UFAIROH

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (5)

Ufairoh  begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke pesantren dimana dia menuntut ilmu agama sambil kuliah di Yogjakarta. Ufairoh Nurulhayah adalah seorang aktivis muslimah di kampusnya dia menjadi pengurus dalam HMMTP perkumpulan mahasiswa muslim di fakultasnya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (6)

Meskipun Ufairoh adalah seorang aktivis muslimah, tapi jubah yang dia pakai tidak bisa menutupi kemolekan dan kemontokan tubuhnya terutama payudaranya yang montok dan besar itu. Sebenarnya semua ikhwan-ikhwan di sekitarnya juga sangat bernafsu ketika melihat gundukan kelenjar susu yang besar dan montok itu. Bukan tidak sadar, Ufairoh mengetahui jika Payudaranaya itu istimewa, sehingga dia tidak pernah menggunakan jilbab yang panjang untuk menutupinya, karena tanpa diketahui semua orang, Ufairoh adalah seorang pecandu seks, dan dia sangat binal.

*******

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Ufairoh  begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor HMMTP. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (12)

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Ufairoh . Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu disaa sudah ada ina teman sekamarnya yang mengatakan jika ada seoran ikhwan mencarinya di luar .

Ufairoh  hanya membuka pagar itu sedikit, dan ternyata sudah ada Ardi yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berjumpa denganya dikantor HMMTP . “Ada apa, Ardi? “

“ada keributan antara Faizah dan Ummu Nida di Sekretarian HMMTP, saya disuruh menjemput kamu untuk melerai mereka.,“

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (11)

Ufairoh yang memang terlibat dalam organisasi itu dan merasa bertanggung jawab pada mereka karena berdebat langsung bersiap-siap untuk ke kantor HMMTP di kampusnya

****

Sesampainya di sekerteriatan Ufairoh  pun langsung menuju ruangan rapat sementara Ardi mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Ufairoh  yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi payudaranya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Ardi . Karena itu begitu Ummu Nida menyuruhnya  menjemput Ufairoh  , ia langsung mengiyakan.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (13)

Di dalam ruangan, Ufairoh  langsung mencari berkas untuk membantu Ummu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di laci meja. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Ardi sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Ufairoh  pasrah dirinya dipeluk Ardi dari belakang. Selain itu Ufairoh  sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Ardi. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Ufairoh , rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Ardi meraih rambut Ufairoh  dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Ardi jangan, aku geli,,,” , “Emang dik Ufairoh  nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Ardi lalu kembali memeluk perut Ufairoh dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Ardi menaikan pelukan di Payudaranya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan Payudaranya.” Ardi, apaan sih aku malu,..” sambil dia berputar ke arah depan Ardi. Ardi melihat wajah Ufairoh  yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Ardimempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Ardi. Pertama lidah Ufairoh  begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Ardi merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Ardimemasukkan lidahnya. Ragu-ragu Ufairoh menyambut lidah Ardi. Libido Ufairoh terpacu dan gairah seksnya meninggi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (1)

Perlahan tangan Ardi menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Ardimeraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Ufairoh  dibuka Ardi, dan Ardi langsung mengelus dan meremas-remas payudara biada Ufairoh yang besar dan menggoda itu, Ardi merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Ardii jangan, ardii…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Ardimulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Ardi yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Ardiaaa…”. Tangan Ardi meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Ardi. Ciuman Ardipindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Ufairoh  dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (15)

Perlahan ciuman Ardi turun sampai ke target utamanya yaitu payudara montok milik ufairoh yang putih dan kenyal, Ardi mencupang payudara putih itu, “ Eerrrrhh…ardiiiii.. haaah…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Ardi yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Arditelah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Ardimembelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh….., aku geli” tiap kali Ardi menyentuh anusnya. Ciuman Ardi telah meninggalkan cupang merah di leher dan di payudara akhwat cantiik ini, tangan Ardi meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke Payudaranya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Ardi ikut turun ke Payudara montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Ardiuntuk mengecup payudaranya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (14)

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Ardimenyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Ufairoh  kian menyusup menahan kenikmatan,” Ardiiiii , aku geli aaaaah,,,” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Ardi ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Ardi menempelkan telinga ke Payudara montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Ardimembalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Ardi telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Ardi, kemudian secara cepat Ardi melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Ardi cepat membuka baju dan celananya sendiri. Ardi mendudukkan ufairoh ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Ufairoh  terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Ardi buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Ardi menarik puting Payudaranya dengan tangan kiri. “Och.., ardiii” lirihnya. Dengan jari Ardi memelintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Ufairoh  mengejan, punggungnya menempel ke Payudara Ardidan tangan kanannya meremas penis Ardidengan lembut. ”Enak dik Ufairoh ??”, “Aah…” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Ardi tak henti-henti mengecup Payudara sebelah kanan  dan tangan Ardi aktif menarik puting payudara biadab kiri itu hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Ardi memangku Ufairoh di atas paha, Ardi membuka ke dua paha akhwat semok nan binal ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Ardi ke belakang, Ardi mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Ardi turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Ardi yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (10)

Mengingat Ufairoh  adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Ardi. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Ardi, keringat deras mengalir di Payudara dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Ardi dengan lembut. Ketika tangan kanan Ardimulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Ardi mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Ardi mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….ardiii, kau apakan tubuhku ini ardiii?”, ”Rilex dik Ufairoh , enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….iyaahh hahh yaaah nikmaat, enaaakh…..” Ufairoh   hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Ardi kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Ardi menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Ardi turun menelusuri labia mayora. Ardi menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Ahhh….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Ardi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (2)

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Ardi dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Akuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek ufairoh Ngak usah ditahan”, Ardi mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Ardiiii aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Ardi merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Ardi melihat dari cermin di mana Payudaranya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Ardi menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Ardi menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di meja ruanga itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Ardimenurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Ardi mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Ardi. Ardi mengambil posisi di samping kanan Ufairoh , tangan kiri Ardi merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Ardi nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Ardi berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Ufairoh . Payudara Ufairoh  terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Ardi menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Ufairoh boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Ardi menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Ardi dan tangan kirinya menekan kepala. Ardi merasakan keringat asin dari puting akhwat semok ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Ardi adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Ardi aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Ardi beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Ufairoh  di saat putingnya tenggelam di bibir Ardi. Ardi menggigit lembut, menarik ke atas, Ufairoh  meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Ardi. Sementara tangan kanan Ardi menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Ardi mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Ardi menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Ardi melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Ardi. ”Ardi…. jangan…”, saat Ufairoh  melihat kepala Ardiberada di antara dua pahanya, dengan lembut Ardimenjilat klitorisnya, ”Aah….ardi…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Ardi mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Ardimenggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh…. …. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Ardi.” Ardii….aku mau pipis lagi ardii” kepala Ardi tersanggkut.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (4)

Di paha Ardi air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Ufairoh. Ardi mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Ardi membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba ufairoh membuka matanya, “Ardi masukann masukaaan” kata ufairoh lirih ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Ufairoh .

Memandang Ufairoh  yang sudah terserang birahi membuat Payudara Ardi seolah meledak, Ardi menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Ufairoh . Perlahan kontol Ardimendesak masuk ke memek Ufairoh , perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Ardimenguasai pikirannya. Ardimelambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Ufairoh , Ardi menghempaskan tubuh ke samping Ufairoh . Perlahan Ufairoh  membuka mata. ” Kenapa Ardi? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”,”Hah? Kenapa berhenti Ardi”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Ufairoh ”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (3)

Rangsangan jari Ardiini membuat Ufairoh  menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Ardi meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Ardidengan sekali gerakan k Ard imeraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Ardi berpindah menarik punggungnya agar Payudara akhwat cantik ini dirapatkan ke Payudaranya, rasa hangat menerpa Payudara Ardi keringat mereka saling menyatu.

Ardi menempatkan kontol ke posisi vertikal. Ufairoh  kemudian mengesek naik turun kontol Ardi yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Ardi menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Ardi menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Ufairoh  sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Ardi menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Ardi masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Ardi tenggelam di gerbang vagina Ufairoh , tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Ardi hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Ardi merasa itu adalah selaput daranya. Ardi melihat Ufairoh  tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. “ Miliki aku, Aardiii…”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (9)

Kemudian dengan menarik nafas panjang Ufairoh  menaikkan tangannya di atas dada Ardi, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol Ardihingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…ardiiiih, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh Ardi. Ardi mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Ufairoh  mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Ardi, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Ufairoh  mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Ardii….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Ufairoh , biar Ardi lihat”. Ufairoh  berjongkok dengan kontol Ardi yang masih tersarung di memeknya, Ardimelihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…Ardii.. aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Ardi menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Ardi.. ardiiii…ardii…ouch” kontol Ardi keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (8)

Rasanya kontol Ardi dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Ufairoh . Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Ardi seiring dengan makin terangsangnya Ufairoh . Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Ardi aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Ardi keluar masuk vagina Ufairoh  semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Ufairoh  memasukkan kontol. Ardimengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Ardi aku mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Ufairoh  tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, Ardi juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Ufairoh , Ardi juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Ardi sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Ardi nyampe…….ah….” dengan kerasnya Ardimengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Ufairoh  masih bergoyang di atas kontol abu.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (7)

“Ardii…aku juga…..aaahhhh ” Tiga goyangan Ufairoh  mengejan di atas tubuh Abu, Ardi merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh Ardi dan kukunya menancap di punggung abu, Dada mereka saling menempel hingga Ardi merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Ardi serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan Ardi memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Ardi membiarkan Ufairoh  beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Ardi mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Setelah merasakan Seks dengan orang yang dikagumi, maka Ufairoh lupa akan urusanya,  dan mereka melakukan itu lagi dan lagi, sampai mereka tak sanggup berdiri.

Beginilah hidup ufairoh nurulhaya, penuh seks, dia tak lagi peduli dengan yang lain kecuali seks, dan semua masturbasinya selama ini terbayar dengan kontol asli milik Ardi.

MIA 6

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.

yessi ecii - jilbab bahenol (6)
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

yessi ecii - jilbab bahenol (5)

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

yessi ecii - jilbab bahenol (4)

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”

yessi ecii - jilbab bahenol (3)
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

yessi ecii - jilbab bahenol (2)

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…

yessi ecii - jilbab bahenol (1)
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.

MIA 4

yessi eci - jilbab semok (1)

Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya. Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?
Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga J Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.
“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”
“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”
“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.
“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.
“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.
“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.
“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.
“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.
“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.
“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.
“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.
“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”
“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.
Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”
“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.
Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.
Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini J). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.
“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.

yessi eci - jilbab semok (5)
“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.
“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.
“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”
“Berapa lama di Manado, mas?”
“Kurang lebih 1 minggu….!”
Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)
“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.
“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”
“Mmh… nggak papa kan?”
“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”
“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”
“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”
“Siapa? Haikal apa aku?”
“Kamu!”
“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”
“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”
“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.
“Uuu… maunya!!”
“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”
“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.
“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”
“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”
“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”
“Tapi pake cd?”
“Ya… iyalah….”
“Mmmhh… gak usah deh…!”
“Terus aku bugil?”
“Iya!”
“Topless aja ya….”
“Mmmhhh…. Ok!”
“20 menit ya….!!!”
“OK!”
Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot kontol Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus memekku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…
“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”
“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”
“Sama Haikal?”
“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”

yessi eci - jilbab semok (4)
“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.
Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..
“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”
“Di pakai gimana?”
“Ya… memeknya mami mau dipakai sama kontolnya Om Fachri…”
“Oo… mau gituan dulu ya…”
“Gituan apa?”
“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.
“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab kontolnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”
“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”
“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”
“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”
“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”
“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, ngentot, ML…. pokoknya banyak deh…!”
Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi memek sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil mengenakan kimono mandi dan jilbab, aku membukakan pintu.
“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.
“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”
“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.
“Ooo… nggak mau nepatin janji?”
“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”
“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.
“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”
“Toketmu?”
“Iyalah…”
“Mau aku remes2!!!”
Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.
Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku dan jilbabku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.
“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.
“Bonus!” jawabku singkat.
“Bonus apa?” tanyanya lagi.
“Bonus karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”
“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”
“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”
“Lho? Terus kamunya?”
“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”
“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.
“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku pingin ngerasain kontol Arab!”
“Dasar kamu!!!!!”

yessi eci - jilbab semok (3)

Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… kontolnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap kontolnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.
Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.
“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”
“Gimana apanya?”
“Mereka disini ngeliatin kita.”
“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.
Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati kontol arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan kontolnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan memekku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan memekku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku. Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga memekku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku. Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi. Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan kontolnya kedalam memekku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam penisnya berdenyut dengan kencang sekali. Memekku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.
“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.
“Mmmhh… enak kan tapinya?”
“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”
“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”
“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot memekku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.
“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”
Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot memekku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan kontolnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.

“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.
“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”
Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.
Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja memekku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan kontolnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…
“Sumpah, Mi… memekmu enak bener!”
“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! Kontolmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”
Lalu Fachri kembali memasukkan kontol arabnya ke dalam memek lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat kontol Fachri kepada liang memekku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak. Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang memekku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.
“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.
Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar. Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam kontolnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang memekku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

yessi eci - jilbab semok (3)

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam memekku, Fachri mengeluarkan kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… kontol yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.
“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”
“Kenapa?” tanya Fanny.
“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”
“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.
“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, ngentot, ML…. tinggal pilih!
“Oo….! Berarti seharian kita ngentot nih?” tanya Fachri lagi.
“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”
“OK!”
“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.
“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.
“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”
“Ya sudah….”

Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan kontol Fachri dengan batangan imut milik Haikal.
“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.
“Soalnya supaya muat di memeknya mami!” Jawabku singkat.
“Tante…” kata Haikal, “memek apaan sih?”
Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus memekku, Fachri berkata…
“Ini yang namanya memek, Cal! Memeknya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium memeknya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”
Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan memekku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium memekku. Belum selesai Haikal menciumi memekku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat memekku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil! Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok kontol Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

yessi eci - jilbab semok (2)

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus memek mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian. Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan kontol kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok kontol kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat. Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus memekku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas kontolnya.
“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.
“Kenapa?”
“Bisa nyobain memekmu! Kamu?”
“Aku apalagi! Bisa nyobain kontol arab. Yang gede dan yang kecil”
Aku dan Fachri tertawa kecil.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.
“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”
“Yang enak yaa….”
“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.
“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…
“Kenapa?”
“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”
“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
“Kamu seneng banget ngentot ya?” tanyanya lagi.
“Mmhh… kalo iya kenapa?”
“Gak papa… Cuma heran aja!”
“Heran kenapa?”
“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”
“Iya… terus?”
“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”
“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”
“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak memek istrinya.”
“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”
“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

yessi eci - jilbab semok (1)

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya. Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati memek mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.
“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus memek anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya kontol!”
“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”
Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.
“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”
Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “kontolnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin kontolnya ayahmu ngacak-ngacak memeknya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.

MIA 2

Malam itu aku baru pulang. Aku dan Andre habis dari jalan-jalan. Sekarang jam 12 malam. Suamiku tentu saja sudah tidur, tapi nggak apa-apa… aku bawa kunci rumah. Sebelum berangkat tadi sore, aku bilang ke suamiku, kalau aku mau ke rumah Rieke… dan dia percaya!

yessi eci - horny jilbaber montok (2)
Pas mau turun mobil (parkir di 2 rumah sebelum rumahku. Kebetulan tempat itu sepi dan gelap, karena samping kanannya adalah taman kompleks, dan sebelah kirinya lapangan bulu tangkis), Andre minta aku untuk blowjob. Aku nggak mau… aku maunya ML. Ya sudah, akhirnya kami bertempur di mobilnya Andre. Kami tidak mau repot-repot… karena memang aku tidak mengenakan bh dan celana dalam (aku sudah siap-siap). Aku hanya mengenakan jilbab, baju kurung selutut dan rok lebar semata kaki . Praktis kan? Tinggal menaikan rok, pindah ke jok belakang dan ML dengan posisi duduk. Aku diatas, dipangku Andre. Setelah selesai, aku masuk ke rumah dengan memek penuh spermanya Andre yang juga menetes di pahaku. Sebelum ke tempat tidur, aku ke kamar mandi, nyuci memek, bersihin make-up pakai lingerie (tapi nggak pakai dalaman), terus tidur deh…
Sekitar jam ½ 5an, suamiku bangun untuk minta jatah. Aku bilang aja begini, “Nggak sekarang ya mas… aku lagi nggak mood. Aku capek banget. Maaf ya mas…!”
Terus kata suamiku, “Ya sudah, nggak apa-apa.” Lalu dia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Aku rasa dia masturbasi,… soalnya sudah 3 hari nggak dapet jatah. Aku senyam-senyum sendiri… “Kavlingnya sekarang punya orang banyak. Kalo’ mau pake, izin dulu… mentang-mentang resmi di depan penghulu, belum berarti tubuhku dan semua anggotanya jadi properti pribadi, hihihi…..” kataku dalam hati. Lalu aku tidur lagi, dan baru bangun jam 10 pagi, tentu saja Tino sudah berangkat.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

Sekitar jam 11an, aku mandi. Rumahku sepi sekali. Pembantuku belum pulang, Fanny sedang dirumah ibuku. Andre kerja… Alex belum pulang dari Surabaya. Aah…. Dengan suasana seperti ini, aku jadi hanya pakai daster (no bra no cd). Daripada iseng, aku nonton dvd blue aja sambil mbayangin Alex dan Andre. Sekitar jam 1an, suamiku telfon. Katanya dia malam ini nggak pulang, karena proyeknya di Sukabumi harus sudah selesai besok pagi. Setengah nggak percaya, aku menelfon hp-nya Andre untuk memastikan, ternyata benar! Tapi, baru saja aku akan menyuruh Andre menginap di rumah, Andre bilang kalo’ dia juga harus kesana. “Aahh…. Sial banget! BT!”

Dari pada bengong di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk ke mal. Aku mau belanja saja. Ya sudah… aku memacu mobil ke mal. Sekitar 1 jam aku disitu, ada seorang pria menghampiriku. Pada saat itu, aku sedang makan di restoran. Kami berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Nama orang itu, Vito. Dia sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Sekarang, istrinya sedang dirumah orang tuanya, dan dia sendiri baru pulang kantor. Singkat cerita, kami akan bertemu malam ini, dirumahku. Tapi dia akan ke mertuanya dulu untuk melihat istrinya. Karena sudah tukeran no Hp, kami janjian lewat telfon. Akhirnya, Vito bilang kalau dia akan datang kerumahku jam 9 malam. Setelah aku memberikan alamatku, kami menyudahi pembicaraan telfon.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)

Vito mau datang jam 9… sekarang baru jam ½ 8. “Aah… lama banget!” pikirku. Aku memakai jilbab biru muda seperti yang dipakai ineke, kemeja yang pas di badan berwarna biru terang dengan celana panjang hitam. sementara di dalam aku pakai g-string hitam tembus pandang. Buat atasannya, aku pakai tanktop model tali yang agak longgar, sehingga toketku bisa bergerak bebas (aku nggak pakai bh), Pas jam 9 lewat 10, Vito datang… “Ganteng banget sih ni orang!” pikirku.

Kami duduk-duduk di ruang tv sambil ngobrol-ngobrol, ngopi dan merokok. Sambil ngobrolin tentang keluarga kami masing-masing, Vito menyelingi dengan pujian-pujian seputar keindahan dan kemontokkan tubuhku. Aku kan jadi GR!!! Vito bercerita dengan jujur, bahwa semasa istrinya hamil ini, dia juga ‘jajan’ ke wanita-wanita lain. Seperti ; sepupu istrinya, istri teman kantornya, beberapa anak SMU dan SMP dan juga beberapa teman istrinya.
“Aku kan juga pingin ‘ginian’ Mi…” kata Vito sambil menjepitkan ibu jari tangan kanannya di jari tengah dan telunjuknya.
“Iya lah… aku ngerti kok!” kataku bersimpati.
Sekitar jam ½ 11, Vito numpang ke kamar mandi. Dia mau mandi, gerah katanya. Ya sudah… dia kusuruh mandi dikamar mandi ruang tidurku. Karena kamar mandi tamu sedang rusak ledengnya.
“Numpang mandi ya Mi…” kata Vito.
“Iya… iaya…” sahutku.
Vito baru saja masuk kekamar mandi, dan aku mau keluar kamar, tiba-tiba aku terasa mau pipis. Daripada ngompol, aku ketok aja kamar mandi. “Vito, aku mau pipis nih… bukain pintu dong?!”
Pas pintu kamar mandi dibuka, aku disuguhkan pemandangan indah. Penis Vito setengah tegang, dan itu saja sudar besar. Aku sampai menelan ludah, “Glk…. Gede banget!” gumamku.
“Ya sudah….” Kata Vito, “katanya mau pipis?!”
Setelah selesai pipis (belum cebok), Vito tiba-tiba memegang tanganku dan menyuruhku berdiri. Dia melepas jilbabku (cd dan celana panjangku sudah ku lepas dari tadi) dan menanggalkan kemeja dan tanktopku. Kini aku bugil. Kemudian, Vito memelukku dari belakang, dia menciumi leherku dan membasuh vaginaku, dengan posisi; tangan kanannya menyirami memekku dan tangan kirinya mengelus-elus barang kesayanganku itu.

Ternyata tidak sampai disitu saja. Vito mulai memainkan jarinya, keluar masuk lubang itilku sambil sesekali menggosok kelentitku. Ketika aku mulai mendesah keenakkan, tangan kanan Vito bergerak kearah payudaraku. Toketku itu, diremas bergantian. Sementara mulutnya mulai mengulum bibir dan menghisap lidahku. Tak lama kemudian, aku mengajak Vito ke tempat tidur. Setelah duduk di pinggiran spring bed, aku segera membuka kakiku lebar-lebar, mengundang lidah Vito untuk bermain dan menari di lubang tempat Fanny keluar dulu.
Desahan kenikmatanku makin keras, dan pada saat yang bersamaan…. Cairan pelumasku keluar. Tanpa banyak argumen, Vito segara memasukkan barangnya yang besar, panjang dan keras itu ke tempat yang seharusnya. Dia mulai merangsak maju mundur, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya di kedua sisi tubuhku. Tusukan dan hujaman Vito sangat berirama. Segera aku ikut memutar-mutarkan pinggulku untuk merespon Vito. Desahan kenikmatanku keras sekali terdengar, sehingga terkadang, Vito membungkamku dengan melumat bibirku dengan bibirnya. Tak lama kemudian (dengan kontolnya masih menancap di memekku) Vito menggendong dan membopongku. Lalu ia duduk di kursi di samping tempat tidur. Setelah itu, aku yang bekerja.

yessi eci - horny jilbaber montok (4)

Zakar Vito dikocok dengan keras dan cepat oleh memekku. Sementara aku bergoyang naik turun memanjakan kontol gede ini, aku berpegangan di pundak pria atletis itu, sambil tangannya meremas kedua payudaraku. Kemudian aku mencondongkan tubuhku lebih dekat ke tubuh Vito. Sambil menciumi bibirnya, aku menggerakkan pinggulku semakin cepat… dan efeknya? Aku orgasme… lalu aku menurunkan tempo pergerakanku, untuk merasakan kenikmatan ini. Vito sadar kalau lawan mainnya ini sudah jebol, tiba-tiba dia meremas pantatku dan menusuk vaginaku dari bawah… pelan tapi beraturan. “Anjing!” pikirku, “enak banget!”
Ketika ada jeda dalam serangan-serangan Vito, tiba-tiba telfon di meja samping kami berbunyi.
“Sst…” bisikku, “kamu jangan ngomong dulu ya sayang!!”
Sambil berbicara di telfon (itu suamiku), aku bergerak turun naik secara perlahan-lahan. Sementara Vito menjilati putting susuku. Di tengah pembicaraan telefon, Vito berbisik, “Aku mau keluar!” Setelah aku berhenti bergerak, Vito memasukkan batangannya dalam-dalam sambil menekan pantatku. Segera aku tutup telfon dengan tanganku dan aku berteriak tertahan… memekku di semprot oleh sperma yang hangat, kental dan banyak sekali. Setelah semuanya keluar, Vito menciumi dan melumat bibirku. Kontolnya masih di dalam memekku, ketika aku melanjutkan pembicaran telfon dengan suamiku. Tak lama kemudian aku menutup telfon. Tanpa membersihkan kedua alat kelamin kami, kami berbaring kelelahan. Setelah berbaring 10 menitan… tiba-tiba aku merasa lapar sekali, dan setelah aku tanya, Vito juga.

Lalu aku keluar. Vito tetap di rumahku (takut dilihat orang). Setelah hanya mengenakan daster (didalem gak pakai apa-apa) dan jilbab, aku beli nasi goreng yang kebetulan lewat di depan rumah. Lalu, aku dan Vito makan sambil masih bertelanjang bulat. Selesai makan, kami nonton Tv di kamar tidurku (yang nonton sih Vito, aku sibuk dengan batangannya yang aku sepong dengan beringas). Sepanjang malam itu, kami 3 kali ML. Sekitar jam 1/6, kami tidur.

Aku kaget sekali, sekitar jam ½ 8 ada yang memencet bel rumahku. Aku lihat, Vito masih tertidur pulas. Bergegas aku cuci muka dan mengenakan dasterku (aku dan Vito masih bugil). Setelah kubuka pintu, ternyata yang datang supir ibuku. Dia mengantar Fanny pulang. Setelah itu dia pun pergi.

Setelah membangunkan Vito, aku membuatkan sarapan. Di meja makan, aku mengenalkan Fanny ke Vito. Vito tersenyum ketika mendengar pertanyaan polos Fanny;
“Kok Om Vito telanjang?”
“Iya. Kan habis main kuda-kudaan…”jawabku asal.
“Fanny jangan bilang ke papi ya…” kata Vito menimpali.
“Iya Om….”
“Sekarang, mami mau mandi sama Om Vito. Fanny mau ikut nggak?” kataku sambil berdiri dan menggandeng Vito.
“MAU…!!!”

Di kamar mandi, Fanny yang duduk di ujung bathtub terpaku bingung melihat aku yang sedang berlutut sambil menghisap penis Vito yang duduk di toilet.
“Mami makan apaan tuh?” tanyanya polos.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Mami lagi maem permennya Om vito sayang…” jawabku tanpa menoleh ke Fanny, “kan Fanny sering ngeliat… masa belum tahu juga?”
“Iya, Fanny tahu… terus nanti dimasukkin ke memeknya mami kan?”
Vito terkejut mendengar omongan Fanny, “Kok Fanny tahu memek? Tahu darimana?”
“Aku yang ngasih tahu…” sahutku.
“Oo…!”
“Terus…” lanjut Fanny, “mami juga maem permennya papi?”
“Pernah sih… tapi sekarang mami males! Habisnya, permennya papi kecil. Kalo’ punya Om Vito… bbeesssaaarrr….. bangeettt! Fanny mau pegang gak?”
“Boleh Fanny pegang nggak Om?” tanya Fanny ke Vito.
“Boleh… sini!” jawab Vito.
Aku hanya tertawa saja melihat ulah Fanny dan Vito. Akhirnya, setelah selesai mandi, kami bertiga bugil seharian itu.

Setelah itu, kami bertiga duduk-duduk di ruang Tv. Aku dan Vito senderan dengan santai di sofa. Aku iseng-iseng ngocokin batangan Vito, sementara dia sedang berbicara dengan istrinya di hp, sambil sesekali mencium bibirku dan meremas toketku. Aku merasakan cairan pelumasku keluar, ketika Vito menutup hp-nya. Tanpa banyak bicara, aku langsung berputar dan duduk di paha Vito sambil mengangkang. Vito yang langsung memahami nitaku, segera menggenggam batangannya dan mengarahkannya langsung ke vaginaku yang kian melebar. Lama sekali kami mengolah kenikmatan kami dengan gaya itu. Tusukan-tusukan Vito semakin cepat ketika aku mengerang dan bergetar dengan hebat. Aku orgasme! Setelah itu, Vito membaringkan aku terlentang di lantai yang hanya beralaskan karpet. Sambil setengah membungkuk, Vito berusaha mengejar orgasmenya sendiri. Benar saja… tak lama kemudian, vaginaku kembali dibanjiri cairan kental dan hangat milik Bapak Vito. Tidak itu saja, sisa sperma yang masih ada di zakarnya di semprotkan di payudaraku, dan dibalurkan di bibirku.
Kami berbaring bersebelahan. Sama-sama merasakan kenikmatan yang kami dapat. Aku menggoda Fanny dengan menorehkan peju Vito yang ada di toketku dan menempelkannya di hidung Fanny.
“Iih… mami… apaan sih itu? Kok lengket?” kata Fanny sambil mengelap hidungnya sendiri.
“Itu namanya sperma… tapi mami, nyebutnya peju! Enak deh Fan, kamu lihat mami njilatin itu kan?”
“Rasanya apaan sih mi?” tanya Fanny. Lalu aku menorehkan sisa sperma itu ke bibir Fanny yang langsung meringis, “Iih… asin!” katanya.
Vito dan aku tertawa terbahak-bahak melihat ulah Fanny.

MIRZA

Hingga hari ini, aku masih diliputi perasaan senang bercampur takut. Ini semua mengenai misteri yang mencakup seputar  kehamilanku. Atau  bisa juga dikatakan tentang hubungan seks dengan suamiku.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, sebaiknya aku ceritakan sekilas tentang latar belakangku. Panggil saja aku Mirza, wanita berusia 30 tahun. Sudah menikah  selama 6 tahun, dan memiliki anak yang masih berusia  6 bulan. Lucu dan imut  banget.
Aku mantan  guru sekolah dasar, tapi sekarang ini aku  mengabdikan diri  seutuhnya  untuk mengurus anak dan rumah tangga. Aku lahir di kota Yogya,  dan dibesarkan dalam keluarga yang  religius. Sehari-hari aku berjilbab,  Penampilanku anggun dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang dan jilbab lebar, semakin menambah kecantikanku. Tubuhku yang montok kadang tercetak jelas di balik kain jilbabku. Meski cenderung alim, namun di balik semua itu, aku tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.
Suamiku  sendiri juga pria Jawa, berusia 5 tahun lebih tua, dan merupakan pengusaha yang cukup sukses. Karena faktor pekerjaannya pula, dia sering keluar  kota sehingga tidak setiap hari suamiku berada di rumah. Kami jadi jarang bertemu.
Dalam 5 tahun pernikahan, sebenarnya kami ingin cepat-cepat punya momongan, tetapi kenyataan berbicara lain. Ada beberapa faktor yang menghambat. Diantaranya yaitu suamiku sering keluar kota untuk urusan bisnisnya. Disamping itu, ada satu permasalahan yang begitu mengganggu. Yaitu suamiku mengalami problem ejakulasi dini ( cepat keluar saat bercinta ).
Memang hal ini begitu mengganggu di dalam bercinta. Suamiku tidak bisa bertahan lebih dari 2 atau 3 menit. Kami sudah berusaha lewat berbagai cara, namun tidak begitu banyak menolong. Mulai latihan senam pernafasan, mengatur  makanan, berobat ke dokter, dan bahkan lewat pengobatan tradisional.
Disamping itu,  suamiku agak tertutup dalam soal seks, sehingga lama-lama menjadi minder. Asalkan aku tidak banyak menuntut, sepertinya dia menerima kenyataan.  Suamiku sepertinya juga tidak begitu menaruh perhatian banyak dalam urusan seks.
Sedangkan aku orangnya lain.  Justru aku banyak membaca artikel dan menambah pengetahuan mengenai hubungan seks. Saat masih gadis aku tidak pernah melakukan masturbasi. Karena menurut agama merupakan sikap yang tidak terpuji dan dosa.
Disaat menikah, aku juga tidak begitu  menikmati hubungan seks yang optimal. Walau suamiku sudah berusaha melakukan foreplay yang cukup, tetap saja aku tidak pernah merasakan orgasme. Karena aku sering sharing dengan sahabatku yang katanya bisa mendapatkan orgasme berkali-kali, maka rasa penasaranku menjadi semakin meningkat.
Aku dianjurkan bermasturbasi olehnya, kalo sedang sendiri. Karena bisa rileks dan lebih nyaman katanya. Hasilnya memang seperti yang dikatakan sahabatku itu. Aku memang bisa mendapatkan orgasme. Tetapi aku selalu diliputi perasaan bersalah, sehingga jadinya tidak sering aku lakukan.
Pada suatu hari, suamiku  pulang dari urusan bisnis di pulau Bali. Disana dia menyempatkan jalan-jalan ke  Ubud, suatu desa tempat seniman-seniman menghasilkan karya seni. Suamiku  membeli sebuah lukisan; gambar tentang seorang wanita telanjang yang ditemani oleh kucing. Lukisan  ini ia taruh di kamar tidur. Jika kita rebahan di ranjang, maka mata kita akan langsung menatap lukisan ini.
Aku selalu menyiapkan segalanya kalo suamiku pulang. Biasanya suamiku  kuanjurkan mandi yang bersih, kemudian ngobrol sambil  menikmati minuman segar, dengan cemilan ringan tentunya.  Dan tanpa disuruh, aku biasanya memijitinya. Sudah menjadi ritual, aku menggunakan baju yang ’enak dipandang’ suami.
Saat itu aku mengenakan baju tidur tipis berbentuk jubah yang diikat tali di bagian pinggang sehingga sedikit memamerkan bagian paha yang aku kira cukup untuk membuat suamiku menelan air liurnya. Selain memamerkan paha, belahan dadaku juga terbuka. Suamiku pasti tahu kalau saat itu aku tidak mengenakan bra sama sekali. Untuk daleman, aku mengenakan CD tipis berwarna pink.
Aku mulai memijit suamiku.
”Aduh, enak banget pijitannya, Ma.“ dari caranya berbicara, aku dapat menilai kalau dia sudah horny berdekatan dengan diriku.
“Idih, belum juga punya anak, udah dipanggil mama,” kataku menggodanya. Kutumpangkan kaki kiriku ke kaki kanan sehingga bagian bawah gaunku sedikit tertarik ke atas, membuat pahaku semakin jelas terlihat.
”Yaa,  semuanya kita serahkan saja sama yang Maha Kuasa,” celetuknya gugup sambil menatap pahaku yang terlihat sangat mulus sekali. “Tapi emang bener, enak banget kok pijitannya,“ tambahnya lagi. Dia mencoba untuk memperbanyak omongan karena dia masih ingin duduk di dekatku yang mengeluarkan bau sangat harum.
”Siapa dulu dong yang mijit. “ aku menurunkan kaki dan mengambil minuman di meja dengan setengah membungkuk. Kumajukan sedikit tubuhku sehingga gaunku yang belahan dadanya sangat rendah jadi bisa memamerkan tetekku yang tidak memakai beha.
“Iya deh, percaya.” kata suamiku. Aku tahu persis jika saat itu dia begitu terpesona dengan tetek yang menantang di dadaku ini. ”Kita ke kamar, yuk?” ajaknya kemudian sambil tangannya mencupit pinggulku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil mengerlingkan mata. “Emang tidak mau makan dulu?“ tanyaku saat dengan cepat dia membopongku ke  kamar tidur.
“Ah, nanti sajalah, ” jawabnya pendek.
Ketika aku direbahkan di atas kasur, mataku langsung menatap lukisan wanita telanjang yang ditemani oleh kucing tersebut. Demikian juga dengan suamiku. Saat itulah, tiba-tiba terjadi keanehan. Suamiku seperti menggerak-gerakkan kepalanya, matanya nanar menatapku dengan pandangan sayu. Dia lekas melepas t-shirt dan celana pendeknya. Dan terlihatlah mister P-nya yang sudah sangat menegang panjang.
Padahal rencananya aku mau memijitnya, malah saat itu aku yang dipijitnya. Sambil memijit, dia memuji dan mencumbui seluruh bagian tubuhku. Hal  seperti ini belum pernah dia lakukan sebelumnya.
”Ahh, Mas!” rintihku saat mulai merasa kegelian, badanku menggeliat dan kedua tanganku yang memegang sandaran tempat tidur jadi mencengkram erat sekali. Sementara suamiku terus asyik meraba ketiakku sambil mulai mendekati tetekku yang sebelah kanan.
”Nggak apa-apa, Ma… santai aja.” katanya sambil terus mengelus-elus ketiak kananku dan mulai melebar hingga mencapai pinggiran tetekku yang bulat besar.
”Udah, Mas, gelii…” badanku mulai melenting-lenting ke depan sehingga kedua tetekku yang berukuran 34B ini semakin tampak menantang indah.
”Kan belum dijilat, Ma… masa mau udahan?” balasnya dengan nakal.
Apa! Menjilat? Tidak biasanya dia berbuat seperti ini. Tangan kiriku segera berusaha mendorong tangannya yang masih berada di sekitar ketiak dan pinggiran tetek. ”Udah ah, geli… aku nggak tahan!” kataku.
Kemudian suamiku mengubah posisi; sekarang dia ganti menjilati ketiakku sampai pinggiran tetekku yang masih berlapiskan gaun satin tipis dan memainkan lidahnya di sana.
”Mas, udah dong… aku kegelian nih.” rintihku semakin menggelinjang.
Tapi bukannya berhenti, tangan kanannya yang sedang asyik mengelus-elus ketiak kiriku mulai bergerak semakin ke tengah hingga sampai di bulatan tetekku yang sebelah kiri, dan tanpa membuang-buang waktu langsung meremas-remasnya lembut.
”Hihi… udah ah!” aku tertawa menahan rasa geli yang teramat sangat sambil tangan kananku meremas-remas rambutnya yang licin.
Suamiku yang tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang, tangannya semakin liar meremas-remas di kedua tetekku, terkadang juga memainkan putingku dari luar gaun satinku.
”Ohh, Mas… ampun… jangan diterusin… aku nggak tahan!” kata-kataku mulai terbata-terbata menahan rasa tegang yang mulai mengalir ke ubun-ubun.
”Semakin geli semakin nikmat, Ma…” katanya dengan tangan masih memainkan kedua putingku, dan mulutnya mulai bergerak semakin mendekat ke arah tetek kananku. Dia mulai membuka ikatan gaunku yang berada di pinggang agar mulutnya dapat melahap dengan bebas kedua tetekku yang tidak memakai BH. Setelah gaunku merosot hingga ke perut, mulutnya langsung mengulum habis tetek kananku yang terlihat putingnya berwarna merah kecoklatan.
”Ssh… kok kamu sekarang jadi pinter, Mas!” aku mulai mendesah keenakan, sementara lidah suamiku terus bergerak dengan lincah memainkan puting tetek kananku, sedangkan tangannya yang satunya meremas-remas lembut tetekku yang sebelah kiri. Setelah puas dengan tetekku yang kanan, mulutnya pindah ke tetek kiriku, sambil tetekku yang kanan dimainkan dengan tangan kirinya.
”Kenapa nggak dari dulu-dulu suka ngisep tetek seperti ini?” kupancing suamiku dengan kata-kata yang menggairahkan sambil kedua mataku terpejam rapat.
”Nggak tahu, tiba-tiba pengen nyusu aja!” dia semakin kuat menyedot-nyedot tetek kiriku.
”Ahh…” aku merintih, tak sanggup untuk berkata lagi. Kedua tanganku meremas-remas rambutnya yang terasa sangat licin karena minyak. Sekarang tangan suamiku berpindah meraba dari perut sampai ke bagian bawah baju tidurku yang sudah tersingkap kemana-mana. Dia mengelus-elus terus paha kananku yang bagian dalam, sedangkan mulutnya tidak pernah diam untuk memainkan tetek kiriku.
”Kalau mau main, cepat lakukan, Mas… aku udah nggak tahan nih! Mmh…” kuregangkan kedua pahaku sehingga terbuka semakin lebar, menampakkan lubang senggamaku yang masih berlapis cd tipis, tapi sudah nampak basah tepat di bagian tengahnya.
”Belum, aku masih ingin mencicipi tubuhmu…” kata suamiku, tangannya semakin bergerak ke atas sehingga menyentuh celana dalamku, lalu mengusapnya dengan begitu lembut.
”Ssh… ohh… s-sudah, Mas! Mmhh…” rintihku sambil terpejam nikmat.
Tangan suamiku terus mengelus-elus lembut diatas cd miniku yang semakin basah memerah. Kadang ia mengelus-elus, kadang juga sedikit menekan-menekan pas berada diatas memekku yang berjembut lebat sehingga cd-ku tidak dapat lagi menutupinya. Jembutku yang menyeruak kemana-mana sesekali juga terkena usapannya. Oh, terasa sangat enak dan nikmat sekali.
Apalagi saat suamiku bertindak semakin berani; bukan hanya tangan, tetapi jari-jarinya sekarang dimasukkan ke dalam celana dalamku agar bisa menyentuh langsung bibir memekku yang memanas karena basah.
”Shh, Mas… kumohon… mhh… kalau mau entotin aku, lakukan SEKARANG!!” aku berteriak saking tidak dapat menahan rangsangan.
”Ok, Ma…” suamiku mengangguk. Ia mulai menarik celana dalam yang kukenakan hingga terlepas, tapi tetap membiarkan baju tidur menyelimuti tubuh mulusku. Posisiku saat itu masih bersandar di tempat tidur dengan pakaian yang sudah tidak karuan lagi. Suamiku menatap kawahku yang sudah amat sangat basah dan mencium bau harum ciri khas memek yang sedang terangsang.
Saat itulah, aku begitu kaget ketika tiba-tiba muncul seekor kucing yang berdiri di jendela yang tidak tertutup rapat. Anehnya, kucing ini sama persis seperti kucing yang ada di dalam lukisan. Kucing itu kemudian  meloncat masuk ke dalam kamar dan berdiri di sudut ruangan sambil memandang kami yang sedang bercinta.
”Mas, ada kucing!” aku  bilang ke suamiku, tetapi dia sama sekali tidak menghiraukan.
”Emang kenapa? Mungkin dia kepingin lihat kita, hehe…” suamiku tertawa dan mulutnya mulai menciumi paha dan sekujur kakiku hingga akhirnya masuk ke terminal utama, yaitu lubang senggamaku. Lidahnya langsung menyentuh pinggiran memekku.
”Aahh,” aku berteriak sambil menggeliat. Pikiran tentang si kucing langsung hilang sudah.
Suamiku mulai menjilati memekku dari bagian pinggir. Tanganku menarik kepalanya agar semakin dalam terbenam di selangkanganku. Sesekali mulutnya menyedot-nyedot bagian dalam liang memekku.
”Aah, Mas… enak!” aku merintih. Kuremas rambutnya dengan dua tangan saat lidahnya mulai bermain di itilku yang sudah membesar tajam sambil sesekali menghisap dan terkadang menyedot-nyedotnya ringan.
”Ahh, Mas… terusin… ahh… cepat!” Badanku menggeliat-menggeliat tidak karuan kesana kemari. Lidahnya terus bermain di dalam memekku, kedua tangannya juga mengangkat kedua kakiku agar mudah lidahnya menjilati setiap bagian dari memekku. Dia terus bermain disana dengan begitu rakusnya.
”Terus, Mass…” aku semakin bernafsu karena selama ini aku belum pernah merasakan jilatan di memek. Suamiku terus menjilati memekku yang sudah basah sekali dari bawah ke atas, lalu balik lagi ke bawah, dan kembali ke atas. Begitu terus berulang-ulang sampai badanku bergetar dan kepalaku menggeleng terus ke kiri dan ke kanan, sedangkan pinggulku berputar-putar mengikuti irama jilatannya yang semakin lama menjadi semakin cepat.
”Mas, aku udah nggak tahan… oohh!” aku menjerit saat lidahnya menerobos masuk ke dalam memekku lalu ditarik lagi, itu terus dilakukannya berulang-ulang, dengan diselingi sedotan ke liang memekku.
Aku yang tidak kuat menahan kenikmatan ini akhirnya menjepitkan kedua kakiku ke kepalanya dan tanganku menggapai langit-langit yang tidak bisa kuraih, sedangkan badanku membusung jauh ke depan. Aku lalui orgasme yang pertama sepanjang hidupku ini dengan teramat sangat indahnya, seperti melambungkan diriku ke impian yang selama ini tidak pernah kudapatkan. Semburan demi semburan terus keluar dari tubuhku, membuatku terus berkelojotan dan berkedut-kedut ringan.
Suamiku yang tahu kalau aku sudah orgasme, bukannya berhenti, malah semakin kuat menyedot-nyedot belahan memekku.
”Mas, ahh… ahh… oh enaknya…” Memekku terasa basah kuyup setelah orgasmeku yang begitu deras. Namun lidah suamiku ternyata belumlah berhenti untuk memainkan itilku, tangan kirinya terus meremes-meremes tetek kananku, sementara tubuhku masih tersandar di tempat tidur dengan gaun yang masih terpakai tapi sudah tersingkap kemana-mana.
”Cepet, Mas, kalau mau ngentot… mhh… mumpung punyaku sudah basah begini! Sshh…” aku meminta. Kedua pahaku masih berada di bahunya kiri dan kanan. Tangannya masih mengusap-mengusap memekku, kadang dia juga memainkan itilku dengan jari-jarinya.
Aku mencoba berdiri sehingga kepalanya terjepit di selangkanganku. Gaunku turun menutupi wajahnya, membuat bagian atas tubuhku tak berpenutup lagi. Payudaraku yang bulat besar terlihat menggantung dengan indahnya, yang langsung diremas-remas olehnya dengan dua tangan, membuatku kembali merintih dan menggelinjang suka.
Mulutnya sekarang pas berada di bawah memekku, dan dia memberikan sedotan yang sangat kuat. Aku langsung mencondongkan tubuh ke depan karena tidak kuat menahan sedotan itu, tapi tangan kananku menekan kepalanya yang tertutup baju tidurku. Suamiku mengulangi lagi sedotan itu, cuma yang sekarang jadi sasarannya adalah itilku yang merona tajam. Dan lagi-lagi, aku merintih keras sambil menekuk tubuh ke depan. Berkali-kali dia melakukan itu, dan berkali-kali pula aku tak tahan.
”Ahh, Mas… enak!” aku yang tidak kuat akhirnya menahan tubuh dengan kedua tangan di atas ranjang sehingga posisiku sekarang jadi setengah menungging. Lidah suamiku terus bergoyang menikmati itilku kiri dan kanan, sedangkan tangannya mengelus-elus bulatan payudaraku tiada henti.
”Entotin aku, Mas… aku udah nggak tahan!” jeritku setengah berteriak sambil mendesah kuat. Tangannya kini mengelus pusarku sambil mulutnya masih asyik bermain-main di belahan memekku.
”Buka celanamu, Mas… aku mau lihat kontolmu… shh.. ohh…” pintaku tak sabar ingin melihat benda yang selama ini tidak pernah bisa memuaskanku, yang anehnya kali ini kulihat begitu besar dan kuat.
”I-iya, Ma…” sambil terus mempermainkan memekku, suamiku sedikit mengangkat tubuhnya untuk membuka celana dalam. Dia langsung mengacungkan kontolnya yang sudah sejak tadi ngaceng keras ke depan mukaku.
Kulihat kontol yang begitu besar itu dengan penuh nafsu. Memekku rasanya sudah gatel sekali ingin dientot oleh kontol yang begitu perkasa tersebut. ”Duduk sini, Mas…” aku mencoba untuk meminta.
”Iya,” suamiku langsung duduk di sofa dengan kontolnya berdiri tegak seperti monas, tapi tangannya kembali menerobos masuk dari bagian bawah gaun satinku dan mulai mengelus-elus memekku lagi.
Aku langsung mengangkat baju tidurku dan berlutut di ranjang, di atas kontolnya. Jari tengah suamiku berusaha masuk menembus belahan memekku. Ia mengobok-obok sebentar isi memekku sebelum mengocoknya cepat tak lama kemudian hingga membuatku tak tahan. Dengan dua tangan aku menjerit dan bertumpu di bahunya.
”S-sudah, Mas… shh… ahh…” aku mendesah keenakan. Apalagi saat mulutnya ikut beraksi dengan mengulum kedua tetekku kuat-kuat, sambil tangannya terus bermain di dalam memekku.
”Aahh!!” aku memekik kalap, kubekap kepalanya hingga semakin terbenam di belahan tetekku. Mulutnya terus menyedot-nyedot lembut disana, sementara jari-jarinya yang nakal terus bermain di belahan memekku, membuatnya jadi semakin basah. Aku mencoba membalas dengan menggapai kontolnya lewat belakang pantat menggunakan tangan kiriku. Kuremas-remas kontol yang gede dan hitam itu dengan penuh nafsu.
”Ahh… pelan-pelan dong, Sayang!” suamiku yang keenakan semakin kuat mengobok-obok memekku sambil memainkan itilku.
”Sshh… s-sudah,  cepat masukin, Mas… aku mau kontolmu!” pintaku semakin tidak sabar.
“Iya, sayang…” suamiku mulai naik sedikit agar kontolnya bisa masuk ke dalam memekku. Di sebelah kami, si kucing mengeong, tapi suamiku terus mendekapku dan  terus melakukan panetrasinya.
”Achh…” aku merasakan kepala kontolnya masuk dan ditarik kembali. Dia memain-mainkan kontolnya di atas memekku dulu, ujungnya yang tumpul sengaja disentuh-sentuhkan ke itilku yang sudah sangat kaku dan sensitif.
“Masukin, Mas!! Oohh…” aku menjerit, memekku terasa semakin gatal dan aku menjadi binal dibuatnya.
“Iya,” suamiku kembali memasukan setengahnya, lalu diputar-diputar sebentar sebelum ditarik lagi.
“Masukin, Mas!” aku semakin berteriak tak sabar.
“Seret, Ma.. punya kamu sempit banget sih.” kata suamiku.
”Ahh… biar! Teruskan aja… ahh… uhh…” aku sendiri semakin meracau tak karuan, tidak kuat menahan kontol yang sekarang jadi begitu besar hingga jadi sangat sesak saat masuk ke dalam belahan memekku. Aku langsung melampiaskan dengan mengulum bibirnya kuat-kuat sambil meremas-remas rambutnya hingga jadi acak-acakan.
Suamiku langsung menekan kontolnya lagi dan bless…
”Mmhh…” aku kembali bergumam menikmati sodokan kontolnya yang begitu nikmat.
”Aduh! Enak banget memek kamu, Sayang…” suamiku ikut berteriak penuh kenikmatan karena ini yang pertama kali baginya bisa ngentotin aku begitu lama. Biasanya kan 2 – 3 menit sudah selesai.
”Aah… enak!” kembali kukulum bibirnya, tapi kali ini dengan lembut dan begitu mesra.
Suamiku menarik pelan-pelan kontolnya, lalu mendorong lagi. Sedangkan lidahnya bermain di mulutku. Terkadang dia bergerak memutar pantatnya agar kontolnya ikut bergoyang di dalam memekku. Aku mengimbangi putaran itu dengan menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Jadilah kemaluan kami saling menggesek dan memilin nikmat
”Mas, shh…” aku mendesis merasakan kontolnya yang begitu penuh berputar-putar di dalam liang memekku. Suamiku terus bergoyang ke kanan dan ke kiri
sambil memaju-mundurkan pantatnya semakin cepat.
”Sshh… enak banget, Sayang… terus!” erangnya karena aku menggoyangkan pinggul maju-mundur, atau kadang berputar sambil memainkan otot-otot liat di dinding memekku.
”Sshh… Mas… mhh…” aku ikut merintih.
”Ahh… terus, Sayang… enak!” suamiku rupanya sangat ketagihan dengan permainan memek yang kulakukan. Sambil tangannya meremas-remas tetekku, atau kadang sambil memainkan putingnya, ia mengimbangi goyanganku.
”Terus, Mas… kontol kamu enak! Sshh…” aku jadi ikut ketagihan dibuatnya, kukulum bibirnya begitu mesra sambil kusedot-sedot lidahnya. Suamiku yang tak ingin kalah, ikut menyedot lidahku juga, sementara tangannya masih menempel di putingku dan memainkannya dengan jari-jarinya yang kasar.
Aku bergerak naik turun semakin cepat karena memekku sudah basah sekali sehingga jalan keluar masuk kontolnya menjadi begitu lancar. ”Ayo, Mas… cepet keluarin! Hhss…” aku meminta. Tidak biasanya aku begini. Yang sering itu suamiku moncrot duluan, bahkan sebelum aku merasa nikmat. Tapi sekarang…
Aku malah sudah berada di titik pendakian, sementara dia tampak masih tenang-tenang saja. Berteriak-teriak penuh kenikmatan, kuangkat kedua tanganku ke atas untuk meremas-remas rambutku sendiri. Sementara suamiku meremas-remas kuat bulatan tetekku karena tahu kalau aku akan segera keluar.
”Ahh… enak, Mas… enak sekali!” aku bergerak naik turun dan memutar pinggul semakin gila. Dia ikut terbawa dengan menggerakkan pantatnya liar.
”Kita keluar bareng, Mas… shh!” aku merasakan nafsu sekali sehingga sudah
tidak kuat menahan detik-detik yang teramat sangat indah selama hidupku itu.
”I-iya, Sayang…” sahutnya.
Kutekan kuat-kuat memekku ke bawah dan menggesekkannya maju mundur dengan begitu cepat di batang kontolnya. Kedua tanganku terus meremas-remas rambutku sendiri sehingga jadi sangat berantakan. Tapi anehnya, meski permainanku sudah begitu hot, namun nampaknya suamiku tidak cepat ejakulasi. Dia terus bertahan, dan terus memompa hingga membuatku makin kelojotan tak karuan. Dan akhirnya, akupun kalah.
Aku orgasme. Cairanku meledak keras sambil tubuhku mengejang-ngejang ringan merasakan nikmat yang begitu hebat itu. Belum pernah aku merasakannya, dan sekali dapat, langsung begini nikmat. Oh, sungguh sangat beruntung sekali. Sementara suamiku seperti pria yang kesurupan, dengan tidak mengenal lelah ia terus menyetubuhiku.
”Ayo. Ma, kita main yang lebih nikmat!” ia meremas tetekku dan memainkan putingku dengan kedua jarinya sambil menjepit-menjepitnya gemas.
”Lakukan, Mas. Genjot terus tubuhku!” teriakku semakin binal sambil memutar-memutar kontolnya yang terbenam penuh di lorong memekku.
”Ahh… enak, Ma!” dia mulai menyedot-nyedot putingku bergantian.
”Cepet, Mas… semprot memekku dengan pejuhmu! Shh… aku udah nggak tahan nih!” teriakku semakin kencang, kemudian aku mengulum bibirnya dan menekan kepalanya sehingga semakin rapat ke arah wajahku.
”Tahan sebentar, Sayang.” suaranya kacau akibat bibirku yang mendekati bibirnya. Kami berciuman dan berpagutan dengan penuh nafsu sambil suamiku tak lepas memaju-mundurkan pantatnya, bahkan kadang bergoyang semakin kuat dan cepat.
Aku kembali melawan dengan memainkan otot-otot memekku sekuat tenaga agar dia lekas orgasme. Tubuhku terus menggeliat karena nikmat yang tiada tara ini. Kami bercinta dengan berbagai gaya yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Aku merasakan orgasme yang berulang-ulang. Karena kenikmatan dan perasaan bahagia, aku sampai meneteskan air mata saat bercinta.
”Terus, Sayang… ahhs… aku sudah mau keluar!” teriaknya yang sudah mulai kewalahan, tidak dapat menahan lagi orgasmenya lebih lama.
”Aahh…” kupenuhi permintaannya dengan bergoyang amat sangat liar dan akhirnya tubuhku kembali menggelepar-gelepar. ”Mas, aku mau keluar juga!” aku berbisik.
”Kita sama-sama, Sayang…” dia mengajak.
”Aah, Iya…” aku menyahut, dan meledak. Titik puncak itu dapat kuraih dengan begitu indahnya selama masa perkawinan kami. Tubuhku mengejat-mengejat sambil memeluk tubuh suamiku erat sekali. Anganku melayang jauh merasakan gelombang orgasme yang sedemikian hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan kontol ini.
”Ahhh…” suamiku ikut menyemprot dengan begitu kuat dan deras di dalam leiang memekku. Croot, croot, croot, begitu dia menyembur berulang-ulang.
”Aahhm…” aku kembali bergumam di alam mimpi yang indah ini.
Bibirnya mengecup bibirku yang ranum dan aku langsung mengulum bibirnya dengan liar sambil memeluknya. Tangannya mengelus tetekku lembut. ”Punya kamu enak sekali, Sayang!” bisiknya perlahan dengan napas yang masih terengah-engah.
”Sama! Aku puas sekali hari ini, Mas.” aku tersenyum dan berbisik di telinganya. Sambil tetap memeluk tubuhnya, kemudian kukecup bibirnya dengan begitu lembut dan mesra.
”Baru kali ini kita bercinta sehebat ini… kamu benar-benar hot sekali, Sayang… sungguh luar biasa!” jawabnya puas.
Tangan kananku memegangi pipinya. ”Mas juga! Bisa tahan lama begitu, aku jadi suka sekali!” kataku sambil memeluk erat tubuhnya seakan tidak ingin kehilangan dan mengecup keningnya.
Aku sempat melihat jam dinding sebelum tertidur. Astaga! Ternyata kami bercinta lebih dari 2 jam! Sungguh luar biasa. Pantas tubuhku jadi begini lelah. Di pojok ruangan, si kucing kembali mengeong sebelum menggulung tubuhnya menjadi lingkaran dan ikut tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika aku terjaga dari tidur, aku aku tidak menemukan kucing itu lagi. Aku bertanya dalam hati, apakah itu kucing liar yang sering ditemukan di dekat kuburan? Karena rumahku tidak jauh dari tempat pemakaman umum.  Aku segera bertanya kepada suami perihal kucing itu, tetapi dia bilang tidak melihatnya.
Tapi suamiku bilang kalau dia juga  merasakan keanehan saat bercinta tadi malam. Katanya kami seolah-olah dibawa melayang ke suatu tempat, dan bercinta di sebuah taman yang sangat indah. Dia melihat diriku begitu cantik seperti putri, yang tidak seperti sebelumnya. Karena itulah ia begitu bernafsu saat menyetubuhiku. Bahkan suamiku merasa badannya menjadi ringan dan tidak mengenal lelah, sehingga dia  ingin memuaskanku sepuas-puasnya.
Beberapa hari kemudian, aku secara kebetulan membaca artikel tentang seekor kucing. Saat itulah aku menjadi terkejut ketika membaca sejarah tentang kucing. Ternyata ribuan tahun sebelum masehi, kucing dianggap sebagai binatang suci di negeri Mesir. Dan bahkan jika meninggal dibuat mummi. Malah disamping Mummi raja Firaun, juga ditemukan mummi kucing kerajaan.
Kucing merupakan penjelmaan dari Dewi Kesuburan pada wanita,  yang  bernama Basted / Usbati atau Pesht, yang dipuja oleh orang-orang  Mesir. Sehingga orang yang membunuh kucing akan mendapatkan hukuman mati. Konon ada rombongan kereta tentara pasukan raja Firaun (Farau) yang secara tidak sengaja menabrak seekor kucing, dan  tentara tersebut langsung mendapatkan hukuman mati.
Kucing binatang suci  yang harus dilindungi. Dan jika ada kucing meninggal, maka  pemiliknya akan mencukur bulu alis matanya, sebagai tanda duka dan perkabungan. Kucing yang dalam  bahasa asingnya cat, merupakan serapan dari bahasa latin Felix Cattus, yang ditulis pertama kali oleh Rolladius, penulis asal Roma, pada abad ke-4 masehi.
Artikel yang nongol secara kebetulan. Anehnya, sejak malam itu kucing tersebut tidak pernah muncul lagi. Dan hebatnya, suamiku menjadi sembuh dari  gangguan ejakulasi dini. Bahkan dia menjadi bisa mengontrol ejakulasinya secara gampang. Kamipun bisa bercinta dengan leluasa, dan menggunakan berbagai variasi. Dan mulai saat itu aku  merasa gampang mendapatkan multi orgasme.
Empat minggu setelah seks yang ditunggui kucing tersebut, aku dinyatakan hamil. Ketika aku konsultasi ke dokter, beliau banyak menjelaskan masalah medis.
”Waduh, sejauh ini kok saya tidak pernah mendapatkan pasien, yang saat bercinta mendapatkan halusinasi melihat kucing ya…” kata dokter. ”Ibu waktu melakukan hubungan seks, tepat pada saat masa subur sehingga terjadi perubahan fisiologis, termasuk peningkatan libido.  Sehingga dipastikan pada malam  itu terjadi pembuahan sel telur oleh sperma di saluran telur,” katanya menambahkan.
“Lagian suami ibu sering keluar kota.  Jadi jika kebetulan ibu  pada masa subur, hal ini menjadi terlewatkan. Karena sel telur hanya mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuai hanya selama 1 – 2 hari.  Ibu sudah lama menanti momongan, dan  hal  sekarang ini layak  disyukuri,” kata dokter sambil mengusap-usap stetoskop yang mengalung di lehernya.
Cerita diatas memang terasa aneh, karena  aku juga merasakan seperti itu. Namun terlepas dari semuanya, semua pasti ada hikmahnya.

MURTI 7

Hari masih teramat pagi tapi Murti sudah berdandan sangat rapi. Dengan baju muslimah warna pink, ia terlihat lebih anggun dan ayu. Sementara Pak Camat, suaminya, masih tidur mendengkur kayak lembu. Murti tidak berniat untuk membangunkan. Suaminya pasti kelelahan dari bepergian. Ia tidak tahu jam berapa Pak Camat datang. Yang pasti ketika ia bangun jam dua dini hari, suaminya sudah ada.
“Besok aku libur, Mur. Kamu pergi saja ke pendopo dengan Gatot.” kata suaminya tadi malam.

