ROSITA

Orang-orang di sekitarku selalu memuji ingatanku sebagai ingatan paling tajam yang pernah dimiliki seorang manusia. Istilah jaman sekarang, ‘photographic memory’. Aku begitu mudah mengingat segala hal yang pernah aku alami atau bahkan sekadar aku lihat dan aku dengar. Misalnya saja, poster kampanye calon walikota yang sekilas saja kulihat di pinggir jalan. Aku bisa ingat warna latar belakangnya, motif bajunya, bahkan semua kata yang ada dalam poster itu dari atas hingga bawah. Semua. Ingatan tajam itu memang kumiliki sejak lahir, meski kedua orang tuaku biasa-biasa saja.

Mereka malah kebingungan ketika aku menanyakan perihal ingatan superku. “Mungkin ini mukjizat Tuhan,” jawab Ayah, dan “Kamu tidak diciptakan dengan ingatan seperti itu kalau tidak ada tujuannya. Yang penting kamu harus menggunakannya untuk kebaikan,” jawab Ibu.

Pelajaran dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi kulahap dengan mudah dan kumuntahkan kembali ketika ujian. Ranking tertinggi dan predikat magna cum laude melekat di memorabilia pendidikan yang pernah kujalani. Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba memburuku dan menawarkan gaji selangit. Akhirnya aku mendarat pada sebuah perusahaan minyak dan gas bumi asing sebagai asisten kepala riset dan teknologi. Pretty cool, huh?

Namun ingatan ini bukanlah tanpa cacat. Ada satu momen pada tujuh tahun yang lalu, ketika masih duduk di sekolah menengah atas, yang sama sekali tak bisa kuingat. Momen itu melibatkan sepatu kecil di kamarku yang kini tinggal sebelah. Entah kenapa bisa seperti itu. Ayah dan Ibu selalu bungkam ketika kutanyakan kejadian tersebut. Mereka hanya menjawab ‘mungkin satunya jatuh dan hilang” lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan. Rumah ini tak pernah punya pembantu dan aku anak tunggal, jadi tak ada orang lain yang bisa kutanyai lagi. Aku harus puas dengan jawaban itu selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini. Sepuluh menit yang lalu, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu berusaha menggapai tombol bel rumah yang tak terjangkau tangannya yang mungil. Aku yang kebetulan melihat karena hendak berangkat ke kantor, menanyakan tujuannya dengan ramah. Tapi alih-alih menjawab, laki-laki itu hanya menatap wajahku lekat-lekat, entah apa yang dicarinya di situ.

“Maaf, bapak ini mau cari siapa?” tanyaku lagi.

Beliau masih tak menjawab. Akhirnya, karena jengkel kutinggalkan saja dia di depan pagar. Barulah beliau memanggilku dan meminta maaf.

“Saya ingin bertemu orang tuamu. Kau anak dari Bapak dan Ibu Roestam kan?”

“Iya. Bapak siapa?” tanyaku dengan nada waspada bercampur ingin tahu. Seumur-umur, belum pernah kulihat wajahnya di antara deretan teman dan kolega orang tuaku, sehingga aku harus waspada.

“Panggil saja Pak Ustad,” jawab beliau sambil membetulkan peci warna hitam yang dikenakannya.

“Siapa, Nang?” rupanya Ibu mendengar percakapan kami.

“Pengen ketemu ibu, namanya Pak Ustad.” jawabku sambil membukakan pagar.

Ibu mengernyit mendengar nama itu, seperti habis melihat kotoran anjing di kebun. Lebih-lebih setelah bertatapan muka langsung dengan laki-laki itu. “Mau apa kamu ke sini?” tanya ibu tanpa basa-basi. Aku ikut memasang sikap defensif dan siap-siap mengusir Pak Ustad yang ternyata kedatangannya tak dikehendaki oleh Ibu.

“Tenang, Bu. Saya cuma ingin menagih janji.” jawab beliau tenang. Dapat kulihat tak ada perubahan ekspresi ketika bercakap-cakap dengan Ibu.

“Tak ada janji di antara kita. Itu cuma akal-akalanmu saja!”

“Saya bawa surat itu, lho! Ada tanda tangan ibu juga.” jawab Pak Ustad sambil mencari sesuatu dari tas jinjing coklat tua yang dibawanya.

“Masuk saja, jangan di sini. Tak enak kalau dilihat tetangga. Danang, kamu bukannya harus berangkat ke kantor?” kata ibuku.

“Tapi, Bu, apa aku harus memanggil polisi? Atau beliau disuruh pulang saja?” tanyaku mulai gusar.

“Tak apa. Ibu bisa menanganinya sendiri.” jawaban yang singkat lugas, dan tegas, mengusirku dengan halus.

Aku menghela napas lalu segera berangkat dengan mobil sedan keluaran tahun 1995 milik Ayah. Dari spion dapat kulihat Ibu masih berdiri di pagar, mengawasiku untuk benar-benar pergi ke kantor.

Menjelang malam, aku baru bisa pulang. Salahkan kerjaan yang menumpuk dan beberapa rekan kerja yang cuti secara bersamaan. Aku mendapati Ayah dan Ibu tengah bercakap serius dengan volume yang nyaris seperti bisikan. Begitu halus dan pelan. Suara lemari ruang tamu yang tak sengaja kutendang, segera mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Pandangan mereka tak kumengerti, campuran antara takut, kalut dan sedih.

Ayah lebih dulu membuka suara setelah berhasil menguasai diri. “Duduk sini, Nang. Ada yang harus kami sampaikan padamu.”

“Serius amat sih. Ada hubungannya ama si bapak yang tadi ke sini?”

“Sayangnya iya. Sebelumnya kami mau minta maaf karena selama ini nggak jujur sama kamu. Sebetulnya, kamu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Ayah yang lebih tegas, segera mengambil alih. “Kamu bukan anak kami. Kamu anak Pak Ustad yang kami ambil dan kami asuh selayaknya anak kami.”

Cangkir yang kupegang langsung jatuh begitu mendengar kata-kata itu. Ya, seperti di film atau sinetron-sinetron. Ibu buru-buru mengambil sapu dan membereskan pecahan gelas itu, sementara aku masih memandang Ayah dengan tatapan tak percaya.

Beliau lalu melanjutkan ceritanya. “Ingat sepatu kecil di kamarmu yang tinggal sebelah? Itu adalah hadiah dari Pak Ustad saat datang pertama kali ke rumah ini, untuk mengambilmu.”

”Kenapa cuma sebelah?”

”Kami menolak ia mengambilmu. Kami terlalu sayang kepadamu, Nang. Jadi kami melawan. Sebelum mengusir Pak Ustad dan mengunci pintu, ibu melemparkan sepatu itu. Namun cuma sebelah, yang satunya tetap kamu pegang, sampai sekarang.” ujar Ibu sembari mengusap pipinya yang berlinang air mata.

“Jadi ini semua ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang tentang hari itu?”

Ayah menghela napas sejenak sebelum mulai menjawab. “Iya. Kamu begitu terguncang mengetahui kalau cuma anak angkat, sama seperti saat ini. Ingatanmu melawan, dan akhirnya… semua memorimu malah hilang. Sepertinya kamu sangat tidak bisa menerima hal ini sehingga berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran. Namun ternyata, ingatanmu malah hilang semua. Ingatan di hari itu. Semua hilang.”

“Lalu, kenapa sekarang tidak?”

”Mungkin karena kamu telah cukup dewasa. Kamu sudah bisa berpikir secara lebih kalem dan bijaksana. Mungkin benar kata Pak Ustad, inilah saatnya bagi kita untuk berpisah.”

Aku mengangguk. “Ijinkan aku bertemu Pak Ustad. Aku ingin tahu jati diriku yang sebenarnya.” jawabku menahan gentar. Jauh di lubuk hatiku, ada ketakutan tersendiri.

“Kami tak ingin berpisah denganmu, Nang!” kata ibu.

“Tak akan, Bu. Percaya padaku!” kupeluk mereka berdua.

Minggu berikutnya, dengan berbekal alamat dari ibu, aku mulai mencari rumah Pak Ustad, orang tua kandungku. Kukira bakal gampang, namun ternyata cukup sulit juga. Letaknya di pinggiran kota, bahkan hampir ke perbatasan propinsi.

Setelah cukup lama berputar-putar, tanya sana tanya sini, capek dan lelah, namun tetap tidak bisa kutemukan juga. Mengeluh jengkel, akupun berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli jus. Terlihat beberapa jenis buah segar dipajang di bagian depan warung. Sangat cocok untuk membasahi kerongkonganku yang kering.

Kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangannya. Busananya serba tertutup. Ia memakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya, terlihat tonjolan payudaranya yang menggelantung indah.

Namun yang pertama menarik perhatianku justru pantatnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan pantat perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi. Yang malah mmebuatku jadi ingin mengelus dan meremasnya.

Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut. “Eh, mau beli apa, dik?” katanya di tengah keterkejutan.

Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tidak muda lagi. Mungkin sudah sekitar empat puluh tahunan. Tapi wajahnya itu lho yang bikin aku nggak bosan memandanginya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut.

”Anu, bu. Mau beli jus.” aku berlagak memilih-milih buah sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak dia untuk ngobrol. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai kotor. Membayangkan rintihannya ketika memeknya kutembus batang kontolku. Ah, entah kenapa aku jadi seperti ini. Mungkin karena pengaruh fisik dan pikiranku yang kelelahan.

Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya tiga anak. Tidak menyangka aja, wanita secantik dan semolek dia. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

“Jadi ibu sendirian nih?” komentarku.

“Iya, dik. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau pengupas buah yang tergeletak. Cepat sekali itu terjadi.

“Aduh, bu… saya kok kebelet pipis ya. Bisa numpang ke belakang nggak?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.

“Eh… gimana ya?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di dalam rumah.

“Gimana nih… udah nggak tahan, bu,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya. Kulihat wajahnya langsung memerah.

“Eh, tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh sebuah bh kotor ke mesin cuci.

“Gimana, bu, udah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

Ibu itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

Karena menunduk itulah, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

“Sst… jangan melawan!” kataku setengah berbisik.

Ia tampak sangat ketakutan. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan bh yang kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

“Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.

“Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yang tertutup jilbab lebar.

”Auw! Jangan!” Ibu itu memekik kecil. Wow! Payudaranya terasa kenyal dan mantap.

“Ibu pake bh ya?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.

“Siapa nama ibu?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.

“Aduh! Aduh! Rosita… aduh, jangan keras-keras!” ia merintih-rintih.

Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yang ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di depan selangkangannya. Kuremas-remas gundukan lubang kewanitaannya.

“Ohhh… jangan! Jangan!” bu Rosita menggeliat-geliat.

“Jangan takut, bu… saya cuma mau main-main sebentar.” kataku lalu berlutut di hadapannya.

Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yang mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow! indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi lubang kewanitaan cantik itu.

Bu Rosita terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah lubang kewanitaannya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng ia ke sofa yang ada di ruangan itu. Setengah kubanting tubuhnya ke atas sana. Ibu itu menjerit-jerit kecil ketika dengan pelan kutarik gamisnya. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali bh dan jilbabnya.

Kupandangi tubuh yang putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi sofa. susunya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua susunya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

“Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau ibu berteriak terlalu keras, nanti ada yang dengar,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan lidahku ke sisinya. Bu Rosita tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang kewanitaannya dari bawah ke atas.

“Eungghhhhh…” terdengar bu Rosita mengerang.

Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yang merah muda dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang kewanitaan. Lebih berdebar lagi, karena lubang kewanitaan yang satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar!

Tiba-tiba bu Rosita membuka mulut dan kemudian diteruskan oleh rabaan dan lama-kelamaan tangannya berlanjut ke arah selangkanganku. Dan tiba-tiba saja ia sudah memelukku, dengan cepatnya bu Rosita mencium bibirku dengan liarnya. Maka akupun tak kalah bernafsunya, aku balas dengan liar pula.

Dan bu Rosita terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku. Ketika bajuku terlepas, tiba-tiba saja ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku. Maka langsung saja alat vitalku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga langsung diremas dengan liarnya oleh sebuah tangan halus. Ketika kulihat, ternyata bu Rosita yang melakukannya. Dengan ganasnya ia memijiti batang penisku.

Tanpa melepas jilbabnya, langsung saja bu Rosita memegang alat vitalku dan diarahkan ke lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah sedari tadi. Setelah pas, maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya…

Bless!!!

“Aah…” desah bu Rosita saat batang besarku menusuk lubang senggamanya, memenuhinya hingga ke bagian yang terdalam.

Sementara dia asyik menaik-turunkan pantatnya diatasku, maka aku tarik bh-nya ke atas dan aku jilati susunya yang bulat besar dengan penuh nafsu.

“Ahh… enak, dik! Terus… ohh…” desahnya. “Ahh… ohh… jilat putingku! Ohh…” ia meracau ketika puncak susunya aku pelintir dengan menggunakan lidah.

Sementara itu, juga aku gesekkan jari tengahku ke biji klitorisnya yang menonjol indah hingga membuat bu Rosita meracau dan semakin kuat meliuk-liukkan badannya yang sintal. “Ohh… enak, dik!” rintihnya.

Setelah berada dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, akhirnya bu Rosita menggenjot tubuhnya semakin cepat dan mengerang, “Ahh… ibu dapet, dik… ahh… ahh..,” desahnya dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang di sampingku.

Aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan lubang kewanitaannya. Aku lalu turun dari sofa dan kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaannya. Kali ini aku yang berada di atas. Bu Rosita menanggapi seranganku dengan kembali menggoyangkan pinggulnya naik turun dan kadang memutar, sementara susunya yang besar ia sodorkan ke mulutku, yang langsung kujilat dan kuhisap-hisap dengan penuh nafsu.

Setelah 5 menit, kembali tubuh bu Rosita mengejang sambil ia berteriak, “Ahh… ibu dapet lagi… ahh!” Terasa sekali cairanya mengalir deras membahasi batang kemaluanku dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang.

Selang beberapa saat, ternyata bu Rosita sudah fit lagi. Rupanya ia tipe wanita yang bersyahwat besar. Didorongnya tubuhku hingga jatuh ke sofa, lalu ia tindih. Kembali aku disusuinya. Sementara aku sibuk menjilati putingnya yang kini terasa semakin basah, bu Rosita perlahan menurunkan pinggulnya dan, bless! Kembali alat vitalku masuk ke lubang kewanitaannya.

“Ahh… uhh… mentok, dik!” desahnya sambil mulai menggoyangkan pinggul.

Untuk yang ketiga ini, aku tidak ingin ketinggalan lagi. Selain sudah lelah, aku juga takut anak bu Rosita pulang sewaktu-waktu. Jadi aku segera berkonsentrasi. Kugenjot pantatku keluar masuk di kewanitaan Bu Rosita dengan begitu cepat. Terasa sempit sekali lubang kewanitaannya meski sudah melahirkan tiga orang anak.

“Ahh… terus, dik… enak… ohh… lebih dalam lagi…” racaunya.

Maka aku membalik posisi, kini dia yang berada di bawah, berbaring di sofa dengan posisi kaki berada di bahuku. Dengan posisi seperti itu, membuatku semakin leluasa melakukan tusukan dan hujaman.

“Dik, ibu keluar lagi… ohh…” desah bu Rosita dengan tubuh terkejang-kejang.

Namun aku tidak peduli, aku terus menggenjot tubuh sintalnya karena aku sendiri juga mengejar klimaks. Terus kutusukkan penisku ke lorong kewanitaannya sambil kuremas-remas juga buah dadanya yang berukuran 36D.

Tubuh bu Rosita sudah benar-benar melemas. Melihat kondisinya yang seperti itu, aku jadi tidak tega. Tanpa berniat menahan lebih lama lagi, akupun menggeram, “Bu, aku juga mau keluar… di dalem ya?” pintaku.

Ia mengangguk tanpa suara.

Akhirnya, sambil menusukkan penisku dalam-dalam, akupun ejakulasi. Terasa deras sekali semprotan air maniku di lubang kewanitaannya. Kembali tubuh bu Rosita terkejang-kejang saat menerimanya.

Kami masih berpelukan erat saat tak sengaja mataku menatap sebuah potret kecil berbingkai kayu di atas lemari. Foto yang ada disana sedikit mengguncang ingatan fotografisku. Laki-laki itu sepertinya kukenal! Belum sempat aku bertanya, sebuah benda lain juga menghantam pikiranku.

Benda itu… kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi? Rupanya terlalu menuruti nafsu membuat pikiranku jadi tumpul. Lekas aku mengambilnya.

”Itu hadiah buat anak sulung ibu. Kami berpisah sejak lahir, ia diadopsi orang kota. Rencananya 7 tahun lalu mau ibu ambil, namun ternyata gagal. Hanya sepatu itu yang bisa mengingatkan ibu kepadanya.” kata bu Rosita.

Ya Tuhan! Kuambil sepatu yang cuma sebelah itu dengan hati terguncang. Aku telah menemukan orang tua kandungku. Dan tanpa sengaja, aku juga telah menyetubuhinya!

