut masih berpagutan mesra, ia mulai menggesek-gesekkan lubang memeknya di batang kemaluan sang kakak ipar sehingga membuat kontol Kyai Kholil semakin keras dan kaku saja. Selanjutnya, dengan tidak sabar Wiwik meraihnya dan mengarahkan benda itu ke lubang vaginanya.

Slleeepp…!! dengan mudah kontol Kyai Kholil terjepit di bibir vagina Wiwik, dan dengan satu dorongan ringan, melesaklah benda itu ke dalam lubang memek Wiwik hingga membelahnya jadi dua bagian sama lebar.

”Arghh… Bang, masuk semua kontolmu… di memekku… aah!” Wiwik melenguh puas.

”Hmm… memekmu sempit, Wik, nggak kalah sama punya Rohmah!” balas Kyai Kholil merasakan sempitnya lubang memek Wiwik.

Tanpa menunggu lama, mereka pun mulai menggerakkan pantat maju mundur sehingga kontol Kyai Kholil bergerak keluar masuk dengan sendirinya di memek sempit Wiwik. Mereka berpelukan erat, tubuh keduanya seolah menyatu. Wiwik terlihat semakin bernafsu memagut bibir Kyai Kholil, yang dibalas oleh Kyai Kholil dengan meremas-remas payudara Wiwik mesra.

Wiwik yang sudah berpuasa selama satu minggu inipun semakin liar beraksi, goyangan pantatnya betul-betul hebat; kadang bergerak maju-mundur, kadang berputar-putar, bahkan juga beberapa kali turun naik dengan begitu cepat saat merasakan kontol Kyai Kholil yang seperti sedang mengebor lubang kemaluannya.

”Oooh… enak, Bang! Kontolmu enak!” Wiwik merintih keenakan.

”Aah… terus goyang, Wik! Memekmu betul-betul enak!” balas Kyai Kholil yang merasakan kontolnya seperti dipijit-pijit saat Wiwik memutar-mutar pantatnya.

Rohmah yang mulai tersadar, begitu melihat kedua payudara Wiwik yang bergoyang-goyang indah seiring dengan gerakan pantatnya, segera memberanikan diri untuk mendekat. Ia peluk Wiwik dari belakang dan mulai meremas-remas kedua payudara gadis itu. Bahkan tidak hanya tangannya yang beraksi, tapi mulut Rohmah pun ikut bekerja dengan silih berganti menjilat kedua puting Wiwik yang mungil kemerahan.

“Arghh…” akibatnya, Wiwik jadi mengerang penuh kenikmatan. Jilatan Rohmah di puting payudaranya dan serangan kontol Kyai Kholil di kemaluannya benar-benar membuatnya tak tahan.

Gerakannya maju mundurnya kini semakin bertambah cepat, juga tidak beraturan. Akibatnya kontol Kyai Kholil pun semakin gencar menyodok-nyodok ke dalam lubang memeknya. Nampaknya gadis itu sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya.

”Aarggh… aku mau keluar, Bang! Kontolmu memang nikmat!” Wiwik mengerang, tubuhnya mengejang saat vaginanya memuntahkan lahar kenikmatannya. Cairan itu menyembur membasahi batang kontol Kyai Kholil yang masih berada dalam jepitan liang vaginanya.

Kyai Kholil yang melihat tubuh Wiwik mengejan-ejan nikmat, segera buru-buru membenamkan penisnya dalam-dalam. Tanpa aba-aba ia muntahkan spermanya ke liang rahim gadis itu. Mereka melenguh secara berbarengan dan saling berpelukan. Rohmah melihat dengan iri, namun ia segera tersenyum begitu Wiwik bangkit dan membagi sisa pejuh Kyai Kholil yang merembes dari liang memeknya sama rata. Berdua mereka menjilatinya hingga bersih, sampai tidak ada yang tersisa. Selanjutnya mereka tertidur berpelukan dengan Kyai Kholil berada di tengah-tengah, tubuh mereka masih sama-sama telanjang.

Di kamar sebelah, Dewo juga melakukan hal yang sama. Ia muntahkan spermanya untuk yang ketiga kalinya di pagi ini ke mulut Nyai Siti. Dan wanita itu terus menelannya dengan penuh rasa suka. Tersenyum puas, Dewo kembali meraih tubuh molek Nyai Siti ke dalam pelukannya.

ROSITA

Orang-orang di sekitarku selalu memuji ingatanku sebagai ingatan paling tajam yang pernah dimiliki seorang manusia. Istilah jaman sekarang, ‘photographic memory’. Aku begitu mudah mengingat segala hal yang pernah aku alami atau bahkan sekadar aku lihat dan aku dengar. Misalnya saja, poster kampanye calon walikota yang sekilas saja kulihat di pinggir jalan. Aku bisa ingat warna latar belakangnya, motif bajunya, bahkan semua kata yang ada dalam poster itu dari atas hingga bawah. Semua. Ingatan tajam itu memang kumiliki sejak lahir, meski kedua orang tuaku biasa-biasa saja.

Mereka malah kebingungan ketika aku menanyakan perihal ingatan superku. “Mungkin ini mukjizat Tuhan,” jawab Ayah, dan “Kamu tidak diciptakan dengan ingatan seperti itu kalau tidak ada tujuannya. Yang penting kamu harus menggunakannya untuk kebaikan,” jawab Ibu.