“Baik. Mas Joko istirahat saja. Mas pasti capek setelah dua hari keluyuran.” balas Murti pedas.
“Kamu kok gitu sih? Aku kan ada tugas luar kota.” kilah Pak Camat.
“Bukannya apa-apa, Mas. Aku cuma sedikit rindu,” kata Murti.
“Rindu tapi benci ’kan?” sela Pak Camat.
Biarpun rindu tapi benci, namun tadi malam sempat terjadi juga keintiman suami istri. Tapi Murti tahu suaminya tidak bersungguh-sungguh. Keintiman tadi malam dibayangi ragu. Pelukan dan cumbuan tadi malam terjadi dengan setengah hati. Terasa hambar dan kaku. Keintiman yang tidak berlangsung lama, bahkan sangat singkat bagi Murti. Belum setengah ronde, suaminya sudah loyo. Murti tersenyum kecut. Memang lebih enak barang milik Gatot.
“Baik, Mas, saya berangkat.” kata Murti pada akhirnya.
Hari ini ia memang hendak ke pendopo untuk menghadiri acara pelantikan dirinya sebagai sebagai pegawai negeri sipil. Sebenarnya ia sangat ingin didampingi suami seperti para undangan yang lain. Murti kecewa karena hanya dialah satu-satunya tamu undangan yang datang seorang diri. Yang lainnya datang bersama istri dan suami masing-masing. Ia melangkah gontai menuju kursi yang telah diberi nomor.
Sementara Gatot yang mengantarnya lebih suka menunggu di luar pendopo, ngobrol bersama petugas pamong praja. Ternyata bukan hanya polisi yang mengenal Gatot, tetapi pamong praja juga kenal baik dengannya. Boleh dibilang kalau semua aparat di kota mengenal sejarah Gatot dari masa ke masa. Biarpun cuma lulusan SD, Gatot masih ingat wajah teman-teman mainnya dulu.
“Hei, kamu Gatot kan?” sapa seseorang.
“Iya, kamu pasti si Bejo.” balas Gatot.
“Betul. Makin subur saja kamu, Tot.” kata lelaki yang dipanggil Bejo.
“Jangan memuji.” sahut Gatot. ”Kamu sudah mapan, Jo, jadi pegawai negeri.” tambahnya.
“Ini sih sudah nasib. Mainlah ke rumah,” tawar Bejo.
“Pasti. Tapi aku masih sibuk, Jo, maklum cuma babunya Pak Camat.” Gatot beralasan.
“Kakakku pasti senang kalau ketemu kamu, Tot.” kata Bejo lagi.
“Si Ningsih?” tebak Gatot. ”Dimana kakakmu itu sekarang? Sudah punya suami?” tanyanya kemudian.
“Kak Ningsih ada kok. Dia sering menanyakan kamu.” jawab Bejo. ”Makanya main ke rumah!” kembali ia menawarkan.
Gatot tertawa kecil. Perbincangannya dengan Bejo telah membuatnya teringat pada Ningsih. Dulu ia, Bejo, Ningsih, dan juga Murti adalah teman bermain dan bersekolah. Mereka sering bersama kemana-mana, belajar kelompok bersama, bermain di sungai sampai puas. Sampai kemudian Bejo dan keluarganya keluar dari kompleks dan pindah ke jalan lain. Gatot ingat Ningsih dulu sama nakalnya dengan Murti, sama-sama suka mempermainkannya ketika kecil dulu, sering membuatnya menangis. Murti dan Ningsih juga sama cantiknya ketika masih bocah. Cuma sekarang ia tidak tahu seperti apa bentuk dan rupa Ningsih. Tentu tidak sama dengan puluhan tahun silam.
“Sampaikan saja salamku pada ningsih, Jo.” kata Gatot sambil tersenyum.
“Kak Ningsih berharap ketemu kamu, Tot.” sahut Bejo sedikit memaksa. ”Main saja ke rumah, nanti kukenalkan ke istri dan anakku.” ia masih belum mau menyerah.
“Baiklah.” Gatot akhirnya mengalah. ”Tapi aku tidak janji ya…”
Sementara itu Murti duduk dengan gelisah di bangkunya. Acara pelantikan masih setengah jam lagi, tapi Murti sudah sangat ingin keluar dari pendopo. Ia tahu bahwa semua mata tengah memandanginya dengan sorot mata dan ekspresi wajah bermacam-macam. Sekelompok orang yang ada di baris paling belakang kasak-kusuk dan sayup terdengar oleh Murti, membuatnya makin ingin angkat kaki. Untung ia duduk di sebelah Aisyah, membuatnya sedikit tenang dan terhibur.
“Bu Murti sepertinya tidak semangat,” kata Aisyah memecah kebekuan.
“Iya, Aisyah. Semalam saya begadang.” jawab Murti sekenanya.
“Pantas Bu Murti kelihatan loyo.” angguk Aisyah, ia memang gadis yang lugu dan polos. ”Kok tidak bersama Pak Camat?” tanyanya kemudian.
“Bapak lagi libur, Aisy. Beliau istirahat di rumah.” jawab Murti.
“Jadi ibu diantar Mas Gatot?” tanya Aisyah dengan wajah bersemu merah, senang sekaligus grogi karena ada kesempatan bertemu dengan Gatot.
“Benar.” Murti tersenyum memandang Aisyah yang menunduk malu-malu. ”Nanti kamu bisa pulang bersama kami,” jawabnya untuk makin menyenangkan gadis itu.
“Terima kasih, Bu. Tapi saya malu,” lirih Aisyah.
“Malu sama siapa? Anggap saja aku ini kakakmu, Aisy.” sahut Murti menggoda.
“S-saya malu sama mas Gatot, Bu.” ucap Aisyah dengan muka makin merona.
“Ibu ngerti kok. Nggak usah malu. Gatot senang kok berkenalan denganmu.” jawab Murti.
“Ah, Bu Murti bisa saja,” Aisyah makin tersipu.
Murti tertawa melihat Aisyah yang malu-malu kucing seperti itu. Ia ingin bicara lagi, tapi acara pelantikan sudah mulai dibuka. Saat-saat membosankan telah berlalu, berganti dengan wajah-wajah penuh harapan baru. Ada sekitar seratus orang yang semuanya adalah guru yang mengikuti pelantikan. Murti tidak begitu mendengarkan sambutan dari Bupati dan Kepala Diknas. Ia lebih suka menunggu dan berharap acara segera berakhir. Memang kata sambutan itu yang paling lama, sementara acara acara lain berlangsung cepat, begitupun dengan penyerahan SK yang sengaja dikebut.
Murti merasa bahagia sekaligus kecewa. Ketika membuka SK, wajahnya kontan berubah. Ia memang resmi jadi pegawai negeri, tapi juga dipindah tugaskan ke sekolah negeri, bukan lagi di madrasah.
“Kamu juga dimutasi, Aisyah?” tanya Murti pada Aisyah.
“Benar, Bu. Mulai besok saya mengajar di SMA 3.″ jawab Aisyah kalem.
“Syukurlah kita masih satu tempat. Rasanya berat sekali meninggalkan madrasah.” kata Murti.
“Saya juga begitu, Bu. Sedih meninggalkan sekolah rintisan Abah. Tapi memang harus ada regenerasi.” jawab Aisyah bijak.
“Kamu benar. Semoga tempat baru memberi kita rejeki baru.” dukung Murti.
“Semoga. Kita berdoa saja, Bu.” Aisyah mengangguk mengiyakan.
Mereka menunggu dengan sabar sampai acara pelantikan bubar. Setelah berjabat tangan memberi ucapan selamat pada semua orang, Murti dan Aisyah segera keluar dari aula pendopo dan menghampiri Gatot yang masih setia menunggu di bawah pohon. Bertiga mereka menuju mobil.
“Sudah selesai acaranya?” tanya Gatot pada Murti.
“Sudah. Aku dan Aisyah mau ke madrasah. Antar kesana ya?” ajak Murti.
Gatot menatap Aisyah yang masih dibayangi duka. Ingin rasanya ia menghapus wajah duka itu agar terlihat kembali ceria seperti sedia kala. Kematian memang menimbulkan duka mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan. Dan gatot menghitung kematian Pak Asnawi, ayahnya Aisyah, telah memasuki hari ke tujuh. Ia dibayangi ketakutan bahwa suatu saat nanti kejahatan itu akan terbongkar. Ia takut berhadapan dengan Aisyah bila saat itu tiba.
“Nanti malam terakhir tahlilan ya, Aisyah?” tanya Gatot pada Aisyah yang berjalan pelan di sebelahnya.
“Benar.” Aisyah mengangguk, dia tidak berani menatap Gatot. ”Saya akan senang bila Mas Gatot mau hadir mendoakan abah.” tambahnya.
“Saya ingin sekali datang. Tapi semua tergantung ijin Pak Camat.” jawab Gatot.
Aisyah mengangguk, lalu menoleh pada Murti. “Oh ya, Bu Murti, saya berniat tinggal di komplek. Adakah di sekitar situ rumah yang dikontrakkan?” tanyanya sopan.
“Komplek sudah penuh.” sahut Murti. ”Coba kamu bicara ke Gatot. Siapa tahu dia mau menyewakan rumahnya,” tambahnya sambil tersenyum penuh arti.
Gatot menoleh dan memandang Murti. “Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.
“Maksudku, rumahmu kan sering kosong. Bagaimana kalau kamu sewakan saja?” jawab Murti ringan.
“Lalu saya mau tinggal dimana, Mur?” tanya Gatot sedikit kesal.
“Ya tinggal di rumahku. Mas Joko sudah lama ingin kamu tinggal bersama kami, Tot.” sahut Murti dengan senyum dikulum di bibir.
“Nggak,” Gatot menggeleng, dengan cepat menolak. ”Saya tinggal di rumah saja.” putusnya. Beda rumah aja, mereka sering melakukannya. Apalagi kalau satu rumah, bisa-bisa Murti makin lengket dengannya, dan ujung-ujungnya Pak Camat jadi curiga. Gatot tidak mau itu terjadi. Dia masih ingin menikmati tubuh molek Murti sedikit lebih lama, kalau bisa memberikan anak kepadanya. Mudah-mudahan saja …
“Bagaimana kalau saya saja yang tinggal di rumah Bu Murti?” tawar Aisyah, nadanya sedikit penuh harap.
“Bukannya ibu menolak niat baikmu, Aisyah. Tapi ibu dan Pak Camat sudah sepakat untuk tidak menerima wanita di rumah kami.” tolak Murti dengan halus.
“Tidak apa-apa, saya bisa paham kok sikap keluarga ibu.” Aisyah mengangguk, kemudian berpaling pada Gatot, ”Bagaimana kalau saya kos di rumah Mas Gatot saja?” tanyanya ragu.
Ganti Gatot yang terkejut mendengar permintaan Aisyah. Ia melihat kesungguhan di balik kata-kata gadis itu. Mungkin ada sisi baiknya, ia jadi punya teman ngobrol. Tetapi Gatot merasa akan lebih banyak sisi buruknya bila sampai Aisyah tinggal serumah dengannya. Gatot harus menebalkan iman untuk menghadapi kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu, yang mana ia yakin tidak akan bisa melakukannya. Belum sehari, bisa-bisa ia sudah memperkosa Aisyah. Belum lagi tanggapan warga yang lain, pasti akan ada pergunjingan dan cemoohan.
“Sebenarnya apa yang membuat Aisyah ingin pindah?” tanya Gatot menyelidik.
“Capek mas tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Kalau kos kan bisa irit waktu dan tenaga. Bagaimana, Mas Gatot setuju?” tanya Aisyah, ia kembali menunduk saat Gatot menatap wajahnya.
“Saya belum bisa putuskan, Aisyah. Saya harus diskusikan dulu dengan Pak Camat dan Pak RT.” jawab Gatot.
“Secepatnya ya, Mas. Saya tunggu keputusan Mas Gatot.” Aisyah meminta.
Setelah mengantar Murti dan Aisyah ke madrasah, Gatot pulang ke rumah Pak Camat. Murti yang menyuruhnya pulang karena ada sms yang intinya Pak Camat sangat butuh bantuan Gatot. Sampai di rumah Pak Camat, ia sudah ditunggu majikannya itu di teras. Pak Camat tampak sangat rapi, membuat Gatot bertanya-tanya dalam hati hendak pergi kemana beliau. Ia segera menghampiri Pak Camat.
“Bapak mau kemana?” tanyanya tanpa berniat usil.
“Tempat biasa.” jawab Pak Camat tanpa beban. “Tapi kalau Murti tanya, bilang saja aku rapat.” pesannya pada Gatot.
“Baik, Pak.” Gatot mengangguk, ia sama sekali tidak boleh melawan perintah Pak Camat meski itu bertentangan dengan kata hatinya.
Merekapun pergi. Gatot tahu tempat biasa yang dimaksud oleh Pak Camat. Tidak begitu jauh dari komplek, tepatnya di sebuah kawasan perumahan mewah yang tidak sembarang orang bisa masuk. Ke situlah Gatot mengantar Pak Camat. Di depan sebuah rumah tingkat yang terletak paling ujung, Gatot menghentikan mobil, membunyikan klakson dan masuk ke halaman rumah begitu pagar terbuka. Dengan cepat pula pagar itu kembali tertutup. Seorang wanita muncul dan tersenyum pada Gatot, lalu wanita itu menggelayut manja dipelukan Pak Camat.
“Tot, terserah kamu mau kemana. Tapi jemput nanti jam lima sore ya,” pesan Pak Camat yang tanpa malu-malu melingkarkan tangan ke pinggul selingkuhannya, dan meremasnya pelan.
Gatot mengangguk, “Baik, Pak. Saya pergi dulu.” iapun pamit, tidak tahan melihat pemandangan itu lebih lama lagi.
Gatot meninggalkan rumah itu, meninggalkan Pak Camat yang sudah sibuk dengan wanita simpanannya. Ia bingung mau kemana, tapi akhirnya ia putuskan untuk pulang saja ke rumah Pak Camat.
Sepi. Murti belum pulang dan pintu masih terkunci. Untung Pak Camat memberikan kunci serep sehingga ia bisa masuk sesuka hati bagai di rumah sendiri. Dalam kesendirian itu, Gatot teringat semua kejadian yang menimpanya dalam kurun enam bulan terakhir ini. Sejak bercerai dari istrinya, Gatot merasa hidupnya berputar bagai yoyo. Pahit manis kehidupan telah ia jalani dengan beragam perasaan suka duka, senang sedih, rindu benci, dan segudang perasaan lain. Ia teringat pada mantan istrinya yang berada nun jauh disana, di seberang pulau. Ingin sekali ia kembali ke pulau itu, pulau yang telah memberinya banyak harapan dan kenangan.
Gatot duduk di teras rumah Pak Camat. Matanya menatap lurus ke depan, ke jalanan yang ramai oleh anak-anak komplek. Tapi ia tidak merasakan keramaian itu. Ia terasing di alamnya sendiri. Gatot memandang foto yang ada di dompetnya. Itu adalah foto Zulaikha, mantan istrinya. Tidak secantik dan semontok Murti, tetapi Gatot sangat mencintainya sepenuh hati. Dua tahun lamanya membina rumah tangga bersama Zulaikha, ia belum pernah melihat istrinya itu marah. Istrinya adalah wanita yang sabar dan rendah hati, pintar menjaga perasaan dan emosi.
Gatot menyesal kenapa ia harus meninggalkan istri sebaik Zulaikha. Ia berpikir rasanya tak mungkin lagi bisa menemukan wanita sebaik Zulaikha. Sayang semua itu kini hanya menjadi memori yang membelenggu jiwa. Ia ingin mendapat kabar tentang Zulaikha, tetapi ada rasa ketidakpantasan untuk menelepon mantan istrinya itu. Gatot menghela napas dan mengusap wajahnya, mengembalikan foto Zulaikha ke dalam dompet.
Tepat tengah hari, Murti pulang. Gatot merasa bersalah. Gara-gara tertidur di teras, ia sampai lupa menjemput istri majikannya itu. Untung Murti tidak marah dan memang tidak pernah bisa memarahi Gatot, yang ada ia malah menginginkannya. Murti cuma bisa tersenyum masam sambil menyeka keringat yang menetes di kening.
“Maaf, Mur, aku tertidur.” kata Gatot jujur.
“Tidak apa-apa. Tapi kenapa tidur di teras? Mana Mas Joko? Kamu sendirian di rumah?” tanya Murti cepat, ada sedikit nada curiga dan penasaran dalam suaranya.
“Tadinya aku berniat cari angin, eh malah ketiduran.” Gatot mencoba untuk tersenyum. ”Pak camat rapat. Tadi aku nganter beliau ke gedung dewan.” jawab Gatot, hatinya ngilu karena sudah berbohong pada Murti.
“Bukannya bapak libur?” Murti bertanya tak percaya, namun selanjutnya ikut tersenyum mengingat kesempatan langka yang terbuka di depan mata. ”Ayo masuk ke dalam.” ajaknya kemudian, sedikit terburu-buru.
“Aku disini saja, Mur.” Gatot mencoba untuk menolak, setelah persetubuhan mereka kemarin, ia masih sedikit lelah.
“Masuk saja. Ada yang mau kubicarakan!” tapi Murti memaksa, ia sama sekali tidak mau tahu alasan Gatot yang menolak untuk masuk. Ia dengan agak kasar menyeret Gatot dan menutup pintu saat mereka sudah ada di dalam.
Murti terus menyeret Gatot hingga ke kamar. Disitu ia baru membebaskan Gatot. Pintu kamar telah terkunci dan kuncinya disimpan oleh Murti,  Gatot sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Diperhatikannya Murti yang kini mengganti baju muslimahnya dengan baju rumahan.
“Benarkah Pak Camat rapat, Tot?” tanya Murti dengan tubuh hanya terbalut bh dan celana dalam.
Gatot tidak langsung menjawab, ia mendesah dengan mata tak berkedip menatap tubuh molek Murti. Ia tidak bisa menjawab dengan jelas pertanyaan istri majikannya itu. Semakin hari pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Murti semakin datang bertubi tubi, semua bernada ketidakpercayaan dan kecurigaan.
“Begitulah, Mur.” jawab Gatot pendek, suaranya sedikit serak.
“Bohong!” Murti memotong.
“Terserah kamu, Mur. Tapi memang begitulah kenyataannya.” Gatot melihat Murti yang kini berjalan mendekatinya.
“Kamu tidak jujur, Tor!” tuduh Murti. ”Katakan dimana suamiku sekarang!” ancamnya sengit.
“Aku tidak bisa katakan.” Gatot menggeleng, sementara matanya tetap lekat menatap tubuh mulus Murti yang kini cuma berjarak sejengkal.
Murti mencopot lagi daster merah kembang-kembang yang baru saja ia kenakan, berharap dengan begitu bisa lebih mudah mengorek keterangan dari Gatot. Tubuh sintalnya biasanya selalu berhasil membuat Gatot menyerah. “Kenapa? Berapa mas joko menyuapmu sampai kamu tega membohongiku, Tot? Mana belas kasihanmu padaku?” hibanya pura-pura.
“Maafkan aku, Mur.” Gatot menatap sayu. ”aku mengasihimu. Tapi aku juga harus menjaga semua yang diamanatkan oleh Pak Camat.” katanya menegaskan. Tapi itu cuma di mulut, karena tak urung penisnya mulai bangkit juga melihat provokasi Murti yang kelewat berani.
Wanita itu sekarang sudah mencopot bh hitamnya, membuat Gatot bisa melihat dengan jelas tonjolan buah dadanya yang ranum dan indah. “Jujurlah demi aku, Tot.” Murti meminta. Digoyang-goyangkannya benda itu tepat di depan muka Gatot, membuat Gatot makin melongo dan bertekuk lutut, tak tahu harus berbuat apa lagi.
Gatot menggeleng untuk yang terakhir kali saat Murti merangkul dan menempelkan tonjolan buah dada itu tepat di mukanya. Keduanya segera larut dalam pelukan bisu, namun penuh dengan gairah. Keduanya hanyut dalam gelombang nafsu, yang meski begitu besar dan menggelora, tetap membuat Gatot ragu untuk berkata sejujurnya mengenai sepak terjang Pak Camat yang sudah kebablasan.
Setelah menunggu lama, dan Gatot tetap diam, Murti akhirnya mendesah. Ia memang ragu pada kesetiaan suaminya yang dirasa makin luntur dari hari ke hari, namun sepertinya keterangan itu tidak bisa didapatnya dari Gatot hari ini. Mungkin lain kali. Yang bisa diberikan Gatot saat ini cuma kehangatan. Murti bisa melihatnya lewat penis laki-laki itu yang kini sudah mengacung tegak dalam genggaman tangannya.
“Sampai kapan jiwa kita terbelenggu seperti ini, Mur?” bisik Gatot lirih sambil mulutnya mulai menghisap dan menciumi puting Murti satu per satu.
”Ahh…” sedikit menggeliat, Murti menjawab. “Mungkin sampai detak jantung kita berhenti, Tot.” balasnya berbisik. Tubuh sintalnya cuma dibalut oleh celana dalam, tapi tak lama benda itupun juga melayang, membuat Murti benar-benar telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir sekarang.
Gatot tidak pernah menang bila sudah berhadapan dengan Murti yang seperti ini. Ia menyerah dengan begitu mudah dan kalah dalam satu kali serangan. Hati nuraninya memang bilang ini tidak boleh dan sangat dilaknat oleh Tuhan, tetapi Setan lebih berani dengan berkata bahwa keintiman yang dijalaninya bersama Murti adalah sesuatu yang sah dan wajar. Gatot tak tahu mana yang benar. Yang ia tahu cuma dahaga batin Murti harus terpenuhi. Dan hanya ia yang bisa memenuhinya.
Toh Murti juga sama sekali tidak merasa tersakiti, malah seperti menikmati. Dengan sigap dia menurunkan celana panjang Gatot, juga celana dalamnya hingga Gatot jadi sama-sama telanjang sekarang. Kejantanan Gatot yang sudah mengeras dan menegang tajam langsung digenggamnya dengan begitu erat, terlihat sangat mengagumi dan menyukainya.
”Hmm…” Murti mulai menjilat dengan sangat lembut, dimulai dari ujung hingga pangkal kejantanan Gatot, seakan ingin memanjakannya. Tak sesenti pun kejantanan Gatot yang tak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Murti juga mengemut-ngemut kantong pelir Gatot dengan gemasnya, bahkan dia tak sungkan menjilati lubang dubur Gatot.
Mungkin karena didorong oleh perasaan cemburu pada Pak Camat, kenikmatan yang diberikan oleh Murti pada Gatot jadi sangat total dan berlipat ganda. Gatot jadi melenguh keenakan saat menikmatinya, ini sungguh diluar perkiraannya.
”Mur, uuh… enak sekali. Terus jilat punyaku, Mur… arghh!!” gumam Gatot dengan tubuh bergetar pelan. Jarang-jarang Murti mau mengulum penis dengan begini telaten.
Murti semakin ganas menghisap kejantanannya, benda itu terus keluar masuk di mulutnya, dari sisi kanan bergerak ke sisi kiri, menggesek susunan gigi dan lidahnya yang basah. Kenikmatan yang dirasakan oleh Gatot sungguh luar biasa, tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Ngilu, geli, nikmat, semua bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya pangkal penis Gatot terasa berdenyut kencang, ingin menembakkan apapun yang sudah sejak tadi berusaha ia tahan-tahan.
“Mur, aku mau keluar…” rintihnya sambil menahan batang penis di dalam mulut Murti.
Tanpa bisa menolak, Murti hanya bisa pasrah saat Gatot memuncratkan seluruh spermanya di dalam mulut mungilnya yang berbibir tipis itu. Croot… croot… croot… tidak ingin muntah dan tersedak, iapun lekas menelan semuanya hingga tak tersisa. Murti juga membersihkan sisa-sisa sperma yang masih terlihat meleleh dari lubang kencing Gatot dengan menjilatinya sampai puas. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun pasir, Murti menyapu seluruh batang kejantanan Gatot dan menelan semua cairannya tanpa ragu.
”Ahh… Mur,” Gatot dengan lemas berguling ke sisi kiri, ia rebahkan tubuhnya yang sudah lunglai itu di sebelah Murti.
”Tot, aku belum dapat lho…” ingat Murti, ”Aku pengen nih,” pintanya memelas sambil terus mengelus-elus penis Gatot yang kini sudah meringkuk dan melemas gemas dalam genggaman tangannya.
”Iya, Mur, kamu pasti dapat kok…” janji Gatot. ”Tapi aku istirahat dulu ya.” ia tarik Murti ke dalam pelukannya dan diciuminya dengan mesra.
”Aku pengennya sekarang, Tot.” Murti menggeliat, tapi tak urung mendesah juga saat jari-jari nakal Gatot mulai meremas-remas pelan gundukan payudaranya.
”Tapi punyaku masih lemes, Mur.” Gatot berkata malu.
”Aku jilatin lagi biar cepet bangun.” sahut Murti penuh semangat.
”Terserah kamu saja, yang penting punyaku bisa kaku lagi.”
Tanpa menjawab, Murti dengan cekatan segera mengambil posisi. Kepalanya kini tepat berada di atas penis Gatot, dan kembali menghisap-hisapnya dengan begitu rakus dan cepat. Segala upaya ia lakukan, mulai dari membelai ujungnya yang tumpul hingga melumat habis biji pelirnya yang bulat kembar. Tak lama, penis Gatot pun sudah kelihatan basah oleh air liur Murti. Dan tak cuma itu, benda itupun juga mulai kaku dan menegang.
Merasa usahanya berhasil, Murti semakin mempercepat temponya. Alhasil kejantanan Gatot kembali mencuat dan mengeras dengan gagahnya, siap untuk bertempur kembali.
“Sudah, Tot. Ayo cepat lakukan!” seru Murti saat melihat batang penis Gatot sudah menegang maksimal.
Gatot yang juga sudah sabar ingin menerobos masuk dan mengaduk-aduk isi memek Murti, memberi aba-aba pada Murti agar bergerak. ”Kamu di atas,” bisiknya.
Dengan sigap Murti menggenggam batang penis Gatot dan menuntun untuk menyentuh lubang vaginanya yang sudah basah sedari tadi. Penis Gatot ia gesek-gesekkan terlebih dahulu di bibir memeknya, sesekali dibiarkannya membelah gemas, hingga perlahan batang penis itu mulai menerobos masuk saat Murti mulai mendudukinya pelan.
”Eghh…” rintih Gatot saat seluruh batang penisnya sudah terbenam di liang kewanitaan Murti. Goyangan pinggul istri Pak Camat itu juga membuatnya nikmat sekali, begitu lihai dan sangat menggairahkan. Semakin lama semakin kencang, hingga mau tak mau Gatot jadi makin melenguh nikmat dibuatnya.
”Pelan-pelan, Mur. Bisa patah punyaku!” sela Gatot sambil meremas-remas gundukan payudara Murti kuat-kuat.
Tapi seperti kesetanan, Murti tidak menghiraukannya. Bongkahan pantat semoknya terus bergoyang liar mempermainkan batang penis Gatot yang masih terbenam dalam. ”Uuh… Tot, punya kamu perkasa sekali. Nikmat… beda dengan punya suamiku!” bisik Murti dengan mata merem melek menikmati hujaman penis Gatot di liang senggamanya.
”Punya kamu juga enak, Mur.” balas Gatot. ”Rasanya punyaku jadi seperti dipijit-pijit… kamu apakan sih, kok bisa enak gitu?” tanyanya penasaran.
”Ahh… mau tahu aja kamu! Gak penting aku ngapain, yang penting kita bisa sama-sama enak!” sahut Murti sambil menggoyang semakin cepat. ”Cepat, Tot, aku sudah mau keluar… ooh!” ujarnya sambil menengadahkan  kepala ke atas.
Bersamaan dengan itu, Gatot merasakan ada semburan cairan hangat yang sangat banyak sekali dari lubang kewanitaan Murti. Istri Pak Camat itu sudah mencapai orgasmenya. Dengan lunglai Murti ambruk merebahkan tubuhnya yang telanjang tepat di atas badan Gatot.
”Tahan, Mur, aku juga sudah hampir…” seru Gatot sambil menyuruh Murti mengangkat pantatnya sedikit. Masih dengan posisi women on top, kembali ia menyodok-nyodokkan penisnya dengan beringas ke dalam liang kewanitaan Murti yang sudah basah kuyup.
”Tot, ini yang aku suka dari kamu… kuat sekali, tidak seperti suamiku… aah… aah… uhh…” erangan demi erangan keluar silih berganti dari bibir tipis Murti, bersama dengan keringat yang semakin mengucur deras di sekujur tubuh sintalnya.
Kata-kata Murti itu membuat darah muda Gatot semakin panas membara, sekaligus semakin membuatnya terangsang. ”Ehm… aku juga suka tubuhmu, Mur, nikmat sekali!” seru Gatot dengan nafas menderu karena nafsu birahinya sudah semakin memuncak.
Gerakan kontolnya juga semakin mengencang, mungkin seusai pertempuran ini, memek Murti akan lecet-lecet karena sodokannya. Tapi tidak apa-apa, yang penting mereka sama-sama puas sekarang. Merasa sebentar lagi akan keluar, maka Gatot segera membalikkan posisi tubuh Murti ke bawah tanpa harus melepaskan batang penisnya yang sudah tertanam rapi di liang kewanitaan istri Pak Camat itu.
”Lanjut ya, Mur?” pinta Gatot sambil membuka lebar-lebar selangkangan Murti dan kembali memompa tubuhnya.
”Lakukan, Tot, lakukan!” jerit Murti, dalam posisi seperti ini, terasa sekali milik Gatot seperti menyentuh hingga ke mulut rahimnya. Setiap hujaman yang Gatot berikan, maka erangan Murti yang tertahan terdengar semakin mengeras.
Sampai akhirnya, denyut-denyut nikmat yang sudah dirasakan oleh Gatot, terasa semakin menghebat. Bagaimanapun Gatot berusaha untuk menahannya, rasa itu tetap semakin menjadi. Hingga saat tak dapat ditahan lagi, akhirnya…
”Mur, aku mau keluar…” rintih Gatot.
”Jangan dicabut, keluarkan di dalam saja, tidak apa-apa. Jangan sia-siakan sperma kamu, siapa tahu aku bisa hamil karenanya!” seru Murti penuh harap.
”Arghh!!!” menjerit sedikit kencang, Gatot pun memuncratkan spermanya di liang senggama Murti Dian.
Bagi Murti, semprotan sperma di liang kewanitaannya terasa begitu nikmat sekali. Berbeda dengan milik suaminya yang biasanya cuma sedikit, cairan Gatot terasa sangat panas dan banyak, terasa meluncur hingga ke mulut rahimnya. Murti yakin, ia akan bisa hamil karenanya.
Ketika Gatot mencabut penisnya, tampak beberapa tetes cairan putih ikut mengalir keluar secara perlahan-lahan dari sela-sela belahan bibir vagina sempit Murti. ”Terima kasih, Tot.” ucap Murti sambil merebahkan dirinya yang lemas terkuras akibat pertempuran yang membawa kenikmatan ini.
”Aku yang terima kasih, Mur. Kamu sudah memberikanku kenikmatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.” balas Gatot, tangannya kembali meraih gundukan payudara Murti dan meremas-remasnya pelan.
”Aku juga merasa beruntung, Tot. Banyak gadis yang mengejarmu, tapi cuma aku yang bisa merasakan kejantananmu!” sahut Murti sambil membelai mesra penis Gatot yang sudah terkulai lemas.
”Awas, Mur… nanti bangun lagi lho. Apa kamu kuat meladeninya?” goda Gatot sambil memilin-milin puting Murti yang mungil seperti wanita yang belum menikah.
”Ihh… kamu kuat banget sih. Bisa mati aku kalau kamu hantam lagi seperti tadi.” Murti merajuk.
”Hahaha… habisnya tubuhmu sungguh menggiurkan.” sehabis berkata begitu, Gatot tiba-tiba terdiam.
”Kenapa, Tot?” tanya Murti bingung.
”Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mur.” bisik Gatot sungguh-sungguh.
“Bagaimana kalau kamu menikahiku di bawah tangan?” tawar Murti.
“Itu takkan menghapus dosa kita, Mur.” ucap Gatot.
“Kalau begitu biarlah gelimang dosa ini kutanggung sendiri.” kata Murti yakin. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia meneliti setiap inci tubuhnya dan tertawa sendiri. “Bukankah aku masih segar?” katanya di sela tawa yang tak kunjung berhenti. “Adakah yang lebih segar hingga Mas Joko tak lagi ingat aku?” katanya lagi.
“Tidak ada siapapun di hati Pak Camat, Mur. Dia hanya sibuk dengan tugasnya.” jawab Gatot.
Murti tertawa semakin keras, sampai tubuhnya terguncang-guncang, begitu pula dengan pembaringan yang bergoyang. Gatot hanya bisa memeluk dan mendekap Murti. Dan tak lama, mereka menyatu lagi dalam kobaran api birahi yang tak kunjung padam.

NANING

Pada suatu hari, aku yang memutuskan untuk tinggal agak lama disebuah daerah diselatan jawa, aku melihat tiga sosok gadis berjilbab putih yang sedang berjalan ditrotoar. Melihat baju seragam smu yang mereka kenakan, pastilah mereka sedang bolos, karena saat itu masih pukul 10 pagi. Wah, anak gak baik-baik nih, kataku. Langsung otak nakalku bekerja. Dari belakangan mereka, memencet klakson motor, dan langsung berteriak, “ceeeeweeek!” pada mereka, dan langsung kabur. Mereke terlihat kaget bercampur kesal di kaca spion.

Hanya beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba aku merasakan motorku goyah. Wah, ban bocor nih, pikirku. Dan ternyata benar. Sial, pikirku. Terpaksalah aku turun dan menuntun motorku menuju tambal ban.

Sembari menunggu proses penambalan ban selesai, aku membeli mi ayam didepan tukang tambal ban. Ketika menunggu mi ayam yang kupesan matang, tiba-tiba datang tiga siswi sma yang tadi kugoda, masuk ke warung mi ayam yang sepi itu.

“hayoooo!! Ini dia tadi nih, yang goda kita!” kata seorang siswi berjilbab tadi. Aku hnya tersenyum simpul. :habisnya kalian cantik sih, jadi ya kugoda.” Kataku santai. Langsung aku mempersilahkan mereka duduk didekatku. Siswi yang tadi berbicara padaku mengambil tepat disisiku, sementara dua orang siswi berjilbab temannya berada didepanku, duduk berhadapan. Akhirnya aku berkenalan dengan ketiganya, sembari berbaik hati memntarktir mereka mi ayam, sekedar permohonan maaf diriku atas tingkahku menggoda mereka. Otak ngeres hunterku mulai bekerja. Aku jadi mulai horny, dan mulai membayangkan mereka bertiga ini merintih dan mendesah ketika memeknya kusodok memakai kontol besarku.

Oh ya, sekedar untuk gambaran, tiga orang gadis tadi adalah siswi sebuah sma islam didaerah itu. yang satu bernama Naning, yang cerewat tapi manis, yang tadi mengajakku berbicara, lalu Maya, si gadis berjilbab pendiam lagi pemalu yang sekal dengan kulit kuning langsat berdada montok, lalu yang terakhir adalah Sari, gadis berjilbab pendiam yang masih lugu dan manis berlesung pipit. Akhirnya percakapan kami ditutup dengan saling bertukar nomor handphone. Ketika mereka berlalu dan aku sudah kembali diatas motor binter kesayanganku, aku mulai berpikir untuk mencicipi tubuh ranum mereka.

Beberapa hari kemudian, tepatnya seminggu setelah pertemuanku dengan tiga gadis berjilbab itu, iseng kumisscall Naning, si gadis manis berjilbab yang ceriwis. Kontolku berdiri ketika kubayangkan mulutnya yang indah menyepong-nyepong kontolku. Eh, tiba-tiba ia misscall balik. Langsung naluriku berkata kalo ini waktu yang tepat. Ku sms dia. “boring nih. Kamu lagi bolos gak? Jalan2 yuk.” Tulisku. Karena memang waktu masih menunjukkan jam 09.10 pagi, jadi pastilah dia masih disekolah. Tak beberapa lama siswi berjilbab yang manis itu membalas. “sama boringnya. Ayuk. Kutunggu jam 0945 didepan sekolah ya.” Katanya. Wah, kesempatan nih. Langsung aku keluar dari hotel, naik motor, tarik gas ke smanya.

Sesampai didepan smanya, terlihat dia sedang berdiri didepan gerbang, terlihat cantik dengan jilbab putih dan sragam abu-abu putih panjang longgarnya. Ketika ia melihatku, langsung ia tersenyum. Segera aku berhenti disampingnya, langsung ia naik keboncengan motorku dan segera kami pergi dari tempat itu.

“kemana nih?” tanyaku, masih diatas sepeda motor yang melaju. “Naning manut aja mas, ikut mas.” Kata naning. Kulirik kaca spion, terlihat wajahnya yang cantik terbungkus jilbab lebar. Duduknya yang miring karena memakai rok membuatku hanya bisa melihat sesisi wajahnya, namun tetap dia cantik. Tiba2 ia menyadari pandanganku. Dengan wajah yang bersemu merah ia mencubitku kecil. “hayoo! Gak boleh lirik2! Liat depan!” katanya. Senyum malunya semakin membuat birahiku meninggi. Akhirnya setelah kutanya daerah sekitar situ yang cocok untuk berduaan, sambil malu2 ia menyebutkan beberapa tempat. Akhirnya kuputuskan ke sebuah pantai disebelah selatan kota yang memang tidak jauh dari sekolah Naning. Sekitar 20 menit perjalanan.

Sesampainya disana, langsung aku memarkirkan motorku disebuah tempat parkir yang sepi. Memang situasi pantai itu sepi, karena selain hari itu bukan hari libur dan masih pagi, kami memang memilih pantai yang tidak ramai, jadi bukan pas di pantainya yang terkenal, namun agak kebarat, disebuah pantai tak bernama.

Segera kami berdua berjalan-jalan dipinggir laut, bercerita dan bercanda. Semakin lama kami berjalan semakin menjauh dari penitipan motor dan gubug makan yang ada dipinggir pantai itu. Kami sampai dipinggir pantai, dimana dibelakang kami hanya ada hutan cemara yang pendek dan rimbun.

“emm…naning sudah punya pacar?” tanyaku memancing. Naning memandangku sambil wajahnya bersemu merah. Gadis ceriwis manis yang ebrjilbab itu hari ini wajahnya sering terlihat bersemu merah karena kugoda. Ia menggeleng. “lagi gak punya mas.” Katanya. Ia berjalan agak masuk kedalam hutan cemara menghindari sinar matahari lalu duduk ditanah yang terselimuti daun cemara yang tebal. Aku segera duduk disamping kirinya. “lagi gak punya, berarti pernah punya? Putus ya? Kenapa?” tanyaku lagi. “pacar Naning suka nakal.” Katanya. Wajahnya kembali bersemu merah. “nakalnya kenapa? Apa kayak gini…” tanyaku memancing, sambil tangan kiriku meraih tangan gadis berjilbab itu, lalu membelai dan meremasnya lembut. Ia memandangku. Tatapannya sayu, setengah ingin menolak, namun tak bisa. Tapi segera ia mengangguk. “atau kayak gini?” tanyaku lagi. Tangan kiriku berpindah ke pahanya yang masih tertutup rok abu-abu panjang, lalu meremasnya dari luar roknya. Ia mengangguk lagi. Wajah ayu terbungkus jilbab osis itu semakin memerah. Tatapannya sayu. Gadis manis berjilbab ini sudah dalam genggamanku.

“dia juga maksa megang-megang dada Naning…” bisik Naning lirih. Pemberitahuannya itu seolah meminta aku untuk meraba dadanya yang ranum, tertutup baju osis dan jilbab. Sementara itu tubuhku sudah merapat. Dadaku sudah rapat dengan sisi tubuh Naning. Tangan kananku mmemeluk pundaknya tanpa dia memberikan perlawanan.

“mantan pacar Naning nakal ya… ntar biar mas kasih pelajaran.” Bisikku ketelinga Naning. Naning tersenyum simpul. Tak tahan lagi, aku mencium pipinya yang putih mulus. Siswi berjilbab itu mendesah, sambil matanya terpejam. Namun langsung ia sedikit berontak. “jangan mas…” bisiknya. Hanya sekedar rontaan tak berarti, untuk menjaga harga dirinya, pikirku. Aku sudah berpengalaman dengan itu. Sedikit rayuan pasti menyelesaikan segalanya.

“ssstt…” bisikku. Lalu menciumnya lagi dengan lebih lembut. Kembali dia mendesah dengan mata terpejam. Rontaannya masih tersisa, namun hanya sedikit perbedaannya dengan geliat birahi seorang gadis belia yang sudah terangsang. Dengan tangan kananku, kutolehkan wajahnya yang manis kearahku. Kutatap matanya dalam-dalam. Aku ebrusaha mendapat kepercayaannya, dan berhasil. Tatapannya semakin sayu, pasrah.

Dengan pelan dan lembut kukecup bibirnya yang merah ranum, ia kembali mendesah. Ciumanku terus kulanjutkan, sembari kutingkatkan menjadi pagutan-pagutan dan kuluman kuluman. Akhirnya mulutnya mulai membuka, sembari matanya terpejam, mempersilahkan lidahku masuk dan membelit lidahnya. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku pelan2 mulai turun meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya membelai kepalanya yang masih terbalut jilbab putih. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning sedikit meronta. Namun karena pelan dan lembutnya aku memainkan tempo, akhirnya rontaannya erangsur-angsur hilang. Dari bibirnya mulai keluar suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya. Kusampirkan ujung ujung jilbabnya kepundaknya, lalu kubuka satu persatu kancing hem osisnya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya. “jaangan masshh…”dari bibirnya yang terlepas dari kulumanku terbisikkan kata itu. Kata yang tak berbarti, karena terlihat tubuhnya sudah pasrah.

Setelah aku sanggup melepas BHnya, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung merintih dan mendesah. Aku berani bertaruh ia belum pernah merasakan seperti itu, dan perasaannya sekarang seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Ketika aku mencuri pandang kewajahnya yang ayu, dara muda cantik berjilbab putih ini terlihat semakin cantik. Tergambarkan perasaan yang campur aduk diwajahnya. Antara menolak, bingung, malu, tapi juga kenikmatan. Itu semua membuat gadis belia berjilbab ini semakin cantik, dan membuat birahiku semagin memuncak.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bermain dengan memeknya. Aku tahu gadis ini sudah tak berkutik. Segera tanganku yang satu turun dan membelai pahanya dari luar rok panjanynga, lalu pelan-pelan masuk ke pangkal pahanya, menyentuh memeknya. Ia menggelinjang pelan. Rintihan gadis berjilbab itu semakin kerah. Segera aku sedikit mendorong bidadari sma berjilbab yang sudah birahi dan pasrah ini telentang beralaskan daun-daun cemara yang berguguran. Terasa empuk tanah tempat kami bercumbu. Segera kusibakkan roknya kepinggangnya, dan langsung kupelorotkan celana dalam putih berendanya. Gadis berjilbab itu memejamkan matanya rapat. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, seolah berusaha menahan rintihan dan desahan birahi.

Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih gadis smu berjilbab ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka ikat pinggang dan retsletingku,. Nafasnya yang terputus-putus menandakan dia sudah tidak tahan lagi. Aku sedikit tergesa-gesa membuka celanaku, tidak ingin kehilangan kesempatan emas.segera aku menindihkan tubuhku di tubuhnya. “maassss…jangaanhh..” desis Naning walau tanpa daya.

Dimulai dengan mengecup bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya merem melek menahan nikmat yang dirasakan. Beberapa saat ia memandangku. Ttapannya bercampur antara marah, malu, tapi juga birahi. “jangan maasss… ini dosaa…” katanya. Aku tersenyum. Tenang Ning.. mas sayang sama kamu.. gak akan sakit.. dinikmati aja yah sayaang…” kataku merayu, sambil beberapa kali mencium bibir, pipi, mata dan keningnya. Wajahnya yang berjilbab sudah berkeringat. Keringat birahi, pikirku.

Pelan-pelan, seiring dengan pandainya jariku membelai dan menggaruk memeknya, Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan itulah yang keluar bila seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin gadis alim berjilbab itu bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. mmhh..naniiiingg…pipiiiiissshhh….” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah, tergolek lemas ditanah beralas dedaunan cemara, dipinggir pantai yang sepi itu.

Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah kontol-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. jangan maasss… ntar sakiiit…”katanya.aku agak bingung, darimana dia tahu kalau sakit. Tapi tetap langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan kontol-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakiputih gadis smu berjilbab itu sehingga tampaklah memeknya yang indah, merah muda dan ranum, ditumbuhi bulu halus.

Akhirnya kontolku mulai menemukan lubang sempit memek gadis berjilbab itu. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh..Mass..sakiit…mmmhhh…” aku tahu, pastilah saat pertama akan sakit, tapi birahiku sudah tinggi sehingga aku tak mau ambil pusing. Langsung kugenjot saja kontolku kedalam memeknya. Jeritannya terdengar ketika aku dengans edikit memaksa berhasil menembus selaput perawannya, membuat air mata terlihat muncul menetes kesamping kiri kanan matanya. Tapi genjotanku yang tetap kuteruskan, sembari kutambah dengan rangsangan di buah dada ranumnya juga ciuman disejukur penjuru tubuhnya membuat rintihan dan erangan kesakitannya pelan-pelan berubah menjadi desahan birahi dan kenikmatan. “hhh…mmhh..heegghh.. oohh..oh..oh..ah..” bibirnya sedikit terbuka dengan mata yang tertutup, basah dengan airmata. Siswi smu yang berjilbab itu merintih2 kugenjot memeknya dibawah rimbunnya hutan cemara dipinggir pantai yang sepi itu.

Kuangkat kedua tangannya dan kutaruh agar memeluk punggungku. Wajahnya yang berjilbab ebrkeringat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa kontol-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya yang cantik berjilbab epperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya mencengkeram erat kakinya sendiri yang terangkat dikiri kanan pundakku dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. aduuhh..udahh..mmhh.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” gadis siswa sma yang berjilbab itu meracau tidak karuan antara menolak dan menikmati permainanku.. Keringat mulai keluar di sekujur tubuh kami dan sudah tak terhitung berapa kali kontolku keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.

Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya gadis belia berjilbab itu sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. pipisss lagiihhhh… Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas tubuhnya terasa mengikuti ritme goyanganku. Kemudian aku berganti posisi. Aku duduk selonjor bersandar pada batang cemara. Kedua kakiku kuluruskan, lalu kutarik tubuh Naning keatasku. Gadis sma berjilbab itu membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih kontol-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “ahh..kamu sudah mulai pintar, sayaang…” bisikku ketelinganya. Langusng kusibakkan jilbabnya keatas,s ehingga buah dadanya yang tadi tertutup kembali terlihat. Kusedot dan kujilat-jilat, menanti masuknya kontolku kememeknya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.

Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enak Mas..oouugghh…” sambil kedua tanganku terus membelai dan melumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya murid baru yang berjilbab di mata pelajaran seksku ini benar-benar pandai. dia semakin pandai menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar, membuat kontolku terasa dipelintir-pelintir. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Mulutku semakin gencar menikmati buah dadanya yang ranum. Goyangan kami berdua semakin cepat. Aku tahu gadis berjilbab ini akan meraih orgasmenya yang ketiga, dan sepertinya kontolku juga akan menyemprotkan laharnya.

“Ssst.. aahk.. Mas…. aku mau pipis lagiihhh.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..””Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..””Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, kontolku memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya, sambil tubuhnya mengejat-kejat.

Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua ditanah itu. Setelah beberapa saat kulirik keadaannya. Gadis siswi sma itu terlentang. Bajunya awut2an. Dadanya yang terbuka memperlihatkan buah dada yang penuh air liur dan cupanganku. Jilbabnya sudah tersingkap kelehernya, basah oleh keringat kami berdua. Roknya yang tersingkap tanpa memakai celana dalam memperlihatkan memek yang sudah basah oleh air cintanya, spermaku dan bercak-bercak darah keperawanannya. Terdengar isak tangis tertahannya. Kudekati wajahnya, dan kucium dengan penuh rasa sayang. “maafin mas yah… mas lepas kendali..” bisikku. Padahal sebenarnya memang menikmati tubuhnyalah rencanaku. Ia mengangguk pelan. “nggak papa mas.. Naning juga salah… naning cuman takut hamil..” katanya lagi, masih terisak-isak kecil. “tenang sayang…mas sayang kamu… nanti mas belikan obat anti hamil yang manjur…” bisikku ketelinganya yang masih memakai jilbab. Nikmat sekali gadis alim berjilbab ini.

MEYDA

Aku hisap dalam-dalam rokok yang baru aku beli tadi bersama temanku sambil duduk santai di depan teras rumahnya, berteman segelas kopi yang tinggal setengah di cangkirku. Sebenarnya aku tidak suka merokok dan minuman kopi, aku lakukan itu jika ada masalah yang sangat pelik. Ya, seperti sekarang ini. Masalahku sudah aku ceritakan pada sahabat terbaikku tadi, sekarang dia sedang merenung di depanku. Entah memikirkan solusi atau apa, yang penting masalahku tidak aku pendam sendiri. Lebih baik membaginya dengan teman agar tidak terlalu berat.

Sambil menunggu temanku bicara, aku ceritakan dulu masalahku. Tujuh hari yang lalu, aku baru menikah dengan seorang gadis yang kamu semua pasti mengenalnya, namanya Meyda Sefira. Salah satu artis berjilbab yang bermain sebagai Husna di film Ketika Cinta Bertasbih yang diambil dari salah satu judul novel terkenal karya Habiburrahman El Shirazy.

Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda adalah anak dari teman karib ayahku. Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini. Ayah Meyda banyak menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda. Ia percaya kalau aku bisa membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.

Akhirnya jadilah kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas. Hanya dihadiri oleh sanak saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi terhambat karena pernikahan ini. Ok, aku bisa mengerti.

Yang jadi masalahnya adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Meyda selama seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri. Apalagi kalau bukan bersetubuh, menunaikan sunnah  rasul.

Tiga hari awal dia beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan sholat. Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku terdiam. Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu. Bayangkan, tidur berdua dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.

Ketika aku tanya lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis. Aku jadi makin tidak tega memaksanya.

“Mungkin… dia laki-laki,” ujar temanku setelah merenung lama.

Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke taman di sebelah rumah temanku itu.

“Seperti berita di tv,” lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.

“Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia. Wajahnya manis dan sikapnya feminis. Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali,” sergahku.

“Bisa saja dia operasi plastik ke Korea… kau lihat’ kan, aktor dan aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana perempuan,” temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan. “apalagi, orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan. Artis-artis kita juga banyak yang melakukannya.”

“Itu tidak mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil,” bantahku. Memang benar, aku kenal istriku sejak dia baru lahir. Dulu kami tinggal bersebelahan. Setelah aku lulus SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu. Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol lenganku, rasanya kenyal dan lembut. Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.

“Kalau dia bukan laki-laki…” kata temanku  menggantung kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, “berati dia tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.”

Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin. Aku kenal betul sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk menutupi semua auratnya. Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau menanggalkan identitasnya itu. Aku bangga kepadanya. Apalagi kata orang tuanya, dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah. Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!!

“Itu tidak mungkin,” kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan. Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru. Mereka melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu dari mereka. Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci dari mereka yang berkerudung. Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah melihat kenyataannya. Di dunia yang sudah ‘edan’ ini, apapun bisa terbalik dengan mudahnya.

“Kamu sangat yakin?” tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.

“Aku yakin,” kataku.

Lagi-lagi temanku merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku tentang kesucian Meyda.

“Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa,” ujar temanku, tepat disaat aku hendak mengambil satu batang rokok. “dia diperkosa,” nada temanku sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku lepas jatuh ke lantai.

Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini. Setiap hari pasti ada saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan atau mungkin belum terungkap. Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk biasa sampai para pejabat. Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling parah dengan hewan atau mayat.

“Kalau begitu keadaannya, aku masih menerimanya,” kataku lemah, seakan tidak rela hal itu terjadi pada istriku. Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa. Apa ayahku yang melakukan itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, entahlah… yang aku tahu mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.

***

Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah makan malam. Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan. Setelah Meyda selesai, dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku, seperti biasanya.

“Mey…” ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.

“Iya, kak,” jawab Meyda tanpa merubah posisinya. Dia memang selalu memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.

“Aku ingin bicara,” setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku. “kamu duduk disini,” aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.

“Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?” aku tanyakan itu tepat setelah Meyda duduk di sampingku. Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.

Dia masih terdiam, hanya bunyi bibir  terbuka saja yang terdengar. Aku yakin bibir mungil itu pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas?

“Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan ikhlas,” kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.

Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia terlihat sangat takut. “Aku… aku… sebenarnya…” katanya terbata-bata.

“Katakan saja,” ujarku pelan.

“Aku tidak tahu cara melakukannya!!!” kata Meyda.

Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda barusan.

“Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal itu, jadi aku…”

Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya. Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku. Polos sekali dia, karena hal itu dia menghindariku. Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya dalam pelukan. Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku praktekkan.

Kupandangi wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu. Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.

Meyda agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak. Dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan. Untung saja dia tidak tahu pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit. Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.

Sambil tersenyum manis kubisiki dia. “Kakak juga belum pernah,” kataku seramah mungkin.

Meyda mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu. “Eeh… i-iya, kak.” sahutnya gugup.

“Kita sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.” kataku pura-pura polos.

“Eh, i-itu… i-iya, kak…” jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.

“Kakak janji tidak akan menyakiti kamu..” kataku terus memanfaatkan kesempatan.

“Emm… i-iya, kak.” jawab Meyda sedikit malu. Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya. Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.

“Kamu kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?” pancingku.

“Ooh… t-tidak kok, kak.” jawabnya sambil tersenyum manis. Sudah makin berani dia. ’Bagus,’ pikirku.

”Mmm… jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?” pancingku kemudian.

“Eee…” dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.

“Kok cuma eee aja… ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan…”

“Mau kok, kak. Tapi…” ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.

”Tapi apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan sangat mulus sekali. Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas pelan. Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.

“Nanti kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya…” tanyanya makin berani.

“Iya, tentu saja. Kakak janji!” sahutku.

Meyda tersenyum, lalu kemudian mengangguk. ”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan lakukan!” katanya sambil tersenyum.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan bibirku. Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku. Aku jadi kaget.

”Kenapa, Mey?” tanyaku tak mengerti.

“Kakak kok gitu sih…” dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku. ”katanya tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.

Aku segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut. ”Maafin kakak, Mey. Kakak tidak sengaja…” bisikku di telinganya. ”itu tadi wujud kasih sayangku sama kamu…” lanjutku.

“Ini pengalaman pertama bagiku, kak… jadi tolong buat agar jadi berkesan,” kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku. Ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berpaling ke kiri. Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.

”Iya, Mey… maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar. Baju tidurnya yang tipis membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat berwarna putih. Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan terus terang justru sangat merangsang nafsuku.

Aku segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping. Seolah-olah masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman dan keseksiannya. Mm… ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku. Aku tidak ingin membuat Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan tubuhnya.

“Meyda sayang…” rayuku kembali. “Kakak boleh tidak cium bibir kamu?” tanyaku menggodanya.

“Iih… kakak apaan sih,” Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi makin berani, juga bernafsu.

“Meyda sayang… terus terang, malam ini kakak kepingin banget. Kakak pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu… kamu mau kan?” tanpa aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Antara kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu. Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah memerah. ”Kaakk…” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa berkata apa-apa.

Aku segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya. “Mey, percayalah… apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak sama kamu…”

Selesai berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup bibirnya yang mungil dengan lembut. Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat dan sangat manis sekali. Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak. Segera kulanjutkan dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit. Mm… terasa sangat halus dan mulus. Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya perempuan itu sangat cantik seperti Meyda. Enak sekali ternyata…

Lima detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya. Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah manisnya kelihatan begitu mempesona. Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.

“Bagaimana, Sayang… mau dilanjutkan?” rayuku dengan nafas memburu akibat menahan nafsu. Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di celana. Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.

Meyda cuma terdiam.

Kuberanikan diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga sampai di lengan. Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan bulat menantang yang ada di depan dadanya. Beha putih yang ia kenakan kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang. Mmm… jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.

Kulirik Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora… siap untuk menerkam dirinya… menjamah tubuhnya… meremas payudaranya… dan pada akhirnya akan menyetubuhinya sampai puas…

”Mey,” bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang. Kususupkan ke belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas. Wow, begitu lunak dan hangat kurasa.

“Ahh… kak,” Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila, kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus gundukan bukit kecil yang ada disana… bukit kemaluannya.

Selama beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah. Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku. Dia menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk dan hangat sekali. sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir mungilnya.

”Aku ingin tubuhmu, Mey…” bisikku diantara desahan nafas yang semakin  memburu.

”Hhh… lakukan, kak… tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini…” sahutnya.

Hatiku bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru. Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis. Bukan gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik di Indonesia.

Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah itu. Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama. Kuhisap habis bau harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.

Kujulurkan lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh kamasutra. Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat. Kedua lidah kami terus bersentuhan, hangat dan basah. Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah pula.

“Ah, Mey… kamu pintar juga!” pujiku tanpa curiga.

Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum manis ia menyahut, “Mm… Mey hanya menuruti naluri, kak.” sahutnya polos.

“Tapi kok pintar sekali?” godaku.

Meyda tersenyum malu, wajahnya berubah jadi merah. ”T-tidak tahu, kak…” ia menundukkan mukanya.

“Tidak apa-apa, itu tandanya kamu bisa menikmati.” aku tersenyum lega karena tidak perlu repot-repot membimbingnya nanti. Jemari tanganku yang masih berada di selangkangannya mulai bergerak menekan gundukan bukit kemaluannya, kuusap-usap pelan ke atas dan ke bawah.

”Auw, kak!!” Meyda memekik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu. Wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat.

Kuraih kepalanya dalam pelukanku dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Kucium rambutnya yang panjang sebahu. “Enak, sayang, kuusap-usap begini?” tanyaku penuh nafsu.

“Hhh… i-iya, kak.” sahutnya polos. Terlihat dia sudah mulai kepingin juga.

Jemari tanganku yang nakal kini bukan cuma mengusap, tapi juga mulai meremas gemas gundukan bukit kemaluannya. “Ahh… sakit, kak… auw!” Meyda memekik kecil, tubuhnya terutama pinggulnya menggelinjang keras. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tanganku kini direnggangkan.

Kuangkat wajahnya ke arahku, kulihat matanya masih terpejam rapat, namun mulutnya sedikit terbuka. Kurengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku, lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan penuh nafsu.

“Ehm… kak!” Meyda meraih pinggangku dan memeganginya kuat-kuat. Kini jemari tanganku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas, menelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat. Aku baru berhenti saat kurasakan ujung jemariku sudah berada di kaki bukit buah dadanya. Dari balik baju tidurnya, bisa kurasakan betapa padat gundukan daging itu. Kuelus perlahan, sebelum mulai mendakinya tak lama kemudian.

”Uhh… kak!” Meyda merintih saat kuremas pelan gundukan buah dadanya. Terasa sangat padat dengan sedikit campuran rasa empuk dan kenyal yang sangat menggiurkan. “Auw, pelan-pelan, kak…” bisiknya parau, bibirnya tampak basah akibat cumbuanku tadi.

Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Meyda menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras. Kami saling berpandangan mesra, kutatap sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah ngaceng berat.

“Ughh…” aku meloncat berdiri.

Meyda yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya, jadi ikutan kaget. “Eh, kenapa, kak?” tanyanya.

“A-anu, punya kakak sakit nih…” sahutku sambil buru-buru membuka celana. Aku tak peduli meski Meyda kelihatan malu, toh dia akan melihat juga pada akhirnya.

Celana panjangku melorot ke bawah, juga celana dalamku. Meyda yang tak menyangka aku akan berbuat demikian, hanya memandangku dengan terbelalak kaget. Apalagi saat melihat batang penisku yang sudah ngaceng berat, yang begitu tegang dan mengacung ke atas, dengan urat-urat di permukaannya tampak menonjol keluar semua.

“Auw! Kakak jorok!” dia menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Meyda menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang cantik.

”Hehehe…” aku terkekeh. Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana panjang, aku jadi gemas pingin melucutinya sampai bugil. Ah, ingin rasanya segera menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan diri. Itu tidak adil, kami harus sama-sama menikmati permainan ini. Aku tidak mau Meyda merasa rugi, dan ujung-ujungnya kapok tidak mau mengulangi lagi. Kalau begitu kan, aku sendiri yang rugi.

Tugasku sekarang adalah merangsangnya sampai siap. Karena bagaimana pun dia kan masih perawan. Pasti sangat sakit saat melakukan untuk yang pertama kali. Aku harus bisa meminimalisir hal itu, ini adalah tantangan buatku, benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satunya perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain dari buku kamasutra jadul…

“Mey, takut apa sih… kok mukanya ditutup gitu?” tanyaku menggoda.

“I-itu… p-punya kakak…” sahutnya lirih.

“Lho, memang kenapa? Kamu tidak pernah lihat alat kelamin cowok?” sahutku geli.

Meyda mengangguk. “Mey belum pernah, i-ini yang pertama.” sahutnya masih sambil menutup muka.

Gila! Dia benar-benar lugu dan perawan. “Yah, tidak apa-apa. Ayo coba sini, punya kakak kamu pegang. Ini kan milik kamu juga.” kataku nakal.

“Ah, tidak mau. Malu… jorok…” sahutnya.

“Tidak usah malu, kakak yang telanjang aja tidak malu sama kamu. Tadi kakak sudah pegang punya Mey, sekarang ganti giliran Mey yang pegang punya kakak…” sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka.

Pada mulanya Meyda menolak, namun setelah kurayu-rayu dan sedikit kupaksa akhirnya dia mau juga. Kedua tangannya segera kubimbing ke arah selangkanganku. Meyda memang mau memegangnya, namun kedua matanya masih terpejam rapat, sama sekali tidak mau melihat. Meski begitu, itu sudah cukup membuat  jantungku berdegup kencang. Bagaimanapun inilah pertama kali aku telanjang di depan perempuan sambil mempertontonkan alat vital, apalagi sampai dipegang-pegang segala. Seperti mimpi rasanya, apalagi saat tahu kalau yang melakukannya adalah Meyda Safira, salah satu artis cantik berjilbab yang tubuhnya pasti diidam-idamkan banyak orang.

Meyda mulai mengusap kepala penisku. Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat pertama kali menyentuh, namun karena kupegangi dengan kuat, akhirnya ia hanya pasrah saja.

“Aah… terus, Mey, pegang batangnya dengan kedua tanganmu!” rayuku penuh nafsu.

“Iih, keras sekali, kak…” bisik Meyda sambil tetap memejamkan mata. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya, itu tandanya kakak sayang sekali sama kamu. Aah…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Meyda meremas kuat batang penisku.

“Gimana, kak, enak?” tanyanya dengan jemari tangan terus meremas kuat.

“Ohh… jangan dilepas… terus seperti itu…” erangku lirih.

Meyda yang semula agak gugup, kini mulai sedikit mengerti. Jemari tangannya yang tadi merenggang, kini mulai bergerak pelan untuk mengusap batang penisku.

”Ahhh…” aku melenguh nikmat. Kulihat Meyda sudah mulai berani menatap rudal saktiku sambil terus meremas pelan, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dan aku tak peduli, yang penting aku merasa nikmat dengan kocokannya. Dalam hati aku membatin, pake tangan aja sudah begini nikmat, apalagi dijepit pake vagina, bisa-bisa aku pingsan karena saking enaknya.

Meyda memandangku sambil tersenyum, wajahnya tak lagi malu-malu seperti tadi. Bahkan dengan penuh semangat ia mulai mengusap-usap penisku maju mundur… setelah itu digenggam dan diremasnya seperti tadi, lalu dokocok-kocok kembali. Sepertinya Meyda semakin bersemangat begitu melihatku melenguh nikmat, ia tertawa kecil saat melihatku yang hanya bisa mendelik setengah gelisah karena saking nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak maju-mundur makin cepat, membuatku jadi semakin tak terkendali. Ini kalo dibiarkan bisa-bisa air maniku muncrat duluan, jadi aku segera berbisik kepadanya, “Mey, hentikan… kakak tidak tahan, mau keluar!”

“Iih…” dengan kaget Meyda segera melepaskan remasan tangannya dan beringsut cepat ke sebelahku, sementara pandangan matanya tetap tararah ke batang penisku yang masih menegang penuh. Mungkin ia mengira air maniku akan muncrat membasahinya kalau dia tidak cepat-cepat pergi.

Antara geli dan nikmat, aku segera mengatur nafas agar birahiku sedikit menurun. Wuih, hampir saja terjadi banjir lokal. “Tidak jadi, Mey, hehe…” bisikku lirih sambil tersenyum.

“Kok tidak jadi?” tanya Meyda polos.

”Buat nanti aja,” Kuraih tubuh sintalnya yang berada di sampingku dan kupeluk mesra. Meyda menggelinjang manja saat kurapatkan badanku ke tubuhnya yang mungil sehingga buah dadanya yang bundar montok terasa menekan dadaku yang bidang. Hmm, enaaak…

Kepalaku menunduk untuk mencari-cari bibirnya saat Meyda merangkulkan kedua lengannya ke pundakku. Wajahnya yang amat manis terlihat begitu dekat, apalagi saat mulai kukecup bibir mungilnya, Meyda  membalasnya dengan begitu rakus. Kami mulai saling melumat gemas, begitu lama dan panas hingga Meyda megap-megap tak lama kemudian karena kehabisan nafas.

Sementara bibir kami masih terus bertaut mesra, jemari tanganku kembali menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Kuremas gemas bulatan bokongnya sambil kuusap-usap mesra, kurasakan betapa kenyal dan padatnya daging montok itu. Meyda merintih lirih dalam cumbuanku saat kurapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan, sehingga mau tak mau batang penisku yang masih ngaceng berat jadi terdesak ke perutnya. Untung saja Meyda memakai baju tidur yang lembut sehingga tidak sampai melukai penisku.

Mulai kugesekkan-gesekkan penisku disana, tapi baru 10 kali gerakan, Meyda tiba-tiba tertawa kecil. “Mey, apaan sih kok ketawa?” tanyaku heran sambil lidahku menjilati bagian atas bibirnya yang basah oleh air liur.

”Habisnya kakak sih… kan geli digesekin kaya gitu,” sahutnya sambil terus tertawa kecil.

Waduh, dasar perawan tulen. Tidak tahu kalau aku sudah nafsu setengah mati, malah ngajak becanda. Segera kurengkuh tubuhnya kembali ke dalam pelukanku, dan Meyda pun tak menolak saat aku menyuruhnya untuk meremas alat vitalku seperti tadi. Mulai kurasakan jemari tangannya mengusap dan mengelus-elus rudal patriot kejantanan dengan lembut sambil sesekali diremasnya dengan penuh kemesraan.

Aku menggelinjang nikmat, ”Arghh… terus, sayang!” bisikku mesra.

Wajah kami saling berdekatan, Meyda memandangku sambil tersenyum manis. “Enak ya, kak?” tanyanya penasaran.

