IDA ZULAIKHA

Namanya Ida Zulaikha, wanita muda berwajah teramat cantik dan alim berjilbab. Baju panjang muslimah, senantiasa menutupi sekujur tubuhnya yg putih mulus. Ya … walau hanya wajah dan telapak tangannya saja yang terlihat, saya tahu kulit tubuhnya tentulah seputih dan semulus wajahnya. wanita muda idaman setiap pria, itulah sosok Ida Zulaikha. alim berjilbab lebar anggun, cantik, sopan, alim, sungguh menawan. Bibirnya yang bibir sexy, berdagu lancip dan….cantik deh pokoknya. Dia alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fakultas Hukum. Beruntunglah Budiman, wakilku di perusahaan milikku, yang berhasil memperistrinya. Seringkali aku menatapi wajahnya yang lembut dan anggun setiap kali aku ke rumahnya kalau ada urusan dengan Budiman. Wah …. betapa enaknya ini tubuh wanita muda alim berjilbab. Sudah cantik, anggun, lembut, sopan, rapi, alim … pokoknya segudang pujian dan sanjungan pantas kuberikan padanya. Namun karena sifatnya yang alim dan sangat menghragaiku sebagai atasan suaminya, membuatku tak berani menggodanya, ya … mengingat dia sangat alim, juga posisinya sebagai istri dari pegawaiku sendiri. Sering setiap aku bertandang ke rumahnya, Ida Zulaikha ikut duduk menemani suaminya ngobrol denganku. Nah … seringpula mata nakalku mencoba menatapi dan mencuri-curi pandang ke istri Budiman ini. Betapa cantik dan anggunnya wanita muda ini, wah wah wah …. bagaimana ya nikmatnya kalo aku bisa menelanjangi tubuhnya yang selalu tertutup jilbab dan baju panjang ini … bahkan lebih jauh menidurinya?. Bulan Juli 2004 Pameran berskala internasional diselenggarakan di Jakarta, sudah menjadi kebiasaan perusahaanku ikut berpartisipasi.

jilbab-toge-0137

Perencanaan harus matang, agar tak membuat malu. Dari persiapan mengurus stand, ijin, dan berbagai sarana harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Ya … akhirnya Budiman selaku wakilku, kutugaskan untuk mengurus semuanya itu. Senin pagi berangkatlah Budiman bersama 5 orang pegawai kami ke Jakarta.

Tepat jam 08.00 WIB, kereta api senja utama meluncur meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta … dan nampak Ida Zulaikha mengantarkan kepergian suaminya. Rona muka kemerahan, ah … barangkali ia merasa sedih dan berat ditinggal suaminya. “Mbak Ida … udah, nggak usah sedih … sebentar juga pulang” ucapku menghibur. “Ah…,iya Pak.” ia tersenyum. Nggak papa kok Pak, mari Pak kita pulang”.

Mobil sedan susuki Baleno warna biru metalik yang kukemudikan, perlahan bergerak meninggalkan stasium tugu menuju komplek perumahan elit di Yogya utara, ya … aku hendak mengantarkan mbak Ida yang cantik ini pulang ke rumahnya. Deg-degan juga hatiku, baru sekarang aku duduk bersandingan berduaan di dalam mobil bersama wanita muda yang selama ini aku kagumi. Jilbab putih bersih terjuntai hingga hampir ke perut, dipadu baju muslimah panjang warna ungu kembang-kembang, sangat indah dan serasi dengan kecantikannya. “Mbak Ida mau langsung pulang?” tanyaku. “Ya Pak…”, jawabnya. Rasanya deg2an semakin kuat. Aku bingung bagaimana mengakrabkan diriku dengan mbak Ida ku ini. “Wah … mbak Ida asli Indonesia nggak sih?” tanyaku sambil mencari-cari akal bagaimana mencairkan suasana. ”Iya, Memangnya kenapa Pak” “Nggak, kok kayak orang Indo Arab?” “Kok…?” “Iya … hidung mancung, alis item, kulit kuning, dan…cantik lagi.” jawabku mencoba menggoda.. “Hehehehhe..”, ia tertawa renyah sekali. Hatiku bersorak gembira, rupanya suasana makin akrab dan ia sudah tidak kaku lagi. “Masak sih Pak?” Iya, beruntung ya dik Budiman dapet istri kayak mbak Ida. Cantik, alim berjilbab, alim, sopan, wah wah … kalo aku punya istri kayak mbak, nggak bakal aku tinggalin deh satu detikpun.” “Hahahahhaha” ia kembali tertawa. Sesekali ia sampirkan jilbab putihnya ke pundak. Wow….cantik sekali segala gerak dan gayanya. “Iya lho mbak…bagi saya, cewek cantik alim berjilbab sangat menarik dan … sangat sempurna., apalagi cantik seperti mbak.” Emang pacar bapak siapa sih, alim berjilbab juga ya?” “Hehe…belum punya” ”cariin dong mbak Ida yang kayak mbak Ida.” Kulirik Ida, ia tersenyum sungguh cantik sekali. “Kenapa sih Bapak suka wanita muda alim berjilbab?” “Sebab wanita muda alim berjilbab, sangat menjaga jarak dengan lawan jenis, sangat menjaga, kealiman dan kesuciannya. Dan karenanya, kalau bercinta … tentu sangat hot, hehehhe….!” “Ah bapak bisa aja”. “Iya lho mbak, walau saya orangnya metal gini, saya sangat menyukai wanita muda alim berjilbab.” Penampilanku saat ini memang metal, kaos ketat, celana jeans, dan memakai ikat kepala warna biru.

toge

Akhirnya sampailah di rumah nomor 158, sebuah rumah mewah warna krem bersih dan genting warna merah. “Masuk dulu Pak” tawar Ida. “Ya…makasih.” Jantungku semakin deg-degan. Dalam hati aku sudah tak tahan lagi menelanjangi dan menggauli wanita muda cantik alim berjilbab ini. Sambil melangkah masuk ke dalam rumah, kubetulkan ikat kepala yang melilit di kepalaku sambil mata nakalku tak lepas menatap pantat Ida yang kelihatan montok. Celana dalamnya kadang tercetak jelas di balik bongkahan pantatnya. Ouww….ingin sekali aku mencolek dan meremas pantat bahenol tersebut wanita muda alim berjilbab ini. Sampai di dalam rumah, ia persilahkan aku duduk, ”Pak….duduk dulu ya, mau bikin minum”. Tanganku cepat menarik tangannya. “Nggak usah Mbak” jawabku sambil menggenggam tangannya. Ia memandangku dengan tenang. Wow…..betapa lembut tatapan mata itu. Ia nampak tak menolak saat tangannya berada dalam genggamanku. “Mbak Ida … kamu cantik sekali.” kataku merayunya. Aku sungguh tak tahan dengan kecantikan mbak. Akhirnya kebaranikan diri, kupeluk tubuhnya yang masih mengenakan jilbab putih dan baju panjangnya itu. “Mbak Ida … kamu cantik sekali …” kuciumi wajahnya, pipinya….dan kupeluk kuat2 tubuhnya yang sangat menggiurkan itu. jilbab putih segara kuangkat di bagian dadanya. Wajahku menciumi buah dadanya yang masih tertutup baju jubah panjang. Ida menggeliat-geliat kegelian. “Pak….jangan…”, ia merintih. Aku tak peduli lagi. Semuanya sudah terlanjur basah. Kugenggam kain jilbab di belakangnya punggungnya … sambil tanganku yang satunya turun ke bawah … meraih pantatnya … meremasnya … dan mengusap-usapnya…dan meremas-remasnya. Mulutku terus menciumi buah dadanya, pipinya, bibirnya, lehernya, sambil tanganku terus bergerilya membelai, mengusap, meraba. dan merenmas-remas pantatnya. wanita muda alim berjilbab ini menggelinjang, tubuhnya menggeliat-geliat, rupanya ia telah mulai bernafsu. Tanganku kini mengelus-elus selangkangannya yang tertutup jubah panjang itu. Ida Zulaikha … wanita muda alim berjilbab ini akhirnya pasrah dan tak menolak perlakuanku. Kulepaskan semua pakaianku. Aku sudah tak tahan lagi ingin mengentot wanita muda alim berjilbab ini. Aku ingin mengentotnya…sambil kubiarkan ia tetap memakai jilbab dan baju muslimahnya. Wow….Ida…..aku ingin merasakan vagina wanita muda alim berjilbab … “Ida … aku suka kecantikanmu.” “Aku telah lama mendambakan yang seperti ini.” Kuangkat tubuhnya ke atas meja, hingga posisinya kini Ida Zulaikha duduk di atas meja. Dengan begitu kemaluannya tepat sejajar dengan kontolku yang telah mengacung tegak ini.

jilbab-toge-0259

Dengan bersandar dan duduk di atas meja,aku semakin mudah memandangi kecantikan wajahnya. Mata wanita muda cantik alim berjilbab ini meredup, menahan gejolak birahi. Namun sesekali bibirnya tersenyum, menandakan iapun menikmati permainan sex dari lelaki brutal sepertiku. jilbab putih semakin membuatku bernafsu, sungguh suatu pemandangan yang erotis sekali. Seorang wanita muda cantik, alim berjilbab, kini duduk mengangkang di atas meja, berhadapan dengan tubuhku yang telah bugil dan polos..

Akhirnya … kusibakkan ke atas jubah panjang muslimahnya … kutarik ke bawah celana dalamnya yang berwarna hitam, kupeluk erat tubuhnya, … dan segera kuarahkan kontolku ke dalam kemaluannya. Dengan gerakan yang lembut daan pelan, kuarahkan kontol ku yang telah tegang ini ke dalam vagina Ida Zulaikha. Sementara tanganku terus memompa buah dadanya yang masih terlindungi jilbab dan baju panjangnya … bibirku tiada henti mengecup bibirnya … menyedotnya dengan mesra. Dan saat itu kini datang, vagina Ida Zulaikha telah basah oleh lendir birahi yang melanda. Kini kudorong kontolku masuk ke vaginanya … bles … kepala kontolku menyeruak ke dalam liang kewanita mudaan wanita muda alim berjilbab ini. Kutarik dan kudorong lagi kontolku secara berulang-ulang, dengan pelan-pelan, hingga akhirnya aku mempercepat gerakanku.

Ida Zulaikha., istri temanku yang alim berjilbab itu kini tak mampu lagi berkata-kata. Hanya desahan dan geliatan tubuh saja yang dapat dilakukan, karena gejokak nafsu birahi telah membakar jiwanya. Bagiku, gerakan tubuhnya yang menggeliat-geliat dan expresi wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab putih … membuatku semakin merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Terus terang aku telah biasa bermain perempuan.Tak terhitung lagi perempuan yang pernah kutiduri. Dari gadis2 toko, teman2 kuliah, sampai gadis2 nakal di komplek2 pelacuran. Namun mengentotin seorang wanita muda yang cantik dan alim berjilbab, baru sekarang ini aku lakukan. Betul2 nikmat … erotis … sensasional. Apalagi wanita muda alim berjilbab secantik Ida Zulaikha, benar2 membuatku ingin memuncratkan sperma sebanyak mungkin kedalam vaginanya.

Sekitar 15 menit aku menyetubuhi Ida Zulaikha dalam posisi di atas meja seperti ini. Keringat birahi telah membasahi tubuhku dan juga tubuh Ida Zulaikha. Jilbab putih yang dikenakannya nampak kusut dan awut-awutan, namun aku tetap konsisten membiarkan jilbab putihnya itu tetap membalut wajah dan kepala Ida Zulaikha. Sementara baju panjang warna ungu yang dikenakan Ida Zulaikha juga nampak kian amburadul. Gerakan maju mundur kontolku yang panjang menimbulkan bunyi yang sensasional.

Ida Zulaikha nampak sangat bernafsu menikmatu gerakan-gerakan ini. Ya….nikmat sekali rasanya … Bunyi yang ditimbulkan oleh gerakan kontolku yang mengobrak-abrik seisi liang kewanita mudaannya yang dipadu dengan denyut-denyut nikmat otot di vaginanya menimbulkan gejolak dan nafsu yang membakar jiwa. Dan aku memang sengaja ingin menunjukkan segala daya dan kekuatan sexku. Aku ingin Ida Zulaikha mengakui kejantananku, kebrutalanku … ya … aku tak mau kalah dibanding suaminya dalam memuaskan wanita muda. Aku ingin membuat kesan yang sangat mendalam pada diri wanita muda alim berjilbab ini. Setidaknya aku ingin membuatnya ketagihan bercinta denganku.

Bukankah akan menyenangkan jika ternyata wanita muda alim berjilbab ini ketagihan dan merengek-rengek minta bermain seks denganku? Di tengah-tengah kami berdua menikmati percintaan yang heboh ini, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Thing..thong..!!! “Assalamu’alaikum……”. Suara seorang wanita muda mengucapkan salam mengagetkan sekaligus menghentikan gerakan erotis kami berdua. Ida Zulaikha nampak agak gugup, karena ada seorang tamu datang. Ya…wajar, ia nampak kuatir kalau skandal ini terungkap dan diketahui tetangga. “SSSSttt…..tenang nggak usah gugup, siapa sih itu?”, tanyaku mencoba menenangkan. “Itu Bu Siti Maesaroh tetangga sebelah”, jawab Ida Zulaikha. “Sekarang betulkan dulu jilbab dan pakaianmu, kamu boleh keluar dan temui tamu kamu itu, bersikaplah seolah tak ada apa2. Tenangkan hatimu sayang….”, pintaku.

jilbab-toge-0260

Ida Zulaikha membetulkan jilbab dan baju muslimahnya lalu melangkah keluar membuka pintu. Aku mengintip dari dalam, wow rupanya wanita muda yang bernama Siti Maesaroh ini seorang wanita muda cantik yang juga mengenakan jilbab. Baju panjang merah hati dipadu jilbab warna merah pula. “Eh … Bu Maesaroh, silahkan masuk Bu’. ”’Makasih Bu Ida Zulaikha, saya Cuma mau ngasih undangan Pengajian nanti malam kok. Dan…kebetulan nanti malam Bu Ida Zulaikha yang mendapat jatah mengisi ceramah pengajian. Aku lihat wanita muda cantik yang juga alim berjilbab itu menyodorkan secarik kertas kepada Ida Zulaikha, yang rupanya undangan untuk menghadiri pengajian yang biasa diselenggarakan rutin di komplek perumahan tempat Ida Zulaikha tinggal. Namun itu tak terlalu menarik bagiku, tubuhku yang masih telanjang bulat dengan kontol mengacung tegak lebih tertarik memelototi Maesaroh yang tak kalah cantik dengan Ida Zulaikha. Wow … tangan kananku mengocok kontol sambil memandangi wanita muda cantik alim berjilbab yang bernama Siti Maesaroh itu.

Aku menghayalkan bagaimana indahnya sendainya Maesaroh turut serta dalam percintaanku dengan Ida Zulaikha ini. Ya … dua wanita muda cantik alim berjilbab kuembat sekaligus … tentu nikmat sekali. Namun akhirnya Bu Maesaroh itupun pulang, kini Ida Zulaikha kembali menutup pintu dan melangkah masuk ke dalam. Langsung aku memeluk tubuhnya. Kembali menciuminya, menggelutinya dan membawa tubuhnya ke dalam kamar. Namun tiba2 Ida Zulaikha memandangku. “Pak…..aku ingin di atas, bapak tiduran saja di karpet lantai.” bisik Ida Zulaikha. Belum juga sadar menangkap maksudnya ,ia telah mendorongku hingga terdoromg ke belakang hingga tertidur di lantai.

Wah … wah … wah … rupanya Ida Zulaikha benar2 buas Juga. Aku terlentang di lantai, segera Ida Zulaikha mengangkangiku dan kini ia berdiri mengangkang persis di atas tubuhku yang terlentang di lantai. Ida Zulaikha meraih kain bawah baju panjangnya, disingkapkan dan ditariknya ke atas sampai ke perutnya dan ia kini berjongkok mengarahkan kontol tegakku agar tepat menuju lobang vaginanya. Wow … benar2 nikmatnya seorang wanita muda cantik yang masih mengenakan jilbab dan baju panjang kini rela mempertontonkan keindahan pahanya, tubuhnya, vaginanya, jembutnya, bahkan ikhlas membiarkan kontol lelaki lain selain suaminya menerobos dan mendobrak dan mengobrak-abrik liang kemaluannya. Aku menunggu saat2 indah vaginanya menyentuh kontolku, aku menunggu dengan jantung berdebar-debar sambil mata nakalku terus memandangi wajah cantik Ida Zulaikha, wanita muda alim berjilbab ini. Akhirnya … kontolku yang tegang menelusupi lobang vagina wanita muda alim berjilbab ini. Nampak Ida Zulaikha menggigit bibir bawahnya dengan desahan dan rintihan. Ida Zulaikha tak mampu menyembunyikan perasaan nikmat tiada tara ini. Dengan gerakan2 yang semakin cepatdan cepat, Ida Zulaikha naik turun … naik turun … dengan sangat erotis sekali. Kepalanya oleng ke sana ke mari mengikuti geliatan tubuh dan mengimbangi gerakan maju mundur kontolku ke dalam vaginanya. jilbab putih itu kini sungguh sangat menawan bergetar-getar, berkibar-kibar, sungguh suatu pemandangan indah dan sensasional.

Wanita muda cantik alim berjilbab kini bergerak naik turun dengan bersemangat, mengeluar masukkan kontolku ke dalam vaginanya … wow …aku tak ingin semua ini cepat selesai. Ya … aku ingin menikmati pemandangan indah ini selama mungkin … di mana Ida Zulaikha adalah seorang wanita muda cantik alim berjilbab kini naik turun di atas tubuhku yang bugil, dan wanita muda alim berjilbab yang sangat cantik itu tengah memompa seluruh isi kemaluannya dengan kontolku yang besar ini.

Naik…..turun…dengan berulang-ulang. Begitulah gerakan kontinyu terus dilakukan wanita muda alim berjilbab ini. Hingga sampailah pada saatnya, kontolku terasa sangat tegang, sangat kuat, ya … tekanan dan denyutan di kontolku kurasakan sangat kuat … dan akhirnya cairan sperma itu muncrat dengan deras dan kuat … memancar dan membanjiri seluruh isi lobang vagina Ida Zulaikha.

jilbab-toge-0261

Seiring dengan menyemburnya spermaku ke dalam vaginanya … Ida Zulaikha menjerit sangat kuat …. begitupun diriku …. “Aaaaahhhhhh …… ooouwww ……… Ahhhhhhhhhh.!!!!!!…Ida Zulaikha….Oouuhh….”’Pak…..Enaaaaaakkkk…!!!!! Oouuuhh…!!!”, teriakan histeris mengiringi semburan sperma dan cairan kenikmatan kami berdua.

7 AKHWAT

“Eh, ada tamu. Temannya Mbak Uswatun ya?” sapa Aisyah ketika pulang kuliah dan masuk ruang tamu. Heran juga ia melihat tiga lelaki yang berpenampilan agak kasar itu. “Ih, Uswatun kok punya temen serem gitu sih,” batinnya.

“Iya, Mbak. Baru pulang kuliah?” sahut salah satu dari para ‘tamu’ itu, sambil mengepulkan asap rokoknya.

“He-eh. Sudah ketemu Uswatunnya?” tanya Aisyah.

“Belum, Mbak. Dari tadi nggak keluar-keluar,” sahut lelaki tadi sambil melirik dua temannya yang cuma senyum-senyum.

AISYAH

AISYAH

“Iya deh, tak panggilin ya?” Aisyah setengah berlari ke kamar Uswatun. Pintunya tertutup rapat. Langkahnya berhenti di depan kamar karena mendengar suara rintihan seorang perempuan. “Mbak, mbak Us… Mbak tidak apa-apa?” Aisyah mengetuk pintu.

“Eungghhh… Aaunghhh… Mmmmmfff…” yang terdengar justru sahutan erangan Uswatun yang tengah menerima gempuran habis-habisan di vagina dan mulutnya.

Aisyah memberanikan diri membuka pintu. Matanya langsung terbeliak melihat seorang gadis berjilbab terikat di ranjangnya, ditindih dua lelaki telanjang. Aisyah langsung berbalik, lari…

“Tolooongg… Tolooong…” teriaknya agak keras. Baru lima langkah berlari, Aisyah terpaksa berhenti karena tiga lelaki yang tadi di ruang tamu menghalangi jalannya.

“Ada apa, Mbak?” tanya yang berambut jabrik.

“Us-Uswatun… di-diper… kosa…” Aisyah terbata-bata.

“Ooo, dia tidak diperkosa kok. Mereka lagi bermain, nyoba-nyoba masukin kontol ke dalam tempik…” balas jabrik santai.

AISYAH

AISYAH

Aisyah seperti mendengar petir saat lelaki di depannya mengatakan itu. Ia berupaya menghindar dan lari lagi. “Toollloooo… Mmmbbbppp…”

Tapi dua lelaki langsung mencengkeram kedua lengannya dan salah satu membungkam mulutnya. Aisyah melotot ketakutan. Apalagi satu lelaki lagi menempelkan belati ke lehernya. “Jangan coba-coba teriak, mengerti!” desisnya.

Aisyah mengangguk dan mulutnya tak dibungkam lagi. “Ja-jangan… perkosa saya…” ibanya.

“Seperti kami bilang. Kami tak akan memperkosa. Cuma memasukkan kontol-kontol kami ke dalam tempik kalian. Ingat, kamu hanya boleh merintih dan mengerang. Kalau coba-coba teriak, kamu bisa kehilangan ini…” laki-laki itu menekan pisau lebih keras ke leher Aisyah.

“Aduduh, iya… iya… Lepaskan! Aduh…” Aisyah memekik. Lelaki di depannya mencengkeram payudara kanannya dari luar jilbab dan jubahnya. Begitu keras cengkeraman itu seolah gumpalan daging itu bakal lepas dari tempatnya.

“Awwhhh… Aawwhhhh…” Aisyah mengaduh ketika tiba-tiba dua hantaman tinju seperti disengaja diarahkan ke kedua payudaranya. Pukulan sekali lagi menghantam selangkangannya, membuatnya tersungkur di lantai dengan nafas tersengal.

Aisyah tak bisa berteriak ketika salah satu lelaki merobek bagian bawah pakaiannya dan mengikat kedua tangannya ke belakang dengan sobekan kain itu. Lelaki itu merobek lagi jubah abu-abunya untuk menyumpal mulutnya.

Mahasiswi se-Fakultas dengan Uswatun itu lalu dipaksa berdiri oleh seorang lelaki yang merengkuhnya dari belakang. Aisyah meronta dan merintih ketika melihat lelaki di depannya menyingkapkan jilbabnya ke pundaknya, lalu mencengkeram keras payudaranya lagi. Gadis asal desa perbatasan Yogya-Jateng itu makin ketakutan ketika jubahnya dilucuti.

Dua lelaki di depannya tertawa-tawa melihat gadis itu kini hanya mengenakan BH dan celana dalam. Aisyah merinding, apalagi saat lelaki yang memegang belati menurunkan pisaunya, melingkari gundukan daging payudaranya yang menyembul dari kantung BH.

Lalu mata pisau menyelip di sambungan kantung BH. Sekali tarik, BH Aisyah putus dan langsung direnggut lelaki satunya. Gadis itu terisak saat sang lelaki menyentuhkan ujung belati ke dua putingnya yang mungil dan hitam. Sementara lelaki di belakangnya menggenggam kedua payudaranya yang montok sehingga terlihat makin menjulang.

jilbab basah (3)

Aisyah gemetar ketika kemudian pisau itu ditempelkan ke bawah, lalu menyelinap ke balik celana dalamnya. Logam yang dingin menyentuh celah bibir vaginanya, membuatnya gemetar. Sekejap kemudian, celana dalamnya juga menjadi mangsa pisau itu. Kini tak ada seutas benang pun menutupi tubuhnya yang kuning langsat, kecuali sehelai jilbab di kepalanya dan kaus kaki krem di mata kakinya.

Takut bercampur malu sungguh menyiksa Aisyah, sebab belum pernah orang lain melihat tubuhnya tanpa pakaian. Apalagi, tiga lelaki itu kini berebut meremas vaginanya yang berambut tipis.

Aisyah putus asa. Air mata menitik dari kedua matanya. Tiga lelaki itu kini sudah melepas celana mereka dan memperlihatkan penis yang hitam dan besar. Aisyah dipaksa berbaring telentang di lantai saat lelaki yang memegang pisau mengangkat kedua belah kakinya ke atas.

“Ampuun… Oooohh… Jangan! Aaaaaakkhhh…”

Tanpa basa-basi, laki-laki itu memasukkan penisnya ke dalam vagina Aisyah. Mahasiswi cantik itu mengerang panjang merasakan vaginanya sangat pedih. Ia merasa ada yang koyak di dalam. Ia makin tak karuan ketika sumbat mulutnya dilepas lalu lelaki lain memaksanya mengulum penisnya. Sementara lelaki ketiga hanya meremas-remas buah dadanya, menarik-narik putingnya dan mencabuti bulu kemaluannya.

Setelah beberapa menit, lelaki yang merenggut mahkotanya mencapai klimaks dan menumpahkan sperma ke dalam rahimnya. Disusul oleh rekannya yang menumpahkan sperma di dalam mulutnya. Aisyah terbatuk sehingga semprotan sperma berikutnya menodai wajah lembutnya serta jilbab abu-abunya. Lelaki ketiga tak mau berlama-lama, memperkosa Aisyah yang lunglai dengan kasar, lalu menyemprotkan sperma ke wajahnya lagi.

***

Mulut Aisyah yang penuh sperma sudah disumbat lagi. Ia masih terikat ketika diseret ke kamar mandi, lalu selang yang menyemprotkan air deras disodokkan ke vaginanya. Air yang mengalir ke luar berwarna merah bercampur lendir putih. Aisyah kelojotan menahan pedih.

Dari kamar mandi, tiga lelaki itu mengacungkan jempol kepada dua rekannya yang tadi mengerjai Uswatun. Pintu kamar Uswatun terbuka dan terlihat gadis itu pingsan. Ketiga lelaki itu lalu kembali ke ruang tamu, menunggu 4 gadis lainnya yang belum kembali.

USWATUN

USWATUN

Sementara dari dekat kamar mandi kembali terdengar jerit, atau lebih tepatnya, rintihan Aisyah yang diseret dua lelaki yang tadi memperkosa Uswatun. Dengan tangan tetap terikat, Aisyah dibaringkan di atas meja makan. Kakinya menjuntai ke bawah meja. Sobekan celana dalamnya kemudian disumpalkan ke mulutnya sendiri. Karena itu ia hanya bisa mengerang ketika vaginanya jadi sasaran pemuas mulut. Kedua payudaranya yang tak seberapa besar pun dicengkeram dan dijilati. Lalu, terasa vaginanya kembali disodok penis yang keras dan panjang. Aisyah mengerang panjang ketika kedua putingnya ditarik ke atas tinggi- tinggi. Otot-otot vaginanya berkontraksi ketika ia kesakitan. Akibatnya, pemerkosanya semakin terangsang untuk terus menyakitinya. Kali ini, sambil memaju-mundurkan penisnya, lelaki itu mencabuti sehelai demi sehelai rambut kemaluan Aisyah yang lebih lebat dari milik Uswatun.

Aisyah terisak-isak ketika lelaki itu akhirnya usai dan menyemprotkan spermanya ke dalam rahimnya. Tapi itu belum berakhir. Lelaki kedua kini menekan-nekan anusnya dengan telunjuk. Diolesinya lubang sempit itu dengan sperma temannya yang meleleh keluar dari celah vaginanya.

“Ngghhh… Ngghhhhh…” Aisyah melengkungkan punggungnya saat telunjuk lelaki itu mulai menyusup masuk. Lalu, satu jari lagi menyusul. Aisyah mengerang keras. Belum pernah ia merasakan sakit seperti itu. Apalagi kemudian dua jari lagi masuk. Lalu, dua telunjuk dan dua jari tengah, bergerak ke arah berlawanan, melebarkan lubang anusnya. Lelaki itu kini menempatkan kepala penisnya di lubang itu dan melepaskan tarikannya.

Aisyah merintih. Sesuatu yang besar terasa mengganjal di pintu liang anusnya. Apalagi, lelaki itu kemudian mulai mendorong. Aisyah mengerang dan meronta sejadinya. Bagian bawah tubuhnya seakan terbelah.

AKHWAT MONTOK (2)

Lelaki itu terus menyodominya. Tiap ditarik keluar, terlihat penisnya bernoda darah. Tetapi itu justru membuatnya makin bernafsu. Tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Aisyah, seolah hendak meremukkannya. Tangan kirinya meremas vagina Aisyah dan dua jarinya masuk jauh ke dalam. Lalu dengan tusukan jauh ke dalam, lelaki itu menumpahkan spermanya ke dalam anus mahasiswi itu. Hanya beberapa saat sebelumnya, Aisyah pingsan.

***

Dua jam lebih, kelima lelaki itu menunggu gadis lainnya datang. Aisyah masih pingsan di meja makan. Uswatun yang siuman tak mampu melakukan apapun. Namun, ketika seorang diantara pemerkosanya masuk kamar dan iseng mengolesi kedua puting dan klitorisnya dengan rheumason, ia kelojotan menahan panas.

Kelima lelaki itu nyaris bersorak ketika mendengar deru motor di depan rumah. Dari jendela ruang tamu terlihat, Halimah turun dari motor yang dikendarai seorang gadis berjilbab pendek. Mata kelima lelaki itu tak lepas dari sepasang payudara pengendara motor itu. Sebab, meski berjilbab, ia mengenakan kaus lengan panjang ketat berwarna pink, sewarna dengan jilbabnya. Saking ketatnya, bentuk tubuhnya begitu kentara, terutama tonjolan besar di dadanya. Bahkan, jilbab kecilnya tersingkap menampakkan leher T-Shirt yang lebar. Bahunya yang putih terbuka dan sebelah tali BH putih yang kecil terlihat di situ.

“Kita dapat dua lagi…” bisik pimpinan komplotan itu. Tapi ia kecewa melihat gadis itu kembali menstarter motornya. Kekecewaannya terobati begitu mendengar Halimah berkata, “Jangan lupa jemput jam 3 ya?”

Gadis berkaus ketat itu pun pergi. Dan kini Halimah dengan santainya masuk rumah, mendorong pintu ruang tamu yang sedikit terbuka.

“Eh, ada tamu. Cari siapa?” Halimah menyapa setelah agak terkejut melihat ruang tamu berisi 5 lelaki yang tak dikenal.

“Cari Halimah dong…” kata pimpinan komplotan yang duduk tepat di sisi Halimah berdiri.

“Cari saya? Ada perlu apa ya?” Halimah mengerutkan keningnya.

HALIMAH

HALIMAH

“Perlunyaaa… mau lihat memek kamu…” sambil berkata begitu, lelaki itu menangkupkan telapak tangannya, tepat di pangkal paha Halimah.

“Aiiihhh…” Halimah berkelit mundur. “Jangan kurang ajar ya…” katanya.

“Kami nggak akan kurang ajar kalau kamu tidak berteriak dan mau menurut perintah kami…”

Halimah ketakutan ketika melihat lima lelaki itu masing-masing menghunus pisau lipat. Ia mencoba lari, tetapi seorang di antara mereka sudah berdiri di depan pintu.

“Kalian mau apa?” katanya lirih, wajah cantiknya pucat.

“Seperti kubilang tadi, mau lihat memek kamu. Ayo, sekarang buka baju. Ayo, jangan sampai kami robek-robek bajumu dengan pisau ini,” sahut pimpinan komplotan.

“Saya… saya…nggak mau…” sahut Halimah.

“Kalau nggak mau, kamu bisa bernasib seperti Uswatun dan Aisyah,”

“Uswatun… Aisyah… kalian apakan mereka?”

“Coba kamu lihat sendiri. Kalau kamu tak ingin seperti mereka, cepat balik ke sini lagi.”

Halimah cepat berlari ke dalam. Sejurus kemudian terdengar Halimah memekik menyebutkan nama teman-temannya. Kelima lelaki itu tertawa- tawa. Tawa mereka makin menjadi melihat Halimah kembali kepada mereka dengan wajah panik.

“Jangan… Jangan perkosa saya…” katanya lirih.

“Tentu tidak, sayang… Asal kamu menuruti semua perintah kami,” sahut pimpinan komplotan. “Nah, sekarang buka rokmu,” lanjutnya.

Halimah gemetar. Di bawah tatapan 5 pasang mata, ia menurunkan ritsleting rok panjangnya. Di baliknya ada rok dalam. Itupun segera lepas. Halimah menunduk. Tangannya bersilangan di depan pangkal pahanya. Ia kini hanya memakai blus panjang 20 cm di atas lututnya dan jilbab yang juga panjang. Para lelaki itu berdecak melihat sepasang pahanya yang putih mulus.

“Jilbab. Nggak usah dibuka, sampirkan ke pundak,” perintah pimpinan komplotan.

Wajah Halimah makin merah padam saat blusnya akhirnya harus lepas. Lalu kaus dalam pun lepas. Tinggal kini jilbab, bra dan celana dalam putih yang menampakkan ketembaman bukit vaginanya.

“Wow, kamu cantik sekali. Nah, sekarang keluarkan satu tetekmu!” teriak mereka.

Halimah terisak. Tangannya gemetar menyelusup ke balik cup kanan BH-nya dan… kelima lelaki itu bersorak melihat payudara yang indah merojol dari wadahnya. Bulat putih mulus dengan puting mungil berwarna pink.

“Ayo, anggap saja kamu jualan susu. Bawa ke sini susu itu.” Halimah yang tak punya pilihan lain pun berkeliling. Satu demi satu srigala-srigala itu menjilat dan mengulum putingnya. Sementara tangan-tangan mereka mulai menjamah kemaluannya. Usai lelaki kelima ‘mimik cucu’, Halimah diminta berbalik.

“Nah, sekarang bagian terpenting. Buka celanamu dan sekarang kamu jualan memek,” perintah pimpinan komplotan. Isak Halimah makin keras saat ia menurunkan celana dalamnya.

Kemaluannya yang berbulu tipis pun terbuka bebas. Edan, ia kemudian diperintah naik ke atas sofa ruang tamu dan mengangkangi satu persatu wajah kelima lelaki itu.

Halimah kini menangis. Kelima lelaki itu menjilati vaginanya. Menguakkan labianya hanya untuk memasukkan lidah-lidah mereka.

Akhirnya, begitu lelaki kelima usai, Halimah terkejut karena kedua tangannya diringkus ke belakang dan langsung diikat. “Eh…uhh…kok diikat sih?” katanya.

“Iya, supaya kamu nggak ngelawan. Soalnya pertama kali pasti sakit sekali…” Halimah terkejut, tetapi terlambat.

“Ka-katanya… kalian nggak akan memperkosa saya…”

“Tadinya begitu… tapi melihat memekmu ini, jadi nggak tahan…”

Halimah panik. “Kalian bohong… kalian… penipu…” jeritnya.

“Bukan…bukan penipu. Tepatnya…pemerkosa,” sahut pimpinan komplotan sambil berdiri dan mendorong Halimah hingga jatuh terlentang di meja ruang tamu. Halimah berontak tapi seorang lelaki langsung mengangkangi wajahnya. Tanpa banyak kesulitan, lelaki itu menyumpal mulut Halimah dengan penisnya yang besar.

Halimah panik ketika merasakan sesuatu yang hangat dan keras menekan pintu liang vaginanya. Ketakutannya terbuktI ketika akhirnya ia merasakan sesuatu itu mulai menerobos dan… “Nggghhhh… Nnnggghhhhhhh… Mmffffff…” Halimah mengerang sejadinya saat lelaki itu dengan tiba-tiba mendorong penisnya jauh ke dalam vagina perawannya.

TOKET MONTOK (2)

Satu persatu kelima lelaki itu menumpahkan sperma ke mulut, rahim dan wajah lembut Halimah. Namun, ketika seorang di antara mereka menerobos anusnya, Halimah tak kuat lagi. Ia akhirnya pingsan. Tetapi tetap saja sperma lelaki itu ditumpahkan ke dalam anusnya.

***

Uswatun, Aisyah dan Halimah masih pingsan. Aisyah di meja makan, Uswatun di kamarnya bersama Halimah yang masih terikat, dibaringkan di sebelahnya.

Kelima lelaki itu masih belum puas. Tiga gadis belum cukup. Apalagi, masih ada empat lagi yang segera datang. Betul saja, sekitar pukul 13.30, terdengar deru sepeda motor langsung masuk ke garasi samping. Kelima lelaki itu mengintip dari ruang tamu.

Tampak seorang gadis berseragam blus panjang sepaha dan rok panjang abu-abu serta jilbab putih setengah berlari ke kamar mandi. Indah, gadis remaja itu begitu kebelet pipis. Sampai-sampai ia tak melihat ada apa di atas meja makan, 5 meter dari kamar mandi. Yang jelas, di kamar mandi, ia menarik ke atas rok panjangnya, menurunkan celana dalamnya dan jongkok. Lalu… cuuurrr…

Usai membersihkan kelaminnya, dengan wajah lega Indah keluar kamar mandi. Namun…

“Eh, ada apa ini? Ehhh, Mbak Aisyah?” Indah terpekik.

Di depannya, seorang lelaki meringkus Ummi. Di tangan lelaki yang meringkusnya ada sebilah clurit yang ditempelkan di lehernya, menekan jilbab gadis Jepara itu. Indah juga terkejut melihat Aisyah yang pingsan tergeletak telanjang di meja makan.

Ummi cuma bisa menggumam dan menggeliat-geliat ketika tiga lelaki di sekelilingnya meremas-remas payudara dan selangkangannya. Sementara Indah masih kebingungan.

“Oke adik kecil. Kamu lihat mbakmu di meja makan itu? Lihat juga yang di kamar ini…” kata seorang lelaki sambil membuka pintu kamar Uswatun. Indah memekik lagi melihat keadaan di dalam kamar.

“Kalian… mau… apa…?” katanya gemetar.

