FITRI: RANI DAN BU RATMI

Cerita ini bukan sinetron, walau judulnya mirip cerita sinetron, tapi ini adalah kisah sedih dari seorang teman, kisah yang merupakan kejadian yang sebenarnya. Namun untuk menjadikan kisah ini betul-betul sempurna maka aku sebagai penulis menambahkan sedikit bumbu tanpa lari dari jalur yang sebenarnya.

Perkenalkan namaku Aditya, umur 38 tahun, pekerjaanku apa saja yang penting halal. Aku tinggal di daerah Sumatera Utara, aku sendiri keturunan Melayu Deli.

fitri

fitri

20 tahun yang lalu…

Setelah tamat sekolah aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena kedua orang tuaku tidak sanggup untuk membiayai kuliahku. Aku sendiri yang sadar hal itu tidak memaksakan kehendak walau aku mempunyai cita-cita sebagai dokter. Aku memutuskan untuk merantau berbekal ijazah SMK-ku jurusan mesin otomotif.

”Pak, buk, aku mau merantau, siapa tau nanti aku bisa sukses.”

”Kamu mau kemana, nak?” sela ibu, ”kamu belum ada pengalaman,”

”Betul apa yang dibilang ibumu itu, Dit, mau jadi apa kamu di perantauan, lebih baik kamu bantu bapak di sawah,” kata bapak.

”Aku mau mandiri, pak!” jawabku. ”aku mau suatu hari nanti aku sudah punya usaha.”

”Amin!!!” ibu dan bapak serentak mengatakan amin.

”Tapi kamu mau merantau kemana, nak?” tanya ibu.

”Aku mau ke Batam, buk,”

”Loh, memang di Batam ada pekerjaan untukmu?” tanya ibu lagi.

”Ya, gimana ya, buk, namanya cari kerja ya dicari lah,” jawabku sambil makan gorengan pisang yang ada di meja.

”Ibu dan bapak sangat berat untuk menyetujuinya, nak, tapi kalau sudah hatimu bulat, mau bilang apa,” kata ibu dengan nada sedih. “Kapan kamu mau berangkat ke Batam, nak?” lanjut ibu.

”Kalau bisa sih minggu depan, buk.” Jawabku.

Ibu dan bapak saling berpandangan. ”Gak bisa, nak,” kata ibu. ”bulan depan aja, bapak dan ibu belum cukup uang buat ongkos dan persediaanmu,”

”Betul, Dit,” sambung bapak. ”Tunggu bapak jual kambing dulu sama pak Slamet.”

Aku pun setuju dengan pendapat ibu dan bapakku

Sebulan kemudian bapak dan ibu memberangkatkan aku dari pelabuhan Belawan, aku masih ingat ibu memelukku dan berpesan agar mengirim surat pada beliau.

Jam 5 sore aku sampai di pulau Batam, dulu Batam sangat sepi tidak seramai sekarang. Setelah 2 minggu aku pun mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan, pekerjaan itu cukup untuk membiayai hari-hariku, tak lupa juga aku berkirim surat buat ibu dan bapak di kampung dan bersyukur kepada Allah SWT.

Setahun sudah aku berada di Batam, yang akhirnya mempertemukan aku dengan seorang gadis yang ayu juga ramah, namanya Nurlela, sebaya denganku. Kulitnya putih dan berkerudung, aku cinta padanya saat pandangan pertama. Setelah 3 minggu pendekatan, aku dan Nurlela sah menjadi sepasang kekasih. Kami selalu bersama pada saat malam, bahkan bajuku yang kotor dicucikannya, makin hari makin bertambah pula kasih sayangku padanya.

Sejauh ini hubungan kami makin erat, namun kami tidak pernah melakukan zinah, cium pipi dan pelukan itulah yang biasa kami lakukan saat mau pulang ke tempat kos masing-masing kalau ketemu, hingga tiba pada suatu malam naas bagi kami, malam yang sulit aku lupakan seumur hidupku. Malam itu adalah malam minggu sepulang dari menonton layar tancap yang diselenggarakan pemda setempat, masih kuingat judul filmnya; ”Ohara”.

Ketika kami pulang, kami dicegat oleh beberapa pemuda, tanpa babibu plaaakkk.. gedebukkk!! aku dihajar sampai pingsan, aku tak tau apa yang terjadi. Setelah aku siuman, aku sudah berada di kamar kosku, aku ditemukan warga setempat, katanya aku pingsan dan diantar kemari. Aku langsung teringat pada Nurlela, lalu kutanyakan kepada mereka namum tidak ada yang tau. Aku mulai gelisah memikirkan Nurlela, untung saja para warga mau membantuku dan juga melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib, karena kejadian yang menimpaku adalah tindak kriminal.

Pada malam harinya aku kembali ke tempat kosku, seharian aku mencari Nurlela tapi belum ketemu juga. Kondisiku yang lemah tidak kupedulikan lagi, bahkan… oh ya Allah, sejak tadi pagi aku belum makan, hanya minum air putih pemberian orang. Mataku mulai berkunang-kunang, dan aku tak kuat lagi menopang tubuhku sampai aku akhirnya tertidur.

Pagi harinya aku terbangun karna mendengar azan dari musollah dekat rumahku, aku lekas mengambil wudhu dan sholat. Aku tak henti-hentinya memohon kepada Allah SWT agar melindungi Nurlela dari segala marabahaya. Setelah selesai sholat, aku sangat terkejut dan mengucap beribu-ribu syukur karena Nurlela ada di depan pintu tempat kosku. Aku berlari memeluknya, Nurlela pun tak kalah histerisnya, dia menangis sejadi-jadinya di pelukanku.

”Astaghfirullah,” kata itulah yang kuucapkan saat Nurlela mengatakan dirinya telah diperkosa, sekejap tubuh kami berdua terasa lemas, baik aku maupun Nurlela. Tanpa sadar kami berlutut sambil berpelukan, aku sangat syok dan sedih akan apa yang dialami oleh Nurlela, aku tak tau apa yang harus kuperbuat.

Namun walaupun hatiku hancur kucoba menguatkan dan menghibur Nurlela, kekasihku. Aku melaporkan kejadian ini kepada RT setempat, melalui mereka juga membuat pengaduan ke polisi, tapi hal itu tidak merubah keadaan Nurlela yang semakin hari semakin syok, badannya mulai kurus kering.

Setelah 2 bulan, kasus yang menimpa aku dan Nurlela belum juga terungkap. Aku dan Nurlela bolak-balik mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan, aku mulai jenuh akan semua ini. Keadaan Nurlela pun sejauh ini tidak menandakan ada perubahan, bahkan sikapnya mulai dingin, namun aku tetap bertahan mencintainya, walaupun rasa cintaku kini dibumbui rasa kasihan yang teramat dalam.

Hingga suatu pagi Nurlela memberitahukan kalau dirinya sedang hamil. Aku merasa berjalan diatas berjuta beling tajam yang siap merobek-robek kakiku, aku tak tau lagi harus berbuat apa, yahh… aku benar-benar menganggap kalau ini adalah cobaan terbesar dalam hidupku, cintaku yang dalam pada Nurlela membuatku semakin dewasa. Aku berniat menikahi Nurlela dan bertanggung jawab walaupun kehamilannya bukan karena aku.

Selama seminggu aku mengurus pernikahanku yang dibantu oleh kerabat dan juga para sahabat. Kami dinikahkan oleh penghulu, jadilah kami sepasang suami istri tanpa ada resepsi, bahkan aku tidak memberitahukan kabar pernikahanku kepada orang tuaku. Biarlah waktu yang memproses semua ini, bathinku saat itu.

Malam pertama tidak mempunyai arti bagiku, bahkan malam kedua, minggu pertama dan seterusnya. Aku tidak menyetubuhi Nurlela, aku tidak mau menodai janin yang dikandung oleh istriku. Nurlela juga masih merasa trauma jika melakukan hal itu, tapi tanggung jawabku sebagai suami tak pernah kutinggalkan. Aku menafkahi istriku, juga memberikannya kebahagiaan, kasih sayangku padanya tidak luntur sedikit pun, karena pada dasarnya aku sangat mencintai dia dari hatiku yang paling tulus.

Jam 11 malam istriku kesakitan, aku tau ini adalah bulan dimana istriku akan melahirkan setelah diberitahu oleh bidan yang ada di tempatku. Tak ayal aku pun merasa senang bercampur was-was, aku yang minim pengalaman soal urusan seperti ini langsung memberitahukan bidan dimana istriku sering periksa. Dulu bidan sangat langka, hanya ada beberapa bidan yang bertugas di Batam pada saat itu. Aku juga memberitahu kerabat dekatku.

jantungku berdebar-debar bercampur senang yang luar biasa setelah mendengar tangisan bayi dari luar kamar, para kerabat menyalamiku. Setelah beberapa saat, bidan yang menangani persalinan istriku keluar dari kamar dengan wajah bercampur sedih dan takut, ”Ma-maaf, pak… yang tabah ya,”

”Kenapa, bu?” jawabku tegang.

”A-anu, pak…”

Tanpa bertanya lagi aku langsung menuju kamar, kulihat istriku Nurlela telah terbujur kaku. Aku pegang wajahnya terasa dingin, aku pun menangis histeris, aku tak kuasa menerima kenyataan ini, istriku Nurlela telah tiada…

Setelah istriku wafat, aku membesarkan Fitri, anakku, sendirian. Kini umurnya 5 tahun, wajahnya sangat mirip dengan istriku, aku memasukkan dia ke TK. Aku sangat sayang pada Fitri, sampai-sampai aku memasukkan Fitri ke asuransi. Dulu asuransi belum dikenal banyak orang, tapi berkat arahan sahabatku maka aku memasukkan Fitri ke asuransi pendidikan sejak Fitri berusia 3 tahun. Semenjak kepergian istriku tersayang, aku sudah tidak lagi bekerja di Batam, aku membawa Fitri ke Pekanbaru. Aku bekerja separoh waktu karena aku selalu kuatir akan Fitri, anakku.

Sejak dini Fitri aku ajari tentang kebaikan, bahkan jilbabnya berlusin kubelikan padanya, setiap hari minum susu, tak lupa makanan yang bergizi, hingga Fitri sekarang lebih mirip anak orang kaya bila dilihat secara fisik.

jilbab-toge-nia-jateng- latifa putri (7)

Tahun-tahun berlalu, Fitri sekarang telah besar, minggu depan dia sudah mulai masuk sekolah SMP, tak terasa waktu begitu cepat berlalu ya… Fitri anakku telah berumur 13 tahun, Namun Fitri selalu bermanja-manja padaku, kami masih tidur seranjang, bahkan aku juga sering memandikannya atau juga mandi bersama. Rumahku yang mungil hanya memiliki 1 kamar dan juga mempunyai kamar mandi yang letaknya di dalam rumah yang memungkinkan kami bebas melakukan apa saja. Selain mendidik Fitri dengan baik, di sisi lain aku sangat memanjakannya, itulah letak kesalahanku sebagai orang tua.

Pada suatu hari yang indah, Fitri memintaku untuk memandikannya, karena sudah biasa aku pun menurutinya. Fitri meminta dimandikan dengan air hangat, tanpa beban aku mengiyakan permintaannya. Setelah air kurebus, aku ke kamar mandi mencampur air panas dengan yang dingin. Saat aku masuk, aku melihat Fitri anakku sudah telanjang, tanpa memakai baju sehelai pun. Aku agak terkejut campur entah apa, yang pasti dadaku deg-degan.

Aku melihat kemaluan anakku sudah ditumbuhi bulu walaupun sedikit, tapi sangat kontras dengan penglihatanku. Aku juga melihat payudaranya mulai benjol, menandakan Fitri mulai beranjak remaja. Entah kenapa aku sangat bergairah melihat Fitri saat itu, namun aku segera Istighfar berkali-kali dalam hati sambil memandikan dan mengusap-usap badan Fitri, tapi imanku kalah, imanku goyah, jujur kuakui aku sangat terangsang.

Untung saja acara memandikan Fitri telah selesai, akupun menyuruh Fitri ke kamar untuk memakai baju, sementara aku masih di kamar mandi mau mandi. Aku menyabuni badanku, tapi gairah itu datang lagi, kemaluan Fitri anakku sangat melekat di ingatanku, juga payudaranya… oh Tuhan, batinku. Tanpa sadar aku mulai mengocok penisku secara perlahan, ya aku onani membayangkan kemaluan anakku, juga kulitnya yang putih bening akibat karena minum susu tiap hari sangat merangsangku.

”Ooughhhh,” aku mendesah, kocokan tanganku semakin kencang, hingga akhirnya, croottt… aghhhh, maniku keluar sangat banyak dan kental sekali, aku sangat puas.

Tepat saat itulah, tiba-tiba… ”P-papa ngapain?!”

Deg…!!! oh, aku dilihat anakku sedang onani, aku lupa mengunci pintu!

”Ehh… ehh… anu, papa… papa mau mandi… eh tidak, papa tadi pipis.” jawabku.

”Oohh…” sahut Fitri.

Lalu aku mandi, setelah itu Fitri tidak membahasnya lagi.

Pada suatu malam, mungkin jam 1 lewatm aku terbangun karena mendengar rintihan kesakitan, ternyata Fitri yang kesakitan.

”Kenapa, nak?” tanyaku.

”Uuuu… uuuu… sakit, Pa, perutku sakit,”

Aku memegang perutnya. Aku meraba-raba sampai ke bawah pusarnya, ”Mana yang sakit, nak?” tanyaku.

”Ini, pak,” jawab Fitri sambil memegang-megang perutnya.

Aku menaikkan sedikit baju Fitri, dan juga menurunkan celana nya. Saat aku menurunkan celananya, aku melihat ada darah di sekitar daerah kemaluannya, tanpa pikir panjang kupelorotkan celana dan celana dalam Fitri. Pada awalnya aku sangat ketakutan, selama ini Fitri tidak pernah mengalami yang beginian, paling demam dan pilek. Aku mengambil air hangat, mengisinya ke baskom, perlahan kubersihkan darah yang ada di kemaluan Fitri dengan handuk leher. Saat kuusap, Fitri tidak lagi mengeluh. Setelah beberapa saat aku tersadar bahwa Fitri mengalami haid yang pertama, kekwatiranku pun perlahan hilang. Kubersihkan semua darahnya, dan juga celana dalam bekasnya kubawa ke kamar mandi lalu kubilas.

”Masih sakit, nak?” tanyaku.

”Masih, Pa,” jawab fitri.

fitri

fitri

”Ya udah sini papa peluk,” aku memeluk Fitri sambil tiduran, tangan kiriku mengusap-usap kemaluan Fitri yang telanjang, aku melihat wajahnya mulai tertidur.

Setelah pulang kerja aku belanja perlengkapan dapur dan juga tentu saja pembalut untuk Fitri, aku masih ingat pembalutnya bermerk Lauriel warna merah jambu. Hari itu Fitri tidak sekolah, katanya masih sakit di sekitar perutnya. Setiap malam selama seminggu aku selalu mengusap-usap kemaluan Fitri, katanya dengan usapanku sakitnya berkurang, tapi yang anehnya Fitri selalu meminta aku mengusap-usap kemaluannya setelah masa haidnya selesai.

Tentu saja aku berpikiran aneh, tapi kuturuti saja asalkan anakku merasa nyaman, bahkan sekarang Fitri kalau tidur hanya menggunakan pakaian dalam saja dan kaos singlet, bagaimana aku tidak dibuat pusing jadinya, tapi itu kudiamkan saja padahal itu sebenarnya salah karEna kami tidur dalam satu ranjang tua, yang kapasnya sudah menipis. Perlahan aku mengikuti gaya Fitri yang tidur hanya mengenakan celana dalam saja, di bawah satu selimut tentu saja, cuma dipisahkan bantal guling.

Waktu itu malam minggu, tapi sedang hujan. Aku memutuskan tidur duluan, kutinggalkan Fitri yang sedang asyik menonton tv. Aku kecapekan dan langsung pulas, tentu saja sebelum tidur aku membuka celana dan bajuku. Aku terbangun karena kedinginan, aku samar-samar melihat selimut kami dipakai oleh Fitri sendirian dengan memeluk guling pemisah kami. Dia membelakangiku sambil menekuk kedua kakinya.

Kasihan anakku, dia pasti kedinginan, batinku. Aku ikut berselimut dengannya, dan menggeser tubuhku lebih dekat lagi. Kupeluk Fitri dari belakang, aku seperti kesetrum baterai ABC di kala pahaku bersentuhan dengan pahanya, spontan saja penisku mulai bangun saat menempel ke pantatnya.

Oghh, ada gairah yang kudambakan, yang belum pernah kulakukan. Sejauh ini aku masih perjaka, belum pernah melakukan yang seperti ini, bahkan dengan almarhumah istriku. Aku jadi tidak bisa tidur dibuatnya, jantungku mulai berdebar kencang. Entah pikiran setan dari mana, aku mulai membuka celana dalamku, posisi tidurku kuturunkan sedikit ke bawah, perlahan aku mengarahkan penisku ke jepitan paha Fitri, aku melakukannya begitu saja.

Penisku terasa hangat, aku sudah diburu oleh nafsu. Aku goyangkan pantatku maju-mundur, mmffffhhhh… crootttt!!! Ohhh… aku mengeluarkan spermaku. Perlahan penisku mengecil, aku membalikkan badan dan menyesali apa yang telah aku lakukan. Aku memohon ampun kepada yang kuasa atas perbuatanku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, hingga aku tertidur karena kecapekan berpikir.

fitri

fitri

Aku bangun, tapi Fitri sudah tidak ada lagi di sampingku. Oh tidak, dia pasti melihat penisku yang telanjang. Aku agak panik karena selama ini, baik kami mandi bersama, aku selalu memakai celana dalam. Aku keluar kamar, kudengar ada cidukan air dari kamar mandi. Aku mulai malu dan segan untuk mandi bersamanya, walau kami tidur hanya mengenakan celana dalam saja. Aku tak kuasa melihat bulu kemaluan Fitri dan juga benjolan payudaranya yang mulai membesar. Oh tidak, batinku. Lebih baik aku menunggu Fitri selesai mandi.

Aku melihat kompor sudah menyala, Fitri ternyata sudah memasak nasi. Aku kembali ke kamar dan berbaring, mataku terasa pedas karena masih mengantuk, aku lihat jam dinding sudah jam 6 lewat, hooaaammmm…

”Pa… pa… pa…!!!”

Aku membuka kedua mataku.

”Pinjam handuknya, Pa!!” kata Fitri.

Aku bangkit dan memberi handuk yang kupakai, aku tak ingat kalau aku tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang melilit tubuhku itu, juga Fitri yang masih telanjang sehabis mandi. Aku melihat bulu kemaluannya lagi. Ohh, aku tidak menyadari penisku perlahan bangun. Mata Fitri pun menangkap gerak-gerik penisku itu.

”Pa, anunya papa berdiri,” kata Fitri.

Ya ampun, dari mana dia tau ngomong seperti itu. Aku pun menutup penisku dengan tangan. ”Ehh, anu… papa mungkin lapar, nak.”

”Ohh, kalau papa lapar pertandanya gitu ya, Pa?”

”I-iya,” kataku sedikit grogi dan bergegas ke kamar mandi lalu mandi.

Suatu malam Fitri tidak memakai baju sehelai pun. ”Lho, kok belum pakai baju, nak?” tanyaku.

”Habis gerah, Pa, tuh kipas anginnya putarannya lambat,”

Aku melihat kipasnya, memang putarannya sangat lambat walau tombolnya sudah nomor 3, ”Mungkin ada yang rusak nih kipasnya,” kataku sambil mengamati baling-balingnya, ”besok aja papa perbaiki,”

”Iya, Pa… Papa capek ya? Tadi Fitri beliin es batu, Pa, tapi udah Fitri campur ke teko.”

Memang saat itu aku kehausan dan juga gerah, aku lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. Gleek, glek, glek, ahh… aku merasa segar, aku pun membuka celana dan bajuku.

”Pa, tadi di sekolah, Fitri dicolek sama teman Fitri,” adu Fitri kepadaku.

”Trus, udah lapor sama guru?” tanyaku.

”Udah, Pa, temanku itu dihukum lari keliling lapangan,” jawab Fitri sambil ketawa.

Aku mendekati Fitri yang duduk di kursi kayu dan membelai-belai rambutnya. ”Nak, kamu pintar-pintar ya jaga diri, pokoknya jangan sampai hal tadi terulang kembali.”

”Iya, Pa,” jawab Fitri.

”Dan satu hal lagi, belakangan ini papa perhatikan kamu lebih sering nonton ketimbang belajar.” kataku sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.

”Tadi uda, Pa, sore,” jawab Fitri sekenanya sambil menatap layar televisi.

”Oh gitu, ya udah, papa senang dengarnya. Papa tidur duluan ya, nak, Papa ngantuk,”

”Fitri juga ngantuk, Pa. Yuk tidur, Pa.” ajak Fitri lalu mematikan tv.

Malam itu kami tidak berselimut karena panas, aku memeluk Fitri. Sebelum tidur kami bercerita tentang sekolahnya, tapi yang membuat bulu kudukku merinding adalah keadaan Fitri yang telanjang bulat. Aku tidak tahan dengan situasi ini, tapi entah kenapa tanganku yang memeluk Fitri malah mengelus-elus kemaluannya.

”Mmmff,” aku mendengar nafas Fitri mulai tidak teratur.

Jari tanganku bahkan menyibak bibir Fitri, akal sehatku sudah tidak normal. Fitri menggigit bibir bawahnya dan… deg, tangan Fitri memegang penisku. Keringatku makin deras membasahi wajahku, tangan mungilnya sangat merangsangku. ”Oughhh,” desahku ketika Fitri mulai mengocok penisku.

Aku lalu menindih tubuhnya dengan menahan badanku agar dia tidak kesakitan, kutatap matanya, seolah-olah aku menatap mata Nurlela, istriku. Kucium bibir mungilnya, pantatku di bawah kugoyang-goyang ke samping kiri-kanan bahkan dengan sedikit penekanan ke bawah. Aku cium terus bibir Fitri, dan bibir atasnya kuisap dengan bibir dan lidahku. Aku tau Fitri bisa menikmatinya, naluriku menuntunku mencumbui leher sampai payudaranya yang kecil keras.

fitri

fitri

”Pa, aghh… aww sakit, Pa,” jerit Fitri saat kuhisap seluruh payudaranya. Ciumanku turun ke bawah sampai ke kemaluan Fitri, kakinya kulebarkan untuk memudahkanku menciumi dan menjilati kemaluannya.

”Mmmfffff… aghhhh…” Fitri seperti cacing kepanasan saat lidahku menari-nari di kelentitnya. Dia menjerit, tapi tidak keras, ”Mmmfffhhh… agghhhh…” Fitri mengangkat pantatnya lebih dekat ke mulutku.

”Mmmffhhhhh…” Jilatanku terasa asin, dan ada lendir halus, aku dulu tidak tahu kalau Fitri sudah orgasme. Aku terus menjilatinya sampai…

”Pa, udah, Pa! Geli… mffhhh… udah, Pa,”

Aku menatap Fitri, matanya nampak sayu. Aku pun menyudahinya dan kembali memeluknya, aku membiarkan Fitri terlelap walau hasratku belum kesampaian. Aku merasa Fitri bukan sekedar anakku lagi, tapi belahan jiwaku. Perlahan kucium keningnya dan aku pun tertidur.

”Pa, besok Fitri nerima raport. Kata bu guru, yang ambil raport adalah orang tua murid,” kata Fitri malam itu.

”Duh, gimana ya, nak, padahal papa besok harus kerja,” jawabku sambil meminum kopi.

Lalu Fitri berjalan ke arahku dan memijit-mijit punggungku, ”Pa, kalau sebentar gak bisa ya, Pa?” tanyanya.

”Bisa sih, nak. Memang jam berapa pembagian raportnya?” kataku sambil membawa tubuh Fitri menghadapku.

”Mungkin jam 9 an kayaknya, Pa,”

”Kok kayaknya sih, nak?”

Lalu Fitri mencubit kedua pipiku, ”Ih, mana Fitri tauuu,” jawabnya sangat manja.

”Weaaakkk, bau… nafas Fitri kok bau sih?” tanyaku sambil bercanda, padahal nafasnya sangat wangi.

fitri

fitri

”Masa sih, Pa?” kata Fitri sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah mulutnya lalu mengeluarkan nafasnya.

”Bau kan?” tanyaku.

”Wee… papa bohong,” jawab Fitri sambil memencet hidungku.

”Udah, mandi sana,”

”Gak mau, Fitri maunya dimandiin papa.”

”Gak ah, Fitri kan udah besar.”

”Ayolah, Pa…” rengek Fitri, ”Papa udah lama gak mandiin Fitri.”

”Ya udah, papa ambil handuk dulu,” kataku sambil berpikir, sebenarnya aku takut kalau aku khilaf, sementara disisi lain hasratku sangat menginginkannya.

”Pa, Fitri boleh masuk ke bak air gak?” tanya Fitri.

”Lho, mau ngapain, nak?”

”Tadi Fitri liat di TV, Pa, kalau orang kaya mandinya di bak gitu,” jawab Fitri, ”Hehehe… Pa, Fitri tau kok kita hidup pas-pasan, tapi gak salah ’kan ngikutin jaman,” terang Fitri panjang lebar.

”Oh, Papa kirain Fitri udah makin oon,” kataku sambil menunjuk keningnya sampai mundur.

”Ihh, papa jahat,”

”Udah ah, kita mandi. Papa bentar lagi mau ada urusan di luar,” perintahku.

Fitri mulai membuka bajunya, aku sangat mengamati saat Fitri buka baju dan celana dalamnya, lalu aku membuka semua pakaianku, aku tidak malu lagi menampakkan penisku pada Fitri.

”Pa, aku masuk ya,” kata Fitri.

Tanpa menunggu jawabanku, kaki Fitri sudah berada dalam bak air. Bak air kami punya ukuran 50cm lebarnya, dan panjangnya kurang dari 1 meter, sama dengan tingginya. Aku pun mengikuti Fitri masuk ke bak air, kami saling berhadap-hadapan, dan kedua kaki Fitri berada diantara sisi pinggangku.

jilbab-toge-nia-jateng- latifa putri (2)

”Trus gimana nyabuninya?” tanyaku pada Fitri.

”Hehehe, ya gini, Pa,” jawab Fitri sambil mempraktekkan dengan menyabuni badannya.

”Nak…”

”Ya, Pa?!”

”Kamu gak pernah cerita sama orang kan kalau papa sering mandiin Fitri?” tanyaku sambil melihat aktifitasnya.

”Fitri udah dewasa, Pa, jadi tau mana yang musti diceritakan dan mana yang tidak,” jawab Fitri mantap.

”Trus kalau sudah dewasa mengapa harus dimandiin?” tanyaku.

Fitri menatap mataku dan mendekatiku. ”Pa, Fitri sangat sayang sama papa. Fitri sangat bahagia bisa punya papa.”

Aku memeluknya, otomatis di dalam air aku memangku Fitri secara berhadap-hadapan. Fitri juga memelukku, aku tak menyangka kalau Fitri anakku telah tumbuh dewasa. Dewasa dalam sifat, juga dewasa dalam tubuh.

”Papa laper ya?” tanya Fitri.

”Gak, kan tadi udah makan banyak,” jawabku.

”Trus anunya papa kok bangun?” bisik Fitri di telinga kananku.

Aku mencubit pinggangnya di dalam air.

”Pa, Fitri udah tau kok kenapa anunya papa bangun,” kata Fitri.

”Tau dari mana?” selidikku.

”Tuh, Pa, si Erna yang ngajarin, teman sebangku Fitri.”

”Ohh,” kataku sambil mencurigainya. Aku bersandar di dinding bak mandi, penisku yang tegang terhalang karena Fitri duduk di pahaku. Aku memejamkan mata sambil menggeser-geser pantat Fitri.

”Tok, tok, tok,” terdengar ketukan di pintu depan. Aku langsung meloncat keluar bak mandi, aku menutup pintu kamar mandi dan memakai baju serta celanaku.

”Eh, nak Rani,” sapaku pada teman Fitri.

”Fitrinya ada, om?” tanya anak itu padaku. Rani adalah anak tetanggaku, sekaligus teman sekolah Fitri.

”Ada tuh, lagi mandi. Masuk yuk!” ajakku. ”Fit, Fitt, ada Rani,” aku pura-pura berteriak kecil.

”Iya, Pa, tunggu!” jawab Fitri dari dalam, juga setengah berteriak.

Aku lalu ke kamar mengganti pakaianku. ”Fit, papa brangkat dulu ya, sekalian nanti papa beliin martabak,” kataku pada Fitri saat dia sudah selesai mandi dan hanya memakai handuk.

”Rani, om tinggal dulu ya, baik-baik di rumah,” kataku pada Rani.

”Iya, om,” jawab Rani.

Aku pun pergi untuk menghadiri undangan di RT sebelah.

Setelah selesai undangan, aku bergegas pulang. Aku bertemu dengan Ratmi, ibunya Rani. Bu Ratmi seorang janda, suaminya meninggal karena kecelakaan kereta api di Jawa. Karena tidak punya pekerjaan jadi bu Ratmi pindah ke Pekanbaru, kebetulan adiknya punya lahan karet.

”Bapak mau pulang?” tanya bu Ratmi.

”Iya, bu, kasihan Fitri sudah menunggu,” jawabku.

”Kalau gitu mari saya antar, pak!” ajak bu Ratmi.

”Aduh, trimakasih ya, bu. Tapi saya mau beli martabak dulu buat Fitri,” jawabku.

”Ya gak apa-apa, Pak, nanti kita singgah. Lagian Rani kalau gak salah ada di rumah bapak.”

”Betul, bu. Iya tadi dia datang.”

Bu Ratmi pun tersenyum.

”Kalau begitu biar saya saja yang bonceng ya, bu!” tawarku.

”Iya, Pak, masa saya yang bonceng,” jawab bu Ratmi.

Aku pun membawa motor milik adiknya bu Ratmi menuju rumahku dan singgah beli martabak dulu. Bu Ratmi orangnya manis, bisa dibilang masih seksi. Pinggulnya agak besar, tapi aku tidak tertarik pada bu Ratmi, karena sosok Nurlela istriku tidak tergantikan dan juga sosok Fitri anakku yang sangat kusayangi. Tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari istri baru, aku takut kalau nantinya Fitri terlantar.

“Nyam, mmmhhhh… martabaknya enak, om,” kata Rani.

”Iya, Pa, martabaknya enak.” timpal Fitri.

Kami berempat makan martabak yang kubeli barusan bersama bu Ratmi. Setelah selesai makan, bu Ratmi dan Rani permisi pulang. ”Sampai besok ya, Fit,” kata Rani sambil melambaikan tangannya.

Aku dan Fitri kemudian masuk ke rumah dan menutup pintu. Seperti biasanya sebelum tidur kalau memakan sesuatu kami sikat gigi, hal ini telah kuajarkan pada Fitri sejak dia umur 5 tahun.

”Papa capek ya?” tanya Fitri saat melihatku memijit-mijit leher.

”Iya, nak,”

”Boleh Fitri pijitin?”

”Gak usah, nak, besok pagi juga paling sudah sembuh,” kataku.

”Uhh, kapan Fitri bisa nyenengin papa?” rengek Fitri.

Aku memeluknya, tak terasa tinggi Fitri sudah sebahuku. ”Papa tiap hari senang kok,” jawabku, ”Yuk tidur!” ajakku kemudian.

Fitri pun menurut, ia lalu membuka semua pakaiannya, termasuk celana dalamnya. Aku pun melakukan hal yang sama, kami lalu naik ke kasur dan berselimut.

”Malam ini dingin ya, Pa?” tanya Fitri.

”Iya, nak, sepertinya mau hujan,” jawabku.

Lalu Fitri memeluk tubuhku yang telentang dengan kaki dan tangannya, aku kembali merasakan kehangatan tubuhnya. Aku tak tahu kenapa dengan diri Fitri, seolah-olah Fitri sangat suka merasakan atau melihat penisku bangun. Aku merasakan gerak-gerik kaki Fitri di atas penisku, aku berpura-pura tidur, aku mau tahu sejauh mana reaksi Fitri padaku.

”Pa,” panggil Fitri, tapi aku tidak menjawab. Fitri lalu memegang wajahku, ”Pa,” panggilnya lagi.

Aku kembali tidak menjawab panggilan Fitri. Aku merasakan dia bangun. Kubuka sedikit mataku untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Fitri. Anakku itu menurunkan selimut sampai batas kakiku, aku berusaha menahan suaraku karena tiba-tiba Fitri memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Aku berpikir, dari mana Fitri bisa belajar melakukan ini?

Fitri menutup mulutnya, seolah-olah dia mau muntah karena penisku menusuk kerongkongannya. Fitri kembali berbaring dan menarik selimut. Aku amat-amati dari pergerakannya, aku tau kalau Fitri sangat gelisah. Kira-kira 5 menit kemudian Fitri bangun lagi, kali ini dia memegang dan mengocok-ngocok penisku perlahan, serasa Fitri adalah seorang yang mahir dalam urusan esek-esek. Kocokan Fitri membuat penisku bangun, kenikmatan yang kurasakan hampir saja membuatku mendesah. Aku bisa saja bangun dan membalas perlakuan Fitri yang membuatku terbang, tapi aku ingin tau sejauh mana ia bekerja.

Dadaku hampir copot dan bisa dibilang aku menahan nafas secara tidak sengaja saat Fitri menaiki tubuhku dan mengarahkan penisku ke lobang kemaluannya, aku merasakan geli campur nikmat saat penisku menempel di lobang kemaluannya. Aku lihat Fitri menggigit bibir bawahnya.

”Mmmmffhh… aww,” desah Fitri pelan, dia jongkok diatas penisku. Aku tidak bisa melihat ke arah penisku, tapi aku merasakan kalau kepala penisku sudah masuk ke kemaluan Fitri walau sedikit. Tanpa sadar aku menggoyang pantatku naik turun. Melihat reaksiku, Fitri menatapku. Aku menyerah, aku pun membuka mataku.

”Uhh… papa jahat,” kata Fitri sambil menindihku, aku pun memeluknya dan membalikkan badannya.

Aku mencium bibirnya, kali ini Fitri membalas walau hanya mengecap-ngecapkan bibir. Naluriku membimbingku untuk mengeluarkan lidah, Fitri mengulumnya. Pantatku bergoyang di bawah ke kiri – ke kanan dan ke bawah, menekan kemaluan Fitri. Sekarang Fitri yang mengeluarkan lidahnya, aku menghisapnya. Mmmff… aku merasakan kenikmatan, rasa pertama bagiku. Aku hampir lupa kalau aku mengisap lidah Fitri cukup kuat sampai akhirnya…

”Mmmfffhh… Pa, sakit!” rintihnya.

”Hehehe, maaf.” aku mencium payudaranya, kali ini mulutku tidak muat lagi mengisap payudaranya, aku mainkan lidahku di payudaranya secara bergantian.

”Mmmmffffhhh… Pa, rasanya kok enak ya?” erang Fitri lirih.

Aku makin semangat mengisap payudaranya, ciumanku turun ke kemaluan Fitri, aku jilati dengan lidahku. Aku tak sabar untuk memasukkan penisku, aku lebarkan paha Fitri, kutuntun penisku ke lobang kemaluannya, kutekan.

”Aww… sakit, Pa.” kata Fitri sambil merapatkan pahanya.

Aku meludahi kemaluan Fitri agar licin, lalu kembali kuarahkan penisku ke lobang kemaluannya. Kali ini aku melakukannya dengan penekanan yang sangat pelan, tapi masih sulit. Kuambil bantal dan kuletakkan di bawah pantat Fitri, kali ini agak sedikit lebih nyaman, kedua tanganku bisa bebas tanpa menopang tubuhku lagi. Kusibak bibir kemaluan Fitri dengan kedua jempolku, jelas sudah kelihatan lobangnya yang merah dan sempit. Kubasahi ujung penisku dengan ludahku, kali ini agak licin.

”Mmmffffff… Paaa, sakittt!!” lirih Fitri.

Aku menekannya lagi.

”Paa… aahhh… Fitri gak kuat,”

Kulihat kepala penisku sudah masuk, tinggal batangnya. Aku melihat Fitri mengeluarkan air mata, aku kasihan padanya, kucabut penisku dan kupeluk Fitri. Tapi aku merasa tanggung, kembali kuciumi bibirnya, lehernya, payudaranya, juga kemaluan Fitri. Kali ini aku menjilati kemaluan Fitri dengan rakus.

”Mmmfffhh… ougghh… Paaa, enakk… mmfff…” Fitri menggoyang-goyangkan pantatnya seakan mau menghindar karena kegelian. Kujilati itilnya, lalu Fitri meremas kepalaku, ”Mmmfffhhh… Paaa, ahhhh…” kembali Fitri mengangkat pantatnya.

Aku tau kalau dia mau orgasme, maka kusedot pas di lobang kemaluannya dengan kuat.

”Paaa…”

Aku merasakan ada sedikit cairan hangat, segera kutelan semua, secara bersamaan pantat Fitri menekan mulutku dan aku merasakan pantatnya sangat menegang, dan… ah, nafas Fitri menjadi sangat cepat. Aku melihat wajah Fitri yang orgasme, terlihat sangat dewasa, keringat di keningnya membuat wajahnya semakin cantik.

Aku berlutut di depan paha Fitri, kulebarkan pahanya, penisku yang setengah tegang kututun ke arah lobang kemaluan Fitri. Lebih baik begini, pikirku. Kalau penisku makin tegang tentu saja sulit bagiku memerawani Fitri. Kutekan pelan penisku, aaahhh… terasa hangat dan enak sekali. Kepala penisku kembali terbenam di kemaluan Fitri.

”Aww… Pa, sakit,” jerit Fitri.

Kutekan lagi hingga masuk sekitar setengah centi meter.

”Awwww… Pa, ahhh…” Fitri meraung kesakitan.

Kucabut penisku, aku kasihan padanya. Kemudian aku mengocok penisku, kencang, makin kencang. Tak sampai 3 menit aku merasa mau keluar, tatapanku melekat pada tubuh Fitri dan lobang kemaluannya, ”Aaahh… mmmfffhh…” crooot, croooottt, croootttt, spermaku keluar diatas perut sampai payudara Fitri. Aku menikmatinya sampai kocokanku membuat penisku mengecil, lalu aku berbaring sambil memeluk Fitri dan mengatur nafasku, hingga kami berdua tertidur pulas.

***

Aku berdiri di teras rumahku, melihat Nurlela istriku yang duduk di bangku teras sambil menangis.

”Kenapa kamu tega melakukannya pada anak kita, Pa?” tanya istriku.

Aku mendekat ke arah Nurlela, ”M-maafin papa ya, Ma. Papa kesepian semenjak ditinggal mama,” jawabku.

”Tidak!!!” Nurlela menatapku dan menunjukku dengan jari telunjuknya, seakan-akan mau menerkamku. Dan plakk, plakk, Nurlela menamparku dengan keras.

”Dia bukan anakku, dia bukan darah dagingku, dia bukan anakku,” nafasku terasa sesak.

”Pa, Pa! Bangun!”

”Pa…”

Ohh, aku bermimpi. Keringatku bercucuran dan nafasku ngos-ngosan seperti habis berlari.

”Papa mimpi buruk ya?” tanya Fitri.

”Iya, nak,”

Lalu Fitri keluar dari kamar, tak lama kemudian dia datang membawa air minum. Aku meminumnya, aku melihat jam pukul 02.30 WIB.

”Makasih ya, nak, kita tidur lagi yuk,” kataku.

”Iya, Pa,” Fitri memelukku, sementara aku mencoba melupakan mimpi tadi dan aku pun terlelap.

Seharian aku teringat mimpiku, bahkan aku bekerja tidak semangat, aku telah menghianati Nurlela. Ya, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku, aku berjanji dalam hati. Hari ini aku sengaja pulang agak larut malam, kulihat jam sudah hampir jam 12 malam.

Tok, tok, tok, kuketuk pintu rumah. Tak lama Fitri membukakan pintu, ”Kok lama, Pa, pulangnya?” tanyanya.

”Iya, tadi banyak pekerjaan,” jawabku sambil membuka bajuku yang kotor. Kulihat tudung saji di meja makan, lauk dan pauknya masih banyak.

”Pa, Fitri laper,” kata Fitri.

”Lho, kenapa belum makan?” tanyaku.

”Fitri nunggu papa.”

”Lain kali kalau papa pulang telat, Fitri makan aja dulu,” seruku.

”Ogah ah, Fitri maunya makan bareng sama papa.”

”Ya udah, papa mandi dulu ya,” kataku.

Lalu aku mandi, kali ini aku membawa baju ganti ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, kami langsung makan.

”Hooaaammmm… kita tidur yuk,” kataku sehabis makan.

”Iya, Pa, Fitri juga ngantuk,” kulihat Fitri membuka bajunya.

Oh tidak, batinku. Aku sengaja tidak membuka pakaianku, lalu kami beranjak ke tempat tidur. Aku menatap langit-langit kamar, sulit kupejamkan mataku, terIngat mimpi tadi malam. Istriku, maafkan aku, batinku.

Kulihat Fitri, oh bagaimana mungkin aku tahan dengan semua ini, namun aku tidak mau lagi mengulangi perbuatanku, maka segera kubalikkan badanku membelakangi Fitri, sampai aku pun tertidur.

***

Hari ini aku tidak kerja, aku sudah minta izin sama juraganku agar bisa libur selama 3 hari, kebetulan Fitri juga sedang libur kenaikan kelas. Aku bangun sekitar jam 9 lewat, kulihat Fitri sedang asik menonton TV bersama Rani.

”Udah bangun, Pa?” tanya Fitri.

”Iya nih, hoaaammm… tapi masih nguaantukk,” kataku sambil menguap. Aku melihat Rani memakai daster yang agak tipis, aku bisa melihat garis-garis celana dalamnya karena posisinya menonton sambil telungkup. Pantatnya sudah lumayan montok, lebih besar dari pantat Fitri. Uhh, penisku mendadak bangun, aku sengaja duduk dibelakang mereka. Karena serunya acara yang di tv, mereka diam saja, tapi kaki Rani yang ditekukkan ke atas bergoyang-goyang, dilebarkan lalu dirapatkan. Saat dilebarkan aku bisa melihat sedikit celana dalamnya, kutelan ludahku.

Aku lalu ke kamar untuk mengambil koran dan kembali lagi, aku pura-pura membaca koran tapi tempat dudukku berpindah agak lurus di belakang Rani. Kulihat mereka berdua masih asyik menonton, penisku menegang, jujur saja tubuh Rani lebih indah bila dibandingkan tubuh anakku, Fitri. Sekilas kalau dilihat, Rani seperti wanita dewasa. Entah kenapa melihat paha dan pantatnya, penisku jadi sangat tegang.

Uhh, aku ke kamar lagi, mengganti celanaku dengan sarung tanpa memakai celana dalam. Aku keluar lagi dari kamar, walah sialan, pikirku, Rani sudah duduk. Tanpa mikir panjang, aku ke kamar mandi. Saat aku mandi, pikiranku berkecamuk, kenapa akhir-akhir ini hasratku semakin tidak terkontrol. Selesai mandi, aku makan, tak lupa aku mengajak Fitri dan juga Rani, tapi Rani tidak mau, alasannya sudah makan.

”Pa, nanti sore kita ke pasar ya!” kata Fitri.

”Mmm, iya deh. Jam berapa, nak?”

”Jam lima aja, Pa, sekalian belanja juga lihat pasar malam,”

”Iya, om, mumpung liburan,” potong Rani.

”Ok, nanti sore kita pergi. Tapi nunggu sore enaknya kita ngapain ya?” tanyaku pada Fitri.

”Hehehe, nonton aja, Pa,” jawab Fitri.

Selesai makan, aku ikut nonton bersama Fitri dan Rani. Kali ini kami nontonnya bersandar ke dinding kamar, Fitri yang manja padaku langsung tidur di pahaku. Rani juga tak mau kalah, katanya dia rindu sosok ayah, jadi Rani bersandar di bahuku. Tanganku yang kanan membelai-belai rambut Fitri, sementara tangan kiriku memegang tangan Rani. Hampir 2 jam kami menonton hingga Fitri tertidur di atas pahaku, sementara Rani tidak lagi bersandar di pundakku, dia berbaring dengan posisi pantatnya sangat dekat dengan pantatku, dasternya agak terangkat.

Melihat itu, penisku mulai bangun. Kugeser kepala Fitri ke lantai, aku lalu ke kamar membuka seluruh pakaianku. Aku kembali lagi, kusingkap daster Rani sampai ke perutnya, celana dalamnya yang warna putih sekarang terlihat jelas. Kuangkat kaki Rani satu sehingga posisinya sekarang seperti orang melahirkan, kudekatkan wajahku ke kemalauannya, kuendus aromanya. Hmm… bau keringat, batinku. Kujilati celana dalamnya dengan posisi menungging, rasanya asin. Mungkin Rani tadi pagi belum mandi, batinku.

Kusingkap celana dalamnya ke samping agar aku bisa melihat lobang kemaluannya, aku tidak berani membuka celana dalam Rani, pasti dia terbangun. Kuisap jari telunjukku lalu kumasukkan ke lobang kemaluan Rani, sluupp… jariku masuk semua. Aku penasaran, lobang kemaluan Rani agak longgar ketimbang punya Fitri, aku yakin pasti Rani pernah bersetubuh. Kucucuk-cucukkan jariku, Rani mulai bergerak, dia merapatkan pahanya. Kudiamkan beberapa saat jariku di dalam kemaluannya, lalu kucabut.

Sekarang giliran penisku kubasahi dengan air liur, lalu kuarahkan ke lobang kemaluan Rani. Lututku agak sakit menekan tikar pandan, tapi kutahan. Perlahan kepala penisku masuk dengan mudah, kutekan lagi, ”Mmmmfff,” aku menahan desahanku saat penisku sudah masuk semua. Ohhh, perjakaku ternyata buat Rani.

Kulihat Rani mulai gelisah. Aku lalu menopang tubuhku dengan tangan agar tidak menindih Rani. Mulai kugoyang pantatku, aku merasakan kalau pantat Rani juga ikut bergoyang, ohh makin nikmat. Makin lama goyangan pantatku menjadi semakin kencang.

”Mmmfffhhhh,” desah Rani.

Kucium bibirnya, Rani pun membalas ciumanku, bahkan lidahku disedotnya, dia sudah tak tidur lagi. Aku merasa penisku mau mengeluarkan sesuatu yang tak bisa kubendung, ”Oougghhhh,,.” kutekan pantatku sekuatnya, crrrooottt… crooottt… spermaku keluar di dalam kemaluan Rani. Tak kusangka aku bisa ML dengan Rani. Aku lemas dan menindih tubuhnya, kubiarkan penisku bersarang di dalam kemaluan Rani. Kupandangi wajahnya, tapi mata Rani menatap ke belakangku.

