ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

    yessi ecii jilbab hot (5)

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

yessi ecii jilbab hot (2)

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

yessi ecii jilbab hot (4)

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

yessi ecii jilbab hot (3)

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

yessi ecii jilbab hot (6)

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

yessi ecii jilbab hot (1)

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…

ZURAIDA PART 8

“Heeyyy cint,, Ayo bangun,, kita siap-siap,,, ntar dicariin bu Sofie lhoo,,” Zuraida coba membangunkan Aryanti yang masih tertidur.

Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Aryanti yang masih agak lembab. Memandang wajah cantik sahabatnya yang terlelap. Terbersit rasa bersalah dihati Zuraida atas permainan hati yang tengah dilakoninya bersama Arga.

“Eehh,, Zuraidaa,,,”
Aryanti terbangun, kaget, dengan panik menutupi bagian atas tubuh yang terbuka dengan selimut.

yessy ecii jilboob (1)

“kamu sudah pulang?,,,” bangkit, lalu bersandar didinding. Tangannya berusaha menutupi beberapa tanda merah disekitar leher dan dada dengan selimut.

“Ya sudah pulanglaaah,, emang ini jam berapa,, hampir jam tujuh sayang,,, diluar sudah mulai gelap,,” jawab Zuraida sambil tersenyum melihat tingkah Aryanti yang panik. Matanya sudah terlanjur melihat tanda merah itu, dan menebak-nebak siapa yang membuat ulah, memberi tanda bibir begitu banyak ditubuh sahabatnya.

“Sayaaang,,, aku pinjam celana pendek Arga dong,,,”

Tiba-tiba Zuraida mendengar suara suaminya, Dako, dari arah kamar mandi. Reflek wanita itu menoleh. Benar saja, suaminya tampak keluar dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian, terkaget.

Zuraida diam membisu, nalarnya dengan cepat memberi isyarat tentang apa yang baru saja terjadi.

Aryanti yang mengira Dako sudah kembali kekamarnya tak kalah kaget, wajahnya seketika pucat, memandang Zuraida dengan rasa bersalah.

Seketika hening tercipta, kekakuan merambati tiga hati.

Dako dengan kikuk menutupi kemaluannya dengan tangan. Entah merasa malu pada siapa.

“Zuraidaa,,, maaf,, kami,,,”

“hahaha,,, ngga apa-apa sayang,,, kita impas koq” sela, Zuraida. Raut wajah kikuk nya berubah menjadi senyum malu-malu, tapi rona bahagia tak mampu disembunyikan wanita berjilbab itu.

yessy ecii jilboob (6)

Aryanti balas tersenyum, tersenyum kecut, tersenyum bersama sembilu yang menusuk jauh kedasar hati, mendengar penuturan sahabatnya yang tampak bahagia.

“Mas,, koq bengong sih, cepet sana ganti baju,,,”
celetuk Zuraida. Membuat Dako kaget, matanya celingak-celinguk mencari pakaian tapi nihil. Sambil terus menutupi selangkangannya dengan tangan, lelaki itu ngacir kearah pintu keluar, setelah yakin tidak ada orang dengan cepat berlari kekamarnya.

“Hahahaa,,, dasar Mas Dako,,,” Zuraida tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti maling ketangkap basah.

Aryanti ikut tertawa, lalu beralih mengamati wajah Zuraida yang terlihat begitu ceria, wajah bahagia yang diciptakan oleh suaminya. Meski sakit, Aryanti merasa tidak tega untuk memberangus senyum diwajah sahabatnya.

Setelah mengambil nafas panjang, perlahan tubuhnya beringsut mendekati Zuraida, memeluk sahabatnya dari samping.

“Mba,,, aku pengen ngomong sesuatu, tapi bingung harus memulai dari mana,,” ucap Aryanti, lebih sopan dengan memanggil mba kepada Zuraida, yang memang lebih tua darinya, meski usia mereka hanya terpaut tiga tahun.

“Ada apa yant?,,, ngomong aja,,,” Zuraida bingung dengan sikap sahabatnya yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Dulu,,, waktu kalian menjodohkan aku dengan Arga, aku percaya bahwa kalian memilihkan pasangan yang terbaik untukku, tapi aku tidak tau jika ada,,, emmhh,,, ada cerita yang rumit antara kalian bertiga,,,”

Zuraida kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang bertelanjang dada itu, selimut yang menutupi tubuhnya dibiarkan jatuh. Memeluk tubuhnya erat, layaknya seorang kekasih.

“Maaf Yant,,, itu hanya cerita masa lalu, tapi harus kuakui,,, eengghh,,,” bibir wanita berjilbab itu terdiam, tidak yakin dengan apa yang ingin diucap oleh bibirnya, matanya menatap baju yang berserakan dilantai, celana Dako tampak terselip diantara baju Aryanti.

“Karena aku sempat terbuai oleh kisah masa lalu itu,,,” Sesaat mata Zuraida beralih menatap wajah Aryanti melalui cermin, “Tapi,, Kau memiliki hati lelaki itu,,, sepenuhnya,, percayalah padaku,,” ucap Zuraida meyakinkan.

“Terimakasih mba,,,” Aryanti memeluk Zuraida erat, air mata perlahan menggenangi pelupuk.

“Aku percaya, Arga akan menjagamu lebih baik dari siapapun,,, kumohon,,jangan nakal lagi ya, sayang,,,”

Aryanti mengangguk, air mata tak lagi mampu dibendungnya. “Aku janji mbaak,,, aku janji,,,”

“Yant,,, kamu sakit ya?,,,” tanya Zuraida tiba-tiba. Melepas pelukan, lalu memeriksa kening Aryanti yang agak panas.

“Ngga mba,,, mungkin cuma kecapean aja koq,,, ngga usah dipikirin,, hehehe,,,” jawab Aryanti, beranjak menuju meja, mengambil cincin nikahnya yang tergeletak.

“Mau bertukar?,,, hanya untuk malam ini,,”

“Maksudmu?,,,” wanita berjilbab itu bingung hingga keningnya mengkerut, menatap lekat wajah Aryanti.

Tapi Aryanti hanya tersenyum, menarik tangan kiri Zuraida, menukarkan cincinnya dengan cincin wanita itu.

“Malam ini, kita bertukar peran, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Dako atas pertolongannya selama ini,, begitupun sebaliknya, Mas Arga jadi milik Mba,,, So,, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,,, hehehe,,, Deal?,,”

yessy ecii jilboob (5)

Zuraida tertawa. “Kamu ini ada-ada aja Yant,, mana bisa seperti itu,, sini balikin cincinku,,,,”

“Kenapa ngga?,,, ini hanya antara kita,” ucap Aryanti dengan wajah serius, namun perlahan wajah itu tersenyum, lalu mengerling genit. “Kita buktiin, siapa yang paling jago diantara kita,, jangan marah kalo nanti Dako sering menyebut namaku waktu kalian bercinta,,,” sambungnya sambil memeletkan lidah.

Zuraida ikut tertawa mendengar ajakan nakal. Tapi wanita yang terlihat cantik dalam balutan jilbab itu tau, permintaan Aryanti yang ingin mengucap terimakasih kepada suaminya hanya alasan yang dibuat-buat.

Sahabatnya itu ingin memberinya kesempatan terakhir bersama Arga. Sebuah penawaran yang pastinya sangat sulit bagi Aryanti sendiri, membagi seseorang yang dicintai kepada orang lain, meski itu untuk seorang sahabat.

“hhmmm,,, kamu ini,,, Terimakasih Yant,,,” bibir Zuraida tertawa sekaligus menangis, air mata yang meleleh dipipi semakin deras mengalir. Sesenggukan dipelukan Aryanti. Tak mampu berkata, hanya ucapan trimakasih yang diucapkannya berulang-ulang.

“Nakal-nakalan yuk malam ini,,,” ajak Aryanti.

Zuraida mengangguk,,, “Tapi aku ngga berani nyobain punya yang lain, Yant,,,”

“Hhmmm,,, kalo cuma sama Arga namanya belum nakal Cint,, cobain aja sambil ngumpet-ngumpet,,, pasti seru,, hihihi,,,”

“Hahahaa,,, Nakal kamu Yant,,,” Zuraida melepaskan pelukannya, menatap wajah sahabatnya, lalu memandangi beberapa cupang dipayudara Aryanti. “Mas Dako nakal ya Yant,,,” ucapnya sambil mengusap cupang dipayudara Aryanti.

DEEG,,,
Aryanti kaget, tubuhnya menggelinjang,,,

“Ihh,,,, geli tauu,,, Emangnya tadi Mas Arga ngga ngusilin punyamu,,, sini aku liat,,,”

“Eeehh,,, mau ngapain kamu Yant,,,” Zuraida berusaha menahan tangan Aryanti yang berusaha mengangkat kaosnya keatas. Tapi usahanya sia-sia.

“Ckckckck,,, koq bisa mancung seperti ini sih, Cint,,,” Aryanti tak mampu menahan tangannya untuk menyentuh sepasang payudara yang ada didepan.

“Eemmpphh,,, Yaaaant,,, tapi punya mu lebih besar dari punyaku,,,” Zuraida melengug geli. Tangannya merambat, kembali meremas payudara yang sedikit lebih besar dari miliknya.

Keduanya membisu, Saling mengagumi, saling meremas, sama-sama menahan desahan yang bisa saja keluar dari bibir yang berusaha dikatup rapat. Malu untuk mengakui apa yang dilakukan oleh lawannya berhasil memberi sensasi birahi

“Eeeengghhh Yaaaant,,, jangan-jangan keras,,,”

“Sakit?,,,”

Zuraida menggeleng, “Geli,,,hihihi,,, Yaant,,, mau ngapain lagi?,,” tawanya terhenti, menatap wajah yang mendekat bongkahan payudaranya.

“Eeeempphhh,,, Yaaant,,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, menaha geli yang merambat dari sapuan lidah Aryanti. “Jangaaan curaaang, sayaaang,,,”

Wanita berjilbab itu terengah,,, balik mendorong Aryanti hingga tertelentang, lalu tertawa nakal, dengan cepat menaiki tubuh dan menyambar payudara yang penuh dengan cupang dari suaminya.

“Aaawwwhh,,, koq digigit mbaaa,,” pekik Aryanti.

“hahahaa,,, Habisnya aku gemes,,,” jawab Zuraida sambil tertawa.

Keduanya bergulat diatas kasur, saling meremas, bergantian saling menghisap, mendesah bersahutan. Hingga keduanya kelelahan. Dan sepakat bersama-sama menghentikan kenakalan mereka.

yessy ecii jilboob (4)

“Baru kali ini aku menyentuh milik wanita selain punyaku sendiri,,, hahahaa,,,,,” Aryanti tertawa melihat ulahnya sendiri, nafasnya masih memburu, menindih tubuh Zuraida.

“Kalo aku sering,, waktu memeriksa pasien,,, tapi tidak dalam kondisi seperti ini,,, hehehe,,,” Zuraida, memeluk tubuh sahabatnya, membiarkan payudara mereka bertemu, tergencet oleh tubuh yang saling menindih.

“Kalo nyobain ciuman sesama cewek pernah?,,,”

“Kalo itu sama sekali ngga pernah,,, ngapain ciuman sama cewek,,, hahaha,, ada-ada saja kamu ini Yant,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,,” panggil Aryanti, menghentikan tawa Zuraida. Keduanya saling tatap, wajah mereka begitu dekat. “Mbaa,,, aku pengen nyobain yaa,,,”

Zuraida tidak menjawab, jantungnya berdebar melihat bibir Aryanti yang mendekat, otaknya memberi perintah untuk membuka bibir, menyambut lidah Aryanti yang merambat masuk.

“Eeemmmpphhh,,, eemmmhhh,,,”
“Eeeengghhh,,,,”

Lidah lembut kedua wanita itu saling membelit, berkejaran didalam mulut Zuraida. Tampak Aryanti lebih dominan, mengajak lidah Zuraida menari, mengaduk ludah mereka yang terkumpul dimulut.