“Nah. Itu pertanyaan bagus. Lihat clurit ini, siap memotong leher Mbakmu, kalau kamu membantah perintah kami. Oke, sekarang lepas rokmu. Perlihatkan kepada kami memek yang barusan kamu bersihkan itu,” lanjut lelaki itu.

Wajah Indah pucat pasi. Ia berdiri gemetar.

UMMI

UMMI

“Cepat…!!!”

“Mmmmfff… Nngghhh…” Ummi meronta, clurit itu ditarik ke arah lehernya. Indah ketakutan. Cepat-cepat ia memelorotkan rok abu-abu panjangnya. Kelima lelaki itu berdecak melihat kemulusan paha Indah di bawah blus putihnya.

“Celana dalam juga!” lanjut lelaki yang meringkus Ummi. Ummi kembali mengerang saat clurit ditarik lagi ke arah lehernya. Indah memelorotkan celdamnya. Kelaminnya tak sampai kelihatan karena tertutup blus panjangnya.

“Bagus, sekarang angkat bajumu dan kamu keliling tawarkan memek kamu.”

Indah perlahan mengangkat blusnya. Kelima lelaki itu kembali bersorak melihat vagina yang nyaris tak berambut itu. Apalagi, Indah kemudian berjalan mendekati mereka.

“Siapa mau, siapa mau…” kata Indah lirih.

“Mau apa? Bilang yang keras…”

“Hiks… hiks… siapa mau… hiks… memek… siapa mau… memek… hiikkss…” Indah terisak.

“Bilang… memek perawan gitu…”

“Siapa mau memek… hiks…perawan…” kata Indah sambil berkeliling. Beberapa kali ia terpekik. Para lelaki yang didatanginya memegang- megang vaginanya dan menarik-narik rambut yang ada disitu.

“Aku mau lihat memek perawan…” kata seorang di antara mereka lalu berjongkok dan memegangi pinggang Indah.

Indah menggeleng-gelengkan kepalanya ketika lelaki itu mendekatkan wajahnya ke pangkal pahanya. Kumis lelaki itu membuatnya kegelian. Apalagi, kini ia merasakan bibir kelaminnya dikuakkan dan…

“Aeengghhh…” Indah merasa bagian dalam vaginanya dijilati. Sementara dua lelaki mengapit di kanan kirinya, mengangkat seragam putih lengan panjangnya sampai ke dada. Lalu bra-nya yang cuma ukuran 32 ditarik turun. Indah terisak, kedua lelaki itu kini mempermainkan payudaranya yang tengah tumbuh. Meremas-remas dan memilin-milin putingnya.

ABG itu mengerang-erang ketika akhirnya tiga titik sensitif di tubuhnya diserang jilatan dan kuluman. Ia tak tahu, apakah yang dirasakannya adalah siksaan atau kenikmatan. Yang jelas, di tengah kejengahannya, ia merasakan sesuatu yang seolah meledak dalam dirinya dan membuat sekujur tubuhnya lunglai.

Sementara Ummi, mahasiswi di depannya, tersiksa bukan main melihat teman kos termudanya dilecehkan sedemikian rupa. Apalagi, ia sendiri menghadapi ancaman yang tak kalah menakutkan. Dua lelaki yang meringkusnya tengah mempermainkannya.

Jilbab coklat Ummi disampirkan ke pundaknya. Lalu, bajunya dilubangi selebar 10 cm dengan clurit, tepat di bagian tonjolan kedua payudaranya, sehingga menampakkan bra putihnya. Tepat di pucuk bra itu, dibuat lagi lubang seujung jari. Akibatnya, kedua puting Ummi nongol dari situ.

“Tolong… jangan… kalian sudah perkosa… tiga teman kami… apa itu belum cukup…?!” katanya mengiba saat kedua putingnya ditarik-tarik melalui lubang kecil itu.

UMMI

UMMI

“Wah, belum, Non. Kan di rumah ini ada 6 memek. Nanti kalau semua sudah kami perkosa, baru cukup…” sahut lelaki yang memegang clurit sambil mengakhiri kata-katanya dengan mengulum puting kiri Ummi. Lelaki di sebelahnya pun melakukan hal serupa pada puting kanan.

Indah yang dirubung tiga lelaki kini betul-betul telanjang, kecuali selembar kain putih di kepalanya. Tubuhnya yang putih mulus basah kuyup oleh keringat dan liur ketiga lelaki itu.

“Bawa sini anak manis itu…” kata pimpinan kelompok sambil tangannya yang berada di balik celana dalam Ummi terus meremas-remas.

Indah yang terus berlinang airmata kini berdiri berhadap-hadapan dengan Ummi yang tak kalah takutnya. ABG itu menggeliat ketika puting kanannya dipilin pimpinan kelompok.

“Nah, sayang… Mbakmu ini perlu solider dengan nasibmu kan? Oke, sekarang kamu telanjangi dia ya?” katanya sambil memperkeras pilinannya.

INDAH

INDAH

“Aduh… aduduh… iya… iya…” sahut Indah, lalu mulai melucuti kancing jubah coklat muda Ummi.

Tak lama kemudian, tak ada lagi yang melekat di tubuh gadis itu, kecuali jilbabnya. Tubuhnya bagus juga. Payudaranya tak besar, tapi tampak bulat dan berisi dengan puting yang mungil dan mengacung.

Pangkal pahanya tampak menggembung dengan sedikit rambut di situ. Ummi terisak-isak ketika ditelentangkan. Lalu Indah pun dipaksa tengkurap di atas tubuhnya dengan posisi ’69′. Kedua gadis itu kini dapat saling melihat kelamin mereka.

“Ayo, sekarang mulai saling menjilat!” Para lelaki kemudian menekan kepala dan pantat Indah. Akibatnya, mulut Indah rapat ke vagina Ummi. Sementara vaginanya rapat ke mulut Ummi. Kedua gadis itu mengerang-erang dan mencoba memalingkan wajah mereka. Bibir keduanya terkatup, begitu pula mata mereka.

PLAKKK… PLAKKK…!!!

“Awwww…” Indah menjerit. Kedua bulatan pantatnya ditampar keras sampai memerah.

“Cepat jilat, jangan bikin kami marah. Dan pelototin memek di depanmu itu!”

“Aduhhhhh…” giliran Ummi memekik. Rambut yang tak seberapa di vaginanya dijambak hingga tercabut sebagian.

“Kamu juga, jilatin memek di atasmu itu!”

Tak ada pilihan lain bagi keduanya selain mulai saling menjilat.

INDAH

73152_1428404358680_1489973058_30937559_2605071_n

Kelima lelaki itu melotot memandangi adegan langka yang tak bakal ditemui di situs internet manapun, sambil sesekali mempermainkan payudara mereka. Keduanya mulai merintih-rintih setelah 15 menitan saling menjilat. Apalagi, 5 menit terakhir, bibir vagina mereka dikuakkan, sehingga lidah ‘lawan’ menyapu klitoris masing-masing.

Vagina keduanya kini tampak mengkilap. Basah oleh liur dan cairan yang keluar dari celahnya. Indah hampir menjerit ketika tiba-tiba kepalanya didongakkan dan tepat di hadapannya sebatang penis mengacung tegak. ABG itu tak kuasa menolak saat dipaksa mengulumnya.

Lalu, kepala bagian belakangnya dipegangi dan penis itu pun digerakkan maju mundur di dalam rongga mulutnya. Indah ingin teriak, apalagi ia merasa sebatang telunjuk dipaksa masuk ke dalam anusnya. Tapi yang keluar hanya gumaman.

Ummi mengalami penderitaan serupa. Bahkan lebih parah. Dalam posisi berbaring, kepalanya dipaksa mendongak dan sebatang penis disodokkan ke rongga mulutnya. Posisi itu membuat kantung zakar lelaki di atasnya menutupi hidungnya hingga ia kesulitan bernapas.

INDAH

INDAH

Tapi untungnya tak lama. Lelaki itu segera menarik keluar penisnya yang tampak amat tegang dan basah oleh liurnya. Di tengah kelegaannya, Ummi mencemaskan nasib Indah. Sebab, dilihatnya kepala penis itu kini menekan pintu liang vagina Indah. Betul saja….

“Eungghhhhhh… Uummmffff… Eengggghhhh…” terdengar Indah mengerang keras dan tubuhnya meronta-ronta. Penis itu didorong dengan kekuatan penuh, menerobos segala halangan di dalam vaginanya.

“Uuuuhhh… memek perawan yang hebat!” komentar pemilik penis itu. Ia merasakan penisnya seakan dicengkeram oleh dinding vagina Indah yang sempit. Namun bagi Indah, itu dirasakannya sebagai rasa pedih luar biasa.

Perlahan lelaki itu menarik mundur penisnya. Cengkeraman dinding vagina yang kuat dirasakannya sebagai kenikmatan luar biasa. Tapi tidak bagi Indah. Ia merasa seolah sebilah belati menyayat di dalam vaginanya. Lain lagi dengan Ummi. Ia bergidik melihat sepanjang batang penis di hadapannya berlumur lendir dan darah keperawanan Indah.

Sekejap kemudian, kembali lelaki itu mendorong dengan kekuatan penuh. Kali ini ia tak ingin berlama-lama. Digenjotnya sekuat tenaga sambil berpegangan pada pinggul gadis remaja itu. Sampai akhirnya, Indah merasakan semburan panas di dalam rongga kelaminnya. Ia ingin teriak, tapi penis besar masih menyumbat mulutnya. Apalagi, selang beberapa detik kemudian, penis di mulutnya juga menyemburkan sperma.

Indah nyaris tak sadarkan diri ketika penis di dalam mulutnya ditarik keluar. Seketika itu juga, kepalanya didongakkan dan rahangnya dikatupkan. Akibatnya, Indah terpaksa menelan cairan kental yang membuatnya mual itu.

INDAH

INDAH

Posisi itu membuat Indah menduduki wajah Ummi. Ummi pun mengalami hal serupa. Ia dipaksa membuka mulutnya. Perlahan, cairan putih kental bercampur darah Indah mengalir dari celah vaginanya dan masuk ke mulut Ummi. Ketika tetesan hampir berhenti, seorang lelaki di belakang Indah menyendoki sperma dari dalam vaginanya dan menyuapkan ke mulut Ummi yang tampak dipenuhi sperma pemerkosa Indah. Ummi pun menelannya dengan berjuta perasaan mual. Tapi itu belum seberapa. Seorang lelaki kini berada di tengah antara kedua kaki Ummi yang mengangkang. Kepala penisnya mulai menekan vagina Ummi. Ummi ketakutan tapi tak bisa apa-apa.

“Ayo, kamu harus lihat. Ini yang terjadi pada memekmu tadi!” pemilik penis itu memaksa Indah menunduk. Indah yang masih menahan sakit, terpaksa melihat saat penis lelaki itu siap menembus kelamin Ummi.

“Aaarrgrrrhhh… Aarrrgghhhhh… Mmmmmppfff…” Ummi tak bisa teriak lebih keras lagi karena mulutnya penuh sperma. Tapi itu cukup untuk mengekspresikan kesakitannya saat penis lelaki itu menembus vaginanya dengan kekuatan penuh. Ummi terus mengerang dan merintih. Sebab, lelaki itu langsung menggenjot dengan kecepatan tinggi. Seolah ingin segera menyelesaikan. Gesekan yang ditimbulkannya menyebabkan pedih tak terkira.

Sementara di belakang, Indah menghadapi ancaman baru. Seorang lelaki mencoba melebarkan lubang anusnya dengan menusukkan jari yang sebelumnya dilumuri sperma di dalam vaginanya. Ketika dua jari dimasukkan ke situ, Indah menjerit kesakitan. Namun, belum lagi jeritannya bertambah keras, mulutnya sudah disumpal dengan celana dalamnya sendiri.

Akhirnya, yang ditakutkannya terjadi. ABG itu merasa bagian bawah tubuhnya terbelah saat anusnya ditembus penis lelaki di belakangnya. Lalu, lelaki itu pun menggenjot dengan kecepatan tinggi sambil kedua tangannya mencengkeram kedua payudara Indah dari belakang. Posisi itu membuat payudara gadis remaja itu seakan dibetot ke belakang. Indah tak kuat lagi, ia pingsan sesaat sebelum lelaki itu menumpahkan spermanya ke dalam anusnya. Ternyata, Ummi juga pingsan beberapa saat sebelum pemerkosanya menumpahkan sperma ke dalam vaginanya. Kendati demikian, seorang lagi tetap saja menyodominya. Tangan kedua gadis itu kemudian diikat ke belakang punggungnya. Mulut Indah dan Ummi pun disumbat celana dalam mereka sendiri. Keduanya kemudian dibiarkan tergeletak pingsan di dekat meja makan. Empat lelaki masih memperkuat ikatan ketika tiba-tiba terdengar bentakan.

“Hei, apa-apaan ini!?”

KHUSNUL

KHUSNUL

Ternyata Khusnul, gadis tertua di kos-kosan itu. Khusnul terkejut bukan main melihat 5 lelaki bugil di situ, sedang tiga ‘adik’nya tergeletak telanjang di ruang makan. Melihat Khusnul datang, pimpinan komplotan itu langsung mendekatinya.

Namun di luar dugaan, gadis itu tiba-tiba melayangkan tendangan ke pangkal pahanya. Lelaki itu mengaduh dan jatuh telungkup sambil memegangi selangkangannya. Empat rekannya segera merubung Khusnul.

“Wah, cewek secakep kamu bisa karate juga ya?” kata salah satu dari mereka. Khusnul mencoba tenang. Dengan sikap waspada, ia memasang kuda-kuda.

Ketika salah seorang dari mereka mendekat dengan tangan terbuka ke arah dadanya, Khusnul menyabetkan tasnya ke wajah lelaki itu. Hantaman yang telak. Lelaki itu membekap wajahnya yang sakit. Pandangannya pun nanar.

Namun, seorang lagi berhasil memeluk Khusnul dari belakang.

“Aiiihhh…” Khusnul memekik. Sebab, sambil memeluk itu, tangan lelaki itu dengan kurang ajar menangkap kedua payudaranya dari luar jubah dan jilbab besarnya.

Dengan cepat Khusnul menyikut lelaki di belakangnya. Lelaki itu mengaduh dan pegangannya mengendur. Namun, posisi lemah itu, segera dimanfaatkan dua lelaki lainnya. Seorang dari mereka meninju tepat ke ulu hati Khusnul.

Khusnul mengaduh dan membungkuk. Lalu satu pukulan lagi menghantam bagian belakang kepalanya. Tak ayal lagi, ia jatuh telungkup. Setengah sadar, Khusnul merasa diseret. Lalu, kedua tangannya diikat dan dengan ikatan di tangannya itu, ia digantung di kusen pintu kamar Uswatun. Cukup tinggi, hingga ia berdiri jinjit.

KHUSNUL

KHUSNUL

Perlahan kesadarannya bangkit. Di saat itulah ia melihat 5 lelaki bugil mengelilinginya dengan pandangan marah. Khusnul coba bicara, tapi tak bisa. Mulutnya disumpal celana dalam entah milik siapa.

“Cewek jalang, harus diberi pelajaran,” kata pimpinan komplotan.

“Eungghhhhhh… Eeungghhhh… Mmmmmffff…” Khusnul mengerang. Lelaki itu dengan marah mencengkeram selangkangan dan kedua payudaranya berulang-ulang.

Lalu, seolah balas dendam, lelaki itu menyuruh komplotannya menarik turun celana dalam Khusnul. Wajah Khusnul merah padam ketika jubahnya diangkat ke pinggang lalu celana dalamnya dilepas dan kakinya dikangkangkan.

“Memek yang cantik. Sayangnya… harus kurusak!” kata lelaki itu geram sambil menjambak rambut kemaluan Khusnul. Gadis itu mengerang lagi. Lelaki itu tiba-tiba mundur dan sebuah tendangan melayang tepat ke vagina telanjang itu. Suara berdebuk terdengar keras diiringi erangan panjang gadis itu. Vagina Khusnul langsung terlihat memerah.

“Cukup. Skor satu sama. Sekarang telanjangi cewek ini. Kita lihat, kuat nggak memeknya lawan 5 kontol!”

Khusnul panik tapi tak bisa berbuat apapun. Kelima lelaki itu seperti kawanan serigala. Mencabik-cabik pakaiannya, hingga akhirnya tinggal jilbab dan kaus kaki yang melekat di tubuhnya.

Sambil merokok, pimpinan komplotan itu berlutut di depan Khusnul. Jari- jarinya kemudian menguakkan bibir vagina Khusnul selebar-lebarnya, seolah hendak merobeknya. Khusnul mengerang kesakitan. Tapi itu belum apa-apa. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke arah pangkal pahanya.

KHUSNUL

KHUSNUL

CESSSSSS…

“Euuungggggggghhhhhhhhhhh…!!!” Khusnul mengerang keras dan panjang. Kepalanya digeleng-gelengkannya menahan sakit. Rokok di mulut lelaki itu masuk jauh ke dalam liang kelaminnya yang basah dan padam disitu. Lelaki itu meninggalkan rokoknya terjepit vagina Khusnul dan hanya tampak bagian filternya saja.

Sementara Khusnul masih mengerang dan air mata menitik dari kedua matanya. Tubuhnya yang tergantung kini diputar menghadap ke dalam kamar. Matanya membelalak melihat Uswatun dan Halimah terikat dan telanjang bulat di ranjang. Dua temannya yang sudah siuman pun sama takutnya melihat Khusnul yang tengah dipermainkan. Entah berapa pasang tangan meremas-remas keras kedua payudaranya, memilin dan menarik- narik putingnya.

Khusnul ketakutan ketika lelaki di depannya menyalakan sebatang rokok lagi. Ia mengerang dan meronta sejadinya waktu api dari korek gas didekatkan ke selangkangannya. Dan…api itu membakar rambut kemaluannya. Panas, tapi tak sampai melukai kulit kelaminnya. Aroma rambut terbakar memenuhi kamar Uswatun. Khusnul mengerang saat kelaminnya diremas-remas dan dengan tiba-tiba rambut yang tersisa dijambak. Saat itulah dilihatnya seorang lelaki mendekati Uswatun dan Halimah. Kedua gadis itu mengerang saat jari telunjuk dan tengah kanan dan kiri lelaki itu ditusukkan jauh ke dalam kelamin keduanya.

Lelaki itu kini berdiri di hadapan Khusnul sambil mengacungkan empat jari berlumur sperma. “Aku masih kasihan sama kamu. Ini supaya kamu nggak terlalu kesakitan,” katanya sambil menyusupkan dua jari ke liang vagina Khusnul.

KHUSNUL

KHUSNUL

Masuk dua ruas, Khusnul menggeliat-geliat. Lelaki itu menggerakkan jarinya memutar, seolah hendak melumasi pintu lubang kemaluan gadis itu.

“Sudah siap, bos. Silakan menikmati memek perawan sok tahu ini!” katanya kepada pemimpin gank itu. Celah vagina Khusnul kini tampak mengkilat.

Khusnul panik. Ia melihat lelaki itu mendekat dengan penis yang panjang dan besar, mengacung ke arah pangkal pahanya. Ia mengerang-erang saat mulai merasakan benda itu menekan liang vaginanya. Sperma yang dioleskan tadi memudahkan kepala penis itu masuk. Tapi cuma berhenti di situ. Sebab, lorong selebihnya betul-betul kering.

Khusnul mulai kesakitan. Apalagi, di belakang lelaki dengan jari berlumur sperma menusuk anusnya dengan telunjuk. Lalu, dua jaripun menusuk-nusuk lubang sempit itu. Kepala gadis itu terdongak ketika salah satu putingnya dihisap kuat-kuat dan tiba-tiba saja digigit agak keras. Rasa sakit di pucuk payudaranya belum lagi hilang, lelaki di depannya mendengus lalu mendorong pinggangnya maju. Suara erangan Khusnul seperti hewan disembelih saat vaginanya akhirnya ditembus. Tapi itu belum seberapa, seorang lagi menyodominya. Gadis itu kini bagai sepotong sosis yang terjepit roti sandwich.

Kelima lelaki itu seperti kesetanan. Begitu satu lelaki selesai menumpahkan spermanya di dalam vagina maupun anus Khusnul, lelaki yang lain langsung menggantikannya. Tepat saat lelaki kelima menyelesaikan hajatnya, Khusnul pingsan. Kepalanya terkulai lemah.

Kelima lelaki itu tertawa-tawa sambil memandangi korban terakhir mereka. Dari celah pangkal paha Khusnul mengalir sperma bercampur darah keperawanannya. Tubuh Khusnul kemudian diturunkan dari gantungan.

Namun, kedua tangannya kembali diikat ke belakang tubuhnya. Giliran Uswatun dan Halimah yang berbaring bersebelahan yang ketakutan. Sebab, Khusnul diangkat seorang lelaki dengan posisi kaki mengangkang. Dari celah vaginanya masih terlihat cairan putih menetes-netes.

KHUSNUL

KHUSNUL

Uswatun menggeleng-geleng ketika selangkangan Khusnul didekatkan ke wajahnya. Tapi tak urung wajah lembut gadis itu pun ternodai tetesan sperma dari vagina Khusnul. Halimah pun diperlakukan serupa, sebelum akhirnya Khusnul dibaringkan di sebelah mereka.

Kelima lelaki itu tak juga lelah mempermainkan korban-korbannya. Pemandangan di kamar itu sungguh beraroma nista. Lima lelaki telanjang bulat dengan tubuh mengkilap karena keringat, merubung tiga gadis berjilbab, tetapi terbuka total di bagian bawahnya. Tak bosan- bosannya mereka meremas-remas payudara ketiga gadis itu. Pimpinan komplotan itu masih juga dirasuki dendam kepada Khusnul. Ia ingin gadis itu merasakan penderitaan. Disulutnya rokok, asapnya dihembuskan ke wajah Uswatun. Gadis itu memalingkan wajahnya. Tapi mendadak terdengar erang kesakitan Halimah. Sebabnya, lelaki itu menyetuhkan batang korek api yang telah padam ke puting susunya. Meski sudah padam, panasnya masih menyakiti bagian sensitif itu.

“Yuk, bangunin cewek ini. Kita kerjain sampai dia betul-betul kapok,” katanya. Sambil berkata begitu, ia menarik-narik kedua puting Khusnul yang masih pingsan. Lalu, disentuhnya pelan puting kanan Khusnul dengan ujung rokoknya. Spontan terdengar erangan gadis itu. Matanya berkerjap- kerjap dan keningnya berkerut. Belum lagi ia sadar sepenuhnya, giliran klitorisnya disundut rokok. Kali ini tubuhnya mengejang dan dari mulutnya terdengar erangan panjang.

“Hahaha… bagus kamu sudah bangun. Sebab, kamu harus merasakan sakitnya!” kata pemimpin komplotan sambil menjepit dua puting Khusnul kuat-kuat dan menariknya ke atas hingga punggung gadis itu melengkung.

Dari kaki ranjang, ia mengambil handuk kecil dan membungkus dua jarinya dengan handuk putih itu. Khusnul meronta-ronta ketika jari terbungkus handuk itu ditusukkan ke liang vaginanya. Di dalam, jari lelaki itu bergerak berputar, menyapu segenap sudut vagina Khusnul.

Pedihnya tak terkira. Ketika ditarik keluar, handuk putih itu terlihat bernoda lendir putih bercampur noda merah. Tak cuma Khusnul, Uswatun dan Halimah pun mengalami hal serupa. Keduanya mengerang dan meronta dengan sia-sia.

Lalu kelima lelaki itupun mengulangi lagi perkosaan atas ketiganya. Vagina yang kering membuat ketiganya kembali merasakan pedih yang amat sangat. Untuk pertama kali, Khusnul harus menahan mual di antara rasa sakitnya, sebab mulutnya dipaksa mengulum penis salah satu pemerkosanya.

Yang paling menyiksanya dan nyaris membuatnya kembali pingsan adalah saat ia dipaksa menerima penis seorang lelaki di dalam vaginanya dalam posisi duduk. Begitu penis itu menancap jauh, tubuhnya ditarik pemerkosanya ke belakang, hingga kini ia berbaring di atas perut pemerkosanya. Lalu, dari depan, seorang lelaki memaksa penisnya masuk ke dalam vaginanya yang telah dipadati sebatang penis. Kalau saja mulutnya tak tersumpal penis, Khusnul pasti sudah menjerit histeris, karena sakit yang luar biasa.

KHUSNUL

KHUSNUL

Tapi ternyata itu baru permulaan. Sebab, kelima lelaki itu menuntaskan hajat mereka dengan menumpahkan sperma ke dalam mulut gadis itu.

Gadis itu lalu dipaksa berdiri lagi merapat ke lemari dan diikat dengan tangan ke atas. Posisi itu membuat payudaranya membusung. Para lelaki kemudian mengikat pangkal payudaranya dengan tali rafia hingga kedua buah dadanya melembung seperti balon dan merah tua karena darah mengumpul di situ.

Tak hanya itu kedua putingnya kemudian diikat dengan sehelai benang. Di ujung masing-masing benang diikatkan sebuah batu baterai besar. Khusnul merintih-rintih menahan pedih. Sementara dari sudut bibirnya menetes sperma para pemerkosanya.

***

6 gadis masih tak berdaya di tempat masing-masing usai rangkaian pemerkosaan brutal itu. Sementara para pemerkosanya kembali duduk santai di ruang tamu. Mereka merancang sebuah rencana panjang atas para korbannya sambil menunggu seorang lagi yang bakal datang pukul 15.00.

Yang mereka tunggu pun datang, tepat pukul 14.50. Seorang gadis mungil berkaus ketat lengan panjang merah jambu dan jilbab pendek sewarna. Penampilannya khas gadis masa kini. Berjilbab, tetapi keseksian tubuh justru ditonjolkan. Itu pula yang terlihat padanya.

Gundukan kecil sepasang payudara tampak mencuat di balik kaus ketatnya. Begitu ketatnya, sampai-sampai garis branya tercetak jelas di sana. Sementara celana kaus ketat hitamnya pun memperlihatkan lekuk pangkal pahanya dengan jelas. Pemandangan indah itulah yang disaksikan para lelaki dari balik kaca ketika gadis itu mengetuk pintu.

Pintu dibuka. Gadis itu tampak agak terkejut melihat 5 lelaki di ruang tamu.

“Silakan masuk Mbak, sudah ditunggu Mbak Halimah,” kata yang membuka pintu.

Tapi gadis itu berusaha tak peduli. Ia pun duduk di kursi kosong, terpisah dari para lelaki.

“Teman kuliah Mbak Halimah ya?” tanya pimpinan komplotan.

“Bukan,” jawabnya singkat.

“Eh, mbak siapa namanya, kuliah di mana?” lanjut lelaki itu sambil mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya. Tak ingin bersikap kaku, gadis itu membalas jabat tangan lelaki itu.

“Lina. Saya nggak kuliah kok,” sahutnya sambil sedikit tersenyum.

“Oh, kerja ya, Mbak? Di mana?”

“Saya wartawan…” lanjut Lina. Gadis itu agak menikmati kekaguman yang terpancar di wajah para lelaki. Tapi ia tak sadar, di balik pandang kagum itu tersimpan nafsu yang besar.

“Wah, hebat. Tapi jadi wartawan bahaya lho buat perempuan secantik Mbak,” lelaki itu mulai menebar perangkap.

Wajah Lina memerah, setengah senang setengah malu, selebihnya mulai jengkel. “Ah, biasa saja,” katanya.

“Betul, Mbak, bahaya. Apalagi, biar pakai jilbab, Mbak kelihatan seksi lho!”

“Mbak Halimahnya mana sih?” sahut Lina coba mengalihkan perhatian.

“Ngomong-omong, itu susu ukuran berapa sih?” lanjut lelaki itu diikuti tawa teman-temannya.

LINA

LINA

Lina kini kelihatan marah. “Kalian ngomong apa sih? Jangan kurangajar gitu dong!” katanya sambil berdiri.

“Eh, jangan marah gitu, mbak. Saya kan cuma tanya ukuran susu. Pegang juga belum,” kata lelaki itu.

“Ihh, sebel!” kata Lina sambil berbalik ke arah pintu.

Tapi tiba-tiba tubuhnya direngkuh dari belakang dan sebilah belati menekan lehernya.

“Aiiii… ap-apa-apaan ini,” katanya coba meronta. Tapi tubuh mungilnya kalah kuat. Ia didorong ke tengah para lelaki.

“Nggak usah ribut, sayang. Nurut saja, kalau nggak ingin susu kecil ini copot dari badanmu,” kata pimpinan komplotan sambil menjumput gundukan kecil di dada Lina. Lina menggigit bibirnya menahan ngilu.

Ia kini tak berdaya, sebab kedua tangannya diikat ke belakang. Maka leluasalah para lelaki menjamah sekujur tubuhnya. Payudaranya yang cuma sekepalan tangan mungilnya menjadi sasaran favorit. Bahkan, dari luar t-shirt ketatnya, seseorang menemukan putingnya dan terus memilin-milinnya.

“Awwwhhh… aduhhh, sudah dong… aduhhhh, lepaskan saya… aduhhh… saya janji nggak lapor polisi… aduduh… mmmfff…” Lina makin kesakitan, tapi ia tak bisa berteriak. Salah satu lelaki menciumnya dengan amat bernafsu, sementara pangkal pahanya diremas-remas dengan kasar. Begitu pula kedua gundukan pantatnya.

Lina kini dibaringkan di meja ruang tamu. Kedua kakinya ditekuk ke atas hingga mengangkang seluas-luasnya. Lina nyaris menjerit ketika melihat sebatang penis besar di depan wajahnya. Tapi mulutnya langsung terbungkam karena penis itu dipaksa masuk ke mulutnya yang mungil.

Gadis itu betul-betul tak berkutik. Ia merasakan t-shirtnya ditarik ke atas, lalu bra-nya dibetot hingga putus. Lina nyaris menggigit penis di dalam mulutnya karena sakit luar biasa akibat kedua putingnya dijepit dan ditarik-tarik.

Lina makin panik waktu celana kaus ketatnya di bagian pangkal paha digunting hingga memperlihatkan celana dalam putihnya. Cd-nya pun mengalami hal serupa, sobek di bagian tengah. Para lelaki berebut melihat dari celah itu, vaginanya yang mulus, nyaris tanpa rambut.

Tubuh Lina mengejang dan dari mulutnya yang terbungkam terdengar erangan kesakitan. Ternyata pimpinan komplotan menusukkan satu jarinya ke liang vaginanya sejauh-jauhnya. Keperawanannya hilang hanya oleh satu tusukan.

Pedihnya belum hilang saat penis yang beberapa kali lipat lebih besar dari jari, ganti menusuk vaginanya.

“Hebat… aku dapat memek wartawati. Hihhh… hihhh…” katanya sambil mendorong pinggangnya jauh, sekuat tenaga.

Lina nyaris pingsan ketika semburan cairan kental memenuhi rongga mulutnya, lalu menyusul cairan yang hangat di dalam rongga vaginanya.

Tapi para lelaki tak memberinya kesempatan beristirahat. Segera saja ada yang menggantikan posisinya. Darah menodai pangkal pahanya. Tapi itu tak membuat seorang di antara mereka menusukkan penisnya ke anusnya yang sempit. Kali ini Lina mencapai batas kemampuannya. Ia pingsan. Tapi tetap saja perkosaan berlanjut, sampai semua lelaki kehabisan tenaga, membiarkan Lina tergeletak dengan paha mengangkang yang memperlihatkan gumpalan sperma bernoda darah di situ, serta mulut mungilnya yang meneteskan sperma. Sepasang payudaranya yang mungil tampak merah kebiruan bekas remasan kasar. Salah satu putingnya lecet dan menitikkan darah.

***

Para pemerkosa itu tampaknya belum betul-betul puas. Mereka memasukkan motor Lina ke garasi dan mengunci rapat pagar rumah serta menutup korden ruang tamu. Kini tak ada yang mengira ada kehidupan di dalam. Para tetangga pun menyangka para mahasiswi yang kos di situ tengah pulang kampung.

Hari mulai gelap ketika 7 gadis berjilbab dikumpulkan di ruang tengah. Semua telah sadar dari pingsannya. Dan semua kini dalam ketakutan luar biasa. Kelima lelaki itu di depan mereka masing-masing memegang sebuah botol minuman keras dan menenggaknya.

Para gadis dalam kelelahan dan kesakitan luar biasa. Mereka tak punya keberanian lagi untuk melawan, apalagi di tangan para lelaki tergenggam berbagai senjata tajam. Tapi mereka agak lega ketika satu persatu diperintah untuk mandi di kamar mandi yang terbuka dan kembali berpakaian rapi, namun tanpa pakaian dalam lagi. Kini di ruang tengah itu berkumpul 7 gadis berjilbab.

LINA

LINA

“OK, sekarang waktunya pesta. Kamu berdiri, kita akan buat album foto!” pimpinan komplotan menunjuk Lina.

Gadis mungil itu ketakutan. Perlahan ia berdiri di depan 6 temannya. Pangkal celananya yang sobek tak begitu tampak. T-shirt ketatnya masih menampakkan bentuk payudaranya yang tak seberapa besar. Kali ini putingnya tampak membayang, karena ia tak mengenakan bra.

“Ayo, joget dan mulai lepaskan baju dan celanamu. Jilbabmu nggak usah dilepas,” lelaki itu melanjutkan. Kebetulan TV menyiarkan lagu-lagu dangdut.

Dengan iringan dangdut itulah Lina mulai bergoyang. Kilatan lampu blitz menerpa tubuhnya saat ia mulai melepas celana panjang ketat disusul celana dalamnya.

Lalu, t-shirtnya pun lepas. Sementara para gadis dipaksa memperlihatkan kegembiraan dengan bertepuk tangan dan tertawa-tawa. Ketika Lina usai, ia ganti duduk di tengah rekannya yang lain. Lalu, gadis-gadis lain mendapat giliran menari striptease. Dari keadaan tertutup rapat, gadis-gadis itu kini telanjang bulat, kecuali jilbab di kepala mereka.

Ketujuh gadis itu kemudian difoto dengan beragam pose. Termasuk di antaranya pose seolah mereka sedang berpesta lesbian. Uswatun difoto dalam keadaan berdiri dengan Khusnul di bawah menjilati selangkangannya, sedang di belakangnya Halimah memegangi kedua payudaranya. Ketujuh gadis itu juga difoto saat mulut mereka mengulum penis. Khusnul bahkan difoto dengan leher botol menusuk vaginanya dan kedua putingnya dihisap Inda dan Aisyah.

Usai sesi fotografi itu, ketujuh gadis dibaringkan di lantai dan satu persatu para lelaki kembali menyetubuhi mereka. Pesta gila itu berlangsung semalam suntuk. Ketujuh gadis berulangkali pingsan akibat kelelahan dan sakit amat sangat. Menjelang pagi, baru para lelaki itu merasa puas. Tapi mereka tak segera pulang. Setelah ketujuh gadis itu betul-betul siuman, mereka kembali dikumpulkan di ruang tengah, masih tanpa busana dan jilbab yang kusut serta sekujur tubuh yang basah oleh sperma.

“Oke, kalian semua sungguh memuaskan. Tapi ingat, lain kali kami akan datang lagi kapanpun kami mau. Atau, kalian yang datang ke mana kami perintahkan. Ingat, foto-foto kalian akan tersebar di kampus dan di internet jika kalian berani bicara kepada siapapun,” kata pimpinan komplotan itu.

“Mengerti?!” katanya sambil meremas payudara Khusnul. Gadis itu mengangguk lemah. Pertanyaan serupa diajukannya kepada 6 gadis lainnya, juga sambil mencengkeram payudara mereka.

***

Lima lelaki itu telah pergi. Tujuh gadis di rumah itu saling berangkulan sambil terisak-isak. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tapi mereka sadar, mereka kini telah jadi budak seks lima lelaki itu.

AJENG

Pagi ini aku memacu motor binter tuaku menuju ke sebuah sudut kota tua ini, dmana aku membuat janji dengan seorang wanita. Janji itu kubuat di facebook, setelah beberapa kali pedekate via message dan chat di facebook. Sungguh aku bisa semakin menambah jaringan gadis berjilbab yang ku nikmati melalui facebook! Tinggal cari cang cantik, ajak kenalan, lalu dicoba dengan kata2 nakal. Kalo mereka merespon, lanjutkan ke tingkat selanjutnya 2-3 kali lagi. Kalo terus merespon, sudah jelas mereka adalah cewek2 berjilbab yang mudah gatal, sehingga gampang saja diajak mojok berdua.

Orange Café, aku berhenti didepannya. Segera kuparkir motorku lalu memasuki café itu. Aku layangkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan, menemukan sosok wantia cantik sedang duduk dipojok, sedikit tersembunyi dengan naungan tanaman penghias ruangan. Segera kudatangi wanita berjilbab itu sambil memasangs enyum yang manis.

“ajeng.” Katanya sambil menyambut tanganku. “ternyata kamu ganteng juga yah.” Katanya sambil tersenyum. Aku juga tersenyum. Dari pengamatan kilatku, Ajeng adalah seorang yang manis, dengan kacamata dan wajah yang putih, tinggi semampai dan langsing sekitar 170an cm, dan berumur sekitar 23tahunan. Jilbab kaus cekak hitamnya yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan buah dadanya yang menggunung kecil tertutup blazer sederhana berwarna ungu muda. Wanita muda yang aku hafal betul akan pura2 jual mahal sebelum mengerang dan mendesah ketika memeknya disodok2 kontol.

Sebentar aku berbincang2 dengannya di café itu, aku lalu mengajaknya untuk berjalan2 berputar kota. Agak lama dia memikirkannya, namun kemudian dengan kemampuanku untuk merayu, akhirnya dia mau. Segera kuajak wanita berjilbab itu dengan motorku berputar kota. Pelan2 kuarahkan motorku ke sebuah pantai di utara kota, yang sepi dan jauh dari pemukiman yang sudah kusurvei sebelumnya.