Aku mengangguk dan kukecup bibirnya yang nakal itu dengan penuh nafsu. Meyda membalas sambil memejamkan mata, namun kurasakan jemari tangannya semakin gemas saja mempermainkan batang penisku, bahkan mulai mengocok cepat seperti tadi. Aku tak tahan, rasanya jadi pingin muncrat lagi.

Saat itulah, Meyda menyuruhku untuk membuka baju. ”Basah, kak, kena keringat.” katanya. Segera kucopot kancing kemejaku satu persatu lalu kulemparkan baju itu sekenanya ke samping, entah jatuh dimana. Kini aku benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapannya.

Kulihat Meyda masih tetap mengocok batang penisku sambil wajahnya memandangku tersenyum manis. Kini aku tahu caranya mengontrol nafsu, tanpa sengaja Meyda telah menunjukkannya. Aku tidak boleh mengkonsentrasikan pikiranku pada kenikmatan ini, aku harus memikirkan hal lain. Melepas baju seperti tadi misalnya, terbukti sangat manjur untuk menunda ejakulasiku. Kini aku bisa memperlambat permainan seks yang mendebarkan ini. Awas kau Meyda, aku sudah pintar sekarang!

“Mey, suka tidak sama alat kelamin kakak?” tanyaku nakal.

Sambil tetap mengocok batang penisku, Meyda menjawab dengan polos, “Suka sih… tapi pasti sakit kalau dimasukin ke punyanya Mey,” ujarnya tanpa malu-malu lagi.

”Tenang, nanti kakak akan pelan-pelan.” sahutku. ”Ngomong-ngomong, boleh tidak kakak melihat punya Mey?” kataku nakal.

Meyda mendelik sambil melepaskan tangannya dari penisku, dia segera menutupi selangkangannya dengan malu-malu. “Jangan, kak… Mey malu!” sahutnya.

Tingkahnya membuatku makin gemas dan bernafsu saja. “Ayolah, Mey… kakak penasaran nih,” desakku, lalu dengan cepat berjongkok di depannya. Kuraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke mukaku.

Pada mulanya Meyda agak memberontak dan menolak, namun saat kupandang wajahnya sambil tersenyum tulus, akhirnya ia menyerah pasrah.  Jemari tanganku segera bergerak menarik celana tidurnya hingga terlepas. Mukaku yang persis berada di depan selangkangannya kini bisa melihat gundukan bukit kemaluan yang masih terbungkus celana dalam putih bersih, tampak sangat menonjol dan mumpluk sekali. Pasti bakal sangat nikmat sekali rasanya.

Meyda menatapku sambil tersenyum, wajahnya tampak memerah menahan malu. Tanpa meminta persetujuannya, dengan gemetar kutarik ke bawah celana dalamnya. Begitu terlepas, bau alat kelamin yang sangat harum langsung menyergap hidungku.  Alamak, indahnya bukit kecil itu. Bentuknya menggembung sedikit memerah, dengan bagian tengah dibelah oleh bibir tipis yang masih tampak rapat. Di bagian atasnya, semak belukar yang tampak rimbun tampak tumbuh subur menyembunyikan biji kecil yang masih tidak kuketahui dimana rimbanya.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan semua itu, tanpa terasa kedua tanganku gemetar melihat pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Ohh, Mey… indahnya!!” hanya itu kalimat yang sanggup kuucapkan untuk menggambarkan perasaanku.

Aku baru tersadar saat kulihat Meyda mulai membuka baju tidurnya, ”Mey,” kupanggil namanya, karena belum hilang rasa kagetku melihat keindahan selangkangannya, ia sudah akan menyuguhiku keindahan lain dari tubuhnya yang sintal itu.

Tersenyum manis, Meyda terus mempreteli kancing bajunya dan melemparkan kaos itu begitu saja ke lantai saat sudah terlepas. Selanjutnya ia meraih ke belakang untuk membuka kait bh-nya, padahal masih terbungkus bh saja payudaranya sudah nampak begitu indah, apalagi kalau sudah dilepas.

Jawabannya kuperoleh tak lama kemudian saat bh-nya juga jatuh ke lantai, pukk… aku langsung melongo dan jatuh terduduk menyaksikan sesosok bidadari yang telanjang di depanku. Buah dada Meyda ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira dua kali bola tenis, warnanya putih bersih dengan puting kecil kemerahan menghiasi bagian puncaknya yang ranum. Aku tak pernah mengira kalau kecantikannya akan ditambah oleh keindahan tubuh yang sangat sempurna, sungguh sangat luar biasa.

“Mey, k-kamu…” aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, hanya batang penisku yang semakin ngaceng berat yang menunjukkan kalau aku masih hidup.

Masih tetap tersenyum, Meyda mengulurkan kedua tangannya kepadaku dan mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama berpisah, sama-sama telanjang dan sama-sama saling menginginkan.

“Kak, Mey sudah siap… Mey akan serahkan semua milik Mey sebagai bukti pengabdian Mey kepada kakak.” bisiknya di telingaku.

Aku terharu, kurangkul tubuhnya yang telanjang begitu mesra. Badanku langsung seperti kesetrum saat kulit telanjang kami saling bersentuhan. Apalagi ketika payudara Meyda yang bulat dan padat menekan lembut permukaan dadaku. ”Aah…” tak terasa aku jadi merintih nikmat.

Jemari tanganku segera mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus kurasakan, membuatku jadi tak sanggup menahan gejolak birahiku. Dengan penuh nafsu segera kuraih tubuh sintal Meyda dan kurebahkan diatas kasur. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tidak kentara dari luar.

Jantungku berdegup kencang saat mulai menaiki tubuh sintalnya, Meyda memandangku tetap dengan senyumnya yg manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, tak sabar untuk segera memasuki lorong vaginanya.

“Buka pahamu, Mey… kakak ingin menyetubuhimu sekarang.” bisikku penuh nafsu. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting mungil yang berwarna coklat kemerahan. Aku segera menjamahnya sambil menusukkan batang penisku ke celah bukit kemaluannya. Kurasakan liang vaginanya begitu hangat dan lunak.

”Ahh…” suaraku bergetar saat ujung penisku mulai mengelusi permukaannya, sebelum selanjutnya menelusup diantara celahnya yang sempit. “Mey, kakak masukkan sekarang yah… nanti kalo sakit, bilang…” bisikku sambil mulai mendorong pelan.

“Pelan-pelan, kak…” sahutnya pasrah. Dia memeluk pinggangku sambil memejamkan kedua matanya seolah menungguku.

Tusukanku yang pertama gagal, aku tidak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tidak memungkinkan untuk itu, tapi aku terus berusaha… kucoba untuk menelusup lewat celah bagian atas, namun setelah kutekan, ternyata jalan buntu.

“Agak ke bawah, kak…” Meyda memberi petunjuk.

Kutekan agak ke bawah, ”Disini?” tanyaku.

”Ahh… kurang ke bawah dikit!” sahutnya.

Aku turunkan lagi.

”Hmm… yah disitu, tekan disitu, kak.” perintahnya.

Akupun mendorong. Benar, mulai terasa masuk sedikit.

”Auw! Pelan-pelan, kak… sakiiit!!!” Meyda memekik kecil sambil menggeliat kesakitan.

Segera kupegangi pinggulnya agar tidak banyak bergerak. Dengan keberhasilanku menemukan celah vaginanya, tugasku kini jauh lebih muda. Akupun mulai menekan lagi, kali imi lebih pelan. Meski begitu, tetap saja Meyda merintih kesakitan.

”Hhgg… sakit, kak!” pekiknya.

Tapi aku tidak ingin menyerah, sambil mencium bibirnya agar ia terdiam, kupaksa kepala penisku untuk menelusup lebih dalam lagi. Terasa sangat sempit dan basah disana.

“Tahan, Mey… kakak masukin lagi,” bisikku penuh konsentrasi.  Mulai kurasakan kenikmatan saat kepala penisku berhasil menerobos masuk, dan langsung terjepit kuat di liang vagina Meyda.

“Auw, Kak… sakiiiiit…” lagi-lagi Meyda menjerit, tubuhnya menggeliat penuh penderitaan. Aku berusaha menentramkannya dengan mengecup kembali bibir mungilnya yang basah memerah, kulumat dengan perlahan.

”Tahan, sayang… baru kepalanya yang masuk,” jelasku. ”Kakak tekan lagi ya?” aku bertanya, dan tanpa menunggu jawaban kutusukkan penisku lebih dalam. Jeleebb…

”Auw!” Meyda berusaha menggigit bibir untuk meredam teriakannya.

“Tahan, sayang…” bisikku.

Meyda hanya mengangguk perlahan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat sambil kedua tangannya memegangi punggungku kuat-kuat. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa menekan ke bawah. Aku menahan napas sambil memajukan pinggulku kembali, tapi mentok, aku seperti membentur sesuatu. Semakin kutekan, semakin terasa menghalangi. Apakah ini selaput dara-nya?

Meyda memandangku dan mengangguk, seperti membenarkan apa yang kupikirkan.

Kukecup lagi bibirnya dan kudorong pinggulku semakin kuat. Ayo, aku tidak boleh kalah. Setelah beberapa kali usaha, serta diiringi teriakan Meyda yang semakin keras, akhirnya akupun berhasil. Creek… kurasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang vagina Meyda. Dan selanjutnya, seperti sudah bisa diduga, penisku pun bisa meluncur masuk dengan begitu mudahnya.

”KAKAK!!!” Meyda menjerit saat keperawanannya kurenggut, sementara aku melenguh nikmat merasakan jepitan vaginanya yang begitu kencang dan kuat. Dinding-dindingnya terasa hangat dan licin saat membungkus batangku, namun cengkeramannya begitu dahsyat, seakan-akan tidak ingin punyaku keluar dengan utuh. Di sela-sela tautan alat kelamin kami, kulihat beberapa tetes darah mengalir keluar membasahi sprei.

Aku menarik sedikit batangku, lalu kembali menekan…

”Hhggh… kak!!” Meyda kembali menjerit kesakitan, namun aku tak peduli. Aku sudah merasa enak, tanggung kalau harus berhenti sekarang.

”Maafkan kakak, Mey… tahan sebentar ya?” bisikku di telinganya.

Tidak menjawab, Meyda memejamkan matanya semakin rapat. Sementara sebutir air mata kulihat menetes di sudut kelopaknya. Aku harus cepat, kalo tidak istriku yang cantik ini akan terlalu lama menderita. Maka segera kupegang pinggul Meyda dan mulai kugoyang pinggulku perlahan-lahan.

“Ooh…” aku merintih keenakan, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Meyda yang luar biasa. Sementara Meyda hanya merintih-rintih sambil memandangku sayu. Bibirnya bergetar, seperti ingin berucap sesuatu, namun tidak jadi dan akhirnya malah tersenyum kepadaku.

“Kak, Mey sudah tidak perawan lagi sekarang.” bisiknya lirih sambil tersenyum.

”Tidak apa-apa,” kutatap dengan bangga istri tercintaku itu, ”Kakak sekarang juga tidak perjaka lagi,” balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum. Kuusap mesra wajah Meyda yang masih terlihat menahan sakit setiap kali menerima tusukanku.

“Gimana rasanya, kak, enak?” bisiknya mesra, rupanya dia sudah mulai bisa menerima kehadiran penisku di rongga vaginanya.

“Enak, May… nikmat sekali… ouhh… selangit pokoknya,” sahutku sambil mencium bibirnya dengan penuh nafsu, dan Meyda membalas tak kalah nikmatnya. Kami saling berpagutan lama sekali sambil pinggulku terus bergoyang pelan menyetubuhinya.

”Kak, ugh…” Meyda merintih dalam cumbuanku, beberapa kali ia sempat menggigit bibirku, namun sama sekali tak kupedulikan. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit kuat batang penisku, seakan mengenyotnya. Ketika batangku kegerakkan semakin cepat, terasa daging vaginanya seolah mencengkeram lebih kuat, nikmatnya sungguh sangat luar biasa. Aku sampai mendesis panjang karena saking enaknya.

”Aaahhhhh…” jeritku, air mani mulai kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar. Betapapun kutahan dan kualihkan, tetap tidak bisa. Terpaksa aku harus merelakannya untuk menyemprot duluan.

”Mey, kakak mau keluar…” bisikku di telinga Meyda.

Dia membuka matanya dan menatapku, ”Keluarin aja, kak… di dalam punya Mey, tidak apa-apa.” sahutnya.

Aku pun tidak sanggup bertahan lagi. Dengan satu teriakan keras, aku meledak. Spermaku menyembur berhamburan di liang vagina Meyda yang kini sudah tidak perawan lagi.

RIYANI

Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Harto Suyanto dan Istriku bernama Riyani Agustina Mustaqimah , umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Riyani adalah istri yang baik dan sholehah, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Cara berpakainnya sama seperti jilbaber pada umumnya, yaitu jubah panjang dan longgar lengkap dengan jilbab besarnya. Sangat anggun dan keibuan kata teman-temanku. Untuk urusan ranjang, Riyani dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, kalau tidak mau dibilang sangat lugu. Laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks
kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Riyani tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.
Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Riyani , aku selalu membayangkan Riyani berubah menjadi liar dalam urusan ranjang dan suka disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Riyani aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Riyani disetubuhi laki-laik lain.
Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Sanjaya  sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Sanjaya  sering sekali menanyakan kabar Riyani , memang sudah beberapa kali Sanjaya  bertemu dengan Riyani dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Riyani yang memang sangat cantik dan anggun. Suatu ketika Sanjaya  menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Riyani dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan. Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Riyani menginginkan keturunan tapi
memang belum berhasil mendapatkannya.
“Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Sanjaya  kepadaku.
“Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat.
“Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. “Kenapa ke dokter ahli jiwa?” tanyaku. “Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Riyani itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku.
Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku.
“Mr. Sanjaya  mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku.
Mendengar perkataanku muka Sanjaya  terlihat kaget dan tidak percaya.
“Kalau saya bilang memang mau bagaimana?” katanya memancingku.
“Ya boleh saja” sahutku.
Kemudian aku menceritakan kepada Sanjaya  bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Riyani ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Riyani . Ternyata gayung bersambut. Sanjaya  menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, termasuk jilbaber yang alim. Wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Sanjaya  kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Sanjaya  kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Riyani dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Riyani . Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa,
aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Sanjaya  meniduri Riyani .
“Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku.
“Ya begitulah”, jawabku singkat.
“Baiklah, kalau itu maumu aku akan membantumu. Tapi tanda tangani dulu kertas bermaterai ini sebagai jaminan bahwa kau tidak akan menuntutku nantinya. Kertas ini masih kosong, kau tanda tangan saja dahulu diatas materai. Nanti sore biar aku ketik isinya”kata Sanjata sambil menyerahkan selembar kertas kosong berikut materai. Aku yang sangat ingin mewujudkan khayalanku segera menandatangani kertas kosong itu.
“Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Sanjaya  sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.
Pukul 8 malam aku dan Riyani telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Sanjaya . Riyani memakai jubah panjang warna biru dengan jilbab lebar biru muda. Wajahnya terlihat cantik dengan sapuan make-up tipis. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi ruang pesta yang sangat luas lengkap dengan semua hidangannya. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Sanjaya , mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Sanjaya  menyambut aku dan Riyani
dengan ramah. Sanjaya  kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia. Kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dan Riyani dan mempersilahkan kami untuk menikmati makanan dan minuman yang tersedia di ruang tengah.  Riyani dan aku mengambil segelas jus buah  dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Riyani menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Riyani . Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Riyani masih bercanda dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Riyani dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Riyani ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Sanjaya  mencegahku di kaki tangga menuju lantai
atas.
“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Sanjaya  kepadaku ” Sekarang baca foto kopi kesepakatan yang kau tanda tangani tempo hari. Aku menerima lembaran kertas fotokopi bermaterai yang diserahkan Pak Sanjaya padaku karena isinya sangat mengagetkanku. Dalam selembar kertas itu tertulis bahwa aku telah melakukan kecerobohan dalam bekerja dan mengakibatkan kerugian perusahaan sebesar 4 milliar rupiah. Aku bersedia mengganti kerugian tersebut dalam waktu 1 bulan, apabila tidak sanggup maka segala kewenangan akan diserahkan kepada Pak Sanjaya selaku bosku. Melihat aku terkejut, Pak Sanjaya malah tertawa terkekeh, katanya ” Kau tidak usah terkejut dan kawatir. Aku tidak bermaksud melaporkan kau pengadilan dan kau dipenjara karena sebenarnya kau tidak melakukan kesalahan apapun. Surat itu hanya sebagai jaminan kalau kau tidak akan menuntutku apapun yang akan kulakukan pada istrimu. Bukankah itu yang
kamu inginkan?”. Aku hanya tertunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kusadari, mulai saat ini aku tidak akan bisa membantah apapun yang di inginkan bosku.
2 jam telah berlalu semenjak Riyani naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Sanjaya  memanggilku.
“Ayo ke atas” ajak Sanjaya  kepadaku. Akupun mengikuti Sanjaya  ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya.
Di lantai atas, Sanjaya  membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Riyani dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab.
“Nah, ini kamar buat Harto Suyanto dan istrinya Riyani , yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Sanjaya  sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.
“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut.
Aku tidak tahu apa rencana Sanjaya  jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Riyani pun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Sanjaya  tidak melakukan apapun juga, sedangkan Riyani terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya, sementara aku juga gelisah kalau mengingat surat pernyataan yang aku tanda tangani. Tiba-tiba Riyani memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya.
Beberapa saat kami berciuman, Riyani berkata “Buka bajunya mas Harto, aku kepengen nih”.
Sedikit kaget aku melihat Riyani menjadi agresif, tidak biasanya Riyani mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya.
“Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Sanjaya  di pesta” pikirku.
“Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Sanjaya ” pikirku lagi.
Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Riyani . Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Riyani sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Riyani berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.
“Ini pasti karena minuman yang diberikan oleh Sanjaya , dia pasti mencampur sesuatu pada minumanku” pikirku dalam hati.
Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam tetap saja kemaluanku tidak dapat berdiri.
Riyani terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Riyani ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Riyani semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Sanjaya  masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Riyani sangat kaget. Riyani langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.
“Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Sanjaya  tiba-tiba.
“Pak Sanjaya , harap keluar dari kamar kami” sahut Riyani dengan sedikit membentak.
Sanjaya  bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu”
“Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Riyani dengan keras.
“Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” bentak Sanjaya  tegas.
Aku melihat Riyani sedikit takut mendengar bentakan Sanjaya .
“Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Sanjaya  lagi kepada Riyani .
Aku sekarang menyadari inilah rencana Sanjaya  untuk dapat meniduri Riyani . Dan aku ingin sekali melihat Riyani ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Sanjaya . Apalagi dengan adanya surat pernyataan asli tapi palsu itu, aku tak bisa bertindak lain kecuali menuruti Pak Sanjaya.
“Terserah apa maunya Pak Sanjaya , kami akan menuruti” kataku kepada Sanjaya .
“Mas Harto, aku tidak mau, apa-apan in….” Riyani belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Sanjaya  menarik selimut yang menutupi tubuh Riyani dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas kepala Riyani , sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Riyani .
Sanjaya  kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Riyani dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Riyani sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.
“Mas Harto, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Riyani ketika Sanjaya  mulai menciumi kedua payudaranyayang berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Sanjaya  yang bebas sudah menggerayangi vagina Riyani .
“Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Sanjaya  kepada Riyani sambil terus menjilati kedua payudara Riyani .
“Mas Harto, apa yang kamu lakukan” desah Riyani sambil memandang sayu kepadaku.
Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Riyani bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Sanjaya  dikedua payudaranya serta tangan kiri Sanjaya  yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari Sanjaya  di klitorisnya. Mata Riyani semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Sanjaya  menghentikan ciumannya di kedua payudara Riyani dan berkata padaku “Gimana , kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”
“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Sanjaya  sambil tetap memaikan klitoris Riyani dengan jarinya.
“Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Sanjaya  kepadaku kemudian.
Aku menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya . Aku angkat Riyani dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Riyani . Aku pegang dan buka kaki Riyani lebar-lebar sehingga sekarang Riyani posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Riyani sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Riyani hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Sanjaya  berlutut dilantai dipinggir kasur. Sanjaya  memandang Riyani dan berkata
“Wow indah sekali vaginamu Riyani , pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”.
Riyani hanya memandang Sanjaya  dengan sayu dan tidak menjawab. Sanjaya  kemudian mulai menjilati vagina Riyani yang disertai erangan dari Riyani . Riyani hanya bisa memandang Sanjaya  menjilati vaginanya, Riyani mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku. Kemudian tangan Sanjaya  membuka vagina Riyani dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Riyani yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya.
“Jangan…” desah Riyani pelan.
“Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Sanjaya  dengan kasar dan tegas.
Kemudian Sanjaya  memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Riyani dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Riyani . Lalu kembali menjilati vagina Riyani dan memainkan klitoris Riyani dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Riyani .
Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Riyani semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Sanjaya  di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan. Sampai pada akhirnya tubuh Riyani mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.
“UUUGGGHHHHH…….” erang Riyani keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Riyani mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Riyani dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Riyani tidak lemas, matanya malah berbinar .
“Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Riyani .
“Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di minumanmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Sanjaya  kepadaku.
Aku menuruti Sanjaya  dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Sanjaya  mengangkat tubuh Riyani dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Sanjaya  kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Sanjaya  sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Sanjaya  dan Riyani berdua telanjang bulat di kasur. Riyani terlihat kaget melihat penis Sanjaya . Penis Sanjaya  sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Sanjaya  mendekati kepala Riyani . Sanjaya  berlutut mengangkangi muka Riyani . Tangan kirinya mulai meraih vagina Riyani . Riyani yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Sanjaya  mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Riyani , dan Riyani pun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Sanjaya  kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Riyani yang mungil. Terlihat mulut Riyani kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Sanjaya
dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Riyani . Terlihat mulut Riyani penuh oleh penis Sanjaya . Riyani kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Sanjaya . Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Riyani menuruti apa maunya Sanjaya , sehingga sekarang penis Sanjaya  keluar masuk mulut Riyani dan lidah Riyani menjilati batang penis Sanjaya .
Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Riyani yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Sanjaya  sudah terlihat sangat kencang, kemudian Sanjaya  menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Riyani . Mengetahui apa yang akan dilakukan Sanjaya , Riyani membuka makin lebar kedua kakinya. Sanjaya  kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Riyani secara perlahan. Riyani terlihat menahan sakit ketika penis Sanjaya  mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Sanjaya  telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Riyani tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Sanjaya  yang sangat besar dan panjang itu. Setelah penis Sanjaya  masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Sanjaya  tidak langsung menggenjotnya, namun
Sanjaya  menunggu beberapa saat agar Riyani terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Sanjaya  mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Riyani , kemudian Sanjaya  memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Riyani dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Riyani terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Sanjaya , matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Sanjaya  dan kadang-kadang Riyani menciumi dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Sanjaya  di dalam vagina Riyani semakin cepat, racauan Riyani semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Sanjaya  di vaginanya. Sanjaya  yang mengetahui Riyani sangat menikmati persetubuhannya makin
mempercepat gerakannya. Sanjaya  menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Riyani secara bergantian. Riyani diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Riyani , Riyani , mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.
“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Riyani .
Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Sanjaya  dan kedua tangannya merangkul leher Sanjaya  dengan kencang.
“OOOOhhhhh……” lolong Riyani ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Riyani langsung menciumi bibir Sanjaya  dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Riyani dan lidah Sanjaya  saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Riyani terhadapku.
Melihat adegan live Riyani dan Sanjaya  membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati.
Setelah beberapa menit berciuman, Sanjaya  kemudian memindahkan posisi Riyani sehingga Riyani sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Riyani . Sanjaya  memindahkan tubuhnya ke belakang Riyani sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Riyani didepan dan Sanjaya  di belakangnya. Sanjaya  kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Riyani . Tangan kiri Riyani dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Sanjaya  dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Riyani . Sanjaya  menggenjot penisnya dalam vagina Riyani dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Riyani dan klitoris Riyani . Riyani kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Riyani mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Sanjaya
yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Sanjaya  telah menyetubuhi Riyani dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Riyani tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Riyani sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Riyani , namun Sanjaya  masih dengan semangatnya menyetubuhi Riyani dan belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Riyani disetubuhi oleh Sanjaya  dengan ganasnya. Sanjaya  yang belum puas dengan Riyani kembali mengubah posisi Riyani lagi. Kali ini Riyani dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Sanjaya  menyetubuhi Riyani dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Riyani karena Riyani selalu menolaknya, namun dengan Sanjaya , Riyani dengan senang hati menurutinya. Sanjaya  menggenjot vagina Riyani dari belakang dengan
tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Riyani semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Riyani kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Riyani semakin membahana di kamar itu.
Kemudian tangan kiri Sanjaya  meraih rambut Riyani , menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Riyani mendongak ke atas. Genjotan penis Sanjaya  dalam vagina Riyani masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Sanjaya  kadang-kadang menampar kedua pantat Riyani bergantian. Kepala Riyani terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Riyani sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Sanjaya , tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Sanjaya  ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Riyani . Setiap mengalami orgasme tubuh Riyani mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Riyani bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Riyani terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Riyani menjadi segar kembali dan siap
menerima genjotan-genjotan ganas penis Sanjaya  yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Sanjaya  dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Riyani yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Sanjaya  kemudian meraih kedua tangan Riyani dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Riyani sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Sanjaya  menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Riyani . Teriakan-terikan nikmat Riyani semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Riyani masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.
“Buka matamu Riyani dan pandang suamimu!” perintah Sanjaya  dengan tegas.
Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  sehingga Riyani sekarang melihat diriku yang sedang duduk di sofa sambil bermastrubasi.
“Lihat Riyani , suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Sanjaya  kepada Riyani .
“Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Sanjaya .
“Jawab!!!” hardik Sanjaya  dengan tiba-tiba kepada Riyani sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Riyani .
“Aaagh….suu…ka….” sahut Riyani dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Sanjaya  dalam vaginanya.
“Enakan mana Riyani ? suamimu atau saya” tanya Sanjaya  lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Riyani .
“Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….Sanjaya ” jawab Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Sanjaya  lagi dengan kasar.
“Maaa…..uuuuu….ppaak Sanjaya  ….” jawab Riyani sambil tubuhnya mengejang tanda Riyani mengalami orgasme lagi.
Dengan tetap memegang kedua tangan Riyani ke belakang, Sanjaya  menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Riyani menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Sanjaya  kembali menggenjot vagina Riyani dengan kencang, membuat nafsu seks Riyani kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Riyani dan Sanjaya . Riyani yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut.
“Riyani , lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Sanjaya  dengan sedikit nada memerintah kepada Riyani .
“Boo…leehhh….aaagghh….paak…

uggghhh…Sanjaya ” jawab Riyani sambil meracau kenikmatan.
Melihat Riyani menurut dan tunduk sepenuhnya pada Sanjaya  membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Riyani . Melihat hal itu Sanjaya  memerintahkan Riyani menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  padahal aku tahu Riyani biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Riyani masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Sanjaya  dan Riyani sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Sanjaya  terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Riyani menyadarinya.
“Uugh…aaghhh…pak Sanjaya …jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Riyani lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat.
“Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu Riyani , dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Sanjaya  kepada Riyani .
“Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Riyani sambil orgasme lagi.
Kemudian Sanjaya  membalikkan tubuh Riyani sehingga Riyani terlentang di kasur. Sanjaya  kembali mengangkangi Riyani dan menjambak rambut Riyani dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani .
“Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Terlihat penis Sanjaya  yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Riyani menghisap-hisap penis Sanjaya  dan terlihat tenggorokan Riyani bergerak-gerak tanda Riyani sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sanjaya  menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan Riyani menelan setiap tetes sperma Sanjaya  yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani .
“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Sanjaya  memerintahkan Riyani yang langsung dituruti oleh Riyani .
Selagi Riyani menjilat-jilati penis dan biji Sanjaya , Sanjaya  bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Sanjaya . Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Melihat aku tidak menjawab, Sanjaya  berkata lagi kepadaku “Riyani kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Riyani masih ingin dipuaskan nafsu seksnya.
“Bagaimana Riyani ” tanya Sanjaya  kemudian kepada Riyani . Riyani sambil tetap menjilati penis Sanjaya  hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Sanjaya  kepadaku.
Melihat Riyani memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Sanjaya . Sanjaya  kemudian menyruh Riyani pindah ke kamar sebelah dan Riyani menuruti permintaan Sanjaya .
“Harto, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Riyani ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dikamar sendirian dan Sanjaya  pindah ke kamar sebelah menyusul Riyani . Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Riyani ….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Riyani dari kamar sebelah menandakan Sanjaya  dan Riyani sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….
Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Riyani dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku.
“Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati.
“Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi.
Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Riyani di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah. Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Riyani sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Riyani , sedang disetubuhi oleh Sanjaya  dan salah seorang tamu Sanjaya  yang tadi
malam menginap di villa!!! Posisi Riyani bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Sanjaya  tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Sedangkan Sanjaya  yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Riyani yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Riyani .
“Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Sanjaya  ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.
“Silahkan duduk Tom” kata Sanjaya  lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Riyani disetubuhi dua laki-laki tua itu.
“Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Sanjaya  kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Riyani .
“Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Riyani sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Sanjaya  sambil terkekeh kecil.
“Riyani , kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab. Riyani terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya.
“Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Sanjaya  sambil melihat Riyani yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Sanjaya .
Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Sanjaya  dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut.
“Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku.
Mendengar perintah Sanjaya , kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Riyani dengan Lam dan Sanjaya  mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Riyani sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Riyani dengan kasar, namun terlihat Riyani meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Riyani nampak menikmatinya. Semakin Riyani diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Riyani menikmatinya. Rintihan-rintihan Riyani semakin keras apabila Lam dan Sanjaya  menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani dengan kasar. Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Riyani dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Riyani dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di
pinggul Riyani dan terus ke arah vagina Riyani dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Riyani . Riyani tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Riyani . Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Riyani telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Riyani , mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Riyani terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Riyani dan mencubit-cubit kecil klitoris Riyani , tubuh Riyani bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak
beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Riyani .
Sanjaya  sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Riyani sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Riyani . Diperlakukan demikian, Riyani semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Sanjaya . Lam dan Sanjaya  semakin mempercepat gerakannya sehingga Riyani benar-benar tergoncang-goncang hebat. Riyani terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Sanjaya  di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Riyani , terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Sanjaya  kemudian
memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu
“Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Sanjaya  memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.
Wanita yang disuruh Sanjaya , mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Sanjaya .
“Buka mulutmu Riyani , telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan Riyani tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Sanjaya  kembali menjambak rambut Riyani dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Riyani . 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Riyani , Sanjaya  maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Riyani . Riyani tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Riyani terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Sanjaya  kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.
“Tadi pagi Riyani saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Riyani lebih lama mencapai orgasme, ini agar Riyani dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Riyani akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Riyani dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Riyani akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Riyani dan pria tersebut” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku.
“Lihat Riyani sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Riyani rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Sanjaya  kepadaku.
“Harto, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Sanjaya  kepadaku.
45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Riyani . Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Sanjaya  semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani , membuat Riyani sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Riyani benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Riyani tetap memandang kearah wajah Sanjaya  dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Sanjaya  pada rambutnya membuat Riyani tidak tersungkur ke kasur. Suara Riyani semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Riyani terlihat
berusaha memegang kedua sisi pinggul Sanjaya , kemudian beralih ke kedua tangan Sanjaya  yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Riyani sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Sanjaya  dan Lam.
“Kalian berdua kesini, bantu Riyani agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita itu.
Kedua wanita yang diperintah Sanjaya  kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Riyani . Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Riyani dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Riyani , membuat kedua tangan Riyani terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Riyani . Badan Riyani juga bergerak memelan namun terlihat Riyani berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Riyani yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan Sanjaya  yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Riyani .
“Harto, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Sanjaya  kepadaku.
Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Riyani dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Riyani sehingga kali Riyani bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Riyani . Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Riyani . Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Riyani makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam.
Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Riyani mendelik. Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya dari mulut Riyani dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Riyani sehingga sekarang kepala Riyani bebas bergerak.
Riyani terus menikmati penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Riyani naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Riyani ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Riyani memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.
“Sekarang…!!!!’ sahut Lam dengan keras.
Seperti mengerti perintah Lam, Riyani menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Riyani .
“Oohh… nikmat sekali….” desah Riyani pelan.
Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Riyani .
Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Riyani belum turun juga. Riyani masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Sanjaya  melepaskan pegangannya pada pinggul Riyani dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Riyani , Nampak raut muka Riyani sedikit sedih.
Lam  mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Riyani hanya sebentar karena Sanjaya  langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Riyani telentang di atas kasur dibukanya kaki Riyani lebar-lebar.
“Masih kurang Riyani ?” Tanya Sanjaya  menggoda Riyani sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
“Masih…pak Sanjaya …saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Riyani sambil menarik pinggul Sanjaya  ke arahnya.
“Oohhhh……” desah Riyani ketika penis Sanjaya  masuk ke dalam vaginanya sampai mentok.
Sanjaya  kemudian secara perlahan menggenjot vagina Riyani dengan penisnya. Setiap gerakan Sanjaya  selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Riyani . Kepala Riyani terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Riyani setiap kali Sanjaya  menggerakan penisnya secara perlahan.
Penasaran dengan apa yang dirasakan Riyani , aku membisikinya dan bertanya.
“Bagaimana rasanya ? Enak?” tanyaku.
“Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih mas Harto atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Riyani pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan.
Lima belas menit kemudian, penis Sanjaya  berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Riyani pun tiba-tiba lebih menegang lagi.
“Oohhh….apa ini pak Sanjaya ….kenapa saya……” desah Riyani pelan kepada Sanjaya .
“Inilah puncaknya orgasme dari orgasme . Nikmati saja” jawab Sanjaya .
Bersamaan dengan itu, tubuh Riyani dan Sanjaya  benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Riyani melingkar di pinggul Sanjaya . Dada Riyani makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Sanjaya  berada di pundak Riyani , mulutnya sedikit menggigit pundak Riyani dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Riyani .
“OOOhhhhh……” teriak Riyani dan Sanjaya  bersamaan. Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Riyani , Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.
Beberapa menit Sanjaya  dan Riyani berada di puncak orgasme mereka.
“Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Riyani istirahat dulu” kata Sanjaya  setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Riyani .
Sanjaya pun beranjak dari atas tubuh Riyani , tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Riyani dengan selimut. Riyani hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Sanjaya  dan Riyani istirahat.
Menjelang sore terlihat Sanjaya  keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Riyani , Sanjaya , Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki.
“Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Sanjaya  kepada aku dan tamu-tamu lainnya.
Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Sanjaya  menginstruksikanku untuk membangunkan Riyani .
“Harto, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Sanjaya  kepadaku.
Akupun segera menuruti perintah Sanjaya  dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Riyani istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Riyani sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Riyani sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.
“Mas Harto, apa yang terjadi denganku. Kenapa kamu  membiarkan semua ini terjadi?” tangis Riyani kepadaku.
Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Riyani untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Riyani sudah ditunggu di ruang makan oleh Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Riyani menurutinya. Setelah Riyani mandi dan memakai kembali jubah serta jilbab lebarnya kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Riyani ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Riyani sangat malu untuk bertemu dengan Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang.
Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Sanjaya  mempersilahkan aku dan Riyani duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Sanjaya . Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Sanjaya  dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Riyani terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Sanjaya  mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Riyani ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Sanjaya  mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Sanjaya  sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah
masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Sanjaya  berkata
“Ok, saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya”
“Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Sanjaya  sambil memencet remote TV.
TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Riyani tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Riyani sangat terkejut dan merah padam karena sangat malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Riyani bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Sanjaya  menghardiknya dengan tegas.
“Riyani , duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Sanjaya  dengan sangat keras.
Mendengar bentakan Sanjaya  aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Sanjaya  telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya.
Aku melihat Riyani sangat ketakutan mendengar bentakan Sanjaya , namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membelanya, maka Riyani pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk dengan wajah menunduk menahan perasaan malu yang luar biasa. Sanjaya  dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Riyani yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Riyani, wanita alim yang selalu menggunakan jubah dan jilbab lebar tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Sanjaya  memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Sanjaya  menjelaskan bagaimana Riyani yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Riyani karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Riyani di TV selesai, kemudian Sanjaya  dengan suara tegas memerintahkan Riyani
“Nah, Riyani , tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu secara langsung.”
Mendengar itu dengan raut muka yang pucat dan penuh ketakutan, Riyani bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Sanjaya  dan Zhou dengan sigap menangkap Riyani .
“Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Riyani kamu sangat mengecewakan” kata Sanjaya  sambil mencengkram tubuh Riyani dari belakang.
“Kamu harus dihukum dan dididik dengan benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Sanjaya  kemudian kepada Riyani .
Riyani meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Sanjaya  pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Riyani untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Sanjaya  dan Zhou menyeret Riyani ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Riyani , namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Sanjaya  terhadap Riyani . Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Riyani sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat, hanya jilbabnya saja yang masih menutupi kepalanya. Posisi Riyani berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Riyani menyerupai huruf “X”. Aku melihat Riyani meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya,membasahi jilbab lebar yang tersampir di pundaknya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Riyani .
“Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur berjilbab ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur yang alim ini” sahut Sanjaya  tiba-tiba.
Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Riyani terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Sanjaya  akan lakukan terhadap Riyani .
“Riyani , ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan memaksamu  menjadi taat dan menurut padaku? Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Sanjaya  kemudian sambil tertawa “Kamu boleh dan bahkan harus tetap berpenampilan seperti biasa, anggun, sopan, berjubah dan berjilbab lebar. Tetapi kau harus dengan suka rela menjadi budak seksku, melayaniku kapanpun aku mau, dimanapun dan dengan cara apapun”
Mendengar itu aku melihat ekspresi ketakutan yang amat sangat di wajah Riyani . Riyani semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri, jilbabnya menjadi berantakan. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras.
“Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Sanjaya  setelah melihat Riyani tetap berusaha melepaskan diri.
Sanjaya  kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Riyani . Aku melihat Riyani merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut.
“Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Riyani . Sanjaya  telah mencambuk punggung Riyani dengan keras.
Raungan tangis Riyani semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri.
“Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Riyani hingga Riyani pingsan. Melihat Riyani pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Riyani untuk membangunkannya.
Ketika Riyani siuman, Sanjaya  menanyakan kepada Riyani apakah Riyani bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Riyani mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Riyani , namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Riyani dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Riyani sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya.
“Bagaimana Riyani , apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Sanjaya  kemudian.
Riyani hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya.
“Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Sanjaya  kepada Riyani sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.
Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Sanjaya  kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Sanjaya . Kemudian Sanjaya  berjongkok di depan vagina Riyani . Dibukanya vagina Riyani secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Riyani meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Riyani sehingga Riyani tidak dapat bergerak.
“Jangan…jangan….” pinta Riyani lirih.
“AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Riyani . Ternyata Sanjaya  menusuk bibir dalam bagian atas vagina Riyani dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Riyani tersebut.
Raungan keras kesakitan Riyani membahana di basement itu, kemudian Riyani kembali pingsan. Kemudian Sanjaya  kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Riyani . Riyani terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Riyani dan membersihkan vagina Riyani dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Riyani agar Riyani siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Riyani menahan sakit di vaginanya. Kemudian Sanjaya  kembali menghampiri Riyani dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Sanjaya  kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Riyani dan tangan kanan Sanjaya  memegang jarum siap menusuknya.
“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Sanjaya  asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Riyani .
Mendengar hal itu Sanjaya  dan tamunya tertawa penuh kemenangan.
“Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
“Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Riyani menyerah.
“Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Sanjaya  sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan.
Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Riyani . Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Riyani dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Riyani . Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Riyani , paha Riyani , punggung Riyani dan sekujur tubuhnya.
15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Riyani mulai mengkhianatinya. Riyani mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya. Melihat reaksi Riyani , para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Riyani . Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Riyani yang mana hal tersebut semakin membuat Riyani tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Riyani tanda Riyani telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Riyani reda, Sanjaya  kemudian melepaskan ikatan Riyani dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku.
“Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet, kukirimkan pada orang tua kalian dan masalah hutangmu akan aku tuntut” kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Sanjaya  itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , dan kemudian Sanjaya  mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.
“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan.
Riyani kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Sanjaya  sehingga Riyani sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Sanjaya . Wajah Riyani dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Aku tidak bisa melihat tubuh istriku karena  jilbab lebarnya terurai dan menutupi punggung dan dadanya. Lalu Sanjaya  memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Sanjaya  yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Riyani dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Riyani disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Riyani terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Riyani . Terlihat vagina Riyani sudah penuh dengan penis Sanjaya  yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar
masuk vagina Riyani yang disertai erangan-erangan kecil Riyani dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Riyani terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.
Terdengar erangan-erangan Riyani di kupingku setiap kali penis Sanjaya  yang besar memasuki vaginanya.
“Maafkan aku mas, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Riyani di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.
Genjotan-genjotan penis Sanjaya  pada vagina Riyani semakin keras, dan erangan-erangan Riyani semakin terdengar keras. Badan Riyani mulai mengikuti irama permainan Sanjaya . Terlihat vagina Riyani sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya.
“Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Sanjaya  kepadaku sambil tertawa.
“Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Sanjaya  kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Riyani .
Jeritan keras terdengar dari mulut Riyani . Riyani berusaha menarik badannya namun dengan sigap Sanjaya  menahannya.
“Diam Riyani !!!” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Riyani dengan kedua jarinya, Sanjaya  lalu mencabut penisnya dari vagina Riyani dan mengarahkannya ke anus Riyani . Sanjaya  menarik badan Riyani ke belakang sehingga wajah Riyani sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Riyani ketika penis Sanjaya  yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Riyani . Jilbabnya semakin basah terkena keringat dan air mata. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Sanjaya  masuk ke dalam lubang anus Riyani , dan kemudian Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Riyani . Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Riyani , matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Riyani dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.
“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Riyani dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Riyani yang disertai erangan-erangan Riyani . Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Riyani dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Riyani yang bergantung bebas. Tubuh Riyani kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Riyani bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Sanjaya  di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Riyani terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Riyani tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Riyani mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Riyani mencapai
orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Namun Sanjaya  belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Riyani telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Riyani . Sanjaya  kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Riyani dan membimbing Riyani ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Sanjaya  telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Sanjaya  membimbing Riyani menduduki penis tersebut. Riyani hanya menurut saja apa yang dikehendaki Sanjaya . Setelah penis besar tamu Sanjaya  yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Liem kemudian menarik kedua putting payudara Riyani sehingga posisi badan atas Riyani meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Riyani dengan ganas,
dan aku melihat Riyani melayaninya. Lidah Riyani dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Riyani dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Riyani , sehingga sekarang posisi Riyani terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.
Mata Riyani terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Riyani . Tidak ada lagi penolakan dari Riyani , bahkan Riyani turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou.
“Lihat, istrimu yang alim dan berjilbab itu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar dan kamu dipenjara karena hutang 4 milliar itu, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Sanjaya  kepadaku.
“Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Riyani disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Sanjaya  kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Riyani melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Riyani mengalami orgasme. Setelah Riyani mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Riyani . Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Riyani , Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Riyani diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Riyani , sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Riyani dari atas. Lam dan Kong
dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Riyani . Riyani terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Riyani bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Riyani kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Riyani kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Riyani menciumi bibir Kong dengan
ganasnya.
Lidah Riyani terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Riyani bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Riyani , sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Riyani . Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Riyani masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Riyani dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Riyani yaitu mulut, vagina dan anus Riyani harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat
juga Riyani melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Riyani duduk di atas Sanjaya  yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Sanjaya  pada vagina Riyani , sedangkan Kong asyik menggenjot anus Riyani dari belakang. Secara bersamaan mulut Riyani menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Riyani sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Riyani sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Riyani istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Riyani . Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Riyani . Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Riyani , juga demikian di bibir mulut Riyani , namun mereka terus
bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.
Hari sudah siang ketika Riyani dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Riyani berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Sanjaya  dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Riyani istriku yang berjilbab dan alim. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Riyani baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Riyani baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Boleh dibilang Riyani tidak sempat berpakain, hanya jilbab lebarnya yang setia menempel di kepala. Aku melihat Riyani berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Riyani untuk
mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Riyani terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Riyani disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Riyani sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar. Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Riyani , namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Riyani .
Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Riyani kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani tidak boleh dilepas, mulai sekarang Riyani hanya diperbolehkan memakai jubah dan jilbab saja. Tidak boleh memakai BH serta celana dalam, setiap hari Riyani harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Sanjaya , Riyani harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Riyani , aku hanya boleh dioral saja oleh Riyani dan kapanpun Sanjaya  dan teman-temannya memanggil Riyani atau datang ke rumah kami, Riyani harus siap melayani. Riyani hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Sanjaya  sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu. Budak seks berjilbab yang alim dan anggun.Istriku Menjadi Budak Seks 2
Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Riyani masih menuruti instruksi yang diberikan Sanjaya  sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Sanjaya  akan meneruskan aksinya terhadap Riyani . Di kantor tempatku bekerja Sanjaya  tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Sanjaya  dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Sanjaya  menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Sanjaya  hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Riyani tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah.
Setiap Riyani melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Riyani ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam jubah majikan perempuannya, mereka juga sering melirik dada Riyani yang berguncang ketika berjalan. Namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa.
Di rumahku aku dan Riyani mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Riyani , terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Riyani . Riyani di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, semua BH dan celana dalamnya sudah aku bakar habis, hal itu sesuai dengan instruksi Sanjaya . Ada
rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Riyani mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Riyani menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Riyani menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Sanjaya . Sanjaya  akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…

*******************************
Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Sanjaya  menelepon Riyani tadi malam, Sanjaya  tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Sanjaya  memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Sanjaya  pada istriku tadi malam, namun Sanjaya  tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Riyani siang ini. Sanjaya  memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Riyani . Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Sanjaya  meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Sanjaya  akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Sanjaya  kembali
ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Riyani . “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Riyani tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Sanjaya .
“Harto, tenang saja, Riyani tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Sanjaya  terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku.
“Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Sanjaya  kemudian lalu menutup Hp itu.
Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Sanjaya  masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Sanjaya  di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Sanjaya  kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Sanjaya , aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera.
Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Sanjaya  masih berada di depan rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Sanjaya ?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Sanjaya  di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Riyani . Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sanjaya  memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Sanjaya . Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20
tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Sanjaya  memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Sanjaya  adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Sanjaya  berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Sanjaya  yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Sanjaya  dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak.
“Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Riyani itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku.
“Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Sanjaya  kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.
“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Sanjaya  kepada istriku” pikirku kalut dalam hati.
Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Riyani tidak berada di kamar itu. Rupanya Riyani sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Sanjaya  tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Riyani di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Sanjaya . Setelah beberapa menit, Riyani keluar dari kamar. Riyani menggunakan jilbab putih yang tersampir di pundaknya. Riyani terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar.
Mukanya terlihat malu. Ia menyadari penampilannya yang aneh, berjilbab tapi bagian bawahnya telanjang bulat.
“Riyani segera siap-siap sesuai perintahku” kata Sanjaya  kepada Riyani memecah keheningan kamar. Riyani hanya menggangguk menurut.
Melihat anggukan Riyani , Sanjaya  kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Riyani sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Sanjaya  menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Sanjaya  dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Riyani turun dari lantai atas. Riyani sudah mengenakan make-up dan berdandan dengan sangat cantik, namun Riyani tidak mengenakan pakaian apapun juga, kecuali jilbabnya. Riyani turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Riyani terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang.
Sesampainya di ruang TV, Riyani langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Sanjaya  dan Peter. Terlihat Riyani sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu.
“Nah, Riyani , setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Riyani .
Riyani yang ditanya hanya mengangguk pelan.
“Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Sanjaya  kepada Riyani.
“Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Sanjaya  kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Sanjaya  yang menunggu diluar.
Mendengar apa yang dikatakan Sanjaya , Riyani dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.
“Maaf Pak Sanjaya , kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Sanjaya .
“Ya terserah kamu Harto, apakah kau tidak ingat dengan rekaman dan surat kesepakatan kita?” jawab Sanjaya  kalem.
Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Riyani untuk menanyakan pendapatnya. Riyani hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya.
“Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa.
Melihat Sanjaya  dan Peter bangkit dari sofa, Riyani segera berlutut dan meraih paha Sanjaya .
“Ampuun Pak Sanjaya , saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Riyani mengiba kepada Sanjaya .
“Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
“Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Sanjaya  tegas.
“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Sanjaya  dimulai.
Pada hitungan ke delapan, Riyani bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Riyani menuju menuju pintu kamar kedua pembantunya. Kepalanya dilongokkan ke kamar mereka. Jilbab putihnya diturunkan sehingga kedua pembantunya tidak langsung melihat kalau majikan perempuan mereka yang alim dan selalu berjilbab memanggil mereka dalam keadaan telanjang.
“Pak Sudin….Pak Amir…” suara Riyani bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku.
“Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari dalam kamar.
“Tolong Pak Sudin dan Pak Amir menyusul saya ke ruang TV” lanjut Riyani masih dengan suara bergetar menahan tangis dan rasa malu yang luar biasa.
“Baik bu” jawab Sudin kemudian.
Mendengar itu, Sanjaya  segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah.
“Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Sanjaya  kepada anaknya.
Riyani telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV.
“Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya yang tiap hari selalu berjubah lengkap dengan jilbabnya berdiri dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV. Jilbab putihnya masih menutupi kepalanya, sementara payudaranya terlihat menggantung indah karena Pak Sanjaya menyuruh Riyani untuk menyampirkan jilbabnya ke pundak.
Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Riyani . Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.
“Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Sanjaya  tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu.
Mendengar kata-kata Sanjaya , Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Sanjaya , namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Riyani seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Riyani .
“Riyani , hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Sanjaya  dengan keras kepada Riyani .
“Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Riyani terbata-bata sambil menahan tangisnya.
“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah mengijinkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Sanjaya  terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV “Saya ingin membuat film tentang pelacur cantik yang alim dan berjilbab lebar”
“Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Sanjaya  kemudian kepada Kisno supirnya.
“Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Riyani .
Kemudian Kisno menjambak jilbab Riyani dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Riyani terdongak ke atas.

“Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri, apalagi yang alim dan berjilbab seperti ini, tentu nikmat sekali…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Riyani . Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Riyani . Melihat Riyani hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Riyani . Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
“Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Riyani .
Riyani yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa.
“Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Riyani sambil melepaskan jambakannya pada jilbab Riyani .
Riyani meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Riyani pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Riyani dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Riyani dan mengobok-obok mulut Riyani sampai-sampai Riyani kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Riyani beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Riyani dengan mesra. Sudin sedikit menarik Riyani dari Kisno dan Amir, sehingga Riyani dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Riyani , Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Riyani dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Riyani . Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Riyani , Sudin
menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Riyani . Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Riyani itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Riyani dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Riyani dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Riyani .
“Eegghhh…” terdengar erangan kecil Riyani ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya.
“Suka?” tanya Sudin kepada Riyani sambil melepaskan ciumannya pada Riyani . Riyani tidak menjawab, dia hanya diam saja.
Melihat Riyani hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Riyani dengan sedikit keras.
“Egghh….” terdengar erangan Riyani sedikit mengeras.
“Suka?” tanya Sudin lagi kepada Riyani dengan sedikit tegas.
Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Riyani mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin.
“Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Riyani dari Sudin.
“Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Riyani kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin.
“Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Sanjaya  dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Riyani .
Kini Riyani yang telanjang bulat dan hanya memakai jilbabnya dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Riyani mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Riyani kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Riyani melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada
keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Riyani , namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Riyani menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya.
“Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Riyani .
“Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Sanjaya  khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa.
Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Riyani ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Riyani dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani . Riyani dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Riyani dengan cepat sampai Riyani tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Riyani dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Riyani ke arah penis Amir. Riyani mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Riyani . Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan
menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Riyani dan mengarahkan ke penisnya. Riyani seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Riyani dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Riyani juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Riyani yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus.
2 laki-laki itu yang sedang dilayani Riyani adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Riyani . Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Riyani kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Riyani langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Riyani kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya
bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Sanjaya  yang sedari tadi asyik merekam adegan Riyani dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Riyani untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Riyani juga diperintahkan oleh Sanjaya , untuk melakukan deepthroat pada ketiga penis itu, yaitu memasukkan penis mereka sampai mentok ke pangkalnya sehingga kepala penis masuk sampai ke tenggorokkan Riyani melewati amandelnya. Perintah ini dipenuhi oleh Riyani dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Sanjaya meng close-up adegan ini, baginya hal ini sangat menarik, seorang wanita canti dan berjilbab mendeepthroat penis. Wajah Riyani jadi terlihat sangat merangsang. Riyani menuruti semua instruksi Sanjaya  meskipun terlihat beberapa kali Riyani merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Riyani
menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Riyani , muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai membasahi tubuh, wajah dan jilbab Riyani. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Riyani sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Riyani yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Riyani mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.
“Good…good….telan semua ya….” perintah Sanjaya  seakan-akan tahu apa yang akan terjadi.
Riyani tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan semuanya oleh Riyani. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Riyani berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Riyani . Terakhir adalah giliran Kisno. Riyani menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Riyani mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Riyani berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Riyani dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga
perlu waktu yang cukup lama bagi Riyani untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani . Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Riyani , Kisno kembali menjambak jilbab Riyani dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Riyani terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani dengan kasar.
“Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Riyani .
Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Riyani ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Riyani yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel kecil itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Riyani di vaginanya.
Riyani didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Riyani sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Sanjaya  memberi isyarat kepada Riyani untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Sanjaya  menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Riyani . Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Riyani di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa.
Riyani tidak menjawab apa-apa. Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Riyani dengan sedikit ragu menurutinya. Riyani membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Riyani pada awalnya tidak mau menuruti perintah Sanjaya , namun setelah diancam oleh Sanjaya , Riyani pun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Riyani , Sanjaya  memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Riyani dan mulai menjilati paha dalam Riyani dan terus ke vagina Riyani . Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Riyani , terlihat tubuh Riyani sedikit menegang
menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Riyani meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Riyani tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya.
“Riyani , ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Sanjaya  sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Riyani yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus.
Riyani menuruti apa yang dikatakan oleh Sanjaya . Riyani mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Riyani , Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Riyani . Riyani dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Sanjaya . Sanjaya  kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Riyani yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Riyani sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Riyani , nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Riyani
terangsang hebat. Tubuh Riyani makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Riyani menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Riyani sudah membuat Riyani mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Riyani tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Riyani mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya.
“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Riyani tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Riyani yang cantik dan berjilbab putih. Riyani yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya.
Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Riyani akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Riyani , gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Riyani dengan keras.
“Aoouuuccch……..!!!” teriak Riyani keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu.
Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Riyani , namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Riyani kembali, dan bagi Riyani setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Riyani pun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Riyani ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , sehingga Riyani hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Riyani penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Sanjaya  segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Riyani , sehingga dengan
kedua tangan yang dipegang Peter itu, Riyani tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Riyani diperlakukan demikian oleh Kisno. Riyani nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya.
“Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Riyani pelan kepada Kisno berulang-ulang.
Mendengar itu Sanjaya  kembali tertawa lebar dan berkata “Riyani , kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!”
“Kamu kalau mau orgasme harus mohon ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Sanjaya , bolehkah saya orgasme?”
Permohonan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Sanjaya , biarkan saya yang membuatnya orgasme”.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Riyani bisa melayani kalian berdua sekaligus”
“Riyani , kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Sanjaya  setengah memerintah kepada Riyani .
Mendengar itu, Riyani dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Riyani kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan.
“Pak Amir…sini..” desah Riyani setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya.
Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Riyani . Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Riyani yang mungil dan mulus itu.
“Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Riyani ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Riyani ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Riyani berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Riyani sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Riyani . Mata Riyani memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Riyani untuk memberikan kesempatan pada Riyani membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Riyani dengan keras, cepat dan kasar. Riyani yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya
genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Riyani dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Riyani yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak
orgasme, badan Riyani melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet.
Tidak seperti Riyani , Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Riyani , masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Riyani malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Riyani yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Sanjaya  dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Riyani hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Riyani hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Riyani dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Riyani hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali
penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Riyani hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Riyani dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Riyani . Riyani secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Riyani hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Riyani makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Riyani hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Riyani sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih.

TERPERANGKAP JEBAKAN

“TOLOL!!” emosiku meledak, aku berdiri dari sofa lusuhku dan menghampiri seorang anak muda yang berdiri di hadapanku. Dia tampak sangat ketakutan, bahkan bisa kulihat kakinya gemetar. Bagus. Aku menamparnya dengan sangat keras hingga dia terjatuh.

jilbab manis-nia (1)

“Lu setor duit dua rebu, buat APA?! Lu pake boker aja kaga bisa!!” aku menarik kerah baju lusuhnya, dan memaksanya berdiri. “Udah gue bilang, jurus pura-pura sakit lo tuh murahan! Mana ada orang yang mau beli jam kaya tai gitu ratusan rebu?! Pake otak, njing!” aku mendorong Totok hingga mundur beberapa langkah.

“Ma-maaf, Bang.” Totok menjawab terbata-bata. “Gue kira dia bakalan ngasih duit yang gedean, perempuan kan biasanya pada baik, Bang.”

“Baik? Lu pikir dia emak lo?! Goblok banget punya anak buah kaya elu, Tok!”

Totok menundukkan pandangannya sambil meremas bajunya, “Maaf, Bang. Gue kan anak baru disini, Tapi, kalo Abang mau, coba aja Abang yang kesono. Dia cantik banget, Bang, kaya bidadari.”

“Ga usah nyuruh-nyuruh gue! Gue ajarin cara malak orang yang profesional kaya apa. Lo liatin yang bener! Ambil ilmunya! Ga ada lagi gue denger lo pake modus pura-pura HIV lagi!”

Aku beranjak dari hadapan Totok sambil melepas bajuku. Lalu mencoba mencari pakaian yang sedikit rapi dan mengenakannya, tidak lupa aku mengambil sweater converse abu-abu khas anak muda di belakang pintu keluar dan juga tas selempang yang biasa kupakai untuk kuliah. Dengan semprotan halus parfum mahal ‘spesial’ di beberapa bagian tubuhku, aku siap memangsa target favorit buruanku. Wanita muda yang lagi sendirian.

Tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat yang ditunjuk Totok, trotoar tempat dia ‘beroperasi’ hanya berjarak sekitar 25 meter dari rumah kontrakanku. Yah, sebetulnya tempat itu bisa dibilang sebagai markas juga. Karena bagian belakang halaman rumah ini kugunakan untuk mengatur segala aktivitas kriminalku. Belum lagi letaknya yang berada di ujung jalan dan tanpa bangunan lain di sekitarnya menjadikan rumah ini sangat cocok dijadikan tempat bersembunyi dari bisnis haramku. Copet, jambret, hipnotis, penipuan, ngamen, penculikan, perkosaan. Sebut saja semuanya satu-persatu. Hampir pasti semua kegiatan kriminal di daerah ini melibatkanku. Sosok yang disegani di daerah ini karena pengaruhnya yang sangat besar dalam segala hal yang tidak menyenangkan. Tidak ada yang tidak mengenalku di daerah ini. Seorang anak tunggal dari penguasa Tanah Abang.

Aku menyulut rokok mild dan menghisap asapnya dalam-dalam. Suasana tempat ini selalu sepi pada jam malam seperti ini. Kalau tidak terpaksa, sepertinya orang-orang akan memilih jalur lain yang lebih terang untuk hanya sekedar lewat. Kecuali jalan raya di depan sana, sampai kiamat pun sepertinya akan selalu ada mobil yang melintas.

Tidak begitu jauh di depan, aku melihat seorang wanita berparas cantik berpakaian ala wanita karier, jilbab lebar membungkus wajahnya yang oval. Persis seperti yang dideskripsikan Totok. Sepertinya dia sedang menunggu jemputannya, tidak, angkutan kota mungkin lebih tepatnya. Tidak mungkin seseorang menjemputnya di tempat seperti ini. Aku tersenyum melihat targetku ternyata lebih menggiurkan daripada yang bisa kubayangkan. Berbagai macam modus melintas di benakku, dan jujur saja, aku kebingungan memilih-milih cara yang cocok untuk menjerat mangsa yang menggairahkan ini.

jilbab manis-nia (2)

Untungnya suasana sekitar sangat mendukung. Sekilas aku menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang. Aman. Aku mempercepat langkahku ke arah wanita itu dan berhenti sekitar tiga meter di depannya agar dia tidak curiga. Aku menangkap matanya melirik ke arahku sekilas. Dengan cepat aku melemparkan senyuman terbaikku. Dia membalasnya sedikit. Cih.

Aku berdiri agak lama, mungkin sekitar 15 menit. Berpura-pura menunggu angkutan kota dan melihat jam tanganku berulang kali. Dan aku bisa melihat dari sudut mataku, wanita itu melakukan hal yang sama. Tidak salah lagi, dia menunggu angkutan kota yang melintas. Saat ini aku tertawa terbahak-bahak di dalam hatiku. Mengetahui bahwa pada jam ini angkutan kota yang melintas sangat jarang sekali. Kalau pun ada, tidak mungkin ada tempat yang kosong.

Aku menunggu umpan yang akan dilemparkan wanita itu padaku, apapun bentuknya, aku akan menyambut dan memanfaatkannya. Tidak lama kemudian wanita itu menghela nafasnya sambil berdecak tidak sabar. Aku tersenyum lagi, dia baru saja memasang umpannya. Dengan kilat aku memikirkan siasat licikku. Tidak lupa dengan analisa terbaik dan terburuk yang akan kuhadapi. Dan saat ini, hampir pasti aku bisa menjerat wanita itu ke dalam rencanaku. Tentu saja dia tidak melihat senyumanku. Tinggal sedikit lagi.

Aku membungkuk untuk sedikit memijit kedua kakiku yang terasa agak pegal. Aku juga meregangkan kaki dan tanganku sebentar hingga mengeluarkan bunyi yang khas dari persendian tulangku. Oh, asal kau tahu, aku melakukannya dengan sebuah tujuan.

Tidak lama Kemudian wanita itu mulai memijit kedua kakinya, dan membungkuk sedikit ragu-ragu. Berhasil!. Tanpa disadari, dia baru saja melemparkan umpannya padaku. Dengan senang hati aku akan menangkapnya. Dasar Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aku menoleh sedikit ke arahnya dan membuka percakapan, “Dari tadi ya, mbak? Duduk aja. Saya juga pegel nunggu angkot 09, lama banget.”

jilbab manis-nia (3)

Wanita itu menatapku dan tersenyum sedikit, “Oh, nggak kok, Mas.” Dia menghentikan pijitannya dan berpura-pura membersihkan rok panjangnya yang berwarna gelap.

Aku belum bisa masuk ke zona amannya, jadi aku berjalan ke arahnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, aku duduk di sisi trotoar. Menghadap ke jalan raya, tepat di sampingnya. “Udah, santai aja, Mbak. Saya temenin duduknya disini. Saya aja pegel, masa mbak nggak?”

“Eh..” wanita itu sedikit kaget dan terdiam sekitar 3 menit sebelum akhirnya dia ikut duduk di sampingku dengan jarak yang terpaut 1 meter.

Dua hal yang kuanalisa dari keragu-raguannya. Pertama, dia takut berdekatan denganku, pria yang bukan muhrimnya. Kedua, dia merasa tidak nyaman. Tapi aku yang duduk diam disampingnya secara tidak sadar telah membuatnya merasa lebih aman. Belum lagi otot kaki dan pinggangnya kurasa sudah tidak bisa meregang lebih lama dan berteriak-teriak meminta istirahat dari tadi.

Aku biarkan dia menganalisa diriku sebentar. Memberinya waktu untuk menyesuaikan diri di situasi yang aneh ini. Dengan dandanan anak kuliahan seperti ini, besar kemungkinan dia tidak mencurigaiku. Didukung dengan parasku yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa aku adalah orang yang berbahaya. Dan jangan lupakan parfum berbau halus yang kusemprotkan tadi akan membuat nyaman siapapun yang berada di dekatku. Terutama wanita.

“Malem-malem gini angkotnya udah susah banget, Mbak.” aku menyulut rokokku dan menunggu tanggapannya.

Hening. Dia mengacuhkanku. Brengsek! Wanita congkak!