RIFA AND FRIENDS

Namaku riki, aku hanyalah seorang pelajar kelas 3 dari sebuah SMA di kota B. Tinggi badanku sekitar 170 cm . Dalam cerita ini aku hanya ingin menceritakan kisah seks-ku bersama pacarku dan mantan pacarku.
ninis jilbab montok (1)
Kejadian ini berawal ketika ku dekat dengan salah satu teman 1 SMP-ku di kota yang sama. Sebut saja namanya Rifa. Orangnya ramah dengan memiliki wajah baby-face. Kepalanya diselimuti oleh kerudung sehingga membuat wajahnya terilhat lebih manis. Tingginya hanyalah sekitar 155 cm. Tapi justru karena itu aku menyukainya. Saat ini, dia bersekolah di suatu boarding school di luar kota.
Saat itu status kami hanyalah sepasang sahabat. Namun dari status sahabat tersebut aku mulai merasakan jatuh cinta kepadanya. Kucoba untuk menyatakan cinta kepadanya. Ku ajak dia untuk bertemu di salah satu Mall ternama di kota ini. Dia pun menyetujuinya. Dan akhirnya kami pun bertemu di tempat tersebut.
Sengaja kusiapkan sekuntum mawar merah sebagai alat bantu dalam menyatakan cintaku kepadanya. Tapi karena malu untuk menembak dia di keramaian orang. Maka kuajak dia untuk ke bioskop. Biar nembaknya di bioskop aja menurutku. Dia menyetujuinya dan kami pergi ke bioskop yang ada di mall tersebut. Kami memilih sebuah film yang memang saat itu studionya sudah dibuka sehingga kami bisa lansung masuk ke studio tersebut.
Kami menduduki jejeran bangku F, aku tidak menikmati film yang ditayangkan karena aku dari awalnya Cuma berniat nembak dia. Dan aku mengajak dia berbincang. “Fah, ada yang mau gue omongin ke lu.” “Apa ki? Hmm kok serius gitu ngomongnya?” jawab dia sedikit heran dengan gaya omonganku. “Gini fah. Sebenernya gue tuh sayang sama lu..’’ belum selesai aku melanjutkan, dia sudah memotong omonganku.”hmm lu mau nembak gue yaa? Iyaa gue juga sayang lu kii.. tapi inget kii kita tuh sahabat.” Aku pun menjawab pernyataannya dengan sedikit murung. “hmm gitu ya? Ya mungkin lu jadi pacar gue hanya pikiran gue semata dan ga mungkin terwujud’’. “kata siapa eh? Haha gue tuh Cuma bercana kii tadi. Gue mau kok jadi pacar lu mulai dari sekarang.’’ Dia menjawab lagi dengan sedikit malu.
Mulai detik tersebut kami pun berstatus ‘pacaran’. Setelah berbincang’’ dengannya kami pun melanjutkan menikmati film yang ditayangkan, tentunya dengan gaya orang pacaran. Pegang tangan, rangkulan. Lalu ku cium tangannya yang kupegang, aku biasa melakukan hal ini kepada pacarku. Mantan’’ku pun pernah kucium tangannya. Tapi respon dari pacarku ini berbeda. Pada awalnya dia tarik tangannya. Katanya sih geli, tapi kok dia tempel lagi tangannya ke bibirku? Malah diteken’’. Alhasil tangannya pun sedikit berwarna merah di bagian yang kuciumi.
Setelah dari tangannya, kucoba untuk mencium mulutnya. Kutengokkan wajahnya ke wajahku. Seketika aku pertemukan bibirku dengannya. Dia tidak merespon negatif. Lalu perlahan kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia pun tidak menolaknya. Hingga kedua lidah kami saling bertemu dan akhirnya kami French kissing. Saat melakukan kiss tersebut , sempat aku bukakan mataku dan melihat cantik wajahnya. Dan ternyata terlihat dari ekspresinya tersebut bahwa dia menikmati kiss tersebut. Kami ber French kissing cukup lama.
Tiba-tiba kami dikagetkan oleh seseorang gadis. Gadis itu ternyata adalah mantan pacarku. Sebut saja namanya Rina. Wajahnya juga cantik namun dia tidak menggunakan jilbab saat itu. ‘’Hmm deeeuh si riki pacaran enak banget, sorry ganggu ya, nih gue duduk Cuma 3 bangku di samping pacarlu. Gue kira siapa gitu, eh ternyata elu. Hahah yauda gua sapa deh drpd Cuma pura’’ galiat.’’ Ejek dia. “hahah dasar lu na. udah urus itu cowo lu. Gaenak gara’’ gue, dia jadi dicuekin kan sama lu.’’ Jawabku.
Rina pun kembali ke bangkunya, lalu dia sedikit berbincang dengan pacarnya. Ah peduli apa aku dengannya? Toh dia Cuma mantan. Walaupun bagiku dia mantan terbaik, tapi aku kan udah punya pacar. Rada kesel juga sih, lagi enak’’ French kiss eh diberhentiin seseorang. Jadinya sekarang aku dan pacarku hanya bisa menikmati kembali film tersebut walaupun ga ngerti alur ceritanya.
Tiba’’ pacarku berkata, ‘’sayang, coba kamu liat itu mantan kamu sama cowonya. Mereka bukan Cuma ciuman kyk kita tadi yang. Liat tangan cowonya, itu dadanya mantan kamu diremes’’ dari dalem kaosnya gitu. Tangannya mantan kamu juga nakal, masuk’’ ke celana cowonya. Hmm jangan’’ kamu juga pernah gitu ya sama dia?’’ aku diam sejenak. “hmm itu? Jujur aja yang, aku semaksimalnya dulu sama dia sampai remas’’ dada tapi masih diluar pakaian.’’ Jawabku. ‘’enak ga sih yang? Kalau enak, kamu mau ga gituin aku?’’ jawab dia. Permintaan dia membuatku kaget, wah pacar aku udah kerangsang ini mah. “hmm mantan aku sih keenakan, tuh liat aja sekarang dia keenakan banget kan. Kamu mau?” dia hanya mengangguk. Lalu aku pun kembali mencium bibirnya. Kami kembali melakukan French kiss namun tanganku mulai meraba-raba dadanya. Kutaksir dadanya berukuran 34 B.
Sepertinya dia sangat menikmatinya. Terasa dari ciumannya yang semakin ganas dan tangannya mulai meraba’’ tubuhku. Tiba’’ dia menuntun tanganku ke dalam pakaiannya. Dia menuntunku untuk meremas’’ dadanya dari dalam pakaiannya. Terasa sebuah kain masih menutupi payudaranya. Perlahan ku turunkan cup BHnya dan kumulai untuk meremas-remas payudaranya. Terasa ada yang menonjol dari tonjolan itu. Pentilnya. Sesekali kupijit-pijit kecil pentilnya itu. Saat dipijt. Pacarku pun sedikit menggelinjang.
ninis jilbab montok (2)
Pacarku mulai kehilangan akal sehatnya. Tangannya sudah mulai meremas’’ adik mungilku dari luar celana jeansku. Lalu dia membuka kancing jeansku dan tangannya menyusup ke dalam celana dalamku. Sehingga saat itu penisku yang sudah menegang tersebut diraihnya. Dia-pun memijit penisku dan sesekali dikocoknya. Jujur aku merasa keenakan saat itu, tapi aku menutupi rasa tersebut dengan wajahku seolah-olah ga kenapa’’.
Kami menyelesaikan French kiss kami, namun tangan kami masih saling memijat. Dia pun melihat kea rah mantanku. Astaga! Terlihat dia sedang mengulum’’ penis pacarnya. Gelapnya bioskop membuat pemandangan itu menjadi remang-remang. Tapi ketara jelas dia sedang mengulum penis pacarnya. “yang aku mau gituin kamu juga dong.’’ Jelas dia. Eh buset ini cewe gue udah kesetanan bukan?? Aku awalnya mikir’’ dulu. Tapi tangan ceweku yang nakal. Itu penisku dikeluarin dari celanaku. Dia mulai menundukan kepalanya kea rah penisku. Dia ciumi, jilati, dan tak lama kemudian dia kulum penisku. Awalnya pelan’’, lama’’ kencang. Asli saat itu kalau aku mau keluarin peju aku juga bisa. Tp aku tahan aja. Ga enak sama ceweku.
Ga lama, rina selesai mengulum penis cowonya. Entah apa yang terjadi di sana aku tidak tahu. Tapi ini ceweku masih aja ngulum’’ penisku dengan nikmatnya. Ku bilang ke dia, ‘’yang udahan dong. Itu liat rina juga udahan. Lagipula kayaknya ini film udah mau beres’’. Dia pun menurut, penisku dilepasnya dan celanaku kembali dibereskan. Lalu kami kembali menikmati film tersebut . dan benar 15 menit setelah itu, film pun selesai.
Kami keluar dari studio. Di luar studio ternyata kami ditunggu oleh Rina dan pacarnya. “heh! Maksud lu apa ngikutin gua tadi di dalem studio? Gua gini, lu ikut gini. Gua gitu, lu ikut gitu.” Rina labrak rifa. “Gue Cuma ga seneng aja sama gaya lu pas tadi lu kagetin gue sama cowo gue!” Rifa pun melabrak balik. Tiba’’ Rina berkata kepada pacarnya, “yang, kamu bawa duit berapa?” “sisa 500rb nih. kenapa yang?” Tanya pacarnya. Dengan nada rendah dia berkata “Kita sewa kamar.” “hmm mending di rumah aku aja.” Jawab pacarnya. “aku mau nunjukkin ke jablay itu kalau kita lebih hebat’’ Rina jawab kembali.
Aku kaget bukan main dengar kata’’nya. Ingin ku labrak balik mantanku itu karena telah memanggil pacarku dengan sebutan jablay. Tapi tiba’’ pacarku yang menjawab. “oh lu mau saingan? Oke! Gue ga takut sama lu. Lu tuh yang jablay!” Labrak balik dari pacarku. Aku dan pacarnya rina pun Cuma bisa kaget aja melihat pacar kita berdua.
Singkat cerita, Kami berempat menyewa sebuah kamar. Kamar tersebut berisi 2 tempat tidur. Sesampai di kamar tersebut, Aku dan pacarnya rina, sebut sama Prad, didorong oleh pacar masing-masing ke atas tempat tidur. Dan benar, mereka mulai berlomba memuaskan pacarnya.
ninis jilbab montok (3)
Rifa secara cepat melepas semua pakaianku. Dia mulai menciumi kembali penisku. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu. Penisku yang berukuran 16cm tersebut memang tak bisa dihisapnya secara penuh. Tapi dia punya teknik tersendiri. Dia mengulum biji zakar ku. Lalu menciumi dan menghisapi batang penisku dari pangkal hingga ujungnya. Teknik tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
Berbeda dengan rifa, Rina justru lansung ke arah yang lebih ekstrim. Dia memulainya dengan lansung berhubungan kelamin. Posisi yang digunakannya adalah Women on top. Ya wajar secara dalam peraturan pertandingannya, sang pacar tidak boleh beraksi. Hanya diperbolehkan menikmati pelayanan ekstra dari pasangan masing-masing.
Raungan dari pasangan rina prad pun terdengar di ruangan tersebut. Sedangkan pasangan rifa dan aku masih senyap. Hanya aku yang sedikit meringis keenakan karena rifa sedang sibuk melayani penisku itu. Tiba rifa melepas penisku dari mulutnya. Badannya beranjak ke atas tubuhku. Dibuka celana dalamnya. Dengan tetap memakai rok, Penisku diarahkan ke arah vaginanya. Dia menggesek’’an penisku dengan vaginanya. Setelah siap, dia mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Saat kepala penisku masuk seutuhnya ke dalam vagina. Mulai terasa nikmatnya ML. terasa penisku semakin lama semakin menembus lubang vaginanya. Namun tiba-tiba penisku terasa menemui sesuatu. Kupikir itu adalah selaput perawannya. Ya memang itu sepertinya. Rifa pun menyadari penisku menemui selaput daranya. Tapi secara cepat dia menjatuhkan badannya. Sehingga otomatis penisku menembus selaput daranya dengan seketika. Dia berteriak kesakitan. Namun hanya sebentar. Karena di tempat tidur yang lain. Rina tertawa mendengar jeritan rifa.
Rifa mulai memompa vaginanya ke atas dan kebawah. Isak tangisnya yang terjadi akibat hilangnya keperawanannya tersebut lama-lama menghilang dan kemudian berubah menjadi desahan nikmat. Rifa merasa berat melakukannya dengan busana. Maka ia lepas semua busana yang ia pakai. Alangkah indah tubuhnya. Kulit putih, wajah cantik baby face. Rambut lurus sebahu, payudara 34B mengantung dengan puting berwarna pink lalu vagina berwarna pink dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Rifa pun kembali memompa vaginanya. Payudaranya bergoncang ke atas dan ke bawah saat ia memomba vaginanya. Wajahnya terlihat sangat menikmati hal tersebut. Tiba-tiba ia mendenguh keras. Terasa ada cairan tersemprot membasahi kemaluanku dan mulai merembes keluar dari vaginanya. Dia telah mengalami orgasme hebat. Bukan hanya sekali. Terasa 2 3 kali derasan air vaginanya membasahi kemaluanku.
Rina tertawa melecehkan rifa, “ hahah jablay murahan emang baru gitu aja udah keluar.’’ Tap tak lama justru pacarnya mencabut penisnya. Saat penisnya tercabut lansung muncrat spermanya membasahi tubuhnya hingga ada yang mengenai wajahnya. Jujur saja, aku terangsang bukan hanya karena rifa. Tapi karena rina juga. Tak bisa terlupakan wajahnya saat tersemprot sperma dari pacarnya itu. Ditambah lagi, sperma yang ada di tubuhnya diratakan hingga ke seluruh tubuhnya.
Prad menyerah, dia sudah terlampau capek. Karena dia sudah dilayani oleh rina sejak di bioskop tadi dengan sangat bergairah. Dia bebaring dan tak lama ia tertidur. “Anjir cowo gua payah ah. Masak tidur sekarang? Gua gimana ini?” Cetus Rina. “Rasakan! Makanya jadi orang jangan sok jago. Eh malah pasangannya yang KO duluan.” Ledek rifa.
Rina tidak terima perkataan dari rifa tersebut. Ia menghampiri rifa dan menamparnya. Aku kaget segera beranjak dan menampar balik rina. “dari awal gue ga suka perilaku lu ke cewe gue na. gue tau lu lebih berpengalaman. Sedangkan cewe gue tuh baru sekarang kayak gini. “ lalu aku bicara ke rifa “Kamu juga yang. Ga usah lah make berantem kyk gini, kita damai-damai aja.” “aah udah ah mending tidur aja dari pada pusing.” Dengan kesal kututup mataku.
Sekitar 5 menit berlalu. Tiba-tiba bibirku disambar bibir lain. Kupikir itu rifa, jadi kuterima ciuman itu. Tapi ketika kubuka mataku, yang menciumku bukanlah rifa melainkan rina. Rifa hanya bisa kaget di sebelahku melihatku dengan rina berciuman. Kulepas ciuman dari rina segera ku minta maaf kepada rifa. “yang maaf. Aku kira yang cium aku tadi itu kamu.’’ Dia tidak menjawab dengan kata-kata. dia meraih wajahku dan menciumi bibirku. Sesaat dia melepas ciumannya dan berkata,’’gapapa yang. mungkin dia masih sayang sama kamu jadi dia gitu.’’ Kami pun berciuman mesra.
‘’Ki, gue emg masih sayang sama lu. Gue masih mengharapkan lu. Tapi tadi gua seketika sakit hati pas liat lu French kiss sama dia. Makanya gua kagetin kalian.” kata Rina tiba’’. Aku kaget mendengarnya. Kuhentikan aktifitas lidahku, kubiarkan rifa yang menggerayangi lidahku sendirian. Aku benar-benar tercengang. Tiba-tiba rifa berkata, “yauda na, lu ga ada temen main kan? Sini aja. Sekali ini aja gapapa main sama cowo gua.” “Kamu yakin yang? gapapa nih?” Tanyaku kepada pacarku. Ia menjawab dengan senyuman manisnya sambil menangguk. Lalu wajahnya berpindah ke arah penisku. Ia mulai mengulumnya kembali.
Mendengar pernyataan dari Rifa, Rina merasa bebannya telah hilang sebagian. Ia mulai mendekatkan diri kepadaku. “Mungkin ini hari terbaik dalam hidup gua ki” ia mulai menciumi bibirku lagi. Awalnya aku hanya diam tidak merespon. Namun setelah beberapa saat, aku mulai menerima ciumannya. Rifa pun tidak komentar saat melihat kejadian ini.
Setelah beberapa saat, rifa berkata kepada rina. “Na, giliran gua dong” Rina mengerti dan melepas bibirnya dariku. Lalu rifa meniduriku, dan vaginanya dihadapkan dengan mulutku. Dia menyuruhku untuk menjilatnya. Ku jilat-jilat vaginanya hingga dalam. Rifa hanya bisa terengah-engah keenakan. Di saat yang sama Rina mulai mengulum penisku. Kulumannya sangat hebat menarik narik kemaluanku. Dia menjilati seluruh bagian penisku. Mengulum biji zakarku. dan menikmati bulu-bulu kemaluanku.
Setelah sekitar 15 menit, Rina melepas penisku dari mulutnya. Lalu dia beranjak dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dia menggenjotnya dengan nafsu yang tinggi. Tak lama,’’Ahhhh kiiii guee keluaaar nihhh..” dia mengalami orgasmenya. Setelah itu dia hanya bisa terengah-engah capai. Dia melepas penisku dan pindah ke tempat tidurnya kembali. “Thanks ya ki, walaupun gini juga gua nikmatin banget. Jujur selama sama cowo gua, ga pernah gua bergairah kayak gini.’’ Tak lama pun ia tertidur.
Rifa yang vaginanya masih dalam posisi dijilati olehku sekarang mulai tak karuan aksinya. Dan benar. Tak lama setelah itu ia merasakan orgasmenya yang ke 2 kali untuk hari ini. Dia beristirahat sebentar menenangkan dirinya. Lalu dia berbaring di sebelahku dan berkata . “yang giliran kamu yang beraksi. Aku nikmatin aja” aku pun beranjak dan mulai mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Dan perlahan kumasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Bless… masuk sebagian penisku, kumulai untuk menggenjotnya. Dia hanya bisa merintih.. “ahhh sayaaangg enaaak aahhhhh.”
ninis jilbab montok (4)
Sekitar 15 menit ku menyetubuhinya seperti itu. Lalu ku minta dia untuk berbalik badan. Aku akan menyetubuhinya dengan doggy style. Mulai kugenjot lagi tubuh pacarku itu. Sekarang aku pun ikut merintih keenakan menyetubuhinya. Di ronde tersebut dia merasakan beberapa kali orgasme lagi. Namun tiba-tiba kemaluanku berdenyut siap mengeluarkan cairannya. “ssh Yaangh aku mmmau keluar hh , keluarin dimmana nih ssh ?’’ “hhh hmmph dhii dalamm phhh ajja yangg sshh. Akku llaghii nggha massa shubbur ..hhh.” CROT CROT.. berkali kali penisku menyemprotkan spermanya ke dalam vagina pacarku itu. Lalu ku keluarkan penisku dari vaginanya. Pacarku kembali mengulum penisku untuk merasakan sisa-sisa spermaku yang ada di penisku. Setelah itu kami hanya berbaring lemas dan tertidur.
Ku terbangun dan melihat ke HPku. Ku lihat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sudah saatnya kita semua pulang ke rumah. Ku bangunkan Prad,Rina dan Rifa. ku suruh bergegas pulang. Namun Rina dan prad tidak ingin pulang cepat. Sepertinya mereka masih ingin bermain beberapa ronde lagi. Aku dan rifa pun mandi bersama membersihkan tubuh kami. Saat mandi kami pun sempat melakukan aktivitas seks lagi walaupun tidak maksimal.
Kami pun berpamitan dengan Prad dan Rina. Dan kami pun pulang. Kuantar rifa ke rumahnya dengan motorku. Lalu aku pun pulang ke rumahku. Sungguh hari yang luar biasa.
10 Tahun kemudian…
Saat ini aku sudah berkeluarga namun belum dianugerahi anak. Wajar karena aku dan isteriku baru menikah bulan lalu. Dan tentu saja isteriku adalah Rifa. Kami bertekad akan menjadi keluarga yang harmonis. Aku sebagai kepala keluarga sewajibnya mencari nafkah, dan isteriku menjaga rumah.
Suatu hari, aku pulang kerja jam 6 sore. Saat ku sampai di rumah, aku disambut oleh isteriku dengan ciuman hangat di bibirku. Dan setelah itu isteriku memberitahu bahwa aku kedatangan seorang tamu istimewa. Dan ternyata tamu tersebut adalah Rina. Isteriku bertanya kepadaku dengan manja. “Bolehkah kita melakukan hal tersebut bersamanya seperti waktu itu?”