“kok kesini, mas?” tanya Ajeng ketika kami sampai di pantai itu. “iya, biar lebih akrab, kita ke tempat2 sepi.” Kataku sambil tersenyum nakal. Wanita cantik itu hanya tersipu sambil memukul pelan lenganku. Segera aku mengajaknya ke balik karang yang lumayan tersembunyi dari pantai.

Sambil duduk beralas jas hujan yang sudah kubawa dan bersandar karang, kami kembali bercerita melanjutkan apa yang kami bicarakan di café tadi. Aku bercerita tentang perjalanan dan petuaanganku (tentu saja petualangan seks tidak kuceritakan), sementara wanita berjilbab itu menceritakan hidupnya sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir yangs edang berlibur karena baru saja putus dengan pacarnya.

Sambil bercerita pelan-pelan aku dekatkan diriku semakin dekat dengan dengan tubuhnya. Kugenggan tangannya yang halus lalu kubelai kepalanya yang masih terbungkus jilbab. Dia diam tidak bereaksi. Lalu tanganku berpindah membelai pipi putihnya, Pelan2 tanganku kuturunkan ke bibirnya, dia juga diam tak bereaksi. Kulihat matanya terpejam. Lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mencium pipinya. wanita berjilbab itu agak mengelak kali ini. Aku lalu menyandarkan tubuh sekal wanita berjilbab itu di karang, sambil menyelonjhorkan kakinya yang masih memakai celana jeans ketat. Ajeng pasrah tanpa perlawanan. Dia memandangku dengan sayu. Tatapan mata gadis cantik berjilbab ini seolah menolak, namun juga terangsang. Aku tau ini adalah sebuah tanda. Lalu kukecup kening, kedua pipinya. Kemudian aku beralih kebibirnya yang sensual itu. Dia hanya diam tidak membalas.
“Jangan ah..” ujarnya.

Aku tidak menghiraukan larangannya. Karena aku tau dia mulai menyukai serangan2ku. Aku membelai payudaranya sambil kukecup terus bibirnya. Perlahan, wanita berjilbab itu mulai mengerang dan membuka mulutnya.
“Ah..sshh..jangan.. aku gak bisa kayak gini..sshh” protesnya perlahan tanpa melakukan perlawanan yang berarti.

Aku lalu mulai berusaha menyibakkan kaus ungu ketat yang ia pakai, namun dia menggenggan tanganku bermaksud melarang aku untuk meneruskan perbuatanku. Aku harus agak sabar memang. Kuturunkan wajahku ke perutnya yang masih dibungkus kaus ketat . Ku tatap belahan selangkangannya yang juga masih ditutupi celana jeans ketat. Lalu kecium belahan diantara kedua pahanya. wanita berjilbab itu merintih lagi.

“Ahh..”
Aku terus mencium daerah yang paling sensitive tersebut selama beberapa saat. Dia mulai merenggangkan kakinya.
“Buka aja yah celananya, biar agak enakan?” ujarku untuk meminta izinnya.
“Jangan ah. Begini aja. Nanti keterusan”
“Gak apa apa kok. Gak bakalan sampai keterusan” jawabku menenangkan hatinya.
Lalu kutarik risleting celananya. Kemudian kuturunkan perlahan celananya. wanita berjilbab itu menaikkan pinggulnya membantu .Terlihatlah CD nya yang berwarna cream yang terbuat dari bahan katun halus. Tepat ditengahnya terpampang gundukan indah yang kelihatan mulai basah. Lalu kucium gundukan itu.

“Ahh..sshh..” Ajeng memegang kepalaku. Sambi terus mengecup dan menjilat gundukan memeknya yang masih tertutupi CDnya, aku membuka celana jeans yang kupakai. Lalu kulempar jeans tersebut tak perduli ia terbang kemana. Lalu aku melepas juga kemejaku. Kulihat Ajeng menatap diriku yang bugil dan agak kaget melihat kontolku yang sudah menegang dan siap menyerang. Dia terlihat pasrah dan tak perduli lagi apa yang akan kulakukan selanjutnya.Lalu kuturunkan lagi wajahku ke wajahnya. Aku mengecup bibirnya.

Kali ini wanita berjilbab itu membalas. Bahkan sambil tetap duduk bersandar di karang beralas mantel hujan, dia melingkarkan tangannya ditubuhku. Aku sedikit menaikkan tubuhnya kepankuanku dan kutekan ke karang, lalu kuregangkan kedua belah kakinya. Kugesek2kan kontolku di diatas memeknya yang masih berbalut CD. Lalu aku memegang kontolku. Aku udah gak tahan. Aku mencari2 sela diantara CD nya untuk bisa menyentuh memeknya dengan kepala kontolku.

“Jangan dimasukin..ahh..aku gak bisa.. sshh..” Kembali wanita berjilbab itu protes. Tapi aku tidak perduli. Aku tau dia sangat menyukai permainanku. Setelah kubuka sedikit celah CDnya yang tepat menutupi bibir memeknya, aku menggosok2an kepala kontolku di bibir memeknya, tentu masih dengan bantuan tanganku. Terasa basah dan berlendir. Lalu aku mencari2 liang memek yang merupakan target utamaku. Ketika terasa kepala kontolku sudah tepat berada di depan liang memeknya yang licin dan basah, aku mendorong pantatku perlahan.

“Ohh.. sshh.. jangann.. ahh..” Dia mengerang ketika kepala kontolku mulai menerobos masuk. Aku lalu menekan lebih kuat lagi. Dan..blssesbb..masuklah dengan sukses kontolku kedalam liang kenikmatan miliknya. Matanya yang indah itu sedikit terbelalak, lalu terpejam kembali

“Ahh..sshh..ohh..” wanita berjilbab itu melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku.
Aku terus menyodok dan mendorongkan kontolku kedalam memeknya. Aku melakukannya cukup lama. Sekitar 25 menit. Lalu terlihat dia menegang dan merangkulku dengan kencang. Aku tau ini saatnya dia orgasme. Aku juga tidak mau kehilangan moment ini. Aku semakin mempercepat ritme kocokan kontolku menghujam liang memeknya.
“Ahh..jangan dikeluarin didalam ..hh..ohh..yahh..”Bisiknya.

Lalu terasa aliran klimaks mulai mengaliri diriku. Aku merasa kontolku akan memuntahkan sperma. Aku mengocok semakin keras. Lalu aku memeluk dirinya erat2 berbarengan dengan tarikan kakinya yang semakin memeluk pinggangku dengan kuat. Aku tak berdaya lagi. Dan, crot..crot..crot..tumpahlah spermaku menghujani liang memek sampai ke rahimnya.

“Ahh..” Dia mengerang keras.
Aku menatapnya lemas tanpa mengeluarkan kontolku yang masih berada didalam memeknya yang terasa masih memijat-mijat kontolku. Terlihat wanita berjilbab itu tersenyum, tapi kulihat ada linangan air mata dipipinya.

” Kamu nakal. Tapi kamu sangat lama bercinta daripada pacarku” Katanya.

Sesudah itu kami beristirahat sambil berbaring diatas mantel hujan. Tanpa sadar, aku terlelap sebentar, dan ketika sadar, aku menatap disekelilingku dan mencoba-mencoba menginngat apa yang telah terjadi. Kemudian kulihat seorang wanita terbaring disisiku. Ajeng. Ah, ternyata dia begitu masih menggairahkan, pikirku dalam hati. Aku lalu berpikir untuk menyetubuhinya sekali lagi. Lalu kubuka selangkangannya yang telah dia tutupi dengan celana dalamnya. Kemudian kujilat celah diantara pahanya. Aku lalu mengeluarkan kontolku. Kubuka CDnya pelan-pelan tanpa berusaha membangunkannya. Kuusap bukit berbulu yang indah tersebut tepat ditengah-tengah, terasa begitu basah. Lalu kulumuri batangku dengan lendir memeknya yang beraroma sangat khas.

Aku sudah nggak tahan. Lalu perlahan kuarahkan kepala kontolku yang mengkilat kedepan liang memeknya yang kubuka dengan bantuan dua jari tanganku. Lalu kudorong perlahan. Keliatan wanita berjilbab itu menggeliat sebentar. Lalu terdiam kembali. Aku mendorong kontolku lebih dalam, dan karena laing memeknya sudah begitu basah, amblas semua batangku menyeruak daging empuk, hangat dan lembab tersebut. Aku lalu menyodok dan mengocok dengan perlahan. Terdengar wanita berjilbab itu mendesis, tapi seakan tidak mau membuka matanya. Crep.. crep.. crep.. jlebb.. jleb. Semakin cepat dan semakin cepat. Dia lalu merintih halus.


“Ahh.. sshh.. ss..”

Aku lalu melihat dia mengejang dan kakinya merapat. Aku tau wanita berjilbab itu mulai merasakan orgasmenya, ntah dia sadar atau tidak. Aku lalu juga merasa gumpalan-gumpalan naik mengarah ke kepala kontolku siap untuk dimuntahkan. Lalu kutekan dalam-dalam kontolku ketika kurasa semburan maniku akan meledak. Crott.. crott.. crott.. crott.. crott.
“Hekkhh.. ahh..”jeritnya. Aku tau dia merasakan semburan maniku yang panas telah membanjiri liang memek hingga ke rahimnya. Sampai-sampai ketika kuacabut perlahan, terliat menetes masih dalam kekentalan keluar disela-sela liang memek hingga menetes ke paha dan lubang anusnya. Ah, betapa nikmatnya, pikirku. Akhirnya setelah beristirahat beberapa saat, kami merapikan baju kami masing2 lalu beranjak pergi, hingga saat ini ajeng jadi ketagihan bercinta denganku.

MELLY

Ah, setelah lama memendam nafsu birahi padanya, akhirnya suatu hari sampai juga niatku untuk menggaulinya. Aku memang sudah bertekad harus bisa merasakan kenikmatan tempiknya yang pasti tembam. Bukan Tom namaku jika tak berhasil menancapkan kontolku ke dalam liang memek dan lubang anusnya.

Aku mengajaknya ke sebuah hotel di pinggiran kota Jambi. Melly sungguh seksi malam ini dengan jilbab gaulnya yang berwarna hitam, kaos lengan panjang ketat warna hitam, dan celana jeans ketat yang juga berwarna sama. Pakaiannya sungguh mencetak jelas tubuhnya yang montok padat ranum.

“Mel, kamu cantik banget…” kataku memulai rayuan sambil meraih tangannya. Kami duduk di tepi ranjang dalam kamar hotel berAC. Ia balas mengenggam tanganku dengan lembut ketika kuremas perlahan jari-jemarinya. Duh, tangannya halus sekali.

“Huh, gombal!” katanya sambil melirikku nakal dengan ekor matanya yang indah.
“Beneran! Kamu cantik dan manis banget!” kataku sambil menjentik ujung hidungnya.
“Emangnya permen?” ia mencibir.
“Hm, tapi bisa dikulum kayak permen kan?”
“Lho, yang bisa dikulum kan punya abang?” ia kembali melirikku dengan mata menggoda. Nakal sekali.
“Emangnya Melly mau kulum?” tanyaku bersemangat. Ia tersipu malu dengan wajah bersemu merah. Aduh, Mak! Cantik banget deh…
“Mel… kamu mau nggak Abang gauli?” bisikku sambil mencium pipinya yang halus. Wajah kini jadi merah padam, kedua matanya yang bulat bening melirikku dengan malu, “Ah, abang! Masa’ tanyanya gitu? Melly kan malu..”

Aku tertawa kecil dan membelai-belai kerudung hitamnya, “Mau ya Mel? Sejak pertama kali melihat Melly, abang sudah kepingin banget menggauli Melly. Habis Melly manis dan merangsang banget sih?”

“Apa yang merangsang, Bang? Melly rasa Melly biasa-biasa saja. Abang saja yang otak mesum…” ia mencibir dengan manis. Dengan gemas aku mencubit pahanya sehingga ia mengadu kecil dan memukul lengannku. Kini sebelah tanganku sudah bergeser ke atas pahanya yang terbungkus jeans hitam ketat. Kuremas-remas dengan lembut. Terasa begitu kencang.

“Tubuh Melly itu dari ujung kepala berkerudung sampai ujung jempol kaki merangsang tahu! Apalagi pantat bulatnya ini!” kataku tiba-tiba meremas bokongnya yang seksi kuat-kuat.

“Aauwww!!!” Melly terpekik. Saat itulah, karena tak bisa menahan nafsu lagi, aku langsung mendorongnya ke atas ranjang dan menerkamnya. Kuserbu bibirnya yang merah ranum, kulumat habis-habisan, kusedot-sedot penuh nafsu. Melly membalas tak kalah panas, dengan liar ia menghisap bibirku. Sesaat berikutnya ia membuka mulutnya membiarkan lidahku menyelinap masuk. Kujelajahi seluruh rongga mulutnya. Lidah kami kemudian saling berbelit. Benar-benar enak bercipok dengan Melly. Gadis Melayu Jambi ini begitu hot.

“Oh abang…” desahnya manja ketika tanganku mulai meraih buah dadanya yang kencang dan meremas-remas payudara menantang yang masih tertutup kaos hitam dan bh itu dengan lembut, “Terus Bang, teruuus… remas tetek Melly…”

Kuhisap kedua puting teteknya bergantian, sambil tanganku menjalar nakal ke selangkangannya. Melly terpekik ketika tanganku menyelinap masuk ke dalam.

Kubalikkan tubuhnya hingga pantatnya yang masih terbungkus celana jeans ketat ternungging di atas ranjang. Tampak jelas cetakan celana dalamnya di buah pantatnya yang padat montok, bahkan ujung atas celana dalam putih itu terlihat menyembur keluar sebagian di pinggulnya. Merangsang banget. Dasar Melly! Ia emang suka memakai celana jeans ketat yang ukuran pinggulnya minim banget sehingga kalau berjongkok atau duduk, siapa saja bisa melihat ujung cdnya. Malah celana dalamnya langsung tertarik ke bawah ketika kuangkat pantatnya menungging lebih tinggi lagi, sehingga tampaklah celah pantat sawo matang Melly. Langsung saja kumasukkan tanganku ke celah itu… Jari-jariku menyusuri celah pantatnya ke bawah hingga menemukan lubang duburnya.

“Julurkan lidahmu, sayang…” pintaku dengan nafas tersengal-sengal. Ia menurut, begitu lidah merah basah itu terjulur, langsung saja kuhisap-hisap dengan keras hingga sepasang matanya yang bulat terbeliak-beliak.

Kini Melly sudah telanjang bulat tinggal jilbab gaul warna hitam yang menutupi kepalanya. Tubuhnya yang sawo matang benar-benar luas biasa indah dan menggairahkan dengan buah dada bulat montok membusung kencang. Puting susunya yang berwarna kecoklatan tampak meruncing keras karena terangsang. Perutnya rata, dan pinggangnya ramping dengan pinggul membulat padat berisi. Ketika ia merangkak naik ke atas tubuhku, dapat kulihat jelas memeknya yang –seperti dugaanku selama ini—tembam sekali! Tempik indah itu tampak membukit dengan belahan yang masih rapat dan ditumbuhi bulu-bulu halus.

Kuminta ia berjongkok di atas wajahku dan melebarkan kedua paha mulusnya sehingga tempiknya terkuak merah basah. Aromanya sungguh sedap, bau wangi khas tempik gadis Melayu.

“Ooouuukkkkhhhh…. Baaanggg…. Ooouukhhh…aaakkkkhh… addduuuhh ampuuuun Baaangg… Tempiiik Melly keluaar aiirrr…!! Ooohh…!!!” pekiknya ketika kuremas kuat-kuat memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih tipis. Tubuhnya mengejang, kedua pahanya mengatup dan menjepit tanganku. Bersamaan itu… Seeeerr! Seeerrrr…! Seeerr…!” Cewek Jambi ini orgasme. Terasa cairan hangat membasahi celana dalamnya dan jari-jariku.

“Gilaa… besar banget, Bang! Kayak terong!” katanya sambil mengenggam erat kontolku yang sudah menegang keras.

“Ooouuhhh, habis deh lubang dubur Mellyyy…” desahnya dengan pinggul bergetar ketika kutusukkan jari telunjukku ke dalam lubang pembuangannya yang indah itu. Dengan penuh nafsu kucongkel-congkel lubang anus yang menggoda itu, lalu kumasukkan lagi satu jari. Dengan telaten aku terus berusaha melebarkan lubang dubur gadis Melayu ini agar kontolku nanti bisa masuk untuk menikmatinya. Kugerakkan jari-jariku berputar-putar hingga Melly merintih keras antara merasakan perih dan nikmat. Kuciumi lagi kedua buah pantatnya yang sawo matang mengkilap. Setelah merasa cukup, perlahan kutarik keluar kedua jariku. Lubang anus Melly tampak kini tampak mengganga merah siap disodomi. Astaga, luar biasa indahnya di tengah-tengah celah pantat semoknya terkuak, sementara memeknya yang tembam tampak membukit dan terbelah merah basah berlumuran spermaku yang putih kental bercampur cairan orgasmenya, yang masih berlelehan ke pahanya dan menetes-netes ke seprei.

Aku tidak segera menancapkan kontolku ke lubang dubur Melly, tetapi menjulurkan lidahku menjilati liang berak indah itu untuk merangsangnya lebih jauh lagi.

“Aaakkkhhh Abaannng… geliii, Baannng…,” erangnya tertahan dengan suara sangat manja tetapi mengangkat pantat montok sawomatangnya lebih tinggi dan membuka pahanya lebih lebar lagi agar lidahku semakin bebas mengakses lubang anusnya. Lubang pembuangan itu sungguh sedap dan gurih, baik aroma maupun rasanya, bau dan rasa yang khas lubang anus gadis Melayu. Cukup lama aku menjilat dan menghisap lubang dubur Melly, tak puas-puas rasanya saking sedap dan gurihnya lubang pembuangan mahasiswi Fakultas Hukum yang berjilbab ini. Apalagi memeknya tampak mulsi mengeluarkan cairan birahi lagi karena kembali terangsang.

Akhirnya kutempelkan juga ujung kontolku ke lubang anus gadis Jambi yang manis ini, siap menggarap lubang duburnya yang pasti mengandung kenikmatan luarbiasa ini. Kutekan kepala kontolku perlahan. Tubuh Melly sampai tersentak ke depan.

“Aduuhhh, Baaangg… Pelan-pelan!” pekiknya sambil menoleh ke belakang dengan ekspresi wajah kesakitan. Kubelai-belai buah pantatnya yang montok untuk menenangkannya dan mencoba menekan lebih lembut. Susah sekali, meskipun lubang berat itu sudah licin oleh air liurku. Mau tak mau kutekan lebih keras.

“Saa..saakiiiit, saakiiiitt Baanngg…Oouukkhh!” Melly menjerit lagi. Tapi kali ini tak kuperdulikan. Kutusukkan kontolku sekuat tenaga untuk menerobos masuk lubang anusnya yang sempit. Biar bagaimanapun aku harus dapat menembus lubang berak gadis Jambi yang menggairahkan ini.

“Aaaakkkkhhhh…!!! Aaakkkkkhh…! Jangaaan dipaksaaa Baaanggg… bisa robeeekk…!!” Melly meraung-raung keras nyaris histeris, pantatnya sampai terangkat-angkat dan kakinya menendang-nendang ke belakang. Tapi aku malah menekan lebih kuat lagi… Hingga akhirnya kepala kontolku berhasil membelah liang anus itu lalu menyeruak lebih dalam lagi.

“Aaaaaaaakkkkkk….!!! Aaakkkhh, saakkiiiiiiitttt….Ouuukkkhhhh…saaakkiiiitt, Baaanggg..!!” gadis itu menggoyangkan pantatnya dengan hebat, “Pelan Baaangg… Pelaaan… Melly mohon yang pelaaan…!”

Oouuh, nikmat sekali Tuhan. Seumur hidup belum pernah kurasakan lubang anus cewek yang sesempit ini. Aku mencoba berkonsentrasi penuh. Dengan mencengkraman pinggulnya kuat-kuat, kembali kuhentakkan kontolku agar masuk lebih dalam. Oouuhhh, Tuhan, benar-benar sempit!

“Tahaaannn..! Tahaaan Baanng…! Berhentttiii… Pleaseee… Berhentttiii, Baanggg… Nggaaak muat, Baaangg…!” Melly sampai meratap-ratap ketakutan merasakan aku terus memaksa menerobos lubang beraknya, tapi mana aku peduli karena kenikmatan yang sudah berada di ujung kontol. Bleessss…bleeeess….bleeeeessss!!!

“Aaaakkkkkhhhhh!!! Ampuuuunn Baaaangg…!” Melly memekik keras ketika batang kontolku berhasil menerobos masuk sampai setengah. Rasa sakit di liang anusnya membuat sekujur tubuhnya kelojotan dan bersimbah keringat. Tapi aku masih saja terus berusaha menekan kontolku agar dapat masuk secara keseluruhan di dalam lubang anus itu.

“Oouuuukkkkhhhhh aaaakkkhhh, stoopp…stoopp! Janggaaaan diterusinnn, berhentiiii…berhentiii, Baaang…! Ooouukkhh, suddaaah…! Suudaaahh! Ampuuuunnn Baanggg, ampuuuun… dubur Melly sudah penuh… Jangaannn dipaksa lagiii!” Melly mulai menangis karena tak tahan lagi oleh rasa sakit, “Hiiiikks…hiiikkkss…Addduuuuuhhh besar sekaliiii, gaaak muaaatt…! Mattiii akuuu, Baangg… Cabut, Bang…Dicabut! Jangan diterusiiin lagiii! Huuuuhuuhuuuuuhhhhhh! Melly gak maauuu dingenttot di dubur, Baaang…! Sakkiiiiiitttt!!!!” ia benar-benar kalang kabut.

Tapi dengan satu tusukan keras, akhirnya seluruh batang kontolku melesat masuk ke dalam lubang pembuangan gadis itu sampai ke dasar-dasarnya. Tubuh sintal sawo matang itu tersentak keras ke depan. Jeritan keras terdengar dari mulutnya. Ia meraung histeris dengan panik merasakan keras dan penuhnya batang kontolku yang tertanam erat di dalam lubang anusnya.

Kudiamkan beberapa saat menunggu sakitnya agak reda, tampak jelas darah segar meleleh keluar dari dalam lubang dubur gadis Jambi ini. Badan Melly terguncang-guncang, ia menangis tersedu-sedu.

“Huuuhh huuuhhh huuuuuuhh…Ampuuuun… ampuuuuunnn…! Abang jaahhaaaaaattt…! Anus Melly robek, Baannnggg…! Huuuhuuuhhuu hiiikksss hikkksss!”

“Tahan sayaaang, tahan… nanti juga bakalan nikmat anusmu, sayang…” kataku mulai mencoba menggerakkan kontolku perlahan. Huh, lubang dubur gadis Jambi itu benar-benar sempit, batang kontolku benar-benar penuh tertanam di dalamnya, sehingga rasanya tak ada lagi ruang bergerak.

Tapi akhirnya pelan-pelan namun pasti dapat juga kugenjot lubang anusnya. Melly tiada henti menjerit, memekik-mekik dan mengerang tertahan setiap kali kugerakkan kontolku. Air matanya bercucuran dan menambah cantik wajahnya, “Adduuuh…! Addduuuuuhhh…! Ampuuuun….ampuuuun… Melly gak maaauuu lagggiii… Melly gaakk mauuu… Ouuukkkhhhh… suddaaah… sudaaaah ampuuuuuuunnnn Baaaanggg….!!”

Sampai lima menit kemudian suaranya mulai berubah menjadi rintihan manja dan lenguhan penuh nikmmaaatttt, “Aaaakkhhhh eennaaaaakkk… enaaaaakkkk Baaanggggg. Teruuuuussss! Ngeeentttoooot terrruuuusss Baaaang…!”

Sambil mengentot lubang duburnya, sebelah tanganku merayap ke selangkangannya dan meraba memeknya yang tembam. Tempik basah kuyup itu kugosok-gosok dengan gemas, kuremas dan kucongkel-congkel. Hasilnya, Melly kini merintih-rintih kenikmatan, apalagi ketika jari-jariku menemukan klistorisnya yang sudah menegang runcing dan mempermainkan kelentit mungil itu.

Sungguh-sungguh belum pernah aku rasakan lubang dubur cewek yang senikmat lubang dubur Melly. Aku terus menyodomi lubang anus gadis Jambi ini habis-habisan, sampai sepuluh menit kemudian aku merasakan kontolku berdenyut-denyut tak sanggup lagi melawan rasa nikmat. Aku hunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang pembuangan gadis manis ini dan menyemburkan air maniku dengan deras… Croooott…! Crooottt..! Crrrooooottt…! Spermaku muncrat habis-habisan ke dalam lubang anus gadis Melayu mahasiswi Fakultas Hukum yang berjilbab ini.

“Ooouuukkkhhh Meeeell…! Duburmuuuu nikmaaaattttt bangeeett, sayaaaannngg…!” aku meraung meresapi kenikmatan surga dunia di lubang duburnya.

Nikmatnya tak bisa dibahasakan dengan kata-kata. Tubuh montok Melly terasa mengejang, kelojotan, dan tanpa menyia-nyiakan waktu kutusukkan dua jariku ke dalam lubang memeknya yang basah kuyup dan mencongkel lubang itu kuat-kuat..

“AAAAAKKKKHHHHHH….! Meeeemeeekkk Meeellllyyyy muunnnccrraaaatttt.. Baaaangggg…. Ennnaaaakkkkk!!!” Tubuhnya sampai melengkung, kedua matanya yang bagus terbeliak, dan pantat bulatnya terhentak ke atas. Seketika cairan vaginanya meluber keluar membasahi tanganku.

Kucabut kontolku dari lubang anusnya. Terlihat darah segar meleleh dari lubang berak itu. Melly menangis terisak-isak. Kupeluk tubuhnya yang basah kuyup bersimbah keringat erat-erat dan kulumat bibirnya yang ranum.

“Terima kasih ya Mel?’ bisikku mesra sambil menghapus air mata yang meleleh dipipinya, “Kamu hebat sekali, Mel. Duburmu benar-benar enak dingentot…”
“Huuuh, abang jahat! Masa’ gak muat dipaksa juga…”
“Habis lubang dubur Melly ngemesin banget sih! Kan rugi banget gak ngentotin lubang dubur cewek Jambi semanis dirimu!”
“Kan udah ngentotin memekku yang nikmat seharian, masa’ belum cukup juga Abang!” ia pura-pura merengut, cantik banget!

“Hehe… dubur Melly kan bonus?”
“Enak aja! Lain kali Melly gak kasih lagi!”
“Jangan gitu dong, sayang… Kalau abang ketagihan gimana?
“Bayar dulu kalau mau ngentot!”
“Ah, masa gitu sama abang?”
“Melly serius! Gak percaya? Beneren, lain kali Melly pasang tarif lho?”
“Mahal gak?”
“Hmm, untuk abang boleh deh korting…”
“Emang berapa tarif memek Melly?” tanyaku pingin tahu.
“Satu juta sekali ngentot!”
“Kalo dubur?”
“Tiga juta!”
Kini tibalah saatnya bagi Melly untuk mandi. Dengan manja ia memaksaku menggendongnya ke kamar mandi. Tentu saja aku menyambut dengan gembira. Kedua payudaranya yang padat membusung terasa kencang di punggungku, demikian juga dengan memeknya yang tembam membukit. Terasa basah dan begitu hangat, apalagi Melly melingkarkan kedua pahanya yang mulus begitu erat di pinggangku.
Sesampai di kamar mandi kuminta gadis ABG cantik ini membuka jilbabnya hingga rambutnya yang hitam panjang tergerai dan berjongkok. Kuraih gayung dan menyiram tubuhnya.
“Mas… bersihin memek Melly dong!” regeknya manja sambil berdiri melenggangkan kedua kakinya lebar-lebar. Indah sekali kemaluan gadis Jambi ini yang masih menyisakan sisa-sisa persetubuhan. Bentuknya yang tembam membukit dengan belahan rapi itu sungguh mengundang selera. Apalagi memek itu kini tampak semakin membengkak, berwarna kemerah-merahan, dan kuyup penuh ceceran air maniku yang putih kental, setelah kungentot habis-habisan. Bulu-bulunya yang hitam lebat tampak basah lengket oleh campuran spermaku dan cairan kewanitaannya. Memek cewek Jambi ini memang menggiurkan nian!

“Gila Mel, memekmu indah banget!” desisku kagum sambil menuangkan cairan sabun sirih pembersih vagina ke telapak tanganku.

Setelah mandi, harum dan bersih lagi, Melly kusuruh mengenakan kembali jilbabnya.“Abang mau ngentot memekmu lagi,” bisikku mesra sambil menggandengnya ke tempat tidur. Dengan penuh inisiatif, Melly langsung berbaring telentang dan mengangkangkan kedua paha mulus kencangnya lebar-lebar sehingga celah memeknya yang tembam tampak terkuak. Kini Melly ini siap dingentot lagi. Liang memek merah basah cewek Jambi ini tampak terdenyut-denyut tanda sudah siap disenggamai.

Untuk beberapa lamanya, aku terpana melihat pemandang yang sangat indah itu. Seorang gadis manis bertubuh padat ranum dan berkulit sawo matang yang berjilbab tetapi bawahnya telanjang bulat dengan posisi kedua paha membuka lebar siap disetubuhi, bayangkan saja

RINA

Pada suatu pagi, sekitar pukul 0830, aku yang sedang suntuk pergi ke sebuah hutan cagar alam kecil di selatan kota. Kota kecil ini sudah kusinggahi sekitar 3 minggu, dan aku masih lumayan betah. Segera kuparkir motor di tempat titipan motor, dan menyusuri jalan setapak masuk hutan yang sekarang sedang sepi karena memang bukan hari libur. Terasa sangat sejuk, pagi hari hiking menikmati rerimbunan pohon pinus di hutan cagar alam itu.

Ketika sedang berjalan menikmati kesunyian dan kesejukan hutan, aku melihat sesosok gadis manis berjilbab sedang duduk disebuah bangku dibawah sebuah rumah kayu yang memang disediakan untuk beristirahat. Dari bajunya yang atasan putih dan bawahan rok abu-abu, aku tau kalau dia adalah seorang siswi SMU. Segera otak kotorku bekerja dan membuat kontolku naik. Bayangkan, menikmati memek gadis cantik berjilbab pelajar SMU ditengah hutan yang sunyi dan sejuk ini. Segera aku menghampiri dan menyapa sang gadis itu. Yang sedang duduk termangu.

“assalamu alaikum..” kataku sedikit keras, memang sengaja mengagetkannya. Gadis berjilbab itu sedikit kaget lalu dengan cepat menoleh kearahku. Wajahnya cantik putih,d engan hidung mancung dan bibir tipis. Kacamata minus bertengger di hidungnya.

“wa alaikum salam.. ngagetin aja ihh..” katanya dengan tersenyum kecil. Suaranya yang lembut, menambah gejolak birahiku. Otakku berfantasi membayangkan suara lirihnya merintih2 karena memeknya kusodok2 dengan kontolku.

“lagi ngapain?” tanyaku. Sembunyi2 aku menatap tubuhnya. Sekal untuks eorang siswi SMU. Pantatnya bulat, tubuhnya padat berisi namun langsing, dengan tinggi semampai. Buah dadanya terlihat sedikit mononjol dibalik seragam putih osis lengan panjang dan jilbab putih yang terulur menutupi dadanya.

“lagi ngelamun.” Jawabnya sambil tersenyum manis.

“ngelamunin apa?” tanyaku lagi, memancing pembicaraan. Sambil semakin mendekat hingga disampingnya. Siswi berjilbab itu memandangku seksama seakan menilai, lalu menjlurkan lidahnya padaku, menggoda. Aku tersenyum.

“kenalin, Wawan.” Kataku sambil mengulurkan tanganku.

siswi berjilbab itu tersenyum dan menyambutnya. “Rina/” katanya. Tangannya yang bersentuhan dengan tanganku terasa sangat halus.

“lagi ngapain disini sendirian? Bolos yaa…” kataku mengganggunya. siswi berjilbab itu segera berdiri didepanku. “iya nih… lagi BT di sekolah..” katanya sambil menggerutu.

“emang kenapa? Habis putus cinta yah?” tanyaku nakal. “idih… nggak… sekarang jadwalnya olah raga… guru olah raganya rese… sukanya grepe-grepe..” jawab gadis cantik berjilbab siswi Smu itu. Tangannya sudah dilipat didepan dada, semakin membuat tonjolan buah dadanya terlihat. Hatikus emakin tidak karuan.

“tapi diam-diam suka kaaan…” kataku menggoda.

“idiiiih…” jawabnya sambil sok bergidik jijik. “jijik, tau…”

“eehhh… digrtepe-grepe bisa enak lhoo..” kataku terus memancing. Siswi berjilbab itu hanya tersenyum simpul sambil kembali menjulurkan lidahnya genit.

“eh Rin, mau gak, masuk lebih dalem ke hutan? Ada tempat yang buagus banget deh…” kataku. Padahal aku berbohong.

“yang bener? Ahh, gak mau ah… ntar Rina mau diapa-apain,lagi…” jawabnya, sambil masih tersenyum genit.

“gapapa deh… ayo ikut… diapa-apain kan gapapa kalo enak.” Kataku seolah bercanda. Padahal otakku sudah memikirkan banyak jurus untuk mendapatkan tubuh gadis cantik berjilbab itu.

“iya deh.” Jawab Rina akhirnya, membuat hatiku seolah meloncat saking senangnya. “tapi janji gak diapa-apain yah.” Jawabnya lagi.

“gak kok, ntar tak kasih yang enak2″ jawabku lagi. Akhirnya kamipun berjalan menyusuri jalans etapak sambil bercakap2 dan menikmati keindahan hutan.

Beberapa lama, setelah kami berada semakin masuk kedalam hutan, kami menemukan lagi sebuah tempat beristirahat. Sebuah batu besar panjang 2 meter, dengan atap dari daun pinus sekedar menahan jika ada hujan. Rina berlari kecil menuju tempat itu dan duduk dubatu itu.

“istirahat dulu, capek..” kata gadis manis berjilbab itu.

“oke.” Kataku sambil duduk disampingnya. “jadi gak nih, mau yang enak2?” kataku kembali memancing.

“gak mau ah.. emangnya Rina apaan..” katanya sambil pura-pura marah. Aku semakin medekatkan dudukku pada gadis berjilbab bertubuh sekal itu.

“yah, kan Rina cantik.. mas jadi gak tahan..” bisikku ketelinganya yang masih tertutup jilbab. Pelan kuraih tangan kanannya yang halus, lalu kuremas dan kubelai. Gadis cantik berjilbab itu menatapku, namun diam saja. Terlihat wajahnya merah karena malu. Segera siswi berjilbab itu menarik tangannya dan memalingkan tubuhnya agak membelakangiku, karena tatapan sayunya bertemu dengan tatapanku.

Pelan-pelan kupeluk Rina dari belakang pelan-pelan. Gadis cantik berjilbab berttubuh sekal itu sedikit berontak.

“jangan mas.. Rina gak mau..” bisiknya sambil sedikit berontak. “gapapa Rina, ntar mas kasih enak…” bisikku ke telinganya yang tertutup jilbab. Kudaratkan ciumanku di pipi kanannya. Rina masih tegang, mungkin karena tidak pernah dipegang cowok. Apalagi kontolku yang sudah ereksi dibalik celana jeansku dari tadi, menempel di pantatnya karena aku sudah duduk menkangkang. Kugenggam tangan kirinya dengan tangan kananku, tangan kiriku memeluknya, sementara bibirmu mulai menciumi pipi dan telinganya.
“Ohh..sstt” desisnya. Aku palingkan wajahnya sehingga aku mudah mencium bibirnya yang mungil, pelan saja dan siswi berjilbab itu mulai menanggapinya. Kupermainkan lidahku dengan lidahnya, sementara kuputar pelan-pelan tubuhnya sampai menghadapku (masih dalam keadaan duduk). Dengan cukup cepat kupeluk mesra dia agar tidak semakin berontak, kedua tanganku mengelus-elus punggungnya dan terkadang kuremas lembut kedua pantatnya. pantatnya begitu menggairahkan. padat berisi sampai-sampai ingin rasanya meremas dan menciuminya. Kontolku sudah semakin tegang. Pelan-pelan sambil terus kuciumi gadis SMU berilbab yang sudah pasrah itu, kubuka ritsleting celanaku dan kukeluarkan kontol besarku. Gadis itu seolah tertegun bingung karena tidak tau apa yang harus ia lakukan. Langsung kubimbing tangannya untuk mengelus-elus dan mengurut seluruh bagian kontol. Terasa nikmat kontolku dibelai dan diurut oleh tangan halus siswi lugu berjilbab itu.

Kusandarkan Rina pelan-pelan didinding kayu gubug istirahat itu, bibirku semakin bergerilya di seluruh permukaan wajahnya yang cantik.
.
“Ohh, sst..” desahnya, yang semakin membuatku bernafsu. Dengan bibirku yang tetap aktif, tangan kananku mulai menelusuri badannya, kuelus-elus pundaknya, lalu turun ke dada kanannya, menyusup kebalik jilbabnya, meremas buah dada sekalnya. Kuraba pelan, lalu mulai remasan-remasan kecil, siswi berjilbab itu mulai menggeliat. Buah dadanya terasa kenyal dan kencang, semakin kuperlama remasanku, dengan sekali-kali kuraba perutnya. Tanganku mulai membuka satu-persatu kancing seragam OSIS lengan panjangnya, dan menyusup masuk didalam bajunya, mengelus perutnya dan Rina kegelian. Tanganku yang masih di dalam bajunya, mulai naik kedadanya dan meremas kedua gunung kembarnya, jariku keselipkan dibranya agar menjangkau putingnya untuk kupermainkan.

