AZIZAH

Azizah, gadis berjilbab lebar yang berwajah manis adalah seorang mahasiswi yang kuliah di salah satu PTS di kota ini. Aku dan teman2ku adalah para kuli yang sedang memperbaiki salah satu bagian rumah kost Azizah. Sudah sejak lama kami menyimpan hasrat birahi pada mahasisiwi berjilbab ini. Tubuhnya yang selalu tertutup jubah longgar dan jilbab yang lebar justru membuat kami semakin penasaran. Kamipun tidak segan mengintipnya saat ia sedang mandi, dan ternyata memang tubuh gadis cantik berjilbab yang selama ini ia sembunyikan memang benar2 indah. Akhirnya kami tidak kuasa untuk menahan hasrat kami terlalu lama. Kami memilih saat yang tepat, yaitu saat teman2 kost Azizah pergi kuliah, untuk menikmati tubuh Azizah yang putih mulus menggairahkan itu. Akhirnya saat itu tiba juga.

toket akhwat - farida janah (1)

Pada hari itu cuaca sangat panas, sehingga pintu kamar kost Azizah dibiarkan terbuka, agar udara segar dapat masuk. Gadis berjilbab itu sedang duduk menyelesaikan laporan kuliahnya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba -tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya.

“Mbak Azizah, kami minta jatah..!” kataku yang diiyakan juga oleh Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Azizah kaget sekali “mau apa kalian? Maksudnya apa ini?” tanya gadis alim itu panik. Terdengar nada ketakutan dalam suaranya yang lembut. Suaranya malah semakin membangkitkan birahi kami.

toket akhwat - farida janah (5)

Azizah semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Azizah muncul dua benda panjang menjulur ke depan. “Ah, masak mbak Azizah nggak tau…?” kata Dony. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan tubuh Azizah yang pernah mengundang birahi mereka, saat mereka mengintip gadis berjilbab itu saat mandi.

“Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!” kata Doni sambil menarik tangan mulus gadis berjilbab itu dan ditempelkannya di batang kontolnya sekaligus kontol Ferry.
“Eh, ngapain nih pada..?” tanya Azizah sambil agak meronta. Wajahnya nampak merah padam. Mungkin karena dia belum pernah melihat kemaluan laki2 sebelumnya, apalagi memegangnya.
“Udah deh, pegang aja..!” kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke bawah jilbab Azizah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang masih tertutup jubah coklat muda itu.

Azizah langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, namun gadis alim itu tetap berusaha meronta. Akupun segera mengeluarkan pisauku yang tajam, dan menyodorkannya kedepan gadis berjilbab alim itu. “Diam!! Jangan berontak!! Kalo berontak, pisau ini menancap di memekmu!!” kataku mengancam. Azizah langsung diam. Wajahnya pucat pasi. “jangan, bang…” bisiknya putus asa. “ambil apa aja yang abang inginkan…” saat itu Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Azizah yang masih tertutup jubah, yang ternyata semakin mengeras.
“Boss!! Putingnya jadi keras bos!!” kata Ferry. “wah, ternyata cewek alim kita ini rindu belaian cowok ya ferr!!” kata Dony sambil tertawa. Azizah semakin pucat. Ternyata memang tubuhnya tidak mampu menahan gejolak birahi akibat rangsangan kedua temanku.

toket akhwat - farida janah (6)
“kamu diam dan tutup mata!! Nikmati aja!!” kataku kembali mengancam.
Azizah, gadis alim itu mulai pasrah. Matanya yang indah ia pejamkan rapat2, seoalah berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi. Sementara itu, kedua tangannya masih terus dipaksa mengelus dan mengocok kontol Ferry dan Dony. aku segera menyarungkan kembali pisauku, dan mulai menjulurkan tanganku kearah jubah panjang gadis manis yang alim itu. Kucoba menyingkapkan jubah panjangnya keatas. Dengan agak susah payah, akhirnya aku berhasil menyingkapnya sampai atas lututnya. Segera kurogohkan tanganku masuk ke daerah selangkangannya, mencoba meraih memeknya. Tubuhnya menggeliat saat tanganku menyentuh bagian tubuh yang selama ini ia jaga. Segera kukocok2 dan kuremas2 memeknya, yang membuat ia semakin menggeliat2. “mmmhhh…..nnnnggghhh….” mulai terdengar lenguhan tertahan dari mulutnya. Matanya masih tertutup rapat. Bibirnya yang indah membuatku tak bisa menahan diri. Segera kulumat bibirnya. Lidahku bertemu lidah gadis berjilbab itu, dan saling berpilin. Tidak banyak penolakan yang ia berikan. Sepertinya ia memang takut akan ancaman yang kukatakan tadi.

“Aaah.., sshh..,” 5 menit kemudian, desahannya semakin terdengarsaat tubuhnya tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang diberikan 3 pria yang ia sendiri tidak mengenalnya. Tangan gadis berjilbab itu dengans endirinya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang kontol Dony dan Ferry.

Tiba2 kami serentak menghentikan kegiatannya, membuat Azizah menggeliat2 sendiri untuk beberapa saat. Jilbab lebarnya kusut dan ujung2nya sudah terlingkar hilehernya. Kancing jubahnya sudah terbuka sampai ke perutnya, memperlihatkan tubuh yang indah, dengan buah dada yang ranum menggantung dan mengacung kedepan, keras karena dirangsang oleh Dony dan Ferry. Kutang yang tadi dipakai gads berjilbab itu sudah berada dipojok ruangan. Memek gadis berjilbab itu sudah basah oleh cairan yang keluar karena rangsangan jemariku tadi.

“buka mulutmu!” perintahku. Dengan pelan Azizah membuka mulutnya yang indah. Segera kumasukkan jemariku yang basah kuyup oleh lendir kemaluannya kedalam mulut gadis alim itu. “kulum!!” perintahku. Terasa kemudian lidah Azizah menari2 di jemariku, sambil sekali2 menyedot2nya. Aku mulai penasaran, seperti apa nikmatnya kuluman gadis berjilbab ini.

toket akhwat - farida janah (7)

“ayo berdiri!” perintah Dony, sambil menarik Azizah berdiri. “ampun baaang… “katanya pelan. Matanya sudah basah. Tubuhnya sudah lemas karena rangsangan yang kami berikan. “ampun baaang… minta apa saja akan saya berikan baaang…” kata gadis berjilbab itu memelas. Tangan Dony dan Ferry langsung melayang ke pipi kiri dan kanannya. Ternyata mereka juga ingin memberinya gertakan. “Diam kamu!!” teriak Dony. kami tidak takut ketahuan, karena disini temboknya tebal dan tidak ada orang lain selain kami berempat di rumah kost yang besar ini. Mendengar bentakan itu Azizah langsung kembali terdiam.

aku.dengan lembut menanggalkan jubah yang sudah terbuka kancingnya. Segera jubah itu melorot belantai, membuat tubuh Azizah yang putih mulus terlihat jelas. Kami bertiga menelan air liur melihat tubuh Azizah yang biasanya tertutup jubah longgar dan jilbab lebar itu sekarang terpampang dihadapan kami, hampir tanpa apa2, tinggal jilbab putih yang sudah kusut dan tersampir ke leher, dan celana dalam putih yang menggairahkan.

toket akhwat - farida janah (2)

Azizah dibawa kedekat ranjangnya, dimana aku duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Pisauku tadi kembali kuacungkan, membuatnya kembali takut dan mulai menutup matanya lagi. Gadis berjilbab itu semakin pasrah berdiri sambil terus terisak2 waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Azizah langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Azizah membuatnya seperti terbang melayang. Rintihan gadis berjilbab itu mulai terdengar dan makin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Azizah ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiak gadis berjilbab itu yang berbau harum.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Azizah rasakan sebelumnya itu, membuat gadis alim itu menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Hatinya menolak keras terhadap apa yang terjadi dengannya, namun tubuhnya tidak bisa melawannya. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman liar Dony, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Azizah. aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dada gadis alim berjilbab yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuh gadis alim yang tancik itu bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Azizah dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Azizah. Mau tidak mau Azizah melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulut gadis alim itu.
“Mmph.. mmph..,” erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

toket akhwat - farida janah (8)

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Azizah yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kaki gadis berjilbab itu. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Azizah, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Azizah kecuali jilbab putih yang kami biarkan bertengger dikepala Azizah. Jilbab itu memberi sensasi dan gairah sendiri pada kami bertiga. Pemandangan indah gundukan memek Azizah tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dada gadis berjilbab itu menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan memek Azizah. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan memek Azizah dengan lembut yang membuat gadis solehah itu menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga memek Azizah terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Azizah yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantat gadis alim itu. Azizah semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat memek gadis alim berjilbab lebar itu semakin basah.

toket akhwat - farida janah (3)

Azizah kembali mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Azizah kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan kontolnya yang mengarah ke wajah Azizah. Tangan Doni kemudian mencengkeram kepala Azizah yang masih terbalut jilbab putih dan menengadahkan kepalnya.
“Buka mulutmu..!” perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Azizah sudah pasrah dan sangat terangsang, sehingga sudah tidak mampu lagi berbuat apa2.

Begitu mulut gadis berjilbab itu terbuka, masuklah batang kontol Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Azizah mulai mengemut kontol Doni. Kepalanya dipaksa maju mundur sesuai gerakan tangan Doni yang masih mencengkeram kepalanya.
“Ayo isep dan jilat..!” perintah Doni lagi yang segera diikuti Azizah dengan menjilati sepanjang batang kontolnya yang divariasi dengan mengemut kepala kontolnya.Sambil terus menghisap, Azizah merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Azizah dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di memek gadis berjilbab itu. Yang membuat Azizah semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Azizah dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantat gadis alim itu.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatan gadis berjilbab itu diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan kontolku ke memek gadis berjilbab itu dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Azizah ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Azizah dengan mulutnya.

Pelan2 kutuskkan kontolku kedalam memeknya. Terasa sempit sekali. Aku berpikir, pastilah gadis berjilbab ini masih perawan. Pelan2 kutambah kedalaman kontolku, menghujam memeknya yang nikmat. Ia mengentikan kuluman bibirnya dara kontol Dony, dan menengadah. Wajahnya terlihat kesakitan. Aku berhenti untuk memberinya waktu untuk bernafas. Namun kemudian aku langsung menghujamkan kontolku dalam2, membuatku merasa ada sesuatu yang sobek dalam memek gadis alim ini. Sesaat terlihat ia akan menjerit, namun Dony dengan sigap mengulum bibir gadis berjilbab itu sehingga jeritannya tertahan lidah Dony yang menari2 di mulutnya. saat kulihat, dari memek gadis alim berjilbab itu mengalir darah segar keperawanannya. terbersit rasa bangga karena berhasil memerawani memek gadis alim yang biasanya selalu menjaga tubuhnya itu.

toket akhwat - farida janah (4)

Semakin lama semakin kupercepat genjotan kontolku dalam memek gadis alim ini yang sangat nikmat. Terdengar jeritan kesakitan Azizah berubah menjadi desahan dan erangan penuh napsu. Mulutnya dengan pasrah menurut saat dituntun Dony untuk kembali mengulum kontolnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur kontol Doni di mulut Azizah, kupercepat juga sodokan kontolku ke lubang memeknya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Azizah diikuti dengan mengejangnya tubuh gadis berjilbab itu tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang memek Azizah yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit kontolku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut kontolnya dari mulut Azizah, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Azizah yang sudah sangat lemas ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan memeknya yang tepat berada di atas kontol Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah kontol Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Azizah. Erangan Azizah terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacu Doni untuk mempercepat pompaan pada memek gadis berjilbab itu. Jhilbab putihnya sudah basah kuyup karena keringat dan air liur Azizah sendiri yang mengalir deras saat mengulum kontol Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Azizah, dan memasukkan kontolnya ke mulut Azizah dengan memutar sedikit kepalanya. Memek dan mulut Azizah kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Azizah ke belakang, lalu menjilat-jilat puting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang secara naluriah diimbangi Azizah dengan menahan ke bawah. Azizah melenguh tertahan saat Dony menyemprotkan air maninya yang putih kental kedalam memek Azizah yang semakin basah oleh cairan kenikmatannya yang kembali membanjir.

Ferry yang sudah tidak tahan kontolnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Azizah ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Azizah direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kaki putih gadis berjilbab itu direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Azizah. Memek Azizah yang terbuka langsung dihujam oleh kontol Ferry yang masih basah bekas lidah Azizah. Azizah kembali melenguh. Ferry mulai menyodokkan kontolnya dengan lembut yang membuat Azizah mengerang dan mendesah.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Azizah dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Azizah yang mulus itu. Bibir sensual Azizah yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajah cantiknya, hingga kontolku yang masih tegang berada tepat di depan mulut gadis berjilbab itu. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk kontolku. Azizah pun menyambut perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya kontolku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan kontol Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Azizah menggelinjang hebat.
“Mmmh.. mmph.. mmph..,” teriak Azizah tertahan kontolku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Azizah ke atas.
Azizah telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
“Tunggu, aku juga mau keluar..!” kataku lagi sambil melepas kontolku dari mulutnya dan mengocok kontolku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
“Aaagghh..!” erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Azizah.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya kontolku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang. Beberapa saat kemudian terdengar isak tangis Azizah. Doni dan ferry mendekatinya, dan seolah menenangkannya, namun kemudian Azizah kembali melenguh. Ternyata Doni dan Ferry belum puas, dan kembali menggilir gadis berjilbab itu sampai tiga kali.

MEYDA

Aku hisap dalam-dalam rokok yang baru aku beli tadi bersama temanku sambil duduk santai di depan teras rumahnya, berteman segelas kopi yang tinggal setengah di cangkirku. Sebenarnya aku tidak suka merokok dan minuman kopi, aku lakukan itu jika ada masalah yang sangat pelik. Ya, seperti sekarang ini. Masalahku sudah aku ceritakan pada sahabat terbaikku tadi, sekarang dia sedang merenung di depanku. Entah memikirkan solusi atau apa, yang penting masalahku tidak aku pendam sendiri. Lebih baik membaginya dengan teman agar tidak terlalu berat.

Sambil menunggu temanku bicara, aku ceritakan dulu masalahku. Tujuh hari yang lalu, aku baru menikah dengan seorang gadis yang kamu semua pasti mengenalnya, namanya Meyda Sefira. Salah satu artis berjilbab yang bermain sebagai Husna di film Ketika Cinta Bertasbih yang diambil dari salah satu judul novel terkenal karya Habiburrahman El Shirazy.

Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda adalah anak dari teman karib ayahku. Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini. Ayah Meyda banyak menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda. Ia percaya kalau aku bisa membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.

Akhirnya jadilah kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas. Hanya dihadiri oleh sanak saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi terhambat karena pernikahan ini. Ok, aku bisa mengerti.

Yang jadi masalahnya adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Meyda selama seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri. Apalagi kalau bukan bersetubuh, menunaikan sunnah  rasul.

Tiga hari awal dia beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan sholat. Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku terdiam. Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu. Bayangkan, tidur berdua dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.

Ketika aku tanya lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis. Aku jadi makin tidak tega memaksanya.

“Mungkin… dia laki-laki,” ujar temanku setelah merenung lama.

Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke taman di sebelah rumah temanku itu.

“Seperti berita di tv,” lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.

“Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia. Wajahnya manis dan sikapnya feminis. Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali,” sergahku.

“Bisa saja dia operasi plastik ke Korea… kau lihat’ kan, aktor dan aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana perempuan,” temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan. “apalagi, orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan. Artis-artis kita juga banyak yang melakukannya.”

“Itu tidak mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil,” bantahku. Memang benar, aku kenal istriku sejak dia baru lahir. Dulu kami tinggal bersebelahan. Setelah aku lulus SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu. Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol lenganku, rasanya kenyal dan lembut. Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.

“Kalau dia bukan laki-laki…” kata temanku  menggantung kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, “berati dia tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.”

Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin. Aku kenal betul sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk menutupi semua auratnya. Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau menanggalkan identitasnya itu. Aku bangga kepadanya. Apalagi kata orang tuanya, dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah. Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!!

“Itu tidak mungkin,” kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan. Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru. Mereka melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu dari mereka. Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci dari mereka yang berkerudung. Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah melihat kenyataannya. Di dunia yang sudah ‘edan’ ini, apapun bisa terbalik dengan mudahnya.

“Kamu sangat yakin?” tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.

“Aku yakin,” kataku.

Lagi-lagi temanku merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku tentang kesucian Meyda.

“Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa,” ujar temanku, tepat disaat aku hendak mengambil satu batang rokok. “dia diperkosa,” nada temanku sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku lepas jatuh ke lantai.

Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini. Setiap hari pasti ada saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan atau mungkin belum terungkap. Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk biasa sampai para pejabat. Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling parah dengan hewan atau mayat.

“Kalau begitu keadaannya, aku masih menerimanya,” kataku lemah, seakan tidak rela hal itu terjadi pada istriku. Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa. Apa ayahku yang melakukan itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, entahlah… yang aku tahu mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.

***

Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah makan malam. Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan. Setelah Meyda selesai, dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku, seperti biasanya.

“Mey…” ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.

“Iya, kak,” jawab Meyda tanpa merubah posisinya. Dia memang selalu memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.

“Aku ingin bicara,” setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku. “kamu duduk disini,” aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.

“Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?” aku tanyakan itu tepat setelah Meyda duduk di sampingku. Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.

Dia masih terdiam, hanya bunyi bibir  terbuka saja yang terdengar. Aku yakin bibir mungil itu pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas?

“Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan ikhlas,” kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.

Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia terlihat sangat takut. “Aku… aku… sebenarnya…” katanya terbata-bata.

“Katakan saja,” ujarku pelan.

“Aku tidak tahu cara melakukannya!!!” kata Meyda.

Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda barusan.

“Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal itu, jadi aku…”

Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya. Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku. Polos sekali dia, karena hal itu dia menghindariku. Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya dalam pelukan. Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku praktekkan.

Kupandangi wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu. Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.

Meyda agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak. Dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan. Untung saja dia tidak tahu pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit. Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.

Sambil tersenyum manis kubisiki dia. “Kakak juga belum pernah,” kataku seramah mungkin.

Meyda mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu. “Eeh… i-iya, kak.” sahutnya gugup.

“Kita sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.” kataku pura-pura polos.

“Eh, i-itu… i-iya, kak…” jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.

“Kakak janji tidak akan menyakiti kamu..” kataku terus memanfaatkan kesempatan.

“Emm… i-iya, kak.” jawab Meyda sedikit malu. Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya. Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.

“Kamu kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?” pancingku.

“Ooh… t-tidak kok, kak.” jawabnya sambil tersenyum manis. Sudah makin berani dia. ’Bagus,’ pikirku.

”Mmm… jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?” pancingku kemudian.

“Eee…” dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.

“Kok cuma eee aja… ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan…”

“Mau kok, kak. Tapi…” ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.

”Tapi apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan sangat mulus sekali. Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas pelan. Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.

“Nanti kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya…” tanyanya makin berani.

“Iya, tentu saja. Kakak janji!” sahutku.

Meyda tersenyum, lalu kemudian mengangguk. ”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan lakukan!” katanya sambil tersenyum.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan bibirku. Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku. Aku jadi kaget.

”Kenapa, Mey?” tanyaku tak mengerti.

“Kakak kok gitu sih…” dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku. ”katanya tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.

Aku segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut. ”Maafin kakak, Mey. Kakak tidak sengaja…” bisikku di telinganya. ”itu tadi wujud kasih sayangku sama kamu…” lanjutku.

“Ini pengalaman pertama bagiku, kak… jadi tolong buat agar jadi berkesan,” kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku. Ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berpaling ke kiri. Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.

”Iya, Mey… maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar. Baju tidurnya yang tipis membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat berwarna putih. Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan terus terang justru sangat merangsang nafsuku.

Aku segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping. Seolah-olah masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman dan keseksiannya. Mm… ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku. Aku tidak ingin membuat Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan tubuhnya.

“Meyda sayang…” rayuku kembali. “Kakak boleh tidak cium bibir kamu?” tanyaku menggodanya.

“Iih… kakak apaan sih,” Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi makin berani, juga bernafsu.

“Meyda sayang… terus terang, malam ini kakak kepingin banget. Kakak pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu… kamu mau kan?” tanpa aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Antara kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu. Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah memerah. ”Kaakk…” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa berkata apa-apa.

Aku segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya. “Mey, percayalah… apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak sama kamu…”

Selesai berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup bibirnya yang mungil dengan lembut. Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat dan sangat manis sekali. Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak. Segera kulanjutkan dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit. Mm… terasa sangat halus dan mulus. Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya perempuan itu sangat cantik seperti Meyda. Enak sekali ternyata…

Lima detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya. Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah manisnya kelihatan begitu mempesona. Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.

“Bagaimana, Sayang… mau dilanjutkan?” rayuku dengan nafas memburu akibat menahan nafsu. Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di celana. Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.

Meyda cuma terdiam.

Kuberanikan diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga sampai di lengan. Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan bulat menantang yang ada di depan dadanya. Beha putih yang ia kenakan kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang. Mmm… jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.

Kulirik Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora… siap untuk menerkam dirinya… menjamah tubuhnya… meremas payudaranya… dan pada akhirnya akan menyetubuhinya sampai puas…

”Mey,” bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang. Kususupkan ke belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas. Wow, begitu lunak dan hangat kurasa.

“Ahh… kak,” Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila, kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus gundukan bukit kecil yang ada disana… bukit kemaluannya.

Selama beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah. Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku. Dia menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk dan hangat sekali. sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir mungilnya.

”Aku ingin tubuhmu, Mey…” bisikku diantara desahan nafas yang semakin  memburu.

”Hhh… lakukan, kak… tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini…” sahutnya.

Hatiku bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru. Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis. Bukan gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik di Indonesia.

Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah itu. Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama. Kuhisap habis bau harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.

Kujulurkan lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh kamasutra. Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat. Kedua lidah kami terus bersentuhan, hangat dan basah. Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah pula.

“Ah, Mey… kamu pintar juga!” pujiku tanpa curiga.

Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum manis ia menyahut, “Mm… Mey hanya menuruti naluri, kak.” sahutnya polos.

“Tapi kok pintar sekali?” godaku.

Meyda tersenyum malu, wajahnya berubah jadi merah. ”T-tidak tahu, kak…” ia menundukkan mukanya.

“Tidak apa-apa, itu tandanya kamu bisa menikmati.” aku tersenyum lega karena tidak perlu repot-repot membimbingnya nanti. Jemari tanganku yang masih berada di selangkangannya mulai bergerak menekan gundukan bukit kemaluannya, kuusap-usap pelan ke atas dan ke bawah.

”Auw, kak!!” Meyda memekik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu. Wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat.

Kuraih kepalanya dalam pelukanku dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Kucium rambutnya yang panjang sebahu. “Enak, sayang, kuusap-usap begini?” tanyaku penuh nafsu.

“Hhh… i-iya, kak.” sahutnya polos. Terlihat dia sudah mulai kepingin juga.

Jemari tanganku yang nakal kini bukan cuma mengusap, tapi juga mulai meremas gemas gundukan bukit kemaluannya. “Ahh… sakit, kak… auw!” Meyda memekik kecil, tubuhnya terutama pinggulnya menggelinjang keras. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tanganku kini direnggangkan.

Kuangkat wajahnya ke arahku, kulihat matanya masih terpejam rapat, namun mulutnya sedikit terbuka. Kurengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku, lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan penuh nafsu.

“Ehm… kak!” Meyda meraih pinggangku dan memeganginya kuat-kuat. Kini jemari tanganku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas, menelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat. Aku baru berhenti saat kurasakan ujung jemariku sudah berada di kaki bukit buah dadanya. Dari balik baju tidurnya, bisa kurasakan betapa padat gundukan daging itu. Kuelus perlahan, sebelum mulai mendakinya tak lama kemudian.

”Uhh… kak!” Meyda merintih saat kuremas pelan gundukan buah dadanya. Terasa sangat padat dengan sedikit campuran rasa empuk dan kenyal yang sangat menggiurkan. “Auw, pelan-pelan, kak…” bisiknya parau, bibirnya tampak basah akibat cumbuanku tadi.

Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Meyda menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras. Kami saling berpandangan mesra, kutatap sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah ngaceng berat.

“Ughh…” aku meloncat berdiri.

Meyda yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya, jadi ikutan kaget. “Eh, kenapa, kak?” tanyanya.

“A-anu, punya kakak sakit nih…” sahutku sambil buru-buru membuka celana. Aku tak peduli meski Meyda kelihatan malu, toh dia akan melihat juga pada akhirnya.

Celana panjangku melorot ke bawah, juga celana dalamku. Meyda yang tak menyangka aku akan berbuat demikian, hanya memandangku dengan terbelalak kaget. Apalagi saat melihat batang penisku yang sudah ngaceng berat, yang begitu tegang dan mengacung ke atas, dengan urat-urat di permukaannya tampak menonjol keluar semua.

“Auw! Kakak jorok!” dia menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Meyda menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang cantik.

”Hehehe…” aku terkekeh. Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana panjang, aku jadi gemas pingin melucutinya sampai bugil. Ah, ingin rasanya segera menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan diri. Itu tidak adil, kami harus sama-sama menikmati permainan ini. Aku tidak mau Meyda merasa rugi, dan ujung-ujungnya kapok tidak mau mengulangi lagi. Kalau begitu kan, aku sendiri yang rugi.

Tugasku sekarang adalah merangsangnya sampai siap. Karena bagaimana pun dia kan masih perawan. Pasti sangat sakit saat melakukan untuk yang pertama kali. Aku harus bisa meminimalisir hal itu, ini adalah tantangan buatku, benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satunya perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain dari buku kamasutra jadul…

“Mey, takut apa sih… kok mukanya ditutup gitu?” tanyaku menggoda.

“I-itu… p-punya kakak…” sahutnya lirih.

“Lho, memang kenapa? Kamu tidak pernah lihat alat kelamin cowok?” sahutku geli.

Meyda mengangguk. “Mey belum pernah, i-ini yang pertama.” sahutnya masih sambil menutup muka.

Gila! Dia benar-benar lugu dan perawan. “Yah, tidak apa-apa. Ayo coba sini, punya kakak kamu pegang. Ini kan milik kamu juga.” kataku nakal.

“Ah, tidak mau. Malu… jorok…” sahutnya.

“Tidak usah malu, kakak yang telanjang aja tidak malu sama kamu. Tadi kakak sudah pegang punya Mey, sekarang ganti giliran Mey yang pegang punya kakak…” sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka.

Pada mulanya Meyda menolak, namun setelah kurayu-rayu dan sedikit kupaksa akhirnya dia mau juga. Kedua tangannya segera kubimbing ke arah selangkanganku. Meyda memang mau memegangnya, namun kedua matanya masih terpejam rapat, sama sekali tidak mau melihat. Meski begitu, itu sudah cukup membuat  jantungku berdegup kencang. Bagaimanapun inilah pertama kali aku telanjang di depan perempuan sambil mempertontonkan alat vital, apalagi sampai dipegang-pegang segala. Seperti mimpi rasanya, apalagi saat tahu kalau yang melakukannya adalah Meyda Safira, salah satu artis cantik berjilbab yang tubuhnya pasti diidam-idamkan banyak orang.

Meyda mulai mengusap kepala penisku. Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat pertama kali menyentuh, namun karena kupegangi dengan kuat, akhirnya ia hanya pasrah saja.

“Aah… terus, Mey, pegang batangnya dengan kedua tanganmu!” rayuku penuh nafsu.

“Iih, keras sekali, kak…” bisik Meyda sambil tetap memejamkan mata. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya, itu tandanya kakak sayang sekali sama kamu. Aah…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Meyda meremas kuat batang penisku.

“Gimana, kak, enak?” tanyanya dengan jemari tangan terus meremas kuat.

“Ohh… jangan dilepas… terus seperti itu…” erangku lirih.

Meyda yang semula agak gugup, kini mulai sedikit mengerti. Jemari tangannya yang tadi merenggang, kini mulai bergerak pelan untuk mengusap batang penisku.

”Ahhh…” aku melenguh nikmat. Kulihat Meyda sudah mulai berani menatap rudal saktiku sambil terus meremas pelan, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dan aku tak peduli, yang penting aku merasa nikmat dengan kocokannya. Dalam hati aku membatin, pake tangan aja sudah begini nikmat, apalagi dijepit pake vagina, bisa-bisa aku pingsan karena saking enaknya.

Meyda memandangku sambil tersenyum, wajahnya tak lagi malu-malu seperti tadi. Bahkan dengan penuh semangat ia mulai mengusap-usap penisku maju mundur… setelah itu digenggam dan diremasnya seperti tadi, lalu dokocok-kocok kembali. Sepertinya Meyda semakin bersemangat begitu melihatku melenguh nikmat, ia tertawa kecil saat melihatku yang hanya bisa mendelik setengah gelisah karena saking nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak maju-mundur makin cepat, membuatku jadi semakin tak terkendali. Ini kalo dibiarkan bisa-bisa air maniku muncrat duluan, jadi aku segera berbisik kepadanya, “Mey, hentikan… kakak tidak tahan, mau keluar!”

“Iih…” dengan kaget Meyda segera melepaskan remasan tangannya dan beringsut cepat ke sebelahku, sementara pandangan matanya tetap tararah ke batang penisku yang masih menegang penuh. Mungkin ia mengira air maniku akan muncrat membasahinya kalau dia tidak cepat-cepat pergi.

Antara geli dan nikmat, aku segera mengatur nafas agar birahiku sedikit menurun. Wuih, hampir saja terjadi banjir lokal. “Tidak jadi, Mey, hehe…” bisikku lirih sambil tersenyum.

“Kok tidak jadi?” tanya Meyda polos.

”Buat nanti aja,” Kuraih tubuh sintalnya yang berada di sampingku dan kupeluk mesra. Meyda menggelinjang manja saat kurapatkan badanku ke tubuhnya yang mungil sehingga buah dadanya yang bundar montok terasa menekan dadaku yang bidang. Hmm, enaaak…

Kepalaku menunduk untuk mencari-cari bibirnya saat Meyda merangkulkan kedua lengannya ke pundakku. Wajahnya yang amat manis terlihat begitu dekat, apalagi saat mulai kukecup bibir mungilnya, Meyda  membalasnya dengan begitu rakus. Kami mulai saling melumat gemas, begitu lama dan panas hingga Meyda megap-megap tak lama kemudian karena kehabisan nafas.

Sementara bibir kami masih terus bertaut mesra, jemari tanganku kembali menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Kuremas gemas bulatan bokongnya sambil kuusap-usap mesra, kurasakan betapa kenyal dan padatnya daging montok itu. Meyda merintih lirih dalam cumbuanku saat kurapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan, sehingga mau tak mau batang penisku yang masih ngaceng berat jadi terdesak ke perutnya. Untung saja Meyda memakai baju tidur yang lembut sehingga tidak sampai melukai penisku.

Mulai kugesekkan-gesekkan penisku disana, tapi baru 10 kali gerakan, Meyda tiba-tiba tertawa kecil. “Mey, apaan sih kok ketawa?” tanyaku heran sambil lidahku menjilati bagian atas bibirnya yang basah oleh air liur.

”Habisnya kakak sih… kan geli digesekin kaya gitu,” sahutnya sambil terus tertawa kecil.

Waduh, dasar perawan tulen. Tidak tahu kalau aku sudah nafsu setengah mati, malah ngajak becanda. Segera kurengkuh tubuhnya kembali ke dalam pelukanku, dan Meyda pun tak menolak saat aku menyuruhnya untuk meremas alat vitalku seperti tadi. Mulai kurasakan jemari tangannya mengusap dan mengelus-elus rudal patriot kejantanan dengan lembut sambil sesekali diremasnya dengan penuh kemesraan.

