ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…

ZURAIDA PART 8

“Heeyyy cint,, Ayo bangun,, kita siap-siap,,, ntar dicariin bu Sofie lhoo,,” Zuraida coba membangunkan Aryanti yang masih tertidur.

Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Aryanti yang masih agak lembab. Memandang wajah cantik sahabatnya yang terlelap. Terbersit rasa bersalah dihati Zuraida atas permainan hati yang tengah dilakoninya bersama Arga.

“Eehh,, Zuraidaa,,,”
Aryanti terbangun, kaget, dengan panik menutupi bagian atas tubuh yang terbuka dengan selimut.

“kamu sudah pulang?,,,” bangkit, lalu bersandar didinding. Tangannya berusaha menutupi beberapa tanda merah disekitar leher dan dada dengan selimut.

“Ya sudah pulanglaaah,, emang ini jam berapa,, hampir jam tujuh sayang,,, diluar sudah mulai gelap,,” jawab Zuraida sambil tersenyum melihat tingkah Aryanti yang panik. Matanya sudah terlanjur melihat tanda merah itu, dan menebak-nebak siapa yang membuat ulah, memberi tanda bibir begitu banyak ditubuh sahabatnya.

“Sayaaang,,, aku pinjam celana pendek Arga dong,,,”

Tiba-tiba Zuraida mendengar suara suaminya, Dako, dari arah kamar mandi. Reflek wanita itu menoleh. Benar saja, suaminya tampak keluar dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian, terkaget.

Zuraida diam membisu, nalarnya dengan cepat memberi isyarat tentang apa yang baru saja terjadi.

Aryanti yang mengira Dako sudah kembali kekamarnya tak kalah kaget, wajahnya seketika pucat, memandang Zuraida dengan rasa bersalah.

Seketika hening tercipta, kekakuan merambati tiga hati.

Dako dengan kikuk menutupi kemaluannya dengan tangan. Entah merasa malu pada siapa.

“Zuraidaa,,, maaf,, kami,,,”

“hahaha,,, ngga apa-apa sayang,,, kita impas koq” sela, Zuraida. Raut wajah kikuk nya berubah menjadi senyum malu-malu, tapi rona bahagia tak mampu disembunyikan wanita berjilbab itu.

Aryanti balas tersenyum, tersenyum kecut, tersenyum bersama sembilu yang menusuk jauh kedasar hati, mendengar penuturan sahabatnya yang tampak bahagia.

“Mas,, koq bengong sih, cepet sana ganti baju,,,”
celetuk Zuraida. Membuat Dako kaget, matanya celingak-celinguk mencari pakaian tapi nihil. Sambil terus menutupi selangkangannya dengan tangan, lelaki itu ngacir kearah pintu keluar, setelah yakin tidak ada orang dengan cepat berlari kekamarnya.

“Hahahaa,,, dasar Mas Dako,,,” Zuraida tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti maling ketangkap basah.

Aryanti ikut tertawa, lalu beralih mengamati wajah Zuraida yang terlihat begitu ceria, wajah bahagia yang diciptakan oleh suaminya. Meski sakit, Aryanti merasa tidak tega untuk memberangus senyum diwajah sahabatnya.

Setelah mengambil nafas panjang, perlahan tubuhnya beringsut mendekati Zuraida, memeluk sahabatnya dari samping.

“Mba,,, aku pengen ngomong sesuatu, tapi bingung harus memulai dari mana,,” ucap Aryanti, lebih sopan dengan memanggil mba kepada Zuraida, yang memang lebih tua darinya, meski usia mereka hanya terpaut tiga tahun.

“Ada apa yant?,,, ngomong aja,,,” Zuraida bingung dengan sikap sahabatnya yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Dulu,,, waktu kalian menjodohkan aku dengan Arga, aku percaya bahwa kalian memilihkan pasangan yang terbaik untukku, tapi aku tidak tau jika ada,,, emmhh,,, ada cerita yang rumit antara kalian bertiga,,,”

Zuraida kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang bertelanjang dada itu, selimut yang menutupi tubuhnya dibiarkan jatuh. Memeluk tubuhnya erat, layaknya seorang kekasih.

“Maaf Yant,,, itu hanya cerita masa lalu, tapi harus kuakui,,, eengghh,,,” bibir wanita berjilbab itu terdiam, tidak yakin dengan apa yang ingin diucap oleh bibirnya, matanya menatap baju yang berserakan dilantai, celana Dako tampak terselip diantara baju Aryanti.

“Karena aku sempat terbuai oleh kisah masa lalu itu,,,” Sesaat mata Zuraida beralih menatap wajah Aryanti melalui cermin, “Tapi,, Kau memiliki hati lelaki itu,,, sepenuhnya,, percayalah padaku,,” ucap Zuraida meyakinkan.

“Terimakasih mba,,,” Aryanti memeluk Zuraida erat, air mata perlahan menggenangi pelupuk.

“Aku percaya, Arga akan menjagamu lebih baik dari siapapun,,, kumohon,,jangan nakal lagi ya, sayang,,,”

Aryanti mengangguk, air mata tak lagi mampu dibendungnya. “Aku janji mbaak,,, aku janji,,,”

“Yant,,, kamu sakit ya?,,,” tanya Zuraida tiba-tiba. Melepas pelukan, lalu memeriksa kening Aryanti yang agak panas.

“Ngga mba,,, mungkin cuma kecapean aja koq,,, ngga usah dipikirin,, hehehe,,,” jawab Aryanti, beranjak menuju meja, mengambil cincin nikahnya yang tergeletak.

“Mau bertukar?,,, hanya untuk malam ini,,”

“Maksudmu?,,,” wanita berjilbab itu bingung hingga keningnya mengkerut, menatap lekat wajah Aryanti.

Tapi Aryanti hanya tersenyum, menarik tangan kiri Zuraida, menukarkan cincinnya dengan cincin wanita itu.

“Malam ini, kita bertukar peran, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Dako atas pertolongannya selama ini,, begitupun sebaliknya, Mas Arga jadi milik Mba,,, So,, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,,, hehehe,,, Deal?,,”

Zuraida tertawa. “Kamu ini ada-ada aja Yant,, mana bisa seperti itu,, sini balikin cincinku,,,,”

“Kenapa ngga?,,, ini hanya antara kita,” ucap Aryanti dengan wajah serius, namun perlahan wajah itu tersenyum, lalu mengerling genit. “Kita buktiin, siapa yang paling jago diantara kita,, jangan marah kalo nanti Dako sering menyebut namaku waktu kalian bercinta,,,” sambungnya sambil memeletkan lidah.

Zuraida ikut tertawa mendengar ajakan nakal. Tapi wanita yang terlihat cantik dalam balutan jilbab itu tau, permintaan Aryanti yang ingin mengucap terimakasih kepada suaminya hanya alasan yang dibuat-buat.

Sahabatnya itu ingin memberinya kesempatan terakhir bersama Arga. Sebuah penawaran yang pastinya sangat sulit bagi Aryanti sendiri, membagi seseorang yang dicintai kepada orang lain, meski itu untuk seorang sahabat.

“hhmmm,,, kamu ini,,, Terimakasih Yant,,,” bibir Zuraida tertawa sekaligus menangis, air mata yang meleleh dipipi semakin deras mengalir. Sesenggukan dipelukan Aryanti. Tak mampu berkata, hanya ucapan trimakasih yang diucapkannya berulang-ulang.

“Nakal-nakalan yuk malam ini,,,” ajak Aryanti.

Zuraida mengangguk,,, “Tapi aku ngga berani nyobain punya yang lain, Yant,,,”

“Hhmmm,,, kalo cuma sama Arga namanya belum nakal Cint,, cobain aja sambil ngumpet-ngumpet,,, pasti seru,, hihihi,,,”

“Hahahaa,,, Nakal kamu Yant,,,” Zuraida melepaskan pelukannya, menatap wajah sahabatnya, lalu memandangi beberapa cupang dipayudara Aryanti. “Mas Dako nakal ya Yant,,,” ucapnya sambil mengusap cupang dipayudara Aryanti.

DEEG,,,
Aryanti kaget, tubuhnya menggelinjang,,,

“Ihh,,,, geli tauu,,, Emangnya tadi Mas Arga ngga ngusilin punyamu,,, sini aku liat,,,”

“Eeehh,,, mau ngapain kamu Yant,,,” Zuraida berusaha menahan tangan Aryanti yang berusaha mengangkat kaosnya keatas. Tapi usahanya sia-sia.

“Ckckckck,,, koq bisa mancung seperti ini sih, Cint,,,” Aryanti tak mampu menahan tangannya untuk menyentuh sepasang payudara yang ada didepan.

“Eemmpphh,,, Yaaaant,,, tapi punya mu lebih besar dari punyaku,,,” Zuraida melengug geli. Tangannya merambat, kembali meremas payudara yang sedikit lebih besar dari miliknya.

Keduanya membisu, Saling mengagumi, saling meremas, sama-sama menahan desahan yang bisa saja keluar dari bibir yang berusaha dikatup rapat. Malu untuk mengakui apa yang dilakukan oleh lawannya berhasil memberi sensasi birahi

“Eeeengghhh Yaaaant,,, jangan-jangan keras,,,”

“Sakit?,,,”

Zuraida menggeleng, “Geli,,,hihihi,,, Yaant,,, mau ngapain lagi?,,” tawanya terhenti, menatap wajah yang mendekat bongkahan payudaranya.

“Eeeempphhh,,, Yaaant,,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, menaha geli yang merambat dari sapuan lidah Aryanti. “Jangaaan curaaang, sayaaang,,,”

Wanita berjilbab itu terengah,,, balik mendorong Aryanti hingga tertelentang, lalu tertawa nakal, dengan cepat menaiki tubuh dan menyambar payudara yang penuh dengan cupang dari suaminya.

“Aaawwwhh,,, koq digigit mbaaa,,” pekik Aryanti.

“hahahaa,,, Habisnya aku gemes,,,” jawab Zuraida sambil tertawa.

Keduanya bergulat diatas kasur, saling meremas, bergantian saling menghisap, mendesah bersahutan. Hingga keduanya kelelahan. Dan sepakat bersama-sama menghentikan kenakalan mereka.

“Baru kali ini aku menyentuh milik wanita selain punyaku sendiri,,, hahahaa,,,,,” Aryanti tertawa melihat ulahnya sendiri, nafasnya masih memburu, menindih tubuh Zuraida.

“Kalo aku sering,, waktu memeriksa pasien,,, tapi tidak dalam kondisi seperti ini,,, hehehe,,,” Zuraida, memeluk tubuh sahabatnya, membiarkan payudara mereka bertemu, tergencet oleh tubuh yang saling menindih.

“Kalo nyobain ciuman sesama cewek pernah?,,,”

“Kalo itu sama sekali ngga pernah,,, ngapain ciuman sama cewek,,, hahaha,, ada-ada saja kamu ini Yant,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,,” panggil Aryanti, menghentikan tawa Zuraida. Keduanya saling tatap, wajah mereka begitu dekat. “Mbaa,,, aku pengen nyobain yaa,,,”

Zuraida tidak menjawab, jantungnya berdebar melihat bibir Aryanti yang mendekat, otaknya memberi perintah untuk membuka bibir, menyambut lidah Aryanti yang merambat masuk.

“Eeemmmpphhh,,, eemmmhhh,,,”
“Eeeengghhh,,,,”

Lidah lembut kedua wanita itu saling membelit, berkejaran didalam mulut Zuraida. Tampak Aryanti lebih dominan, mengajak lidah Zuraida menari, mengaduk ludah mereka yang terkumpul dimulut.

Bibir Aryanti mengatup rapat mulut Zuraida, lalu dalam sekali hisapan yang kuat menyedot semua ludah kedalam mulutnya,,, membuat lidah Zuraida ikut tersedot, masuk kedalam mulutnya. “Slluuurrpphhh,,,”

“Eeemmmyhaant,,,,” wanita berjilbab itu terkaget, menatap wajah syahdu yang memancar birahi. Lalu membalas bermain-main dimulut Aryanti. Berlari dari lidah yang berusaha membelit, saling menghisap cairan yang ada dilidah mereka.

Setelah merasa paru-paru mereka kepayahan memasok oksigen, kembali mereka sepakat untuk melepas. Saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

“Baru tau aku,,, ternyata mba ganas juga,,, pantes aja Mas Arga mpe klepek-klepek,,, aku aja sampai merinding tauuu,, hahahaa,,,”

“Hahahaa,,, jangan ngomong gitu ahh,,, bikin aku malu aja,,, kamu tuh yang ganas banget nyedotnya,,,, coba kita lamaan sedikit lagi,,, pasti keluar nih punyaku,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,, pengen keluar ?,,, hihihi,,, diem aja yaa,,, jangan protes,,,” Aryanti menyelusup kan tangannya kedalam celana Zuraida.

“Jangan Yaaant,,, aku maluuu,,, Aaawwhhhhsss,,, jangaaaan,,,”
Wajah wanita berjilbab itu bersemu merah, ketika tangan Aryanti mendapati vagina yang sangat basah. “Awaaas kamuuu yaaa,,,” tangannya membuka selimut Aryanti lalu merogoh bibir vagina yang lebih basah dari miliknya.

“Yaaant,,, ini punya suamiku ya,,, hihihi,,,”

“Iyaaaa,,, mbaaa,,, tadi Dako banyak banget buang didalem,,,” jawab Aryanti yang kini ikut terengah-engah, liang vaginanyanya diobok-obok oleh jari lentik Zuraida. “Mbaaa,,,, ciuman lagi yuuuk,,,” pintanya.

Kembali kedua wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang didamba para wanita itu saling meraba, silih berganti menindih, meremas, bertukar ludah, mengayuh vagina yang basah. Memburu orgasme yang berbeda dari biasanya.

Berbeda dengan Aryanti yang membuka lebar pahanya dan membiarkan jari-jari Zuraida bermain-main diliang kemaluan, Zuraida justru mengapit rapat pahanya, menjepit jari-jari yang masuk begitu dalam, merogoh tepian yang tidak dapat dilakukan oleh batang penis.

“Yaaant,,, Aku mau keluar,,, aku mau keluar,,,”
Wajah Zuraida pucat pasi, menjepit tangan Aryanti semakin kuat.

Begitu pun dengan Aryanti yang menggerakkan pinggul mengejar kemanapun jari Zuraida menari. Nafasnya semakin berat. Hingga akhirnya kedua tubuh itu mengejat, gemetar, menghambur cairan yang membasahi jari-jari yang lentik.

“Mbaaa,,, aku keluaaaarr,,,, oowwhhh,,, mbaaa,,,” Aryanti berteriak-teriak histeris, melumat bibir Zuraida yang juga gemetar, mengangkat tinggi pinggulnya.

“Yaaant,,, jarimu pinter banget,,, aku sampai gemetar gini,,,” ucap Zuraida setelah Aryanti mejatuhkan tubuhnya kesamping.

“Mba jugaaa,,,” ucap Aryanti, masih tersengal-sengal tak bisa berbicara banyak.

* * *
I’m so lonely broken angelI’m so lonely listen to my heartOne and only broken angelCome and save me before I fall apart

Suara Zuraida yang menemani Pak Prabu berduet, mengalun lembut. Membawakan ‘Broken Angel’ dari Arash feat Helena. Sebuah lagu dengan lyric timur tengah, yang memapar jalinan sepasang kekasih, namun terhalang oleh belenggu pernikahan yang mengikat si wanita. (ini salah satu lagu favorit ts lho,, mpe sekarang ngga bosen dengerin tu lagu,,,)

Siapa menyangka, Pak Prabu mampu membawakan lagu itu dengan cukup baik, meski beberapa kali lidahnya keliru dalam mengucap syair yang cukup sulit. Namun bagi Adit yang memang piawai memainkan organ tak begitu kesulitan untuk mengiringi.

Pesta kecil itu memang sengaja mengambil tempat ditepian kolam renang yang memang cukup luas, dengan sinaran cahaya lampu hias yang remang-remang, membuat suasana malam itu terlihat begitu romantis.

Tubuh Zuraida yang dibalut long dress putih ketat, meliuk gemulai mengikuti alunan musik, suaranya terdengar lirih, diatas panggung yang hanya setinggi 30 cm. Seolah ingin menyampaikan pesan dari hati. Layaknya seorang bidadari yang menari diantara rintik hujan, berharap ada malaikat yang menemani.

Dikeremangan, mata Zuraida menatap tiga sosok yang duduk dimeja yang sama.
Aryanti yang selalu melemparkan senyum saat mata mereka bertemu, lalu beralih pada Dako yang berusaha melemparkan senyum serupa. Dan Arga,,, Arga, entah kenapa Zuraida merasakan ada sesuatu yang berubah pada lelaki itu.

Hati Zuraida memang tengah gundah melihat perubahan Arga, tak ada yang menyadari selain dirinya, karena ini memang antara dirinya dan Arga. Senyum lelaki itu terlihat begitu hambar.

Sesekali matanya menatap cincin milik Aryanti yang melingkar dijari manis. Sebuah pertukaran posisi yang terasa begitu ganjil tapi begitu diharapkannya. Teringat akan ajakan nakal sahabatnya, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi malam ini.

Zuraida sadar, Walau bagaimanapun, hubungan nya dengan Arga tak lebih dari kilas balik masa lalu. Seindah apapun cerita yang terukir pasti akan berujung pada kepedihan. Tak mungkin dirinya merebut Arga dari sahabatnya, Aryanti. Dan tidak mungkin dirinya meninggalkan Dako, untuk mengejar ego cinta.

Mungkinkah Arga mulai menjaga jarak untuk cerita yang memang harus mereka akhiri?…

Sekuat hati Zuraida berusaha menetralisir rasa, kebahagiaan yang tadi siang menyapa dengan paksa diberangus, karena hanya dengan cara itu pula lah dirinya dapat bertahan dari rasa sakit.

Tanpa disadari wanita itu, Dako dan Aryanti menangkap setiap perubahan ekspresi yang sebenarnya tidak ingin ditunjukkan oleh Zuraida. Tapi Zuraida adalah sicantik yang tak pandai bersandiwara. Selalu kesulitan untuk menyembunyikan suasana hatinya.

Lagu yang dinyanyikan membuat hati Zuraida semakin terhanyut dalam kepedihan. Pak Prabu yang memeluk pinggang rampingnya dengan erat, seakan menjadi penopang untuk menguatkan pijakan hatinya yang tengah melemah.

Zuraida sendiri tak habis pikir, kenapa selalu Pak Prabu yang ada disampingnya, disaat hatinya tengah berkecamuk.

Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Prabu yang turun kebawah pinggulnya, mengusap lembut bulatan pantat nya. Mengusap punggungnya dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping.

Dengan pelan, Zuraida menepis tangan Pak Prabu , saat lagu telah usai. Berusaha untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu tak lepas dari tubuhnya.

“Terimakasih,,,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.

“Ternyata suara istri Dako ini merdu banget,, senang berduet dengan Bu Dokter,” ucap Pak Prabu, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat sambil tertawa renyah.

“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kemarin ibu tawarkan,,”

DEEGG,,,
Zuraida sangat kaget mendengar ucapan Pak Prabu yang begitu pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.

Zuraida tersenyum kikuk, balas membungkuk. Turun dari panggung mendekati Aryanti yang menghampirinya, lalu kembali menuju meja dimana Arga dan Dako duduk.

“Kalian mau minum apa? Biar aku ambilkan,” ucap Arga menawarkan minuman dengan suara datar, tanpa ekspresi.

“Terserah,,, yang penting bisa menghangatkan tubuh,” jawab Dako.
“Aku apa aja boleh,,,” sambung Zuraida, matanya menatap Arga yang cepat berbalik sebelum kata-katanya selesai terucap.

“Aku tau minuman spesial untukmu Cint,,, hehehe,,, Ayo mas, aku temenin,” celetuk Aryanti, menyusul suaminya.

“Suaramu memang indah sayang,,, Aku selalu bangga memilikimu,,” ujar Dako, saat mereka tinggal berdua dimeja itu.

“Haahahaha,,, Mas seperti tidak mengenal aku saja,,” jawab Zuraida, berusaha naik ketas kursi yang cukup tinggi.

“Apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Zuraida tak langsung menjawab, berusaha membaca maksud pertanyaan suaminya dari raut wajah. “Lumayan, tapi sebenarnya apa tujuan Mas Dako mempertemukan aku dengan Arga dalam situasi seperti ini?,,” wanita itu balik bertanya dengan suara datar.

Dako menggenggam tangan Zuraida, bibirnya tersenyum tulus, seakan mengatakan bahwa situasi ini di cipta memang untuk Zuraida.

Wanita itu tertawa pelan, entah menertawakan gaya Dako yang begitu romantis, entah menertawakan dirinya yang terpuruk pada nostalgia masa lalu yang justru membuatnya semakin terpuruk.

“Aku tau, pasti ini sulit bagi Mas Dako, Mas tidak perlu melakukan hal gila seperti ini, apa Mas tidak takut kehilangan aku?,, atau Mas memang tidak percaya pada hatiku?,,,” ucap Zuraida, begitu terbuka sekaligus tajam. Seakan menyimpulkan segala isi yang ada dihati Dako.

“Heeyy Cint,,,”
Seru Aryanti yang membawa dua gelas cocktail, disusul Arga yang menenteng dua botol chivas regal, menyelamatkan Dako yang bingung harus menjawab pertanyaan istrinya.

“Suaramu tadi mantap banget lho, bikin aku minder mau nyumbang lagu,,,” ucap Aryanti. Menyerahkan gelas.

“Hehehe,, biasa aja koq Yant,,,” jawab Zuraida yang diam-diam kembali menatap cincin milik Aryanti. Otaknya tengah mengkaji ulang tentang tawaran Aryanti. Walau bagaimanapun hatinya sulit untuk menerima pertukaran itu.

“Yant,,, tentang yang tadi sore,, sepertinya aku tidak bisa untuk,,,,”

“Owwhh,, iya,,,” Seru Aryanti tiba-tiba, memotong ucapan Zuraida.

“Mas Arga,, Dako,,,Tadi sore aku dan Zuraida sepakat untuk bertukar cincin, dan itu artinya,,, Emmhh,,,” Aryanti dengan wajah jenaka menghentikan kata-katanya, bergantian menatap tiga pasang mata yang tertuju padanya, “Artinya adalah sebuah,,, sebuah pertukaran pasangan, Apa kalian para suami bisa menerima?,,,”

Sontak Arga dan Dako mengamati cincin yang melingkar dijari manis Aryanti dan Zuraida. Tidak menyadari bila cincin yang dikenakan oleh pasangannya bukanlah cincin yang mereka berikan saat menikah.

“Kalo aku tidak masalah,” jawab Dako cepat, tersenyum lebar, membuat Arga kaget dan bingung, lalu dengan terpaksa mengangkat kedua pundaknya, sebagai tanda menyerahkan keputusan kepada yang lain.

“Okeee,,, Deal,,,” seru Aryanti. Menghentikan usaha Zuraida yang ingin mengutarakan keberatan. Wanita berjilbab itu akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah sahabatnya.

Ting,, Ting,, Ting,,”Maaf,,, minta perhatiannya sebentar,,,”
Ucap Pak Prabu tiba-tiba, mengetuk gelus dengan cincin akiq yang ada dijarinya. Lampu sorot yang terang mengarah ke tempat lelaki berdiri, diatas panggung, ditemani istrinya Bu Sofie.

“Sebelumnya, boleh saya meminta Sintya untuk ikut naik keatas sini,, biar komplit laahh,,”

“Hahahaa,,, mantap,,,”
“Sing rukun yooo,,, hahaha,,,”

Teriakan dan tawa seketika menggema. Rupanya Pak Prabu sudah berterus terang tentang status Sintya kepada Bu Sofie, dan hebatnya Bu Sofie dengan lapang dada bisa menerima.

Itu terlihat bagaimana Bu Sofie menyambut Sintya yang naik keatas panggung dengan senyum dan tangan terbuka, berpelukan dan saling cipika-cipiki, membuat para lelaki yang ada disitu menjadi iri.

“Harap tenang,,,” ucap Pak Prabu dengan gaya cool yang dibuat-buat, menegakkan kerah bajunya, lalu menggandeng Sintya dan Bu Sofie, begitu pongah menggoda para lelaki yang ada ditempat itu. Tak ayal suara tawa semakin menggema.

“Agar tidak mengganggu acara kita, Langsung to the poin saja,,, Jadi begini,,,” ucap Pak Prabu, saat suara tawa mulai mereda.

“Saya tadi pagi ditelpon Pak Andre Diaz, tentang rotasi mutasi manager empat tahunan, mungkin dalam minggu ini saya akan ke Jakarta untuk memastikan hal tersebut,” saat membicarakan hal-hal yang serius, wibawa Pak Prabu sebagai seorang pemimpin muncul seketika, Arga, Dako, Munaf dan Adit serius memperhatikan.

“Tapi saya mendapatkan bocoran tentang rotasi kali ini, yang bagi saya sendiri cukup mengejutkan. Seperti yang kita ketahui, saya memang mendapatkan promosi untuk untuk menduduki salah satu jabatan penting dipusat, dan posisi saya akan digantikan oleh Arga sebagai pimpinan cabang. Tapi berdasarkan pencapaian prestasi kita semua,,,” Pak Prabu menarik nafas panjang, bibirnya tersenyum lebar.

“Adit dipromosikan untuk memegang tampuk wakil pimpinan cabang, menemani Arga,, selamat,,,” Tepuk tangan dan ucapan selamat segera mengalir, sementara Adit sendiri tersenyum lebar, tak menyangka dengan karirnya yang begitu cepat naik. Bahkan terlalu cepat untuk remaja seusianya.

“Dan untuk Pak Munaf, kemungkinan besar akan menggantikan Pak Andree Jeff, yang pensiun dari pimpinan Cabang Kota Surabaya.”

“Whooo,,, selamaat,, selamaaat,,,”
“Akhirnyaaa,,, naik jugaaa,, selamaat,,”
Tepuk tangan semakin riuh, jabatan pimpinan cabang itu memang pantas untuk Munaf yang terbilang cukup senior.

“Sedangkan Dako,,,” suasana seketika menjadi hening saat Pak Prabu mulai melanjutkan pengumumannya, “Dengan pertimbangan perlunya perusahaan ini melebarkan sayap, jajaran direksi mempercayakan kepada Dako untuk merintis pembukaan cabang central untuk daerah Kalimantan,, selamaat!!!,,,”

“Yeeaaahhh,,,” Dako mengepalkan tangannya, berteriak girang, tertawa lebar, menerima jabat tangan Arga dan Aryanti yang mengucapkan selamat. Lalu berpaling kearah Zuraida dan memeluknya erat, kita akan pindah ke Kalimantan sayang, seperti yang memang aku inginkan,,,” bisik Dako.

“Ok,,, untuk sementara mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, tapi bocoran ini dapat dipercaya, karena disampaikan langsung oleh Pak Andre, selanjutnya,, silahkan melanjutkan party kita,,,” ucap Pak Prabu menutup pengumumannya sambil mengangkat gelas ditangan, mengajak untuk bersulang.

Kebahagiaan begitu nyata terlihat, masing-masing mengucapkan selamat kepada rekannya. Berkelakar tentang daerah yang akan mereka tempati.

Sambil memainkan jari-jari diatas Yamaha Keyboard PSR-E433, Adit membawakan lagu dari Daniel Bedingfield dengan pelan.

If your not the one then way does my soul feel glad today…
If your not the one then way does my hand fit yours this way…
If you are not mine then way does your heart return my call…
If you are not mine would i have the strenght to stand at all…

Pak Prabu mengajak Bu Sofie untuk berdansa, memeluk sang pejantan sambil memamerkan senyum kepada yang lain.

“Pah,, mending papah nemenin Sintya, kasian dia sendiri,,,” ucap Aida saat melihat raut wajah gadis itu berubah ketika Pak Prabu mengajak Bu Sofie berdansa. Memang tidak mudah untuk menjadi yang kedua.

“Iya,,, Boleh koq,,, tapi jangan dinakalin, kasian dia,,,” ucap Aida, menjawab tatapan tak percaya dari Munaf. Seketika lelaki itu tersenyum lebar, mengecup kening Aida, lalu mendekati Sintya.

“Aryanti,,, mau berdansa dengan ku?,,,”

Aryanti tersenyum mendengar ajakan Dako, sesaat menatap Arga dan Zuraida meminta izin, lalu dengan gaya yang gemulai mengangkat tangan kanan nya yang dengan cepat disambut oleh Dako. Berjalan mendekati Munaf dan Pak Prabu yang ada didepan panggung.

“Zee,,,” panggil Arga lembut, mengagetkan Zuraida, meski dirinya memang tengah menunggu ajakan Arga, tetap saja suara yang terdengar lembut itu mengagetkannya.

Zuraida tersenyum canggung, menyambut Arga yang meletakkan tangan dipinggul yang ramping.

Tubuh kedua insan berlainan jenis itu bergerak mengikuti lagu, ditempat yang sama, tidak bergabung dengan yang lain. Gerakan kedua nya terlihat kaku, padahal beberapa jam yang lalu mereka bercinta dengan mesranya.
Membisu, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Malam semakin larut, beberapa pasangan terlihat saling bertukar, kini Munaf terlihat tengah menggandeng Andini, sementara Pak Prabu begitu mesra bersama Sintya. Dan Bu Sofie,,, wanita itu kini terlihat sibuk dimeja bar mini, meracik minuman dari beberapa botol beraneka warna yang berbentuk unik. Sebuah hobby baru yang didapatnya setelah lama menetap di Paris.

Aryanti dan Dako pun tampak beristirahat, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih baru, duduk dengan saling pangku, tangan Dako yang nakal tak henti menggarayangi paha Aryanti yang hanya dibalut mini dress warna merah muda.

Sesekali Aryanti menuangkan whiskey ke gelas mereka. Dan terlihat jelas bagaimana keduanya mulai mabuk.

***
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Zuraida menyerah, membuka mulutnya membuka percakapan.

“Argaa,,,”

“Yaa,,,” sahut lelaki itu datar. Sesuai dengan dugaan Zuraida, jawaban yang terasa begitu hambar. Namun Zuraida tidak peduli, wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak si lelaki.

“Aku akan pergi jauh,, mungkin,,, mungkin kita tidak akan bertemu lagi,,, aku tidak mungkin terus menyakiti Aryanti,,,,” Air mata perlahan berkumpul dipelupuk mata, jatuh berderai tak terbendung, sesenggukan dipundak Arga. Tapi lelaki itu tak bergeming, tak menjawab, hanya tangan kekar yang memeluk semakin erat.

“Argaaa,,, plisss,, jangan diam seperti ini,,, acuh mu membuat hatiku semakin menderita,,,” tangis wanita itu semakin dalam.

“Jangan menangis sayang,,, inilah jalan hidup, takdir hanya ingin membantu kita untuk menyelesaikan hubungan terlarang ini,,,” bisik Arga, mengusapi rambut Zuraida yang tertutup oleh jilbab.

“Percayalah,,, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,,,”

Tangis Zuraida terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Arga. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Arga memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zuraida selain menerima.

Matanya yang basah menatap Arga. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda.

Kakinya berjinjit, mengecup bibir sipejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.

“Zeee,,,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Arga saat menyambut bibir sicantik. Walau bagaimanapun sulit bagi Arga untuk mengabaikan jamahan bibir seorang Zuraida.

Lampu sorot kolam yang tadi sempat menyala terang, kembali meredup. Membuat suasana semakin syahdu.

“Bu,,, tengoklah Bu Zuraida dan Pak Argaa,,, soo sweeett,, romantis bangeeet,,,” ucap Andini yang menghampiri Aida yang duduk disofa panjang. membawa dua gelas cocktail hasil racikan tangan Bu Sofie.

“Sepertinya antara mereka emang ada sesuatu deh,,,” jawab Aida, menyambut obrolan Andini.

“Padahal aku pengen banget dansa ama Pak Arga,,,kali aja ntar dikasih lagi,,, itu nya lhooo,, ngangenin bangeet,,,” ucap Andini yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sejak awal gadis itu memang sudah banyak minum.

“Hahahaa,, ternyata kamu udah nyicipin punya Arga juga ya,,, tapi emang sih,, wanita mana yang ngga klepek-klepek dihajar batang gede nya,,, Uuugghh,,, Dini sihh,, aku jadi pengen nih,,, hihihi,,,”

Tapi obrolan dua wanita terhenti, dikeremangan mata mereka menyaksikan bagaimana tangan Arga meremasi payudara Zuraida. Wanita yang terlihat begitu setia dan alim itu begitu pasrah atas ulah dua tangan Arga yang meremasi payudara, pantat dan selangkangannya.

“Duuuuhh,,, Aku jadi ikut merindih nih Din,,, pengen diremes-remes juga,,,” keluh Aida, menjepit tangan dengan kedua pahanya.

“Buuu,,, Pak Munaaaf Buuu,,,” seru Andini tiba-tiba. Menunjuk Munaf yang tengah menggarayangi tubuh Bu Sofie dari belakang, tapi wanita bertubuh montok itu hanya tertawa. Tangannya terus bekerja meracik minuman untuk Adit yang duduk didepan Bar.

Begitupun saat Munaf berusaha mengeluarkan sepasang payudara berukuran 36D dari gaunnya. Bu Sofie justru tertawa semakin lebar, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Bu Sofie melemparkan kain kecil hingga menutupi wajah Munaf.

Tiba-tiba tubuh Bu Sofie beringsut turun kebawah, membuat Andini dan Aida bertanya-tanya apa yang dilakukan wanita itu dibawah meja bar, tapi saat melihat wajah Munaf yang terlihat begitu menikmati aktifitas Bu Sofie dibawah sana, baru lah mereka mengerti apa yang tengah terjadi.

Tak berapa lama, Munaf menarik tubuh Bu Sofie kembali berdiri, meminta wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Terlihat Bu Sofie mewanti-wanti saat Munaf mengangkat gaun mini yang membungkus tubuh montoknya. Tapi Munaf seperti tidak peduli, meminta Bu Sofie lebih membungkukkan badannya, dan tiba-tiba tubuh wanita terhentak kedepan, mulutnya terbuka melepaskan lenguhan tanpa suara.

“Buuu,,, mereka ngen,, ngentot ya?,,” tanya Andini dengan suara tertahan.

“Huuhh,,, dasar si papah,,, padahal tadi udah janjian ga boleh main serong lagi,,, uuggghhh,,,” Aida terlihat sebal, menenggak habis cocktailnya, merasa kurang, Aida juga menenggak chivas milik suaminya yang ada dimeja kecil.

Seketika wajahnya mengernyit ketika merasakan kerasnya rasa dari minuman itu. Tak ambil pusing dengan rasa, ibu muda itu kembali menenggak beberapa kali.

“Hihihihi,,, ibu kalo marah lucu,,,” Andini mengamati tingkah Aida yang tengah sewot. “Balas aja bu,,,” usul Andini.

“Balas?,,,”

“Iya,,, ibu balas aja, tu suami saya lagi nganggur,,,” jawab nya sambil menunjuk Adit yang duduk menonton sambil meremasi batang yang ada dicelana, seolah sedang menunggu giliran.

Tanpa minta persetujuan lebih lanjut, Aida beranjak mendekati Adit, dan langsung memberikan ciuman yang ganas. Adit yang sempat kaget langsung mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Pasrah ketika Aida menariknya kedalam bar. Tak menunggu lama terjadilah pacuan dua tubuh betina yang sama-sama memiliki tubuh montok.

Pinggul Adit menghentak dengan kasar, menjejali vagina Aida dengan batangnya, sambil melempar senyum kepada Munaf. Terbalas sudah dendamnya tadi pagi, saat Munaf menyutubuhi Andini dalam lomba pantai, tepat didepan matanya.

“Asseeeem,,, pelan-pelan Dit, jangan kasar gitu, kasihan istriku,” seru Munaf geram.

Tapi peringatan Munaf justru dijawab oleh istrinya sendiri dengan lenguhan panjang, dibalik kacamata minusnya wanita itu tersenyum nakal, sambil sesekali meringis akibat hentakan Adit yang kelewat kasar. Tapi itu justru membuat Aida semakin liar, pantatnya bergerak kebelakang dan kedepan memberikan perlawanan.

Wajah Munaf semakin geram, tidak menyangka istrinya yang dulu kalem kini berubah menjadi begitu binal. Tubuh montok yang selama bertahun-tahun selalu setia melayani kebutuhan seksualnya kini tengah melayani lelaki lain. Menawarkan kenikmatan liar yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Melihat hal itu Bu Sofie tertawa, seolah tak ingin kalah tubuhnya ikut bergerak liar, otot vaginanya mengencang, memberi pesan kepada Munaf bahwa vaginanya tidak kalah dari milik istri Munaf itu.

Tak ayal terjadilah persaingan pacuan liar, Adit yang membalas dendam, Munaf yang geram dibakar cemburu, Aida yang ingin membalas ulah suaminya dan Bu Sofie yang terbawa dalam arus persaingan. Begitu kontras dengan alunan musik yang mendayu lembut, mengiringi Arga dan Zuraida yang masih melangkah berirama sambil berpelukan

Sementara disisi lain kolam, Mang Oyik dan Kontet yang kini menjadi operator musik dan lampu, cuma bisa manahan konak. Nafsu kedua jongos itu semakin menderu saat menyaksikan Aryanti yang kini duduk mengangkangi Dako yang asik menyusu dikedua payudaranya.

Berkali-kali jari lentiknya memasukkan kembali payudara kebalik mini dressnya, berkali-kali pula tangan Dako menarik keluar seolah sengaja ingin memamerkan sepasang buah ranum itu kepada Mang Oyik dan Kontet.

Akhirnya Aryanti pasrah, membiarkan payudaranya menggantung diluar, menjadi santapan bibir dan lidah Dako. Menjadi santapan nafsu liar kedua jongos yang hanya bisa menatap sambil mengusapi selangkangan.

Birahi telah menguasainya, dicumbui tatapan liar yang semakin membuat tubuhnya semakin terbakar sensasi eksibionis. Wanita cantik itu balas menggoda
Menggesek-gesek batang Dako diselangkangan yang masih terbalut celana dalam yang juga berwarna merah

Sepertinya kedua pasangan itu tidak ingin terburu-buru, menikmati setiap kenakalan yang dilakukan oleh pasangannya. Menikmati segala cumbu nafsu yang menyapa.

“Mang,,, Mang Oyik,,, tu ada yang nganggur Mang,,,” seru Kontet mengagetkan konsentrasi Mang Oyik. Keduanya menatap Andini yang sudah mulai mabuk, mengamati persetubuhan pacuan birahi suaminya.

“Samperin yuk,,, kali aja kita dikasih nenen sama tu cewek,,, sepertinya lagi mabuk, Mang,,”

“Eittsss,,, itu jatah ku,,, kamu tungguin lampu ama sound system, lagian idolamu lagi show tuh,,, kali aja ntar kamu ditawarin ikut nyoblos memeknya,,,” ucap Mang Oyik, lalu meninggalkan Kontet yang ingin protes.

* * *
“Argaaa,,, Gaaa,,, kau membuatku basah sayang,,,” rintih Zuraida, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zuraida masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Arga mengusapi vaginanya. Puting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Arga.

“Argaa,,, Aku ngga tahan, sayaang,,,” mata indahnya menatap Arga, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ketempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang tengah diidamkan oleh vagina mungilnya.

“Jangaaann,, cukup seperti ini ya sayang,,,” jawab Arga, mengangetkan Zuraida.

Berbagai pertanyaan berseliweran diotak dokter cantik itu, Apakah Arga tidak mencintainya lagi?,,, Apakah Arga sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi?,,,

Zuraida termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedada si lelaki, nafsu yang bergemuruh dengan cepat sirna, kerisauan hati lah yang kini meraja. Bertanya-tanya, Ada apa dengan cintanya.

“Sayaang,,, Tidak usah berfikir macam-macam, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik buat kita,,,” ucap Arga, hatinya pun sedih tidak bisa memenuhi keinginan wanita yang begitu dikasihi. “Maaf,,,”

Zuraida tidak menjawab, memejamkan matanya, waktu mereka tak banyak. Tak ingin menghabiskan dengan perdebatan. “Argaa,,, hikss,,,” wanita itu kembali terisak dipelukan si lelaki.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

ZURAIDA PART 5

yessi ecii - jilbab bahenol (5)
zuraida
“Mang,, tempat gamenya pindah ya?,, kemana?,,” tanya Aida, berjalan beriringan dengan Arga.
“Iya buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem,,,” Mang oyik tampak kerepotan membawa beberapa balon yang tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Di depan Mang Oyik tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu menggelendot manja di lengan Pak Prabu. Tertawa menanggapi banyolan yang dilontarkan oleh Dako dan yang lainnya.
“Buuu,,, tolong tangkepin tu balon Buu,,,” tiba-tiba Mang Oyik yang berusaha secepatnya tiba di tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
“Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,,” goda Arga.
“Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,”
“Hahahaaa,, masa tadi ga dikeluarin dulu sih,,”
“Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriak-teriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Gaa,,, banyak banget,,”
“Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,”
Apa yang diucapkan Arga ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya terasa geli.
“Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam sih,,,” Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Arga, berharap dapat membantu agar jalannya bisa sedikit lebih normal.
“Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,”
Arga mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau. “Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,”
Tanpa disadari Arga, beberapa langkah di belakangnya, Zuraida menatap dirinya dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena dihantui rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
“All is well,,,” gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombang-ambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
“Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,”
“Eeehh,,, Mas Adit, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,,” Zuraida kaget mendengar sapaan Adit.Arga yang mendengar suara Zuraida dan Adit menoleh ke belakang.
“Zee,,” sapa Arga ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zuraida membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Arga, lalu kembali menoleh kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
“Hati plong?,,,Maksud ibu?,,” Adit kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“yaaa plong aja,, hehehee,,,” Zuraida tersenyum, melangkahkan kaki dengan santai. Ternyata senyum Arga juga mampu memberikan ketenangan yang sama pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diam-diam Adit yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan natural seorang Zuraida. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang mencolok.  Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan bentuk puting yang samar terlihat.
“Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,”
Zuraida bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Adit, tapi dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar.  Di benak Zuraida, Adit, seperti hal nya Mang Oyik yang terkagum-kagum pada tubuh indahnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum. Sementara Adit yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zuraida, yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu, berkali-kali menelan ludah. Sambil mengerem langkahnya, lagi-lagi Adit harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan padat.
“Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,,” tiba-tiba Adit nyeletuk.
“Maksudnya?,,,” kini giliran Zuraida yang balik bertanya.
“Hehehee,, tuh ngalir sampai ke paha ibu,,,” Adit tertawa, matanya tertuju pada tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!!… Wajah Zuraida pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
“Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,,” Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Adit memandang dengan tak percaya.
“Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,,” dengan terpaksa Zuraida menjilat cairan itu dengan lidahnya, “Mauuu?,,”
“Gilaaa,, aku menjilat sperma Pak Prabu,,,” Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Adit.
“Owwhh,, ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu yang nempel tuh,,” jawab Adit sambil menunjuk beberapa tetesan sperma yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zuraida tak mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.

“Uuuugghhhh,,, Pak Prabuuuu,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,,” ingin sekali wanita itu berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran. “Uuuhhhggg,,,” lagi-lagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya, ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Arga berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
“Kamu baik-baik aja kan Zee,,,”
“Ehhh,, iya,, gapapa koq,,,” Zuraida tersenyum kecut menjawab pertanyaan Arga.
“Cepet dikit Ga,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama Zuraida,,” Pinta Aida lalu menggamit tangan Arga untuk melangkah lebih cepat.
“Sini mba,, biar aku bersihkan,” tawar Adit. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
“Eeehh,, ga usah Dit, aku bisa sendiri.”
“Ststsss,, udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zuraida berisik, ntar Arga sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,”
“Diiitt,,, ga usaaahh,,,”
“Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apa-apa,,”
Zuraida menutup mulutnya, apa yang dilakukan Adit sebenarnya sangat lancang. Mengusap-usap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Adit untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya selalu tertutup kain. Tapi Arga yang berjalan beberapa langkah di depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
“Uuugghh,, Adiiit,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diiit!!! jangan nakaaaal,,” Dengus Zuraida, berusaha menepis tangan Adit yang awalnya mengusap, tiba-tiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
“Bener-bener pemuda yang nakal,,,” gumam Zuraida, yang menoleh memperhatikan wajah Adit yang tersenyum-senyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan pemuda itu bergerak meremas, Zuraida dapat melihat gelora nafsu yang tertahan.
“Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,” Zuraida mulai mengaggumi wajah Adit yang cukup ganteng, seperti artis korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acak-acakan.
“Sudah belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Dit,,,” mata Zuraida menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
“Bentar mba,,, susunya lengket banget,,”
“Egghhh iyaa,, tapi cepet,,” langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah jari-jari Adit yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya. Matanya nanar mengawasi ke depan.

“Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,”
“Ststssss,,, jangan berisik Dit,,,” jemari lentiknya mencengkram pegelangan Adit, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
“Mbaa,, yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,,” telapak tangan Adit mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan mereka bertemu, bila Zuraida menahan birahi yang tersulut dengan wajah yang memerah, wajah Adit justru menunjukkan hasrat yang begitu besar, berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita cantik itu.
“Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,”
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, mengomando tangan Adit dengan cepat.
“Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,”
“Gemeeesss,,, kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,” Zuraida kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu bernafsu mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah liang senggama yang berbentuk vertikal.
“Ya samaaa,,, punya Andini dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zuraida yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,”
BUUGGG…kata-kata Adit menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa penasaran yang tercipta.
“Sudaaahh Diiit,,, cukup,,, Aaagghhh,,, kamu mau ngapaiiinn,,” tubuh Zuraida telonjak, kakinya menjingkit, saat dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Adit dengan cepat menyelusup di sela celana legginsnya.
“Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Adit ngga mau mba malu diliat Arga sama Bu Sofie,”
“Uuugghh,,, pinter bener ni bocah manfaatin situasi,,” Hati Zuraida menggumam kesal, kondisi dan situasi memang sangat mendukung Adit untuk mengintimidasi Zuraida.
“Oooowwhhh,, Diiitt,, jangan Diiit,, pliss,,” wanita itu menatap Adit dengan wajah menghiba.
“Mbaaa,, maaf mba,, kalo saya meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,”
Adit memelas, berharap Zuraida mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan, “maaf banget mbaa,,, cuma saat-saat seperti ini saya bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zuraida,, pliss,,,”
“Diittt,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,”

Tapi tangan Adit terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zuraida.
“Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Adit rela koq kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,”
Zuraida membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Arga yang dapat kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Adit tengah mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu membuatnya tersipu.
“Diiit,, jangaaann,, kesituuu,,plisss,,,” wanita berjilbab itu menggelengkan kepala saat jarii-jari Adit berusaha menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah memohon.
“Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep banget ama selangkangan kuuu,,” pertahanan hati Zuraida mulai goyah, cengkramannya mengendur.
“Owwwhhh,, Diiit,,” Zuraida terus menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan, tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jari-jari seorang lelaki yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali bagaimana jari-jari Adit berformasi. 1 jari Adit, jari telunjuk, menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zuraida gemetar menahan rangsangan.
“Oooowwwhh,, Argaaa,, Plisss,, jangan liat ke belakaaaang,,” Jantung Zuraida berdebar, seseorang yang sangat berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke belakang.
“Owwwgghhhh,,, Adiiittt,,, punya mba diapaaaiiinn,,,” tubuh wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Adit, jari manis yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu mengenakan penutup kepala itu, menerima pesan-pesan birahi, yang bergerak liar. Tangan Zuraida tak lagi mencengkram lengan Adit, tapi justru berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jari-jari Adit. Matanya bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan oleh yang lain.
“Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,,” pantat Zuraida bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Adit.
“Seperti inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari rombongan. Dan gilanya Zuraida justru berharap tempat yang mereka tuju masih jauh.
“Diiitt,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,, Uuugghh,,,” Zuraida harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Adit berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat, gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
“Oooowwwhhhsss,, Diiittt,,, tarriikkk tangaaaanmuuu,, aduuuuhh,,” paha Zuraida menjepit tangan Adit dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.

“Suddaaaah,, Ditt,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,,” wajah Zuraida memerah. Mengamati tangan Adit yang keluar dari legginsnya dalam kondisi basah oleh cairan.
“Gilaaa,, ini benar-benar gila,” tubuh Zuraida membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengaduk-aduk liang kemaluannya.
“Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,,” Adit menunjuk pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremas-remas batang di balik celananya.
“Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,,” mata Zuraida tertuju pada batang Adit yang tegak mengacung ke depan, mengarah tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Adit, sebuah penyelesaian dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita itu tengah mengira-ngira seperti apakah bentuk dari batang Adit.
“Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,”
“Tidaaak Ditt,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,”
“Plisss mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Adit Mbaaa,,” Adit menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok kekiri.

Deeeg…
“Diiiit,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,”
Zuraida kaget plus bingung, seperti halnya Aryanti ketika pertama kali melihat batang Adit saat memberikan servis kilat bersama Sintya.
“Gaa taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Aryanti aja juga suka koq,”
“Aryanti??,,,” Zuraida melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Adit bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi seingatnya, Aryanti dulu memang seorang gadis yang supel, tapi selalu menjaga sopan santun.
“Malah Mba Aryanti udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,”
“Aryanti,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,,” jantung Zuraida kembali berdetak tak teratur.
Batinnya bertanya-tanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi. Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah.  Zuraida yang tengah mengenali dunia barunya, dunia ekhibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan dan kealimannya, kini mulai tergoda. Kebimbangannya meraja, sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Aryanti, memasukkan batang milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, menatap Arga dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya, lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Adit.
“Ugghhh,,, haruskah aku mengangguk menerima tawaran Adit untuk disetubuhi, tapi bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Prabu, setelah Arga,, yaaa,, setelah Arga,,” batin Zuraida berkecamuk hebat.
Sesaat Zuraida menatap Adit, wajah putih dengan style remaja korea. “Diiitt,,, Engghhh,,,” kata-kata Zuraida terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.

“Zeee,,, kamu baik-baik ajakan?,,,” terdengar teriakan lantang dari Arga, yang bergegas menghampirinya.
“Kamu baik-baik ajakan?,,,” terlihat wajah cemas Arga yang tak dapat disembunyikan saat mendapati tubuh Zuraida membungkuk, tampak lemas dan gemetar.
“Dit,, kamu apain Zee ku?,,,” suara Arga pelan tapi menebar ancaman tersembunyi pada Adit. Membuat pemuda itu mulai ketakutan, tak pernah dirinya melihat Arga seemosi itu.
Apalagi saat Arga mendapati batang Adit yang menyembul dari balik celana, sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zuraida justru termenung,
“Zee ku,,,” bibir tipis wanita itu mengulang apa yang tadi dikatakan Arga, kata-kata yang mengungkapkan perasaan Arga yang masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika, tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“Argaa,, aku ngga apa-apa koq,,, Adit cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa kakiku keram, mungkin terlalu capek,,” Zuraida berusaha menenangkan Arga.
“Ya udaahh,, kau jalan duluan sana,,” Arga menyuruh Adit dengan suara datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Adit yang mengeras, Arga mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan Zuraida.
“Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,,” ucap Adit, lalu meninggalkan keduanya.
“Gaa,, ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,,” Zuraida bisa membaca curiga dari wajah Arga. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak, tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
“Iya aku percaya koq, kamu adalah Zuraida,,,karena itu aku selalu percaya, justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini biar aku gendong,,”
Meski hati Arga ketar-ketir tak berani untuk menduga-duga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan hatinya.
“Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,,” tapi Arga tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zuraida.
“Aaakkhh,,,” Zuraida terpekik, tertawa, “Gaa jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin turun di pelaminan,,, hihihii,,,”
Arga yang sudah hendak melangkah terhenti, “Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,,” lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zuraida menyebut kata-kata pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.

“Ayoo,, aku gendong dibelakang aja yuk,,,” Arga menebar senyum, mencairkan suasana. Membungkukkan tubuhnya agar Zuraida bisa naik ke atas punggungnya.
“Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,,” Arga tertawa menggoda Zuraida.
“Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,”
“Apalagi apa?,,,”
“Eeengghh,,,Apalagi punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,,” Zuraida merasa malu, karena sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung Arga.
“Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi kemaren waktu aku emut-emut gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,”
“Iiiihh,, tu kan,, seneng banget ngeledekin,,” Zuraida mencubit lengan Arga. Teringat saat Arga mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
“Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,”
“Nggaa,, nggaa koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,”
“Oowwhhh,,, ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,,” Arga memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zuraida sambil tersenyum. Dimata Zuraida senyum itu sangat manis.
“Gaa,, ni aku kasih mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,,” Zuraida tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
“Waahhh,, lagi dong,, lagii,,”
“Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh kemaruk,,hahaha,,,”
Entah kenapa hati Zuraida serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya.
“Argaaa,,, maafin aku ya,,,” ucap Zuraida mempererat pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Arga. Hati kecilnya berharap, dapat terus memeluk Arga, bukan hanya saat ini, tapi selamanya.
“Maaf untuk apa?,,,”
“Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,,” bibir tipis Zuraida terdiam.
“Kenapa tadi?,,,”
“Tadii,, aku udah nakal,, nakal banget,,,” Ada rasa sesal dihati Zuraida, telah mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja dirasakannya.

“Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,”
“Gaaa,,,hikss,,” Zuraida tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang diberikan oleh Arga untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha tetap tersenyum untuk dirinya.
“Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,”
“Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,,” Zuraida segera mengusap air matanya.
“Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,”
Zuraida bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
“Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zee,,,”
“Nggaaa,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,”
Meski Arga tak dapat melihat wajah Zuraida yang tersipu malu setelah mengatakan itu, tapi Arga tau tidak mudah bagi Zuraida untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,”
Zuraida tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Arga tau wanita cantik itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya, “Kapanpun Arga mau,,”
Lalu lengannya memeluk pundak Arga semakin erat, merasakan bagaimana dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh lelaki itu.
“Gaaa,,, Zuraida kenapa?,,,” Aryanti menghampiri Arga dengan cemas.
Mengagetkan Zuraida yang tengah terbuai digendongan. “Koq Arga ga bilang sih kao udah nyampe,” hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
“Aku ngga apa-apa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,”
Arga menurunkan tubuh Zuraida diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
“Bener ngga apa-apa?,,,” tanya Aryanti, lalu memijat kaki Zuraida pelan.
“Iya ga apa-apa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,,” Aryanti tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
“Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Mendengar pertanyaan Aryanti itu, Zuraida sedikit kaget, apakah wanita di depannya ini memang sudah mengetahui hubungan tersenyum antara dirinya dan Arga. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin dibicarakan untuk sekedar berbasa-basi, entah kenapa kedua wanita yang sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok Arga yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat sibuk meniup balon.
“aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,”
“Eeehh,, maksudmu?,,,” Zuraida mulai was-was, mungkinkah Aryanti akan menanyakan langsung tentang sejau mana hubungannya dengan Arga, dan membongkarnya dihadapan umum.
Tapi Aryanti justru tersenyum, “Jujur,, aku tau Arga suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada hatinya,” Aryanti menghela nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat kaki Zuraida.
“Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Arga bercanda hatiku terasa sakit,,,” Aryanti tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk disamping Zuraida, memeluk pundak sahabatnya. “Tapi kurasa itu tidak lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu nakal, dan lagi-lagi Arga bisa memaklumi itu,”
“Yan,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Arga, dan aku,,,”
“Hahahaa,, udah jangan dipikirin,, suamimu Dako udah cerita koq,,, dan aku tidak keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,”
DEGG,,, Zuraida keget dengan jawaban Aryanti.
“Yan,,, maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,,” Zuraida merasa bersalah pada sahabatnya itu.
“Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,”
“Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Yan,,,”
“Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,”
“Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,,” Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
“Permainan kali ini sangat mudah, tetap berpasang-pasangan, dan penentuan pasangan masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila aku yang menentukan pasangan kalian dengan bola-bola ini?,”
Para lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie yang memang terlihat begitu berkuasa. Dako akhirnya senyum sumringah kembali menghias bibir para lelaki. Munaf yang kali ini mendapatkan Andini dengan cepat merasakan batangnya mengeras, meski tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Prabu dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan malu-malu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Adit tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada dengan pita milik Sintya. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya. Dako tertawa girang, mengusap-usap batang dibalik celana saat tau partnernya kali ini adalah Aryanti. Dan tingkah Dako itu membuat Aryanti tertawa tergelak.
“Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,”
Tapi di antara mereka Zuraida dan Arga lah yang paling merasa senang, wanita itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola warna hijau.
“Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut saya,,, Mang Oyik,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,,” Bu Sofie meminta penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi, untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat naik kendaraan roda dua.

“Kita mau ngapain Bu?,,,” tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri. “Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,”
“Ooowwhh,,, ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,, heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,,” tanya Andini ikut penasaran.
“Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku menghampiri kalian satu persatu,,” teriak Bu Sofie saat para wanita satu persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki Zuraida. Di dalam, Zuraida yang tengah melepas celana legginsnya sempat terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya. “Zuraida, lepas celana dalam mu juga ya,,”
“Hehh,,, maksud ibu?,,,”
“Pokoknya lepas aja,,,” ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zuraida masih tampak bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang kemaluannya dari batang ganas Pak Prabu.
“Ayolaaahh,, lepas aja,,, aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah berusaha memasangkan dirimu dengan Arga, meski suamiku sempat ngotot untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,”
“Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,,” Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zuraida.
“Aku merasa kalian sangat serasi, jadi tolong jangan sia-siakan kesempatan ini,, ok?,,, aku harus ke bilik yang lain,,” Bu Sofie membuka pintu hendak melangkah keluar.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan. “Inget ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya mu emang lebih cocok buat Arga, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga pengen nyicipin,,,hihihi,,,”
“Ada apa ini sebenarnya,,,” Zuraida tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi, darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya adalah milik suaminya, Pak Prabu.
Di bilik sebelah, bu Sofie kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan oleh wanita itu. Zuraida keluar dari bilik, disusul para istri lainnya. Mata mereka saling pandang, masing-masing tau dibalik kain yang mereka kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua membisu, cukup saling tau dengan kondisi masing-masing, dengan jantung berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang menuju arena permainan.
“Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,”
“Maksud ibu gendong didepan?,,” tanya Aryanti ragu-ragu.
“Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,”
Bu Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher Mang Oyik, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Oyik dengan cueknya.
“Sudah paham?,,,”
Para suami mengangguk cepat sambil tertawa, sementara para istri menayangkan wajah pucat, memaksakan untuk menganggukkan kepala mereka.

“Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku pinjam suami ibu dulu,,” ucap Andini, dirinya bisa merasakan permainan ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
“Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hati-hati ya, jangan sampai jatuh,” jawab Aida ragu-ragu, berusaha mengajak bercanda.
“Ayolaaahh,,, nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi siapapun yang menang dari kalian,” Rupanya Bu Sofie gregetan dengan tingkah para istri yang malu-malu seperti kucing, yang berusaha menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
“Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,”
Bu Sofie memberi aba-aba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,, jantung Zuraida tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang Arga, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.  Dengan cepat Zuraida menoleh ke Aryanti, rupanya sahabatnya itu juga tengah kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu sia-sia.
“Zee,,, daleman kamu mana?,,” bisik Arga saat menyadari wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan sehelain kain pun.
“Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,,” Zuraida pucat, entah kenapa dirinya takut bila Arga marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zuraida, wajah Arga tampak sedikit emosi, “Gila,,, bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan kemaluan terbuka seperti ini?,,,” suara Arga meninggi.
“Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,”
“Tunggu,,tunggu,,,apa Aryanti dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,”
Zuraida mengangguk pelan, tak berani menatap Arga. Keributan tidak hanya terjadi pada Arga dan Zuraida, tapi juga pasangan lainnya. Munaf yang merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Andini untuk memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Andini. Alasan Munaf, bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu Adit, gadis itu menggeleng tegas.
“Ayolah Din,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,”
“Jangaan,, ada mas Adit, ntar dia marah,,” Munaf tertawa mendengar jawaban Andini, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Adit.
Sementara di samping mereka Adit berusaha menyembunyikan hasratnya untuk menusuk vagina Sintya. Adit menahan bukan karena tak ingin, tapi karena memikirkan kondisi vagina Andini yang pastinya kini tengah mengangkangi batang Munaf. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan tangan Munaf yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat keluar.

Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak Prabu yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan cepat menggoda vagina Aida dengan gesekan-gesekan lembut. Aida kini merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Prabu adalah batang terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
“Koq sudah basah banget Bu?,,,” tanya Pak Prabu, kedua tangannya memeluk pantat Aida, selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan batangnya yang bergerak menggoda.
“Okey,,, sudah siap?,,, perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,”
“Siaaap,,, tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,, haahhhaha,,,” Munaf tertawa, sambil menepuk-nepuk pantat Andini, dan ulahnya itu membuat Adit meradang.
“Diiitt,,, jangan pikirkan istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,,” ucap Sintya, membisiki telinga Adit dengan cara yang sangat menggoda.
Adit tertawa, matanya beralih ke payudara Sintya yang kini berada di depannya. “Ayolah buat game ini semakin panas,,,”
Kini giliran Sintya yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Adit. “Liat saja nanti,,” bisik Sintya tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Prabu yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
“1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo…” Bu Sofie berteriak memberi aba-aba penuh semangat.
Kaki para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Adit menghentak batangnya ke liang kemaluan Sintya, tepat saat aba-aba Goo berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Prabu yang memaksa Aida untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang vaginanya yang sudah sangat basah.
“Ooowwgghhhh,, Paaakk,,,” Aida melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Prabu setengah berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
“Ugghhh,, apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah bener,,,” Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Arga dan Zuraida yang berlari sangat pelan.
Tubuh Zuraida tampak sesekali menggeliat saat batang Arga yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
“Gaaa,,, aku ga kuaaat kalo seperti iniii,,” Zuraida merintih pilu di telinga Arga, berusaha bertahan, sudah berkali-kali tubuhnya menerima rangsangan hebat, dari pak Prabu dan Munaf.

Sementara Aryanti yang berada tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi, tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Dako yang berusaha menyelusup masuk.
“Masss,,,” bibir Aryanti terbuka, seolah meminta izin untuk menerima batang milik Dako kedalam tubuhnya. Sangat sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Arga, istrinya justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di hati lelaki itu. Mungkinkah Dako sudah berhasil menyetubuhi istrinya. Tapi diamnya Arga, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
“Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,”
Tubuh Arga menggigil, saat Aryanti menutup mata, tubuh nya beringsut turun, menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Dako yang tegak mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit. Arga dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan, ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena gerakan Dako yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata Aryanti terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang tengah dirasakan oleh vaginanya.
“Dakooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Argaaaa, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,,” pinggul Aryanti bergerak semakin cepat.
“Apa kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas menikmati batangku,,” tanya Dako yang mulai kewalahan, menyetubuhi wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang mudah.
“Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benar-benar menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dakooo,,, aku merasa batangmu semakin besar di vaginakuuu,,,” Aryanti tidak lagi bergerak naik turun, tapi pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
“ooo,,, aku keluaaaarrr,,,” bibir Aryanti terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Dako.
“Ooowwhhhhsss,, Kooo,, batangmu keras bangeeett,,, meqi ku mpe klengeeerrrsss,,,” Aryanti seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi rangsangan tersendiri baginya.
“Yaaan aku juga mau keluaaarr,, terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,,” Dako mulai kewalahan, langkahnya tak lagi teratur.
“Zeee,,,, mereka sudah melakukaannyaaa,,,” ucap Arga pada Zuraida yang tengah terengah-engah merasakan gesekan batang Arga yang masih terbalut celana.
Tiba-tiba langkah Dako terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Aryanti, menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Aryanti tak kalah liarnya, berusaha menekan batang Dako jauh ke dalam kemaluannya, pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.

“Maaasss Dakooo,,” seru Zuraida pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat itu jualah sperma Dako menghambur, memenuhi rahim Aryanti yang juga tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat rintihan Aryanti tak lepas dari tatapan Arga yang langkahnya sempat terhenti tepat di samping mereka. Arga tau vagina istrinya tengah menerima transfer sperma milik Dako, sebanyak apapun cairan yang keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
“Gaaa,,,” wajah Zuraida yang terkejut dengan aksi Dako dan Aryanti kini menatap Arga, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang baru saja diterima Aryanti.
Ingin sekali Zuraida berteriak bahwa vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Arga menyusur ke bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zuraida, bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Arga.
Arga dan Zuraida saling tatap, “Zee,,, bolehhh?,,,” tanya Arga terengah-engah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zuraida mengangguk, meski dirinya selalu berharap Arga menyetubuhinya dalam suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benar-benar memaksa tubuhnya untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie. Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zuraida menurunkan pantat mulusnya. Bibir vaginanya mencari-cari ujung dari batang milik Arga.
“Gaaa,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,,” kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Arga bener-bener gemas.
Tapi bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka lebar, akan dengan mudah menerima batang Arga, itu adalah salah. Vagina Zuraida yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Arga.
“Kegedeaaann,, ga bisa masuuuk,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, tapi pinggulnya terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah penetrasi darurat.
“Gaaa,,, ayooo dong,, jangan malah diketawain,,,” dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin disetubuhi seperti saat ini.
“Wooyyy,,, Argaaa,, perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,,” seru Bu Sofie, mengagetkan Arga dan Zuraida, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata Zuraida kembali mengawasi suaminya Dako, yang masih berada di belakang mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Aryanti untuk menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya berpegangan erat di leher Pak Prabu. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah menerima setiap hujaman batang besar Pak Prabu. Lain lagi halnya dengan Adit dan Munaf yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas terlihat. Munaf begitu puas bisa mempencundangi Adit dengan memberikan orgasme pada istrinya Andini yang tidak berkutik di hadapan suaminya. Sementara bagi Adit sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya masih lebih hebat dengan menghantar Sintya pada orgasme yang sangat liar.
“Gaaa,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,”
Zuraida kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang Arga dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan yang lebih jauh.

“Zeee,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,”
Zuraida bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya, “Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,”
Arga tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat ke vagina Zuraida. Menyunul-nyunul pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita cantik itu.
“Gaaa,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,”
Mulut Zuraida terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Arga perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
“Aku tau kamu tadi masih ragu,” ucap Arga disela nafas Zuraida yang tercekat.
Kini tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
“Gaaa,, seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,,” vaginanya masih berusaha memasukkan batang Arga lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
“Gaaa,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,,” pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari-cari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Arga seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahun-tahun menjadi fantasi liar nya.
“Zeee,,, aku entot yaaa,,,”
Mata Zuraida terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka bertemu.
“Gaaa,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,”
Mata Zuraida nanar menatap batang Arga yang bergerak cepat keluar masuk lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil mengobok-obok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk kesetiaan.
“Argaaa,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh gaaa,, aku pipisss,,,Aaaggghhh,,,” Kaki Zuraida berusaha memiting pinggul Arga, memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat liar.
“Zeee,,, kau memaaang indaaahh,, Zee,,,” batang penis Arga serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh kenikmatan.
“Argaa,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Gaaa,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Gaaa,,,”
Mendengar kata-kata Zuraida, Arga justru semakin bernafsu, mencengkram erat pantat Zuraida, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam, merasakan empotan vagina Zuraida yang masih dilanda orgasme. Sia-sia bagi Zuraida berusaha melepas batang Arga dari vaginanya, karena saat ini kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
“Zeee,, aku keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaaang,,,oowgghhhh,,,” batang Arga berkedut, lalu menghambur bermili-mili sperma, menghentak dinding rahim Zuraida dengan deras.

“Ooowwhhhh,, Argaaa,,,keluarkaaan sayaaaaang,,, keluar semuaaa dirahimkuuu,,,” Zuraida menatap wajah Arga yang orgasme dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali menjepit pinggul Arga, memaksa otot vaginanya memijat batang Arga, seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
“Gaa,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,,” bisik Zuraida.
Whoooo,,, Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,,tepuk tangan dan sorak terdengar riuh, mengagetkan Arga dan Zuraida. Tanpa mereka sadari semua mata menatap ke arah mereka. Wajah Zuraida memerah seperti udang rebus, turun dari tubuh Arga dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
“Duduk dulu sayaaang,, kau terlihat sangat kelelahan,,” sambut Aryanti, wajahnya tersenyum menahan tawa.
“Maaf yaaan,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilang-bilang,,,”
“Ststsss,, udah jangan ributin itu,,,” jawab Aryanti, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zuraida yang hampir terlepas.
“Hey,, Pak Prabu, ngapain ngintip-ngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,” Aryanti mengusir Pak Prabu yang berusaha mengintip selangkangan Zuraida. Tampak sperma milik Arga perlahan mengalir keluar dari celah sempit itu.
“Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Ga,,,” seru Munaf, sambil terus bertepuk tangan.
“Asseeeem,,, sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Naf,,, lombanya siapa yang menang,,,” Arga berusaha mengalihkan obrolan.
“ngga ada yang menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua tuh,,,hahaahaa,,,” seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
“Okeeey,,, masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan.” Pak Prabu kembali mengambil alih komando.
“Ada beberapa kabar, entah ini baik atau buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,”
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Prabu.

MIA 7

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (4)
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (3)

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (2)
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

yessy purnamasari - jilbab memek seret (1)

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David

yessi eci - jilbab semok (6)
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”

yessi eci - jilbab semok (2)
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

yessi eci - jilbab semok (4)

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.

MIA 5

Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) J.

yessy eci - hijabers mom community (3)

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster, no bra dan no cd) dan memakai jilbab, sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku).

Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.
“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Fachri!” katanya tegas.
“Mmh.. Tino.”
Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”
“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.
“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.
“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.
“Belum!”
“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”
“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..
“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.
Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah memekku sambil mengelus dan menggosok memekku. Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

yessy eci - hijabers mom community (5)

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku. Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino.
Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku memakai jilbab putih, kemeja tangan panjang dan rok lebar semata kaki. Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon. Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan memberitahu Fachri dan ibu bahwa Tino menyuruhku segera pulang. Aku dan Fachri segera berpakaian lalu aku pulang menggunakan taksi agar Tino tidak curiga.

Keesokan harinya, Fachri menelfonku, katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia hrs melayani istrinya yang minta ML J. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh…. Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

yessi eci - jilbab semok (5)

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.

Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”
RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”
“Iya Mas, nggak papa!”
“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi apalagi memakai jilbab…” kata Mas Pras memujiku.
“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.
“Kamu bercanda apa serius nih?”
“Serius!!!”
“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.
“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”
“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”
“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”
“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”
“Kapan?”
“Mmmhh… maunya kapan?”
“Nanti malem aja!”
“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.
“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”
“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.
“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.
“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.
“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

yessy eci - toge jilbab montok (4)

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Mami…”
Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.
“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”
“Mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.
“Iya Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”
“Iya Om….”
“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.
“Aku laper… mau makan…”
“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”
Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.
“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”
“Iya…!!”
“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.
Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam kontolnya itu.
“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala kontol besar yang setengah bangun itu ke arah memekku yang ada dibalik g-stringku yang masih tersembunyi di balik rok panjangku yang sudah terangkat bagian depannya.
“Mi…” kata Mas Pras, “buka dong cd mu!”
Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.
“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.
“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua pakain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai daster tanpa lengan. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny. Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny. Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.
“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.
“Buat Mas!” jawabku singkat.
Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah memekku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam kontol yang setengah bangun itu. Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. Kontolnya menegang dengan cepat sekali.
“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”
Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. Kontolnya mulai memasuki liang memekku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali. Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam memekku.
“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.
“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.
Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)

Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras. Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak memek adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam memekku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.
“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”
“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

yessi eci - horny jilbaber montok (2)

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.
“Mi,… ML dong!” katanya.
“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”
“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”
“Aku kocokin aja ya….”
“Ya udah deh… nggak papa!”
Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok kontol suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi memekku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana kontolnya gede banget!” J

*****

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku hanya pakai daster dan jilbab.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.
“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.
“Kok Tante pentil teteknya kelihatan?” tanya Haikal, anak Fachri.
“Tante lagi lagi malas pakai daleman Ikal…” jawabku sambil menunjukkan menunjuk tetekku ke arahnya.
Sambil meremas tetekku, Fachri berkata, “Tante mau ngentot ama papa ya!”
“iya….” Sahutku.

Sambil menggandeng tangan Fachri, Fachri mengajakku ke kamar mandi untuk menemaninya buang air kecil. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!
Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di kontolnya.
Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan  daster. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.

MIA 4

yessi eci - jilbab semok (1)

Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya. Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?
Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga J Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.
“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”
“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”
“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.
“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.
“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.
“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.
“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.
“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.
“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.
“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.
“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.
“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”
“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.
Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”
“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.
Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.
Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini J). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.
“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.

yessi eci - jilbab semok (5)
“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.
“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.
“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”
“Berapa lama di Manado, mas?”
“Kurang lebih 1 minggu….!”
Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)
“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.
“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”
“Mmh… nggak papa kan?”
“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”
“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”
“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”
“Siapa? Haikal apa aku?”
“Kamu!”
“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”
“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”
“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.
“Uuu… maunya!!”
“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”
“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.
“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”
“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”
“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”
“Tapi pake cd?”
“Ya… iyalah….”
“Mmmhh… gak usah deh…!”
“Terus aku bugil?”
“Iya!”
“Topless aja ya….”
“Mmmhhh…. Ok!”
“20 menit ya….!!!”
“OK!”
Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot kontol Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus memekku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…
“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”
“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”
“Sama Haikal?”
“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”

yessi eci - jilbab semok (4)
“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.
Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..
“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”
“Di pakai gimana?”
“Ya… memeknya mami mau dipakai sama kontolnya Om Fachri…”
“Oo… mau gituan dulu ya…”
“Gituan apa?”
“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.
“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab kontolnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”
“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”
“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”
“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”
“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”
“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, ngentot, ML…. pokoknya banyak deh…!”
Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi memek sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil mengenakan kimono mandi dan jilbab, aku membukakan pintu.
“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.
“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”
“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.
“Ooo… nggak mau nepatin janji?”
“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”
“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.
“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”
“Toketmu?”
“Iyalah…”
“Mau aku remes2!!!”
Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.
Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku dan jilbabku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.
“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.
“Bonus!” jawabku singkat.
“Bonus apa?” tanyanya lagi.
“Bonus karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”
“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”
“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”
“Lho? Terus kamunya?”
“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”
“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.
“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku pingin ngerasain kontol Arab!”
“Dasar kamu!!!!!”

yessi eci - jilbab semok (3)

Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… kontolnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap kontolnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.
Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.
“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”
“Gimana apanya?”
“Mereka disini ngeliatin kita.”
“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.
Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati kontol arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan kontolnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan memekku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan memekku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku. Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga memekku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku. Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi. Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan kontolnya kedalam memekku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam penisnya berdenyut dengan kencang sekali. Memekku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.
“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.
“Mmmhh… enak kan tapinya?”
“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”
“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”
“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot memekku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.
“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”
Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot memekku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan kontolnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.

“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.
“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”
Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.
Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja memekku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan kontolnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…
“Sumpah, Mi… memekmu enak bener!”
“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! Kontolmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”
Lalu Fachri kembali memasukkan kontol arabnya ke dalam memek lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat kontol Fachri kepada liang memekku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak. Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang memekku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.
“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.
Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar. Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam kontolnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang memekku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

yessi eci - jilbab semok (3)

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam memekku, Fachri mengeluarkan kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… kontol yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.
“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”
“Kenapa?” tanya Fanny.
“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”
“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.
“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, ngentot, ML…. tinggal pilih!
“Oo….! Berarti seharian kita ngentot nih?” tanya Fachri lagi.
“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”
“OK!”
“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.
“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.
“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”
“Ya sudah….”

Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan kontol Fachri dengan batangan imut milik Haikal.
“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.
“Soalnya supaya muat di memeknya mami!” Jawabku singkat.
“Tante…” kata Haikal, “memek apaan sih?”
Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus memekku, Fachri berkata…
“Ini yang namanya memek, Cal! Memeknya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium memeknya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”
Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan memekku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium memekku. Belum selesai Haikal menciumi memekku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat memekku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil! Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok kontol Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

yessi eci - jilbab semok (2)

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus memek mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian. Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan kontol kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok kontol kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat. Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus memekku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas kontolnya.
“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.
“Kenapa?”
“Bisa nyobain memekmu! Kamu?”
“Aku apalagi! Bisa nyobain kontol arab. Yang gede dan yang kecil”
Aku dan Fachri tertawa kecil.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.
“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”
“Yang enak yaa….”
“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.
“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…
“Kenapa?”
“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”
“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
“Kamu seneng banget ngentot ya?” tanyanya lagi.
“Mmhh… kalo iya kenapa?”
“Gak papa… Cuma heran aja!”
“Heran kenapa?”
“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”
“Iya… terus?”
“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”
“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”
“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak memek istrinya.”
“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”
“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

yessi eci - jilbab semok (1)

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya. Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati memek mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.
“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus memek anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya kontol!”
“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”
Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.
“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”
Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “kontolnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin kontolnya ayahmu ngacak-ngacak memeknya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.

ASMARANI

Lebih dari 15 menit berdiri, antrian di depanku masih panjang juga. Padahal aku hanya akan membeli tiket film yang kuyakin tak banyak orang akan membeli. Film berjudul panjang ‘What They Don’t Talk About When They Talk Bout Love’, tak seperti kebanyakan orang yang akan membeli tiket Iron Man 3. Bosan memperhatikan antrian, aku mengutak-atik smartphone-ku, mencari tahu ada berita apa di timeline Twitter. Samar terdengar percakapan di telepon dari pemuda di belakangku.

fatifa asmarani

“Iya, datang sendiri… dan jangan coba-coba lapor polisi!”

“…”

“Aku masih mau nonton film. Nanti malam saja. Jam sepuluh, bagaimana?”
“…”

“Hmm, begitu ya? Oke, di parkiran lantai delapan kalau gitu. Sebentar lagi aku ke sana. Ingat, jangan coba-coba menjebakku!” ujarnya setengah berbisik. Lirih.

Aku sempat menoleh untuk melihat seperti apa pemuda yang bercakap lirih itu. Rupanya seumuran denganku, berpenampilan necis dengan gaya rambut trendi. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya tampak gelisah. Sempat kucuri pandang saat dia beberapa kali melihat jam tangan.

Ketika antrian di depanku sudah menyusut dan aku tinggal sejengkal dari meja ticketing, tiba-tiba pemuda itu meninggalkan antrian. Batinku bergejolak, antara tetap di sini atau membuntutinya. Setelah antrian di depanku benar-benar habis, aku melangkah mantap meninggalkan bioskop dan mengikutinya menuju parkiran. Kupercepat langkahku menuju lantai delapan. Sampai di sana, aku menjelajahi sudut demi sudut, mencari di mana sosok dirinya. Ketika hampir putus asa, terdengar suara jeritan perempuan tak jauh dari tempatku berdiri. Segera aku berlari ke arah suara itu.

fatifa asmarani (2)

Di belakang sebuah van, kulihat seorang gadis sedang diancam oleh seorang pemuda. Pemuda yang tadi. Dan gadis itu adalah… Asmarani Setiana Dewi. Ya Tuhan, tidak mungkin. Aku menatap tak percaya. Tapi memang benar, gadis disana itu adalah Asmarani Setiana Dewi.

Dari tempatku mengintip, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun aku bisa menebak kalau si pemuda sedang mengancam Asmarani, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto dan menunjukkan pada Asmarani.

Asmarani melihatnya dan langsung terkesiap. Seperti tidak menyangka kalau akan melihat gambar-gambar itu. Tidak bisa kulihat foto apa itu, namun bisa kutebak kalau itu adalah foto-foto pribadi yang tidak seharusnya muncul ke publik.

Aku berjalan mendekat, ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini jarakku hanya dua mobil dari mereka.

iffa-jilbabsemok (1)

”Pram, apa-apaan ini?! Darimana barang ini kau dapatkan?” tanya Asmarani dengan suara tegang.

”Itu tidak penting.” jawab pemuda yang ternyata bernama Pram.

”Jangan kurang ajar ya, cepat serahkan padaku!” kata Asmarani ketus, jilbab lebarnya yang sebatas perut tampak melambai-lambai karena tertiup angin.

”Eh, tidak semudah itu. Ada syaratnya,” jawab Pram kalem, tahu kalau ia memegang kendali permainan ini.

”Kamu mau uang? Sebutkan berapa, aku bayar sekarang!” tantang Asmarani tak sabar.

”Oo… nggak, nggak. Aku tidak serendah itu. Uang tidak aku butuhkan, aku  cuma minta…” Pram tidak meneruskan perkataannya.

”Apa, cepat katakan!” kata Asmarani dengan ketus. Meski berusaha untuk tegar, namun perasan aneh mulai menjalari tubuh sintalnya disertai dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras. Dalam hati ia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Pram.

Pram maju selangkah dan tiba-tiba tangannya bergerak meremas payudara bulat milik Asmarani.

“Hei! Jangan kurang ajar ya!” bentak Asmarani sambil langsung menepis tangan itu dan mendorong tubuh Pram menjauh. “Bangsat… berani sekali kamu!!” Asmarani  menghardik dengan marah.

fatifa asmarani (1)

Pram tersenyum dan melambai-lambaikan setumpuk foto yang ada di tangannya. “Ayolah, aku tahu kamu bisa berpikir jernih. Coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini tersebar ke media. Gimana nanti tanggapan orang tentang kamu?!” kata Pram disusul gelak tawanya yang menjengkelkan.

Asmarani tertegun, pikirannya kalut. Tiada pilihan baginya selain mengikuti kemauan Pram. Kalau foto-foto itu sampai tersebar, imej-nya sebagai artis anggun yang berjilbab pasti akan hancur. Bahkan bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

Pram kembali mendekatinya dan meraba pundaknya, “Gimana? Aku yakin kamu bisa memilih mana yang terbaik.” katanya sambil membelai lembut jilbab Asmarani yang melambai.

iffa-jilbabsemok (2)

Kulihat Asmarani tampak masih berpikir-pikir. Namun setelah beberapa saat, ia  akhirnya mengangguk meski masih dengan berat hati. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Pram menyeringai penuh kemenangan.