“Kalau ibu saya ga sakit, ga akan deh saya maen kesini malem-malem.” aku melancarkan serangan tambahan. Kali ini aku menolehkan wajahku padanya, meminta dia menjawab pernyataanku secara langsung.

jilbab manis-nia (4)

“Kalau lagi sakit, kenapa ibunya ditinggal?” akhirnya wanita itu angkat bicara. Meskipun dia sama sekali tidak menatapku, Itu sudah lebih dari cukup.

“Besok saya ada ujian pagi-pagi. Kalau ga pulang ke kosan sekarang, saya pasti ga bisa ikut ujian besok, Mbak.” aku menghisap rokokku dalam-dalam. “Untungnya di rumah ada adek yang bisa jaga ibu. Tadi juga saya kesini ditelepon dia, katanya ibu step lagi.”

Aku berhasil mencuri sedikit perhatiannya. Kali ini aku bisa melihat sorotan matanya yang penuh dengan pertanyaan.

“Emang adiknya umur berapa?” wanita itu berkata dengan intonasi yang dibuat-buat. Mungkin maksudnya ingin terlihat stay-cool, namun tampaknya tidak berhasil.

“Sembilan tahun. Sekarang dia sendirian jaga ibu, rumah saya keliatan kok dari belokan di depan.” aku menunjuk dengan rokokku ke arah rumah kontrakanku. “Kasian, dia jadi begadang terus.”

“Sakit apa ibunya?”

“Kanker otak.”

Wanita itu terlihat sedikit tercekat, dan kurasa sekaranglah saat yang tepat. Semua persiapan sudah matang. Hanya tinggal sandiwara penutup yang harus dilakukan dengan sempurna.

Handphoneku berdering, alarm berbunyi nada telepon yang kupasang saat aku menunggu tadi. Aku berpura-pura kaget sekaligus panik. Dengan cepat aku merogoh saku depan sweaterku dan mengangkat teleponnya. “Ada apa, Dek?” Aku diam sesaat sebelum kemudian membelalakkan mataku. “Sa-sabar ya, Dek, mas kesana sekarang, jangan panik!!”

jilbab manis-nia (5)

Aku menutup teleponku dan berusaha membuat wajahku terlihat sekacau mungkin. “Ibu… meninggal!!”

Aku berlari sekencang mungkin meninggalkan wanita itu dengan wajahnya yang keheranan. Dan bisa kudengar di kejauhan dia memanggilku dengan lantang. Tentu saja dia memanggilku, karena aku meninggalkan tas kuliahku dengan sengaja di sampingnya. Inilah yang kusebut pertaruhan yang sebenarnya. All in!!

Kalau kalkulasiku benar, wanita itu akan mengejarku. Dia tidak akan tega untuk mengacuhkan tas berisi buku kuliah di sisi jalan. Dan dompet di dalamnya yang berisi uang tiga ratus ribu lengkap dengan fotoku adalah sebuah alibi, yang akan membuatnya mempercayaiku dan tidak akan mencurigaiku. Perfect!

Aku sampai di rumahku, dengan nafas terengah-engah aku mencari cairan berwarna hijau yang terakhir kuingat terletak di kotak obat. Aku segera menuangkan cairan pembius berbau menyengat itu ke atas saputanganku, Chloroform.

Aku bisa merasakan adrenalinku meningkat drastis. Aku sangat menyukai permainan seperti ini. Lebih menyenangkan sekaligus menggairahkan, saat ini aku tidak ambil pusing jika dia mengambil tasku dan kabur. Peduli setan!. Toh anak buahku bisa mengejarnya dengan motor jambretnya.

Aku mengintip melalui kaca ke arah jalan di luar. Dan seketika perasaanku membuncah bahagia luar biasa, ketika aku melihat sosok wanita itu menghampiri rumah ini dengan setengah berlari. Dia menggendong tas kuliahku. Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Wanita bodoh!

Dengan sedikit ragu-ragu wanita itu mulai masuk pekarangan rumahku, mengucapkan permisi beberapa kali sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam rumah ini. Dan saat itulah aku yang bersembunyi di balik pintu membekapnya dengan sapu tangan berisi obat bius itu tanpa ragu.

jilbab manis-nia (6)

Dia meronta, sangat kuat. Tapi aku yang menguasai keadaan. Aku yang berkuasa disini. Aku yang memainkan permainan ini. AKU!!

Tidak lama wanita itu lunglai. Tubuhnya menyerah pada kekuatan obat bius yang terlalu banyak dihisapnya. Nafasku makin memburu melihat sesosok wanita cantik tergeletak tak berdaya di hadapanku. Aku menyeret tubuh wanita itu ke dalam kamarku dan mengunci pintunya di belakangku.

Tanpa membuang waktu, aku melempar badan wanita itu ke atas kasur dan mengikat semua tangan dan kakinya di keempat tiang di pojokan kasur. Aku mengambil pisau besar Rambo di atas lemari, dan mulai merobek pakaian wanita itu perlahan-lahan, mencoba membuat potongan baju yang hanya ada pada bayangan terliar seorang lelaki yang diburu nafsu, kusisakan jilbab birunya tak tersentuh.

Wanita itu mengerang lemah, sebuah tanda dia akan segera siuman. Aku duduk di sampingnya, membuka sumpalan di mulutnya dan memandangnya sebentar, lalu mencium bibirnya lama. Kemudian aku menghirup habis setiap aroma keringat bercampur parfum yang sangat khas dari tubuhnya.

Ketika aku mengusap rambutnya yang hitam, dia terbangun. Aku mengelus pipinya perlahan, mencoba membuatnya tenang. Dia yang baru menyadari situasinya terancam mulai meronta-ronta lebih gila dari sebelumnya.

“LEPASKAN AKU!!” wanita itu berteriak. “TOLONGG!! TOLOOONGG!!”

“Ssstt, jangan berisik ya…”dengan perlahan aku menempelkan sisi pisau yang bergerigi di atas bibir mungilnya yang berwarna merah muda. Aku tidak ingin merusak bibir yang sempurna itu.

“BANGSAT KAMU!!” diluar dugaanku, dia mengibaskan kepalanya dengan berani, dan meludahiku. Tepat di wajahku. Dia bergidik ketika aku menjilat ludahnya yang menetes ke mulutku.

jilbab manis-nia (7)

Saat ini semua hal yang dilakukannya hanya akan membuatku semakin bergairah, nafsuku memuncak, ke-tidak berdayaannya semakin membuatku ingin melumatnya habis. Aku melepas pakaianku dan duduk di atas pinggangnya, aku hanya tersenyum melihatnya yang terus menerus berontak sambil mengucapkan semua sumpah serapah terkasar yang ada di dunia ini.

“Jangan ngomong kasar dong, Sayang!” aku kembali menempelkan ujung pisauku pada bibirnya.

“BAJINGAN KAMU!! LEPASKAN AKU KALO BERANI, DASAR BENCONG PENGECUT!!” wanita itu bergidik melihat apa yang akan menimpanya, tapi sama sekali tidak bisa menghindar, ia tidak punya waktu untuk menghindar. Telapak tanganku sudah melayang menghajar mukanya yang sebelah kiri.

”AUW!!” wanita itu tersentak, ia menjerit, lebih banyak karena terkejut daripada karena sakitnya tamparanku.

Kujambak rambutnya yang tertutup jilbab, sementara tanganku yang lain menarik bagian atas blusnya hingga bisa kulihat tonjolan buah dadanya yang bulat besar. Kuremas-remas sebentar sambil tak lupa kupilin-pilin putingnya yang mungil kemerahan saat aku kembali mengancam, “DIAM, ATAU KUBUNUH KAU!!!” kataku keras.

Wanita yang terlihat semakin hot di penglihatanku itu masih berusaha melindungi dirinya dengan mendorong tanganku menjauh ketika aku sedang meremas salah satu gundukan buah dadanya. Dia rupanya gigih juga bertahan. Geram, langsung saja kutarik lagi jilbabnya, kujambak rambutnya yang terikat melingkar di belakang. Wanita itu mengerang kesakitan, tatapan panik dan ketakutan tampak di matanya yang bulat ketika ia menatap mataku. “Jangan, jangan!” teriaknya parau.

Aku tampar dia sekali lagi, lebih keras dari yang tadi, suara jeritannya terdengar merdu sekali di telingaku ketika kepalanya terlempar ke samping, sementara tanganku masih menjambak jilbabnya yang kini mulai terlihat kusut dan acak-acakan.

jilbab manis-nia (8)

“Jangan berisik!” aku menghardiknya, jerit kesakitan dan ketakutannya bagaikan musik di telingaku, “Tutup mulut kamu!” ancamku.

“Le-lepaskan aku!!” sahutnya dengan suara gemetaran karena shock akan kejadian yang tengah menimpanya. Untuk ukuran orang yang baru mengalami penyiksaan, dia cukup tegar juga.

“Le-lepaskan aku! Kumohon!!” dia mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras.

Aku menggeleng, tentu saja itu tidak mungkin. Tubuh telanjangnya telah membiusku. Lihat, penisku yang menempel di kulit pahanya sudah ngaceng berat, masa mau kubiarkan begitu saja. Itu mubazir namanya.

“Tidak!!!” wanita itu memekik. “Mau ngapain kamu?” dia terkesiap saat dengan pelan kumasukan jari tengahku ke liang kemaluannya yang terasa hangat dan basah. Kukocok sebentar disana sebelum akhirnya kutarik keluar beberapa saat kemudian.

jilbab manis-nia (9)

“Ahh! Lepaskan aku! Kamu gila!!” jeritnya dengan tubuh menggelinjang ke kiri dan ke kanan. Kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang bergerak indah saat dia terus memberontak sambil kujilati jari tengahku yang penuh oleh cairan kewanitaannya. Hmm, rasanya gurih dan nikmat. Baunya juga harum sekali, aku menyukainya. Rupanya dia telaten juga merawat liang kemaluannya.

Tak sabar, segera kuletakkan batang penisku di mulut gerbang surgawinya. “Tidak! Jangan!!” wanita itu makin meronta dan memohon-mohon padaku. Dia tidak tahu, semakin dia memberontak, semakin aku terangsang untuk menyetubuhinya.

“Diam kamu! Dasar cerewet!!” tukasku dengan sembarangan. Sekali hentak, kudorong batang kemaluanku ke depan. Bless!! Tak sampai satu detik, tubuhku sudah menjadi satu dengan tubuhnya. Alat kelamin kami saling mengisi dan bersentuhan. Ugh, rasanya sungguh nikmat sekali.

“AAAH… setan kamu!!” wanita itu mengumpat, tapi kudengar ada sedikit nada kegelian dalam suaranya. Aku yakin, dia juga menikmatinya.

Segera kugoyang pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mulai mengocok-kocok liang kemaluannya. Aku menyetubuhinya. Kuperkosa dia dengan sesuka hati.

“Ahh… bajingan! Stop! Hentikan!!”

Semakin dia memaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya. Kembali kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang membulat indah sambil kugoyang pinggulku semakin cepat. Akan kubuat dia takluk dalam nikmatnya orgasme dan mengakui kejantanan yang kuberikan padanya.

“Mmmh… s-sudah! Jangan!!” dia masih berteriak-teriak memintaku untuk berhenti.

jilbab manis-nia (10)

“Diam kamu, jangan banyak omong!!” hardikku cuek. Sambil terus memompa liang kemaluannya, aku menunduk untuk menghisap puting payudaranya yang berwarna pink agak kecoklatan. Kuhisap benda mungil menggemaskan itu bergantian.

“Ohh… shhh!” rintihnya pilu. Dia menatapku dengan pandangan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang amat sangat akibat rasa nikmat yang ditahan.

Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan belati yang tergeletak di pinggir ranjang, aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terbebas, wanita itu sempat berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dan tangan masih terikat ke atas kepalanya. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya, membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. Aku terus menyetubuhinya, bahkan kini semakin terasa nikmat karenanya.

“Ahh… sudah! Hentikan! Ampun! Lepaskan aku!” dia memohon lagi, tapi kali ini suaranya tidak kasar seperti tadi, malah mulai terdengar mendesah karena geli. Nafasnya pun mulai sedikit memburu. Mungkin wanita itu sadar kalau sia-sia saja melawan, jadi dia mulai berusaha menikmati apa yang aku berikan.

Kusingkap jilbab lebarnya ke atas hingga aku bisa melihat batang lehernya yang mulus dan jenjang, kujilat lembut disana hingga ia makin tak mampu menutupi rasa geli dan nikmatnya. “Aduh! Sshh… udah dong! Hhh… ssh…” suaranya memohon, tapi diselingi desahan lirih yang menggairahkan. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan pelan. Tendangannya juga bukan karena memberontak, melainkan akibat menahan rasa geli dan nikmat yang kuberikan di sekujur tubuhnya.

jilbab manis-nia (11)

Aku menaikkan tempo dalam memompa liang kemaluannya sehingga tubuh wanita itu semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara desah nafasnya sudah sedemikian berat dan memburu.

“Uhh… uhh… sialan kamu! Aghh… uhh… uhh!” Wajahnya terlihat semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya yang tebal seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu kepadaku. Liang kemaluannya kurasakan mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku yang bergerak keluar masuk semakin cepat di liang kenikmatannya yang sudah basah total.

Saat itulah aku berbisik, “Gimana, nikmat bukan?” aku menggodanya. Tanganku kembali memijiti tonjolan buah dadanya yang bulat besar, benda itu terasa sedikit kaku sekarang.

Sambil mengatur nafas dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, wanita itu berkata, “Tidak… ba-bajingan kamu!” suaranya dibuat setegas mungkin, tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sangat menikmati perbuatanku.

jilbab manis-nia (12)

“Masa?” godaku lagi sambil terus menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk di liang kemaluannya yang terasa semakin basah dan membanjir.

Tampak dia ingin menjawab dengan wajahnya yang merah padam karena peluh, nafasnya yang berat terasa menerpa wajahku, tapi dia tidak jadi membuka mulutnya. Yang ada dia malah mendesah dan merintih semakin keras saat kugenjot pinggulku semakin cepat. “Hssh… hh… hh…” kakinya melingkar di kulit pahaku, seperti ingin meminta lebih dan lebih

Aku tersenyum saat melihatnya, dia sudah benar-benar jatuh ke dalam pelukanku, seperti korban-korbanku yang lain selama ini. Terus kuhujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, semakin lama semakin keras dan dalam, hingga…

”Ughh… hhh… ghh…” wanita itu dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya, berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah sangat berat dan ngos-ngosan. Pantatnya yang bulat mulai bergerak turun naik, mengimbangi genjotanku di atas tubuh sintalnya yang sudah mengkilat pasrah, ia sama sekali tak sanggup untuk menghentikannya. Di dalam, liang kemaluannya juga kurasa semakin berdenyut kencang dan menggigit kuat batang kemaluanku. Rupanya dia sudah hampir orgasme.

“Gimana, nikmat bukan?!”

Kata-kataku membuatnya tak mampu berpura-pura lagi. Mukanya mendadak memerah padam dan dengan setengah tersipu dia berbisik, “Ah, setan kamu! Uhh… uhh… tapi iya, memang enak ba… ughh!!”

Belum selesai ia berkata, aku langsung kembali menggenjotnya hingga ia kembali melenguh panjang. Rupanya perasaan malunya telah ditelan oleh kenikmatan yang kuberikan kepadanya.

“Ah iya… iya… terus… mmh… aah!!” dia tanpa sungkan-sungkan lagi mengekspresikan kenikmatannya.

Selama 15 menit berikutnya kami masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang di liang vaginanya, bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang begitu basah dan hangat. Tersungging senyum puas di wajahku. Senyum penuh kemenangan. Ah, sungguh hari yang sempurna. Aku merasa seakan-akan dipenuhi energi yang luar biasa sehingga sanggup untuk menyetubuhinya tiga kali lagi.

MAYYALA

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiters mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong, tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini, terlihat dari jilbabnya yang lebar dan baju panjang yang ia kenakan. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak juga. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya, ”Maaf, nona… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”

”Tidak!” jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

”Lantas untuk apa anda duduk di sini?”

”Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.

”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”

”Maksud, bapak?”

”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini.”

”Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual,“ kata wanita itu dengan suara lambat.

”Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

”Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”

”Saya ingin menjual diri saya!” kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam ke arah si petugas satpam.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan. ”Mari ikut saya,” katanya kemudian sambil memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah si petugas satpam. Tanpa ragu dia melangkah mengikuti laki-laki itu.

Di koridor hotel terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

”Apakah anda serius?” tanya petugas satpam.

”Saya serius!” jawab wanita itu tegas.

”Berapa tarif yang anda minta?”

”Setinggi-tingginya…”

”Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wajah si wanita.

”Saya masih perawan!” kata wanita itu, mengagetkan.

”Perawan?” sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini, pikirnya.

”Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”

”Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan… iya kan?”

”Kalau tidak terbukti?”

”Tidak usah bayar…”

”Baiklah,” petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

”Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.”

”Cobalah,”

”Berapa tarif yang anda minta?”

”Setinggi-tingginya.”

”Berapa?”

”Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa,”

”Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya…” petugas satpam itu berlalu dari hadapan si wanita.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah berseri. ”Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta lima juta rupiah. Bagaimana?”

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”

”Ini termasuk yang tertinggi,” petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

”Saya ingin yang lebih tinggi…”

”Baiklah. Tunggu disini…” petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama dia datang lagi dengan wajah lebih berseri. ” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Enam juta rupiah. Bagaimana?”

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”

”Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang enam juta rupiah, anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh.”

”Saya ingin tawaran tertinggi…” jawab wanita itu tanpa peduli dengan celoteh si petugas satpam.

Petugas satpam itu terdiam, namun tidak kehilangan semangat. ”Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong lepas jilbab anda agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli.” kata si petugas satpam dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu, tapi tetap mengikuti langkah laki-laki itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

”Ini yang saya maksud, Tuan. Apakah Tuan berminat?” kata petugas satpam dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh si wanita, ”Berapa?” tanyanya kemudian.

”Setinggi-tingginya,” jawab wanita itu dengan tegas.

”Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” kata pria itu kepada sang petugas satpam.

”Enam juta rupiah, Tuan.”

”Kalau begitu saya berani dengan harga tujuh juta untuk semalam.”

Wanita itu terdiam. Petugas satpam memandang ke arahnya, berharap ada jawaban bagus darinya. ”Bagaimana?” tanya si petugas satpam.

”Saya ingin lebih tinggi lagi…” kata wanita itu.

Petugas satpam tersenyum kecut.

”Bawa pergi wanita ini.” kata pria bermata sipit kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamarnya dengan keras.

”Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar-benar ingin menjualnya?”

”Tentu!”

”Kalau begitu mengapa anda menolak harga setinggi itu?!”

”Saya minta yang lebih tinggi lagi…”

Petugas satpam menghela napas panjang, seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya. ”Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.” kata petugas satpam.

Si wanita menurut.

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya, ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

”Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang dua puluh lima juta. Apakah itu tidak cukup?” terdengar suara pria itu berbicara. Wajahnya nampak masam seketika.

”Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita nggak ketemu. Ya, Sayang?” tambah si pria.

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian dilihatnya pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajahnya. Dengan tenang, petugas satpam berkata kepada Pria itu, ”Pak, apakah anda butuh wanita?!”

Pria itu menatap sekilas ke arah petugas satpam dan kemudian memalingkan
wajahnya.

”Lihat wanita yang duduk disana,” petugas satpam menujuk ke arah wanita berjilbab tadi. “Dia masih perawan…” jelasnya, tidak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

Si Pria mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ”Benarkah itu?” bisiknya.

”Benar, Pak.” petugas satpam meyakinkan.

”Kalau begitu, kenalkan saya dengan wanita itu…”

”Dengan senang hati. Tapi, Pak… wanita itu minta harga setinggi-tingginya,”

”Saya tidak peduli!” pria itu menjawab dengan tegas.

Petugas satpam segera mengantarnya. Pria itu menyalami hangat si wanita begitu mereka bertemu.

”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah…” kata petugas satpam dengan nada kesal.

”Mari kita bicara di kamar saja.” kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada si petugas satpam. Wanita itu mengikuti pria itu menuju ke kamarnya.

Di dalam kamar …

”Siapa nama kamu?” tanya si pria.

”Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar…” kata wanita itu.

”Sepuluh juta?”

”Lebih tinggi lagi,”

”Baiklah, lima belas juta. Itu penawaran terakhir dariku.”

Si wanita tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. ”Baiklah, saya setuju.”

Tersenyum, pria itu segera mengeluarkan setumpuk dari tasnya dan menaruhnya di meja. ”Ini bayaranmu. Sekarang, aku ingin mengambil hakku.” dia berkata sambil mendekati si wanita dan mulai merangkulnya.

”May.” wanita itu berkata saat si pria mulai mencium bibirnya. ”Namaku Mayyala.”

Laki-laki itu menghentikan ciumannya, dia memandangi wajah gadis muda yang ternyata bernama May itu dengan takjub. ”Namaku Bramantyo, tapi panggil saja Bram.” sambil berkata, tangannya mulai menggerayangi bagian-bagian tubuh May yang sensitif. Terutama payudaranya yang terlihat menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal meski tertutup baju panjang longgar.

May diam saja, dia tidak berusaha untuk menolak sentuhan Bram. Sesuai kesepakatan, dia sudah menggadaikan tubuh sucinya kepada laki-laki itu.

“May, gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu? Aku pengen gosok-gosokin punyaku ke punyamu,” bujuk Bram dengan tangan sudah meraba-raba selangkangan May.

May tersipu dengan gugup dan ragu-ragu, tapi setelah melihat tumpukan uang yang ada di atas meja, ia pun menurut untuk membuka celana dalamnya seperti yang diminta oleh Bram. “A-aku malu, Pak.” terdengar nada kuatir dari mulut manis May.

Bram yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkannya. “Tenang saja, aku tahu kalau kamu masih perawan. Tidak langsung kumasukkan kok, cuma sekedar kutempel-tempelkan.” jawab Bram sambil juga menurunkan celana dalamnya, memamerkan batangnya yang sudah setengah tegang kepada gadis itu.

May tersipu malu memandangnya. Ia pasrah saja saat tangannya diambil oleh Bram dan dibimbing untuk diletakkan di atas batang kemaluannya. Bram meminta May untuk memainkannya. Pelan May mulai mengocok batang itu meski dengan wajah kikuk. Ia nampak risih sekali karena baru kali ini melihat batang telanjang seorang laki-laki.

Keenakan menikmati kocokan gadis itu, sebelah tangan Bram terjulur untuk meremas-remas susu May yang bulat besar secara bergantian. Ia juga memainkan liang kemaluan May yang kini sudah tidak tertutup celana dalam. Diperlakukan seperti itu membuat May jadi memperlihatkan air muka khawatir, takut Bram akan segera menyetubuhinya dalam waktu dekat. Bram yang mengerti segera berusaha menenangkan gadis itu, kembali ia menyatakan kalau akan melakukan semua ini dengan pelan. Bram tidak ingin membuat May menjadi kesakitan.

”Aku hanya akan menggesek-gesek ujung kemaluanku ke celah vaginamu, itu tidak akan sakit.” kata Bram meyakinkan.

”Lalu kapan Bapak akan melakukannya?” tanya May, tetap terlihat khawatir.

”Kalau kau sudah siap.”

”Kapan itu?”

”Kita akan mengetahuinya sama-sama.”

Kocokan May terasa cukup enak bagi Bram, hingga meskipun penasaran untuk berlanjut lebih jauh, ia akhirnya bisa juga ejakulasi di tangan gadis itu. Air maninya tumpah menyembur-nyembur di wajah cantik May yang masih tertutup jilbab. Meski agak kaget saat awal-awal menerimanya, tapi May tetap berusaha untuk diam. Ia tidak ingin membuat Bram yang sudah membayarnya mahal-mahal, menjadi kecewa.

“Huff, pinter kamu, May…” kata Bram memberi pujian, dengan gemas ia menyusupkan salah satu tangannya ke bukit kemaluan May yang berbulu jarang dan mengusap-usap lembut disana.

May mengangguk malu-malu, tapi dalam hati senang juga karena sudah berhasil membuat Bram melenguh puas. Kini laki-laki itu memintanya untuk menaikkan baju panjangnya hingga ke pinggang, membuat Bram jadi lebih leluasa untuk bermain-main di liang kemaluannya yang terkuak lebih lebar. Diperlakukan seperti itu, May pun jadi tergoda. Secara otomatis tangannya terjulur untuk memegangi kemaluan Bram yang masih melemas dan kembali mengocoknya hingga tak lama, benda itupun menjadi tegang kembali. Saat itulah May segera menghentikan kegiatannya.

“Lho, kenapa nggak diterusin?” tanya Bram heran.

“Nggak ah, nanti Bapak jadi muncrat lagi.” jawab May tersipu.

“Emang kenapa? Kamu jijik ya?” Bram kembali memainkan liang kemaluan May dengan tangannya.

“Emm, bukan.”

“Lalu apa?”

“Itu…” May menunduk, tak mampu menatap wajah Bram. ”A-apa Bapak… tidak ingin… memakai… milik May?!” tanya May lirih.

Bram tertawa. ”Tentu saja, Manis. Rugi dong aku bayar mahal-mahal kalau tidak bisa merasakan punyamu ini!!” seru Bram sambil menekan memek May gemas, yang ditekan jadi semakin malu karenanya.

“L-lakukan, Pak. Saya sudah siap!” kata May lirih dengan muka masih tetap menunduk.

Bram tersenyum penuh pengertian. “Tidak sekarang, aku masih ingin merasakan kocokan tanganmu. Ayo, lakukan lagi!” pintanya sabar.

Tidak membantah, May segera meraih kembali penis Bram dan mulai mengocoknya lembut. Setelah ditumpahi sperma oleh laki-laki itu, May jadi sedikit lebih berani. Rangsangan demi rangsangan yang mereka lakukan membuat birahi keduanya mulai naik tidak terkendali. Bram segera membuka seluruh bajunya, ia telanjang bulat di depan May. Manja ia menaruh kepalanya di dada gadis itu.

“Pak, kena susu saya tuh!” tegur May tanpa nada marah sedikitpun.

“Iya, enak banget, May… susumu empuk.” sahut Bram sambil menekan kepalanya lebih keras, merasakan betapa kenyal dan padatnya benda itu. May diam saja.

Merasa diberi jalan, Bram segera mengangkat kepalanya dan menyambar bibir tipis May yang berwarna merah dan langsung melumatnya dengan begitu rakus. “Ehmm… mmmh…” terdengar keluhan nikmat keluar dari mulut May.

“Ah, Bapak nakal… mau nyium nggak bilang-bilang.” seru May saat Bram melepas pagutan lidahnya.

Tidak menjawab, Bram cuma tersenyum pada gadis itu. Malah tangannya kini terjulur untuk meremas-remas lagi buah dada May yang bulat padat dari balik kaos merahnya yang terlapisi oleh jilbab putih. ”Berapa ukurannya?” tanya Bram penasaran, merasakan betapa dada May memenuhi seluruh telapak tangannya.

”34C, Pak!” jawab May malu-malu, saat itu Bram mulai menarik bajunya ke atas hingga terlihatlah BH berwarna pink miliknya, ada bordiran berbentuk bunga di cupnya yang sebelah kiri.

”Wuih, putih sekali susumu, May. Montok banget!” seru Bram begitu BH May terlepas. Ia tak berkedip memandangi buah dada May yang tumbuh ke depan, sama sekali tidak kelihatan kendur seperti layaknya wanita yang sering ia tiduri. Tanpa membuang waktu -seperti kucing kehausan yang dikasih susu- langsung saja Bram menjilatinya. Dia pilin-pilin puting May yang mungil kemerahan dengan lidahnya sambil sesekali menghisapnya mesra.

“Sshh… geli, Pak! Ughhh…” May tentu saja mendesah menerimanya. Tubuhnya langsung menggelinjang saat bibir nakal Bram menggelitik bulatan payudaranya yang masih perawan, yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh laki-laki. Wajahnya berubah jadi memerah, entah karena malu atau karena nikmat.

Kontol Bram langsung tegang sempurna begitu melihat May mendesah-desah dengan wajah polosnya. Dia segera menyuruh gadis itu agar melepas bajunya, juga jilbabnya, sembari tangannya tak henti-henti meremas buah dada May yang bulat padat. Ketika bajunya sudah terlepas, Bram melongo, air liurnya sampai menetes dari sudut bibir saat memandangi body May yang mulus sempurna, putih sekali, dengan kulit bersih yang halus mengkilat. Di mata Bram, May bagai bidadari surga yang turun ke bumi. Tak tahan lagi, dia pun segera mendorong gadis itu agar rebah di ranjang. May pasrah saja menerimanya, sebagai pengalaman pertamanya, dia masih bersikap pasif. Biarlah Bram saja yang menentukan langkah selanjutnya, May akan mengikuti semuanya.

Pelan-pelan Bram menunduk dan mulai mengecup lembut leher May yang jenjang, diikuti dengan remasan kedua tangannya di masing-masing bulatan payudara gadis itu. Tak lupa juga Bram menggesek-gesek bukit kemaluan May yang merah basah. Diperlakukan seperti itu tentu saja membuat May jadi merintih dan menggelinjang semakin keras.

“Pak, ughh… punya Bapak sudah keras lagi!” katanya mengomentari kontol Bram yang menempel ketat di atas kulit pahanya.

“Iya, sudah waktunya isinya ditumpahkan ke lobang yang ini,” jawab Bram singkat sambil menunjuk lubang kelamin May.

May bersemu merah mendengarnya, antara takut melepas keperawanannya yang suci dan keinginan untuk merasakan nikmatnya persetubuhan untuk yang pertama kali.

Bram segera mendekap tubuh May yang montok erat-erat sambil mulai mencumbunya di seputar wajah dan leher. Ciumannya terus turun hingga tiba di bagian dada gadis itu. Segera dikecapnya bukit payudara May yang membulat kenyal kuat-kuat sambil tak lupa menghisap dan menggigiti putingnya berkali-kali. Bram membuka mulutnya lebar-lebar, seakan ingin memasukkan daging menonjol itu ke dalam mulutnya lalu menelannya bulat-bulat. Penuh nafsu ia menjilat dan mencucupi puting May.

May mengerang senang karenanya. “Ssh… ahh… geli, Pak!” ia merengek manja pada laki-laki setengah baya itu, membuat Bram semakin gemas dan bergairah dibuatnya. Air mukanya mulai memerah tanda sudah terangsang berat, sambil tangan dan mulutnya terus mempermainkan tubuh montok si gadis.

“Auw!!” May memekik saat Bram mulai menggosok-gosok klitorisnya sambil merosot ke bawah untuk memperhatikan benda itu lebih jelas lagi. “Ihh… Bapak mau apa?” tanya May bingung, dia terlihat sangat malu sekali karena sekarang Bram tengah memelototi lubang vaginanya yang sudah memerah basah. Tangannya segera bergerak mencoba menutup bagian itu, tapi dengan cepat disingkirkan oleh Bram.

“Jangan ditutup, saya pengen lihat lubang kamu.” kata Bram beralasan, membuat May jadi tidak enak hati untuk menolak. Bagaimanapun Bram telah membayar mahal untuk tubuhnya.

“P-punyaku jelek kok, Pak!” May mencoba berkilah.

“Tidak, justru memek seperti ini yang dicari orang!” kata Bram meyakinkan, matanya masih tetap menatap nanar ke arah lubang itu sambil dua jarinya mengorek-orek liar disana, berusaha menguaknya sedikit lebih lebar lagi.

“Ah, pelan-pelan, Pak!” May memekik saat merasa kesakitan dengan ulah laki-laki itu.

“Punyamu bikin gemes, May. Belum pernah aku melihat yang seperti ini!” terang Bram.

”Memang istri Bapak dulu tidak perawan?” tanya May lugu.

Bram mengangguk. ”Saya tidak mempermasalahkannya karena saya dulu juga tidak perjaka.”

May terdiam, tak tahu harus bicara apa.

“Karena itulah saya berani membayar mahal untuk merasakan perawanmu. Saya penasaran. Lagian tubuhmu juga tidak terlalu mengecewakan. Kamu cantik, May.” puji Bram tulus.

May kembali bersemu merah.

Tidak berkata lagi, Bram tiba-tiba menunduk dan langsung menjilati celah kemaluan May. “Aduh, Pak! Geli! Saya tidak mau gitu!” May tentu saja kaget dibuatnya, ia ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu dipegangi oleh Bram. Sesaat dia membelalak, seolah tak percaya ada laki-laki yang mau menjilati kemaluan perempuan. Itukan jijik, pikir May dalam hati. Tapi sebentar kemudian, dia terhempas ke ranjang dengan kepala mendongak dan menggeleng-geleng kesana-kemari. Dadanya yang bulat membusung kencang ketika kelentitnya tersengat geli oleh jilatan Bram yang menggiurkan.

”Oughh… Pak! Ahhh…” May tak sanggup berkata, ternyata rasanya sungguh nikmat sekali! pantas saja Bram melakukannya. May terus merintih dan menggelinjang sampai akhirnya Bram melepaskan jilatannya tak lama kemudian, saat dirasanya vagina May sudah cukup basah dan lengket. Sekarang ganti dia yang minta dioral oleh May.

”Ya, mau kan? Saya mohon!” Bram memelas.

May jadi tidak sampai hati untuk menolaknya. Dia sudah diberi kenikmatan oleh laki-laki itu, jadi tidak adil rasanya kalau dia tidak berbuat hal yang sama. Maka segera diraihnya penis Bram dan dimasukkan ke dalam mulutnya. May mulai mengulum dan menjilatinya meski dengan rasa mual yang amat sangat, ini adalah pengalaman baru baginya, mengoral penis laki-laki untuk yang pertama kali.

Bram yang melihat May tersedak-sedak jadi kasihan, dia segera menyuruh gadis itu untuk berhenti. “Sudah, jangan lama-lama, nanti aku bisa keluar di dalam mulutmu.” kata Bram beralasan.

Dengan lega, May segera memuntahkan penis itu.

”Ayo, kita masukka sekarang!!” ajak Bram dengan sabar.

May cepat mengikuti perintah itu, ia segera berbaring telentang dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dibiarkannya Bram yang mulai menindih tubuhnya, lalu diikuti dengan menyusupnya batang kemaluan laki-laki ke liang memeknya yang masih perawan. May meringis saat penis panjang Bram mulai terendam separoh, seperti ada yang menahannya, dan itu terasa sakit sekali bagi May.

”Tahan, Pak. Sakit!!” May merintih, benar-benar tak tahan dengan rasanya.

Bram menahan tubuhnya, mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh gadis itu. Pacarnya dulu juga begini saat pertama kali Bram mengambil perawannya. Bersetubuh dengan May membuat Bram jadi teringat masa-masa itu, ia jadi serasa muda lagi. Bedanya, sekarang yang ia setubuhi adalah May yang cantik dan montok, bukan Cindy yang kurus dan cerewet. Tersenyum gembira, Bram pun kembali mendorong penisnya pelan. Ia melakukannya sangat perlahan sekali hingga seperti tidak ada yang bergerak. Tapi meski begitu, tetap saja May dibuat menjerit karenanya.

”Pak, ughhh! Sakit!” rintih gadis muda itu, tangannya mencengkeram bahu Bram kuat-kuat, nyaris mencakarnya.

Tak kehilangan akal, Bram segera menyumbat mulut May dengan ciuman, sambil melumatnya penuh nafsu, ia mendorong kembali pinggulnya. Kali ini tidak pelan, melainkan sangat keras dan cepat. Bram menghentak kuat-kuat hingga dinding lunak yang menghalangi jalannya hancur berkeping-keping. May menjerit pilu, tapi Bram segera menyambar kembali mulutnya dengan ciuman. Tubuh May yang terkejang-kejang juga didekapnya erat-erat, ia tidak ingin usahanya menjadi sia-sia. Bram tidak ingin tautan alat kelamin mereka terlepas akibat rontaan gadis itu.

Setelah satu menit berlalu, dan rintihan May perlahan mereda -yang digantikan oleh isak tangis pelan- perlahan Bram melepaskan pelukannya. Ia kecup mesra bibir May yang merah tipis untuk mengembalikan nafsu gadis itu. Nikmatnya jepitan liang memek May mulai terasa meresap di batang penisnya, Bram merintih dan mulai menggerakkan kemaluannya –tidak digoyang naik-turun, tapi cukup dikedut-kedutkan ke atas dan ke bawah. Begitu saja sudah membuat May menangis semakin keras.

”Ssh… sudahlah, saya jadi tidak tega kalau kamu begini.” kata Bram memprotes.

May segera menghapus air matanya dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu. Setelah agak tenang, baru ia tersenyum pada Bram dan berkata. ”Maaf, sungguh sakit sekali!”

”Iya, saya mengerti. Tapi saya mohon, tahanlah sebentar. Semakin cepat ini selesai, semakin cepat rasa sakitmu berlalu.” kata laki-laki itu.

May mengangguk mengerti.

Menahan nafas, Bram mulai memainkan batangnya, ia memompa liang kemaluan May pelan-pelan untuk mencari tempat gesekan yang paling nikmat. “Sssh… May, enak sekali punyamu… sempit banget!” puji Bram tulus.

May tertawa, ”Kalau tidak sempit, buat apa saya tawarkan mahal-mahal sama Bapak.” serunya dengan badan mulai melemas, tampaknya ia sudah mulai bisa menikmati persetubuhan itu.

Bram tersenyum menyadari ketololannya. Tapi memang benar, baru dua-tiga
gesekan saja, ia sudah gemetar karena jepitan memek sempit May. Benda itu benar-benar sangat nikmat. Muka Bram jadi memerah karenanya, apalagi saat bertatapan dengan mata May yang sendu namun terlihat mesra, ia jadi makin tak tahan dibuatnya. Semakin Bram memompa, semakin meluap kenikmatan memek gadis muda itu, ditambah May yang sekarang mulai memainkan pinggulnya, makin lengkaplah ’penderitaan’ yang dialami oleh Bram.

“Aduh, May… pinter banget kamu! Bikin aku jadi kepengen cepat keluar!” Sudah terbata-bata suara Bram, tubuhnya gemetar hebat, sementara batang penisnya berkedut-kedut semakin cepat. Terasa cairan mani sudah terkumpul di ujung batangnya, siap meledak kapan saja. Berusaha untuk bertahan sedikit lebih lama, Bram segera mendekap tubuh bugil May erat-erat dengan sebelah tangan menahan pantatnya, sementara yang satu lagi meremas-remas gundukan payudaranya. May merintih, begitu juga dengan Bram yang kini tidak lagi menggesekkan alat kelaminnya, tapi menekan benda itu dalam-dalam sambil mengajak May berciuman. Si gadis menyambut ajakannya dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggang Bram erat-erat.

“May, aku keluarin ya?” bisik Bram, meminta ijin untuk menyemprot di dalam.

Sudah siap dengan segala resikonya, May pun menganggukkan kepala. ”Silahkan, Pak. Lakukan semua yang bapak mau.”

“Haghh! Ughhh! May… aduh! Aku… arrghhh!!!” begitu ijin sudah diperolah, Bram pun mengaduh sambil menyemburkan cairan spermanya berkali-kali di liang sempit May. Jujur, inilah orgasme ternikmat yang pernah dialami oleh Bram selama 40 tahun hidupnya di dunia ini. Begitu puasnya hingga ia tetap memeluk dan menciumi May bertubi-tubi sebagai rasa terima kasih ketika tubuhnya melemas tak lama kemudian.

“May, tubuhmu kok nikmat sekali sih?! Bikin aku puas banget main sama kamu!” puji Bram tulus.

“Tidak rugi kan sama harganya?” May bertanya manja, ada nada bangga dalam suaranya.

“Tidak sama sekali.” Bram ikut tersenyum dan kembali melumat bibirnya.

May tertawa senang.

“Emm, kalau boleh saya tahu… kenapa kamu melakukan ini?” tanya Bram kemudian, tangannya masih asyik bermain-main di gundukan payudara May yang bulat montok.

“Menjual tubuh, maksud Bapak?”

Bram mengangguk. “Kenapa kamu begitu beraninya…”

”Siapa bilang saya berani?! Justru saya takut sekali, Pak. Lebih dari seminggu saya mencari cara lain, tapi semuanya buntu. Hanya inilah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk menolong ibu saya.”

”Menolong ibumu?” tanya Bram tak mengerti.

”Saya menjual tubuh seharga kesembuhan ibu saya dari penyakit.” jelas May sedih.

”Maksud kamu?” Bram mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.

”Saya menjual satu-satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih…”

”Hanya itu?”

”Ya!”

Bram memperhatikan wajah cantik May, gadis itu nampak terlalu muda untuk menanggung beban seberat itu. May tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Bram sadar, bahwa di hadapannya ada suatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. May tidak melawan gelombang laut, melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi.

”Hargamu terlalu murah. Kamu bukanlah sesuatu yang pantas untuk ditawar.” kata Bram kemudian.

“Maksud bapak?” sekarang ganti May yang kebingungan.

Tidak menjawab, Bram bangkit dari tidurnya dan menuju ke lemari. Diambilnya tas dari dalam sana dan dituangkan semua isinya ke meja. Lembaran uang dalam beberapa bendel tebal berjatuhan menindih uang lima belas juta milik May. ”Ambil semuanya. Ini semua milikmu!” kata Bram dengan raut muka -yang anehnya- terlihat begitu bahagia.

May bengong, tak tahu harus berucap apa.

”Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah!” kata Bram meyakinkan.

”Saya tidak mengerti…” May masih takjub dengan apa yang baru saja ia saksikan.

”Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar…” jelas Bram.

”Dan, apakah bapak ikhlas?” tanya May masih ragu.

”Apakah uang itu kurang?” tanya Bram.

”Lebih dari cukup, Pak.” May mengangguk penuh rasa terima kasih dan lekas memakai pakaiannya kembali. Darah perawan dan sisa sperma Bram yang meleleh keluar dari dalam liang vaginanya ia usap dengan tisu yang ada di kamar mandi.

”Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?” tanya Bram dari atas ranjang.

”Silahkan, Pak.” May membenahi jilbabnya yang masih terasa miring.

”Kamu tidak takut kehilangan perawanmu? Bagaimana kalau calon suamimu bertanya nanti?!”

”Tidak ada cara lain, Pak. Yang penting ibu saya bisa sembuh. Saya mengambil keputusan ini bukan karena dorongan nafsu. Bukan pula karena pertimbangan akal saya yang `bodoh`. Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan…”

”Keyakinan apa?” tanya Bram penasaran.

”Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu, orang yang melahirkan kita, maka Tuhan lah yang akan menggantinya. Saya yakin akan ada laki-laki yang menerima keadaan saya yang seperti ini.” May tersenyum dan kemudian melangkah keluar dari kamar. Sebelum sampai di pintu, ia berkata: ”Lantas apa yang bapak dapat dari semua ini?”

”Sebuah kesadaran!!” jawab Bram, ada tetesan air mata di sudut matanya.

***

Di sebuah pemukiman padat penduduk di pinggiran kota, seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

”Kamu sudah pulang, Nak?” tanya ibu itu.

”Iya, Bu.” jawab sang anak yang tidak lain adalah May.

”Kemana saja kamu, Nak?” tanya sang ibu.

”Menjual sesuatu, Bu.” jawab May kalem.

”Apa yang kamu jual?” Ibunya menampakkan wajah keheranan. Tapi May hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi barang yang gratis, semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakkan. Tapi Tuhan memang Maha Memberi. Sama seperti saat ini, saat Tuhan memberi May rejeki yang tak disangka-sangka lewat tubuhnya.

”Kini saatnya ibu untuk berobat …” kata May sambil menggendong ibunya dari pembaringan, ”Dan tak cuma berobat, May akan membuatkan ibu rumah dan makanan enak. Setiap hari. May janji, Bu.” tambahnya dengan senyum ringan di bibir.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya sang ibu ke dalam dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi, ”Antar kami ke rumah sakit.“

Taksi pun melaju pelan bersama harapan May yang melambung tinggi. Didekapnya uang 178juta hasil pemberian Bram dengan penuh rasa Syukur.

INNEKE

Pulang dari klien urusan tetek bengek IT akhirnya mencoba mencari jalan pulang, karena Jakarta kena banjir setelah hujan sangat lebat beberapa jam, aku sampai terjebak pada sebuah perumahan di bilangan Jakarta Selatan, tidak ada jalan pulang, hanya bersandar pada mobilku yang terhenti tak bisa mencari jalan pulang. Terpaksa aku mengalah pada keadaan, aku akhirnya mampir pada sebuah rumah makan untuk mengisi perutku. Entah mengapa ketika aku asyik menelan makanan itu sebuah tangan menepuk pundakku.

“Burhan yaaaaaa “ sapa seorang wanita yang akhirnya berada di sampingku dengan anggun dan sangat elok dipandang mata.

“Ooooh .. Mbak Inneke ?” kataku dengan menghentikan makanku, seorang anak digendongnya.

“Iyaaa ..masak lupa sih .. kamu khan pernah nolong aku dulu .. uuuh .. pelupa ya ?” selidik Inneke Koesherawati dengan menciumi anaknya, malah kesannya mencium matanya melirik padaku. Tak berapa lama kemudian suaminya ikut muncul.

“Ini kenalkan suami saya “ kata Inneke Koesherawati mengenalkan suaminya padaku, akupun berkenalan dengan keluarganya, kami duduk di mejaku dan terjadi obrolan demi obrolan, anaknya juga tak takut denganku, terbukti mau kupangku dan memelukku sesekali.

“Anakku suka kamu Han “ kata Inneke Koesherawati dengan tersenyum, suaminya sendiri sibuk bertelepon, sehingga lirikan nakal Inneke Koesherawati membuatku sampai berpikir. Jilbabnya dirapikan sehingga menambah kecantikannya.

“Kamu mau pulang ?” tanya Inneke Koesherawati

“Mana bisa pulang .. banjir di mana mana .. pengin relaks di sini aja “ kataku dengan santai

“Tinggal di rumahku aja .. malam dingin begini .. ada kamar kosong kok “ tawar Inneke Koesherawati yang diiyakan oleh suaminya. Aku menolak namun Inneke Koesherawati mendesakku sehingga aku akhirnya mengiyakan.

Kami akhirnya berangkat juga ke rumah Inneke Koesherawati, aku sendiri tidak merasa ada yang aneh, karena memang perilaku Inneke Koesherawati sejak dulu suka norak dan bersikap centil serta manja, lirikan matanya sudah biasa aku rasakan ketika kenal lama. Jadi aku terlalu jauh jika Inneke Koesherawati mengajakku bercinta.

Sampai di rumahnya, aku langsung diberi kamar yang lux, diberi handuk sama pakaian tidur oleh Inneke Koesherawati, kuterima itu, ketika Inneke Koesherawati menutup pintu matanya masih ingin memandangku. Aku relaks sejenak di tempat tidur yang empuk itu, beberapa lama kemudian aku keluar kamar dan nongkrong di meja belakang dekat dapur bermain dengan laptopku. Inneke Koesherawati dan suaminya berada di kamar bersama anaknya, aku kemudian tenggelam dalam urusan mengakses internet, hujan kembali melanda sangat derasnya membuat malam semaki dingin.

Ketika tepat jam dua belas, aku dikejutkan dengan munculnya Inneke Koesherawati ke dapur dengan menggunakan pakaian yang sangat minim sekali, bahkan kelihatan tanpa celana dalam, melihatku yang masih konsentrasi ke layar laptop Inneke Koesherawati tidak merasa terganggu, dengan santainya membuka lemari es dan mengambil minuman, mataku melirik bongkahan pantatnya, kali ini Inneke Koesherawati tidak menggunakan jilbab sehingga rambutnya yang panjang sampai ke bawah dada sangat indahnya, apalagi belahan dadanya terlihat jelas ketika ke menyamping

“Sibuk Haan ?” tanya Inneke Koesherawati dengan meminum dari gelasnya

“Iya sih Mbaak .. “ kataku dengan mencoba cuwek, namun naluri birahiku berontak melihat kemolekan tubuh di depanku. Bagaimana aku tidak terangsang meilhat Inneke Koesherawati dengan pakaian minim, kelihatan pahanya yang mulus dan belahan dadanya, bahkan kulihat punting susunya tercetak jelas.

“Aku haus .. “kataku bangun dari dudukku dan mendekati lemari es, dan berdiri di samping Inneke Koesherawati, mataku melirik kesintalan tubuhnya, belum lagi buah dadanya yang membusung itu seperti mengundangku. Entah kenapa tiba tiba aku sangat nekad memeluk Inneke Koesherawati dari belakang. Inneke Koesherawati menjadi terkejut

“Haaaan .. jangaaaan aaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati dengan menepis tanganku yang sudah memeluknya. Tolakannya tidak dengan teriakan malah seperti undangan. Mungkin artinya “Jangan lepaskan” heuehehehehe. Aku justru semakin nakal, Inneke Koesherawati hanya diam saja ketika aku dengan sangat nakalnya menggesek gesek lenganku di buah dadanya membuat Inneke Koesherawati malah merem merasakan gesekan itu, kutekan selakanganku yang memakai celana kolor sehingga cetakan penisku yang besar itu menempel dengan lekat ke pantat bohay milik Inneke Koesherawati

“Jangan Haaan .. aku takut suamiku banguuuun “ tolak Inneke Koesherawati dengan halus, namun aku menjadi gelap mata, birahiku sudah memuncak, sehingga aku semakin nakal menurunkan tanganku masuk ke dalam roknya itu dan mengelus elus vaginanya yang penuh jembut itu. Akibatnya Inneke Koesherawati membungkuk untuk menahan tanganku agar tidak terlalu jauh mempermainkan vaginanya

“Pleasee aaaaah .. jangan aaaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati semakin kuat, tanganku dicekal dengan kuat.

Mendadak terdengar pintu kamar Inneke Koesherawati terbuka, aku kaget sekali, sehingga aku langsung melepaskan pelukan tubuh sintal Inneke Koesherawati itu, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk sembunyi, tak lama kemudian suaminya membuka pintu ke dapur dan mendapatkan Inneke Koesherawati sedang duduk termenung di meja.

“Laptop siapa itu ? kok di sini .. “ tanya suami Inneke Koesherawati dengan menepuk bahunya dan memijatnya

“Punya Burhan .. nggak tahu kemana tuh … ninggalin laptop nyala .. tidur paling .. lah dia khan sering download .. jadi membiarkan laptop nyala sudah biasa “ kata Inneke Koesherawati dengan memakai alasan yang masuk akal, aku sendiri mendengar dari kamar mandi, aku mengurungkan keluar.

“Mau tidur lagi ?” tanya suaminya

“Aku susul saja, sayang “ kata Inneke Koesherawati dengan meminum sisa minuman di gelas. Tak berapa lama kemudian terdengar pintu dapur di tutup. Aku keluar dari kamar mandi, dan kudapatkan Inneke Koesherawati masih termenung, sehingga aku semakin nekat saja, aku langsung mendekati dan memeluknya dari belakang, kali ini aku lebih agresif dengan meremas buah dadanya membuat Inneke Koesherawati menjadi terkejut

“Oh .. Haaaaan ..pleasee .. jangaaan “ tolak Inneke Koesherawati dengan melawan nuraninya sebagai seorang istri, namun karena suaminya lemah dalam urusan ranjang sehingga birahinya tidak terkontrol. Inneke Koesherawati ikut berdiri ketika melawan nuraninya, sehingga aku langsung memutarkan tubuhnya, aku langsung menyerbu bibirnya. Inneke Koesherawati menjadi terkejut sehingga langsung memegang kepalaku untuk menghindari lumatanku.

“Haaaan .. pleaasee .. jaaangaan aaaaaaaah .. uuuuh “ tolak Inneke Koesherawati ketika tanganku semakin nakal masuk ke dalam lingerienya dan meremas buah dadanya tanpa bra itu, kuremas dengan lembut membuat Inneke Koesherawati justru malah memejamkan matanya menikmati setiap tanganku bermain merangsang libidonya., sehingga aku langsung kembali melumat bibirnya. Pelan pelan Inneke Koesherawati menyambut lumatanku

“Shhhh ..ssssssshhhh ….ssshhhh .. “ desis Inneke Koesherawati menanggapi lumatanku sampai kami berdua bernafas ngos ngosan, aku semakin nakal mengerjai vaginanya yang membasah itu, kugeser tali lingerienya itu sehingg copot melorot. Oh My God .. indah sekali tubuhnya. Kembali seperti terdengar batuk batuk di kamar Inneke Koesherawati, dimana suaminya belum tidur. Inneke Koesherawati sampai menahan kepalaku yang masih ingin terus menyerbu

“Jangan di sini Haaan .. bahayaaaaa .. pleasee “ tolak Inneke Koesherawati

“Lalu dimana ? nggak tahan nich . sejak lama kamu pengin aku khan ?” tuduhku dengan masih mempermainkan punting susunya

“Aaaaaaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati dengan melepas pelukanku dan mundur, kemudian hendak membuka pintu dapur menuju ruang tengah, aku tak membiarkan buruanku kabur, maka aku kembali menarik tangannya dan memeluknya, kali ini Inneke Koesherawati menanggapi lumatanku tak kalah ganas, malah tangannya dengan nakal meremas batangku.

“Kamu tunggu aja di sini .. aku urus dulu suamiku .. pleasee “ kata Inneke Koesherawati dengan menahan tanganku meremas pantatnya yang berisi dan hangat itu, malah tangannya kembali meremas batangku.

“Penismu besar .. “ timpal Inneke Koesherawati dengan mengedipkan matanya pertanda mulai menyukai bahaya di rumahnya sendiri itu. Inneke Koesherawati kemudian keluar dari dapur dan kembali ke kamar. Aku sendiri makin tidak tahan, lalu dengan nekad aku langsung membuka seluruh pakaianku agar telanjang lalu mengintip dari lubang kunci, kulihat Inneke Koesherawati mengunci kamar tidurnya dari luar, aku langsung berpindah dan duduk di meja dengan memamerkan penisku.

Inneke Koesherawati masuk ke dapur, matanya sampai melotot melihatku yang duduk dengan penis besar mengacung tegak

“Oh my God … “ seru Inneke Koesherawati dengan gemas lalu maju, menarik tanganku dan mengajak kembali bercumbu, kami terlibat dalam pagutan demi pagutan sangat rakus, namun kami berusahan tidak melenguh dan mendesis keras, tangan kami sibuk meraba raba ke sana kemari, dengan saling memeluki itu, Inneke Koesherawati semakin agresif menyerangku, tangannya semakin nakal mempermainkan batangku, terkadang jari jari tangannya meremas kedua buah pelirku. Ditahannya lumatanku dan dengan nafas memburu dan memandangku

“Haaaaaan .. puasi aku Haaan .. suamiku mulai males bercintaaaaa “ bisik Inneke Koesherawati dengan menjilati telingaku

“Di sini ?” bisikku

“Iyaaaaaa … beri aku ..aaah .. kenikmataaan .. pleasee … “ ajak Inneke Koesherawati dengan menarik kepalanya kemudian langsung menyerbu bibirku, tangannya mencari tanganku da di bawa ke buah dadanya.

“Aaaaaaaaaaaah .. aaaaaaaaaaaaauh “ kami melumat dengan penuh kenikmatan.

Kembali terdengar suara pintu di buka dari kamar Inneke Koesherawati sehingga kami terhenti bercumbu, Inneke Koesherawati sampai jengkel sekali

“Brengsek “

“Sayaaaang .. ngapaaain dikunci dari luaaaaaar “ teriak suami Inneke Koesherawati dari kamar. Aku langsung membawa pakaianku kabur masuk ke kamar yang biasa di pakai pembantu, pembantunya sedang mudik sehingga aku menjadi aman, kusambar laptopku sekalian kubawa masuk, sedang Inneke Koesherawati masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian Inneke Koesherawati membasahi tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi. Lalu menuju ke ruang tengah dan membuka pintu kamar dengan kunci

“Kamu kok aneh sih ..malam malam begini mandi “ tanya suaminya heran, suaminya masuk ke dapur dan tidak mendapati apa apa, Inneke Koesherawati ikut ke dapur.

“Panas rasanya sih “ sungut Inneke Koesherawati

“Iyaaa sih .. pengap .. apalagi AC rusak .. payah “ sahut suaminya.

Inneke Koesherawati semakin nekad, membuka lemari kecil menyimpan obat obatan, sebutir obat tidur dicelupkan dalam minuman, dan tanpa sepengetahuan suaminya Inneke Koesherawati memberikan minuman itu, tanpa curiga suaminya menenggak tanpa curiga.

“Aku mau nerusin mandi aaaaaah .. “ kata Inneke Koesherawati dengan cuwek sambil memberesi piring piring yang belum dicuci. Kasiat obat tidur benar benar cespleng, suaminya lama lama mulai menguap dengan cepat ketika merokok sebatang belum habis.

“Ngantuk .. sudah mandi saja sana .. aku tidur aaaah .. capeeeek “ kata suaminya dengan negloyor pergi, Inneke Koesherawati menutup pintu dapur dan menguncinya, sambil mengintip di lubang kunci sampai suaminya masuk kamar, habis itu Inneke Koesherawati langsung membuka kamar pembantu itu dan mendapatkan aku sedang mengocok batangku

“Jangan Haaan .. pleasee .. biyar aku saja .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan langsung menindihku dan melumat bibirku dengan rakus, kami berdua kembali saling merangsang

“Penismu besaaaaaar Haaan ..akuuu sukaa aaaaaah “ puji Inneke Koesherawati dengan menarik badannya dan kini duduk di depan selakanganku sambil memegang batangku.

“Aku pengin bercinta denganmu sambil berjilbab .. “ pintaku

“Aaaaaah .. nggak boleeeeeeeh “ tolak Inneke Koesherawati dengan cepat. Kutahan tangannya itu yang mulai mengocok batangku. Inneke Koesherawati melotot padaku. Namun tangannnya membuang lengerienya sehingga menjadi telanjang bulat sepertiku. Inneke Koesherawati bangun dan mengobok obok pakaian yang berada di keranjang itu, diambilnya satu jilbab dan dipasangnya

“Begini ?” ujar Inneke Koesherawati dengan manja

“Ck ck ck ck .. sungguh merangsang, sayaaaaaaaang “ pujiku dengan mendorong tubuhnya dan kutindih, aku lalu menyerbu bibirnya.

“Aaaaaaah Haaaaaaaan ..uuuuuuuuuh .. sssssssshhhhhhh ..mmmmmm… ngggggggg … “ lenguh Inneke Koesherawati tak karuan gelinjangannya ketika aku meremas remas buah dadanya dengan kuat, tubuhnya meliuk liuk bak cacing kepanasana itu, kugiring tubuhnya agar ketengah, aku langsung menindih lebih kuat, Inneke Koesherawati melingkarkan kakinya menjepit pinggangku.

“Haaaaaaan,sayaaaaaaaang .. puassi aaaku cepaaaaaat .. suamiku bisa cepat bangun kalo nggak kamu cepaaaaaat cepaaaaaaaaat “ ajak Inneke Koesherawati dengan mendorongku kuat, sehingga aku menjadi terduduk, Inneke Koesherawati langsung mengulum batangku dengan rakus. Kuremasi kepalanya untuk memberikan waktu bermain main dengan batangku.

“Dua kali lipat punya suamiku, sayaaaaaaaaaaang “ ujar Inneke Koesherawati dengan mengedipkan matanya kepadaku tanda menyukaiku, munafiknya kini semakin kentara, menolak tapi nyatanya sudah pengin sejak lama menaksir padaku.

Tak terasa dengan penuh kerakusan Inneke Koesherawati dengan membungkuk memegang penisku dan dikocoknya dengan pelan pelan, nafsunya sudah tidak bisa ditahan tahan lagi, dibenahi jilbabnya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya bermain dengan penisku mengocok dengan tersenyum penuh senang. Lalu dengan membungkuk Inneke Koesherawati menjilati batangku berulang ulang, dimulai dari bagian bawah batangku kemudian naik ke atas dengan penuh kelembutan, gerakan lidahnya itu pelan menjilat batangku naik turun, sedang matanya selalu memandangku yang masih rebahan bersandar dengan bantal. Kurasakan jilatan demi jilatan lidah Inneke Koesherawati sangat merangsangku, belum lagi aku merasakan horny luar biasa menyaksikan dada Inneke Koesherawati dan belahan selakangannya yang sudah membasah itu. Kini tangan kanannya justru berpindah ke selakangannya mengelus elus vaginanya agar lebih terangsang.

“Truuuusss, Inneke .. sayaaaaaaaaaaaang, make kata kontol deeeh .. biar makin hot “ ajakku dengan bangun dan merapikan jilbabnya itu agar tidak mengganggu jilatan lidah Inneke Koesherawati di penisku yang mengacung dengan sangat perkasa membuat Inneke Koesherawati semakin senang dengan besarnya penisku. Inneke Koesherawati hanya tersenyum nakal mendengar permintaanku itu.

“Kontolmuuu besaaar, Haaaaaan .. hhhhmmm .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan kembali bermain dengan batangku, kali ini membuka mulutnya dengan lebar dan menelan batangku dengan rakus, mulutnya kini penuh dengan batangku, pelan pelan batangku tenggelam sampai separo, sampai di dalam batangku langsung digoyang dengan lidahnya

“Ooooooooh .. Innnee .. enaaaaak aaaaaaaaaah .. sedoooooot aaaaaaaaaaah “ erangku merasakan permainan lidah Inneke Koesherawati yang bernafsu untuk terus bermain dengan batangku, dengan pelan pelan Inneke Koesherawati mengeluarkan batangku, ketika masuk lebih dalam batangku kembali disedot dengan kuat, aku sampai terduduk, kakiku gemetaran karena terangsang dengan blowjob Inneke Koesherawati itu. Kali ini Inneke Koesherawati tidak ragu lagi untuk melenguh dan mengerang dengan bebasnya di kamar pembantu ini. Jilatan demi jilatan di lakukan, kuluman demi kuluman semakin rakus menghajar batangku yang semakin mengkilap kena air liurnya. Bahkan terkadang air liurnya menetes sampai ke ranjang dengan pelan pelan, diusapnya lidah yang seksi itu dengan tangannya kemudian turun lagi bermain dengan batangku, menjilati dari atas kepala penisku kemudian turun sampai menjilati buah pelirku dengan rakus.

“Kontooolmuu .. enaaaak Haaaaaaan .. besaaaaaaar, hhhhmmm … mmmmmmfff … mmmhhh “ kata Inneke Koesherawati dengan bergumam dan kembali menelan batangku dengan rakusnya. Disepongnya batangku dengan kuat

“Oooooooooooooooh .. Sayaaaaaaang aaaaaaaaaaaaaaah .. enaaaaaaaaaaaak “ erangku dengan mendongak dan meremasi kepala Inneke Koesherawati yang tertutup jilbab itu. Pertarungan birahi belum dimulai, masih dalam tataran merangsang dari satu pihak, dan aku belum memberikan perlawanan, masih memberikan kesempatan kepada Inneke Koesherawati menikmati penisku itu dengan bebasnya.

“Jangan lamaaaaaa maaaa yaaaaaaaaa .. bisaaaaaa muncraaaaaaaat “ ingatku yang disambut dengan berhentinya Inneke Koesherawati mengulum batangku, kemudian langsung menubrukku dan memeluk lalu melancarkan pagutan demi pagutan penuh nafsu, kami berdua terlibat saling adu bibir dengan menyedot, air liur kami bercampur dan membuat muka kami basah oleh air liur. Inneke Koesherawati semakin ngos ngosan, dengan gemas mendorong dadaku dan menindih dengan gemas, kulayani luamtan itu dengan meremas pantatnya yang berisi itu, terasa hangat dan empuk, vaginanya bergesek dengan batangku membuat Inneke Koesherawati semakin menggerakan pantatnya, sehingga gesekan penisku dengan vagina Inneke Koesherawati semakin nikmat sekali.

“Sssssshhhh ..ssssssssshh ..mmmmmmmmfff …. sssssssssttttt .. “ desis Inneke Koesherawati dengan menarik kepalanya kemudian menarik kepalaku dan dibenamkan di selakangannya

“Gantian aku donk, sayaaaaaang .. suamiku nggak mau kayak gitu .. maunya langsung tuncep .. kolot banget tuh suami edaaaaaan “ maki Inneke Koesherawati dengan memaksaku yang langsung menjilati vaginanya yang membasah itu.

Kujilati vaginanya yang penuh jembut itu dengan lidahku.