Deg!! Ternyata Fitri melihat kami. Mataku dengan mata Fitri saling bertatapan saat aku menoleh ke belakang, aku menjadi sangat malu. Lekas kucabut penisku dan duduk sambil menutupi wajahku. Aku masih diam, begitu juga dengan Rani dan Fitri.

”Om, Fit, aku permisi pulang,” kata Rani.

Aku dan Fitri tak mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah Rani pulang, Fitri masuk ke kamar dan aku hanya bisa menyesali perbuatanku, namun sekaligus juga menikmatinya.

Seminggu setelah kejadian itu, aku dan Fitri jadi jarang komunikasi, bisa dikatakan hanya sekali, itu pun saat Fitri minta uang mau beli buku baru. Sikap Fitri mulai berubah, cenderung lebih cuek, dia tidak mau lagi makan bersamaku, apalagi minta dimandikan, dan kalau tidur selalu membelakangiku, tapi tetap saja hanya memakai celana dalam dan bh. Sudah 2 hari ini aku melihat Fitri memakai bh, tentu saja bukan aku yang membelikan.

Pada suatu malam cuacanya sangat panas, PLN pun mati karena ada kerusakan. Aku kegerahan, keringatku bercucuran. Aku pergi ke kamar untuk membuka semua pakaianku, juga celana dalamku. Kukipas-kipas tubuhku menggunakan buku tulis Fitri yang kuambil di atas meja samping tempat tidur. Aku perhatikan Fitri melakukan hal yang sama, dia telanjang dan mandi, padahal sudah pukul 10 malam. Kucoba tidur tapi tidak bisa, panasnya suhu membuatku selalu mengeluarkan keringat.

Aku lihat Fitri sudah selesai mandi dan merasa segar, dia lalu berbaring di sampingku dengan membelakangiku. Aku mulai gemas dengan sikapnya, seakan-akan aku bersalah padanya. Tapi melihat Fitri yang tenang tidak mengipas-ngipaskan buku membuatku iri. Aku ke kamar mandi dan, byuuurrr… oh, segar juga mandi, batinku. Selesai mandi ternyata aku mulai tenang, perlahan rasa kantukku datang. Hooaaammm… dan akupun tertidur.

Suara gledek membangunkanku, ternyata hujan turun sangat lebat, membuat tubuhku kedinginan. Begitu juga dengan Fitri, dia bangun akibat suara gledek yang memekakkan telinga. Fitri menyelimuti tubuhnya, aku mencoba masuk ke dalam selimut itu, Fitri membiarkanku. Kupeluk dia dari belakang, ohh hangatnya, gairahku mulai muncul seiring penisku yang perlahan membesar. Aku merasakan penisku menempel di pantat Fitri yang membelakangiku. Tanpa sengaja kudorong-dorong pantatku, juga tanganku telah memegang payudara Fitri dan sedikit meremas pelan. Fitri diam saja kuperlakukan demikian. Aku makin berani, kucium leher belakang Fitri.

”Mmffhhh… ahhhh… Pa,” Kini Fitri membalikkan badannya menjadi telentang, gairahku sudah terbakar hingga aku lupa pada janjiku, dengan rakus kukulum bibirnya, juga payudaranya, lidahku menari-nari di putingnya.

”Mmmffhhhh… mmffhhhh… Paa, ahhhh… Pa.” rintih Fitri.

Kudekatkan wajahku ke kemaluannya, langsung kujilat dan kugigit pelan itilnya. Aku menelan semua cairan yang keluar dari kemaluan Fitri, bercampur aduk dengan ludahku.

”Aaaahhhh… Paaaa… Paaaaa…” Fitri makin mengerang hebat.

Kuludahi telapak tanganku lalu kugosok ke penisku agar licin, kuarahkan penisku perlahan. Kulihat wajah Fitri, aku tidak tahu maksud Fitri saat menganggukkan kepalanya. Perlahan tapi pasti, tanganku yang satu memegang penisku, sedang tangan yang satu lagi membuka bibir kemaluan Fitri, kudorong pantatku…

”Ooughhh… awww…” Fitri mendesah bercampur menahan rasa sakit. Kulihat penisku sudah mulai masuk, bahkan kepala penisku tidak kulihat lagi. Aku merasa agak ngilu di bagian penisku, tapi sangat menikmatinya. Kudorong lagi perlahan, perlahan, perlahan…

”Mmmffhhh… Paaaa… sakittt!!” kata Fitri lirih. Penisku telah tertanam setengah dalam kemaluannya, kudorong lagi dengan tekanan yang lebih kuat, sleppp!!!

”Aahhhhhhh… Paaaaa…” ia menjerit.

Aku menutup mulut Fitri agar tidak kedengaran sampai ke luar. Aku melihat air matanya menetes, aku kasihan padanya, tapi juga tak ingin memutus kenikmatan ini.

”Tahan ya, Sayang, tahan,” kataku mantap, aku goyang-goyang pantatku.

”Aahhhh… aaahhhh… aaaahhhh…” Fitri merengek saat penisku bolak-balik menghantam dinding kemaluannya, nikmatnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Fitri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat kupercepat goyanganku.

”Aaahhh… aaahhhh… aaahhh… oh anakku, memekmu enak sekali… mmmfffhhhh!!” aku mengeluarkan kata-kata vulgar, dalam sekejap aku bagaikan profesional.

”Ohhh, Fitri anakku… kita ngentot… ahhhh… aahhh…” Crrroootttt… spermaku keluar banyak sekali sampai tak bisa kukatakan, aku puas dan terbaring lemas sampai aku tak tahu keadaan Fitri. Sambil mengatur nafas, aku menciumi Fitri dan memeluknya. Oh aku telah merenggut keperawanan Fitri, anakku sendiri, batinku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku selalu menjaga sikap, baik di rumah maupun di lingkunganku, aku takut perbuatanku diketahui orang lain. Biar bagaimanapun tingginya hasratku, aku dapat mengontrol sikapku. Aku juga telah memperingatkan Fitri agar jangan terlalu manja bila ada orang lain, di samping itu juga aku sangat ketakutan apabila Fitri hamil. Seingatku waktu memerawaninya, aku lupa untuk tidak mengeluarkan spermaku di dalam kemaluannya.

”Pa, papa lamunin apa?” tanya Fitri membuyarkan lamunanku.

”Eh, kamu udah pulang, nak… nggak, Papa cuma mikirin kerja,” jawabku.

”Oh… Pa, Fitri bisa ikut les computer? Soalnya teman-teman Fitri pada ikut,” lanjutnya.

”Boleh aja, nak, Papa justru senang.” jawabku.

”Makasih ya, Pa, muaaaahhh…” Fitri menciumku. ”Mulainya sekarang, Pa, jam tiga, tapi harus bawa uang daftar sama biaya beli disknya,” lanjut Fitri.

”Oh, berapa katanya, nak?” tanyaku sambil menatap payudara Fitri yang membuatku menelan ludah.

”250rb, Pa.” jawabnya.

”Kok mahal amat, nak?” aku mengerutkan alis, belakangan ini keuanganku semakin menipis untuk biaya kami dan juga biaya sekolah Fitri.

”Gak tau, katanya segitu, Pa,” jawab Fitri.

Aku mengeluarkan dompet, isinya cuma 50rb. Lalu aku ke kamar dan membuka lemari pakaianku, kubuka amplop yang terletak di bawah lipatan baju. Aku menarik nafas, sisa gajiku bulan kemarin tinggal 400rb, kuserahkan 250rb pada Fitri.

”Nih duitnya, tapi belajarnya yang sungguh-sungguh ya!” nasihatku pada Fitri.

Fitri menerimanya dan memelukku, ”Makasih ya, Pa,”

Aku mencium rambut Fitri yang bau sinar matahari, ”Ya udah, kamu makan dulu sana,” kataku.

”Belum laper, Pa, Fitri mau tiduran dengan papa, nunggu jam 3,” jawab Fitri. ”uhhh… gerah ya, Pa,” lanjut Fitri sambil membuka baju sekolahnya, ”Papa, sini, dekat Fitri,” ia memanggil.

Tingkahnya sungguh sangat menggoda imanku, kubuka semua bajuku dan kutindih tubuhnya, kucium bibirnya.

”Mmmffffhhhh… Paaa… mmfffhhhh…” Fitri merintih.

Salah siapa, batinku. Aku langsung membuka celana dalamnya, sslrruupp… kemaluan Fitri kujilat dan kusedot habis-habisan.

”Aaagghhh… Paa, enakk… ugghhh…” Fitri mengangkat-angkat pantatnya.

Aku mengangkangkan kaki Fitri dan mengganjal pantatnya dengan bantal. Kuarahkan penisku tepat di lobang kemaluan Fitri, kutekan, ”Mmmfffhhhh… Pa,” dia merintih saat seluruh batang penisku habis ditelan kemaluannya yang sempit dan hangat.

”Paaa…”

”Iya, nak…”

”Mmfffhh… enak, Paa…”

”Apanya, nak?” Goyangan pantatku makin kupercepat.

”Titit papa, enaaakk…”

”Apa titit itu, nak?”

”Kontol papa,”

Aku makin bernafsu mendengar kata-kata Fitri. Aku merasakan sesuatu akan keluar dari penisku, kugoyang pantatku makin kencang, dan puting Fitri aku lumat habis, kuhisap sekuat-kuatnya.

”Paaa… aaaaghhhhhhhh…” Fitri menjambak rambutku, dan crooottt, crooottt, penisku mengeluarkan sperma yang banyak sekali di dalam kemaluan Fitri.

Disaat yang hampir bersamaan, ”Paaaa… aaaghh!!” Fitri seperti mengejan, pantatnya menekan penisku sangat kuat. Rupanya dia juga orgasme, kami sama-sama puas. Aku masih membiarkan penisku di dalam lobang kemaluan Fitri sambil mengatur nafas, siang itu kami berdua mandi keringat.

Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat. ”Nak, mandi sana,” kataku sambil turun dari tubuh Fitri.

”Bentar lagi, Pa,” jawab Fitri sambil memegang penisku, aku membiarkannya. Tak beberapa lama Fitri beranjak dari tempat tidur, aku merasakan angin yang segar, rupanya Fitri memindahkan kipas angin yang ada di luar ke dalam kamar. Aku menikmatinya sampai tertidur.

”Pak!!”

Tok-tok-Tok…

”Pak, Pak…”

Aku bangun saat mendengar ketukan di pintu depan, masih jam 4. Uh, siapa ini yang mengganggu tidurku, batinku. Kubuka pintu dengan keadaan mata yang masih terkantuk-kantuk.

”Aawwwww!!” bu Ratmi lekas menutup kedua matanya sambil berbalik.

Oh tidak!!! Aku lupa memakai celanaku. Aku langsung balik ke kamar dan mengambil handuk, segera kulilitkan ke pinggangku.

”Maaf, bu,” kataku. ”Ada apa ya, bu?” lanjutku untuk memecah kebekuan.

”Anu, pak, maaf mengganggu. Bisa pinjam kamar mandi?”

Tanpa kujawab, bu Ratmi langsung nyelonong ke kamar mandi. Suara kentutnya sampai kudengar, aku tersenyum dan berpikir; aneh, kenapa juga bu Ratmi kesini? batinku.

10 menit kemudian bu Ratmi keluar, ”Makasi ya, pak. Kamar mandi kami rusak, mungkin tersumbat,” kata bu Ratmi.

”Iya, Sama-sama, bu, nggak apa-apa.” jawabku.

”Fitri kemana, pak?” tanya bu Ratmi.

”Fitri sedang les,” jawabku.

”Oh, pantesan bapak telanjang,” kata bu Ratmi sambil tertawa kecil.

Wah, bu Ratmi ini agak genit juga, batinku. Dia tidak langsung pulang, malah duduk di dekatku.

”Bu Ratmi belum mau pulang?” tanyaku.

”Ehh, gak boleh ya lama-lama?” jawab bu Ratmi agak menggoda.

”Boleh sih, bu, tapi malu dilihat tetangga,” jawabku.

”Betul juga ya, pak, kalau begitu saya pamit aja deh,” kata bu Ratmi sambil menuju pintu dan langsung pulang.

Aku bergegas mandi, belum sempat kubilas badanku, ada yang memanggil-manggil dari luar.

”Fit, Fitrii…”

Siapa lagi ini, pikirku. Aku lilitkan handuk ke pinggangku dan…

”Eh, maaf, om, Fitri di rumah?” tanya Rani.

”Nggak, lagi les computer,” jawabku.

”Ohh, Rani cuma mau minjam buku, Om,” lanjutnya.

”Tunggu aja, bentar lagi juga balik,” kataku.

”Iya, om,” jawab Rani sambil memandang ke arah penisku.

”Tapi nunggunya di luar aja ya,” lanjutku.

”Iya, om.” jawab Rani.

Aku pun balik ke dalam dan mandi kembali.

***

”Pa, lain kali kalau rani datang, suruh aja pergi!” kata fitri agak jengkel.

”Lho, kenapa, nak? Rani kan teman sekolahmu,” jawabku.

”Tapi Fitri tidak suka padanya,” jawab Fitri tegas.

Aku tau Fitri pasti tidak suka karena penah melihat kami sedang ML. ”Papa gak tega, nak,” lanjutku.

”Gak tega apa suka?” jawab Fitri.

”Ngg… ehh, kok gitu ngomongnya?”

Fitri kemudian ke kamar dan menangis telungkup. Aku biarkan dia sendiri.

Suatu malam aku dan Fitri menonton acara reality show, dimana ada perkawinan incest di pedalaman India dan melahirkan anak yang cacat. Aku dan Fitri saling berpandangan, ada tersirat rasa penyesalan dalam dirinya, begitu juga aku.

Aku ke kamar dan membaringkan diri, aku mencoba mengingat masa lalu bersama istriku, Nurlela. Ahh, tak terasa air mataku menetes. Aku merasakan kehadiran Fitri disampingku, hanya saja dia membelakangiku. Kami diam dalam pikiran masing-masing, hening, kami diam padahal tidak tidur.

”Pa,” kata Fitri sambil membelakangiku. “Fitri takut hamil, Pa,” lanjutnya.

”Papa juga, Nak,” jawabku. ”Sepertinya kita harus menghentikan hubungan kita yang sudah terlalu jauh ini,” lanjutku.

”Iya, Pa, Fitri setuju,” kemudian Fitri membalikkan badannya sambil memelukku.

***

Satu bulan kemudian hal yang kutakuti pun terjadi, pagi itu selepas aku selesai sarapan dan mau berangkat kerja.

”Weaaakkk… weaaakkk…” Fitri muntah-muntah di kamar mandi. Rasa takut akan firasatku, langsung kudekati Fitri, kubekap mulutnya dengan telapak tanganku.

”Sstt… ditutup, nak, mulutnya kalau mau muntah. Nanti ada orang yang dengar,” kataku pada Fitri, aku sangat gugup dan dihantui rasa takut.

”Mmffhh,” Fitri melepaskan tanganku. ”Pa, Fitri takut,” katanya sambil menangis.

”Stttt… tenang, nak, tenang. Kamu masih mual?” tanyaku.

”Dikit, Pa.” jawab Fitri sambil memukul-mukul perutnya.

Aku tak kuasa melihat tingkah Fitri, pikiranku bercampur aduk, tapi logikaku menyadarkanku. Jika orang mengetahui Fitri hamil karena aku, pasti warga akan mengamuk, atau bisa saja memukuliku dan aku dipenjara. Oh tidak, aku teringat kedua orang tuaku. Tanpa pikir panjang aku mengajak Fitri ke suatu tempat, tentunya dengan tujuan aborsi. Tapi tidak semudah yang kukira, aku harus menjaga dan menutup rapat-rapat kejadian ini.

”Pa, kita mau kemana?” tanya Fitri.

”Sabar ya, nak!” jawabku.

Aku membawa Fitri ke luar kota dan bertanya-tanya pada orang dimana ada tempat aborsi, untung saja ada yang membantu. Aku menemukan alamat dukun yang diberitahukan kepadaku. Setelah menjelaskan semua pada sang dukun maksud kedatangan kami, aku dan Fitri disuruh masuk ke sebuah kamar. Aku hanya bisa melihat dan kasihan pada Fitri, dia mengerang kesakitan, mungkin sangat kesakitan, sampai air mataku menetes dan memohon pengampunan pada yang maha kuasa.

Setelah Fitri menggugurkan kandungannya, dia terlihat sangat lemas, ibarat bunga yang sudah layu. Aku memutuskan untuk menginap di rumah dukun tersebut mengingat kondisi Fitri yang masih labil. Keesokan harinya baru aku membawa Fitri pulang, tentu saja aku mengatur agar pada saat tiba di rumah tepat pada malam hari, agar orang tidak curiga.

Selama seminggu Fitri kuliburkan dari sekolah, keadaannya pun mulai membaik.

”Pa, mau bikin apa?” tanya Fitri pada suatu hari.

”Ini, papa mau buatin kamar buat kamu,” jawabku sambil memotong triplek dengan gergaji.

”Fitri bantu ya, Pa!” lanjutnya.

”Gak usah, nak, kamu kan lagi sakit. Udah, mending kamu istirahat aja,” jawabku.

Aku lihat Fitri tidak beranjak, ”Pa, Fitri kangen mama.” kata Fitri lirih.

Aku menatapnya. ”Papa juga, nak.” jawabku.

”Kenapa papa tidak mau menikah lagi?” lanjut Fitri.

Aku terdiam mendengar pertanyaannya, tak bisa kupungkiri kalau benih cintaku telah tertanam pada diri Fitri. Kuambil nafas dalam-dalam, ”Udah sore, Nak, mandi sana!” kataku sambil menyudahi pekerjaanku.

Aku melihat Fitri menutup pintu kamar mandi, mungkin dia telah sadar akan apa yang dilakukan selama ini adalah salah. Aku merasa bangga pada Fitri yang memiliki sifat dewasa walau ada keinginan di hatiku untuk mengulangi kenangan bersamanya.

NYONYA HAJAR

Rumah itu tampak sepi saat Doni pergi meninggalkannya untuk pergi beranglat kerja ke kantor. Dia tidak pernah tahu bahwa ada lima orang begundal tengah mengamatinya dari dalam mobil box yang terparkir di ujung gang.

“Gimana, Bang, kita serbu sekarang?” tanya Botak.

“Tunggu, jangan keburu nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe!” kata Mamat, pemimpin gank perampok tersebut.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (1)

“Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepeda. Kita tunggu sebentar, Bang.” kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah itu.

Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati jalan itu dengan mengayuh sepeda mereka. Kelima orang itu segera berpura-pura tengah menganti ban mobil box yang sama sekali tidak bocor.

Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, “Gimana, sekarang?”

“Oke, Bang. Hansip itu cuma lewat, lalu nongkrong di pos ujung sana, main gaple,” terang Tatto.

“Oke, kita siap beroperasi. Botak, elo sama si Bedu masuk dulu. Beresin korban kita,” perintah Mamat.

Kedua orang itu segera bergerak cepat, mereka melompati pagar dan tanpa kesulitan masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak dikunci itu. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak dengan cekatan melumpuhkan pembantu setengah tua yang memergoki aksi mereka. Kedua begundal itu kemudian mengendap pelan menuju ke kamar tidur utama dan membuka pintunya.

Hajar, seorang ibu muda berjilbab yang saat itu sedang asyik bersolek, kontan terkejut dengan kehadiran mereka. “Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?” hardiknya setengah takut.

Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk tubuh Hajar lalu membekap mulutnya. Bedu menggunakan lakband yang dibawanya untuk membungkam mulut wanita cantik itu. Setelah si Nyonya rumah berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak segera keluar untuk membuka pintu pagar. Dengan anggukan kepala ia memberi kode kepada ketiga temannya agar cepat menyusul masuk. Mobil box segera bergerak masuk ke dalam garasi. Tatto, Joki dan Mamat meloncat turun dari mobil dan segera mengikuti Botak masuk ke dalam rumah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (2)

“Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih orok.” terang Tatto.

“Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah,” jawab Botak.

“Udah, gak usah peduli, cuma anak kecil aja. Ambil harta di rumah ini, cepat!” perintah Mamat.

Mereka pun segera berpencar untuk mencari segala benda berharga yang mungkin bisa dibawa, mulai dari setrika murahan hingga TV layar datar yang ada di ruang keluarga. Tak lupa juga lemari Hajar yang ada di kamar diobrak-abrik oleh mereka. Mamat mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Ia juga menggondol surat-surat berharga yang ada disana. Tak sampai setengah jam, harta benda di rumah itu telah berpindah ke dalam mobil box.

“Ayo, jalan.” kata Tatto.

“Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga, gua mau cobain,” kata Mamat sambil memandangi Hajar yang hari itu mengenakan busana terusan panjang berwarna hijau dan jilbab putih lebar sedada.

Hajar meronta dalam ikatannya saat perlahan Mamat mulai mendekatinya, yakin sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Hajar langsung menjerit begitu Mamat membuka lakban yang menyumpal di mulutnya, “Tolong!! Rampok!!”
.
Plak! Dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita berjilbab tersebut. Hajar meringis kesakitan, apalagi saat tiba-tiba Mamat mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkan di lehernya. Rasa dingin langsung menjalar di seluruh tubuh Hajar.

“Elo mau gua bunuh?” ancam Mamat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (3)

“Jangan, ampun… ampun, Bang.” Hajar menghiba.

Tiba-tiba Mamat menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah perempuan cantik itu. Hajar meronta, jijik dia rasakan. Tapi Mamat sepertinya tidak peduli,sambil memegang kepala Hajar, ia melumat bibir ibu muda beranak dua itu dengan penuh nafsu. Mamat mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hajar yang terus meronta.

“Ampun, Bang. Saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti ini,” rintih Hajar.

“Huahaha… sama, gua juga sudah punya bini. Bini gua tiga malah, hahaha…” ejek Mamat. Dengan cepat tangannya terulur untuk meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju terusan hijaunya.

Hajar meringis akibat remasan keras itu. Saat itu timbul lagi keberaniannya. Dia dengan keras mendorong tubuh Mamat dan berusaha untuk lari. Tapi apa daya, seorang wanita yang barusan melahirkan melawan lima orang pria yang kasar. Tatto dengan sigap menangkap tangannya lalu menyeretnya kembali ke atas ranjang. Dibantingnya tubuh montok Hajar hingga wanita berjilbab ini terbaring telentang di atas tempat tidur. Botak dan Bedu segera memegangi kedua tangan Hajar erat-erat agar takbisa lari lagi.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (4)

Joki memberikan sebilah belati tajam pada Mamat. Mamat menyeringai saat menerimanya, kembali ia mengancam Hajar. “Loe mau mampus yah?” hardiknya berang.

Hajar menggeleng, “Jangan! Ampun! Tolong… ” ia kembali menghiba.

Dengan belati yang ada di genggamannya, Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap buah dada Hajar yang lumayan besar terburai keluar. Kini tubuh wanita itu hanya ditemani jilbab putihnya yang lebar dan celana dalam warna kremnya.Tapi itu pun juga tidak akan bertahan lama. Wajah Hajar terlihat memerah, belum pernah dalam hidupnya dia merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil dinikmati oleh mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan belati itu di hadapan mukanya.

“Ampun, Bang, jangan sakiti saya…” Hajar meminta.

“Dengar yah, gua cuma mau senang-senang sama elo. Jadi kalau elo nurut, tentu gua gak akan sakitin elo.” kata Mamat.

Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buah Mamat yang lain hanya diam menatap dirinya dengan nafsu, mereka tak berani bertindak sebelum diperintah bosnya yang terkenal kejam itu. Tangan Mamat tiba-tiba meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar tentu saja merintih dibuatnya. Begitu kerasnya remasan itu hingga mendesak ASI yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar. Mamat tersenyum, dengan penuh nafsu dia segera menjilati ASI Hajar yang meleleh keluar. Kasar disedotnya puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang kelaparan. Tangannya terus memencet, sementara mulutnya terus menghisap dengan ganas. Kedua-dua susu Hajar mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat keduanya jadi begitu basah dan memerah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (5)

“Jangan dihabiskan, Bang. Ini ASI buat anak saya.” Hajar mengingatkan.

Mamat tertawa mendengarnya, begitu juga dengan keempat anak buahnya. Puas dengan payudara Hajar, Mamat menurunkan jilatannya ke bawah, ia kini bermain di pusar Hajar dan terus menuju ke arah selangkangan perempuan cantik itu. Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina Hajar yang baru melahirkan, membuat tubuh Hajar menggelinjang karenanya. Walaupun sehari-harinya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang alim dan pemalu, tapi Hajar tetaplah seorang manusia, seorang wanita yang mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa bisa dicegah, perlahan birahinya mulai muncul dan meningkat, meninggalkan jejak basah dan lembab di celana dalam kremnya.

Mamat yang mengetahui korbannya mulai jinak, terus menggesekkan hidungnya ke selangkangan Hajar. Diendusnya kelamin itu sambil lidahnya terus merangsek disana. Sedikit demi sedikit celana dalam Hajar mulai tersingkap. Hingga selanjutnya, tanpa perlu melepasnya, Mamat sudah bisa menjilati lubang vagina Hajar yang mengintip malu-malu dari celahnya. Diserang seperti itu membuat Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi ditambah rangsangan yang diberikan Tatto dengan remasan-remasan lembut di atas buah dadanya, sementara putingnya yang mungil disedot bergantian oleh Botak dan Bedu sambil tetap memegang erat kedua tangannya.

“Tolong… jangan… tolong…” erang Hajar saat merasakan tangan Mamat mulai berusaha menurunkan celana dalamnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (6)

Mamat hanya tersenyum mendengarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan rintihan perempuan cantik berjilbab lebar itu. Tangannya terus menurunkan celana dalam Hajar hingga benda itu teronggok di lantai. Tak berkedip Mamat memandangi vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu kemaluan, ia terlihat sangat menyukainya.

“Wah, memek elo bagus banget…” puji Mamat sambil berusaha membuka lebar kedua kaki Hajar. Dengan dua jarinya, ia membelah bibir kemaluan Hajar. Mamat bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat sebesar kismis di sebelah kiri bibir vagina perempuan cantik itu.

“Wah, biasanya cewek ada tai lalat di memeknya gini tandanya nafsunya besar.” ujar Mamat. Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat dengan penuh nafsu menjilati klitoris Hajar yang kini terbuka lebar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (7)

“Aahhhh…” erangan panjang Hajar terdengar. Lidah kasar Mamat dengan buas menggelitik klitorisnya yang tentu saja membuat wanita berjilbab itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai mengeluarkan lendir birahi.

Mamat terus menyedot-nyedot klitoris Hajar dengan penuh nafsu. Sesakali ia juga mencucupi belahan memek Hajar yang tampak baru sembuh dari luka melahirkan. Perbuatan itu makin membuat Hajar menggelinjang kegelian, dia sudah tak mampu lagi menyembunyikan gairahnya. Apalagi saat lidah Mamat terus menari, makin lama makin cepat menyapu klitoris dan cairan yang keluar dari liang vaginanya, hingga sesaat kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, Hajar tak dapat lagi menahan birahinya, dia memekik dan orgasme oleh jilatan lidah Mamat!

“Hahaha… enak kan?” goda Mamat dengan mulut belepotan oleh cairan. Hajar hanya bisa memejamkan matanya sebagai jawaban.

Mamat sekarang ganti menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan wajah Hajar. “Isep kontol gua!” perintahnya kejam. Tentu saja Hajar menolak. Dia segera merapatkan mulut dan membuang mukanya, tidak mau memandang benda yang menurutnya menjijikkan itu.

Mamat tertawa, “Hahaha… kenapa, loe gak suka kontol gua yah?” sambil berkata, dia mulai mendesakkan ujung penisnya ke bibir Hajar, tapi Hajar dengan hati bulat tetap merapatkan mulutnya sekuat tenaga.

Tangan Mamat tiba-tiba meremas keras buah dada Hajar sampai-sampai air susunya muncrat keluar. Perbuatannya itu tentu saja membuat Hajar menjerit kesakitan. “Ahhhh… sakit!” pekik Hajar dengan mulut terbuka lebar.

Saat itulah, tanpa permisi, Mamat mendorong penis besarnya masuk ke dalam mulut Hajar. Hajar yang sama sekali tak siap, tidak bisa berbuat apa-apa. Mulutnya kini disumpal sepenuhnya oleh kontol besar Mamat, membuatnya jadi ingin batuk dan tersengal-sengal. Apalagi saat penis itu mulai bergerak keluar masuk dengan cepat, Hajar makin tersiksa saja dibuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak karena kedua tangannya masih setia dipegangi dengan erat oleh Botak dan Bedu.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (8)

“Ohh… ahh… mulut elo enak juga yah,” erang Mamat sambil terus mengocok penisnya di mulut manis Hajar. Sedang Hajar hanya bisa mengerang, dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya tertahan oleh penis besar laki-laki itu. Benda itu terus bergerak dan mendorong-dorong hingga ke dalam tengorokannya. Agar tidak tersedak, terpaksa Hajar mulai menjilatinya meski dengan hati tidak rela.

”Nah, gitu dong. Isep terus kontol gue!” kata Mamat, tampak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh Hajar. Tak perlu waktu lama, ia mulai dekat ke puncak birahinya. Terlihat dari gerakan pinggulnya yang semakin kasar, juga dengus nafasnya yang semakin berat. Mamat menghentak-hentakkan penisnya keras-keras, menyodok kerongkongan Hajar dalam-dalam. Lalu, “Ahhhh… gua keluar!” erang Mamat dengan tubuh bergetar dan sedikit kelojotan. Penisnya dengan deras menyemburkan cairan panas ke dalam mulut Hajar.

Di bawah, Hajar menerimanya dengan sedikit kalap. Tidak ingin menelan cairan itu, ia berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat. Tapi Mamat dengan sekuat tenaga menahan penisnya, ia terus menancapkan benda itu di mulut Hajar, bahkan dia sedikit mendorongnya dalam-dalam hingga tidak ada satupun cairan maninya yang tumpah keluar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (9)

“Telan peju gua, goblok!!” bentak Mamat pada wanita berjilbab itu.

Hajar tetap tidak mau, dia terus meronta dan melawan sekuat tenaga hingga akhirnya dengan sengaja Mamat menjepit hidungnya. Hajar kelabakan, dia kehabisan nafas. Dengan hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat, dengan cepat tubuhnya jadi lemas. Kalau tetap mau hidup, mau tak mau Hajar harus menelan sebagian sperma Mamat. Maka jadilah dengan berat hati ia melakukannya. Rasanya yang menjijikkan sempat membuat Hajar ingin muntah, tapi sumbatan penis besar Mamat pada mulutnya membuat ia mengurungkan niat.

Puas melihat Hajar menghabiskan semua spermanya, Mamat menarik keluar penisnya. Hajar yang mendesah lega, sebisa mungkin memuntahkan sperma Mamat yang tertinggal di mulutnya. Para perampok itu tertawa-tawa melihat ulahnya.

“Nah, sekarang elo-elo boleh mainin wanita ini, tapi jangan dientot dulu, itu bagian gua, hahaha…” kata Mamat pada anak buahnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (10)

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (11)

Keempat orang yang sudah dari tadi menunggu sang bos selesai, segera berhamburan mengerubung tubuh montok Hajar yang berbaring tak berdaya di atas ranjang. Jilbab putih yang menutupi kepalanya sudah terlihat acak-acakan, tapi bukannya membuat jelek, jilbab itu justru makin menambah pesona kecantikan wanita beranak dua itu. Keempat perampok dengan tidak sabar menggerayangi tubuh molek Hajar. Dua orang dengan bernafsu meremas-remas keras buah dadanya. Air susu Hajar sampai muncrat-muncrat keluar tak terkendali karenanya. Sementara dua yang lain menggarap di bagian bawah.

“Ampun… sakit… hentikan…” erang Hajar pilu.

Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memegangi tangan Hajar agar tak meronta, kini meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang berperawakan besar, asyik menyodok-nyodok vagina Hajar dengan dua jari. Mamat yang sudah orgasme tersenyum melihat kerakusan anak buahnya. Sambil menghisap rokok kreteknya, dia keluar kamar dan mencari lemari es besar yang tak dapat ia bawa dengan mobil boxnya. Mamat membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya. Rasanya capek juga setelah mengerjai tubuh Hajar. Saat itulah, matanya melihat ada beberapa buah mentimun besar di sana. Tersenyum senang, Mamat lalu mengambilnya dan membawanya ke tempat tidur.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (12)

“Ahh… sakit… sudah…” terdengar erangan Hajar yang mengiba. Terlihat Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jari. Sementara di atas, Botak dan Bedu masih terus asyik menyusu pada putingnya.

“Eh, pake ini…” kata Mamat sambil memberikan mentimun di tangannya.

Joki menoleh dan menerimanya dengan senang hati. Dia segera mengarahkan ketimun itu ke liang vagina Hajar. Ketiga temannya melihat sambil bersorak-sorak seru.

“Iya, .. ayo sodok, Jok.” kata Botak dengan tangan terus menggerayangi susu besar Hajar.

“Jangan… jangan… tolong… jangan…” pinta Hajar memelas. Tapi tidak ada yang mempedulikan teriakannya. Bahkan yang ada adalah rasa panas yang tiba-tiba menyerang buah dadanya. Kontan Hajar memekik kaget!

“Ahhhh… panasss… perih…” jeritnya ketika Mamat dengan sadis menyundut bara rokok ke puting buah dadanya yang montok karena berisi ASI.

“Badan loe punya gua sekarang, jangan teriak-teriak… guoblok!” bentak Mamat kejam.

Tapi Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar yang ada di belahan selangkangan didorong dengan kuat secara tiba-tiba oleh Joki. Begitu besarnya benda itu hingga seakan-akan merobek liang vaginanya. “Aghhh… sakit… hentikan…” erang Hajar menyedihkan.

Tak peduli, Joki mulai menggerakkan mentimun itu secara kasar. Dia menyodokkannya keluar masuk di liang vagina Hajar yang masih kelihatan sempit meski baru saja melahirkan. Bagai sebuah vibrator, Joki menggunakan mentimun itu untuk menyetubuhi Hajar. Erangan kesakitan perempuan cantik itu sama sekali tidak ia hiraukan.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (13)

Bedu dan Botak yang tidak mau kalah, kembali asyik meremas-remas dan menghisapi buah dada Hajar. Mereka menyedot putingnya yang mungil kemerahan keras-keras hingga air susu Hajar tumpah keluar. Dengan gemas mereka lalu menjilat dan menelannya. Semua perlakuan itu sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuhnya, namun apa daya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Jangankan menolak, untuk berteriak pun dia tidak bisa karena sekarang Tatto sudah kembali menjejali mulut Hajar dengan penisnya yang besar dan panjang, ia menyuruh Hajar untuk mengulum dan menghisapnya. Takut disundut rokok lagi, Hajar pun melakukannya. Jadilah ia merelakan seluruh tubuhnya yang selama ini cuma diberikan pada sang suami untuk dinikmati oleh keempat perampok bejat itu.

Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dering telepon genggam yang berbunyi nyaring. Mamat segera mencarinya. Ternyata itu dari HP Hajar yang berada di tumpukan baju. Mamat menatap layarnya dan menyeringai. Disitu tertera tulisan ’CINTAKU’. Ia segera menoleh pada keempat anak buahnya dan berkata. “Stop dulu,” Mamat memberi perintah kepada mereka agar menghentikan kegiatannya sejenak.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (14)

Berbekal belati mengkilap yang ada di tangannya, ia berjalan mendekati Hajar dan menempelkan belati itu ke leher Hajar yang jenjang. “Angkat telepon ini, tapi jangan macem macem. Bilang kamu baik-baik saja atau gua gorok leher elo!!” ancam Mamat bengis.

Tahu kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh, Hajar tidak berani berbuat macam-macam. Selain takut pada keselamatannya sendiri, ia juga takut dengan nasib kedua buah hatinya kalau sampai membuat Mamat marah. Jadi, dengan suara dibuat senormal mungkin agar suaminya tidak curiga, Hajar menerima telepon itu. “Hallo, Mas…” katanya.

Suasana sunyi sejenak. Hajar tampak konsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sementara di sekelilingnya, Mamat beserta anak buahnya menatap tajam sambil terus mengelus-ngelus tubuh montoknya.

“Ohh… ehh… tidak, tidak apa-apa.” Hajar mendesah saat Botak dan Bedu kembali berebutan menghisap puting susunya. Di bawah, Joki kembali menggerakkan mentimun yang ada di genggaman tangannya ke dalam memek sempit Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (15)

“Enggak kok, cuma pusing sedikit… tapi aku gak apa-apa kok, Mas.” Hajar berbohong pada sang suami. Mamat menyeringai senang mendengarnya. Dia mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Tatto yang tidak bisa memakai mulut Hajar untuk mengulum penisnya, kini ganti meminta Hajar untuk mengocok penisnya menggunakan tangannya yang bebas, yang tidak memegang HP. Hajar menurutinya, sambil mendengarkan suara sang suami, ia mulai mengurut kontol besar itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya pembicaraan Hajar selesai, “Yah… baik, Mas, baik…” kata Hajar lalu menutup teleponnya.

“Hahaha… lanjut!!” kata Mamat pada keempat anak buahnya.

Kembali tubuh Hajar dikeroyok oleh mereka. Joki terus menyodok-nyodok liang vaginanya semakin keras menggunakan mentimun. Sedang Botak dan Bedu sudah menjadikan susunya seperti adonan roti, mereka memencet dan memijitinya kuat-kuat hingga benda itu jadi tidak berbentuk lagi. Payudara Hajar jadi sedikit penyok dan merah-merah akibat ulah mereka. Yang paling mengenaskan adalah putingnya, sekarang sudah tidak ada lagi ASI yang keluar dari sana. Botak dan Bedu sudah menghabiskannya. Entah dengan apa Hajar akan menyusui anaknya nanti. Sementara Tatto yang sejak tadi sudah tak sabar, segera memperkosa mulut Hajar kembali hingga perempuan cantik berjilbab lebar jadi tidak bisa mengeluh dan bersuara sama sekali. Mamat dengan santai duduk di kursi meja rias menyaksikan ulah keempat anak buahnya sambil menghisap rokok kreteknya kuat-kuat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (16)

Tidak lama, terdengar erangan nikmat Tatto, “Ohh… ahh… gua mau keluar nih… yang enak ngemutnya!” Dengan kasar ia terus menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Hajar yang mungil.

”Ah, payah loe. Bentar aja udah keluar!” ejek Joki. Tangannya masih dengan setia menyodok-nyodok memek Hajar menggunakan mentimun.

”Loe belum ngerasain sih gimana enaknya mulut nih cewek.” balas Tatto, tak mau dikatakan lemah. Sambil terus menggerakkan penisnya cepat di mulut Hajar, ia pun orgasme. Tatto melepaskan spermanya di mulut Hajar. Tapi karena begitu banyaknya, sebagian tumpah membasahi wajah cantik Hajar yang masih tertutup jilbab lebar. Hajar kembali harus menelannya kalau tidak mau tersedak.

Mamat yang saat itu sudah kembali birahi, berjalan mendekat ke arah ranjang. Penisnya yang hitam panjang tampak sudah mengacung tegak. Sambil mengelus-elusnya, ia berkata pada Joki. “Eh, Jok, geser loe. Gua mau cobain memeknya.”

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (17)

Sebagai anak buah, Joki tidak bisa membantah. Meski masih ingin mengobel vagina Hajar lebih lama lagi, ia terpaksa menggeser tubuhnya. Ia bertukar tempat dengan Tatto yang sekarang sudah duduk keenakan di lantai. Joki menusukkan penisnya ke mulut Hajar dan meminta wanita cantik itu untuk mengulumnya. Tidak bisa menolak, lagi-lagi Hajar melakukannya. Mulutnya dengan sigap mulai mengelomoti kontol besar Joki. Sementara di bawah, Mamat sedang berusaha membuka kedua kakinya agar vagina Hajar terpampang lebih jelas lagi. Memposisikan tubuhnya, Mamat kemudian mengarahkan penisnya yang sudah kembali keras ke arah lubang sempit itu.

Hajar berusaha meronta sebisa mungkin saat ujung kontol Mamat mulai terasa mendesak masuk ke celah bibir vaginanya. Diperkosa di mulut, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi ditusuk di kemaluan, Hajar sama sekali tidak bisa menoleransi. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk memberontak. Tapi apalah daya seorang wanita melawan tenaga lima orang lelaki, dengan cepat mereka meringkus Hajar dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di perut untuk membuatnya diam. Merintih kesakitan, Hajar langsung berhenti meronta.

“Diam! Bego loe…” ancam Botak. Rupanya dia yang barusan menghantam perut Hajar.

Tersengal-sengal, Hajar menganggukkan kepalanya takut-takut. Di bawah, begitu Hajar sudah tenang, dengan satu kali dorongan keras, Mamat menyodokkan penis besarnya memasuki liang vagina perempuan cantik itu.

Kontan Hajar menjerit keras, “Arghh… sakit! Hentikan… jangan… ampun…” merintih-rintih, ia kembali meronta. Tapi apa daya, itu tidak bisa menghentikan perbuatan Mamat yang terus asyik memperkosa dirinya. Malah Mamat terlihat menikmati segala jeritan dan rontaan Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan. Bahkan ia melarang saat Botak ingin memukul Hajar lagi untuk membuatnya terdiam.

”Jangan! Lebih enak begini!” mendengus-dengus, Mamat menggenjotkan penisnya semakin keras. Memek Hajar yang sempit terasa mencekik batangnya, tapi bukannya sakit, Mamat justru sangat menikmatinya. Vagina seperti inilah yang ia cari sejak dulu. Mamat tak pernah menyangka kalau akan mendapatkannya dari Hajar, wanita alim berjilbab yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Melihat sang boss bertindak kesetanan, perampok yang lain jadi ikut tergoda untuk menyakiti tubuh molek Hajar. Mereka dengan suka cita mencubit, meremas, mengigit, dan menampar-nampar seluruh tubuh Hajar secara bergantian. Hajar yang menjerit-jerit penuh permohonan sama sekali tidak mereka hiraukan. Berlomba bersama Botak, Bedu terus memainkan buah dada Hajar dengan menghisapi putingnya kuat-kuat sambil sesekali menarik dan menggigitnya penuh nafsu dengan menggunakan gigi mereka yang tonggos dan tidak rata.

“Aahhh… ampun! Ahhhh… sakit… hentikan…” jerit Hajar pilu. Di atas, penis besar Joki menampari wajahnya, juga pipi dan hidungnya hingga membuat Hajar jadi sedikit kesulitan bernafas. Ia terus mengerang kesakitan, tapi keempat perampok yang mengerubunginya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Mereka terus menyerang dan membelai tubuhnya penuh nafsu. Bahkan sekarang Botak ikut meniru Joki dengan mengolesi muka Hajar mengginakan ujung penisnya. Bedu yang mendapat jatah kedua bukit kembar Hajar terlihat senang sekali. Ia tersenyum gembira dan langsung menelusupkan mukanya di belahannya yang empuk, sambil jari-jarinya tak henti memijit dan menarik-narik putingnya.

Tubuh Hajar mengejang. Dua penis besar milik Botak dan Joki sekarang bergantian masuk ke dalam mulutnya. Hajar hanya bisa pasrah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Jika dia melawan, tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka. Beberapa menit kemudian, jeritan Hajar hanya tinggal menyisakan erangan dan rintihan pelan.

Di bawah, Mamat terus memperkosanya tanpa henti, tubuhnya terus bergerak semakin cepat untuk menusuk memek sempit Hajar. Setelah lama kemudian, saat Hajar sudah benar-benar lemas, barulah laki-laki itu menarik penisnya hingga hampir terlepas, lalu sambil mengerang, mendorongnya maju secepat mungkin dan menusukkannya sekuat tenaga ke belahan vagina Hajar.

Kepala Hajar sampai terdongak menerimanya. Jeritan melengking kembali terdengar dari mulutnya. Hajar melolong panjang dan terkejang-kejang. Di atasnya, Mamat ikut menggeram dan bergetar. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam lemas tak lama kemudian. Hanya Hajar yang tahu apa yang terjadi. Di dalam vaginanya, penis besar Mamat meledak dan menyemburkan spermanya yang hangat dan kental. Ketika perlahan laki-laki itu menarik keluar penisnya yang telah melayu, pejuh putih kental tampak ikut mulai mengalir dari liang vagina Hajar. Mamat terduduk lemas, tapi terlihat sangat puas. Dengan terengah-engah ia menyaksikan Botak dan Joki yang asik memperkosa mulut Hajar.

“Ohhh… gua udah gak tahan nih!” erang Joki, lalu melepas spermanya. Cairan itu muncrat membasahi wajah cantik Hajar, juga jilbab putih yang ia kenakan yang kini sudah terlihat begitu lusuh dan lecek.

Tatto tertawa melihatnya. ”Benerkan apa yang gue katakan? Enak banget kan mulutnya?” dia berkata pada Joki.

Joki mengangguk mengiyakan sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Dia menunjuk pada Botak yang juga hampir ejakulasi, ”Kuat juga si Botak, bisa tahan menghadapi mulut kayak gitu!” gumam Joki.

Botak tersenyum bangga sambil membenamkan penisnya dalam-dalam ke mulut manis Hajar. ”Siapa dulu dong, gue!” Selesai berkata, dia menyemburkan spermanya tepat di kerongkongan Hajar. Dan sekali lagi, tanpa perlu disuruh, Hajar langsung menelannya. Rasanya dia sudah kenyang gara-gara terus-terusan meminum sperma para begundal itu, padahal masih ada satu orang lagi yang belum mendapat giliran, yang sekarang sedang asyik menyusu pada payudaranya.

Hajar memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk saat Bedu mulai mengambil posisi dengan merangkak di atas tubuh sintalnya, perlahan mulai menindih dan menusukkan penisnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hajar hanya bisa pasrah saat Bedu mulai menyetubuhinya. Ia dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis Bedu yang besar sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk ke dalamnya. Kegetiran kembali tercermin di wajah Hajar, tak menyangka kalau akan mengalami nasib begini buruk, pagi-pagi sudah diperkosa oleh lima orang begundal yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tubuhnya seperti dirobek-robek saat Bedu mulai menggenjot tubuhnya naik turun perlahan-lahan. Begitu juga dengan harga dirinya. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipi Hajar. “Aghhh… sakit… aghhh…” ia merintih diantara isakannya.

“Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, kenapa baru sekarang ngomongnya! Terlambat tau!” bentak Bedu.