“Hahaha… kamu memang pintar!” kata Pram dan tanpa sungkan-sungkan lagi langsung memeluk tubuh sintal Asmarani. Tangannya dengan gesit menggerayang untuk meremas-remas payudara Asmarani dari luar baju kurungnya. Tak cuma itu, Pram juga mulai menciumi Asmarani, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulut gadis cantik itu.

Asmarani tampak geli, jijik dan juga nikmat saat menerimanya. Semuanya bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahi yang entah berasal dari mana tiba-tiba saja mulai naik menyelubungi tubuh sintalnya.

Pram kini semakin berani dengan menyusupkan salah satu tangannya ke balik kaos lengan panjang yang dipakai oleh Asmarani. Tangan itu terus bergerak hingga sampai di atas gundukan payudara Asmarani. Pram berhenti disana dan mulai meremas-remasnya sebentar sebelum ia kembali menyusupkan tangan ke balik beha mungil Asmarani.

Tampak nafas Asmarani jadi semakin memburu ketika tangan Pram dengan begitu kasarnya mulai menggerayangi buah dadanya. Ditambah jari-jari Pram yang turut mempermainkan putingnya, maka makin lengkaplah penderitaan yang ia terima. Di atas, Pram juga terus aktif mempermainkan lidahnya, melumat habis bibir tipis Asmarani hingga air liurnya menetes-netes di pinggiran mulut.

”Ahh… j-jangan!” Asmarani melenguh, namun sama sekali tidak bisa menolak. Kini Pram sudah membuka resleting rok panjangnya sambil meraba-raba kulit pahanya yang putih jenjang. Satu-persatu kancing baju Asmarani juga dipreteli oleh laki-laki itu hingga nampaklah BH Asmarani yang berwarna merah muda, juga belahan dada dan perut Asmarani yang nampak mulus dan rata.

iffa-jilbabsemok (3)

Melihat semua itu, Pram terlihat semakin bernafsu. Dengan kasar ia menarik turun BH Asmarani hingga menyembullah payudara Asmarani yang montok dengan sepasang puting merah tua yang sangat mengggiurkan.

”Wow, ternyata lebih indah dari yang di foto!” kata Pram suka. Dibentangkannya lebar-lebar kedua kaki Asmarani, tangannya yang semula mengelus-elus paha Asmarani, kini mulai merambat naik ke selangkangan. Jari-jari besarnya dengan nakal menyelinap ke pinggiran celana dalam Asmarani dan mengelus lembut disana.

Asmarani terlihat muak dengan semua yang diterimanya, namun terlihat tidak berdaya untuk melawan. Matanya terpejam sementara dari mulutnya keluar desahan pasrah untuk yang terakhir kali, “Eeemhh… uhh… s-sudah… jangan… tolong hentikan… aku mohon!”

Namun Pram sama sekali tidak menghiraukan, dia malah merapatkan tubuh Asmarani pada bagian belakang mobil van. Yang tidak diketahui oleh Asmarani  adalah, Pram ternyata pintar membangkitkan nafsunya. Sapuan-sapuan lidah pemuda itu pada putingnya perlahan namun pasti mulai membuat Asmarani gelagapan. Yang terutama terlihat adalah puting Asmarani yang sekarang tampak semakin mengeras saja.

Tangan Pram juga mulai menyelinap ke balik celana dalam Asmarani untuk mengusap-usap permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat menggiurkan. Dari tempatku berdiri bisa kulihat betapa rimbun rambut keriting itu.

“Sshh… eemhh…” Asmarani mulai meracau saat jari-jari tangan Pram perlahan memasuki lubang vaginanya dan memainkan klistorisnya, sementara mulut pemuda itu tiada henti-henti mencumbu bulatan payudaranya. Mau atau tidak, diperlakukan terus seperti itu membuat Asmarani mulai terbawa nikmat.

“Hehehe… kamu mulai terangsang ya?” ejek Pram dekat telinga Asmarani.

iffa-jilbabsemok (4)

Sebelum Asmarani sempat untuk menjawab, tiba-tiba saja Pram dengan kasar menarik lepas celana dalamnya sehingga yang tersisa di tubuh Asmarani sekarang hanya baju lengan panjang dan jilbab lebar yang masih menutupi kepala dan rambutnya. Sedangkan BH-nya sudah terangkat, memperlihatkan sepasang payudara milik Asmarani yang begitu putih dan mulus.

Pram menunduk, dibentangkannya kedua paha Asmarani di depan wajahnya. Tanpa aba-aba, ia kemudian membenamkan wajah pada selangkangan Asmarani. Dengan penuh nafsu ia melahap dan menyedot-nyedot vagina Asmarani hingga menjadi begitu basah. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitoris gadis itu. Sesekali Pram juga mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anus Asmarani. Perlakuannya itu membuat tubuh Asmarani menggelinjang-gelinjang dengan diiringi oleh desahan nikmat.

iffa-jilbabsemok (11)

Tidak lama Pram melakukannya. Saat dirasa vagina sempit Asmarani sudah mulai basah, iapun berhenti. Ditariknya dua jari tangan yang sedari tadi mengorek-ngorek liang senggama dan diberikannya pada Asmarani, disuruhnya gadis itu untuk membersihkannya. Meski jijik, dengan terpaksa Asmarani melakukannya. Dijilatinya jari-jari Pram yang penuh belepotan oleh cairan cintanya.

“Nah, sekarang giliran kamu untuk merasakan kontolku!” kata Pram sambil mendorong tubuh Asmarani hingga jatuh ke lantai parkiran yang dingin. Disana, Asmarani meringkuk tanpa daya, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang terbuka disana-sini. Sambil menyeringai, Pram mulai melepaskan celana. Dalam waktu singkat, tampaklah oleh Asmarani kemaluan Pram yang sudah menegang sedari tadi. Ukurannya lumayan besar juga, dengan dihiasi bulu-bulu keriting yang mencuat tak beraturan disana-sini.

Pram kemudian maju ke wajah Asmarani dan menyodorkan penisnya. Asmarani tanpa perlu disuruh dua kali segera mengocok dan mengemut penis itu. Pada awalnya ia terlihat hampir muntah, namun Pram dengan gesit menahan kepala Asmarani hingga gadis itu tidak dapat melepaskan kulumannya.

iffa-jilbabsemok (5)

“Yah gitu… hisap yang kuat, jangan cuma dimasukin mulut aja!” dengus Pram sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulut Asmarani.

Aku yang melihat dari jauh jadi ikut terangsang juga. Kubayangkan seandainya penisku yang sedang dihisap oleh Asmarani disana, uh betapa nikmatnya. Sambil terus menonton, kukeluarkan penisku dari sela-sela restleting dan mulai mengocoknya pelan. Aku onani!

Selama 5 menit Asmarani mengkaraoke Pram sebelum pemuda itu mengakhirinya dengan menarik kepala Asmarani menjauh. Setelah itu dibaringkannya tubuh Asmarani di lantai dan membuka lebar-lebar kedua paha gadis itu. Pram lalu berlutut di antaranya. Asmarani terlihat memejamkan mata, tak sanggup menerima pemerkosaan atas dirinya.

iffa-jilbabsemok (10)

Sleebb…!!! Dengan lancar penis Pram meluncur masuk sampai tembus menyentuh rahim Asmarani. Aku heran juga, apa Asmarani sudah tidak perawan? Yah, sepertinya begitu. Karena meski menangis, Asmarani tidak terlihat kesakitan, ia hanya merasa dilecehkan karena sudah diperkosa oleh Pram di lahan parkir mall. Asmarani bahkan mengerang setiap kali Pram menyodokkan penisnya, ia terlihat mulai bisa menikmatinya. Perawan ataupun tidak, aku suka melihat persetubuhan ini. Bayangkan, seorang Asmarani Setiana Dewi diperkosa tepat di depan matamu. Sungguh sangat beruntung sekali bukan? Siapa tahu aku bisa mengambil manfaat dari peristiwa ini. Ah, mudah-mudahan saja.

Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan terus terjadi. Begitu membuai dan sangat nikmat. Sambil menyetubuhi, bibir Pram tak henti-henti melumat mulut dan payudara Asmarani, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantat Asmarani yang putih mulus. Asmarani hanya pasrah saja menerima semua perlakuan itu. Bahkan saat Pram menaikkan tubuhnya ke pangkuan, ia hanya diam saja.

Pram kembali menggerakkan tubuh Asmarani naik turun. Ia melakukan itu sambil menyusu pada payudara Asmarani yang tepat berada di depan wajahnya. Ia kulum dan hisap puting Asmarani ke dalam mulutnya seperti bayi yang sedang menetek.

Puas di posisi itu, Pram kemudian membalik badan Asmarani hingga sekarang menungging. Disetubuhinya Asmarani dari arah belakang sambil tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuh Asmarani yang putih mulus. Dari tempatku mengintip, harus kuakui kalau Pram sungguh-sungguh hebat. Aku yang cuma onani sambil melihat saja sudah ejakulasi, sedangkan dia yang beneran main bisa bertahan begitu lama.

iffa-jilbabsemok (6)

Setelah lebih dari setengah jam, barulah Pram mulai melenguh panjang. Sodokannya terlihat semakin kencang sambil kedua payudara Asmarani diremas-remasnya brutal. Ia terus melakukannya sampai maninya menyempot dengan deras mengisi liang rahim Asmarani tak lama kemudian.

Asmarani menjerit keras saat menerimanya, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kehabisan tenaga, jadi dibiarkannya saja mani Pram belepotan di sekujur tubuhnya.

Sebagai hidangan penutup, Pram menempelkan penisnya pada bibir Asmarani dan menyuruh gadis itu untuk membersihkannya. Asmarani tanpa bisa melawan segera menjilatinya sampai bersih. Setelah tidak ada lagi ceceran sperma yang ada disana, Pram baru mencabut penisnya dari mulut Asmarani.

“Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi serahkan foto-foto itu sekarang!” kata Asmarani tak sabar.

“Tenang, Sayang. Nih ambil,” jawab Pram sambil melemparkan tumpukan foto di tangannya ke muka Asmarani.

Asmarani lekas mengumpulkan dan mengamatinya. Saat tahu ada yang kurang, ia segera berteriak. “Klisenya! Mana klisenya?!” bentaknya.

iffa-jilbabsemok (7)

“Jangan marah-marah gitu dong, klisenya aman bersamaku. Kamu bisa mengambilnya besok pagi di rumahku.” kata Pram sambil memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan Asmarani yang masih terpuruk kelelahan.

Tidak terima dengan kelakuan laki-laki itu, Asmarani pun lekas bangkit dan memburunya, ia mengejar Pram. Namun baru satu langkah, Pram tiba-tiba berbalik dan Jreb! Ia menghujamkan pisau tepat ke dada Asmarani. Gadis itupun langsung roboh tanpa sempat berteriak.

Aku yang panik, tanpa pikir panjang segera menghambur keluar. Sementara Pram berlari menjauh, kutarik pisau yang menancap di dada Asmarani dengan tanganku. Memang aku sempat terpesona oleh tubuh mulus Asmarani yang masih terbuka disana-sini, namun melihatnya yang sekarat menyabung nyawa, lekas kusingkirkan jauh-jauh pikiran mesum itu.

Aku sudah akan menelepon polisi saat tiba-tiba suara Pram mengejutkanku dari arah belakang. “Hei, Bung… jangan suka mencampuri urusan orang!”

Belum sempat aku berkata apa-apa, apalagi berbalik untuk menghadapinya, kurasakan sebuah benda tumpul menghantam tengkorak kepalaku.

iffa-jilbabsemok (8)

Bletak!

***

Aku terbujur kaku di satu ruangan lembab dan gelap. Tanganku terikat ke belakang kursi. Tak lama kemudian, lampu di atas meja depanku menyala. Redup. Pintu di belakangku terbuka, dan masuklah seorang lelaki tegap berseragam polisi. Dia duduk di depanku dan menyodorkan map yang dibawanya. Di situ tertulis bahwa aku tersangka utama pemerkosaan dan pembunuhan seorang artis dengan bukti berupa sidik jari pada pisau yang dijadikan senjata, serta saksi yang melihat. Aku tercenung, setengah shock membaca isi map itu.

“Pak, saya justru hendak menolong gadis itu. Saya hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi. Sidik jari jelas, saksi juga jelas melihat Saudara melakukan pembunuhan itu. Saudara tak bisa mengelak!”
“Tidak, Pak. Demi Tuhaaan!”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Saudara itu seorang kriminil. Tak pantas!” bentak

polisi itu. Ia lalu membuka pintu dan setengah berteriak pada polisi yang lain.
“Jon, saksi bisa dipersilahkan pulang.”

“Baik, Pak!”

Tiba-tiba mataku menatap sosok yang tak asing. Pemuda itu. Pram!

iffa-jilbabsemok (9)

“Pak, pemuda itu pelakunya, bukan saya! Saya dijebak!”\

“Ah, diam kamu! Berisik!” bentak polisi itu lagi sambil mendekatiku. Satu tamparan keras melayang ke wajah. Sebelum kesadaranku hilang lagi, sempat kutangkap senyuman di wajah Pram.

NYAI SITI : ANITA

Seperti biasa, sehabis memasak dan bersih-bersih rumah, Nyai Siti akan pergi ke kamar Dewo untuk membangunkan laki-laki itu. Dan seperti biasa juga, caranya membangunkan Dewo adalah dengan menyepong kontolnya.
Dewo terbangun ketika merasakan ada tangan halus yang menggerayangi kontolnya, ia membuka mata dan melihat Nyai Siti yang duduk di tepi ranjang sambil cepat sekali mencopoti bajunya hingga telanjang. Hanya jilbab lebar yang ia biarkan menutupi rambutnya yang panjang. Sambil tersenyum, Nyai Siti langsung menghisap kontol Dewo. Ia kulum habis dan jilat-jilat benda panjang itu penuh nafsu, sambil tak ketinggalan juga biji pelernya ia pijit-pijit ringan.

”Yang beginian aja kok banyak yang nyari ya?” kata Nyai Siti sambil terus melomot kontol panjang Dewo.
Dewo cuma tersenyum mendengarnya. Ia biarkan Nyai Siti terus mempermainkan batang penisnya sementara ia sendiri membalas dengan meremas dan memijit-mijit bulatan payudara perempuan cantik itu yang kini kelihatan makin besar dan mengkal saja akibat sering ia pegang-pegang.
Lagi enak-enaknya, tiba-tiba masuklah dua orang ke kamar itu. Dewo dan Nyai Siti serentak menoleh kaget, tapi segera menarik nafas lega saat tahu kalau itu cuma Rohmah dan Wiwik yang akan berangkat ke sekolah.
”Mi, berangkat dulu,” pamit Rohmah pada ibunya.
Nyai Siti mengangguk mengiyakan. Ia lepaskan kontol Dewo sebentar untuk menyalami Rohmah dan Wiwik.
”Ih, Paman… nggak ada bosan-bosannya, ngaceng terus,” goda Wiwik sambil menggenggam pelan kontol Dewo. Nyai Siti tersenyum saja melihat ulah adiknya itu.
”Iya, bikin pengen aja.” Rohmah nimbrung dengan ikut memegang dan mengocoknya lembut.
”Eh, sudah-sudah… nanti kalian bisa terlambat sekolah,” sergah Nyai Siti begitu melihat Rohmah dan Wiwik mulai menunduk untuk menciumi kontol panjang Dewo.
Dewo hanya tertawa saja melihat kontolnya jadi rebutan. ”Iya, kalian sekolah dulu. Nanti sore, kalian baru boleh mainin kontol paman sepuasnya.” kata Dewo sambil meremas dada Rohmah dan Wiwik secara bergantian.
Dengan berat hati kedua gadis itupun melepaskan kontol panjang Dewo. Diiringi anggukan dari Nyai Siti, mereka keluar dari kamar. ”Janji ya, Paman, nanti sore?” kata Wiwik sebelum menutup pintu.
”Iya,” Dewo mengangguk sambil menarik kembali kepala Nyai Siti agar sekali lagi mengulum batang penisnya.
”Tusuk di memek sama anusku ya?” timpal Rohmah.
“Iya, iya, pasti dikasih sama Paman Dewo. Sekarang kalian sekolah dulu, cepat berangkat sana!” usir Nyai Siti melihat kedua anak gadisnya yang masih berat meninggalkan kamar.
Rohmah dan Wiwik tertawa cekikikan melihat Nyai Siti yang mulai uring-uringan karena nafsu kenikmatannya terganggu. Sepeninggal mereka, dengan gairah menggebu-gebu, Nyai Siti langsung berjongkok di atas kontol Dewo. Dia pegang dan masukkan benda coklat panjang itu ke lubang vaginanya, dan lalu mulai menggenjotnya naik-turun sambil menghadap pada Dewo sehingga laki-laki itu bisa leluasa mempermainkan dan meremas-remas tonjolan payudaranya sementara ia sendiri berkuda.
Sekitar 7 menit mereka dalam posisi seperti itu sebelum pintu kamar kembali terbuka. Kali ini Kyai Kholil yang masuk. Nyai Siti sempat menghentikan gerakannya sejenak, tapi segera menggoyang kembali saat mengetahui kalau Kyai Kholil cuma menanyakan dimana Nyai Siti menyimpan lauk untuk sarapan.
”Ahh… a-ada di d-dalam lemari…” sahut Nyai Siti dengan nafas ngos-ngosan dan tubuh mulus mengkilat karena keringat. Dewo sendiri cuma tersenyum dan mengangguk, tangannya dengan nakal terus menjamah dan meremas-remas payudara Nyai Siti yang putingnya kini kelihatan kaku dan menegang.
Seperti sudah diceritakan di episode lalu, Dewo sudah berhasil memelet Kyai Kholil. Laki-laki itu kini sudah seperti orang ling-lung, sama sekali tidak marah meski mengetahui istrinya main gila dengan Dewo. Malah yang lebih gila lagi, Kyai Kholil juga ikut-ikutan. Ia sudah tidur dengan Wiwik, dan kemarin malam -atas bantuan Dewo- ia juga tidur dengan Imah. Hanya Rohmah yang masih belum karena sedikit kesadaran di pikiran Kyai Kholil melarangnya untuk meniduri anak sendiri. Pelet Dewo masih belum bisa menjangkau kesana.
Mengangguk mengiyakan, Kyai Kholil keluar dari kamar, meninggalkan Dewo dan Nyai Siti menyelesaikan urusan mereka. Ia bergegas pergi ke dapur dan menyiapkan sarapannya sendiri. Tapi baru saja menyendok nasi, didengarnya suara seseorang mengucapkan salam dari luar.
”Assalamu’alaikum…”
”Wa’alaikum salam… tunggu sebentar,” balas Kyai Kholil, tanpa mencuci tangan ia pergi ke pintu depan.
Saat dibuka, dilihatnya seorang wanita cantik berjilbab lebar dengan pesona yang sungguh memukau. Apalagi dengan baju gamisnya yang cukup ketat hingga mencetak jelas bentuk tubuhnya yang sangat menggairahkan. Kyai Kholil langsung tergoda. Dulu, sebelum terkena pelet Dewo, ia tidak mungkin punya pikiran seperti ini. Kyai Kholil adalah orang yang lurus dan beriman. Tapi sekarang, begitu merasakan kenikmatan memek wanita-wanita berjilbab, ia jadi berubah seperti srigala pemangsa. Di dalam pikiran Kyai Kholil langsung terbayang erangan-erangan mereka yang menjerit penuh nikmat di atas ranjang dengan masih memakai jilbab. Ia jadi ingin merasakannya lagi, dengan wanita ini tentunya. Wanita yang bernama Anita.
”Eh, Anita… mari, mari masuk, silakan.” sapa Kyai Kholil dengan sopan.
Anita dengan tersenyum malu melangkahkan kaki ke ruang tamu. Begitu melewati pintu, sebentuk hawa sejuk tiba-tiba menerpa mukanya, membuatnya jadi terdiam dan terbengong-bengong untuk beberapa saat. Kyai Kholil tersenyum, tahu kalau pelet Dewo sudah mulai bekerja.
”Ada perlu apa, Nit?” tanya Kyai Kholil, masih dengan sopan. Padahal di balik sarung, kontolnya sudah mulai ngaceng dan mengeras.
”Eh, itu… aku… emm… apa ya?” Anita menjawab bingung, tiba-tiba lupa dengan tujuannya kemari. Yang ada di pikirannya sekarang malah paras Kyai Kholil yang kelihatan jadi jantan dan menarik, membuat memeknya jadi basah dan lembab dengan begitu cepat.
Kyai Kholil tersenyum, ”Kamu duduk aja dulu, saya ambilkan minum.” Sesuai pesan Dewo, agar lebih memperkuat khasiat pelet, harus ditambah dengan minuman yang sudah diberi jampi-jampi. Dewo sudah menyiapkannya di dapur, di dalam sebuah kendi yang ditaruh di atas lemari. Meminum seteguk ramuan itu akan membuat wanita langsung hilang kesadaran dan menuruti apapun mau kita. Kyai Kholil sudah mencobanya kemarin kepada Imah, dan sekarang ia ingin memberikannya pada Anita.
Anita sendiri adalah wanita yang sangat cantik, baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Sehari-hari selalu memakai jilbab, perilakunya sangat alim dan religius. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menekuni akhirat, dan yang pasti selalu berbuat kebajikan. Suaminya seorang da’i muda yang sering memberikan ceramah di mana-mana. Anita jadi sering ditinggal sendiri, membuatnya jadi harus menahan nafsu yang menggebu-gebu. Siapa sangka, di balik jilbab lebarnya, Anita ternyata mempunyai naluri seks yang sangat tinggi, yang sama sekali tidak bisa diimbangi oleh suaminya. Maka jadilah Anita selalu kecewa, tapi selalu bisa ia sembunyikan. Sebagai istri solehah, ia memang tidak boleh menuntut. Menurut agama, itu sangat tabu. Kewajiban istri adalah melayani suami, bukan meminta kepuasan.
Karena itulah, begitu pelet Dewo mulai bekerja, Anita tunduk dengan begitu mudah. Ia diam saja saat Kyai Kholil memberinya minum dan kemudian duduk di sebelahnya, padahal seharusnya mereka tidak boleh berposisi seperti itu karena bukan mahram. Kalau dua orang berdiam di satu tempat, maka yang ketiga adalah setan. Setan yang berwujud pelet maut Dewo.
”Habis menikah, kamu tambah cakep aja,“ puji Kyai Kholil tanpa malu-malu, ia memandangi Anita sambil tersenyum. Mukanya sudah mupeng, ingin segera menyetubuhi perempuan cantik itu.
“Ah, Pak Kyai bisa aja,” Anita tertawa manja. ”Kok sepi, kemana Bu Nyai?“ tanyanya dengan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa gatal aneh yang mulai menyelubungi tubuh sintalnya. Yang tentu saja itu tidak mungkin, pelet Dewo sangat mustahil untuk dilawan.
“Bu Nyai lagi pergi, mungkin belanja.” jawab Kyai Kholil berbohong dengan hidung mengendus-endus, bau wangi tubuh Anita menusuk hidungnya, membuatnya jadi makin terangsang dan bergairah.
“Oh… berarti kita cuma berdua ya?“ Anita tersenyum, seperti mengerti dengan kode aman dari Kyai Kholil.
”Iya,” Kyai Kholil mengangguk, “tahu nggak, kecantikan kamu bikin aku jadi kesengsem nih.“ godanya yang dijawab dengan pelototan mata dari Anita. Bukan karena marah, tapi lebih karena kaget melihat Kyai Kholil yang terang-terangan menggodanya.
“Pak Kyai kok jahil, sih…“ Anita mengipas-ngipaskan tangannya, mulai merasa panas akibat pengaruh pelet Dewo. Ia berusaha membenahi jilbabnya yang berwarna merah muda dan tersenyum. “Eh, Pak Kyai… saya mau tanya… tapi aaah…“ ucap Anita dengan suara mulai tak teratur.
“Tanya apa, soal seks ya?“ pancing Kyai Kholil dengan kurang ajar, membuat Anita yang meski sudah menyerah jadi sedikit terkejut juga.
“Iyaa… eh, tidak… ah, anuu… soal rumah tangga!“ ralat Anita yang semakin kacau, panas tubuhnya semakin meningkat membakar gairahnya.
“Kamu kok kelihatannya nggak tenang, panas ya… apa kamu gerah?“ tanya Kyai Kholil sambil mendekatkan tubuhnya, merangsek lebih menempel ke tubuh montok Anita.
Anita sendiri tidak menyingkir, ia diam saja dan malah memijit-mijit  kepalanya, “Nggak tahu nih, Pak Kyai… tiba-tiba saja saya nggak enak badan.” katanya.
”Ada yang bisa kubantu?” tawar Kyai Kholil.
”Uuh… gimana ya, saya mau minta tolong… tapi aaah…“ ujar Anita semakin bingung.
Kyai Kholil langung mengambil inisiatif dengan memandangnya sambil tersenyum. Anita terkejut dipandangi seperti itu, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Yang ada nafsunya malah semakin melambung dan ikut tersenyum. Anita kembali menenggak sisa minuman yang ada di meja, yang tentu saja membuat badannya menjadi kian panas. Kyai Kholil terus mendekat sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Anita memejamkan mata saat merasakan rangsangan dari minuman itu kian menggerogoti tubuh sintalnya. Ia juga diam saja saat Kyai Kholil mulai menggenggam belahan tangannya.
”Pak Kyai…” lirih Anita sedikit terkejut.
“Tenanglah, aku akan membuatmu nyaman.“ kata Kyai Kholil sambil mulai memijit lengan Anita. Dengan bimbingan dari Kyai Kholil, Anita segera merebahkan diri di sofa, jilbabnya ia atur sedemikian rupa agar tidak lecek, sebelum kemudian mulai memejamkan mata. Pelan Kyai Kholil terus memijat bahu Anita.
“Uh, Pak Kyai… rasanya panas.“ keluh Anita tetap tidak tenang.
”Hembuskan nafasmu pelan-pelan,“ Sambil terus memijit, Kyai Kholil menggiring tangan Anita agar menyentuh selangkangannya.
“Iya, Pak Kyai…” Anita membuka matanya sebentar, lalu memejamkannya lagi. ”Eh, apa ini?!” teriaknya kencang saat tangannya nemplok di selangkangan Kyai Kholil yang sudah ngaceng berat. Kontan Anita langsung membuka matanya.
Namun Kyai Kholil yang sudah tidak tahan lagi, langsung menundukkan kepala dan melumat bibir tipis Anita dengan penuh nafsu, ia pegang kepala perempuan berjilbab itu agar tidak dapat bergerak lagi. Mereka berciuman dengan sangat-sangat panas.
“Oh, Pak Kyai… aaahh…“ jerit Anita dengan mata tertutup. Akibat pengaruh pelet Dewo, ia menanggapi lumatan Kyai Kholil dengan tak kalah bernafsu.
Mengetahui kalau mangsanya sudah berhasil dijerat, Kyai Kholil mengendurkan lumatannya, kini ia cuma memagut pelan. Anita menikmati pagutan itu dengan tetap memejamkan matanya. Kyai Kholil terus mencium dan mencucup mesra, ia mainkan bibir Anita dengan lidahnya. Gadis itu tetap terdiam, menerima semua perlakuan Kyai Kholil dengan senang hati. Namun Anita sedikit terkejut saat merasakan ada tangan yang mulai menggerayangi buah dadanya, membuatnya jadi sedikit membuka mata.
“Pak Kyai…“ lirihnya untuk yang terakhir kali.
Kyai Kholil pantang untuk mundur. Sambil mulai meremas dan memijiti bulatan payudara Anita dari luar baju kurung, ia peluk perempuan cantik itu dan dihujaninya lagi dengan ciuman dan pagutan. Payudara Anita terasa sangat empuk dan kenyal dalam genggaman tangannya. Meski terlapisi oleh beberapa helai kain, tapi kelembutannya begitu terasa. Ukurannya yang besar dan di atas rata-rata juga membuat Kyai Kholil semakin menyukainya, membuatnya semakin bernafsu dan bergairah.
“Ah, Pak Kyai… enak… terus… uuuh…“ kembali Anita mengerang saat Kyai Kholil bertindak semakin nakal.
“Akan kuberikan kenikmatan surgawi kepadamu, Anita sayang.“ rayu Kyai Kholil semakin menggila. Ia tindih tubuh mulus Anita yang kini semakin tenggelam dalam lautan birahi. Disingkapnya rok panjang perempuan cantik itu dan diterobosnya celana dalam Anita yang menyembunyikan jembut tebal.
“Uuh… enak, Pak Kyai… uuh!“ lenguh Anita ketika dengan nakal Kyai Kholil mengelus dan menekan-nekan lubang vaginanya yang telah membasah penuh.
“Pegang punyaku, Nit.“ seru Kyai Kholil pada wanita berjilbab ini.
Anita membuka matanya saat melihat Kyai Kholil berdiri untuk membuka sarung. Di depannya langsung tersaji kontol Kyai Kholil yang sudah ngaceng berat. Meski tidak begitu panjang tapi sangat kaku sekali. Anita melotot sebentar saat melihatnya. ”Uhh… penis Pak Kyai gede,“ ungkapnya dengan racauan mulut sudah keluar dari logika.
Kyai Kholil memberikan pagutan lagi sebelum menyuruh Anita untuk mengulumnya, “Emut, Nit…”
Anita menggeleng ragu. ”Saya belum pernah…” dia berkata.
”Enak kok… coba aja, ayo!” rayu Kyai Kholil jorok. Ia tarik tangan Anita dan diarahkan ke batang penisnya. Begitu sudah memegangnya, Anita langsung tersenyum. Ia pandangi batang Kyai Kholil dengan penuh nafsu, gejolak birahinya tahu-tahu naik dengan drastis. Ini semua adalah efek dari pelet Dewo.
Pelan-pelan Anita memajukan kepala dan membuka mulutnya. Kyai Kholil mengatur jilbab perempuan itu agar jadi lebih rapi, tidak menghalangi aksinya dalam mengulum penis. Sementara Anita mulai mencucup dan menciumi kontolnya, tangan Kyai Kholil ikut nakal dengan meremas-remas buah dada Anita yang masih tertutup pakaian gamis. Hanya rok Anita yang terlihat tak karuan karena sudah disingkap oleh Kyai Kholil tadi. Terlihat betapa mulus dan putihnya paha perempuan cantik itu. Juga pinggulnya yang bulat menggoda, membuat Kyai Kholil makin ngaceng berat dibuatnya. Di depannya, Anita dengan kaku mulai menelan batangnya. Menghisapnya pelan-pelan dan mulai mengulumnya dengan begitu rupa.
“Tahan sebentar!“ Kyai Kholil menahan kepala Anita, ia tarik batangnya hingga terlepas dari jepitan mulut gadis alim itu, sebelum kemudian duduk di sofa. “Sudah, emut lagi!” katanya sambil mengelus paha mulus Anita.
Anita pun kemudian membungkuk, mengulum kembali kontol Kyai Kholil. Dengan cepat mereka saling membelai, Kyai Kholil mengelus dan meraba-raba bokong bulat Anita, sementara Anita melayani batang Kyai Kholil dengan segenap nafsu dan gairah.
“Sssh… ahhh… enak sekali seponganmu, Nit… ahhh… terus kulum kontolku… kamu benar-benar menggairahkan, berjilbab tapi ngemut kontol…“ Kyai Kholil menarik ikatan jilbab Anita yang terikat ke belakang agar tidak jatuh ke depan. Ia terlihat semakin dilanda birahi, namun Kyai Kholil berusaha sekuat tenaga menahan diri mengontrol nafsunya agar tidak cepat-cepat keluar. Ia ingin bisa bercinta dengan Anita, tidak cuma menikmati sepongan mulut gadis itu.
Anita yang juga sudah terbakar birahi, terus melumat dan menghisap kontol Kyai Kholil penuh nafsu. Kehormatannya sebagai seorang istri setia yang alim dan soleha, kini telah hilang. Tergantikan oleh nafsu setan dan gairah yang menggebu-gebu, yang menuntut untuk dipenuhi dan dituntaskan saat ini juga.
“Terus, Nit… uhhh… kamu pintar!” rayu Kyai Kholil semakin menggila, membuat Anita semakin cepat mengulum batang penisnya. Ia membalas dengan mengelus belahan memek Anita pelan-pelan.
“Sssh… s-sudah, Pak Kyai… g-geli… ahhh…” desis Anita dengan suara tidak terdengar jelas karena mulutnya tersumbat kontol panjang Kyai Kholil.
Kyai Kholil segera mendorong tubuh Anita ke depan, ia tarik celana dalam perempuan alim berjilbab itu hingga terlepas. ”Mau tahu yang lebih geli?” tanyanya sambil menaikkan rok Anita ke atas dan langsung menyerbu vagina perempuan itu dengan begitu rakus. Anita langsung memejamkan mata karena saking nikmatnya.
“Oh, Pak Kyai… enaknya… aaah… aauh… terus, Pak Kyai… terus!!“ ucap Anita kembali terlanda birahi. Serangan Kyai Kholil pada lubang vaginanya membuat Anita melayang antara sadar dan tidak sadar. Jantungnya  berdegup kencang merasakan jilatan Kyai Kholil yang begitu cepat dan lihai, mengorek-ngorek seluruh isi memeknya hingga jadi begitu basah dan lembab. Anita sampai menggeliat tak karuan karenanya.
“Pak Kyai nakal… aahh… tapi enak… terus, Pak, terus… aaah… ssssh…“ lenguh Anita yang jilbabnya kini semakin tak teratur akibat gelengan kepalanya. Namun dengan sigap tangan Kyai Kholil segera naik membenahinya, ia tidak ingin jilbab itu sampai terlepas. Kyai Kholil paling suka menyetubuhi perempuan yang memakai jilbab.
Setelah cukup lama lidahnya bermain-main di memek sempit Anita, Kyai Kholil akhirnya menarik lepas bibirnya. Pelan ia pagut kembali bibir tipis Anita dan dikulumnya dengan begitu lembut. “Ayo, kontolku sudah siap mencoblos memekmu!“ bisik Kyai Kholil yang dijawab Anita dengan anggukan mesum penuh nafsu.
Kyai Kholil mengocok pelan batangnya agar tetap ngaceng sementara Anita mempersiapkan diri. Wanita itu duduk mengangkangi kontol Kyai Kholil yang tetap duduk diam di sofa, siap memangkunya. Pelan Anita mendekatkan selangkangannya, ia pegang batang Kyai Kholil agar tepat menusuk di lubang kemaluannya. Sementara tangan Kyai Kholil sendiri masuk ke gamis Anita untuk meremas-remas buah dada indah yang masih tersembunyi disana. Entah kenapa, sampai sekarang Kyai Kholil masih belum melepas baju Anita. Padahal kan nikmat sekali bercinta dengan tubuh sama-sama telanjang.
“Tekan, Nit!“ ajak Kyai Kholil yang disambut tekanan lembut di selangkangan Anita. Pelan tapi pasti, batang Kyai Kholil mulai tenggelam di belahan memek Anita yang sempit dan legit.
“Auw! Aduuh… aaah…“ erang Anita merasakan batang Kyai Kholil yang mulai menerobos liang surgawinya.
“Tenang, Nit… rasanya nanti akan nikmat kalau kamu sudah menggenjotku.“ rayu Kyai Kholil sambil terus menekan batangnya ke atas.
“Iya, Pak Kyai… aaoh… batang Pak Kyai gede banget!“ keluh Anita suka.
“Ini kontol namanya, Nit…“ sahut Kyai Kholil jorok.
“Iya, kontol… aaah… kontol Pak Kyai… auhh…“ sahut Anita semakin tak karuan. Desakan di lorong vaginanya semakin membesar akibat Kyai Kholil yang terus menekan pinggulnya, membuat batangnya semakin melesak lebih dalam lagi.
“Genjot pelan-pelan, Nit.“ ajak Kyai Kholil saat batang kontolnya sudah terbenam penuh.
Anita menyambut perintah itu dengan mulai menggerakan pinggulnya pelan-pelan, menggoyangnya naik-turun hingga membuat kontol Kyai Kholil melesak masuk lebih dalam lagi. “Aaaaaw…“ jerit Anita penuh kenikmatan.
“Ayo, genjot terus!“ ajak Kyai Kholil dengan tangan terus bermain-main di gundukan payudara Anita yang mulus dan lembut. Ia remas-remas benda bulat padat itu sambil tak lupa memilin-milin putingnya yang semakin terasa kaku dan menegang.
Menerima semua rangsangan itu membuat Anita semakin kuat menggerakkan tubuhnya, terus ia genjot batang Kyai Kholil sampai mereka berdua semakin larut dalam api birahi. “Ahh… enak, Pak Kyai… sssh… sssh… uuuh…“ lenguh Anita tak tahan akan kontol Kyai Kholil yang terus mengoyak lorong vaginanya. Ia bergerak semakin cepat karena merasa akan mencapai orgasme, hal yang sudah lama tidak ia rasakan bersama sang suami. Anita terus menekan lebih dalam, bahkan sampai kontol Kyai Kholil mentok di ujung vaginanya.
“Pak Kyai… aaaah… saya nggak kuat! Aaaaaah…“ erang Anita sambil  menghujamkan pinggulnya kuat-kuat. Di saat yang bersamaan, celah vaginanya menyempit ketika menyemburkan cairan cintanya yang begitu banyak dan basah. Dengan kepala terdongak ke atas, Anita memejamkan mata, sementara dadanya yang besar makin kelihatan membusung dalam genggaman Kyai Kholil. Tubuhnya kelojotan beberapa saat dalam pangkuan laki-laki itu.
Kyai Kholil segera memeluk tubuh Anita yang masih tampak ngos-ngosan untuk memberikan ketenangan. Ia rasakan memek perempuan cantik itu mengalirkan cairan banyak sekali, bahkan hingga sampai membasahi sofa. Masih dalam pelukan Kyai Kholil, Anita tampak mulai bisa menguasai diri, nafasnya sedikit lebih tenang meski tubuhnya sudah keringetan disana-sini. Kyai Kholil berusaha terus menenangkan dengan mengelus-elus kepala Anita yang masih tertutup jilbab. Sementara penisnya masih tetap tertanam penuh di lorong kewanitaan Anita yang sekarang jadi terasa hangat dan menyedot-nyedot ringan.
Tak lama kemudian Anita menarik kepalanya dan memandang Kyai Kholil dengan perasaan setengah takjub. “Pak Kyai sangat luar biasa, baru kali saya merasakan yang seperti ini.” bisiknya dengan nada penuh pemujaan.
Kyai Kholil tersenyum, ”Ini semua karena tubuhmu yang molek dan indah, Nit.” balasnya membual.
“Saya puas main dengan Pak Kyai.“ ungkap Anita dengan menunduk mengusap mukanya dan kemudian hendak membuka jilbabnya.
“Eh, jangan dibuka.” sela Kyai Kholil, ”Saya paling suka main sama yang berjilbab. Ayo sini, tinggal selangkah lagi aku sampai.” ajaknya sambil memandang kecantikan Anita.
“Baiklah, kalau memang itu yang Pak Kyai mau…” gumam Anita mengiyakan. Ia biarkan tangan Kyai Kholil menelusup masuk ke balik baju gamisnya untuk mengelus-elus bulatan payudaranya yang putih mulus. ”S-sudah, Pak Kyai… geli ah… katanya tadi udah mau nyampai.” Anita menggelinjang karena Kyai Kholil kini bertindak semakin nakal dengan menaikkan pakaiannya ke atas, mengangkat terus dan akhirnya melepas kain itu melewati tubuh montok Anita.
Anita sama sekali tidak melawan atau mencegah. Diperhatikannya Kyai Kholil yang sekarang tampak melongo mengagumi keindahan payudaranya. Laki-laki itu memandang sambil menggeleng-geleng. “Cium, Pak Kyai… jangan cuma dilihatin aja.“ ucap Anita dengan perasaan ditahan, tanpa terasa gairahnya mulai muncul kembali. Itu semua karena kontol Kyai Kholil yang masih terjepit kuat di celah selangkangannya, membuat Anita jadi cepat lupa daratan jadinya.
“Aku pengin menggenjotmu dengan menungging, Nit!“ ajak Kyai Kholil sambil memeluk tubuh molek Anita dan menggulingkannya ke samping. Langsung ia tindih dan tusuk keras-keras begitu Anita memberikan pinggulnya. Anita sendiri kontan melenguh merasakan desakan batang Kyai Kholil yang tanpa membuang waktu sudah bergerak dengan begitu cepat.
“Ahhh… Pak Kyai… e-anak banget kontol bapak!!“ aku Anita dengan mata terpejam.
”Iya, Nit. Coba rasakan ini!” sahut Kyai Kholil sambil terus menggerakkan pinggulnya kuat-kuat hingga membuat Anita semakin mengerang penuh kenikmatan.
“Aaah… cepat selesaikan, Pak Kyai… saya udah nggak tahan… arghhh!!” pekik Anita keenakan.
“Kamu ketagihan kan sama kontolku?!” Kyai Kholil tertawa, ”Lagian kamu berjilbab, tapi nafsu tetep gede…” ejeknya sambil menahan tangan Anita agar ia bisa leluasa meraba dan meremas-remas payudaranya yang besar.
“Aah… i-itu karena Pak Kyai yang merangsangku.“ Anita mencoba mencari pembenaran dari perbuatan maksiatnya.
“Kita lihat saja… kalo kamu sampai ketagihan sama kontolku, jangan salahkan aku…“ Kyai Kholil semakin cepat menggerakkan pinggulnya hingga membuat Anita sampai melenguh saat menerimanya.
Kyai Kholil menghentikan genjotannya sebentar saat penisnya tiba-tiba selip dan terlepas. Anita menggigit bibir, ada secercah kecewa di wajahnya saat batang itu terlepas, sikapnya berubah jadi sedikit masam. Namun kemudian ia bisa tersenyum lagi saat Kyai Kholil menarik tangannya dan membawanya ke dekat meja yang ada di ruang tamu. Kembali Kyai Kholil meremas-remas buah dada Anita sampai membuat Anita melenguh dan mendesah-desah penuh kenikmatan. Jilbabnya ia atur kembali agar tidak terlepas.
“Naikkan kakimu ke meja, Nit.“ perintah Kyai Kholil yang disambut senyum oleh Anita.
“Belum pernah aku diginiin sama suamiku, Pak Kyai… “ aku Anita jujur.
“Kamu pasti suka,” rayu Kyai Kholil. ”Nah, sekarang aku coblos lagi memekmu ya… tahan!” ajaknya dengan selangkangan merapat ke pantat Anita yang bahenol.
“Iya, Pak Kyai.“ jawab Anita singkat.
“Nanti malam aku ke rumahmu ya… akan kuberikan kepuasan lagi kepadamu.“ pancing Kyai Kholil membuat mata Anita membesar.
“Silahkan, Pak Kyai. Mumpung suami saya lagi nggak ada di rumah.” jawab Anita dengan senang hati. Dan ia kembali memekik saat batang Kyai Kholil kembali menusuk celah kemaluannya. “Uuuh… ayo, Pak Kyai… tusuk yang keras… ahhh… enaak… shhh… aaah…” jerit Anita dengan kepala menggeleng-geleng, membuat jilbab lebarnya jadi ikut bergerak ke kiri dan ke kanan.
Kyai Kholil segera memeganginya dan mengajak Anita untuk saling mengadu lidah. Anita pun langsung menanggapi dengan memagut bibir Kyai Kholil kuat-kuat, membuatnya semakin tenggelam dalam lautan birahi. Sementara Kyai Kholil terus menekan batangnya sambil tangannya memeluk dada bulat Anita dan meremas-remas lembut disana.
“Uuuh… remes yang keras, Pak Kyai… lagi, remes yang kuat… ughhh… enaak… ssssh… ahhh…“ erang Anita kelojotan.
Kyai Kholil terus menggerakkan penisnya dan mendesak lagi lebih kuat hingga membuat jeritan Anita semakin meninggi karenanya. Batang Kyai Kholil terasa ludes mentok di bagian terdalam dari lorong vagina Anita.
“Ahhh… Pak Kyai… terus entotin aku… saya suka sama kontol yang gede… rasanya… aah!!” racau Anita dengan mata merem melek keenakan disodoki kontol Kyai Kholil dari arah belakang. Roknya yang tersingkap membuat pahanya yang putih mulus jadi terlihat jelas. Kyai Kholil meraba lembut disana setelah puas dengan buah dada Anita.
“Aaah… Pak Kyai… ughh… enaknya… aduh… saya jadi nggak tahan nih…” erang Anita semakin menggila dan bersemangat, bahkan sampai menekan pinggulnya ke belakang saat dirasa tusukan Kyai Kholil kurang memuaskan.
“Duh, enak banget, Pak Kyai… ayo genjot… sodok… sodok terus punyaku!!“ ajak Anita dengan pinggul digoyang-goyang, ia berusaha mengimbangi kontol Kyai Kholil yang terus meluncur keluar-masuk di lorong kewanitaannya.
Kyai Kholil terus bergerak, membuat Anita mulai menggelinjang pelan. Tangannya kembali meremas buah dada gadis cantik itu sambil sesekali mengurut paha Anita yang naik ke atas meja. Dari arah belakang, ia terus menyodokkan pantatnya dengan begitu kuat.
“Enak, Pak Kyai… ohhh… nikmat! Terus… aaah… aauh… ssssh…” erang Anita semakin senang.
“Jilbabmu jangan sampai terlepas, Nit.“ ingat Kyai Kholil yang dijawab oleh Anita dengan anggukan kepala, ia segera memperbaiki letak jilbabnya yang mulai miring ke samping. Kyai Kholil terus menggenjotnya dengan cepat untuk memberikan kenikmatan.
“Uhhh… kontol Pak Kyai kok enak ya… beda sama punya suamiku!” sungut Anita dengan kepala berpaling, ia tatap Kyai Kholil sambil tersenyum.
“Itu namanya kamu sudah mulai ketagihan, Nit.” sahut Kyai Kholil sambil terus menggenjot memek Anita, ia pegang ekor jilbab perempuan cantik itu dan disingkirkannya ke samping agar ia bisa leluasa meremas-remas buah dadanya.
“Iya, Pak Kyai… sepertinya begitu. Saya suka dengan kontol Pak Kyai!” lenguh Anita dengan tangan kiri mengelus-elus bagian atas vaginanya yang terlihat menggelembung akibat dorongan penis Kyai Kholil.
”Aku juga suka dengan tubuhmu!” balas Kyai Kholil.
“Cepetan dikit, Pak Kyai… s-saya sudah hampir sampai!” ajak Anita yang mulai tak tahan menikmati gaya seks di meja itu.
Kyai Kholil langsung bergerak lebih cepat hingga membuat tubuh montok Anita menjadi tergoncang-goncang hebat karenanya. Payudaranya yang bulat besar, yang menggantung indah di atas meja, bergoyang-goyang seiring tusukan Kyai Kholil. Kyai Kholil meremasnya sebentar sebelum tangannya berpindah mengelus pantat Anita yang mulus dan bahenol. Anita semakin membungkukkan badannya sehingga Kyai Kholil jadi semakin cepat menggerakkan penisnya.
“Ahhh… Pak Kyai… ayo, saya udah nggak tahan nih… ayo cepetan… saya sudah mau…” jerit Anita dengan mata merem-melek keenakan, buah dadanya yang menggelantung indah kembali diremas-remas oleh Kyai Kholil. Ia terlihat sudah tak tahan menerima rangsangan, apalagi Kyai Kholil juga terus menggenjotnya dengan begitu cepat, menghujamkan batangnya keras-keras hingga membuat Anita sampai menjerit-jerit.
“Aaah… aaah… aaah…” erang Anita semakin melemah karena tenaganya kian habis akibat digenjot terus oleh Kyai Kholil. Tapi di lain pihak, lorong vaginanya terasa menyempit, menjepit kuat batang Kyai Kholil, dan akhirnya Anita mendapatkan orgasmenya dengan menjerit panjang. Dari vaginanya mengucur cairan panas yang amat banyak, membasahi batang Kyai Kholil sehingga laki-laki itu semakin lancar memaju-mundurkan pinggulnya.
”Ahh…” melenguh keenakan, Kyai Kholil meremas buah dada Anita kuat-kuat untuk memberikan sensasi maksimal pada orgasmenya. Tubuh Anita terus berkelojotan, sementara Kyai Kholil terus menggenjotnya sampai membuat wanita cantik itu kelimpungan dan akhirnya rebah di atas meja dengan tubuh remuk redam karena kelelahan. Kakinya sekarang menjadi selonjor. Meski jadi sedikit kesulitan, tapi itu tidak menghalangi Kyai Kholil untuk terus menggenjot dengan cepat karena ia sendiri juga sudah tak tahan.
Kyai Kholil terus menghujam berkali-kali sampai tubuh montok Anita tergoncang-goncang kesana kemari. Tak kuat lagi, Kyai Kholil pun membenamkan penisnya dalam-dalam ke celah kewanitaan Anita yang kini sudah terasa begitu basah dan lengket.
“Craaat… craaat… craaat…“ Air mani Kyai Kholil menyembur deras ke dalam rahim Anita. Wanita itu sedikit terkejut saat menerimanya, namun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kepala yang masih tertutup jilbab, Anita rebah di atas meja sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Aaah…. banyak sekali, Pak Kyai…” lenguh Anita bimbang. ”Gimana kalau saya sampai hamil?” tanyanya dengan nafas masih berantakan.
”Bukankah kamu punya suami… nggak bakal ada yang curiga.” jawan Kyai Kholil ringan sambil menarik badannya menjauh. Kontolnya yang mulai menciut langsung terlepas dari jepitan memek Anita. Tampak cairan lendir kental belepotan di batang itu, demikian pula dengan vagina Anita. Dengan nafas masih berat, Kyai Kholil duduk di sofa dan mengelap penisnya dengan baju gamis Anita hingga jadi bersih kembali.
”Ihh… Pak Kyai!!” pekik Anita melihat pakaiannya yang jadi belepotan oleh lendir kental. ”Apa-apaan sih?!” protesnya.
Kyai Kholil tertawa, “Buat kenang-kenangan, biar kamu selalu ingat sama aku.”
Saat itulah, dari dalam kamar, keluar Dewo dan Nyai Siti yang juga baru selesai menuntaskan hasrat bejat mereka. Keduanya tersenyum melihat Anita dan Kyai Kholil. Anita langsung berusaha menutupi tubuhnya, sementara Kyai Kholil tampak tenang-tenang saja.
”Tidak apa-apa, santai saja.” Kyai Kholil berusaha menenangkan. Ia lalu berpaling pada Dewo. ”Pak Dewo, mau merasakannya juga?” tanyanya menawarkan tubuh mulus Anita.
Dewo tersenyum dan menggeleng, ”Mungkin lain kali. Sekarang aku capek banget gara-gara istrimu ini, pagi-pagi sudah minta ditusuk dua kali.”
Nyai Siti tertawa mendengar omongan itu. ”Habis siapa juga yang tahan melihat kontol besar Pak Dewo.” balasnya genit.
Anita melongo, sama sekali tak menyangka akan melihat pemandangan ini di keluarga Kyai Kholil yang terkenal alim dan religius. Anita menyangka hanya dia saja yang berani berbuat mesum, tak tahunya…
Tapi sebelum dia berpikir lebih jauh, Kyai Kholil sudah memeluk tubuhnya  dan berbisik, ”Kamu nggak buru-buru pulang kan?”
Anita menoleh dan melihat kontol Kyai Kholil yang perlahan mulai kaku dan menegang, siap untuk memulai ronde yang kedua. Ia pun tersenyum dan mengangguk. ”Sepertinya saya punya waktu luang sampai dhuhur nanti.”

USTADZAH DILA 2 : USTADZ YON

Hari itu aku (ustad yon) berangkat mengajar pagi-pagi ke sekolah. Habis mau bagaimana lagi, tempat tinggalku agak jauh dari tempatku mengajar.
O,ya aku mengajar di SD di kota KA.

Sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. Setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari.
Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.

Sedangkan aku sendiri termasuk guru senior karena yang pertama masuk sejak pertama kali sekolah ini didirikan (disamping umurku juga yang mendekati 35-an).
Jam 6 pagi aku sudah berada di ruangan guru. Disitu baru nampak beberapa pengajar yang sudah hadir bersamaan. Diantara mereka ada yang amat menarik perhatianku dari semenjak ia pertama kali bergabung bersama staf pengajar di sekolah ini.

Namanya Padila biasa dipanggil oleh lingkungan sekolah Ustazah Dila. Selain mengajar, dila juga menjadi pengurus UKS maklum sekolah kami masih baru 2 tahun berdiri jadinya minim SDM.
Bagiku dia termasuk kategori perempuan yang manis, umurnya terpaut 16 tahun lebih muda dariku. Tingginya dibawah beberapa senti dariku dengan berat badan yang ideal. Perempuan itu selalu berpenampilan rapi dengan secarik kain jilbab menghiasi kepalanya.

Dia baru mulai mengajar sekitar 2 bulan yang lalu. Pagi itu Dila datang memakai baju lengan panjang berwarna biru muda dipadu dengan rok panjang sewarna pula sedangkan jilbab yang dikenakanannya berwarna putih bermotifkan bunga, amat serasi.
Sejujurnya, yang membuat aku begitu tertarik padanya diluar wajahnya yang manis menggemaskan itu tidak lain karena bentuk tubuhnya yang aduhai mengundang birahiku.

Pakaian yang dikenakannya selalu terlihat agak ketat entah disengaja atau tidak.
Dan walaupun jilbab yang dikenakannya panjang selengan namun ukuran payudaranya yang montok selalu tersembul dari balik baju dan jilbabnya.
Belum lagi kalau memperhatikan saat ia berjalan, pantatnya yang montok itu selalu bergoyang naik turun membuat selalu tidak konsen.

Akibat sering membayangkan Dila jadinya aku sering berfantasi sedang menyetubuhinya dalam keadaan dia telanjang namun tetap mengenakan jilbabnya. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana.
Selama ini aku hanya bisa mengkhayal Dila yang berjilbab telanjang di depanku. Memikirkan hal itu aku jadi sering merasa horny.

Sampai-sampai aku bertekad untuk bisa melancarkan hasrat terpendam yang begitu menyiksa ini.
Pukul 1 siang dan bel pulang berbunyi dan aku masih berada di lingkungan sekolah ini sampai sore karena memang hari itu aku punya jadwal untuk mengajar les tambahan untuk anak kelas 2. mulai jam 2 siang hingga 4 sore.

Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua murid les pulang, sedangkan aku masih ada di sekolah untuk membereskan perlengkapan mengajarku.
Sore hari itu sekolah yang tadinya ramai kini menjadi sepi. Aku berjalan menuju ruang guru untuk beres-beres pulang dan kulihat nampak tas kepunyaan Dila masih ada di ruangan. Nampaknya guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah.

Aku penasaran mencari tahu keberadaan perempuan cantik itu . Tapi sebelumnya aku ingin sekali cuci muka melepas kepenatan selama mengajar tadi. Segera aku menuju kamar mandi dekat ruang guru.
Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.

Perlahan kubuka pintu kamar mandi khusus guru pria dan belum lagi kututup pintunya aku mendengar suara desahan pelan dari kamar mandi sebelah. Terkesima dengan suara yang aku dengar, segera kuberjingkat-jingkat menaiki bak mandi untuk mengintip ke kamar mandi sebelah.
Saat mengintip aku terkejut bukan kepalang karena ternyata di sana kulihat Dila, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis nan menggemaskan itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya.

Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Aku menduga dia tengah menonton blue film, karena terlihat dia tidak bias mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya.
Tak kusangka walaupun berjilbab, Dila terlihat sangat birahi.

Kuabadikan masturbasi guru berjilbab tersebut dalam ponsel kameraku. Dila tidak sampai mengerang, mungkin dia takut ketahuan apabila terdengar orang lain. Melihat ia sedang bermasturbasi membuat gairah birahi mulai menguasai pikiranku.
Tak dinyana, kesempatan untuk melampiaskan hasratku padanya telah muncul dengan sendirinya. Kira-kira 15 menit setelah Dila guru berjilbab yang “alim” itu baru keluar dari kamar mandi.

Sekali lagi kulihat-lihat rekaman video dan foto hasil jepretanku tadi. Kulihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang sedang asyik memainkan jemarinya di vaginanya. Kakinya terlihat putih dan mulus sekali. Ini menjadikan birahiku semakin meluap-luap.
Segera aku bergegas menuju ruangan guru seraya menghampirinya yang sedang duduk. Kemudian dengan tanpa basa-basi kuelus-elus kepalanya yang berjilbab putih dengan motif bunganya. Dengan gerak refleks guru berjilbab itu terlompat dari duduknya.

“Astaga! Kurang ajar! Apaan sih maksud Ustad Yon!”, hardik Dila yang terkaget-kaget dengan kelakuanku terhadapnya tadi dengan wajah memerah karena marah.
Tanpa banyak omong kutunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, kulihat dia sangat shock.
“Dengar sayang, kalo kamu sampai berani menolak melayaniku, foto dan video ini akan kusebar luaskan”, ancamku seraya mendekatinya lalu mengelus-elus jilbabnya.
Dia hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Sekilas kemudian kujambak jilbabnya agar dia mengikutiku menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu kukunci.

“Dila meskipun kamu pakai jilbab ternyata libidonya tinggi juga yah?”, kataku sembari tersenyum penuh kemenangan. Guru cantik berjilbab itu hanya bisa diam tertunduk sambil duduk di kursi. Air matanya hampir keluar.
Kudekati ia seraya menjamah dan mengelus kepalanya yang berjilbab.
“Sudahlah sayang kamu tidak usah banyak tingkah. Yang penting kamu tinggal ikut saja apa mauku semuanya pasti beres.

Yakinlah kamu akan segera tahu apa bedanya main sendirian dengan main berpasangan”, ucapku lagi seraya menurunkan ritsluiting celanaku. Melihat hal itu wajah Dila semakin tertunduk.
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ia serasa tidak berdaya. Setelah celanaku melorot seluruhnya kebawah segera kuperintah Dila untuk menurunkan celana dalamku seraya memintanya untuk mulai mengoral penisku.

Mulanya ia berontak namun karena ancamanku yang akan menyebarkan gambar dan video yang memalukan itu akhirnya dengan sangat terpaksa dia menurutiku karena takut gambarnya tersebar. Dari tempatnya duduk, sambil berdiri kuusap-usap kepalanya yang berjilbab itu saat mulut Dila perlahan mulai memainkan penisku. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun aku hanya tersenyum lebar penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya.

“Sshh…mmmhh…ennak sekallii sayaangg..”, desahku saat penisku keluar masuk mulutnya.
“Mmmh…slurp…cupp..”, desah suara dan bunyi yang dari mulut guru berjilbab itu menahan birahi yang nampaknya mulai merasuki dirinya.

Ya, sepertinya ia mulai terangsang karena saat ia sedang mengoralku tanganku yang satu lagi asik meremas-remas payudara montok miliknya dari luar busananya.
Sekitar 10 menit kemudian kurasakan gejolak yang tidak tertahankan di ujung penisku. Nampaknya aku tak mampu lagi menahan lebih lama dan, “Croot…croott”, spermaku keluar dengan deras.

Karena kaget Dila melepas hisapannya sehingga spermaku tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Kulihat jilbabnya yang bermotif bunga kini bertambah dengan bercak-bercak spermaku. Namun aku belum puas. Kuperintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan aku juga segera melepas bajuku.

Fantasiku melihat Dila yang berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kataku dalam hati. Kulihat dugaanku tidak salah, Dila terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut.

Segera kuraih dada kanannya dan kukulum dengan rakus.
“Ohh…ah..ah…ah..”, walau kupaksa ternyata Dila terdengar amat menikmatinya.
Kulihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuat penisku kembali tegang.

Lalu kubaringkan Dila di ranjang yang berada dalam ruangan UKS dan kuserbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sembari menciuminya tangan kananku meremas buah dada montok miliknya itu sedangkan tanganku yang kiri mulai mengelus dan memainkan vaginanya.
Sekitar 10 menit kulakukan hal itu. Kemudian kupandangi wajahnya yang cantik masih terbalut jilbab nampak sedang terangsang karena ulahku. Terasa jemariku yang bermain di vaginanya mulai kebasahan akibat cairan kewanitaan yang keluar dari dalam. “Hmm…nampaknya dia benar-benar sudah terangsang” ujarku dalam hati.

Sejurus kemudian kubalik tubuhnya seraya menunggingkan bokongnya yang sekal itu. Lalu kulebarkan kedua paha putih mulus guru berjilbab itu.
Sembari mencengkeram pantatnya dengan tangan kananku, tangan kiriku membimbing penisku menyodok perlahan ke dalam belahan vagina Dila.

“Ouhh…”, desahnya dengan tubuh bergetar kala kupenetrasi liang surgawi miliknya. Perlahan tapi pasti penisku masuk sesenti demi sesenti dan rasanya sempit sekali. Dan akhirnya setelah berjuang beberapa menit penisku bisa menembus dalam-dalam sampai menyentuh dinding rahim miliknya.
“UUhhhh..”, hela nafasku sembari melirik kebawah.

Kulihat batang penisku tidak seluruhnya masuk tersisa sesenti. Dan yang tidak kusangka-sangka ternyata dari situ tidak terlihat adanya darah tanda keperawanan.

“Hmm…Sepertinya Dila sudah tidak lagi perawan”, ujar batinku namun tidak kupedulikan karena yang penting sekarang menuntaskan birahi yang selama ini kupendam padanya habis-habisan.

Perlahan kugenjot tubuh sintal guru berjilbab ini seraya kedua tanganku mencengkram bongkahan pantatnya yang montok. Seperti joki yang memacu kuda.
“Ohhh…nikmat sekali milikmu sayang…”, racauku seraya menggenjot penisku keluar masuk.
“Ouuhhh…uuuhh…ahhhh…ustaaad…yoon…”, balasnya mendesah penuh nikmat.

Dari belakang dapat kulihat jelas kedua tangannya meremas-remas kasur menahan nikmat. Sedangkan kepalanya yang terbungkus jilbab menggeleng ke kanan dan ke kiri dengan wajahnya yang cantik nampak seperti terbuai oleh nikmatnya sodokanku dari belakang.

“Plak…plakk…”, bunyi selangkanganku beradu dengan pantatnya yang sekal ini. Sekitar 15 menit dapat kurasakan penisku sudah tidak dapt lagi menahan gejolak sperma yang akan keluar.
“Sayyanggh…akkkuuu…keluarr…nnih…!”, seruku yang akan klimaks.
“Akkhh…ustaaddd… …”, sahut Dila dengan wajah mendongak keatas yang ternyata juga akan mencapai puncak orgasmenya.
“Ooohhh…”, desahku panjang saat kubenamkan penisku dalam-dalam bersamaan dengan keluarnya spermaku kedalam vaginanya.

Setelah keluar semua. kuambil rok panjang biru milik guru jilbab ini untuk membersihkan penisku dan vaginanya dari cairan yang keluar baik dari milik kami berdua.
Setelah aku merasa kembali mendapatkan tenaga menggenjot Dila, kuminta dia untuk berbaring telentang.
Tanpa membuang waktu segera kuaduk-aduk vaginanya. Dia terlihat sangat menikmati permainanku ini. Puas dengan posisi itu, gantian aku yang telentang, kemudian kuminta dia menggenjot penisku dari atas. Jepitan vaginanya terasa nikmat sekali.

Genjotannya yang liar membuatku tidak bisa bertahan lama. Tujuh menit kemudian aku memuncratkan spermaku di lubang kenikmatan Dila.
Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan. Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai pakaian kami kembali.
Dan dari situ muncul pengakuan kalau dulu Dila pernah nge-seks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab.

Sebelum berpisah aku mendapatkan kesepakatan dengan guru berjilbab ini apabila aku berjanji tidak akan pernah menyebarkan foto dan video yang kuambil di kamar mandi tadi, dia bersedia berhubungan seks denganku lagi.
Tentunya lain kali dengan menggunakan pengaman! Setelah memeluk dan melumat bibirnya yang manis itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.

Tak terasa hari hampir gelap kulihat Dila segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya.
Akupun segera pulang dengan senyum kepuasan di wajah karena kutahu, mulai besok aku akan menjalani hari dengan penuh gairah birahi!

MIRZA

Hingga hari ini, aku masih diliputi perasaan senang bercampur takut. Ini semua mengenai misteri yang mencakup seputar  kehamilanku. Atau  bisa juga dikatakan tentang hubungan seks dengan suamiku.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, sebaiknya aku ceritakan sekilas tentang latar belakangku. Panggil saja aku Mirza, wanita berusia 30 tahun. Sudah menikah  selama 6 tahun, dan memiliki anak yang masih berusia  6 bulan. Lucu dan imut  banget.
Aku mantan  guru sekolah dasar, tapi sekarang ini aku  mengabdikan diri  seutuhnya  untuk mengurus anak dan rumah tangga. Aku lahir di kota Yogya,  dan dibesarkan dalam keluarga yang  religius. Sehari-hari aku berjilbab,  Penampilanku anggun dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang dan jilbab lebar, semakin menambah kecantikanku. Tubuhku yang montok kadang tercetak jelas di balik kain jilbabku. Meski cenderung alim, namun di balik semua itu, aku tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.
Suamiku  sendiri juga pria Jawa, berusia 5 tahun lebih tua, dan merupakan pengusaha yang cukup sukses. Karena faktor pekerjaannya pula, dia sering keluar  kota sehingga tidak setiap hari suamiku berada di rumah. Kami jadi jarang bertemu.
Dalam 5 tahun pernikahan, sebenarnya kami ingin cepat-cepat punya momongan, tetapi kenyataan berbicara lain. Ada beberapa faktor yang menghambat. Diantaranya yaitu suamiku sering keluar kota untuk urusan bisnisnya. Disamping itu, ada satu permasalahan yang begitu mengganggu. Yaitu suamiku mengalami problem ejakulasi dini ( cepat keluar saat bercinta ).
Memang hal ini begitu mengganggu di dalam bercinta. Suamiku tidak bisa bertahan lebih dari 2 atau 3 menit. Kami sudah berusaha lewat berbagai cara, namun tidak begitu banyak menolong. Mulai latihan senam pernafasan, mengatur  makanan, berobat ke dokter, dan bahkan lewat pengobatan tradisional.
Disamping itu,  suamiku agak tertutup dalam soal seks, sehingga lama-lama menjadi minder. Asalkan aku tidak banyak menuntut, sepertinya dia menerima kenyataan.  Suamiku sepertinya juga tidak begitu menaruh perhatian banyak dalam urusan seks.
Sedangkan aku orangnya lain.  Justru aku banyak membaca artikel dan menambah pengetahuan mengenai hubungan seks. Saat masih gadis aku tidak pernah melakukan masturbasi. Karena menurut agama merupakan sikap yang tidak terpuji dan dosa.
Disaat menikah, aku juga tidak begitu  menikmati hubungan seks yang optimal. Walau suamiku sudah berusaha melakukan foreplay yang cukup, tetap saja aku tidak pernah merasakan orgasme. Karena aku sering sharing dengan sahabatku yang katanya bisa mendapatkan orgasme berkali-kali, maka rasa penasaranku menjadi semakin meningkat.
Aku dianjurkan bermasturbasi olehnya, kalo sedang sendiri. Karena bisa rileks dan lebih nyaman katanya. Hasilnya memang seperti yang dikatakan sahabatku itu. Aku memang bisa mendapatkan orgasme. Tetapi aku selalu diliputi perasaan bersalah, sehingga jadinya tidak sering aku lakukan.
Pada suatu hari, suamiku  pulang dari urusan bisnis di pulau Bali. Disana dia menyempatkan jalan-jalan ke  Ubud, suatu desa tempat seniman-seniman menghasilkan karya seni. Suamiku  membeli sebuah lukisan; gambar tentang seorang wanita telanjang yang ditemani oleh kucing. Lukisan  ini ia taruh di kamar tidur. Jika kita rebahan di ranjang, maka mata kita akan langsung menatap lukisan ini.
Aku selalu menyiapkan segalanya kalo suamiku pulang. Biasanya suamiku  kuanjurkan mandi yang bersih, kemudian ngobrol sambil  menikmati minuman segar, dengan cemilan ringan tentunya.  Dan tanpa disuruh, aku biasanya memijitinya. Sudah menjadi ritual, aku menggunakan baju yang ’enak dipandang’ suami.
Saat itu aku mengenakan baju tidur tipis berbentuk jubah yang diikat tali di bagian pinggang sehingga sedikit memamerkan bagian paha yang aku kira cukup untuk membuat suamiku menelan air liurnya. Selain memamerkan paha, belahan dadaku juga terbuka. Suamiku pasti tahu kalau saat itu aku tidak mengenakan bra sama sekali. Untuk daleman, aku mengenakan CD tipis berwarna pink.
Aku mulai memijit suamiku.
”Aduh, enak banget pijitannya, Ma.“ dari caranya berbicara, aku dapat menilai kalau dia sudah horny berdekatan dengan diriku.
“Idih, belum juga punya anak, udah dipanggil mama,” kataku menggodanya. Kutumpangkan kaki kiriku ke kaki kanan sehingga bagian bawah gaunku sedikit tertarik ke atas, membuat pahaku semakin jelas terlihat.
”Yaa,  semuanya kita serahkan saja sama yang Maha Kuasa,” celetuknya gugup sambil menatap pahaku yang terlihat sangat mulus sekali. “Tapi emang bener, enak banget kok pijitannya,“ tambahnya lagi. Dia mencoba untuk memperbanyak omongan karena dia masih ingin duduk di dekatku yang mengeluarkan bau sangat harum.
”Siapa dulu dong yang mijit. “ aku menurunkan kaki dan mengambil minuman di meja dengan setengah membungkuk. Kumajukan sedikit tubuhku sehingga gaunku yang belahan dadanya sangat rendah jadi bisa memamerkan tetekku yang tidak memakai beha.
“Iya deh, percaya.” kata suamiku. Aku tahu persis jika saat itu dia begitu terpesona dengan tetek yang menantang di dadaku ini. ”Kita ke kamar, yuk?” ajaknya kemudian sambil tangannya mencupit pinggulku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil mengerlingkan mata. “Emang tidak mau makan dulu?“ tanyaku saat dengan cepat dia membopongku ke  kamar tidur.
“Ah, nanti sajalah, ” jawabnya pendek.
Ketika aku direbahkan di atas kasur, mataku langsung menatap lukisan wanita telanjang yang ditemani oleh kucing tersebut. Demikian juga dengan suamiku. Saat itulah, tiba-tiba terjadi keanehan. Suamiku seperti menggerak-gerakkan kepalanya, matanya nanar menatapku dengan pandangan sayu. Dia lekas melepas t-shirt dan celana pendeknya. Dan terlihatlah mister P-nya yang sudah sangat menegang panjang.
Padahal rencananya aku mau memijitnya, malah saat itu aku yang dipijitnya. Sambil memijit, dia memuji dan mencumbui seluruh bagian tubuhku. Hal  seperti ini belum pernah dia lakukan sebelumnya.
”Ahh, Mas!” rintihku saat mulai merasa kegelian, badanku menggeliat dan kedua tanganku yang memegang sandaran tempat tidur jadi mencengkram erat sekali. Sementara suamiku terus asyik meraba ketiakku sambil mulai mendekati tetekku yang sebelah kanan.
”Nggak apa-apa, Ma… santai aja.” katanya sambil terus mengelus-elus ketiak kananku dan mulai melebar hingga mencapai pinggiran tetekku yang bulat besar.
”Udah, Mas, gelii…” badanku mulai melenting-lenting ke depan sehingga kedua tetekku yang berukuran 34B ini semakin tampak menantang indah.
”Kan belum dijilat, Ma… masa mau udahan?” balasnya dengan nakal.
Apa! Menjilat? Tidak biasanya dia berbuat seperti ini. Tangan kiriku segera berusaha mendorong tangannya yang masih berada di sekitar ketiak dan pinggiran tetek. ”Udah ah, geli… aku nggak tahan!” kataku.
Kemudian suamiku mengubah posisi; sekarang dia ganti menjilati ketiakku sampai pinggiran tetekku yang masih berlapiskan gaun satin tipis dan memainkan lidahnya di sana.
”Mas, udah dong… aku kegelian nih.” rintihku semakin menggelinjang.
Tapi bukannya berhenti, tangan kanannya yang sedang asyik mengelus-elus ketiak kiriku mulai bergerak semakin ke tengah hingga sampai di bulatan tetekku yang sebelah kiri, dan tanpa membuang-buang waktu langsung meremas-remasnya lembut.
”Hihi… udah ah!” aku tertawa menahan rasa geli yang teramat sangat sambil tangan kananku meremas-remas rambutnya yang licin.
Suamiku yang tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang, tangannya semakin liar meremas-remas di kedua tetekku, terkadang juga memainkan putingku dari luar gaun satinku.
”Ohh, Mas… ampun… jangan diterusin… aku nggak tahan!” kata-kataku mulai terbata-terbata menahan rasa tegang yang mulai mengalir ke ubun-ubun.
”Semakin geli semakin nikmat, Ma…” katanya dengan tangan masih memainkan kedua putingku, dan mulutnya mulai bergerak semakin mendekat ke arah tetek kananku. Dia mulai membuka ikatan gaunku yang berada di pinggang agar mulutnya dapat melahap dengan bebas kedua tetekku yang tidak memakai BH. Setelah gaunku merosot hingga ke perut, mulutnya langsung mengulum habis tetek kananku yang terlihat putingnya berwarna merah kecoklatan.
”Ssh… kok kamu sekarang jadi pinter, Mas!” aku mulai mendesah keenakan, sementara lidah suamiku terus bergerak dengan lincah memainkan puting tetek kananku, sedangkan tangannya yang satunya meremas-remas lembut tetekku yang sebelah kiri. Setelah puas dengan tetekku yang kanan, mulutnya pindah ke tetek kiriku, sambil tetekku yang kanan dimainkan dengan tangan kirinya.
”Kenapa nggak dari dulu-dulu suka ngisep tetek seperti ini?” kupancing suamiku dengan kata-kata yang menggairahkan sambil kedua mataku terpejam rapat.
”Nggak tahu, tiba-tiba pengen nyusu aja!” dia semakin kuat menyedot-nyedot tetek kiriku.
”Ahh…” aku merintih, tak sanggup untuk berkata lagi. Kedua tanganku meremas-remas rambutnya yang terasa sangat licin karena minyak. Sekarang tangan suamiku berpindah meraba dari perut sampai ke bagian bawah baju tidurku yang sudah tersingkap kemana-mana. Dia mengelus-elus terus paha kananku yang bagian dalam, sedangkan mulutnya tidak pernah diam untuk memainkan tetek kiriku.
”Kalau mau main, cepat lakukan, Mas… aku udah nggak tahan nih! Mmh…” kuregangkan kedua pahaku sehingga terbuka semakin lebar, menampakkan lubang senggamaku yang masih berlapis cd tipis, tapi sudah nampak basah tepat di bagian tengahnya.
”Belum, aku masih ingin mencicipi tubuhmu…” kata suamiku, tangannya semakin bergerak ke atas sehingga menyentuh celana dalamku, lalu mengusapnya dengan begitu lembut.
”Ssh… ohh… s-sudah, Mas! Mmhh…” rintihku sambil terpejam nikmat.
Tangan suamiku terus mengelus-elus lembut diatas cd miniku yang semakin basah memerah. Kadang ia mengelus-elus, kadang juga sedikit menekan-menekan pas berada diatas memekku yang berjembut lebat sehingga cd-ku tidak dapat lagi menutupinya. Jembutku yang menyeruak kemana-mana sesekali juga terkena usapannya. Oh, terasa sangat enak dan nikmat sekali.
Apalagi saat suamiku bertindak semakin berani; bukan hanya tangan, tetapi jari-jarinya sekarang dimasukkan ke dalam celana dalamku agar bisa menyentuh langsung bibir memekku yang memanas karena basah.
”Shh, Mas… kumohon… mhh… kalau mau entotin aku, lakukan SEKARANG!!” aku berteriak saking tidak dapat menahan rangsangan.
”Ok, Ma…” suamiku mengangguk. Ia mulai menarik celana dalam yang kukenakan hingga terlepas, tapi tetap membiarkan baju tidur menyelimuti tubuh mulusku. Posisiku saat itu masih bersandar di tempat tidur dengan pakaian yang sudah tidak karuan lagi. Suamiku menatap kawahku yang sudah amat sangat basah dan mencium bau harum ciri khas memek yang sedang terangsang.
Saat itulah, aku begitu kaget ketika tiba-tiba muncul seekor kucing yang berdiri di jendela yang tidak tertutup rapat. Anehnya, kucing ini sama persis seperti kucing yang ada di dalam lukisan. Kucing itu kemudian  meloncat masuk ke dalam kamar dan berdiri di sudut ruangan sambil memandang kami yang sedang bercinta.
”Mas, ada kucing!” aku  bilang ke suamiku, tetapi dia sama sekali tidak menghiraukan.
”Emang kenapa? Mungkin dia kepingin lihat kita, hehe…” suamiku tertawa dan mulutnya mulai menciumi paha dan sekujur kakiku hingga akhirnya masuk ke terminal utama, yaitu lubang senggamaku. Lidahnya langsung menyentuh pinggiran memekku.
”Aahh,” aku berteriak sambil menggeliat. Pikiran tentang si kucing langsung hilang sudah.
Suamiku mulai menjilati memekku dari bagian pinggir. Tanganku menarik kepalanya agar semakin dalam terbenam di selangkanganku. Sesekali mulutnya menyedot-nyedot bagian dalam liang memekku.
”Aah, Mas… enak!” aku merintih. Kuremas rambutnya dengan dua tangan saat lidahnya mulai bermain di itilku yang sudah membesar tajam sambil sesekali menghisap dan terkadang menyedot-nyedotnya ringan.
”Ahh, Mas… terusin… ahh… cepat!” Badanku menggeliat-menggeliat tidak karuan kesana kemari. Lidahnya terus bermain di dalam memekku, kedua tangannya juga mengangkat kedua kakiku agar mudah lidahnya menjilati setiap bagian dari memekku. Dia terus bermain disana dengan begitu rakusnya.
”Terus, Mass…” aku semakin bernafsu karena selama ini aku belum pernah merasakan jilatan di memek. Suamiku terus menjilati memekku yang sudah basah sekali dari bawah ke atas, lalu balik lagi ke bawah, dan kembali ke atas. Begitu terus berulang-ulang sampai badanku bergetar dan kepalaku menggeleng terus ke kiri dan ke kanan, sedangkan pinggulku berputar-putar mengikuti irama jilatannya yang semakin lama menjadi semakin cepat.
”Mas, aku udah nggak tahan… oohh!” aku menjerit saat lidahnya menerobos masuk ke dalam memekku lalu ditarik lagi, itu terus dilakukannya berulang-ulang, dengan diselingi sedotan ke liang memekku.
Aku yang tidak kuat menahan kenikmatan ini akhirnya menjepitkan kedua kakiku ke kepalanya dan tanganku menggapai langit-langit yang tidak bisa kuraih, sedangkan badanku membusung jauh ke depan. Aku lalui orgasme yang pertama sepanjang hidupku ini dengan teramat sangat indahnya, seperti melambungkan diriku ke impian yang selama ini tidak pernah kudapatkan. Semburan demi semburan terus keluar dari tubuhku, membuatku terus berkelojotan dan berkedut-kedut ringan.
Suamiku yang tahu kalau aku sudah orgasme, bukannya berhenti, malah semakin kuat menyedot-nyedot belahan memekku.
”Mas, ahh… ahh… oh enaknya…” Memekku terasa basah kuyup setelah orgasmeku yang begitu deras. Namun lidah suamiku ternyata belumlah berhenti untuk memainkan itilku, tangan kirinya terus meremes-meremes tetek kananku, sementara tubuhku masih tersandar di tempat tidur dengan gaun yang masih terpakai tapi sudah tersingkap kemana-mana.
”Cepet, Mas, kalau mau ngentot… mhh… mumpung punyaku sudah basah begini! Sshh…” aku meminta. Kedua pahaku masih berada di bahunya kiri dan kanan. Tangannya masih mengusap-mengusap memekku, kadang dia juga memainkan itilku dengan jari-jarinya.
Aku mencoba berdiri sehingga kepalanya terjepit di selangkanganku. Gaunku turun menutupi wajahnya, membuat bagian atas tubuhku tak berpenutup lagi. Payudaraku yang bulat besar terlihat menggantung dengan indahnya, yang langsung diremas-remas olehnya dengan dua tangan, membuatku kembali merintih dan menggelinjang suka.
Mulutnya sekarang pas berada di bawah memekku, dan dia memberikan sedotan yang sangat kuat. Aku langsung mencondongkan tubuh ke depan karena tidak kuat menahan sedotan itu, tapi tangan kananku menekan kepalanya yang tertutup baju tidurku. Suamiku mengulangi lagi sedotan itu, cuma yang sekarang jadi sasarannya adalah itilku yang merona tajam. Dan lagi-lagi, aku merintih keras sambil menekuk tubuh ke depan. Berkali-kali dia melakukan itu, dan berkali-kali pula aku tak tahan.
”Ahh, Mas… enak!” aku yang tidak kuat akhirnya menahan tubuh dengan kedua tangan di atas ranjang sehingga posisiku sekarang jadi setengah menungging. Lidah suamiku terus bergoyang menikmati itilku kiri dan kanan, sedangkan tangannya mengelus-elus bulatan payudaraku tiada henti.
”Entotin aku, Mas… aku udah nggak tahan!” jeritku setengah berteriak sambil mendesah kuat. Tangannya kini mengelus pusarku sambil mulutnya masih asyik bermain-main di belahan memekku.
”Buka celanamu, Mas… aku mau lihat kontolmu… shh.. ohh…” pintaku tak sabar ingin melihat benda yang selama ini tidak pernah bisa memuaskanku, yang anehnya kali ini kulihat begitu besar dan kuat.
”I-iya, Ma…” sambil terus mempermainkan memekku, suamiku sedikit mengangkat tubuhnya untuk membuka celana dalam. Dia langsung mengacungkan kontolnya yang sudah sejak tadi ngaceng keras ke depan mukaku.
Kulihat kontol yang begitu besar itu dengan penuh nafsu. Memekku rasanya sudah gatel sekali ingin dientot oleh kontol yang begitu perkasa tersebut. ”Duduk sini, Mas…” aku mencoba untuk meminta.
”Iya,” suamiku langsung duduk di sofa dengan kontolnya berdiri tegak seperti monas, tapi tangannya kembali menerobos masuk dari bagian bawah gaun satinku dan mulai mengelus-elus memekku lagi.
Aku langsung mengangkat baju tidurku dan berlutut di ranjang, di atas kontolnya. Jari tengah suamiku berusaha masuk menembus belahan memekku. Ia mengobok-obok sebentar isi memekku sebelum mengocoknya cepat tak lama kemudian hingga membuatku tak tahan. Dengan dua tangan aku menjerit dan bertumpu di bahunya.
”S-sudah, Mas… shh… ahh…” aku mendesah keenakan. Apalagi saat mulutnya ikut beraksi dengan mengulum kedua tetekku kuat-kuat, sambil tangannya terus bermain di dalam memekku.
”Aahh!!” aku memekik kalap, kubekap kepalanya hingga semakin terbenam di belahan tetekku. Mulutnya terus menyedot-nyedot lembut disana, sementara jari-jarinya yang nakal terus bermain di belahan memekku, membuatnya jadi semakin basah. Aku mencoba membalas dengan menggapai kontolnya lewat belakang pantat menggunakan tangan kiriku. Kuremas-remas kontol yang gede dan hitam itu dengan penuh nafsu.
”Ahh… pelan-pelan dong, Sayang!” suamiku yang keenakan semakin kuat mengobok-obok memekku sambil memainkan itilku.
”Sshh… s-sudah,  cepat masukin, Mas… aku mau kontolmu!” pintaku semakin tidak sabar.
“Iya, sayang…” suamiku mulai naik sedikit agar kontolnya bisa masuk ke dalam memekku. Di sebelah kami, si kucing mengeong, tapi suamiku terus mendekapku dan  terus melakukan panetrasinya.
”Achh…” aku merasakan kepala kontolnya masuk dan ditarik kembali. Dia memain-mainkan kontolnya di atas memekku dulu, ujungnya yang tumpul sengaja disentuh-sentuhkan ke itilku yang sudah sangat kaku dan sensitif.
“Masukin, Mas!! Oohh…” aku menjerit, memekku terasa semakin gatal dan aku menjadi binal dibuatnya.
“Iya,” suamiku kembali memasukan setengahnya, lalu diputar-diputar sebentar sebelum ditarik lagi.
“Masukin, Mas!” aku semakin berteriak tak sabar.
“Seret, Ma.. punya kamu sempit banget sih.” kata suamiku.
”Ahh… biar! Teruskan aja… ahh… uhh…” aku sendiri semakin meracau tak karuan, tidak kuat menahan kontol yang sekarang jadi begitu besar hingga jadi sangat sesak saat masuk ke dalam belahan memekku. Aku langsung melampiaskan dengan mengulum bibirnya kuat-kuat sambil meremas-remas rambutnya hingga jadi acak-acakan.
Suamiku langsung menekan kontolnya lagi dan bless…
”Mmhh…” aku kembali bergumam menikmati sodokan kontolnya yang begitu nikmat.
”Aduh! Enak banget memek kamu, Sayang…” suamiku ikut berteriak penuh kenikmatan karena ini yang pertama kali baginya bisa ngentotin aku begitu lama. Biasanya kan 2 – 3 menit sudah selesai.
”Aah… enak!” kembali kukulum bibirnya, tapi kali ini dengan lembut dan begitu mesra.
Suamiku menarik pelan-pelan kontolnya, lalu mendorong lagi. Sedangkan lidahnya bermain di mulutku. Terkadang dia bergerak memutar pantatnya agar kontolnya ikut bergoyang di dalam memekku. Aku mengimbangi putaran itu dengan menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Jadilah kemaluan kami saling menggesek dan memilin nikmat
”Mas, shh…” aku mendesis merasakan kontolnya yang begitu penuh berputar-putar di dalam liang memekku. Suamiku terus bergoyang ke kanan dan ke kiri
sambil memaju-mundurkan pantatnya semakin cepat.
”Sshh… enak banget, Sayang… terus!” erangnya karena aku menggoyangkan pinggul maju-mundur, atau kadang berputar sambil memainkan otot-otot liat di dinding memekku.
”Sshh… Mas… mhh…” aku ikut merintih.
”Ahh… terus, Sayang… enak!” suamiku rupanya sangat ketagihan dengan permainan memek yang kulakukan. Sambil tangannya meremas-remas tetekku, atau kadang sambil memainkan putingnya, ia mengimbangi goyanganku.
”Terus, Mas… kontol kamu enak! Sshh…” aku jadi ikut ketagihan dibuatnya, kukulum bibirnya begitu mesra sambil kusedot-sedot lidahnya. Suamiku yang tak ingin kalah, ikut menyedot lidahku juga, sementara tangannya masih menempel di putingku dan memainkannya dengan jari-jarinya yang kasar.
Aku bergerak naik turun semakin cepat karena memekku sudah basah sekali sehingga jalan keluar masuk kontolnya menjadi begitu lancar. ”Ayo, Mas… cepet keluarin! Hhss…” aku meminta. Tidak biasanya aku begini. Yang sering itu suamiku moncrot duluan, bahkan sebelum aku merasa nikmat. Tapi sekarang…
Aku malah sudah berada di titik pendakian, sementara dia tampak masih tenang-tenang saja. Berteriak-teriak penuh kenikmatan, kuangkat kedua tanganku ke atas untuk meremas-remas rambutku sendiri. Sementara suamiku meremas-remas kuat bulatan tetekku karena tahu kalau aku akan segera keluar.
”Ahh… enak, Mas… enak sekali!” aku bergerak naik turun dan memutar pinggul semakin gila. Dia ikut terbawa dengan menggerakkan pantatnya liar.
”Kita keluar bareng, Mas… shh!” aku merasakan nafsu sekali sehingga sudah
tidak kuat menahan detik-detik yang teramat sangat indah selama hidupku itu.
”I-iya, Sayang…” sahutnya.
Kutekan kuat-kuat memekku ke bawah dan menggesekkannya maju mundur dengan begitu cepat di batang kontolnya. Kedua tanganku terus meremas-remas rambutku sendiri sehingga jadi sangat berantakan. Tapi anehnya, meski permainanku sudah begitu hot, namun nampaknya suamiku tidak cepat ejakulasi. Dia terus bertahan, dan terus memompa hingga membuatku makin kelojotan tak karuan. Dan akhirnya, akupun kalah.
Aku orgasme. Cairanku meledak keras sambil tubuhku mengejang-ngejang ringan merasakan nikmat yang begitu hebat itu. Belum pernah aku merasakannya, dan sekali dapat, langsung begini nikmat. Oh, sungguh sangat beruntung sekali. Sementara suamiku seperti pria yang kesurupan, dengan tidak mengenal lelah ia terus menyetubuhiku.
”Ayo. Ma, kita main yang lebih nikmat!” ia meremas tetekku dan memainkan putingku dengan kedua jarinya sambil menjepit-menjepitnya gemas.
”Lakukan, Mas. Genjot terus tubuhku!” teriakku semakin binal sambil memutar-memutar kontolnya yang terbenam penuh di lorong memekku.
”Ahh… enak, Ma!” dia mulai menyedot-nyedot putingku bergantian.
”Cepet, Mas… semprot memekku dengan pejuhmu! Shh… aku udah nggak tahan nih!” teriakku semakin kencang, kemudian aku mengulum bibirnya dan menekan kepalanya sehingga semakin rapat ke arah wajahku.
”Tahan sebentar, Sayang.” suaranya kacau akibat bibirku yang mendekati bibirnya. Kami berciuman dan berpagutan dengan penuh nafsu sambil suamiku tak lepas memaju-mundurkan pantatnya, bahkan kadang bergoyang semakin kuat dan cepat.
Aku kembali melawan dengan memainkan otot-otot memekku sekuat tenaga agar dia lekas orgasme. Tubuhku terus menggeliat karena nikmat yang tiada tara ini. Kami bercinta dengan berbagai gaya yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Aku merasakan orgasme yang berulang-ulang. Karena kenikmatan dan perasaan bahagia, aku sampai meneteskan air mata saat bercinta.
”Terus, Sayang… ahhs… aku sudah mau keluar!” teriaknya yang sudah mulai kewalahan, tidak dapat menahan lagi orgasmenya lebih lama.
”Aahh…” kupenuhi permintaannya dengan bergoyang amat sangat liar dan akhirnya tubuhku kembali menggelepar-gelepar. ”Mas, aku mau keluar juga!” aku berbisik.
”Kita sama-sama, Sayang…” dia mengajak.
”Aah, Iya…” aku menyahut, dan meledak. Titik puncak itu dapat kuraih dengan begitu indahnya selama masa perkawinan kami. Tubuhku mengejat-mengejat sambil memeluk tubuh suamiku erat sekali. Anganku melayang jauh merasakan gelombang orgasme yang sedemikian hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan kontol ini.
”Ahhh…” suamiku ikut menyemprot dengan begitu kuat dan deras di dalam leiang memekku. Croot, croot, croot, begitu dia menyembur berulang-ulang.
”Aahhm…” aku kembali bergumam di alam mimpi yang indah ini.
Bibirnya mengecup bibirku yang ranum dan aku langsung mengulum bibirnya dengan liar sambil memeluknya. Tangannya mengelus tetekku lembut. ”Punya kamu enak sekali, Sayang!” bisiknya perlahan dengan napas yang masih terengah-engah.
”Sama! Aku puas sekali hari ini, Mas.” aku tersenyum dan berbisik di telinganya. Sambil tetap memeluk tubuhnya, kemudian kukecup bibirnya dengan begitu lembut dan mesra.
”Baru kali ini kita bercinta sehebat ini… kamu benar-benar hot sekali, Sayang… sungguh luar biasa!” jawabnya puas.
Tangan kananku memegangi pipinya. ”Mas juga! Bisa tahan lama begitu, aku jadi suka sekali!” kataku sambil memeluk erat tubuhnya seakan tidak ingin kehilangan dan mengecup keningnya.
Aku sempat melihat jam dinding sebelum tertidur. Astaga! Ternyata kami bercinta lebih dari 2 jam! Sungguh luar biasa. Pantas tubuhku jadi begini lelah. Di pojok ruangan, si kucing kembali mengeong sebelum menggulung tubuhnya menjadi lingkaran dan ikut tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika aku terjaga dari tidur, aku aku tidak menemukan kucing itu lagi. Aku bertanya dalam hati, apakah itu kucing liar yang sering ditemukan di dekat kuburan? Karena rumahku tidak jauh dari tempat pemakaman umum.  Aku segera bertanya kepada suami perihal kucing itu, tetapi dia bilang tidak melihatnya.
Tapi suamiku bilang kalau dia juga  merasakan keanehan saat bercinta tadi malam. Katanya kami seolah-olah dibawa melayang ke suatu tempat, dan bercinta di sebuah taman yang sangat indah. Dia melihat diriku begitu cantik seperti putri, yang tidak seperti sebelumnya. Karena itulah ia begitu bernafsu saat menyetubuhiku. Bahkan suamiku merasa badannya menjadi ringan dan tidak mengenal lelah, sehingga dia  ingin memuaskanku sepuas-puasnya.
Beberapa hari kemudian, aku secara kebetulan membaca artikel tentang seekor kucing. Saat itulah aku menjadi terkejut ketika membaca sejarah tentang kucing. Ternyata ribuan tahun sebelum masehi, kucing dianggap sebagai binatang suci di negeri Mesir. Dan bahkan jika meninggal dibuat mummi. Malah disamping Mummi raja Firaun, juga ditemukan mummi kucing kerajaan.
Kucing merupakan penjelmaan dari Dewi Kesuburan pada wanita,  yang  bernama Basted / Usbati atau Pesht, yang dipuja oleh orang-orang  Mesir. Sehingga orang yang membunuh kucing akan mendapatkan hukuman mati. Konon ada rombongan kereta tentara pasukan raja Firaun (Farau) yang secara tidak sengaja menabrak seekor kucing, dan  tentara tersebut langsung mendapatkan hukuman mati.
Kucing binatang suci  yang harus dilindungi. Dan jika ada kucing meninggal, maka  pemiliknya akan mencukur bulu alis matanya, sebagai tanda duka dan perkabungan. Kucing yang dalam  bahasa asingnya cat, merupakan serapan dari bahasa latin Felix Cattus, yang ditulis pertama kali oleh Rolladius, penulis asal Roma, pada abad ke-4 masehi.
Artikel yang nongol secara kebetulan. Anehnya, sejak malam itu kucing tersebut tidak pernah muncul lagi. Dan hebatnya, suamiku menjadi sembuh dari  gangguan ejakulasi dini. Bahkan dia menjadi bisa mengontrol ejakulasinya secara gampang. Kamipun bisa bercinta dengan leluasa, dan menggunakan berbagai variasi. Dan mulai saat itu aku  merasa gampang mendapatkan multi orgasme.
Empat minggu setelah seks yang ditunggui kucing tersebut, aku dinyatakan hamil. Ketika aku konsultasi ke dokter, beliau banyak menjelaskan masalah medis.
”Waduh, sejauh ini kok saya tidak pernah mendapatkan pasien, yang saat bercinta mendapatkan halusinasi melihat kucing ya…” kata dokter. ”Ibu waktu melakukan hubungan seks, tepat pada saat masa subur sehingga terjadi perubahan fisiologis, termasuk peningkatan libido.  Sehingga dipastikan pada malam  itu terjadi pembuahan sel telur oleh sperma di saluran telur,” katanya menambahkan.
“Lagian suami ibu sering keluar kota.  Jadi jika kebetulan ibu  pada masa subur, hal ini menjadi terlewatkan. Karena sel telur hanya mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuai hanya selama 1 – 2 hari.  Ibu sudah lama menanti momongan, dan  hal  sekarang ini layak  disyukuri,” kata dokter sambil mengusap-usap stetoskop yang mengalung di lehernya.
Cerita diatas memang terasa aneh, karena  aku juga merasakan seperti itu. Namun terlepas dari semuanya, semua pasti ada hikmahnya.

