BU AMELIYA

Sebelum aku mulai cerita ini, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Iwan dan Aku adalah seorang pegawai negeri yang ditempatkan disebuah kota di Jawa Barat sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku merasa nyaman kerja di kota ini, karena teman-teman sekantorku orangnya ramah-ramah dan mengayomi bagi para pegawai muda yang masih mentah dalam pengalaman kerja Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan kerjaku yang tanpa pamrih membimbingku dalam berbagai hal.

Diantara rekan-rekan kerjaku ini, ada seorang wanita yang cantik keibuan dan umurnya 8 tahun diatasku. Namanya Amelia. Pada saat pertama kali aku bertemu dengannya dia belum menunaikan ibadah haji dan belum mengenakan jilbab, sehingga aku bisa melihat putih dan mulusnya kulit betis sebagian pahanya pada saat dia duduk. Tapi yang membuat aku tertarik padanya adalah banyaknya bulu-bulu yang tumbuh di betis dan lengannya yang membuat dirinya semakin seksi dimataku. Karena dalam imajinasiku jika seorang wanita mempunyai bulu-bulu yang lebat di betis dan lengan, terbayang olehku pastilah dia akan sangat menggairahkan dan mampu memberikan kenikmatan pada lelaki di tempat tidur. Maka aku selalu membayangkan dan menghayalkan betapa nikmatnya bila aku dapat menggaulinya. Obsesiku untuk dapat menggaulinya tidak pernah hilang, walaupun aku telah menikah dua tahun setelah aku bekerja. Dan dia selalu ada dalam hayalanku pada saat aku dan istriku sedang melakukan hubungan suami istri.

Tapi sebagai yunior, tentu saja aku tidak berani macam-macam padanya. Apalagi dia adalah seorang istri pejabat Pemda di daerahku. Oh ya, Dia sudah menikah selama 10 tahun dan baru dikaruniai putra berumur 2 tahun. Rupanya rumah tangganya termasuk yang cukup lama untuk mendapatkan momongan. Dari rekan-rekanku, kuketahui bahwa pada awal pernikahan mereka, suaminya pernah mendapat masalah dalam urusan vitalitas, itulah sebabnya dia lambat mendapatkan momongan. Disamping itu kuketahui pula bahwa perbedaan usia antara dirinya dan suaminya cukup jauh, yaitu sekitar 15 tahun.

Aku sering mendekatinya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul, orangnya enak diajak ngobrol, ramah pada setiap orang. Itulah sebabnya rekan-rekan lelaki ditempat kerjaku senang menggodanya, dan dia tidak marah jika godaan-godaan itu tidak terlalu bersifat pelecehan. Namun aku tidak pernah menggodanya, karena selain usiaku jauh lebih muda darinya, aku tidak ingin ia menganggapku macam-macam. Aku selalu bertindak sebagai seorang yunior yang memerlukan petunjuk dari seniornya sehingga aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia merasa bahwa aku sangat menghormati dan mengaguminya.

Lima tahun setelah aku bekerja, dia menunaikan ibadah haji dengan suaminya dan sejak saat itu dia selalu mengenakan jilbab untuk menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun jilbab yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya, dan bahkan membuat dirinya semakin cantik dan keibuan, ditambah lagi dengan gaun dan jilbab yang ia kenakan selalu serasi dengan model-model yang gaul. Sehingga dia semakin menjadi objek hayalanku pada saat aku sedangkan melakukan hubungan suami istri dengan istriku.

Aku selalu konsisten menjaga sikapku dihadapannya, karena tidak ingin dia benci atau menjauh dariku. Maka dengan sabar aku selalu menjaga kedekatanku dengan dirinya sehingga aku dapat menikmati kecantikan, keanggunan dan keseksian tubuhnya dari dekat.

Kesabaranku itu kujalani hingga saat ini setelah 10 tahun mengenalnya dan dia merasa aku sebagai sahabat baik dan sekaligus bagaikan adik baginya, sehingga tidak segan-segan menceritakan berbagai masalah dengan diriku, bahkan meminta bantuanku untuk hal-hal yang tak dapat dia kerjakan. Bahkan kami sering duduk berdampingan dalam mengerjakan sesuatu sehingga aku bisa merasakan lembutnya buah dadanya yang montok. Dan pernah aku menggeser-geserkan bahuku yang menempel dengan buah dadanya, tapi dia hanya berkomentar “jangan nakal ach…, Wan !” sambil tersenyum dan tidak ada nada marah sama sekali. Sehingga hal itu sering aku lakukan bila kami duduk berdampingan pada saat mengerjakan sesuatu

Pada suatu hari ia datang padaku dan mengkonsultasikan laptop miliknya yang terasa lambat dan juga minta diajari bagaimana caranya mengkoneksikan laptop dengan internet. Setelah kuperiksa, ternyata banyak virus yang mengerogoti sistem di laptopnya sehingga mengakibatkan kinerja laptopnya menjadi terganggu. Dan aku bilang untuk membersihkan semua virus di laptopnya diperlukan waktu yang cukup lama, sedangkan agar bisa dikoneksikan ke internet, harus ada jalur telepon. Lalu dia menyarankan agar untuk menangani laptopnya dikerjakan di rumah kost miliknya yang ada di dekat kantor kami. Rumah kost itu terdiri dari 10 kamar dan diisi oleh para pelajar yang bersekolah di sekitar daerah itu. Dan aku menyanggupinya.

Sepulang dari kantor, aku dan dia menuju rumah kost miliknya dan kebetulan, hari itu adalah hari sabtu, sehingga semua penghuni kost pada pulang ke kampungnya masing-masing dan rumah kost tersebut kosong. Begitu tiba di sana, dia langsung membawaku ke ruang tamu dan aku mulai melakukan pembersihan virus dengan software yang aku bawa.

Sambil menunggu anti virus bekerja, kami ngobrol berbagai hal diselingi dengan minum dan makan camilan yang ia sediakan. Dari obrolan itu kuketahui, bahwa setiap malam minggu dia suka tidur di rumah kost ini pada saat para penghuni kost pulang ke kampung halamannya masing-masing. Oleh sebab itu di rumah ini ada kamar khusus untuk dirinya. Aku merasa heran, apakah suaminya tidak apa-apa ditinggal tidur sendiri di rumah sementara dia menunggu di rumah kost. Dia menjawab tidak ada masalah dengan hal itu, bahkan katanya di rumah pun dia jarang tidur sekamar dengan suaminya. Karena sejak suaminya pensiun, suaminya lebih sering ingin tidur sendiri. Aku heran dengan kenyataan ini, kenapa ada rumah tangga seperti ini, tapi aku mau bertanya lebih lanjut, takut dia merasa aku akan semakin jauh mengetahui privasi rumah tangganya.

Hari semakin gelap, tetapi anti virus masih bekerja, karena banyak sekali virus yang menyerang laptopnya dan kami terus melanjutkan obrolan. Tanpa disadari atau seolah-olah tanpa disadari, kami telah duduk berdampingan di ruang tamu yang sepi ini. Sambil mengobrolkan hal-hal yang bersifat pribadi. Perlahan-lahan aku mulai terangsang terhadapnya, tapi aku masih merasa takut untuk memulainya, walaupun bisikan-bisikan di kepalaku mengatakan bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mewujudkan obsesi yang selama ini ada dalam khayalanku.

Akhirnya dengan hati-hati aku berkata padanya “Apakah, bapak tidak sayang meninggalkan ibu tidur sendiri ? Uhh… kalau saya jadi bapak, tidak akan saya biarkan ibu tidur sendiri satu malampun. Sayang dong…., membiarkan tubuh seksi dan cantik seperti ibu ini sendirian….. mubazir ”

“Ach… Iwan bisa aja ! Masak sih… tubuh peot dan wajah keriput ini disebut seksi dan cantik ?” katanya tersenyum dan tampaklah ekspresi kebanggaan diwajahnya mendengar pujianku. Dan aku merasa gembira karena dia tidak marah dengan ucapanku.

Dan kembali aku lanjutkan rayuanku “ bener lho, Bu! Saya ‘ngga bohong… , Di mata saya ibu adalah wanita yang paling cantik dan seksi di kantor kita..!”

“Udah ach… , jangan dilanjutkan rayuannya nanti saya bisa terbang… !” jawabnya samibil tersenyum semakin tersanjung.

“Ngomong-ngomong… , Bu..! Boleh ‘nggak saya minta sesuatu, nggak macam-macam kok, swear !” kataku

“Minta apaan sich.. ? kalau nggak macam-macam akan saya penuhi ! “ katanya

“Sebelumnya maaf ya, bu ! Boleh ngga saya membelai bulu kaki yang ada di betis dan bulu tangan yang ada di lengan ibu yang dulu sering saya lihat. Saya benar-benar terobsesi dengan bulu-bulu yang dimiliki ibu ?” kataku memberanikan diri.

Dia memandangku heran “Kok, Iwan tahu kalau saya memiliki bulu di kaki dan lengan…? Rupanya Iwan sering ngintipin ibu ya ?” Katanya menggodaku.

Aku tergagap mendapat godaannya “Ti…tidak bu…, saya tidak pernah ngintip.. khan dulu ibu ngga pake jilbab..” jawabku membela diri

“Apa sich.. istimewanya bulu-bulu itu ? saya justru merasa risih” katanya lagi

“Justru bagi saya hal itu sangat istimewa dan menggairahkan….., boleh kan bu, saya membelainya !”

“Ya.. dech …” Dia mengalah dan menyingsingkan ujung lengan bajunya hingga sebatas siku. Mataku terbelalak melihat putih dan mulusnya kulit lengan yang dihiasi dengan bulu-bulu lengan yang cukup panjang, aku semakin terangsang namun masih bisa mengendalikan diri. Dengan tangan gemetar aku membelai lengan halus tersebut. Darahku berdesir ketika tanganku mengusap dan membelai langan halus nan berbulu itu. Dari sudut mataku terlihat dia merasa bangga atas keterpanaanku pada kemulusan dan keindahan kulit lengannya. Aku tak tahu apakah dia merasakan desiran-desiran rangsangan pada saat telapak tanganku membelai lengannya.

Setelah puas membelai lengannya, kembali aku berkata “kakinya belum bu ? “. Namun dia menjawab tidak serius “udah ach…, cukup .”. Lalu rayuku lagi “Akh… Ibu, khan tadi saya mintanya lengan dan kaki !”

Lalu dengan gaya seperti yang terpaksa dia mengangkat rok panjangnya sebatas lutut sehingga terlihat betis indah yang putih mulus dihiasi oleh bulu-bulu yang cukup panjang dan merangsang. Kembali tanganku bergetar membelai betih indah tersebut, mataku terpejam dan darahku semakin berdesir memberikan rangsangan-rangsangan yang sangat kuat padaku. Cukup lama tanganku membelai dan mengusap betis indah milik Hj Amelia ini. Aku sangat menikmati apa yang kulakukan. Betis kiri dan kanannya secara bergantian aku belai dan usap, terlihat mata Hj. Amelia terpejam menikmati belai tanganku “Oh..mmmnn .. “ mulutnya berguman tidak jelas.

Melihat itu aku tak mau berhenti, tanganku terus membelai betis indah itu dan dengan sangat hati-hati arah belaian semakin ke atas di sekitar lutut . Mata Hj Amelia semakin rapat terpejam. Dengan hati-hati kedua betis Hj Amelia aku naikkan ke atas jok kursi panjang yang kami duduki dan aku duduk di lantai menghadap betis indah dan sebagian paha disekitar lutut yang terbuka”

Dengan suara bergetar dan suara yang sedikit memburu dia berkata “Kok jadi duduk dibawah ?”

“Ngga apa-apa bu, supaya lebih jelas “ jawabku beralasan ”Awas lho… jangan macam-macam !” ancamnya dengan nada yang tidak yakin.

Kembali tanganku melanjutkan belaian dan usapan pada betis berbulu yang merangsangku ini, tanganku dengan lembut membelai betis kiri dan kanan secara bergantian . Kembali matanya terpejam menikmati belaian tanganku pada betisnya. Kuberanikan diri untuk mencium lembut ujung kakinya. Matanya terbuka dan berkata “Kok..?” hanya kata itu yang keluar. Akhirnya kedua tangan dan bibirku membelai betis hingga lutut dan paha di sekitar lutut. Ciumanku dan tanganku semakin naik ke atas, ciumanku sudah mencapai lututnya dan kedua tanganku sudah membelai kedua pahanya. Dia semakin terlena, napasnya semakin memburu dan mulutnya semakin sering mengguman sesuatu yang tidak jelas. Sedangkan aku semakin terangsang penisku sudah mulai mengeras. Tapi aku masih berhati-hati agar dia tidak menghentikan usahku ini.

Tanganku semakin aktif membelai paha bagian bagian dalam dan mulutku menciumi lututnya yang kiri dan kanan secara bergantian. Duduknya sudah mulai gelisah, pinggulnya sudah bergoyang-goyang dan dari mulutnya sudah mulai memperdengarkan erangan-erangan nikmat dan terangsang. Ku hentikan gerakanku, matanya terbuka memandangku sayu, terlihat bahwa dia sudah sangat terangsang, kuberanikan diri wajahku mendekati wajahnya, dia memejamkan matanya kembali dengan mulut yang terbuka menantang, lagsung bibirku menciumi bibirnya yang seksi. Dia tidak marah, bahkan menyambut ciumanku dengan hangat dan sangat bergairah. Kami berciuman dengan sangat bergairah. Kedua tangannya meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan sangat panas, bibirnya menghisap-hisap bibirku dan lidahnya menari-nari dengan lidahku seperti seorang wanita yang sudah sangat lama tidak bermesraan, tentu saja aku semakin melayang nikmat dan bersemangat. Tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang montok, dia diam saja bahkan semakin bergairah dan mengerang nikmat. Tanganku mulai mencopoti kancing bajunya satu-persatu dan menyusupkan tangan kananku ke dadanya yang sudah terbuka, kemudian menarik cup bh-nya ke atas, sehingga kedua buah dadanya yang putih montok terbuka bebas. Tanganku langsung meremas buah dada montok itu yang kiri dan kanan.

Dia menghentikan ciumannya dan memegang tangan kananku, sambil memandang padaku dengan sayu. Aku terkejut, takut dia marah dan menghentikan usaha yang telah dengan sabar aku lalui. Namun dengan suara bergetar dan napas memburu dia berkata “Jangan disini Wan..! bahaya kalau ada tamu datang… Di kamar saya aja.., biar tenang!” Plong… dadaku terasa lapang, ketakutanku ternyata tidak terbukti. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu tamu dan menarik diriku menuju kamarnya.

Tak kuperhatikan lagi anti virus yang masih bekerja pada laptop. Dengan tergesa-gesa kami menuju kamarnya yang cukup luas. Begitu tiba di dalam kamar, dia langsung menutup pintu kamar dan menarikku ketempat tidur. Aku langsung menindihnya dan bibirku kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ciumannya kali ini semakin panas dan bergairah dan dia sudah tidak segan-segan lagi mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.

Tanganku kembali merayap ke buah dadanya yang masih terbuka dan meremas-remasnya dengan nikmat, Dia membantu mencopoti sisa kancing yang masih terkait sehingga semua kancing bajunya terlepas dan melepaskan kaitan tali bh-nya. Kemudian dia duduk dan melepaskan baju dan bh dari tubuhnya. Tampaklah dihadapanku tubuh seorang wanita matang yang masih mengenakan jilbab dan rok panjang, namun sudah tidak mengenakan baju dan bh.

Aku kembali menubruknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang diatas kasur, bibirku menciumi seluruh bagian buah dadanya baik bagian kiri maupun bagian kanan sedangkan tangan meremas-remas buahdada yang tidak aku ciumi. Aku begitu bernafsu menciumi buah dada Bu Hj Amelia ini. Walaupun dia sudah berumur, namun buah dadanya masih montok dan sekal, tidak mengelayut dan kendor. Kuhisap dan kujilati setiap mili bagian buah dada menggairahkan ini. Dan akhirnya bibirku dengan asyiknya menghisap dan menjilati putting susu yang tegak menantang. Dia semakin mengerang nikmat “Akhhhh… wan… euh … euh….!” Badannya bergelinjang-gelinjang menahan nikmat yang menderanya.

Setalah cukup lama bermain-main di buah dadanya, kedua tanganku berusaha melepaskan pengait rok panjang yang masih dikenakannya dan menariknya hingga lepas sekaligus dengan celana dalam nilon yang dia kenakan, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang semakin sayu, kembali mataku nanar melihat pemandangan merangsang yang ada dihadapanku. Sungguh luar biasa Bu Hj Amelia ini, walaupun sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya masih sangat sempurna, perutnya masih ramping tanpa ada timbunan lemak, paha masih padat dan mulus dan yang paling luar biasa adalah jembut yang menutup vaginanya demikian lebat dan hitam menutupi hampir seluruh bagian antara kedua paha hingga keatas mendekati pusat

Beberapa saat aku terpana menatap pemandangan indah ini, Dia bangun dan meraih bajuku sambil berkata “Buka bajunya Wan… , ngga fair dong…, saya udah telanjang sementara Iwan masih berpakaian lengkap..” Dengan bantuannya aku mencopoti bajuku yang sudah basah oleh keringat dan sekaligus aku membuka celana panjangku sekaligus dengan cd yang aku kenakan. Dia terpana memandang penisku yang tegak menjulang, Tangannya mendorong tubuhku hingga aku telentang , kemudian dengan gemetar tangannya meraih penisku dan mengocoknya dengan gemas, aku melayang nikmat merasakan kocokan tangannya pada penisku, kemudian bibirnya dengan lembut menciumi penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku. Aku semakin melayang.. “Ouhhh…. “ aku melenguh nikmat. Cukup lama lidah dan bibirnya bermain di kepala penisku membuat aku melayang-layang nikmat, kemudian mulutnya semakin terbuka lebar untuk memasukkan penis tegangku kedalam mulutnya sambil lidahnya terus-menerus menjilati kepala penisku. Mataku semakin terbeliak-beliak menahan nikmat “Ouh…ouh… aduhh….aduh… “ erangan nikmatku keluar tanpa dapat kucegah.

Dia begitu gemas dengan penis tegangku, bagaikan seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan penis yang tegang. Tanpa memperdulikan diriku yang terengah-engah menahan nikmat, mulut dan lidahnya terus menerus memberikan kenikmatan pada diriku. Aku tak tahan, ku geserkan kepalaku mendekati lututnya yang sedang menungging. Aku posisikan kepalaku diantara kedua lututnya yang terbuka, sehingga posisi kami menjadi posisi 69. Aku mulai menjilati jembut hitam yang menutupi vagina yang ada dihadapanku. Kedua tanganku membelai pantat montok, sementara lidahku terus mencari celah vagina yang tertutup jembut yang lebat, kusibakkan jembut lebat tersebut, terlihatlah vagina yang sudah sangat basah, lidahku terjulur menjilati celah vagina tersebut, badannya tergetar setiap kali lidahku menyentuh klentitnya. Aku semakin semangat menjilati dan menghisap vaginanya, dia semakin sering bergetar dan mengerang nikmat, sehingga mulutnya berhenti mempermainkan penisku. Aku tak peduli, lidah dan mulutku semakin lincah bermain di vaginanya, badannya semakin bergetar dan menekan-nekankan vaginanya dengan keras ke arah mulut dan hidungku sambil menjerit-jerit nikmat “Ouh.. ouh… ouh… euh…euh…”

Gerakannya semakin keras dan jeritannya semakin tak terkendali, hingga akhirnya pantatnya dia tekankan dengan keras ke arah mukaku hingga mulut dan hidungku tertekan vagina dengan sangat rapat sehingga aku sulit bernapas dan terdengar dia menjerit keras “Aaaakkkhhhh……..” kemudian terlihat olehku vaginana mengempot-ngempot dengan sangat keras.

Tak lama kemudian badannya ambruk menindih tubuhku. Beberapa saat kemudia dia menggulingkan tubuhnya hingga tidur telentang. Kubangunkan tubuhku dan memposisikan tubuhku agar tidur berdampingan. Kemudian matanya terbuka memandangku. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berkata “kalau Iwan percaya…, Sudah 4 tahun saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bukannya saya tidak ingin, tapi si bapak sudah tidak sanggup lagi. Sebagai wanita normal, tentu saja saya merasa sangat tersiksa denga keadaan ini…” Aku tidak mengomentari ucapannya, hanya dalam hati aku berkata pantas saja dia terlihat sangat gemas memandang penisku yang sangat tegang.

Karena aku belum apa-apa, maka badanku bangkit dan tanganku meremas-remas buah dadanya serta memilin-milin putting susunya yang perlahan-lahan mulai kembali tegak menjulang. Kembali badanku menindih tubuhnya dan bibirku mencium bibirnya, bibirnya menyambut bibirku dengan gairah yang kembali bangkit. Tangannya merayap ke arah penisku dan meremas-remas dengan gemas, kemudia berkata “Sekarang aja Wan! Saya sudah nggak tahan…”

Aku mengangkat pinggulku memberi jarak dengan selangkangannya, kemudian pahanya terbuka lebar dan tangannya menuntun penis tegangku agar tepat berada liang vaginanya. Dia sibakkan jembut lebat yang menghalangi liang vagina dengan kepala penisku, hingga akhirnya kepala penisku tepat berada di mulut liang vagina yang sangat basah. Kemudian kedua tangannya merengkuh pantatku dan menariknya.

Aku mengerti apa yang dia inginkan. Ku dorong pantatkudan Blessh…. Perlahan-lahan batang penisku menyusuri liang vagina hangat yang basah berlendir yang disertai kedutan-kedutan yang memijit batang penisku selama aku memasukinya. Jepitan dan kedutan vaginanya pada penisku memberikan sensasi nikmat yang luar biasa. Perjalanan masuk ini kulakukan perlahan-lahan, karena aku ingin menikmati setiap mili pergeseran antara batang penisku dan veginanya yang selama 10 tahun ini menjadi obsesi dan khayalanku. Aku tidak ingin obsesi yang menjadi kenyataan ini berlangsung cepat.

Setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya, kudiamkan sejenak untuk menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh vaginanya pada diriku. Kemudian kutarik secara perlahan hingga menyisakan ujung kepalanya dan kudorong kembali masuk hingga amblas. Gerakan ini terus kulakukan dengan sabar sambil menikmati deraan nikmat yang datang bertubi-tubi.

Nampaknya Bu Hj Amelia ini sudah tidak sabar, pantat terangkat setiap aku mendorong masuk, dan tangannya memberikan bantuan kecepatan pada pantatku agar aku melakukan dengan lebih cepat dan keras. Aku tidak terpengaruh dengan gerakan pantatnya yang semakin bergelinjang dan tangannya yang semakin menarik-narik keras pantatku agar bergerak lebih cepat. Aku hanya menambah sedikit kecepatan pada gerakan mengocokku.

Pinggulnya semakin bergelinjang, kepalanya terlempar ke kiri dan kanan sambil mulut yang kembali mengerang-ngerang nikmat “Auh…auh….euh… euh…..” Gelinjang tubuhnya semakin keras dan hebat. Berputar, kekiri kekanan dan ke atas ke bawah, hingga akhirnya gerakannya semakin tak beraturan, badannya terlonjak-lonjak, tangannya menarik punggungku hingga tubuhnya terangkat dan kepalanya terdongak dengan mata terbeliak dia menjerit keras “Aaaaaakkkhhhhhh……. “ kakinya terjulur kaku, tak lama kemudian badanya terhempas lemas dan tangannya terlepas dari punggungku dan jatuh ke samping tubuhnya. Kurasakan vagina berkontraksi sangat keras memijit-mijit dan menghisap-hisap penisku sehingga akupun terbeliak menahan sensasi nikmat yang teramat sangat.

Kubiarkan batang penisku amblas di dalam vaginanya menikmati sensasi orgasme yang kembali dialaminya. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan yang menahan di pinggir bahunya. Perlahan-lahan matanya terbuka dan berkata dengan napas tersengal-sengal menahan lelah “Makasih.. Wan.., barusan betul-betul nikmat…uuhhhh..” Aku hanya menjawab dengan mencium bibirnya dengan nafsu yang menggelora.

Dia menyambut lemah ciumanku. Dengan sabar aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya. Kuciumi lehernya dari balik jilbab yang masih dikenakannya namun telah basah oleh keringat, kujilati dadanya yang juga basah oleh keringat. Ketelusuri hingga ke bawah hingga akhirnya mulutku kembali memilin-milin putting susunya untuk membangkitkan gairahnya. Sambil perlahan-lahan kukocok penisku yang masih terbenam divaginanya yang semakin basah, namun tetap masih terasa sempit dan memijit-mijit.

Perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan ciumannya yang semakin hangat dan pinggulnya yang bergerak membalas setiap gerakan pinggulku. Makin lama gerakan pinggulnya semakin erotis dan bersemangat dan erangan nikmat kembali terdengar dari mulutnya.

Kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku yang masih tegang. Dia menatapku kecewa sambil berkata “Ada apa Wan? “. Aku tersenyum lalu berkata “Kita nungging bu!” Dia mengerti apa yang kuinginkan. Lalu dia bangun dan membuat posisi merangkak. Aku posisikan selangkanganku pada tengah-tengah pantatnya. Sebelum kumasukkan penisku, kembali aku terpana melihat keseksian tubuhnya dalam posisi menungging, kulit punggung yang begitu putih kekuning-kuningan, mengkilap oleh basahnya keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Hanya ada satu kata untuk mengomentari keadaan itu, yaitu “Sempurna..!” tanpa terasa bibirku berguman.

“Ada apa ..Wan..?” tanyanya padaku. Aku segera menjawab “Tubuh ibu betul-betul sempurna.”. Dia tidak menjawab mungkin dia merasa bangga dengan pujianku. Tangannya hanya menggapai-gapai meraih penisku untuk diarahkan vaginanya yang sudah menanti. Lalu kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan Bleshhhh……

Kembali penisku menyusuri liang vagina basah yang masih tetap sempit dan memijit-mijit. Pantatku memulai bergoyang maju mundur agar penisku mengocok-ngocok vaginanya. Tanganku meraih buah dadanya yang bergantungan bebas dan kuremas-remas dengan gemas untuk menambah sensasi nikmat yang kembali mendera sekujur tubuhku. Tubuhnya bereaksi dengan apa yang kulakukan, mulutnya mengerang nikmat “Auh… auh… euh …. Euh… “, dan pinggulnya bergerak-gerak semakin liar. Kudiamkan gerakan pinggulku, namun pinggul dan pantatnya menghentak-hentakkan selangkanganku sehingga penisku semakin dalam mengocok dan mengaduk-aduk vaginanya. Kepalanya tidak bisa diam menggeleng-geleng sambil mulut yang tak henti-hentinya mengerang nikmat.

Gerakan pinggul dan pantatnya semakin liar tak terkendali, jeritan nikmatnya semakin keras, dan kedutan dan pijatan vaginanya pada penisku semakin keras. Hingga akhirnya badannya kaku, tangannya mencengkram kasur dengan sangat keras dan menjerit “Aaaakkhhhh…..” kembali kepala terdongak dengan mata yang terbeliak. Setelah itu kembali kontraksi keras terjadi pada vaginanya yang memelintir dan menghisap-hisap penis membuat aku terbeliak-beliak menahan nikmat. Tak lama kemudian… BRUK.. badannya jatuh tertelungkup hingga penisku yang masih tegang lepas dari vaginanya.

Kubiarkan dia istirahat menikmati sensasi orgasme yang kembali menderanya. Lalu mendekati punggungnya yang basah, kubelaikan tangan kiriku dari punggung hingga pantatnya, dan kuremas-remas pantat seksi itu. Tangan kananku menyibakkan jilbab yang sudah sangat basah dan akhirnya kulepaskan jilbab itu. Bibir dan mulutku menciumi tengkuk dan lehernya yang putih mulus tiada kerut. Mulutku menyusuri tengkuk dan punggung sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya. Akhirnya gairahnya bangkit kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga telentang dan tangannya meraih tubuhku hingga menindih tubuhnya bibirnya mencium bibirku dengan ganas, kemudian tangannya mencari-cari penisku dan mengarahkan ke vaginanya.

Blesshh…. Untuk kesekian kalinya kembali penisku menjelajahi liangvagina yang semakin basah dan berdenyut. Aku menggerakkan pantatku untuk mengocok penisku di dalam vaginanya, dia menyambut dengan erangan dan gerakan pinggul yang bisa memelintir-melintir batang penisku dengan liarnya. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan gerakannyapun semakin cepat dan liar.

Lenguhan nikmatku dan erangan nikmatnya bersatu padu membangun suatu komposisi musik penuh gairah dan merangsang, semakin lama suara erangan dan lenguhan nikmat semakin riuh rendah. Hingga akhirnya pantatku bergerak sangat keras dan liar tak terkendali demikian pula gerakan pinggulnya. Gerakan kami sudah menjadi hentakan-hentakan nikmat yang keras dan liar. Hingga akhirnya aku merasa gelombang yang maha dahsyat keluar dari dalam diriku melalui penis yang semakin keras dan kaku dan akhirnya tanpa dapat kukendalikan tubuhku menegang kaku dan badanku melenting ke atas serta menjerit melepas nikmat yang tak tertahankan “Akhhh….” Dan secara bersamaanpun dia menjerit nikmat “Akhhhh… “ dengan badan yang kaku dan tangan yang mencengkram punggungku dengan sangat keras.

Tak lama kemudian, tubuh kami ambruk kelelahan seperti orang yang baru saja berlari cepat dalam jarak yang sangat jauh. Aku menggulingkan tubuhku agar tidak menindih tubuhnya. Dan kami telentang berdampingan sambil menikmati sensasi kenikmatan orgasme yang masih datang menghampiri kami.

Setelah beberapa menit kami terdiam menikmati sensasi orgasme dan napas yang perlahan-lahan mulai pulih, Dia memiringkan badannya menghadapku, sambil tangannya membelai-belai dadaku dia berkata “Wan… kamu memang luar biasa… Dulu saja waktu si Bapak masih sehat. Belum pernah saya merasakan sepuas ini dalam berhubungan badan. Sebagai lelaki kamu mampu bermain cukup lama dan memberikan beberapa kali orgasme pada pasangan kamu. Pantas saja, istrimu sangat sayang padamu..”

“Ahh… jangan begitu ach… Bu! Saya jadi malu…” Sahutku sambil merasa bangga dipuji seperti itu.

Setelah cukup lama beristirahat kembali kami berpakaian, dan aku terlebih dahulu ke ruang tamu untuk memeriksa laptop yang masih menyala. Ternyata laptop sudah lama mati, karena hampir 1,5 jam aku tinggalkan. Tak lama kemudian Bu Hj. Amelia menghampiriku dan duduk disampingku sambil menggelayut mesra dan bertanya “bagaimana Wan , beres ?”. “Belum saya periksa bu…, keburu mati..” jawabku

“Ok dech , kamu lanjutin aja dulu, saya mau nyiapkan makan malam.