Aku menggelinjang nikmat, ”Arghh… terus, sayang!” bisikku mesra.

Wajah kami saling berdekatan, Meyda memandangku sambil tersenyum manis. “Enak ya, kak?” tanyanya penasaran.

Aku mengangguk dan kukecup bibirnya yang nakal itu dengan penuh nafsu. Meyda membalas sambil memejamkan mata, namun kurasakan jemari tangannya semakin gemas saja mempermainkan batang penisku, bahkan mulai mengocok cepat seperti tadi. Aku tak tahan, rasanya jadi pingin muncrat lagi.

Saat itulah, Meyda menyuruhku untuk membuka baju. ”Basah, kak, kena keringat.” katanya. Segera kucopot kancing kemejaku satu persatu lalu kulemparkan baju itu sekenanya ke samping, entah jatuh dimana. Kini aku benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapannya.

Kulihat Meyda masih tetap mengocok batang penisku sambil wajahnya memandangku tersenyum manis. Kini aku tahu caranya mengontrol nafsu, tanpa sengaja Meyda telah menunjukkannya. Aku tidak boleh mengkonsentrasikan pikiranku pada kenikmatan ini, aku harus memikirkan hal lain. Melepas baju seperti tadi misalnya, terbukti sangat manjur untuk menunda ejakulasiku. Kini aku bisa memperlambat permainan seks yang mendebarkan ini. Awas kau Meyda, aku sudah pintar sekarang!

“Mey, suka tidak sama alat kelamin kakak?” tanyaku nakal.

Sambil tetap mengocok batang penisku, Meyda menjawab dengan polos, “Suka sih… tapi pasti sakit kalau dimasukin ke punyanya Mey,” ujarnya tanpa malu-malu lagi.

”Tenang, nanti kakak akan pelan-pelan.” sahutku. ”Ngomong-ngomong, boleh tidak kakak melihat punya Mey?” kataku nakal.

Meyda mendelik sambil melepaskan tangannya dari penisku, dia segera menutupi selangkangannya dengan malu-malu. “Jangan, kak… Mey malu!” sahutnya.

Tingkahnya membuatku makin gemas dan bernafsu saja. “Ayolah, Mey… kakak penasaran nih,” desakku, lalu dengan cepat berjongkok di depannya. Kuraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke mukaku.

Pada mulanya Meyda agak memberontak dan menolak, namun saat kupandang wajahnya sambil tersenyum tulus, akhirnya ia menyerah pasrah.  Jemari tanganku segera bergerak menarik celana tidurnya hingga terlepas. Mukaku yang persis berada di depan selangkangannya kini bisa melihat gundukan bukit kemaluan yang masih terbungkus celana dalam putih bersih, tampak sangat menonjol dan mumpluk sekali. Pasti bakal sangat nikmat sekali rasanya.

Meyda menatapku sambil tersenyum, wajahnya tampak memerah menahan malu. Tanpa meminta persetujuannya, dengan gemetar kutarik ke bawah celana dalamnya. Begitu terlepas, bau alat kelamin yang sangat harum langsung menyergap hidungku.  Alamak, indahnya bukit kecil itu. Bentuknya menggembung sedikit memerah, dengan bagian tengah dibelah oleh bibir tipis yang masih tampak rapat. Di bagian atasnya, semak belukar yang tampak rimbun tampak tumbuh subur menyembunyikan biji kecil yang masih tidak kuketahui dimana rimbanya.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan semua itu, tanpa terasa kedua tanganku gemetar melihat pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Ohh, Mey… indahnya!!” hanya itu kalimat yang sanggup kuucapkan untuk menggambarkan perasaanku.

Aku baru tersadar saat kulihat Meyda mulai membuka baju tidurnya, ”Mey,” kupanggil namanya, karena belum hilang rasa kagetku melihat keindahan selangkangannya, ia sudah akan menyuguhiku keindahan lain dari tubuhnya yang sintal itu.

Tersenyum manis, Meyda terus mempreteli kancing bajunya dan melemparkan kaos itu begitu saja ke lantai saat sudah terlepas. Selanjutnya ia meraih ke belakang untuk membuka kait bh-nya, padahal masih terbungkus bh saja payudaranya sudah nampak begitu indah, apalagi kalau sudah dilepas.

Jawabannya kuperoleh tak lama kemudian saat bh-nya juga jatuh ke lantai, pukk… aku langsung melongo dan jatuh terduduk menyaksikan sesosok bidadari yang telanjang di depanku. Buah dada Meyda ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira dua kali bola tenis, warnanya putih bersih dengan puting kecil kemerahan menghiasi bagian puncaknya yang ranum. Aku tak pernah mengira kalau kecantikannya akan ditambah oleh keindahan tubuh yang sangat sempurna, sungguh sangat luar biasa.

“Mey, k-kamu…” aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, hanya batang penisku yang semakin ngaceng berat yang menunjukkan kalau aku masih hidup.

Masih tetap tersenyum, Meyda mengulurkan kedua tangannya kepadaku dan mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama berpisah, sama-sama telanjang dan sama-sama saling menginginkan.

“Kak, Mey sudah siap… Mey akan serahkan semua milik Mey sebagai bukti pengabdian Mey kepada kakak.” bisiknya di telingaku.

Aku terharu, kurangkul tubuhnya yang telanjang begitu mesra. Badanku langsung seperti kesetrum saat kulit telanjang kami saling bersentuhan. Apalagi ketika payudara Meyda yang bulat dan padat menekan lembut permukaan dadaku. ”Aah…” tak terasa aku jadi merintih nikmat.

Jemari tanganku segera mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus kurasakan, membuatku jadi tak sanggup menahan gejolak birahiku. Dengan penuh nafsu segera kuraih tubuh sintal Meyda dan kurebahkan diatas kasur. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tidak kentara dari luar.

Jantungku berdegup kencang saat mulai menaiki tubuh sintalnya, Meyda memandangku tetap dengan senyumnya yg manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, tak sabar untuk segera memasuki lorong vaginanya.

“Buka pahamu, Mey… kakak ingin menyetubuhimu sekarang.” bisikku penuh nafsu. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting mungil yang berwarna coklat kemerahan. Aku segera menjamahnya sambil menusukkan batang penisku ke celah bukit kemaluannya. Kurasakan liang vaginanya begitu hangat dan lunak.

”Ahh…” suaraku bergetar saat ujung penisku mulai mengelusi permukaannya, sebelum selanjutnya menelusup diantara celahnya yang sempit. “Mey, kakak masukkan sekarang yah… nanti kalo sakit, bilang…” bisikku sambil mulai mendorong pelan.

“Pelan-pelan, kak…” sahutnya pasrah. Dia memeluk pinggangku sambil memejamkan kedua matanya seolah menungguku.

Tusukanku yang pertama gagal, aku tidak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tidak memungkinkan untuk itu, tapi aku terus berusaha… kucoba untuk menelusup lewat celah bagian atas, namun setelah kutekan, ternyata jalan buntu.

“Agak ke bawah, kak…” Meyda memberi petunjuk.

Kutekan agak ke bawah, ”Disini?” tanyaku.

”Ahh… kurang ke bawah dikit!” sahutnya.

Aku turunkan lagi.

”Hmm… yah disitu, tekan disitu, kak.” perintahnya.

Akupun mendorong. Benar, mulai terasa masuk sedikit.

”Auw! Pelan-pelan, kak… sakiiit!!!” Meyda memekik kecil sambil menggeliat kesakitan.

Segera kupegangi pinggulnya agar tidak banyak bergerak. Dengan keberhasilanku menemukan celah vaginanya, tugasku kini jauh lebih muda. Akupun mulai menekan lagi, kali imi lebih pelan. Meski begitu, tetap saja Meyda merintih kesakitan.

”Hhgg… sakit, kak!” pekiknya.

Tapi aku tidak ingin menyerah, sambil mencium bibirnya agar ia terdiam, kupaksa kepala penisku untuk menelusup lebih dalam lagi. Terasa sangat sempit dan basah disana.

“Tahan, Mey… kakak masukin lagi,” bisikku penuh konsentrasi.  Mulai kurasakan kenikmatan saat kepala penisku berhasil menerobos masuk, dan langsung terjepit kuat di liang vagina Meyda.

“Auw, Kak… sakiiiiit…” lagi-lagi Meyda menjerit, tubuhnya menggeliat penuh penderitaan. Aku berusaha menentramkannya dengan mengecup kembali bibir mungilnya yang basah memerah, kulumat dengan perlahan.

”Tahan, sayang… baru kepalanya yang masuk,” jelasku. ”Kakak tekan lagi ya?” aku bertanya, dan tanpa menunggu jawaban kutusukkan penisku lebih dalam. Jeleebb…

”Auw!” Meyda berusaha menggigit bibir untuk meredam teriakannya.

“Tahan, sayang…” bisikku.

Meyda hanya mengangguk perlahan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat sambil kedua tangannya memegangi punggungku kuat-kuat. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa menekan ke bawah. Aku menahan napas sambil memajukan pinggulku kembali, tapi mentok, aku seperti membentur sesuatu. Semakin kutekan, semakin terasa menghalangi. Apakah ini selaput dara-nya?

Meyda memandangku dan mengangguk, seperti membenarkan apa yang kupikirkan.

Kukecup lagi bibirnya dan kudorong pinggulku semakin kuat. Ayo, aku tidak boleh kalah. Setelah beberapa kali usaha, serta diiringi teriakan Meyda yang semakin keras, akhirnya akupun berhasil. Creek… kurasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang vagina Meyda. Dan selanjutnya, seperti sudah bisa diduga, penisku pun bisa meluncur masuk dengan begitu mudahnya.

”KAKAK!!!” Meyda menjerit saat keperawanannya kurenggut, sementara aku melenguh nikmat merasakan jepitan vaginanya yang begitu kencang dan kuat. Dinding-dindingnya terasa hangat dan licin saat membungkus batangku, namun cengkeramannya begitu dahsyat, seakan-akan tidak ingin punyaku keluar dengan utuh. Di sela-sela tautan alat kelamin kami, kulihat beberapa tetes darah mengalir keluar membasahi sprei.

Aku menarik sedikit batangku, lalu kembali menekan…

”Hhggh… kak!!” Meyda kembali menjerit kesakitan, namun aku tak peduli. Aku sudah merasa enak, tanggung kalau harus berhenti sekarang.

”Maafkan kakak, Mey… tahan sebentar ya?” bisikku di telinganya.

Tidak menjawab, Meyda memejamkan matanya semakin rapat. Sementara sebutir air mata kulihat menetes di sudut kelopaknya. Aku harus cepat, kalo tidak istriku yang cantik ini akan terlalu lama menderita. Maka segera kupegang pinggul Meyda dan mulai kugoyang pinggulku perlahan-lahan.

“Ooh…” aku merintih keenakan, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Meyda yang luar biasa. Sementara Meyda hanya merintih-rintih sambil memandangku sayu. Bibirnya bergetar, seperti ingin berucap sesuatu, namun tidak jadi dan akhirnya malah tersenyum kepadaku.

“Kak, Mey sudah tidak perawan lagi sekarang.” bisiknya lirih sambil tersenyum.

”Tidak apa-apa,” kutatap dengan bangga istri tercintaku itu, ”Kakak sekarang juga tidak perjaka lagi,” balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum. Kuusap mesra wajah Meyda yang masih terlihat menahan sakit setiap kali menerima tusukanku.

“Gimana rasanya, kak, enak?” bisiknya mesra, rupanya dia sudah mulai bisa menerima kehadiran penisku di rongga vaginanya.

“Enak, May… nikmat sekali… ouhh… selangit pokoknya,” sahutku sambil mencium bibirnya dengan penuh nafsu, dan Meyda membalas tak kalah nikmatnya. Kami saling berpagutan lama sekali sambil pinggulku terus bergoyang pelan menyetubuhinya.

”Kak, ugh…” Meyda merintih dalam cumbuanku, beberapa kali ia sempat menggigit bibirku, namun sama sekali tak kupedulikan. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit kuat batang penisku, seakan mengenyotnya. Ketika batangku kegerakkan semakin cepat, terasa daging vaginanya seolah mencengkeram lebih kuat, nikmatnya sungguh sangat luar biasa. Aku sampai mendesis panjang karena saking enaknya.

”Aaahhhhh…” jeritku, air mani mulai kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar. Betapapun kutahan dan kualihkan, tetap tidak bisa. Terpaksa aku harus merelakannya untuk menyemprot duluan.

”Mey, kakak mau keluar…” bisikku di telinga Meyda.

Dia membuka matanya dan menatapku, ”Keluarin aja, kak… di dalam punya Mey, tidak apa-apa.” sahutnya.

Aku pun tidak sanggup bertahan lagi. Dengan satu teriakan keras, aku meledak. Spermaku menyembur berhamburan di liang vagina Meyda yang kini sudah tidak perawan lagi.

MIRNANI

“Naik ojek di dktmu itu, minta dia antar ke warnet yg biasa. Qt ktm di sana. Jngn tkt, di sn bnyk org.”
Miriani membaca SMS itu di HPnya. Dia takut mengikuti perintah pengirim SMS itu. Tetapi dia takut kalau menolak. Sebab, si pengirim mengancam membongkar penyelewengannya.
Sebetulnya bukan penyelewengan besar. Sebagai sekretaris yayasan pendidikan, dia menjalin kerjasama antara sebuah bank untuk menampung pembayaran SPP siswa. Wajar kalau bank memberinya fee tiap bulan sekian persen dari SPP yang masuk lewat rekening bank itu. Tetapi, salahnya Miriani, dia mengambil fee itu untuknya pribadi. Pihak Yayasan tidak diberitahunya.
Si pengirim SMS ini, entah darimana mendapatkan surat perjanjian kerjasama antara dia pribadi dengan pihak bank. Takut rahasianya kebongkar, Miriani nurut saja waktu lelaki itu meminta sejumlah uang kepadanya. Uang itu akan diantarnya ke tempat mereka janji bertemu, di sebuah warnet…..
Cuma 15 menit perjalanan, tapi Miriani menghabiskan waktu itu dengan menulis SMS di HPnya, memberitahu pemerasnya bahwa dia sudah di atas ojek. Serius betul dia dengan tombol-tombol keypad, sampai tidak menyadari Bang Amir, si tukang ojek, memberi kode kepada mobil APV di belakangnya.

payudara besar montok (1)
Miriani baru kaget ketika Bang Amir tiba-tiba menghentikan motornya karena APV tadi tiba-tiba nyalip dan berhenti dengan memepetnya. Miriani cepat melompat turun. Apalagi ia melihat seorang lelaki beringas tiba-tiba turun dari APV dan langsung menghampirinya.
“Ayo Bu, ikut mobil. Di warnet terlalu banyak orang,” katanya.
Karena terkejut, perempuan 30-an tahun itu hanya terdiam di tempat. Ia baru sadar ketika pergelangan tangannya disambar dan setengah diseret ke dalam mobil. Miriani meronta, tetapi sia-sia.
Ibu muda itu didorong dengan kasar ke dalam mobil. Tubuhnya yang cenderung kurus terdorong keras ke arah seorang lelaki yang duduk di jok tengah. Miriani menjerit sejadinya saat lelaki itu memeluknya. Miriani berontak lalu beringsut ke dekat jendela. Bulu kuduknya berdiri mengetahui di dalam mobil itu sudah ada 4 lelaki. Dua duduk di jok depan, dua lagi di tengah bersama dirinya.
“Duitnya dibawa Bu ?” kata lelaki yang tadi memeluknya dan kini menepuk paha Miriani.
Miriani menepis tangan lelaki itu. Ia cepat membuka tasnya dan mengeluarkan amplop lalu menyerahkannya ke lelaki itu. Lelaki dengan kumis yang tampak tak terawat itu segera menghitung isinya.
“5 juta fren…… ” katanya kepada kawan-kawannya.
“Sudah, sekarang turunkan saya !” kata perempuan berkulit hitam manis itu dengan ketus.
“Kayaknya 5 juta masih kurang ya teman-teman ?” lelaki itu tiba-tiba berkata.
“Maksud lo apa Dul ?” sahut si beringas yang tadi menyeret Miriani ke mobil. Kening Miriani sendiri berkernyit. Dia menunggu jawaban Dul.
“Maksudnya, kita bisa dapat lebih dari 5 juta dari nyonya cantik ini, Bon !” sahut Dul.
“Nggak…. 5 juta udah cukup. Nggak ada lagi !” sergah Miriani.
“Bukan duit juga nggak apa-apa,” timpal Dul sambil cengengesan. “Ini misalnya….” lanjut Dul.
“Eeeehhh…. apaan ini ??!!!” Miriani memiawik. Matanya melotot, saat Dul dengan lihainya tahu-tahu mencomot payudara kirinya dari luar jilbabnya. Miriani berkelit, tapi akibatnya payudaranya malah terasa seperti dibetot dan ngilu luar biasa. Dul juga tak melepaskan cengkeramannya pada payudaranya yang tak seberapa besar. Miriani kini mulai merintih kesakitan….
“Aduh…. ampun…. sakit…. lepaskan… kalian mau apa ?… aaakhhh…” Miriani merintih di tengah pekik marah bercampur takutnya.
Perempuan beranak tiga itu bergidik. Si Bon cuma menonton aksi Dul.
“Udahlah Dul, udah tua gitu. Paling memiawnya juga udah lebar. Toketnya juga udah kendor,” kata-kata si sopir cukup melegakan Miriani meski dia risih dengan istilah yang digunakannya.
“Kagak Jing, toketnya biar kecil tapi masih kenyel juga,” sahut Dul sambil terus meremas-remas payudara Miriani. Miriani mulai menangis karena tak bisa melepaskan tangan Dul dari payudaranya. “memiawnya udah lebar apa nggak, kan bisa kita cek dulu…. Kalo udah lebar sih gua juga kagak doyan,” lanjutnya.
Miriani makin ketakutan mendengar kata-kata “cek”. Ia tambah ketakutan ketika Bon berlutut di sisinya. “Bener lo Dul, kita cek dulu memiaw perempuan ini,” katanya, sambil tangannya menangkap payudara kanan Miriani.
Sia-sia Miriani menjerit, meronta, menangkis….. Si Bon yang berbadan besar kini malah menelikung kedua tangannya ke belakang tubuhnya, lalu mengikatnya dengan tali rafia.
“Biar gampang ngeceknya Dul,” kata Bon sambil merebahkan jok yang diduduki Miriani. Kedua tangan kekarnya kini meremas-remas sepasang payudara Miriani yang masih tertutup jilbab dan blousenya.
Sementara di depannya, Dul berlutut di antara dua kakinya. Miriani menjerit dengan suara parau ketika lelaki itu memasukkan tangannya ke balik rok panjangnya. Dengan gerakan kilat, lelaki itu berhasil menarik lepas celana panjang Miriani sekaligus celana dalam katunnya yang berwarna putih.
Wajah Miriani yang sawo matang jadi pucat pasi. Ia hampir menangis melihat lelaki itu menggodanya dengan menciumi celana dalamnya.
“memiaw Mbak Miriani harum…. pasti enak ngejilatinnya…” kata lelaki itu sambil menjilati bagian muka celana dalam Miriani.
“Kamu mau cium bau memiawmu sendiri ?” lelaki itu lalu menyodorkan celana dalam Miriani ke wajahnya. Miriani melengos sambil mulai terisak. Namun tiba-tiba lelaki itu dengan kasar menyumpal mulut Miriani dengan celana dalamnya.
Dengan kasar pula, ia menyingkap jilbab Miriani, merobek bagian muka blusnya dan mengeluarkan payudara kanan Miriani dari bra-nya.
“Mmmmffff….nnngghhhh…. mmmffff….” Miriani menjerit di balik sumbat mulutnya.
Putingnya dijepit dua jari lelaki itu dengan kuat, ditarik dan diguncang-guncangkan. “Ayo mengerang, merintih…. nangis…. gue pengen denger perempuan kayak lo merintih-rintih….” bentaknya.
“Lo lihat Bon, tetek cewek ini masih lumayan seger kan ?” katanya. Bon manggut-manggut. Dua temannya di depan juga menoleh ke belakang.
Puting Miriani terlihat gepeng ketika lelaki itu menariknya menjauh dan dengan tiba-tiba melepaskannya. Dari kedua mata Miriani mengalir deras air mata.
“Gue mau lihat memiaw lo !” lelaki itu kemudian melucuti rok panjang Miriani. Perempuan priangan itu terisak-isak. Dia begitu shock mendapat serangan tersebut.
Bagian bawah tubuhnya telanjang kini. Kontras dengan kepalanya yang terbungkus jilbab panjang.
“Mmmmff… mmffffff….” Miriani mengerang lagi ketika kedua kakinya ditarik berlawanan oleh dua lelaki di sebelahnya. Otomatis, kini selangkangannya terbuka lebar, memperlihatkan vaginanya yang berbulu tipis.
Tanpa ba bi bu, lelaki di depannya langsung menusukkan telunjuk ke liang vagina Miriani. Karuan saja Miriani melotot. Tubuhnya mengejang. Telunjuk yang gemuk itu lumayan menyakiti vaginanya yang kering.
“Lihat fren…. memiawnya masih seger dan rapet kan ?” kata Dul. Semua melihat, bibir vagina Miriani berkemut-kemut seperti menarik telunjuk Dul ke dalam.
Sakit dan terhina, itulah yang dirasakan perempuan dewasa ini. Telunjuk lelaki itu masih berputar-putr di dalam vaginanya. Bon kini malah betul-betul merenggut bra-nya sampai putus. Dia langsung asyik dengan kedua puting Miriani.
Tubuh Miriani bergetar merasakan kedua putingnya diserang Bon. Itu berakibat pada keluarnya secara alami cairan di vaginanya…..Telunjuk Dul di dalam vagina Miriani mulai merasakan keluarnya cairan. Dijelajahinya terus setiap inchi bagian dalam vagina perempuan dewasa itu.
Miriani memejamkan matanya. Nafasnya mulai memburu oleh rangsangan yang tak bisa ditolaknya. Sekali ia memiawik dan matanya melotot saat lelaki yang sedang mempermainkan vaginanya menyusul memasukkan jari tengahnya. Dengan dua jari, digaruknya bagian dalam dinding depan vaginanya. Sementara lelaki yang sedang menetek padanya merasakan putingnya makin mengeras.
Perlahan dua jari itu digerakkan maju mundur di dalam vagina Miriani.
“Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tiada duanya di dalam memiawmu ini…” katanya sambil mulai menambah laju gerakan tangannya.
Suara kocokan di vagina Miriani mulai keluar. Miriani menggigit bibirnya, berusaha menahan keluarnya rintihan, erangan atau desahan. Miriani tahu, suara itu justru membuat pemerkosanya makin bergairah.
Tetapi, rangsangan di vagina dan kedua putingnya begitu kuat. Miriani menyerah. Perlahan dari bibir tipisnya mulai keluar erangan. Mula-mula seperti erangan kesakitan, tetapi kemudian berubah menjadi rintihan perempuan binal yang tengah menuju puncak kenikmatan….
“Ahh…ah…ah… ounghhh… ahhh…. nnnggg,,,, mmmfff…” erangan Miriani makin membuat lelaki yang mengaduk-aduk vaginanya makin bernafsu. Apalagi kini dua jarinya sudah betul-betul basah oleh cairan dari vagina ibu muda itu.
Pada satu titik, lelaki itu mendorong jauh-jauh kedua jarinya ke vagina Miriani lalu mendiamkannya. Yang terlihat kemudian sungguh luar biasa. Perempuan berjilbab itu justru menggoyang-goyangkan pinggulnya sendiri, seperti tengah mengejar puncak kenikmatannya.
“Ayo terus Mbak…. goyang terus….terus….” goda lelaki itu.
Miriani tampaknya tak peduli. Ia pejamkan mata, gigit bibir dan akhirnya memiawik seperti histeris ketika mencapai orgasmenya. Seluruh tubuhnya mengejang.
Tetapi, ia tak bisa sepenuhnya menikmati orgasmenya. Sebab, saat ia memiawik puas, lelaki di depannya dengan kasar mencabuti helai demi helai rambut kemaluannya….
Wajahnya kini merah padam. Di depannya, lelaki yang mengaduk-aduk vaginanya menggoda dengan menjilati kedua jarinya yang berlendir.
“Dasar perek…. diperkosa kok bisa orgasme !” kata lelaki itu.
Nafas Miriani masih tersengal-sengal saat lelaki itu tahu-tahu menyurukkan wajah ke vaginanya. Lalu dengan buas menjilati dan menguyah vagina Miriani…. Miriani terpeki-pekik merasakan liang vaginanya dilebarkan lalu lidah lelaki itu menjulur jauh ke dalam.