Bibir Aryanti mengatup rapat mulut Zuraida, lalu dalam sekali hisapan yang kuat menyedot semua ludah kedalam mulutnya,,, membuat lidah Zuraida ikut tersedot, masuk kedalam mulutnya. “Slluuurrpphhh,,,”

“Eeemmmyhaant,,,,” wanita berjilbab itu terkaget, menatap wajah syahdu yang memancar birahi. Lalu membalas bermain-main dimulut Aryanti. Berlari dari lidah yang berusaha membelit, saling menghisap cairan yang ada dilidah mereka.

Setelah merasa paru-paru mereka kepayahan memasok oksigen, kembali mereka sepakat untuk melepas. Saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

“Baru tau aku,,, ternyata mba ganas juga,,, pantes aja Mas Arga mpe klepek-klepek,,, aku aja sampai merinding tauuu,, hahahaa,,,”

“Hahahaa,,, jangan ngomong gitu ahh,,, bikin aku malu aja,,, kamu tuh yang ganas banget nyedotnya,,,, coba kita lamaan sedikit lagi,,, pasti keluar nih punyaku,,, hahahaa,,,”

“Mbaa,,, pengen keluar ?,,, hihihi,,, diem aja yaa,,, jangan protes,,,” Aryanti menyelusup kan tangannya kedalam celana Zuraida.

“Jangan Yaaant,,, aku maluuu,,, Aaawwhhhhsss,,, jangaaaan,,,”
Wajah wanita berjilbab itu bersemu merah, ketika tangan Aryanti mendapati vagina yang sangat basah. “Awaaas kamuuu yaaa,,,” tangannya membuka selimut Aryanti lalu merogoh bibir vagina yang lebih basah dari miliknya.

“Yaaant,,, ini punya suamiku ya,,, hihihi,,,”

“Iyaaaa,,, mbaaa,,, tadi Dako banyak banget buang didalem,,,” jawab Aryanti yang kini ikut terengah-engah, liang vaginanyanya diobok-obok oleh jari lentik Zuraida. “Mbaaa,,,, ciuman lagi yuuuk,,,” pintanya.

Kembali kedua wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang didamba para wanita itu saling meraba, silih berganti menindih, meremas, bertukar ludah, mengayuh vagina yang basah. Memburu orgasme yang berbeda dari biasanya.

Berbeda dengan Aryanti yang membuka lebar pahanya dan membiarkan jari-jari Zuraida bermain-main diliang kemaluan, Zuraida justru mengapit rapat pahanya, menjepit jari-jari yang masuk begitu dalam, merogoh tepian yang tidak dapat dilakukan oleh batang penis.

“Yaaant,,, Aku mau keluar,,, aku mau keluar,,,”
Wajah Zuraida pucat pasi, menjepit tangan Aryanti semakin kuat.

Begitu pun dengan Aryanti yang menggerakkan pinggul mengejar kemanapun jari Zuraida menari. Nafasnya semakin berat. Hingga akhirnya kedua tubuh itu mengejat, gemetar, menghambur cairan yang membasahi jari-jari yang lentik.

“Mbaaa,,, aku keluaaaarr,,,, oowwhhh,,, mbaaa,,,” Aryanti berteriak-teriak histeris, melumat bibir Zuraida yang juga gemetar, mengangkat tinggi pinggulnya.

“Yaaant,,, jarimu pinter banget,,, aku sampai gemetar gini,,,” ucap Zuraida setelah Aryanti mejatuhkan tubuhnya kesamping.

“Mba jugaaa,,,” ucap Aryanti, masih tersengal-sengal tak bisa berbicara banyak.

yessy ecii jilboob (3)

* * *
I’m so lonely broken angelI’m so lonely listen to my heartOne and only broken angelCome and save me before I fall apart

Suara Zuraida yang menemani Pak Prabu berduet, mengalun lembut. Membawakan ‘Broken Angel’ dari Arash feat Helena. Sebuah lagu dengan lyric timur tengah, yang memapar jalinan sepasang kekasih, namun terhalang oleh belenggu pernikahan yang mengikat si wanita. (ini salah satu lagu favorit ts lho,, mpe sekarang ngga bosen dengerin tu lagu,,,)

Siapa menyangka, Pak Prabu mampu membawakan lagu itu dengan cukup baik, meski beberapa kali lidahnya keliru dalam mengucap syair yang cukup sulit. Namun bagi Adit yang memang piawai memainkan organ tak begitu kesulitan untuk mengiringi.

Pesta kecil itu memang sengaja mengambil tempat ditepian kolam renang yang memang cukup luas, dengan sinaran cahaya lampu hias yang remang-remang, membuat suasana malam itu terlihat begitu romantis.

Tubuh Zuraida yang dibalut long dress putih ketat, meliuk gemulai mengikuti alunan musik, suaranya terdengar lirih, diatas panggung yang hanya setinggi 30 cm. Seolah ingin menyampaikan pesan dari hati. Layaknya seorang bidadari yang menari diantara rintik hujan, berharap ada malaikat yang menemani.

Dikeremangan, mata Zuraida menatap tiga sosok yang duduk dimeja yang sama.
Aryanti yang selalu melemparkan senyum saat mata mereka bertemu, lalu beralih pada Dako yang berusaha melemparkan senyum serupa. Dan Arga,,, Arga, entah kenapa Zuraida merasakan ada sesuatu yang berubah pada lelaki itu.

Hati Zuraida memang tengah gundah melihat perubahan Arga, tak ada yang menyadari selain dirinya, karena ini memang antara dirinya dan Arga. Senyum lelaki itu terlihat begitu hambar.

Sesekali matanya menatap cincin milik Aryanti yang melingkar dijari manis. Sebuah pertukaran posisi yang terasa begitu ganjil tapi begitu diharapkannya. Teringat akan ajakan nakal sahabatnya, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi malam ini.

Zuraida sadar, Walau bagaimanapun, hubungan nya dengan Arga tak lebih dari kilas balik masa lalu. Seindah apapun cerita yang terukir pasti akan berujung pada kepedihan. Tak mungkin dirinya merebut Arga dari sahabatnya, Aryanti. Dan tidak mungkin dirinya meninggalkan Dako, untuk mengejar ego cinta.

Mungkinkah Arga mulai menjaga jarak untuk cerita yang memang harus mereka akhiri?…

Sekuat hati Zuraida berusaha menetralisir rasa, kebahagiaan yang tadi siang menyapa dengan paksa diberangus, karena hanya dengan cara itu pula lah dirinya dapat bertahan dari rasa sakit.

Tanpa disadari wanita itu, Dako dan Aryanti menangkap setiap perubahan ekspresi yang sebenarnya tidak ingin ditunjukkan oleh Zuraida. Tapi Zuraida adalah sicantik yang tak pandai bersandiwara. Selalu kesulitan untuk menyembunyikan suasana hatinya.

Lagu yang dinyanyikan membuat hati Zuraida semakin terhanyut dalam kepedihan. Pak Prabu yang memeluk pinggang rampingnya dengan erat, seakan menjadi penopang untuk menguatkan pijakan hatinya yang tengah melemah.

Zuraida sendiri tak habis pikir, kenapa selalu Pak Prabu yang ada disampingnya, disaat hatinya tengah berkecamuk.

Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Prabu yang turun kebawah pinggulnya, mengusap lembut bulatan pantat nya. Mengusap punggungnya dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping.

Dengan pelan, Zuraida menepis tangan Pak Prabu , saat lagu telah usai. Berusaha untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu tak lepas dari tubuhnya.

“Terimakasih,,,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.

“Ternyata suara istri Dako ini merdu banget,, senang berduet dengan Bu Dokter,” ucap Pak Prabu, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat sambil tertawa renyah.

“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kemarin ibu tawarkan,,”

DEEGG,,,
Zuraida sangat kaget mendengar ucapan Pak Prabu yang begitu pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.

Zuraida tersenyum kikuk, balas membungkuk. Turun dari panggung mendekati Aryanti yang menghampirinya, lalu kembali menuju meja dimana Arga dan Dako duduk.

“Kalian mau minum apa? Biar aku ambilkan,” ucap Arga menawarkan minuman dengan suara datar, tanpa ekspresi.

“Terserah,,, yang penting bisa menghangatkan tubuh,” jawab Dako.
“Aku apa aja boleh,,,” sambung Zuraida, matanya menatap Arga yang cepat berbalik sebelum kata-katanya selesai terucap.

“Aku tau minuman spesial untukmu Cint,,, hehehe,,, Ayo mas, aku temenin,” celetuk Aryanti, menyusul suaminya.

yessy ecii jilboob (3)

“Suaramu memang indah sayang,,, Aku selalu bangga memilikimu,,” ujar Dako, saat mereka tinggal berdua dimeja itu.

“Haahahaha,,, Mas seperti tidak mengenal aku saja,,” jawab Zuraida, berusaha naik ketas kursi yang cukup tinggi.

“Apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Zuraida tak langsung menjawab, berusaha membaca maksud pertanyaan suaminya dari raut wajah. “Lumayan, tapi sebenarnya apa tujuan Mas Dako mempertemukan aku dengan Arga dalam situasi seperti ini?,,” wanita itu balik bertanya dengan suara datar.

Dako menggenggam tangan Zuraida, bibirnya tersenyum tulus, seakan mengatakan bahwa situasi ini di cipta memang untuk Zuraida.

Wanita itu tertawa pelan, entah menertawakan gaya Dako yang begitu romantis, entah menertawakan dirinya yang terpuruk pada nostalgia masa lalu yang justru membuatnya semakin terpuruk.

“Aku tau, pasti ini sulit bagi Mas Dako, Mas tidak perlu melakukan hal gila seperti ini, apa Mas tidak takut kehilangan aku?,, atau Mas memang tidak percaya pada hatiku?,,,” ucap Zuraida, begitu terbuka sekaligus tajam. Seakan menyimpulkan segala isi yang ada dihati Dako.

“Heeyy Cint,,,”
Seru Aryanti yang membawa dua gelas cocktail, disusul Arga yang menenteng dua botol chivas regal, menyelamatkan Dako yang bingung harus menjawab pertanyaan istrinya.

“Suaramu tadi mantap banget lho, bikin aku minder mau nyumbang lagu,,,” ucap Aryanti. Menyerahkan gelas.

“Hehehe,, biasa aja koq Yant,,,” jawab Zuraida yang diam-diam kembali menatap cincin milik Aryanti. Otaknya tengah mengkaji ulang tentang tawaran Aryanti. Walau bagaimanapun hatinya sulit untuk menerima pertukaran itu.

“Yant,,, tentang yang tadi sore,, sepertinya aku tidak bisa untuk,,,,”

“Owwhh,, iya,,,” Seru Aryanti tiba-tiba, memotong ucapan Zuraida.

“Mas Arga,, Dako,,,Tadi sore aku dan Zuraida sepakat untuk bertukar cincin, dan itu artinya,,, Emmhh,,,” Aryanti dengan wajah jenaka menghentikan kata-katanya, bergantian menatap tiga pasang mata yang tertuju padanya, “Artinya adalah sebuah,,, sebuah pertukaran pasangan, Apa kalian para suami bisa menerima?,,,”

Sontak Arga dan Dako mengamati cincin yang melingkar dijari manis Aryanti dan Zuraida. Tidak menyadari bila cincin yang dikenakan oleh pasangannya bukanlah cincin yang mereka berikan saat menikah.

“Kalo aku tidak masalah,” jawab Dako cepat, tersenyum lebar, membuat Arga kaget dan bingung, lalu dengan terpaksa mengangkat kedua pundaknya, sebagai tanda menyerahkan keputusan kepada yang lain.

“Okeee,,, Deal,,,” seru Aryanti. Menghentikan usaha Zuraida yang ingin mengutarakan keberatan. Wanita berjilbab itu akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah sahabatnya.

Ting,, Ting,, Ting,,”Maaf,,, minta perhatiannya sebentar,,,”
Ucap Pak Prabu tiba-tiba, mengetuk gelus dengan cincin akiq yang ada dijarinya. Lampu sorot yang terang mengarah ke tempat lelaki berdiri, diatas panggung, ditemani istrinya Bu Sofie.

yessy ecii jilboob (2)

“Sebelumnya, boleh saya meminta Sintya untuk ikut naik keatas sini,, biar komplit laahh,,”

“Hahahaa,,, mantap,,,”
“Sing rukun yooo,,, hahaha,,,”

Teriakan dan tawa seketika menggema. Rupanya Pak Prabu sudah berterus terang tentang status Sintya kepada Bu Sofie, dan hebatnya Bu Sofie dengan lapang dada bisa menerima.