Akhirnya malam itu, aku menelepon istriku untuk memberitahukan pada iatriku bahwa aku tidak bisa pulang, karena ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya sepanjang malam itu hingga mendekati subuh, kami isi dengan persetubuhan yang sangat bergairah. Kami hanya istirahat untuk minum dan makan memulihkan tenaga. Malam itu kami bagaikan sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertamnya. Hal ini terjadi barangkali karena Bu Hj Amelia ini merupakan Wanita yang menjadi obsesi saya yang selama 10 tahun menjadi khayalan dan impian. Sedangkan bagi Bu Hj. Amelia, malam itu merupakan malam pertama selama 4 tahun dia tidak mendapatkan kehangatan tubuh laki-laki.

Akhirnya sampai saat ini aku dan Bu Hj Amelia berselingkuh, tanpa seorang temanpun yang tahu. Kami berusaha menjaga perselingkuhan ini serapih mungkin. Entah sampai kapan….

TAMAT

BU ENDAR

Akhwat cantik berjilbab,kadang justru membuat penasaran dan punya daya tarik tersendiri.Apalagi jika bertubuh montok,kadang tercetak jelas di balik kain jilbabnya.Ia cenderung alim, namun di balik semua itu ia tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan di manapun.

Bu Endar Faizah, ibu guru cantik sensual yang berjilbab, adalah guru bahasa inggris di sebuah SMU di xxxx Penampilannya yang anggun, dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang, mengenakan kerudung cantik, semakin menambah keanggunannya.

Sungguh anggun sosok akhwat berjilbab ini. Bu Endar berkulit kuning langsat bertampang Jawa, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit putih bersih, tinggi badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan dibalut jilbab yang sangat menawan hati.

Di balik baju muslimnya..,tercetak tonjolan teteknya yang montok, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang montok padat.Wow…indahnya….Walau berjilbab, saat berjalan kain panjangnya tertiup angin …menampakkan cetakan tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya..walau tertutup gamis panjang dan jilbab yang rapat, langkahnya terlihat sangat seksi dan gemulai.

Pembawaan Bu Endar dengan jilbabnya terlihat sangat kalem dan malu-malu. Hal ini rupanya menarik perhatian Pak Imam, sang kepala sekolah. Pak Imam sangat terkesan dengan penampilan Bu Endar, karena Bu Endar yang berumur 28 tahun, adalah seorang gadis yang sangat cantik,berjilbab anggun, alim dan sopan.

Sebagai akhwat berjilbab yang sopan dan alim Bu Endar agak risih juga terhadap Pak Imam, karena setiap kali Pak Imam lewat depan ruangannya, Pak Imam selalu melirik dan melempar senyum kepada Bu Endar. Kalau kebetulan Bu Endar tidak melihat keluar, maka Pak Imam akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Bu Endar akan terpancing untuk melihat keluar. Agak ngeri juga melihat tampang Pak Imam yang berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Bu Endar telah mempunyai pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak terlalu tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Bu Endar.

Di sekolah tempat Bu Endar mengajar, setiap jam pulang sekolah, yaitu jam 13 para karyawan termasuk para guru dan staff pulang semuanya, kecuali guru yang akan mengajar ekstra kurikuler.

Hari itu hari Kamis,Bu Endar dapat jatah mengajar ekstra kurikuler, hingga ia harus menunggu dari jam 13 sampai jam 14.30. Dengan jilbab kerudung warna biru tua ,mengenakan baju panjang terusan berbahan kain halus yang jatuh, berwarna merah muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut,ia kelihatan teramat cantik dan manis, apalagi kulitnya yang putih kuning bersih.

Karena memang sudah jam pulang, suasana di lantai 2 sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift. Untuk menghilangkan lelah setelah sejak pagi mengajar,Bu Endar istirahat sambil makan makanan yang dibawanya dari rumah.

Tiba-tiba Pak Imam melintas di depan ruangan dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Pak Imam memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Pak Imam kembali menuju ke ruangan Bu Endar . Secara perlahan-lahan Pak Imam mendekati ruangan Bu Endar, dan mengintip ke dalam. Bu guru berjilbab itu sedang berdandan membetulkan kerudungnya, merapikan gamis panjangnya yang mewah, menghadap ke cermin yang memang disediakan di ruangannya.

Mendengar suara pintu terkunci Bu Endar menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. berbalik sambil berkata, “Pak, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?”, tapi Pak Imam hanya memandang Bu Endar dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Bu Endar semakin panik dan berkata, “Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!”.

Tapi dengan kalem Pak Imam berkata, “silakan saja nona manis.., apabila kamu mau bikin skandal dan setiap orang di sekolah ini akan menggosipkan kamu selama-lamanya”.

Mendengar itu Bu Endar yang pada dasarnya pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal. Kala akhwat cantik berjilbab itu berada dalam keraguan, dengan cepat Pak Imam berjalan medekat ke arah Bu Endar. Karena ruangan kerja yang sempit , begitu dirinya mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Apalagi dengan gamis panjangnya yang melilit tubuhnya, ia tak bisa bebas bergerak.

Dengan cepat kedua tangan Pak Imam yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Bu Guru berjilbab yang montok itu dan mendekapkan ke tubuhnya. Dalam sekejap badan bu Endar yang sangat halus dan ranum, telah sepenuhnya berada dalam pelukan lelaki tua itu.

Imam memegang kedua lengan bagian atas Bu Endar dekat bahu, sambil mendorong badan Bu guru berjilbab itu hingga tersandar pada meja, Pak Imam mengangkat badan Bu Endar dan mendudukkannya di atas meja kerja Bu Endar yang penuh buku-buku bahasa inggris itu. Kedua tangan Endar diletakan di belakang badan dan dipegang dengan tangan kirinya.

Dengan beringas Pak Imam menciEndar wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu. Nampak Imam seperti anjing kelaparan menyosor-nyosor wajah ayu Bu Endar, sementara akhwat cantik berjilbab itu hanya bisa meronta-ronta.

Tangan kanan Pak Imam tiba-tiba turun kebagian bawah tubuh Bu Endar dan meraih ujung kain panjang di bagian bawah, sejurus kemudian diangkatnya baju panjang itu tinggi-tinggi hingga tersingkaplah apa yang selama ini tersembunyi. Pak Imam berhasil menyaksikan akhwat itu dari ujung kaki, betis, sampai pangkal paha. Lalu tangannya meremas-remas bokong kenyal akhwat ayu itu.

Badan Pak Imam dirapatkan diantara kedua kaki Bu Endar yang tergantung di tepi meja dan paha Pak Imam yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Bu Endar terbuka. Ia sengaja tidak melepas gamis dan kerudung akhwat ayu itu. Ia ingin menyetubuhi akhwat itu dengan membiarkan gamis dan jilbabnya tetap terpakai. Ia merasakan sensasi yang luar biasa bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.

Tangan kiri Pak Imam yang memegang kedua tangan akhwat berjilbab itu di belakang badan Bu Endar dan ditekankan pada pantat ke depan, sehingga badan akhwat berjilbab yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Bu Endar melekat rapat pada paha sebelah kiri Pak Imam yang berdiri menyamping.

Tangan kanan Pak Imam yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju panjang terusan yang dikenakan Bu Endar sementara Bu Endar hanya bisa menggeliat-geliat.

“Jangan…,AAAAAAAAAAAHHHHH… jangan lakukan itu!, stoooppp…, stoopppp”, akan tetapi Pak Imam tetap melanjutkan aksinya itu.

Sebentar saja baju bagian depan Bu Endar telah terbuka sampai sebatas perut, sehingga kelihatan teteknya yang montok itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Tetek yang kuning dan kenyal itu seolah ingin lepas dari BH nya.Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat merangsang. Dengan lincah tangan kanan Pak Imam bergerak ke belakang badan Bu Endar dan membuka pengait BH . Kemudian Pak Imam menarik ke atas BH Nu Endar hingga terpampang kedua tetek Bu Endar Faizah yang montok sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda mencuat naik turun dengan cepat karena nafas yang tidak teratur.

“Oooohh…, OOOOOOUUUUGGHHHH….ooohh…, jaanggaannn…, jaannnggaann!”.

Erangan akhwat cantik berjilbab itu tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah Imam menyingkapkan kerudungnya hingga terlihat kupingnya mulut Pak Imam mulai menciEndar belakang telinga Bu Endar dan lidahnya bermain-main di dalam kuping bu guru berjilbab itu. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan perempuan berjilbab itu menggeliat-geliat hingga tanpa terasa Endar Faizah mulai terangsang oleh permainan Pak Imam ini.

Mulut Pak Imam berpindah dan melumat bibir Bu Endar dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut dan menggelitik-gelitik lidah Bu Endar.

“aahh…,AAAAAGGHHHHHH….UUHHH……AAAAAAAAAHHHHHHHHHH……UOUUUUUEHHMMM hmm…, hhmm”, terdengar suara mengguman dari mulut Bu Endar yang tersumbat oleh mulut Pak Imam.

Badan Bu Endar yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Pak Imam sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu turun ke leher, kepala Bu Endar tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Pak Imam, teteknya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki tua tersebut.

Pak Imam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah tetek Bu Endar mulutnya menciEndar dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya tetek yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Pak Imam. Tetek yang kenyal itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Pak Imam yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting hingga tetek Endar segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak nafas akhwat alim ini menerima permainan Pak Imam yang lihai itu. Badan nya terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,

“Sssshh…, ssssshh..SSSSSHHHHHHHH……OOOOOHHHHH…AAUUUHH…, aahh…, aahh…, ssshh…, sssshh…, jangaann…, diiteeruussiinn”,

Mulut Pak Imam terus berpindah-pindah dari tetek yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting tetek akhwat itu secara bergantian selama kurang lebih lima menit. Bu Endar Faizah guru cantik berjilbab itu kini benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badannya tersentak, karena dia merasakan tangan Pak Imam mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju gamis panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Bu Endar mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Pak Imam, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan adalah hanya mengerang,

“Jaanngaannnn…, jaannngggannn…, diitteeerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.

Melihat kondisi seperti itu, Pak Imam yang telah berpengalaman, yakin bahwa akhwat ayu berjilbab ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Pak Imam makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha mulus akhwat itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas. Tiba-tiba jarinya menyentuh bibir memek Bu Endar.

Segera badan akhwat itu tersentak , “aahh…, jaannggaan!”

Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Pak Imam yang mengelus-elus bibir memek Bu Endar yang tertutup celana dalam, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Pak Imam menarik celana dalam itu dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Bu Guru berjilbab itu. Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjang yang kian kusut itu.

Bu Endar Faizah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Pak Imam ini. Sekarang dirinya dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai celana dalam dan kedua teteknya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka nya yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.Imam benar-benar semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati memeknya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.

Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan memek akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Melihat ekspresi muka akhwat cantik yang masih memakai jilbab duduk mengangkang,kain gamisnya terangkat tinggi dan telah telanjang di tubuh bagian bawah ini.. yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Pak. Imam melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 13.30, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Pak. Imam sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.

Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Pak Imam, dengan tetap mengunci kedua tangan Bu Endar, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan celana dalam-nya. Pada saat celana dalam-nya terlepas, maka kontol Pak Imam yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Pak Imam agak merenggangkan badannya, hingga terlihat oleh Bu Endar kontol yang sedang mengangguk-angguk itu, badan akhwat berjilbab itu tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki Tua itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar…., sangat panjang…, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti jamur. Tak terasa dari mulut Bu guru berjilbab itu terdengar jeritan tertahan, “Iiihh”, disertai badannya yang merinding.

Dia belum pernah melihat kontol sebesar itu. Bu Endar merasa ngeri. “Bisa jebol memekku dimasuki kontolnya”, gumannya dalam hati. Namun ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Pak Imam menatap muka cantik yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, “Kau Cantik sekali Endar…gumam Pak Imam mengagEndar kecantikan akhwat itu.

Kemudian dengan lembut Pak Imam menarik tubuh yang cantik itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Pak Imam berdiri menghadap langsung ke arah Bu Endar dan karena yakin bahwa Endar telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan akhwat cantik ini, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki bu Endar, bahkan dengan gemas ia merentangkan kedua belah paha lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan akhwat berjilbab itu Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Bu Endar tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Pak Imam yang besar, Bu Endar sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang menggila, apalagi melihat tubuh Pak Imam yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang di tumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Gejolak birahi kedua manusia itu semakin membara…Imam semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati tubuhnya .Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan baju panjang muslimnya. Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Sambil memegang kedua paha Bu Endar dan merentangkannya lebar-lebar, Pak Imam membenamkan kepalanya di antara kedua paha Endar. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar memek yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Bu Endar hanya bisa memejamkan mata,

“Ooohh..OOOOHHHH…., nikmatnya…,AAAUUUGGHHHH…AAAAAAAAAAAAAAAHHHH… ooohh!”, ia menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.

“Ooooohh..AAAAAAAAAAA ….HHHH…OOOHH…OOWWWW…, hhmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.

“Paakkk…, aku tak tahan lagi…!”, Bu Endar memelas sambil menggigit bibir.

Bu Endar Faizah….guru bahasa anggris yang cantik berjilbab itu….. tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi,perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang Tua yang kasar itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Pak Imam yang telah bepengalaman itu.

Namun rupanya lelaki Tua itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Bu Endar sudah mulai merespon atas cumbuannya itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Bu Endar kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua tetek dengan sangat bernafsu.

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Pak Imam ini, Bu Endar benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. “Paakkk…, aakkhh…AAAAAAAAAKKKKHHHH….EENNNAAAAAAKK…..ENAAAAKKK…..TERUUUUUUUUUSSSSSSSSS…TERUUUUUUSS………, aakkkhh!”, akhwat ayu berjilbab itu mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Pak Imam untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Pak Imam keras-keras. Kini ia tak peduli lagi akan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki Tua itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Akhwat ayu berjilbab…yang lemah lembut ini… benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki Tua yang dapat membangkitkan gairahnya.

Imam makin gemas menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini menggeliat-geliat menahan nikmat.Sebentar-sebentar Imam menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda.Ya…Bu Endar Faizah benar-benar berada dalam Birahi yang membakar sukmanya.

Tiba-tiba Pak Imam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Bu Endar yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya akhwat cantik itu dari atas meja dan kemudian Pak Imam gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Bu Endar ke bawah, sehingga sekarang posisi akhwat berjilbab itu berjongkok di antara kedua kaki berbulu Pak Imam dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Bu Endar Faizah…tahu apa yang diingini lelaki itu..tanpa sempat berpikir lagi, tangan Pak Imam meraih belakang kepala Endar dan dibawa mendekati kontol Pak Imam, yang sungguh luar biasa itu. kepala kontol Pak Imam telah terjepit di antara kedua bibir mungil BU Endar…., dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Bu Endar Faizah mulai mengulum alat vital Pak Imam ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki Tua itu melek merem keenakan. OOoooohhhhhh..TERUUUUUUSSS…….Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww…… .Ummiiii……..teruuuusssss……ooooggghhh……

Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut yang sensual, itupun …hampir sesak nafas dibuatnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang Kelihatan bu guru berjilbab yang cantik itu, menghisap…, mengulum serta mempermainkan batang kontol keluar masuk ke dalam mulutnya.

Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah bu Endar menyapu kepalanya. Rupanya akhwat cantik berjilbab itu mahir juga bermain oral sex…Bibirnya yang seksi dan wajahnya yang cantik….begitu memukau hati Pak Imam.TERUUUUUUSSS…….Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww……

.Ummiiii……..teruuuusssss……ooooggghhh……

Beberapa saat kemudian Pak Imam melepaskan diri, ia mengangkat badan Bu Endar yang jilbab dan baju panjang terusannya masih terpakai itu….diangkatnya baju kurung yang halus itu ke atas hingga pangkal pahanya yang putih berrsih …..membaringkan di atas meja dengan pantat terletak di tepi meja, kaki kiri guru berjilbab itu diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Pak Imam mulai berusaha memasuki tubuh bu Endar…… Tangan kanan Pak Imam menggenggam batang kontolnya yang besar …dan kepala kontolnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan akhwat itu……Oooohhhh…sssshhhhh…SSHHHH…..AUUUUWW……OOOOOUUUHHHH……AAAAHHHH..EEENNAAAAAKK…….ENAAAAAAK……AAAAAAAAAUUUUUWWW….TERUUUUUUUSSSSS….YEAH…..UUUUHHOOOOOHHHH…. AH…ENAAAAKKK……akhwat berjilbab itu mengerang…mendesis nikmat…, hingga merintih-rintih melawan badai birahi yang menerpa, kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Pak Imam terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Bu Endar yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran kontol Pak Imam yang besar .

Sementara denyut-denyut kemaluan Bu Endar Faizah semakin liar menggoyang dan memilin-nilin kontol Imam.Imam hanya bisa berteriak….oooh…enaaaakkkkk….TERUUUUUUSSS. ……Bu Endar……enaaaaaakkk….UUmmiiiii…..Faizah…Endar Faizah……Endar Faizaaaahhh…..aaaauuuuuww…… .Ummiiii……..Endar Faizaaahh…Endar Faizaahhh….Endar FAIZAHHHHH..Endar FAIZAAAAHHHH…..ENAAAAKKKK….teruuuusssss……ooooggghhh……

Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Pelahan-lahan kepala kontol Pak Imam itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan akhwat itu… Ketika kepala kontol lelaki Tua itu menempel pada bibir kemaluannya, bu guru berjilbab itu mendesis ooohh…..ough….aahhh……teruuusssssss……saluran memeknya ternyata panas dan basah.

Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala kontolnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan gamang dan gelisah itu, dengan kasar Pak. Imam tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Bu Endar, rambut lebat pada pangkal kontol lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Bu Endar yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang kontolnya amblas ke dalam liang memek akhwat berjilbab itu.

Tak kuasa menahan diri, dari mulut Bu Endar terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”,ooouuww……enaakkk…….sshhh……..enaaaaaaa aaaakkkkk….aku suka kontolmuuu…….ENNNNNAAAAAAKKKK…..ENAAAAAAK……OOOHHHH……AUUUUUWW ….Imam TERUUUUUUUSSSS…..ENTOT AKU TERUUUUUSS……MASUKKAN KONTOOLMU…..YA…ENAAAAAAAAKKK……AAAAAAAAAAAGGHHHH…. mulutnya meracau tak menentu disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Bu Endar mencengkeram dengan kuat pinggang Pak Imam. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

Akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah dilanda birahi yang menggelegak Lagi-lagi Imam menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Sementara Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari,kerudungnya kian kusut karena lonjakan kepala menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya aduuuuhh….OOhh…..auhhh…..augghh…ennaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk…..AAHHHHHHHHHHH….AAAAAAAAAAAAUUUUUUHHHHHHHH…..teruuuuuuusssssss..bibir Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.

Teteknya yang besar terguncang ke sana ke mari mengikuti hentakan tubuh Pak Imam…akhwat itu benar-benar berada dalam lautan BIRAHI. Pak Imam cukup mengerti keadaan akhwat cantik ini, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang kontolnya, dia memberi kesempatan kemaluan Bu Endar untuk bisa menyesuaikan dengan kontolnya yang besar itu.Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat anggun yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang . . Beberapa saat kemudian Pak Imam mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki Tua itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Bu guru cantik berjilbab ini berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan kontol lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Bu Endar mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki Tua yang sedang menatapnya, dengan takjub. Akhwat ayu ini berusaha bernafas dan … :” “Paak…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Bu Endar Faizah….guru bahasa inggris yang cantik itu….sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Pak Imam menggerakkan tubuhnya, ohhhhhhhhhhhhhh….. AAAHHHHHH…. ENAAAAAKK… TERUUUUUUUSIIN…. GENJOT TERUUS…………enaaaaaaaakkkk……teruuuuusss……..oouuww……. gesekan demi gesekan di dinding liang memeknya, sungguh membuat nya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Pak Imam menarik kontolnya keluar, Bu Endar merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Pak Imam menekan masuk kontolnya ke dalam memek nya, maka klitoris nya terjepit pada batang kontol Pak Imam dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang kontol Pak. Imam yang berurat itu. OOoooohhhhhhhhhh…..aduuuuhhh….enaaaakkk….mulut cantik itu benar-benar sudah tak terkontrol….

Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan akhwat cantik itu menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.Hanya rintihan…..desis nafas….dan keringat yang membanjiri tubuh bu Endar…..Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu….

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Bu Endar dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Endar dan meremas-remas kedua tetek Bu Endar secara bergantian. ..ia dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku.

Akhwat ayu berjilbab ini bisa melihat bagaimana batang kontol yang hitam besar dari lelaki Tua itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Bu Endar selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran kontol Pak Imam yang super besar itu. Akhwat ayu berjilbab itu menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki Tua itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Pak Imam terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Bu Endar semakin tak seimbang tubuhnya,kepalanya tergoyang ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya Ohh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaak kkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss..mulut cantikr Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.

Ooooooooouuuuuuuuuuhhhhhhhh…………… tiba-tiba Bu Endar …guru bahasa Inggris yang cantik berjilbab itu ..merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan pacarnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. .. merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam memeknya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster Tua itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan memeknya menyerah dalam suatu penyerahan total.

Bu Endar Faizah…guru manis berjilbab itu…..berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi…, tidak bisa, ini terlalu nikmat…, proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada akhwat ayu ini masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam memeknya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Bu Endar merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.

Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya ia membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…AAAAAAAAAAAAhhhhhhhhh………OOOOOOOOUUUGHHHHHHH.. ,akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Akhwat berjilbab itu terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana kontol hitam besar Pak Imam tetap terjepit di dalam liang memeknya.

Selama proses orgasme yang dialami Bu Endar.. memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Pak Imam, dimana kontolnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang memek dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang kontolnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha kontolnya, terlebih-lebih pada bagian kepala kontolnya setiap terjadi kontraksi pada dinding memek NBu Endar, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. perasaan Pak Imam seakan-akan menggila melihat akhwat berjilbab yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang kontolnya yang hitam besar itu.OOOhhhh….. aghhh…..ssshhhh……..oouugghh……rintihan dan desis kenikmatan keluar dari mulut akhwat itu…. beberapa menit kemudian Pak Imam membalik tubuh yang telah lemas itu hingga sekarang Bu Endar setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Pak Imam. Pak Imam ingin melakukan doggy style rupanya.

Tangan lelaki Tua itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah tetek Bu Endar yang montok..Sesekali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya bu Umu Faizah kian kusut itu…. yang kini menggantung ke bawah.

Dengan kedua kaki setengah tertekuk, ia menyingkapkan kain gamis panjang yang menghalangi pandangannya.secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala kontolnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam memek Bu Endar pada permukaan lubang kemudian menempatkan kepala kontolnya pada bibir kemaluan Bu Endar dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala kontol tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan ….Aaaaahhhhhhh………….ooohhhh……Bu Endar meracau…..Kedua tangan Pak Imam memegang pinggul Bu Endar dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan bu guru itu tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki bug guru berjilbab itu dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Bu Endar ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Endar…ooohhhhhhh …..Oooooooh!”, kontol laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang memeknya dan Pak Imam terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Bu Endar yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Pak Imam memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan kontolnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang memek guru berjilbab yang ketat itu. Sebagai seorang akhwat Jawa yang se tiap hari minum jamu, Bu Endar Faizah…guru cantik berjilbab itu memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini i kewalahan menghadapi Pak Imam yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu. OOOhhhhh….yeeesss……oohhhh…..aduuuuhhh…..agghhh…………..ennaaaaaaaaaaakkkkkk…….

Pak Imam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan ditariknya akhwat berjilbab itu duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Pak Imam. Pak Imam mengangkat kain gamis/jilbab baju panjang Bu Endar…..menempatkan kontolnya pada bibir kemaluan nya dan mendorongnya sehingga kepala kontolnya masuk terjepit dalam liang memek akhwat berjilbab itu…, sedangkan tangan kiri

Pak Imam memeluk pinggul Bu Endar dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti kontol Pak Imam menerobos masuk ke dalam kemaluan nya Tangan kanan Pak Imam memeluk punggung Bu Endar dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan akhwat ayu melekat pada badan Pak Imam. Kedua tetek nya terjepit pada dada Pak. Imam yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Pak Imam. Bu Endar Faizah merintih… ooooohhhh…….aouuuwwww……. Kepalanya tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Pak Imam bisa melumat bibir akhwat ayu yang agak basah terbuka itu.

Bu Endar semakin aktif……..mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga kontol yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam memeknya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Bu Endar merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus………, terus……., bu guru berjilbab itu tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih aooooooooouh…..oohh……yesss….ssshhhhh…….aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………eennaaaaaaakkk ANAAAAAAAKKKKK….OOOUUUHH………………menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, akhwat ayu itu tak peduli lagi, “Aaduuuh..ADDDUUUUHHHH………oooh…..aaauuwwww…..,eehgghghhhh..AUUUUWWW….ENNNNAAKKK…..NIKMAAAAAATTT…..”, akhwat berjilbab itu memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Pak Imam.Bu Endar hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanyaOOhh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss…..Bu Endar meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi seekor kuda betina yang liar dan ganas, buas dan galak.

Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai..sopan….. alim dan berjilbab… kini mendapatkan kenikmatan maksimal justru bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.

Kemudian laki-laki itu menggendong dan meletakkan akhwat berjilbab itu di atas meja dengan pantat terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Pak Imam mengambil posisi diantara kedua paha akhwat cantik berjilbab itu…yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun kontolnya ke dalam lubang memek yang telah siap di depannya. Kembali Pak Imam membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya dengan kain baju terusan panjang yang kian kusut itu….

Laki-laki itu mendorong kontolnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Bu Endar yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Pak Imam memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Bu Endar yang terkapar lemas di atas meja.

Sementara lelaki Tua itu terus berpacu diantara kedua paha akhwat cantik BERJILBAB itu, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan kontol lelaki tersebut. Akhwat ini benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si Tua yang perkasa itu. Endar Faizah kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu oooohhh……aagghh…….uuuhhh….EEENNAAAK.. KONMTOLMU ENAAAAAAK…AKU SUKA KONTOLOMUUU………..OOOHHHH….oohhhh…….aahhhh……oouuugghh…….ennnaaakkkk……oo ohhh…………….yeesss……egghhhh………ooohhh…….aaahhhhhhhhhhh……., kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 14.oo berarti telah 1 jam dia menggarap gadis ayu berjilbab tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam kontolnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung kontolnya. Akhwat ayu dengan jilbab dan baju panjangnya yang kian kusut itu kini telah menikmati birahi yang menggelegak Lagi-lagi Imam menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Bu Endar hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan birahi dann nafsu yang melanda dirinya.OOoouuuughhhh………auhhh…..au gghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk rintihnya.Tiba-tiba Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…AAAAAAHHHHHHHHH…., terus”, dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Bu Endar….dan batang kontolnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang memek akhwat berjilbab itu….Dengan suatu lenguhan panjang,

“Sssh…, ooooh! EndarIIII…ENNNAAK……Endar FAIZAAAH…..MEMEKMU ENAAAK….Endar FAIZAAAAHH….Endar FAIZAAAAAAAAHHHH…EndarIII…Endar FAIZAAAHH….”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki Tua tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam memek Bu Endar. Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Bu Endar yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga memeknya. Tubuh lelaki Tua itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.

Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Pak Imam bangun dari atas badan Bu Endar…, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Bu Endar.Setelah bersih Pak Imam menarik tubuh Bu Endar yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka….merapikan gamis panjangnya….membetulkan jilbab yang acak-acakan… Setelah merapikan baju dan celananya, Pak Imam menarik badan akhwat cantik itu dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisik ke telinga Bu Endar, “Maafkan saya manis…, terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!”, kemudian dengan cepat Pak Imam keluar dari ruangan kerja Bu Endar dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 3.Jam menunjukan 14.15

Sepeninggalan Pak Imam, bu guru cantik berjilbab itu terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan suaminya kelak, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu. Tepat jam 14.30, ia bergegas masuk ke kelas untuk mengajar pelajaran bahasa inggris…tanpa ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.tak seorangpun tahu ia baru saja lepas dari BIRAHI yang dahsyat.

BU ASIH 2: BUNGA

besoknya setelah aku menikmati tubuh Bu Asmi yang putih montok itu, aku menuju sekolah dimana bu Asmi mengajar. Bukan untuk menemuinya, namun untuk menemui pak Roy, guru yang melakukan hubungan intim dengan Bu Asmi. Bukannya aku butuh uang dan mau memerasnya, tapi kalau benar pak Roy itu playboy, kali aja aku bisa dibagi koleksi perempuannya. Heheheheh.

jilbab hot novita ningsih (2)

Siang menjelang sore itu sekolah sepi karena memang murid-murid udah pulang. Pukul 2 aku memasuki lorong sekolah, menuju ruang guru. Ketika kutengok ke ruang guru, ternyata ruang itu sudah kosong dari guru. Segera aku berjalan dan mencari-cari meja dari pak Roy. Beberapa saat segera aku menemukannya, dengan nama meja diatasnya. Ada foto juga dipajang dimeja itu, seorang laki-laki bertubuh atletis dengan celana training panjang dan kaus putih ketat dengan stopwatch dan peluit tergantung di lehernya. Aku menebak dia adalah pak Roy itu sendiri. Ketika hendak keluar, aku melihat ada seorang cleaning service yang sedang menyapu lantai diluar pintu.

jilbab hot novita ningsih (1)
“pak roy sudah pulang, pak?” tanyaku.
Cleaning service tadi melihat kearahku. “pak roy? Ooh, tadi kayaknya ke belakang sekolah pak. Mau ke kamar kecil, mungkin.” Jawabnya.
“kalo mau segera ktemu, lewat mana yah pak, ke belakang sekolah?” tanyaku. Sedikit curiga karena jelas-jelas disudut ruangan guru ada kamar kecil.
Sang cleaning service tadi memberitahukan jalannya, lalu segera aku menuju ketempat itu, yang memang tempatnya tersembunyi dari hiruk pikuk sekolah.