Perkataan itu membuat Hajar tersadar. Iya, kenapa baru sekarang? Sebagai istri yang solehah, seharusnya ia sudah menangis sejak tadi, bukan cuma meronta-ronta tapi tetap membiarkan diri menikmati perlakuan mereka. Hajar merasa begitu bersalah. Ia merasa sudah mengkhianati sang suami. Berpikir seperti itu, Hajar berniat untuk memberontak dan melawan kelima perampok. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi!

Tapi baru saja ingin menggerakkan tangannya, Hajar merasa ada yang salah pada tubuhnya. Tangan itu tidak mau menuruti perintah otaknya. Bukannya mendorong Bedu menjauh, Hajar malah merangkul pria itu dan menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Goyangan Bedu yang lembut dan sopan membuat Hajar terlena, ia bagaikan bercinta dengan suaminya saat menerima tusukan kontol Bedu. Tanpa sadar, Hajar malah menginginkannya alih-alih mengusirnya.

Hajar juga berpikir, dari tadi dia berusaha melawan, tapi tidak pernah berhasil. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kelima orang itu. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa ia lakukan selain melayani mereka. Dan daripada melakukannya dengan berat hati, bukankah lebih baik ia menyerahkan dirinya dengan ikhlas, toh hasilnya juga akan sama saja, mereka akan tetap memperkosanya secara bergiliran. Sekarang saja Tatto dan Botak sudah kembali mengerubunginya dengan penis mengacung tegak ke depan. Hajar menelan ludah saat melihatnya.

Ya, sepertinya hanya itu pilihan yang ia punya. Hajar cuma berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami. Di bawah, Bedu terus bermain dengan lembut, beda dengan Mamat yang kasar dan berangasan. Hajar menyukainya. Walau hatinya didera rasa takut, tapi karena perlakuan Bedu yang sopan, birahinya perlahan mulai naik. Hajar pun mulai memejamkan matanya untuk menikmati gesekan penis Bedu pada dinding-dinding vaginanya. Cairan cintanya yang tadinya mampet perlahan mengalir keluar, membuat persetubuhan mereka menjadi kian nikmat dan panas.

Mendengus keenakan, Bedu terus menggerakkan penisnya keluar masuk. Dia juga menciumi bibir Hajar yang berbau sperma teman-temannya sambil tangannya tak henti meremas dan memenceti payudara Hajar yang membulat indah, yang terus bergoyang-goyang seiring genjotan pinggulnya. “Nah, gini kan enak… daripada loe melawan, tak ada gunanya.” ujar Bedu sambil terus menggerakkan penisnya dengan lembut.

Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan pria itu. Terasa vaginanya mulai berdenyut pelan, tanda kalau ia akan segera orgasme tidak lama lagi. Bedu yang bisa merasakan kalau mangsanya sudah mulai birahi, terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, ia berniat untuk memancing hasrat Hajar agar melenting lebih tinggi lagi. Bedu memang berpengalaman dalam menaklukkan wanita, jadi dia tahu bagaimana cara mengantarkan Hajar menuju ke puncak klimaks persetubuhan.

“Aghhh… aghhh… aghhh…” erang Hajar penuh kenikmatan, dibiarkannya mulut Bedu yang terus menjilati putingnya dengan lembut. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuat birahinya semakin terlontar dan naik menuju langit.

Tatto dan Botak yang menonton permainan mereka, dengan setia menunggu sambil mengocok penis masing-masing. Di lantai, tenaga Mamat dan Joki tampaknya juga sudah pulih kembali. Penis mereka perlahan membesar dan mengacung tegak meski belum terlalu keras. Terutama Mamat, setelah keluar dua kali, dia jadi kesulitan untuk mengembalikan penisnya ke ukuran yang semula, padahal dia masih ingin mencicipi tubuh montok Hajar untuk yang terakhir kali.

“Sayang, loe sudah mau keluar yah?” tanya Bedu sambil terus menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hajar sebagai jawaban.

Bedu mengerti, inilah saat yang tepat untuk menaikkan ritme goyangannya. Jadi, sambil berpegangan pada payudara Hajar yang bulat besar, ia pun melakukannya. Disodoknya vagina perempuan cantik itu dengan kecepatan dua kali lipat dari semula.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” Hajar yang menerimanya menjerit semakin keras. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kejang. Kali ini bukan karena semprotan sperma Bedu di dalam liang rahimnya, tapi karena ia benar-benar mendapat orgasmenya. Tanpa bisa ditahan, Hajar menyemprotkan cairan kewanitaannya, banyak sekali, juga sedikit kusam dan kental.

Bedu menahan genjotannya, memberi kesempatan pada Hajar untuk menikmati masa orgasmenya. Setelah dirasanya semprotan memek Hajar mulai sedikit mereda, ia pun kembali bergerak cepat, membuat Hajar kembali merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. “Ahhhh… ahhh… pelan-pelan…” seru perempuan cantik itu.

Tapi Bedu tak peduli, dia terus bergerak cepat karena ia juga merasa akan melepaskan birahinya sebentar lagi. Menggeram keenakan, sambil menyusupkan mukanya di belahan payudara Hajar, Bedu menusukkan penisnya dalam-dalam dan menembakkan semua isinya disana. Hajar terkejang-kejang saat liang vaginanya kembali menerima sperma kental dari lelaki yang bukan suaminya itu.

Botak yang penisnya sudah pulih, segera menggantikan posisi Bedu. Laki-laki berkepala plontos itu segera merangkak ke atas tubuh Hajar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Hajar untuk beristirahat. Hajar yang sudah kehabisan tenaga menangis dan memohon agar mereka berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk sekedar menarik nafas.

“Sebentar saja… tolonglah… ahh… s-saya sudah gak kuat lagi… ahhh… sakit!” rintih Hajar memelas.

Tapi Botak yang sudah terlanjur bernafsu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menindih Hajar dan meremas-remas buah dada perempuan cantik itu keras-keras hingga membuat Hajar menjerit kesakitan. “AHHGGG… sakit! Hentikan… tolong…” setelah persetubuhan lembut dengan Bedu, Hajar sama sekali tidak bisa menikmati kelakuan Botak yang kasar.

Tidak peduli, Botak malah menggigit dan menarik puting Hajar kuat-kuat. “AGHH… sakit… ampunnn…” membuat Hajar merintih semakin keras dan memilukan.

“Jangan berisik! Loe bikin gue gak mood aja!” bentak Botak tak sabar.

“Sudah, saya mohon… hentikan… ampun…” iba Hajar.

“Wah, loe dikasih ati minta ampela yah?” geram Botak. Dia lalu membalik tubuh Hajar hingga posisi wanita berjilbab lebar itu sekarang menungging di atas ranjang. Botak memposisikan diri di belakangnya sambil kedua tangannya membelah pantat mulus Hajar yang masih perawan. Satu jarinya menusuk masuk ke dalam lubang anus Hajar yang masih sangat peret dan sempit.

Menyadari apa yang akan terjadi, Hajar langsung berusaha untuk meronta, tapi gerakannya sangat lemah karena tubuhnya memang sudah begitu kelelahan. Botak dengan mudah saja meringkusnya.

“Ahhhhgggg…” jerit memilukan keluar dari mulut Hajar, mengisi ruang tidur yang tidak seberapa besar itu saat Botak menusukkan penisnya dalam-dalam untuk merobek liang anusnya. Begitu kasarnya ia berbuat hingga liang Hajar sampai terluka dan berdarah. Tapi Botak sama sekali tidak mempedulikannya, ia malah terlihat sangat menikmatinya karena jepitan erat anus Hajar yang seperti memek perawan.

”Ughh…” Botak mendesah, ia benar-benar merasa nikmat. Dengan penuh nafsu ia menggerakkan penisnya dengan cepat keluar masuk di lubang anus Hajar yang kini sudah mulai sedikit terkuak lebih lebar.

Hajar menangis, merintih, pedih terasa di anusnya, tapi Botak sama sekali tidak peduli. Dia terus memperkosa Hajar dengan begitu buas. Tubuh Hajar yang sudah sangat kelelahan menjadi semakin lemah jadinya. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi suaranya terdengar parau. Saat Botak ejakulasi dalam anusnya, barulah Hajar bisa bernafas lega, tapi tetap saja hatinya meringis pedih.

Botak mencabut penisnya dari anus Hajar, menyisakan spermanya yang bercampur dengan darah segar dari liang anus Hajar yang terluka. “Wah, gua udah puas, enak banget! Cobain deh!” ia berkata kepada Tatto yang dengan setia menunggu di tepi ranjang.

Tatto tertawa sambil menggeleng. “Enggak deh, gua mending entot memeknya.” katanya menyahut.

“Oke, loe cepatan deh. Sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang.” kata Mamat sebagai pemimpin para perampok itu. Laki-laki itu sudah menyerah, dia sudah tidak bisa ngaceng lagi, jadi buat apa berada disini lama-lama. Lebih baik mereka segera pergi sebelum ada yang curiga.

Tatto pun merangkak menghampiri Hajar yang sudah terlihat sangat lemah. Segera ditindahnya tubuh wanita cantik itu dan menusukkan penisnya ke liang vagina Hajar yang sempit. “Aahhh…” erang Hajar lemah, sama sekali tidak melawan.

Tatto mulai menggerakkan penisnya, menggesek vagina Hajar naik turun dengan penuh nafsu. Sekali lagi, Hajar hanya bisa mengerang lemah menerimanya. Jangankan menolak, membuka mata saja rasanya sudah snagat berat sekali baginya. Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan HP itu ke telinga Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (19)

“Hallo… haloo…” terdengar suara sang suami.

Hajar tak mampu menjawab, hanya bisa mengerang lemah.

Saat itu, Joki yang kembali bergairah ikut naik ke atas ranjang. Ia ingin memanfaatkan lubang anus Hajar yang kosong di kesempatan yang sempit ini. Dengan pelan Joki memasukinya sambil tetap membiarkan Tatto menggenjot dari atas. Tubuh mereka bertindihan seperti roti lapis, dengan Hajar terjepit berada di tengah-tengah.

“Aaaghhhh…” suara Hajar melengking tinggi saat Joki dan Tatto mulai menggerakkan alat kelamin mereka.

“Hallo, kamu kenapa, Sayang… ada apa?” tanya suaminya bingung dari seberang sana.

“T-tolong… tolong, Mas… a-aku diperkosa!!” kata Hajar dengan suara lemah.

Joki yang mendengarnya bergerak semakin liar, dari bawah ia menghentak-hentak keras liang anus Hajar, memberinya rasa pedih dan sakit yang tiada tara. “Ahhh… sakit… perih… ampun… sudah… kumohon…” erang Hajar pilu.

“Bilang jangan, tapi memek loe jadi banjir begini… dasar munafik!!” ujar Tatto yang terus memperkosa memek Hajar dengan kasar.

“Hallo… hallo… tunggu, Sayang… aku segera pulang…” kata suaminya panik mendengar suara erangan kesakitan Hajar.

Joki terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuat perempuan berjilbab putih itu semakin tak mampu menahan rasa sakitnya. Di atas, Tatto juga bergerak semakin liar sampai akhirnya menyemburkan cairan kentalnya di memek sempit Hajar.

“Hahaha, gua seneng banget sama nih cewek.” ujar Tatto penuh kepuasan.

Joki menyusul tak lama kemudian, sambil meremas kuat-kuat susu montok Hajar, ia menembakkan spermanya di lubang anus perempuan cantik itu.

Tertawa puas, kelima orang itu pun segera membenahi pakaian masing-masing dan bersiap pergi meninggalkan rumah Hajar. Waktu sudah semakin mepet. Suami Hajar pasti sudah dalam perjalanan pulang kemari. Mamat mengambil mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di anusnya. Hajar merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apapun.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (18)

“Itu gua jadikan kenang-kenangan buat laki loe.” kata Mamat sambil tertawa. “Biar laki eloe yang cabut tuh mentimun, hahaha…” tambahnya sambil berlalu dari kamar tanpa menutup pintunya.

Tak sampai dua menit, mobil box mereka pun berlalu. Kendaraan itu keluar dari garasi rumah Hajar dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang jarahan mereka. Di ujung gang, ketika mobil hendak keluar dari komplek perumahan, Mamat melihat sebuah sedan berjalan cepat diikuti sebuah mobil polisi dengan raungan suara sirine yang amat keras.

“Hahaha, gua yakin itu mobil suaminya.” ujar Mamat pada anak buahnya. Kawanan perampok itu pun tertawa-tawa, merayakan keberhasilan mereka…

p style=”text-align:justify;”

ANI ISTRIKU

Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berbuat seperti ini sebelumnya. Di kalangan masyarakat komplek perumahan yang kutinggali, aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Wardi, yang berusia 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan pula, dia adalah seorang insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi.
Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik, hingga mereka bilang aku mirip Annisa Trihapsari, itu lho artis cantik mantan istri Adjie Pangestu yang sekarang berjilbab. Sama seperti dia, setiap keluar rumah, aku selalu memakai jilbab panjang yang tersampir hingga ke pinggang, lengkap dengan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuhku. Aku pun aktif di pengajian-pengajian yang sering diadakan di sekitar rumahku.

jilbab susu montok-putri rahayu (8)
Memang kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah, aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula. Aku sering membesarkan hati sendiri, bahwa tak ada yang kurang dari diriku. Pakaian islami, tubuh sintal, kulit putih, ukuran payudara 36B, pantat pun masih montok, tak mungkinlah suamiku mencari wanita lain di luar sana.
Demikianlah pada suatu ketika karena aku ada sedikit gangguan kesehatan, aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya suamiku sendiri yang mengantar ke RS Medika Kuningan, tetapi karena sedang tugas keluar kota jadi aku harus ke dokter sendiri. Hari itu aku memakai jubah panjang yang berwarna putih serta jilbab berwarna merah muda yang juga panjang.
Saat aku turun dari angkot, nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai saja karena memang tak ada urusan yang menunggu sehingga harus buru-buru. Mas Wardi, keluar kota untuk 1 minggu sejak kemarin pagi. Aku juga tak perlu masak memasak. Kami berlangganan makanan dari tetangga yang mengusahakan catering.

jilbab susu montok-putri rahayu (7)

Sesudah beberapa saat menunggu, aku berasa kepingin ke toilet untuk kencing. Sesudah melalui lorong poliklinik yang cukup panjang dan kemudian deretan pintu toilet untuk lelaki aku sampai ke toilet perempuan. Pada saat inilah peristiwa itu terjadi hingga melahirkan cerita ini.
Tanpa sengaja, saat melewati toilet lelaki, aku menengok ke sebuah toilet yang pintunya menganga terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget, seakan tersengat listrik. Kusaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang nampak tidak tersunat. Yang membuat aku tertegun adalah kemaluan lelaki itu, sungguh luar biasa gede dan panjang.
Dalam pandangan yang singkat itu aku sudah berkesimpulan, dalam keadaan belum ngaceng saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau kemaluan itu dilanda birahi dan ngaceng. Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Mungkin untuk menuntaskan kencingnya, atau juga untuk memamerkannya padaku. Entahlah…
Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas tadi. Tetapi entahlah. Barangkali lelaki tadi telah sempat melihat mataku yang setengah melotot melihat kemaluannya. Aku sendiri jadi resah. Hingga sepulang berobat itu perasaanku terus terganggu.

jilbab susu montok-putri rahayu (6)
Aku akui, oleh sebab peristiwa itu, selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang-layang. Aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Mungkin aku tergoda. Dan tidak sebagaimana biasanya, libidoku terganggu. Bayangan akan seandainya kemaluan sebesar itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini?! Seorang Ani Nurul Hidayah yang cantik, terhormat, dan alim tak boleh berpikir seperti ini!
Tapi aku malah mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok-tengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras dan halaman kebun, namun aku tak pernah menjumpainya lagi. Khayalanku bahkan terus bergerak menjadi demikian jauh. Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan aku berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati kemaluan tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin puting susu dari balik jilbab panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung-ujung pentilku, begitu hebat.
Dua hari kemudian. aku sedang menyirami kembang di halaman saat aku dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku, “Koran bekas.. Koraan…” teriakannya yang khas kudengar. Sudah lebih dari 3 bulan koran bekas numpuk dekat lemari buku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah.
Tanpa banyak pikir lagi, “Bang, tunggu, saya punya koran bekas, tuhh…” sambil aku beranjak memasuki rumah untuk mengambilnya. Namun ternyata koran sebanyak itu cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya. Sesudah mengikatnya dengan rapi dan menimbangnya, dia memberikan Rp. 10.000, padaku untuk harga koran itu.
“Terima kasih, Bu..” Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang. Saat menyerahkan uang di ruang tamu rumahku itu, tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan.. Aku kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin?!! Orang yang telah membuat jantungku berdebar keras-keras.
Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah. Bu Ani yang alim ini kini tertegun penuh birahi di hadapan seorang kuli pengumpul koran bekas. Tak terelakkan mataku mencari-cari. Mataku menyapu pandang pada tubuhnya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon presiden itu, aku memperhatikan gundukan menggunung pada selangkangannya yang bercelana jeans kumel. Namun bila dilihat lebih jelas lagi, ternyata Abang ini bersih dan..
Sangat jantan!

jilbab susu montok-putri rahayu (5)
“Hahh… rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh,” begitu aku berpura kelupaan. Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang, aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia?
Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan, “Yaa.. kita ketemu di poliklinik, bu. Waktu itu ibu menengok saya yang sedang kencing?!”
Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum, dia mendesah berbisik. “Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu,” dengan bisik desah serak-seraknya, tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku.
Dan yang lebih hebat lagi. “Nih, Ibu mau lihat?” tanpa ragu lagi dia cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri.
Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan. Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya? Ahh, dia telah melumpuhkan pertahanan diriku yang berjilbab panjang ini.
“Nggak, Bang. Cukup. Terima kasih. Sudah, tinggalkan saya. Tinggalkan rumah ini,” kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga. Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.
“Lihat dulu, Bu. Jangan takut. Saya nggak akan menyakiti ibu, kok,” bisiknya setengah bergetar, terdengar begitu penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapannya seperti rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.
“Lihat dulu, Bu…” sekali lagi diucapkannya. Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.
Aku yang masih mengenakan jilbab panjang berwarna hitam ini kini tengah berhadapan langsung dengan kemaluan seorang pria yang bukan suamiku, dan aku tengah terangsang. Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Ani yang santun dan alim, istri manager yang juga insinyur itu.

jilbab susu montok-putri rahayu (4)
Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada, mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat keras bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku. Aku menyaksikan lubang kencingnya yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan kontol yang dahsyat itu. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat pesonanya.
Demikian pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, dan makin mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya ‘suara jauh dari angkasa’ yang penuh vibrasi, “Jilat, Bu Jilbab, Hisap kontol saya. Banyak kok ibu-ibu pengajian yang sudah menikmati ini juga. Hisap kontolku, Bu. Aku ingin merasakan bibir Bu Jilbab yang sangat cantik dan seksi ini. Aku ingin merasakan hisapan mulut ibu yang pake jilbab panjang ini.”
Tangan kanannya menekan kepalaku yang masih berbalut jilbab dan tangan kirinya mengasongkan kontolnya ke mulutku. Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri merasa lumpuh, sendi-sendiku tak bisa digerakkan. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar, namun segalanya sudah terlambat. Hisapan itu tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang.
Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya, si Abang dengan sangat kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik kontolnya ke mulutku. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku. Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku!!
Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Wardi.

jilbab susu montok-putri rahayu (3)
Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku. Dengan tenaga kelelakiannya, dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Demikian pula pakaian dalamku. Namun yang aneh, dia menyisakan balutan jilbab panjang berwarna hitam, tetap menempel di kepalaku. Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula direnggutnya celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar gairah. Kemudian ia rebah menindih tubuh telanjangku.
“Bu muslimah, biar saya buat ibu ketagihan yaa. Nikmati kontolku, Bu. Mahal nih. Gak sembarang ibu-ibu bisa merasakannya. Saya pilih-pilih orangnya,” begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku, sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku.
Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku. Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia kemot-kemot pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia hisep dan jilat seluruh tubuhku hingga meninggalkan cupang-cupang kotor pada seluruh permukaan kulit buah dadaku, leherku, bahuku, bahkan ketiakku. Kemudian ciumannya turun ke perut, ke selangkangan, ke pahaku. Dan adduuhh.. Ini sungguh sangat keterlaluan. Dia menjilati liang vaginaku! Tapi aku tidak bisa menolak, karena aku juga menikmatinya. Rasanya sungguh geli, tapi sangat enak. Suatu kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

jilbab susu montok-putri rahayu (2)
Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini.
“Tolong, Bang.. Ayo, Bang.. Aku sudah nggak tahan.. Toloong.. Enak banget, Bang.. Aku cinta kontol abang.. Biar aku minum lagi pejuh abang nanti ya…” kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuik menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.
Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya. Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubangku. Dan bless..! Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku. Ternyata memang inilah dia.
Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama dua jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan.
Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya, “Sayang, apa kabar? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?” demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu menyempatkan diri mencari barang-barang kerajinan asli setempat. Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu.

jilbab susu montok-putri rahayu (1)
Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya. Ternyata dengan gampang aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang. Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat?Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi.
Tumpukan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya seakan di bawah kita.
Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Wardi mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 5 atau 6 kali aku telah meraih orgasme dalam berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu akan menjadi rekor seumur hidupku.

NURUL

Realita kalau banyak yang perkawinan lewat ta’aruf itu tidak semuanya didasari cinta, dan cinta itu justru ada setelah seringnya bertemu. Johan menganggap Syamsul sangat beruntung mendapatkan isteri secantik Nurul, berjilbab rapih dan terlihat sangat cerdas karena lulusan universitas terpopuler dinegeri, dimana Johan pernah kuliah di fakultas yang berbeda. Sementara suaminya seorang guru honorer adalah teman kuliah isteri Johan di PT pendidikan di Jakarta dan jelas hidupnya pas-pasan sekali dengan kekakuannya dalam memperlakukan isterinya.

Johan bisa masuk keluarga itu gara-gara anak yang kedua Nurul dirawat di rumah sakit karena sakit ostereoporosis, Johan menolongnya karena pertemanan dengan suaminya, walau sebelumnya tidak pernah menduga kalau Nurul yang pernah ditaksir saat di kampus dulu sebelum masing-masing masuk tarbiyah ternyata isteri temannya, tapi sayang Nurul menolaknya saat itu karena Johan belum tarbiyah.

jilbab bahenol (1)

Namun seringnya Johan bertemu tanpa sengaja jelas mencipratkan kembali cinta lamanya, padahal Johan awalnya sangat takut karena ini salah, tapi dorongan hebat terhadap kecantikan dan kelembutan Nurul membuatnya sesat, semakin didera hasrat untuk menyentuh, melihat dan membayangkan betapa perfect-nya, wanita itu dan Johan yakin lelaki manapun akan tertarik secara fisik teradap kecantikan yang disembunyikan dan pernah diharapkan bertahun-tahun dari wanita muda seperti Nurul.

Dan Nurul-pun tahu suaminya tidak memperlakukan dengan pantas karena ketidak tahuan, kalau wanita sealim manapun masih butuh sanjungan dan perhatian berupa hadiah-hadiah kecil dan Johan rajin memberikan hadiah-hadiah bagi Wanita itu saat ultah dan menolong Syamsul, suaminya dalam bisnis dibidang percetakan, apalagi Johan-pun rajin mendekati dua anaknya tanpa sepengatahuan nurul..sehingga Johan punya kesempatan untuk bertemu dengan Nurul atau curi-curi pandang Nurul dan suatu waktu memergokinya, dia memalingkan wajahnya dengan senyum malu-malu. Dari situlah Johan meyakini kalau Nurul-pun mengetahui perasaanya yang salah dan tak pantas.
”Seharusnya akhi tidak datang disaat suamiku tidak ada dirumah?”tegurnya ketika lelaki itu datang tiba-tiba disaat suaminya tidak ada.

”Aku kebetulan saja kangen pada anak-anak jadi aku lewat, dikiranya syamsul ada, afwan ana tak sengaja”, kata lelaki tinggi besar dan berjanggut tipis sambil berdiri mematung dan anak-anak berhamburan memeluknya dan lelaki itupun bermain dengan dua anaknya Nurul yang lucu.
Dari balik bibir pintu dapur Nurul melihat kemesraan lelaki yang dulu pernah menaksirnya dan ditolaknya karena masih belum tarbiyah dan ternyata sekarang malah begitu dekat dengan anak-anaknya. Johan begitu pintar mendekatinya melalui anak-anak jelas sulit dilarang, walau kekawatiran itu semakin mengganggunya. Debaran jantung saat lelaki itu hadir dalam tidurnya atau senyum lembut dan sorot mata penuh cinta, berbeda dengan sikap kaku suaminya yang sedikitpun belum pernah menyanjungnya ataupun mengingat ulang tahunnya walaupun dilarang, tapi dia butuh perhatian dan lelaki itulah yang beberapa bulan terakhir ini yang memberikan perhatian lebih.sebuah dilema antara rasa kewanitaannya yang butuh perhatian dan ketakutan akan larangan affair..

jilbab bahenol (2)

Johan terus hadir menganggunya, secara halus benih itupun tumbuh, johan seolah tahu kalau dirinya diintip dari balik pintu dapur dan senyum itupun mendorongnya m*****kah ketika dia tiba-tiba kedapur, ”Dug”, dua tubuh bertabrakan dan wanita tubuh berjilbab ungu dan terusan bunga crisan kecil warna sepadan.
”Afwan ana tak tak tahu kalau ukhti sedang dipintu..” katanya dengan lembut ketika bahu mereka bersentuhan dan tercium keharuman masing-masing..
”Tak apa, aku kebetulan mau lihat anak-anak..”, jawabnya menghindar dari sentuhan Johan yang diluar dugaanya malah menujunya dan menjauhinya dengan gugup. Johan melihat tubuh yang tanpak lebih ramping dan berisi walalu sudah punya anak dua, Nurul nampak masih cantik bahkan lebih terlihat aura kecantikannya.
”Aku tetap menunggu sampai kapanpun, Nur, Aku sulit untuk tidak mencintaimu..”kata Johan terbata-bata ketika Nurul kebelakang dan mematung tak sepatah katapun dibalasnya karena takut dan bingung. ”Akupun tahu perasaan ini salah, tapi perasaan cinta itu hanya sekali dalam hidup”
”Tak seharusnya begitu Jo, tapi akupun takut ini akan menggangu hidupku, aku punya suami dan dua anak yang jelas sangat membutuhkan lindungan..”
”Aku tahu, kamu sebenarnya tidak pernah mencintai Syamsul dan tidak pernah tahu cara mencintaimu..”, kata Johan lancang sambil tiba-tiba tangannya mendekatinya dengan debaran jantung yang bertalu-talu.
”Ja..jangan, Jo. Jangan menjerumuskanku dalam kesulitan lebih baik menjauh dan biarkan masa lalu itu tertutup oleh takdir, maafkan aku..”
”Yah, aku faham..tapi maafkan sikap sesatku, aku bukan ikhwan sejati seperti yang lainnya yang bisa menahan diri..”kata Johan menyentuh bahu Nurul. Dan merengkuhnya dengan lembut.
”Please, jangan akhi..ini jinah dan janganlah mengalahkan akal kita..”, suara bergetar Nurul mengingatkannya, tapi mata itu terpejam merasakan tangan kekar berbulu Johan menyentuh pinggang rampingnya dan menyusup kain belakakang panggulnya.
”Ayolah Nur, Syamsul tidak pernah memperlakukanmu seperti ini..” kata-katanya semakin terbata-bata dan maracau menahan gairah yang cukup lama terpendam, lupa kalau wanita berjilbab itu isteri sahabatnya sendiri, semuanya gelap gulita..

ketika sentuhan itupun bukan sekedar pelukan saja, tapi jemari lelaki itu menjamah buah panggulnya dari bawah sehingga Nurul merasakan jemari itu meremas-remas pantatnya, sementara jemari lainnya merab-raba dadanya yang masih tertutupi jilbab, tapi remasan johan begitu kuat, dibawah semakin kuat buah panggul Nurul yang bulat dan masih sintal dalam remasan Johan dan menekan-nekan panggulnya sehingga batang keras itu terasa menyentuh vaginanya.
”Umi..!!!Amma!!!!dimana, aku takut?”, terdengar teriakan Jeihan anak pertama Nurul mengagetkan keduanya dan akhirnya terlepas pelukan itu dengan nafas terengah-engah, dibalik pintu lelaki kecil menatap ibunya dengan aneh.
Nurul cepat memangkunya dan masuk kekamar. Sementara Johan kembali kedepan lalu minta ijin keluar, tapi kejadian itu sangat mengagetkannya. Johan tidak pernah datang lagi sempat syamsul menanyakannya, tapi johan berdalih kesibukan di percetakannya.
Bagi nurul kejadian itu lain, sangat membekas sekali dia merasakan gairah dan kenikmatan ketika tangan itu meremas-remas panggulnya walau masih dalam gamis tapi itu membuatnya melayang bahkan dia merasakaan batang keras lelaki menusuk-nusuk lobang kemaluannya dan tubuhnya lemas..
Seminggu berikutnya Ada SMS :
”Ana menyesal atas kejadian itu, Nur. Maafkan aku telah merusak kesetiaanmu pada Akh Syamsul..tapi ana merasa tenang kalau antum merasakan perasaan cinta itu, wallau itu terlarang..”
”Akhi, anapun ikut bersalah..merasakan itu…”, balasnya dengan tiba-tiba dan ada rasa bersalah karena terbawa oleh emosi cinta yang belum pernah dirasakan setelah tiga tahun menikah dengan suaminya.

Dalam pertemuan taskif itulah untuk terakhir kalinya Johan bertemu dan melihat Nurul, semakin cantik dan senyum manis menebar rahasia disaat johan mencuri-curi pandang ketika bertemu suaminya. Ada rasa rindu yang luar biasa tertahan antara rasa takut dan naluri manusiawinya dan rasa tertarik terhadap wanita itu..Karena tak tahan merasa rindu itulah tiba-tiba Nurul datang bertemu isterinya dengan membawa anak dan Johan merasakan penderitaan itu, hujan deras menahan Nurul untuk meninggalkan rumah Johan, apalagi isteri Johan-pun melarang pergi, tapi Nurul berseteguh karena ijinnya hanya hari itu harus pulang, akhirnya johan mengantarkannnya sampai tempat taksi sambil memangku anak keduanya, tapi SMS dari suaminya menenangkannya, ”saat ini ana masih liqoan, agak telat pulangnya”

jilbab bahenol (3)
Johan sempat minum teh dan hujan semakin keras.Johan kebelakang melihat Nurul keluar dari kamar anaknya dan wajahnya nampak gugup,.”Antum secepatnya pergi, Syam sebentar lagi pulang..”
”Iyah, gimana anak itu sudah tidur?”tanyanya mengalihkan wajahnya yang tanpa sengaja menatap baju gamis yang basah kuyup sehingga dada wanita itu tercetak indah, Nurul cepat menutup dadanya sambil menunduk malu. ”Sudah, sebaiknya antum cepat pulang…?”
”Nur, kamu sedikitpun tidak merasakan itu..”, kata Johan sambil tiba-tiba merangkulnya dan Nurul tak sempat mengelak dari cumbuan ke bibirnya, bibir lelaki itu mengulum penuh nafsu. Ciuman yang belum dirasakan sebelumnya, bukan sebuah formalitas yang dingin tidak ada gairah dan kehangatan, tapi ciuman lelaki itu sangat panas melenakannya. Kerudungnya kusut masai, sisa rambutnya keluar. Wajah johan menyusuri pipi dan lehernya berulang-ulang terus turun kedadanya dengan yang masih berbalut gamis basah…tapi dengan spontan wajah Johan didorongnya. Johan menatap pipi kemerahan Nurul tampak begitu cantik, bibirnya merah basah dengan kulit memucat, begitu juga wajah johan yang klimis tanpa janggot, begitu tanpan dan bibirnya begitu lembut menyentuhnya, ada getaran aneh yang mendorong bibirnya pasrah ketika Johan kembali mendorong wajhnya dalam luapan ciuman lelaki yang bukan muhrimnya

Nurul merasakan tangan Johan meremas-remas dadanya itu, menyusup ke balik jilbab yang dikenakannya lantas membuka kancing-kancing jubah yang dikenakannya di bagian dada, kemudian tangan itupun menyusup ke balik jubah yang dipakai wanita berjilbab ini pada bagian dada. Baju gamis itu dikuakan oleh tangan kekar itu…mata johan terbelalak melihat dada montok dan sintal milik wanita impiannya itu ternyata jauh lebih indah dalam balutan bra wacoal warna krem.
”Jangan, Jo..jangan lakukan..”, ungkapnya melerai walau bahasa tubuh Nurul mengejang tak karuan ketika wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan Johan merayap di balik BH wacoal yang dikenakannya, lantas meremas-remas kedua payudaranya secara bergantian.Nurul semakin menggelinjang saat wanita cantik ini merasakan puting susu yang biasa dihisap kedua anaknya, kali ini dipelintir pelan oleh jari-jari tangan Johan,wanita ini merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.bibir itu menyentuh dan melumat dan mengunyah daging dadanya dengan gigitan gemes dan disertai rintihan tanpa sadar.. wanita berjilbab nyaris histeris menahan nikmat ketika bibir liang kemaluannyapun tak luput diusap pelan oleh jemari tangan Johan setelah menyibakan tepian gamisnya.
Sekian lama daerah tersebut tak tersentuh tangan laki-laki termasuk Syamsulpun tidak pernah melakukannya,namun kini diusap oleh tangan laki-laki yang bukan suaminya.Rasa birahi ternyata telah membutakan kenyataan bahwa tangan laki-laki yang tengah menyentuh kemaluannya bukanlah suaminya..justru Nurul mulai menggelinjang saat jemari tangan Johan mengelus-elus perlahan bibir kemaluannya beberapa saat lantas wanita berjilbab ini merasakan bibir kemaluannya itu dibukanya dan jemari tangan Johan pun segera melesak ke dalam liang kemaluan yang telah mengeluarkan dua orang anak..Tubuh Nurul gemetaran dan mulutnya mendesah saat kemudian kelentit dalam kemaluannya disentuh oleh jemari tangan Johan lantas dipilinnya lembut membuat wanita berjilbab lebar ini nyaris terlonjak dari tempat duduknya..
“Aihhhh…eungghhhh….” Nurul mengerang dengan mata mendelik, ketika beberapa saat kemudian sesuatu yang besar, panjang dan panas mulai menusuk kemaluannya melalui belakang. Tubuh wanita berjilbab ini mengejang ketika menyadari kemaluannya tengah dimasuki penis Johan dan Nurul hanya bisa pasrah.Hingga sekejap kemudian Nurul merasakan batang penis Johan yang jauh lebih besar dan panjang di banding milik suaminya, telah bersarang di liang kemaluannya hingga menyentuh rahimnya.Tubuh Nurul hanya mampu menggelinjang ketika Johan mulai menggerakan penis dalam jepitan kemaluannya
“Mmmfff…oh, Nur ….nnghhh…” kata Johan di belakangnya sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah.Nurul dapat merasakan penis Johan yang kini tengah menusuk-nusuk liang kemaluannya, jauh lebih besar dan panjang dibanding penis suaminya.
Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Nurul lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita yang alim ini menggigit bibirnya.

jilbab bahenol (4)
Nurul tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi
tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik jubahnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka…
“Ayo Nur….ahhhh…jangan bohongi dirimu sendiri…nikmati…ahh….nikmati….” Johan itu terus memaju mundurkan penisnya yang terjepit vagina wanita muda yang alim ini. Nurul menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa sakit dan malu. Tapi ia tak mampu. Nurul mendesah dan mengerang dengan tubuh menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab ini menjerit saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang baru pertama kali ditemuinya walaupun 6 tahun dia telah menjalani pernikahan dengan mas Syamsul.
Tubuh Nurul langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya s*****kah lagi sampai ke puncak. Terus mengaduk vaginanya dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan penisnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini.Kedua tangannya mencengkeram payudara Nurul yang padat dan montok dengan kuat.
Nurul yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam vaginanya disembur cairan hangat mani dari penis Johan yang terasa banyak membanjiri liang vaginanya.
Nurul kembali merintih, mirip suara anak kucing, saat perlahan
Johan menarik keluar penisnya yang lunglai. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita berjilbab. Nurul terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.
“maafkan ana atas kehilapan ini, Nur !!” kata Johan dengan tekanan keras sambil membenahi celanannya.
Nurul diam saja, harga dirinya sebagai seorang istri hancur, namun tak urung matanya sempat mengamati penis Johan yang sebelum laki-laki ini merapikan celananya. Ada rasa takjub pada diri Nurul melihat ukuran penis teman suaminya tersebut, walaupun tidak sedang dalam keadaan tegang. Johan tidak menyadari kalau penisnya tengah diamati oleh wanita yang telah lama dicintainya, hingga setelah merapikan celananya laki-laki ini buru-buru keluar dari dapur dengan gugup.

jilbab bahenol (5)
Nurul itu baru merapikan pakaiannya yang awut-awutan ketika, ketika dilihatnya Johan telah pergi dari dapur dan beberapa saat kemudian tanpa berpamitan, terdengar suara mobil Johan berlalu meninggalkan halaman rumahnya.
Nurul terisak menyesali kejadian itu, namun dia juga merasa malu betapa dia ikut menikmati ketika Johan menyetubuhinya, namun wanita berjilbab ini buru-buru menghapus air matanya ketika didengarnya ketukan pintu suaminya.

FITRI

Pada suatu pagi, sekitar pukul setengah delapan aku sedang nongkrong di warnet langgananku. Sengaja aku nongkrong disitu karena sering ada gadis2 cantik yang browsing di warnet itu, aku seorang hunter yang hebat tentu saja tidak mau melewatkan calon mangsa yang banyak itu hehe.
Ketika sedang ada di depan, ngobrol dengan OP yang juga sama mesumnya, tiba2 ada seorang wanita muda yang memakai baju ketat oranye dengan logo perusahaan madu terkenal dengan jilbab ketat yang dililitkan ke leher dam masuk ke balik kerah bajunya. Kutaksir usia wanita itu sekitar 28-30an tahun. Wah, montok juga nih, pantatnya yang memakai jenas ketat Nampak sangat bahenol. Segera aku bertanya nomor bilik warnetnya kepada si OP mesum, lalu aku message lewat bilik yang sudah biasa aku pakai.
“hai” tulisku. “kenalan dunk”
“siapa ini ya?” kata dia.
“boleh kenalan gak.. aku yang tadi duduk diluar..” kataku lagi.
“oh, boleh..” jawabnya.
“namaku wawan, kamu?”

jilbab bohay-anita (1)
“aku Fitri.”
Akhirnya percakapan melalui message warnet itu berlanjut, sampai ketika dia keluar bilik warnet, aku langusng kenalan langsung dan ngajak dia makan pagi, tapi dia sudah akan beranjak pulang.
“kalo gitu aku antar deh, boleh gak mbak? “ kataku. “tapi ada yang marah gak nih..”
Dengan berusaha sedemikian hebat, akhirnya dia mau kuantar. Selama di mobil, akhirnya aku tahu kalau dia adalah seorang janda muda yang bercerai dengan suaminya. Sekarang usia wanita montok berjilbab ketat ini 30 tahun, dan mempunyai anak 1 yang duduk di TK nol kecil.
“aku tunggu deh, kamu nanti mau jemput anakmu kan? Aku temenin..” kataku sesampainya dirumah petak kontrakan wanita cantik montok itu. Dia mengangguk sambil tersenyum dan mempersilahkan aku masuk.
Sampai didalam, segera dia membuatkan aku minuman dingin dan akhirnya kami ngobrol lagi. Lama kelamaan, obrolan kami semakin mendalam, sambil aku sedikit demi sedikit mendekati tubuh montoknya. Pada sebuah kesempatan, ketika dia kukira sudah tidak akan melawan, segera kuraih tangannya, Mbak Fitri tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyentuh selakanganku. wanita berjilbab ketat itu terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, aku segera membuka celana jeansku dan memperlihtakan penisku yang sudah tegak. Segera kusorongkan kedepan wajahnya yang masih terbalut jilbab ketat. Pelan2 dia menyentuh kejantananku serta meremas-remasnya.
“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku sengaja kukeraskan, agar mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu berjongkok, serta melumat kepala kontolku.
“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” janda montok berjilbab ketat itu sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

jilbab bohay-anita (2)
Dengan semangat, SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulut janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.
Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.
“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”
Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulut wanita berjilbab ketat itu , sampai membasai dagu dan mengalir ke jilbabnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Mbak Fitri berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.
Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Mbak Fitri tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidah janda montok berjilbab ketat itu terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Mbak Fitri melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya, kecuali jilbab ketatnya karena itu semakin membuat gairahku naik.. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudara ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu yang semakin bengkak.
“Ohh.. Teruss Wan.. Teruss..” desah SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu .
Kuhisap-hisap pentil wanita berjilbab ketat itu yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulut janda montok berjilbab ketat itu . Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan paha janda montok jablay yang berjilbab ketat itu . Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.
Dengan penuh nafsu, aku menciumi memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.
“Oh.. teruss.. Wan.. Aduhh.. Nikmat..”

jilbab bohay-anita (3)
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu seperti ular cobra.
“Wan.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”
Desis kenikmatan yang keluar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu , semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.
“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakan wanita berjilbab ketat itu semakin merintih.
Tiba-tiba wanita berjilbab ketat itu menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.
“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”
Ternyata Mbak Fitri mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang janda montok berjilbab ketat itu lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu . Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.
Mbak Fitri masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..
“Oh.. enakk..”
Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Mbak Fitri.
“Oh.. Mbak Fitri.. sayang.. enakk.”
Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Mbak Fitri yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Wan.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”
Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Mbak Fitri.. Lalu janda montok jablay yang berjilbab ketat itu meminta agar aku berada di bawah.
“Kamu di bawah ya, sayang..” bisik SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu penuh nikmat.
Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Mbak Fitri dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.
“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu .

jilbab bohay-anita (4)
“Oh.. Mbak Fitri.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.
Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggul wanita berjilbab ketat itu semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.
“Wawani.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”
Ternyata Mbak Fitri telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.
Kemudian aku membalikkan tubuh Mbak Fitri, sehingga posisi ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.
“Oh.. Mbak Fitri.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”
Crott.. Crott.. Tttcrott.
Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Mbak Fitri.
“Oh.. Wan.. kau begitu perkasa.”
Telah lama aku menantikan hal ini. Ujar SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Mbak Fitri memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.
Kemudian, tanpa kukomando, Mbak Fitri berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian janda montok berjilbab ketat itu meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Mbak Fitri terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanan janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.
“Ohh.. Mbak Fitri.. Geli..” desahku lirih.
Namun Mbak Fitri tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina Mbak Fitri membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
“Oh.. Wan.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.
Mbak Fitri menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.
“Oh.. Terus.. Sss.” desah janda montok berjilbab ketat itu sembari kepalanya berdiri tegak.
Kini mememeknya memenuhi mulutku. wanita berjilbab ketat itu menggerak-gerakkan pinggulnya.
“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vagina wanita berjilbab ketat itu .
“Wan.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”

jilbab bohay-anita (5)
SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Mbak Fitri merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.
Mbak Fitri terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
“Oh.. Mbak Fitri.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Mbak Fitri terus mempercepat gerakan kepalanya.
“Au.. Mbak Fitri.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”
Croott.. Croott.. Croot..
Maniku tumpah ke dalam mulut janda montok berjilbab ketat itu . Sementara Mbak Fitri seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.
“Terimakasih sayang..” ucapku..
Aku merasa puas.. ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu mengecup bibirku. akhirnya karena kelelahan kami tertidur pulas.

INDRIANI

Menonton acara siaran langsung acara selebritis di Mall Taman Anggrek sangat mengesalkan, selain penuh sesak, juga tidak bisa mendekati artis. Belum lagi untuk keluar dari Mall Taman Anggrek butuh Perjuangan. Kulangkahkan kakiku keluar dari mall, namun mataku tertumbuk pada pojokan tempat artis yang mau tampil sedang saling canda, beberapa artis senior juga berada di situ, namun mataku lebih tertuju pada wanita berjilbab warna abu abu yang sedang digandeng mesra oleh suaminya, aku mencoba mendekat, aku mengenal wanita ini sejak lama sebelum menjadi istri salah satu aktor beken Indonesia. Ketika MC memanggil nama aktor tersebut untuk tampil ke panggung, sang istri pun memberikan semangat padanya. Aku semakin terpana dengan jilbab dan pakaiaanya yang sangat kontras, pakaian abu abu dengan jilbab abu abu. Ketika aku mendekat, istri aktor tersebut terkejut melihatku

“Oh Haan .. lama nggak kelihatan .. kemana aja kamu ?” tanya Indriani Hadi yang merupakan istri dari Syahrul Gunawan, wanita muslimah ini cukup sopan, menyalamiku dengan hanya bersentuhan pada jari jariku, tidak bersalaman

“Baik .. masih banyak pekerjaan “ kataku enteng dengan sebentar memandang kesintalan tubuhnya, aku menjadi terangsang dengan kontrasnya pakaian itu, ditunjang dengan jilbabnya yang anggun menambah libido birahi kumat lagi jika melihat artis berjilbab. Kupandang ke arah panggung, Indriani Hadi berada di sampingku. Sesekali mengobrol sedang aku sendiri hanya melirik nakal ke arah busungan dadanya itu.

Mantra yang kudapatkan dari temanku yang ahli di bidang klenik kupraktekan, aku kurang yakin, namun temanku bilang harus yakin, karena keyakinan itu paling penting, aku pengin menikmati tubuhnya yang mengundang air liurku. Aku mencoba mengorek tentang tempat tinggalnya setelah menikah, ketika bertanya itu malah wanita berjilbab ini bertanya balik

“Kapan mau ke rumah ?” tanya Indriani Hadi dengan membenahi jilbabnya.

“Ya ntar malam kalo bisa “ kataku enteng yang disambut tawa Indriani Hadi

“Ntar malam ??? .. gila apaa .. suamiku keluar kota .. ada job “ balas Indriani Hadi dengan tertawa renyah

“Justru itu .. bisa curhat .. ada banyak masalah “ kataku menggoda

“Makanya .. cari istri donk “ canda Indriani Hadi dengan gemas

“Cariin donk .. yang secantik Mbak Indri “ kataku untuk lebih mendalami tingkah laku Indriani Hadi.

“Haaah .. aku dah jelek “ tolak Indriani Hadi dengan suara dilemahkan, lirikan matanya sungguh menggodaku.