FARAH

Nama gue Zacky seorang pelajar SMP. tampang gue emang ga terlaku ganteng, hanya muka keturunan india yg melekat.
tapi gue mempunyai badan yg profesional, dengan tinggi 179cm dan berat 68kg serta badan yg berbentuk itulah sebabnya gue digandrungi cewe cewe disekolah gue.
bulan Maret adalah bulan yg penuh dengan jadwal tryout dan ulangan harian. sehingga wali kelas membuat beberapa kelompok belajar yg terdiri dari 5 orang.
dan akhirnya gue berkelompok dengan Bayu, Echa, Putri & Farah. “mimpi apa gue semalem bisa sekelompok sama farah!” ucap gue dalam hati.
Farah adalah siswi tercantik dikelas gue, dengan kulit yg putih terawat, hidung mancung, dan body yg oke. tetapi Farah adalah pribadi yg alim, bahkan ia tak mau melepas jilbabnya disekolah. dan ia juga berprestasi dibidang keagamaan.
kami pun berunding dimana tempat untuk kami belajar kelompok, dan akhirnya rumah Farah menjadi solusi.
rumahnya emang hanya rumah kecil dengan 2 kamar tidur. wajar, karna Ayahnya hanya seorang supir pribadi dan ibunya seorang Baby Sitter. sering kali rumah dia kosong.
keesokan harinya kami pun belajar bersama disana, sering kali canda gurau melengkapi suasana belajar.
berhari hari sudah kami belahar disana. sampai suatu hari hujan cukup deras turun, ketiga temen gue itu ga bisa ikut belajar bareng, sehingga hanya ada gue dan Farah dirumahnya. “Kesempatan! gue bisa Pedkate sama Farah” pikir gue.
Pada waktu itu Farah tidak terlihat seperti biasanya yg tertutup. kali ini dia hanya mema kai Kaos yg cukup ketat dengan kerah sampai belahan dada.
dada dia ternyata cukup besar, samar sama bra hitam terlihat. dan dia juga hanya memakai celana legging berwarna hitam. dengan rambut yg basah terurai dia nyamperin gue ” Hai, udah lama? yuk masuk masih hujan tuh” sapa dia. gue juga kurang percaya apakah bener itu Farah apa bukan.
dengan kaki yg masih basah karna kena hujan, gue pun masuk kerumahnya. “mana yg lainnya?” tanya dia. “enggg…. yg laennya gabisa dateng far” jawab gue dengan terbata bata karna masih mengagumi kecantikannya. “oh, yaudah mau minum apa? kopi, apa teh? kasian kamu abis kehujanan” tanya dia. “teh, ajadeh. makasih yah” jawab gue. Farah emang sopan gapernah manggil gue-lo.
ga selang beberapa lama, dia pun kembali dengan membawa segelas teb hangat. “nih, silahkan diminum” kasih farah. dengan posisi merunduk sehingga branya pun kelihatan dengan jelas. “cleguk..” gue pun menelan ludah sehabis melihat keindahan. “makasih yah far, eh ngomong ngomong bokap nyokap lu kemana?” tanya gue. ” oh bapak aku lagi nganterin bosnya ke bali, sementara ibu aku masih kerja. jam 7 malem pulangnya”.
“jadi lu sendirian disini?”
“iya, untung ada Zacky jadi punya temen ngobrol hehehe” jawab Farah. aktivitas belajad pun dimulai seringkali gue keluarin beberapa gombalan disela sela waktu belajar. gak terasa waktu udah jam 7 malem. tiba tiba hape Farah pun berbunyi, ternyata ibunya pulang agak malam karna anak majikannya sakit.
“Zack, kamu temenin aku yah. sampe ibu a ku pulang, ya kira kira jam 9. bisa kan?” tanya Farah.
“okedeh. demi bidadari cantik apapun aku lakuin” jawab gue dengan sedikit gombalan.
sembari menunggu ibunya pulang gue pun iseng iseng jepret foto dia, cuma buat menggoda sih. “gue kasih tau anak anak sekolah nih. lu pake pakaian begitu.” canda gue sambil foto dia. dia pun berusaha ngambil hape gue. dan tanpa sengaja tangan gue kena toketnya yg mulus, cukup lama dia terdiam. birahi gue mulai menanjak.
setelah dia berhasil ngambil hape dari gue dia pun cari foto yg tadi gue jepret. sampe akhirnya..
“Waa, apaan ini zack. kamu simpen foto cewek telanjang! wah aku bilangin temen temen nih”
gue pun hanya terpaku. y”mampus gue lupa nge-hide folder bokep gue” ucap gue dalem hati.
tiba tiba Farah ngomong “Emang lelaki harus begini yah?”
“maksudnya?” tanya gue.
“maksudnya tuh emang lelaki harus nyimpen foto foto / video kaya gitu yah? emang buat apasih?”
“ya buat ngelampiasian nafsu aja” keceplosan gue.
“hah? maksudnya?” Farah heran.
“Enggg….” gue salting.
secara tiba tiba Farah cium bibir gue. “oh, gue tau maksud kamu itu kan?”.
birahi guepun semakin naek, gue cipok lagi farah, sambil grepe grepe toketnya.
nampaknya kamu terbawa suasana & keterusan. sampai akhirnya farah ngajak pindah ke kamarnya.
Setiba dikamarnya gue pun dengan brutal ngelanjutin aksi gue yg tadi. gue lepas pakaian farah satu per satu sehingga dia pun bugil.
terpesona gue liat toketnya yg putih bersih dengan puting yg berwarna pink. dengan nafsunya gue jilat dari mulai leher hingga sampai ke toketnya gue kulum tuh puting yg indah dan memain mainkannya. Farah hanya menikmati rasa nikmat itu.
dan jilatan gue pun turun hingga bawah. gue mulai terpana ngeliat meki mulus nan bersih yg ditumbuhi oleh bulu bulu yg baru tumbuh.
gue jilat lah meki yg super dahsyat itu sampai ia menggelinjang kegelian. ga beberapa lama gue suruh dia buat sepongin gue. dengan nafsunya diemut lah konti gue dengan bibirnya yg seksi. dia cukup kesusahan buat ngemut konti gue yg berukuran 15cm dan diameter 4cm. sampai akhirnya konti gue pun ga sabar buat nyobain meki dia. dengan posiai MOT gue pun memulai, dimasukanlah konti gue ke meki dia yg sangat rapet itu. “aaaakhhh…” jerit Farah menahan sakit ketika konti gue masuk ke mekinya.
ternyata Farah ini masih perawan sehingga konti gue pun merobek selaput daranya. meringis ia kesakitan. namun kenikmatan yg tidak tertandingi ini membuat gue makin semangat. digenjotlah makin cepat dan kuat. sehingga terlihat jelas darah keluar dari mekinya. kami melakukan itu sekitar 10 menit. dan lanjut dngn berbagai variasi. sampai akhirnya konti gue pun gatahan buat ngeluarin peju. gue suruh dia buat mangap. dan..
crott, crott. peju pun keluar mnghiasi muka dan toketnya. tanpa sadar waktu sudah jam 8 lewat waktunya gue buat siap siap pulang.
tiba tiba farah nangis sambil ngomong. “kalo nantinya aku hamil gimana. ?”
” ya gue nikahin lo dong. lagian ga mungkin soalnya tadi dikeluarin di luar” yakinin gue.
pada saat itu

