MURTI 3

Gatot semakin betah bekerja di rumah Pak Camat. Pak camat juga semakin menaruh kepercayaan pada Gatot. Jika sebelumnya Gatot cuma diberi jabatan sopir, sekarang jabatannya bertambah satu, yakni sebagai penjaga malam di rumah Pak Camat, otomatis juga gajinya meningkat. Jadi sekarang Gatot jarang menempati rumahnya karena lebih sering berkeliaran di sekitar rumah Pak Camat. Meskipun sudah tobat, tapi orang-orang tetap menaruh segan dan takut pada kegarangan Gatot. Atas dasar itulah Pak Camat mempercayai Gatot banyak hal, memberi Gatot kebebasan keluar masuk rumahnya. Para tamu Pak Camat juga merasa nyaman dan tenang tanpa perlu takut kehilangan motor.

Dulu memang pernah ada kejadian motor salah satu tamu Pak Camat hilang saat diparkir di depan pagar. Ketika itu secara tidak langsung orang-orang mengarahkan tuduhan pada Gatot. Untung tuduhan itu tak terbukti. Lebih untung lagi Gatot tidak tahu kalau dirinya dituduh mencuri. Seandainya Gatot tahu, entah apa yang akan terjadi pada komplek. Bisa jadi ada beberapa orang mati tersambar golok maut si Gatot. Sekarang Gatot tidak pernah lagi membawa golok itu. Cuma Pak Camat dan Murti saja yang tahu bahwa Gatot selalu menyelipkan celurit kecil di balik jaketnya kemanapun pergi. Celurit kecil yang bisa membawa bencana besar jika ada yang mencoba macam-macam.

“Rokok, Tot.” Pak Camat menawari Gatot rokok saat duduk duduk santai di teras depan.

“Terima kasih, Pak.” Gatot mengambil sebatang lalu menyulut menggunakan korek Zippo milik Pak Camat dan mengebulkan asap rokok itu sampai ke dalam rumah, tercium oleh Murti yang lagi menonton sinetron.

“Ada pegawai kantor yang sering menanyakan kamu,” kata Pak Camat.

“Siapalah saya ini kok sampai ada yang menanyakan,” jawab Gatot merendah.

Murti mulai tidak serius nonton sinetron mendengar obrolan itu. Dia lalu beringsut sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.

“Bapak serius, Tot. Si Dewi itu yang sering nanyakan kamu.”

“Saya yakin Mbak Dewi itu cuma bercanda, Pak Camat.”

“Gatot, kalau bercanda itu tidak mungkin tiap hari nanya terus. Dewi perempuan yang baik kok.”

“Justru karena itu, Pak. Seorang duda yang bergelimang dosa sangat tidak pantas buat perempuan manapun.”

“Kamu terlalu pesimis. Padahal bukan cuma Dewi yang tanya seputar kamu. Banyak lho gadis komplek ini yang naksir kamu.”

“Saya belum ada niat untuk memulai lagi, Pak.”

“Ya sudah. Sebelumnya bapak mohon kamu tidak tersinggung dengan pertanyaan bapak ini,”

“Pak Camat mau menanyakan apa?”

“Tentang ayahmu. Bapak dengar dari cerita Murti, ayahmu menghilang dan sampai sekarang tak ada kabar.”

Gatot mengangguk. Seumur-umur belum pernah ia memikirkan tentang ayah kandungnya, namun pertanyaan Pak Camat membuat bayang-bayang ayahnya kembali muncul. Gatot ingat hari hari terakhir dia bersama ayah ibunya. Saat itu malam sangat buta. Dia duduk di warung ayahnya, menonton ayahnya mengadu untung dengan berjudi besar-besaran. Betapa dia melihat uang taruhan ayahnya sedikit demi sedikit beralih tangan sampai uang itu ludes sama sekali. Tapi ayahnya tidak berhenti berjudi, bahkan kemudian berunding dengan musuhnya. Perundingan yang tampaknya disetujui karena kemudian judi berlanjut. Ayahnya sempat menang beberapa kali tapi kemudian lebih banyak kalahnya. Dan ayahnya yang kalah total lalu membawa tiga musuhnya ke rumah.

Gatot ingat betul teriakan minta tolong ibunya yang ditelanjangi kemudian diperkosa ketiga lelaki itu. Gatot mendengar tangisan ibunya yang menyayat hati sementara ia tidak melihat ayahnya sama sekali. Tiga hari tiga malam Gatot mendengar berbagai ratapan, tangisan, sumpah serapah ibunya. Selama tiga malam pula tiga lelaki itu tidak keluar sama sekali dari kamar ibunya. Pada malam keempat tiga lelaki itu keluar dan pergi begitu saja. Gatot yang masuk kamar ibunya terkejut melihat sebilah pisau menancap tepat di jantung ibunya yang telanjang bulat. Ibunya mati. Orang-orangpun berduyun-duyun datang dan bilang kalau ibunya mati bunuh diri. Tetapi Gatot yakin ibunya mati dibunuh tiga begundal itu. Wajah tiga orang itu masih diingat Gatot sampai sekarang, sama dengan ingatannya tentang wajah sang ayah. Semua telah menjadi musuh dalam hatinya.

“Saya tidak ingin orang menanyakan ayah saya. Siapapun!” kata Gatot dengan suara bergetar menahan marah. Beruntung Murti muncul dan dengan gerakan yang anggun menyuguhkan kendi berisi air dingin. Seketika jiwa Gatot yang sempat membara jadi dingin tersiram gerakan itu, juga tersiram oleh air yang mengalir ke tubuh. “Maafkan kalau saya agak kasar, Pak Camat.” katanya kemudian.

“Seharusnya bapak yang minta maaf. Lanjutkan saja tugasmu, ya.”

“Iya, Pak. Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya.”

Pak Camat masuk meninggalkan Gatot. Sampai di dalam rumah, lengannya ditarik menuju kamar oleh Murti. Pak Camat sampai hampir jatuh saking kerasnya seretan itu. “Apa-apaan sih kamu, Murti?!” tegur Pak Camat agak marah. Mereka sudah ada di kamar dan Murti mengunci pintu, juga menutup tirai kamar.

“Mas Joko gimana sih? Saya kan sudah bilang jangan pernah tanyakan hal itu ke Gatot!”

“Jadi kamu nguping ya?” kata Pak Camat mulai lunak.

“Bukannya nguping, Mas. Tapi aku khawatir mas nanya yang macam macam ke Gatot. Nyatanya terbukti kan?”

“Aku cuma ingin tahu saja, Murti. Siapa tahu Gatot mau berbagi masalah pribadinya pada kita.”

“Tapi Gatot itu sangat sensitif kalau ditanya masalah keluarganya. Untung tadi Gatot cuma gusar.”

“Maaf deh. Aku janji nggak bakal nanya-nanya itu lagi.”

“Aku nggak mau kehilangan Mas Joko,”

“Kalau aku mati, kamu kan bisa kawin lagi. Kamu masih terlihat muda, masih seksi dan bahenol, masih…”

Pak Camat tak meneruskan kata-katanya karena Murti keburu menghujaninya dengan cubitan. Dari sekedar cubit mencubit kemudian berkembang jadi jepit menjepit. Tapi keduanya memang lagi tidak berselera. Pak Camat menjauhkan wajahnya dari buah dada Murti yang masih ranum dan montok padahal Murti sudah membukanya lebar-lebar.

“Aku mau pergi menemui Pak Hasan. Kamu di rumah saja ya?!” katanya sambil menutup kembali baju Murti.

“Tapi jangan pulang terlalu malam ya, Mas!” Murti mengancingkan kembali bajunya.

“Tidak usah takut. Ada Gatot yang berjaga di depan.” Pak Camat mencium bibir Murti sebelum keluar kamar. Kemudian Murti mendengar deru mobil menjauh dan hilang di keramaian jalan.

Murti melangkah keluar kamar menuju teras, duduk menemani Gatot yang juga masih ada di teras. Keduanya duduk bersebelahan, dibatasi meja kecil yang memisahkan kursi mereka. Seperti biasa, keduanya saling diam terlebih dulu sampai bermenit-menit, lalu saling tersenyum, dan kemudian tawa merekapun pecah.

“Apa yang kamu tertawakan, Mur?”

“Tidak ada, Tot. Aku cuma menertawakan diriku sendiri.”

“Bohong. Kemana Pak Camat pergi?”

“Ke rumah Pak Hasan. Ada urusan kantor bilangnya. Kuambil cemilan dulu ya,” Murti berkelebat ke dalam, tak sampai satu menit keluar lagi dengan mendekap toples berisi keripik singkong. Diletakkan toples itu di meja. Angin malam berhembus agak kencang, juga agak nakal karena membuat Murti sibuk menahan dasternya agar tidak tersingkap. Untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang segar, malam itu ia sengaja mengenakan jilbab yang agak lebar.

“Apa yang akan dikatakan orang kalau melihat kita duduk berdua seperti ini, Mur?”

“Semua orang di komplek ini tahu kalau kamu temanku sejak kecil,” sahut Murti enteng.

“Tapi tetap saja bakal ada yang berpikiran lain.”

“Sudahlah. Jangan bahas itu lagi, toh kita memang melakukannya. Bahas yang lain saja.”

“Aku cuma mau jujur, Mur. Di usia setua ini, kamu masih cantik, Murti…”

“Gombal. Aku malah kagum denganmu, Tot. Sampai sekarang kamu masih bisa menarik minat gadis-gadis muda.”

“Pasti Pak Camat yang cerita kan?”

“Aku yakin cerita itu benar. Tinggal kamunya saja mau atau tidak.”

“Aku belum ada niat. Lagian, kalau aku menikah, aku akan meninggalkan kamu, Mur.”

“Bagiku itu bukan masalah besar. Kita masih bisa tetap berhubungan, dengan sembunyi-sembunyi tentunya.”

“Itu sangat berbahaya, Mur.”

”Yah, mau bagaimana lagi.”

”Satu-satunya orang yang bisa mengerti aku ya cuma kamu, Mur. Sayang kamu sudah jadi istri orang.”

“Kalau aku masih perawan gimana?”

“Tetap saja aku tidak akan bisa kawin denganmu. Mana mau orangtuamu menerimaku.”

“Gatot, aku jujur pernah jatuh cinta padamu.”

“Ah, ada-ada saja kamu ini. Sudah malam, ayo masuk saja sana.”

Murti meninggalkan teras. Sepeninggalnya, Gatot terus berjaga sambil bersiul siul kecil serta menghabiskan sisa keripik singkong dalam toples. Ketika dilihatnya handphone Murti tertinggal di meja, dia segera memanggil istri Pak Camat itu. Tidak terdengar jawaban dari Murti. Gatot pun berdiri dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Dia mengetuk pintu perlahan, setelah tetap tidak ada jawaban, ia pun mendorongnya hingga terbuka dan melangkah ke dalam. Dilihatnya Murti telah terlelap tidur di depan televisi, jilbabnya sudah dilepas, hanya tersisa daster putih tipis yang membalut tubuh sintalnya. Gatot terpana karena daster itu agak sedikit terangkat sehingga memperlihatkan sebagian paha Murti yang putih mulus, Gatot jadi terangsang karenanya.

Dengan cepat ia lupa mau apa dia masuk kemari tadi, Gatot segera mendekat dan mulai mengelus paha mulus Murti, betul-betul hangat dan terasa lembut. Gatot menunduk dan mulai menciuminya, mulai dari lutut hingga ke atas paha, mendekati selangkangan Murti. Ia melihat istri Pak Camat itu masih tetap terlelap tidak bergeming, Gatot pun mulai berani merenggangkan kakinya hingga selangkangan Murti terbuka lebar di depan matanya. Tak tahan, Gatot segera menunduk dan melumatnya, mulutnya bergerak liar di sekitar selangkangan Murti. Dengan penuh nafsu ia pagut daging lembut milik Murti yang masih tertutup oleh celana dalamnya.

Merasa belum puas, dengan hati-hati sekali Gatot menggeser pinggir celana dalam Murti ke sebelah kanan. Ia makin terangsang hebat manakala melihat daging berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan di selangkangan Murti. Meski sudah sering mencicipi dan merasakannya, tak urung tetap membuatnya tergoda juga. Sambil tangannya menahan pinggir celana dalam Murti, Gatot mencium lembut vagina yang berbulu jarang itu. Hmm, nikmat sekali rasanya ketika lidahnya mulai menjilat-jilat lubang kemaluan Murti.

Gatot menjilat-jilat lipatan di kiri dan kanannya, ia pakai kedua tangannya untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam vagina sempit itu dan kemudian mulai menjilati klitorisnya. Ia terus memainkan lidahnya di daerah sensitif Murti, yang lama kelamaan tentu saja membuat Murti mulai merasakan kenikmatan permainannya, nafas istri Pak Camat itu mulai memburu dan tak beraturan. Gatot terus menggerakkan lidahnya, sambil menjilat, tak lupa tangannya mulai mermbat naik menuju ke arah payudara Murti yang bulat besar. Gatot meremas-remasnya sebentar, merasakan betapa lembut dan kenyalnya benda itu, sebelum tiba-tiba ia dikejutkan oleh Murti yang mendadak terbangun. Istri Pak Camat itu mengusap-usap matanya dengan bingung, ia menatap Gatot seperti tak percaya kalau dirinya sedang dikerjai oleh laki-laki itu. Tangan Gatot masih berada di atas gundukan payudaranya dan meremas-remas lembut disana.

Belum sempat Murti berkata apa-apa, Gatot segera mengecup bibirnya dengan lembut dan berbisik, “Ayo, Mur, mumpung Pak Camat lagi nggak ada.” ajaknya berani.

Murti masih belum sepenuhnya sadar rupanya, ia hanya bisa mengguman tak jelas sebagai jawaban. Gatot mengecup bibirnya lagi, dan kali menghisap-hisap bibir itu dengan rakus. Murti sepertinya merasakan kenikmatan, antara sadar dan tidak sadar dia mulai melenguh dan merintih keenakan. Apalagi sambil memainkan bibirnya, Gatot juga terus meremas-remas gundukan payudaranya.

Selanjutnya Gatot melepaskan kecupannya di bibir Murti, dan ganti menghujani pipi istri Pak Camat itu dengan ciuman, dan saat ia kembali mengulum bibir Murti, wanita itu langsung membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Gatot memberanikan diri menaruh tangannya ke selangkangan Murti dan mulai mengusap-usap lembut disana. Mula-mula ia hanya mengusap pelan bibir luar vagina sempit Murti, tapi setelah beberapa lama mereka berpelukan, Gatot mulai memasukkan jari-jarinya ke celah vagina Murti yang basah dan hangat itu. Dengan jari tengahnya Gatot memainkan klitoris Murti. Licin dan hangat sekali rasanya.

Permainan jarinya membuat Murti menggelinjang, pinggulnya yang besar bergerak-gerak seirama dengan gerakan tangan Gatot, apalagi saat laki-laki itu berbuat lebih jauh lagi dengan menarik daster yang dipakainya ke atas. Seakan mengerti dengan maksud Gatot, Murti menaikkan pinggulnya sehingga daster itu dapat dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuh sintalnya.

Gatot melepas kancing BH Murti, ia sedikit terpana saat menatap tubuh putih mulus milik Murti yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera Gatot menunduk untuk menghisap puting payudara Murti yang berwarna coklat kemerahan, sementara tangan kanannya ia selipkan ke balik celana dalam istri Pak Camat itu dan kembali memainkan klitorisnya. Kali ini Murti betul-betul terangsang dan merasakan keenakan yang luar biasa, ini bisa terlihat dari deru nafasnya yang semakin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan yang terus keluar dari bibir tipisnya.

Gatot terus mempermainkan tubuh mulus wanita cantik itu hingga beberapa saat kemudian, Murti tiba-tiba merintih kencang, hampir setengah berteriak. Otot-otot badannya mengejang, sepertinya ia telah orgasme. Setelah terkejang-kejang beberapa saat sambil menyemburkan cairan kenikmatannya, Murti menghembuskan nafas panjang dan berbisik lirih, “Tot, nikmat banget… kamu memang betul-betul…”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera Gatot mengecup bibirnya yang seksi dan melumatnya dengan begitu mesra. “Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi?” bisik Gatot sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaiannya. Ketika Gatot membuka celana, penisnya yang sudah menegang sejak tadi, langsung terlontar keluar dan menunjuk ke depan, besar dan tegang, tepat di depan muka Murti.

Mata Murti tidak berkedip melihat batang yang sudah sering memasuki liang kewanitaannya itu. Dengan cepat ia meraihnya dan mulai mengusap-usapnya pelan. “Ya ampun, besarnya…” lirih Murti dengan mata tak berkedip, tampak takut sekaligus menyukainya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil tangannya terus mengelus-elus barang Gatot yang kini semakin bertambah besar dan keras.

“Mur, isep ya?” tanya Gatot meminta.

Tidak menjawab, Murti segera mencium dan mulai menjilati kepala penis Gatot dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan penis itu ke dalam mulutnya, walaupun hanya kepala penisnya saja, dan Murti mulai menghisapnya maju mundur. Gatot merasakan kegelian sekaligus nikmat. Tubuhnya menggelinjang. Agar bisa bertahan, ia segera meraih payudara mulus milik Murti dan lekas meremas-remasnya dengan begitu rakus untuk mengalihkan perhatiannya.

Tapi meski begitu, tak urung ia tetap tak tahan juga. Saat sudah tak kuat lagi, Gatot segera menyuruh Murti agar merebahkan tubuh mulusnya di sofa ruang tengah, dengan pantat berada di pinggiran kursi empuk itu. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya mereka bercinta di tempat ini. Gatot dengan cepat melepas celana dalam Murti yang sejak tadi belum dilepas agar mereka jadi sama-sama telanjang. Ia kembali menjilat-jilat vagina Murti yang telah kembali menguncup. Dihisapnya cairan putih kental yang telah banyak mengalir keluar di pinggiran liang surga Murti.