“Naah .. aku aja senang lihat Mbak Indri secantik ini “ kataku dengan menatapnya tajam membuat tatapan mataku membuat Indriani Hadi kebingungan. Matanya tidak berani menatapku, namun kembali mata itu memandangku, seolah aku menghipnotisnya, lagian aku cukup tajam memandang kesintalan tubuhnya sampai Indriani Hadi menutupi bagian dadanya.

“Iiih .. kamu sekarang kok kayak buaya sih ? “ lontaran kata kata pedas dari Indriani Hadi kuanggap biasa saja.

“Yang penting tetap lelaki .. di sana di bilang kadal, di sini dibilang buaya .. tapi yang penting perkasa “ sahutku dengan nada datar

“Haaaaaaaaaaah .. kamu belum nikah sudah gituan ? ck ck ck ck ck “ balas Indriani Hadi dengan geleng geleng

“Dah jamannya orang muda sekarang mengenal seks kok .. mau coba apa ?” kataku dengan berbisik sampai membuat Indriani Hadi terdiam dengan menutup mulutnya karena terkejut. Justru itu menambah cantiknya wanita berjilbab ini.

Indriani Hadi semakin tidak tenang di dekatku, tangannya diremas kuat, entahlah apa mantra dari temanku ini manjur, tak ada sahutand ari Indriani Hadi, namun gemuruh nafasnya menjadi tak karuan, sesekali matanya melirikku, aku hanya memberikan senyum saja. Kusentuh tangannya untuk lebih membuat Indriani Hadi termakan mantraku, benar saja selepas tangannya kusentuh itu Indriani Hadi tidak menolak, lalu kuremas remas dengan pelan pelan Indriani Hadi juga tidak menyingkirkan tangannya, hanya bersifat pasif, namuan matanya melirikku sesekali

“Malam nanti akan kutiduri kamuuu “ bisikku yang membuat Indriani Hadi menjadi kaget. Kulepas tangannya yang kupegang, aku kemudian melangkah pergi dari dekat wanita berjilbab ini.

Selepas aku lenyap Indriani Hadi celingukan mencari aku, terlihat kepalanya sampai mencari cari, namun aku sudah lenyap. Aku kemudian menunggu sampai acara bubar, kutunggu mobil Syahrul Gunawan keluar dari Mall Taman Anggrek, kuganti bajuku agar tidak membuat curiga, kupakai topi untuk menyamarkan, keduanya lewat di samping mobilku. Bokongnya sungguh menggodaku, aku menjadi tidak tahan.

Mobil itu keluar dari mall dan menuju ke arah Grogol, kubuntuti mereka sampai rumahnya, namun tak berapa lama kemudian Syahrul keluar dari rumahnya dengan membawa mobilnya sendirian. Indriani Hadi mengantar sampai gerbang dan diciumnya wanita berjilbab itu dan akhirnya mereka berpisah.

Aku kemudian menyelinap masuk ke dalam rumahnya, entah kenapa gerbang rumah itu tidak dikunci, herannya wanita ini kok sendirian di rumahnya, entah kemana anaknya, aku tak perduli, aku terus masuk terus sampai depan pintu, kuketuk pintu rumahnya, dari korden sampai pintu yang terbuka itu seorang wanita berjilbab membukakan pintu, melihatku muncul Indriani Hadi menjadi terkejut namun diam saja, matanya memandangku

“Malam ini kau milikku, sayaaang “ bisikku dengan masuk dan menutup pintu rumah itu.

Mantra dari temanku benar benar mancur, terbukti wanita berjilbab ini tidak berontak namun tetap saja ketakutan, kemudian menjawab dengan nada datar

“Mau apa kau Han ?” tanya Indriani Hadi dengan wajah setengah bingung dan takut

“Memberikan kenikmatan surgawi “ kataku lagi yang disambut dengan pandangan kosong, namun kemudian menjawab

“Jangan Haan .. jangan “ tolak Indriani Hadi dengan mundur, namun kutahan pantatnya dan kuremas remas pelan membuat wanita ini memejamkan matanya.

“Sssssssssssh .. ssssssshhh “ desis Indriani Hadi dengan suara yang jelas ditelingaku, kemudian kutarik tangannya menuju ke sofa, wanita ini seolah menolak

“Jangan .. jangan .. aku istri yang setiaaa “ tolak Indriani Hadi dengan wajah memelas, tidak ada pemberontakan yang frontal.

“Tidak malam ini kau setia “ kataku dengan menarik tangannya, perlahan wanita ini mengikuti aku dan aku menariknya dan kudekap serta kuremas buah dadanya

“Jangaaaaaan .. jangaaaaaaaan .. aaaaaaah .. pleasee .. “ tolak Indriani Hadi dengan suara yang pelan, memang mantra dari temanku ini hanya membuat wanita tidak berontak, masih menyisakan kesadaran, tinggal dibuai dengan rangsangan birahi maka wanita ini akan mudah dikendalikan.

Kuremas buah dadanya dengan lembut, tanganku menyilang sampai membuat wanita ini mendesah desah keenakan.

“Pleasee .. jangan lakukaan .. jangaaaaaaan .. uuuuuuuuh ssssssshhh ssssssshhh “ tolak Indriani Hadi dengan mendesis lagi, tanganku semakin nakal. Indriani Hadi masih menggunakan pakaian yang sama, baju lengan panjang warna abu abu dan rok panjang warna hitam, kususupkan tanganku masuk ke dalam baju tanpa kancing itu dan meremas lembut buah dadanya, Indriani Hadi sampai terpekik

“Maksiaaat .. ini maksiaaaaaaat .. jangan pleasee “ tolak Indriani Hadi dengan mencekal tanganku yang sudah masuk ke dalam bajunya dan meremas gundukan kebar itu, tanganku lebih nakal lagi, melepas cekalan di telapak tanganku dan menyusup ke dalam cup branya, kuremas buah dadanya, kucium pada jilbabnya

“Mbak Indri akan nikmat merasakan kontolku “ kataku dengan mendesakkan ke atas selakanganku, kuremas buah dadanya itu sampai membuat Indriani Hadi terpejam

“Ssssssssssssssssshh ssssssssshhh .. uuuuuuuuuuuuuuuuuh “ desis dan lenguh Indriani Hadi semakin lama semakin terbuai dengan rangsanganku itu, kutarik kepalanya dan langsung kupagut bibirnya, pelan pelan wanita berjilab ini menyambut pagutanku, namun tak lama kemudian tangannya berusaha menarik kepalaku, kutarik badannya dan kini Indriani Hadi menindihku dengan perasangan bingung campur nikmat, kurapikan jilbabnya

“Segera lepas celanaku .. kontolku besar deeh “ rayuku yang disambut dengan gelengan Indriani Hadi, kurangsang kembali dengan meremas buah dadanya membuat Indriani Hadi menjadi terpejam lagi, kudorong tubuhnya dan kutindih di sofa wanita ini, kuremas lagi kuat dadanya sampai membuat Indriani Hadi semakin termakan birahi.

“Uuuh .. ssssssssshhh .. mmmmmmmhh .. enaaaaak .. sssssssshh jangaaaaaaan .. ssssssssshh .. “ desis Indriani Hadi semakin tenggelam dalam rangsangan itu, kupegang jilbabnya dan kutahan kepalaku, kupagut dengan lembut sampai Indriani Hadi memejamkan matanya menikmati pagutan itu. Kuangkat kepalaku dan kubuka celana panjang, celana dalamnya sekalian aku tarik, mata Indriani Hadi menjadi melotot melihat batangku yang ngaceng besar itu, matanya menggeleng geleng, kemudian mengalihkan pandangan seolah menolak penis besar, kuarahkan kepalanya yang berjilbab itu, matanya kini memandang ke batangku, tanganku turun dan memegang baju warna abu abu itu dan kutarik ke atas, Indriani Hadi menolak namun lama lama menyerah, membiarkan aku membebaskan tubuhnya dari penutup bagian atas. Kubiarkan jilbabnya tetap bertengger, Indriani Hadi sampai menutupi dadanya, namun kuturunkan.

“Jilat kontolku sayaaang “ kataku dengan menekan kepalanya di belakang jilbabnya itu. Habis itu langsung ke belakang tubuhnya , menarik kaitan rok itu, reslutingnya aku tarik.

“Mbak Indri lepasin dulu roknya yaa .. kita telanjang deeh “ sahutku yang tidak dijawab, Indriani Hadi malah memegang batangku.

“Dikocok aja dulu Mbak “ rayuku yang dijawab dengan kocokan pelan Indriani Hadi itu.

Kubiarkan wanita itu mengocok batangku pelan pelan, kulepas kemudian kaitan branya, luar biasa bentuk buah dadanya, tidak besar namun cukup montok juga, putih dan sangat segar dengan punting agak besar.

“Susumu segar Mbak Indri “ kataku dengan menarik kepalanya dan kudorong dadanya agar rebahan, kali ini wanita berjilbab tidak menolak, kutari roknya beserta celana dalamnya, kulucuti wanita ini sampai telanjang bulat hanya menyisakan roknya saja. Aku kemudian membuka bajuku dan kulepas cepat, kemudian celanaku juga aku buang, Indriani Hadi hanya menatapku dengan nafas tak karuan.

Kutekuk kedua kakinya agar aku bisa masuk ke dalam selakangannya, ketika aku hendak membungkuk tangan kanan wanita berjilbab ini menahan

“Jangaaan aaaaaaaah .. dosaaaaaaaaaa “ sahut Indriani Hadi dengan menahan kepalaku dengan tenaga yang seolah olah tidak menahan kuat.

“Sudaahlah Mbaak Indri . kita sudah sama sama telanjang .. “ kataku menarik tangan itu, kusaksikan vaginanya benar benar luar biasa indah, jembutnya tipis dan rapi, lubangnya menyempit, aku kemudian langsung menjilati memeknya dan tanganku meremas remas buah dadanya sampai membuat Indriani Hadi merintih, melenguh dan mendesah tak karuan

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah ..ssssssssssssshh sssssssssshh ssssssssssshh .. hhhhh … aaaaaaaauuh .. huuuuh .. enaaaaaaak .. teruuuuuuuuuuusss aaaaaaaaaaaaaaaaaah “ desis Indriani Hadi dengan tak karuan itu, kedua tangannya kuat memegang kepalanya yang berjilbab, nafasnya semakin memburu, tubuhnya yang telanjang dan hanya menyisakan jilbab itu semakin membuat tubuhku semakin panas, kemolekan istri sakinah ini sudah dalam kekuasaanku.

Kugali terus vagina Indriani Hadi yang sudah termakan gairah birahi itu, kujilati vaginanya yang sempit itu, wanita berjilbab ini menggelinjang bak cacing kepanasan, geliat tubuhnya di sofa itu kian basah oleh keringat yang membanjir, ketika hendak melepas jilbabnya aku langsung menahan tangannya, Indriani Hadi memandangku dengan mata sayu, giginya menggigit bibirnya dengan kuat tak tahan kenakalanku yang makin nakal meremas buah dadanya dengan lembut sampai Indriani Hadi melihat tanganku yang meremas nakal itu. Matanya kemudian menatapku dengan pandangan menggeleng geleng, kesadarannya semakin tampak, seolah olah mantra yang kuberikan semakin lama semakin tidak kuat lagi, seolah wanita berjilbab ini tidak terpengaruh mantra, kemungkinan besar karena aku belum menguasai mantra, selama ini hanya mengandalkan feeling. Kembali kuoral vaginanya wanita berjilbab ini sehingga Indriani Hadi langsung memejamkan matanya

“Uuuuuuuuuh .. ssssssssssshhhhhhhhhh ssssssssssshhh hhhhhhhhh .. mmmmmmmmmhhh .. “ desis Indriani Hadi dengan mendongakan kepalanya.

Sementara aku di selakanganya menjilati lubang yang sudah membasah itu, lubang yang sempit itu aku sibakan dengan lidahku, yang kanan kusibakan membuat Indriani Hadi menggeliat tak karuan, demikian daging sebelah kiri gantian aku sibakan sehingga wanita berjilbab ini semakin terbuai oleh nafsu birahi

“Haaaaan aaaaaaaaaaaah .. aaakuu nggak kuaaaaat aaaaaaah .. sudah aaaaaaaaah .. pleasee .. masukin .. aaaaaaaaah .. “ lenguh Indriani Hadi dengan memandangku kembali, matanya kemudian tertuju ke selakanganku, bibirku terus menghisap lubang itu membuat wanita berjilbab ini sampai terpejam erat merasakan sensasi oralku.

“Kamu nakaaaal aaaaaaaaaaah pleaseeeee “ erang Indriani Hadi dengan tangannya telentang, tangan kanannya sampai mendorong meja sofa itu, lubangnya semakin membesar, kumainkan klitorisnya dengan kujilat dan kusedot

“Gila aaaaaaaah .. aduuuh Haaaaaaan .. pleaaaaaaaaaseeeeeeee “ lenguh Indriani Hadi dengan kembali bola matanya memutih tak kuat rangsanganku, lubangnya sangat sempit, kini tanganku masuk ke dalam lubang itu mengorek ke samping membuat jeritan Indriani Hadi semakin membahana.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ jerit Indriani Hadi dengan kuat, jepitan pahanya kini semakin menguat di kepalaku, kumainkan kembali klitorisnya dan membuat Indriani Hadi membusung ke atas, kuremas remas buah dadanya agar bisa mendapatkan orgasme.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw ..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang wanita berjilbab ini sambil mencengkeram kuat sofa itu. Tubuhnya menegang kaku, kemudian berdebam ke bawah dengan nafas ngos ngosan, vaginanya mengucurkan cairan panas membasahi sofa dan aku terciprat di bibirku, kutekan pahanya dan kuelus elus paha mulus Indriani Hadi, kemudian aku merapikan jilbabnya yang miring itu. Kuletakkan handphone yang berada di meja sofa itu dan kuarahkan ke tubuh kami agar bisa merekam adegan yang kuinginkan ini. Indriani Hadi memejamkan matanya dengan tangannya menggapai gapai, aku merangsangnya pelan pelan, pahanya yang sangat mulus itu menjadi incaran tanganku, mengelus dari paha sampai di pinggangnya kemudian naik dan menindih wanita berjilbab ini, Indriani Hadi kemudian membuka matanya, dugaanku benar, wanita ini sudah tidak dalam kendali mantraku, ketika membuka matanya langsung saja Indriani Hadi menjerit

“Aapaa apaaan ini Han ? pleasee .. jangan ! Jangan .. ini dosaaa ! tolong ! “ Indriani Hadi seakan akan hendak berontak. Kubekap mulutnya dengan tangan kananku, dan tangan kiri memegang batangku dan kuarahkan ke vaginanya, Indriani Hadi sampai melotot merasakan vaginanya ada benda tumpul masuk ke selakangannya

“Mmmmmmmmmmmmh …… “ suara yang keluar dari mulut Indriani Hadi yang kubekap

“Jangan teriak sayaaang .. rasakan kontolku “ kataku mendesakan batangku agar bisa masuk, Indriani Hadi sampai terkaget kaget dan melotot, bahkan hendak berontak

Indriani Hadi semakin ketakutan, sial mantraku sudah tidak mempan lagi, kini wanita berjilbab ini semakin kuat berontak, tangannya mencakar lenganku, namun aku gantian mengunci tangannya, kurentangkan kedua tangannya

“Teriaklah, sayaaang .. kau lihat kamera di meja itu ?” ancamku

“Haaan aaaaaaaaaaauuh .. jangan lakukan Haan .. jangan kaaau aaaaaaah aaaaaaaaaauh “ pemberontakan itu semakin kuat, namun desakan penisku semakin dalam membuat Indriani Hadi semakin melemah pelan pelan.

“Aku sudah lama menginginkan dirimu Mbak Indri .. “ kataku yang dijawab dengan ludahan di mukaku

“Kau biadab ! “ maki Indriani Hadi yang sudah sadar kalo vaginanya sudah dimasukan batangku walau kurang dari separo.

“Ayolah Mbak .. sudah tanggung nich ..” kataku mendesakkan batangku pelan membuat Indriani Hadi menjerit lagi

“Jangan Haaan .. jangan .. auuuh .. ooh .. vaginaku “ jerit Indriani Hadi dengan berusaha melepaskan tanganku.

“Ayo deh Mbaak .. diperkosa nggak enak .. ayo deh, sayaaang .. “

“Han .. kenapa kamu nggak minta baik baik .. malah memperdaya aku ?” tanya Indriani Hadi dengan wajah memelas.

“Aku tidak memperdaya Mbak Indri, birahilah yang memperdaya kita “ kataku dengan akal bulus.

“Tapi Han .. aku ini muslimah .. ini dosa besar .. aduuh .. Haan .. jangan teruskan … aaaaaaaaaaauh “ teriak Indriani Hadi ketika aku menarik dan menenggelamkan batangku lebih dalam.

“Enak khan Mbak ? kontolku sesak dalam memek Mbak Indri “ kataku dengan wajah melotot karena kesakitan batangku dijepit dalam vaginanya yang sempit itu.

“Kusodok sodok ya Mbak .. Mbak Indri nikmati saja .. lagian Mbak Indri makin seksi dengan berjilbab itu” kataku dengan memandang wajahnya itu.

“Sesaak Haan .. jangan teruskan, ndak muaaat aaaaah “ elak Indriani Hadi dengan memalingkan wajahnya

“Kalo begini bagaimana ? “ tanyaku dengan menghujamkan batangku membuat Indriani Hadi mendongak kesakitan

“Aaaaaaaaampuuuuuun aaaaaah aaaaaaaaaaaaaauh sssssssssshh ssssssssshhh hhhh “ jerit Indriani Hadi dengan nafas ngos ngosan. Jepitan vaginanya semakin rapat seiring batan besarku masuk lebih dalam.

“Ayo deh Mbak Indri .. goyang deeh .. nih aku genjotin ya “ kataku sambil menggejotnya, ketika aku menggenjot itu Indriani Hadi menahan ke pahaku

“Sudahlah Han .. tapi .. tapi “ sahut Indriani Hadi dengan wajah kawatir

“Tapi kenapa Mbak “ kataku menahan sodokanku

“Aku takut ketahuan .. “ ujar Indriani Hadi dengan lirih

“Tenang aja Mbak Indri .. yang penting nikmat .. rasakan kontolku ya Mbak .. tanggung sudah masuk ke memek Mbak Indri, jangan menangis donk “ hiburku dengan mengelus elus pipinya selepas tangannya kulepas.

“Kamu sangat jorok .. “ maki Indriani Hadi dengan memandangku sayu

Aku kemudian kembali menggejotnya, menindih tubuhnya dan kuremas buah dadanya, Indriani Hadi kemudian menanggapi dengan memegang kepalaku dan mengajak saling berpagutan, kami semakin terbakar birahi.

“Aaaaaaaaauuh aaaaaaaah .. memekmu enaaaak aaaaaaah .. aaaaaaaayo Mbaaaaak uuuuuuh ..ssssssssshh sssssssssshh hh “ desisku ditengah genjotan naik turun di selakangan wanita berjilbab ini, kami terus saling bergerak

“Haaaaaan ooh .. enaaaaak aaaaaaaaaaaah .. teruuuuuusin aaaaaaaaah enaaaaaaak .. sssssssssh sssssssssshhh “ erang Indriani Hadi ketika aku melepas pagutan itu, Indriani Hadi ikut menggoyangkan pantatnya mengimbangi aku, aku kemudian tersenyum

“Jangan lepas jilbabmu Mbak .. aku suka kau berjilbab “

“Tauk “ jawab wanita berjilbab ini dengan singkat, genjotan demi genjotan kulakukan, Indriani Hadi sampai terpejam merasakan sodokanku yang semakin cepat

“Haaan aaaaaaah .. nggaaaaak kuaaaaaaaat aaaaaaaaaah “ teriak Indriani Hadi dengan suara keras, jilbabnya sampai menutupi buah dadanya, kuremas buah dada itu di bawah jilbab warna abu abu itu, luar biasa sensasi remasanku di buah dadanya yang terbalut jilbab

“Haaan .. aaakuu sudaah nggak taaaa taaa haaan “ erang Indriani Hadi dengan memejamkan matanya, dadanya ikut naik turun seiring genjotan itu. Tubuhnya semakin melemah dan vaginanya semakin menyempit dengan cepat, Indriani Hadi sampai tidak tahan lagi, tubuhnya kembali menegang kaku, matanya memutih, suaranya hanya merintih dan mendesah serta melenguh.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “ erang Indriani Hadi panjang dengan wajah penuh keringat, jilbabnya sampai setengah basah. Kuhentikan sodokanku ketika vaginanya kembali memancarkan cairan panas membasahi batangku.

Lepas itu aku langsung menarik batangku, kemudian mengocok batangku sendiri, aku ingin memuntahkan isi penisku di atas wajahnya.

“Aaaaaaaaauh aaaaaaaaah ssssssssshhh “ desisku merasakan kocokanku sendiri, aku mengocok cukup lama sehingga aku sampai tidak kuat lagi, kocokan yang lama dan cepat itu semakin lama semakin membuatku ingin muncrat di penisku, ketika hendak mencapai orgasme dengan cara manual itu, aku menghentikan, kulihat Indriani Hadi yang mengelap mukanya dengan ekor jilbabnya, aku langsung berpindah mengangkang, kukocok penisku, pelan pelan penisku mulai memuntahkan spermaku, muncratan pertama langsung mengena hidung Indriani Hadi.

“Aapaaaaan Haaaaaaaaaaah “ pekik Indriani Hadi kaget merasakan ada lendir menempel di hidung sampai dahinya, Indriani Hadi sampai terperanjat dan membuka matanya, namun aku terus mengocok batangku, spermaku muncrat banyak sekali

“Haaaaaan pleasee aaaaaah “ tolak Indriani Hadi dengan menutup mukanya, akibatnya tangan lentik Indriani Hadi penuh dengan spermaku.

“Jangan .. jangaaaaaaaaaan “ tolak Indriani Hadi dengan membuka tangannya, ketika hendak teriak itu, aku langsung menyumpalkan batangku masuk ke mulutnya. Indriani Hadi sampai tergangga namun terlambat, batangku masuk

“Telaaaaaaaaaaaaaaan, seedooooooooot “ ancamku, Indriani Hadi tak bisa menolak karena ketakutan, disedotnya penisku itu dengan pelan, sisa sisa air maniku disedot dan dengan berat Indriani Hadi sampai masuk kerongkongannya. Kutahan kepalanya, kutarik penisku.

Kukocok lagi untuk mengeluarkan sisa sisa air maniku, kusemprotkan ke jilbabnya, sehingga kini wanita berjilbab ini penuh dengan sperma lendir kental.

“Kenapa kau lakukan ini Han ? aku tak suka “ maki Indriani Hadi

“Karena Mbak Indri nolak nolak “ jawabku singkat

“Kenapa nggak kau semprotin di dalam .. aku nggak suka di luar .. jijik kalo di mukaku “ debat Indriani Hadi dengan wajah masih kesal.

“Kalo nggak mau lagi .. sekujur tubuhmu kusemprotin lagi “

“Jangan Han .. oke deh Han .. aku mau aja .. tapi kau jangan sembarangan nyimpen video aib ini, cukup kita berdua pegang rahasia ini .. “ jawab Indriani Hadi dengan mengelap mukanya yang berlendir itu, tangannya sampai berlepotan spermaku.

“Kita mandi yuk Mbak .. kumandikan Mbak Indri .. kita terusin di lain tempat “ ajakku yang disambut anggukan kepala wanita berjilbab ini.

“Janji ya Han .. jangan bocorin ini .. nggak mau aku .. ini sudah doooooos “ jawab Indriani Hadi dengan kubekap mulutnya

“Sudahlah .. jangan bilang itu .. kita nikmati saja ya “ kulepas bekapanku, tanganku juga berlendir. Kutarik tangannya dan kemudian kupondong wanita berjilbab ini.

“Aku pengin ngentotin kamu dengan berjilbab lagi “ ajakku yang disambut anggukan Indriani Hadi dengan tersenyum

“Boleh .. dimana ?” tanya Indriani Hadi dengan tersenyum

“Aku pengin Mbak Indri ngangkang di tangga itu .. belum pernah khan gaya doggy style ?” tanyaku

“Boro boro .. tapi Han . penismu gedhe banget ya “ tanya Indriani Hadi dengan bloon, kubawa wnaita ini ke kamar mandi, kuturunkan kemudian kutarik jilbabnya.

Kumandikan wanita berjilbab ini dengan kusabuni, demikian pula aku pun diguyur dengan semprotan air di tubuhku, rasa dingin menggelayut tubuhku, dengan telaten kami saling menyabuni, Indriani Hadi sering tersenyum ketika mencuci batangku itu yang kembali ngaceng. Tangannya terkadang nakal berlama lama di penisku. Aku juga semakin nakal sering menyabuni pada bagian buah dadanya yang segar dan ranum itu, kurasakan kelembutan buah dadanya walau sudah menyusui anaknya dua kali, namun buah dadanya benar benar kenyal dan segar, kami berdua sambil berdekapan di dalam bathtub itu, sesekali kucium pipinya dan Indriani Hadi tidak menolak. Bahkan Indriani Hadi semakin senang dengan kenakalanku sesekali meraba raba vaginanya dalam air itu.

“Ih .. kamu kok nakal sekali ya, sayang “ rajuk Indriani Hadi di dalam bathtub itu

“Habis tubuhmu segar banget, aku sering nggak tahan deh lihat Mbak Indri “ sahutku dengan gemas memalingkan kepalanya dan kupagut, Indriani Hadi pun menanggapi pagutanku, pagutan kami sangat mesra, terbukti Indriani Hadi terus melakukan pagutan ketika aku hendak berhenti. Aku terus melayani pagutan Indriani Hadi yang kemudian langsung berbalik menaikku dan menopangkan tangannya dipundakku dengan tersenyum

“Aku suka kamu Han, sayaang .. kamu romantis deh “ sahut Indriani Hadi dengan tersenyum

“Aku sudah tidak sabaran pengin kontoli dan ngentotin Mbak Indri lagi “ sahutku dengan memegang pinggangnya

“Idih .. kamu kok jorok banget sih .. “ sahut Indriani Hadi dengan mata membelalak.

“Please .. segera memekin kontolku yaa .. ayo deh .. nggak usah dipikir .. aku pengin Mbak Indri juga jorok, biar makin nikmat malam ini “ ajakku yang disambut dengan gelengan kepala Indriani Hadi namun kemudian tersenyum padaku dan kembali memagutku sebentar

“Ayo deeh .. kita lanjutin di tangga .. aku pengin diewe dari belakang, pengin merasakan dikontoli lagi sama kamu “ ajak Indriani Hadi dengan berdiri dan keluar dari bathtub dan menarik tanganku, kami berdua keluar dengan bertelanjang setelah mengeringkan tubuh kami dengan handuk, Indriani Hadi menarikku keluar kamar mandi, kemudian kami keluar menuju ke ruang depan ketika lewat ruang tengah, Indriani Hadi menarik jilbab yang masih rapi dibekas strika pakaian itu, dipakainya jilbab itu dengan rapi kemudian tersenyum padaku, kuremas pantatnya yang berisi itu sampai Indriani Hadi tersenyum menggodaku

“Kamu nakal sekali, sayaaaaaaang “ bisik Indriani Hadi dengan mesra seolah olah pengin menelanku bulat bulat, apalagi tangannya memegang penisku dengan meremas. Aku kemudian menyaut kerudung yang tersampir di kursi setrika itu. Indriani Hadi sampai tidak mengerti.

“Buat apa itu, sayang ?” tanya Indriani Hadi pengin tahu. Aku tak menjawab hanya merangkul wanita berjilbab bertelanjang ini, buah dadanya benar benar sekal dan ranum, mulus dan puntingnya mencuat tegak, kuremas sebentar dan kutarik ke arah tangga menuju lantai atas itu.

“Mbak Indri sekarang kangkangkan kaki yaa .. aku pengin oral memek Mbak Indri “ sahutku sambil meletakan kerudung itu di anak tangga

“Oke deeh .. pelan ya sayaang “ sahut Indriani Hadi dengan menaikan kaki kirinya ke anak tangga yang lebih tinggi, aku kemudian mengarahkan mulutku menuju ke selakangannya, Indriani Hadi sampai meringgis ketika lidahku dengan nakal mengoral tempeknya itu

“Oh Haaan .. enaaaaaaak .. teruus sayaang .. mainin memekku .. aaaaaaaaah ssssssssh ssssssssssshh hhh .. aaaaaaaaaaauh .. lidaaahmu aaaaah sayaaaaaaang .. nakaaaaal “ erang dan desis Indriani Hadi dengan mata memandang ke bawah di mana aku menjilati memeknya yang dengan cepat membasah itu. Lubang kemaluan yang sempit itu dagingnya aku kuakan, kekiri kanan sampai membuat Indriani Hadi mendengus tak karuan, pegangan tangannya di pagar tangga itu dikuatkan.

“Haaaaan .. sssssssssshh ssssssssssssssshh hhh .. hhh ssssssshh .. teruuuuuuuus .. enaaaak aaaaaaaah .. waaaaaaaauh waduuuuh .. aaakuu aaaaaaah .. ketagihaaaaaan .. enaaaaaaaak bangeeeet .. teruuus sayaaang ssssssssssh sssssssssshh “ desis dan desah wanita berjilbab ini tak karuan, jilbabnya kembali membasah di dekat pipinya itu. Gelengan kepala itu sampai membuat ekor jilbabnya menutupi buah dadanya.

“Remes susu Mbak Indri, sayaaang .. pleasee “ ajak Indriani Hadi dengan tak sabaran, kemudian memejamkan matanya merasakan oralku yang semakin menggila, kusedot kuat lubang vaginanya sampai membuat wanita berjilbab ini menjerit tak karuan

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “ teriak Indriani Hadi dengan suara nyaring, kuremas buah dadanya dengan menaikan tanganku, kuremas buah dada sebelah kirinya di balik jilbabnya yang menutupi buah dadanya, nikmat sekali, terkadang dengan ekor jilbabnya yang menutupi buah dadanya aku remas, Indriani Hadi sampai membantuku meremas buah dadanya

“Oooooooh enaaaaaaaaaaknyaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaah ssssssssssshhh ssssssssshh .. “ desis Indriani Hadi dengan menggeliat ke sana kemari dengan tangan kirinya memegang pagar tangga sekuatnya.

“Sudaah sayaaaaaang .. sudaaah .. jangan bikin Mbak Indri orgasme .. aku pengin dientotin sampai orgasme .. gantian dong aaaaah . aku oral kontolmu “ sahut Indriani Hadi dengan suara yang jorok dan kepingin, bahkan tangannya sampai memegang kepalaku. Kepalaku akhirnya menjauh dari vaginanya yang memerah akibat oralku, bahkan aku sempat menyedot klitorisnya sampai membuat Indriani Hadi meringgis sambil menggigit bibirnya kuat.

Aku kemudian berdiri, gantian Indriani Hadi yang berjongkok dan memegang batangku serta dikocok.

“Kontolmu gedhe banget Han .. lebih besar dari punya suamiku “ sahut Indriani Hadi dengan memandangku sambil tersenyum.

“Iyaa .. nikmati saja Mbak Indri .. aku senang jika Mbak Indri mau rela bercinta denganku “ sahutku mengelus elus kepalanya yang berjilbab itu.

“Asal kamu mau pegang rahasia deh “ sahut Indriani Hadi dengan menjilati batangku dengan rakus.

“Terus Mbak Indri .. uuuuuuuh .. lidahmu nakal, sayaaaaaang “ sahutku dengan mengelus elus kepala wanita berjilbab ini.

Jilatan demi jilatan yang rakus dan cepat itu sampai membuatku menahan nafas, kutahan sensasi seksku yang naik berlipat lipat melihat wanita berjilbab ini, yang sehari hari merupakan wanita yang sangat taat beribadah, taat dalam aturan keluarga, namun kini sudah menjadi penyelingkuh, menyukai petualangan seks bersamaku.

Jilatan demi jilatan itu sampai membuat batangku membasah, kemudian batangku dimasukan dalam mulutnya namun sangat sesak dalam mulutnya, dikeluarkannya batangku dan dikocok kocok

“Gedhe aaaaaaaaah .. “ sahut Indriani Hadi dengan tersenyum manja, kemudian kembali menelan batangku dengan paksa, sehingga giginya sampai bersentuhan dengan batangku

“Aaaaaaaah aaaaaaauh Mbak Indri aaaaaaah .. gigimu aaaaaaaaaah “ sahutku dengan bertahan sekuatku kesakitan dan nikmat dioral itu. waniat berjilbab ini mengeluarmasukan batangku berulang ulang, bahkan air liurnya sampai menetes ke lantai. Sedotan demi sedotan, permainan lidahnya lumayan piawai mempermainkan batangku di dalam mulutnya. Nafasnya semakin memburu, dengan rakus batangku berulang ulang dimainkan dengan lidah dan bibirnya

“Sudah Mbak Indri .. sudaaaaaah .. trim yaa “ sahutku dengan membungkuk kemudian memegang kedua lengannya dan kuangkat agar berdiri sejajar denganku.

“Ya Han .. aku suka sama kontol besarmu .. tapi Han .. kalo pengin ngewein aku lagi kabarin yaa .. awas kalo nggak mau “ sahut Indriani Hadi dengan nakal sambil membenahi jilbabnya agar rapi kembali, kupagut bibirnya sebentar.

“Lha tadi nolak nolak “ debat

“Ah kamu .. tadi khan belum ngerasain enaknya kontol besarmu “ sahut Indriani Hadi dengan mengerling nakal.

“Enak ya kontolku ?” tanyaku

Indriani Hadi tidak menjawab lalu membelakangi aku, kedua tangannya berpegangan pada pagar tangga itu, kuambil kerudung itu dan aku hendak menutup matanya

“Haan .. jangan deeh . pleasee “ tolak Indriani Hadi

“Enaaaak kok .. kamu akan merasakan nikmatnya dikontoli dengan tutup mata .. biar pikiranmu ngeres membayangkan kontolku keluar masuk memek Mbak Indri “ sahutku dengan mengikatkan kerundung itu sehingga Indriani Hadi kini tidak bisa melihat

“Aduuh Han .. kamu nakal sekali .. nanti gantian ya .. kalo di tempat tidur kamu gantian Mbak Indri tutup matamu “ balas Indriani Hadi dengan berpegangan kuat

“Oke deh Mbak .. tahan ya Mbak .. kontolku mau masuk memek Mbak Indri .. nungging yaaa “ kataku dengan mundru sejengkal, Indriani Hadi kemudian menungging dengan kaki mengangkang itu.

“Tunggu sebentar yaa .. agar nyaman kakimu kuganjal bantal “ kataku dengan turun cepat mengambil bantal sofa, tak lama kemudian aku meletakan bantal itu di kaki sebelah kiri Indriani Hadi.

“Ok deh Han .. posisi yang mantap deh .. segera masukin kontol besarmuu .. gelaaap aaaah “ sahut Indriani Hadi dengan menggelinjang karena aku meremas buah dadanya

“Masukin aaaaaah .. jangan ngeremes susuku teruus pleasee “ rajuk Indriani Hadi tidak tahan lagi, kupegang kontolku dan kuarahkan ke vaginanya dengan pelan pelan, Indriani Hadi sampai menggigit bibirnya merasakan desakan penisku yang hendak masuk ke vaginanya yang membasah merah itu, pelan pelan batangku masuk di kepala penisku membuat Indriani Hadi mendesis

“Sssssssssssssssh ssssssssssshhh hhhhhhhhhhhhhhhhhh … mmmmmmmmmh .. sssssssshhh “ desis Indriani Hadi dengan suara yang semakin santer, wanita berjilbab ini sudah tidak tahan lagi disodok sodok dari belakang.

“Pelaan aaaaaaah ..sakit memekku sayaaang .. kontolmu gedhe banget “ sahut Indriani Hadi dengan berpegangan kuat pada pagar tangga itu

“Yaaa .. tenaang yaa .. jangan menggeliat kayak gitu .. susah masuk kontolku “ kataku dengan memegang kedua pingganya, kutekan batangku agar melesak masuk sampai membuat Indriani Hadi berteriak

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh ..” jerit Indriani Hadi kesakitan ketika batangku kembali melesak masuk

“Tarik, sayaaang tekan aaaaaaaah uuuuuuuh .. rasanyaa aaaaaaaaaah nikmaaaaat ooh .. nikmatnya ditutup mataku .. hanyaaa aaaaaaaah .. terbayaang kontolmu aja, sayaaaaaaang “ sahut Indriani Hadi dengan menghembuskan nafasnya kuat kuat ke depan, kepalanya yang berjilbab itu menggeleng geleng, kutarik batangku dan kudesakan lagi membuat batangku semakin amblas terjepit kuat dalam vagina becek wanita berjilbab ini.

Penisku kini sudah mencapai separo, jepitan vagina Indriani Hadi memang sangat ketat sekali, penisku terasa diurut urut dengan gemas, malah disedot dari dalam, Indriani Hadi sampai menopangkan kepalanya di pagar tangga itu

“Aaaaaaaaaauh Haaaaaaaan ……. sssssssshhh sssssssshhh .. sssssshh . teruus Haaaan .. teruus sayaaang .. tenggelamkan . segera genjot Mbak Indri “ sahut Indriani Hadi dengan nafas memburu itu. nafasnya turun naik merasakan penisku sudah menyeruak masuk lebih dalam.

“Sayaaaaaaang aaaaaaaah … memekku aaaaaah … kontolmuuu aaaaaah .. seseeeeeek …. uuuuuuuh .. Haaaaan ..uuuuuuuh gedhee banget aaah .. otakku aaaaaah .. hanya membayangkan kontolmu muluuu … hihihihihi “ sahut Indriani Hadi dengan tertawa cekikikan

“Nikmat khan, sayaaang “ kataku dengan menekan lebih dalama berulang ulang sehingga batangku amblas dalam vagina wanita berjilbab ini.

“Iyaa .. aaah .. otakku hanya membayangkan kontolmu aaajaaaaa .. aaaaaauh Haan .. kurasakan kontolmuu aaaaaah .. “ lenguh Indriani Hadi dengan menggeliat karena aku meremas kedua bukit kembarnya, kupeluk tubuhnya dan aku mendiamkan sebentar

“Segera genjotin Mbak Indri deh .. nggak tahan kalooo kamu diaam aaaaaaaaajaaaaaa .. pleaseeeeeee “ rengek wanita berjilbab ini.

Aku kemudian menarik pantatku dan kusodokan membuat Indriani Hadi langsung melenguh tak karuan

“Aaaaaaaaaauh Haan .. aaaaauuh Haan .. pleasee .. aaah . kontooolmu tergambaaar dalam otakku aaaaaaahuuh uuuuuuuuuh teruuuuuuuus ssssssssssssh sssssssshh hhhh “ lenguh Indriani Hadi dengan nafas memburu, kepalanya mengeleng kesana kemari, apalagi remasanku semakin kuat dan keras membuat Indriani Hadi semakin menggelinjang tak karuan

“Sayaaang aaaaaah nggak kuaaaaat aaaaaaaaah .. jangan pelaaaan cepeeeeeeeeeet “ sahut Indriani Hadi dengan menahan tanganku yang terus meremas buah dadanya itu, kekenyalannya sangat kurasakan, buah dadanya yang ranum dan sekal itu sangat nikmat kuremas remas.

“Uuuuuuuuuuuh ..ssssssssssh ssssssshh sayaaang teruuuuuuuuuuus “ sahut Indriani Hadi dengan suara yang mendesah, sedang aku hanya bisa ah uh ah uh terus sambil menyodoki vagina Indriani Hadi dari belakang itu.

Wanita berjilbab ini semakin tidak tahan akan genjotanku, desahan, rintihan, lenguhan dan erangan bersahutan, tubuhnya ikut tergoncang seiring penisku keluar masuk vagina Indriani Hadi.

“Yaaaaang aaaaaaaaaaah nngaaaaaaaak ngggg aaaaaaaaah .. nggaaaaaaaak kuaaaaaaaat ayooo aaaaaaah sssssssssshh sssssssshh “ teriak Indriani Hadi yang kurasakan vaginanya menyempit dengan cepat, kuhujamkan kontolku dalam dalam berulang ulang sampai membuat Indriani Hadi menjerit lagi

“Aaaaaaaaaah aaaaaaaaaaaaaaauh aaaaaaaaaaaah “ sahut Indriani Hadi dengan nyaring, kurasakan batangku semakin diremas kuat oleh vaginanya itu. Indriani Hadi sudah tidak kuat lagi, tangannya kembali memegang pagar tangga dengan kuat, kepalanya menggeleng geleng, kuremas terus buah dadanya dan penisku keluar masuk vaginanya. Tubuhnya menegang kaku tak lama kemudian mendapatkan orgasmenya

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang wanita berjilbab ini panjang, vaginanya kusodok dalam dalam dengan penisku dan kuhentikan sodokanku, kurasakan vaginanya memuncratkan cairan panas membasahi batangku, Indriani Hadi sampai berkelonjotan dalam dekapanku, tubuhnya lemas tak berdaya kemudian, kupeluk agar tidak melorot ke bawah. Nafasnya serasa hancur, kubuka ikatan kepala yang menutupi matanya.

Pelan pelan mata Indriani Hadi membuka namun masih berkunang kunang. Kudiamkan sebentar, namun tak lama kemudian Indriani Hadi memalingkan wajahnya dan langsung memagutku

“Luar biasa sayaang .. kamu banyak sensasi seks .. apalagi deh untuk memuaskan Mbak Indri ?” tanya Indriani Hadi penasaran

“Ada deeh .. istirahat yaa .. “ ajakku

“Oke deeh … tapi kontolmu tetap terbenam dalam memek Mbak Indri ya “ selidik Indriani Hadi dengan tersenyum.

Kutarik penisku pelan pelan sampai membuat Indriani Hadi meringgis, habis terserabut yang susah itu aku kemudian membopong wanita cantik berjilbab ini ke sofa dan kupangku, Indriani Hadi tak sabaran memegang batangku dan dimasukan lagi dalam vaginanya

“Sayaang .. aku suka deh sama kamu .. kalo aku minta boleh khan ?” tanya Indriani Hadi dengan mengelus elus pipiku.

Kupandang wanita berjilbab nan cantik ini yang sudah ketagihan sama kontolku, nafsu seksnya ternyata tinggi juga. Kuberikan senyum mesra dan Indriani Hadi pun langsung memagut bibirku kembali, kupeluk wanita ini untuk membuatnya tentram dan damai, akupun dipeluk erat dan dihujani dengan ciuman di leherku.

Indriani Hadi memelukku di sofa itu dengan erat, memberikan rasa tenang padaku dengan mengelus elus pada leher belakangku, aku pun juga tak kalah memberikan kemesraan pada istri Sahrul Gunawan yang puas aku kontoli dengan berjilbab, nafasnya diatur agar cepat pulih, demikian pula denganku yang merasakan jepitan kontolku di dalam memek wanita berjilbab ini. Usapan demi usapan itu memberikan rasa tenang padaku, sehingga aku kembali mendapatkan kesegaran untuk menerus hubungan seks terlarang ini bersama Indriani Hadi yang semakin kelihatan cantik dan mengundang birahiku naik berlipat lipat apalagi dengan telanjang bulat dan hanya berjilbab. Kemulusan pahanya itu aku elus elus membuat Indriani Hadi menjadi kegelian.

“Sayaaang .. pleasee .. geli deeh .. elusan tanganmu nakal sekali “ rajuk Indriani Hadi dengan menarik kepalanya ke belakang sehingga berhadapan muka denganku, bibirnya sangat dekat denganku, memandangku dengan mesra.

“Habis aku nggak tahan lihat tubuh Mbak Indri .. cantik deh .. apalagi susu Mbak Indri seger banget “ pujiku dengan menaikan tanganku dan meremas buah dada wanita berjilbab ini.

“Oke deh .. kamu juga ganteng dan gagah .. mana wanita nggak kepencut sama kamu .. kontol gedhe lagi” goda Indriani Hadi dengan manja sambil mengelus elus pipiku dengan penuh kemesraan. Kemudian wajahnya menunduk, seperti ada rasa sesal harus melakukan hubungan seks gelap ini, kunaikan dagunya itu

“Kenapa Mbak ?” tanyaku dengan memagutnya sehingga akal sehat dan nuraninya kini kembali menjadi terbuai dengan nafsu birahi, Indriani Hadi menanggapi lumatanku dan kurasakan lidah Indriani Hadi menjulur mengajakku bermain lidah, kami sampai megap megap saling memagut dan menyedot itu

“Sayaaaaaaang sssssssshhh .. shh hh .. segera kontoli aku lagi yaaaaa .. di mana ? keluarin pejumu di dalam memek Mbak Indri ya” tanya Indriani Hadi dengan membenahi jilbab itu, kuremas dengan lembut buah dadanya itu.
“Oke deh .. aku pengin ngontoli Mbak Indri di sini aja .. ya … Mbak Indri yang menggenjotku naik turun .. aku pengin lihat susu Mbak Indri naik turun ketika mengenjot “ ajakku dengan menggeser tubuhku dan Indriani Hadi pun ikut menaikan kakinya ke atas sofa itu, aku kemudian rebahan di sofa itu, Indriani Hadi menekan ke dadaku

“Oke deeh … rasain genjotan Mbak Indri yaa .. rasakan memekku .. aaaaah .. uuuuh .. kontolmu nakal sekali, sayaaang .. nakaaaaaaaaaal “ erang Indriani Hadi kesakitan ketika penisku menekan lebih dalam ke vaginanya yang basah itu.

“Goyang deh Mbak Indri .. ayoo deh “ ajakku dengan mengelus paha mulus wanita berjilbab ini.

Pelan pelan Indriani Hadi menaikan badannya kemudian turun dengan pelan

“Ooh sayaang ..uuh .. kontolmu aaaaaaah .. gesekaaannyaa .. maakiin nikmaaaaaat .. ssssshh aaaaaauuh aaaaaaaauuh sssssssshh .. ayoo sayaaang .. kontolmuuu jangaaaaan diaaaaam ajaaaaaaa “ ajak Indriani Hadi dengan bergerak pelan pelan naik turun.

“Iyaaa aaaaaaaah aaaaaaaaaauuh enaaaaaak .. aaakuu suka memek Mbak .. enaaaaak aaaaaaah sssssssshh sssssssshh uuuh jepitaaaanmuu aaaaaaaah aaaaaaaauuh sssssshh “ erangku merasakan gesekan yang membuat batangku dikunyah luar biasa dalam memek wanita berjilbab ini, ketika naik turun itu jilbabnya ikut bergerak melambai lambai menyentuh buah dadanya.

Genjotan demi genjotan naik turun itu sampai membuat Indriani Hadi mendongak, merintih, mengerang serta melenguh dengan sebebas bebasnya. Tubuhnya semakin menggeliat ketika aku ikut meremas pantatnya yang sering kali menekan ke selakanganku itu.