Pelajaran dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi kulahap dengan mudah dan kumuntahkan kembali ketika ujian. Ranking tertinggi dan predikat magna cum laude melekat di memorabilia pendidikan yang pernah kujalani. Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba memburuku dan menawarkan gaji selangit. Akhirnya aku mendarat pada sebuah perusahaan minyak dan gas bumi asing sebagai asisten kepala riset dan teknologi. Pretty cool, huh?

Namun ingatan ini bukanlah tanpa cacat. Ada satu momen pada tujuh tahun yang lalu, ketika masih duduk di sekolah menengah atas, yang sama sekali tak bisa kuingat. Momen itu melibatkan sepatu kecil di kamarku yang kini tinggal sebelah. Entah kenapa bisa seperti itu. Ayah dan Ibu selalu bungkam ketika kutanyakan kejadian tersebut. Mereka hanya menjawab ‘mungkin satunya jatuh dan hilang” lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan. Rumah ini tak pernah punya pembantu dan aku anak tunggal, jadi tak ada orang lain yang bisa kutanyai lagi. Aku harus puas dengan jawaban itu selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini. Sepuluh menit yang lalu, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu berusaha menggapai tombol bel rumah yang tak terjangkau tangannya yang mungil. Aku yang kebetulan melihat karena hendak berangkat ke kantor, menanyakan tujuannya dengan ramah. Tapi alih-alih menjawab, laki-laki itu hanya menatap wajahku lekat-lekat, entah apa yang dicarinya di situ.

“Maaf, bapak ini mau cari siapa?” tanyaku lagi.

Beliau masih tak menjawab. Akhirnya, karena jengkel kutinggalkan saja dia di depan pagar. Barulah beliau memanggilku dan meminta maaf.

“Saya ingin bertemu orang tuamu. Kau anak dari Bapak dan Ibu Roestam kan?”

“Iya. Bapak siapa?” tanyaku dengan nada waspada bercampur ingin tahu. Seumur-umur, belum pernah kulihat wajahnya di antara deretan teman dan kolega orang tuaku, sehingga aku harus waspada.

“Panggil saja Pak Ustad,” jawab beliau sambil membetulkan peci warna hitam yang dikenakannya.

“Siapa, Nang?” rupanya Ibu mendengar percakapan kami.

“Pengen ketemu ibu, namanya Pak Ustad.” jawabku sambil membukakan pagar.

Ibu mengernyit mendengar nama itu, seperti habis melihat kotoran anjing di kebun. Lebih-lebih setelah bertatapan muka langsung dengan laki-laki itu. “Mau apa kamu ke sini?” tanya ibu tanpa basa-basi. Aku ikut memasang sikap defensif dan siap-siap mengusir Pak Ustad yang ternyata kedatangannya tak dikehendaki oleh Ibu.

“Tenang, Bu. Saya cuma ingin menagih janji.” jawab beliau tenang. Dapat kulihat tak ada perubahan ekspresi ketika bercakap-cakap dengan Ibu.

“Tak ada janji di antara kita. Itu cuma akal-akalanmu saja!”

“Saya bawa surat itu, lho! Ada tanda tangan ibu juga.” jawab Pak Ustad sambil mencari sesuatu dari tas jinjing coklat tua yang dibawanya.

“Masuk saja, jangan di sini. Tak enak kalau dilihat tetangga. Danang, kamu bukannya harus berangkat ke kantor?” kata ibuku.

“Tapi, Bu, apa aku harus memanggil polisi? Atau beliau disuruh pulang saja?” tanyaku mulai gusar.

“Tak apa. Ibu bisa menanganinya sendiri.” jawaban yang singkat lugas, dan tegas, mengusirku dengan halus.

Aku menghela napas lalu segera berangkat dengan mobil sedan keluaran tahun 1995 milik Ayah. Dari spion dapat kulihat Ibu masih berdiri di pagar, mengawasiku untuk benar-benar pergi ke kantor.

Menjelang malam, aku baru bisa pulang. Salahkan kerjaan yang menumpuk dan beberapa rekan kerja yang cuti secara bersamaan. Aku mendapati Ayah dan Ibu tengah bercakap serius dengan volume yang nyaris seperti bisikan. Begitu halus dan pelan. Suara lemari ruang tamu yang tak sengaja kutendang, segera mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Pandangan mereka tak kumengerti, campuran antara takut, kalut dan sedih.

Ayah lebih dulu membuka suara setelah berhasil menguasai diri. “Duduk sini, Nang. Ada yang harus kami sampaikan padamu.”

“Serius amat sih. Ada hubungannya ama si bapak yang tadi ke sini?”

“Sayangnya iya. Sebelumnya kami mau minta maaf karena selama ini nggak jujur sama kamu. Sebetulnya, kamu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Ayah yang lebih tegas, segera mengambil alih. “Kamu bukan anak kami. Kamu anak Pak Ustad yang kami ambil dan kami asuh selayaknya anak kami.”

Cangkir yang kupegang langsung jatuh begitu mendengar kata-kata itu. Ya, seperti di film atau sinetron-sinetron. Ibu buru-buru mengambil sapu dan membereskan pecahan gelas itu, sementara aku masih memandang Ayah dengan tatapan tak percaya.

Beliau lalu melanjutkan ceritanya. “Ingat sepatu kecil di kamarmu yang tinggal sebelah? Itu adalah hadiah dari Pak Ustad saat datang pertama kali ke rumah ini, untuk mengambilmu.”