“Aghh… Tot!” wanita itu merasakan kenikmatan yang amat sangat dan mulai mendesah perlahan. Vaginanya mulai basah kembali oleh ludah Gatot, dan pelan namun pasti lubangnya yang sempit mulai membesar kembali.

Gatot merasa inilah saatnya, dengan berdiri di atas lutut, ia pun segera memasukkan penisnya ke dalam vagina Murti yang hangat dan lembab. Ia berusaha  melakukannya dengan cepat karena takut akan Pak Camat yang bisa kembali sewaktu-waktu.

Bless…!! dengan mudah penisnya terbenam semua, dilihatnya wajah cantik Murti yang terpejam menahan nikmat. Agar rasa itu bisa lebih bertambah lagi, Gatot segera menggerakkan penisnya maju-mundur di dalam liang vagina Murti. Terasa hangat dan ketat sekali vaginanya. Gatot menyukainya, inilah yang membuatnya tidak pernah bosan ngentot dengan Murti. Semakin lama, genjotan penisnya menjadi semakin lancar, juga semakin nikmat, Gatot sampai memejamkan matanya merasakan keistimewaan vagina sempit Murti.

Mereka saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya Gatot menggenjot, sampai sofa yang mereka pakai ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan Gatot jadi tak tahan lagi, begitu Murti orgasme untuk yang kedua kalinya, iapun menyusul tak lama kemudian. Sambil menggeram, ia tembakkan seluruh isi penisnya ke kedalaman vagina sempit Murti. Gatot terus mengocok penisnya hingga seluruh cairannya terkuras habis, barulah kemudian ia ambruk di sebelah Murti yang juga terkapar kelelahan. Keduanya tersenyum dan saling memagut mesra untuk beberapa saat.

Gatot sedang asyik meremas-remas payudara Murti saat berita malam di televisi menyiarkan tentang ditemukannya buronan yang paling dicari oleh polisi. Buronan yang telah bertahun tahun lamanya malang melintang di dunia hitam, yang sudah menghabisi berpuluh-puluh nyawa, pembunuh bayaran paling mahal di seantero jagad bumi. Buronan yang akan didakwa dengan pasal berlapis-lapis, dengan hukuman penjara minimal seumur hidup dan maksimal hukuman mati. Buronan itu bernama Sukarso, sebuah nama yang seketika memaksa Gatot mencabut penisnya dari jepitan kewanitaan Murti.

Nama itu juga mengejutkan Murti. Ia yang masih telentang dengan cepat bangkit dan duduk di samping Gatot, dicengkeramnya lengan Gatot kuat-kuat, mencegah agar laki-laki itu tidak murka setelah melihat dengan pasti wajah buronan tersebut. Tidak salah lagi. “Itu Cak Karso! Ayahmu, Tot!” bisik Murti hati-hati.

“Benar, Mur. Itu memang ayahku.” jawab Gatot, sukar untuk membaca ekspresi wajahnya.

“Istighfar, Tot, kuatkan hatimu.” Murti hendak mengubah channel, tapi Gatot melarang. Wajah Karso berkali-kali ditayangkan secara langsung disertai riwayat kejahatannya yang membuat Gatot serasa ingin membanting TV. Murti buru-buru mengenakan pakaiannya dan mengantar Gatot pulang lewat pintu belakang. “Kamu di rumah saja, Tot. Biar nanti aku bilang ke Pak Camat kalau kamu sakit.”

“Terima kasih, Mur. Aku akan baik baik saja.”

Maka pecahlah suasana malam itu di komplek. Berita tertangkapnya Cak Karso menyebar dari mulut ke mulut, dari pintu ke pintu, mulai dari depan sampai ujung komplek semuanya pada ribut dengan berita itu. Di jalan-jalan orang berkerumun cuma untuk membicarakan tentang Cak Karso. Para bapak sampai rela meninggalkan istri masing-masing. Ada yang keluar cuma pakai sarung, ada yang masih tertempel lipstick istrinya, ada juga yang berpakaian ala manusia purba saking semangatnya. Mereka berkumpul untuk membicarakan satu nama putra asli kelahiran komplek, Cak Karso.

Kantor Polsek menjadi pusat para pencari berita. Pokoknya malam ini suasana komplek dan sekitarnya persis pasar malam. Lampu-lampu jalan yang jam segini biasanya sudah mati, khusus malam ini terang benderang. Warung-warung dan toko memperpanjang masa buka. Semakin malam, kerumunan orang di depan rumah Gatot semakin banyak serta makin berisik, mengganggu pikiran Gatot yang jiwanya sedang terguncang. Gatot merasa perlu untuk keluar rumah dan mengusir para manusia di depan rumahnya.

“Pergi kalian semua dari sini. Pergi!!” teriakan Gatot membahana sampai ke segala penjuru. Maka semburatlah orang-orang itu berlarian tunggang langgang demi melihat Gatot mengacung-acungkan golok mautnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Pak Camat dan Murti yang juga mendengar teriakan Gatot sampai harus melompat dari tidurnya. Sejenak keduanya saling pandang lalu menghambur ke belakang rumah, melompati tembok dan dalam sekejap sudah berada di tempat Gatot mengacungkan golok. Tidak ada lagi orang selain mereka bertiga. Semuanya dilanda takut. Para tetangga yang dekat dengan rumah Gatot kini menutup pintu rapat-rapat, mengintip dari dalam rumah masing-masing.

“Tenang, Tot!” Pak Camat menurunkan lengan Gatot dan Murti mengambil perlahan golok dari genggaman jari kekar itu. Gatot tidak melawan. “Masuklah ke dalam, Tot. Biar bapak yang memberitahu warga komplek.”

“Saya cuma tidak senang mereka mengganggu ketenangan saya, Pak.”

Tengah malam itu juga, lagi-lagi Gatot didatangi oleh dua anggota Polsek berseragam lengkap. Pak Camat berbincang serius dengan dua polisi itu, lalu mengangguk anggukkan kepala kemudian memandang Gatot. “Bapak-bapak ini ingin bicara denganmu di kantor polisi, Tot.”

“Baik. Kalau tidak sibuk, Pak Camat boleh ikut.” kata salah satu polisi.

Maka pergilah keempat orang itu ke kantor polisi. Pak Camat menyuruh Murti pulang. Murti mengangguk tapi masih tetap berada di dalam rumah Gatot. Murti melangkah ke kamar Gatot, berdiri tercenung sambil menahan jatuhnya airmata manakala ingat ini adalah kamar Lek Sumiah mengalami penyiksaan lahir batin sampai akhir hayat. Dia membayangkan Lek Sumiah berbaring di kasur itu, berbaring dengan senyum keibuan. Murti duduk di kasur, merasakan betapa kasur itu telah mengeras, tak layak untuk ditiduri. Murti lalu mendekati almari yang berpintu dua.

Satu pintu tidak terkunci, pintu yang satunya dikunci dan digembok. Saking lamanya tak pernah dibuka, kunci dan gembok itu sampai berkarat. Murti membuka almari yang tidak terkunci dan tercekat. Matanya berkunang-kunang menatap potret besar di lemari bagian atas. Potret dirinya sendiri ketika masih SMA. Itu adalah potret dirinya yang diambil Gatot di dalam mobil. Ada satu lagi potret tentang pernikahan terdahulu Gatot.

Murti menutup almari dan keluar kamar. Pintu-pintu dia kunci dari dalam agar aman, lalu dia menyelinap lewat pintu belakang, melompati tembok sebelum akhirnya sampai di dapurnya sendiri. Murti menarik napas yang terasa berat dan melangkah menuju kamar, mengucapkan beberapa lafal do’a sebelum memejamkan mata. Di sisa waktu malam, Murti tertidur dan merajut mimpinya sendiri, tanpa ada Pak Camat yang biasa menemani.

MURTI 2

Setiap pagi Gatot mengantar Murti terlebih dahulu ke madrasah, baru kemudian mengantar Pak Camat ke kantor dan siap siaga di kantor kecamatan menanti perintah Pak Camat. Jam satu siang, Gatot meninggalkan kantor sebentar untuk menjemput Murti dan mengantar Murti pulang, lalu balik lagi ke kecamatan sampai jam lima sore, waktu bagi Pak Camat pulang ke rumah. Tak terasa rutinitas seperti itu sudah berjalan selama hampir dua bulan. Seperempat gaji yang diterima Gatot dipotong oleh Pak Camat sebagai cicilan hutang yang sebesar enam juta tanpa bunga. Hari minggu Gatot diberi libur, tapi Gatot tak pernah mengambil jatah libur dan tetap bekerja di hari minggu karena Pak Camat menghitung sebagai lembur. Jadi kalau hari minggu, Gatot siap siaga di teras rumah Pak Camat, menunggu siapa saja yang minta diantar.

“Gatot, mau ikut bapak mancing?” ajak Pak Camat suatu ketika di hari minggu yang cerah.

“Mancing kemana, Pak?” tanya Gatot.

“Kolam Pakuan. Ikannya besar-besar di situ.”

“Baik, Pak. Saya pulang dulu ambil pancing.”

“Tidak usah. Ada pancing nganggur di dapur. Kamu pakai itu saja.”

Gatot mengangguk dan bergegas menuju dapur. Sampai di dapur, ia bertemu dengan Murti yang sedang memasak. Murti agak kaget dengan kemunculan Gatot karena kalau memasak dia tidak pakai baju muslimah. Kalau memasak, Murti berpakaian biasa, pakai daster yang kainnya tipis, kalau tertiup angin kain itu berkibar kesana kemari. Untung saat itu tidak ada angin. Melihat Gatot berjalan sambil menunduk, Murti semakin tenang saja dan melanjutkan memasak.

“Maaf, Murti, dimana Pak Camat menyimpan pancingnya?”

“Itu di sudut dapur. Kamu mau ikut mancing?”

“Iya. Pak Camat yang ngajak.”

“Semoga dapat ikan banyak. Bisa buat makan nanti malam.”

Gatot memandang Murti yang kebetulan juga memandangnya dengan senyum yang sulit diartikan. Tak mau Pak Camat menunggu lama dan tak mau masakan Murti gosong, maka Gatot pun meninggalkan dapur. Sejurus kemudian terdengar mobil meninggalkan halaman rumah.

Dalam kesendiriannya Murti menghela napas, mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba datang. Hatinya terasa nyeri saat bertatapan dengan Gatot tadi. Entah kenapa dia harus tersenyum sedemikian rupa pada Gatot. Murti sadar kalau senyumannya tadi telah membuat Gatot terpana. Tapi Murti melihat Gatot telah mengalami perubahan nyata. Tatap mata Gatot tidak liar penuh nafsu. Gatot juga lebih sering menunduk bila bertemu atau bersamanya. Murti mulai merasa aman dengan keberadaan Gatot, tidak takut lagi seperti saat hari pertama Gatot menjadi sopir.

Dalam kesendiriannya itu juga Murti memikirkan perjalanan rumah tangganya. Selama tujuh tahun menjalani mahligai suci bernama perkawinan, hingga kini belum ada tanda-tanda akan hadirnya seorang anak. Murti kerap bertanya-tanya dalam hati apa gerangan penyebabnya. Dia dan Pak Camat sudah puluhan kali memeriksakan diri ke sejumlah dokter dan semuanya menyatakan kedua pihak subur. Setiap kali berhubungan intim, Murti selalu berharap itu bukan hubungan rutin biasa antara suami istri, tetapi juga hubungan yang bisa menghasilkan buah hati. Dia selalu berdo’a semoga setiap sperma yang masuk ke rahimnya bisa menemukan sel telur.

Tapi hingga kini semuanya seakan terbuang sia-sia. Tenaga dan keringat yang setiap malam selalu dia korbankan rasanya tiada arti. Rahimnya tetap kosong, seiring dengan hampanya suasana hidup tanpa tangisan seorang bayi. Dan di hari minggu ini Pak Camat, suaminya, malah pergi memancing, padahal dia sudah merasa siap dan dalam keadaan paling memungkinkan untuk menghasilkan telur yang bisa dibuahi. Murti merasakan hormonnya sedang dalam masa-masa paling subur. Dan dia berpakaian daster setipis ini juga demi memunculkan rangsangan pada suaminya. Tapi semua yang dia harapkan tidak terjadi dan Murti harus kembali pada kenyataan bahwa dia memang belum dipercaya memiliki anak.

Murti menata masakan yang sudah matang di meja makan, menarik kursi lalu duduk seorang diri sambil menyuapkan nasi ke mulut. Tidak ada selera sama sekali. Murti mengakhiri makannya dan merenung dalam kamar. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain bergelimpangan kesana kemari dengan gelisah. Tak lama kemudian Murti tertidur dengan pintu kamar terbuka, dengan daster yang tersingkap sampai batas paha. Murti tidur dengan lelah hati memikirkan berjuta-juta problema.

Sayup-sayup Murti mendengar pintu depan diketuk berkali-kali disertai salam dan teriakan seseorang memanggil namanya. Murti menganggap itu adalah mimpi di siang bolong yang menghiasi tidurnya. Semakin keras saja ketukan pintu sampai Murti sadar itu bukanlah mimpi. Terlebih ketika pintu itu berderit terbuka dan terdengar derap langkah halus mendekati kamar. Murti sudah yakin itu adalah Pak Camat, suaminya, karena yang memegang kunci serep cuma suaminya. Cuma Murti heran, tidak biasanya Pak Camat pulang secepat ini bila memancing. Pas orang itu berdiri di ambang pintu kamar yang masih terbuka, barulah Murti sadar bahwa yang datang memang bukanlah Pak Camat.

“Gatot!” ia memekik.

“Iya, Mur. Pak camat menyuruhku jemput kamu.” Gatot menunduk dengan muka memerah, matanya sempat menangkap kemulusan paha montok Murti.

“Jemput kemana?”

“Pak Camat bilang kamu harus pergi ke arisan Darma Wanita.”

Astaga, Murti menepuk keningnya penuh sesal. Dia lupa kalau hari minggu ini harus hadir untuk membuka arisan. Untung masih belum terlambat. Arisan dimulai jam empat sore, sedangkan ini baru setengah tiga. Berarti cukup lama juga dia tidur.

“Baiklah, Gatot. Tunggu sampai saya selesai ganti baju.” katanya kemudian.

“Saya tunggu di luar.”

Gatot sudah ingin berbalik dan melangkah pergi saat Murti berkata, “Tunggu saja disini, tapi jangan menghadap ke arahku.”

Murti sudah merasa kepalang tanggung. Dia sedari tadi bicara dengan berbaring, dengan daster tersingkap di sana-sini, dengan rasa malu yang hilang entah kemana. Keberadaan Gatot tidak menjadi masalah baginya untuk mengganti daster dengan gaun lain. Selama masa pergantian baju itu, selama itu juga waktu bagi Gatot untuk menahan mati-matian semua hasratnya. Gatot berjuang membunuh birahinya. Meskipun Murti memintanya membelakangi, namun tetap saja wujud bahenol itu terlihat nyata bagi Gatot yang berdiri menghadap cermin besar. Tubuh Murti terlihat lebih menggoda daripada saat ia mencicipinya dulu.

“Gatot, tolong pasangkan bagian belakang gaunku.” Murti meminta.

“Itu tidak boleh, Murti.” Gatot mengingatkan, tampaknya ia benar-benar sudah berubah sekarang.

“Aku membolehkan. Kamu cuma akan melihat punggungku saja, Gatot. Tolong agak cepat.” Murti terus memaksa.

Gatot merasakan hal yang pernah dirasakannya beberapa bulan silam begitu menyaksikan punggung polos Murti. Ketika jemarinya memasang satu persatu kancing gaun wanita cantik itu, maka satu persatu setan laknat coba menggoyahkan imannya. Gatot sudah kebal berhadapan dengan setan jenis apapun, tapi untuk setan manis seperti ini, hati dan birahi siapa yang akan tahan.

“Aku pernah memperkosamu, Mur. Tidakkah kamu takut hal itu akan terjadi lagi?” tanya Gatot.

“Aku tidak pernah merasa kamu perkosa, Gatot. Kejadian itu karena kita sama-sama tidak tahu. Sekarang kita sudah sama-sama mengerti kalau itu salah. Aku yakin kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku percaya kepadamu, Gatot.” jelas Murti.

”Kalau aku melakukannya lagi, bagaimana?” tantang Gatot.

”Kamu mau melakukannya?” Murti menahan gerakannya.

”Kalau kau terus memancingku seperti ini.” jawab Gatot, pelan tangannya mulai menyusuri lekuk tubuh Murti.

Murti terdiam. Tubuhnya menegang. Ia menunggu hingga Gatot melingkaran tangan dan memeluknya, barulah ia berbisik. ”Apa aku bisa menolak?” senyum tersungging di bibirnya yang tipis.

Gatot ikut tersenyum dan segera memajukan kepalanya, mengecup pipi Murti lembut. Murti mengeluh lirih dan merangkulnya erat sambil mulutnya bergeser mencari bibir Gatot. Mereka berpagutan cukup lama, Murti seakan sedang menumpahkan semua beban pikirannya kepada pagutan bibir mereka berdua. Gatot betul-betul terhanyut, tetapi masih dapat ’menjaga kesopanannya’ dengan hanya memegangi pipi Murti saja.

Tapi begitu serunya ciuman mereka, hingga tanpa sadar, tubuh montok Murti perlahan terdorong ke belakang dan akhirnya menjadi berbaring telentang di tempat tidur. Gatot menindihnya dari atas dengan bibir terus menempel erat. Tiba-tiba saja tangan Gatot sudah berpindah ke dada Murti yang membusung indah, ia meremas-remas dengan gemas daging bulat itu. Meski dari luar baju, tapi kekenyalan dan keempukannya sudah cukup terasa. Gatot sangat menyukainya, ia jadi merinding dibuatnya.

”Ehmm…” Murti melenguh, dengan tak sabar ia menurunkan baju gamisnya hingga ke perut agar Gatot bisa menyentuh payudaranya secara langsung.