payudara besar montok (2)
“Sebentar lagi yang masuk ke sini adalah tongkol-tongkol,” kata lelaki itu dengan kumis dan jenggot yang belepotan lendir vagina Miriani. Miriani menengok keluar jendela. Mobil sudah berhenti di dalam sebuah ruangan bercahaya remang-remang. Pintu samping mobil terbuka. Miriani tahu, bencana besar bakal menimpa kehormatannya…..
Jing, si sopir, melotot memandangi pangkal paha Miriani yang terkangkang. Vagina perempuan itu tampak mengkilap oleh liur Dul maupun cairan vaginanya sendiri. Miriani mencoba mengatupkan pahanya ketika tangan Jing terulur, tapi Dul dan Bon menahannya.
“Eungghhhhh….” erangan terdengar lagi dari bibirnya yang tersumpal celana dalamnya sendiri. Jing tanpa basa basi menusukkan dua jarinya ke lubang vagina Miriani.
Miriani melengos ketika melihat Jing mengeluarkan telunjuk dari liang vaginanya lalu mengoleskan telunjuknya yang berlendir itu ke kedua putingnya.
“Lumayan…. ayo bawa masuk. Bener kata Dul. kita bisa dapat lebih dari 5 juta,” katanya.
Miriani memaki-maki ketika diseret keluar mobil. Berjuta perasaan mengganggu benaknya. Malu, takut dan marah bercampur jadi satu. Dengan tangan terikat, tubuh telanjang dan jilbab di kepala, Miriani yakin empat lelaki ini akan membuatnya lebih terhina lagi. Tetapi, Miriani tidak betul-betul tahu apa yang akan terjadi di balik pintu itu…..
Ruangan pertama yang dimasuki adalah lorong gelap yang lumayan panjang. Miriani melihat di ujung lorong ada ruangan dengan cahaya yang amat terang. Lorong ini cukup sempit. Cuma cukup untuk dua orang berjalan beriringan. Perempuan berkulit hitam manis ini terpaksa berkelit berkali-kali karena tangan-tangan jahil 4 lelaki yang membawanya ini selalu saja menjamah bagian-bagian pribadinya.
Malah ada yang menjambak rambut kemaluannya, seperti penggembala menarik tali pengikat hewan ternaknya. Mau tak mau Miriani mengikuti kemana lelaki itu berjalan. Kulit vaginanya jelas terasa pedih sekali….
Sulit bagi Miriani untuk menghindar dengan tangan terikat begini. Dia menggigit bibirnya ketika dari belakang tangan Jing meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya.
“Aaarrhh…. sakit tau !” Miriani menoleh ke belakang sambil memaki lantaran pilinan pada putingnya menyakitinya.
Ruangan bercahaya terang itu ternyata sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan karpet tebal berwarna kuning. Lampu di ruangan itu memang terang sekali. Tentu saja itu membuat Miriani jadi jengah. Empat lelaki di ruangan itu jadi leluasa memandangi sekujur tubuh telanjangnya. Miriani mencoba merapatkan kedua pahanya dan berpaling ke arah lain. Namun, keempat lelaki itu kini berdiri mengelilinginya. Baru saat itulah Miriani sadar, ternyata lelaki yang duduk di sebelah sopir yang sejak tadi diam adalah Prapto, petugas bank yang menjalin kerjasama dengannya.
“Pak Prapto….” kata Miriani dengan lidah tercekat.Dia teringat lelaki setengah baya yang selalu menggodanya saat proses kerjasama itu. Setengah mati dia berusaha tetap profesional meski Prapto terus berusaha mengajaknya sedikit bersenang-senang.
“Iya Mbak, saya nggak bermaksud begini lho. Saya cuma pingin 5 juta itu aja,” katanya.
“Kalo gitu…. lepasin saya pak, tolong…” kata Miriani memelas. Dia jengah dengan pandangan Prapto ke dada dan selangkangannya.
“Tadinya begitu Mbak. Tapi setelah melihat memek Mbak….. saya pikir saya harus nyobain dulu,” sahut Prapto sambil menangkupkan telapak tangannya ke selangkangan Miriani. Karuan saja Miriani berusaha menghindar. Tapi dengan tangan terikat dan dikelilingi 4 lelaki, apa yang bisa dia perbuat selain memaki-maki.
Prapto sambil tersenyum-senyum terus meremas-remas vagina perempuan matang itu. Belakangan, jari tengahnya malah mulai menyusup ke liang vagina Miriani yang lembab.
“Aaakhh… lepasin pakkk !!! Kurangajarrrr…..” perempuan itu menjerit histeris saat bibir Prapto menangkap sebelah putingnya, lalu mengenyotnya seperti bayi yang kehausan……
Miriani menarik nafas lega waktu Prapto melepaskan putingnya. Namun ia melengos saat Prapto menunjukkan jari tengahnya yang berlendir dan menjilatinya di depan perempuan malang itu.
“memek Mbak gurih. Kita pingin main-main sebentar mbak. Mbak nikmatin aja ya….” kata lelaki itu sambil melepas ikatan tangan Miriani.
Begitu ikatan di tangannya terlepas, Miriani dengan segera mengulurkan jilbabnya ke depan dadanya. Lumayan untuk mengurangi rasa malunya. Namun, jilbab itu tak cukup panjang untuk menutupi pangkal pahanya. Perempuan itupun menyilangkan kakinya dan menutupi pangkal pahanya dengan kedua tangannya. Tapi dari belakang, pantatnya yang bulat dan padat masih jadi pemandangan yang indah. Si Jing bahkan tak bisa menahan diri untuk meremas pantatnya. Miriani memekik.
Tak disangka, Prapto melemparkan cd dan bra kepadanya. Cepat-cepat Miriani mengenakan kembali pakaian dalamnya itu. Apalagi Dul terlihat menggunakan kamera HP untuk merekamnya. Perasaan Miriani agak lega, setidaknya kini payudara dan vaginanya tidak lagi telanjang. Tapi ia tetap belum merasa nyaman. Penampilannya dengan jilbab dan hanya cd dan bra pasti sangat menarik lelaki manapun.
“Keren banget Mbak… Gw sampe ngaceng nih,” kata si Dul. Miriani melengos melihat Dul mengeluarkan penisnya yang mengacung dari balik celananya.
Miriani lebih lega lagi ketika akhirnya Prapto melemparkan rok panjang dan blusnya kepadanya. Di bawah tatapan mata keempat lelaki itu, Miriani cepat-cepat mengenakan kembali bajunya. Dia tampak anggun dengan penampilan seperti itu.
“Urusan kita sudah selesai kan ?” kata Miriani berusaha tegar.
Prapto dan teman-temannya mesam-mesem.
“Belum Mbak….” sahut Prapto.
“Belum ? Maksudnya apa ? Saya sudah kasih 5 juta. Kalian juga sudah melecehkan saya. Kurang apa lagi ?” katanya dengan wajah memerah karena marah.
“Kami kan belum ngerasain memek Mbak yang cantik….” sahut Prapto. Kalimat itu bagai petir di telinga Miriani sampai-sampai ia tak bisa berkomentar. “Ayo, dibuka lagi bajunya. Jilbabnya nggak usah. Kamu lebih nafsuin kalo pake jilbab,” lanjut Prapto.
Miriani terdiam. Tangannya reflek menyilang di depan dadanya. Si Dul masih terus merekam.
“Cepet buka Mbak. Roknya dulu. Ayo cepet…. kalo nggak, kita keroyok baju lo malah sobek-sobek loh !” lanjut Prapto.
“CEPAAAAT !!!!” Tiba-tiba Prapto membentak. Miriani sampai terkejut setengah mati. Dengan ketakutan dia mulai melepaskan lagi rok panjangnya…..
Dul berdiri mendekatinya dan merekam dari segala sudut saat Miriani melepaskan lagi blus, lalu cd dan branya. Air mata menitik dari kedua sudut bola matanya. Tertekan, Miriani membiarkan tangan Dul menyentuh vaginanya, menusukkan telunjuknya ke dalam liangnya yang lembab. Dibiarkannya pula Dul menarik-narik sebelah putingnya.
Miriani melihat 4 lelaki di depannya sudah melepas celana mereka. Keempat lelaki itu asyik mengurut-urut penis mereka yang mulai menegang.
“Sini Mbak, merangkak ke sini,” kata Prapto.
Miriani menggeleng-geleng. “Nggak…please, jangan lakukan ini Pak Prapto. Kita bisa deal soal uang,” kata perempuan itu.
“Sama aja Mbak. Kalau Mbak nggak ke sini merangkak, kami yang akan ke situ dan memaksa Mbak nungging. Pilih mana ? Ke sini aja deh…. tolong isepin kontolku,” lanjut Prapto.
“Nggak…. nggak mau…” Miriani menggeleng-geleng. Telapak tangannya berusaha menutupi vaginanya.
“Kalo gitu kita terpaksa perkosa kamu dengan kasar !” sahut Prapto sambil berdiri diikuti teman-temannya.
Miriani panik. Tetapi ia tidak bisa lari kemana-mana. Akhirnya, perempuan dewasa ini pun tersudut ke dinding. Jing dan Dul menangkap kedua pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan. Prapto langsung meremas vaginanya yang kini terbuka. Miriani memaki-maki dan berusaha menendang. Tapi Prapto meremas vaginanya makin kuat. Akhirnya jerit kemarahan Miriani mulai berubah jadi jerit kesakitan. Apalagi si Bon menjepit kedua putingnya dengan telunjuk dan ibu jari. Bon menarik kedua puting Miriani ke arah bawah sehingga terpaksa perempuan itu menundukkan badannya.
“Ayo nungging !” katanya sambil terus menarik kedua putingnya. Air mata Miriani mengalir deras.
Prapto sudah menempatkan diri di belakang Miriani. Ditendangnya belakang lutut perempuan itu hingga Miriani terpaksa berlutut. Ditambah tarikan di kedua putingnya, jadilah kini posisinya nungging. Bulatan bokongnya jadi pemandangan indah bagi Prapto.
“Aaarrrhhhh…..” Miriani menjerit saat Prapto tanpa basa-basi langsung menusukkan dua jari ke liang vaginanya.
“Kalau kamu nurut, kami bisa kasih kamu kenikmatan. Tapi kamu kayaknya emang seneng diperkosa,” katanya sambil memutar-mutar jarinya di dalam liang vagina perempuan itu.
Prapto kemudian menempatkan diri di belakang Miriani. Direnggangkannya sedikit kedua pahanya. Miriani bergidik, dia tahu musibah besar kini menimpanya. Pintu liang vaginanya terasa sudah ditekan sesuatu yang keras dan panas.
“Rasakan nih kontol Prapto !” Prapto tiba-tiba mendorong penisnya ke depan dengan kasar. Miriani sampai menjerit melengking, kepalanya menengadah, matanya terpejam menahan sakit. Vaginanya terasa seperti koyak.
Prapto mencengkeram pinggul Miriani dan meneruskan sodokannya yang mantap tapi kasar itu. Setiap gesekan penis Prapto di dinding vaginanya terasa bagai sayatan silet bagi Miriani. Pekik dan rintihan tangis Miriani bagai musik indah di telinga para pemerkosa itu.
Kedua tangan Miriani yang sudah tidak dipegangi lagi menggapai-gapai ke belakang, mencoba mendorong Prapto menjauh. Tapi sia-sia. Kini kepalanya malah dipegangi dengan dua tangan oleh Jing. Wajah panik Miriani kini menghadap tepat ke depan penis Jing yang mengacung. Bahkan, hidung mancung dan bibir indahnya kini seperti tertampar-tampar oleh ujung penis lelaki itu.
“Ayo mbak, isep kontol gue. Makin cepet lo nurut, makin cepet lo pulang,” katanya. Miriani mencoba membantah, tapi dagunya dicengkeram sampai akhirnya ia terpaksa membuka mulutnya. Miriani memejamkan matanya saat penis Jing menerobos bibirnya. Ini untuk pertama kalinya dia mengulum penis dalam hidup.
Sakit dan kelelahan melawan dengan sia-sia, Miriani akhirnya mulai pasrah. Ia cuma berharap Prapto dan Jing segera selesai. Tapi masih ada dua lelaki lain yang saat ini sedang asyik bermain-main dengan payudaranya yang menggantung berayun-ayun.
Kulit Miriani sawo matang, tapi kulit pantatnya jadi tampak memerah karena dicengkeram Prapto selama pemerkosaan itu. Sepasang payudaranya yang masih lumayan kenyal juga memerah. Ada bekas cupangan di dekat kedua putingnya.
Suara kocokan penis Prapto dengan vagina Miriani dipadu suara beradunya pangkal paha Prapto dengan bokong bundar Miriani betul-betul menggairahkan. Apalagi ditambah dengan rintihan dan gumaman dari bibir Miriani yang terbungkam penis Jing.
Tiba-tiba suara tadi meningkat intensitasnya. Tampaknya Prapto bakal segera sampai ke puncak. Dia menggeram dan mulai ngoceh tak karuan.
“Cewek sialan…. rasain nih…. gue buntingin lo…. rasain nih…. gue sobek-sobek memek loooooo…. grrrhhhh…” Prapto seperti orang kesetanan. Pada saat bersamaan, Miriani mengerang panjang dan memilukan.
Prapto menarik pinggul Miriani merapat ke dirinya. Seolah dia ingin memasukkan seluruh tubuhnya ke liang vagina perempuan dewasa itu. Miriani merasakan vaginanya yang pedih disirami cairan panas. Tetapi, dia masih belum bisa bernafas lega. Jing tampaknya juga bakal mengakhiri perkosaan atas mulutnya…. Betul saja, lelaki satu ini terdengar menggeram. Kepala Miriani yang berjilbab dipeganginya erat-erat dengan kedua tangannya. Tampaknya ia berusaha memasukkan penisnya sejauh mungkin ke kerongkongan perempuan hitam manis itu.
Miriani berusaha untuk tidak menelan cairan kental berbau khas itu. Tapi mustahil baginya. Dia kesulitan bernafas karena Jing tak juga menarik keluar penisnya yang terasa mulai mengecil. Dan akhirnya Miriani terpaksa membiarkan sperma Jing melewati kerongkongannya. Setidaknya itu tidak bakal membuatnya hamil, tidak seperti yang ditumpahkan Prapto ke dalam rahimnya.
Prapto lebih dulu menarik keluar penisnya dari vagina Miriani. Penisnya yang sudah loyo terlihat berlepotan sperma. Dari celah vagina Miriani yang perlahan mengatup kembali tampak cairan putih kental yang meluber keluar, mengalir ke salah satu sisi pahanya.
PLAKKKKK….. Prapto mengakhiri perkosaannya dengan tamparan keras ke salah satu bulatan pantat Miriani.
“Lumayan untuk ukuran perempuan tigapuluhan tahun….” katanya.
Tak lama kemudian Jing juga menarik keluar penisnya dari mulut Miriani. Didorongnya jidat perempuan berjilbab itu hingga Miriani tersungkur. Miriani terbatuk-batuk sebentar, beringsut ke sudut ruangan, menekuk tubuhnya dan terisak-isak. Dia ingin segera pulang. Tapi Bon dan Dul kini melangkah mendekatinya. Tubuh Miriani menggigil, tak sanggup membayangkan dirinya harus melayani dua lelaki kasar lagi……
Miriani terisak-isak. Dua lelaki itu kini berlutut di sisinya. Ia terlalu lelah dan sakit untuk melawan. Dibiarkannya Dul dari belakang menyentuh bibir vaginanya. Membelek-beleknya, mencoba mengeluarkan sperma Prapto dari dalamnya. Sementara Dul mencolek setitik sperma di sudut bibir Miriani dengan ujung telunjuknya.
“Masih kuat kan mbak ?” kata Dul sambil mengoleskan ujung telunjuknya itu ke puting kanan Miriani.

payudara besar montok (3)
Miriani menggigit bibirnya. Di wajahnya jelas terpancar lebih banyak ketakutan dibanding kemarahan. Miriani mencoba menepis telunjuk dan ibu jari Dul yang kini memilin puting yang barusan diolesi sperma itu. Tetapi Dul malah memperkeras jepitannya pada daging mungil berwarna gelap itu.
Tiba-tiba Miriani menjerit kecil. Penyebabnya, Bon mengangkat sebelah tungkainya. Akibatnya, kini area vaginanya terbuka luas. Terlihat jelas vaginanya yang memerah. Rambut kemaluannya tak terlalu lebat. Bibir vaginanya masih terlihat mengkilap karena lelehan sperma Prapto.
Miriani tak bisa mengatupkan kakinya, sebab Bon meletakkan kaki perempuan itu di pundaknya. Ini posisi yang amat memalukan buat perempuan baik-baik seperti Miriani. Miriani terbayang wajah 3 anak perempuannya, berharap mereka tak mendapat perlakuan hina seperti dirinya.
“Tolong… jangan lagi… saya akan penuhi permintaan kalian….ughhh…. tapi…ihhh… tolong…lepasin saya….eungghhhh….” Miriani mencoba merayu. Tapi Bon malah asyik mencomot sebelah labia mayora Miriani dan menarik-nariknya seperti guru menjewer telinga murid.
Miriani merasa amat risih ketika Bon memasukkan dua jempolnya ke liang vaginanya. Lalu, kedua jempol itu ditarik ke arah berlawanan hingga liang vaginanya membuka lebar. Terlihat bagian dalamnya yang basah dan penuh cairan putih kental. Bon terus lakukan itu tanpa peduli geliatan dan erangan Miriaini. Malah, terakhir dia mulai mengaduk-aduk vagina Miriani dengan dua jarinya.
“Kita bisa lepasin Mbak, tapi janji nurut dulu ya….” katanya.
“Eunghhh… iya…iya….uhhhh….” Miriani cepat-cepat mengangguk. Risih betul dia, sebab Bon dengan telunjuk dan ibu jarinya berusaha memilin-milin klitorisnya.
Bon menarik keluar dua jarinya yang berlumur sperma Prapto, lalu menyodorkannya ke depan wajah Miriani.
“Jilatin ini dulu sampai bersih. Habis ini Mbak kita lepasin, nggak kita entot lagi,” katanya.
Miriani mengernyitkan keningnya. Giginya yang rapi menggigit bibirnya yang seksi. Dua jari Bon menyentuh bibirnya.
“Ayo mbak… dijilatin…” katanya.
Miriani memejamkan matanya yang indah. Perlahan bibirnya membuka, lalu perlahan lidahnya menjulur keluar. Lidah Miriani akhirnya menjilati kedua jari Bon dari pangkal sampai ke ujung, berulang-ulang. Bon bahkan bisa meyakinkan Miriani untuk mengulum kedua jarinya itu. Jing yang tadi menikmati dioral Miriani mendekat dan merekam adegan langka itu dengan handycam. Miriani tak sadar aksinya itu tengah direkam. Keinginan segera pulang membuatnya juga tak peduli dengan Dul yang asyik sendiri menyedot-nyedot putingnya, kanan dan kiri berganti-ganti…
“Bagus Mbak…. jilatan Mbak enak banget. Gimana, rasa sperma enak nggak ?” goda Bon.
“Nggak…” sahut Miriani.
“Kalau gitu, kita coba sekali lagi. Coba dinikmati ya Mbak,” kata Bon dan tanpa izin langsung menusukkan lagi telunjuk dan jari tengahnya ke vagina Miriani, berputar-putar seperti menggaruk dinding dalam vaginanya, berusaha mengeluarkan seluruh sperma yang tadi ditumpahkan Prapto.
Dua jari Bon terlihat kembali berlumur sperma. Disodorkannya ke depan wajah Miriani.
“Cobain lagi Mbak… Yang ini pasti enak,” katanya.
Miriani mau menolak. Tapi keinginan cepat pulang membuatnya tak bisa berpikir jernih. Diulanginya lagi adegan menjilat dua jari berlumur sperma itu. Dikulumnya juga dua jari Bon sampai betul-betul bersih dari sperma Prapto.
Bon menarik keluar dua jarinya yang sudah bersih. Miriani memandangnya dengan wajah sebal.
“Gimana Mbak ? Enak kan ?” godanya.
Khawatir disuruh menjilati jari berlumur sperma lagi, Miriani dengan cepat menjawab, “Enak…”
Keempat lelaki di ruangan itu tertawa mendengar jawabannya.
“Bener enak ?” kata Bon sambil memainkan puting kanan Miriani.
“Iya…” sahut Miriani. Wajahnya yang hitam manis terlihat kemerahan menahan malu.
“Enak mana sama sperma yang kamu minum langsung dari kontol gue ?” tanya Jing.
Miriani menoleh dan kaget melihat Jing tengah merekamnya dengan handycam. Dia cepat melengos.
“Iya Mbak… enak mana ?” Bon menanyakan lagi dengan tekanan suara yang berbeda diiringi pilinan yang diperkuat di puting Miriani.
“Aduh…eh… ihh… enak yang… di jari…” katanya. Wajahnya makin memerah.
Prapto, Dul dan Bon tertawa terbahak-bahak. Jing mencak-mencak.
“Sialan lo…. bilang gak enak tapi lo telen sampe abis juga,” katanya. “Ntar cobain kontol gue di memek lo,” lanjutnya.
Tahu-tahu, Dul berdiri dan mengangkangi wajah Miriani. Penisnya yang mengacung menyodok-nyodok wajah manis Miriani.
“Ayo mbak… cobain punya gue. Pasti lebih enak dari maninya si Jing,” katanya.
Miriani menggeleng-geleng dan mulai terisak-isak lagi.
“Ayo deh Mbak…. biar Mbak cepet pulang,” rayu Bon, lagi-lagi sambil menekannya dengan pilinan di puting Miriani. Dipilin seperti itu, Miriani merasa putingnya seperti ditusuk-tusuk jarum, pedih…. Itu membuatnya makin tak mampu berpikir jernih. Dibukanya bibirnya sedikit. Dul memanfaatkannya dengan baik. Penisnya dengan cepat memenuhi rongga mulut aktivis sebuah partai itu.
Dul sibuk memperkosa mulut perempuan alim berjilbab itu. Bon masih menduduki sebelah paha telanjang Miriani. Sebelah kaki yang lain tersangga di pundak Dul. Penis Bon pun sudah mengacung, menuding vagina Miriani yang mengkilap dengan sisa-sisa sperma. Apalagi yang mungkin terjadi dalam situasi seperti itu ?
Betul ! Bon pun merapatkan pangkal pahanya ke pangkal paha Miriani. Menekan pintu liang vagina Miriani dengan kepala penisnya yang seperti helm tentara. Plop… kepala serdadu itu sudah terjepit di antara labia minora perempuan muda cantik. Miriani yang tengah sibuk berupaya membuat Dul orgasme terkejut menyadari vaginanya bakal dipenetrasi.
“Emmh…emmmhhh….Eummmmfff…. ” Miriani berusaha berontak, meronta, melawan. Tapi semua sia-sia.
Penis Bon dengan perkasa telah menerobos jauh ke dalam vagina Miriani, merasakan remasan dari bagian dalamnya yang lembut. Bon bahkan merasakan kepala penisnya menekan dinding kenyal di ujung terdalam vagina perempuan itu. Dul tak kalah semangatnya dari Bon. Dia ingin Miriani bisa membedakan rasa spermanya lebih nikmat dibanding sperma Jing….
Mengerang, merintih dan memaki di dalam hati. Cuma itu yang bisa dilakukan Miriani. Sampai akhirnya rongga mulutnya dipenuhi cairan pekat. Pandangannya berkunang-kunang ketika Dul memaksanya menelan spermanya. Susah payah, akhirnya Miriani bisa menelan sperma Dul. Hanya berselang beberapa menit, Miriani merasakan Bon dengan kasar mengaduk-aduk vaginanya dan terakhir mendorong tubuhnya sampai pangkal paha keduanya menempel erat. Miriani kembali merasakan cairan hangat memenuhi vaginanya. Sebelum akhirnya tubuhnya lunglai dan ia kehilangan kesadaran.
Keempat lelaki itu membiarkan Miriani tergolek di lantai berkarpet hijau itu setengah jam lebih. Kepalanya
masih berjilbab. Payudaranya yang tak seberapa besar terbuka bebas. Ada bekas lovebites di dekat kedua putingnya yang hitam mengacung. Lovebites juga terlihat di dekat pangkal pahanya. Sepasang pahanya mengangkang lebar. Sperma Bon masih meluber di sela-sela bibir vaginanya yang kemerahan.
“Terus Mas Prapto… kita apain cewek ini ?” tanya Jing sambil mengelus-elus rambut kemaluan Miriani yang tak seberapa lebat. “Gue blom ngerasain memek cewek ini,” lanjutnya.
“Gue juga belon,” timpal Dul. “And… jangan lupa bro, pantat cewek ini masih perawan,” lanjut si Dul sambil mengolesi anus Miriani dengan sperma yang meleleh dari celah vaginanya.
Dul tak berhenti di situ. Dimasukkannya telunjuknya ke vagina Miriani. Lalu, ditariknya telunjuknya keluar. Terlihat telunjuknya betul-betul belepotan sperma. Tanpa banyak bicara, ditusukkannya telunjuknya itu ke anus Miriani. Perlahan tapi pasti telunjuk Dul terbenam ke dalam anus Miriani yang masih tak sadarkan diri. Terlihat Miriani sedikit menggeliat. Rupanya dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya tetap merasakan sakit di anusnya.
“Ya udah, kalo lo masih mau ngentot cewek ini, cepet aja. Sebelum malam dia harus sudah kita pulangin,” sahut Prapto.
“Bangunin dia Jing,” kata Dul kepada temannya. Dia masih asyik dengan vagina dan anus sekretaris berjilbab ini. Jari tengahnya mengaduk-aduk vagina, sementara jari telunjuknya menusuk lubang di sebelahnya.

payudara besar montok (4)
Jing yang gemas melihat wajah innocense Miriani menyeringai. Lalu dengan wajah sadis disentilnya puting kanan Miriani dengan keras. Akibatnya, luar biasa. Tubuh Miriani terlonjak. Mula-mula dari bibirnya terdengar rintihan pelan, lalu tiba-tiba Miriani seperti orang histeris, menjerit-jerit sambil mengusap-usap putingnya. Seperti baru tersadar, ia juga menjerit melihat anusnya tengah diobok-obok Dul….
Dul dan Jing tak berlama-lama membiarkan ibu muda berjilbab itu menjerit-jerit. Dul segera memposisikan perempuan itu dalam keadaan menungging. Sementara Jing dari depan mengangkat dagu Miriani lalu bibirnya langsung melumat bibir seksi perempuan itu. Jeritan Miriani terbungkam menjadi gumaman yang tak jelas. Kalau tak dicium Jing, pasti jerit Miriani makin menjadi saat Dul menancapkan penisnya yang kembali tegak ke vaginanya.
Dul tipe lelaki kasar. Segera saja terdengar suara plak-plok kocokan penisnya di vagina Miriani yang becek oleh sperma Prapto dan Bon. Miriani merasakan vaginanya betul-betul pedih. Rasa sakit akibat perkosaan dua lelaki sebelumnya belum hilang, kini Dul memperkosanya dengan kasar pula. Apalagi dia kesulitan bernafas karena bibirnya dipagut dengan penuh nafsu oleh Jing.
Tiba-tiba Miriani merasa sedikit lega. Penyebabnya, Dul menarik keluar penisnya. Tetapi itu cuma kelegaan sejenak saja. Miriani kini menghadapi kengerian baru yang belum pernah dialaminya.
“Gue mau perawanin pantat lo,” kata Dul sambil mengarahkan ujung penisnya yang tampak berlumur sperma.
Miriani mengerang-erang dan meronta-ronta ketika merasakan sesuatu yang keras mulai menusuk lubang belakangnya. Rasanya panas dan pedih saat kepala penis Dul berhasil menembus benteng pertahanannya. Bundaran bokongnya juga terasa pedih karena Dul mencengkeram dengan jarinya yang berkuku panjang.
“Aaarrgghhh…. ouhhhhh…. jangaannnn….. sakiiit…. !” Miriani berteriak sejadinya ketika akhirnya berhasil melepas kuluman bibir Jing setelah ia mencakar pipi lelaki itu.
Jing yang kesakitan dengan marah menampar pipi Miriani. Akibatnya, sudut bibir perempuan itu berdarah.
“Jangan pernah berbuat seperti itu lagi padaku…. ngerti ?!” bentak Jing sambil mencubit kedua puting Miriani.
“Aaaakhhhh… iya… iyaaahh…” Miriani menjerit karena Jing menarik kedua putingnya.
Air mata mengalir ke kedua pipi perempuan dewasa ini. Sakit di kedua putingnya tak seberapa dibanding pedih yang dirasakan di anusnya. Miriani masih merangkak seperti anjing. Jing dan Bon meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung. Dia melihat Prapto yang tengah merekam dirinya dengan wajah penuh kebencian. Prapto hanya tersenyum sinis.
Berkali-kali Miriani memekik kesakitan saat Dul mencoba memasukkan penisnya lebih dalam ke anusnya.
“Santai aja Mbak. Jangan ngeden…. Kalo ngeden, pantat Mbak malah sakit. Santai aja biar kontol saya bisa masuk lebih gampang. Kalo santai, Mbak malah bisa ngerasain enak nanti,” kata Dul.
Bagaimanapun, Miriani ingin segera lepas dari situasi yang mengerikan ini. Ia pun menuruti kata-kata Dul.
“Nah, gitu dong….hih… !” Dul mendengus saat merasakan cengkeraman otot anus Miriani mengendor. Saat itu juga Dul mendorong penisnya masuk lebih dalam. Miriani memekik lagi. Dia merasa perutnya seolah penuh, tetapi perih yang sebelumnya sangat mengganggu mulai berkurang. Karena itu, ia mulai mencoba merelakskan dirinya.
Sikap Miriani itu memudahkan Dul. Lelaki kasar itu kini bisa mendorong penisnya ke dalam anus Miriani sampai pangkalnya. Lalu, perlahan dia menarik mundur sampai hampir keluar, lalu didorong lagi maju dengan kekuatan penuh. Terus diulang dengan gerakan yang makin lama makin cepat. Miriani mengerang-erang sepanjang perkosaan anal itu.
Tiba-tiba, Dul menarik tubuh Miriani ke arah dirinya yang merebahkan diri. Akibatnya kini perempuan berjilbab lebar itu rebah terlentang di atas tubuh Dul. Penis Dul masih tertancap kuat di dalam anusnya.
“Nah, ini baru mantap….” komentar Prapto yang langsung merekam adegan itu dari arah depan. Jing dan Bon membantu merenggangkan kedua paha Miriani hingga terlihat jelas anus perempuan itu mencengkeram penis Dul. Vaginanya yang memerah juga masih terlihat mengeluarkan sperma bekas perkosaan sebelumnya.
“Jing, lo entot cewek ini sekarang,” kata Dul yang kini memeluk tubuh Miriani dengan mencengkeram kedua payudaranya.
Miriani bergidik membayangkan dua lubang bersebelahan di bagian bawah tubuhnya itu akan dimasuki dua penis.
“Jangan… please… jangan…. saya bisa mati….” rintihnya memelas.
“Nggak apa-apa mbak. Matinya mati enak…. ha ha ha…” timpal Prapto disambut gelak teman-temannya.
Jing ternyata sudah bersiap-siap di depan selangkangan perempuan alim itu.
“Masih kelewat basah sperma nih,” katanya sambil menusukkan dua jari ke vagina Miriani, mengorek-ngorek untuk mengeluarkan sperma dari dalamnya. Saat ditarik keluar, di dua jari Jing terlihat segumpal sperma yang kental dan putih kekuningan. Dicengkeramnya dagu Miriani dan dipaksanya perempuan itu mengulum kedua jarinya itu. Miriani lagi-lagi cuma bisa terisak-isak. Dengan tegang ia menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Penis di dalam anusnya saja sudah terasa sangat menyakitkan. Akhirnya yang ditakutkannya terjadi. Terasa pintu liang vaginanya mulai terdesak sesuatu yang besar dan keras.
“Rasain nih…. perempuan seperti mbak memang bagusnya dinikmati sama-sama…. hihhhhh !!!” kata Jing sambil dengan kekuatan penuh menusukkan torpedonya ke liang vagina Miriani.
Miriani mengerang panjang. Tubuhnya terasa terbelah di bagian bawah. Pandangannya berkunang-kunang. Ia berharap untuk pingsan saja agar tak merasakan derita ini. Tetapi, ternyata ia tetap tersadar….
Perasaan sakit yang aneh. Di dalam tubuhnya terasa ada dua benda besar yang bergerak maju mundur bersamaan. Ia terpaksa berulangkali mengejan seperti hendak mengeluarkan benda-benda itu. Tetapi akibatnya justru menyenangkan bagi kedua pemerkosanya. Jing dan Dul seperti merasakan remasan kuat di penis mereka.
Prapto tak menyangka bakal dapat obyek syutingan sedramatis ini. Dia kini mengclose up keluar masuknya dua batang penis di dua lubang yang bersebelahan. Dia juga mengclose up wajah Miriani yang tampak menderita. Memejamkan mata dengan kening berkerut sambil menggigit bibir dan tak henti mengerang-erang.
Di luar dugaan, Bon yang sejak tadi cuma menonton tak bisa menahan nafsunya. Disuruhnya Jing menegakkan tubuh, lalu dengan enaknya dia mengangkangi wajah Miriani. Tentu saja Miriani kaget, Dia melotot ketika menyadari penis Bon dengan enaknya menggeletak di wajahnya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi pemaksaan gila-gilaan seperti itu. Bon pun dengan mudah memaksanya memasukkan penis ke mulutnya. Prapto kini punya obyek syuting yang lebih dahsyat. Seorang perempuan dewasa dengan jilbab putih lebar tengah dihimpit di antara dua lelaki telanjang di atas tubuhnya dan seorang lelaki telanjang lainnya di bawahnya.
Satu persatu pemerkosa Miriani menuntaskan hajatnya. Diawali Jing yang memenuhi vagina Miriani dengan spermanya. Lalu tak berapa lama, Bon yang menyemprotkan spermanya ke wajah Miriani. Terakhir, Dul menunggingkan lagi perempuan itu dan dengan tenaga ekstra menggenjot penisnya di anus Miriani sebelum akhirnya menumpahkan spermanya ke dalamnya.
Miriani tersungkur telungkup di lantai. Sekujur tubuhnya pegal-pegal. Pantatnya tampak memerah. Prapto merenggangkan kedua paha Miriani untuk mengcloseup lelehan sperma dari anus dan vaginanya ke karpet. Diclose-upnya juga wajah Miriani yang berlepotan sperma. Salah satu matanya terpejam karena setumpuk sperma tepat di atas kelopak matanya.
“Sudah, sana mandi Mbak. Habis mandi, mbak boleh pulang,” kata Prapto sambil berjongkok di sebelah Miriani dan menyeka sperma yang menutupi matanya. Perempuan dewasa itu masih terisak. Dia memalingkan wajahnya.
PLAKKK….
Tiba-tiba Prapto menampar keras pantat Miriani. Karuan saja Miriani terlonjak dan menjerit. Tubuhnya kini miring menghadap Prapto.
“Sana cepat, mandi !” bentak Prapto. “Atau mau tetekmu gua gampar ?” lanjutnya sambil mengangkat tangannya siap menampar.
Miriani dengan wajah ketakutan menyilangkan kedua tangannya ke depan payudaranya. Ia cepat berdiri dan berjalan gontai ke arah yang ditunjuk Prapto. Keempat pemerkosanya tertawa terbahak-bahak melihat langkah perempuan berjilbab dengan sperma di sekujur organ vitalnya itu.
“Bener mau kita pulangin dia, Mas ?” tanya Jing kepada Prapto.
Prapto menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Lalu, dihembuskannya asap rokoknya ke atas sambil tersenyum menyeringai.
“Ya, tapi besok-besok kita akan sering-sering menikmati tubuhnya,” sahutnya.
***********
Miriani bingung. Tak ada kamar mandi di arah yang ditunjuk Prapto. Yang ada hanya ruang terbuka dengan lantai lebih rendah. Ada keran dengan slang panjang dan ember besar di bawahnya di tempat itu. Miriani terdiam di dekat “kamar mandi” itu. Kedua tangannya masih menyilang di depan dadanya. Jilbabnya yang lebar sudah diulurnya, namun hanya menutup sedikit di atas pinggulnya. Ia terlihat berjongkok melepas kaus kakinya yang panjang hampir mencapai lutut. Tetapi ia kemudian terlihat kembali diam.
“Ya itu kamar mandinya. Sudah, cepat mandi. Buka jilbabnya ! Ngapain nutupin rambut. Kita udah liat memekmu kok,” kata Prapto sambil mendekat dengan membawa handycamnya.
Tiga lelaki lainnya ikut mendekat. Dul yang tidak sabaran turun dan merenggut jilbab ibu muda itu. Miriani yang kelelahan tidak lagi melawan. Rambutnya yang panjang dan ikal bergelombang itu digelung. Sehelai kain tipis masih menutupi sebagian rambunya. Kain inilah yang mencegah keluarnya anak-ranak rambut dari balutan jilbab lebarnya. Dul juga merenggut kain ini, sekaligus ikat rambut Miriani. Rambut Miriani yang panjang sampai sedikit di atas pinggang pun terurai.
Keempat pemerkosanya terpana. Dengan wajah kearab-araban dan rambut ikal terurai, serta completely naked, Miriani jadi amat mirip dengan bintang film porno dari Timur Tengah. Penis keempat lelaki itu kembali menegang.
Miriani masih berdiri memunggungi keempat pemerkosanya. Ia meraih rambutnya yang panjang untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang telanjang bulat. TUbuhnya sesekali bergetar karena ia masih menangis sesenggukan.
Prapto menyerahkan handycam kepada Bon, lalu ia turun mendekati perempuan itu. Didorongnya tubuh Miriani hingga perempuan itu menunduk dengan berpegangan pada pinggir ember besar yang penuh air. Ditendangnya kedua kaki Miriani hingga mengangkang melebar. Miriani kaget, tak menyangka bakal disetubuhi lagi untuk kesekian kalinya. Namun tenaganya sudah betul-betul terkuras. Ia pasrah apapun yang bakal terjadi kini.
Sepasrah-pasrahnya Miriani, masuknya penis Prapto ke vaginanya masih menyebabkan pedih. Apalagi kini Prapto juga menjadikan rambutnya yang panjang seperti tali kekang kuda.

