BU ENDAR

Akhwat cantik berjilbab,kadang justru membuat penasaran dan punya daya tarik tersendiri.Apalagi jika bertubuh montok,kadang tercetak jelas di balik kain jilbabnya.Ia cenderung alim, namun di balik semua itu ia tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan di manapun.
Bu Endar Faizah, ibu guru cantik sensual yang berjilbab, adalah guru bahasa inggris di sebuah SMU di xxxx Penampilannya yang anggun, dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang, mengenakan kerudung cantik, semakin menambah keanggunannya.
Sungguh anggun sosok akhwat berjilbab ini. Bu Endar berkulit kuning langsat bertampang Jawa, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit putih bersih, tinggi badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan dibalut jilbab yang sangat menawan hati.
Di balik baju muslimnya..,tercetak tonjolan teteknya yang montok, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang montok padat.Wow…indahnya….Walau berjilbab, saat berjalan kain panjangnya tertiup angin …menampakkan cetakan tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya..walau tertutup gamis panjang dan jilbab yang rapat, langkahnya terlihat sangat seksi dan gemulai.

ibu-ibu stw montok (1)

Pembawaan Bu Endar dengan jilbabnya terlihat sangat kalem dan malu-malu. Hal ini rupanya menarik perhatian Pak Imam, sang kepala sekolah. Pak Imam sangat terkesan dengan penampilan Bu Endar, karena Bu Endar yang berumur 28 tahun, adalah seorang gadis yang sangat cantik,berjilbab anggun, alim dan sopan.
Sebagai akhwat berjilbab yang sopan dan alim Bu Endar agak risih juga terhadap Pak Imam, karena setiap kali Pak Imam lewat depan ruangannya, Pak Imam selalu melirik dan melempar senyum kepada Bu Endar. Kalau kebetulan Bu Endar tidak melihat keluar, maka Pak Imam akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Bu Endar akan terpancing untuk melihat keluar. Agak ngeri juga melihat tampang Pak Imam yang berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Bu Endar telah mempunyai pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak terlalu tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Bu Endar.

Di sekolah tempat Bu Endar mengajar, setiap jam pulang sekolah, yaitu jam 13 para karyawan termasuk para guru dan staff pulang semuanya, kecuali guru yang akan mengajar ekstra kurikuler.
Hari itu hari Kamis,Bu Endar dapat jatah mengajar ekstra kurikuler, hingga ia harus menunggu dari jam 13 sampai jam 14.30. Dengan jilbab kerudung warna biru tua ,mengenakan baju panjang terusan berbahan kain halus yang jatuh, berwarna merah muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut,ia kelihatan teramat cantik dan manis, apalagi kulitnya yang putih kuning bersih.
Karena memang sudah jam pulang, suasana di lantai 2 sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift. Untuk menghilangkan lelah setelah sejak pagi mengajar,Bu Endar istirahat sambil makan makanan yang dibawanya dari rumah.

Tiba-tiba Pak Imam melintas di depan ruangan dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Pak Imam memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Pak Imam kembali menuju ke ruangan Bu Endar . Secara perlahan-lahan Pak Imam mendekati ruangan Bu Endar, dan mengintip ke dalam. Bu guru berjilbab itu sedang berdandan membetulkan kerudungnya, merapikan gamis panjangnya yang mewah, menghadap ke cermin yang memang disediakan di ruangannya.
Mendengar suara pintu terkunci Bu Endar menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. berbalik sambil berkata, “Pak, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?”, tapi Pak Imam hanya memandang Bu Endar dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Bu Endar semakin panik dan berkata, “Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!”.

ibu-ibu stw montok (2)

Tapi dengan kalem Pak Imam berkata, “silakan saja nona manis.., apabila kamu mau bikin skandal dan setiap orang di sekolah ini akan menggosipkan kamu selama-lamanya”.
Mendengar itu Bu Endar yang pada dasarnya pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal. Kala akhwat cantik berjilbab itu berada dalam keraguan, dengan cepat Pak Imam berjalan medekat ke arah Bu Endar. Karena ruangan kerja yang sempit , begitu dirinya mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Apalagi dengan gamis panjangnya yang melilit tubuhnya, ia tak bisa bebas bergerak.
Dengan cepat kedua tangan Pak Imam yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Bu Guru berjilbab yang montok itu dan mendekapkan ke tubuhnya. Dalam sekejap badan bu Endar yang sangat halus dan ranum, telah sepenuhnya berada dalam pelukan lelaki tua itu.

Imam memegang kedua lengan bagian atas Bu Endar dekat bahu, sambil mendorong badan Bu guru berjilbab itu hingga tersandar pada meja, Pak Imam mengangkat badan Bu Endar dan mendudukkannya di atas meja kerja Bu Endar yang penuh buku-buku bahasa inggris itu. Kedua tangan Endar diletakan di belakang badan dan dipegang dengan tangan kirinya.
Dengan beringas Pak Imam menciEndar wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu. Nampak Imam seperti anjing kelaparan menyosor-nyosor wajah ayu Bu Endar, sementara akhwat cantik berjilbab itu hanya bisa meronta-ronta.

Tangan kanan Pak Imam tiba-tiba turun kebagian bawah tubuh Bu Endar dan meraih ujung kain panjang di bagian bawah, sejurus kemudian diangkatnya baju panjang itu tinggi-tinggi hingga tersingkaplah apa yang selama ini tersembunyi. Pak Imam berhasil menyaksikan akhwat itu dari ujung kaki, betis, sampai pangkal paha. Lalu tangannya meremas-remas bokong kenyal akhwat ayu itu.
Badan Pak Imam dirapatkan diantara kedua kaki Bu Endar yang tergantung di tepi meja dan paha Pak Imam yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Bu Endar terbuka. Ia sengaja tidak melepas gamis dan kerudung akhwat ayu itu. Ia ingin menyetubuhi akhwat itu dengan membiarkan gamis dan jilbabnya tetap terpakai. Ia merasakan sensasi yang luar biasa bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.
Tangan kiri Pak Imam yang memegang kedua tangan akhwat berjilbab itu di belakang badan Bu Endar dan ditekankan pada pantat ke depan, sehingga badan akhwat berjilbab yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Bu Endar melekat rapat pada paha sebelah kiri Pak Imam yang berdiri menyamping.

Tangan kanan Pak Imam yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju panjang terusan yang dikenakan Bu Endar sementara Bu Endar hanya bisa menggeliat-geliat.
“Jangan…,AAAAAAAAAAAHHHHH… jangan lakukan itu!, stoooppp…, stoopppp”, akan tetapi Pak Imam tetap melanjutkan aksinya itu.
Sebentar saja baju bagian depan Bu Endar telah terbuka sampai sebatas perut, sehingga kelihatan teteknya yang montok itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Tetek yang kuning dan kenyal itu seolah ingin lepas dari BH nya.Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat merangsang. Dengan lincah tangan kanan Pak Imam bergerak ke belakang badan Bu Endar dan membuka pengait BH . Kemudian Pak Imam menarik ke atas BH Nu Endar hingga terpampang kedua tetek Bu Endar Faizah yang montok sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda mencuat naik turun dengan cepat karena nafas yang tidak teratur.

ibu-ibu stw montok (3)
“Oooohh…, OOOOOOUUUUGGHHHH….ooohh…, jaanggaannn…, jaannnggaann!”.
Erangan akhwat cantik berjilbab itu tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah Imam menyingkapkan kerudungnya hingga terlihat kupingnya mulut Pak Imam mulai menciEndar belakang telinga Bu Endar dan lidahnya bermain-main di dalam kuping bu guru berjilbab itu. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan perempuan berjilbab itu menggeliat-geliat hingga tanpa terasa Endar Faizah mulai terangsang oleh permainan Pak Imam ini.

Mulut Pak Imam berpindah dan melumat bibir Bu Endar dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut dan menggelitik-gelitik lidah Bu Endar.
“aahh…,AAAAAGGHHHHHH….UUHHH……AAAAAAAAAHHHHHHHHHH……UOUUUUUEHHMMM hmm…, hhmm”, terdengar suara mengguman dari mulut Bu Endar yang tersumbat oleh mulut Pak Imam.
Badan Bu Endar yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Pak Imam sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu turun ke leher, kepala Bu Endar tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Pak Imam, teteknya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki tua tersebut.
Pak Imam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah tetek Bu Endar mulutnya menciEndar dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya tetek yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Pak Imam. Tetek yang kenyal itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Pak Imam yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting hingga tetek Endar segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak nafas akhwat alim ini menerima permainan Pak Imam yang lihai itu. Badan nya terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,
“Sssshh…, ssssshh..SSSSSHHHHHHHH……OOOOOHHHHH…AAUUUHH…, aahh…, aahh…, ssshh…, sssshh…, jangaann…, diiteeruussiinn”,

Mulut Pak Imam terus berpindah-pindah dari tetek yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting tetek akhwat itu secara bergantian selama kurang lebih lima menit. Bu Endar Faizah guru cantik berjilbab itu kini benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badannya tersentak, karena dia merasakan tangan Pak Imam mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju gamis panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Bu Endar mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Pak Imam, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan adalah hanya mengerang,
“Jaanngaannnn…, jaannngggannn…, diitteeerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.
Melihat kondisi seperti itu, Pak Imam yang telah berpengalaman, yakin bahwa akhwat ayu berjilbab ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Pak Imam makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha mulus akhwat itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas. Tiba-tiba jarinya menyentuh bibir memek Bu Endar.
Segera badan akhwat itu tersentak , “aahh…, jaannggaan!”
Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Pak Imam yang mengelus-elus bibir memek Bu Endar yang tertutup celana dalam, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Pak Imam menarik celana dalam itu dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Bu Guru berjilbab itu. Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjang yang kian kusut itu.