ZURAIDA AND FRIENDS 2

Setiba di meja makan, Arga tak mampu sepenuhnya mengikuti obrolan yang semakin panas, berbagai ocehan nakal semakin deras mengalir. Suara tawa meledak serentak ketika Bu Sofia dengan gaya yang centil memainkan sebatang sosis dimulutnya.
“Masukkanlah daging sosis itu kebelahan dadamu, mungkin daging itu merasa kesepian tak memiliki teman,” seru Munaf seraya menunjuk payudara Bu Sofia dengan bibirnya.
“Ow, ow, ow,, aku tidak mungkin mengambil talenta yang dimiliki oleh Aryanti,” jawab Bu Sofia sambil melirik Aryanti dengan mata mengedip, membuat semua tertawa. Dan kini semua mata tertuju pada Aryanti.
“Tidak,tidak,,, Aku memenuhi permintaan kalian tadi sore hanya karena penasaran, dan sekarang tidak ada yang dapat memaksaku,” sela Aryanti.
Jidat Arga berkerut, dan Aryanti membaca tanda tanya dikepala suaminya.
hilda yulis - toge montok jilbaber (5)
“Sayang, tadi sore setelah berjalan-jalan sebentar kami kembali ke gazebo tempat kita berkumpul selumnya, dan aku sudah tidak mendapatimu disana.
“lalu, apa hubungannya dengan sosis itu,” Tanya arga penasaran.
“Istrimu memang hebat, mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh istri-istri kita,” Jawab pak Prabu cepat dengan bibir nyengir.
“Ya,ya,,, itu Cuma kebetulan saja Sayang,, Adit menantang bu Sofia, apakah payudara tantenya itu dapat memeras jeruk yang sudah terbelah dua, imbalannya Adit bersedia memijiti kaki Bu Sofia yang memang terus mengeluh capek karena terlalu lama jalan-jalan tadi sore” jawab Aryanti berusaha menerangkan, tak ingin membuat suaminya salah paham.
”Lalu Bu Sofia meladeni tantangan Adit dengan memasukkan jeruk itu kedalam kaos dan dijepit oleh kedua payudaranya yang besar, Namun ternyata air yang keluar dan mengalir kepusarnya hanya sedikit,So,,,Karena penasaran aku turut mencobanya, dan ternyata air jeruk yang diperah kedua payudara istrimu ini lebih banyak, hahahaha,,,”
”Dengan menjepitkan kedua payudaramu?” Tanya Arga cepat yang dijawab dengan anggukan.
”Semuanya sudah mencoba, jadi tidak ada salahnya kan jika aku turut mencoba, sekuat tenaga aku mengepit balon ini dengan lenganku dan ternyata aku berhasil,” sahutnya sambil memperagakan kedua tangannya yang saling menggenggam lalu menjepit kedua payudaranya dengan kuat.
Tak ayal sepasang payudara Aryanti menyembul seakan ingin melompat dari kaosnya yang longggar, Mata Arga bisa menangkap bagaimana mata teman-temannya melotot melihat aksi Aryanti yang me-replay usahanya tadi sore.
“Sebenarnya aku tidak kalah dari istrimu, hanya saja air jeruk hasil perahanku tertahan oleh bra ku, sementara istrimu bisa mengalirkan air itu langsung kepusarnya tanpa terhalang,” celetuk Bu Sofia yang masih belum bisa menerima kekalahannya, tapi justru membuat mata Arga melotot kaget.
“Haahahahaa,,, Ya,,yaa,, aku memang sudah melepas bra ku karena sudah terlalu lengket oleh keringat akibat berlarian dipantai dengan Zuraida, tapi setidaknya aku tidak melepas bra-ku karena permainan itu,” jawab Aryanti dengan santai seakan semua itu adalah hal yang biasa.
“Pasti saat itu semua mata dapat memandang dengan bebas kearah gumpalan payudara istriku,” gumam Arga sedikit cemburu.Arga perlahan menarik nafas panjang mencoba untuk lebih rileks, toh apa yang telah dilakukannya lebih dahsyat dari istrinya, sesekali matanya melirik Zuraida yang malam itu terlihat berpakaian lebih santai, baju tidur berwarna biru lengkap dengan penutup kepala jenis bergo. Sangat berbeda dengan istri Arga yang berpakaian lebih menantang dari biasanya, kaos longgarnya kali ini lebih kedodoran dari biasanya, memperlihatkan pundaknya yang putih begitu kontras dengan tali bra yang berwarna merah.
”Shit,,, sejak kapan Aryanti memeiliki baju model seperti ini,” dengus hati Arga saat menyadari pakaian baru yang dikenakan istrinya. Pasti bosnya memberikan uang sangu yang cukup besar untuk cutinya kali ini.
Namun Arga terlihat puas saat memergoki semua mata teman-temannya yang diam-diam menyatroni bagian tubuh Aryanti yang terbuka dengan rasa kagum.
“Tapi tunggu,,, jika semua wanita melakoni permainan itu, artinya Zuraida juga melakukannya kan?” bisik Arga ketelinga Aryanti.
“Ya,, dia juga melakukannya, hanya saja kami tidak dapat melihat dengan jelas aksinya karena terhalang oleh penutup kepalanya,,, Heeeyy,,, apa kau mengagumi istri temanmu itu?” tanya Aryanti, menatap penuh selidik kewajah Arga yang tiba-tiba salah tingkah.
“Tidak juga, hanya penasaran apakah wanita seperti dia juga seberani istriku yang seksi ini,” jawab Arga memandang istrinya berusaha memberikan ketegasan.
“Tidak mengapa sayang, itu wajar, karena Zuraida memang cantik,,, apa kau tau?,, tadi sore dia mengenakan celana dalam berwarna pink lhoo,, itu terlihat saat dia mengangkat kaos bawahnya untuk memperlihatkan pusarnya yang hanya dialiri beberapa tetes air jeruk,”
GLEEEKK,,,, Arga yang sedang minum untuk menenangkan hati tiba-tiba tersedak, tapi Aryanti justru tertawa terpingkal, membuat mereka yang ada disitu bingung melihat Aryanti yang tiba-tiba tertawa setelah berbisik-bisik dengan suaminya.
”Hey, apakah ada yang melihat istriku,” celetuk Munaf tiba-tiba yang masih menunggu istrinya.
Lagi-lagi Arga tersedak, Aida istri Munaf yang begitu menggairahkan mungkin masih terlelap dikamar Lik Marni, setelah kelelahan bertempur dengannya.
”Tadi sih jalan-jalan denganku ke belakang cottage, dan mungkin dia sedang kelelahan di kamar, karena kami berjalan terlalu jauh,” jawab Arga sesantai mungkin takut mengundang kecurigaan teman-temannya, dan untunglah Munaf tak ambil pusing lalu mengunyah makanannya.
Seusai makan Munaf mengeluarkan rokoknya, lalu berjalan kearah tepian kolam renang, ”Kapan kita akan memulai permainan ini?,,” ucapnya kepada para lelaki yang berkumpul.
”Hey,,hey,,hey,,,apakah kau tidak sadar jika pesta sudah lama dimulai, bahkan istrimulah yang telah menjadi hidangan pembuka,” mendengar paparan Pak Prabu, Munaf dan Dako serentak melotot.
”Assem,,, pantes dari tadi aku nyari istriku ga ketemu. Ni orang pake ga ngaku lagi kalo udah make bini orang,” Arga hanya tersenyum cengengesan. “Gimana,, mantap ga servis bini ku,” tanya Munaf dengan santai.
“Sialan ni orang, cuek bener istrinya digagahin orang,” hati Arga jelas heran dengan respon Munaf. Tapi masa bodohlah, yang jelas dirinya telah berhasil menjajal keindahan tubuh montok itu, dan membuat ibu muda itu kembali menagih untuk dipuaskan.

“Apa rencana kita malam ini,” tanya Munaf sambil menatap Dako dan dan Arga.
“Terserah, tapi yang pasti aku telah memiliki janji dengan Bu Sofia, hehe,,” jawab Dako sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang tersenyum simpul.
Pak Prabu yang asik dengan Handphone nya langsung melotot ke arah Dako, meski sadar permainan must go on, namun tetap saja terasa berat untuk melepas tubuh wanita yang telah menemani hidupnya selama bertahun-tahun, untuk disantap para srigala mesum.
“Bolehkan Pak Prabu?,”
“Terserah kalian lah, tapi ingat tidak ada pemaksaan, pengeoroyokan dan kekerasan,” kata-kata Pak Prabu begitu tegas, setidaknya dengan cara itu dirinya dapat sedikit memastikan wanitanya dalam keadaan lebih baik.
“Mungkin untuk syarat yang lain, aku dapat memenuhi, tapi untuk kekerasan sepertinya tidak mungkin, karena bagaimana tombakku dapat menghujam membelah tubuhnya jika dalam keadaan loyo,” kelakar Dako sontak membuat semua yang ada disitu tertawa, begitu juga dengan Pak Prabu yang hanya bisa tersenyum masam.
“Weeehhh,, rame bener nih, ada apa,” sura lembut itu, siapa lagi jika bukan milik Zuraida.
Seketika tawa mereda, masing-masing berusaha menyembunyikan rahasia, jika para wanita mengetahui sebelum permainan berjalan panas, maka semuanya akan menjadi lebih sulit.
“Tidak ada yang spesial, hanya membicarakan pembagian jabatan dikantor,” jawab Pak Prabu cepat, meski diucapkan dengan santai dari bicaranya lelaki paruh baya itu ingin mengukuhkan kuasanya dalam kelompok itu kepada Zuraida.
Gadis itu mendekati bangku Arga yang memang duduk didekat suaminya. Dari jarak sedekat ini pesona Zuraida seakan begitu nyata, ditambah dengan kaos tidur yang melekat sedikit lebih ketat dibandingkan baju yang biasa digunakannya. Kini Zuraida berdiri tepat di depannya, berbicara dengan suaminya, entah apa yang dibicarakan Arga tidak terlalu peduli karena posisinya yang tengah duduk membuat wajahnya berhadapan langsung dengan pantat membulat yang terangkat, layaknya pantat bebek yang memiliki kaki yang langsing.
“Ternyata berani juga Zuraida memakai celana seketat ini,” gumam Arga.
“Arrrgghh,,, sialan,” ulah Dako yang memeluk pinggul Zuraida dan memberikan sedikit remasan nakal, seakan sebuah tantangan dari Dako untuk menaklukan Zuraida bersama tubuh indahnya.
Tampak Zuraida sedikit berkelit, jelas dirinya malu jika diperlakukan seperti itu di depan umum, walau itu oleh suaminya sendiri. Zuraida menoleh ke belakang dan mendapati Arga masih duduk di kursinya berhadapan tepat dengan pantatnya yang tengah diremas Dako. wajah Zuraida terlihat tak nyaman dan menahan malu oleh ulah suaminya.
“Ok,,, aku pamit dulu, ada yang harus ku kerjakan,” ucap Arga sambil menggerutu melihat ulah Dako.
“Arga, malam ini aku ingin ngobrol dengan Aryanti, tapi ada yang harus aku bereskan sebelumnya dengan suamiku ini,”
“Baiklah, nanti akan aku sampaikan kepadanya,” ucap Arga menjawab rencana Zuraida yang kini menggantikannya duduk di kursi.
Ketika melewati persimpangan yang menuju kearah dapur, Arga bingung, di ujung lorong itu telah menunggu tubuh montok Aida yang masih mengharapkan sentuhannya.
“Mungkin aku akan menyelesaikan tanggung jawabku dengan gadis itu sebentar,” ucap Arga sambil berbelok ke lorong.

“Arrgghhh,, Adduuuhhh,,, pelaann dikit dong Pak, Aarrghh,,”
Itu jelas suara Aida, tapi bukankah semua teman-temannya tengah duduk santai di pinggir kolam renang, lalu siapa yang telah membuat wanita itu mendesah dan menjerit tertahan, langkah kaki Arga semakin cepat ingin mencari tau. Tampak Lik Marni sedang mencuci beberapa peralatan makan yang baru saja mereka gunakan, suara gemericik air kran bersahutan dengan lenguhan seorang wanita yang tengah dilanda orgasme.
“Aaarrggghhh,,, aaahh,,”
Dari celah pintu Arga mengintip dua tubuh yang saling menindih, tampak sang wanita telah terkapar mengakang lebar, hanya bisa pasrah membiarkan seorang pejantan menggasak selangkangannya. Dari rambutnya yang kriting jelas itu adalah Mang Oyik, penjaga cottage, tapi kenapa Lik Marni bisa begitu cuek dengan pekerjaannya, sementara suaminya tengah menggagahi tamu dikamar tidur mereka. Lik Marni menolehkan wajahnya saat menyadari ada orang yang mendekati kamarnya, sesaat wajahnya sedikit pucat.
“Maaf Den’ Saya udah ngelarang bapak yang pengen nyicipin, tapi Nona nya juga mau, jadi saya ga bisa ngelarang lagi Den,” ucapnya berusaha menerangkan sekaligus membela ulah suaminya.
“Nikmat banget kayanya, biar gayanya standar tapi serangannya mantap juga,” ucap Arga bersandar pada dinding yang menghadap kaca pemisah antara ruang dapur dan kamar Lik Marni. Dirinya baru tersadar, dari tempat itu segala kejadian diruang itu terlihat dengan jelas, tapi tidak sebaliknya. Artinya, semua yang dilakukannya bersama Aida tadi sore ditonton oleh pasangan penjaga villa ini.“Gedean mana Lik, punya saya ama punya Mang Oyik,”
“Gede? Apanya sih Den yang gede,”

Lik Marni hanya tersenyum dengan wajah menunduk, Arga telah mengetahui semua rahasia kaca itu. “Mang Oyik udah sering ikut icip-icip tamu? Wajah manis khas wanita jawa tengah itu menganguk pelan.
“Berarti Lik Marni juga sering dong dicicipin ama tamu,” dengan cepat wajahnya menggeleng, “Ngga juga Den’ saya kan jarang dibolehin keluar dapur ama Mamang,”
Arga tersenyum mendengar keegoisan Mang Oyik, “Ngga juga? Berarti pernah juga kan?” Arga terus menggoda.
“Aaaarrrgg,,, Maaaaang,,,” lagi-lagi lenguhan Aida kembali terdengar, serentak Lik Marni dan Arga menoleh ke kaca, menyaksikan tubuh montok Aida menggeliat dan bergetar seiring tubuh Mang Oyik yang berkelojotan dan semakin mengukuhkan penancapan batangnya keselangkangan Aida. Meski tidak sepanas saat melayani Arga, namun Aida tidak melakukan penolakan ketika tubuh ceking itu menghamburkan sperma kedalam tubuhnya, mengosongkan kantung sperma. Tampak Aida terkikik, entah kata-kata apa yang diucapkan Mang Oyik sehingga membuat Aida kembali melingkarkan paha sekalnya kepinggul Mang Oyik dan kembali bergerak pelan menyambut pinggul Mang Oyik yang kembali bergerak menumbuk dengan pelan.
“Punya suami saya walo udah keluar bisa tetap keras Den” ucap Lik Marni menjawab kebingungan Arga. “kalo Aden mau, saya masih punya jamu nya,” imbuhnya sambil berjalan ke sudut dapur mengambil ceret yang bodynya menghitam karena gosong.
Dengan cepat air dengan warna hijau pekat dan sedikit kental mengisi gelas kecil yang dipegang Lik Marni.
“Kalo Aden mau tarung lagi ama pasangannya boleh diminum sekarang, khasiatnya bisa sampai dua hari koq,” ucapnya sambil tersipu malu.
“Takut ahh,,, Ntar punya saya ngaceng terus dong, kan malu jalan-jalan di pantai bawa pentungan satpam,”
“Hahaha,,, Ihh,, Aden bisa aja,” Lik Marni tidak dapat menahan tawanya. “Ramuan rumput laut plus kuda laut ini beda ama ramuan yang lain Den’ kalo kita udah ga pengen ntar bisa tidur sendiri, tapi kalo Aden mau beraksi lagi langsung on lagi, Aden ngecrot mpe 10 kali lagi juga ga bakal loyo koq,”
Penuturan Lik Marni jelas membuat Arga terkesima, apalagi miliknya kini tengah tegak sepenuhnya, sementara dirinya masih ingin menghabiskan malam ini dengan berbagai petualangan. Dengan cepat tangannya meraih gelas yang dipegang Lik Marni,

“Pelan-pelan aja Den, lagian pasangannya masih betah ditindih bapak tuh,” Arga tertawa, ternyata wanita berwajah pedesaan ini bisa juga bercanda.
(Sumpah,,, jangan percaya dengan ramuan Lik Marni, karena Ane sendiri belum pernah nyicipin tu jamu, Cuma terlintas diotak mesum khasiat Kuda Sumbawa, So,, berhubung lokasi lagi di pantai ya akhirnya ane ganti dengan kuda laut)
“Berarti giliran saya masih lama dong?” ucap Arga setelah menghabiskan jamunya. Lik Marni hanya tertawa lalu kembali meneruskan membilas beberapa piring yang masih kotor.
“Kalo ngetem disini dulu boleh?” bisik Arga sambil memeluk Lik Marni dari belakang, tangannya langsung menuju selangkangan yang dibalut kain jarik.
Lik Marni hanya tertawa, rupanya wanita muda itu memang telah menduga apa yang akan dilakukan oleh tamunya. Tapi jantungnya langsung berdegub kencang ketika teringat penis Arga yang terlalu besar. Memorynya langsung mengingatkan dirinya pada sosok pak Nathan lelaki India yang secara terang-terangan meminta kepada Mang Oyik untuk menemaninya dikamar selama menginap di Vila itu. Dimata Lik Marni, Pak Nathan betul-betul seorang petarung seks sejati yang memiliki penis begitu besar dan mampu menggasak kemaluannya semalam suntuk. Melihat tidak ada penolakan, tangan Arga segera menyelusup masuk kedalam kebaya sementara tangan lainnya berusaha mengurai puntelan jarik yang cukup panjang.
“Weeeww,, koq bisa sih Mang Oyik ngedapetin body sebagus ini.” Ucap Arga setelah berhasil menjatuhkan kain jarik itu ke lantai.
“eegghhh, saya dijodohin Den, eenghh,,” Lik Marni mulai mendesah saat merasakan sebuah batang mulai menyelinap di antara paha montoknya, perlahan cairan vagina mulai membasahi batang yang sesekali menusuk klirotisnya.
“Den,,Adeeen,,”
“Ada apa Lik, takut ketahuan Mang Oyik,” ucap Arga sambil meremasi payudara dari balik kebaya, dengan pakaian atas yang tetap lengkap memberikan gairah tersendiri baginya.
“Bukaaan, saya boleh minta cium Aden?” Arga tergelak, tak perlu diminta dua kali bibirnya langsung menyambar bibir basah Lik Marni.
“Eemmhhh,,, uummhh,,”
Ternyata wanita ini buas juga, lidah Arga yang terjulur disedoti oleh bibir Lik Marni. Bagi wanita yang tinggal di pesisir yang sepi terpisah dari keramaian ini, sangat jarang mendapati para lelaki tampan, rupanya dirinya telah lama bosan, tiap hari hanya memelototi wajah Mang Oyik yang penuh bopeng akibat cacar air. Dan kini tubuhnya tengah dipeluk oleh lelaki yang biasa hanya muncul di televisi, meminta pelayanan dari tubuhnya, maka tak ada alasan bagi Lik Marni untuk menolak, masalah apakah nantinya Mang Oyik akan marah melihat istrinya digagahi tanpa seijinnya itu urusan belakangan. Dengan sigap tangannya menggenggam batang Arga dan mengarahkan keliang kemaluannya, seakan takut Arga berubah pikiran.
“Uuugghhh,,, Deeenn,,”
Batang yang terlalu besar membuat vaginanya sedikit nyeri, tapi Arga lebih cekatan memiting pinggul wanita muda itu dan terus memaksa masuk.
“Deenn,, tunggu dulu deen,,” Mata Lik Marni mendelik dengan air mata menahan perih, kepalanya coba menunduk ingin melihat batang yang tengah berusaha membelah tubuhnya. Benar saja, penis lelaki ini terlalu besar, lebih besar dari milik Pak Nathan yang dikiranya merupakan ukuran maksimal dari penis lelaki.“Aaahhh,,, nyonyaaa,,, iseepp dong,,,” tiba-tiba terdengar suara Mang Oyik yang meloncat kewajah Aida, namun ibu muda itu terlalu jijik dengan penis Mang Oyik dan menutup mulutnya dengan rapat, akibatnya cairan itu menghambur kewajah cantiknya.
“Uuuugghhh,,, Deenn,” Lik Marni sepertinya tak ingin kalah dengan aksi suaminya.
“coba teruuss deen,,,masukiiinn,, pasti bisa koq” tubuhnya membungkuk agar batang Arga lebih mudah menerobos kemaluan yang sehari-hari hanya menyantap batang dengan ukuran standar.
Lik Marni terlonjak saat Arga tiba-tiba melesakkan penisnya dengan kuat. Tanpa menunggu dirinya bersiap-siap untuk menerima serangan selanjutnya Arga sudah kembali menghentak dengan keras. Entah kenapa Arga sangat menikmati wajah Lik Marni yang begitu tersiksa tapi pada saat yang bersamaan juga menikmati perlakuan kasarnya.
“Adeeenn,,, batang gede kayaaa giniii emang divagiinnaa sayaa tempatnyaaa,,” Lik Marni menggoda Arga dengan menggoyang-goyangkan pantatnya yang besar. Setelah beberapakali batang itu keluar masuk, akhirnya Lik Marni dapat merasakan batapa nikmatnya kejantanan milik lelaki berparas ganteng itu.
“Deenn,, kalo saya ketagihaaan gimaanaa,,,” bibir wanita berwajah oval itu mulai meracau akibat ekstasi yang disuguhkan kejantanan Arga disaluran kencingnya.
“Tenang saja Lik,, teman-teman saya yang menginap disini ukuran batangnya juga besar-besar koq,” bisik Arga yang tengah berusaha mengenali kekenyalan pantat besar Lik Marni sambil menggerak-gerakkan batangnya kekiri dan kanan.
“Kalo Lik Marni mau nyicipin batang mereka satu-satu bisa koq, atau kalau Lik Marni pengen dikeroyok, mereka juga siap koq,” goda Arga yang begitu menikmati mimik wajah Lik Marni yang merem melek dengan bibir terbuka lebar membentuk huruf O.
Sambil menghujamkan batangnya Arga berusaha melolosi kebaya Lik Marni, cukup sulit ternyata, tanpa bantuan Lik Marni yang sibuk berpegangan ke meja dapur, memberikan perlawanan atas batang yang menerobos jauh ke lorong kemaluannya.
“Lik,, kancingnya lepas dulu dong, ditusuk sambil netek kan lebih enak,,” bisik Arga tanpa menghentikan tusukannya.
Seakan tak ingin rugi, Lik Marni melepasi kancingnya sambil terus menggoyangkan pantatnya. “Ini Deenn suudaaahhh,, aahhh,,” seru Lik Marni sambil sedikit memutar tubuhnya ke belakang, menyerahkan payudara yang bergelantungan dengan bebas dan dengan cepat dilahap oleh Arga dengan rakus.
“Ooowwwhhhh,,,Deeennn,,, ga kuaaatt,,, jangan terlalu dalaaamm sayaa ga mau nyampee duluuuaaan,,,” Lik Marni menjerit penuh kenikmatan berusaha menghindari titik sensitif yang dirojok batang besar. Tampaknya wanita itu tidak ingin orgasme terlalu cepat.
Arga tertawa saat mengetahui kelemahan dari wanita itu, dan mempercepat tusukan dengan hujaman yang lebih dalam.
“Aaagghhhh,,, gaa maaauuuu,,, ga maauuu,, saya masih pengen dientot yang laamaa,,” rengek Lik Marni, tapi apa daya, batang Arga yang memang belum masuk sepenuhnya terus digeber semakin dalam hingga membuat Lik Marni melonjak-lonjak diterpa orgasme.
“Aaaggghhh,, tuu kaaann,, aaahh,,, Oowwwgghhhh,,,,,”
Tubuh Lik Marni bergetar hebat, “Aagghhh,,, Awass Deeenn cabuuuttt,, sayaa mauu kencing Deeenn,,”
Arga menarik keluar batangnya hingga hanya kepala batang yang tertinggal didalam, dan saat itulah cairan menghambur dengan derasnya.

“Busyeett,,, gila juga ni cewek,, squirt mpe segitu banyaknya,,” gumam Arga yang kaget melihat cairan yang menghambur deras.
Lik Marni menolehkan kepalanya sambil cengengesan malu-malu, “Maaf Deen,, seharusnya tadi tusuk yang dalam biar saya ga terkencing-kencing gini,” ucap Lik Marni polos.
Arga menarik tubuh Lik Marni ke arah dipan. Wanita itu mengerti dengan keinginan tamunya, dengan malu-malu mengangkangi tubuh Arga yang kini duduk dengan kejantanan tegang mengacung.
“Oowwwhhssss,,, masih sesak banget Deenn,,,” rintihnya sambil menikmati batang yang perlahan menyelusup memenuhi lorong peranakan.
“Aaawww,,, udah mentok Deeenn,,”
Arga yang asik mengenyoti payudara besar Lik Marni, merasakan ujung helm yang menyentuh dasar lorong, masih tersisa beberapa centi batangnya yang berada diluar.
“Uuugghhh,,, emang udah ga bisa masuk lagii,,” rengek Lik Marni yang masih bermain-main dengan batangnya berusaha melahap seluruh batang Arga.
“Awwwgghhh,,, Aden nakaall aaahh,,,” wanita itu menjerit saat Arga dengan usil menghentakkan pinggulnya dengan keras, hingga menggedor dinding rahim.
“Kalo satu batang aja udah kewalahan, gimana kalo nanti dikeroyok teman-teman saya,,” ledek Arga seraya menikmati pinggul Lik Marni yang bergoyang pelan memanjakan batang yang ada dalam tubuhnya.
“Dikeroyoookkk,,, takuuut ah Deenn,, ntar semua lubang saya dimasukin sama teman-teman Aden,”
JEDUGG,,, semua lubang?,, lubang anal?…
“Lik Marni udah pernah ditusuk disini?” tanya Arga sambil mengusap-usap pintu anus Lik Marni yang kegelian.
“Belum Den,, takut sakit,, lagian jorok ahh,,,”
“Seeepp,, daripada ntar ni lubang diperawanin teman-temannya, mending ku sikat duluan daahh,,,” gumam Arga.
“Saya tusuk ya Lik,,” Pinta Arga seraya berusaha menjajalkan telunjuknya ke lorong yang masih perawan itu.
“Ooogghh,,, gelii Deenn,, Cuma pake tangan kan?,”
“Ya pake inilah,” jawab Arga sambil memonyongkan bibirnya menunjuk kejantanannya.

Pantat Lik Marni berhenti bergoyang, keningnya berkerut, sesaat kepalanya menoleh ke kaca menatap Mang Oyik yang tengah menghajar Aida yang menungging mengangkat tinggi pantatnya. Meski bibirnya terus mengerang nikmat, tampak jelas Aida sudah sangat kewalahan meladeni batang Mang Oyik.

 “Emmmhhh,, boleh aja sih,,Tapiii,, jangan kasar seperti tadi ya Deeenn,,” ucapnya setelah memastikan suaminya masih dapat bertahan cukup lama dengan tamu cantik yang tengah digenjotnya.
“Tenaaang aja,, pasti saya masukin dengan lembut koq sayang,,”
Lik Marni tersenyum senang saat dirinya dipanggil sayang, lalu mengangguk dengan pasti sambil tersenyum.
Plop!!!,,, Batang Arga terlepas, Lik Marni yang masih mengangkangi Arga kini memegang erat batang besar, mengarahkan ke bagian belakang dari pintu vaginanya.
“Eeenghh,,,” kening Lik Marni mengerucut, wajahnya meringis saat pintu anusnya dipaksa untuk menerima batang Arga.
Terlihat jelas wanita itu sangat ingin memenuhi keinginan Arga dengan terus memaksa menekan pantatnya.
“Deeenn ga bisaaa,, batang Aden kegedean,,” ucapnya sambil meringis menahan perih.
Lik Marni turun dari tubuh Arga,lalu memasukkan batang besar itu kemulutnya, lalu melepaskan batang dengan air liur yang memenuhi bagian helm batang.
“Uuugghh,, emang gede banget ternyata,,pantas sulit banget,” dengus Lik Marni dengan mata mengagumi kelamin Arga yang berdiri tegak dalam genggaman tangan lentik.
Arga berusaha menahan tawa melihat ulah Lik Marni yang kini berusaha kembali memasukkan kepintu anusnya sambil membelakangi Arga. Tapi lagi-lagi usahanya gagal.
“Kalo pake ini gapapa kan Deen,,” tanya Lik Marni sambil meraih botol Bimoli yang masih tersisa setengah.
“Hahahaa,, boleh juga, tapi abis itu jangan dimasukin wajan yaa,,”
“Ihh,, Aden,,” Lik Marni menyentil batang Arga dengan gemes.
“Ayo cepat olesin,,ntar Mang Oyik keburu kelar lhoo,,” bisik Arga, menarik tubuh Lik Marni hingga terduduk diperutnya menghadap batang besar Arga, dengan cepat tangan lelaki itu mengubel-ubel vagina Lik Marni yang sudah mulai mengering.
“Ooowwhhsss,,,Deeenn,,” sambil mengerang menikmati korekan tangan Arga di vaginanya, Lik Marni mengolesi batang Arga dengan minyak goreng. Dalam hati Lik Marni masih belum puas menikmati batang besar itu dengan vaginanya, tapi entah kenapa dirinyapun kini merasa penasaran untuk menikmati batang itu dengan menggunakan pintu belakang.“Ayo Deeenn,,,” Lik Marni beranjak dari tubuh Arga, mengambil posisi telentang di dipan, mengangkang, lalu menarik lututnya hingga selangkangannya terangkat dan terekspos bebas.
“Ayo Deeenn,, tekan,,,” pinta Lik Marni saat yakin batang Arga berada di depan liang sempit yang mengerucut.
“Eeeemmgghhh,,,” Sambil berdiri disisi dipan, Arga mengejan agar penisnya mengeras maksimal, dirinya memang memiliki pengalaman mengawini liang dubur istrinya, tapi pintu belakang Lik Marni kali ini jelas lebih rapat.
“Ooowwggghhh,,, Deeen,,,,,” tangan Lik Marni mencengkram lengan Arga saat merasakan penis Arga berhasil menguak perlahan. Bulir air mata menggenang akibat perih yang menyerang, “Teruss ajaaa,, gapapa Deenn,,” Wanita itu memberi izin kepada Arga yang terhenti, wajahnya tampak memucat.
“Eeeeenggghhhh,,, bisaaa masuuuukkk,, Deeeenn,,,” Kepala Lik Marni terangkat mengamati kepala penis yang telah menghilang diliang anusnya.
“Boleh saya teruskan,,,” ucap Arga meragu saat melihat air mata Lik Marni menetes.
Wanita itu mengangguk pelan “Yang lembut ya sayaaang,,,” pintanya.
Sebagai gadis kampung, dalam percaturan birahi, Arga adalah lelaki dengan kualitas yang terbaik dari para lelaki yang pernah menikmati tubuhnya, dan Lik Marni tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Tentu saja sayaaang,,,” jawab Arga seraya menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh montok Lik Marni, lalu melumat bibirnya dengan lembut, dalam pagutan bibir Arga bibir Lik Marni tersenyum, membalas melumat seiring batang Arga yang menusuk semakin dalam.
“Ooowwwhhh,,, lagi-lagi mentok, penuh banget,” bisik Lik Marni manja, lalu mata keduanya tanpa dikomando sama-sama melototi sebagian batang Arga yang masih tersisa di luar.
“Masih sakit?,,,”
“Sedikit,,,”
“Sudah siap?,,,”
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Aaahhhh,,, yaaa,, yang lembut,, yaaa,,, tusuuuk lagiii,, pelaannn,,Eemmmhhh” Lik Marni mengomando pergerakan batang Arga, menusuk pantat nya yang terangkat, berusaha menikmati.
“Lebih cepaaatt,,, ini mulai membuatku melayaaang,,Ooowwwhhh,,,” rintih Lik Marni.
Arga tersenyum, saat bisa melakukan hentakan-hentakan sesuai keinginannya. Tapi lorong itu memang sempit, erat mencengkram batangnya.
“Ooowwhhh,,, Saaayaaang,,, jangan terlalu cepaaat,,” Lik Marni merintih berusaha mengimbangi sodokan Arga, tubuhnya menggelinjang liar saat Arga memainkan vaginanya yang menganggur.
“Aaaarrrggghhhh,,, minggir Deeeenn,, saya mau kencing,, cabuuut,,,”
Permohonan Lik Marni tak dihiraukan, Arga terlalu menikmati hangatnya liang belakang Lik Marni.
“Oooowwwhhhhssss,, Maaf Deeeenn,, Maaaaaff,,,” teriak Lik Marni yang menghantar orgasme seiring air kencing yang menghambur ketubuh Arga, tapi itu sungguh menjadi pemandangan yang luar biasa bagi Arga. Tak ayal lelaki itu semakin cepat menusuk-nusuk tubuh Lik Marni berusaha mengejar orgasmenya sendiri.

Lik Marni yang sudah bisa menguasai ekstasi orgasmenya tersenyum, melihat Arga yang begitu bernafsu menjejalkan batang besar ke dalam tubuhnya.
“Nikmati sepuasmu Den,,” suara Lik Marni terdengar lirih diantara dengusan nafas Arga.
“Tapi ngecrotnya disini aja ya Deenn,,” Lik Marni mengusap-usap vaginanya, menyibak gerbang dengan kedua jarinya seakan mengundang batang Arga untuk kembali masuk kelorong vagina yang dangkal. “Kali aja saya bisa dapat anak dari Aden” sambungnya manja namun dengan nada serius.
“hahaha,,, bisa aja Lik Marni ini,,,” Arga semakin cepat menghajar Lik Marni.
“Ooowwwgghhh,,, nihh,,, terimaaa,,,” suara Arga terdengar serak, saat mencabut batangnya dari anus Lik Marni dan dengan cepat kembali menghujamkannya ke vagina yang basah.
“Aaakkkhhhh,,,” Lik Marni terkaget-kaget dengan gerakan Arga yang tak diduganya, berusaha mengangkang lebih lebar, membiarkan batang Arga masuk lebih dalam dan dengan bebas menghamburkan benihnya di pintu rahim.
Lik Marni tertawa melihat tubuh Arga yang kelojotan diantara selangkangannya.
“Sedaap,, punyamu sedap banget Lik,,” bisik Arga sambil memaju mundurkan pantatnya menikmati ekstasi yang tersisa.
“Heeyy,, ternyata jamu mu emang manjur Lik,, rasakanlah batangku yang masih mengeras dalam vaginamu,” Lik Marni kembali tertawa saat Arga yang mencabut batangnya dan berusaha memasukkan batang itu ke lubang belakangnya.
“Ooowwhhh,, masih sempit aja punyamu Lik,” dengus Arga merayu.
Blaamm…
“Hhhhmmm,, pantes aja ditungguin lama banget,” suara Aida mengagetkan keduanya.
Sontak Arga dan Lik Marni menoleh ke pintu, namun disitu hanya ada Aida yang berdiri dipintu dapur dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan. Dari kaca mereka dapat melihat Mang Oyik yang tertidur kelelahan.
“Sini Non,,, kalo ga salah dengar tadi Den Arga juga pengen nusuk pintu belakang si Non,,” ajak Lik Marni seramah mungkin, dia sadar jika dirinya sudah menyerobot selingkuhan wanita itu.
“Pintu belakang?,, Arga,,apa kau tengah menusuknya di lubang belakang?” tanya Aida yang terkaget sekaligus penasaran, dengan cepat mendekati Arga yang kembali menusuk-nusuk anus Lik Marni sambil cengengesan.
“Siaalan,, ga dapat di aku, lubang dobol Lik Marni yang kau embat, Huuhh,,,” ada nada cemburu dari suara Aida saat melototi batang besar yang tadi sore membuatnya 2 kali orgasme kini menusuk tubuh Lik Marni.
“Ayo sini Nonn,, mumpung batang Den Arga masih keras,,” ajak Lik Marni sambil menarik lengan Aida yang ada dalam jangkauannya.
“Tidak,, aku masih terlalu capek,, nanti sajalah,,”
“Ayolah tak apa,, kurasa kau masih kuat, setidaknya untuk satu ronde,” bisik Arga melepaskan batangnya lalu memepet tubuh Aida ketembok, menarik pinggulnya kebelakang hingga menungging.

hilda yulis - toge montok jilbaber (4)
“Ooowwhhh Shiiit,,mana celana dalam mu,, ,” Arga keheranan saat menyibak rok Aida dan mendapati pantat yang menungging tanpa tertutup kain pelindung.
“Tuhh,, dikelonin sama Mang Oyik,,”
Arga dan Lik Marni sontak tertawa.

Setelah meremas-remas pantat montok Aida, Arga beranjak mengambil Bimoli dan melumuri batangnya. Sementara Aida terbengong, apa benar Arga ingin menusuk lubang belakanganya sekarang, setelah usahanya tadi sore gagal, namun dirinya tak yakin.
“Aaaggghhh,,, Argaaa,,, bilang dong kalo mo nusuk disitu,,” mata Aida melotot menahan sakit. “Aaawwwhhhh,,, koq bisaa massuuukk cepet bangeeett siihhh,,, aaaggghhh,” minyak goreng ternyata cukup ampuh untuk dijadikan pelumas.
Meski sulit, lorong Aida tidak sesempit milik Lik Marni, kali ini batangnya lebih mudah menerobos masuk. Setelah yakin Aida bisa menyesuaikan dengan batang besarnya Arga perlahan memompa maju mundur.
“Ooowwwwhhh,, Pelan Gaaa,,,punyamu gede banget,,”
“Tenang aja Non, sama persis waktu Non pertama kali ditusuk di depan, sakitnya sebentar aja koq,,” ucap Lik Marni, terinspirasi dari ulah Arga yang mengobel vaginanya, jari Lik Marni terulur menggapai vagina Aida.
“Mau ngapain Lik?,,,”
Tapi Lik Marni Cuma cengengesan, lalu menyelusupkan sebuah timun berukuran sedang ke vagina Aida. “Semoga ini bisa membantu,” ulah iseng Lik Marni benar-benar mebuat Aida kelojotan, dua lorong kemaluannya dipenuhi oleh batang. “Saya mau istirahat sebentar, biar sperma Den Arga bisa ngetem di dalam,” ucapnya berlalu menuju kamarnya, tanpa rasa bersalah pada Aida yang kini kewalahan.
“Aaarrggghh,, Gilaaa,,,” Aida menikmati sambil sesekali meringis saat batang Arga masuk terlalu jauh.
“Duuuhhhh,,, kali ini bener-bener sesak banget Gaaa,,, udaahh mau nyampe nihhh,,,” erang Aida yang memainkan timun keluar masuk di vaginanya.
“Wadduuuhhh,,, Bu Guru koq cepet banget,,” tanya Arga, namun tak dihiraukan oleh Aida yang sibuk menyambut orgasmenya.
“Aaaaagghhh,, Gaaaa,,,” Aida mengangkat pantatnya lebih tinggi untuk mendapatkan penetrasi yang lebih dalam.
“Siaaal,,,,,” Kini giliran Arga yang ikut panik, pantat montok dan mulus yang tersekspos menerima eksplorasi batangnya ditambah gaya menungging Aida yang begitu menggairahkan memberi fantasi tersendiri bagi Arga.
“Ooooowwwhhhsss,,,aaahhhhhhhh,,, keluaaarrr,,” Tubuh Aida bergetar menoleh, menatap Arga dengan pandangan penuh birahi.
hujaman Arga yang tidak menurunkan ritmenya membuat wajah Aida yang menatapnya semakin terengah-engah.
“Sialan,, Innocent banget sih wajah ni guru,,,” geram Arga tak tahan memandangi wajah Aida yang begitu pasrah.
“Mampuuuusss,,,, Aaagghhh,,,” Batang Arga yang terbenam erat serasa membesar dan tiba-tiba menghamburkan sperma, meski tidak sebanyak sebelumnya tetap saja membuat Aida kegelian.
“Gila,, hanya beberapa menit udah ngecrot lagi,,” gumam Arga seraya melepas batangnya dan terduduk didipan.
“Emang,,, gila banget,, tubuhku juga serasa remuk dipake dua orang,” imbuh Aida yang terhuyung membetulkan roknya.
“Iiiikkhhh,, dari ujung kaki sampai ujung rambut bau sperma,” kali ini Arga tertawa terpingkal mendengar ucapan Aida yang tengah membaui tangan dan rambutnya.
“aku kekamar dulu,,mandi, makan, tiduuuurrr mpe besok,”
“Hahahaaa,,,” Arga geleng-geleng kepala, menyusul Aida sambil mengagumi pantat Aida yang berayun mengikuti langkah kaki menuju pintu samping.

Sementara Arga berbelok ke gazebo. Suasana pantai sudah sangat gelap, untunglah bulan yang tengah menuju purnama cukup membantu mata Arga mengamati sekitarnya.
“Eaalaaahh,, koq malah gerimis sih,,” dengus Arga seraya mengangkat kedua telapak tangan meyakinkan adanya rintikan air dari langit.
“Gaaa,,,” Adit setengah berlari, melambaikan tangannya dari kejauhan. Sementara dibelakangnya tampak Aryanti dan Sintya mengiringi sambil tertawa.
“Ternyata istrimu emang pelit banget, Masa aku dibiarin kentang,,,” tanpa basa-basi Adit ngedumel dengan wajah super mupeng, Lalu bergegas menuju cottage.
“Mau kemana Dit?,,,”
“Nyari Istri kuuu,,,udah ga tahan nih,,,” Teriak Adit tanpa menoleh.
Sementara Arga hanya terdiam bingung, tidak tau apa yang telah antara istrinya Aryanti dan Adit.
“Adit kenapa?,,,”
“Tuhh,,tanya sama istrimu, tega banget ngerjain anak orang, hahahahaa,,,”
“Tidak apa-apa sayang, bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan, hanya memberi sedikit pelajaran bagi pemula,,Hihihhi,,,” jawaban Aryanti disambut tawa Sintya.
“Tau ga? Tadi istrimu membiarkan Adit meremas payudaranya,, Hahahaha,,,”
GLEKK,,, meremas payudara? Dan itu bukan masalah yang besar?..
“Kita ke sana dulu lah,, biar ku ceritakan semua,,lagipula kakiku capek banget, ingin istirahat sebentar,” Aryanti mendahului melangkah menuju Gazebo, disusul Sintya.
Arga menelan ludah saat menyadari bagian belakang rok ketat Sintya tampak lusuh dan sedikit terangkat, namun Aryanti jelas lebih berantakan, bahkan bagian atas kaos nya yang lebar dan terjatuh dikedua sisi lengannya hanya menampakkan satu tali bra, Apakah tali satunya memang sudah terlepas? Tapi oleh siapa? Dan bagaimana bisa tali itu bisa terlepas?,,, APA Yang sebenarnya terjadi.
“Huuufff,,, Jadi begini,,” tutur Aryanti setelah menghempas pantat montoknya di atas bangku dari kayu. “Setelah makan malam tadi, Aku dan Sintya mendapati Dako yang tampak merayu Bu Sofia, karena curiga aku dan Sintya mengajak Adit untuk menguntit kemana tantenya itu pergi,”
“Ternyata mereka menuju sebuah tebing yang sepi, meski agak jauh kami dapat melihat bagaimana Dako akhirnya berhasil menelanjangi bagian bawah tubuh Bu Sintya, yang terlihat pasrah,”
“Sayang,,, Seharusnya kau melihat bagaimana rakusnya Dako melumat kemaluan Bu Sofia, hingga membuat perempuan itu mengerang keras di kegelapan, memang tadi sehabis makan kamu kemana? Aku tidak melihatmu diantara teman-teman,” tanya Aryanti.
“Ehh,, akuuu,, menemui Mang Oyik, untuk menanyakan perlengkapan yang ada disini,” jawab Arga serampangan.

“Aku yakin, Dako berhasil membuat Bu Sofia orgasme di mulutnya,, Ooowwhh,, aku jadi merinding bila mengingat rintihan Bu Sofia tadi,” celetuk Sintya, menyelamatkan rasa bersalah Arga.
“Yaa,, orgasme di mulut seorang lelaki memang sangat menantang sekaligus menggairahkan,” balas Aryanti sambil memejamkan matanya seolah saat itu dirinya dapat merasakan kenikmatan itu.
“Sial, pasti Aryanti teringat permainan nakal yang dilakukan bos dikantornya,” Arga menggeram kesal melihat ulah istrinya.
“Yaa,, apalagi saat Dako menghajar kemaluan Bu Sofia yang menungging di tengah hamparan pasir pantai,, Ugghhhh,,, pengeeeennn,,” jerit Sintya menahan hasratnya, disambut ulah istriku yang menjepit lengan dengan kedua pahanya. Arga sangat hapal, itu adalah gelagat istrinya bila tengah horny.
“Lalu apa hubungannya dengan adit,”
“Adit,, hahahaa,, Adit merajuk kepada kami, dan menuntut kami untuk bertanggung jawab karena telah menyeretnya untuk mengikuti Dako dan Sofia, kau taukan? Adit sangat bernafsu pada tubuh tantenya itu. Dan adegan itu membuat batangnya mengeras dengan sempurna,” Jawab Aryanti.
“Dan aku tidak dapat menghindar saat dengan tiba-tiba ia memelukku dari belakang, apa kau tau sayang? Anak muda itu ternyata sangat rakus, belum sempat aku memberi izin, mulutnya telah mencomot payudaraku hingga tali braku terputus,”
“Ooowwwhhh,, lalu?,,” Suara Arga tercekat hampir tak terdengar.
“Yaaa,, dia bagai orang kesurupan, melumat kedua payudaraku, mungkin di dalam kamar nanti kau bisa melihat beberapa tanda merah di payudaraku ini akibat gigitannya,”
“Asseeemmm,,, kenapa istriku bisa sesantai ini bercerita tentang pencabulan pada tubuhnya, mana aku disuruh melihat cupangan ulah mulut Adit,, uugghhh,, juangkrriikk,,” Arga menggumam dengan hati yang kesal.
“Apakah hanya itu?,,”
“Tentu saja tidak, setelah puas bermain dengan payudaraku Adit meminta hal yang sama pada Sintya, dan ternyata payudara Sintya jauh lebih besar dari milikku,”
“Tidak,,tidaak,,, punyamu lah yang lebih besar, hahahaa,,” elak Sintya sambil tertawa.
Aryanti melotot genit kepada Sintya, “Sayang, dari gumpalan dibalik kaosnya kau pasti sudah bisa menebak payudara siapa yang lebih besar diantara kami, atau,,,jika kau tidak percaya remaslah punya Sintya,, hingga kau bisa menilai payuadara siapa yang lebih besar,hahahaa,,”
ZLEEBBB,,,
meski aku tidak yakin apakah perintah istriku untuk meremas payudara Sintya sebuah gurauan ataukah serius, yang pasti tanpa kuduga dengan mudahnya tanganku melayang, menyentuh payudara Sintya yang membuat tubuh gadis itu tegang seketika. Aku meremas cukup kuat untuk merasakan tekstur gumpalan payudara istri simpanan Pak Prabu itu.
“Kurasa payudara kalian sama besarnya,” ucap Arga tanpa menghentikan remasannya.

hilda yulis - toge montok jilbaber (1)

“Sayang,, jangan membuatku cemburuu,, kau meremas payudara Sintya tepat di depanku,,” Aryanti merajuk, membuat Arga terkaget melepaskan remasannya, sementara wajah Sintya bersemu merah.
“Aku hanya mengikuti intruksimu sayang,,” jawab Arga cengengesan.
“Huuhh,, paling pinter kalo ngeles,,” sambut Aryanti yang akhirnya tertawa karena tidak bisa berpura-pura marah kepada lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Sudahlah aku mau kekamar dulu,, celana ku terasa sangat lengket,” ucap Aryanti pamit, lalu beranjak mendekati Arga, mengecup kening lelaki itu dengan lembut.
“Heehh,,, kenapa tubuhmu seperti ada bau pesing? Dan ada bau,, bauu apa ya ini?,, minyak goreng?,,”
JEDEERRR,,,
“Yaa,, aku menyempatkan membantu Mang Oyik membenarkan mesin genset, bukan minyak goreng, tapi Oli,,”
“Oli?,,, tapi koq seperti minyak goreng ya?,,” tanya Aryanti sambil membaui tubuh suaminya. Untunglah sesaat kemudian wanita cantik dengan tubuh semampai itu berbalik dan melangkah menuju cottage.
“mandi,,dan gantilah bajumu sayang,, aku tunggu kamu dikamar,,” teriak Aryanti dengan gaya yang genit, lalu melanjutkan langkahnya.
“Istrimu cantik banget Mas, plus seksi,,,aku yang sesama cewek aja kagum, apalagi mata lelaki,,”
“Yaa,, aku memang beruntung memilikinya,”
“Jaga bener-bener, banyak lelaki yang menginginkan tubuhnya lhoo,,”
“Iya,, Heh,, tunggu maksudmu,,,?,,”
Sintya hanya menjawab dengan senyuman.
“Apa benar yang terjadi tadi hanya sebatas itu?,,,” Arga berusaha mengorek dari Sintya, sesaat gadis itu memandang mencari sesuatu dimata Arga yang memiliki tatapan tajam.
“Huufff,, Lebih dari itu,,”
Arga berusaha bersabar menunggu bibir Sintya membeber cerita.
“Adit terus merajuk kepada kami, aku sempat meremas batangnya yang ternyata memang sudah sangat keras, dan aku terpekik karenanya. Aryanti yang penasaran akhirnya juga meremas batang Adit yang tersembunyi dibalik celana pantainya, ohh,,, tidak,,tidak,, Aryanti langsung merogoh ke  dalam celana Adit, dan merasakan batang itu langsung dengan telapak tangannya, sepertinya istrimu tertarik dengan bentuk batang Adit yang bengkok itu,” Sintya berusaha mengingat-ingat detil kejadian yang terasa begitu cepat dengan mata menatap buih ombak yang bergulung.
Sementara nafas Arga tertahan. “Laluu,,”
“Laluuu,, yaa,, kami terpaksa mengizinkan Adit mencumbu tubuh kami bergantian tanpa dengan syarat tidak melepas pakaian kami, kami terbawa gairah permainan Dako dan Bu Sofia yang begitu panas.
Arga semakin penasaran, apakah kejadian di kantor istrinya terulang lagi, “Laluu,,?,,”
“Istrimu sungguh wanita yang memiliki gairah yang meletup-letup,, akupun begitu,,,” bibir Sintya hening sesaat, pahanya menjepit erat. “karena tidak tahan, istrimu yang berinisitif lebih dulu menurunkan celana hingga kedengkul dan meminta Adit memanjakan vaginanya dengan mulut pemuda itu, sementara ia berpegangan pada pohon kelapa, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana lidah Adit menyapu setiap inci pintu vagina dan anus Aryanti,,Uuugghhh,,” Suara Sintya tertahan saat merasakan tangan Arga meremas pahanya yang terbuka.

“Sialan,, rupanya istriku tadi bukan menghayalkan kejadian di kantornya, tapi justru teringat ulah Adit yang menservis vaginanya,, siaaal,,siaaal,, aku kecolongan lagii,,” Arga ngedumel dalam hati.
“Apakah Adit juga melakukan itu padamu?,,,”
“Iyaaa,,, aku penasaran dengan lenguhan orgasme istrimu saat wajah Adit sepenuhnya terbenam diantara pantatnya dengan lidah terjulur masuk ke dalam vagina, aku tau itu karena aku juga meminta Adit melakukannya pada vaginaku, memang benar kata istrimu,, orgasme sambil mengangkangi wajah lelaki itu sungguh sesuatu yang luar biasa,, Owwhhh,,,” suara Sintya tertahan saat jari-jari Arga berusaha menyelusup kedalam roknya yang sempit.
“Apakah terjadi enghhh,, terjadi sesuatu yang lebih jauh setelah itu,,”
“Tidaakk,, yaaa,, eeenghh,, aku tidak tau pastinya, karena setelah Adit berhasil membantu kami menuntaskan hasrat, giliran dirinya yang meminta kepada kami, aku menawarkan oral tapi Adit menolak dan ingin menyetubuhi salah satu dari kami,”
“Dan akhirnya istrimu bersedia karena setau ku istrimu sangat tertarik dengan bentuk penis Adit yang lucu, pastinya ia ingin merasakan bagaimana sensasi bila batang bengkok itu bergerak didalam vaginanya, tapi dengan syarat Adit memuntahkan spermanya diluar,” Duduk Sintya mulai gelisah, pahanya menjepit jemari Arga yang berhasil mengusap-usap vagina gemuk yang terbalut kain tipis.
“Istrimu beralasan, tak ada bedanya antara lidah dan batang penis, toh Adit sudah merasakan bagaimana bentuk vagina kami, sama-sama daging hanya bentuknya saja yang berbeda, dan aku mengangguk setuju, hanya ukurannya saja yang berbeda,”
“Apakah batang Adit lebih besar dari ini,” ucap Arga sambil mengeluarkan batangnya hingga membuat mata Sintya melotot.
“Tidaakk,, milikmu jelas lebih besar,,” tanpa diminta wanita berambut sepundak itu menggapai batang Arga, menyusuri otot yang terukir. “Tapi jika dibandingkan dengan milik Pak Prabu aku tidak tau, karena punya Bapak juga berukuran besar sepertimu,” suara Sintya bergetar, meremas batang Arga dengan gemes.
“Apa kau bersedia mengukurnya, agar kita tau milik siapa yang lebih besar,,?,,” ucap Arga, menarik pinggul Sintya, tanpa menunggu persetujuan mengangkat rok ketat yang membalut paha sekal sang sekretaris.
“Mungkin,, jika kau mau, aku bisa mengukurnya sebentar, yaa,, hanya sebentar,, untuk memastikan batang siapa yang lebih besar,” ucap Sintya, matanya mengamati sekeliling, lalu mengangkangi Arga, mengangkat roknya semakin ke atas dan menyibak celana dalamnya ke samping.

 hilda yulis - toge montok jilbaber (2)
Semua terjadi begitu cepat dan,,,, “Oooowwwgghhh,,,,,” Sintya menekan pinggulnya kebawah, vaginanya sedikit kesulitan saat harus menelan ujung batang Arga yang besar. “Oooowwwhhhsss,,, Siiinn,, Kau tidak akan tau jika tidak menekannya lebih dalaaaamm”
“Yaa,, kurasa kau benar Gaaa,,Aaahhh,,,”
“Punyaaamuuu,, punyamuuu lebih besaaarr dan panjaaaaaaang darii batang Bapaaak,,” lenguh Sintya saat berhasil melumat seluruh penis Arga.
“Pantas saja Aryanti begitu mencintaimu,,” bisik Sintya yang bergerak liar mengiringi remasan tangan Arga dipantatnya.
“Istrikuu,, Laluu,, apa Adit berhasil memasukkan batangnya ketubuh istriku,,seperti aku memasuki tubuhmu ini?,,,”
“Aku tidak tau pastinya, karena Adit menindih istrimu yang berbaring diatas pasir menutupi pandanganku,,, kalaupun Adit berhasil menyelusup kan batangnya kevagina istrimu kurasa itu tidak lama,, karena saat Adit menggerakkan pantatnya yang membuat istrimu mengarang, Dako dan Bu Sofia yang telah selesai bejalan menuju kami, dan aku segera memberi tahu hal itu kepada Aryanti, Akhirnya tubuh Adit terjengkal akibat dorongan istrimu yang kaget,”
“Adit masih merajuk, tapi kami sudah berlari meninggalkannya,” ucap Sintya sambil mempercepat goyangan pantatnya membuat batang Arga begitu dimanjakan.
Tapi tiba-tiba Sintya meloncat turun melepaskan batang Arga. “Ada yang menuju kemari,,” ucapnya dengan takut.
“Siaaaall,,,” kondisi Arga tidak jauh berbeda dengan Adit. Namun terpaksa menyarungkan pusakanya.
“Heeyyy,,, sedang apa kalian gelap-gelapan disini, Hayoooo,,,” terdengar suara lembut Zuraida yang menghampiri mereka, diiringi Pak Prabu yang menatap penuh selidik kepada Arga dan Sintya.
“Hahahaa,, kami hanya mengobrol koq,,,” jawab Sintya cepat. “Kalian dari mana?,,”
“Aku habis jalan-jalan sama Pak Prabu,, dijalan kami ketemu warung yang ngejual kentang goreng, renyah banget lhooo,, Arga mau?,,” ucap Zuraida dengan sangat lembut menyerahkan bungkusan kepada Arga.
“Kentang?,,, owhh,, tidak,, terimakasih,,,” jawab Arga dengan lesu…
**************************************************
“Arga,, aku pinjam istrimu sebentar ya,,,” ucap Zuraida pada Arga yang tengah melahap sandwich yang baru saja diantar oleh Lik Marni.
“emang mau ngapain?”
“Adda aja, urusan kaum hawa, weee,,,”
“Aiiihhh,,, bisa juga istri Dako ini genit, mana pake melet lagi,,” gumam Arga, matanya nanar menatap Zuraida yang berdiri di depan pintu dengan balutan kaos lengan panjang yang sedikit ketat, tak ketinggalan jilbab yang selalu membalut wajah cantiknya.
“Ok, Ashal wakthu balek dhi mharhi tethap utuh,,,” Arga memaksakan menjawab meski mulutnya sedang penuh, matanya beralih ke sosok istrinya yang malam itu kelihatan lebih centil, tak ubahnya seperti anak ABG. Mematut diri didepan cermin memiringkan tubuh ke kanan dan kekiri, celana lagging hitam dan kaos longgar berbelahan rendah dengan tulisan ‘Awesome’ tepat dibagian payudara.
“Hahahahaa…bisa aja kamu, emang bagian mana yang bisa hilang dari istrimu,,” Zuraida tergelak tertawa.
“Tenang saja sayang,,, kalo ntar balik kesini nenen ku hilang, tagih saja sama Zuraida,,”
“Aaaaaaa,,,” Zuraida terpekik, tak menduga bila Aryanti akan meremas kedua payudaranya.
“GLEEKK,,, Uhhuuugg,,,” Arga tersedak, kerongkongannya begitu sesak akibat segumpal roti yang dipaksa masuk tanpa dikunyah. Matanya dengan jelas bagaimana bentuk payudara Ziraida yang menyembul dibalik kaos akibat remasan jemari Aryanti.
“Hahahahaa,,, Ayo cint,,, ntar kamu diterkamnya lhoo,,” tawa Aryanti melihat tingkah suaminya. Lalu menarik Zuraida yang wajahnya memerah malu, keluar kamar.
“Aseeeemmm,,, besar juga nenen istri si Dako,” Arga mengumpat, selama ini dirinya hanya bisa memandang tubuh yang dibalut pakaian yang lebar.
Wajah lelaki itu tersenyum saat menyadari batangnya mengeras, ternyata begitu besar hasrat nya pada wanita yang selalu mengenakan jilbab itu. Tapi hingga saat ini tak ada sedikitpun kesempatan untuk SSI, selalu dikawal ketat oleh teman-temannya yang juga memliki hasrat yang sama. Tak betah sendiri berada dikamar Arga menuju selasar yang memisahkan kamar-kamar, sesaat matanya tertuju pada jam besar yang ada di dinding, pukul 9.15. Di pelataran cottage dirinya tak mendapati seorang pun, gara-gara ulah Aryanti dan Zuraida tadi pikiran sange nya kembali kambuh, otaknya memilah-milah betina mana yang dapat dijadikan mangsa, Aida, Lik Marni, Sintya,,, Ahhh Sintyaa,,, hampir saja lelaki itu menyumbangkan benih cinta kepada si montok istri simpanan Pak Prabu.Hari ini pikiran lagi ga karuan
Nyesel tapi sengaja nonton film begituan
Otak penuh khayalan juga bayang-bayang
Ingin cepat lepaskan, bingung cari saluran

Lalu cari solusi yang sehat dan alami
Bukan ngga punya uang, sumpah haram jajan
Biar sedikit bandel utamakan kesehatan
Belum sempat mikir panjang Setan langsung kasih jalan

“Heeiii Gaa!!,,,”
Terdengar panggilan saat dirinya melewati tepian kolam.
“Aditya daaan,, Andini,, Owwhh,,, itu benar Andini kan?,” Arga memicingkan mata seolah dengan cara itu matanya dapat lebih jelas melihat.
Tampak gadis itu hanya mengenakan pakaian renang two piece. Pintar juga ni bocah, sengaja mematikan lampu di pinggir kolam, jadi apapun yang mereka lakukan di dalam air takkan terlihat jelas.
“Gilaaa,, bisa-bisanya berenang di air dingin gini,” celetuk Arga setelah memasukkan kedua kakinya ke air, duduk menjutai.
“Dingin?,, panas koq,,, liat aja aku ampe keringatan begini,hehehe,,” Aditya terkekeh sambil berjalan didalam air mendekati Arga, meninggalkan Andini disisi sebrang. “Baru pemanasan doang sih,, pengen nyobain bercinta dalam air,” imbuhnya.
“Gimana body bini ku, mantap?,,,lagi seger-segernya anak ABG tuh,, hehehe,, masih 19 my age,”
“Dasar,, Vicky oriented!!,,,”
“Hahahahaa,,,”
Blubuk blubuk blubuk,,, tawa keduanya terhenti saat Andini tiba-tiba menyelam, 2 pasang mata lelaki sange itu melotot saat beberapa detik kemudian muncul pantat montok Andini yang dibalut celana renang model thong, muncul ke permukaan bergerak mengikuti kaki yang berkecipak mendorong tubuh di dalam air.

hilda yulis - toge montok jilbaber (3)
“Aku paling suka kalo dia lagi nungging, mana ada cowok yang tahan kalo bergesekan dengan pantat montok nya,,”
“Asseeemm,,,” Arga misuh-misuh mendengar celoteh Adit yang sengaja manas-manasin
“Tapi lebih nikmat mana dengan vagina istriku?,,, bukankah kamu sudah merasakan jepitannya,, dan bagaimana gurihnya cairan cintanya?,,”
“Heehhh,,, jadi istrimu cerita kejadian di tepi tebing tadi?,, gilaa,,,”
Arga terkekeh.
“Memang sih,, legit banget,,Tapi Cuma dua menit ni batang sempat masuk, belum sempat ngecrot aku sudah ditendang gara-gara Dako mau lewat,”
“Dua menit??? Wooyy,, itu lumayan lama begoo,,” Hati Arga mendengus kesal, tapi berusaha tetap santai.
“Tapi bukankah istriku sudah memberi kesempatan padamu untuk menikmati tubuhnya, Ya artinya kamu sedang sial, jadi tidak salah bila sekarang adalah giliranku,” ucap Arga, otak mesum nya bekerja dengan cepat melihat peluang. Dengan cepat tangannya melepaskan kaos lalu menceburkan diri ke air yang dingin.
“Still there Boy!!!,,, dan lihatlah bagaimana aku mengajarimu cara bercinta dengan gadis secantik istrimu ini,” teriak Arga sambil berjalan mundur didalam air.