”Kenapa cuma sebelah?”

”Kami menolak ia mengambilmu. Kami terlalu sayang kepadamu, Nang. Jadi kami melawan. Sebelum mengusir Pak Ustad dan mengunci pintu, ibu melemparkan sepatu itu. Namun cuma sebelah, yang satunya tetap kamu pegang, sampai sekarang.” ujar Ibu sembari mengusap pipinya yang berlinang air mata.

“Jadi ini semua ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang tentang hari itu?”

Ayah menghela napas sejenak sebelum mulai menjawab. “Iya. Kamu begitu terguncang mengetahui kalau cuma anak angkat, sama seperti saat ini. Ingatanmu melawan, dan akhirnya… semua memorimu malah hilang. Sepertinya kamu sangat tidak bisa menerima hal ini sehingga berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran. Namun ternyata, ingatanmu malah hilang semua. Ingatan di hari itu. Semua hilang.”

“Lalu, kenapa sekarang tidak?”

”Mungkin karena kamu telah cukup dewasa. Kamu sudah bisa berpikir secara lebih kalem dan bijaksana. Mungkin benar kata Pak Ustad, inilah saatnya bagi kita untuk berpisah.”

Aku mengangguk. “Ijinkan aku bertemu Pak Ustad. Aku ingin tahu jati diriku yang sebenarnya.” jawabku menahan gentar. Jauh di lubuk hatiku, ada ketakutan tersendiri.

“Kami tak ingin berpisah denganmu, Nang!” kata ibu.

“Tak akan, Bu. Percaya padaku!” kupeluk mereka berdua.

Minggu berikutnya, dengan berbekal alamat dari ibu, aku mulai mencari rumah Pak Ustad, orang tua kandungku. Kukira bakal gampang, namun ternyata cukup sulit juga. Letaknya di pinggiran kota, bahkan hampir ke perbatasan propinsi.

Setelah cukup lama berputar-putar, tanya sana tanya sini, capek dan lelah, namun tetap tidak bisa kutemukan juga. Mengeluh jengkel, akupun berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli jus. Terlihat beberapa jenis buah segar dipajang di bagian depan warung. Sangat cocok untuk membasahi kerongkonganku yang kering.

Kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangannya. Busananya serba tertutup. Ia memakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya, terlihat tonjolan payudaranya yang menggelantung indah.

Namun yang pertama menarik perhatianku justru pantatnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan pantat perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi. Yang malah mmebuatku jadi ingin mengelus dan meremasnya.

Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut. “Eh, mau beli apa, dik?” katanya di tengah keterkejutan.

Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tidak muda lagi. Mungkin sudah sekitar empat puluh tahunan. Tapi wajahnya itu lho yang bikin aku nggak bosan memandanginya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut.

”Anu, bu. Mau beli jus.” aku berlagak memilih-milih buah sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak dia untuk ngobrol. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai kotor. Membayangkan rintihannya ketika memeknya kutembus batang kontolku. Ah, entah kenapa aku jadi seperti ini. Mungkin karena pengaruh fisik dan pikiranku yang kelelahan.

Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya tiga anak. Tidak menyangka aja, wanita secantik dan semolek dia. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

“Jadi ibu sendirian nih?” komentarku.

“Iya, dik. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau pengupas buah yang tergeletak. Cepat sekali itu terjadi.

“Aduh, bu… saya kok kebelet pipis ya. Bisa numpang ke belakang nggak?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.

“Eh… gimana ya?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di dalam rumah.

“Gimana nih… udah nggak tahan, bu,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya. Kulihat wajahnya langsung memerah.

“Eh, tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh sebuah bh kotor ke mesin cuci.

“Gimana, bu, udah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

Ibu itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

Karena menunduk itulah, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

“Sst… jangan melawan!” kataku setengah berbisik.

Ia tampak sangat ketakutan. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan bh yang kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

“Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.

“Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yang tertutup jilbab lebar.

”Auw! Jangan!” Ibu itu memekik kecil. Wow! Payudaranya terasa kenyal dan mantap.

“Ibu pake bh ya?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.

“Siapa nama ibu?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.

“Aduh! Aduh! Rosita… aduh, jangan keras-keras!” ia merintih-rintih.

Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yang ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di depan selangkangannya. Kuremas-remas gundukan lubang kewanitaannya.

“Ohhh… jangan! Jangan!” bu Rosita menggeliat-geliat.

“Jangan takut, bu… saya cuma mau main-main sebentar.” kataku lalu berlutut di hadapannya.

Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yang mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow! indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi lubang kewanitaan cantik itu.

Bu Rosita terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah lubang kewanitaannya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng ia ke sofa yang ada di ruangan itu. Setengah kubanting tubuhnya ke atas sana. Ibu itu menjerit-jerit kecil ketika dengan pelan kutarik gamisnya. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali bh dan jilbabnya.

Kupandangi tubuh yang putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi sofa. susunya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua susunya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

“Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau ibu berteriak terlalu keras, nanti ada yang dengar,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan lidahku ke sisinya. Bu Rosita tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang kewanitaannya dari bawah ke atas.

“Eungghhhhh…” terdengar bu Rosita mengerang.

Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yang merah muda dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang kewanitaan. Lebih berdebar lagi, karena lubang kewanitaan yang satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar!