Bu Endar Faizah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Pak Imam ini. Sekarang dirinya dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai celana dalam dan kedua teteknya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka nya yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.Imam benar-benar semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati memeknya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.
Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan memek akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Melihat ekspresi muka akhwat cantik yang masih memakai jilbab duduk mengangkang,kain gamisnya terangkat tinggi dan telah telanjang di tubuh bagian bawah ini.. yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Pak. Imam melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 13.30, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Pak. Imam sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.

Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Pak Imam, dengan tetap mengunci kedua tangan Bu Endar, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan celana dalam-nya. Pada saat celana dalam-nya terlepas, maka kontol Pak Imam yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Pak Imam agak merenggangkan badannya, hingga terlihat oleh Bu Endar kontol yang sedang mengangguk-angguk itu, badan akhwat berjilbab itu tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki Tua itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar…., sangat panjang…, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti jamur. Tak terasa dari mulut Bu guru berjilbab itu terdengar jeritan tertahan, “Iiihh”, disertai badannya yang merinding.

ibu-ibu stw montok (5)
Dia belum pernah melihat kontol sebesar itu. Bu Endar merasa ngeri. “Bisa jebol memekku dimasuki kontolnya”, gumannya dalam hati. Namun ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Pak Imam menatap muka cantik yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, “Kau Cantik sekali Endar…gumam Pak Imam mengagEndar kecantikan akhwat itu.

Kemudian dengan lembut Pak Imam menarik tubuh yang cantik itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Pak Imam berdiri menghadap langsung ke arah Bu Endar dan karena yakin bahwa Endar telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan akhwat cantik ini, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki bu Endar, bahkan dengan gemas ia merentangkan kedua belah paha lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan akhwat berjilbab itu Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Bu Endar tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Pak Imam yang besar, Bu Endar sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang menggila, apalagi melihat tubuh Pak Imam yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang di tumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.
Gejolak birahi kedua manusia itu semakin membara…Imam semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati tubuhnya .Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan baju panjang muslimnya. Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Sambil memegang kedua paha Bu Endar dan merentangkannya lebar-lebar, Pak Imam membenamkan kepalanya di antara kedua paha Endar. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar memek yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Bu Endar hanya bisa memejamkan mata,
“Ooohh..OOOOHHHH…., nikmatnya…,AAAUUUGGHHHH…AAAAAAAAAAAAAAAHHHH… ooohh!”, ia menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Ooooohh..AAAAAAAAAAA ….HHHH…OOOHH…OOWWWW…, hhmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.
“Paakkk…, aku tak tahan lagi…!”, Bu Endar memelas sambil menggigit bibir.
Bu Endar Faizah….guru bahasa anggris yang cantik berjilbab itu….. tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi,perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang Tua yang kasar itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Pak Imam yang telah bepengalaman itu.
Namun rupanya lelaki Tua itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Bu Endar sudah mulai merespon atas cumbuannya itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Bu Endar kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua tetek dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Pak Imam ini, Bu Endar benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. “Paakkk…, aakkhh…AAAAAAAAAKKKKHHHH….EENNNAAAAAAKK…..ENAAAAKKK…..TERUUUUUUUUUSSSSSSSSS…TERUUUUUUSS………, aakkkhh!”, akhwat ayu berjilbab itu mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Pak Imam untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Pak Imam keras-keras. Kini ia tak peduli lagi akan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki Tua itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Akhwat ayu berjilbab…yang lemah lembut ini… benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki Tua yang dapat membangkitkan gairahnya.

Imam makin gemas menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini menggeliat-geliat menahan nikmat.Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda.Ya…Bu Endar Faizah benar-benar berada dalam Birahi yang membakar sukmanya.
Tiba-tiba Pak Imam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Bu Endar yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya akhwat cantik itu dari atas meja dan kemudian Pak Imam gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Bu Endar ke bawah, sehingga sekarang posisi akhwat berjilbab itu berjongkok di antara kedua kaki berbulu Pak Imam dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Bu Endar Faizah…tahu apa yang diingini lelaki itu..tanpa sempat berpikir lagi, tangan Pak Imam meraih belakang kepala Endar dan dibawa mendekati kontol Pak Imam, yang sungguh luar biasa itu. kepala kontol Pak Imam telah terjepit di antara kedua bibir mungil BU Endar…., dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Bu Endar Faizah mulai mengulum alat vital Pak Imam ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki Tua itu melek merem keenakan. OOoooohhhhhh..TERUUUUUUSSS…….Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww…… .Ummiiii……..teruuuusssss……ooooggghhh……
Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut yang sensual, itupun …hampir sesak nafas dibuatnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang Kelihatan bu guru berjilbab yang cantik itu, menghisap…, mengulum serta mempermainkan batang kontol keluar masuk ke dalam mulutnya.

Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah bu Endar menyapu kepalanya. Rupanya akhwat cantik berjilbab itu mahir juga bermain oral sex…Bibirnya yang seksi dan wajahnya yang cantik….begitu memukau hati Pak Imam.TERUUUUUUSSS…….Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww……
.Ummiiii……..teruuuusssss……ooooggghhh……
Beberapa saat kemudian Pak Imam melepaskan diri, ia mengangkat badan Bu Endar yang jilbab dan baju panjang terusannya masih terpakai itu….diangkatnya baju kurung yang halus itu ke atas hingga pangkal pahanya yang putih berrsih …..membaringkan di atas meja dengan pantat terletak di tepi meja, kaki kiri guru berjilbab itu diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Pak Imam mulai berusaha memasuki tubuh bu Endar…… Tangan kanan Pak Imam menggenggam batang kontolnya yang besar …dan kepala kontolnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan akhwat itu……Oooohhhh…sssshhhhh…SSHHHH…..AUUUUWW……OOOOOUUUHHHH……AAAAHHHH..EEENNAAAAAKK…….ENAAAAAAK……AAAAAAAAAUUUUUWWW….TERUUUUUUUSSSSS….YEAH…..UUUUHHOOOOOHHHH…. AH…ENAAAAKKK……akhwat berjilbab itu mengerang…mendesis nikmat…, hingga merintih-rintih melawan badai birahi yang menerpa, kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Pak Imam terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Bu Endar yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran kontol Pak Imam yang besar .
Sementara denyut-denyut kemaluan Bu Endar Faizah semakin liar menggoyang dan memilin-nilin kontol Imam.Imam hanya bisa berteriak….oooh…enaaaakkkkk….TERUUUUUUSSS. ……Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww…… .Ummiiii……..Endar Faizaaahh…Endar Faizaahhh….Endar FAIZAHHHHH..Endar FAIZAAAAHHHH…..ENAAAAKKKK….teruuuusssss……ooooggghhh……
Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Pelahan-lahan kepala kontol Pak Imam itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan akhwat itu… Ketika kepala kontol lelaki Tua itu menempel pada bibir kemaluannya, bu guru berjilbab itu mendesis ooohh…..ough….aahhh……teruuusssssss……saluran memeknya ternyata panas dan basah.

Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala kontolnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan gamang dan gelisah itu, dengan kasar Pak. Imam tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Bu Endar, rambut lebat pada pangkal kontol lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Bu Endar yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang kontolnya amblas ke dalam liang memek akhwat berjilbab itu.
Tak kuasa menahan diri, dari mulut Bu Endar terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”,ooouuww……enaakkk…….sshhh……..enaaaaaaa aaaakkkkk….aku suka kontolmuuu…….ENNNNNAAAAAAKKKK…..ENAAAAAAK……OOOHHHH……AUUUUUWW ….Imam TERUUUUUUUSSSS…..ENTOT AKU TERUUUUUSS……MASUKKAN KONTOOLMU…..YA…ENAAAAAAAAKKK……AAAAAAAAAAAGGHHHH…. mulutnya meracau tak menentu disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Bu Endar mencengkeram dengan kuat pinggang Pak Imam. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.
Akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah dilanda birahi yang menggelegak Lagi-lagi Imam menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari,kerudungnya kian kusut karena lonjakan kepala menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya aduuuuhh….OOhh…..auhhh…..augghh…ennaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk…..AAHHHHHHHHHHH….AAAAAAAAAAAAUUUUUUHHHHHHHH…..teruuuuuuusssssss..bibir Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.
Teteknya yang besar terguncang ke sana ke mari mengikuti hentakan tubuh Pak Imam…akhwat itu benar-benar berada dalam lautan BIRAHI. Pak Imam cukup mengerti keadaan akhwat cantik ini, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang kontolnya, dia memberi kesempatan kemaluan Bu Endar untuk bisa menyesuaikan dengan kontolnya yang besar itu.Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat anggun yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang . . Beberapa saat kemudian Pak Imam mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki Tua itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Bu guru cantik berjilbab ini berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan kontol lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Bu Endar mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki Tua yang sedang menatapnya, dengan takjub. Akhwat ayu ini berusaha bernafas dan … :” “Paak…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

ibu-ibu stw montok (6)