Ketika aku sudah mendekati tempat yang dimaksud, aku mendengar suara-suara yang aneh. Segera aku melambatkan langkah dan mengintip dari sebuah jendela kecil yang tertutup kaca gelap kusam, sehingga tidak memungkinkan orang yang ada di lapangan kecil disudut sekolah sepi itu melihatku. Lapangan badminton yang sudah tidak terpakai itu nampaknya menjadi semacam gudang besar dimana dipinggirnya banyak ditaruh bangku, almari dan berbagai macam inventaris sekolah yang sudah rusak. Apa yang aku curigai ternyata benar. Aku melihat Pak Roy ada ditengah lapangan sedang bercumbu dengan seseorang. Dan terpananya lagi, ternyata yang ia cumbu adalah seorang gadis muda yang masih mengenakan baju seragam abu-abu putih berjilbab, walaupun sudah berantakan karena cumbuannya. Seragam OSIS putihnya sudah terbuka semua kancingnya, menampakkan buah dada ranum putih sekal yang tidak tertutup lagi oleh BH yang sudah diturunkan kebawah. Gadis itu cantik dan berwajah lugu. Kulitnya yang putih dan seragam SMA serta jilbab putih panjangnya membuatnya terlihat semakin cantik. Pak Roy sambil agak membungkuk mengulum-ngulum putting siswi berjibab itu yang sudah tampak pasrah dan hanya bisa merintih dan mendesah sambil tubuhnya sesekali bergetar merasakan rangsangan yang diberikan oleh guru olah raga itu. Dibelakang, seorang lelaki yang memakai baju safari serta kopiah dikepala menonton adegan panas kedua orang itu.

jilbab hot novita ningsih (3)

Setelah puas merangsang sang siswi itu, pak Roy berdiri didepan siswi berjilbab yang sudah lemas dan pasrah itu sambil mengelus-elus kejantanannya yang sudah mengacung, keluar dari celananya yang memang sudah diturunkan retsletingnya. Dengan tangan satunya Pak Roy menekan pundak sang siswi canti berjilbab itu turun, sampai bagian bawah perut Pak Roy persis berada di depan wajah siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu sepertinya sudah tahu apa yang pak Roy mau. Ada sedikit perlawanan, namun tenaga guru olah raga terlalu kuat dibanding tenaga siswi itu. segera gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu bersimpuh ditengah lapangan kecil kotor itu yang sudah dialasi tikar lusuh yang mungkin memang sudah disiapkan oleh pak Roy dan temannya, lalu perlahan-lahan pak Roy mendekatkan batang kemaluannya ke wajah sang siswi berjilbab itu yang memejamkan matanya.

jilbab hot novita ningsih (4)

Pak Roy kemudian menggesek-gesekkan kontolnya ke pipi siswi itu sambil mendesah-desah. Tak lupa ia tampar-tamparkan pelan kontolnya ke wajah putih bersih siswinya. Beberapa saat, pak Roy membungkuk meraih tangan kiri siswi berjilbab yang sekal itu lalu dipegangkan ke kejantanannya itu. Penis Pak Roy bergetar dalam genggaman siswi berjilbab berparas lugu itu. Tangan siswi cantik berjilbab itu tidak cukup untuk menggengam penisPak Roy yang besar itu. Perlahan-lahan siswi berjilbab itu mengocok-kocok batangPak Roy itu keatas dan kebawah.
‘emmmhh…iyaahhh..enaakk, bungaaa… kamu pintarrrr… nanti bapak kasih nilai bagusshhh…” Pak Roy menatap siswi berjilbab yang ternyata bernama Bunga sambil mendesah-desah dan meracau. Seorang gadis muda yang cantik, sedang mengelus-elus penisnya.

“ayo sayaaangghh…sekarang dikulum-kulum yaahh…” kata pak Roy sambil terus menyorong-nyorongkan batang kerasnya ke wajah siswi berjilbab cantik itu. Pelan-pelan siswi berjilbab berparas lugu itu mengarahkan mulutnya ke penis pak Roy. Gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu siswi berjilbab itu mengulum sekalian alat vital pak Roy ke dalam mulutnya hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda seperti pentungan satpam itu dikulum dan dijilati. “Oh.. Bungaa…enaakk.. sayaaangghh… enaak muridkuu….” kata pak Roy sambil mendesah-desah kenikmatan. “Ehm..ehmm…”hanya itu yang keluar dari mulut siswi cantik berjilbab itu. Selain menyepong, pak Roy juga mengajari siswinya yang cantik berjilbab itu turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.

jilbab hot novita ningsih (5)

Pak Guru berkopiah yang dari tadi hanya melihat, lalu mendekati mereka. Dia membuka retsleting celana panjangnya, mengeluarkan penisnya yang hitam, lalu meraih tangan siswi berjilbab berparas lugu itu untuk menggengam kemaluannya. Siswi berjilbab itu meraih penis hitam itu lalu secara perlahan-lahan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengocok. Secara bergantian mulut dan tangan siswi berjilbab itu melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tapi siswi cantik berjilbab itu lebih sering mengoral punya Pak Roy, sedangkan penis Pak Guru berkopiah lebih sering dikocok pakai tangan siswi berjilbab berparas lugu itu. Tidak puas hanya menikmati tangan siswi berjilbab itu, sesaat kemudian Pak Guru berkopiah meminta ke pak Roy untuk merubah posisi. Tubuh siswi berjilbab itu tanpa perlawanan yang berarti dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi cantik berjilbab itu diposisikan doggy style sambil mengulum penis Pak Roy, sementara Pak Guru berkopiah itu mengambil tempat dibelakang sisiwi berjilbab yang sudah pasrah itu, dan langsung menyibakkan rok panjang gadis manis siswi SMA itu keatas pinggul dan memelorotkan Cdnya.

“eeemmhh…jjaanngaaannn…jangaannn..” Siswi berjilbab berparas lugu itu berhenti mengulum penis pak Roy dan merintih ketika jari Pak Guru berkopiah itu mulai merenggangka vagina siswi berjilbab itu.

jilbab hot novita ningsih (6)

“udah diem!” bentak pak guru berkopiah. Pak Roy juga segera mencengkeram kepala sang siswi berjilbab dan kembali menjejalkan penisnya ke mulut siswi pelajar SMA itu untuk menghentikan rintihannya. Kembali pak Roy mendesah dan memaju mundurkan pinggulnya, menggenjot mulut siswi berjilbab itu. Siswi berjilbab bertubuh mengkal itu memekik tertahan ketika penis hitam pak guru berkopiah menyeruak masuk kedalam liang vaginanya yang sempit. mulut siswi berjilbab berparas lugu itu yang masih tersumpal penis Pak Roy mengeluarkan desahan tertahan berbarengan dengan amblasnya penis pak guru berkopiah memasuki vagina siswi cantik berjilbab itu. Kening siswi berjilbab itu berkerut menahan sakit karena memang ukuran penis Pak Guru berkopiah memang lumayan besar. Tapi Pak Guru berkopiah justru merasakan nikmatnya jepitan vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu di penisnya. Ditariknya penisnya keluar, lalu kembali didorongnya penisnya itu lebih kedalam hingga kembali amblas semuanya ditelan rongga siswi berjilbab berparas lugu itu. Kontan tubuh siswi berjilbab itu bergetar hebat.

“Ooohh.. Pak.. ngghh”erang siswi cantik berjilbab itu sambil melepas penis Pak Roy dari mulut siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah perlahan-lahan menggenjot vagina itu, tapi makin lama makin cepat sehingga desahan siswi berjilbab berparas lugu itu menjadi erangan panjang. Pak Roy tidak menyia-nyiakan mulut gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang terbuka lebar, diatancapkannya penisnya kemulut siswi berjilbab itu, sehingga siswi cantik berjilbab itu tidak bisa berteriak lagi.

Siswi berjilbab berparas lugu itu disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepala Pak Guru berkopiah merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudara siswi berjilbab itu yang sudah tak tertutup apa-apa lagi karena kemeja OSISnya sudah terbuka semuanya dan Bhnya juga sudah dilolosi. siswi berjilbab berparas lugu itu menggelinjang tak karuan waktu puting kanan siswi berjilbab itu digigitnya dengan gemas, kocokan dan kulumann siswi cantik berjilbab itu pada penis Pak Roy makin bersemangat.

jilbab hot novita ningsih (7)

Rupanya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah membuat Pak Roy ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulut Bunga dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepala siswi berjilbab berparas lugu itu pun dipeganginya dengan erat. Bahakan sesekali dia ikut menampar pantat sekal mulus siswi berjilbab itu ketika siswi cantik berjilbab itu menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu memenuhi mulut siswi berjilbab itu yang mungil, malah masih ada sisaanya diluar. Hal itu membuat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu susah bernafas. Akhirnya siswi berjilbab berparas lugu itu hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka dilapangan sepi sudut sekolah yang kotor itu. Sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuh Bunga. siswi cantik berjilbab itu terlihat semakin menikmati permainan brutal Pak Roy dan temannya hingga akhirnya tubuh siswi berjilbab itu mengejang dan mata siswi berjilbab berparas lugu itu membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Roy. Bersamaan dengan itu pula genjotan Pak Guru berkopiah terasa makin bertenaga.

jilbab hot novita ningsih (8)

“mmhhh…Bungaaahhhh… bapak mau keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Mereka pun terlihat mengejat-ngejat mencapai orgasme bersamaan. Dari selangkangan siswi berjilbab itu meleleh cairan hasil persenggamaan. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu melepaskan penis Pak Roy dan jatuh telungkup dilantai kotor beralas tikar lusuh itu. Siswi cantik berjilbab itu terlihat sangat lemas. Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuh Bunga berkeringat sangat banyak. “bapak tusuk sekarang ya bunga sayaaangg…? udah ga tahan dari tadi belum rasain memeknya bunga… tahan ya bunga sayaaaang…” kata Pak Roy sambil membalikkan tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu. siswi berjilbab itu tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia sudah tak mampu melawan ketika Pak Roy yang sudah dibakar api birahi membalik tubuhnya terlentang. Rok panjang gadis SMA itu yang kembali turun dinaikkannya lagi keatas pinggul. Jilbab yang menutupi buah dada mengkal sang gadis dililitkan ke lehernya.

“Pelan-pelan paak….”kata siswi cantik berjilbab itu setengah merintih sambil menatap ngeri ke penis pak Roy yang besar. Air matanya sudah mengalir dipipinya. Pak Roy terlihat semakin bernafsu. Lalu dia mengambil posisi berlutut di depan siswi berjilbab itu. dibukanya paha siswi berjilbab berparas lugu itu lalu diarahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluan siswi cantik berjilbab itu sehingga Bunga berkelejotan.

jilbab hot novita ningsih (9)

“Suka ga Bunga, memeknya bapak ginikan?”Tanya Pak Roy sambil terus menggesek-gesek.Dia nampaknya tidak mau buru-buru. Dia terlihat menikmati melihat siswi berjilbab berparas lugu itu tersiksa seperti ini.

“Aahh.. iya…senang…” desah siswi cantik berjilbab itu tak tertahankan.

Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vagina siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab itu memejamkan mata, meringis, dan merintih akibat gesekan benda itu pada milik siswi cantik berjilbab itu yang masih sempit. Air mata siswi berjilbab itu kembali mengalir. Penis Pak Roy tampaknya susah sekali menerobos vagina siswi berjilbab itu walaupun sudah dilumasi oleh lendir siswi cantik berjilbab itu. dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi.

jilbab hot novita ningsih (10)

“Wah.. Bunga.. hhh… sempit banget memeknya…” ceracaunya. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihan siswi berjilbab berparas lugu itu mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vagina Bunga, semakin cepat dan semakin dalam, hingga masuk semua. Kini vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk. Sepertinya siswi berjilbab berparas lugu itu merasa sakit bukan main karena kemudian siswi cantik berjilbab itu kembali merintih-rintih menyuruh Pak Roy berhenti sebentar, namun Pak Roy yang sudah kalap ini tidak mendengarkan siswi berjilbab itu, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. siswi cantik berjilbab itu terlihat mulai terhanyut sensasi itu. rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh mereka.

jilbab hot novita ningsih (12)

“Oh..oh…”hanya itu yang keluar dari mulut Bunga. Mata siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat terbelalak seolah merasakan kenikmatan yang tiada tara. Malah kini siswi berjilbab itu juga ikut menggoyang-goyangkn pantatnya secara aktif. Melihat siswi cantik berjilbab itu sudah `in` Pak Roy makin bersemangat. Dia lalu berganti posisi. Pak Roy melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan menaikkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu ke penisnya. Pak Roy ingin memberi siswi berjilbab itu kepuasan lebih dengan cara siswi berjilbab itu yang memegang kendli. siswi cantik berjilbab itu terlihat sudah sangat pasrah dan terhanyut birahinya. Dengan refleks siswi berjilbab berparas lugu itupun menggenggam penis Pak Roy sambil menurunkan tubuhnya yang sintal itu hingga benda perlahan-lahan itu amblas ke dalam memeknya. Jilbab putihnya turun menutupi buah dadanya yang sudah terbuka, namun pak Roy tidak peduli. Justru sang gadis semakin cantik, dengan jilbab yang masih ia pakai, merintih-rintih sambil mengikuti naluri hewaniahnya, menggenjot penis Pak Roy .

jilbab hot novita ningsih (11)

“aiihh…sakiit paak…” kata siswi cantik berjilbab itu merintih kesakitan sebentar kala penis Pak Roy makin dalam menyentuh liang siswi berjilbab itu. Tapi setelah berhenti sebentar siswi cantik berjilbab itu pelan-pelan mulai menaik turunkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu perlahan-lahan. Pak Roy memegangi kedua bongkahan pantat siswi cantik berjilbab itu yang padat berisi itu, secara bersamaan mereka mulai menggoyangkan tubuh mereka. Desahan mereka bercampur baur, tubuh Bunga tersentak-sentak tak terkendali, kepala siswi cantik berjilbab itu digelengkan kesana-kemari. Jilbabnya sudah basah oleh keringat ketiga orang itu.

Semakin lama, terlihat gadis berjilbab berbuah dada sekal itu semakin bernafsu. siswi berjilbab berparas lugu itu menggoyangkan pinggulnya semakin cepat diatas tubuh Pak Roy, bahkan siswi cantik berjilbab itu dengan kedua belah telapak tangannya meremasi payudaranya sendiri yang bergoyang-goyang.

Pak Guru berkopiah menonton adegan siswi berjilbab itu sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memncing adik kecilnya untuk `bangun`.

jilbab hot novita ningsih (13)

“Ayo…goyang sayaaanghh…oohh!” Pak Roy sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. Tangannya tetap meremas-remas dada Bunga, bahkan sesekali dicondongkannya wajahna untuk melumat payudara siswi berjilbab itu. Kontan siswi cantik berjilbab itu menjerit-jerit makin kuat. Jeritan siswi berjilbab berparas lugu itu membuat Pak Roy makin bernafsu begitu juga Pak Guru berkopiah, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, penisnya mengacung di depan muka siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah itu mengelus-elus pipi siswi cantik berjilbab itu yang putih mulus. “Emut Bungaa…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya kemulut siswi berjilbab itu yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa Pak Guru berkopiah itu menjejalinya ke mulut siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu kemulutnya. Siswi cantik berjilbab itu menyambut batangnya dengan kuluman dan jilatan. Seperti tak perduli pada bau sperma pada benda itu, lidah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, mungkin karena sudah sangat birahi, siswi berjilbab itu tidak merasa jijik. Malah siswi berjilbab berparas lugu itu mepakai ujung lidah siswi cantik berjilbab itu untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Pak Guru berkopiah blingsatan sambil meremas-remas kepala siswi berjilbab itu yang masih memakai jilbab putih. Bunga melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Roy.

jilbab hot novita ningsih (14)

“ah uh ah..ah..uh..auuhh…mmhh..”suara-suara itu membahana disudut sekolah itu, suara nista lenguhan dua orang guru yang sedang menggagahi siswiny ayang berjilbab. Sang siswi berjilbab bernama bunga juga akhirnya pasrah dan dipaksa menikmati persetubuhan nista itu. Aku masih terpaku disudut jendela kusam tempatku mengintip. Hpku sudah kugunakan dari tadi, merekam persetubuhan itu.

Dengan tetap bergoyang, siswi berjilbab berparas lugu itu juga mengisap-ngisap penis Pak Guru berkopiah makin keras. Tangan Pak Guru berkopiah merayap ke bawah menggerayangi payudara siswi cantik berjilbab itu. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitif gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, sehingga siswi berjilbab itu dibuatnya terpekik-pekik penuh kenikmatan.

“auugghhh..oohhhmm…paaakkk…bungaaa….mauuu..mauuu…”, siswi cantik berjilbab itu meracau terpekik-pekik bahwa sebentar lagi dia orgasme.
“mmmhhh..tahan sayaaaangghhh…bapak juga sudah maauuu….” Pak Roy terus menggenjot dari bawah, ebrusaha segera meraih kenikmatan.

jilbab hot novita ningsih (16)
Sampai akhirnya dia meremas pantat Bunga erat-erat dan memberitahu siswi cantik berjilbab itu akan segera keluar, perasaan yang ditahan-tahan itu pun dicurahkan juga. “Aaaahhhhh….!!” jeritan panjang tertahan keluar dari mulut siswi berjilbab berparas lugu itu, kepala siswi berjilbab itu mendongak ke atas menatap langit sore. Mereka orgasme bersamaan dan Pak Roy menumpahkan sperma kentalnya di dalam vagina sempit siswi cantik berjilbab itu. Sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu.

Penis Pak Guru berkopiah yang sudah tegang benar dilepaskan lalu Bunga ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Roy. Dia peluk tubuh siswi cantik berjilbab itu sambil penisnya tetap dalam vagina siswi berjilbab berparas lugu itu, mereka berdua basah kuyup keringat yang mengucur.

jilbab hot novita ningsih (17)

Pak Roy lalu melepas tubuh Bunga yang sangat lemas. Dia mengambil air minum kemasan miliknya di sudut lapangan untuk minum. Penisnya sudah tidak setegang yang tadi. siswi cantik berjilbab itu kini telentang terengah-engah kehabisan tenaga menghadap Pak Guru berkopiah yang sedang mendekat kearah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu menggeleng lemah ke Pak Guru berkopiah yang sudah bersiap-siap ingin mengagahi siswi cantik berjilbab itu. Ar matanya terlihat masih mengalir di pipinya. Tapi sepertinya air mata dan keadaan sang gadis berjilbab itu yang sudah sangat lemas tidak bisa menyurutkan birahi Pak Guru berkopiah itu yang sudah on fire. Pak Guru berkopiah mengambil handuk kecil kotor di sudut lapangan dan membersihkan vagina Bunga yang belepotan sperma. Usapan ujung handuk di vagina siswi berjilbab berparas lugu itu cukup membuat siswi berjilbab itu bergetar.

kemudian tubuh siswi cantik berjilbab itu oleh Pak Guru berkopiah dipaksa dibalikkan dalam posisi menungging lalu kembali menyibakkan rok gadis berjilbab ityu yang kembali turun menutupi paha dan betisnya. Dia menepuk-nepuk pantat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang montok. Puas menepuk sekarang giliran lidah Pak Guru berkopiah yang merasakan kelembutan kulit pantat siswi berjilbab berparas lugu itu. Mulutnya dengan rakus menciumi pantat siswi berjilbab itu. Lidahnya menelusuri vagina Bunga dari atas kebawah. siswi berjilbab itu semakin menggelinjang ketika lidah Pak Guru berkopiah memjilati anus siswi cantik berjilbab itu. Pak Guru berkopiah tanpa perasaan jijik masih terus menjulurkan lidahnya ke anus siswi cantik berjilbab itu sehingga memberi siswi berjilbab berparas lugu itu terus menggelinjang.

jilbab hot novita ningsih (18)

Puas merasakan nikmatnya vagina dan anus gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, dia kemudian meludahi bagian dubur siswi berjilbab itu beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. siswi cantik berjilbab itu terlihat memejamkan mata pasrah. Bunga terlihat terkejut ketika Pak Guru berkopiah mulai menggesekkan penis hitamnya dibibir lubang anus siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu kontan menarik pantat siswi berjilbab itu. Tapi Pak Guru berkopiah menarik gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak…jangan di situ…. sakit” iba siswi cantik berjilbab itu. “Tahan dikit sayang, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Pak Guru berkopiah itu perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anus siswi berjilbab berparas lugu itu. Anus siswi berjilbab itu kontan mengerut. Pak Guru berkopiah itu terlihat kesulitan memasukkan penisnya kedalam dubur sempit Bunga. Siswi berjilbab itu merintih menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada dubur siswi cantik berjilbab itu yang lebih sempit dari vaginanya. Air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu kembali meleleh keluar.

“Aduuhh… Sudah Pak… Bunga nggak tahan” rintih siswi berjilbab berparas lugu itu kesakitan. Tapi Pak Guru berkopiah itu tidak menghiraukannya. Dengan paksa terus dimasukkannya penisnya ke anus siswi berjilbab itu.

“Uuhh… Sempit banget nih anus kamu…” Pak Guru berkopiah itu mengomentari siswi berjilbab itu dengan wajah meringis menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Pekikan Bunga semakin keras. Pak Guru berkopiah itu mendiamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga dipakai bunga untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

“Auhhh….sakit…” Siswi cantik berjilbab itu menjerit keras saat Pak Guru berkopiah itu mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh Bunga pun ikut terhentak-hentak. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengerang dan memekik keras merasakan perih. Tanpa menghiraukan siswi berjilbab berparas lugu itu dia tetap mengentot dubur siswi berjilbab itu. Untuk merangsang siswi cantik berjilbab itu, tangannya kedepan meraih kedua payudara siswi berjilbab itu yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut.

“pak..u..da..ah….Bunga..sa..kit” jerit gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu panjang. Keringat dan air mata siswi berjilbab itu terus bercucuran. Jeritan Bunga itu tampaknya justru membuat Pak Guru berkopiah itu makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudara siswi berjilbab berparas lugu itu yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihan siswi cantik berjilbab itu saling beradu dengan lenguhan Lambat laun jerit kesakitan gadis SMA berjilbab itu berjurang, walaupun begitu air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu tetap bercucuran. Siswi berjilbab itu mengaduh setiap kali Pak Guru berkopiah itu mengirim hentakan dan remasan keras, namun terkadang terlihat siswi berjilbab itu mengimbangi goyangan Pak Guru berkopiah. Terkadang Bunga harus menggigit bibir untuk meredam jeritannya.

Pelan-pelan terdengar pekikan kesakitan sang gadis berjilbab karena sodokkan penis Pak Guru berkopiah mulai berkurang, berganti dengan rintihan nikmat, apalagi waktu Pak Guru berkopiah itu menarik wajah siswi berjilbab berparas lugu itu dan memagut bibir siswi cantik berjilbab itu, diciumnya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dengan lembut. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dada siswi berjilbab itu dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulut siswi cantik berjilbab itu dengan lembut.

jilbab hot novita ningsih (19)

Akhirnya setelah Pak Guru berkopiah semakin cepat menggoyang pinggulnya menggagahi anus siswi berjilbab itu, sang gadis berjilbab itu mengerang panjang dan mengejat-ngejat, siswi berjilbab itu mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. Pak Guru berkopiah sendiri menyusul siswi berjilbab itu tak lama kemudian, dia menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu dia mencabut penisnya dari gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dan membalikkan tubuh siswi cantik berjilbab itu. Spermanya muncrat dengan derasnya dan berceceran di sekujur dada dan perut siswi berjilbab itu, mengenai BH dan seragam OSISnya.

Siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat lemas sekali. Ia hanya terbaring pasrah di tikar lusuh. Bajunya sangat berantakan. Terdengar sisa isak tangisnya. Nafasnya masih menderu karena orgasme-orgasme yang ia alami. Pak Roy kembali merapikan bajunya, semntara Pak Guru berkopiah rekannya masih duduk beristirahat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. beberapa saat kemudian dari arah aku datang (aku sudah bersembunyi di ruang gelap sebelah jalan yang penuh kursi-kursi rusak sehingga cukup aman) datang lagi seorang yang berjenggot dan juga memakai baju safari.

“wah, kalian mainnya kok ninggal-ninggal aku.” Kata Pak Guru berjenggot itu. Dia langsung membuka retsleting celananya dan mengeluarkan kontolnya yang terlihat berurat.. Segera ia mendekati lagi sang gadis berjilbab yang masih terbaring lemah.

“jangaaan…sudaaah….sakiiitt…” Bunga, gadis berjilbab bertubuh sekal itu kembali merintih namun tak bisa berbuat apa-apa ketika Pak Guru berjenggot itu kembali membentangkan kaki Bunga dan langsung menjejalkan penis berburatnya kedalam vagina yang masih berlumuran sperma milik siswi cantik berjilbab itu.. “eemmmhhh….” Bunga yang sudah sangat lemas hanya bisa mendesah ketika penis Pak Guru berjenggot itu melesak kedalam dan mulai digenjot pelan. Pak Guru berkopiah dan Pak Roy hanya tersenyum melihat birahi rekannya yang baru datang . Pak Guru berkopiah masih beristirahat sambil terus mengelus-elus kontol hitamnya, sementara pak Roy segera beranjak meninggalkan tempat itu. Aku segera mematikan rekamanku karena merasa cukup, dan mengikuti Pak Roy dari belakang, meninggalkan Bunga sang siswi berjilbab itu merintih-rintih karena memeknya kembali digenjot kontol untuk kesekian kalinya, jilbab putihnya yang sudah basah karena keringat masih terpakai rapi membungkus kepalanya.

SHAIMA

sebelumnya kenalan dulu yach, namaku Shaima, kulitku putih, tinggiku 167cm, keturunan aceh, sunda, sama ada turunan arab dikit dari kakekku almarhum. Ukuran Bra? nggak gede-gede amat sich..tapi tetep seksi koq, pas sama ukuran tubuhku. Semua temenku bilang aku cantik, imoet, trus lincah nggak bisa diem aku anak ke tujuh dari sembilan bersaudara, tinggal di L A (Lentenk Agoeng) di jalan Joe (dilarang nyantronin rumahku ya..) abi sama umi ku udah pada sepuh, jadi beliau berdua sering dirumah.. aku kuliah di kampus terkenal di Depok, lagi nulis skripsi sekarang.. udah gitu dulu aja.

nita-bigboobs hijab (11)
==============

Waktu di SMA dulu, aku udah deket sama anak-anak Rohis yang sering dikenal anak Musholla, mbak-mbak nya baik banget sich, peratian dan keibuan gitu. Salah satu seniorku namanya Mbak Afifah, dia udah alumni. Orangnya tinggi, putih, cantik banget dan berkacamata. Keliatan banget bersahajanya. Suaminya, bang Azis namanya, ganteng banget lhoo..cuma agak pendek, tinggian Mbak Afifah. Pas aku ikutan MOS di SMA ada promosi eks-kul, nah Mbak Afifah dateng ke sekolahan sama suami dan anaknya yang masih kecil. Presentasi Rohis bagus banget, singkatnya aku ikutan daftar. Jadilah aku anak Rohis. Setelah sekian bulan, aku diajak ikut mentoring, dan kebetulan Mbak Afifah yang jadi mentorku. Acara mentoring biasanya dilakukan habis pulang sekolah, antara jam 2 sampai jam 5 sore. Rumah Mbak Afifah dekat dengan sekolahku. Acara mentoring teryata akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Waktu itu, kami berlima udah jalan mentoring setahun lebih, dan biasa mondar-mandir dari sekolah ke rumah Mbak Afifah. Rumahnya jadi Base Camp anak-anak Rohis. Kami seneng juga main kesana, anaknya yang balita (Zahra) lucu banget. Lama-kelamaan, suami Mbah Afifah dan tetangga sekitarnya udah menganggap biasa kalo kami dateng dan kumpul-kumpul sampai sore di rumah Mbak Afifah.

nita-bigboobs hijab (1)

Aku inget banget tanggalnya, 10 Februari 2000, pas aku kelas 2. Siang itu kami main ke rumah Mbak Afifah, karena besoknya anak-anak Rohis mau ada acara Mabit (bermalam di Musholla sekolah) dan rencananya kami bareng-bareng Mbak Afifah mau belanja ke pasar buat beli cemilan malam. Bang Azis, suami Mbak Afifah juga ada di rumah, belakangan aku tau dia lagi cuti. Zahra kecil juga ada. Pas Dzuhur, Bang azis ke Masjid, sementara teman-temanku shalat di rumahnya. Aku lagi “dapet”, tapi di hari -hari terakhir. Aku ragu, berentinya hari ini apa besok, jadi tetep nggak shalat untuk jaga-jaga. Karena paling kecil dan nggak kuat panas, aku memilih untuk tinggal di rumah Mbak Afifah. Sofie, temanku juga nggak ikut ke pasar karena lebih seneng main sama Zahra. “Itung-itung jagain anak sambil latian jadi ummahat” katanya. Rumah Mbak Afifah berlantai 2, sejuk dan luas untuk ukuran rumah komplek deket sekolahku. Karena Kecapean, aku naik ke atas di lantai 2. Nggak lama suami Mbak Afifah pulang.
Dia nanya ke Sofie yang lagi main sama Zahra di ruang tamu “Umi Zahra kemana?”
“Ke Pasar Bang” jawab Sofie.

Aku pernah sempet mengkhayal, enak kali ya jadi Mbak Afifah, punya suami ganteng, sholeh kaya lagi. Dia punya bengkel mobil yang cukup besar dan terkenal di daerah Otista. Eh, nggak lama Bang aziz muncul, dia kaget ngeliat aku ada di lantai dua, duduk di sofa, deket kipas angin besar, buka jilbab pula !. Maklum udra diluar panas banget. Aku kaget banget waktu itu, trus lari masuk kamar di dekatku, trus kututup pintunya. Abis itu, buru-buru aku pakai jilbabku dan segera keluar, tapi Bang Azis ada di depan pintu kamar.

nita-bigboobs hijab (2)

“Shaima, sini sebentar.. abang mau bicara” panggilnya sopan, tapi nadanya tegas.
“Afwan Bang, ana nggak sengaja masuk kamar Abang” jawabku menyadari kesalahanku

Aku menghampiri Bang Azis sambil nunduk, malu. Dia duduk di sofa, aku duduk melipat kakiku di karpet. Bang Azis menasehatiku dengan lembut banget (sumpah!) singkat tapi padat, soal adab bertamu, adab berhijab de-el-el sampai aku terenyuh, merasa bersalah.. Nggak sadar aku nangis.. Bang Azis menenangkan, dan (wow) punggung tangannya menyeka airmataku (padahal campur sama ingus bening dari hidungku).

“Udah shaima sayang, jangan nangis gitu..” nadanya betul-betul kebapakan. Abi ku aja nggak pernah segitunya.

Nggak tau gimana, aku jadi tambah nangis, dan bersandar di dada kirinya dekat bahunya.. eh, Bang azis malah mendekapku dan mengelus punggungku.. Ehm, aroma tubuh Bang Azs wangi, seger banget banginya. Brangkali karena habis shalat, sisa parfumnya masih ada. Para Ikhwan memang biasa mengoleskan parfum non alkohol ke bajunya kalo mau shalat.

Setelah aku agak tenang, Bang Azis minta maaf kalo kata-katanya menyakitiku. Akhirnya aku tambah rileks, nggak lama kami ngobrol, dan dia nanya apa aku sudah shalat?

“Lagi nggak bang, ana lagi dapet giliran kedatangan tamu” jawabku sopan.

nita-bigboobs hijab (3)

Bang Azis ngangguk, dan dia minta aku supaya jaga betul kebersihan pribadi. Dia juga cerita, kalo Mbak Afifah sedang hamil lagi, jadi dia udah lama “nggak masuk kekamar yang ukhti masukin tadi” katanya. Makanya Bang Azis agak tersinggung waktu aku masuk ke kamar itu. Kamar bagi suami-istri adalah tempat paling rahasia, katanya.