Itu terlihat bagaimana Bu Sofie menyambut Sintya yang naik keatas panggung dengan senyum dan tangan terbuka, berpelukan dan saling cipika-cipiki, membuat para lelaki yang ada disitu menjadi iri.

“Harap tenang,,,” ucap Pak Prabu dengan gaya cool yang dibuat-buat, menegakkan kerah bajunya, lalu menggandeng Sintya dan Bu Sofie, begitu pongah menggoda para lelaki yang ada ditempat itu. Tak ayal suara tawa semakin menggema.

“Agar tidak mengganggu acara kita, Langsung to the poin saja,,, Jadi begini,,,” ucap Pak Prabu, saat suara tawa mulai mereda.

“Saya tadi pagi ditelpon Pak Andre Diaz, tentang rotasi mutasi manager empat tahunan, mungkin dalam minggu ini saya akan ke Jakarta untuk memastikan hal tersebut,” saat membicarakan hal-hal yang serius, wibawa Pak Prabu sebagai seorang pemimpin muncul seketika, Arga, Dako, Munaf dan Adit serius memperhatikan.

“Tapi saya mendapatkan bocoran tentang rotasi kali ini, yang bagi saya sendiri cukup mengejutkan. Seperti yang kita ketahui, saya memang mendapatkan promosi untuk untuk menduduki salah satu jabatan penting dipusat, dan posisi saya akan digantikan oleh Arga sebagai pimpinan cabang. Tapi berdasarkan pencapaian prestasi kita semua,,,” Pak Prabu menarik nafas panjang, bibirnya tersenyum lebar.

“Adit dipromosikan untuk memegang tampuk wakil pimpinan cabang, menemani Arga,, selamat,,,” Tepuk tangan dan ucapan selamat segera mengalir, sementara Adit sendiri tersenyum lebar, tak menyangka dengan karirnya yang begitu cepat naik. Bahkan terlalu cepat untuk remaja seusianya.

“Dan untuk Pak Munaf, kemungkinan besar akan menggantikan Pak Andree Jeff, yang pensiun dari pimpinan Cabang Kota Surabaya.”

“Whooo,,, selamaat,, selamaaat,,,”
“Akhirnyaaa,,, naik jugaaa,, selamaat,,”

yessy ecii jilboob (7)
Tepuk tangan semakin riuh, jabatan pimpinan cabang itu memang pantas untuk Munaf yang terbilang cukup senior.

“Sedangkan Dako,,,” suasana seketika menjadi hening saat Pak Prabu mulai melanjutkan pengumumannya, “Dengan pertimbangan perlunya perusahaan ini melebarkan sayap, jajaran direksi mempercayakan kepada Dako untuk merintis pembukaan cabang central untuk daerah Kalimantan,, selamaat!!!,,,”

“Yeeaaahhh,,,” Dako mengepalkan tangannya, berteriak girang, tertawa lebar, menerima jabat tangan Arga dan Aryanti yang mengucapkan selamat. Lalu berpaling kearah Zuraida dan memeluknya erat, kita akan pindah ke Kalimantan sayang, seperti yang memang aku inginkan,,,” bisik Dako.

“Ok,,, untuk sementara mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, tapi bocoran ini dapat dipercaya, karena disampaikan langsung oleh Pak Andre, selanjutnya,, silahkan melanjutkan party kita,,,” ucap Pak Prabu menutup pengumumannya sambil mengangkat gelas ditangan, mengajak untuk bersulang.

Kebahagiaan begitu nyata terlihat, masing-masing mengucapkan selamat kepada rekannya. Berkelakar tentang daerah yang akan mereka tempati.

Sambil memainkan jari-jari diatas Yamaha Keyboard PSR-E433, Adit membawakan lagu dari Daniel Bedingfield dengan pelan.

If your not the one then way does my soul feel glad today…
If your not the one then way does my hand fit yours this way…
If you are not mine then way does your heart return my call…
If you are not mine would i have the strenght to stand at all…

Pak Prabu mengajak Bu Sofie untuk berdansa, memeluk sang pejantan sambil memamerkan senyum kepada yang lain.

“Pah,, mending papah nemenin Sintya, kasian dia sendiri,,,” ucap Aida saat melihat raut wajah gadis itu berubah ketika Pak Prabu mengajak Bu Sofie berdansa. Memang tidak mudah untuk menjadi yang kedua.

“Iya,,, Boleh koq,,, tapi jangan dinakalin, kasian dia,,,” ucap Aida, menjawab tatapan tak percaya dari Munaf. Seketika lelaki itu tersenyum lebar, mengecup kening Aida, lalu mendekati Sintya.

“Aryanti,,, mau berdansa dengan ku?,,,”

Aryanti tersenyum mendengar ajakan Dako, sesaat menatap Arga dan Zuraida meminta izin, lalu dengan gaya yang gemulai mengangkat tangan kanan nya yang dengan cepat disambut oleh Dako. Berjalan mendekati Munaf dan Pak Prabu yang ada didepan panggung.

“Zee,,,” panggil Arga lembut, mengagetkan Zuraida, meski dirinya memang tengah menunggu ajakan Arga, tetap saja suara yang terdengar lembut itu mengagetkannya.

Zuraida tersenyum canggung, menyambut Arga yang meletakkan tangan dipinggul yang ramping.

Tubuh kedua insan berlainan jenis itu bergerak mengikuti lagu, ditempat yang sama, tidak bergabung dengan yang lain. Gerakan kedua nya terlihat kaku, padahal beberapa jam yang lalu mereka bercinta dengan mesranya.
Membisu, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Malam semakin larut, beberapa pasangan terlihat saling bertukar, kini Munaf terlihat tengah menggandeng Andini, sementara Pak Prabu begitu mesra bersama Sintya. Dan Bu Sofie,,, wanita itu kini terlihat sibuk dimeja bar mini, meracik minuman dari beberapa botol beraneka warna yang berbentuk unik. Sebuah hobby baru yang didapatnya setelah lama menetap di Paris.

Aryanti dan Dako pun tampak beristirahat, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih baru, duduk dengan saling pangku, tangan Dako yang nakal tak henti menggarayangi paha Aryanti yang hanya dibalut mini dress warna merah muda.

Sesekali Aryanti menuangkan whiskey ke gelas mereka. Dan terlihat jelas bagaimana keduanya mulai mabuk.

***
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Zuraida menyerah, membuka mulutnya membuka percakapan.

“Argaa,,,”

yessy ecii jilboob (8)

“Yaa,,,” sahut lelaki itu datar. Sesuai dengan dugaan Zuraida, jawaban yang terasa begitu hambar. Namun Zuraida tidak peduli, wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak si lelaki.

“Aku akan pergi jauh,, mungkin,,, mungkin kita tidak akan bertemu lagi,,, aku tidak mungkin terus menyakiti Aryanti,,,,” Air mata perlahan berkumpul dipelupuk mata, jatuh berderai tak terbendung, sesenggukan dipundak Arga. Tapi lelaki itu tak bergeming, tak menjawab, hanya tangan kekar yang memeluk semakin erat.

“Argaaa,,, plisss,, jangan diam seperti ini,,, acuh mu membuat hatiku semakin menderita,,,” tangis wanita itu semakin dalam.

“Jangan menangis sayang,,, inilah jalan hidup, takdir hanya ingin membantu kita untuk menyelesaikan hubungan terlarang ini,,,” bisik Arga, mengusapi rambut Zuraida yang tertutup oleh jilbab.

“Percayalah,,, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,,,”

Tangis Zuraida terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Arga. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Arga memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zuraida selain menerima.

Matanya yang basah menatap Arga. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda.

Kakinya berjinjit, mengecup bibir sipejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.

“Zeee,,,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Arga saat menyambut bibir sicantik. Walau bagaimanapun sulit bagi Arga untuk mengabaikan jamahan bibir seorang Zuraida.

Lampu sorot kolam yang tadi sempat menyala terang, kembali meredup. Membuat suasana semakin syahdu.

“Bu,,, tengoklah Bu Zuraida dan Pak Argaa,,, soo sweeett,, romantis bangeeet,,,” ucap Andini yang menghampiri Aida yang duduk disofa panjang. membawa dua gelas cocktail hasil racikan tangan Bu Sofie.

“Sepertinya antara mereka emang ada sesuatu deh,,,” jawab Aida, menyambut obrolan Andini.

“Padahal aku pengen banget dansa ama Pak Arga,,,kali aja ntar dikasih lagi,,, itu nya lhooo,, ngangenin bangeet,,,” ucap Andini yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sejak awal gadis itu memang sudah banyak minum.

“Hahahaa,, ternyata kamu udah nyicipin punya Arga juga ya,,, tapi emang sih,, wanita mana yang ngga klepek-klepek dihajar batang gede nya,,, Uuugghh,,, Dini sihh,, aku jadi pengen nih,,, hihihi,,,”

Tapi obrolan dua wanita terhenti, dikeremangan mata mereka menyaksikan bagaimana tangan Arga meremasi payudara Zuraida. Wanita yang terlihat begitu setia dan alim itu begitu pasrah atas ulah dua tangan Arga yang meremasi payudara, pantat dan selangkangannya.

“Duuuuhh,,, Aku jadi ikut merindih nih Din,,, pengen diremes-remes juga,,,” keluh Aida, menjepit tangan dengan kedua pahanya.

“Buuu,,, Pak Munaaaf Buuu,,,” seru Andini tiba-tiba. Menunjuk Munaf yang tengah menggarayangi tubuh Bu Sofie dari belakang, tapi wanita bertubuh montok itu hanya tertawa. Tangannya terus bekerja meracik minuman untuk Adit yang duduk didepan Bar.

Begitupun saat Munaf berusaha mengeluarkan sepasang payudara berukuran 36D dari gaunnya. Bu Sofie justru tertawa semakin lebar, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Bu Sofie melemparkan kain kecil hingga menutupi wajah Munaf.

Tiba-tiba tubuh Bu Sofie beringsut turun kebawah, membuat Andini dan Aida bertanya-tanya apa yang dilakukan wanita itu dibawah meja bar, tapi saat melihat wajah Munaf yang terlihat begitu menikmati aktifitas Bu Sofie dibawah sana, baru lah mereka mengerti apa yang tengah terjadi.

yessy ecii jilboob (9)

Tak berapa lama, Munaf menarik tubuh Bu Sofie kembali berdiri, meminta wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Terlihat Bu Sofie mewanti-wanti saat Munaf mengangkat gaun mini yang membungkus tubuh montoknya. Tapi Munaf seperti tidak peduli, meminta Bu Sofie lebih membungkukkan badannya, dan tiba-tiba tubuh wanita terhentak kedepan, mulutnya terbuka melepaskan lenguhan tanpa suara.

“Buuu,,, mereka ngen,, ngentot ya?,,” tanya Andini dengan suara tertahan.

“Huuhh,,, dasar si papah,,, padahal tadi udah janjian ga boleh main serong lagi,,, uuggghhh,,,” Aida terlihat sebal, menenggak habis cocktailnya, merasa kurang, Aida juga menenggak chivas milik suaminya yang ada dimeja kecil.

Seketika wajahnya mengernyit ketika merasakan kerasnya rasa dari minuman itu. Tak ambil pusing dengan rasa, ibu muda itu kembali menenggak beberapa kali.

“Hihihihi,,, ibu kalo marah lucu,,,” Andini mengamati tingkah Aida yang tengah sewot. “Balas aja bu,,,” usul Andini.

“Balas?,,,”

“Iya,,, ibu balas aja, tu suami saya lagi nganggur,,,” jawab nya sambil menunjuk Adit yang duduk menonton sambil meremasi batang yang ada dicelana, seolah sedang menunggu giliran.

Tanpa minta persetujuan lebih lanjut, Aida beranjak mendekati Adit, dan langsung memberikan ciuman yang ganas. Adit yang sempat kaget langsung mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Pasrah ketika Aida menariknya kedalam bar. Tak menunggu lama terjadilah pacuan dua tubuh betina yang sama-sama memiliki tubuh montok.