ICA

Perkenalkan namaku Faiz aku sekarang berkuliah di salah satu universitas ternama di ibukota. Aku adalah tipe orang yang mudah horny jika melihat wanita cantik yang ada disekeliling. Beberapa wanita sudah pernah aku setubuhi. Kali ini aku akan menceritakan kisah persetubuhanku dengan teman sekelas ku bernama Nisa atau biasa dipanggil Ica.
aulia jilbab montok (1)
Ica berusia 21 tahun,sama dengan usiaku. Sejak awal aku masuk di kelas perkuliahan ada banyak wanita cantik di kelasku. Namun dari sekian banyak wanita tersebut. Ica lah yang menurutku paling menarik. Menarik karena dia berjilbab dan aku piker diantara wanita di kelasku dialah yang mempunyai ukuran payudara yang paling besar mungkin sekitar 34 B. Untuk sejak awal pula aku mentargetkan dan bertekad untuk menikmati payudaranya suatu saat nanti.
Sejak awal masuk perkuliahan pula aku rela berkorban untuk mengantar dia pulang. Walaupun rumahku dengan rumahnya sangat jauh sekitar 2 jam perjalanan. Tapi, demi bias mewujudkan tekadku aku rela melakukan itu.
Aku  : Ca,rumah lu dimana ? mau gue antar ga sampe rumah lu?
Ica    : Wah, apa ga ngerepotin lu iz,rumah lu kan di Bekasi. Gue di Kebon Jeruk
Aku  : Ya gpplah, klo yg gue bonceng cewek secantik lu sih mau sampe bogor juga gue jabanin ca. hehe
Ica    : Ah,lo bisa aja. Yaudah deh gue numpang lu aja daripada kena macet di jalan.
Aku  : Oke,mantap yuk ah neng kita jalan.
aulia jilbab montok (2)
Sejak saat itulah aku rajin mengantar dia pulang. Seringkali aku suka horny sendiri ketika sedang membonceng dia. Tas yang dia pakai kebetulan aku suruh taruh di bagian depan motorku. Jadi selama diperjalan aku bisa menikmati gumpalan daging empuk kepunyaannya. Kontolku selalu ngaceng tiap kali payudaranya menyatu dengan punggungku. Ditambah aku menyuruh tangannya berpegangan dengan tubuhku. Ya,mungkin ini yang dimaksud rezeki.
Suatu hari ketika aku mengantar sampai di depan rumahnya. Aku bertanya pada dia
Faiz  : Ca,rumah lu sepi banget. Lagi ga ada orang ya?
Ica   : Iya iz,keluarga gue lagi pada ke Bandung lagi ada acara keluarga. Emang kenapa lo mau nemenin gue di rumah biar ga kesepian?
Faiz  : Wah boleh tuh, pasti seru bisa nemenin gadis secantik elu di rumahnya.
Ica    : Ah lu iz kebanyakan gombal deh. Yaudah yuk masuk anggap aja rumah sendiri.
Faiz  : Oke. Gue parker motor dulu ya. Lu masuk aja duluan nanti gue nyusul.
Ica    : Oke,gue bikin minuman dulu ya,lo nanti tinggal duduk di ruang tamu aja.
Sesampainya aku di ruang tamu aku melihat sosok Ica yang masih memakai kerudung namun kini sudah berganti dengan memakai baju lebih seksi dan membuat kontolku makin menegang melihatnya.
Ica : Nih iz gue udah buatin sirup lo pasti haus kan abis boncengin gue sampe sini terus belum lagi lo harus pulang ke rumah lo.
Faiz : Wah lo tau aja klo gue haus.
Ica : Iyadoong gue gitu.
Faiz : Ca,tadi ingetkan Pak Supri kasih tugas ke kita. Gimana klo kita ngerjain bareng sekarang. Mumpung lagi sepi nih ga ada yang ganggu kan enak ngerjainnya.
Ica : Enak apanya nih? Wah awas aja lu Iz klo lo macem macem sama gue. Gini gini gue masih perawan looh (sambil menantang)
Faiz : Ah,yang bener? Ya deh gue iyain aja daripada lo nangis ntar
Ica : haha bisa aja,bentar gue ke kamar dulu ambil tas.
Ketika dia beranjak ke kamarnya akupun mulai mengatur siasat untuk dapat menikmati siasat untuk bisa mulai merasakan tubuhnya. Dan tak lama ica turun membawa setumpuk kertas.
Ica : Nih iz yuk kita kerjaiin.
Faiz : Yuuk
aulia jilbab montok (3)
Di saat kita mulai mengerjakan soal tangankupun mulai beraksi mula mula aku merangkul bahu tangannya. Kemudian ketika obrolan makin seru dan lancer akupun mulai meraba raba punggungnya,pinggulnya,pantatnya,dan kepalanya.
Hingga aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya.
Faiz : Ca, akhirnya kita selesai juga ya ngerjainnya.
Icha : Iya iz (sambil tersenyum)
Mulailah aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan disaat itu pula aku mulai mengecup bibirnya “Sluuurp” dengan hentakan nafas yang menggelora akupun mulai mencumbu bibirnya. Ica pun hanya bisa pasrah mengimbangi irama bibirnya dengan bibirku. “Cup cup” “ah hmm ah” begitulah suara ketika kami sedange bercumbu dan suara ica yang sedikit meracau menikmati percumbuan kita. Cukup lama kita bercumbu mungkin sekitar 3 menit. Lalu Ica pun tersadar.
aulia jilbab montok (4)
Ica : Eh iz, elu apaan sih cium cium gue. Kita kan bukan siapa siapa Cuma temen kok lo berani banget nyium gue.
Faiz : Oh jadi klo bukan temen boleh gitu ?
Ica : Hmm boleh dong tapi ya lo harus jadi pacar gue (nantang)
Faiz : Jadi pacar lo? Boleh deh gue juga mau kok jadi pacar dari wanita secantik lo Ca.
Ica : hehe bisa aja. Jadi ?
Faiz : Jadi kita sekarang pacaran ya. Dan gue bisa dong nyium lo lagi. Hehe
Ica : Haha elo nafsu banget kayaknya ama gue. Ya udah bolehdeh tapi jangan ditempat rame ya ditempat sepi aja ga enak klo di liat orang.
Faiz : Oke deh sayang. (sambil senyum horny)
Ica : Oh ya Iz udah sore nih lo pulang gih ntar dicariin keluarga lo lagi.
Faiz : Iya nih bisa jam sampe jam berapa klo gue belom pulang. Oke gue pulang ya. Oh ya besok kan weekend kita jalan jalan yuk kemana gitu.
aulia jilbab montok (5)
Ica : Boleh kita ke TMII aja. Gue suka aja sama tempat itu ga terlalu rame soalnya.
Faiz : Oke. Tapi klo weekend mah pasti rame
Ica : Ya kita nyari tempat yang sepi dooong.
Faiz : Oke (sambil menyalakan motor dan akupun pergi)
Keesokan harinya aku sudah sampai di tempat dimana kita janjian sambil melihat handphone ku.
Faiz : Sayang kamu udah sampai mana?
Ica : Ini nih udah sampe tuh aku bisa kok liat kamu . Aku pake baju merah yang lagi dadah dadah.
Faiz : Oh iya itu ya oke.
Setelah kita bertemu
Ica : Kita mau kemana dulu nih ? gimana klo naik kereta gantung habis itu nonton keong mas.
Faiz : Boleh boleh yuk ah kita kesana. (dia tau aja tempat sepi yang bisa buat gue leluasa grepe grepein dia)
Sesampainya kita di wahana skylift pun aku masuk dan ica masuk kita menaiki kereta gantung berwarna hijau.
Ica : Assiiiik udah jalan nih Iz bisa deh kita liat pemandangan dari atas.
Faiz : hehe iya sayang. Bisa deh aku mesra mesraan sama kamu. (sambil mencubit pipinya)
Ica : Ah kamu bisa ajaa yailah aku juga sengaja kali naik begini biar bisa berduaan sama kamu.
Seketika aku mulai memegang kedua tangannya kemudian mencium tangannya dan setelah itu aku beralih ke wajahnya sambil tanganku mulai mendekati payudaranya. “Cup” aku mencium keningnya lalu ke pipinya dan tibalah ke bibirnya. Uh uh iz enaaak (racau ica) iya sayang nikmatin ya “Sluurp slurp”. Lidah kita pun saling beradu cukup lama kemudian tanganku mulai bergerak memeluknya dan tangan kanan ku mulai memberanikan diri merasakan payudara kiri nya.
aulia jilbab montok (6)
Ica : “Ah,pegang aja iz toket gue enak iz.”
Faiz : Kamu tiduran ya sayang. Biar aku leluasa.
Kemudia ica pun tertidur. Sambil memejamkan matanya dia mulai menikmati setiap kecupan dari aku dan senturan jari jemariku yang memaikan payudayaranya meski dengan posisi baju yang masih terpakai.
Ica : iz klo lo mau buka baju gue,buka aja.
Faiz : oke
Seketika aku membuka bajunya sampai lehernya untuk kemudian bisa mengulum toketnya. Dan kubukan BHnya kemudian aku masukan kedalam tas ku. Ketika aku melihat sepasang gunung kembar ada di depan ku. Aku pun terpana dengan 2 guunung kembar yang berukuran cukup besar dengan puncaknya yang berwarna coklat. Langsung saja aku bagai orang kesetanan. Aku menyergap toketnya dengan serakah aku kulum kanan dan kiri aku remas dengan kencang keduanya dan aku pun menjilati kedua toketnya. Ica pun hanya bisa terhentak dan meracau terus menerus.
Ica : iiiiiizz enak banget geliiii ah.
aulia jilbab montok (7)
Aku pun terus focus menikmati toketnya yang mulai mengeras sambil seluruh bagian toketnya memenuhi mulutku.
Kemudian aku menyuruhnya bangkit kembali sambil membelakangi badanku.
Faiz : Sayang kamu duduk lagi ya tapi belakangin aku. Aku pengen remes dari belakang.
Icapun langsung bangkit dan menuruti perintah aku
Dengan muka yang memerah dan pasrah Wajahnya pun mulai bersender dengan kepalaku.
Akupun mulai mengecup lehernya sampai benar benar merah. Dan tangankupun mulai meremas remas payudaranya dengan ganas.
Hemm hemm uuuuh uuuh (racau Ica)
Faiz : Sayang kereta kita udah mau sampe tuh. Udahan yuk
Ica :Iya udahan aku rapihin baju aku ya. Eh BH aku tadi di tas kamu ya? Iih nakal kamu. Sini BH aku.
Faiz : Hehe tadi itu ribet mau ditaro mana tuh BH jadi aku taro aja deh di tas aku.
Ica : (tersenyum)
Faiz : Tapi kayaknya BH nya ga usah dipake aja deh yang,biar pas lagi di keong mas aku bisa grepe grepe lagi
Ica: kamu ih nafsu banget yaudah deh aku simpen di tas aku aja.
Lalu kitapun turun. Dengan kondisi leher Ica yang memerah hasil dikecup aku beberapa kali selama di kereta gantung. Lalu kita bergegas menuju keong mas. Sampainya di dalam akupun memilih tempat duduk paling atas
Ica agaknya mengerti kenapa aku memilih posisi duduk disini. Diapun duduk di bangku paling pojok sedang aku disamping kirinya. Selama film berlangsung praktis aku tidak banyak melihat filmnya lebih banyak berkonsentrasi memainkan payudaranya Ica. Aku merangkul bahunya lalu pelan pelan tanganku menelusup lewat bawah bajunya dan mulailah aku meremas remas. Icapun mulai terangsang tapi dia sadar bahwa ini bukan saatnya untuk mendesah keras karena kondisi di sekeliling banyak orang. Maka dia hanya melepaskan nafas nafasnya dengan pelan sambil menonton film nya.
Setelah selesai kita berdua pun keluar sambil Ica berbisik padaku.
Ica : Kamu tuh tadi nakal banget sih berani banget megang toket aku. Kalau ketauankan bisa berabe.
Faiz : Iiih gpp tau aku soalnya tadi masih agak nafsu liat kamu jadi ga bisa ditahan deh. Hehe.
Kemudian akupun pulang dengannya. Namun karena aku ada kesibukan lain aku hanya mengantarkannya sampai transjakarta.
Keesokan harinya ketika hari kuliah. Akupun ingin merasakan sensasi bercinta di kamar mandi. Berbada dengan hari hari sebelumnya kini aku duduk berdampingan dengan Ica ketika di kelas. Aku pun berbisik ke Ica
Faiz : Ca,ntaar pulang sorean ya aku pengen main di kelas ini
Ica : apa nanti ga ketauan orang kalau kita main disini?
Faiz : Ya tenang aja aku yakin ga akan ketauan.
Seiring waktu berjalan Kuliah pun selesai pada siang hari menjelang sore. Satupersatu teman teman kami di kelas mulai keluar hingga akhirnya tinggal tersisa aku dan Ica.
Faiz : Sayang,udah sepi nih kita mulai yuk.
Ica : Yuk ah.
Aku pun langsung mengkunci pintu kelas dan mematikan lampu kelas. Dan tak lupa menyingkirkan bangku sampai ada tempat kosong untuk kita bisa beraksi di kelas. Aku pun mulai memeluknya dengan erat kemudian dengan senyumnya Icapun mulai menyergap bibirku dengan halus.
Sluur slurp hmmm hmm aku mulai menikmati bibir nya dan menikmati setiap gerakan gerakan lidahnya hingga iya terpejam menikmati peraduan ini. Kemudian akupun menidurkannya di lantai dengan mengangkat kedua kakinya, aku mulai membuka kedua roknya dan tinggal tersisa celana dalamnya saja. Aku mulai dengan menjilati jari jemari kakinya kemudian jilatanku naik dari betis hingga pahanya. Ica terlihat sangat menggelinjang kegelian. Lalu aku putuskan mengambil sapu tangan untuk kemudian dipasangkan di mulutnya supaya ketika dia meracau tidak terdengar sampai luar. Aku kembali focus menjilati pahanya yang putih mulus dan tibalah di bagian vitalnya. Aku kini melepaskan celana dalamnya dan makin melebarkan kedua kakinya hingga kepala ku leluasa untuk menjilati vaginanya. Aku mulai menjulurkan lidahku pelan pelan sesekali aku melihat ekspresi ica yang merem melek menikati setiap rangsanganku. Huuummmph huuummh (seloroh aku menikmati indahnya vagina ica) wangi vaginanya pun harum . Sepertinya dia rajin merawat sisi vitalnya.
aulia jilbab montok (8)
Setelah puas dan bosan menikmati vaginanya aku pun mulai menaikan jilatanku kearah perutnya dengan bantuan kedua tanganku aku mulai menaikan bajunya sambil menjilati bagian perutnya hingga sampai pada belahan toketnya. Aku lepaskan BH nya dan mulailah aku menikmati belahan dadanya. Aku jilat jilat kesuluruhan toketnya dan ica pun seperti biasa hanya meracau saja. Emmmh emmh (racau ica dengan mulut terhalang sapu tanganku) aku menikmati lenguhan demi lenguhan ica ketika aku menjilati dan meremas payudaranya juga ketika aku menciumi kembali tenguh lehernya dan hingga berakhir pada ciuman mesra antara aku dengannya.
Cukup lama kita beraksi namun aku memang belum punya nyali untuk memasukkan kontolku ke dalam vaginanya. Mungkin suatu saat nanti aku bisa melakukan itu dengannya.
Namun tidak butuh waktu lama untuk akhirnya aku memberanikan diri mengeksekusi ica, saat seluruh anggota keluargaku pergi ke luar kota dalam waktu lama aku mengajak ica untuk menginap di rumah ku,
Faiz : sayang,kamu mau ga main ke rumah aku? Aku kesepian nih di rumah Cuma sendirian
Ica : Oh ya? Emang pada kemana penghuninya ?
Faiz : Ya biasalah ada urusan keluarga yg mendesak jadi harus ke luar kota, aku sebenernya diajak Cuma aku alesan aja mau focus uas jadi aku dibolehin deh di rumah sendirian. Ga sendirian sih klo ada kamu yang nemenin aku.. hehe
Ica : hmm gitu ya… yaudah aku ke rumah kamu deh, tapi besok aja ya ga bisa sekarang…
Faiz : oke ya gpp aku kan bisa ngehias hias kamar dulu biar suasananya romantic..
Ica : Iiiiih kamu pasti nafsuan lagi sama aku… tapi aku ga mau ya main sama kamu klo nanti ketauan sama tetangga
Faiz : gak kok , ga bakalan ketauan rumah ku agak jauh dari rumah lainnya, kamu mau mendesah apa juga ga bakalan kedengeran..
Ica : kamu tau aja klo aku mendesah desah..
Faiz : tau dong kita kan udah biasa main, pokoknya aku bakalan ngeragain yang lebih hot lagi deh dari yang kemarin kemarin….
Ica : serius ? waaah pasti seru tuh…. Oke see u tomorrow ya sayang
Keesokan harinyaa.. aku bangun pagi untuk kemudian berdandan rapih menghampiri rumah Ica,,, sesampainya disana aku melihat dirinya tampil lebih seksi dengan baju dan celana yang lebih ketat dari yang biasanya dia pakai.
Faiz : sayang kamu cantik dan seksi banget hari ini
Ica : iya aku begini demi kamu nih.. hehe
Faiz : yaudah yuk jalan….
Akhirnya kita berduapun jalan menuju rumah aku… waktu masih pagi menjelang siang ketika jalanan ibukota masih terlihat lengang.. waktu yang tepat untuk aku bisa menikmati indahnya hari ini bersama kekasih ku.
Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai rumahku dari rumah ica.
Aku sengaja memilih jalan belakang rumahku agar tidak ada yang curiga dengan kami. Segera aku membuka gembok dan gerbang rumahku lalu memakirkan sepeda motorku. Dan ica melepas helm yang dipakainya.
Kami melangkah menuju pintu rumah dan aku membuka pintunya. Setelah pintu terbuka aku menyalakan kipas angin untuk melepas lelah ku sementara. Sementara Ica sibuk melihat lihat seisi rumahku.
aulia jilbab montok (9)
Faiz : Kamu santai aja dulu liat liat isi rumah aku atau nonton tv juga boleh
Ica : Iya,iya kamu pasti capek ya boncengin aku jauh jauh. Mau aku pijitin ?
Faiz : Boleh banget sekalian burung ku dipijitin
Ica : Idiiiih mau banget itunya dipijitin (sambil nyubit)
Faiz : mau doooong :P
Ica : Yaudah sini aku pijitin punya kamu
Dengan cepat Ica segera membuka resleting celanaku dan melorotkan punyaku. Kemudian dia mulai mengocok ngocok punyaku.
Ica : Gimana enak kan pijitannya ? (sambil mengocok punya aku)
Faiz : aaah iya yank enak banget, coba deh kamu isep punya aku sekalian
Ica : Oke
Icapun langsung menancapkan kontolku ke dalam mulutnya sambil dengan gerakan kepalanya yang naik turun mengulum kontolku, sementara aku hanya bisa mendesah “mmmh” sembari melepas satu persatu kancing bajuku kemudian kaosku dan selanjutnya aku buang jauh jauh untuk kemudian berdiri sambil membuka kerudungan ica dan menjambak jambak rambutnya. (saking tidak tahannya merasakan sensasi kuluman dari pacarku ini)
Faiz : Sayyaaaank aku mau keluaaarrr
Crroooot crooot cairan mani ku keluar dan tertelan oleh Ica
Ica : Idiiiih ke telen nih yank, aduuuh rasanya kok asin yaaaa
Faiz : iya dong rasanya asin namanya juga Peju….
Langsung saja aku mengangkat kedua tangannya untuk kemudian saling berciuman satu sama lain. Dengan nafas yang membara antara aku dan dia kita seperti sepasang kekasih yang sedang kesetanan menikmati nafsu birahi masing masing. Aku berciuman sangat mesra sekali posisi bibir kami bergerak ke kanan dan ke kiri sesekali melepas ciuman kemudian saling menatap penuh nafsu dan kembali berciuman kembali. Sementara kedua tanganku bergerilya melepas pakaiannya hingga BHnya dan setelah itu aku melepas celana jeansnya hingga tersisa celana dalam saja yang dipakai Ica…..
Ciuman ku pun naik menuju kupingnya kemudian menikmati lehernya dengan puas bagai drakula yang ini menghisap darah mangsanya….. Sementara kedua tangan Ica dengan eratnya memegang punggungku sambil memejamkan mata dan mendesah penuh nafsu…. Aku menurunkan posisi kepala ku menuju kedua toketnya…. Ketika aku merasakan hangat dan kenyalnya toket ica aku merasa ada yang berubah dari Ica….
Faiz : sayank toket kamu kayaknya makin gede ya??? Wah ini sih bukan 34B lagi tapi udah 34C
Ica : Masa sih? Gimana caranya kamu tau?
Faiz : ga tau ya,, pas awal aku ngemut punya kamu kan ga sekenyel dan segede ini sekarang udah tambah gede dan kenyel nikmaaat…. Aku lanjuuuut yaaaa
Aku melanjutkan hisapanku… bagai bayi besar yang sangat membutuhkan ASI dari Ibunya begitulah aku menikmati toketnya Ica…… Sementara Ica makin tidak bisa menahan nafasnya dan terus menerus mendesah tidak karuaaaan….
Ica : aaaaah mmmmmhh uuuuuh
aulia jilbab montok (10)
Aku pun menurunkan posisiku dengan melepaskan celana dalamnya…… dan mulai menjilati vaginanya…. Ica semakin beringas… .ketika aku menjilati miss V nya dia menjambak rambut aku berkali kali…. Aku menikmati momen ini dan terus menerus menjilati vaginanya hingga keluar cairan dari daerah kewanitaannya… aku jilat jilat sampai akhirnya vaginanya bersih kembaliiii…. Mmmh sungguh momen yang sulit dilupakan….
Kemudian aku membalikkan badannya dan menyuuruh dia menungging menghadap tembook…. Aku lesakkkan pelor ku ke dalam pantatnya…. “pokk poook poook” begitulah kira kira bunyinyaaa…. Ica semakin beringas saja teriakannya… maka aku putuskan untuk menyalakan tv dengan volume yang keras supaya desahannya tidak terdengar tetangga dekat rumahkuuu…
Ica : aaaaaaaah aaaaah aaaah
Aku menyenderkan punggungnya ke dalam dada ku sembari masih menancapkan kontolku ke pantatnya sementara kedua tanganku meremas remas payudaranya dan mulutku menciumi lehernya kanan dan kiri kemudian aku kembali menunggingkannnya kembaliii sampai cairan maniku kembali keluar menyemprotkannya ke dalam pantat Ica….
Faiz : (pok pok pok) aaaaah sayang aku mau keluar niiih aaah aaah aaah mmmhhh
Ica : aaah aaaaaah
Ica sedikit terkulai lemas.. langsung saja aku membopongnya menuju kamar pribadiku membiarkannya istirahat sejenak untuk kemudian bermain kembali.. aku beranjak ke dapur menuju ke disepenser air putih untuk kembali mengisi bahan bakar maniku… tidak kurang dari 5 gelas aku minum… supaya maniku bisa kembali terisi untuk menikmati permainan ini….
Aku kembali beranjak ke kamar… dan melihat ica terkulai setengah tiduur….
Kemudian aku membalikan badannya untuk menciumi seluruh bagian tubuhnya dari mulai rambuuut kemudian kuping,leher dan punggung belakangnya sampai kepada betisnya…..
Faiz : Sayang aku mau sodok kamu lagi nih,kamu madep depan yaaa
Ica : Iya,aku agak lemes nih ga bisa ngimbangin permainan kamu…. (sambil tersenyum)
Aku pun segera membalikkan badannya dan mengangkat kedua kakinya untuk kemudian memasukkan kontolku ke dalam vaginanya…. Percobaan pertama gagal… kemudian aku menyuruhnya membimbing punya ku untuk dapat masuk ke dalam liang vaginanya…
Faiz : Sayang,tangan kamu tuntun punya ku yaaaa masukin nih susah banget
Ica : (langsung menyergap dan perlahan lahan memasukkan kontalku)
Dan akhirnya masuk…. Aku pun menghentakkkan sodokan pertama ku dan membuat Ica berteriak
Ica : aaaaah sakiiiiit
Faiz : tenang aja sayaaang nanti juga lama lama enak kok.
aulia jilbab montok (11)
Aku kembali menyodok berpuluh puluh kali dan ica pun hanya bisa mendesah berteriak teriak menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit dan rasa nikmaaat…..
“Pok pok pok” (suara sodokkan ku)
Aaaaah aaaaaah (racau Ica berkali kali)
Dan akhirnya blesssss maniku kembali keluar sebagian aku alirkan ke dalam sebagain aku muncratkan kea rah perutnya…..
Ica semakin lemas…. Kemudian aku memberinya kecupan kecil kea rah bibirnyaaaa.
Faiz : “Cup” , gimana sayang enak kan ?
Ica : Iya iz aku capek nih tapi masih mau lanjut….
Hayuuuk lanjut sekarang kamu yang diatas yaaaah
Dan akupun kini yang tiduraaaan dan Ica menaiki kontolku untuk kemudian dimasukkan ke Vaginanya….
“bleeees” “Pok Pok Pok”
“aaaaaha aaaaaahhhha sakit aduuuh aaaaah”
Ica semakin menggila….. aku menundukkan pala Ica untuk kemudian menghisap kedua payudaranya dan mencium bibirnya … Icapun kini dalam posisi santai memeluk aku dengan posisi tengkurap sementara dadaku merasakan kekenyalan toketnya….
Ica : Iz aku mau keluuuuaarrr .
Dan tak lama ica mengeluarkan cairannya kembali…
Aku kini membangkitkannya kembali dari tempat tidur untuk kemudian menyandarkannya ke pintu kamarku….
Aku mengangkat kaki kirinya ke atas bahu ku dan memasukkan kontol ku ke dalam lubang vaginaanyaa….
Faiz : Sayaaang maaf ya kakinya aku angkat…tahan ya ini lebih sakit dan lebih asiiik
Ica : (kedua tangannya melingkat diatas leherku)
Dan akupun mulai memasukkkan kontolku ke vaginanya yang sudah licin dengan lancarrrr “bleeesss” mulailah aku menyodok nyodok vaginanya dengan cepat… Ica hanya bisa mendesah meringis kesakitan menjambak dan menggigit bahu ku…. Sementara aku juga tak mau kalah ikut mendesah sama sepertinyaaa….
“aaha aaaah aku mau keluar lagi Ca’’ dan akhirnya cairan itupun keluar……
Tak terasa sudah cukup lama kita bermain dan Icapun tampaknya sudah kelelahan menikmati permainan ini….. Kitapun sama sama merapihkan dan memakai baju masing masing untuk kemudian mengantarkan Ica pulang kembali ke rumahnya….