Bu Endar Faizah….guru bahasa inggris yang cantik itu….sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Pak Imam menggerakkan tubuhnya, ohhhhhhhhhhhhhh….. AAAHHHHHH…. ENAAAAAKK… TERUUUUUUUSIIN…. GENJOT TERUUS…………enaaaaaaaakkkk……teruuuuusss……..oouuww……. gesekan demi gesekan di dinding liang memeknya, sungguh membuat nya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Pak Imam menarik kontolnya keluar, Bu Endar merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Pak Imam menekan masuk kontolnya ke dalam memek nya, maka klitoris nya terjepit pada batang kontol Pak Imam dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang kontol Pak. Imam yang berurat itu. OOoooohhhhhhhhhh…..aduuuuhhh….enaaaakkk….mulut cantik itu benar-benar sudah tak terkontrol….
Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan akhwat cantik itu menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.Hanya rintihan…..desis nafas….dan keringat yang membanjiri tubuh bu Endar…..Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu….
Lelaki tersebut terus menyetubuhi Bu Endar dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Endar dan meremas-remas kedua tetek Bu Endar secara bergantian. ..ia dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku.
Akhwat ayu berjilbab ini bisa melihat bagaimana batang kontol yang hitam besar dari lelaki Tua itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Bu Endar selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran kontol Pak Imam yang super besar itu. Akhwat ayu berjilbab itu menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki Tua itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Pak Imam terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.
Bu Endar semakin tak seimbang tubuhnya,kepalanya tergoyang ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya Ohh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaak kkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss..mulut cantikr Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.
Ooooooooouuuuuuuuuuhhhhhhhh…………… tiba-tiba Bu Endar …guru bahasa Inggris yang cantik berjilbab itu ..merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan pacarnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. .. merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam memeknya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster Tua itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan memeknya menyerah dalam suatu penyerahan total.

ibu-ibu stw montok (7)

Bu Endar Faizah…guru manis berjilbab itu…..berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi…, tidak bisa, ini terlalu nikmat…, proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada akhwat ayu ini masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam memeknya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Bu Endar merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.
Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya ia membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…AAAAAAAAAAAAhhhhhhhhh………OOOOOOOOUUUGHHHHHHH.. ,akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Akhwat berjilbab itu terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana kontol hitam besar Pak Imam tetap terjepit di dalam liang memeknya.
Selama proses orgasme yang dialami Bu Endar.. memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Pak Imam, dimana kontolnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang memek dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang kontolnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha kontolnya, terlebih-lebih pada bagian kepala kontolnya setiap terjadi kontraksi pada dinding memek NBu Endar, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. perasaan Pak Imam seakan-akan menggila melihat akhwat berjilbab yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang kontolnya yang hitam besar itu.OOOhhhh….. aghhh…..ssshhhh……..oouugghh……rintihan dan desis kenikmatan keluar dari mulut akhwat itu…. beberapa menit kemudian Pak Imam membalik tubuh yang telah lemas itu hingga sekarang Bu Endar setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Pak Imam. Pak Imam ingin melakukan doggy style rupanya.

Tangan lelaki Tua itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah tetek Bu Endar yang montok..Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya bu Umu Faizah kian kusut itu…. yang kini menggantung ke bawah.
Dengan kedua kaki setengah tertekuk, ia menyingkapkan kain gamis panjang yang menghalangi pandangannya.secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala kontolnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam memek Bu Endar pada permukaan lubang kemudian menempatkan kepala kontolnya pada bibir kemaluan Bu Endar dari belakang.
Dengan sedikit dorongan, kepala kontol tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan ….Aaaaahhhhhhh………….ooohhhh……Bu Endar meracau…..Kedua tangan Pak Imam memegang pinggul Bu Endar dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan bu guru itu tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki bug guru berjilbab itu dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Bu Endar ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Endar…ooohhhhhhh …..Oooooooh!”, kontol laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang memeknya dan Pak Imam terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Bu Endar yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Pak Imam memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan kontolnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang memek guru berjilbab yang ketat itu. Sebagai seorang akhwat Jawa yang se tiap hari minum jamu, Bu Endar Faizah…guru cantik berjilbab itu memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini i kewalahan menghadapi Pak Imam yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu. OOOhhhhh….yeeesss……oohhhh…..aduuuuhhh…..agghhh…………..ennaaaaaaaaaaakkkkkk…….
Pak Imam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan ditariknya akhwat berjilbab itu duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Pak Imam. Pak Imam mengangkat kain gamis/jilbab baju panjang Bu Endar…..menempatkan kontolnya pada bibir kemaluan nya dan mendorongnya sehingga kepala kontolnya masuk terjepit dalam liang memek akhwat berjilbab itu…, sedangkan tangan kiri
Pak Imam memeluk pinggul Bu Endar dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti kontol Pak Imam menerobos masuk ke dalam kemaluan nya Tangan kanan Pak Imam memeluk punggung Bu Endar dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan akhwat ayu melekat pada badan Pak Imam. Kedua tetek nya terjepit pada dada Pak. Imam yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Pak Imam. Bu Endar Faizah merintih… ooooohhhh…….aouuuwwww……. Kepalanya tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Pak Imam bisa melumat bibir akhwat ayu yang agak basah terbuka itu.

ibu-ibu stw montok (8)
Bu Endar semakin aktif……..mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga kontol yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam memeknya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Bu Endar merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus………, terus……., bu guru berjilbab itu tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih aooooooooouh…..oohh……yesss….ssshhhhh…….aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………eennaaaaaaakkk ANAAAAAAAKKKKK….OOOUUUHH………………menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, akhwat ayu itu tak peduli lagi, “Aaduuuh..ADDDUUUUHHHH………oooh…..aaauuwwww…..,eehgghghhhh..AUUUUWWW….ENNNNAAKKK…..NIKMAAAAAATTT…..”, akhwat berjilbab itu memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Pak Imam.Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanyaOOhh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss…..Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi seekor kuda betina yang liar dan ganas, buas dan galak.
Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai..sopan….. alim dan berjilbab… kini mendapatkan kenikmatan maksimal justru bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.
Kemudian laki-laki itu menggendong dan meletakkan akhwat berjilbab itu di atas meja dengan pantat terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Pak Imam mengambil posisi diantara kedua paha akhwat cantik berjilbab itu…yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun kontolnya ke dalam lubang memek yang telah siap di depannya. Kembali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya dengan kain baju terusan panjang yang kian kusut itu….
Laki-laki itu mendorong kontolnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Bu Endar yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Pak Imam memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Bu Endar yang terkapar lemas di atas meja.
Sementara lelaki Tua itu terus berpacu diantara kedua paha akhwat cantik BERJILBAB itu, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan kontol lelaki tersebut. Akhwat ini benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si Tua yang perkasa itu. Endar Faizah kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu oooohhh……aagghh…….uuuhhh….EEENNAAAK.. KONMTOLMU ENAAAAAAK…AKU SUKA KONTOLOMUUU………..OOOHHHH….oohhhh…….aahhhh……oouuugghh…….ennnaaakkkk……oo ohhh…………….yeesss……egghhhh………ooohhh…….aaahhhhhhhhhhh……., kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 14.oo berarti telah 1 jam dia menggarap gadis ayu berjilbab tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam kontolnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung kontolnya. Akhwat ayu dengan jilbab dan baju panjangnya yang kian kusut itu kini telah menikmati birahi yang menggelegak Lagi-lagi Imam menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan birahi dann nafsu yang melanda dirinya.OOoouuuughhhh………auhhh…..au gghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk rintihnya.Tiba-tiba Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…AAAAAAHHHHHHHHH…., terus”, dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Bu Endar….dan batang kontolnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang memek akhwat berjilbab itu….Dengan suatu lenguhan panjang,
“Sssh…, ooooh! EndarIIII…ENNNAAK……Endar FAIZAAAH…..MEMEKMU ENAAAK….Endar FAIZAAAAHH….Endar FAIZAAAAAAAAHHHH…EndarIII…Endar FAIZAAAHH….”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki Tua tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam memek Bu Endar. Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Bu Endar yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga memeknya. Tubuh lelaki Tua itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Pak Imam bangun dari atas badan Bu Endar…, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Bu Endar.Setelah bersih Pak Imam menarik tubuh Bu Endar yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka….merapikan gamis panjangnya….membetulkan jilbab yang acak-acakan… Setelah merapikan baju dan celananya, Pak Imam menarik badan akhwat cantik itu dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisik ke telinga Bu Endar, “Maafkan saya manis…, terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!”, kemudian dengan cepat Pak Imam keluar dari ruangan kerja Bu Endar dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 3.Jam menunjukan 14.15
Sepeninggalan Pak Imam, bu guru cantik berjilbab itu terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan suaminya kelak, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu. Tepat jam 14.30, ia bergegas masuk ke kelas untuk mengajar pelajaran bahasa inggris…tanpa ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.tak seorangpun tahu ia baru saja lepas dari BIRAHI yang dahsyat.

LASTRI

“Wethon-mu apa, nduk?” tanya orang tua ceking hitam di depan Lastri.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia pandangi sosok mbah Suryo yang masih duduk merapal mantra-mantra sambil terpejam. “Ehm… selasa wage, mbah.” jawabnya kemudian.

Lelaki tua itu mengangguk-angguk sembari membalik-balik buku tebal yang ada di hadapannya. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih sebagian. Tapi fisiknya masih kelihatan sangat bugar. ”Nama lengkap?” tanyanya lagi.

“Lastri, mbah… Sulastri,” Lastri bisa melihat jari-jemari orang itu yang panjang dan hitam-hitam saat membalik buku, terlihat sangat angker dan menjijikkan.