Rina mulai sering medesah, “Sst.. ahh.. ohh” Karena branya sedikit kencang dan mengganggu aktivitas remasanku, maka tanganku segera melepaskans emua kancing bajunya dan kemudian kait branya kubuka, sehingga longgarlah segel 2 bukit kembar itu. Bajunya kusingkap kesamping, sementara Bhnya kusingkap keatas, menampakkan keindahan dadanya, putih mulus, kedua putingnya mencuat mengeras ingin dijilati. Sudah saatnya nih beraksi si lidah. Kujilati, kusedot-sedot, kucubit, kupelintir kecil kedua putingnya. Rina mulai meracau tidak karuan manahan nikmatnya permainan bibirku di kedua dadanya. Kubuka baju dan branya sehingga tubuh atasnya hanya tinggal ditutupi jilbab putih membungkus kepalanya yang sengaja tidak kulepaskan. Gairahkus emakin meninggi melihat gadis berjilbab yang lugu terengah-engah keenakan kurangsang dengan baju yang sudah terbuka memperlihatkan buah dadanya yang putih ranum menggunung.
Tubuhnya yang putih, dua bukit ranum dengan 2 puting mencuat indah, wajahnya memerah, keringat mengalir, ditambah desahan-desahan yang menggairahkan, sungguh pemandangan yang tidak boleh disia-siakan. Kuciumi bibirnya lagi, dengan kedua tanganku yang sudah bebas bergerilya di kedua bongkahan dadanya. Nafas kami menderu menyatu, mendesah. Perlawanan gadis cantik berjilbab tadi sudah tidak terasa lagi. .

Untunglah hutan itu sepi, sehingga desahan Rina yang semakin keras tidak membuatku takut ketahuan. Kulepas baju seragamnya dengan sedikit paksaan, kusibakkan jilbabnya sehingga tidak menutupi dadanya, lalu Kuciumi dan kujilati badannya, mulai dari pundak, turun ke dadanya. Sengaja kujilati bongkahan dadanya berlama-lama tanpa menyentuh putingnya, kupermainkan lidahku disekitar putingnya. kutempelkan tiba-tiba lidahku ke puting kanannya dan kugetarkan cepat, tangan kiriku mencubit-cubit puting kirinya, Rina semakin kelojotan menahan geli-geli nikmat. Enak sekali menikmati bukit kembar cewek jilbaban. Tangan kananku mulai merayap ke pahanya, yang masih tertutup rok abu-abu panjang, kuelus naik turun, terkadang sengaja menyentuh pangkal pahanya.

Terakhir kali, tanganku merayap ke pangkal paha, menyingkapkan rok abu-abu panjangnya keatas sehingga celana dalamnya terlihat. Dengan satu jariku, kugesek-gesek memeknya yang ternyata sudah basah sampai membekas keluar di celana pendeknya. Kedua kaki gadis berkulit putih berjilbab berwajah lugu itu langsung merapat menahan geli. Tanganku mengelus pahanya dan membukanya, menjalar ke kemaluannya, lalu semua jariku mulai menggosokkan naik turun ke bukit kemaluannya.
“Ah udah mass..uhh hmm.. aduuhh.. enakk..”, geliatnya sambil meremas pundakku erat. Kulumat bibirnya, tanganku mulai menyusup menguak CD-nya, meraba memeknya. Rina semakin terangsang, dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang birahi. Tak lama kemudian siswi berjilbab itu mendesis panjang dan melejang-lejang. Ia menggigit bibir bawahnya sambil matanya terkatup erat, lalu memeknya berdenyut-denyut seperti denyutan kontol kalau melepas mani. Rina lalu menarik nafas panjang. Basah mengkilap semua jariku, karena mungkin Rina tidak pernah terasang seperti ini, lalu kujilat sampai kering.

“Mas jahat, katanya Rina gak akan diapa-apain..” kata siswi berjilbab bertubuh sekal itu sambil memelukku erat. “tapi Rina suka kan.. enak kan..” bisikku semakin bernafsu. Sudah saatnya kontolku dipuaskan. Kucium bibirnya lembut, kubimbing lagi tangannya untuk meremas dan mengurut kontolku. Gantian aku yang melenguh dan mendesis, menahan nikmat. Posisiku kini berdiri didepan Rina, kuturunkan celanaku dan kuminta Rina untuk terus memijat kontolku.

“harus digimanain lagi nih?”, tanyanya bingung sambil tetap mengelus-elus batang kejantananku. Terlihat disekitar ujung kontolku sudah basah mengeluarkan cairan bening karena ereksi dari tadi.
“Ya diurut-urut naik turun gitu, sambil dijilat seperti menikmati es krim” sahutku. Ditimang-timangnya kontolku, dengan malu-malu lalu dijilati kontolku, ekspresi wajahnya seperti anak kecil.

*****************************************************

Gadis berjilbab SMU itu pelan-pelan mulai memasukkan kontolku ke mulutnya dan “Ahh Rin, jangan kena gigi, rada sakit tuh, ok sayang?”
“Hmm, ho oh”, mengiyakan sambil tetap mengulum kontolku. Nah begini baru enak, walaupun masih amatir.
“Yess..” desahku menahan nikmat, terlihat semakin cepat gerakan maju mundur kepalanya.
“Mas, bolanya juga?” tanyanya lagi sambil menyentuh zakarku.
“Iya dong sayang, semuanya deh, tapi jangan kena gigi lho”.
Dijilati dan diemutnya zakarku, setiap jengkal kemaluanku tidak luput dari jilatannya, hingga kemaluanku basah kuyup.
“Ahh..ohh..yes..” desahku dengan semakin menekan-nekan kepalanya. Dimasukkannya batangku pelan-pelan ke mulutnya yang mungil sampai menyentuh tenggorokannya, kontolku dikulum-kulum, divariasikan permainan lidahnya dan aku semakin menggeliat. Terkadang d siswi berjilbab itu juga menjilati lubang kencingku, diujung kepala kontol, sehingga aku hampir melompat menahan nikmat dan geli yang mendadak.

Dilanjutkannya lagi kocokan ke kontolku dengan mulutnya. Pelan-pelan kubelai kepalanya yang masih terbungkus jilbab dan aku mengikuti permainan lidah Rina, kugoyangkan pantatku searah. Enak sekali permainan bibir dan lidahnya, Rina sudah mulai terbiasa dengan kejantanan cowok.

Akhirnya, badanku mulai mengejang, “Rin, aku mau keluar.. ohh ahh..” dan sengaja dipercepat kocokan kontolku dengan tangannya.
Croott crot crot creet.. air maniku berhamburan keluar banyak sekali, sebagian kena wajahnya dan mengotori kacamatanya, dan sebagian lagi meluber di tangan Rina dan kontolku. Rina sempat terkejut melihat pemandangan menakjubkan itu.

“iihh… jijik… apa nih mas..?” katanya sambil mengernyit.

“ini namanya pejuh, Rin.. coba aja enak lho.. bisa menghaluskan kulit kalo dilumurin ke wajahmu..”

Dengans edikit keraguan siswi berjilbab itu pelan-pelan menjilat air maniku yang meluber di kontolku.
“Asin dan gurih, enak juga ya Ko?”, katanya sambil menelan semua spermaku sampai habis bersih dan kinclong. Yang menyembur diwajahnya ia ratakan sehingga wajahnya mengkilap karena air pejuhku. Akus emakin terangsang melihat gadis berjilab melakuka nhal itu.

Tanpa membuang waktu lagi, aku yang mempunyai stamina dan birahi yang berlipat segera kembali mendorong badannya agar bersandar di dinding kayu gubug itu. Bibirnya yang indah dengan lipgloss itu kulumat dengan penuh birahi. kurasakan siswi berjilbab itu mulai mendesah dan menggeliat menahan birahi. Kuremas-remas dadanya yang sudah menunggu dari tadi untuk dinikmati lagi. Kuraba-raba lagi memek si Rina, pinggangnya menggeliat menahan nikmat sekaligus geli yang demikian hebat sampai pahanya merapat lagi. Kembali kusingkapkan rok abu-abunya ke perutnya, setelah tadi sempat turun lagi, sengaja tidak kupelorotkan CD-nya, karena aku ingin melihat pemandangan indah dulu. Wow, CD-nya pink tipis berenda dan mungil, sehingga dalam keadaan normal kelihatan jelas bulu-bulunya.

Lalu aku berlutut didepan selangkangannya. Kakinya kubuka diiringi desahan tertahan gadis SMU berjilbab berwajah cantik itu. Tangan kirinya menutup mulutnya seakan berusaha menahan nafsu birahi yang tak tertahankan. Tangan kanannya ada dipundakku, namun tidak berusaha menahan ketika aku maju dan mulai menjilati kedua pahanya dari bawah sampai ke pangkalnya, lalu kucium aroma lembab dan agak amis dari memeknya yang membuat laki-laki manapun semakin bernafsu. Kujilat sekitar pangkal paha tanpa mengenai memeknya, yang membuat Rina semakin kelojotan. Kupelorotkan CD-nya pelan-pelan sambil menikmati aroma khas memeknya, lalu kujilat CD bagian dalam yang membungkus kemaluannya. Sesaat aku terpesona melihat memeknya, bulunya yang tertata rapi tapi pendek-pendek, bibirnya yang gundul mengkilap terlihat jelas dan rapat, di tengah-tengahnya tersembul daging kecil.

Memek yang masih suci ini semakin membuatku bergelora, kontolku mulai berontak lagi minta dipijat Rina. Mulutku sudah tidak sabaran untuk menikmati sajian paling lezat itu, lidahku mulai bergerilya lagi. Pertama kujilati bulu-bulu halusnya, rintihan Rina terdengar lagi. Terbukti titik lemah Rina ada di memeknya, begitu siswi berjilbab itu menggerakkan pantatnya, dengan antusias lidahku menari bergerak bebas di dalam memeknya yang sempit (masih aman karena selaput dara berada lebih ke dalam).

Begitu sampai di klitorisnya (yang sebesar kacang kedelai), langsung kukulum tanpa ampun
“Akhh.. sstt.. ampuun… aduuhh.. enaaak.. stt” racau gadis perawan SMU berjilbab itu sambil menggeleng-geleng kepalanya yang masih terbungkus jilbab menahan serbuan kenikmatan yang menggila dari lidahku. Dengan gerakan halus, kuusap-usap klitorisnya dan siswi berjilbab itu makin kelojotan dan tidak begitu lama terjadi kontraksi di memeknya. Aku tau Rina akan klimaks lagi, makin kupercepat permainan lidahku. Sesaat kemudian, sambil tangan kirinya semakin menutup mulutnya semakin erat,gadis berjilbab berseragam abu-abu putih itu menjerit sambil badannya meregang. Mengalirlah dengan deras cairan cintanya itu, tentu saja yang telah kutunggu-tunggu itu. Kujilati semua cairan yang ada sampai memeknya mengkilap bersih, rasanya segar, gurih dan enak sekali.

Beberapa saat, kubiarkan Rina istirahat sambil tersengal-sengal mengatur napas terduduk lemah dibangku panjang digubug itu, bersandar didinding. Aku duduk disebelahnya lalu kupeluk erat dengan mesra, kukecup keningnya, dan kedua pipinya. Sambil memandangku, wajahnya tersenyum malu. Nampak wajahnya merah padam setelah mengalami orgasme, serta malu karena melakukannya denganku. Aku menduga baru kali ini siswi berjilbab itu merasakan nikmat begitu dasyat, sampai lemas sekujur tubuhnya. Setelah nafasnya mulai normal, kuciumi bibirnya dengan lembut.
“Nikmat sekali kan Rin? Ingin lagi? Masih kuat kan?” kataku dengan mencium bibirnya lagi.
Gadis cantik berjilbab itu hanya diam sambil memalingkan wajahnya, namun tidak ada penolakan dari tubuhnya. Kupalingkan lagi wajah cantknya menghadapku dan kucium rada lama bibirnya dengan lembut.
Pelan-pelan aku kembali memosisikan tubuhku dihadapannya. Kontolku tepat berada didepan memeknya. Kulepaskan celana dalam seksinya, lalu lambat-lambat kumajukan pinggulku, menggesekan kontolku ke memeknya.

“Oh..hmm..” gadis manis berjilbab itu kembali mendesah bergairah, pasrah kusetubuhi ditengah hutan yang sunyi itu. Baju seragam SMUny sudah teronggok dilantai gubug, disamping celana dalamnya. Wajah gadis alim berjilbab itu yang pasrah membuatku nyaris tidak mampu mengendalikan birahiku.

Kulumat bibirnya dengan rakus, tanganku bergerak ke bawah dan menggenggam kontolku, semakin intens menggesek-gesekkan kontolku ke memek ranumnya, membuat siswi berjilbab itu semakin menggelinjang karena rangsanganku. Sembari melumat bibirnya, tangan kiriku turun mengusap payudaranya dengan gerakan melingkar di bawahnya menuju ke arah puting lalu menyentil dan memilin pentil gadis cantik berjilbab itu. Kemudian gantian punggungnya kuusap dengan usapan ringan sampai siswi berjilbab itu merasa kegelian.

“Ohh.. Maas.. auughh.. gelii… Nikmat Maas..!!”

tangan kanan gadis berjilbab itu mencengkeram erat pundak kiriku sampai membuat pundakku lecet karena kukunya, sementara secara refleks tangan kirinya mulai ikut meremas-remas buah dada kirinya.. kakinya membuka lebar melingkar dipingganggku. Tatapan gadis berjilbab itu sayu, dikuasai sepenuhnya oleh nafsu birahi. nafasnya memburu. Siswi berjilbab itu memejamkan matanya. Desahan dam rintihannya semakin keras ketika kuciumi kening, pipi dan kujilat dan kugigiti daun telinganya dari luar jilbabnya.

“Rina, tahan yaa.. mas akan kasih kenikmatan buatmu.. tapi awalnya bakal sakit sedikit.. tapi kalo dah kebiasa pasti enak kok..”kataku menenangkan gadis manis berjilbab lugu itu yang akan kurenggut keperawanannya.

“mmhh… pelan yah mas.. Rina takut..” desahnya, namun tanpa penolakan karena sudah pasrah seratus persen.

Dengan birahi yang sudah di ubun-ubun, aku mengangkat sedikit pantat Rina, untuk memberi posisi nyaman pada persetubuhan ini. Kupegangi kedua belah pahanya dan semakin kubuka kakinya lebar-lebar. Terlihatlah belahan memeknya agak kehitaman dengan bagian dalam yang kemerahan, dihiasi rambut tipis.

“Aahh..”, Rina melenguh panjang, badannya goyang kekanan kekiri, kuberikan rangsangan tambahan. Kujilati pusar dan perutnya, lalu ke paha dan betisnya. Kugigit dekat pangkal pahanya sampai memberkas merah.
“Mass.. Kamu.. Oh.., sudah.. Rina nggak tahan..”.

kutatap wajahnya dengan tatapan menenangkan. Matanya sayu pasrah. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan birahi dan mempersiapkan diri pada rasa sakit yang kukatakan akan dirasakannya. Susah payah kumasukkan kontolku yang sudah keras dan besar ke memeknya yang becek, dan.. Blesshh..

“Ouuhh.. Ohh..”.

Aku mulai memasukan kontolku ke liang memeknya pelan-pelan. Sulit sekali memasukan kontolku ke liang memek gadsis manis berjilbab itu saking rapatnya.

Rina berteriak, “Ahhh… sakiiittt mas!” Aku yang tidak peduli karena sudah terlanjur nafsu memulai melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan-pelan. Gadis berjilbab bertubuh sekal itu membalas dengan menjambak rambutku. Aku terus melakukan genjotan terhadap memeknya yang sangat nikmat itu…

“Ahhhh… sakittt mas..”, aku mulai mempercepatkan gerakan maju-mundur.
Rina berteriak, “Ahhhhhhhh”, aku mengeluarkan kontolku dari memeknya dan langsung keluarlah darah segar mengalir dari memek Rina turun ke pahanya, dan membasahi bangku tempat kami bersenggama. .

Setelah beristirahat beberapa helaan nafas, kembali kutekan pantatku perlahan dan dengan pelan dan teknik maju mundur yang membuat Rina semakin kelojotan, akhirnya masuklah semua kontolku ke dalam memek sempit legit gadis SMU berjilbab itu.

“Aahh.. Mas.. aduh Maas..sakit tapi enaakk.. aduuhh.. lagii..” gadis berjilbab berparas cantik dan lugu itu meracau dan mendesah mulai keenakan. Memeknya mulai terbiasa dihujam kontolku.

Rina menaikan pantatnya dan aku menekan lagi pelan-pelan, terus berlangsung beberapa lama, kian lama kian cepat.

“aduuhh.. Rina mau enak lagiihh..” Rina memekik.

Aku semakin kencang mengocok memeknya dengan kontolku. Siswi berjilbab itu diam sejenak sambil memegang lenganku.

“Sudah keluar lagi Rin?”
“Sebentar lagi.. Ohh..”

secara tiba-tiba kugerakkan pantatku maju mundur agak memutar dengan cepat, batangku terasa mau patah. Rina kelojotan sambil melejang-lejang nikmat.

“Ah..”. Rina meremas remas payudaranya dan menggigit jarinya sendiri dan matanya terpejam. Jepitan kaki di pinggangku menguat. Dinding memek gadis cantik berjilbab itu terasa menebal sehingga lubangnya menjadi lebih sempit.

siswi berjilbab itu memelukku dan mengulum bibirku, “An.. Mas.. Aku.. Hggkk.., Ahh.. Nikmatt..” Rina bergerak liar.

Kutekankan kontolku dalam-dalam dan kurasakan denyutan di dinding memek serta dasar rahimnya. Kontolku terasa disiram cairan yang hangat. Kutekan tyubuhnya didinding gubug dengan tubuhku. siswi berjilbab itu masih terus mengejang dan menggelinjang menikmati orgasmenya. Kubiarkan kontolku terendam dalam cairan memeknya. siswi berjilbab itu mendesah dan merintih penuh kenikmatan.

Kami diam sejenak. Kuberikan kesempatan untuknya beristirahat dan mengatur nafasnya. Matanya masih tertutup. Sejenak kurangsang memeknya dengan gerakan pada otot kemaluanku. siswi berjilbab itu mendesah dan membuka matanya. Dikalungkannya kedua tangannya pada leherku.

“RInaa.. sekarang giliran mas yaa..” kataku berbisik. siswi berjilbab itu mengangguk. Masih tersisa orgasmenya, dengan tubuh yang masih bergetar2.

Kugerakkan lagi pantatku maju mundur dan memutar. Perlahan-lahan dan semakin lama semakin cepat. Kurasakan memeknya lebih becek dari semula, namun aku tidak mau menghentikan permainan untuk mengeringkannya. Gesekan kulit kontol dengan dinding memek gadis manis berjilbab itu masih terasa nikmat. Gairah siswi cantik berjilbab itu mulai bangkit lagi. Iapun mengimbangi gerakanku perlahan-lahan. Setelah beberapa saat kemudian gerakannyapun juga semakin cepat. Kutarik pantatku sampai tinggal kepala kontolku saja yang menyentuh bibir memeknya, dengan gerakan cepat dan bertenaga kuhempaskan lagi ke bawah. Badan siswi cantik berjilbab itu terguncang.

Kurapatkan pahanya, kemudian kakiku menjepit kedua kakinya. Aku menurunkan tempo permainan sambil beristirahat sejenak. Sesaat kemudian kukembalikan pada tempo semula. Aku hanya menarik turunkan kontolku sampai setengahnya saja. Jepitan memek siswi cantik berjilbab itu lebih terasa. Kurasakan aliran darah di kontolku semakin cepat.

“.. Rina.. Aku mau keluar..”.
“Tunggu.. Kita bareng.. A.. Nnmas..”

Kukangkangkan kaki siswi cantik berjilbab itu kembali. Kedua betisnya kujepit di ketiakku. Dalam posisi demikian maka memeknya terbuka lebar sekali.

“Mas Wawan..”. Tubuh Rina menegang.
“Rina aku juga.. Mau.. Ohh..”.
“Ahh.. Nikmatt”.

Cairan memek siswi cantik berjilbab itu bertambah banyak, sementara itu ujung kontolku berdenyut denyut. Tubuhnya bergerak seperti kuda Sumbawa yang melonjak-lonjak liar.

“Rina.. Oh.. nih ku kasih pejuh… nikmatin sayaannghhh..”

Dan kemudian.. Crot.. Crot.. Crot.. kutumpahkan spermaku di dalam guanya sampai menetes-netes keluar.

“Tahan sebentar.. Ahh..”.

gadis cantik berjilbab itupun mendapatkan orgasmenya setelah berusaha sesaat sebelum kontolku berhenti menyemprotkan pelurunya. Kutekankan lagi kontolku, denyutan pada otot-otot kemaluan kami saling memberikan kenikmatan ekstra. Aku berguling ke samping. Kami berpelukan dengan badan bersimbah keringat. Jilbabnya basah karena keringat kami berdua. Sungguh nikmat bercinta dengan gadis perawan.

Setelah beristirahat beberapa saat, kami segera membenahi baju kami dan keluar dari hutan. Kembali kukecup mesra kening dan bibir gadis manis berjilbab itu. Kuminta ia meminum pil anti hamil yangs elalu kubawa, dan memberinya 3 lembar seratus ribuan untuknya.

Tidak lupa kuantarkan dia kembali kerumahnya karena jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan kuminta nomor Hpnya, kali aja aku kangen dengan jepitan memeknya.

RAME-RAME 1 : TARI

“Mmmmpfff….mmmpffff….”
kulihat perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Mulutnya tersumpal celana dalamnya sendiri.
Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Tari namanya. Kulitnya putih mulus. Setidaknya, itulah yang ketika itu terlihat pada kulit wajah dan telapak tangannya. Memang hanya itulah yang bisa terlihat. Ya, sebab ia selalu berbusana tertutup. Jubah panjang dan jilbab lebar.
Aku mencintainya. Cinta sekaligus nafsu. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya, menjadi suaminya. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi. Atau, menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan.
Cintaku padanya belum berubah. Yang berubah adalah caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Tari dalam dekapan lelaki lain. Aku bayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan lelaki lain.
Tari istri yang setia. Tentu saja, dalam imajinasiku itu, Tari tidak sedang berselingkuh.
Sudah dua tahun pernikahan kami ini belum juga mendapatkan buah hati, ya, kami belum punya anak, berbagai usaha dan pengobatan, dokter maupun alternative sudah kami jalani dan belum Nampak hasilnya hingga sekarang. Akhirnya muncullah ide dibenakku ini, sekaligus imajinasi yang luar biasa. Aku tahu, seandainya aku bilang langsung ke istriku dia tidak akan setuju karena memang istriku ini orang yang alim dan selalu menjaga dirinya.
Dan kini imajinasiku itu mewujud nyata. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya.

TARI

TARI

Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Tari, seorang istri setia yang alim. Di depan suaminya sendiri. Atas perintah suaminya sendiri.
Tentu saja, Tari tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat.
Tiga lelaki itu, kukenal lewat internet. Searching sekian lama lewat milis-milis tentang fantasi liar atas gadis-gadis berjilbab.
Tidak mudah menemukan orang yang bisa dipercaya di internet. Apalagi, untuk berbicara hal yang sangat sensitif: gadis berjilbab. Tapi akhirnya kudapatkan juga tiga lelaki yang kini jadi kawan akrabku ini. Mereka satu kota denganku. Ini untuk memudahkan komunikasi dan aksi.
Ketika aku mulai yakin tentang keseriusan mereka, kontak dilanjutkan lewat HP. Lalu, kami sepakat bertemu. Pertemuan itu membuatku makin yakin. Sebab, saat itu kami saling bertukar informasi detail tentang diri kami masing-masing.
Lelaki pertama, Al masih kuliah di Fakultas Kedokteran. Aku langsung menyukainya. Bagaimanapun, aku tak ingin istriku disetubuhi lelaki yang ‘kotor’. Perawakan Al mirip denganku.
Al mengaku tak pernah main pelacur. Tetapi, katanya, tak kurang 3 mahasiswi pernah ditidurinya. Dua yang pertama, sekarang sudah jadi mantan pacarnya. Sedang yang terakhir, masih jadi pacarnya. Yang menarik, pacarnya ini berjilbab.
“Mungkin karena keseringan nidurin dia, saya jadi terangsang kalau melihat perempuan berjilbab,” katanya.
Lelaki kedua Bob, seorang pengusaha agrobisnis. Aku juga suka begitu melihatnya. Ia seorang lelaki yang matang. Umurnya 10 tahun di atasku. Yang aku suka, perutnya gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Tari yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut.
Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati yang cantik dan berjilbab. Ia bahkan memperlihatkan foto gadis itu kepada kami. Memang cantik.
Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya. Tetapi, gadis itu selalu menolaknya.
“Setelah bermain-main dengan Tari, aku ingin kalian membantuku memperkosa Anisa,” katanya.
“Boleh. Dengan senang hati. Kalau cewek lu Al, boleh nggak kita perkosa ?” kataku.
Al terlihat agak kaget.
“Ehh, gimana ya ?” katanya.
“Iya Al, pacarmu itu kan udah nggak perawan toh ? Kamu nggak usah khawatir. Nanti kita bikin dia nggak tahu kamu ikut merancang perkosaannya,” timpal Bob.
“Well, okelah,” akhirnya Al setuju.
“Semua sudah setuju barter cewek berjilbab. Terus kamu gimana Ben ?” kali ini aku menoleh ke Ben, lelaki ketiga.
Aku juga suka Ben. Tubuhnya kekar. Kulitnya hitam, sepertinya keturunan Arab. Melihatnya, aku langsung membayangkan Tari menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis Arab.
“Ane nggak punya istri atau pacar berjilbab. Tapi jangan khawatir, paman Ane punya kos-kosan yang penghuninya jilbaban semua. Ane punya cewek favorit di situ. Ntar kite atur gimana caranya nyikat die,” sahut Ben. Gaya ngomongnya memang mirip Said di sinetron Bajuri.
“OK guys, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Rencana aksi kita atur lewat email, oke ?” kataku mengakhiri pertemuan.
***
Lewat email, kukirimkan kepada tiga maniak itu foto-foto Tari. Close up wajahnya yang lembut. Full body dengan jubah dan jilbab lebar. Hingga foto-foto curian saat ia tertidur dengan jubahnya yang sengaja kusingkap hingga ke pinggang. Juga saat ia tertidur kecapekan setelah bermain tiga ronde denganku. Ini foto favoritku. Sengaja kuminta ia tetap berjilbab putih lebar dan berjubah hijau muda saat aku menyetubuhinya.
Ketika usai, kupeluk ia sampai tertidur lelap. Lalu, diam-diam aku bangun dan memotretnya. Tari terlentang dengan kaki mengangkang. Jubahnya tersingkap sampai ke pinggang. Dari celah vaginanya terlihat menetes spermaku. Jubah di bagian dada juga kubuat terbuka dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang montok dengan puting yang menegang.

TARI

TARI

Sejumlah skenario kami bahas lewat email. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik Tari dan membawanya ke salah satu rumah Bob yang besar. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar rumahnya itu. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Tari.

Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Tari akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Aku bersorak melihatnya menyiapkan jubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Ini memang pakaian favoritku. Selalu saja aku tergoda untuk menyetubuhinya jika ia mengenakan pakaian itu.
Aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob.
Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Tari. “Sudah mandi, sayang ?” kataku.
“Barusan selesai,” sahutnya.
“Sekarang lagi apa ?”
“Lagi mau pake baju, hi hi…” katanya manja.
“Wah, kamu lagi telanjang ya ?”
“Hi hi… iya,”
“Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !” kataku.
“Iya sayang, ini lagi pake BH,” sahutnya lagi.
“Ya udah, aku kerja dulu ya ? Cup mmuaachh…” kataku menutup telepon.
Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Tari tak akan bisa mengintip siapa yang datang.
Bob, Al dan Ben turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci.
Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Al sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.
“Matanya sudah ditutup Al ?” kataku.
“Sudah bos. Mbak Tari sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut,” katanya.
Memang, kulihat Bob dan Ben sedang menggotong Tari yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu sudah berjubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Kedua tangannya terikat ke belakang.
Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Tari yang terbaring di jok tengah.
“Ha ha… gampang banget,” kata Bob.
Aku menelan liurku ketika jubah Tari disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka kini berebut menjamah vaginanya !
Ben bahkan telah membuka bagian dada jubah Tari dan menarik keluar sebelah payudaranya dari BH. Lalu, ia menghisapnya ! Tari merintih-rintih. Gila, aku menikmati betul pemandangan itu.
“Udah, ayo berangkat,” kata Bob. Kulihat jari gemuknya sedang mengorek-ngorek vagina Tari.
***
Itulah yang kini terjadi. Tari terikat dengan tangan terentang ke atas. Ben tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.
“Pak Bob, sampeyan ngerokok kan ? Tari benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya,” bisikku kepada Bob. Bob mengangguk.
Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Tari, tapi aku leluasa melihatnya.
Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Tari. Dilepasnya penutup mata Tari. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot.
Rontaan Tari makin menjadi ketika Bob menyampirkan jilbab putih lebarnya ke pundak. Apalagi, kulihat tangan Ben sudah berada di balik jubahnya. Pinggul Tari menggeliat-geliat.
“Ben nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Tari,” kata Al yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.
“Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana,” kataku.
“Oh iya. Lupa !” kata Al sambil ngakak.
Bob terlihat menarik lepas celana dalam Tari yang menyumbat mulutnya.
“Lepaskaaaan…. mau apa kalian… lepaskaaaan….!” langsung terdengar jerit histeris Tari. Jeritan marah bercampur takut.
“Tenang Mbak Tari, kita cuma mau main-main sebentar kok,” kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Tari. Kulihat Tari melengos dengan kening berkerut.
“Ya nggak sebentar banget, Mbak. Tuh si Arab dari tadi maenan memek Mbak,” kata Al. Ia berjongkok di hadapan Tari. Disingkapkannya bagian bawah jubah Tari. Diclose-upnya jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.
“Memek Mbak rapet sih. Ane betah maenan ini searian,” timpal Ben.
“Aaakhhh… setan… lepaskaaann…nngghhhh…” Tari meronta-ronta. Telunjuk Al ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya.
Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Tari dari luar jubahnya.
“Lepaskaaaan… jangaaann…. setaan….mmmfff…..mmmmfffff….mmmpppfff….” Jeritan Tari langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.
Mata Tari mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al mengclose-up ciuman dahsyat itu.
Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Tari terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Tari terbatuk-batuk.
“Ciuman yang hebat, Jeng Tari. Sekarang aku mau mencium memekmu,” kata Bob.
Tari masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat.
Bob berlutut di hadapan Tari. Ben dan Al membantunya menyingkapkan bagian bawah jubah Tari dan merenggangkan kedua kakinya.
“Wow, memek yang hebat,” kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Tari yang tak berapa lebat. Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini.
Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Tari. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Al meng-close-upnya dengan handycam.
Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Tari. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Tari lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Tari yang terbuka.
“Uhug…uhug…aaaakkhhh… aaaaakkhhh….aaaaakkkhhhh…” Tari menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.
“Aaakhhhh… panaaassss….adududuhhhh….” Tari terus menjerit dan meronta-ronta.
Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku. Kulihat Al mengclose up asap yang mengepul dari vagina Tari.
Tari kini terdengar menangis. Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada jubah istriku. Tari memekik. Begitu pula ketika Bob merenggut putus bra-nya. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya.

Kulihat Ben kini berdiri di belakang istriku. Penisnya mengacung, siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain.
Kuberi kode kepada Al agar mendekat.
“Tolong tutup lagi matanya. Aku ingin Tari menelan spermaku. Dia belum pernah melakukan itu,” kataku.
Al mengangguk dan segera melakukan perintahku.
Setelah yakin Tari tak bisa melihatku, aku pun mendekat.
“Aaakkhhh….aaakkkhhh….. jangaaaannn….!” Tari menjerit lagi. Kali ini lantaran penis Ben yang besar mulai menusuk vaginanya. Kulihat, baru masuk setengah saja, tapi vagina Tari tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis Arab itu.
Kulepaskan ikatan tangan Tari. Tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis Ben masih menancap di vaginanya. Ben kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Tari membuat penis Ben makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Tari menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan.
Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang berjilbab. Tari bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu saja ia menolak kalau kuminta air maniku tertumpah di dalam mulutnya.
“Jijik ah, Mas,” katanya berkilah.
Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis Ben masuk lebih jauh lagi. Akibatnya Tari menjerit lagi. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku. Jeritannya langsung terbungkam. Aku berharap Tari tak mengenali suaminya dari bau penisnya.
Ughhhh… rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. KUpegangi bagian belakang kepalanya yang masih berjilbab itu. Kugerakkan maju mundur. Sementara terasa Ben juga sudah mulai menaikturunkan penisnya. Tari mengerang-erang. Dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras.
Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai.
Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Al menarik kedua puting istriku.
“Ayo, telan protein lezat itu,” kata Bob.
Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya.
Nafas Tari terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.
****
Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga lelaki. Penis Ben masih menancap di dalam vagina Tari. Kini Bob mendorong dada Tari hingga ia rebah di atas tubuh tegap Ben.

TARI

TARI

Ia kini langsung mengangkangi wajah Tari. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah berjilbab Tari terjepit pangkal paha lelaki gendut.
Kuambilalih handycam dari tangan Al, lalu kuclose up wajah Tari yang menderita. Tari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob.
Kubantu Ben menarik jubah hijau muda Tari sampai ke atas dadanya. Kini kedua tangan kekarnya menggenggam payudara Tari. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Tari dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam.
Al tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Tari. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Tari mengerang-erang. Tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.
“Boleh aku gigit klitorisnya ?” tanya Al padaku sambil berbisik.
“Boleh, asal jangan sampai luka,” sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.
Mahasiswa fakultas kedokteran ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Al. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Tari.
“Aaaaakkhhhh….saakkkkiiiittt…”
Rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Ben ingin berganti posisi.
Ben memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Tari pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu.
Tari terus menjerit-jerit dalam gendongan Ben. Ben ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Tari hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah. Kedua payudaranya tepat di tepi meja.
“Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya,” kata Ben. Kulihat ia menusukkan dua jari ke vagina Tari.
“Sudaaahh…. hentikaaan… kalian…jahaaat…” teriaknya di sela isak tangisnya.
“Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini, ya ?” sahut Ben, sambil kembali memperkosa istriku.
Suara Tari sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya.
Dalam posisi seperti itu, Ben betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya.
Tubuh Tari sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Tari yang putih mulus kini tampak memerah.
Ben terlihat betul-betul kasar. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya, “Buang ke mulutnya dulu Ben. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,” kata Bob. Ben mengangguk.
Lalu, Ben terlihat bergerak ke depan Tari. Vagina Tari tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat.
Ben dengan cepat menggantikan posisi Ben. Penisnya kini menyumpal mulut Tari. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Tari.
“Ayo, telen spermaku ini… Uuughhhh….yah…. telaaannn…..” Ben meracau.
Ben baru melepaskan penisnya setelah yakin Tari benar-benar menelan habis spermanya.
Tari terbatuk-batuk. Ben mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Tari yang mancung.
“Uuggghhh….nggghhhhhh…..” Tari merintih. Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Tari. Tari tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa Ben. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.
“Aiaiaiaiiiii…. jangaaan…. aduhhhh…. sakiiit….” tiba-tiba Tari mendongak dan menjerit kesakitan.
“Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?” katanya. Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Tari, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Tari.
Kudekati Bob, “Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ,” bisikku.
“Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan ?” sahutnya juga dengan berbisik. Aku mengangguk.
Bob tak mau kalah dengan Ben. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Tari dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Tari melolong-lolong dalam orgasme.
Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Al kini membungkam mulutnya dengan penisnya.
***
Peluh membahasi sekujur tubuh Tari. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuhnya lunglai kelelahan. Tetapi, kulihat ia masih sadar.
Al membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Tari diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.
“Sebentar ya Mbak. Saya mau lepas baju Mbak. Mbak pasti terlihat cantik sekali dengan jilbab lebar tetapi tetek dan memek Mbak terbuka,” katanya sambil melucuti jubah Tari.
Tari berbaring terlentang di kasur busa. Hanya jilbab lebar putih dan kaus kaki krem yang masih melekat di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak.
Al kemudian mengikat kembali kedua tangan Tari menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Al yang berlagak lembut kepada Tari.
“Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini,” katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.
Dibelainya juga kedua puting Tari dengan ujung jarinya. Tari menggeliat.
“Siapa yang menggigit ini tadi ?” kata Al lagi.
“Alaaaa, sudahlah cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini,” terdengar Bob berseru.
“Ah, jangan kasar begitu. Perempuan secantik dan sealim ini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Tari ?” Al terus bermain-main.
Kali ini ia menyentil-nyentil puting Tari dengan lidahnya. Sesekali dikecupnya. Biasanya, Tari bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu. Dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Al setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.
“Unngghhh…. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini,” katanya.
Al tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Tari yang mulus tanpa rambut sehelaipun.

TARI

TARI

Tari menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Al mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya.
“Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak,” kata Al sambil melanjutkan mengulum puting Tari. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Tari terhisap masuk.
“MMmfff….. ouhhhhh…. tidaaakk… saya tidak bisa… ” sahut Tari dengan isak tertahan.
“Bisa, Mbak… Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja… ” Al terus menyerang Tari secara psikologis.
Jilatannya sudah turun ke perut Tari yang rata. Dikorek-koreknya pusar Tari dengan lidahnya. Tari menggeliat dan mengerang lemah.
“Vaginamu indah sekali, istriku…” kata Al sambil mulai menjilati tundun vagina istriku. Tari mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku.
Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah Al pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Al berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat Al dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Al. Itu memang titik sensitifnya.
Al menjilati bagian dalam kedua paha Tari, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Tari merapatkan pahanya mengempit kepala Al dengan desahan yang menggairahkan.
“Iya Tari, nikmati cinta suamimu ini,” Al terus meracau.
Direnggangkannya kembali kedua paha Tari. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat sensasi Tari. Dijilatinya celah vagina Tari dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.
“Ooouhhhhhh…. aahhhh…. am…phuuunnn….” Tari merintih menahan nikmat. Apalagi, Al kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.
Tari makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Al kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.
“Ayo Tari, nikmati…. nimati… jangan malu untuk orgasme…” kata Al, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Tari.
Akibatnya luar biasa. Tubuh Tari mengejang. Dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.
“Bagus Tari, puaskan dirimu,” kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.
“Aaakkhhhh….aaauuunnghhhhhh…” Tari melolong. Lalu, ia menangis. Merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.
Al memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.
“Oke Tari, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu,” katanya sambil memaksa Tari mengulum kedua jarinya.
Tari hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Al ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Tari dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.
“Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi,” kata Al, lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Tari.
Penisnya langsung menusuk jauh. Tari menjerit kesakitan. Apalagi Al memperkosanya, kali ini, dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Al tak henti mencengkeram kedua payudara Tari. Kadang ditariknya kedua puting Tari hingga istriku menjerit-jerit minta ampun.
Seperti yang lain, Al juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Tari pingsan saat baru sebagian sperma Al ditelannya. Al dengan gemas melepas penutup mata Tari, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah lembut istriku.