RISKA

Inilah kisah nyataku ditahun 2010. Aku bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang sales di Kota Semarang, tentunya aku sudah lama kerja di sana, aku sebagai supervisor team. diperusahaanku ada administrasinya kebetulan ada 3 perempuan dan berkerudung semua karna bos utama udah naik Haji. Disuatu hari ada Admin baru namanya Riska Asal Bojonegoro, umurnya masih 20an dia berwajah manis jawa, kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, tingginya sekitar 150 cm, Riska ga gemuk juga ga kurus, standar lah. tapi padat dan sintal, buah dadanya kira kira 34b dan pantatnya udah membentuk kalo Riska memakai rok panjang ketat.
Disuatu hari aku memberanikan diri tuk kenalan. Pertama kali Riska agak kurang bersahabat. Karena kegigihanku tak sampai seminggulah Riska mampu tersenyum padaku.
Dan akhirnya seiring waktu Riska sering minta bantuanku. Dan dimalem minggu, aku mencoba mengajak Riska main ke warnet, dan Riskapun setuju, dia ingin sekali membuat FACEBOOK, dan kebetulan sekali aku diminta bantuan tuk buatin FACEBOOK. Kamipun satu USER ROOM seperti KBU Wartel tertutup dari bawah sampe atas, dilengkapi pintu dan kuncinya, Riska pun kayaknya tidak peduli. Akupun sangat berhati hati dalam berucap ataupun bertindak. Maklum Riska adalah wanita berkerudung yang sopan.
2jam kami bercanda gurau di dalam USER ROOM, kebetulan tempatnya lesehan cukup untuk 2 orang, yah agak sempit sih tapi bisa selonjor kaki. Dan saat aku ingin mengambil mouse yg terletak dikanan keyboard komputer, tanpa sengaja lenganku menyentuh buah dadanya, dan Riskapun berteriak Oww, Akupun terkejut “maafkan aku Mbak Riska Aku ga sengaja” ucapku. “ga papa kok pak, Kan ga sengaja” Riskapun menenangkanku. “hmm,,,, padat sekali toket Riska, pasti belum pernah dipegang cowo” dalam hati aku berucap.
Akhirnya FACEBOOK pun udah selesai terbuat. Riska pun senang “makasih yua pak” ucap Riska. “iya sama sama Mbak Riska” akupun menjawab.
Setelah Riska dah selesai FBan karna waktu paketanya masih lama, maka aku tanya ama Riska. “Mbak Riska mau Browsing apa? mumpung waktunya masih lama? “. “terserah Bapak ajah Riska sih ngikut”Ucap Riska. “mau ngga Mbak Riska Aku bukain Film bagus?” tanyaku.
Film apa pak? jawab Riska. dan akupun membuka situs porno ternama. Ketika Halaman pertama muncul Riska berteriak “Aaaaa…. Apa itu Pak?”.
“Ini film untuk 17 tahun keatas Mbak Riska” Akupun menenangkanya. “Mbak Riska udah 17tahun keataskan??, kalo belum Halaman ini aku tutup”.
“ya udah tah Pak, saya udah 20 tahun, Saya juga penasaran sama yang beginian.” ucap Riska.
“BINGGO” dalam hati aku berucap. senangnya kalo Riska ga marah. Akhirnya dari Film ke Film Aku putarkan buat Riska. Aku liat wajah Riska yg mulai memerah dan ketawa kecil. kayaknya dia senang. Dan kuperhatikan tangan Riska yg udah mulai salah tingkah gugup, nafasnya mulai panjang, dan kakinya mulai merapat. Dan saat itu aku memberanikan diri untuk memegang pundak Riska. Riska pun tampak Tak menghiraukan dengan apa yang aku lakukan. Yang tertuju hanyalah Layar komputer yang terputar Film Bokep. Tangan Kanankuku mulai aku gerakan di pundak Riska mengusap usap pundaknya sampai ke siku naik lagi ke pundak dan diteruskan ke leher samping Riska. Walau Riska merinding, tapi tetep membiarkan tanganku bergerilya di pundaknya. Wajahku mulai mendekat ketelinga Riska.
Dengan sadar mulutku ku dekatkan ditelinga Riska “Baumu harum banget Mbak??” jurusku mulai aku keluarkan. “Ahhhh…. ba..bapak bi..bisa ajah.” Riskapun merendah dan suaranya mulai terbata bata. “boleh nggak Saya mencium leher Mbak Riska??” jurusku memelas. Riskapun hanya tersenyum. ku ciumlah leher Riska yg terbalut kerudung panjang. Kusigapkan Kerudung yg menutupi lehernya. Riska masih terpaku di layar komputer, Akupun tak menyia nyiakan moment ini. kuciumi senti demi senti. Ku gigit kecil kecil leher Riska. Kurapatkan tubuhku dibelakang tubuh Riska. Kupeluk Riska dengan erat. Cuaca diluar sedang hujan dan didukung udara AC yg dingin, suasana yg tepat ini. Akupun memeluk Riska dan Tanganku mulai menggrayangi perutnya sambil memijat kecil kecil. Riskapun merebahkan tubuhnya Didadaku, seperti Pasrah dia. Akhirnya kutarik dagunya yg lembut, Kutatap wajah Riska yg kosong, langsung kulumat bibirnya yg mungil. Riska ga membalas ciumanku cuman pasrah ajah ketika lidahnya aku hisap. 5 menit aku menghisap Lidah dan memainkan bibirnya yg tanpa perlawanan, kemudian aku lepaskan ciumanku dan aku bertanya ” kok ciuman saya ga dibalas?” . “Saya belum pernah ciuman Pak, saya ga tau harus bagaimana?” jawab Riska sambil terengah engah. “yawdah Mbak Riska nikmatin ajah ya? biar saya yang membuat Mbak Riska Fly?”
Riskapun hanya menganggukan kepala pelan,
Akupun langsung menciumi wajah Riska. dengan suasana USER ROOM yang privat. Kami leluasa berbuat, dan saat itu pula. kunaikan kaos panjang Riska yg berwarna Ungu, tersembulah 2 bukit cantik yang dititupi Bra warna Ungu pula.*Tanganku mulai memegang meremas payudara Riska, tapi tiba tiba Riska menyikap Tanganku, karna tanganku lebih kuat dan remasanku semakin keras Riska mulai mengelijang dan tanganya hanya memegang tanganku erat.. Karna Riska mengeluarkan desahan kecil. Akupun langsung bertindak mencium bibirnya lagi.
Riska mulai memjamkan matanya. Ku angkat Bra warna ungu itu, nampaklah. 2 bukit surganya para lelaki.
payudaranya tepat sesuai perkiraanku 34b, dengan lingkaran puting agak lebar berwarna hitam dan dihiasi puting hitam yg masih kecil. Kumainkank ke 2 puting itu, kutarik tarik,
aku plintir plintir sehingga membuat badan Riska jadi tidak karuan.
Ku senderkan badan Riska di tembok dan aku disamping kirinya, Riska pasrah sambil menutup matanya.
Saat itu aku mulai menjilati Buah dadanya yang mulai mengeras. Aku jilat melingkar dari dasar sampai pucuk secara bergantian payudara. puting aku kenyot, Riska hanya menggigit bawah bibirnya supaya desahan ga didengar seluruh USER. kuciumi perut riska, kakinya ku regangkan sambil menyibakkan rok panjangnya. Tanganku mulai meraba kedua pahanya, sampai menuju pangkal pahanya. Riska sudah melayang tinggi, kucari gundukan dibalik CD itu. dan aku raba raba vaginanya. sepertinya CDnya sudah basah.
Akupun menarik tanganku, kumasukan tanganku ke atas rok di bagian perutnya. Aku meraba vagina Riska yang masih di tumbuhi Bulu bulu yg halus. Kugesek gesekan telunjuku di garis Vagina Riska. Dan Kumasukan jari tengahku kedalam lubang memiawnya. Riska mengejang dan berteriak kecil “Aoooww.. sakit pak”. kulumat langsung bibirnya tanpa ampun, supaya tak bersuara lagi. Kukocok memiawnya Riska, sampai 5 menit tubuhnya mengelijang.. tanganku dibasahi Cairan sugawinya. Riskapun lemas.
Aku membantu merapikan Pakaianya. dan ku cium kening Riska sambil mengucapkan “maafkan saya yg lancang Mbak Riska”.
Riska hanya diam. seperti menyesal dengan perbuatan kami tadi.
Waktu paket udah hampir selesai, kami pun berkemas untuk pulang. Riska hanya linglung tak berkata. didalam perjalanan tak henti hentinya aku mengucapkan maaf pada Riska.
Aku antar di di kost. Tak terasa udah jam 1 malam, pintu gerbang Kostnya Riska sudah terkunci. Riska mulai bingung.
“duh gimana nih pak udah di tutup gerbangnya?? gara gara bapak sih” Riska hampir nangis.
karna memang peraturan kost tidak boleh pulang larut malam.
“yawdah tidur di kontrakan bapak ajah?? kan bapak hari ini sendirian karna Pak Manager lagi rapat keluar kota” tawaranku.
(kontrakan rumah fasilitas perusahaan untuk Manager dan Supervisor)
“tapi??” Riska hanya bingung.
“udah ga papa.. nanti Mbak Riska Tidur dikamar Pak Manager atau kamar Saya”,
karna hari udah terlalu larut. tanpa pikir panjang Riska menyetujui tawaranku.
Tak lama sampailah ke kontrakanku., kubukakan pintu dan kupersilahkan Riska milih kamar. dan akhirnya Riska memilih kamarku. karna takut kalo ada apa apa ketika dia mendiami kamar Managernya.
Akupun mengalah tidur diluar, di kursi malas di Ruang tamu.
“mbak Riska ga mandi dulu??” tanyaku.
“engga pak capek bgt, Dingin lagey” alasan Riska.
“yawdah met tidur yua mbak, Maafkan saya tadi” lontarku.
” iya pak, sama sama” balas Riska.
Akupun merebahkan badanku di kursi malas, tanpa henti hentinya aku mebayangkan kejadian yg spontan tadi, yng tak pernah terencana sebelumnya, aku berpikir, “kuk Riska ga marah sama aku yua” dalam hati aku bicara.”apa Riska juga suka tapi dia malu?? atau Riska takut sama aku karna aku pimpinanya” ah… bikin semakin bingung ajah, jalan pikiranya Riska
lama kelamaan aku mengingat kejadian tadi si otong pun memberontak karena si otong belum terlampiaskan.
Dan aku pun beranjak dari kursi malas itu, ku melangkah ke kamar yang Riska tiduri. Ku gedor gedor pintu tapi Riska ga menjawab, Nekatku ku buka handlenya, tenyata ga terkunci. Ku lihat Riska terbaring berselimut. “kayaknya Riska dah tidur”. tanyaku dalam hati.
ku goyang goyang badan Riska riska pun tak bangun juga. mungkin karna cape’. kutarik slimutnya yang di pake Riska. Oh ya.. Riska udah tanpa kerudung. rambut nya teruarai panjang, dan masih menggunakan baju yang sama tadi.
Tanpa basa basi karna menuruti si otong yg udah tak bisa tertahankan
lalu ku peluk Riska yang terbaring lagey. Riska pun terbangun karna kaget.
“Pak… pak mau ngapain?” Tanya Riska dgn kaget.
“maafkan saya lagi Mbak Riska, saya mencintai Mbak Riska?? memelasku sambil menggombali Riska.
“Jangan pak.. Jangan… kenapa lakukan ini,, saya masih perawan pak…
saya mohon… saya menyesal kelakuan kita tadi tanpa kontrol…”
“saya takut dosa pak… saya takut Allah mengutuk saya…”
Riska ketakutan sambil memohon belas kasihan supaya aku melepaskanya. Tapi disisi lain aku tak mendengarkan rengekan Riska karna perasaanku tertutupi napsu yang menggebu.
Tanpa daya Riska kalah dengan kekuatanku….
kulucuti semua pakeanya sampai Bra dan CDnya.. tampaklah Riska yg telanjang bulat Indah bgt.
Kuciumi mulutnya tapi mulut Riska menghindar menolak ciumanku.. hanya tangisan yg dikeluarkan Riska…
“udah pak saya cape’.. hiks hiks” Tangis Riska.
ku ta peduli ku remas payudara Riska kulumat puting Riska..
dan berjalan menuju perut sampai vaginanya.. Ku jilati Vaginanya tapi riska menahan kepalaku dengan kedua tanganya sambil menggeleng nggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dia tidak setuju.
Kusibakan tanganya Riska dari kepalaku berakhri bibirku menyetuh vaginanya…. Riska hanya mengelijang…
setelah 7menit kemudian badanku naik keatas menuju bibirnya .
karna Riska menangis malah membuat tenaganya habis dan hanya bisa pasrrah. ku bisikan di telinga Riska “Saya mencintaimu” dengan nada lirih. dan kusiapkan otong tuk menembus lubang memiawnya.
ku oles oleskan si Otongku di bibir vaginanya Riska. Riska tak berani memandang aku, hanya menoleh kesamping.
Tak lama kepala si otong mulai masuk walau sempit ku masukan ber ulang ulang… hingga masuk semuanya… Riska menjerit kesakitan “aduuhh pakkk… saa..sa.. kit…” rintih Riska
“sabar sayang nanti juga enak kok” Jawabku dgn tertawa kemenangan.
“ah… uh… ahhh aadduuuhhh pak” suara desahan Riska.
semakin Riska mendesah kencang semakin kupercepat gerakan maju mundurku dan tanganku hanya berpegang pada payudaranya.
“ohhh yyaaa… enak bgt memiaw ini…” sambil aku meremas payudara Riska.
setelah 15 menit. aku belum berganti posisi.
Riska berteriak ” pak saya dah ga kuat.. ahhh.. ahhh ahh oohhh”
seiring Riska mendesah kllimak Akupun juga mencapai klimaks dan kurasakan cairan hangatku dan Riska bercampur baur didalam..
akupun tekulai di atas tubuh Riska sambil memeluknya…
dan si otongpun mulai aku cabut dari sarang surga.
saat bersamaan cairan berwarna pink keluar dari memiawnya Riska.
sperma kita yg bercampu darah… mengalir lambat…
dan kubersihkan cairan itu dengan tisu basah milik Riska.
jam menunjukan pukul 3 kami pun ber istirahat bersama masih telanjang. Ku peluk Riska ku ciumi Riska
“Aku sangat mencintaimu Mbak Riska” terucap dari mulutku.
“bapak harus tanggung jawab sama perbuatan bapak. Nikahin aku sebelum aku positif Hamil” minta Riska padaku.
“pasti… sayang…” Jawabku dengan yakin
setelah kejadian itu kami melakukan seminggu sekali dan Riska menjadi pacarku hanya 3 bulan.
karna aku di pindah tugaskan ke beda kota. Aku pun lama kelamaan Los contact dengan Riska. terakhir kabar Riska pindah kerja Ke jakarta. sampai sekarang.