”Terus nama ibumu?“ tanya mbah Suryo lagi. Para dukun memang selalunya menanyakan nama ibu kandung pasiennya.

”Triyatmini, mbah.” Gadis berwajah tirus itu menjawab tanpa berani menatap wajah mbah Suryo. Tapi Lastri bisa memastikan kalau laki-laki itu begitu tinggi, hampir 180cm. Ia paling hanya sepundaknya kalau berdiri berjajar.

“Bapakmu Lasijo, gitu?” tebak mbah Suryo.

Tapi ternyata salah. “Bukan, mbah. Bapak saya Tugiran.” jawab Lastri. Perempuan berjilbab itu masih menundukkan mukanya.

memek legit jilbaber hot (1)

“Ehm, baik,” mbah Suryo berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya. ”Kamu tunggu dulu, mbah mau nyiap-nyiapkan dulu. Nak Lastri masuk kamar situ.” laki-laki tua itu beranjak dari bale-bale dan meninggalkan Lastri seorang diri.

Lastri masuk ke kamar yang ditunjuk oleh mbah Suryo. Sebuah ruangan tak berjendela yang hanya diterangi lampu bohlam kecil. Aroma kembang kanthil menyeruak menusuk hidung. Lastri mengambil posisi duduk bersila di muka meja kecil. Ada pernak-pernik perdukunan di situ.

Tak lama kemudian, mbah Suryo masuk, sekarang bajunya hitam-hitam dan mengenakan ikat kepala merah, persis seperti pendekar yang ada di film-film silat jadul. Mbah Suryo duduk dihadapan Lastri lalu menyalakan kemenyan. Seketika itu pula aromanya menyeruak ke seisi ruangan. Asap putih membumbung ke langit-langit kamar.

Mbah Suryo mulai berkomat-kamit sambil sesekali menaburkan butiran menyan. Lastri tetap menunduk, matanya mulai pedih.

“Lihat sini, nduk. Mbah tahu kamu ke sini karena laki-laki bukan?”

Lastri coba memberanikan diri melihat lawan bicaranya itu, tapi tetap tak mau menatap mata mbah Suryo. “Betul sekali, mbah. Kekasih saya direbut gadis lain. Ehm… saya ingin dia kembali, mbah.” jawab Lastri pelan. Diamatinya wajah mbah Suryo yang masih terpejam berkomat-kamit. Meski brewok dan bercambang tebal, namun laki-laki itu masih meninggalkan gurat-gurat sisa ketampanan masa mudanya.

Di daerah ini, mbah Suryo dikenal sebagai orang pintar yang sanggup menyelesaikan berbagai masalah. Banyak orang dari jauh mencari dia. Entah untuk penglaris dagangan, interview pekerjaan, orang-orang yang sedang terbelit kasus hukum, atau pun wanita-wanita putus cinta seperti Lastri ini.

“Ehm…” mbah Suryo membuka matanya. “Siapa nama laki-laki itu, nduk?” dia bertanya sambil menatap Lastri dengan tajam.

“Wisrawan, mbah… Wisrawan Adi Satrio.” jawab Lastri kembali menunduk. Ia jadi salah tingkah sendiri diperhatikan seperti itu.

Mbah Suryo mengelus jenggot putihnya sambil menerawang, seolah-olah berpikir. “Hmm… sepertinya gadis itu sudah mengguna-gunai kamu, nduk. Itulah kenapa Wisrawan sampai tega meninggalkan kamu.” jawabnya kemudian.

“Ah, benarkah, mbah?” tanya Lastri kaget. Ia tidak pernah membayangkan kalau sampai ada guna-guna yang masuk ke dalam dirinya. ”Apa berbahaya, mbah?” tanyanya ketakutan.

memek legit jilbaber hot (2)

“Memang berbahaya kalau tidak cepat disingkirkan. Apabila tubuhmu tidak kuat, bisa-bisa kamu jadi gila, hilang akal, stress, dan ujung-ujungnya depresi. Bahkan kalau sudah fatal, bisa bunuh diri, nduk!” kata mbah Suryo memperingatkan.

”Saya tidak mau, mbah.” Lastri sudah ingin menangis begitu mendengarnya.

”Semua orang juga tidak mau terkena guna-guna.” jawab mbah Suryo.

”Apa tidak bisa dihilangkan, mbah?” tanya Lastri penuh harap.

Mbah Suryo mengangguk. ”Ada, kamu tenang saja.”

”Kalau begitu, cepat lakukan, mbah!” pinta Lastri cepat.

”Tapi ada syaratnya, nduk…” lanjut mbah Suryo.

Lastri mengangkat mukanya dan memandang laki-laki tua itu. ”Syaratnya sulit apa nggak, mbah?” tanyanya lemas.

”Tergantung guna-gunanya. Kalau untuk kasusmu, cuma ritual pembersihan sama pemasangan susuk. Nanti akan kuberikan juga perlindungan buat pacarmu agar tidak diganggu lagi sama gadis-gadis lain.” mbah Suryo menjawab kalem.

”Begitu ya, mbah.” Lastri menimbang-nimbang, tampak berpikir sejenak.

”Bagaimana, nduk, kamu mau?” tanya mbah Suryo, tidak memberi Lastri kesempatan untuk berpikir.

Memutuskan dengan ragu-ragu, takut akan kehilangan mas Wisrawan-nya tersayang, perempuan berjilbab itu pun mengangguk. ”Baik, mbak. Saya bersedia.”

Mbah Suryo manggut-manggut mengiyakan. ”Bagus! Sekarang dengarkan omonganku; kamu harus menuruti semua perintahku agar ritual ini berhasil. jangan membantah sedikitpun. Mengerti?!!”

”I-iya, mbah.” sudah kepalang tanggung, Lastri tidak bisa mundur sekarang.

“Baiklah. Sekarang, buka bajumu.” perintah mbah Suryo dingin.

Lastri terkejut dengan permintaan laki-laki tua itu. Reflek tangannya bergerak untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang membusung indah. “T-tapi, mbah…” rengeknya.

Mbah Suryo diam menunggu, matanya terpejam.

Lastri bingung dan tampak ragu-ragu. Badannya mulai panas dingin keringetan.

memek legit jilbaber hot (3)

“Nggak usah semua, atasannya saja.” pinta mbah Suryo kemudian.

Lastri tertunduk. Dia tak punya pilihan lain, tidak mungkin untuk menolak lagi. Ketakutan kehilangan orang yang dicintai mengalahkan akal sehatnya. Jadi pelan, satu per satu kancing baju mulai ia buka. Lalu diletakkannya baju itu dipangkuannya. Tubuh Lastri yang putih mulus bak pualam, kini hanya dibalut rok panjang dan jilbab lebar saja. Sepasang payudaranya yang begitu kenyal dan padat tampak tegak ditopang oleh beha krem bermotif bunga. Ia segera menundukkan mukanya, tak kuasa untuk menatap mata mbah Suryo lebih lama lagi.

Anehnya, dukun tua itu seperti tidak terpengaruh oleh pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Ia tetap memejamkan mata sambil mulutnya terus komat-kamit merapalkan mantra. “Nduk, apapun yang kamu rasakan nanti, jangan dilawan, karena itu bisa menggagalkan ritual kita!” kata mbah Suryo kalem.

Belum sempat Lastri menjawab, telapak tangan laki-laki itu sudah bergerak menelusuri tubuhnya, seperti sedang meraba. Lastri terkejut karena merasakan sentuhan-sentuhan di buah dadanya, padahal mereka sama sekali tidak bersentuhan. Mbah Suryo memegangnya dari jauh!

”Hei, apa-apaan ini?!” tanyanya dalam hati.

Wanita itu mulai berkeringat. Butiran peluh perlahan mengalir di lehernya yang jenjang dan putih mulus. Usapan di buah dadanya kini berubah menjadi pijitan dan remasan keras yang perlahan namun pasti mulai membangkitkan gairahnya. Beha tipis yang ia kenakan sama sekali tidak bisa melindunginya. ”Mbah?!” Lastri berkata diantara desah nafasnya.

”Sst… diam!” hardik mbah Suryo. Tidak jauh beda dengan Lastri, keadaannya juga sudah tak karuan. Wajahnya yang tirus bermandikan keringat, nafasnya sudah mulai terengah-engah seperti orang kesurupan, sementara tonjolan misterius tampak membumbung di depan selangkangannya. ”Biar kuselesaikan ritual ini, nduk!” ujarnya parau.

Nyala bohlam yang ada di atas langit-langit berkedap-kedip, lalu tiba-tiba padam. Semuanya menjadi gelap. ”Mbah?!” panggil Lastri lagi saat merasakan sentuhan misterius menjalar di kakinya. Sentuhan nikmat mulai dirasakan wanita cantik itu di bagian paha dan bokongnya, berusaha untuk menyingkap rok panjangnya agar ikut terbuka. ”Hsshh… mbah!” ia mendesah lagi. Tanpa Lastri sadari, tubuhnya mulai gemetar dan menggeliat.

Mengetahui libido Lastri yang mulai meningkat, mbah Suryo makin memberanikan diri mengusap-usap pangkal paha wanita cantik itu sambil sesekali tangannya menyetuh bibir vagina Lastri yang masih terbungkus celana dalam. ”Guna-guna ini cukup kuat, nduk, dan sudah merasuk jauh ke dalam darahmu.” ia berkata sambil menggelitik lubang vagina Lastri menggunakan jempolnya.