Pinggul Adit menghentak dengan kasar, menjejali vagina Aida dengan batangnya, sambil melempar senyum kepada Munaf. Terbalas sudah dendamnya tadi pagi, saat Munaf menyutubuhi Andini dalam lomba pantai, tepat didepan matanya.

“Asseeeem,,, pelan-pelan Dit, jangan kasar gitu, kasihan istriku,” seru Munaf geram.

Tapi peringatan Munaf justru dijawab oleh istrinya sendiri dengan lenguhan panjang, dibalik kacamata minusnya wanita itu tersenyum nakal, sambil sesekali meringis akibat hentakan Adit yang kelewat kasar. Tapi itu justru membuat Aida semakin liar, pantatnya bergerak kebelakang dan kedepan memberikan perlawanan.

Wajah Munaf semakin geram, tidak menyangka istrinya yang dulu kalem kini berubah menjadi begitu binal. Tubuh montok yang selama bertahun-tahun selalu setia melayani kebutuhan seksualnya kini tengah melayani lelaki lain. Menawarkan kenikmatan liar yang tidak pernah diberikan kepadanya.

yessy ecii jilboob (10)

Melihat hal itu Bu Sofie tertawa, seolah tak ingin kalah tubuhnya ikut bergerak liar, otot vaginanya mengencang, memberi pesan kepada Munaf bahwa vaginanya tidak kalah dari milik istri Munaf itu.

Tak ayal terjadilah persaingan pacuan liar, Adit yang membalas dendam, Munaf yang geram dibakar cemburu, Aida yang ingin membalas ulah suaminya dan Bu Sofie yang terbawa dalam arus persaingan. Begitu kontras dengan alunan musik yang mendayu lembut, mengiringi Arga dan Zuraida yang masih melangkah berirama sambil berpelukan

Sementara disisi lain kolam, Mang Oyik dan Kontet yang kini menjadi operator musik dan lampu, cuma bisa manahan konak. Nafsu kedua jongos itu semakin menderu saat menyaksikan Aryanti yang kini duduk mengangkangi Dako yang asik menyusu dikedua payudaranya.

Berkali-kali jari lentiknya memasukkan kembali payudara kebalik mini dressnya, berkali-kali pula tangan Dako menarik keluar seolah sengaja ingin memamerkan sepasang buah ranum itu kepada Mang Oyik dan Kontet.

Akhirnya Aryanti pasrah, membiarkan payudaranya menggantung diluar, menjadi santapan bibir dan lidah Dako. Menjadi santapan nafsu liar kedua jongos yang hanya bisa menatap sambil mengusapi selangkangan.

Birahi telah menguasainya, dicumbui tatapan liar yang semakin membuat tubuhnya semakin terbakar sensasi eksibionis. Wanita cantik itu balas menggoda
Menggesek-gesek batang Dako diselangkangan yang masih terbalut celana dalam yang juga berwarna merah

Sepertinya kedua pasangan itu tidak ingin terburu-buru, menikmati setiap kenakalan yang dilakukan oleh pasangannya. Menikmati segala cumbu nafsu yang menyapa.

“Mang,,, Mang Oyik,,, tu ada yang nganggur Mang,,,” seru Kontet mengagetkan konsentrasi Mang Oyik. Keduanya menatap Andini yang sudah mulai mabuk, mengamati persetubuhan pacuan birahi suaminya.

“Samperin yuk,,, kali aja kita dikasih nenen sama tu cewek,,, sepertinya lagi mabuk, Mang,,”

“Eittsss,,, itu jatah ku,,, kamu tungguin lampu ama sound system, lagian idolamu lagi show tuh,,, kali aja ntar kamu ditawarin ikut nyoblos memeknya,,,” ucap Mang Oyik, lalu meninggalkan Kontet yang ingin protes.

* * *

yessy ecii jilboob (11)
“Argaaa,,, Gaaa,,, kau membuatku basah sayang,,,” rintih Zuraida, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zuraida masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Arga mengusapi vaginanya. Puting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Arga.

“Argaa,,, Aku ngga tahan, sayaang,,,” mata indahnya menatap Arga, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ketempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang tengah diidamkan oleh vagina mungilnya.

“Jangaaann,, cukup seperti ini ya sayang,,,” jawab Arga, mengangetkan Zuraida.

Berbagai pertanyaan berseliweran diotak dokter cantik itu, Apakah Arga tidak mencintainya lagi?,,, Apakah Arga sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi?,,,

Zuraida termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedada si lelaki, nafsu yang bergemuruh dengan cepat sirna, kerisauan hati lah yang kini meraja. Bertanya-tanya, Ada apa dengan cintanya.

“Sayaang,,, Tidak usah berfikir macam-macam, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik buat kita,,,” ucap Arga, hatinya pun sedih tidak bisa memenuhi keinginan wanita yang begitu dikasihi. “Maaf,,,”

Zuraida tidak menjawab, memejamkan matanya, waktu mereka tak banyak. Tak ingin menghabiskan dengan perdebatan. “Argaa,,, hikss,,,” wanita itu kembali terisak dipelukan si lelaki.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Prabu, mengagetkan Zuraida dan Arga yang masih berpelukan erat….

ZURAIDA PART 5

yessi ecii - jilbab bahenol (5)
zuraida
“Mang,, tempat gamenya pindah ya?,, kemana?,,” tanya Aida, berjalan beriringan dengan Arga.
“Iya buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem,,,” Mang oyik tampak kerepotan membawa beberapa balon yang tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Di depan Mang Oyik tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu menggelendot manja di lengan Pak Prabu. Tertawa menanggapi banyolan yang dilontarkan oleh Dako dan yang lainnya.
“Buuu,,, tolong tangkepin tu balon Buu,,,” tiba-tiba Mang Oyik yang berusaha secepatnya tiba di tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
“Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,,” goda Arga.
“Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,”
“Hahahaaa,, masa tadi ga dikeluarin dulu sih,,”
“Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriak-teriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Gaa,,, banyak banget,,”
“Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,”
Apa yang diucapkan Arga ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya terasa geli.
“Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam sih,,,” Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Arga, berharap dapat membantu agar jalannya bisa sedikit lebih normal.
“Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,”
Arga mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau. “Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,”
Tanpa disadari Arga, beberapa langkah di belakangnya, Zuraida menatap dirinya dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena dihantui rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
“All is well,,,” gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombang-ambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
“Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,”
“Eeehh,,, Mas Adit, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,,” Zuraida kaget mendengar sapaan Adit.Arga yang mendengar suara Zuraida dan Adit menoleh ke belakang.
“Zee,,” sapa Arga ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zuraida membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Arga, lalu kembali menoleh kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
“Hati plong?,,,Maksud ibu?,,” Adit kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“yaaa plong aja,, hehehee,,,” Zuraida tersenyum, melangkahkan kaki dengan santai. Ternyata senyum Arga juga mampu memberikan ketenangan yang sama pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diam-diam Adit yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan natural seorang Zuraida. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang mencolok.  Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan bentuk puting yang samar terlihat.
“Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,”
Zuraida bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Adit, tapi dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar.  Di benak Zuraida, Adit, seperti hal nya Mang Oyik yang terkagum-kagum pada tubuh indahnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum. Sementara Adit yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zuraida, yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu, berkali-kali menelan ludah. Sambil mengerem langkahnya, lagi-lagi Adit harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan padat.
“Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,,” tiba-tiba Adit nyeletuk.
“Maksudnya?,,,” kini giliran Zuraida yang balik bertanya.
“Hehehee,, tuh ngalir sampai ke paha ibu,,,” Adit tertawa, matanya tertuju pada tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!!… Wajah Zuraida pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
“Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,,” Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Adit memandang dengan tak percaya.
“Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,,” dengan terpaksa Zuraida menjilat cairan itu dengan lidahnya, “Mauuu?,,”
“Gilaaa,, aku menjilat sperma Pak Prabu,,,” Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Adit.
“Owwhh,, ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu yang nempel tuh,,” jawab Adit sambil menunjuk beberapa tetesan sperma yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zuraida tak mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.

“Uuuugghhhh,,, Pak Prabuuuu,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,,” ingin sekali wanita itu berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran. “Uuuhhhggg,,,” lagi-lagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya, ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Arga berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
“Kamu baik-baik aja kan Zee,,,”
“Ehhh,, iya,, gapapa koq,,,” Zuraida tersenyum kecut menjawab pertanyaan Arga.
“Cepet dikit Ga,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama Zuraida,,” Pinta Aida lalu menggamit tangan Arga untuk melangkah lebih cepat.
“Sini mba,, biar aku bersihkan,” tawar Adit. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
“Eeehh,, ga usah Dit, aku bisa sendiri.”
“Ststsss,, udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zuraida berisik, ntar Arga sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,”
“Diiitt,,, ga usaaahh,,,”
“Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apa-apa,,”
Zuraida menutup mulutnya, apa yang dilakukan Adit sebenarnya sangat lancang. Mengusap-usap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Adit untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya selalu tertutup kain. Tapi Arga yang berjalan beberapa langkah di depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
“Uuugghh,, Adiiit,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diiit!!! jangan nakaaaal,,” Dengus Zuraida, berusaha menepis tangan Adit yang awalnya mengusap, tiba-tiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
“Bener-bener pemuda yang nakal,,,” gumam Zuraida, yang menoleh memperhatikan wajah Adit yang tersenyum-senyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan pemuda itu bergerak meremas, Zuraida dapat melihat gelora nafsu yang tertahan.
“Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,” Zuraida mulai mengaggumi wajah Adit yang cukup ganteng, seperti artis korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acak-acakan.
“Sudah belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Dit,,,” mata Zuraida menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
“Bentar mba,,, susunya lengket banget,,”
“Egghhh iyaa,, tapi cepet,,” langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah jari-jari Adit yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya. Matanya nanar mengawasi ke depan.

“Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,”
“Ststssss,,, jangan berisik Dit,,,” jemari lentiknya mencengkram pegelangan Adit, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
“Mbaa,, yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,,” telapak tangan Adit mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan mereka bertemu, bila Zuraida menahan birahi yang tersulut dengan wajah yang memerah, wajah Adit justru menunjukkan hasrat yang begitu besar, berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita cantik itu.
“Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,”
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, mengomando tangan Adit dengan cepat.
“Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,”
“Gemeeesss,,, kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,” Zuraida kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu bernafsu mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah liang senggama yang berbentuk vertikal.
“Ya samaaa,,, punya Andini dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zuraida yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,”
BUUGGG…kata-kata Adit menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa penasaran yang tercipta.
“Sudaaahh Diiit,,, cukup,,, Aaagghhh,,, kamu mau ngapaiiinn,,” tubuh Zuraida telonjak, kakinya menjingkit, saat dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Adit dengan cepat menyelusup di sela celana legginsnya.
“Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Adit ngga mau mba malu diliat Arga sama Bu Sofie,”
“Uuugghh,,, pinter bener ni bocah manfaatin situasi,,” Hati Zuraida menggumam kesal, kondisi dan situasi memang sangat mendukung Adit untuk mengintimidasi Zuraida.
“Oooowwhhh,, Diiitt,, jangan Diiit,, pliss,,” wanita itu menatap Adit dengan wajah menghiba.
“Mbaaa,, maaf mba,, kalo saya meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,”
Adit memelas, berharap Zuraida mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan, “maaf banget mbaa,,, cuma saat-saat seperti ini saya bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zuraida,, pliss,,,”
“Diittt,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,”

Tapi tangan Adit terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zuraida.
“Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Adit rela koq kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,”
Zuraida membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Arga yang dapat kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Adit tengah mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu membuatnya tersipu.
“Diiit,, jangaaann,, kesituuu,,plisss,,,” wanita berjilbab itu menggelengkan kepala saat jarii-jari Adit berusaha menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah memohon.
“Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep banget ama selangkangan kuuu,,” pertahanan hati Zuraida mulai goyah, cengkramannya mengendur.
“Owwwhhh,, Diiit,,” Zuraida terus menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan, tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jari-jari seorang lelaki yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali bagaimana jari-jari Adit berformasi. 1 jari Adit, jari telunjuk, menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zuraida gemetar menahan rangsangan.
“Oooowwwhh,, Argaaa,, Plisss,, jangan liat ke belakaaaang,,” Jantung Zuraida berdebar, seseorang yang sangat berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke belakang.
“Owwwgghhhh,,, Adiiittt,,, punya mba diapaaaiiinn,,,” tubuh wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Adit, jari manis yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu mengenakan penutup kepala itu, menerima pesan-pesan birahi, yang bergerak liar. Tangan Zuraida tak lagi mencengkram lengan Adit, tapi justru berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jari-jari Adit. Matanya bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan oleh yang lain.
“Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,,” pantat Zuraida bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Adit.
“Seperti inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari rombongan. Dan gilanya Zuraida justru berharap tempat yang mereka tuju masih jauh.
“Diiitt,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,, Uuugghh,,,” Zuraida harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Adit berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat, gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
“Oooowwwhhhsss,, Diiittt,,, tarriikkk tangaaaanmuuu,, aduuuuhh,,” paha Zuraida menjepit tangan Adit dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.