“Juancuuukk,,,” Adit mengumpat dengan jari tengah mengacung, hatinya tak karuan, saat harus melihat dengan matanya sendiri bagaimana istrinya akan digagahi oleh lelaki lain.
Ingin sekali Adit mencengkram tubuh Arga, tapi Arga adalah calon bosnya setelah pamannya pindah ke kantor pusat. Artinya Arga lah saat ini yang memiliki kuasa di kantornya.
“Uuuugghhh,,,” Adit benar-benar kesal sekaligus menyesal telah memamerkan tubuh ranum istrinya.
Sementara disebrang, Andini terlihat bingung saat sosok besar seorang laki-laki mendekati dirinya, tubuhnya beringsut masuk kedalam air berusaha menyembunyikan payudara yang hanya tertutup kain kecil dengan untaian tali. Sempat terdengar oleh telinganya pujian sang lelaki yang memuji cantik wajahnya, tapi mengajari bercinta, apa maksudnya?…. Andini tiba-tiba merasa tubuhnya panas dingin saat berhadapan dengan dada bidang sedikit berbulu saat Arga tiba di hadapannya.
“Ada apa Mas?,,,?”
“Tidak ada apa-apa, hanya suamimu tadi meminta untuk menemani bidadari mungil sepertimu berenang,,” Arga mencoba tersenyum seramah mungkin.
Sontak wajah Andini memerah, tersipu malu.  Merasa tidak percaya dengan ucapan Arga, gadis itu menatap suaminya yang terlihat hanya duduk ditepi kolam renang, meski saat ini ada seorang lelaki mendekati istrinya yang hampir telanjang.
“Kenapa cantik,,,tidak percaya?, pastinya suamimu akan menghajarku bila aku berbohong,” Arga mengangkat dagu Andini untuk memenadang wajahnya yang memiliki tatapan tajam.
Dalam hati Arga bersorang girang, gadis itu terlalu lugu, begitu mudah memikatnya. Semakin gemetar tubuh Andini dibuatnya. Tapi ada letupan birahi saat matanya menatap pundak Arga yang tegap dan kokoh, apalagi lelaki itu memiliki wajah yang sangat menarik.
“Aku lihat tadi kau cukup mahir berenang, mau adu cepat dengan ku, berapa putaran kau sanggup?,,” kini Arga memasang wajah jenaka. Tersenyum sambil mengambil kuda-kuda untuk menyelam.
“Jika hanya sekedar berenang mungkin tak mengapa, toh suamiku bisa melihat dan melindungi bila laki-laki ini berbuat nakal.” Gumam Andini yang kemudian ikut tersenyum menampilkan deretan gigi yang rapi terawat.
Seakan tidak ingin kalah dari Arga, Andini mencoba mendahului menyelam dan dengan cepat berenang ke tepi dimana Adit berada. Arga tertawa melihat tingkah Andini, mengangkat kedua tangannya kearah Adit. Tapi Hal itu diartikan Adit sebagai tanda ketidakmampuan Arga menaklukan istrinya.
“Hahahahaaa,,, Kau tidak akan bisa menaklukkan istriku,, cobalah sepuasmu!!!,,,” teriak Adit sambil tertawa.
Andini yang telah sampai di tepi kolam, sekuat tenaga kakinya menendang dinding kolam untuk memberikan dorongan tambahan. gadis itu tampak yakin jika dirinya menyelesaikan dua putaran dan lebih cepat dari Arga. Melihat Andini sudah berbalik ke arahnya, Arga dengan cepat menyelam berusaha menyusul Andini. Saat tubuh mereka berselisihan di tengah kolam, dengan begitu kreatif dan cekatan tangan Arga mengelus payudara gadis mungil itu, dilanjutkan dengan tarikan hingga bra Andini terlepas, lalu melanjutkan berenang ke arah Adit.

hilda yulis toge jilbab (2)
Sebelum berbalik menyusul Andini, tangan Arga muncul kepermukan sambil mengacungkan bra. Aksi Arga itu jelas tidak luput dari mata Adit.
“Juancuuuukkk!!!,,,,” Adit hanya bisa mengummpat, bra siapa lagi yang ada di tangan Arga jika bukan milik istrinya.
Sementara di sebrang sana Andini telah sampai di tepian, tak lama kemudian disusul Arga yang tampak terengah-engah mencari udara.
“Menaaaang,,,” Andini berteriak girang mengangkat kedua tangannya, meloncat-loncat seolah ingin keluar dari air.
Tapi tawa gadis itu sirna seketika, wajahnya pucat pasi saat melihat bra nya berada di genggaman Arga. Secepat kilat tubuhnya beringsut masuk ke dalam air, berusaha menyembunyikan payudara mungil dengan puting yang menantang kedepan. Gadis itu tidak sadar kapan bra itu terlepas, terlalu semangat berenang.  Arga tersenyum, lalu dengan sopan memberikan bra itu kepada Andini. Dengan cepat jemari lentik itu menyambar, dan dengan tergesa-gesa mengenakan kembali bra nya.
“Boleh aku bantu mengikat di bagian belakang?,”
Andini mendesah, sesaat mengambil nafas panjang setelah sadar tidak mampu mengikat bra, menyesali keputusannya memilih bra jenis tali yang diikatkan di belakang punggung. Andini berbalik dengan malu-malu, setidaknya dengan membelakangi lelaki itu tidak bisa melihat payudaranya yang menyembul. Dengan perlahan Arga memasang simpul tali bra, seraya mendekati telinga gadis itu.
“32b, mungil, tapi putingnya mancung banget, seharusnya untuk gadis seusia mu aerola nya sudah mulai coklat, tapi warna milikmu masih telihat sangat ranum seperti milik gadis SMP, bentuk seperti ini yang sering bikin para lelaki penasaran.”
Nafas Andini seakan tertahan mendengar pujian Arga, tubuhnya tak mampu bergerak saat telapak tangan yang kokoh menyusuri pinggang yang ramping, mengusap perut yang rata tanpa lemak, dan terus naik hingga telapak itu menggenggam payudara Andini dengan dengan cengkraman yang kuat namun terasa lembut.
“Uuugghhhh,,,,eeeengghhhsss,,,” nafas Andini terasa begitu sesak, bra basah yang baru dikenakannya seakan tidak memiliki arti. Putingnya yang seketika mengeras dapat dengan jelas merasakan tekstrur kasar dari telapak tangan Arga.
“Maaasss,,, jaaangaaaaan,,,,”
Tapi arga memakai jurus budeg, dan terus melanjutkan aksinya. Tangannya begitu gemes dengan payudara mungil Andini, meremas dan terus meremas dengan lembut.
“Ooowwwhh,,, ternyata benar dugaanku, payudaramu sangat kencang,,, apa kau meinginzinkan bila aku sedikit berkenalan dengan payudaramu ini,,”“kaauu,, sudah melakukannyaaa,, apa lagiii,, suddaaahh masss,,, Aaaawwwhsss,,,” Andini terpekik saat puting mungilnya dijepit, ditarik, dan dipelintir dengan lembut.
“Maasss,,, jangan yang ituuu,, jaaaang,,, Aaaaakkkhhh,,,” tubuh Andini semakin berkelojotan, tanpa disadarinya telunjuk tangan kanan Arga berhasil menyelinap kedalam lipatan vagina. “uuugghhh,,, suuddaaaahhh maasss,, ada Mas Adiiitt,, jangaaaaann,”
Sekuat tenaga Andini menarik lengan Arga agar keluar dari celana dalamnya, tapi Arga yang usil tak kalah akal, telunjuknya yang berhasil menyelinap kedalam vagina mungil itu berubah layaknya jangkar pengait. Semakin kuat Andini menarik tangan Arga, semakin kuat tekanan yang dialami vaginanya, dan semakin kuat pula lenguhan yang keluar dari bibirnya.
“Jangaaannn,, jangaaaann,, Diniii ga maauu,, jangaaaaaaaaaaaaaaann” tubuh Andini bergetar hebat. Mendapatkan pelecehan dihadapan suaminya justru menjai sensasi tersendiri, dan ini adalah orgasme tercepat yang pernah dialaminya.
“Iiiihhh,,, tanganku dikencingin cewek cantik,, pasti pertanda sesuatu nih,, koq cepet banget ya,,,” ucapa Arga, menarik tangannya keluar lalu berlagak seperti orang yang mencuci tangan di dalam air.
“Jahaaaat,,, dasar manager mesum,” Andini mencubit lengan Arga, wajahnya tersipu malu, cowok itu sudah membuatnya ngos-ngosan dan berkelojotan di tengah malam, tapi setelahnya justru meledeknya, menganggap hal itu seperti hal biasa.
Sementara di sebrang Adit yang mengamati mengamati dengan tegang, dapat sedikit bernafas lega saat Arga melepaskan tubuh istrinya, lalu sedikit menjauh. Matanya dapat melihat bagaimana tadi tangan Arga yang memeluk istrinya dari belakang, tapi dirinya tidak tau apa yang tengah terjadi, matanya juga mengawasi pinggul Arga yang tidak bergerak, berarti calon atasannya itu tidak berhasil melakukan penetrasi.
“Wooyyy,, Aku ambil minum sebentar, still there, jangan kemana-mana,,,” Teriak Adit yang langsung bergegas masuk ke dalam, tubuhnya sangat enggan beranjak dari tempat itu untuk memastikan istrinya baik-baik saja, tapi tenggorokannya terasa kering akibat ulah Arga yang mengerjai istrinya.
“Yooiii,, jangan lama-lama, ntar istrimu ku makan lhoo,,hahaha,,” balas Arga sambil tertawa.
Arga bersandar di tepian kolam, “Malam yang indah, bintangnya banyak, lampionnya jua cantik” ucap Arga sambil mengamati lampion yang berjejer diatas kolam, terikat pada tali yang direntang.
“Iyaa,”
“Iyaa? Bagaimana kau bisa tau, dari tadi kau hanya menunduk, mana bisa melihat bintang,”
“Iiihhh,, resee,,” Andini mendorong pinggang Arga tapi meleset dan mengenai batang Arga yang masih menegang. Tiba-tiba gadis itu terkesiap.
“Itu kayu ya? Koq keras banget, piting sedikit aja pasti patah tuh kayu,, hahaha,,”
“Idiiihh,,, baru ditinggal suami sebentar aja genit nya nongol, giliran suami disamping anteng kaya kelinci makan kwaci,hihihi,,,”
“Mas emang rese yaaa,, jadi heran, koq bisa ditunjuk ngegantiin Pak Prabu,”
“Hahahaha,,, Ehhh,, ada bintang jatuh,,”
“Mana? ngga ada koq,,,” mata Andini cepat menyapu hamparan langit.
“Jatuhnya naik angkot biar cepet,,hahaha,,”

hilda yulis toge jilbab (1)

“Idiihh garing banget, emang kalo ada bintang jatuh mau minta apa?” tanya Andini sambil memainkan air hingga menciptakan gelombang-gelombang kecil. Perasaan tegang dan malunya sedikit berkurang, diam-diam matanya melirik tubuh tinggi tegap disampingnya.
“Aku mau mintaaa,, eemmm,,, apa ya,, kalo minta kayu ku dipiting pake punyamu, mungkin ga yaa?,,”
“Weekksss,, ngelunjak, emang aku cewek apaan, ingat,, tadi itu Cuma karena aku menghormati mas Adit yang menyuruh mu menemaniku berenang lhoo,”
“Masa sih, jadi bukan jinak-jinak merpati,”
“Apaan sihh,, lagian batang segede gini mana ada yang mau, Cuma bisa bikin cewek nangis kesakitan, hahahaa,,”
“Awww,,, sakit tau,” Arga menjerit ketika tiba-tiba tangan Andini benar-benar memiting batangnya yang dalam kondisi siap tempur sempurna, dan sialnya gadis itu justru tertawa melihat deritanya.
Tanpa setau Arga, dibalik tawa Andini, jantung gadis itu justru berdebar, tidak menyangka batang yang tadi sempat digenggamnya meliki ukuran yang benar-benar besar.
“Woooyyy,,, ni ku bawain air, kalo mo minum cepet kesini,” terdengar teriakan Adit yang membawa tiga botol pulpy orange.
“Terimakasih Gan, tapi air disini masih banyak, apalagi ada sumurnya, dijamin ga bakal habis,” jawab Arga serampangan.
“Sumur?,, mana ada?” tanya Andini yang bingung.
“Ada koq, biar kecil tapi juga bisa nambahin air kan?”
“Iiihhh ngaco,,” Andini segera memalingkan tubuhnya membelakangi Arga saat menyadari mata Arga yang melototi selangkangannya yang terendam.
“Tuu kan, jinak-jinak merpati, kalo ada suami langsung balik kanan nyari aman,”
“ngga Koq,,” jawab Andini sambil melengos.
“Berani nerima tantangan?,,buktikan dengan ambil tu lampion ”
Tubuh Andini kembali berbalik, “mana bisa?,,tinggi banget,, lagian itu tidak menantang”
Bukannya menjawab Arga justru menyelam ke dalam air.
“Aaaaaaa,,,, Andini menjerit ketika tubuhnya terangkat dari dalam air, dan gilanya wajah Arga tepat berada di depan selangkangannya.
“Sialan kau Argaaa,, Kupastikan Aryanti akan menerima balasannya,,” dengus Adit, tekadnya semakin bulat untuk kembali menunggangi tubuh montok Aryanti dan menuntaskan permainan yang tertunda.
“Cepet ambil, tubuhmu ternyata berat juga,,”
Jelas Arga berbohong, tangannya yang menopang tubuh Andini justru meremas-remas pantat Andini, membuat gadis itu salah tingkah dihadapan Adit. Tangannya berusaha meraih lampion yang masih dua jengkal diatasnya. Berharap Arga segera menurunkan tubuhnya.
“Aaaahhssss,, Argaaaa,, kamu ngapaaaaiinnn,, Aggghhhh,,,” Andini terkaget, celana dalamnya dibentot Arga ke samping, dan dengan cepat bibir Arga yang telah siaga menyerang bibir bawahnya.
“Aaaggghhh,,, gila kau Gaaa,,, itu ada suamikuuu,,Ooowwwhhh,, stoop,”
Arga mendongakkan wajahnya yang tepat berhadapan dengan vagina ranum yang menganga, “Ternyata benar, kau memang jinak-jinak merpati,” ledek Arga. Lalu kembali menyelipkan lidahnya ke vagina yang tengah galau.
“Ooowwwwhh,, tidaaak kau saaalaaahh,,aku berani koq nakal didepaaan Adiiitt,, Aaahhh,,,
masuuukiiiinn lidaaahhhmuu lebbiiihhh dalaaaammm,, Aaggghhh gilaaaaa,,,”

Andini kembali mencoba meraih-raih lampion, berharap suaminya tidak tau dengan apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Arga.
“Ooowwwhhhssss,, Aaaahhh,,, dasar lidah buayaaaa,, panjang banget lidaaahh masuuukkk,” Pantat Andini bergerak-gerak, bukan untuk mengelak, tapi untuk memudahkan lidah Arga mencecapi kalenjer vaginanya yang semakin deras keluar.
“Sayaaaaang,,, apa kau tidak melihaaat,, vagina istrimuuu,, Aaahhh,,,”
“Vaginaaa istrimuuu dinikmati lelaki laaaiiinn,,, Uuuuggghhh,,, Aaahhhssss,,,”
Seeerrr,,, seeerrr,,, seeerrr,,,tubuh Andini mengejang, bibir vaginanya menyemburkan cairan yang tepat memasuki mulut Arga yang tengah terjulur menjilat-jilat.
“Aaaahhhhh,,, Gaaaa,,,, gila kamuuu,,”
Arga perlahan menurunkan tubuh mungil Andini, menggendong menahan dengkulnya dengan kedua tangan, kini wajah mereka berhadap-hadapan. Mata bulat Andini dapat melihat dengan jelas wajah Arga yang basah oleh cairan vaginanya.
“Ternyata hanya sebatas itu kenakalanmu,, baru sebentar udah keluar,,hehehee,,”

“Asseeemm,, apa tadi kurang nakal,, Ok, kalo masih kurang, tapi jangan salahkan aku jika Adit menghajarmu,”
Tangan Andini terulur kedalam air, menyelusup kedalam celana pantai Arga, meski gemetar dengan pasti tangannya menarik keluar batang yang sedari tadi sudah dalam kondisi siap tempur.
“Aku yakin,,, kau pun tidak akan bertahan lama jika kayumu ini dipiting oleh milikku,,, Aaaahhhh,,,” meski tidak yakin vagina mungilnya dapat menerima besarnya batang Arga, tapi Andini tidak ingin terus diledek dan diremehkan.
Kedua insan yang tengah diamuk birahi itu kini begitu kompak bekerjasama. Arga perlahan menurunkan tubuh Andini, sementara jemari lentik gadis itu memastikan batang Arga berada pada jalur yang benar menuju vaginanya.
“Aaaggghhhh,,, pelaaann,,, coba lagiii,,, turunkaan lagiii,, Aaahhh,,,”
Batang Arga melengos kedepan dan kebelakang, tak mampu menembus vagina mungil dan sempit milik istri temannya.
“Oooowwwhhh,,, taaahhhaaann,,, biar aku yang bergeraaakk,, aaaaggghhhh,,, massssuuuk,,”
Andini yang merasakan kepala penis Arga telah berada di dalam vaginanya, perlahan semakin menurunkan tubuhnya, hingga lorong kemaluannya benar-benar terasa penuh.
“Maassss,, maaf maaasss,,, aku benar-benar telah memasukkan penis temanmu ke dalam tubuhku,” rintih hati Andini, yang masih tidak percaya tubuhnya dinikmati lelaki lain tepat di depan suaminya.
“Argaa,, Apaaakaaahh ini cukuuup untuk membuktikaaan kalo aku naakaaal,,”
“belum, ini belum cukup, cantik.”
“Yaaa,, aku rasa jugaa begituuu,,, ini belum cukuuup,, setidaknya hingga vagina mungilku dapat memaksa spermamu memenuhi rahimkuuu,, Aaagghhh,,,”
Di sebrang kolam, mata Adit melotot saat mendapati celana dalam istrinya telah mengambang di atas air. “Siaaalaan kau Argaaa,”
“Arrgaaaa,,, kauuu diaaam sajaaa,,,bukankah kau ingiiin aku terlihaaat nakaaall di depaaan suamikuuu,,, Aahh,,aahhh,,,aahh,,,”
Andini meminta Arga berhenti bergoyang, gadis itulah kini yang memegang kendali, pantatnya bergerak cepat, turun naik diatas air menciptakan riak yang semakin besar.
“Gaaa,,, sesaaaak bangeeeett,,, aku gaa kuaaaat,,, aku kalaaaahh lagiii Aaahhhh,,,”
“Bila kau memang ingin terlihat nakaaal, biarkan aku menyetubuhi mu di depan Adit,,, beraniii?,,, Eeeehhhsss,,”

hilda - toge jilbab (4)

Andini yang sudah benar-benar tak berdaya hanya dapat mengangguk. Meski tak tau apa yang akan dilakukan Arga, tapi baginya sama saja. Andini memejamkan matanya, pantat montoknya terus bergoyang menikmati batang yang begitu besar bagi vagina mungilnya. Sementara Arga perlahan berjalan mendekati Adit yang dasar kolamnya lebih dangkal. Nafas Adit tercekat, kini di hadapannya terpapar pemandangan yang begitu ironis, dengan mata terpejam tubuh mungil Andini bergerak liar. Lorong kemaluan mungil dan sempit milik istrinya yang selalu dibanggakannya, memaksakan melumat sebuah batang besar, lebih besar dari miliknya.
“Aaaaghhhh,,,, Argaaaa,,,,” Andini terpekik saat Arga mulai memberikan perlawanan, ini jauh lebih nikmat dari apapun, mata sendu yang menyiratkan kepasrahan menatap Arga dengan mesra, namun sesaat kemudia terkaget saat mendapati tubuhnya tepat berada di antara kedua kaki suaminya yang menjuntai.
“Maaasss,,, maaaf maasss,,, ini hanya sebuah permainan tantangaaaaannn,,,”
“Aaaagghhhh,,,,ooowwwwwhhh,,, ga kuaaaat,,, Andini ga kuat Masss,,” tangan Andini terulur meraih tangan suaminya seiring tubuhnya yang bergetar hebat mendapat gempuran batang Arga yang semakin brutal. Vaginanya semakin sempit menjepit, “Aaaaaaggghhhhhh,,, Massss,,, besaaaar maaassss,,, batang temaan mu sangaaaat besaaaaarrr,,, Aaaahhh,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, Diiittt,,, sempit bangeeet,, milik istrimu sempiiitt bangeeeeettt,,,”
“Akkuuuu harusss menyemprot di daaalaaam Dit,,, Semproooottt di daaalaaam vaginaa istrimuuu,,, Aaahhhhh,,,” Arga mencengkram pinggul Andini dengan kuat, menancapkan batangnya jauh ke dalam lorong yang semakin menyempit. bermili-mili sperma menghambur, berdesakan memenuhi kantong rahim Andini.
Andini seakan tidak percaya melihat kehebohan Arga, lelaki itu orgasme di dalam tubuhnya dengan begitu dahsyat. Tanpa sepengetahuan Adit, Andini berusaha semakin mengencangkan otot vaginanya, meyakinkan Arga dapat benar-benar menikmati liang kemaluannya.
“Maafin Andini Mas,,”
Adit berusaha tersenyum. Lalu jatuh pingsan… Gubrak..

##########################

Arga terbangun dari tidur dengan perasaan cemas, istrinya Aryanti tidak ada disamping. Seingatnya, setelah menggotong Adit ke kamarnya, Arga menyempatkan diri untuk sekali lagi menggarap Andini di samping suaminya yang tepar, entah tidur, entah memang benar pingsan. Dan ketika kembali ke kamar, Aryanti sudah tertidur dengan pulas. Rasa was-was segera menyergap dirinya, Arga sangat sadar dengan perjanjian yang mereka terapkan dalam liburan ini. Sebuah pertanyaan mencuat dipikirannya ‘Siapa yang tengah menindih tubuh Aryanti saat ini’. Dengan langkah perlahan menghindari timbulnya suara Arga mendekati pintu kamarnya, dan menyelinap keluar bagai seorang maling. Pendengarannya bekerja lebih ekstra mencari kemungkinan adanya suara ganjil, buah dari persetubuhan. Arga sendiri tidak mengerti kenapa dirinya harus begitu hati-hati, seakan memang mengharapkan dapat memergoki istrinya yang berbuat nakal, atau pasangan lain yang tengah berlomba memacu birahi. Tapi nihil, cottage begitu sepi. Sekilas Arga melirik celah di bagian bawah pintu kamar Dako dan Zuraida yang tampak masih menyala terang, mungkin saja penghuninya masih belum tidur, ada keinginan untuk mengetuk, tapi diurungkannya. Perlahan Arga menuruni tangga, lantai satu pun sepi. Begitu juga dengan beranda dan gazebo. Jam dinding menunjukkan pukul 1.25. Dengan cemas bercampur bingung Arga kembali masuk ke dalam cottage, namun langkahnya terhenti saat telinganya sayup-sayup mendengar gelak tawa dari arah ruang samping yang biasa digunakan untuk menggelar pertemuan, bangunan itu memang terpisah dan hanya dibuka jika ada pertemuan atau pesta. Bergegas kakinya melangkah, dan ternyata pintu nya memang terbuka, lampu di bagian tengah ruangan tampak masih menyala. Kembali dirinya mendengar gelak tawa. Tak salah lagi itu adalah tawa Pak Prabu dan Dako. Ketika dirinya ingin menghampiri teman-temannya yang asyik bercengkarama mengelilingi sebuah meja bundar, langkahnya tertahan saat melihat sosok Aryanti yang tengah dipangku oleh Munaf. Sementara di sebrang mejanya, Andini tengah dipangku oleh Pak Prabu. Dengan sangat pelan Arga menyelinap, melewati pintu yang terbuka, ada keinginan hatinya untuk melihat langsung, bagaimana sikap Istrinya jika dirinya tidak ada disamping. Tampaknya Pak Prabu, Dako dan Munaf tengah bermain kartu. Namun yang membuat Arga heran kenapa istrinya sampai bersedia duduk di pangkuan Munaf dan tertawa melihat ulah nakal tangan Munaf yang mencoba bergerilya di tubuh indahnya. Tangan kanan Munaf yang tampak aktif mengelus paha istrinya yang saat itu hanya mengenakan celana lagging sedengkul yang biasa digunakannya ketika berada di rumah, sementara kaos tanpa lengan yang digunakannya tampak kebesaran. Meladeni kenakalan tangan Munaf yang semakin tidak terkendali, Aryanti harus berulangkali memukul jemari yang berusaha menyelusup ke dalam kaosnya, bibir dari istri Arga itu terus tertawa sambil menahan pangkal lengan Munaf yang berusaha menerobos kaos longgar istrinya. Setelah merasa kurang beruntung dengan serangan bagian atas, kini Munaf mencoba meraba selangkangan Aryanti, meremas dengan rasa gregetan akan benda yang ada di antara dua paha montoknya.

Arga sedikit lega ketika melihat Aryanti segera menyilangkan kedua pahanya, mencoba menutup akses serangan, setidaknya istrinya tidak membiarkan lelaki lain menjamah tubuhnya dengan bebas. Tapi tiba-tiba Aryanti tertawa terpingkal, rupanya telunjuk Munaf masih berhasil menyelusup di antara pahanya, bahkan berulangkali menekan telunjuknya pada kemaluan yang tertutup rapat. Awalnya Aryanti terus berusaha menahan lengan Munaf, tapi entah kenapa jemari-jemari lentik itu tiba-tiba melepaskan genggamannya, dan mengambil botol chivas yang masih tersisa setengah. Dituangkannya air berwarna putih bening itu ke gelas yang tidak pernah lepas dari tangan kirinya. Tangan Munaf kini bisa sedikit lebih bebas menggasak selangkangan Aryanti yang tertutup lipatan paha dan usahanya mulai membuahkan hasil ketika Aryanti mulai melonggarkan lipatan pahanya tapi masih dengan posisi menyilang. Rupanya Aryanti merasa kasihan dengan usaha Munaf yang begitu gencar, tidak ada salahnya jika dirinya sedikit berbaik hati membiarkan teman sekantor suaminya itu untuk sedikit mengenali bagian intimnya. Namun tetap saja remasan itu tidak membuat puas Munaf karena masih terhalang oleh lagging yang sangat ketat.  Bibir Aryanti sesekali tertawa ketika merasakan Munaf berhasil mendorong celana dalamnya masuk kesela-sela belahan vagina. Dan itu jelas membuat perempuan itu menggelinjang. Sementara Pak Prabu tampaknya lebih beruntung, karena lengan kanannya dapat dengan bebas menyelusup kebalik kaos Andini, mengelus, meremas dan sesekali memelintir payudara mungil yang masih terbilang ranum itu. Andini dan Pak Prabu sebenarnya lebih terlihat seperti anak dengan bapak, karena pertautan umur mereka yang sangat jauh. Arga tersenyum ketika teringat Aditya, suami Andini yang mungkin saja saat ini masih pingsan. Sesekali tangan kiri Andini mengarahkan gelas yang dipegangnya ke bibir Pak Prabu, diselingi kecupan bibir Andini yang membersihkan martini yang menetes di samping bibir Pak Prabu. Namun Andini tidak membiarkan bibir Pak Prabu berlabuh ke bibirnya, meski sesekali dirinya tidak dapat mengelak ketika Pak Prabu menyosor dan memagut bibirnya dengan cepat. Permainan kartu itu terasa sangat lambat, karena masing-masing pemain sibuk dengan pialanya. Bahkan sesekali pak Prabu memaksa Andini untuk membuka kaosnya, Aksi itu hanya membuahkan jeritan protes diiringi seringai tawa dari bibir mungilnya, dengan tangan kanannya Andini berusaha menahan kaosnya. Rupanya Andini hanya mengizinkan tangan Pak Prabu menggerayangi payudaranya, tetapi tidak untuk diekspos, karena dirinya masih terlalu malu untuk itu. Aksi pak Prabu itu membuat Aryanti tergelak tertawa dan melupakan aksi tangan Munaf yang terus berusaha menyusup di belahan selangkangannya. Ketika merasakan tangan Munaf yang dingin mencoba menyusup ke balik kaos, dan merabai pusarnya, dengan cepat Aryanti menarik tangan itu sambil tertawa.
“Hahahahaa,,, kalo mau netek, sama Andini aja tuh,,” kelakar Aryanti disambut Andini dengan memeletkan lidahnya lalu ikut tertawa.Tapi anehnya, Aryanti justru kembali meletakkan tangan Munaf yang nakal ke selangkangannya yang masih saling terjepit menyilang. Seakan memberi tanda bahwa izin bagi jemari Munaf hanyalah pada bagian luarnya.
“YEEEAAHHH,,,,,” tiba-tiba Dako berteriak keras dan menghempaskan kartu yang dipegangnya kemeja. Gelasnya yang terisi penuh ditelannya dalam satu tegukan.
Penderitaan Dako memang cukup panjang, hanya dapat membagikan kartu sambil menyaksikan pak Prabu dan Munaf mencumbu pialanya. Kini dirinya memiliki wewenang penuh untuk memilih Piala yang akan duduk di pangkuannya. Sementara kartu Munaf yang lebih unggul dari milik Pak Prabu harus menerima wanita yang tidak dipilih oleh Dako. Sesaat Dako menatap tubuh indah Andini yang kaosnya sedikit terangkat di depan payudara, memperlihatkan perut ramping yang mulus, dan kemudian beralih kepada Aryanti yang selangkangannya masih menjepit jemari Munaf.
“Aryantiii,,,” teriak Dako sambil menepuk paha kanannya sebagai isyarat bahwa Aryanti lah yang harus duduk di pangkuannya.
Sekilas Arga melihat Munaf membisikkan sesuatu ke telinga Aryanti yang masih dipangkunya. Kemudian Aryanti berdiri menghadap Munaf yang menunggu aksi apa yang akan dilakukan Aryanti kepada dirinya.
“Hahahaha,, Jadi kau ingin sedikit hadiah sebelum aku meninggalkan pangkuan mu?,,lalu apa yang kau mau?” ucap Aryanti yang terlihat pongah berkecak pinggang, namun bibir mungilnya tersenyum genit.
“Terserah kau,,, tapi ku harap itu sesuatu yang luar biasa,,,,”
Sesaat tubuh semapai Aryanti mematung dihadapan Munaf, telunjuknya memegang dagu seolang sedang berfikir.
“Okkk,,, ini pasti cukup untuk mu,” seru Aryanti, matanya mengerling nakal kearah Dako dan pak Prabu, seolah ingin mengatakan bahwa hadiah yang akan diberikannya memang hanya untuk Munaf.
“Owwwhhhh shit,,, apa yang kau lakukan Sayang,” jerit hati Arga ketika tiba-tiba Aryanti memasukkan kepala munaf ke dalam baju kaosnya sambil tertawa terpingkal disambut tepuk tangan yang lainnya.
Dengan cepat kepala Munaf bergerak liar, menyerang payudara yang selama ini hanya pernah dinikmati oleh Arga. Aryanti tampak berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya ketika kepala Munaf melakukan berbagai gerakan kekiri dan kekanan, sesekali bibir mungilnya mendesis menahan erangan, entah apa yang dilakukan Munaf di dalam sana. Kedua tangan manager SDM itu memeluk erat belahan pantat Aryanti untuk menahan badan Aryanti yang menggelinjang geli akibat aksinya. Arga benar-benar penasaran apa yang dilakukan pria itu di balik kaos istrinya, apakah bibirnya berusaha menghisap putting istrinya yang masih terbalut bra, tentu bukan pekerjaan yang mudah karena istrinya biasa menggunakan bra yang kencang untuk menopang payudaranya yang cukup besar.
“Yup berhasiiiiil,” teriak Munaf saat kepalanya menyembul keluar dari kaos istri Arga, sambil mengepal kedua tangannya keatas tanda kemenangan, disambut sorak mereka yang ada disitu. Aryanti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sekarang bra mu sudah terlepas lalu untuk apalagi kain merah itu terselip dibalik kaosmu,” seru Munaf.
Arga terkejut, artinya kini payudara istrinya tidak lagi terlindungi oleh bra. Artinya tadi Munaf bergulat dengan kancing bra milik Aryanti yang berkait di depan. Namun Arga masih merasa beruntung karena Aryanti menjitak kepala Munaf, meski sambil tertawa tetap saja itu adalah tanda penolakannya.
“Lepas,Lepas,lepas,,,” yel-yel yang diteriakkan oleh Dako serentak diikuti oleh Pak Prabu dan Munaf, bahkan oleh Andini.

Arga sangat berharap Aryanti tetap pada keputusan awalnya. Meski dirinya tidak yakin, karena tantangan yang dilontarkan Munaf mendapat dukungan dari semua pemain.
“Oke, oke,,, kalian memang selalu berhasil memaksaku,,,”
“DUERRRR,,,” lagi-lagi tubuh Arga bagai terhantam palu godam yang sangat besar.
Apakah itu artinya istrinya akan melepaskan kaos untuk melepas bra. Dibalik persembunyiannya Arga sudah merasa tidak sanggup untuk menyaksikan usaha teman-temannya menelanjangi pakaian istrinya. Perjanjian yang mengikat mereka membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Tapi rupanya Aryanti masih memegang kepercayaan sebagai seorang istri Arga, tanpa melepas kaosnya tangan Aryanti menyusup masuk untuk melepas branya. Melalui pangkal lengannya Aryanti melepas satu persatu tali bra yang tersampir dipundak.
“Ini kan yang kalian mau?” teriak Aryanti sambil mengangkat bra merah dengan renda warna pink. Jelas saja aksi itu membuat kecewa Dako, Pak Prabu, dan tentunya Munaf sendiri. Karena mereka ingin melepas serta kaosnya untuk membuang bra tersebut.
Tapi, kini mereka dapat lebih jelas melihat puting payudara dari istri Arga yang tercetak pada kaos tipis itu. Bahkan dari sela-sela kaos yang kebesaran itu terlihat dengan jelas bagaimana kedua bukit putih itu tampak bergoyang mengikuti hentakan tubuh Aryanti yang tertawa puas karena dapat memenuhi keinginan teman-teman suaminya.
“Andini, untuk babak berikutnya ini apakah kau akan tetap seperti itu, tidak adakah sedikit bonus untuk kami, seperti yang dilakukan Aryanti?” tantang Dako.
Arga kembali bergairah untuk kembali menyaksikan pertunjukan, tubuh ranum Andini memang menggoda setiap lelaki. Jika Andini turut melepas branya, dengan kaos warna kuning yang ngepres dibadannya itu jelas akan mencetak keseluruhan bentuk payudaranya. Meski telah menikmati bagimana ranumnya payudara mungil Andini, tetap saja rasa penasaran bercokol diotak mesum, membayangkan aerola merah muda yang mengelilingi puting mungil milik remaja itu terpapar bebas di depan publik. Apa yang dilakukan Andini rupanya melebihi dari apa yang diharapkan oleh Dako, Pak Prabu dan Munaf. Dengan perlahan, Andini memasukkan tangannya ke bagian rok samping, gerakan slow motion yang sengaja dilakukan Andini membuat jantung para pria berdegub kencang, apakah Andini akan lebih berani mengekspos miliknya.
“Owhhh,,, shit,,,” Arga tidak dapat menutupi kekagumannya atas kenakalan gadis itu, jari-jari lentik Andini menarik turun celana dalam berwarna putih yang dibagian tengahnya sudah tampak basah.
Andini mengangkat CD nya tepat di wajah Pak Prabu yang dengan sigap membaui aroma yang tersaji, lalu menarik kain itu dengan giginya, membuat semua yang ada di ruangan tertawa. Gadis itu merapikan limpitan roknya yang lebar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengintip ke selangkangan yang tak lagi memiliki pelindungan. Lalu beranjak hendak meninggalkan pangkuan Pak Prabu.
“Heeyyy tunggu,, itu adalah hadiah kecil yang kau berikan untuk semua, apakah tidak ada yang lebih spesial untukku,” seru Pak Prabu, menahan lengan dari istri keponakannya itu.
Andini tertawa sendiri memikirkan hadiah apalagi yang akan diberikan khusus untuk Pak Prabu. Lalu sambil menutup wajah dengan tangan kanan, tangan kirinya mengangkat bagian depan rok.

“Wwwhhhoooo,,, mantaaaap,, bener-bener hadiah yang spesial, hahahaa,,” Teriak Dako bertepuk tangan, sambil berusaha ikut mengintip,namun terhalang tepian rok.
Andini yang nekat mengambil keputusan gila itu hanya dapat menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil terus tertawa, semua hanya gara-gara gairah mudanya yang tertantang oleh aksi berani yang dilakukan Aryanti. Sebuah persaingan terselubung antara betina dewasa dan remaja. Ketika Pak Prabu berusaha menundukkan kepala untuk mengecup vagina mungil yang dapat dinikmati oleh matanya, tiba Dako berteriak.
“Ok,,, saatnya pertukaran,” teriak Dako yang sudah tidak sabar mendapatkan pialanya.
“Berikanlah aku salam perpisahan, sayaang,” rengek Pak Prabu yang merasa berat melepas tubuh Andini.
Melihat Andini hanya tertawa, Pak Prabu segera melabuhkan lidahnya kebibir vagina yang masih tertutup rapat namun dihiasi precume yang merembes keluar, hingga membuat Andini menjerit, tak menduga.
“Owghh,, cukup pak, sudaaaahh,,aaahh, Sudaaahhh,,” Andini berusaha mendorong kepala Pak Prabu menjauh, posisi Pak Prabu yang duduk dikursi membuat lidahnya cukup sulit untuk menjelajah celahnya. Namun lelaki paruh baya itu terus saja bereksplorasi.
Dengan badan masih menunduk, Pak Prabu berusaha menatap Andini mencoba meminta sedikit kemudahan bagi lidahnya yang haus, dengan wajah super memelas. Proposal yang diajukan Pak Prabu melalui lirikan mata itu tampaknya berhasil, karena Andini berusaha mengangkat kakinya ke sisi kursi Pak Prabu.
“Aaahh,,, cukuuupp,, jangan terlalu daaaalaaaamm,,,” jerit Andini saat lidah Pak Prabu dengan cepat menyelusup kecelah vagina yang semakin basah. Namun Pak Prabu seolah tak peduli.
Sesekali Andini menjerit kecil ketika bibir vaginanya yang mulus tertusuk oleh kumis Pak Prabu, tapi tusukan itu bagaikan sengatan birahi bagi Andini untuk semakin menyodorkan vaginanya ke lidah milik paman dari suaminya itu. Setelah beberapa saat wajah Pak Prabu terangkat sambil tersenyum lebar, bibirnya dan kumisnya berlepotan selai putih, puas mencecapi vagina ranum, membiarkan Andini yang terombang-ambing birahi. Ingin sekali Andini menahan kepala Pak Prabu untuk melanjutkan cumbuan hingga menuju puncak, namun rasa malu sebagai wanita baik-baik berhasil menahan. Munaf yang saat itu menonton aksi Pak Prabu sambil memeluk pinggul Aryanti dibuat iri dengan salam perpisahan yang diberikan Andini kepada atasannya.
“Andini sudah memberikan salam perpisahannya, apakah aku juga akan mendapatkannya darimu cantik,” rayu Munaf sambil mengadopsi wajah melas Pak Prabu yang telah sukses mencecapi payudara Andini.

“Bukankah kalo kau menang nanti aku akan kembali berada di pangkuanmu,” jawab Aryanti yang kembali berbalik menghadap Munaf, sementara Munaf semakin mengokohkan pelukannya di pinggul Aryanti.
“Please,,,Ayolah Yant,,,”
Belum sempat Munaf menyelesaikan kata-katanya Aryanti sudah kembali memasukkan kepala Munaf kedalam kaosnya. Bagai orang kesurupan, Munaf langsung menyedot dengan keras puting Aryanti yang tidak lagi terhalang oleh bra, seakan takut payudara itu akan menghilang.
“Aaaaahhh,,, ooowwhhhhssssss,,,”
Aryanti merintih, dirinya memang menginginkan seseorang melakukan sesuatu kepada putingnya yang mulai mengeras. Beberapa kali Aryanti mengelinjang, terkadang kepalanya terangkat ke atas ketika Munaf mengigit putingnya. Desahannya sambung menyambung, setelah salah satu tangan Munaf ikut masuk ke dalam kaosnya.
“Aassshhh,,, Muunnaaaf,,,” teriak Aryanti sambil mengarahkan kepala Munaf ke daerah yang ingin dijamah oleh lidah pria itu,”
“Yaaa,, iyaaaa,,, pelaaan,,,”
“Owwwhhhss,,,”
Aryanti yang asyik menikmati permainan bibir Munaf pada daerah payudara yang diinginkannya terpekik ketika kepala yang ada dalam kaosnya kembali menggigit sedikit lebih keras.
“Ok,,,cukup bro,,, Kita harus melanjutkan permainan,” seru Dako yang rasa iri yang memuncak, berkali-kali Dako meremas penisnya yang terasa sakit karena tidak dapat bebas menghirup udara.
“Ayolah kawaaaannn,,,” seru nya kembali ketika melihat tidak ada tanda-tanda kedua rekannya ingin mengakhiri percumbuan.
Setelah cukup lama, akhirnya Munaf menampakkan batang hidungnya, rambutnya tampak kusai berantakan, sementara Aryanti berusaha mengatur nafasnya. Dengan langkah terhuyung Aryanti melangkah ke pangkuan Dako. Andini yang juga harus beralih kepangkuan Munaf memilih berjalan di depan tempat Dako duduk dengan kaki yang masih gemetaran menahan birahi. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dako untuk menyelusupkan tangan nakalnya ke balik rok Andini, lalu mencoleh pintu vagina yang begitu basah.
“Aaawww,,” jerit Andini berusaha menarik tangan Dako keluar, yang dijawab dengan pekikan tawa. Aryanti pun tidak tinggal diam dirinya turut meremas dengan gemes pantat Andini. Suara tawa bersahutan menggema di ruangan yang memang terpisah dengan kamar-kamar.
Dako sempat tergiur dengan kemolekan tubuh Andini yang telah terbuka disana-sini, tapi melihat kecantikan Aryanti dan misteri dibalik pakaiannya kembali meneguhkan pilihannya. Kapan lagi dirinya dapat menikmati tubuh Aryanti dan payudaranya yang selama ini membuatnya penasaran.Dako membuka pahanya lebar-lebar mempersilahkan Aryanti untuk duduk di salah satu pahanya. Berbeda dengan posisi ketika dirinya duduk di pangkuan Munaf yang membelakangi, kini dengan duduk di paha kanan Dako Aryanti dapat lebih leluasa apakah harus menghadap Dako ataukah ke arah teman-temannya yang lain. Tapi sial bagi Arga, posisi duduk Dako justru membelakangi tempat persembunyianya. Ada rasa cemas dihati Arga dengan apa yang akan terjadi pada istrinya, karena matanya tidak dapat mengawasi aktifitas tangan Dako dengan jelas. Baru saja Aryanti menghenyakkan pantatnya yang padat montok pada paha yang disediakan, tangan Dako langsung bergerilya menyusup ke balik kaosnya. Lagi-lagi Aryanti hanya tertawa, melalui kerah lehernya yang lebar mata indah Aryanti mengintip payudaranya yang dimainkan oleh Dako, sesekali tawanya menggelegar mendominasi suara diruangan saat Dako membisikkan sesuatu ke telinganya. Sementara Andini belum sempat duduk di paha Munaf, lagi-lagi harus merelakan payudaranya diremas oleh Munaf yang memaksa Andini mengakat kaos nya lebih tinggi, lelaki itu tidak peduli dengan penolakan Andini, Yang ada dibenaknya saat ini adalah menikmati sepuas-puasnya payudara yang kini menjadi piala miliknya.

hilda - toge jilbab (3)
“Sebelum kita memulai babak ini sepertinya ada peraturan yang harus ditambahkan, karena dari tadi saya melihat tangan kanan piala-piala kita ini lebih banyak menganggur, bagaimana jika kalian memainkan ‘perseneling’ kami, agar kami dapat menanjak dengan cepat,”
“Setujuuuu,” teriak Munaf sementara Pak Prabu hanya mengumpat, kenapa peraturan itu tidak ditetapkan dari tadi, saat dirinya masih memangku Andini. Tapi Aryanti dan Andini yang terlihat mulai mabuk justru tertawa. Keduanya sesaat saling melemparkan senyum penuh persaingan.
Meskipun istrinya dalam keadaan mabuk, Arga berharap rasa malu yang tersisa dalam diri Aryanti dapat mengajukan penolakan.
“Ok, Siapa takut,” teriak Aryanti sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Yang disambut tawa Andini yang telah duduk manis dipangkuan Munaf.
Persetujuan Aryanti bagaikan kilatan petir yang menyambar kepala Arga, bagaimana mungkin istrinya yang selama ini selalu menjaga sopan santun, kini secara terbuka akan menggenggam penis lelaki lain di depan banyak orang. Tubuh Arga merinding, sampai mana kegilaan ini akan berakhir, berhasilkah Dako menjejalkan penisnya kedalam tubuh indah istrinya. “Aaakhhh,,,” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang pikiran akan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
“Kyaaaaa,,,,”
Arga terjaga saat mendengar teriakan Aryanti, wajah cantik istrinya menunjukkan raut keterpesonaan akan sesuatu yang kini ada dalam genggamannya.
“Bagaimana mungkin milikmu bisa seperti ini,” pertanyaan Aryanti yang penuh rasa kagum mengalir ringan dari bibir mungilnya.
Aryanti yang akhir-akhir ini mulai mengenal beberapa bentuk penis selain milik suaminya, dibuat kaget oleh pusaka kebanggan Dako, dengan bentuk yang melengkung ke atas. Kepala batangnya memang standar tapi semakin membesar menuju ke pangkal.
“Lalu,, kau ingin aku melakukan apa dengan milikmu ini,” birahi Aryanti bergemuruh, dirinya tidak dapat menghindari pikiran mesum, membayangkan jika batang bengkok itu menyerang kemaluannya dinding vagina bagian mana sajakah yang harus menerima hantaman-hantaman keras milik Dako.
“Arggghhh,,,” pekik Aryanti pelan ketika pikiran-pikiran mesum semakin meracuni otaknya.
“Hey,hey,, Aryanti, kurasa kita dapat melakukannya dengan pelan-pelan,” bisik Dako ketika penisnya diremas dengan keras oleh jemari Aryanti.
“Letakkanlah gelasmu, sehingga kau dapat membantuku untuk memegang kartu-kartu yang merepotkan ini,” pinta Dako setelah menerima kartu yang dibagikan Pak Prabu.

“Owh,,, tentu sayang,” balasnya sambil mengambil kartu-kartu diatas meja yang baru dibagikan Pak Prabu.
“Hei, lihatlah kartu-kartu mu, aku tidak yakin untuk babak selanjutnya aku dapat terus memegang batangmu ini,” ucap Aryanti dengan kening berkerut, ada rasa enggan dihatinya bila harus melepas penis teman suaminya itu.
“Yaaa,,, itu artinya kau harus membantuku untuk memecah konsentrasi pak Prabu, agar aku tetap bisa meremas dua payudaramu ini,” jawab Dako yang kini sibuk mengenali dua gunung kembar yang ada di telapak tangannya.
Berbeda dengan Munaf, yang mendapatkan kartu cukup baik, sepertinya lelaki tidak perlu takut akan kemungkinan kemenangan Pak Prabu yang tertawa puas mengamati kartunya, karena kalaupun menang atau menjadi yang kedua, Munaf pasti akan tetap mendapatkan Andini yang terlihat kewalahan meladeni isapan lidah Munaf pada payudaranya, sedangkan tangan kanannya terus mengocoki penis Munaf yang sudah sangat keras. Artinya dia hanya perlu mengalahkan Pak Prabu.
Aryanti kembali tertawa, “Boleh juga usulmu, aku akan menolongmu, tapi aku tidak yakin ini bisa berhasil,”
Dengan gerakan pelan Aryanti menggeliat bagai cacing, meregangkan otot tubuhnya, dua tangannya yang terangkat ke atas memberikan pemandangan yang eksotis bagi Pak Prabu. Melalui celah lebar di ketiak kaos, lelaki yang telah memasuki usia 50an itu dapat melihat dengan jelas bagaimana ganasnya jemari Dako meremas dan memilin putting Aryanti.
“aaahhhh,,, jangan disitu Dakooo,,,” Aryanti menggelinjang manja ketika Dako menggelitik kupingnya dengan lidah. Tapi Dako justru memeluknya semakin erat.
“Siaaaal,,,, kenapa bagian itu harus terjamah olehnya,” pekik Arga dengan kesal, telinga adalah bagian paling sensitive bagi Aryanti, Arga berani bertaruh jika selangkangan istrinya pasti akan semakin membanjir.
“Bila Munaf telah meminta salam perpisahan, apakah kau tidak ingin memberikan salam sambutan kepada tubuhku ini, Dako?”
“Kurasa aku bisa membantumu memainkan kartu-kartu ini selama kau beraksi didalam kaosku?,” tawar Aryanti yang mulai gerah dengan suasana. Tidak perlu pertimbangan bagi Dako untuk segera menenggelamkan kepalanya kedalam kaos Aryanti.
“Ooowwgghhh,,,hahahhahahassss,, oopppsss,, pelaaann…uugghhhsss,”
Aryanti tidak dapat menahan serangan Dako, ketika kulit payudaranya yang kedinginan merasakan panasnya lidah Dako. Membelit, menghisap, menggigit. Penis Dako yang ada dalam genggamanyan semakin mengeras, kepala penis unik yang mencuat keatas itu mulai mengeluarkan lendirnya. Namun sayangnya penis itu sekali-sekali harus dilepasnya untuk mengambil kartu tambahan yang terus dibagikan Pak prabu sekaligus membuang kartu yang tidak dibutuhkannya. Arga seakan tidak percaya, bila wanita yang tengah mengerang dan terus bergerak erotis menggoda Pak Prabu itu adalah istrinya, seorang wanita yang selama ini dikenalnya sangat setia dan selalu menjaga sopan santun
“Aaahhh,,, apa yang kau lakukan,” jerit Aryanti saat merasakan jemari Dako berhasil menerobos leggins nya.
“Aaahhh,,, cepat tarik tangan mu daaari sana Daaakkkkooo,” tangan kanan Aryanti terpaksa melepas penis Dako untuk menahan tangan lelaki itu.
Tapi telunjuk Dako terlanjur menyentuh pintu vagina yang masih terlindung kain tipis, membuat kaki Aryanti terhentak menahan kilatan birahi, wanita itu bingung apa yang harus dilakukan.

“Aku tidak pernah menduga jika milikmu sesempurna ini, beruntung sekali Arga bisa melesakkan penisnya kapanpun dia mau ke vagina gemuk mu,,” bisik Dako.
Mendengar kata-kata Dako, Aryanti bukannya menarik tangan Dako keluar tetapi justru menekan semakin ke dalam. Bahkan ada rasa sesal di hati Aryanti yang telah dipenuhi oleh nafsu, kenapa tadi dirinya tidak mengenakan rok pendek seperti Andini, dengan celana leggins yang dikenakannya saat ini jemari Dako begitu sulit untuk beraksi di dalam sana.
“Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan milikku sempurna, sedangkan kau tidak pernah melihatnya,” sela Aryanti sambil berusaha melebarkan pahanya, seakan memberikan izin jemari Dako untuk terus beraksi.
“Aku bisa merasakan, celana dalam mu ini menyembunyikan sebuah lorong yang indah dan mempesona, yaaahh,,, setidaknya sempurna untuk batang yang tengah kau remas ini,” ucap Dako sambil sesekali merasakan rambut yang tumbuh lebat di sekitarnya.
“Tapi jika kau mengizinkan aku untuk melihat langsung bagaimana bentuk yang sebenarnya, pastinya aku tidak akan menolak,”
“Hahaha,,, dasar gombaaal, memang lelaki kalau sudah ada maunya bisa mengatakan apa saja,” gelak tawa Aryanti mengagetkan Andini yang tengah menikmati jemari Munaf yang berhasil mengobok-obok vaginanya.
Rok longgar selutut yang dikenakan Andini rupanya cukup membantu menyembunyikan jemari Munaf, beraksi dengan bebas divagina mungil Andini yang tidak lagi memiliki pelindung. Membuat gadis itu merintih tertahan, menikmati jari tengah Munaf yang bergerak keluar masuk, menjelajah dan mengorek precume nya keluar.
“Lalu, kenapa kau tidak meminta padaku agar jari-jarimu bisa lebih mengenali milik sahabat mu ini, kurasa tidak ada bedanya ketika kau meremasnya di luar ataupun di dalam kain segitiga ini,” bisik Aryanti sambil menarik tangan Dako keluar, tapi kemudian justru menarik karet leggins dan celana dalamnya ke depan.
“Hahahahaaa,, ternyata benar apa yang sering dikatakan Arga, kau memang baik hati dan dermawan,” tawa Dako, yang sontak membuat Arga bingung, apa yang tengah terjadi di antara mereka.
“Huusss,, diamlah, kalau kau tak mau, aku akan menutupnya,” Aryanti merasa tidak nyaman saat nama suaminya disebut.
Dengan cepat Dako menahan tangan Aryanti, mencoba mengintip, namun begitu gelap, hanya rambut-rambut yang begitu tebal yang tampak. Dengan sangat bernafsu Dako segera melesakkan tangannya.
“Owwghhh,,,pelaaaan Dako,,,” jerit Aryanti dengan keras ketika dua jemari Dako langsung menciduk ke bagian dalam vaginanya yang memang sudah sangat basah.
“Hei,,, adakah dari kalian yang ingin menikmati ice cream ini,” teriak Dako sambil mengacungkan tangannya yang sudah penuh oleh cairan milik Aryanti.
Tentu saja Aryanti sangat malu, lalu memukul-mukulkan bantal kecil ke kepala Dako. “Kalau kau terus membuatku malu, maka aku akan menutup milikku ini selamanya,” ancam Aryanti.

Dako hanya tertawa, ancaman Aryanti dianggapnya pepesan kosong, karena Dako sangat yakin bila istri Arga itu telah tunduk sepenuhnya pada dirinya. Dengan pasti Dako kembali memasukkan tangannya.
“Aaahhh,,,” Andini yang tidak dapat menahan rangsangan dari jemari Munaf kembali merintih. Kocokannya pada penis Munaf bertambah cepat, membuat suasana semakin panas, berkali-kali Pak Prabu melirik Andini dan Aryanti dengan pandangan iri.
“Yeaaahhhh,,,,” sepertinya salah satu diantara kalian harus kembali ke pangkuanku, teriak Pak Prabu ketika berhasil mendapatkan kartu yang lebih bagus.
Namun permainan masih beberapa putaran lagi, Pak Prabu cukup kewalahan menahan birahinya yang tidak tersalurkan.  Teriakan Pak Prabu menyadarkan Dako dan Munaf yang asik mencumbu tubuh panas di pangkuan mereka. The game must go on.
“Hey,,, rasanya tidak adil bila kita tidak berbagi dengan Pak Prabu, bukan begitu Aryanti?”
Aryanti menjadi bingung, apalagi yang akan dilakukan Dako pada dirinya.
Tiba-tiba Dako menyuruh Aryanti berdiri merubah posisi dengan mengangkangi kedua pahanya, membuat penisnya menyundul tepat di bawah vaginanya.
“Krraaaaakkk,” Aryanti terkaget, dengan kasar tangan Dako merobek leggins nya tepat di tengah selangkangannya, dan dengan cepat Aryanti menutupi celana dalam berwarna putih yang telah basah dari tatapan mata Pak Prabu.
“Dakoooooo,,,,,” Aryanti berteriak keras, untuk kesekian kali pria itu membuatnya malu. Namun disambut decak kagum dan gelak tawa Pak Prabu dan Munaf.
“Ayolah,,, bukankah kau ingin membantuku untuk mengalahkan Prabu,” bisik Dako sambil menarik kedua tangan Aryanti yang menutupi selangkangannya.
Sambil membuang muka kesamping Aryanti menarik tangannya, dan terpampanglah celana dalam yang sudah sangat basah, sehingga mencetak sebuah garis yang melintang tepat di selangkangannya. Beberapa rambut kemaluannya mengintip keluar.  Dada Aryanti semakin bergemuruh, saat menyaksikan nafas Munaf dan Pak Prabu mendengus penuh nafsu memandang selangkangannya yang terbuka bebas.
“Tatapan mereka seperti ingin melumat vaginakuuu,,, Uuuhhhh,,, permainan ini benar-benar membuatku gila” dengus hati Aryanti yang terbakar birahi.
Ingin sekali Aryanti membuka kain terakhir yang tersisa untuk memberikan hiburan kepada teman-teman suaminya itu, namun rasa malu masih merajai hatinya. Dengan sedikit gerakan Dako berhasil membuat penisnya menyembul, tepat didepan kain penutup vagina Aryanti yang telah basah, seandainya tidak ada kain tipis berwarna putih itu, pastinya kedua kulit mereka akan bertemu. Dengan sedikit malu Aryanti kembali meremas penis unik yang menggeliat manja didepan vaginanya.

“Ooohhh yeeaaahhh,,,” Sako memegang pinggul Aryanti dengan kuat,
Aryanti tidak hanya mengocok penisnya, namun berulangkali menggesekkan batang itu kevaginanya yang terbalut kain tipis. Kartu yang dipegangnya tergeletak di meja ketika tangannya terayun ke belakang untuk menjambak rambut Dako, lenguhan semakin sering terdengar saat tangannya terlalu keras menekan batang Dako ke vaginanya. Aryanti tidak berani bertaruh apakah dirinya mampu bertahan dengan godaan ini, apalagi setelah Pak Prabu juga mengeluarkan penisnya yang besar diselimuti kulit yang kecoklatan, dipenuhi dengan rambut-rambut yang mengelilingi tongkat kebanggaannya. Persis seperti miliknya yang sangat rimbun. Aryanti bergidik, menatap batang kekar yang cukup besar, mungkin seukuran milik Arga hanya saja milik Pak Prabu belum disunat. Tapi saat ini dirinya hanya dapat menyaksikan bagaimana tangan Pak Prabu yang penuh bulu mengocok penisnya dengan cepat.
“Aku ingin batang itu lagi,,,” lirih Aryanti.
“Apaa?,,, kau ingin batang Pak Prabu lagi? Apa sebelumnya kau sudah pernah mencoba?,,” tanya Dako yang bingung.
“Ohh tidaak,, kau salah dengar,,”
Jawab Aryanti cepat, tidak berani berangan lebih jauh, saat ini saja dirinya sudah sangat malu, apalagi bila harus meminta Pak Prabu menghujamkan penis hitam itu ke kemaluannya.
“Aaahhhhh,,,,eehhhhmmm,,” terdengar teriakan tertahan dari mulut Andini, mengagetkan khayalan dan birahi Aryanti.
Tanpa sepengetahuan Aryanti, Dako dan Pak Prabu, Rupanya Andini yang sudah tidak mampu menahan birahi akhirnya menyerah, dan mengijinkan Munaf untuk menghujamkan penis ke liang kemaluannya. Lagi-lagi rok mini itu berhasil menyembunyikan bagaimana beringasnya penis Munaf menjelajah masuk ke kemaluan mungil gadis muda itu. Meski Dako, Munaf dan Aryanti sangat tau dengan apa yang tengah dialami Andini, namun tetap saja wanita muda itu terlihat malu-malu untuk menunjukkan ekspresi kenikmatan yang tengah melanda tubuhnya. Tidak ada gerakan dari pantat itu, namun membiarkan batang penis milik teman suaminya itu menghujam keras di belahan vagina.
“Ooowwwhhh,, itu pasti sangat nikmat,” gumam Arga saat teringat bagaimana batangnya berhasil menyelinap masuk ke dalam kemalaun Andini, dan berhasil memenuhi rahimnya dengan sperma.
Munaf menyelipkan empat lembar kartu yang dipegangnya pada rok Andini, membuat gadis itu terlihat semakin nakal. Kini tangan yang telah bebas itu mulai memegang pinggul Andini dan mengayun pelan, mengomando Andini untuk bergerak ke depan dan ke belakang dengan malu-malu. Semua pandangan tertuju kearah Rok Andini yang mulai berkibar mengiringi goyangan yang kini semakin cepat. Dengan matanya Pak Prabu mencoba memberi isyarat kepada Munaf untuk menyingsingkan kain yang sangat mengganggu pandangannya. Andini yang rupanya sempat membaca isyarat itu segera memegang roknya dengan kuat. Dirinya terlalu malu bila vaginanya yang merah merona tengah melumat penis yang bukan milik suaminyam, menjadi tontonan.
“Apakah kau tidak ingin sedikit berbagi dengan Pak Prabu, lihatlah wajahnya yang memelas untuk sebuah pemandangan indah dari tubuhmu,” rayu Munaf.
Namun Andini tetap kekeuh memegang erat kain roknya dengan tubuh yang terus bergoyang ke depan dan belakang yang diarahkan oleh lengan Munaf pada pinggulnya.

Posisi ini memang cukup sulit jika si wanita tidak berperan aktif menggoyang tubuhnya, tak perlu waktu lama tubuh Munaf telah bermandi keringat. Tapi dirinya tidak memiliki pilihan lain selain posisi ini. Tapi tetap saja, perubahan wajah Andini yang terkedang mendesah, meringis, bahkan sesekali menjerit memberi tanda kuatnya serangan Munaf di sela-sela pantatnya.
“Bila aku menjadi Andini tentunya akupun akan malu jika tubuhku yang tengah disetubuhi oleh orang lain menjadi tontonan,” ucap Aryanti sambil terus meremas batang Dako digenggamannya.
“Lalu kenapa tidak kau ambil selimutmu itu, dan biarkan aku bermain di kemaluanmu tanpa diketahui orang lain,” balas Dako cepat ketika melihat peluang.
“Hahahahaa,,,Tapi bukan itu yang kumaksud, tunggulah Munaf menyelesaikan aksinya, mungkin Andini akan sedikit berbelas kasihan pada dirimu,” jawab Aryanti sambil tertawa.
“Mba Aryantiii,, ga booleeeh cuurang yaaa,,” seru Andini yang terengah-engah meladeni serangan penis Munaf, tubuh indah itu tidak lagi bergerak maju mundur, tapi sudah mulai menghentak, dan terus semakin keras hingga membuat vaginanya yang belumur oli putih, mencengkram erat penis Munaf.
Rok mini itu tak mampu lagi melindungi tubuh pemiliknya setelah kedua tangannya berpindah ke pegangan kursi.
“Mbaaa Aryantiii,,, tolongin akuu mbaa,,” desahan Andini semakin menjadi, entah apa maksud teriakan permintaan tolongnya, karena sangat jelas jika wanita muda itu tengah menikmati permainan Munaf.
Permainan kartu itu sepertinya telah berhenti total, karena kini Pak Prabu pun sibuk memainkan penisnya sendiri. Tanpa diduga Aryanti berdiri dari pangkuan Dako, dengan cepat mengambil selimut tebal yang sangat lebar sehingga dapat menyembunyikan tubuh semampainya.
“Siaaaalll,,, itukan selimut kesayanganku, ngapain Aryanti membawa kesitu,” umpat Arga saat melihat selimut dengan gambar Hello kitty. (Weeww,,, )
Dengan cepat Aryanti membalutkan kain tersebut ke tubuhnya dan kembali ke pangkuan Dako, dengan sangat mesra Dako mempersilahkan Aryanti untuk duduk di atas pangkuannya, dan kembali ke posisi semula, memangku dan dipangku.
“Aku rasa aku dapat memberikan permainan yang lebih hebat dari mereka,” bisik Dako sambil menggigit telinga Aryanti.
“Oh yaaa,,, dengan kain ini kurasa kau dapat dengan bebas membuktikannya,” seru Aryanti sambil tertawa nyaring.
Hati Arga memanas, bagaimana mungkin istrinya bisa begitu mesra terhadap Dako sahabatnya. Kini dua tubuh yang berselimut kain itu tampak sibuk dengan aksi mereka. Kepala Dako menghilang ke dalam selimut, lidahnya menjangkau puting Aryanti, membuat wanita terpaksa sedikit memiringkan tubuhnya, menyambut keinginan Dako.

Dari sela-sela kursi yang tidak tertutup selimut Arga dapat melihat bagaimana lidah Dako bermain-main dengan sepasang payudara yang selama ini selalu dibanggakannya. Sementara tangan Aryanti memeluk kepala Dako dengan erat, memaksa kepala itu tidak pergi jauh dari kedua putingnya.
“Kyyaaaa,,,Dakooo”,,,
“Yeeeaaahhh,,,,”
Teriakan Aryanti disambut dengan pekik kemenangan Dako, lengan kanannya muncul dari balik selimut dengan membawa serta sepasang kain, dengan semangat Dako mengibarkan kedua kain itu ke atas sambil tertawa riang.
“Sudahlah,,, kau hanya membuatku malu,,,” teriak Aryanti berusaha merebut kain tersebut. Namun dako terlebih dahulu melempar kain itu ke arah Pak Prabu.
Arga semakin terkesiap, ketika kedua lengan Pak Prabu merentangkan kain yang tidak lain adalah leggins dan celana dalam Aryanti.
“Arga pernah bertanya kepadaku, milik siapa yang lebih nikmat, apakah milik Zuraida istriku, ataukah milikmu ini,” ucap Dako pelan sambil tersenyum, tangannya mengusap-usap bibir klentit Aryanti yang sudah sangat basah.
“Owwwhhh,, yaaa?,,,kurasaaaa,, sebelum Arga dapat membuktikannya, Emmmhhh,,, kau bisa lebih dulu untuk menilai milik siapa yang lebih nikmat,,,”
Dada Aryanti bergemuruh seiring tubuhnya yang mengangkat sedikit pinggulnya,, dengan kepala tertunduk kebawah seakan ingin memastikan sesuatu yang ada diantara tubuh mereka dapat melakukannya tugasnya dengan baik.
“Oooowwwhhhhssss,,,Ughh,,Yaaa,, sedikiiit lagiiii, yeaahhh,,,,” teriak Aryanti.
“Aaaaaakkkhhhhh,,, Dakooo,,,”seketika kepalanya terdongak keatas. Dako tersenyum puas, sesaat tubuh keduanya terdiam saling meresapi kenikmatan yang tengah terjadi.
“Aryantiiii,,,” gumam Arga lirih, saat mendengar bibir istrinya yang memproklamirkan kenikmatan dari batang yang berhasil masuk kedalam kemaluannya.
Arga merasa benar-benar kacau, disaat hatinya begitu sakit, penisnya justru mengeras dengan sempurna.
“Akhirnya kau berhasil menempatkan senjatamu dikemaluanku, kau telah mendapatkan tubuhku,” bisik Aryanti, kedua telapak tangannya mengelusi wajah Dako dengan penuh birahi.
“Bukankah kau memang menginginkan ini, sebuah petualangan yang panas,” balas Dako, tangannya tidak lagi memegangi selimut yang menutupi tubuh mereka, telah masuk ke balik kaos Aryanti, merabai punuk, punggung, pinggul hingga pantat Aryanti, meresapi dengan sepenuh hati keindahan dan kemulusan kulit pegawai bank swasta tersebut.
“Aku juga pernah mendengar dari Arga, vaginamu memiliki kemampuan yang jarang dimiliki oleh wanita lain, jika kau tidak keberatan aku ingin sedikit merasakannya,”
Kening Aryanti berkerut tidak mengerti. Pinggulnya mulai bergerak. “Bukan,, bukan itu yang kumaksud,” sergah Dako cepat, seraya menahan pinggul Aryanti.
“Lalu,,,” Aryanti semakin, bingung, namun dinding vaginanya berkedut setelah merasakan pergesekan dua kulit kemaluan, otot vaginanya berkontraksi. “Yaa,, terusss,,, Aaahhh,,, empotan ini yang membuatku penasaran selama iniii,,,”
“Hahahahahaaa,, berarti kau sudah lama ingin mencicipi tubuhkuuu,, sekarang nikmatilah sepuasssmuuu,,, eeeemmhhhh,,,” Aryanti tersenyum genit, tubuhnya tak bergerak, tapi otot vaginanya membetot erat batang Dako,, melonggar,, dan kembali mencengkram dengan kuat, membuat Dako mendesah nikmat. “Oooowwwhhhh,,, gilaaaa,,,”

Kini selimut itu hanya menutupi bagian bawah tubuh mereka. Sesekali kepala Aryanti menoleh ke arah Pak Prabu dan memainkan lidahnya dengan nakal, menggoda pria yang hanya bisa memegangi penisnya sendiri.
“Baiklah, aku menyerah, permainan usai, boleh aku bergabung dengan salah satu dari kalian,” Pak Prabu berdiri dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Penisnya yang hitam besar dengan congkak menantang ke depan. Namun harapannya pudar saat melihat Aryanti yang begitu erat menempel ketubuh Dako, kembali bergerak liar, mengacuhkan semua yang ada disitu, Dako sendiri tampak kewalahan dengan hentakan tubuh Aryanti yang bergerak cepat. Tak ada lagi rasa malu pada wanita itu. Yang ada hanya bagaimana cara untuk mendapatkan orgasme ternikmat yang bisa diberikan oleh penis selain milik suaminya. Kini harapan Pak Prabu hanya pada Andini, yang juga tak lagi mampu mengontrol birahinya, pinggulnya bergerak maju mundur, bermain-main dengan penis Munaf yang sesekali membuatnya berteriak nikmat. Dengan nakal Andini mengangkat tangannya dan dengan telunjuknya memberi tanda larangan. Bibirnya masih tersenyum dengan selangkangan yang kembali bergoyang mengiringi semua kehendak Munaf.
”Muungkiiin,, Andiniii bisaa membantu Baapaak,” suara Aryanti tersengal-sengal.
”Aaahh,, kenapa dilepaaasss,” rengek Aryanti tiba-tiba saat Dako mengangkat tubuhnya hingga batang yang memenuhi rongga vaginanya terlepas.
”Kenapa kau bisa begitu pelit dengan bos dari suamimu, berilah dia sedikit tontonan mungkin itu bisa sedikit membantunya.”
“Yup,, sekarang saatnya show,” teriak Dako dan seketika melempar selimut yang menutupi tubuh mereka.
Dan tampaklah tubuh Aryanti yang berjongkok di atas kedua paha Dako, memamerkan vagina yang menganga basah, berhadapan dengan penis Dako yang dipenuhi lendir senggama Aryanti
”Kyaaaaaaa,,,” Aryanti berusaha meloncat, dan mengambil selimut yang terlempar ke arah Pak Prabu.
Namun Dako sudah lebih siap dan menekuk tubuhnya, hal ini justru membuat penisnya tertanam semakin dalam dan seakan mengunci tubuh Aryanti.
”Hahahahaaa gilaaaa kauu Dakoooo,, Aku maaluuu tauuu,,, punyaku lebaaat kaya giniii,” jerit yang diselingi suara tawa Aryanti memenuhi ruangan yang penuh aura birahi.
Sambil menutupi kedua wajahnya Aryanti mencoba menutup kedua lututnya, dari sela jemarinya Aryanti mengintip Pak Prabu yang melongo memandang tubuhnya penuh rasa kagum. Sepasang paha yang begitu mulus berujung pada selangkangan yang merekah dengan rambut kemaluan yang rimbun. Sementara pintu vaginanya terbuka lebar seakan ingin melahap batang kokoh yang ada di depannya.
”Whuaahhaaha,,, Dakooo,,,” lagi-lagi Aryanti dibuat terpekik dan tertawa setelah kedua pahanya di angkat ke atas dan terbuka lebar, membuat Pak Prabu sekilas dapat dengan jelas melihat setiap sisi pintu vagina yang mengkilat.
Kini hanya kaos longgar yang menutupi bagian atas tubuhnya, sementara bagian bawah tubuhnya terpampang di hadapan dua pria perkasa, dengan selangkangan yang terbuka lebar, seakan pasrah menerima setiap hujaman penis. Sungguh dirinya merasa sangat malu, belum pernah seumur hidupnya tubuh indahnya dapat dinikmati dengan bebas oleh para lelaki, tapi ini terlalu menantang untuk dilewatkan.

Darahnya berdesir, terbesit dalam hati untuk membiarkan tubuhnya dinikmati oleh mereka secara bersamaan, seperti yang ada diotak liarnya selama ini. Dan kini salah satu penis telah berada dalam tubuhnya, mungkinkah dirinya memohon penis yang telah siaga didepannya untuk ambil bagian masuk ke dalam lorong tubuhnya yang lain. Namun Aryanti teralalu malu untuk meminta itu, tapi jika tidak sekarang, kapan lagi dirinya bisa mewujudkan keinginan liarnya.
“Apakaah kau bisa membuatnya semakin bergairah dengan aksi nakal mu?,,,” bisik Dako menggoda Aryanti.
Aryanti menarik tangannya, membiarkan vaginanya terekspos bebas, lalu kedua tangannya menarik setiap sisi pintu vaginanya, hingga lorong gelap yang mengalirkan cairan dapat terlihat oleh mata Pak Prabu.
“Batang bapak ingin dilumat seperti ini?,,, Oooowwwhhhh,,,,” dengan sangat perlahan kemaluan Aryanti yang terpapar melahap batang Dako,, sangat perlahan, seakan sangat menikmati setiap inci gesekan kulit kedua kelamin.
”Uuuhhh,,,” bibirnya melenguh saat batang Dako tiba-tiba menghentak.
Wanita yang tengah dipenuhi birahi itu tak mampu lagi untuk berfikir, kini dirinya hanya bisa pasrah menerima perlakuan Dako yang juga tersulut aksi nakalnya. Aryanti memandang wajah Pak Prabu dengan nafas terengah, bersahutan dengan suara kecipak kemaluan yang basah. Andaipun Pak Prabu ingin ambil bagian atas tubuhnya, Aryanti tak yakin dirinya mampu menolak.
”Yeeaaaahhhh,,,, aaaggrrhh,,,” Suara Munaf melengking, tubuhnya bergetar hebat, memeluk gadis yang menelan penisnya disela selangkangan dengan erat. Jemarinya dengan kuat meremas payudara yang ada di genggaman seakan menjadi pelarian dari rasa nikmat yang dirasakan seluruh tubuhnya.
Namun tidak begitu halnya dengan Andini yang masih sibuk mengejar orgasme. Pantatnya masih bergerak, menggesek dan menghentak batang yang ada didalam tubuhnya, berharap penis itu dapat menghantarkan kenikmatan serupa. Namun batang itu mulai mengecil sang empunya pun hanya dapat tersenyum kecut mengakui kekalahannya. Melihat peluang itu, Pak Prabu dengan cepat menarik tubuh Andini dari pangkuan Munaf. Tak pernah terpikir olehnya jika kini dirinya dapat menikmati tubuh dari istri keponakannya. Tanpa diminta Andini yang dibaringkan di atas karpet lantai, membuka selangkangannya selebar mungkin, memberi tempat kepada tubuh pak Prabu yang terbilang besar, agar dapat menempatkan pinggulnya didepan selangkangannya yang terus berkedut minta diisi, berusaha memberikan akses seluas-luasnya kepada batang besar yang menghitam dan penuh dengan rambut yang mengelilingi. Namun tetap saja penis itu agak kesulitan menerobos lubang yang terbiasa dengan batang yang memiliki diameter lebih kecil.
“Uuugghhh,, tekan aja om, punya Dini bisa nelen punya om koq,,” suara Andini merintih. Gadis itu tau jika lelaki yang ingin menikmati tubuhnya ini tak ingin menyakitinya.
Tapi Andini sangat yakin jika vagina mungilnya mampu menampung seluruh diameter batang itu. Seperti saat Arga menghujamkan batangnya dikolam renang, meski sangat sulit akhirnya lelaki itu dapat bersemayam divaginanya, tepat didepan suaminya.

“Aaaarrrgghhh,,, Ooomm,,,,,eehmmh,,,,” Seluruh tubuhnya bekerjasama, berusaha menyelusupkan penis Pak Prabu jauh kedalam lorong kemaluannya. Pahanya dengan keras menjepit pinggul, tangannya dengan kuat menekan, dan selangkangannya terangkat bergoyang, bibir vaginanya menganga lebar menyambut batang yang begitu susah payah menghadapi otot vagina yang tiba-tiba menjepit saat merasakan sebuah benda menggasak dinding-dinding yang sensitif.
“Bisakan Ooom,, Eeehhh,” tubuh Andini bergetar, bibirnya mengerang penuh birahi saat merasakan batang besar itu akhirnya berhasil menerobos celah sempit yang telah basah oleh sperma Munaf.
“Uuugghh,,” Namun Pinggul montoknya sekali lagi menghentak keatas saat merasakan masih ada bagian dari rongga vaginanya yang kosong dan tentunya batang Pak Prabu masih terlalu panjang untuk lorong vagina Andini yang dangkal.
“Arrggghhhh,,,Adduuuuuuuhhhh,,Aaaaaaahh,,,” jemari kecilnya mencengkram pantat Pak Prabu seiring tubuh yang bergetar hebat menyambut orgasme yang sangat tiba-tiba dan begitu mudah menghampiri syaraf ektasinya.
Pak Prabu tertawa dengan ulah Andini, menikmati batang yang diguyur oleh cairan birahi Andini yang cukup banyak. Sesaat dibiarkannya tubuh sintal itu menikmati orgasmenya.
“Sekarang giliran Om ya,” ucap Pak Prabu sambil menggoyang-goyang batang yang menghujam jauh ke dalam kemaluan Andini.
Sementara gadis yang begitu pasrah ditindih oleh paman dari suaminya itu hanya tersipu malu, dengan malu-malu tangannya merabai tubuh besar yang selama ini memang menghantui fantasi seksualnya.
”Aaauugghh,,, udah mentok om, jangan terlalu dalam, ntar punya dede sakit,” Prabu tersenyum dengan kalimat manja yang begitu saja terlontar.

hilda - toge jilbab (2)
Kedunya melihat ke bawah menyaksikan bagaimana batang besar itu menggasak pintu vagina yang dipaksa menelan batang yang lebih besar dari biasanya. Perlahan Prabu menarik pinggulnya, belum sempat helm besar itu keluar, pinggulnya kembali menghujam jauh ke dalam.
“Ooomm,, gede banget om,,, seperti punya Pak Arga,, Adduuuhh,,Aaahhh,,”
“Arga?,,, apa Arga sudah pernah menyetubuhi mu?,,,”
“Ststsssss,,, jangan kenceng-kenceng, entar kedengeran sama Mba Aryanti,” Andini mengutuki kecorobohannya menyebut nama Arga.
“Hahahaaa,, dasar kau Arga,, jangan-jangan kedua istriku juga sudah kau cicipi,” gumam Pak Prabu. Lalu menghentak batangnya dengan lebih keras dan cepat.
“Ooomm,,, pelan Ooomm,, memek Andini ntar jeboooll,, aaagghhhh,,,” gadis itu meringis menahan perih didinding rahimnya yang digedor-gedor. Apa semua batang besar emang beringas seperti ini, pikir Andini yang kewalahan, berpegangan pada pundak Pak Prabu.

Melihat aksi Pak Prabu, Aryanti menjadi semakin panas, iri melihat kemujuran Andini yang hanya dalam beberapa menit bisa menikmati dua buah batang.
“Aaaggghhhh,,, Dakooo,,, lalkukan apapun yang ingin kaauuu lakukaaaannn,, Aaaahhh,,,”
Wajah Andini memucat, puncak birahi tengah menantang pertahanannya, namun akhirnya harus menyerah dalam lenguhan yang panjang.
“Oooommm,,, Andiniiiii,,, keluaaaaaarrrr,, Aaagghhhh,,,” pangkatnya terangkat tinggi menantang hentakan batang Pak Prabu. “Aaahhh,,, Ahhh,,, ga Kuat lagi Oommm,,” rintih Andini menyerah, vaginanya terasa panas akibat gesekan yang terlalu ketat dan cepat.
“Mbaaa,,,Aaarrr,, tolongin aku mbaaa,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, keluaaaar lagiiiii,,,,”
Rintih gadis itu dengan nafas terengah, tak menyangkan orgasme begitu cepat, silih berganti menyapanya, membuat tubuhnya terasa begitu lemas. Sementara Pak Prabu terus saja menghajar vagina mungil itu, semakin bergairah melihat rintihan Andini,”
“Dakooo,,, Aaahhhsss,,, apa kauuu ingiiiin sediiikit berbaaaagi dengan Pak Prabuuuhhhh?,,, aku haaanya ingin membantu gadis itu,” rintih Aryanti.
“Boleh,, tapi setelah aku selesaaaii menikmati vaginamu iniii,,,”
Dako jelas menolak jika kenikmatannya terpotong oleh Pak Prabu.
“Tak perluu takuuuut,,, bahkaaan kau akaaan merasakaaann apa yaaang tidak pernaaahhh diberikaaan istrimuuu Zuraidaaa,,,” jawab Aryanti, lalu melumat bibir Dako dengan ganas.
Ploopp….batang Dako terlepas, tapi belum sempat protes, Aryanti telah menggenggam penisnya, lalu mengarahkan ke pintu belakang.
“Masukkan dengan perlahaan, sayaaang,,” bisik Aryanti dengan nakal.
“Ooowwwhhhh shhhiiiitttt,,,” teriak Dako, saat kepala penisnya perlahan menghilang ditelan pintu anus yang telah lama ingin ikut dihajar.
“Aaaahhh,,, gimaaanaaa,, apa kaauu sukaaa,,aaaahhh,,,”
“Sempiiiitt,,, sempiiit bangeeeett,,, ini nikmaaat bangeeet,, kau nakaaaal Aryantiii,,”
Aryanti terkekeh disela lenguhannya, mendengar pengakuan Dako yang mencengkram pinggulnya Aryanti, agar menghentak lebih kuat.
“Sekarang undanglaaahh Pak Prabuuu untuk bergabuuung,,,”
“Apa kaauu yakinnn,,,”
“sangaaat yakiiinnn,,, akuuu bisaaa meladenii keberingasaaan kaliaaan berduaaa,,,” lenguh Aryanti yang benar-benar terlihat nakal.
“Pak Prabuu,, ada yang menantang kita berdua nihh,,, Apa kau beranii,,” teriak Dako, membuat gerakan Pak Prabu terhenti tepat disaat lenguhan Andini yang kembali mendapatkan orgasmenya.
“Hahaahahaaaa,, aku tak menyangka, jika istri Arga bisa sebinal ini,,,Okkeee,,, Dakoo, kita penuhi tantangan teller Bank cantik ini,” Pak Prabu menjawab sambil tertawa melihat Aryanti menggosok-gosok bibir vaginanya, sesekali menguak pintunya sebagai tantangan pada Pak Prabu. Sementara anusnya membetot batang Dako dengan sempurna. Lelaki paruh baya itu mengecup bibir Andini yang tersenyum lemah, setelah tenaganya dikuras rentetan orgasme, lalu melepaskan batangnya, beranjak menuju kursi Dako dan Aryanti sambil terus mengocok batangnya yang penuh lendir milik Andini.
“Sayaaaang,,, apalagi yang kau inginkaaan,,” tak pernah Arga secemas ini,,, tanpa sadar lelaki itu mencengkram tepian meja dengan begitu kuatnya.

Kini batang besar Pak Prabu telah berada tepat didepan wajah Aryanti.
“Cobalahh dulu dengan bibirmu ini,, bial kau mampu melahapnya, kurasa bibir bawahmupun takkan kesulitan,”
Mata Aryanti tersenyum nakal, jemarinya dengan gemulai meraih batang Pak Prabu dan menariknya ke atas, dengan tenang gadis itu menjulurkan lidah, perlahan mendekat, menyapa kantong zakar Pak Prabu,menyentil-nyentil kedua bola sambil melirik wajah Pak Prabu dengan genit. Lalu perlahan menyisir keatas, menyapu setiap gumpalan lendir putih, hingga akhirnya sampai pada kepala penis yang menyembul disela kulup yang tidak disunat, Aryanti mencengkram batang Pak Prabu dengan kuat sebelum akhirnya kepala penis itu masuk kedalam mulut Aryanti yang panas.
“Aaaaagggghhhhh,,, gilaaaaa,,,Argaaa,,, istrimu benar-benar dahsyaaaaat,,, aaarrgghh,,” Pak Prabu tak tahan melihat ulah Aryanti, lalu mencengkram rambut wanita.
“Nikmatilaaahh,,, rasakanlaaaahh batangkuuu,,,Aaaagghhh,,” Pak Prabu dengan sangat bernafsu menyenggamai mulut Aryanti. Batangnya keluar masuk dengan cepat.
“Gila, ini memang sudah benar-benar gila,” gigi Arga gemeretak menahan amarah, tetapi tangannya bergerak mengurut penisnya yang membatu.
Tak tahan melihat kenikmatan yang diperoleh Pak Prabu, Dako kembali mengangkat pinggul Aryanti, meminta wanita itu kembali bergerak.
“Aaaaggghhhh,,, kau nakal Yaaaan,, bener-bener nakaaal,,,” dengus Dako dengan pantat naik turun menghajar dubur Aryanti. Pantat Aryanti terdiam, pasrah dengan serangan Dako di belakang tubuhnya yang semakin cepat.
“Yaaaantiiii,,, Bapaaak Semprooot yaaann,, telaaaannn,,,Arrrgghhhh,,,”
Sontak wajah Aryanti terkaget, matanya melotot saat tiba-tiba batang besar dalam mulutnya menghambur cairan kental yang panas, memenuhi mulutnya. Tapi bibir Aryanti justru semakin kuat mengatup rapat batang Pak Prabu, seakan tak ingin setetespun keluar dari bibirnya, sesekali meneguk cairan yang memenuhi mulut, mengalir membasahi tenggorokannya, disambung dengan tegukan berikutnya, matanya menatap wajah Pak Prabu yang terengah-engah penuh kepuasan dengan heran.
“Gilaaa,, banyak banget spermanya,” gumam Aryanti yang kini bibirnya berusaha menyedot, memaksa sperma yang tersisa untuk keluar.
“Aaaaarrrgghhhhh,,, Yaaaann,,, aku jugaaa gaa kuaaaat laggiii,,,” Dako menarik turunkan pinggulnya dengan semakin cepat. “Oooowwwgghhhhh,,, Yaaaannn,,,”
Sadar jika Dako juga tengah menghantar orgasme di anusnya, Aryanti menekan pantatnya semakin kebawah, melumat habis batang, membuat Dako semakin kesurupan dan akhirnya memeluk tubuh Aryanti dari belakang dengan kuat seiring spermanya yang mengalir deras. Dengan usil Aryanti memutar-mutar pantatnya, membuat Dako semakin tersika dalam kenikmatan.
“Bajingaaaaann,,,” rutuk Arga saat menyaksikan bagaimana temannya orgasme dengan begitu dahsyatnya didalam tubuh istrinya. Kakinya gemetar.
Sementara lantai di depannya berceceran sperma yang kental… ya sperma Arga yang turut menghambur, seiring teriakan nikmat kedua temannya.
“Aaahhh,, payaahh,, baru segitu aja sudah tepar,,,aku kan belum apa-apaaa,, kalian tak ada apa-apanya dibandingkan keberingasan suamiku di atas ranjang,,” dengus Aryanti, lidahnya masih menjilati lubang kencing Pak Prabu, sementara pantatnya masih bergerak ke depan dan ke belakang, memainkan batang Dako, yang tersandar di kursi menikmati keindahan pantat montok Aryanti yang begitu sensual bergoyang.