Tari sudah satu jam pingsan.
“Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau,” kataku sambil menghisap sebatang rokok.
“Ya masih dong, bos. Baru juga sekali,” sahut Ben. Tangannya meremas-remas payudara Tari.
“Iya, aku masih ingin anal,” timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Tari.
“Oke, terserah kalian. Tapi jam 2 siang dia harus segera dipulangkan,” kataku.
Tiba-tiba Tari menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya ?
Kulihat Tari beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Jilbab putih lebarnya dirapikannya hingga menutupi organ-organ vitalnya.
Ben berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.
“Jangan… saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas !” Tari memaki-maki.
“Belum ! Tapi sekarang kamu harus mandi dulu. Bersihin memekmu ini !” bentak Ben sambil tangan satunya mencengkeram vagina Tari yang tertutup ujung jilbabnya. Tari menjerit-jerit waktu Ben menyeretnya ke halaman belakang.

TARI

TARI

Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Ben merenggut lepas jilbab putihnya. Di dalamnya, masih ada kerudung kecil berwarna merah jambu, warna favorit Tari. Itupun direnggutnya. Rambut Tari yang panjang terurai hingga ke pinggangnya.
Al menarik selang panjang. Langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Tari. Tari menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Tari.
“Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin,” katanya.
Tari tampak ragu.
“Cepat, sabuni tubuh indahmu itu,” seru Al. Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Tari.
Tari perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya. Tetapi, terlihat Bob mendekat.
“Begini caranya nyabunin memek !” katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok vagina Tari.
Acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Tari. Tari segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
“Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan,” bentak Ben.
“Kalau sudah, pakai jilbab lagi ya Mbak, tapi tetek dan memek jangan ditutupin,” kata Al sambil menyerahkan jilbab putih lebar Tari berikut jilbab kecilnya.
“Aiiihhh…” Tari memekik. Al sempat-sempatnya mencomot putingnya.
“Kalau sudah pakai jilbab, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,” lanjut Bob sambil meremas bokong Tari yang bundar.
***
Kulihat Tari telah mengenakan jilbabnya. Ia mematuhi perintah mereka, menyampirkan ujung jilbabnya ke pundaknya.
Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun kecuali jilbab dan kaus kaki. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan.
Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Tari menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Tari yang terbuka bebas.
Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Tari. Kuihat ia menciumnya. “Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi,” katanya. Tari menggigit bibirnya dan memejamkan mata.
“Teteknya juga wangi,” kata Al yang menggenggam sebelah payudara Tari dan mengulum putingnya.
“Ngghhh… kenapa kalian lakukan ini pada saya,” rintih Tari.
“Mau tahu kenapa ?” tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Tari.
Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.
“Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X,” kata Bob. Aku lega mendengarnya.
“Siapa itu Mr X ?” tanya Tari.
“Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya,” jelas Bob.
“Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup.” lanjut Bob.
“Sudah, Bos, biar Mbak Tari makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras,” sela Ben.
“Maaf ya Mbak Tari. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini,” kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.
“Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,” katanya.
Tangan Tari terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Ragu-ragu ia menjilati sosis itu, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong.
Habis sepotong, Al mengupaskan pisang Ambon. Lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.
“Pilih pisang yang mana, Mbak ?” goda Al. “Ayo ambil,” lanjutnya.
Tangan Tari terjulur hendak mengambil pisang. Al menangkap pergelangannya dan memaksa Tari menggenggam penisnya.
“Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja,” katanya.
“Tangannya lembut banget Ben,” kata Al. Ben tak mau kalah. Ia menarik sebelah tangan Tari dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Tari menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Al.
Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Tari tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Tari dengan bernafsu.
Tari mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.
“Sudah…uhukkk… sudah cukup,” kata Tari dengan nafas terengah-engah.
“Eee ini masih banyak. Sosis satu, pisang satu lagi ya,” kata Ben. “Tapi dikasih saus dulu ya ?” lanjut Ben sambil merenggangkan paha Tari.
Tari meronta-ronta, tetapi Al dan Bob memeganginya. Ben ternyata memasukkan sepotong sosis ke dalam vagina Tari. Didorongnya sampai terbenam di dalam vagina Tari yang tembam.
“Coba sekarang didorong keluar,” katanya sambil menepuk vagina Tari.
Tari terisak-isak. Ia mencoba mengejan dan akhirnya perlahan sosis itu keluar. Ben mendorongnya lagi dan menyuruh Tari mengeluarkannya lagi. Terus diulang-ulang sampai sosis itu terlihat berlendir. DIberikannya kepada Al yang kemudian menyuapi Tari. “Enak kan, sosis pakai saus memek ?” katanya. Tari menangis tersedu-sedu.
“Sekarang pisangnya ya,” kata Ben lagi.
Kulihat ia mengupas sepotong pisang. Dan kini ia melebarkan celah vagina istriku. Didorongnya pisang seukuran penisnya itu ke dalam. Tari menjerit-jerit. Pisang itu akhirnya terbenam di dalam vaginanya.
“Ayo, hancurkan dengan otot memekmu ini. Kita bikin bubur pisang,” kata Ben sambil meremas-remas vagina Tari.
Ben kemudian membantu mengaduk-aduk pisang di dalam vagina Tari itu dengan dua jarinya.
“Nih, bubur pisang rasa memek,” katanya sambil memaksa Tari mengulum dua jarinya yang berlepotan bubur pisang. Diulanginya hal itu berkali-kali.
“Sepertinya lezat. Aku mau coba bubur pisang rasa memek ah,” kata Bob. Ia kemudian merapatkan mulutnya ke celah vagina Tari.
Tari tak henti menjerit dan merintih.
Bob bangkit. Mulutnya belepotan bubur pisang. Diciumnya bibir Tari dengan bernafsu. Al dan Ben tak mau ketinggalan mengicipi bubur pisang itu.
Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Tari. Mereka kembali memperkosanya di atas rumput. Kali ini, mereka menumpahkan sperma di dalam vagina Tari.
Begitu usai, mereka membaringkan Tari kembali di atas meja. Kulihat pangkal paha Tari betul-betul berantakan oleh cairan sperma yang bercampur bubur pisang.
Tari terisak-isak saat Bob menyendoki campuran sperma dan bubur pisang itu dan memaksanya menelannya.
Dari tempatku sembunyi kuhubungi selular Bob.
“Pak Bob, tolong tutup lagi matanya dan ikat tangannya. Aku mau sodomi istriku,” kataku.
“Oke bos,” sahutnya.
Kulihat Tari melotot waktu Bob menyampaikan pesanku.

TARI

TARI

“Tidaaaakk…. jangaaaann… kalian… jahaaat…. setaaaannn….” ia memaki-maki saat Ben meringkus tangannya dan mengikatnya ke belakang punggung. Lalu, Al mengikatkan kain hitam menutup matanya.
Mereka membaringkan Tari menelungkup di atas meja. Dari belakang, pinggulnya yang bundar sungguh menggoda. Kutusukkan dua jari ke dalam vaginanya. Betul-betul banjir sperma bercampur bubur pisang.
“Jahanaaaamm…. Aaaaiiikkhhhhh… “Tari menjerit waktu dua jariku yang basah kutusukkan ke dalam anusnya. Kugerakkan berputar-putar untuk melebarkannya. Pada saat yang sama, kutancapkan penisku ke dalam vagina istriku.
Dan kini, penisku betul-betul basah. Kutekan ke anusnya yang sedikit terbuka. Aaakhh… sempit sekali. Tetapi, akhirnya kepala penisku mulai masuk diiringi jerit histeris Tari. Kudorong terus. Istriku yang tercinta terus menjerit-jerit.
Kudorong dengan sedikit lebih bertenaga. Akhirnya batang penisku masuk semua. Betul-betul sesak. Tari menjerit dan menangis hingga suaranya serak.
Kucengkeram buah pinggulnya yang bundar lalu kugerakkan pinggangku maju mundur dengan cepat dan kasar.

LILIS

Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari dia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun aku yakin bahwa tubuhnya pasti indah.

jilbab hot (1)

Namanya Lilis, dia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan jika bersalamanpun dia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi sampai bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost.

Aku sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan aku di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali.

Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga, ketika aku dan dia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

jilbab hot (2)

Hari-hari pertama workshop aku berusaha mendekatinya agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat tugas yang harus diselesaikan secara bersama-sama dalam satu unit kerja. Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima.

Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada saat tidak ada kegiatan workshop, aku sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Selama berdiskusi kadang-kadang Lilis bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan. Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar.

jilbab hot (3)

Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan

Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih.

Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah. Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku.

Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..”Ouhh….”, tangannya semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor.

Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang.

Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata “Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?” dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya.

Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku.

Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Lilis, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…” Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama. Lilis terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku.

Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang. Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku.

Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan tangan kanan merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya.. ”Ouhhh….aahhh…” kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya “ouh…ouh…ohhh…..” erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya

Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah.

jilbab hot (4)

Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis bagian bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis indah ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Lilis melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana ”Aaaihhh…”. Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku.

Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Lilis semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat “ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa bagian cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya , walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal “Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Lilis membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya.

Kusingkapkan bagian bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi.., kemuadian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan…

Blessshhh…. Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan “AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…” tanpa dapat terkendali Lilis mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Lilis semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Lilis ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya dia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Lilis merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat “Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..” kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi, Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama.

Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang. Lalu secara perlahan aku mulai mengayun pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya. Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku.

Perlahan namun pasti, pantat Lilis merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku. Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan “Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…” erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Lilis gelagapan sambil berkata terbata-bata “Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…” dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….” Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan. Lalu sambil menatapnya “Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh…. kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Lilis mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu…

Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah. Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Lilispun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat “Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Lilis yang khas… …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Lilis semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Lilis semakin mengerang nikmat…”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Lilis semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi…

Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian “AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….” Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan.

Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk.

Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak. Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh…. “AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..”Aaahhh……” erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semikin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol.

Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat “AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang

Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh…. “Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya.

jilbab hot (5)

Lilis memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme.

Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat “Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….” Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat… Tubuh Lilis ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian…

punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Lilispun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi.

Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Lilis yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Lilis barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku. Aku tak menyangka Lilis yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta……

Mataku menyusuri seluruh tubuh Lilis yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna ……

Putih , halus dan mulus….

Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Lilis nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya…

Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku. Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya sampai pagi.

Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Lilis terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Lilis dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Lilis kearah kamar . Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Lilis hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam.

Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama. Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Lilis yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang. Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya..

Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Lilis menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Lilis yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Lilis kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat.

Lambat laun gairah Lilis kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan “uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras “Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…” disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya.

Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka , lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin. Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku.

Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat. Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga…….

Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut.

Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…”Uhhhh…..” mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Lilispun mengaduh.”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan “Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Lilis dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah .”Ouhhhh…. ouhhhh …” aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis.

Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Lilis semakin mengerang nikmat “Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya…. Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras “Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Lilis baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini….

Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…”Bapak…. Benar-benar hebat….” Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah…

Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Lilis mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..” dengan kembali dia mengerang nikmat…

Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku….

Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…” kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya…

Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas.

Dalam posisi di bawah Lilis menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi…

Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku…..

Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu.

Gerakan pinggul Lilis sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Lilis mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya….

Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Lilis berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak

Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah

Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Lilis menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya., Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut…

Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Lilis yang terangkat mengapit pinggangku.

Buahdadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “ Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya.

Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Lilis yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah.

Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan….

Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Lilis mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas….

Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh” erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak….

Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat.

Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku…

Lilispun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba… “Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik. “AAkkkkkkhhssss…………..” Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian.

Creetttt….creeettttt…. cretttt….. sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Lilis yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya…

Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Lilis yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Lilis sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya.

Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Lilis menjerit..”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?” lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis “Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan tempat ini…!” katanya marah .

Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Lilis benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya. Dan sampai hari terakhir workshop Lilis benar-benar tidak mau didekati olehku.

Setelah aku keluar dari kamar hotelnya, Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali dia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional.

Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya. Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi. Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali.

Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya.

Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku.

Hari terakhir workshop, Lilis begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Lilis begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Lilis lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda… Lilis begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah. Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia

Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Lilis, malam itu Lilis begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan. Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak.

Lilispun melamun……

Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang. “Uhhh……” tanpa sadar dia mengeluh

Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..?

Namun buru-buru dia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Lilis setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku. Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme. Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya.

Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Lilis tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan. Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia

Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah. Tetap saja Lilis menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah.

Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Lilis yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya “Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan, “Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”. Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu.

Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

Namun kesempatan itu akhirnya datang juga, saat itu dia membuat laporan tahunan yang harus diselesaikan bersama atasan kami, sehingga dia harus kerja lembur di kantor sampai malam hari menemani atasan kami yang kebetulan seorang wanita.

Lilis bekerja di sebuah ruangan bersama 4 orang rekan kerjanya lainnya di depan ruangan atasan kami, sedangkan aku berbeda ruangan dengannya. Saat itu semua rekan kerja kami sudah pulang dan kebetulan Atasan kami ada urusan lain sehingga saat itu meninggalkan Lilis sendirian di ruangan itu.

Aku memasuki ruangan kerja Lilis dan kulihat dia sedang asyik mengerjakan laporan di depan komputer.

“Ohh…Bapak…, ada apa Pak?” tanyanya setelah tahu yang masuk adalah aku

“Kok belum pulang..? Ibu mana ? “ Tanyaku berbasa-basi menanyakan atasan kami.

“Iyah…. Nich… pekerjaan masih banyak…., ada apa nanya Ibu ?” dia balik bertanya

“Ngga ada apa-apa…, biasanya kan Lilis menemani Ibu…, kok Ibunya ngga kelihatan..?” jawabku sambi bertanya kembali padanya.

“Beliau ada perlu dulu…., mungkin langsung pulang ke rumahnya” jawabnya lagi.

“Masih banyak pekerjaannya ? ada yang bisa dibantu ?” tanyaku menawarkan jasa

“banyak Pak, karena harus selesai dua hari lagi. Oh ya Pak…, tolong dong copykan file-file dokumen….. hasil …. Workshop saat itu dong Pak !” katanya agak sedikit bergetar pada saat mengatakan kata ‘hasil …workshop’ dan sekilas kulihat wajahnya langsung berubah merah sambil menundukkan kepala…

“Bbb…baa..ik… baik” kataku tak kalah gugupnya.

Aku langsung mengeluarkan laptopku dan menyalakannya, sementara kulihat Lilis kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah laptopku ‘nyala’, aku langsung membuka foder hasil workshop dan menyisipkan flasdisk ke laptop dan mulai mencopy. Ingatanku terbayang pada file rekaman video persetubuhanku dengannya pada saat workshop dulu, dan file itu kucopykan juga. Setelah selesai, kucabut flashdisk dan kuserahkan padanya sementara aku berada di belakangnya yang sedang mengahadap komputer sehingga pandangan kami sama-sama memperhatikan layar monitor.

Dia menerima flashdisk itu dan menyisipkan ke PC di meja kerjanya.

“Dimana disimpannya, Pak ?” tanyanya

“Di folder Hasil Work shop” jawabku

Kemudian dia membuka folder Hasil Workshop dan terlihat olehnya file video 3gp dengan nama video1.3gp.

“Ini file video pada saat kegiatan apa , Pak?” tanyanya sambil menunjuk file rekaman tersebut…

“Buka aja ?” jawabku sambil dada bergemuruh menanti reaksi dari Lilis jika melihat hasil rekaman tersebut.

Begitu file tersebut terbuka…..

“Aihhh……!” jeritnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya…

Terlihat di layar monitor saat aku sedang mencumbunya dan dia begitu menikmati penuh gairah menyambut cumbuanku….

Lilis diam terpaku dengan mulut ternganga menyaksikan rekaman dirinya yang sedang dirangsang olehku. Tangannya selolah kaku tidak bisa bergerak membiarkan media player terus menampilkan percumbuanku dan dirinya diselingi oleh erangan penuh ransangan yang keluar dari mulutnya.

Terlihat olehnya bagaimana dirinya dalam rekaman itu begitu menikmati rangsangan yang kuberikan diiringi lenguhan rangsangan penuh gairah dari bibirnya

“Bapak…jahat…., mengapa bapak lakukan itu…?” suaranya bergetar…, namun matanya seolah tidak bisa dialihkan dari layar monitor. Aku diam tak menjawab…

“Me..mengapa…, pak ?” tanyanya lagi dengan suara yang bergetar diselingi oleh deru nafas yang semakin bergemuruh…

“Buat kenangan…pribadi…, Lis ! Untuk mengingatkanku bahwa Lilis begitu istimewa…dimata saya..Percayalah, Lis. File ini rahasia…, hanya kita yang tahu dan tidak sedikitku terbersit dalam pikiran saya untuk menyebarkannya….. Saya juga malu kalau tersebar. Kan ada gambar saya di sana juga…” Jelasku menenangkannya.

Dalam gambar, tampak bahwa dia begitu menikmati dan bergairahnya membalas pagutan bibirku dan bagaimana ekspresi wajahnya yang menahan nikmatnya rangsangan gairah yang sedang melandanya saat itu.

Rekaman itu membawa Lilis akan kenangan betapa saat itulah dia merasakan kenikmatan puncak orgasme yang berulang yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.

jilbab hot (6)

Serrrrrr…., perlahan namun pasti gairah Lilis mulai bangkit, dan gairah yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan mulai meronta-ronta dengan hebatnya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya merinding…, tangannya semakin kaku menahan gelora yang mulai menghasutnya. Sementara itu bagian vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut membayangkan kenikmatan yang luar biasa yang ia rasakan saat itu..

“Uhh…” tanpa sadar keluhan penuh rangsangan keluar dari bibirnya yang tipis dan duduknya mulai gelisah merasakan vagina yang semakin basah dan berdenyut.

Sebenarnya saat itupun aku sudah terangsang, gairahku mulai bergelora, penisku sudah tegang dengan kerasnya mendesak celana kerjaku.

Kedua tanganku secara perlahan-lahan memegamg kedua pundaknya dari belakang. Tubuhnya semakin merinding begitu tersentuh olehku, sementara matanya tidak lepas dari layar monitor dan nafasnya semakin tersengal dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Kedua tangannya terangkat memegang kedua tanganku yang sedang memegang pundaknya, lalu berkata dengan bergetar….”Sebaiknya kita jangan mengulangi lagi….” Katanya lirih….

Namun nampaknya kata-kata itu seolah meluncur tanpa makna, karena ternyata kedua tangannya meremas kedua tanganku. Dan itu merupakan isyarat bagiku untuk bertindak lebih jauh.

Perlahan-lahan kutundukkan kepalaku dan bibirku mulai mengecup pundaknya yang terhalang oleh jilbabnya yang lebar…

“Euhh….” Lilis mengeluh. Tangannya semakin meremas jari-jariku yang berada di pundaknya dan kepalanya terdongak.

Aku terus mengecup pundaknya, sementara perlahan-lahan kedua tanganku bergerak ke arah buahdadanya yang terhalang oleh baju panjang yang dikenakannya. Tidak ada penolakan dari dirinya sehingga aku meremas-remas buahdadanya yang montok dan kenyal.

“Euhhh….. euhhh….” Lilis semakin mengerang….

Sementara matanya menatap layar monitor yang menampilkan adegan dimana dia menggeliat nikmat saat vaginanya diusap-usap oleh jari-jariku.

Aku bergerak kesamping sambil kuputarkan kursi kerja yang sedang diduduki oleh Lilis sehingga aku berdiri dihadapannya, lalu aku duduk dilantai sehingga kepalaku menghadap selangkangannya, kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas sampai sebatas pinggangnya hingga dihadapanku terpampang pahanya yang putih dan mulus dan CD putih yang menutupi vaginanya yang indah.

Aku mulai menciumi pahanya yang kiri dan kanan dengan penuh gairah.

“Uhhhh… euhhhh…” Lilis semakin menggeliat nikmat dan penuh rangsangan.

Lalu kedua tanganku berusaha menarik CD yang dikenakannya. Lilis mengangkat pantatnya sehingga CD itu dengan mudah dapat kulepaskan.

Lalu dengan rakus aku menjilati lipatan vagina yang dihiasi oleh jembutnya yang halus..

“Auw…..auh….ouh….” Lilis mulai mengaduh nikmat dan mengerang… Pinggulnya bergelinjang.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina Lilis yang semakin basah. Tangaku membuka lipatan bibir vaginanya dan Lidahku menjilati lorong basah itu dari bawah hingga ke atas dan berhenti dan menghisap clitorisnya yang menonjol keras..

“Aaaauuhhhh…. aaawwwwhh…….auwwww…” Dia menjerit dan tubuhnya bergetar pada saat lidahku menjilati dan menghisap clitorisnya. Tubuhnya menggeliat, melenting ke belakang hingga punggungnya menekan sandaran kursi dengan kuat, pantatnya terangkat menyambut jilatanku yang semakin bersemangat. Kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursi dengan kuat hingga urat-urat tangannya menonjol keluar “Auw… auw….. ouhhhh… .euhhhh……” erangannya semakin merangsangku.

Gerakan menjilati celah vaginanya hingga clitorisnya kulakukan berulang menyebabkan Dia terus menerus mengaduh dan mengerang nikmat dan tubuh yang bergetar dan bergelinjang tiada henti.

Hingga akhirnya kedua kakinya terangkat melewati punggungku dan memiting leherku dengan kedua pahanya dan kedua tangannya mencengkram bagian kepalaku dan menekan kepalaku agar semakin menekan vaginanya dengan kuat dan kaku dan akhirnya…

“Aaaakkkkkssss……….aaauuuhhhhhhhhhhhhh” tubuhnya terlonjak-lonjak kaku sementara vaginanya terasa berdenyut-denyut oleh lidahku dan beberapa saat kemudian tubuhnya terhempas dengan napas yang terengah-engah dan tatapan mata yang menunjukkan rasa puas dan nikmat yang luar biasa.

Aku berdiri membuka gesper yang kugunakan dan membuka kancing celana yang kukenakan serta menari sleting hingga kebawah, lalu tanganku mengeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dari pinggir CD yang kukenakan. Penisku mengacung tegak dan keras begitu terbebas dari kurungannya.

Mata Lilis masih setengah terpejam merasakan kenikmatan orgasme yang masih menderanya, kemudian mata itu terbuka perlahan dan memandang wajahku seolah ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kenikmatan orgasme padanya, tetapi tatapan mata itu kemudian jatuh pada penisku yang sedang mengacung tegak dan tegang, gairahnya kembali bangkit dengan cepat dan dengan penuh nafsu dia menatap penisku yang mengacung tegak.

Dengan gemetar tangan kanannya meraih batang penisku yang mengacung tegak, secara perlahan dia membelainya dengan penuh nafsu. Pantatku terangkat merasakan rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku yang diremas olehnya. Melihat aku merasakan nikmat akibat perlakuannya, dia semakin bersemangat dan bernafsu meremas dan mengocok batang penisku.

Kepalaku terdongak ke belakang merasakan kenikmatan yang tak terperi. Tanganku mencengkram erat pundaknya menahan keseimbangan tubuhku.

Melihat tubuhku melenting kaku menahan rasa nikmat akibat kocokan yang dilakukannya, membuat Lilis semakin terangsang, merasakan nikmat dan puas tersendiri mampu menyiksaku dengan rasa nikmat “Uhh…ouhhh…” tanpa sadar mulutku mengeluh lirih…

Ada dorongan besar dalam dirinya untuk lebih menyiksa diriku dengan mempermainkan batang penisku yang semakin menggemaskan bagi dirinya. Sementara itu tubuhku semakin sering melenting kebelakang menahan rasa nikmat yang terus menghantamku.

Pada saat kepalaku terdongak untuk kesekian kalinya dihempas oleh rasa nikmat yang terus menghantamku.

Tiba-tiba aku menjerit “Auh…..ouhhhh….”, tanpa sadar mulutku menjerit kaget, karena kurasakan kepala penisku dilamuri oleh sesuatu yang basah, hangat dan nikmat luar biasa, membuat pantatku terangkat dan tubuhku kaku, tubuhkupun semakin melayang..

Rupanya Lilis mendapatkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika melihat bahwa dirinya mampu membuatku melayang-layang ketika dia meremas dan mengocok batang penisku yang semakin bengkak dan kaku. Di matanya, batang penisku terlihat semakin menggemaskan sehingga tanpa dia sadari kepalanya semakin mendekat dan akhirnya mulutnya mencaplok kepala penisku dan menghisapnya perlahan, membuat tubuhku semakin melenting dan menjerit nikmat.

Melihat tubuhku yang menggeliat-geliat nikmat, rangsangan dan gairahnyapun semakin menggebu dan vaginanya semakin berdenyut, basah dan gatal. Diapun akhirnya mengocok batang penisku dengan mulutnya…

Aku merasa semakin tak tahan…, akhirnya pantatku kumundurkan kebelakang sehingga batang penisku lepas dari mulutnya.

Lilis menatapku dengan senyum kemenangan. Lalu kuarahkan kedua tanganku untuk menarik kedua tangan Lilis sambil berkata “Lis.., duduk di meja…!”

Dia berdiri dengan kedua tangan memegang pinggir rok panjang yang dikenakan, pantatnya diarahkan ke pinggir meja, lalu duduk dipinggir meja dengan paha yang terkangkang seolah tak sabar ingin menjemput penis tegangku untuk segera memasuki dirinya.

Akupun berdiri menghadap dirinya, kuarahkan kepala penisku tepat di liang vaginanya, kedua tangan Lilis memegang pundakku, kedua kakinya terangkat memudahkan diriku untuk memasuki dirinya sementara matanya dengan penuh nafsu menatap nanar batang penisku yang sedang mengarah tepat di depan liang vaginanya yang berdenyut dan gatal penuh harap untuk segera dimasuki. Lalu secara perlahan

jilbab hot (7)

Blesshhhh……

“Auuwww….auww….. Auuhhhhhh…..” Lilis mengaduh nikmat pada saat batang penisku menerobos lorong vaginanya yang sangat nikmat, matanya terpejam menikmati sensasi nikmat yang dirindukankannya selama ini.

Aku mulai mengerakan pantatku maju mundur agar batang penisku mengocok-ngocok liang vaginanya yang semakin basah namun nikmat luar biasa..

Erangan dan lenguhan nikmat yang khas semakin keras diperdengarkan oleh Lilis sebagai ekspresi dari rasa nikmat yang bertubi-tubi menderanya.

Pinggul Lilis mulai bergerak dan menggeliat setiap penisku menerobos liang vaginanya. Dan gelinjang tubuh itu semakin keras sambil mengaduh nikmat “Auw…auuwww..auuw……auhh….”

Untuk mendapatkan kenikmatan lebih.., Lilis menurunkan kedua tangannya dari pundakku dan meletakkannya menekan meja dibelakang punggungnya sehingga pantatnya bisa melonjak-lonjak menyambut sodokan penisku di dalam liang vaginanya .

Jeritan mengaduh menahan nikmat semakin keras keluar dari mulutnya “Auw… auw… auw… ouhhhhhh…”

Kepalanya bergerak kekiri dan ke kanan seirama dengan sodokan batang penisku dan terkadang terdongak-dongak hingga dadanya naik

Beberapa menit kemudian, jeritan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan tubuhnya semakin melonjak-lonjak keras, kedua kakinya yang berada dipinggir pinggangu terangkat dan kedua tumitnya menekan-nekan pantatku dengan keras dan kaku.

Kepalanya semakin terdongak dan kaku dan akhirnya jeritan menjemput puncak orgasme terdengar dari mulutnya “Aaaaaakkkkkkkkssss……..”

Tubuhnya terdiam kaku, dan terjadi kontraksi yang sangat hebat di dalam liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap batang penisku dengan kuat, sementara pantatku tak bisa bergerat karena terkunci oleh jepitan kaki Lilis.

Beberapa saat kemudian “Uhhhhhh……” lenguhan melepaskan napas panjang keluar dari mulutnya dan tubuhnyapun melemas.

Kudekap tubuh Lilis agar kepalanya terkulai dipundakku. Kudiamkan bebera saat dalam posisi seperti itu, membiarkan Dia menikmati fase-fase orgasme yang baru saja diterimanya.

Setelah beberapa menit kepalanya bergerak dan tangannya memegang leherku, kemudian dia mencium bibirku dengan mesra…. Dan berkata “Pak… sungguh luar biasa….”

Akupun menyambut ciuman itu dengan lembut dan tersenyum bangga mendengar ucapannya. Lalu berkata “Nungging.. Yukkk!”

“Bagaimana…?” Dia bertanya

Aku menurunkan tubuhnya dari atas meja dan mengarahkan tubuhnya agar berdiri membelakangiku, kemudian kedua tangannya kuletakkan agar memegang pinggir meja, pinggulnya kumundurkan dan kakiknya ku kangkangkan agar dia berada pada posisi menungging sambil berdiri.

Kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas pinggangnya, lalu kuarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang semakin basah, lalu ….

Blessshhh…., Rasa nikmat kembali menjalar disekujur pembuluh darahku ketika batang penisku memasuki liang vaginanya yang berdenyut dan basah serta licin.

“Auw…auw….auhhhhh….” Lilispun kembali mengaduh nikmat….

Aku mulai mengocok batang penisku dengan memaju mundurkan pantatku sehingga selangkanganku bertepukan dengan pantatnya yang bulat dan montok

“Uh…uh….uh…” Napasku semakin berderu sambil pantatku memompa pantat Lilis..

Rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku….

Akupun semakin lama semakin keras dan cepat menggerakan pantatku.

Lenguhan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat dari mulut Lilis, bagaikan orkestra ekspresi nikmat sedang kami kumandangkan.

Pantat Lilis turut bergerak maju mundur menyambut sodokan batang penisku sehingga batang penis menancap semakin dalam, sehingga rasa nikmatpun semakin bertambah.

Goyangan kami makin lama semakin cepat dan aku merasa orgasme akan menerjang diriku sehingga gerakan tubuhku semakin tak terkendali dengan cepat dan kaku…

Dan Lilispun tahu bahwa aku segera mencapai puncak karena merasakan batang semakin keras membengkak di dalam vaginanya, hal ini membuat kenikmatan yang diterimanya semakin cepat mengantarnya menjemput orgasme untuk ke sekian kalinya. Diapun semakin cepat memaju mundurkan pantatnya.

Hingga akhirnya pantatku menekan keras dan kaku pantat Lilis membuat batang penisku amblas sedalam-dalamnya…

Dan Lilispun demikian, Dia pun menyambut sodokan terakhirku dengan menekan pantatnya dengan kuat pada selangkanganku

Badai puncak orgasmepun pada saat yang bersamaan menghantam Aku dan Lilis sehingga akhirnya dengan mata melotot dan tubuh yang melenting kaku sambil kedua tangan mencengkram kuat bongkahan pantat Lilis yang bulat sambil menjerit nikmat “Aaaakkkkkksssshhh………………”

Dan dijawab dengan jeritan nikmat Lilis “Aaaakkkkkksss……… “

Beberapa saat tubuh kami kaku dan akhirnya tubuhku berkelojotan sambil… Crettt..crettt.. creeeettttt….

Spermaku terpancar dengan deras membasahi seluruh lorong nikmat di dalam vaginanya, disambut dengan kontraksi yang sangat kuat seolah memeras-meras batang penisku agar mengeluarkan semua sperma yang sedang terpancar…

Beberapa saat kemudian, aku merasa tubuhku lunglai, lututku goyah menahan beban tubuhku dan hampir saja tubuhku terjatuh. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku dari sekuat tenaga agar tidak jatuh. Sedangkan Lilis langsung terduduk di pinggir meja, rupanya lututnya langsung goyah tak mampu menopang beban tubuhnya, hingga penisku tercabut dari liang vaginanya.

Sesaat kemudian kami terdiam, hanya napas kami yang tersengal-sengal seolah habis berlari jauh. Tak lama kemudian aku berusaha membangunkan Lilis dan menariknya agar berdiri. Lilis berdiri dengan bantuanku dan langsung berdiri berhadapaan, baju yang kami kenakan basah oleh keringat. Aku memeluknya dan membelai kepalanya, sejenak kamipun berciuman dengan lembut dan mesra.

“Uhhh…Pak, kenapa jadi begini….?” Tanyanya dengan pertanyaan yang tak perlu kujawab, lalu dia memunguti Cdnya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dan akhirnya menghampiri kursi, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kusi tersebut.

Aku menarik sleting dan mengancingkan celana panjangku dan berusaha duduk di kursi lain yang ada di sana.

Beberapa saat kami hanya duduk terdiam sambil mengatur napas yang perlahan-lahan mulai normal kembali

Tiba-tiba dia berkata “Sebaiknya bapak segera pulang, sebab sebentar lagi suami saya akan datang menjemput…., saya tidak ingin suami saya curiga dengan apa yang kita lakukan barusan…”

Akupun berdiri, mengambil tas laptopku, sebelum aku meninggalkan ruangan itu aku berusaha menciumnya, namun dia menepis mukaku dan menghindar. Akhirnya akupun pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu.

Sepeninggalanku, Lilis tampak termenung melamunkan apa yang baru saja terjadi. Hari ini kembali dia berbuat dosa…., kembali dia menghianati suaminya, dan yang paling membuatnya tersiksa adalah kembali dia merasakan puasnya kenikmatan sex yang tak pernah didapatkan dari suaminya.

Dan peristiwa barusan, semakin memperbesar ketergantungannya akan pemenuhan kebutuhan sex terhadap diriku. “Uhhh…..” tanpa sadar dia menghela napas panjang sebagai ekspresi dari melepaskan beban berat yang sedang menghimpitnya.

Tiba-tiba badannya tersentak kaget, ketika ingat bahwa di layar monitor masih terlihat aplikasi media player yang sudah selesai menampilkan adegan persetubuhannya denganku. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari aplikasi tersebut dan menghapus file video tersebut.

Tak lama kemudian suaminya datang menjemputnya. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Lilis menyambut suaminya dengan memberikan kecupan mesra dan tak lama kemudian merekapun pulang. Sepanjang perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda motor, Lilis memeluk erat tubuh suaminya dari belakang dan meletakan kepalanya dipunggung suaminya.

Tapi ingatannya melayang pada saat-saat dimana tubuhnya terguncang-guncang diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang diberikan olehku.

Sepanjang perjalanan pulang, suaminya merasa nyaman dan bahagia, karena istri tercinta memeluk erat tubuhnya dari belakang dan diapun merasakan bahwa kepala istrinya disandarkan dipunggungnya. Kondisi begitu membuat gairahnya naik dan dia ingin segera sampai di rumah untuk melakukan hubungan suami istri dengan istrinya.

Namun pada saat keinginannya tersebut dia sampaikan ke Lilis, Lilis menolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah sehingga takut tidak bisa memuaskan suaminya dan dia berjanji bahwa besok dia akan melayani dan memuaskan suaminya. Suaminyapun mengerti akan alasan tersebut dan akhirnya merekapun tidur.

Alasan Lilis menolak ajakan suaminya, sebenarnya adalah dia merasa takut kalau penyelewengannya denganku di kantor dapat dirasakan oleh suaminya jika malam itu dia bersetubuh dengan suaminya. Itulah sebabnya dia memberi alasan bahwa tubuhnya lelah dan takut dia bisa melayani suaminya dengan baik, dan dia bersyukur karena suaminya bisa menerima alasanya.

Keesokan malamnya, setelah anak-anak mereka tidur, suaminya menagih janji Lilis untuk melakukan hubungan suami istri. Lilispun menyambutnya dengan senyuman dan kecupan mesra pada suaminya yang membuat gairah suaminya semakin tinggi.

Malam itu kembali Lilis begitu agresif terhadap suaminya, dia menciumi bibir suaminya dengan penuh nafsu dan membukakan seluruh pakaian suaminya. Lilis tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk mencumbunya.

Pada saat tubuh suaminya sudah telanjang bulat dan telentang di kasur dengan batang penis yang mengacung tegak, kembali ingatannya pada saat dia mempermainkan batang penisku dan membuat tubuhku terkejang-kejang sambil mengerang nikmat.

Ingatan tersebut membuat gairah Lilis terpacu, maka dengan semangat dia mempermainkan batang penis suaminya yang mengacung tegak.

Tentu saja suaminya kaget dan berkata..”Mah…kok Mamah bergairah sekali..? tidak biasanya Mamah seperti ini ?”

“kan saya udah janji untuk memberi kepuasan yang lain dari biasanya pada Papah…” jawab Lilis sambil mengocok batang penis suaminya yang semakin tegang dan suaminyapun semakin menggeliat-geliat menahan nikmat yang diberikan olehnya.

Semakin suaminya menggeliat dan mengeluh nikmat, Rasa nikmat dan puaspun semakin menjalar ke seluruh penjuru darahnya, gairahnyapun semakin tinggi serta vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal. Hal ini membuat Lilis semakin bergairah mempermainkan batang tegak suaminya, hingga akhirnya Lilispun mengemut batang penis suaminya yang semakin tegak dan bengkak

“Aahhh…..” tubuh suaminya bergetar, ketika dia merasakan batang penisnya merasakan panas dan basahnya mulut istrinya. Tubuhnya kejang dan melayang dihantam oleh rasa nikmat yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, karena seumur perkawinannya belum pernah Lilis melakukan hal ini padanya. Tentu saja dia merasa surprise dan nikmat luar biasa yang membuat tubuhnya melenting-melenting tanpa dapat dia kendalikan.