Aku kembali nangis, minta maaaaaf banget. Eh, Bang Azis malah mendekapku lagi. kali ini dia mengeluarkan saputangan putih yang harumnya sama dengan parfum di bajunya. Bang Azis menarikku perlahan dari dekapannya dan menyeka air mataku, sambil merapikan jilbabku yang belum terpasang sempurna.

Bang Azis menatapku dengan sayu dan tersenyum. Aku terkesiap, karena tatapannya itu lhooo nggak kulupakan. Mataku sembab, bibirku juga jadi basah. Eh bang Azis mendekatkan mukanya ke wajahku. Dia mengecup keningku. Aku diam dan memejamkan mata.

Bang Azis kembali mengecup keningku, trus turun ke pipiku, dan sambil terpejam, kurasakan kecupannya makin turun ke bawah, ke bibirku, ke dagu, trus naik lagi ke bibirku (aku masih terpejam, badanku panas dingin). Ada sensasi aneh. Bang Azis turun dari sofa, merengkuh diriku.

Agak lama Bang Azis mengecup bibirku, dan menghisapnya lembut. Bibir atas dan bawahku jadi agak renggang, trus kurasakan gigi depanku dijilati oleh lidah pelan dan lembut yang menari-nari menjelajahi bagian dalam bibir atas dan bibir bawahku. Entah naluri apa, aku pelan pelan memuka mulutku dan menjulurkan lidahku yang mungil. Akhirnya lidah kami bertemu, dan saling hisap, saling membelitpun terjadilah.

nita-bigboobs hijab (4)

Nafas Bang Azis yang segar membuatku semangat, sementara mulutku mungkin masih ada aroma Somay kantin (hihihi). Perlahan namun pasti, tarikan nafas Bang azis seperti berpacu dengan detak jantungnya. Tangan Bang azis juga nggak diam ternyata. Mula mula punggungku dibelainya, trus turun ke pantatku (remasannya lembut namun dalam), trus turun lagi ke pahaku. Tubuhku memang kecil, dia membelainya, pantatku bisa direngkuh telapak tangannya. Aku makin panas dingin dan nafasku nggak bisa kuatur lagi.

Karena rabaan dan belaiannya disekujur tubuhku mulai punggung, paha, perut dan dadaku, pakaia seragamku jadi berantakan. Tapi sepertinya setan sudah menguasai kami berdua. Kubiarkan bang Azis yang ganteng, sopan, kebapakan dan wangi itu perlahan menyingkap rok-ku. Kakiku yang masih berbalut kaus kaki satin panjang yang nyaris mencapai lutut, ditariknya dan kakiku pun dijilatinya. Sela-sela kakiku dijilati, betisku, dan dengan gerakan meluncur cepat kebelakang pahaku. (ouwh.. sensasinya luar biasa!) kaus kakiku yang kiri nggak dilepasnya, tapi tetap dijilati cuma nggak merata seperti kaki kananku. Kedua belah pahaku basah oleh jilatanyya. Sensasi dingin kurasakan dipahaku saat angin semilir dari kipas angin yang masih meyala itu menerpa pahaku.

nita-bigboobs hijab (6)

Pas Bang Azis mau menarik celana dalamku kebawah (waktu itu aku masih pakai celana dalam katun bergambar Hello Kitty di bagian belakangnya, hihihi, lucu lho!) tiba-tiba aku tersadar.

“Jangan bang” pekikku pelan diantara deru nafasku yang tidak teratur sambil menahan tangannya, meski separih pantatku yang kanan kurasa sudah tersibak. Mukaku panas bukan main.

Bang Azis seolah tersadar, saat kubilang aku “lagi dapet”. Namun t****nya tetap menarik celana dalamku hingga melorot ke paha. Pembalutku jatuh, tapi koq nggak ada noda darahnya ya..yang ada malah vaginaku yang agak basah (aku malu banget saat itu) dan bang azis juga memeriksa lipatan paha, dan membuka labia mayora ku. “Udah bersih koq” katanya. Vaginaku memang kurawat dengan baik, terutama saat tamu bulanan datang. Pembalut cadngan pasti kubawa di tas ku, dan memang kami diajari saat mentoring bahwa kamiperlu merapikan dan lebih baiknya mencukur bulu-bulu vagina kami. Sunnahnya tiap hari kamis, kata Mbak Afifah, dan maksimal nggak dicukur adalah 40 hari (idiih joroknya!). Jadi nggak ada bulu-bulu di vaginaku, kecuali titik-ttik hitam bekas cukuran. kami juga diajari mengoleskan minyak wangi di lipatan-lipatan paha dan sekitar vadina seusai membersihkan darah kotor.

nita-bigboobs hijab (7)

Mungkin melihat vaginaku yang kecil, putih permukaan atasnya (bagian pubis) dan berwarna pink di bagian dalamnya, (wangi strawberry lagi..) bang Azis langsung menjilati permukaan vaginaku (awh, rasanyaaa seperti…wah pokoknya gimanaaa gitu!) dan perlahan disertai hisapan hisapan ditempat pipisku itu. Tubuhku gemetar dan nafasku makin nggak teratur. Aku merasa mau mengeluarkan pipis, maka kodorong kepala Bang Azis, tapi susah banget, mana rambutnya licin lagi! Akhirnya karena nggak kuat kutahan lagi, aku buang pipisku biarin deh nyiprat ke muka Bang Azis. Eh, nggak taunya malah pipisku yang aneh itu (agk kental dan lumayan banyak keluarnya, tapi abis itu aku merasa legaa banget) ditelan dan disruput oleh Bang Azis.. idih, jijik banget, pikirku.

Sesudah vagina, gantian pahaku dijilati lagi dan naik ke pantatku yang bulat kecil. Bang Azis mengecup keras dan kuat sekali, sampai aku meronta. Sakit!

Trus dia beralih ke perutku, pusarku dijilatinya.. aku kegelian (sumpah, geli bangedd) tapi ada sensasi nikmat. Trus jilatan dan kecupoannya naik ke atas, mengarak ke Payudaraku. Bra ku ditariknya ke atas, dan belahan diantara dua payudaraku jadi sasaran jilatan dan kecupannya. Payudaraku yang kecil itu diciumi, dijilati bahkan ditelannya. Maklumlah, ukurannya masih kecil dibanding punyaku yang sekarang (yag juga nggak gede tapi montok). Payudaraku yang kanan betul-betul masuk semuanya ke mulut Bang Azis. Aku kembali gemetaran. Nikmaat sekali rasanya.

nita-bigboobs hijab (8)

Waktu itu jilbabku masih menutup leher dan kepalaku (kalo dibuka, malu, soalnya rambutku pendek dan belum keramas, maklum lagi “dapet”) namun kurasa bentuknya pasti sudah nggak karuan dan acak-acakan. Bang Azis melanjutkan ke payudaraku yang satunya lagi. Aku menggelinjang hebat, karena kurasakan ada dorongan di s*****kangan dan vagimnaku, ada desakan mau pipis, jangan-jangan pipis aneh itu keluar lagi, pikirku.

Tapi Bang Azis cepat-cepat melepas kulumannya atas payudara kiriku, dan beralih kembali ke vaginaku. Rasanya luaaar biasa. Vaginaku dikecup dan dijilati. Lidah bang Azis menyeruak dan menari di dalam vaginaku, masuk sampai mencapai klitirisku dan lidahnya berputar-putar disitu.

nita-bigboobs hijab (9)

Aku cuma bisa terpejam dan menggigit bibir bawahku merasakan sensasi luar biasa ini, sampai akhirnya aku tak tahan lagi, dan rasanya aku mau pipis aneh lagi seperti tadi. Aku tersentak saat Bang Azis menghisap kuat klitoris dan vaginaku yang barangkali ukurannya lebih kecil dari mulut bang Azis. Akibatnya, pinggulku kuangkat tinggi persis gerakan Kahyang dan pipis aneh itu kembali keluar, tapi lebih deras, dan seluruh badanku bergetar hebat. “Uuuuh…mmmmm….aaaaahh” aku mendesah tak kusadari. Pinggulku yang terangkat keatas tiba-tiba itu agak mengejutkan Bang Azis, tapi ia dengan cekatan memeluk pinggangku dan menjilati semua caran yang keluar. Saking banyaknya, kurasakan cairan itu meleler sanpai ke kakiku, meluncur melewati paha dan betisku. Semuanya dijilat, dihisap dan (mungkin) ditelan Bang Azis tanpa sisa. Aku terbaring lemas dengan nafas yang menderu sat-satu. Pas kubuka mataku, bang Azis tersenyum. Senyum yang khas, tetapi memancaran ekspresi kepuasan. Kulihat sekilas, bagian s*****kangan celananya melembung dan agak mengkilat, terlihat basah. Dia memakai celana biru muda, sehingga kalau kena cairan pasti nampak jelas. Kemudian dia menurunkan celananya, hingga aku melihat celana dalamnya yang bermerk Rider itu seolah sesak tak mampu menampung penghuninya.

“Abiiiii” suara panggilan Mbak Afifah memecah lamunanku. Mereka sudah pulang dari pasar. Serta merta bang Azis menaikkan celananya kembali dan menggendongku ke kamar tamu di sebelah kamar tidurnya. Dia membantuku merapikan bajuku, menarik rok-ku ke bawah, dan mengambilkan kaos kakiku yang tertinggal di dekat sofa tadi, dan menutup pintu kamar, memintaku bersih bersih badan di dalam kamar mandi yang ada di kamar itu serta mengunci pintunya. “Shaima Jangan keluar ya kalo belum rapi” katanya. “Iya bang” jawabku gugup.

nita-bigboobs hijab (10)

“Abiii” panggil Mbak Afifah, yang segera disahut “Ya Umi” oleh Bang Azis. Selanjutnya aku nggak tau lagi, namun aku terduduk lemas di kloset kamar mandi itu. Pelan-pelan kubasuh vaginaku, dan aku mandi di shower dengan air hangat sambil pikiranku menerawang tak percaya atas apa yang baru saja kami lakukan. Ya Allah.. ampuni aku. Kulihat jam tanganku, sudah jam 16.30, padahal tadi aku naik ke atas sini dan menyalakan kipas angin sekitar jam 12.30 atau 12.40, pokoknya belum jam 1 siang, karena jamaah Masjid dekat situ mulai shalat jam 12 lewat menj***** jam setengah satu dan bubaran Dzuhurnya menj***** jam satu siang. Aku juga tahut, jangan-jangan desahan (atau tepatnya jeritanku) yang terakhir tadi terdengar oleh Sofie.

Tapi ternyata kekhawatiranku tidak terjadi, karena Sofie mengajak Zahra bermain di halaman belakang rumah, sementara aku dan Bang azis ada di lantai 2 bagian depan. Sorenya aku dan teman-teman pamit pulang. Kondisiku yang paling segar, meski aku sendiri sebenarnya letih luar biasa. Aku tersenyum untuk pamit pada Bang azis yang sudah memberiku pengalaman luar biasa..Itulah teman-teman, pengalaman pertamaku.

MEYDA DAN OKI

Season I
Kenalkan namaku adalah Suparno, jabatanku sekarang adalah supir…, hehehe.. kalo supir bukan jabatan kali ya…, ya sekarang telah dua tahun menjadi supir pribadi dari Meyda Sefira. Sebenarnya waktu di kampung dulu aku adalah seorang dukun. Tapi karena kampungku terkena musibah banjir bandang maka aku pun mencari nafkah lain.
Malam itu selepas acara peluncuran film KCB II, aku mengantar Meyda Sefira pulang ke apartemennya. Meyda Sefira tampak cantik dalam balutan jilbab merah dan kaos merahnya. Ya Meyda Sefira memang tampak sekali keanggunannya, apalagi di usianya yang baru 21 tahun (20 Mei 1988).
“Emmhh cape banget nih mang…!!, kita sekarang langsung pulang saja ya.. sudah ingin istirahat nih…” sahut Meyda kepadaku.
“Baik non…”, sahutku sambil melihat ke belakang lewat spion. “Cantik sekali Meyda, coba dia mau jadi istriku…”, kataku dalam hati. Memang aku sangat menyukai Meyda Sefira selain cantik dia juga selalu baik hati. “Emmhh, kayanya malam ini, malam yang tepat untuk menggunakan gundamku untuk memiliki Meyda”. Kataku dalam hati lagi.

Sepanjang perjalanan aku sering melirik kebelakang memuji kesintalan tubuh dari Meyda yang begitu sempurna dan sambil melafalkan gundamku yang akan ku pergunakan buat Meyda. Meyda sendiri tidak mengetahuinya, dia tampak capek dan sambil melihat ke jalanan.
Akhirnya kami memasuki apartemennya, “Mang, nanti ke atas ya…, aku ada sedikit rezeki buat abang…”. setelah itu Meyda turun dari mobil dan langsung naik ke lantai 11 tempat apartemennya.
Kemudian aku menyusul ke apartemennya, setelah dipersilahkan masuk oleh Meyda akupun duduk di sofa. “Ini, Mang…, aku punya baju buat Mamang, sama sedikit uang…”, kata Meyda sambil menyerahkan satu kantong kertas dan amplop kepadaku. Kesempatan nih dapat menjabat tangan dan mempergunakan gundamku.
“Aduh, terima kasih banyak Non, atas pemberiannya “, sambil menjabat tangan Meyda yang halus dan mempergunakan gundamku. “Ayo, sekarang mintalah sesuatu kepadaku, Meyda supaya biar gundamku bekerja dengan baik”. Kataku dalam hati.
“ Mang, Mamang bisa pijat aku ngak…!!, pundakku pegel-pegel nih…”, kata Meyda, tapi dia sendiri tidak mengerti mengapa dia mau buat di pijit ma diriku.
“Bisa, non…!!, silahkan non duduk…”, aku mulai memijitnya, di pundaknya tercium oleh diriku wangi tubuh dari Meyda yang cantik ini, menambah naik libido diriku. “sekarang, Meyda akan menjadi miliku”, aku pun mulai melafalkan gundamku yang terakhir untuk dapat memiliki Meyda. Sambil terus memijit pundaknya…, tangan ku mulai beraksi di belakang jilbabnya sambil terus memijitnya.
“Emmhh, terus Mang.., enak sekali pijitan mu..”, kata Meyda sambil matanya terpejam.
“Kamu cantik Meyda sayang …!!” , kataku sambil terus memijit, tanganku mulai meremas buah dadanya. Meyda tampak kaget tapi dia tidak dapat berbuat banyak. Membiarkan diriku meremas-remas bongkahan dada sang Artis berjilbab.
“Tubuh kamu wangi sekali Meyda….!!!”, tangan ku mulai masuk lewat sebelah atas kaos merahnya…, ku gerayangi dan ku remas payudara.
“Emmhh.., Mamang… Enak…”, kata Meyda yang sudah berada dalam pengaruh gundamku.
“Meyda, sudah pernah melihat kontol”, kataku sambil setengah berbisik di telinganya. Meyda tampak kaget mendengarnya. Tapi dirinya tampak sudah termakan hipnotis. Meski wajahnya memerah dia hanya menggelengkan kepala.
“Meyda, mau melihat kontolku…!!, kamu akan menyukainya sayang…!!” kataku selanjutnya. Meyda tampak mengangguk dan wajahnya memerah karena malu. “Sekarang, Meyda buka celanaku, dan kolorku…”, perintahku pada Meyda.
Meyda tampak patuh dia mulai bersimpuh didepan ku dan mepelorotkan celana dan celana dalamku. Tiba-tiba penisku menyembul dan memang penisku sudah mulai keras dari tadi. Meyda tampak kaget, karena penis hitamku yang telah tegak ada di depan mukanya.
“Sekarang, raih kontolku, Meyda sayang…, kamu belai, ciumin dan jilatin kontolku”, perintahku selanjutnya pada Meyda. Meyda yang tampak ragu tapi sudah mulai dalam pengaruh gundam. Mulai melaksakan perintahku. Mula-mula tangannya mengocok penisku. Bibirnya yang tipis mendekati penisku. Dia mulai mencium ujung penis ku. Meyda tampak belum biasa terhadap bau tak sedap penisku.
“Ayo Meyda…, jilat dan kulum kontolku…”, perintahku pada Meyda, yang di lanjutkan dengan anggukan dari Meyda. Meyda mulai menjilati penisku. Mulai dari ujung penis sampai ke pelirku. Sekarang Meyda sudah mulai terbiasa dengan bau tak sedap dari penisku.
“Ah…, ya begitu Meyda sayang…, terus jilatan mu enak sekali…, sekarang mulai masukan kontolku ke mulutmu dan jangan di gigit”, kataku sambil memegangi jilbab merah milik sang artis. Meyda melanjutkan mengulum penisku.
“sruupp….,ahh… enak sekali…. sruupp”, Meyda tampak menikmati oral pertamanya. Meski agak sedikit canggung.
“Ahh…. Bagus enak sekali Meyda…..”, kataku sambil menjambak jilbab yang di kenakannya. “ Ahh… kamu cepat belajar….seponganmu enak sekali… , kamu menyukainya sayang“, tanyaku kepada artis berjilbab itu.
Meyda mengangguk dan sambil terus mengulum penisku…., aku menggerakan pantatku seolah sedang melakukan penetrasi. Meyda tampak kelabakan, karena jilbabnya di jambak dan aku memaju mundurkan pantatku. Sampai mentok wajah Meyda di selangkanganku. Tampaknya penisku sampai di rongga kerongkongannya…, meyda tampak pucat. Aku menarik lagi jilbabnya. Kemudian aku hentakkan kembali. Aku senggamai mulut sang artis berjilbab itu.
“srrruuuuppp…. Aacchh”, Meyda yang mulai terbiasa, dan malah menikmati oral pertamanya. Meyda terus melakukan emutan di penisku.
“Ahh… Meyda sayang, enak sekali seponganmu…, aku sebentar lagi keluar…, kamu harus meminum semua pejuku….” Kataku kepada Meyda. Disertai anggukan Meyda yang terus melakukan oral terhadap penisku.
“Acckkhhh….keluar sayang…., minum pejuku…..”, Meyda hampir tersedak ketika pejuku meluncur dengan deras dan banyak. Tapi sang artis tampak rakus meminum semua pejuku. Ada sedikit yang tertumpah di jilbab merah sang artis. Meyda mulai menjilati sisa peju yang masih menempel di penisku.
“Acchh … ya begitu sayang…., kamu telah meminum pejuku…., sekarang kamu adalah milikku…, Meyda kamu adalah budak diriku, budak nafsu diriku….”, memang yang telah terkena gundam dan meminum pejuku maka wanita itu akan menjadi budak setiaku.
“sekarang Meyda harus mulai berikrar kepadaku, untuk menjadi budakku…” perintahku pada Meyda. Seperti seorang budak yang patuh terhadap tuannya. Meyda mulai berikrar di depan ku.
“Saya…., Meyda Sefira mulai detik ini akan menjadi budak tuan…, budak yang patuh terhadap perintah tuan, semua lubang yang ada di tubuhku boleh dimasuki oleh kontol tuan…”, kata meyda sefira.
“Emmhh … Lubang apa aja yang ditubuhmu Meyda…..” tanyaku kepada meyda.
“Mulut, Vagina dan Dubur saya tuan….”, Jawab Meyda. Yang sudah tampak horny.
“Mulut, Memek sama Bool…, begitu ngucapnya…, dan kamu bersedia jadi lonteku…, dan melayani orang-orang yang aku suruh untuk menikmati tubuh mu dan kamu harus bersedia di gambang oleh banyak laki-laki yang aku perintahkan”, kataku yang langsung masuk sebagai perintah kepada sang artis berjilbab itu.
“Iya, Mulut, Memek dan Boolku boleh di masuki oleh kontol tuan, dan Meyda bersedia untuk menjadi lonte tuan, dan Meyda bersedia untuk di gambang tuan…., tubuh Meyda seutuhnya milik tuan”, begitulah Meyda yang sudah 100% dalam pengaruhku. Meyda Sefira yang cantik, berjilbab, anggun akan segera berubah menjadi wanita binal.
“Bagus…. Sekarang kamu memohon kepada diriku, supaya aku mau ngentot sama lonte kaya kamu…”, perintahku kepada Meyda.
“Tuan…., maukah tuan memakai tubuhku, memekku masih perawan tuan, belum pernah di masukin sama kontol… Tuan…., Meyda ingin tuan mengambil keperawananku…, ngentot memek Meyda yang belum pernah di jamah kontol…., silahkan Tuan…”, jawab artis berjilbab itu manja. Sambil tangannya terus mengocokin penisku yang mulai tegak lagi.
“Sekarang kamu lonteku, buka semua bajumu dan celanamu… kamu telanjang…. Dan sisakan jilbab yang kamu pakai….”, perintahku kepada Meyda.
Meyda mulai membuka semua bajunya…., sehingga yang tersisa hanya jilbab. Payudara sang artis terlihat tampak montok meskipun tidak terlalu besar tapi sangat menggairahkan, vagina sang artis berjilbab tampak terawat dengan bulu-bulu tipis di sekitar vaginanya. Meyda sekarang sudah tanpa busana kecuali jilbab yang dikenakannya.
“Mendekatlah kemari lonteku…..”, perintahku kepada meyda.
Meyda mulai mendekatiku….., ku remas-remas bongkahan payudaranya…. Dan aku pun mulai menyusu pada payudara sang artis berjilbab tersebut.
“Emmhhh, tubuhmu wangi sayang…., kamu pantas buat di entot sama aku”, kata-kata ku meluncur. Sambil terus menete pada payudara sang artis berjilbab. Sementara tanganku mulai memasuki selangkangan Meyda dan mulai memasuki vagina sang gadis berjilbab sambil mencari klitoris Meyda Sefira.
“EEmmhhh……”, Meyda tampak melenguh ketika klitoris nya mulai ketemu oleh aku. Aku mulai memainkan klitoris Meyda sang artis berjilbab. Semakin lama vagina sang artis makin basah tubuh Meyda tampak melemah, dia mulai terjatuh di atas sofa.
“Ahhh….. enakk……. Tuan….. “, Meyda tampak menikmatinya. Aku mulai mendekatkan bibirku di vagina sang artis. “Emmhhh…. Wangi sekali memek kamu sayang……”, kataku sambil terus menjilat vagina sang artis berjilbab tersebut. Lidahku bermain liar di vaginanya. Kadang sambil aku masukan dua jariku kedalam vagina sang artis tersebut.

Meyda makin menggelinjang, dan kakinya menjepit kepalaku…, tangannya menekan kepalaku ke selangkangannya. Seolah tidak mau berhenti untuk terus di jilat vagina sang artis berjilbab tersebut dan diriku pun semakin liar menjilat, dan menyedot vagina sang artis berjilbab tersebut.
“srruuppp….. sruuuppppp…..”, terus aku menjilati vagina Meyda.
“Acckkkhhh…… Meyda pengen pipis……, Ackkhhhh enak….. ooohhh….”, ucap Meyda, yang tidak ku hiraukan ucapan Meyda. Aku terus menyedot liang vagina sang artis berjilbab tersebut.

Dan akhirnya “acckkkkhhhhh………. Enak…… nikmat…….”, cairan cinta Meyda yang sudah teransang berat keluar…., dan memenuhi mukaku….
“Ackkhhh Meyda…. Memek kamu enak sekali…., kamu memang lonte yang ingin di entot…”, sekarang penisku sudah mendekati lubang vagina sang artis berjilbab, yang sudah kelelahan setelah orgasme pertamanya.
“Sekarang…. Nikmatilah kontolku ini lonteku….”, penisku ku gesek kan diatas vagina meyda… “emmhhh….”, meyda tampak sayu dan sendu, sedangkan diriku sudah ingin memerawani vagina sang artis berjilbab…
Penetrasi pertama aku meleset, penisku tidak masuk ke vagina meyda, aku terus berusaha…., kubuka lebar vagina Meyda dan ku dorongkan penisku… setengah kepala penisku sekarang sudah masuk di dalam Vagina Meyda…. Sulit sekali memang….

“AAccckkhh….. sakit……!!!”, Meyda tampak meringis ketika setengah penisku sudah masuk ke dalam Vaginany…. “Acckkhhh…… Ampun ….. sakit sekali….Sudah… sudah…ammpunn tuuaann!!!”, Meyda mulai menangis.. menahan perih dan ngilu di vaginanya.
“Diam kamu lonte….., kamu yang minta di entot sama aku, sekarang kamu rasakan kontolku”, dengan kasar aku sentakan penisku sekuat-kuatnya ke dalam vagina Meyda…. dan amblas semua penisku ke dalam vagina Meyda. “Accckkkkkhhhh…….. Ammmpppuuunn”, Meyda berteriak, kepalanya terdongak kebelakang, tangannya meremas sofa menahan ngilu bahwa vaginanya telah dimasuki penis miliku.
Namun aku seperti orang kesetanan, aku genjot tubuh Meyda yang sedang menahan sakit itu, sampai Meyda meringis, kepalanya membanting-banting ke kiri dan ke kanan sambil tangannya meremas-remas sofa. “Acckkkhhh…… perih…. Ssaakkiitt…. Oooohhh….. ammppuunnn tuann….”, Meyda terus berteriak.
“Bukan kah , ini yang kau mau Meyda Lonteku sayang….???”, Kataku sambil berhenti sejenak menggenjot vagina sang artis berjilbab.
Dengan lembut aku mencium kening, hidung, pipi dan sambil menghembuskan nafasku mencium telinga Meyda yang membuat gairah dalam tubuhnya kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.
“Bibir Meyda indah..” itu yang terdengar sebelum oleh Meyda sebelum diriku melumat kedua belah bibir sensualnya, Meyda tampak menikmat sekali rasanya dicumbui
Lalu aku mulai menggerakan pantatku dan mulai mengobok-obok isi liang vagina Meyda.
“Ohh.. Meyda.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..” kataku terus mengocok vagina Meyda maju dan mundur dan Meydapun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa pedih dan sakit tadi terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulut Meyda mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan.
“Akhh.. Tuan.. Aduuh.. ohh..” lama aku memacu birahinya dan Meydapun mengimbanginya dengan menggelora, sampai akhirnya tubuh Meyda mengejang dan sambil memeluk erat tubuhku kembali menyemprotkan cairan yang meledak dari dalam rahim Meyda, Meydapun orgasme untuk yang kedua. Untuk beberapa saatku menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuh Meyda sambil melumat bibirnya. Meyda benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, matanya terpejam sambil melingkarkan kedua kakinya kepadaku. Sementara jilbab Meyda sudah tampak tak karuan. Kulepaskan penisku dari vaginanya. Tampak darah segar keluar dari vagina sang artis berjilbab itu.
“Bagaimana kamu masih mau lagi sayang…???”, tanyaku kepada Meyda dan dia yang telah diliputi oleh nafsu birahi hanya mengangguk.
Kini kuperintahkan Meyda menaiki penisku. Tidak terlalu sulit penisku memasuki vagina itu karena sudah basah dan licin. Erangan Meyda turut mengiringi proses penetrasi itu hingga akhirnya penisku itu tertancap seluruhnya.
“Mmhhh…enak Meyda, memekmu legit sekali !” gumamku merasakan himpitan dinding vagina Meyda terhadap penisku.
Tanpa menghiraukan ocehanku, Meyda mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun. Sesekali ia meliukkan pinggulnya sehingga aku merasa penisnya seperti dipelintir. Secara refleks tangannya yang saling genggam dengan tanganku itu membimbingnya ke salah satu payudaranya seolah meminta meremasinya. Aku mulai memainkan payudara Meyda dan tangan satunya menelusuri tubuh yang molek milik Meyda Sefira, merasakan kulitnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Meyda sudah semakin hanyut dalam persetubuhan.
“Yah…terus Meyda, enak…terushh !” desahku itu seiring genjotan Meyda yang semakin liar karena semakin dikuasai birahi. Dari bawah diriku juga ikut menggerakkan pinggul, sehingga tumbukkan diriku dan Meyda saling berlawanan arah dan menyebabkan penis itu menusuk lebih dalam. Meyda tidak menghiraukan yang lain lagi selain birahinya yang menuntut pemuasan.
“Gimana Meyda ? Enak ga kontol saya ?” tanya diriku yang telah menaklukkan seorang gadis berjilbab.
“Aahh…ahhh…enak Tuaann…terus…goyang terus Tuaann!” erang Meyda.
Tidak sampai lima menit setelah itu, Meyda mulai sampai ke puncak, otot-otot vaginanya berkontraksi dengan cepat dan makin basah. Dia menambah kecepatan goyangannya sehingga aku juga makin mendesah.
“Oohhh !” Meyda menggelinjang dahsyat di atas tubuhku.
Selama beberapa saat tubuhnya menegang tak terkendali, dinding vaginanya makin meremasi penisku yang masih perkasa meski Meyda sudah untuk ketiga kalinya orgasme.
“Meyda masih mau kan?” tanyaku dekat telinganya, “mau kan lonte, jawab dong!” tanyanya lagi, kali ini sambil meremas payudaranya.
“Iya…hhhsshh…mau Tuuaann mau!” karena tak kuat menahan keinginan untuk orgasme untuk yang kesekian kalinya, Meyda menjawab terengah-engah.
Kembaliku menjejali vagina Meyda dengan penisku yang masih tegak dan keras. Sambil bepegangan pada pinggang ramping Meyda akupun terus menyodok-nyodokan penisnya. Sentakan-sentakan kuat itu menyebabkan tubuh Meyda ikut bergoncang-goncang, diatas sofa tempat tangan meyda menahan sodokanku, Desahan-desahan nikmat keluar dari mulutnya, matanya setengah terpejam. Tanganku merambat ke atas hingga menjambak jilbab merahnya. Meyda semakin tak sanggup menahan gelombang birahinya, ia semakin melenguh-lenguh dan nafasnya semakin memburu, sebentar lagi puncak kenikmatan itu akan dicapainya. Namun pada saat Meyda akan orgasme aku menghentikan genjotan, aku memang sedang mempermainkan birahi sang artis berjilbab ini.
Meyda terpaksa menggerakkan sendiri pinggulnya agar tetap bergesekan dengan penis diriku.
. “Oohh…ayo Ttuuaann, puasin saya…saya…saya gak tahan lagi…mmhh!” Meyda akhirnya memohon supaya diantar ke puncak kenikmatan oleh diriku.memang Meyda sudah tak sanggup lagi menahan keinginan untuk orgasme.
Tubuh Meyda tersentak-sentak dan makin terdesak ke sofa, payudaranya yang montok itu kini tertekan pada sofa. Desahan Meyda semakin menjadi ketika gelombang orgasme itu kembali menerpanya, tubuhnya menggelinjang dahsyat seakan melepaskan segala nikmat yang tadi tertunda. Akhirnya Meyda mendesah panjang dan seluruh otot-otot tubuhnya mengejang, yang datang kali ini adalah multiorgasme sehingga tubuhnya berkelejotan tak terkendali, sungguh luar biasa seperti melayang ke surga saja rasanya, dari pengalaman seks selama dua tahun dengan kekasihnya saja. Matanya merem-melek dan pandangannya seperti berkunang-kunang selama terhempas gelombang orgasme itu, sensasi itu berlangsung selama 2-3 menit lamanya hingga akhirnya tubuhnya melemas seperti tak bertulang, dan tubuh Meyda pun ambruk sofa.
Saat itu aku belum mencapai klimaks, aku melanjutkan hujaman-hujamannya terhadap liang vagina gadis itu. Lima menit kemudian barulah penisku menumpahkan lahar panas di dalam vagina Meyda.
“Uuggghh…asyiknya…. Eemmhhh nikmat!” lenguh diriku sambil menekan dalam-dalam penis yang menyemburkan sperma.
Penisku masih menyodok vaginanya namun kecepatannya kian menurun. Di paha dalam Meyda nampak cairan kewanitaannya yang bercampur dengan sperma pria itu meleleh keluar dari selangkangannya. Setelah genjotan aku berhenti, aku mendekap tubuh gadis itu. Dipeluk tubuh Meyda dengan penis masih menancap di vaginanya walau sudah mulai kendor karena mulai menyusut. Aku memeluknya sambil memijat pelan payudaranya. Meyda merasakan betapa banyak cairan orgasme yang keluar dan spermaku yang tertumpah di dalam sana hingga sebagian meleleh keluar dan terasa basah. Perlahan-lahan penisku mulai melembek dan akhirnya keluar dari vagina Meyda.
Aku tersenyum puas setelah selesai menyetubuhi tubuh cantik Meyda Sefira. dan Meyda pun mulai tertidur diatas sofa. Sementara aku mengambil sebatang rokok sambil kembali melafalkan gundamku. Karena mulai sekarang Meyda sudah dalam pengaruhku dan akan menuruti semua keinginanku.