Menggelinjang kegelian, Lastri melenguh dan semakin melebarkan kakinya, memberikan ruang lebih luas bagi mbah Suryo untuk menyentuhnya. Rok panjangnya sudah tergulung sampai ke perut, memperlihatkan paha mulus dan bukit vaginanya yang basah dan membusung. “A-apa yang harus saya lakukan, mbah?” tanyanya sambil menggeliat.

”Lepas celana dalammu, nduk! Aku harus mengambil guna-guna itu langsung dari sumbernya.” tegas laki-laki tua itu.

”Lakukan, mbah. Bantu aku untuk melepasnya.” Lastri agak sedikit mengangkat pinggulnya saat tangan yang tak kasat mata mulai menariknya turun hingga ke dengkul. Rasa takut karena guna-guna ditambah desir kenikmatan yang terlanjur ia rasakan akibat sentuhan jari-jemari mbah Suryo, membuat Lastri sama sekali tak melawan. Ia sepenuhnya berada di bawah kendali dukun tua itu.

Mbah Suryo terbelalak tak percaya saat berhasil menarik celana dalam Lastri hingga terlepas. Meski masih ada meja kecil yang memisahkan tubuh mereka, ia bisa menyaksikan betapa mulus tubuh Lastri yang duduk pasrah di hadapannya. Wanita itu tengah terdiam menundukkan kepala, menunggu untuk disentuh, dengan susu dan selangkangan yang sudah terbuka lebar, siap untuk dinikmati.

Jadi, dengan sikap serius seolah melakukan ritual sesungguhnya, mbah Suryo kembali berkomat-kamit. Dengan ketinggian ilmunya, ia kembali menyentuh tubuh Lastri dari jauh. Pelan tangannya mulai menelusuri bongkahan payudara Lastri yang bulat dan membusung, diremas-remasnya sebentar untuk merasakan teksturnya yang empuk dan kenyal, sebelum akhirnya hinggap di putingnya yang sudah mengeras, dan memilinnya dengan keras hingga membuat Lastri merintih dan mendesis tak karuan. ”Mbah, oughhh… ehhs…!!”

Puas disitu, mbah Suryo memindahkan tangannya ke perut Lastri yang langsing dan rata. Dia mengusap-usapnya sebentar, tetapi kemudian kembali lagi ke atas, ke arah payudara Lastri yang baru saja ditinggalkannya. Tampaknya, ia ketagihan oleh rasa buah dada wanita cantik itu. Mbah Suryo kembali meremas-remasnya, bergantian kiri dan kanan sambil tak lupa menjepit dan memilin-milin putingnya.

memek legit jilbaber hot (4)

”Ehsss… mbah!” Lastri terpejam dan menggelinjang merasakan sentuhan langsung telapak tangan kasar mbah Suryo di kulit mulusnya. Tidak cuma meremas payudara, tangan laki-laki itu juga mulai menelusur ke bawah untuk mengelus dan mengusap-usap belahan selangkangannya.

”Hss… hahh… hahh… mbah!!” Nafas Lastri menjadi semakin berat manakala sentuhan gaib tangan mbah Suryo mulai menjelajahi bibir vaginanya. Ia sebenarnya ingin melawan dan menolak, tetapi rasa takut akan guna-guna dan kenikmatan yang sedang melanda tubuh sintalnya, mengalahkan perasaan risihnya. Apalagi saat mbah Suryo mulai membelai lebih intens permukaan vaginanya, ia semakin terbenam dan tak kuasa lagi untuk memberontak. Bahkan yang ada, cairan vaginanya mulai merembes keluar dan meleleh semakin banyak, membuat permukaan kemaluannya menjadi semakin licin dan basah.

“Ahhhsss…” Lastri mendesis dan menjerit kecil, tak kuasa menahan gejolak birahinya yang semakin tak terbendung. Kenikmatan sentuhan mbah Suryo pada tubuhnya membuatnya melayang. Di bawah, ia merasakan sesuatu menguak bibir vaginanya dan mengocok cepat disana, sementara di atas, hal yang sama terjadi pada puting susunya; benda mungil kemerahan itu terasa dipilin dan dipijit-pijit keras, sambil buah dadanya diremas-remas, padahal sama sekali tidak ada tangan yang hinggap disana!

Lastri tidak bisa menjelaskan keanehan itu, karena di saat yang sama ia merasakan libidonya semakin memuncak. Itu disebabkan oleh sesuatu yang basah dan hangat, yang mulai menyapu-nyapu bibir vaginanya. Benda lunak bertekstur kasar itu berusaha menerobos masuk untuk menjelajahi lubang kemaluannya.

“Ouhh… ahhss… mbah, apa yang mbah lakukan?” Lastri terperanjat saat menyadari lidah mbah Suryo yang menjulur-julur panjang. Pria itu melakukannya dari sana, tapi kenapa rasa gelinya bisa sampai kesini?! Aneh, Lastri benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Dan ia makin terpojok dan terjepit saat mbah Suryo menemukan klitorisnya dan tanpa membuang waktu, langsung menghisapnya dengan rakus. ”AAHHHHH… mbah!!!” Lastri menggelinjang dan menjerit keras. Tubuhnya kelojotan kesana kemari merasakan lidah hangat mbah Suryo yang menyapu cepat di belahan vaginanya.

“Tahan, nduk! Ini agar guna-gunamu keluar semua.” kata mbah Suryo menenangkan. Kepalanya terus berputar-putar dengan lidah terjulur untuk meneruskan jilatannya pada vagina sempit milik Lastri.

”I-iya, mbah!” mengangguk mengerti, Lastri pun memejamkan matanya dan melebarkan kedua kakinya, membiarkan mbah Suryo meneruskan ritual yang sangat memberi kenikmatan pada dirinya itu. Toh ia melakukannya dari jauh, tidak menyentuhku sama sekali! pikir Lastri dalam hati. Tanpa ia sadari, tangannya berusaha menekan kepala tak kasat yang berada di selangakangannya agar menjilat lebih dalam dan keras.

Melihat itu, mbah Suryo berkata. ”Sabar, nduk. Harus dilakukan dengan pelan-pelan!” Selesai berkata, kembali ia menggerakkan tangannya untuk meraih dan meremas-remas payudara Lastri yang menggantung indah. Sambil terus menjilat, mbah Suryo mempermainkan benda bulat padat itu dengan kedua tangannya.

”Aughhhh… mbah! Aku… arghhhh!!” Lastri makin menjerit dan menggelinjang. Diserang atas bawah seperti itu membuatnya makin merintih dan memekik nyaring. Tubuh montoknya kelojotan, sementara keringat makin membasahi tubuh mulusnya.

”Lepaskan, nduk! Jangan ditahan. Kita sudah hampir berhasil!” kata mbah Suryo begitu mengetahui keadaan pasiennya. Ia terus menggarap tubuh Lastri dari jauh dengan ketinggian ilmunya.

”Ehmm… iya, mbah!” Lastri melenguh. Ia mulai merasakan sensasi aneh di sekitar lubang vaginanya, seperti ada hawa panas yang menjalar dari dalam perutnya dan berkumpul disana. Hawa panas itu terus mendesak, dan semakin lama menjadi semakin tak tertahankan lagi.

”Lepas, nduk! Jangan ditahan lagi!!” perintah mbah Suryo dengan jilatan semakin keras. Dia juga mencengkeram bulatan payudara Lastri semakin kencang.

Tidak tahan lagi, Lastri pun akhirnya menjerit keras. ”AARRGGHHHHHHHHHH…. MBAAAHHH!!!” pinggulnya berputar, sementara tubuhnya kelojotan kesana-kemari saat kumpulan hawa panas itu meledak, mengantarnya menuju orgasme yang begitu nikmat dan melelahkan.

Mbah Suryo segera meraih mangkok yang ada di bawah meja dan digunakannya untuk menampung cairan Lastri yang menyembur keluar. ”Keluarkan semua, nduk! Keluarkan!!” perintahnya sambil berusaha menampung sebanyak mungkin.

Saat Lastri berhenti terkejang-kejang dan sekarang diam terengah-engah, mbah Suryo menunjukkan mangkok di tangannya yang kini terisi setengah penuh. ”Lihat warnanya, begitu hitam.” kata dukun tua itu.

Lastri terkejut melihatnya; memang hitam, dan sepertinya sangat kental sekali! ”I-itu guna-gunanya, mbah?” tanyanya takut sekaligus lega. Lega karena ia sudah berhasil mengeluarkan guna-guna itu dari dalam tubuhnya.

”Iya, sekarang kamu sudah bersih.” mbah Suryo mengangguk.

”Eh, t-terima kasih, mbah.” Lastri berusaha tersenyum meski tubuhnya masih sangat kaku dan lemah. Ia berusaha membenarkan pakaiannya yang masih terbuka dan acak-acakan, yang memperlihatkan semua auratnya.

“Bagaimana rasanya, nduk?” tanya mbah Suryo kemudian.

“Hmm… nikmat, mbah.” jawab Lastri tanpa sadar.

memek legit jilbaber hot (5)

”Bukan itu!” mbah Suryo mendelik. ”Maksudku, bagaimana rasanya setelah guna-gunamu kutarik keluar?!”

“Oh, itu… ehm, agak ringan, mbah. Tubuh saya jadi enteng sekarang.” Lastri tersenyum malu. Ia menarik rok panjangnya ke bawah agar mbah Suryo tidak lagi memandangi paha dan pinggulnya yang masih telanjang.

Mbah Suryo menarik nafas panjang. “Kalau begitu, sekarang pakai bajumu, nduk!” laki-laki itu menyalakan lilin yang ada di atas meja dan berpaling, memberi kesempatan pada Lastri untuk memakai pakaiannya kembali.