Tak berkedip, Gatot memandangi gundukan daging yang masih tertutup BH itu. Itupun juga tidak lama karena Murti buru-buru menyingkap cup-nya hingga tonjolan buah dadanya yang besar benar-benar terburai keluar, dua-duanya. Mata Gatot makin melotot. Sejenak ia meneliti wanita di hadapannya ini. Leher Murti tampak putih berkeringat, anak-anak rambut yang menggerai di sekeliling lehernya membuat penis Gatot mengejang. Bahunya yang pualam menyangga mulutnya yang sedikit menganga dan mengeluarkan desisan lirih yang sedikit memburu. Mata Murti terpejam.

Gatot tak dapat lagi menahan diri. Segera ditubruknya payudara Murti yang membulat indah, dengan puting mungil kemerahan yang mengacung indah ke depan, benda itu tampak begitu sempurna. Gatot pun segera menggenggam dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu, sambil bibirnya menelusuri leher Murti yang jenjang.

Murti menempelkan badannya erat-erat ke tubuh Gatot, ia menggelinjang ketika Gatot memutar-mutar telapak tangannya di kedua puncak payudaranya, memelintir-lintir putingnya, sambil sesekali memijit benda mungil itu dengan gemas. Gelinjangannya makin bertambah ketika tangan Gatot turun ke bawah, menyingkap baju gamisnya dan menyentuh sela-sela selangkangannya. Gatot menekan-nekan lembut disana sambil mulutnya mulai menjilati puting susu Murti. Dengan nakal tangan Gatot berusaha menurunkan celana dalam Murti, tetapi masih sulit.

”Egh!” Murti mendesis. Dia membalas dengan menerobos celah ritsleting celana Gatot dan mengelus-ngelus penis pemuda itu yang sudah menegang dahsyat dari luar celana dalamnya. Murti juga merengkuh kepala Gatot dan ditariknya ke arah puting susunya agar Gatot bisa menghisapnya dengan lebih nikmat. Sementara di bawah, tangannya beralih meraih tangan Gatot dan dibimbingnya untuk segera masuk ke dalam CD-nya. Sebagai istri yang baik, Murti sudah bertindak berlebihan.

Mendengus kesenangan, Gatot mengelus-elus bulu vagina Murti pelan-pelan. Terasa lebat sekali. Dari sekian banyak wanita yang pernah ditiduri Gatot, baru Murti ini yang memiliki rambut sedemikian lebat. Gatot terus mengelus-elusnya, bahkan kini tangannya bertindak lebih berani dengan menggelitik bibir vagina Murti, berusaha mencari lubangnya yang basah dan hangat. Dengan mudah Gatot menemukannya karena air nikmat Murti sudah begitu banyak keluar. Murti sendiri membantunya dengan menekan-nekan tangan Gatot yang ada di permukaan vaginanya agar menusuk lebih dalam lagi.

“Euuuhh… eeuuuhh…” Murti menggelinjang. Lalu tak sabar, segera diturunkannya CD yang ia pakai hingga ke paha. Telanjang bulatlah ia.

”Gila, putihnya!” batin Gatot dalam hati. Pantat Murti yang bulat, yang biasanya cuma bisa ia pandangi kalau Murti lagi bergelayut manja di lenganku, ternyata betul-betul indah. Pinggulnya apalagi. Penis Gatot langsung berdiri melihat semua itu. Ia pun segera menunduk dan menggosok-gosokkan ujung hidungnya ke pinggul Murti yang lebar, pelan-pelan Gatot menjilat memutar menuju ke pantat Murti yang indah. Gatot meremas-remas bulatan kembar itu, sambil terus menggesek-gesekkan ujung hidungnya ke lubang memek Murti. Harum baunya, harum sekali. Penis gatot yang tegang bergerak-gerak semakin liar .

Murti yang sudah tak sabar segera memegang tangan Gatot, dibimbingnya untuk kembali menusuk-nusuk lubang vaginanya. Ia sendiri seakan kesetanan menunggu lubang vaginanya dimasuki oleh jari-jari Gatot. Tetapi Gatot malah lebih tertarik pada puting susu Murti, ia berkonsentrasi disana. Gatot menjilat, mengelus-elus memakai lidah, menyedotnya pelan-pelan sampai Murti melenguh dan menggelinjang-gelinjang penuh kenikmatan. Wanita itu makin tidak tahan lagi, tangannya mulai menurunkan celana panjang Gatot, juga CD yang dikenakan oleh pemuda itu. Lalu dengan cepat tangan Murti menggenggam penis Gatot yang sudah menegang sempurna. ”Besar, Tot.” gumam istri Pak Camat itu.

”Ehmm,” Gatot serasa melayang. Sebagai sopir pribadi, selama ini kalau Murti bergayut di lengannya saat dibantu masuk ke dalam mobil, ia sering membayangkan tangan putih dengan jari-jarinya yang panjang itu mengelus-elus batang penisnya. Gatot cuma berani membayangkannya, tanpa pernah mencoba untuk meminta. Dan sekarang, ternyata hal itu menjadi kenyataan.

Bahkan bukan cuma dipegang, di luar dugaan, Murti langsung membalik tubuhnya dan mengarahkan mulutnya ke arah penis Gatot. Lalu tanpa basa-basi dikulumnya penis itu. Gatot sendiri langsung meneroboskan mukanya ke arah vagina Murti. Tangannya memisahkan rambut-rambut keriting halus yang tumbuh disitu untuk melihat klitoris mungil Murti yang sudah menyembul keluar. Gatot menggosok-gosok perlahan permukaannya hingga membuat Murti menggelinjang keenakan. Dan istri Pak Camat itu makin suka saat Gatot mulai menjilat sambil menghisap-hisapnya penuh nafsu.

“Ouw… Tot, ouw! Gatot! Oughss…” lenguh Murti keras-keras, “Terus, Tot… teruuuss… ughhh!” lenguhnya makin kencang saat cairan bening mulai merembes dari lubang vaginanya. Semakin gatot menjilat, semakin banyak cairan itu meleleh keluar. Dan puncaknya, begitu Gatot menggigit klitorisnya, istri Pak Camat itupun menyemburkan cairan orgasmenya. Wajah Gatot tersiram cairan panas yang berbau sedikit pesing. Isapan Murti di penis Gatot jadi sedikit melemah. Ia lebih banyak diam menikmati sisa-sisa orgasme yang masih melanda tubuh sintalnya.

Gatot berpikir kalau Murti sudah selesai. Ia sudah akan beranjak saat tiba-tiba Murti membalikkan badan dan langsung duduk di atas perutnya. Murti memegang penis Gatot dan coba dimasukkan ke dalam liang vaginanya yang sudah sangat basah. Rasanya wow, sungguh luar biasa ketika kepala penis Gatot mulai menerobos masuk. Gatot yang kegelian sampai terpejam dan mengangkat kepala karena saking tak tahannya. Maklum, sudah dari dulu ia memendam hasrat ini. Dan sekarang, setelah mendapatkannya, ia jadi tak kuat menahan birahinya lama-lama. Murti yang melihat itu segera memberi Gatot payudaranya yang sebelah kiri. Melihat ada gumpalan daging kenyal putih menantang menggantung di depan matanya, Gatot langsung menyambar dan menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu.

Di bawah, penisnya dengan mudah menembus memek basah Murti. Ia langsung merasa nikmat-nikmat nyeri karena vagina Murti ternyata begitu sempit dan ketat. Penis Gatot serasa dicekik dan dipijit kuat-kuat, tapi terasa sangat nikmat dan menggelikan sekali. Terasa ada yang mulai mengalir keluar dari ujung penisnya. “Gila, padahal belum digoyang, aku sudah mau keluar…” pikir Gatot heran.

Ditahan sekuat apapun, ia tetap tak tahan. Memek basah Murti betul-betul begitu nikmat. Dalam beberapa kali goyangan pendek, sambil memeluk tubuh montok Murti erat-erat, sperma Gatot menyembur keluar. Ia remas payudara Murti kuat-kuat saat cairan pejuh itu mengalir keluar. Murti memegangi pantatnya dan berbisik, “Masukkan semua, Tot… masukkan semua.”

Gatot menekan penisnya kuat-kuat ke dalam memek Murti, ia masukkan semua benih hidupnya ke dalam jaringan tubuh istri Pak Camat itu. Setelah tuntas semuanya, barulah Gatot menggulingkan tubuhnya hingga jepitan Murti terlepas. Masih terengah-engah, mereka berbaring bertindihan dengan kelamin masih meneteskan cairan masing-masing. Gatot menikmati saat-saat itu dengan mempermainkan payudara Murti dan menggesek-gesekkan ujung penisnya ke lubang memek Murti yang basah. Murti membalas dengan menciuminya sambil merangkul tubuhnya erat-erat.

Lima menit mereka berada dalam posisi seperti itu hingga Gatot teringat akan tugas dia yang sebenarnya. ”Mur, arisanmu.” ia mengingatkan.

Murti menoleh ke jam di dinding dan tersenyum. ”Masih ada waktu sepuluh menit lagi,” selesai berkata, ia menggoyang-goyangkan pantatnya hingga penis Gatot yang masih berada dalam jepitan pinggulnya, berdiri kembali.

“Kamu pengen lagi?” tanya Gatot mesra. Terasa bibir vagina Murti yang hangat memijat lembut batang penisnya. ughh… rasanya sungguh nikmat sekali.

Tak sabar, Murti segera membimbing penis Gatot agar segera memasuki liang vaginanya. ”Aghhh…” mereka mengerang berbarengan dan mulai saling menggoyang.

10 menit kemudian, Murti dua kali mengalami orgasme. Sedangkan Gatot,  menyusul tak lama kemudian dengan tembakan ringan di liang memek Murti. Mereka saling tersenyum dan berciuman. Ketika sudah tidak berdaya lagi, Gatot melihat jam. Hampir 30 menit berlalu sejak ia masuk ke kamar ini. Ia harus segera mengantar Murti pergi ke arisan kalau tidak ingin Pak Camat curiga. Jadi Gatot segera bangkit dan mulai memunguti pakaiannya yang terserak di sana-sini. Tercium bau sperma bercampur keringat yang sangat pekat di kamar itu. Murti segera membenahi pakaiannya dan menyemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau ‘mesum’ itu. Setelah mengenakan jilbabnya, ia pun mengajak Gatot agar cepat berangkat.

Sepanjang perjalanan, Gatot dan Murti tidak bicara sepatah kata pun. Bayang-bayang perselingkuhan mereka barusan membuat keduanya cuma bisa berbagi senyuman. Tidak ada kelanjutan dari senyum yang mengambang di udara sore itu, sampai tiba di kantor kecamatan tempat Murti arisan.

“Bilang ke Pak Camat agar menjemput jam setengah enam.” kata Murti.

“Baik, Mur. Selamat tinggal.”

Murti melangkah ke pendopo dimana para ibu-ibu sudah berkumpul. Bisik-bisik diantara para ibu langsung berhenti begitu Murti lewat. Murti bukannya tidak tahu dan tidak mendengar apa isi gunjingan para ibu. Telinganya cukup sehat untuk menyimak namanya disebut-sebut dalam gunjingan itu. Sudah kebiasaan para ibu untuk bergosip di setiap kesempatan. Apalagi Bu Marni, istri Pak Sekcam juga hadir. Murti seratus persen yakin gosip itu berawal dari mulut usil Bu Marni.

“Apa arisan sudah bisa dimulai, ibu-ibu?” tanyanya sesopan mungkin.

“Silahkan dibuka saja, Bu Murti.” jawab seorang ibu.

Seperti biasa, Murti memimpin para ibu menyanyikan lagu mars Darma Wanita. Setelah itu dia memberi beberapa sambutan dan pengumuman yang berhubungan dengan kegiatan Darma Wanita. Murti merasakan pandangan Bu Marni seperti menelanjangi dirinya. Tahu apa si Marni tentang diriku? bisik hati Murti sebal. Dia sudah merasa jemu dan kesal, namun sebagai pembina Darma Wanita tingkat kecamatan, dia harus mengikuti acara arisan sampai akhir.

“Bu Murti, bagaimana kalau pertemuan berikutnya kita bahas masalah poligami dan poliandri?” usul dari Bu Fatimah.

“Jeng Fatimah ada-ada saja. Kita kan sudah tahu kalau itu dilarang.” jawab Bu Marni menimpali.

“Ada baiknya juga usul Bu Fatimah itu. Biar kita para ibu ini lebih jelas dan paham gitu,” kata Bu Yati yang membuat Bu Marni merengut.

“Baiklah. Pertemuan bulan depan kita bahas itu. Nanti saya koordinasikan dengan ibu Bupati,” kata Murti memutuskan sekaligus menutup acara.

Arisan pun bubar, tetapi bisik-bisik para ibu tetap berlanjut. Murti segera meninggalkan pendopo karena melihat mobil dinas suaminya sudah menunggu di luar. Lagi-lagi cuma Gatot seorang diri yang ada dalam mobil.

“Mana Pak Camat, Tot?” tanya Murti.

“Masih di kolam pancing, Mur. Bapak minta saya jemput kamu.”

“Langsung pulang saja.”

Murti masuk ke mobil diikuti tatapan mata para ibu yang sedari tadi memang terus-terusan menggunjingnya. Hari minggu yang benar-benar menyebalkan bagi Murti. Tidak ada satu hal pun yang berpihak padanya hari ini. Semua menyudutkannya.

“Ada apa, Mur?” tanya Gatot.

“Tidak ada apa apa.”

“Kita ini bersama dari kecil, Mur. Aku tahu sesuatu telah membuatmu gelisah.”

“Dulu satu-satunya hal yang membuatku gelisah adalah ulah dan perbuatanmu. Sekarang ada banyak hal yang membuatku gelisah.”

“Terima kasih kamu masih mau memikirkan teman kecilmu yang sontoloyo ini.”

“Gatot, kuharap kamu tidak kembali ke jalan menyesatkan itu.” pinta Murti.

“Aku akan berusaha, Mur.” janji Gatot.

“Berusahalah demi hubungan kita.”

Murti dan Gatot berpisah di jalan depan rumah. Gatot sekali lagi harus bolak-balik antara rumah dan kolam pancing untuk memenuhi perintah majikannya. Sedangkan Murti sekali lagi harus kembali masuk ke dalam kamar sambil menunggu Pak Camat pulang. Dulu dimasa kecil, kamar ini menjadi tempatnya bermain bersama Gatot, dari permainan biasa seperti halma, dakon, main monopoli, sampai permainan luar biasa seperti saling kejar, saling bergulingan, saling piting sana-sini, dan saling tarik menarik ini-inu. Semua terjadi tanpa aturan, tanpa ada batas. Dan kini kamar itu menjadi saksi perselingkuhan antara dirinya dengan Gatot tadi siang.

Lamunan Murti terputus oleh derap langkah kaki Pak Camat dari luar. Murti sudah menghapalnya.

“Mur, lihat yang kubawa pulang.” kata Pak Camat menunjukkan hasil pancingannya.

“Banyak sekali, Mas. Jangan-jangan beli di pasar.”

“Ya ampun, Mur, ini hasil pancinganku dan pancingan si Gatot. Dia memberikan pada kita.”

“Lalu mana Gatot?”

“Langsung pulang. Kamu masak yang enak ya. Jangan lupa anterin sebagian ke rumah Gatot.”

“Mas Joko sajalah yang ngantar ke sana. Nggak enak dilihat tetangga.”

“Ya antar lewat belakang dong. Ternyata Gatot itu luar biasa, Mur, nyambung kalo diajak ngomong.”

“Ya sudah, Mas Joko mandi dulu. Baunya bikin eneg.”

Murti membawa ikan hasil tangkapan ke dapur. Butuh waktu hampir dua jam mengolah ikan-ikan itu sampai menjadi masakan yang lezat. Murti berusaha membuat masakannya senikmat mungkin karena bukan hanya akan dimakan keluarganya saja, tetapi juga akan dimakan oleh Gatot. Ada rasa ragu antara ya dan tidak untuk mengantar masakannya ke rumah Gatot. Ia takut kejadian tadi siang akan terulang, padahal Pak Camat lagi ada di rumah. Tapi pada akhirnya, Murti memutuskan untuk mengantar juga. Dibalik keremangan malam, dia pun mengendap-endap lewat belakang rumah, lalu melintasi tembok dan dalam sekejap sampai di dapur Gatot.

Murti meletakkan masakan di atas meja lalu merayap halus mendekati kamar Gatot. Matanya nanar melihat Gatot yang tidur meringkuk di atas kasur lusuh. Murti tak mau mengganggu, jadi ia kembali merayap ke belakang dan melintasi pagar sampai di dapurnya sendiri.

“Sudah kamu antar?” tanya Pak Camat.

“Sudah, Mas. Gatot lagi tidur, jadi kutaruh saja diatas mejanya.” jelas Murti.

“Bagaimana dengan arisan Darma Wanitanya, Murti?”

“Seperti itulah, Mas. Ibu-ibu berkumpul cuma untuk menggosip.” sahut Murti.

“Membicarakan tentang kita kan?” tebak suaminya.

“Kok Mas Joko tahu?” Murti heran.

“Telingaku ini masih bolong semua, Mur. Ke kamar yuk,” ajak suaminya.

“Masih juga jam segini. Nonton TV dulu ya, Mas.” Murti tahu apa yang diinginkan oleh laki-laki itu, tapi Murti masih lelah setelah main dengan Gatot tadi siang.

“Tapi nonton TV sambil anu ya?” Pak Camat terus menggoda.

Murti mesem dan Pak Camat langsung kesengsem. Tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada tempat tidur, karpet pun jadi. Murti asyik menonton sex and the city, sementara Pak Camat sibuk sex bersama istri. Murti ngiler melihat tubuh seksi para artis luar negeri, sedangkan Pak Camat air liurnya sudah mengalir di sekujur tubuh seksi si Murti. Ketika film di TV sudah the end, namun Pak Camat masih pengen. TV sudah mati, tapi barang Pak Camat masih tegak berdiri. Sampai Murti menggoyangnya hingga benda itu terkulai lemas tak lama kemudian.