“Oooh Haaan .. teruuuus .. nikmaaaaatiii .. memekku .. Haaaan .sayaaaaaaang ..ooooh .. enaaaaaaknyaaa” erang Inneke Koesherawati dengan meremas kepalaku berulang ulang, kedua kakinya melebar agar memudahkan aku mengorek liang senggamanya itu, lalu Inneke Koesherawati rebahan, tangannya mencari tanganku agar bermain di buah dadanya, kurema buah dadanya sebelah kiri dan Inneke Koesherawati langsung meringgis keenakan, matanya merem melek merasakan lidahku sangat nakal memperlebar belahan vaginanya yang sudah memerah itu. Tubuhnya menggeliat bak cacing kepanasan.

“Teruuuuuuuuuussss .. Ooooh …..aaaaaaaaaaaaaaah .. aaaaaaaaaaaaauh ….ssshhh ..aaaaaaaauh “ lenguh Inneke Koesherawati dengan menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan sensasi jilatanku di vaginanya yang sangat jarang didapatkan dari suaminya.

“Haaaaaaan ..pleaaseee .. sudaaaah aaaaaaaah . nggak tahaaaaaaan nicccccch ..sudaaaaaaaaaaah “ cekal Inneke Koesherawati kepalaku dengan bangun.

“Aku juga sudah nggak tahaaan pengin merasakan memekmu, sayaaaaaang “ sahutku ingin cepat cepat menggenjot Inneke Koesherawati

“Jangan di sini Haaan .. nggak nikmaaat deeh .. ke dapur yuuuk .. aku pengin nungging deeeeh .. belum pernah akuuu digituin .. entotin aku dari belakang .. pengin deeh “ rajuk Inneke Koesherawati dengan centil dan manja.

“Asal kamu selalu pakai jilbabmu .. apapun akan kulakukan untuk menggenjotmu .. “ kataku yang serta merta ditarik tanganku keluar dari ranjang dan Inneke Koesherawati membuka kancing kamar itu lalu keluar dari kamar, sesampai di meja dapur itu, Inneke Koesherawati langsung mengangkat kaki kanannya kemudian membungkuk.

“Wuuuuuuuih .. wanita seindah ini kokd diabaikaaan “ pujiku

“Cepaaat Haaan .. keburu suamiku banguuuun .. pleasee .. segera pleaseeeee “ Inneke Koesherawati semakin tidak sabaran, aku langsung mengocok batangku dengan cepat dan kuat agar aku cepat cepat orgasme. Setelah itu aku memajukan batangku belahan pantatnya untuk mendesakkan batangku, kutekan dan membuat Inneke Koesherawati langsung menjerit kecil

“Aduuuuuuuh .. galaaak nich kontooolmuu . cepaaaat masukin ke memekku .. uuuh .. memek atau tempek sayang ?” riak Inneke Koesherawati dengan bertanya

“Sebut aja sesukamu .. nggak ada bedanya antara tempek dengan memekmu .. yang penting memekku enak sekali .. ntar yaaa .. kuganjal dengan kontolkuuu .. rasakan ini “ kataku dengan menghujamkan batangku ketika batangku pas lenyap ke kepala penisku, akibat hujaman batangku itu Inneke Koesherawati sampai menjerit

“Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal ..aaaaaaaaaaaah .. sakiiiiiiiit taaaaaaaaaaaauk “ teriak Inneke Koesherawati dengan senewen

“Enaaaak khan ?” tanyaku

“Uuuuuuh .. kamu jahaaaaaat deeeh .. kaaaloo nyodok bilang langg aaaaaah … jangan langsung dihujamkan dengan keraasss .. “ balas Inneke Koesherawati dengan memandang ke depan kemudian mengusap di bagian atas vaginanya agar batangku lebih leluasa masuk ke dalam vaginanya itu.

Pelan pelan batangku semakin tenggelam, ukuran vaginanya yang pas untuk batangku yang besar itu, walau tetap sesak, terasa penisku diremas luar biasa dalam vaginanya itu, belum lagi dari dalam ibarat ada magnet menarik batangku lebih dalam

“Gilaaaaaaaaa memekmuu Innekeeeeee … enaaaaaaaak … hangaaaat dan aaaaaaaaaaah .. Uuuh ..sedotan memekmuu itu.. Fuuuuuh .. “ kataku sambil meludah sembarangan, ketika aku meludah itu, ludahku malah nempel di lengan Inneke Koesherawati, serta merta Inneke Koesherawati langsung menjilati ludahku dan ditelan, aku semakin suka dengan cara bercinta Inneke Koesherawati itu, sensasi seksnya ternyata sangat tinggi, hanya saja suaminya tidak punya variasi seks.

“Aku sukaaa kamuuu, sayaaaang .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan mereme keenakan, kuhujamkan batangku lagi lebih dalam membuat Inneke Koesherawati menjerit kecil lagi.

“Yaaaaaaaaaaa … enaaaaaaaak ..diami duluuu .. pengin merasakan kehangataaaan kontolmuuu sayaaaaaaaang “ kata Inneke Koesherawati dengan merem menggeleng geleng pelan pelan, kurapikan jilbabnya itu dan aku kemudian bergerak dengan pelan menggenjotnya, kurangkulkan tanganku dan kugapai buah dadanya yang ranum itu, Inneke Koesherawati sampai mendongak tidak menduga kalo aku sudah bergerak dan meremas remas buah dadaya.

“Aaaaaaaah ..uuuuuuuuuhh ..ssssssssshhhh .. teruuuuuuuuus “ ajak Inneke Koesherawati dengan semakin suka, wajahnya mengerling ke belakang dengan sangat genitnya.

“Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep…”

Terdengar bunyi gesekan penisku dengan vagina Inneke Koesherawati menambah semangat kami untuk terus berpacu dengan penuh kenikmatan birahi.

“Cepeeetaaan Haaan .. obaat tidur yang kuberikan sama suamiiikuu nggak tahaaan lamaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan membuka matanya kemudian melihat ke bawah bagaimana batangku menghujam keluar masuk semakin cepat

“Ooooooh enaaaaaaaaaaaaaaaaak “ sahut Inneke Koesherawati dengan senang, penisku menghujam dan menggesek dengan gagahnya, walau aku semakin tidak tahan lagi, akibat kuluman dan kocokan Inneke Koesherawati yang rakus di kamar pembantu itu membuat batangku tidak tahan lagi.

“Keluaaaaaaaariiin di dalaaam yaaaaaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan memejamkan matanya, tangannya menahan pahaku agar tidak menghujam lebih keras, bagian dadanya menggelinjang tidak tahan remasan tanganku yang meremas remas buah dadanya dengan kuat.

“Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh ..hampiiiiiiiiiiiir “ teriak Inneke Koesherawati

Aku terus menghujam dengan cepat cepat dan kusodokan batangku dengan kuat, aku sudah tidak tahan, demikian pula dengan Inneke Koesherawati, jepitan vaginanya semakin menjepit penisku dengan kuat. Inneke Koesherawati memegang bibir meja itu dengan kuatnya, kusodok sodok dari belakang

“Terrrrrruuuusss .. entotiiiiiiiiin .. enaaaaaaaaaaaaak “ sahut Inneke Koesherawati dengan nafas tak karuan, batangku dengan sangat lancar keluar masuk ke vaginanya.

Inneke Koesherawati melenguh tak karuan dan terakhir matanya melotot membuka menegang dengan kaku, tubuhnya bak patung tak bergerak menegang dan vaginanya mengucur cairan panas. Kuhujamkan batangku dalam dalam.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Inneke Koesherawati dengan lebih keras dan berkelonjotan bak disetrum listrik ribuan volt, demikian pula denganku, penisku memancarkan air maniku menembak ke rahimnya.

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaat …craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaat “

Aku merasa ringan dan tubuhku melemas dengan cepat sampai menindih Inneke Koesherawati di meja itu, nafas kami serasa hancur, kurasakan spermaku banyak keluar dari sela sela vagina Inneke Koesherawati itu, kami diam dengan pikiran masing masing.

Barulah ketika kami sudah kembali on, Inneke Koesherawati menepuk lenganku

“Pleaseee “ sahutku Inneke Koesherawati.

Aku menarik batangku dan kulepaskan dari sarangnya, Inneke Koesherawati langsung berbalik lalu memelukku erat serta menciumi bibirku

“Trim Haaaaaaan .. enaaaaaaak .. lagi yaaaaa Haaaaaaan “ bisik Inneke Koesherawati ke telinganku.

“Mau berapa ronde, sayaaaang “ tanyaku

“Sampai aku nggak kuaaaaaaat nicch .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan nafas masih ngos ngosan.

Entah kenapa ketika kami saling memeluk itu tiba tiba terdengar lagi pintu kamar dibuka. Inneke Koesherawati sampai gelagapan, lalu dengan cepat cepat melepas penisku

“Ngumpeeet yuuuuuuuk .. cepeeeeeeeet “ bisiknya, namun aku malah meremas pantatnya,

“Pleaseeee “ jewer Inneke Koesherawati di telingaku, aku langsung kabur dengan tak lupa mengambil serbet di meja itu mengelap air mani kami yang tercecer. Dari balik dapur seperti ada yang hendak membuka pintu namun terkunci

“Lha kok terkunci ??“ sahut seseorang dari balik pintu.

Aku dan Inneke Koesherawati kemudian masuk ke dalam kamar, membiarkan suami Inneke Koesherawati penasaran sendiri mengapa dapur sampai terkunci.

“Kenapa nich .. Inneke .. apa nggak mau diganggu berendam di bathtub .. uuuh “ keluh suami Inneke Koesherawati dengan pergi dari pintu dapur itu.

Di kamar pembantu itu kami saling memeluk dengan penu rasa suka

“Biarin saja, sayaaaaaaaaaaaang .. letoy kooook “ sahut Inneke Koesherawati dengan menduduki selakanganku.

“Hhhmmm… kau suka berbahayaaa “ selidikku

“Iya sssssssssssihh .. nikmat bangeeeeet ..coba nanti pagi .. suamiku terbiasa memanasi mesin mobil hendak berangkat kantor .. nah itu kesempatan kamu fast sex denganku ya.. besok aku sms .. kamu kocokin sendiri .. aku masuk kamarmu .. langsung aku entotin yaaaaa .. “ rajuk Inneke Koesherawati dengan memelukku lebih erat.

“Siaaaaaaaaap “ sambutku dengan menarik jilbabnya yang membasah akibat keringat itu namun meembuat Inneke Koesherawati senewen

“Biarlaaaaaaaaah .. aku pakai jilbab .. itu khan maumu .. besok aku berdandan yang cantik yaaa .. rasakan besok pagi .. tapi malam ini berikan aku kenikmatan surgawi .. berikan bibitmu dalam rahimku .. suamiku sekarang telurnya lembek .. pengin punya anak lagi .. nggak kelar kelaaaaaaaaar “ ajak Inneke Koesherawati dengan cuek.

“Besok pagi .. aku akan memakai jilbab yang rapi deeeh .. kamu suka khan ?” sambung Inneke Koesherawati dengan melumat bibirku, kami berdua kemudian terlibat lagi dengan gairah seks, kami semakin terangsang lagi dan memulai bercinta lagi penuh dengan kelembutan, Inneke Koesherawati semakin suka denganku.

Kami berdua malam itu bergulat dengan penuh kerinduan birahi, sudah lama Inneke Koesherawati tidak diperlakukan bak istri yang setia dalam urusan seks, sehingga libidonya malam itu dilampiaskan padaku, aku ditindihnya dan diajak untuk bercumbu dengan penuh rasa mesra, Inneke Koesherawati tidak risih lagi menyebut aku seorang suami yang mengerti keinginan seks bagi seorang pendamping hidup. Dengan penuh kelembutan dan cinta, Inneke Koesherawati menduduki selakanganku, kedua tangannya memegang kepalaku dan mengajak terus saling berpagut, kami bermain lidah saling menjulur, sesekali Inneke Koesherawati menarik bibirnya karena tidak kuat akan pagutan yang lama, ketika menghela nafas kembali Inneke Koesherawati langsung menangganpi lumatanku berkali kali.

“Haaaaan eeeeeh .. sayaaaaaaaang .. pleasee … kontolmuuu .. ngaceng lagi tuuuh .. hihihihihi .. aku masukin ya, sayaaaaaang .. hhhhmmm .. kamu benar benar lelaki yang tahu kebutuhan istri kesepiaaaaan ..” aku Inneke Koesherawati dengan memandangku dengan penuh birahi.

“Salurkan gairahmu, sayaaaaaang .. lampiaskan nafsumu padaku … aku siap memenuhi kebutuhan batinmu yang kesepiaaan “ kataku dengan penuh gombal

“Lakukan Haaaan .. lakukaaaan .. isi batinku dengan cintamu .. beri aku kenikmatan lagi “ kata Inneke Koesherawati dengan memegang batangku yang masih berlendir itu, Inneke Koesherawati menaikan pantatnya kemudian menekan dengan meringgis

“Uuuuuuuh .. kontooolmuuu benar benaaaaaar perkasaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan menaikan pantatnya kemudian turun lagi, aku sampai berdegup merasakan jepitan vaginanya itu

“Pelaaaaan aaaaaaaaah .. “ lenguhku merasakan tekanan lubang vaginanya itu.

“Pakai jilbab lagi ya Haaaaan “ pinta Inneke Koesherawati dengan menarik onggokan cucian di samping ranjang itu, ditariknya jilbab warna biru dan dipasangnya lagi.

“Ini demi kamu, sayaaaaaaaaang .. kata kamu aku lebih cantik make jilbab .. apalagi telanjang begini “ sahut Inneke Koesherawati dengan norak dan nakal, lidahnya dijulurkan dan menjilati bibirnya.

Kami berdua kaget lagi ketika ada suara memaksa membuka pintu dapur.

“Innekeeeeeee .. di mana kamu .. “ teriak suaminya dari balik dapur. Aku menjadi jengkel akan kedatangan suaminya yang selalu mengganggu itu.

“Racun aja tuuuh “ makiku dengan mendorong dada Inneke Koesherawati itu, Inneke Koesherawati kemudian keluar dari ranjang lalu membuang jilbabnya, keluar dari kamar pembantu itu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, kemudian berteriak

“Huuuuuuuuusss .. aku lagi relaks .. berendam .. berisik amat sih “ maki Inneke Koesherawati dengan keras

“Tapi kok lama bangeeeeet “ maki balik suami Inneke Koesherawati

“Pleaseee .. “

Inneke Koesherawati akhirnya keluar dari kamar mandi dengan basah kuyub dan hanya berbalut handuk lalu membuka pintu dapur.

“Ya ampuuun .. kamu kok aneh aneh sih “ kata suaminya dengan masuk ke dapur kemudian masuk ke kamar mandi dan tidak mendapati siapa siapa, namun suaminya ke kamar mandi untuk kencing, dengan cemberut melihat suaminya kencing dan tidak ngaceng melihat kesintalan istrinya itu.

“Dasar letoy “ gumam Inneke Koesherawati dengan kecil volumenya. Inneke Koesherawati semakin gemas dan kesal, lalu kembali membuka lemari obat obatan, dituangnkan minuman jeruk dingin itu dalam gelas, tak tanggung tanggung 3 butir obat tidur dicemplungkan dan langsung larut, Inneke Koesherawati juga menuangkan ke gelas lain, Inneke Koesherawati menenggak minuman jeruk itu, dan satu gelas diberikan pada suaminya, tanpa curiga sang suami langsung menenggak, Inneke Koesherawati langsung menggandeng suaminya ke kamar, sesampai di kamar, kedua langsung tidur, Inneke Koesherawati mencoba memejamkan matanya dengan gelisah, karena libidonya hendak disalurkan selalu terganggu, entah kenapa obat tidur pertama tidak membuat suaminya lenyap. Tak berapa lama kemudian suaminya lenyap dengan pulasnya, diguncangnya dengan kuat dan tidak bangun.

“Brengseeek kamu .. suami tidak tahu kebutuhan seks istrinya .. lelaki macam apa kau “

Aku sendiri sudah keluar dari kamar, ketika hendak membuka dapur, Inneke Koesherawati muncul dan langsung menarik tanganku

“Ke kamarku .. dia sudah aku racuuun .. tenang saja “ sahut Inneke Koesherawati menarikku paksa masuk ke kemarnya, kulihat suaminya tidur dengan pulas. Namun aku juga tidak tenang, namun aku langsung disumpal bibir Inneke Koesherawati untuk mengajak bercumbu, kulayani cumbuan itu dengan tak kalah rakus. Aku digiringnya ke dekat ranjang. Lalu Inneke Koesherawati menarik selimut tebal dan dibentangkan di lantai, diambilnya jilbab lain yang tergeletak lalu dipasang di kepalanya. Uuuh .. tambah seksi dan binal sekali.

“Puasi aku, sayaaaaaaaang .. Ooooh .. nakaaaal aaaaaah “ lenguh Inneke Koesherawati yang kini menduduki lagi, dengan gemas kembali batangku dimasukkan dalam vagina Inneke Koesherawati dengan paksa, mataku sesekali memandang ke arah suaminya yang pulas itu.

“Sudaaaaaah .. dia nggak banguuun “ maki Inneke Koesherawati dengan senewen karena aku tidak konsentrasi melayani Inneke Koesherawati.

Dengan gemas Inneke Koesherawati menekan terus ke penisku sampai tenggelam separo, Inneke Koesherawati naik turun dengan pelan untuk membuat batangku semakin tenggelam

“Ooooooooh Haaaaan .aaaaaaaaaaah .. enaaaaaaaaaaaak “ teriak Inneke Koesherawati dengan keras, entah dimana sang anak, namun aku tidak perduli. kenikmatan seks bersama Inneke Koesherawati melupakan semua keadaan, kuremas buah dada Inneke Koesherawati yang membusung itu, pelan pelan batangku menjadi tenggelam lebih dalam, Inneke Koesherawati menekan dengan kuat sehingga batangku mentok di vaginanya

“Uuuuuuuuuuuuuuuuh .. kontoooolmuuuuuuuu sayaaaaaaaaaaang.. galak dalam memekku “ sahut Inneke Koesherawati dengan menggeleng geleng, Inneke Koesherawati dengan penuh nafsu langsung menggenjotku, gerakannya semakin liar dan cepat seolah nafsunya dilampiaskan karena selalu terganggu dengan ulah suaminya itu.

“Teruuuuuus Haaaaaaan .. hhhssssssssss….ssssssssssssssh ….. mmmmmmmmmmm” lenguh Inneke Koesherawati dengan naik turun, nafasnya ngos ngosan namun terus menggenjotku. genjotan demi genjotan cepat dan mantap menghujamkan selakangannya di penisku, batangku terasa diperas oleh otot otot dinding vaginanya

“Inneeeeeee .. aaaaaaaaah .. nikmaaaaaaaat “ erangku dengan meremas pantat Inneke Koesherawati yang naik turun itu. Tak terasa kami saling memacu dalam posisi seperti itu, kuremas buah dadanya dan Inneke Koesherawati semakin senang

“Haaaaaan ..sayaaaaaaaaang .. kauu aaaaaaah .. kau memuaaaskaaaan aaaaaakuuu aaaaaaah .. enaaaaaaak “ erang Inneke Koesherawati yang kewalahan menerima batangku mengoyak vaginanya, gerakan naik turun semakin cepat dan menghujam dengan keras, rasa sakitku kutahan dengan kuat, menit demi menit kami saling memacu, Inneke Koesherawati semakin tidak tahan sehingga orgasmenya semakin tak tertahanakan

“Nggaaaaaaaaaaak ..ngggggg aaaaaaaaaaaaaaaaaah .. samaaaa ..aaaaaaah “ racau Inneke Koesherawati penuh dengan erangan demi erangan, jepitan vaginanya semakin menyempit dengan cepat, matanya terpejam dengan erat. Kuremas buah dadanya dengan kuat, dadanya meliuk liuk merasakan remasanku yang nakal itu. Tak berapa lama kemudian orgasmenya datang dengan membusung ke depan memberikan buah dadanya

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan ……….aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. klimaaaaaaaaaaaaks “ teriak Inneke Koesherawati dengan kuat dan keras. Penisku terasa disiram cairan panas, kuremas buah dadanya dengan kuat untuk memaksimalkan orgasmenya. Tubuhnya menegang dengan kaku sangat lama, matanya terpejam dengan kuat. Tubunya kemudian berkelonjotan kembali dan memelukku dengan sisa sisa kekuatannya. Kupeluk dan kubisikan kata kata cinta

“Kau hebat Inneekeee .. aku sukaaa dengan kau mencari tantangaaaan “ kataku yang disambut dengan pelukan gemulai, kami basah kuyub penuh keringat. Penisku terasa basah, kudorong tubuh Inneke Koesherawati dan kutindih.

“Gantian aku di atas sayaaaaaaaaaaang “ sahutku

“Iya Haaaaaan .. gaya konvensional .. pleasee .. keluarin spermamu .. semprot lagi dalam memekku.. ntaaar yaaa Han .. beri waktu aku sebentaaaar .. aku pengin merasakan sodokan kontolmu di memekku “ sahut Inneke Koesherawati dengan mengelus elus dahiku yang berkeringat, kepalaku ingin melihat ke samping, namun dicegah oleh Inneke Koesherawati

“Sudaaaaaaah .. nggak usah pikir lelaki loyo ituu .. sudaaaaaah tidur dengan pulaas .. bangun jam 9an dia” sahut Inneke Koesherawati dengan melumat bibirku.

“Aku nggak tahaaan deeh .. penisku diremas dan disedot oleh tempekmu .. “ sahutku dengan mulai bergerak dengan pelan

“Iiiiiiih .. jahat nih .. gerak nggak bilang bilang .. ayooo sodok “ ajak Inneke Koesherawati yang kembali birahinya naik dengan cepat, aku pun mulai bergerak dengan menggoyang pantatku dan Inneke Koesherawati mengimbangi gerakanku

“Enaaaaaaaaaak Haaaaaaaaan,sayaaaaaaaaang .. teruuuuuuuuuus “ sahut Inneke Koesherawati dengan memegang kepalaku, aku langsung menyerbu bibirnya dan kuremas buah dadanya yang kenyal itu.

“Uuuuuuuuuuuhhh …..aaaaaaaaaaaaaaaah .aaaaaaaaaaah ..aaaaaaaaaauuuuuuuu “ lenguh Inneke Koesherawati dengan meliuk liuk bak cacing kepanasan ketika aku menyodok nyodokan batangku keluar masuk vaginanya, apalagi tanganku meremas dengan rakus dan keras di buah dadanya bergantian, Inneke Koesherawati sampai menggeleng geleng kepalanya.

“Gilaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. ketagihaaaaaaan aaaakuuuuuuuu “ sahut Inneke Koesherawati dengan tertawa

“Iyaaaa aaaaaaaah .. nikmaaaaaaaat “ balasku dengan kembali menyerbu bibir Inneke Koesherawati itu, kami kembali berpacu lagi dengan saling bergerak di pantat kami, Inneke Koesherawati bergerak mengikuti gerakanku berlawanan.

“Diaaam duluu, sayaaaaaaaaang “ kataku dengan menahan kepala Inneke Koesherawati yang berjibab itu.

“Yaaaaaaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan diam, aku langsung menggoyang pantatku searah jarum jam membuat Inneke Koesherawati langsung merem keenakan.

“Uuuuuuuuuuuuh .. gilaaaaaaaaa . kontoooolmuuuuu aaaaaaaaaah nikmaaaaaaaaat “

“Uuuuuuuuuuuuh “ lenguhku merasakan jepitan kedua kaki Inneke Koesherawati menjepit kuat

“Aku suka kontolmu .. oooooh kontolmuuu sayaaaaaaaang … besaaaaaaaar daaaan aaaaaah .. panjang jaaang “ teriak Inneke Koesherawati dengan kuat.

Kami kembali saling bergerak dengan cepat, hampir sepuluh menit kami berpacu, saling meraba raba dan meremas, tangan Inneke Koesherawati meremas selimut dengan kuatnya, terkadang tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri tak kuat gerakan penisku keluar masuk vaginanya.

“Teeee……ruuuusss ..ruuuusss ..aaaaaaah ..ngggggaaaak kuaaaaaat aaaaaaaaaaah “ lenguh Inneke Koesherawati kewalahan. Aku langsung memacu dengan melepaskan tindihan Inneke Koesherawati, aku kemudian duduk dan meremas pantat Inneke Koesherawati, empuk dan hangat, kunaikan pantatnya dan kutahan agar berada di atas angin, selakanganku maju mundur dengan kerasnya menggenot vagina Inneke Koesherawati, Inneke Koesherawati sampai megal megol ke kanan kiri tak kuat sodokanku

“Uuuuuuuuh aaaaaaaaaaaaah ssssssssshhh ..sssssssssshhhh .. ooooooooh .. cuuuuuuuuuuuh “ lenguh Inneke Koesherawati dengan meludah sembarangan.

Kugenjot vaginanya itu dengan penisku kuat kuat sampai membuat Inneke Koesherawati melengkung tak kuat lagi.

“Aaaaaaaampuuuuuuuun aaaaaaaaah nggaaaaaaaak kuaaaaaaaat “ teriak Inneke Koesherawati dengan menggapai gapai sesuatu namun tak dapat digapai selimut itu. Tangannya kini berpindah ke lenganku dan mencakar kuat.

“Haaaaaaaan .. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Inneke Koesherawati yang tak kuat lagi, aku lalu menggenjotnya dengan kuat dan keras, bunyi keciplak alat kelamin kami benturannya sangat menambah birahi kami.

Aku juga tidak tahan lagi, penisku dijepit dalam vaginanya sangat erat sekali. Inneke Koesherawati hanya bisa pasrah menerima hujaman batangku di vaginanya

“Kontooooooool .. kontooooooool aaaaaaaaaah ..kontoooooooolmuuuuuuuu “ teriak Inneke Koesherawati dengan jorok.

“Iyaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku tak kuat lagi.

Jepitan vaginanya semakin erat, Inneke Koesherawati menegang dengan kaku membusung ke atas, kuhujamkan batangku dalam dalam berkali kali, Inneke Koesherawati berkelonjotan kemudian.

“Sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan nafas terputus dan lemas tak berdaya.

Aku terus menghujam lima kali sampai menekan dalam dalam ke vaginanya, kurasakan gelombang panas tubuhku dari dada merayap cepat sampai ke selakanganku

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaaaat………… craaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaat “

Penisku mengucurkan sperma menembak ke rahim Inneke Koesherawati dengan mantapnya, aku lunglai dengan berkelonjotan menindih Inneke Koesherawati. Nafasku seakan hancur melayani nafsu birahi Inneke Koesherawati, aku merem mneikmati setiap detik orgasmeku. Kami diam dengan tubuh penuh keringat itu, luar biasa menegangkan menggenjot Inneke Koesherawati, sedang suaminya tertidur dengan pulas.

Inneke Koesherawati membuka matanya dan menepuk nepuk punggungku

“Bangun sayaaaaaaaaaang “ bisik Inneke Koesherawati

Aku pun membuka mataku dan menarik kepalaku.

“Trim ya Haaan .. aku puaas .. kamu segera kembali ke kamarmu yaaaaaa.. “ kata Inneke Koesherawati dengan tersenyum lalu menciumi kedua pipiku bergantian, aku pun balas menciumi kedua pipi Inneke Koesherawati itu.

“Oke deeeh .. “ kataku mengangkat tubuhku yang penuh keringat itu. Kutarik batangku yang lembek penuh dengan lendir kental itu, Inneke Koesherawati hanya tersenyum saja melihat aku hanya geleng geleng saja

“Sudaaaaaaaaah .. ini hanya seks, sayaaaaaaang .. nanti sebelum kamu pulaaang … kita fast seks .. trus kita akan cari waktu untuk berduaaa yaaaaa “ rajuk Inneke Koesherawati dengan gemas, lalu bangun.

Inneke Koesherawati kemudian memberikan pagutan mesra padaku lama sekali, menikmati setiap detik bibir kami bertaut, setelah puas Inneke Koesherawati dengan tersenyum memandangku.

“Sekali lagi, sayaaaaaaaang .. terima kasih atas malam yang indah ini .. hihihihi . “ kata Inneke Koesherawati dengan berdiri dan menarik tanganku, aku pun digelandang keluar dari kamar.

“Masih mau lagi di kamarku ?” ajakku

“Aku nggak kuat, sayaaaaaaaaang .. nanti lagi “ jawil Inneke Koesherawati di pipiku. Aku keluar dari kamar dengan menjawil buah dada sebelah kiri. Inneke Koesherawati tertawa senang

“Aku suka kenakalanmu, sayaaaaaaaaaang , lebih nakal ya nanti “ goda Inneke Koesherawati dengan menjilati lidahnya dan menutup pintu.

“Huuuuh … suami gombaaaaaaaaal “ maki Inneke Koesherawati dengan mengelap tubuhnya dengan handuk kemudian masuk ke kamar mandi di kamar itu lalu tiduran di samping suaminya yang ngorok itu.

Aku kembali ke kamar dapur, mengambil semua pakaian dan laptopku lalu kembali ke kamar. Luar biasa tegang aku bercinta dengan Inneke Koesherawati di dekat suaminya itu. Gilaaaa aaaaaaaah

Aku memejamkan mataku di ranjang itu dengan bertelanjang bulat, untung AC di kamarku hidup, kuambil selimut dan mencoba tidur memejamkan mataku, pikiranku melayang merasakan kenikmatan cinta bersama Inneke Koesherawati yang nakal itu.

Kupejamkan mataku dengan erat karena kecapekan bercinta dengan Inneke Koesherawati di kamarnya, apalagi suaminya tertidur pulas, walau puas namun aku semakin menyukai tantangan Inneke Koesherawati yang dengan nekad mencari kepuasan birahi tanpa peduli suaminya. Terbersit pengakuan kalo Inneke Koesherawati mengatakan, suaminya selalu menang sendiri dalam hubungan seks, setelah menggenjot, lalu muncrat terus tidur, itu yang membuat Inneke Koesherawati tak puas dalam kualitas seks dengan suaminya. Entah kurasakan Inneke Koesherawati ketika menutup pintu kamarnya itu terlihat sangat cerah dan puas luar biasanya. Tak terasa aku akhirnya terlelap dalam mimpi, tak kurasakan pagi pagi ketika belum genap jam 06 pagi, aku merasakan penisku terasa ada yang mengocoknya, aku membuka mataku dan kulihat Inneke Koesherawati dengan penuh ekspresi senyum kepadaku mengocok batangku.

“Sayaaaaaaaaang .. aaakuuu sudaaaah oral memekku .. nggak tahan deeh .. mumpung suamiku lagi mandi .. “ desak Inneke Koesherawati dengan gemas langsung mengulum batangku tanpa permisi, aku yang setengah mengantuk itu menjadi langsung terbuka matanya, kuangkat badanku sehingga bisa sandaran, kulihat kali ini Inneke Koesherawati berpakaian dengan rapi dan dengan jilbab sangat indahnya, rok panjang disampirkan dan dibuka memamerkan vaginanya yang sudah membasah dan memerah itu. Gilaaaaaa !!

“Pleaseee .. jangaaan teriaaaaak .. ketahuan suamiku bisa berabee .. “ ancam Inneke Koesherawati dengan gemas langsung menduduki selakanganku memaksakan batangku masuk, penisku pelan pelan mulai masuk ke dalam vaginanya dengan pelan pelan.

“Ineeekeeeeeeeeeeee “ panggil suaminya dari dapur yang tidak dijawab.

“Biarin saja di brengsek itu, sayaaaaaaaang “ bisik Inneke Koesherawati dengan gemas menekan lagi dengan kuat sambil tangannya meremas selimut.

Aku hanya menggeleng geleng merasakan nakalnya Inneke Koesherawati yang tidak puas puas itu, pagi pagi belum berangkat sudah minta jatah lagi, dan aku malah tidak siap sama sekali.

“Kamu pengin aku telanjang ?, sayaaaaaaaang “ tanya Inneke Koesherawati dengan senyum mesumnya

“Inekeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee dimanaaaaaaaaaaa “ teriak suaminya di depan kamarku, aku sampai berdegup jantungku.

Inneke Koesherawati dengan diam membiarkan suaminya berteriak teriak, padahal aku sudah ingin melenguh merasakan jepitan vagina Inneke Koesherawati, namun mulutku langsung dibekap oleh tangan Inneke Koesherawati.

“Akuuu mandi yaaaaaaa.. siapin makaaaaaaan “ teriak suaminya dengan tak kalah keras.

“Naaaaah tuuuh .. yuuk lanjuuuuuuuut “ ajak Inneke Koesherawati dengan menekan lebih dalam lagi.

“Iyaaa aaaaaaaaaaah .. kamuuu nakaaaal Innekeeeee …uuuuuuuuh “ erangku merasakan jepitan vaginanya yang kian dimasukin batangku dengan ngaceng besar itu.

“Aku ketagihan dengan kontolmuu .. kamu tunggu rumah yaaa .. nanti jam sepuluh kita berdua bercinta di sini .. hanya kita berdua .. aku ingin bercinta denganmu tanpa diganggu suami brengsek itu “ maki Inneke Koesherawati dengan tertawa kecil.

Inneke Koesherawati menekan lagi, aku sampai menahan nafasku, kurasakan jepitan vaginanya pagi itu kencang sekali, kutahan dan kuraba raba pahanya yang mulus itu, dengan penuh semangat Inneke Koesherawati langsung menekan terus sampai penisku mentok di vaginanya

“Oooooh Haaaaaaaaaaan .. enaaaaaaaaaak “ lirih Inneke Koesherawati dengan suara kecil dan nafasnya mulai ngos ngosan, tanpa ampun Inneke Koesherawati langsung menggenjotku pelan pelan. Kami langung bergerak dengan penuh birahi, kusandarkan punggungku dengan bantal dan membiarkan Inneke Koesherawati menggenjotku dengan pakaian lengkap. Birahinya disalurkan dengan penuh semangat birahi.

“Haaaaan .. enaaaaaaaaak ..sorry Haaan .. sorry ..sayaaaaaaaang .. aku nggak tahaaan nih “ sahut Inneke Koesherawati dengan naik turun di atasku. Kurasakan gerakan naik turun itu lumayan cepat, habis naik turun berkali kali itu, Inneke Koesherawati kemudian menggoyang mengebor ke penisku sampai membuatku merem melek keenakan.

“Suka yaaa kalo aku ngebor ?” tanya Inneke Koesherawati menjawil dadaku

“Kamu nakaal aaaaaaaah “ tuduhku dengan masih mengelus pahanya yang mulus dan berisi itu, genjotan demi genjotan ringan itu semakin membuat batangku diperas sedemikian erat.

“Teruuus, sayaaaaaaaaaaaang .. genjotain . Ooooh “ erangku dengan memandang ke arah Inneke Koesherawati yang berpakaian lengkap itu, buah dadanya ikut bergerak naik turun, namun aku tidak berniat meremas buah dadanya.

Kami berpacu dengan cepat cepat, tak terasa hampir sepuluh menit kami berpacu, bulir bulir keringat mulai membasahi kami, genjotan Inneke Koesherawati dipercepat dan kurasakan jepitan vaginanya semakin erat, Inneke Koesherawati sampai melenguh tak karuan. Hujaman selakangannya semakin cepat dan aku sudah merasakan Inneke Koesherawati hendak orgasme, kubiarkan Inneke Koesherawati klimaks sendirian.

Inneke Koesherawati menegang dengan kaku mendapatkan orgasme. Tubuhnya melengkung membuat busur panah, tangannya meremas sprei kuat kuat

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah ..aaaaaaaakuuuuuuuuu aaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan panjang kemudian rubuh ke depan memelukku yang masih menikmati sedotan dari dalam vagina Inneke Koesherawati, kuelus elus kepalanya yang berjilbab itu ketika tubuhnya berkelonjotan mendapatkan orgasme cepat di pagi hari, penisku terasa disiram cairan panas. Tak lama kemudian Inneke Koesherawati bangun dan mencabut penisku.

“Sorry yaaaaaa .. nanti lagi yaaa .. sabaaaaaaar sayaaaaaaaaaang “ kata Inneke Koesherawati dengan genit

“Awas kau nanti ..” makiku kesal namun kutambahi tawa agar tidak terkesan tersinggung.

Aku dibiarkan menahan birahi sendirian, dasar perempuan haus seks tak tersalurkan, batinku mengejek.Aku kembali relaks dengan penisku masih mengacung dengan tegaknya membasah.

“Dasar muka tempek .. mau menang sendiri “ makiku gemas sambil menarik selimut.

Waktu bergulir dengan cepat, diketuknya pintu kamarku

“Haaaaaan ..sudah banguuun “ teriak suami Inneke Koesherawati di luar kamarku

“Aku nggak enak badan nich .. “ sahutku dengan malas

“Ya sudaaah .. kamu istirahat saja .. jaga rumah yaaaaaaa “ sahut suami Inneke Koesherawati dengan bergegas pergi tanpa membuka pintu. Inneke Koesherawati sudah siap di meja makan, sang anak ternyata di titipkan ke tetangganya. Inneke Koesherawati menyiapkan makan pagi untuk suaminya, walau terasa cemberut namun ditahannya.

“Semalam kamu berperilaku aneh “tanya suaminya

“Aneh bagaimana .. masak mandi malam malam kok aneh “ timpal Inneke Koesherawati

“Halaaaaah .. mustinya kamu malu .. ada tamu lagi “ debat suaminya lagi

“Orang kayak dia .. kalo tidur nggak bangun bangun .. buktinya jam segini malas keluar kamar “ balas Inneke Koesherawati tak kalah.

“Sudahlah .. aku mau manasi mobil dulu … ada masalah dengan ban semalam “ ujar suami Inneke Koesherawati dengan meninggalkan dirinya yang hanya geleng geleng. Setelah suaminya keluar kamat, Inneke Koesherawati kemudian masuk lagi ke kamarku, lalu dengan nakal langsung membuka roknya yang ternyata tanpa celana dalam.

“Ayoooooo . mucraaaaatiiin spermamuuu .. “ ajak Inneke Koesherawati yang melihatku hanya bengong.

Aku kemudian bangkit, Inneke Koesherawati menungging dengan bertelepak pada ranjang tepat di depanku, aku kemudian keluar dari ranjang dan melebarkan kaki Inneke Koesherawati yang sedang menungging itu, aku kemudian menekan penisku yang sudah kukocok kocok ketika Inneke Koesherawati mengirim sms agar aku siap siap menyemprotkan airmaniku.

Aku menekan dengan paksa

“Yaaaaaa .. tekan Haaaaaaaaan ..pleasee cepetaaaaan …waktu sempiit nih “ sungut Inneke Koesherawati yang kelamaan aku memasukan batangku, kutepok pantatnya

“Dasar bawel .. sabaaar “ makiku dengan gemas menusuk dengan kuat membuat Inneke Koesherawati menggeleng geleng. Penisku melesak dengan cepat walau sangat seret, namun kupaksakan sampai separo, kutahan nafasku agar tidak mendengus. Gila baaaaaaaah ! makiku kesal.

Kutarik batangku dan kutekan lagi

“Yaaaaaaaa .. masukin teruuuuuuuuuuus .. enak kontolmu .. entotin segeraaaaaa “ ajak Inneke Koesherawati dengan gemas.

Penisku akhirnya tenggelam dalam vaginanya yang becek itu, langsung kugenjot dengan cepat cepat untuk tidak membuan waktu, Inneke Koesherawati sampai merem melek menggigit bibir merasakan batangku menghujam dengan cepatnya keluar masuk vaginanya itu, aku di lantai sambil menggenjot Inneke Koesherawati yang keenakan itu.

“Truuuuuuus “ dengus Inneke Koesherawati dengan suara lemah karena tidak mau berteriak agar tidak ketahuan.

Genjotan demi genjotan aku lakukan, Inneke Koesherawati melayani dengan mengoyang pantatnya megal megol dan kini kepalanya mengerling genit padaku

“Teruuuuuuus .. bentaaar lagiii “ sahut Inneke Koesherawati dengan memandang ke depan.

Kuhujamkan batangku yang sudah tidak tahan lagi itu, penisku sudah tidak tahan lagi, demikian dengan Inneke Koesherawati yang meremas sprei dengan kuat. Kurasakan jepitan vaginanya kembali menyempit dengan kuat mengcengkeram batangku.

“Aaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan suara kecil

“Iyaaaaaa “sahutku cepat sambil menghujam keras keras sampai Inneke Koesherawati tergoncang goncang.

Aku merasakan Inneke Koesherawati mencapai puncak terlebih dahulu dengan melenguh kecil

“Aaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuh “ lenguhnya dengan penuh kepuasan, batangku tetap menghujam dalam dalam, aku sudah tidak tahan lagi dan

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat “

Penisku menembak kuat kuat ke rahimnya dan aku melunglai dengan cepat ke depan dan menindih Inneke Koesherawati yang ngos ngosan. Kami diam sejenak, kurasakan batangku basah penuh dengan lendir kental. Inneke Koesherawati dengan cepat cepat menepuk lenganku agar tidak menindih. Aku pun berguling dan tiduran, Inneke Koesherawati bangun lalu merapikan pakaiannya.

“Trim Haaan .. kamu tunggu aku jam sepuluh yaaaaaa .. kita bercinat di seharian .. akan kulayani apa maumu .. mau ?” tawar Inneke Koesherawati

“Oke deeeeeeh “sahutku enteng.

Inneke Koesherawati kemudian memelukku dan menghujani dengan lumatan rakus dan ganas, bibirku sampai disedot dengan kuat, kami saling menatap penuh arti selepas saling beradu bibir. Inneke Koesherawati tersenyum padaku lalu menjawil hidungku.

“Tunggu saja istrimu ini yaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati menyembut dirinya istriku.

“Oke deeh ..saumimu akan menunggu dengan setiaaa “ kataku sambil mengelus elus tangan Inneke Koesherawati yang meremas tanganku iri dengan erat.

Inneke Koesherawati keluar kamar dan lenyap, kurasakan aku sampai menjadi gila, dasar wanita tak pernah puas bercinta. Hampir setengah jam aku tiduran. Terdengar lagi suara dari luar

“Haaaaan .. tunggu di rumah yaaa .. aku sore pulang kok .. Inneke pulang malaaam “ sahut suami Inneke yang sudah rapi kembali hendak berangkat

“Iyaaaaaaaaaa kujaga rumah kaliaaan “sahutku malas.

Tak lama kemudian terdengar deru mobil keluar rumah, aku langsung bangun memakai celana kolor, dan aku langsung menuju ke kamar mereka berdua, kubuka lemari pakaian Inneke Koesherawati, tak ada yang aneh dengan wanita ini. Aku keluar dari kamarnya, dan aku tertahan ketika di balik sebuah bingkai foto terlihat benda aneh, kugeser bingkai foto . Alamak .. penis dari karet .. rupanya Inneke Koesherawati tak puas bercinta dengan suaminya dan onani dengan penis imitasi. Pantas !

Aku menunggu rumah Inneke Koesherawati, kuisi waktu luangku dengan mandi di bathtub, kurendam badanku yang pegal menggenjot Inneke Koesherawati sejak semalam, aku semakin menyukai gaya main Inneke Koesherawati yang menyerempet bahaya, inilah seninya orang seperti Inneke Koesherawati yang doyan seks, bahkan mempertaruhkan rumah tangganya. Aku relaks di bathtub dengan air hangat agar resapan air hangat itu memijat tubuhku, bahkan aku sampai tertidur di bathtub, tak terasa aku sejam menidurkan tubuhku, kurasakan badanku mulai pulih, aku lalu mentas keluar dan memakai pakaianku, aku menuju meja makan yang sudah disiapkan makanan yang bergizi, kutelan makanan sampai aku kenyang, habis makan aku masuk ke kamar, melepaskan pakaianku kecuali celana kolorku tanpa celana dalam. Ketika aku hendak keluar kamar, mendadak sebuah mobil berhenti di depan rumah Inneke Koesherawati, kuamati dari jendela, ternyata Inneke Koesherawati yang datang lebih cepat dan tergesa gesa masuk ke dalam rumah, ketika aku membuka pintu Inneke Koesherawati langsung menghambur memelukku

“Sayaaaaaaaaang .. aku kangeeeen .. suamiku sayaaaaaaaang “ rajuk Inneke Koesherawati dengan memelukku erat dan menghujani bibirku dengan lumatan lumatan ganas.

“Nggak sabaar yaaa . istriku manja deeeeeh “ kataku dengan memegang pinggangnya dan tersenyum padanya.

“Iyaaa sih . udah makan belum ?” tanya Inneke Koesherawati

“Makanya makan kamu “ kataku dengan menarik jilbabnya hingga melorot ke belakang

“Ih .. jahat aaaah kamuuuu “ ledek Inneke Koesherawati dengan nakal langsung menempelkan tangannya di celanaku dan meremas batangku yang ngaceng.

“Ih .. kontolmu ngaceng mulu .. nggak sabar masuk sarang ya “ goda Inneke Koesherawati yang melepaskan pelukanku, aku pun digandengnya menuju ke sofa, Inneke Koesherawati langsung mendorongku rebah lalu menindihku dan mengajak bercumbu dengan ganas.

“Uuuh ..aaaaaaaaaa .. sabaaar .. istrikuuuu aaaaaaah “ elakku menahan serbuan bibir Inneke Koesherawati yang rakus mengajak saling bercumbu, aku mengontrol nafsuku agar tidak kedodoran.

“Pleaseee .. kamu nggak mood ya bercinta denganku .. pleaseee .. aaaaaah .. beri aku kenikmataaan” rajuk Inneke Koesherawati semakin nakal dengan menarik celana kolorku dan bangun lalu duduk di depan selakanganku.

“Wuuuih … besar banget kontolmu Haaan .. bangga deh punya suami yang berkontol gedhe .. “sorak Inneke Koesherawati dengan tersenyum pada serta memegang dengan erat batangku itu.

“Inneeekeeee “ panggilku serak

“Kenapa, sayaaaaaaaaang .. ada apa nih, kamu kok malas banget “ tanya Inneke Koesherawati penasaran.

“Kamu tadi pagi curaang .. aku nggak suka deh .. kalo kamu nyelonong langsung ngemut kontolku “

“Halaaaaaah .. aku nggak tahaaaan .. mana tahan kalo Fahmi kayak gitu .. sebal aku .. dingin banget sekarang di ranjang .. mana lagi dia punya selingkuhan .. payaah aaaaaah .. pleasee .. maukah kau bercinta denganku lagi … “ Inneke Koesherawati dengan menatapku dengan amat sangat, bibirnya sampai bergetar menunggu jawabanku, karena aku tak kunjung menjawab Inneke Koesherawati semakin nakal meremas batangku.

“Kamu kalo nggak dirangsang gini nggak mau ?” remas Inneke Koesherawati di batangku dengan gemas

“Aaaaaaaaaaaaaauh .. bukan itu, sayaaaaaaaaang “ sahutku mencekal tangan Inneke Koesherawati yang kian nakal mengocok batangku

“Lalu apa. sayaaaaaaaaang .. pleasee .. mulai sekarang jangan sebut dia .. aku yang jadi istrimu, dan kau adalah suamiku .. marilah suamiku .. siang ini puaskan akuuu .. beri aku kenikmatan cinta .. lakukan sayaaaaaang .. aku relaaa .. jangan biarkan istrimu ini hanya menunggu dan menunggu .. “ ujar Inneke Koesherawati dengan mata berkaca kaca. Kuusap pipinya yang ayu itu, lalu kulepaskan jilbabnya dengan pelan pelan. Inneke Koesherawati menjadi terharu melihat caraku memperlakukan dirinya bak seorang istri

“Aku ingin melihat polos lagi .. copot semua pakaianmu .. kedua .. aku diemut kontolku … telan air maniku … jangan sampai ada yang tercecer .. kau harus menelan spermaku jika pengin terus mengajakku bercinta .. “ kataku dengan membuka pakaian gamisnya.

“Hmmm .. aku belum pernah melakukan itu, sayaaaaaang .. gimana rasanya ?” ujar Inneke Koesherawati dengan memandangku mesra lalu melepaskan remasan pada batangku lalu mengelus elus pipiku, kemudian menciumi pipiku dengan lembut.

“Kau cantik Innekeee .. “ pujiku sambil melorotkan bra ke bawah setelah aku melepaskan kiatan bra di punggungnya, buah dadanya langsung keluar dengan indahnya, puntingnya lumayan besar dan buah dadanya tidak besar namun kenyal, kuremas lembut buah dadanya.

“ooooooh Haaaaaaan .. remeees yaaaaaa .. pelaaan .. pelaaaaaan “ ujar Inneke Koesherawati dengan memejamkan matanya menikmati setiap remasan tanganku.

“Siang ini akan kupuasi kamu .. tidak dengan nafsu binal .. tapi aku ingin memberikan kenikmatan seks yang tidak pernah kau lupakan “ kataku dengan membuka kaitan rok Inneke Koesherawati yang kuangkat pantatnya, sehingga posisinya kini bertelepak dengan tangan mengambang dari sofa itu, kutarik roknya ke depan, ketika roknya kutarik itu Inneke Koesherawati ternyata sudah tidak memakai celana. Vaginanya sudah basah terangsang birahi.

“Lakukan suamiku sayaaaaaang …. hhhmmm .. boleh aku bertanya satu hal, sayaaaang .. kalo mau kau boleh melakukan “ tanya Inneke Koesherawati menahan tanganku yang hendak mengelus vaginanya itu.

“Soal apa, sayaaaaaaaaaang “ tanyaku dengan menjawil pipinya.

“Kau buntuti Fahmi .. siapa selingkuhannya .. “ kata Inneke Koesherawati dengan wajah masih kesal dengan suaminya itu.

“Tak masalah .. tetapi berjanjilah padaku .. kalo aku ketagihan sama kamu, kamu nggak boleh nolak “

“Tak masalah Han .. Oh sayaaaang ..suamiku sayaaaaaaang .. “ ujar Inneke Koesherawati dengan langsung memeluk dan menghujaniku dengan lumatan demi lumatan, kupeluk tubuhnya di bawah ketiaknya, sedang Inneke Koesherawati merangkulkan kepundak, kami berlumatan dengan saling menyedot kuat. Lidahku menjulur dan bermain dengan lidah Inneke Koesherawati, sesekali Inneke Koesherawati menyedot kuat bibirku, sampai air liur kami bercampur, terkadang menempel di bibir kami masing masing, dengan senyum penuh birahi Inneke Koesherawati menjilati air liur dan menelan ke dalam tenggorokannya.

“Sayaaaaaaaang .. segeralah .. kupenuhi permintaanmu .. kutelan air manimu .. siap siaplah sayang “ kata Inneke Koesherawati dengan keluar dari sofa kemudian duduk di lantai, kepalanya mendekat pada selakanganku lalu menjilati batangku dengan pelan pelan.

“Uuuh .. gedheee bangeeeet … kusadari .. bangga rasanya memekku dimasukin kontol segede gini “ ujar Inneke Koesherawati dengan genit sambil menggeleng gelengkan kepalanya tanda kagum akan besaran penisku itu.

“Itu akan selalu mengoyak memekmu “ tunjukku pada selakangan Inneke Koesherawati yang makin membanjir itu.

“Iiiih .. mau donk “ ujar Inneke Koesherawati dengan menjilati batangku naik turun, setiap centi batangku dijilati pelan pelan, Inneke Koesherawati menikmati setiap jilatannya, dari buah pelirku tak lupa dijilati, tangannya memegang batangku dan mengocoknya

“Inneeeee .. aaaaaaaaaaah Inneeekeeeeeeee .. enaaaaaaaaaak .. teruuuuuuuuuuus “ lenguhku tak karuan merasa geli akan jilatan demi jilatan Inneke Koesherawati yang melayaniku bak istri yang setia. Penisku tersapu berulang ulang oleh lidah Inneke Koesherawati yang menjulur julur, menjilati bak es krim yang tidak pernah habis.

Inneke Koesherawati lalu memasukan batangku ke dalam mulutnya, membuka mulutnya dengan lebar sambil menaikan kepalanya sehingga kini bersimpuh dengan lututnya, tak kusia siakan kesempatan meremas pantat Inneke Koesherawati yang berisi dan empuk serta hangat, kuremas dengan lembut sampai membuat Inneke Koesherawati melenguh

“Mmmmmmmmhhhhhhhhhhh …mmmmmmmhhhh ….. ssssreeeeeeeeeeeeep “ lenguhan Inneke Koesherawati yang menyedot penisku sampai keluar menimbulkan bunyi nyaring. Inneke Koesherawati kemudian memasukan lagi batangku, kalo ini lebih dalam lagi dan menyedot dengan kuat

“Jangan buru buru, sayaaaaaang .. nikmati setiap detik kulumaaaaanmuuu aaaaaah ..iyaaa aaaaaaah .. pelankan sedotanmu .. yaaaaaa aaaaaaah .. istri yang pintaaar “ kataku sambil meremas kedua pantat Inneke Koesherawati itu, Inneke Koesherawati sampai menggoyangkan pantatnya merasakan remasanku yang tidak tergesa gesa itu. Penisku keluar masuk mulutnya dengan pelan pelan, Inneke Koesherawati melakukan dengan penuh rasa dan tidak terburu buru seperti orang yang belum merasakan seks, perubahan drastis ini membuatku semakin senang.

Penisku keluar masuk mulutnya berulang ulang dengan terasa nikmat sekali, aku sampai menahan nafasku tak karuan merasakan sedotan ketika batangku tenggelam dalam dalam di mulut Inneke Koesherawati itu.

“Inneeeekeeeeeee ..aaaaaaaaaaaah .. teruuuuuuus, sayaaaang .. teruuuuuuuus enaaaak aaaaaaaah .. Oooh .. nikmatnyaaaaaaaaa “ erangku dengan memejamkan mataku merasakan lidah dan gigi Inneke Koesherawati mempermaikan batangku, batangku sampai berkilat akibat air liurnya, aku tidak beranjak lebih jauh dengan meremas buah dadanya yang ranum dan masih segar itu.

Dilepaskan penisku dan dipandangnya kemudian ditempelkan dipipinya ditepuk tepuk di pipinya yang cantik itu.

“Yaaaa .. istriku yang nakaaaaaal .. “ pujiku sambil mengelus elus punggungnya, di vaginanya kulihat semakin membasah, aku sudah menyembunyikan penis imitasi di balik bantal, kugeser tanganku lalu ketika Inneke Koesherawati sibuk menjilati batangku aku menjejerkan penis imitasi itu dekat batangku, Inneke Koesherawati menjadi kaget.

“Haaaaaaaaaah .. jahat kamuuuuu ..dapat dari mana ?” tanya Inneke Koesherawati dengan malu malu.

“Rupanya kau benar benar kesepian ,sayaaaaaaaaaaang .. “ ledekku yang disambut tangan Inneke Koesherawati hendak merebut penis imitasi.

“Kamu pilih mana ? kontolku atau kontol palsu ini ?” tanyaku memberikan pilihan.

“Kontolmu aaaaaaaaaaaaaaaah “ sahut Inneke Koesherawati dengan kembali mengocok penisku.

“Ayooo .. dikit lagi donk .. aku sudah nggak tahaaaaaan nich .. sudah makin panas tubuhku .. cepetan dikit yaaaaaaa “ ajakku yang disambut dengan sikap agresif Inneke Koesherawati langsung menelan penisku bulat dan menyedot nyedot keluar masuk mulutnya.

“Iyaaa aaaaaaaaaaaah …eaaaaaaaaanaaaaaaaaaaaaaaaaaak “ teriakku keras.

Inneke Koesherawati semakin cepat melakukan kuluman walau tidak secara kasar, piawai sekali Inneke Koesherawati mengulum penis ini, mulutnya terasa sesak menelan penisku yang besar itu, kurasakan giginya sering membuatku tak tahan akan gesekannya, aku sampai gemetar di kakiku.

Bunyi kuluman demi kuluman, terasa rakus sekali wanita ini akan penisku, kurapikan rambutnya panjang lurus itu, kusampirkan ke belakang lalu kembali memegang kepalanya.

“Mmmmmmmhhhhhhh .. cuuuuuuuuuuuh “ Inneke Koesherawati mengeluarkan batangku kemudian meludahi pada bagian atas penisku, habis itu ludahnya kembali ditelan beserta batangku bulat bulat. Sampai enam kali Inneke Koesherawati mengeluarmasukan batangku, kemudian mengocok batangku lalu, mempermainkan dengan jari jari tangannya yang lentik itu, matanya melirik nakal padaku yang hanya bisa ah uh auh belakan.

“Dikit aaaaaaaah aaaaaaaaaaaah .. maaaaaaaaaau aaaaaaaaaaaaaah “ erangku merasakan kocokan itu, Inneke Koesherawati kemudian memasukan batangku dan menyedot dengan kuat. Aku sudah tidak tahan lagi, kuangkat kakiku menjepit tubuh Inneke Koesherawati dan aku bersandar pada sandaran sofa, kurasakan panas tubuhku terkumpul pada dadaku dan melesat dengan cepat menuju ke bawah daaaaaaaaan ……….

“Craaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat … craaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaat “

Penisku menembak dengan keras ke tenggorakan Inneke Koesherawati kurasakan aku menegang mendapatkan orgasmeku dan Inneke Koesherawati dengan rakus menelan air maniku, akibat tembakan sperma yang keras itu sampai membuat spermaku ada yang keluar dari bibir Inneke Koesherawati dan menetes ke lantai. Aku merasa menjadi sangat enteng, kurasakan tubuhku bak terbang ke awang awang, mataku berkunang kunang, tubuhku berkelonjotan dengan nafas serasa hancur. Aku lemas tak berdaya, Inneke Koesherawati menjilati bibirnya agar spermaku bisa masuk ke dalam tenggorokannya. Batang penisku juga ada sperma yang tercecer, Inneke Koesherawati pun menjilati batangku dengan pelan pelan, menikmati setiap detik menjilati batangku yang loyo melemas pelan pelan.

“Spermamu gurih, sayaaaaaaaaaang .. aku sukaaa “ puji Inneke Koesherawati dengan mengelus elus pahaku memberikan rangsangan birahi agar aku cepat bangkit. Aku diam dengan memejamkan mataku, tak berapa lama kemudian aku membuka mataku, Inneke Koesherawati memberikan senyuman manis padaku nan mesra. Mataku melirik ke bawah dan kulihat masih ada sperma yang terbuang.

“Tidak boleh ada sperma yang terbuang .. telan itu di lantai “ kataku dengan mencekal kepala Inneke Koesherawati

“Aaaaaaaaaaah jangan aaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati

“Telaaaaaaaaaan ! “ bentakku dengan galak

“Oke deeeeeeeeeeh “ kata Inneke Koesherawati takut hendak aku marah, Inneke Koesherawati langsung membungkuk dan menjilati sperma yang menetes ke lantai itu, dengan nungging lidahnya menjulur ke lantai menjilati spermaku, tak berapa lama kemudian sperma itu berpindah ke dalam mulutnya dan ditelan bulat bulat. Inneke Koesherawati kemudian berdiri dan meninggalkan aku, pergi ke dapur dan tak lama kemudian membawa minuman dengan dua gelas, dituangkan minuman yang bercampur dengan alkohol itu. Inneke Koesherawati kemudian duduk di sampingku, menenggak minuman itu lalu memberikan aku satu gelas, aku menelan minuman itu dan kurasakan tenggorokanku segar.

NYAI SITI

Di jalanan desa di sebuah pegunungan selatan Jawa Timur, tampak seorang laki-laki berusia lanjut sedang berjalan dengan gontai. Dilihat dari perawakan dan keriput di kulitnya, usianya kurang lebih mendekati 60 tahun. Tapi meski begitu, bentuk fisiknya masih terlihat kuat, seperti layaknya lelaki yang berusia 35 tahun. Maklum, sehari-hari dia bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaannya yang berat membuat kondisi fisiknya tetap terjaga dengan bugar. Menjadi kuli bangunan tidak dilakukannya di negeri sendiri, tapi di Malaysia. Dia menjadi TKI disana. Kini, setelah 30 tahun berada di Malaysia, dia pulang untuk melihat kampung halamannya.

jilbaber ketat merangsang-monica (1)

Terpancar raut wajah lelah di muka lelaki bernama Dewo itu. Sudah dari tadi dia mencari rumah orang tuanya di desa Wonosari, tapi masih belum ketemu juga. Suasana kampungnya memang tidak banyak berubah, hanya jumlah rumahnya saja yang sedikit bertambah. Dulu hanya ada sekitar dua puluh rumah, sekarang mungkin tidak lebih dari 60 rumah. Maklum, desa Wonosari merupakan daerah terpencil di pegunungan. Penerangan listrik pun belum masuk ke desa tersebut.

Sudah hampir tiga jam Dewo mencari rumah orang tuanya. Ketika sudah ketemu dan didatangi, ternyata bukan kedua orang tuanya yang menemui, melainkan seorang berbaju muslim yang sepertinya adalah seorang Kyai. Rumah itu sudah berpindah tangan. ”Mungkinkah Kyai itu adalah anak pungut orang tuanya dulu?” Dewo berkata dalam hati.

“Mencari siapa, Pak?” tanya Kholil kepada Dewo.

Dengan tergagap Dewo menjawab, “Apakah benar ini rumah Pak Markum?”

Kholil terkejut ketika Dewo menanyakan Markum, bapak angkatnya. ”Bapak siapa?” tanya Kholil balik.

”Saya adalah anaknya yang telah lama pergi merantau.” jawab Dewo terus terang.

Betapa terkejutnya Kholil mendengar jawaban itu. Markum, bapaknya, memang pernah berkata kalau dirinya mempunyai anak. Tapi karena kenakalannya, anak itu diusir pergi. Dan sampai Markum dan istrinya meninggal, anak itu tidak pernah kembali ke rumah.

Kholil segera mempersilahkan Dewo untuk masuk ke dalam, dia kemudian memanggil istrinya. ”Nyai, ada tamu. Tolong si Rohmah dan adikmu diajak sekalian.”

Tak lama kemudian, Nyai Siti, istri Kholil, keluar diiringi oleh dua orang gadis muda yang terlihat malu-malu.

”Nyai, ini ada tamu. Pak Dewo ini adalah anak dari bapak angkat kita. Pak Dewo ini sudah sekian lama merantau dan sekarang pulang ke desa ini untuk mencari Pak Markum.”

Mendengar apa yang dikatakan Kyai Kholil, betapa terkejutnya mereka, karena tidak menyangka akan bertemu kembali dengan anak Pak Markum yang asli. Akhirnya keluarga itu dengan hormat menjamu Dewo.

Nyai Siti berumur 35 tahun, wajahnya mirip artis Titi Kamal. Sedangkan anaknya yang bernama Rohmah berusia 16 tahun, wajahnya mirip dengan artis Zaskia Adya Mecca. Adik Nyai Siti yang bernama Wiwik, seperti Ike Nurjanah. Ketiganya cantik, dengan pakaian jubah dan kerudung panjang yang menutup sampai ke dada. Maklum, Kyai Kholil adalah sosok yang disegani di kampung. Sehari-hari ia bertindak sebagai pemuka agama.

Rasa sungkan keluarga Kyai Kholil kepada Dewo makin bertambah besar ketika Dewo memberikan oleh-oleh dari Malaysia berupa baju dan perhiasan yang sedianya akan diberikan kepada orang tuanya. Apalagi ketika Dewo berkata bahwa uang tabungan selama dia bekerja dapat digunakan untuk kebutuhan hidup keluarga Kyai Kholil. Dewo cuma meminta satu hal, ia ingin menghabiskan hari tuanya di rumah ini. Begitu besar keinginannya itu hingga dia bahkan tidak keberatan kalau Kyai Kholil menyuruhnya untuk menggarap ladang yang sebenarnya masih milik orang tuanya.

Akhirnya, tanpa banyak halangan berarti, Dewo pun tinggal bersama dengan keluarga Kyai Kholil. Dia menempati kamar belakang yang terpisah dengan rumah induk yang jaraknya sekitar 10 meter. Hampir dua bulan Dewo tinggal di rumah Kyai Kholil, dan warga sekitar sudah tahu keberadaannya. Cuma warga tidak banyak yang tahu tentang masa lalu Dewo yang kelam, yang suka memperkosa wanita dan menggoda istri orang. Bahkan Dewo tidak segan untuk membunuh lelaki yang merebut para wanita incarannya. Warga cuma tahu tahu kalau Dewo adalah anak Pak Markum yang ingin menghabiskan sisa hidupnya di desa ini.