payudara besar montok (5)
“Nih, hadiah buat sekretaris yang sok tau !” kata Prapto sambil mendorong penisnya jauh ke dalam sampai terasa menekan dinding kenyal di ujung liang vagina Miriani.
Miriani menggigit bibir dengan kepala mendongak, menahan pedih di kulit kepala dan ngilu di sekujur vaginanya. Tiba-tiba ia memekik karena merasakan rasa pedih yang aneh. Ternyata, dengan penis menancap di vagina Miriani, Prapto kencing ! Prapto kencing amat banyak. semburannya dirasakan Miriani amat deras, panas dan memedihkan. Ia mencoba meronta tapi sia-sia. Ditunggunya dengan penuh harap akhir semburan dari penis mitra kerjanya itu.
“Hihhh…. lo harus berterima kasih sama gue…nihhh… memek lo gue bersihin pake kencing gue…” kata Prapto meracau.
Prapto memberi kode kepada Bon agar mensyuting dari depan. Bon lalu berlutut di depan Miriani mensyuting turun dari wajahnya, payudaranya yang mengacung dan vaginanya dengan penis Prapto masih menancap. Di sela-sela bibir vaginanya mengalir cairan bening kekuningan. Lalu, Prapto menarik keluar penisnya dan akibatnya dari vagina Miriani keluar deras cairan kekuningan bercampur putih kental.
Tubuh perempuan itu masih gemetar ketika cairan kuning yang keluar dari vaginanya mulai berkurang. Lalu, tiba-tiba ia bersimpuh di genangan air seni Prapto. Prapto mengambilalih handycam kembali. Diberinya kode kepada tiga rekannya yang berdiri mengelilingi Miriani yang masih bersimpuh.
“Ini akan membuatmu mau mandi…. 1-2-3….” katanya.
Yang terjadi kemudian membuat Miriani kembali terkejut. Ternyata ketiga lelaki itu berbarengan mengencinginya. Semburan air seni mengenai sekujur tubuhnya, rambut wajah, punggung, dada, paha. Kedua telapak tangannya berupaya menghalangi semburan ke wajahnya. Namun, Dul malah mencengkeram dagunya hingga mulutnya terpaksa membuka dan semburan air seni Dul langsung tertampung ke dalamnya.
Miriani memejamkan mata. Setelah rasa sperma yang aneh, kini ia merasakan untuk pertama kali menelan air seni. Sekujur tubuhnya kini bau pesing.
Tiba-tiba, Dul memaksanya berjongkok dan menyodorkan gayung di bawah selangkangannya. Tangan lelaki itu kemudian mengucek-ucek vaginanya.
“Ayo sekarang lo kencing !” katanya.
Miriani memang ingin pipis dari tadi. Tapi pipis di bawah tatapan mata banyak lelaki dan disyuting close up adalah hal yang belum pernah dialaminya. Dengan perasaan amat terhina Miriani akhirnya pipis. Semburan air seninya ke gayung lumayan deras dan banyak. Dul menyempatkan membekap vagina Miriani yang sedang pipis. Otomatis telapak tangannya basah oleh air seni perempuan itu.
“Air kencing gue seger kan ? Nih liat,
gue juga doyan air kencing lo. Lain kali gue pengen minum langsung dari memek lo,” katanya sambil menjilati jarinya yang basah. Miriani meliriknya dengan perasaan jijik.
Setengah gayung lebih air seni Miriani tertampung. Dul mengangkat gayung tersebut. Jing membimbing Miriani berdiri. Bon turut berdiri mengelilingi tubuh perempuan itu.
“Ayo sekarang kita mandi bareng !” kata Dul lalu menyiramkan air seni Miriani ke kepala mereka.
Baru setelah itu keempatnya betul-betul mandi dengan air di ember. Sebetulnya yang terjadi adalah tiga lelaki memandikan Miriani. Mereka dengan semangat menyabuni sekujur tubuh Miriani. Di bagian payudara, acara sabunan itu jadi terasa heboh. Mereka semua meremasi sepasang payudara Miriani yang berlumur busa sabun. Kedua putingnya juga ditarik-tarik sampai menegang. Sementara Dul lebih asyik menyabuni vagina Miriani. Bahkan, bukan cuma bagian luar. Dua jarinya terus saja menyabuni bagian dalam vagina perempuan itu.
Miriani juga jadi obyek keisengan Jing. Dia berkali-kali menyikat kedua puting Miriani dengan sikat gigi. Hal sama juga dilakukannya pada klitoris perempuan itu. Semua ulah ketiga lelaki itu membuat acara mandi bareng itu jadi penuh jerit kaget dan kesakitan serta marah Miriani ditingkahi gelak tawa mereka.
Miriani kini terlihat duduk setengah berbaring di lantai dengan kedua kaki mengangkang lebar. Di sisi kanan kirinya ada Jing dan Bon yang asyik menyabuni pangkal paha perempuan itu. Bon menarik-narik rambut kemaluan Miriani yang tak seberapa lebat itu.
“Cukur jembutnya Bon !” kata Prapto yang tak henti mensyuting sambil melempar pisau pencukur.
“Nggak dicabutin aja, Mas ?” sahut Jing. “Gue suka suaranya kalo dicabut,” lanjutnya dilanjutkan dengan menarik beberapa helai rambut kemaluan Miriani sampai tercabut.
“Aaawww….!” Miriani menjerit.
“Ha… ha… ha…. lucu juga. Tapi cukur aja deh. Kasian dia kecapekan,” sahut Prapto.
“Ok bos !”
Miriani cuma bisa
menggeliat-geliat saat Dul mulai mencukur rambut kemaluannya. Malah ia melakukan itu dengan tiga jari tangan kirinya masuk ke vaginanya. KUlit Miriani
sawo matang, tapi wajahnya jadi merah padam karena tak sanggup menahan malu. Sementara Dul sibuk beraktivitas di vaginanya, Bon dan Jing tak bosan-bosannya bermain-main dengan payudara dan puting Miriani. Jing malah juga menciumi bibir Miriani. Mulutnya yang bau rokok membuat Miriani ingin muntah.
**********
Miriani baru betul-betul lega ketika acara mandi bareng itu selesai. Mereka membiarkannya mengeringkan tubuh dengan handuk. Miriani juga lega melihat blus dan rok panjang, jilbab dan kaus kakinya ada di dekat handuk.
“BH sama celana dalem Mbak saya bawa pulang. Buat kenang-kenangan,” kata Prapto. Miriani cuma melirik lelaki itu dengan tatapan tidak suka. Apalagi lelaki itu masih mensyuting dirinya.
Usai mandi, Miriani dengan cemas melangkahkan kakinya ke arah lorong panjang tempat dia pertama kali datang tadi. Dia sudah tampak segar dengan busana yang panjang dan rapi.
“Mau kemana Mbak ?” tanya Prapto. Lelaki itu sudah duduk di karpet dengan Bon, Jing dan Dul serta seorang lelaki lain.
“Pulang…” sahutnya ketus.

payudara besar montok (6)
“Nggak usah buru-buru, ini udah saya panggilin ojek,” katanya sambil menunjuk lelaki lain tadi. Barulah Miriani menyadari kehadiran tukang ojek yang tadi membawanya.
“Iya Neng, entar Abang anterin. Tapi kagak gratis loh !” timpal Bang Amir, si tukang ojek sambil meringis memperlihatkan giginya yang hitam. Bibirnya juga hitam, tanda bahwa dia perokok berat.
“Iya, nanti saya bayar. Ayo sekarang aja,” ujar Miriani.
“Bayar di muka Neng…” balas Bang Amir.
“Berapa ?”
“Nggak usah pake duit, Neng….” sahut Bang Amir. Mendengar jawaban itu Miriani kaget. Dia mulai mengerti arah omongan Bang Amir.
“Huh…. kalian memang setan !” makinya. Kelima lelaki itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Lo emang pengen dibayar pake apa, Bang ?” kata Prapto di tengah tawanya.
“Gue pengen ngerasain memek dia, Mas. Sebentaaar aja….” katanya. Para lelaki tadi tertawa-tawa lagi. Miriani betul-betul kehilangan akal sehatnya. Dia mulai menangis lagi.
“Eh, nggak usah nangis Mbak. Udah deh, kasih dia memek kamu sebentar. Abis itu dia antar kamu pulang,” kata Prapto kali ini sambil berdiri dan menggamit tangan Miriani.
Miriani kini berdiri di hadapan Bang Amir yang duduk di karpet. Dibiarkannya Prapto mengangkat rok panjangnya sampai ke pinggang. Bang Amir melotot melihat vagina Miriani yang mulus tanpa sehelai rambutpun. Tangannya gemetar, terjulur dan menyentuh vagina perempuan itu. Begitu tersentuh, ganti tubuh Miriani yang bergetar. Ia mulai terisak lagi. Apalagi, telunjuk Bang Amir mulai menyusuri celah bibir kelaminnya, makin ke bawah dan akhirnya menemukan pintu liang vaginanya.
Perlahan tapi pasti, Bang Amir menusukkan telunjuknya ke dalam vagina Miriani. Dilihatnya Miriani menggigit bibir. Kedua belah pipinya mulai basah oleh airmata. Miriani menggeliat ketika Bang Amir menyusulkan jari tengahnya ikut masuk. Terasa bagian dalam vaginanya dikorek-korek dua jari lelaki setengah baya itu.
“Wah, udah lama abang mimpiin memek Neng,” katanya. Miriani baru sadar, selama ini tukang ojek yang mangkal dekat rumahnya itu memang sering menatapnya dengan pandangan nafsu.
“Cuman memeknya Bang ? Pengen ngenyot toketnya kagak ?” tiba-tiba terdengar suara Dul.
Bang Amir mendongak.
Liurnya menetes melihat pemandangan heboh di atasnya. Jilbab lebar Miriani sudah disampirkan ke pundak. Kancing blusnya terbuka lebar dan sepasang payudaranya tampak mengacung dalam genggaman dua telapak tangan Dul.
“Wah… pengen banget…” katanya.
Dul menekan pundak Miriani hingga perempuan itu berlutut di depan Bang Amir. Sejenak lelaki kampung ini melupakan vagina Miriani. Langsung ditangkapnya sepasang payudara telanjang di depannya. Dengan lahap dihisapnya puting susu Miriani, kanan dan kiri berganti-ganti. Miriani tak banyak protes lagi. Tetapi jelas tampak ia marah, takut sekaligus malu.
Sepasang payudaranya kini terlihat basah kuyup oleh aiur liur Bang Amir.
“Udah Bang, ntar keburu sore. Lo sekarang telentang, santai aja biar Mbak Miriani yang muasin lo,” kata Dul.
Bang Amir nurut. Dia segera melepas celananya dan terlentang. Dia melihat Dul melepas rok panjang Miriani, tetapi membiarkannya tetap memakai kaos kaki, jilbab lebar yang disampirkan ke pundak dan blus yang terbuka kancingnya. Pemandangan itu membuat penisnya yang hitam bangkit. Lumayan panjang dan terlihat kekar
dengan urat-urat di sekujur batangnya.
Dul membimbing Miriani untuk berjongkok mengangkangi wajah Bang Amir dengan posisi membelakanginya. Tukang ojek itu terlihat menelan air liurnya menyaksikan vagina perempuan baik-baik tepat di depan hidungnya. Aromanya pun mulai tercium. Gemetaran tangan Bang Amir menyentuh bibir vagina Miriani.
Prapto mengajarinya menguakkan bibir vagina yang mulus itu dengan dua tangan.
“Isepin kontol abang, Neng… Abang mau jilatin dulu memek Neng,” kata Bang Amir dan lidahnya pun mulai menyapu bibir vagina Miriani.
Tubuh Miriani bergetar ketika lidah Bang Amir menemukan klitorisnya. Juga ketika lidahnya berupaya menyusup ke dalam liang senggamanya. Bang Amir sendiri mengerang seperti orang kedinginan ketika Miriani yang dibimbing Dul mulai merangsang penisnya. Tangan kiri Miriani menggenggam buah zakar Bang Amir yang berambut lebat, meremasnya lembut. Tangan kanannya menggenggam pangkal batang penis Bang Amir dan mengurutnya dengan tekanan ke arah kepala penisnya. Bang Amir serasa melayang ketika Miriani di bawah arahan Dul menjilati lubang di kepala penisnya. Lalu, bibirnya yang seksi juga mengucup bagian lubang itu dan menyedot-nyedot. Baru setelah itu Miriani mulai memasukkan penis Bang Amir ke mulutnya. Makin lama makin dalam. Bang Amir dan Miriani mengerang-erang. Sebab, saat bersamaan, Bang Amir juga menyedot-nyedot klitoris Miriani sambil dua jarinya mengaduk-aduk vaginanya.
“Sudah, pemanasannya jangan lama-lama…Ayo Mbak, masukin kontol dia ke memek Mbak !” terdengar Prapto memerintah sambil terus merekam adegan Miriani tengah mengulum penis Bang Amir.
Dul dan Jing memegangi lengan kanan dan kiri Miriani, membimbing perempuan itu mengangkangi penis Bang Amir yang tegang maksimal. Miriani sekarang tak banyak menolak ataupun meronta. Dia bahkan menurut ketika disuruh memasukkan sendiri penis Bang Amir ke vaginanya.
“Buka aja bajunya Dul, ngganggu pemandangan,” kata Prapto. Lagi-lagi, Miriani kembali bugil. Cuma jilbab dan kaos kaki yang melekat di tubuhnya kini.
Miriani menggigit bibirnya ketika untuk kesekian kalinya vaginanya kemasukan penis lelaki yang bukan suaminya. Tragisnya, kali ini justru ia berperan aktif. Mengangkangi penis Bang Amir yang mengacung dengan posisi membelakanginya. Memegang penis yang berurat itu dan mengarahkannya ke liang vaginanya. Lalu, perlahan menurunkan tubuhnya hingga penis itu tertelan seluruhnya oleh vaginanya. Semua adegan itu tak luput dari perhatian Bang Amir dan rekaman Prapto.
Vaginanya yang kini tidak berambut jadi terasa sensitif saat penis Bang Amir masuk sampai pangkalnya dan rambut kemaluannya yang lebat menggesek kulit vaginanya. Bahkan, klitorisnya pun tergesek rambut kemaluan Bang Amir. Bagaimanapun hal tersebut membuat tubuh Miriani bereaksi spontan. Vaginanya mulai membasah, melumasi gesekan antara penis Bang Amir dan vaginanya. Hal itu mendatangkan perasaan nikmat bagi Bang Amir maupun Miriani sendiri.
Miriani tak mampu berpikir jernih lagi. Setelah menderita sejak pagi, sedikit kenikmatan itu membuatnya tergoda untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya, membuat penis Bang Amir menjangkau segenap pelosok bagian dalam vaginanya.
Makin lama, frekuensi goyang pinggul Miriani makin tinggi. Kedua tangannya yang semula menyangga tubuhnya ke belakang, kini mulai meremas-remas kedua payudaranya sendiri, memilin-milin dan menarik-narik kedua putingnya. Miriani juga tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang-erang dan mendesah-desah. Keempat pemerkosanya tercengang melihat perubahan itu. Prapto tak melewatkan momen itu dan merekamnya.

payudara besar montok (7)
Ia lalu menyerahkan handycam kepada Bon. Prapto sendiri menyodorkan penisnya yang sudah mengacung ke wajah Miriani.
“Ayo Mbak…. terus goyang, nikmatin aja Mbak… sekarang isep kontolku Mbak… iyahhhh….” kata Prapto.
Tanpa banyak tanya, Miriani menggenggam penis Prapto dan memasukkannya ke mulutnya. Lalu, sambil menaikturunkan pinggul dan memutar-mutarnya, Miriani juga mengulum penis Prapto. Prapto merem melek merasakan kuluman perempuan itu. Dipeganginya kepala Miriani yang berjilbab. Sesekali didorongnya penisnya jauh sampai terasa menyentuh kerongkongannya. Miriani masih terus memutar-mutar pinggulnya. Desahannya tetap terdengar meski tersumbat penis Prapto.
Prapto rupanya punya rencana sendiri. Didorongnya kepala Miriani dengan penisnya tetap di dalam mulut perempuan itu. Posisi itu ptomatis membuat Miriani rebah ke atas tubuh Bang Amir. Si tukang ojek luar biasa senang. Sebab, kini ia bisa menikmati jepitan vagina Miriani sambil meremas-remas kedua payudaranya.
Prapto menarik keluar penisnya dari mulut Miriani. Ia kini berlutut di depan selangkangan Miriani yang terbuka lebar. Penis Prapto masih keluar masuk disambut goyangan pinggul Miriani. Vagina perempuan itu sudah betul-betul basah.
Prapto menyentuh klitoris Miriani, menekannya dengan ibu jari dan merangsangnya dengan gerakan mengucek-ngucek, makin lama makin cepat. Reaksinya luar biasa. Miriani seperti berupaya bangkit. Tangannya menggapai-gapai ke kemaluannya sendiri tapi tak bisa karena Bang Amir menahan tubuhnya. Akhirnya, dari mulutnya keluar rintihan yang lebih mirip erangan memelas, bukan kesakitan. Yang pernah menonton Miyabi orgasme, tahu bahwa Miriani juga akan menemukan orgasmenya….Rintihannya tak jauh beda dengan rintihan nikmat Miyabi.
“Ayo Mbak….jangan malu-malu…. ayo, nikmatin aja…. ayo…..” goda Prapto sambil terus merangsang klitorisnya.
“Aiyaiyaiyai…. aihh…. aaiihhh….auhhh….aaaakhhhh….mmmmfff….aaaiii hhh….” suara yang betul-betul menggairahkan itu akhirnya keluar melengking dari bibir Miriani saat terpaan orgasme seperti meledakkan dirinya. Tubuhnya kelojotan di atas tubuh Bang Amir. Penis Bang Amir sendiri masih lumayan gagah tertancap di vagina Miriani yang basah kuyup.
Empat pemerkosanya terbahak-bahak melihat adegan itu. Perlahan, kesadaran merasuki benak Miriani lagi. Mendengar tawa dan komentar yang menghina, rasa malu mulai merambati dirinya….
“Tahu gini, tadi kan nggak usah kita perkosa Mbak…. memek Mbak juga butuh nih…..” kata Prapto sambil menepuk vagina Miriani agak keras.
“Gue tahu Mbak butuh kontol lebih dari satu. Gimana kalo kita coba masukin dua kontol sekaligus ?” lanjut Prapto.
Miriani kaget. Apalagi ia merasakan aneh, ketika Prapto menusukkan satu jarinya di sela-sela penis yang terjepit vaginanya. Satu jari lagi menyusul….”Tenang aja Mbak…. kepala bayi aja muat. Masak cuman 2 kontol aja nggak muat ?” kata Prapto samil mulai menjejalkan penisnya bersamaan penis Bang Amir.
“Akhh…. aihh…. jangan… aduhhh…. jangan… nggak muaaat….” Miriani ketakutan. Ia mencoba mendorong dada Prapto. Tapi dadanya sendiri malah dicengkeram Bang Amir.
“Biarin aja Neng….memek Neng emang udah agak longgar kalo dipake sendiri kok…” komentar Bang Amir.
Mula-mula Prapto kesulitan. Tetapi akhirnya kepala penisnya berhasil masuk. Baru setelah itu tak sulit baginya untuk mendorong masuk penisnya jauh ke dalam diiringi jerit kesakitan Miriani. Vaginanya terasa seperti akan sobek.
Tak ada lagi desahan nikmat keluar dari mulut Miriani. Yang ada kini pekik dan erangan kesakitan. Dul pun tak mampu menahan diri untuk tidak memperkosa mulut Miriani lagi.
Prapto dan Bang Amir seperti berlomba memasukkan penis mereka sejauh-jauhnya ke vagina Miriani. Prapto yang pertama kali menyelesaikan hajatnya, disusul kemudian Prapto, lalu Dul di mulut Miriani.
Kembali ibu muda itu tergolek lemah di lantai berkarpet hijau. Jilbabnya kusut masai. Sperma belepotan di bibir dan vaginanya.
Prapto menampar pantatnya, menyuruhnya segera bersiap pulang. Dengan gontai ia kembali ke kamar mandi, membersihkan bekas-bekas perkosaan dahsyat itu.
Bang Amir menunggu di atas jok motor di luar rumah. Di benaknya sudah tersimpan rencana cemerlang: mengajak teman-temannya menikmati tubuh ibu muda berjilbab ini….

WINDY

Kisah kisah ini merupakah kisah nyata yang aku alami. Kisah yang berlataar belakang percintaan dengan pacar-pacarku, sejak aku kehilangan keperjakaan hingga hubungan dengan pacar terakhirku. setiap judul, akan berkisah tentang satu orang pacarku.
Pacar pertama : Windy
Sebagaimana layaknya anak remaja yang lulus SMA, tentunya aku pun mempunyai cita-cita untuk kuliah. Kota Jogja, merupakan cita-citaku meneruskan pendidikan. Mengingat kota ini dikenal sebagai kota pelajar, dan banyak pemuda di kampungku yang kuliah di kota tersebut.
Cita-cita ini terus tertanam, meski pun aku tidak lolos ujian seleksi masuk perguruan negeri. Untunglah, aku masih bisa diterima di perguruan tinggi negeri, untuk program Diploma. Tak apalah, yang penting aku bisa kuliah di jurusan yang aku sukai.
Seorang diri, aku berangkat ke kota yang masih asing itu. Tidak ada yang perlu ditangisi, karena statusku sebagai jomblo dan belum pernah berpacaran, sehingga hanya perlu pamit pada orang tua. Bukan berarti, aku termasuk golongan yang kurang laku. Namun, selama sekolah, waktuku habis tersita untuk kegiatan sepulang sekolah, seperti olahraga bersama kawan-kawan di kampung atau berorganisasi di sekolah. Itulah mengapa, alasan fisik bukan sebuah penyebab aku tidak mempunyai pacar sampai lulus sekolah. Bahkan bisa dibilang, tubuhku sendiri cukup atletis karena hampir setiap sore selalu diajak berlari mengejar bola atau bulu tangkis.
Jogja, petualangan pun dimulai. Meski banyak kawan di sini, aku tak terbiasa bergantung pada orang lain. Semua kebutuhan untuk persiapan kuliah pun kupenuhi sendiri. Sehingga ketika aktivitas di kampus dimulai, aku pun dengan gagah melangkah.
Sebagaimana lazimnya, setiap mahasiswa baru akan mengikuti orientasi kampus yang dipandu oleh para senior. Aku pun melalui proses itu. Dalam orientasi ini para mahasiswa baru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Dalam kelompok itu nantinya akan didampingi oleh seorang senior yang membantu mahasiswa baru dalam mengikuti setiap acara dalam orientasi tersebut.

jilbab hot toge besar (2)
Kelompokku sendiri, terdiri dari 10 orang mahasiswa baru, dengan pendamping senior yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama mbak Windy. Entah mengapa, aku cukup senang mendapat pendamping mbak Windy.Terlebih jika melihat pendamping kelompok lain yang didampingi oleh senior cowok, atau jika pun didampingi senior cewek, penampilan mereka tidak cukup menarik.

Berbeda dengan mbak Windy. Dengan tubuhnya yang tinggi semampai, senyum selalu menghiasi wajahnya yang putih, nampak anggun dengan baju yang agak ketat dan kerudung hijau yang sangat modis. Sekilas, wajahnya mirip dengan artis Mona Ratuliu. Apalagi, saat mendengar suaranya yang merdu mengarahkan kami untuk berbaris dan diberikan pengarahan.
Ketika pemilihan ketua kelompok, entah mengapa mbak Windy menunjukku sebagai ketua kelompok. Tentu saja aku senang,karena hal ini akan membuatku memiliki banyak kesempatan berdekatan dengan mbak Windy.
Akhirnya, aku dan mbak Windy pun saling bertukar nomor telepon dengan alasan memudahkan komunikasi kami. Mbak Windy pun memintaku menuliskan alamat kosku, dan diapun memberikan alamat kosnya. Ternyata, kos kami berdua tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dalam lima menit dengan menggunakan sepeda motor.

jilbab hot toge besar (3)
Selama masa orientasi, mbak Windy cukup banyak membantu kami. Mbak Windy orangnya cukup ramah, dan tidak sombong sehingga kami nyaman berbincang-bincang dengannya. Apalagi, dengan posisiku sebagai ketua kelompok menjadikan kesempatan untuk berlama-lama berduaan dengan mbak Windy cukup banyak tercipta.
Entah mengapa, setiap kali berdekatan dengan mbak Windy, ada semacam rasa ingin berlama-lama ngobrol. Apalagi, tak jarang mbak Windy menggunakan pakaian yang ketat, sehingga cukup menampakkan lekuk tubuh dan juga betapa membusungnya kedua dadanya. Nampaknya hal ini tak lain disebabkan karena mbak Windy berasal dari Manado. Banyak yang mengatakan, gadis Manado memiliki tubuh yang indah, karena banyak yang berasal dari keturunan Portugis. Benar atau salah, aku tak pernah tahu. Yang aku tahu, mbak Windy berasal dari Manado, dan memiliki tubuh seperti gitar dengan tonjolan-tonjolan di bagian tubuh yang tepat untuk menarik mata lelaki.
Pasca orientasi
Setelah seminggu, acara orientasi pun usai. Seluruh mahasiswa baru dan panitia mengadakan pesta perpisahan. Semua larut dalam suasana haru, karena merupakan masa dimana kami akan memulai sebuah kehidupan baru di perguruan tinggi. Di akhir acara, semua peserta dan panitia oerientasi, saling bergandengan tangan. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku berkesempatan menggenggam tangan mbak Windy, karena posisiku sebagai ketua kelompok memungkinkan untuk berdekatan dengannya sebagai pendamping kelompok kami.

jilbab hot toge besar (4)
Seminggu setelah kegiatan orientasi usai, aku pun mulai sibuk dengan kegiatan perkuliahan. Nama mbak Windy sedikit lenyap dari ingatanku, sebab di kampus kami memang sudah tak pernah lagi bertemu. Aku pun malu untuk memulai menegurnya, walau hanya melalui pesan singkat di telepon. Sampai kemudian suatu sore setelah aku selesai mandi,telepon genggamku berbunyi tanda sebuah pesan masuk.
Saat kulihat, aku terkejut karena nama mbak Windy tertera sebagai pengirim pesan. Segera saja kubuka dan kulihat pesan “woey kemana aja, ntar malam makan bareng yuk. Kutunggu di kos jam 7”. Meski kaget, aku segera menjawab singkat “ok mbak. Makan dimana?” dan segera kukirimkan pesan itu. Namun, hingga malam menjelang, tidak ada lagi pesan yang masuk sehingga aku ragu, apakah ajakan makan malam itu serius atau tidak.
Namun aku tidak peduli,jam setengah tujuh malam aku sudah bersiap dan berangkat menuju kos mbak Windy. Tak sulit menemukan kos itu, karena berada di pinggir jalan dan cukup menyolok karena besar dan luasnya rumah kos. Aku sempat ragu, sehingga kembali berkirim pesan singkat pada mbak Windy bahwa aku sudah di depan kosnya.
tak lama, teleponku berdering kali ini nada telepon masuk, nama mbak Windy ada pada layar. Segera kuangkat dan terdengar suara merdu dibalik telepon. “ Masuk aja Roy, kamarku ada di ujung sebelah kanan sebelum tangga. Nomor tujuh ya” perintah mbak Windy. Aku pun segera menuntun motorku masuk ke dalam gerbang dan meletakkannya di deretan motor yang terparkir. Cukup heran juga, sebab banyak motor cowok namun suasana kos cukup sepi. Dimana para tamu dan pemilik motor-motor ini, pikirku.

jilbab hot toge besar (4)
Namun, aku tak mau berpusing ria. Segera saja aku melangkah menuju ujung kos dan mencari kamar nomor tujuh sesuai perintah mbak Windy. Ketemu. Kamar itu tertutup rapat, di bagian depan ada rak yang dipenuhi sepatu. Di sebelahnya, terdapat gantungan handuk yang juga diisi beberapa pakaian dalam yang kupikir itu milik mbak Windy.
Segera kuketuk pintu kamar dan mbak Windy pun dengan cepat membuka pintu itu. “masuk dulu” katanya. Sedikit heran dan bingung, aku pun masuk ke kamarnya. Seumur-umur baru kali ini aku masuk ke kamar perempuan, orang lain pula. Setelah aku masuk, mbak Windy menutup pintu kamar dan menyuruhku duduk serta memintaku menunggunya selesai berdandan.
Saat itu, mbak Windy mengenakan kaos lengan panjang dan celana jeans ketat. Semetara kerudung yang biasanya menutupi kepalanya belum dikenakan sehingga aku bisa melihat betapa cantik rambut mbak Windy yang tergerai panjang hampir mendekati pinggul. Sekitar lima menit aku menunggunya berdandan sambil mengajaknya ngobrol untuk membuang rasa grogiku.

jilbab hot toge besar (6)
Ya, aku merasa grogi karena aku belum pernah berduaan dengan perempuan. Dan yang paling membuat aku merasa gelisah adalah, di atas kasur aku melihat dua buah celana dalam yang bentuknya sangat sexy dan transparan serta sebuah g string yang tergeletak di dekat pintu kamar mandi. Pemandangan itulah yang membuat pikiranku melayang tak tentu arah.
Setelah selesai berdandan dan mengenakan kerudung warna pink, mbak Windy mengajakku untuk berangkat. Sebuah tempat makan yang sangat nyaman dengan konsep lesehan dipilihnya. Aku merasa bangga bisa makan malam dengan perempuan secantik mbak Windy, karena banyak lelaki yang menatapku iri. Pasti mereka mengira kami sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, dan sebenarnya keinginan itu pun mulai ada sejak saat itu.
Sambil makan kami banyak ngobrol kesana kemari sehingga menjadikan suasana semakin akrab. Mbak Windy akhirnya bercerita bahwa dirinya di kota ini memang tidak memiliki pacar. Entah mengapa, mendengar pengakuan itu aku seperti memiliki keinginan untuk menjadikannya sebagai pacar pertamaku. Meski sedikit aneh, sebab mbak Windy sebenarnya adalah seniorku.
Kami mengobrol sampai larut malam. Setelah makan, kami memutuskan untuk segera pulang karena besok aku harus kuliah jam 7 pagi. Sebagai mahasiswa baru, tentunya aku belum memiliki cukup nyali untuk terlambat ataupun membolos. Untunglah, mbak Windy memahami alasanku. Namun kami berjanji, besok-besok akan sering ketemu dan berkomunikasi.