“Mah…Mamah… Ohhh.. Oh…” dengan tersengal-sengal menahan nikmat mulutnya terus meracau….

Mendengar racauan suaminya, Lilis semakin bersemangat mengoral batang penis suaminya, sehingga semakin lama dia merasakan batang suaminya semakin bengkak dan mulutnya terasa semakin penuh oleh batang suaminya dan akhirnya tanpa diduga tubuh suaminya melenting kaku dan menjerit “Aakkkkhhhh…” serta Cret…cret…cret….

Sperma kental terpancar tanpa dapat ditahan menyirami rongga mulut Lilis.

Lilispun kaget dan tersedak sehingga terbatuk-batuk dan melepaskan batang penis suaminya yang masih memancarkan sisa-sisa sperma.

Sementara itu napas suaminya tersengal-sengal merasakan nikmat yang luas biasa yang diberikan oleh istrinya.

Sementara itu, Lilis benar-benar kaget dan kecewa, karena suaminya sudah selesai sedangkan dia belum apa-apa, padahal dia merasakan vaginanya demikian basah dan berdenyut-denyut ingin diobok-obok oleh batang suaminya, tapi betapa kecewanya karena harapan itu sirna karena suaminya telah ejakulasi.

“Kok…Papah udahan sich…, saya kan belum diapa-apain…?” kata Lilis sambil cemberut.

“Abisnya…., Lilis sich…. Hari ini begitu lain…. Baru kali ini Lilis melakukan seperti tadi ke Papah, membuat Papah ngga tahan…tahu dari mana sih cara seperti tadi ?” jawab suaminya sambil menatap istrinya penuh selidik…

“tau dari temen… katanya bisa membuat suami melayang-layang nikmat…” jawab Lilis berbohong…” Teruss…. Saya gimana dong, Pah ? kan belum apa-apa…” lanjut Lilis sambil cemberut.

“Nanti..ya Mah…, Papah istirahat dulu…” jawab suaminya sambil mengecup mesra bibirnya.

Kemudian suaminya tergolek lemah dan tertidur, meninggalkan dirinya yang gelisah menahan gairah yang belum tersalurkan.

Sambil menahan gairah yang belum tersalurkan, Ingatan Lilis kembali melayang padaku…

Nyata benar bedanya bedanya, kemampuan suaminya dan diriku dalam memberikan kepuasan sex pada dirinya.

Dengan diriku, dia mendapatkan kepuasan dalam memberi dan menerima. Dia begitu puas dan nikmat bisa membuatku melayang-layang ketika mengoral batang penisku dan akhirnya diapun mendapatkan puncak orgasme berulang-ulang ketika batangku mengobok-obok liang vaginanya.

Sementara suaminya, baru dioral segitu aja udah kalah, meninggalkan dirinya yang belum diapa-apakan. “Uhhh….” Lilispun mengeluh penuh kecewa.

Kekecewaan yang baru saja dialaminya ini semakin merubah pandangan Lilis pada diriku. Di matanya, Aku bagaikan seorang maestro, yang mampu menjadikannya seorang wanita yang lengkap, seorang wanita yang bisa menikmati puncak orgasme yang begitu didambakannya. Dan aku bukan hanya mampu memberikannya satu kali, namun berkali-kali….

Semakin sering dia merasa kecewa karena ketidakmampuan suaminya memberikan kepuasan padanya, semakin membuatnya rindu padaku. Dan terkadang terpikir olehnya untuk rela menghadapi segala macam resiko untuk bisa meraih kenikmatan dariku.

Ya…, dibalik jilbab lebarnya, dibalik prilaku sholehnya dan dibalik tutur sapanya yang lembut, anggun dan sopan. Ternyata tersimpan gairah liar yang meronta-ronta yang tak dapat dipenuhi dari suaminya dan ini merupakan siksaan yang berat baginya. Membuatnya murung dalam kesehariannya.

Kecewaan yang berulang-ulang yang dialaminya membuat gairahnya secara perlahan-lahan berkurang dan hilang jika bersetubuh dengan suaminya. Akhirnya Lilis harus bersandiwara seolah-olah dia merasa puas dan nikmat ketika bersetubuh dengan suaminya karena dia tidak ingin melihat suaminya kecewa.

Tetapi di dalam kesendiriannya, ketika suaminya tidak ada di rumah atau sudah tidur gairahnya perlahan-lahan merayap naik dan menggodanya untuk membayangkan bersetubuh denganku, sambil jemarinya mengusap vagina dan meremas-remas buah dadanya sendiri. Hal itu semakin membuatnya rindu untuk meraih kenikmatan denganku.

Semakin lama, kerinduan itu semakin tak tertahankan dan semakin tak mampu mengendalikan gairahnya untuk bercinta denganku.

Pada suatu sore ketika aku baru pulang ke rumah kontrakanku dan selesai mandi, aku mendengar pintu depanku ada yang mengetuk, dan aku terbelalak kaget dan gembira ketika kubuka pintu ternyata Lilis yang anggun dan cantik telah berdiri di hadapanku. Aku hanya melongo sehingga lupa apa yang kulakukan.

Segera aku sadar…”Ohh..Lilis…, silakan masuk..!” kataku terbata-bata. Lilis segera masuk ke dalam rumah, aku menutup pintu dan “Silahkan duduk Lilis…!” kataku sambil mempersilahkannya duduk. Lilis duduk di kursi panjang yang berada di sudut ruangan dengan gelisah.. Akupun duduk di kursi panjang tersebut dengan jarak yang agak jauh.

“Aku… kangen banget ke bapak..!” katanya tiba-tiba membuatku kaget sekaligus bahagia, lalu dia menghampiri tubuhku dan tanpa kuduga, Lilis langsung mencium bibirku dengan gairah yang menyala-nyala, napasnya begitu terengah-engah didorong oleh nafsu birahi yang menyala-nyala tidak dapat dia kendalikan.

Akupun menyambut ciuman membara itu dengan tak kalah nafsunya. Selama beberapa menit napas kami saling memacu didorong oleh gairah yang demikian cepat menguasai kami berdua. Sambil menciumi bibirnya, tanganku mulai meremas-remas buahdadanya yang montok dari luar baju longgar yang dikenakannya.

Namun nampaknya Lilis ingin mengeluarkan semua gairahnya yang selama ini terpendam. Bibirnya menciumi dan menjilati pipi dan leherku, sementara tangannya dengan lincah membuka gesperku dan sleting celana panjang yang kukenakan dan tanganya langsung mencari-cari batang penisku yang tegang.

Begitu tangannya meraih batang penisku yang semakin tegang, tangannya langsung meremas dan mengocok batang penisku dengan gemas dan penus nafsu, sementara bibirnya masih terus menjilati dan menghisap leherku.

“Uhhh….” Kenikmatan ini betul-betul luar biasa dan tak terduga, membuatku melayang nikmat.

Tiba-tiba tubuhnya melorot kebawah kursi hingga kepalanya tepat berhadapan dengan batang penisku yang mengacung tegak dan keras dan dengan gairah yang menyala-nyala mulutnya mencaplok batang penisku dan mengoral penisku dengan lincahnya.

“Ouh…ouhhh…ouhh…..” akupun mengerang nikmat dengan napas terengah-engah dan Lilispun tanpa mengenal lelah terus mengoralku. Dan nampaknya dia begitu sangat menikmati karena bisa membuatku mengeliat-geliat menahan nikmat diatas kursi.

Semakin dia melihat diriku menggeliat-geliat menahan nikmat atas apa yang dilakukannya, rangsangan yang dirasakan Lilispun semakin tinggi dan gairahnyapun semakin bergelora, akhirnya Lilispun tak tahan lagi menahan gairahnya, karena merasa vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal, ingin segera diobok-obok oleh batang penisku yang tegang dan bengkak. Dia berdiri dan mau membuka celana dalamnya. Namun kutahan sambil berbisik “ kita ke kamar !” dia menatapku dgn gairah yang menyala-nyala, lalu kutuntun dia ke arah kamarku.

Ketika di dalam kamar, aku mencoba membuka baju longgar yang ia kenakan, namun dengan tergesa-gesa dia membuka baju longgar yang ia kenakan seolah-olah tidak memerlukan bantuanku. Akupun membuka membuka seluruh pakaianku sehingga kami sama-sama telanjang bulat. Aku langsung memeluknya dengan penuh nafsu, menciumi bibirnya dengan gemas, merayap ke lehernya yang jenjang. Lilispun membalas cumbuanku dengan tak kalah bergairahnya, sehingga kami kami bercumbu sambil berdiri dengan napas terengah-engah dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Beberapa saat kemudian, tubuh Lilis kudorong agar naik ke tempat tidur, dia naik ketempat tidur dan aku menyusulnya dengan merangkak. Kuarahkan kepalaku ke arah selangkangannya untuk menikmati vaginanya dengan lidahku.

Lilis menggeser punggungnya agar kepalanya mendekati batang penisku yang tergantung tegang hingga akhirnya kami membentuk posisi 69. Lilis langsung mengemut batang penisku dengan penuh gairah dari bawah, sementara aku tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menjilati belahan vaginanya yang begitu merangsang, “Auw….auw…” erang Lilis ketika lidahku mejilati lipatan vaginanya dan dia balas dengan menghisap dan mengocok batang penisku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku membuat gerakan lidahku terhenti menahan rasa nikmat yang kurasakan, kemudian kujilati dan kuputar-putar klitorisnya dengan lidahku. “Auh..auw…auw…” Lilis tersentak dan menjerit nikmat sehingga kulumannya terhadap penisku terlepas.

Selama beberapa menit kami saling mencumbu kemaluan lawan kami masing-masing, memberi dan menerima nikmat yang luar biasa datang silih berganti. Lilis menghentakkan tubuhnya hingga kami berguling, dan dia mengambil posisi diatas dan mempermainkan penisku dari atas, akupun mempermainkan vaginanya dari bawah. Berkali-kali kami berguling berubah posisi, hingga pada suatu posisi dimana Lilis diatas, dia sudah melonjak-lonjak dan menekan-nekan selangkangannya dengan keras ke arah wajahku pada saat aku mempermainkan klitorisnya dengan lidahku, sementara itu kakinya sudah mulai kejang-kejang dengan napas yang semakin terengah-engah dan terputus-putus hingga akhirnya “Akkkkkkhhhsss………..” mulutnya menjerit melepas nikmat dan lidahku merasakan dinding vaginanya berkonstraksi sangat keras dan cepat serta terasa semakin banjir membasahi bibir dan hidungku.

Kemudian dia berguling lemas dan telentang, dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Aku segera bangkit dan merangkak memposisikan kakiku berada disela-sela kedua tungkainya yang terkangkang lemas, sementara sikuku kuletakan dibawah pantatnya dan kedua tanganku melingkari pangkal pahanya yang masih lemah.

Jari-jari kedua tangankuku menyentuh vaginanya dari dua sisi dan posisi wajahku tepat berada di depan vaginanya yang semakin tampak indah dan merangsang.

Nafsuku masih mendorong untuk terus mencumbu vaginanya, Jari-jariku berusaha membuka lipatan bibir vaginanya sehingga lorong nikmat vaginanya terlihat merah muda dan basah berlendir , kujilati lagi sepanjang lorong nikmat tersebut, Lilis hanya mengeluh lemah “Uhh……euuhh…..”

Aku menjilati lorong itu dari liang vaginanya hingga menuju klitoris, dan terus kulakukan dengan nafsu yang tak pernah berhenti. Mendapat rangsangan yang terus menerus dariku, gairahnya bangkit kembali dan mulai berreaksi “Auw…..auh…..auhh” mulutnya mulai melenguh nikmat, pantatnya mulai bergoyang merespon jilatanku, dan pada saat ujung lidahku menusuk-nusuk dan mengorek-ngorek liang vaginanya yang semakin basah dengan aroma yang menggairahkan dengan rasa yang asin dan gurih. Lilis kembali mengaduh nikmat tak terkendali “Auw…auw…auw,…..”

Pantatnya kembali melonjak-lonjak dan akhirnya dia menjambak rambutku dan menariknya sambil berkata “Masukin….Pak…ouhh… masukin….. saya… tak tahan… ouh.. saya tak tahan….ouh….” Gerakannya semakin menggila.

jilbab hot (8)

Kulit kepalaku perih karena rambutku ditarik olehnya, akupun menghentikan kegiatanku menjilati vaginanya yang semakin basah menggairahkan. Kuposisikan kedua lututku dibawah kedua pahanya yang terangkat. Kepala penisku kuarahkan tepat dimulut liang vaginanya dan kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatannya, pantat Lilis bergoyang dan menggeliat seolah menyongsong kepala penisku untuk segera memasukinya, namun aku terus mempermainkan penisku seperti itu.

Lilis semakin menggelinjang, dan rupanya nafsunya sudah tak tertahankan, sehingga dengan merengek dia berkata sambil terengah-engah “Ayo.. Pak… masukin… masukin… ouh…. masukin…”

Sebenarnya, nafsukupun sudah diubun-ubun, kuletakkan kepala penisku tepat di mulut liang vaginanya dan secara perlahan kudorong pantatku… Blessshhh…

Rasa nikmat menjalar disekujur pembuluh darahku dan “Auw……ouhhhh……” Lilispun mengaduh nikmat. Perlahan namun pasti aku mulai menggoyang pantatku agar batang penisku mengobok-obok dan mengaduk-aduk liang nikmat Lilis. Lilispun membalas dengan goyangan pinggulnya yang begitu sensasional sambil mengaduh-ngaduh nikmat “Auw.. auw… auw… “

Gerakan pantatku yang teratur dengan ritme yang tetap, membuat Lilis semakin melayang dilambungkan oleh rasa nikmat yang terus menderanya, Lilis ingin segera meraih puncak, dia menghentakkan tubuhnya hingga kami bergulingan dan dia berada diatas tubuhku, kedua tangannya dia selipkan kebawah ketiakku sehingga jari-jari tangannya dapat mencengkram pundakku dari bawah dan dada montoknya menghimpit erat dadaku. Lalu dia mulai menggerak-gerakan pantatnya, keatas-kebawah hingga batang penisku menggaruk-garuk dinding vaginanya yang semakin gatal dan berdenyut serta meremas-remas batang penisku. Sambil terengah-engah memompa pantatnya, bibir Lilis menciumi bibirku dengan penuh nafsu, lidahnya terjulur memasuki rongga mulutku sambil mengerang nikmat “ouh…mmmmhhh ouhhh….. “

Dia ubah gerakan pantatnya dengan memutar-mutar sehingga batang penisku seperti dipelintir oleh gilingan yang sangat nikmat, akupun melenguh dan mendengus “Ouh…. ouh…”.

Keluhan dan erangan nikmat, keluar dari mulut kami sahut menyahut membentuk suatu orkestra yang menggairahkan diiringi oleh derit tempat tidur yang terguncang-guncang hebat. Semakin lama goyangan pantat Lilis semakin cepat dan patah-patah serta kaku, kedua kakinya mulai kejang-kejang dan akhirnya..”Aaaakkkkkkhhhss…….”

Tubuhnya benar-benar terdiam kaku dan melenting dan terasa olehku, batang penisku seperti diremas-remas dengan sangat kuat dan cepat oleh benda basah yang sangat nikmat…

Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…….” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh didalam liang vaginanya.

Ya…., Lilis baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Lilis merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Lilis terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Lilis, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Lilis tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Lilis membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya yang khas dan merangsang “Auw…auw… auw… ouhhhhh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya “Aaaaakkkhhss…..”.

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Lilis kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Lilis terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Lilis telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Lilis mencapai orgasme.

Wanita memang ditakdirkan mampu mengalami orgasme berulang-ulang, dan biasanya rentang waktu antara orgasme pertama dengan kedua, ketiga dan selanjutnya dapat berlangsung hanya dalam waktu beberapa menit, tidak seperti waktu perolehan orgasme pertama yang bisa memakan waktu antara 10 hingga 15 menit.

Demikian juga dengan Lilis, Dia mampu mendapatkan orgasme berulang-ulang dengan posisi seperti itu, dan hal itu berlangsung entah beberapa kali, akupun tak terlalu memperhatikan. Yang jelas nampaknya Lilis seperti ingin menumpahkan segala kerinduannya akan kepuasan orgasme yang tidak pernah dia peroleh dari suaminya.

Pada saat tu, Lilis bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah. Apabila dia merasa tubuhnya sangat lelah, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya.

Giliranku memompanya lebih aktif dan dia membalasnya dari bawah sampai dia memperoleh orgasme sambil melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena tak lama kemudian diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Lilis yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan lilispun merasakan itu dan diapun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan “Aaakkkkkksssss…..” secara berbarengan kami meraih orgasme dan Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Lilis. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan

Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Setengah jam kemudian, dengan badan yang sangat lemas, Lilis bangkit dari tidurnya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku, kemudian mandi dengan menggunakan shower.

Gemericik air dikamar mandi membangunkanku dan akupun menyusulnya ke kamar mandi. Kulihat Lilis sedang membasahi tubuhnya dengan shower.

Uuhhhhh…… sungguh mulus dan menggairahkan tubuh ini….., beruntung sekali aku bisa menikmatinya. Aku menghampirinya. Dia tersentak kaget…. ”Ehhh… bapak…!!” katanya…

“Bareng..ah..!” kataku. Aku pun masuk tanpa menunggu jawaban darinya, kemudian tubuhkupun diguyur shower….. terasa sangat menyegarkan begitu tubuh yang lunglai ini diguyur air dingin dari shower sehingga perlahan-lahan tenagaku pulih kembali dan terasa segar.

Lilis mengambil sponge sabun dan menyabuni tubuhnya yang mulus dengan gerakan gemulai yang menggairahkan. Tubuh kami yang berhimpitan dibawah shower membuat gairahku bangkit dengan cepat…

”Aku sabuni ya…!” kataku sambil meraih sponge dari tangannya…, dia tidak protes.

Lalu kusabuni tubuh mulusnya, Darahku kembali berdesir ketika menyabuni tubuhnya, dan perlahan-lahan penisku berdiri tegak.

Perubahan pada batang penisku rupanya diperhatikan oleh Lilis.

jilbab hot (9)

“Ihhhh…., ini barang memang hebat….!! Ngga ada capenya….!” Katanya sambil tersenyum manja dan penuh gairah. Kemudian tangannya meraih batang penisku dan mengocoknya. Sementara Lilis mengocok batang penisku, tangankupun sudah tidak lagi menyabuni tubuh mulusnya namun lebih banyak meremas buah dadanya yang montok.

Acara mandi bersama telah berubah manjadi percumbuan di kamar mandi, semakin lama percumbuan itu semakin panas membara, dan napas kami sudah memburu dipacu oleh nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku semakin keras dan tegang. Kudorong tubuhnya agar menyandar ke dinding kamar mandi. Kutekuk kakiku dan dia membuka kakinya, kuarahkan batang penisku yang sudah mengacung kaku.

Lilis meraih batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya dan setelah kurasa pas aku mulai mendorong pantatku.

Blesssshhhhh….. batang penisku mulai meyeruak memasuki liang vaginanya yang serasa seret karena terkena air dingin, namun memberikan sensasi nikmat yang beda.

Akupun mulai mengayunkan pantatku untuk mengocok-ngocok batang penisku di dalam liang vaginanya. “Auw… auw…. Auw… “ erangan nikmat yang khas mulai diperdengarkan oleh Lilis.

Bercinta dibawah pancuran shower, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri, dan kami betul-betul menikmati persetubuhan itu hingga akhirnya tubuh Lilis melenting kaku dengan kaki terjinjit dan menjerit “Aaaakkkkkhhhh……” rupanya Lilis sudah meraih puncak orgasme di kamar mandi ini.

Kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh dengan mempertahankan agar batang penisku tidak lepas dari liang vaginanya. Kuciumi bibir dan lehernya dengan penuh nafsu.

Tapi, Lilis mendorong tubuhku agar aku duduk di closet duduk. Akupun duduk dengan batang penis yang masih mengacung tegak. Lalu Lilis mengangkangiku sehingga kedua pahanya berada dipinggir kiri dan kanan pinggulku.

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya dan Blesssshhhh…., batang penisku menyeruak liang vaginanya dan menyusuri dinding liang yang tak henti-hentinya memberikan rasa nikmat yang luar biasa. Lilis menekan pantatnya hingga seluruh batang penisku amblas tertelas oleh liang vaginanya. Dia menekan terus hingga batang penisku masuk sedalam-dalamnya. Dan mendiamkannya sesaat.

Kemudian secara perlahan, Lilis mengerakan pantatnya keatas-kebawah hingga batang penisku mengocok-ngocok dinding liang vaginanya, Kedua tanganku membantu gerakan tubuhnya dengan mengangkat pinggangnya ke atas kebawah.

Erangan nikmat kembali diperdengarkan Lilis “Auw… auw … auw…” dengan nafas yang terengah-engah oleh nafsu yang menguasai dirinya.

Semakin lama gerakan pantat Lilis berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang cepat tak terkendali dan akhirnya kedua tangannya mencengkram bahuku dan menjerit sambil melentingkan tubuhnya “Aakkkkkkh……..”

Rupanya Lilis telah memperoleh orgasmenya kembali.

Lilis menghempaskan tubuhnya dengan memeluk erat tubuhku .

Tubuh itu benar-benar mulus luar biasa, basah dan mengkilat serta licin oleh sabun.

Tak lama kemudian tubuh itu kembali bergerak-gerak agar batang penisku yang masih tertancap kokoh diliang vaginanya kembali mengaduk-aduk liang vaginanya.

Tak lama kemudian, hanya beberapa menit saja kembali tubuhnya kejang-kejang dan menjerit nikmat meraih orgasme tuk kesekian kalinya “Akkkkkssssss…..”

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali bergoyang mengocok-ngocok vaginanya dan aku merasa badai gelombang orgasme akan menghantamku, maka aku berdiri tegak sambil mengangkat tubuhnya dan berjalan menghampiri dinding kamar mandi, kusandarkan tubuhnya ke dinding, dan kulepaskan kakinya agar berdiri berjinjit, kemudian dengan gerakan pantat yang cepat, keras dan kaku, aku mulai mengocok batang penisku di dalam liang vagina Lilis, kenikmatan yang kudapat dalam posisi seperti ini sungguh luar biasa, dan posisi berdiri seperti merupakan posisi pavouritku, karena aku bisa mendapatkan sensasi kenikmatan orgasme yang luar biasa nikmat. Lilis paham, bahwa aku akan mencapai orgasme, maka diapun membalas gerakannku dengan tak kalah serunya, hingga akhirnya secara bersamaan kamipun menjerit meraih orgasme “Aaaakkkkkhsss……”. Cret… cret…. cret… spermakupun terpancar dengan deras ke seluruh rongga liang vaginanya.

Beberapa saat tubuh kami diam terpaku sambil saling berpelukan sementara shower terus mengguyur tubuh kami berdua.

Guyuran air shower dengan cepat memulihkan kesegaran kami, dan kamipun melanjutkan mandi sampai selesai disertai dengan cumbuan-cumbuan mesra.

Kami kemudian berpakaian, dan betapa kagetnya Lilis, karena ternyata waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Tapi dibenaknya langsung tercipta alasan yang bisa diterima oleh suaminya tentang keterlambatannya pulang ke rumah. Tak lama kemudian Lilispun pamitan dan menolak diantar olehku, ‘untuk menghindari curiga orang lain’ katanya.

Peristiwa yang ketiga persetubuhanku dengan Lilis, benar-benar telah mengikat akal sehat Lilis, Dia tak mampu lagi lepas dari pesona seksual yang didapatnya dariku dan dia benar-benar nekad, sehingga selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bisa melepaskan semua hasrat kepuasan birahi denganku, baik di tempat kostku, ataupun hotel di luar kota, dengan membuat alasan ‘ada tugas dari kantor’ pada suaminya.

Pernah dia mencoba untuk tidak bercinta denganku selama hampir dua bulan, tapi akhirnya pertahanannya bobol juga, karena kubutuhannya akan kepuasan seksual tidak juga dapat diperoleh dari suaminya dan akhirnya kembali dia membuat janji denganku untuk mengayuh nikmat meraih orgasme di hotel di luar kota. Dan jika sudah demikian Lilis pasti bermain bagaikan kuda binal yang melonjak-lonjak sangat liar tanpa mengenal lelah selama beberapa jam. Dia akan bergoyang dengan sangat lincah dan erotis untuk menjemput orgasmenya secara berulang-ulang, hingga akhirnya terhenti setelah tubuh kami tak bertenaga lagi karena suluruh persendian seolah-olah dilolosi.

Kami tidak tahu, kapan hubungan perselingkuhan ini akan berakhir.

Tamat

ELAH

Kejadian ini sudah berlangsung lama sekali, tapi tiap detil kejadiannya masih kekenang hingga sekarang. Waktu itu aku masih menjadi seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal di Bandung.

Sore itu, kira-kira jam 5.30 sore, aku pulang kuliah naik bus kota bersama teman cewek sekelasku yang sedang dalam masa pendekatan. Di sekitar daerah tegalega , para penumpang sudah banyak yang turun sehingga banyak kursi kosong tak berpenumpang, aku dan temanku melihat seorang gadis manis berjilbab lebar dan bergaun longgar yang panjang sedang sesenggukkan menangis dengan ekspresi wajah yang kelihatan bingung.

Temanku menyentuh tanganku dan berkata “Ded… (namaku Dedi), perhatikan gadis berjilbab itu? Kelihatannya dia seperti yang bingung. Coba kamu tanyain, siapa tahu dia memerlukan bantuan !” sambil mendorongkan tubuhku agar aku menghampiri gadis berjilbab tersebut.

Mataku menatap mata teman ceweku yang sebenarnya sedang dalam masa pendekatan ini dan berkata padanya : “Kamu ‘nggak apa-apa kalau aku nanyain dia ? ‘Ntar kamu cemburu dan ngambek, khan bisa gawat !”

“Nggaklah Ded…, kan aku yang nyuruh kamu , lagi pula tujuannya ‘khan menolong orang yang sedang kesusahan “ katanya sambil menerus memaksaku untuk menanyai gadis berjilbab tersebut.

Akhirnya aku kalah , walaupun sebenarnya aku kasihan pada gadis tersebut dan ingin menolongnya tapi aku masih menjaga perasaan ceweku ini dan kebutulan dia yang minta. Aku berdiri dan melangkah menghampiri gadis berjilbab itu dan duduk disampingnya. Dia kaget melihat orang asing duduk disampingnya padahal masih banyak kursi lain yang kosong.

“Jangan curiga dulu, Neng ! “ kataku menenangkannya.

“Saya dan teman saya dibelakang..” kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah teman cewekku dan gadis berjilbab inipun memandang temen cewekku dan melemparkan senyum manisnya sambil mengangguk. Lalu lanjutku lagi “Dari tadi kami melihat Eneng seperti yang sedang bingung dan menangis. Ada apa ? Mungkin kami bisa membantu ?” kataku sambil menatapnya dengan penuh kesungguhan.

Dia menatapku dan beralih menatap teman cewekku kemudian berkata padaku “benar kang…, saya lagi bingung. Bingung nggak bisa pulang ke rumah karena sudah kemalaman..”

“Emangnya Eneng mau kemana dan dari mana ?” tanyaku

“ke Majalaya” jawabnya menyebutkan nama suatu kecamatan di kabupaten Bandung yang letaknya berada di sebelah tenggara kota Bandung.

“Saya baru pulang dari Pasantren di Tasikmalaya dan akan melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Gunung Jati, datang ke terminal Kebon Kelapa jam 5 sore tadi ( waktu kejadian ini terjadi terminal Kebon kelapa masih ada dan belum dipindahkan ke terminal Leuwi Panjang). Padahal sebentar lagi magrib, dan bila lepas magrib maka angkot ataupun bus yang ke Majalaya sudah jarang. Saya takut kang… takut terjadi apa-apa pada diri saya” Ceritanya menerangkan siapa dirinya sambil bingung dan mulai kembali mengeluarkan air mata dan terisak

“Oohhh….gitu…, kalau gitu bagaimana kalau akang antar sampai ke rumah ?” kataku semangat menawarkan jasa ingin menolong gadis manis berjilbab yang baru keluar dari pasantren ini.

Dia menatapku gembira, tapi kemudian dia menatap ceweku dan berkata “Bagaimana dengan si Teteh ? Apa dia mengijinkan dan tidak marah ?”

“Tenang…, nanti aku akan minta ijin padanya dan lagi pula dari tadi dia kok yang mendorong diriku untuk menolong Eneng..” jawabku

“Oh ya neng, nama Eneng siapa ? nama Saya Dedi saya kuliah di …..” Kataku memperkenalkan diri dan menyebutkan nama sebuah pertinggi yang sudah dikenalnya

“Nama saya Nurlaelah, akang boleh panggil saya Elah. Saya alumnus Aliyah yang terdapat di Pansantren. Sebenarnya saya juga ingin kuliah ke sana, tapi orang tua menganjurkan saya untuk daftar ke IAIN” katanya lagi menjelaskan siapa dirinya.

“Sebentar ya…, aku mau ngomong dulu ke temanku..” kataku, lalu aku berdiri dan menghampiri ceweku yang duduk sendiri sambil memperhatikan diriku ngobrol dengan gadis berjilbab yang sedang bingung.

“Siapa dia dan ada apa dengannya ?” tanya ceweku begitu aku duduk disampingnya. Lalu kuterangkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia menangis..

“Ohhh gitu…, antar aja atuh ke rumahnya, apalagi orangnya cantik…!” katanya tapi ada nada cemburu yang kutangkap dari kata-kata tersebut.

“Benar nich, boleh kuantar…, kamu ikhlas. Kalau kamu larang juga aku tidak akan mengantar gadis itu !” kataku pada ceweku memberikan penekanan bahwa aku lebih berat pada ceweku dibandingkan cewe manis berjilbab lebar yang membutuhkan pertolonganku.

Tapi ceweku menjawab dengan sungguh-sungguh “Benar ..aku serius…kasihan dia, tapi kamu jangan macam-macam ya padanya.. kamu hanya ngantar kerumahnya setelah itu langsung pulang jangan merayu-rayu segala…” Aku aneh waktu mendengar kalmatnya yang terakhir, karena ada nada kekhawatiran dan kecemburuan. Apakah itu berarti bahwa teman ceweku ini juga sedang mendekatiku dan berusaha supaya jadi pacarku, aku berbunga-bunga memikirkan hal ini.

Begitu bus kota tiba di pool terakhir di daerah Cigereleng Mohamad Toha, semua penumpang turun, kemudian Elah menghampiri teman ceweku dan berkata “Makasih The yah , telah mengijinkan si Akang mengantarkan saya ke rumah. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau tidak ketemu Teteh dan Akang “

“’Nggak apa-apa…, sok aja , semoga selamat di jalan “ kata ceweku pada Elah sambil tersenyum. Kemudian kami menunggu angkot yang akan ditumpangi oleh ceweku. Setelah ceweku naik angkot maka aku dan Elah menunggu angkot yang menuju ke arah Majalaya yang masih sepi dan jarang ada angkot pada saat itu.

Akhirnya aku mengantar Elah ke rumahnya yang letaknya dipinggir sawah yang tak jauh dari jalan raya yang menuju ke arah ibu kota kecamatan Majalaya. Di rumahnya hanya ada Ibu dan Bapaknya berdua. Sebab orang tua hanya memiliki tiga orang putri yang sudah dewasa sedangkan Elah adalah putri bungsu sedangkan putri pertamanya sudah menikah dan tinggal di kota Bandung dan putri keduanya juga sudah menikah dan tinggal di Bogor. Sehingga dalam keseharian di rumah itu orang tua Elah hanya tinggal berdua.

Mereka sangat berterima kasih atas kesediaanku mengantar anak mereka yang kemalaman di jalan. Aku tak berlama-lama di rumah Elah, hanya sebentar duduk dan minum lalu pamit mohon diri untuk segera pulang.

Bererapa hari setelah kejadian itu, aku mendapat surat dari Elah yang dia kirimkan melalui alamat kampusku yang isinya tentang ucapan rasa terimakasih darinya dan keluarganya yang sangat besar padaku karena telah mengantarkan dirinya pulang ke rumah. Pujian dan sanjungan yang dia tuliskan dalam surat itu kurasakan sangat berlebihan dan membuatku tersanjung bahkan di akhir suratnya dia sangat mengharapkan kehadiranku untuk sering-sering main ke rumahnya.

Tapi surat yang kuterima itu tidak kutanggapi dan akhirnya kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa aku berusaha untuk mengingatnya. Namun , sebulan setelah peristiwa itu sahabat dekatku Odang mengajakku untuk menemaninya ke Majalaya karena ada urusan yang harus dia selesaikan.

Pada saat aku sudah berada di Majalaya, aku teringat akan Elah yang pernah kuantarkan dulu, maka aku berkata pada Odang : “Dang, aku punya kenalan cewe cantik berjilbab di daerah sini. Setelah urusanmu selesai, kita main kerumahnya yuk !” ajakku.

“Ayo… apalagi kalau cantik dan berjilbab mah, aku paling suka dengan cewe cantik berjilbab..” kata temanku ini bersemangat.

Setelah urusan temanku ini selesai, kami langsung menuju ke rumah Elah, namun rupanya kami kurang beruntung. Karena Elah tidak ada di rumah tapi di rumah kakaknya di Bandung. Akhirnya kami pulang dengan kecewa.

Tiga hari setelah aku ke rumahnya, datang lagi surat dari Elah melalui alamat kampusku yang isinya tentang penyesalannya yang tidak bisa bertemu denganku dan permohonan maafnya yang teramat dalam padaku karena telah membuatku kecewa. Dan di akhir suratnya dia gambarkan peta tempat tinggal kakaknya di Bandung dan sangat mengharapkan aku bisa mengunjunginya di sana, karena sekarang dia tinggal dengan kakaknya di Bandung.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjunginya, karena merasa kasihan padanya yang telah susah payah menggambarkan peta tempat tinggalnya pada ku dan pastinya sangat mengharapkan untuk bisa bertemu denganku. Maka pada hari jum’at sore sekitar jam 3.30 setelah selesai kuliah aku berniat berangkat ke rumah kakaknya Elah langsung dari kampusku. Dan aku tiba di rumahnya sekitar jam 4.30.

Walaupun dia menggunakan jilbab pada saat menyambutku, namun jilbab itu tidak mampu menyembunyikan kegembiraan dan kebahagiannya pada saat bertemu denganku.Kami ngobrol cukup lama dan iseng-iseng aku berkata padanya

“Kalau besok Akang datang malam mingguan ke sini, ada yang marah ‘ngga ?” dia langsung menjawab dengan spontan dan gembira penuh harap

“Siapa yang akan marah kang ? Saya mah disini orang baru, belum ada yang kenal. Akang mungkin yang bakal dimarahin dan diputusin sama si Teteh kalau malam mingguan ke sini ? “ tanyanya menyelidiki apakah aku sudah punya pacar atau belum.

“Akang mah Lah , saat in ‘nggak punya pacar. Yang kemarin itu adalah teman kuliah Akang, bukan pacar Akang. Kalau dia pacar Akang, masa dia menyuruh pacarnya untuk mengantar cewe cantik lain ke rumah ?” jawabku memberi alasan sambil memuji kecantikannya secara tidak langsung

“Kalau gitu, Elah akan nunggu kedatangan Akang besok, janji Kang ya!” katanya gembira.

“Iya Akang janji, besok Akang kesini ngapelin Elah..” Kataku kembali berjanji. Dia sangat gembira setelah mendengar janji dariku bahwa aku akan datang malam mingguan.

Menjelang magrib aku pamit pulang. Dan dengan berat hati Elah mengizinkan aku pulang dan mengantarkan aku sampai ke depan pagar rumahnya.

Keesokkan harinya setelah magrib aku bersiap-siap untuk malam mingguan ke rumah Elah. Aku datang ke rumahnya sekitar jam 7.15 malam. Dia menyambutku dengan mengenakan jilbab, baju lengan panjang dan serta rok panjang. Dia kelihatan sangat cantik dan segar saat itu. Aku tercengang memandangnya.

“Ada apa Kang ? kok bengong ?” Tanyanya padaku melihat aku bengong dengan mulut terbuka.

“Oh…’nggak. Elah kelihatannya cantik sekali “ kataku gugup tak mampu menyembunyikan keterkesimaanku melihat kecantikannya

“Ah..Akang mah..merayu. Cantikan juga Teteh teman Akang yang kemarin itu “ katanya tersipu malu.

Aku duduk di kursi panjang yang terdapat di ruang tamu. Setelah dia menyuguhi air minum dan kue-kue dia menutup pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Alasannya agar keponakannya yang berumur 3 tahun tidak mengganggu mengacak-ngacak minuman dan kue yang disuguhkan padaku. Jadi hanya kami berdua di ruang tamu itu yang hanya di terangi oleh lampu pijar 5 watt..

Dia duduk disampingku. Aku gelisah, karena seumur hidup aku belum pernah duduk berdampingan berdua-duaan. Karena pacaran yang kulakukan sejak SMA dulu hanya sebatas jalan-jalan, jajan dan bila main ke rumah juga aku akan duduk dengan kursi yang berbeda dengan kursi yang diduduki pacarku dulu.

Sedangkan saat ini aku duduk berdampingan dengan gadis cantik yang dengan beraninya mendekatkan badan dan wajahnya ke depan wajahku. Tentu saja hal ini membuat aku gugup, aku selalu membuang muka bila Elah bicara sambil memandangku. Hingga pada suatu waktu, setelah aku membuang muka dan kembali menghadapkan wajahku ke wajahnya . Elah langsung menyerangku dengan menyosor bibirku.