Meyda Sefira On The Villa (Meyda Gangbang)
Sudah hampir dua minggu semenjak gundamku lontarkan kepada Meyda Sefira, dikeseharian Meyda tetap disibukan dengan jadwal-jadwal syuting dan promosi. Meski di tengah kesibukannya Meyda tetap harus melayani nafsuku, semakin hari Meyda menjadi lebih lihai dalam melakukan persetubuhan baik sex kilat maupun di apartemennya. Di kesehariannya Meyda tetap tampak bersahaja dan anggun dengan Jilbab yang selalu menutupi kepalanya, tetapi diluar itu Meyda sudah menjadi semakin binal.
Malam sudah menunjukan jam 9 lewat, scene shooting hari itu sudah selesai, “Mang, kita pulang yu..”, kata Meyda mengajakku untuk segera pergi. Sekarang Meyda tidak pernah duduk di kursi belakang lagi, atas perintahku sekarang Meyda selalu duduk disampingku dengan begitu aku bisa mengerayangi tubuh Meyda yang sintal di balik baju dan kerudungnya itu.
Mobi pun mulai meluncur, tetapi arahnya ku rubah bukan menuju ke apartemen, melainkan kearah puncak, tak lama kemudian mobil yang sedangku kendarai berhenti karena lampu perempatan jalan berwarna merah, perempatan yang sepi aku mengeluarkan penis kesayanganku, kemudian tanganku meremas payudara Meyda yang tertutup bajunya dengan lembut. “Emmhhh…..”, meyda bergumam ketika toketnya ku remas-remas.
Lampu jalan telah menunjukan warna hijau. Mobil yang ku kendarai juga ikut meluncur seiring “Sepong kontol ku Meyda…., sekalian bersihin dulu tadi aku sudah kencing belum di bersihkan!!”, tangan meyda langsung meraih batang penisku, “Tuan pengen di sepong..??, Meyda sepong ya….”, dengan nada bicara yang genit dan manja Meyda mendekatkan kepalanya ke kontolku. Meyda langsung menjilati penisku terutama liang kencingku dimainkan dengan lidahnya kemudian Meyda memasukan batang penisku ke dalam mulutnya. Bibir Meyda sampai mentok ke selangkangan ku. Meyda memaju mundurkan kepalanya, dia terus nengulum penisku yang semakin membesar.
“Ahh, kamu hebat Meyda…., kamu tambah pintar nyepong…”, kataku sambil aku terus mengendarai mobil.
“srrrruuuppp….. srruuuppp….. enak sekali kontol Tuan….”, ucap Meyda sambil meneruskan kembali mengulum penisku batangku disedot sedot dalam mulutnya. dengan sangat rakusnya Meyda terus melakukan kuluman demi kuluman, kuluman yang rakus dan buas, hampir selama 7 menit Meyda terus mengulum penisku dan aku pun sudah ingin mengeluarkan pejuku.

“Oooooooh .. bentaaaar aaaaaaaaaaaaaaaaah .. maaaaaaaaaaaauuuu aaaaaaaaaaaaaaaaah Sekaaaraaaaaaaaaaaaaanggg aaaaaaaaaaaaaaaaaah “ aku tidak kuat lagi, beberapa menit kemudian memuntahkan lahar putih ke tenggorokan Meyda.
“Croooooooooot … croooooooooooooooot .. crooooooooooooot .. croooooooooot “
Isi dalam mulut Meyda penuh dengan pejuku, ditelannya spermaku itu dalam2 dan ditariknya penisku serta dikocok logi, muncratan spermaku sampai berlepotan di wajah Meyda Sefira dan sebagian mengenai jilbabnya.
“Emmhh gurih sekali peju Tuan….”, kata Meyda manja. “Tuan Kita akan kemana….????”, Tanya Meyda kepadaku ketika dia mengetahui tujuanku bukanlah ke Apartemennya. “Kita menuju villa Mr. Robert di puncak”, kataku pendek.
“Emmhh….. Tuan akan ngentot Meyda disana…???”, Tanya Meyda manja. “Bukan kamu dah aku jual buat memuaskan nafsu bule-bule tamunya Mr. Robert. Mungkin nanti kamu akan di gambang oleh bule-bule itu…. Kamu maukan…???”, jawabku kepada Meyda.
Meyda terdiam, tapi kemudian dia tersenyum “Tubuhku ini milik tuan…, Meyda bersedia di jual dan menjadi lonte tuan…, selama tuan menyukainya….”.
Jam sepuluh malam mobil yang ku bawa memasuki sebuah villa, ya villa Mr. Robert. Mr. Robert adalah seorang pengusaha asing, dulu dia pernah aku bantu waktu dia mau membuka pabrik baru di kawasan Semarang. Ya biasa membantu dengan menggunakan ilmuku supaya masyarakat disitu mau menjual tanahnya kepada Mr. Robert dan Mr. Robert pun sudah fasih berbahasa Indonesia karena memang sudah lama dia menetap di Indonesia.
Didepan beranda Villa Mr. Robert sudah menunggu, “Sorry Mr. Robert, saya telat…”, sapaku kepada Mr.Robert, sementara Meyda Sefira kusuruh menunggu di mobil. “Ngak apa-apa, well perempuan itu yang akan melayani tamu-tamuku…? bukankah dia aktris yang kau janjikan…?”, Tanya Mr. Robert sambil melirik ke arah mobil.
“Iya tuan, dia yang main di film Ketika Cinta Bertasbih….”, jawabku. “But bukankah dia wearing a hijab…??, kamu yakin dia bisa dipakai….??” Tanyanya lagi, “ Tenang Mister, dia 100% bisa dipakai dan saya yakin dia bisa melayani kemauan tamu-tamu tuan, meski dia pakai jilbab…, oh iya Mister sekarang dia udah ngak pake BH ama cangcut…, tapi kalo make dia harganya cukup tinggi… dan satu lagi Mister ketika memakai dia jangan di buka jilbabnya…” sambungku kemudian. “Ok…, No problem…. Segini cukup….???”, Mr. Robert sambil mengeluarkan sebuah cek yang bertulis seratus lima puluh juta rupiah. “Wah, lebih dari cukup tuan….!!”, kemudian aku memanggil Meyda untuk menghampiri kami berdua.
“Kenalkan ini Mr. Robert…, untuk malam ini kamu akan disini dan melayani kemauan Mr. Robert….!!!”, kataku kepada Meyda, “So who’s your name ladies…??”, Tanya Mr. Robert ke Meyda. “I’m Meyda, Meyda Sefira ….” Jawab Meyda, “come here girl…!!”, Meyda mendekati Mr. Robert tiba-tiba tangan Mr. Robert kemudian memegang pantat Meyda “You have a nice ass… I love it…”, dan tak lama setelah itu Mr. Robert memegang payudara Meyda “You not wearing a bra huh…???”, sambil meremas-remas Payudara Meyda. “Acchhhh…. No Sir.., I not wearing a bra…!!!” Meyda melenguh… ketika payudaranya di remas oleh Mr. Robert, “You have scented body…, ,Are you ready to fuck with my guests, Meyda..??”,kata Mr. Robert sambil berbisik di telinga Meyda dan tangannya Mr. Robert menyelusup ke arah selangkangan . “Acchhh, I ready to have sex, with your guest….Acchh…”, jawab Meyda. “Nice girl…, Come with me….”, kata Mr. Robert sambil merangkul Meyda dan mengajak dia masuk ke dalam Villa, sementara aku di tinggal diluar.
Setelah Meyda dan Mr. Robert memasuki Villa, aku kembali ke mobil, dan keluar dari villa itu meninggalkan Meyda sampai dengan besok pagi di Villa Mr. Robert. Sementara itu setelah Meyda memasuki villa, diruang tengah ternyata teman-teman Mr. Robert sedang mengobrol sambil meminum wine. “Well Guys, this a girl who had I promised to fuck and remember don’t put her hijab”, kata Mr. Robert. John yang paling dekat kemudian mendekati Meyda, “you so beautiful girl…., what your name young lady….??”, tanyanya. “My Name’s Meyda, Sir and I ready to serve you..”, jawab Meyda dengan sedikit genit. Sementara Mr. Robert pergi mengambil handycam.
“Before, you serve us, better you drink this…”, kata Michel sambil memberikan wine yang sudah dicampur dengan obat peransang kepada Meyda dan itu bukan obat peransang biasa orang yang meminumnya selain mudah teransang dan kuat untuk melakukan hubungan intim semalaman. Kemudian Meyda meminum wine tersebut. “dwelt among us please…!!!”, John menarik Meyda supaya dia duduk disofa diantara mereka berempat. Tubuh Meyda tiba-tiba menjadi panas, puting payudaranya menjadi mengeras dan vaginanya sedikit basah.
“You are so pretty, and your body very fragrant….”, ucap Morris sambil menciumi leher. “Are You ready for love….”, kata john yang duduk disebelah Meyda sambil tangannya meremasi payudara Meyda.”Aaaacchhh…., I ready sir….pleasse….”, jawab Meyda yang mulai horny berat.
“So, please you choose which one of dick will you suck first”, kata Jim sambil mengeluarkan penisnya dan yang lainnya pun berdiri mengelilingi Meyda yang sekarang duduk di atas karpet sambil penis mereka dikeluarkan. Sementara Robert yang telah mengambil handycam mulai merekamnya.
Meyda Sefira pun sekarang di kelilingi oleh penis-penis yang mulai keras. Mata Meyda tampak berbinar dikelilingi penis tersebut dan tangan kirinya meraih penis Morris, sementara tangan kanannya meraih penis Jim. Meyda mulai mengocok penis-penis tersebut dan sambil mengulum penis-penis tersebut. Meyda tampak rakus dalam mengulum penis. “mmmmmmmmmm …. mmmmmmmmm … “ suara yang keluar dari mulut Meyda Sefira ketika penis-penisitu bergantian masuk ke dalam mulutnya, besarnya penis-penis itu membuat Meyda Sefira sampai kerepotan karena bentuk bibirnya yang seksi dan cenderung kecil.
“aacckkhh … you are very clever sucking my dick,…. Acckkkhhh you are wild girl Meyda“, kata John sambil mengerang.Meyda Sefira tampak tersipusambil terus melakukan sedotan ke penis-penis itu secara bergantian. Sesekali sambil tangannya bergantian mengocok penis tersebut dengan sangat lancar dan halus. Sedot-sedotan yang dalam membuat para tamu Mr. Robert tersebut keenakan, Meyda Sefira memperlakukan penis-penis tersebut dengan lincah.

Sementara sekarang posisi Meyda seperti yang merangkak kali ini mulut Meyda sedang di penuhi penis milik Morris,“ suck this little bitch….!!” Morris membentak kemudian dengan kasar dan menjejalkan penisnya ke mulut Meyda. sambil menjambak jilbab yang sedang di pakai Meyda.
“Hoommmmmhh, Ummmmmmmhhh… Mmmmmmmm” suara mulut Meyda yang sedang mengulum penis Morris. Sementara John mengambil posisi di belakang, rok Meyda pun sudah terjatuh ke lantai. Sehingga terlihat bagian pantat yang padat berisi. ”Nice.. Boob… I got you, little bitchhh…”, kata John sambil mengarahkan penisnya ke vagina Meyda, dan tangannya meremas-remas bongkahan sang artis berjilbab. Sedangkan Mr. Robert dengan asiknya merekam semua kegiatan mereka.
“Awwww…… Arrrhhhhhhh… Crrrrr Crrrrrrrrrrrrr”, Meyda mengerang ketika penis John menjebol vaginanya secara sekaligus, dan dengan kasarnya John mengaduk-ngaduk vagina milik Meyda sedangkan dibagian depan Morris tidak memberi kesempatan kepada Meyda untuk menarik nafas. “Slllcckkkkk…, slllllcccckkkkk… Cupkkhh.. cupkkhh….” Suara yang keluar dari mulut Meyda. Hampir 10 menit vagina Meyda di aduk-aduk oleh penis Jhon. Sambil memukul atau meremas-remas pantat sang artis berjilbab. dan tak lama kemudian… “Ahhh Ahhhh Owwwww….”, meyda berteriak sekencangnya ketika dia mengalami orgasme pertamanya. Cairan cinta Meyda langsung memancar ketika penis John dikeluarkan. Semua kejadian itu terekam jelas dalam handycam Mr. Robert
John dan Morris beristirahat sejenak, memberi kesempatan pada dua temannya. Michel langsung menjambak jilbab sang gadis dan mengarahkan penisnya untuk di kulum oleh Meyda. Meyda yang masih lemah akibat orgasme langsung membuka mulutnya dengan kasar Michel memaju mundur kan pantatnya sambil tetap menahan kepala Meyda. “suck it bitch, damm you!! Harder bitchhh!!! ”.

Sementara dibelakang Jim sudah mengambil posisi “I love your little ass and I will fuck your ass….”, Meyda yang sedang di perkosa mulut tidak mendengar apa yang dikatakan Jim. Sehingga “Arrrhhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” terdengar erangan Meyda, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, kesakitan itu membuatnya terbata-bata. “Arrh, shak.. shakit…, Aww, Heggg” mata Meyda membeliak lebar-lebar ketika sebuah hentakan menjebol lubang duburnya, mulutnya terbentuk seperti hendak mengucapkan huruf “A” ketika merasakan batang penis yang hitam dan panjang itu menerobos memasuki lubang duburnya dengan paksa. Sementara Michel menghentikan sejenak aktifitasnya untuk memberikan kesempatan pada Meyda mengambil nafas. Gerakan kasar dari Jim yang sedang menyodomi dubur Meyda membuat tubuhnya terdorong-dorong ke depan . Jim menarik pinggul Meyda agar lebih menungging sehingga penisnya dapat keluar masuk dengan lebih leluasa. Penis yang besar itu memacu lubang anus Meyda. Meyda meringis ketika lubang anusnya yang masih seret kering dimasuki oleh penis besar. “Awwwwwwhhhhhhh !!! ” Meyda menjerit panjang ketika si negro mulai memaju mundurkan penisnya dengan kasar. Matanya melotot, erangannya terdengar keras “Arrrrhhhhhhhhhhhhhhh!!!”, Meyda seolah-olah merasakan lubang anusnya sedang dibelah begitu kasar dan brutal “Plokkkkkk… Plokkkkkk… Plokkkkkkk….Plokkkk” suara benturan buah pantat Meyda yang sedang dihajar oleh penis si negro terdengar dengan semakin keras.
Ekspresi kesakitan di wajah Meyda perlahan-lahan digantikan oleh ekspresi kenikmatan, desahan-desahan dan rintihan kenikmatan penuh dengan gairah seksual Meyda. Melihat hal itu Michel kembali memasukan penisnya ke mulut Meyda.tetapi di belakang sodokan-sodokan yang dilakukan oleh Jim semakin brutal. Sementara Mr. Robert mendekati dan memasukan dildo getar kedalam vagina Meyda, membuat sang artis berjilbab itu bertambah gairah seksualnya akibat hujaman penis di anus, getaran dildo dan mulutnya yang terus melayani sebatang penis. Dan tak lama kemudian. “Ahhhhhhhhhhh…. Crrrrrrrrtttt…. Crut” Meyda menahan nafas, tubuhnya mengejang akibat klimaks yang kedua kalinya, sampai-sampai dildo getar yang tadi menempel di vaginanya menjadi terlempar.
Tubuh Meyda yang sekarang sudah telanjang kecuali jilbab yang digunakan kembali ditarik oleh Morris, Morris yang sedang duduk di sofa menyuruh Meyda. Menduduki penisnya dengan posisi Meyda membelakangi Morris. “I want fuck your ass…, bitch…”, Meyda memegangi dan mengarahkan penis besar kembali ke anusnya dan “Ahhhhhhh..!!! ”sedikit demi sedikit penis tersebut masuk ke dalam lubar anus Meyda, namun secara tiba-tiba menjebloskan penisnya sekaligus kedalam lubang anus gadis itu. “Arrrrhhhhhhh….!! Sakitttt!!! Sakitttt sekaliiiii….”, namun Morris yang tidak bahasa Indonesia malah Memaksa Meyda untuk bergoyang di atas tubuhnya. “Achhhhhhh….! Heggghhh…, Ahhhhhhhhhhh!! ” Meyda tidak dapat lagi menahan jeritannya ketika merasakan lubang anusnya dipaksa melar ketika penis keluar masuk dengan kasar. Taklama kemudian John mendekati Mereka berdua, dengan penis yang sudah tegak sempurna langsung mengarahkan kepada vagina Meyda dan “Ahhhhh….!! ” Meyda berteriak kembali ketika penis yang besar itu menekan-nekan dengan kasar sebelum akhirnya amblas memasuki lubang vagina. “Ohhhhhh, Ahhhhhhhhh, Ohhhhhhhhhh, Awwwwwwww…..” rintih Meyda ketika penis tersebut berlomba memasuki kedua lubang Meyda, Wajah Meyda memerah menahan sakit, perih dan kenikmatan yang tiada duanya “Nikmattttt….ssshh…., Akhhhhhhh…, Owwwww,Hssshhhh ….. please fuck Me harder….”. seolah di perintah keduanya memacu liang anus dan liang vagina Meyda dengan sangat brutal dan tak lama kemudian “Ahhhhh….! Crrrr Crrrrr…”, Meyda mengeluarkan orgasme yang kesekian kalinya.
Posisi Morris sekarang digantikan oleh Michel dan posisi John diganti oleh Jim. Kali ini Morris memasukan penisnya kedalam vagina Meyda. “Arhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” nafas Meyda terputus-putus ketika batang penisnya panjang itu masuk hingga terbenam sekaligus dengan sekali sodokan yang kasar dan kuat menuju rahim Meyda sementara Jim yang kesulitan untuk menusuk anus sang bintang berjilbab meremas-remas buah dada Meyda. Morris terus mengaduk-ngaduk vagina Meyda dengan kasar dan kuat sementara Jim yang sudah tidak sabar ”I love wet pussy.., let me see you can handle two dick in your pussy….”
“Hennggghhhh…!! Akkkhhhhhhhh…. Arrrrggghhhhhhhhhhhhhh…… Hekkkk, Hekkkkss, Hekkssss….. Errrhhhhhh ”, Meyda mengerang sejadi-jadinya ketika dua penis menerobos vaginanya. “come on girl….we will fuck your pussy together”
“Aduh…, Ampunnn… Ampunnnnn, Stoppppp, Nn.. Nooooo”,Meyda tampak mengiba tak kuat menahan rasa sakit yang di deritanya. Tapi itu tak berlangsung lama “Ahhhhh, Yes, Ahhhhhh, Ohhhhh Yesssss, Emmm Crrrrrrrrr.. Crrrrrrr” Meyda mendesah-desah semakin liar “fuck me…… fuck me…..yyeeesss oooohhhh………”, Meyda berusaha mengimbangi kedua penis yang sedang ada di dalam vaginanya “oooohhh I loveeee…. It….. fuck me harderrr..…..” bagai orang kesetanan mereka bertiga memacu nafsu syahwatnya masing-masing. “do love this bicth… hah…., you want more ….. fell this….!!!”, Jim dan Michel mempercepat gerakan mereka.
“Ahhhhhh, Ohhhhh Yesssss, Emmm I Love this…“,Tubuh Meyda tampak terayun-ayun dan jilbab yang dikenakannya pun tampak sudah tidak menentu. Mr. Richard yang sedang merekam seluruh kegiatan menyuruh Morris untuk membetulkan jilbab sang artis. Setelah membetulkan jilbab Meyda tiba tiba Morris menarik kepala Meyda untuk memuaskan penisnya kembali. Kini Meyda di keroyok oleh tiga penis sekaligus. “Oggghhhhhhh… Hufffhhhh… Emmmmm”, jeritan-jeritan liar Meyda menjadi tertahan. Tetapi mereka bertiga dengan sadis terus memompa tubuh Meyda. “Arhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” tubuh Meyda menegang dan matanya membelalak, tubuh ramping itu terdongak sesaat dan kemudian ambruk menindih tubuh Michel.
Michel mendorong tubuh Meyda hingga terjatuh ke lantai. Tubuh Meyda sangat lemah setelah empat kali mengalami orgasme, para tamu tersebut segera mengelilingi Meyda, sambil mengocok batang penisnya masing-masing, sementara Meyda yang terbaring dilantai membuka mulutnya seolah meminta jatah peju dari tamu-tamu tersebut dan tidak lama dari itu “Take this cum, bicth….” Kata Michel, “Crooot…..crooot……Croottt”, peju menyembur dari masing-masing penis semua mengarah ke mulut Meyda, sehingga ada yang mengenai Mata, Hidung dan Mulut yang terbuka menerima limpahan peju. Jilbab Meyda pun tak luput dari semburan peju tersebut. Setelah puas mereka meninggalkan Meyda yang meringkuk di atas karpet karena kecapaian.
Sampai besok paginya sebelum aku menjemput kembali Meyda, Mereka menggarap Meyda di dekat kolam renang. Meyda kembali mengalami orgasme dasyat. Selama perjalan pulang Meyda tampak letih namun setelah sampai apartemen Meyda sudah harus melayani nafsuku.

Aku keluar dari kamar, jam menunjukan jam setengah sebelas malam, ku ambil celana dalam milik Oki Setiana Dewi dari dalam tas Meyda, ku cium celana dalam itu, “Emmhhh wangi juga Memek Oki….”, kataku dalam hati. Aku pergi ke dapur mengambil tempat dupa dan dupanya. Semua sudah ku persiapkan dupa, celana dalam Oki Setiana, dan foto yang di tanda tangani sang artis dan akupun memulai ritual untuk mengguna-gunai Oki Setiana Dewi.
Sementara itu di tempat kediaman Oki Setiana Dewi, sang artis sedang lelap tertidur, tetapi terlihat dalam tidurnya sang gadis tampak gelisah,”Ohh…..tidak…., Ohhh… Jangan….”, itu yang terdengar dari mulut Oki Setiana, sementara dalam kegelisahan dalam tidurnya Oki melepaskan semua pakaian dan Oki Setiana memainkan puting dan vaginanya sendiri. “Ohhh enaakkkk…. Ooohhh jangan….”, dirinya semakin acak-acakan, rambutnya yang panjang memperindah pemandangan tersebut. Oki melakukan itu dalam tempo sepuluh menit sampai akhirnya “Ohhhhhhhh…..”, cairan cinta keluar dari vaginanya bertanda Oki Setiana meraih orgasme. Tetapi setelah itu dia tertidur pulas kembali, sampai ketika adzan subuh berkumandang Oki tampak kebingungan karena dia tertidur dengan telanjang dan tanpa busana sehelaipun dan mendapati seprainya yang basah, Oki terdiam di tempat tidurnya, kemudian mencium bau sepreinya,”bau amis…”, sambil kemudian mencolek vaginanya sendiri dan mengenai klitorisnya.”Emmmhh….Acckkkhh…”, Oki Setiana kegelian teransang oleh dirinya sendiri. “Emmhh baunya sama…, apa semalam aku masturbasi…, ahh peduli amat yang penting sekarang aku mandi ????”, ucap Oki dalam hati dan kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandinya.
Setelah aktifitas pagi dari Oki Setiana sudah selesai dilakukan, Oki meraih BB yang tergeletak di meja riasnya. “hari ini break syuting….., apa aku main ke apartemen Meyda ya…”, sambil menimang-nimang BB miliknya dan berkaca. Kemudian Oki memencet nomor Meyda.
Sementara Meyda sedang menyiapkan sarapan, ketika BB miliknya berbunyi. “Mey… tuh BB-mu Bunyi…!!”, kataku sambil menonton TV, dan kebetulan BB Meyda berada di Meja dihadapanku. Meyda Segera mengambil BB miliknya,”Hai Tumben pagi-pagi udah nelp…ada apa nih mbak Oki”sapa Meyda diujung telp. “Emmhh Ngak ada apa-apa, sekarangkan lagi break shooting, aku pengen main ke tempat kamu nih…”

“Ohhh… sillakan aja…., mo jam berapa”, jawab Meyda sambil berusaha menjauhkanku dari tubuhnya.
“Jam 09an… bisakan..??” jawab Oki disana.
“Acckkkhhh…. Boleh…… kesini aja”, ucap Meyda sambil meringis karena putingnya ku gigit.
“Kenapa Mey…”, Tanya Oki Setiana, keliatan bingung karena Meyda mengaduh.
“Ngk apa-apa kakiku nih tersandung Meja”, ucap Meyda asal, “Ohh ya udah sampe ketemu ya…”, Jawab Oki Setiana, “Ok…”, kemudian mereka berdua menutup BBnya Masing-Masing.
“Tuan Nakal Ya….mengganggu telepon aja….”, ucap Meyda sambil matanya mendelik tetapi dengan tingkah genitnya.
“Mang Telepon dari siapa..???, sampe aku ngak boleh mengganggu…”, sambarku sambil memilin-milin puting Meyda.
“Acckkkhhh…. Dari Oki….. Acckkkhhh…..”, jawab Meyda yang mulai teransang. Kemudian kita berdua melakukan fast sex.
Sementara itu dikediaman Oki Setiana, Oki tampak sedang bercermin, rambutnya yang terurai dan balutan kimono yang menutupi tubuhnya. “Emmhhh apa yang kulakukan tadi malam ya…”, fikiran Oki menerawang ke kejadian semalam. Kemudian Oki Setiana membuka kimono, terpampang indah payudara, lekuk tubuh dan kemaluannya yang tertutupi oleh bulu-bulu halus diselangkangnya dan memang Oki selalu memotong jembutnya tersebut.“Emmhh tubuhku bagus”, kata Oki sambil tersenyum, kemudian Oki meremas sendiri payudara kanannya dan tangan kiri memainkan bagian vagina, “Emmmhhh……Enak…..ahhhhh”, Oki segera mengakhiri perbuatanya. “Emmhh, kenapa aku menjadi begini….???”, Tanya Oki dalam hati. “Ahh sudahlah aku harus ke rumah Meyda sekarang.”. Kemudian Oki mulai mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah Meyda.
Dengan mempergunakan gamis warna biru dan jilbab warna biru muda yang menutupi payudara indah miliknya dan memang Oki Setiana Dewi tampak anggun dalam balutan busana tersebut. Setelah itu Oki pergi ke rumah Meyda Sefira dengan mempergunakan Taxi, yang dipesannya di lobby tempat kediamannya.
Sesampainya di kediaman Meyda Sefira, Oki Setiana langsung mengetuk pintu. “Assalamualaikum….”, ketika pintu terbuka. “Wa alaikum salam…. Silakan masuk Mbak Oki”, jawabku ketika membukakan pintu apartemennya. “Ehh.. ada Mang Parno….!!!”, senyum manis mengembang di bibir tipis pemeran Anna Althafunnisa tersebut. “Iya Non, Mamang juga baru datang…”, jawabku asal sambil tersenyum membalas.
Tak lama kemudian Meyda keluar, dengan balutan gamis warna merah muda dan jilbabnya yang berwarna senada dengan gamis yang digunakannya. Tetapi sebenarnya Meyda tidak menggunakan Bra maupun Celana dalam di balik gamis yang dikenakannya, “Ehh… udah datang ya…!!”, senyum menghiasi keduanya kemudian saling mencium pipi masing-masing. “Eh tunggu disini ya… aku mau ke mini market dibawah dulu, bentar qo….., Mbak Oki ditemeni sama Mang Parno dulu”, kata Meyda, “Loh aku datang kamunya kok pergi sih…aku ikut aja ah??”, jawab Oki Setiana. “Sudah disini aja kesian tuh Mang Parno dah nyiapin minuman entar keburu dingin, tunggu yaa”,jawab Meyda sambil tersenyum dan kemudian bergegas pergi.
Oki Setiana Dewi hanya melohok melihat temannya pergi. Tapi kemudian dia duduk di sofa tempat aku bercinta dengan Meyda. Oki Setiana tampak seperti melamun, fikirannya menerawang kekejadian semalam, tanpa sadar Oki melihat keselangkanganku yang memang tidak menggunakan cenala dalam, tampak tonjolan penisku yang tertutup oleh celana. “Ini, Minumannya Mbak…”, kataku kepada Oki yang sedang asik melamun. “Eh…. Penis….penis… eh Minumnya… makasih”, Oki Setiana Dewi yang kaget karena sedang melamun, ucapan menjadi melantur. Mukanya memerah malu, “uhhh kenapa tiba-tiba aku ngomong begitu…???”, fikir Oki.
Aku tersenyum ketika itu, guna-gunaku telah mengena ke diri Oki Setiana Dewi. “kenapa mbak Oki…, mbak Oki pengen liat kontolku…”, tanyaku kepada Oki Setiana yang terduduk di sofa.”ohh… tidak…..jangan….eh…. iya…..”, jawab Oki, mukanya merah padam berusaha menguasai dirinya. “ahh kenapa aku ini”. Tanya bathin Oki tetapi Oki seolah tidak dapat beranjak pergi dari hadapanku.
“Ini mbak kontolku…”, kataku seraya memelorotkan celanaku, penisku langsung tegak mengacung ke hadapan Oki Setiana Dewi, ”Acckkhh tidak….jangan….”, Oki Setiana Dewi menutup matanya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang satunya berusaha menahan aku supaya tidak maju. Tetapi yang terjadi malah tangan Oki Setiana mencengram penisku dan seolah mengocok penisku.