“Kita sudah berjuang sekeras ini, tapi belum ada hasilnya juga ya, Mur.” kata Pak Camat sambil mempermainkan memek basah Murti.

“Sabar, Mas. Semuanya Tuhan yang menentukan.” jawab Murti kalem.

“Yang penting kita sudah berusaha kan, Mur?” tanya Pak Camat lagi, mulutnya dengan nakal menciumi payudara Murti satu per satu.

Murti tersenyum, mencoba untuk berbesar hati. Semua memang butuh kesabaran karena orang sabar akan dapat imbalan yang setimpal. Seperti dirinya yang sabar menanti Gatot menyetubuhinya dan kini kesabaran itu membuahkan hasil.

MBAK YETI

Sebagai anak paling kecil dari tiga bersaudara, sebenarnya aku tidak merasa mempunyai kekurangan apapun. Jarak kelahiran yang agak jauh dari kakak-kakakku malah membuatku mendapat limpahan kasih sayang dari keluarga. Tapi jalan hidup manusia siapa yang tahu, kadang apapun yang terjadi pada diri kita, tak dapat kita duga.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (1)

Semua berawal dari kakakku yang paling besar, sebut saja mas Amran. Mas Amran semenjak SMP memang dikenal playboy. Banyak wanita yang mudah dia pikat. Kelakuannya bahkan sering memusingkan orang tuaku. Dulunya, ayahku bekerja di sebuah pabrik tekstil. Tapi karena faktor kesehatan, beliau pensiun dini, lalu buka warung kecil-kecilan depan rumah. Sedangkan ibuku seorang PNS. Usiaku dengan kakak tertuaku terpaut sekitar 13 tahun. Kata ibu, kehamilanku justru tidak disengaja. Tapi beliau menerimanya dengan gembira.

Saat lulus SMA, kakakku mengambil program D3. Tapi kuliahnya baru berjalan kira-kira tiga bulan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatanya karena telah menghamili anak gadis orang. Padahal waktu itu usia kakakku baru sekitar 18 tahun. Orangtuaku saat itu sangat terpukul, apalagi diketahui, kehamilan wanita itu telah memasuki bulan keenam. Akhirnya mereka dinikahkan secara diam-diam. Pernikahan mereka tidak berjalan lama, saat bayinya lahir dan baru berusia sekitar lima bulan, mereka berpisah. Sejak itu, banyak sekali wanita yang dibawa kakak ke rumah.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (2)

Kira-kira dua tahun kemudian, kakakku kembali memutuskan menikahi seorang wanita yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Waktu itu kakakku baru diterima bekerja di pabrik bekas ayah dulu bekerja. Orang tuaku tak bisa berbuat apa-apa. Wanita yang dinikahi kakakku pun sudah bekerja di sebuah bank. Pernikahan baru berjalan enam bulan, tetapi istri kakakku sudah melahirkan. Awalnya kakakku yang nomer dua, perempuan, yang kadang suka mengasuh anak kakakku. Tapi semenjak dia menikah dan diboyong suaminya, akhirnya mereka menyuruh tetangga untuk mengasuh. Belum setahun usia bayi, istri kakakku kembali hamil. Dan akhirnya dikarunia anak kembali.

Tapi kembali, pernikahan kakakku dilanda masalah. Tabiat kakakku yang suka main perempuan dan seringnya dia bekerja keluar kota, membuat istrinya tak tahan, dan akhirnya mereka memutuskan berpisah. Belum setahun perceraian, kuketahui istri kakakku sudah menikah lagi dengan teman sekantornya. Anak-anak sendiri karena masih kecil, dibawa oleh istri kakakku.

Kembali kakakku suka membawa wanita ke rumah. Warung ayah yang sudah tutup semenjak kakak keduaku menikah dan seringnya dia hanya bisa berbaring di kamar serta ibuku yang bekerja, membuat kakakku leluasa membawa wanita, apalgi di siang hari. Sesekali aku suka memergoki kakakku berduaan di kamar belakang dengan wanita, tapi sepertinya kakakku suka tak acuh. Malah dia suka memberiku uang tutup mulut. Akupun menerimanya dengan senang hati.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (4)

Ya, aku memang termasuk anak yang polos dulunya. Pergaulanku sendiri hanya sebatas teman-teman sekolah. Di rumah, aku jarang sekali main karena ibuku selalu menyuruhku menjaga ayah. Kadang aku merasa iri dengan kakakku yang sepertinya bebas kemanapun dia mau. Akhirnya saat usiaku 13 tahun, waktu itu aku baru masuk SMP, kembali kakakku menikahi seorang wanita. Tapi kali ini lain, karena wanita ini berjilbab.

Pernikahan siri dilakukan kakakku, berdasarkan kesepakatan keluarga. Wanita yang sebaya kakakku, sebut saja mbak Yeti, bekerja sebagai pelayan sebuah toko baju. Kesehariannya sangat ramah. Cara berpakaiannya pun sangat rapi dan sopan. Baju terusan panjang dan jilbab lebar selalu membingkai tubuhnya yang menurutku agak sedikit berisi, tapi menurut teman-teman ibu, bahkan sebagian teman sekolahku yang kadang datang ke rumah, bilang bahwa kakak iparku itu seksi.

Meski rumah kami agak jauh dari tetangga lain, tetapi wanita yang dinikahi kakakku kali ini sesekali suka mendapat pujian dari tetanggaku, terutama dari para lelaki muda. Malah ada teman sekampungku yang bilang, kalau dia yang jadi adik iparnya, pasti tiap hari akan mencoba ngintip kalau dia mandi, begitu candanya kepadaku. Aku sendiri sama sekali tidak menggubrisnya. Tapi memang setahun pertama pernikahan, kakakku sepertinya betah di rumah. Pulang kerja pun tak pernah telat.

Ibuku sendiri merasa senang, meski mbak Yeti bekerja, tapi dia selalu membantu menyiapkan makanan, bahkan membersihkan rumah. Jika mbak Yeti masuk pagi, biasanya baru sore harinya dia mencuci baju suaminya, bahkan kadang bajuku pun dia cuci. Jika dia kerja siang, paginya selain mencuci, dia juga membantu menyiapkan makanan. Hal itu membuat ibuku senang, kehadiran mbak Yeti sungguh memperingan kerja rumah tangga ibuku.

Aku sendiri biasanya membantunya menimbakan air jika dia hendak mencuci, ibuku yang menyuruhku, agar mbak Yeti nggak kecapekan. Lama-lama, aku dan mbak Yeti memang jadi akrab. Dia malah sering menyuruhku makan jika dia membuatkan sesuatu. Katanya supaya tubuhku gagah kayak kakakku, tidak kurus seperti sekarang. Yah, tubuhku memang agak kurus, apalagi tinggi badanku yang lumayan, membuat aku kelihatan agak ringkih. Tapi aku sendiri tidak begitu peduli, toh tidak kurus-kurus amat. Selain itu, tak jarang mbak Yeti memberiku uang jajan.

Awalnya, kami berpikir kakakku sudah berubah. Kehadiran mbak Yeti yang membuat dia betah di rumah, menyenangkan hati ibuku. Bahkan jika kebetulan mbak Yeti libur, kakakku sering datang siang hari, dan bersenda gurau di kamar dengan mbak Yeti. Tingkah mbak Yeti pun suka aneh, biasanya jika mereka bedua, kulihat cara bicara mbak Yeti suka berbeda, menjadi sedikit genit. Beda jika ada ibuku.

Tapi ternyata waktu berkata lain. Setahun lebih pernikahan mereka, kesibukan kakakku menjadikan dia kadang jarang ada di rumah. Semenjak mendapat tugas pengawas pemasaran, kakakku jadi makin sering keluar kota. Meski tidak mengganggu keharmonisan mereka, tapi kadang hal itu membuat mbak Yeti jadi sering melamun.

Awalnya tidak begitu kelihatan, maklum jika di depan semua orang, sepertinya tidak ada apa-apa. Tapi jika dia sendirian, tak jarang aku memergokinya sedang melamun. Bahkan sesekali sering aku mendengar keluhannya, walau awalnya aku tidak mengerti, saat dia sedang berdua dengan kakakku, ”Mas, jangan capek terus dong.” katanya. Dan ditanggapi kakakku dengan lenguhan lesu. Semenjak itu, mbak Yeti seperti mencari kesibukan juga. Dia kadang mengambil lembur.

Dan kemudian, siang itu, awal dari makin dekatnya hubunganku dengan mbak Yeti… Siang itu, hari begitu panas. Aku sebenarnya baru pulang dari sekolah dan sedang makan, tapi karena udara panas, aku memutuskan untuk mandi. Aku lihat bak mandi kosong, akhirnya aku yang sudah tak berpakaian, menimba air. Sedang asyik menimba, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aku sendiri tidak begitu kaget saat kemudian mbak Yeti nongol dan tersenyum.

“Maaf, kirain nggak ada orang.” katanya. Aku tidak merasa malu dan biasa saja, bahkan saat mata mbak Yeti terus memandang kelaminku.

”Mbak mau apa?” kataku, sambil kemudian aku perlahan mengambil handuk yang mengantung tak jauh dariku, dan melilitkannya ke pinggang.

“Mbak nggak kuat, sakit perut!” katanya.

“Ya udah, mbak dulu aja.” kataku. Aku pun kemudian keluar.

Setelah itu, tak ada hal yang luar biasa, hanya kulihat mbak Yeti selalu tersenyum ke arahku. “Mbak kok pulang cepat?” kataku.

“Iya, minta ijin, nggak enak badan.” katanya.

Setelah itu, aku langsung masuk kamar, mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan ketika ibu pulang, aku masih asyik di kamar.

Besoknya, saat pulang kerja, mbak Yeti mengetuk pintu kamarku. ”Mbak bawa martabak,” katanya.

Aku langsung keluar, hari sekitar jam tiga sore, kulihat mbak Yeti membawa martabak ke kamar depan, ”Biasa, ayah lagi baca di kasurnya.” kata mbak Yeti tanpa ditanya. “Dari kemarin panas aja ya?” tambahnya lagi.

“Iya, mbak, padahal tadi aku sudah mandi, tapi tetep keringetan.” kataku.

”Jadi tadi nimbanya bugil lagi?” kata mbak Yeti, aku hanya nyengir. “Kamu nggak malu ya kepergok mbak?” tanyanya lagi.

“Nggak sadar, mbak. Tapi nggak apa-apa, mbak kan bukan orang lain.” kataku polos.

Tiba-tiba tangan mbak Yeti mengusap-usap pundakku. “Mbak juga mau mandi, baknya penuh nggak?” katanya.

”Tadi sih masih setengah. Nggak apa-apa, nanti aku isi.” jawabku sambil makan martabak.

”Ya udah, makan dulu aja.” katanya, kemudian dia masuk ke kamarnya. Tak lama dia keluar. Saat itu kulihat dia berpakaian daster dengan belahan sangat rendah. Bisa kulihat tonjolan payudaranya yang besar dan montok. Di tangannya ada handuk, BH, jilbab, dan celana dalam. Dia kemudian duduk di sampingku. “Duh, panas ya?” katanya sambil mengipas-ngipaskan tangan.

Ini baru pertama kalinya aku melihat dia berpakaian seperti itu, biasanya dia memakai baju panjang dan jilbab yang sangat sopan, tapi semua itu sama sekali tak mempengaruhiku. Dasar aku masih sangat polos. Bahkan saat kemudian dia mengajakku bicara dengan sedikit lain dari biasa, agak genit dan banyak usapan mesra di pahaku, aku tetap tak bereaksi.

Sejak itu, tingkah mbak Yeti menjadi agak berbeda, terutama jika kami sedang berdua. Tak jarang dia mengelus kepalaku, bahkan pahaku saat bercanda. Awalnya aku agak risih, tapi kemudian aku acuhkan. Saat itu, aku sama sekali tak mengerti, bahkan ketika dia menanyakan sesuatu yang berbau dewasa, aku menjawabnya dengan polos.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (3)

“Kamu punya pacar belum?” katanya.

“Belum, mbak.” jawabku.

”Tapi udah mimpi kan?” katanya lagi.

Aku mengangguk.

”Pertama kali kapan mimpinya?”

”Awal kelas dua kemarin, mbak.” aku menjawab.

“Mimpinya sama siapa hayo, pasti cewek ya?” katanya.

“Nggak tahu, mbak. Sudah lupa.” kataku.

“Enak nggak mimpinya?” katanya.

“Nggak tahu, mbak, lupa. Tahu-tahu sudah basah aja.” kataku.

Yah, kadang mbak Yeti menanyakan hal-hal sensitif, tapi aku merasa biasa aja, walau kadang kulihat dia cekikikan sendiri mendengar jawaban polosku. Lama-lama, kulihat mbak Yeti pun makin tidak malu dihadapanku. Aku jadi sering melihatnya keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk sedada, membiarkan paha mulusnya kemana-mana. Bahkan sepertinya dia sengaja melakukan itu, walau seringnya aku sendiri tak begitu memperhatikannya.

Dan siang itu, saat dia terus memperhatikanku, aku menganggapnya biasa. ”Mbak lihat kamu garuk-garuk burungmu terus, kenapa, gatal?” tanyanya saat aku hendak ke kamar mandi.

“Iya, mbak, numbuhnya makin banyak.” kataku tanpa sungkan, karena dia pernah menyinggungnya, dan saat itu aku bilang: ”Kata temanku cukur aja supaya nggak gatal,” tapi mbak Yeti bilang: ”Jangan, bisa makin gatal.”

”Cukur aja kali ya, mbak?” kataku.

“Ya udah, tapi biasanya makin gatal. Nanti mbak beliin bedak.” katanya.

Aku kemudian kencing. Selesai kencing, kulihat mbak Yeti keluar dari kamarnya. ”Nih, kalau mau cukuran, make ini aja. Tapi jangan bilang-bilang kakak kamu kalo alat cukurnya dipake buat nyukur bulu titit.” katanya cekikikan.

”Iya, mbak.” aku ikut tersenyum.

”Nanti alatnya bersihin lagi ya, supaya nggak ketahuan kalo habis dipake.” katanya, aku mengangguk. ”Hati hati luka, atau mau mbak yang cukurin?” katanya senyum-senyum.

“Nggak, mbak, malu. Biar aku aja nanti.” kataku menolak.

”Ya udah, cepat sekarang aja, mumpung kakakmu belum pulang.” kata mbak Yeti.

Aku kemudian ke kamarku sambil membawa handuk. Duduk di ranjang, mulai kucukur bulu kelaminku. Setelah selesai, aku kemudian mandi. Tapi benar, kurasakan rasa gatalnya tidak hilang, malah semakin terasa. Dan kulihat, aku tidak bisa mencukur bersih. Saat keluar kamar mandi, kulihat mbak Yeti sudah ada di dekat pintu. Baju gamisnya sudah berganti dengan daster berbelahan rendah. Jilbabnya juga sudah dia lepas, memperlihatkan rambut lurusnya yang panjang sepunggung.

“Sudah?” tanyanya, aku mengangguk. ”Kok cepat? Masih gatal nggak?” katanya.

“Iya, mbak. Gimana ya, mbak?” kataku.

Tangannya kemudian mengusap pundakku. ”Apa kata mbak, mending didiemin aja.” katanya. ”Mau dikurangi nggak supaya nggak gatal amat?” tawarnya. Aku mengangguk. ”Tapi janji jangan bilang siapa-siapa, termasuk ibu dan kakakmu.” bisiknya. Aku mengangguk lagi.

”Sini,” dia menarik tanganku, kemudian kami berdiri di balik pintu kamar mandi. “Kamu merem. Awas, jangan ngelihat!” katanya.

Aku yang waktu itu masih handukan menuruti apa katanya. Tiba-tiba kurasakan tubuhnya merapat ke tubuhku. Satu tangannya kurasakan mulai meraba kelaminku. Aku hanya diam saat kemudian kurasakan tangannya masuk ke dalam handukku. Sesaat kemudian, kurasakan kontolku menempel pada benda berbulu. ”Mbak,” kataku mulai tak tenang.

“Nggak apa-apa, diam aja. Nanti nggak gatel lagi, kamu pasti suka.” katanya. Perlahan kurasakan ujung kontolku digosok-gosokkan ke benda berbulu itu. Ada geli kurasakan, selain rasa hangat yang mulai menjalar cepat di batang kontolku, yang akhirnya membuatnya bangun dan menegang.

”Mbak, geli ah!” kataku parau. Mataku masih tetap merem.

”Nggak apa-apa, bentar lagi juga enggak.” katanya.

Aku tak berani melihat, walau saat itu sebenarnya aku tak begitu memejamkan mata. Wajahku ada di pundak mbak Yeti. Bisa kucium wangi keringat di lehernya, membuat kontolku makin mengeras dan menegang. Dan saat sudah benar-benar terbangun, kurasakan mbak Yeti makin menekan kontolku, melewati ruang hangat yang sempit dan lembab.

”Mbak, sudah ah, jangan!” kataku gugup. Dalam hati aku ingin mencegah, tapi kenikmatan yang kurasakan di ujung kontolku membuatku membatalkannya.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Nanti gatalnya hilang sendiri.” katanya membujuk.

Sebenarnya rasa gatal sudah tak kuingat lagi, aku hanya merasakan nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku, apalagi saat kontolku makin dalam masuk ke lubang hangat itu. Aku makin melayang. Saat itulah, tiba-tiba kurasakan pantat mbak Yeti bergerak pelan, memompa maju-mundur, membuat kontolku menggesek lubang sempit itu. Nikmat. Nikmat sekali kurasakan.