Aku gugup dan kaget, tak tahu berbuat apa-apa. Aku hanya terdiam merasakan bibirku dilumat oleh Elah. Jujur….sampai aku tingkat dua saat itu belum pernah merasakan berciuman dengan seorang gadis.

Badanku bergetar seperti dialiri listrik, namun bibirku merasakan manisnya bibir dan air liur Elah, birahiku terdongkrak dengan cepat, maka secara naluri aku membalas ciuman dan lumatan bibir Elah padaku. Dan secara reflek tanganku memeluknya erat-erat sehingga percumbuan yang kami lakukan semakin panas dan lama.

Setelah bibirku merasakan kaku aku melepaskan pagutan bibirku dari bibir Elah. Sambil kembali duduk berdampingan, aku berkata pada Elah “Kok Elah demikian lihainya berciuman ? Akang mah baru saat ini mengalami apa itu ciuman ?” tantaku padanya penuh selidik.

“Elah suka melakukan ini waktu di Aliyah dulu dengan kakak kelas yang menjadi pacar Ellah yang sekarang sudah putus…” jawabnya menerangkan

Oh…pantas saja dia sangat berpengalaman dalam berciuman. “Tapi apa ‘nggak takut dosa ?” tanyaku lagi polos padanya. Dan aku memang bego dalam hal ini.

“Kata kakak kelasku dulu, dosanya akan terhapus , kalau setelah melakukan percumbuan kitanya bersuci kembali” jawabnya memberikan alasan.

Ouh.. rupanya gadis ini masih sangat lugu sehingga bisa ditipu oleh kakak kelasnya dulu. Tapi saat itu aku tak terlalu memperdulikannya, dan kembali bibirku mencium bibirnya. Dan kembali kami terlibat percumbuan bibir yang panas dan menggairahkan, nafsuku sudah menguasaiku, penisku sudah sangat tegang dan keras mendorong celana jean yang kukenakan sehingga menimbulkan rasa nyeri pada batang penis dan selangkangannku.

Dengan malu-malu meluruskan posisi batang penisku, Elah melihatnya dan hanya tersenyum seolah tahu apa yang terjadi pada penisku. Kemudian dengan malu-malu , ragu-ragu namun penuh nafsu kucoba untuk meremas buah dada Elah dari luar bajunya. Ternyata dia diam saja, malah memberi kesempatan dengan mendongakkan kepala dan melenguh nikmat dengan desahan yang merangsang…”Ouh….kang..”

Nafsuku semakin berada diubun-ubun, tangan kiriku meyibakkan jilbab yang dkenakannya dan bibirku langsung lehernya yang putih jenjang dan menggairahkan, sehigga kepalaku berada dibalik jilbab.. Mata Elah terpejam menikmati apa yang kulakukan padanya sambil mengerang “Ouh…euh….Kang…..kang… ouh..”

Aku semakin berani, maka dengan tergesa-gesa aku berusaha membuka kancing bajunya. Karena aku tidak punya pengalaman maka aku menarik kancing bajunya denga keras, saking kerasnya tarikanku membuat kancing itu copot. Aku malu pada Elah dan berkata dengan tampang bloon “Maaf … Lah, kancingmu copot !”. Tapi dia tidak memperdulikannya, dengan napas yang meburu tersengal-sengal dia membantu membukakan kancing baju dan Bhnya sekalian. Rupanya Elah sudah dikendalikan oleh nafsunya sendiri sehingga sudah tidak malu-malu lagi padaku.

Begitu buah dadanya terbuka, maka tampaklah pemandangan indah yang baru pertama kali aku melihatnya selama aku dewasa. Buah dada gadis remaja yang montok putih dan mulus dengan putting yang menantang tegak. Pemandangan ini membuat mataku nanar. Bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada itu. Dan akhirnya bibir dan lidahku asyik memilin putting susunya yang tegak merangsang. Mulut Elah semakin tak bisa diam terus menerus mengerang dan mendesah menahan nikmat. Dia membalas membuka sleting celanaku dan mengeluarkan penis tegangku dari cd, tanpa ragu-ragu dia remas-remas dan kocok-kocok penisku membuat aku terhenyak merasakan nikmatnya permainan tangan yang diberikan oleh Elah pada penisku

“Oukh…ouch…hohh….” Aku mengerang melayang-layang

Tiba-tiba…, dengan nafsu yang mengebu-gebu. Elah mengagetku dengan melakukan sesuatu yang tak kuduga-duga. Kepalanya menunduk, lidahnya langsung menjilati penisku yang sudah sangat keras dan tegang berdiri dengah gagahnya. Tanganku tersentak dan badanku seolah-olah dialiri listrik ribuan volt

Seeerrr….. bergetar seluruh tubuh ini ketika lidah basah nan panas membara terus terus menjilati dan diselingi dengan mulutnya yang mengemut dan menghisap penisku. Aku semakin tak tahan, seluruh bulu yang ada di tangan dan tengkukku seolah berdiri dengan perasaan nikmat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Hanya bibirku saja tanpa sadar mengeluarkan keluhan dan erangan nikmat

“Ouh…. Lah…. Ouh……”

Aku terus melayang dan melayang dengan mata yang terbeliak-beliak menyaksikan pemandangan sensasional dari seorang gadis berkerudung sedang mengoral penisku dengan lihainya. Kakiku terkejang-kejang menerima deraan nikmat ini.

Tak lama kemudian jari tangannya menggantikan mulutnya yang bekerja cukup lama memberikan kenikmatan pada penisku. Mulutnya kembali mencari menciumi wajah dan bibirku dengan panas membara. Luar biasa kemampuan gadis berjilbab ini dalam memberikan kepuasan pada laki-laki. Aku dibuat terus dan terus melayang tanpa diberi kesempatan untuk menghirup napas dengan tenang. Nafasku terus menerus dibuatnya berpacu mengejar sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya.

Tanganku bergerak mencari kepuasan tambahan, tanganku berusaha menyingkapkan rok panjangnya dan mengusap-ngusap paha yang mutih mulus menggairahkan, membuat nafsu semakin membungbung tinggi. Kemudian dengan perlahan namun pasti tanganku menyelusup kebalik cd-nya dan mengubek-ngubek vaginanya yang terasa lembut ditimbuni oleh jembut yang lebat dan lembut.

Kembali kepuasan dan nafasku terhenti mendapatkan pengalaman yang yang pertama kali kulakukan yaitu menyentuh vagina seorang wanita dengan penuh nafsu. Asaku melayang dan aku merasa nerveous dan surprise yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Vagina itu terasa lembab dan sedikit basah terutama tepat di bagian lipatan bibir vagina.

Dan ketika jari-jariku berusaha menyibakkan bibir vagina itu dengan lembut dan berusaha menggesekkan jari tengahku kebagian dalam lipatan yang sudah sangat basah dan menggairahkan. Tiba-tiba tanganku dipegang dan ditahannya seraya berkata “Jangan dipegang-pegang daerah sana Kang ! Saya suka tidak kuat… “ katanya dengan nafas yang tersengal-sengal, kemudian sambungnya “Biar Akang Saya puasin aja Kang. Saya akan sangat puas bila melihat Akang puas sebab saya sangat mencintai Akang, karena Akang begitu baik pada Elah”

Setelah itu kembali mulut dan tangannya memberikan kenikmatan padaku dan membuatku melayang-layang kembali. Gerakan mulut, bibir dan lidahnya demikian hebatnya memberikan kenikmatan padaku, ditambahkan dengan tangan halusnya yang mempermainkan buah pelir dan panggal penisku yang tak terjangkau oleh mulutnya membuat kenikmatan ini seolah-olah datang bertubi-tubi tiada henti.

Hingga akhirnya penglihatanku terasa gelap, nafasku terhenti dan tanpa dapat kukendalikan tubuhku mengejang kaku dan akhirnya ada dorongan dalam tubuhku melalui penisku melepaskan sperma demikian kuat dan derasnya membuat aku menjerit tertahan menahan nikmat yang tak terkira

“Aaaahh……”

Cret…cret…cret…., spermaku terpancar dari penisku yang masih berada di dalam mulutnya yang seksi. Mulutnya tidak mau melepaskan penisku walaupun pada saat itu penisku terus menembakkan sperma beberapa kali, bahkan dengan rakusnya penisku dihisap-hisapnya hingga sperma yang kusemprotkan langsung ditelannya dengan lahap. Hingga akhirnya spermaku habis tak bersisa . Tubuhku secara perlahan-lahan mengendur dan napasku tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen. Tangan dan kakiku sangat lelah dan lunglai tak bertenaga. Akhirnya badanku kusandarkan di sofa dengan nafas yang masih tersengal-sengal menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang telah diberikan oleh gadis berjilbab yang sangat cantik dan menggairahkan ini.

Dia mengambil air dalam cangkir yang ada di atas meja tamu dan meminumnya dengan tergesa-gesa seperti orang yang kehausan karena habis bekerja keras. Kemudian memandangku dengan pandangan penuh kepuasan karena telah berhasil memberikan kenikmatan yang tak terhingga kepada pria yang sangat dikagumi.

“Akang puas ?” Tanyanya padaku

“Banget…” jawabku lemah sambil mengangguk

“Lah…., kamu betul-betul luar biasa seperti yang sudah sangat berpengalaman. Betul-betul diluar dugaan melihat penampilan Elah yang anggun dan selalu menggunakan jilbab .” kataku melanjutkan mengomentarinya.

“Seperti yang saya ceritakan tadi kang, pacarku dulu sering mencumbuku waktu masih di Aliyah. Dan saya jadi ketagihan untuk melakukan itu. Makanya waktu tadi Akang meraba-raba vagina saya , Saya menolaknya sebab biasanya kalau vagina udah digesek dan dipermainkan. Saya suka tidak tahan untuk menjerit dan melanjutkan yang lebih jauh. Sedangkan disini tempatnya tidak memungkinkan.” Ceritanya panjang lebar.

Waktu telah menunjukkan jam 11 malam, maka dengan terpaksa aku pamit pulang. Elah mengijinkan dengan nada terpaksa. Kami beres-beres merapihkan pakaian yang kusut karena percumbuan yang demikian panjang dan melelahkan, serta tentu saja dengan kepuasan yang tak terlupakan dalam hidupku. Sebelum pulang kami bercumbu kembali sebagai acara penutup dan Elah menegaskan padaku “Minggu depan datang lagi ya, Kang !” sambil bibirnya mengecup mesra bibirku.

Akupun menjawabnya dengan anggukan dan membalas kecupannya. Dan setelah itu akupun pulang dengan pengalaman baru dan tubuh melayang ringan seringan kapas , sambil mulut tersenyum puas dan nafas terasa lapang.

Selama seminggu sesudah itu, Aku selalu gelisah, tak sabar menunggu malam minggu berikutnya. Selalu saja terbayang apa yang kami lakukan malam itu dan masih kurasakan hisapan dan jilatan lidahnya yang luar biasa pada penisku yang membuat spermaku tersedot keluar begitu banyak sehingga lututku serasa mau copot.

Malam yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang juga dan seperti malam minggu sebelumnya, jam 7 malam aku sudah ada di depan rumahnya dengan bayangan dikepala akan mendapatkan sesuatu yang nikmat seperti malam minggu sebelumnya atau bahkan mungkin lebih.

Elah membuka pintu dan menyambutku dengan mesra dan tatapan mata yang memancarkan luapan kerinduan yang menggelora bagaikan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun tidak dijenguk oleh kekasihnya. Elah mengenakan kaos longgar lengan panjang dengan jilbab yang tak pernah lepas dari tubuhnya serta rok panjang yang longgar pula. Malam itu kulihat Elah sangat cantik dan menawan serta farfum yang dia kenakan begitu cepat membangkitkan kelaki-lakianku.

Dia mempersilahkan aku masuk ke ruang tamu dan aku duduk di sofa panjang. Elah masuk ke dapur untuk mengambil air dan penganan yang akan ia suguhkan padaku. Aku menantinya dengan perasaan yang tidak sabar. Setelah ia menyuguhkan air dan penganan di meja tamu, kemudian ia dengan manjanya duduk disampingku sambil menggelayut manja dan berbisik “Saya kangen berat ke Akang… rasanya seminggu ‘ngga ketemu sama Akang bagaikan bertahun-tahun…” katanya diakhiri dengan mengecup mesra pipiku.

Badanku menjauh darinya seraya berkata-kata “Jangan begitu ach…malu dilihat sama Tetehmu atau keponakanmu !” sebab saat itu pintu ruang tamu belum tertutup sehingga aku masih bisa melihat keadaan ruang tengah.

“Tenang aja…Kang. ‘Ngga ada siapa-siapa. Teteh dan keluarganya lagi menjenguk Bapak dan Ema di Majalaya . Dan saya disuruh Teteh untuk jaga rumah..” katanya menerangkan kondisi rumah yang tidak ada siapa-siapa. Hatiku langsung berbunga-bunga membayangkan bahwa aku mungkin akan lebih bebas bermesraan dengan Elah yang cantik ini.

Maka tanpa ragu-ragu tanganku membelai jilbab yang menempel dikepalanya dan bibirku langsung mencium bibirnya dengan gemas..

Serrr….darahku berdesir dengan cepat menikmati bibirnya yang lembut dan basah menggairahkan. Dan Elahpun membalas ciumanku dengan tak kalah mesranya, mulutnya menghisap bibirku dalam-dalam seperti orang kehausan. Hisapannya demikian lama dan menghanyutkan. Tangannya dengan lincah mencopoti kancing bajuku satu persatu dan tangannya menyelusup ke bali bajuku dan langsung membelai dadaku dengan mesra serta memainkan putting susuku dengan memilin-milinnya.

Kemudiannya kepalanya mengarah ke dadaku dan menjilati serta menciumi seluruh dadaku memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat berahi bangkit dengan cepat. Aku dibuatnya melayang dan mendengus

“Ouhh…. Lah…Kamu kok pinter banget sich …?” kataku terbata-bata menahan nafas yang tersengal-sengal menahan nafsu. Penisku langsung mengeras dengan hebat.

“Kan…semua ini untuk Akang…, Orang yang Elah cintai dan sayangi..” katanya sambil terus menjilati dada dan leherku.

Tanganku secara naluri mulai menelusup ke balik kaos panjang yang Elah kenakan mencari-cari buah dada Elah yang bulat dan montok. Aku terpana dan heran, ternyata Elah tidak mengenakan BH. Aku berkomentar heran “Kok.. Elah ‘nggak pake BH ?”

“Khan…biar Akang gampang meremas-remas dan menciuminya, daripada nanti kancingnya copot lagi ” Jawabnya sambil tersenyum manis menggodaku mengingatkan kecerobohanku yang mengakibatkan kancing bajunya lepas seminggu yang lalu. Aku hanya tersenyum malu mengingat kebodohanku minggu lalu

Kaos panjang itu langsung aku tarik ke atas dan tanganku langsung meremas buah dada yang menggairahkan ini dan bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada Elah yang sebelahnya. Elah langsung mengerang dan melenguh dengan lepas tanpa tertahan “Ouh….Kang…ouh…”

Tangan dan bibirku terus dengan intensif mempermainkan kedua buah dada dan putting susu Elah yang sudah tegak menantang. Dan Kepala Elah terdongak dengan terus-menerus mengerang menikmati rangsangan yang kuberikan

“Euh…euh…euh…oh…Kang….Kang…”

Tanganku yang satu lagi mulai menarik rok panjangnya ke atas dan menari-nari mulai dari betis, lutut hingga paha kemudian mengusap-ngusapnya dengan lembut dan penuh gairah.

Elah semakin menggelinjang dan mengerang. Kemudian tanganku bergerak keatas menuju selangkangan Elah. Kembali aku terpana ternyata Elah tidak mengenakan CD, karena jariku langsung meraba bulu-bulu jembutnya Elah ketika tiba di selangkangannya. Aku terdiam dan memandangnya heran.

Rupanya Elah mengerti akan keherananku dan langsung menjawab “Biar praktis Kang, karena saya yakin pasti Akang akan membongkar CD Elah…Ya udah . Elah lepas aja “ katanya kembali menggodaku.

Aku langsung turun dari sofa dan dengan pantatku kudorong meja tamu ke belakang supaya badan dan wajahku bisa berhadapan dengan selangkangan Elah. Dan kusibakkan rok panjang itu Dan..

Deg…jantung seolah berhenti berdetak begitu melihat pemandangan yang baru kualami seumur hidup, di hadapanku tampak vagina indah yang dihiasi oleh jembut-jembut yang lebat namun halus dari seorang gadis cantik yang masih mengenakan jilbab walaupun bentuknya sudah tak karuan.

Kembali naluri kelaki-lakian bekerja secara reflek, wajahku langsung menghampiri vagina indah yang menggairahkan dan membuat penisku semakin keras ini, bibirku langsung menciumi seluruh permukaan vagina itu tanpa ragu dan sungkan

Ouhh…. Betapa harum dan menggairahkannya vagina ini. Bibirku menciuminya dengan penuh nafsu dan nafas yang tersengal-sengal. Lidahku bergerak dari bawah ketas sepanjang lipatan bibir vagina indah ini.

“Auh….auh….auw……Ouhh…Kang..ouh kang “ Elah terus meracau seiring dengan bibirku yang bergerak tak bisa diam menciumi dan menjilati vaginanya yang menggairahkan ini.

Bibirku terus bergerak menikmati sensani vagina yang baru pertama kali kurasakan. Hingga akhirnya Erangan, lenguhan dan kata-kata meracau yang keluar dari mulut Elah semakin sering dan nyaring dan gerakan badan yang melonjak-lonjak tak terkendali

“Ouh…Kang…Ouh…Kang…, saya … ‘ngga kuat…saya … ‘nggak kuat Ouuuuhhhh….”

Tiba-tiba Elah berdiri dan berkata “Jangan di sini Kang ! Kita ke kamar Elah aja” lalu tangannya menarik tanganku dan membingbing ku ke kamarnya. Dengan tergesa-gesa Elah menarik badanku menuju kamarnya dan tanpa menutup kamarnya kembali Elah langsung menarik badanku ke tempat tidur dan mendorongku hingga jatuh telentang dikasurnya yang empuk. Lalu dengan tergesa-gesa penuh nafsu tangannya berusaha membuka celanaku sekaligus dengan celana dalamku hingga bagian bawahku menjadi telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak dengan gagahnya. Aku merasa malu, karena baru pertama aku telanjang bulat di depan seorang gadis. Tampaknya Elah tak memperdulikan rasa maluku. Dia terus menyerangku, telapak tangannya meraih pangkal penisku dan mengocoknya, sementara mulutnya langsung melahap penisku dengan rakus dan penuh nafsu. Bibir dan lidahnya bekerja dengan lincahnya memberikan kenikmatan yang tak terperi sehingga aku terlonjak-lonjak dan melenguh…”Ouh…upsss ouh….”

Elah terus memberikan kenikmatan padaku dengan mempermainkan penisku oleh bibir dan lidahnya. Sampai akhirnya dia merasa tak tahan dia berdiri dan mencopoti jilbab, kaos panjang dan rok panjang yang ia kenakan. Dihadapanku tampaklah seorang bidadari cantik yang telanjang sedang merangkak menghampiriku yang sedang telentang menahan nafsu yang menggebu.

Elah langsung memelukku , namun langsung kugulingkan dia hingga posisinya di bawah. Dan badanku bergeser ke bawah agar wajahku bisa berhadapan kembali dengan vaginanya yang sekarang tampak lebih indah dibandingkan dengan tadi waktu di ruang tamu karena sudah tidak terhalam oleh rok panjangnya lagi.

Bajuku belum lepas sehingga terasa mengganggu maka aku langsung melepaskannya dengan tergesa-gesa. Lalu kedua tanganku langsung merengkuh pantat Elah yang mulus menggairahkan dan bibirku kembali menciumi vagina Elah yang sudah semakin basah. Lidahku mengorek-ngorek liang sempit yang terhalang oleh lipatan bibir vaginanya

“Auw….auw…” jeritnya setiap kali lidahku menyentuh liang vagina Elah. Namun tanganku terus meremas pantat Elah dan lidahku terus mengulas-ngulas celah vagina Elah hingga nampak basah mengkilat

“Auwhhh … auwhhh…” jeritnya semakin panjang. Badannya terlonjak-lonjak tak terkendali lagi dan kedua tangannya mulai meremas dan mencengkram kepalaku seperti yang sedang menahan sesuatu, hingga akhirnya pantatnya menegang kaku terangkat ke atas dan kedua tangannya menekan kepalaku hingga wajahku rapat dengan vaginanya disertai dengan jeritan panjang seperti tercekik..

“Aaaaaaakkhhh…..” Diakhiri dengan kedutan pantat yang menggetarkan tanganku dan liang di vaginanyapun berdenyut-denyut berkotraksi meremas-remas ujung lidahku yang sedang menelusurinya.

Lalu setelah itu…badannya terhempas dan dari mulutnya keluar desahan panjang

“Hhuhh……” disertai nafas yang tersengal-sengal seperti yang baru selesai melakukan lari sprint. Dan badannya diam lemas seolah tak bertenaga…

“Sudah dulu kang…. Saya cape…” katanya padaku.

Aku yang belum mengerti apa yang sedang terjadi hanya termangu sambil menahan nafsu yang masih menggebu. Kedua tangannya menarik lemah badanku agar bisa berhadapan dan berpelukan, kemudian dia berkata…”Akang…hebat… Saya baru aja keluar… Pacar saya dulu waktu di Aliyah ‘nggak pernah membuat saya bisa melayang dan menghempaskan seperti ini.”

“Tapi malah Dia saja yang keluar dan membasahi mulut atau selangkangan Elah setiap kali kami bercumbu” lanjutnya lagi.

“Oh gitu…” sahutku..tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkannya, karena gairah nafsuku masih menari-nari dikepalaku dan penisku yang keras dan tegang perlu penyaluran. Aku menciuminya kembali untuk menuntaskan nafsuku. Dengan nafas yang memburu tangankupun bergerak liar membelai dan meremas buah dadanya montok menggemaskan, rasanya tak pernah bosan-bosan bagiku jika seharian aku harus mempermainkan buah dada indah ini.

Mulut, bibir dan lidah serta tanganku secara intensif terus-menerus secara konstan memberikan rangsangan-rangsangan kenikmatan kepada Elah. Usahaku berhasil, gairah Elah kembali bengkit dan Elah mulai membalas ciumanku dengan panas dan bergairah, Badan Elah bergelinjang-gelinjang menahan nafsu yang kembali membludak dalam dirinya. Tangan kananku bergerak kearah selangkangannya dan jari tengahku dengan lincah menari-nari dibelahan bibir vagina yang kurasakan basah, klirotisnya ku tekan dan kupilin. Elah mengerang…cukup keras “Ouh…..Kang…”

Kembali jari tengahku menekan klitorisnya dan menari-nari di atasnya, erangan dan lenguhannya semakin keras dan terengah-engah

“Auw…. Aouh….Oh…..Kang…, Elah .. ‘ngga tahan…” Katanya mendesah seperti menahan derita nikmat yang tak terperi. Kemudian pahanya terbuka semakin lebar dan pinggulnya bergoyang-goyang erotis sambil mengerang dan mengeluh “Ouh….Ah….”

Aku sudah tak sabar dan naluriku menuntunku untuk memposisikan diriku diantara dua paha yang terbuka lebar dengan vagina yang berwarna merah muda mempesona. Dan kuarahkan ujung penisku ke depan liang vagina Elah, lalu dengan terburu-buru aku menekankan pantatku.

Penisku bukannya masuk ke dalam liang vagina yang sempit itu, tapi terpelset kea rah depan. Berkali-kali kucoba…., selalu meleset kadang ke belakang, ke samping atau kedepan. Keringatku semakin bercucuran dan dalam kati aku merasa malu pada Elah. Masa aku yang mahasiswa ini tidak bisa memasukkan penis yang sudah tegang kedalam vaginanya. Namun aku terus mencoba walaupun selalu gagal. Akhir aku menyerah dan berkata pada Elah

“Kok susah sich masuknya ? Akang sudah ‘nggak tahan nich..!”

“Pacar Elah juga dulu ‘nggak bisa masuk-masuk, makanya dia selalu keluarkan maninya di selangkangan Elah, karena udah ‘nggak bisa menahan nafsunya lagi. Jadi aja keluar diluar…”

Oh.. kalau gitu berarti vagina Elah masih perawan, sebab belum pernah diterobos oleh penis sebelumnya, pantas aja susah.

Setelah tahu bahwa sesungguhnya Elah masih perawan, maka aku mulai berhati-hati dan lebih konsentrasi. Jari-jariku menyibakkan lipatan bibir yang menutup liang vagina, kuperhatikan dengan seksama, ternyata di bagian bawah lipatan bibir vagina itu terdapat sebuah lubang yang sangat sempit. Aku arahkan kepala penisku yang sudah sangat tegang ke lubang yang sangat sempit itu. Kutekan secara perlahan pantatku agar ujung penisku menekan dan menerobos lobang sempit itu. Agak susah dan terlihat Elah menyeringai.

Kudorong lagi sedikit…., ujung kepala penisku agak masuk, kulihat Elah semakin menyeringai dan terlihat seperti meringis.

Kudorong lagi agak keras…, lobang itu terbuka sedikit. Elah menjerit lirih “Aduhhh Kang…”, Kuhentikan gerakanku tapi Elah berkata lagi “jangan hentikan Kang, terus aja.” Rupanya dorongan nafsu Elah mengalahkan rasa perih dari selaput darahnya yang mulai terkoyak.

Kudorong lagi dengan keras hingga kepala penisku bisa masuk kedalam liang vaginanya. Elah kembali menjerit lirih sambil menahan badanku “Aaauuuhhh…”. Sedangkan aku merasa nerveous begitu kepala penisku berada dalam liang vagina Elah. Berjuta-juta perasaan yang tak kumengerti melayang-layang diatas kepalaku. Aku tak bisa menjelaskan rasa apa itu. Setelah tahanan tangan Elah melemah, kembali kudorongkan penisku hingga amblas sampai ke pangkal paha

“Aukh…” jerit Elah sambil memeluk erat tubuhku. Kuhentikan gerakanku menikmati sensasi yang luar biasa ini. Setelah sensasi itu berkurang kucoba mencabut penisku sedikit demi sedikit. Pergesekan antara kulit penisku dengan dinding vagina Elah yang basah berdenyut menghasilkan kenikmatan yang tiada tara, demikian juga nampaknya bagi Elah, sebab jerit lirihnya diselingi dengan erangan nikmat

“Aduh….Ouh…..” antara perih dan nikmat dirasakan Elah secara bersamaan. Ketika hanya kepala penis yang masih tertanam di dalam liang vagina Elah, aku hentikan gerakan mencabut dan kudorong penisku kedalam untuk kembali menyelam menikmati sensasi gesekan penis dengan dinding vagina yang basah berdenyut tiada henti

“Ouh….” Erangku menahan nikmat

Gerakan keluar masuk penisku di dalam vagina Elah kulakukan berulang dengan kecepatan yang konstan. Jerit lirih kesakitan Elah telah hilang secara total tergantikan oleh sensasi kenikmatan yang juga pertama kali dirasakannya..

“Ouh…Kang….nikmat…, Ouh Kang…. Ouhhhh…” demikian erangan dan lenguhan Elah keluar dari mulutnya berulang-ulang.

Hingga akhirnya pinggul Elah turut bergerak memberikan tambahan sensasi nikmat yang berlebihan bagi diriku maupun dirinya

“Auh…auh… hehh….”Dengusan dan erangan bersatu dalam keriuhan deru nafas kami. Rasa nikmat ini terus melayang-layangkanku dan Elah sehingga erangan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat Elah. Sehingga mengahasilkan suatu konser desahan kenikmatan yang bisa membuat terangsang bagi yang mendengarnya.

Gerakanku dan goyangan pinggul Elah semakin cepat dan mulai kejang-kejang tanpa dapat dikendalikan. Dan deraan nikmatpun semakin membuat kami lupa diri. Aku dan Elah terus mendengus dan mengerang bersahutan dengan gerakan yang sudah tidak beraturan lagi, seolah sedang menggapai nikmat yang semakin lama semakin bertambah tinggi.

“Ouh…Kang…., ouh…nikmat….ouh…..auwh…” Elah semakin meracau

“Oh … Lah…. Oh ….. heks.. heks….” Dengus nikmatkupun semakin nyaring

Tiba-tiba ada dorongan tenaga yang sangat besar dari dalam tubuhku yang tidak bisa kulawan. Badanku melenting kejang kaku, penisku tertanam dalam menekan vagina Elah hingga ke pangkalnya dan dari mulutku keluar jeritan nikmat yang panjang tak tertahan “Aaaahkkks…..”

Pada saat yang samapun Elah mengalami hal yang sama. Badannya melenting, kukunya menancam dipunggungku dan pinggulnya naik menekan selangkanganku serta kepala terdongak dan keluar jeritan panjang “Aaaaaaahhhhkkkks……..”

Sedetik kemudian…. Cret….cret…cret… spermaku keluar dengan derasnya membasahi seluruh rongga liang vagina Elah dan disambut dengan kontraksi yang sangat hebat dari dalam liang vagina Elah yang memeras dan memijit-mijit batang penisku serta menghisap-hisap seluruh sperma yang terpancar dari ujung penisku menghasilkan suatu puncak kenikmatan yang tak terbandingkan secara bersamaan yang kami rasakan.

Setelah itu, kurasakan badanku seolah melayang ringan jatuh terhempas diatas tubuh Elah yang juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan..

“Hhwahhhhhsss…..” napas kami keluar seperti orang yang sangat kelelahan. Dengan napas yang ngos-ngosan kami saling berpandangan dengan rasa puas dan nikmat. Kemudian bibirku mencium mesra bibir Elah dan disambutnyapun dengan mesra “Wuih…. enak banget Kang…., baru kali ini Elah merasakan hal yang seperti ini “ katanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal

“Akang juga sama geulis….. Ini adalah pengalaman pertama Akang..” jawabku.

Kemudian badanku kugulirkan kesamping tubuh Elah sehingga penis tercabut dari liang vagina Elah. Kuperhatikan ada lelehan sperma kental yang berwarna putih bercampur dengan warna kemerahan yang keluar dari liang vagina. Rupanya Elah memang benar-benar masih perawan. Jadi selama ini pacarnya belum memerawani Elah secara sempurna, mungkin karena kondisi lingkungan Aliyah atau pasentren tidak memungkinkan mereka berdua dapat melakukan persetubuhan dengan tenang sehingga percumbuan yang mereka lakukan selalu terburu-buru, sehingga pacar Elah yang dulu hanya memikirkan bagaimana agar spermanya cepat keluar tanpa bisa menembus selaput dara Elah yang mesih menjaga keperawanannya.

Kami berpelukan cukup lama mengumpulkan semua kesadaran yang sempat hilang sambil menormalkan helaaan napas yang tersengal-sengal akibat percumbuan yang demikian lama.

Sambil berbaring kuperhatikan tubuh gadis cantik yang biasanya berjilbab ini dalam keadaan telanjang tergolek lemah. Oh… betapa indahnya…, betapa putih dan mulusnya…, tanganku membelai dan mengusap tubuh indah yang basah oleh keringat ini. Matanya memandangku mesra dan bibirnya tersenyum manis menggiurkan. Kucium lagi bibir lembutnya dan tanganku membelai serta meremas buah dadanya yang montok merangsang.

Tak terasa gairahku bangkit kembali, perlahan namun pasti penis mulai mengeras kembali. Dan Elahpun merasakan hal yang sama, gairahnya mulai bangkit kembali dan kembali kami berciuman dan berpelukan bergulingan di kasur.

Kami kembali bercumbu dengan penuh gairah dan penisku kuarahkan kembali ke liang vaginanya. Kali ini penisku dapat masuk dengan mudah, dan persetubuhan kali inipun berlangsung lebih panas dan lebih menggairahkan dari percumbuan sebelumnya.

Percumbuan kami terhenti setelah aku melihat waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam. Maka dengan terpaksa aku pamit pulang dengan janji akan mendatanginya lagi malam minggu berikutnya.

Malam minggu berikutnya, aku mendatanginya dengan harapan kami bisa kembali mereguk kenikmatan secera bersama-sama. Namun harapanku tak terlaksana karena ternyata dia sedang haid dan lagi pula keluarga kakaknya ada di rumah. Dan sebagai gantinya saat itu Elah memang betul-betul menservisku secara sempurna di ruang tamu. Dengan mengenakan jilbab dan baju longgar, Elah mengoral penisku dengan cara yang sangat bervariasi sehingga spermaku sampai muncrat membasahi wajah dan baju yang dia kenakan. Sungguh luar biasa pelayanan sex dari gadis berjilbab ini.

Hari sabtu berikutnya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu padaku, sekitar jam 1 siang, Elah datang ke rumahku mengendarai mobil Jimny dengan mengenakan pakaian seperti biasa yaitu jilbab lebar dengan baju longgar yang panjang..dan saat itu memang aku tidak ada jadwal kuliah.

“Yuk, Kang kita jalan-jalan malam mingguan ke pemandian air panas Ranca Upas di daerah Ciwidey..!” Ajaknya padaku.

“Pake apa dan dengan siapa ?” tanyaku

“Pake Jimny itu, Kang. Kita berdua aja..” jawabnya sambil menunjuk Jimny putih yang diparkir di depan rumahku.

“Tapi Akang belum bisa nyetir..” kataku malu-malu

“’Ga apa-apa atuh, Kang. Biar saya aja yang nyetir. Cuek aja…” jawabnya pula

“Ok dech, kalo gitu mah…” jawabku bersemangat

Aku siap-siap dan tak lama kemudian kami berangkat. Di perjalanan Elah bercerita bahwa mobil Jimny itu adalah milik kakaknya yang nomor dua yang sekarang sedang menginap di rumah kakaknya yang pertama, jadi di rumahnya saat ini ramai dengan keponakannya. Sehingga daripada menggangu kemesraan kami, maka Elah berinisiatif padaku untuk bermesraan di luar rumah. Tentu saja aku gembira mendengar ceritanya.

Sepanjang perjalanan tangan kananku selalu mengusap-ngusap paha Elah yang tertutupi olah rok panjangnya. Namun tetap saja mampu memberikan kehangatan dan rangsangan kenikmatan pada diri Elah yang bisa membuat matanya merem-melek merasakan sensasi nikmat dan napasnya melenguh nikmat sambil tetap konsentrasi pada kemudi yang sedang dipegangnya.

“Jangan terlalu akh Kang…, nanti celaka….! Lagi di jalan nich..!” katanya dengan napas yang menderu. Aku sadar untuk tidak melakukan hal yang jauh lagi yang bisa mencelakakan kami berdua. Namun usapan dan belaian mesra selalu kulakukan di sepanjang perjalanan itu. Membuat dirinya nyaman dalam perjalan, sehingga tak terasa kami sudah tiba di tempat yang kami tuju sekita jam 4 sore

Kami masuk ketempat itu bagaikan pasangan muda suami istri, karena terlihat sangat mesra. Kami berjalan-jalan sambil berpelukan erat menahan hawa dingin pegunungan di daerah Ciwidey ini, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan romantis. Setelah lelah jalan-jalan, kami menyewa sebuah kamar mandi untuk keluarga yang di dalamnya terdapat kolam air panas dengan ukuran 2 X 2 meter.

Begitu masuk kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi kami langsung berpelukan erat dengan bibir yang saling berpagut mesra. Percumbuan itu kami lakukan cukup lama sambil berdiri sehingga akhirnya kami hentikan dan kubisikan “ sambil berendam air panas Yuk !” ajakku, Elah menatapku mesra dan mengangguk setuju.

Dengan tergesa-gesa kami menanggalkan semua pakaian yang melekat di badan sehingga kami telanjan bulat. Penisku telah berdiri tegak dan Elah dengan gemasnya meremas penisku sambil berkata manja “Iihhh … ini burung, kok sudah berdiri tegak lagi. ?” diakhiri dengan mengecup mesra kepala penisku. Aku hanya tersenyum bangga melihat kelakuan Elah yang menggemaskan ini.

Kemudian dia kembali berdiri tegak. Tampaklah putting buah dadanya sudah tegak menantang dan secara spontan bibirku langsung menghisapnya dengan penuh gairah Elah mengeluh “Uuhh…” tapi mendorong badanku seraya berkata “katanya pingin sambil berendam…?” protesnya sambil tersenyum. Maka kubimbing Elah dan kami berduapun masuk ke dalam kolam air panas yang kedalamannya hanya sebatas pinggang.

Di dalam kolam, air panas itu begitu menghangatkan dan membuat nyaman di tengah suasan pegunungan yang dingin menusuk tulang. Kami berpelukan dan berpagutan bibir dengan gairah yang berapi-api, tanganku meremas-remas buah dadanya yang montok membulat, badannya kesandarkan dipinggir kolam. Lalu mulutku mulai menyosor buah dada menggemaskan itu penuh dengan nafsu, bibirku menghisap dan mengecup seluruh bagian buah dada itu, dan lidahku menjilat-jilat dan akhirnya mengulum dan menghisap putting susu yang semakin tegak menjulang.

“Ouh…ouh…..” erangan Elah mulai terdengar sambil meremas-remas rambutku dan terkadang menariknya dengan cengkraman yang seperti sedang menahan nikmat yang tak tertahan. Kemudian dengan ganas tangannya menarik kepalaku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya da bibirnya langsung menyosor bibirku dengan nafsu yang menggebu dan napas yang memburu.

Ciuman Elah begitu liar, lidah dan bibirnya menyusuri bibir, pipi, telinga lalu turun ke leher, menghisap-hisap leherku membuat aku terpejam menahan nikmat dan rangsangan yang semakin menggila. Kemudian bibir dan lidahnya turun menjilati dadaku hingga ke putting susuku yang telah berdiri kaku. Tangannya bergerak ke bawah kedalam air kolam yang hangat menggapai penisku yang sangat tegang dan mengocoknya dengan irama yang menghanyutkan memberikan kenikmatan tiada henti.