Di balik persembunyiannya Arga tersenyum kecut, tapi tetap saja kata-kata Aryanti membuatnya bangga, sedikit mengobati hati yang remuk redam.
“Kenapa cantik,, kesal yaaa?” Ledek Pak Prabu, seraya menarik kaos Aryanti keatas.
“Aku yang kanan!!!,,,”
“Okeee,, Aku yang kiriii,,”
“Oooowwwhhhhsssss,,, kaliaaaannnn iniiii,,,” Aryanti terpekik seketika, kedua payudaranya dimainkan oleh Pak Prabu dan Dako bersamaan, seperti anak kecil yang berebut bakpao besar.
“Heeeiii,,, kenapaa batang kalian masih sangat kerass?,,,” Aryanti terkaget saat menyadari batang besar yang kini mengusap-usap pipinya dan batang yang bersemayam dalam anusnya ternyata masih tetap seperti semula, keras menantang.
“Jangaaann,, jangaaaann,,, owwhhh tidaaak,,, apa kalian jugaa meminum jamu Lik Marni?,,,”
Pak Prabu tertawa, tidak menjawab pertanyaan Aryanti. “Siap untuk pertarungan yang sesungguhnya cantik?,,” wajah Aryanti tiba-tiba sumringah, jantungnya berdetak keras, merinding membayangkan permainan seperti apa lagi yang akan terjadi.
“Dako,, apa kau ingin bertukar tempat?”
“Ohh tidak,,trimakasih,,, aku masih belum puas menikmati pintu belakang ini, lagipula,, Sepertinya Aryanti juga belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Aryanti tersipu malu, dalam fantasi gilanya, hasrat akan permainan seperti ini memang telah lalang merongrong hatinya. Wanita itu membuka kedua kakinya, mempersilahkan Pak Prabu untuk mengambil tempat di antara selangkangannya.
“Ooowwwhhhhsss,,,, batangmu mulaaaaiii membuaaaatss tubuuuhh ku begitu penuhhh Paaak,,,” rintih wanita itu, seiring batang Pak Prabu yang merangsek memaksa masuk lorong vaginanya, bersaing dengan batang Dako yang menjajal lorong anusnya.
“Ooopppsss,,, Shhiiitttt,,, ini benar-benaaar gilaaa,,, adegan seperti ini sering kulihat di videoo,, tapi tidaaak menyangka jika bakal sedahsyat ini,,, bukan begitu Pak Prabu,,? Tangan Dako meremasi payudara Aryanti, matanya terpejam menikmati batangnya yang semakin tergencet di lubang belakang Aryanti.
“Yeeeaaahhhhh,,, ini benar-benar dahsyaaaaat,,,eeeengggghhh,,,tubuhku berhasil melumat batang kaliaaann,, Oooowwwhhhh,,, tidaaaakk,,,”
Tubuh Aryanti bergetar, saat merasakan batang Dako dan Pak Prabu yang bekerjasa, keluar masuk menusuk tubuhnya begitu dalam.
Layaknya dua buah piston yang begitu teratur, bergantian menusuk tubuh basah Aryanti.
“Paaaaakk,,, jaaangaaaaannnn,,,”
Mata Aryanti melotot, berusaha menahan rasa nikmat dari aksi brutal teman-teman suaminya, terlihat jelas bagaimana wanita berkeringat itu menahan orgasme yang menggulung. Yaaa,, Aryanti tidak ingin takluk terlalu cepat dalam himpitan dua tubuh lelaki.
“Aaaaggghhhh,,, Dakooooo,,,, sakiiiiittt,, kau curaaaaang,,,,Emmmmhhhh,,, ”
Aryanti merintih tertahan merasakan putingnya yang digigit oleh Dako, tapi justru karena itulah Aryanti menuai orgasme.
“Hahahahahaa,,, bagaimana sekarang?,,,” tanya Dako, tangannya seakan tak puas terus meremasi payudara Aryanti.
“Sepertinya dia memang kewalahan meladeni kita,, Hahahaa,,,” timpal Pak Prabu, melepaskan batangnya dari jepitan Aryanti.

“Hehehehehee,, jangan bercanda, posisi kita semua sekarang adalah sama, 1-1,,,” jawab Aryanti terengah-engah, Aryanti menarik leher Pak Prabu mendekat, lalu melumat bibir atasannya itu dengan liar.
“Eeeemmmppphhhh,,,, masukkan kembali batangmu ketubuhhh kuuuu,,, Aaaahhh,,, yaaa,, aaakuuu beluuumm,,, menyeraaaahh,,”
Tubuh Aryanti kembali terhempas, kakinya yang menopang tubuh gemetar, terombang-ambing di antara dua serangan pejantan. Mulutnya bergantian meladeni permainan lidah Dako dan Pak Prabu. Hingga beberapa menit selanjutnya Dako berteriak frustasi. Hidung Dako terbenam di ketiak Aryanti membaui aroma wangi keringat dari tubuh istri Arga itu, tapi justru membuat pertahanannya semakin melemah, tak mampu lagi menahan kenikmatan yang ditawarkan anus Aryanti.
“Siaaaalll,,, akuuu ga kuaaaat lagiiii,,,”
Pak Prabu pun tak jauh berbeda, hidungnya mendengus liar dengan mulut tersumpal jari-jari kaki Aryanti yang dijilatinya. Tanganya memeluk dan mengelusi sekujur batang paha yang mulus, sementara pantatnya seakan tak terkendali merojok kemaluan Aryanti, “Shhiaaaaalllhhhh,,,,” Pekik Pak Prabu tak jelas. Kondisi Aryanti yang lebih tragis, harus menggigit bibirnya coba mengenyahkan rasa nikmat, orgasme dapat menyapanya kapan saja. Menaklukkan kejantanan kedua pejantan itu adalah tekadnya, tapi tubuhnya berkata lain.
“AAAAGGGGHHHH,,,, TUUUSSSUUK YAAAANG DAAAAALAAAAAMMM,,,”
“AAAAKUUU MENYEEERAAAAAHHH,,, OOOWWWHHHHSSS,,,,, EEMMMHHHH,,,”
“UUUGGGHHHH,,, GILAAAAA KAAMUUUU YAAAAAANNNN,,,,GIILAAAASSSHHH”
Ketiga anak manusia itu menjerit bersamaan, menjepit tubuh mulus yang berkelojotan, bermili-mili sperma menghambur ke dalam tubuh si betina yang terus menjerit histeris dengan orgasme yang paling gila, yang pernah dirasakan oleh tubuhnya. Hingga tak ada lagi kata-kata yang keluar, hanya dengus nafas yang berebut mencari oksigen. Sesekali pinggul kedua pejantan masih bergerak mengejan, berusaha menyerahkan tetes sperma yang tersisa kedalam tubuh milik wanita cantik yang, terengah-engah sambil tersenyum penuh rasa puas. Jantung Arga seakan berhenti berdetak, kakinya serasa lumpuh, Wanita yang begitu berati dalam hidupnya, saat ini tampak bercucuran berkeringat, membisu dalam genangan lendir para pejantan. Tiba-tiba mata Arga menangkap kelebat bayangan dari jendela, bayangan yang tercipta oleh cahaya lampu luar yang menunjukkan keberadaan seseorang juga mengintip kejadian itu. Perlahan berjalan menjauh menuju tepian pantai.
“Siapa pula itu,,,” gumam Arga penuh curiga dan rasa was-was, takut bila pemilik bayangan itu adalah juga seorang pejantan, dan nantinya menagih hal yang sama kepada istrinya.
Arga menarik nafas panjang, menguatkan hati, baginya tak ada lagi yang harus dibuktikan. Mengendap-endap di kegelapan meninggalkan pergumulan panas Aryanti, berusaha menuju pintu dengan kaki gemetar.
“Aku rasa tubuhmu masih mampu untuk menahan beberapa serangan lagi,,”
Sebelum menghilang dibalik pintu, Arga kembali menoleh ke belakang, tampak Aryanti tersenyum lemas, tubuhnya terhuyung saat Munaf membaringkannya ke atas meja. Sementara di atas karpet lantai, Andini tersenyum pucat saat Pak Prabu dan Dako menghampirinya. Mata Arga menyapu pantai yang gelap. Sesekali mencoba mengatur nafas untuk meredakan emosi di hati, marah, kecewa, sedih, dan gelora birahi membaur di dada yang masih bergemuruh. Tertatih dalam samar cahaya bulan yang dilumat oleh awan mendung.

“Wajar saja Adit sampai pingsan,,” gumamnya sambil tertawa lirih. Teringat bagaimana ia menyenggamai istri Adit yang belia dengan penuh nafsu tepat di hadapan lelaki itu.
Meski Arga telah mencicipi beberapa wanita di petualangan pantai itu, tapi ternyata hatinya juga belum siap untuk menerima perlakuan yang sama atas istrinya. Begitupun saat birahi menyeruak dihatinya ketika menyaksikan pergumulan Aryanti, namun hatinya tetap saja terasa sakit saat melihat teman-temannya yang tertawa terbahak sambil menghamburkan sperma dan memenuhi kemaluan istrinya.
“Aryanti hanya sedang mabuk,,,” bisik Arga sambil berusaha tersenyum. Mencoba menguatkan hati, Kepalanya terdongak mencoba mengisi penuh rongga paru dengan udara pantai. Lalu menghembus dengan pelan.
“Argaaa,,,”
Deg!!!,,,
“Siapa?,,,” Arga menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya menyipit mencoba mencari tau saat mendapati sosok yang duduk bersandar pada sebuah pohon kelapa, yang baru tumbuh sepanjang tiga meter.
“aku,, Zuraida,,” suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar tergulung suara ombak.
“Heehh?,, Zuraida,, lagi ngapain disitu”
Arga mendekat, menghempas pantatnya di atas pasir, di samping dokter muda itu.
“Sebenarnya apa yang ada dibenak para lelaki, saat mendapati wanita yang mungkin saja dapat ditaklukkannya?,,,” tanya Zuraida lirih.
Arga mencoba mengamati wajah Zuraida namun tak terbaca di kegelapan.
“Apa kau juga melihat kejadian tadi?,,,” Arga justru balik bertanya. Mencoba menerka-nerka suasana hati istri temannya itu. Mungkin kondisinya juga tak berbeda jauh dengan dirinya.
“Yaa,, aku melihat semuanya,,,”
“Apa sih sebenarnya yang kalian rencanakan dalam liburan ini,,, kalian,, kaliaan,, begitu berbeda dengan keseharian yang kukenal,, begitupun Dako, suamiku, tidak biasanya dia meminta ini itu kepadaku,,”
DEGG!!!,,, Arga bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Zuraida, menatap lekat wajah bening yang menerima sinar rembulan, yang perlahan terbebas dari gulungan awan.
“Cantik,,” gumam lelaki yang tengah terluka itu, pesona keanggunan Zuraida, perlahan mengenyahkan perih hati.
Mata Arga mengaggumi lekukan dagu yang menjutai di bawah bibir yang mungil, menyusuri garis hidung mancung yang bertaut pada mata yang memiliki tatapan tajam, bulu mata lentik seakan semakin menyempurnakan kecantikan yang dimiliki seorang Cut Zuraida. Zuraida menoleh saat merasa dirinya terus diamati lelaki disampingnya, mendapati mata Arga yang penuh rasa kagum akan kecantikannya. Perlahan bulir air mata menggenang di pelupuk, menciptakan kilatan kecil yang mendayu.

“Apa kau ingin membalas ulah suamiku, atas istrimu?,,,” tanya Zuraida seiring air mata yang mengalir tak terbendung.
Arga terkaget dengan ucapan Zuraida, dan semakin kaget saat wanita itu dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas pasir, menarik turun risluiting sweater yang melindungi tubuhnya dari sergapan angin pantai. Arga menahan nafas ketika jemari lentik yang gemetar, dengan rasa takut wanita anggun itu menarik bagian bawah kaosnya ke atas, perlahan memapar perut yang rata dan mulus, terus naik keatas hingga tiba pada sepasang payudara yang didekap bra merah muda. Payudara yang kencang meski pemiliknya tengah berbaring, sedikit lebih kecil dari milik Aryanti. Tapi gumpalannya begitu sempurna. Wajah Zuraida menoleh menjauhi tatapan Arga, menatap gulungan ombak dengan tatapan kosong.
“Lakukankanlah, untuk memuaskan hasrat lelakimu,,, puaskan sakit hatimu pada suamiku,,, lalu anggaplah semua tidak pernah terjadi,” bibir Zuraida gemetar bergerak mengucap kata, dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Mata Arga melotot mendengar tawaran Zuraida yang pasrah, tubuh dan kecantikan wanita itu begitu sempurna di mata Arga. Aryanti memang cantik, tapi Zuraida memiliki keanggunan seorang wanita yang tidak dimiliki istrinya. Tangan Arga terkepal erat menahan birahi, tubuh itu, yaa tubuh itu telah menawarkan diri untuk dinikmati.
“Tutuplah tubuhmu,,, dan bangunlah,,, udara pantai terlalu dingin dan keras untuk tubuh indahmu,,”
JLEGG!!!….
“Juancuuk kau Argaaa,,,menolak tubuh seindah itu,,” setan dihati Arga menyumpah atas kata-kata yang mengalir dari bibir lelaki itu.

hilda - toge jilbab (1)
Arga benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkannya, sejak kapan ia menjadi seorang idiot seperti ini. Kecantikan Zuraida dan misteri keindahan tubuhnya yang bertahun-tahun menjadi fantasi, tersia-sia oleh ego kepahlawanannya.
“Ternyata benar,, kau memang berbeda,,tidak seperti mereka,,,” ucap Zuraida yang tergopoh bangun dan menutupi tubuhnya. Wajahnya memerah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya, seorang wanita baik-baik dengan pasrah menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati lelaki lain.
“Berbeda bagaimana?” Arga terkekeh mendengar kata-kata Zuraida, tak taukah wanita itu jika dirinya juga petualang birahi, bahkan sebelum menikah dirinya pernah membeli perawan seorang gadis kelas satu SMP hanya untuk memenuhi rasa penasaran.
“Yaa,, kau berbeda, saat teman-temanmu berlomba menggoda diriku di pantai ini, bahkan beberapa kali mencolek beberapa bagian tubuhku dengan alasan tak sengaja, tapi kau,,, justru lebih suka menyendiri. Tak mempedulikan aku dan wanita-wanita di sekelilingmu. Kau hanya peduli pada istrimu.

“Wuedaaaann,, kau salah Zuraida,,, di pantai ini justru akulah yang pertama kali menghambur sperma ke tubuh istri temanku,,” teriak hati Arga, namun tak berani terucap.
“Itu karena kau juga berbeda dari wanita lainnya,, kau begitu anggun, begitu sempurna di mataku,,,harus kuakui aku sangat mengagumi,”
Kata-kata Arga mengagetkan Zuraida, menatap wajah lelaki itu dengan hati tak menentu.
“Terimakasih karena sudah mengagumiku,,” ucap Zuraida dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang dingin membeku. “Tapi aku takkan mengulangi kebodohan diriku tadi, salahmu tak memanfaatkan kesempatan,, hehehe,,,”
Srsrsrrrrtttt… Zuraida menarik resluiting sweaternya, menutup rapat tubuhnya dari sergapan angin pantai yang dingin.
Arga tersenyum kecut, “Ingat ya cantik, Aku tak menyesal koq,, karena aku ingin terus mengaggumi,, maka tetap seperti ini,” ucap Arga seraya mengusap pipi Zuraida.
“Gombaaalll,,, baru kali aku mendengar kau menggombaaal,,hahahaa,,,” Zuraida tertawa melihat gaya Arga, tapi hatinya berdebar tak karuan, ada desir dihati yang telah lama tak dirasakannya.
“Hahahahaaa,,,” Arga ikut tertawa, sepertinya kedua insan itu sepakat untuk mengenyahkan sakit hati mereka terhadap pasangan masing-masing.
“Ayolah kita kembali,,, udara disini terlalu dingin untukmu, cantik,” ucap Arga, lalu beranjak, membersihkan celananya dari pasir.
“Arga,, tunggu,,” Zuraida menahan tangan Arga agar kembali duduk.
Sesaat Arga menatap mata Zuraida yang begitu dekat dengan wajahnya, menatap sendu, ada getar dari mata indah itu, yang tak bisa diartikan oleh Arga. Tanpa diduga bibir mungil Zuraida terbuka, mendekat, mengecup bibir Arga dengan lembut. Arga tersentak, bibir itu begitu lembut dan hangat.
“Boleh minta lagi?,,”
Zuraida tersipu malu, menunduk layaknya gadis belia yang baru mengenal cinta.
“Boleh?,,,” tanya Arga kembali sambil mengangkat dagu Zuraida.
Dada Zuraida berdetak cepat saat dagunya mengangguk, memberi izin pada Arga untuk menjamah bibirnya. Lalu terpejam ketika bibir Arga mengatup bibir bawahnya, melumat lembut, menyapu bibir nya denga lidah yang basah, perlahan masuk menyelusup mencari lidah Zuraida.
“Eeemmmpphhhh,, Ghhaaa,,” Zuraida melenguh saat lidah mereka bertaut, membelit, menghisap, bertukar ludah dengan penuh hasrat.
“Eeeengghhhh,,,Argaaaa,,,uuuhhhh,,,” Kepala Zuraida terbenam dileher Arga, seakan tak percaya dengan apa yang diperbuatnya, jemarinya yang lentik, menuntun tangan Arga memasuki sweater dan kaosnya, terus masuk hingga jemari kekar itu menangkup payudaranya. “Oooooowwwsssshhhhh,,,,,eemmmpphhhh,,,”
Zuraida semakin tak percaya, ketika naluri memaksa tangan kirinya menarik tubuh Arga untuk menindih tubuhnya yang perlahan menjatuhkan diri kepasir yang putih.
“Gaaa,,”
“Iyaaa cantik,,”
Sesaat hening, Zuraida bingung untuk berkata apa, saat mata mereka saling menatap,, sementara jari-jari kanan Arga tengah berusaha menyelusup ke dalam bra, untuk mendapatkan puting yang telah mengeras.
“Ooowwhhh,, Aaakuuu menyukaaaimuu sejaak duluuu,, kenapa kauu membiarkaan Dakoo memilikiku Gaaa,,” rintih Zuraida sambil menikmati kemahiran jari-jari Arga yang berhasil mendapatkan putingnya.
Tiba-tiba Arga menghentikan aksinya, menarik tangannya keluar, lalu mengecup bibir Zuraida dengan sangat lembut.
“Suatu saat kau akan tau dan mengerti, dan tetaplah menjadi bintang yang tak terjangkau oleh tanganku yang kotor, agar aku bisa terus mengaggumi,” ucap Arga sambil tersenyum, mendamaikan.
“jangan berharap terlalu besar Ga,, Aku tidak seindah yang bayangkan,,” jawab Zuraida, telapak tangannya yang lembut mengusapi pipi Arga penuh rasa sayang.
“Sini,, masuklah dalam pelukanku,,, aku ingin tidur sambil memeluk wanita yang kukagumi,,”
“Tidur? Disini? Di pantai ini?,,,”
Arga mengangguk pasti, disambut senyum Zuraida yang beringsut masuk dalam pelukan Arga.

VIVI

astrid anjani - jilbab bohay (1)

Ini kisah aktivis kampus yang perduli terhadap lingkungan sosial yang ada (Pemerhati nasib ANJAL) di ibu kota Jakarta. Saat ini Vivi masih duduk di semester 4 di salah satu perguruan tinggi swasta. Dia adalah salah satu kembang di kampusnya, selain dia memang berparas cantik dengan di topang tubuh yang proporsianal, dia terkenal cukup peduli dengan lingkungan sekitar. Jadi tidaklah heran jika banyak Mahasiswa yang berharap ingin jadi orang yang selalu ada di dekatnya.

Tapi Vivi mempunyai segudang alasan untuk menolak curahan perasaan dari banyak pria di kampusnya. Memang sejak bergabung dengan sebuah yayasan social yang bekerjasama dengan kampusnya Vivi bersama rekan-rekannya Ratna, Kristin dan Teddy terlihat sedang sibuk mengajak anak-anak jalanan untuk belajar dengan mendirikan sekolah gratis. Sebuah bangunan yang sederhana mereka sewa sebagai basecamp. Meskipun dikatakan jauh dari kata layak tapi mereka berhasil membuat beberapa Anjal tertarik untuk untuk mengikuti kegiatan yang mereka pelopori. Diantara mereka ada Tuti bocah umur 7 tahun yang belum pernah mengenal baca dan tulis, Retno, Yani, Muksin, dan Tina yang umurnya lebih tua sekitar 2 tahun bernasib kurang lebih sama dengan Tuti. Dan diantara mereka juga ada yang telah Remaja diantaranya Noordin, Fajri dan Ulfah umur mereka kurang lebih 15-16 tahun. Mereka setiap pagi sampai siang hari selalu setia belajar bersama dan terkadang bagi yang tidak sempat baru sore harinya sampai jam 7 petang mereka bisa belajar bersama. Kondisi seperti itu di lakoni setiap hari oleh Vivi teman-temannya dengan cara bergantian memberi pengajaran terhadap anak jalanan tersebut.

Siang itu giliran Vivi dan Kristin yang mengajar anak jalanan.Mereka tampak begitu semangat mendengarkan para Mahasiswi itu mengajar. Saat itu Vivi bukan hanya terlihat sabar memberikan materi pelajaran Matematika yang di jadwalkan hari itu. Tapi dia juga tampak mempesona dengan baju gamisnya yang panjang namun tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh dan payudaranya yang besar.

“Noordin.. kamu kenapa?” tegur Vivi yang melihatnya tampak melamun dan kurang memperhatikan apa yang dia ajarkan.

Noordin yang disebut namanya segera sadar dari lamunannya dan terlihat gelagapan dan tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

“Ya…kak? Sahut Noordin dengan nada datar. “Coba kamu maju dan jawab pertanyaan nomor 5 !!” kata Vivi yang menyuruh Noordin mengerjakan soal perkalian yang ada di papan tulis itu. Noordin yang sejak tadi kurang memperhatikan pelajaran tampak bingung dan sedikit panik. Hal itu memang terlihat ketika dia hanya garuk-garuk kepala melihat soal yang di tunjuk oleh Vivi tadi. Melihat Noordin yang celingukan dan tampak serba salah Vivipun mendekat,

“ada apa dengan kamu Din..?” Noordin yang ditanya agak bingung untuk menjawabnya. “Kamu tadi ngelamun ya…dan gak merhatiin apa yang kakak ajarkan..!!” Vivi semakin mendekatkan wajahnya untuk meminta penjelasan dari Noordin.

Noordin semakin tidak nyaman dibuatnya. Tapi di sela-sela kebingungannya, dia bisa mencium aroma tubuh Vivi yang harum dan menggoda saat begitu dekat dengannya. “Maaf kak..” katanya singkat tanpa memberikan penjelasan apapun pada Vivi. Pelajaran kembali di mulai saat suara Kristin memecah kegugupan Noordin yang kemudian dia di suruh kembali duduk, tapi ketika Noordin mau kembali ke tempat duduknya, dia melihat sekilas terlihat Muksin begitu asik dengan coretan-coretan di buku tulisnya, yang membuatnya cukup penasaran.

astrid anjani - jilbab bohay (2)

Malam itu usai kegiatan yang menyibukkan mereka, Noordin, Fajri dan Muksin tampak sedang asik bersenda gurau di pos ronda yang biasa mereka buat untuk tempat mangkal. Di tempat yang tampak lusuh, dengan tiang-tiang kayu yang telah cukup rapuh mereka bertiga masih juga belum tidur. Fajri yang sejak tadi belum sedikitpun istirahat setelah berbagai kegiatannya mencari uang sekedar mengganjal perut kecilnya itu tampaknya sudah sangat ngantuk,hingga ketika punggungnya ia sandarkan ke sisi tiang pos ia mulai tak kuat untuk tidak memejamkan matanya.

“Tadi aku melihat kamu asik menulis di bukumu, memang apa yang kamu tulis Sin” tanya Noordin memuaskan rasa penasarannya pada Muksin,

Muksin yang di Tanya seperti di selidiki pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan Noordin tadi.

“Hei…kamu dengar gak sih, budek kamu ya?” sergah Noordin lebih tegas lagi.

Dengan agak gugup Muksin menjawab pertanyaan itu berusaha menyembunyikan sesuatu. “aku cuma nyatet apa yang diajarkan tadi kok”.

“Oh… klo gitu aku pinjem catatan kamu dong” kata Noordin lagi seakan mau memojokkan Muksin.

“Jangan…!!!” Muksin menolak dan tampak tidak nyaman akan sikap Noordin. Tapi hal itu rupanya percuma karena Noordin berusaha merebut buku catatan itu dari tangannya. Memang diantara mereka bertiga Noordinlah yang memiliki badan lebih besar. Jadi usaha apapun yang Muksin lakukan untuk mempertahankan bukunya itu akan percuma saja. Dengan tidak sabar Noordin melihat buku catatan Muksin yang saat itu telah ia pegang. Lembar demi lembar dengan penuh semangat ia buka, rupanya di buku itu ada yang membuat Noordin begitu tertarik.

“Gila kamu Sin…jadi kamu selama ini gambar kak Vivi ya !!” tiba-tiba Noordin nyeletuk masih dengan memperhatikan beberapa lukisan yang Muksin buat. Rahasianya yang selama ini ia tutup-tutupi kini telah terbongkar, roman muka Muksin yang sejak tadi biasa saja kini telah memerah menahan malu.

Gambar-gambar muksin yang di perhatikan Noordin dengan penuh semangat dan mungkin bisa dikatakan dilihatnya dengan penuh gairah, memang bukanlah gambar yang biasa-biasa saja di dalamnya terdapat gambar Vivi yang berpose cukup menantang dengan memakai jilbabnya. Bahkan diantaranya sedang tidak menggunakan busana sama sekali. Noordin beberapa kali berdecak kagum akan hasil karya muksin saat itu. Memang tidak mengherankan jika Muksin memiliki kemampuan gambar yang cukup baik. Itu di sebabkan karena Muksin adalah putra dari seorang seniman kondang dibidang seni lukis di Yokyakarta. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, dan sejak saat itu dia di titipkan ke bibinya di Jakarta. Tapi karena perlakuan bibinya yang sering bertindak kasar terhadapnya, akhirnya Muksin memutuskan untuk melarikan diri dari rumah bibinya itu. Mungkin peribahasa Buah jatuh tidah jauh dari pohonnya, itulah yan berlaku pada muksin. Darah seni dari kedua orang tuanyalah yang mengalir di darahnya sekarang.

“kembalikan Din…bukuku” pinta Muksin yang tampak mulai tidak senang akan sikap temannya itu.

Tapi Noordin bukan memberikannya kembali pada Muksin malah ia membangunkan Fajri yang telah mulai terlelap.

astrid anjani - jilbab bohay (3)

“Bangun…bangun” teriak Noordin. Fajri yang digoyang kedua kakinya tampak agak kaget dan bingung ketika Noordin menggoyang kakinya dengan keras. Dan dia lebih bingung lagi ketika Noordin menyodorkan sebuah buku yang ia tahu buku itu milik Muksin.

“Coba lihat gambar Muksin” sembari ia menunjuk buku yang saat itu telah ada di genggaman Fajri.

Fajri segera membuka buku itu lembar demi lembar. Darah Fajripun seakan berdesir kencang ketika ia melihat beberapa gambar Vivi yang berpose menantang di dalamnya. Tanpa sadar Fajri yang sejak tadi mengantuk malah jadi bersemangat dan malah terangsang di buatnya. Dan malam itu merupakan malam yang panjang bagi ketiganya, dengan fantasi liar masing-masing.

******************************

Siang itu kelas yang saat itu tengah mengajarkan mata kuliah Bahasa Indonesia, terasa amat membosankan bagi Vivi dan begitu juga bagi Kristin, mereka malah membayangkan yayasan yang hampir 1 tahun ini mereka dirikan dengan dana patungan yang sebagian mereka dapat dari yayasan dan sebagian lagi sumbangan dari kampus.

“lagi belajar apa ya anak-anak di sana dengan Teddy dan Ratna” kata Kristin dalam hati.

Pelajaran bahasa yang di ajarkan Pak Darto memang membuat hampir semua mahasiswa mengantuk. Mereka malah lebih suka melihat kepala Pak Darto yang botak licin yang tidak diumbuhi rambut sehelaipun dan membayangkannya seperti arena ski yang sangat menantang. Tapi di samping itu memang Pak Darto orangnya kurang begitu perduli dengan beberapa mahasiswanya yang tidak memperhatikan mata pelajaran yang ia ajarkan, yang terpenting baginya adalah bahwa ia telah mengerjakan tugas dan menyelesaikannya itu saja.

****************************

Di tempat lain tepatnya di perempatan jalan di daerah Bintaro Noordin, Fajri dan Muksin terlihat dengan penuh semangat seperti merencanakan sesuatu, Fajri dan Muksin terlihat dengan penuh semangat memperhatikan apa saja yang dikatakan oleh Noordin.

“aku telah mendapatkan obat itu dari temanku yang kerja di apotik”,

“jadi sore ini kita laksanakan rencana itu” tanya Fajri yang tampak antusias mendengar penjelasan Noordin tadi

“Jadi nanti sore sebelum kita masuk kelas kita kempesin ban mobilnya” kata Noordin tampak dengan berapi-api, “Bagaimana dengan tugas kamu Faj” kata Noordin yang menanyakan kesiapan rencananya kepada Fajri.

“Beres Din…aku dapat Kamera yang kita butuhkan” jelas Fajri yang merespon pertanyaan Noordin dengan cepat.

” Bagus!” kemudian mereka bertiga segera beranjak meninggalkan tempat itu yang kemudian telah kembali sunyi.

****************************

Sore hari itu jadwal Vivi dan Kristin yang kembali akan mengajar, di halaman yayasan telah tampak sepeda motor Mio milik Kristin telah parkir di sana. Dan tak ketinggal juga mobil Avanza berwarna perak milik Vivi pun telah terlihat. Itu menandakan bahwa mereka telah datang untuk mengajar pelajaran yang materinya telah mereka siapkan sebelumnya. Di kelas terbatas itu tampak beberapa anak telah dengan sabar mendengarkan apa yang di katakana oleh Vivi dan Kristin. Tapi di dalam kelas itu mereka belum melihat Noordin, dan Fajri sedang Muksin telah datang dan ada di kelas itu. Beberapa menit pelajaran telah berlangsung. Ketika itu tiba-tiba saja Noordin dan Fajri datang dengan pakaian yang penuh dengan peluh.

“Dari mana kalian Din, Faj..kok terlambat?” kata Kristin dengan penuh selidik.

Noordin dan Fajri yang di tanya dengan serempak menjawab “maaf kak…tadi kami bantu tukang panggul di pasar, jadi kesininya agak terlambat”.

astrid anjani - jilbab bohay (4)

Mendengar penjelasan itu Kristin dan Vivi mengangguk hampir bersamaan. Pelajaranpun dilanjutkan, Vivi dan Kristin bergantian memberikan penjelasan materi matematika lanjutan kemarin dengan begitu sabar pada mereka. Beberapa tanya jawab mereka lontarkan untuk membuat suasana kelas agar lebih hidup. Dan beberapa kali Noordin dan Fajri pun jadi bahan ejekan dan bahan tertawaan dari teman lain karena tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya kelas itu di tutup dengan do’a bersama yang di pimpin Kristin. Semua anak segera beranjak dan bergegas pulang dengan tujuan ke tempat masing-masing.

“Vivi aku pulang dulu ya..! aku harus belikan buku LKS untuk adikku ke toko buku” kata Kristin yang tampak terburu-buru untuk pamit pulang.

“Oh..ya sebentar lagi aku juga pulang kok” jawab Vivi segera. masih dalam kelas itu,

Vivi mendengar deru motor Kristin yang tampak melaju menjauh dari yayasan, yang menandakan Kristin telah jauh dari lokasi tersebut.

Setelah membereskan semua peralatan dan alat tulis yang ada, Vivi segera beranjak menuju ke mobilnya untuk pulang. Tapi mungkin hari itu adalah hari yang paling naas bagi Vivi, Dia sadar ban mobilnya kempes setelah ia mendapati jalan mobilnya yang oleng dan terasa berat untuk melaju. Vivi segera mematikan mesin mobil dan turun memeriksa ban mobilnya tersebut. Dan benar ternyata dugaannya itu. Vivi tampak bingung dan panik pada saat itu, ia tidak terbiasa mengganti ban mobil sendiri. Apalagi hari itu telah beranjak petang dan di sekitar situ tampak sepi tanpa ada seorangpun yang bisa membantunya, di tengah kebingungannya tiba-tiba saja Fajri dan Muksin datang menghampirinya.

“Loh ada apa kak..?” tanya Fajri tampak penasaran,

“Fajri.., Muksin…Untung kalian masih belum pulang. Ban kak Vivi bocor…tolong kakak ya ganti ban mobil “.

Fajri dan Muksin mengangguk serempak mendengar permintaan Vivi yang tampak begitu bingung dan dengan nada memelas. Tapi kejadian yang tidak Vivi duga sebelumnya, ketika ia asik memperhatikan Fajri dan Muksin yang mau mencoba mengganti ban mobilnya, di saat itu pula sebuah tangan tiba-tiba membekapnya dengan sangat erat dari arah belakang. Vivi yang segera menyadari hal itu berinisiatif memberontak. Tangan orang yang menyekapnya itu segera berusaha ditepisnya. Tapi entah kenapa tubuhnya mulai tak bisa ia kendalikan, kesadarannyapun perlahan-lahan mulai menghilang seiring tubuhnya yang mulai limbung. Dengan sisa kesadarannya ia melihat tiga sosok yang selama ini dia kenal tengah mengelilingi tubuhnya.

******************************

Di dalam sebuah kamar di yayasan itu tubuh Vivi tampak tergolek lemas tak sadarkan diri, di sebuah dipan kayu yang biasanya oleh anak jalanan digunakan untuk beristirahat,.

“cepat ikat dia, sebelum ia sadar” perintah Noordin kepada Fajri dan Muksin. Tak berapa lama kemudian kedua tangan Vivi telah terikat kuat dia kedua sisi dipan kayu itu. Sedang kedua kakinyapun telah terikat kuat yang ujung-ujung talinya di lewatkan di balik kolong dipan sehingga terlihat kedua kaki Vivi yang terbuka cukup lebar. Vivi yang mengenakan baju gamis sutra terusan berwarna merah dengan assesoris sabuk lebar berwarna putih dan sepatu yang berwarna putih pula, terlihat sangat cantik dan sangat menggoda dimata ketiga anak yang telah terbakar nafsu itu. Untuk mendapatkan kesempatan seperti itu mungkin semua laki-laki di dunia ini rela akan membayar mahal untuk mendapatkan kenikmatan tubuh Vivi. Noordin yang merasa punya hak lebih dulu untuk menggauli tubuh Vivi mulai merapatkan tubuhnya ke tubuh yang tergolek lemas itu. Tak berapa lama bibir mungil Vivi yang lembut, telah ia lumat dengan penuh nafsu, melihat hal itu Fajri dan Muksinpun mulai bergerak. Tangan-tangan nakal Fajri mulai menggerayangi daerah payudara Vivi dan sesekali menciuminya. Sedang Muksin tengah nyaman berada pada tempatnya, ia telah merengsek masuk dan asik membenamkan diri di sela-sela selangkangan Vivi. Saat itu Vivi seperti piala bergilir bagi ketiganya. Perlahan-lahan Fajri mulai membuka kancing pakaian Vivi sehingga terlihat tonjolan putih yang tampak masih tertahan oleh Bra Putih yang dikenakannya. Sedang Noordin masih asik melumat bibir Vivi.

astrid anjani - jilbab bohay (5)

“Kak malam ini aku akan memberimu kepuasan yang belum pernah kamu rasakan” kata Noordin dalam hatinya dan yang telah mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Vivi.

Seakan tidak mau kalah dengan Noordin Fajri-pun telah berhasil melucuti bra yang sejak tadi menjadi penghalang dari keindahan payudaranya. Dada sintal Vivi yang tampak masih kencang dan begitu putih. Menjadi korban dari hasrat Fajri selanjutnya. Perlahan-lahan kesadaran Vivi mulai pulih dari pengaruh obat bius yang dibekapkan kepadanya tadi.

Betapa terkejutnya ia begitu mendapati kenyataannya waktu itu. Dia mendapati tubuhnya yang hampir telanjang di kerubungi anak-anak didiknya yang tidak pernah ia sangka akan menjahatinya seperti ini. Vivi berusaha berontak dari perbuatan biadap mereka bertiga, Muksin yang bertubuh kecil dan sedang berada diantara selangkangannya di terjangnya dengan keras. Sampai-sampai muksin hampir terpelanting ke bawah tanah. Mendapatkan perlawanan seperti itu Noordin segera mengikat mulut Vivi dengan kaos miliknya yang telah sejak tadi ia lepaskan. Vivi makin tak berdaya ketika kedua tangannya telah di pegangi oleh Fajri dan Muksin yang masih merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Sedang Noordin telah menindih tubuhnya dengan penuh Hasrat.

“Percuma kak Vivi melawan…kakak sudah tidak bisa apa-apa ?” kata Noordin menyadarkan Vivi.

Dengan kondisi seperti itu memang tidak mungkin ia bisa meloloskan diri lagi. Kedua tangan dan kakinya telah terbelenggu, ditambah lagi kedua tangannya yang di pegangi dengan erat oleh Fajri dan Muksin. Sejenak kemudian ia merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan, tubuhnya seakan tak bertulang lagi ketika dengan lahap Noordin memainkan punting payudaranya. Jilatan dan gigitan-gigitan kecilnya seakan menggelitik dan membuat darahnya seakan dipompa sangat cepat kearah ubun-ubunnya. Seakan tak ingin membuang waktu dengan tangkasnya Noordin meluruhkan baju yang sejak tadi masih belum di tanggalkan dari tubuh Vivi. Kini Noordin dengan jelas melihat keindahan secara langsung tubuh yang kemaren masih dalam fantasinya.

“Kenapa kalian tega melakukan ini pada kakak” dengan suara yang kurang jelas Vivi tampak bergumam.

Noordin yang telah tak begitu perduli lagi akan siapa Vivi semakin agresif. Dada Vivi yang tegak menantang di remas-remasnya dengan kasar, menjilatinya dengan penuh semangat dan digigitinya sampai berbekas merah di atasnya. Fajri dan Muksin yang telah tahu bahwa kini Vivi telah tidak melawan lagi segera melepaskan kedua tangannya yang masih dalam belenggu. Fajri mulai melumat bibir Vivi yang terikat kaos Noordin. Sedang Muksin mengganti posisi Noordin yang telah mulai asik menjilati daerah vagina Vivi yang masih terbungkus di celana dalamnya yang berwarna putih.

Mendapati serangan yang bertubi-tubi dari ketiga anak itu, tangis Vivi mulai tak terbendung mendapatkan kenyataan pahit yang saat ini dia alami, tapi iapun takkan bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ada perasaan nikmat di alaminya atas apa yang dilakukan ke 3 anak didiknya itu. Perasaan itu semakin tak tertahan ketika Noordin dengan aktif menjilati permukaan vaginanya yang masih terbungkus. Vivi mengejangkan tubuhnya ketika dorongan kenikmatan itu sudah tak bisa ia tahan lagi. Orgasme-nya itu telah membuat kain pembungkus vaginanya itu basah dan disertai bau anyir yang aneh tepat berada dimuka Noordin. Melihat hal itu Noordin tersenyum puas

“Bagaimana rasanya kak..nikmat kan?” tanyanya

mendapatkan pertanyaan itu Vivi tak bisa menjawabnya ia hanya menata nafasnya yang tersengal-sengal menahan kenikmatan yang baru saja ia dapatkan. Noordin tak sabar rasanya untuk segera menuntaskan hasratnya. Dengan sentakan keras kain penutup vagina Vivi telah robek dibuatnya. Kini Noordin melihat kedua bukit kecil kemerah-merahan dengan bulu tipis di atasnya. Dengan tak sabar Noordin segera menyiapkan penisnya yang cukup besar dan mulai diarahkan ke liang kenikmatan Vivi, dengan sedikit melebarkan kedua kaki Vivi dengan mantap Noordin menyondokkan penisnya ke liang vagina Vivi tapi begitu kuatnya pelindung selaput dara Vivi itu bertahan,yang menandakan bahwa ia memang masih perawan.

“Jangan Din… tolong jangan lakukan ini pada kakak”. Desah Vivi yang tampak lemah.

Noordin tak perduli semua ucapan Vivi lagi saat itu, tak mungkin ia menghentikan semua usahanya hanya sampai di situ. Dengan beberapa kali mencoba akhirnya sodokan kerasnya berhasil merobek selaput dara Vivi yang sejak tadi kokoh melindunginya. Jerit kesakitan Vivi membelah ruangan pengap dan semakin terasa panas bagi mereka berempat, di barengi dengan bercak darah segar yang berontak lewat di sela-sela vaginanya dan melekat di bagian batang penis Noordin yang masih masuk setengah. Noordin merasakan penisnya sangat ngilu di cengkeram erat oleh liang vagina gurunya yang masih rapat saat itu.

astrid anjani - jilbab bohay (6)

Pelan namun pasti Noordin berusaha membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam liang vagina Vivi. Beberapa kali Vivi terlihat menggigit bibirnya menahan perih di bagian vaginanya. Dengan ilmu yang sering ditontonnya dari video Porno, Noordin seakan telah tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang, diangkatnya kedua kaki Vivi ke atas dan di panggulkannya di kedua bahunya. Sehingga saat ini kaki Vivi mengangkang lebar dan liang vaginanya semakin lebar terbuka. Beberapa saat kemudian Vivi tampak terhenyak ketika merasakan sebuah benda tumpul telah mengorek isi dari vaginanya yang sempit itu. Fajri yang semakin panas tak mau berdiam diri ia segera membuka kaos yang sejak tadi menutupi mulut dari Vivi. Penisnya yang sejak tadi telah mengeras di arahkan segera kemulut Vivi. Vivi berontak dan tidak mau menuruti kemauan Fajri. Tapi akibat dari penolakannya tamparanlah yang ia dapatkan dari remaja yang mau beranjak dewasa itu. Rasa sakit akibat tamparan Fajri tidak akan mau dia rasakan untuk kedua kalinya. Meskipun dengan perasaan jijik dan ingin muntah, ia terpaksa memenuhi keinginan Fajri yang dengan tidak sabar memasukkan penisnya yang tak begitu besar kemulutnya. Sedang Muksin masih dengan lugunya menjilati dan memainkan puting Vivi. Sondokan demi sondokan dilakukan Noordin mulai memberikan kenikmatan yang tak bisa ia bayangkan sebelumnya. Dengan bahasa tubuhnya Vivi mulai menerima gerakan-gerakan yang Noordin lakukan bahkan terkadang dia mengimbanginya. Semakin cepat Noordin melakukan gerakan penisnya semakin siap vagina Vivi menyambutnya. kini perasaan itu mulai semakin cepat menerjang batas-batas angan dan siap menerbangkannya dalam fantasi kenikmatan.

Noordinpun mengalami perasaan yang sama, dikala ia sudah tak sanggup menahan aliran deras yang entah dari mana datangnya. Seakan membuat ia bagai terbang kelangit tujuh membawa fantasi kenikmatan bersama Vivi.

“kak aku sudah tidak kuat la…a .gii”. Dan tak menunggu lama lagi dengan semakin cepatnya gerakan pinggul Noordin yang membenamkan penisnya ke dalam vagina Vivi, secara bersamaan pula Noordin dan Vivi mencapai kenikmatan itu, di tandai dengan melubernya noda-noda putih yang meleleh dari liang vagina Vivi. Vivi mengejang seakan-akan tak ingin membiarkan moment-moment itu pergi darinya. Noordin memeluk tubuh indah itu dengan erat dan sepertinya ia tak mau untuk melepaskan untuk selamanya. Tapi itu tidaklah berlangsung lama ia harus segera sadar, karena Fajri sudah tak sabar menunggu gilirannya. Tubuh Vivi yang telah lemah seakan tak berdaya menolak perlakuan Fajri yang mulai meminta jatah gilirannya. Ia terlihat pasrah ketika tubuhnya mulai dibalik membelakanginya. Dan kakinya yang panjang dilipat rapat ke kanan menjadi satu. Dan tak lama kemudian ia telah merasakan benda yang mulai akrab di dalam vaginanya mengobrak-abrik isi di dalamnya. Penis Fajri yang memiliki ukuran tidak sebesar punya Noordin dengan sangat lancar keluar masuk dari liang vagina Vivi yang telah becek, tapi semua itu tidak mengurangi rasa nikmat yang dirasakan oleh Fajri.

“Ouuh… VAGINA mu nikmat sekali kak”. Desah Fajri yang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Malam itu Vivi digilir oleh tiga anak itu sekaligus berulang-ulang. sampai batas dia sudah tidak mampu lagi menjaga kesadarannya. Di sela-sela waktu menggilir tubuh Vivi mereka mulai mendokumentasikan aksi mereka dengan foto-foto syur mereka berempat.

NONI

Sore itu, dua orang pemuda duduk di sebuah warung di dekat sebuah perumahan. Mereka tampak bersantai setelah menandaskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Tangan mereka asyik dengan batang rokok yang dihisap beberapa kali. Sesekali mulut mereka jahil menyiuli pembantu kompleks perumahan yang singgah di warung itu sekedar membeli krupuk atau kebutuhan rumah tangga untuk majikan mereka. Mereka berdua tak punya pekerjaan. Pengangguran. Uang untuk makan sehari-hari diperoleh dari bekerja serabutan, sebentar menjadi tukang parkir, sebentar menjadi kuli bangunan, sebentar menjadi pemalak. Apapun asal perut mereka dapat terisi.
hijabee surabaya - ayyun (1)
Namun kali itu, salah satu dari dua pemuda itu nampak lebih murung meskipun masih bisa tertawa-tawa dan melontarkan guyonan mesum. Temannya, bernama Hendry, penasaran juga dengan tingkah temannya yang tidak seperti biasanya.
“Hei, kenapa kamu? Kok nggak ceria kaya’ biasanya?”
“Mertuaku semalam datang, dan mengancam bakal nyuruh istriku minta cerai kalo aku nggak buruan ngasih rumah yang layak. Tahu sendiri kan selama ini aku masih kontrak di rumah petak yang kecilnya amit-amit itu.”
“Maksudnya, kamu disuruh beli rumah gitu?”
“Iya, gitu. Lha sekarang aku bisa dapet kerjaan dari mana? Lulus SMP aja enggak. Mau nyolong?”
“Bener juga ya. Orang kaya’ kita gini mana bisa beli rumah, beli mobil. Buat makan sehari-hari aja kudu mikir.”
Senja menjelang. Adzan Magrib sayup-sayup terdengar dari masjid terdekat. Saat kedua pemuda pengangguran itu hendak meninggalkan warung, lewatlah Noni, anak tunggal Pak Ridwan, salah satu pemilik rumah di kawasan tersebut. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang sintal menggoda meski tertutup jilbab lebar dan baju panjang, begitu mengundang syahwat mereka. Noni lumayan tinggi untuk gadis seumurannya, kulitnya benar-benar terang dan putih. Yang mereka tahu, Noni masih duduk di kelas 1 SMA.
Tiba-tiba datanglah satu ide di kepala Hendry. “Man, Rahman! Aku ada ide biar kamu bisa beliin rumah buat istrimu.” ujarnya sambil menyenggol tubuh Rahman, temannya itu.
“Eh, gimana.. gimana?”
“Lihat kan si Noni? Bapaknya kan lumayan tajir tuh! Gimana kalau kita culik dia?”
“Gila apa? Ntar kalo ada yang lihat kan bisa berabe? Belum lagi kalo kita dilaporin polisi. Malah nggak jadi beliin rumah!”
“Halah… Itu bisa direncanaiin, man! Yang penting kita susun rencana trus culik dia. Lagian kalo dia pulangnya jam segini kan jalanan udah sepi. Paling tinggal mbak Marni aja yang mau nutup warungnya. Ya nggak?”
”Bener juga! Asal rencananya bagus, nggak bakal ketahuan. Kita minta duit banyak ke orang tuanya. Seratus juta cukup nggak?”
“Tiga ratus deh! Dibagi dua.”
Hari-hari berikutnya, Hendry dan Rahman semakin sering nongkrong di warung itu, dari sore sampai Maghrib, menunggu saat-saat Noni pulang sekolah. Mereka sudah menyiapkan obat bius, tali pengikat, lakban, dan spons beserta sprei untuk kasur. Di hari ketiga belas, rencana itu pun tersusun dan siap dilaksanakan. Tugas Hendry adalah membuat Mbak Marni menutup warung lebih awal, sedangkan tugas Rahman adalah berpura-pura bertanya tentang arah.
Rencana itu berjalan dengan lancar, dan Noni tanpa banyak perlawanan berhasil diculik dan disekap di dalam rumah kontrakan Hendry yang berada di daerah yang cukup sepi. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menyumpal mulut gadis itu dengan lakban agar dia tidak bisa berteriak ketika tersadar nanti.
”Beres, kita berhasil.” Rahman tersenyum pada temannya.
Hendry mengangguk. ”Cepat kamu beli nasi, kita nggak mau dia mati ’kan?”
”Yo’i, bro. Jaga dia ya, aku pergi dulu.” sehabis berkata, Rahman pun pergi meninggalkan rumah itu, membiarkan Hendry dan Noni cuma berdua saja.
Saat itulah, demi melihat tubuh molek Noni yang terbaring pasrah di depannya, nafsu Hendry jadi terpancing. Jauh dari istri membuat dia mudah kehilangan kendali. Apalagi sejak mengamati dan memperhatikan gadis ini dalam usaha penculikan mereka, diam-diam Hendry jadi suka dan menginginkannya.
Maka begitulah, tanpa membuang waktu, mumpung gadis itu belum sadar dan Rahman belum kembali, dengan cepat Hendry melanjutkan aksinya dengan menelanjangi Noni, melepas pakaian yang dikenakan gadis itu satu persatu hingga telanjang.
Ia sedikit terpana saat melihat tubuh Noni yang benar-benar seksi untuk ukuran gadis seusianya.  Kulitnya begitu putih dan mulus, terlihat mengkilat karena keringat yang sudah membasahi, maklum rumah Hendry memang agak mungil dan pengap. Gunung kembar yang ada di depan dadanya lumayan montok, terlihat begitu kencang dengan dua buah puting mungil menghiasi puncaknya yang memerah. Di bawah, sebuah vagina sempit dengan dihiasi bulu-bulu lembut yang tidak terlalu lebat, mengintip malu-malu dari sela-sela paha yang begitu kaku dan kencang.
Batang kemaluan Hendry kontan tidak bisa diajak kompromi begitu melihat pemandangan itu, cepat benda itu terbangun dan menegak dengan dahsyat. Setelah ikut menelanjangi diri, Hendry segera mengikat tangan Noni dengan tali pramuka. Ia tarik ke belakang punggung dengan ikatan yang sangat rapat sehingga kedua tangannya menyiku.
Hendry menyeringai, selain dapat uang, sepertinya ia akan dapat kepuasan juga hari ini. Ia mulai dari kedua payudara Noni yang sejak tadi seakan menghipnotisnya untuk terus menatapinya. Hendry mulai menghisapnya dengan rakus, dan berubah menjadi sedikit kasar saat merasakan kalau benda itu ternyata benar-benar lezat. Begitu empuk dan kenyal, juga hangat sekali. Ia terus menghisap dan menjilati keduanya sambil sesekali menggigit putingnya kuat-kuat karena saking gemasnya.
Saat itulah, saat Hendry asyik mengerjai kedua payudaranya, Noni sedikit demi sedikit mulai tersadar. Matanya langsung terbelalak liar karena begitu bangun, dia mendapati dirinya terikat tanpa pakaian di depan seorang laki-laki yang sepertinya mau memperkosanya. Noni mencoba berteriak, tapi itu hanya membuang-buang tenaga saja karena Hendry sudah menutup mulutnya dengan lakban.
hijabee surabaya - ayyun (2)
”Emh… mmh… mhh…” Noni mencoba bersuara.
”Kamu diam saja, cantik… Percuma, nggak ada yang bakalan dengar. Di sini benar-benar sepi, paling cuma kambing sama ayam yang mendengarmu, haha…” tawa Hendry, ”Dan sebaiknya simpan tenagamu, tugasmu masih banyak dan sama sekali belum dimulai. Jadi nikmati aja apa yang akan terjadi!”
Noni menatap Hendry dengan ketakutan, matanya memerah dan wajahnya jadi semakin pucat. Tapi dia tidak menghiraukan ucapan Hendry tadi, sekarang Noni mencoba untuk meronta. “Emh… mhh… mmh…”
Karena ucapannya tidak diindahkan, Hendry segera memutuskan untuk memberi hukuman; ia obok-obok vagina gadis itu dengan kasar sambil mengancamnya, “Ayo, teriak lebih keras lagi! Dengan begitu aku bisa lebih kasar lagi menghadapimu! Aku nggak takut, tahu!”
Dengan sangat ketakutan, Noni akhirnya mengangguk sambil mengucurkan air mata banyak sekali, lalu dia menangis tersedu-sedu, mungkin karena vaginanya terasa sangat kesakitan ketika diperlakukan dengan kasar oleh Hendry tadi.
Tertawa penuh kemenangan, Hendry melanjutkan aksinya dengan menjilati vagina Noni. Ia menghisap-hisapnya dengan ganas serta mencolok-colokkan lidah ke liangnya yang sempit. Noni hanya bisa menangis dan mengucurkan air mata saat menerimanya. Melihat itu, bukannya kasihan, Hendry malah semakin terangsang dibuatnya, ia jadi ingin berbuat lebih kasar lagi.
”Aku mau membuka lakban yang menutupi mulutmu asal kamu janji tidak berteriak.” tawar Hendry, ”Tapi kalo kamu coba-coba teriak, aku pastikan akan membuatmu lebih menderita lagi! Mengerti?!” ancamnya.
Noni yang merasa tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa mengangguk saja mengiyakan.
Breet…!! Hendry menarik lakban itu.
Begitu terlepas, langsung terdengar makian dan jeritan Noni yang begitu kalap, ”Kamu bener-bener bajingan! Anjing kamu! Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?! Bajingan! Lepaskan aku! Dasar anjing!”
Hendry yang tidak menerima dikatai seperti itu, langsung melayangkan tangannya. Plaak!! Ia tampar pipi mulus Noni yang masih basah oleh air mata.
Noni membalasnya dengan berteriak semakin kencang, “Toloong! Toloong! Siapapun, tolong aku!”
Hendry membiarkannya, sengaja untuk membuktikan bahwa di sana memang tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya. “Ayo, teriak lagi lebih keras! Kita lihat siapa yang bisa menolongmu!” ejeknya.
Setelah lama berteriak minta tolong, bahkan sampai suaranya parau, tapi tetap tidak ada yang datang, akhirnya Noni hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan suara serak. ”Tolong lepaskan aku… please… apa salahku? Kenapa aku diperlakukan seperti ini?” hibanya.
”Kamu nggak salah… kamu cuma lagi apes aja, hehe…” tawa Hendry sambil mencopoti semua pakaiannya, lalu dengan kedua tangannya, ia membuka kaki Noni lebar-lebar ke kanan dan ke kiri sampai benar-benar mengangkang. Terlihatlah dengan jelas vagina gadis itu yang mungil dan sempit, siap saji untuk menampung kontol besarnya. Tanpa membuang waktu, Hendry pun segera melahapnya.
”Auw! Arghhh… tidaak!” pekik Noni saat Hendry menancapkan batangnya yang sudah sedari tadi tidak bisa diajak kompromi ke lubang vaginanya. Saking sakitnya, ia berteriak memelas, “Ampun… aku jangan diperkosa! Nanti kalo aku hamil gimana?!”
hijabee surabaya - ayyun (3)
”Itu urusanmu! Yang penting, kita akan bersenang-senang sekarang!” sahut Hendry kejam.
Noni menggerakkan kakinya, mencoba menutupi lubang vaginanya yang sudah tertembus sepertiga dari hujaman kontol Hendry. Dan seperti mengerti, lubang itu juga mulai mengatup sehingga batang Hendry jadi terjepit kuat. Jengkel karena usahanya dihalang-halangi, Hendry menarik kembali kaki Noni agar mengangkang lebih lebar, lalu dengan ganas ia mencoba menembus keperawanan gadis itu.
Noni pun berteriak keras sekali saat Hendry kembali menusukkan penisnya. “Oahhh… ampun… sakit… uhh…  aku bisa mati… sakit… uaohh… tolong hentikan!”
Hendry yang merasa sudah telanjur basah, terus melanjutkan aksinya. Ia terus mendorong pinggulnya hingga akhirnya, creett… bisa ia rasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang kewanitaan Noni. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan Noni yang menyayat hati. ”Argghhhh…. sakit!!!” gadis itu mencoba meronta sekuat tenaga.
Hendry melihat darah segar mengalir dari sela-sela penisnya, sangat pekat dan banyak sekali. Cepat ia meraih celana dalam dan mengelapnya hingga bersih agar tidak mengotori sprei. Di depannya, Noni terus meronta, terlihat sangat menderita dengan mulut terbuka dan kedua tangan yang masih terikat erat ke belakang. Jilbab putih yang masih membingkai wajah cantiknya  semakin merangsang Hendry untuk berbuat lebih ganas lagi.
Ia mulai menggenjot tubuhnya, menyetubuhi Noni naik turun dengan tanpa ampun. Rasa kewanitaan Noni yang begitu licin dan hangat benar-benar membuatnya kesetanan. Ia terus mengayun semakin keras saat Noni hanya bisa mengerang kesakitan. Tak lupa Hendry juga memilin dan meremas dada gadis itu untuk kian menambah rasa nikmatnya.
Begitu seterusnya sampai akhirnya suara teriakan Noni berubah serak, air matanya masih mengalir, bahkan lebih deras dari yang tadi. Sambil terus  menggenjotnya, Hendry menjilati air mata itu, lalu ia mengulum mulut Noni yang semenjak tadi menganga merangsang nafsu birahinya. Mereka terus berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya, croott… croott… croott… sperma Hendry berhamburan keluar di rahim gadis kelas 1 SMA yang malang tersebut.
”Ahh…” Hendry kelojotan penuh kenikmatan, ia remas payudara Noni semakin keras, sementara penisnya menusuk begitu dalam di liang kemaluan sang gadis yang kini terasa begitu penuh.
Tidak kuat menahan hinaan dan siksaan yang mendera tubuh mulusnya, setelah meronta untuk terakhir kali, Noni pun akhirnya pingsan. Ia menggeletak seperti orang mati.
”Hei! Hei! Bangun!” awalnya Hendry bingung, sekaligus takut. Tapi setelah tahu kalau Noni cuma pingsan, iapun menghela nafas lega. Malah ia jadi terangsang kembali begitu melihat buah dada sang gadis yang membumbung indah ke atas.
Maka sementara Noni tergeletak pingsan, Hendry mengerjai kembali benda bulat padat itu. Ia hisap sedikit-sedikit sambil menggigit dan menarik putingnya yang mungil ke atas karena saking gemasnya, akibatnya kedua payudara itu jadi kian memerah. Tangan Hendry juga bergerak, menuju target yang tadi belum sempat ia jamah; yaitu anus Noni.
Dengan penuh nafsu ia meraba dan menusuk-nusuk lubang mungil itu, rasanya begitu sempit dan kesat. Setelah membasahi dengan ludah dan merasa lubang itu mulai sedikit terbuka, tanpa pikir panjang Hendry langsung mengambil posisi untuk mengerjainya. Pertama-tama ia tancapkan sepertiga batangnya dulu, karena anus Noni benar-benar kecil, maka ia sedikit kesulitan saat melakukannya. Tapi Hendry tidak mau menyerah, ia terus mendorong.
hijabee surabaya - ayyun (4)
Saat itulah, tiba-tiba terdengar rintihan Noni meskipun kurang jelas. ”Ahh… a-apa yang… eh, kamu mau apa?! Hentikan…  jangan di situ! Aku bisa mati! Ampun! Ampun! Jangan!”
Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu, Hendry terus mencoba menerobos anus Noni. Ia tusukkan penisnya sedikit demi sedikit sampai anus Noni menjadi agak licin dan longgar. Begitu sudah mulai merekah, dengan satu hentakan keras, ia terobos liang anus itu dengan sekuat tenaga.
“Uuaahhhh… arghhhh!” jerit Noni penuh kesakitan, tubuh sintalnya memberontak, tapi Hendry segera memeganginya sehingga ia tidak bisa melawan lagi.
Noni tampak benar-benar menderita, sama seperti saat di vagina tadi, disini juga terasa seperti ada sesuatu yang robek. Darah segar mengucur dari liang anusnya yang memerah. Hendry kembali mengambil celana dalam untuk mengelapnya, setelah bersih, baru ia menggenjot pelan dengan penuh perhitungan. Noni hanya bisa menangis tersedu-sedu menerima nasibnya yang sungguh memilukan. Ia memohon-mohon untuk segera diijinkan pulang, tapi tentu saja Hendry menolaknya.
Malah laki-laki itu terlihat semakin bergairah saat mendengar rintihan Noni yang serak dan sangat menderita, ia  menggenjot pinggulnya lebih ganas lagi, hingga akhirnya menyemburkan sperma di dalam anus gadis itu. Croot… croot… croot… terkejang-kejang, Hendry menyeringai penuh kepuasan.
Sambil menunggu Rahman kembali, ia beristirahat sebentar di sebelah Noni yang kini berbaring miring dengan bermandi peluh. Tubuh gadis itu tampak mengkilap oleh keringat. Noni tak henti-hentinya menangis, air mata terus mengalir keluar dari kedua matanya yang sembab.
Hendry sudah hampir terlelap karena kelelahan saat didengarnya suara kunci yang dibuka di pintu depan. Ia langsung menyeringai begitu melihat kehadiran Rahman. ”Lama banget kamu.” ucapnya.
Rahman melongo, tidak langsung menjawab. Ia menatap tubuh bugil Hendry dan Noni secara bergantian. Saat sudah memahami apa yang terjadi, iapun tersenyum. “Gila kamu! Main nggak ngajak-ngajak.” serunya sambil ikut mencopoti pakaiannya.
“Ini juga nggak sengaja.” sahut Hendry enteng. “Sini cepet! Mana nasinya, aku laper nih.” Ia bangkit dan mengambil bungkusan yang diletakkan Rahman di meja.
Rahman sendiri, dengan tidak sabar langsung memutuskan untuk mengocok batangnya di dalam mulut Noni, ia ingin dioral dulu sebelum mulai menyetubuhi gadis itu. “Berapa ronde tadi?” tanyanya saat melihat kondisi tubuh Noni yang acak-acakan, tidak mungkin kalau mereka cuma main sebentar saja.
“Tanyakan aja pada orangnya,” sahut Hendry riang sambil menyendok nasinya.
Rahman beralih pada Noni yang sedang sibuk membuat gerakan maju mundur berirama, mengulum penisnya. Gadis itu sama sekali tidak bisa melawan apalagi menolak. ”Hmpm… mgmh… ghhm…” gumam Noni dengan mulut penuh penis.
Rahman tertawa, tidak jadi bertanya. Melihat Noni yang masih menangis dan tampak sangat menderita, membuat nafsu birahinya semakin memuncak. Ia pun mempercepat tempo genjotannya, sampai akhirnya… crooott… crooott… crooott… spermanya menyembur kencang di dalam mulut gadis itu. Rahman cepat-cepat membekap bibir Noni agar jangan sampai ada spermanya yang merembes keluar, ia ingin agar Noni menelan semuanya.
hijabee surabaya - ayyun (5)
Dengan patuh gadis itu melakukannya. Meski sangat jijik dan muak, ia sama sekali tidak bisa menolak. Dan saat Rahman memintanya untuk berbaring telentang, ia juga tidak melawan. Noni benar-benar patuh dan pasrah, ia sudah terlalu lelah untuk memberontak.
”Ahh…” rintihnya pedih saat Rahman mulai mengulum lubang vaginanya dan menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu, tangan laki-laki itu juga menggelitiki biji klitorisnya pelan dengan harapan Noni akan ikut bergairah.
“Ahh… Geli! Apa yang kamu lakukan!?” Pemandangan yang aneh karena Noni bisa setengah tertawa dan setengah menangis tersedu-sedu, sambil badannya bergetar hebat tentunya. Rupanya, dengan pasrah begini, ia mulai bisa menikmati permainan itu.
Rahman terus memperlakukan Noni seperti itu lama sekali sampai akhirnya gadis itu mengompol meski hanya keluar sedikit-sedikit. “Ahh… ahh…” rintih Noni keenakan saat menggapai orgasme pertamanya.
”Hei, buat apa bikin dia enak?! Yang penting itu, kita yang enak!” protes Hendry yang sudah menyelesaikan acara makannya. Sekarang dia duduk ongkang-ongkang kaki dengan tubuh masih tetap telanjang.
Rahman menatap tajam, ”Aku kan nggak kaya’ kamu, yang sukanya main seruduk aja.”
Hendry mengidikkan bahu, ”Terserah kamu deh,” katanya kemudian. ”Nih, telepon Pak Ridwan, kita minta tebusan. Ntar keburu si Noni mati lagi gara-gara kebanyakan kita perkosa.”
Rahman mengangguk, ia segera  menghubungi orang tua Noni untuk meminta uang tebusan. Tak tanggung-tanggung, tiga ratus juta rupiah! Mulanya, sang pembantu yang menerima telepon itu karena ayah dan ibu Noni sedang tidur. Setelah dibangunkan dan bicara sendiri dengan Rahman, ayah Noni malah kebingungan.
“Jangan becanda kamu! Mana mungkin anak kami diculik!” kata laki-laki itu.
“Lho, benar ini! Kami menculik anak kalian untuk uang tebusan tiga ratus juta.” hardik Rahman. “Dan jangan berani-berani lapor polisi, kalo masih ingin Noni hidup!” ancamnya dengan suara dibuat segarang mungkin.
“Tapi…” laki-laki itu mencoba untuk membantah.
“Nggak ada tapi-tapian!” namun Rahman dengan cepat memutusnya. ”Kami mau duitnya dua hari lagi, di pelataran masjid Al-Amin, daerah Pondok Labu, diikat dalam tas berwarna hitam dan diletakkan di dekat penitipan sandal. Nanti Noni akan kami turunkan di dekat masjid itu juga. Jangan lupa dan jangan lapor polisi!” dia sengaja memberi jeda dua hari agar bisa menikmati tubuh mulus Noni lebih lama lagi.
hijabee surabaya - ayyun (6)
“Dengar dulu, Pak! Mungkin kalian salah orang!” sela ayah Noni.
“Ini Pak Ridwan kan?” tanya Rahman memastikan.
“Iya, benar. Tapi…” kata laki-laki itu.
”Berarti benar! Sediakan uangnya atau Noni kami bunuh.” ancam Rahman garang, mulai kehilangan kesabaran.
”Begini, Pak…” ayah Noni berkata sabar, seperti ingin menjelaskan sesuatu.
”Apa?” bentak Rahman.
”Noni sudah meninggal dari sebulan yang lalu…” jawab Pak Ridwan lirih.
Bulu kuduk Rahman langsung meremang begitu mendengar kata-kata itu. Samar terdengar suara cekikikan dari arah belakangnya, tepat dimana Noni tadi berada.
”Hei, ada apa?” tanya Hendry yang masih belum tahu apa yang terjadi.
Rahman tidak menjawab. Jangankan menjawab, untuk menarik nafas saja ia kesulitan. Tanpa perlu menoleh, ia menyadari kesalahannya. Apalagi saat didengarnya suara cekikikan itu semakin mendekat…

NYAI SITI : SARAH DAN WIWIK

Dewo segera mencari Nyai Siti, saat dilihatnya wanita itu sedang berada di dapur, ia segera menghampirinya. ”Nyai, aku perlu bantuanmu.” Dewo berkata.
Nyai Siti menoleh dan tersenyum, “Katakan saja mas Dewo, aku selalu siap membantumu.” Ia mengira Dewo menginginkan tubuhnya, tapi ternyata tidak. Nyai Siti jadi sedikit kecewa dibuatnya.
sarah

sarah

Dewo mengutarakan rencananya, sementara Nyai Siti mendengarkan dengan seksama. “Bagaimana, kamu bisa?” tanya Dewo kemudian.
Nyai Siti mengangguk. “Itu gampang, bisa diatur. Tapi…”
“Nanti ada imbalan untuk Nyai…” Dewo menyeringai.
Nyai Siti tersenyum. “Beneran? Janji ya…”
Dewo mengangguk. “Akan kuentoti Nyai sampai puas.” bisiknya.
Saat itulah Kyai Kholil tiba-tiba keluar dari kamar. Takut dicurigai, Dewo segera berlalu ke belakang, sementara Nyai Siti melangkah menuju suaminya. “Bi, antarkan Umi ke pasar sebentar, ada yang perlu dibeli.” kata Nyai Siti.
Tanpa bertanya apa-apa, Kyai Kholil menyanggupinya. Ia sama sekali tidak curiga akan keberadaan Sarah, teman Wiwik, yang tadi berada di ruang tamu, kini sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Kemana gerangan gadis cantik itu? Hanya Dewo dan Tuhan yang tahu.
***
Sepeninggal Nyai Siti dan Kyai Kholil, Dewo segera kembali masuk ke dalam rumah. Bergegas dia pergi ke kamarnya. Disana, seorang gadis sudah menunggu.
jilbab seksi - nadia (2)
“Paman, kok lama sekali sih?” tanya Sarah dengan senyum mesra sok akrab. Dia yang biasanya lugu, kini jadi genit seperti ini. Itu semua karena pelet Dewo yang manjur dan ampuh.
Dewo ikut tersenyum dan mengamati tubuhnya, bagian dada gadis itu telah terbuka lebar menonjolkan bongkahan buah dadanya yang mulus sempurna. Tahu kalo Dewo memandangi, Sarah malah memajukan badannya sehingga bongkahan itu semakin tumpah keluar.
“Paman suka?” selidik Sarah dengan tersenyum nakal.
“Kamu ini, badan kecil tapi susunya gede banget!“ kata Dewo sambil menjilat bibir.
“Pegang aja, Paman, nggak apa-apa kok!” kata Sarah dengan menyeringai, kesadaran sudah sepenuhnya lenyap dari pikirannya. Yang ada sekarang cuma bagaimana mendapatkan nikmat dari Dewo.
Tanpa berkata lagi, Dewo segera merangkul tubuh kurus Sarah dan melumat habis bibir mungilnya. Sarah sedikit terkejut namun langsung saja meladeni lumatan itu. Mereka berdua saling hisap di kamar sempit yang dekil itu dengan penuh rakus dan ganas. Sarah memang terlihat agak kaku, maklum ini adalah ciuman pertamanya. Namun Dewo dengan senang hati mengajarinya, akan ia buat gadis itu gila seks seperti halnya Wiwik, Rohmah, dan Nyai Siti.
“Hhss… Paman… aah… hhh…“ desis Sarah ketika Dewo meremas payudaranya yang membulat dengan gemas.
“Aku pengen tubuhmu, Nduk… semua lubang di tubuhmu!“ kata Dewo yang disambut senyum oleh Sarah, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya.
Mereka kembali saling melumat dan menghisap bibir. Tangan Sarah dengan  nakal mulai meremas kontol Dewo yang sudah ngaceng tegak di balik celana. Demikian pula dengan Dewo, tangannya naik dan kembali meremas-remas buah dada Sarah yang menggantung indah di depan dada, hanya tertutup jilbab lebar karena kancing baju seragamnya sudah terbuka sedari tadi.
sarah

sarah

Terasa sangat empuk dan lembut sekali, Dewo menyukainya. Sambil meremas semakin kuat, ia merangkul dan melumat bibir Sarah dengan penuh nafsu. Lidah mereka saling bertaut dan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Sarah sampai menggelinjang dibuatnya, tidak ia pedulikan bibir tebal Dewo yang bau rokok dan tembakau. Yang ia inginkan cuma kepuasan, biarpun tahu kalau itu akan sangat menyakitkan nanti.
”Paman…” Sarah melenguh, ditahannya kepala Dewo agar tidak melakukan lumatan lagi. Ia memandangi Dewo dengan sikap memburu, sambil tangannya masih mengusap-usap kontol laki-laki tua itu penuh nafsu. Birahi Sarah terlihat menggelegak, terbuai oleh kengacengan kontol Dewo, yang merupakan kontol pertama dan satu-satunya yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Menyeringai senang, Dewo segera menerkam tubuh molek Sarah hingga gadis itu terjengkang ke belakang, tapi Dewo lekas menahan kepalanya agar tidak sampai terbentur ke pinggiran tempat tidur. Kini Sarah berbaring telentang di bawah, dengan Dewo menindih penuh hasrat dari atas. Di ranjang milik Dewo yang dekil, mereka mulai saling memeluk dan merangkul. Dewo dengan nakal menyingkap rok panjang Sarah hingga terbuka lebar, ia seperti tak sabar ingin menelanjangi gadis itu yang disambut Sarah dengan menarik celana Dewo dengan tak kalah ganasnya.
“Breeet!!“ celana Dewo robek di bagian depan. Kontolnya yang sudah mengacung tegak langsung terlontar keluar.
“Ahh…” Sarah sedikit memekik saat menerimanya, namun segera menggenggam dan mengelus-elusnya dengan penuh nafsu karena benda inilah yang memang ia cari dari tadi.
sarah

sarah

Dewo juga sudah selesai menelanjangi Sarah, diperhatikannya tubuh gadis itu yang mungil dan kurus namun sangat mulus sekali. Kulitnya begitu halus dan licin, juga sangat putih. Yang membuat Dewo geleng-geleng kepala adalah ukuran payudara Sarah yang begitu besar, terlihat tidak cocok dengan posturnya yang kecil. Putingnya yang masih perawan terlihat mencuat indah, menghiasi puncaknya yang memerah.
Sambil kembali saling melumat penuh nafsu, Dewo menyingkirkan untaian jilbab yang dikenakan Sarah ke belakang agar tidak mengganggu remasan tangan di buah dadanya. Ia sengaja tidak melepasnya, Dewo lebih suka mengentoti wanita yang masih berjilbab.
“Ooh… Paman… aah…“ erang Sarah ketika Dewo dengan nakal menangkupkan tangan ke gundukan payudaranya dan meremasnya pelan. Ia juga tidak menolak ketika tangan Dewo yang lain meluncur ke bawah, ke arah lubang memeknya.
“Pamaann…“ lenguh Sarah dengan mata terpejam. Terlihat jembutnya yang baru tumbuh meremang sangat menawan, lubangnya begitu rapat namun sudah basah. Dewo segera membelai dan mengusap-usapnya pelan, membuat Sarah makin merintih dan menggelinjang-gelinjang kegelian karenanya.
Tangan Dewo tak habis-habisnya bergerak kesana-kemari, mengelus dan meremasi tubuh mulus Sarah yang sangat membangkitkan gairahnya. Setelah Rohmah dan Wiwik, inilah saat bagi Dewo untuk mendapatkan seorang perawan kembali.
Sarah sendiri tanpa mempedulikan apa-apa lagi, meladeni lumatan Dewo pada bibirnya sambil tangannya menyelinap memegang batang kontol Dewo yang sudah ngaceng berat dan mengelus-elusnya perlahan.
“Luar biasa punya Paman… besar sekali!“ puji Sarah ketika Dewo melepas ciumannya.
“Itu namanya kontol, nduk… bilang, aku suka kontol! Gitu…“ kata Dewo sambil meremas buah dada Sarah keras-keras, membuat si cantik teman Wiwik itu mengaduh kesakitan.
“Auw! I-iya, Paman…” Sarah mengangguk. “A-aku suka kontol paman. Aku suka kontol Paman yang gede ini…” pekiknya sambil balas meremas batang kontol Dewo dengan kuat, membuat Dewo sampai menengadah ke atas merasakan sakitnya betotan tangan lentik dan jahil gadis manis itu.
Mereka berdua berpandangan sambil tersenyum, namun tak lama kemudian Sarah berbisik dengan senyum menggoda dan penuh gairah, “Ayo, Paman, cepat entoti aku!” pintanya dengan penuh harap. “Nanti keburu bu Nyai dan pak Kyai pulang.” tambahnya.
Dewo mengangguk, “Itu bisa diatur… sekarang emut kontolku dulu, nduk! Aku pengin dihisap sama kamu!“ kata Dewo sambil mengelus-elus memek Sarah yang sudah basah kuyup oleh gairah, membuat Sarah menggelinjang kegelian untuk sebentar.
jilbab seksi - nadia (6)
Gadis itu segera turun dari pangkuan Dewo dan kemudian berjongkok sambil membuka paha Dewo sedikit melebar. Ia lalu bersimpuh dengan menggunakan siku lututnya, dan langsung memasukkan batang Dewo ke dalam mulutnya. Sarah berusaha menelannya sambil menghisapnya kuat-kuat.
“Aauh…” erang Dewo mendongak ke atas. Meski emutan Sarah terasa kaku, tapi tetap saja membuatnya melenguh nikmat. Apalagi saat Sarah kemudian menggerakkan batang kontolnya keluar-masuk dengan cepat, Dewo semakin merasakan horny yang luar biasa.
Ia pun juga tak tinggal diam, dengan posisi Sarah berlutut seperti itu, tangan Dewo nemplok di payudaranya yang bulat dan mulai meremas-remas dengan nikmat, terasa sangat hangat dan empuk sekali.
“Terus, nduk… aah… telan air maniku… sebentar lagi aku muncrat!“ kata Dewo dengan tetap bermain pada buah dada Sarah.
Sarah menghentikan jilatannya sejenak, namun tangannya tetap mengocok batang kontol Dewo. Ia memandangi Dewo dengan senyum nakalnya, “Keluarin semua, Paman! Siram aku dengan pejuhmu!“ sahutnya dan kembali menjilati batang kontol Dewo berulang-ulang, lidahnya menjulur-julur membasahi mulai dari batang hingga sampai ke biji telur Dewo. Sarah menyapunya dengan lembut beberapa kali, sebelum naik kembali ke atas.
Ia kini berhenti menjilati batang kontol Dewo dan hanya mengocoknya dengan mantap. Dewo yang menerimanya jadi menggelinjang tak karuan, membuat Sarah tertawa kecil saat melihatnya. “Enak ya, Paman?“ tanyanya lugu dengan tangan terus mengocok batang kontol Dewo berulang-ulang.
“Iyaa… aah…“ dengan nakal Dewo membalas dengan memegang kedua buah dada Sarah dan meremas-remasnya sesuka hati sambil memain-mainkan putingnya. ”Emut lagi, jangan cuma dikocok!” perintahnya.
sarah

sarah

Sarah segera membuka kembali mulutnya, kemudian memasukan batang kontol Dewo ke dalam tenggorokannya. “Hhs… hhm… mmf…“ desis Sarah di antara kulumannya saat dengan dengan keras dan kuat, Dewo memilin-milin biji putingnya.
“Yah… begitu, nduk…” lenguh Dewo ketika merasakan Sarah menyepong kontolnya kuat-kuat, membuat Dewo sampai mengangkat kedua kakinya. Ia semakin tidak tahan, dadanya terasa panas sekali, menjalar sangat cepat ke perut dan kemudian menuju ke selangkangannya, membuat batangnya jadi berasa ingin muncrat.
“Nduk, aah… aku mau keluar!“ teriak Dewo dengan keras.
Sarah langsung berhenti dan memasukkan batang Dewo dalam-dalam ke rongga mulutnya, bahkan sampai mentok hingga ke tenggorokan. Tak sampai 1 detik, Dewo pun menyemburkan air maninya, ia menembak mulut Sarah dengan cairannya yang begitu pekat dan kental, sangat banyak dan penuh sekali.
“Crooot… crooot… crooot…“
Dewo menegang kaku sambil mendongak, ia sampai kelojotan mendapatkan orgasme pertamanya bersama Sarah. Baru di mulut saja ia sudah tidak tahan, apalagi kalau sudah pake memek dan anus. Mungkin kecantikan Sarah lah yang membuat Dewo jadi mudah menyerah seperti ini. Ia bertekad, untuk ronde kedua dan selanjutnya, ia harus lebih kuat. Ia harus bisa menundukkan gadis cantik ini.
Diperhatikannya lelehan sperma yang menetes dari sela bibir milik Sarah saat gadis itu memuntahkan kontol Dewo dan mulai menjilati dengan pelan sisa-sisa sperma yang masih menempel di ujungnya. Disapunya cairan putih itu dan ditelannya masuk ke dalam kerongkongannya. Tak lama kemudian batang Dewo menjadi bersih kembali, sedangkan Sarah senyam-senyum melihat Dewo terkapar di sandaran ranjang.
“Luar biasa… kontol Paman benar-benar hebat, sudah muncrat begini tapi tetap saja nggak lemas… masih bisa ngaceng setengah!“ puji Sarah dengan tertawa nakal. Ia lalu duduk di tempat tidur, menunggu Dewo yang masih terpejam merasakan nikmatnya orgasme dengan dioral olehnya.
Sarah kembali mempermainkan batang kontol Dewo dengan meremas-remasnya pelan, ia mengelus-elus sebentar sebelum kembali menciumi dengan menggunakan bibirnya yang sensual itu. Tubuh mulusnya tampak penuh oleh keringat birahi, sementara nafasnya juga ngos-ngosan akibat menahan gairah.
Dewo membuka matanya yang berkunang-kunang, diperhatikannya sesosok gadis cantik yang sedang tersenyum kepadanya, memamerkan besaran buah dadanya yang tumbuh sempurna, bahkan kemudian memundurkan badannya lalu membuka pahanya lebar-lebar untuk memamerkan belahan memeknya yang telah basah terbuai oleh nafsu birahi.
“Giliranmu sekarang, Nduk…” kata Dewo sambil duduk di hadapan Sarah yang sudah membuka selangkangannya, memamerkan bagian paling rahasia dari tubuhnya.
sarah