INTAN

“Buuuuugghhh . . .“
saskya larasati jilbabsemok (1)
Aku menoleh ke belakang ke arah suara tersebut, kulihat Azmi tertunduk, tersungkur sambil memegang perutnya, sambil meringis kesakitan.
Di depannya berdiri seorang yang tinggi,bersiap mengokang tangannya sekali lagi ke arah Azmi.
Aku yang tadinya asyik mengobrol di depan kelas berlari ke arah Azmi yang masih terduduk pasrah, disusul teman teman yang lain, menyusulku.
“Woyy boss”, aku berteriak ke arah Anggoro, anak kelas 3 yang barusan menghajar Azmi.
Anggoro menoleh ke arahku , maju mendekatiku dengan gayanya yang tengil sambil petentang petenteng, meninggalkan Azmi yang masih meringis.
“Knapa Jon ?”
“Azmi kok mbok jotos knopo ?”
“Lho itu masalahku, kamu ga usah ikut ikutan. Masalahmu apa ?!” sambil bertolak pinggang Anggoro memelototiku, menggertakku
“Azmi temenku, kalo urusan sama dia berarti ya urusan sama aku,” Aku menegaskan
Yowis to, di selesaikke nanti di parkiran pas pulang sekolah!” gertak Anggoro lantang.
“Sip tak tunggu !” jawabku tak kalah tegas.
Anggoro berlenggang pergi ke arah kelasnya. Aku menghampiri Azmi yang masih bangun dengan tertatih tatih.
saskya larasati jilbabsemok (2)
“Makasih jon ya,” hanya kata kata itu yang keluar dari bibirnya.
“Sip sip, emang kenapa mi masalahnya?” tanyaku pada Azmi.
Lalu Azmi menceritakan perihal masalahnya dengan Anggoro, yaitu Mutiara Intan, atau biasa dipanggil Intan oleh teman temannnya. Gadis manis berhijab yang duduk di kelas 1. Intan yang baru kelas 1 mampu mencuri hati para senior senior di sekolah tersebut. Hidungnya yang mancung dan murah senyum serta body yang baru tumbuh ranum khas anak remaja sma membuat betah mata yang memandang, serta sikapnya yang supel dan ramah membuat banyak cowok cowok abg di buat kegeeran sama dia.
Anggoro, dedengkot kelas 3 yang merasa sok jagoan. Sok keren dan tengil adalah mantan pacar Intan. Dan masalahnya disini Anggoro tidak terima jika Intan di deketin sama cowok lain. Dan Anggoro tahu jika akhir akhir ini Azmi sering smsan sama Intan.
Aku secara pribadi sebenarnya sudah dari dulu tidak suka dengan gayanya Anggoro, tapi aku juga tidak mungkin nyari masalah tanpa sebab dengan dia.
Di tiap angkatan di sekolah ku, tidak ada yang namanya senioritas atau apalah, semuanya saling menghormati dan menjaga gengsi tiap angkatannya. Jadi tidak ada seorangpun yang berani mengaku ‘memegang’ sekolahku.
Azmi sendiri teman sekelasku sewaktu masuk kelas 2 ips ini, itupun hanya sebatas teman biasa, tidak terlalu akrab, karena dia lebih memilih untuk sekolah-pulang sekolah-pulang. Lain halnya denganku yang menjadikan sekolah sebagai hiburan. hahaha.
Jadi setelah tau duduk perkaranya dari Azmi, aku yakin jika Azmi tak sepenuhnya salah. Ah peduli setan mana yang benar mana yang salah. vini vidi vici . aku terlanjur menantang Anggoro.
*****
Bel sekolah sudah berdering, kulihat handphone jam 1.30 pas. Aku sudah menunggu dari jam 1 tadi, sengaja aku tidak ikut pelajaran yang terakhir, mood belajarku sudah hilang, berganti dengan semangat tawuran, gejolak khas anak muda.
Azmi yang biasanya tidak pernah bolos sekolah kali ini ikut menemaniku. Sebenarnya dia sendiri yang ingin ikut denganku ke parkiran. Mungkin karena dia sungkan melibatkanku dalam masalahnya, tapi toh bagiku memang aku sendiri yang ingin melibatkan diri, dan ini juga sudah bukan mengenai soal wanita lagi, ini urusanku dengan si Anggoro itu.
Anak anak sudah pada keluar ke parkiran. Sebenarnya ini bukan parkiran resmi dari sekolah, ini adalah rumah penjaga sekolah yang memang di buat parkiran oleh anak anak nakal, sudah turun temurun dan yang jelas entah kenapa aku ikut parkir disini, padahal sebenarnya aku anak baik.
“Jon, katanya mau ribut sama Anggoro ya?” tanya Adi dengan tengil, teman se geng Anggoro.
“Emang kenapa?” tanyaku balik.
Ati ati wae kalo ga pengen bonyok bonyok.” Jawab Adi dengan ketus. Dan memasang senyumnya yang sinis.
Seperti ada yang merasukiku ketika Adi bicara demikian, aku yang sedari tadi duduk diatas motor, tiba tiba langsung melayangkan pukulan tepat di sudut bibirnya, dan darah segar langsung mengalir di sela bibirnya, begitu juga sekitar pipi yang langsung melebam.
“Woy woy woy,” anak anak yang sadang bersenda gurau langsung mengerubuti, memegangiku , mencoba menahan, dan memisah ‘perkelahian pembukaku’ dengan Adi.
Adi yang masih shock dengan pukulanku, hanya bisa meringis memgang pipinya, sambil berusaha menghentikan laju darahnya yang masih mengucur. Dan akhirnya Adi di bawa menjauh oleh temannya.
*****
“Hhuuuuuuffffffhhhh….” hembusan asap Djarum Super menemaniku setelah beberapa saat lalu emosiku terpancing oleh Adi, aku berusaha menenangkan diri, sembari menunggu Anggoro.
Terlihat samar samar dari jauh, pria yang sedari tadi sudah aku tunggu tunggu, tapi ada yang salah dengannya, dia berjalan ke parkiran di dampingi gadis berjilbab.
“Itu Anggoro sama Intan jon,” bisik Azmi kepadaku.
saskya larasati jilbabsemok (3)
“Maksudnya apa to kok bawa Intan juga?” aku membuang rokok yang tersisa, berjalan mendekati Anggoro yang sudah beberapa meter di depanku.
“Trap… trap… trap…” suara sepatuku berderap, ketika aku berlari ke arah Anggoro yang masih terkaget melihatku, aku meloncat dan melayangkan tendanganku ke arahnya dan “buuuuuuuuggggghhhhhhh. . . .” flying kick ku, tepat bersarang di dadanya tanpa meleset satu inchi pun.
Anggoro pun langsung tumbang, terjerembab ke belakang , tanpa ba bi bu lagi aku berjalan mendekat kepadanya, Anggoro berusaha bangkit duduk, tapi sebelum duduk, kuhajar pipinya secara brutal, entah sudah berapa kali kupukul, ketika ada tangan yang memegang pundakku, Azmi menahanku dan tangisan wanita di sebelahku yang memohon untuk menyudahi perkelahian ini.
Aku berdiri, menjaga jarak dengan Anggoro. Kullirik ke sebelah, Intan hanya berdiri mematung, menangis sambil menatapku, seakan memohon.
Aku melihat Anggoro yang hanya mengaduh dan meringis, sudah tak terlihat Anggoro dengan gaya tengilnya. Hanya Anggoro yang lemah dan tak berdaya, aku yang tak tega entah kenapa malah menjulurkan tangan ke arah Anggoro membantunya untuk bangun. Dengan lemas Anggoropun menyambut tanganku.
“Heeeggghhh,” aku sedikit menahan ketika Anggoro menarik tanganku.
“Udah selesai ya? Udah clear semua kan?” tanyaku pada Anggoro, dan hanya di jawab dengan muka Anggoro yang masih meringis.
Aku yang kesal, kembali bertanya “opo arep di teruske maneh ?”.
Langsung dengan sigap Azmi yang sedari tadi berdiri di belakangku dan Intan disebelahku maju untuk menahanku.
“Bentar dulu, tak jelasin dulu,” suara wanita yang setengah berteriak di tengah emosi para lelaki, Intan.
“Aku kesini tadi sama kak Anggoro buat nyelesaiin masalah sama kak Azmi”, lanjut Intan.
“Maksutnya?” aku masih belum ngerti.
“Aku pengen ngejelasin ke semuanya kalo aku sama kak Anggoro sudah tidak ada apa apa lagi, dan aku sama kak Azmi hanya temenan biasa, kak Azmi sudah aku anggep sebagai kakakku sendiri”
“Makanya jangan asal pukul !!” kata Anggoro Nyolot sambil mendorongku mundur.
“Asssuuuuuuuu !!” umpatku sambil menendang sekenanya ke tubuh Anggoro, dan sekali lagi Anggoro terlambat menghindar, dan tendanganku mengenai perutnya.
saskya larasati jilbabsemok (4)
“Udah cukuupp !!” teriak Intan keras.
Aku tak menggubris teriakan itu, aku meninggalkan Anggoro, Intan serta Azmi di parkiran. Bagiku entah masalah ini mau berakhir bagaimana aku tak terlalu perduli. Persetan lah dengan urusan percintaan mereka.

*****
Esoknya sewaktu di kelas, aku melihat Azmi lebih murung daripada biasanya, pikiranku menerka mungkin dia masih diancam atau diterror sama si Anggoro itu.
“Knapa mi, raimu kok kecut ngono?” kataku duduk disebelah Azmi sambil merangkulnya.
“Hehe, engga jon, ga apa apa kok.” Jawabnya sembari mencoba tersenyum.
“Serius mi? Masih di ganggu Anggoro opo piye ?”
“Ah enggak serius, enggak “
“Oh yaudah,” kataku sambil bangkit dari duduk tapi Azmi menahanku
“Sebenarnya masalahku bukan sama Anggoro tetapi sama Intan jon”.
Aku mengenyirkan dahi tanda tidak mengerti.
“Kamu inget yang kemaren Intan bilang bahwa dia nganggep aku cuman sebagai kakak?”
“Heem, terus masalahnya?”
“Masalahnya aku nganggep dia lebih dari itu, aku suka jon sama dia, aku mulai sayang sama dia”
‘ya ampun soal cinta cintaan lagi’ batinku yang mulai jengah tentang curhatan lelaki mellow.
Dan bla bla bla Azmi mulai curhat sedikit demi sedikit tentang kedekatannya dan hubungannya dengan Intan. Dan dari masalah ini juga yang mendasari kedekatanku dengan Azmi hingga saat ini.
Setelah Azmi bercerita panjang lebar tentang Intan, dan intinya Azmi ingin meminta bantuanku untuk mendekati Intan, apalagi melihat teman yang setengah memohon aku menyanggupi permintaan si Azmi, padahal kenal aja enggak, kok bisa nge janjiin mau nyomblangin sama Intan. ‘goblok koe jon !!’ hatiku setengah kesal.
Siang itu juga aku minta nomer Intan ke anak kelas 1, dan bukan Jhonny namanya kalo engga bisa dapet nomer handphone, mengandalkan sedikit kepopuleran di sekolah, dan banyak dusta serta tipu muslihat, hanya dalam beberapa jam, dan mengambil kesempatan dari sikap ramah dan supel Intan, aku sudah janjian jalan besok sore, sekedar minum jus dan makan makanan pinggir jalan, sudah cukup lah untuk ukuran anak SMA jamanku.
*****
Sore yang dijanjikan telah tiba, aku dan Azmi menunggu beberapa menit sebelum mio merah datang persis di tempat kami duduk.
Sekedar basa basi dan akhirnya kami larut dalam obrolan ringan diselingi canda tawa khas remaja yang seolah tak memikirkan beban hidup yang akan menantinya.
Jarum jam pendek sudah menunjukan pukul 5 sore, sebelumnya Intan sudah ngomong kalo, dia tidak bisa pergi maen sampe larut sore. Oleh karena itu dia pamit pulang,
“Aku pulang dulu ya kak Azmi, kak Jon. Maksih lho es jusnya udah di traktir”
saskya larasati jilbabsemok (5)
“Oh iya ga apa apa, santai aja”, jawab Azmi, dan aku hanya tersenyum, membaca strategi untuk mengajak dia keluar selanjutnya.
Setelah Intan pamitan pergi, aku dan Azmi masih meneruskan cerita ngalor ngidul. Tiba tiba pundakku di tepuk dari belakang.
“Jhonn, lama ga ketemu, kmana aja kamu?” sapa orang asing itu, aku yang agak lupa sembari mengingat ingat satu sosok yang familiar di depanku, dan aku ingat !
“Lho, kamu to wan, dari mana kamu?” tanyaku kepada kawan lama satu ini,
Wawan. Dulu sewaktu smp kami pernah sekelas di kelas 3. Wawan ini dari SMP terkenal sebagai penjahat kelamin tapi kenakalan dia hanya sebatas di wanita, untuk urusan yang lain dia nol besar.
Dari yang masih kimcil kimcil smp sampai tante tante girang pemilik karaoke pernah dibawanya ke ranjang. Untuk urusan wanita aku harus mengakui Wawan jauh lebih berilmu dan mempunyai jam terbang tinggi ketimbang aku.
“Sekarang seleramu kerdus jon. Hahaha,” sapaan hangat dari Wawan.
“Maksutnya ?”
“Haalaaaah, tadi lho yg makan sama kamu, si Intan tuuhhh.”
“Lho kamu kenal wan ?”
“Kalo kenal baik si enggak, tau aja sih”
“Oooohh, terus maksutnya kerdus?”
“Kerudung dusta brayyy. hahahaha”
“Kok iso kerudung dusta wan ?”
“Lho ga ngerti to ?”
Aku menggelengkan kepala.
“Bispak modal speak dul, deketin aja, abis itu jadian, pake, tinggal deh. hahaha”
saskya larasati jilbabsemok (6)
“Lho moso? Ah ojo gawe isu aneh2 cuk.”
“Yaaah dibilangin kok ga percaya Intan tu mantannya temenku jon, dulu pas sama temenku itu wis pernah di ajak cek in,”
“Masa sih?” aku masih belum percaya.
“Gini wae jon , sekarang aku pernah bohongin kamu ndak?”
“Ga tau laah, kalo orang boong ngaku ya namanya engga bohong dong.”
“Hahahahahahaha” kami tertawa berbarengan tapi ada yang lain dengan senyum Azmi kali ini, kecut.
Lalu aku dan Wawan bercerita tentang pengalaman kami setelah lulus smp, dan tak lupa pula tukar menukar kenalan bispak bispak, waktu itu belum musim pin BB, jadi kami bertukar nocan nocan bispak.
Adzan maghrib berkumandang, lalu kami bertiga membubarkan diri, pulang ke rumah masing masing.
Sekitar abis isya, piip piip piip. Bunyi aplikasi Mxit dari handphoneku berbunyi, kulihat dari Azmi .
Azmi (19.32) jon, Intan sikat kamu aja gapapa wes,Don juan (19.33) lho knopo ?Don juan (19.33) ill feel cuk ?

Azmi (19.36) iyo ik, omongane temenmu tadi bener gak sih ?

Don juan (19.40) kaya nya si bisa di pertanggung jawabkan. Terus gimana nih ?

Azmi (19.41) kamu mau ga ?

Don juan (19.42) kalo beneran bispak, yo tak embat cuk. hahaha

Azmi (19.42) sip .

Don juan (19.42) serius ?

Azmi (19.42) yowes jon, sukses yo ! semangat !

Nah, ini yang ku tunggu tunggu, lampu hijau dari seorang sahabat yang mengijinkan atau cenderung mengoper gebetannya padaku sangat penting, karena jujur aku ga mau di bilang tukang tikung.
Dan malam itu juga aku mulai mendekati Intan, smsan sampe larut malam dan diakhiri dengan telpon dariku, sekedar basa basi untuk mengucapkan selamat malam.
Beberapa hari aku mendekati Intan,dan mungkin dia sadar jika aku sedang mendekati dia. Sering ngobrol dan cerita sebelum dan sesudah pulang sekolah, pergi ke kantin saat istirahat.
Banyak teman teman yang mengira aku sudah jadian dengan Intan,dan tidak sedikit pula juga yang memandang sinis jika aku berjalan dengan Intan. Bagaimana tidak, Jhonny yang terkenal brengsek di sekolah bisa dekat dengan Intan yg bak berlian.
Tapi yasudahlah, niatku cuma ingin membuktikan ucapan si Wawan, temanku. Terserah orang di luar mau ngomong apa.
Don juan (11.43) mau makan bareng d kantin?Intan (11.44) engga dulu deh kak, aku lagi di perpus nih, ada tugas banyak, bantuin dong. Don juan (11.44) meluncur kesana cantik.