”Emm, iya. Terima kasih, mbah.” Lastri menatap tajam gigi-gigi hitam mbah Suryo saat laki-laki tua itu berbicara. Dengan cepat ia memakai kemeja lengan panjangnya agar tubuhnya yang sintal kembali tertutup.

Suasana begitu hening, hanya sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan. Rumah mbah Suryo berada paling atas di antara rumah-rumah warga di dusun terpencil ini. Jaraknya pun berjauhan, dipisahkan kebon-kebon Jati yang daunnya mulai meranggas karena kemarau. Bau kotoran manusia kadang tercium terbawa angin kering. Di dusun tertinggal ini, hampir tak ada warga yang mempunyai jamban.

“Sudah, mbah?” Lastri memberanikan diri untuk berkata. Ia sudah sopan lagi sekarang; memakai baju panjang dan jilbab lebar yang mempercantik penampilannya.

Mbah Suryo manggut-manggut lalu menjawab. “Sekarang masuk ke ritual yang kedua, nduk. Kamu mesti dipasangi susuk agar pacarmu berpaling lagi padamu. Ini juga ada tiga kerikil yang mesti kamu simpen di kantong sebagai penangkal guna-guna.”

Lastri mengangguk. “Iya, mbah.”

memek legit jilbaber hot (10)

”Sekarang kamu ke sumur belakang, mandi lah, ada sedikit air di sana. Trus ganti pakaianmu dengan kain ini,” mbah Suryo menyerahkan lipatan kain batik warna coklat tua kepada Lastri. ”Setelah itu kita mulai ritual pemasangan susuknya.”

***

Lima belas menit kemudian, Lastri masuk kembali kamar. Tubuhnya hanya dililit kain batik tadi, membuat puting susunya yang menonjol membekas dengan jelas. Rambutnya tergerai basah. Tangannya membawa baju, jilbab dan rok panjang yang sebelumnya ia pakai. Rupanya selagi dia mandi, mbah Suryo sudah menyiapkan segalanya. Ada hamparan tikar dan sebuah bantal di lantai. Lastri bergidik melihat semua itu. Tubuhnya mematung. Mbah Suryo sendiri duduk bersila membelakanginya. Tangannya memegang sebuah botol sambil merapal mantra.

Mengetahui kehadiran Lastri, laki-laki itu kemudian berkata “Rebahkan badanmu di tikar itu, nduk.”

Lastri melakukannya. Pelan dia telentang di lantai yang beralaskan tikar sesuai petunjuk dari mbah Suryo.

“Jangan malu, aku akan membalurmu dengan minyak bulus ini.” kata mbah Suryo sambil beringsut mendekati tubuh montok Lastri yang hanya berbalut kain. Dengan mulut komat-kamit membaca mantra, ia mulai menyapukan minyak itu; jari-jari kasarnya mengurut perlahan betis Lastri, lalu merambat naik ke arah paha. Kali ini ia tidak menutup matanya. Tak berkedip, mbah Suryo menatap tubuh mulus Lastri yang tergolek pasrah di hadapannya.

Lastri merinding, bulu romanya berdiri, badannya mulai gemetar, tapi mulutnya serasa terkunci saat laki-laki tua itu menambah minyak dan mengurut lembut kulit pahanya, bergantian kiri dan kanan. Kain batik yang yang cuma sebatas pinggul membuat mbah Suryo sangat leluasa untuk melakukan itu.

”Ehmm… mbah?!” desah Lastri saat mbah Suryo menarik salah satu kakinya untuk ditaruh di atas pangkuan.

”Sstt… diam, nduk!” bisik dukun tua itu sambil tangannya kembali memijat paha Lastri, pijatan yang semakin lama menjadi kian lemah, hingga akhirnya berubah menjadi elusan dan usapan lembut yang sangat membangkitkan gairah. Dan Lastri tidak sanggup untuk melawannya.

”Ahh… mbah!” desah perempuan cantik itu. Dengan kakinya, Lastri bisa merasakan sesuatu yang keras mulai menggeliat di selangkangan laki-laki tua itu; penis mbah Suryo yang sudah mulai ngaceng dan tegang!

Mengetahui Lastri yang sudah pasrah sepenuhnya, tangan dukun mesum itu semakin berani naik menjelajahi pangkal paha Lastri, sesekali menyentuh celana dalam perempuan alim itu.

“Ehss..!!” Lastri mendesah merasakannya, tapi tidak menolak. Bahkan saat mbah Suryo mulai menyingkap bagian bawah kain batiknya dengan sangat pelan, ia juga diam saja. Suasana begitu hening, hanya nafas mbah Suryo yang sudah mulai berat yang terdengar cukup nyaring.

Tak berkedip laki-laki tua itu menatap paha dan perut Lastri yang kini terbuka cukup lebar di hadapannya. ”Indah sekali, nduk!” gumam mbah Suryo tanpa sadar saat menatap gundukan daging nikmat milik Lastri yang masih terbungkus celana dalam katun tipis. Tampak noda hitam mulai membayang di depan selangkangan wanita cantik itu, menunjukkan kalau Lastri juga sudah mulai terangsang.

memek legit jilbaber hot (9)

Tidak menyahut, Lastri kembali mendesah saat mbah Suryo kembali mengusap-usap paha putih mulus miliknya. ”Aaghhh…!!” dirasakannya usapan halus di pangkal pahanya, dan terus berlanjut ke lubang vaginanya yang masih terbungkus celana dalam. ”Auhhh… mbah, geli!!” nikmat sentuhan jemari mbah Suryo membuat Lastri merintih dan menggeliat sambil melebarkan kedua kakinya.

Merasa berhasil menaklukkannya, mbah Suryo menggeser tubuhnya ke samping agar wajahnya bisa menemukan selangkangan Lastri. Dengan sangat perlahan ia menarik celana dalam Lastri ke samping hingga ia bisa melihat vagina perempuan itu dengan lebih jelas. Lubang mungilnya sudah tampak basah dan lengket. Belahannya masih tampak mungil, tapi begitu merah dan mengkilat. Rambut-rambut halus tumbuh sembarangan di sekitarnya, tapi bukannya bikin kotor, malah makin menambah daya tariknya. Inilah vagina terindah yang pernah dilihat oleh mbah Suryo; begitu utuh dan sempurna! Tetap dengan posisi duduk di lantai, laki-laki tua itu lalu merunduk dan menempatkan wajahnya tepat di tengah kedua kaki Lastri yang melebar.

”Aughhh!!” rintih Lastri ketika merasakan sapuan lidah hangat mbah Suryo di bibir vaginanya, membuat ia menggelinjang kegelian. Wanita itu kembali mendesis sambil menyebut nama sang dukun, ”Mbah! Oughhh…” pinggulnya bergerak-gerak mengimbangi irama jilatan.

Yakin kalau Lastri sudah benar-benar terbuai, mbah Suryo memberanikan diri menurunkan celana dalam yang dipakai oleh Lastri. Kini akses lidahnya menjadi semakin bebas, dengan rakus ia jilati vagina Lastri yang semakin mekar dan membasah.

Lastri yang merasakan lidah panjang mbah Suryo menyusup-nyusup di bibir vaginanya, menekuk tubuhnya dan memekik lirih untuk menahan sensasi nikmatnya. “Auhmm… mbah! Aku nggak tahan!” ia sudah hilang kendali, tubuhnya sudah sepenuhnya dilanda birahi sekarang.

Di bawah, penis mbah Suryo terasa semakin tegang, tapi ia masih tidak punya niat untuk menyetubuhi Lastri sekarang, masih belum waktunya. Ia masih ingin terus menjilati vagina Lastri untuk beberapa lama, sampai akhirnya laki-laki tua itu berkata, “Sudah, sekarang buka kainmu, nduk. Mbah akan memasang susuk emas pada badanmu.” Mbah Suryo lalu berdiri dan berjalan ke lemari kecil di ujung ruangan untuk mengambil sesuatu. “Kalau sudah tengkurap ya!” perintahnya tanpa menoleh.

memek legit jilbaber hot (12)

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Lastri melakukannya. Perlahan ia mulai melepas kain yang membalut tubuh sintalnya, juga BH dan celdamnya, diletakkannya semuanya di bawah meja, lalu tidur tengkurap, persis seperti yang diperintahkan oleh mbah Suryo.

Mbah Suryo berlutut di sampingnya. Tangannya menggapai bokong Lastri yang bulat dan menyapukan minyak bulus yang ia pegang ke atasnya, lalu meratakannya dengan meremas-remas bokong Lastri lembut. Laki-laki itu juga menuangkan minyaknya ke punggung Lastri, dan mengurutnya perlahan seirama dengan pijatannya; mulai dari tengkuk, pundak, sampai pinggang Lastri yang ramping, lalu turun ke betis perempuan cantik itu.

“Enghh… mbah! Hegghh…” Darah Lastri menggelegak, jantungnya bergerak cepat, sementara tubuhnya meliuk-liuk penuh kenikmatan. Tangannya meremas-remas bantal, tubuh polosnya berkilat-kilat karena cahaya dia lilin. Perlakuan mbah Suryo benar-benar membuatnya melayang.

“Gimana rasanya, nduk?” tanya mbah Suryo sambil tersenyum dan melucuti pakaiannya sendiri. Ia keluarkan penisnya yang sudah menegang dahsyat dari kungkungan celana dalam. Telanjang ia berdiri di sebelah Lastri dan berbicara, “Sudah, sekarang tinggal masukin emasnya. Habis ini rampung. Balikkan badanmu, nduk.” perintahnya kemudian.