Padahal Dewo yang sekarang masih seperti yang dulu. Di Malaysia, dia suka bermain perempuan, bahkan setiap hari. Dan begitu tinggal di desa Wonosari, sudah hampir dua bulan ini ia tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. Betapa tersiksanya laki-laki tua itu. Sempat terlintas di pikirannya untuk menyetubuhi istri Kyai Kholil yang cantik. Maka demi memuluskan ambisinya itu, iapun segera mengatur rencana agar bisa mendapatkan tubuh molek Nyai Siti, kalau bisa beserta anak dan adiknya juga.

jilbaber ketat merangsang-monica (2)

Sebagai seorang Kyai, terkadang Kyai Kholil dalam satu bulan bisa empat sampai lima kali meninggalkan rumah. Kalau dihitung, praktis hanya seminggu ia berada di rumah. Sama seperti saat itu, ketika Kyai Kholil sedang ada pertemuan antar Kyai di kota lain selama empat hari. Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Dewo untuk menjalankan rencananya. Sebelum berangkat, Kyai Kholil berpesan kepada Dewo agar menjaga keluarganya, dan Dewo pun menyanggupi, meski dengan senyum iblis tersungging di bibir.

Malam itu hujan turun deras sekali. Jam delapan malam, anak dan adik Nyai Siti sudah lelap tertidur. Tidak ada penerangan listrik membuat mereka malas melek sampai malam. Nyai Siti yang hendak ke belakang bertemu dengan Dewo yang sedang duduk di teras belakang sambil merokok. ”Eh, Pak Dewo… belum tidur, Pak?” sapa wanita cantik itu.

”Belum, Bu,” jawab Dewo.

Sekembali dari kamar mandi, Nyai Siti kemudian bertanya kepada Dewo. ”Pak, saya buatkan teh panas ya, biar nggak kedinginan,”

”Ah, nggak usah repot, Bu.” jawab Dewo pura-pura.

”Ah, nggak papa, Pak Dewo,” jawab Nyai Siti. Tak berapa lama kemudian, wanita itu sudah kembali dengan dua gelas teh panas berada di tangan. Dewo mulai berpikir, ”Aku harus bisa merasakan tubuh Nyai Siti!” tekadnya dalam hati. ”Pak Dewo, ayo diminum. Kok malah ngelamun sih?” pertanyaan Nyai Siti membuyarkan pikiran kotornya.

”Ya, Bu, terima kasih.” Selesai meminum teh panas, Dewo bertanya kepada nyai Siti, ”Semuanya sudah tidur, Bu?”

”Iya, Pak. Hujan-hujan begini anak sama adikku pada males bangun.” jawab Nyai Siti tanpa curiga.

”Wah, kesempatan nih!” pikir Dewo. ”Bu, kalo boleh minta tolong, saya minta minyak kayu putih jika ada,” pintanya.

”Oh, ada, Pak. Sebentar saya ambilkan,” jawab Nyai Siti.

Saat wanita itu masuk ke dalam rumah untuk mengambil minyak kayu putih, Dewo diam-diam memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Nyai Siti.

”Ini, Pak, minyak kayu putihnya. Dibawa aja, nanti saya bisa beli lagi.” Nyai Siti memberikan botol kecil yang ada di tangannya pada Dewo.

”Terima kasih, Bu.” Dewo menerimanya dengan senang hati.

jilbaber ketat merangsang-monica (3)

Sambil ngobrol-ngobrol kembali, Nyai Siti tanpa rasa curiga sedikitpun, mulai meminum teh panasnya yang telah diberi obat perangsang oleh Dewo. Tidak butuh waktu lama, obat itupun mulai bekerja. Nyai Siti merasa gairah dalam tubuhnya tiba-tiba menggebu. Ia mulai berkeringat dan bernafas agak berat. Dewo yang mengetahui bahwa Nyai Siti sudah berada dalam pengaruh obatnya, segera menggeser duduknya lebih dekat dengan istri Kyai Kholil itu dan berkata, ”Bu, kok hujannya lain ya? Lebih dingin udaranya.” pancingnya.

”Iya, Pak.” jawab Nyai Siti dengan suara parau.

Dengan sengaja Dewo meletakan tangannya di paha wanita cantik itu. Melihat tindakan si Dewo, seharusnya Nyai Siti marah. Tapi ia sudah hilang akal, pengaruh obat perangsang telah meruntuhkan kesadarannya. Yang ada dia malah diam saja, bahkan Nyai Siti seperti menikmati elusan tangan Dewo di atas kulit pahanya yang putih mulus. Melihat itu, Dewo pun jadi semakin berani. Ia segera merangkul tubuh montok Nyai Siti dan mencium bibirnya.

”Ehm, Pak!” desah Nyai Siti saat Dewo mulai melumat bibirnya dengan rakus.

Merasa tidak ada penolakan, tangan Dewo dengan cepat mulai menyingkap jubah Nyai Siti, ia mengangkat kain panjang itu hingga ke pinggang. Paha Nyai Siti yang putih dan mulus segera terlihat dengan jelas, tampak begitu menyilaukan di malam yang gelap dan dingin itu. Tak tahan memandanginya lama-lama, Dewo pun dengan penuh nafsu langsung menunduk dan menciuminya. “Ah… geli, pak Dewo!” pekik Nyai Siti dengan tubuh menggelinjang, tapi sama sekali tidak keberatan.

Merasa mendapat angin segar, Dewo pun semakin berani. Sambil mengusap-usap paha mulus Nyai Siti, ciumannya mulai bergerak ke arah selangkangan wanita cantik itu. Ia ciumi vagina Nyai Siti dari luar celana dalamnya, sambil sesekali ia menekan hidungnya pada vagina yang harum dan empuk itu.

”Aghhh… Pak!” Nyai Siti mendesah hebat, seolah sangat menikmatinya.

Tapi rangsangan yang diberikan Dewo tidak berhenti sampai disitu, sambil terus mengendus selangkangan Nyai Siti, dia menjulurkan tangannya dari bawah jubah dan memasukkannya ke balik BH. Diusap dan dipegangnya puting Nyai Siti yang terasa mulai tegak membesar. Ia pijit dan pilin-pilin ringan benda mungil itu hingga tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Nyai Siti menjepit kepalanya dan mendesah hebat, ”Shshshsshh… aghgahahh!” tubuh montoknya menggelinjang, dan Dewo merasakan hidung dan mulutnya tiba-tiba basah oleh cairan kewanitaan. Begitu banyaknya hingga menembus sampai luar celana dalam.

”Pak Dewo, belum pernah kurasakan yang seperti ini, bahkan dari suamiku, dia tidak pernah menciumi vaginaku seperti ini.” kata Nyai Siti dengan mata setengah terpejam, keenakan.

jilbaber ketat merangsang-monica (4)

Dewo pun langsung tahu arah pembicaraan ini, ia segera menggandeng tangan Nyai Siti dan diajaknya untuk masuk ke dalam kamar yang selama ini ditempatinya. Nyai Siti seperti hilang kesadaran, dengan patuh mengikuti. Sesampainya di dalam, Dewo langsung melucuti bajunya. Terjuntai lah batang kontolnya yang belum ngaceng sepenuhnya, besar seperti pisang Ambon dan panjang seperti tongkat satpam.

Melihat kontol yang luar biasa itu, Nyai Siti melongo. Inilah kontol terbesar dan terpanjang yang pernah ia saksikan seumur hidupnya. Belum sempat hilang rasa herannya, tubuh Nyai Siti sudah didorong oleh Dewo hingga jatuh ke atas ranjang. Dewo yang masih ingin mempermainkan Nyai Siti, kemudian mencium bibir wanita cantik itu. Ia juga mengelus-elus seluruh bagian tubuh Nyai Siti, terutama payudaranya yang bulat membusung. Dewo sangat suka sekali dengan benda itu. Terasa sangat empuk dan kenyal sekali dalam genggaman tangannya.

Sambil terus melumat, dia mulai melepas kancing depan baju Nyai Siti satu demi satu sampai terbuka seluruhnya. Tidak hanya itu, ia juga melepas kait BH Nyai Siti, tapi tidak ia tarik, BH itu tetap dibiarkannya disitu. Kalau ingin memegang payudara Nyai Siti, ia cukup menyingkapkannya ke atas, dan terpampanglah benda putih mulus itu.

Nyai Siti semakin terbelalak menyaksikan kontol Dewo yang semakin membesar dan memanjang. Seperti layaknya penis kuda, sekarang kontol itu sudah hampir 25 centi panjangnya. Diameternya juga sangat luar biasa, telapak tangan Nyai Siti tidak bisa mencakup semuanya saat mencoba menggenggamnya. Tersenyum bangga, Dewo dengan kasar melepas celana dalam Nyai Siti, satu-satunya penutup yang masih tersisa di tubuh montok wanita cantik itu. Jilbab Nyai Siti yang bermotif kembang-kembang tidak ia lepas, Dewo merasa benda itu tidak begitu mengganggu aktivitasnya, bahkan semakin menambah gairahnya.

Nyai Siti memandangnya sayu saat mereka saling bertatapan. Dewo melihat wanita itu sepertinya senang dengan apa yang ia lakukan. Dia jadi lebih berani mengusap-usap dada Nyai Siti yang kenyal menegang dengan puting yang terasa semakin mengeras tajam. Dewo mendekatkan mulutnya untuk mencium puting mungil itu. Erangan halus keluar dari mulut Nyai Siti saat Dewo mulai mengecup dan menghisapnya secara perlahan, bergantian kiri dan kanan. Ia terus melakukannya hingga puting yang memerah itu semakin mengeras dan menegak. Nyai Siti tampak semakin gelisah, nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambut Dewo yang sedang tenggelam di celah buah dadanya, mulutnya mendesah-desah, “Ssshh… sshh… aghhh… Pak Dewo!”

jilbaber ketat merangsang-monica (5)

Dewo menurunkan ciumannya. Lidahnya kini bermain-main di pusar Nyai Siti, menggelitik lembut disana, sambil tangannya mulai mengusap-usap paha Nyai Siti yang putih dan mulus. ”Pak Dewo, ughh…” istri Kyai Kholil itu memanggil saat tangan nakal Dewo mulai menyentuh daerah kemaluannya. Dewo mengusap-usap perlahan rambut halus yang tumbuh disana sebelum akhirnya lidahnya terjulur dan mulai menjilatinya.

Bau kemaluan Nyai Siti merangsang sekali, wangi dan harum, sama sekali tidak amis, dengan satu bau khas yang sukar untuk diceritakan. Dewo membuka lebar-lebar paha wanita cantik itu untuk mencari biji klitorisnya. Ia sibak bibir vagina yang telah basah itu. Saat sudah menemukannya, kembali ia julurkan lidah untuk menghisap dan menggigitnya.

”Eghhh… Pak Dewo!” Nyai Siti mendesah kegelian. Liang kemaluannya tampak semakin basah dan memerah. Baunya juga menjadi semakin kuat. Membuat Dewo jadi semakin terangsang. Dilihatnya cairan berwarna putih sudah keluar dari lubang sempit itu. Ini tanda bagi Dewo untuk segera beralih ke tahap selanjutnya.

Diperhatikannya tubuh molek Nyai Siti yang berbaring telentang atas di ranjang. Terutama buah dadanya yang membusung indah, yang seperti minta untuk disentuh dan diemut. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat basah karena air liur Dewo. Perut Nyai Siti tampak cukup rata dan langsing, hanya ada sedikit lipatan lemak disana. Kakinya yang terbuka lebar membuat Dewo bisa menyaksikan dengan jelas lubang kemaluannya yang basah dan menganga lebar, siap untuk dimasuki.

Jadi, sambil tersenyum mesum, Dewo pun segera menindih tubuh Nyai Siti. Didekapnya istri Kyai Kholil itu dan dipeluknya dengan gemas sambil melumat mesra bibir ranumnya. Tangan Dewo meraba seluruh tubuh Nyai Siti yang mulus dan halus. Sambil memegang puting susunya, Dewo meremas-remas buah dada Nyai Siti yang padat dan kenyal. Ia memijit dan mengusap-usapnya hingga nafsu Nyai Siti makin terangsang hebat. Nyai Siti membalas dengan menggenggam penis Dewo erat-erat lalu diusap-usapnya penuh rasa sayang.

jilbaber ketat merangsang-monica (6)

Dewo membuka lebar-lebar paha Nyai Siti untuk mencari liang vaginanya. Setelah ketemu, tanpa memberitahu sebelumnya, dia langsung melesakkan kontolnya menembus lubang sempit itu. ”Aaugh… ahhh…” Nyai Siti menjerit tertahan, tubuhnya menggelinjang seperti kesakitan karena memeknya terasa penuh oleh kontol Dewo yang besar dan panjang.

”Pelan-pelan, Pak Dewo!” Nyai Siti berbicara dengan nafas sesak. Mulutnya meringis seperti orang sedang menahan kencing.

Dewo segera memeluk tubuh molek Nyai Siti dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, ia menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut benda bulat itu. Mulutnya mengecup-ngecup sambil lidahnya memainkan putingnya. Lalu Dewo bertanya dengan suara lembut, “Mau diteruskan?”

Nyai Siti membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yang begitu menggairahkan. Dewo pun menekan penisnya ke dalam. Kemudian ditariknya ke belakang perlahan-lahan. Ditekan lagi. Ditarik lagi. Begitu terus selama beberapa saat hingga kemaluan sempit Nyai Siti berubah menjadi sedikit lebih lebar, baru Dewo mempercepat hentakannya. Kini dengan lancar kontolnya keluar masuk di memek sempit Nyai Siti. Terasa hangatnya sungguh sangat menggairahkan.

”Ehss… ahmm… ughh…” Nyai Siti mendesah dan mengerang seiring dengan genjotan pinggul Dewo yang semakin cepat dan kencang. Bahkan punggungnya sampai terangkat-angkat untuk menyambut tusukan laki-laki tua itu.

Tak ingin kalah, sekuat tenaga Dewo terus memaju-mundurkan pinggulnya. Sambil menggoyang, ia juga terus meremas-remas payudara Nyai Siti yang bulat dan membusung indah. Sampai akhirnya ia merasakan badan Nyai Siti mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk tubuh Dewo erat-erat. Satu keluhan berat keluar dari mulutnya. ”Arghhh… aku keluar, Pak Dewoooo…!” setengah berteriak, wanita itu orgasme. Vaginanya yang sempit menyemburkan cairan kental yang banyak sekali.

Merasa nikmat, bukannya berhenti, Dewo malah menggoyang pinggulnya semakin kuat. Kasur tempat mereka bersetubuh sampai berdecit-decit dibuatnya. Denyutan di kemaluan Nyai Siti kembali terasa, seakan ingin melumat penis Dewo yang tertanam di dalamnya. Dan tak lama, wanita itu kembali orgasme.

”Pak Dewoo… aku keluar lagi.” erang Nyai Siti, ingin dikasihani.

jilbaber ketat merangsang-monica (7)

Tapi bukan Dewo namanya kalau bakal menyerah dalam waktu singkat. Ia terus mempercepat goyangannya, tak peduli meski memek Nyai Siti kembali berdenyut-denyut kencang, tanda kalau cairan cintanya akan muncrat lagi. Denyutan yang semakin keras membuat penis Dewo semakin menegang keras. Nyai Siti mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya, dan…

”Oughhh… Pak Dewo!” ia pun orgasme untuk yang ketiga kalinya.

Goyangan Dewo menjadi semakin kencang. Kemaluan Nyai Siti yang basah terasa semakin keras menjepit batang penisnya. Dirangkulnya tubuh istri Kyai Kholil itu kuat-kuat. Nyai Siti diam saja, malah ia bersandar pada tubuh kurus Dewo. Nyai Siti sudah lunglai tak bertenaga. Tiga kali orgasme membuatnya bagai lemas tak bertulang. Sementara itu, Dewo terus menggoyang hingga tak lama tubuh montok Nyai Siti kembali terguncang-guncang. Nyai Siti membiarkan saja perlakuan itu. Ia sudah tidak kuat untuk membalas. Orgasme demi orgasme yang kembali ia raih membuatnya makin lemas dan terpuruk. Ia pasrah tubuhnya yang masih terbungkus jilbab dan jubah dikerjai oleh Dewo.

”Pak Dewo kok kuat sekali sih… sudah sembilan kali aku keluar, tapi Pak Dewo tetep aja kuat?” tanya Nyai Siti dengan suara lirih.

Dewo mencabut penisnya dan bertanya, ”Nyai bisa bantu saya?”

Merasa tidak enak hati karena sudah diberi kenikmatan bersetubuh yang bertubi-tubi, Nyai Siti tidak sanggup untuk menolak. Ia pun mengangguk dan menyanggupi. ”Apa yang bisa kulakukan untukmu, Pak?” tanyanya lirih.

Sambil meremas-remas payudara bulat Nyai Siti, Dewo kemudian berdiri di pinggir ranjang, sedangkan Nyai Siti duduk di depannya. Dia menyorongkan kontolnya kepada wanita cantik itu. ”Nyai, tolong sepong kontolku,” pintanya, sedikit memaksa.

Awalnya Nyai Siti tidak mau. Ia merasa jijik melakukan hal seperti itu. ”Ini kan kotor, Pak.” tolaknya halus.

Namun Dewo terus memaksa, hingga akhirnya mau tidak mau Nyai Siti terpaksa melakukannya. Pertama memang kaku, ia cuma menjilati ujungnya saja. Tapi itupun sudah cukup membuat Dewo merem melek keenakan. Semakin lama, hisapan Nyai Siti semakin terasa nikmat. Wanita itu kini sudah mulai berani memasukkan penis Dewo ke dalam mulutnya. Namun baru separuh yang masuk, Nyai Siti sudah tersedak. Wanita itu terbatuk-batuk dan segera meludahkan penis Dewo kembali.

”Gede banget burungmu, Pak.” keluh Nyai Siti.

Tidak peduli, sambil memegang kepala Nyai Siti yang masih terbungkus jilbab, Dewo meminta istri Kyai Kholil itu agar kembali melahap penisnya. Tidak sanggup untuk menolak, Nyai Siti pun kembali menjilatinya. Mata Dewo terpejam-pejam ketika lidah basah Nyai Siti mulai melumat kepala penisnya dengan lembut. Kontol itu dikulum Nyai Siti sebisanya, yang penting bisa membuat Dewo mengerang dan merintih penuh nikmat.

jilbaber ketat merangsang-monica (8)

Tidak tahan diperlakukan seperti itu, dalam keadaan sangat bergairah, akhirnya Dewo sampai ke puncak. Air maninya muncrat ke dalam mulut Nyai Siti, hampir setengah gelas. Tubuh tua Dewo bergetar kencang saat cairan itu menyembur keluar.

”Umph… humphhh!” Nyai Siti berusaha membuangnya, namun karena Dewo menjejalkan penisnya dalam-dalam, terpaksa sebagian sperma Dewo tertelan olehnya. Terengah-engah, ia memandangi Dewo yang tersenyum penuh kemenangan.

”Bagaimana rasanya, Nyai?” tanya Dewo menggoda.

Bukannya marah, Nyai Siti malah ikut tersenyum dan mengangguk. ”Lumayan, sperma Pak Dewo enak juga.” Ia merasakan ada yang berubah pada dirinya setelah menelan sperma laki-laki tua itu, sisi liar yang selama ini tersembunyi dalam dirinya seperti terbangkitkan. Selama ini Nyai Siti belum pernah ngeseks dengan suaminya sampai sembilan kali orgasme seperti yang telah dilakukannya dengan Dewo barusan. Dan ternyata, hal itu sangat nikmat sekali. Nyai Siti menyukainya. Ia ketagihan dibuatnya.

Maka itu, begitu Dewo bertanya, ”Gimana, Nyai, enak nggak kawin denganku?” Nyai Siti segera membalas. ”Enak sekali, Pak Dewo. Ayo kita ulangi lagi.” Gila, seorang istri Kyai bisa berkata seperti ini. Memang, nafsu sanggup membuat seseorang kehilangan akal. Apalagi saat melihat kontol Dewo yang ngaceng lagi, makin senanglah wanita setengah baya itu.

”Sekarang lepas semuanya ya, Nyai… jilbab, BH dan jubahmu,” pinta Dewo.

Tanpa perlu diperintah dua kali, Nyai Siti menuruti keinginan laki-laki tua itu. Dengan cepat pakaiannya luruh ke lantai hingga ia sama-sama bugil seperti Dewo. Kali ini Nyai Siti tidak sungkan lagi melayani Dewo. Tanpa rasa malu, ia memeluk Dewo dan kemudian melumat bibirnya. Sambil terus berpagutan, sesekali lidah Nyai Siti terjulur untuk mencari sisa-sisa ludah Dewo. Setelah itu ciumannya turun ke dada Dewo untuk mempermainkan putingnya. Nyai Siti menghisap dan menjilatinya seperti yang tadi dilakukan Dewo pada putingnya.

”Ehm…” melenguh keenakan, Dewo menikmatinya dengan hati puas. Niatnya untuk menguasai Nyai Siti, kini terlaksana sudah. Bahkan lebih daripada dugaannya. Tanpa sengaja, Dewo telah mengubah istri Kyai Kholil yang alim dan pendiam itu menjadi wanita nakal yang haus akan belaian birahi. Terbukti dari ulah Nyai Siti yang tanpa diminta, mulai mengulum dan mengocok kontol besar Dewo, padahal tadi di awal-awal dia sangat jijik melakukannya. Sekarang malah kelihatan sangat menikmati. Nyai Siti terus menghisapnya sambil sesekali mencucup kedua telurnya, membuat Dewo merem melem keenakan menerimanya.

jilbaber ketat merangsang-monica (9)

Setelah kontol Dewo tegang sepenuhnya, Nyai Siti pun kemudian menaikinya, dan blesh…! Kontol itu dengan telak masuk ke lubang vaginanya. Setelah berdiam diri sejenak, Nyai Siti mulai bergerak naik turun. Ia menggenjot pinggulnya di atas batang kontol Dewo, menjadikan batang coklat panjang itu sebagai tumpuannya. Nyai Siti terus melakukannya sampai ia mendapatkan orgasme secara berulang, sama seperti saat persetubuhan pertama tadi.

Dewo yang belum orgasme kemudian meminta Nyai Siti untuk tidur telentang dengan bersandar pada bantal yang ditumpuk. Dewo menduduki dada Nyai Siti sambil memasukkan kontol besarnya ke mulut wanita cantik itu. Nyai Siti kelabakan mendapatkan sodokan kontol Dewo, tapi dia sama sekali tidak menolak. Dewo yang keenakan, terus menggenjotkan kontolnya dengan penuh nafsu. Begitu cepatnya gesekan antara mulut Nyai Siti dengan batang penisnya, sampai membuat mulut Nyai Siti terasa nyeri. Rasa sakit itu baru mereda saat tak lama kemudian kontol Dewo ejakulasi menyemburkan semua isinya. Nyai Siti menampungnya dengan lahap dan lekas menelan semuanya. Kali ini, ia tidak ingin ada sperma Dewo yang terbuang percuma. Terlalu sayang kalau hal itu sampai terjadi.

Kelelahan setelah bertarung semalaman membuat keduanya akhirnya tertidur lelap sampai pagi. Saat bangun, badan Nyai Siti terasa pegal semua, bibirnya juga terasa sedikit perih. Namun semua itu terbayar lunas dengan kepuasan birahinya semalam. Sebelum pergi dari kamar Dewo, Nyai Siti masih sempat mempermainkan kontol laki-laki tua itu. Dia menghisap dan menjilati batang serta buah zakarnya. Bau kontol Dewo akibat persetubuhan semalam masih terasa, tapi menjadi harum di hidung Nyai Siti yang gila seks.

Dewo hanya mendesah dan menggeliat senang dengan perlakuan istri Kyai Kholil itu. Ia pun bangkit. Diputarnya tubuh montok Nyai Siti dan kemudian didudukinya buah dada Nyai Siti yang bulat besar. Dewo menggenjot kontolnya di mulut perempuan cantik itu sampai mengeluarkan spermanya, dan langsung ditelan oleh Nyai Siti dengan penuh nafsu. Mulai detik itu, resmilah sudah Nyai Siti menjadi budak seks kakek Dewo.

jilbaber ketat merangsang-monica (10)

Hari-hari berikutnya, Nyai Siti yang sudah ketagihan dengan kontol panjang kakek Dewo, dengan tidak malu-malu lagi meminta kepada laki-laki tua itu untuk menyetubuhinya. Disaat sang anak dan adiknya tidak ada di rumah, mereka melakukannya. Bahkan pernah sehabis pulang dari ladang, Dewo yang hanya mengenakan celana kolor kusam, dengan bertelanjang dada, begitu sampai di rumah, langsung dihujani ciuman oleh Nyai Siti. Seperti orang kehausan, Nyai Siti mencari dan menghisap keringat Dewo. Dan mereka pun bersetubuh di sisa hari itu.

RINI

Hai, perkenalkan namaku Raeiny el-shubuchyi, panggilanku Rini. Usiaku 28 tahun dengan dua anak, yang pertama 3 tahun dan yang kecil baru 9 bulan. Suamiku sendiri adalah pekerja pasif di bidang sarana pendidikan. Sebagai orang dunia timur dan masih berdarah Mesir, aku sudah tinggal di Indonesia sejak lama, tepatnya di kota S. Suamiku yang hanya pekerja pasif membuatku sering tidak nyaman, apalagi kini aku hidup jauh dari orang tua kandung yang secara materi tidak kekurangan.

sexy hijaber (1)

Beruntung aku sudah punya 2 anak ditambah seorang adik sepupu yang membuat hidupku terasa lebih bergairah. Namanya Nakim, baru kelas 1 SMP, sudah 5 bulan sejak ia pindah ke tempat tinggalku untuk melanjutkan sekolah karena sekolah lamanya ditutup. Hari-hari kami lewati bersama, setelah Nakim pulang sekolah ia sering membantuku menjaga Fael, anak keduaku. Di sinilah cerita ini dimulai.

Semalaman aku tidak dapat tidur, bukan karena kedua anakku yang rewel, melainkan akhir-akhir ini aku merasa jenuh terhadap suamiku yang hanya mementingkan kebutuhan pribadinya saja. Soal materi aku sama sekali tidak kekurangan karena aku masih diberi uang tambahan oleh orang tuaku. Nafkah hasil kerja suamiku sendiri hanya cukup untuk makan sehari-hari. Nafkah lahir yang tidak mencukupi tidaklah menjadi beban bagiku, namun kenyataannya kehidupan keluargaku mengalami masalah karena suamiku yang menjadi kepala rumah tangga tidak memperhatikan kebutuhan batiniahku. Ia lebih berkonsentrasi pada pekerjaanya daripada memenuhi hasrat seksualku.

Kejenuhan ini semakin menjadi beban ketika suamiku mulai jarang di rumah, ia malah sering pulang ke rumah orang tuanya bahkan sering menginap. Dan waktu pulang pagi harinya langsung berangkat lagi ke kantor tanpa memperhatikan betapa istrinya juga sangat membutuhkan belaian kasih sayang. Kegiatan seksual kami hanya satu arah, yaitu aku sebagai istri tidak selayaknya ikut menikmati. Sungguh sebuah siksaan yang tidak kuketahui kapan akan usai, sampai datanglah kesibukanku mengurus kedua anakku, dan adik sepupuku. Oh, hari-hari yang tidak boleh aku keluhkan, aku harus tegar, dan tetap menatap ke depan.

Di suatu siang yang terik saat semua tanggung jawabku sebagai ibu rumah tangga selesai kukerjakan, tiba-tiba rasa dahagaku akan belaian kasih dan cinta bergelora seperti sedang berada di tengah ganasnya gurun melihat danau nan jernih, semangatku bangkit untuk menggapainya. Walau hawa panas dan badai pasir datang saling susul menyusul namun takkan menggoyahkan langkahku. Anakku yang sulung sedang ada di rumah orang tuaku dan yang kedua sedang asyik bermain denganku sampai Nakim pulang dari sekolah.

Seperti keseharianku, aku selalu mengenakan busana muslim dengan jilbab. Mula-mula aku minta Nakim untuk menjaga si kecil anakku dengan mengatakan ingin beristirahat setelah menyelesaikan kerjaan rumah, aku menuju kamar yang tidak tertutup rapat. Yah, kuakui aku juga seorang eksibisionis, sering kupertontonkan keindahan lekuk tubuhku dari balik jubah panjang yang kukenakan. dan di pagi itu. Nakim lah yang menjadi penikmatnya. Pernah kupergoki Nakim sedang mengintip saat aku mandi, namun kini akulah yang seolah membutuhkannya.

Dengan jubah panjang sutra hitam dan jilbab putih khas Turki, sungguh perpaduan yang elok, aku pun tidur membelakangi pintu sehingga pantatku akan tampak menonjol serta belahan panjang pada bagian bawah jubahku akan mudah tersingkap dan memperlihatkan betapa mulus pahaku. Kulit tubuhku yang putih tentu dapat menarik Nakim.

Dan saat-saat yang kunanti datang juga, si kecil menangis karena haus. Nakim membawanya ke dalam kamar dan dia tersentak melihatku. Aku mulai bangun kemudian duduk dan membuka satu per satu kancing jubah panjang yang kukenakan, lalu mengeluarkan payudara kananku sambil meremasnya sehingga tampak bergoyang-goyang indah. Nakim menatap tajam, tampaknya ia sangat menikmatinya karena terlihat berulang kali menelan ludahnya.

“Ehm,” kataku, Nakim tersentak kaget, “kok bengong?” tanyaku, dan wajah Nakim langsung memerah menahan malu.

“Eh, e-enggak, mbak. Maaf,” dia tergagap.

“Sini, biar mbak tetekin dulu adek.” kataku dengan satu payudara masih terburai keluar.

Nakim mendekat dan menatap tajam ke arah payudaraku, kuraih anakku dari gendongannya dengan tangan kanan, siku tangan kiriku dengan sengaja menyentuh selangkangan Nakim yang sedari tadi tampak menonjol. Hmm, penisnya sudah mengeras.

“Mbak, maaf Nakim lancing.” ucapnya bernada gemetar.

“Tidak apa, nanti kamu bisa lihat semuanya yang kamu mau, tapi biar adek bobo dulu. Tunggu mbak di kamarmu ya?” rayuku.

Segera kubaringkan tubuhku dan meletakkan anakku di sebelah, sambil kusingkapkan bagian bawah jubah. Tampak Nakim masih berdiri mematung, namun tetap kubiarkan ia menikmati ujung kaki hingga sebagian paha yang sengaja kuperlihatkan. Kusangka Nakim akan melangkah keluar, tapi bocah itu malah mengunci pintu kamarku dan mendekat lagi, lalu dia ikut naik ke atas ranjang. Kini Nakim tidak hanya menatap, namun langsung mencium pahaku yang sontak membuatku terkejut.

“Nanti di kamar Nakim saja ya?” pintaku.

“Nggak tahan, mbak.” sanggahnya, lalu Nakim melanjutkan mengecup-kecup paha kananku.

“Kim, kamu tahu mandi kucing?” tanyaku mengetes.

“Nggak, mbak.” balasnya sambil menggelengkan kepala.

“Mau tahu?” imbuhku.

Nakim menjawab cepat, “Boleh, mbak.”

Segera kuangkat kaki kananku ke arahnya, “Jilati ujung kaki mbak, Kim.” Dan Nakim langsung mengerjakan perintahku, “Mula-mula ibu jari, terus ke jari telunjuk, jari tengah, hingga kelingking…” bisikku lebih lanjut. Nakim dengan bersemangat mengulum ibu jari kakiku, lalu kembali ia kuperintah. “Terusin ke atas dong!” pintaku.

Nakim tampak menikmati permainan awal itu, dengan lahap ia menjilati setiap jengkal kulitku naik turun hingga basah mengkilap karena air liurnya. “Pindah ke kamarmu yuk, agar nggak ngganggu adek yang lagi bobo.” ajakku sambil beranjak dari ranjang.

Dengan sigap Nakim mengikuti langkahku menuju pintu, kubuka gagangnya dan kututup kembali pelan. Kami berjalan bersama, Nakim yang sudah tidak tahan segera memeluk pinggangku. Tiba di depan pintu kamar, ia mendahuluiku dan segera membukakan pintu. Kami masuk dan Nakim langsung menguncinya. Dengan tidak sabar kami pun berpelukan di balik pintu, saling raba dan saling cium. Tubuh Nakim yang hanya setinggi payudaraku membuatku harus menundukkan badan, bibir kami berpagutan, kedua tanganku memegang kuat kepala Nakim dan kuhisap-hisap bibirnya.

Nakim sekali-kali menjulurkan lidah menjelajahi mulutku. Tangan Nakim meremas kedua payudaraku, makin lama semakin kuat, membuatku merintih keenakan. Tak tahan, aku membungkuk berlama-lama dan kuangkat tubuhku untuk menghirup nafas yang terasa bagai kehabisan udara, kepala Nakim kini tepat berada di depan payudaraku. Kutatap wajahnya yang masih polos itu lalu kudekap kuat diantara kedua payudaraku.

sexy hijaber (2)

“Ini yang tadi kamu lihatin kan, sekarang bebas kamu apakan saja.” ucapku lirih.

“Boleh kucium, mbak?” tanyanya, kujawab dengan anggukan. Dan Nakim membuka jubahku hingga kedua payudaraku yang bulat padat terlihat jelas. Dia segera menciuminya, terutama di area putingku yang sedari tadi mengeras.

“Putingnya kamu isepin ya!” pintaku. Dihisapnya puting payudara kiriku beberapa kali, aku melenguh, “Uhh… uuh… uuh… hefs… lebih kuat lagi, Kim!!!” pintaku.

“Aahh… aahs… enak banget! Aduhh… lagi, lagi, yang keras! Hhess… ahh… ahh… ahh…” aku mengerang-erang dan menghentakkan kaki, lalu kubimbing Nakim menuju tepian ranjang dan aku duduk, sementara Nakim terus mengulum putingku dan sesekali diselingi dengan pilinan lidah dan gigitan kecil.

“Ouhhhhhh… uuuh… ouuuuuhhhhh…” lenguhku panjang saat Nakim menarik putingku dengan gigi dan kedua bibirnya mengatup-ngatup seraya menghisap panjang. Puas dengan payudara kiri, Nakim beralih ke payudara kanan, berulang-ulang Nakim menjilatinya hingga terasa basah, lidahnya terus berkelana ke setiap penjuru payudaraku seolah tak ingin melewatkan sedikitpun dari kulit tubuhku yang terbuka. Bibirnya merayap ke atas hingga ke batang leherku yang masih tertutup jilbab lebar yang masih kukenakan.

“Ahh… ahh… hees… aaah…” desahku diantara tarian lidahnya. Kubuka lagi kancing bajuku hingga terpampanglah perutku.

“Mbak mulus banget,” kata Nakim.

“Kamu basahin dengan lidah ya!” aku meminta, dan Nakim menurutinya. Bibirnya sekarang beralih ke pinggangku, lalu ke bagian punggung. Aku berputar agar Nakim bisa lebih leluasa, dan jilatannya terus meninggi hingga ke pundak belakang. Tangan kanannya yang sedang meremas pantat kutarik ke depan untuk meremas payudaraku, sementara yang kiri kumasukkan ke dalam jubahku dan mengarahkannya ke bagian selangkangan, kugosok-gosokan jemari tangan Nakim yang menyelinap dari atas, lalu kubiarkan tangannya berkreasi sendiri.

“Ashh… eshh… eshh… esttt… aaahh…” lenguhku seraya menggigit-gigit bibirku sendiri. Kedua tangan Nakim sudah lincah bermain-main di setiap bongkahan tubuhku yang masih padat dan sintal. Lalu aku berdiri dan kutanggalkan jubahku, namun masih menyisakan jilbabku. Terlihatlah tubuh indahku yang telanjang bulat.

Nakim menatap nanar vaginaku yang mulus tanpa rambut kemaluan, lalu ia langsung bereaksi, ia mengulum puting payudara kananku, sementara tangan kanannya meremas-remas payudara kiriku dan tangan kirinya mengusap-usap vaginaku.

“Ooohhh… oooh… Nakim suka tubuh mbak?” lenguhku sambil perlahan-lahan kubaringkan tubuhku di ranjang. Nakim masih terus mengulum dan menjilat-jilat payudara kiriku, lalu perlahan turun ke bagian perut, semakin turun hingga bertemu bibir vaginaku, dan ia menghisap disana.

“Auhh… auhh… uhhhhh… heeeef… gulung dan julurkan lidahmu, Kim! Aaaaagh…” perintahku, “Terus! Aaah… ooh… masukin kesini!!!” jariku menunjuk ke bagian lubang di depan hidung Nakim. Didahului dengan ciuman dan kecupan, lidah Nakim merojok-rojok lubang vaginaku dengan lincahnya.

“Nakim, kamu pilin daging kecil yang di atas ini ya?!” pintaku, “Ooooh… ohhhh… yah, yang itu! Iyah, di situ! Eehhhh… aaagh…” lenguhku ketika bibir dan gigi Nakim memainkan daging mungil vaginaku, ia menarik-nariknya dan…

“Ehrrr… ahhhhhhh… ahhhhhh…” erangku sambil mendongak, perutku mengejang, serta kakiku menghentak keras. Creet… crett… creet… creet… vaginaku menyemburkan cairan hangat ke mulut Nakim yang sedang terbuka, kepalanya kutarik mendekat agar ia menelan semuanya.

“Minum, Kim! Enak kan rasanya?” kataku yang langsung disambut Nakim dengan hisapan bibirnya. Ia menjilat dan menelannya semuanya sampai habis.

Certtt… certttt… certtt… keluar lagi dari dalam vaginaku cairan yang lebih kental dan banyak, Nakim menghisap dan menyapu semuanya hingga terasa bersih. Setelah rasa nikmat itu berlalu, segera tibalah giliranku. Kubuka resliting celana biru seragam SMP-nya, dan kukeluarkan penis Nakim, ukurannya kecil dan belum disunat. Bagiku tak masalah, pasti tetap bisa memuaskan daripada tidak ada sama sekali. Perlahan kujilati dari ujung hingga pangkal, lalu menuju testisnya, kubuka kulupnya dan kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum perlahan sambil kumainkan lidahku.

“Ahh… ahh… ahh… enak, Mbak! Aah… aghh…” erang Nakim sambil memegangi kepalaku yang masih tertutup jilbab. Belum sampai 5 menit, tiba-tiba…

“Mbak, aku mau pipis! Aaaaaghhhhh!!!” tersemburlah mani dari penisnya yang masih berada di dalam mulutku, kutelan dan kuhisap habis cairan putih kental itu. Kujilati ujung-ujung glans penisnya sampai bersih.

Selanjutnya sambil tetap berpelukan, kami beristirahat sejenak. Nakim meremas-remas dan menetek di payudaraku, sementara aku mengusap dan membelai penisnya yang sebentar saja sudah mengeras kembali. Dasar anak muda.

“Nakim mau di bawah atau di atas?” ucapku lirih di dekat telinganya yang disambut dengan suara seraknya, “bawah aja, Mbak.”

sexy hijaber (3)

Nakim kubaringkan di tengah ranjang dan aku duduk di atas pahanya. Nafasku semakin memburu, kugenggam penis Nakim dan perlahan kugosok-gosokkan di bibir vaginaku, “Ohh… ohh… ohh…” terasa geli sekali, makin lama makin kencang penis kecil Nakim dan makin memerah.

“Ehhh… eeehgr… ehh…” akhirnya kumasukkan benda itu ke dalam pintu surga kenikmatan yang selama ini terjaga hanya untuk suamiku. Kumasukkan penis Nakim sampai pangkalnya, kemudian kugoyangkan pantatku berputar-putar, maju mundur dan sekali waktu kutarik-tarik.

“Heeef… heeeff… ehrrrrrr… enak banget, Mbak! Aahh… ahh…” Nakim merintih sambil meremas-remas bulatan payudaraku. Sekitar 6 menit aku menari-nari di atas tubuhnya hingga…

“Oahh… ouhh… ohhh…” aku mengerang saat Nakim memijit keras buah dadaku.

“Mbak, aku mau pipis lagi! Aaaaaaakhh…” erangnya dengan tubuh kelojotan.

“Iya, sama-sama yaa… aaaaaaaaagghh!!!” lubang vaginaku terasa disembur cairan hangat berulang-ulang. Nakim terkulai lemah sambil menatap wajahku yang tersenyum puas. Aku menyusul tak lama kemudian.

“Nakim mau lagi?” tanyaku sambil mengusap keningnya yang berkeringat. Tak kunjung mendapat jawaban, kurebahkan tubuhku di sampingnya.

“Nakim capek, pingin istirahat, mbak.” katanya lirih.

Kukecup pipinya dan kutatap wajahnya yang memang nampak kelelahan, lama aku menatapnya, bagiku Nakim seperti bayi yang baru lahir. Sesaat gairah seksualku musnah entah kemana, yang ada dalam benakku hanyalah sosok mungil yang terlelap dalam mimpi indah di awan putih.

“Eak… eakkk…” aku tersentak saat mendengar anakku menangis, mungkin ia terbangun dan merasa sendiri tanpa aku yang biasa menyanding di sebelahnya. Seorang ibu yang seharusnya memberi ketenangan kini malah sedang dibuai oleh lamunan nyata tentang arti sebuah kegersangan.

“Muach, selamat mimpi indah, Nakim.” ucapku meninggalkanya di awan khayal nun jauh di atas batas kewajaran. Kukenakan jubahku kembali lalu menghampiri anakku yang masih menangis, kubopong dan kuberi dia ASI untuk mengisi perutnya yang mungkin lapar. Ketika payudaraku menyeruak keluar, nampaklah jelas bekas gigitan Nakim yang kecil-kecil dan samar bagai goresan kuas diatas kain kanvas sang maestro. Dengan lahap anakku mengenyot-enyot dan ASI-ku keluar deras memenuhi rasa dahaganya.

Hampir 15 menit lamanya aku duduk di tepi ranjang, tanpa kusadari Nakim sudah ada di sebelahku, memperhatikan indahnya pemandangan yang tidak setiap anak seusianya dapat menikmati.

“Nakim masih mau lagi?” kataku lembut diiringi senyum yang kurasa pasti menggetarkan hatinya, dan tanpa menjawab Nakim mendekat serta memeluk pinggangku dengan tangan kanan serta tangan kirinya menempel di paha merayap naik-turun. Saat mencapai selangkangan, tangannya menerobos masuk, menimbulkan sensasi yang luar biasa dari ujung kakiku hingga ke kepala.

“Oohh… sabar ya, Kim. Tunggu sampai adek bobo lagi.” Kataku parau. Kini permainan Nakim lebih halus dan enyutan anakku memacu kencang degup jantungku.

“Aahh… ohhhh… tahan dulu, Kim. Mbak pingin pipis,” bisikku, tapi Nakim malah menjongkok masuk ke dalam bagian bawah jubahku, tangannya meraba-raba dan mengusap-usap vaginaku yang sudah basah kembali, lalu ia mulai menjilatinya.

“Aduh, Kim. Mbak mau pipis dulu!” rengekku.

“Mbak pipis sekarang aja, biar Nakim bantu, nggak usah ke toilet.” jawabnya membuat aku tersentak kaget.

“Kamu mau apa, Kim?” tanyaku.

“Nakim mau minum pipis mbak seperti tadi, rasanya enak.” Nakim terus menghisap-hisap vaginaku sambil merojok-rojok lubangnya yang sempit.

”Yang tadi itu bukan pipis, Kim.” aku memberitahu.

”Pokoknya mbak pipis aja, nanti Nakim minum.” sahut bocah itu tak peduli. Hisapan dan kocokan tangannya di vaginaku menjadi semakin cepat. Aku menjadi tak kuat lagi. Bukannya kebelet kencing, aku malah jadi mau orgasme sekarang.

“Ehrrrr… ehrrrr… ehrrrr… ini, Kim. Minum pipis Mbak!” dan pessssssssss… squirt-ku pun mengucur deras membasahi mulut Nakim. Ia menampung semuanya dan menelannya tanpa ragu.

sexy hijaber (4)

”Puas, Kim? Enak kan?” kataku dengan nafas terengah-engah. Kepala Nakim terangkat dan terlihat basah kuyup hingga ke bajunya, kenikmatan ini membuatku lupa bahwa aku sedang menyusui anakku yang sudah tertidur lagi. Setelah kubaringkan anakku, lalu aku peluk Nakim yang bengong dihadapanku.

“Di sini aja ya, mbak?” pintanya.

“Boleh, tapi jangan sampai ganggu adek yang lagi bobo ya?” dan kubuka kancing bajuku satu persatu lalu kutanggalkan lagi jubahku. Payudaraku yang menggelayut bebas, dengan sigap disergap oleh Nakim menggunakan mulut dan tangannya. Ia memijit dan meremas-meremasnya penuh nafsu, jilatan serta gigitan kecil silih berganti mendera-dera payudaraku kanan maupun kiri. Sambil perlahan berbaring di lantai, kukangkangkan kedua kaki jenjangku dan kukalungkan di pinggang Nakim.

“Bisa mulai sekarang, mbak?” tanyanya.

“Boleh, tapi biar lebih nikmat, mainin dulu yah yang ini!” jari telunjukku menunjuk ke klitoris. Nakim dengan sigap segera menggerakkan lidahnya mengutak-atik, menyapu, menghisap serta menggigit-gigitnya.

“Ouh… ahh… ouh… hessttt… ahhhhhh…” aku melengking tak tahan menahan kenikmatan dari surga bersama adik sepupuku ini. “Terus, Kim! Ohhhh… ahh… ahh… hemm… ohh… ahh… ehrmm… aduh, enak banget, Kim! Yah, yang itu! Hisap yang itu! Ooh… ohh… uuh…” kuraih penis Nakim dan kubimbing menuju lubang vaginaku yang lagi megap-megap, membuka-menutup.

”Masukkan, Kim!” aku meminta. Nakim mendorongnya, dan… Bless!!! penisnya yang masih kecil dengan mudahnya amblas tertelan oleh belahan vaginaku.

“Pompa tubuhmu! Ooh… ya, begitu! Hhah… hehh… ohh… lebih keras lagi, Kim! Aaaah…” lenguhku tak tahan. Sekitar 10 menit Nakim memompa vaginaku, hingga akhirnya…

“Aah… aagh… mbak, Nakim mau pipis lagi! Aaahhh!!!” dia menjerit dan banjirlah selangkanganku dengan cairan putihnya.

“Oh, hehh… heeh…” nafasku tersengal-sengal panjang pendek. Tak sampai satu detik, aku menyusulnya.

“Mbak puas?” tanya Nakim singkat sambil mencium bibir dan payudaraku.

Kuraih lehernya dan kukecup pipi dan keningnya, “Terima kasih ya, Kim, mau nganterin mbak ke puncak kenikmatan.” aku tersenyum tulus padanya. Dan penis kecil Nakim yang belum sempat ditarik keluar makin menambah kenikmatan ini.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas dengan Nakim masih menindih tubuhku. Terbuai oleh sejuknya angin dari surga duniawi, kami tertidur pulas. Saat terbangun, kulihat jam dinding menunjuk pukul 16.30. kubangunkan Nakim dan kusuruh dia untuk memakai bajunya kembali, tapi dia menolaknya.

”Kenapa, kamu mau lagi?” tanyaku. Dia mengangguk malu-malu. Karena anakku masih belum bangun, aku tidak keberatan untuk melayaninya sekali lagi.

Kusuruh Nakim untuk naik ke atas tubuhku, sambil berpegangan pada bulatan payudaraku yang penuh oleh bekas cupangannya, kupersilahkan dia untuk menyetubuhiku sekali lagi. Setelah dia menumpahkan kembali spermanya di lubang vaginaku, barulah Nakim berdiri dan memunguti bajunya dan menghambur keluar kamar, karena tepat saat itulah suamiku pulang, suara mobilnya terdengar memasuki halaman. Aku yang masih lunglai segera meraih jubahku dan mengenakannya. Kusambut suamiku di pintu depan dengan senyum lebar selayaknya istri yang baik.

BU SITI

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Saat aku kelas 2 SD, ibu memutuskan untuk bercerai dengan ayah. Alasannya karena tabiat ayah yang suka berselingkuh. Ibu akhirnya memutuskan untuk menjadi TKW. Awalnya aku tinggal dengan nenek dari ibu, tapi dua tahun kemudian, aku ikut ayah karena nenek meninggal. Aku tinggal bersama orang tua ayah karena ayahku sering kerja keluar kota sebagai sopir sebuah perusahaan.

jilbab montok (1)

Ayah sudah menikah lagi dengan wanita muda, tapi hanya bertahan kurang dari setahun. Kemudian saat aku kelas 5 SD, dia menikah lagi dengan wanita yang sudah mempunyai anak. Aku sempat dibawa ayah pindah, tapi kembali, saat aku masuk kelas satu SMP, mereka berpisah lagi. Akhirnya, saat di pertengahan kelas dua SMP, kembali ayah menikah. Kali ini bersama wanita tanpa anak, sebut saja namanya bu Siti, wanita alim dan berjilbab yang berusia hampir 30 tahun.

Aku kembali dibawa ayah, karena bu Siti punya rumah dan hanya tinggal sendirian. Bu Siti di mataku merupakan wanita yang baik dan murah senyum. Saat pertama ketemupun, aku sudah akrab dengannya, karena dia sangat berbeda dengan dua ibu tiriku sebelumnya yang kadang mengajakku bicara hanya jika ada ayah saja. Bu Siti sangat memperhatikan keperluanku, bahkan sangat detail. Dari pelajarang sampai makan pun sering kali dia ingatkan. Sungguh, aku melihatnya sebagai wanita sempurna pengganti ibuku.

Karena bu Siti punya usaha sendiri -jualan makanan ringan yang dia buat lalu dia titipkan di toko-toko- dia dengan leluasa memberiku uang jajan, bahkan sering kali berlebih. Dia hanya menyuruhku untuk menabung kalo ada sisa uang jajan.

jilbab montok (2)

Empat bulan pertama perkawinan mereka, sungguh kelihatan bahagia. Tapi kemudian ketika ayah jadi sering keluar kota. Bu Siti kelihatan sering sedikit murung, apalagi jika ditinggal agak lama. Tapi biasanya ketika ayah kembali, kemurungannya seperti sirna. Sungguh, lama-lama aku bisa merasakan bahwa dia sangat kesepian kalau ditinggal ayah. Tapi di depanku, dia selalu berusaha bersikap tanpa masalah. Bahkan kadang, tak jarang jika dia jenuh, dia mengajakku ke kota, sekedar makan bakso atau membelikanku pakaian. Sungguh aku bahagia dengan perhatian beliau.

Sampai akhirnya, ketika aku liburan kenaikan ke kelas tiga SMP, kulihat bu Siti kembali murung karena ayah pergi sudah hampir empat hari. “Ayah memang pulangnya kapan, bu?” tanyaku.

“Katanya semingguan,” jawab bu Siti.

“Ibu jangan murung aja, kan ada aku yang menemani disini.” kataku.

Bu Siti tersenyum, ”Nanti malam tidur di kamar ibu lagi ya?” katanya.

Aku mengangguk. Kadang memang ketika ayah pergi, aku tidur di kamar ayah. Aku tidur di lantai, sementara ibuku di ranjang. Malam itu, saat hendak memejamkan mata, kulihat bu Siti gelisah di atas ranjangnya. Dia sudah melepas jilbabnya, bisa kulihat rambut hitamnya yang lurus sepunggung. Aku kasihan kepadanya, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa.

jilbab montok (3)

Esok harinya, badanku sedikit demam, tapi aku kembali menemani beliau. Sebelum tidur, kami sempat berbincang. ”Kamu dingin nggak di lantai? Kalo nggak, tidur di kamar kamu aja.” katanya.

”Nggak apa-apa, bu. Nggak dingin kok.” jawabku. Dari maghrib hingga hampir jam 10 malam, hujan memang turun tanpa henti. ”Ibu kok masih gelisah?” tanyaku kemudian.

“Ah, nggak apa-apa. Biasa aja kok.” katanya. ”Ya udah, kamu tidur di atas aja, daripada masuk angin.” ucapnya lagi.

Aku menurut. Dia sempat membelai-belai rambutku saat aku bertanya, “Bu, kenapa sih kalo ayah gak ada, ibu suka resah?” tanyaku.

”Kamu nggak akan ngerti,” katanya.

”Pasti ibu kesepian ya? Kan ada aku, bu, masa masih sepi?” kataku bodoh.

Dia tersenyum dan melingkarkan tangannya di pundakku. Usapannya sungguh sangat menghangatkan, sampai tak sadar aku mulai merapatkan badanku ke tubuh montoknya dengan posisi tengkurap. Oh ya, hampir lupa ngasih tahu, ibu tiriku ini punya tetek dan pinggul yang besar. Aku baru menyadari setelah sering tidur sekamar dengannya. Sekarang bisa kurasakan tonjolan payudaranya yang empuk itu mengganjal lembut di dada dan bahuku.

”Dingin ya?” tanya bu Siti ramah, sama sekali tidak berusaha untuk menarik atau menjauhkan tubuhnya.

”Iya,” sahutku pendek.

Bu Siti kemudian mendekapku erat. Sungguh, entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Apalagi saat dia mengusap punggungku dan makin menekan tonjolan payudaranya ke bahuku. Tanpa sadar aku mulai memeluk pinggangnya.

”Kamu suka ibu peluk gini?” katanya.

”Iya, bu. Suka.” jawabku polos. Dan makin kudekap erat pinggulnya. Kuusap-usap bulatan bokongnya yang bulat dan padat dengan jari-jariku. Lama-lama kudengar nafas bu Siti mulai berat dan tidak teratur. Aku dapat mendengar debaran jantungnya yang berdetak semakin cepat karena wajahku sangat dekat dengan dadanya.

“Duh, ibu jadi kangen ayah,” katanya setengah mendesah.

”Kan ada aku, bu.” kataku sambil kurapatkan wajahku di bulatan buah dadanya. Perlahan kurasakan tangan bu Siti mengusap pantatku. Aku makin deg-degan. Entah sadar atau tidak, dia malah meremas selangkanganku.

jilbab montok (20)

”Masih nggak enak badan?” tanyanya sambil mengusap-usap burungku yang mulai terbangun.

”Udah nggak gitu, bu.” jawabku, lalu merintih keenakan. ”Eghhh,”

”Kenapa kok gemetaran, takut ya dipeluk ibu?” tanyanya menggoda.

”Bukan, bu. Gemetar karena dingin.” jawabku sekenanya, malu untuk bilang kalau aku lagi menikmati belaian tangannya di batang penisku.

”Ya sudah, sini masuk selimut ibu.” katanya kemudian. Dia pun membagi selimutnya yang lebih tebal dibanding selimutku. Tubuhku semakin bergetar saat kakiku bersentuhan dengan kakinya, tangannya masih setia mengelus pantat dan selangkanganku. Kemudian tangan itu kurasakan mendorong pinggulku, tapi aku agak bertahan, tetap tengkurap di atas tubuh semoknya.

”Kenapa, takut? Ini supaya kamu nggak sesak aja.” katanya sambil tersenyum.

”Nggak, bu.” jawabku pendek. Aku menyadari bahwa kemaluanku ternyata sudah berdiri tegak, kaku dan keras sekali. Ini semua akibat usapan tangan bu Siti. Malu kalau dia sampai mengetahuinya, dengan cepat aku beringsut, sedikit agak menjauh darinya. Kurasakan tangannya mengejar, ingin kembali mengusap dan mengelus batang kontolku. Aku sedikit bergerak agak menjauh lagi, lalu kuambil bantal dan menutupkannya ke depan celanaku.

”Kenapa?” tanyanya.

”Nggak apa-apa, bu.” kataku.

”Kok bergeser, kenapa hayo?” tanyanya lagi.

Karena tidak punya alasan, dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya, aku akhirnya kembali merapatkan tubuhku kepadanya. Tangan bu Siti kurasakan hendak menarik dan mengambil bantalku. ”Jangan, bu.” kataku mencegah.

”Emang kenapa?” tanyanya.

jilbab montok (4)

”Nanti aku kedinginan.” ah, alasan yang sungguh bodoh.

”Ya udah sini, ibu peluk.” sambil berkata begitu, tangannya tiba-tiba menyelusup ke dalam bantal hendak memelukku, dan… ”Ooh!” desisnya saat menyenggol benda keras yang ada di baliknya.

Kurasakan mukaku pedas dan memerah. ”Eh, maaf, bu.” hanya itu yang bisa kurasakan.

”Nggak apa-apa, nggak usah malu. Burung memang suka bangun kalau udara dingin. Makanya rapetin ke ibu biar anget. Nggak apa-apa kok,” katanya lirih.

Agak sedikit ragu, kuikuti sarannya hingga posisiku sekarang agak sedikit menyamping tapi sangat rapat ke tubuhnya. Kembali tangan bu Siti bergerak untuk meraba pantatku, tapi kali ini dengan sedikit meremas. ”Burungmu masih tegang?” tiba-tiba dia bertanya.

”I-iya, bu.” jawabku. Entah sudah seperti apa mukaku saat itu. Apalagi saat kemudian kurasakan tangannya mulai meraba bagian kemaluanku. Celana boxerku yang tipis makin memperjelas bentuk kontolku yang bangun.

”Boleh ibu pegang?” tanyanya.

Aku hanya diam. ”Kan sudah dari tadi ibu pegang,” rutukku dalam hati. Tapi aku cuma mengangguk, memberinya ijin untuk berbuat apa saja pada tubuh kecilku.

jilbab montok (19)

Dia tersenyum, kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam boxerku. ”Ih, keras amat!” katanya, campuran antara kaget dan gemas. Aku hanya tersenyum.

”Sini, lebih rapat.” katanya lagi. Aku mengangguk, kemudian perlahan, kurapatkan tubuhku hingga kemaluanku menempel di perut bu Siti. Hangat sekali rasanya. Sesaat kami terdiam, bu Siti masih terus mengusap dan mengelus-elus penisku dari dalam celana. Kurasakan jari-jarinya begitu lembut dan hangat membungkus batang kontolku. Aku hanya bisa mendesah dan mengerang menikmatinya.

Masih dalam lindungan selimut, bu Siti membimbingku. Ia melepas genggamannya sejenak di batang kontolku untuk kemudian meraih tangan kiriku dan meletakkan di atas bongkahan pantatnya. Setelah itu dia meraba pantatku dan menariknya hingga makin rapat ke daerah kemaluanya. Satu kakinya kemudian kurasakan naik di pahaku.

”Nggak apa-apa, kamu nurut aja.” katanya.

”I-iya, bu.” jawabku bingung, memang siapa juga yang mau nolak? Meski tidak mengerti apa yang dia inginkan, tapi aku akan mengikuti permainannya.

jilbab montok (5)

Kemudian kurasakan tangan bu Siti mulai menurunkan celana bagian samping kiriku, sesaat kemudian dia menarik bagian tengah, hingga aku tahu, kontolku sudah berada di luar sekarang. “Bu?” kataku gemetar saat kurasakan ujungnya menyundul tepat di depan kemaluan bu Siti yang masih terbalut celana dalam. Tapi aku tahu, bagian itu sudah sangat basah dan hangat.

”Kenapa? Takut?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

”Nggak kok, bu. Nggak apa-apa.” jawabku dalam bingung.

”Kalau gitu sini, rapetin ke badan ibu.” katanya. Aku hanya mengangguk. Tangannya kemudian bergerak, membimbingku agar membantu melepas celana dalamnya. Saat benda itu sudah turun hingga ke dengkul, kembali kurasakan kehalusan kulit paha dan bokongnya saat bu Siti menyuruhku untuk mengusap-usapnya lagi.

Bu Siti sendiri memegang kemaluanku dan menariknya merapat ke tubuh sintalnya. Kali ini bukan kain yang kurasakan, tapi seperti bulu-bulu halus yang sungguh licin dan hangat. Mataku pura-pura aku pejamkan saat tangannya mulai menggerakkan batang kontolku hingga kurasakan kemaluanku itu melalui sesuatu yang makin lama makin terasa hangat dan basah. Tubuhku bergetar, aku sadar apa yang telah dia lakukan, tapi aku tak kuasa untuk menolak. Karena jujur, aku juga menikmati dan menginginkannya.

Akhirnya, sebagian kontolku telah masuk ke lubang yang sangat sempit dan lengket itu. Hangat, geli, dan nikmat kurasakan, apalagi saat tangan bu Siti mulai menekan pantatku, membuatku batangku makin melesak dan menusuk semakin dalam. Sesekali dia menggerakkan pinggulnya perlahan agar kontolku bisa lancar menerobos liang vaginanya. Saat sudah masuk seluruhnya, bu Siti mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, sedangkan aku cuma diam, tak tahu apa yang harus kulakukan.

Jepitan memek ibu tiriku itu kurasakan begitu nikmat, hingga tak lama kemudian kurasakan suatu aliran hendak memancar keluar dari batang penisku. “Bu,” kataku perlahan.

”Kenapa?” tanyanya, masih terus menggenjot dan menggoyang tubuh sintalnya.

”Nggak tahu, kayak ada yang mau keluar,” jawabku.

”Nggak apa-apa, keluarin aja.” katanya sambil mengecup pipiku penuh rasa sayang.

Tanpa sadar, kudekap tubuh mulus bu Siti erat-erat, dan tiba-tiba kontolku berdenyut hebat. Kurasakan aliran panas keluar dari benda itu, sungguh sangat nikmat rasanya, begitu luar biasa. Berkali-kali semprotanku itu memancar deras, mengisi liang kemaluan ibu tiriku itu hingga menjadi semakin basah. Bu Siti sendiri berhenti menggoyang, dia menekan penisku dalam-dalam hingga saat kontolku kutarik keluar, tidak ada sedikit pun cairan yang tertumpah.

jilbab montok (7)

Lima menit kami berpelukan erat, hingga akhirnya kurasakan bu Siti merapikan celanaku dan memasukkan kembali burungku yang sudah melembek dan melemah. Masih di balik selimut, dia kemudian bangkit dan melepas celana dalamnya. Kulihat bokongnya yang bulat dan putih mulus saat dia berjalan keluar untuk pergi ke belakang karena dasternya masih berada di atas pinggang. Tak lama, dia kembali dan memberiku minum. Setelah kuhabiskan air es itu, kembali aku tengkurap dibalik selimut tebal, bu Siti berbaring di sampingku. Kami terus diam, mungkin selama satu jam lebih, tapi aku tak bisa tidur. Saat berbalik, kulihat bu Siti masih duduk menyandar di tembok.

“Ibu belum tidur? Ini selimutnya.” kataku sambil hendak memberinya selimut yang kupakai.

”Nggak usah, ibu cuma belum ngantuk.” jawabnya. ”Maafkan ibu ya?” tambahnya kemudian.

“Nggak apa-apa kok, bu.” kataku.

”Kamu nggak marah? Ibu hanya rindu ayah,” jelasnya.

”Buat apa marah? Aku malah merasa enak kok, aku juga nggak akan bilang sama ayah.” jawabku.

Dia tersenyum. ”Kamu sendiri, kenapa belum tidur?” katanya.

”Nggak tahu, bu. Nggak ngantuk juga. Nungguin ibu tidur dulu aja,” jawabku.

”Iya, makasih.” katanya.

”Ibu jangan murung, kan sekarang ada aku disini.” kataku sok dewasa.

Dia tersenyum. Bu Siti kemudian meraba-raba punggungku yang tengkurap, lalu pantatku, dan juga pahaku. Tiba-tiba wajahnya mendekati wajahku dan kemudian mengecup bibirku. Aku hanya tersenyum saat tangannya mulai masuk ke balikboxer dan meremas pantatku. Aku diam dan membiarkannya.

”Ibu belum ngantuk,” katanya.

”Aku temani kok, bu.” jawabku, masih tak mengerti kalau ibu tiriku masih belum tuntas tadi. Dadaku kembali berdegup kencang saat perlahan tangannya mulai menarik turun celanaku. Aku menurut, dan dengan cepat, tubuhku sudah setengah telanjang sekarang. Masih berbalut selimut, boxerku sudah luruh jatuh ke lantai. Dengan gemas, bu Siti meremas-remas dua bongkahan pantatku. Ia memijitnya sambil sesekali menyenggol buah zakarku. Hingga ketika sudah tak tahan, ia pun akhirnya ikut masuk ke dalam selimut.

Jantungku terasa berdebar saat dia membalikkan tubuhku. Aku menurut saat kaosku dia tarik. Aku akhirnya telanjang dalam selimut. Aku tahu, bu Siti pun mulai melucuti pakaiannya hingga kami sama-sama telanjang, kemudian wajahnya masuk dalam selimut. Kurasakan kecupan di dadaku, lalu pusarku, hingga akhirnya kurasakan mulutnya mulai menghisap batang kontolku yang sudah sedikit menegang lagi. Tak lama, dia merapatkan tubuhnya di atasku, kemudian dia kembali mencium bibirku.