”Mbak ngapain?” tanyaku tak mengerti.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Kamu agak turun.” katanya sambil menekan pundakku, aku pun sedikit menurunkan kakiku. Kini posisi kami benar-benar pas. Kontolku masuk sempurna di lubang sempit itu. Rasa geli makin menjalar di sekujur tubuhku saat kontolku menggesek dinding-dinding basah yang melingkupinya. Nikmat yang baru pertama kali kurasakan setelah 13 tahun lahir di dunia ini. Sampai akhirnya, aku merasa tak kuasa…

”Mbak, rasanya aku ada yang mau keluar.” kataku berbisik.

“Keluarin aja,” katanya sambil terus menggerakkan pinggulnya, menyetubuhiku.

Dan ahh.. ahh… ahh… kudekap tubuh montok mbak Yeti erat-erat saat cairanku membanjir keluar. Rasa nikmatnya seperti mimpi basah, tapi yang ini lebih enak karena benar-benar nyata.

”Kamu merem terus ya tadi?” kata mbak Yeti, kurasakan kontolku ia lepas da dilap dengan ujung daster. Aku mengangguk. ”Sudah,” katanya. Ia meraih handukku dan melingkarkannya lagi ke pinggangku. “Gimana, ilang nggak gatalnya?” ia bertanya. Aku mengangguk. ”Ingat, jangan bilang siapa-siapa ya?” bisiknya. Aku mengangguk lagi. Entah kenapa, aku kesulitan untuk menanggapi pertanyaannya.

Aku kemudian kembali ke kamarku. Saat selesai berpakaian, kulihat mbak Yeti masih ada di kamar mandi. Aku kemudian makan. Saat makan, mbak Yeti yang baru selesai mandi, tersenyum ke arahku. Seperti biasa, dia cuma menutupi tubuh moleknya dengan handuk. Sambil mengunyah, kupandangi pahanya yang putih mulus saat dia berlalu ke kamar. Selesai makan, mbak Yeti sudah berpakaian rapi dengan baju panjang dan jilbab lebar. Dia menghampiriku.

”Masih gatal?” tanyanya ramah.

”Sedikit, mbak.” kataku. “Mbak tadi ngapain sih?” aku bertanya. Entah, saat itu aku tak tahu mau bicara apa.

”Enak nggak?” bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.

Aku mengangguk. “Mbak masukin burungku ke anunya mbak ya?” tebakku tak percaya.

”Iya, jangan bilang siapa-siapa ya?” dia tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan. Siapa juga yang bakal bilang-bilang? Kemudian tangannya meraba boxerku. ”Coba lihat,” katanya. Dan entah kenapa, aku hanya diam saja, tidak protes. Mungkin karena teringat rasa nikmat tadi.

”Pantes, kamu nyukurnya nggak rapi.” katanya.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (5)

”Iya, mbak. Tapi nggak apa-apa. Nanti bisa dirapiin.” kututup lagi celanaku.

”Mbak mau lho bantu ngerapiin.” dia tertawa genit sebelum berlalu dari ruang makan. Aku hanya diam saja dan segera membawa piring kotorku ke belakang untuk dicuci.

Peristiwa itu terus aku ingat, bahkan sampai ibu pulangpun, aku masih melamunkan kejadian tadi. Dan esoknya, aku bahkan ingin cepat-cepat pulang, walau aku tahu mbak Yeti masih bekerja. Jantungku berdegup kencang ketika jam menunjukan sekitar pukul dua siang. Aku terus melihat ke jendela, bahkan ketika sosok mbak Yeti terlihat dari jauh, jantungku makin berdegup tak karuan. Ketika kudengar pintu depan dibuka, aku malah masuk ke kamarku.

“Kamu sudah makan?” tanyanya saat melintas di depan kamarku. Aku mengangguk, pura-pura membaca buku. Dia kemudian berlalu ke belakang. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku akhirnya keluar dan menunggunya di meja makan. Tak lama, dia muncul.

“Mbak nggak makan?” kataku saat kulihat dia minum dan hendak masuk kamar lagi.

”Tadi sudah makan bakso, masih kenyang.” katanya.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, jadi kubiarkan mbak Yeti masuk ke kamarnya. Aku terus duduk menunggunya keluar, saat itu, entah kenapa, kurasakan kontolku bergerak dan perlahan-lahan mulai menegang dan mengeras. Saat sudah ngaceng maksimal, pintu kamar mbak Yeti terbuka. Aku melihat ke arahnya, tersenyum.

”Lagi apa, kok masih disana?” kata mbak Yeti curiga. Dia sudah berganti pakaian, tapi masih tetap baju terusan panjang dan jilbab lebar.

“Nggak, mbak. Ini…” jawabku bingung. ”Kenapa burungku gatal terus ya, mbak?”

Mbak Yeti tersenyum, kemudian menghampiriku. Dia melotot melihat celanaku yang sedikit mumbul. Perlahan dia meraba dan senyumnya menjadi makin lebar. ”Mau kayak kemarin nggak?” katanya menggoda, aku mengangguk cepat.

”Di kamar mbak aja yuk.” dia mengajak. Aku mengangguk lagi. Segera kuikuti langkahnya. Sampai di kamar, mbak Yeti menyuruhku berbaring, aku menurut. Perlahan dia menarik celanaku dan tersenyum. ”Ih, kok sudah bangun sih?” katanya gemas.

“Nggak tahu, mbak.” jawabku malu. Aku sempat merasa kaget saat kemudian tanpa malu, mbak Yeti membuka satu persatu pakaiannya, termasuk juga jilbab putih yang ia kenakan. Kulihat payudaranya yang besar dan bulat menggantung indah di depan dadanya. Warnanya putih dan mulus sekali. Ada banyak urat-urat halus kehijauan di sekujur permukaannya. Tapi yang membuatku tak berkedip adalah tonjolan puting di puncaknya yang berwarna merah kecoklatan. Benda itu tampak mungil dan menggemaskan sekali.

Kemudian kualihkan pandanganku ke kumpulan rambut hitam di bawah pusarnya. Terlihat cukup lebat dan panjang. Sepasang pahanya juga tampak mulus menggiurkan. Ditambah bulatan bokong yang padat dan mengkal, jadilah dia sangat sempurna sekali di mataku. Mbak Yeti kemudian berbaring di sampingku.

”Ayo naik, tempelin tititmu di itunya mbak.” bisiknya di telingaku. Aku pun naik ke atas tubuhnya. Kutindih dia dan kupeluk erat. Mbak Yeti membalas dengan merangkul tubuh kurusku tak kalah erat. Jantungku bergejolak saat kontolku perlahan menempel di depan liang vaginanya. Mbak Yeti sudah membuka kakinya sekarang hingga aku bisa melakukannya dengan mudah. Kudiamkan sebentar, kubiarkan alat kelamin kami saling menempel dan menyapa. Saat itu mbak Yeti menekan-nekan payudaranya di dadaku, memintaku untuk memegang dan meremasnya.

”Kontolmu gede ya?” bisiknya saat tanganku mulai meraba dan mengelusnya pelan. Kurasakan betapa empuk dan halus permukaannya. Putingnya yang terasa mengganjal di sela-sela jariku, kujepit dan kupilin-pilin ringan. Mbak Yeti tersenyum melihatnya.

”Mbak, masukin ya?” kataku sambil mengecup pipinya. Dia menganguk dan kemudian meraba kontolku. Dengan bantuan tangannya, perlahan kontolku mulai masuk ke ruang hangat dan sempit yang sejak tadi aku inginkan.

”Nah, gerakin naik-turun.” katanya saat batangku sudah terbenam total di dalam lubang memeknya. Aku menurut, sambil terus meremas-remas bulatan payudaranya, perlahan aku mulai menggerakkan pantatku, mengikuti arahan tangannya yang ada di pinggangku. Rasa nikmat menjalar di seluruh tubuhku saat alat kelamin kami saling bertemu dan bergesekan. Ironisnya, nikmat itu kudapatkan dari wanita yang seharusnya menjadi milik kakakku.

Di atas ranjangnya, kudapati kenikmatan yang luar biasa saat kontolku mulai bergerak cepat di atas memek tembem mbak Yeti. Nikmat yang selalu terbayang di kepalaku ketika aku melihat tubuh mulusnya sehabis mandi. Mbak Yeti pun seakan tak mau hanya pasrah menerima sodokan-sodokanku, perlahan mulutnya mulai menghisap tetekku, memberi kenikmatan lain yang menjadikanku semakin tak peduli bahwa aku telah merasakan kenikmatan terlarang dari seorang wanita yang bukan milikku.

”Mbak, enak, mbak!” kataku lirih.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (6)

”Masukin yang dalem!” sahutnya parau. Dan saat aku melakukannya, ”oh… ya, begitu! Terus, ohh… terus!” mbak Yeti makin mendesah keenakan.

”Begini ya, mbak?” kataku sambil mencium bibirnya dan melumatnya pelan.

“Iya, kontolmu enak! Terus, ohh…” kata mbak Yeti gelagapan.

”Mbak, ohh… mbak, ahh… ahh…” akhirnya aku tak kuasa menahan desakan air maniku. Sambil menekan batang penisku dalam-dalam, kubiarkan cairan putih lengket itu keluar di lubang kemaluan kakak iparku. Setelah satu menit, perlahan aku terkulai di atas tubuh mulus mbak Yeti.

”Mbak, enak, mbak.” bisikku pelan.

”Mau lagi?” sahutnya nakal.

”Istirahat dulu, mbak.” kataku sambil mencabut penis. Kuperhatikan lelehan spermaku yang merembes keluar dari celah vagina mbak Yeti. Dia mengelapnya dengan tisu yang ada di atas meja.

”Ambilkan mbak minum ya? Haus nih.” dia meminta.

Setelah meremas-remas payudaranya sebentar, aku pun keluar menuju dapur. Tubuhku tetap telanjang. Kubawakan mbak Yeti segelas air dingin. Dia hanya tersenyum-senyum saat menerimanya. Setelah menghabiskan isi gelasnya, dia menghampiriku di tepi ranjang. ”Bentar lagi ibu pulang.” bisiknya penuh arti.

“Iya, mbak, gimana nih?” kataku. ”Aku kan masih pingin,”

Mbak Yeti mengelus-elus penisku sebentar sebelum akhirnya bangkit dan mengunci pintu depan, dengan harapan saat ibu pulang nanti tidak langsung bisa masuk. Kami sepakat main lagi di kamarku. Segera, beriringan kami berpindah kamar. Tubuh kami masih sama-sama telanjang. Saat sampai di kamarku, mbak Yeti menyuruhku duduk di kasur, sedang dia jongkok di lantai di depanku. Mbak Yeti langsung mengulum dan menghisap batang kontolku. Kurasakan nikmat yang luar biasa saat dia melakukan itu.

”Mbak, cepet, masukin sekarang. Nanti keburu ibu pulang.” kataku tak kuasa.

“Sabar dong,” katanya genit.

Hari itu, akhirnya dua kali aku mengenjot tubuh sintal mbak Yeti. Dan itu bukanlah terakhir kalinya. Karena setelah itu, kami sering mengulanginya lagi. Bahkan diawal-awal bersetubuh dengan mbak Yeti, hampir tiap hari aku berusaha menggaulinya. Mbak Yeti pun menerimanya dengan suka cita. Ketidakhadiran kakakku menjadi hal yang tidak mengganggunya lagi, karena kini dia bisa mendapatkan kenikmatan yang sama dari saudaranya, yaitu aku.

Perlahan aku pun dapat mengerti kenapa kakakku sangat suka main perempuan, ternyata kenikmatan ragawi memang telah membelenggu kakakku, dan sepertinya telah membelengguku pula. Saat itu, usiaku belum genap 15 tahun, tapi aku sudah merasakan kenikmatan seorang wanita.

Hubungan terlarang kami berlangsung cukup lama, sekitar dua tahun, sebelum akhirnya kakakku memutuskan bercerai dengan mbak Yeti. Meski mbak Yeti memberiku kebebasan untuk menemuinya, tapi aku tak berani, takut dicurigai. Untungnya, aku bertemu dengan wanita-wanita yang nakal bahkan kesepian. Selain mencari kenikmatan dari teman wanita di sekolahku, sesekali akupun mencari kenikmatan dari tante-tante kesepian yang kebetulan aku jumpai. Dan kamu tahu, aku lebih suka yang berjilbab, ada kebanggaan tersendiri kalau bisa membawa mereka ke tempat tidur.

LASMI 2

Setelah kejadian kemarin, aku dua hari tidak ketemu mbak Lasmi karena aku sibuk kuliah, tetapi konsentrasiku kacau, pikiranku selalu ke mbak Lasmi. Kelihatannya rumahnya kosong, dengar-dengar mbak Lasmi ada acara ke Jogja ketemu saudara mas Slamet yang kebetulan bekerja di kejaksaan untuk memperlancar kebebasan mas Slamet.

Ketika nongkrong di kampus lihat cewek, aku jadi lebih memperhatikan cewek yang lebih gemuk, seolah-olah melihat mbak Lasmi yang telanjang. Aku jadi tidak kerasan di kampus. Akhirnya aku pulang, berharap ketemu mbak Lasmi. Tapi sampai rumah, aku terus tidur karena kulihat rumah mbak Lasmi masih sepi. Jam 4 sore aku bangun dan kelihatannya ada orang berbincang-bincang di kamar tamu. Karena kamarku letaknya di depan dan harus melewati ruang tamu, aku keluar dan sempat aku kaget karena disitu ada mbak Lasmi sama ibu sedang ngobrol. Aku agak canggung ketika lewat di situ, tapi mbak Lasmi menyadari itu sehingga berusaha mencairkan suasana.

jilbab toket besar (1)

“Baru bangun, Riz, kelihatan kok kusut banget?” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak. Habis kuliah langsung tidur.“ jawabku.

“Si Fariz kerjanya tidur sama main, dan dua hari ini kurang semangat.” kata ibuku. “Sana mandi, trus antar mbak Lasmi daripada kamu bengong aja di rumah.“ sambung ibu.

“Iya, bu… “ jawabku kaya ada semangat baru.

“Tapi kamu ada tugas kuliah tidak, Riz?” kata mbak Lasmi.

“Tidak, mbak. Aku siap nanti, yang penting ada bonusnya kaya kemarin.” kataku keceplosan.

Mbak Lasmi kelihatan kaget dengan jawabanku.

“Kamu kasih apa, mbak? Jangan dikasih yang kira-kira memberatkanmu lho, mbak, kamu kan lagi banyak kebutuhan.” kata ibu.

“Paling makan aja kok,” jawab mbak Lasmi agak tenang.

Akhirnya aku tinggalkan mereka berdua yang masih asyik ngobrol untuk mandi. Pada waktu mandi, terbayang mbak Lasmi yang telanjang memandikan dan mengelus tubuhku, membuatku horny dan aku tuntaskan di kamar mandi dengan tanganku, sambil aku bicara sendiri pada kontolku. “Nanti malam kamu dapat belaian tangan dan mulut yang lebih halus, dijepit tetek, kejepit memek mbak Lasmi.”

Selesai mandi, aku lihat kamar tamu sudah sepi, mungkin mbak Lasmi sudah pulang. Aku masuk kamar dan berganti baju. Setelah itu keluar dan ambil motor, kelihatan mbak Lasmi berjalan ke rumah, disitu ada ibuku.

“Semoga lancar urusannya ya, mbak.“ kata ibu pada mbak Lasmi.

“Doakan saja, mbakyu.” jawab mbak Lasmi.

“Hati-hati ya, Riz, jangan ngebut. Kalau sudah selesai langsung pulang, tidak usah minta jajan ke mbak Lasmi.” pesen ibu kepadaku.

“Siap laksanakan perintah, Komandan.” jawabku bercanda.

Akhirnya kami berangkat. Mbak Lasmi membonceng aku dengan sopan, masih ada jarak di antara kita. Setelah sampai jalan besar, aku ngomong: “Pegangan, mbak, aku mau cepet nih.”

“Malu, Riz, nanti dikira aku tante girang… bawa brondong.” canda mbak Lasmi, tapi tetap melingkarkan tangannya di pinggangku sehingga teteknya yang besar menempel mantap di punggungku.

“Kalau ngak pegangan malah nanti dikira aku tukang ojek, mbak.” jawabku.

“Mosok cowok ganteng dikira ojek, kalau gigolo mungkin, haha..” kata mbak Lasmi.

“Kalau gigolo sama tante girang kan pasangan,” jawabku.

“Tadi dipesen ibu nggak boleh kenceng-kenceng gitu… kita nyantai aja, toh jam besuk masih lama. Kamu kan bukan pengin kenceng, tapi pengin tetekku yang kenceng nempel kan? Hahaha…“ canda mbak Lasmi.

“Tapi kok nular ke bawah ya? Kontolku jadi ikut kenceng.” candaku.

“Masak… kok bisa ya?” kata mbak Lasmi sambil memegang kontolku dari luar celana.

Dalam perjalanan, kami selalu bercanda. Mungkin orang menganggap kami adalah sepasang kekasih yang berpacaran. Tak terasa kami sudah sampai di pintu masuk Polresta. Setelah lapor sana-sini, akhirnya kita dipertemukan di ruangan paling pojok tanpa pengamanan karena bukan merupakan tindak kriminal sehingga lebih bebas. Ketika aku ketemu mas Slamet, ada perasaan bersalah di hatiku. Mbak Lasmi langsung memeluk mas Slamet sambil sama-sama meneteskan air mata. Aku tak kuasa melihatnya, akhirnya aku tinggalkan mereka berdua ke luar ruangan. Aku ngasih kesempatan mereka untuk berbicara.

Setelah beberapa saat, aku kembali ke ruangan. Tapi aku terhenti karena dari kejauhan yang kebetulan agak gelap, kulihat mereka tidak lagi berbicara, tapi saling berciuman kaya mau bercinta. Aku urungkan niatku untuk masuk, memberi kesempatan bagi mereka sambil aku menjaga setuasi kalau ada penjaga yang akan masuk. Aku nikmati permainan live show dengan lebih mendekat sehingga suara mereka terdengar tanpa perlu ngintip, karena kebetulan ada lubang yang kemungkinan bekas loket yang ditutup tidak sempurna, masih ada celah yang cukup lebar. Jarak aku dan mereka hanya beberapa meter saja sehingga suara mereka terdengar cukup jelas.