Tangan kiriku merengkuh tubuhnya memeluk erat, bibirku mencium bibirnya dan menghisapnya dalam penuh nafsu serta tangan kananku mengarah ke vaginanya mengusap dan mengobel seluruh permukaan vaginanya. Tubuh Elah mulai tak bisa diam, bibirnya melepaskan dir dari pagutanku dan kepalanya terdongak ke belakang serta mengerang “Ouh….ouhh….Kang…..ouh…”

Erangannya semakin meningkatkan nafsuku semakin tinggi dan tinggi. Jariku mulai mencari celah lipatan liang vagina Elah dan mengoreknya dari bawah hingga ke atas menuju klitorisnya yang sudah semakin membesar menonjol keras. Dan begitu jari tengahku menyentuh dan menekan klitorisnya, Erangan Elah semakin keras “Auh…Ah..”

Jariku terus mempermainkan vaginanya. Pinggul Elah bergoyang dan bergetar menahan nikmat yang kuberikan desisan dan erangannya semakin nyaring “Ouh…..”.

Akhirnya jari tengahku menussuk liang vagina Elah, Tubuh Elah bergetar, matanya mendelik serta menjerit “Auwh…..auw…” Gelinjang tubuh Elah semakin liar.

Jari tengahku semakin mengocok-ngocok vagina Elah keluar masuk masuk dengan cepat hingga ke pangkal jariku.

“Oh … Kang…. Elah …’ngga tahan…Elah…ngga tahan…” racaunya… lalu

“Oh…Kang…. Masukkan…masukkan….ouh…” pintanya padaku memelas dengan nafas yang semakin tersengal-sengal diburu nafsu yang semakin membludak.

Sebenarnya akupun sudah tak tahan ingin segera memasukkan penis tegangku ke dalam vaginanya yang nikmat. Aku arahkan penis tegangku ke vagina Elah, kakiku kutekukkan, Elah membuka pahanya memberi jalan bagi penisku, tangan kanannya meraih penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat didepan liang vaginanya. Setelah dirasakannya pas, dia memajukan pinggulnya.Aku langsung mengerti pantatku mendorong penisku dan

Blesss….perlahan-lahan penisku masuk……”Ouh….” Elah mengerang sambil memejamkan matanya rapat-rapat seolah sangat menikmati proses itu. Aku merasakan proses penetrasi di dalam air hangat ini memberikan sensasi nikmat yang sangat berbeda. Nikmat luar biasa “Wwhohh…” Akupun mendesah nikmat…

Pantatku semakin kutekan dalam-dalam sehingga seluruh penisku dapat masuk hingga ke pangkalnya, kaki Elah terangkat dan tangannya memeluk erat tubuhku. Lalu kami diam selama beberapa saat menikmati penetrasi didalam air hangat yang nikmat luar biasa..Dinding vagina Elah berdenyut-denyut memberikan sensasi kenikmatan yang membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat.

Perlahan-lahan aku mulai menggoyang pantatku agar penisku bisa keluar masuk vagina Elah memberikan gesekan antara batang penis dan dinding liang vagina Elah yang semakin berdenyut dan menghisap-hisap liar batang penisku. Aku semakin melayang dan Elahpun semakin mengerang dan mengeluh nikmat “Ahhh…”

Pinggul Elah turut bergoyang erotis didalam air memberikan tambahan sensasi nikmat. Air kolam bergolak seiring dengan gerakan kami yang makin lama semakin cepat dan liar. Bunyi berkecipaknya air kolam bersatu padu dengan erangan serta lenguhan Aku dan Elah yang saling bersahutan.

Makin lama gerakan kami makin tak terkendali, riak dan bunyi berkecipaknya air semakin nyaring. Dan erangan dan lenguhan Elah sudah berganti dengan jeritan-jeritan nikmat yang semakin tak dapat dikendalikannya

“Aouh…aouhhh…oh…oh…..”

Dengusankupun semakin cepat seiring dengan gerakan pantatku yang semakin menghentak-hentak cepat dan keras membuat tubuh Elah terlonjak-lonjak. Hingga akhirnya aku merasakan desiran darahku mengalir begitu cepat dan melemparkan tubuhku tinggi melayang. Pantatku kehentakan keras kedepan hingga seluruh penisku menancap dalam hingga ke pangkalnya di dalam vagina Elah. Badanku melenting kaku dan dari mulutku keluar teriakan tertahan “Aaakkhhhhss…”

Pinggul Elahpun menyambut tekanan pantatku dengan arah yang berlawanan membuat kedua selangkangan kami menempel erat. Badannya melenting kaku dan dari mulutnyapun keluar teriakan panjang menahan nikmat “Aaaaaaaaaahhhhkkkk….”

Sesaat kemudian…

Cret…cret…cret….spermaku menyemprot dengan deras di dalam vagina Elah disambut dengan denyutan vagina Elah sangat keras memijit dan memeras badan penisku serta hisapan-hisapan yang menyedot habis seluruh spermaku di dalam veginanya.

Kedua tubuh kami terdiam kaku menikmati puncak orgasme secara bersamaan dalam suasana sensasi nikmat yang sukar diucapkan. Mataku berkunang-kunang menahan nikmat yang menghilangkan hampir seluruh kesadaran yang ada dalam diriku. Perasaan kami seolah-olah sedang melayang tinggi, lalu

“Hhhooahhhh….” Secara bersamaan kami mengeluarkan napas lepas merasakan tubuh kami melayang jatuh terhempas ke dasar jurang yang sangat dalam. Riak air kolam perlahan-lahan mulai tenang, seiring tenangnya tubuh kami menyisakan rasa cape dan lelah yang teramat sangat.

Sesaat kami merasakan tubuh kami lunglai tak bertenaga di dalam air kolam yang hangat. Sambil berpelukan kami menjaga keseimbangan agar tidak tenggelam ke dasar kolam merasakan sisa-sisa kenikmatan dan kepuasan yang masih terus kami rasakan selama beberapa saat.

Setelah kesadaran dan tenaga kami berangsur-angsur pulih. Kami lanjutkan dengan mandi dan bercengkrama mesra di dalam kolam. Setelah cukup puas mandi berendam, kami keluar dari kolam dan berpakaian dengan perasaan yang sangat bahagia. Aku semakin merasa cinta pada gadis berjilbab yang luar biasa ini.

Kami pulang dari Ranca Upas sebelum magrib dan tiba di rumah Elah sekitar jam 8 malam. Dan karena suasan rumah sangat ramai oleh keluarga kakaknya Elah, maka aku tidak berlama-lama di rumahnya dan akupun pamit pulang.

Sejak saat itu aku semakin memantapkan diri untuk menjadi kekasih Elah dan kami saling mencintai. Aku sudah melupakan perasaanku pada cewe teman sekampusku yang tadinya akan kupacari, karena aku telah menemukan seorang gadis berjilbab yang bisa memberikan kebahagiaan padaku.

Namun enam bulan setelah aku mengikat hubungan cinta dengan Elah. Suatu hari Elah menemuiku sambil menangis. Dia bercerita bahwa dia telah dilamar oleh mantan pacarnya waktu di pasantren dulu yang ternyata sampai sekarang masih mencintainya dan lagipula dia merasa berdosa pada Elah karena telah menodai Elah pada waktu mereka masih di pasantren Tasikmalaya. Ternyata mantan pacar Elah itu adalah putra seorang ulama yang cukup ternama di daerah Tasikmalaya dan keluarga Elah sangat setuju atas lamaran tersebut.

Mereka memaksa Elah untuk menerima lamaran tersebut membuat Elah tidak berdaya untuk menolaknya. Dengan perasaan duka yang sangat dalam aku tidak dapat berbuat banyak. Terpaksa aku relakan Elah yang sangat kucintai ini untuk menikah dengan orang lain.

Oh…Elah…semoga engkau bahagia dengan suamimu….

TAMAT

p

NINDYA

Beberapa hari aku sendiri tanpa ada kegiatan, aku mendapat sms menarik di hp ku. Dari rekanku sesama hunter, bunyinya, “ternyata cewek sma sekarang gampang diajak ML. Cuman modal nekat, sedikit rayuan dan uang bisa kita dapatkan. Coba aja. Kalo gak bisa, cari target lain, gampang kan..” katanya. Wah, benar, aku yang suka akan tantangan langsung tertarik. Buat apa bingung, mending langsung cari, kalo ditolak ya cari lagi..

Segera kupacu mtorku berputar kota. Jam tanganku menunjukkan pukul 16 ketika aku menjumpai sesosok gadis sma bewrjilbab sedang sendiri disudut jalan. Rok panjangnya terlihat ketat, juga baju putihnya. Tubuhnya nampak sekal membuatku tergiur. Segera aku datangi. Persetanlah, nekat aja.

“permisi, ke pantai lewat sini ya?” tanyaku saat sudah didekatnya. Gadis itu melihatku dan tersenyum. “iya mas, terus saja nanti kira2 1 jam lagi sampai.” Jawabnya. Wah, dia mau nanggepin, “ee.. lagi mau pulang ya? Mau gak nemenin kesana? Gak asyik ni, sendirian..” kataku lagi mancing2. Dia terlihat sedikit berpikir, lalu menjawab, “gak lama kan? Kalo gak lama mau aja..” katanya sambil tersenyum daqn mendekat. YESS!! Akhirnya gadis SMA berjilbab itu ikut denganku setelah terlebih dahulu kami berkenalan. Namanya Nindya, siswa kelas dua sma islam didekat situ.

Sesampainya diwilayah pantai, segera kubawa gadis berjilbab itu kesebuah losmen yang bagian dalamnya ada sebuah café taman yang indah dan bisa melihat ke pantai. Segera kuambil tempat yang strategis dan memesan minuman, mengajaknya ngobrol. Ternyata dia gadis yang asyik dan nyaman untuk diajak bicara. Walaupun targetku bukan hanya bicara heheheh.

Beberapa menit berlalu, akhirnya siasatku berhasil. Obat bius dosis rendah tidak berbahaya yang tadi kutitipkan lewat pelayan untuk mengerjainya mulai bereaksi. Gadis berjilbab itu terlihat agak pucat dan memegang kepalanya. “kenapa nin?” tanyaku pura2 gak tahu. Wahm aku harus memberi uang tips ni, ke pelayan tadi. “aduh.. gak tahu mas.. tiba2 pusing..” jawabnya. “kok bisa?” tanyaku sambil pura-khawatir. “Mau istirahat disini apa pulang aja?” tanyaku lagi sambil memegang pundaknya sok menenangkan. Kayaknya pulang aja deh mas..” kata gadis berjilbab bertubuh sekal itu. “ya gapapa kalo kuat..” kataku sambil berdiri. Ketika gadis manis berjilbab itu akan ikut berdiri, terlihat obat bius itu sudah bereaksi sepenuhnya. Tubuhnya oleng dan segera kutangkap agar tidak jatuh (CIHUI!! MANGSA!!) “wah, kok kamu lemes gini? Udah, istirahat bentar disini, tar kalo sudah baikan kuantar pulang.” Kataku sambil menuntunnya ke salah satu bangunan di losmen itu dimana ada kamar kosong.

Sampai didalam kamar, kurebahkan Nindya di tempat tidur. Kuambilkan air putih yang sudah kucampur obat penetral sehingga bisa segera pulih. “kupijit ya..” kataku sambil memijit2 pundak gadis manis itu yang tidur tengkurap. Beberpa lama, terdengah desahan gadis itu karena keenakan kupijat. Kudekati wajah mulus gadis itu dan kukecup pipinya, dia diam saja. Segera kubalikkan tubuhnya yang masih lemas, dn kulahap bibirnya. Nindya berusaha mengelak, namun tenaganya yang belum pulih tidak mampu mengimbangi tenagaku. Siumanku semakin ganas dan semakin turun, membuat gadis manis sma berjilbab itu mendesah-desah keras sambil merntih menolak namun tanpa daya upaya. Sampai didepan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku pegang payudaranya dari luar jilbab dan baju smanya, aku elus-elus. Si Nindya hanya diam dan memejamkan matanya.. kusibakkan jilbabnya dan ku buka dengan cepat baju seragam sekolahnya serta BH biru langitnya, lantas aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya. Nindya mendesis, “Mas.. Mas.. ahh.., ah ah ahh..” Terus aku kulum putingnya, tanganku pun nggak mau ketinggalan bergerilnya di vaginanya dari luar rok abu2 smanya. Pertama gadis berjilbab itu mengibaskan tanganku dia bilang, “Jangan Mas.. jangan Mas..” Tapi aku nggak peduli.. terus saja aku menyibakkan roknya dan memasukkan tanganku ke CD-nya, ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa bisa ditahan oleh Nindya aku buka rok dan CD-nya, gadis berjilbab itu hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, “jangan Mas..” Kini baju Nindya sudah terbuka siap untuk kusantap, wah.. putih mulus, bulunya masih jarang maklum dia baru umur 16 tahun (SMA kelas 2). Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilati vaginanya sampai aku mainkan kelentitnya, gadis berjilbab itu mengerang keenakan, “Mas.. ahh.. uaa.. uaa.. Mas..”

Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku kemudian langsung kuseret tangan Nindya untuk memegang penisku dan mengocok penisku. Aku suruh gadis berjilbab itu untuk mengulum, dia nggak mau, “Nggak Mas jijik.. tuh, nggak ah.. Nindya nggak mau.” Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. “Jilatin saja coba..” pintaku. Lantas Nindya menjilati penisku, lama-kelamaan gadis berjilbab itu mau untuk mengulum penisku sambil kupegangi kepalanya yang masih terbungkus jilbab putih. Namun pas pertama dia kulum penisku, gadis berjilbab itu mau muntah “Huk.. huk.. aku mau muntah Mas, habis penisnya besar dan panjang.. nggak muat tuh mulutku.” katanya. “Isep lagi saja Nin..” Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Nindya.

Rasanya penisku sudah nggak tahan ingin merenggut keperawanan Nindya. “Nindya.. Mas masukkan yah.. penis Mas ke vaginamu”, kataku. Nindya bilang, “Jangan Mas.. aku kan masih perawan.” katanya. Aku turuti saja kemauannya, aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Gadis berjilbab itu merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya, “Mas.. Mas.. jangan..” Aku nggak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya, lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep.. Nindya menjerit, “Ahk.. Mas.. jangan..”

Aku tetap saja meneruskan makin kusodok dan slep.. bles.. Nindya menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya, “Mas.. Mas.. sakit tuh.. Mas.. jangan..” Lalu Nindya menangis, “Mas.. jangan dong..” Aku sudah nggak mempedulikan lagi, sudah telanjur masuk penisku itu.

Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. “Ah.. Mas.. ah.. Mas..” Rupanya Nindya sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. “Mas..” Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. “Mas.. Mas..” Dan aku merasakan vagina Nindya mengeluarkan cairan. Rupanya gadis berjilbab itu sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku. “Terus Mas.. terus Mas.. lebih cepat lagi..” pinta Nindya. Tak lama aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani, aku cabut penisku (takut hamil sih) dan aku suruh untuk Nindya mengisapnya.

Nindya mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah. “Hem.. hem.. nikmat.. Mas..” Aku bilang, “Terus Nin.. aku mau keluar nich..” Nindya mempercepat kulumnya dan.. cret.. cret.. maniku muncrat ke mulut Nindya. Nindya segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan jilbabnya. “Ah.. ah.. Nindya.. maafkan Mas.. yach.. aku khilaf Nin.. maaf.. yach!” “Nggak apa-apa Mas.. nindya juag enak kok mas..” Lantas Nindya bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Nindya dengan penuh kesayangan. Beberapa saat kemudian birahi kami berdua bangkit lagi dan kembali kusetubuhi gadis smu berjilbab itu dikamar losmen dipinggir pantai itu.

HESTI & LUSI

Di suatu waktu, aku akan melakukan perjalanan ke sebuah pulau yang indah di tengah indonesia. Aku pergi kesana bersama dua rekanku yang juga gila petualangan dan punya selera yang sama sepertiku tentang gadis berjilbab. Mereka adalah Rudi dan Henri. Tentu saja, selain piknik, kami juga berharap bisa mendapatkan memek keset gadis-gadis berjilbab itu dipulau tempat kami berwisata.

Sejuk sekali kepulauan ini. Hawanya yang sangat “laut” membuat segalanya terasa santai dan waktu berjalan pelan. Aku dan rekan2ku yang juga mupeng dengan gadis berjilbab bersantai dan menikmati liburan ini. Di hari yang kedua, ketika kami sedang makan siang di sebuah warung makan, mata kami langsung melotot ketika muncul dua gadis cantik yang terlihat lugu masuk warung itu, lalu memesan makanan. Segera aku mengerling ke kedua rekanku, yang langsung tersenyum penuh arti. Ya, karena aku bosnya dan yang paling ganteng, memang biasanya aku yang maju dan melakukan PDKT pada calon2 korban kami.

Segera aku mendekati dan menyapa, lalu berkenalan. Ternyata mereka berdua juga turis yangs edang bertamasya di pulau itu. Wah kebetulan sekali. Segera aku mengenalkan teman2ku dan beberapa menit saja kami sudah akrab. Dua gadis itu bernama Hesti dan Lusi, mahasiswi semester 4 universitas islam di semarang yang sedang bertamasya. Jilbab mereka lebar dengan baju kurung dan rok lebar, semakin membuat kami bertiga susah menahan nafsu birahi.

Sorenya, aku dan dua temanku berjanjian dengan mereka lagi untuk berjalan-jalan di tepi pantai dihalaman hotel yang kami tinggali. Segera aku dan temanku berbagi peran. Aku yang memang sudah ngebet sama Hesti, yang air mukanya lugu semakin cantik dengan jilbabnya segera memilihnya. Dua temanku segera kusuruh untuk mendekati Lusi yang wajahnya cantik namun nampak sedikit nakal.

Akhirnya sore itu aku berjalan berdua dengan Hesti, sementara Lusi yang sebenarnya agak sungkan, terpaksa mau berjalan bersama Rudi dan Hendri. Hatiku berharap semoga dua orang bejat itu kuat menahan napsu dan tidak main perkosa di pinggir pantai itu, walaupun tempat itu lumayan sepi.

Akus egera berjalan bersama Hesti, bercakap-cakap. Pelan2 setelah semua lancar, aku mulai bbisa melancarkan serangan2 rayuanku. Dan ternyata rayuan gombalku berhasil. Gadis cantik berjilbab itu tersipu malu setiap kali kurayu. Bahkan dia membiarkan tanganku menggandeng tangannya. Beberapa juras kemudian aku berhasil memelukkan tanganku ke pinggulnya yang singset,, tersembunyi baju longgar dan jilbab lebarnya. Gadis cantik sekal itu agak menghindar dan berontak ketika aku mencoba mendaratkan ciuman lembut ke pipinya yang mulus untuk pertama kali, namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya gadis manis berjilbab lebar itu menyerah. Ia hanya bisa pasrah dan menutup matanya ketika ciuman-ciumanku mendarat di pipi mulusnya. Bahkan setelah beberapa kali ciuman mesraku, dia mendesah penuh kenikmatan, rupanya birahi jalang sudah mulai tersulut dari gadis lugu berjilbab itu.

Melihat kesempatan itu, aku segera memeluknya penuh perasaan dan menuntunnya menjauih pantai yang anginnya mulai dingin karena matahari sudah terbenam separuh. Gadis cantik berjilbab lebar berkulit mulus itu pasrah ketika kutuntun dia menuju hotel tempat aku dan dua temanku menginap. Dengan isyarat anggukan kepala, aku mengajak kedua temanku yang sepertinya juga sudah berhasil membangkitkan nafsu birahi Lusi. Terlihat dari posisi mereka ketika kulihat sedang duduk di pasir tepi pantai, dimana Rudi duduk dibelakang Lusi dengan tangan terlihat menyusup dibawah ketiak Lusi dan memeluknya, dan Hendri duduk didepan Lusi menghadap ke wajah gadis cantik berjilbab itu. Tangan Rudi bergerak2 seirama dengan geliatan2 Lusi. Aku berani bertaruh Rudi sedang merangsang buah dada sekal milik mahasiswi berjilbab cantik itu. Melihat aku sudah beranjak masuk hotel, mereka segera mengikuti sambil menuntun Lusi.

Hotel yang kami tempati bukanlah hotel yang berupa satu bangunan, namun merupakan bagian dari bungalow bungalow kecil berhalaman dan berkamar dua. Akus egera memasuki halaman bungalow kami yang ada di sudut tersembunyi dari area hotel, dan menuntun Hesti yang sudah pasrah masuk.

Didalam bungalow, aku mendudukkan Hesti di sofa panjang di ruang tamu. Tanganku lalu merangkulnya dan kutarik kepalanya mendekat lalu kembali kucium pipinya. Gadis cantik berjilbab itu kembali mendesah. Matanya kebali terpejam pasrah, emmbuat akus emakin nafsu. aku mencium kepala Hesti lalu turun ke kuping kirinya yang masih tertutup jilbab. Hesti mendongakkan kepalanya sehingga aku bisa bebas mencium dagunya yang putih. Kemudian Hesti kutolehkan kearahku lalu kucium bibirnya dengan ganas.

“Ummhh… jangan maass..” kata Hesti. Merasakan deru nafasnya yang menggebu, aku tahu itu hanya sekedar basa-basi dari seorang gadis alim berjilbab yang malu jika ketahuan dia menikmati permainan ini.

Sambil tetap merangkul Hesti, kutarik tubuh sekal gadis alim berjilbab berkulit mulus itu berdiri. Tangan aku mulai menjelajahi seluruh pantat Hesti yang padat dari balik rok panjang cremnya, kemudian meraba-raba dadanya yang sekal dari balik baju longgarnya. Tak henti-hentinya Hesti melenguh. Rintihannya mendesahkan penolakan, namun tubuhnya menggelinjang penuh kenikmatan. Segera kuraih tangan mahasiswi cantik yang alim itu lalu kutuntun untuk meremas kontolku dari balik celana. Lalu karena sudag tidak tahan, kembali kudorong gadis alim itu ke sofa. Kembali kuciumi dia dengan ganas.

Aku segera membuka kemeja dan celana panjangku lalu dengan sdikit paksaan kutarik bagian depan bajunya kekiri dan kekanan sehingga membuat seluruh kancingnya tanggal, menampakkan payudara putih sekal terbungkus BH pink. Kurenggut lepas Bhnya, lalu kusibakkan rok panjangnya diatas pinggang dan kutarik lepas celana dalamnya. Gadis alim yang manis bertubuh putih mulus itu mendesah dan mengerang ketika kuperlakukan agak kasar, namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jilbabnya kubiarkan terpakai, menambah gejolak birahiku. Tubuh Hesti yang putih ddengan pakaian yang sudah awut2an membuat nafsuku membara. Dengan gemas aku meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Hesti memburu dengan cepat apalagi saat aku mulai beralih ke vaginanya. Hesti bagaikan kuda liar saat klitorisnya aku jilat. Tak henti-hentinya aku menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Aku membalikkan tubuh Hesti untuk bergaya 69. Sementara itu aku melihat Hendri dan Lusi masuk bungalow diikuti Rudi. Lusi sudah mendesah-desah sambil merintih, semnentara tangan Hendri sudah tidak terlihat, karena masuk kebalik jilbab lebar Lusi dan meremas-remas buah dada gadis alim itu. Segera mereka berdua masuk kamar, sementara Rudi mendekati kami berdua yangs edang bermain cinta sambil menyeringai lebar..

Aku tersenyum merasakan tangan halus gadis cantik yang alim itu pelan2 mengelus kontolku yang sudah tegang. Sambil terus mendesah merasakan jilatanku di memeknya, gadis berjilbab lebar itu menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Aku pun membalas dengan menjilat semakin intens anus dan vaginanya. Goyangan pantat Hesti terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus aku tahan pantatnya dengan kedua tangan aku. Tiba-tiba Hesti melepaskan genggaman tangannya dari kontol aku dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Hesti kubalik dan kutunggingkan bersandar dipinggir sofa. Aku dengan tidak sabar segera merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah aku setubuhi Hesti mahasiswi cantik yang alim dan seksi. Rudi rupanya tidak diam saja saat melihat kami berdua mercumbu. Tangannya membuka risletingnya kemudian menurunkan celananya. Rudi mengeluarkan kontolnya dari balik celana dalam lalu meraih tangan Hesti dan menuntunnya agar meremas2 kontol Rudi.

Aku memperhatikan Hesti dipaksa mengulum kontol Rudi. Tak henti-hentinya payudara Hesti aku remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Hesti kembali mengalami orgasme. Aku mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Hesti aku rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol aku keluar masuk vagina gadis berjilbab lebar yang sudah dimabuk birahi itu. Jilbabnya sudah basah karena keringat kenikmatan kami berdua. Desahan birahi memenuhi seisi ruang tamu bungalow kami sore itu.

Tujuh menit menggenjot Hesti, aku merasakan akan ejakulasi. Aku percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Hesti. Dengan terengah-engah aku mengeluarkan kontolku lalu menindih Hesti dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit. Setelah itu, aku memberikan gadis alim yang sudah pasrah itu ke Rudi, lalu aku beristirahat sebentar.

Dengan kasar Rudi menarik Hesti berdiri, lalu menggendong gadis alim itu sambil menciumnya. Kemudian Hesti dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Hesti dengan kasar. Sambil menggenjot vagina Hesti, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Hesti.

“aaahhh…yeaahhh… enak banget memek cewek berjilbaabb.. auuhh…!!”

Sekali-sekali jilbab Hesti ditarik sehingga kepala Hesti sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Hesti yang awalnya terlihat mengernyit kesakitan, kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Aku kemudian berlutut didepan Hesti lalu menyodorkan kontolku. Hesti menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Hesti dengan keras, kontol aku otomatis ikut tersodok ke mulut Hesti. Tapi beberapa kali kuluman Hesti terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya.

Rudi kemudian menarik punggung Hesti sehingga punggung Hesti tegak. Aku menjilat dan menghisap seluruh payudara Hesti. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Hesti. Akhirnya aku mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Hesti melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Hesti kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Hesti duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Hesti terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Hesti berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Hesti dan meremasnya dengan keras. Hesti pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan di sofa dengan lemas.

Tiba-tiba dari kamar, Hendri muncul telanjang bulat sambil menggandeng Lusi. Lusi sudah tidak memakai apa2 sama sekali, kecuali jilbab merah dan kaus kaki putihnya, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Lusi.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat kami bertiga yang telanjang.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Lusi” kata aku. Lusi diam saja. Mata Lusi terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
“Tukeran ya wan..” pinta Henri sambil mendorong Lusi jatuh ke sofa, tepat disampingku.
“Boleh aja. Aku juga pingin ngerasain cewek jilbab yang ini” jawabku. Lusi diam saja. Sorot matanya campur aduk, dari marah, bingung, namun juga birahi jadi satu.

Henri segera menarik Hesti bangun dari pelukan Rudi, dan menariknya kembali ke kamar. Beberapa saat kemudian terdengar pekikan tertahan Hesti, sang gadis cantik berjilbab. “aiihh..pelannn..ahhh… sakiit..”

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata aku kepada Lusi.

Aku segera menerkam Lusi yang bingung haru bagaimana ku cium bibrnya. Awalnya dia hendak memberontak, namun setelah beberapa saat, rontaannya lenyap, diganti balasan ciuman yang panas. kita saling berpagutan. Tanganku mulai menggenggam payudara gadis montok berjilbab yang ini sambil terkagum2. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya. Sudah jelas walaupun Lusi berpenampilan anggun dengan jilbab dan baju serba tertutup, namun hastrat birahinya sangatlah tinggi.

Dengan gemas, aku menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Lusi. Lusi meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Lusi dan ke vaginanya. Lusi mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah aku menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Lusi. Ternyata gadis montok alim berjilbab ini masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Aku membuka bibir vagina Lusi dan menyedot vaginanya. Lusi mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, aku mengangkat tubuh Lusi. Kaki Lusi melingkar dipinggangku dan aku memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, aku menyandarkan punggung Lusi ke dinding lalu aku mulai menggenjot Lusi. Payudara Lusi yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya aku mencium bibirnya yang merah dan mungil. Gadis montok berjilbab yang ber buah dada besar ini merintih2 penuh birahi, Benar-benar membuatku gemas.

Dari dalam kamar, terdengar suara Hesti yang melenguh. Lusi pun ikut melenguh tiap kali kontol aku menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Lusi sambil menyetubuhinya. Aku duduk di kursi dan Lusi duduk dipangkuanku menghadap aku. Vagina Lusi terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku. Jilbab merahnya kulil;itkan ke lehernya agar tidak mengganggu aktifitasku menikmati ubuah dada besarnya.

Dengan enerjik, Lusi menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Aku menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan aku memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Lusi semakin liar. Lusi terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama aku pun ejakulasi. Lusi duduk terkulai lemas dipangkuanku. Aku menggendong Lusi masuk ke kamar tidur untuk tidur, dimana Hesti, gadis alim berkulit mulus itu sedang merintih2 dipompa memeknya oleh Hendri di lantai beralas karpet sambil nungging. Namun ternyata Rudi minta bagiannya. Karena lemas, kubiarkan saja Rudi bermain berdua bersama Lusi disampingku, sementara aku tidur, beristirahat. Sayup-sayup kudengar rintihan dan erangan dua gadis berjilbab cantik dan sekal, disetubuhi dengan ganas oleh dua temanku, mengantarku ke alam mimpi.

RISKA

Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya lurus indah sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.

Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Riska seorang diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.

Biasanya, anak ABG yang mengikuti trend masa kini sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut dan ukuran rok yang ketat yang memperlihatkan lekuk body tubuh yang sekal menggairahkan. Namun Riska tidak. Dia adalah seorang muslimah yang taat. Seringnya ia bergaul dengan anak-anak ROHIS di sekolahnya membuat dia lebih menyukai untuk memakai jilbab panjang sepinggul yang longgar, dan baju lengan panjang serta rok panjang, walaupun, karena peraturan sekolah, roknya tidak bisa ia buat terlalu longgar,s ehingga bagaimanapun ia berusaha menyembunyikan pantatnya yang montok dan merekah indah, tetap saja terlihat samar menggairahkan dari balik rok abu-abu panjangnya.

Penampilannya yang santun ini tentu mencegah pikiran buruk para laki-laki yang berpapasan dengannya, walaupun penampilan gadis berjilbab itu tidak serta merta menghlangkan kecantikan alami yang ia miliki. Kecantikan alami itulah yang mengundang beberapa lelaki tetap saja meliriknya saat berpapasan. Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik melintas di hadapannya. Dulu, ketika ia sudah tak mampu menahan libidonya, dia pernah menggagahi seorang wanita yang memakai jilbab lebar dan jubah longgar, dijalan ketika wanita itu pulang. Ternyata ia menikmati sensasi ketika memperkosanya. Bagaimana wanita berjilbab itu meronta-ronta saat diperkosa, namun juga menikmatinya. Bagaimana ia bisa membuat wanita berjilbab itu orgasme berkali-kali, sehingga pada peristiwa pemerkosaannya yang kedua dan ketiga, wanita berjilbab itu hanya pasrah dan malah dengan agak ditahan menikmati permainan kasar yang dilakukan Parjo.

Walaupun berjilbab, sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul, termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan Riska dari jalan besar menuju ke kediaman gadis SMA berjilbab lebar itu yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantar gadis berjilbab itu dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik- rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Riska, gadis berjilbab yang sudah beberapa hari terakhir ini membuat libidonya memuncak. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Riska nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Riska. Suaranya yang lembut terdengar pasrah di telinga Parno, membuat kontolnya mulai berdiri, embayangkan desahan-desahan yang keluar dari mulut gadis berjilbab itu saat ia menyetubuhinya. “Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Parno sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan pasrah Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya gadis alim itu. “Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Riska menjadi gelisah, wajahnya mulai terlihat was-was.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri gadis berjilbab yang montok itu yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Riska sambil terbengong-bengong. “Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan kontolnya yang telah mengeras dan membesar.

Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini. Ia selalu menjaga matanya dan langsung shock melihat benda itu tiba-tiba saja disodorkan didepannya.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta gadis berjilbab itu dengan wajah yang memucat.

Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang terbalut jilbab lebar dan seragam SMU. Pelan-pelan tangannya maju dan dengan tenang menyingkapkan rok panjang Riska, hingga keatas lutut. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis berjilbab itu. Jilbab lebarnya ia singkapkan dan disampirkan ke pundak, sehingga terlihat gundukan payudara gadis berjilbab itu yang montok, seolah minta diremas-remas.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, gadis berjilbab berwajah pasrah itu mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menggerayangi betisnya, lalu pelan-pelan naik ke pahanya yang sudah terbuka. Tangan gadis berjilbab itu secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah pahanya, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Riska.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, gadis cantik berjilbab itu meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi- jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Riska itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Riska.

Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno semakin intens bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh gadis SMU berjilbab yang montok dan menggairahkan itu menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal pahanya, dan wajah Riska yang lembut dan seakan pasrah menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“eeehhhh..”, desahan Riska mulai menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang memeknya. Parno pun sadar bahwa gadis berjilbab itu melai terangsang akan perbuatannya

Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah gadis berjilbab itu yang nampak pasrah dengan desahan yang keluar dari mulutnya disertai tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Riska. Saat ini lubang kemaluan gadis berjilbab itu telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Parno. Tiba-tiba tubuh gadis berjilbab montok itu menegang. Dari mulutnya pekikan tertahan, “eehmmmmh……!!!” ternyata gadis itu sudah mendapat orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya. Sesuatu yang sangat nikmat ia rasakan, dan tubuhnya terlonka-lonjak untuk beberapa saat, mengalami kenikmatan yang sangat. Memeknya terasa geli, dan tubuhnya yang lemas mulai bersandar pasrah pada tubuh Parno, tukang becak yang membuatnya mendapatkan kenikmatan itu dengan paksaan.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian menarik tubuh Riska turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis berjilbab itu yang sintal sementara Riska hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas remas pantat gadis itu.

Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir gadis berjilbab itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Riska mendesah-desah di saat Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir gadis berjilbab yang sintal itu oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis SMU berjilbab itu. Ia naikan sedikit jilbab Riska, dan ketika leher Riska yang putih bersih terlihat, langsung saja Parno melumatnya. “Oohh.. Eenngghh..”, Riska mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno. Parno sengaja tidak membuka jilbab Riska, karena ia menyukai sensasi yang tercipta dihatinya, ketika melihat seorang gadis lugu yang berjilbab lebar mengerang-erang dan mendesis nikmat didepan matanya.

Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga membuat Riska sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat gadis berjilbab itu pasrah di hadapan Parno yang tengah memperkosanya, selain karena ia sudah tidak punya tenaga setelah orgasme dahsyatnya yang pertama. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno meraih kepala Riska yang masih terbungkus jilbab dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala gadis alim berjilbab itu itu dihadapkan pada kontolnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Parno sambil mencengkeram kepala Riska yang masih berjilbab itu.

Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak gadis berjilbab yang cantik itu sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk kontolnya ke dalam mulut Riska.

“Hmmphh..”, Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi gadis berjilbab itu menggelembung karena batang kemaluan Parno yang besar menyumpalnya. “Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut gadis berjilbab itu.

Gadis berjilbab itu menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat kepala Riska yang masih terbungkus jilbab mulai menggerakkan kepala Riska maju mundur, mengocok kontolnya dengan mulut gadis alim berjilbab yang montok itu. Suara berdecak-decak dari liur Riska terdengar jelas diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska, dia nampak benar-benar menikmati. Bahkan sensasi yang ia rasakan melihat seorang gadis berjilbab dengan terpaksa mengulum kontolnya sangatlah nikmat. Tiba-tiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Riska semakin cepat sambil menjambak-jambak jilbab Riska. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Riska yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Gadis lugu berjilbab itu berusaha melepaskan batang kontol Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Parno mencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut gadis lugu yang berjilbab itu.

“Ahh”, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang kemaluannya dari mulut Riska.

Nampak batang kontolnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya dengan mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang sama. Gadis manis berjilbab itu meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya sudah sangat lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” gadis berjilbab montok itu menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Parno yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Riska.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat tenaganya menjadi kuat berlipat- lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.

Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis terisak-isak. Gadis belia berjilbab itu sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Riska bergetar ketika Parno menidurkan tubuh gadis berjilbab itu di lantai gudang yang kotor. Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.

Setelah gadis lugu berjilbab itu terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu panjang seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Riska. Gadis berjilbab itu hanya bisa pasrah akan keadaan, karena tenaga dan keberaniannya sudah hlang entah kemana. Kedua mata Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir memeknya, indah sekali. Ia tahu bahwa kemaluan wanita berjilbab selalu bagus, karena tidak pernah tersentuh barangnya laki-laki, dan terawat. Tapi milik Riska, gadis berjilbab lugu yang terbaring dihadapannya itu sangat menggairahkan.

Parno langsung saja mengarahkan batang kontolnya ke bibir memek Riska. Gadis berjilbab itu menjerit ketika Parno mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang kontolnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang memek Riska.

“Aakkhh..”, gadis lugu berjilbab itu menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.

Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di memek gadis berjilbab itu dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang kontol Parno. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan gadis alim itu. Barang yang sangat ia jaga telah dirnggut dengan paksa oleh seorang tukang becak. Tangisnya kembali pecah.

“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Riska mengerang- ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot Riska dengan bernafsu. Batang kontolnya basah kuyup oleh cairan memek gadis berjilbab berkulit putih bersih itu, yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.

Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi gadis berjilbab itu, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.

“Aahh..” Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Parno.

Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik berjilbab yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Riska yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, gadis berjilbab itu tak mampu lagi berjalan normal hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Parno dengan leluasa menuntun tubuh lemah gadis lugu berjilbab itu hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Riska bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuh gadis berjilbab yang montok dan molek itu, Parno pun kemudian meninggalkan Riska dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan gadis berjilbab itu yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya. Tentu saja tidak lupa Parno sudah mengambil gambar telanjang dari gadis berjilbab itu, untuk berjaga-jaga agar Riska tidak membocorkan rahasianya.