jilbab hot toge besar (7)
Sejak saat itu, hubunganku dengan mbak Windy semakin dekat. Kami semakin sering pergi berdua, atau pun saling mengunjungi ke kos masing-masing. Entah mengapa, semacam ada rasanya nyaman bila berdua bersama mbak Windy. Meski secara umur, mbak Windy lebih tua setahun namun aku merasa bahwa mbak Windy seumuran denganku.
Terlebih, mbak Windy memintaku untuk memanggilnya tanpa embel-embel “mbak”, agar lebih akrab katanya. Tak jarang, jika sedang berdua makan atau menonton film di kamar kos, mbak Windy atau Windy mengelendot manja di lenganku. Aku pun merasa semakin sayang pada Windy, namun untuk menyatakan perasaan itu, keberanian itu tak pernah ada. Mungkin karena inilah pertama kalinya aku merasa jatuh cinta. Apalagi status Windy sebagai senior di kampus

jilbab hot toge besar (8)
Selama sebulan, aku dan Windy sering pergi bersama –sama. Hubungan kami pun makin dekat. Bisa dikatakan, dimana ada Windy, pasti ada aku dan sebaliknya. Namun demikian, antara kami berdua belumlah ada ikatan pasti.
Sampai kemudian pada suatu hari, aku dan Windy pulang dari kampus bersama. Kami sepakat untuk makan siang di daerah yang agak jauh dari kampus. Aku tidak menolak ajakan Windy, karena akan menambah pengetahuanku tentang tempat makan yang enak di Jogja.
Saat kami sedang asyik makan, cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Cuaca memang tidak bisa ditebak. Akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang karena kebetulan motor Windy tidak ada jas hujannya. Terlebih, tempat kami makan jaraknya cukup jauh dari kos kami.
Malang. Mendekati kosku, hujan tiba tiba mengguyur dengan deras. Air hujan yang jumlahnya tidak lagi terhitung, berlomba meluncur dan menghantam tubuh kami yang tidak terlindung jas hujan. Tidak ada tempat yang bisa kami gunakan untuk berteduh. Akhirnya kuputuskan untuk terus melajukan motor menuju kosku yang hanya berjarak beberapa ratus meter lagi saja.

jilbab hot toge besar (9)
Dengan sedikit ugal-ugalan, sampailah aku di kost. Namun apa daya, seluruh baju sudah basah kuyup. Untungnya, buku-buku yang ada di dalam tas selamat karena tasku terbuat dari parasut. Rupanya, Windy pun tidak jauh berbeda. Meski berada di boncengan, namun derasnya hujan membuat pakaian yang dikenakannya pun tak luput dari basah.
Setelah membuka pintu kamar, kami berdua segera masuk dan aku pun langsung menuju kamar mandi. Aku segera melepas semua pakaian yang kukenakan, termasuk celana dalam. Saat sudah bugil, tiba-tiba pintu kamar mandi digedor. Windy berteriak menyuruhku untuk segera keluar karena dirinya pun basah kuyup dan kedinginan.
Aku segera menyambar handuk dan melilitkannya di pinggang. Pakaianku yang basah, segera kumasukkan ke dalam ember dan aku membuka pintu kamar mandi. Rupanya, Windy sudah menunggu di depan pintu kamar mandi dengan pakaian yang basah meski tidak separah pakaianku.
Melihat aku keluar hanya memakai handuk, Windy tersenyum penuh arti sambil melihat ke arah bawah. Tentu saja, aku merasa malu diperhatikan seperti itu. Segera saja aku keluar kamar mandi dan setelah Windy masuk ke kamar mandi, aku segera mengambil pakaian.

jilbab hot toge besar (10)
Pas selesai mengenakan celana, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Kepala Windy terlihat keluar dan berkata “pinjem handuk donk”. Aku pun segera mengulurkan handuk yang barusan aku pakai pada Windy yang selanjutnya kembali menutup pintu kamar mandi.
Aku pun melanjutkan memakai kaos dan membereskan tas yang tadi hanya sekedar aku lemparkan saja. tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka dan Windy kembali memunculkan kepalanya. Kerudung biru mudanya, sudah tidak lagi dikenakan. “Pinjem celana pendek ama kaos donk, basah semua nih” kata Windy.
Aku bingung mendengar permintaan Windy. Sebab, aku tidak tahu harus memberikan pakaian yang mana dan pas untuknya. Koleksi celana pendekku rata-rata bermodel ¾ yang biasa aku gunakan untuk bermain basket. Selain itu, celana pendek yang ada hanyalah celana untuk sepak bola yang kebetulan masih ada di tempat laundry. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan celana basket dan sebuah kaos T-shirt pada Windy.
Namun, rupanya pilihanku tidak disukai oleh Windy. Katanya “kalau aku pakai celana ini, bisa bisa kakiku hilang donk. Yang bener aja ah. Mang gk ada celana pendek yang lain apa?” kata Windy. “ada sih tapi celana renang, mau?”tanyaku dengan sedikit ragu. Sebab, celana renang itu selain modelnya yang ketat, juga sangat pendek jika digunakan karena bagian bawahnya sejajar dengan pangkal paha.

jilbab hot toge besar (11)
Diluar dugaanku, Windy justru mengiyakan tawaranku. “yaudah gak papa daripada aku gk pakai celana hihihihi” kata Windy sambil tersenyum nakal. Aku pun segera mencari celana renang itu di tumpukan lemari dan menyerahkannya pada Windy yang kemudian segera menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan Windy keluar dari kamar mandi. Suara hujan yang deras, rasanya kalah dengan degub jantungku saat melihat Windy berjalan dari kamar mandi. Betapa tidak, selama ini aku selalu melihat Windy dengan pakaian yang tertutup sempurna dari ujung kepala dengan kerudung dan celana panjangnya. Meski ketat, namun aku belum pernah melihat kulit tubuh Windy, kecuali kulit kepala dan telapak tangannya.
Namun kali ini, pemandangan yang belum pernah terbayang muncul di hadapanku. Celana renangku, tidak mampu menutupi paha mulus Windy dan T-Shirt yang aku pinjamkan pun tidak cukup panjang untuk menutupi paha tersebut. Namun dengan penampilannya itu, Windy tidak nampak malu atau risih meski pun aku berada tepat di depannya. Bahkan Windy dengan santai duduk di depanku sambil tersenyum.
“Ujannya gila ya, untung udah de….” belum sampai Windy menyelesaikan ucapannya, tiba tiba listrik padam yang disusul dengan suara petir menggelegar. Windy yang nampak kaget, reflek melompat den mendekapku. Entah mengapa, ada rasa aneh saat itu. Rasa yang belum pernah aku ketahui.
Windy nampak benar-benar takut dengan suara petir itu, dan memelukku erat sekali. Aku sendiri merasa nyaman dan damai karena baru kali ini memeluk seorang perempuan yang diam-diam aku menyukainya. Tiba-tiba, tanpa aku duga, Windy mengendurkan pelukannya dan cuup..dia menciumku.
Aku yang masih terkejut, tidak bereaksi apapun atas ciuman yang tiba tiba itu. Sebelum aku benar-benar sadar dan yakin itu bukan mimpi, kembali Windy mendaratkan ciumannya. Kali ini, aku segera tanggap dan membalas ciuman Windy. Kami pun berpagutan,meski aku sendiri merasa bingung karena belum pernah melakukannya.
Namun,lambat laun aku mulai bisa mengimbangi gelora Windy yang nampaknya begitu membara. Saat Windy memainkan lidahnya, aku pun mulai membuka mulut dan memagutkan lidah kami. Aliran nafas Windy, terdengar jelas dan aku bisa merasakan hembusan angin yang begitu hangat serta cepat.
Saat kedua tangan Windy melingkar di tubuhku, aku pun membiarkan serta mengikuti gerakan yang semakin mendekatkan kedua badan kami.saat tubuh kami mulai berdekatan, aku merasakan ada dua benda lunak yang semakin menempel ke tubuhku. Benda itu terasa kenyal dan membuat aliran darahku mengalir semakin cepat. Bagian bawah tubuhku pun terasa ada perubahan, terutama di bagian yang biasa aku gunakan untuk buang air kecil.
Windy nampaknya tahu bahwa aku masih hijau dalam masalah perempuan. Itulah mengapa, Windy nampak lebih agresif dengan mulai meraba bagian punggungku dan kemudian berlanjut ke arah selangkanganku.
Sebagai manusia normal, aku merasa apa yang dilakukan Windy kepadaku membuat pikiran dan akal sehatku mati. Aku tidak berpikir lama, dan segera saja aku rebahkan tubuh Windy ke atas kasur untuk kemudian menindihnya.

jilbab hot toge besar (12)
Sementara itu, tangan kanan Windy semakin agresif bergerak. Dari bagian atas celanaku, Windy memasukkan tangannya untuk menuju ke bawah pusat. Dan ketika tangan halus Windy berhasil menyentuh pusat kejantananku, aku benar-benar merasa seperti mendapat sengatan listrik yang sangat besar. Belum pernah ada tangan lain selain tanganku yang menyentuh bagian tubuh terlarang itu. Namun kini, Windy, senior kuliahku, menjadi orang pertama yang menyentuh bahkan menggenggamnya.
Pelan pelan, aku merasa Windy mengocok kenjantananku dengan halus. Aku pun semakin tidak tahan dan kehilangan kesadaran. Tanganku bergerak ke atas, menyingkapkan T- Shirt putih yang dikenakan Windy. Semakin ke atas, jantungku semakin berdegup kencang menunggu pemandangan yang pertama kali aku lihat secara langsung.
Dan ketika T-shirt putih itu sudah tersingkap hingga bagian pundak, aku segera mengangkat tubuhku. Pemandangan yang sebelumnya hanya kulihat di layar film biru atau gambar porno, kini bisa kulihat secara langsung. Dua buah payudara Windy yang bulat dan membusung ke atas, benar-benar menyajikan kesempurnaan yang sangat dahsyat. Sebuah bra warna hitam, menjadi satu-satunya penghalang yang tidak mampu menutupi keindahan tersebut. Sebab, bra itu seakan tidak mampu menampung kedua bongkahan payudara Windy yang nampak berlomba ingin keluar.
Tiba tiba, Windy menarik tangan kanannya dari dalam celanaku. Rupanya, Windy bermaksud melepaskan T-shirt yang dikenakannya. Setelah T Shirt itu terlepas, tangan Windy bergerak ke belakang untuk melepaskan kait bra tersebut. Namun, Windy tidak melepaskan bra yang dikenakannya itu dan sebaliknya, kedua tangannya meluncur ke bawah dan menarik celana yang ku kenakan .
Aku membantu Windy dengan mengangkat pinggulku sehingga celanaku terlepas. Hanya celana dalam saja yang masih tersisa di pinggulku. Namun, Windy pun segera menarik celana dalam itu dan menurunkannya ke kakiku. Setelah semua celanaku terlepas, Windy segera menggenggam kembali batang kejantananku dan mengocoknya perlahan.
Tak mau ketinggalan, aku segera menyingkapkan bra hitam yang dikenakan Windy ke atas. Sehingga aku bisa menyaksikan, betapa kedua payudara yang selama ini sering membusung di balik semua pakaian Windy, bisa aku saksikan dengan utuh. Putingnya yang merah, nampak menonjol dan mengeras, menandakan Windy tengah terangsang hebat.
Tangan kananku segera meremas payudara kiri Windy, sedangkan payudara kanannya aku hisap dan jilat. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan, saat berhasil melumat payudara Windy sedangkan Windy menimpalinya dengan rintihan nikmat serta remasan pada bagian kejantananku.
Entah berapa lama aku menikmati kedua payudara Windy, sampai kemudian kepalaku dipegang oleh Windy. Sambil berbisik, Windy memintaku untuk turun ke selangkangannya. Aku pun menurutinya dengan menarik tubuhku ke bawah sambil menjilati bagian perut Windy yang mulus dan rata tanpa ada lemak menempel.

jilbab hot toge besar (13)
Windy semakin menggelinjang saat aku menjilati bagian perutnya. Sementara tangan kanannya berusaha menggapai batang kejantananku yang terlepas karena posisiku berubah. Aku pun segera memutar dan membuat bentuk 69. Belum sempurna posisiku tersebut, aku merasakan batang kejantananku sudah diremas dan berlanjut pada rasa hangat. Rupanya, Windy sudah mengulum batang kejantananku tersebut dengan rakus.
Aku tak mau kalah, dengan beringas kuturunkan celana renang yang dikenakan Windy. Begitu celana itu tersingkap, aku melihat celana dalam warna merah berenda dengan beberapa bagian terlihat transparan, menjadi benteng terakhir Windy di bagian vitalnya tersebut.
Tak sabar aku segera melolos kedua celana tersebut bersamaan. Windy membantu memudahkanaku melepaskan celana itu dengan mengagkat pinggulnya. Damn! Belum sempurna celana itu lepas dari kaki Windy, pandangan mataku sudah terpaku pada gundukan di pangkal paha Windy yang dipenuhi oleh rambut hitam dan lebat.
Sebuah bau yang belum pernah aku cium, dengan cepat meresap ke dalam indra penciumanku. Inilah bau vagina yang sedang terangsang, yang sering aku baca pada cerita seru di internet. Sangat khas dan menggodaku untuk segera mendekatkan mulutku pada sumber bau tersebut. aku pun merunduk dan kedua tanganku merenggangkan paha Windy.
Begitu kedua paha itu teranggang, nampak bagian kemerahan yang basah ada di balik rerimbunan rambut hitam itu.sebuah bagian, terlihat menonjol. Mungkin inilah yang dinamakan klitoris itu, pikirku.
Aku julurkan lidahku, menyapu bagian kemerahan tersebut. saat lidahku mengenai bagian yang menonjol, aku merasakan tubuh Windy menggelepar, nampaknya Windy mengalami kenikmatan. Segera saja, aku sapu bagian tersebut sebagaimana yang aku baca di berbagai cerita seru. Windy semakin menggelinjang. Hisapannya pada batang kejantananku semakin kuat kurasakan.

jilbab hot toge besar (14)
Sementara, vagina Windy yang basah, terasa semakin basah. Beberapa kali, Windy mengangkat pinggulnya saat aku menghisap klitorisnya. Kukumpulkan ingatanku tentang trik membuat wanita orgasme yang pernah aku baca sebelumnya. Salah satunya adalah, memainkan klitoris ini dengan stabil. Aku coba praktekkan itu, dan nampaknya berhasil.
Sekitar lima menit, aku merasakan Windy semakin kuat menggelinjang. Kedua pahanya, beberapa kali menjepit kepalaku. Sampai kemudian, aku merasakan tangan Windy memegang kepalaku dan menekan ke bawah dengan kuat. Di satu sisi, aku merasa Windy mengangkat pinggulnya sehingga aku sulit bernafas. Aku menduga, inilah saat puncak Windy.
Benar saja, tiba tiba Windy menggelinjang dengan hebat. Pinggulnya melenting ke atas, pahanya dijepitkan pada kepalaku. Begitu pula, tangannya yang menekan kepalaku ke bawah dengan kuat. Sejenak aku tak bisa bernafas, sementara dari vagina Windy seperti banjir oleh cairan vaginanya.
Sekitar dua menit, Windy menikmati puncak kenikmatannya tersebut. kemudian, ketika puncak itu mulai berlalu, Windy dengan terengah-engah, berkata “ tunggu bentar ya, nanti kamu boleh masukin kontolmu itu”.
“beneran Wind? Kamu yakin?” tanyaku memastikan.
Windy mengangguk. “Aku dah gk perawan kok. Masukin aja, keluarin di dalam juga boleh. Ini bukan masa suburku” ujar Windy sambil tersenyum.
Mendengar itu, aku cukup terkejut. Karena di balik penampilannya yang selalu tertutup, dengan kerudung yang tak pernah lepas dari kepala, rupanya Windy sudah tidak perawan. Sebagai seorang perjaka dari desa, tentu pengakuan itu membuatku kaget.
Namun karena nafsu yang sudah menguasai diri, aku seperti lupa diri. Aku lepas kaos satu-satunya yang masih menempel di badan. Sehingga kini aku dan Windy sudah sama-sama bertelanjang bulat. Aku putar tubuhku, kini aku memposisikan menindih tubuh Windy yang masih basah oleh keringat. Tubuhnya putihnya terlihat sangat seksi dengan leleran keringat yang ada di sekujur badannya.
“rangsang aku dulu, biar memekku basa” pinta Windy dengan mata yang sayu merayu.

jilbab hot toge besar (15)
Aku segera mendekatkan bibirku dan mengatupkan kedua bibir kami. Selanjutnya kami saling beradu bibir dan lidah, sambil tanganku sibuk meremas payudara dan sesekali meremas pantat Windy yang bulat padat. Saat berada di payudaranya, jemarik memainkan puting susu Windy seperti sedang memindahkan gelombang radio. Hal ini cukup efektif dalam memacu birahi Windy. Terbukti, setiap kali putinnya kumainkan, Windy mendesah nikmat dan semakin mempererat pelukannya. Sementara satu tangan Windy sudah erat menggenggam batang kejanjtananku yang menunggu saat tepat untuk pertama kali memasuki liang vagina.
Aku dan Windy semakin liar dalam bercumbu. Sesekali, Windy menggulingkan tubuhnya sehingga aku berada di bawah. Beberapa kali pula, kami keluar dari kasur karena dorongan nafsu yang membara. Sampai kemudian Windy berbisik “masukin sekarang, pelan pelan ya, kontolmu gede banget” Jujur saja, ada rasa bangga saat batang kejantananku dipuji oleh Windy. Sebagai gambaran, batangku memiliki panjang 19 cm dengan lingkaar 12 cm saat ereksi.
Mendengar permintaan Windy, aku mulai mengarahkan batang kejanjtananku. Tangan kanan Windy, masih belum terlepas dari batang itu dan mulai menuntuku pada jalan yang benar. Setelah berada di tempat yang tepat, Windy berbisik lagi “ayo dorong pelan-pelan”.
Aku pun mulai mendorong pinggulku ke depan. Benar-benar sensasi yang sulit digambarkan. Seorang perjaka, sedang berusaha menikmati masa-masa pertama memasuki lubang kenikmatan wanita. Saat aku mulai merasakan ada hambatan, saat itu pula aku melihat Windy mendesah dan mengagkat kepalanya.
“terus sayang, pelan-pelan” pinta Windy.
Aku pun kembali mendorong kejantananku lebih dalam. Windy terlihat seperti menahan sesuatu. Kedua pahanya direntangkan lebar-lebar. Aku yang belum tahu harus berbuat apa, hanya bingung dan diam. Untungnya, Windy segera paham. Dimintany a aku mendorong lebih dalam lagi batang kejantananku. Pelan-pelan sampai kemudian Windy berteriak “ahhhh udah yang, udah mentok”.
Mendengar perkataan Windy, sejenak aku berdiam diri. Terus terang, saat itu aku merasa seperti hendak meraih puncak saja. maklum, baru pertama kali, batang kejantananku berada di tempat yang seharusny tersebut. namun aku berusaha menahannya.
Nampaknya, Windy mengerti kebingunganku. Dia kemudian membimbingku dan memintaku menarik keluar batang kejanjtananku. Aku pun menurutinya dan menarik perlahan lahan. Sebelum benar-benar keluar, Windy memintaku untuk mendorong nya lagi ke dalam.

jilbab hot toge besar (16)
Begitulah seterusnya, aku segera bisa mengontrol diri. Aku berusaha rileks agar tidak cepat mengalami orgasme. Setelah merasa rileks, aku segera bergerak menaik turunkan pinggulku di atas pinggul Windy.
Windy yang merasakan nikmat, menggeleng gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tanganku pun, bergantian meremas payudara Windy yang bulat dan ranum tersebut. tiba-tiba, Windy memintaku berhenti dan mengeluarkan batang kejantananku.
Setelah batang kejantananku kucabut, Windy kemudian beranjak dari kasur. Kemudian dia membalikkan badan dan mulai membungkuk. Rupanya, Windy ingin berganti gaya yaitu Doggy style. Lagi-lagi, aku sediikit mengalami kesulitanuntuk menembus liang vagina Windy karena belum pernah mengalaminya.
Namun, akhirnya berhasil juga setelah Windy membantuku membuka lebar-lebar liang vaginanya. Dengan posisi doggy style ini, aku bisa dengan leluasa menikmati keindahan pantan Windy yang bulat dan padat serta punggungnya yang mulus serta putih seperti pualam.
Kemudian, masi dengan posisi doggy style, Windy menarik kedua tanganku. Dibawanya tanganku ke bawah badannya. Rupanya, Windy menginginkan aku meremas kedua payudaranya. Akhirnya aku berusaha keras untuk bisa meremas kedua payudaranya sekaligus memainkan vagina Windy dengan batang kejantananku.
Rupanya, Windy sudah tidak tahan lagi atas rangsangan yang diterimanya. Windy memintaku untuk lebih cepat menyodok vaginanya. Dan benar saja, tiba-tiba saja, Windy berteriak “aaarrghhhhhh oouhghhhh Royy……………aaaakkkk… …….uuuuuuuu daa….peeeeeeeeeeeeeeeetttttt tt”.
Saat itu pula aku merasakan jepitan yang sangat kuat pada bagian batang kejantananku. Akibatnya aku tak mampu lagi untuk menahan keluarnya cairan kenikmatan itu. Sebelum Windy selesai menikmati kenikmatannya, aku segera menyusulnya. Kusemburkan seluruh cairan itu di dalam vagina Windy yang sedang menungging dengan kepala tergeletak di kasur,
Entah berapa banyak semburan sperma yang aku ledakkan di dalam vagian Windy. Sebab, rasa nikmat yang aku rasakan, karena untuk pertama kalinya bisa orgasme di dalam vagina seorang perempuan mengalahkan segala akal sehatku. Termasuk, ketika menyadari bahwa Windy bukanlah siapa-siapaku saat itu. Wiindy masih seorang teman tanpa ikatan kasih.
Namun semua itu, seperti tak muncul di otakku. Yang ada hanyalah, ingin merasakan kenikmatan seksual secara nyata. Bukan sekedar berfantasi menggunakan cerita-cerita porno di berbagai media.
Setelah semua tumpukan sperma berhasil kukeluarkan, aku segera mencabut batang kejantananku dari vagina Windy. Saat itu pula, cairan putih kental turut mengalir dari vagina Windy. Ada rasa penyesalan dan takut bila Windy marah atas apa yang aku lakukan padanya.
Saat itu, Windy masih memejamkan mata dengan posisi menungging. Aku pun terdiam dalam posisiku, menunggu reaksi Windy atas apa yang baru saja kami lakukan. Aku siap, apabila Windy hendak menamparku atau memukulku. Namun aku salah.
Beberapa saat kemudian, aku melihat Windy membuka matanya dan merebahkan tubuhnya sehingga terlentang. Seulas senyum, tersungging dari bibirnya yang sexy. “makasih ya, kamu hebat. Bisa membuatku kelojotan dua kali. Maaf, aku merenggung keperjakaanmu ya” kata Windy.
“he, makasih juga kamu mau mengajariku. Beneran nih kamu gk marah aku keluarin di dalam?’ tanyaku khawatir.
“Gak papa. Aku lagi gk subur sekarang. Tenang aja”.
Windy kemudian bangkit dan mengenakan T-Shirtnya. Aku pun turut mengenakan pakaianku.
“Win, boleh tanya gak? Sejak kapan kamu gk perawan? Maaf kalau kamu gk mau jawab gak papa” tanyaku.
“He, gak papa kale… ehmm..aku dulu melakukannya pas kelas dua SMA. “ jawab Windy
“Dengan pacar?” selidikku
“iyalah. Dan kamu orang kedua yang melakukannya padaku” jawab Windy.
Hening. Hanya suara hujan yang masih tersisa memenuhi ruangan kamarku.
“udah gk usah dipikirin. Anggap aja menghangatkan badan. Yuk anter aku pulang” ujar Windy memecah kesunyian sambil tersenyum. “yaudah yuk” kataku.
Next day
Jam 06.00 pagi, aku bergegas mengambil motor. Sebuah keputusan harus diambil. Kuarahkan motor kesayangangku, menuju kost putri yang berlantai dua dengan pohon cemara di bagian depan. Suasana kos masih sepi, seperti biasa. Kuparkirkan motor, dan menuju ke ujung bangunan. Kamar nomor tujuh yang menjadi arah langkahku.
Kamar itu masih gelap. Aku yakin penghuni kamar itu belum bangun. Setelah mengetuk beberapa kalli, baru terdengar suara serak tanda mengantuk dari penghuni kamar. “Klik…” suara anak kunci diputar yang diiringi pintu kamar dibuka.
“eh kamu..masuk” sesosok wajah dengan muka mengantuk dan rambut khas orang bangun tidur, terlihat dari balik pintu dan menyuruhku masuk. Aku pun segera masuk ke kamar dan menutup pintu itu. Sementara, sang pemilik kamar sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
Kurang dari lima menit, pemilik kamar itu keluar dari kamar mandi. Wajahnya nampak terlihat lebih segar. Dia berjalan menghampiriku, tanpa merasa risih meski pun hanya menggunakan lingerie berwarna merah transparan. Sehingga aku bisa tahu bahwa pada saat itu, di balik lingerie merah dia tidak lagi mengenakan bra dan membiarkan kedua payudaranya yang indah terlihat olehku. Hanya g string merah yang menutupi bagian paling rahasianya.
“ngapain pagi-pagi kesini? Kangen pengen lagi?” tanya Windy, si pemilik kamar.
“enak aja. Aku mau minta maaf atas kejadian kemarin Wind. Sumpah aku gk bisa menahan diri.” Ungkapku.
“Yaelah Roy, kek anak kecil aja. Biasa aja kale. Toh kita sama-sama menikmatinya kan” ucap Windy sambil tertawa.
“ya udah apapun pendapatmu, aku kesini Cuma mau minta maaf”
“Cuma itu? Ah, gangguin tidur aja kamu” kata Windy dengan muka yang dibuat seperti marah.
“ya selain itu, sebagai bentuk penyesalanku, kamu mau gak jadi pacarku?” tanyaku dengan keberanian yang entah tiba-tiba saja datang.
“hahahaha yang bener? Jadi kamu pengenpacaran ama aku hanya karena menyesal udah meniduriku? “
“ya enggaklah. Dari pertama aku udah suka ama kamu. Cuma aku gk berani ngomong. Maklum, aku belum pernah pacaran. Apalagi sampai melakukan yang kita lakukan kemarin. Sekarang, aku berani ngomong”
“kamu nggak nyesel? Aku kan dah gak perawan?” tanya Windy sedikit serius.

jilbab hot toge besar (1)
“Nggak, buatku kejujuranmu jauh lebih penting” tegasku.
“Ya udah aku mau jadi pacarmu. Tapi ada syaratnya” kata Windy, kali ini disertai senyum misterius.
“apa syaratnya?”
“ehhhmmmm kapanpun aku pengen melakukan seperti yang kemarin, kamu harus siap. Gimana” ujar Windy dengan nakal
“haahh…kalau Cuma itu sih, aku siap banget”ujarku dengan semangat
“buktikan donk!” ucap Windy dengan cepat
“Buktikan gimana?” tanyaku dengan heran.
“ya masak, aku dah pake lingerie gini gak kamu apa apain. Lebih baik kita putus!” Windy pura pura marah.
“whattsss…ayo dah…” dan pagi itu, hari jadian kami bukan ditandai dengan malam pertama. Namun, menjadi pagi pertama. Setelah menjalani hubungan beberapa waktu, barulah aku tahu, bahwa Windy memiliki selera sex yang sangat tinggi. Hampir setiap hari, Windy mengajakku bercinta. Kami hanya berhenti bercinta, pada saat Windy mendapatkan tamu rutinnya saja. Dan yang aku sukai dari Windy adalah, dirinya tidak memaksaku menggunakan kondom. Sebagai pelindung, Windy selalu rajin meminum pil KB dan memintaku tidak orgasme di dalam vaginanya apabila sedang masa subur. Sebagai gantinya, Windy merelakan mulutnya sebagai tempatku memuntahkan cairan kenimmatanaku.
Sayangnya, hubungan kami tidak berlangsung lama. Karena, setelah wisuda, Windy diminta kembali ke Manado dan tidak melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Perpisahan kami lakukan dengan baik-baik. bahkan, kami membuat pesta perpisahan yang sangat mengesankan, yang akan aku ceritakan lain waktu. Karena sekarang ini, sedang dalam edisi kisah pacar-pacarku saja.

INDAH

Sore itu aku begitu suntuk di kantor, karena sekretarisku melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga perusahaanku ditolak untuk mengikuti tender yang bernilai Rp 12M. Sekretarisku hanya menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dan dia berjanji akan melakukan apa saja untukku untuk menebus kesalahannya itu agar ia tidak dipecat olehku. Aku tidak menanggapi tangisan dan janjinya, karena perasaan dongkol di dalam dada telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai cukup besar bagi perusahaanku. Untuk menghilangkan kekesalanku, aku meninggalkan kantor berjalan kaki menyusuri jalan berusaha menghilangkan kekesalan yang melanda dada, sedangkan BMW-ku kutinggalkan di kantor.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini, kuperkenalkan terlebih dahulu identitasku. Namaku adalah Agus, umur 32 tahun dan karena keuletan dan kerja keras, saat ini aku telah berhasil sebagai direktur utama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan penyediaan barang di kota kembang Bandung. Statusku saat ini masih bujangan, karena waktuku kugunakan untuk kerja keras. Menurut teman-temanku wajahku termasuk wajah yang memperlihatkan karakter lalaki yang sangat jelas walaupun tanpa kumis dan janggut yang lebat, oleh sebab itu sudah banyak cewe yang berusaha mendekatiku dan mengajak kencan, termasuk sekretarisku yang baru saja membuatku kesal.

Namun sebagai lelaki normal, tentu saja aku membutuhkan penyaluran biologis, tapi hal itu bukanlah masalah besar bagiku. Setiap wanita yang mendekatiku selalu memberikan apa yang kubutuhkan dengan harapan agar dipilih olehku untuk kunikahi. Namun aku cukup hati-hati dalam menyalurkan arus bawah ini, karena aku tidak ingin terjebak oleh perangkap cewe-cewe yang mendekatiku.

Walaupun aku bukanlah tipe lelaki yang suci, tetapi mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat memperistri seorang wanita baik-baik khususnya yang berjilbab, karena dimataku mereka begitu cantik, anggun dan mempesona.

Kakiku terus melangkah menyusuri jalan Asia-Afrika sambil melamun. Keringat yang membasahi kemejaku membuatku kurang nyaman, kucopot dasi dan kumasukkan ke dalam saku celana, kemudian satu kancing kemeja kulepas untuk mengurangi rasa gerah. Disekitar alun-alun Bandung, aku berhenti sejenak dan membeli teh botol yang dijual dipinggir halte bis kota jurusan Cicaheum – Cibeureum. Aku meminumnya dengan rakus untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ketika menjauhkan botol dari mulutku, tiba-tiba aku terpana melihat senyuman yang dilontarkan oleh seorang gadis berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Rupanya dia melihat apa yang kulakukan pada saat aku minum teh botol dengan rakusnya, dan merasa kelakuan itu lucu sehingga ia tersenyum. Ketika dia sadar aku memandangnya terpesona, dia langsung membuang muka.

Walaupun pertemuan pandangan mata itu hanya sesaat, namun cukup menggetarkan hatiku dan melepaskan kekesalan yang sedang melandaku. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya sedetikpun, tapi dia hanya tertunduk dan sekali-sekali melihat apakah bis kota yang dinantinya ada atau tidak.

jilbab montok bohay (2)

Aku terus memperhatikannya, umurnya kuperkirakan sekitar 24 tahun dan dari pakaian yang dikenakan aku menebak bahwa ia adalah karyawati salah satu departement store yang ada di sekitar alun-alun Bandung.

Aku sadar akan kekurang ajaran tatapanku padanya, maka ikut-ikutan melihat seolah-olah sedang menunggu bis kota juga. Begitu bis kota yang ditunggu datang, dia berusaha naik, tanpa sadar aku turut naik bis kota tersebut dan tepat berada di belakangnya. Penumpang bis demikian penuhnya hingga berdesak-desakan sambil berdiri, karena bertepatan dengan waktu pulang kerja. Bis kota yang penuh sesak itu bergoyang-goyang, namun aku berusaha untuk tidak menempelkan badanku padanya, aku berusaha agar dia merasa nyaman walaupun sambil berdiri. Rupanya dia menyadari apa yang kulakukan, kemudian dia memandangku dan tersenyum manis, lalu menunduk kembali.