“Sayaaaang aaaaaaah aaaaaaaaaaauuh sssssssshh aaaaaaaauh .. enaaaak .. teruus Haan ..sayaaaaaaaaaaang …….sssssssssssshh ssssssshh .. gilaaaaa aaaaaaaah enaaaaaaaaknya .. uuuuuuh ssssssssshh aaaaaaaaaaaaaw huuuuuuuuuuh, mmmmmmmmmmmmmmmhh .. aaaaaaauh ssssssshh .. “ erang Indriani Hadi dengan semakin nikmat menggenjotku dengan irama konstan itu.

Kusaksikan batangku keluar masuk memek wanita berjilbab ini dengan lancar, kusaksikan bagaimana batangku itu ketika masuk diperas luar biasa.

“Remees susu deeh “ sahut Indriani Hadi dengan menurunkan ekor jilbabnya menutupi buah dadanya

“Okeee “ sahutku dengan melepas remasan di pantat Indriani Hadi dan kuremas buah dadanya beserta jilbab itu.

“Sayaaaaaang aaaaaaaaaah .. enaaak .. ssssshh ayoo sayaang .. kontolmu benaar benaaaar enaak .. besaaar .. aku suka kontolmu sayaaang .. pleasee .. kamu diam dulu yaa.. rasakan sodokan Mbak Indri .. “ kata Indriani Hadi menekan ke dadaku.

Indriani Hadi mengatur sedikit mundur, kemudian maju mundurkan pantatnya menggesekan batangku

“Aaaaaaaauh aaaaaaaaaaaaaaaaaaah Mbaaaaaaak …. Mbaaaaak Indriiiii nakaaaaaaal .. nakaaaaaal ……aaaaaaaaaah enaaaak teruus Mbaaaak .. enaak .. “ erangku merasakan gerakan Indriani Hadi yang maju mundur menghajar kontolku keluar masuk, batangku sampai berbunyi menggesek, makin nikmat dan kami semakin basah oleh keringat birahi itu.

“Iyaaa aaaaaah aaaaaauuh sssssshhh .. eeeeeeh .. teruus yaaa “ ajak Indriani Hadi dengan maju mundur sehingga batangku semakin lama semakin lancar keluar masuk, gesekan demi gesekan itu sampai membuat Indriani Hadi menggeleng geleng tanda nikmat merasakan batangku keluar masuk vaginanya.

“Uuuuuuh saaaaaaaayaaaaang capeeeeeeek aaaaaaaaah “ sahut Indriani Hadi dengan memelankan genjotannya kemudian diam.

“Gantian aku deeh .. Mbak Indri diam yaa .. tapi naik dikit pantat Mbak Indri .. sisakan batangku separo aja .. rasakan sodokan ke atas dari kontolku yaa “ ajakku dengan meremas lembut buah dadanya

“Oke .. “ jawab singkat wanita berjilbab ini dan menyampirkan ekor jilbabnya di pundaknya. Indriani Hadi kemudian menaikan pantatnya, kedua tangannya menekan ke dadaku, aku kemudian menyodok nyodok ke atas

“Aaaaaaaaaauh aaaaauuh ooh Haan .. sayaang enaak Haan .. enaaaaak .. teruus sayaaaang .. aakuu aaaaah .. suka kamuu .. aaaku ketagihan sama kontolmuu “ teriak Indriani Hadi dengan memandangku senang dan menekan kuat ke dadaku

“Memekmu enaaak aaaaaah aaaaaauh uuh ..ssshhh “ erangku dengan tetap menaikan dan menurunkan selakanganku menyodok nyodok vagina wanita berjilbab ini yang sudah terbuai nafsu, Indriani Hadi tersenyum senang sambil memandangku.

“Uuuh .. sudaah Haan .. sudah sayaaaang .. “ sahut Indriani Hadi tak tahan akan sodokanku yang cepat sampai membuat vaginanya kesakitan.

“Okee aaaaah .. capek juga genjot memek Mbak Indri .. sempit lagi “ sahutku yang disambut dengan gerakan naik turun Indriani Hadi itu dengan pelan pelan

“Aayoo sayaaaang aaaaaaaaah aaaaaaaauuh enaaaak … ganti gayaa yaaa “ sahut Indriani Hadi dengan masih turun naik di selakanganku. Indriani Hadi kemudian berhenti, aku bangun dan menahan pantat Indriani Hadi agar tidak bergerak meremas batangku lebih parah.

Aku kemudian menaikan selakanganku dan kupegang kedua pantat Indriani Hadi kemudian menggulingkan ke samping sehingga Indriani Hadi ini bersandar pada sandaran punggung sofa

“Mbak Indri rebahan nyamping yaa “ sahutku dengan memberikan pagutan pelan ke bibir wanita berjilbab ini, ekor jilbabnya sampai menutupi buah dada sebelah kirinya

“Genjot deeh .. akuu dah nggak tahaaaan .. semprotin memek Mbak Indri yaaa .. ayoo sayaang “ ajak Indriani Hadi dengan memejamkan matanya. Kuangkat kaki kanan Indriani Hadi ke atas, kemudian aku menyodokan batangku keluar masuk vagina Indriani Hadi

“Aaaaaaaaaaauh saaaayaaaang saaakit aaaaaaah ..aaaaaauh teruus Haan .. teruus sayaang jadi eeenaak nih .. uuuh .. kontolmuu benar benar mantaaaaap .. ayoo aaaaaaaaaah ssssssssssh sssssssshh aaaaaaauuh teruuuuuuuuus aaaaaahh “ erang Indriani Hadi tak karuan dengan mata terlihat bola matanya memutih, tangan kirinya ditekuk menahan bobot tubuhnya

“Iyaaaaaa aaaaaaah samaaaaaaaaaaaa.. aaakuu aaaaah “ erangku

“Yaa .. sayaaang ada apaaa ?” tanya Indriani Hadi dengan membuka matanya, tangan kanannya mengatur kembali jilbabnya yang miring hampir menutupi matanya

“Uuh .. memekmu makin sayaang “ sahutku.

Bunyi keciplak alat kelamin kami semakin santer

“Srep .. srep ..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep “

Kami semakin cepat bergerak seiring dengan nikmatnya bersetubuh itu, genjotan demi genjotan itu sampai membuat wanita berjilbab ini merem terpejam sangat erat.

“Ng nngg ngg ngg aaaaaaah ..nnggak taaa tahaaaan .. aaaaaaaaaaauh sayaaaaaang .. teruus “ erang Indriani Hadi dengan terbata bata, bunyi gesekan itu semakin lama semakin santer akibat aku menggenjot lebih cepat

“Sayaaaaang aaaaaaah .. berhenti ..stop .. pleasee aaaaaaah “ tahan Indriani Hadi dengan membuka matanya dan menahan ke selakanganku.

“Kenapa, sayaaaaaaaaang “ tanyaku

“Sakit memekku .. “ ringgis Indriani Hadi dengan mata berarir karena kesakitan batangku menghujam keluar masuk dengan cepat dan kuat itu.

“Mau ganti gaya ?” tanyaku yang disambut dengan senyum wanita berjilbab ini dengan menggigit bibirnya.

“Iya deeh .. pengin nggaya yang lain “ sahut Indriani Hadi dengan menggodaku.

Aku kemudian kembali menarik pantat Indriani Hadi dan kuremas kemudian aku menggeser dan duduk di sofa itu.

“Sekarang Mbak Indri .. mundur yaa .. tangan Mbak Indri bertelepak di sofa .. “ ajakku dengan memundurkan punggungku sehingga kini jarak tubuhnya jauh dengan dada Indriani Hadi sedang selakangan Indriani Hadi masih mendudukiku, apalagi batangku setia di dalam memek wanita berjilbab ini

“Uuh Haan .. yaa .. aaaaaah .. kita naik turun yaaa .. ooh Haan .. nikmaaaaat aaaaaah teruuus sayaaaaaaaang .. aaaah nggak tahaaaaan aaakuu “ erang Indriani Hadi yang ikut bergerak seiring batangku keluar masuk vaginanya. Kami berdua mengambang di udara di atas sofa itu, gesekan kedua alat kelamin kami semakin nikmat, Indriani Hadi sampai menggeleng geleng dan tertawa senang melihatku terpejam merasakan tekanan selakangan Indriani Hadi yang ikut bergerak itu.

“Ayoo sayaaang sudaaah nggak kuaaaaaat aaaaaaah “ sahut Indriani Hadi dengan nafas ngos ngosan itu, genjotan demi genjotan kami semakin cepat

“aaaaaaaaauh aaaaaaaaah sssssssshhh sssssssssshhh .. “ dengusku tak karuan disambut dengan pejaman dan dengusan Indriani Hadi bak dikejar kejar.

Dadanya bergemuruh, buah dadanya naik turun, jilbabnya melambai lambai sampai bersentuhan dengan buah dadanya, semakin indah wanita berjilbab ini dikontoli dengan tetap berjilbab. Bibirnya sampai komat kamit entah apa yang diucapkan, kenikmatan yang baru dirasakan oleh Indriani Hadi yang selama ini mengenal seks sebagai seorang istri yang solehah dan taat beribadah, namun kini telah menjadi wanita yang liar, tak tahu etika sebagai seorang istri. Menikmati kenikmatan seks yang belum pernah di dapatkan.

“Sayaaang aaah .. dikontoli samaa kaaamuu .. aku bebas .. ngomong jorok ..waduuh .. memekku aaaah .. kontolmu .. ayo kontol .. hajar memek Mbak Indri .. aakuu mau keluaaar nih “ sahut Indriani Hadi dengan meringgis sambil mengikuti gerakanku naik turun, kepalanya menggeleng geleng tak karuan, wajahnya penuh dengan keringat membanjir, demikian pula dengan tubuhnya yang polos itu.

“Iyaaaaaaaaaah “ erangku singkat

Gerakan demi gerakan kami yang berlawanan itu sampai membuat vagina Indriani Hadi menyempit dengan cepat

“Sayaaaaaaaaaang aaaaaaaaaaaaaaaah ……….aaaaaaaaaaaaaaauuh “ erang Indriani Hadi dengan suara parau dan berat, vaginanya menyempit dengan cepat dan matanya terpejam mendongak ke atas, kurasakan jepitan itu sampai membuat aku juga tidak tahan lagi. Indriani Hadi menegang dengan kuat seiring sodokanku yang keras itu.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuh “ erang Indriani Hadi panjang dan berdebam ke belakang, tubuhnya ambruk dengan berkelonjotan tak karuan, aku kemudian memajukan badanku dan menarik kakiku, kupegang kedua kakin Indriani Hadi dan aku menggenjotnya maju mundur menyodokinya, Indriani Hadi sampai ikut tergoncang

“Haan please ..sudaaaaah aaaaaaah aaaaaaaaauh sakiiiit “ erang Indriani Hadi dengan susah payah menahan genjotan demi genjotanku yang cepat dan keras itu, batangku lancar sekali, Indriani Hadi hanya menikmati orgasmenya sebentar karena aku terus menggenjot dan menghujam

“Bentaaaaaaaar aaaaaaaaaaah “ erangku dengan menghujamkan batangku dalam dalam, buah dada wanita ini ikut terguncang naik turun. Kuhujamkan batangku ketika aku hendak mencapai orgasme, batangku kutekan kuat dan kusemburkan air maniku di vagina wanita berjilbab ini.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku panjang dengan mendongak

“Craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat “

Aku sampai ambruk ke depan dan menindih Indriani Hadi di sofa itu, nafasku serasa hancur, kutindih dan kupeluk, tulangku serasa lepas dari tubuhku, dadanya turun naik menggesek buah dada segar Indriani Hadi yang terkapar tak berdaya itu. Kurasakan air maniku meleleh keluar dari sela sela vagina Indriani Hadi yang becek itu.

Kami diam lama sekali setelah beberapa menit, Indriani Hadi memelukku, menarik kepalaku kemudian. Kubuka mataku dan seulas senyum diberikan padaku

“Kamu tidur di sini aja yaa .. aku pengin dikelonin sama kamu .. tapi jangan tindih aku deeh “ sahut Indriani Hadi dengan mesra, aku kemudian memeluknya dan menggulingkan tubuh Indriani Hadi itu, dan kini Indriani Hadi berada di atasku

“Terima kasih, sayaaaang .. kontolmu biar di dalam memek Mbak Indri yaaa .. pengin merasakan kehangatan” rajuk Indriani Hadi dengan menyenderkan kepalanya di dadaku itu.

“Yaa “ jawabku singkat

“Sayaang .. kurasakan air manimu banyak jugaa .. “ sahut Indriani Hadi dengan menghembuskan nafasnya agar teratur.

Sementara air maniku menetes-netes dan mengalir banyak meleleh keluar dari lobang kemalian Indriani Hadi.

Tiba-tina MBak Indri menarik lepas jilbab di kepalanya, kemudian dengan jilbab itu mbak Indriani mengelap sperma yang menetes-menes di kemaluannya. Berulang-ulang dibersihkannya kemaluannya dengan jilbab itu sampai bersih, dan kini jilbab itu basah kuyub oleh cairan spermaku.

“Kalo hamil gimana ?” tanyaku

“Aaah .. biarin aja .. abis nikmat sih .. kapan lagi bisa menikmati kontol gedhe “ sahut Indriani Hadi cuek.

Kami berdua sampai tertawa sambil menggoda itu, kami lelah sekali bercinta itu, Indriani Hadi kembali memejamkan matanya dan kami tidur berpelukan di sofa dengan batangku masih menancap di vagina wanita berjilbab ini. Kupeluk dan kami pun diam ditengah malam yang dingin itu. Pagi pagi aku harus pulang karena Sahrul Gunawan katanya jam 08 mau mampir ke rumah, aku hanya mengatakan sembunyi saja, sehingga seharian nanti aku bisa menggenjot seharian. Indriani Hadi sampai menjawil hidungku. Aku diminta sembunyi saja di mobilku.

INDAH

“Aku seperti mendengar geraman, tapi tak ada seorang pun di sini selain kita…” kata Indah Ananta pelan sembari memandang ke bawah bukit. Perasaan takut yang tidak biasa membuatnya segera memegang tangan sang ustad yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

Ustad Hakim Bawazier membalas dengan menggenggam erat tangan Indah dan tersenyum pada wanita cantik berjilbab itu. “Jangan khawatir, kita pasti akan baik-baik saja,” katanya berusaha menghibur.

“Iya, mudah-mudahan saja begitu…” sahut Indah.

Ustad Hakim tidak menjawab, namun hanya mengangguk dengan mantap, dia tersenyum dengan ekspresi yang meyakinkan.

“Sekarang sebaiknya bagaimana, ustad?” tanya Indah yang kembali memandang ke sekeliling tempat mereka berdiri.

“Kita pergi dari sini,” jawab Ustad Hakim singkat. Dia segera memimpin Indah untuk kembali menuju jalan yang mereka lalui sebelumnya. Mereka kembali melewati batu besar, menuruni jalan setapak, dan melewati gubuk roboh yang sudah rusak.

Entah hanya perasaan atau bukan, tapi sang Ustad merasa ada yang sedikit berbeda jika dibanding saat mereka datang pertama kali tadi. Gubuk roboh itu terlihat lebih hancur, batu besar memang masih ada namun bentuknya sedikit berbeda dan terlihat lebih besar sekarang, dan jalan setapak yang mereka lalui kini terasa lebih sempit. Dia terus berjalan sebelum mereka sampai di ujung yang berakhir di tempat yang berbeda. Sebuah jalan buntu!

“Bagaimana mungkin?” ujar Ustad Hakim tak percaya.

Merasa bahwa Ustad Hakim seperti mencemaskan sesuatu, Indah yang menyusul dari belakang segera bertanya. “Apa? A-ada apa, Ustad?”

“Jalan setapaknya hilang…” kata laki-laki itu lirih.

“Hah? Maksudnya?” tanya Indah tidak mengerti.

“Jalan setapaknya hilang… tadi kita datang dari sini dan jalannya tidak buntu begini,” kata Ustad Hakim lagi. Dia masih berusaha melihat ke sekeliling, berharap mereka hanya salah jalan. Sayangnya, dugaannya jauh dari benar.

“Lalu bagaimana sekarang?” Indah mulai terlihat takut.

“Kita terus saja, jalan ini tidak benar-benar buntu kan? Rerumputannya saja yang lebih lebat,” kata Ustad Hakim sebelum mencoba memaksakan diri untuk menembus jalan buntu tersebut yang terbukti tidak efektif. Rumput yang tumbuh begitu tinggi, duri-duri yang begitu banyak, ditambah ilalang yang tajam menyayat kakinya, dalam sekejap membuat sang Ustad mengaduh kesakitan. Celana yang dipakainya seperti tidak berguna sama sekali. Laki-laki itu segera kembali ke tempat Indah dengan ekspresi kesakitan.

“Ustad tidak apa-apa?” tanya Indah khawatir, mengepalkan tangannya sendiri di dadanya dengan cemas.

Ustad Hakim tidak menjawab, sebaliknya dia masih mencari kalau-kalau ada bagian dari rerumputan itu yang lebih longgar dan bisa dilalui. Pada akhirnya dia harus kecewa juga. Kalau sang Ustad sendirian, jalan buntu ini bisa dilaluinya dengan paksa walau mungkin dia harus merelakan kakinya untuk disayat oleh ilalang dan duri. Tapi kalau Indah sudah pasti tak akan tahan. Pada akhirnya, laki-laki itu hanya menghela napas dengan sedih.

“Ustad?” panggil Indah khawatir.

“Aku tidak apa-apa,” balas Ustad Hakim cepat sebelum berbalik menoleh pada Indah. “Jalan ini tak bisa ditembus, kita harus mencari jalan lain.” katanya sembari tersenyum.

Indah masih menatapnya selama beberapa detik sebelum melempar pandangannya ke bawah. “Tapi Ustad bisa melewatinya…” jawab Indah pelan, merasa malu atas keterbatasannya yang membebani laki-laki itu.

“Ah, tidak. Aku tidak berpikir…” Ustad Hakim berkata.

“Saya tidak mau menjadi beban.” potong Indah dengan suara sekecil bisikan.

Ustad Hakim menepuk pelan bahu wanita cantik itu. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu, kita hanya perlu mencari jalan lain. Lagipula, orang-orang di studio pasti segera menyadari kalau ada yang tidak beres dengan kita, mereka akan datang mencari,” katanya yakin.

Sebenarnya, hari ini adalah hari di mana Indah dan Ustad Hakim syuting acara Dua Dunia untuk penayangan minggu depan. Seperti biasa, dengan ditemani beberapa penduduk lokal yang nanti dipakai sebagai perantara, serta kru yang sudah berpengalaman, mereka pergi ke lokasi yang dituju. Kali ini adalah Candi Mrica di kawasan pegunungan Arjuna. Tempat ini terkenal angker dan wingit. Mereka pasti akan mendapatkan banyak penampakan disini.

Sebenarnya tetua desa sudah memperingatkan kalau lokasi itu tidak boleh diganggu, apalagi melihat Indah dan Ustad Hakim yang seperti terlalu pede dengan ilmu yang mereka miliki. Mereka seperti meremahkan penghuni Candi Mrica yang terkenal ganas dan buas. ”Itu kerajaan jin, nduk. Banyak jin-jin tua yang berkemampuan tinggi tinggal disana.” kata sang tetua.

”Justru itu yang kami cari, mbah. Semakin banyak jin-nya, akan semakin bagus untuk acara ini.” Indah menjawab sambil tersenyum manis.

”Bukan begitu, nduk. Kamu tidak akan bisa mengatasi mereka. Jumlah mereka terlalu banyak.” balas sang tetua.

”Jumlah kami juga banyak. mbak.” Indah menunjuk kru dan penduduk yang bersedia ikut dengannya, dengan bayaran mahal tentunya. Dia lalu berpaling pada Ustad Hakim. ”Juga ada Ustad Hakim yang bisa mengendalikan situasi.”

Sang Ustad yang sedikit gemuk itu mengangguk mengiyakan. ”Iya, mbah tenang saja. Kami akan jaga diri, kami sudah biasa syuting ke tempat-tempat seperti ini. Ini bukanlah kepergian kami yang pertama.”

Sang tetua desa yang sudah sepuh itu terdiam. Setelah berdehem dan batuk-batuk beberapa saat, dia pun berkata. ”Baiklah kalau itu mau kalian, aku cuma bisa memberikan restu. Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa, aku tidak mau bertanggung jawab. Kalian harus menanggungnya sendiri.”

”Baik, mbah.” jawab Indah dan Ustad Hakim berbarengan. Setelah berpamitan dan mencium tangan laki-laki tua itu, mereka pun berangkat.

Halangan pertama mereka muncul tak lama kemudian. Langit yang tadinya terang dan bersih, tiba-tiba menggelap dan mencurahkan hujan yang amat deras. Terpaksa mereka berhenti untuk memasang jas hujan dan pelindung pada kamera. Dengan hujan masih mengguyur, Indah mengajak krunya untuk melanjutkan perjalanan. Tapi mereka berhenti saat di depan, kabut mulai turun dan menutupi jalan setapak.

”Bagaimana, kalau kita teruskan, kita bisa tersesat. Atau kalau tidak, kita terpeleset dan jatuh ke jurang.” seru Ustad Hakim.

Indah tampak berpikir. ”Tapi waktu kita sudah mepet.” katanya, lalu menoleh pada penduduk sekitar yang menyertai mereka. ”Ada yang bisa membimbing ke Candi Mrica dalam kondisi seperti ini? Nanti akan saya tambah upahnya.”

Seorang laki-laki tua berbadan pendek melangkah maju. ”Saya hafal jalannya.” ia berkata.

”Baiklah, bapak di depan, nanti kita mengikuti.” Indah menoleh pada Ustad Hakim. ”Lihat, masalah kita terpecahkan.”

Diiringi anggukan malu dari sang Ustad, mereka pun beriringan melanjutkan perjalanan, menuju Candi Mrica, tempat dimana konon kerajaan Jin berada.

***

Dua jam kemudian, mereka tiba di tempat yang dituju. Meski mungil, Candi Mrica terlihat angker dan menyeramkan. Pepohonan tumbuh tinggi di sekitarnya, seperti menaungi bangunan itu dari sinar matahari. Hujan sudah berhenti, tinggal menyisakan rintik kecil yang berjatuhan di semak lebat yang mengelilingi Candi.

Indah tersenyum pada Ustad Hakim. ”Tempat yang bagus bukan, Pak Ustad?” tanyanya.

Ustad Hakim mengangguk membenarkan. ”Saya bisa merasakan banyak energi gelap. Sangat besar dan tua. Mereka memang tak suka kita berada disini. Saya akan mencoba berkomunikasi, menerangkan maksud sebenarnya kita datang kemari.” dia lalu menutup matanya dan mulai berkomat-kamit, sementara kru dengan dibantu para penduduk mulai mempersiapkan kamera dan peralatan syuting lainnya.

Indah baru saja menaruh bokong bulatnya di sebuah batu saat tiba-tiba tubuh Ustad Hakim terpental keras dan jatuh terjerembab ke rerumputan, ada darah segar mengalir dari sudut bibirnya. ”Arghhh…” laki-laki itu mengerang sambil memegangi dadanya.

Indah segera berlari menghampiri, begitu juga dengan para kru dan penduduk. ”Ustad, anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Indah panik, tersirat rona kecemasan di wajahnya yang jelita.

”Ughhh.. k-kita harus pergi dari t-tempat ini.” kata Ustad Hakim lirih. ”M-mereka terlalu kuat. B-bukan hanya Jin yang menghuni tempat ini, t-tapi juga setan dan iblis. Cepat ke…”

Tapi belum selesai ia berkata, terdengar suara gemuruh dari bagian dalam Candi. Sepertinya semua sudah terlambat. Dan selanjutnya, seperti adegan film yang dipercepat, tubuh para kru mulai terlempar satu per satu. Begitu juga dengan para penduduk, mereka sudah mau lari saat kekuatan tak kasat mata menghantam tubuh mereka dan melemparkannya lima kaki ke udara. Begitu kembali ke tanah, mereka pun langsung jatuh dengan telak hingga tak bergerak sama sekali. Beberapa patah tulang, sisanya tewas dengan tengkorak pecah atau pun organ dalam remuk.

Indah yang melihatnya, menjerit tak terkendali. Apalagi di sekitarnya, kamera dan peralatan elektronik lainnya mulai meledak satu per satu, menciptakan letusan dan bunga api yang menulikan telinga. Hanya karena kemampuannya lah, Indah bisa selamat dari serangan itu. Bersama Ustad Hakim, dia menyeret kakinya, berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat terkutuk itu. Sementara para kru yang tertinggal, bernasib sama seperti para penduduk. Tubuh mereka dihantam dan dilempar-lempar kesana-kemari. Darah muncrat kemana-mana, membasahi semak belukar yang tadinya hijau hingga menjadi merah gelap.

Dan pelarian mereka terbukti tidak mudah, para Jin yang marah terus mengejar, memporak-porandakan apapun di belakang mereka. Jalan gunung yang berliku-liku dengan cepat membuat keduanya tersesat. Dalam situasi panik, Ustad Hakim merapal dan membaca apapun yang pernah ia pelajari, dengan harapan sedikit memperlambat laju Jin-jin itu.

”Sepertinya ustad berhasil.” seru Indah begitu tidak mendengar suara gemuruh dan geraman dari arah belakang.

Ustad Hakim membungkuk untuk menenangkan nafasnya yang memburu seperti lokomotif kereta api tua. ”I-iya, sepertinya begitu.”

”Bagaimana dengan kru kita dan para penduduk?” tanya Indah lirih, dia tampak shock dan gemetar hebat akibat peristiwa yang barusan terjadi. Syuting berkali-kali, baru kali ini ia mengalami peristiwa seperti ini.

”Sepertinya mereka tidak akan selamat.” kata Ustad Hakim. ”Berbahaya juga kalau kita kembali kesana untuk melihat keadaan mereka. Lebih baik kita mencari jalan untuk kembali ke desa dan meminta batuan.”

Indah mengangguk setuju. Dan disini lah mereka sekarang, berjalan berdua beriringan untuk menyelamatkan nyawa mereka dari sergapan jin-jin penghuni Candi Mrica yang liar dan ganas. Dia masih terlihat berusaha menguatkan diri, menggigit bibirnya dan tampak berusaha untuk tidak menangis. “Pak Ustad, di sana juga ada jalan setapak,” katanya sembari menunjuk ke arah kiri dari tempat mereka berdiri.

“Ayo kita lihat, mungkin itu jalan pulang yang benar,” jawab Ustad Hakim bersemangat. Ide untuk menjauhi bagian atas gunung tampaknya adalah ide yang paling baik untuk saat ini. Ustad Hakim memimpin jalan diikuti oleh Indah di belakangnya. Sesekali sang Ustad harus menunggu agar Indah bisa menyusulnya dikarenakan ketidakmampuan wanita cantik itu untuk melangkah lebih cepat.

Mereka akhirnya sampai di ujung jalan dengan tebing curam membentang cukup luas yang dihubungkan oleh jembatan gantung terbuat dari kayu yang tampak sudah lapuk. Di seberang tebing tampak sangat gelap oleh kabut tebal yang menyelimuti. Ustad Hakim memeriksa jembatan di depannya. Memang sudah tua tapi sepertinya masih bisa dilalui kalau mau. Yang menjadi masalah justru adalah minimnya cahaya di sana. Salah injak dan mereka bisa saja terjatuh ke dalam jurang.

“Aku pikir ini bukan jalan yang bagus,” kata Indah tiba-tiba.

“Eh, memangnya kenapa?” tanya Ustad Hakim bingung sembari menoleh pada Indah yang segera menunjuk ke seberang tebing. Sang Ustad melirik tempat yang ditunjuk wanita berumur 27 tahun itu dan segera mengerti apa yang Indah maksudkan.

“Aduh… kenapa harus Candi lagi?” keluh Ustad Hakim setelah sadar ada banyak sekali Candi dengan puncak yang sudah tidak utuh lagi di sana. Dia tidak bisa menduga seluas apa kompleks Candi itu karena tempatnya yang gelap. Terlepas dari luas atau tidak, tetap saja Candi-candi itu tampak mengerikan.

“Kupikir bukan ide yang bagus untuk ke sana,” kata Indah mengulang.

“Kau benar,” jawab Ustad Hakim singkat sebelum melanjutkan. “Apa menurutmu, kita harus mengecek jalan lain?”

Indah tidak menjawab dan Ustad Hakim memakluminya. Kalau berbalik, bisa saja mereka bertemu dengan Jin penghuni Candi Mrica, dan itu tidak boleh terjadi. Namun ada kah jalan lain? Mereka sudah tak bisa kemana-mana lagi. Sang Ustad tidak yakin kalau menunggu bantuan di hutan adalah solusi yang baik. Tempat ini adalah hutan yang berbeda dari tempat mereka kehujanan beberapa jam yang lalu. Diserang ular berbisa atau binatang berbahaya lainnya adalah hal terakhir yang diinginkan olehnya. Mengerti kalau mereka tidak punya pilihan lain, Ustad Hakim memimpin jalan dengan Indah mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dengan pelan tanpa bicara sama sekali. Mereka tidak bisa berjalan cepat karena Indah harus hati-hati menyeret kaki kanannya yang terluka .

“Jangan berpikir yang macam-macam ya, kita pasti akan selamat.” kata Ustad Hakim tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Indah, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita cantik itu.

“Iya, maafkan aku,” sahut Indah lirih.

Ustad Hakim hanya menghela napas. “Ayo, kau tak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apapun,” jawabnya. Dia masih tampak ingin mengatakan sesuatu sebelum terhenti. Ustad Hakim sadar dia baru saja menginjak sesuatu yang tampak seperti batu bata kecil berwarna hitam. Batu penyusun Candi Mrica!

”Gawat, mereka ada disini!” tapi belum sempat dia bertindak, Ustad Hakim sudah terpental keras saat ada sesuatu yang meninju rahangnya. Dengan nafas ngos-ngosan dia berusaha bangkit untuk menolong Indah yang sekarang sudah menjerit-jerit ketakutan.

”Indah, lari…” seru Ustad Hakim sambil meraih potongan kayu yang ada di sebelahnya untuk membela diri, namun di saat yang bersamaan, tendangan beruntun yang tidak terlihat bersarang di kepala dan badannya. Didengarnya Indah menjerit semakin keras sebelum dunia serasa gelap gulita bagi suami Ismi Riqqah itu.

***

Ustad Hakim terbangun dengan kepala pening sambil mengingat-ngingat apa yang terjadi. Seranngan itu… ”Ughhh!” dia melenguh saat akan menarik tangannya yang terikat ke atas, rasanya nyeri sekali. Rupanya dia sudah diikat ke sebuah tiang panjang dengan menggunakan tali tambang yang kuat. Ustad Hakim tersentak kaget menyadari dirinya terikat dalam keadaan telanjang bulat, tanpa busana sama sekali.

Laki-laki itu memperhatikan ruang tempatnya disekap dengan teliti, bangunannya tampak sangat kuno dengan beberapa bagian dindingnya sudah hancur, bahkan ada yang sudah luluh lantak menyatu dengan tanah. Ruangan itu seperti sudah lama tak berpenghuni. Namun anehnya, beberapa obor kayu masih menyala di beberapa tempat, seperti di sudut lorong dan di depan pintu masuk.

Sebuah suara yang parau, penuh kesedihan namun di saat yang sama juga dirasakan Ustad Hakim sebagai suara yang penuh dengan kebencian, mendengung begitu saja di telinganya. Ketakutan, dia berusaha mencari asalnya. Anehnya, dia tidak melihat apapun di ruangan itu selain debu yang beterbangan di bawah sinar obor yang terpasang di sudut lorong tak jauh darinya.

Lalu didengarnya suara erangan dan rintihan seorang wanita, yang rasa-rasanya dia mengenali suara itu. Saat pandangannya semakin jernih, Ustad Hakim baru menyadari kalau dia tidak sendirian di ruangan itu. Di sebelah kirinya, berbaring di altar kecil di tengah ruangan, tampak sesosok tubuh wanita berkulit putih dalam keadaan tubuh nyaris telanjang bulat, hanya tersisa jilbab yang menutupi payudaranya yang membukit indah, BH dan celana dalamnya telah terlepas sehingga menampakkan sebagian besar kulit putih mulusnya yang menggiurkan. Tangan wanita itu terikat di belakang punggung. Altar kecilnya hanya dapat menampung punggung wanita cantik itu, sehingga kepalanya jatuh menengadah. Di depannya, tampak sesosok makhluk hitam besar dengan tubuh bugil sedang memegangi kedua pahanya sambil membuat gerakan maju mundur. Suara rintihan yang terdengar dari mulut manis wanita itu, samar-samar menyingkap siapa dia sebenarnya.

”Indah…?” Ustad Hakim berkata tak percaya. Darahnya seperti tersirap menyadari siapa wanita cantik yang sedang diperkosa itu. Dia memang tidak pernah melihat tubuh telanjang Indah, tapi dilihat dari posturnya, tubuh mulus di atas altar memang milik Indah. Ditambah jilbab merah yang menutupi kepalanya, Ustad Hakim makin yakin kalau wanita itu memang Indah. Benar-benar Indah Ananta yang menjadi partner host-nya di acara Dua Dunia.

Ya, Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Dilihatnya sweater, jaket, kaos dalam, celana jeans, BH dan celana dalam perempuan itu berserakan di lantai. Ustad Hakim melihat perkosaan itu dengan marah, namun tak berdaya menolong karena menolong diri sendiri saja dia tidak mampu. Keampuhan ilmunya seperti lenyap diserap daya magis ruangan ini.

”Tidak usah buru-buru, pak Ustad. Nanti giliranmu akan tiba.” seru sebuah suara berat yang entah muncul darimana, yang jelas bukan dari makhluk hitam yang sekarang sedang menyetubuhi Indah penuh nafsu.

”Keparat! Lepaskan aku!” baru kali ini Ustad Hakim mengumpat. Yang disambut dengan tawa ejekan di sekitarnya. Sepertinya ada banyak Jin di ruangan itu, tapi mereka tidak mau repot-repot menampakkan diri.

”Teruslah seperti itu, Ustad. Kami menikmatinya.” sebuah geraman terdengar sangat dekat dengan wajahnya, tapi Ustad Hakim tetap tidak bisa melihat bagaimana rupa makhluk itu.

”Jangan pengecut kalian! Ayo keluar!” tantang sang Ustad penuh tekad. Dia begitu merasa menyesal karena tidak bisa melindungi Indah. Dipandanginya lagi wanita cantik itu. Saat melihat tubuh Indah yang tak berdaya dan nyaris bugil, yang sekarang terlonjak-lonjak karena genjotan makhluk hitam di bawahnya, seperti ada sesuatu, terasa seperti aliran listrik yang merambat cepat ke dalam kepalanya, diikuti oleh debaran jantung yang kian mengencang. Tunggu, ini tidak boleh terjadi! Mati-matian Ustad Hakim berusaha melawannya, tapi tanpa bisa dicegah, batang kemaluannya pelan-pelan terbangun dan menegang keras. Dia terangsang.

”Hahaha… dasar manusia munafik.” sesosok wajah samar terlihat di sudut ruangan. Ada tanduk besar yang mencuat di dahinya yang penuh sisik.

Ustad Hakim sudah akan menjawab saat dari lorong muncul tiga makhluk yang tidak kalah mengerikan. Tubuh mereka tinggi besar dan sangat berotot. Dua tanduk mencuat panjang di kepala masing-masing. Rambut gimbal menutupi tubuh mereka yang berwarna merah kehitaman. Meski masih tertutup kain hijau kumal, Ustad Hakim bisa memastikan kalau kemaluan mereka sangat besar dan panjang. Tawa mereka membahana mengerikan memenuhi ruangan saat melihat temannya sedang asyik memperkosa Indah.

Salah satunya berpaling pada sang Ustad dan berkata, ”Hmm, sudah bangun kamu rupanya.” geramannya campuran antara kaca yang digesek dan auman harimau.

Yang lainnya ikut berpaling. ”Hahaha… lihat, ngaceng juga dia.” Tidak sesuai dengan badannya yang tinggi besar, suara makhluk yang sebelah kiri terdengar mencicit seperti tikus, tapi tetap saja terdengar menakutkan.

”Sabar, Ustad, nanti kamu juga akan dapat giliran. Sekarang biarkan Jabbar menuntaskan nafsunya dulu. Ngomong-ngomong, temanmu itu sangat cantik sekali. Itulah alasan kenapa kami tidak membunuhnya, dia bisa jadi budak seks yang sangat potensial.” seru makhluk yang tersisa. Suaranya terdengar biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Tapi ada aura hitam yang mengikutinya sehingga mengesankan dia lah yang paling kejam.

Makhluk hitam bugil yang sedang memperkosa Indah, yang dipanggil Jabbar itu, menyeringai sambil terus memompa batang kemaluannya yang super besar. Apakah vagina Indah tidak robek dimasuki penis sebesar itu? batin Ustad Hakim dalam hati. Dia melirik ke bawah, memandangi penisnya yang sudah ngaceng berat. Benda itu terlihat menyedihkan dibanding punya makhluk-makhluk gaib itu.

Tampak Indah berusaha mengatupkan pahanya untuk menahan rasa sakit yang dideritanya, namun Jabbar kembali melebarkannya sehingga kaki Indah kembali membentuk huruf V, dan terus memompa keluar masuk dengan buasnya. Jabbar mengulurkan tangannya dan menyingkap jilbab merah Indah dengan kasar hingga tampaklah dua bukit kembar milik host cantik asal Cimanggis, Depok itu. Payudara Indah terpentang bebas, membusung menantang dan terlihat sangat menggairahkan, bahkan dalam posisi dada yang agak tertarik karena kepala Indah yang menengadah ke bawah, benda itu masih tampak montok dan padat. Jabbar terus memompa pinggulnya sambil tangannya meremas-remas payudara Indah.

Ketiga makhluk yang baru datang mendekati Ustad Hakim, ”Hei, manusia bangsat! Itu istrimu ya?!” tanya si suara tikus.

Ustad Hakim diam saja, lalu satu tinju mendarat keras di perutnya, membuatnya mengaduh dan merintih pelan. ”Ughhhh…”

”Kamu bisu ya?” hardik si suara harimau. Takut dipukul lagi, terpaksa Ustad Hakim menjawab lirih, menjelaskan siapa mereka dan tujuan mereka kemari.

“Salah sindiri, lancang masuk kemari. Sekarang tanggung sendiri akibatnya.” jawab si suara tikus. “Akan kami setubuhi temanmu itu sampai mati, hahaha…” tambahnya sambil tertawa lebar.

”Tidak. Jangan!” Ustad Hakim memekik, tak sanggup kehilangan Indah dengan cara seperti itu.

”Kenapa, kamu mau ikutan juga ya? Dilihat dari kontolmu yang sudah ngaceng gitu sih… sepertinya kamu juga pingin, hahaha…” suara harimau mengejek dengan geramannya yang rendah.

Ustad Hakim marah sekali mendengarnya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, apa yang dikatakan makhluk-makhluk itu memang benar, dia terangsang melihat tubuh bugil Indah (ngomong-ngomong, siapa sih yang tidak? Aku pengen tahu!) ada sebersit rasa ingin mencicipinya juga meski tahu kalau itu salah dan tidak boleh. Menekan hasratnya, Ustad Hakim berhasil melemaskan kembali kemaluannya hingga mengkerut separoh dari ukurannya semula. Dia tidak ingin pikiran kotor terus menyelimuti hatinya.

Tapi itu cuma bertahan beberapa menit saja karena selanjutnya, Jabbar yang rupanya telah selesai memperkosa Indah, menuntun wanita cantik kelahiran 31 Agustus 1985 itu ke depan sang Ustad. ”Ini, aku kasih buat kamu.” katanya sambil menampar Indah dengan kuat, sehingga Indah menangis. ”Hisap penis laki-laki ini, cepat! Kalo tidak, akan aku potong lidah dan puting susu kamu!”

Jabbar melepaskan ikatan tangan Indah dan mendorong tubuh mulus wanita cantik itu ke arah Ustad Hakim. ”Ayo cepat, kulum!” hardiknya lagi saat melihat Indah masih diam, cuma memandangi penis sang Ustad sambil terus menangis.

”Jangan, In… jangan lakukan!” lirih suara Ustad Hakim. Tapi antara kata-kata dan batang penisnya tidak bisa kompromi. Di mulut dia menolak, tapi di bawah, batang penisnya perlahan membesar dan mengeras, kembali ke ukuran semula. Padahal Indah cuma memandanginya saja, belum ngapa-ngapain.

Takut disiksa lebih kejam lagi, Indah pun mendekatkan mulutnya dan dengan ragu-ragu menyentuh ujung batang kemaluan sang Ustad. Walau hanya tersentuh sedikit, ustad Hakim tak dapat menahan gejolak birahinya. Ia pun melenguh keenakan. ”Oughhhh… Innn!” dia memejamkan matanya saat lidah tipis Indah mulai menjilati batang penisnya bagai menikmati es krim batangan rasa coklat.

”Makan penis itu! Masukkan ke mulutmu!” sesosok makhluk berambut hijau tebal membentak dengan sikap mengancam. Entah kapan makhluk itu muncul, sang Ustad tidak tahu karena saking enaknya menikmati jilatan Indah pada batang penisnya.

Terpaksa Indah melahap penis Ustad Hakim dan mulai mengulumnya pelan, ia memasukkannya ke dalam mulut dan menjepitnya dengan menggunakan gigi dan lidahnya. Bibirnya menyapu permukaan batang sang Ustad yang berwarna coklat kehitaman. Indah terlihat mudah saja melakukannya, padahal penis sang Ustad terlihat cukup besar untuk ukuran manusia. Apakah dia sudah sering melakukan ini? batin Ustad Hakim dalam hati. Laki-laki itu tidak tahu, selama ia pingsan tadi, Indah sudah mengulum banyak batang yang ukurannya jauh lebih besar dari miliknya. Jadi menghadapi burung sang Ustad yang cuma sepanjang 12 cm, Indah tidak menghadapi masalah berarti.

”Ayo, masukkan semua ke dalam mulutmu. Telan sampai habis! Jangan dikeluarkan sampai aku memerintahkan!” bentak Jabbar.

Dengan ketakutan, Indah mengulum batang kemaluan Ustad Hakim dalam-dalam dan menggerakkannya maju mundur dengan begitu cepat. Mulutnya yang mungil tampak penuh dan sesekali pipinya menggembung oleh kepala penis sang Ustad saat dia melakukan itu.

”Indah… Oughhhh… kenapa jadi begini…” keluh Ustad Hakim keenakan. Dia merasa risih dan sangat berdosa karena telah melakukan perbuatan yang sangat dilaknat Tuhan ini, tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin Indah berhenti. Kuluman dan hisapan wanita berjilbab itu terasa begitu nikmat, menggelitik seluruh saraf-saraf birahinya yang selama ini tertidur, hingga membuatnya melayang dan merintih penuh kenikmatan. Tak berapa lama, dia pun tak tahan lagi. Sambil menggeram keras, Ustad Hakim menyemburkan spermanya.

Indah tampak kaget merasakan cairan kental yang hangat berkali-kali menyemprot memenuhi kerongkongannya. Ia sudah hampir tersedak, namun ia tidak berani melepaskan hisapannya. Jabbar tidak menyuruh, Indah takut akan membuat makhluk hitam legam itu marah, pukulannya sangat menyakitkan. Indah berusaha membuang sperma sang Ustad melalui celah bibirnya, sisanya yang terlanjur masuk terpaksa ia telan meski dengan rasa jijik yang amat sangat.

”Dasar manusia tidak berguna, sudah kontolnya kecil, cepat keluar lagi!” ejek si suara harimau, yang diikuti suara tawa teman-temannya. Dia lalu mendekat dan menjambak rambut Indah yang masih tertutup jilbab. ”Lihat bagaimana cara yang benar memuaskan wanita! Ayo, Ghoul, kita garap dia bareng-bareng!” serunya pada si suara Kucing.

Makhluk merah yang dipanggil Ghoul segera melepas cawatnya, dan mempertontonkan batang penisnya yang sebesar lengan orang dewasa pada Ustad Hakim. ”Ini baru namanya penis.” dia menggenggamnya dengan bangga. ”Kalau punyamu itu, lebih pantas disebut sosis daripada kontol. Hahaha!” Ghoul tertawa. Jin yang lain ikut tertawa. Ruangan jadi riuh, padahal cuma terlihat 5 makhluk disitu. Yang lain masih menghilang, enggan untuk menampakkan diri.

Si suara harimau membawa Indah kembali ke altar dan menelungkupkan gadis cantik berjilbab itu di atasnya, sehingga payudara Indah yang bulat dan menantang menempel, tergencet di permukaan batu altar yang dingin. Indah dalam posisi menungging sekarang, bokong bulatnya terlihat begitu menggiurkan, dengan lubang kemaluan sempit yang yang telah memerah dan merekah lebar. Lelehan sperma aneka warna tampak di permukaaanya yang berambut tipis.

Ustad Hakim memalingkan muka dengan pilu saat melihat Ghoul dan suara harimau mulai memperkosa Indah dengan buas. Wanita cantik itu menjerit-jerit dan melolong histeris menerima hujaman batang kemaluan mereka yang begitu besar dan panjang. Secara bergantian mereka mengaduk-aduk liang kemaluan Indah yang semakin lama terasa semakin panas. Darah kembali mengucur dari vagina yang 1 jam lalu masih perawan itu.

”Oughh… sakit! Ahh… hentikan! Sakit!” Indah merintih, tapi dua makhluk yang sedang menungganginya seperti tidak mendengar. Mereka terus menggenjot tubuh mulusnya secara brutal dan bergantian.

Sambil memperkosa Indah, sesekali mereka mengejek sang Ustad. “Hei, kamu tahu tidak… memek teman kamu ini enak sekali lho, basah dan anget banget!” kata jin bersuara harimau yang dipanggil Nimsiq oleh Ghoul. Sampai sekarang, dialah jin berkemaluan paling besar yang dilihat oleh ustad Hakim diantara jin-jin yang menampakkan diri di ruangan itu.

Ghoul mengangkat tubuh mulus Indah dan menekuk tangannya ke belakang punggung. Dengan posisi seperti itu, buah dada Indah jadi tampak sangat menggairahkan, apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dada itu menggantung indah, padat dan sangat berisi. Ustad Hakim tidak berkedip saat melihatnya.