“Katanya tidak mau…!!!, tapi Qo dikocok…. Hahahaha…”, kataku sambil tertawa mengejek apa yang dilakukan oleh Oki Setiana, dia lalu melepaskan penis yang di gengamnya, ingin Oki Setiana untuk lari, tapi entah mengapa tubuhnya seolah tidak dapat bergerak. “Emmhh jangan aku tidak mau….”, Mata Oki terpejam, terlihat tetesan air mata dari matanya, ketika penisku pukul-pukulkan di muka Oki Setiana.
Aku menghentikan aktifitasku, sesaat kemudian Oki Setiana membuka mata, dan terkaget melihat batang penisku tepat dihadapan bibirnya. “Ahhh tidak…., aku tidak mau ….”, tetapi yang terjadi malah sebaliknya Oki membuka mulutnya dan memasukan penis itu kedalam mulutnya kemudian kepalanya melakukan gerakan maju-mundur.” Ohhh…kenapa aku ini…..”, bathin Oki Setiana bergelut tak mengerti, antara keinginan otak dan perbuatan tidak sejalan.
“Lo bakat juga nyepong kontol…, lo suka kontol hah…” , kataku sambil melepas penis dari mulutnya.
“Emhh tidak… aku tidak mau….ku mohon jangan…”, balas Oki saat itu.
“Jangan Apa….”, Tanya balik dariku.
“Kumohon jangan perkosa aku…”, Jawab Oki dengan mengiba.
“Hahaha…., kamu tidak ingin di perkosa tetapi tubuhmu berkata lain…, tidak enak ngentot sambil pake baju, lebih baik kamu buka baju dan telanjang di hadapanku“,kataku kepada Oki Setiana. “Tidak…. Aku tidak mau…. Tolong jangan…aku tidak mau membuka baju”, tetapi keinginan Oki Setiana berbeda dengan apa yang dilakukannya, Oki tiba-tiba berdiri, membuka resleting dibelakang bajunya, kemudian bajunya meluncur kebawah, Oki Setiana juga membuka Bra dan Celana Dalam dengan tanpa melepas jilbabnya. “Ohh kenapa aku jadi begini…” jerit bathin Oki Setiana. Kemudian Oki kembali duduk, dengan posisi kaki naik keatas sofa dan mengangkang, seolah-olah ingin memamerkan vagina yang masih sempit. Jilbabnya diangkat keatas sehingga terekpose juga payudara sang artis berjilbab itu.

“Hiks…. Tolong jangan perkosa saya….”, ujar Oki Setiana memohon kepadaku.
“Hehe… jangan perkosa kok malah telanjang…??, Mbak Oki pengen ngerasain kontol saya dimana nih…!! Hehehe….”, ujarku sambil menertawakan apa yang dilakukan artis berjilbab tersebut, sambil mengacung-ngacungkan penisku didepan wajahnya.
Muka Oki Setiana terlihat merah padam mendengar ucapkan, tapi otak, badan dan hati tidak sejalan, malah Oki sempat membalas pertanyaanku, “Masukin Vagina …, aacckkhh tidak…. Jangan…..”, ucap Oki meralat. “Ohh Tuhan apa yang terjadi dengan diriku”, Air mata Oki meluncur di pipinya.
Aku mendekati Oki Setiana, kucium leher sang artis yang masih tertutupi jilbabnya, sementara tanganku meraih payudaranya kuremas-remas dengan kasar. “Tubuhmu wangi sayang…., toketmu juga kenyal”, ujarku sambil melanjutkan aktifitasku, kali ini ku kenyot payudara sang artis dan kadang ku gigit putingnya. Sedangkan tanganku turun ka belahan vaginanya mengaduk-ngaduk dan mendapatkan klitoris sang gadis berjilbab dan memainkan klitoris tersebut dengan kasar.
Mata Oki Setiana terlihat sembab, “Acckkhhh… jangan ….. teruskannn… jangan… sudah… sudah…..”, dengan nafas tersengal-sengal Oki memintaku menghentikan aktifitasku yang semakin menjadi.
“Kamu ingin di entot.. ya sayang…?”, kataku didekat telinga Oki sedang tanganku tetap memainkan klitoris sang gadis. “Ehhh….. enggakkk….. jangan…..”, pinta Oki kepadaku dengan kondisi tubuh yang makin teransang. “Jangan..??, tapi Memek kamu berkata lain.. lihat becek begini…dasar kamu lonte ….. .”, ujarku dengan nada mengejek sambil memperlihatkan jari-jariku yang basah oleh cairan cinta miliknya.
Aku arahkan penisku ke vagina sang artis, “Acckkkkkkhhhh….. sakit….. sakit….sudah”, jerit Oki Setiana, sambil tangannya berusaha menahan tubuhku, kepala penisku sudah memasuki vaginanya.”Acckkhhh peret sekali memekmu sayang…”, ujarku sambil berusaha berusaha merobek vagina sang artis berjilbab. “Acckkkkhhhhhh…. Sakkkiiitttt…… ammmmppuunn….”, jerit Oki Setiana, tulang serasa remuk, menahan sakit yang teramat sangat ketika aku masukan seluruh penisku ke dalam vaginanya, sampai buah pelirku beradu dengan selangkangan sang artis.

Kudiamkan sejenak penisku didalam vagina sang artis. Kemudian ku genjot kasar vagina Oki Setiana Dewi,”Acckkkhhhh… ammpuunn…. Sudaahh…”, Oki berusaha untuk melepaskan penisku dari dalam vagina, namun yang terjadi malah genjotan yang berlawanan sehingga penisku semakin masuk kedalam vagina Oki. “Accchhh …peret….. enak sekali…Memekmu…..”, ujarku dengan terus menggenjot vaginanya.
Sementara wajah Oki semakin sayu, tubuhnya melemah “ooohhhh… tidakkk….aaccchhhh …. Enakkk…. Yah….. masukin kontolmu …..”, dalam bathin Oki menjerit minta ditambah genjotannya. Oki merasakan gempuran penisku yang keluar masuk vaginanya hingga 10 menit kemudian. “Acckkkkkkkhhhhh…………”, tubuh Oki mengejang kemudian melemah kembali, Oki orgasme yang pertama kalinya. Aku keluarkan penisku, tampak darah segar dan berbaur dengan cairan cintanya.

Emmhhh ternyata sama saja lonte, ama orang berjilbab…, kalo sudah horny….hehehe…”, hinaku kepada Oki Setiana. “Tidak….aku bukan lonte… aku bukan pelacur”, ucap Oki Setiana Dewi berusaha mengkonforntasi ucapanku.
“Hahahaha…. Kita buktikan…. Kalo lo memang pelacur Oki Setiana Dewi”, ucapku didepan mukanya, “kalo lo pelacur… lo akan mengikuti aku ke kamar Meyda dengan Merangkak.., tapi kalo lo bukan pelacur lo akan mengambil pakaianmu dan pergi dari sini” ucapku sejurus kemudian.
Aneh dan tidak habis fikir Oki Setiana, dia yang menginginkan mengambil pakaiannya malah mengikutiku ke kamar Meyda Sefira dengan cara merangkak. “Hahahaha…. Ternyata kamu merasa jadi pelacur….., sekarang naik keatas ranjang dan berbaring….”, perintahku kepada Oki Setiana Dewi, dengan tetap merangkak ketika menaiki ranjang milik Meyda Sefira. Kemudian aku mengambil dua buah sabuk milik Meyda, ku ikat tangan Oki Setiana ke ujung-ujung ranjang.
Oki Setiana Dewi tampak kembali menangis, “Tenang sayang…, kamu akan merasakan siksaanku yang paling nikmat…”, kemudian aku berpindah ke antara selangkangan Oki Setiana Dewi, ku angkat sebelah kaki Oki dan kusampaikan di pundakku, kemudian kuarahkan penisku ke vagina Oki kembali. “Emmhhh Memek kamu peret sayang….., kontolku susah sekali masuk….”, aku kembali memasukan penis dan menggasak liang kewanitaan Oki Setiana dengan kasar. “Acckkkkhhhh…..eemmmhhhh…….ohhh…”, erang Oki Setiana ketika liangnya ku sodok-sodok, tampak Oki semakin pasrah menerima sodokan-sodokanku dan birahi gadis berjilbab itupun kembali membara. “Bagaimana sayang rasanya di entot kontolku….kamu suka…”, tanyaku kepada Oki Setiana. “Acckkkkhhhh…Iya….. aku suka…..aku suka kontolmu……terus…aacckkhhh”, jawab Oki Setiana ditengah birahi yang semakin tidak terkontrol. “EEmmmhhhh….. Kalo gitu kamu pelacur… lonte yang ingin di entot kontol laki-laki…”, mencoba untuk mempengaruhi akal dari Oki Setiana Dewi dan menjatuhkan harga diri Oki Setiana ke titik terendah, “Acckkkhhhh… aku bukan… aakkhh lonnteee…, jangan aaannggkkk pangggiill aku lonnntttee…”, aku menghentikan sodokan membuat birahi Oki Setiana jadi mengambang, “Jika lo ingin dientot lagi, lo harus ngaku bahwa lo lonte…”, kataku kepada Oki Setiana.
“Iya…. Aku… Lonte….. Oki Mohon …. Entotin lagi memek Oki….”, aku tersenyum penuh kemenangan dan kembali menggenjot tubuh Oki yang sudah basah karena keringat.
Sementara itu, Meyda sudah sampai didepan pintu, kemudian mengambil kunci dan memasuki apartemen,”Pada kemana nih …?”, Meyda kemudian menyimpan belanjaannya diatas mini bar, ketika melirik ke arah sofa, tampak pakaian Oki Setiana dan pakaianku berserakan. Meyda tampak tersenyum, dia mendengar suara desahan dan erangan dari dalam kamarnya.
“Apa yang sedang kalian lakukan…!!!”, kata Meyda berpura-pura ketika membuka pintu kamarnya yang tadi setengah tertutup. “Acckkhhh aku lagi ngentot mbak Oki…., katanya mbak Oki pengen dientotin nih…..”, jawabku sambil terus memompa vagina Oki Setiana Dewi, “Acckkhhh…Ngak.. Meyda…Aku di perkosa…Acckkkhhh Nikkmmaattt…..”, ucapan itu yang terlontar dari mulut Oki. Meyda tersenyum tanpa mempedulikan apa kata Oki, gadis itu kemudian membuka baju gamisnya. Meyda yang memang tidak menggunakan dalaman lagi, langsung terpampang jelas tubuh indahnya. “Ko… Mau ngentot ngak ngajak-ngajak sih…”, ucap Meyda yang kemudian mengambil posisi diatas Oki Setiana, Vagina Meyda Sefira yang tak berjembut tepat dihadapan muka Oki Setiana Dewi. “Ayo … Oki jilat Memekku…”, ujar Meyda kepada sahabatnya. Oki yang dilanda nafsu birahi, menjulurkan lidahnya, berusaha menjilat bagian kewanitaan sahabatnya tersebut. Karena tangan Oki di ikat membuat dia kesulitan untuk menjilat Vagina Meyda Sefira. Mengetahui hal itu Meyda lalu mengangkat kepala Oki Setiana Dewi dan mendekatkan ke daerah intimnya. “Ackckkhhhh… iya …. Disitu…ennaakkk sayang…..”, ucap Meyda, ketika jilatan-jilatan Oki Setiana mengenai klitorisnya. Meyda yang memang tadinya ingin kencing tidak kuat menerima jilatan-jilatan dari Oki Setiana, sementara buat Oki itu merupakan sensasi baru menerima sodokan dan menjilat Vagina sahabatnya sendiri. “Acckkkhhhh…. Nikmat Sayang….”, Tidak sampai lima menit tubuh Meyda mengejang, mengeluarkan cairan cintanya yang menyemprot langsung dimuka Oki Setiana Dewi, sehingga cairan cinta itu terminum, dan membasahi muka serta jilbab sahabatnya tersebut. Tidak lama setelah itu “Acckkkkhhhhhhhhhh……….”, kini giliran dari Oki yang orgasme dan mengeluarkan cairan cintanya. Meyda tampak menjilat-jilat bagian intim sahabatnya tersebut yang masih dipenuhi oleh penisku. Kemudian aku mengeluarkan penisku, sedang Meyda mengambil sebuah dildo yang setiap ujung-ujungnya menyerupai penis.
“Oki…., sekarang waktunya….”, ucapku sambil memasukan penisku kedalam mulutnya. “mmmuuuuuaaa…………mmmpphhhh”, itu yang terdengar dari mulut Oki Setiana ketika mulutnya dipenuhi oleh penisku sampai mentok ke tenggorokannya sementara aku memompa penisku di mulut Oki Setiana, Meyda Sefira memasukan dildo ke vagina sahabatnya, sedang ujung yang satunya ke vaginanya sendiri. “Acckkkhhh….nikmaaatt…oooohhh….”, erang dari Meyda Sefira yang mencoba mencari kenikmatannya sendiri.
Tidak lama dari situ, “Acckkhhh… aku mau keluar sayang…, telan semua pejuku”, kataku. “crrooottt….crooottt…”, aku mengeluarkan sperma yang cukup banyak sebagian banyak terminum oleh Oki Setiana dan sebagian lagi menghias muka, hidung dan jilbab dari artis berjilbab itu. Kemudian aku membuka ikatan tangan dari Oki Setiana, kemudian gadis berjilbab itu bangkit dan sekarang posisi antara kedua sahabat itu saling berhadapan, sisa peju yang berada disekitar wajah dibersihkan oleh Meyda dengan cara dijilat, lalu kedua gadis itu saling berpelukan, bibir mereka saling berpagut, payudaranya saling bertemu, dan dibawah dildo semakin tertanam di vagina kedua sahabat tersebut. Sungguh suatu pemandangan indah, kedua sahabat itu berusaha untuk mencapai puncaknya masing-masing,dengan menggoyang-goyangkan dan memompa vaginanya masing-masing, membuat dildo tersebut semakin meransang dan meningkatkan birahi kedua gadis berjilbab. “Acckkkhhhh…enak…. Meyda Sayang….”, kata Oki Setiana, sementara Meyda “Ohhh…Oki……”. Tidak lama dari itu keduanya mencapai orgasme tubuh Oki mengerang kebelakang, demikian juga dengan tubuh Meyda.
“Accckkkkkhhhhhh…. Nikmat…. Oki…….”, Erang Meyda ketika meraih orgasmenya. Sementara Oki Setiana, “Aaaccckkkkkkkkhhhh …..Iya.a….. Ennnaakkk Mey…..”, jerit Oki Setiana Dewi. Tubuh Meyda kemudian ambruk disebelah tubuh sahabatnya. Kemudian Oki menaiki tubuh Meyda dengan posisi 69, mereka saling menjilati vaginanya masing-masing. Membuatku bernafsu kembali aku melangkah dan mengambil posisi dibelakang tubuh Oki. Kuambil lotion yang ada diatas meja, kuolesi penis dengan lotion tersebut, kemudian ku arahkan penisku ke anus Oki Setiana. “Acckkkhhhh…. Sakit…..”, kembali Oki Setiana mengerang ketika anusnya di bobol oleh penisku sebelum, Oki tidak dapat melanjutkan jilatan-jilatan terhadap vagina Meyda karena aku menhujam kan penisku ke dalam anus sang artis dengan cepat, begitu juga dengan Meyda yang terus mengenyot vagina sahabatnya tersebut. Sampai akhirnya…”Acckkkkhhhh….. nikkkmmmattt…..”, erang sedangkan cairan cinta memenuhi muka dan jilbab dari Meyda Sefira, Oki kemudian terkulai lemas disebelah Meyda.
Selanjutnya kutarik dan kubalikan badan Meyda kepinggir ranjang, sehingga kaki Meyda menjuntai kebawah dan payudara sang artis tertekan oleh ranjangnya. Kembali kusodokan penis besarku ke vagina Meyda “Acckkkkhhhh…. Iiyyyaaahhh …. Ennnttotiiinnn Meyyda…”, lenguh Meyda yang membuatku seolah kesetanan untuk memacu genjotan-genjotanku. Tidak lama dari itu “Acckkkkkkkhhhh …….Aku Samppaaiii”, jerit Meyda yang kemudian terkulai lemas. “Crrooootttt….Crrrooottt”, semburan pejuku mengisi rahim dari sang artis berjilbab itu.”Ahhh…. enak…..sayyanng”, ketika aku mengalami klimaks.
Aku tinggalkan kedua artis berjilbab itu yang telanjang, dengan jilbab dan muka yang basah karena cairan cintanya. Serta tubuhnya yang dihiasi oleh keringat-keringat. Mereka berdua tampak tertidur. Sementara aku mengambil air Minum sambil tersenyum penuh kemenangan.

Dua minggu sudah berlalu semenjak Oki Setiana Dewi menjadi salah satu budak seks milikku. Selama Dua minggu ini baik Oki maupun Meyda selalu aku garap, baik bermain secara treesome maupun di tempat masing-masing. Hari ini mereka berdua berkumpul ditempat Meyda, kedua gadis berjilbab ini tampak cantik dan sexy, mereka menggunakan warna baju yang senada. Meyda menggunakan baju warna merah muda senada dengan jilbabnya yang dibalutkan dilehernya, baju yang dikenakan adalah kemeja tipis yang membentuk badannya sehingga tonjolan putingnya terlihat dengan jelas. Sedangkan Oki Setiana Dewi menggunakan baju kurung yang sama tipisnya dengan jilbab lebar yang menutup payudaranya dan stocking yang sampai ke pahanya, jika diperhatikan lebih seksama maka vagina Oki dapat terlihat karena tidak menggunakan celana dalam dibalik baju tersebut.

“Kalian sudah siap…”, Tanyaku kepada kedua gadis tersebut. Mereka berdua cuma tersenyum menjawab pertanyaanku. Hari ini memang waktu yang ku janjikan dengan Mr. Robert untuk menyediakan dua orang gadis yang akan melayani kembali tamu-tamunya. Kami meluncur ke Villa tempat Mr. Robert dengan menggunakan mobil milik Meyda, menuju villa milik Mr. Robert.
Sesampainya di villa Mr. Robert mereka berdua ku gandeng menuju pelataran rumah, Mr. Robert tampak tersenyum ketika pesanannya datang. “You Look Beautiful Meyda…”, sambut Mr. Robert sambil melumat bibir Meyda Sefira yang dibalas dengan pagutan dari artis berjilbab tersebut. sementara tangannya memainkan putting dari Meyda Sefira.

“So…, ini gadis satu lagi yang kau janjikan..??”, Tanya Mr. Robert kepadaku sambil matanya menatap kepada Oki Setiana Dewi. “You look so pretty ….”, kata Mr. Robert sambil menghampiri Oki, tangan Mr. Robert menjamah pantat Oki Setiana “You Have a good pussy huh….”, kata Mr. Robert.
Setelah Mr. Robert memberikan cek kepadaku, Mr. Robert lalu menggandeng kedua gadis berjilbab itu “Come on girl.., we have party here….”, kata Mr. Robert yang dijawab dengan senyum manis dari bibir kedua gadis tersebut. Sesampainya diruang tengah ternyata ada sekitar sembilan orang tamu Mr. Robert, dan ditengah-tengah ruangan hanya menggunakan karpet saja.
“Well Guys…, we will have party with this two bicth….”, kata Mr. Robert kepada rekan-rekannya. Kedua gadis tersebut dikelilingi oleh para tamu Mr. Robert tangan mereka menjamah bagian-bagian tubuh dari Oki Setiana maupun tubuh Meyda Sefira. “We want you dance first girl…” kata salah seorang tamunya Mr. Robert.
Seperti diperintah kemudian Meyda dan Oki Setiana ketengah-tengah ruangan sambil mulai menari, mengikuti irama lagu. Dengan mata genit, kadang mereka berdua saling meraba satu sama lain. Lama kelamaan tarian mereka makin erotis, Meyda mulai menanggalkan baju dan celananya sehingga yang tersisa hanya jilbabnya. Sambil terus menari Meydapun melucuti baju kurung milik Oki Setiana Dewi sehingga Oki Setiana sekarang hanya mengenakan jilbab dan stocking warna merah muda. Sambil terus menari mereka berciuman lidah Meyda dan Oki saling mengulum satu sama lain. Oki kemudian menjilat tubuh Meyda dan mengigit ringan puting milik Meyda. Jilatan Oki semakin kebawah kearah pusar dan kemudian turun ke arah vagina Meyda. “Acchhh….”, Meyda melenguh tetapi tetap dengan tariannya. Sementara Oki memainkan lidahnya di bagian intim milik Meyda.
Sementara tamu-tamu dari Mr. Robert sudah mulai menanggalkan bajunya masing-masing, penis mereka yang rata-rata diatas standar sudah mulai tegak berdiri. Mereka mulai menghampiri Meyda Sefira dan Oki Setiana Dewi, salah seorang dari mereka mengangkat tubuh Oki sehingga sekarang baik Meyda maupun Oki sama-sama berdiri. “Do you want to fuck….”, salah satu dari teman Mr. Robert berbisik ditelinga Oki Setiana Dewi. Sambil tangannya menggerayangi tubuh Oki Setiana sementara teman-teman yang lain ada yang memainkan vagina dan payudara artis berjilbab tersebut. “Ohhh….pleeaasse fuck me…”, jawab Oki Setiana Dewi
Tubuh Oki Setiana Dewi kemudian dibawa kesebuah Sofa yang ada dipinggiran karpet, sementara Meyda dengan dikelilingi lima orang laki-laki, yang tengah mempermainkan tubuh Meyda Sefira, ada yang mengobok-ngobok vagina, anus dan meremas – remas payudara. Sementara Meyda berciuman dengan salah satu dari mereka lidah mereka saling berpagut. Tubuh Meyda Sefira seperti sebuah boneka yang dipermainkan oleh mereka.
“Lick and suck my dick a little slut…”, perintah salah satu dari mereka kepada Oki Setiana Dewi yang sekarang duduk disofa, sementara vaginanyanya sedang dijilati oleh yang lainnya. Oki Setiana Dewi mulai menjilati penis besar tersebut. Seperti seorang profesional Lidahnya menari-nari diatas penis tersebut sebelum kemudian Oki Setiana Dewi memasukan penis tersebut kedalam mulutnya. “Ohhh Yes , that nice …suck my dick… do you love it…???.”, Tanyanya kepada Oki Setiana Dewi, yang dijawab oleh anggukan oleh Oki Setiana, sementara dibagian bawah seseorang mulai menjilati vagina dari Oki Setiana Dewi. “Accccckkkkkkkkkhhh…..”, Oki Setiana Dewi sempat mengerang ketika klitorisnya tersapu oleh lidah tapi mulutnya segera dijejali oleh penis besar tersebut. “Nice pussy … I love it…”, kata bule yang sedang menjilati vagina milik Oki Setiana Dewi.
Sementara itu Meyda Sefira tampak mulai teransang berat, lubang anus dan vaginanya dijilati dan diobok-obok oleh dua orang tamu, sementara putingnya yang sudah mengeras tampak sangat menggairahkan dimanikan oleh tamu-tamu Mr. Robert. “accchhhhh…. Yess…… oohhhh….”, ceracau dari mulut Meyda Sefira menerima perlakuan dari tamu-tamu Mr.Robert. “Do you like it a little slut huh….”, Tanya seseorang ditelinga Meyda Sefira. “Ohhhh… yeesss…. I like it…. Please fuck…. Mee… ooohhh…”, erang Meyda Sefira ditengah-tengah ransangan seksual atas tubuhnya.
Salah satu bule tersebut mulai mengarahkan penisnya ke vagina Meyda Sefira, kaki Meyda diangkatnya sebelah sehingga Meyda berpegangan ke pundak si bule tersebut dan “Acckkkhhh…..nice pussy… do you like this bicth ”, tanyanya kepada Meyda yang ikut mengerang ketika vaginanya disodok oleh penis besar tersebut. “Accckkkkkhhhh…….plleesssee… fucckkk mmeee….”. kaki meyda kini melingkar di pinggang sang bule sehingga posisi Meyda Sefira tampak dipangku oleh sang bule.
“plok…pllookkk…plookkkk….”, bunyi tumbukan antara vagina Meyda Sefira dengan si bule. “Accckkkkkhhhh…..iiyyyaa…..acckkkkhhhh ffuuucckkk mmmee….”, erang Meyda Sefira ketika tumbukan yang begitu gencar. Tangannya mencakar punggung sang tamu. Sementara dibelakangnya seorang tamu lain mulai mengarahkan penisnya ke anus Meyda Sefira dan dengan sentakan yang kuat penis itu masuk kedalam anus Meyda Sefira di iringi oleh teriakan Meyda.
“Accckkkkkkhhh….. sakkkiittt…….”, ucap Meyda Sefira kala itu.
“What… you want more….”, sibule yang dibelakang yang tidak mengerti bahasa Indonesia malah semakin kuat memompa anus Meyda Sefira. “Take this bicth….”, kata sibule sambil mempercepat tumbukannya. Sekarang Meyda bagaikan sedang di sandwich dua lubang disenggamai berbarengan. Rasa sakitpun sudah berubah menjadi kenikmatan. Meyda Sefira semakin liar ditumbuk oleh dua penis sekaligus.
“Ahhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhhhh, ” keliaran Meyda Sefira terlibas oleh kegarangan dan kekasaran dua orang pria yang sedang menyodoki lubang anus dan vaginanya , begitu kasar, liar, dan brutal..

“Ufffhhhhhhhhhhhh…., Crooootttttttttttttttttt…..” Meyda Sefira semakin liar merasakan denyutan-denyutan kenikmatan di vaginanya yang seakan-akan menyedotnya, tubuhnya semakin basah, berpeluh dalam kenikmatan birahi yang mengombang-ambingkannya dalam lautan yang penuh dengan desahan-desahan kenikmatan.
“Ouuhhhhhh…! Arrrhhhhhh….! ” Meyda Sefira meringis kenikmatan karena kedua tamu itu semakin kasar dan brutal menyetubuhinya.
Dua batang penis itu semakin merajalela, seenaknya menjebol kedua lubang gadis itu, menghantam vagina dan lubang duburnya yang sempit, menusuk-nusuk dengan kejam dan mereguk kenikmatan tubuh Meyda Sefira yang halus mulus dalam keliaran binatang buas yang lapar dan haus, tubuh Meyda Sefira yang mungil tersentak keenakan ketika dua batang penis yang perkasa itu menghujami kedua lubangnya yang seret. Buah dadanya yang bergerak – gerak dengan indah menjadi mainan bagi dua negro yang asik menyusu di puncak payudaranya yang semakin kenyal membuntal dengan padat tanda gadis itu sedang diamuk kenikmatan yang dashyat.
“Arrrrhhhh…..”sesekali Meyda Sefira menjerit kecil ketika merasakan remasan-remasan gemas kedua tamunya yang sedang menyetubuhinya. membuat Meyda Sefira berulang kali mendesah dan merintih, sementara tubuhnya tersentak-sentak dalam irama yang liar dan brutal disetubuhi oleh dua batang kemaluan di lubang vagina dan anusnya yang terasa seperti melar tanpa daya menerima penis yang begitu besar dan panjang.

“Heghhhh…. Oooooohhhhhhhhhh….Crrrrttttt…” Meyda Sefira terkulai dalam kenikmatan puncak klimaks, bersamaan dengan itu gadis berjilbab itu memekik keras ketika merasakan sodokan keras di lubang anus dan lubang vaginanya “Kecrottttt…” “Crooooooootttt”
Sementara itu Oki Setiana Dewi menaiki tamu yang lain, vaginanya menduduki penis yang besar dan “Acccccckkkkkhhhh……”, mulut Oki Setiana Dewi menganga menerima penis yang besar tersebut dilubang vaginanya yang seret, tidak berapa lama Oki Setiana Dewi mulai menari-nari dengan liar. Tubuhnya terlonjak-lonjak diatas pangkuan sang tamu, badannya mulai dibasahi keringat yang wangi. “Acccckkkhhh….Ohhhh……”, ceraracau Oki Setiana Dewi, tubuh molek tersebut menjadi sasaran empuk sang tamu. Payudaranya di remas-remas dengan kasar, kadang puting Oki Setiana Dewi pun digigit oleh tamunya. Sehingga dia mengerang menerimanya, sementara itu dibelakang tamu yang lain mengambil posisi untuk memasukan batang pusakanya kearah dubur sang artis berjilbab tersebut. “Accckkkkkkkkkhhh…. Ufffhhhhhhhhhhhh….”, ketika sang tamu mulai menggenjot penisnya dari kedua arah.
“Plok…pllokkk..plllookkk….”, tumbukan antara penis dengan dua lubang milik Oki Setiana Dewi semakin lama semakin kuat, semakin brutal dan semakin kasar. “OOOhhhhh……, eeemmmmhhhh.h…….”, desah tertahan dari Oki Setiana Dewi sebelum mulutnya ikut disumpal oleh sebatang penis besar, jilbab lebarnya kemudian dijambak dan penispun mulai mendeeptroat mulut Oki Setiana Dewi. “Suck my dick…..acckkkkhhhh nice girl, ahhh you really a slut”, sungut sang tamu semakin lama semakin kasar menekan penisnya di dalam mulut Oki Setiana Dewi, kondisi Oki Setiana Dewi semakin erotis memainkan perannya tangan yang lain bekerja mengocok penis yang lain, sehingga sekarang Oki Setiana Dewi dikerubuti oleh empat orang yang memiliki penis yang besar-besar.
Gerakan Oki Setiana Dewi semakin binal, seperti seekor kuda Oki Setiana Dewipun ikut memompa penis-penis yang semakin dalam masuk kedalam vagina dan anusnya. Gerakan liar Oki Setiana Dewi membuat dirinya semakin melayang, remasan-remasan vagina dan anus terhadap penis yang tertanam semakin kuat, sehingga Oki Setiana Dewi kelihatan akan menghadapi orgasme.
Tetapi sebelum Oki Setiana Dewi mengalami orgasme, mereka menghentikan gerakannya secara bersama-sama. Mereka berganti posisi, Oki Setiana Dewi sekarang menduduki penis dengan duburnya, penis yang tadi menganal Oki Setiana Dewi mendapat giliran untuk menghujam vagina sang artis berjilbab itu. “Accckkkhhhhh…..nikkkmmmatt……”, desah Oki Setiana Dewi ketika kedua penis tersebut mulai berlomba menggenjot lubang kenikmatan yang dimilikinya.
“Accckkkhhhh fuck me….. harrrderrr….”, teriak Oki Setiana Dewi semakin menjadi menginginkan orgasme yang tadi tertunda, gerakan Oki Setiana Dewi semakin liar.
“you want more……take this….bicth”, kedua tamu itupun semakin brutal dalam menggenjot lubang-lubang kenikmatan dari Oki Setiana Dewi. “Acccccccccckkkkkkkhhhhhh………seeerrrtttt……ccccrroooottt……”, vagina Oki Setiana Dewi menumpahkan cairan cinta yang banyak dan memancar dari liangnya.
Tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat kepada Oki Setiana Dewi, mereka mulai memasukan senjatanya kembali kedalam vagina sang artis dan mulai menggenjot kembali. Dua lubang tersebut kembali digasak oleh para tamu. “Accckkkkhhhh……eeemmmhhhhh……..”, erang kenikmatan dari mulut Oki Setiana Dewi membuat tamu yang lain mengambil posisi dibelakang temannya dan ikut memasukan penisnya kedalam vagina sang artis. “Accccckkkkkkkhhh……sakkkiittt……”, vagina Oki Setiana Dewi seperti robek dimasukan oleh dua penis sekaligus, belum lagi liang duburnya tertanam satu penis, wajah Oki Setiana Dewi tampak meringis menahan sakit diliang vaginanya.
“Accckkkhhhh…..kellluuarriinn….eeeeehhhhhh……”, Oki Setiana Dewi semakin kesakitan merasakan sodokan-sodokan dari arah selangkangannya yang serasa menusuk ulu hatinya, tubuhnya dipenuhi oleh keringat, kepalanya terdongak keatas.
“You don’t have to wear this….”, kata salah satu tamu Mr. Robert sambil menarik jilbab milik Oki Setiana Dewi sampai terlepas. Rambut panjang dan indah milik Oki Setiana Dewi kemudian dijambaknya, mulut Oki Setiana Dewi dipaksa dibuka dan mulai dijejali oleh penis miliknya. “Emmmmhhhhhhhh…………”, Oki Setiana Dewi tampak meronta, tetapi tertahan oleh tubuh-tubuh yang menindihnya.
Tidak terlalu lama Oki Setiana Dewi mulai terbiasa menerima penis-penis tersebut dalam tubuhnya. Oki Setiana Dewi telah kembali dilanda birahi tingkat tinggi, mulutnya mulai mengulum dan kadang sang tamu mendeeptroat sampai mentok ke tenggorakan sang artis cantik tersebut, sementara dibawah Oki Setiana Dewi pun mulai ikut menggoyangkan pinggulnya menerima sodokan-sodokan penis, yang semakin lama semakin brutal menyiksa lubang-lubang sang artis jelita tersebut, “Eemmmmmmmhhhh…….ooooohhhhhhh………crooottt ……crrrooottt”, tubuh Oki Setiana Dewi mengejang kembali orgasme kedua melanda dirinya, tubuhnya ambruk diatas tamu Mr.Robert.
Tubuh yang lemah tersebut kemudian ditarik oleh tamu yang tadi mendeeptroatnya, bagaikan sebuah mainan tubuh Oki Setiana Dewi dibalikan sehingga tertelungkup. Anus milik Oki Setiana Dewi kembali menerima sebuah batang penis. “Accckkkkkhhhhhh………..”, Oki Setiana Dewi kembali mengerang menerima sodokan penis di duburnya. Rambut hitam panjang milik gadis berjilbab tersebut dijambak sehingga badannya terdongak. Bagaikan seekor kuda yang sedang ditunggangi tubuh lemah Oki Setiana Dewi terguncang-guncang menerima sodokan-sodokan yang semakin lama semakin kasar dan brutal.
“Accckkkkkkkkkhhh…. Ufffhhhhhhhhhhhh….”, desahan-desahan dari seekor kuda binal berjilbab tersebut seakan minta terus untuk disetubuhi. “Ahhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhhhh…..aammppuunnn……iiyaa… teruss…”, Oki Setiana Dewi benar-benar menikmati sodokan-sodokan tersebut.
“ploookkkk….pllloookkkkk….pllloookkkk….”, bunyi tumbukan antara mereka semakin lama terdengar semakin kencang..