sarah

“Paman mau apa?“ tanya Sarah tak mengerti saat Dewo mulai menindih tubuh mulusnya. Ia mengira Dewo akan menjilati lubang memeknya seperti yang ia lakukan pada kontol laki-laki itu, namun ternyata tidak.
“Aku mau menjilati seluruh tubuhmu, Nduk!“ Dewo tersenyum gemas.
Sarah ikut tersenyum, suka dengan rencana itu. ”Segera jilati aku, Paman… berikan kenikmatan jilatanmu kepadaku!“ pancingnya dengan menarik tangan Dewo kemudian tertawa senang.
Dewo langsung membungkuk di atas tubuh gadis itu, buah dada Sarah yang besar tampak mengkilat oleh keringat, semakin menambah semangatnya. Dewo segera menjulurkan lidah dan mulai menjilatinya, sambil menggarap buah dada besar milik gadis itu, satu tangannya menyelinap ke bawah di antara selangkangan Sarah. Dewo mempermainkan jarinya menggelitik lubang surgawi yang ada disana.
”Ahh… Paman!” Sarah melenguh. Bak cacing kepanasan, tubuhnya melengkung ke depan yang segera ditangkap oleh Dewo dengan mencucupi kedua putingnya semakin keras.
Sarah menekuk kaki kirinya untuk menjepit tangan Dewo yang sangat nakal mengorek liang vaginanya, sedang lidah laki-laki itu terus menyusuri bulatan daging montok di dadanya yang bulat besar, menghisap dan menjilatinya berulang kali hingga membuat benda itu jadi semakin basah dan mengkilat.
“Ohh… Paman… geli!” rintih Sarah, tapi tidak ingin berhenti. Justru ia meminta Dewo agar meneruskan aksinya. ”Aah… terus jilat, Paman… arghh!!“ serunya dengan mata terpejam merasakan lidah Dewo yang bergerak kesana-kemari  di atas gundukan payudaranya. Laki-laki itu terus menyusurinya hingga seluruh permukaannya yang putih mulus jadi basah semua.
Dewo beberapa kali berhenti di bagian puting Sarah yang mungil kemerahan, ia langsung menelan dalam mulutnya dan mempermainkannya dengan lidah. Dewo mencucup dan menyedotinya dengan rakus dan penuh nafsu, sampai membuat Sarah menggapai-gapai mencari pegangan merasakan sensasi yang sangat luar biasa tersebut. Di bagian dada ia merasa geli karena dijilati oleh Dewo, sementara di bagian vagina, ia sungguh tak tahan saat tangan nakal Dewo terus mengorek-ngorek liang senggamanya. Memeknya yang basah kini menjadi semakin tak karuan akibat rangsangan Dewo.
“Aduh… geli, paman… aah…“ rintih Sarah dengan kepala menggeleng-geleng, ia seperti melonjak hendak bangun saat Dewo menusukkan jari ke dalam liang vaginanya, sedikit mencongkel disana, namun tertahan oleh tubuh Dewo yang sedang menikmati kemengkalan dan kemontokan susunya yang gede itu.
Dewo sedikit terkesiap saat mendengar deru langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Namun setelah memastikan kalau itu bukan milik Kyai Kholil, ia pun meneruskan kegiatannya. Sementara Sarah yang sudah diselimuti nafsu, sama sekali tidak tahu akan hal itu.
“Uuh… terus, Paman… nikmat sekali!“ serunya sambil mendorong kepala Dewo turun ke bawah.
Saat menjilati perut Sarah, Dewo melirik sebentar. Dilihatnya seseorang yang baru masuk itu mulai mencopoti pakaiannya. Kalau dilihat dari posturnya yang ramping, sepertinya itu adalah Wiwik ataupun Rohmah, salah satu dari mereka. Tidak mungkin kalau Nyai Siti karena kurang montok dan berisi. Dewo membiarkannya saja, ia masih ingin menikmati tubuh molek Sarah, gadis muda cantik yang ada di depannya ini. Siapapun yang baru masuk tadi, harus sabar menunggu.
Dewo menggeser tubuhnya agar tepat berada di antara paha ramping Sarah. Gadis itu langsung menjepit kepalanya sambil merengek lirih, “Yah… di situ, Paman… ooh… jilat disitu… di memekku… ahh…“ suaranya menghiba.
wiwik

wiwik

Sarah mendesis tak karuan saat Dewo mulai menjilati belahan vaginanya yang sudah terkuak memerah, saking nikmatnya ia sampai menggelinjang ke kanan dan ke kiri. Sarah terus menggeleng-geleng, kepalanya menoleh ke samping. Saat itulah, sepasang kaki jenjang tertangkap matanya. Langsung Sarah memekik kaget dan bangkit terduduk sambil mendorong tubuh Dewo dengan paksa.
“Aah… m-maaf, Wik… a-aku bisa menjelaskan… ini nggak seperti yang kamu kira…“ ujar Sarah dengan terbata-bata, namun ia terkejut ketika melihat Wiwik tersenyum.
“Kalian berdua main nggak aja-ajak… aku mau gabung!“ kata gadis yang ternyata adalah Wiwik.
Dewo tersenyum menyeringai, puas dengan keberuntungannya hari ini. Wiwik maju ke depan dan langsung duduk di sampingnya, sifat nakal gadis itu langsung muncul dengan merogoh kontol Dewo dan meremasnya pelan. “Aku kangen ini, Paman!“ bisik Wiwik pada Dewo.
“Ntar ya, aku pengin ngegenjot temanmu dulu… sudah gatal kontolku pengen ngerasain lubang tempeknya.“ Dewo menepis tangan Wiwik. Sementara Sarah yang mulai mengerti akan situasi yang sebenarnya, ikut mendorong tubuh Wiwik menjauh.
“Minggir dulu sana… dia milikku! Ntar nanti gantian…” katanya pada Wiwik, lalu berpaling pada Dewo, ”Ayo, Paman… cepat masukin kontolmu! Aku juga sudah nggak tahan…“ ajak Sarah sambil menarik kepala Dewo sehingga laki-laki itu segera mengarahkan batang penisnya ke dalam celah lubang vaginanya.
Di samping mereka, Wiwik hanya tersenyum sambil memamerkan tubuhnya yang lebih ramping dan tidak semontok Sarah itu.
Pelan pelan Dewo melakukan penetrasi ke dalam vagina Sarah yang sudah basah melebar. Rasanya sedikit sulit, persis seperti saat dia memperawani Rohmah maupun Wiwik. Namun palan-pelan, setelah didesak terus, batang itupun bisa menembus liang senggama Sarah. Gadis cantik itu menjerit sambil  merem saat keperawanannya terenggut. Ia menggigit bibir untuk meredam rasa sakitnya saat Dewo terus menerobos masuk dengan kontol besarnya.
”Aah… sakit, Paman… tarik dulu… auuh!“ lenguh Sarah dengan kepala menggeleng-geleng ke kanan dan ke kiri, membuat jilbab lebarnya beterbangan kesana-kemari. Di bawah, noda darah membasahi memeknya yang terluka.
“Hghh…” Dewo merasa kontolnya bagai disedot dari dalam, batangnya yang tenggelam di memek Sarah bagai dipilin dan diperas-peras dengan gemas oleh dinding kemaluan gadis itu.
Setelah terdiam sejenak, sambil menciumi dan meremas-remas payudara bulat Sarah, Dewo mendengar gadis itu berbisik. ”Genjot, Paman… ayo bergerak… sudah nggak sakit lagi!“
Atas perintah itu, Dewo pun  langsung melakukan gerakan naik turun di atas tubuh molek Sarah. Ia tindih tubuh montok itu di kasur serta memeluk dan menghujaninya dengan lumatan demi ciuman di bibir, sementara pinggulnya terus bergerak untuk menyetubuhinya.
”Ahh… Paman!” Sarah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Dewo, memberi ruang agar laki-laki tua itu tetap bisa mengeluar-masukkan batangnya dengan lancar. “Haah… aah… hhss…“ di lain pihak, ia kewalahan menahan serbuan Dewo di mulutnya. Sarah montang-manting menerima kuluman bibir Dewo dan remasan tangan laki-laki itu di buah dadanya.
Di sebelah mereka, Wiwik hanya bisa mendesis sendirian sambil mengobok-ngobok liang memeknya saat menonton persetubuhan itu. Liang memeknya tampak basah memerah akibat terangsang.
Dewo terus menyetubuhi Sarah dengan bergerak pelan-pelan, namun walau begitu sudah membuat Sarah kelabakan. Itu karena saking besar kontol Dewo yang terasa sekali menyesaki liang memeknya yang kini sudah tak perawan lagi.
“Aduh, Paman… aku nggak tahan… aaah… “ seru Sarah dengan suara semakin mengeras.
wiwik

wiwik

Dewo terus saja menyodokinya naik turun, mereka saling memeluk dan memilin mesra, sesekali meremas dan memagut satu sama lain. Tubuh mereka terlihat begitu kontras; Sarah putih dan mulus, sementara Dewo sudah tua dan keriput. Namun meski begitu Sarah terlihat begitu menikmatinya, ia tidak pernah menyesal memberikan perawannya pada Dewo.
Dewo sendiri tersenyum puas, ia senang bisa mendapatkan mangsa seperti Sarah yang masih sangat muda dan perawan. Bertambah lagi satu koleksi budak nafsunya. Diliriknya Wiwik yang kini memejamkan mata menikmati jari-jemarinya yang telah masuk ke dalam liang vaginanya. Gadis itu bermasturbasi sendiri.
“Terus, Paman… aku nggak kuat… aah… goyang lebih cepat… aah…“ rintihan Sarah menyadarkan Dewo. Ia langsung bergerak cepat dengan memeluk gadis itu lebih erat, sementara pantatnya maju mundur menghajar memek Sarah yang menjepit kuat batang penisnya. Berulang-ulang pantat Dewo menghujam dengan keras, bahkan cenderung kasar, namun malah membuat Sarah menjerit suka.
“Aah yah… begitu, Paman… genjot lebih kuat…” lenguh Sarah dengan menahan kepala Dewo yang kembali melumat bibirnya. Tusukan laki-laki tua itu membuat buah dadanya yang besar bergerak naik turun dengan begitu indahnya. Bahkan goyangan itu sampai membuat Wiwik terkesima.
“Paman, aku pengen… memekku gatal ini…“ pinta Wiwik dengan memelas.
Dewo tersenyum kepadanya, ”Sabar ya, Nduk… sebentar lagi temanmu ini selesai.” katanya sambil terus menggenjot dengan keras dan mantap sampai tumbukan alat kelamin mereka berbunyi nyaring. Vagina Sarah terasa menyempit, membetot batang Dewo dengan begitu kuat.
“Aaaahh…” Sarah melenguh panjang dengan tubuh menegang kaku. Sementara di atas, Dewo terus menhujamkan batang kontolnya dalam-dalam ke lorong vagina gadis itu, membuat Sarah sampai kelojotan tak karuan. Dari liang memeknya mengucur cairan panas membasahi batang kontol Dewo. Mata Sarah membuka sedikit, namun hanya terlihat warna putihnya saja. Dia orgasme.
Dewo berhenti menggenjot batang penisnya, diperhatikannya dada Sarah yang bergerak naik turun seiring tarikan nafasnya yang masih ngos-ngosan. Ia segera menindih dan merangkul erat tubuh gadis itu, bisa dirasakannya tubuh Sarah yang basah oleh keringat birahi. Setelah mereda, Dewo lalu bangun dan menarik keluar batang penisnya. Menghela nafas penuh kemenangan, ia pandangi tubuh montok Sarah yang masih terkapar di atas ranjang.
”Paman…” panggil Wiwik, meminta untuk diperhatikan.
Dewo memalingkan mukanya ke samping di mana Wiwik berada, gadis itu menunggunya dengan masih mengoral vaginanya menggunakan tangan. Dewo langsung berdiri dan menariknya ke dalam pelukan. Gemas ia remas-remas buah dada bulat milik Wiwik hingga membuat adik Nyai Siti ini menggelinjang kegelian.
“Remas terus, Paman…“ pinta Wiwik.
Dengan senang hati Dewo melakukannya. Meski buah dada itu tidak sebesar milik Sarah, namun terasa kenyal dan hangat sekali. Belum lagi wangi tubuh Wiwik makin menambah semangat Dewo untuk segera menembus ke dalam liangnya yang sempit. Tak tahan, Dewo pun melepaskan remasan tangannya dan berbaring telentang sambil memegangi batang penisnya.
“Segera naik, Lonte mudaku… segera naiki aku… masukkan kontolku ini ke dalam tempekmu!“ ajak Dewo pada Wiwik dengan menarik tangan gadis itu.
Wiwik langsung mengangkang di antara kedua kaki Dewo, kemudian menurunkan tubuhnya sampai belahan mungil di selangkangannya menyentuh kepala kontol Dewo. Pelan-pelan Wiwik menekan, bleess… matanya sampai melotot saat batang kontol Dewo mulai memenuhi dan mendesak penuh di lorong vaginanya.
Dewo memperhatikan bagaimana batangnya yang besar itu masuk ke dalam liang vagina Wiwik yang sempit. Rasanya sungguh sangat nikmat sekali. Mendapat dua gadis dalam waktu hampir bersamaan, benar-benar ia sangat beruntung. Sarah yang kelelahan, terlelap lemah di sampingnya, menonton persetubuhan mereka.
Batang Dewo yang telah menusuk masuk seluruhnya membuat Wiwik sampai menggigit bibirnya untuk menahan rasa nikmat. “Hegh… auw! Ah, galak bener kontol paman… sukanya menusuk-nusuk memekku!” lenguh Wiwik dengan kepala menggeleng-geleng.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya, menggoyangnya naik turun, menjepit dan menggesek kontol Dewo di liang senggamanya. Dewo hanya bisa mengelus-elus paha Wiwik yang putih mulus saat gadis itu mulai beraksi, sambil sesekali mengarah ke belakang untuk meremas dan membelai pantat Wiwik yang terasa sedikit lebih tebal dari milik Sarah.
jilbab semok - ervie (3)
”Ahh…” pelan-pelan Dewo merasakan kontolnya seperti dijepit-jepit, memang tidak sekuat memek perawan Sarah, tapi tetap membuat penisnya seperti mau dilempengin. Kontol Dewo lenyap ditelan vagina milik Wiwik, adik Nyai Siti itu terus menarik dan menekannya, lagi dan lagi, dengan hentakan keras dan kuat yang membuat kontol Dewo amblas mentok sampai ke bagiannya yang terdalam, namun masih menyisakan beberapa centi karena kontol Dewo memang terlalu panjang bagi memek muda seperti milik Wiwik. Hanya memek Nyai Siti yang bisa menampung semuanya.
“Paman… panjang sekali kontolmu!“ kata Wiwik dengan tersenyum dan terus bergerak naik turun.
Dewo langsung memeluknya dan menghujaninya dengan lumatan dan ciuman, membuat Wiwik sampai kewalahan. Dewo juga meremas buah dada gadis itu kuat-kuat, memilin-milin putingnya berulang kali hingga membuat Wiwik menggelinjang tak karuan ketika naik turun di atas tubuhnya.
“Biarkan aku menggenjotmu dengan bebas, Paman… lepasin ini,“ teriak Wiwik  dengan gemas.
Dewo langsung melepaskan pelukannya, dan Wiwik tanpa membuang waktu kembali bergerak dengan sangat erotis di atas tubuhnya. Buah dada gadis itu terlihat ikut bergerak naik turun, sangat indah sekali.
“Hhhs… aah… auh…“ lenguh Wiwik yang jepitan vaginanya terasa sangat erat sekali, namun kontol Dewo dengan lancar terus keluar masuk, laki-laki itu meladeninya dengan mengerakkan pantatnya naik turun.
“Ouh… uuh… Paman…“ keluh Wiwik yang mempercepat genjotannya karena sudah tidak tahan lagi. Sebenarnya saat masturbasi tadi, ia sudah akan mencapai puncak, namun dilihatnya Dewo telah selesai menggenjot tubuh Sarah, jadi dia meminta, orgasmenya jadi tertunda. Dan sekaranglah dia akan mendapatkannya.
Detik demi detik berlalu, gerakan naik turun tubuh Wiwik semakin cepat dan membabi buta, memeknya menyempit dengan cepat. Dewo yang menyadari kalau gadis itu hendak mencapai puncak, dengan hujaman keras terakhir menusukkan penisnya dalam-dalam. Wiwik langsung langsung menegang dengan kaku, tubuh rampingnya melengkung ke depan. Dewo meremas buah dadanya dengan keras, membuat adik Nyai Siti itu kelojotan dan kemudian…
“Hhh… aaahh…“ teriak Wiwik saat mengucurkan cairan beningnya membasahi batang kontol Dewo.
Dewo segera menahan dengan tangan kiri agar Wiwik tidak sampai terjengkang ke belakang. Ia menarik dan memeluk gadis itu serta menghujaninya dengan ciuman di leher. Tubuh Wiwik penuh keringat, tapi sangat lemas bak tanpa tulang. Itu semua akibat orgasmenya yang masih melanda.
Pelan-pelan tangan Wiwik bergerak dan memeluk Dewo erat. “Terima kasih, Paman… nikmat sekali… nanti lagi ya… semprotkan pejuhmu ke mulutku!“ bisiknya pelan di telinga Dewo.
“Itu pasti “ jawab Dewo singkat. ”tapi sebelum itu, aku pengen nyoba anus temanmu dulu.”
“Segera hajar dia, Paman… setelah itu puaskan aku! Anusku juga kangen sama kontol paman.“ kata Wiwik sambil memegang batang Dewo yang masih ngaceng penuh, kemudian mundur teratur dan mengedipkan mata pada Sarah yang sudah kembali tersadar.
Dewo segera berbalik, dilihatnya Sarah sudah mengangkang memamerkan liang anusnya yang keriput memerah. “Ini kan yang Paman inginkan?” tanyanya menggoda. ”Segera naiki aku, Paman… ayo tindih aku!“ rengek Sarah yang sudah kembali diselimuti nafsu.
”Hahaha…” Dewo tertawa senang melihat Sarah memohon agar disetubuhi lagi, dia segera meringsut mendekatinya.
Sarah membuka pahanya lebar-lebar, “Mari, Paman… masukin kontolmu segera.“ ia merengek lagi tak tahan.
Dewo langsung memajukan penisnya dan menempelkannya ke lubang anus Sarah yang merah merekah, pelan ia menekan dengan tenaga besar hingga membuat gadis itu mendelik dan menggelinjang merasakan batang kontol Dewo yang menembus liang anusnya mili demi mili.
“Ooh… sakit, Paman… tapi gak apa… aku tahan…“ lenguh Sarah dengan suara keras dan kepala menggeleng kesana-kemari.
Dewo pun terus melakukan penetrasi sampai batangnya mentok di liang anus gadis itu. Di bawah, Sarah meringis merem melek saat menerimanya. “Tahan, Paman… jangan keburu digoyang, biar rasa sakitku hilang dulu…” pintanya dengan nafas ngos-ngosan menahan nyeri.
Dewo segera merangkul dan memberikan pagutan mesra di bibir, yang langsung dibalas oleh Sarah dengan sepenuh hati. ”Aah, Paman… luar biasa sekali kontolmu, bikin aku jadi ketagihan.” kata Sarah. Namun belum lama mereka saling memagut, Dewo sudah keburu melakukan tarikan pada batang penisnya dan mendorong pelan, menembus anus perawan milik gadis itu, membuat Sarah jadi kaget dan spontan menjerit-jerit tak karuan.
“Aah… Paman… stop… hentikan… sakit… aah… auh… hhs… argh!!“ erangnya berulang-ulang.
Sama sekali tidak peduli, Dewo terus melakukan genjotan demi genjotan, sampai membuat Sarah hanya bisa menunjukan warna putih pada matanya yang bulat. Gadis itu benar-benar takluk merasakan batang kontol Dewo yang terus menghajar memeknya berulang-ulang, walau sodokannya tidak keras namun sangat terasa.
Dewo mengejar bibir gadis itu dan disambut dengan lumatan mesra oleh Sarah. Tangan Dewo juga tak mau ketinggalan, sambil terus menggoyang, ia meremas-remas buah dada Sarah yang besar, yang menggantung indah di dada gadis itu. Perbuatan itu membuat Sarah menggelinjang kesana-kemari, ia tidak mampu membalas, hanya bisa berteriak keras merasakan penetrasi Dewo yang semakin cepat pada lubang anusnya, sementara tubuhnya terus dibelai dan diremas sedemikian rupa oleh laki-laki tua itu.
“P-paman, a-aku nggak t-tahan…” kata Sarah dengan terbata-bata, ia rasakan tubuh Dewo terus bergerak maju-mundur menerobos lubang belakangnya sambil tangan laki-laki itu meremas-remas tonjolan buah dadanya yang bulat besar tanpa henti.
“Iya, aku juga sudah nggak tahan, nduk…“ sahut Dewo cepat.
“Aduh, Paman… rasanya aku mau keluar…” pekik Sarah tak tahan.
”Keluarin aja, jangan ditahan!” balas Dewo dengan menggenjot lagi semakin kuat dan cepat. Betapa indah sekali pantat gadis muda ini, benar-benar membulat dan sangat padat. Dewo segera meremas-remasnya gemas dengan dua tangan.
“Iya, Paman… sebentar lagi.” sahut Sarah dengan keras.
”Ahh…” Dewo ikut melenguh saat dirasakannya anus Sarah menyempit dengan cepat, dinding-dindingnya terasa menegang kuat saat gadis itu mendapatkan orgasmenya. Dari liang vaginanya mengucur cairan cinta yang amat banyak, membasahi kasur dan sprei.
wiwik

wiwik

Tak peduli dengan hal itu, Dewo terus menyodokkan penisnya kuat-kuat. Ia juga merasakan hawa panas di perutnya dan menjalar dengan sangat cepat menuju ke arah selangkangannya. Sarah yang tadi kelojotan, kini sudah diam tak bergerak. Hanya desah nafasnya yang masih terdengar memburu cepat. Dewo menjulurkan tangan, kembali diremasnya buah dada Sarah yang menggelantung indah dan sangat eksotis, luar biasa besarnya buah dada itu, membuat Dewo jadi tak bosan-bosan untuk memegang dan menangkupnya dengan telapak tangan.
“Sudah, Paman… aah… s-sudah… sakit…“ keluh Sarah yang sudah sangat lemas.
“Sebentar, Nduk… aku juga mau sampai“ balas Dewo sambil menghujamkan  batang penisnya beberapa kali lagi sebelum akhirnya tubuhnya menegang dengan kepala mendongak ke atas saat ia mendapatkan orgasmenya. Tanpa sungkan Dewo menyemburkan air maninya ke dalam liang anus Sarah yang sempit dan memerah akibat lelehan darah.
“Crooot… crooot… crooot…“
Dewo menyeringai, tubuhnya jadi terasa sangat enteng dan ringan, sementara matanya menggelap dengan jiwa terasa terbang ke langit tinggi. Penuh kepuasan, ia pun ambruk menindih tubuh molek Sarah. Dewo merasakan spermanya seperti ada yang meleleh keluar dari sela-sela liang anus gadis itu saat perlahan batang penisnya layu dan melembek meski tidak seratus persen.
Mereka berdua terdiam, Dewo memperhatikan bibir Sarah yang tersenyum merasakan kepuasan disetubuhi olehnya. “Trims, Paman… aku puas sekali… aku harap ini bukan yang terakhir.” bisik gadis itu dengan gemas.
“Aku juga suka dengan tubuhmu, nduk…” Dewo menarik diri hingga kontolnya yang setengah melembek copot dari jepitan liang anus Sarah. Dari dalam lubang itu menetes cairan kental berwarna putih, Sarah sedikit memekik saat melihat ceceran air mani Dewo yang begitu banyak.
“Gila! Pantas anusku jadi terasa begitu penuh.“ ujarnya dengan takjub.
Dewo menyeringai, ”Kalau kamu ingin terus merasakan kontolku, ada syaratnya…”
Sarah menoleh, ”Katakan, Paman, pasti akan kulakukan.” kata gadis itu penuh keyakinan. Sama seperti budak-budak Dewo yang lain, ia juga rela melakukan apa saja asal bisa kembali merasakan sodokan kontol panjang laki-laki tua itu.
”Carikan aku memek yang lain.” kata Dewo. ”untuk setiap memek yang kamu dapat, kuhadiahi dengan entotan di mulut, memek dan anus. Bagaimana, kamu sanggup?” tanyanya.
Sarah mengangguk dengan cepat. ”Pasti, Paman… akan kuusahakan.” yakinnya.
Dewo menyeringai dan berpaling pada Wiwik yang masih setia menunggu. ”Sekarang giliranmu, Nduk… masih mau dientoti di anus?” tanyanya mesum.
Wiwik lekas mengiyakan dan mempersiapkan diri.
“Jika pengin merasakan kontolku… jilati dulu sperma yang menempel di memek temanmu ini, sambil nunggu kontolku bangun lagi.” Dewo menunjuk belahan pantat Sarah.
Tanpa membantah dan membuang-buang waktu, Wiwik segera beringsut mendekati Sarah, Tanpa rasa jijik dijilatinya lubang anus Sarah yang penuh oleh pejuh Dewo, ia melakukannya hingga bersih. Sarah hanya tersenyum saja menerimanya, ternyata adik Nyai Siti yang kelihatan alim ini juga doyan sperma seperti dirinya. Sarah sama sekali tak menduga.
“Hmm… gurih sekali sperma Paman… aku suka!“ ucap Wiwik dengan mata berbinar. “Beri aku kepuasan seperti Sarah… bikin anusku jadi penuh oleh pejuh paman.“ rengeknya saat melihat batang kontol Dewo yang kini kembali ngaceng.
Dewo segera mendorong tubuh gadis itu sehingga Wiwik berada dalam posisi menungging. Terdengar jeritan kecil dari adik Nyai Siti itu saat Dewo mulai menusukkan batang penisnya. ”Aah… auh…“ lenguh Wiwik penuh kenikmatan.
“Dasar sundal… nih, terima kontolku!“ ucap Dewo sambil mulai bergerak maju mundur menyetubuhi gadis itu, begitu kerasnya ia menusuk hingga membuat Wiwik sampai tergoncang-goncang tak karuan.
“Paman… aah… enak… teruskan!“ lenguh Wiwik dengan kepala menggeleng kesana kemari, bahkan badannya ikut bergerak-gerak menggelinjang untuk mengimbangi genjotan brutal Dewo. Namun Dewo segera menguncinya dengan melakukan remasan ke buah dadanya yang pas segenggaman tangan.
“Ehs… Paman… aduh…“ erang Wiwik dengan suara sangat mengundang birahi. Ia bisa merasakan kontol Dewo bergerak keluar masuk dengan sangat lancar pada lubang anusnya, gesekan demi gesekan di lubang sempit itu membuat kontol Dewo seperti diperas dan dipilin-pilin ringan. Terdengar bunyi kecipak berulang-ulang setiap kali alat kelamin mereka saling bertumbukan.
Genjotan demi genjotan, erangan demi erangan, desisan demi desisan, silih berganti bersahutan di siang yang beranjak senja itu. Kontol Dewo terus mengoyak liang anus Wiwik, sementara Wiwik cuma bisa mengelus-elus bagian atas vaginanya sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
“Terus, Paman… aah… enak!” rintih Wiwik dengan mata terpejam. “Aku nggak kuat…” tambahnya dengan muka memerah.
Dewo segera mempercepat genjotannya. Jeritan keras membahana dari mulut manis Wiwik, membuat suasana kamar itu jadi semakin berisik. Bunyi kecipak semakin ramai seiring batang kontol Dewo yang terus menyodok-nyodok dengan kuat dan keras. Wiwik yang sudah tidak tahan digenjot seperti itu, tangannya meremas sprei. Sementara matanya terpejam erat, jika terbuka, hanya warna putihnya saja yang tampak.
”Ahh… anusmu enak, nduk!“ bisik Dewo dengan tetap menggenjot maju mundur. Tidak ada sahutan dari Wiwik, hanya desisan dan lenguhannya saja yang terdengar. Kepala gadis itu masih terbenam ke ranjang, sambil tangannya memukul-mukul bantal pertanda sudah sangat kelelahan melawan keperkasaan Dewo.
Di saat yang sama, vagina Wiwik menjepit kuat, sementara tubuhnya mendongak dan menegang kaku. Dewo tahu kalau gadis itu sudah mencapai orgasmenya, namun ia tetap menyodokinya dengan sepuas hati, malah cenderung lebih cepat.
“Aah… aah… uuh…“ hanya itu suara yang keluar dari mulut Wiwik.
Dewo terus menghujamkan penisnya, ia juga ingin cepat menuntaskan birahinya. Sudah waktunya Kyai Kholil dan Nyai Siti kembali, Dewo tidak mau dipergoki. Maka jadilah ia menggenjot dengan lebih kuat dan brutal. Pada tusukan terakhir, saat dirasanya kenikmatan benar-benar terkumpul di ujung selangkangannya, Dewo membenamkan kontolnya dalam-dalam di liang anus Wiwik dan menyemburkan spermanya yang kental dan hangat disana.
“Crooot… crooot… crooot…“
Dewo merasa tubuhnya menjadi ringan, ia berkelojotan sejenak saat terus menyemburkan air maninya, mengurasnya hingga tetes terakhir. Laki-laki itu menjadi lemas dan seketika ambruk ke depan menindih tubuh molek Wiwik. Wiwik yang juga kelelahan, ikut luruh dan berdebam ke samping ranjang hingga membuat hujaman kontol Dewo terlepas. Batang coklat panjang itu tampak penuh oleh lendir, begitu juga dengan anus Wiwik yang terus meneteskan cairan putih kental secara perlahan-lahan.

MURTI 6

Setelah ngebut menembus hujan lebat selama dua jam, Gatot sampai di jalanan tanah menuju desa Cemorosewu. Ia berhenti dan turun dari motor, menuntun motor itu menuju semak-semak, menutupinya dengan tanah lempung dan daun-daun, lalu meninggalkannya disana. Langit yang menghitam berwarna sama dengan bayangan tubuhnya yang serba hitam, berkelebat cepat di sepanjang tepian desa Cemorosewu, dalam sepi sunyi yang teramat senyap.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan sebuah rumah. Mata elangnya menatap nyalang mengamati rumah itu dari atas pohon mangga. Ia lalu melompat ringan dan hinggap di genteng rumah. Seluruh panca indranya bekerja dan senyumnya mengembang dari balik topeng hitam. Dengan penuh tenaga, ia jejakkan kaki menjebol genteng dan dalam hitungan detik ia sudah berada di dalam sebuah kamar.

Gerakannya teramat sangat cepat menghunus golok dan mengayunkan ke arah sesosok tubuh yang masih berbaring. Tidak ada teriakan dan sosok itupun mati seketika. Setelah itu ia menyelinap dalam gelap dan berkelebat cepat hingga sampai di tempat ia menyembunyikan motor. Kemudian ia pergi bagai hantu.

***

Di pagi yang masih diselimuti mendung, desa Cemorosewu geger. Kentongan berbunyi bertalu-talu memanggil penduduk untuk berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa. Pengumuman disebarluaskan melalui mulut ke mulut, dari surau ke surau, dari satu dusun ke dusun yang lain. Bendera hitam berkibar di sepanjang jalan menuju desa.

“TELAH TUTUP USIA BAPAK ASNAWI, PEMIMPIN DAN SESEPUH DESA CEMOROSEWU.”

Begitulah inti dari kegegeran itu. Dalam sekejap rumah kepala desa dipenuhi ratusan orang. Di jalan-jalan masyarakat ramai membicarakan penyebab tewasnya bapak kepala desa. Ada yang bilang kepala desa mati dibacok. Yang lain berkata kepala desa dibunuh selingkuhan istrinya. Banyak juga yang yakin kepala desa mereka korban balas dendam. Semuanya masih simpang siur.

Murti terbangun dari tidurnya oleh dering handphone. Semalaman ia tidur sendiri karena Pak Camat, suaminya, belum pulang. Ia sangat malas untuk bangun. Tapi dering handphone tak kunjung berhenti, memaksanya menyingkirkan selimut dan sempoyongan mendekati meja rias, meraih HP untuk mencari tahu siapa yang berani mengusik tidurnya di pagi buta begini.

“Assalamu’alaikum,” jawab Murti.

“Wa’alaikum salam… selamat pagi, Bu. Saya cuma mau menyampaikan kabar kalau pagi ini Madrasah diliburkan. Ayahnya Bu Aisyah meninggal.” kata suara di seberang.

“Pak Asnawi meninggal? Kapan terjadinya, Bu Minah?” tanya Murti pada rekannya sesama guru yang menelepon.

“Tadi malam. Kalau Bu Murti mau ikut melayat, bisa ikut rombongan guru-guru.” kata Bu Minah.

“Baiklah, Bu Minah. Biar saya berangkat sendiri saja. Terima kasih informasinya, Bu.” kata Murti.

Murti tidak bisa tidur lagi. Kabar yang disampaikan oleh Bu Minah membuatnya terkejut. Tidak ada angin, tiba-tiba ada kabar buruk bahwa Pak Asnawi, salah satu pendiri Madrasah, ayah kandung dari Aisyah, kepala desa Cemorosewu, meninggal dunia. Ia pun segera keluar kamar dan menuju halaman belakang. Terlihat olehnya Gatot sedang mengambil air.

“Tot, cepat mandi. Antar aku ke rumah Aisyah.” kata Murti.

“Di mana itu, Mur?” tanya Gatot.

“Cemorosewu. Kutunggu di rumah ya,” tanpa menunggu jawaban, Murti berbalik masuk ke dalam rumah.

Wajah Gatot langsung berubah begitu mendengar kata Cemorosewu. Entah kenapa hatinya berdebar-debar tak nyaman. Tapi perintah Murti harus dilaksanakan karena Murti adalah istri majikannya, yakni Pak Camat. Menolak perintah Murti sama saja dengan menolak perintah Pak Camat. Maka Gatot pun tidak meneruskan pekerjaannya mengambil air. Ia langsung masuk dan tidak sampai sepuluh menit sudah berada di ruang tamu rumah Pak Camat. Gatot heran karena suasana rumah Pak Camat masih sangat sepi, padahal ini masih teramat pagi. Lagipula tidak mungkin Pak Camat pergi ke kantor tanpa bersamanya.

“Pak Camat sudah berangkat ya, Mur?” tanya Gatot sambil memandangi Murti yang baru keluar dari kamar mandi.

“Suamiku malah belum pulang sejak kemarin. Entah dimana dia,” kata Murti.

Gatot pun manggut-manggut sambil matanya nyalang memandangi tubuh Murti yang masih belum berpakaian lengkap, belum memasang kerudung, bahkan belum juga mengenakan pelindung. Tubuh yang masih setengah basah itu tampak begitu indah, memancing penuh hasrat gairahnya. Tapi Gatot lekas berpaling dari hadapan Murti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia kembali memikirkan Pak Camat yang menurut Murti belum pulang sejak kemarin.

’Berarti Pak Camat masih ada di sana,’ pikir Gatot dalam hati. Ia sangat tahu persis dimana Pak Camat berada saat ini, tapi ia tidak mau memberitahukannya pada Murti. Semua ini ia lakukan demi sebuah janji.

Gatot cuma menyayangkan kenapa Murti harus menikahi pria semacam Pak Camat, yang kurang lebih sama bejatnya dengan dirinya sendiri. Pak Camat lebih suka bersenang-senang dengan daun muda, meninggalkan istrinya yang cantik merana seorang diri. Istri yang kemarin ia gauli dengan sepenuh hati.

“Ayo berangkat, Tot!” seru Murti mengagetkan lamunan Gatot.

“B-baik.” Gatot berpaling cepat. ”Betulkan kerah bajumu dulu, Mur.” tambahnya saat melihat kerah baju Murti yang sedikit terbuka, menampakkan belahan buah dadanya yang ranum dan indah.

Murti mesem, tapi tetap membiarkan kerah bajunya melonggar. Ia juga tidak memakai kerudung yang sengaja ia simpan di dalam tas kecil. Murti merasa aman di dalam mobil yang baru sebulan dibeli Pak Camat. Kacanya gelap, inilah mobil pribadi yang dibeli Pak Camat khusus untuknya. Selama ini mobil baru itu nongkrong di garasi karena Pak Camat lebih suka mobil dinas, sementara ia sendiri belum bisa nyetir.

“Sebaiknya kamu turuti suamimu, Mur. Sayang kan kalau mobil sebagus ini cuma diam saja di garasi.” kata Gatot saat mereka mulai meninggalkan rumah Pak Camat.

“Kamu serius mau ngajari aku nyetir?” tanya Murti.

“Tentu. Apalagi Pak Camat sudah memberi ijin.” sahut Gatot.

“Aku tidak mau,” sergah Murti.

“Kenapa? ’Kan malah enak. Kemana-mana kamu bisa pergi sendiri.” kata Gatot.

“Aku tidak suka pergi sendiri.” sahut Murti.

Gatot menghela nafas. Ia pun berusaha untuk mengganti topik pembicaraan, “Ada keperluan apa kamu minta diantar ke Cemorosewu?” tanyanya.

“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Murti, masih sedikit ketus.

Gatot diam tidak bertanya-tanya lagi. Murti memang seperti tidak ingin diganggu saat ini. Mungkin karena ketidakpulangan Pak Camat malam tadi. Jadilah dua insan itu terdiam dalam sepi. Larut dalam irama hati masing-masing. Murti lalu rebah, menyandarkan kepalanya ke dada Gatot, sementara tangannya menyusup ke balik kemeja Gatot dan mengusap bulu-bulu dada pria kekar itu.

“Aku sangat menyesali diriku, Tot.” bisik Murti lirih.

Gatot menghela napas dan mengurangi kecepatan mobil untuk mengimbangi konsentrasinya yang mulai terpecah. “Apa yang membuatmu menyesal?” tanyanya sambil membelai rambut panjang Murti dengan tangan kiri.

“Aku menyesal kenapa harus menikah dengan Mas Joko.” kata Murti lirih.

“Itulah jodohmu, Mur. Pak Camat sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga cinta dia.” balas Gatot.

“Salah. Aku tidak mencintai Mas Joko, Tot. Aku menikah dengannya demi menyenangkan hati ayahku. Abah yang memilih jodoh untukku, Tot.” terang Murti.

“Semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, Mur. Pun demikian dengan ayahmu. Nyatanya Pak Camat memang baik.” kata Gatot.

“Tapi aku tidak mencintainya,” Murti bersikeras.

“Cinta sudah tidak penting buat orang seusia kita, Mur. Apalagi kamu sudah bertahun-tahun berumah tangga.” Gatot mencoba bersikap bijak.

“Tapi cintaku hanya buat satu orang saja, Tot.” tukas Murti.

“Siapa itu?” tanya Gatot, meski dalam hati ia takut dengan jawabannya.

“Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, orang itu membuatku ingin mengakhiri saja kehidupan rumah tanggaku.” jelas Murti.

“Janganlah terbawa perasaan, Mur. Belum tentu setelah cerai nanti kehidupanmu jadi lebih baik.” kata Gatot.

“Jadi kamu mendoakan aku sengsara seumur hidup?” sengit Murti.

“Aku hanya mengatakan hal-hal yang pernah kualami, Mur. Aku adalah potret dari manusia yang gagal dalam perkawinan.” kata Gatot.

”Aku tidak peduli,” Murti mencubit perut Gatot dan tersenyum ketika merasakan sesuatu yang kaku tersentuh oleh ujung jemarinya. Wajahnya bersemu merah, semerah bibir yang basah dan merekah bagai mawar itu, menanti hisapan sang kumbang. ”Ahh,” Murti mendesah, melenguh ketika merasakan tangan Gatot yang semakin turun dan terus turun, lalu hinggap di atas gundukan payudaranya.

Tapi sayang sekali, disaat sang kumbang akan menghisap sisa madu yang tentu masih terasa manis itu, gerbang desa Cemorosewu sudah siap menyambut. Terpaksa acara intim mereka harus diakhiri sampai disitu. Murti segera memperbaiki posisi duduknya, ia juga lekas memasang kerudung hitam dan membenahi kancing baju muslimnya yang tadi sempat sedikit terbuka, dan menyapu wajahnya dengan make up tipis. Dengan cepat ia telah menjelma kembali menjadi ibu guru Madrasah yang cantik dan alim.

“Kamu tahu arti umbul-umbul hitam itu, Tot?” tanya Murti pada Gatot.

“Hitam identik dengan duka dan kematian. Benar kan?” tebak Gatot.

“Benar. Hari ini desa Cemorosewu berkabung. Pak Asnawi, kepala desa ini meninggal semalam.” kata Murti.

“Kamu mau melayat?” tanya Gatot.

“Iya. Untuk menghormati Aisyah, Tot. Dia pasti sangat terpukul oleh kematian ayahnya.” sahut Murti.

Gatot merasakan ulu hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Murti. Mulutnya terkunci dan wajahnya berubah pias. Ia ingin bicara tapi tak bisa. Ocehan Murti sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia lebih sibuk mendengarkan kata hatinya sendiri.

“Kita sudah sampai, Tot. Ayo ikut ke dalam.” ajak Murti.

Gatot melangkah ragu memasuki rumah duka. Semakin masuk ke dalam rumah, hati dan perasaannya semakin gundah dan gelisah. Terlebih setelah ia dan Murti sampai di kamar tempat sesosok tubuh terbujur kaku, dibungkus kain jarik dan dikelilingi beberapa orang. Tubuh pak kepala desa. Gatot tak menyangka sama sekali. Terlebih ketika seorang wanita menoleh, wanita yang seketika menyiksa batinnya. Wanita itu adalah Aisyah, wanita jelita yang kini bersimbah airmata.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” kata Murti.

“Wa’alaikum salam, Bu Murti, silahkan duduk. Silahkan, Mas.” kata Aisyah pada Gatot.

“Terima kasih. Biar saya di luar saja.” jawab Gatot. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai tanda bela sungkawa lalu melangkah keluar, menuju kerumunan polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar rumah kepala desa. Begitu ia muncul, para polisi langsung mengajaknya ngobrol. Maklum sebagian besar polisi telah mengenalnya. Ia juga sudah dikenal karena seringnya mendatangi kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak.” sapa Gatot.

“Selamat pagi, Tot. Kamu melayat?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, Pak. Saya ngantar Bu Murti, istrinya Pak Camat.” Gatot terdiam sejenak sambil memperhatikan sekitar rumah. “Kok banyak anggota bapak disini?” tanyanya kemudian.

“Kami sedang melakukan olah TKP. Ini kan pembunuhan.” kata polisi itu.

“Pembunuhan?” Gatot pura-pura tidak tahu.

“Benar. Semalam kepala desa dibacok orang. Kepalanya hampir putus.” jawab sang polisi.

“Sudah dapat pelakunya, Pak?” tanya Gatot.

“Sampai saat ini belum. Kami masih menanyai beberapa saksi dan berusaha mencari barang bukti.”

“Kan biasanya ada petunjuk, Pak?” kata Gatot.

“Pembunuh yang ini mahir, Tot.” jawab si anggota polisi. ”Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hujan deras semalam juga menyulitkan kami.” terangnya.

“Semoga cepat terungkap, Pak.” sahut Gatot.

Polisi itu mengangguk. “Oh ya, Tot. Ada kabar kalau ayahmu mendapat pengampunan. Dia cuma dihukum seumur hidup.” kata polisi itu.

“Apapun yang terjadi pada ayah saya, biar saja. Bapak sudah tahu keputusan saya.” jawab Gatot.

“Bapak mengerti.” Polisi itu mengangguk. “Tuh, Bu Murti manggil kamu,” dia menunjuk ke arah rumah Aisyah.

Gatot menoleh dan tersenyum, “Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Ia meninggalkan sang komandan polisi dan menghampiri Murti. Kini Gatot telah berada kembali di hadapan Aisyah, yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu. Ia tidak berani berlama-lama menantang sorot mata itu. “Jam berapa pemakamannya?” tanyanya pada Aisyah.

“Sepuluh menit lagi, Mas. Saya harap Mas Gatot ikut mendoakan ayah saya.” sahut Aisyah.

“Saya akan berdoa, Aisyah. Semoga kamu tabah.” jawab Gatot.

“Saya menerima ini dengan ikhlas, Mas. Semoga pembunuh ayah saya mendapat rahmat dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga dia juga ikhlas menyerahkan diri.” kata Aisyah lirih, air mata kembali bergulir di matanya yang lentik.

“Allah mendengar doa orang-orang yang ikhlas, Aisyah.” timpal Gatot dengan hati tercabik-cabik.

“Terima kasih, Mas. Pemakaman sudah siap. Saya mohon Bu Murti dan Mas Gatot mau mendampingi saya.” pinta Aisyah.

Permohonan itu membuat Gatot semakin resah dan gelisah. Terlebih saat jemari halus gadis itu menggandengnya menuju pemakaman umum yang cuma beberapa langkah saja dari rumah duka. Ia sungguh tak mampu berkata-kata. Gatot kini berada di sisi sebelah kanan Aisyah, sementara Murti ada di sebelah kiri. Ia tak kuasa menolak cengkeraman jemari yang semakin kuat menggenggam lengannya, ikut merasakan isak tangis yang tak tertahan saat jenasah diturunkan ke liang lahat dan tanah-tanah mulai menimbun.

Belum selesai makam ditimbun, sosok mungil Aisyah limbung, tepat di rengkuhan Gatot. Aisyah pingsan dan wajah ayunya pucat kelelahan. Gatot dengan dibantu beberapa orang segera membopong Aisyah dan membawanya kembali ke dalam rumah.

“Tolong dijaga ya, Mas.” kata seorang warga memintanya menjaga Aisyah.

“Baik, Pak.” angguk Gatot.

Kini ia berada berdua saja dengan Aisyah, gadis berhati mulia yang tiba-tiba mengingatkannya pada sang ibunda. Ia melihat sosok Aisyah yang terbujur sama seperti ia melihat sosok ibunya saat tidur. Sangat damai. Membuat matanya jadi terasa panas, menahan airmata agar tidak jatuh. Tapi usahanya gagal dan setitik airmatanya jatuh ke wajah Aisyah, tepat di saat gadis itu perlahan membuka mata.

“Abaaah,” lirih suara Aisyah, terucap dengan getar yang menghantam seluruh sendi tubuh Gatot. Laki-laki itu terpaku, diam membatu menatap Aisyah tanpa menyadari ia telah menggenggam jemari Aisyah dengan sangat kuat.

“Saya bisa merasakan kesedihanmu, Aisyah.” bisik Gatot tulus.

“Saya tidak sedih dengan kematian abah, Mas. Tapi sedih dengan dosa pembunuh abah.” sahut Aisyah.

“Tuhan akan membalas setiap perbuatan umatnya.” balas Gatot.

“Semoga dosa orang itu terampuni, Mas. Aisyah ikhlas lahir dan batin.” kata Aisyah.

“Keikhlasanmu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, Aisyah. Maafkan saya,” Gatot melepaskan cengkeramannya. Ia meninggalkan Aisyah dan pergi ke mobil.

Sambil menunggu Murti, Gatot tercenung sendiri, merenungi betapa kejahatan yang telah ia lakukan semalam telah membuat begitu banyak orang berduka, membuat beberapa hati terluka. Ia sungguh tidak tahu siapa sebenarnya orang yang semalam mati di ujung golok mautnya. Yang ia tahu tentang kepala desa Cemorosewu adalah bahwa lelaki itu adalah salah satu begundal bejat yang mencabut nyawa ibunya. Ia sama sekali tidak tahu tentang Pak Asnawi yang kata orang-orang adalah sosok dermawan, berjiwa sosial, ulama terkenal, pendiri madrasah tempat Murti mengajar.

Yang paling menyakitkan dan menyiksa batinnya ialah kenyataan bahwa kepala desa Cemorosewu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Aisyah. Berarti lantunan ayat-ayat suci yang ia dengar semalam adalah suara Aisyah, sosok manusia bermukena yang sempat ia intai adalah gadis mulia berwajah jelita itu. Sekarang gadis itu dirundung duka akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Untung semalam ia tidak meneruskan niat menghabisi seluruh keluarga kepala desa. Untung Aisyah terlalu khusyuk mengaji sehingga tidak mendengar tragedi semalam. Untung ia urung untuk menelanjangi sosok bermukena itu. Lebih untung lagi, Aisyah sama sekali tidak tahu bahwa pembunuh itu adalah dirinya. Pun demikian dengan polisi yang tidak curiga padanya.

Gatot menyandarkan kepala ke jok mobil, memejamkan mata untuk beberapa saat hingga ia merasa seseorang mencubit pahanya. Ia membuka mata dan melihat Murti sudah ada disana. “Ayo kembali ke kota, Tot.” kata perempuan cantik itu.

Mereka pun meninggalkan desa Cemorosewu dengan diiringi lambaian umbul umbul hitam yang tertiup angin. Warna hitam yang membuat seluruh jiwa jadi muram. Gatot dan Murti sama-sama diam. Hanya desah napas dan detak jantung mereka saja yang terdengar. Cuaca siang ikut murung dan berduka. Langit diselimuti mendung dan titik-titik kecil air mulai menetes di kaca mobil. Gerimis yang membuat hati menjadi miris.

Tiba di rumah, Murti mendapati Pak Camat masih belum pulang. Di HP-nya ada sms, Pak Camat masih ada acara di tempat lain. Murti mendesah kecewa, sekaligus lega. Ia segera turun dari mobil dan berbisik pada Gatot, ”Kalau sudah selesai masukin mobil, pergi ke kamarku ya… ada yang ingin aku bicarakan.”

”Iya, Mur.” sahut Gatot tanpa membantah.

Sementara Gatot sibuk di dalam garasi, Murti segera mengganti pakaiannya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang Gatot. Di balik daster tipis yang sekarang ia kenakan, bentuk payudaranya yang bulat besar terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul indah. Murti yakin, Gatot pasti suka dan terangsang dibuatnya.

Masuk ke dalam kamar, mata Gatot nyaris copot karena melotot melihat tubuh molek Murti yang sekarang tersaji utuh di depan hidungnya. Istri Pak Camat itu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya yang selalu tertutup jilbab lebar saat ia tampil di muka murid-muridnya. Di dada Murti, tampak tonjolan payudaranya menggunung sangat indah, membuat Gatot sejenak lupa bernafas dan memejamkan mata.

”Kenapa, Tot? Ayo duduk dulu,” Murti mempersilakannya sambil tersenyum manis.

Muka Gatot langsung memerah karena nafsu, bayangan wajah cantik Aisyah segera lenyap dari pikirannya, tergantikan oleh tubuh telanjang Murti yang sudah beberapa kali ia nikmati. Dan sekarang, sepertinya ia juga akan mendapatkannya lagi, terlihat dari senyum Murti yang merekah semakin lebar saat pandangan Gatot terarah tajam ke buah dadanya.

”Tot, kamu mau nolong aku?” Murti merapatkan tubuh ke arah Gatot yang masih berdiri mematung di depan pintu.

”N-nolong apa, Mur?” tubuh Gatot bergetar ketika tangan teman masa kecilnya itu merangkul dirinya, sementara tangan Murti yang lain mengusap-usap daerah ‘vital’ nya.

”Tolong temani aku, Tot… aku takut tidur sendiri.” bisik Murti manja.

Muka Gatot makin memerah mendengar perkataan itu. ”T-tapi, Mur… nanti dipergoki sama Pak Camat.” tukasnya ragu.

”Mas Joko masih lama pulangnya,” Murti menunjukkan sms dari Pak Camat pada Gatot. ”Kita punya banyak waktu,” bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Gatot, Murti segera menarik tangan laki-laki itu dan membimbingnya agar duduk di atas tempat tidur. Murti yang agresif karena haus akan sentuhan laki-laki, kemudian duduk di pangkuan Gatot. Tanpa bisa dicegah, bibir keduanya pun langsung saling bertemu dan berpagutan erat.

”Ehm, Mur…” lenguh Gatot saat merasakan puting susu Murti yang sudah mengeras menggesek ringan di permukaan perutnya, sementara lidah perempuan cantik itu terus menjelajahi mulutnya, mencari lidahnya untuk diajak saling melilit bagai ular.

Setelah puas, Murti kemudian berdiri di depan Gatot yang masih melongo karena tidak menyangka akan diserang seganas itu. Satu demi satu Murti mencopoti pakaiannya hingga tubuhnya yang mulus sempurna jadi polos seperti bayi yang baru lahir. Tersenyum manja, Murti seakan menantang Gatot agar segera menghangatkan tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh Pak Camat.

”Lepaskan pakaianmu, Tot.” Murti berkata sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindih oleh tubuhnya yang sangat sintal menggoda.

”Ayo cepat, Tot!” Murti  mendesah tak sabar saat melihat Gatot masih terdiam kagum memandangi tubuhnya..

”Ah, i-iya.” terkaget-kaget, Gatot lekas ikut menelanjangi diri. Dengan penis mendongak kuat ke depan, ia kemudian duduk berlutut di samping Murti. Pelan Gatot meletakkan tangannya di atas dada Murti yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, lalu mulai meremas-remasnya lembut sambil tak lupa memijit dan memilin-milin putingnya yang montok kemerahan.

”Oohh… enak, Tot… terus… yah, begitu… remas pelan-pelan!” bisik Murti lirih, matanya sudah mulai terpejam rapat.

Dengan penuh semangat Gatot melakukan apa yang teman masa kecilnya katakan. Ia terus meremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda itu, sampai akhirnya tubuh Murti menegang tak lama kemudian saat jilatan dan hisapan mulut Gatot mampir ke puncak payudaranya yang mungil dan indah. Seperti anak kecil, Gatot mulai menyusu ke arah puting Murti.

”Oohh… jilat terus, Tot… ohh… enak!” tangan Murti mendekap erat kepala Gatot ke arah payudaranya.

Gatot semakin buas menjilati puting susu istri Pak Camat tersebut, mulutnya sampai menimbulkan bunyi decapan yang sangat nyaring, tanda kalau hisapan Gatot begitu keras dan kuat, bahkan tanpa ia sadari, Gatot mulai menggigit-gigit ringan puting mungil itu.

”Hmm… nakal kamu, Tot!” Murti tersenyum merasakan tingkah sang sopir. ”Jangan cuma disitu, coba juga daerah bawah pusarku,” pintanya.

Gatot menurut saja. Cepat ia duduk diantara dua kaki Murti yang sudah terbuka lebar. Murti sendiri menyandarkan punggungya ke sandaran tempat tidur, membiarkan Gatot memandangi daerah kemaluannya yang sudah menganga lebar dengan sepuas hati.

”Sudah basah bukan?” Murti membimbing telunjuk Gatot agar memasuki liang vaginanya.

Gatot mengangguk, ”Lengket sekali, Mur…”

”Kelentitku, Tot. Coba kamu gosok-gosok sebentar, rasanya gatal sekali.” Murti memohon.

Pelan jari-jari Gatot mulai mengusap-usap tonjolan pink yang mulai menyembul itu.

”Ahh… yah, gosok terus, Tot… ughh, enak!” Murti menggelinjang keenakan ketika klitorisnya terus dipermainkan  oleh Gatot.

”Kalo aku giniin, enak nggak?” Gatot tersenyum sambil menekan kelentit Murti semakin keras.

”Ooh… Tot! Emm…” tubuh montok Murti makin melengkung keenakan, nafasnya terdengar semakin memburu, sementara bibirnya yang mungil terus mengeluarkan rintihan dan desahan yang sangat membangkitkan gairah, menandakan kalau pertahanan perempuan cantik itu akan segera jebol tidak lama lagi.

”Ooaahh… Tot!” Murti mencengkeram kuat pundak Gatot saat semua otot di tubuhnya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan bersama Pak Camat.

”Hmm… kamu pintar sekali, Tot.” bisik Murti dengan vagina masih berkedut-kedut ringan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Gatot tersenyum dan menurut saja saat Murti menyuruhnya untuk berbaring, ”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu,” ucap Murti sambil mengurut lembut batang penis Gatot. Benda itu jadi semakin kaku dan menegang saat berada di dalam genggaman tangannya.

”Wow, makin besar aja, Tot!” dengan gemas Murti terus mengusap-usap dan membelainya. Gatot cuma tersenyum dan terdiam menikmati segala tingkah istri Pak Camat yang cantik dan seksi itu.

Tanpa menunggu lama, segera saja penisnya berpindah tempat. Kini benda coklat panjang itu sudah masuk ke dalam mulut Murti. Dengan rakus tapi sangat telaten, Murti mulai mengulum dan menghisapnya. Kepala penis Gatot yang berbentuk jamur tumpul digigitnya keras-keras hingga membuat Gatot merintih kegelian.

”Ahh… enak, Mur… terus!” Gatot tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya, menekan penisnya semakin dalam ke mulut tipis Murti. Gerakannya menjadi semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan sang ibu guru cantik.

”Oohh, Mur… aku… aku… arghhh!” tanpa bisa dicegah, muncratlah cairan sperma Gatot ke dalam mulut Murti, yang segera dijilati oleh Murti hingga tandas dan tuntas.

”Hmm… manis juga rasa manimu, Tot.” Murti tersenyum, masih dengan mulut tetap menjilati ujung penis Gatot yang masih tegak berdiri.

”Kamu juga makin pintar, Mur, bikin aku jadi tak tahan.” sahut Gatot dengan nafas terengah-engah pelan.

Murti ikut tersenyum, ”Kita istirahat dulu ya, habis itu…”

”Kenapa istirahat, aku masih kuat kok.” potong Gatot sambil mendekap tubuh montok Murti dari belakang dan dengan cepat menyodokkan penisnya ke liang vagina perempuan cantik itu keras-keras.

”Arghkh!!” Murti menjerit kaget, namun cuma sebentar, karena dalam hati ia sangat menikmati hal ini. Siapa juga yang tidak suka mempunyai partner seks sejantan Gatot, biarpun habis keluar tapi penisnya masih bisa digunakan!

”Kamu menikmatinya ’kan, Mur?” bisik Gatot di telinga Murti. Tangannya yang satu menyangga tubuh montok Murti, sementara yang lain meremas payudara Murti yang menggantung indah. Sementara penisnya dengan keras melumat liang vagina Murti hingga jadi semakin basah dan memerah.

”Ahh… hhh…” Murti hanya bisa merintih, tubuhnya bagai lemas tak bertenaga menikmati setiap sodokan Gatot di liang vaginanya. Mereka terus berada alam posisi seperti itu hingga Gatot menyemprotkan kembali cairan spermanya tak lama kemudian, kali ini di dalam vagina sempit milik Murti.

”Ahh… Gatot!” rintih Murti saat merasakan cairan hangat memenuhi liang kewanitaannya. Ia cepat menekan pinggulnya ke belakang agar penis Gatot yang masih berkedut-kedut ringan makin amblas lagi ke dalam miliknya. Di saat yang sama, Murti rupanya orgasme juga.

Kedua insan itu pun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka lakukan. Cairan keduanya bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi liang kelamin Murti hingga terasa jadi begitu basah dan lengket. Beberapa ada yang menetes keluar saat Gatot mencabut pelan batang penisnya.

”Ughh,” Murti mendesah, rambutnya yang hitam panjang terurai menutupi bantal, sementara dadanya yang besar bergerak naik-turun mengikuti irama tarikan nafasnya. Tangan Gatot bertengger disana, meremas-remasnya pelan.

”Pak Camat masih lama pulangnya?” tanya Gatot.

”Sebentar, aku sms dulu.” Murti segera mengambil HP-nya yang ditaruh di atas meja dan mengirim sms kepada Pak Camat. Tak lama sms balasan sudah ia terima.

Gatot tersenyum lebar saat ikut membaca, ”Masih 2 jam lagi, itupun kalau sudah selesai.” katanya.

Murti mengangguk, ”Iya, masih banyak waktu bagi kita.”

”Gimana, sudah siap lagi?” tanya Gatot sambil mencolek vagina Murti mesra.

”Hei, jangan bilang kalau kamu sudah ngaceng lagi!” sahutnya sambil melirik ke bawah dan memekik gembira saat melihat penis Gatot yang sudah beranjak bangun dan menegang. ”Gila, benar-benar gila!” Murti menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

”Akan kubikin kamu pingsan malam ini,” janji Gatot sambil menindih tubuh molek Murti dan bersiap untuk memulai ronde yang kedua.

MEYDA

Aku hisap dalam-dalam rokok yang baru aku beli tadi bersama temanku sambil duduk santai di depan teras rumahnya, berteman segelas kopi yang tinggal setengah di cangkirku. Sebenarnya aku tidak suka merokok dan minuman kopi, aku lakukan itu jika ada masalah yang sangat pelik. Ya, seperti sekarang ini. Masalahku sudah aku ceritakan pada sahabat terbaikku tadi, sekarang dia sedang merenung di depanku. Entah memikirkan solusi atau apa, yang penting masalahku tidak aku pendam sendiri. Lebih baik membaginya dengan teman agar tidak terlalu berat.

Sambil menunggu temanku bicara, aku ceritakan dulu masalahku. Tujuh hari yang lalu, aku baru menikah dengan seorang gadis yang kamu semua pasti mengenalnya, namanya Meyda Sefira. Salah satu artis berjilbab yang bermain sebagai Husna di film Ketika Cinta Bertasbih yang diambil dari salah satu judul novel terkenal karya Habiburrahman El Shirazy.

Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda adalah anak dari teman karib ayahku. Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini. Ayah Meyda banyak menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda. Ia percaya kalau aku bisa membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.

Akhirnya jadilah kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas. Hanya dihadiri oleh sanak saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi terhambat karena pernikahan ini. Ok, aku bisa mengerti.

Yang jadi masalahnya adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Meyda selama seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri. Apalagi kalau bukan bersetubuh, menunaikan sunnah  rasul.

Tiga hari awal dia beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan sholat. Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku terdiam. Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu. Bayangkan, tidur berdua dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.

Ketika aku tanya lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis. Aku jadi makin tidak tega memaksanya.

“Mungkin… dia laki-laki,” ujar temanku setelah merenung lama.

Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke taman di sebelah rumah temanku itu.

“Seperti berita di tv,” lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.

“Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia. Wajahnya manis dan sikapnya feminis. Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali,” sergahku.

“Bisa saja dia operasi plastik ke Korea… kau lihat’ kan, aktor dan aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana perempuan,” temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan. “apalagi, orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan. Artis-artis kita juga banyak yang melakukannya.”

“Itu tidak mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil,” bantahku. Memang benar, aku kenal istriku sejak dia baru lahir. Dulu kami tinggal bersebelahan. Setelah aku lulus SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu. Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol lenganku, rasanya kenyal dan lembut. Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.

“Kalau dia bukan laki-laki…” kata temanku  menggantung kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, “berati dia tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.”

Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin. Aku kenal betul sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk menutupi semua auratnya. Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau menanggalkan identitasnya itu. Aku bangga kepadanya. Apalagi kata orang tuanya, dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah. Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!!

“Itu tidak mungkin,” kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan. Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru. Mereka melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu dari mereka. Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci dari mereka yang berkerudung. Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah melihat kenyataannya. Di dunia yang sudah ‘edan’ ini, apapun bisa terbalik dengan mudahnya.

“Kamu sangat yakin?” tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.

“Aku yakin,” kataku.

Lagi-lagi temanku merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku tentang kesucian Meyda.

“Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa,” ujar temanku, tepat disaat aku hendak mengambil satu batang rokok. “dia diperkosa,” nada temanku sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku lepas jatuh ke lantai.

Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini. Setiap hari pasti ada saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan atau mungkin belum terungkap. Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk biasa sampai para pejabat. Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling parah dengan hewan atau mayat.

“Kalau begitu keadaannya, aku masih menerimanya,” kataku lemah, seakan tidak rela hal itu terjadi pada istriku. Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa. Apa ayahku yang melakukan itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, entahlah… yang aku tahu mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.

***

Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah makan malam. Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan. Setelah Meyda selesai, dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku, seperti biasanya.

“Mey…” ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.

“Iya, kak,” jawab Meyda tanpa merubah posisinya. Dia memang selalu memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.

“Aku ingin bicara,” setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku. “kamu duduk disini,” aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.

“Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?” aku tanyakan itu tepat setelah Meyda duduk di sampingku. Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.

Dia masih terdiam, hanya bunyi bibir  terbuka saja yang terdengar. Aku yakin bibir mungil itu pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas?

“Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan ikhlas,” kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.

Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia terlihat sangat takut. “Aku… aku… sebenarnya…” katanya terbata-bata.

“Katakan saja,” ujarku pelan.

“Aku tidak tahu cara melakukannya!!!” kata Meyda.

Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda barusan.

“Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal itu, jadi aku…”

Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya. Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku. Polos sekali dia, karena hal itu dia menghindariku. Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya dalam pelukan. Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku praktekkan.

Kupandangi wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu. Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.

Meyda agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak. Dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan. Untung saja dia tidak tahu pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit. Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.

Sambil tersenyum manis kubisiki dia. “Kakak juga belum pernah,” kataku seramah mungkin.

Meyda mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu. “Eeh… i-iya, kak.” sahutnya gugup.

“Kita sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.” kataku pura-pura polos.

“Eh, i-itu… i-iya, kak…” jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.

“Kakak janji tidak akan menyakiti kamu..” kataku terus memanfaatkan kesempatan.

“Emm… i-iya, kak.” jawab Meyda sedikit malu. Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya. Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.

“Kamu kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?” pancingku.

“Ooh… t-tidak kok, kak.” jawabnya sambil tersenyum manis. Sudah makin berani dia. ’Bagus,’ pikirku.

”Mmm… jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?” pancingku kemudian.

“Eee…” dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.

“Kok cuma eee aja… ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan…”

“Mau kok, kak. Tapi…” ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.

”Tapi apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan sangat mulus sekali. Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas pelan. Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.

“Nanti kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya…” tanyanya makin berani.

“Iya, tentu saja. Kakak janji!” sahutku.

Meyda tersenyum, lalu kemudian mengangguk. ”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan lakukan!” katanya sambil tersenyum.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan bibirku. Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku. Aku jadi kaget.

”Kenapa, Mey?” tanyaku tak mengerti.

“Kakak kok gitu sih…” dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku. ”katanya tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.

Aku segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut. ”Maafin kakak, Mey. Kakak tidak sengaja…” bisikku di telinganya. ”itu tadi wujud kasih sayangku sama kamu…” lanjutku.

“Ini pengalaman pertama bagiku, kak… jadi tolong buat agar jadi berkesan,” kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku. Ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berpaling ke kiri. Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.

”Iya, Mey… maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar. Baju tidurnya yang tipis membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat berwarna putih. Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan terus terang justru sangat merangsang nafsuku.

Aku segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping. Seolah-olah masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman dan keseksiannya. Mm… ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku. Aku tidak ingin membuat Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan tubuhnya.

“Meyda sayang…” rayuku kembali. “Kakak boleh tidak cium bibir kamu?” tanyaku menggodanya.

“Iih… kakak apaan sih,” Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi makin berani, juga bernafsu.

“Meyda sayang… terus terang, malam ini kakak kepingin banget. Kakak pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu… kamu mau kan?” tanpa aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Antara kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu. Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah memerah. ”Kaakk…” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa berkata apa-apa.

Aku segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya. “Mey, percayalah… apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak sama kamu…”

Selesai berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup bibirnya yang mungil dengan lembut. Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat dan sangat manis sekali. Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak. Segera kulanjutkan dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit. Mm… terasa sangat halus dan mulus. Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya perempuan itu sangat cantik seperti Meyda. Enak sekali ternyata…

Lima detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya. Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah manisnya kelihatan begitu mempesona. Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.

“Bagaimana, Sayang… mau dilanjutkan?” rayuku dengan nafas memburu akibat menahan nafsu. Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di celana. Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.

Meyda cuma terdiam.

Kuberanikan diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga sampai di lengan. Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan bulat menantang yang ada di depan dadanya. Beha putih yang ia kenakan kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang. Mmm… jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.

Kulirik Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora… siap untuk menerkam dirinya… menjamah tubuhnya… meremas payudaranya… dan pada akhirnya akan menyetubuhinya sampai puas…

”Mey,” bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang. Kususupkan ke belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas. Wow, begitu lunak dan hangat kurasa.

“Ahh… kak,” Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila, kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus gundukan bukit kecil yang ada disana… bukit kemaluannya.

Selama beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah. Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku. Dia menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk dan hangat sekali. sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir mungilnya.

”Aku ingin tubuhmu, Mey…” bisikku diantara desahan nafas yang semakin  memburu.

”Hhh… lakukan, kak… tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini…” sahutnya.

Hatiku bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru. Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis. Bukan gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik di Indonesia.

Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah itu. Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama. Kuhisap habis bau harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.

Kujulurkan lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh kamasutra. Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat. Kedua lidah kami terus bersentuhan, hangat dan basah. Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah pula.

“Ah, Mey… kamu pintar juga!” pujiku tanpa curiga.

Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum manis ia menyahut, “Mm… Mey hanya menuruti naluri, kak.” sahutnya polos.

“Tapi kok pintar sekali?” godaku.

Meyda tersenyum malu, wajahnya berubah jadi merah. ”T-tidak tahu, kak…” ia menundukkan mukanya.

“Tidak apa-apa, itu tandanya kamu bisa menikmati.” aku tersenyum lega karena tidak perlu repot-repot membimbingnya nanti. Jemari tanganku yang masih berada di selangkangannya mulai bergerak menekan gundukan bukit kemaluannya, kuusap-usap pelan ke atas dan ke bawah.

”Auw, kak!!” Meyda memekik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu. Wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat.

Kuraih kepalanya dalam pelukanku dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Kucium rambutnya yang panjang sebahu. “Enak, sayang, kuusap-usap begini?” tanyaku penuh nafsu.

“Hhh… i-iya, kak.” sahutnya polos. Terlihat dia sudah mulai kepingin juga.

Jemari tanganku yang nakal kini bukan cuma mengusap, tapi juga mulai meremas gemas gundukan bukit kemaluannya. “Ahh… sakit, kak… auw!” Meyda memekik kecil, tubuhnya terutama pinggulnya menggelinjang keras. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tanganku kini direnggangkan.

Kuangkat wajahnya ke arahku, kulihat matanya masih terpejam rapat, namun mulutnya sedikit terbuka. Kurengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku, lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan penuh nafsu.

“Ehm… kak!” Meyda meraih pinggangku dan memeganginya kuat-kuat. Kini jemari tanganku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas, menelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat. Aku baru berhenti saat kurasakan ujung jemariku sudah berada di kaki bukit buah dadanya. Dari balik baju tidurnya, bisa kurasakan betapa padat gundukan daging itu. Kuelus perlahan, sebelum mulai mendakinya tak lama kemudian.

”Uhh… kak!” Meyda merintih saat kuremas pelan gundukan buah dadanya. Terasa sangat padat dengan sedikit campuran rasa empuk dan kenyal yang sangat menggiurkan. “Auw, pelan-pelan, kak…” bisiknya parau, bibirnya tampak basah akibat cumbuanku tadi.

Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Meyda menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras. Kami saling berpandangan mesra, kutatap sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah ngaceng berat.

“Ughh…” aku meloncat berdiri.

Meyda yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya, jadi ikutan kaget. “Eh, kenapa, kak?” tanyanya.

“A-anu, punya kakak sakit nih…” sahutku sambil buru-buru membuka celana. Aku tak peduli meski Meyda kelihatan malu, toh dia akan melihat juga pada akhirnya.

Celana panjangku melorot ke bawah, juga celana dalamku. Meyda yang tak menyangka aku akan berbuat demikian, hanya memandangku dengan terbelalak kaget. Apalagi saat melihat batang penisku yang sudah ngaceng berat, yang begitu tegang dan mengacung ke atas, dengan urat-urat di permukaannya tampak menonjol keluar semua.

“Auw! Kakak jorok!” dia menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Meyda menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang cantik.

”Hehehe…” aku terkekeh. Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana panjang, aku jadi gemas pingin melucutinya sampai bugil. Ah, ingin rasanya segera menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan diri. Itu tidak adil, kami harus sama-sama menikmati permainan ini. Aku tidak mau Meyda merasa rugi, dan ujung-ujungnya kapok tidak mau mengulangi lagi. Kalau begitu kan, aku sendiri yang rugi.

Tugasku sekarang adalah merangsangnya sampai siap. Karena bagaimana pun dia kan masih perawan. Pasti sangat sakit saat melakukan untuk yang pertama kali. Aku harus bisa meminimalisir hal itu, ini adalah tantangan buatku, benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satunya perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain dari buku kamasutra jadul…

“Mey, takut apa sih… kok mukanya ditutup gitu?” tanyaku menggoda.

“I-itu… p-punya kakak…” sahutnya lirih.

“Lho, memang kenapa? Kamu tidak pernah lihat alat kelamin cowok?” sahutku geli.

Meyda mengangguk. “Mey belum pernah, i-ini yang pertama.” sahutnya masih sambil menutup muka.

Gila! Dia benar-benar lugu dan perawan. “Yah, tidak apa-apa. Ayo coba sini, punya kakak kamu pegang. Ini kan milik kamu juga.” kataku nakal.

“Ah, tidak mau. Malu… jorok…” sahutnya.

“Tidak usah malu, kakak yang telanjang aja tidak malu sama kamu. Tadi kakak sudah pegang punya Mey, sekarang ganti giliran Mey yang pegang punya kakak…” sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka.

Pada mulanya Meyda menolak, namun setelah kurayu-rayu dan sedikit kupaksa akhirnya dia mau juga. Kedua tangannya segera kubimbing ke arah selangkanganku. Meyda memang mau memegangnya, namun kedua matanya masih terpejam rapat, sama sekali tidak mau melihat. Meski begitu, itu sudah cukup membuat  jantungku berdegup kencang. Bagaimanapun inilah pertama kali aku telanjang di depan perempuan sambil mempertontonkan alat vital, apalagi sampai dipegang-pegang segala. Seperti mimpi rasanya, apalagi saat tahu kalau yang melakukannya adalah Meyda Safira, salah satu artis cantik berjilbab yang tubuhnya pasti diidam-idamkan banyak orang.

Meyda mulai mengusap kepala penisku. Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat pertama kali menyentuh, namun karena kupegangi dengan kuat, akhirnya ia hanya pasrah saja.

“Aah… terus, Mey, pegang batangnya dengan kedua tanganmu!” rayuku penuh nafsu.

“Iih, keras sekali, kak…” bisik Meyda sambil tetap memejamkan mata. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya, itu tandanya kakak sayang sekali sama kamu. Aah…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Meyda meremas kuat batang penisku.

“Gimana, kak, enak?” tanyanya dengan jemari tangan terus meremas kuat.

“Ohh… jangan dilepas… terus seperti itu…” erangku lirih.

Meyda yang semula agak gugup, kini mulai sedikit mengerti. Jemari tangannya yang tadi merenggang, kini mulai bergerak pelan untuk mengusap batang penisku.

”Ahhh…” aku melenguh nikmat. Kulihat Meyda sudah mulai berani menatap rudal saktiku sambil terus meremas pelan, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dan aku tak peduli, yang penting aku merasa nikmat dengan kocokannya. Dalam hati aku membatin, pake tangan aja sudah begini nikmat, apalagi dijepit pake vagina, bisa-bisa aku pingsan karena saking enaknya.

Meyda memandangku sambil tersenyum, wajahnya tak lagi malu-malu seperti tadi. Bahkan dengan penuh semangat ia mulai mengusap-usap penisku maju mundur… setelah itu digenggam dan diremasnya seperti tadi, lalu dokocok-kocok kembali. Sepertinya Meyda semakin bersemangat begitu melihatku melenguh nikmat, ia tertawa kecil saat melihatku yang hanya bisa mendelik setengah gelisah karena saking nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak maju-mundur makin cepat, membuatku jadi semakin tak terkendali. Ini kalo dibiarkan bisa-bisa air maniku muncrat duluan, jadi aku segera berbisik kepadanya, “Mey, hentikan… kakak tidak tahan, mau keluar!”

“Iih…” dengan kaget Meyda segera melepaskan remasan tangannya dan beringsut cepat ke sebelahku, sementara pandangan matanya tetap tararah ke batang penisku yang masih menegang penuh. Mungkin ia mengira air maniku akan muncrat membasahinya kalau dia tidak cepat-cepat pergi.

Antara geli dan nikmat, aku segera mengatur nafas agar birahiku sedikit menurun. Wuih, hampir saja terjadi banjir lokal. “Tidak jadi, Mey, hehe…” bisikku lirih sambil tersenyum.

“Kok tidak jadi?” tanya Meyda polos.

”Buat nanti aja,” Kuraih tubuh sintalnya yang berada di sampingku dan kupeluk mesra. Meyda menggelinjang manja saat kurapatkan badanku ke tubuhnya yang mungil sehingga buah dadanya yang bundar montok terasa menekan dadaku yang bidang. Hmm, enaaak…

Kepalaku menunduk untuk mencari-cari bibirnya saat Meyda merangkulkan kedua lengannya ke pundakku. Wajahnya yang amat manis terlihat begitu dekat, apalagi saat mulai kukecup bibir mungilnya, Meyda  membalasnya dengan begitu rakus. Kami mulai saling melumat gemas, begitu lama dan panas hingga Meyda megap-megap tak lama kemudian karena kehabisan nafas.

Sementara bibir kami masih terus bertaut mesra, jemari tanganku kembali menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Kuremas gemas bulatan bokongnya sambil kuusap-usap mesra, kurasakan betapa kenyal dan padatnya daging montok itu. Meyda merintih lirih dalam cumbuanku saat kurapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan, sehingga mau tak mau batang penisku yang masih ngaceng berat jadi terdesak ke perutnya. Untung saja Meyda memakai baju tidur yang lembut sehingga tidak sampai melukai penisku.

Mulai kugesekkan-gesekkan penisku disana, tapi baru 10 kali gerakan, Meyda tiba-tiba tertawa kecil. “Mey, apaan sih kok ketawa?” tanyaku heran sambil lidahku menjilati bagian atas bibirnya yang basah oleh air liur.

”Habisnya kakak sih… kan geli digesekin kaya gitu,” sahutnya sambil terus tertawa kecil.

Waduh, dasar perawan tulen. Tidak tahu kalau aku sudah nafsu setengah mati, malah ngajak becanda. Segera kurengkuh tubuhnya kembali ke dalam pelukanku, dan Meyda pun tak menolak saat aku menyuruhnya untuk meremas alat vitalku seperti tadi. Mulai kurasakan jemari tangannya mengusap dan mengelus-elus rudal patriot kejantanan dengan lembut sambil sesekali diremasnya dengan penuh kemesraan.

Aku menggelinjang nikmat, ”Arghh… terus, sayang!” bisikku mesra.

Wajah kami saling berdekatan, Meyda memandangku sambil tersenyum manis. “Enak ya, kak?” tanyanya penasaran.

Aku mengangguk dan kukecup bibirnya yang nakal itu dengan penuh nafsu. Meyda membalas sambil memejamkan mata, namun kurasakan jemari tangannya semakin gemas saja mempermainkan batang penisku, bahkan mulai mengocok cepat seperti tadi. Aku tak tahan, rasanya jadi pingin muncrat lagi.

Saat itulah, Meyda menyuruhku untuk membuka baju. ”Basah, kak, kena keringat.” katanya. Segera kucopot kancing kemejaku satu persatu lalu kulemparkan baju itu sekenanya ke samping, entah jatuh dimana. Kini aku benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapannya.

Kulihat Meyda masih tetap mengocok batang penisku sambil wajahnya memandangku tersenyum manis. Kini aku tahu caranya mengontrol nafsu, tanpa sengaja Meyda telah menunjukkannya. Aku tidak boleh mengkonsentrasikan pikiranku pada kenikmatan ini, aku harus memikirkan hal lain. Melepas baju seperti tadi misalnya, terbukti sangat manjur untuk menunda ejakulasiku. Kini aku bisa memperlambat permainan seks yang mendebarkan ini. Awas kau Meyda, aku sudah pintar sekarang!

“Mey, suka tidak sama alat kelamin kakak?” tanyaku nakal.

Sambil tetap mengocok batang penisku, Meyda menjawab dengan polos, “Suka sih… tapi pasti sakit kalau dimasukin ke punyanya Mey,” ujarnya tanpa malu-malu lagi.

”Tenang, nanti kakak akan pelan-pelan.” sahutku. ”Ngomong-ngomong, boleh tidak kakak melihat punya Mey?” kataku nakal.

Meyda mendelik sambil melepaskan tangannya dari penisku, dia segera menutupi selangkangannya dengan malu-malu. “Jangan, kak… Mey malu!” sahutnya.

Tingkahnya membuatku makin gemas dan bernafsu saja. “Ayolah, Mey… kakak penasaran nih,” desakku, lalu dengan cepat berjongkok di depannya. Kuraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke mukaku.

Pada mulanya Meyda agak memberontak dan menolak, namun saat kupandang wajahnya sambil tersenyum tulus, akhirnya ia menyerah pasrah.  Jemari tanganku segera bergerak menarik celana tidurnya hingga terlepas. Mukaku yang persis berada di depan selangkangannya kini bisa melihat gundukan bukit kemaluan yang masih terbungkus celana dalam putih bersih, tampak sangat menonjol dan mumpluk sekali. Pasti bakal sangat nikmat sekali rasanya.

Meyda menatapku sambil tersenyum, wajahnya tampak memerah menahan malu. Tanpa meminta persetujuannya, dengan gemetar kutarik ke bawah celana dalamnya. Begitu terlepas, bau alat kelamin yang sangat harum langsung menyergap hidungku.  Alamak, indahnya bukit kecil itu. Bentuknya menggembung sedikit memerah, dengan bagian tengah dibelah oleh bibir tipis yang masih tampak rapat. Di bagian atasnya, semak belukar yang tampak rimbun tampak tumbuh subur menyembunyikan biji kecil yang masih tidak kuketahui dimana rimbanya.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan semua itu, tanpa terasa kedua tanganku gemetar melihat pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Ohh, Mey… indahnya!!” hanya itu kalimat yang sanggup kuucapkan untuk menggambarkan perasaanku.