Nimsiq duduk di atas altar, sementara Indah ditempatkan di atas pangkuannya dengan posisi berhadapan dan paha mengangkang lebar. Sambil menusukkan penisnya, Jin itu meremas-remas kedua payudara Indah dengan penuh nafsu. Indah hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak mendapat serangan seperti itu. Apalagi di depannya, Ghoul memaksanya untuk mengoral penis yang rasanya begitu busuk dan memuakkan. Indah makin tak tahan dibuatnya.

Sambil terus memompa penisnya, Nimsiq tertawa-tawa disaksikan teman-temannya yang kini muncul semakin banyak. Mereka tampak tidak sabar menanti giliran. Ustad Hakim menghitung, sudah lebih dari selusin Jin yang menampakkan diri. Akankah Indah harus melayani semuanya?

“Hei, aku capek nih. Sekarang kamu yang harus bergerak!” kata Nimsiq pada Indah. Ia pun berhenti memompa pinggulnya. Takut dihajar, secara refleks Indah melenguh dan mulai menggerakkan pantatnya naik turun agar memeknya tetap menjepit dan mengocok penis Jin itu yang masih bersarang di dalam kemaluannya.

“Hahaha… lihat pak Ustad, temen kamu ini ternyata nakal juga.” ejek Ghoul sambil mengocok penisnya, dan tak lama kemudian muncrat di wajah cantik Indah Ananta yang masih tertutup jilbab. Spermanya yang berwarna kuning kehijauan menempel di mata, pipi, dan bibir host cantik itu. Setelah melenguh sejenak, makhluk jelek itupun menghilang dengan menyisakan bau belerang yang tercium samar.

Nimsiq tertawa sambil memeluk tubuh mulus Indah, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus wanita 27 tahun itu, sementara buah dada Indah yang kenyal terjepit di dadanya yang berbulu lebat. Rupanya Indah mendengar perkataan itu, wajah cantiknya tampak memerah karena malu dan marah, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Indah diam tanda memprotes, Nimsiq langsung marah dan menarik kuat-kuat kedua buah dadanya. Satu ditarik ke atas dan satu ditarik ke bawah, begitu bergantian dengan keras sehingga Indah menjerit-jerit kesakitan.

“Ayo, coba melawan lagi, akan aku siksa kamu lebih kejam!” ancam Jin berkulit merah itu.

Indah menunduk. “J-jangan, ampun!” sahutnya lirih sambil kembali menggerakkan tubuhnya naik turun. Ustad Hakim yang melihatnya jadi ikut meneteskan air mata, tahu bagaimana rasanya penderitaan wanita cantik itu.

“Begini kan lebih enak.” senyum Nimsiq penuh kemenangan. “Akan aku buat kamu orgasme, rasakan bagaimana nikmatnya bercinta sama Jin.” Dengan penuh nafsu, kembali ia memperkosa Indah. Sesekali Nimsiq menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Indah menggoyang-goyangkan pantatnya naik-turun. Ia takut Jin itu marah kalau ia tidak melakukannya. Bahkan saat Nimsiq mengangkat tubuhnya hingga batang kemaluannya terlepas, Indah secara refleks mengejarnya dan memasukkan kembali benda itu ke dalam jepitan memeknya. Indah ingin memberikan pelayanan total pada Jin tua itu.

Nimsiq semakin lama tampak semakin ganas memperkosanya, hingga selang beberapa saat kemudian, tampak tubuh mulus Indah berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus ke depan dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Indah terdengar tak beraturan, ia merintih keras dan panjang, “Oughhhh… aghhhh… oohhhh…” Indah orgasme. Meski cairannya menyembur banyak sekali, tapi tidak ada satu pun yang menetes keluar. Itu karena memeknya tersumbat rapat oleh batang penis Nimsiq yang besar dan panjang!

Setelah berkelonjotan sesaat, tubuh Indah akhirnya tumbang dengan lemas di pelukan Jin pemerkosanya. Bukannya berhenti, Nimsiq malah semakin cepat memompa pinggulnya, ia menggenjot tubuh mulus Indah begitu liar dan brutal sambil nyengir lebar dan berkata, “Hehe… ustad lihat, dia rupanya suka dientot jin kayak kita-kita, hahaha…” suara tawanya yang berat membahana ke seluruh ruangan yang tidak seberapa besar itu.

Jin-jin yang lain ikut tertawa dan bersorak. Penampakan yang muncul semakin banyak. Ustad Hakim sudah tidak bisa menghitung jumlah persisnya, yang jelas lebih dari dua puluh! Termasuk salah satunya adalah makhluk merah berapi yang bertubuh besar dan tegap dengan tanduk menjulang hampir mencapai langit-langit. Semua Jin tampak menjaga jarak darinya. Apakah dia sang Raja Jin! batin ustad Hakim dalam hati.

Entah berapa lama Indah diperkosa oleh Nimsiq hingga pingsan berkali-kali, namun Jin itu selalu menyadarkannya lagi dengan menampar dan menyiram Indah dengan air, lalu kembali memperkosanya dengan brutal.

Kini tubuh montok Indah diletakkan di atas lantai beralaskan tikar lusuh, Nimsiq melebarkan kaki perempuan itu hingga membentuk seperti kaki katak. Dengan posisi seperti itu, ia menghujamkan batang kemaluannya yang panjang dan besar keluar masuk dengan cepat dan keras ke dalam liang kemaluan Indah yang terlihat semakin bengkak memerah. Sementara salah satu Jin lain yang bersisik tebal seperti trenggiling, memaksa Indah mengulum batang kemaluannya yang anehnya tampak mengkilat tanpa ada sisik sedikitpun.

Saat mulut mungil Indah penuh oleh batang kemaluan besar itu, Nimsiq yang sedang memperkosanya berganti posisi. Ia menduduki tubuh Indah lalu meletakkan batang kemaluannya yang panjang di antara dua bukit kembar milik Indah. Tangannya yang berbulu lebat mendempetkan buah dada Indah hingga menjepit batang kemaluannya dengan erat, untuk kemudian ia gerakkan maju-mundur mengocok batangnya. Selang beberapa saat, dari batang kemaluan yang hitam dan panjang itu, menyembur cairan sperma berwarna merah kehijauan yang menyemprot membasahi wajah dan leher jenjang Indah. Sisa-sisanya yang masih menetes-netes dioleskan oleh Nimsiq pada kedua buah dada Indah yang montok menggiurkan.

”Ughh… nikmat sekali!” Nimsiq beranjak sambil tertawa lebar. Jin yang lain ikut tertawa bersamanya.

Ustad Hakim menutup mata agar tidak melihat penderitaan wanita cantik itu, tapi masih saja ia dengar rintihan Indah yang semakin lama semakin terdengar lemah. Gerombolan Jin di sekitar mereka tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata ejekan. “Ayo, entot dia sampai mampus! Tusuk memeknya! Tarik toketnya yang gede itu! Cabuti jembutnya!”

Seiring kata-kata itu, tiba-tiba sang Ustad merasa tubuhnya ditendang dengan keras sebelum akhirnya ikatannya dilepas. Sekarang ia berbaring telentang di lantai. Dilihatnya Jin berapi yang ia taksir sebagai sang Raja, mendekat, “Sekarang giliran kamu menikmati teman kamu ini. Aku yakin, kamu sudah banyak belajar dari tadi! Hahaha…” makhluk itu tertawa dan mencampakkan tubuh bugil Indah yang telah lemah lunglai ke atas tubuh ustad Hakim.

Sang Ustad segera memeluknya. Sambil membelai kepala Indah yang masih tertutup jilbab, ia berbisik, “Tabah ya, kita pasti bisa melalui semua ini.” kata laki-laki itu walaupun ia sendiri sangat ketakutan. Indah hanya dapat mengangguk lemah sambil menangis sesunggukan.

“Hei, kalian tunggu apa lagi?! Ayo main! Aku pingin lihat! Yang cewek di atas!” seru Nimsiq sambil mengacungkan tinjunya yang membuat kedua host Dunia Lain itu mendelik ketakutan.

Indah menurut, ia segera menekan liang kewanitaannya ke bawah untuk melahap batang kemaluan ustad Hakim yang memang telah menegang keras saat mereka berpelukan tadi. Sekuat apapun laki-laki itu berusaha mengekang hawa nafsunya, tapi tonjolan buah dada Indah yang lengket oleh sperma, terasa kenyal dan hangat menekan bahunya, membuat api birahinya perlahan menyala dan menggeliat. Apalagi bisa dirasakannya juga kulit tubuh Indah yang halus dan hangat, yang sangat berbeda sekali dengan milik istrinya di rumah. Sang Ustad pun lepas kendali dengan cepat.

Laki-laki itu serasa berada di awang-awang saat batang kemaluannya sedikit demi sedikit menembus kemaluan Indah yang beberapa jam lalu masih perawan. Saat sudah terbenam seluruhnya, ustad Hakim merasa batang kemaluanku seperti dijepit oleh kenikmatan yang tiada taranya. ”Ughhh…” tanpa sadar ia melenguh dan meremas payudara Indah yang menggantung bebas di depan matanya.

Indah makin menangis sesenggukan, laki-laki yang tadi berjanji melindunginya, ternyata juga menikmati saat bersetubuh dengannya. Beginikah rasanya menjadi wanita cantik dan menarik, semua orang jadi bernafsu pada dirinya? batin Indah dalam hati.

“Ayo goyang tubuh kamu sebelum raja Ammet marah!” hardik Nimsiq sambil melirik jin tinggi besar yang ada di sebelahnya. Yang dilirik cuma menggeram rendah dan mengangguk.

Ketakutan, Indah mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun. Vaginanya yang bengkak memerah mengurut penis tegang ustad Hakim begitu rupa, membuat laki-laki berperawakan gendut itu tak dapat menahan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengerang keenakan. Begitu nikmatnya memek Indah hingga tak lama kemudian, baru beberapa menit, sang Ustad sudah menjerit dan ejakulasi. Spermanya yang kental menyemprot keras di dalam liang kewanitaan Indah. Tidak terlalu banyak karena dia sudah mengalami orgasme tadi.

”Ughhh… Indah, m-maafkan aku!” seru ustad Hakim terengah-engah. Tangannya bergetar, ingin memegang payudara Indah tapi tidak berani.

Indah tidak menghiraukan, ia terus menggoyangkan pinggulnya naik turun untuk menikmati sisa-sisa ketegangan penis sang Ustad yang perlahan ia rasakan mulai melemah dan menghilang. Di luar dugaan, setelah beberapa kali kesakitan karena sodokan penis raksasa milik para Jin, Indah ternyata menikmati tusukan penis ustad Hakim yang mungil, yang terasa pas memenuhi lubang vaginanya. Diraihnya tangan laki-laki itu dan ditaruhnya di atas gundukan payudaranya. Indah tahu, ustad Hakim pasti menyukainya. Dari tadi mata sang Ustad tidak lepas menatap benda bulat padat itu.

”Remas, Ustad!” bisik Indah lirih. Dengan begini ia berharap Ustad Hakim akan bergairah kembali. Sudah kepalang tanggung, ia merasa tubuhnya telah kotor. Indah tidak ingin permerkosaan ini menjadi siksaan baginya. Untuk kali ini, ia ingin menikmatinya.

Tapi itu cuma ada di angan-angan Indah saja. Tahu kalau budaknya mulai menikmati, Ammet segera menghentikan permainan itu. ”Hei, wanita… angkat memek kamu! Kita lakukan permainan lain.” jin berapi itu berkata keras.

Indah menggeleng sambil menangis, “Tidak… aku mohon, beri aku waktu sedikit lagi.” ia yang merasa sudah hampir orgasme, terus menggerakkan pinggulnya. Sementara di bawah, ustad Hakim merem melek keenakan sambil tangannya bergerak lincah meremas-remas payudara Indah yang bulat dan padat dengan penuh nafsu.

“Angkat memek kamu, aku bilang!” bentak Ammet menggelegar. Kerikil dan debu jatuh dari dinding ruangan. Beberapa jin mundur ketakutan, termasuk Nimsiq dan Jabbar. Sementara jin yang terlalu ketakutan segera meledak dan menghilang, pergi dari tempat itu.

Ammet dengan kasar lalu mendorong tubuh Indah yang masih tetap membuat gerakan naik-turun hingga jatuh. Ia tertawa melihat batang kemaluan ustad Hakim yang tidak lebih besar dari jari kakinya. ”Hahaha… dasar aneh! Benda seperti ini kamu sukai?” ia menoleh pada Indah. ”Lihat,” Ammet membuka celananya dan memamerkan penisnya yang sebesar lengan orang dewasa pada perempuan itu. ”kamu pasti akan puas dengan milikku ini!” sentaknya sambil menamparkan batang itu ke pipi Indah yang halus dan mulus.

”Auw!” Indah menjerit kesakitan, tapi tidak bisa melawan. Ia langsung bergidik saat menatap benda itu. Inilah penis terbesar yang pernah ia lihat. Semua penis raksasa yang tadi sudah mengaduk-aduk liang vaginanya, tidak ada apa-apanya dengan yang ini. Akankah vaginanya akan sanggup menampungnya? Sepertinya tidak.

Ammet yang rupanya telah sangat terangsang melihat tubuh bugil Indah, merenggut paksa jilbabnya hingga terlepas dan menarik Indah ke dalam pelukannya, “Ustad lihat baik-baik, begini caranya menyetubuhi wanita!” katanya pada ustad Hakim.

Tubuh Indah lalu diangkatnya dengan mudah. Dengan posisi berdiri, ia menggendongnya dengan mengangkat pantat Indah, terpaksa Indah memeluk leher Jin yang tinggi kekar itu agar tidak terjatuh ke belakang. Anehnya, meski api masih menyala di sekujur tubuh Ammet, Indah sepertinya tidak merasa panas sama sekali. Rupanya Ammet bisa mengendalikan suhunya, benar-benar Jin yang berkemampuan luar biasa. Pantas dia diangkat menjadi Raja oleh Jin yang lain.

”Heghh… ahhhh!!!” Indah memekik panjang ketika dengan perlahan Ammet mulai menyodokkan batang penisnya. Di luar dugaan, meski terlihat tidak mungkin, ternyata benda itu bisa menerobos masuk dan terbenam seluruhnya ke dalam vagina Indah yang tampak monyong kemerahan. Ustad Hakim bergidik membayang betapa sakit rasanya.

Apalagi saat dengan buas Ammet mulai memompa batang kemaluannya yang luar biasa panjang dan besar itu keluar masuk di dalam liang kemaluan Indah. Ustad Hakim segera memalingkan mukanya, ia tidak sanggup untuk melihat lebih lama. Ammet yang setinggi lebih dari dua meter, memompa tubuh Indah yang hanya setinggi 165 cm, seperti orang tua yang menggendong anaknya saja layaknya.

Dengan posisi seperti itu, batang kemaluan Ammet dengan deras amblas keluar masuk ke dalam kemaluan Indah yang sempit. Ammet terus melakukannya hingga tubuh Indah terguncang hebat, buah dadanya yang besar terhentak-hentak naik turun menggiurkan. Tak berapa lama, tubuh Indah menggelinjang dan ototnya menegang, diiringi dengan rintihan panjang, dia mengalami orgasme hebat. Rupanya, sisa-sisa kenikmatan bersetubuh dengan ustad Hakim berhasil dituntaskan dengan sempurna oleh Ammet.

Tapi Ammet tidak berhenti. Sementara dari kemaluan Indah mengucur cairan cinta yang cukup banyak, pompaan Raja Jin itu malah semakin bertambah kuat. Indah tentu saja semakin lelah dan lemah karenanya, apalagi setelah kenikmatan orgasmenya berlalu, ia pun lemas dan jatuh lunglai ke belakang. Ammet menangkap tubuhnya dan menaruhnya ke dalam pelukan, sementara batang kemaluannya semakin hebat saja mengaduk liang kemaluan Indah yang kini menjadi sangat becek. Ammet melakukannya sambil berjalan dan tertawa-tawa, tampak santai sekali ia melakukannya.

Setelah puas mengocok Indah dengan posisi seperti itu, Jin Berapi itu lalu mengangkat pinggul Indah naik hingga ke dada. Tubuh Indah terangkat dengan kepala di bawah karena perempuan itu masih pingsan. Batang kemaluan Ammet yang masih tegang membentur-bentur punggung mulusnya. Jin itu terus mengangkatnya hingga kemaluan Indah terhidang di depan mulutnya. Dengan rakus Ammet lalu melumat dan menghisapnya. Ia menjilat habis kemaluan Indah yang bengkak memerah dengan mulutnya. Kemudian ia memutar tubuh mulus Indah sehingga kini wajah host Dua Dunia itu ditampar-tampar oleh batang penisnya yang besar dan masih sangat keras.

Ammet kembali melumat kemaluan Indah dengan penuh nafsu, jari-jari tangannya juga menyodok-nyodok anus Indah yang masih terjuntai pingsan. Selanjutnya, setelah bosan menjilat, Jin Tua itu kembali menyetubuhi Indah. Kali ini dengan gaya biasa, ia menaruh tubuh bugil di altar dan menindihnya dari atas. Dengan posisi ini, akhirnya Ammet berejakulasi. Spermanya yang kemerahan mirip lava gunung berapi, dengan deras membanjiri wajah Indah hingga membuat wanita cantik itu terbangun.

”Apa… hpmh! Hmpmh!” Indah ingin bersuara, tapi sperma Ammet yang kental sudah keburu memenuhi mulutnya. Terpaksa dia harus menelannya kalau tidak ingin tersedak. Beberapa yang muncrat belakangan, mengotori rambut Indah yang hitam panjang, dan menetes-netes ke lantai batu, menimbulkan uap kecil disana. Banyak sekali sperma Raja Jin itu.

Ustad Hakim memperhatikan semuanya tanpa berkedip. Ia tidak bisa memalingkan mukanya lagi karena diancam pukul oleh Nimsiq. Hatinya makin teriris-iris saat perkosaan itu terus berlanjut dengan brutal. Kini tangan Indah diikat ke sebuah palang yang ada di pojok ruangan, palang itu bisa diatur tinggi rendahnya. Jin yang mendapat giliran mengatur tinggi palang hingga posisi lubang kemaluan Indah tepat berada di depan batang penisnya karena tubuh Jin itu yang cukup tinggi, hampir mencapai langit-langit ruangan.

Kaki Indah sekarang tidak menyentuh lantai, ia tergantung dengan tangan terikat ke atas. Indah menangis menahan perih pada tangannya, sementara sang Jin mengangkat paha kanan perempuan itu dan mulai memasukkan batang kemaluannya yang besar dan panjang ke dalam liang kemaluan Indah, dan mulailah ia mengocok tubuh bugil Indah tanpa ampun sambil tangan kanannya memegangi paha Indah agar tetap terangkat, tangan kirinya dengan buas meremas dan memijat kedua buah dada Indah bergantian. Puting susu Indah sesekali dicubit dengan keras. Indah hanya dapat merintih-rintih dengan lemah menerimanya.

Setelah puas dengan posisi itu, Indah kemudian dibaringkan ke lantai, lalu dengan buas sang Jin memperkosanya hingga Jin itu orgasme dan menyemprotkan spermanya ke buah dada Indah yang bulat membusung.

Selesai dengan Jin itu, Jin lain segera maju untuk mengambil gilirannya. Begitu terus hingga tak terasa sudah 14 Jin yang memperkosa Indah dengan buas. Indah telah pingsan berkali-kali, namun selalu disadarkan lagi dan kembali diperkosa dengan luar biasa brutal.

Ustad Hakim merinding membayangkan masih ada banyak Jin yang berkerumun menunggu giliran. Sepertinya tidak ada habis-habisnya. Giliran berikutnya tiga Jin maju sekaligus. Mereka mengelilingi Indah yang telentang telanjang bulat di altar dengan batang kemaluan yang telah berdenyut-denyut kencang, menuntut untuk dilampiaskan. Jin pertama yang bermata satu, langsung menancapkan batang penisnya ke kemaluan Indah dan memompa keluar masuk dengan brutal. Jin kedua memompa mulut Indah dengan batang kemaluannya, sementara Jin ketiga dengan rakus menyedot-nyedot kedua buah dada Indah yang ranum bergantian kiri dan kanan, seperti anak kecil yang sedang menyusu pada ibunya. Bedanya, anak yang ini bertubuh ular dan berekor Srigala.

Setelah cukup lama, mereka lalu saling berganti posisi. Kini si Ular yang menikmati liang vagina Indah, sedangkan dua temannya mendapat sisanya. Mengalami perlakuan seperti ini, dimana kemaluan dan mulutnya dipompa secara brutal, serta harus menyusui tiga Jin yang haus akan birahi, tak dapat dihindari, kembali tubuh telanjang Indah mengejang-ngejang tanda orgasme. Dari mulutnya keluar suara lirih, “Ohh…”

Selesai dengan ketiga Jin itu, berikutnya dua Jin bertubuh besar maju bersamaan. Indah yang lemas diangkat dan diapit di atas kasur, Jin yang di bawah memompa liang anus Indah, sementara yang di atas memperkosa liang kemaluan perempuan cantik itu tanpa belas kasihan. Indah megap-megap saat wajahnya harus menempel pada dada Jin yang besar dan berbulu itu. Pemandangan mengenaskan itu membuat Ustad Hakim makin menangis pilu.

Indah terus diperkosa hingga Jin terakhir selesai. Perempuan itu tidak dapat bangun lagi saat Jin terakhir yang bertubuh cebol selesai memompanya dengan ganas dan menumpahkan spermanya di liang memek Indah yang sudah luar biasa basah.

Setelah puas, mereka lalu mencampakkan Indah ke lantai. Ustad Hakim segera memeluk dan membelai tubuh bugil perempuan itu. ”Sudah selesai, kita bisa pergi dari tempat ini.” ia berbisik. Indah mengangguk dan menangis sesenggukan.

Saat tengah malam, tanpa memberi mereka pakaian, Ammet melepaskan kedua orang itu. ”Ingat, jadikan ini sebagai peringatan. Jangan coba-coba kembali lagi ke tempat ini!” pesan Raja Jin sebelum menghilang. Seluruh anak buahnya menyusul tak lama kemudian.

Kini tinggallah Indah dan Ustad Hakim di tempat sepi itu. Terpaksa mereka berjalan kaki tertatih-tatih balik ke kampung terdekat. Kali ini perjalanan jadi lebih mudah, jalan setapak seperti terbuka bagi mereka. Tak sampai subuh, mereka sudah tiba di rumah pertama. Ustad Hakim segera mencuri baju di jemuran untuk dipakai menutupi tubuh mereka yang telanjang.

Dalam hati ustad Hakim berharap, ini adalah kali terakhir dia berurusan dengan Jin-Jin penghuni Candi Mrica. Namun entah mengapa, dia memiliki perasaan buruk, bahwa mereka akan terus membayangi, khususnya Indah, dan akan kembali suatu saat nanti.

USTAZAH DILA

Akhwat cantik berjilbab,kadang justru membuat penasaran dan punya daya tarik tersendiri.Apalagi jika bertubuh montok,kadang tercetak jelas di balik kain jilbabnya.Ia cenderung alim, namun di balik semua itu ia tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan di manapun.
Ustazah Dila, ibu guru cantik sensual yang berjilbab, adalah guru di sebuah SD. Penampilannya yang anggun, dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang, mengenakan kerudung cantik, semakin menambah keanggunannya.
Sungguh anggun sosok akhwat berjilbab ini. Ustazah Dila berkulit Putih, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit putih bersih, tinggi badan sekitar 158 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan dibalut jilbab yang sangat menawan hati.
Di balik baju muslimnya..,tercetak tonjolan teteknya yang montok, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang montok padat.Wow…indahnya….Walau berjilbab, saat berjalan kain panjangnya tertiup angin …menampakkan cetakan tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya..walau tertutup gamis panjang dan jilbab yang rapat, langkahnya terlihat sangat seksi dan gemulai.

ocha buah dada montok (1)
Pembawaan Ustazah Dila dengan jilbabnya terlihat sangat kalem dan malu-malu. Hal ini rupanya menarik perhatian Ustad Kosim, sang kepala sekolah. Ustad Kosim sangat terkesan dengan penampilan Dila, karena Ustazah Dila yang berumur 25 tahun, adalah seorang gadis yang sangat cantik,berjilbab anggun, alim dan sopan.
Sebagai akhwat berjilbab yang sopan dan alim Ustazah Dila agak risih juga terhadap Ustad Kosim, karena setiap kali Ustad Kosim lewat depan ruangannya, Ustad Kosim selalu melirik dan melempar senyum kepada Dila. Kalau kebetulan Ustazah Dila tidak melihat keluar, maka Ustad Kosim akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Ustazah Dila akan terpancing untuk melihat keluar. Agak ngeri juga melihat tampang Ustad Kosim dengan badannya yang gelap dan tinggi besar.
Di sekolah tempat Ustazah Dila mengajar, setiap jam pulang sekolah, yaitu jam 14 para karyawan termasuk para guru dan staff pulang semuanya, kecuali guru yang akan mengajar ekstra kurikuler.
Hari itu hari Kamis,Ustazah Dila dapat jatah mengajar ekstra kurikuler, hingga ia harus menunggu dari jam 14 sampai jam 15.00. Dengan jilbab kerudung warna biru tua ,mengenakan baju panjang terusan berbahan kain halus yang jatuh, berwarna merah muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut,ia kelihatan teramat cantik dan manis, apalagi kulitnya yang putih kuning bersih.
Karena memang sudah jam pulang, suasana sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar. Untuk menghilangkan lelah setelah sejak pagi mengajar,Ustazah Dila istirahat sambil makan makanan yang dibawanya dari rumah.
Tiba-tiba Ustad Kosim melintas di depan ruangan dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Ustad Kosim memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Ustad Kosim kembali menuju ke ruangan Ustazah Dila . Secara perlahan-lahan Ustad Kosim mendekati ruangan Dila, dan mengintip ke dalam. Bu guru berjilbab itu sedang berdandan membetulkan kerudungnya, merapikan gamis panjangnya yang mewah, menghadap ke cermin yang memang disediakan di ruangannya.
Mendengar suara pintu terkunci Ustazah Dila menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. berbalik sambil berkata, “Pak, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?”, tapi Ustad Kosim hanya memandang Ustazah Dila dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa.

ocha buah dada montok (2)
Ustazah Dila semakin panik dan berkata, “Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!”.
Tapi dengan kalem Ustad Kosim berkata, “silakan saja nona manis.., apabila kamu mau bikin skandal dan setiap orang di sekolah ini akan menggosipkan kamu selama-lamanya”.
Mendengar itu Ustazah Dila yang pada dasarnya pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal. Kala akhwat cantik berjilbab itu berada dalam keraguan, dengan cepat Ustad Kosim berjalan medekat ke arah Dila. Karena ruangan kerja yang sempit , begitu dirinya mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Apalagi dengan gamis panjangnya yang melilit tubuhnya, ia tak bisa bebas bergerak.
Dengan cepat kedua tangan Ustad Kosim yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Bu Guru berjilbab yang montok itu dan mendekapkan ke tubuhnya. Dalam sekejap badan Ustazah Dila yang sangat halus dan ranum, telah sepenuhnya berada dalam pelukan lelaki tua itu.
Kosim memegang kedua lengan bagian atas Ustazah Dila dekat bahu, sambil mendorong badan Bu guru berjilbab itu hingga tersandar pada meja, Ustad Kosim mengangkat badan Ustazah Dila dan mendudukkannya di atas meja kerja Ustazah Dila yang penuh buku-buku itu. Kedua tangan Dila diletakan di belakang badan dan dipegang dengan tangan kirinya.
Dengan beringas Ustad Kosim mencium wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu. Nampak Ustad Kosim seperti anjing kelaparan menyosor-nyosor wajah ayu Dila, sementara akhwat cantik berjilbab itu hanya bisa meronta-ronta.
Tangan kanan Ustad Kosim tiba-tiba turun kebagian bawah tubuh Ustazah Dila dan meraih ujung kain panjang di bagian bawah, sejurus kemudian diangkatnya baju panjang itu tinggi-tinggi hingga tersingkaplah apa yang selama ini tersembunyi. Ustad Kosim berhasil menyaksikan akhwat itu dari ujung kaki, betis, sampai pangkal paha. Lalu tangannya meremas-remas bokong kenyal akhwat ayu itu.
Badan Ustad Kosim dirapatkan diantara kedua kaki Ustazah Dila yang tergantung di tepi meja dan paha Ustad Kosim yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Ustazah Dila terbuka. Ia sengaja tidak melepas gamis dan kerudung akhwat ayu itu. Ia ingin menyetubuhi akhwat itu dengan membiarkan gamis dan jilbabnya tetap terpakai. Ia merasakan sensasi yang luar biasa bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.
Tangan kiri Ustad Kosim yang memegang kedua tangan akhwat berjilbab itu di belakang badan Ustazah Dila dan ditekankan pada pantat ke depan, sehingga badan akhwat berjilbab yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Ustazah Dila melekat rapat pada paha sebelah kiri Ustad Kosim yang berdiri menyamping.

ocha buah dada montok (3)
Tangan kanan Ustad Kosim yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju panjang terusan yang dikenakan Ustazah Dila sementara Ustazah Dila hanya bisa menggeliat-geliat.
“Jangan…,AAAAAAAAAAAHHHHH… jangan lakukan itu!, stoooppp…, stoopppp”, akan tetapi Ustad Kosim tetap melanjutkan aksinya itu.
Sebentar saja baju bagian depan Ustazah Dila telah terbuka sampai sebatas perut, sehingga kelihatan teteknya yang montok itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Tetek yang kuning dan kenyal itu seolah ingin lepas dari BH nya.Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat merangsang. Dengan lincah tangan kanan Ustad Kosim bergerak ke belakang badan Ustazah Dila dan membuka pengait BH . Kemudian Ustad Kosim menarik ke atas BH Dila hingga terpampang kedua tetek Ustazah Dila yang montok sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda mencuat naik turun dengan cepat karena nafas yang tidak teratur.
“Oooohh…, OOOOOOUUUUGGHHHH….ooohh…, jaanggaannn…, jaannnggaann!”.
Erangan akhwat cantik berjilbab itu tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah Kosim menyingkapkan kerudungnya hingga terlihat kupingnya mulut Ustad Kosim mulai mencium belakang telinga Ustazah Dila dan lidahnya bermain-main di dalam kuping bu guru berjilbab itu. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan perempuan berjilbab itu menggeliat-geliat hingga tanpa terasa Dila mulai terangsang oleh permainan Ustad Kosim ini.
Mulut Ustad Kosim berpindah dan melumat bibir Ustazah Dila dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut dan menggelitik-gelitik lidah Dila.
“aahh…,AAAAAGGHHHHHH….UUHHH……AAAAAAAAAHHHHHHHHHH…… UOUUUUUEHHMMM hmm…, hhmm”, terdengar suara mengguman dari mulut Ustazah Dila yang tersumbat oleh mulut Ustad Kosim.
Badan Ustazah Dila yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Ustad Kosim sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu turun ke leher, kepala Ustazah Dila tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Ustad Kosim, teteknya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki tua tersebut.
Ustad Kosim langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah tetek Ustazah Dila mulutnya mencium dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya tetek yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Ustad Kosim. Tetek yang kenyal itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Ustad Kosim yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting hingga tetek Dila segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak nafas akhwat alim ini menerima permainan Ustad Kosim yang lihai itu. Badan nya terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,
“Sssshh…, ssssshh..SSSSSHHHHHHHH……OOOOOHHHHH…AAUUUHH…, aahh…, aahh…, ssshh…, sssshh…, jangaann…, diiteeruussiinn”,
Mulut Ustad Kosim terus berpindah-pindah dari tetek yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting tetek akhwat itu secara bergantian selama kurang lebih lima menit. Ustazah Dila guru cantik berjilbab itu kini benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badannya tersentak, karena dia merasakan tangan Ustad Kosim mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju gamis panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Ustazah Dila mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Ustad Kosim, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan adalah hanya mengerang,
“Jaanngaannnn…, jaannngggannn…, diitteeerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.
Melihat kondisi seperti itu, Ustad Kosim yang telah berpengalaman, yakin bahwa akhwat ayu berjilbab ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Ustad Kosim makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha mulus akhwat itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas. Tiba-tiba jarinya menyentuh bibir memek Dila.
Segera badan akhwat itu tersentak , “aahh…, jaannggaan!”

ocha buah dada montok (4)

Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Ustad Kosim yang mengelus-elus bibir memek Ustazah Dila yang tertutup celana dalam, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Ustad Kosim menarik celana dalam itu dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Bu Guru berjilbab itu. Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjang yang kian kusut itu.
Ustazah Dila tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Ustad Kosim ini. Sekarang dirinya dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai celana dalam dan kedua teteknya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka nya yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.Kosim benar-benar semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati memeknya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.
Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan memek akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.
Melihat ekspresi muka akhwat cantik yang masih memakai jilbab duduk mengangkang,kain gamisnya terangkat tinggi dan telah telanjang di tubuh bagian bawah ini.. yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Pak Kosim melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 14.05, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Pak. Kosim sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.

ocha buah dada montok (5)
Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Ustad Kosim, dengan tetap mengunci kedua tangan Dila, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan celana dalam-nya. Pada saat celana dalam-nya terlepas, maka kontol Ustad Kosim yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Ustad Kosim agak merenggangkan badannya, hingga terlihat oleh Ustazah Dila kontol yang sedang mengangguk-angguk itu, badan akhwat berjilbab itu tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki Tua itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar…., sangat panjang…, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti jamur. Tak terasa dari mulut Bu guru berjilbab itu terdengar jeritan tertahan, “Iiihh”, disertai badannya yang merinding.
Dia belum pernah melihat kontol sebesar itu. Ustazah Dila merasa ngeri. “Bisa jebol memekku dimasuki kontolnya”, gumannya dalam hati. Namun ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Ustad Kosim menatap muka cantik yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, “Kau Cantik sekali Dila…gumam Ustad Kosim mengagumi kecantikan akhwat itu.
Kemudian dengan lembut Ustad Kosim menarik tubuh yang cantik itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Ustad Kosim berdiri menghadap langsung ke arah Ustazah Dila dan karena yakin bahwa Dila telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan akhwat cantik ini, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki Dila, bahkan dengan gemas ia merentangkan kedua belah paha lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan akhwat berjilbab itu Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Ustazah Dila tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Ustad Kosim yang besar, Ustazah Dila sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang menggila, apalagi melihat tubuh Ustad Kosim yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang di tumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.
Gejolak birahi kedua manusia itu semakin membara…Kosim semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati tubuhnya .Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan baju panjang muslimnya. Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.
Sambil memegang kedua paha Ustazah Dila dan merentangkannya lebar-lebar, Ustad Kosim membenamkan kepalanya di antara kedua paha Dila. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar memek yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Ustazah Dila hanya bisa memejamkan mata,
“Ooohh..OOOOHHHH…., nikmatnya…,AAAUUUGGHHHH…AAAAAAAAAAAAAAAHHHH… ooohh!”, ia menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Ooooohh..AAAAAAAAAAA ….HHHH…OOOHH…OOWWWW…, hhmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.
“Paakkk…, aku tak tahan lagi…!”, Ustazah Dila memelas sambil menggigit bibir.
Ustazah Dila ….guru SD yang cantik berjilbab itu….. tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi,perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang Tua yang kasar itu dengan dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Ustad Kosim yang telah bepengalaman itu.
Namun rupanya lelaki Tua itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Ustazah Dila sudah mulai merespon atas cumbuannya itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Ustazah Dila kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua tetek dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Ustad Kosim ini, Ustazah Dila benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. “Paakkk…, aakkhh…AAAAAAAAAKKKKHHHH….EENNNAAAAAAKK…..ENAAAAKK K…..TERUUUUUUUUUSSSSSSSSS…TERUUUUUUSS………, aakkkhh!”, akhwat ayu berjilbab itu mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Ustad Kosim untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Ustad Kosim keras-keras. Kini ia tak peduli lagi akan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki Tua itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Akhwat ayu berjilbab…yang lemah lembut ini… benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki Tua yang dapat membangkitkan gairahnya.

ocha buah dada montok (6)
Kosim makin gemas menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini menggeliat-geliat menahan nikmat.Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda.Ya…Ustazah Dila benar-benar berada dalam Birahi yang membakar sukmanya.
Tiba-tiba Ustad Kosim melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Ustazah Dila yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya akhwat cantik itu dari atas meja dan kemudian Ustad Kosim gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Ustazah Dila ke bawah, sehingga sekarang posisi akhwat berjilbab itu berjongkok di antara kedua kaki berbulu Ustad Kosim dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Ustazah Dila …tahu apa yang diingini lelaki itu..tanpa sempat berpikir lagi, tangan Ustad Kosim meraih belakang kepala Dila dan dibawa mendekati kontol Ustad Kosim, yang sungguh luar biasa itu. kepala kontol Ustad Kosim telah terjepit di antara kedua bibir mungil Dila…., dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Ustazah Dila mulai mengulum alat vital Ustad Kosim ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki Tua itu melek merem keenakan. OOoooohhhhhh..TERUUUUUUSSS…….Dila……enaaaaaakkk….UU mmiiiii….. …Dila ……Dila Dilaaaaaa…..aaaauuuuuww…… .Ustazaaahh……..teruuuusssss……ooooggghhh……
Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut yang sensual, itupun …hampir sesak nafas dibuatnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang Kelihatan bu guru berjilbab yang cantik itu, menghisap…, mengulum serta mempermainkan batang kontol keluar masuk ke dalam mulutnya.
Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Ustazah Dila menyapu kepalanya. Rupanya akhwat cantik berjilbab itu mahir juga bermain oral sex…Bibirnya yang seksi dan wajahnya yang cantik….begitu memukau hati Ustad Kosim.TERUUUUUUSSS…….Dila……enaaaaaakkk….UUmmiiiii… .. …Dila ……Dila Dilaaaaaaa…..aaaauuuuuww……
.Ustazaaaahhhhhh……..teruuuusssss……ooooggghhh……
Beberapa saat kemudian Ustad Kosim melepaskan diri, ia mengangkat badan Ustazah Dila yang jilbab dan baju panjang terusannya masih terpakai itu….diangkatnya baju kurung yang halus itu ke atas hingga pangkal pahanya yang putih berrsih …..membaringkan di atas meja dengan pantat terletak di tepi meja, kaki kiri guru berjilbab itu diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Ustad Kosim mulai berusaha memasuki tubuh Dila…… Tangan kanan Ustad Kosim menggenggam batang kontolnya yang besar …dan kepala kontolnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan akhwat itu……Oooohhhh…sssshhhhh…SSHHHH…..AUUUUWW……OOOOOUUU HHHH……AAAAHHHH..EEENNAAAAAKK…….ENAAAAAAK……AAAAAAAA AUUUUUWWW….TERUUUUUUUSSSSS….YEAH…..UUUUHHOOOOOHHHH …. AH…ENAAAAKKK……akhwat berjilbab itu mengerang…mendesis nikmat…, hingga merintih-rintih melawan badai birahi yang menerpa, kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Ustad Kosim terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Ustazah Dila yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran kontol Ustad Kosim yang besar .
Sementara denyut-denyut kemaluan Ustazah Dila semakin liar menggoyang dan memilin-nilin kontol Kosim.Kosim hanya bisa berteriak….oooh…enaaaakkkkk….TERUUUUUUSSS. ……Dila……enaaaaaakkk….Usstaaazaaahhh….. …Dila ……Dila Dilaaaaa…..aaaauuuuuww…… .Ustaazaahhhh……..Dila…Dila ….DILA HHHH..DILA DILAAAAAAA…..ENAAAAKKKK….teruuuusssss……ooooggghhh… …
Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Pelahan-lahan kepala kontol Ustad Kosim itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan akhwat itu… Ketika kepala kontol lelaki Tua itu menempel pada bibir kemaluannya, bu guru berjilbab itu mendesis ooohh…..ough….aahhh……teruuusssssss……saluran memeknya ternyata panas dan basah.
Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala kontolnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan gamang dan gelisah itu, dengan kasar Pak. Kosim tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Dila, rambut lebat pada pangkal kontol lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Ustazah Dila yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang kontolnya amblas ke dalam liang memek akhwat berjilbab itu.
Tak kuasa menahan diri, dari mulut Ustazah Dila terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”,ooouuww……enaakkk…….sshhh……..enaaaaaaa aaaakkkkk….aku suka kontolmuuu…….ENNNNNAAAAAAKKKK…..ENAAAAAAK……OOOHHHH ……AUUUUUWW ….KOSIM TERUUUUUUUSSSS…..ENTOT AKU TERUUUUUSS……MASUKKAN KONTOOLMU…..YA…ENAAAAAAAAKKK……AAAAAAAAAAAGGHHHH…. mulutnya meracau tak menentu disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Ustazah Dila mencengkeram dengan kuat pinggang Ustad Kosim. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.
Akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah dilanda birahi yang menggelegak Lagi-lagi Kosim menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari,kerudungnya kian kusut karena lonjakan kepala menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya aduuuuhh….OOhh…..auhhh…..augghh…ennaaaaakkkkkkkkkk kkkkkk…..AAHHHHHHHHHHH….AAAAAAAAAAAAUUUUUUHHHHHHHH …..teruuuuuuusssssss..bibir Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.
Teteknya yang besar terguncang ke sana ke mari mengikuti hentakan tubuh Ustad Kosim…akhwat itu benar-benar berada dalam lautan BIRAHI. Ustad Kosim cukup mengerti keadaan akhwat cantik ini, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang kontolnya, dia memberi kesempatan kemaluan Ustazah Dila untuk bisa menyesuaikan dengan kontolnya yang besar itu.Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat anggun yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang . . Beberapa saat kemudian Ustad Kosim mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki Tua itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Bu guru cantik berjilbab ini berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan kontol lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Ustazah Dila mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki Tua yang sedang menatapnya, dengan takjub. Akhwat ayu ini berusaha bernafas dan … :” “Paak…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.
Ustazah Dila ….guru SD yang cantik itu….sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Ustad Kosim menggerakkan tubuhnya, ohhhhhhhhhhhhhh….. AAAHHHHHH…. ENAAAAAKK… TERUUUUUUUSIIN…. GENJOT TERUUS…………enaaaaaaaakkkk……teruuuuusss……..oouuww……. gesekan demi gesekan di dinding liang memeknya, sungguh membuat nya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Ustad Kosim menarik kontolnya keluar, Ustazah Dila merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Ustad Kosim menekan masuk kontolnya ke dalam memek nya, maka klitoris nya terjepit pada batang kontol Ustad Kosim dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang kontol Pak. Kosim yang berurat itu. OOoooohhhhhhhhhh…..aduuuuhhh….enaaaakkk….mulut cantik itu benar-benar sudah tak terkontrol….

ocha buah dada montok (7)
Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan akhwat cantik itu menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.Hanya rintihan…..desis nafas….dan keringat yang membanjiri tubuh Dila…..Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu….
Lelaki tersebut terus menyetubuhi Ustazah Dila dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Dila dan meremas-remas kedua tetek Ustazah Dila secara bergantian. ..ia dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku.
Akhwat ayu berjilbab ini bisa melihat bagaimana batang kontol yang hitam besar dari lelaki Tua itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Ustazah Dila selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran kontol Ustad Kosim yang super besar itu. Akhwat ayu berjilbab itu menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki Tua itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Ustad Kosim terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Ustazah Dila semakin tak seimbang tubuhnya,kepalanya tergoyang ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya Ohh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaak kkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss..mulut cantikr Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.
Ooooooooouuuuuuuuuuhhhhhhhh…………… tiba-tiba Ustazah Dila …guru SD yang cantik berjilbab itu ..merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. .. merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam memeknya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster Tua itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan memeknya menyerah dalam suatu penyerahan total.
Ustazah Dila …guru manis berjilbab itu…..berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi…, tidak bisa, ini terlalu nikmat…, proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada akhwat ayu ini masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam memeknya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Ustazah Dila merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.
Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya ia membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…AAAAAAAAAAAAhhhhhhhhh………OOOOOOOOUUUGHHHHHHH.. ,akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Akhwat berjilbab itu terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana kontol hitam besar Ustad Kosim tetap terjepit di dalam liang memeknya.
Selama proses orgasme yang dialami Dila.. memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Ustad Kosim, dimana kontolnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang memek dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang kontolnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha kontolnya, terlebih-lebih pada bagian kepala kontolnya setiap terjadi kontraksi pada dinding memek Dila, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. perasaan Ustad Kosim seakan-akan menggila melihat akhwat berjilbab yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang kontolnya yang hitam besar itu.OOOhhhh….. aghhh…..ssshhhh……..oouugghh……rintihan dan desis kenikmatan keluar dari mulut akhwat itu…. beberapa menit kemudian Ustad Kosim membalik tubuh yang telah lemas itu hingga sekarang Ustazah Dila setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Ustad Kosim. Ustad Kosim ingin melakukan doggy style rupanya.
Tangan lelaki Tua itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah tetek Ustazah Dila yang montok..Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya Dila kian kusut itu…. yang kini menggantung ke bawah.
Dengan kedua kaki setengah tertekuk, ia menyingkapkan kain gamis panjang yang menghalangi pandangannya.secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala kontolnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam memek Ustazah Dila pada permukaan lubang kemudian menempatkan kepala kontolnya pada bibir kemaluan Ustazah Dila dari belakang.
Dengan sedikit dorongan, kepala kontol tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan ….Aaaaahhhhhhh………….ooohhhh……Ustazah Dila meracau…..Kedua tangan Ustad Kosim memegang pinggul Ustazah Dila dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan bu guru itu tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki bug guru berjilbab itu dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Ustazah Dila ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Dila…ooohhhhhhh …..Oooooooh!”, kontol laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang memeknya dan Ustad Kosim terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Ustazah Dila yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Ustad Kosim memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan kontolnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang memek guru berjilbab yang ketat itu. Sebagai seorang akhwat yang se tiap hari minum susu, Ustazah Dila …guru cantik berjilbab itu memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini i kewalahan menghadapi Ustad Kosim yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu.
OOOhhhhh….yeeesss……oohhhh…..aduuuuhhh…..agghhh………… ..ennaaaaaaaaaaakkkkkk…….
Ustad Kosim merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan ditariknya akhwat berjilbab itu duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Ustad Kosim. Ustad Kosim mengangkat kain gamis/jilbab baju panjang Dila…..menempatkan kontolnya pada bibir kemaluan nya dan mendorongnya sehingga kepala kontolnya masuk terjepit dalam liang memek akhwat berjilbab itu…, sedangkan tangan kiri
Ustad Kosim memeluk pinggul Ustazah Dila dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti kontol Ustad Kosim menerobos masuk ke dalam kemaluan nya Tangan kanan Ustad Kosim memeluk punggung Ustazah Dila dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan akhwat ayu melekat pada badan Ustad Kosim. Kedua tetek nya terjepit pada dada Pak. Kosim yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Ustad Kosim. Ustazah Dila merintih… ooooohhhh…….aouuuwwww……. Kepalanya tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Ustad Kosim bisa melumat bibir akhwat ayu yang agak basah terbuka itu.

ocha buah dada montok (8)
Ustazah Dila semakin aktif……..mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga kontol yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam memeknya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Ustazah Dila merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus………, terus……., bu guru berjilbab itu tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih aooooooooouh…..oohh……yesss….ssshhhhh…….aduuuuuuuuu uuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………eennaaaaaaakk k ANAAAAAAAKKKKK….OOOUUUHH………………menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, akhwat ayu itu tak peduli lagi, “Aaduuuh..ADDDUUUUHHHH………oooh…..aaauuwwww…..,eehgg hghhhh..AUUUUWWW….ENNNNAAKKK…..NIKMAAAAAATTT…..”, akhwat berjilbab itu memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Ustad Kosim.Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanyaOOhh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkk kkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss…..Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi seekor kuda betina yang liar dan ganas, buas dan galak.
Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai..sopan….. alim dan berjilbab… kini mendapatkan kenikmatan maksimal justru bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.
Kemudian laki-laki itu menggendong dan meletakkan akhwat berjilbab itu di atas meja dengan pantat terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Ustad Kosim mengambil posisi diantara kedua paha akhwat cantik berjilbab itu…yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun kontolnya ke dalam lubang memek yang telah siap di depannya. Kembali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya dengan kain baju terusan panjang yang kian kusut itu….
Laki-laki itu mendorong kontolnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Ustazah Dila yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Ustad Kosim memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Ustazah Dila yang terkapar lemas di atas meja.
Sementara lelaki Tua itu terus berpacu diantara kedua paha akhwat cantik BERJILBAB itu, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan kontol lelaki tersebut. Akhwat ini benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si Tua yang perkasa itu. Dila kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu oooohhh……aagghh…….uuuhhh….EEENNAAAK.. KONMTOLMU ENAAAAAAK…AKU SUKA KONTOLOMUUU………..OOOHHHH….oohhhh…….aahhhh……oouuuggh h…….ennnaaakkkk……oo ohhh…………….yeesss……egghhhh………ooohhh…….aaahhhhhhhhhh h……., kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 15.oo berarti telah 1 jam dia menggarap gadis ayu berjilbab tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam kontolnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung kontolnya. Akhwat ayu dengan jilbab dan baju panjangnya yang kian kusut itu kini telah menikmati birahi yang menggelegak Lagi-lagi Kosim menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan birahi dann nafsu yang melanda dirinya.OOoouuuughhhh………auhhh…..au gghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk rintihnya.Tiba-tiba Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…AAAAAAHHHHHHHHH…., terus”, dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Dila….dan batang kontolnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang memek akhwat berjilbab itu….Dengan suatu lenguhan panjang,
“Sssh…, ooooh! DILA…ENNNAAK……DILA …..MEMEKMU ENAAAK….DILA ….DILA … …DILA ….DILAAAAAA”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki Tua tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam memek Dila. Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Ustazah Dila yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga memeknya. Tubuh lelaki Tua itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Ustad Kosim bangun dari atas badan Dila…, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Dila.Setelah bersih Ustad Kosim menarik tubuh Ustazah Dila yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka….merapikan gamis panjangnya….membetulkan jilbab yang acak-acakan… Setelah merapikan baju dan celananya, Ustad Kosim menarik badan akhwat cantik itu dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisik ke telinga Dila, “Maafkan saya manis…, terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!”, kemudian dengan cepat Ustad Kosim keluar dari ruangan kerja Ustazah Dila dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat keluar.Jam menunjukan 15.10
Sepeninggalan Ustad Kosim, bu guru cantik berjilbab itu terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan suaminya kelak, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu. Tepat jam 15.20, ia bergegas masuk ke kelas untuk mengajar …tanpa ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.tak seorangpun tahu ia baru saja lepas dari BIRAHI yang dahsyat.