Season III
Oki Setiana Dewi The New Sex Slave
Dua hari setelah acara di villa Mr. Robert, dia menelepon aku dan Mr. Robert sangat senang dengan pelayanan yang baik dari Meyda Sefira. Tetapi yang jadi aku pusing dua minggu ke depan dia ingin melakukan hal sama, kali ini Mr. Robert ingin dua orang sekaligus.
Sambil menunggu Meyda yang sedang shooting akupun iseng menonton shooting itu. “emmhhh… mbak Oki kayanya bisa kujadikan lonte seperti Meyda..”, fikirku saat itu. Saat break shooting aku meminta kepada Meyda untuk mengambil barang pribadi Oki Setiana Dewi. Entah itu berupa lipstik, bedak tapi yang paling ampuh adalah celana dalam yang sudah dikenakan oleh Mbak Oki.
Ternyata tidak terlalu sulit buat Meyda mendapatkan celana dalam Oki Setiana Dewi, ketika akan berganti kostum ternyata Oki-pun mengganti CD-nya karena merasa kegerahan di sekitar selangkangan. Meyda yang berganti kostum terakhir dapat mengambil CD Oki Setiana Dewi dari tumpukan barang-barang pribadi miliknya dan memasukan barang itu ke dalam Tas pribadi milik Meyda sendiri.

Shooting hari itu hanya sampai jam lima sore, semuanya mulai meninggalkan lokasi syuting, “Eh… Mbak Oki ada yang mau minta tanda tangan nih”, Kata Meyda menyapa Oki Setiana Dewi, dan memang mobil yang kami pergunakan bersebelahan, “Siapa….?”, senyum manis menghiasi mulut mungil dari Oki Setiana Dewi, “Ini, Mang Parno supirku, katanya pengen kenalan dan minta tanda tangan, mbak Oki artis favoritnya Mang Parno loh”, Jawab Meyda sambil tersenyum. Oki pun kemudian mendekat ke Mobil yang kami pergunakan dia mengeluarkan foto dan membubuhi tanda tangan di foto tersebut. “Foto ini buat Mang Parno, terimakasih sudah menjadi penggemar saya”, senyum manis dari Oki Setiana Dewi tetap menghiasi wajahnya.
“Terima kasih Non Oki atas fotonya…”, jawabku sambil menyalaminya. Tetapi cuma sebatas jari tangan yang bersentuhan dan itu pun tidak lama, tetapi bagiku cukup untuk meluncurkan gundam pertamaku buat Oki Setiana Dewi. “Meyda…, Aku duluan …ada perlu dulu nih….”, sambil melambaikan tangan kemudian pergi meninggalkan kami dengan mobilnya.
“Bagaimana barang yang aku pesan sudah kamu dapatkan…”, tanyaku kepada Meyda sambil mengendarai mobil menuju apartement milik Meyda. “Ini saya dapatkan tuan…., celana dalam milik mbak Oki…”, senyum genit dari Meyda tampak menghiasi bibirnya. “Bagus, gadis penurut…”, jawabku.
“Tuan, tapi tuan harus memberikan hadiah buat Meyda, Meyda ingin dipuaskan kembali oleh Tuan…”, sambil tangan Meyda Sefira menjamah penisku dan memandangku dengan manja. “Emmhhh… Nanti sesampainya di apartement kamu akan mendapatkanya Meyda…, lonteku…”, jawabku sambil memacu mobil ke arah apartement Meyda.
Sesampainya di Apartement kami berdua langsung menaiki lift menuju lantai sebelas yang merupakan tempat apartement Meyda. Setelah kita berdua memasuki apartement dan mengunci pintu. Meyda yang tampak sudah sangat horny, langsung memagut bibirku dan mencium bibirku dengan ganas. Akupun membalasnya dengan tak kalah ganas. Tiba-tiba Meyda melepaskan ciumannya. “Tuan…., Meyda mau menagih hadiah dari tuan…”, tatapnya manja dan sambil melepaskan baju gamis dari tubuhnya. Baju tersebut langsung melorot kebawah dan sekarang yang tersisa hanya jilbab yang dikenakan, bra dan celana dalam model G-String. Perlahan Meyda melepas bra dan berjalan kearahku dengan genitnya kemudian mendorong tubuhku sampai terduduk di sofa. Kemudian Meyda bersimpuh diantara selangkanganku, membuka celanaku dan celana dalamku. “Emmmmhhhh…. Wangi tuan….”, Meyda dengan tingkah binalnya menghirup Celana dalamku yang bau tapi bagi Meyda itu merupakan sensasi tersendiri untuknya.
Perlahan Meyda mulai mengocok penisku, mulutnya mengulum buah pelirku… “ssrruuuppp…..”, sambil terus mengulum buah pelirku….. “Emmmhhh…. Bagus Meyda…. Enak…. Jilat terus Kontolku”.
Meyda menghentikan kocokannya dan menjilat penisku dari arah bawah keatas dan sebaliknya, “Ahhhh… iya nikmat begitu…. Terus…”, Meyda meneruskan perbuatannya dengan terkadang memainkan ujung lidahnya di lubang kencingku sambil mata binal Meyda menatap ke arahku. “Acckkhhhh…..nikmat sayang…….”, kataku. Aku yang sudah mulai tak kuat karena permainan Meyda, kemudian menjambak Jilbab yang di kenakan oleh artis jelita itu dan memaksa Meyda untuk memasukan penisku kemulutnya. Kepala Meyda aku tekan sampai rongga mulut Meyda dipenuhi oleh penisku dan kepala Meyda mentok di selangkanganku. “Ini yang kau Mau Meyda….. Kamu Mau Kontol…. Ini aku berikan Kontol…..terima ini lonte…”, sambil tetap menjambak jilbab Meyda dan memaju mundurkan kepala Meyda.
“uuuuhh…. Srrruupppppp…….”, itu yang terdengar dari mulut Meyda, Meyda sendiri tampak pasrah tetapi tampak juga menikmati apa yang aku lakukan. Semuanya berlangsung berkisar lima menitan.
Setelah itu aku menghentikan kegiatanku dan melepaskan kemudian aku balikkan tubuh Meyda dengan kasar dan menarik pinggang Meyda sehingga pantat Meyda terangkat keatas. Dengan kasar penisku menembus anus dari Meyda Safira. “Accckkkhhhhh……”, erang Meyda, kepalanya terdongak keatas. “Kamu suka di sodomi Meyda….., kamu menginginkan begini….bool kamu sempit……?”, kataku sambil terus menggenjot Meyda. “Acckkkkhhh.. iya Meyda suka….acckkhhh lebih cepat lagi”, balas Meyda sambil tangan kanannya memainkan klitorisnya sendiri. Kutarik jilbab Meyda, kali ini jilbab yang dikenakan Meyda terlepas dengan ciput yang dipakai didalam jilbab pun ikut terlepas, sehingga rambut Meyda tergerai panjang. Kemudian rambut Meyda ku jambak dan ku tarik kebelakang, sehingga kepala Meyda terdongak, kemudian ku ciumi heler jenjang milik sang artis berjilbab sambil terus menggenjot anus Meyda. ”Acckkhhhh …. Terus Entotin Meyda… Sayang…”, kata Meyda menikmati sodokan-sodokan diriku sambil matanya merem-melek, sementara tubuh kami berdua sudah sangat berkeringat.
“Kamu Cantik sayang…, tubuh dan rambutmu benar-benar wangi”, Meyda kemudian ku balikan badannya hingga menghadap kepadaku. “Kamu cantik sayang…”, ucapku. Meyda kemudian mencium bibirku. Ciuman yang benar-benar ganas. “ Masukin Kontol Tuan ke Memek Meyda …..”, ucap Meyda. Tapi Meyda kemudian aku bopong ke kamarnya, Meyda tampak tersenyum manis. Setelah ku lepaskan Meyda aku berbaring di tempat tidur empuk empunya sang artis. “Silahkan masukan kontolku ke Memek kamu …..”, Meyda tersenyum manis kemudian menaiki tubuhku, kakinya di renggangkan dengan perlahan Meyda memasukan batang penisku ke vaginanya.
“Acckkkhhhhh…….Emmmhhh…..”, Meyda mendesah ketika penisku memasuki vaginanya, kemudian Meyda mulai bergerak naik turun dan payudaranya ikut berguncang, “Acckkkkhhh nikmat banget kontolmu…, Meyda suka banget ma kontol tuan…”, gerakan Meyda semakin cepat, akupun meraih toket sang gadis, dan ku remes-remas toket ranum milik Meyda, hal itu membuat Meyda semakin semangat menaik turunkan badannya. “pllok…. Plokkk…plokkk”, itu yang terdengar ketika Meyda menaiki penisku.
“Acckkkhhhh enak Meyda…., kamu memang lonte berbakat….”, ucapku kepada Meyda. Sementara pinggulku ikut bergerak berlawanan arah dengan gerakan Meyda, maka semakin menancaplah penisku di dalam memek Meyda. Sementara gerakan Meyda yang semakin tidak terkontrol, bagaikan seekor kuda liar dan tak lama kemudian,”Accckkkhhhhh……. Meyda keluar…..”, tubuh sang artis mengejang, badannya melengkung ke belakang dan cairan cintapun meleleh dari Memek sang artis berjilbab, kemudian tubuh Meyda roboh di sebelahku dengan rambut acak-acakan.
Sementara aku yang belum mencapai orgasme, segera berdiri ditarik tubuh Meyda ke pinggir ranjang, kemudian kaki jenjang milik Meyda di angkat dan di simpan di pundakku, sementara penisku langsung menerebos masuk liang vagina Meyda dan “Acckkhhhh…… sudah cukup tuan Meyda masih cape….”, tapi tidakku pedulikan ucapan dari Meyda, “Kamu ingin kontol… ini rasakan kontol ku….”, dengan gerakan cepat aku hujamkan penisku di antara selangkangan gadis berjilbab tersebut. “Acckkkhhhh….ammmppuuunnn….. suuuddahhh …. Meyda…. Caaapppeee….”, sementara kepalanya bergerak kekiri dan kekanan, dan tangannya meremas kain seprai. “Gw belum keluar…. Lonte lo harus memuaskan diriku”. Kataku dengan bertambah bringas menyetubuhinya dan Meydapun tampak pasrah menerima siksaan birahi.
Dan tak lama kemudian “Acccckkkhhh……”, tubuh Meyda kemudian mengejang dan kembali cairan cinta Meyda menyembur. Setelah itu giliranku “Acckkkhhhh…. Enak…..”, keluarlah pejuku, bercampur dengan cairan cinta Meyda di dalam vaginanya. Kulepaskan penisku dari dalam vagina Meyda.
Tubuh Meyda tampak lemas dan menggigil dengan keringat yang membasahi tubuh sang artis. Kemudian kuangkat dia keatas ranjang dan kubaringkan. Kuselimuti tubuh sang artis tersebut kemudian aku keluar dari kamar Meyda.

“you still want dick…huh…”, Tanya salah satu tamu sambil meremas-remas payudara sang artis tersebut. “Acccckkkkkhhh…..eeemmmmmhhhh give me more dick……”, ceracau Oki Setiana Dewi, Tubuh gadis cantik itu didorong hingga bersandar ke dada sang tamu yang sedang menggenjot anus gadis cantik tersebut. lubang vagina milik Oki Setiana Dewi tampak masih menganga bekas dua penis yang menghujamnya. Tampa kesusahan penis tersebut memasuki lembah surga milik Oki Setiana Dewi. “Accckkkkhhhh…… yyyesss…..oooohhhh….ffuuucckkkk ….fuuuccckkk mmmeee…. I love dick……”, jerit Oki Setiana Dewi ketika mendapatkan penis tersebut. seolah kesetanan Oki Setiana Dewi menggoyangkan pinggulnya sehingga kedua penis tersebut semakin tertanam di dalam anus dan vaginanya. “ackcckkhhh …acckkkhhh….. fuckk….. Mee…. Accckkkhhh…..”, keliaran Oki Setiana Dewi semakin menjadi dan tidak lama dari itu. “Acccckkkkkhhhhh…….”, tubuhnya melengkung merasakan orgasmenya kembali.

Di bagian lain tampak Meyda Sefira dituntun untuk menduduki penis milik salah seorang tamu, “Acckkkhhhhhh……”, ketika penis tersebut perlahan-lahan memasuki liang dubur milik Meyda Sefira. Sementara dada montok dan putingnya dimainkan, diremas dan dipilin-pilin oleh tamu yang lain. “Acckkkkhhh….ooohh…eeemmmmhhh….”, desahan kenikmatan Meyda Sefira mewarnai irama tumbukan antara penis dan anus sang bintang KCB tersebut, sementara mata Meyda Sefira tampak merem-melek seolah-olah menantang tamu yang lain untuk segera ikut menyetubuhinya.
Tamu yang sekarang sedang memainkan putting sang gadis tampak bernafsu dengan Meyda Sefira, penis yang sudah siap menembak tersebut diarahkan ke anus sang gadis. “Accckkkkkkhhh……oooooohhh…. It’s hurt….ssaakkkkiitt….”, jerit Meyda Sefira ketika anusnya dipaksa untuk menerima dua penis sekaligus. “shut up…. Bicth…. You must enjoy this…”, Maki sang tamu sambil terus menusukan tusukannya. “Acckkkkkkhhhh.h……..”, rasa sakit dan panas dilubang dubur sang gadis tersebut terasa sampai ke ubun – ubun.
Tumbukan-tumbukan tersebut semakin lama semakin berirama, membuat Meyda Sefira mulai menikmatinya. Tangan Meyda Sefira pun mulai ikut memainkan klitoris dan memainkan vaginanya sendiri, “Acckkkkhh….eeeemmmhh …emmmhhh…..yess…ooohh….god…yes….. fucckkk… ooohh… fuuucckkk…”, Meyda Sefira menceracau setiap genjotan tersebut berlangsung, tangannya makin liar memainkan vaginanya sendiri, tanpa diduga sebuah penis sudah ada di samping muka Meyda Sefira, jilbab sang artis kemudian di jambaknya dan sang penis melenggang mulus ke dalam mulut sang artis tersebut. “ooohhh…. Yyeess…. I love to fuck your mouth”, kata si bule tersebut sambil terus menyerang mulut Meyda Sefira hingga mentok di selangkangannya, “pllokkk…plllokkk….plookkkk…”, sementara tumbukan dua penis di anus Meyda tampak semakin cepat, seolah-olah ingin merobek-robek anus sang artis berjilbab. Meyda Sefira tampak kewalahan oleh aksi brutal para tamu tersebut, melihat hal tersebut tamu yang lain mengorek-ngorek lubang vagina sang artis dengan tangannya. Sementara tangan Meyda disuruh mengocok penisnya. “Do You Love this…???”, Tanya nya di telinga Meyda Sefira yang hanya bisa merintih tak jelas karena mulutnya dipenuhi oleh penis. Sementara tangan Meyda Sefira semakin intenst dalam mengocok penis tamunya tersebut.
“eeemmmmmhhh….eemmhhhhh…… Sssssssssshh ssssssssssssssssssshhh ssssssshhh hhhh”, ceracau Meyda Sefira dari mulutnya, semakin lama tamu-tamu tersebut semakin brutal menikmati tubuh Meyda Sefira, genjotan penis-penis di anusnya semakin cepat, sementara mulutnya terus diperkosa oleh penis besar milik tamunya, sementara di tiga buah jari masuk dan mengobok-ngobok liang vaginanya, hal ini membuat Meyda Sefira kelojotan, menerima siksaan kenikmatan, pinggulnya ikut bergerak. “Accckkkkkkkkkkkkkkkhhhhhhhh……..”, lolong Meyda Sefira ketika penis besar dikeluarkan dari Mulutnya, bersamaan dengan derasnya cairan cinta yang keluar dari vaginanya. Tubuh Meyda Sefira tergolek tidak berdaya disamping para tamu Mr. Robert tersebut, dengan liang anus yang begitu menganga hasil dari tumbukan dua penis tadi.
Penis orang yang tadi mengobok-obok lubang vagina sang artis berjilbab kini sudah berada di dekat vagina Meyda Sefira, “Acccckkkkkhhhh……eeemmmmmhhh…..”, tanpa ampun sang tamu langsung menggenjot tubuh Meyda Sefira yang masih lemah, sang artis tampak tak berdaya tubuhnya terlonjak-lonjak menerima sodokan-sodokan brutal tersebut.
Sementara itu Oki Setiana Dewi yang sudah benar-benar telanjang bulat tampa memakai jilbab tampak mendekati Meyda Sefira dan menuju selangkangan sang gadis tersebut dengan memposisikan 69 dengan Meyda Sefira serta mulai menjilati vagina Meyda Sefira yang sedang disenggamai oleh tamu Mr. Robert. “ssrrrrupppppp…..sssssrruuupppp………..”, jilatan-jilatan liar dari Oki Setiana Dewi mengenai vagina dan penis yang sedang menyenggamai Meyda Sefira, setiap tetes cairan dijilat oleh sang artis berjilbab itu, “Accckkkkkhhh…..yyyeesss…. terruuss……aaacckkk….eeemmmmhhh…..”,tampak Meyda Sefira pun mulai kembali naik birahinya, “Srrruuupppp……srruuuuppp…..”, vagina Oki Setiana Dewi pun mulai dijilati oleh Meyda Sefira. “Acckkkhh…iiiyyaa…Meyydaaa.. sayyanggg…akuuu ssukkaa….”, erang Oki Setiana Dewi sesaat setelah itu dia meneruskan jilatan jilatan terhadap vagina dan penis sang tamu.
Tamu yang lain tampak mendekat dan memposisikan diri dibelakang Oki Setiana Dewi, “Accckkkkhhhh….. nice ass…”, dengan sekali sentak sang bule memasukan penisnya ke dubur Oki Setiana Dewi. “Acckckkkhhh Eemmmmhhh…..emmhhh….”, Oki Setiana Dewi mengerang dan kembali ke aktivitasnya. Sedangkan sang bule yang sedang menyetubuhi dubur Oki Setiana Dewi kadang penisnya dilepas dan di jejalkan ke mulut Meyda Sefira. Secara bergantian penis tersebut menyetubuhi dubur, vagina Oki Setiana Dewi dan juga mulut Meyda Sefira. Kedua gadis tersebut keliatan sudah teransang berat kembali, mereka berdua sudah tidak konsentrasi terhadap jilatan. “OOOOOHHHHH….Fuuuucckkk Mee….Okkkiii.. oohhh nikkkmaattt..baanggettt..ooohhh….fucckkkk…ooohhhh….”, erangan Meyda Sefira, “aaacckkkhhh iiiyyayaa…. Meeeyyy… ooohhh…eeehhh eeenaaakkk…aaacckkhh…pllleess… fuffuuucckk….”,ceracau mulut Oki Setiana Dewi. “You want more hah bicth….”, kata si bule sambil menjambak rambut Oki Setiana Dewi. “yyyes…pllless…harder…..ooohhh…..giiiivvveee meee harrrderr…..”, ceracau kembali dari Oki Setiana Dewi, “crrroootttt….crrrrooottt……crroottt…aacckckkhhhhhhhhhhhhhhh”, tubuh kedua artis tersebut mengejang dan kembali orgasme mengeluarkan kembali cairan cintanya.
Keduanya kemudian didudukan bersebelahan. Sementara tamu-tamu Mr. Robert mengelilingi Oki Setiana Dewi dan Meyda Sefira, sambil mengocok penis mereka masing-masing, sementara Oki Setiana Dewi maupun Meyda Sefira menjulurkan lidah masing-masing sambil membuka mulut. “crrrooott……crrrooooottt…..crroooootttt……..crroott”, secara hampir bersamaan para tamu tersebut menghujani kedua artis tersebut dengan sperma, Meyda Sefira dan Oki Setiana Dewi tampak rakus menerima sperma tersebut, meminum, dan menelannya. Kemudian secara bergantian mereka menjilati tubuh masing-masing yang penuh dengan peju dari para tamu, sebuah pemandangan erotis sekali saat itu.
Mereka beristirahat dulu selama kurang lebih 30 Menit, sebelum pesta seks dengan Meyda Sefira dan Oki Setiana Dewi dilanjut kembali sampai dengan dini hari menjelang..

Sudah tiga hari Suparno sedang kembali ke kampungnya sehingga pada sore itu Meyda Sefira hanya tinggal sendirian di Apartemen dan saat ini sedang menikmati guyuran shower dikamar mandi, setelah mandi Meyda Sefira memandang dirinya melalui cermin dikamar mandi. Wajah cantik dengan rambut bergelombang terurai begitu indah, sementara payudara nya tampak membusung seolah menantang pria untuk meremas, memilin, dan memainkan puting sang artis, sementara belahan vaginanya tampak. Meyda Sefira tampak mulai meremas dadanya sendiri, sambil tersenyum memandangi tubuhnya.
Ada sekitar tiga menit sebelum bel apartemennya berbunyi “Sebentar…….”, teriak Meyda Sefira sambil langsung beranjak, dan mengenakan baju kurung serta jilbab terusan seadanya dan segera menuju pintu apartemennya. “Oh…Pak Asep sama Pak Warjo…. Ada apa ya…”, Tanya Meyda Sefira kepada kedua orang tersebut. Asep adalah kepala security di apartement tersebut, sedang Warjo adalah salah satu anak buah Warjo yang bertugas dibagian CCTV. “Boleh kami masuk dulu ….??”, Ucap Asep kepada Meyda Sefira. “Ohh…silahkan masuk pak….” balas Meyda Sefira seraya mempersilahkan keduanya untuk duduk.
“Ada apa ya…., saya jadi kaget ada bapak-bapak kesini…???”, Tanya Meyda Sefira sambil duduk. “Ohh…. Ngak ada apa-apa Mbak Meyda.., kami Cuma lagi control saja…, sekalian mau memperlihatkan sesuatu…”, kata Asep sambil mengeluarkan sebuah CD dari saku jaketnya. “Apa ya…. ??? ”, Tanya Meyda Sefira kepada kepala security tersebut.

“Boleh saya pinjam DVDnya dulu… kita liat saja bagaimana system keamanan disini..”, jawab Asep sambil terlihat sebuah senyum licik dari sang kepala security tersebut. “Ohhh .. silahkan… ngak apa-apa….” Jawab Meyda Sefira yang penasaran dengan apa sebenarnya isi didalam CD tersebut.
Lalu Warjo beranjak dan mengambil CD yang diberikan oleh Asep, TV dan DVD dinyalakan oleh Warjo kemudian tampak film hasil rekaman dari CCTV yang terpasang di Lift Apartemen tersebut. Meyda Sefira tampak terkesiap melihat rekaman dari CCTV tersebut, tampak jelas wajah Meyda Sefira yang sedang digerayangi oleh supirnya waktu di Lift tersebut, kemudian beralih kerekaman ketika sesudah pulang malam Meyda Sefira mengoral penis milik supirnya dan ada juga adegan ketika Meyda Sefira dengan Oki Setiana Dewi saling memagut bibir.
“Gimana Mbak Meyda….???, cukup bagus kan system keamanan disini…hehehe…”, Tanya Asep kepada Meyda Sefira yang tampak masih shock melihat adegan-adegan dirinya tersebut.
“Mak..maksud bapak…. Ma…mau apa…, kalo ma…mau uang nanti sa..saya kasih…?”, ucap Meyda Sefira terbata-bata. “Tenang saja Mbak Meyda…, kita cuma ingin menikmati tubuh Mbak Meyda….”, balas Asep sambil menyeringai. “Kita ngak butuh uang…., kita hanya ingin menyicipi tubuh Mbak aja…. Dan rahasia Mbak aman ditangan kami….” Lanjut Asep.
“Ta…tapi……”, belum lagi Meyda Sefira menyelesaikan ucapnya Sang Kepala Sekuriti itu sudah memotongnya, “Apa… Mbak Meyda mau rekaman ini jatuh ke tangan orang lain dan tersebar di internet…???”, ucap sang kepala sekuriti. “Jannngggggaaannnn…..”, Teriak Meyda Sefira berusaha mencegah.
“Ha…ha..ha…, jadi Mbak Meyda mau terima tawaran kami…???, tenang aja kontol kami akan memuaskan Mbak Meyda …. Ha…Ha…Ha…”, ucap Asep kemudian. Sementara itu Warjo menutup pintu apartemen Meyda.
Meyda hanya mengangguk, sementara itu Asep mulai mendekati Meyda Sefira. Hidungnya mengendus tubuh Meyda Sefira, sementara tangannya meremas payudara sang artis berjilbab tersebut. “Wangi ……., kamu ngak pake BH ya….”, Tanya Asep kepada Meyda. “Emmmhh iiyyaa… ngak…pake….”, jawab Meyda Sefira. Asep menghentikan aktifitasnya dan berdiri dihadapan Meyda Sefira.
“Buka celana saya…..”, ucap Asep menyuruh Meyda Sefira membuka celana yang dikenakan. Meyda Sefira tampa ragu mulai membuka sabuk, kancing dan melonggarkan resleting celana Asep, ketika celana Asep ditanggalkan oleh Meyda Sefira, Meyda Sefira tampak kaget karena ukuran penis sang kepala security termasuk yang big size, hampir sama dengan orang-orang bule yang kemarin-kemarin menyenggamainya.
“Ko Cuma bengong…., ayo isep…, jilatin kontol saya…”, perintah Asep sambil memukul-mukulkan penis besarnya ke pipi sang artis berjilbab tersebut.
“Srrruuuppp…..srrruuupppp……”, Meyda Sefira mulai memainkan lidahnya di permukaan penis sang security, tidak luput pelir lelaki itu dijilatinya, lalu naik lagi menjilat seluruh batang penis tersebut dan memainkan lidahnya di lubang kencing sang security.
“Acckkkhhh….. nikmmmaattt……. Kamu pintar banget Mbak Meyda……. Yaaa….teruuusss…”, ceracau Asep menikmati jilatan dari Meyda Sefira.
“mmmmuuuuffffftttt…….mmmmmmuuuuffffttttt……”, Meyda Sefira mulai mengulum penis Asep. “Acckkkhhh enak…. Kamu benar-benar pandai memuaskan kontol laki-laki…”, kata Asep yang membuat Meyda Sefira semakin menggila dalam melakukan kocokan dan kuluman terhadap penis Asep. Sementara itu tanpa disadari oleh Meyda Sefira Warjo menggunting baju kurung Meyda Sefira hingga tanggal, sehingga terlihat jelas payudara dan vagina sang artis berjilbab tersebut.
“wahhh… body nya bagus banget nih….”, kata Warjo sambil memainkan puting dan meremas-remas payudara Meyda Sefira yang lagi asik mengoral penis milik Asep. “Emmmhh badannya wangi banget…., lom pernah nih gua menikmati tubuh artis….. apalagi berjilbab”, seru Warjo, sambil terus meremas dan menjilati tubuh Meyda Sefira. “Iya …So… sepongannya juga yahud nih…., lebih jago daripada lonte pinggir jalan…”, ujar Asep.
Kepala Meyda Sefira ditahan oleh Asep, dan sekarang Asep mendorong tubuhnya kedepan sehingga penisnya masuk semua ke mulut Meyda Sefira, dan mentok di selangkangnya “mmmmuuuufffttt……mmmmuuuffff.ttttt….acchhhhhhh….”, terdengar erangan lirih Meyda saat mendeeptroat penis milik Asep.
“Gue pengin kencing dulu nih Sep…..”, ujar Warjo kepada Asep, “Yah… lo belom apa-apa udah pengen kencing…, eh So …. Dia aja yang dijadiin toiletnya….. sekalian suruh minum kencing kamu… hahahaha…..”, kata Asep kepada Warjo seraya mencabut penisnya dari mulut Meyda Sefira.
“Jangan… aku belum pernah….”, kata Meyda Sefira memelas.
“Sudah terima aja…, ayo buka mulut kamu…. Yang lebar…..”, perintah Asep kepada Meyda Sefira. Meyda Sefira dengan berat hati berjongkok dan membuka mulutnya dengan lebar, sementara Warjo bersiap-siap untuk melontarkan kencingnya.
“ssssseerrrrrrr……ssssseerrrrrrrrr……..ssseerrrttttt…….”, air kencing Warjo keluar dengan derasnya, mengarah kemulut Meyda Sefira meski tampak gelagapan Meyda Sefira berusaha meminum air kencing tersebut. sebagian air kencing tersebut menghujani muka dan jilbabnya sehingga basah oleh air kencing, sementara sebagian lantaipun tampak basah oleh hujanan air kencing tersebut dan sisa air kencing yang ada di penis Warjopun dibersihkan oleh Meyda Sefira dengan cara dijilatinya.
“Hahahaha……Mirip banget dengan lonte nih… mbak Meyda….”, seru Warjo kegirangan karena sudah berhasil mengencingi sang artis berjilbab tersebut.
“Sudah sana …. Cuci muka dan ganti jilbab kamu dulu…, kita males ngentot cewe kalo bau pesing… dan jangan lama-lama hahaha….”, ujar Asep. Meyda Sefira segera mencuci muka dan mengganti jilbabnya dengan yang baru..