Tiba-tiba bu Rosita membuka mulut dan kemudian diteruskan oleh rabaan dan lama-kelamaan tangannya berlanjut ke arah selangkanganku. Dan tiba-tiba saja ia sudah memelukku, dengan cepatnya bu Rosita mencium bibirku dengan liarnya. Maka akupun tak kalah bernafsunya, aku balas dengan liar pula.

Dan bu Rosita terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku. Ketika bajuku terlepas, tiba-tiba saja ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku. Maka langsung saja alat vitalku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga langsung diremas dengan liarnya oleh sebuah tangan halus. Ketika kulihat, ternyata bu Rosita yang melakukannya. Dengan ganasnya ia memijiti batang penisku.

Tanpa melepas jilbabnya, langsung saja bu Rosita memegang alat vitalku dan diarahkan ke lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah sedari tadi. Setelah pas, maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya…

Bless!!!

“Aah…” desah bu Rosita saat batang besarku menusuk lubang senggamanya, memenuhinya hingga ke bagian yang terdalam.

Sementara dia asyik menaik-turunkan pantatnya diatasku, maka aku tarik bh-nya ke atas dan aku jilati susunya yang bulat besar dengan penuh nafsu.

“Ahh… enak, dik! Terus… ohh…” desahnya. “Ahh… ohh… jilat putingku! Ohh…” ia meracau ketika puncak susunya aku pelintir dengan menggunakan lidah.

Sementara itu, juga aku gesekkan jari tengahku ke biji klitorisnya yang menonjol indah hingga membuat bu Rosita meracau dan semakin kuat meliuk-liukkan badannya yang sintal. “Ohh… enak, dik!” rintihnya.

Setelah berada dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, akhirnya bu Rosita menggenjot tubuhnya semakin cepat dan mengerang, “Ahh… ibu dapet, dik… ahh… ahh..,” desahnya dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang di sampingku.

Aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan lubang kewanitaannya. Aku lalu turun dari sofa dan kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaannya. Kali ini aku yang berada di atas. Bu Rosita menanggapi seranganku dengan kembali menggoyangkan pinggulnya naik turun dan kadang memutar, sementara susunya yang besar ia sodorkan ke mulutku, yang langsung kujilat dan kuhisap-hisap dengan penuh nafsu.

Setelah 5 menit, kembali tubuh bu Rosita mengejang sambil ia berteriak, “Ahh… ibu dapet lagi… ahh!” Terasa sekali cairanya mengalir deras membahasi batang kemaluanku dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang.

Selang beberapa saat, ternyata bu Rosita sudah fit lagi. Rupanya ia tipe wanita yang bersyahwat besar. Didorongnya tubuhku hingga jatuh ke sofa, lalu ia tindih. Kembali aku disusuinya. Sementara aku sibuk menjilati putingnya yang kini terasa semakin basah, bu Rosita perlahan menurunkan pinggulnya dan, bless! Kembali alat vitalku masuk ke lubang kewanitaannya.

“Ahh… uhh… mentok, dik!” desahnya sambil mulai menggoyangkan pinggul.

Untuk yang ketiga ini, aku tidak ingin ketinggalan lagi. Selain sudah lelah, aku juga takut anak bu Rosita pulang sewaktu-waktu. Jadi aku segera berkonsentrasi. Kugenjot pantatku keluar masuk di kewanitaan Bu Rosita dengan begitu cepat. Terasa sempit sekali lubang kewanitaannya meski sudah melahirkan tiga orang anak.

“Ahh… terus, dik… enak… ohh… lebih dalam lagi…” racaunya.

Maka aku membalik posisi, kini dia yang berada di bawah, berbaring di sofa dengan posisi kaki berada di bahuku. Dengan posisi seperti itu, membuatku semakin leluasa melakukan tusukan dan hujaman.

“Dik, ibu keluar lagi… ohh…” desah bu Rosita dengan tubuh terkejang-kejang.

Namun aku tidak peduli, aku terus menggenjot tubuh sintalnya karena aku sendiri juga mengejar klimaks. Terus kutusukkan penisku ke lorong kewanitaannya sambil kuremas-remas juga buah dadanya yang berukuran 36D.

Tubuh bu Rosita sudah benar-benar melemas. Melihat kondisinya yang seperti itu, aku jadi tidak tega. Tanpa berniat menahan lebih lama lagi, akupun menggeram, “Bu, aku juga mau keluar… di dalem ya?” pintaku.

Ia mengangguk tanpa suara.

Akhirnya, sambil menusukkan penisku dalam-dalam, akupun ejakulasi. Terasa deras sekali semprotan air maniku di lubang kewanitaannya. Kembali tubuh bu Rosita terkejang-kejang saat menerimanya.

Kami masih berpelukan erat saat tak sengaja mataku menatap sebuah potret kecil berbingkai kayu di atas lemari. Foto yang ada disana sedikit mengguncang ingatan fotografisku. Laki-laki itu sepertinya kukenal! Belum sempat aku bertanya, sebuah benda lain juga menghantam pikiranku.

Benda itu… kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi? Rupanya terlalu menuruti nafsu membuat pikiranku jadi tumpul. Lekas aku mengambilnya.

”Itu hadiah buat anak sulung ibu. Kami berpisah sejak lahir, ia diadopsi orang kota. Rencananya 7 tahun lalu mau ibu ambil, namun ternyata gagal. Hanya sepatu itu yang bisa mengingatkan ibu kepadanya.” kata bu Rosita.