Selesai.

RIKA

Hari itu hawa terasa sangat panas dikampus islam itu . matahari yang bersinar terik membuat semua orang ebrusaha menghindari panasnya. Kebanyakan berteduh dikantin, ada yang tinggal didalam gedung dan beberapa b erusaha menutupi diri mereka dengan jaket dan sapu tangan.

Dari sebuah gedung fakultas ekonomi islam, keluar seorang wanita cantik. Jilbab lebar berwarna coklat muda, kemeja longgar putih dan rok yang juga berwarna coklat muda tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Rika, nama gadis itu berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Ketika langkahnya sampai di parkiran motor, tiba-tiba HP nokia miliknya berdering. Ia ambil dari dalam tasnya dan ia lihat. Nomor asing. Segera ia memencet tombol ANSWER.
“Halo, Assalamu alaikum?” kata gadis cantik berjilbab itu.
“waalaikum salam. Rika ya?” kata sebuah suara laki2 yang sepertinya sudah bapak2.
“iya. Siapa yah?” tanya Rika.
“ini pakdhe Mitro.” Kata suara itu. Jantung Rika seakan berhenti untuk beberapa detik. Sebuah pengalaman yang menakutkan namun juga nikmat yang dulu pernah pakdhe Mitro ajarkan pada gadis alim itu bertahun2 yang lalu kembali terbersit.
“aa…ada apa nggih Pakdhe?” tanya Rika, berusaha untuk tenang.
“Pakdhe mau ke kota. Mungkin pakdhe akan mampir ke kostmu sebentar, diminta bapakmu. Ada titipan. Cuma mau ngabari itu.” Kata pakdhe Mitro.
“oh.. nggih pakdhe.” Kata Rika. Suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
“Si otong juga rindu sama remesanmu.” Kata pakdhe, datar saja seolah tidak bermaksud apa-apa, namun hati Rika kembali terasa berhenti. Perasaan bingung menderanya. Sebagian marah oleh perbuatan pakdhenya yang telah menghancurkan kegadisannya bertahun2 yang lalu, namun hasrat biologisnya bereaksi mendengar kata rangsangan dari pakdhenya tadi. Rika terdiam, tak mampu berkata apa2.
“ya sudah, besok kalau pakdhe sampai di terminal, tolong dijemput nggih. Assalamu alaikum.” Ujar pakdhe menyudahi pembicaraan.
Rika pun menutup teleponnya tanpa berkata apa2. Segera ia naik ke motornya, pulang dengan hati yang bimang dan bingung. Dalam perjalanan, ingatannya kembali kemasa saat ia masih SMA, ketika ia masih menjadi seorang gadis alim yang sangat lugu, saat ia berlibur ke rumah Pakdhenya.

**************************
pada suatu hari ketika liburan, Rika yang saat itu masih kelas 2 SMA berlibur selama dua pekan dirumah pakdhe Mitro di desa. Pakdhe Mitro adalah kakak dari bapaknya yang sudah menduda 0setelah ditinggal mati istrinya, budhe Murni setahun yang lalu. Sekarang ia tinggal bersama anaknya, Rika memanggilnya Mbak Santi, seorang gadis cantik yang berjilbab dan punya senyum manis, lulusan SMEA berumur 20 tahun yang bekerja di kelurahan. Rika memandang mbak Santi sebagai seorang yang cantik, berjilbab dan solehah, aktif di remaja masjid di desanya. Dia juga supel dan manis juga berkulit putih, membuat banyak lelaki di desa tersebut jatuh hati padanya. Namun dengan lembut mbak Santi menolaknya. Mbak Santi tidak mau pacaran yang tidak jelas, begitu alasannya.

Kejadian mengejutkan Rika adalah ketika suatu malam ketika Rika masih liburan dirumah pakdhe Mitro, Rika terbangun dan tidak menjumpai Mbak Santi disampingnya. Dengan pelan Rika bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Sebenarnya bukan untuk mencari mbak Santi, namun untuk mencari air minum karena haus. Rika mengira mbak Santi hanya ke kamar mandi. Rika kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamar Pakdhe Mitro yang setengah terbuka. Rika dengar suara Mbak Santi mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap Rika dekati pintu kamarnya dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Rika benar-benar kaget!! Ternyata di kamar Rika ada Mbak Santi dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan.

Saat itu pakaian bagian atas Mbak Santi sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan kain yang menutupi tubuh Mbak Santi hanyalah celana dalam dan jilbab coklat saja. Kacamata mbak santi masih bertengger diwajahnya.

Apa yang Rika lihat benar-benar membuat hati Rika tercekat. Rika lihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Santi kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Santi, wanita berjilbab yang Rika anggap alim itu meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Santi yang tertutup jilbab coklat bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Santi secara bergantian. jilbab Mbak Santi yang menutupi disibak keatas.

Rika yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuh Rika gemetar dan lututnya lemas. Hampir saja kepala Rika terbentur daun pintu saat Rika berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian Rika lihat Pakdhe menarik celana dalam yang melekat di tubuh Mbak Santi dan melemparkannya ke lantai. Kini hanya jilbab satu2nya kain yang masih melekat ditubuh Mbak Santi di bawah dekapan tubuh bapaknya sendiri yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.

Erangan Mbak Santi semakin keras saat Rika lihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Santi yang terbuka. Tangan Mbak Santi yang memegang kepala Bapaknya sendiri lihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Rika yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Rika membayangkan seolah-olah tubuhnya yang sedang digumuli Pakdhe.

Kedua kaki Mbak Santi melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Santi semakin keras mengerang dan tubuh sintalnya Rika lihat melonjak-lonjak saat Rika lihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Santi. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Santi, aktifis mesjid berjilbab itu mulai melemas dan terdiam.

Kemudian Rika lihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Rika lihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Santi dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Santi, yang terlihat sangat cantik dengan jilbab yang masih ia pakai.

Mbak Santi yang masih lemas Rika lihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Santi. Kini posisi mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.

Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Santi menjilati selangkangan Mbak Santi yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuh Rika mulai meriang. Vagina dan buah dadanya terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginanya sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tangan Rika bergerak ke arah vaginanya sendiri yang tertutup rok panjang dan mulai menggaruk-garuk. tangan Rika yang lain menyusup ke balik jilbab putih dan kaosnya, meremas2 buah dadanya sendiri, mendesah2 sambil terus mengintip perbuatan zina mbak santi, aktifis pengajian di masjid yang berjilbab yang sedang dirangsang oleh ayahnya sendiri.

Kejadian yang Rika lihat berikutnya membuat hatinya semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Santi. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Santi. mbak santi masih terus medesah seperti kepedasan.

Kemudian Rika lihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Santi yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Santi. Rika lihat kepala Mbak Santi yang nasih terlilit jilbab mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Santi. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.

Mbak Santi mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Rika lihat pantat Mbak Santi bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Santi dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidur Rika pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.

Tubuh Mbak Santi menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya yamh terbungkus jilbab yang sudah mulai basah oleh keringatpun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya Rika dengar Mbak Santi merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Santi mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.

Pakdhe lalu menarik pantatnya dan Rika lihat dari arah Rika yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Santi agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Santi yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Santi.

Rika lihat kepala Mbak Santi terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali Rika lihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Santi merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Santi. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempat Rika berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatan Rika saat ia mendorong pantatnya. Rika yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tangan Rika secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginanya dan meremas-remasnya. Vagina Rika mulai basah oleh cairan. Jari tangahnya Rika tekankan pada daerah sensitifnya dan Rika gerakkan memutar.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Rika dengar Pakdhe mulai menggeram. Tangan pakdhe meremas payudara anaknya sendiri yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Santi pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun Rika dengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.

Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Santi yang ambruk tengkurap di kasur. Rika pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutnya. Tubuhnya seperti melayang dan akhirnya Rika merasa lemas.

Rika yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan kembali kekamarnya, berpura-pura tidur. Paginya Rika pura-pura bersikap seperti biasa. Rika bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Santi dan bapaknya tadi malam. Selama beberapa hari itu pikiran Rika selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Santi dengan Bapaknya sendiri di kamar itu.

Tepat satu pekan setelah kejadian itu, Rika harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara kenaikan tingkat di tempatnya bekerja. Rika yang sedang liburan dirumah pakdhenya diminta menggantikan Mbak Santi. Rika sedang menyapu halaman ketika pakdhe memanggilnya. Ternyata pakdhe sudah membuatkan the untuknya dan untuk akdhe sendiri.

RIKA

RIKA

Rika menyempatkan diri meminum tehnya sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang Rika minum rasanya agak lain, tapi Ia tidak begitu curiga. Saat mandi itulah Rika merasa ada yang agak aneh dengan tubuhnya. Tubuh Rika terasa panas dan jantungnya berdebar-debar. Rasa aneh menyergapnya. Memek Gadis alim itu terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu dirinya. Tubuhnya terasa gerah sekali.

Rika menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin agar rasa gerahnya hilang. Apa yang Rika lakukan ternyata cukup menolong. Tubuh Rika merasa segar sekali. Lalu Rika menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang dirinya, apalagi saat Rika menyabuni daerah selangkangannya yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Rika merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Rika tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba angan Rika melayang pada apa yang Ia lihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarnya.

Cepat-cepat Rika membuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi paginya. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, Rika lari masuk kamarnya. Rika selalu berganti pakaian di kamarnya sambil mematut-matut dirinya di depan cermin. Kali ini jilbab biru muda dengan baju terusan berwarna senada dengan bordir bunga2 kuning dan putih ia kenakan. Dada Rika yang mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda mulai terlihat bentuknya walaupun ia menggunakan jilbab lebar dan jubah terusan. Pinggulnya mulai tumbuh membesar. Banyak teman2nya yang mulai suka melirik Rika, namun karena ia takut jatuh pada zina, Rika mengabaikan pandangan mereka.

Baru saja Rika selesai berpakaian, Rika dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapnya. Rika tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memeluknya langsung membekap mulutnya dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutnya, jilbab biru muda lebar yang dipakai Rika disingkap orang itu, bagian depannya dililitkan ke leher Rika sehingga dada Rika yang tertutup bra dan jubah terbuka. Rika benar-benar kaget sehingga bingung mau berbuat apa.

Kembali rasa aneh yang menyerang Rika semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam dirinya. Rika tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutnya sementara tangan satu lagi memeluk tubuh ranumnya. Mata Rika semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi Rika rasakan sentuhan tubuh kekar menempel hangat di punggungnya. Pantat sekal Rika yang terbalut jubah dan celana dalam pink terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Rika semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam dirinya saat terasa tangan kasar menyingkap bagian belakang jilbabnya, lalu dengan perlahan menurunkan retsleting hubah Rika sampai mentog. Sesaat kemudian jubah yang Rika kenakan teronggok dilantai dibawah kaki Rika tanpa ada perlawanan berarti darti Rika, membuat sang gadis abg alim itu tinggal memakai jilbab lebar biru muda yang telah tersingkap, bra, dan celana dalam. Mulailah sapuan-sapuan lidah panas menyerbu tengkuk Rika yang terbuka. Rika menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri lehernya.. pundaknya.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggung Rika, jilatan itu berhenti hanya untuk memberi waktu orang itu membuka kancing bra Rika, melepasnya, lalu melemparkannya kesudut kamar. Rika semakin menggelinjang, merasa payudara ranumnya tidak tertutup apa2 lagi. Lidah itu lalu meneruskan petualangannya ditubuh ranum Rika, merayap ke bawah dan pinggang Rika mulai dijilati, sembari sepasang tangan memelorotkan celana dalam pinknya. Kaki Rika serasa lemah tak bertenaga. Kini hanya jilbab biru muda yang sudah tersingkap yang masih melekat ditubuh ranumnya. Rika hanya pasrah saat tubuhnya didorong ke tempat tidurnya dan dijatuhkan hingga Rika tengkurap di tempat tidurnya. Tubuh Rika lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.

Kaki Rika mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulnya. Pantat sekal Rika terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatnya dengan gemas. Pantat sekal gadis manis yang selalu berjilbab itu terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatnya dan mulai menjilati lubang anusnya. Rika benar-benar seperti terbang mengawang. Rika belum tahu siapa yang memeluknya dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Rika hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatnya saat lidah itu mulai menjilati lubang anusnya.

Rika tercekik kaget saat tubuhnya dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurnya. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuli Rika adalah Pakdhe Mitro. Rika tak tak mampu berteriak karena mulutnya langsung dibekap dengan bibir Pakdhe. Lidah Rika didorong dorong dan digelitik. Gadis alim yng cantik itu terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuh Rika terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.

Tubuh Rika menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kaki Rika dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuh ranum Rika yang sudah telanjang bulat di antara kedua paha Rika yang terkangkang. Gadis belia berjilbab iitu merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluan Rika di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhnya. Dari mulut Rika, bibir Pakdhe bergeser turun ke dua belah payudaranya. Tubuh Gadis alim itu semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudara Rika hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Rika sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawah Gadis manis lugu berjilbab iitu.

Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perut Rika menjadi sasaran jilatan lidah Pakdhe. Tubuh Gadis belia berjilbab iitu semakin menggelinjang hebat. Akal sehat Rika sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjerat Gadis alim itu. Pantat sekal Rika terangkat tanpa dapat Rika cegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkangan Gadis manis lugu berjilbab iitu yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Rika merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkangannya.

RIKA

RIKA

Tubuh Rika serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluan Rika dan menggelitik kelentit Gadis alim yng cantik itu. Lubang memek Rika semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidah Pakdhe yang panas. Rika hanya mampu menggigit bibir Rika sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkangan Gadis belia berjilbab iitu. Tubuh Rika semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.

Rika tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutnya. Pantat sekal gadis alim itu terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluannya. Lalu tubuh Gadis alim itu seperti terhempas ke tempat kosong. Rika merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahnya. Tubuh Rika menggelepar dan tanpa sadar Gadis belia berjilbab iitu mejepit kepala Pakdhe dengan kedua kaki Rika untuk menekannya lebih ketat menempel selangkangannya.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba mulut Gadis manis lugu berjilbab iitu sudah disodori batang kontol Pakdhe Mitro yang tanpa Rika tahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahnya. Batang kontol Pakdhe yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajah Rika seperti hendak menggebuk Rika kalau Gadis alim itu menolak menciuminya.

Dengan rasa jijik Rika terpaksa menjulurkan lidah Rika dan mulai menjilati ujung topi baja Pakdhe yang mengkilat. Rika hampir muntah saat lidah Rika menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang memek Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajah Rika tidak memberi Gadis alim itu kesempatan lain.

Rika hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kontol Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulut Rika dan menjejalkan batang kontolnya ke dalam mulutnya. Rika menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kontol Pakdhe yang besar memenuhi mulut Gadis alim yng cantik itu yang masih kecil.

Rika dengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantat Pakdhe digerak-gerakannya hingga batang kontol Pakdhe yang masuk ke dalam mulut Gadis alim itu mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutnya. Rika hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkongannya. Rika hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tangan Gadis belia berjilbab iitu mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.

Setelah puas “mengerjai” mulut Rika dengan batang kontolnya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindih Rika lagi dengan posisi sejajar. Kedua paha Gadis manis lugu berjilbab iitu dikuak Pakdhe dan dengan tangannya, dicucukannya batang kontolnya ke arah bukit kemaluannya. Gadis alim itu merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang memek Rika yang sudah basah.

Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba Rika merasa perih di selangkangan Rika saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kontol Pakdhe mulai menerobos ke dalam lubang memek Gadis alim itu yang masih perawan. Rika merintih kesakitan dan air mata Gadis alim itu mulai mengalir. Rika tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayu Rika dan mengatakan kalau sakit Rika hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.

Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kontolnya yang terjepit di dalam lubang memek Rika tertarik keluar. Gesekan batang kontol Pakdhe yang besar di dalam dinding lubang memek Gadis alim yng cantik itu menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Rika mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang Rika minum sehingga Rika benar-benar belum sadar akan bahaya yang Rika hadapi. Yang Rika inginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam dirinya.

Rika kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kontolnya menerobos lebih dalam ke dalam lubang memeknya. Lagi-lagi Pakdhe membisiki Rika kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kontol Pakdhe ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang memeknya.

Lubang memek Rika yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kontol Pakdhe dalam jepitan lubang memeknya. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kontol Pakdhe menerobos semakin dalam ke dalam lubang memeknya. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat Rika menggigit bibir Rika keras-keras saat selangkangan Rika terasa perih sekali. Selangkangan Rika terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kontol Pakdhe hampir masuk separuh ke dalam lubang memeknya.

Rika sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkangannya. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberi Gadis alim yng cantik itu kesempatan untuk bernapas. Rika merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini Rika dapat merasakan lubang memek Rika seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang memeknya.

Kembali rasa sakit yang tadi menyentak Rika berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kontol Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang memeknya. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar Rika menggoyangkan pantat sekal Rika untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Rika seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kontolnya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantat Gadis alim itu terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.

Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perut Rika terasa kejang. Tubuh Gadis alim itu mulai melayang. Tangan Rika semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangnya. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang Rika dengar bergemuruh di telinganya.

Mata Rika semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahnya. Gadis belia berjilbab iitu hampir menjerit saat ada sesuatu yang Rika rasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibir Rika menghentikan teriakannya. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirnya. Rika merasa tubuh ranum Rika seolah-olah terhempas di awan. Tubuh ranum Rika mengejat-ngejat saat Gadis alim itu mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibir Rika pun mulai berkelojotan di atas perutnya. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..

Dan akhirnya Rika rasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kontol Pakdhe yang terjepit dalam lubang memeknya. Batang kontol Pakdhe berkedut-kedut dalam jepitan lubang memeknya. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihnya. Napas Rika hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun Rika dengar menggemuruh di telinganya.

RIKA

RIKA

Air mata Rika mengalir saat Gadis alim itu sadari segalanya telah terlambat baginya. Kegadisan Rika telah terenggut oleh Pakdhe.

peristiwa itu terulang malam harinya. bahkan Rika digagahi berkali2 oleh pakdhe mitro sejak malam sampai pagi. setelah liburan itu, Rika tidak lagi mau berlibur dirumah pakdhe Mitro, meski terkadang ia merindukan batang kontol besar pakdhe Mitro menyodok2 lubang memeknya.

—–

Akhirnya hari itu tiba. Rika terlihat menunggu dengan resah di terminal. Sudah satu jam ia menunggu, namun bus yang ditumpangi pakdhe belum terlihat. Akhirnya, setelah lima belas menit ia menunggu, gadis alim berjilbab yang manis itu melihat bus yang membawa pakdhenya maemasuki terminal.

” pakdhe.” Kata Rika menyambut sang bapak yang ada dihadapannya. Rasa canggung berusaha ia tutupi, namun pandangannya secara refleks melihat selangkangan pakdhe, dimana terdapat benda yang dulu pernah membuatnya mabuk kepayang. Ia berusaha menghilangkan pikiran itu namun tidak sanggup. Segera gadis alim itu mencium tangan pakdhenya, dan memimpinnya ke parkiran. Hujan rintik mulai turun.

Sesampainya di parkiran, hujan turun semakin deras. Rika yang tidak mau basah kuyub segera membuka mantel hujannya dan mengenakannya. Segera dia memboncengkan pakdhe pergi dari terminal itu. Sebersit terlintas senyum samar pakdhe yang penuh arti, namun sang gadis manis berjilbab itu tidak mampu menerkanya.

Tiba-tiba ditengah perjalanan, Rika tersentak merasakan sentuhan pada buahdadanya yang tertutup baju biru langit longgar, jilbab putih dan jaket. Ternyata pakdhe nekat merangsang dirinya ditengah hujan itu, tertutup oleh mantel hujan yang tebal. Terus tangan pakdhe menelusup masuk kedalam jaket dan jilbab lebarnya, lalu sekali sentil terbukalah satu kancing bagian dadanya. Gadis manis berjilbab itu mendesah tertahan saat ia merasakan tangan kekar dan kasar pakdhe menyentuh buahdadanya, lalu meremas-remasnya lembut. Ternyata pakdhe Mitro sudah tidak tahan dengan kemolekan tersembunyi dari keponakannya yang cantik namun alim ini, dan merangsangnya agar nanti lebih mudah mendapatkan tubuh sekal sang mahasiswi berjilbab lebar itu. Rika memekik pelan ketika ia merasa tangan pakdhe yang satunya turun lalu meremas memeknya. Ia menggigit bibirnya, agar pekikan dan rintihannya tidak terdengar. Perasaan malu, marah, takut namun juga terangsang membuatnya bingung dan tak mampu berbuat apa-apa, sampai mereka tiba di kontrakan.

Didepan kontrakan, ternyata Rika melihat salah satu teman dari Mbak Laras sedang menunggu di teras. Memang Laras sedang pergi kuliah, sementara Tata belum kembali dari kampung, jadi Rika sekarang dikontrakan sendiri bersama dua orang pria. Yang satu adalah pakdhenya, yang satu adalah William, teman Laras. Tanpa diketahui Rika, sebenarnya William sudah tahu kalau Laras sedang kuliah, William sengaja datang ketika Rika sendirian di kontrakan, untuk menikmati tubuhnya. Lelaki ambon itu kecewa melihat Rika pulang bersama seorang lelaki, namun di atidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula ketika Gadis manis berjilbab lebar itu, yang dengan wajah masih merah padam karena birahi, mengenalkan sang pakdhe, lalu mempersilahkan William masuk ke ruang depan, sementara ia dan pakdhenya masuk ke ruang dalam. Rika mempersilahkan pakdhe duduk diruang tengah, didepan televisi dimana dulu tanpa sepengetahuan Rika, pernah digunakan William untuk menyetubuhi Laras yang montok. Rika yang masih agak syok dengan perlakuan pakdhe segera pergi tanpa permisi menuju kamar mandi. Namun tanpa Rika ketahui, pelan-pelan pakdhe yang sudah tidak tahan oleh kecantikan dan kesekalan tubuh keponakannya yang alim dan berjilbab lebar itu mengikutinya ke kamar mandi dari belakang.

Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Rika tidak sempat berteriak karena tiba-tiba pakdhe sudah memeluk Rika. Tubuh pakdhe yang kekar berpakaian lengkap sudah basah penuh keringat nafsu, memeluk Rika erat-erat. Gadis manis berjilbab lebar itu tidak berani berteriak karena malu terhadap William. Dengan air mata yang Rika tahan Gadis manis berjilbab lebar itu pasrah akan apa yang dilakukan pakdhe pada Rika.

Tanpa membuang waktu pakdhe segera melepas seluruh bajunya dan telanjang bulat. Batang kemaluan pakdhe yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai, namun tetap membuat Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu berdebar-debar. Kemudian pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh Rika yang masih berpakaian lengkap ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibir Gadis alim yang manis itu dengan rakusnya.

Mulut Rika masih tertutup saat lidah pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Rika. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidah pakdhe yang mendesak-desak bibir Rika, akhirnya bibir Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu pun terbuka. pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Rika dan mendorong-dorong lidah Rika. Mula-mula Rika diam saja, namun lama-kelamaan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perut Rika yang nasih tertutup baju dan jilbab. Rika mulai bereaksi. Lidah Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu tanpa sadar membalas dorongan lidah pakdhe.

Tubuh Rika mulai menggerinjal dalam pelukan pakdhe saat tangan pakdhe mulai menggerayangi buah pantat Gadis manis alim itu dari luar rok panjangnya. Tangan pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantat Rika lalu ditariknya tubuh Gadis alim yang manis itu hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.

Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulut Rika, tangan pakdhe menekan kepala Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluan pakdhe yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajah Rika yang putih dan halus itu. Ditariknya wajah Rika ke selangkangannya dan disuruhnya mulut Rika menciumi batang kemaluannya itu. Awalnya Rika berusaha menolak, namun karena cengkeraman tangan pakdhe begitu kua, Gadis lugu yang berjilbab lebar itu tak bisa menghindar. Apalagi akdhe terus menepuk-nepukkan batang kontolnya yang besar dan coklat juga keras itu kewajah Rika sehingga membuat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu semakin terangsang. Dengan pelan Rika membuka mulutnya dan mulai menciumi batang kemaluan pakdhe yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.

RIKA

RIKA

Kepala Rika didorong maju mundur oleh tangan pakdhe yang mencengkeram kepala Akhwat manis alim itu yang masih terbungkus jilbab hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulut Rika. Kerongkongan Rika tersodok-sodok ujung kepala kemaluan pakdhe yang keluar masuk dalam mulut Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Rika dengar napas pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluan pakdhe semakin mengeras dalam kuluman mulut Gadis alim yang manis itu.

Mungkin karena tak tahan, pakdhe segera menarik tubuh Rika agar berdiri lalu mendudukan Gadis manis alim itu di sisi bak mandi. Tangan pakdhe dengan kasar menyampirkan jilbab lebar Rika kesamping, membuka baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, dan memelorotkan bra Rika kebawah, membuat payudara putih bersih kenyal milik Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu terpampang jelas. pakdhe langsung membuka Mulutnya dan segera mencecar payudara Rika kanan dan kiri silih berganti. Rika menggelinjang hebat manakala mulut pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudara Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tangan pakdhe pun tak tinggal diam. Tangan pakdhe mulai merayap ke selangkangan Rika yang masih tertutup rok hitam dan mulai meremas gundukan bukit kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Lalu dengan kasar pakdhe menyingkap rok Rika ke pinggang dan merenggut lepas celana dalam Gadis alim yang manis itu, dan kembali meremas gundukan bukit kemaluan Rika.

Rika sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Gadis manis alim itu semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut pakdhe lalu merayap menyusuri perut Rika dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Dikuakkanya kedua bibir kemaluan Rika dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu.

Tubuh Akhwat manis alim itu yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluan Rika. Tanpa sadar tangan Rika mencengkeram rambut pakdhe dan menekankan kepala pakdhe agar lebih ketat menekan bukit kemaluan Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

Rika semakin blingsatan menahan rangsangan yang dibeRikan pakdhe di selangkangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Tanpa sadar mulut Rika mendesis-desis dan duduk Gadis alim yang manis itu bergeser tak karuan. Perut Rika mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuh Rika terasa mulai mengawang dan pandangan mata Gadis mahasiswi santun berjilbab itu nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang Rika mencapai orgasme Rika.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba pakdhe sudah berdiri di hadapan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Batang kemaluan pakdhe yang keras dicocokkan ke bibir kemaluan Rika dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluan Gadis manis alim itu yang sudah basah dan licin. Rika menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluan Rika. Bibir pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibir Rika sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Rika masih duduk di bibir bak mandi sementara pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluan Rika sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluan Rika. Tubuh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu lalu diturunkan dari bibir bak mandi. Dengan kasar pakdhe melepas semua baju Rika, tanpa ada perlawanan yang berarti dari Rika yang sudah sangat terangsang. Akhirnya terlepas semualah baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, kecuali jilbab yang memang dibiarkan pakdhe tetap dipakai Rika. Segera pakdhe membalik tubuh Rika hingga Gadis manis alim itu berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu pakdhe menempatkan diri di belakang Rika dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluan Rika dari celah bongkahan pantat Gadis manis alim itu.

Punggung Rika didorong pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kaki Gadis alim yang manis itu lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluan Rika. Setelah arahnya tepat, pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Kembali Rika mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu. Dinding-dinding lubang kemaluannya serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut. pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluan pakdhe pada dinding lubang kemaluan Akhwat manis alim itu semakin cepat.

Pinggul Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu yang dipegang pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari pakdhe mulai mencengkeram. Pinggul Rika ditarik dan didorong oleh tangan kuat pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuh Rika mulai terhentak dan Rika mulai limbung. Kembali Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napas pakdhe semakin menderu.

RIKA

RIKA

Pantat Rika yang ditarik dan didorong pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari pakdhe semakin terasa di pinggul Rika. Gerakan ayunan pantat pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu kembali mencapai orgasme Rika. pakdhe pun Rika kira mencapai puncak kenikmatannya karena Rika merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan pakdhe ke dalam lubang kemaluan Rika dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut pakdhe.

pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluan Rika selama beberapa saat. Napas pakdhe yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipi Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tulang kemaluan pakdhe menekan kuat di bukit buah pantat Rika. Rika merasa sedikit geli karena rambut kemaluan pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantat Rika. Batang kemaluan pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.

Tubuh Gadis alim yang manis itu sudah terasa lemas tak bertenaga. Rika hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya Gadis manis alim itu berhasil digagahi pakdhe Rika sendiri. Rika membiarkan saja saat pakdhe memandikan Rika seperti bayi. Tangan pakdhe yang kokoh menyibak lepas jilbab Rika, membuat rambut lurus sebahu Rika tergerai lepas terlihat indah. segera pakdhe menyabuni seluruh lekuk tubuh Gadis manis alim itu. Tubuh Rika kembali menggerinjal saat tangan pakdhe yang kokoh mulai menyabuni payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Puting Gadis manis alim itu yang mencuat dipermainkan pakdhe dengan gemas.

Tubuh Rika semakin menggelinjang saat tangan pakdhe mulai menyentuh perut Rika lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluan Rika yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jari pakdhe menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluan Rika dan berlama-lama menyabuni daerah itu.

Rika tak berani memandang pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tangan Rika dan menyuruh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu menyabuninya. Dengan agak kaku tangan Rika mulai menyabuni punggung pakdhe yang kekar. Tangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu bergerak hingga seluruh punggung pakdhe Rika gosok merata dengan sabun. Lalu pakdhe membalikkan tubuhnya menghadap Rika. Tangan pakdhe mengelus-elus kedua payudara Rika sementara Rika disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.

Tangan Rika bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas pakdhe mulai memburu saat tangan Rika yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluan pakdhe yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tangan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu yang agak ragu dipegang pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan pakdhe. Rambut kemaluan pakdhe sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras.

jilbab toket gede memek basah (4)

pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruh Rika menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuh Rika yang masih agak basah ditarik pakdhe dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Rika. pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluan pakdhe yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolornya.

Baru saja pintu ditutup, tubuh Akhwat manis alim itu sudah langsung disergap pakdhe. Diloloskannya handuk yang melilit tubuh Rika hingga Gadis alim yang manis itu telanjang bulat. pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapan Rika. Mulut pakdhe segera menyergap bibir Rika dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudara Rika segera menjadi bulan-bulanan remasan tangan pakdhe hingga tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu menggelinjang dalam dekapannya.

Tangan Rika segera dibimbing pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluan pakdhe yang sudah semakin mengembang. Bibir pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibir Rika ke dagu, lidahnya menjilat-jilat dagu Rika terus turun ke leher Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu semakin menggelinjang karena kumis pakdhe yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leher Rika.

Rika semakin mendesis karena kini bibir pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudara Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kanan dan kiri secara bergantian. Tangan Rika secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas batang kontol pakdhe. Napas pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudara Rika. Jilatan pakdhe semakin liar di seluruh bukit payudara Gadis manis alim itu tanpa terlewatkan sejengkalpun.

Batang kemaluan pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tangan Rika. Sementara tangan pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggung Rika dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantat Rika dan meremas-remas kedua buah pantat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu dengan gemasnya. Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahan Rika adalah pada buah pantat Rika dan pada kedua puting payudara Rika. Tubuh Gadis manis alim itu sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan pakdhe.

Mengetahui kalau tubuh Rika sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukan pakdhe, pakdhe segera mendorong tubuh Rika ke kasurnya hingga Gadis alim yang manis itu berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjang Rika oleh tubuh kekar pakdhe. Dibentangkannya kedua kaki Rika lebar-lebar dan Rika kembali digumuli pakdhe Rika. Lidah pakdhe kembali menyerbu bibir Rika lalu bergeser ke leher Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

batang kontol pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawah Rika. Rambut kemaluan pakdhe yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perut Rika menimbulkan rasa geli.

Lidah pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leher Rika hingga Gadis manis alim itu mendesis-desis kegelian. Tubuh Rika semakin menggelinjang menahan geli saat lidah pakdhe mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudara Rika di sekitar puting Rika. Tubuh Rika semakin menggerinjal saat lidah pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudara Rika. Tubuh Gadis lugu yang berjilbab lebar itu serasa semakin melayang.

Lidah pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusar Rika dijilatnya dengan rakus lalu lidah pakdhe mulai bergerak turun ke perut bagian bawah Rika. Otot-otot perut Rika terasa seperti ditarik-tarik saat bibir pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawah Rika di atas pangkal paha Rika. Geli sekali rasanya, apalagi kumis pakdhe yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perut Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang halus.

RIKA

RIKA

pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajah pakdhe menghadap selangkangan Rika sementara batang kontol pakdhe dihadapkan ke wajah Rika. Diturunkannya pantat pakdhe hingga batang kemaluannya menempel bibir Gadis alim yang manis itu. Dibimbingnya batang kontolnya ke mulut Rika. Rika tahu Rika harus membuka mulut Rika menyambut batang kontol pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulut Rika. Dengan terpaksa Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu mulai mengulum batang kontol pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.

Tubuh Rika terhentak saat mulut pakdhe mulai melumat bibir kemaluan Rika. Kedua tangan pakdhe menarik kedua bibir lubang kemaluan Rika dan membukanya lebar-lebar lalu lidah pakdhe yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluan Rika. Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluan Rika yang terbuka lebar.

Tanpa sadar pantat Rika terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah pakdhe yang menggesek-gesek kelentit Rika. Gerakan lidah pakdhe yang liar seolah membuat Rika semakin gila. Tanpa dapat Rika cegah lagi, mulut Gadis mahasiswi santun berjilbab itu merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan pakdhe yang menyumpal mulut Rika tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulut Akhwat manis alim itu.

Mata Gadis lugu yang berjilbab lebar itu kembali nanar. Perut Rika terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawah Rika sudah hampir tak dapat Rika tahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuh Rika menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuh Gadis manis alim itu lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuh Rika terdiam beberapa saat. Rika telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.

Tubuh Rika terasa lemas tak bertenaga. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu hanya pasrah saat pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulut Rika bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuh Rika dan mendudukan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu di pangkuannya. Tubuh Rika dihadapkan pakdhe ke dirinya dan kaki Rika dipentangkannya hingga Gadis alim yang manis itu terduduk mengangkang dipangkuan pakdhe dengan saling berhadapan. Kemudian tangan pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkangan Rika.

Bless!! Rika terhenyak saat pantat Rika diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluan Rika. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu terasa berdenyut-denyut. Kelentiti Rika yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Rika merasa sangat terangsang! Kelentit Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu serasa tergesek penuh pada batang kemaluan pakdhe.

Dengan dibantu kedua tangan pakdhe yang menyangga kedua buah pantat Rika tubuh Rika bergerak naik turun di pangkuan pakdhe. Payudara Rika yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuh Gadis manis alim itu di pangkuan pakdhe. Batang kemaluan pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluan Rika terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluan Rika yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.

Tubuh Rika terasa menggigil bergetar saat mulut pakdhe tak tinggal diam. Mulut pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika bergantian. Mulut pakdhe menyedot buah dada Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sepenuhnya. Gerakan Rika menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Rika mempercepat gerakan Rika naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika.

RIKA

RIKA

Karena tak tahan lagi tanpa sadar Rika dorong tubuh pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuh Rika yang tadi di pangku pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki pakdhe yang berbaring telentang. Gerakan Rika kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada pakdhe yang bidang Rika terus menggerakan pantat Rika memutar dan maju mundur. Kelentiti Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kian ketat tergesek batang kemaluan pakdhe. Gadis yang biasanya alim dan santun itu berubah liar dan binal, disetubuhi pakdhe.

Tangan pakdhe yang memegang kedua pantat Rika semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakan Rika. Rika merasa tubuh Rika kembali mulai mengawang. Gerakan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu kian tak terkendali. Mata Rika mulai membeliak dan mulut Rika menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat..

Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuh Gadis alim yang manis itu berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuh Rika berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut pakdhe. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu benar-benar tak bertenaga. Ya akibat batang kontol pakdhe Rika mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa pakdhe Rika ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat Rika yang masih muda bertekuk lutut.

pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuh Rika dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Sekarang tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang telentang gantian digenjot pakdhe. Rika yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkangan Rika dengan tusukan-tusukan batang kemaluan pakdhe. Batang kontol pakdhe tanpa ampun menghajar lubang kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu.

Perlahan-lahan napsu Rika mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan batang kontol pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada Rika berusaha menyambut setiap tusukan batang kontol dengan menggoyangkan pantat Rika ke kanan dan kiri.

Napas pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudara Rika yang dilumat bibir rakus pakdhe. Genjotan pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuh Gadis manis alim itu semakin menguat. Rika sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuh Akhwat manis alim itu kembali mengejang. Pantat Rika terangkat dan dengan merintih panjang Rika mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.

Tubuh Rika terhempas di tempat kosong dan pandangan mata Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu makin nanar. Rika merasa betapa di saat-saat itu tubuh pakdhe yang menindih perut Rika mulai bergetar. Mulut pakdhe menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan batang kontolnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Tubuh pakdhe berkejat-kejat lalu Rika merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluan Rika. Ada rasa berdesir menyergap Rika saat semprotan itu menyembur ke liang rahim Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu. Tubuh pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perut Rika.

Sungguh melelahkan pergumulan di hari itu. Akhirnya pakdhe tertidur karena terlalu lelah, sementara Rika segera berpakaian dan memakai jilbabnya lalu keluar kamar dan masuk ke kamar mandi, membersihkan lubang memeknya yang berlepotan sperma pakdhe. sementara itu William sudah pulang dengan perasaan menang karena mendapat mangsa baru, sembari menimang2 handphone berkameranya yang tadi ia gunakan untuk merekam adegan ranjang Rika dan pakdhenya.

RIKA

Hari itu kebetulan rumah sedang sepi.karena istriku baru ada acara di rumah saudara nya di daerah Semarang dan akan kembali seminggu lagi. Plus pembantuku yang turut menemaninya. Praktis alu sendirian kalau lagi di rumah.

Sehabis dari kantor sore itu aku pulang dan sesampainya di dalam rumah kulihat sesosok perempuan berjilbab putih lengkap dengan seragam putih abu-abunya yang serba panjang. Dialah keponakanku Rika yang sedang tertidur di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Oh iya si Rika masih kelas 1 SMK. Dia sering main ke rumahku selepas pulang sekolah, jadi nya dia bebas keluar masuk rumah. Kulihat Rika yang tertidur di sofa dengan rok abu-abu panjang semata kaki namun agak ketat sehingga sepasang pahanya yang indah nampak terlihat sekal dari balik roknya. Dadanya yang mulai ranum berkembang nampak membusung dari balik hem putih OSIS lengan panjangnya. Melihat pemnandangan seperti itu bangkitlah birahiku.

Perlahan kudekati Rika dan duduk di samping nya sambil kuusap-usap pahanya yang sekal dari luar rok abu-abu semata kaki yang dipakainya. Dengan penuh perasaan kuraba-raba pahanya hingga naik terus sampai ke pangkal pahanya.

Kemudian dengan sangat hati-hati kusingkap rok seragam abu-abu panjangnya keatas hingga tampak celana dalam Rika yang berwarna putih krim, Selaras sekali dengan pahanya yang putih mulus.
Setelah kusingkap roknya perlahan kuraba belahan vagina keponakanku yang berjilbab putih itu dari luar celana dalamnya.

Sewaktu aku asyik meraba-raba kemaluannya, Rika terbangun dari tidurnya dan kaget melihat rok abu-abu panjang yang dikenakannya sudah tersingkap dan nampak olehnya aku yang sedang meraba-raba vaginanyanya.

”Jjaangannn..ommmm….jangannnn,,,jangan…”, seraya mencoba berdiri dari sofa.

Sebelum Rika berhasil berdiri dari sofa buru-buru kutindih tubuhnya hingga terhimpit tubuhku sambil membungkam mulutnya dengan tanganku, dsn tanganku yang satunya meraih celana dalam siswi jilbab ini. “Brettt…”, kutarik celana dalam Rika hingga sobek.lalu kugosok kemaluan keponakanku ini dengan jemariku. Setelah 15 menit kugosok-gosok kemaluannya dengan jari hingga terasa basah, kulepas pakaianku hingga telanjang.

Penisku yang sudah keras tegak mengacung langsung kuarahkan ke vagina Rika yang telentang di sofa. Keponakanku berjilbab putih dan masih lengkap mengenakan seragam sekolahnya namun sudah tersingkap rok abu-abu panjangnya sepinggang menangis sejadi-jadinya tatkala kutekan penisku masuk membelah gundukan vagina yang masih perawan itu.
Baru kepala penisku mulai penetrasi masuk kulihat Rika menjerit kesakitan.

“Aaaakkkhhh,,,!”, namun jeritannya tertahan karena terlebih dahulu kubungkam dengan tanganku. Gadis cantik berjilbab putih ini hanya bias menangis seraya mengeleng-gelengkan kepalanya menahan sakit yang timbul dari perbuatanku. Kupaksa batang kemaluanku untuk masuk lebih dalam ke liang surganya Rika.
Setengah batang penisku sudah masuk menembus liang vaginanya, dan terasa ada sesuatu yang mengalir di sela-sela vaginanya. Ternyata darah perawan siswi berjilbab keponakanku ini mengalir hinga membasahi sofa ruang tamuku.

Akhirnya dengan usaha sekuat tenaga penisku terbenam juga seluruhnya. Sesaat kudiamkan di dalam seraya meresapi betapa nikmatnya jepitan nan hangat liang surga milik Rika.
”Ssshhh…ohh,,,nikmattt banget punya kamu Rikaaahh…..oohhh”, racauku sembari mulai menggenjot vagina siswi berjilbab putih keponakanku ini.

“Ukkkhh…hehhh…”, desah Rika seakan membalas racauanku seraya mengeleng-gelengkan kepala yang masih terbalut jilbab putihnya. Air matanya nampak mengucur deras dari kedua kelopak matanya yang terpejam menahan perih persetubuhan paksa ini.

Setelah 5 menit menyetubuhi Rika dengan gaya missionary, tanpa mencabut penisku dari liang surgawi Rika, kubalik tubuhnya dan kuposisikan agar menungging dan kedua tangannya bertumpu pinggiran sofa. “Awas kalau kamu teriak om bunuh!’, ancamku lagi.
Setelah pas posisinya menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu indah pemandangan di hadapanku ini. Keponakanku yang masih mengenakan jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok rok abu-abu panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta disodok sejadi-jadinya. Lalu seraya mencengkeram bongkahan pantat yang padat nan kenyal itu kumulai menyodok-nyodok liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn ommmm…sakittttttt…sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang manis terbalut jilbab putih nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya

“SShhh..oooohhhhh,,,ooohhhhh enak bangetttt memekmu Rikaaaa,,,,”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan meremas bongkahan buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya.