“Mbah, isin aku, mbah. Malu!” meski sudah terbuai oleh nafsu, tapi Lastri enggan menuruti begitu saja perintah sang dukun. Ia masih ingin mempertahankan statusnya sebagai wanita terhormat untuk yang terakhir kali.

“Lha, gimana tho? Ini syaratnya, nduk. Tanggung!” suara mbah Suryo meninggi. Penisnya yang tegang tampak mengacung tegak hingga ke pusar; besar dan panjang sekali, berwarna coklat kehitaman. Jembutnya yang tumbuh semrawut di bagian pangkal, makin menambah kesan sangarnya. “Cepat balik, kita tidak punya banyak waktu!!” melihat tubuh Lastri yang molek dan montok membuat laki-laki tua itu menjadi tidak tahan lagi.

“Matikan lilinnya dulu, mbah. Aku malu.” kata Lastri lirih.

“Ya wes,” jawab mbah Suryo. Lalu ia melangkah menuju lilin yang ada di meja dan meniup apinya hingga padam. Gelap segera menyelimuti bilik kecil itu. “Sudah, nduk?” ujar mbah suryo sambil mengusap-usap mesra bokong bulat Lastri.

memek legit jilbaber hot (11)

“Iya, mbah.” perlahan Lastri membalikkan tubuh sintalnya, telentang. Bisa dirasakannya mbah Suryo mengambil posisi setengah berlutut di ujung kakinya.

“Dengar baik-baik, inti dari ritual pamungkas ini adalah sikap pasrah!!” nada suara mbah Suryo berubah berat dan berwibawa. Ia memegangi penisnya dan perlahan mulai mengarahkannya ke bibir vagina Lastri yang licin dan basah.

“Ehmm… mbah!” Lastri melenguh saat mbah Suryo menyundul-nyundul dan menggesekkan ujung tumpulnya disana. Ia segera mengangkat pinggulnya agar penis itu bisa lebih cepat masuk ke dalam lubang kemaluannya.

“Biarkan para dewa bekerja melalui emas yang aku masukan melalui jalan lahir milikmu ini, nduk. Paham?!” kata laki-laki tua itu sambil menindih tubuh molek Lastri dan mulai menghisap puting susu wanita cantik itu dengan penuh gairah.

“Pa-paham, mbah.” jawab Lastri pelan. Ia sudah merasakan birahi puncak yang amat sangat dan begitu ingin dipenuhi. Pinggulnya semakin naik mengejar penis besar milik mbah Suryo. Ia juga merangkulkan kakinya ke pinggang laki-laki tua itu dan menarik ke arah dirinya agar mbah Suryo segera menjejalkan batang penisnya.

memek legit jilbaber hot (8)

Tapi itu tidak berhasil, karena mbah Suryo memang sengaja menahannya. Alih-alih mendorong, ia malah kembali meracau dengan mantra-mantra bahasa jawa kunonya. “Mbah akan menyalurkan energi padamu, nduk. Supaya dirimu kuat dengan ‘pegangan’mu ini.” kata laki-laki tua itu.

Lastri mengangguk. ”Cepat lakukan, mbah. Aku sudah tidak tahan lagi!!”

“Buka kakimu agak lebar, nduk. Tekuk ke atas!” mbah Suryo merangkul tubuh molek Lastri dan mulai mendorong ujung penisnya masuk ke vagina mungil gadis itu.

Lastri yang sudah ingin sekali merasakan penis itu memenuhi vaginanya, segera menuruti perintah itu. Dia membuka dan menekuk kakinya agar mbah Suryo lebih mudah untuk melakukan penetrasi.

Mbah Suryo menunduk, coba merapatkan tubuhnya ke tubuh Lastri. Bibir Lastri yang ranum dilumatnya, sementara tangannya meremasi susu perempuan berjilbab itu. “Ouh…” jerit Lastri menyambut ujung penis mbah Suryo yang mulai mendesak di bibir vaginanya. Dengan jelas Lastri bisa merasakan betapa kaku dan besarnya benda itu. Nafas mbah Suryo yang bau rokok juga menusuk hidungnya saat dukun tua itu menyusupkan lidahnya untuk mengajak Lastri bertarung lidah dan bertukar air liur.

“Tahan ya, nduk. Aku masukkan sekarang,” kata mbah Suryo sambil mendorong ujung penisnya lebih dalam ke belahan memek Lastri yang sempit.

Lastri kembali merintih dan mendesah lirih. “Ennghhhss… mbah!!” ia merasakan ujung penis mbah Suryo mendesak ketat di lubang vaginanya.

“Ayo sekarang kamu goyang pinggulmu, biar penisku semakin masuk ke dalam kemaluanmu,” kata mbah Suryo memberi perintah.

“Ampun, mbah! Oouh… ahhh…” di atas, bibir Lastri memekik minta ampun, tapi di bawah, bibir vaginanya justru memberi akses penuh pada penis mbah Suryo agar bergerak lebih jauh. Lastri mengangkat pinggulnya untuk lebih merasakan tusukan penis laki-laki tua itu.

Merasakan jepitan memek Lastri yang ketat dan sempit membuat mbah Suryo jadi tidak bisa mengontrol birahinya. Ia pun segera menekan penisnya kuat-kuat agar segera menembus dan memasuki lubang senggama wanita cantik itu.

”Oughhh… aghhhh… mbah!!!” Lastri melenguh keras dengan tubuh melenting ke atas saat merasakan penis mbah Suryo yang tiba-tiba tenggelam dan memasuki vaginanya secara utuh dan cepat. Ia segera menggoyangkan pinggulnya kencang-kencang untuk menyambut dan mengimbangi gerakan laki-laki tua itu. Vaginanya terasa begitu sesak dan berat, tapi sangat nikmat.

“Ohh… gimana, nduk, aku tidak menyakitimu kan?” tanya mbah Suryo sambil mendesis merasakan goyangan Lastri yang begitu liar dan brutal.

“Hmm… enak, mbah! Oughhhh… enak sekali!!!” Lastri terus meliuk-liuk penuh birahi. Tubuhnya sudah keringetan, sementara buah dadanya yang besar terlempar-lempar kesana-kemari. Tanpa sadar ia menjawab dengan lugas apa sedang dirasakannya sekarang tanpa rasa malu lagi. Hilang sudah Lastri yang lugu dan alim, yang setiap hari selalu mengenakan jilbab lebar dan baju panjang. Berganti dengan Lastri jalang yang sedang haus akan sentuhan birahi, dan menuntut untuk dipuaskan pada saat ini juga.

Mendengar jawaban menyerah dari wanita cantik itu, mbah Suryo mulai ikut menggenjotkan penisnya keluar masuk di vagina Lastri, menyetubuhinya, memberinya kepuasan. Liar, sambil terus menggerakkan pinggulnya, ia hisap bibir Lastri yang terus menerus merintih keenakan. Sementara tangannya bergerak cepat menangkup kedua buah dada Lastri yang membusung indah, dan memeganginya erat-erat agar kedua benda bulat itu tidak saling bertubrukan lagi.

“Ahh… Nduk, nikmat sekali memekmu!!” rintih mbah Suryo tak tahan.

“Ughh… iya, mbah. Kontol mbah juga enak, ahhh… aku suka!!” sahut Lastri tak terkendali. Hilang sudah harga dirinya sebagai wanita baik-baik. Yang ada kini hanyalah hasrat untuk meraih kepuasan dari penis besar milik mbah Suryo. Apalagi sekarang kedutan-kedutan kecil mulai terasa di dinding vaginanya, dan hawa panas mengumpul di sekitar pangkal pahanya, pertanda kalau tak lama lagi ia akan segera mencapai klimaks, Lastri semakin menjadi gila dibuatnya.

Di lain pihak, mbah Suryo terus menggenjot semakin kencang dan cepat. Penis panjang milik laki-laki tua itu bagai memenuhi lubang vagina Lastri, menekan keras ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang mentok hingga ke mulut rahimnya, membuat kontraksi di dinding vagina Lastri menjadi semakin kuat dan tak tertahankan lagi.

Tidak kuat menahan kenikmatan itu, Lastri akhirnya menjerit kencang. “EGHHHH… MBAAHH!!! OHHHHH… ARRGGHHHHHH!!! AKU KELUAAR!!” tubuhnya mengejang saat cairan kenikmatan menyembur deras dari dalam lubang vaginanya. Begitu kerasnya hingga menyemprot ke perut dan dada mbah Suryo saat laki-laki itu mencabut penisnya.

memek legit jilbaber hot (7)

Mbah Suryo kelihatan puas sekali melihat Lastri yang terkejang-kejang merasakan sensasi kenikmatannya. Cairan perempuan itu masih terus menyembur beberapa kali, sebelum akhirnya cuma menetes pelan seiring meredanya orgasme yang dialami olehnya.

”Sudah enakan, nduk?” tanya dukun tua itu sambil mengelus-elus penisnya yang masih menegang dahsyat.

Tidak menjawab, Lastri cuma mengangguk mengiyakan.

”Sekarang giliranku.” kata mbah Suryo. Ia lalu menindih kembali tubuh molek Lastri. Tapi saat ia ingin menghujamkan penisnya ke vagina Lastri yang masih basah membanjir, wanita itu reflek menutup pangkal pahanya. Mbah Suryo jadi terkejut dibuatnya, “Lho, piye tho iki?” ia berusaha untuk menyingkap kaki perempuan itu.