Ya Tuhan! Kuambil sepatu yang cuma sebelah itu dengan hati terguncang. Aku telah menemukan orang tua kandungku. Dan tanpa sengaja, aku juga telah menyetubuhinya!

RIFA AND FRIENDS

Namaku riki, aku hanyalah seorang pelajar kelas 3 dari sebuah SMA di kota B. Tinggi badanku sekitar 170 cm . Dalam cerita ini aku hanya ingin menceritakan kisah seks-ku bersama pacarku dan mantan pacarku.
ninis jilbab montok (1)
Kejadian ini berawal ketika ku dekat dengan salah satu teman 1 SMP-ku di kota yang sama. Sebut saja namanya Rifa. Orangnya ramah dengan memiliki wajah baby-face. Kepalanya diselimuti oleh kerudung sehingga membuat wajahnya terilhat lebih manis. Tingginya hanyalah sekitar 155 cm. Tapi justru karena itu aku menyukainya. Saat ini, dia bersekolah di suatu boarding school di luar kota.
Saat itu status kami hanyalah sepasang sahabat. Namun dari status sahabat tersebut aku mulai merasakan jatuh cinta kepadanya. Kucoba untuk menyatakan cinta kepadanya. Ku ajak dia untuk bertemu di salah satu Mall ternama di kota ini. Dia pun menyetujuinya. Dan akhirnya kami pun bertemu di tempat tersebut.
Sengaja kusiapkan sekuntum mawar merah sebagai alat bantu dalam menyatakan cintaku kepadanya. Tapi karena malu untuk menembak dia di keramaian orang. Maka kuajak dia untuk ke bioskop. Biar nembaknya di bioskop aja menurutku. Dia menyetujuinya dan kami pergi ke bioskop yang ada di mall tersebut. Kami memilih sebuah film yang memang saat itu studionya sudah dibuka sehingga kami bisa lansung masuk ke studio tersebut.
Kami menduduki jejeran bangku F, aku tidak menikmati film yang ditayangkan karena aku dari awalnya Cuma berniat nembak dia. Dan aku mengajak dia berbincang. “Fah, ada yang mau gue omongin ke lu.” “Apa ki? Hmm kok serius gitu ngomongnya?” jawab dia sedikit heran dengan gaya omonganku. “Gini fah. Sebenernya gue tuh sayang sama lu..’’ belum selesai aku melanjutkan, dia sudah memotong omonganku.”hmm lu mau nembak gue yaa? Iyaa gue juga sayang lu kii.. tapi inget kii kita tuh sahabat.” Aku pun menjawab pernyataannya dengan sedikit murung. “hmm gitu ya? Ya mungkin lu jadi pacar gue hanya pikiran gue semata dan ga mungkin terwujud’’. “kata siapa eh? Haha gue tuh Cuma bercana kii tadi. Gue mau kok jadi pacar lu mulai dari sekarang.’’ Dia menjawab lagi dengan sedikit malu.
Mulai detik tersebut kami pun berstatus ‘pacaran’. Setelah berbincang’’ dengannya kami pun melanjutkan menikmati film yang ditayangkan, tentunya dengan gaya orang pacaran. Pegang tangan, rangkulan. Lalu ku cium tangannya yang kupegang, aku biasa melakukan hal ini kepada pacarku. Mantan’’ku pun pernah kucium tangannya. Tapi respon dari pacarku ini berbeda. Pada awalnya dia tarik tangannya. Katanya sih geli, tapi kok dia tempel lagi tangannya ke bibirku? Malah diteken’’. Alhasil tangannya pun sedikit berwarna merah di bagian yang kuciumi.
Setelah dari tangannya, kucoba untuk mencium mulutnya. Kutengokkan wajahnya ke wajahku. Seketika aku pertemukan bibirku dengannya. Dia tidak merespon negatif. Lalu perlahan kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia pun tidak menolaknya. Hingga kedua lidah kami saling bertemu dan akhirnya kami French kissing. Saat melakukan kiss tersebut , sempat aku bukakan mataku dan melihat cantik wajahnya. Dan ternyata terlihat dari ekspresinya tersebut bahwa dia menikmati kiss tersebut. Kami ber French kissing cukup lama.
Tiba-tiba kami dikagetkan oleh seseorang gadis. Gadis itu ternyata adalah mantan pacarku. Sebut saja namanya Rina. Wajahnya juga cantik namun dia tidak menggunakan jilbab saat itu. ‘’Hmm deeeuh si riki pacaran enak banget, sorry ganggu ya, nih gue duduk Cuma 3 bangku di samping pacarlu. Gue kira siapa gitu, eh ternyata elu. Hahah yauda gua sapa deh drpd Cuma pura’’ galiat.’’ Ejek dia. “hahah dasar lu na. udah urus itu cowo lu. Gaenak gara’’ gue, dia jadi dicuekin kan sama lu.’’ Jawabku.
Rina pun kembali ke bangkunya, lalu dia sedikit berbincang dengan pacarnya. Ah peduli apa aku dengannya? Toh dia Cuma mantan. Walaupun bagiku dia mantan terbaik, tapi aku kan udah punya pacar. Rada kesel juga sih, lagi enak’’ French kiss eh diberhentiin seseorang. Jadinya sekarang aku dan pacarku hanya bisa menikmati kembali film tersebut walaupun ga ngerti alur ceritanya.