Serrrr… dadaku bergetar mendapat senyum manis darinya. Aku tidak ada keberanian untuk menanyainya, bahkan merasa bingung apa yang harus kulakukan. Sepanjang jalan aku hanya melamunkan bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya.

Disekitar Gang Gwan An, kulihat gadis itu turun. Karena jalanan macet, maka aku dapat terus memperhatikan langkah kakinya hingga ia belok ke arah suatu Gang. Hatiku semakin tergetar dan terpana melihatnya berjalan demikian anggunnya. Setelah dia hilang dari pandangan mata, baru aku tersadar bahwa aku sudah terlalu jauh dari kantorku. Langsung aku turun dipemberhentian selanjutnya dan ke kantor menggunakan taxi. Kemudian aku bergegas pulang ke rumahku di Margahayu Raya.

Di rumah, aku terus-menerus gelisah. Bukan gelisah memikirkan kegagalan tender, tetapi gelisah karena bayangan gadis cantik berjilbab itu terus menggodaku. Senyum manis dan tatapan mata yang teduh betul-betul menggetarkan hatiku dan tidak bisa kulupakan. Sambil berbaring dan memeluk bantal aku terus melamunkan gadis cantik berjilbab yang telah meruntuhkan hatiku… sampai aku tertidur dan memimpikan tentang dirinya.

Keesokan harinya aku ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Sekretaris dan anak buahku yang lain terheran-heran karena melihatku tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah kecewa dan marah akibat kegagalan kemarin, Sekitar jam 4 sore, dengan terburu-buru aku keluar dari kantor dan meninggalkan mobil BMW-ku, kemudian mencari taxi untuk mengantarku ke halte tempat aku bertemu dengan gadis idamanku. Aku tiba disana terlalu cepat, dengan sabar aku menantinya, hingga akhirnya gadis pujaanku datang. Jantungku berdebar sangat keras, keringat dingin keluar dari pori-poriku dan membuatku salah tingkah. Aku benar-benar bagaikan pemuda ingusan yang baru mengenal cinta.

jilbab montok bohay (3)

DEG… jantungku berhenti berdetak ketika dia memandangku dan tersenyum manis lalu menundukkan kepala. Aku semakin salah tingkah, dorongan untuk menegurnya begitu besar, namun badanku terasa kaku dan mulutku terasa terkunci. Aku hanya dapat merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan keras serta napas yang memburu. Dan seperti kemarin, hari inipun aku naik bis kota mendekati dirinya, walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Namun aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dan berdekatan dengannya. Dia turun di sekitar Gg. Gwan An kemudian aku kembali ke kantorku menggunakan taxi.

Kejadian seperti itu kulakukan setiap hari selama seminggu, namun pada minggu kedua aku tidak menemuinya ditempat pemberhentian bis kota walaupun aku mencarinya hampir setiap hari.Baru minggu ke tiga aku kembali bertemu dengannya dan dengan memberanikan diri aku bertanya padanya ketika sama-sama menunggu bis kota.“Pulang kerja Neng ?” pertanyaan basa-basi kulontarkan.

“Iya, Kang. Akang pulang kerja juga ?” dia balik bertanya.

“Iya, Neng. Eneng kerja dimana?” tanyaku lagi

“Di Matahari, kalau akang? “ dia balik bertanya

“Ah, akang mah supir di perusahaan…“ tanpa sadar kuucapkan nama perusahaanku dan alamat kantorku.

“Oohhh, akang baru kerja di sana ya?” dia mulai berani bertanya padaku.
“Iya, baru dua minggu…” jawabku berbohong, sebab aku baru dua minggu bertemu dengannya disini.

Pembicaraan terhenti, karena bis yang ditunggu tiba, kami menaikinya dan kebetulan penumpang tidak begitu ramai, sehingga ada tempat duduk kosong untuk ukuran dua orang. Kamipun duduk berdampingan.

“Ehh, ngomong-ngomong, perkenalkan. Nama saya Agus!” kataku seraya menyodorkan tangan, dia menyambut jabatan tanganku dengan lembut dan menjawab, “Indah..”

Aku terpana merasakan kelembutan tangannya dan tanpa sadar terucap “Oohhh… Indah, seindah wajah dan penampilannya.” kataku berguman.

“Ada apa, Kang ?” dia bertanya padaku karena ucapanku tak didengarnya.

Aku gugup dan dengan tergagap menjawab “Ti-tidak, anu…ehh… Namanya Indah, seindah wajah dan penampilan yang menyandangnya. Maaf…” kataku takut dia tersinggung dan menganggap aku kurang ajar.
“Ah, Akang bisa aja.” katanya sambil tersenyum . Serrrr… hatiku kembali bergetar.

Sepanjang jalan kami bercakap-cakap, aku tetap hati-hati menjaga sikap dan seperti biasa Indah selalu menundukkan wajahnya setiap setelah bertanya ataupun menjawab pertanyaanku. Perasaanku saat itu benar melayang bahagia, sehingga tanpa terasa Indah harus turun. Dan seperti biasa aku pulang sebagaimana biasa.

Hari-hari berikutnya, betul-betul merupakan hari-hari yang indah bagiku, aku selalu mengerjakan dengan cepat semua pekerjaanku. Dan sekitar jam empat, aku sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengannya. Bahkan kadang-kadang aku sudah menongkrong didepan Matahari menunggu dia keluar sehingga aku punya banyak waktu untuk ngobrol dengannya, bahkan kadang-kadang kubawa mobilku dengan alasan Boss mengijinkanku membawa mobilnya untuk alasan tertentu. Dari obrolanku dengannya, kuketahui bahwa dia sudah 1,5 tahun bekerja di sana dan dia bekerja dengan sistem shift, seminggu pagi hingga sore dan seminggu lagi sore hingga malam sekitar jam sembilan.

Sampai saat ini aku masih menjaga sikapku padanya agar dia tidak menjauh dariku. Bahkan kadang-kadang dengan alasan ingin jalan-jalan ke Matahari, Aku sengaja menemuinya ditempatnya bekerja

Sikapku yang terlihat begitu menghargai dan menghormati dirinya menimbulkan rasa simpati yang cukup besar dari dalam diri Indah. Perasaan simpati itu lambat laun berubah menjadi rasa suka dan rasa sayang yang membingungkan bagi diri Indah, namun sejauh ini hubungan itu masih tetap terjaga dari perbuatan tercela, hal itu membuat Indah semakin suka dan merasa nyaman bila berdekatan denganku, sehingga ada kerinduan dalam diri Indah jika satu atau beberapa hari tidak bertemu denganku. Namun demikian, Indah sendiri merasa bingung dan gundah dengan perasaannya pada diriku.

Sedangkan aku merasa sangat berbahagia dengan hubungan ini, walaupun hanya sebatas ngobrol didalam bis kota yang hanya beberapa menit setiap hari, namun sanggup mengisi kekosongan jiwaku selama ini.

Hubunganku dengan Indah semakin akrab dan indah menurutku, kami bisa tertawa bersama, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan kepada hal-hal pribadi diriku. Namun ada satu masalah yang masih mengganggu pikiranku, Indah selalu menghindar jika kutanyakan hal-hal pribadi dirinya bahkan menolak dengan keras jika aku ingin ke rumahnya. Dia hanya berkata, “Kang, Indah memiliki masalah yang sangat berat dan tiada seorangpun yang dapat mengurangi beban berat ini. Indah mohon Akang bisa mengerti.”

Berkali-kali aku mendesaknya untuk membantu meringankan bebannya, tapi setiap kali itu pula dia menolak dengan keras, bahkan pernah mengancam untuk tidak usah bertemu lagi, jika aku tetap memaksanya. Aku menyerah dan dalam hati aku berpikir biarlah keadaan tetap seperti ini daripada tidak bisa lagi bertemu dengannya, sebab dengan keadaan seperti inipun aku sudah merasa sangat bahagia dan tenang.

Sore ini telah masuk bulan keempat perkenalanku dengan Indah, dan aku sangat gelisah, karena hujan turun sejak siang dan sampai jam empat belum berhenti juga. Dan akhirnya kugunakan mobilku menuju Matahari tempat kerja Indah. Di tempat kerja Indah, terlihat olehku Indah sedang tertunduk ketakutan sedang dibentak dan dimarahi oleh supervisornya, karena tanpa disengaja olehnya seorang pelanggan telah merusak barang dagangan yang harganya cukup mahal, dan harus diganti oleh Indah. Kutawar barang yang sudah rusak itu untuk kubeli dengan harga normal agar Indah terhindar dari sanksi.

Supervisor menyetujuinya dan akhirnya barang itu kubayar, kemudian Indah berkata padaku tanpa sepengetahuan supervisornya. “Tunggu di depan ya, Kang, kita pulang bareng lagi.”

Aku mengangguk sambil membawa barang yang kubeli.

Aku menunggu di depan dan hujan masih turun dengan lebatnya. Tak lama kemudian Indah muncul dan berkata dengan nada khawatir. “Waduh, gimana nich? Hujannya lebat banget. Kita tungguin aja ya, Kang?”

Tapi aku mengajaknya ke tempat parkir sambil berkata, “Kita pulang sekarang aja. Akang bawa mobil Boss kok.” kemudian menuju tempat dimana BMW-ku kuparkir.

Indah berkata, ”Masa sich mobil BMW Boss, Akang bawa-bawa terus.”

“Boss sedang Diklat di Preanger selama 3 malam dan di karantina, sehingga nggak boleh kemana-mana, jadi selama 3 malam ini BMW ini boleh Akang bawa-bawa. “ kataku memberikan alasan membawa BMW.

“Oh gitu…” kata Indah mengerti.

Di sepanjang jalan, Indah meminta maaf telah merepotkanku sehingga harus mengganti barang yang rusak dan dia berjanji akan mengganti uang yang kukeluarkan. Tapi aku menolaknya dan berkata. “Nggak apa-apa, Ndah, nggak usah diganti. Kebetulan Akang dikasih tip sama Boss cukup besar, jadi barangkali itu bukan rezeki Akang.”

“Walaupun bagaimana, Indah pasti akan mengganti uang Akang.” katanya memaksa.

jilbab montok bohay (4)

“Yah terserah Indah lah.” kataku menyerah.

Setelah mobil tiba di mulut gang menuju ke rumahnya, aku mengambil payung yang ada di dalam mobil dan berniat untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Namun kembali dengan tegas dia menolak keinginanku dengan berkata, “Kang, seperti yang pernah saya katakan, jika Akang ingin kita terus bisa bertemu, Akang tidak boleh datang ke rumah saya sebelum masalah berat yang saya hadapi dapat diselesaikan. Sekali lagi saya mohon pengertian Akang. Payung ini saya pinjam dan besok saya kembalikan.” Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan diriku yang termangu kecewa.

Hari-hari berikutnya aktivitasku dengan Indah berjalan seperti biasa, namun sekali-sekali aku membawa mobilku dengan memberikan berbagai alasan padanya, bahkan Indah mulai bersedia kuajak makan sebelum kuantar pulang ke depan gang rumahnya.

Pada hari suatu hari sabtu sekitar jam 8 pagi, saat aku sedang membaca koran di ruang kerjaku, tiba-tiba hp-ku bunyi dan betapa berbunga-bunganya hati ini ternyata yang menghubungiku adalah Indah.

“Assalamu’alaikum, ada apa, ‘Ndah?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, Akang ada waktu nggak?” balasnya.

“Lagi kosong nich.” jawabku bersemangat. ”Kenapa?” lanjutku.

“Akang bisa ke sini, ke Matahari…”

Ucapannya belum selesai dan langsung kupotong. “Ok. Tunggu 10 menit. Akang kesana!” jawabku semangat, dan kututup hp dan bergegas menuju ke tempat dimana mobilku diparkir.

Tak sampai 10 menit, aku sudah tiba di Matahari dan menemuinya. Setelah bertemu, Indah menjelaskan. “Seharusnya hari ini Indah masuk pagi, tapi teman Indah minta tukeran jadwal, karena nanti malam ada acara yang sangat penting. Indah setuju karena ingin membantu teman. Tapi sekarang Indah bingung, di rumah suntuk, sedangkan masuk kerja nanti sekitar jam 3.30 sore. Gimana nich?”

“Kita jalan-jalan aja, kebetulan Akang bawa mobil karena tadi pagi Akang baru mengantar boss ke Bandara, besok pagi baru Akang jemput,” usulku.

“Jalan-jalan kemana, Kang?” tanyanya ragu-ragu.

“Bagaimana kalau ke Tangkuban Perahu, nanti sebelum jam 4 sore kita udah disini lagi.” usulku lagi.

“Bolehlah, Kang.” jawabnya setuju. Lalu kami menuju ke mobilku berangkat ke arah utara kota Bandung.

Di tengah perjalanan kutanyakan padanya kenapa suntuk di rumah dan dia tidak mau menunggu di rumah saja hingga menjelang sore.

“Masalah yang dihadapi Indah makin berat aja sehingga akan semakin suntuk kalo Indah pulang ke rumah. Indah pingin ngobrol agar rasa suntuk ini berkurang.” jawabnya.

“Kenapa sich Indah tidak mau ngasih tahu Akang tentang masalah yang sedang dihadapi? Mungkin Akang bisa bantu meringankan.” tanyaku.

“Nanti pada waktunya akan Indah terangkan dan rasanya sekarang Indah belum sanggup menjelaskan ke Akang, maaf ya, Kang.”

Aku hanya menghela napas panjang dan tak berani menanyakan lebih lanjut. Dan akhirnya ganti topik pembicaraan.

Sepanjang perjalanan hatiku berbunga-bunga, karena baru kali ini aku bisa berlama-lama bersama dengannya dan terlihat olehku, walaupun dari sorot matanya dia seperti memendam masalah yang berat, namun tidak mampu menyembunyikan keanggunan dan kecantikan wajahnya. Dadaku berdebar-debar keras, tapi aku sangat menikmati suasana debaran jantung yang membuat napasku terasa berat dan sesak ini.

Kurang lebih 40 menit kemudian, kami telah tiba di Tangkuban Perahu. Kuparkirkan mobilku tak jauh dari kawah Ratu dan berjalan-jalan menikmati pemandangan indah kawah tersebut.

Terkadang tangannya kupegang sehingga kami tampak bagaikan sepasang suami istri yang sedang berlibur. Kami sangat menikmati suasana ini, dan tanpa kami sadari pegangan tangan kami semakin erat mengalirkan getar-getar nikmat diseluruh peredaran darahku, mungkin juga Indah merasakan hal yang sama denganku sebab seringkali tanganya meremas-remas erat tanganku. Kami duduk di tempat yang memiliki view keindahan kawah yang indah tersebut dan mengobrol sambil berpegangan tangan, hawa dingin tangkuban perahu seolah tidak kami rasakan.

Karena saat itu adalah musim hujan, maka langit mendung dan makin lama makin pekat menghitam seolah-olah akan segera turun hujan. Namun kami yang sedang asyik ngobrol seolah tidak menghiraukan keadaan cuaca tersebut. Sehingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Kami tersentak dan langsung berlari menuju tempat berteduh, tetapi posisi kami berada jauh dari kios-kios pedagang bahkan lebih dekat ke areal parkir, maka kuputuskan untuk berteduh di dalam mobilku. Badan kami basah kuyup ketika kami masuk ke dalam mobil karena cukup jauh kami kehujanan. Diluar, hujan semakin lebat dan kami mulai kedinginan, karena mengenakan pakaian yang basah oleh air hujan ditambah lagi dengan dinginnya hawa gunung Tangkuban Perahu.

Untuk mengurangi rasa dingin dari bajuku yang basah, dengan meminta maaf padanya kubuka bajuku dan kuperas bajuku agar seluruh air yang menempel dibajuku keluar lalu kuhanduki tubuhku dengan handuk yang biasa aku bawa di dalam mobil. Indah memandang dadaku yang telanjang, selintas kulihat ada tatapan kagum melihat tubuhku yang atletis. Dia terpana melihat tubuhku yang basah kemudian tertunduk. Entah apa yang ada dipikirannya

Aku kasihan melihat Indah mengigil kedinginan, kutawarkan handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya dan kutawarkan pula jaket yang selalu ada didalam mobilku untuk dia kenakan. Indah menerima handuk dan jaket yang kutawarkan, namun sejenak dia bingung. Aku paham yang dibingungkannya, lalu berkata, “Ganti aja baju basahmu dengan jaket itu di jok belakang. Aku tidak akan melihat pada saat kamu buka baju.”

Indah memandangku sejenak dan karena rasa dingin semakin menusuk tulangnya maka dia berkata, “Awas lho… Akang nggak boleh ngintip waktu Indah buka baju.“

Aku mengangguk, kemudian dia beranjak ke jok belakang dan membuka baju basahnya untuk diganti dengan jaket yang kuberikan. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha untuk tidak mengintip, tapi dari kaca spion yang ada di atas kaca depan, terlihat olehku dia membuka baju basahnya dengan tergesa-gesa.

Napasku sesak dan jantungku berdebar kencang, ketika dari kaca spion terlihat betapa putih dan mulusnya tubuh gadis berjilbab itu. Dan Indah tidak sadar bahwa aku dapat melihat dia bertelanjang dada, hanya tertutup oleh bh krem yang menopang buahdada yang montok dan ranum serta jilbab basah yang menutupi kepalanya. Dengan perlahan dia mulai mengeringkan badannya dengan handuk dan napasku semakin memburu dan gairahku bangkit dengan cepat melihat pemandang indah itu.

Setelah badannya dirasakan cukup kering, maka Indah mulai mengenakan jaket yang kuberikan sementara baju basahnya dia peras dan digantungkan di jok depan menggantung ke belakang. Kemudian berkata, “Sekarang sudah agak mendingan, tidak terlalu kedinginan seperti tadi. Makasih, Kang.”

Aku tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhku ke belakang sehingga dapat menatap tubuhnya yang sudah mengenakan jaketku, sementara jilbab dan rok panjang yang basah masih dia kenakan.

Aku mengeluh dalam hati, Uhhh… gadis ini memang luar biasa cantik. Menggunakan pakaian apa saja tetap saja terlihat cantik. Aku terpana memandangnya tanpa berkata-kata membuat Indah malu dan berkata, ”Ada apa sich, Kang, melihat Indah seperti ada yang aneh?”

“Ah nggak.” jawabku malu.

Sambil menunggu hujan yang kian lebat, kami mengobrol banyak hal. Namun posisi tersebut membuatku kurang nyaman, akhirnya aku melangkahi jok depan untuk pindah ke jok belakang. Indah tidak protes ketika aku pindah ke jok belakang sehingga duduk kami berdampingan. Hawa gunung tangkuban perahu yang dingin menusuk tulang ditambah lagi dengan hujan lebat yang tak kunjung reda, membuat badannya menggigil kedinginan apalagi aku yang pada saat itu sedang bertelanjang dada, sehingga tanpa kami sadari duduk kami semakin rapat dan kedua tanganku memegang kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Perlahan namun pasti, ada hawa lain yang menyertai rasa dingin yang kami alami, yaitu suatu hawa yang membuat peradaran darah kami mengalir dengan cepat disertai dengan getaran-getaran yang mulai menghangatkan tubuh serta menarik kedua tubuh kami semakin rapat, tanpa kami sadari napasku semakin memburu demikian juga deru napas Indah semakin jelas terdengar. Dingin yang kurasakan semakin berkurang tergantikan dengan dorongan gairah yang meronta-ronta. Aku tak tahu, apakah Indah juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kepala kami, makin lama semakin mendekat hingga suatu ketika kulihat dengan napas yang terengah-engah Indah menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk mengecup bibir sensual yang menantang tersebut. Pertemuan bibir itu terasa kaku, namun hanya beberapa detik dilanjutkan dengan hisapan-hisapan yang membuat perasaanku melayang-layang, beberapa detik kemudian Indah mulai membalas hisapan bibirku dengan gairah yang sama, sehingga kedua bibir kami saling hisap dan saling kecup. Gairahku semakin meninggi dan tubuhku mulai terasa panas menggantikan dingin yang tadi kurasakan.

Indahpun semakin bergairah menciumku dan lidahnya mulai menerobos mulutku sehingga kedua lidah kami saling bertemu dan saling menjilat. Ciuman itu semakin panas, kedua napas kami semakin terengah-engah didorong oleh nafsu yang semakin menggebu, tanpa kami sadari tanganku telah memeluk tubuhnya dengan sangat erat demikian juga Indah, tangannya memeluk, membelai dan mengusap punggungku yang telanjang.

Tiba-tiba, dengan napas yang masih terengah-engah. Indah melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku serta berkata, ”Apa yang kita lakukan, Kang? Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh.” katanya terbata-bata seperti ketakutan.

Aku terkejut dan menghentikan cumbuanku. Aku tidak ingin memaksakan gairahku padanya, takut hal itu menyakiti hatinya, karena Aku mencintai Indah sejak pertama kali bertemu. Dengan nafas yang masih memburu, aku berkata, “Tahukah, Ndah? Bahwa Akang sudah jatuh cinta ke Indah sejak pertama kali melihat Indah mentertawakan kelakuan Akang di halte bis 4 bulan yang lalu. Oleh sebab itu akang selalu ingin bertemu dengan Indah.”

“Indah juga suka ke Akang… dan Indah tahu bahwa Akang suka ke Indah, tapi Indah takut, Akang akan kecewa. Indah tidak pantas dicintai oleh Akang.” setelah berkata demikian, Indah menangis tersedu-sedu seperti ingin menumpahkan segala beban yang dideritanya.

Aku terkejut dengan perkataannya dan berkata dengan suara bergetar “Apanya yang tidak pantas, apa karena Akang hanya seorang supir sehingga Indah merasa tidak pantas?”

Indah terkejut mendengar ucapanku dan memelukku serta merebahkan kepalanya di dadaku sambil berkata, ”Bukan. Bukan itu. Ohhh, kenapa jadi begini?” terlihat Indah sangat bingung dan kembali menangis bahkan lebih tersedu-sedu.

Aku semakin heran dan bingung, sambil mengelus-elus jilbabnya aku berkata dengan lembut “Kalau gitu, apa dong?” tanyaku sambil terus membelai-belai kepalanya yang terhalang jilbab agar dia merasa aman dan nyaman.

Lama Indah tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya sesenggukan di dadaku. Tak lama kemudian dengan suara bergetar dia berkata. “Indah suka ke Akang, Indah juga ingin selalu bertemu dengan Akang, dan Indah merasa aman dan nyaman berdekatan dengan Akang, tapi…”

“Tapi apa, Ndah?” tanyaku memaksa.

jilbab montok bohay (5)

“Saya mohon, Akang jangan memaksa, yang penting Akang sudah tahu… Indah suka ke Akang dan selalu merindukan Akang.” katanya lagi sambil menyusupkan kepalanya di dadaku. Aku tidak mau memaksanya lebih lanjut, yang penting saat ini aku sudah tahu bahwa Indah ternyata suka padaku dan selalu merindukanku. Dan hal itu merupakan jawaban yang cukup membahagiakan bagi diriku. Maka aku memeluknya semakin erat.

Lambat laun gairahku dan gairahnya mulai bangkit melawan hawa dingin yang kembali menyerang kami. Aku mulai mencium kepalanya, bergeser ke kening, Indah memejamkan matanya dan napasnya semakin memburu.

Kuciumi matanya yang kiri dan kanan, dan nampaknya Indah menikmati apa yang kulakukan. Kugeser lagi bibirku hingga mencium pipinya yang kiri dan kanan hingga akhirnya mulut Indah terbuka sambil memejamkan mata. Kusambut bibir indah yang terbuka itu dan langsung kuhisap dan kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir dan bagian dalam mulut. Diluar dugaanku, Indah menyambut ciumanku kali ini dengan hangat dan lebih bergairah, dengan napas terengah-engah penuh gairah, bibir Indah balas menghisap dan menjilat bibirku, kedua tangannya merayap membelai punggung dan dadaku.

Kembali badanku melayang diombang ambing oleh kenikmatan percumbuan ini. Secara perlahan, sambil berciuman dengan penuh gairah tangan kananku menarik sleting jaket yang menutupi dadanya, tangannya menahan dengan ragu tanganku, namun tidak ada penolakan yang berarti ketika tanganku terus bergerak menarik sleting hingga kebawah, tanganku mulai merayap mengusap kulit perut yang halus dan ramping, tanganku terus bergerak ke atas hingga mengusap dan membelai dada yang tak tertutup bh.

“Uhhh… euh…” Indah melenguh disela-sela ciumanku merasakan nikmat ketika dia rasakan telapak tanganku meremas buah dadanya dengan penuh gairah dari balik bh-nya.

Lenguhan itu membuat gairahku semakin terpompa, kembali kuremas buah dada itu. “Uuh… oohhh…” kembali dia mengeluh. Rasa dingin sudah tak kurasakan lagi tergantikan oleh hawa panas yang keluar dari dalam tubuh kami. Tanganku merayap kepunggung dan menarik pengait bh hingga terlepas, kemudian menarik bh itu ke atas hingga buah dadanya putih, mulus dan montok terpanpang jelas didepan mataku. Mataku nanar memandang keindahan itu, dan napasku semakin sesak dihimpit oleh gairah yang semakin menggebu.

Tangan kananku meremas-remas buah dada indah itu dengan penuh nafsu. ”Uhhh… Ohhh…” kembali Indah melenguh nikmat sambil mendongakkan kepala. Mulut turun kebawah menyusuri dagu, kemudian leher yang masih tertutup jilbab, lalu ke dadanya yang putih mulus, kukecup, kuhisap dan kujilat permukaan dada itu, kembali Indah melenguh. ”Ouh… Kang… ouh…”

Bibirku semakin mengulas menuju buah dada yang montok sekal menggemaskan, Indah semakin mengerang nikmat. Hingga akhirnya bibirku menghisap dan menjilat-jilat putting susunya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar dan erangan nikmatnya semakin nyaring ketika lidahku menjilati dan memilin putting susu yang semakin keras menjulang. Sambil lidahku mempermainkan putting susunya, kedua tanganku berusaha mencopot rok basah yang masih dikenakan Indah. Kembali tangan Indah menahan ragu, tapi nampaknya gairah nafsu sudah membakar tubuhnya, sehingga tangan itu membiarkan ketika tanganku mulai menarik rok panjang tersebut, bahkan pantatnya diangkat turut membantu agar rok tersebut dapat lepas dengan mudah dari tubuhnya.

Kembali tanganku merasakan permukaan paha yang sangat lembut dan halus, kemudian kubelai kemulusan paha Indah yang kiri dan kanan secara bergantian, gairah Indah semakin meninggi dan dirinya semakin merasa melayang dibuai nikmat. Dan tiba-tiba badannya bergetar keras dan dari mulutnya keluar erangan nikmat yang cukup panjang ketika tanganku menggesek-gesek vaginanya dari balik Cd yang ia kenakan. “Euuuhhhhh… euhhhhhhhh… auhhh… auh…” Permukaan cd itu semakin basah oleh cairan gairah yang keluar dari vaginanya, ketika tanganku berusaha menarik cd yang ia kenakan, kali ini tidak ada lagi penolakan, bahkan tangannya membantu melepaskan cd tersebut.

Tangan kananku langsung aktif membelai dan menekan-nekan vagina Indah yang semakin basah. Dan erangan nikmat semakin nyaring terdengar dan tak putus-putus, hingga akhirnya badannya melonjak-lonjak keras disertai dengan teriakan-teriakan nikmat ketika jari tengahku mengocok-ngocok liang vagina yang licin namun sempit memijit dan mengurut-ngurut jari tengahku yang berada di dalam liang vaginanya. Jari tengahku semakin semangat mengocok, memutar dan mengait-ngait seluruh ruangan di liang vagina yang dapat dicapai oleh jariku.

Mata Indah semakin mendelik, dan napasnya semakin terengah-engah seperti kehabisan napas disertai dengan teriakan-teriakan nikmat yang tiada henti. “Auh… Kang… auh… euhhh… auww… oohhhh…”

Tanganku semakin lincah mengexploitasi setiap relung vagina Indah sedangkan bibirku semakin bernafsu menghisap, menjilat serta memilin-milin putting susu yang luar biasa indahnya. Tubuh Indah semakin berkelojotan menahan nikmat yang kuberikan, hingga akhirnya kelojotan itu semakin keras dan semakin keras diakhiri dengan teriakan panjang tercekik.

”Aaaaaakkkhhhhhhhssss…” badannya melenting kaku, kepala terdongak dan mata terbeliak, lalu terjadi perut dan pantatnya berkedut-kedut keras serta jari tengahku seperti dipijit, diremas dan duhisap-hisap dengan sangat keras. Setelah itu badannya terhempas lemah di sandaran jok belakang mobil dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang terpejam serta bibir yang menampakkan seulas senyum rasa puas yang teramat sangat.

Kucabut jariku tengahku dari liang vaginanya yang semakin banjir kurasakan, tanpa keraguan sedikitpun kujilati jariku yang basah oleh lendir kenikmatan dari vagina Indah.

Indah memandang apa yang kulakukan, dengan lemah tangannya menarik jari tengah yang sedang kujilati lalu dia menjilati dan menghisap jari tengahku seperti orang yang makan permen lolipop dengan nikmatnya dengan napas yang masih terengah-engah kecapaian..

Cukup lama Indah menghisap dan menjilati jari tanganku hingga perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan napasnya yang kembali memburu dan Indah mulai menjilati dada dan putting susuku. Aku melayang diperlakukan seperti itu, kemudian tangannya berusaha membuka celana panjangku, kubantu melepaskan celana panjang sekaligus dengan cd yang kukenakan. Indah terpana memandang penisku yang menjulang tegang dan keras.

Kakinya melangkahi pinggulku, sambil mencium bibirku dengan sangat bergairah, tangannya memegang penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat dimulut liang vagina yang licin dan basah.

Blesss…. Perlahan-lahan penisku menembus vaginanya, sangat perlahan karena sangat sempit walaupun sangat basah dan licin.. Seeerrrr rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh peredaran darahku membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Indah semakin menekan pantatnya dalam-dalam hingga seluruh batang penisku ditelan oleh vaginannya yang sempit menjepit dan menghisap-hisap penisku.

“Uhh…” aku mengeluh nikmat, vagina Indah terus-menerus memijit dan menghisap penisku mendatangkan nikmat yang tiada henti sehingga aku terus menerus mengerang nikmat. Gerakan Indah makin lama semakin cepat, dan vaginanyapun semakin keras menghisap-hisap penisku. Kepala Indah terdongak kebelakang sambil mengerang nikmat, kedua tangannya merengkuh bahuku dan gerakannya semakin liar tak terkendali.

Akhirnya badannya melenting kaku dan mulutnya melepaskan teriakan panjang melepas nikmat. “Aaaaakkkkkkkhhhhss….” Kemudian tubuhnya ambruk menindih dada dan bahuku. Sedangkan penisku merasa nikmat yang teramat sangat karena vagina Indah memijit, meremas dan menghisap dengan keras pada saat dia mencapai puncak.

Aku merasa orgasmeku akan datang, oleh sebab itu kubaringkan dia dijok mobil dan kubuka paha dan kuangkat betisnya dan blesss…! Kembali penisku menerobos liang vagina yang makin basah dan licin, tapi anehnya tetap sempit menjepit nikmat batang penisku. Aku mulai mengocok penisku keluar masuk liang vaginanya. Gairah Indah bangkit kembali dan mengimbangi gerakanku sehingga rasa nikmat semakin cepat menjalar disekujur tubuhku.