“Kita lakukan lagi ya?” tanyanya.

”I-iya, bu.” jawabku senang.

”Kamu di atas ibu, mau gak?” tanyanya. Aku mengangguk.

Aku pun bergerak saat tubuh molek bu Siti terbaring di sampingku. Perlahan dia meregangkan kakinya saat aku telah berada di atas tubuhnya. Satu tangannya kurasakan memegang kontolku, dan perlahan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Kembali kurasakan nikmat saat kontolku mulai masuk ke lubang sempit itu. Saat sudah tenggelam seluruhnya, dia menaik-turunkan pinggangku dengan tangannya. Dia begitu sabar dan telaten mengajariku bersetubuh. Lama-lama, akupun mulai bergerak sendiri, menggenjot tubuh sintalnya dengan tusukan penisku.

jilbab montok (10)

”Oh, nikmatnya! Ehsss… enak!” desah bu Siti.

Aku terus menggenjotnya hingga peluh mengucur deras di dahiku. Bu Siti mengusapnya. ”Kamu capek nggak?” tanyanya.

”Enggak, bu.” jawabku sambil terus menggenjotnya. Setengah jam lebih aku berada di atas tubuhnya, sampai akhirnya…. akupun mengejang, dan kembali kusemprotkan cairan kenikmatanku.

”Bu, jangan bilang ayah ya?” kataku dengan nafas tersengal karena nikmat.

“Ya nggak lah, nanti pasti ibu yang disalahin.” katanya.

Malam itu, hingga pagi tiba, kami tidak bisa tidur. Kami terus bermain dan bermain. Tak bosan-bosannya aku naik ke atas tubuh bu Siti, menggenjot tubuh mulusnya, dan menumpahkan spermaku di dalam lubang kemaluannya. Satu kali aku moncrot di dalam mulutnya, saat ibu tiriku itu asyik mengulum penisku setelah dia orgasme. Yah, aku akhirnya berhasil mengantarkannya ke nikmat persetubuhan. Dia tampak bahagia sekali, begitu juga dengan aku.

Jam lima pagi, baru aku tertidur. Sementara bu Siti keluar untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Kukira setelah itu dia akan tidur juga, tapi saat aku bangun jam dua siang, kulihat bu Siti tidak ada di sampingku. Masih dengan tubuh telanjang, kudatangi dia di dapur. Kudengar suara senandung merdunya dari sana. Kulihat ibu tiriku itu sudah rapi dengan baju terusan panjang dan jilbab lebar seperut. Dia tampak sibuk menyiapkan makan siang.

”Makan dulu aja, mandinya nanti.” katanya sambil tersenyum. Aku tidak membantah. Bu Siti tertawa saat melihat burungku yang menciut sebesar jempol kaki. ”Itu capek banget kayaknya, nggak bangun sama sekali.” tunjuknya.

jilbab montok (12)

Aku mengangguk malu. ”Iya, bu. Capek habis disuruh melek semaleman.” candaku. Dan kami tertawa berbarengan.

Selesai makan, aku langsung mandi. Keluar dari kamar mandi, saat masih basah dan mengenakan handuk, aku melintas di dekat bu Siti yang duduk di dekat meja makan. ”Maafkan ibu ya?” katanya.

“Maafkan apa, bu? Ibu nggak ada salah kok.” jawabku santai.

“Gara-gara ibu, kamu jadi korban.” katanya.

”Saya nggak merasa jadi korban kok, bu.” kataku, hanya kata-kata itu yang terlintas di pikiranku.

Tiba-tiba tangan bu Siti meremas handuk yang menutup kemaluanku. Aku hanya diam, dan tak lama, kontolku mulai bereaksi. ”Ibu mau lagi?” kataku.

”Ah, nggak juga. Kalau kamu?” tanyanya.

”Terserah ibu,” jawabku.

Tiba-tiba handukku ia lepas. Bu Siti terus memandangi kontolku yang kini sudah mengacung tegak. ”Ibu sudah salah, bulu kamu aja masih tipis, tapi kamu harus mengalami hal ini.” katanya.

”Nggak apa-apa, bu. Aku suka kok.” jawabku, lalu kudekatkan kontolku ke mulutnya. Dia tersenyum, dan perlahan mulai mengulum dan menjilatnya. Bu Siti setuju saat aku mengajaknya masuk ke kamarku. Akhirnya, kembali sore itu aku menggenjot tubuh mulusnya.

Kami terus melakukannya, siang dan malam. Hingga dua hari kemudian, ayah pulang. Aku lebih banyak diam di kamarku daripada takut ayah melihat hal aneh, karena aku masih merasa risih dan bersalah karena sudah bercinta dengan istrinya. malam harinya, aku tak dapat tidur. Aku tahu pasti, sekarang bu Siti pasti sedang bergumul dengan ayah, karena sejak jam sembilan, mereka sudah masuk ke kamar.

Senin, saat sekolah baru mulai, hari baru sekitar jam lima pagi ketika aku selesai mandi. Ayah masih terlelap karena kemarin pulangnya agak malam. Baju seragam telah kupakai. Aku lalu pergi ke dapur hendak mengambil minum. Kulihat bu Siti telah selesai membuat nasi goreng. “Kamu kok banyak diam, kenapa?” tanyanya.

”Nggak apa-apa, bu.” jawabku.

”Bilang aja, kita kan sudah janji nggak ada rahasia-rahasian.” katanya.

jilbab montok (13)

“Nggak, bu. Cuma, anu…” kataku terputus. ”Nggak ah, nanti aja.” kataku kemudian. Aku lalu masuk ke kamarku. Sesaat kulihat bu Siti mengikutiku. Aku sedang merapikan tasku saat perlahan kurasakan tangannya mengusap pundakku, kemudian tangannya yang lain meraba daerah kemaluanku.

”Ibu kangen,” bisiknya sambil meremas-remas kemaluanku.

”Jangan, bu. Nanti ketahuan ayah.” bisikku takut.

”Dia bangunnya siang, kelelahan sehabis main semalam suntuk sama ibu.” kata bu Siti nakal. Mendengarnya, kontolku langsung menegang. ”Sini,” katanya mesra. Perlahan dia bergerak ke balik pintu kamarku, aku mengikutinya. Tangannya kemudian menarik turun resletingku, dan kembali, aku hanya diam. Bu Siti menarik kontolku keluar, dia tersenyum saat melihatnya sudah kaku dan keras.

”Mau nggak?” tanyanya sambil menjilati batangku hingga basah kuyup.

Aku mengangguk. Bu Siti kemudian menarik gamisnya ke atas, menjepitnya di perut, dan kemudian perlahan menurunkan sedikit celana dalamnya hingga ke dengkul. Dia bersandar di pintu, membelakangiku. Bisa kulihat memeknya yang tembem menguak lebar. Ada sedikit sisa sperma ayah disana. Kuusap-usap perlahan benda itu sambil aku mempersiapkan penisku.

”Ibu masih kurang habis digarap ayah habis0habisan semalam?” tanyaku polos. Tanganku meremas-remas sebentar bulatan payudaranya.

”Ayahmu cuma mau menang sendiri, nggak ngerti kebutuhan ibu. Sudah, cepat masukkan. Nanti kamu terlambat ke sekolah.” katanya sambil mengangkangkan kakinya semakin lebar.

Perlahan, di balik pintu kamarku, aku mulai menusukkan kontolku, dan saat sudah amblas seluruhnya, segera menggerakkannya maju mundur dengan cepat. Bu Siti mengimbangi genjotanku dengan memutar pinggulnya berlawanan arah dengan tusukanku. Kami terus melakukannya walau dengan sedikit ketakutan karena ayah lagi ada di rumah. Tapi ketenangan bu Siti menenangkanku. Dan sensasi main dalam suasana seperti benar-benar luar biasa. Tak lama, akupun mulai merintih. Pejuhku rasanya sudah mau muncrat.

jilbab montok (22)

Segera kudekap tubuh montok bu Siti, dan… ahh! ahh! kutahan nafasku berbarengan dengan keluarnya air maniku. Begitu juga dengan bu Siti, dia juga menyemburkan cairan kenikmatannya. Memeknya terasa begitu penuh sekarang. Saat kucabut penisku, cairan itu meleleh keluar membasahi paha dan betis bu Siti, beberapa bahkan ada yang menetes di lantai. Kami tertawa berbarengan saat melihatnya. Begitu puas, begitu nikmat.

“Sarapan enak di pagi hari.” bisik bu Siti nakal. Aku tersenyum dan mengecup pipinya. “Kalau nanti kamu mau lagi, bilang aja, jangan diam aja.” katanya, seolah tahu keresahanku. ”Nanti kita cari waktu dan tempat yang pas.” dia menurunkan kembali gamis hitamnya dan merapikan jilbabnya yang awut-awutan.

jilbab montok (18)

Kami keluar dari kamar. Bu Siti meneruskan acara memasaknya, sedangkan aku, setelah sarapan dan mencium tangannya, segera berangkat ke sekolah.

Sejak itu, kami makin dekat. Saat ayah tak ada di rumah, bukan lagi masalah bagi bu Siti. Bahkan merupakan anugrah baginya, juga bagiku. Kami tidak sungkan lagi untuk saling meminta dan memuaskan. Aku sendiri sangat menikmatinya, siapa juga yang tidak senang bisa meniduri wanita cantik dan molek macam bu Siti. Yang menurut pandangan orang luar sangat alim dan lugu, tapi ternyata nakal dan liar soal urusan ranjang.

ZAHRA

Fitri adalah seorang gadis berjilbab yang manis dan enerjik. Kulitnya sawo matang tapi begitu menggoda. Bibirnya tebal dan terkesan terliaht begitu seksi, ia cerewet suaranya lantang ketika berbicara. Kali ini akan kuceritakan pengalamanku bersama Fitri yang begitu menggemaskan.
jilbab bahenol (1)
Sore itu sehabis perkuliahan berakhir aku langsung pulang ke kostan. Kostanku adalah sebuah rumah yang diisi oleh beberapa orang lelaki. Sore hari biasanya banyak orang yang berkunjung ke kostanku entah itu mahasiswa/i aku sih senang karena kostan tidak pernah sepi. Cuaca sore itu terlihat tidak begitu baik, awan gelap menyelimuti bumi. Padahal waktu masih menunjuka pukul 05.00 sore. Sesampainya di kostan aku langsung menuju kamarku, aku kira tidak ada siapa-siapa didalam. Ternyata da Fitri yang sedang terdiam di ruang tengah. Fitri tersenyum ke arahku sambil bertanya sesuatu
“Baru pulang kuliah ya? Aku langsung menjawab ia tanpa menunggu lama aku langsung bertanya kembali kepadanya “Kamu sendiri lagi apa disini?” Fitri menjawab “Lagi nunggu temen tapi belum datang juga”
Aku langsung melanjutkan obrolan bersama Fitri tanpa terasa hari semakin sore, namun belum ada seorangpun yang datang. Fitri tidak sedikitpun menunjukan kekhawatiran akan sore yang menjelang malam. Sore itu Fitri begitu cantik dengan balutan busana putih dan rok coklat ditambah balutan kerudung biru yang ia kenakan. Badanku terasa dipenuhi oleh keringat cuaca memang tidak panas. Tapi ingin rasanya aku mandi dan membersihkan diri supaya teras segar. Fitri mencuri curi pandang ke arahku aku hanya bisa tersenyum kepadanya. Ia bertanya, kamu ga mandi? Ini udah sore lo, mendengar itu aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi wajah cantik Fitri langsung terbayang olehku. Ingin rasanya mencium bibirnya yang tebal, kemudian meremas buah dadanya yang kenyal. Secara spontan penisku berdiri tegak. Penisku berukuran besar dengan panjang 17cm, apa jadinya kalau penisku diemut oleh Fitri.
Selesai mandi bedanku teras segar. Aku masih melihat Fitri di ruang tengah, aku kira dia sudah pergi. Aku masih belum berpakaian tubuhku memang athletis dengan perut sick pack karena aku rajin berolahraga. Dengan dililit sebuah handuk biru aku menuju kamarku. Penisku masih saja tegang, padahal tidak ada pancingan. Aku berfikir kenapa aku tidak mendekati Ffitri dalam keadaan seperti ini. Aku langsung menuju ke ruang tengah untuk bertemu dengan Fitri dalam keadaan badan dililit oleh handuk. Dri kejauhan Fitri melihatku, sepertinya ia agak kaget melihatku dalam keadaan telanjang setengah badan. Namun ia mencoba menyembunyikan rasa malunya.
jilbab bahenol (2)
“Udah mandinya?” Fitri bertanya kepadaku aku menjawab “Udah dong kan kamu yang nyuruh aku buat mandi. Kamu sendiri kenapa belum mandi” Fitri menjawab “nanti pas udah sampe kostan baru aku mandi” Ketika dekat dengan Fitri penisku semakin tegang, sehingga terlihat menonjol keluar dari balik handukku. Obrolan berlanjut aku sejenak berdiri untuk membetulkan posisi handuk yang mulai melorot kebawah. Tanpa di sengaja handuk yang aku pakai terjatuh kebawah sehingga penisku yang sudah tegang dari tadi terlihat di hadapan muka Fitri. Ffitri menjerti kecil, ia seakan tidak percaya sedang melihat seorang cowok yang telanjang di hadapannya. Mukanya mendadak merah dan Fitri mendadak salah tingkah. Matanya ditutup tangannya sambil sedikit mengintip kearah penisku yang besar dan panjang. Handuk kembali aku pakai dan aku meminta maaf kepada Fitri atas kejadian ini. Fitri memutuskan untuk kembali ke kostan karena hari semakin malam, sebelum pulang ia berpamitan kepadaku.
Selesai berpakaian aku memikirkan kembali kejadian tadi. Apa jadinya kalau aku bertemu kembali dengan Fitri pasti malu sekali rasanya. Tiba tiba handphoneku berbunyi, aku langsung mengambilnya dan itu isinya sebuah SMS yang datang dari Zahra teman dekat Fitri. Ia bercerita tentang kejadian tadi, malu rasanya sampai Zahra juga tahu. Di akhir SMS Zahra berkata “kapan kapan aku mau dong lihat penis kamu yang gede hihihihi” Aku langsung membalasnya “Boleh asal gantian aja, aku liatin punyaku. Kamu juga liatin punyamu ke aku” Kemudian Zahra membalas lagi “Aku tunggu kamu ya di kostan nanti kita bisa sama sama liat punyaku dan punyamu” dan aku balas SMS itu “Ok deh, nanti aku main kesana tunggu aja ya” Sebagai teman dekat Fitri Zahra memang berbeda kulitnya putih, tubuhnya tinggi semampai dengan rambut yang diponi. Bibirnya tipis merah merekah dan dadanya bulat diperkirakan ukurannya 36B. Zahra kadang berkerudung dan kadang tidak. Ia sering memakai tanktop seksi dengan celana hotpant yang teramat pendek di kamar kostnya.
jilbab bahenol (3)
Tiga hari sehabis kejadian itu aku berencana untuk berkunjung ke kostan Zahra yang juga jadi tempat kostnya Fitri. Sore hari aku langsung menuju kesana dengan menggunakan motor. Suasana kost disana pada sore hari memang ramai dengan anak kost perempuan dan pedagang yang mampir kesana. Kamar Zahra terletak dipojok lantai dua. Aku berharap Fitri tidak ada disana, aku tidak memberikan kabar kepada Zahra tentang kehadiranku. Sesampainya di kostan aku langsung masuk ke kamar Zahra. Sore itu hanya ada Zahra dan Fitri tidak ada di tempat entah kemana perginya. Zahra sedikit kaget ketika mengetahui kedatanganku, sore itu ia mengenakan jilbab berwarna pink dengan pakaian ketat sehingga lekuk tubuhnya tercetak dengan indah. Sungguh menggoda. Zahra menyapaku “Hai tumben datang kesini gak bilang bilang. Pasti kamu udah gak sabar pengin ketemu aku” dalam hati aku berkata, Zahra nakal juga nih “Iya aku kangen banget sama kamu ra” ungkapku Zahra langsung mendekatiku dan mencium bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu lidahnya bermain dengan lidahku. Aku dan Zahra berciuman cukup lama betapa nikmatnya bibir Zahra yang tipis, tangan Zahra langsung menunju ke arah celanaku. Diusapnya penisku yang sudah tegang dari luar Zahra sungguh bernafsu sekali. Aku langsung membuka celanaku dan mencuatlah penisku yang besar. Kini Zahra bisa melihat langsung penisku, wajahnya menunjukan rasa kagum atas penisku yang besar dan panjang “Aku belum pernah liat penis yang ukurannya besar seperti ini” tangan zahra langsung memainkan penisku.
jilbab bahenol (7)
Zahra masih memakai pakaian lengkap dengan jilbab pink yang ia kenakan. Tanpa buang waktu aku langsung meremas dada Zahra dari luar, ia mendesah kecih achhhhh………. aku semakln bernafsu untuk meremas dada Zahra yang terasa kenyal. Zahra mendorongku ke kasur dan ia langsung berdiri dan menari tarian erotis dengan pakaian yang mash kenakan. Ia langsung melepas bajunya telihat dadanya yang besar masih tetutupi bra warna pink yang seksi. Kami kembali berciuman sambil tanganku meremas dadanya syruppp…….achhhhhh……… hanya suara itu yang terdengar. Zahra melepas bra yang ia kenakan sekarang tampahlah buah dadanya yang putih dan putingnya berwana merah muda. Aku meremas dadanya sambil menghisap putingnya terkadang aku menggigitnya Zahra terus mendesah tanpa henti, kini terasa dadanya menjadi keras pertanda libidonya tengah naik. Zahra tengah terangsang luar biasa, kaos yang aku kenakan dilepasnya. Kini aku telanjang dihadapannya. Zahra langsung menggenggam penisku yang tegang dengan erat, penisku dikulumnya teras geli namun nikmat. Zahra mengemut penisku seperti mengemut ice cream rasa coklat. Aku hanya bisa bilang “Emut terus sayang, achhgggghhhh kamu pinter banget ngemut punyaku” penisku terasa licin oleh air liur Zahra. Cewek ini pinter juga dalam hal mengemut penis. Selain mengemut Zahra juga mengocok penisku dengan agresif. Terasa nikmat tiada tara.
jilbab bahenol (6)
Tanganku bergerak ke arah rok hitamnya saatnya untuk bermain di area sensitif ini. Zahra melepas jilbanya, rambut poninya yang panjang terurai indah di hadapanku. Rok hitam Zahra telah aku lepas, aku semakin tidak sabar untuk menusuk lubang vaginanya. Dengan sigap Zahra melepas sendiri celana dalamnya. Aku langsung tersenyum dan berkata “ Aku pasti puasin kamu malam ini” Zahra tersenyum nakal sambil menarik penisku dan berkata “Janji ya, kamu bakal puasin aku malam ini” Zahra membuka pahanya lebar-lebar sehingga memudahkan aku menjilat vaginanya. Vagina Zahra begitu harus dengan bulu bulu tipis yang indah. Aku menjilat vaginanya sambil menusuk nusuk dengan jariku. Achhh…………Achhhhh…………. Zahra terus mendesah vaginanya sudah basah denagn cairah surrga miliknya. Zahra menjerit hebat pertanda ia telah orgasme pertama, cairan surganya keluar begitu deras seperti air terjun. Zahra memintaku untuk segera memasukan penisku ke vaginanya, pahanya semakin dibuka lebar dan aku langsung memasukan penisku ke lubang kenikmatan milknya. Pada awalnya terasa sulit untuk masuk, setelah berjuang akhirnya penisku bisa menembus vaginanya. “Udah masuk sayang, sekarang kamu genjot yang kuat supaya bisa muasin aku” dengan penuh semangat aku menggenjot penisku vagina Zahra terasa menjepit urat penisku dengan kuat. Nikmat sekali rasanya, ochhh……….acchhhhhhh……… penismu nikmat banget hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sesekali aku mencium bibir tipisnya sambil meremas dadanya genjotan kami berdua semakin cepat. Cepat…….. dan cepat…….. vagina Zahra semakin menjepit dengan kuat pensiku.
jilbab bahenol (5)
Suasana kostan yang tadinya rapi mendadak menjadi berantakan dan basah dengan keringat yang mengucur. Tiba tiba terbesit dalam benakku apa jadinya kalau Fitri datang dan menyaksikan permainan kami. Tapi itu hanya fikiran sesaat permainan bersama Zahra kembali dilanjutkan. Zahra menjerit dengan keras “terusin jangan pernah berhenti, ini nikmat baget” Genjotan semakin kupercepat dan penisku semakin keras achhhh…………ochhh……….yeah………… dalam penisku terasa ada cairan hangat yang menyembur Zahra kembali orgasme kedua kalinya. Sepertinya aku juga akan segera keluar, kupecepat genjotaku dan aku berkata “bentar lagi aku keluar sayang” dan akhirnya penis aku lepas dengan cepat dari lubang vagina Zahra croottt……….crotttt………….crooottttt kukeluarkan air maniku diluar dan mengarah ke wajah cantik Zahra. Wajahnya belepotan dengan cairan maniku, Zahra menjilat sisa maniku yang ada diwajahnya. Permainan dengan Zahra berakhir aku putuskan untuk beristirhat sejenak. Zahra puas akan permainanku tadi “kapan kapan kita main lagi, aku pengen dipuasin lagi sama kamu”
jilbab bahenol (4)
Aku bergegas berpakaian dan pulang kembali ke kostan. Anehnya kenapa sampai jam segini Fitri belum pulang juga. Aku jadi membayangkan Fitri andai saja aku tadi bermain dengannya pasti akan terasa beda.

BU DIANA

Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.

Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.

bu guru muslimah payudara besar (1)

Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana, nama lengkapnya Diana Supangat dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Orangnya cantik, bertubuh padat dan montok dan terlihat nyata meskipun Ibu Diana mengenakan rok panjang serta jilbabnya yang longgar dan lebar. Membuat kontolku ngaceng selama bercakap-cakap dengan guru anakku itu.

Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.

Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama -sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku yang alim itu. Cantik, montok, bertubuh padat dan alim.

bu guru muslimah payudara besar (2)

Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap -siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang berjilbab lebar itu sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.

Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa ……jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiapsiap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.

bu guru muslimah payudara besar (3)

Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.

Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai “Seatbelt” (sabuk pengaman), guru alim yang cantik itu langsung jatuh ke dalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan ‘ bisnis’nya.

bu guru muslimah payudara besar (5)

Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.

“Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Ibu Diana sudah melepaskan jilbab lebar yang tadi dipakainya. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan -pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.

Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi dibalik pakaian longgar dan jilababnya. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, “Kamu akan merasakan seperti di surga.” Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu. “Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?” “Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.” Gile sudah direncanakan!

bu guru muslimah payudara besar (6)

Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. “Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.” Ternyata Ibu Diana yang alim ini senang juga nonton film-film porno.

Diana mulai mengisap -isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). “Aaarghh.. argh..” aku baru sekali senikmat itu. “Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. “Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh… ahhh” Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi putting susunya yang berwarna pink. “Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. “Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan.”
Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan -pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. “Aaakkhhh…” lagi -lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya kedalam meme wanita alim ini.

“Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.”
Kemudian kami mengganti posisi nungging. “Plok.. plok.. plok..” suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri.
“Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!” Tidak lama kemudian akupun keluar juga.

bu guru muslimah payudara besar (7)

Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. “Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.” Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.

Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan …
…untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, “Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..” Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.

Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, “Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.” Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.

INDAH

Sore itu aku begitu suntuk di kantor, karena sekretarisku melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga perusahaanku ditolak untuk mengikuti tender yang bernilai Rp 12M. Sekretarisku hanya menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dan dia berjanji akan melakukan apa saja untukku untuk menebus kesalahannya itu agar ia tidak dipecat olehku. Aku tidak menanggapi tangisan dan janjinya, karena perasaan dongkol di dalam dada telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai cukup besar bagi perusahaanku. Untuk menghilangkan kekesalanku, aku meninggalkan kantor berjalan kaki menyusuri jalan berusaha menghilangkan kekesalan yang melanda dada, sedangkan BMW-ku kutinggalkan di kantor.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini, kuperkenalkan terlebih dahulu identitasku. Namaku adalah Agus, umur 32 tahun dan karena keuletan dan kerja keras, saat ini aku telah berhasil sebagai direktur utama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan penyediaan barang di kota kembang Bandung. Statusku saat ini masih bujangan, karena waktuku kugunakan untuk kerja keras. Menurut teman-temanku wajahku termasuk wajah yang memperlihatkan karakter lalaki yang sangat jelas walaupun tanpa kumis dan janggut yang lebat, oleh sebab itu sudah banyak cewe yang berusaha mendekatiku dan mengajak kencan, termasuk sekretarisku yang baru saja membuatku kesal.

Namun sebagai lelaki normal, tentu saja aku membutuhkan penyaluran biologis, tapi hal itu bukanlah masalah besar bagiku. Setiap wanita yang mendekatiku selalu memberikan apa yang kubutuhkan dengan harapan agar dipilih olehku untuk kunikahi. Namun aku cukup hati-hati dalam menyalurkan arus bawah ini, karena aku tidak ingin terjebak oleh perangkap cewe-cewe yang mendekatiku.

Walaupun aku bukanlah tipe lelaki yang suci, tetapi mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat memperistri seorang wanita baik-baik khususnya yang berjilbab, karena dimataku mereka begitu cantik, anggun dan mempesona.

Kakiku terus melangkah menyusuri jalan Asia-Afrika sambil melamun. Keringat yang membasahi kemejaku membuatku kurang nyaman, kucopot dasi dan kumasukkan ke dalam saku celana, kemudian satu kancing kemeja kulepas untuk mengurangi rasa gerah. Disekitar alun-alun Bandung, aku berhenti sejenak dan membeli teh botol yang dijual dipinggir halte bis kota jurusan Cicaheum – Cibeureum. Aku meminumnya dengan rakus untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ketika menjauhkan botol dari mulutku, tiba-tiba aku terpana melihat senyuman yang dilontarkan oleh seorang gadis berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Rupanya dia melihat apa yang kulakukan pada saat aku minum teh botol dengan rakusnya, dan merasa kelakuan itu lucu sehingga ia tersenyum. Ketika dia sadar aku memandangnya terpesona, dia langsung membuang muka.

Walaupun pertemuan pandangan mata itu hanya sesaat, namun cukup menggetarkan hatiku dan melepaskan kekesalan yang sedang melandaku. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya sedetikpun, tapi dia hanya tertunduk dan sekali-sekali melihat apakah bis kota yang dinantinya ada atau tidak.

jilbab montok bohay (2)

Aku terus memperhatikannya, umurnya kuperkirakan sekitar 24 tahun dan dari pakaian yang dikenakan aku menebak bahwa ia adalah karyawati salah satu departement store yang ada di sekitar alun-alun Bandung.

Aku sadar akan kekurang ajaran tatapanku padanya, maka ikut-ikutan melihat seolah-olah sedang menunggu bis kota juga. Begitu bis kota yang ditunggu datang, dia berusaha naik, tanpa sadar aku turut naik bis kota tersebut dan tepat berada di belakangnya. Penumpang bis demikian penuhnya hingga berdesak-desakan sambil berdiri, karena bertepatan dengan waktu pulang kerja. Bis kota yang penuh sesak itu bergoyang-goyang, namun aku berusaha untuk tidak menempelkan badanku padanya, aku berusaha agar dia merasa nyaman walaupun sambil berdiri. Rupanya dia menyadari apa yang kulakukan, kemudian dia memandangku dan tersenyum manis, lalu menunduk kembali.

Serrrr… dadaku bergetar mendapat senyum manis darinya. Aku tidak ada keberanian untuk menanyainya, bahkan merasa bingung apa yang harus kulakukan. Sepanjang jalan aku hanya melamunkan bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya.

Disekitar Gang Gwan An, kulihat gadis itu turun. Karena jalanan macet, maka aku dapat terus memperhatikan langkah kakinya hingga ia belok ke arah suatu Gang. Hatiku semakin tergetar dan terpana melihatnya berjalan demikian anggunnya. Setelah dia hilang dari pandangan mata, baru aku tersadar bahwa aku sudah terlalu jauh dari kantorku. Langsung aku turun dipemberhentian selanjutnya dan ke kantor menggunakan taxi. Kemudian aku bergegas pulang ke rumahku di Margahayu Raya.

Di rumah, aku terus-menerus gelisah. Bukan gelisah memikirkan kegagalan tender, tetapi gelisah karena bayangan gadis cantik berjilbab itu terus menggodaku. Senyum manis dan tatapan mata yang teduh betul-betul menggetarkan hatiku dan tidak bisa kulupakan. Sambil berbaring dan memeluk bantal aku terus melamunkan gadis cantik berjilbab yang telah meruntuhkan hatiku… sampai aku tertidur dan memimpikan tentang dirinya.

Keesokan harinya aku ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Sekretaris dan anak buahku yang lain terheran-heran karena melihatku tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah kecewa dan marah akibat kegagalan kemarin, Sekitar jam 4 sore, dengan terburu-buru aku keluar dari kantor dan meninggalkan mobil BMW-ku, kemudian mencari taxi untuk mengantarku ke halte tempat aku bertemu dengan gadis idamanku. Aku tiba disana terlalu cepat, dengan sabar aku menantinya, hingga akhirnya gadis pujaanku datang. Jantungku berdebar sangat keras, keringat dingin keluar dari pori-poriku dan membuatku salah tingkah. Aku benar-benar bagaikan pemuda ingusan yang baru mengenal cinta.

jilbab montok bohay (3)

DEG… jantungku berhenti berdetak ketika dia memandangku dan tersenyum manis lalu menundukkan kepala. Aku semakin salah tingkah, dorongan untuk menegurnya begitu besar, namun badanku terasa kaku dan mulutku terasa terkunci. Aku hanya dapat merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan keras serta napas yang memburu. Dan seperti kemarin, hari inipun aku naik bis kota mendekati dirinya, walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Namun aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dan berdekatan dengannya. Dia turun di sekitar Gg. Gwan An kemudian aku kembali ke kantorku menggunakan taxi.

Kejadian seperti itu kulakukan setiap hari selama seminggu, namun pada minggu kedua aku tidak menemuinya ditempat pemberhentian bis kota walaupun aku mencarinya hampir setiap hari.Baru minggu ke tiga aku kembali bertemu dengannya dan dengan memberanikan diri aku bertanya padanya ketika sama-sama menunggu bis kota.“Pulang kerja Neng ?” pertanyaan basa-basi kulontarkan.

“Iya, Kang. Akang pulang kerja juga ?” dia balik bertanya.

“Iya, Neng. Eneng kerja dimana?” tanyaku lagi

“Di Matahari, kalau akang? “ dia balik bertanya

“Ah, akang mah supir di perusahaan…“ tanpa sadar kuucapkan nama perusahaanku dan alamat kantorku.

“Oohhh, akang baru kerja di sana ya?” dia mulai berani bertanya padaku.
“Iya, baru dua minggu…” jawabku berbohong, sebab aku baru dua minggu bertemu dengannya disini.

Pembicaraan terhenti, karena bis yang ditunggu tiba, kami menaikinya dan kebetulan penumpang tidak begitu ramai, sehingga ada tempat duduk kosong untuk ukuran dua orang. Kamipun duduk berdampingan.

“Ehh, ngomong-ngomong, perkenalkan. Nama saya Agus!” kataku seraya menyodorkan tangan, dia menyambut jabatan tanganku dengan lembut dan menjawab, “Indah..”

Aku terpana merasakan kelembutan tangannya dan tanpa sadar terucap “Oohhh… Indah, seindah wajah dan penampilannya.” kataku berguman.

“Ada apa, Kang ?” dia bertanya padaku karena ucapanku tak didengarnya.

Aku gugup dan dengan tergagap menjawab “Ti-tidak, anu…ehh… Namanya Indah, seindah wajah dan penampilan yang menyandangnya. Maaf…” kataku takut dia tersinggung dan menganggap aku kurang ajar.
“Ah, Akang bisa aja.” katanya sambil tersenyum . Serrrr… hatiku kembali bergetar.

Sepanjang jalan kami bercakap-cakap, aku tetap hati-hati menjaga sikap dan seperti biasa Indah selalu menundukkan wajahnya setiap setelah bertanya ataupun menjawab pertanyaanku. Perasaanku saat itu benar melayang bahagia, sehingga tanpa terasa Indah harus turun. Dan seperti biasa aku pulang sebagaimana biasa.

Hari-hari berikutnya, betul-betul merupakan hari-hari yang indah bagiku, aku selalu mengerjakan dengan cepat semua pekerjaanku. Dan sekitar jam empat, aku sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengannya. Bahkan kadang-kadang aku sudah menongkrong didepan Matahari menunggu dia keluar sehingga aku punya banyak waktu untuk ngobrol dengannya, bahkan kadang-kadang kubawa mobilku dengan alasan Boss mengijinkanku membawa mobilnya untuk alasan tertentu. Dari obrolanku dengannya, kuketahui bahwa dia sudah 1,5 tahun bekerja di sana dan dia bekerja dengan sistem shift, seminggu pagi hingga sore dan seminggu lagi sore hingga malam sekitar jam sembilan.

Sampai saat ini aku masih menjaga sikapku padanya agar dia tidak menjauh dariku. Bahkan kadang-kadang dengan alasan ingin jalan-jalan ke Matahari, Aku sengaja menemuinya ditempatnya bekerja

Sikapku yang terlihat begitu menghargai dan menghormati dirinya menimbulkan rasa simpati yang cukup besar dari dalam diri Indah. Perasaan simpati itu lambat laun berubah menjadi rasa suka dan rasa sayang yang membingungkan bagi diri Indah, namun sejauh ini hubungan itu masih tetap terjaga dari perbuatan tercela, hal itu membuat Indah semakin suka dan merasa nyaman bila berdekatan denganku, sehingga ada kerinduan dalam diri Indah jika satu atau beberapa hari tidak bertemu denganku. Namun demikian, Indah sendiri merasa bingung dan gundah dengan perasaannya pada diriku.

Sedangkan aku merasa sangat berbahagia dengan hubungan ini, walaupun hanya sebatas ngobrol didalam bis kota yang hanya beberapa menit setiap hari, namun sanggup mengisi kekosongan jiwaku selama ini.

Hubunganku dengan Indah semakin akrab dan indah menurutku, kami bisa tertawa bersama, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan kepada hal-hal pribadi diriku. Namun ada satu masalah yang masih mengganggu pikiranku, Indah selalu menghindar jika kutanyakan hal-hal pribadi dirinya bahkan menolak dengan keras jika aku ingin ke rumahnya. Dia hanya berkata, “Kang, Indah memiliki masalah yang sangat berat dan tiada seorangpun yang dapat mengurangi beban berat ini. Indah mohon Akang bisa mengerti.”

Berkali-kali aku mendesaknya untuk membantu meringankan bebannya, tapi setiap kali itu pula dia menolak dengan keras, bahkan pernah mengancam untuk tidak usah bertemu lagi, jika aku tetap memaksanya. Aku menyerah dan dalam hati aku berpikir biarlah keadaan tetap seperti ini daripada tidak bisa lagi bertemu dengannya, sebab dengan keadaan seperti inipun aku sudah merasa sangat bahagia dan tenang.

Sore ini telah masuk bulan keempat perkenalanku dengan Indah, dan aku sangat gelisah, karena hujan turun sejak siang dan sampai jam empat belum berhenti juga. Dan akhirnya kugunakan mobilku menuju Matahari tempat kerja Indah. Di tempat kerja Indah, terlihat olehku Indah sedang tertunduk ketakutan sedang dibentak dan dimarahi oleh supervisornya, karena tanpa disengaja olehnya seorang pelanggan telah merusak barang dagangan yang harganya cukup mahal, dan harus diganti oleh Indah. Kutawar barang yang sudah rusak itu untuk kubeli dengan harga normal agar Indah terhindar dari sanksi.

Supervisor menyetujuinya dan akhirnya barang itu kubayar, kemudian Indah berkata padaku tanpa sepengetahuan supervisornya. “Tunggu di depan ya, Kang, kita pulang bareng lagi.”

Aku mengangguk sambil membawa barang yang kubeli.

Aku menunggu di depan dan hujan masih turun dengan lebatnya. Tak lama kemudian Indah muncul dan berkata dengan nada khawatir. “Waduh, gimana nich? Hujannya lebat banget. Kita tungguin aja ya, Kang?”

Tapi aku mengajaknya ke tempat parkir sambil berkata, “Kita pulang sekarang aja. Akang bawa mobil Boss kok.” kemudian menuju tempat dimana BMW-ku kuparkir.

Indah berkata, ”Masa sich mobil BMW Boss, Akang bawa-bawa terus.”

“Boss sedang Diklat di Preanger selama 3 malam dan di karantina, sehingga nggak boleh kemana-mana, jadi selama 3 malam ini BMW ini boleh Akang bawa-bawa. “ kataku memberikan alasan membawa BMW.

“Oh gitu…” kata Indah mengerti.

Di sepanjang jalan, Indah meminta maaf telah merepotkanku sehingga harus mengganti barang yang rusak dan dia berjanji akan mengganti uang yang kukeluarkan. Tapi aku menolaknya dan berkata. “Nggak apa-apa, Ndah, nggak usah diganti. Kebetulan Akang dikasih tip sama Boss cukup besar, jadi barangkali itu bukan rezeki Akang.”

“Walaupun bagaimana, Indah pasti akan mengganti uang Akang.” katanya memaksa.

jilbab montok bohay (4)

“Yah terserah Indah lah.” kataku menyerah.

Setelah mobil tiba di mulut gang menuju ke rumahnya, aku mengambil payung yang ada di dalam mobil dan berniat untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Namun kembali dengan tegas dia menolak keinginanku dengan berkata, “Kang, seperti yang pernah saya katakan, jika Akang ingin kita terus bisa bertemu, Akang tidak boleh datang ke rumah saya sebelum masalah berat yang saya hadapi dapat diselesaikan. Sekali lagi saya mohon pengertian Akang. Payung ini saya pinjam dan besok saya kembalikan.” Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan diriku yang termangu kecewa.

Hari-hari berikutnya aktivitasku dengan Indah berjalan seperti biasa, namun sekali-sekali aku membawa mobilku dengan memberikan berbagai alasan padanya, bahkan Indah mulai bersedia kuajak makan sebelum kuantar pulang ke depan gang rumahnya.

Pada hari suatu hari sabtu sekitar jam 8 pagi, saat aku sedang membaca koran di ruang kerjaku, tiba-tiba hp-ku bunyi dan betapa berbunga-bunganya hati ini ternyata yang menghubungiku adalah Indah.

“Assalamu’alaikum, ada apa, ‘Ndah?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, Akang ada waktu nggak?” balasnya.

“Lagi kosong nich.” jawabku bersemangat. ”Kenapa?” lanjutku.

“Akang bisa ke sini, ke Matahari…”

Ucapannya belum selesai dan langsung kupotong. “Ok. Tunggu 10 menit. Akang kesana!” jawabku semangat, dan kututup hp dan bergegas menuju ke tempat dimana mobilku diparkir.

Tak sampai 10 menit, aku sudah tiba di Matahari dan menemuinya. Setelah bertemu, Indah menjelaskan. “Seharusnya hari ini Indah masuk pagi, tapi teman Indah minta tukeran jadwal, karena nanti malam ada acara yang sangat penting. Indah setuju karena ingin membantu teman. Tapi sekarang Indah bingung, di rumah suntuk, sedangkan masuk kerja nanti sekitar jam 3.30 sore. Gimana nich?”

“Kita jalan-jalan aja, kebetulan Akang bawa mobil karena tadi pagi Akang baru mengantar boss ke Bandara, besok pagi baru Akang jemput,” usulku.

“Jalan-jalan kemana, Kang?” tanyanya ragu-ragu.

“Bagaimana kalau ke Tangkuban Perahu, nanti sebelum jam 4 sore kita udah disini lagi.” usulku lagi.

“Bolehlah, Kang.” jawabnya setuju. Lalu kami menuju ke mobilku berangkat ke arah utara kota Bandung.

Di tengah perjalanan kutanyakan padanya kenapa suntuk di rumah dan dia tidak mau menunggu di rumah saja hingga menjelang sore.

“Masalah yang dihadapi Indah makin berat aja sehingga akan semakin suntuk kalo Indah pulang ke rumah. Indah pingin ngobrol agar rasa suntuk ini berkurang.” jawabnya.

“Kenapa sich Indah tidak mau ngasih tahu Akang tentang masalah yang sedang dihadapi? Mungkin Akang bisa bantu meringankan.” tanyaku.

“Nanti pada waktunya akan Indah terangkan dan rasanya sekarang Indah belum sanggup menjelaskan ke Akang, maaf ya, Kang.”

Aku hanya menghela napas panjang dan tak berani menanyakan lebih lanjut. Dan akhirnya ganti topik pembicaraan.

Sepanjang perjalanan hatiku berbunga-bunga, karena baru kali ini aku bisa berlama-lama bersama dengannya dan terlihat olehku, walaupun dari sorot matanya dia seperti memendam masalah yang berat, namun tidak mampu menyembunyikan keanggunan dan kecantikan wajahnya. Dadaku berdebar-debar keras, tapi aku sangat menikmati suasana debaran jantung yang membuat napasku terasa berat dan sesak ini.

Kurang lebih 40 menit kemudian, kami telah tiba di Tangkuban Perahu. Kuparkirkan mobilku tak jauh dari kawah Ratu dan berjalan-jalan menikmati pemandangan indah kawah tersebut.

Terkadang tangannya kupegang sehingga kami tampak bagaikan sepasang suami istri yang sedang berlibur. Kami sangat menikmati suasana ini, dan tanpa kami sadari pegangan tangan kami semakin erat mengalirkan getar-getar nikmat diseluruh peredaran darahku, mungkin juga Indah merasakan hal yang sama denganku sebab seringkali tanganya meremas-remas erat tanganku. Kami duduk di tempat yang memiliki view keindahan kawah yang indah tersebut dan mengobrol sambil berpegangan tangan, hawa dingin tangkuban perahu seolah tidak kami rasakan.

Karena saat itu adalah musim hujan, maka langit mendung dan makin lama makin pekat menghitam seolah-olah akan segera turun hujan. Namun kami yang sedang asyik ngobrol seolah tidak menghiraukan keadaan cuaca tersebut. Sehingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Kami tersentak dan langsung berlari menuju tempat berteduh, tetapi posisi kami berada jauh dari kios-kios pedagang bahkan lebih dekat ke areal parkir, maka kuputuskan untuk berteduh di dalam mobilku. Badan kami basah kuyup ketika kami masuk ke dalam mobil karena cukup jauh kami kehujanan. Diluar, hujan semakin lebat dan kami mulai kedinginan, karena mengenakan pakaian yang basah oleh air hujan ditambah lagi dengan dinginnya hawa gunung Tangkuban Perahu.

Untuk mengurangi rasa dingin dari bajuku yang basah, dengan meminta maaf padanya kubuka bajuku dan kuperas bajuku agar seluruh air yang menempel dibajuku keluar lalu kuhanduki tubuhku dengan handuk yang biasa aku bawa di dalam mobil. Indah memandang dadaku yang telanjang, selintas kulihat ada tatapan kagum melihat tubuhku yang atletis. Dia terpana melihat tubuhku yang basah kemudian tertunduk. Entah apa yang ada dipikirannya

Aku kasihan melihat Indah mengigil kedinginan, kutawarkan handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya dan kutawarkan pula jaket yang selalu ada didalam mobilku untuk dia kenakan. Indah menerima handuk dan jaket yang kutawarkan, namun sejenak dia bingung. Aku paham yang dibingungkannya, lalu berkata, “Ganti aja baju basahmu dengan jaket itu di jok belakang. Aku tidak akan melihat pada saat kamu buka baju.”

Indah memandangku sejenak dan karena rasa dingin semakin menusuk tulangnya maka dia berkata, “Awas lho… Akang nggak boleh ngintip waktu Indah buka baju.“

Aku mengangguk, kemudian dia beranjak ke jok belakang dan membuka baju basahnya untuk diganti dengan jaket yang kuberikan. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha untuk tidak mengintip, tapi dari kaca spion yang ada di atas kaca depan, terlihat olehku dia membuka baju basahnya dengan tergesa-gesa.

Napasku sesak dan jantungku berdebar kencang, ketika dari kaca spion terlihat betapa putih dan mulusnya tubuh gadis berjilbab itu. Dan Indah tidak sadar bahwa aku dapat melihat dia bertelanjang dada, hanya tertutup oleh bh krem yang menopang buahdada yang montok dan ranum serta jilbab basah yang menutupi kepalanya. Dengan perlahan dia mulai mengeringkan badannya dengan handuk dan napasku semakin memburu dan gairahku bangkit dengan cepat melihat pemandang indah itu.

Setelah badannya dirasakan cukup kering, maka Indah mulai mengenakan jaket yang kuberikan sementara baju basahnya dia peras dan digantungkan di jok depan menggantung ke belakang. Kemudian berkata, “Sekarang sudah agak mendingan, tidak terlalu kedinginan seperti tadi. Makasih, Kang.”

Aku tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhku ke belakang sehingga dapat menatap tubuhnya yang sudah mengenakan jaketku, sementara jilbab dan rok panjang yang basah masih dia kenakan.

Aku mengeluh dalam hati, Uhhh… gadis ini memang luar biasa cantik. Menggunakan pakaian apa saja tetap saja terlihat cantik. Aku terpana memandangnya tanpa berkata-kata membuat Indah malu dan berkata, ”Ada apa sich, Kang, melihat Indah seperti ada yang aneh?”

“Ah nggak.” jawabku malu.

Sambil menunggu hujan yang kian lebat, kami mengobrol banyak hal. Namun posisi tersebut membuatku kurang nyaman, akhirnya aku melangkahi jok depan untuk pindah ke jok belakang. Indah tidak protes ketika aku pindah ke jok belakang sehingga duduk kami berdampingan. Hawa gunung tangkuban perahu yang dingin menusuk tulang ditambah lagi dengan hujan lebat yang tak kunjung reda, membuat badannya menggigil kedinginan apalagi aku yang pada saat itu sedang bertelanjang dada, sehingga tanpa kami sadari duduk kami semakin rapat dan kedua tanganku memegang kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Perlahan namun pasti, ada hawa lain yang menyertai rasa dingin yang kami alami, yaitu suatu hawa yang membuat peradaran darah kami mengalir dengan cepat disertai dengan getaran-getaran yang mulai menghangatkan tubuh serta menarik kedua tubuh kami semakin rapat, tanpa kami sadari napasku semakin memburu demikian juga deru napas Indah semakin jelas terdengar. Dingin yang kurasakan semakin berkurang tergantikan dengan dorongan gairah yang meronta-ronta. Aku tak tahu, apakah Indah juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kepala kami, makin lama semakin mendekat hingga suatu ketika kulihat dengan napas yang terengah-engah Indah menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk mengecup bibir sensual yang menantang tersebut. Pertemuan bibir itu terasa kaku, namun hanya beberapa detik dilanjutkan dengan hisapan-hisapan yang membuat perasaanku melayang-layang, beberapa detik kemudian Indah mulai membalas hisapan bibirku dengan gairah yang sama, sehingga kedua bibir kami saling hisap dan saling kecup. Gairahku semakin meninggi dan tubuhku mulai terasa panas menggantikan dingin yang tadi kurasakan.

Indahpun semakin bergairah menciumku dan lidahnya mulai menerobos mulutku sehingga kedua lidah kami saling bertemu dan saling menjilat. Ciuman itu semakin panas, kedua napas kami semakin terengah-engah didorong oleh nafsu yang semakin menggebu, tanpa kami sadari tanganku telah memeluk tubuhnya dengan sangat erat demikian juga Indah, tangannya memeluk, membelai dan mengusap punggungku yang telanjang.

Tiba-tiba, dengan napas yang masih terengah-engah. Indah melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku serta berkata, ”Apa yang kita lakukan, Kang? Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh.” katanya terbata-bata seperti ketakutan.

Aku terkejut dan menghentikan cumbuanku. Aku tidak ingin memaksakan gairahku padanya, takut hal itu menyakiti hatinya, karena Aku mencintai Indah sejak pertama kali bertemu. Dengan nafas yang masih memburu, aku berkata, “Tahukah, Ndah? Bahwa Akang sudah jatuh cinta ke Indah sejak pertama kali melihat Indah mentertawakan kelakuan Akang di halte bis 4 bulan yang lalu. Oleh sebab itu akang selalu ingin bertemu dengan Indah.”

“Indah juga suka ke Akang… dan Indah tahu bahwa Akang suka ke Indah, tapi Indah takut, Akang akan kecewa. Indah tidak pantas dicintai oleh Akang.” setelah berkata demikian, Indah menangis tersedu-sedu seperti ingin menumpahkan segala beban yang dideritanya.

Aku terkejut dengan perkataannya dan berkata dengan suara bergetar “Apanya yang tidak pantas, apa karena Akang hanya seorang supir sehingga Indah merasa tidak pantas?”

Indah terkejut mendengar ucapanku dan memelukku serta merebahkan kepalanya di dadaku sambil berkata, ”Bukan. Bukan itu. Ohhh, kenapa jadi begini?” terlihat Indah sangat bingung dan kembali menangis bahkan lebih tersedu-sedu.

Aku semakin heran dan bingung, sambil mengelus-elus jilbabnya aku berkata dengan lembut “Kalau gitu, apa dong?” tanyaku sambil terus membelai-belai kepalanya yang terhalang jilbab agar dia merasa aman dan nyaman.

Lama Indah tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya sesenggukan di dadaku. Tak lama kemudian dengan suara bergetar dia berkata. “Indah suka ke Akang, Indah juga ingin selalu bertemu dengan Akang, dan Indah merasa aman dan nyaman berdekatan dengan Akang, tapi…”

“Tapi apa, Ndah?” tanyaku memaksa.

jilbab montok bohay (5)

“Saya mohon, Akang jangan memaksa, yang penting Akang sudah tahu… Indah suka ke Akang dan selalu merindukan Akang.” katanya lagi sambil menyusupkan kepalanya di dadaku. Aku tidak mau memaksanya lebih lanjut, yang penting saat ini aku sudah tahu bahwa Indah ternyata suka padaku dan selalu merindukanku. Dan hal itu merupakan jawaban yang cukup membahagiakan bagi diriku. Maka aku memeluknya semakin erat.

Lambat laun gairahku dan gairahnya mulai bangkit melawan hawa dingin yang kembali menyerang kami. Aku mulai mencium kepalanya, bergeser ke kening, Indah memejamkan matanya dan napasnya semakin memburu.

Kuciumi matanya yang kiri dan kanan, dan nampaknya Indah menikmati apa yang kulakukan. Kugeser lagi bibirku hingga mencium pipinya yang kiri dan kanan hingga akhirnya mulut Indah terbuka sambil memejamkan mata. Kusambut bibir indah yang terbuka itu dan langsung kuhisap dan kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir dan bagian dalam mulut. Diluar dugaanku, Indah menyambut ciumanku kali ini dengan hangat dan lebih bergairah, dengan napas terengah-engah penuh gairah, bibir Indah balas menghisap dan menjilat bibirku, kedua tangannya merayap membelai punggung dan dadaku.

Kembali badanku melayang diombang ambing oleh kenikmatan percumbuan ini. Secara perlahan, sambil berciuman dengan penuh gairah tangan kananku menarik sleting jaket yang menutupi dadanya, tangannya menahan dengan ragu tanganku, namun tidak ada penolakan yang berarti ketika tanganku terus bergerak menarik sleting hingga kebawah, tanganku mulai merayap mengusap kulit perut yang halus dan ramping, tanganku terus bergerak ke atas hingga mengusap dan membelai dada yang tak tertutup bh.

“Uhhh… euh…” Indah melenguh disela-sela ciumanku merasakan nikmat ketika dia rasakan telapak tanganku meremas buah dadanya dengan penuh gairah dari balik bh-nya.

Lenguhan itu membuat gairahku semakin terpompa, kembali kuremas buah dada itu. “Uuh… oohhh…” kembali dia mengeluh. Rasa dingin sudah tak kurasakan lagi tergantikan oleh hawa panas yang keluar dari dalam tubuh kami. Tanganku merayap kepunggung dan menarik pengait bh hingga terlepas, kemudian menarik bh itu ke atas hingga buah dadanya putih, mulus dan montok terpanpang jelas didepan mataku. Mataku nanar memandang keindahan itu, dan napasku semakin sesak dihimpit oleh gairah yang semakin menggebu.

Tangan kananku meremas-remas buah dada indah itu dengan penuh nafsu. ”Uhhh… Ohhh…” kembali Indah melenguh nikmat sambil mendongakkan kepala. Mulut turun kebawah menyusuri dagu, kemudian leher yang masih tertutup jilbab, lalu ke dadanya yang putih mulus, kukecup, kuhisap dan kujilat permukaan dada itu, kembali Indah melenguh. ”Ouh… Kang… ouh…”

Bibirku semakin mengulas menuju buah dada yang montok sekal menggemaskan, Indah semakin mengerang nikmat. Hingga akhirnya bibirku menghisap dan menjilat-jilat putting susunya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar dan erangan nikmatnya semakin nyaring ketika lidahku menjilati dan memilin putting susu yang semakin keras menjulang. Sambil lidahku mempermainkan putting susunya, kedua tanganku berusaha mencopot rok basah yang masih dikenakan Indah. Kembali tangan Indah menahan ragu, tapi nampaknya gairah nafsu sudah membakar tubuhnya, sehingga tangan itu membiarkan ketika tanganku mulai menarik rok panjang tersebut, bahkan pantatnya diangkat turut membantu agar rok tersebut dapat lepas dengan mudah dari tubuhnya.

Kembali tanganku merasakan permukaan paha yang sangat lembut dan halus, kemudian kubelai kemulusan paha Indah yang kiri dan kanan secara bergantian, gairah Indah semakin meninggi dan dirinya semakin merasa melayang dibuai nikmat. Dan tiba-tiba badannya bergetar keras dan dari mulutnya keluar erangan nikmat yang cukup panjang ketika tanganku menggesek-gesek vaginanya dari balik Cd yang ia kenakan. “Euuuhhhhh… euhhhhhhhh… auhhh… auh…” Permukaan cd itu semakin basah oleh cairan gairah yang keluar dari vaginanya, ketika tanganku berusaha menarik cd yang ia kenakan, kali ini tidak ada lagi penolakan, bahkan tangannya membantu melepaskan cd tersebut.

Tangan kananku langsung aktif membelai dan menekan-nekan vagina Indah yang semakin basah. Dan erangan nikmat semakin nyaring terdengar dan tak putus-putus, hingga akhirnya badannya melonjak-lonjak keras disertai dengan teriakan-teriakan nikmat ketika jari tengahku mengocok-ngocok liang vagina yang licin namun sempit memijit dan mengurut-ngurut jari tengahku yang berada di dalam liang vaginanya. Jari tengahku semakin semangat mengocok, memutar dan mengait-ngait seluruh ruangan di liang vagina yang dapat dicapai oleh jariku.

Mata Indah semakin mendelik, dan napasnya semakin terengah-engah seperti kehabisan napas disertai dengan teriakan-teriakan nikmat yang tiada henti. “Auh… Kang… auh… euhhh… auww… oohhhh…”

Tanganku semakin lincah mengexploitasi setiap relung vagina Indah sedangkan bibirku semakin bernafsu menghisap, menjilat serta memilin-milin putting susu yang luar biasa indahnya. Tubuh Indah semakin berkelojotan menahan nikmat yang kuberikan, hingga akhirnya kelojotan itu semakin keras dan semakin keras diakhiri dengan teriakan panjang tercekik.

”Aaaaaakkkhhhhhhhssss…” badannya melenting kaku, kepala terdongak dan mata terbeliak, lalu terjadi perut dan pantatnya berkedut-kedut keras serta jari tengahku seperti dipijit, diremas dan duhisap-hisap dengan sangat keras. Setelah itu badannya terhempas lemah di sandaran jok belakang mobil dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang terpejam serta bibir yang menampakkan seulas senyum rasa puas yang teramat sangat.

Kucabut jariku tengahku dari liang vaginanya yang semakin banjir kurasakan, tanpa keraguan sedikitpun kujilati jariku yang basah oleh lendir kenikmatan dari vagina Indah.

Indah memandang apa yang kulakukan, dengan lemah tangannya menarik jari tengah yang sedang kujilati lalu dia menjilati dan menghisap jari tengahku seperti orang yang makan permen lolipop dengan nikmatnya dengan napas yang masih terengah-engah kecapaian..

Cukup lama Indah menghisap dan menjilati jari tanganku hingga perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan napasnya yang kembali memburu dan Indah mulai menjilati dada dan putting susuku. Aku melayang diperlakukan seperti itu, kemudian tangannya berusaha membuka celana panjangku, kubantu melepaskan celana panjang sekaligus dengan cd yang kukenakan. Indah terpana memandang penisku yang menjulang tegang dan keras.

Kakinya melangkahi pinggulku, sambil mencium bibirku dengan sangat bergairah, tangannya memegang penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat dimulut liang vagina yang licin dan basah.

Blesss…. Perlahan-lahan penisku menembus vaginanya, sangat perlahan karena sangat sempit walaupun sangat basah dan licin.. Seeerrrr rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh peredaran darahku membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Indah semakin menekan pantatnya dalam-dalam hingga seluruh batang penisku ditelan oleh vaginannya yang sempit menjepit dan menghisap-hisap penisku.

“Uhh…” aku mengeluh nikmat, vagina Indah terus-menerus memijit dan menghisap penisku mendatangkan nikmat yang tiada henti sehingga aku terus menerus mengerang nikmat. Gerakan Indah makin lama semakin cepat, dan vaginanyapun semakin keras menghisap-hisap penisku. Kepala Indah terdongak kebelakang sambil mengerang nikmat, kedua tangannya merengkuh bahuku dan gerakannya semakin liar tak terkendali.

Akhirnya badannya melenting kaku dan mulutnya melepaskan teriakan panjang melepas nikmat. “Aaaaakkkkkkkhhhhss….” Kemudian tubuhnya ambruk menindih dada dan bahuku. Sedangkan penisku merasa nikmat yang teramat sangat karena vagina Indah memijit, meremas dan menghisap dengan keras pada saat dia mencapai puncak.

Aku merasa orgasmeku akan datang, oleh sebab itu kubaringkan dia dijok mobil dan kubuka paha dan kuangkat betisnya dan blesss…! Kembali penisku menerobos liang vagina yang makin basah dan licin, tapi anehnya tetap sempit menjepit nikmat batang penisku. Aku mulai mengocok penisku keluar masuk liang vaginanya. Gairah Indah bangkit kembali dan mengimbangi gerakanku sehingga rasa nikmat semakin cepat menjalar disekujur tubuhku.

Gerakan tubuhku semakin menghentak-hentak keras tak terkendali disambut dengan hentakan yang tak kalah kerasnya dari tubuh Indah, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang sangat besar mengalir dari pangkal penisku dan badanku melenting kaku. “Akkkhhhh… “ aku menjerit melepas nikmat. Cretttt… Cretttt… Cretttt…!!! sperma kentalku terpancar dengan keras di dalam vagina Indah.

Dan seperti terpicu oleh semprotan spermaku, tubuh Indahpun kembali melenting sambil menjerit melepas nikmat dan terjadi pada tubuh Indah sehingga vaginanya kembali meremas, memijit dan menghisap-hisap penisku dengan kerasnya. Aku merasa seolah-olah vaginanya menyedot habis seluruh cadangan sperma yang ada di penisku, hingga akhirnya aku ambruk menindih tubuh Indah yang basah oleh keringat.

Aku bangkit dari atas tubuh Indah dan menyandar pada sandaran jok, sambil mengatur napas yang terengah-engah. Selama beberapa menit kami terdiam menikmati sisa-sisa nikmat yang masih terasa dan memulihkan napas yang secara perlahan-laha mulai teratur kembali. Walaupun di luar hujan masih sangat lebat, namun saat itu kami sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan kami merasa kegerahan.

Setelah kesadaran kami pulih, tiba-tiba Indah menjerit tertahan sambil menutup buah dadanya dengan jaket yang masih dikenakannya “Aahhh…!!!” Dan tangannya yang lain berusaha menutup vaginanya serta merapatkan kaki.

“Ada apa, sayang?” tanyaku heran.

Indah tidak menjawab, hanya dengan tergesa-gesa ia mengenakan Cd dan rok panjang yang masih basah oleh air hujan, kemudian dia berkata. “Ohhh, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, maafkan aku… maafkan aku.” terus menangis sesenggukan.

Aku bingung dengan apa yang dipikirkannya dan tak sanggup berkata-kata, kemudian aku berusaha membelainya di bergeser menjauh sambil tetap sesenggukan, akhirnya kudiamkan dirinya melepaskan tangis sedangkan aku berdiam diri melamun bingung.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat kerjanya karena waktu telah menunjukkan jam 13.30. Sepanjang perjalananan pulang kami lebih sering membisu dan terasa sangat kaku. Hingga sampai di tempat kerjanya, Indah lebih sering diam membisu dengan wajah yang menampakkan setumpuk kegundahan.

***

Beberapa hari setelah kejadian mengesankan di Tangkuban Perahu, Indah seperti yang menghindar dariku, berkali-kali kujemput, tidak pernah mau menemuiku.

jilbab montok bohay (6)

Hal itu membuatku gelisah tak menentu. Aku menjadi kelimpungan dibuatnya. Di kantor aku menjadi mudah marah, hampir semua anak buahku kumarahi jika mereka berbuat kesalahan walaupun kesalahan yang sepele. Perubahan sikapku ini membuat aneh anak buahku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegelisahanku demikian memuncak, sehingga kuputuskan untuk mendatangi rumahnya dan aku mulai mencari informasi dimana alamat rumahnya pada teman sepekerjaannya. Namun baru saja aku bertanya pada teman sepekerjaannya, Indah datang menemuiku dan berkata, “Kang, kita harus bicara!”

“Kapan?” tanyaku pula.

“Nanti, setelah pulang kerja.” jawabnya.

Masa penantian yang hanya 1 jam saja, terasa bagaikan bertahun-tahun, sehingga akhirnya masa penantian itupun berakhir. Indah keluar menghampiriku. “Yuk, Kang!” katanya.

“Mau kemana kita?” tanyaku.

“Kemana aja, yang penting kita bisa ngobrol.” sahutnya.

“Bagaimana kalo kita ke ‘Tea House’ Dago?” usulku.

“Terserah Akang!” jawabnya lagi.

Akhirnya aku membawanya ke Tea House, yaitu suatu tempat makan atau minum di daerah Dago Utara dengan suasana yang sangat nyaman dan indah. Setelah tiba, kami masuk ke saung-saung yang tersedia dan memesan manakan dan minuman ringan.

“Kenapa sich, Indah susah ditemui akhir-akhir ini. Lagi ngambek yah ke Akang?” tanyaku memecah kebisuan.

“Maafkan Indah, Kang! Akang tidak salah. Indah sengaja menjauhi Akang, karena Indah takut terlalu dalam mencintai Akang.“ jawabnya dengan nada perlahan penuh kesedihan.

“Mengapa Indah takut mencintai Akang? Bukankah Indah juga tahu bahwa Akang sangat mencintai Indah ? Bahkan Akang merasa sangat bahagia kalau tahu Indah begitu dalam mencintai diri Akang.” jawabku sambil tersenyum dan meraih pundaknya dan mendekapnya.

Indah membiarkan tubuhnya direngkuh olehku dan meletakkan kepalanya di dadaku, melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Kemudian berkata, “Tapi, tetap saja Indah merasa takut. Karena semakin lama, Indah makin mencintai Akang. Dan ini sebenarnya tidak boleh.” katanya pelan.

“Udahlah, nggak perlu takut. Bukankah Indah pernah bilang, kita jalani aja hubungan seperti ini, Akang tidak akan mendatangi rumah Indah dan bertanya tentang pribadi Indah, kalau Indah tidak mengijinkan. Percayalah, Ndah! Akang cukup bahagia dengan keadaan seperti ini, walaupun terasa janggal. Akang akan menunggu keikhlasan Indah untuk hal-hal yang lebih lanjut.” kata-kataku meluncur menenangkan dirinya sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta?

Ya, aku merasa bahwa aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya, walaupun aku belum tahu siapa dia sebenarnya.

Selanjutnya, obrolan diisi dengan curahan rasa cinta masing-masing diselingi kecupan mesra. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu, demikian juga nampaknya dengan Indah. Wajahnya bersinar semakin cantik dan anggun, dia selalu tersenyum manis setiap kali bicara, dan bibirnya begitu menggoda setiap kali dia bicara, sehingga berkali-kali kukecup bibirnya dengan gemas. Dan nampaknya Indah begitu bangga dan bahagia menerima perlakuanku tersebut.