Tiba’’ pacarku berkata, ‘’sayang, coba kamu liat itu mantan kamu sama cowonya. Mereka bukan Cuma ciuman kyk kita tadi yang. Liat tangan cowonya, itu dadanya mantan kamu diremes’’ dari dalem kaosnya gitu. Tangannya mantan kamu juga nakal, masuk’’ ke celana cowonya. Hmm jangan’’ kamu juga pernah gitu ya sama dia?’’ aku diam sejenak. “hmm itu? Jujur aja yang, aku semaksimalnya dulu sama dia sampai remas’’ dada tapi masih diluar pakaian.’’ Jawabku. ‘’enak ga sih yang? Kalau enak, kamu mau ga gituin aku?’’ jawab dia. Permintaan dia membuatku kaget, wah pacar aku udah kerangsang ini mah. “hmm mantan aku sih keenakan, tuh liat aja sekarang dia keenakan banget kan. Kamu mau?” dia hanya mengangguk. Lalu aku pun kembali mencium bibirnya. Kami kembali melakukan French kiss namun tanganku mulai meraba-raba dadanya. Kutaksir dadanya berukuran 34 B.
Sepertinya dia sangat menikmatinya. Terasa dari ciumannya yang semakin ganas dan tangannya mulai meraba’’ tubuhku. Tiba’’ dia menuntun tanganku ke dalam pakaiannya. Dia menuntunku untuk meremas’’ dadanya dari dalam pakaiannya. Terasa sebuah kain masih menutupi payudaranya. Perlahan ku turunkan cup BHnya dan kumulai untuk meremas-remas payudaranya. Terasa ada yang menonjol dari tonjolan itu. Pentilnya. Sesekali kupijit-pijit kecil pentilnya itu. Saat dipijt. Pacarku pun sedikit menggelinjang.
ninis jilbab montok (2)
Pacarku mulai kehilangan akal sehatnya. Tangannya sudah mulai meremas’’ adik mungilku dari luar celana jeansku. Lalu dia membuka kancing jeansku dan tangannya menyusup ke dalam celana dalamku. Sehingga saat itu penisku yang sudah menegang tersebut diraihnya. Dia-pun memijit penisku dan sesekali dikocoknya. Jujur aku merasa keenakan saat itu, tapi aku menutupi rasa tersebut dengan wajahku seolah-olah ga kenapa’’.
Kami menyelesaikan French kiss kami, namun tangan kami masih saling memijat. Dia pun melihat kea rah mantanku. Astaga! Terlihat dia sedang mengulum’’ penis pacarnya. Gelapnya bioskop membuat pemandangan itu menjadi remang-remang. Tapi ketara jelas dia sedang mengulum penis pacarnya. “yang aku mau gituin kamu juga dong.’’ Jelas dia. Eh buset ini cewe gue udah kesetanan bukan?? Aku awalnya mikir’’ dulu. Tapi tangan ceweku yang nakal. Itu penisku dikeluarin dari celanaku. Dia mulai menundukan kepalanya kea rah penisku. Dia ciumi, jilati, dan tak lama kemudian dia kulum penisku. Awalnya pelan’’, lama’’ kencang. Asli saat itu kalau aku mau keluarin peju aku juga bisa. Tp aku tahan aja. Ga enak sama ceweku.
Ga lama, rina selesai mengulum penis cowonya. Entah apa yang terjadi di sana aku tidak tahu. Tapi ini ceweku masih aja ngulum’’ penisku dengan nikmatnya. Ku bilang ke dia, ‘’yang udahan dong. Itu liat rina juga udahan. Lagipula kayaknya ini film udah mau beres’’. Dia pun menurut, penisku dilepasnya dan celanaku kembali dibereskan. Lalu kami kembali menikmati film tersebut . dan benar 15 menit setelah itu, film pun selesai.
Kami keluar dari studio. Di luar studio ternyata kami ditunggu oleh Rina dan pacarnya. “heh! Maksud lu apa ngikutin gua tadi di dalem studio? Gua gini, lu ikut gini. Gua gitu, lu ikut gitu.” Rina labrak rifa. “Gue Cuma ga seneng aja sama gaya lu pas tadi lu kagetin gue sama cowo gue!” Rifa pun melabrak balik. Tiba’’ Rina berkata kepada pacarnya, “yang, kamu bawa duit berapa?” “sisa 500rb nih. kenapa yang?” Tanya pacarnya. Dengan nada rendah dia berkata “Kita sewa kamar.” “hmm mending di rumah aku aja.” Jawab pacarnya. “aku mau nunjukkin ke jablay itu kalau kita lebih hebat’’ Rina jawab kembali.
Aku kaget bukan main dengar kata’’nya. Ingin ku labrak balik mantanku itu karena telah memanggil pacarku dengan sebutan jablay. Tapi tiba’’ pacarku yang menjawab. “oh lu mau saingan? Oke! Gue ga takut sama lu. Lu tuh yang jablay!” Labrak balik dari pacarku. Aku dan pacarnya rina pun Cuma bisa kaget aja melihat pacar kita berdua.
Singkat cerita, Kami berempat menyewa sebuah kamar. Kamar tersebut berisi 2 tempat tidur. Sesampai di kamar tersebut, Aku dan pacarnya rina, sebut sama Prad, didorong oleh pacar masing-masing ke atas tempat tidur. Dan benar, mereka mulai berlomba memuaskan pacarnya.
ninis jilbab montok (3)
Rifa secara cepat melepas semua pakaianku. Dia mulai menciumi kembali penisku. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu. Penisku yang berukuran 16cm tersebut memang tak bisa dihisapnya secara penuh. Tapi dia punya teknik tersendiri. Dia mengulum biji zakar ku. Lalu menciumi dan menghisapi batang penisku dari pangkal hingga ujungnya. Teknik tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