Dengan cepat, memanfaatkan kelengahan sang Dukun, Lastri meraih sesuatu yang berada di tumpukan bajunya. Seketika itu juga, lebih cepat dari kedipan mata…

SEERRT!!! CRAASHH!!!

Darah menyembur kencang kemana-mana. “Arghh… arghh…!!!” mbah Suryo menjerit sekeras-kerasnya. “Ahh… kurang ajar! Asuuu! Celeng! Dasar sundal kamu!!!” ia berlutut mengerang kesakitan sambil memegangi kemaluannya yang terpotong menjadi dua. Dipelototinya Lastri yang sudah berdiri di sudut kamar, tangan kanannya memegang cutter, sementara tangan kirinya memegangi potongan penis mbah Suryo yang berlumuran darah.

“Hahaha… rasakan kau dukun cabul!! Memang harus ada yang datang untuk menghentikanmu!!!” wanita itu tertawa penuh kemenangan.

“Siapa kamu?! Ahh… tolong! Tolong aku! Aku bisa mati!!” tertatih-tatih, mbah Suryo berusaha untuk menghentikan pendarahan di kemaluannya dengan membalutnya memakai kain sarung, tapi percuma, darah tetap saja merembes keluar.

“Aku? Aku hanya seorang kakak yang adiknya mati bunuh diri!” Lastri berkata bengis. “Mbah ingat Sundari, gadis cantik yang pernah datang kemari beberapa bulan lalu?”

“Banyak! Banyak wanita yang datang kemari!! Ahggg…” kata dukun itu pelan sambil merintih, kesadarannya mulai menghilang. Pandangannya perlahan buram dan menggelap.

“Memang banyak!! Tapi hanya satu saja kan yang punya tanda hitam di lehernya?! Dia itu adikku, bangsat!” Lastri meradang, “Kau telah menodai, menghamili, dan membuat dia bunuh diri!!!”

Tak ada jawaban dari mbah Suryo. Lelaki itu sudah tergeletak diam tak bergerak. Sekarat. Hanya sisa-sisa nafasnya saja yang terdengar pelan menjemput datangnya ajal.

memek legit jilbaber hot (6)

Lastri mendekati meja coba mencari korek api. Dapat, lalu dinyalakannya lilin yang ada disitu. Cahayanya menerangi semesta kamar. Lastri memandangi badan polosnya yang penuh cipratan darah, baunya sangat amis. Diliriknya tubuh mbah Suryo yang meringkuk di tikar, tak bernyawa. Tikar itu berkubang darah.

Lastri mengelap tubuhnya dengan kain batik milik si dukun, lalu segera berpakaian. Dijejalkanya potongan penis mbah Suryo ke mulut laki-laki itu, lalu berjalan keluar sembari membuang cutter yang ia pakai untuk menbunuh ke halaman depan.
.
Malam semakin larut, Lastri keluar dari rumah mbah Suryo dan berjalan menuruni tangga padas gamping ditemani suara jangkrik dan lolongan anjing. Ia tak berharap bertemu siapapun sampai ke jalan raya. Dusun ini sungguh mati, gelap di mana-mana. Ia pasti akan aman sampai tiba di rumah.

UKHTI OKI

Sore itu aku jalan-jalan di sekitar TK Al Munawarah, tampak anak kecil sedang belajar huruf hijaiyah. mereka tampak rapi melafadzkan huruf – huruf tersebut, memang kekuatan huruf hijaiyah itulah yang membuat Al Qur’an tetap otentik sampai sekarang.

Di balik kerumunan itu terlihat ukhti Oki sedang menulis di papan, ukhti tampak anggun dan ayu suaranya terdengar merdu. aku sering bengong menikmati kecantikan wajah ukhti OKi.

jilbab cantik (1)

Beberapa hari terakhir tiap sore aku mampir ke TK tersebut untuk menikmati kesejukan Ukhti Oki. Jilbab lebarnya tidak bisa menutupi kemolekan tubuh nya, rok panjangnya menutup sampai kaki.

Akhirnya aku cari akal bagaimana mendekatinya, kalau para akhwat kan tidak boleh berdekatan dengan lelaki atau pacaran apa lagi yang lain.

Aku pun menemui Mba Oki dan mengutarakan isi hati untuk ta’aruf (perkenalan), walaupun pada awalnya ditolak akhirnya ybs mau diajak jalan.

Pada pertemuan awal hanya makan siang dan jalan-jalan ke toko buku. Di pertemuan ke tiga aku ajak ybs ke Ancol.

Perjalanan ke Ancol menggunakan motor supra fit ku yang sederhana. perjalanan sangat menyenangkan kita sering bicara hal hal yang tidak jelas, diselingi tawa renyah dan canda-an kecil. Dalam hati aku berpikir akan benar-benar jatuh cinta pada mba Oki.

Tanpa disadari tubuh kami merapat, karena mbak Oki bonceng gaya laki-laki dan aku suka mengerem mendadak saat ada lobang di jalan dapat kurasakan tonjolan hangat bukit kembar mbak Oki, hembusan nafas mbak Oki sering menerpa tengkuk belakangku, aku pun menjadi horny dan makin pelan dalam berkendara.

jilbab cantik (2)

Sesampainya di Ancol aku memilih pergi ke Dufan terlebih dahulu, pada saat mengantri ticket aku beranikan untuk memeluk tubuh sintal Mbak Oki dari belakang, penisku langsung mencium lembut pantat mbak Oki, agaknya mbak Oki sudah tidak mengindahkan norma-norma ke akhwatannya. Aku pun memanfaatkan hal itu untuk memeluk erat tubuhnya, penisku makin menegang dan membesar. Oki hanya diam dan malah menggerak- gerakan pantatnya, yang makin membuat aku keenakan.

Kami bermain di Dufan sampai sore, kemudian meluncur ke pantai Ancol, suasana pantai sangat sepi hanya tampak beberapa pasangan di kejauhan.

Kami berpelukan memandang debur ombak dan matahari yang mulai menyurut, suasana sangat romantis ,kedua tangan mba Oki menumpu pada batas pantai, meskipun memakai jilbab lebar dan rok panjang , pantatnya sungguh terlihat indah,wajah ayunya diterpa sinar matahari sore yang redup. Aku memanfaatkan kesempatan untuk memeluk tuuhnya dari belakang , dan si penis yang sudah sedari tadi tegang, langsung menyusur belahan pantatnya, mba Oki malah tampak menikmati tonjolan di pantatnya . Aku beranikan tanganku untuk menyusup ke jilbab lebarnya dan meremas payudara montok nya, mba Oki tampak terkejut tapi setelah ku bujuk akhirnya Oki hanya diam, dan lama kelamanan mulai menikmati. akupun makin intents mengosok belahan pantat oki dengan penisku. Suasana makin gelap aku beranikan untuk menyingkap roknya, tangan mbak Oki berusaha menolak, tapi karena kalah tenaga dia akhirnya diam saja, aku megelus pantat bahenolnya dan menyusuri selangkangan dan paha mulusnya. Mbak Oki tampak mulai terangsang. Tangan ku mulai mengaduk-aduk vagina mbak Oki yang makin membuat mba Oki kelojotan. Diam-diam aku mengeluarkan penisku dan aku selipkan di selangkangan mba Okidan, akhirnya langsung menembus vagina mba Oki dengan pelan.

jilbab cantik (3)

Mba oki ingin berteriak, tapi ku bungkam mulutnya dan aku terus menyodok pelan, tetesan air mata mba oki mengalir di tanganku, lama-kelamaan dia tampak pasrah. Dan aku terus memacu penisku, sungguh jepitan vagina mbak Oki sangat nikmat, setelah beberapa lama, aku membalikkan tubuh mbak Oki dan memaksanya berjongkok sehingga penisku mengacung tepat di wajahnya, aku memaksa mbak Oki mengulum penisku dan muncratlah air maniku di mulutnya, mbak oki tampak sedih karena keperawanannya telah hilang, tapi aku hibur dengan berjanji untuk menikahinya. Kami pun pulang agak larut.

Mulai hari itu, aku sering berkunjung ke TK tersebut dan di waktu senggang mbak oki sering bercumbu dengan ku, bahkan sering aku memaksanya untuk memuaskan syahwatku ketika murid-murid telah pergi. Mbak Oki sering menangis dan menagih kapan aku menikahinya. Aku hanya menjanjikan secepatnya makin hari aku makin sering bermain ke tk tersebut, ketika aku melihat mbak Oki mengajar nafsuku terasa menggelegak, keanggunan wajahnya dan indah tubuhnya tidak bisa di tutupi oleh jilbab lebar yang di kenakan, senyum dan candanya ketika mengajar makin menggairahkan tapi senyum itu kadang berubah menjadi tangis ketika penisku menusuk mulut dan vaginanya, aku kadang-kadang sudah tidak menhiraukan lagi ke akhwatannya setiap ada kesempatan, penisku menghujam ke belahan vagina yang sempit kepunyaannya, kadang kami ke mall atau ke bioskop dan pada akhirnya aku memaksanya untuk mengocok penisku, kadanga di bus kota aku senantiasa menggesek penis ku ke belahan pantatnya dan di akhiri semburan air maniku di tempat-tempat sepi.

jilbab cantik (4)

Setelah tiga bulan semua per zinahan ini berlangsung aku memutuskan, untuk menghilang dan meninggalkan kekasihku mbak Oki yang anggun dan ayu itu, mungkin mbak Oki sekarang sudah hamil dan menikah, dan mungkin telah melahirkan anakku.

Semoga kisah ini tidak terulang pada para akhwat.