Kelihatan mereka mulai horny, mas Slamet tangannya mulai masuk di blus mbak Lasmi. “Ma, aku pingin ngentot.“ minta mas Slamet penuh nafsu.

“Tapi, Pa… apa mungkin? Nanti ketahuan, malah repot.” jawab mbak Lasmi menahan nafsu juga.

“Tidak masalah, kita kan dikasih waktu seperempat jam, ayo… Ma!” bujuk mas Slamet sambil menciumi mbak Lasmi.

“Tapi cepet aja ya, Pa… aku kurang tenang.” kata mbak Lasmi.

“Iya, yang penting ini masuk aja.” kata mas Slamet sambil menurunkan celana dan menunjuk kontolnya yang sudah tegang.

“Kalau polisi atau Fariz tahu, gimana, Pa? Nanti papa dihajar.” kata mbak Lasmi kurang tenang.

“Ya… kalau mereka tahu, paling mereka ikut ngentot mama. Hahaha…” kata mas Slamet bercanda mesum.

“Memangnya papa ikhlas kalau mama dientot orang lain?” kata mbak Lasmi mulai terbawa suasana.

“Ya gimana mama aja, yang penting saat ini pejuhku bisa muncrat.“ kata mas Slamet.

Mereka mulai bercinta meskipun kelihatan mbak Lasmi kurang tenang. Mulut mereka masih saling lumat. Mas Slamet kelihatan kurang sabar, tangannya langsung masuk di blus mbak Lasmi dan menaikkan blus tersebut sehingga tetek mbak Lasmi yang masih tertutup bra, yang bikin aku pusing kemarin, terlihat.

“Sebentar, Pa.“ kata mbak Lasmi sambil melepas branya, meloncatlah tetek yang super mantap itu. Entah gimana caranya, tahu-tahu bra sudah di tangan mbak lasmi dan dimasukkan ke tasnya.

Mas Slamet dengan rakus memainkan tetek itu dengan tangan dan mulut serta lidahnya. “Kangen ya, Pa, sama tetekku?“ kata mbak Lasmi. Mas Slamet hanya mengangguk, tetap menikmati tetek istrinya seperti anak kecil dapat mainan baru.

“Sudah, Pa. Pingin yang lain tidak?” kata mbak Lasmi sambil berdiri dan menurunkan celana dalamnya sampai di bawah dengkul. Terpampanglah memek yang tembem dan rimbun seperti gunung Lawu.

jilbab toket besar (2)

“Ma, kok rimbun banget ya? Papa pingin besok di rumah, mama gunduli itu jembut… untuk syukuran kebebasanku, papa akan gunduli juga kontolku.” kata mas Slamet sambil mengamati memek mbak Lasmi dan terus menjilatnya.

Mbak Lasmi kelihatan sudah enjoy menikmati kelakuan sang suami, mulai terdengar erangannya yang tertahan. ”Eghmm… Pah!”

Aku yang menyaksikan tidak kuat, aku benar-benar horny. Tapi mau bagaimana? Aku berpikir pingin masuk dan langsung ikut ngentot, tapi aku tidak berani.

Mbak Lasmi sekarang duduk di kursi dengan posisi tetek dan memek terpampang bebas. Mas Slamet sudah tidak tahan mau ngentot wanita itu. “Sebentar, Pa.“ kata mbak Lasmi sambil melumat kontol mas Slamet, membasahinya agar nanti lancar saat dimasukkan ke dalam memek.

“Ma, aku sudah tak tahan, mau keluar di memek mama!“ jerit mas Slamet tertahan.

Karena posisi kurang nyaman, akhirnya mbak Lasmi telentang di lantai. Aku berpikir, kalau sudah nafsu, dimanapun jadi. Kaki mbak Lasmi dikangkangkan sehingga memeknya yang tembem menjedol minta ditusuk. Mas Slamet memegang kaki mbak Lasmi karena kurang leluasa, akhirnya celananya ia lepas. Aku khawatir juga kalau ada penjaga yang datang, mereka tidak bisa cepat memakai, tapi aku tetap menikmati tontonan ini. Mas Slamet menciumi muka mbak Lasmi yang masih tertutup jilbab, tangannya menopang tubuhnya dan salah satunya memainkan tetek mbak Lasmi secara bergantian.

“Mas, ayo entot aku. Memekku pengin ditusuk,“ pinta mbak Lasmi parau.

Tanpa disuruh dua kali, mas Slamet langsung mengarahkan kontolnya ke memek mbak Lasmi. Dengan sekali hentakan, kontol itu tertelan masuk ke dalam. Ternyata mudah ya ngentot itu, pikirku. Mereka saling menggoyang maju mundur dengan cepat dan penuh nafsu, tanpa henti, kira-kira beberapa menit. Lalu kemudian…

“Ma, aku mau keluar.” kata mas Slamet ngos-ngosan.

“Iya, Pa, aku juga. Memekku siap menerima semprotanmu.” sahut mbak Lasmi.

Mereka kembali berpacu sambil terengah-engah. Akhirnya, dengan sedikit teriakan yang tertahan, mereka mengejang dan kelihatan mas Slamet menekan kontolnya semakin dalam, seolah-olah tidak pengin lepas. Demikian juga mbak Lasmi, mereka kelihatannya sudah orgasme berbarengan, terlihat mereka langsung terkapar lemas. Menyadari waktu yang tidak banyak tersisa, mereka mulai bangun dan berpakaian.

“Terima kasih, Ma… sekarang papa puas.” kata mas Slamet sambil meremas-remas tetek mbak Lasmi yang menggelantung indah.

“Sama-sama, Pa. Memek mama juga sudah tidak gatel karena sudah ditusuk.” canda mbak Lasmi.

Setelah itu mbak Lasmi melepas CD-nya untuk digunakan mengelap memeknya dan kontol mas Slamet karena memang cairan kenikmatan mereka keluar sangat banyak. Mbak Lasmi merapikan kembali baju panjangnya, sementara mas Slamet menaikkan kembali celananya. CD mbak Lasmi yang kotor oleh cairan, dimasukkan ke dalam tas bercampur dengan bra.

“Tidak dipakai, Ma?” tanya mas Slamet.

“Nanti lengket kotor, Pa. Kan juga nggak kelihatan, baju mama panjang dan lebar.” kata mbak Lasmi.

“Iya, benar sih. Tapi nanti kan mama bonceng Fariz, nanti dia tahu kamu tidak pakai bra, apa tidak malu?” kata mas Slamet.

“Nggak masalah, Pa. Ya kalau Fariz merasa, anggap aja sedekah karena dia sudah nolongin kita selama ini, hahaha…” canda mbak Lasmi.

Aku menahan nafsu mendengarnya, tapi apa daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Supaya tidak ketahuan, aku segera menjauh dari situ sambil pura-pura melihat poster di dinding. Saat mbak Lasmi keluar mencariku, aku segera mendekat sambil menyapanya, ”Ada apa, mbak?”

“Yuk, kita pulang dulu.” kata mbak Lasmi.

Aku mengikuti masuk ke ruang tersebut, terbayang mbak Lasmi tanpa bra dan celana dalam, kelihatan semakin cantik. Kelihatan mas Slamet sudah rapi meskipun kelihatan mereka agak kelelahan. Dan setelah itu kita pamit. “Mas, aku pulang dulu ya?” kataku.

“Makasih ya, Riz, kamu telah membantu mbakmu. Aku tidak bisa membalasnya,” kata mas Slamet.

“Sama-sama, mas, kan aku saudara sendiri.“ kataku berusaha sok tulus.

“Tapi jangan sampai ganggu kuliahmu lho. Kalau perlu atau pingin apa-apa, minta aja sama mbakmu.” kata mas Slamet.

“Iya, mas.“ jawabku singkat untuk memberi kesempatan mereka bicara.

“Pa, aku pulang dulu ya? Yang sabar disini,” kata mbak Lasmi.

“Iya, Ma. Kamu juga hati-hati di rumah, kalau perlu bantuan, ngomong sama Fariz saja. Tapi kalau dia perlu atau pingin apa, kamu usahakan.” pesen mas Slamet.

Akhirnya kita keluar dari Polresta, kita diam pada pikiran masing-masing. Mbak Lasmi bonceng tetap melingkarkan tangannya di pinggangku sehingga otomatis teteknya yang tidak pakai bra menempel ketat di punggungku. Terasa sangat empuk, beda dari waktu berangkat tadi. Mbak Lasmi tidak menyadari atau sengaja, aku tidak tahu. Di perjalanan, aku lebih berkonsentrasi pada rasa di punggungku yang hangat-hangat kenyal daripada jalanan di depan yang sepi dan lengang.

Akhirnya mbak Lasmi ngomong, “Riz, kita makan dulu yuk?”

“Nggak usah, mbak. Aku kalau sama mbak kenyang terus, haha…” candaku.

“Kok bisa, Riz?” tanya mbak Lasmi heran.

“Maaf, mbak. Kan aku minum susu terus meskipun cuma punggungku.” jawabku semakin kurang ajar.

Mbak Lasmi tertawa. ”Kamu bisa aja,”

“Mbak, kok rasanya beda ya dari waktu berangkat tadi, lebih empuk?” tanyaku.

“Haha… kamu ngerasa to, Ris?” jawab mbak Lasmi agak malu-malu.

“Ya pasti to, mbak. Aku kan punya kulit yang bisa merasakan. Kok empuk, mbak, apa mbak kedinginan?” tanyaku sok bloon.

“Maaf, Riz, sebenarnya aku malu ngomong ini. Mbak sekarang tidak pakai bra, tadi mas Slamet minta netek. Daripada repot, ya mbak lepas aja, sekarang belum sempat makai. Apa berhenti dulu di pom bensin? mbak pakai dulu kalau kamu tidak nyaman,” cerocos mbak Lasmi.

“Jangan, mbak, begini malah lebih nikmat.” kataku semakin berani.

“Haha… kamu bisa aja, Riz. Atau jangan-jangan, kamu pingin netek juga ya?” tanya mbak Lasmi memancing.

“Nggak kok, mbak, nggak pingin. Tapi… puingin buanget!” jawabku penuh harap.

“Hush, jangan ngawur. Kamu kenyang apa kentang?“ kata mbak Lasmi sambil mengelus kontolku.

Aku semakin berani, “Aku pingin ini.“ kataku sambil tanganku memegang memeknya dari luar gamis karena terbawa nafsu.

jilbab toket besar (3)

Tapi ini jadi fatal, karena mbak Lasmi langsung memukul sambil berkata agak keras. “Kurang ajar kamu, Riz, kamu anggap aku ini apa?!”

“M-maaf, mbak… maaf. Saya tidak bermaksud begitu.” kataku penuh melas.

“Iya.” jawab mbak Lasmi ketus.

Aku merasa bersalah. Selama perjalanan, kita diam. Akhirnya sampai depan rumahnya, aku turunkan mbak Lasmi.

“Maafkan kelancanganku tadi, mbak. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” kataku pelan.

“Iya.” jawab mbak Lasmi tanpa melihatku, kelihatan begitu kecewa.

Aku berpikir, haruskah berakhir seperti ini? Tidak, harus dilanjutkan…

***

HADIAH YANG SEBENARNYA

Kumasukan motor ke rumah. Di kamar, aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan mbak Lasmi yang sedang marah. Aku kecewa merasakan kelancangan dan kegagalanku saat ini. Akhirnya aku berpikir harus menyelesaikan malam ini juga. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah mbak Lasmi. Berani nggak, berani nggak? Mengapa nggak berani, aku kan seorang lelaki. Entah apa yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah lewat tempat biasa: jendela.

Aku mendatangi rumah mbak Lasmi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Mbak Lasmi, aku Fariz.” kataku lirih.

Terdengar gemerisik suara orang berjalan, lalu sepi. Mungkin mbak Lasmi masih belum tidur dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Fariz, mbak.” kataku lagi.

Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat samping!” kata mbak Lasmi.

Aku segera menuju ke samping, ke pintu ruang keluarga. Pintu terbuka, aku masuk, pintu lalu kututup kembali. Malam itu, mbak Lasmi mengenakan daster di atas dengkul warna merah yang kontras dengan kulitnya yang putih dan bersih dengan seutas tali yang dikaitkan di leher sehingga teteknya yang montok kelihatan menantang, mungkin ini baju tidur kesukaannya. Jilbabnya sudah ia lepas, rambutnya yang lurus sebahu tergerai indah membingkai wajah cantiknya. Ada bau harum sabun mandi, kelihatannya mbak Lasmi baru mandi, maklum tadi sore habis dipakai mas Slamet. Aku langsung terangsang, pingin memperkosanya, tapi aku sadar aku kesini untuk minta maaf, bukan buat masalah lagi. Aku duduk di ruang santai tempat pertunjukan kemarin, aku tidak berani melihat, hanya berani melirik mbak Lasmi, kita berdua diam tanpa kata. Akhirnya kuberanikan bicara.

“Mbak, maafkan aku atas kekurangajaranku tadi.” kataku penuh harap.

“Iya, Riz. Mbak juga salah telah membuat kamu kecewa, kamu kan yang paling perhatian kepadaku.” kata mbak Lasmi.

”Iya, mbak.” aku mengangguk, sedikit lega dengan jawabannya.

“Aku salut sama kamu, memang lelaki harus berani bertanggung jawab.” sambung mbak Lasmi.

Aku tambah lega, tidak ada jarak lagi diantara kita.

“Riz, kamu kesini mau apa?” tanya mbak Lasmi.

“Hanya pingin minta maaf, mbak.” jawabku mantap.

“Iya, sudah mbak maafkan dari tadi, Riz… kamu pingin minta apa, tadi mas Slamet kan sudah pesan kalau perlu apa-apa ngomong langsung aja sama mbak.” tanya mbak Lasmi dengan suara parau, terlihat ada sesuatu yang ditahan.

“Iya, mbak, makasih banget. Aku kesini tidak pingin apa-apa, aku sudah lega kalau mbak maafin aku. Kalau begitu aku pulang dulu, mbak.“ kataku sambil berdiri.

Mbak Lasmi ikut berdiri, kami lalu bersalaman. Aku berjalan ke pintu, mau membukanya, saat tiba-tiba… “Riz, sebentar…” panggil mbak Lasmi dengan suara tertahan.

Aku langsung membalik tubuhku, menghadap ke arahnya yang berdiri agak ragu. “Iya, mbak?” jawabku penuh tanda tanya.

“Aku percaya ada yang kamu inginkan, tapi tidak berani berucap.” kata mbak Lasmi, aku hanya diam kaya patung.

“Kamu mau ini, Riz… hadiah untukmu.” lanjut mbak Lasmi. Aku tetap diam tak berkedip saat melihat tangan mbak Lasmi melingkar ke belakang leher sehingga teteknya yang montok makin kelihatan menantang. Dengan sedikit tarikan, ia melepas tali daster dan membiarkan kain berwarna merah itu meluncur ke bawah. Aku kaget dan terpana karena mbak Lasmi langsung bugil total, ternyata dari tadi dia tidak pakai daleman. Kuperhatikan tubuh indahnya dari atas sampai bawah, teteknya yang montok langsung terekspos dengan jelas, sangat menantang untuk dijamah. Dan astaga! memeknya yang tembem sekarang jadi gundul. Kemana gerangan jembut lebat yang kulihat tadi siang?

Aku masih terpana, tidak mampu bergerak. Yang bisa bereaksi cuma kontolku, benda itu mulai berontak dan menegang saat melihat pemandangan indah itu. Tapi aku tidak berani berbuat apapun. Mbak Lasmi berjalan mendekatiku, teteknya yang montok bergoyang-goyang saat ia melangkahkan kaki. Aku hanya mematung saat mbak Lasmi mengambil inisiatif dengan langsung menarik kaosku ke atas hingga terlepas. Ia kemudian jongkok dan menarik turun kolor dan CD-ku. Aku sedikit mengangkat kakiku, memudahkan mbak Lasmi melepasnya. Ia melempar celanaku entah kemana. Kontolku yang sudah ngaceng berat langsung meloncat dan berdiri tegak bagai tongkat. Berdua, di ruang tengah rumah mbak Lasmi, kami sama-sama bugil sekarang.

Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Aku nggak tahan lagi, segera kupeluk tubuh montok mbak Lasmi erat-erat. Kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya, dengan lembut dan mesra, tapi penuh nafsu. Mbak Lasmi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Maaf, mbak, aku pingin banget kaya kemarin.” bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora.

“Riz, akan aku kasih yang lebih dari kemarin. Jamahlah tubuh mbak sesukamu, mana yang kamu mau, tubuh mbak semua untukmu!” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak. Tapi ajari aku ya, karena ini baru pertama.” kataku memohon.

“Kamu memang anak baik, Riz. Jangan terburu-buru, ikuti naluri saja.” terang mbak Lasmi. Aku ditariknya ke tempat tidur. Mbak Lasmi kemudian membaringkan dirinya. Aku langsung menubruknya.

“Riz, jangan terburu-buru. Nodai dulu bibirku.“ kata mbak Lasmi sambil menyorongkan mulutnya. Aku menyambutnya. Bibirnya terasa hangat dan lembut. Aku yang baru pertama berciuman, dengan kasar melakukannya, asal sedot dan lumat saja. Mbak Lasmi dengan santai mengajariku, aku mengikutinya. Hingga beberapa menit kemudian, kita bisa saling lumat dan hisap dengan lebih nikmat.