“Suddaaaah,, Ditt,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,,” wajah Zuraida memerah. Mengamati tangan Adit yang keluar dari legginsnya dalam kondisi basah oleh cairan.
“Gilaaa,, ini benar-benar gila,” tubuh Zuraida membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengaduk-aduk liang kemaluannya.
“Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,,” Adit menunjuk pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremas-remas batang di balik celananya.
“Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,,” mata Zuraida tertuju pada batang Adit yang tegak mengacung ke depan, mengarah tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Adit, sebuah penyelesaian dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita itu tengah mengira-ngira seperti apakah bentuk dari batang Adit.
“Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,”
“Tidaaak Ditt,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,”
“Plisss mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Adit Mbaaa,,” Adit menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok kekiri.

Deeeg…
“Diiiit,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,”
Zuraida kaget plus bingung, seperti halnya Aryanti ketika pertama kali melihat batang Adit saat memberikan servis kilat bersama Sintya.
“Gaa taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Aryanti aja juga suka koq,”
“Aryanti??,,,” Zuraida melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Adit bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi seingatnya, Aryanti dulu memang seorang gadis yang supel, tapi selalu menjaga sopan santun.
“Malah Mba Aryanti udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,”
“Aryanti,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,,” jantung Zuraida kembali berdetak tak teratur.
Batinnya bertanya-tanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi. Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah.  Zuraida yang tengah mengenali dunia barunya, dunia ekhibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan dan kealimannya, kini mulai tergoda. Kebimbangannya meraja, sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Aryanti, memasukkan batang milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, menatap Arga dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya, lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Adit.
“Ugghhh,,, haruskah aku mengangguk menerima tawaran Adit untuk disetubuhi, tapi bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Prabu, setelah Arga,, yaaa,, setelah Arga,,” batin Zuraida berkecamuk hebat.
Sesaat Zuraida menatap Adit, wajah putih dengan style remaja korea. “Diiitt,,, Engghhh,,,” kata-kata Zuraida terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.

“Zeee,,, kamu baik-baik ajakan?,,,” terdengar teriakan lantang dari Arga, yang bergegas menghampirinya.
“Kamu baik-baik ajakan?,,,” terlihat wajah cemas Arga yang tak dapat disembunyikan saat mendapati tubuh Zuraida membungkuk, tampak lemas dan gemetar.
“Dit,, kamu apain Zee ku?,,,” suara Arga pelan tapi menebar ancaman tersembunyi pada Adit. Membuat pemuda itu mulai ketakutan, tak pernah dirinya melihat Arga seemosi itu.
Apalagi saat Arga mendapati batang Adit yang menyembul dari balik celana, sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zuraida justru termenung,
“Zee ku,,,” bibir tipis wanita itu mengulang apa yang tadi dikatakan Arga, kata-kata yang mengungkapkan perasaan Arga yang masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika, tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“Argaa,, aku ngga apa-apa koq,,, Adit cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa kakiku keram, mungkin terlalu capek,,” Zuraida berusaha menenangkan Arga.
“Ya udaahh,, kau jalan duluan sana,,” Arga menyuruh Adit dengan suara datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Adit yang mengeras, Arga mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan Zuraida.
“Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,,” ucap Adit, lalu meninggalkan keduanya.
“Gaa,, ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,,” Zuraida bisa membaca curiga dari wajah Arga. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak, tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
“Iya aku percaya koq, kamu adalah Zuraida,,,karena itu aku selalu percaya, justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini biar aku gendong,,”
Meski hati Arga ketar-ketir tak berani untuk menduga-duga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan hatinya.
“Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,,” tapi Arga tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zuraida.
“Aaakkhh,,,” Zuraida terpekik, tertawa, “Gaa jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin turun di pelaminan,,, hihihii,,,”
Arga yang sudah hendak melangkah terhenti, “Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,,” lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zuraida menyebut kata-kata pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.

“Ayoo,, aku gendong dibelakang aja yuk,,,” Arga menebar senyum, mencairkan suasana. Membungkukkan tubuhnya agar Zuraida bisa naik ke atas punggungnya.
“Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,,” Arga tertawa menggoda Zuraida.
“Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,”
“Apalagi apa?,,,”
“Eeengghh,,,Apalagi punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,,” Zuraida merasa malu, karena sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung Arga.
“Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi kemaren waktu aku emut-emut gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,”
“Iiiihh,, tu kan,, seneng banget ngeledekin,,” Zuraida mencubit lengan Arga. Teringat saat Arga mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
“Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,”
“Nggaa,, nggaa koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,”
“Oowwhhh,,, ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,,” Arga memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zuraida sambil tersenyum. Dimata Zuraida senyum itu sangat manis.
“Gaa,, ni aku kasih mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,,” Zuraida tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
“Waahhh,, lagi dong,, lagii,,”
“Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh kemaruk,,hahaha,,,”
Entah kenapa hati Zuraida serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya.
“Argaaa,,, maafin aku ya,,,” ucap Zuraida mempererat pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Arga. Hati kecilnya berharap, dapat terus memeluk Arga, bukan hanya saat ini, tapi selamanya.
“Maaf untuk apa?,,,”
“Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,,” bibir tipis Zuraida terdiam.
“Kenapa tadi?,,,”
“Tadii,, aku udah nakal,, nakal banget,,,” Ada rasa sesal dihati Zuraida, telah mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja dirasakannya.

“Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,”
“Gaaa,,,hikss,,” Zuraida tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang diberikan oleh Arga untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha tetap tersenyum untuk dirinya.
“Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,”
“Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,,” Zuraida segera mengusap air matanya.
“Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,”
Zuraida bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
“Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zee,,,”
“Nggaaa,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,”
Meski Arga tak dapat melihat wajah Zuraida yang tersipu malu setelah mengatakan itu, tapi Arga tau tidak mudah bagi Zuraida untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,”
Zuraida tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Arga tau wanita cantik itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya, “Kapanpun Arga mau,,”
Lalu lengannya memeluk pundak Arga semakin erat, merasakan bagaimana dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh lelaki itu.
“Gaaa,,, Zuraida kenapa?,,,” Aryanti menghampiri Arga dengan cemas.
Mengagetkan Zuraida yang tengah terbuai digendongan. “Koq Arga ga bilang sih kao udah nyampe,” hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
“Aku ngga apa-apa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,”
Arga menurunkan tubuh Zuraida diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
“Bener ngga apa-apa?,,,” tanya Aryanti, lalu memijat kaki Zuraida pelan.
“Iya ga apa-apa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,,” Aryanti tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
“Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Mendengar pertanyaan Aryanti itu, Zuraida sedikit kaget, apakah wanita di depannya ini memang sudah mengetahui hubungan tersenyum antara dirinya dan Arga. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin dibicarakan untuk sekedar berbasa-basi, entah kenapa kedua wanita yang sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok Arga yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat sibuk meniup balon.
“aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,”
“Eeehh,, maksudmu?,,,” Zuraida mulai was-was, mungkinkah Aryanti akan menanyakan langsung tentang sejau mana hubungannya dengan Arga, dan membongkarnya dihadapan umum.
Tapi Aryanti justru tersenyum, “Jujur,, aku tau Arga suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada hatinya,” Aryanti menghela nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat kaki Zuraida.
“Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Arga bercanda hatiku terasa sakit,,,” Aryanti tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk disamping Zuraida, memeluk pundak sahabatnya. “Tapi kurasa itu tidak lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu nakal, dan lagi-lagi Arga bisa memaklumi itu,”
“Yan,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Arga, dan aku,,,”
“Hahahaa,, udah jangan dipikirin,, suamimu Dako udah cerita koq,,, dan aku tidak keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,”
DEGG,,, Zuraida keget dengan jawaban Aryanti.
“Yan,,, maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,,” Zuraida merasa bersalah pada sahabatnya itu.
“Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,”
“Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Yan,,,”
“Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,”
“Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,,” Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
“Permainan kali ini sangat mudah, tetap berpasang-pasangan, dan penentuan pasangan masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila aku yang menentukan pasangan kalian dengan bola-bola ini?,”
Para lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie yang memang terlihat begitu berkuasa. Dako akhirnya senyum sumringah kembali menghias bibir para lelaki. Munaf yang kali ini mendapatkan Andini dengan cepat merasakan batangnya mengeras, meski tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Prabu dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan malu-malu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Adit tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada dengan pita milik Sintya. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya. Dako tertawa girang, mengusap-usap batang dibalik celana saat tau partnernya kali ini adalah Aryanti. Dan tingkah Dako itu membuat Aryanti tertawa tergelak.
“Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,”
Tapi di antara mereka Zuraida dan Arga lah yang paling merasa senang, wanita itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola warna hijau.
“Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut saya,,, Mang Oyik,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,,” Bu Sofie meminta penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi, untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat naik kendaraan roda dua.

“Kita mau ngapain Bu?,,,” tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri. “Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,”
“Ooowwhh,,, ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,, heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,,” tanya Andini ikut penasaran.
“Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku menghampiri kalian satu persatu,,” teriak Bu Sofie saat para wanita satu persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki Zuraida. Di dalam, Zuraida yang tengah melepas celana legginsnya sempat terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya. “Zuraida, lepas celana dalam mu juga ya,,”
“Hehh,,, maksud ibu?,,,”
“Pokoknya lepas aja,,,” ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zuraida masih tampak bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang kemaluannya dari batang ganas Pak Prabu.
“Ayolaaahh,, lepas aja,,, aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah berusaha memasangkan dirimu dengan Arga, meski suamiku sempat ngotot untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,”
“Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,,” Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zuraida.
“Aku merasa kalian sangat serasi, jadi tolong jangan sia-siakan kesempatan ini,, ok?,,, aku harus ke bilik yang lain,,” Bu Sofie membuka pintu hendak melangkah keluar.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan. “Inget ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya mu emang lebih cocok buat Arga, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga pengen nyicipin,,,hihihi,,,”
“Ada apa ini sebenarnya,,,” Zuraida tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi, darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya adalah milik suaminya, Pak Prabu.
Di bilik sebelah, bu Sofie kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan oleh wanita itu. Zuraida keluar dari bilik, disusul para istri lainnya. Mata mereka saling pandang, masing-masing tau dibalik kain yang mereka kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua membisu, cukup saling tau dengan kondisi masing-masing, dengan jantung berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang menuju arena permainan.
“Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,”
“Maksud ibu gendong didepan?,,” tanya Aryanti ragu-ragu.
“Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,”
Bu Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher Mang Oyik, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Oyik dengan cueknya.
“Sudah paham?,,,”
Para suami mengangguk cepat sambil tertawa, sementara para istri menayangkan wajah pucat, memaksakan untuk menganggukkan kepala mereka.

“Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku pinjam suami ibu dulu,,” ucap Andini, dirinya bisa merasakan permainan ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
“Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hati-hati ya, jangan sampai jatuh,” jawab Aida ragu-ragu, berusaha mengajak bercanda.
“Ayolaaahh,,, nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi siapapun yang menang dari kalian,” Rupanya Bu Sofie gregetan dengan tingkah para istri yang malu-malu seperti kucing, yang berusaha menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
“Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,”
Bu Sofie memberi aba-aba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,, jantung Zuraida tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang Arga, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.  Dengan cepat Zuraida menoleh ke Aryanti, rupanya sahabatnya itu juga tengah kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu sia-sia.
“Zee,,, daleman kamu mana?,,” bisik Arga saat menyadari wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan sehelain kain pun.
“Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,,” Zuraida pucat, entah kenapa dirinya takut bila Arga marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zuraida, wajah Arga tampak sedikit emosi, “Gila,,, bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan kemaluan terbuka seperti ini?,,,” suara Arga meninggi.
“Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,”
“Tunggu,,tunggu,,,apa Aryanti dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,”
Zuraida mengangguk pelan, tak berani menatap Arga. Keributan tidak hanya terjadi pada Arga dan Zuraida, tapi juga pasangan lainnya. Munaf yang merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Andini untuk memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Andini. Alasan Munaf, bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu Adit, gadis itu menggeleng tegas.
“Ayolah Din,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,”
“Jangaan,, ada mas Adit, ntar dia marah,,” Munaf tertawa mendengar jawaban Andini, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Adit.
Sementara di samping mereka Adit berusaha menyembunyikan hasratnya untuk menusuk vagina Sintya. Adit menahan bukan karena tak ingin, tapi karena memikirkan kondisi vagina Andini yang pastinya kini tengah mengangkangi batang Munaf. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan tangan Munaf yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat keluar.

Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak Prabu yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan cepat menggoda vagina Aida dengan gesekan-gesekan lembut. Aida kini merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Prabu adalah batang terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
“Koq sudah basah banget Bu?,,,” tanya Pak Prabu, kedua tangannya memeluk pantat Aida, selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan batangnya yang bergerak menggoda.
“Okey,,, sudah siap?,,, perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,”
“Siaaap,,, tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,, haahhhaha,,,” Munaf tertawa, sambil menepuk-nepuk pantat Andini, dan ulahnya itu membuat Adit meradang.
“Diiitt,,, jangan pikirkan istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,,” ucap Sintya, membisiki telinga Adit dengan cara yang sangat menggoda.
Adit tertawa, matanya beralih ke payudara Sintya yang kini berada di depannya. “Ayolah buat game ini semakin panas,,,”
Kini giliran Sintya yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Adit. “Liat saja nanti,,” bisik Sintya tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Prabu yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
“1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo…” Bu Sofie berteriak memberi aba-aba penuh semangat.
Kaki para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Adit menghentak batangnya ke liang kemaluan Sintya, tepat saat aba-aba Goo berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Prabu yang memaksa Aida untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang vaginanya yang sudah sangat basah.
“Ooowwgghhhh,, Paaakk,,,” Aida melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Prabu setengah berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
“Ugghhh,, apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah bener,,,” Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Arga dan Zuraida yang berlari sangat pelan.
Tubuh Zuraida tampak sesekali menggeliat saat batang Arga yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
“Gaaa,,, aku ga kuaaat kalo seperti iniii,,” Zuraida merintih pilu di telinga Arga, berusaha bertahan, sudah berkali-kali tubuhnya menerima rangsangan hebat, dari pak Prabu dan Munaf.

Sementara Aryanti yang berada tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi, tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Dako yang berusaha menyelusup masuk.
“Masss,,,” bibir Aryanti terbuka, seolah meminta izin untuk menerima batang milik Dako kedalam tubuhnya. Sangat sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Arga, istrinya justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di hati lelaki itu. Mungkinkah Dako sudah berhasil menyetubuhi istrinya. Tapi diamnya Arga, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
“Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,”
Tubuh Arga menggigil, saat Aryanti menutup mata, tubuh nya beringsut turun, menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Dako yang tegak mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit. Arga dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan, ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena gerakan Dako yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata Aryanti terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang tengah dirasakan oleh vaginanya.
“Dakooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Argaaaa, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,,” pinggul Aryanti bergerak semakin cepat.
“Apa kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas menikmati batangku,,” tanya Dako yang mulai kewalahan, menyetubuhi wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang mudah.
“Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benar-benar menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dakooo,,, aku merasa batangmu semakin besar di vaginakuuu,,,” Aryanti tidak lagi bergerak naik turun, tapi pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
“ooo,,, aku keluaaaarrr,,,” bibir Aryanti terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Dako.
“Ooowwhhhhsss,, Kooo,, batangmu keras bangeeett,,, meqi ku mpe klengeeerrrsss,,,” Aryanti seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi rangsangan tersendiri baginya.
“Yaaan aku juga mau keluaaarr,, terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,,” Dako mulai kewalahan, langkahnya tak lagi teratur.
“Zeee,,,, mereka sudah melakukaannyaaa,,,” ucap Arga pada Zuraida yang tengah terengah-engah merasakan gesekan batang Arga yang masih terbalut celana.
Tiba-tiba langkah Dako terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Aryanti, menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Aryanti tak kalah liarnya, berusaha menekan batang Dako jauh ke dalam kemaluannya, pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.

“Maaasss Dakooo,,” seru Zuraida pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat itu jualah sperma Dako menghambur, memenuhi rahim Aryanti yang juga tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat rintihan Aryanti tak lepas dari tatapan Arga yang langkahnya sempat terhenti tepat di samping mereka. Arga tau vagina istrinya tengah menerima transfer sperma milik Dako, sebanyak apapun cairan yang keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
“Gaaa,,,” wajah Zuraida yang terkejut dengan aksi Dako dan Aryanti kini menatap Arga, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang baru saja diterima Aryanti.
Ingin sekali Zuraida berteriak bahwa vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Arga menyusur ke bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zuraida, bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Arga.
Arga dan Zuraida saling tatap, “Zee,,, bolehhh?,,,” tanya Arga terengah-engah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zuraida mengangguk, meski dirinya selalu berharap Arga menyetubuhinya dalam suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benar-benar memaksa tubuhnya untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie. Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zuraida menurunkan pantat mulusnya. Bibir vaginanya mencari-cari ujung dari batang milik Arga.
“Gaaa,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,,” kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Arga bener-bener gemas.
Tapi bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka lebar, akan dengan mudah menerima batang Arga, itu adalah salah. Vagina Zuraida yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Arga.
“Kegedeaaann,, ga bisa masuuuk,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, tapi pinggulnya terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah penetrasi darurat.
“Gaaa,,, ayooo dong,, jangan malah diketawain,,,” dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin disetubuhi seperti saat ini.
“Wooyyy,,, Argaaa,, perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,,” seru Bu Sofie, mengagetkan Arga dan Zuraida, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata Zuraida kembali mengawasi suaminya Dako, yang masih berada di belakang mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Aryanti untuk menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya berpegangan erat di leher Pak Prabu. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah menerima setiap hujaman batang besar Pak Prabu. Lain lagi halnya dengan Adit dan Munaf yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas terlihat. Munaf begitu puas bisa mempencundangi Adit dengan memberikan orgasme pada istrinya Andini yang tidak berkutik di hadapan suaminya. Sementara bagi Adit sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya masih lebih hebat dengan menghantar Sintya pada orgasme yang sangat liar.
“Gaaa,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,”
Zuraida kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang Arga dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan yang lebih jauh.

“Zeee,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,”
Zuraida bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya, “Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,”
Arga tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat ke vagina Zuraida. Menyunul-nyunul pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita cantik itu.
“Gaaa,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,”
Mulut Zuraida terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Arga perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
“Aku tau kamu tadi masih ragu,” ucap Arga disela nafas Zuraida yang tercekat.
Kini tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
“Gaaa,, seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,,” vaginanya masih berusaha memasukkan batang Arga lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
“Gaaa,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,,” pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari-cari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Arga seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahun-tahun menjadi fantasi liar nya.
“Zeee,,, aku entot yaaa,,,”
Mata Zuraida terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka bertemu.
“Gaaa,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,”
Mata Zuraida nanar menatap batang Arga yang bergerak cepat keluar masuk lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil mengobok-obok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk kesetiaan.
“Argaaa,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh gaaa,, aku pipisss,,,Aaaggghhh,,,” Kaki Zuraida berusaha memiting pinggul Arga, memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat liar.
“Zeee,,, kau memaaang indaaahh,, Zee,,,” batang penis Arga serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh kenikmatan.
“Argaa,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Gaaa,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Gaaa,,,”
Mendengar kata-kata Zuraida, Arga justru semakin bernafsu, mencengkram erat pantat Zuraida, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam, merasakan empotan vagina Zuraida yang masih dilanda orgasme. Sia-sia bagi Zuraida berusaha melepas batang Arga dari vaginanya, karena saat ini kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
“Zeee,, aku keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaaang,,,oowgghhhh,,,” batang Arga berkedut, lalu menghambur bermili-mili sperma, menghentak dinding rahim Zuraida dengan deras.

“Ooowwhhhh,, Argaaa,,,keluarkaaan sayaaaaang,,, keluar semuaaa dirahimkuuu,,,” Zuraida menatap wajah Arga yang orgasme dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali menjepit pinggul Arga, memaksa otot vaginanya memijat batang Arga, seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
“Gaa,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,,” bisik Zuraida.
Whoooo,,, Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,,tepuk tangan dan sorak terdengar riuh, mengagetkan Arga dan Zuraida. Tanpa mereka sadari semua mata menatap ke arah mereka. Wajah Zuraida memerah seperti udang rebus, turun dari tubuh Arga dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
“Duduk dulu sayaaang,, kau terlihat sangat kelelahan,,” sambut Aryanti, wajahnya tersenyum menahan tawa.
“Maaf yaaan,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilang-bilang,,,”
“Ststsss,, udah jangan ributin itu,,,” jawab Aryanti, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zuraida yang hampir terlepas.
“Hey,, Pak Prabu, ngapain ngintip-ngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,” Aryanti mengusir Pak Prabu yang berusaha mengintip selangkangan Zuraida. Tampak sperma milik Arga perlahan mengalir keluar dari celah sempit itu.
“Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Ga,,,” seru Munaf, sambil terus bertepuk tangan.
“Asseeeem,,, sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Naf,,, lombanya siapa yang menang,,,” Arga berusaha mengalihkan obrolan.
“ngga ada yang menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua tuh,,,hahaahaa,,,” seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
“Okeeey,,, masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan.” Pak Prabu kembali mengambil alih komando.
“Ada beberapa kabar, entah ini baik atau buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,”
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Prabu.

MIA 7

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (4)
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (3)

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (2)
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

yessy purnamasari - jilbab memek seret (1)

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David

yessi eci - jilbab semok (6)
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”

yessi eci - jilbab semok (2)
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

yessi eci - jilbab semok (4)

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.

MIA 5

Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) J.

yessy eci - hijabers mom community (3)

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster, no bra dan no cd) dan memakai jilbab, sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku).

Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.
“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Fachri!” katanya tegas.
“Mmh.. Tino.”
Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”
“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.
“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.
“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.
“Belum!”
“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”
“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..
“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.
Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah memekku sambil mengelus dan menggosok memekku. Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

yessy eci - hijabers mom community (5)

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku. Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino.
Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku memakai jilbab putih, kemeja tangan panjang dan rok lebar semata kaki. Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon. Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan memberitahu Fachri dan ibu bahwa Tino menyuruhku segera pulang. Aku dan Fachri segera berpakaian lalu aku pulang menggunakan taksi agar Tino tidak curiga.

Keesokan harinya, Fachri menelfonku, katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia hrs melayani istrinya yang minta ML J. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh…. Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

yessi eci - jilbab semok (5)

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.

Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”
RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”
“Iya Mas, nggak papa!”
“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi apalagi memakai jilbab…” kata Mas Pras memujiku.
“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.
“Kamu bercanda apa serius nih?”
“Serius!!!”
“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.
“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”
“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”
“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”
“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”
“Kapan?”
“Mmmhh… maunya kapan?”
“Nanti malem aja!”
“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.
“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”
“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.
“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.
“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.
“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

yessy eci - toge jilbab montok (4)

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Mami…”
Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.
“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”
“Mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.
“Iya Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”
“Iya Om….”
“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.
“Aku laper… mau makan…”
“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”
Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.
“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”
“Iya…!!”
“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.
Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam kontolnya itu.
“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala kontol besar yang setengah bangun itu ke arah memekku yang ada dibalik g-stringku yang masih tersembunyi di balik rok panjangku yang sudah terangkat bagian depannya.
“Mi…” kata Mas Pras, “buka dong cd mu!”
Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.
“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.
“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua pakain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai daster tanpa lengan. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny. Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny. Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.
“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.
“Buat Mas!” jawabku singkat.
Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah memekku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam kontol yang setengah bangun itu. Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. Kontolnya menegang dengan cepat sekali.
“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”
Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. Kontolnya mulai memasuki liang memekku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali. Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam memekku.
“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.
“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.
Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)

Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras. Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak memek adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam memekku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.
“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”
“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

yessi eci - horny jilbaber montok (2)

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.
“Mi,… ML dong!” katanya.
“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”
“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”
“Aku kocokin aja ya….”
“Ya udah deh… nggak papa!”
Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok kontol suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi memekku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana kontolnya gede banget!” J

*****

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku hanya pakai daster dan jilbab.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.
“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.
“Kok Tante pentil teteknya kelihatan?” tanya Haikal, anak Fachri.
“Tante lagi lagi malas pakai daleman Ikal…” jawabku sambil menunjukkan menunjuk tetekku ke arahnya.
Sambil meremas tetekku, Fachri berkata, “Tante mau ngentot ama papa ya!”
“iya….” Sahutku.

Sambil menggandeng tangan Fachri, Fachri mengajakku ke kamar mandi untuk menemaninya buang air kecil. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!
Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di kontolnya.
Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan  daster. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.

MIA 4

yessi eci - jilbab semok (1)

Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya. Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?
Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga J Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.
“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”
“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”
“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.
“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.
“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.
“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.
“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.
“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.
“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.
“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.
“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.
“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”
“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.
Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”
“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.
Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.
Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini J). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.
“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.

yessi eci - jilbab semok (5)
“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.
“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.
“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”
“Berapa lama di Manado, mas?”
“Kurang lebih 1 minggu….!”
Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)
“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.
“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”
“Mmh… nggak papa kan?”
“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”
“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”
“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”
“Siapa? Haikal apa aku?”
“Kamu!”
“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”
“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”
“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.
“Uuu… maunya!!”
“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”
“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.
“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”
“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”
“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”
“Tapi pake cd?”
“Ya… iyalah….”
“Mmmhh… gak usah deh…!”
“Terus aku bugil?”
“Iya!”
“Topless aja ya….”
“Mmmhhh…. Ok!”
“20 menit ya….!!!”
“OK!”
Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot kontol Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus memekku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…
“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”
“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”
“Sama Haikal?”
“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”

yessi eci - jilbab semok (4)
“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.
Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..
“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”
“Di pakai gimana?”
“Ya… memeknya mami mau dipakai sama kontolnya Om Fachri…”
“Oo… mau gituan dulu ya…”
“Gituan apa?”
“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.
“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab kontolnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”
“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”
“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”
“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”
“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”
“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, ngentot, ML…. pokoknya banyak deh…!”
Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi memek sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil mengenakan kimono mandi dan jilbab, aku membukakan pintu.
“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.
“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”
“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.
“Ooo… nggak mau nepatin janji?”
“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”
“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.
“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”
“Toketmu?”
“Iyalah…”
“Mau aku remes2!!!”
Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.
Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku dan jilbabku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.
“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.
“Bonus!” jawabku singkat.
“Bonus apa?” tanyanya lagi.
“Bonus karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”
“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”
“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”
“Lho? Terus kamunya?”
“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”
“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.
“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku pingin ngerasain kontol Arab!”
“Dasar kamu!!!!!”

yessi eci - jilbab semok (3)

Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… kontolnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap kontolnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.
Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.
“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”
“Gimana apanya?”
“Mereka disini ngeliatin kita.”
“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.
Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati kontol arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan kontolnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan memekku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan memekku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku. Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga memekku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku. Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi. Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan kontolnya kedalam memekku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam penisnya berdenyut dengan kencang sekali. Memekku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.
“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.
“Mmmhh… enak kan tapinya?”
“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”
“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”
“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot memekku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.
“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”
Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot memekku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan kontolnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.

“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.
“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”
Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.
Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja memekku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan kontolnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…
“Sumpah, Mi… memekmu enak bener!”
“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! Kontolmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”
Lalu Fachri kembali memasukkan kontol arabnya ke dalam memek lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat kontol Fachri kepada liang memekku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak. Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang memekku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.
“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.
Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar. Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam kontolnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang memekku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

yessi eci - jilbab semok (3)

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam memekku, Fachri mengeluarkan kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… kontol yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.
“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”
“Kenapa?” tanya Fanny.
“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”
“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.
“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, ngentot, ML…. tinggal pilih!
“Oo….! Berarti seharian kita ngentot nih?” tanya Fachri lagi.
“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”
“OK!”
“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.
“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.
“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”
“Ya sudah….”

Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan kontol Fachri dengan batangan imut milik Haikal.
“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.
“Soalnya supaya muat di memeknya mami!” Jawabku singkat.
“Tante…” kata Haikal, “memek apaan sih?”
Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus memekku, Fachri berkata…
“Ini yang namanya memek, Cal! Memeknya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium memeknya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”
Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan memekku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium memekku. Belum selesai Haikal menciumi memekku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat memekku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil! Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok kontol Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

yessi eci - jilbab semok (2)

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus memek mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian. Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan kontol kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok kontol kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat. Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus memekku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas kontolnya.
“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.
“Kenapa?”
“Bisa nyobain memekmu! Kamu?”
“Aku apalagi! Bisa nyobain kontol arab. Yang gede dan yang kecil”
Aku dan Fachri tertawa kecil.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.
“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”
“Yang enak yaa….”
“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.
“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…
“Kenapa?”
“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”
“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
“Kamu seneng banget ngentot ya?” tanyanya lagi.
“Mmhh… kalo iya kenapa?”
“Gak papa… Cuma heran aja!”
“Heran kenapa?”
“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”
“Iya… terus?”
“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”
“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”
“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak memek istrinya.”
“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”
“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

yessi eci - jilbab semok (1)

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya. Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati memek mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.
“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus memek anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya kontol!”
“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”
Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.
“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”
Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “kontolnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin kontolnya ayahmu ngacak-ngacak memeknya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.

ASMARANI

Lebih dari 15 menit berdiri, antrian di depanku masih panjang juga. Padahal aku hanya akan membeli tiket film yang kuyakin tak banyak orang akan membeli. Film berjudul panjang ‘What They Don’t Talk About When They Talk Bout Love’, tak seperti kebanyakan orang yang akan membeli tiket Iron Man 3. Bosan memperhatikan antrian, aku mengutak-atik smartphone-ku, mencari tahu ada berita apa di timeline Twitter. Samar terdengar percakapan di telepon dari pemuda di belakangku.

fatifa asmarani

“Iya, datang sendiri… dan jangan coba-coba lapor polisi!”

“…”

“Aku masih mau nonton film. Nanti malam saja. Jam sepuluh, bagaimana?”
“…”

“Hmm, begitu ya? Oke, di parkiran lantai delapan kalau gitu. Sebentar lagi aku ke sana. Ingat, jangan coba-coba menjebakku!” ujarnya setengah berbisik. Lirih.

Aku sempat menoleh untuk melihat seperti apa pemuda yang bercakap lirih itu. Rupanya seumuran denganku, berpenampilan necis dengan gaya rambut trendi. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya tampak gelisah. Sempat kucuri pandang saat dia beberapa kali melihat jam tangan.

Ketika antrian di depanku sudah menyusut dan aku tinggal sejengkal dari meja ticketing, tiba-tiba pemuda itu meninggalkan antrian. Batinku bergejolak, antara tetap di sini atau membuntutinya. Setelah antrian di depanku benar-benar habis, aku melangkah mantap meninggalkan bioskop dan mengikutinya menuju parkiran. Kupercepat langkahku menuju lantai delapan. Sampai di sana, aku menjelajahi sudut demi sudut, mencari di mana sosok dirinya. Ketika hampir putus asa, terdengar suara jeritan perempuan tak jauh dari tempatku berdiri. Segera aku berlari ke arah suara itu.

fatifa asmarani (2)

Di belakang sebuah van, kulihat seorang gadis sedang diancam oleh seorang pemuda. Pemuda yang tadi. Dan gadis itu adalah… Asmarani Setiana Dewi. Ya Tuhan, tidak mungkin. Aku menatap tak percaya. Tapi memang benar, gadis disana itu adalah Asmarani Setiana Dewi.

Dari tempatku mengintip, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun aku bisa menebak kalau si pemuda sedang mengancam Asmarani, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto dan menunjukkan pada Asmarani.

Asmarani melihatnya dan langsung terkesiap. Seperti tidak menyangka kalau akan melihat gambar-gambar itu. Tidak bisa kulihat foto apa itu, namun bisa kutebak kalau itu adalah foto-foto pribadi yang tidak seharusnya muncul ke publik.

Aku berjalan mendekat, ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini jarakku hanya dua mobil dari mereka.

iffa-jilbabsemok (1)

”Pram, apa-apaan ini?! Darimana barang ini kau dapatkan?” tanya Asmarani dengan suara tegang.

”Itu tidak penting.” jawab pemuda yang ternyata bernama Pram.

”Jangan kurang ajar ya, cepat serahkan padaku!” kata Asmarani ketus, jilbab lebarnya yang sebatas perut tampak melambai-lambai karena tertiup angin.

”Eh, tidak semudah itu. Ada syaratnya,” jawab Pram kalem, tahu kalau ia memegang kendali permainan ini.

”Kamu mau uang? Sebutkan berapa, aku bayar sekarang!” tantang Asmarani tak sabar.

”Oo… nggak, nggak. Aku tidak serendah itu. Uang tidak aku butuhkan, aku  cuma minta…” Pram tidak meneruskan perkataannya.

”Apa, cepat katakan!” kata Asmarani dengan ketus. Meski berusaha untuk tegar, namun perasan aneh mulai menjalari tubuh sintalnya disertai dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras. Dalam hati ia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Pram.

Pram maju selangkah dan tiba-tiba tangannya bergerak meremas payudara bulat milik Asmarani.

“Hei! Jangan kurang ajar ya!” bentak Asmarani sambil langsung menepis tangan itu dan mendorong tubuh Pram menjauh. “Bangsat… berani sekali kamu!!” Asmarani  menghardik dengan marah.

fatifa asmarani (1)

Pram tersenyum dan melambai-lambaikan setumpuk foto yang ada di tangannya. “Ayolah, aku tahu kamu bisa berpikir jernih. Coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini tersebar ke media. Gimana nanti tanggapan orang tentang kamu?!” kata Pram disusul gelak tawanya yang menjengkelkan.

Asmarani tertegun, pikirannya kalut. Tiada pilihan baginya selain mengikuti kemauan Pram. Kalau foto-foto itu sampai tersebar, imej-nya sebagai artis anggun yang berjilbab pasti akan hancur. Bahkan bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

Pram kembali mendekatinya dan meraba pundaknya, “Gimana? Aku yakin kamu bisa memilih mana yang terbaik.” katanya sambil membelai lembut jilbab Asmarani yang melambai.

iffa-jilbabsemok (2)

Kulihat Asmarani tampak masih berpikir-pikir. Namun setelah beberapa saat, ia  akhirnya mengangguk meski masih dengan berat hati. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Pram menyeringai penuh kemenangan.

“Hahaha… kamu memang pintar!” kata Pram dan tanpa sungkan-sungkan lagi langsung memeluk tubuh sintal Asmarani. Tangannya dengan gesit menggerayang untuk meremas-remas payudara Asmarani dari luar baju kurungnya. Tak cuma itu, Pram juga mulai menciumi Asmarani, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulut gadis cantik itu.

Asmarani tampak geli, jijik dan juga nikmat saat menerimanya. Semuanya bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahi yang entah berasal dari mana tiba-tiba saja mulai naik menyelubungi tubuh sintalnya.

Pram kini semakin berani dengan menyusupkan salah satu tangannya ke balik kaos lengan panjang yang dipakai oleh Asmarani. Tangan itu terus bergerak hingga sampai di atas gundukan payudara Asmarani. Pram berhenti disana dan mulai meremas-remasnya sebentar sebelum ia kembali menyusupkan tangan ke balik beha mungil Asmarani.