Gerakan tubuhku semakin menghentak-hentak keras tak terkendali disambut dengan hentakan yang tak kalah kerasnya dari tubuh Indah, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang sangat besar mengalir dari pangkal penisku dan badanku melenting kaku. “Akkkhhhh… “ aku menjerit melepas nikmat. Cretttt… Cretttt… Cretttt…!!! sperma kentalku terpancar dengan keras di dalam vagina Indah.

Dan seperti terpicu oleh semprotan spermaku, tubuh Indahpun kembali melenting sambil menjerit melepas nikmat dan terjadi pada tubuh Indah sehingga vaginanya kembali meremas, memijit dan menghisap-hisap penisku dengan kerasnya. Aku merasa seolah-olah vaginanya menyedot habis seluruh cadangan sperma yang ada di penisku, hingga akhirnya aku ambruk menindih tubuh Indah yang basah oleh keringat.

Aku bangkit dari atas tubuh Indah dan menyandar pada sandaran jok, sambil mengatur napas yang terengah-engah. Selama beberapa menit kami terdiam menikmati sisa-sisa nikmat yang masih terasa dan memulihkan napas yang secara perlahan-laha mulai teratur kembali. Walaupun di luar hujan masih sangat lebat, namun saat itu kami sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan kami merasa kegerahan.

Setelah kesadaran kami pulih, tiba-tiba Indah menjerit tertahan sambil menutup buah dadanya dengan jaket yang masih dikenakannya “Aahhh…!!!” Dan tangannya yang lain berusaha menutup vaginanya serta merapatkan kaki.

“Ada apa, sayang?” tanyaku heran.

Indah tidak menjawab, hanya dengan tergesa-gesa ia mengenakan Cd dan rok panjang yang masih basah oleh air hujan, kemudian dia berkata. “Ohhh, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, maafkan aku… maafkan aku.” terus menangis sesenggukan.

Aku bingung dengan apa yang dipikirkannya dan tak sanggup berkata-kata, kemudian aku berusaha membelainya di bergeser menjauh sambil tetap sesenggukan, akhirnya kudiamkan dirinya melepaskan tangis sedangkan aku berdiam diri melamun bingung.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat kerjanya karena waktu telah menunjukkan jam 13.30. Sepanjang perjalananan pulang kami lebih sering membisu dan terasa sangat kaku. Hingga sampai di tempat kerjanya, Indah lebih sering diam membisu dengan wajah yang menampakkan setumpuk kegundahan.

***

Beberapa hari setelah kejadian mengesankan di Tangkuban Perahu, Indah seperti yang menghindar dariku, berkali-kali kujemput, tidak pernah mau menemuiku.

jilbab montok bohay (6)

Hal itu membuatku gelisah tak menentu. Aku menjadi kelimpungan dibuatnya. Di kantor aku menjadi mudah marah, hampir semua anak buahku kumarahi jika mereka berbuat kesalahan walaupun kesalahan yang sepele. Perubahan sikapku ini membuat aneh anak buahku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegelisahanku demikian memuncak, sehingga kuputuskan untuk mendatangi rumahnya dan aku mulai mencari informasi dimana alamat rumahnya pada teman sepekerjaannya. Namun baru saja aku bertanya pada teman sepekerjaannya, Indah datang menemuiku dan berkata, “Kang, kita harus bicara!”

“Kapan?” tanyaku pula.

“Nanti, setelah pulang kerja.” jawabnya.

Masa penantian yang hanya 1 jam saja, terasa bagaikan bertahun-tahun, sehingga akhirnya masa penantian itupun berakhir. Indah keluar menghampiriku. “Yuk, Kang!” katanya.

“Mau kemana kita?” tanyaku.

“Kemana aja, yang penting kita bisa ngobrol.” sahutnya.

“Bagaimana kalo kita ke ‘Tea House’ Dago?” usulku.

“Terserah Akang!” jawabnya lagi.

Akhirnya aku membawanya ke Tea House, yaitu suatu tempat makan atau minum di daerah Dago Utara dengan suasana yang sangat nyaman dan indah. Setelah tiba, kami masuk ke saung-saung yang tersedia dan memesan manakan dan minuman ringan.

“Kenapa sich, Indah susah ditemui akhir-akhir ini. Lagi ngambek yah ke Akang?” tanyaku memecah kebisuan.

“Maafkan Indah, Kang! Akang tidak salah. Indah sengaja menjauhi Akang, karena Indah takut terlalu dalam mencintai Akang.“ jawabnya dengan nada perlahan penuh kesedihan.

“Mengapa Indah takut mencintai Akang? Bukankah Indah juga tahu bahwa Akang sangat mencintai Indah ? Bahkan Akang merasa sangat bahagia kalau tahu Indah begitu dalam mencintai diri Akang.” jawabku sambil tersenyum dan meraih pundaknya dan mendekapnya.

Indah membiarkan tubuhnya direngkuh olehku dan meletakkan kepalanya di dadaku, melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Kemudian berkata, “Tapi, tetap saja Indah merasa takut. Karena semakin lama, Indah makin mencintai Akang. Dan ini sebenarnya tidak boleh.” katanya pelan.

“Udahlah, nggak perlu takut. Bukankah Indah pernah bilang, kita jalani aja hubungan seperti ini, Akang tidak akan mendatangi rumah Indah dan bertanya tentang pribadi Indah, kalau Indah tidak mengijinkan. Percayalah, Ndah! Akang cukup bahagia dengan keadaan seperti ini, walaupun terasa janggal. Akang akan menunggu keikhlasan Indah untuk hal-hal yang lebih lanjut.” kata-kataku meluncur menenangkan dirinya sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta?

Ya, aku merasa bahwa aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya, walaupun aku belum tahu siapa dia sebenarnya.

Selanjutnya, obrolan diisi dengan curahan rasa cinta masing-masing diselingi kecupan mesra. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu, demikian juga nampaknya dengan Indah. Wajahnya bersinar semakin cantik dan anggun, dia selalu tersenyum manis setiap kali bicara, dan bibirnya begitu menggoda setiap kali dia bicara, sehingga berkali-kali kukecup bibirnya dengan gemas. Dan nampaknya Indah begitu bangga dan bahagia menerima perlakuanku tersebut.

Tak terasa waktu telah memasuki waktu magrib, maka kami segera pulang. Dan seperti biasa aku mengantarnya sampai depan gang rumahnya.

***

Selanjutnya hari-hariku kembali ceria dan tidak ngambek-ngambek lagi di kantor, dan perubahan ini tentu saja menggembirakan anak buahku, sehingga semangat kerja mereka muncul kembali.

Dua minggu setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, aku mengajaknya jalan-jalan pada hari dimana dia OFF. Saat itu aku mengajaknya menikmati keindahan situ Cileunca di daerah Pangalengan – Bandung Selatan. Kami ketemuan di depan tempat dia kerja. Sebelum menemuinya aku ke kantor terlebih dahulu dan mendelegasikan semua pekerjaan kepada anak buahku. Kemudian aku menjemputnya sekitar jam 09.30 dengan menggunakan sepeda motor inventaris kantor.

Sepanjang perjalanan, dia mendekapku dengan mesra dari belakang, desiran darahku membuat perasaanku melayang ketika kurasakan punggungku dihimpit oleh buah dadanya yang montok. Kurasakan perjalanan Bandung – Pangalengan demikian singkat, karena tanpa terasa kami sudah tiba di Situ Cileunca.

Kami menikmati keindahan alam situ Cileunca sambil bergandengan tangan dengan mesra bagaikan pasangan suami istri yang sedang dalam masa bulan madu, naik perahu, jalan-jalan diantara kebun teh dan bercanda tawa selama menikmati keindahan alam ini.

Mendekati tengah hari aku mengajak Indah ke villa milikku yang berada di daerah tersebut, kusebutkan bahwa aku udah janjian untuk mengunjungi teman di daerah tersebut. Indah mengikuti saja kemana aku ajak, karena dia benar-benar menikmati dan merasa bahagia dengan kebersamaannya denganku saat itu.

Ketika tiba di depan gerbang villa, aku langsung menghubungi penjaga villa dan kubisikan agar ia bersandiwara seolah-olah aku adalah teman dari si pemilik villa dan memberikan sejumlah uang untuk menyiapkan makanan dan minuman. Penjaga villaku cepat tanggap akan situasi yang kuinginkan.

Dia berkata padaku dihadapan Indah. “Wah sayang, Pak Agus! Pak Dedi pergi ke Majalaya dan pulangnya besok, tapi beliau berpesan bahwa kalo Pak Agus datang disuruh istirahat aja dulu.”

“Wah, gimana nich, Ndah? Temanku pergi, tapi kita istirahat aja dulu yach?” kataku pada Indah.

Indah hanya mengangguk setuju. Kami pun masuk ke villa tersebut diantar oleh penjaga villa tersebut. Dan tak lama kemudian istri penjaga villa menyuguhkan makanan dan minuman yang masih hangat, kemudian mempersilahkan kami menikmati hidangan tersebut sementara mereka kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua. Tapi sebelum meninggalkan kami, penjaga villa tersebut berkata, “Kalo perlu apa-apa, hubungi mamang aja ke rumah, Mamang pamit dulu!”

“Terima kasih, Mang!” kataku.

Sepeninggal mereka, Kamipun menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan tentang komentar kami akan keindahan alam di sekitar situ cileunca dan juga tentang nikmatnya masakan khas daerah tersebut yang baru saja kami nikmati.

Setelah dirasakan cukup rileks, kami menuju balkon yang terletak di lantai 2 dan memiliki view situ cileunca dari kejauhan, sehingga terlihat keindahan situ cileunca yang dikelilingi oleh perkebunan dan gunung-gunung. Kami duduk berdampingan di kursi panjang, tangan kananku memeluk pundaknya, sedangkan kepala Indah disandarkan ke pundakku.

“Ndah, betapa bahagianya Akang saat ini, apakah Indah merasakan hal yang sama seperti Akang?” tanyaku sambil mengecup keningnya

“Kebahagiaan Indah sukar diucapkan dengan kata-kata, Kang. Pokoknya mah banget.” jawab Indah sambil wajahnya menoleh terhadapku. Bibirnya mencari bibirku dan memberikan ciuman yang hangat penuh rasa cinta padaku. Aku membalas ciumannya, dengan menghisap dan mengecup bibir tipisnya yang menggemaskan. Cukup lama bibir kami saling mengecup dan menghisap, sampai akhirnya Indah berusaha melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan napas.

Tanpa kami sadari napas kami sudah tersengal-sengal dipacu oleh nafsu birahi yang mulai merasuki diri kami. Sehingga tak lama kemudian kami berciuman kembali, namun kali ini, ciuman yang terjadi adalah ciuman yang sudah dirasuki oleh nafsu birahi sehingga terasa begitu panas bergelora dengan napas yang terengah-engah.

Rangsangan yang kurasakan semakin tinggi, dan kubisikan padanya. “Ke kamar, yuk!”

Indah menatapku penuh harap dan mengangguk lemah. Aku berdiri dan menuntunnya untuk menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, kemudian kembali berciuman, dan ciuman kali ini jauh lebih bergelora dibandingkan dengan yang tadi kami lakukan, sambil berciuman dan mempermainkan lidah, tangan kananku mulai meremas buahdadanya yang montok dari balik bajunya.

Ciumannya terlepas dan terdengar erangan nikmat dari bibirnya dengan mata yang terpejam rapat. “Euhhh… Uuhhhh…“ Erangan yang keluar dari bibirnya yang tipis memberikan rangsangan yang semakin tinggi bagiku, napasku semakin menggebu demikian juga dengan napasnya, helaan napas kami bagaikan sedang berpacu, saling menghela dengan terengah-engah. Tubuh kami terasa panas, mengalahkan hawa dingin pegunungan daerah Pangalengan.

Jilbab yang dikenakannya kusut masai, maka secara perlahan kulepas jilbab tersebut, Indah hanya diam saat jilbabnya terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, lalu kuciumi lehernya yang jenjang dan menggairahkan. Indah menggelinjang dan terdongak sehingga lehernya semakin terbuka dan kuhisap-hisap penuh nafsu, mata Indah terpejam menikmati rangsangan yang kuberikan.

Secara perlahan, aku mulai berusaha melepaskan gaun yang dikenakannya. Indah membantu melepaskan gaun tersebut terlepas dari tubuhnya. Mataku berbinar dan terpana menatap tubuh mulus dan halus dari bagian atas tubuh Indah yang terbuka dan hanya secarik bh krem yang menutupi buahdadanya yang montok.

Kuciumi dan kujilati perut Indah yang rata dan halus bagai porselen. Setiap kukecup dan kujilati permukaan perut Indah, terlihat otot-otot perutnya tergetar seolah teraliri oleh arus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Indahpun semakin mengerang nikmat sambil menggeliat. “Uhhh… ouuhhhh… Kang… Kang… ouhhh…!”

Erangan nikmat itu semakin merangsang diriku, dan tanganku berusaha melepaskan bh krem yang menghalangi keindahan buahdadanya. Begitu terlepas, kedua tanganku langsung meremas-remas buahdada yang montok itu. Indah semakin menggelinjang nikmat dan mengerang semakin keras. “Ouh… Kang… Ouh… Kang…“ Kepalanya terdongak dengan mata terpejam dan tubuh yang melenting serta kedua tangan yang bergerak kesana-kemari mencari pegangan dan akhirnya meremas sprey dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

Lidahku terus mengulas permukaan perutnya yang halus bak pualam, sementara Indah terus menerus mengerang dan meregang dan napas yang tersengal-sengal. Dengan penuh nafsu lidahku merayap ke atas, kearah buah dadanya yang montok. Indah semakin mengerang, “Ouhh…!“ tubuhnya semakin menggeliat, putting susunya menonjol keras dan runcing.

Jari-jari tangan kananku memilin-milin putting susu sebelah kiri, tubuh Indah semakin bergetar dengan erangan yang semakin bergemuruh. “Euhhh… Ouh… kang… kang…”

Lidahku menghisap dan mengecup permukaan buah dada di sekitar putting susu yang semakin menonjol, geliat tubuh Indah semakin keras dan menggeliat dengan erangan nikmat yang tak terputus-putus serta napas yang semakin tersengal. Dan akhirnya lidah dan bibirku mulai mengecup dan menghisap putting susu yang semakin menonjol, tubuh Indah semakin melenting dan cengkraman jari-jari tangannya pada sprey semakin kuat menahan rasa nikmat yang tak terperi, kepalanya terdongak semakin dalam. “Auh… Ahhh… Kang…”

Napasku semakin terengah-engah terdorong oleh nafsu yang semakin menggebu, kedua tanganku mulai melolosi rok panjang dan cd yang dikenakannya. Pantat Indah terangkat memudahkan tanganku melepaskan sisa pakaian yang menempel pada tubuhnya. Napasku semakin tersengal-sengal dengan pandangan mata yang semakin nanar, terpukau oleh kemulusan dan keindahan tubuh bugil Indah yang semakin memompa gairahku

“Ohhh… “ mulutku berguman kagum akan keindahan ini. Tanpa ragu wajahku langsung mengarah ke selangkangan Indah dan dengan penuh nafsu aku menjilati dan mengecup vagina Indah yang ditutupi oleh jembut yang halus dan menggairahkan.

Tubuh Indah bergetar keras seperti teraliri listrik ribuan volt dengan tubuh yang melenting kaku dan jeritan keras. “Akkkkhhhs…” Begitu lidahku menyusuri lipatan vaginanya yang bahsah dan harum menggairahkan. Setiap lidahku menyusuri lipatan vagina dan berhenti di klitoris yang menonjol keras, tubuh bergetar dan mengeliat serta mengerang cukup keras, “Akkhhhsssss…”

jilbab montok bohay (7)

Dengan cepat dan penuh gairah, lidahku kukorek-korekan ke dalam liang vagina Indah yang terasa asin dan gurih. Kedua kaki Indah menghentak-hentak dan tubuh menggeliat serta kepala yang semakin terdongak, hingga akhirnya tubuh Indah melenting kaku bagaikan ulat yang tertusuk duri diserta jeritan nikmat yang sangat panjang dengan napas yang tercekik. “Aaaaaaakkkkkkhhhhhsssss…!!!”

Lidahku terasa bagaikan dijepit oleh dinding-dinding vagina yang berkontrkasi sangat kuat, dan akhirnya tubuh Indah terhempas bagaikan layangan putus, deru napasnya tersengal-sengal seperti kehabisan napas lalu terkulai lemas. “Ouhhhh… Kang, nikmat banget… ouhhh…” katanya sambil menghembuskan napas panjang penuh kepuasan.

Pakaian yang kukenakan basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-poriku. Kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sementara Indah masih terbaring lemah sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang baru diraihnya.

Setelah tubuhku bugil, kembali aku merangkak mendekati tubuh Indah yang tergolek lemah. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra, Indah menyambut kecupanku. Kuhisap bibir indah tersebut, Indah balas menghisap dan akhirnya lidahku kumainkan untuk menjilat bibir Indah dan berusaha memasuki rongga mulutnya. Indah membalas ciumanku dengan gairah yang mulai bangkit kembali, tangannya merengkus tengkukku agar ciuman kami semakin rapat. Akhirnya tubuhku menindih tubuhnya dan bergumul dengan nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku yang tegang dan keras menganjal permukaan vaginanya, membuat gairah Indah semakin tinggi dengan deru napas yang semakin cepat.

Tiba-tiba Indah menggulingkan tubuhnya sehingga dia berada diatas tubuhku dan mulai mengambil inisiatif untuk merangsangku. Dia menciumi pipi, leher, dada, menghisap-hisap putting susuku baik yang kiri maupun yang kanan membuat tubuhku menggelinjang dilanda rangsangan yang sangat tinggi. Dan Indah semakin bergairah melihat mataku terpejam-pejam menahan nikmat. Ciumannya pindah ke perut dan terus turun ke bawah hingga akhirnya mata Indah terlihat nanar penuh gairah memandang batang penisku yang mengacung tegak menjulang, dan “Ouhh…” tanpa sadar erangan nikmat keluar dari mulutku ketika kurasakan Indah mulai memasukan batang penisku ke dalam mulutnya.

Kepala Indah berputar-putar agar batang penisku mengocok-ngocok rongga mulutnya, tubuhku semakin menggeliat menahan nikmat dan mulutku hanya sanggup mengeluarkan keluhan nikmat terputus-putus. “Ouhhh… Ndah… Ouhhh… eeennnak… ohhh…”

Indah semakin bergairah bisa memberikan kenikmatan padaku, lidah tidak tinggal diam, dia gunakan untuk menjilati kepala penisku, aku semakin melayang, penisku semakin bengkak dan keras.

Gairah Indah sudah tak tertahankan lagi, karena vagina mulai terasa sangat basah, berkedut dan gatal. Dia menghentikan kegiatannya mengulum batang penisku, Dia merangkak menghadapku dan menempatkan vagina tepat diatas batang penisku yang mengacung semakin keras, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya yang semakin berdenyut gatal, lalu… Blessshh!!!

“Ooouuhhhh…” Rasa nikmat menjalar dari syarat nikmat yang terdapat dipermukaan kepala dan batang penisku, ketika Indah menurunkan pantatnya perlahan. Kepala penisku menyeruak dan menyusuri lorong nikmat dari liang vagina Indah yang basah, licin dan berdenyut-denyut serta meremas-remas nikmat.

“Ouhhh… Kang…” Indah pun mengerang ketika rasa nikmat menderanya, ketika dia merasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya. Gerakan menekan pantatnya demikian perlahan, sehingga rasa nikmat yang kurasakan terasa lama dan sensasional dan akhirnya terhenti setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya dan selangkangan kami menempel sangat rapat. Indah menekan pantatnya sangat kuat sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang menderanya, kedua tangannya mencengkram kuat dadaku.

Lalu pinggul dan pantatnya mulai bergerak keatas-kebawah sehingga batang penisku mengocok-ngocok liang vaginana, erangan nikmat keluar dari mulut kami sahut menyahut. Indah semakin cepat menggerakan pantatnya, terkadang bergerak memutar sehingga kurasakan batang penisku seperti dipelintir dan akupun melotot sambil mengerang nikmat. “Ouhhh… Ouhhh…“

Sementara itu, gerakan Indah semakin cepat dengan kepala terdongak kebelakang dan mengerang dengan mata terpejam. Buahdadanya berguncang-guncang indah, dengan nafsu yang tak pernah surut kedua tanganku menjulur dan mulai meremas-remas buahdada montok itu, Indah semakin terdongak dan melonjak-lonjak nikmat disertai dengan lenguhan dan erangan yang semakin keras.

Gerakan pinggul Indah semakin cepat tak terkendali dan kejang-kejang, hingga akhirnya tubuhnya melenting kaku, dengan kepala terdongak ke belakang, kuku-kuku jarinya mencengkram erat dadaku dan, “Aaaa… aakkkkkkhhhsssss…” Jeritan panjang keluar dari mulut Indah, selama beberapa detik tubuhnya kaku seperti itu dan akhir tubuhnya terhempas, melayang dan ambruk menindih tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Sementara itu penisku seperti diremas dan dijepit dengan sangat kuat membuat akupun melayang nikmat. Tubuh kami yang berpelukan, basah oleh keringat yang mengucur deras. Sementara itu penisku masih menancap dengan kokohnya di dalam liang vagina Indah.

Kugulingkan tubuhku sehingga tubuhku diatas tubuhnya dengan batang penis yang tetap menancap di liang vagina, kuarahkan mulutku pada buah dadanya dan mulai menghisap dan menjilati putting susu Indah, Indah mengerang lemah, “Euhhhh…” sementara itu secara perlahan pantatku mulai mengayun hingga batang penisku mengocok-ngocok liang vagina Indah. Rasa nikmat kembali menjalar di sekujur tubuh Indah, perlahan namun pasti gairah Indah bangkit kembali. Indah menggerakan pinggulnya untuk membalas gerakan pantatku, kenikmatanpun semakin menjalar pada tubuh kami berdua.

Aku semakin cepat mengayun pantatku, gerakan pinggul Indah semakin bervariasi dan memabukkan, dan hanya beberapa menit kemudian, tubuh Indah kembali melenting kaku dan menjerit menjemput nikmatnya Orgasme. “Aaakkkkkksssshhh…” Pantatnya terangkat dan akhirnya terhempas. Kudiamkan sejenak pantatku untuk menikmati remasan dan hisapan yang dilakukan dinding vagina Indah pada batang penisku.

Setelah kurasakan kedutan dan hisapan dinding vagina Indah melemah pada batang penisku, kembali aku mengayun pantatku untuk mngocok-ngocok liang vaginanya, sambil mulut dan tanganku mempermainkan buah dada dan putting susunya yang tak membosankan untuk diremas dan dihisap.

Kurang dari semenit, Indah kembali membalas gerakan pantatku dengan menciumku dan menggerakan pinggulnya sambil kembali mengerang nikmat, namun hanya berselang beberapa menit kemudian, kembali tubuhnya melenting kaku dan kembali dia menjemput orgasme yang menghampiri dirinya. Dan aku kembali mendiamkan pantatku sejenak untuk menikmati remasan dan hisapan dinding vagina Indah pada batang penisku pada saat dia mengalami fase orgasme. Pantatku kembali mengayun setelah kurasakan remasan pada penisku melemah, dan pinggul Indah kembali membalas gerakan pinggulku setelah beberapa detik kemudian hingga akhirnya kembali ia menjemput orgasme.

Perolehan orgasme bagi Indah, terjadi berulang-ualng, entah berapa kali, yang jelas tubuhku terus menggenjot tubuh Indah tanpa mengenal lelah, sementara badanku basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras.

Kuhentikan ayunan pantatku setelah Indah memperoleh orgasme entah yang ke berapa kali. Kuletakkan ke dua lututku dibawah kedua pangkal pahanya, kedua tanganku memegang kedua tumit kaki Indah dan membukanya lebar-lebar, sementara Indah nampak tergoleh kelelahan, namun tatapan matanya masih menampakkan gairah yang belum surut, apalagi melihat batang penisku yang masih kokoh menancap di dalam liang vaginanya.

Dalam posisi paha Indah yang terbuka lebar aku mulai mengayun pantatku agar batang penisku kembali mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok liang vaginanya. Rasa nikmat yang kurasakan semakin bertambah, karena jepitan dinding vagina Indah serasa semakin sempit dan menjepit, dan kulihat vagina Indah terkempot-kempot setiap kali aku melesakkan batang penisku.

Kulihat kepala Indah terbanting ke kiri dan ke kanan setiap kali aku menghela pantatku diiringi erangan nikmat yang dia perdengarkan. Kedua tangannya mencengkram erat seprey yang ada di sekitarnya.

Kurasakan badai orgasme akan menghantamku, mataku mulai berkunang-kunang, asaku terasa melayang dan gerakan pantatku mulai kejang-kejang dan menghentak. Indah merasakan bahwa aku akan mencapai orgasme, karena dia merasakan penisku semakin bengkak menyesakkan liang vaginanya dan gerakanku terasa semakin keras dan kasar menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa, sehingga diapun merasa orgasme akan kembali menghampiri dirinya.

Dengan terengah-engah menahan nikmat, sambil menggerakan pinggulnya membalas gerakanku diapun berkata, “Ayo, Kang… ayo… bareng-bareng…“ dan… “Aaaa… aakkkkkkkh… hhhsss…” seperti mengeluarkan tenaga yang penghabisan, Indah menjerit keras menjemput orgasme yang dirasakannya sangat luar biasa, berbeda dengan orgasme-orgasme yang terdahulu, tubuhnya mengejang sangat kaku.

Secara bersamaan, akupun menjerit melepas nikmat menjemput badai orgasme yang sangat dahsyat. “Akkkhhhhhhhssss…” Tubuhku berkelojotan sambil crettt… cretttt… crett… sperma kental memancar sangat deras membasahi lorong vagina Indah. Beberapa detik kemudian, kurasakan tubuhku terasa ringan bagaikan layang-layang putus dan aku ambruk menghempaskan tubuhku disamping tubuh Indah yang terkulai lemas. Napas kami tersengal-sengal seperti yang baru selesai balap lari.

Tubuh kami terasa sangat lelah, setiap persendian bagaikan dilolosi dan kami terbaring lemas dengan kesadaran yang melayang-layang. Cukup lama kami dalam keadaan seperti itu.

Setelah perlahan-lahan kesadaran kami pulih, Indah menggulirkan tubuhnya menghadapku dan tangannya mengusap pipiku sambil berkata, “Akang hebat, Indah benar-benar sangat puas, Indah semakin sayang ke Akang.” lalu wajahnya menghampiri wajahku dan mengecup bibirku sangat mesra.

Aku tersenyum bangga dan bahagia, kemudian balas mencium bibirnya dengan penuh kemesraan. Basahnya tubuh oleh keringat yang lengket, membuatku tidak nyaman, lalu dengan malas aku berusaha bangkit dan berdiri, namun hampir aku terjatuh. Lututku gemetar dan terasa copot hingga hampir tak sanggup untuk berdiri, kembali aku duduk dipinggir tempat tidur yang sepreynya acak-acakan oleh pertempuran hebat yang baru saja selesai.

Indah tersenyum melihat keadaan lututku yang gemetar dan hampir jatuh lalu berkata. “Ada apa, Kang? Capek ya?”

“Iya nich. Lutut terasa copot, habis Indah sich… luar biasa!” sahutku sambil tersenyum.

“Ahhh… Akang!” sahutnya bahagia.

Lama aku terduduk, setelah kurasakan tenagaku benar-benar pulih, aku berdiri dan menuju kamar mandi, lalu mandi menyegarkan diri, tak lama kemudian Indah pun mandi dan mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbabnya. Lalu Indah merapihkan tempat tidur yang acak-acakan.

jilbab montok bohay (8)

Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, kamipun pulang setelah aku memberitahu penjaga villa. Sepanjang perjalanan pulang, Indah semakin menempel mesra padaku, dia hanya menjauhkan tubuhnya setelah kami berada dekat dengan gang rumahnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku memutuskan kembali ke kantorku untuk mengambil mobilku.

Kesan yang kudapatkan pada hari itu, menjerumuskan aku semakin dalam terhadap rasa cintaku pada Indah. Aku merasa tidak mampu berpisah dengannya.

***

Gundah… Gelisah… Takut… Itulah yang dirasakan Indah saat ini, sore itu, setelah diantar pulang hingga ke mulut gang oleh Agus, Indah benar-benar gundah, gelisah, dan takut.

Persetubuhannya yang kedua kali denganku, benar-benar telah menjeratnya, Dia telah benar-benar mencintaiku dan tak sanggup untuk melupakannya, padahal perasaan ini adalah perasaan yang selama ini berusaha dia tolak karena merupakan sesuatu yang salah. Tadinya dia berencana bahwa Aku hanya sebagai lelaki yang mengisi kekosongan batinnya, dan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk berselingkuh denganku. Namun dalam usianya yang masih muda, gairahnya yang menyala-nyala, tak pernah dapat tersalurkan, sehingga membuat dirinya demikian mudah terangsang dan akhirnya terjadilah persetubuhan yang sangat memuaskan dirinya, bahkan sangat puas hingga dia mampu memperoleh orgasme berulang-ulang. Sementara kepuasan seperti itu belum pernah dia alami sebelumnya.

Sebenarnya Indah adalah istri Dedi berusia 30 tahun, mereka menikah pada saat Indah berusia 20 tahun dan Dedi berusia 26 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat bahagia, Dedi yang seorang karyawan sebuah perusahaan, mampu membahagiakan Indah baik lahir maupun batin. Namun akibat pola hidup yang salah, setelah dua tahun menikah dan belum sempat memperoleh buah hati, Dedi terserang penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga membuat dirinya impoten.

Dia sudah berobat kesana-kemari hingga harta bendanya habis terjual namun penyakitnya tak sembuh juga, bahkan diperparah dengan PHK yang menimpanya sehingga otomatis Indahlah yang menjadi tulang punggung rumah tangga mereka, sementara Dedi kerja serabutan bahkan lebih sering berada di rumah.

Dedi masih bisa merasakan rangsangan yang cukup besar melihat kemolekan tubuh istrinya oleh sebab itu berkali-kali mereka mencoba untuk melakukan hubungan suami istri, tapi penis Dedi tidak mampu berdiri tegak, berbagai cara rangsangan telah dilakukan Indah agar batang penis suaminya bisa berdiri tegak, tangan Indah berusaha meremas dan mengocok memberikan rangsangan pada batang penis Dedi, tapi tidak juga bisa berdiri, bahkan pernah mulut Indah mengoral penis Dedi hampir setengah jam sampai Indah merasakan kaku pada tulang rahangnya, namun penis Dedi tetap tergantung lemah. Jika sudah demikian nampak sekali kegelisan dan kekecewaan yang mendalam terpancar dari sorot mata Indah, dan Dedi benar-benar merasa terpukul dengan keadaan dirinya seperti itu. Dedi merasa malu dan rendah diri di hadapan istrinya.

Namun walaupun demikian, Indah tetap mencintai suaminya, baginya Dedi adalah hidupnya, dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya. Indah selalu memberi semangat dengan penuh cinta pada Dedi untuk memperoleh kesembuhan ataupun memperoleh pekerjaan yang layak dan selalu berkata pada Dedi bahwa apapun pekerjaan Dedi, dia akan selalu mencintai Dedi.

Rasa cintanya yang besar seolah mengabaikan kebutuhan hidupnya. Dalam usia yang masih muda, tentu saja gairah biologisnya sering meronta-ronta minta penyaluran, namun selalu dia tekan dengan mencurahkan rasa cintanya pada Dedi.

Selama 2 tahun, Indah berhasil mengekang kebutuhan biologisnya walaupun terkadang dia merasa tersiksa dengan keadaan ini.