Berbeda dengan rifa, Rina justru lansung ke arah yang lebih ekstrim. Dia memulainya dengan lansung berhubungan kelamin. Posisi yang digunakannya adalah Women on top. Ya wajar secara dalam peraturan pertandingannya, sang pacar tidak boleh beraksi. Hanya diperbolehkan menikmati pelayanan ekstra dari pasangan masing-masing.
Raungan dari pasangan rina prad pun terdengar di ruangan tersebut. Sedangkan pasangan rifa dan aku masih senyap. Hanya aku yang sedikit meringis keenakan karena rifa sedang sibuk melayani penisku itu. Tiba rifa melepas penisku dari mulutnya. Badannya beranjak ke atas tubuhku. Dibuka celana dalamnya. Dengan tetap memakai rok, Penisku diarahkan ke arah vaginanya. Dia menggesek’’an penisku dengan vaginanya. Setelah siap, dia mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Saat kepala penisku masuk seutuhnya ke dalam vagina. Mulai terasa nikmatnya ML. terasa penisku semakin lama semakin menembus lubang vaginanya. Namun tiba-tiba penisku terasa menemui sesuatu. Kupikir itu adalah selaput perawannya. Ya memang itu sepertinya. Rifa pun menyadari penisku menemui selaput daranya. Tapi secara cepat dia menjatuhkan badannya. Sehingga otomatis penisku menembus selaput daranya dengan seketika. Dia berteriak kesakitan. Namun hanya sebentar. Karena di tempat tidur yang lain. Rina tertawa mendengar jeritan rifa.
Rifa mulai memompa vaginanya ke atas dan kebawah. Isak tangisnya yang terjadi akibat hilangnya keperawanannya tersebut lama-lama menghilang dan kemudian berubah menjadi desahan nikmat. Rifa merasa berat melakukannya dengan busana. Maka ia lepas semua busana yang ia pakai. Alangkah indah tubuhnya. Kulit putih, wajah cantik baby face. Rambut lurus sebahu, payudara 34B mengantung dengan puting berwarna pink lalu vagina berwarna pink dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Rifa pun kembali memompa vaginanya. Payudaranya bergoncang ke atas dan ke bawah saat ia memomba vaginanya. Wajahnya terlihat sangat menikmati hal tersebut. Tiba-tiba ia mendenguh keras. Terasa ada cairan tersemprot membasahi kemaluanku dan mulai merembes keluar dari vaginanya. Dia telah mengalami orgasme hebat. Bukan hanya sekali. Terasa 2 3 kali derasan air vaginanya membasahi kemaluanku.
Rina tertawa melecehkan rifa, “ hahah jablay murahan emang baru gitu aja udah keluar.’’ Tap tak lama justru pacarnya mencabut penisnya. Saat penisnya tercabut lansung muncrat spermanya membasahi tubuhnya hingga ada yang mengenai wajahnya. Jujur saja, aku terangsang bukan hanya karena rifa. Tapi karena rina juga. Tak bisa terlupakan wajahnya saat tersemprot sperma dari pacarnya itu. Ditambah lagi, sperma yang ada di tubuhnya diratakan hingga ke seluruh tubuhnya.
Prad menyerah, dia sudah terlampau capek. Karena dia sudah dilayani oleh rina sejak di bioskop tadi dengan sangat bergairah. Dia bebaring dan tak lama ia tertidur. “Anjir cowo gua payah ah. Masak tidur sekarang? Gua gimana ini?” Cetus Rina. “Rasakan! Makanya jadi orang jangan sok jago. Eh malah pasangannya yang KO duluan.” Ledek rifa.
Rina tidak terima perkataan dari rifa tersebut. Ia menghampiri rifa dan menamparnya. Aku kaget segera beranjak dan menampar balik rina. “dari awal gue ga suka perilaku lu ke cewe gue na. gue tau lu lebih berpengalaman. Sedangkan cewe gue tuh baru sekarang kayak gini. “ lalu aku bicara ke rifa “Kamu juga yang. Ga usah lah make berantem kyk gini, kita damai-damai aja.” “aah udah ah mending tidur aja dari pada pusing.” Dengan kesal kututup mataku.
Sekitar 5 menit berlalu. Tiba-tiba bibirku disambar bibir lain. Kupikir itu rifa, jadi kuterima ciuman itu. Tapi ketika kubuka mataku, yang menciumku bukanlah rifa melainkan rina. Rifa hanya bisa kaget di sebelahku melihatku dengan rina berciuman. Kulepas ciuman dari rina segera ku minta maaf kepada rifa. “yang maaf. Aku kira yang cium aku tadi itu kamu.’’ Dia tidak menjawab dengan kata-kata. dia meraih wajahku dan menciumi bibirku. Sesaat dia melepas ciumannya dan berkata,’’gapapa yang. mungkin dia masih sayang sama kamu jadi dia gitu.’’ Kami pun berciuman mesra.