“Enak, Riz?” kata mbak Lasmi dengan sedikit senyum. Aku hanya bisa mengangguk. Dia kemudian mendorong tubuhku ke atas. “Ini yang menempel di punggungmu tadi, Riz. Nikmatilah, jangan bengong aja.” kata mbak Lasmi sambil menyorongkan teteknya yang besar dan bulat.

jilbab toket besar (4)

Aku tidak tahan lagi, segera kujamah buah dada yang kenyal dan empuk itu. Ukurannya benar-benar besar, sampai tanganku tidak muat menangkup semuanya. Aduh! terasa nikmat sekali. Kuelus bulatan daging itu dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Putingnya terlihat memerah dan menggemaskan. Kuciumi, kukulum, kubenamkan wajahku di kedua bulatan mungil itu, sampai aku tidak bisa bernapas. Aku mainkan buah dada mbak Lasmi sesuai naluri dan teori dari film bokep yang sering kulihat. Mbak Lasmi terlihat menikmati sambil sedikit mengarahkan kalau aku berbuat salah.

“Riz, biar wanita bisa horny kalau teteknya dimainin kayak gini,” kata mbak Lasmi, “kamu mulai dari bagian bawah dulu, jangan langsung kamu sentuh bagian putingnya.” terangnya.

Aku hanya menurut seperti anak TK yang nurut sama ibu gurunya. Mulai kujilati bagian bawah tetek mbak Lasmi yang besar, melingkar dari kanan ke kiri. Kelihatan puting mbak Lasmi tambah menjulang saat aku melakukan itu, mungkin ia benar-benar horny, mbak Lasmi terlihat menikmatinya. Tanpa diduga, aku langsung menyedot dan melumat putingnya secara bergantian. Mbak Lasmi kaget tapi tidak menolak. Dia malah berkata, ”Pinter kamu, Riz. Ughh… enak banget!”

Aku masih memainkan tetek mbak Lasmi sesukaku. Istri mas Slamet itu membiarkan dan menikmatinya sambil mengelus kepalaku penuh kasih sayang, seperti perlakuan seorang ibu pada anak bayinya yang lagi netek. Aku tidak bosan-bosannya memainkan gundukan padat itu dengan mulutku, sementara tanganku mulai merogoh memeknya. Saat kurasakan benda itu jadi licin, tak tahan aku bertanya. “Kok gundul, mbak, nggak takut banjir?” tanyaku konyol.

”Spesial untukmu, Riz. Biar bersih, biar kamu tahu gimana bentuk memek yang sebenarnya, kamu kan baru belajar.” jawab mbak Lasmi sabar.

”Iya, mbak.” kubelai dan kuusap-usap belahan tembem itu. Kutusukkan jari telunjukku ke lubangnya yang sempit, terasa sangat hangat dan basah disana.

“Riz, mbak tidak kuat lagi. Jilati memekku, Riz!” pinta mbak Lasmi sambil mendorongku ke bawah.

“Kok basah, mbak?” kataku penuh nafsu. Kupandangi bibir vaginanya yang terlihat merah mengkilat karena terlumasi cairan.

“Nikmati, Riz, mainin itilku!” kata mbak Lasmi tanpa menjawab pertanyaanku. Dia membuka kakinya makin lebar, membuat belahan memeknya makin jelas terlihat. Lorongnya yang sempit berwarna merah cerah, hampir kekuningan. Terasa berkedut-kedut ringan saat aku merabanya.

Kuikuti perintah mbak Lasmi. Segera aku jongkok dan menghisap benda itu. Mbak Lasmi mengarahkan jilatanku yang masih kasar dan asal dengan membuka bagian atas memeknya. Karena memang memeknya gundul, maka segera terpampanglah daging kecil berwarna merah sebesar biji kacang miliknya. Aku pikir, ini pasti itil yang ia maksud. Langsung kujilat dan kumainkan benda itu. Mbak Lasmi hanya bisa mendesah sambil berkata, ”Iya, begitu, Riz! Jilat terus. Sedot. Lumat itilku dengan mulutmu, Riz!”

Aku mainin terus itil itu. Terasa ada cairan yang membasahi memek mbak Lasmi dengan aroma yang khas, benar-benar menambah sensasiku. Semakin kupercepat jilatanku, semakin Mbak Lasmi tidak tahan. Hingga akhirnya ia menarik tubuhku dan kembali menciumiku bertubi-tubi. Terasa teteknya yang bulat padat mengganjal tepat di dadaku.

“Riz, masukin kontolmu. Entot aku. Tusuk memekku, Riz!” kata mbak Lasmi seperti tante girang. Dia segera menggenggam dan mengocok-ngocok pelan batang penisku, dari ujung hingga ke pangkalnya. Aduh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku jadi nggak sabar lagi.

Kaki mbak Lasmi kukangkangkan lebar-lebar, aku coba langsung memasukan penisku ke memeknya seperti mas Slamet tadi, tapi meleset terus.

“Hehe… aku percaya kamu memang baru pertama, Riz.” kata mbak Lasmi. ”Mbak akan nikmati perjakamu,” sambil tersenyum, dia membimbing penisku untuk memasuki liang memeknya yang sudah basah. Digesek-gesekannya ujung penisku di bibir memeknya, makin lama semakin terasa basah, hingga ketika kudorong pelan, sudah bisa agak sedikit masuk, meski masih tetap sulit. Memek mbak Lasmi terasa sangat sempit. Dia dengan sabar terus membimbingku.

“Pelan-pelan aja, Riz. Kontolmu besar lebih dari milik mas Slamet.” bisik mbak Lasmi gembira.

“Memek mbak sempit banget, kontolku muat nggak, mbak?” tanyaku kaya orang bego.

Mbak Lasmi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil terus membimbing kontolku memasuki lubang memeknya. Aku sendiri terus menekan dengan pelan, hingga akhirnya kontolku masuk semakin dalam, semakin dalam… sudah setengah terbenam, kutekan terus… lagi, lagi, dan lagi, dan akhirnya… tinggal sedikit lagi, lalu… penuh nafsu, blees! kutekan kontolku keras-keras hingga semuanya terbenam ke dalam memek mbak Lasmi yang tembem.

“Auw, pelan-pelan, Riz… sakit!” teriak mbak Lasmi tertahan. Aku hanya diam, membiarkan penisku tetap menancap. Terasa nikmat kurasakan, kontolku seperti dijepit sesuatu yang tidak tergambarkan; hangat, basah, geli, lengket, dan berkedut-kedut. Melenguh keenakan, kunikmati lubang memek mbak Lasmi.

“Riz, memek mbak jadi penuh banget, kontolmu mantap!” teriak mbak Lasmi.

“Ehm, memek mbak juga enak banget! Masih sakit, mbak?” tanyaku sambil memainkan puting susunya.

“Sebentar, Riz, jangan bergerak dulu. Biar kelamin kita kenalan dulu, kontolmu terlalu besar, memekku jadi kaget.” kata mbak Lasmi.

”Iya, mbak.” aku mengangguk.

Kita tetap dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, hingga kemudian mbak Lasmi berkata, ”Riz, aku siap digoyang.” bisiknya mesra.

Aku pun mulai menggerakkan pinggulku naik-turun dengan pelan seperti yang kulihat dilakukan oleh mas Slamet. Aku melakukannya dengan teratur. Aduh, nikmat sekali rasanya. Penisku rasanya dijepit erat oleh kemaluan mbak Lasmi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, makin erat memek itu mencekik kontolku. Aku terus menggerakkannya keluar-masuk, turun-naik, kadang memutar dan kutekan dalam-dalam dengan penuh nafsu, menggesek dinding kelamin mbak Lasmi hingga membuatku kami merintih keenakan.

“Aduh, Riz, Fariz… enak sekali! Yang cepat… terus, ya begitu!” bisik mbak Lasmi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi genjotanku. Suara memek mbak Lasmi makin kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Riz, aku mau muncak… terus… terus!” rintihnya.

Aku juga sudah mau keluar, ada sesuatu yang mau meledak di ujung kontolku. Aku percepat goyanganku, dan penisku merasa akan segera muncrat. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina mbak Lasmi sampai amblas, mentok seluruhnya. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat, menyembur berkali-kali di dalam vagina sempit mbak Lasmi.

Bersamaan dengan itu, mbak Lasmi mengejang. Terasa basah di ujung kontolku. Rupanya dia juga orgasme. Kami berangkulan kuat-kuat, nafas kami seakan berhenti. Saking nikmatnya, dalam beberapa detik, nyawaku seperti melayang entah kemana. Aku ambruk di atas tubuh montok mbak Lasmi untuk beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih mendera.
Setelah rasa itu hilang, barulah kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berdiam diri, mengatur napas kami masing-masing. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Terima kasih, mbak, hadiahnya. Tidak akan terlupakan,” bisikku di telinganya.

“Iya, Riz. Mbak juga puas. Mbak bisa keluar lepas, tidak seperti tadi sama mas Slamet.” kata mbak Lasmi keceplosan.

“Memangnya tadi sempat ngentot sama mas Slamet?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Eh, nggak, nggak, Riz!” kata mbak Lasmi gelagapan, mukanya merah padam, menambah kecantikannya.

“Mbak cantik deh kalau lagi bohong,” rayuku. ”Tapi mas Slamet ahli ya, mbak? Tanpa bantuan nyoblos, langsung bisa masuk.” lanjutku.

“Kamu kurang ajar ya, Riz! Berarti kamu tadi ngintip… kamu memang kurang ajar,” kata mbak Lasmi berlagak marah.

“Salah sendiri, ngentot di tempat gituan. Beralaskan lantai apa enaknya? Aku tidak ngintip, aku lihat kok.” candaku.

“Iya, Riz, aku ngaku. Habis tadi tidak tahan. Kasihan mas Slamet, mosok punya istri harus pakai tangan?” akhirnya mbak Lasmi mengakui perbuatannya. “Tapi kamu memang kurang ajar, Riz. Mosok suamiku di sel, istrinya kamu nodai!” katanya kemudian.

“Biarin, wong ini mbak juga gatel.” kataku sambil membelai memeknya.

“Kamu kebablasan, Riz.“ teriak mbak Lasmi sambil berdiri.

Aku kaget dengan responnya. Langsung aku diam, apa aku salah lagi? Mbak Lasmi bikin pusing saja. Aku masih terlentang diam, sementara dia mulai bergerak mengangkangi tubuhku. Bisa kulihat sisa-sisa spermaku masih menetes-netes di celah-celah belahan memeknya.

“Ini, kubalas kekurang-ajaranmu!” maki mbak Lasmi. Dia lalu memegang kontolku yang masih lesu, terus dijilat dan langsung ditelannya tanpa rasa jijik. Mendapat perlakuan seperti itu, kontolku langsung berdiri tegak menjulang.

“Mbak, jadi berdiri lagi, gimana ini?” rengekku pura-pura lugu.

“Dasar, kontol muda nggak ada matinya!” maki mbak Lasmi sambil menggenggamnya erat. Dia langsung naik ke atas tubuhku, memeknya berada tepat di depan kontolku. Tanpa permisi, mbak Lasmi menurunkan tubuhnya, batang kontolku langsung amblas ditelan mekinya.

“Mbak, ughh… sakit, mbak!” kataku.

“Biarin, rasakan pembalasan atas kekurang-ajaranmu!” kata mbak Lasmi sambil mulai bergoyang tak beraturan. Teteknya yang besar bergoyang ke kanan dan ke kiri kayak mau jatuh. Aku nikmati pertunjukan ini.

Mbak Lasmi seperti kesetanan. Aku rasakan meskipun badannya gemuk, kalau begini rasanya enteng. “Riz, jangan bego gitu, remas tetekku!” teriaknya gemas. Aku diam saja, mosok aku dikatakan bego?!

“Kalau kamu kurang, rasakan ini!” kata mbak Lasmi sambil menghentikan goyangannya. Terasa ada pijatan kuat yang menjepit batang kontolku, seolah-olah membetot dan menyedot spermaku. Dia melakukannya berulang-ulang hingga membuatku merintih dan menggelinjang keenakan.

“Mbak, enak banget… aku tak kuat!” teriakku tertahan. Segera kugapai gundukan payudaranya dan kuremas-remas dengan penuh nafsu.

“Gimana empot ayamku, Riz?” kata mbak Lasmi sambil tersenyum.

jilbab toket besar (5)

“Enak banget, mbak, lagi dong!” pintaku sambil memilin-milin putingnya.

Mbak Lasmi langsung mengeluarkan jurus empotannya yang bikin kontolku panas dingin tak karuan. Aku nikmati sambil merem melek dan memenceti terus tonjolan buah dadanya berulang-ulang.

“Riz, kamu kuat juga, biasanya mas Slamet kalau aku ginikan langsung nyembur.” puji mbak Lasmi.

“Darah muda, mbak.” sahutku.

“Riz, ayo goyang. Mbak udah mau nyampai, kita barengan lagi.” ajak mbak Lasmi.

Tanpa diminta lagi, aku mainkan memek mbak Lasmi. Kubalik tubuh sintalnya hingga ia sekarang berada di bawah, lalu aku hajar memeknya bertubi-tubi. Mbak Lasmi mengimbangi dengan memutar pinggulnya berlawanan arah dengan genjotan tubuhku. Kami terus melakukannya hingga akhirnya ada sesuatu yang mau mendesak keluar dari dalam batang kontolku.

“Mbak, aku mau nyampe. Siram dong kontolku!” kataku sambil balik lagi telentang, mbak Lasmi kembali berada di atas tubuhku. Dia tanpa kompromi langsung menggoyang, dan aku mengikutinya. Hingga akhirnya…

“Riz, mbak mau keluar!” teriak mbak Lasmi.

“Aku juga… barengan, mbak!” kataku menyahut. Kuikuti goyangan mbak Lasmi sambil menyodok memeknya semakin dalam saat sesuatu yang basah dan hangat menyembur keluar, mengguyur kontolku hingga terasa semakin licin dan lengket.

“Aku keluar, Riz!” teriak mbak Lasmi tertahan. Tubuh sintalnya terkejang-kejang seiring semprotan cairan dari dalam liang vaginanya.

Aku yang juga sudah di ujung orgasme, langsung membalik dan mengenjotnya tanpa ampun, dan baru berhenti saat spermaku yang kental menyembur untuk yang kedua kali di dalam memek mbak Lasmi.

Kami kembali roboh berpelukan. Karena kecapekan dan kepuasan, aku tertidur di atas tubuh montok mbak Lasmi dengan kontol tetap menancap di lubang memeknya. Setengah jam kami tidak sadar. Kami terbangun bersamaan saat merasakan kontolku menciut dan akhirnya lepas dengan sendirinya. Aku terlentang seperti tidak ada tenaga.

“Riz, mau lagi?“ tawar mbak Lasmi sambil tersenyum.

“Siap, mbak, sampai pagi pun siap!” kataku mantap.

“Uh, maunya! Sana kamu pulang, sudah jam satu. Nanti malah ketahuan ronda kampung, malah repot.” suruh mbak Lasmi sambil mengecup pipiku.

“Sekali lagi, mbak, please…” pintaku memelas.

“Besok aja mbak kasih lagi, sekarang pulanglah!” kata mbak Lasmi sambil berdiri dan keluar dari kamar.

Akhirnya aku nurut. Terlihat mbak Lasmi memunguti baju dan celanaku dan menyuruhku untuk memakainya, sementara dia masih tetap telanjang. Aku pakai bajuku dan duduk sambil istirahat melihat mbak Lasmi yang masih telanjang mengambilkan minum untukku.

“Ini, minum dulu biar kuat sampai rumah.” perintahnya sambil duduk di sebelahku, tetap telanjang.

“Rumahku kan di sebelah, mbak. Pacarku mbak Lasmi.” kataku bercanda.

“Riz, mbak minta ini jadi rahasia kita berdua.” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak…” sahutku.

“Kamu bisa minta kapan pun, asalkan pas suamiku tidak ada.” kata mbak Lasmi lagi. “Kamu boleh nikmati tubuhku, bibirku, tetekku dan memekku, semuanya untukmu… tapi ingat, jangan mencintai aku. Hatiku hanya untuk mas Slamet!” sambungnya penuh nasehat.

“Berarti ini hanya untuk nafsu saja, mbak?” tanyaku.

“Ya, begitulah. Kita sama-sama puas. Kamu bisa belajar dariku, tapi jangan sampai hal ini membuatmu gagal kuliah, mbak akan sangat kecewa.” kata mbak Lasmi.

“Ok, guruku yang binal dan bahenol.” jawabku bergurau.

“Sekarang pulang sana, brondongku. Besok tak kasih lagi jepitanku,” suruh mbak Lasmi.

“Pulang dulu ya, tante girang. Besok kusobek-sobek memekmu.” kataku sambil berdiri. Dengan berat hati, aku pergi meninggalkan mbak Lasmi. Aku masuk rumah lewat jendela dan langsung menuju kamar. Aku berusaha tidur sambil menyesali ketidak-perjakaanku. Tapi memang benar-benar enak memek tembem mbak Lasmi.

Aku bangun kesiangan dan langsung ke kampus dengan semangat akibat motivasi dari mbak Lasmi. Aku tidak mau mengecewakan orang tua dan mbak Lasmi. Selama tiga hari berikutnya, aku setiap malam ke rumah mbak Lasmi, tetapi dia selalu menanyakan tugasku sudah selesai belum. Kalau sudah selesai, baru kita mencari kepuasan. Sudah banyak cara dan gaya yang mbak Lasmi ajarkan, dan aku merasa menjadi lelaki kuat. Tapi aku tetap tidak berani macam-macam kalau mbak Lasmi tidak meminta.

Hari pertama berikutnya, tepat jam sepuluh malam, aku datang. Seperti biasa, kita ngobrol sebentar baru kemudian mulai ngentot. Tapi mbak Lasmi minta situasi gelap, jadi kita melakukannya di kamar tanpa ada cahaya sedikitpun. Malam itu, seperti biasa, dua kali kita keluar berbarengan.