Aku baru tersadar saat kulihat Meyda mulai membuka baju tidurnya, ”Mey,” kupanggil namanya, karena belum hilang rasa kagetku melihat keindahan selangkangannya, ia sudah akan menyuguhiku keindahan lain dari tubuhnya yang sintal itu.

Tersenyum manis, Meyda terus mempreteli kancing bajunya dan melemparkan kaos itu begitu saja ke lantai saat sudah terlepas. Selanjutnya ia meraih ke belakang untuk membuka kait bh-nya, padahal masih terbungkus bh saja payudaranya sudah nampak begitu indah, apalagi kalau sudah dilepas.

Jawabannya kuperoleh tak lama kemudian saat bh-nya juga jatuh ke lantai, pukk… aku langsung melongo dan jatuh terduduk menyaksikan sesosok bidadari yang telanjang di depanku. Buah dada Meyda ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira dua kali bola tenis, warnanya putih bersih dengan puting kecil kemerahan menghiasi bagian puncaknya yang ranum. Aku tak pernah mengira kalau kecantikannya akan ditambah oleh keindahan tubuh yang sangat sempurna, sungguh sangat luar biasa.

“Mey, k-kamu…” aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, hanya batang penisku yang semakin ngaceng berat yang menunjukkan kalau aku masih hidup.

Masih tetap tersenyum, Meyda mengulurkan kedua tangannya kepadaku dan mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama berpisah, sama-sama telanjang dan sama-sama saling menginginkan.

“Kak, Mey sudah siap… Mey akan serahkan semua milik Mey sebagai bukti pengabdian Mey kepada kakak.” bisiknya di telingaku.

Aku terharu, kurangkul tubuhnya yang telanjang begitu mesra. Badanku langsung seperti kesetrum saat kulit telanjang kami saling bersentuhan. Apalagi ketika payudara Meyda yang bulat dan padat menekan lembut permukaan dadaku. ”Aah…” tak terasa aku jadi merintih nikmat.

Jemari tanganku segera mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus kurasakan, membuatku jadi tak sanggup menahan gejolak birahiku. Dengan penuh nafsu segera kuraih tubuh sintal Meyda dan kurebahkan diatas kasur. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tidak kentara dari luar.

Jantungku berdegup kencang saat mulai menaiki tubuh sintalnya, Meyda memandangku tetap dengan senyumnya yg manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, tak sabar untuk segera memasuki lorong vaginanya.

“Buka pahamu, Mey… kakak ingin menyetubuhimu sekarang.” bisikku penuh nafsu. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting mungil yang berwarna coklat kemerahan. Aku segera menjamahnya sambil menusukkan batang penisku ke celah bukit kemaluannya. Kurasakan liang vaginanya begitu hangat dan lunak.

”Ahh…” suaraku bergetar saat ujung penisku mulai mengelusi permukaannya, sebelum selanjutnya menelusup diantara celahnya yang sempit. “Mey, kakak masukkan sekarang yah… nanti kalo sakit, bilang…” bisikku sambil mulai mendorong pelan.

“Pelan-pelan, kak…” sahutnya pasrah. Dia memeluk pinggangku sambil memejamkan kedua matanya seolah menungguku.

Tusukanku yang pertama gagal, aku tidak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tidak memungkinkan untuk itu, tapi aku terus berusaha… kucoba untuk menelusup lewat celah bagian atas, namun setelah kutekan, ternyata jalan buntu.

“Agak ke bawah, kak…” Meyda memberi petunjuk.

Kutekan agak ke bawah, ”Disini?” tanyaku.

”Ahh… kurang ke bawah dikit!” sahutnya.

Aku turunkan lagi.

”Hmm… yah disitu, tekan disitu, kak.” perintahnya.

Akupun mendorong. Benar, mulai terasa masuk sedikit.

”Auw! Pelan-pelan, kak… sakiiit!!!” Meyda memekik kecil sambil menggeliat kesakitan.

Segera kupegangi pinggulnya agar tidak banyak bergerak. Dengan keberhasilanku menemukan celah vaginanya, tugasku kini jauh lebih muda. Akupun mulai menekan lagi, kali imi lebih pelan. Meski begitu, tetap saja Meyda merintih kesakitan.

”Hhgg… sakit, kak!” pekiknya.

Tapi aku tidak ingin menyerah, sambil mencium bibirnya agar ia terdiam, kupaksa kepala penisku untuk menelusup lebih dalam lagi. Terasa sangat sempit dan basah disana.

“Tahan, Mey… kakak masukin lagi,” bisikku penuh konsentrasi.  Mulai kurasakan kenikmatan saat kepala penisku berhasil menerobos masuk, dan langsung terjepit kuat di liang vagina Meyda.

“Auw, Kak… sakiiiiit…” lagi-lagi Meyda menjerit, tubuhnya menggeliat penuh penderitaan. Aku berusaha menentramkannya dengan mengecup kembali bibir mungilnya yang basah memerah, kulumat dengan perlahan.

”Tahan, sayang… baru kepalanya yang masuk,” jelasku. ”Kakak tekan lagi ya?” aku bertanya, dan tanpa menunggu jawaban kutusukkan penisku lebih dalam. Jeleebb…

”Auw!” Meyda berusaha menggigit bibir untuk meredam teriakannya.

“Tahan, sayang…” bisikku.

Meyda hanya mengangguk perlahan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat sambil kedua tangannya memegangi punggungku kuat-kuat. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa menekan ke bawah. Aku menahan napas sambil memajukan pinggulku kembali, tapi mentok, aku seperti membentur sesuatu. Semakin kutekan, semakin terasa menghalangi. Apakah ini selaput dara-nya?

Meyda memandangku dan mengangguk, seperti membenarkan apa yang kupikirkan.

Kukecup lagi bibirnya dan kudorong pinggulku semakin kuat. Ayo, aku tidak boleh kalah. Setelah beberapa kali usaha, serta diiringi teriakan Meyda yang semakin keras, akhirnya akupun berhasil. Creek… kurasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang vagina Meyda. Dan selanjutnya, seperti sudah bisa diduga, penisku pun bisa meluncur masuk dengan begitu mudahnya.

”KAKAK!!!” Meyda menjerit saat keperawanannya kurenggut, sementara aku melenguh nikmat merasakan jepitan vaginanya yang begitu kencang dan kuat. Dinding-dindingnya terasa hangat dan licin saat membungkus batangku, namun cengkeramannya begitu dahsyat, seakan-akan tidak ingin punyaku keluar dengan utuh. Di sela-sela tautan alat kelamin kami, kulihat beberapa tetes darah mengalir keluar membasahi sprei.

Aku menarik sedikit batangku, lalu kembali menekan…

”Hhggh… kak!!” Meyda kembali menjerit kesakitan, namun aku tak peduli. Aku sudah merasa enak, tanggung kalau harus berhenti sekarang.

”Maafkan kakak, Mey… tahan sebentar ya?” bisikku di telinganya.

Tidak menjawab, Meyda memejamkan matanya semakin rapat. Sementara sebutir air mata kulihat menetes di sudut kelopaknya. Aku harus cepat, kalo tidak istriku yang cantik ini akan terlalu lama menderita. Maka segera kupegang pinggul Meyda dan mulai kugoyang pinggulku perlahan-lahan.

“Ooh…” aku merintih keenakan, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Meyda yang luar biasa. Sementara Meyda hanya merintih-rintih sambil memandangku sayu. Bibirnya bergetar, seperti ingin berucap sesuatu, namun tidak jadi dan akhirnya malah tersenyum kepadaku.

“Kak, Mey sudah tidak perawan lagi sekarang.” bisiknya lirih sambil tersenyum.

”Tidak apa-apa,” kutatap dengan bangga istri tercintaku itu, ”Kakak sekarang juga tidak perjaka lagi,” balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum. Kuusap mesra wajah Meyda yang masih terlihat menahan sakit setiap kali menerima tusukanku.

“Gimana rasanya, kak, enak?” bisiknya mesra, rupanya dia sudah mulai bisa menerima kehadiran penisku di rongga vaginanya.

“Enak, May… nikmat sekali… ouhh… selangit pokoknya,” sahutku sambil mencium bibirnya dengan penuh nafsu, dan Meyda membalas tak kalah nikmatnya. Kami saling berpagutan lama sekali sambil pinggulku terus bergoyang pelan menyetubuhinya.

”Kak, ugh…” Meyda merintih dalam cumbuanku, beberapa kali ia sempat menggigit bibirku, namun sama sekali tak kupedulikan. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit kuat batang penisku, seakan mengenyotnya. Ketika batangku kegerakkan semakin cepat, terasa daging vaginanya seolah mencengkeram lebih kuat, nikmatnya sungguh sangat luar biasa. Aku sampai mendesis panjang karena saking enaknya.

”Aaahhhhh…” jeritku, air mani mulai kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar. Betapapun kutahan dan kualihkan, tetap tidak bisa. Terpaksa aku harus merelakannya untuk menyemprot duluan.

”Mey, kakak mau keluar…” bisikku di telinga Meyda.

Dia membuka matanya dan menatapku, ”Keluarin aja, kak… di dalam punya Mey, tidak apa-apa.” sahutnya.

Aku pun tidak sanggup bertahan lagi. Dengan satu teriakan keras, aku meledak. Spermaku menyembur berhamburan di liang vagina Meyda yang kini sudah tidak perawan lagi.

LATIFA , PUTRI YANG TERNODA

Latifa telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yang terakhir kali, bukan karena Latifa telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa- (1)

Latifa yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Latifa – dengan nama lengkap sebenarnya Putri Latifa, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja. Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini.

Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan.  Latifa sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal “hidung belang” dan sering main gila dengan istri orang lain. Dollah telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.

Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekali mata Dollah mampir ke arah Latifa anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Latifa resah dan tak betah.

Oleh karena itu pula Latifa jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Latifa. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Latifa itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.

Kesedihan Latifa tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Latifa menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Latifa dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.

Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Latifa selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Latifa berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.

Dengan dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Latifa, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Latifa) bernama Ghazali dengan nama panggilan Ali meminta agar Latifa tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.

Sebetulnya Latifa telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Latifa mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembali dengan apapun.

***

Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Latifa dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (1)

Dollah dan Ali juga berpamitan dengan Latifa dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Latifa melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Latifa mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Latifa yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya. Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang  berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.

Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.

Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Latifa keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Disaat Latifa meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Latifa langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Latifa ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.

Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Latifa untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur : Latifa si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Latifa dengan mulut besarnya yang berbau rokok.

Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Latifa dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya. Terlihat Latifa berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.

Akibat rontaan Latifa maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Latifa yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (3)

Latifa mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Latifa hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Latifa, kembali dijarahnya rongga mulut Latifa yang hangat dengan lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger,” demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Latifa merasa amat mual.

“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Latifa semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Latifa yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Latifa jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Latifa yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Latifa terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Latifa semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Latifa direjangnya diatas kepala yang masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

Latifa yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu. Buah dada putih montok kebanggaan Latifa yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekali juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus juga ngilu tak terkira bagi Latifa.

Latifa tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Latifa mulai menurun.

“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Dollah.

Latifa tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Latifa langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Latifa kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta. Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti – yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Latifa yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami  dan ditunggu Dollah. “Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.”

Latifa merasa amat jijik melihat penis Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Latifa yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Latifa menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Latifa ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Latifa segera menutupnya kembali. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Latifa dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Latifa kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka. Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Latifa yang hangat basah.

Latifa merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Dollah kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Latifa, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Latifa tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Latifa.

Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Latifa di ujung kerongkongannya, menyebabkan Latifa berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Latifa.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3)

Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Latifa merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Latifa, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki. Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan – kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Latifa yang berjilbab sehingga Latifa jadi tak berkutik sama sekali, penis Dollah yang memang besar tetap memenuhi  rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Latifa untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Latifa hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Latifa mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik penisnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Latifa dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Latifa.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Latifa berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Latifa, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Latifa yang begitu merangsang.

“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Latifa yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Latifa – menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Latifa. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Latifa – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Latifa dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Latifa berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan Ali yang sangat berotot.

“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Latifa, Ali menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Latifa mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dengan jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Latifa semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

“Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan. Gerakan paha mulus Latifa yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Latifa bagian dalam.

“Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Latifa yang semakin terlihat menonjol keluar.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (4)

“Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Latifa menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

Dollah yang kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Latifa yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Latifa segera teredam.

Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Latifa – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya. Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Latifa ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Latifa yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Latifa mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Latifa melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Latifa : dari perempuan alim berjilbab yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekaligus menikmati tubuh Latifa namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian. Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Latifa dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Latifa mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Latifa untuk di”sandwich” : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Latifa yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Latifa akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Latifa, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Latifa yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Latifa, memegangi kedua tangan Latifa di atas kepala yang masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Latifa mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Latifa, menyebabkan Latifa semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Latifa – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

Latifa masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (5)

Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Latifa, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Latifa yang tercukur rapi.

Kini Latifa mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Latifa yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Latifa menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Latifa sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Latifa, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Kembali Latifa diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Latifa tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Latifa berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Latifa diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Latifa akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Latifa melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (6)

Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Latifa sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Latifa yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

Habislah harapan muluk Latifa untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Latifa dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Latifa yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Latifa sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Latifa yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Latifa yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Latifa semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Latifa mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Latifa telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Latifa dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Latifa telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Latifa diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” penis Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Latifa.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Latifa tak sadar memekik dan melepaskan penis Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

Namun Dollah telah memegangi pinggang Latifa yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Latifa untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Latifa kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

Latifa berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Latifa yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Latifa tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Latifa, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Latifa tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Latifa yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (7)

Tubuh Latifa kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

Dollah merasakan dinding vagina Latifa kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Latifa, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

Teriakan kaget dan kesakitan Latifa teredam oleh penis Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Latifa merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

Sementara Latifa masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Latifa yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Latifa bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Latifa yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Latifa secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Latifa diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Latifa tak mungkin bergeser kemanapun.

Ali dengan perlahan mendekati tubuh Latifa dari belakang, ditariknya pinggul Latifa ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Latifa yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Latifa yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Latifa.

Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Latifa. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Latifa ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang paling intim dari Latifa, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Latifa melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

“Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Latifa menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Latifa yang kedua.

Selama ini Latifa hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Latifa tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Latifa yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Latifa semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Latifa yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Latifa jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.

RIYANI

Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Harto Suyanto dan Istriku bernama Riyani Agustina Mustaqimah , umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Riyani adalah istri yang baik dan sholehah, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Cara berpakainnya sama seperti jilbaber pada umumnya, yaitu jubah panjang dan longgar lengkap dengan jilbab besarnya. Sangat anggun dan keibuan kata teman-temanku. Untuk urusan ranjang, Riyani dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, kalau tidak mau dibilang sangat lugu. Laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks
kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Riyani tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.
Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Riyani , aku selalu membayangkan Riyani berubah menjadi liar dalam urusan ranjang dan suka disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Riyani aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Riyani disetubuhi laki-laik lain.
Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Sanjaya  sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Sanjaya  sering sekali menanyakan kabar Riyani , memang sudah beberapa kali Sanjaya  bertemu dengan Riyani dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Riyani yang memang sangat cantik dan anggun. Suatu ketika Sanjaya  menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Riyani dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan. Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Riyani menginginkan keturunan tapi
memang belum berhasil mendapatkannya.
“Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Sanjaya  kepadaku.
“Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat.
“Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. “Kenapa ke dokter ahli jiwa?” tanyaku. “Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Riyani itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku.
Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku.
“Mr. Sanjaya  mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku.
Mendengar perkataanku muka Sanjaya  terlihat kaget dan tidak percaya.
“Kalau saya bilang memang mau bagaimana?” katanya memancingku.
“Ya boleh saja” sahutku.
Kemudian aku menceritakan kepada Sanjaya  bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Riyani ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Riyani . Ternyata gayung bersambut. Sanjaya  menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, termasuk jilbaber yang alim. Wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Sanjaya  kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Sanjaya  kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Riyani dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Riyani . Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa,
aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Sanjaya  meniduri Riyani .
“Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku.
“Ya begitulah”, jawabku singkat.
“Baiklah, kalau itu maumu aku akan membantumu. Tapi tanda tangani dulu kertas bermaterai ini sebagai jaminan bahwa kau tidak akan menuntutku nantinya. Kertas ini masih kosong, kau tanda tangan saja dahulu diatas materai. Nanti sore biar aku ketik isinya”kata Sanjata sambil menyerahkan selembar kertas kosong berikut materai. Aku yang sangat ingin mewujudkan khayalanku segera menandatangani kertas kosong itu.
“Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Sanjaya  sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.
Pukul 8 malam aku dan Riyani telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Sanjaya . Riyani memakai jubah panjang warna biru dengan jilbab lebar biru muda. Wajahnya terlihat cantik dengan sapuan make-up tipis. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi ruang pesta yang sangat luas lengkap dengan semua hidangannya. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Sanjaya , mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Sanjaya  menyambut aku dan Riyani
dengan ramah. Sanjaya  kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia. Kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dan Riyani dan mempersilahkan kami untuk menikmati makanan dan minuman yang tersedia di ruang tengah.  Riyani dan aku mengambil segelas jus buah  dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Riyani menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Riyani . Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Riyani masih bercanda dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Riyani dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Riyani ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Sanjaya  mencegahku di kaki tangga menuju lantai
atas.
“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Sanjaya  kepadaku ” Sekarang baca foto kopi kesepakatan yang kau tanda tangani tempo hari. Aku menerima lembaran kertas fotokopi bermaterai yang diserahkan Pak Sanjaya padaku karena isinya sangat mengagetkanku. Dalam selembar kertas itu tertulis bahwa aku telah melakukan kecerobohan dalam bekerja dan mengakibatkan kerugian perusahaan sebesar 4 milliar rupiah. Aku bersedia mengganti kerugian tersebut dalam waktu 1 bulan, apabila tidak sanggup maka segala kewenangan akan diserahkan kepada Pak Sanjaya selaku bosku. Melihat aku terkejut, Pak Sanjaya malah tertawa terkekeh, katanya ” Kau tidak usah terkejut dan kawatir. Aku tidak bermaksud melaporkan kau pengadilan dan kau dipenjara karena sebenarnya kau tidak melakukan kesalahan apapun. Surat itu hanya sebagai jaminan kalau kau tidak akan menuntutku apapun yang akan kulakukan pada istrimu. Bukankah itu yang
kamu inginkan?”. Aku hanya tertunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kusadari, mulai saat ini aku tidak akan bisa membantah apapun yang di inginkan bosku.
2 jam telah berlalu semenjak Riyani naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Sanjaya  memanggilku.
“Ayo ke atas” ajak Sanjaya  kepadaku. Akupun mengikuti Sanjaya  ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya.
Di lantai atas, Sanjaya  membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Riyani dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab.
“Nah, ini kamar buat Harto Suyanto dan istrinya Riyani , yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Sanjaya  sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.
“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut.
Aku tidak tahu apa rencana Sanjaya  jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Riyani pun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Sanjaya  tidak melakukan apapun juga, sedangkan Riyani terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya, sementara aku juga gelisah kalau mengingat surat pernyataan yang aku tanda tangani. Tiba-tiba Riyani memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya.
Beberapa saat kami berciuman, Riyani berkata “Buka bajunya mas Harto, aku kepengen nih”.
Sedikit kaget aku melihat Riyani menjadi agresif, tidak biasanya Riyani mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya.
“Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Sanjaya  di pesta” pikirku.
“Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Sanjaya ” pikirku lagi.
Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Riyani . Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Riyani sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Riyani berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.
“Ini pasti karena minuman yang diberikan oleh Sanjaya , dia pasti mencampur sesuatu pada minumanku” pikirku dalam hati.
Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam tetap saja kemaluanku tidak dapat berdiri.
Riyani terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Riyani ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Riyani semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Sanjaya  masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Riyani sangat kaget. Riyani langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.
“Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Sanjaya  tiba-tiba.
“Pak Sanjaya , harap keluar dari kamar kami” sahut Riyani dengan sedikit membentak.
Sanjaya  bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu”
“Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Riyani dengan keras.
“Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” bentak Sanjaya  tegas.
Aku melihat Riyani sedikit takut mendengar bentakan Sanjaya .
“Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Sanjaya  lagi kepada Riyani .
Aku sekarang menyadari inilah rencana Sanjaya  untuk dapat meniduri Riyani . Dan aku ingin sekali melihat Riyani ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Sanjaya . Apalagi dengan adanya surat pernyataan asli tapi palsu itu, aku tak bisa bertindak lain kecuali menuruti Pak Sanjaya.
“Terserah apa maunya Pak Sanjaya , kami akan menuruti” kataku kepada Sanjaya .
“Mas Harto, aku tidak mau, apa-apan in….” Riyani belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Sanjaya  menarik selimut yang menutupi tubuh Riyani dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas kepala Riyani , sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Riyani .
Sanjaya  kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Riyani dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Riyani sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.
“Mas Harto, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Riyani ketika Sanjaya  mulai menciumi kedua payudaranyayang berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Sanjaya  yang bebas sudah menggerayangi vagina Riyani .
“Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Sanjaya  kepada Riyani sambil terus menjilati kedua payudara Riyani .
“Mas Harto, apa yang kamu lakukan” desah Riyani sambil memandang sayu kepadaku.
Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Riyani bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Sanjaya  dikedua payudaranya serta tangan kiri Sanjaya  yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari Sanjaya  di klitorisnya. Mata Riyani semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Sanjaya  menghentikan ciumannya di kedua payudara Riyani dan berkata padaku “Gimana , kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”
“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Sanjaya  sambil tetap memaikan klitoris Riyani dengan jarinya.
“Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Sanjaya  kepadaku kemudian.
Aku menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya . Aku angkat Riyani dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Riyani . Aku pegang dan buka kaki Riyani lebar-lebar sehingga sekarang Riyani posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Riyani sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Riyani hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Sanjaya  berlutut dilantai dipinggir kasur. Sanjaya  memandang Riyani dan berkata
“Wow indah sekali vaginamu Riyani , pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”.
Riyani hanya memandang Sanjaya  dengan sayu dan tidak menjawab. Sanjaya  kemudian mulai menjilati vagina Riyani yang disertai erangan dari Riyani . Riyani hanya bisa memandang Sanjaya  menjilati vaginanya, Riyani mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku. Kemudian tangan Sanjaya  membuka vagina Riyani dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Riyani yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya.
“Jangan…” desah Riyani pelan.
“Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Sanjaya  dengan kasar dan tegas.
Kemudian Sanjaya  memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Riyani dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Riyani . Lalu kembali menjilati vagina Riyani dan memainkan klitoris Riyani dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Riyani .
Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Riyani semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Sanjaya  di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan. Sampai pada akhirnya tubuh Riyani mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.
“UUUGGGHHHHH…….” erang Riyani keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Riyani mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Riyani dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Riyani tidak lemas, matanya malah berbinar .
“Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Riyani .
“Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di minumanmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Sanjaya  kepadaku.
Aku menuruti Sanjaya  dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Sanjaya  mengangkat tubuh Riyani dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Sanjaya  kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Sanjaya  sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Sanjaya  dan Riyani berdua telanjang bulat di kasur. Riyani terlihat kaget melihat penis Sanjaya . Penis Sanjaya  sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Sanjaya  mendekati kepala Riyani . Sanjaya  berlutut mengangkangi muka Riyani . Tangan kirinya mulai meraih vagina Riyani . Riyani yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Sanjaya  mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Riyani , dan Riyani pun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Sanjaya  kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Riyani yang mungil. Terlihat mulut Riyani kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Sanjaya
dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Riyani . Terlihat mulut Riyani penuh oleh penis Sanjaya . Riyani kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Sanjaya . Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Riyani menuruti apa maunya Sanjaya , sehingga sekarang penis Sanjaya  keluar masuk mulut Riyani dan lidah Riyani menjilati batang penis Sanjaya .
Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Riyani yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Sanjaya  sudah terlihat sangat kencang, kemudian Sanjaya  menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Riyani . Mengetahui apa yang akan dilakukan Sanjaya , Riyani membuka makin lebar kedua kakinya. Sanjaya  kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Riyani secara perlahan. Riyani terlihat menahan sakit ketika penis Sanjaya  mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Sanjaya  telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Riyani tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Sanjaya  yang sangat besar dan panjang itu. Setelah penis Sanjaya  masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Sanjaya  tidak langsung menggenjotnya, namun
Sanjaya  menunggu beberapa saat agar Riyani terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Sanjaya  mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Riyani , kemudian Sanjaya  memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Riyani dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Riyani terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Sanjaya , matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Sanjaya  dan kadang-kadang Riyani menciumi dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Sanjaya  di dalam vagina Riyani semakin cepat, racauan Riyani semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Sanjaya  di vaginanya. Sanjaya  yang mengetahui Riyani sangat menikmati persetubuhannya makin
mempercepat gerakannya. Sanjaya  menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Riyani secara bergantian. Riyani diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Riyani , Riyani , mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.
“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Riyani .
Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Sanjaya  dan kedua tangannya merangkul leher Sanjaya  dengan kencang.
“OOOOhhhhh……” lolong Riyani ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Riyani langsung menciumi bibir Sanjaya  dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Riyani dan lidah Sanjaya  saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Riyani terhadapku.
Melihat adegan live Riyani dan Sanjaya  membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati.
Setelah beberapa menit berciuman, Sanjaya  kemudian memindahkan posisi Riyani sehingga Riyani sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Riyani . Sanjaya  memindahkan tubuhnya ke belakang Riyani sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Riyani didepan dan Sanjaya  di belakangnya. Sanjaya  kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Riyani . Tangan kiri Riyani dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Sanjaya  dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Riyani . Sanjaya  menggenjot penisnya dalam vagina Riyani dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Riyani dan klitoris Riyani . Riyani kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Riyani mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Sanjaya
yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Sanjaya  telah menyetubuhi Riyani dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Riyani tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Riyani sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Riyani , namun Sanjaya  masih dengan semangatnya menyetubuhi Riyani dan belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Riyani disetubuhi oleh Sanjaya  dengan ganasnya. Sanjaya  yang belum puas dengan Riyani kembali mengubah posisi Riyani lagi. Kali ini Riyani dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Sanjaya  menyetubuhi Riyani dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Riyani karena Riyani selalu menolaknya, namun dengan Sanjaya , Riyani dengan senang hati menurutinya. Sanjaya  menggenjot vagina Riyani dari belakang dengan
tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Riyani semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Riyani kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Riyani semakin membahana di kamar itu.
Kemudian tangan kiri Sanjaya  meraih rambut Riyani , menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Riyani mendongak ke atas. Genjotan penis Sanjaya  dalam vagina Riyani masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Sanjaya  kadang-kadang menampar kedua pantat Riyani bergantian. Kepala Riyani terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Riyani sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Sanjaya , tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Sanjaya  ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Riyani . Setiap mengalami orgasme tubuh Riyani mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Riyani bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Riyani terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Riyani menjadi segar kembali dan siap
menerima genjotan-genjotan ganas penis Sanjaya  yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Sanjaya  dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Riyani yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Sanjaya  kemudian meraih kedua tangan Riyani dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Riyani sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Sanjaya  menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Riyani . Teriakan-terikan nikmat Riyani semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Riyani masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.
“Buka matamu Riyani dan pandang suamimu!” perintah Sanjaya  dengan tegas.
Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  sehingga Riyani sekarang melihat diriku yang sedang duduk di sofa sambil bermastrubasi.
“Lihat Riyani , suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Sanjaya  kepada Riyani .
“Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Sanjaya .
“Jawab!!!” hardik Sanjaya  dengan tiba-tiba kepada Riyani sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Riyani .
“Aaagh….suu…ka….” sahut Riyani dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Sanjaya  dalam vaginanya.
“Enakan mana Riyani ? suamimu atau saya” tanya Sanjaya  lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Riyani .
“Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….Sanjaya ” jawab Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Sanjaya  lagi dengan kasar.
“Maaa…..uuuuu….ppaak Sanjaya  ….” jawab Riyani sambil tubuhnya mengejang tanda Riyani mengalami orgasme lagi.
Dengan tetap memegang kedua tangan Riyani ke belakang, Sanjaya  menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Riyani menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Sanjaya  kembali menggenjot vagina Riyani dengan kencang, membuat nafsu seks Riyani kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Riyani dan Sanjaya . Riyani yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut.
“Riyani , lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Sanjaya  dengan sedikit nada memerintah kepada Riyani .
“Boo…leehhh….aaagghh….paak…

uggghhh…Sanjaya ” jawab Riyani sambil meracau kenikmatan.
Melihat Riyani menurut dan tunduk sepenuhnya pada Sanjaya  membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Riyani . Melihat hal itu Sanjaya  memerintahkan Riyani menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  padahal aku tahu Riyani biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Riyani masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Sanjaya  dan Riyani sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Sanjaya  terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Riyani menyadarinya.
“Uugh…aaghhh…pak Sanjaya …jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Riyani lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat.
“Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu Riyani , dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Sanjaya  kepada Riyani .
“Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Riyani sambil orgasme lagi.
Kemudian Sanjaya  membalikkan tubuh Riyani sehingga Riyani terlentang di kasur. Sanjaya  kembali mengangkangi Riyani dan menjambak rambut Riyani dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani .
“Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Terlihat penis Sanjaya  yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Riyani menghisap-hisap penis Sanjaya  dan terlihat tenggorokan Riyani bergerak-gerak tanda Riyani sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sanjaya  menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan Riyani menelan setiap tetes sperma Sanjaya  yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani .
“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Sanjaya  memerintahkan Riyani yang langsung dituruti oleh Riyani .
Selagi Riyani menjilat-jilati penis dan biji Sanjaya , Sanjaya  bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Sanjaya . Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Melihat aku tidak menjawab, Sanjaya  berkata lagi kepadaku “Riyani kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Riyani masih ingin dipuaskan nafsu seksnya.
“Bagaimana Riyani ” tanya Sanjaya  kemudian kepada Riyani . Riyani sambil tetap menjilati penis Sanjaya  hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Sanjaya  kepadaku.
Melihat Riyani memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Sanjaya . Sanjaya  kemudian menyruh Riyani pindah ke kamar sebelah dan Riyani menuruti permintaan Sanjaya .
“Harto, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Riyani ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dikamar sendirian dan Sanjaya  pindah ke kamar sebelah menyusul Riyani . Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Riyani ….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Riyani dari kamar sebelah menandakan Sanjaya  dan Riyani sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….
Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Riyani dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku.
“Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati.
“Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi.
Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Riyani di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah. Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Riyani sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Riyani , sedang disetubuhi oleh Sanjaya  dan salah seorang tamu Sanjaya  yang tadi
malam menginap di villa!!! Posisi Riyani bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Sanjaya  tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Sedangkan Sanjaya  yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Riyani yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Riyani .
“Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Sanjaya  ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.
“Silahkan duduk Tom” kata Sanjaya  lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Riyani disetubuhi dua laki-laki tua itu.
“Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Sanjaya  kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Riyani .
“Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Riyani sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Sanjaya  sambil terkekeh kecil.
“Riyani , kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab. Riyani terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya.
“Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Sanjaya  sambil melihat Riyani yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Sanjaya .
Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Sanjaya  dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut.
“Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku.
Mendengar perintah Sanjaya , kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Riyani dengan Lam dan Sanjaya  mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Riyani sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Riyani dengan kasar, namun terlihat Riyani meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Riyani nampak menikmatinya. Semakin Riyani diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Riyani menikmatinya. Rintihan-rintihan Riyani semakin keras apabila Lam dan Sanjaya  menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani dengan kasar. Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Riyani dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Riyani dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di
pinggul Riyani dan terus ke arah vagina Riyani dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Riyani . Riyani tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Riyani . Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Riyani telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Riyani , mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Riyani terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Riyani dan mencubit-cubit kecil klitoris Riyani , tubuh Riyani bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak
beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Riyani .
Sanjaya  sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Riyani sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Riyani . Diperlakukan demikian, Riyani semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Sanjaya . Lam dan Sanjaya  semakin mempercepat gerakannya sehingga Riyani benar-benar tergoncang-goncang hebat. Riyani terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Sanjaya  di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Riyani , terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Sanjaya  kemudian
memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu
“Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Sanjaya  memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.
Wanita yang disuruh Sanjaya , mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Sanjaya .
“Buka mulutmu Riyani , telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan Riyani tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Sanjaya  kembali menjambak rambut Riyani dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Riyani . 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Riyani , Sanjaya  maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Riyani . Riyani tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Riyani terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Sanjaya  kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.
“Tadi pagi Riyani saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Riyani lebih lama mencapai orgasme, ini agar Riyani dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Riyani akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Riyani dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Riyani akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Riyani dan pria tersebut” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku.
“Lihat Riyani sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Riyani rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Sanjaya  kepadaku.
“Harto, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Sanjaya  kepadaku.
45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Riyani . Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Sanjaya  semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani , membuat Riyani sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Riyani benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Riyani tetap memandang kearah wajah Sanjaya  dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Sanjaya  pada rambutnya membuat Riyani tidak tersungkur ke kasur. Suara Riyani semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Riyani terlihat
berusaha memegang kedua sisi pinggul Sanjaya , kemudian beralih ke kedua tangan Sanjaya  yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Riyani sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Sanjaya  dan Lam.
“Kalian berdua kesini, bantu Riyani agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita itu.
Kedua wanita yang diperintah Sanjaya  kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Riyani . Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Riyani dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Riyani , membuat kedua tangan Riyani terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Riyani . Badan Riyani juga bergerak memelan namun terlihat Riyani berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Riyani yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan Sanjaya  yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Riyani .
“Harto, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Sanjaya  kepadaku.
Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Riyani dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Riyani sehingga kali Riyani bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Riyani . Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Riyani . Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Riyani makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam.
Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Riyani mendelik. Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya dari mulut Riyani dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Riyani sehingga sekarang kepala Riyani bebas bergerak.
Riyani terus menikmati penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Riyani naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Riyani ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Riyani memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.
“Sekarang…!!!!’ sahut Lam dengan keras.
Seperti mengerti perintah Lam, Riyani menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Riyani .
“Oohh… nikmat sekali….” desah Riyani pelan.
Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Riyani .
Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Riyani belum turun juga. Riyani masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Sanjaya  melepaskan pegangannya pada pinggul Riyani dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Riyani , Nampak raut muka Riyani sedikit sedih.
Lam  mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Riyani hanya sebentar karena Sanjaya  langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Riyani telentang di atas kasur dibukanya kaki Riyani lebar-lebar.
“Masih kurang Riyani ?” Tanya Sanjaya  menggoda Riyani sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
“Masih…pak Sanjaya …saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Riyani sambil menarik pinggul Sanjaya  ke arahnya.
“Oohhhh……” desah Riyani ketika penis Sanjaya  masuk ke dalam vaginanya sampai mentok.
Sanjaya  kemudian secara perlahan menggenjot vagina Riyani dengan penisnya. Setiap gerakan Sanjaya  selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Riyani . Kepala Riyani terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Riyani setiap kali Sanjaya  menggerakan penisnya secara perlahan.
Penasaran dengan apa yang dirasakan Riyani , aku membisikinya dan bertanya.
“Bagaimana rasanya ? Enak?” tanyaku.
“Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih mas Harto atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Riyani pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan.
Lima belas menit kemudian, penis Sanjaya  berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Riyani pun tiba-tiba lebih menegang lagi.
“Oohhh….apa ini pak Sanjaya ….kenapa saya……” desah Riyani pelan kepada Sanjaya .
“Inilah puncaknya orgasme dari orgasme . Nikmati saja” jawab Sanjaya .
Bersamaan dengan itu, tubuh Riyani dan Sanjaya  benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Riyani melingkar di pinggul Sanjaya . Dada Riyani makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Sanjaya  berada di pundak Riyani , mulutnya sedikit menggigit pundak Riyani dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Riyani .
“OOOhhhhh……” teriak Riyani dan Sanjaya  bersamaan. Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Riyani , Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.
Beberapa menit Sanjaya  dan Riyani berada di puncak orgasme mereka.
“Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Riyani istirahat dulu” kata Sanjaya  setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Riyani .
Sanjaya pun beranjak dari atas tubuh Riyani , tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Riyani dengan selimut. Riyani hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Sanjaya  dan Riyani istirahat.
Menjelang sore terlihat Sanjaya  keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Riyani , Sanjaya , Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki.
“Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Sanjaya  kepada aku dan tamu-tamu lainnya.
Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Sanjaya  menginstruksikanku untuk membangunkan Riyani .
“Harto, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Sanjaya  kepadaku.
Akupun segera menuruti perintah Sanjaya  dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Riyani istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Riyani sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Riyani sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.
“Mas Harto, apa yang terjadi denganku. Kenapa kamu  membiarkan semua ini terjadi?” tangis Riyani kepadaku.
Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Riyani untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Riyani sudah ditunggu di ruang makan oleh Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Riyani menurutinya. Setelah Riyani mandi dan memakai kembali jubah serta jilbab lebarnya kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Riyani ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Riyani sangat malu untuk bertemu dengan Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang.
Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Sanjaya  mempersilahkan aku dan Riyani duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Sanjaya . Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Sanjaya  dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Riyani terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Sanjaya  mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Riyani ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Sanjaya  mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Sanjaya  sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah
masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Sanjaya  berkata
“Ok, saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya”
“Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Sanjaya  sambil memencet remote TV.
TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Riyani tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Riyani sangat terkejut dan merah padam karena sangat malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Riyani bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Sanjaya  menghardiknya dengan tegas.
“Riyani , duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Sanjaya  dengan sangat keras.
Mendengar bentakan Sanjaya  aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Sanjaya  telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya.
Aku melihat Riyani sangat ketakutan mendengar bentakan Sanjaya , namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membelanya, maka Riyani pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk dengan wajah menunduk menahan perasaan malu yang luar biasa. Sanjaya  dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Riyani yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Riyani, wanita alim yang selalu menggunakan jubah dan jilbab lebar tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Sanjaya  memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Sanjaya  menjelaskan bagaimana Riyani yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Riyani karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Riyani di TV selesai, kemudian Sanjaya  dengan suara tegas memerintahkan Riyani
“Nah, Riyani , tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu secara langsung.”
Mendengar itu dengan raut muka yang pucat dan penuh ketakutan, Riyani bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Sanjaya  dan Zhou dengan sigap menangkap Riyani .
“Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Riyani kamu sangat mengecewakan” kata Sanjaya  sambil mencengkram tubuh Riyani dari belakang.
“Kamu harus dihukum dan dididik dengan benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Sanjaya  kemudian kepada Riyani .
Riyani meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Sanjaya  pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Riyani untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Sanjaya  dan Zhou menyeret Riyani ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Riyani , namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Sanjaya  terhadap Riyani . Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Riyani sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat, hanya jilbabnya saja yang masih menutupi kepalanya. Posisi Riyani berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Riyani menyerupai huruf “X”. Aku melihat Riyani meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya,membasahi jilbab lebar yang tersampir di pundaknya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Riyani .
“Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur berjilbab ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur yang alim ini” sahut Sanjaya  tiba-tiba.
Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Riyani terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Sanjaya  akan lakukan terhadap Riyani .
“Riyani , ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan memaksamu  menjadi taat dan menurut padaku? Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Sanjaya  kemudian sambil tertawa “Kamu boleh dan bahkan harus tetap berpenampilan seperti biasa, anggun, sopan, berjubah dan berjilbab lebar. Tetapi kau harus dengan suka rela menjadi budak seksku, melayaniku kapanpun aku mau, dimanapun dan dengan cara apapun”
Mendengar itu aku melihat ekspresi ketakutan yang amat sangat di wajah Riyani . Riyani semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri, jilbabnya menjadi berantakan. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras.
“Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Sanjaya  setelah melihat Riyani tetap berusaha melepaskan diri.
Sanjaya  kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Riyani . Aku melihat Riyani merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut.
“Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Riyani . Sanjaya  telah mencambuk punggung Riyani dengan keras.
Raungan tangis Riyani semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri.
“Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Riyani hingga Riyani pingsan. Melihat Riyani pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Riyani untuk membangunkannya.
Ketika Riyani siuman, Sanjaya  menanyakan kepada Riyani apakah Riyani bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Riyani mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Riyani , namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Riyani dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Riyani sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya.
“Bagaimana Riyani , apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Sanjaya  kemudian.
Riyani hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya.
“Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Sanjaya  kepada Riyani sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.
Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Sanjaya  kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Sanjaya . Kemudian Sanjaya  berjongkok di depan vagina Riyani . Dibukanya vagina Riyani secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Riyani meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Riyani sehingga Riyani tidak dapat bergerak.
“Jangan…jangan….” pinta Riyani lirih.
“AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Riyani . Ternyata Sanjaya  menusuk bibir dalam bagian atas vagina Riyani dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Riyani tersebut.
Raungan keras kesakitan Riyani membahana di basement itu, kemudian Riyani kembali pingsan. Kemudian Sanjaya  kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Riyani . Riyani terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Riyani dan membersihkan vagina Riyani dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Riyani agar Riyani siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Riyani menahan sakit di vaginanya. Kemudian Sanjaya  kembali menghampiri Riyani dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Sanjaya  kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Riyani dan tangan kanan Sanjaya  memegang jarum siap menusuknya.
“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Sanjaya  asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Riyani .
Mendengar hal itu Sanjaya  dan tamunya tertawa penuh kemenangan.
“Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
“Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Riyani menyerah.
“Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Sanjaya  sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan.
Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Riyani . Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Riyani dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Riyani . Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Riyani , paha Riyani , punggung Riyani dan sekujur tubuhnya.
15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Riyani mulai mengkhianatinya. Riyani mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya. Melihat reaksi Riyani , para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Riyani . Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Riyani yang mana hal tersebut semakin membuat Riyani tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Riyani tanda Riyani telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Riyani reda, Sanjaya  kemudian melepaskan ikatan Riyani dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku.
“Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet, kukirimkan pada orang tua kalian dan masalah hutangmu akan aku tuntut” kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Sanjaya  itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , dan kemudian Sanjaya  mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.
“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan.
Riyani kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Sanjaya  sehingga Riyani sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Sanjaya . Wajah Riyani dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Aku tidak bisa melihat tubuh istriku karena  jilbab lebarnya terurai dan menutupi punggung dan dadanya. Lalu Sanjaya  memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Sanjaya  yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Riyani dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Riyani disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Riyani terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Riyani . Terlihat vagina Riyani sudah penuh dengan penis Sanjaya  yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar
masuk vagina Riyani yang disertai erangan-erangan kecil Riyani dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Riyani terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.
Terdengar erangan-erangan Riyani di kupingku setiap kali penis Sanjaya  yang besar memasuki vaginanya.
“Maafkan aku mas, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Riyani di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.
Genjotan-genjotan penis Sanjaya  pada vagina Riyani semakin keras, dan erangan-erangan Riyani semakin terdengar keras. Badan Riyani mulai mengikuti irama permainan Sanjaya . Terlihat vagina Riyani sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya.
“Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Sanjaya  kepadaku sambil tertawa.
“Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Sanjaya  kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Riyani .
Jeritan keras terdengar dari mulut Riyani . Riyani berusaha menarik badannya namun dengan sigap Sanjaya  menahannya.
“Diam Riyani !!!” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Riyani dengan kedua jarinya, Sanjaya  lalu mencabut penisnya dari vagina Riyani dan mengarahkannya ke anus Riyani . Sanjaya  menarik badan Riyani ke belakang sehingga wajah Riyani sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Riyani ketika penis Sanjaya  yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Riyani . Jilbabnya semakin basah terkena keringat dan air mata. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Sanjaya  masuk ke dalam lubang anus Riyani , dan kemudian Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Riyani . Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Riyani , matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Riyani dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.
“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Riyani dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Riyani yang disertai erangan-erangan Riyani . Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Riyani dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Riyani yang bergantung bebas. Tubuh Riyani kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Riyani bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Sanjaya  di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Riyani terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Riyani tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Riyani mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Riyani mencapai
orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Namun Sanjaya  belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Riyani telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Riyani . Sanjaya  kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Riyani dan membimbing Riyani ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Sanjaya  telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Sanjaya  membimbing Riyani menduduki penis tersebut. Riyani hanya menurut saja apa yang dikehendaki Sanjaya . Setelah penis besar tamu Sanjaya  yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Liem kemudian menarik kedua putting payudara Riyani sehingga posisi badan atas Riyani meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Riyani dengan ganas,
dan aku melihat Riyani melayaninya. Lidah Riyani dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Riyani dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Riyani , sehingga sekarang posisi Riyani terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.
Mata Riyani terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Riyani . Tidak ada lagi penolakan dari Riyani , bahkan Riyani turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou.
“Lihat, istrimu yang alim dan berjilbab itu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar dan kamu dipenjara karena hutang 4 milliar itu, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Sanjaya  kepadaku.
“Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Riyani disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Sanjaya  kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Riyani melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Riyani mengalami orgasme. Setelah Riyani mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Riyani . Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Riyani , Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Riyani diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Riyani , sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Riyani dari atas. Lam dan Kong
dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Riyani . Riyani terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Riyani bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Riyani kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Riyani kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Riyani menciumi bibir Kong dengan
ganasnya.
Lidah Riyani terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Riyani bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Riyani , sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Riyani . Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Riyani masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Riyani dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Riyani yaitu mulut, vagina dan anus Riyani harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat
juga Riyani melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Riyani duduk di atas Sanjaya  yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Sanjaya  pada vagina Riyani , sedangkan Kong asyik menggenjot anus Riyani dari belakang. Secara bersamaan mulut Riyani menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Riyani sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Riyani sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Riyani istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Riyani . Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Riyani . Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Riyani , juga demikian di bibir mulut Riyani , namun mereka terus
bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.
Hari sudah siang ketika Riyani dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Riyani berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Sanjaya  dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Riyani istriku yang berjilbab dan alim. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Riyani baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Riyani baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Boleh dibilang Riyani tidak sempat berpakain, hanya jilbab lebarnya yang setia menempel di kepala. Aku melihat Riyani berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Riyani untuk
mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Riyani terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Riyani disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Riyani sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar. Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Riyani , namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Riyani .
Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Riyani kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani tidak boleh dilepas, mulai sekarang Riyani hanya diperbolehkan memakai jubah dan jilbab saja. Tidak boleh memakai BH serta celana dalam, setiap hari Riyani harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Sanjaya , Riyani harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Riyani , aku hanya boleh dioral saja oleh Riyani dan kapanpun Sanjaya  dan teman-temannya memanggil Riyani atau datang ke rumah kami, Riyani harus siap melayani. Riyani hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Sanjaya  sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu. Budak seks berjilbab yang alim dan anggun.Istriku Menjadi Budak Seks 2
Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Riyani masih menuruti instruksi yang diberikan Sanjaya  sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Sanjaya  akan meneruskan aksinya terhadap Riyani . Di kantor tempatku bekerja Sanjaya  tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Sanjaya  dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Sanjaya  menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Sanjaya  hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Riyani tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah.
Setiap Riyani melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Riyani ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam jubah majikan perempuannya, mereka juga sering melirik dada Riyani yang berguncang ketika berjalan. Namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa.
Di rumahku aku dan Riyani mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Riyani , terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Riyani . Riyani di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, semua BH dan celana dalamnya sudah aku bakar habis, hal itu sesuai dengan instruksi Sanjaya . Ada
rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Riyani mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Riyani menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Riyani menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Sanjaya . Sanjaya  akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…

*******************************
Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Sanjaya  menelepon Riyani tadi malam, Sanjaya  tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Sanjaya  memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Sanjaya  pada istriku tadi malam, namun Sanjaya  tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Riyani siang ini. Sanjaya  memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Riyani . Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Sanjaya  meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Sanjaya  akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Sanjaya  kembali
ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Riyani . “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Riyani tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Sanjaya .
“Harto, tenang saja, Riyani tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Sanjaya  terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku.
“Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Sanjaya  kemudian lalu menutup Hp itu.
Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Sanjaya  masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Sanjaya  di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Sanjaya  kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Sanjaya , aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera.
Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Sanjaya  masih berada di depan rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Sanjaya ?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Sanjaya  di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Riyani . Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sanjaya  memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Sanjaya . Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20
tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Sanjaya  memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Sanjaya  adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Sanjaya  berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Sanjaya  yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Sanjaya  dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak.
“Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Riyani itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku.
“Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Sanjaya  kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.
“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Sanjaya  kepada istriku” pikirku kalut dalam hati.
Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Riyani tidak berada di kamar itu. Rupanya Riyani sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Sanjaya  tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Riyani di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Sanjaya . Setelah beberapa menit, Riyani keluar dari kamar. Riyani menggunakan jilbab putih yang tersampir di pundaknya. Riyani terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar.
Mukanya terlihat malu. Ia menyadari penampilannya yang aneh, berjilbab tapi bagian bawahnya telanjang bulat.
“Riyani segera siap-siap sesuai perintahku” kata Sanjaya  kepada Riyani memecah keheningan kamar. Riyani hanya menggangguk menurut.
Melihat anggukan Riyani , Sanjaya  kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Riyani sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Sanjaya  menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Sanjaya  dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Riyani turun dari lantai atas. Riyani sudah mengenakan make-up dan berdandan dengan sangat cantik, namun Riyani tidak mengenakan pakaian apapun juga, kecuali jilbabnya. Riyani turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Riyani terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang.
Sesampainya di ruang TV, Riyani langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Sanjaya  dan Peter. Terlihat Riyani sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu.
“Nah, Riyani , setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Riyani .
Riyani yang ditanya hanya mengangguk pelan.
“Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Sanjaya  kepada Riyani.
“Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Sanjaya  kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Sanjaya  yang menunggu diluar.
Mendengar apa yang dikatakan Sanjaya , Riyani dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.
“Maaf Pak Sanjaya , kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Sanjaya .
“Ya terserah kamu Harto, apakah kau tidak ingat dengan rekaman dan surat kesepakatan kita?” jawab Sanjaya  kalem.
Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Riyani untuk menanyakan pendapatnya. Riyani hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya.
“Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa.
Melihat Sanjaya  dan Peter bangkit dari sofa, Riyani segera berlutut dan meraih paha Sanjaya .
“Ampuun Pak Sanjaya , saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Riyani mengiba kepada Sanjaya .
“Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
“Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Sanjaya  tegas.
“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Sanjaya  dimulai.
Pada hitungan ke delapan, Riyani bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Riyani menuju menuju pintu kamar kedua pembantunya. Kepalanya dilongokkan ke kamar mereka. Jilbab putihnya diturunkan sehingga kedua pembantunya tidak langsung melihat kalau majikan perempuan mereka yang alim dan selalu berjilbab memanggil mereka dalam keadaan telanjang.
“Pak Sudin….Pak Amir…” suara Riyani bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku.
“Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari dalam kamar.
“Tolong Pak Sudin dan Pak Amir menyusul saya ke ruang TV” lanjut Riyani masih dengan suara bergetar menahan tangis dan rasa malu yang luar biasa.
“Baik bu” jawab Sudin kemudian.
Mendengar itu, Sanjaya  segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah.
“Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Sanjaya  kepada anaknya.
Riyani telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV.
“Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya yang tiap hari selalu berjubah lengkap dengan jilbabnya berdiri dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV. Jilbab putihnya masih menutupi kepalanya, sementara payudaranya terlihat menggantung indah karena Pak Sanjaya menyuruh Riyani untuk menyampirkan jilbabnya ke pundak.
Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Riyani . Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.
“Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Sanjaya  tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu.
Mendengar kata-kata Sanjaya , Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Sanjaya , namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Riyani seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Riyani .
“Riyani , hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Sanjaya  dengan keras kepada Riyani .
“Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Riyani terbata-bata sambil menahan tangisnya.
“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah mengijinkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Sanjaya  terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV “Saya ingin membuat film tentang pelacur cantik yang alim dan berjilbab lebar”
“Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Sanjaya  kemudian kepada Kisno supirnya.
“Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Riyani .
Kemudian Kisno menjambak jilbab Riyani dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Riyani terdongak ke atas.

“Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri, apalagi yang alim dan berjilbab seperti ini, tentu nikmat sekali…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Riyani . Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Riyani . Melihat Riyani hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Riyani . Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
“Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Riyani .
Riyani yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa.
“Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Riyani sambil melepaskan jambakannya pada jilbab Riyani .
Riyani meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Riyani pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Riyani dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Riyani dan mengobok-obok mulut Riyani sampai-sampai Riyani kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Riyani beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Riyani dengan mesra. Sudin sedikit menarik Riyani dari Kisno dan Amir, sehingga Riyani dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Riyani , Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Riyani dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Riyani . Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Riyani , Sudin
menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Riyani . Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Riyani itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Riyani dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Riyani dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Riyani .
“Eegghhh…” terdengar erangan kecil Riyani ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya.
“Suka?” tanya Sudin kepada Riyani sambil melepaskan ciumannya pada Riyani . Riyani tidak menjawab, dia hanya diam saja.
Melihat Riyani hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Riyani dengan sedikit keras.
“Egghh….” terdengar erangan Riyani sedikit mengeras.
“Suka?” tanya Sudin lagi kepada Riyani dengan sedikit tegas.
Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Riyani mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin.
“Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Riyani dari Sudin.
“Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Riyani kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin.
“Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Sanjaya  dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Riyani .
Kini Riyani yang telanjang bulat dan hanya memakai jilbabnya dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Riyani mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Riyani kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Riyani melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada
keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Riyani , namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Riyani menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya.
“Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Riyani .
“Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Sanjaya  khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa.
Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Riyani ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Riyani dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani . Riyani dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Riyani dengan cepat sampai Riyani tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Riyani dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Riyani ke arah penis Amir. Riyani mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Riyani . Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan
menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Riyani dan mengarahkan ke penisnya. Riyani seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Riyani dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Riyani juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Riyani yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus.
2 laki-laki itu yang sedang dilayani Riyani adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Riyani . Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Riyani kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Riyani langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Riyani kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya
bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Sanjaya  yang sedari tadi asyik merekam adegan Riyani dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Riyani untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Riyani juga diperintahkan oleh Sanjaya , untuk melakukan deepthroat pada ketiga penis itu, yaitu memasukkan penis mereka sampai mentok ke pangkalnya sehingga kepala penis masuk sampai ke tenggorokkan Riyani melewati amandelnya. Perintah ini dipenuhi oleh Riyani dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Sanjaya meng close-up adegan ini, baginya hal ini sangat menarik, seorang wanita canti dan berjilbab mendeepthroat penis. Wajah Riyani jadi terlihat sangat merangsang. Riyani menuruti semua instruksi Sanjaya  meskipun terlihat beberapa kali Riyani merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Riyani
menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Riyani , muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai membasahi tubuh, wajah dan jilbab Riyani. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Riyani sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Riyani yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Riyani mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.
“Good…good….telan semua ya….” perintah Sanjaya  seakan-akan tahu apa yang akan terjadi.
Riyani tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan semuanya oleh Riyani. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Riyani berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Riyani . Terakhir adalah giliran Kisno. Riyani menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Riyani mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Riyani berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Riyani dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga
perlu waktu yang cukup lama bagi Riyani untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani . Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Riyani , Kisno kembali menjambak jilbab Riyani dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Riyani terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani dengan kasar.
“Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Riyani .
Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Riyani ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Riyani yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel kecil itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Riyani di vaginanya.
Riyani didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Riyani sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Sanjaya  memberi isyarat kepada Riyani untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Sanjaya  menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Riyani . Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Riyani di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa.
Riyani tidak menjawab apa-apa. Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Riyani dengan sedikit ragu menurutinya. Riyani membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Riyani pada awalnya tidak mau menuruti perintah Sanjaya , namun setelah diancam oleh Sanjaya , Riyani pun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Riyani , Sanjaya  memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Riyani dan mulai menjilati paha dalam Riyani dan terus ke vagina Riyani . Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Riyani , terlihat tubuh Riyani sedikit menegang
menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Riyani meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Riyani tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya.
“Riyani , ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Sanjaya  sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Riyani yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus.
Riyani menuruti apa yang dikatakan oleh Sanjaya . Riyani mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Riyani , Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Riyani . Riyani dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Sanjaya . Sanjaya  kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Riyani yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Riyani sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Riyani , nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Riyani
terangsang hebat. Tubuh Riyani makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Riyani menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Riyani sudah membuat Riyani mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Riyani tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Riyani mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya.
“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Riyani tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Riyani yang cantik dan berjilbab putih. Riyani yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya.
Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Riyani akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Riyani , gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Riyani dengan keras.
“Aoouuuccch……..!!!” teriak Riyani keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu.
Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Riyani , namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Riyani kembali, dan bagi Riyani setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Riyani pun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Riyani ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , sehingga Riyani hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Riyani penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Sanjaya  segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Riyani , sehingga dengan
kedua tangan yang dipegang Peter itu, Riyani tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Riyani diperlakukan demikian oleh Kisno. Riyani nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya.
“Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Riyani pelan kepada Kisno berulang-ulang.
Mendengar itu Sanjaya  kembali tertawa lebar dan berkata “Riyani , kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!”
“Kamu kalau mau orgasme harus mohon ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Sanjaya , bolehkah saya orgasme?”
Permohonan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Sanjaya , biarkan saya yang membuatnya orgasme”.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Riyani bisa melayani kalian berdua sekaligus”
“Riyani , kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Sanjaya  setengah memerintah kepada Riyani .
Mendengar itu, Riyani dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Riyani kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan.
“Pak Amir…sini..” desah Riyani setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya.
Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Riyani . Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Riyani yang mungil dan mulus itu.
“Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Riyani ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Riyani ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Riyani berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Riyani sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Riyani . Mata Riyani memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Riyani untuk memberikan kesempatan pada Riyani membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Riyani dengan keras, cepat dan kasar. Riyani yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya
genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Riyani dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Riyani yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak
orgasme, badan Riyani melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet.
Tidak seperti Riyani , Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Riyani , masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Riyani malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Riyani yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Sanjaya  dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Riyani hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Riyani hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Riyani dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Riyani hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali
penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Riyani hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Riyani dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Riyani . Riyani secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Riyani hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Riyani makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Riyani hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Riyani sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih.

MURTI 1

Gosip tentang Gatot semakin tersebar luas. Dari mulut ke mulut, gosip itu hinggap ke gang demi gang, lalu mampir ke desa-desa sampai akhirnya seisi komplek tahu kalau Gatot dijemput polisi pas tengah malam tadi. Orang-orangpun berkata, Gatot, seorang pemuda pengangguran telah mengangkat kembali pamor komplek sebagai tempat judi nomor wahid di kota.

Dulu komplek ini memang dikenal sebagai tempat lahirnya para penjudi kelas kakap. Tapi sejak beberapa tahun belakangan cerita itu tak pernah terdengar lagi. Entah karena tobat atau karena takut, orang-orang seakan sepakat untuk menghapus cerita itu. Dan di depan komplek kini sudah di bangun polsek. Beberapa polisi juga tinggal di sini. Tiap malam ada ronda bergilir dari warga komplek. Pak Camat juga punya rumah disini, tepat di belakang rumah Gatot.

Anak anak komplek hampir semuanya sekolah di madrasah yang berdampingan dengan polsek. Setiap ada kesempatan entah itu pengajian ataupun arisan, pak Camat selalu berceramah yang intinya meminta warga agar terus menjaga ketertiban dan keamanan komplek serta menjaga nama baik komplek. Tapi tetap saja Gatot dan judi merajalela. Tiap malam, Gatot berangkat ke pasar lama yang sudah jadi arena perjudian. Dan dia pulang ketika orang sibuk berangkat kerja. Dia selalu naik motor yang entah darimana dia dapatkan.

Sebenarnya sudah beberapa kali Gatot didatangi polisi. Dia pernah di datangi ketua RT dan memberinya nasihat. Konon setiap ada yang datang ke rumahnya dan memberinya nasehat agar sadar dan tobat, Gatot selalu mengangguk sopan kemudian masuk ke dalam. Pas keluar di pinggangnya sudah terselip golok. Konon juga pak RT langsung diam dan pergi begitu diberi hidangan golok. Maka tidak ada lagi yang berani datang ke rumahnya, takut kalau golok itu melayang sesuka hati. Semakin menjadi-jadilah Gatot sang penjudi. Tidak ada lagi yang berniat menghentikannya.

Satu-satunya orang yang merasa sangat sedih adalah Murti, yang kini sudah jadi istri pak Camat. Gatot dan Murti sudah berkawan akrab sejak kecil. Bahkan sampai sekarang mereka tinggal berdekatan, hanya dibatasi tembok setinggi setengah meter yang memisahkan dapur rumah Gatot dengan dapur rumah pak Camat. Selain menjadi istri pak Camat, Murti juga menjadi guru agama di Madrasah. Tentu gosip tentang Gatot membuat Murti serasa ditohok dari belakang. Sama seperti yang lainnya, Murti juga tak kuasa menghentikan Gatot.

Karena tak kuat membayar listrik, pak Camat memberi sambungan dari rumahnya ke rumah Gatot dan itu gratis. Pun demikian dengan air, Gatot setiap sore selalu mengambil bertimba-timba air dari mesin pompa milik pak Camat. Bahkan Gatot juga menumpang jemuran disamping rumah pak Camat. Murti sering dengan terpaksanya mendatangi rumah Gatot untuk mencari pakaian suaminya yang terbawa bersama pakaian Gatot. Entah Gatot tidak sengaja atau memang sengaja mengambil pakaian suaminya, Murti tidak berani berprasangka. Dia takut menuduh Gatot sebagai pencuri.

Gatot memang nakal, itu yang diingat Murti. Seketika Murti teringat pada masa masa kecilnya bersama Gatot. Ketika masih ingusan, Gatot hanyalah bocah kurus kerempeng tapi punya wajah ganteng. Dia sering mendorong- dorong Gatot sampai terjatuh, membuat bocah itu menangis. Dulu Gatot sangat cengeng, lebih suka bermain sama anak perempuan karena takut pada sesama bocah lelaki. Semasa kecil, Gatot dapat julukan bencong. Murti juga sering merasa malu kalau mengingat betapa ia dulu setiap hari mandi bersama Gatot, ia sering menarik-narik ’ulat’ milik Gatot. Dan Gatot selalu membalas dengan memukuli ’bukit kecilnya’. Sampai kelas empat sekolah dasar, ia masih sering mandi bareng Gatot. Gatot juga sering belajar dan nonton TV di rumah Murti sambil menunggu ayah Murti pulang. Keluarga Murti sudah menganggap Gatot sebagai anak sendiri. Jadi setiap pulang kerja, ayah Murti selalu membawakan Gatot cemilan. Dulu Gatot adalah anak yang baik dan penurut. Banyak sekali kenangan bersama Gatot yang tak mudah dilupakan oleh Murti.

Tapi Gatot dulu lain dengan Gatot sekarang. Ada yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Gatot yang cuma sempat sekolah sampai kelas dua SMP seakan mewarisi perilaku ayahnya. Siapa di seantero komplek yang tidak kenal ayah Gatot. Para orang orang tua pasti tahu persis kelakuan cak Karso, ayahnya si Gatot. Kalau pagi, cak Karso memang bekerja normal sebagai sopir truk. Tapi begitu malam tiba, cak Karso beralih profesi, membuka warung kopi di pintu masuk komplek. Tentu bukan semata kopi yang dijual. Mulai dari air putih biasa sampai minuman anggur beralkohol luar biasa semuanya bisa didapat dan dinikmati dengan bebas, menemani permainan kartu dengan taruhan tak kalah luar biasa. Cak Karso adalah pelopor judi yang membuat komplek ini begitu tersohor hingga keluar kota.

Gatot kecil sering menemani ayahnya dan mengaku senang karena orang- orang sering memberinya uang jajan. Gatot juga mengaku suka kalau diajak minum-minuman yang katanya berasa nikmat. Sejak itulah Gatot kecil mulai menampakkan perubahan total. Dan semakin menjadi-jadi ketika ibunya meninggal dengan tragis, gara-gara dipertaruhkan judi oleh cak Karso.

Yu Darti, ibunya Gatot, meninggal tak lama setelah tiga hari tiga malam diperkosa secara bergiliran oleh para begundal. Cak Karso dengan kejamnya menjadikan istrinya sendiri sebagai tumbal permainan judi. Yu Darti yang merupakan bunga desa akhirnya lebih memilih mengakhiri hidup daripada menanggung aib dan malu. Sedangkan cak Karso tiba-tiba raib, menghilang entah kemana meninggalkan Gatot seorang diri.

Jadilah Gatot anak sebatang kara, putus sekolah, hidup dari belas kasihan orang. Salah satu alasan yang jadi penyebab kuat dia menjadi penjudi kawakan. Toh sampai sejauh itu Murti masih bisa menahan rasa sedihnya. Murti tetap memberikan listrik dan air gratis, juga masih membolehkan Gatot menumpang jemuran. Seburuk apapun kelakuan Gatot, dia adalah teman dekatnya. Gatot memang kurang ajar. Dia pernah mengintip Murti mandi, juga sering menggoda Murti kalau pulang dari mengajar. Puncaknya, Murti merinding bila mengingat kejadian itu, saat Gatot datang ke rumahnya, lalu masuk ke kamarnya dan menggerayanginya yang lagi tidur. Murti mengira itu adalah pak Camat, suaminya, maka iapun diam saja. Sudah kebiasaan suaminya, meminta ‘jatah’ di siang hari bolong seperti ini.

Meski merasa lain, karena terasa lebih kasar, Murti tidak pernah curiga saat Gatot mulai memeluk dan menciuminya. Ia juga tidak menolak begitu Gatot  mulai melepas daster putih yang ia kenakan. Setelah mencumbuinya sebentar, Gatot mulai membuka bra tipisnya dan melepaskan celana dalamnya. Setelah itu sedikit demi sedikit Gatot mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuh Murti, tidak ada yang terlewati. Dalam keremangan kamar, Murti bisa melihat penis Gatot yang disangka suaminya, benda itu tampak mulai menegang, tetapi belum keras sepenuhnya. Ukurannya yang agak lebih besar masih belum membuat Murti curiga.

Dengan penuh kasih sayang, Murti meraih batang kenikmatan Gatot dan memain-mainkannya sebentar dengan kedua belah tangannya, untuk kemudian mulai dikulumnya dengan lembut. Terasa di dalam mulutnya, batang penis Gatot mulai hangat dan mengeras. Murti terus menyedot batang panjang itu sambil sesekali matanya terpejam menahan nikmat akibat kocokan jari-jari Gatot di liang vaginanya. Ia masih belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki di depannya ini.

Gatot kemudian membalas dengan meremas-remas kedua payudara Murti yang terlihat sangat menantang. Remasan Gatot membuat Murti mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan yang bergerak dari puting payudaranya dan terus menjalar ke seluruh bagian tubuhnya yang lain, terutama lubang vaginanya, yang kini terasa semakin basah dan lengket akibat kocokan jari-jari Gatot. Murti melirik ke atas, ingin mencium sang suami, tapi Gatot dengan lihai menyembunyikan mukanya di punggung gadis itu hingga lagi-lagi Murti tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Bahkan agar lebih mengelabui Murti, Gatot turun ke bawah dan mulai menjilati vagina sempit Murti. Ia menyembunyikan mukanya di celah selangkangan istri pak camat itu. Dengan liar lidahnya menyapu dan mengulum daging kecil klitoris milik Murti yang terlihat begitu mungil dan menggemaskan. Murti kaget sekaligus sangat kewalahan menerimanya, karena sebelumnya pak Camat tidak pernah melakukan hal yang seperti itu. Tubuh Murti langsung bergetar menahan nikmat, peluhnya mengucur begitu deras, dengan diiringi erangan-erangan kecil dan nafas tak tertahankan ketika ia merasakan rasa yang begitu nikmat ini.

Pelan tapi pasti, dengan posisi saling membelakangi, mulai dirasakannya penis Gatot, yang masih disangka suaminya, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke liang vaginanya. Rasa gatal yang dirasakan Murti sejak tadi kini berubah menjadi rasa nikmat yang amat sangat saat penis Gatot yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak pelan maju mundur menggesek liang vaginanya.

Murti merasa suaminya lebih jago dalam permainan ini, beda dengan biasanya. Tapi sekali lagi, Murti tidak curiga. Ia menganggap, mungkin pak Camat telah banyak belajar hingga sekarang jadi sedikit lebih pintar. Akhirnya, dengan mata terpejam, dinikmatinya goyangan laki-laki itu. Murti begitu meresapinya hingga tak sampai lima menit kemudian, ia sudah berteriak kecil saat sudah tak mampu lagi menahan gejolak birahinya. Tubuhnya yang montok meregang sekian detik sebelum akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak kenikmatan perlahan meninggalkan tubuhnya. Murti memejamkan matanya sambil menggigit kecil bibirnya saat merasakan sisa-sisa orgasme yang membuat vaginanya terus mengeluarkan denyut-denyut ringan penuh kenikmatan.

Gatot menyusul tak lama kemudian, laki-laki itu dengan cepat menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tumpah dan menyembur dengan derasnya ke tubuh dan wajah cantik Murti. Murti gelagapan, tapi dia berusaha membantu dengan mengocok penis ’suaminya’ sampai air mani Gatot habis, menetes seluruhnya. Murti sedang asyik menjilati penis itu, saat Gatot berbisik, ”Aku benar-benar puas, Mur, kamu memang hebat!” pujinya.

Seketika Murti berbalik, terkejutlah ia karena yang sedang ia ciumi penisnya adalah Gatot. Spontan ia mengusir laki-laki itu dan menangis sejadi-jadinya di kamar, sampai suaminya pulang. Pak Camat bingung melihat keadaan Murti, tapi ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Sejak kejadian itu, Murti selalu mengunci semua pintu dan jendela bila sendirian di rumah. Dia takut Gatot akan masuk lagi sesuka hati.

Sampai tersiar berita yang masih dari bisik-bisik warga komplek. Gatot tidak hanya berjudi di pasar lama. Gatot diam-diam sering mengajak teman-temannya untuk berjudi dan minum sampai teler di rumahnya. Jelas itu adalah hal yang mencemaskan Murti. Bahkan sering juga ada perempuan yang menginap di rumah Gatot sampai berhari-hari. Yang jelas perempuan itu bukan istri Gatot karena sampai umur tigapuluhdua tahun ini, Gatot masih seorang duda. Bisik-bisik tetangga itulah yang membuat Murti perlu berdialog dengan pak Camat.

“Mas Joko, pepatah bilang nila setitik akan merusak susu sebelanga.”

“Artinya?” Joko sang pak Camat bertanya.

“Masa sih mas Joko nggak tahu. Artinya sebanyak apapun kebaikan yang kita lakukan akan rusak oleh keburukan.” Murti menjawab sambil memperbaiki posisi berbaringnya.

“Apa hubungannya dengan kita, Murti?”

“Bukan kita, mas. Tapi komplek kita ini,”

“Maksudmu tentang Gatot?”

Murti mengangguk. Pak Camat menarik napas panjang. Murti menunggu pak Camat bicara, tapi suaminya itu cuma tersenyum. Murti terpaksa ikut tersenyum. Senyum yang kecut dan kelu. Setelah itu mereka tak bicara lagi karena lebih memilih untuk meneruskan keintiman yang tertunda. Pak Camat dengan penuh nafsu melumat bibirnya, sementara Murti tersenyum manja saat memegang batang pak Camat yang memang sudah berdiri dari tadi. Laki-laki itu dengan sigap membuka kancing baju serta kait BH yang Murti pakai. Murti membalas dengan menarik kepala suaminya ke arah buah dadanya yang sudah terpampang bebas.

”Hisap, mas… hisap putingnya. Ughhhh!” pinta Murti tak tahan lagi.

Tapi belum puas pak Camat menghisapnya, Murti sudah dengan cepatnya menunduk dan mengulum batangnya yang sudah semakin mengeras dan menegang, “Ah… Mur, baru kali ini kamu menghisap penisku.” desahnya keenakan. Dia tidak pernah tahu, ada satu peristiwa yang membuat Murti jadi nakal seperti itu.

“Penis mas besar sekali, dan ah… berurat lagi, seperti kawat baja.” desah Murti tak mau kalah.

Pak Camat agak bingung mendengar perkataan istrinya, ”Besar? Berurat?” perasaan, penisnya tidak sampai seperti itu. Lalu, burung siapa yang dibicarakan oleh Murti? Pak Camat sudah ingin bertanya saat Murti mulai menghisap barangnya semakin cepat sambil kedua tangannya menggoyang-goyangkan bola kenikmatan yang ada di bawahnya, membuatnya jadi tak tahan dan akhirnya mengurungkan niat.

Malah yang ada, tanpa terasa pak Camat sudah mulai menunggangi tubuh bugil Murti. ”Kamu cantik banget, Mur.” seiring perkataan itu, melesaklah penis pak Camat menembus vagina sempit Murti.

”Oughh…” mereka menjerit bersamaan dan mulai menggoyangkan tubuh masing-masing.

Persetubuhan itu berlangsung singkat karena beberapa menit kemudian, pak Camat sudah melenguh penuh kepuasan. “Ahh… Mur, aku keluar! Ahh…” dia tekan pantatnya kuat-kuat dan menyemburkan spermanya di lorong sempit Murti.

Murti menerimanya dengan agak kecewa. Baru saja dia merasa nikmat, pak camat sudah keburu keluar. Tidak seperti… ah, dia tidak boleh mengatakannya. Murti sadar kalau apa yang ada dipikirannya bisa saja membuat pak Camat marah besar. Sambil membiarkan pak Camat merangkul tubuhnya, Murti juga membiarkan angannya terbang menjelajahi masa lalunya bersama Gatot kecil.

Bagi kebanyakan warga komplek, Gatot muda dan Murti muda bagaikan Rama dan Sinta. Gatot yang ketampanannya mewarisi kecantikan Yu Darti sangat cocok dan serasi bila sudah berjalan berdua dengan Murti yang memang sudah cantik sejak bayi. Setiap ada acara agustusan di komplek, Gatot dan Murti selalu berpasangan bila tampil di panggung. Gatot yang masih lugu dan pemalu sering membuat warga tertawa bila sudah dijahili Murti diatas panggung. Pokoknya dimana saja dan mau kemana saja, keduanya selalu bersama.

Murti ingat ketika baru masuk SMA, ayahnya sering meminta tolong pada Gatot agar mengantarnya ke sekolah. Gatot yang pengangguran senang saja mengantar Murti ke sekolah karena kalau sudah berdua dalam mobil, Murti sering lupa diri kalau sudah bukan anak kecil lagi. Tingkah Murti masih seperti bocah dan menganggap Gatot masih bocah juga. Gatot senang karena Murti cuma mengikik geli tiap kali dia meremas buah dada yang lagi ranum-ranumnya. Gatot senang karena Murti cuma merem-melek kalau dia mengelus dan menjilati paha yang sedang mulus-mulusnya. Itu setiap hari Gatot lakukan kalau mengantar Murti sekolah. Sampai akhirnya Murti sadar bahwa itu terlarang.

Sejak sadar itulah, Murti tidak mau lagi diantar Gatot. Terakhir Murti diantar Gatot dan dalam mobil Gatot berusaha memelorotkan celana dalamnya. Murti yang sudah sadar berusaha mempertahankan diri, namun karena kalah kuat, diapun cuma bisa menangis. Ajaib, tangisannya itulah yang membuat Gatot menghentikan niat busuknya. Padahal rok dan celana dalam Murti sudah teronggok di jok belakang. Tuhan memang maha besar hingga Murti masih tetap perawan. Sejak saat itu, Gatot tak pernah lagi mengantar Murti. Dan Murti kemudian mengganti seragam sekolah dengan seragam muslimah dan berkerudung. Sejak gagal memperkosanya, Murti tidak pernah lagi melihat Gatot berkeliaran di komplek.

Kemudian Murti tahu kalau ternyata Gatot menyewakan rumah peninggalan orang tuanya dan menggunakan uang hasil sewa rumah itu untuk pergi merantau ke luar pulau. Orang-orangpun senang dan berpikir kalau Gatot tidak seperti ayahnya yang pemabuk dan penjudi. Umur delapan belas tahun, Gatot sudah meninggalkan komplek. Enam tahun sejak meninggalkan komplek, terdengar kabar yang makin membuat warga memanjatkan puji syukur. Gatot telah menikah dengan gadis anak ulama terkenal di perantauannya. Mau tidak mau Gatot harus menyesuaikan dengan kehidupan istrinya. Setiap hari Gatot memakai baju gamis dan menjadi tukang azan di masjid. Ketika Gatot dipercaya oleh mertuanya untuk mengelola pondok pesantren, semakin besyukurlah warga komplek karena Gatot benar-benar berbeda dengan ayahnya.

Namun dua tahun kemudian Gatot berubah. Kabar yang berhembus mengatakan kalau Gatot mulai menyalahgunakan fungsi pondok. Dia mulai meniru perilaku ayahnya. Gatot mengganti musik qasidah dengan musik rock. Persatuan hadrah dia tambahi dengan konsep lagu mancanegara. Para santri tidak diwajibkan untuk sholat lima waktu. Santri pria tidak lagi dibatasi untuk bertemu santri wanita. Pengajian rutin berubah menjadi acara makan makan dan minum. Tentu saja mertuanya marah besar. Dan istrinya menanggung malu besar. Tidak sampai tiga tahun, perkawinan itu kandas tanpa dikaruniai seorang anak. Tuhan pasti tidak meridhoi Gatot menjadi seorang ayah karena takut akan menjadi seperti ayahnya. Gatot cerai dan mendapat harta bagi warisan dari istrinya berupa mobil dan uang tunai beberapa puluh juta.

Orang-orang mulai yakin kalau Gatot memang tak lebih baik dari ayahnya. Ketika Gatot kembali pulang ke komplek, maka ketika itulah perlahan tapi pasti dia merubah komplek menjadi seperti dulu. Harta yang didapat dari hasil perceraiannya ludes dalam sekejap, termasuk mobil. Awalnya Gatot berjudi kecil-kecilan bersama tukang tukang ojek, tapi kemudian beralih ke judi yang lebih besar di pusatnya judi, yakni pasar lama. Semakin hari, Gatot bukannya semakin kaya, tetapi justru semakin hidup susah dengan tumpukan hutang disana-sini. Sampai tersiar kabar kalau pas tengah malam tadi Gatot digelandang ke kantor polisi.

Murti menarik napas dan melemaskan urat-urat setelah beberapa lama berada dalam himpitan pak Camat. Tubuhnya yang masih terlihat segar dan montok telentang penuh keringat. Murti mendehem ketika pak Camat mau meminta lagi. Pak Camat paham artinya itu. Murti membiarkan pak Camat keluar kamar. Dia sendiri kemudian menyusul keluar untuk membersihkan diri dan sholat Ashar. Sehabis sholat, Murti berjalan menuju dapur. Namun belum sampai disana, dia mendengar bel rumah berbunyi diiringi ketukan pintu dan ucapan salam. Murti mengurungkan niat memasak dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Murti kaget setengah mati. Di hadapannya telah berdiri Gatot dengan keadaan babak belur. Gatot berdiri menyandar pada kusen pintu seakan untuk menopang tubuhnya agar tak jatuh. Antara takut dan kasihan, Murti mempersilahkan masuk, namun Gatot menolak dan tetap berusaha untuk berdiri tegak.

“Mur, suamimu ada?” kata Gatot dengan suaranya yang parau. Dulu suara Gatot sangat bening dan jernih karena sering dipakai untuk mengaji dan qiro’ah.

“Ada. Untuk apa kamu cari suamiku?” Murti agak khawatir juga kalau-kalau Gatot nantinya akan menyakiti suaminya.

“Tak usah takut, Murti. Aku tidak akan menyakiti siapapun. Tolong panggilkan saja pak camat.”

Murti masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar menemui Gatot bersama suaminya. Melihat keadaan Gatot, pak Camat yang tadinya agak takut menjadi kasihan. “Ada apa, Gatot? Masuk saja ke dalam,” pak Camat menuntun Gatot dan mendudukkannya di kursi ruang tamu. Murti bergegas ke belakang untuk membuat minuman lalu muncul lagi dan duduk di samping suaminya.

“Saya sangat memohon bantuan, pak Camat.” kata Gatot tanpa berani menatap Murti, teringat apa yang telah ia lakukan pada teman mainnya itu. Gatot cuma berani mengangkat wajahnya sesekali untuk memandang pak Camat, lalu menunduk lagi.

“Kalau itu masih di dalam kemampuan saya, pasti kamu akan saya bantu, Gatot.”

“Saya ingin meminjam uang pada pak Camat.”

“Berapa?”

“Sepuluh juta, Pak. Untuk bayar hutang. Kalau sampai besok saya tidak bisa melunasi, polisi akan menahan saya.”

Murti dan pak Camat saling berpandangan dalam berjuta makna. Sepuluh juta adalah jumlah yang besar, apalagi yang meminjam adalah Gatot, seorang penjudi. Mereka bimbang. Sejujurnya mereka dan semua warga komplek senang kalau Gatot di penjara agar kehidupan warga tenang, tapi di sisi lain naluri kemanusiaan mereka bicara. Alangkah kasihan kalau Gatot harus mendekam di penjara cuma gara-gara hutang. Apalagi ketika kemudian Gatot menyodorkan sertifikat tanah dan BPKB motor diatas meja, semakin bimbanglah mereka.

“Untuk apa semua ini, Gatot?” tanya pak Camat.

“Itu adalah jaminan yang bisa bapak simpan. Saya sangat memohon, Pak.” pinta Gatot memelas.

Murti menangis dalam hati. Gatot yang kini di hadapannya tak ubahnya dengan Gatot semasa masih bocah yang menangis bila menginginkan sesuatu. Gatot kini memang tidak menangis, tetapi Murti tahu pria itu berjuang agar tidak menjatuhkan air mata. Pak Camat mengajak Murti ke dalam dan berbisik-bisik. Intinya mereka berdiskusi antara memberi atau tidak. Sejurus kemudian, mereka mengangguk-angguk dan keluar lagi menemui Gatot.

“Saya akan bantu kamu, Gatot. Untuk sementara biar semua ini kami simpan.” kata pak Camat.

“Silahkan, pak Camat. Saya sangat berterima kasih.”