Namun akhirnya pertahanan Indah bobol, setelah berkenalan denganku. Dia melihatku sebagai lelaki yang sopan dan enak diajak ngobrol. Jika sedang bersama denganku, Indah seolah mampu menghilangkan sejenak masalah berat yang sedang dihadapinya. Dan perasaan suka timbul didalam hatinya, karena aku selalu berbuat sopan padanya. Dan akhirnya perasaannya menjadi terjerat padaku, terutama setelah kami melakukan persetubuhan yang sensasional dan mampu membasahi kekeringan yang melandanya selama 2 tahun terakhir ini.

Indah semakin terjerat akan pesona seksual yang ada pada diriku, dan dia benar-benar telah jatuh cinta padaku. Perasaan cintanya padaku sangat menyiksanya, karena diapun sangat mencintai suaminya dan tak ingin meninggalkan suaminya.

Disisi lain, Dedi sadar benar akan kebutuhan biologis istrinya, namun apadaya dia tak mampu memberikannya akibat penyakit yang dideritanya. Cintanya yang besar pada istrinya membuat dirinya berpikir untuk rela membiarkan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya pada orang lain, namun ia takut, takut istrinya terkena penyakit kalau menyalurkan sembarangan, atau takut istrinya akan meninggalkannya, karena istrinya adalah sumber semangat hidupnya.

Perasaan ingin membahagiakan istrinya dengan merelakan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain dan perasaan takut ditinggalkan istrinya selalu berkecamuk di pikiran Dedi, sehingga tanpa sepengetahuan istrinya, sebenarnya Dedi sering menguntit istrinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan istrinya.

Selama 2 tahun memata-matai istrinya, Dedi melihat bahwa Indah adalah istri yang setia, karena dia melihat istrinya tidak pernah menanggapi godaan lelaki lain. Dedipun melihat perhatian dan pelayanan istrinya tidak berkurang padanya, walaupun dirinya impoten dan tidak memiliki pekerjaan tetap setelah diPHK. Oleh sebab itu Dedi semakin mencintai istrinya dan semakin tidak sanggup ditinggalkan oleh istrinya.

Rasa cinta yang semakin besar, semakin memperbesar keinginan Dedi untuk merelakan istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada lelaki lain dengan syarat Indah tidak akan meninggalkannya. Berkali-kali dia merencanakan untuk membicarakan hal ini pada Indah, namun ia takut. Apakah Indah akan setuju? Apakah Indah tidak akan tersinggung? kembali niat itu surut untuk diajukan ke istrinya. Namun kerelaannya agar istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain tetap besar.

Itulah sebabnya, sebenarnya Dedi telah mengetahui, jika aku sering menjemput istrinya. Dedi bisa melihat bahwa istrinya menyukai diriku, hal itu terlihat dari tatapan mata Indah dan gerak-gerak Indah bila bersamaku, bahkan Dedi mengetahui jika istrinya telah dua kali pergi denganku entah kemana pada saat istrinya OFF. Dan Dedi merasa curiga bahwa Istrinya telah selingkuh denganku, sebab Dia bisa melihat keceriaan dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah Indah setelah bepergian denganku, namun hal itu tidak pernah dia tanyakan pada istrinya, karena dia tidak melihat berkurangnya limpahan cinta dari istrinya.

Dedi berusaha menyelidiki diriku, dan akhirnya dia tahu siapa diriku sebenarnya. Dedi menjadi takut ditinggalkan istrinya setelah mengetahui statusku, maka dia langsung mendatangiku.

Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerjaku sambil merencanakan bahwa sore nanti aku akan menemui Indah di tempat kerjanya. Aku merasa sangat rindu padanya, karena sudah 10 hari aku tidak bertemu dengannya disebabkan kepergianku ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tiba-tiba sekretarisku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin menemuiku. Akupun mempersilahkan tamuku masuk.

“Perkenalkan, nama saya Dedi.” kata tamuku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya sambil berkata, “Agus, silahkan duduk!” “Ada yang bisa saya bantu, Pak Dedi?” tanyaku.

“Begini, Pak, bapak kenal dengan Indah, yang rumahnya di Gang Gwan An?“ tanya Dedi dengan tatapan menyelidik.

DEG! Jantungku serasa mau copot, mendengarkan pujaan hatiku disebut. “B-benar. Ada apa dengan dia, Pak? Dan bapak ini siapa?” jawabku gugup.

Terlihat Dedi tersenyum puas mendengar jawabanku “Dia baik-baik saja. Oh ya, saya suaminya!” katanya tenang, tak terlihat nada emosi dari ucapannya.

TENGGG…!!! Dunia serasa gelap, badanku mendadak lemas tertimpa perasaan bersalah karena telah menyintai dan berselingkuh dengan istri seseorang yang berada di hadapanku.

“Tenang aja, Pak! Tidak perlu sekaget itu!“ Dedi berusaha menenangkanku dengan tulus. “Apakah bapak tahu bahwa Indah telah bersuami? Dan apakah bapak mencintai Indah? Tolong Bapak jawab dengan jujur. Percayalah, Pak! Saya tidak akan marah dan menuntut bapak.“ katanya lagi tersenyum tulus sehingga Aku percaya akan isi kata-katanya.

“Ya, saya mencintai istri Bapak, maaf saya tidak tahu kalau Indah telah bersuami. Dia hanya berkata bahwa dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat, namun saya tidak boleh tahu apa masalahnya. Masalah itu pula yang menyebabkan saya tidak boleh mengantarnya sampai ke rumahnya.” terangku panjang lebar.

“Pak, saya mohon, jangan rebut Indah dari saya. Saya sangat mencintainya dan saya tak sanggup ditinggalkan olehnya. Tapi saya juga mengerti akan kebutuhan Indah yang tak mampu saya penuhi, oleh sebab itu jika Bapak memang mencintai istri saya, bapak boleh menikmati rasa cinta Bapak, tapi jangan rebut dia dari saya, saya mohon!“ katanya memelas.

“Apa maksudnya, pak?” tanyaku yang tak mengerti akan maksud ucapannya.

“Begini, Pak! Saya sangat mencintai Indah, namun saya tak sanggup memberikan nafkah batin padanya karena penyakit yang saya derita. Namun saya kasihan pada Indah yang menanggung beban akan penyakit saya derita. Padahal dia masih muda, penuh gairah dan perlu menyalurkan hasrat biologisnya yang masih bergelora. Itulah sebabnya saya punya usul, bapak boleh menggauli istri saya kapan dan dimanapun bapak kehendaki dengan syarat saya harus melihatnya atau mengetahuinya, bahkan bapak boleh melakukannya di rumah kami. Memang usul ini terdengarnya gila, namun inilah bukti, betapa besar rasa cinta saya pada istri saya. Tapi usul ini tidak pernah saya kemukakan pada istri saya, takut dia tersinggung.” jelasnya panjang lebar.

Aku termenung mendengar penjelasannya.

“Bagaimana, Pak? Bapak setuju dengan usul saya? Bapak nggak usah ragu, saya tidak akan memeras bapak, saya melihat bapak orang baik-baik dan tidak akan menyakiti hati istri saya dan sayapun melihat bahwa istri saya menyukai bapak.” Lalu lanjutnya. “Saya hanya meminta bapak tidak merebut Indah dari sisi saya, Bagaimana?” kembali dia mengajukan usulan.

“Baik, saya menerima usul Pak Dedi, walaupun terdengar aneh. Sayapun sangat mencintai Indah dan jujur saja, saya juga tak sanggup berpisah dengannya.” jawabku jujur.

“OK dech kalau begitu! Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku, kebetulan Indah OFF hari ini dan dia ada di rumah.” dia mengajakku ke rumahnya.

Ajakan ini sangat mendadak, dan tentu saja kuterima ajakan tersebut dengan senang hati. Kamipun berangkat menuju rumah Dedi dengan sepeda motor inventaris. Sepanjang jalan Dedi menjelaskan rencananya, bahwa aku dan Dedi adalah teman lama semasa SMA yang baru ketemu lagi, sengaja diajak Dedi untuk diperkenalkan pada Indah dan setelah itu Dedi akan pura-pura meminjam motorku untuk pergi mengambil order pekerjaan sekitar 2 jam, padahal dia akan membawa motorku ke tempat pencucian motor dan kembali jalan kaki ke rumah untuk mengintip apa yang aku dan Indah lakukan. Aku setuju dengan rencananya.

Sesampainya di rumah Dedi, Indah yang saat rambutnya hanya tertutup oleh ‘ciput’ (penutup kepala) sehingga terlihat lehernya yang putih dan jenjang. Indah tampak kaget melihat kami berdua berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi, namun Dedi seolah-olah tidak memperhatikan perubahan pada wajah istrinya, Dedi hanya berkata, “Ndah, kenalkan teman lamaku waktu di SMA. Namanya Agus!” katanya memperkenalkanku pada istrinya.

Aku menjulurkan tanganku mengajaknya besalaman sambil berkata basa-basi “Agus!” Dengan gemetar Indah menyambut jabatan tanganku.

Dedi bertindak seolah-olah aku dan Indah belum saling mengenal, dan dia memainkan perannya begitu meyakinkan, sehingga aku dan Indah terbawa oleh suasana yang diciptakannya. Tak lama kemudian Dedi berkata padaku, “Gus, pinjam motornya ya! Aku mau ngambil order. Nggak lama kok, paling 2 jam-an. Kamu ngobrol aja dulu dengan istriku, kalau mau istirahat, tidur aja di kamar.” katanya lagi sambil menunjuk kamar yang biasa diperuntukkan untuk tamu keluarga.

Aku mengerti akan sandiwara yang dibawakannya, lalu kuberikan kunci motorku berikut STNKnya. Kami mengantar Dedi ke depan pintu hingga Dedi menjalankan motor. Kerinduan yang begitu mendalam membuatku tak tahan, begitu pintu depan ditutup dan belum terkunci, aku langsung memeluk Indah dari belakang penuh kerinduan dan menciuminya dengan gemas. Kukecup dan kuhisap lehernya yang putih dengan penuh nafsu. Indah hanya bergelinjang manja, nampaknya dia masih kaget bahwa aku adalah teman lama suaminya. Dihati Indah terbayang sebuah kesempatan bahwa dia akan sedikit bebas bisa berduaan denganku. Membayangkan hal itu, gairah Indah dengan cepat bangkit, apalagi rangsangan dariku semakin gencar maka gairahnyapun semakin cepat merayap naik. Indah membalikkan badannya dan menyambut ciumanku dengan gairah yang menyala dengan napas yang memburu.

Kami berciuman dengan penuh gelora sambil berdiri di balik pintu depan rumahnya, kakinya terjinjit menikmati percumbuan ini. Erangan dan lenguhan penuh rangsangan sesekali keluar dari mulutnya yang sedang tersumpal oleh bibirku. Kedua tangannya memeluk erat punggungku. Deru napas kami semakin memburu. Lalu kubisikkan, “Kita punya waktu 2 jam, aku kangen banget sama kamu, Ndah!”

“Saya juga, Kang!” jawabnya mesra, dan pergulatan dua bibir yang didorong oleh nafsupun terjadi dengan panasnya.

jilbab montok bohay (18)

Sambil berpelukan dan tetap melakukan percumbuan yang memompa gairah, Indah berusaha membawa tubuhku menjauhi pintu depan, menuju kamar tidur yang biasa digunakan oleh tamu, kamar tidur tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya ditutupi oleh tirai gordyn. Kami melanjutkan percumbuan sambil berdiri, tidak ada rasa takut dipergoki orang lain dalan diri Indah, karena di rumah ini dia hanya berdua dengan suaminya yang saat ini sedang keluar.

Kugeser posisi diriku hingga Indah membelakangiku sehingga kami sama-sama menghadap meja hias yang terdapat di kamar tersebut. Dari cermin, Ku lihat bayangan tubuh Indah yang sedang menggeliat menggairahkan, matanya terpejam menikmati cumbuanku, kepalanya dimiringkan kesamping sehingga lehernya yang jenjang serta putih, mulus merangsang terhidang tepat di depan bibirku, tak kusia-siakan kesempatan yang menggairahkan ini. Bibir dan lidahku mengecup, menghisap dan menjilat leher, pundak hingga bagian belakang telinga Indah, sementara kedua tanganku dengan gemasnya meremas kedua buahdada yang masih tertutupi oleh baju.

“Uhhhh… Kang… ouhhh…” Indah mengerang nikmat penuh rangsangan. Matanya semakin terpejam dan kepalanya semakin terdongak ke belakang, buah dadanya semakin membusung indah menggairahkan, akupun semakin nafsu meremas-remas buah dada tersebut.

Sementara itu, Setelah tiba di tempat penyucian motor dan menitipkan motor untuk dicuci, Dedi kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Setiba di rumahnya, Dedi bergerak perlahan agar tidak bersuara, dia memeriksa pintu depan yang ternyata tidak terkunci, secara hati-hati Dedi membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara. Dedi tersenyum, karena tidak melihat aku dan istrinya di ruang tamu. Dengan perlahan dia mencari keberadaan diriku dan istrinya, akhirnya samar-samar dia mendengar desahan dan erangan penuh rangsangan dari kamar tidur dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.

Dia mencari celah diantara tirai gordyn, agar bisa mengintip apa yang sedang kami lakukan. Terlihat olehnya bahwa aku dan Indah dalam keadaan polos sedang bercumbu di depan cermin hias dengan napas yang tersengal-sengal dipacu oleh nafsu berahi yang menguasai diri kami. Semua pakaian kami telah terlepas dan berceceran di lantai.

Terlihat olehnya bahwa aku sedang menciumi leher istrinya dari belakang dan kedua tanganku meremas-remas buahdada Indah dengan penuh nafsu, terkadang jari-jari tanganku memilin-milin putting susu Indah yang menonjol tegak dan keras. Selangkanganku menempel rapat pada bongkahan pantat Indah yang bulat dan montok dan pastinya Indah merasakan batang penisku yang keras dan tegang mengganjal di belahan pantatnya. Tubuh Indah menggeliat menahan nikmat, pinggangnya melenting dan kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang diterimanya, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan.

Tubuh Indah yang menggeliat-kegeliat menahan nikmat dan disertai lenguhan dan erangan nikmat yang keluar dari bibir mungil istrinya demikian merangsang. Dan rangsangan itu juga menjalar di tubuh Dedi walaupun belum sanggup membangunkan batang penisnya. Timbul rasa cemburu, dari dalam hati Dedi melihat aku yang sedang mencumbu Indah, tapi betapa dilihatnya bahwa Indah begitu menikmati apa yang kulakukan yang selama ini tidak pernah dapat dia berikan.

Dedi begitu bahagia melihat istri tercintanya begitu menikmati dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Akhirnya Dedi benar-benar menikmati apa yang dilihatnya dan menghapus rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, tangan kananku telah merayap ke bawah menuju selangkangan Indah, sementara tangan kiri tetap mempermainkan buahdada Indah yang semakin membusung. Lidah dan bibirku mengulas pundak, leher dan tengkuk Indah membuat Indah semakin menggelinjang.

Tangan kananku yang telah berada di depan vagina Indah, mulai mengorek-ngorek lipatan liang vagina Indah, terasa basah olehku, tubuh Indah bergetar dan bibirnya mengerang nikmat, “Ouhhh… ouhhh… auw…” Erangan nikmatnya semakin keras ketika jari tengahku memasuki liang vaginanya dan mengucek-ngucek dinding vaginanya. “Auh… Owhh… Kang… Kang… Ouhhhh…”

Kudorongkan semakin dalam jari tengahku sambil jari tengahku berputar, mengait dan mengorek-ngorek. Tubuh Indah semakin bergetar menahan nikmat diserta erangan nikmat. “Ouuhhh… Kang… Ouhh…“ Kugunakan jempolku menekan dan memutar-mutar klitorisnya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar keras dan, “Aaaauhhh… Aaauhhh… K-kang…” ia makin mengeliat-geliat dengan kepala semakin terdongak ke belakang.

Klitoris Indah terus kuputar dan kutekan oleh jempolku, sementara jari tengahku mengucek-ngucek semakin cepat. Tubuh Indah melonjak-lonjak dengan keras menahan nikmat yang semakin melambungkannya, hingga akhirnya Indah merengek dengan tersengal-sengal, “Masukkan, Kang! Sekarang! Ouhh… Nggak tahan… Nggak tahan… Ouhhhh… ouuhhhh…!!”

Akupun sebenarnya sudah tak tahan, kudorong punggungnya agar membungkuk, kedua tangannya diletakkan agar bertumpu di pinggir meja rias, pantatnya diangkat dan kutekan pinggangnya agar agak kebawah, sehingga Indah berada dalam posisi tubuh melenting sambil membungkuk, kedua kakinya kurenggangkan, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan penisku kepala penisku kearah mulut liang vagina Indah yang sudah basah dan licin dari belakang melalui belahan pantatnya. Lalu…

Bleshh…!!! Batang penisku terasa hangat dan basah menguak liang vagina Indah yang sempit dan nikmat. ”Ouhhhh…” Erang nikmat Indah keluar dari bibirnya sambil mendongakkan kepala. Posisi Indah yang sedang mengerang dan menggeliat ketika vaginanya diterobos batang penisku, begitu menggairahkan Dedi yang sedang mengintip perbuatan kami. Dedipun merasakan ada getaran-getaran nikmat yang terjadi pada batang penisnya, padahal selama ini, walaupun sudah dirangsang sedemikian rupa oleh Indah hingga membuat Indah kepayahan, Penisnya tidak juga merasakan getaran-getaran nikmat yang dapat membuatnya mengeras.

Namun saat ini, Dedi merasa aneh sekaligus gembira, karena dia merasakan ada getaran-getaran nikmat yang diakibatkan oleh aliran darah yang mengalir cukup cepat pada batang penisnya. Dedipun merasakan batang penisnya agak mengeras tidak seperti biasanya, walaupun belum bisa dikatakan batang penisnya telah tegang dengan sempurna, namun perubahan ini membuatnya sangat gembira dan menimbulkan harapan bahwa suatu saat nanti Dia akan mampu berfungsi sebagai lelaki normal kembali. Oleh sebab itu Dedi semakin asyik menikmati persetubuhan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Sementara saat itu, aku dengan penuh gairah memompa pantatku agar batang penisku mengaduk-ngaduk liang vagina Indah. Kepala Indah terangguk-angguk menerima helaan dan sodokan dariku sambil tak henti-hentinya mengerang nikmat. “Ouh… ouhh… Kang… Kanggg…”

Buah dadanya yang montok terayun-ayun dengan indahnya. Indahpun menggerakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku membuat rasa nikmat semakin melambungkan kami berdua. Terkadang pinggul Indah berputar-putar sehingga batang penisku serasa dipelintir dengan sangat nikmat.

Hentakan tubuhku dan gerakan pinggul Indah semakin lama semakin cepat dan telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras diiringi dengan erangan nikmat yang semakin nyaring. Hingga akhirnya lonjakan tubuh Indah menjadi tak terkendali dan mulai kejang-kejang dan akhirnya tubuh Indah melenting kaku terdiam dengan kaki terjinjit disertai teriakan, “Aaaaakkkkkkhhhs…!!!”

Selama beberapa detik batang penisku seperti diremas-remas dan dijepit oleh dinding vagina Indah dengan sangat kuat membuat napasku berhenti dihimpit oleh rasa nikmat yang luar biasa. Sesaat kemudian tubuh Indah melemas, lututnya dan sikunya goyah dan akhirnya ambruk terduduk di lantai sehingga Batang penisku yang sedang menancap pada liang vaginanya terlepas.

Indah baru saja memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sungguh luar biasa, meninggalkan diriku yang masih sedang berada di awang-awang kenikmatan dan belum mencapai puncak. Napasku terengah-engah dengan perasaan sedikit kecewa karena kenikmatan yang kurasakan seolah terputus.

Disisi lain, Dedi juga merasakan kenikmatan rangsangan yang sangat tinggi melihat ekspresi wajah istrinya saat meraih puncak orgasme. Lututnya terasa lemas dan goyah menikmati apa yang dilakukan istrinya.

Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu sejenak Indah merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan napas yang terengah-engah. Beberapa detik kemudian, aku membangkitkan Indah dan menuntunnya menuju tempat tidur, Indah naik ke tempat tidur dan berbaring telentang, napasnya perlahan-lahan normal dan pancaran matanya masih menampakkan gairah yang masih menyala. Aku merangkak mendekatinya, gairah Indah semakin berkobar ketika dia melirik batang penisku yang berdiri dengan kokohnya.

jilbab montok bohay (1)

Sementara itu, dada Dedi kembali berdegup menantikan detik-detik dimana tubuh Istrinya akan kembali digenjot olehku di tempat tidur. Dalam hatinya Dedi memuji akan kemampuan sex diriku yang belum juga ejakulasi padahal telah mampu membuat istrinya melonjak-lonjak meraih orgasme.

Kuciumi bibir Indah dengan lembut, Indah membalas dengan tak kalah lembutnya. Kemudian kuhisap-hisap bibirnya dan dibalas dengan hisapan dan kecupan, lalu kutindih tubuhnya, kaki Indah terkangkang mempermudah, tangan Indah meraih batang penisku dan mengarahkan kepala penis agar berada tepat di mulut liang vaginanya dan…

Bleshhhh…!! Kepala penisku kembali menyeruak liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, “Aaahhhh…” Indahpun kembali mengerang nikmat.

Bibirku mengecup dan menyosor bibir dan leher Indah secara acak dan penuh nafsu, sementara pantatku mulai mengayuh mengaduk-ngaduk dan mengocok-ngocok liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, namun tetap sempit dan menjepit. Rasa nikmatpun kembali menjalar keseluruh penjuru nadiku.

Genjotan tubuh demikian cepat dan bertenaga membuat buahdada Indah terguncang-guncang menggemaskan. Kuhisap dan kujilati buahdadanya yang kiri dan kanan secara bergantian. Erangan nikmatpun kembali merasuki disekujur tubuh Indah. “Ouhh… Kang… Ouhhh… ouh…”

Pinggul Indah berputar dan bergoyang menyambut setiap helaan dan sodokan batang penisku menimbulkan suara deritan tempat tidur yang cukup keras. Selama beberapa menit aku mengayuh dan memompa disambut dengan goyangan pinggul Indah yang erotis dan kadang menghentak-hentak disertai erangan-erangan nikmat. “Aouh… aouhhh… Kang… Kang…”

Dedi yang mengintip dari balik tirai juga merasakan nikmatnya rangsangan yang cukup tinggi, batang penisnyapun semakin mengeras tegang, dan hal ini semakin menggembirakannya. Disamping itu, dia semakin kagum akan stamina sex yang dimiliki olehku.

Goyang pinggul Indah telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dan menghentak, sementara aku tetap mengayuh pantatku untuk mengocok liang vagina Indah dengan kecepatan yang tetap. Indah menginginkan kenikmatan yang lebih, dia menggulingkan tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku dan langsung menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat dan keras dengan tubuh yang mulai melenting dan kepala terdongak ke belakang. Dan beberapa menit kemudian…

”Aaakkkaaangggg… kkhhhss…” Tubuh Indah melenting kaku, kembali Indah memperolah orgasme yang luar biasa. Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh di dalam liang vaginanya.

Ya, Indah baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini, dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Indah merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Sementara itu, Dedi kembali merasakan puncak kenikmatan rangsangan, ketika dia menyaksikan istrinya memperoleh puncak orgasme dan dia semakin asyik menikmati apa yang istrinya lakukan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Indah terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Indah, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Indah tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Indah membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya merangsang. “Auhh, Kangg… aouhh… ouhhhhh… Kangghh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya, “Aaaaakkkhhss…”

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Indah kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Indah terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Indah telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Indah mencapai orgasme.

Dedi semakin kagum akan staminaku, karena sudah berjalan hampir 1 jam dia mengintip apa yang kulakukan, Aku belum juga ejakulasi. Sementara itu Dedipun merasa bahagia karena dilihatnya Indah bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah.

Indah merasa tubuhnya sangat lelah namun gairahnya masih berkobar-kobar mengalahkan rasa lelah yang merasuki dirinya, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya. Aku mengambil inisiatif dengan memompanya lebih aktif dan Indah menyambutnya dengan goyangan dan lonjakan dari bawah sambil mengerang dan menjerit seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat didambakan. “Ouh… ouhh… Kang… Kang… hekss… ouhhh…”

Hingga akhirnya kembali Indah menggapai apa yang didambakannya, Indah melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena gairahnya kembali meronta-ronta ketika vaginanya diaduk-aduk dan dikocok-kocok oleh diriku tiada henti dan tak lama kemudian, diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Indah yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan Indahpun merasakan itu dan dia pun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan, “Aaakkkkkksssss…!” secara berbarengan kami meraih orgasme.

Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Indah. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan. Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Saat kami mencapai puncak orgasme secara bersamaan, Dedipun merasakan puncak rangsangan yang sama, tubuhnya terasa lemas dan oleng, matanya berkunang-kunang menikmati sensasi puncak rangsangan yang diperolehnya.

Disaat aku dan Indah masih tergolek lemah, dengan mengendap-ngendap Dedi keluar dari rumah menuju tempat pencucian motor dan ternyata motorku sudah lama selesai dicuci. Dedipun membawa pulang motorku.

Hanya beberapa menit kami tergolek lemah, lalu dengan tergesa-gesa bangkit dan memunguti pakaian yang berserakan dan mengenakannya. Indah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, sementara aku menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, kulihat Dedi pulang dari tempat pencucian motor. “Gus, kamu hebat bisa membuat istriku terlonjak-lonjak kenikmatan!” katanya sambil mengedipkan mata padaku, “Istriku mana?” lanjutnya lagi.

“Sedang di kamar mandi.” jawabku tersipu. Aku heran bagaimana ia bisa tahu, padahal aku tidak merasa diintip olehnya. Mungkin aku terlalu terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh Indah, sehingga tidak sadar bahwa aku telah diintip olehnya.

“Gus, kamu harus menepati janji untuk tidak merebut Indah dariku!” kembali dia mengingatkanku sambil berbisik takut didengar oleh istrinya.

“Aku janji.” jawabku meyakinkannya.

***

Sejak itu aku sering mengunjungi rumah Indah untuk menumpahkan segala kerinduan sekaligus meraih nikmat bersama Indah dan ada saja alasan Dedi untuk meninggalkanku agar aku dan istrinya merasa bebas bercinta. Bahkan seringkali Dedi pura-pura pergi dari rumah sebelum aku datang.

Aku semakin akrab dengan Dedi, bahkan Dedi kupekerjakan pada perusahaanku sehingga kami bisa mengatur rencana pertemuanku dengan istrinya secara lancar.

Penyakit impoten yang diderita oleh Dedipun secara perlahan-lahan mulai membaik, penisnya bisa tegang hampir sempurna jika melihat aku menggauli istrinya dan ketegangan penisnya semakin keras ketika menyaksikan istrinya meraih orgasme. Namun apabila dia bermesraan dengan istrinya saat berduaan, penisnya susah sekali bangun, dan seperti biasa Indah selalu berusaha keras merangsangnya dengan berbagai cara.

Akhirnya Dedi mengusulkan padaku, untuk menggantikan posisiku menggenjot istrinya pada saat istrinya mencapai puncak orgasme yang pertama dan aku boleh menggenjot istrinya kembali setelah dia mencapai ejakulasi. Aku menerima usulnya, namun rencana ini tidak dibicarakan ke istrinya.

Ketika rencana ini dilaksanakan, Indah sangat kaget begitu melihat suaminya masuk dalam keadaan telanjang saat dia sedang terengah-engah karena baru mencapai puncak orgasme. Namun Indah sangat heran karena suaminya tidak marah melihat perselingkuhannya dengan temannya, dan yang lebih aneh sekaligus menggembirakan hatinya adalah Indah melihat penis suaminya mampu tegang dengan sempurna.

Dedi langsung menghampiriku yang terdiam melihat Dedi masuk kamar ketika aku sedang menikmati remasan dan jepitan vagina istrinya, Dedi berkata: “Gus, gantian dong, mumpung penisku sedang tegang nich!”

Dengan berat hati aku mencabut batang penisku yang sedang menancap kokoh dari liang vagina Indah, dan beranjak ke meja rias kemudian duduk dikursi yang terdapat di sana menyaksikan apa yang akan dilakukan Dedi pada istrinya.

Mulanya Indah malu dan ragu melihat situasi seperti ini, namun kebahagiaannya melihat batang penis suaminya yang dapat tegang sempurna setelah 2 tahun tertidur lemas, menggantikan keraguannya dengan gairah yang menyala-nyala. Indah berusaha bangkit dengan tangan terbuka menjemput tubuh bugil suaminya dengan cinta yang membara. Dedi langsung memposisikan batang penisnya tepat di liang vagina Indah, dan langsung menyodokkan batang penisnya ke liang vagina Indah dan disambut dengan erangan nikmat penuh kebahagiaan dari Indah. “Ohhhhh… Kang Dedi… Ouhhh…”

Dedi mengayun pantatnya dengan sangat cepat, seolah takut ketegangan penisnya akan surut kembali, tangannya meremas-remas buahdada istrinya dengan penuh semangat, sementara itu Indah membalas setiap perlakuan suaminya dengan lonjakan-lonjakan yang luar biasa bergairah, bahkan gairah seperti ini belum pernah dia pertunjukkan padaku, mereka saling mengerang penuh kenikmatan, disertai hentakan-hentakan tubuh cepat dan keras serta kaku.

Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan gairah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Batang penisku yang belum terpuaskan semakin tegang dan keras menyaksikan persetubuhan mereka yang sangat erotis dan merangsang.

Beberapa menit kemudian, terlihat kedua tubuh mereka melenting kaku dan menjerit nikmat bersamaan meraih orgasme, sebelum akhir berkelojotan dan akhirnya terhempas lemas.

Dedi menggulirkan tubuhnya menjauh dari tubuh istrinya, dada mereka turun-naik menghirup napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Terpancar di wajah mereka kepuasan dan kebahagiaan yang sukar tuk dibayangkan.

Setelah kulihat napas mereka berangsur-angsur normal, kuhampiri mereka yang tergolek lemah dan berkata pada Dedi. “Ded, bagaimana dengan ini?“ kataku sambil menujuk batang penisku yang mengacung-ngacung minta dipuaskan.

“Terserah Indah…” jawab Dedi sambil melirik ke Indah.

Indah balas menatap mata Dedi, minta persetujuan. Dedi hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu Indah menatapku dengan tatapan mengundang. Kuhampiri tubuh Indah, dan kutuntaskan permainanku yang tertunda. Terasa agak becek, liang vagina Indah, namun tidak mengurangi rasa nikmat yang kuterima. Dan Permainan kali ini sungguh luar biasa. Indah bergoyang dan menggeliat tiada henti, walaupun telah berkali-kali mencapai orgasme, Indah terus meladeni dengan semangat yang tak pernah padam. Sampai akhirnya aku benar-benar terkulai lemas diatas tubuhnya.

Hubunganku yang ganjil ini terus berlangsung, hingga Indah memperoleh 2 orang anak yang kini telah berusia SD. Aku tidak tahu, apakah itu anakku atau anak Dedi, Aku sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anakku sendiri, demikian juga Dedi, dia sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anaknya sendiri.

Walaupun sekarang aku telah beristri dan memiliki anak dari istriku, hubungan cintaku dengan Indah masih berlangsung, sebab hingga kini Dedi belum sanggup melakukan persetubuhan dengan istrinya tanpa didahului menyaksikan istrinya dirangsang dan digauli olehku.

Entah kapan hubungan ini akan berakhir, akupun tak tahu…