Sesampainya di perpustakaan, kusapukan pandanganku ke seluruh ruangan. Di sudut ruangan, kulihat sesosok wanita berhijab tersenyum,
“Sini kak,” panggilnya pelan, takut mengganggu pengunjung yang lain. Aku melangkahkan kaki ke arahnya.
“Ngerjain apa si?” tanyaku balik.
“Ini ada tugas dari bu Ambar, di suruh ngeresume ini nih” kata Intan sambil menunjuk tumpukkan buku yang menggunung di depannya.
Aku, berusaha membantu dia meresume, lebih tepatnya ngrecokin dia dengan candaan dan gurauan, sambil sedikit merayu, dan mukanya merah padam ketika dia tersenyum tersipu.
Aku pegang tangannya, ku genggam, mirip sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Intan tidak menolak, hanya menunduk dan menyembunyikan senyumnya. Sikap inilah yang membuatku ragu. Apakah benar dia seperti yang dikatakan Wawan. ‘Tidak akan pernah tau kalo tidak mencoba’, batinku.
“Teeeett . . . teeeett . . . teeeett . . .” bel sekolah memanggil para siswa untuk masuk ke kelas kembali.
“Kamu masuk sana lho kak,”
“Males ah, habis ini bahasa jepang, ga mudeng, mending di sini aja nemenein kamu” jawabku sambil mencubit hidungnya yang mancung.
saskya larasati jilbabsemok (7)
“Hiih nyebelin” jawabnya sambil manyun.
Setelah jam istirahat selesai anak anak yang berada di perpustakaan kembali ke kelas. hanya tinggal Intan dan sedikit teman kelasnya yang tinggal di perpustakaan menyelesaikan tugas resume dari ibu Ambar.
Dan akhirnya waktu menunjukkkan jam 1.30. bel berbunyi lagi, pertanda siswa untuk pulang.
“Yuk pulang?” ajakku ke Intan.
“Aku nanti ada latihan PBB buat seleksi masuk paskibra kak,”
“Ya kan nanti jam 3, ini masih jam setengah 2 loh.”
“Tapi kan tanggung kak, aku juga ga bawa motor”
“Yaudah aku anterin pulang yuk” kataku sambil menarik tangannya ke parkiran.
“Ga usah deh kak, aku disini aja, kalo kamu mau pulang ya duluan deh, tak kira kamu rela disini demi aku” balas Intan sambil tersenyum manja.
Duhdeeeeeeekk, rasanya mau lumer, ini pertama kalinya Intan menggoda aku.
“Yaudah deh, tak tungguin wis, tak temenin. Tapi nyari tempat yang enak ya buat ngobrol” ajakku untuk berpindah tempat dari perpustakaan sumpek ini.
“Yaudah yuk”
Aku memutuskan mengajak Intan duduk di bangku taman, di belakang sekolah, adem karena persis di bawah pohon rambutan yang rindang. Anak anak sering menyebutnya DPR (dibawah pohon rindang).
Kami duduk bersebelahan, sambil bercanda, tertawa, sambil aku menggenggam tangannya dia menatapku, kali ini berbeda dengan sikapnya tadi yang hanya menunduk malu.
“Aku sayang kamu lho tan”, aku memberanikan diri mengucapkan kalimat tersebut.
“Gombal,” jawabnya singkat
“Serius,” aku meyakinkannya meski hatiku sama sekali tak yakin
“Omonganmu kaya sales, ga iso di percoyo
“hahaha” kami berdua gelak tertawa berbarengan.
Dan setelah itu kami tidak melanjutkan obrolan tersebut. Kami mengobrol yang lain, tapi dengan posisi tangan yang masih tergenggam.
saskya larasati jilbabsemok (8)
Dan di sela obrolan tersebut ada masa jeda dimana kami kehabisan bahan pembicaraan atau kata kata, aku memandang gadis itu dari samping, selagi dia melamun, dan “Cuuupp . . .” kecupan kecil di pipi hanya diresponnya dengan menunduk sambil tersenyum, duh manisnya.
‘Oke lampu hijau’ pikirku. Tapi tidak, tidak disini dan tidak sekarang. Apalagi tidak terasa jam sudah menunjukan setengah tiga lewat. Sebentar lagi anak anak pasti akan datang.
Dan benar, teman teman seangkatanku sudah datang dan gaduh untuk menyiapkan penyeleksian calon paskibra.
“Kamu siap siap deh, udah mau mulai tuh” kataku sambil menunjuk teman temanku yang menyiapkan peralatan untuk acara sore ini.
“Iya kak, aku titip tas ya?”
“Yaudah, sini aku bawain”
Dan latihan pun dimulai, aku sebenarnya jarang ikut ekstrakulikuler semacam ini, bahkan sewaktu kelas 1 aku tidak mendapatkan raport karena absen ekstra kulikulerku kosong, sama sekali tidak pernah datang.
Tapi sore ini aku bela belain di sekolah dan tidak pulang kerumah untuk menemani Intan, targetku, agar rencanaku sukses.
Aku mengamati Intan dari depan kelas, nampak mukanya sedikit lelah, terlihat dari bibirnya, yang biasanya merah merekah kali ini pucat pasi. ‘Mungkin hanya sedikit kecapean’ pikirku.
Akan tetapi perkiraanku salah ketika beberapa saat kemudian Intan ambruk, dan kontan para senior dan pembina melakukan pertolongan pertama, dan untung saja saat itu Intan hanya pingsan.
Aku yang berlari mendekat kearah kerumunan siswa yang lain, ikut membopong Intan ke UKS.
Sampe UKS pak Imam segera membalurkan minyak kayu putih ke pelipis dan melipirkannya di dekat hidung Intan.
“Jon, kamu nungguin Intan ya, ini minyak kayu putihnya, olesin sedikit sedikit sampe dia sadar, bapak mau ngawasin yang lain dulu,” pak Imam guru olahragaku.
Dan beberapa saat setelah pak Imam meninggalkanku sendiri di UKS, Intan mulai siuman.
“Kak. . .” sapa Intan lirih, sambil berusaha untuk bangun.
“Eh, tiduran aja dulu,” sambil aku menahan pundaknya.
“Aku lemes banget,” katanya, dan aku baru ingat kalo tadi sewaktu istirahat dia tidak makan, dan kebiasaanya, dia memang tidak pernah sarapan.
saskya larasati jilbabsemok (9)
“Yaudah, tiduran dulu aja” sembari aku memijat pundaknya.
Aku keluar UKS, menuju warung di depan sekolah membeli sebungkus roti dan air mineral, buru buru aku kembali untuk menjaga Intan. Sampai di UKS aku menyuapinya roti. Dan setelah selesai makan aku menyuruhnya untuk rebahan kembali.
“Makasih kak ya,” katanya sambil sedikit memaksa tersenyum di tengah kelelahannya.
“Iya, sama sama”
Kami terdiam beberapa lama, aku yang dari tadi memegang tangannya sekarang sudah mulai mengelus elus dan menciumi punggung tangannya. Dan Intan hanya tersenyum ketika aku menciumi tangannya.
Tanganku naik ke arah lengannya ketika aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya, tak disangka dia malah memalingkan wajahnya ke arahku, dan “cup. . .” satu kecupan singkat di bibirnya, dan dia hanya tersenyum.
Kulanjutkan kecupanku ke ciuman . ciuman ke lumatan, tanganku yang sedari tadi di lengannya sudah berpindah ke dadanya, menikmati isi dari kantung saku berlambang OSIS, sedang tangan kananku mulai mengelus pahanya.
“Kaaaakkhhhh . . .” Intan merintih di sela sela ciuman yang kuhentikan sebentar,
Tanganku berusaha melepas kancing seragam yang melekat di tubuhnya, Intan hanya menatap sayu, tangannya memegang tanganku, tapi hanya memegang , bukan menahan.
Satu demi satu kancing mulai terlepas , terlihat miniset membungkus payudaranya sebelum BH. Perutnya yang rata, ku elus halus. Intan hanya mendesis, “Ssshhhh . . .”
Kini seragam sekolahnya telah terbuka, kusingkap BH dan minisetnya, ku tarik ke atas, sementara Intan hanya sayu menatap apa yang kulakukan terhadap dirinya.
Menyembulah kedua payudara ranum miliknya, nampak puting yang merah kecoklatan sudah tegang dengan rangsanganku sedari tadi. Kuplintir putingnya, serta ku elus lembut kedua payudaranya
Intan hanya meringis, sambil memejamkan mata.
Kembali ku kecup bibirnya, dan kali ini Intan merespon dengan agresif, serasa ada dorongan atau gairah pada dirinya, yang memberikan tenaga ekstra setelah pingsan.
Kami mulai bermain lidah, Intan memegang kepalaku, menjambak rambutku. Sementara aku mesih sibuk meremas, dan memelintir putingnya. Semakin kencang, dan dengusan nafas Intan semakin menderu.
Ciumanku kulepaskan, sekedar untuk memberikan jeda, tapi itupun tak lama ketika aku menciumi pipinya, dan mulai merangsak menciumi lehernya yang masih terbungkus hijab.
Sedangkan kedua tanganku mulai menurunkan area jelajahnya ke bawah tubuh. Mulai meraba rok panjang abu abunya.
“Kaaaakkkk, jangaaaaan disiniiiihhh . .” katanya merintih sambil mendekap tubuhku.
Aku menatapnya dan dengan mataku seolah aku bertanya ‘kenapa?’
Seolah dia mengerti dan menjawab, “Aku takuut kakk”
Tak kujawab langsung, dan hanya kubalas dengan ciuman, seolah menenangkan hatinya yang masih ragu.
saskya larasati jilbabsemok (10)
Dan tangan kupun bergerilya ke bawah pinggulnya, mencari resleting, kubuka . dan “sreeeeeetttt,” Kupelorotkan sedikit roknya sebatas lutut.
Lalu jemariku naik merambat melalui pahanya. Dekapan Intan semakin erat, menandakan dia semakin terangsang dengan keadaan ini.
Sampai di gundukan halus celana dalamnya, aku menyusuri belahan vaginanya, dan lembab ! ku gesek gesekan jariku ke celana dalamnya tepat di belahan vaginanya, semkain ku tekan dan dia semakin gelisah, aku yang masih menciumnya mencoba meredam erangan yang tertahan dari mulutnya, sementara tanganku yang satu menyelesaikan tugasnya dengan mengeksplore bagian payudara gadis ini.
Dan its show time, aku memeloorotkan celana dalamnya, sampai kelutut, sebatas rok yang tadi kupelorotkan ,
Tanganku yang kanan mencoba meraba vaginanya, halus dan kurasakan sedikit rambut yang tumbuh.
Ciumanku turun keleher dan bersinggah di payudaranya, sementara tangan kiriku, berusaha membuka sabuk dan celanaku yang masih lengkap.
Intan memelukku seakan ingin mengatakan ‘hisap susuku lebih dalam’.
Celanaku yang sudah terlepas jatuh ke lantai, juga dengan celana dalamku.
Penisku yang sudah tegang ku elus dengan kiriku. Kagok ! Aku tidak biasa beronani dengan tangan kiri.
Melihat kekikukanku Intan mengerti,dan mencoba meraih penisku, dan hap, aku sedikit kaget, lalu Intan mulai mengelusnya pelan kemudian mengocoknya.
“Duh deeeeeekkkkk . . .” erangku menikmati perbuatan dosa ini.
Aku pun tak mau kalah, aku tidak hanya menekan dan menggosok vaginanya, tapi juga mulai mencoloknya, kami berdua sudah terbang ke langit dengan tangan masing masing pasangan.
“kriiiieeeeekkkk” pintu UKS terbuka. Dan itu cukup mengagetkan kami berdua, sehingga kami serempak melihat ke arah pintu. Tidak ada siapa siapa.
Aku dengan ragu mendekat ke arah pintu, menyembunyikan tubuhku yang setengah telanjang sambil melongok keluar jika tiba tiba ada yang mengintip atau mendekat. Dan hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada orang.
Aku buru buru mengunci pintu UKS, Intan menatapku dengan penuh tanya, aku hanya tersenyum pertanda aman. Dan Intan membalas senyumku. Aku buru buru naik ke tempat tidur dimana Intan berbaring, aku mengambil posisi setengah berdiri di tengah paha Intan, meneruskan foreplay yang sempat terpotong.
Dan ini inti pengorbananku yang selama ini kulakukan ke Intan, ‘ga ono mulyo tanpo rekoso,’ kata orang dulu.
Aku mengarahkan penisku ke lubang vagina Intan, sengaja kuplesetkan untuk percobaan pertama, dan untuk yang kedua, kugesek gesekan dulu batang kemaluanku ke vaginanya untuk beberapa lama.
Cairan di vaginanya mulai membasahi, lebih tepatnya membanjiri.
“Pegangin dong sayang, aku ga tau” tanpa diduga dengan cekatan, Intan langsung menangkap penisku dan mengarahkannya ke dalam vaginanya.
saskya larasati jilbabsemok (11)
Sedikit demi sedikit, penisku mulai masuk pelan ke liang senggamanya. Intan sedikit menganga sambil melihat kedua alat kelamian kami menyatu. Sementara aku pura pura memejamkan mata dan mendongak keatas, mencoba menikmati setiap mili rongga vagina Intan.
“Blesshh. . . .” aku mendiamkan penisku sejenak menikmati denyutan rahim Intan.
Serasa dipijit, aku semakin lama semakin geli, tidak tahan untuk memulai apa yang aku idam idamkan selama ini.
Aku yang masih memegangi pahanya mengelus elus paha bagian dalam, sangat mulus, sedikit kontras dengan pahaku yang ditumbuhi rambut.
Tanganku merayap keatas, melewati sedikit jembut yang rapi dicukur, atau bahkan sengaja dibentuk seperti segitiga terbalik.
Terus mengelus keatas, ke perutnya yang rata, tidak kurus juga tidak cembung, membuncit. Rata , ya rata. Mungkin bila Intan rela menanggalkan hijabnya, dan rela untuk di foto ‘berani’, aku yakin jika Intan akan menjadi model top. Mengingat sempurnanya, tubuhnya, tanpa cacat, dipadu dengan wajahnya yang manis, kurang sempurna apa makhluk hawa satu ini. Sempurna .
Sampai tanganku di kedua payudaranya, spontan aku mulai memainkannya seperti anak kecil menemukan sesuatu yang baru dikenalnya lalu di mainkannya dengan asyik.
Putih, padat, kenyal. Tak tahan hanya dengan meremas, aku membungkukkan badanku, mulai menjilat dari perut, kusapukan lidahku ke seluruh permukaan kulit perut Intan, lalu naik menuju payudaranya, wangi parfum bercampur dengan bau khas keringat wanita abg yang habis latihan baris berbaris, menambah gelora birahi ku untuk menyetubuhinya.
Kujilati kedua payudaranya secara bergantian, sesekali ku kulum puting merah kecoklatan milik Intan, sambil menggigit gigit kecil putingnya, “Aaahhwww . . . aaahhwww . . .” rintih Intan.
Aku menyudahi adegan jilat menjilat, penisku yang sudah masuk ke vagina Intan belum sama sekali kugenjot, sengaja kudiamkan agak lama, agar moment moment seperti ini terekam dalam memory setiap detiknya.
Aku mengangkat sedikit tubuhku, melihat sekali lagi tubuh yang sedang aku gagahi. Gadis abg, yang masih memakai hijabnya menatapku sayu dan pasrah, dengan seragam sekolah menempel, hanya terbuka seluruh kancingnya, bh dan miniset yang tersingkap di atas dadanya. Dibawahnya rok panjang yang telah melorot sampai betis, diatasnya terdapat celana dalam putih polos. Dan aku sedang berada di antara kedua pahanya, penisku telah masuk dan membelah belahan vaginanya.
Perlahan aku mulai memaju mundurkan penisku dalam vaginanya, pelan, tangannya mulai memegang tanganku, dan pahanya mulai dirapatkan.
Intan meringis sambil menatap pasrah dengan apa yang aku lakukan.
“Ga apa apa sayang?” tanyaku di sela sela genjotan.
Intan hanya mengangguk pelan, pertanda aku boleh mulai meneruskan aktifitasku, vaginanya terasa sangat rapat, sempit.
Aku menaikkan rpm sedikit demi sedikit, merojok vaginanya, matanya yang terpejam dan dia menggigit bibir bawahnya menambahkan kesan bitchy pada diri seorang Intan.
Tak tahan aku mencium bibirnya, Intan sedikit kaget tapi hanya sebentar sebelum Intan membalasnya dengan lumatan yang tak kalah dahsyat.
Aku terus memaju mundurkan pantatku, kaki Intan, seperti gelisah , seperti ingin melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Ternyata dia ingin melepaskan rok terusan abu abu dan celana dalamnya yang masih tersangkut di sepatunya.
Aku yang mengetahui itu langsung mendorong dengan kaki, membantu melepaskan rok tersebut. Tidak sulit sebelum rok dan celana dalam Intan jatuh ke lantai.
Setelah itu, baru Intan leluasa, ikut meliuk liukan tubuhnya yang sedang aku jajah. Terlihat dari liukannya ke kiri dan ke kanan membantuku mengaduk isi vaginanya, juga sambutan sambutan dari pinggulnya ketika aku menusuk lebih dalam, maka Intan menyambutnya dengan mengangkat pantatnya lebih tinggi. Sehingga timbul suara paha yang beradu.
Sedang tak mau kalah, tangan kiriku, melihat kesempatan untuk hinggap di susu putih Intan. Tak menunggu lama payudara kenyal itu menjadi obyek elusan, remasan, dan beberapa kali puting Intan juga kuplintir.
Aku masih berciuman, entah berapa banyak kami sudah bertukar ludah. Teriakan teriakan dari anak anak yang berlatih paskibra, menambah adrenalin kami, bisa saja sewaktu waktu anak anak tersebut datan kemari, menjenguk Intan.
saskya larasati jilbabsemok (12)
Akan tetapi adrenalin dan rasa cemas itulah yang semakin membuat aku semakin bernafsu.
Paha Intan sudah berada diatas pinggangku, menjepit badanku. Tusukan tusukanku serasa semakin dalam. Intan juga lebih leluasa bergoyang. Aku sudah berada dalam dekapan Intan, sebelum dekapan itu semakin kencang, dan jemari Intan mencakar punggungku, bibir ku semakin di lumat oleh Intan. Sodokanku disambut dengan jepitan paha yang kuat serta pantat mulus Intan mengangkat dengan tinggi.
“Kaaaaaaakkkhhhh, . . . . . sssshhhhhh”
Aku mengatur tempo lagi pelan, sebenarnya aku juga sudah ingin orgasme, kubuang pikiran itu jauh jauh, kumaju mundurkan pelan pinggulku.
“Sleph. . . sleph. . . sleph. . .” vagina Intan yang semakin becek dan licin membuat penisku lebih gampang menerobos masuk.
Intan,yang tadi sempet orgasme dan kelelahan, kini kembali dengan goyangannya.
“Aahhh. . aahhh. . aahhh. .” Intan berdesah.
“Duh deeeekkk a.aku meh metu, ke.keluarin dimana?” aku bertanya sambil menahan nikmat, sementara penis msemakin berkedut dengan keras.
Tapi Intan tak memberikan jawaban
“Keluarin di dalem ya?” tanyaku sekali lagi, dan kali Intan hanya menggeleng sedikit, pasrah, tanpa berucap satu katapun.
Aku bimbang, terus mempercepaat kocokanku. “hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . .” Intan menahan desahan dan rintihannya takut terdengar sampai luar.
Dan “heeekk heeekk heeekkk” spermaku keluar di rahim Intan, Intan hanya bisa melihatku dengan sayu dan pasrah.
Dia menatapku, aku memberikan senyuman kepuasan dan Intan dengan senyuman kebahagiaan.