Tampak nafas Asmarani jadi semakin memburu ketika tangan Pram dengan begitu kasarnya mulai menggerayangi buah dadanya. Ditambah jari-jari Pram yang turut mempermainkan putingnya, maka makin lengkaplah penderitaan yang ia terima. Di atas, Pram juga terus aktif mempermainkan lidahnya, melumat habis bibir tipis Asmarani hingga air liurnya menetes-netes di pinggiran mulut.

”Ahh… j-jangan!” Asmarani melenguh, namun sama sekali tidak bisa menolak. Kini Pram sudah membuka resleting rok panjangnya sambil meraba-raba kulit pahanya yang putih jenjang. Satu-persatu kancing baju Asmarani juga dipreteli oleh laki-laki itu hingga nampaklah BH Asmarani yang berwarna merah muda, juga belahan dada dan perut Asmarani yang nampak mulus dan rata.

iffa-jilbabsemok (3)

Melihat semua itu, Pram terlihat semakin bernafsu. Dengan kasar ia menarik turun BH Asmarani hingga menyembullah payudara Asmarani yang montok dengan sepasang puting merah tua yang sangat mengggiurkan.

”Wow, ternyata lebih indah dari yang di foto!” kata Pram suka. Dibentangkannya lebar-lebar kedua kaki Asmarani, tangannya yang semula mengelus-elus paha Asmarani, kini mulai merambat naik ke selangkangan. Jari-jari besarnya dengan nakal menyelinap ke pinggiran celana dalam Asmarani dan mengelus lembut disana.

Asmarani terlihat muak dengan semua yang diterimanya, namun terlihat tidak berdaya untuk melawan. Matanya terpejam sementara dari mulutnya keluar desahan pasrah untuk yang terakhir kali, “Eeemhh… uhh… s-sudah… jangan… tolong hentikan… aku mohon!”

Namun Pram sama sekali tidak menghiraukan, dia malah merapatkan tubuh Asmarani pada bagian belakang mobil van. Yang tidak diketahui oleh Asmarani  adalah, Pram ternyata pintar membangkitkan nafsunya. Sapuan-sapuan lidah pemuda itu pada putingnya perlahan namun pasti mulai membuat Asmarani gelagapan. Yang terutama terlihat adalah puting Asmarani yang sekarang tampak semakin mengeras saja.

Tangan Pram juga mulai menyelinap ke balik celana dalam Asmarani untuk mengusap-usap permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat menggiurkan. Dari tempatku berdiri bisa kulihat betapa rimbun rambut keriting itu.

“Sshh… eemhh…” Asmarani mulai meracau saat jari-jari tangan Pram perlahan memasuki lubang vaginanya dan memainkan klistorisnya, sementara mulut pemuda itu tiada henti-henti mencumbu bulatan payudaranya. Mau atau tidak, diperlakukan terus seperti itu membuat Asmarani mulai terbawa nikmat.

“Hehehe… kamu mulai terangsang ya?” ejek Pram dekat telinga Asmarani.

iffa-jilbabsemok (4)

Sebelum Asmarani sempat untuk menjawab, tiba-tiba saja Pram dengan kasar menarik lepas celana dalamnya sehingga yang tersisa di tubuh Asmarani sekarang hanya baju lengan panjang dan jilbab lebar yang masih menutupi kepala dan rambutnya. Sedangkan BH-nya sudah terangkat, memperlihatkan sepasang payudara milik Asmarani yang begitu putih dan mulus.

Pram menunduk, dibentangkannya kedua paha Asmarani di depan wajahnya. Tanpa aba-aba, ia kemudian membenamkan wajah pada selangkangan Asmarani. Dengan penuh nafsu ia melahap dan menyedot-nyedot vagina Asmarani hingga menjadi begitu basah. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitoris gadis itu. Sesekali Pram juga mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anus Asmarani. Perlakuannya itu membuat tubuh Asmarani menggelinjang-gelinjang dengan diiringi oleh desahan nikmat.

iffa-jilbabsemok (11)

Tidak lama Pram melakukannya. Saat dirasa vagina sempit Asmarani sudah mulai basah, iapun berhenti. Ditariknya dua jari tangan yang sedari tadi mengorek-ngorek liang senggama dan diberikannya pada Asmarani, disuruhnya gadis itu untuk membersihkannya. Meski jijik, dengan terpaksa Asmarani melakukannya. Dijilatinya jari-jari Pram yang penuh belepotan oleh cairan cintanya.

“Nah, sekarang giliran kamu untuk merasakan kontolku!” kata Pram sambil mendorong tubuh Asmarani hingga jatuh ke lantai parkiran yang dingin. Disana, Asmarani meringkuk tanpa daya, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang terbuka disana-sini. Sambil menyeringai, Pram mulai melepaskan celana. Dalam waktu singkat, tampaklah oleh Asmarani kemaluan Pram yang sudah menegang sedari tadi. Ukurannya lumayan besar juga, dengan dihiasi bulu-bulu keriting yang mencuat tak beraturan disana-sini.

Pram kemudian maju ke wajah Asmarani dan menyodorkan penisnya. Asmarani tanpa perlu disuruh dua kali segera mengocok dan mengemut penis itu. Pada awalnya ia terlihat hampir muntah, namun Pram dengan gesit menahan kepala Asmarani hingga gadis itu tidak dapat melepaskan kulumannya.

iffa-jilbabsemok (5)

“Yah gitu… hisap yang kuat, jangan cuma dimasukin mulut aja!” dengus Pram sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulut Asmarani.

Aku yang melihat dari jauh jadi ikut terangsang juga. Kubayangkan seandainya penisku yang sedang dihisap oleh Asmarani disana, uh betapa nikmatnya. Sambil terus menonton, kukeluarkan penisku dari sela-sela restleting dan mulai mengocoknya pelan. Aku onani!

Selama 5 menit Asmarani mengkaraoke Pram sebelum pemuda itu mengakhirinya dengan menarik kepala Asmarani menjauh. Setelah itu dibaringkannya tubuh Asmarani di lantai dan membuka lebar-lebar kedua paha gadis itu. Pram lalu berlutut di antaranya. Asmarani terlihat memejamkan mata, tak sanggup menerima pemerkosaan atas dirinya.

iffa-jilbabsemok (10)

Sleebb…!!! Dengan lancar penis Pram meluncur masuk sampai tembus menyentuh rahim Asmarani. Aku heran juga, apa Asmarani sudah tidak perawan? Yah, sepertinya begitu. Karena meski menangis, Asmarani tidak terlihat kesakitan, ia hanya merasa dilecehkan karena sudah diperkosa oleh Pram di lahan parkir mall. Asmarani bahkan mengerang setiap kali Pram menyodokkan penisnya, ia terlihat mulai bisa menikmatinya. Perawan ataupun tidak, aku suka melihat persetubuhan ini. Bayangkan, seorang Asmarani Setiana Dewi diperkosa tepat di depan matamu. Sungguh sangat beruntung sekali bukan? Siapa tahu aku bisa mengambil manfaat dari peristiwa ini. Ah, mudah-mudahan saja.

Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan terus terjadi. Begitu membuai dan sangat nikmat. Sambil menyetubuhi, bibir Pram tak henti-henti melumat mulut dan payudara Asmarani, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantat Asmarani yang putih mulus. Asmarani hanya pasrah saja menerima semua perlakuan itu. Bahkan saat Pram menaikkan tubuhnya ke pangkuan, ia hanya diam saja.

Pram kembali menggerakkan tubuh Asmarani naik turun. Ia melakukan itu sambil menyusu pada payudara Asmarani yang tepat berada di depan wajahnya. Ia kulum dan hisap puting Asmarani ke dalam mulutnya seperti bayi yang sedang menetek.

Puas di posisi itu, Pram kemudian membalik badan Asmarani hingga sekarang menungging. Disetubuhinya Asmarani dari arah belakang sambil tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuh Asmarani yang putih mulus. Dari tempatku mengintip, harus kuakui kalau Pram sungguh-sungguh hebat. Aku yang cuma onani sambil melihat saja sudah ejakulasi, sedangkan dia yang beneran main bisa bertahan begitu lama.

iffa-jilbabsemok (6)

Setelah lebih dari setengah jam, barulah Pram mulai melenguh panjang. Sodokannya terlihat semakin kencang sambil kedua payudara Asmarani diremas-remasnya brutal. Ia terus melakukannya sampai maninya menyempot dengan deras mengisi liang rahim Asmarani tak lama kemudian.

Asmarani menjerit keras saat menerimanya, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kehabisan tenaga, jadi dibiarkannya saja mani Pram belepotan di sekujur tubuhnya.

Sebagai hidangan penutup, Pram menempelkan penisnya pada bibir Asmarani dan menyuruh gadis itu untuk membersihkannya. Asmarani tanpa bisa melawan segera menjilatinya sampai bersih. Setelah tidak ada lagi ceceran sperma yang ada disana, Pram baru mencabut penisnya dari mulut Asmarani.

“Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi serahkan foto-foto itu sekarang!” kata Asmarani tak sabar.

“Tenang, Sayang. Nih ambil,” jawab Pram sambil melemparkan tumpukan foto di tangannya ke muka Asmarani.

Asmarani lekas mengumpulkan dan mengamatinya. Saat tahu ada yang kurang, ia segera berteriak. “Klisenya! Mana klisenya?!” bentaknya.

iffa-jilbabsemok (7)

“Jangan marah-marah gitu dong, klisenya aman bersamaku. Kamu bisa mengambilnya besok pagi di rumahku.” kata Pram sambil memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan Asmarani yang masih terpuruk kelelahan.

Tidak terima dengan kelakuan laki-laki itu, Asmarani pun lekas bangkit dan memburunya, ia mengejar Pram. Namun baru satu langkah, Pram tiba-tiba berbalik dan Jreb! Ia menghujamkan pisau tepat ke dada Asmarani. Gadis itupun langsung roboh tanpa sempat berteriak.

Aku yang panik, tanpa pikir panjang segera menghambur keluar. Sementara Pram berlari menjauh, kutarik pisau yang menancap di dada Asmarani dengan tanganku. Memang aku sempat terpesona oleh tubuh mulus Asmarani yang masih terbuka disana-sini, namun melihatnya yang sekarat menyabung nyawa, lekas kusingkirkan jauh-jauh pikiran mesum itu.

Aku sudah akan menelepon polisi saat tiba-tiba suara Pram mengejutkanku dari arah belakang. “Hei, Bung… jangan suka mencampuri urusan orang!”

Belum sempat aku berkata apa-apa, apalagi berbalik untuk menghadapinya, kurasakan sebuah benda tumpul menghantam tengkorak kepalaku.

iffa-jilbabsemok (8)

Bletak!

***

Aku terbujur kaku di satu ruangan lembab dan gelap. Tanganku terikat ke belakang kursi. Tak lama kemudian, lampu di atas meja depanku menyala. Redup. Pintu di belakangku terbuka, dan masuklah seorang lelaki tegap berseragam polisi. Dia duduk di depanku dan menyodorkan map yang dibawanya. Di situ tertulis bahwa aku tersangka utama pemerkosaan dan pembunuhan seorang artis dengan bukti berupa sidik jari pada pisau yang dijadikan senjata, serta saksi yang melihat. Aku tercenung, setengah shock membaca isi map itu.

“Pak, saya justru hendak menolong gadis itu. Saya hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi. Sidik jari jelas, saksi juga jelas melihat Saudara melakukan pembunuhan itu. Saudara tak bisa mengelak!”
“Tidak, Pak. Demi Tuhaaan!”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Saudara itu seorang kriminil. Tak pantas!” bentak

polisi itu. Ia lalu membuka pintu dan setengah berteriak pada polisi yang lain.
“Jon, saksi bisa dipersilahkan pulang.”

“Baik, Pak!”

Tiba-tiba mataku menatap sosok yang tak asing. Pemuda itu. Pram!

iffa-jilbabsemok (9)

“Pak, pemuda itu pelakunya, bukan saya! Saya dijebak!”\

“Ah, diam kamu! Berisik!” bentak polisi itu lagi sambil mendekatiku. Satu tamparan keras melayang ke wajah. Sebelum kesadaranku hilang lagi, sempat kutangkap senyuman di wajah Pram.