‘’Ki, gue emg masih sayang sama lu. Gue masih mengharapkan lu. Tapi tadi gua seketika sakit hati pas liat lu French kiss sama dia. Makanya gua kagetin kalian.” kata Rina tiba’’. Aku kaget mendengarnya. Kuhentikan aktifitas lidahku, kubiarkan rifa yang menggerayangi lidahku sendirian. Aku benar-benar tercengang. Tiba-tiba rifa berkata, “yauda na, lu ga ada temen main kan? Sini aja. Sekali ini aja gapapa main sama cowo gua.” “Kamu yakin yang? gapapa nih?” Tanyaku kepada pacarku. Ia menjawab dengan senyuman manisnya sambil menangguk. Lalu wajahnya berpindah ke arah penisku. Ia mulai mengulumnya kembali.
Mendengar pernyataan dari Rifa, Rina merasa bebannya telah hilang sebagian. Ia mulai mendekatkan diri kepadaku. “Mungkin ini hari terbaik dalam hidup gua ki” ia mulai menciumi bibirku lagi. Awalnya aku hanya diam tidak merespon. Namun setelah beberapa saat, aku mulai menerima ciumannya. Rifa pun tidak komentar saat melihat kejadian ini.
Setelah beberapa saat, rifa berkata kepada rina. “Na, giliran gua dong” Rina mengerti dan melepas bibirnya dariku. Lalu rifa meniduriku, dan vaginanya dihadapkan dengan mulutku. Dia menyuruhku untuk menjilatnya. Ku jilat-jilat vaginanya hingga dalam. Rifa hanya bisa terengah-engah keenakan. Di saat yang sama Rina mulai mengulum penisku. Kulumannya sangat hebat menarik narik kemaluanku. Dia menjilati seluruh bagian penisku. Mengulum biji zakarku. dan menikmati bulu-bulu kemaluanku.
Setelah sekitar 15 menit, Rina melepas penisku dari mulutnya. Lalu dia beranjak dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dia menggenjotnya dengan nafsu yang tinggi. Tak lama,’’Ahhhh kiiii guee keluaaar nihhh..” dia mengalami orgasmenya. Setelah itu dia hanya bisa terengah-engah capai. Dia melepas penisku dan pindah ke tempat tidurnya kembali. “Thanks ya ki, walaupun gini juga gua nikmatin banget. Jujur selama sama cowo gua, ga pernah gua bergairah kayak gini.’’ Tak lama pun ia tertidur.
Rifa yang vaginanya masih dalam posisi dijilati olehku sekarang mulai tak karuan aksinya. Dan benar. Tak lama setelah itu ia merasakan orgasmenya yang ke 2 kali untuk hari ini. Dia beristirahat sebentar menenangkan dirinya. Lalu dia berbaring di sebelahku dan berkata . “yang giliran kamu yang beraksi. Aku nikmatin aja” aku pun beranjak dan mulai mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Dan perlahan kumasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Bless… masuk sebagian penisku, kumulai untuk menggenjotnya. Dia hanya bisa merintih.. “ahhh sayaaangg enaaak aahhhhh.”
ninis jilbab montok (4)
Sekitar 15 menit ku menyetubuhinya seperti itu. Lalu ku minta dia untuk berbalik badan. Aku akan menyetubuhinya dengan doggy style. Mulai kugenjot lagi tubuh pacarku itu. Sekarang aku pun ikut merintih keenakan menyetubuhinya. Di ronde tersebut dia merasakan beberapa kali orgasme lagi. Namun tiba-tiba kemaluanku berdenyut siap mengeluarkan cairannya. “ssh Yaangh aku mmmau keluar hh , keluarin dimmana nih ssh ?’’ “hhh hmmph dhii dalamm phhh ajja yangg sshh. Akku llaghii nggha massa shubbur ..hhh.” CROT CROT.. berkali kali penisku menyemprotkan spermanya ke dalam vagina pacarku itu. Lalu ku keluarkan penisku dari vaginanya. Pacarku kembali mengulum penisku untuk merasakan sisa-sisa spermaku yang ada di penisku. Setelah itu kami hanya berbaring lemas dan tertidur.
Ku terbangun dan melihat ke HPku. Ku lihat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sudah saatnya kita semua pulang ke rumah. Ku bangunkan Prad,Rina dan Rifa. ku suruh bergegas pulang. Namun Rina dan prad tidak ingin pulang cepat. Sepertinya mereka masih ingin bermain beberapa ronde lagi. Aku dan rifa pun mandi bersama membersihkan tubuh kami. Saat mandi kami pun sempat melakukan aktivitas seks lagi walaupun tidak maksimal.
Kami pun berpamitan dengan Prad dan Rina. Dan kami pun pulang. Kuantar rifa ke rumahnya dengan motorku. Lalu aku pun pulang ke rumahku. Sungguh hari yang luar biasa.
10 Tahun kemudian…
Saat ini aku sudah berkeluarga namun belum dianugerahi anak. Wajar karena aku dan isteriku baru menikah bulan lalu. Dan tentu saja isteriku adalah Rifa. Kami bertekad akan menjadi keluarga yang harmonis. Aku sebagai kepala keluarga sewajibnya mencari nafkah, dan isteriku menjaga rumah.
Suatu hari, aku pulang kerja jam 6 sore. Saat ku sampai di rumah, aku disambut oleh isteriku dengan ciuman hangat di bibirku. Dan setelah itu isteriku memberitahu bahwa aku kedatangan seorang tamu istimewa. Dan ternyata tamu tersebut adalah Rina. Isteriku bertanya kepadaku dengan manja. “Bolehkah kita melakukan hal tersebut bersamanya seperti waktu itu?”