“Ini juga sedikit buat pengobatanmu. Pergilah ke Puskesmas.”

“Sekali lagi terima kasih, pak Camat. Saya mohon diri.”

“Nanti malam saya antar uangnya ke rumahmu, Gatot.”

“Baik, pak Camat. Assalamualaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

Pergilah Gatot. Tinggal Murti dan pak Camat yang memandang kepergiannya dengan nanar. Gatot, pria paling ditakuti di komplek, kini seperti kehilangan kegarangannya. Tubuhnya sempoyongan berjalan pulang. Pak camat dan Murti menghela napas lalu menutup pintu. Dalam lubuk hati terdalam, Murti berharap semoga doa yang selama ini dia panjatkan demi memohon kebaikan Gatot, terkabul. Dia dan semua warga komplek ingin menyaksikan Gatot bertobat yang sebenar-benarnya tobat. Murti bahkan ikhlas seandainya Gatot tidak mampu membayar hutang padanya asalkan pria itu menunjukkan perubahan yang nyata.

“Mas Joko ada ide?” tanya Murti pada suaminya saat mereka sedang makan malam.

“Ada. Aku akan mempekerjakan dia sebagai sopir kita.”

“Apa mas Joko tidak malu menanggung beban seorang penjudi dan pemabuk seperti Gatot? Ingat nama baik mas sebagai camat.”

“Setiap orang bisa bertobat, Murti. Semoga hari ini adalah hari pertobatan bagi Gatot.”

Murti mengangguk membenarkan perkataan pak Camat. Tuhan memberi kesempatan pada umatnya untuk bertobat. Semoga Gatot tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Murti ingin melihat Gatot sholat dan mengaji seperti dulu. Murti ingin mendengar suara Gatot mengumandangkan azan di musholla komplek seperti dulu. Yang terpenting lagi, Murti ingin Gatot berhenti judi dan mabuk.

Ini adalah awal kisah Murti dan Gatot, dua insan yang seperti ditakdirkan untuk saling bersama. Kini Gatot telah kembali dalam lingkaran kehidupan Murti. Gatot menjadi sopir pak Camat dan keluarganya. Gatot kembali mengantarkan Murti kemana saja meski tidak seperti dulu lagi. Murti tidak lagi mengumbar kemolekan tubuhnya. Dia selalu keluar berbusana muslimah untuk menjaga image sebagai istri seorang camat, juga sebagai guru madrasah yang digugu dan ditiru para muridnya.

INNEKE

Pulang dari klien urusan tetek bengek IT akhirnya mencoba mencari jalan pulang, karena Jakarta kena banjir setelah hujan sangat lebat beberapa jam, aku sampai terjebak pada sebuah perumahan di bilangan Jakarta Selatan, tidak ada jalan pulang, hanya bersandar pada mobilku yang terhenti tak bisa mencari jalan pulang. Terpaksa aku mengalah pada keadaan, aku akhirnya mampir pada sebuah rumah makan untuk mengisi perutku. Entah mengapa ketika aku asyik menelan makanan itu sebuah tangan menepuk pundakku.

“Burhan yaaaaaa “ sapa seorang wanita yang akhirnya berada di sampingku dengan anggun dan sangat elok dipandang mata.

“Ooooh .. Mbak Inneke ?” kataku dengan menghentikan makanku, seorang anak digendongnya.

“Iyaaa ..masak lupa sih .. kamu khan pernah nolong aku dulu .. uuuh .. pelupa ya ?” selidik Inneke Koesherawati dengan menciumi anaknya, malah kesannya mencium matanya melirik padaku. Tak berapa lama kemudian suaminya ikut muncul.

“Ini kenalkan suami saya “ kata Inneke Koesherawati mengenalkan suaminya padaku, akupun berkenalan dengan keluarganya, kami duduk di mejaku dan terjadi obrolan demi obrolan, anaknya juga tak takut denganku, terbukti mau kupangku dan memelukku sesekali.

“Anakku suka kamu Han “ kata Inneke Koesherawati dengan tersenyum, suaminya sendiri sibuk bertelepon, sehingga lirikan nakal Inneke Koesherawati membuatku sampai berpikir. Jilbabnya dirapikan sehingga menambah kecantikannya.

“Kamu mau pulang ?” tanya Inneke Koesherawati

“Mana bisa pulang .. banjir di mana mana .. pengin relaks di sini aja “ kataku dengan santai

“Tinggal di rumahku aja .. malam dingin begini .. ada kamar kosong kok “ tawar Inneke Koesherawati yang diiyakan oleh suaminya. Aku menolak namun Inneke Koesherawati mendesakku sehingga aku akhirnya mengiyakan.

Kami akhirnya berangkat juga ke rumah Inneke Koesherawati, aku sendiri tidak merasa ada yang aneh, karena memang perilaku Inneke Koesherawati sejak dulu suka norak dan bersikap centil serta manja, lirikan matanya sudah biasa aku rasakan ketika kenal lama. Jadi aku terlalu jauh jika Inneke Koesherawati mengajakku bercinta.

Sampai di rumahnya, aku langsung diberi kamar yang lux, diberi handuk sama pakaian tidur oleh Inneke Koesherawati, kuterima itu, ketika Inneke Koesherawati menutup pintu matanya masih ingin memandangku. Aku relaks sejenak di tempat tidur yang empuk itu, beberapa lama kemudian aku keluar kamar dan nongkrong di meja belakang dekat dapur bermain dengan laptopku. Inneke Koesherawati dan suaminya berada di kamar bersama anaknya, aku kemudian tenggelam dalam urusan mengakses internet, hujan kembali melanda sangat derasnya membuat malam semaki dingin.

Ketika tepat jam dua belas, aku dikejutkan dengan munculnya Inneke Koesherawati ke dapur dengan menggunakan pakaian yang sangat minim sekali, bahkan kelihatan tanpa celana dalam, melihatku yang masih konsentrasi ke layar laptop Inneke Koesherawati tidak merasa terganggu, dengan santainya membuka lemari es dan mengambil minuman, mataku melirik bongkahan pantatnya, kali ini Inneke Koesherawati tidak menggunakan jilbab sehingga rambutnya yang panjang sampai ke bawah dada sangat indahnya, apalagi belahan dadanya terlihat jelas ketika ke menyamping

“Sibuk Haan ?” tanya Inneke Koesherawati dengan meminum dari gelasnya

“Iya sih Mbaak .. “ kataku dengan mencoba cuwek, namun naluri birahiku berontak melihat kemolekan tubuh di depanku. Bagaimana aku tidak terangsang meilhat Inneke Koesherawati dengan pakaian minim, kelihatan pahanya yang mulus dan belahan dadanya, bahkan kulihat punting susunya tercetak jelas.

“Aku haus .. “kataku bangun dari dudukku dan mendekati lemari es, dan berdiri di samping Inneke Koesherawati, mataku melirik kesintalan tubuhnya, belum lagi buah dadanya yang membusung itu seperti mengundangku. Entah kenapa tiba tiba aku sangat nekad memeluk Inneke Koesherawati dari belakang. Inneke Koesherawati menjadi terkejut

“Haaaan .. jangaaaan aaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati dengan menepis tanganku yang sudah memeluknya. Tolakannya tidak dengan teriakan malah seperti undangan. Mungkin artinya “Jangan lepaskan” heuehehehehe. Aku justru semakin nakal, Inneke Koesherawati hanya diam saja ketika aku dengan sangat nakalnya menggesek gesek lenganku di buah dadanya membuat Inneke Koesherawati malah merem merasakan gesekan itu, kutekan selakanganku yang memakai celana kolor sehingga cetakan penisku yang besar itu menempel dengan lekat ke pantat bohay milik Inneke Koesherawati

“Jangan Haaan .. aku takut suamiku banguuuun “ tolak Inneke Koesherawati dengan halus, namun aku menjadi gelap mata, birahiku sudah memuncak, sehingga aku semakin nakal menurunkan tanganku masuk ke dalam roknya itu dan mengelus elus vaginanya yang penuh jembut itu. Akibatnya Inneke Koesherawati membungkuk untuk menahan tanganku agar tidak terlalu jauh mempermainkan vaginanya

“Pleasee aaaaah .. jangan aaaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati semakin kuat, tanganku dicekal dengan kuat.

Mendadak terdengar pintu kamar Inneke Koesherawati terbuka, aku kaget sekali, sehingga aku langsung melepaskan pelukan tubuh sintal Inneke Koesherawati itu, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk sembunyi, tak lama kemudian suaminya membuka pintu ke dapur dan mendapatkan Inneke Koesherawati sedang duduk termenung di meja.

“Laptop siapa itu ? kok di sini .. “ tanya suami Inneke Koesherawati dengan menepuk bahunya dan memijatnya

“Punya Burhan .. nggak tahu kemana tuh … ninggalin laptop nyala .. tidur paling .. lah dia khan sering download .. jadi membiarkan laptop nyala sudah biasa “ kata Inneke Koesherawati dengan memakai alasan yang masuk akal, aku sendiri mendengar dari kamar mandi, aku mengurungkan keluar.

“Mau tidur lagi ?” tanya suaminya

“Aku susul saja, sayang “ kata Inneke Koesherawati dengan meminum sisa minuman di gelas. Tak berapa lama kemudian terdengar pintu dapur di tutup. Aku keluar dari kamar mandi, dan kudapatkan Inneke Koesherawati masih termenung, sehingga aku semakin nekat saja, aku langsung mendekati dan memeluknya dari belakang, kali ini aku lebih agresif dengan meremas buah dadanya membuat Inneke Koesherawati menjadi terkejut

“Oh .. Haaaaan ..pleasee .. jangaaan “ tolak Inneke Koesherawati dengan melawan nuraninya sebagai seorang istri, namun karena suaminya lemah dalam urusan ranjang sehingga birahinya tidak terkontrol. Inneke Koesherawati ikut berdiri ketika melawan nuraninya, sehingga aku langsung memutarkan tubuhnya, aku langsung menyerbu bibirnya. Inneke Koesherawati menjadi terkejut sehingga langsung memegang kepalaku untuk menghindari lumatanku.

“Haaaan .. pleaasee .. jaaangaan aaaaaaaah .. uuuuh “ tolak Inneke Koesherawati ketika tanganku semakin nakal masuk ke dalam lingerienya dan meremas buah dadanya tanpa bra itu, kuremas dengan lembut membuat Inneke Koesherawati justru malah memejamkan matanya menikmati setiap tanganku bermain merangsang libidonya., sehingga aku langsung kembali melumat bibirnya. Pelan pelan Inneke Koesherawati menyambut lumatanku

“Shhhh ..ssssssshhhh ….ssshhhh .. “ desis Inneke Koesherawati menanggapi lumatanku sampai kami berdua bernafas ngos ngosan, aku semakin nakal mengerjai vaginanya yang membasah itu, kugeser tali lingerienya itu sehingg copot melorot. Oh My God .. indah sekali tubuhnya. Kembali seperti terdengar batuk batuk di kamar Inneke Koesherawati, dimana suaminya belum tidur. Inneke Koesherawati sampai menahan kepalaku yang masih ingin terus menyerbu

“Jangan di sini Haaan .. bahayaaaaa .. pleasee “ tolak Inneke Koesherawati

“Lalu dimana ? nggak tahan nich . sejak lama kamu pengin aku khan ?” tuduhku dengan masih mempermainkan punting susunya

“Aaaaaaaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati dengan melepas pelukanku dan mundur, kemudian hendak membuka pintu dapur menuju ruang tengah, aku tak membiarkan buruanku kabur, maka aku kembali menarik tangannya dan memeluknya, kali ini Inneke Koesherawati menanggapi lumatanku tak kalah ganas, malah tangannya dengan nakal meremas batangku.

“Kamu tunggu aja di sini .. aku urus dulu suamiku .. pleasee “ kata Inneke Koesherawati dengan menahan tanganku meremas pantatnya yang berisi dan hangat itu, malah tangannya kembali meremas batangku.

“Penismu besar .. “ timpal Inneke Koesherawati dengan mengedipkan matanya pertanda mulai menyukai bahaya di rumahnya sendiri itu. Inneke Koesherawati kemudian keluar dari dapur dan kembali ke kamar. Aku sendiri makin tidak tahan, lalu dengan nekad aku langsung membuka seluruh pakaianku agar telanjang lalu mengintip dari lubang kunci, kulihat Inneke Koesherawati mengunci kamar tidurnya dari luar, aku langsung berpindah dan duduk di meja dengan memamerkan penisku.

Inneke Koesherawati masuk ke dapur, matanya sampai melotot melihatku yang duduk dengan penis besar mengacung tegak

“Oh my God … “ seru Inneke Koesherawati dengan gemas lalu maju, menarik tanganku dan mengajak kembali bercumbu, kami terlibat dalam pagutan demi pagutan sangat rakus, namun kami berusahan tidak melenguh dan mendesis keras, tangan kami sibuk meraba raba ke sana kemari, dengan saling memeluki itu, Inneke Koesherawati semakin agresif menyerangku, tangannya semakin nakal mempermainkan batangku, terkadang jari jari tangannya meremas kedua buah pelirku. Ditahannya lumatanku dan dengan nafas memburu dan memandangku

“Haaaaaan .. puasi aku Haaan .. suamiku mulai males bercintaaaaa “ bisik Inneke Koesherawati dengan menjilati telingaku

“Di sini ?” bisikku

“Iyaaaaaa … beri aku ..aaah .. kenikmataaan .. pleasee … “ ajak Inneke Koesherawati dengan menarik kepalanya kemudian langsung menyerbu bibirku, tangannya mencari tanganku da di bawa ke buah dadanya.

“Aaaaaaaaaaaah .. aaaaaaaaaaaaauh “ kami melumat dengan penuh kenikmatan.

Kembali terdengar suara pintu di buka dari kamar Inneke Koesherawati sehingga kami terhenti bercumbu, Inneke Koesherawati sampai jengkel sekali

“Brengsek “

“Sayaaaang .. ngapaaain dikunci dari luaaaaaar “ teriak suami Inneke Koesherawati dari kamar. Aku langsung membawa pakaianku kabur masuk ke kamar yang biasa di pakai pembantu, pembantunya sedang mudik sehingga aku menjadi aman, kusambar laptopku sekalian kubawa masuk, sedang Inneke Koesherawati masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian Inneke Koesherawati membasahi tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi. Lalu menuju ke ruang tengah dan membuka pintu kamar dengan kunci

“Kamu kok aneh sih ..malam malam begini mandi “ tanya suaminya heran, suaminya masuk ke dapur dan tidak mendapati apa apa, Inneke Koesherawati ikut ke dapur.

“Panas rasanya sih “ sungut Inneke Koesherawati

“Iyaaa sih .. pengap .. apalagi AC rusak .. payah “ sahut suaminya.

Inneke Koesherawati semakin nekad, membuka lemari kecil menyimpan obat obatan, sebutir obat tidur dicelupkan dalam minuman, dan tanpa sepengetahuan suaminya Inneke Koesherawati memberikan minuman itu, tanpa curiga suaminya menenggak tanpa curiga.

“Aku mau nerusin mandi aaaaaah .. “ kata Inneke Koesherawati dengan cuwek sambil memberesi piring piring yang belum dicuci. Kasiat obat tidur benar benar cespleng, suaminya lama lama mulai menguap dengan cepat ketika merokok sebatang belum habis.

“Ngantuk .. sudah mandi saja sana .. aku tidur aaaah .. capeeeek “ kata suaminya dengan negloyor pergi, Inneke Koesherawati menutup pintu dapur dan menguncinya, sambil mengintip di lubang kunci sampai suaminya masuk kamar, habis itu Inneke Koesherawati langsung membuka kamar pembantu itu dan mendapatkan aku sedang mengocok batangku

“Jangan Haaan .. pleasee .. biyar aku saja .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan langsung menindihku dan melumat bibirku dengan rakus, kami berdua kembali saling merangsang

“Penismu besaaaaaar Haaan ..akuuu sukaa aaaaaah “ puji Inneke Koesherawati dengan menarik badannya dan kini duduk di depan selakanganku sambil memegang batangku.

“Aku pengin bercinta denganmu sambil berjilbab .. “ pintaku

“Aaaaaah .. nggak boleeeeeeeh “ tolak Inneke Koesherawati dengan cepat. Kutahan tangannya itu yang mulai mengocok batangku. Inneke Koesherawati melotot padaku. Namun tangannnya membuang lengerienya sehingga menjadi telanjang bulat sepertiku. Inneke Koesherawati bangun dan mengobok obok pakaian yang berada di keranjang itu, diambilnya satu jilbab dan dipasangnya

“Begini ?” ujar Inneke Koesherawati dengan manja

“Ck ck ck ck .. sungguh merangsang, sayaaaaaaaang “ pujiku dengan mendorong tubuhnya dan kutindih, aku lalu menyerbu bibirnya.

“Aaaaaaah Haaaaaaaan ..uuuuuuuuuh .. sssssssshhhhhhh ..mmmmmm… ngggggggg … “ lenguh Inneke Koesherawati tak karuan gelinjangannya ketika aku meremas remas buah dadanya dengan kuat, tubuhnya meliuk liuk bak cacing kepanasana itu, kugiring tubuhnya agar ketengah, aku langsung menindih lebih kuat, Inneke Koesherawati melingkarkan kakinya menjepit pinggangku.

“Haaaaaaan,sayaaaaaaaang .. puassi aaaku cepaaaaaat .. suamiku bisa cepat bangun kalo nggak kamu cepaaaaaat cepaaaaaaaaat “ ajak Inneke Koesherawati dengan mendorongku kuat, sehingga aku menjadi terduduk, Inneke Koesherawati langsung mengulum batangku dengan rakus. Kuremasi kepalanya untuk memberikan waktu bermain main dengan batangku.

“Dua kali lipat punya suamiku, sayaaaaaaaaaaang “ ujar Inneke Koesherawati dengan mengedipkan matanya kepadaku tanda menyukaiku, munafiknya kini semakin kentara, menolak tapi nyatanya sudah pengin sejak lama menaksir padaku.

Tak terasa dengan penuh kerakusan Inneke Koesherawati dengan membungkuk memegang penisku dan dikocoknya dengan pelan pelan, nafsunya sudah tidak bisa ditahan tahan lagi, dibenahi jilbabnya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya bermain dengan penisku mengocok dengan tersenyum penuh senang. Lalu dengan membungkuk Inneke Koesherawati menjilati batangku berulang ulang, dimulai dari bagian bawah batangku kemudian naik ke atas dengan penuh kelembutan, gerakan lidahnya itu pelan menjilat batangku naik turun, sedang matanya selalu memandangku yang masih rebahan bersandar dengan bantal. Kurasakan jilatan demi jilatan lidah Inneke Koesherawati sangat merangsangku, belum lagi aku merasakan horny luar biasa menyaksikan dada Inneke Koesherawati dan belahan selakangannya yang sudah membasah itu. Kini tangan kanannya justru berpindah ke selakangannya mengelus elus vaginanya agar lebih terangsang.

“Truuuusss, Inneke .. sayaaaaaaaaaaaang, make kata kontol deeeh .. biar makin hot “ ajakku dengan bangun dan merapikan jilbabnya itu agar tidak mengganggu jilatan lidah Inneke Koesherawati di penisku yang mengacung dengan sangat perkasa membuat Inneke Koesherawati semakin senang dengan besarnya penisku. Inneke Koesherawati hanya tersenyum nakal mendengar permintaanku itu.

“Kontolmuuu besaaar, Haaaaaan .. hhhhmmm .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan kembali bermain dengan batangku, kali ini membuka mulutnya dengan lebar dan menelan batangku dengan rakus, mulutnya kini penuh dengan batangku, pelan pelan batangku tenggelam sampai separo, sampai di dalam batangku langsung digoyang dengan lidahnya

“Ooooooooh .. Innnee .. enaaaaak aaaaaaaaaah .. sedoooooot aaaaaaaaaaah “ erangku merasakan permainan lidah Inneke Koesherawati yang bernafsu untuk terus bermain dengan batangku, dengan pelan pelan Inneke Koesherawati mengeluarkan batangku, ketika masuk lebih dalam batangku kembali disedot dengan kuat, aku sampai terduduk, kakiku gemetaran karena terangsang dengan blowjob Inneke Koesherawati itu. Kali ini Inneke Koesherawati tidak ragu lagi untuk melenguh dan mengerang dengan bebasnya di kamar pembantu ini. Jilatan demi jilatan di lakukan, kuluman demi kuluman semakin rakus menghajar batangku yang semakin mengkilap kena air liurnya. Bahkan terkadang air liurnya menetes sampai ke ranjang dengan pelan pelan, diusapnya lidah yang seksi itu dengan tangannya kemudian turun lagi bermain dengan batangku, menjilati dari atas kepala penisku kemudian turun sampai menjilati buah pelirku dengan rakus.

“Kontooolmuu .. enaaaak Haaaaaaan .. besaaaaaaar, hhhhmmm … mmmmmmfff … mmmhhh “ kata Inneke Koesherawati dengan bergumam dan kembali menelan batangku dengan rakusnya. Disepongnya batangku dengan kuat

“Oooooooooooooooh .. Sayaaaaaaang aaaaaaaaaaaaaaah .. enaaaaaaaaaaaak “ erangku dengan mendongak dan meremasi kepala Inneke Koesherawati yang tertutup jilbab itu. Pertarungan birahi belum dimulai, masih dalam tataran merangsang dari satu pihak, dan aku belum memberikan perlawanan, masih memberikan kesempatan kepada Inneke Koesherawati menikmati penisku itu dengan bebasnya.

“Jangan lamaaaaaa maaaa yaaaaaaaaa .. bisaaaaaa muncraaaaaaaat “ ingatku yang disambut dengan berhentinya Inneke Koesherawati mengulum batangku, kemudian langsung menubrukku dan memeluk lalu melancarkan pagutan demi pagutan penuh nafsu, kami berdua terlibat saling adu bibir dengan menyedot, air liur kami bercampur dan membuat muka kami basah oleh air liur. Inneke Koesherawati semakin ngos ngosan, dengan gemas mendorong dadaku dan menindih dengan gemas, kulayani luamtan itu dengan meremas pantatnya yang berisi itu, terasa hangat dan empuk, vaginanya bergesek dengan batangku membuat Inneke Koesherawati semakin menggerakan pantatnya, sehingga gesekan penisku dengan vagina Inneke Koesherawati semakin nikmat sekali.

“Sssssshhhh ..ssssssssshh ..mmmmmmmmfff …. sssssssssttttt .. “ desis Inneke Koesherawati dengan menarik kepalanya kemudian menarik kepalaku dan dibenamkan di selakangannya

“Gantian aku donk, sayaaaaaang .. suamiku nggak mau kayak gitu .. maunya langsung tuncep .. kolot banget tuh suami edaaaaaan “ maki Inneke Koesherawati dengan memaksaku yang langsung menjilati vaginanya yang membasah itu.

Kujilati vaginanya yang penuh jembut itu dengan lidahku.

“Oooh Haaan .. teruuuus .. nikmaaaaatiii .. memekku .. Haaaan .sayaaaaaaang ..ooooh .. enaaaaaaknyaaa” erang Inneke Koesherawati dengan meremas kepalaku berulang ulang, kedua kakinya melebar agar memudahkan aku mengorek liang senggamanya itu, lalu Inneke Koesherawati rebahan, tangannya mencari tanganku agar bermain di buah dadanya, kurema buah dadanya sebelah kiri dan Inneke Koesherawati langsung meringgis keenakan, matanya merem melek merasakan lidahku sangat nakal memperlebar belahan vaginanya yang sudah memerah itu. Tubuhnya menggeliat bak cacing kepanasan.

“Teruuuuuuuuuussss .. Ooooh …..aaaaaaaaaaaaaaah .. aaaaaaaaaaaaauh ….ssshhh ..aaaaaaaauh “ lenguh Inneke Koesherawati dengan menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan sensasi jilatanku di vaginanya yang sangat jarang didapatkan dari suaminya.

“Haaaaaaan ..pleaaseee .. sudaaaah aaaaaaaah . nggak tahaaaaaaan nicccccch ..sudaaaaaaaaaaah “ cekal Inneke Koesherawati kepalaku dengan bangun.

“Aku juga sudah nggak tahaaan pengin merasakan memekmu, sayaaaaaang “ sahutku ingin cepat cepat menggenjot Inneke Koesherawati

“Jangan di sini Haaan .. nggak nikmaaat deeh .. ke dapur yuuuk .. aku pengin nungging deeeeh .. belum pernah akuuu digituin .. entotin aku dari belakang .. pengin deeh “ rajuk Inneke Koesherawati dengan centil dan manja.

“Asal kamu selalu pakai jilbabmu .. apapun akan kulakukan untuk menggenjotmu .. “ kataku yang serta merta ditarik tanganku keluar dari ranjang dan Inneke Koesherawati membuka kancing kamar itu lalu keluar dari kamar, sesampai di meja dapur itu, Inneke Koesherawati langsung mengangkat kaki kanannya kemudian membungkuk.

“Wuuuuuuuih .. wanita seindah ini kokd diabaikaaan “ pujiku

“Cepaaat Haaan .. keburu suamiku banguuuun .. pleasee .. segera pleaseeeee “ Inneke Koesherawati semakin tidak sabaran, aku langsung mengocok batangku dengan cepat dan kuat agar aku cepat cepat orgasme. Setelah itu aku memajukan batangku belahan pantatnya untuk mendesakkan batangku, kutekan dan membuat Inneke Koesherawati langsung menjerit kecil

“Aduuuuuuuh .. galaaak nich kontooolmuu . cepaaaat masukin ke memekku .. uuuh .. memek atau tempek sayang ?” riak Inneke Koesherawati dengan bertanya

“Sebut aja sesukamu .. nggak ada bedanya antara tempek dengan memekmu .. yang penting memekku enak sekali .. ntar yaaa .. kuganjal dengan kontolkuuu .. rasakan ini “ kataku dengan menghujamkan batangku ketika batangku pas lenyap ke kepala penisku, akibat hujaman batangku itu Inneke Koesherawati sampai menjerit

“Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal ..aaaaaaaaaaaah .. sakiiiiiiiit taaaaaaaaaaaauk “ teriak Inneke Koesherawati dengan senewen

“Enaaaak khan ?” tanyaku

“Uuuuuuh .. kamu jahaaaaaat deeeh .. kaaaloo nyodok bilang langg aaaaaah … jangan langsung dihujamkan dengan keraasss .. “ balas Inneke Koesherawati dengan memandang ke depan kemudian mengusap di bagian atas vaginanya agar batangku lebih leluasa masuk ke dalam vaginanya itu.

Pelan pelan batangku semakin tenggelam, ukuran vaginanya yang pas untuk batangku yang besar itu, walau tetap sesak, terasa penisku diremas luar biasa dalam vaginanya itu, belum lagi dari dalam ibarat ada magnet menarik batangku lebih dalam

“Gilaaaaaaaaa memekmuu Innekeeeeee … enaaaaaaaak … hangaaaat dan aaaaaaaaaaah .. Uuuh ..sedotan memekmuu itu.. Fuuuuuh .. “ kataku sambil meludah sembarangan, ketika aku meludah itu, ludahku malah nempel di lengan Inneke Koesherawati, serta merta Inneke Koesherawati langsung menjilati ludahku dan ditelan, aku semakin suka dengan cara bercinta Inneke Koesherawati itu, sensasi seksnya ternyata sangat tinggi, hanya saja suaminya tidak punya variasi seks.

“Aku sukaaa kamuuu, sayaaaang .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan mereme keenakan, kuhujamkan batangku lagi lebih dalam membuat Inneke Koesherawati menjerit kecil lagi.

“Yaaaaaaaaaaa … enaaaaaaaak ..diami duluuu .. pengin merasakan kehangataaaan kontolmuuu sayaaaaaaaang “ kata Inneke Koesherawati dengan merem menggeleng geleng pelan pelan, kurapikan jilbabnya itu dan aku kemudian bergerak dengan pelan menggenjotnya, kurangkulkan tanganku dan kugapai buah dadanya yang ranum itu, Inneke Koesherawati sampai mendongak tidak menduga kalo aku sudah bergerak dan meremas remas buah dadaya.

“Aaaaaaaah ..uuuuuuuuuhh ..ssssssssshhhh .. teruuuuuuuuus “ ajak Inneke Koesherawati dengan semakin suka, wajahnya mengerling ke belakang dengan sangat genitnya.

“Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep… Sleeep…”

Terdengar bunyi gesekan penisku dengan vagina Inneke Koesherawati menambah semangat kami untuk terus berpacu dengan penuh kenikmatan birahi.

“Cepeeetaaan Haaan .. obaat tidur yang kuberikan sama suamiiikuu nggak tahaaan lamaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan membuka matanya kemudian melihat ke bawah bagaimana batangku menghujam keluar masuk semakin cepat

“Ooooooh enaaaaaaaaaaaaaaaaak “ sahut Inneke Koesherawati dengan senang, penisku menghujam dan menggesek dengan gagahnya, walau aku semakin tidak tahan lagi, akibat kuluman dan kocokan Inneke Koesherawati yang rakus di kamar pembantu itu membuat batangku tidak tahan lagi.

“Keluaaaaaaaariiin di dalaaam yaaaaaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan memejamkan matanya, tangannya menahan pahaku agar tidak menghujam lebih keras, bagian dadanya menggelinjang tidak tahan remasan tanganku yang meremas remas buah dadanya dengan kuat.

“Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh ..hampiiiiiiiiiiiir “ teriak Inneke Koesherawati

Aku terus menghujam dengan cepat cepat dan kusodokan batangku dengan kuat, aku sudah tidak tahan, demikian pula dengan Inneke Koesherawati, jepitan vaginanya semakin menjepit penisku dengan kuat. Inneke Koesherawati memegang bibir meja itu dengan kuatnya, kusodok sodok dari belakang

“Terrrrrruuuusss .. entotiiiiiiiiin .. enaaaaaaaaaaaaak “ sahut Inneke Koesherawati dengan nafas tak karuan, batangku dengan sangat lancar keluar masuk ke vaginanya.

Inneke Koesherawati melenguh tak karuan dan terakhir matanya melotot membuka menegang dengan kaku, tubuhnya bak patung tak bergerak menegang dan vaginanya mengucur cairan panas. Kuhujamkan batangku dalam dalam.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Inneke Koesherawati dengan lebih keras dan berkelonjotan bak disetrum listrik ribuan volt, demikian pula denganku, penisku memancarkan air maniku menembak ke rahimnya.

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaat …craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaat “

Aku merasa ringan dan tubuhku melemas dengan cepat sampai menindih Inneke Koesherawati di meja itu, nafas kami serasa hancur, kurasakan spermaku banyak keluar dari sela sela vagina Inneke Koesherawati itu, kami diam dengan pikiran masing masing.

Barulah ketika kami sudah kembali on, Inneke Koesherawati menepuk lenganku

“Pleaseee “ sahutku Inneke Koesherawati.

Aku menarik batangku dan kulepaskan dari sarangnya, Inneke Koesherawati langsung berbalik lalu memelukku erat serta menciumi bibirku

“Trim Haaaaaaan .. enaaaaaaak .. lagi yaaaaa Haaaaaaan “ bisik Inneke Koesherawati ke telinganku.

“Mau berapa ronde, sayaaaang “ tanyaku

“Sampai aku nggak kuaaaaaaat nicch .. “ sahut Inneke Koesherawati dengan nafas masih ngos ngosan.

Entah kenapa ketika kami saling memeluk itu tiba tiba terdengar lagi pintu kamar dibuka. Inneke Koesherawati sampai gelagapan, lalu dengan cepat cepat melepas penisku

“Ngumpeeet yuuuuuuuk .. cepeeeeeeeet “ bisiknya, namun aku malah meremas pantatnya,

“Pleaseeee “ jewer Inneke Koesherawati di telingaku, aku langsung kabur dengan tak lupa mengambil serbet di meja itu mengelap air mani kami yang tercecer. Dari balik dapur seperti ada yang hendak membuka pintu namun terkunci

“Lha kok terkunci ??“ sahut seseorang dari balik pintu.

Aku dan Inneke Koesherawati kemudian masuk ke dalam kamar, membiarkan suami Inneke Koesherawati penasaran sendiri mengapa dapur sampai terkunci.

“Kenapa nich .. Inneke .. apa nggak mau diganggu berendam di bathtub .. uuuh “ keluh suami Inneke Koesherawati dengan pergi dari pintu dapur itu.

Di kamar pembantu itu kami saling memeluk dengan penu rasa suka

“Biarin saja, sayaaaaaaaaaaaang .. letoy kooook “ sahut Inneke Koesherawati dengan menduduki selakanganku.

“Hhhmmm… kau suka berbahayaaa “ selidikku

“Iya sssssssssssihh .. nikmat bangeeeeet ..coba nanti pagi .. suamiku terbiasa memanasi mesin mobil hendak berangkat kantor .. nah itu kesempatan kamu fast sex denganku ya.. besok aku sms .. kamu kocokin sendiri .. aku masuk kamarmu .. langsung aku entotin yaaaaa .. “ rajuk Inneke Koesherawati dengan memelukku lebih erat.

“Siaaaaaaaaap “ sambutku dengan menarik jilbabnya yang membasah akibat keringat itu namun meembuat Inneke Koesherawati senewen

“Biarlaaaaaaaaah .. aku pakai jilbab .. itu khan maumu .. besok aku berdandan yang cantik yaaa .. rasakan besok pagi .. tapi malam ini berikan aku kenikmatan surgawi .. berikan bibitmu dalam rahimku .. suamiku sekarang telurnya lembek .. pengin punya anak lagi .. nggak kelar kelaaaaaaaaar “ ajak Inneke Koesherawati dengan cuek.

“Besok pagi .. aku akan memakai jilbab yang rapi deeeh .. kamu suka khan ?” sambung Inneke Koesherawati dengan melumat bibirku, kami berdua kemudian terlibat lagi dengan gairah seks, kami semakin terangsang lagi dan memulai bercinta lagi penuh dengan kelembutan, Inneke Koesherawati semakin suka denganku.

Kami berdua malam itu bergulat dengan penuh kerinduan birahi, sudah lama Inneke Koesherawati tidak diperlakukan bak istri yang setia dalam urusan seks, sehingga libidonya malam itu dilampiaskan padaku, aku ditindihnya dan diajak untuk bercumbu dengan penuh rasa mesra, Inneke Koesherawati tidak risih lagi menyebut aku seorang suami yang mengerti keinginan seks bagi seorang pendamping hidup. Dengan penuh kelembutan dan cinta, Inneke Koesherawati menduduki selakanganku, kedua tangannya memegang kepalaku dan mengajak terus saling berpagut, kami bermain lidah saling menjulur, sesekali Inneke Koesherawati menarik bibirnya karena tidak kuat akan pagutan yang lama, ketika menghela nafas kembali Inneke Koesherawati langsung menangganpi lumatanku berkali kali.

“Haaaaan eeeeeh .. sayaaaaaaaang .. pleasee … kontolmuuu .. ngaceng lagi tuuuh .. hihihihihi .. aku masukin ya, sayaaaaaang .. hhhhmmm .. kamu benar benar lelaki yang tahu kebutuhan istri kesepiaaaaan ..” aku Inneke Koesherawati dengan memandangku dengan penuh birahi.

“Salurkan gairahmu, sayaaaaaang .. lampiaskan nafsumu padaku … aku siap memenuhi kebutuhan batinmu yang kesepiaaan “ kataku dengan penuh gombal

“Lakukan Haaaan .. lakukaaaan .. isi batinku dengan cintamu .. beri aku kenikmatan lagi “ kata Inneke Koesherawati dengan memegang batangku yang masih berlendir itu, Inneke Koesherawati menaikan pantatnya kemudian menekan dengan meringgis

“Uuuuuuuh .. kontooolmuuu benar benaaaaaar perkasaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan menaikan pantatnya kemudian turun lagi, aku sampai berdegup merasakan jepitan vaginanya itu

“Pelaaaaan aaaaaaaaah .. “ lenguhku merasakan tekanan lubang vaginanya itu.

“Pakai jilbab lagi ya Haaaaan “ pinta Inneke Koesherawati dengan menarik onggokan cucian di samping ranjang itu, ditariknya jilbab warna biru dan dipasangnya lagi.

“Ini demi kamu, sayaaaaaaaaang .. kata kamu aku lebih cantik make jilbab .. apalagi telanjang begini “ sahut Inneke Koesherawati dengan norak dan nakal, lidahnya dijulurkan dan menjilati bibirnya.

Kami berdua kaget lagi ketika ada suara memaksa membuka pintu dapur.

“Innekeeeeeee .. di mana kamu .. “ teriak suaminya dari balik dapur. Aku menjadi jengkel akan kedatangan suaminya yang selalu mengganggu itu.

“Racun aja tuuuh “ makiku dengan mendorong dada Inneke Koesherawati itu, Inneke Koesherawati kemudian keluar dari ranjang lalu membuang jilbabnya, keluar dari kamar pembantu itu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, kemudian berteriak

“Huuuuuuuuusss .. aku lagi relaks .. berendam .. berisik amat sih “ maki Inneke Koesherawati dengan keras

“Tapi kok lama bangeeeeet “ maki balik suami Inneke Koesherawati

“Pleaseee .. “

Inneke Koesherawati akhirnya keluar dari kamar mandi dengan basah kuyub dan hanya berbalut handuk lalu membuka pintu dapur.

“Ya ampuuun .. kamu kok aneh aneh sih “ kata suaminya dengan masuk ke dapur kemudian masuk ke kamar mandi dan tidak mendapati siapa siapa, namun suaminya ke kamar mandi untuk kencing, dengan cemberut melihat suaminya kencing dan tidak ngaceng melihat kesintalan istrinya itu.

“Dasar letoy “ gumam Inneke Koesherawati dengan kecil volumenya. Inneke Koesherawati semakin gemas dan kesal, lalu kembali membuka lemari obat obatan, dituangnkan minuman jeruk dingin itu dalam gelas, tak tanggung tanggung 3 butir obat tidur dicemplungkan dan langsung larut, Inneke Koesherawati juga menuangkan ke gelas lain, Inneke Koesherawati menenggak minuman jeruk itu, dan satu gelas diberikan pada suaminya, tanpa curiga sang suami langsung menenggak, Inneke Koesherawati langsung menggandeng suaminya ke kamar, sesampai di kamar, kedua langsung tidur, Inneke Koesherawati mencoba memejamkan matanya dengan gelisah, karena libidonya hendak disalurkan selalu terganggu, entah kenapa obat tidur pertama tidak membuat suaminya lenyap. Tak berapa lama kemudian suaminya lenyap dengan pulasnya, diguncangnya dengan kuat dan tidak bangun.

“Brengseeek kamu .. suami tidak tahu kebutuhan seks istrinya .. lelaki macam apa kau “

Aku sendiri sudah keluar dari kamar, ketika hendak membuka dapur, Inneke Koesherawati muncul dan langsung menarik tanganku

“Ke kamarku .. dia sudah aku racuuun .. tenang saja “ sahut Inneke Koesherawati menarikku paksa masuk ke kemarnya, kulihat suaminya tidur dengan pulas. Namun aku juga tidak tenang, namun aku langsung disumpal bibir Inneke Koesherawati untuk mengajak bercumbu, kulayani cumbuan itu dengan tak kalah rakus. Aku digiringnya ke dekat ranjang. Lalu Inneke Koesherawati menarik selimut tebal dan dibentangkan di lantai, diambilnya jilbab lain yang tergeletak lalu dipasang di kepalanya. Uuuh .. tambah seksi dan binal sekali.

“Puasi aku, sayaaaaaaaang .. Ooooh .. nakaaaal aaaaaah “ lenguh Inneke Koesherawati yang kini menduduki lagi, dengan gemas kembali batangku dimasukkan dalam vagina Inneke Koesherawati dengan paksa, mataku sesekali memandang ke arah suaminya yang pulas itu.

“Sudaaaaaah .. dia nggak banguuun “ maki Inneke Koesherawati dengan senewen karena aku tidak konsentrasi melayani Inneke Koesherawati.

Dengan gemas Inneke Koesherawati menekan terus ke penisku sampai tenggelam separo, Inneke Koesherawati naik turun dengan pelan untuk membuat batangku semakin tenggelam

“Ooooooooh Haaaaan .aaaaaaaaaaah .. enaaaaaaaaaaaak “ teriak Inneke Koesherawati dengan keras, entah dimana sang anak, namun aku tidak perduli. kenikmatan seks bersama Inneke Koesherawati melupakan semua keadaan, kuremas buah dada Inneke Koesherawati yang membusung itu, pelan pelan batangku menjadi tenggelam lebih dalam, Inneke Koesherawati menekan dengan kuat sehingga batangku mentok di vaginanya

“Uuuuuuuuuuuuuuuuh .. kontoooolmuuuuuuuu sayaaaaaaaaaaang.. galak dalam memekku “ sahut Inneke Koesherawati dengan menggeleng geleng, Inneke Koesherawati dengan penuh nafsu langsung menggenjotku, gerakannya semakin liar dan cepat seolah nafsunya dilampiaskan karena selalu terganggu dengan ulah suaminya itu.

“Teruuuuuus Haaaaaaan .. hhhssssssssss….ssssssssssssssh ….. mmmmmmmmmmm” lenguh Inneke Koesherawati dengan naik turun, nafasnya ngos ngosan namun terus menggenjotku. genjotan demi genjotan cepat dan mantap menghujamkan selakangannya di penisku, batangku terasa diperas oleh otot otot dinding vaginanya

“Inneeeeeee .. aaaaaaaaah .. nikmaaaaaaaat “ erangku dengan meremas pantat Inneke Koesherawati yang naik turun itu. Tak terasa kami saling memacu dalam posisi seperti itu, kuremas buah dadanya dan Inneke Koesherawati semakin senang

“Haaaaaan ..sayaaaaaaaaang .. kauu aaaaaaah .. kau memuaaaskaaaan aaaaaakuuu aaaaaaah .. enaaaaaaak “ erang Inneke Koesherawati yang kewalahan menerima batangku mengoyak vaginanya, gerakan naik turun semakin cepat dan menghujam dengan keras, rasa sakitku kutahan dengan kuat, menit demi menit kami saling memacu, Inneke Koesherawati semakin tidak tahan sehingga orgasmenya semakin tak tertahanakan

“Nggaaaaaaaaaaak ..ngggggg aaaaaaaaaaaaaaaaaah .. samaaaa ..aaaaaaah “ racau Inneke Koesherawati penuh dengan erangan demi erangan, jepitan vaginanya semakin menyempit dengan cepat, matanya terpejam dengan erat. Kuremas buah dadanya dengan kuat, dadanya meliuk liuk merasakan remasanku yang nakal itu. Tak berapa lama kemudian orgasmenya datang dengan membusung ke depan memberikan buah dadanya

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan ……….aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. klimaaaaaaaaaaaaks “ teriak Inneke Koesherawati dengan kuat dan keras. Penisku terasa disiram cairan panas, kuremas buah dadanya dengan kuat untuk memaksimalkan orgasmenya. Tubuhnya menegang dengan kaku sangat lama, matanya terpejam dengan kuat. Tubunya kemudian berkelonjotan kembali dan memelukku dengan sisa sisa kekuatannya. Kupeluk dan kubisikan kata kata cinta

“Kau hebat Inneekeee .. aku sukaaa dengan kau mencari tantangaaaan “ kataku yang disambut dengan pelukan gemulai, kami basah kuyub penuh keringat. Penisku terasa basah, kudorong tubuh Inneke Koesherawati dan kutindih.

“Gantian aku di atas sayaaaaaaaaaaang “ sahutku

“Iya Haaaaaan .. gaya konvensional .. pleasee .. keluarin spermamu .. semprot lagi dalam memekku.. ntaaar yaaa Han .. beri waktu aku sebentaaaar .. aku pengin merasakan sodokan kontolmu di memekku “ sahut Inneke Koesherawati dengan mengelus elus dahiku yang berkeringat, kepalaku ingin melihat ke samping, namun dicegah oleh Inneke Koesherawati

“Sudaaaaaaah .. nggak usah pikir lelaki loyo ituu .. sudaaaaaah tidur dengan pulaas .. bangun jam 9an dia” sahut Inneke Koesherawati dengan melumat bibirku.

“Aku nggak tahaaan deeh .. penisku diremas dan disedot oleh tempekmu .. “ sahutku dengan mulai bergerak dengan pelan

“Iiiiiiih .. jahat nih .. gerak nggak bilang bilang .. ayooo sodok “ ajak Inneke Koesherawati yang kembali birahinya naik dengan cepat, aku pun mulai bergerak dengan menggoyang pantatku dan Inneke Koesherawati mengimbangi gerakanku

“Enaaaaaaaaaak Haaaaaaaaan,sayaaaaaaaaang .. teruuuuuuuuuus “ sahut Inneke Koesherawati dengan memegang kepalaku, aku langsung menyerbu bibirnya dan kuremas buah dadanya yang kenyal itu.

“Uuuuuuuuuuuhhh …..aaaaaaaaaaaaaaaah .aaaaaaaaaaah ..aaaaaaaaaauuuuuuuu “ lenguh Inneke Koesherawati dengan meliuk liuk bak cacing kepanasan ketika aku menyodok nyodokan batangku keluar masuk vaginanya, apalagi tanganku meremas dengan rakus dan keras di buah dadanya bergantian, Inneke Koesherawati sampai menggeleng geleng kepalanya.

“Gilaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. ketagihaaaaaaan aaaakuuuuuuuu “ sahut Inneke Koesherawati dengan tertawa

“Iyaaaa aaaaaaaah .. nikmaaaaaaaat “ balasku dengan kembali menyerbu bibir Inneke Koesherawati itu, kami kembali berpacu lagi dengan saling bergerak di pantat kami, Inneke Koesherawati bergerak mengikuti gerakanku berlawanan.

“Diaaam duluu, sayaaaaaaaaang “ kataku dengan menahan kepala Inneke Koesherawati yang berjibab itu.

“Yaaaaaaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati dengan diam, aku langsung menggoyang pantatku searah jarum jam membuat Inneke Koesherawati langsung merem keenakan.

“Uuuuuuuuuuuuh .. gilaaaaaaaaa . kontoooolmuuuuu aaaaaaaaaah nikmaaaaaaaaat “

“Uuuuuuuuuuuuh “ lenguhku merasakan jepitan kedua kaki Inneke Koesherawati menjepit kuat

“Aku suka kontolmu .. oooooh kontolmuuu sayaaaaaaaang … besaaaaaaaar daaaan aaaaaah .. panjang jaaang “ teriak Inneke Koesherawati dengan kuat.

Kami kembali saling bergerak dengan cepat, hampir sepuluh menit kami berpacu, saling meraba raba dan meremas, tangan Inneke Koesherawati meremas selimut dengan kuatnya, terkadang tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri tak kuat gerakan penisku keluar masuk vaginanya.

“Teeee……ruuuusss ..ruuuusss ..aaaaaaah ..ngggggaaaak kuaaaaaat aaaaaaaaaaah “ lenguh Inneke Koesherawati kewalahan. Aku langsung memacu dengan melepaskan tindihan Inneke Koesherawati, aku kemudian duduk dan meremas pantat Inneke Koesherawati, empuk dan hangat, kunaikan pantatnya dan kutahan agar berada di atas angin, selakanganku maju mundur dengan kerasnya menggenot vagina Inneke Koesherawati, Inneke Koesherawati sampai megal megol ke kanan kiri tak kuat sodokanku

“Uuuuuuuuh aaaaaaaaaaaaah ssssssssshhh ..sssssssssshhhh .. ooooooooh .. cuuuuuuuuuuuh “ lenguh Inneke Koesherawati dengan meludah sembarangan.

Kugenjot vaginanya itu dengan penisku kuat kuat sampai membuat Inneke Koesherawati melengkung tak kuat lagi.

“Aaaaaaaampuuuuuuuun aaaaaaaaah nggaaaaaaaak kuaaaaaaaat “ teriak Inneke Koesherawati dengan menggapai gapai sesuatu namun tak dapat digapai selimut itu. Tangannya kini berpindah ke lenganku dan mencakar kuat.

“Haaaaaaaan .. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Inneke Koesherawati yang tak kuat lagi, aku lalu menggenjotnya dengan kuat dan keras, bunyi keciplak alat kelamin kami benturannya sangat menambah birahi kami.

Aku juga tidak tahan lagi, penisku dijepit dalam vaginanya sangat erat sekali. Inneke Koesherawati hanya bisa pasrah menerima hujaman batangku di vaginanya

“Kontooooooool .. kontooooooool aaaaaaaaaah ..kontoooooooolmuuuuuuuu “ teriak Inneke Koesherawati dengan jorok.

“Iyaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku tak kuat lagi.

Jepitan vaginanya semakin erat, Inneke Koesherawati menegang dengan kaku membusung ke atas, kuhujamkan batangku dalam dalam berkali kali, Inneke Koesherawati berkelonjotan kemudian.

“Sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan nafas terputus dan lemas tak berdaya.

Aku terus menghujam lima kali sampai menekan dalam dalam ke vaginanya, kurasakan gelombang panas tubuhku dari dada merayap cepat sampai ke selakanganku

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaaaat………… craaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaat “

Penisku mengucurkan sperma menembak ke rahim Inneke Koesherawati dengan mantapnya, aku lunglai dengan berkelonjotan menindih Inneke Koesherawati. Nafasku seakan hancur melayani nafsu birahi Inneke Koesherawati, aku merem mneikmati setiap detik orgasmeku. Kami diam dengan tubuh penuh keringat itu, luar biasa menegangkan menggenjot Inneke Koesherawati, sedang suaminya tertidur dengan pulas.

Inneke Koesherawati membuka matanya dan menepuk nepuk punggungku

“Bangun sayaaaaaaaaaang “ bisik Inneke Koesherawati

Aku pun membuka mataku dan menarik kepalaku.

“Trim ya Haaan .. aku puaas .. kamu segera kembali ke kamarmu yaaaaaa.. “ kata Inneke Koesherawati dengan tersenyum lalu menciumi kedua pipiku bergantian, aku pun balas menciumi kedua pipi Inneke Koesherawati itu.

“Oke deeeh .. “ kataku mengangkat tubuhku yang penuh keringat itu. Kutarik batangku yang lembek penuh dengan lendir kental itu, Inneke Koesherawati hanya tersenyum saja melihat aku hanya geleng geleng saja

“Sudaaaaaaaaah .. ini hanya seks, sayaaaaaaang .. nanti sebelum kamu pulaaang … kita fast seks .. trus kita akan cari waktu untuk berduaaa yaaaaa “ rajuk Inneke Koesherawati dengan gemas, lalu bangun.

Inneke Koesherawati kemudian memberikan pagutan mesra padaku lama sekali, menikmati setiap detik bibir kami bertaut, setelah puas Inneke Koesherawati dengan tersenyum memandangku.

“Sekali lagi, sayaaaaaaaang .. terima kasih atas malam yang indah ini .. hihihihi . “ kata Inneke Koesherawati dengan berdiri dan menarik tanganku, aku pun digelandang keluar dari kamar.

“Masih mau lagi di kamarku ?” ajakku

“Aku nggak kuat, sayaaaaaaaaang .. nanti lagi “ jawil Inneke Koesherawati di pipiku. Aku keluar dari kamar dengan menjawil buah dada sebelah kiri. Inneke Koesherawati tertawa senang

“Aku suka kenakalanmu, sayaaaaaaaaaang , lebih nakal ya nanti “ goda Inneke Koesherawati dengan menjilati lidahnya dan menutup pintu.

“Huuuuh … suami gombaaaaaaaaal “ maki Inneke Koesherawati dengan mengelap tubuhnya dengan handuk kemudian masuk ke kamar mandi di kamar itu lalu tiduran di samping suaminya yang ngorok itu.

Aku kembali ke kamar dapur, mengambil semua pakaian dan laptopku lalu kembali ke kamar. Luar biasa tegang aku bercinta dengan Inneke Koesherawati di dekat suaminya itu. Gilaaaa aaaaaaaah

Aku memejamkan mataku di ranjang itu dengan bertelanjang bulat, untung AC di kamarku hidup, kuambil selimut dan mencoba tidur memejamkan mataku, pikiranku melayang merasakan kenikmatan cinta bersama Inneke Koesherawati yang nakal itu.

Kupejamkan mataku dengan erat karena kecapekan bercinta dengan Inneke Koesherawati di kamarnya, apalagi suaminya tertidur pulas, walau puas namun aku semakin menyukai tantangan Inneke Koesherawati yang dengan nekad mencari kepuasan birahi tanpa peduli suaminya. Terbersit pengakuan kalo Inneke Koesherawati mengatakan, suaminya selalu menang sendiri dalam hubungan seks, setelah menggenjot, lalu muncrat terus tidur, itu yang membuat Inneke Koesherawati tak puas dalam kualitas seks dengan suaminya. Entah kurasakan Inneke Koesherawati ketika menutup pintu kamarnya itu terlihat sangat cerah dan puas luar biasanya. Tak terasa aku akhirnya terlelap dalam mimpi, tak kurasakan pagi pagi ketika belum genap jam 06 pagi, aku merasakan penisku terasa ada yang mengocoknya, aku membuka mataku dan kulihat Inneke Koesherawati dengan penuh ekspresi senyum kepadaku mengocok batangku.

“Sayaaaaaaaaang .. aaakuuu sudaaaah oral memekku .. nggak tahan deeh .. mumpung suamiku lagi mandi .. “ desak Inneke Koesherawati dengan gemas langsung mengulum batangku tanpa permisi, aku yang setengah mengantuk itu menjadi langsung terbuka matanya, kuangkat badanku sehingga bisa sandaran, kulihat kali ini Inneke Koesherawati berpakaian dengan rapi dan dengan jilbab sangat indahnya, rok panjang disampirkan dan dibuka memamerkan vaginanya yang sudah membasah dan memerah itu. Gilaaaaaa !!

“Pleaseee .. jangaaan teriaaaaak .. ketahuan suamiku bisa berabee .. “ ancam Inneke Koesherawati dengan gemas langsung menduduki selakanganku memaksakan batangku masuk, penisku pelan pelan mulai masuk ke dalam vaginanya dengan pelan pelan.

“Ineeekeeeeeeeeeeee “ panggil suaminya dari dapur yang tidak dijawab.

“Biarin saja di brengsek itu, sayaaaaaaaang “ bisik Inneke Koesherawati dengan gemas menekan lagi dengan kuat sambil tangannya meremas selimut.

Aku hanya menggeleng geleng merasakan nakalnya Inneke Koesherawati yang tidak puas puas itu, pagi pagi belum berangkat sudah minta jatah lagi, dan aku malah tidak siap sama sekali.

“Kamu pengin aku telanjang ?, sayaaaaaaaang “ tanya Inneke Koesherawati dengan senyum mesumnya

“Inekeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee dimanaaaaaaaaaaa “ teriak suaminya di depan kamarku, aku sampai berdegup jantungku.

Inneke Koesherawati dengan diam membiarkan suaminya berteriak teriak, padahal aku sudah ingin melenguh merasakan jepitan vagina Inneke Koesherawati, namun mulutku langsung dibekap oleh tangan Inneke Koesherawati.

“Akuuu mandi yaaaaaaa.. siapin makaaaaaaan “ teriak suaminya dengan tak kalah keras.

“Naaaaah tuuuh .. yuuk lanjuuuuuuuut “ ajak Inneke Koesherawati dengan menekan lebih dalam lagi.

“Iyaaa aaaaaaaaaaah .. kamuuu nakaaaal Innekeeeee …uuuuuuuuh “ erangku merasakan jepitan vaginanya yang kian dimasukin batangku dengan ngaceng besar itu.

“Aku ketagihan dengan kontolmuu .. kamu tunggu rumah yaaa .. nanti jam sepuluh kita berdua bercinta di sini .. hanya kita berdua .. aku ingin bercinta denganmu tanpa diganggu suami brengsek itu “ maki Inneke Koesherawati dengan tertawa kecil.

Inneke Koesherawati menekan lagi, aku sampai menahan nafasku, kurasakan jepitan vaginanya pagi itu kencang sekali, kutahan dan kuraba raba pahanya yang mulus itu, dengan penuh semangat Inneke Koesherawati langsung menekan terus sampai penisku mentok di vaginanya

“Oooooh Haaaaaaaaaaan .. enaaaaaaaaaak “ lirih Inneke Koesherawati dengan suara kecil dan nafasnya mulai ngos ngosan, tanpa ampun Inneke Koesherawati langsung menggenjotku pelan pelan. Kami langung bergerak dengan penuh birahi, kusandarkan punggungku dengan bantal dan membiarkan Inneke Koesherawati menggenjotku dengan pakaian lengkap. Birahinya disalurkan dengan penuh semangat birahi.

“Haaaaan .. enaaaaaaaaak ..sorry Haaan .. sorry ..sayaaaaaaaang .. aku nggak tahaaan nih “ sahut Inneke Koesherawati dengan naik turun di atasku. Kurasakan gerakan naik turun itu lumayan cepat, habis naik turun berkali kali itu, Inneke Koesherawati kemudian menggoyang mengebor ke penisku sampai membuatku merem melek keenakan.

“Suka yaaa kalo aku ngebor ?” tanya Inneke Koesherawati menjawil dadaku

“Kamu nakaal aaaaaaaah “ tuduhku dengan masih mengelus pahanya yang mulus dan berisi itu, genjotan demi genjotan ringan itu semakin membuat batangku diperas sedemikian erat.

“Teruuus, sayaaaaaaaaaaaang .. genjotain . Ooooh “ erangku dengan memandang ke arah Inneke Koesherawati yang berpakaian lengkap itu, buah dadanya ikut bergerak naik turun, namun aku tidak berniat meremas buah dadanya.

Kami berpacu dengan cepat cepat, tak terasa hampir sepuluh menit kami berpacu, bulir bulir keringat mulai membasahi kami, genjotan Inneke Koesherawati dipercepat dan kurasakan jepitan vaginanya semakin erat, Inneke Koesherawati sampai melenguh tak karuan. Hujaman selakangannya semakin cepat dan aku sudah merasakan Inneke Koesherawati hendak orgasme, kubiarkan Inneke Koesherawati klimaks sendirian.

Inneke Koesherawati menegang dengan kaku mendapatkan orgasme. Tubuhnya melengkung membuat busur panah, tangannya meremas sprei kuat kuat

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah ..aaaaaaaakuuuuuuuuu aaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan panjang kemudian rubuh ke depan memelukku yang masih menikmati sedotan dari dalam vagina Inneke Koesherawati, kuelus elus kepalanya yang berjilbab itu ketika tubuhnya berkelonjotan mendapatkan orgasme cepat di pagi hari, penisku terasa disiram cairan panas. Tak lama kemudian Inneke Koesherawati bangun dan mencabut penisku.

“Sorry yaaaaaa .. nanti lagi yaaa .. sabaaaaaaar sayaaaaaaaaaang “ kata Inneke Koesherawati dengan genit

“Awas kau nanti ..” makiku kesal namun kutambahi tawa agar tidak terkesan tersinggung.

Aku dibiarkan menahan birahi sendirian, dasar perempuan haus seks tak tersalurkan, batinku mengejek.Aku kembali relaks dengan penisku masih mengacung dengan tegaknya membasah.

“Dasar muka tempek .. mau menang sendiri “ makiku gemas sambil menarik selimut.

Waktu bergulir dengan cepat, diketuknya pintu kamarku

“Haaaaaan ..sudah banguuun “ teriak suami Inneke Koesherawati di luar kamarku

“Aku nggak enak badan nich .. “ sahutku dengan malas

“Ya sudaaah .. kamu istirahat saja .. jaga rumah yaaaaaaa “ sahut suami Inneke Koesherawati dengan bergegas pergi tanpa membuka pintu. Inneke Koesherawati sudah siap di meja makan, sang anak ternyata di titipkan ke tetangganya. Inneke Koesherawati menyiapkan makan pagi untuk suaminya, walau terasa cemberut namun ditahannya.

“Semalam kamu berperilaku aneh “tanya suaminya

“Aneh bagaimana .. masak mandi malam malam kok aneh “ timpal Inneke Koesherawati

“Halaaaaah .. mustinya kamu malu .. ada tamu lagi “ debat suaminya lagi

“Orang kayak dia .. kalo tidur nggak bangun bangun .. buktinya jam segini malas keluar kamar “ balas Inneke Koesherawati tak kalah.

“Sudahlah .. aku mau manasi mobil dulu … ada masalah dengan ban semalam “ ujar suami Inneke Koesherawati dengan meninggalkan dirinya yang hanya geleng geleng. Setelah suaminya keluar kamat, Inneke Koesherawati kemudian masuk lagi ke kamarku, lalu dengan nakal langsung membuka roknya yang ternyata tanpa celana dalam.

“Ayoooooo . mucraaaaatiiin spermamuuu .. “ ajak Inneke Koesherawati yang melihatku hanya bengong.

Aku kemudian bangkit, Inneke Koesherawati menungging dengan bertelepak pada ranjang tepat di depanku, aku kemudian keluar dari ranjang dan melebarkan kaki Inneke Koesherawati yang sedang menungging itu, aku kemudian menekan penisku yang sudah kukocok kocok ketika Inneke Koesherawati mengirim sms agar aku siap siap menyemprotkan airmaniku.

Aku menekan dengan paksa

“Yaaaaaa .. tekan Haaaaaaaaan ..pleasee cepetaaaaan …waktu sempiit nih “ sungut Inneke Koesherawati yang kelamaan aku memasukan batangku, kutepok pantatnya

“Dasar bawel .. sabaaar “ makiku dengan gemas menusuk dengan kuat membuat Inneke Koesherawati menggeleng geleng. Penisku melesak dengan cepat walau sangat seret, namun kupaksakan sampai separo, kutahan nafasku agar tidak mendengus. Gila baaaaaaaah ! makiku kesal.

Kutarik batangku dan kutekan lagi

“Yaaaaaaaa .. masukin teruuuuuuuuuuus .. enak kontolmu .. entotin segeraaaaaa “ ajak Inneke Koesherawati dengan gemas.

Penisku akhirnya tenggelam dalam vaginanya yang becek itu, langsung kugenjot dengan cepat cepat untuk tidak membuan waktu, Inneke Koesherawati sampai merem melek menggigit bibir merasakan batangku menghujam dengan cepatnya keluar masuk vaginanya itu, aku di lantai sambil menggenjot Inneke Koesherawati yang keenakan itu.

“Truuuuuuus “ dengus Inneke Koesherawati dengan suara lemah karena tidak mau berteriak agar tidak ketahuan.

Genjotan demi genjotan aku lakukan, Inneke Koesherawati melayani dengan mengoyang pantatnya megal megol dan kini kepalanya mengerling genit padaku

“Teruuuuuuus .. bentaaar lagiii “ sahut Inneke Koesherawati dengan memandang ke depan.

Kuhujamkan batangku yang sudah tidak tahan lagi itu, penisku sudah tidak tahan lagi, demikian dengan Inneke Koesherawati yang meremas sprei dengan kuat. Kurasakan jepitan vaginanya kembali menyempit dengan kuat mengcengkeram batangku.

“Aaaaaaaaaaaaaah “ erang Inneke Koesherawati dengan suara kecil

“Iyaaaaaa “sahutku cepat sambil menghujam keras keras sampai Inneke Koesherawati tergoncang goncang.

Aku merasakan Inneke Koesherawati mencapai puncak terlebih dahulu dengan melenguh kecil

“Aaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuh “ lenguhnya dengan penuh kepuasan, batangku tetap menghujam dalam dalam, aku sudah tidak tahan lagi dan

“Craaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat “

Penisku menembak kuat kuat ke rahimnya dan aku melunglai dengan cepat ke depan dan menindih Inneke Koesherawati yang ngos ngosan. Kami diam sejenak, kurasakan batangku basah penuh dengan lendir kental. Inneke Koesherawati dengan cepat cepat menepuk lenganku agar tidak menindih. Aku pun berguling dan tiduran, Inneke Koesherawati bangun lalu merapikan pakaiannya.

“Trim Haaan .. kamu tunggu aku jam sepuluh yaaaaaa .. kita bercinat di seharian .. akan kulayani apa maumu .. mau ?” tawar Inneke Koesherawati

“Oke deeeeeeh “sahutku enteng.

Inneke Koesherawati kemudian memelukku dan menghujani dengan lumatan rakus dan ganas, bibirku sampai disedot dengan kuat, kami saling menatap penuh arti selepas saling beradu bibir. Inneke Koesherawati tersenyum padaku lalu menjawil hidungku.

“Tunggu saja istrimu ini yaaaaaa “ sahut Inneke Koesherawati menyembut dirinya istriku.

“Oke deeh ..saumimu akan menunggu dengan setiaaa “ kataku sambil mengelus elus tangan Inneke Koesherawati yang meremas tanganku iri dengan erat.

Inneke Koesherawati keluar kamar dan lenyap, kurasakan aku sampai menjadi gila, dasar wanita tak pernah puas bercinta. Hampir setengah jam aku tiduran. Terdengar lagi suara dari luar

“Haaaaan .. tunggu di rumah yaaa .. aku sore pulang kok .. Inneke pulang malaaam “ sahut suami Inneke yang sudah rapi kembali hendak berangkat

“Iyaaaaaaaaaa kujaga rumah kaliaaan “sahutku malas.

Tak lama kemudian terdengar deru mobil keluar rumah, aku langsung bangun memakai celana kolor, dan aku langsung menuju ke kamar mereka berdua, kubuka lemari pakaian Inneke Koesherawati, tak ada yang aneh dengan wanita ini. Aku keluar dari kamarnya, dan aku tertahan ketika di balik sebuah bingkai foto terlihat benda aneh, kugeser bingkai foto . Alamak .. penis dari karet .. rupanya Inneke Koesherawati tak puas bercinta dengan suaminya dan onani dengan penis imitasi. Pantas !

Aku menunggu rumah Inneke Koesherawati, kuisi waktu luangku dengan mandi di bathtub, kurendam badanku yang pegal menggenjot Inneke Koesherawati sejak semalam, aku semakin menyukai gaya main Inneke Koesherawati yang menyerempet bahaya, inilah seninya orang seperti Inneke Koesherawati yang doyan seks, bahkan mempertaruhkan rumah tangganya. Aku relaks di bathtub dengan air hangat agar resapan air hangat itu memijat tubuhku, bahkan aku sampai tertidur di bathtub, tak terasa aku sejam menidurkan tubuhku, kurasakan badanku mulai pulih, aku lalu mentas keluar dan memakai pakaianku, aku menuju meja makan yang sudah disiapkan makanan yang bergizi, kutelan makanan sampai aku kenyang, habis makan aku masuk ke kamar, melepaskan pakaianku kecuali celana kolorku tanpa celana dalam. Ketika aku hendak keluar kamar, mendadak sebuah mobil berhenti di depan rumah Inneke Koesherawati, kuamati dari jendela, ternyata Inneke Koesherawati yang datang lebih cepat dan tergesa gesa masuk ke dalam rumah, ketika aku membuka pintu Inneke Koesherawati langsung menghambur memelukku

“Sayaaaaaaaaang .. aku kangeeeen .. suamiku sayaaaaaaaang “ rajuk Inneke Koesherawati dengan memelukku erat dan menghujani bibirku dengan lumatan lumatan ganas.

“Nggak sabaar yaaa . istriku manja deeeeeh “ kataku dengan memegang pinggangnya dan tersenyum padanya.

“Iyaaa sih . udah makan belum ?” tanya Inneke Koesherawati

“Makanya makan kamu “ kataku dengan menarik jilbabnya hingga melorot ke belakang

“Ih .. jahat aaaah kamuuuu “ ledek Inneke Koesherawati dengan nakal langsung menempelkan tangannya di celanaku dan meremas batangku yang ngaceng.

“Ih .. kontolmu ngaceng mulu .. nggak sabar masuk sarang ya “ goda Inneke Koesherawati yang melepaskan pelukanku, aku pun digandengnya menuju ke sofa, Inneke Koesherawati langsung mendorongku rebah lalu menindihku dan mengajak bercumbu dengan ganas.

“Uuuh ..aaaaaaaaaa .. sabaaar .. istrikuuuu aaaaaaah “ elakku menahan serbuan bibir Inneke Koesherawati yang rakus mengajak saling bercumbu, aku mengontrol nafsuku agar tidak kedodoran.

“Pleaseee .. kamu nggak mood ya bercinta denganku .. pleaseee .. aaaaaah .. beri aku kenikmataaan” rajuk Inneke Koesherawati semakin nakal dengan menarik celana kolorku dan bangun lalu duduk di depan selakanganku.

“Wuuuih … besar banget kontolmu Haaan .. bangga deh punya suami yang berkontol gedhe .. “sorak Inneke Koesherawati dengan tersenyum pada serta memegang dengan erat batangku itu.

“Inneeekeeee “ panggilku serak

“Kenapa, sayaaaaaaaaang .. ada apa nih, kamu kok malas banget “ tanya Inneke Koesherawati penasaran.

“Kamu tadi pagi curaang .. aku nggak suka deh .. kalo kamu nyelonong langsung ngemut kontolku “

“Halaaaaaah .. aku nggak tahaaaan .. mana tahan kalo Fahmi kayak gitu .. sebal aku .. dingin banget sekarang di ranjang .. mana lagi dia punya selingkuhan .. payaah aaaaaah .. pleasee .. maukah kau bercinta denganku lagi … “ Inneke Koesherawati dengan menatapku dengan amat sangat, bibirnya sampai bergetar menunggu jawabanku, karena aku tak kunjung menjawab Inneke Koesherawati semakin nakal meremas batangku.

“Kamu kalo nggak dirangsang gini nggak mau ?” remas Inneke Koesherawati di batangku dengan gemas

“Aaaaaaaaaaaaaauh .. bukan itu, sayaaaaaaaaang “ sahutku mencekal tangan Inneke Koesherawati yang kian nakal mengocok batangku

“Lalu apa. sayaaaaaaaaang .. pleasee .. mulai sekarang jangan sebut dia .. aku yang jadi istrimu, dan kau adalah suamiku .. marilah suamiku .. siang ini puaskan akuuu .. beri aku kenikmatan cinta .. lakukan sayaaaaaang .. aku relaaa .. jangan biarkan istrimu ini hanya menunggu dan menunggu .. “ ujar Inneke Koesherawati dengan mata berkaca kaca. Kuusap pipinya yang ayu itu, lalu kulepaskan jilbabnya dengan pelan pelan. Inneke Koesherawati menjadi terharu melihat caraku memperlakukan dirinya bak seorang istri

“Aku ingin melihat polos lagi .. copot semua pakaianmu .. kedua .. aku diemut kontolku … telan air maniku … jangan sampai ada yang tercecer .. kau harus menelan spermaku jika pengin terus mengajakku bercinta .. “ kataku dengan membuka pakaian gamisnya.

“Hmmm .. aku belum pernah melakukan itu, sayaaaaaang .. gimana rasanya ?” ujar Inneke Koesherawati dengan memandangku mesra lalu melepaskan remasan pada batangku lalu mengelus elus pipiku, kemudian menciumi pipiku dengan lembut.

“Kau cantik Innekeee .. “ pujiku sambil melorotkan bra ke bawah setelah aku melepaskan kiatan bra di punggungnya, buah dadanya langsung keluar dengan indahnya, puntingnya lumayan besar dan buah dadanya tidak besar namun kenyal, kuremas lembut buah dadanya.

“ooooooh Haaaaaaan .. remeees yaaaaaa .. pelaaan .. pelaaaaaan “ ujar Inneke Koesherawati dengan memejamkan matanya menikmati setiap remasan tanganku.

“Siang ini akan kupuasi kamu .. tidak dengan nafsu binal .. tapi aku ingin memberikan kenikmatan seks yang tidak pernah kau lupakan “ kataku dengan membuka kaitan rok Inneke Koesherawati yang kuangkat pantatnya, sehingga posisinya kini bertelepak dengan tangan mengambang dari sofa itu, kutarik roknya ke depan, ketika roknya kutarik itu Inneke Koesherawati ternyata sudah tidak memakai celana. Vaginanya sudah basah terangsang birahi.

“Lakukan suamiku sayaaaaaang …. hhhmmm .. boleh aku bertanya satu hal, sayaaaang .. kalo mau kau boleh melakukan “ tanya Inneke Koesherawati menahan tanganku yang hendak mengelus vaginanya itu.

“Soal apa, sayaaaaaaaaaang “ tanyaku dengan menjawil pipinya.

“Kau buntuti Fahmi .. siapa selingkuhannya .. “ kata Inneke Koesherawati dengan wajah masih kesal dengan suaminya itu.

“Tak masalah .. tetapi berjanjilah padaku .. kalo aku ketagihan sama kamu, kamu nggak boleh nolak “

“Tak masalah Han .. Oh sayaaaang ..suamiku sayaaaaaaang .. “ ujar Inneke Koesherawati dengan langsung memeluk dan menghujaniku dengan lumatan demi lumatan, kupeluk tubuhnya di bawah ketiaknya, sedang Inneke Koesherawati merangkulkan kepundak, kami berlumatan dengan saling menyedot kuat. Lidahku menjulur dan bermain dengan lidah Inneke Koesherawati, sesekali Inneke Koesherawati menyedot kuat bibirku, sampai air liur kami bercampur, terkadang menempel di bibir kami masing masing, dengan senyum penuh birahi Inneke Koesherawati menjilati air liur dan menelan ke dalam tenggorokannya.

“Sayaaaaaaaang .. segeralah .. kupenuhi permintaanmu .. kutelan air manimu .. siap siaplah sayang “ kata Inneke Koesherawati dengan keluar dari sofa kemudian duduk di lantai, kepalanya mendekat pada selakanganku lalu menjilati batangku dengan pelan pelan.

“Uuuh .. gedheee bangeeeet … kusadari .. bangga rasanya memekku dimasukin kontol segede gini “ ujar Inneke Koesherawati dengan genit sambil menggeleng gelengkan kepalanya tanda kagum akan besaran penisku itu.

“Itu akan selalu mengoyak memekmu “ tunjukku pada selakangan Inneke Koesherawati yang makin membanjir itu.

“Iiiih .. mau donk “ ujar Inneke Koesherawati dengan menjilati batangku naik turun, setiap centi batangku dijilati pelan pelan, Inneke Koesherawati menikmati setiap jilatannya, dari buah pelirku tak lupa dijilati, tangannya memegang batangku dan mengocoknya

“Inneeeee .. aaaaaaaaaaah Inneeekeeeeeeee .. enaaaaaaaaaak .. teruuuuuuuuuuus “ lenguhku tak karuan merasa geli akan jilatan demi jilatan Inneke Koesherawati yang melayaniku bak istri yang setia. Penisku tersapu berulang ulang oleh lidah Inneke Koesherawati yang menjulur julur, menjilati bak es krim yang tidak pernah habis.

Inneke Koesherawati lalu memasukan batangku ke dalam mulutnya, membuka mulutnya dengan lebar sambil menaikan kepalanya sehingga kini bersimpuh dengan lututnya, tak kusia siakan kesempatan meremas pantat Inneke Koesherawati yang berisi dan empuk serta hangat, kuremas dengan lembut sampai membuat Inneke Koesherawati melenguh

“Mmmmmmmmhhhhhhhhhhh …mmmmmmmhhhh ….. ssssreeeeeeeeeeeeep “ lenguhan Inneke Koesherawati yang menyedot penisku sampai keluar menimbulkan bunyi nyaring. Inneke Koesherawati kemudian memasukan lagi batangku, kalo ini lebih dalam lagi dan menyedot dengan kuat

“Jangan buru buru, sayaaaaaang .. nikmati setiap detik kulumaaaaanmuuu aaaaaah ..iyaaa aaaaaaah .. pelankan sedotanmu .. yaaaaaa aaaaaaah .. istri yang pintaaar “ kataku sambil meremas kedua pantat Inneke Koesherawati itu, Inneke Koesherawati sampai menggoyangkan pantatnya merasakan remasanku yang tidak tergesa gesa itu. Penisku keluar masuk mulutnya dengan pelan pelan, Inneke Koesherawati melakukan dengan penuh rasa dan tidak terburu buru seperti orang yang belum merasakan seks, perubahan drastis ini membuatku semakin senang.

Penisku keluar masuk mulutnya berulang ulang dengan terasa nikmat sekali, aku sampai menahan nafasku tak karuan merasakan sedotan ketika batangku tenggelam dalam dalam di mulut Inneke Koesherawati itu.

“Inneeeekeeeeeee ..aaaaaaaaaaaah .. teruuuuuuus, sayaaaang .. teruuuuuuuus enaaaak aaaaaaaah .. Oooh .. nikmatnyaaaaaaaaa “ erangku dengan memejamkan mataku merasakan lidah dan gigi Inneke Koesherawati mempermaikan batangku, batangku sampai berkilat akibat air liurnya, aku tidak beranjak lebih jauh dengan meremas buah dadanya yang ranum dan masih segar itu.

Dilepaskan penisku dan dipandangnya kemudian ditempelkan dipipinya ditepuk tepuk di pipinya yang cantik itu.

“Yaaaa .. istriku yang nakaaaaaal .. “ pujiku sambil mengelus elus punggungnya, di vaginanya kulihat semakin membasah, aku sudah menyembunyikan penis imitasi di balik bantal, kugeser tanganku lalu ketika Inneke Koesherawati sibuk menjilati batangku aku menjejerkan penis imitasi itu dekat batangku, Inneke Koesherawati menjadi kaget.

“Haaaaaaaaaah .. jahat kamuuuuu ..dapat dari mana ?” tanya Inneke Koesherawati dengan malu malu.

“Rupanya kau benar benar kesepian ,sayaaaaaaaaaaang .. “ ledekku yang disambut tangan Inneke Koesherawati hendak merebut penis imitasi.

“Kamu pilih mana ? kontolku atau kontol palsu ini ?” tanyaku memberikan pilihan.

“Kontolmu aaaaaaaaaaaaaaaah “ sahut Inneke Koesherawati dengan kembali mengocok penisku.

“Ayooo .. dikit lagi donk .. aku sudah nggak tahaaaaaan nich .. sudah makin panas tubuhku .. cepetan dikit yaaaaaaa “ ajakku yang disambut dengan sikap agresif Inneke Koesherawati langsung menelan penisku bulat dan menyedot nyedot keluar masuk mulutnya.

“Iyaaa aaaaaaaaaaaah …eaaaaaaaaanaaaaaaaaaaaaaaaaaak “ teriakku keras.

Inneke Koesherawati semakin cepat melakukan kuluman walau tidak secara kasar, piawai sekali Inneke Koesherawati mengulum penis ini, mulutnya terasa sesak menelan penisku yang besar itu, kurasakan giginya sering membuatku tak tahan akan gesekannya, aku sampai gemetar di kakiku.

Bunyi kuluman demi kuluman, terasa rakus sekali wanita ini akan penisku, kurapikan rambutnya panjang lurus itu, kusampirkan ke belakang lalu kembali memegang kepalanya.

“Mmmmmmmhhhhhhh .. cuuuuuuuuuuuh “ Inneke Koesherawati mengeluarkan batangku kemudian meludahi pada bagian atas penisku, habis itu ludahnya kembali ditelan beserta batangku bulat bulat. Sampai enam kali Inneke Koesherawati mengeluarmasukan batangku, kemudian mengocok batangku lalu, mempermainkan dengan jari jari tangannya yang lentik itu, matanya melirik nakal padaku yang hanya bisa ah uh auh belakan.

“Dikit aaaaaaaah aaaaaaaaaaaah .. maaaaaaaaaau aaaaaaaaaaaaaah “ erangku merasakan kocokan itu, Inneke Koesherawati kemudian memasukan batangku dan menyedot dengan kuat. Aku sudah tidak tahan lagi, kuangkat kakiku menjepit tubuh Inneke Koesherawati dan aku bersandar pada sandaran sofa, kurasakan panas tubuhku terkumpul pada dadaku dan melesat dengan cepat menuju ke bawah daaaaaaaaan ……….

“Craaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat … craaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaat “

Penisku menembak dengan keras ke tenggorakan Inneke Koesherawati kurasakan aku menegang mendapatkan orgasmeku dan Inneke Koesherawati dengan rakus menelan air maniku, akibat tembakan sperma yang keras itu sampai membuat spermaku ada yang keluar dari bibir Inneke Koesherawati dan menetes ke lantai. Aku merasa menjadi sangat enteng, kurasakan tubuhku bak terbang ke awang awang, mataku berkunang kunang, tubuhku berkelonjotan dengan nafas serasa hancur. Aku lemas tak berdaya, Inneke Koesherawati menjilati bibirnya agar spermaku bisa masuk ke dalam tenggorokannya. Batang penisku juga ada sperma yang tercecer, Inneke Koesherawati pun menjilati batangku dengan pelan pelan, menikmati setiap detik menjilati batangku yang loyo melemas pelan pelan.

“Spermamu gurih, sayaaaaaaaaaang .. aku sukaaa “ puji Inneke Koesherawati dengan mengelus elus pahaku memberikan rangsangan birahi agar aku cepat bangkit. Aku diam dengan memejamkan mataku, tak berapa lama kemudian aku membuka mataku, Inneke Koesherawati memberikan senyuman manis padaku nan mesra. Mataku melirik ke bawah dan kulihat masih ada sperma yang terbuang.

“Tidak boleh ada sperma yang terbuang .. telan itu di lantai “ kataku dengan mencekal kepala Inneke Koesherawati

“Aaaaaaaaaaah jangan aaaaaaah “ tolak Inneke Koesherawati

“Telaaaaaaaaaan ! “ bentakku dengan galak

“Oke deeeeeeeeeeh “ kata Inneke Koesherawati takut hendak aku marah, Inneke Koesherawati langsung membungkuk dan menjilati sperma yang menetes ke lantai itu, dengan nungging lidahnya menjulur ke lantai menjilati spermaku, tak berapa lama kemudian sperma itu berpindah ke dalam mulutnya dan ditelan bulat bulat. Inneke Koesherawati kemudian berdiri dan meninggalkan aku, pergi ke dapur dan tak lama kemudian membawa minuman dengan dua gelas, dituangkan minuman yang bercampur dengan alkohol itu. Inneke Koesherawati kemudian duduk di sampingku, menenggak minuman itu lalu memberikan aku satu gelas, aku menelan minuman itu dan kurasakan tenggorokanku segar.