Tak terasa waktu telah memasuki waktu magrib, maka kami segera pulang. Dan seperti biasa aku mengantarnya sampai depan gang rumahnya.

***

Selanjutnya hari-hariku kembali ceria dan tidak ngambek-ngambek lagi di kantor, dan perubahan ini tentu saja menggembirakan anak buahku, sehingga semangat kerja mereka muncul kembali.

Dua minggu setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, aku mengajaknya jalan-jalan pada hari dimana dia OFF. Saat itu aku mengajaknya menikmati keindahan situ Cileunca di daerah Pangalengan – Bandung Selatan. Kami ketemuan di depan tempat dia kerja. Sebelum menemuinya aku ke kantor terlebih dahulu dan mendelegasikan semua pekerjaan kepada anak buahku. Kemudian aku menjemputnya sekitar jam 09.30 dengan menggunakan sepeda motor inventaris kantor.

Sepanjang perjalanan, dia mendekapku dengan mesra dari belakang, desiran darahku membuat perasaanku melayang ketika kurasakan punggungku dihimpit oleh buah dadanya yang montok. Kurasakan perjalanan Bandung – Pangalengan demikian singkat, karena tanpa terasa kami sudah tiba di Situ Cileunca.

Kami menikmati keindahan alam situ Cileunca sambil bergandengan tangan dengan mesra bagaikan pasangan suami istri yang sedang dalam masa bulan madu, naik perahu, jalan-jalan diantara kebun teh dan bercanda tawa selama menikmati keindahan alam ini.

Mendekati tengah hari aku mengajak Indah ke villa milikku yang berada di daerah tersebut, kusebutkan bahwa aku udah janjian untuk mengunjungi teman di daerah tersebut. Indah mengikuti saja kemana aku ajak, karena dia benar-benar menikmati dan merasa bahagia dengan kebersamaannya denganku saat itu.

Ketika tiba di depan gerbang villa, aku langsung menghubungi penjaga villa dan kubisikan agar ia bersandiwara seolah-olah aku adalah teman dari si pemilik villa dan memberikan sejumlah uang untuk menyiapkan makanan dan minuman. Penjaga villaku cepat tanggap akan situasi yang kuinginkan.

Dia berkata padaku dihadapan Indah. “Wah sayang, Pak Agus! Pak Dedi pergi ke Majalaya dan pulangnya besok, tapi beliau berpesan bahwa kalo Pak Agus datang disuruh istirahat aja dulu.”

“Wah, gimana nich, Ndah? Temanku pergi, tapi kita istirahat aja dulu yach?” kataku pada Indah.

Indah hanya mengangguk setuju. Kami pun masuk ke villa tersebut diantar oleh penjaga villa tersebut. Dan tak lama kemudian istri penjaga villa menyuguhkan makanan dan minuman yang masih hangat, kemudian mempersilahkan kami menikmati hidangan tersebut sementara mereka kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua. Tapi sebelum meninggalkan kami, penjaga villa tersebut berkata, “Kalo perlu apa-apa, hubungi mamang aja ke rumah, Mamang pamit dulu!”

“Terima kasih, Mang!” kataku.

Sepeninggal mereka, Kamipun menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan tentang komentar kami akan keindahan alam di sekitar situ cileunca dan juga tentang nikmatnya masakan khas daerah tersebut yang baru saja kami nikmati.

Setelah dirasakan cukup rileks, kami menuju balkon yang terletak di lantai 2 dan memiliki view situ cileunca dari kejauhan, sehingga terlihat keindahan situ cileunca yang dikelilingi oleh perkebunan dan gunung-gunung. Kami duduk berdampingan di kursi panjang, tangan kananku memeluk pundaknya, sedangkan kepala Indah disandarkan ke pundakku.

“Ndah, betapa bahagianya Akang saat ini, apakah Indah merasakan hal yang sama seperti Akang?” tanyaku sambil mengecup keningnya

“Kebahagiaan Indah sukar diucapkan dengan kata-kata, Kang. Pokoknya mah banget.” jawab Indah sambil wajahnya menoleh terhadapku. Bibirnya mencari bibirku dan memberikan ciuman yang hangat penuh rasa cinta padaku. Aku membalas ciumannya, dengan menghisap dan mengecup bibir tipisnya yang menggemaskan. Cukup lama bibir kami saling mengecup dan menghisap, sampai akhirnya Indah berusaha melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan napas.

Tanpa kami sadari napas kami sudah tersengal-sengal dipacu oleh nafsu birahi yang mulai merasuki diri kami. Sehingga tak lama kemudian kami berciuman kembali, namun kali ini, ciuman yang terjadi adalah ciuman yang sudah dirasuki oleh nafsu birahi sehingga terasa begitu panas bergelora dengan napas yang terengah-engah.

Rangsangan yang kurasakan semakin tinggi, dan kubisikan padanya. “Ke kamar, yuk!”

Indah menatapku penuh harap dan mengangguk lemah. Aku berdiri dan menuntunnya untuk menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, kemudian kembali berciuman, dan ciuman kali ini jauh lebih bergelora dibandingkan dengan yang tadi kami lakukan, sambil berciuman dan mempermainkan lidah, tangan kananku mulai meremas buahdadanya yang montok dari balik bajunya.

Ciumannya terlepas dan terdengar erangan nikmat dari bibirnya dengan mata yang terpejam rapat. “Euhhh… Uuhhhh…“ Erangan yang keluar dari bibirnya yang tipis memberikan rangsangan yang semakin tinggi bagiku, napasku semakin menggebu demikian juga dengan napasnya, helaan napas kami bagaikan sedang berpacu, saling menghela dengan terengah-engah. Tubuh kami terasa panas, mengalahkan hawa dingin pegunungan daerah Pangalengan.

Jilbab yang dikenakannya kusut masai, maka secara perlahan kulepas jilbab tersebut, Indah hanya diam saat jilbabnya terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, lalu kuciumi lehernya yang jenjang dan menggairahkan. Indah menggelinjang dan terdongak sehingga lehernya semakin terbuka dan kuhisap-hisap penuh nafsu, mata Indah terpejam menikmati rangsangan yang kuberikan.

Secara perlahan, aku mulai berusaha melepaskan gaun yang dikenakannya. Indah membantu melepaskan gaun tersebut terlepas dari tubuhnya. Mataku berbinar dan terpana menatap tubuh mulus dan halus dari bagian atas tubuh Indah yang terbuka dan hanya secarik bh krem yang menutupi buahdadanya yang montok.

Kuciumi dan kujilati perut Indah yang rata dan halus bagai porselen. Setiap kukecup dan kujilati permukaan perut Indah, terlihat otot-otot perutnya tergetar seolah teraliri oleh arus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Indahpun semakin mengerang nikmat sambil menggeliat. “Uhhh… ouuhhhh… Kang… Kang… ouhhh…!”

Erangan nikmat itu semakin merangsang diriku, dan tanganku berusaha melepaskan bh krem yang menghalangi keindahan buahdadanya. Begitu terlepas, kedua tanganku langsung meremas-remas buahdada yang montok itu. Indah semakin menggelinjang nikmat dan mengerang semakin keras. “Ouh… Kang… Ouh… Kang…“ Kepalanya terdongak dengan mata terpejam dan tubuh yang melenting serta kedua tangan yang bergerak kesana-kemari mencari pegangan dan akhirnya meremas sprey dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

Lidahku terus mengulas permukaan perutnya yang halus bak pualam, sementara Indah terus menerus mengerang dan meregang dan napas yang tersengal-sengal. Dengan penuh nafsu lidahku merayap ke atas, kearah buah dadanya yang montok. Indah semakin mengerang, “Ouhh…!“ tubuhnya semakin menggeliat, putting susunya menonjol keras dan runcing.

Jari-jari tangan kananku memilin-milin putting susu sebelah kiri, tubuh Indah semakin bergetar dengan erangan yang semakin bergemuruh. “Euhhh… Ouh… kang… kang…”

Lidahku menghisap dan mengecup permukaan buah dada di sekitar putting susu yang semakin menonjol, geliat tubuh Indah semakin keras dan menggeliat dengan erangan nikmat yang tak terputus-putus serta napas yang semakin tersengal. Dan akhirnya lidah dan bibirku mulai mengecup dan menghisap putting susu yang semakin menonjol, tubuh Indah semakin melenting dan cengkraman jari-jari tangannya pada sprey semakin kuat menahan rasa nikmat yang tak terperi, kepalanya terdongak semakin dalam. “Auh… Ahhh… Kang…”

Napasku semakin terengah-engah terdorong oleh nafsu yang semakin menggebu, kedua tanganku mulai melolosi rok panjang dan cd yang dikenakannya. Pantat Indah terangkat memudahkan tanganku melepaskan sisa pakaian yang menempel pada tubuhnya. Napasku semakin tersengal-sengal dengan pandangan mata yang semakin nanar, terpukau oleh kemulusan dan keindahan tubuh bugil Indah yang semakin memompa gairahku

“Ohhh… “ mulutku berguman kagum akan keindahan ini. Tanpa ragu wajahku langsung mengarah ke selangkangan Indah dan dengan penuh nafsu aku menjilati dan mengecup vagina Indah yang ditutupi oleh jembut yang halus dan menggairahkan.

Tubuh Indah bergetar keras seperti teraliri listrik ribuan volt dengan tubuh yang melenting kaku dan jeritan keras. “Akkkkhhhs…” Begitu lidahku menyusuri lipatan vaginanya yang bahsah dan harum menggairahkan. Setiap lidahku menyusuri lipatan vagina dan berhenti di klitoris yang menonjol keras, tubuh bergetar dan mengeliat serta mengerang cukup keras, “Akkhhhsssss…”

jilbab montok bohay (7)

Dengan cepat dan penuh gairah, lidahku kukorek-korekan ke dalam liang vagina Indah yang terasa asin dan gurih. Kedua kaki Indah menghentak-hentak dan tubuh menggeliat serta kepala yang semakin terdongak, hingga akhirnya tubuh Indah melenting kaku bagaikan ulat yang tertusuk duri diserta jeritan nikmat yang sangat panjang dengan napas yang tercekik. “Aaaaaaakkkkkkhhhhhsssss…!!!”

Lidahku terasa bagaikan dijepit oleh dinding-dinding vagina yang berkontrkasi sangat kuat, dan akhirnya tubuh Indah terhempas bagaikan layangan putus, deru napasnya tersengal-sengal seperti kehabisan napas lalu terkulai lemas. “Ouhhhh… Kang, nikmat banget… ouhhh…” katanya sambil menghembuskan napas panjang penuh kepuasan.

Pakaian yang kukenakan basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-poriku. Kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sementara Indah masih terbaring lemah sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang baru diraihnya.

Setelah tubuhku bugil, kembali aku merangkak mendekati tubuh Indah yang tergolek lemah. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra, Indah menyambut kecupanku. Kuhisap bibir indah tersebut, Indah balas menghisap dan akhirnya lidahku kumainkan untuk menjilat bibir Indah dan berusaha memasuki rongga mulutnya. Indah membalas ciumanku dengan gairah yang mulai bangkit kembali, tangannya merengkus tengkukku agar ciuman kami semakin rapat. Akhirnya tubuhku menindih tubuhnya dan bergumul dengan nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku yang tegang dan keras menganjal permukaan vaginanya, membuat gairah Indah semakin tinggi dengan deru napas yang semakin cepat.

Tiba-tiba Indah menggulingkan tubuhnya sehingga dia berada diatas tubuhku dan mulai mengambil inisiatif untuk merangsangku. Dia menciumi pipi, leher, dada, menghisap-hisap putting susuku baik yang kiri maupun yang kanan membuat tubuhku menggelinjang dilanda rangsangan yang sangat tinggi. Dan Indah semakin bergairah melihat mataku terpejam-pejam menahan nikmat. Ciumannya pindah ke perut dan terus turun ke bawah hingga akhirnya mata Indah terlihat nanar penuh gairah memandang batang penisku yang mengacung tegak menjulang, dan “Ouhh…” tanpa sadar erangan nikmat keluar dari mulutku ketika kurasakan Indah mulai memasukan batang penisku ke dalam mulutnya.

Kepala Indah berputar-putar agar batang penisku mengocok-ngocok rongga mulutnya, tubuhku semakin menggeliat menahan nikmat dan mulutku hanya sanggup mengeluarkan keluhan nikmat terputus-putus. “Ouhhh… Ndah… Ouhhh… eeennnak… ohhh…”

Indah semakin bergairah bisa memberikan kenikmatan padaku, lidah tidak tinggal diam, dia gunakan untuk menjilati kepala penisku, aku semakin melayang, penisku semakin bengkak dan keras.

Gairah Indah sudah tak tertahankan lagi, karena vagina mulai terasa sangat basah, berkedut dan gatal. Dia menghentikan kegiatannya mengulum batang penisku, Dia merangkak menghadapku dan menempatkan vagina tepat diatas batang penisku yang mengacung semakin keras, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya yang semakin berdenyut gatal, lalu… Blessshh!!!

“Ooouuhhhh…” Rasa nikmat menjalar dari syarat nikmat yang terdapat dipermukaan kepala dan batang penisku, ketika Indah menurunkan pantatnya perlahan. Kepala penisku menyeruak dan menyusuri lorong nikmat dari liang vagina Indah yang basah, licin dan berdenyut-denyut serta meremas-remas nikmat.

“Ouhhh… Kang…” Indah pun mengerang ketika rasa nikmat menderanya, ketika dia merasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya. Gerakan menekan pantatnya demikian perlahan, sehingga rasa nikmat yang kurasakan terasa lama dan sensasional dan akhirnya terhenti setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya dan selangkangan kami menempel sangat rapat. Indah menekan pantatnya sangat kuat sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang menderanya, kedua tangannya mencengkram kuat dadaku.

Lalu pinggul dan pantatnya mulai bergerak keatas-kebawah sehingga batang penisku mengocok-ngocok liang vaginana, erangan nikmat keluar dari mulut kami sahut menyahut. Indah semakin cepat menggerakan pantatnya, terkadang bergerak memutar sehingga kurasakan batang penisku seperti dipelintir dan akupun melotot sambil mengerang nikmat. “Ouhhh… Ouhhh…“

Sementara itu, gerakan Indah semakin cepat dengan kepala terdongak kebelakang dan mengerang dengan mata terpejam. Buahdadanya berguncang-guncang indah, dengan nafsu yang tak pernah surut kedua tanganku menjulur dan mulai meremas-remas buahdada montok itu, Indah semakin terdongak dan melonjak-lonjak nikmat disertai dengan lenguhan dan erangan yang semakin keras.

Gerakan pinggul Indah semakin cepat tak terkendali dan kejang-kejang, hingga akhirnya tubuhnya melenting kaku, dengan kepala terdongak ke belakang, kuku-kuku jarinya mencengkram erat dadaku dan, “Aaaa… aakkkkkkhhhsssss…” Jeritan panjang keluar dari mulut Indah, selama beberapa detik tubuhnya kaku seperti itu dan akhir tubuhnya terhempas, melayang dan ambruk menindih tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Sementara itu penisku seperti diremas dan dijepit dengan sangat kuat membuat akupun melayang nikmat. Tubuh kami yang berpelukan, basah oleh keringat yang mengucur deras. Sementara itu penisku masih menancap dengan kokohnya di dalam liang vagina Indah.

Kugulingkan tubuhku sehingga tubuhku diatas tubuhnya dengan batang penis yang tetap menancap di liang vagina, kuarahkan mulutku pada buah dadanya dan mulai menghisap dan menjilati putting susu Indah, Indah mengerang lemah, “Euhhhh…” sementara itu secara perlahan pantatku mulai mengayun hingga batang penisku mengocok-ngocok liang vagina Indah. Rasa nikmat kembali menjalar di sekujur tubuh Indah, perlahan namun pasti gairah Indah bangkit kembali. Indah menggerakan pinggulnya untuk membalas gerakan pantatku, kenikmatanpun semakin menjalar pada tubuh kami berdua.

Aku semakin cepat mengayun pantatku, gerakan pinggul Indah semakin bervariasi dan memabukkan, dan hanya beberapa menit kemudian, tubuh Indah kembali melenting kaku dan menjerit menjemput nikmatnya Orgasme. “Aaakkkkkksssshhh…” Pantatnya terangkat dan akhirnya terhempas. Kudiamkan sejenak pantatku untuk menikmati remasan dan hisapan yang dilakukan dinding vagina Indah pada batang penisku.

Setelah kurasakan kedutan dan hisapan dinding vagina Indah melemah pada batang penisku, kembali aku mengayun pantatku untuk mngocok-ngocok liang vaginanya, sambil mulut dan tanganku mempermainkan buah dada dan putting susunya yang tak membosankan untuk diremas dan dihisap.

Kurang dari semenit, Indah kembali membalas gerakan pantatku dengan menciumku dan menggerakan pinggulnya sambil kembali mengerang nikmat, namun hanya berselang beberapa menit kemudian, kembali tubuhnya melenting kaku dan kembali dia menjemput orgasme yang menghampiri dirinya. Dan aku kembali mendiamkan pantatku sejenak untuk menikmati remasan dan hisapan dinding vagina Indah pada batang penisku pada saat dia mengalami fase orgasme. Pantatku kembali mengayun setelah kurasakan remasan pada penisku melemah, dan pinggul Indah kembali membalas gerakan pinggulku setelah beberapa detik kemudian hingga akhirnya kembali ia menjemput orgasme.

Perolehan orgasme bagi Indah, terjadi berulang-ualng, entah berapa kali, yang jelas tubuhku terus menggenjot tubuh Indah tanpa mengenal lelah, sementara badanku basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras.

Kuhentikan ayunan pantatku setelah Indah memperoleh orgasme entah yang ke berapa kali. Kuletakkan ke dua lututku dibawah kedua pangkal pahanya, kedua tanganku memegang kedua tumit kaki Indah dan membukanya lebar-lebar, sementara Indah nampak tergoleh kelelahan, namun tatapan matanya masih menampakkan gairah yang belum surut, apalagi melihat batang penisku yang masih kokoh menancap di dalam liang vaginanya.

Dalam posisi paha Indah yang terbuka lebar aku mulai mengayun pantatku agar batang penisku kembali mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok liang vaginanya. Rasa nikmat yang kurasakan semakin bertambah, karena jepitan dinding vagina Indah serasa semakin sempit dan menjepit, dan kulihat vagina Indah terkempot-kempot setiap kali aku melesakkan batang penisku.

Kulihat kepala Indah terbanting ke kiri dan ke kanan setiap kali aku menghela pantatku diiringi erangan nikmat yang dia perdengarkan. Kedua tangannya mencengkram erat seprey yang ada di sekitarnya.

Kurasakan badai orgasme akan menghantamku, mataku mulai berkunang-kunang, asaku terasa melayang dan gerakan pantatku mulai kejang-kejang dan menghentak. Indah merasakan bahwa aku akan mencapai orgasme, karena dia merasakan penisku semakin bengkak menyesakkan liang vaginanya dan gerakanku terasa semakin keras dan kasar menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa, sehingga diapun merasa orgasme akan kembali menghampiri dirinya.

Dengan terengah-engah menahan nikmat, sambil menggerakan pinggulnya membalas gerakanku diapun berkata, “Ayo, Kang… ayo… bareng-bareng…“ dan… “Aaaa… aakkkkkkkh… hhhsss…” seperti mengeluarkan tenaga yang penghabisan, Indah menjerit keras menjemput orgasme yang dirasakannya sangat luar biasa, berbeda dengan orgasme-orgasme yang terdahulu, tubuhnya mengejang sangat kaku.

Secara bersamaan, akupun menjerit melepas nikmat menjemput badai orgasme yang sangat dahsyat. “Akkkhhhhhhhssss…” Tubuhku berkelojotan sambil crettt… cretttt… crett… sperma kental memancar sangat deras membasahi lorong vagina Indah. Beberapa detik kemudian, kurasakan tubuhku terasa ringan bagaikan layang-layang putus dan aku ambruk menghempaskan tubuhku disamping tubuh Indah yang terkulai lemas. Napas kami tersengal-sengal seperti yang baru selesai balap lari.

Tubuh kami terasa sangat lelah, setiap persendian bagaikan dilolosi dan kami terbaring lemas dengan kesadaran yang melayang-layang. Cukup lama kami dalam keadaan seperti itu.

Setelah perlahan-lahan kesadaran kami pulih, Indah menggulirkan tubuhnya menghadapku dan tangannya mengusap pipiku sambil berkata, “Akang hebat, Indah benar-benar sangat puas, Indah semakin sayang ke Akang.” lalu wajahnya menghampiri wajahku dan mengecup bibirku sangat mesra.

Aku tersenyum bangga dan bahagia, kemudian balas mencium bibirnya dengan penuh kemesraan. Basahnya tubuh oleh keringat yang lengket, membuatku tidak nyaman, lalu dengan malas aku berusaha bangkit dan berdiri, namun hampir aku terjatuh. Lututku gemetar dan terasa copot hingga hampir tak sanggup untuk berdiri, kembali aku duduk dipinggir tempat tidur yang sepreynya acak-acakan oleh pertempuran hebat yang baru saja selesai.

Indah tersenyum melihat keadaan lututku yang gemetar dan hampir jatuh lalu berkata. “Ada apa, Kang? Capek ya?”

“Iya nich. Lutut terasa copot, habis Indah sich… luar biasa!” sahutku sambil tersenyum.

“Ahhh… Akang!” sahutnya bahagia.

Lama aku terduduk, setelah kurasakan tenagaku benar-benar pulih, aku berdiri dan menuju kamar mandi, lalu mandi menyegarkan diri, tak lama kemudian Indah pun mandi dan mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbabnya. Lalu Indah merapihkan tempat tidur yang acak-acakan.

jilbab montok bohay (8)

Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, kamipun pulang setelah aku memberitahu penjaga villa. Sepanjang perjalanan pulang, Indah semakin menempel mesra padaku, dia hanya menjauhkan tubuhnya setelah kami berada dekat dengan gang rumahnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku memutuskan kembali ke kantorku untuk mengambil mobilku.

Kesan yang kudapatkan pada hari itu, menjerumuskan aku semakin dalam terhadap rasa cintaku pada Indah. Aku merasa tidak mampu berpisah dengannya.

***

Gundah… Gelisah… Takut… Itulah yang dirasakan Indah saat ini, sore itu, setelah diantar pulang hingga ke mulut gang oleh Agus, Indah benar-benar gundah, gelisah, dan takut.

Persetubuhannya yang kedua kali denganku, benar-benar telah menjeratnya, Dia telah benar-benar mencintaiku dan tak sanggup untuk melupakannya, padahal perasaan ini adalah perasaan yang selama ini berusaha dia tolak karena merupakan sesuatu yang salah. Tadinya dia berencana bahwa Aku hanya sebagai lelaki yang mengisi kekosongan batinnya, dan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk berselingkuh denganku. Namun dalam usianya yang masih muda, gairahnya yang menyala-nyala, tak pernah dapat tersalurkan, sehingga membuat dirinya demikian mudah terangsang dan akhirnya terjadilah persetubuhan yang sangat memuaskan dirinya, bahkan sangat puas hingga dia mampu memperoleh orgasme berulang-ulang. Sementara kepuasan seperti itu belum pernah dia alami sebelumnya.

Sebenarnya Indah adalah istri Dedi berusia 30 tahun, mereka menikah pada saat Indah berusia 20 tahun dan Dedi berusia 26 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat bahagia, Dedi yang seorang karyawan sebuah perusahaan, mampu membahagiakan Indah baik lahir maupun batin. Namun akibat pola hidup yang salah, setelah dua tahun menikah dan belum sempat memperoleh buah hati, Dedi terserang penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga membuat dirinya impoten.

Dia sudah berobat kesana-kemari hingga harta bendanya habis terjual namun penyakitnya tak sembuh juga, bahkan diperparah dengan PHK yang menimpanya sehingga otomatis Indahlah yang menjadi tulang punggung rumah tangga mereka, sementara Dedi kerja serabutan bahkan lebih sering berada di rumah.

Dedi masih bisa merasakan rangsangan yang cukup besar melihat kemolekan tubuh istrinya oleh sebab itu berkali-kali mereka mencoba untuk melakukan hubungan suami istri, tapi penis Dedi tidak mampu berdiri tegak, berbagai cara rangsangan telah dilakukan Indah agar batang penis suaminya bisa berdiri tegak, tangan Indah berusaha meremas dan mengocok memberikan rangsangan pada batang penis Dedi, tapi tidak juga bisa berdiri, bahkan pernah mulut Indah mengoral penis Dedi hampir setengah jam sampai Indah merasakan kaku pada tulang rahangnya, namun penis Dedi tetap tergantung lemah. Jika sudah demikian nampak sekali kegelisan dan kekecewaan yang mendalam terpancar dari sorot mata Indah, dan Dedi benar-benar merasa terpukul dengan keadaan dirinya seperti itu. Dedi merasa malu dan rendah diri di hadapan istrinya.

Namun walaupun demikian, Indah tetap mencintai suaminya, baginya Dedi adalah hidupnya, dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya. Indah selalu memberi semangat dengan penuh cinta pada Dedi untuk memperoleh kesembuhan ataupun memperoleh pekerjaan yang layak dan selalu berkata pada Dedi bahwa apapun pekerjaan Dedi, dia akan selalu mencintai Dedi.

Rasa cintanya yang besar seolah mengabaikan kebutuhan hidupnya. Dalam usia yang masih muda, tentu saja gairah biologisnya sering meronta-ronta minta penyaluran, namun selalu dia tekan dengan mencurahkan rasa cintanya pada Dedi.

Selama 2 tahun, Indah berhasil mengekang kebutuhan biologisnya walaupun terkadang dia merasa tersiksa dengan keadaan ini.

Namun akhirnya pertahanan Indah bobol, setelah berkenalan denganku. Dia melihatku sebagai lelaki yang sopan dan enak diajak ngobrol. Jika sedang bersama denganku, Indah seolah mampu menghilangkan sejenak masalah berat yang sedang dihadapinya. Dan perasaan suka timbul didalam hatinya, karena aku selalu berbuat sopan padanya. Dan akhirnya perasaannya menjadi terjerat padaku, terutama setelah kami melakukan persetubuhan yang sensasional dan mampu membasahi kekeringan yang melandanya selama 2 tahun terakhir ini.

Indah semakin terjerat akan pesona seksual yang ada pada diriku, dan dia benar-benar telah jatuh cinta padaku. Perasaan cintanya padaku sangat menyiksanya, karena diapun sangat mencintai suaminya dan tak ingin meninggalkan suaminya.

Disisi lain, Dedi sadar benar akan kebutuhan biologis istrinya, namun apadaya dia tak mampu memberikannya akibat penyakit yang dideritanya. Cintanya yang besar pada istrinya membuat dirinya berpikir untuk rela membiarkan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya pada orang lain, namun ia takut, takut istrinya terkena penyakit kalau menyalurkan sembarangan, atau takut istrinya akan meninggalkannya, karena istrinya adalah sumber semangat hidupnya.

Perasaan ingin membahagiakan istrinya dengan merelakan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain dan perasaan takut ditinggalkan istrinya selalu berkecamuk di pikiran Dedi, sehingga tanpa sepengetahuan istrinya, sebenarnya Dedi sering menguntit istrinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan istrinya.

Selama 2 tahun memata-matai istrinya, Dedi melihat bahwa Indah adalah istri yang setia, karena dia melihat istrinya tidak pernah menanggapi godaan lelaki lain. Dedipun melihat perhatian dan pelayanan istrinya tidak berkurang padanya, walaupun dirinya impoten dan tidak memiliki pekerjaan tetap setelah diPHK. Oleh sebab itu Dedi semakin mencintai istrinya dan semakin tidak sanggup ditinggalkan oleh istrinya.

Rasa cinta yang semakin besar, semakin memperbesar keinginan Dedi untuk merelakan istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada lelaki lain dengan syarat Indah tidak akan meninggalkannya. Berkali-kali dia merencanakan untuk membicarakan hal ini pada Indah, namun ia takut. Apakah Indah akan setuju? Apakah Indah tidak akan tersinggung? kembali niat itu surut untuk diajukan ke istrinya. Namun kerelaannya agar istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain tetap besar.

Itulah sebabnya, sebenarnya Dedi telah mengetahui, jika aku sering menjemput istrinya. Dedi bisa melihat bahwa istrinya menyukai diriku, hal itu terlihat dari tatapan mata Indah dan gerak-gerak Indah bila bersamaku, bahkan Dedi mengetahui jika istrinya telah dua kali pergi denganku entah kemana pada saat istrinya OFF. Dan Dedi merasa curiga bahwa Istrinya telah selingkuh denganku, sebab Dia bisa melihat keceriaan dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah Indah setelah bepergian denganku, namun hal itu tidak pernah dia tanyakan pada istrinya, karena dia tidak melihat berkurangnya limpahan cinta dari istrinya.

Dedi berusaha menyelidiki diriku, dan akhirnya dia tahu siapa diriku sebenarnya. Dedi menjadi takut ditinggalkan istrinya setelah mengetahui statusku, maka dia langsung mendatangiku.

Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerjaku sambil merencanakan bahwa sore nanti aku akan menemui Indah di tempat kerjanya. Aku merasa sangat rindu padanya, karena sudah 10 hari aku tidak bertemu dengannya disebabkan kepergianku ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tiba-tiba sekretarisku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin menemuiku. Akupun mempersilahkan tamuku masuk.

“Perkenalkan, nama saya Dedi.” kata tamuku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya sambil berkata, “Agus, silahkan duduk!” “Ada yang bisa saya bantu, Pak Dedi?” tanyaku.

“Begini, Pak, bapak kenal dengan Indah, yang rumahnya di Gang Gwan An?“ tanya Dedi dengan tatapan menyelidik.

DEG! Jantungku serasa mau copot, mendengarkan pujaan hatiku disebut. “B-benar. Ada apa dengan dia, Pak? Dan bapak ini siapa?” jawabku gugup.

Terlihat Dedi tersenyum puas mendengar jawabanku “Dia baik-baik saja. Oh ya, saya suaminya!” katanya tenang, tak terlihat nada emosi dari ucapannya.

TENGGG…!!! Dunia serasa gelap, badanku mendadak lemas tertimpa perasaan bersalah karena telah menyintai dan berselingkuh dengan istri seseorang yang berada di hadapanku.

“Tenang aja, Pak! Tidak perlu sekaget itu!“ Dedi berusaha menenangkanku dengan tulus. “Apakah bapak tahu bahwa Indah telah bersuami? Dan apakah bapak mencintai Indah? Tolong Bapak jawab dengan jujur. Percayalah, Pak! Saya tidak akan marah dan menuntut bapak.“ katanya lagi tersenyum tulus sehingga Aku percaya akan isi kata-katanya.

“Ya, saya mencintai istri Bapak, maaf saya tidak tahu kalau Indah telah bersuami. Dia hanya berkata bahwa dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat, namun saya tidak boleh tahu apa masalahnya. Masalah itu pula yang menyebabkan saya tidak boleh mengantarnya sampai ke rumahnya.” terangku panjang lebar.

“Pak, saya mohon, jangan rebut Indah dari saya. Saya sangat mencintainya dan saya tak sanggup ditinggalkan olehnya. Tapi saya juga mengerti akan kebutuhan Indah yang tak mampu saya penuhi, oleh sebab itu jika Bapak memang mencintai istri saya, bapak boleh menikmati rasa cinta Bapak, tapi jangan rebut dia dari saya, saya mohon!“ katanya memelas.

“Apa maksudnya, pak?” tanyaku yang tak mengerti akan maksud ucapannya.

“Begini, Pak! Saya sangat mencintai Indah, namun saya tak sanggup memberikan nafkah batin padanya karena penyakit yang saya derita. Namun saya kasihan pada Indah yang menanggung beban akan penyakit saya derita. Padahal dia masih muda, penuh gairah dan perlu menyalurkan hasrat biologisnya yang masih bergelora. Itulah sebabnya saya punya usul, bapak boleh menggauli istri saya kapan dan dimanapun bapak kehendaki dengan syarat saya harus melihatnya atau mengetahuinya, bahkan bapak boleh melakukannya di rumah kami. Memang usul ini terdengarnya gila, namun inilah bukti, betapa besar rasa cinta saya pada istri saya. Tapi usul ini tidak pernah saya kemukakan pada istri saya, takut dia tersinggung.” jelasnya panjang lebar.

Aku termenung mendengar penjelasannya.

“Bagaimana, Pak? Bapak setuju dengan usul saya? Bapak nggak usah ragu, saya tidak akan memeras bapak, saya melihat bapak orang baik-baik dan tidak akan menyakiti hati istri saya dan sayapun melihat bahwa istri saya menyukai bapak.” Lalu lanjutnya. “Saya hanya meminta bapak tidak merebut Indah dari sisi saya, Bagaimana?” kembali dia mengajukan usulan.

“Baik, saya menerima usul Pak Dedi, walaupun terdengar aneh. Sayapun sangat mencintai Indah dan jujur saja, saya juga tak sanggup berpisah dengannya.” jawabku jujur.

“OK dech kalau begitu! Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku, kebetulan Indah OFF hari ini dan dia ada di rumah.” dia mengajakku ke rumahnya.

Ajakan ini sangat mendadak, dan tentu saja kuterima ajakan tersebut dengan senang hati. Kamipun berangkat menuju rumah Dedi dengan sepeda motor inventaris. Sepanjang jalan Dedi menjelaskan rencananya, bahwa aku dan Dedi adalah teman lama semasa SMA yang baru ketemu lagi, sengaja diajak Dedi untuk diperkenalkan pada Indah dan setelah itu Dedi akan pura-pura meminjam motorku untuk pergi mengambil order pekerjaan sekitar 2 jam, padahal dia akan membawa motorku ke tempat pencucian motor dan kembali jalan kaki ke rumah untuk mengintip apa yang aku dan Indah lakukan. Aku setuju dengan rencananya.

Sesampainya di rumah Dedi, Indah yang saat rambutnya hanya tertutup oleh ‘ciput’ (penutup kepala) sehingga terlihat lehernya yang putih dan jenjang. Indah tampak kaget melihat kami berdua berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi, namun Dedi seolah-olah tidak memperhatikan perubahan pada wajah istrinya, Dedi hanya berkata, “Ndah, kenalkan teman lamaku waktu di SMA. Namanya Agus!” katanya memperkenalkanku pada istrinya.

Aku menjulurkan tanganku mengajaknya besalaman sambil berkata basa-basi “Agus!” Dengan gemetar Indah menyambut jabatan tanganku.

Dedi bertindak seolah-olah aku dan Indah belum saling mengenal, dan dia memainkan perannya begitu meyakinkan, sehingga aku dan Indah terbawa oleh suasana yang diciptakannya. Tak lama kemudian Dedi berkata padaku, “Gus, pinjam motornya ya! Aku mau ngambil order. Nggak lama kok, paling 2 jam-an. Kamu ngobrol aja dulu dengan istriku, kalau mau istirahat, tidur aja di kamar.” katanya lagi sambil menunjuk kamar yang biasa diperuntukkan untuk tamu keluarga.

Aku mengerti akan sandiwara yang dibawakannya, lalu kuberikan kunci motorku berikut STNKnya. Kami mengantar Dedi ke depan pintu hingga Dedi menjalankan motor. Kerinduan yang begitu mendalam membuatku tak tahan, begitu pintu depan ditutup dan belum terkunci, aku langsung memeluk Indah dari belakang penuh kerinduan dan menciuminya dengan gemas. Kukecup dan kuhisap lehernya yang putih dengan penuh nafsu. Indah hanya bergelinjang manja, nampaknya dia masih kaget bahwa aku adalah teman lama suaminya. Dihati Indah terbayang sebuah kesempatan bahwa dia akan sedikit bebas bisa berduaan denganku. Membayangkan hal itu, gairah Indah dengan cepat bangkit, apalagi rangsangan dariku semakin gencar maka gairahnyapun semakin cepat merayap naik. Indah membalikkan badannya dan menyambut ciumanku dengan gairah yang menyala dengan napas yang memburu.

Kami berciuman dengan penuh gelora sambil berdiri di balik pintu depan rumahnya, kakinya terjinjit menikmati percumbuan ini. Erangan dan lenguhan penuh rangsangan sesekali keluar dari mulutnya yang sedang tersumpal oleh bibirku. Kedua tangannya memeluk erat punggungku. Deru napas kami semakin memburu. Lalu kubisikkan, “Kita punya waktu 2 jam, aku kangen banget sama kamu, Ndah!”

“Saya juga, Kang!” jawabnya mesra, dan pergulatan dua bibir yang didorong oleh nafsupun terjadi dengan panasnya.

jilbab montok bohay (18)

Sambil berpelukan dan tetap melakukan percumbuan yang memompa gairah, Indah berusaha membawa tubuhku menjauhi pintu depan, menuju kamar tidur yang biasa digunakan oleh tamu, kamar tidur tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya ditutupi oleh tirai gordyn. Kami melanjutkan percumbuan sambil berdiri, tidak ada rasa takut dipergoki orang lain dalan diri Indah, karena di rumah ini dia hanya berdua dengan suaminya yang saat ini sedang keluar.

Kugeser posisi diriku hingga Indah membelakangiku sehingga kami sama-sama menghadap meja hias yang terdapat di kamar tersebut. Dari cermin, Ku lihat bayangan tubuh Indah yang sedang menggeliat menggairahkan, matanya terpejam menikmati cumbuanku, kepalanya dimiringkan kesamping sehingga lehernya yang jenjang serta putih, mulus merangsang terhidang tepat di depan bibirku, tak kusia-siakan kesempatan yang menggairahkan ini. Bibir dan lidahku mengecup, menghisap dan menjilat leher, pundak hingga bagian belakang telinga Indah, sementara kedua tanganku dengan gemasnya meremas kedua buahdada yang masih tertutupi oleh baju.

“Uhhhh… Kang… ouhhh…” Indah mengerang nikmat penuh rangsangan. Matanya semakin terpejam dan kepalanya semakin terdongak ke belakang, buah dadanya semakin membusung indah menggairahkan, akupun semakin nafsu meremas-remas buah dada tersebut.

Sementara itu, Setelah tiba di tempat penyucian motor dan menitipkan motor untuk dicuci, Dedi kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Setiba di rumahnya, Dedi bergerak perlahan agar tidak bersuara, dia memeriksa pintu depan yang ternyata tidak terkunci, secara hati-hati Dedi membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara. Dedi tersenyum, karena tidak melihat aku dan istrinya di ruang tamu. Dengan perlahan dia mencari keberadaan diriku dan istrinya, akhirnya samar-samar dia mendengar desahan dan erangan penuh rangsangan dari kamar tidur dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.

Dia mencari celah diantara tirai gordyn, agar bisa mengintip apa yang sedang kami lakukan. Terlihat olehnya bahwa aku dan Indah dalam keadaan polos sedang bercumbu di depan cermin hias dengan napas yang tersengal-sengal dipacu oleh nafsu berahi yang menguasai diri kami. Semua pakaian kami telah terlepas dan berceceran di lantai.

Terlihat olehnya bahwa aku sedang menciumi leher istrinya dari belakang dan kedua tanganku meremas-remas buahdada Indah dengan penuh nafsu, terkadang jari-jari tanganku memilin-milin putting susu Indah yang menonjol tegak dan keras. Selangkanganku menempel rapat pada bongkahan pantat Indah yang bulat dan montok dan pastinya Indah merasakan batang penisku yang keras dan tegang mengganjal di belahan pantatnya. Tubuh Indah menggeliat menahan nikmat, pinggangnya melenting dan kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang diterimanya, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan.

Tubuh Indah yang menggeliat-kegeliat menahan nikmat dan disertai lenguhan dan erangan nikmat yang keluar dari bibir mungil istrinya demikian merangsang. Dan rangsangan itu juga menjalar di tubuh Dedi walaupun belum sanggup membangunkan batang penisnya. Timbul rasa cemburu, dari dalam hati Dedi melihat aku yang sedang mencumbu Indah, tapi betapa dilihatnya bahwa Indah begitu menikmati apa yang kulakukan yang selama ini tidak pernah dapat dia berikan.

Dedi begitu bahagia melihat istri tercintanya begitu menikmati dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Akhirnya Dedi benar-benar menikmati apa yang dilihatnya dan menghapus rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, tangan kananku telah merayap ke bawah menuju selangkangan Indah, sementara tangan kiri tetap mempermainkan buahdada Indah yang semakin membusung. Lidah dan bibirku mengulas pundak, leher dan tengkuk Indah membuat Indah semakin menggelinjang.

Tangan kananku yang telah berada di depan vagina Indah, mulai mengorek-ngorek lipatan liang vagina Indah, terasa basah olehku, tubuh Indah bergetar dan bibirnya mengerang nikmat, “Ouhhh… ouhhh… auw…” Erangan nikmatnya semakin keras ketika jari tengahku memasuki liang vaginanya dan mengucek-ngucek dinding vaginanya. “Auh… Owhh… Kang… Kang… Ouhhhh…”

Kudorongkan semakin dalam jari tengahku sambil jari tengahku berputar, mengait dan mengorek-ngorek. Tubuh Indah semakin bergetar menahan nikmat diserta erangan nikmat. “Ouuhhh… Kang… Ouhh…“ Kugunakan jempolku menekan dan memutar-mutar klitorisnya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar keras dan, “Aaaauhhh… Aaauhhh… K-kang…” ia makin mengeliat-geliat dengan kepala semakin terdongak ke belakang.

Klitoris Indah terus kuputar dan kutekan oleh jempolku, sementara jari tengahku mengucek-ngucek semakin cepat. Tubuh Indah melonjak-lonjak dengan keras menahan nikmat yang semakin melambungkannya, hingga akhirnya Indah merengek dengan tersengal-sengal, “Masukkan, Kang! Sekarang! Ouhh… Nggak tahan… Nggak tahan… Ouhhhh… ouuhhhh…!!”

Akupun sebenarnya sudah tak tahan, kudorong punggungnya agar membungkuk, kedua tangannya diletakkan agar bertumpu di pinggir meja rias, pantatnya diangkat dan kutekan pinggangnya agar agak kebawah, sehingga Indah berada dalam posisi tubuh melenting sambil membungkuk, kedua kakinya kurenggangkan, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan penisku kepala penisku kearah mulut liang vagina Indah yang sudah basah dan licin dari belakang melalui belahan pantatnya. Lalu…

Bleshh…!!! Batang penisku terasa hangat dan basah menguak liang vagina Indah yang sempit dan nikmat. ”Ouhhhh…” Erang nikmat Indah keluar dari bibirnya sambil mendongakkan kepala. Posisi Indah yang sedang mengerang dan menggeliat ketika vaginanya diterobos batang penisku, begitu menggairahkan Dedi yang sedang mengintip perbuatan kami. Dedipun merasakan ada getaran-getaran nikmat yang terjadi pada batang penisnya, padahal selama ini, walaupun sudah dirangsang sedemikian rupa oleh Indah hingga membuat Indah kepayahan, Penisnya tidak juga merasakan getaran-getaran nikmat yang dapat membuatnya mengeras.

Namun saat ini, Dedi merasa aneh sekaligus gembira, karena dia merasakan ada getaran-getaran nikmat yang diakibatkan oleh aliran darah yang mengalir cukup cepat pada batang penisnya. Dedipun merasakan batang penisnya agak mengeras tidak seperti biasanya, walaupun belum bisa dikatakan batang penisnya telah tegang dengan sempurna, namun perubahan ini membuatnya sangat gembira dan menimbulkan harapan bahwa suatu saat nanti Dia akan mampu berfungsi sebagai lelaki normal kembali. Oleh sebab itu Dedi semakin asyik menikmati persetubuhan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Sementara saat itu, aku dengan penuh gairah memompa pantatku agar batang penisku mengaduk-ngaduk liang vagina Indah. Kepala Indah terangguk-angguk menerima helaan dan sodokan dariku sambil tak henti-hentinya mengerang nikmat. “Ouh… ouhh… Kang… Kanggg…”

Buah dadanya yang montok terayun-ayun dengan indahnya. Indahpun menggerakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku membuat rasa nikmat semakin melambungkan kami berdua. Terkadang pinggul Indah berputar-putar sehingga batang penisku serasa dipelintir dengan sangat nikmat.

Hentakan tubuhku dan gerakan pinggul Indah semakin lama semakin cepat dan telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras diiringi dengan erangan nikmat yang semakin nyaring. Hingga akhirnya lonjakan tubuh Indah menjadi tak terkendali dan mulai kejang-kejang dan akhirnya tubuh Indah melenting kaku terdiam dengan kaki terjinjit disertai teriakan, “Aaaaakkkkkkhhhs…!!!”

Selama beberapa detik batang penisku seperti diremas-remas dan dijepit oleh dinding vagina Indah dengan sangat kuat membuat napasku berhenti dihimpit oleh rasa nikmat yang luar biasa. Sesaat kemudian tubuh Indah melemas, lututnya dan sikunya goyah dan akhirnya ambruk terduduk di lantai sehingga Batang penisku yang sedang menancap pada liang vaginanya terlepas.

Indah baru saja memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sungguh luar biasa, meninggalkan diriku yang masih sedang berada di awang-awang kenikmatan dan belum mencapai puncak. Napasku terengah-engah dengan perasaan sedikit kecewa karena kenikmatan yang kurasakan seolah terputus.

Disisi lain, Dedi juga merasakan kenikmatan rangsangan yang sangat tinggi melihat ekspresi wajah istrinya saat meraih puncak orgasme. Lututnya terasa lemas dan goyah menikmati apa yang dilakukan istrinya.

Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu sejenak Indah merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan napas yang terengah-engah. Beberapa detik kemudian, aku membangkitkan Indah dan menuntunnya menuju tempat tidur, Indah naik ke tempat tidur dan berbaring telentang, napasnya perlahan-lahan normal dan pancaran matanya masih menampakkan gairah yang masih menyala. Aku merangkak mendekatinya, gairah Indah semakin berkobar ketika dia melirik batang penisku yang berdiri dengan kokohnya.

jilbab montok bohay (1)

Sementara itu, dada Dedi kembali berdegup menantikan detik-detik dimana tubuh Istrinya akan kembali digenjot olehku di tempat tidur. Dalam hatinya Dedi memuji akan kemampuan sex diriku yang belum juga ejakulasi padahal telah mampu membuat istrinya melonjak-lonjak meraih orgasme.

Kuciumi bibir Indah dengan lembut, Indah membalas dengan tak kalah lembutnya. Kemudian kuhisap-hisap bibirnya dan dibalas dengan hisapan dan kecupan, lalu kutindih tubuhnya, kaki Indah terkangkang mempermudah, tangan Indah meraih batang penisku dan mengarahkan kepala penis agar berada tepat di mulut liang vaginanya dan…

Bleshhhh…!! Kepala penisku kembali menyeruak liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, “Aaahhhh…” Indahpun kembali mengerang nikmat.

Bibirku mengecup dan menyosor bibir dan leher Indah secara acak dan penuh nafsu, sementara pantatku mulai mengayuh mengaduk-ngaduk dan mengocok-ngocok liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, namun tetap sempit dan menjepit. Rasa nikmatpun kembali menjalar keseluruh penjuru nadiku.

Genjotan tubuh demikian cepat dan bertenaga membuat buahdada Indah terguncang-guncang menggemaskan. Kuhisap dan kujilati buahdadanya yang kiri dan kanan secara bergantian. Erangan nikmatpun kembali merasuki disekujur tubuh Indah. “Ouhh… Kang… Ouhhh… ouh…”

Pinggul Indah berputar dan bergoyang menyambut setiap helaan dan sodokan batang penisku menimbulkan suara deritan tempat tidur yang cukup keras. Selama beberapa menit aku mengayuh dan memompa disambut dengan goyangan pinggul Indah yang erotis dan kadang menghentak-hentak disertai erangan-erangan nikmat. “Aouh… aouhhh… Kang… Kang…”

Dedi yang mengintip dari balik tirai juga merasakan nikmatnya rangsangan yang cukup tinggi, batang penisnyapun semakin mengeras tegang, dan hal ini semakin menggembirakannya. Disamping itu, dia semakin kagum akan stamina sex yang dimiliki olehku.

Goyang pinggul Indah telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dan menghentak, sementara aku tetap mengayuh pantatku untuk mengocok liang vagina Indah dengan kecepatan yang tetap. Indah menginginkan kenikmatan yang lebih, dia menggulingkan tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku dan langsung menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat dan keras dengan tubuh yang mulai melenting dan kepala terdongak ke belakang. Dan beberapa menit kemudian…

”Aaakkkaaangggg… kkhhhss…” Tubuh Indah melenting kaku, kembali Indah memperolah orgasme yang luar biasa. Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh di dalam liang vaginanya.

Ya, Indah baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini, dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Indah merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Sementara itu, Dedi kembali merasakan puncak kenikmatan rangsangan, ketika dia menyaksikan istrinya memperoleh puncak orgasme dan dia semakin asyik menikmati apa yang istrinya lakukan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Indah terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Indah, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Indah tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Indah membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya merangsang. “Auhh, Kangg… aouhh… ouhhhhh… Kangghh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya, “Aaaaakkkhhss…”

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Indah kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Indah terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Indah telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Indah mencapai orgasme.

Dedi semakin kagum akan staminaku, karena sudah berjalan hampir 1 jam dia mengintip apa yang kulakukan, Aku belum juga ejakulasi. Sementara itu Dedipun merasa bahagia karena dilihatnya Indah bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah.

Indah merasa tubuhnya sangat lelah namun gairahnya masih berkobar-kobar mengalahkan rasa lelah yang merasuki dirinya, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya. Aku mengambil inisiatif dengan memompanya lebih aktif dan Indah menyambutnya dengan goyangan dan lonjakan dari bawah sambil mengerang dan menjerit seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat didambakan. “Ouh… ouhh… Kang… Kang… hekss… ouhhh…”

Hingga akhirnya kembali Indah menggapai apa yang didambakannya, Indah melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena gairahnya kembali meronta-ronta ketika vaginanya diaduk-aduk dan dikocok-kocok oleh diriku tiada henti dan tak lama kemudian, diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Indah yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan Indahpun merasakan itu dan dia pun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan, “Aaakkkkkksssss…!” secara berbarengan kami meraih orgasme.

Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Indah. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan. Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Saat kami mencapai puncak orgasme secara bersamaan, Dedipun merasakan puncak rangsangan yang sama, tubuhnya terasa lemas dan oleng, matanya berkunang-kunang menikmati sensasi puncak rangsangan yang diperolehnya.

Disaat aku dan Indah masih tergolek lemah, dengan mengendap-ngendap Dedi keluar dari rumah menuju tempat pencucian motor dan ternyata motorku sudah lama selesai dicuci. Dedipun membawa pulang motorku.

Hanya beberapa menit kami tergolek lemah, lalu dengan tergesa-gesa bangkit dan memunguti pakaian yang berserakan dan mengenakannya. Indah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, sementara aku menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, kulihat Dedi pulang dari tempat pencucian motor. “Gus, kamu hebat bisa membuat istriku terlonjak-lonjak kenikmatan!” katanya sambil mengedipkan mata padaku, “Istriku mana?” lanjutnya lagi.

“Sedang di kamar mandi.” jawabku tersipu. Aku heran bagaimana ia bisa tahu, padahal aku tidak merasa diintip olehnya. Mungkin aku terlalu terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh Indah, sehingga tidak sadar bahwa aku telah diintip olehnya.

“Gus, kamu harus menepati janji untuk tidak merebut Indah dariku!” kembali dia mengingatkanku sambil berbisik takut didengar oleh istrinya.

“Aku janji.” jawabku meyakinkannya.

***

Sejak itu aku sering mengunjungi rumah Indah untuk menumpahkan segala kerinduan sekaligus meraih nikmat bersama Indah dan ada saja alasan Dedi untuk meninggalkanku agar aku dan istrinya merasa bebas bercinta. Bahkan seringkali Dedi pura-pura pergi dari rumah sebelum aku datang.

Aku semakin akrab dengan Dedi, bahkan Dedi kupekerjakan pada perusahaanku sehingga kami bisa mengatur rencana pertemuanku dengan istrinya secara lancar.

Penyakit impoten yang diderita oleh Dedipun secara perlahan-lahan mulai membaik, penisnya bisa tegang hampir sempurna jika melihat aku menggauli istrinya dan ketegangan penisnya semakin keras ketika menyaksikan istrinya meraih orgasme. Namun apabila dia bermesraan dengan istrinya saat berduaan, penisnya susah sekali bangun, dan seperti biasa Indah selalu berusaha keras merangsangnya dengan berbagai cara.

Akhirnya Dedi mengusulkan padaku, untuk menggantikan posisiku menggenjot istrinya pada saat istrinya mencapai puncak orgasme yang pertama dan aku boleh menggenjot istrinya kembali setelah dia mencapai ejakulasi. Aku menerima usulnya, namun rencana ini tidak dibicarakan ke istrinya.

Ketika rencana ini dilaksanakan, Indah sangat kaget begitu melihat suaminya masuk dalam keadaan telanjang saat dia sedang terengah-engah karena baru mencapai puncak orgasme. Namun Indah sangat heran karena suaminya tidak marah melihat perselingkuhannya dengan temannya, dan yang lebih aneh sekaligus menggembirakan hatinya adalah Indah melihat penis suaminya mampu tegang dengan sempurna.

Dedi langsung menghampiriku yang terdiam melihat Dedi masuk kamar ketika aku sedang menikmati remasan dan jepitan vagina istrinya, Dedi berkata: “Gus, gantian dong, mumpung penisku sedang tegang nich!”

Dengan berat hati aku mencabut batang penisku yang sedang menancap kokoh dari liang vagina Indah, dan beranjak ke meja rias kemudian duduk dikursi yang terdapat di sana menyaksikan apa yang akan dilakukan Dedi pada istrinya.

Mulanya Indah malu dan ragu melihat situasi seperti ini, namun kebahagiaannya melihat batang penis suaminya yang dapat tegang sempurna setelah 2 tahun tertidur lemas, menggantikan keraguannya dengan gairah yang menyala-nyala. Indah berusaha bangkit dengan tangan terbuka menjemput tubuh bugil suaminya dengan cinta yang membara. Dedi langsung memposisikan batang penisnya tepat di liang vagina Indah, dan langsung menyodokkan batang penisnya ke liang vagina Indah dan disambut dengan erangan nikmat penuh kebahagiaan dari Indah. “Ohhhhh… Kang Dedi… Ouhhh…”

Dedi mengayun pantatnya dengan sangat cepat, seolah takut ketegangan penisnya akan surut kembali, tangannya meremas-remas buahdada istrinya dengan penuh semangat, sementara itu Indah membalas setiap perlakuan suaminya dengan lonjakan-lonjakan yang luar biasa bergairah, bahkan gairah seperti ini belum pernah dia pertunjukkan padaku, mereka saling mengerang penuh kenikmatan, disertai hentakan-hentakan tubuh cepat dan keras serta kaku.

Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan gairah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Batang penisku yang belum terpuaskan semakin tegang dan keras menyaksikan persetubuhan mereka yang sangat erotis dan merangsang.

Beberapa menit kemudian, terlihat kedua tubuh mereka melenting kaku dan menjerit nikmat bersamaan meraih orgasme, sebelum akhir berkelojotan dan akhirnya terhempas lemas.

Dedi menggulirkan tubuhnya menjauh dari tubuh istrinya, dada mereka turun-naik menghirup napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Terpancar di wajah mereka kepuasan dan kebahagiaan yang sukar tuk dibayangkan.

Setelah kulihat napas mereka berangsur-angsur normal, kuhampiri mereka yang tergolek lemah dan berkata pada Dedi. “Ded, bagaimana dengan ini?“ kataku sambil menujuk batang penisku yang mengacung-ngacung minta dipuaskan.

“Terserah Indah…” jawab Dedi sambil melirik ke Indah.

Indah balas menatap mata Dedi, minta persetujuan. Dedi hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu Indah menatapku dengan tatapan mengundang. Kuhampiri tubuh Indah, dan kutuntaskan permainanku yang tertunda. Terasa agak becek, liang vagina Indah, namun tidak mengurangi rasa nikmat yang kuterima. Dan Permainan kali ini sungguh luar biasa. Indah bergoyang dan menggeliat tiada henti, walaupun telah berkali-kali mencapai orgasme, Indah terus meladeni dengan semangat yang tak pernah padam. Sampai akhirnya aku benar-benar terkulai lemas diatas tubuhnya.

Hubunganku yang ganjil ini terus berlangsung, hingga Indah memperoleh 2 orang anak yang kini telah berusia SD. Aku tidak tahu, apakah itu anakku atau anak Dedi, Aku sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anakku sendiri, demikian juga Dedi, dia sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anaknya sendiri.

Walaupun sekarang aku telah beristri dan memiliki anak dari istriku, hubungan cintaku dengan Indah masih berlangsung, sebab hingga kini Dedi belum sanggup melakukan persetubuhan dengan istrinya tanpa didahului menyaksikan istrinya dirangsang dan digauli olehku.

Entah kapan hubungan ini akan berakhir, akupun tak tahu…

ARFAH

Joni membanting tasnya di atas tempat tidur. Seharian ini ia dibuat pusing. Pasalnya ada lagi penghuni kosnya yang bikin suasana jadi suasana jadi dingin. Baru sebulan yang lalu tiga orang gadis berjilbab, mahaiswi UI kos di rumah orang tuanya ini. Sekarang muncul lagi gadis berjilbab, pakai cadar lagi. Lebih-lebih kemarin ia sempat dibentak-bentak, karena ikut nimbrung ngobrol di ruang tamu dengan keempat gadis berjilbab itu.


Hari ini dia mau membuat perhitungan. Sore itu gadis bercadar yang bernama Arfah itu baru pulang kuliah. Ia mengenakan gamis panjang hitam, jilbab hitam dan cadar hitam. Joni sudah tahu dari ibunya, bahwa gadis bercadar itu adalah yang paling cantik di antara empat gadis berjilbab yang kos di rumahnya. Saat gadis itu mau masuk kamarnya. Kebetulan kos lagi sepi. Dengan mengendap-endap, Joni mengikuti Arfah dari belakang. Tepat ketika Arfah membuka gagang pintu kamarnya, Joni memeluk Arfah dari belakang.clurit yang dibawanya dikalungkan ke leher gadis berjilbab itu.
“Aih, apa-apaan ini!” Jerit gadis itu kaget.
“Diam, kalau enggak mau mati, turutin apa yang gua mau!” Gadis berjilbab itu kelihatan takut sekali.
Mata di balik cadarnya itu melotot agak kemerahan. Joni tidak mau membuang waktu. Tangan kirinya tetap memegang clurit, sementara tangan kanannya sibuk meremas-remas tetek gadis berjilbab itu dari balik jilbab dan gamisnya. Terasa kenyal-kenyal sekali. Arfah cuma bisa merintih ketakutan. Nafsu Joni makin tidak karuan. Segera ia menutup pintu, dan menyuruh gadis berjilbab itu telentang di atas kasur.


“Jangan, jangan ganggu saya. Saya bisa malu sekali. Tolong!”
Joni tidak perduli. Dengan kasar, ia menarik kain jilbab gadis itu dan diselempangkan di atas pundaknya, sehingga terlihat dua tetek gadis berjilbab itu yang menggunduk di balik gamis hitamnya. Dengan penuh nafsu Joni membuka kancing bagian atas gamisnya hingga keperut. Lalu disibakkan gamis yg sudah terbuka kancingnya itu, sehingga terlihatlah BH putih yang dikenakan gadis bercadar itu membungkus dua gundukan teteknya yang besar dan menantang. Masih belum puas, Joni menarik ke atas gamis gadis itu dari arah bawah, hingga ke atas perut. Ternyata, Arfah tidak mengenakan rok dalam, sehingga terlihatlah betis dan dua bongkah paha putih mulus milik gadis berjilbab itu.


“Auh tolong, jangan diteruskan, sama malu sekali!” Gadis berjilbab itu berteriak.
Joni tidak perduli. Matanya menatap ganas ke arah gundukan memek gadis berjilbab itu yang kini hanya tertutup celana dalam putih yang agak tipis, sehingga terlihat kehitaman bulu jembutnya, dengan daging memek yang menggunduk indah sekali.
Melihat gadis yang masih mengenakan jilbab dan cadarnya, namun bagian tubuh bawahnya nyaris telanjang, Joni menjadi semakin bernafsu. BH Arfah di tarik dengan kasar, sehingga menyembullah sepasang teteknya yang putih indah dengan puting berwarna coklat kehitaman. Joni segera menyerbu dan mengulumi tetek indah gadis berjilbab itu. Arfah hanya bisa merintih-rintih. Namun suara rintihannya membuat Joni makin kalap. Kepalanya turun ke perut Arfah, terus hingga berhadapan dengan gundukan memek gadis berjilbab yang masih mengenakan celana dalam itu. Joni langsung melahap dan mengunyah dengan kasar memek gadis itu, meski masih terbungkus celana dalam. Karena tidak sabar, celana dalam itupun dia plorotkan.
Kini tubuh bagian bawah gadis berjilbab itu betul-betul polos. Terlihat memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis namun berwarna hitam pekat. Garis memeknya masih terlihat jelas. Joni kembali mengunyah memek gadis berjilbab itu hingga hampir sepuluh menit. Lendir dari memek gadis alim itu sudah mulai keluar. Joni segera membuka baju, celana dan celana dalamnya sendiri. kontolya mengacung tegang. Arfah berteriak dan berusaha bangkit, karena menyadari apa yang akan menimpanya. Tetapi Joni menyabetkan belatinya ke betis Arfah hingga berdarah. Akhirnya gadis berjilbab itu pasrah, menelentang di atas kasur.


Jonipun segera mengarahkan kontolnya ke lubang memek gadis alim itu. Dengan susah payah ia berusaha melesakkan kontolnya itu ke dalam memek gadis berjilbab yang cantik dan mulus itu. Akhirnya ia berhasil. Arfah hanya bisa menjerit dan menangis, ketika selaput daranya ditembus kontol Joni.
Joni terus memaju mundurkan kontolnya yang amat tegang karena nafsunya telah memuncak. Maklum, siapa yang tidak merasa bangga bisa menyetubuhi gadis berjilbab yang setiap harinya selalu menutupi tubuhnya dengan rapat. Bibir memek gadis berjilbab itu bergoyang-goyang. Sementara kedua matanya terlihat mendelik-delik di balik cadarnya karena iapun merasakan kenikmatan ‘hubungan badan’ dan pemerkosaan brutal terhadapnya ini.
Sepuluh menit kemudian, sperma Joni menyembur di dalam memek gadis berjilbab itu. Joni mengelap kontolnya. Mukanya mendekati wajah bertutup cadar yang menangis di atas tempat tidur tersebut. Dengan perlahan, dia angkat sedikit cadarnya, sehingga terlihatlah mulut mungil gadis berjilbab itu. Ia segera mengulum bibir indah di balik cadar itu dengan nafsu. Arfah makin megap-megap tidak karuan. Agak lama juga ia menikmati mulut gadis berjilbab itu. Hembusan napasnya yang terengah-engah, terhirup oleh Joni, membuatnya makin bernafsu, sehingga kontolnya kembali tegang. Ia melepas mulutnya, lalu mengarahkan kontolnya ke wajah gadis yang masih bercadar itu. Slep, akhirnya kontolnya masuk, meski dengan setengah memaksa.


“Ayo cepat, dikulum dan dihisap. Kalau tidak, kubunuh kamu.”
Arfah terpaksa mengulum kontol Joni yang cukup besar, kira-kira 18 cm, dengan diameter 2,5 cm. Joni memegang kepala gadis berjilbab itu dan memajumundurkan kepala tersebut, sehingga penisnya ikut maju mundur. Terasa betapa nikmatnya, apalagi melihat gerakan mulut yang sebagian masih tertutup cadar itu. Ia makin bernafsu saja. Selanjutnya ia meminta gadis berjilbab itu untuk nungging. Ia mengentot gadis bercadar itu dari belakang dengan nafsu sekali.
Hingga habis maghrib, ia menggarap gadis berjilbab itu. Sekali waktu, ia melepaskan cadar gadis itu, sehingga terlihatlah wajahnya yang memang amat cantik. Ia menggempur memek gadis itu dengan tetap mengenakan jilbabnya. Ah,malangnya nasib Arfah.