Hari kedua, aku sengaja datang agak cepat, jam setengah sepuluh. Aku langsung masuk ke rumahnya, terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Kelihatannya mbak Lasmi baru mandi. Pintu kamar mandi tidak tertutup, sehingga aku dapat melihat mbak Lasmi yang sedang menggosok-gosok tubuh sintalnya dengan sabun. Aku langsung pengin mengentotnya, tapi tidak berani. Akhirnya aku ikut telanjang sambil berbicara, ”Mbak, boleh ikut mandi?”

“Hei, ngapain kamu?!” teriak mbak Lasmi kaget saat aku membuka pintu kamar mandi.

“Kalau mandi ya ditutup dong pintunya!” aku membela diri.

Mbak Lasmi tersenyum menyadari keteledorannya. “Sini, Riz, mandi sekalian.” undangnya.

Kami pun mandi bareng sambil saling usap, saling remas dan saling belai hingga akhirnya kami pun tak tahan. Dengan posisi doggy style, kuentot tubuh mulus mbak Lasmi. Dia menungging sambil berpegangan di dinding kamar mandi, sementara aku dari arah belakang menusuknya bertubi-tubi. Ternyata enak sekali, aku bisa remas tetek mbak Lasmi yang menggantung indah dan bisa kulihat wajah cantiknya lewat kaca yang cukup besar di kamar mandi, rasanya jadi tambah hot.

Malam yang dingin itu jadi panas penuh gairah oleh nafsu kami berdua. Aku dan mbak Lasmi keluar bersamaan waktu doggy style. Dan setelah itu kita mandi lagi sebelum coba posisi 69 setelah berpindah ke depan TV. Memang setelah mandi ada rasa yang lain karena memek mbak Lasmi jadi lebih harum, aku semprotkan spermaku di mulut mbak Lasmi, sementara memek mbak Lasmi banjir di mulutku. Sebelum pulang, kami lakukan posisi normal: aku di atas, mbak Lasmi di bawah, tapi terasa lebih enak. Malam itu aku sama sekali tidak melihat mbak Lasmi pakai baju. Setelah puas mengentotinya, aku pulang.

jilbab toket besar (6)

Malam ketiga merupakan malam terakhir sebelum kepulangan mas Slamet. Sengaja agak malam aku datang, sekitar jam sebelas. Mbak Lasmi kelihatan sudah menungguku. Sebelum aku sampai, dia sudah membukakan pintu. Dengan kesal mbak Lasmi berkata, ”Jadi kering nih memekku, Riz, apa sudah bosen?”

“Maaf, mbak, ada tugas kuliah yang harus kukerjakan.“ alasanku biar mbak Lasmi tidak marah.

“Ya sudah, tapi malam ini kamu harus temani mbak sampai pagi.” pintanya sambil membuka baju dan jilbabnya.

“Ok, mbak, siapa takut?” jawabku mantap.

Malam itu kita ngentot di ruang tengah, diawali dengan melihat VCD bokep koleksi mbak Lasmi, dan kita ikuti semua gaya yang dicontohkan disitu, kecuali anal, memang aku tidak suka dan mbak Lasmi juga tidak mau, terlalu jorok katanya.

Setelah selesai, mbak Lasmi berkata. ”Riz, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu.”

“Tapi, mbak, aku belum siap jadi bapak.” tanyaku agak cemas.

“Yang tahu bapaknya siapa kan hanya aku sendiri, dengan siapa aku membuat anak,” katanya sambil mencubitku.

“Mbak, malam ini terakhir bagiku ya?“ tanyaku.

“Jangan khawatir, Riz. Ingat, tubuh mbak kan milikmu, jadi memek mbak tetep kangen sama kontolmu.” jawab mbak Lasmi mesra.

“Lha mas Slamet gimana?” tanyaku lebih berharap.

“Kalau mas Slamet lagi di rumah, aku milik mas Slamet. Tapi kalau pas dia lagi jalan, memek gatelku ini bisa kamu sodok.” kata mbak Laami sambil memegang memeknya. “Kalau perlu, mbak dipakai bareng-bareng juga kuat kok.” candanya.

“Salome, mbak, satu lobang rame-rame.” balasku.

“Ya tidak begitu. Kan cuma dua; kamu mulut, mas Slamet memek, nanti gentian.“ jawab mbak Lasmi genit.

setelah itu kita ON lagi, kali ini kami melakukannya di kamar mbak Lasmi. Setelah tiga kali orgasme, sebelum pulang, aku sempatkan sodok memek mbak Lasmi sekali lagi saat dia mengantarku ke pintu. Tapi kubuat tidak sampai keluar supaya dia ketagihan. Aku semprotkan pejuh terakhir malam itu di gundukan payudaranya. Setelah itu, aku langsung buka pintu dan pergi meninggalkan mbak Lasmi yang masih menggantung sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Lanjutin pakai tangan dulu ya, mbak.” kataku.

“Kurang ajar kamu, Riz!” umpat mbak Lasmi.

Aku pun pulang dan masuk rumah lewat jendela seperti biasa. Baru juga mau tidur, tapi kok ayamnya sudah berkokok ya? Ketika kulihat jam, ternyata sudah pukul empat pagi. Pantes aja!

Hari-hari berikutnya, selama dua minggu mas Slamet berada di rumah karena masih belum boleh nyetir, masih masa pemulihan katanya. Aku jadinya blingsatan tak karuan, apalagi ketika ketemu mbak Lasmi. Kadang kulihat dia lagi bermesraan di rumah dengan mas Slamet, atau malah kadang-kadang mbak Lasmi seperti sengaja memamerkan tubuhnya yang polos ketika habis mandi waktu aku sedang main catur dengan suaminya. Mbak Lasmi mengejekku sambil menjulurkan lidahnya. Sering dia meremas-remas teteknya sendiri saat aku meliriknya, itu ia lakukan ketika mas Slamet tidak melihat atau lagi diluar rumah.

Ah, dasar. Awas, mbak, tunggu pembalasanku!

ZAHRA

Fitri adalah seorang gadis berjilbab yang manis dan enerjik. Kulitnya sawo matang tapi begitu menggoda. Bibirnya tebal dan terkesan terliaht begitu seksi, ia cerewet suaranya lantang ketika berbicara. Kali ini akan kuceritakan pengalamanku bersama Fitri yang begitu menggemaskan.
jilbab bahenol (1)
Sore itu sehabis perkuliahan berakhir aku langsung pulang ke kostan. Kostanku adalah sebuah rumah yang diisi oleh beberapa orang lelaki. Sore hari biasanya banyak orang yang berkunjung ke kostanku entah itu mahasiswa/i aku sih senang karena kostan tidak pernah sepi. Cuaca sore itu terlihat tidak begitu baik, awan gelap menyelimuti bumi. Padahal waktu masih menunjuka pukul 05.00 sore. Sesampainya di kostan aku langsung menuju kamarku, aku kira tidak ada siapa-siapa didalam. Ternyata da Fitri yang sedang terdiam di ruang tengah. Fitri tersenyum ke arahku sambil bertanya sesuatu
“Baru pulang kuliah ya? Aku langsung menjawab ia tanpa menunggu lama aku langsung bertanya kembali kepadanya “Kamu sendiri lagi apa disini?” Fitri menjawab “Lagi nunggu temen tapi belum datang juga”
Aku langsung melanjutkan obrolan bersama Fitri tanpa terasa hari semakin sore, namun belum ada seorangpun yang datang. Fitri tidak sedikitpun menunjukan kekhawatiran akan sore yang menjelang malam. Sore itu Fitri begitu cantik dengan balutan busana putih dan rok coklat ditambah balutan kerudung biru yang ia kenakan. Badanku terasa dipenuhi oleh keringat cuaca memang tidak panas. Tapi ingin rasanya aku mandi dan membersihkan diri supaya teras segar. Fitri mencuri curi pandang ke arahku aku hanya bisa tersenyum kepadanya. Ia bertanya, kamu ga mandi? Ini udah sore lo, mendengar itu aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi wajah cantik Fitri langsung terbayang olehku. Ingin rasanya mencium bibirnya yang tebal, kemudian meremas buah dadanya yang kenyal. Secara spontan penisku berdiri tegak. Penisku berukuran besar dengan panjang 17cm, apa jadinya kalau penisku diemut oleh Fitri.
Selesai mandi bedanku teras segar. Aku masih melihat Fitri di ruang tengah, aku kira dia sudah pergi. Aku masih belum berpakaian tubuhku memang athletis dengan perut sick pack karena aku rajin berolahraga. Dengan dililit sebuah handuk biru aku menuju kamarku. Penisku masih saja tegang, padahal tidak ada pancingan. Aku berfikir kenapa aku tidak mendekati Ffitri dalam keadaan seperti ini. Aku langsung menuju ke ruang tengah untuk bertemu dengan Fitri dalam keadaan badan dililit oleh handuk. Dri kejauhan Fitri melihatku, sepertinya ia agak kaget melihatku dalam keadaan telanjang setengah badan. Namun ia mencoba menyembunyikan rasa malunya.
jilbab bahenol (2)
“Udah mandinya?” Fitri bertanya kepadaku aku menjawab “Udah dong kan kamu yang nyuruh aku buat mandi. Kamu sendiri kenapa belum mandi” Fitri menjawab “nanti pas udah sampe kostan baru aku mandi” Ketika dekat dengan Fitri penisku semakin tegang, sehingga terlihat menonjol keluar dari balik handukku. Obrolan berlanjut aku sejenak berdiri untuk membetulkan posisi handuk yang mulai melorot kebawah. Tanpa di sengaja handuk yang aku pakai terjatuh kebawah sehingga penisku yang sudah tegang dari tadi terlihat di hadapan muka Fitri. Ffitri menjerti kecil, ia seakan tidak percaya sedang melihat seorang cowok yang telanjang di hadapannya. Mukanya mendadak merah dan Fitri mendadak salah tingkah. Matanya ditutup tangannya sambil sedikit mengintip kearah penisku yang besar dan panjang. Handuk kembali aku pakai dan aku meminta maaf kepada Fitri atas kejadian ini. Fitri memutuskan untuk kembali ke kostan karena hari semakin malam, sebelum pulang ia berpamitan kepadaku.
Selesai berpakaian aku memikirkan kembali kejadian tadi. Apa jadinya kalau aku bertemu kembali dengan Fitri pasti malu sekali rasanya. Tiba tiba handphoneku berbunyi, aku langsung mengambilnya dan itu isinya sebuah SMS yang datang dari Zahra teman dekat Fitri. Ia bercerita tentang kejadian tadi, malu rasanya sampai Zahra juga tahu. Di akhir SMS Zahra berkata “kapan kapan aku mau dong lihat penis kamu yang gede hihihihi” Aku langsung membalasnya “Boleh asal gantian aja, aku liatin punyaku. Kamu juga liatin punyamu ke aku” Kemudian Zahra membalas lagi “Aku tunggu kamu ya di kostan nanti kita bisa sama sama liat punyaku dan punyamu” dan aku balas SMS itu “Ok deh, nanti aku main kesana tunggu aja ya” Sebagai teman dekat Fitri Zahra memang berbeda kulitnya putih, tubuhnya tinggi semampai dengan rambut yang diponi. Bibirnya tipis merah merekah dan dadanya bulat diperkirakan ukurannya 36B. Zahra kadang berkerudung dan kadang tidak. Ia sering memakai tanktop seksi dengan celana hotpant yang teramat pendek di kamar kostnya.
jilbab bahenol (3)
Tiga hari sehabis kejadian itu aku berencana untuk berkunjung ke kostan Zahra yang juga jadi tempat kostnya Fitri. Sore hari aku langsung menuju kesana dengan menggunakan motor. Suasana kost disana pada sore hari memang ramai dengan anak kost perempuan dan pedagang yang mampir kesana. Kamar Zahra terletak dipojok lantai dua. Aku berharap Fitri tidak ada disana, aku tidak memberikan kabar kepada Zahra tentang kehadiranku. Sesampainya di kostan aku langsung masuk ke kamar Zahra. Sore itu hanya ada Zahra dan Fitri tidak ada di tempat entah kemana perginya. Zahra sedikit kaget ketika mengetahui kedatanganku, sore itu ia mengenakan jilbab berwarna pink dengan pakaian ketat sehingga lekuk tubuhnya tercetak dengan indah. Sungguh menggoda. Zahra menyapaku “Hai tumben datang kesini gak bilang bilang. Pasti kamu udah gak sabar pengin ketemu aku” dalam hati aku berkata, Zahra nakal juga nih “Iya aku kangen banget sama kamu ra” ungkapku Zahra langsung mendekatiku dan mencium bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu lidahnya bermain dengan lidahku. Aku dan Zahra berciuman cukup lama betapa nikmatnya bibir Zahra yang tipis, tangan Zahra langsung menunju ke arah celanaku. Diusapnya penisku yang sudah tegang dari luar Zahra sungguh bernafsu sekali. Aku langsung membuka celanaku dan mencuatlah penisku yang besar. Kini Zahra bisa melihat langsung penisku, wajahnya menunjukan rasa kagum atas penisku yang besar dan panjang “Aku belum pernah liat penis yang ukurannya besar seperti ini” tangan zahra langsung memainkan penisku.
jilbab bahenol (7)
Zahra masih memakai pakaian lengkap dengan jilbab pink yang ia kenakan. Tanpa buang waktu aku langsung meremas dada Zahra dari luar, ia mendesah kecih achhhhh………. aku semakln bernafsu untuk meremas dada Zahra yang terasa kenyal. Zahra mendorongku ke kasur dan ia langsung berdiri dan menari tarian erotis dengan pakaian yang mash kenakan. Ia langsung melepas bajunya telihat dadanya yang besar masih tetutupi bra warna pink yang seksi. Kami kembali berciuman sambil tanganku meremas dadanya syruppp…….achhhhhh……… hanya suara itu yang terdengar. Zahra melepas bra yang ia kenakan sekarang tampahlah buah dadanya yang putih dan putingnya berwana merah muda. Aku meremas dadanya sambil menghisap putingnya terkadang aku menggigitnya Zahra terus mendesah tanpa henti, kini terasa dadanya menjadi keras pertanda libidonya tengah naik. Zahra tengah terangsang luar biasa, kaos yang aku kenakan dilepasnya. Kini aku telanjang dihadapannya. Zahra langsung menggenggam penisku yang tegang dengan erat, penisku dikulumnya teras geli namun nikmat. Zahra mengemut penisku seperti mengemut ice cream rasa coklat. Aku hanya bisa bilang “Emut terus sayang, achhgggghhhh kamu pinter banget ngemut punyaku” penisku terasa licin oleh air liur Zahra. Cewek ini pinter juga dalam hal mengemut penis. Selain mengemut Zahra juga mengocok penisku dengan agresif. Terasa nikmat tiada tara.
jilbab bahenol (6)
Tanganku bergerak ke arah rok hitamnya saatnya untuk bermain di area sensitif ini. Zahra melepas jilbanya, rambut poninya yang panjang terurai indah di hadapanku. Rok hitam Zahra telah aku lepas, aku semakin tidak sabar untuk menusuk lubang vaginanya. Dengan sigap Zahra melepas sendiri celana dalamnya. Aku langsung tersenyum dan berkata “ Aku pasti puasin kamu malam ini” Zahra tersenyum nakal sambil menarik penisku dan berkata “Janji ya, kamu bakal puasin aku malam ini” Zahra membuka pahanya lebar-lebar sehingga memudahkan aku menjilat vaginanya. Vagina Zahra begitu harus dengan bulu bulu tipis yang indah. Aku menjilat vaginanya sambil menusuk nusuk dengan jariku. Achhh…………Achhhhh…………. Zahra terus mendesah vaginanya sudah basah denagn cairah surrga miliknya. Zahra menjerit hebat pertanda ia telah orgasme pertama, cairan surganya keluar begitu deras seperti air terjun. Zahra memintaku untuk segera memasukan penisku ke vaginanya, pahanya semakin dibuka lebar dan aku langsung memasukan penisku ke lubang kenikmatan milknya. Pada awalnya terasa sulit untuk masuk, setelah berjuang akhirnya penisku bisa menembus vaginanya. “Udah masuk sayang, sekarang kamu genjot yang kuat supaya bisa muasin aku” dengan penuh semangat aku menggenjot penisku vagina Zahra terasa menjepit urat penisku dengan kuat. Nikmat sekali rasanya, ochhh……….acchhhhhhh……… penismu nikmat banget hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sesekali aku mencium bibir tipisnya sambil meremas dadanya genjotan kami berdua semakin cepat. Cepat…….. dan cepat…….. vagina Zahra semakin menjepit dengan kuat pensiku.
jilbab bahenol (5)
Suasana kostan yang tadinya rapi mendadak menjadi berantakan dan basah dengan keringat yang mengucur. Tiba tiba terbesit dalam benakku apa jadinya kalau Fitri datang dan menyaksikan permainan kami. Tapi itu hanya fikiran sesaat permainan bersama Zahra kembali dilanjutkan. Zahra menjerit dengan keras “terusin jangan pernah berhenti, ini nikmat baget” Genjotan semakin kupercepat dan penisku semakin keras achhhh…………ochhh……….yeah………… dalam penisku terasa ada cairan hangat yang menyembur Zahra kembali orgasme kedua kalinya. Sepertinya aku juga akan segera keluar, kupecepat genjotaku dan aku berkata “bentar lagi aku keluar sayang” dan akhirnya penis aku lepas dengan cepat dari lubang vagina Zahra croottt……….crotttt………….crooottttt kukeluarkan air maniku diluar dan mengarah ke wajah cantik Zahra. Wajahnya belepotan dengan cairan maniku, Zahra menjilat sisa maniku yang ada diwajahnya. Permainan dengan Zahra berakhir aku putuskan untuk beristirhat sejenak. Zahra puas akan permainanku tadi “kapan kapan kita main lagi, aku pengen dipuasin lagi sama kamu”
jilbab bahenol (4)
Aku bergegas berpakaian dan pulang kembali ke kostan. Anehnya kenapa sampai jam segini Fitri belum pulang juga. Aku jadi membayangkan Fitri andai saja aku tadi bermain dengannya pasti akan terasa beda.