RAISYA

Namaku Raisya. Usiaku kini 26 tahun, sudah bekerja di salah satu bank swasta yang ternama tapi belum siap untuk berkeluarga. Sekarang aku akan berbagi cerita pengalamanku 7 tahun lalu ketika aku masih kuliah dan tinggal di rumah kakak perempuanku dimana aku mulai pertama kali merasakan kenikmatan dunia yang selama ini aku simpan sebagai rahasia pribadi.
Menurut banyak teman-teman priaku, wajahku sangat cantik,
dan sangat merangsang, namun dalam sehari-hari aku selalu memakai jilbab lengkap dengan celana daleman. Demkian juga pendapat mereka bentuk tubuhku.Dengan tinggi badan 168cm dan berat 57kg, Aku tahu walaupun berjilbab seperti ini, diriku selalu mengundang tatapan napsu setiap lelaki. aku tau dari gerakan mata mereka biasanya setelah melihat wajahku dia akan turun melihat dadaku dan s*****kanganku, aku sering risih kalau dipandangi. walau aku menundukkan pandangan tapi aku bisa melirik arah geraj bola mata mereka.

Aku menyadari betul bahwa bagian tubuhku yang paling menarik perhatian kaum pria adalah buah dadaku yang berukuran 34B dan pantatku yang besar dan membulat. Pada masa itu kendati aku selalu menjadi pusat perhatian kaum lelaki, sampai usiaku 25 tahun aku belum pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan lelaki. Buah dadaku yang bulat, kenyal dan kencang belum pernah dijamah lelaki. Demikian pula
kemaluanku yang berbulu tipis belum pernah juga merasakan dahsyatnya hunjaman kemaluan lelaki yang katanya bisa membuat kaum wanita merintih-rintih dan menggelinjang karena rasa nikmat yang luar biasa. Jangankan di masuki kemaluan,diraba saja oleh lelaki atau dikutik dan dijilatnya sedikit ujung biji kelentitku akupun belum pernah merasakannya.

Oh ya, ada satu hal lagi yang katanya membuatku terlihat sangat sexy, yaitu bulu
lengan tanganku yang tipis-tipis menambah gairah yang melihatnya. Kata orang bulu itu pertanda wanita hangat
yang pantang menyerah ditempat tidur. Kerapkali terlihat jika aku mengenakan gaun yang lengannya agak lonngar dan lupa memakai manset (karet perg*****an tangan). Sebagai wanita normal, pada usia sedemikian matang tentu saja kadang-kadang timbul gejolak birahi yang menggebu-gebu untuk mereguk kenikmatan cinta bersama lelaki yang kusukai.

Sayangnya, lingkungan tempat tinggalku dulu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah kurang memungkinkan bagiku untuk bergaul agak bebas dengan lelaki. Aku tinggal bersama sepupu perempuanku yang sudah bersuami sekitar 3 tahun namun belum mempunyai seorang anakpun. Saat itu aku masih kuliah disalah satu perguruan tinggi dikota itu. Orang tuaku di Jakarta menitipkan diriku pada kakak sepeupuku ini
untuk dibimbing sambil membantu-bantu kesibukannya dirumah. Kami tinggal di sebuah rumah tua yang cukup besar dan memiliki halaman luas serta kebun yang luas juga.

Suatu hari, seperti biasanya aku pulang menj***** sore. Setelah mandi dan makan malam, aku segera beranjak kekamar untuk tidur karena sangat mengantuk. Dengan cepatnya aku terlelap tanpa sadar bahwa aku belum lagi berganti pakaian. Tengah malam aku terbangun karena kegerahan, dan seperti biasa akupun menanggalkan pakaianku hingga tinggal memakai kutang dan celana dalam saja (setiap hari aku memang sudah biasa tidur dalam keadaan setengah telanjang). Saat akan membaringkan tubuhku kembali, samar-samar aku mendengar suara-suara aneh dari arah kamar kakakku. Sepertinya ada suara orang mendesah-desah dan merintih.
Karena ingin tahu, aku segera mengendap-endap menuju kamar kakakku yang hanya dibatasi oleh sehelai gorden tipis.

Kupasang telingaku baik-baik dan kutajamkan mataku untuk menembus kegelapan kamar kakakku. Kini jelas terdengar desahan dan rintihan kakakku:
“Aaaaah….. haduuuuuh….sedaap, maassss! Truus..teruuus… lagiiii…masss!!!!
Ooohhhh…. nikmatnya….hsss…hsss hs..ssss..mmm,…tekan dikit lagi maasss !!!”
Kulihat dengan jelas tubuh kakakku yang hanya dililit sehelai kutang hitam sedang ditindih oleh suaminya. Keduanya nampak sudah basah kuyup oleh keringat.

Tiba-tiba kulihat suami kakakku menggenjotkan pantatnya dengan lebih keras dan cepat. Tubuh kakakku nampak gegemetaran menahan hunjaman kemaluan suaminya. Aku dapat melihat jelas batang kemaluan kakak iparku itu begitu besar dan panjang masuk habis kedalam kemaluan isterinya, kemudian ditariknya keatas, masuk lagi kedalam, tarik lagi, masuk lagi, layaknya iparku sedang memompa kemaluan kakaku,
dan aku lihat dengan jelas betapa bibir kemaluan kakak perempuanku begitu penuh dimasuki tongkat dahsyat itu hingga tertarik menyembul keatas dan mengempis melesak kedalam mengikuti irama gerakan keluar masuk batang besar suaminya.
Seluruh vagina kakak perempuanku terlihat olehku begitu penuh menggelembung keatas saking besarnya barang suaminya. “Hiiiiiiii… gimana ya itu rasanya?”
pikirku. Dan sampai suatu saat terdengar lagi olehku ia merintih lagi dalam puncak kenikmatan: “Aaaaah, maaas…… aku…aku tak tahan lagi maaaas, aku..aku….aaaaaaaAAHHHhh!!!!!”

Seketika tersirap darahku. Badanku gemetar, gairahku mulai bergelora menelusuri seluruh tubuhku. Kutangku terasa sesak, puting susuku jadi keras dan biji kelentitku terasa geli-geli gatal seperti ada sesuatu yang menggelitik ujungnya,disebabkan oleh pemandangan dan suara rintihan yang kudengar itu. Tambahan lagi sejenak kemudian aku lihat tubuh kakakku yang putih itu menggeliat kekiri
kekanan sambil memeluk erat tubuh suaminya, kemudian iapun terkulai dengan tubuh lemas mandi keringat !

Terus terang, napsu birahiku ikut bergolak menyaksikan adegan yang demikian mendebarkan. Itulah untuk pertama kalinya aku menyaksikan alat kejantanan seorang lelaki yang memberikan kenikmatan bersetubuh luar biasa kepada pasangannya.

Aku berdebar melihat betapa kemaluan suami kakakku yang amat besar, panjang dan keras itu menghunjam dengan kuatnya turun naik kedalam kemaluan kakakku. Tidak tangung-tanggung, ukuran kemaluan kakak iparku itu aku perkirakan sebesar lenganku dan panjangnya, waduuuh, lebih dua kali dari lebar telapak tangan isterinya ketika si isteri mengelus dan memegang tongkat dahsyat kesayangannya
itu. Tiba-tiba akupun ingin merasakan nikmatnya persetubuhan seperti itu.! Tanpa terasa, sekujur tubuhku terasa lemas dan berkeringat sehingga kutangku yang ketat terasa bertambah sesak serta celana dalamku menjadi basah semua. Akupun kembali ketempat tidur dengan perasaan tidak keruan. Sambil telentang aku membayangkan diriku sedang disetubuhi oleh iparku, suami kakakku.

Diam-diam tangan kananku meraba-raba kemaluanku sendiri, dan tangan kiriku memelorotkan tali kutangku untuk memilin-milin puting buah dadaku. Rasanya sungguh nikmat. Puting susuku mulai mengeras dan buah dadaku semakin terasa menekan behaku sehingga terasa bertambah ketat membelit dadaku. Demikian pula kemaluanku mulai terasa basah mengeluarkan cairan kenikmatan (happy oil). Aku
mulai merintih dan mendesah perlahan. Karena perasaan geli dan nikmat semakin dahsyat, tanpa kusadari aku merintih-rintih semakin keras.
“Aaah…aahhkkhhh….duuuuhhhh,..ssssshhh..mmm..nik matnya…!!” aku merintih sendirian.

Tiba-tiba timbul rasa geli dan nikmat yang sangat luar biasa, sehingga tubuhku mengejang dan bergelojotan:
“HssssS…Haduuuhhh ….hs..hs..hsss..hhmmmm….AAHHH!!!!!!”
Cairan hangat menyembur dari kemaluanku, dan akupun terkulai lemas dan tertidur kembali dengan nyenyak.

ditengah malam aku terbangun, terasa berat seperti ada yang menindihku, ah… ternyata aku lupa mengunci pintu kamar sehingga kakakku iparku telah masuk dan sekarang sedang menciumiku mmh.. mmmh.. bibirku dilumatnya sambil buah dadaku yang kenyal di remas remas oleh tangannya yang kekar.. oh jangan mas….aoh..” Dadamu ini sangat indah sekali, aku telah bermain banyak wanita, tetapi tidak ada yang sesempurna dirimu, Ra. U r perfect.” bisiknya sambil tersenyum. aku baru tau kalau kakaku iparku ternyata suka main perempuan.

“jangan mas, jangan perkosa saya … Plzzzz…., aku masih perawan.. ” Kataku dengan memelas.
“Tenang ja Ra, kamu akan merasakan enaknya.. Kamu harus tenang, dan menikmatinya supaya kamu merasa enak , Ok ?”

Saya mulai menangis, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa, karena aku juga tidak kuat melawan tenaga kakak iparku. Walaupun aku tau kakak perempuanku selalu bangunnya kesiangan tapi jika aku teriak maka kakakku akan bangun dan aku tidak ingin merusak rumah tangga kakakku. oh..gimana ini.. aku dalam kebimbangan…

Kali ini dengan kecepatan luar biasa, dia sudah mengulum putingku yang berwarna merah muda itu. Dengan lahap, dan tidak penuh nafsu dia menjilatnya dengan pelan.Dan kadang dia juga menggigitnya kecil.

Saya yang belum pernah melakukan ML, malah terasa sangat nikmat. Dia menghisap puting kananku sambil jarinya memilin puting kiri. Saya seakan sedang berada di awang awang. D
Dengan sangat lembut, dia mengganti puting susu ku yang dijilat dan dihisapnya.

Tetapi saya telah tersadar, langsung berontak.Dan menamparnya beberapa kali, saya bilang “jangan mas, atau saya teriak!” walaupun aku masih dalam kebimbangan tetapi apa salahnya mencoba untuk melawan. Namun anehnya dia tidak marah. Malah kembali dia dekap aku dan mencium bibirku dengan sangat mesra. Ciuman seperti ini tidak pernah kurasakan, bahkan pacar pertamaku semenjak SMA tidak pernah menciumku begitu lembut. Tanpa terasa saya mulai menikmati dan mulai membalas ciumannya.Sekitar 5 menit dia menciumku,
Ciuman dari bibirnya kemudian turun ke perut, sesekali dia menjilati perut, pusar, sehingga membuatku gelincang geli. Terakhir turun ke pangkal pahaku.Dengan lembut dia mencium, menjilat dan mencari sesuatu disana. Dan setelah ketemu Beny menjilati dengan perlahan dan penuh perasaan. Sesekali dia menghisapnya. Pada saat itu seakan akan saya telah kehilangan kesadaran, otakku juga tidak bekerja lagi semestinya.Saya merasa sangat enak dan nyaman.

Setelah itu Kakak iparku Bangkit kembali.Tiba tiba saya merasakan ada sesuatu yang hangat dan tumpul telah bersentuhan dengan vaginaku.
Dan tanpa ancang ancang telah ditekan dengan lembut. Pertama tama seakan mental.
Dan kemudian diulanginya beberapa kali sambil berkata, “Ra, kuatkan dirimu yah.”
Dengan kekuatan agak keras dia menghujamnya. Dan akhirnya masuk juga sekitar 1/2 dari kemaluan Kakak iparku. Lantas saya berteriak tertahan, ” ah..Sakitt…. AWh….

Aduuhh,.. sakitttttttt…..” setengah berbisik takut kedengaran kakak perempuanku.

Dengan cepat dia menciumku lembut dan mulai menggoyangnya secara perlahan selama 2 menit. Dikeluarkan dan dimasukkannya batang kemaluannya dengan gerakan dan tempo yang sangat pelan. Lama kelamaan kemaluan ku terasa sudah basah.Kemaluannya sudah terbiasa dengan rapatnya vagina ku.
Dia terus menggenjot, kali ini kecepatannya sudah mulai naik.
Saya yang sedang berbaring kemudian melihat batang kemaluannya yang mulai keluar masuk dengan bebas. Besar juga pikirku, mungkin sekitar 20 cm.

” Ahh… Ahh… Ahh.. ” Desahku, seakan sedang menikmati seks, padahal saya sedang diperkosa oleh kakak iparku sendiri. Saya sendiri juga tidak tahu perasaan semacam begini.

“Sekarang sudah lumayan enak kan Ra? ” Katanya sambil tersenyum.

Tanpa sadar saya juga mengangguk, dan mulai mengikuti iramanya, pinggulku tanpa sengaja naik turun mengikuti irama goyangannya.

Sekitar 15 menit dia memompa kemaluanku. Walau terasa perih namun tidak kupedulikan karena rasa enaknya mengalahkan rasa sakit di pangkal paha ku.Dan kulihat kembali ternyata sudah keluar sedikit bercak darah dari kemaluanku.

Kemudian seakan akan ada sesuatu yang keluar dari diriku,Dan saya berteriak,” tetapi cepat-cepat dia sumpal mulut saya dengan bibirnya dan saya juga menahan teriakan saya sambil meremas kain sprei kuat-kuat…
Oohh…..” Ternyata saya orgasme.

” Wah, ternyata kamu benar masih perawan yah Ra.Maaf ya Ra, tapi tenang saja , kita lanjutin lagi kapan-kapan sayang…?” Kata Kakak iparku..