“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mencengkeram pinggiran sofa kuat-kuat.

Hampir 20 menit kugenjot keponakan berjilbabku ini dengan posisi kesukaanku ini. Dan nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan. Begitu pula rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Semuanya sudah nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan terlarang ini.

Akupun merasa akan mendekati puncaknya. Sudah terasa spermaku bergejolak mendesak untuk keluar dari sarungnya. Lalu seraya mencengkeram kepalanya yang berjilbab kutarik tubuh Rika hingga merapat ketubuhku hingga kini posisi kami duduk berpangkuan dengan tubuh Rika yang membelakangiku.

Kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan pantat keponakanku dengan selangkanganku semakin terdengar kencang,“Plakk…ceplakk!”. “Uhh…Rikkahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat hendak mencapai klimaks seraya mencengkeram dan meremas kuat-kuat kedua payudara siswi berjilbab keponakanku. Rika yang sedang kugenjot dalam kecepatan penuh ini dari belakang hanya biasa merintih-rintih seraya memegangi kedua pergelangan tanganku yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya.

Tubuh Rika yang sudah amat kepayahan menghadapi serangan penisku mendadak mendadak bergetar hebat. Tubuhnya melengkung kebelakang hingga kepalanya yang berbalut jilbab putih itu menempel di pundakku. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan bersamaan dengan itu pula, “ Aaahh…Riikkaahh…nniihhh!!”, akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Rika.
”Crrooottt,,.crooot….crottt”, spermaku menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga menyembur berbarengan

Lalu kami berdua tersungkur lemas diatas sofa dengan posisi tubuhku menindihnya dari belakang.
Setelah beberapa saat tenagaku pulih, aku bangkit seraya mencabut penisku dari lubang kemaluan keponakan berjilbabku ini, seraya berkata, “Awas kalau Rika berani bilang siapa-siapa”, ancamku sambil memakai pakaian gue yang berserakan di lantai.
”Sekarang mandi sana biar segar”, titahku padanya yang masih tertunduk letih dan lemah di pinggir sofa. Perlahan siswi berjilbab keponakanku itu bangkit dan pergi ke kamar mandi dengan seragam sekolahnya yang sudah awut-awutan serta ada noda darah dan sperma menempel di ujung kain rok abu-abu semata kakinya.

Sembari tersenyum penuh kemenangan kutepuk pantatnya yang bahenol itu, sembari mengingatkan, “Ingat, mulai besok kamu harus sering-sering nginep disini. Om masih pengen terus menikmati memekmu yang hangat itu.” Dan dengan tatapan kosong, keponakanku yang berjilbab itu hanya mengangguk lemah tanpa mengucap sepatah katapun.

ATIKA

Sore itu aku baru pulang dari rumah temanku. Karena perjalanan pulang melewati kampusku, maka sekalian aku menyempatkan diri untuk mampir ke sana dengan tujuan melihat nilai UTS-ku dan mencatat jadwal SP (Semester Pendek). Kumasuki halaman kampus dan kuparkirkan sepeda motorku. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 17.35, di tempat parkir pun hanya terlihat 3-4 kendaraan. Aku segera memasuki gedung fakultasku, di sana lorong-lorong sudah gelap hanya diterangi beberapa lampu downlight, sehingga suasananya remang-remang, terkadang timbul perasaan ngeri di gedung tua itu sepertinya hanya aku sendirian, bahkan suara, langkah kakiku menaiki tangga pun menggema. Akhirnya sampai juga aku di tingkat 4 dimana pengumuman hasil ujian dan jadwal SP dipasang.

Ketika aku sedang melihat hasil UTS-ku dari lantai bawah sekonyong-konyomg terdengar langkah pelan yang menuju ke sini. Sadar atau tidak kurasakan bulu kudukku berdiri dan membayangkan makhluk apa yang nantinya akan muncul. Ah konyol, kubuang pikiran itu jauh-jauh, hantu mana mungkin terdengar bunyi langkahnya. Suara langkah itu makin mendekat dan akhirnya kulihat sosoknya, oohh, ternyata lain dari yang kubayangkan, yang muncul ternyata seorang gadis cantik. Aku pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas denganku dalam salah satu mata kuliah, namanya Atika, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang, teteknya pun membusung indah, kuperkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan wajahnya yang selalu berjilbab namun tetap modis dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus di Universitasku yang mewajibkan mahasiswinya untuk berjilbab..

“Hai.. sore, mau lihat nilai ya?” tanyaku berbasa-basi.
“Iya, kamu juga ya?” jawabnya dengan tersenyum manis.
Aku lalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.
“Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? gua mau catat jadwal nih,” tanyanya.
“Ooo, boleh, boleh gua juga udah selesai kok,” aku lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoinku.
“Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?” tanyaku.
“Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?”
“Sama nih, gua juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalanlah.”

Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotorku terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang. Aku mulai merasakan senjataku menggeliat dan mengeras. Kupandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajahku makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambutku sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tanganku pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping. Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairahku untuk berbuat lebih jauh, tanganku kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemejaku satu persatu. Tiba-tiba aku sadar sedang di tempat yang salah, segera kulepas ciumanku.

“Jangan di sini, gua tau tempat aman, ayo ikut gua!”
Kuajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci. Kubuka pintu dan kutekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.

Segera setelah tombol kunci kutekan, kudekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah kulepas kemeja lengan panjangnya yang ketat dan branya, kulihat tubuh putih mulus dengan tetek kencang dan putingnya yang kemerahan. Saat itu dia sudah topless tinggal memakai celana panjang dan jilbab merah saja. Kuarahkan mulutku ke dada kanannya yang berada di balik jilbab sementara tanganku melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Kurasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan. Puting yang sudah menegang itu kusapu dengan permukaan kasar lidahku hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis kurenggangkan bibir memeknya dan jari tengahku kumainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambutku.

Akhirnya dengan perlahan-lahan kuturunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Kubuka resleting celanaku lalu kuturunkan CD-ku sehingga menyembullah kontol yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing kontolku memasuki lubang memeknya, setelah masuk sebagian kusentakkan badanku ke depan sehingga dia menjerit kecil. Aku mulai menggerakkan badanku maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tanganku sibuk meremas-remas tetek montoknya, dan lidahku menjilati leher di balik jilbabnya. Aku terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badanku, hingga akhirnya aku merasakan tangannya yang melingkari leherku makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang. Saat itu gerakanku makin kupercepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu kurasakan pula cairan hangat menyelubungi kontolku dan spermaku mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.

Tiba-tihba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Toyip, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah. Kami kaget karena kehadirannya, aku segera menaikkan celanaku yang sudah merosot, Atika berlindung di belakang badanku untuk menutupi tubuh telanjangnya meskipun memakai jilbab.

“Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasik ria!” katanya sambil berkacak pinggang.
“Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini,” kataku terbata-bata.
“Hmmm… baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal…”
“Asal apa Pak?” tanyaku.
Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.
“sal saya boleh ikut merasakan si Mbak yang berjilbab tapi telanjang ini, he.. he… he…!” katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.
“Jangan, Pak, jangan!”

Dengan wajah pucat Atika berjalan mundur sambil menutupi dada dengan jilbab dan kemaluannya dengan tangan kiri untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Toyip untuk mendekap tubuh Atika. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Atika dan mengangkatnya ke atas. “Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau… eeemmmhhh…!” belum sempat Atika melanjutkan perkataannya, Pak Toyip sudah melumat bibirnya dengan ganas. Sekarang Atika sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Toyip sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke tetek kanan Atika lalu meremas-remasnya dengan gemas. Entah mengapa daritadi aku hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontras nampaknya Atika yang berparas cantik dan berjilbab merah itu sedang digerayangi oleh Pak Toyip yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata, “Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula.”

Ciuman Pak Toyip pada bibir Atika kini mulai merambat turun ke lehernya yang masih tertutup jilbab, dijilatinya leher jenjang Atika kemudian dia mulai menciumi tetek Atika sambil tangannya mengobok-obok liang memek Atika. Diperlakukan seperti itu Atika sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah, “Pak… aaakhh.. jangan.. eeemmhh… sudah Pak!” Setelah puas “menyusu” Pak Toyip mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Atika dengan jilatan dan ciumannya. Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Toyip mengaitkan kaki kanan Atika di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium memek yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya. Sementara Pak Toyip mengerjai bagian bawah, aku melumat bibirnya dan meremas teteknya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu kupencet dan kupuntir.

Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada tetek kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Toyip. Tak lama kemudian kurasakan dia mencengkram lenganku dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam. Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Toyip dan kulihat Pak Toyip juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari memeknya sehingga membuat tubuh Atika menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciumanku. Sekarang aku membuat posisi Atika menungging di matras yang kugelar di lantai. Kesetubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan teteknya. Pak Toyip melepaskan pakaiannya hingga telanjang, kemudian dia berlutut di depan wajah Atika yang jilbabnya telah acak-acakan. Tanpa diperintah Atika segera meraih kontol yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Toyip mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Atika, dia menjejalkan kontol itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Atika.

Atika pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Toyip mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Atika yang ingin mengeluarkan kontolnya dari mulutnya, sementara aku makin mempercepat goyanganku dari belakang. Tubuh Atika mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokanku dan juga karena Pak Toyip yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Atika, sangat banyak sperma Pak Toyip yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Atika tersumbat oleh kontol Pak Toyip yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar, “Emmpphh.. mmm.. hmmpphh…” tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.

Kemudian Pak Toyip melepas kontolnya dari mulut Atika, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Atika memasukkan kontol yang berdiri kokoh itu ke dalam memeknya. Sesuai perintah Pak Toyip, Atika sambil membneahi jilbabnya yang hampir lepas menduduki dan memasukkan kontol Pak Toyip, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena kontol Pak Toyip yang besar tidak mudah memasuki liang memeknya yang masih sempit, Pak Toyip meremas-remas susu Atika yang sedang bergoyang di atas kontolnya itu. Aku lalu memintanya untuk membersihkan barangku yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika kontolku sedang dijilati dan dikulum olehnya, kutarik erat-erat ujung jilbabnya “Wah cantik banget si Mbak ini sudah berjilbab tapi binal, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini,” kata Pak Toyip memuji Atika. “Dasar muka nanas, kalo dia pacar gua udah gua hajar lo dari tadi!” gerutuku dalam hati.

Setelah kontolku dibersihkan Atika, kuatur posisinya tengkurap di atas Pak Toyip, dan kumasukkan kontolku ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika aku berhasil menancapkan kontolku di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara kontol Pak Toyip di memeknya dan kontolku di anusnya. Aku menghujam-hujamkan kontolku dengan ganas sambil meremas-remas tetek dan pantatnya juga sesekali kujilati lehernya. Sementara Pak Toyip juga aktif memainkan tetek yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu. Tak lama kemudian Atika menjerit keras, “Akkhh…!” tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Toyip dengan kuluman di bibirnya. Aku dan Pak Toyip melepas kontol kami dan berdiri di depan Atika secara bergantian dia mengulum dan mengocok kontol kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya dan jilbab merahnya itu.

Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Atika, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali. Kami membuat kesepakatan dengan Pak Toyip untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Toyip pun menyetujuinya dengan syarat Atika mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga. Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia sebagai gadis berjilbab juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukakan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.

ICHA

pasti hari ini , gua di pangil ke kantor kepsek lagi ? pikirnya .  Dia terus berjalan memasuki ruang kelasnya . Wajahnya yang putih ,  tampak cantik dengan jilbab putihnya yang bersih .

Bel tanda di mulainya pelajaran berbunyi . Tak lama seorang guru , memasuki kelas dimana gadis itu duduk . ? selamat pagi , pak ? sapa murid murid nya serempak .pagi ..? jawab guru itu . Guru itu melihat satu persatu anak didiknya .

Icha ..? suara guru itu menghentak gadis cantik berjilbab itu . ? ya ..pak ? Jawab Icha.

kamu di panggil ke ruang kepala sekolah ? Kata guru itu .

Icha sudah tahu sebelumnya , sudah telat satu minggu dia belum melunasi SPP nya.Apa lagi bulan lalu dia masih menunggak .Dengan gontai Icha bangun dari kursinya dan berjalan ke luar ruang kelasnya . Beberapa pasang mata , teman temannya melihatnya .

tok tok ?? suara ketukan pintu di ruang kepsek terdengar . ? masuk ? begitu jawaban dari dalam ruang itu . Icha membuka pintu ruang kep sek itu . ? selamat pagi pak ? sapa Icha kepada kepala sekolahnya .

Kepala sekolah itu menatap Icha , gadis cantik , kelas 1 SMU yang selalu berjilbaba . Di usianya yang baru enam belas tahun , tercermin kecantikan dan ke elokan di wajahnya.

hemm , apa yang ada di balik rok abu abu panjang , yang eloe pakai Icha..? guman kep sek itu dalam hati .

begini Icha , soal pembayaran SPP ..? kata kep sek itu . ? maaf , pak .. orang tua saya belum punya uang..? jawab Icha . ? yah , tapi peraturan , Icha tidak bisa begitu , kamu sudah menunggak , dan sekarang juga belum bayar , kamu akan di keluarkan dari sekolah ini ..? kata kep sek itu . ? tolong pak , beri saya waktu ..? iba Icha .

ehm .. saya tahu , kamu murid yang pandai , sayang kalau sampai putus sekolah ..? jawab kep sek itu. ? tolonglah pak ?? iba Icha lagi . Mata kepsek itu dengan jalang , menatap Icha . Dia tersenyum dan berkata ? Icha , kamu sudah punya pacar?? .

Icha agak tercengang dengan pertanyaan kepala sekolahnya yang tidak relevan ini .

Icha menjawab ? tidak saya tidak punya pacar pak ? jawab Icha . ? bagus. .. bagus..? jawab kep sek itu .

Kamu akan terus di sekolah ini , tidak usah bayar SPP , asal kamu mau bercinta dengan saya..? kata kep sek itu . Kuping Icha terasa panas mendengar kata kata kep sek itu . ? pak , maksud bapak apa ? ? kata Icha .

ha ha ha , saya rasa kamu tahu , maksud saya , apa perlu saya perjelas ..? kata kep sek itu lagi . Icha mengeleng ? pak saya tidak bisa?? jawab Icha. ? kalau begitu , kamu di keluarkan dari sekolah ini sekarang juga..? bentak kep sek itu .

tapi ?tapi ?pak ..tolong jangan keluarkan saya?? iba Icha. Kep sek itu tersenyum ? Icha saya tidak sejahat itu , saya cuma ingin bersenang senang dengan kamu , sayang??.

Icha diam menundukkan kepalanya , di hatinya berkecamuk segala macam pikiran .

Icha , kalau kamu mau saya malah bisa , memberi kamu uang jajan setiap harinya ..? kata kep sek itu lagi .

Icha hanya bisa diam , mulutnya tak mampu untuk berbicara . Dan Kep sek itu mulai mendekatinya , dan tiba tiba mencium bibir Icha . Saat itu Icha meronta ? jangan pak ?jangan ?saya tak mau ?? . Icha lalu berlari ke arah pintu , tapi Kep sek itu lebih sigap ,

Pintu di ruangan itu berhasil di tahan oleh Kep sek itu . Dan Kep sek itu menraik tangan Icha menjauh dari pintu itu , lalu mengunci pintu ruang itu . Icha terus meronta , tapi kepsek itu menampar pipinya . ? aduh ? jerit Icha , dengan sebagian wajah cantiknya tertutup jilbab putih yang di kenakannya.

Lalu dengan kuat tubuh imut ABG itu di hempaskan ke sofa di ruang itu .? elo jangan macem macem , lebih baik turuti kemauan gua..atau gua akan memyiksa eloe ? ancam Kep sek itu . Icha mulai panik . ? jangan saya tidak mau ..lepaskan?? jeritnya . ? plak ?? kep sex itu kembali menampar wajahnya , meninggalkan bekas memerah di pipinya .

ampun pak ? jangan..sakit?? erang Icha sambil memegang pipinya . ? diam jangan cerewet loe..? kata Kep sex itu yang sudah di kuasi nafsu birahinya .

Tangan kep sek itu dengan cepat melepas kancing baju seragamnya , satu persatu . juga bra yang di kenakannya . Buah dadanya yang baru tumbuh itu menjadi santapan liar mata kep sex itu . Putting susunya yang kecil di sentuhnya , Icha kembali merota ? jangan pak ..jangan ..saya malu ?? .

diam , mau gua tabok lagi loe ..yah?? bentak kep sek itu . Icha terdiam , air matanya mulai mengalir . Tiba tiba , putting susunya di cubit dan di tarik kepsek itu . ? aduh..sakit?jangan..sakit..ampun ?? erang Icha . Kepsek itu menyeringai , ? yah terus menjerit , gua suka mendengarnya ??

Kepsek itu terus mencubit , dan memilin milin putting susu imut milik ABG itu , membuat Icha merasa kesakitan . Lalau dia berhenti , dan mejilati putting susu Icha .dan menyusui di buah dada ABG itu . ? ih ..eh..jangan pak ?ahh?? erang Icha .

Rok panjang yang di kenakannya , mulai di naikkan ke atas terus sebatas pinggulnya . Icha kini tak bisa berbuat apa apa , hanya pasrah , memperlihatkan ke mulusan pahanya .

Tangan kepsek itu pun mengelus elus , paha mulus dan licin itu , sambil matanya menatap selakanganan anak didiknya , yang masih terbungkus celana dalam pinknya itu .

benar benar bikin nafsu ..? ujar kep sek itu . Kemudian kedua belah kaki Icha di buka lebar oleh Kepsek itu . Hidung Kepsek mendekati selangkangan celana dalam itu , dan menghirup aromanya ? hmmm , benar benar aroma perawan ? puji Kepsek itu dengan menyeringai .Tangan Kepsek lalu melepas celana dalam pink itu . dan kembali melebarkan kedua belah kaki Icha.

Mata Kepsek terbelak , menyaksikan vagina Icha yang masih muda itu . Belahanya masih terasa sempit . Dengan bulu bulu halus yang baru tumbuh di bukit vaginanya .

Dengan dua jarinya Kepsek membelah bibir vagina itu , dan menemukan klitorisnya yang merah , serta liang vaginanya yang tampak rapat .

Lidah Kepsek pun menjulur , menjilati vagina Icha. ? ihhhh?.ihhh?jangan pak ..geli .. ?.? erang Icha, dengan tubuh yang mengeliat . Lidah Kepsek terus saja , menyapu vaginanya . bergerak cepat di klitorisnya yang terlihat semakinn tegang. Icha pun terus menerus mengeliat , dan mengerang .

Tanpa terasa , birahi ABG itu pun terusik , dia merasakan nikmat yang baru pertama kali di rasakannya . Dari liang vaginanya yang perawan , terasa mulai di basahi oleh lendir birahinya

Lidah Kepsek semakin liar menyapu vagina Icha, dan Birahi Ichasudah birahi .? ahhh sudah pak ahhh?sudah?ahh??? erang Icha. . Kepsek itu menghentikan jilatannya dan memandang wajah cantik ABG berjilbab itu . ? sudah ..yang benar .. jangan pura pura , gua tahu eloe suka di jilatin ..? kata Kepsek itu .

Wajah Icha memerah . Lidah kepsek itu tiba tiba menjilati lagi klitorisnya . ? ehhhh?.ahhhh?. ahhh?? Icha kembali mengerang . Lidah itu terus menyapu dengan liar . tak lama kepsek itu kembali bertanya pada Icha , sambil menatap wajah cantik ABG berjilbab iitu . ? enak engak Icha sayang ..? .

Icha tak menjawab dia memejamkan matanya . ? eh kalau di tanya jawab dong , enak engak?? kepsek itu mengulangi pertanyaannya . Icha menjawab singkat ? enak ..? , sambil menutup wajah cantiknya dengan jilbab putihnya ..

ahhh?ahh.. pak? ? erang Icha ketika kembali merasakan lidah kepsek itu menyapu vaginanya . Dan kepsek itu terus menstimulasi klitoris Icha yang tampak sudah semakin membesar karena birahinya . Liang vaginanya terus mengeluarkan lendir birahinya .

Tubuh Icha terus mengeliat , merasakan kenikmatan . Kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya .

Tanpa sadar birahinya semakin memuncak , orgasme semakin mendekati , ada suatu desakan dalam tubuh Icha . Lidah kepsek itu bergerak terus , dan Tubuh Icha tiba tiba kejang , lalu mengejet beberapa kali . ? ahhh?.enak sekali?.? erang Icha , tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya .

Kepsek itu tahu jelas Icha baru saja orgasme . Dia berhenti , dan membiarkan Icha menikmati orgasmenya .

Entah mimpa apa Kepsek semalam , tapi dia merasa sangat beruntung , bisa menikmati tubuh muda belia gadis ini . Dengan segera Kepsek melepas celananya sekaligus kolor hitamnya . Penisnya langsung mencuat , tegang sekali .

Kepsek menyodorkan penis itu di mulut Icha. Tapi Icha membuang muka , merasa jijik dengan benda asing , yang baru pertama kali dilihatnya itu . ? Icha , ayo gantian dong ?? bujuk kepsek itu . Kepsek itu memegang tangan Icha , dan membawanya ke batang penisnya yang sudah tegang itu .

Icha meraba raba penis itu . Mata Kepsek merem melek , ketika batang penisnya di remas jari jari lembut Icha. ? ahhh? ? ahh..enak?.? erang Kepsek . Tangan Icha terus meremas batang penis kepsek itu . Icha pun merasakan sensasi nya .

Icha sayang , jilat in dong ..ayo ..? pinta kepsek itu . Tapi Icha terluhat ragu sekali . Tapi kepsek itu terus membujuknya . Akhirnya Icha menjulurkan lidahnya , dan menjilati batang penis itu .

Karena Icha belum pengalaman , maka kepsek itu segera menarik penisnya .Kepsek itu yang sudah bernafsu segera mengarahkan penis itu ke vagina Icha. Kepala penis itu , menempel di liang vagina Icha. Perlahan , penis yang besar itu di tekan masuk ke dalam liang vagina Icha .

awww?. Sakit pak?ampun ?setop .. ? jerit Icha, ketika penis Kepsek yang besar itu ,menerobos masuk liang vaginanya , merobek selaput daranya .

Icha mengigit bibirnya menahan rasa sakit di vaginanya , dan Kepsek itu terus menekan , hingga penisnya mentok di dalam liang vagina Icha. Perlahan Kepsek , menarik keluar penisnya dari liang vagina Icha, disertai erangan Icha.

gila , enak bener m*m*k eloe sayang ?? Kepsek melenguh , sambil terus mengerakkan penisnya dalam vagina Icha.. Kepsek itu merasa nikmat sekali , tapi Icha merasakan kesakitan sekali .

Vaginanya yang perawan , di lukai oleh penis kepsek itu yang cukup besar . Tangan Icha mengcengkram ujung sofa kulit di ruang itu . Dari mulutnya terdengar erangan kesakitan. Raut mukanya meringis ringis menahan sakit dan pedih di vaginanya.

Sementara kepsek itu terus mengerakkan batang penisnya keluar masuk laing vagina ABG itu penuh nafsu . Nafasnya ngos ngosan , keringat membahasi dahinya .

Penis itu terus menusuk nusuk liang vagina Icha . ? aduh ..sakit ..sudah pak ?sakit sekali ?? erang Icha . Tapi kepsek itu tidak peduli , hasratnya harus terpenuhi .

Tubuh Icha menjadi lemas , saat sata mendekati ejakulasinya , gerakan kepsek itu semakin liar , Penis itu di hentak hetakan dalamliang vagina Icha . Icha menjerit setiap kali batang penis itu menghentak dalam liang vaginaya. ? aduh..sakit?.? .

Untunglah tak lama kemudian penis besar itu berhenti bergerak . Penis itu diam dalam liang vagina Icha . Dan Icha bisa merasakan sperma kepsek itu membajiri liang vaginanya . Perlahan penis kepsek itu terlepas dari liang vaginanya .

Tampak sperma mengalir keluar dari liang vagina Icha yang memar memerah . Ada bercak darah di vaginanya . Kepsek itu memberinya tisuue , ? ini di lap , tuh m*m*k ? kata kepsek itu .

Sambil melap vaginanya , air mata Icha mengalir . ? udeh gak usah nangis segala ..:? kata kepsek itu .

Icha pun segera memakai kembali pakaiannya , merapikan jilbabnya yang acak acakkan . Lalu dia berjalan ke arah pintu . Icha , ini buat eloe jajan..? kata kepsek itu , sambil memberikan beberapa lembar , uang lima puluh ribuan .

eloe jangan takut , eloe akan tetap sekolah disini ..? kata Kepsek itu l . Icha menatap kepsek itu . ? oh iyah , dan jangan lupa besok eloe kemari lagi yah?? kata kepsek itu .

Icha hanya diam , lalu kepsek itu membuka pintu ruang itu , dan Icha berjalan dengan kepala tertunduk kembali ke kelasnya .

Part 2

Hari itu di sebuah sekolah nampak semua murid sedang sibuk belajar di kelas mereka masing-masing. Sedangkan disudut bangunan sekolah itu tepatnya tempat parker khusus untuk kepala sekolah yang dikelilingi pagar tembok dengan pintu masuk dari kayu yang telah tertutup rapat, nampak pula kesibukan lainnya didalamnya. Nampak didalam sebuah mobil yang berada disitu berada dalam keadaan mensin menyala tanda AC-nya sedang dinyalakan. Rupanya sang empunya kendaraan tersebut yaitu pak Kepala Sekolah tengah sibuk di dalam mobilnya. Hujan deras seakan-akan berpihak dan membantu menyembunyikan kebejatannya di dalam mobilnya. Seorang murid cantik berjilbab yang tak lain tak bukan si Icha, kembali menjadi bulan-bulanan kebuasan si Kepala Sekolah. Dengan wajah pasrah, siswi cantik berjilbab yang dijemput tadi saat berangkay sekolah, hanya bisa diam menerima serbuan mulut dan tangan bejat sang Kepsek yang dengan buasnya menggerayangi setiap sudut tubuhnya. Icha yang masih berseragam putih lengan panjang dengan rok abu-abu panjang semata kaki lengkap dengan jilbab putihnya itu terlihat memejamkan kedua matanya sembari berbaring di jok mobil.

Murid cantik berjilbab itu menurut saja ketika Pak Kepsek menariknya ke bangku belakang. Dengan kasar pria itu menekan bahu muridnya yang cantik berjilbab itu agar berbaring terlentang. Icha, sang siswi cantik berjilbab tersebut kini terlentang tanpa daya, sementara tangan Pak Kepsek kembali merayap ke arah dadanya yang masih tertutup oleh hem putih OSIS lengan panjangnya. Icha hanya mendengus pelan tanda pasrah sambil memalingkan wajahnya, seolah ia tidak tahan menatap wajah mesum Pak Kepsek yang tersenyum-senyum senang. Kedua tangannya mengepal rapat ketika merasakan remasan-remasan tangan Pak Kepsek. Pria bejat itu hanya tersenyum memaklumi, walau sudah pernah menyetubuhinya secara paksa namun Icha masih belum dapat sepenuhnya mengenal arti dari kenikmatan hubungan seks waktu lalu. Jemari lelaki itu mulai melepaskan kancing baju seragam putih lengan panjang OSIS Icha, satu demi satu.
Kemudian lelaki itu mulai mencumbui leher Icha yang tertutup olrh jilbab putihnya. Semerbak wangi dari tubuh siswi berjilbab itu membuat birahi si Kepsek perlahan bertambah naik. Dengusan nafas Icha semakin kuat kala ketika cumbuan lelaki itu semakin turun ke arah dadanya.

“Hemmhh….. ”, bunyi dengusan nafas siswi cantik berjilbab itu saat tangan pria itu menyusup kebalik branya. Tubuh Icha agak tersentak merasakan telapak tangan Pak Kepsek yang kasar bergesekan dengan permukaan payudaranya yang lembut dan halus. Refleks sebelah tangannya menutupi wajahnya seolah untuk menutupi raut mukanya yang merasa malu diperlakukan seperti itu.

“He he he, ayo dong saying. kamu nggak sok malu gitu dong. Bapak cuma ingin memberikan kenikmatan untuk kamu, apa itu salah ??”, kekeh pria bejat itu sembari tangannya semakin aktif meremas-remas payudara Icha. Gadis berjilbab yang hanya bisa pasrah pada nasibnya itu hanya sekedar berusaha agar dapat menerima rangsangan dari perlakuan Pak Kepsek itu.

Pikiran siswi berjilbab itu sedang berkecamuk, berbagai perasaan saling bertabrakan, ia menghela nafas lega ketika Pak Kepala Sekolah menarik kedua tangannya dan untuk sesaat ia berusaha menguasai diri.

“Heehhhhh……,” tarikan nafas Icha panjang ketika tangan Pak Dion menyusup masuk ke dalam rok abu-abu semata kakinya dan membelai pahanya sebelah dalam. Dirasakannya tangan laki-laki itu asyik mengelus – ngelus pahanya, permukaan telapak tangan itu begitu kasar tapi enak sekali rasanya ketika mengelus-ngelus permukaan pahanya, nafas siswi SMU berjilbab itu tertahan di dadanya ketika merasakan telapak tangan Pak Kepsek tiba-tiba meremas selangkangannya.

Tangan Pak Kepsek yang satunya lagi menyibakkan dan mengangkat rok abu-abu semata kakinya ke atas hingga sebatas pinggang. Lalu jari tangan Pak Kepsek menekan-nekan permukaan celana dalamnya di bagian bibir vaginanya , terkadang jari Pak Kepsek bergerak menggesek-gesek belahan vagina Icha yang semakin basah. Lalu dengan tanda mulai basahnya celana dalam siswi SMU berjilbab tersebut, tangan Pak Kepsek mulai menarik celana dalamnya turun. Dan sesampainyai di pergelangan kaki, dengan sekali sentak lelaki bejat itu menarik lepas celana dalam milik Icha.

“Ngghh….”, dengus Icha ketika sang Kepsek yang besar dan gemuk itu memeluk dan menghimpit tubuhnya.

Tangan kasar pria bejat itu memegang dagu sang siswi SMU berjilbab dan menolehkannya kearah wajahnya, lalu, ”Mmmmmmhhhh…..”, bunyi nafas tertahan Icha ketika mulut Pak Kepsek mencaplok bibirnya. Tubuh murid cantik berjilbab itu menggeliat kala kedua tangan pria itu membelit tubuhnya.

“Haaa.. Uhhh..hhhmmmhh…”. Sambil terus mengulum bibir Icha, tangan Pak Kepsek merayapi serta bermain-main menggerayangi pangkal pahanya.

“Ehhhh!!!!, Shaaahhhhh,,, Hhhhhaaaaa……”, desah gadis itu ketika tiba-tiba tangan Pak Kepsek mencekal kedua pergelangan kakinya dan mengangkat dan menekuknya tinggi-tinggi ke atas hampir sejajar dengan mulutnya, lalu pria itu merenggangkan kaki murid SMU berjilbab itu.

“Ouuhhh…!! ”, tubuh Icha kelojotan ketika mulut sang Pak Kepsek mencium bibir vaginanya dengan bebas.
Tubuh Icha tersentak-sentak dan murid cantik berjilbab itu berkali-kali menggeliat-geliat. Mulutnya terbuka membentuk huruf “O” disertai erangan dan rengekannya yang merdu.

“Hsssshhh… Hhhssshhhhh…..”, desis siswi cantik berjilbab itu keras ketika merasakan mulut lelaki bejat tersebut mencaploki bibir vaginanya.

“Ahhhhhh….! Ahhhhhhh……! ”, desah suara Icha tertelan oleh suara hujan yang semakin lebat sementara lidah bapak Kepsek terjulur keluar kemudian menjilat belahan vagina siswi SMU berjilbab itu. Satu jilatan lembut dan pelan itu membuatnya menggeliat resah.

“Owww…,, Ahhhhhh…., Pakkk…..”, desah Icha sambil menggelepar ketika merasakan lidah Pak Kepsek memijit-mijit tonjolan klitorisnya. Mendengar desahan-desahan muridnya yang cantik dan berjilbab itu, pria bejat tersebut semakin bersemangat memainkan lidahnya, mengorek, menjilat, memijit dan mencokel daging klitoris Icha.

Dan Icha kembali memejamkan matanya yang tadi sempat terbuka ketika Pak Kepsek mulai membuka sabuknya, menarik turun resleting celana itu dan mengeluarkan sebuah benda panjang besar yang sudah ereksi. Namun sepertinya murid cantik berjilbab itu tidak kuasa menatap wajah mesum lelaki yang akan menggagahi dirinya. Berkali-kali tubuhnya yang kini terbuka tidak tertutupi oleh seragam sekolahnya itu mengejang menahan desakan kepala kemaluan Pak Kepsek yang siap untuk menyantap liang surgawinya.

Bulu kuduk di sekujur tubuh Icha teak merinding kala merasakan gesekan-gesekan yang diiringi oleh desakan-desakan kuat pada belahan bibir vaginanya yang mulai terasa dipaksa merekah sedikit demi sedikit oleh kepala kemaluan Pak Kepsek.

“Arrrhhhhhh….., Hennnggghhhh… Ahhhhhhhh…..”, desah siswi SMU berjilbab itu kencang. Sentakan-sentakan kuat itu datang bertubi-tubi dan Icha mulai merasakan pedih, panas dan sakit mendera lubang vaginanya yang disesaki oleh batang kemaluan Pak Kepsek yang kini tertancap dengan kuat dan menekan semakin dalam.

“Ssshh….Fittt…memekkmmuhh…oohh..!”, desah lelaki bejat itu menikmati penetrasi didalam liang surgawi murid cantik berjilbab tersebut. Pria bejat tersebut betul-betul menikmati saat-saat penisnya memasuki lubang vagina itu senti demi senti.

“Ouhhhhh….ennnnggghhhh…..sshhh…!”, desis dan desah yang keluar dari mulut Icha. Ada rasa nikmat yang mulai menyelingi rasa sakit, jantung siswi SMU berjilbab itu terasa berdetak dengan lebih cepat ketika merasakan kedutan-kedutan aneh yang berasal dari dalam kemaluannya. Pandangan matanya terasa mulai lebih jernih, nafasnya memburu dengan lebih kencang, begitu lepas, dan liar berdengusan.

Entah apa yang berkedut-kedut dengan nikmat diselangkangannya, kontraksi dinding kemaluannyakah ?? Ataukah kedutan batang kemaluan Pak Kepsek??

Sulit sekali untuk dibedakan. Yang jelas Icha merasakan nafasnya berkali-kali terhembus keras ketika Pak Kepsek menjejalkan batang kemaluannya kuat-kuat. Tubuhnya terguncang dengan hebat ketika pria bejat itu semakin cepat memacu batang kemaluannya keluar masuk mengocok-ngocok jepitan lubang vagina muridnya yang cantik berjilbab itu.

“Arrngghh….”, desah Icha lanjut kala merasakan seluruh tenaganya serasa meleleh terbawa cucuran air keringat yang mendadak mengucur deras. Seragam putih abu-abu sekolahnya yang serba tersingkap itu mulai awut-awutan serta lembab oleh keringat. Begitu pula dengan jilbab putih yang dikenakannya.

Pria itu terkekeh melihat reaksi murid cantik berjilbab itu sambil menggoyangkan batang kemaluannya. Lalu ia menggerakkan batang kemaluannya mirip seperti sedang mendongkrak ke atas ke bawah, kemudian bergerak memutar seperti sedang mengaduk-aduk sesuatu.

“Heeennnnnhhh….eennnnhhhhhh….uunnnnhhhhh….”, rengekan Icha. Matanya meram melek meresapi gerakan liar batang kemaluan Pak Kepsek di dalam jepitan lubang vagina miliknya.

Sesaat kemudian, tanpa menarik keluar penis miliknya dari dalam lubag vagina Icha, pria itu duduk dengan santai sembari tangannya menarik tubuh siswi SMU berjilbab itu agar menduduki batang kemaluannya. Lelaki bejat itu siap untuk kembali menyodok-nyodok lubang vagina muridnya yang berjilbab.

“Ahhkkkkkkkssshhhh……”, ringis Icha sambil kedua kaki melejang-lejang ketika merasakan batang kemaluan Pak Kepsek kembali menyodoki lubang surga miliknya.

Sambil menyodokkan batang kemaluannya, tangan pria itu kembali meremas-remas buah dada Icha yang tersembul keluar dari balik bra-nya. Siswi SMU berjilbab itu melenguh panjang kala merasakan sodokan-sodokan kuat si kepala sekolah bejat. Pria yang sedang keenakan menyodok-nyodok lubang vagina muridnya yang cantik berjilbab itu nampak asyik meremas-remas payudaranya hingga mengenyal semakin padat.

“Ssshhh….emmmhh….memekmmu….legith banggeth sayyanggh… Seringhh…seringghh kamu ngentot dengan bapak biarrr bappakkhh.. puasshh ohh…”, racau pria bejat itu sembarangan.

Tubuh Icha semakin sering tersentak-sentak keatas, malang sekali nasib murid cantik berjilbab yang sedang disodok oleh kepala sekolahnya ini. Dan siswi berjilbab ini hanya dapat mendesah-desah dan mendesis, terkadang mengerang lemah..

“Ohhhh……aaahhh…amphunn Pakkk aduhhhh…akkssshh”, desah Icha menggigit bibirnya ketika si Kepsek semakin kasar dan brutal menyodok-nyodok lubang vaginanya.

“Ampunnnhh enakkkh bangethh sayyangghh?? ”, sahut pria bejat itu semakin hebat menghantamkan batang kemaluannya

“Awwww.. “, pekik siswi SMU berjilbab itu kecil. Lubang vaginanya berdenyut kuat dan nafasnya terasa putus, angannya melayang ke sebuah dunia khayalan yang dipenuhi oleh bisikan-bisikan kenikmatan.

Kini Pak Kepsek menghempaskan tubuh muridnya yang berjilbab itu agar menungging di atas kursi jok. Wajah cantik siswi SMU berjilbab itu bersujud di jok mobil menghadap pintu mobil. Sedangkan sebelah kaki Icha tertekuk di kursi jok sedangkan yang satunya lagi terjuntai menjejak ke lantai mobil. Pria bejat itu lalu menyingkapkan lagi rok abu-abu panjang semata kaki Icha yang tadi sempat jatuh menjuntai. Kini bokong indah dan bulat padat itu tidak tertutup lagi oleh rok-abu-abu panjang itu. Terlihat begitu menantang birahi pria yang berada dibelakangnya.

Lalu pria bejat itu mulai membimbing kemaluannya dengan tangan kanannya menyusuri celah pantat siswi SMU berjilbab itu hingga menempel di bibir liang surgawinya. Tangannya yang satu lagi mencengkeram sambil mengangkat sebelah bongkahan pantat yang bulat dan mulus itu.

Dengusan nafas Icha terdengar memburu sedangkan kedua tangannya nampak mencengkeram erat pingiran jok mobil. Seakan siswi berjilbab itu menanti sebuah sensasi yang akan datang dari arah belakang. Dan, “Unnnhhhh…..! ”, hanya suara itu yang keluar dari mulut Icha ketika penis Pak Kepsek menerkam liang senggamanya dari celah pantatnya.

“Heeennnggg…emmh…eennngggghhhhhhh…”, Icha merengek-rengek ketika merasakan batang kemaluan Pak Kepsek kembali menyentak-nyentak memasuki jepitan lubang vaginanya dari tempatnya menungging. Kepala siswi yang masih mengenakan jilbab putihnya itu nampak mengangguk-angguk lemah setiap kali selangkangan pria bejat menghantam bokonganya yang bulat telanjang. Tubuhnya terhentak-hentak kedepan kala menerima sodokan Pak Kepsek. Sedangkan buah dada nan ranum itu nampak mengantung bergelayutan akibat hentakan itu.

Untuk menambah nikmatnya persetubuhan doggy style ini, sang Kepala Sekolah lalu membungkukkan tubuhnya dan memeluk Icha dari belakang seraya meremas-remas kedua buah dada siswi berjilbab itu.

Lelaki itupun menghempas-hempaskan batang kemaluannya dengan semakin kuat dan kencang. “Plak!!….plak!! “, bunyi benturan selangkangannya dengan bokong bulat siswi cantik berjilbab itu.

Kepala sekolah bejat itu tampaknya tidak peduli pada muridnya yang cantik berjilbab sedang mengerang lemah, terkadang meringis pelan ketika sang kepala sekolah meremas buah dada dan menggenjot lubang vaginanya dengan kasar.

“Awwwhhhh….ssshhhhhh…”, desah Icha lanjut. Sesekali tubuhnya tersentak ketika Pak Kepsek menyodokkan batang kemaluannya kuat-kuat dari belakang. Tiba-tiba wajah Icha yang cantik berjilbab itu ditolehkan oleh pria itu agar bertatap muka. Dengan mata terpejam dan nafas mendengus siswi SMU berjilbab itu menerima jilatan pria itu di pipinya itu sambil menjebloskan batang kemaluannya dalam-dalam. Hati lelaki itu amat girang kala melihat sebuah pemandangan yang mengasyikkan menyaksikan wajah muridnya yang cantik dan berjilbab putih itu mengernyit antara sakit dan nikmat ketika lubang vaginanya disodok dengan kuat dan kasar. Ia pun lalu melumat bibir Icha yang merekah, mendesah-desah dengan penuh nafsu.

“Emmmmhh…cckkk..ckkkk…mmmmmhh…mmmmm…ckk”, berkali-kali lidah Pak Kepsek terjulur keluar masuk ke dalam mulut muridnya yang cantik dan berjilbab ini, mengajaknya untuk berperang lidah, tapi tidak digubris oleh siswi berjilbab itu.

“Hemmm, Keluarin lidah kamu..cepat..!! “, dengan tegas pria bejat itu memerintahkan Icha untuk menjulurkan lidahnya keluar. Dengan ragu siswi SMU berjilbab ini menjulurkan lidahnya keluar.

“Ihhhh…”, Icha buru-buru menarik lidahnya masuk ketika lidah Pak Kepsek terjulur membelai lidahnya.

“Aduuhh!! Gimana sihh, julurin nggak !!!”, hardik Pak Kepsek seraya meremas kuat-kuat payudara Icha tanpa ampun.

“Ammpunn, Pakkk, Ampunn..eeghh..“, pekik Icha kesakitan ketika tangan kasar lelaki itu meremas susunya kuat-kuat dari belakang. Dan dengan terpaksa ia menuruti keinginan Pak Kepsek, lidahnya terjulur keluar. Setelah lidah muridnya yang cantik berjilbab terjulur keluar barulah pak Dion melepaskan remasannya.

Dengan nafsu memuncak Pak Kepsek mencapluk dan mengenyot-ngenyot lidah Icha. Bagi pria itu rasanya manis seperti madu, sambil melakukan perang lidah Pak Kepsek kembali menarik dan menyodokkan batang kemaluannya dari belakang. Kali ini lebih lembut dan mesra. Kepala sekolah bejat itu tampak sangat meresapi jepitan lubang vagina Icha yang sedang menungging itu, mencekik batang kemaluannya yang besar dan panjang miliknya.

“Aduhhh, Pak Aduhhhh…hhsshhh…ssshhhhhh…ahhhh”, desah Icha makin kencang kala genjotan Pak Kepsek dari belakang pantatnya yang sedang menungging itu semakin cepat. Mmembuat tubuhnya berkali-kali menggelepar disertai desisan-desisan kecil berulang kali terdengar dari mulut siswi SMU berjilbab tersebut.

“Emmhhh…cplak…cplok…cupp..cupp”, desah Icha sembari tangan kanannya dikalungkan pada leher Pak Kepsek. Kini siswi SMU berjilbab itu mulai membalas lumatan-lumatan bibir pria tersebut.

“Nah, gitu dong, beri respon yang positif, Bapak-kan cuma ingin mengajari kamu seperti gimana rasanya berhubungan intim, masak murid berjilbab nggak boleh tau enaknya ngentot..”, ucap pria bejat itu sambil melumat-lumat bibir Icha.

Icha tidak menjawab, ia sibuk membalas lumatan Pak Kepsek yang sedang menggenjotnya dari belakang. Tubuhnya kembali terguncang dengan hebat ketika lelaki itu menusuk-nusukkan batang kemaluannya sedalam dan sekuat mungkin. Bibir vagina siswi SMU berjilbab yang sedang menungging itu terdesak dan terlipat keluar mengikuti gerakan batang kemaluan Pak Kepsek yang berkali-kali menghantam lubang senggamanya, semakin lama semakin kuat dan kencang Pak Kepsek menghentakkan batang kemaluannya.

“Ooougghh….ssshhh Pakkkk…ngghhh….”, pekik Icha lepas. Kepalanya yang terbalut jilbab putih itu mendongak keatas dengan tubuh bergetar melengkung ke belakang, menahan kenikmatan yang berdenyut-denyut di lubang surgawinya.

Bersamaan dengan tercapainya puncak orgasme siswi SMU berjilbab itu, pria bejat yang sedari tadi menyetubuhinya dari belakang pun mencapai klimaksnya. Dan dengan satu sodokan dalam-dalam hingga menyentuh dasar kewanitaan Icha, “Oouuhh….Fitth…sssyanngghh…aaakkhh!!! Crrottt…Crotttt…….”, erang nikmat mencapai puncak Pak Kepsek serta bunyi sperma yang mengucur didalam liang senggama sang siswi SMU berjilbab ini. Dibiarkannya sejenak batang kemaluannya terbenam didalamnya seraya menikmati kedutan-kedutan nikmat akibat kontraksi otot vagina dan ujung penisnya. Sperma pria tersebut nampak berlebih hingga menetes keluar dari liang senggama Icha hingga jatuh membasahi jok mobil.

Hujan yang lebat itu kini berubah menjadi hujan gerimis kecil dan Pak Kepsek pun duduk santai sambil memangku tubuh Icha yang membelakanginya. Berkali-kali tangan Pak Kepsek menggerayangi setiap sudut tubuh muridnya yang cantik berjilbab itu. Hidungnya sengaja dibenamkan pada leher yang tertutup jilbab putih itu seraya mengendus-ngendus harum tubuh Icha. Pria itu tersenyum lebar sambil menatap wajah cantik Icha yang masih mengenakan jilbab putihnya sedang melamun dan terkulai lemas dibahunya. Kedua kaki siswi berjilbab yang sedang dipangku itu tertekuk mengangkang dengan sebatang penis yang masih tertancap di lubang vaginanya. Sesaat kemudian Pak Kepsek mengecup pipi Icha seraya berkata, “Sudah, sekarang kamu masuk kembali ke kelas. Belajar yang baik dan benar, kalau ditanya bilang saja kamu habis menghadap saya… He he he”.