“Hehehehe……sudah siap di entot nih cewe….., kita bawa kekamarnya aja….”, seru Asep kepada Warjo, sambil menarik tubuh Meyda Sefira ke kamarnya. Sesampainya dikamar tubuh Meyda Sefira dilempar keranjang. Kemudian kedua tangan Meyda Sefira di borgol ke ranjang tersebut. “Kami akan menikmati tubuhmu…., kami akan menikmati ke tidak berdayaan Mbak Meyda dan membuat Mbak Meyda tersiksa dalam kenikmatan”, kata Asep berbisik dibelakang telinga sang artis berjilbab tersebut.
Asep mulai menyusuri tubuh indah milik Meyda Sefira, mulai dari wajah turun kebawah, kebagian leher dengan menyibak jilbab yang digunakan Meyda Sefira, leher jenjang tersebut kemudian di jilat dan diciumi sehingga meninggalkan noda merah di leher jenjang sang artis. Kemudian turun kembali menjilati, putting dan payudaranya dengan sedikit menggigit yang menyebabkan sang artis berjilbab tersebut menggelinjang kenikmatan. “Emmmmhhhhhhh….”, Meyda Sefira semakin melenguh ketika Asep menjilat perut terus kebawah.

“Emmmhhhh……Memek yang harum……”, kata Asep sambil kemudian membuka belahan vagina sang artis berjilbab dan menjilati bagian dalamnya. “Acccccckkkkkhhhh……ooooohhhhhh…….” Meyda Sefira menggelinjang menerima jilatan seperti itu. Asep semakin intens menjilati liang vagina dan klitorisnya sambil tangannya ikut bermain di dalam vagina sang gadis berjilbab.
“ooooohhhh……eemmmhhh ennaakkk …. Iiyyyyyaaaa…. Ttteeruuss….eeemmmhhhh”, ceracau Meyda Sefira yang semakin lama semakin dilanda birahi tingkat tinggi. “Sepong kontol gue…….”, kata Warjo dengan penisnya yang mengacung didepan hidung mancung sang artis berjilbab. “mmmmuuuaaaa…..sssrrrrrruuuupppphhhtt…..sssuurrrppppp… “, batang penis Warjo dijilat dan diemut dengan lahapnya. Seperti anak kecil memainkan permen, Meyda Sefira tampak menikmati setiap lekuk bentuk penis Warjo.

“accckkkhhh….enak tenan….. non jago banget nyepongnya….. acckkkhhh ”, ceracau Warjo sambil menahan kepala Meyda Sefira. Kepala Meyda Sefira yang tertutup jilbab, sehingga wajah cantik tersebut mentok di selangkangan Warjo dan ketika penis tersebut dikeluarkan bibir manis tersebut mengejarnya seolah ingin menikmati penis tersebut lebih lama dimulutnya.
“Accckkkkkhhhhh……… peret juga nih memek…… “, kata Asep sambil menekan penisnya keliang senggama Meyda Sefira.Sementara Warjo menghentikan aktifitasnya untuk menunggu giliran menggarap vagina milik sang artis berjilbab itu. “Plllookkk….. pppllookkk… pllookkk….. “, bunyi tumbukan dua selangkangan milik insan yang sedang bercinta. “Accckkkhh… ooohhh…. Yyyaa….eeemmmhh….. terruuuss….. aacckkkhh….. nikkkmmmmatt…. “, erang Meyda Sefira menikmati setiap genjotan dari kepala security tersebut. Tubuh Meyda Sefira menggelinjang ke kiri dan kekanan dengan tangan yang terborgol ke ranjangnya. “aacckkkkkhhh….. ennnaakkk banget memek kamu….. jepit kontol aku….. “, kata Asep dengan terus menggenjot vagina sang artis tersebut. “Mbak suka dientot ya….???”, Asep kembali sambil bertanya kepada Meyda Sefira.
“Accckkkhhh….iiyyyaa…Meyyda ssuukkka kontoll…. Sukkaaa….. diii ennntoot.., teerruuss… eeemmmhhh….. niiikkkmmmattt…..”, jawab Meyda Sefira. Tampak sekali pantat sang artis ikut bergerak seirama dengan genjotan penis diliang vaginanya. “ppllloookkk…pllokkk….pllookkkk…”, genjotan semakin lama semakin kuat.
“Acckkkkhhh….Meyda….Ingin….aawwwww…. ”, Meyda berteriak kesakitan, ketika Meyda Sefira akan mengalami orgasme tiba-tiba putingnya digigit oleh Warjo. “Acckkkhhh…. Tollloonggg …jaangan sikksa..ooohhh….nikkmmat……”, erang Meyda Sefira. Setiap Meyda Sefira akan orgasme selalu dihentikan oleh Asep maupun Warjo dengan berbagai cara mereka menghentikannya. Kadang Asep menghentikan genjotannya atau Meremas Payudara sang Artis dengan sekuat tenaga, sedangkan Warjo kadang Mengigit puting Meyda Sefira hingga ngilu ataupun menjambak rambut Meyda Sefira yang masih berada dibalik Jilbabnya yang awut-awutan.
“Gimana non Nikmatkan siksaan birahinya…”, Tanya Asep sambil terus mengaduk-ngaduk vagina sang artis. “Ohhhhhhhhhh…………sssuuuuudddaaahhhhhh……. aaaacckkkkkhhhhhh…. Aakkkuuu dahhh…. aacckkkkkhhhhhh……”, Meyda Sefira mengejang hebat, tubuhnya melengkung sementara Asep mengeluarkan penisnya dari vagina sang artis. “srrrrrreeeesss, ssseeerrrrr…….”, cairan cinta Meyda Sefira mengalir deras dari dalam rahim sang artis tubuhnya melemah dan terkulai tidak berdaya.
Borgol yang Meyda Sefira kenakan dibuka oleh Warjo, “giliran saya non saya belum dapet jatah nih….”, tubuh Meyda Sefira diangkatnya sedangkan rambut indah milik Meyda Sefira dengan nakalnya keluar di balik jilbab yang sudah acak-acakan kemudian sang artis disuruh menduduki penis yang sudah terhunus, “emmmmmhhhh…….. makknyoss…. Nih memek…” seru Warjo ketika penisnya menerobos ruang gelap dalam vagina sang artis. Tanpa harus disuruh Meyda Sefira mulai melakukan gerakan ngebor gaya inul, matanya terpejam seperti meresapi penis yang ada didalamnya. “emmmmhhh….emmmhhhh….”, Meyda Sefira mulai menggerakan badannya naik turun dengan intensitas sedang.
“Acckkkkhhh…. Gila nih cewe…. Dah cantik berjilbab… cara ngentotnya professional banget….. Mbak Meyda lonte yaa….”, ujar Warjo sambil meremasi buah dada Meyda Sefira. “emmmhhh iiiyya….. Meyyda… lonnte… eeemmmhhhh….. ennakkk….”, timpal Meyda dengan tetap menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuan Warjo. Semakin lama gerakan Meyda Sefira semakin liar, tubuhnya meliuk-liuk seperti seekor ular, sedangkan Warjopun tak mau ketinggalan pantatnya ikut naik turun dengan cepatnya. “Acckkkhhh ……nikmat…… bener nih memeknya… ayooo non…. Terus…..” , ujar Warjo menyemangati keliaran sang artis berjilbab, sementara jilbab sang artispun tambah awut-awutan. “Acckkhh….. iiiyyyaa…..eemmmhhhh…… enntttooottin akkkuuu… aacckkkhhh……. Nnniikkmmmatt kontolnnya…”, erang kenikmatan dari Meyda Sefira yang semakin liar.
Sementara Asep yang menonton pertunjukan itu tampak tidak sabar untuk kembali menggarap Meyda Sefira, Asep menaik keatas ranjang kemudian tubuh Meyda Sefira didorong sehingga menimpa Warjo, Warjo dan Meyda Sefira langsung saling memanggut bibir masing-masing, dengan liar bibir Meyda Sefira bergerak masuk ke mulut dan bergumul dengan lidah Warjo. Sedangkan Asep mulai meludahi liang dubur Meyda. “Acckkkkkhhhh…… peret nih bool…..”, kata Asep sambil menghujamkan penisnya ke dalam dubur sang artis. “Acckkkkkhhh……. “, Meyda Sefira sempat melenguh. Asep dan Warjo bergantian menggenjot liang-liang tubuh wanita cantik tersebut. Sementara jilbab Meyda Sefira yang memang sudah longgar terjatuh sehingga sekarang wanita cantik ini disetubuhi dengan telanjang bulat rambut panjangnya tergerai. “Acckkkhhh…. Yyyaaahhhh …. Ggeennnjjjoott …. Aacckkkhhh … eeennnaakkkk…. Aacckk fffucckkk mmmee…..”, erang Meyda Sefira yang semakin liar menerima tumbukan penis di vagina dan anusnya. Sementara kedua orang yang menggarap Meyda Sefira-pun semakin brutal. Rambut Meyda Sefira kemudian dijambak oleh Asep sehingga wajah Meyda Sefira tepat disebelah Asep kemudian Asep melumat bibir cantik sang artis yang sudah terpacu birahi tingkat tinggi. Sementara dibawah pun pinggul Meyda Sefira tetap bergoyang sehingga kedua penis tersebut semakin menancap diliang vagina dan Anusnya.
Tubuh Meyda Sefira kemudian didorong kembali sehingga dia hampir terjatuh diatas tubuh Warjo, tapi Asep menarik rambutnya kembali. “Kamu ingin lebih… rasakan kontolku…”, kata Asep dengan genjotan yang semakin brutal, kedua penis tersebut mengobok-obok vagina Meyda Sefira tanpa ampun. “Accckkkhhhhhhh………… eeemmmmmmmhhhhh….. “, Dengan keadaan seperti ini Meyda Sefira seperti seekor kuda binal yang ditunggangi dengan tali kekangnya adalah rambutnya. Sedang Warjo sambil menghajar vagina sang artispun tidak luput mempermainkan payudara Meyda Sefira yang semakin mengencang.
“Accckkkkkkkkkkkhhhhhhh………….. kkkeeellluuuaarrrr……”, jerit Meyda Sefira ketika dia dilanda orgasmenya kembali dengan tubuh yang langsung Ambruk menimpa Warjo. Sementara kedua lelaki ini pun semakin mempercepat gerakannya dan “Crrrooottt…..crrrooottt…..crrrooottt……”, keduanya hampir bersamaan mengeluarkan peju didalam vagina dan anus sang artis.
Keduanya langsung melepaskan penisnya dari Anus dan Vagina Meyda Sefira. Tampak lelehan peju keluar dari vagina yang bercampur dengan cairan cintanya, sedangkan dari arah anusnya lelehan peju tampak sedikit kekuning-kuningan. “Bersihin tuh memek sama bool kamu…”, kata Warjo sambil melempar jilbab milik Meyda Sefira, dengan genitnya Meyda Sefira membersihkan kedua lubangnya dengan jilbabnya sendiri. Kemudian cairan yang basah diatas jilbabnya tersebut dijilatinya tanpa ragu, dengan mata binal menatap kedua pria dihadapannya yang terbengong dengan sikap binal sang artis tersebut.
Tanpa dikomando keduanya kembali mendekati Meyda Sefira dan bersatu dalam pergumulan liar, entah berapa kali Meyda Sefira mengejang kenikmatan karena orgasme dan entah berapa banyak peju yang tertumpah ditubuh gadis tersebut. sampai mereka tertidur diranjang Meyda Sefira.

AMELIA

Sebelum aku mulai cerita ini, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Iwan dan Aku adalah seorang pegawai negeri yang ditempatkan disebuah kota di Jawa Barat sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku merasa nyaman kerja di kota ini, karena teman-teman sekantorku orangnya ramah-ramah dan mengayomi bagi para pegawai muda yang masih mentah dalam pengalaman kerja Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan kerjaku yang tanpa pamrih membimbingku dalam berbagai hal.
Diantara rekan-rekan kerjaku ini, ada seorang wanita yang cantik keibuan dan umurnya 8 tahun diatasku. Namanya Amelia. Pada saat pertama kali aku bertemu dengannya dia belum menunaikan ibadah haji dan belum mengenakan jilbab, sehingga aku bisa melihat putih dan mulusnya kulit betis sebagian pahanya pada saat dia duduk. Tapi yang membuat aku tertarik padanya adalah banyaknya bulu-bulu yang tumbuh di betis dan lengannya yang membuat dirinya semakin seksi dimataku. Karena dalam imajinasiku jika seorang wanita mempunyai bulu-bulu yang lebat di betis dan lengan, terbayang olehku pastilah dia akan sangat menggairahkan dan mampu memberikan kenikmatan pada lelaki di tempat tidur. Maka aku selalu membayangkan dan menghayalkan betapa nikmatnya bila aku dapat menggaulinya. Obsesiku untuk dapat menggaulinya tidak pernah hilang, walaupun aku telah menikah dua tahun setelah aku bekerja. Dan dia selalu ada dalam hayalanku pada saat aku dan istriku sedang melakukan hubungan suami istri.

susu montok-selvie (1)
Tapi sebagai yunior, tentu saja aku tidak berani macam-macam padanya. Apalagi dia adalah seorang istri pejabat Pemda di daerahku. Oh ya, Dia sudah menikah selama 10 tahun dan baru dikaruniai putra berumur 2 tahun. Rupanya rumah tangganya termasuk yang cukup lama untuk mendapatkan momongan. Dari rekan-rekanku, kuketahui bahwa pada awal pernikahan mereka, suaminya pernah mendapat masalah dalam urusan vitalitas, itulah sebabnya dia lambat mendapatkan momongan. Disamping itu kuketahui pula bahwa perbedaan usia antara dirinya dan suaminya cukup jauh, yaitu sekitar 15 tahun.
Aku sering mendekatinya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul, orangnya enak diajak ngobrol, ramah pada setiap orang. Itulah sebabnya rekan-rekan lelaki ditempat kerjaku senang menggodanya, dan dia tidak marah jika godaan-godaan itu tidak terlalu bersifat pelecehan. Namun aku tidak pernah menggodanya, karena selain usiaku jauh lebih muda darinya, aku tidak ingin ia menganggapku macam-macam. Aku selalu bertindak sebagai seorang yunior yang memerlukan petunjuk dari seniornya sehingga aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia merasa bahwa aku sangat menghormati dan mengaguminya.
Lima tahun setelah aku bekerja, dia menunaikan ibadah haji dengan suaminya dan sejak saat itu dia selalu mengenakan jilbab untuk menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun jilbab yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya, dan bahkan membuat dirinya semakin cantik dan keibuan, ditambah lagi dengan gaun dan jilbab yang ia kenakan selalu serasi dengan model-model yang gaul. Sehingga dia semakin menjadi objek hayalanku pada saat aku sedangkan melakukan hubungan suami istri dengan istriku.
Aku selalu konsisten menjaga sikapku dihadapannya, karena tidak ingin dia benci atau menjauh dariku. Maka dengan sabar aku selalu menjaga kedekatanku dengan dirinya sehingga aku dapat menikmati kecantikan, keanggunan dan keseksian tubuhnya dari dekat.
Kesabaranku itu kujalani hingga saat ini setelah 10 tahun mengenalnya dan dia merasa aku sebagai sahabat baik dan sekaligus bagaikan adik baginya, sehingga tidak segan-segan menceritakan berbagai masalah dengan diriku, bahkan meminta bantuanku untuk hal-hal yang tak dapat dia kerjakan. Bahkan kami sering duduk berdampingan dalam mengerjakan sesuatu sehingga aku bisa merasakan lembutnya buah dadanya yang montok. Dan pernah aku menggeser-geserkan bahuku yang menempel dengan buah dadanya, tapi dia hanya berkomentar “jangan nakal ach…, Wan !” sambil tersenyum dan tidak ada nada marah sama sekali. Sehingga hal itu sering aku lakukan bila kami duduk berdampingan pada saat mengerjakan sesuatu
Pada suatu hari ia datang padaku dan mengkonsultasikan laptop miliknya yang terasa lambat dan juga minta diajari bagaimana caranya mengkoneksikan laptop dengan internet. Setelah kuperiksa, ternyata banyak virus yang mengerogoti sistem di laptopnya sehingga mengakibatkan kinerja laptopnya menjadi terganggu. Dan aku bilang untuk membersihkan semua virus di laptopnya diperlukan waktu yang cukup lama, sedangkan agar bisa dikoneksikan ke internet, harus ada jalur telepon. Lalu dia menyarankan agar untuk menangani laptopnya dikerjakan di rumah kost miliknya yang ada di dekat kantor kami. Rumah kost itu terdiri dari 10 kamar dan diisi oleh para pelajar yang bersekolah di sekitar daerah itu. Dan aku menyanggupinya.
Sepulang dari kantor, aku dan dia menuju rumah kost miliknya dan kebetulan, hari itu adalah hari sabtu, sehingga semua penghuni kost pada pulang ke kampungnya masing-masing dan rumah kost tersebut kosong. Begitu tiba di sana, dia langsung membawaku ke ruang tamu dan aku mulai melakukan pembersihan virus dengan software yang aku bawa.
Sambil menunggu anti virus bekerja, kami ngobrol berbagai hal diselingi dengan minum dan makan camilan yang ia sediakan. Dari obrolan itu kuketahui, bahwa setiap malam minggu dia suka tidur di rumah kost ini pada saat para penghuni kost pulang ke kampung halamannya masing-masing. Oleh sebab itu di rumah ini ada kamar khusus untuk dirinya. Aku merasa heran, apakah suaminya tidak apa-apa ditinggal tidur sendiri di rumah sementara dia menunggu di rumah kost. Dia menjawab tidak ada masalah dengan hal itu, bahkan katanya di rumah pun dia jarang tidur sekamar dengan suaminya. Karena sejak suaminya pensiun, suaminya lebih sering ingin tidur sendiri. Aku heran dengan kenyataan ini, kenapa ada rumah tangga seperti ini, tapi aku mau bertanya lebih lanjut, takut dia merasa aku akan semakin jauh mengetahui privasi rumah tangganya.

susu montok-selvie (2)
Hari semakin gelap, tetapi anti virus masih bekerja, karena banyak sekali virus yang menyerang laptopnya dan kami terus melanjutkan obrolan. Tanpa disadari atau seolah-olah tanpa disadari, kami telah duduk berdampingan di ruang tamu yang sepi ini. Sambil mengobrolkan hal-hal yang bersifat pribadi. Perlahan-lahan aku mulai terangsang terhadapnya, tapi aku masih merasa takut untuk memulainya, walaupun bisikan-bisikan di kepalaku mengatakan bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mewujudkan obsesi yang selama ini ada dalam khayalanku.
Akhirnya dengan hati-hati aku berkata padanya “Apakah, bapak tidak sayang meninggalkan ibu tidur sendiri ? Uhh… kalau saya jadi bapak, tidak akan saya biarkan ibu tidur sendiri satu malampun. Sayang dong…., membiarkan tubuh seksi dan cantik seperti ibu ini sendirian….. mubazir ”
“Ach… Iwan bisa aja ! Masak sih… tubuh peot dan wajah keriput ini disebut seksi dan cantik ?” katanya tersenyum dan tampaklah ekspresi kebanggaan diwajahnya mendengar pujianku. Dan aku merasa gembira karena dia tidak marah dengan ucapanku.
Dan kembali aku lanjutkan rayuanku “ bener lho, Bu! Saya ‘ngga bohong… , Di mata saya ibu adalah wanita yang paling cantik dan seksi di kantor kita..!”
“Udah ach… , jangan dilanjutkan rayuannya nanti saya bisa terbang… !” jawabnya samibil tersenyum semakin tersanjung.
“Ngomong-ngomong… , Bu..! Boleh ‘nggak saya minta sesuatu, nggak macam-macam kok, swear !” kataku
“Minta apaan sich.. ? kalau nggak macam-macam akan saya penuhi ! “ katanya
“Sebelumnya maaf ya, bu ! Boleh ngga saya membelai bulu kaki yang ada di betis dan bulu tangan yang ada di lengan ibu yang dulu sering saya lihat. Saya benar-benar terobsesi dengan bulu-bulu yang dimiliki ibu ?” kataku memberanikan diri.
Dia memandangku heran “Kok, Iwan tahu kalau saya memiliki bulu di kaki dan lengan…? Rupanya Iwan sering ngintipin ibu ya ?” Katanya menggodaku.
Aku tergagap mendapat godaannya “Ti…tidak bu…, saya tidak pernah ngintip.. khan dulu ibu ngga pake jilbab..” jawabku membela diri
“Apa sich.. istimewanya bulu-bulu itu ? saya justru merasa risih” katanya lagi
“Justru bagi saya hal itu sangat istimewa dan menggairahkan….., boleh kan bu, saya membelainya !”
“Ya.. dech …” Dia mengalah dan menyingsingkan ujung lengan bajunya hingga sebatas siku. Mataku terbelalak melihat putih dan mulusnya kulit lengan yang dihiasi dengan bulu-bulu lengan yang cukup panjang, aku semakin terangsang namun masih bisa mengendalikan diri. Dengan tangan gemetar aku membelai lengan halus tersebut. Darahku berdesir ketika tanganku mengusap dan membelai langan halus nan berbulu itu. Dari sudut mataku terlihat dia merasa bangga atas keterpanaanku pada kemulusan dan keindahan kulit lengannya. Aku tak tahu apakah dia merasakan desiran-desiran rangsangan pada saat telapak tanganku membelai lengannya.
Setelah puas membelai lengannya, kembali aku berkata “kakinya belum bu ? “. Namun dia menjawab tidak serius “udah ach…, cukup .”. Lalu rayuku lagi “Akh… Ibu, khan tadi saya mintanya lengan dan kaki !”
Lalu dengan gaya seperti yang terpaksa dia mengangkat rok panjangnya sebatas lutut sehingga terlihat betis indah yang putih mulus dihiasi oleh bulu-bulu yang cukup panjang dan merangsang. Kembali tanganku bergetar membelai betih indah tersebut, mataku terpejam dan darahku semakin berdesir memberikan rangsangan-rangsangan yang sangat kuat padaku. Cukup lama tanganku membelai dan mengusap betis indah milik Hj Amelia ini. Aku sangat menikmati apa yang kulakukan. Betis kiri dan kanannya secara bergantian aku belai dan usap, terlihat mata Hj. Amelia terpejam menikmati belai tanganku “Oh..mmmnn .. “ mulutnya berguman tidak jelas.
Melihat itu aku tak mau berhenti, tanganku terus membelai betis indah itu dan dengan sangat hati-hati arah belaian semakin ke atas di sekitar lutut . Mata Hj Amelia semakin rapat terpejam. Dengan hati-hati kedua betis Hj Amelia aku naikkan ke atas jok kursi panjang yang kami duduki dan aku duduk di lantai menghadap betis indah dan sebagian paha disekitar lutut yang terbuka”
Dengan suara bergetar dan suara yang sedikit memburu dia berkata “Kok jadi duduk dibawah ?”
“Ngga apa-apa bu, supaya lebih jelas “ jawabku beralasan ”Awas lho… jangan macam-macam !” ancamnya dengan nada yang tidak yakin.

susu montok-selvie (3)
Kembali tanganku melanjutkan belaian dan usapan pada betis berbulu yang merangsangku ini, tanganku dengan lembut membelai betis kiri dan kanan secara bergantian . Kembali matanya terpejam menikmati belaian tanganku pada betisnya. Kuberanikan diri untuk mencium lembut ujung kakinya. Matanya terbuka dan berkata “Kok..?” hanya kata itu yang keluar. Akhirnya kedua tangan dan bibirku membelai betis hingga lutut dan paha di sekitar lutut. Ciumanku dan tanganku semakin naik ke atas, ciumanku sudah mencapai lututnya dan kedua tanganku sudah membelai kedua pahanya. Dia semakin terlena, napasnya semakin memburu dan mulutnya semakin sering mengguman sesuatu yang tidak jelas. Sedangkan aku semakin terangsang penisku sudah mulai mengeras. Tapi aku masih berhati-hati agar dia tidak menghentikan usahku ini.
Tanganku semakin aktif membelai paha bagian bagian dalam dan mulutku menciumi lututnya yang kiri dan kanan secara bergantian. Duduknya sudah mulai gelisah, pinggulnya sudah bergoyang-goyang dan dari mulutnya sudah mulai memperdengarkan erangan-erangan nikmat dan terangsang. Ku hentikan gerakanku, matanya terbuka memandangku sayu, terlihat bahwa dia sudah sangat terangsang, kuberanikan diri wajahku mendekati wajahnya, dia memejamkan matanya kembali dengan mulut yang terbuka menantang, lagsung bibirku menciumi bibirnya yang seksi. Dia tidak marah, bahkan menyambut ciumanku dengan hangat dan sangat bergairah. Kami berciuman dengan sangat bergairah. Kedua tangannya meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan sangat panas, bibirnya menghisap-hisap bibirku dan lidahnya menari-nari dengan lidahku seperti seorang wanita yang sudah sangat lama tidak bermesraan, tentu saja aku semakin melayang nikmat dan bersemangat. Tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang montok, dia diam saja bahkan semakin bergairah dan mengerang nikmat. Tanganku mulai mencopoti kancing bajunya satu-persatu dan menyusupkan tangan kananku ke dadanya yang sudah terbuka, kemudian menarik cup bh-nya ke atas, sehingga kedua buah dadanya yang putih montok terbuka bebas. Tanganku langsung meremas buah dada montok itu yang kiri dan kanan.
Dia menghentikan ciumannya dan memegang tangan kananku, sambil memandang padaku dengan sayu. Aku terkejut, takut dia marah dan menghentikan usaha yang telah dengan sabar aku lalui. Namun dengan suara bergetar dan napas memburu dia berkata “Jangan disini Wan..! bahaya kalau ada tamu datang… Di kamar saya aja.., biar tenang!” Plong… dadaku terasa lapang, ketakutanku ternyata tidak terbukti. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu tamu dan menarik diriku menuju kamarnya.
Tak kuperhatikan lagi anti virus yang masih bekerja pada laptop. Dengan tergesa-gesa kami menuju kamarnya yang cukup luas. Begitu tiba di dalam kamar, dia langsung menutup pintu kamar dan menarikku ketempat tidur. Aku langsung menindihnya dan bibirku kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ciumannya kali ini semakin panas dan bergairah dan dia sudah tidak segan-segan lagi mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.
Tanganku kembali merayap ke buah dadanya yang masih terbuka dan meremas-remasnya dengan nikmat, Dia membantu mencopoti sisa kancing yang masih terkait sehingga semua kancing bajunya terlepas dan melepaskan kaitan tali bh-nya. Kemudian dia duduk dan melepaskan baju dan bh dari tubuhnya. Tampaklah dihadapanku tubuh seorang wanita matang yang masih mengenakan jilbab dan rok panjang, namun sudah tidak mengenakan baju dan bh.
Aku kembali menubruknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang diatas kasur, bibirku menciumi seluruh bagian buah dadanya baik bagian kiri maupun bagian kanan sedangkan tangan meremas-remas buahdada yang tidak aku ciumi. Aku begitu bernafsu menciumi buah dada Bu Hj Amelia ini. Walaupun dia sudah berumur, namun buah dadanya masih montok dan sekal, tidak mengelayut dan kendor. Kuhisap dan kujilati setiap mili bagian buah dada menggairahkan ini. Dan akhirnya bibirku dengan asyiknya menghisap dan menjilati putting susu yang tegak menantang. Dia semakin mengerang nikmat “Akhhhh… wan… euh … euh….!” Badannya bergelinjang-gelinjang menahan nikmat yang menderanya.
Setalah cukup lama bermain-main di buah dadanya, kedua tanganku berusaha melepaskan pengait rok panjang yang masih dikenakannya dan menariknya hingga lepas sekaligus dengan celana dalam nilon yang dia kenakan, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang semakin sayu, kembali mataku nanar melihat pemandangan merangsang yang ada dihadapanku. Sungguh luar biasa Bu Hj Amelia ini, walaupun sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya masih sangat sempurna, perutnya masih ramping tanpa ada timbunan lemak, paha masih padat dan mulus dan yang paling luar biasa adalah jembut yang menutup vaginanya demikian lebat dan hitam menutupi hampir seluruh bagian antara kedua paha hingga keatas mendekati pusat
Beberapa saat aku terpana menatap pemandangan indah ini, Dia bangun dan meraih bajuku sambil berkata “Buka bajunya Wan… , ngga fair dong…, saya udah telanjang sementara Iwan masih berpakaian lengkap..” Dengan bantuannya aku mencopoti bajuku yang sudah basah oleh keringat dan sekaligus aku membuka celana panjangku sekaligus dengan cd yang aku kenakan. Dia terpana memandang penisku yang tegak menjulang, Tangannya mendorong tubuhku hingga aku telentang , kemudian dengan gemetar tangannya meraih penisku dan mengocoknya dengan gemas, aku melayang nikmat merasakan kocokan tangannya pada penisku, kemudian bibirnya dengan lembut menciumi penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku. Aku semakin melayang.. “Ouhhh…. “ aku melenguh nikmat. Cukup lama lidah dan bibirnya bermain di kepala penisku membuat aku melayang-layang nikmat, kemudian mulutnya semakin terbuka lebar untuk memasukkan penis tegangku kedalam mulutnya sambil lidahnya terus-menerus menjilati kepala penisku. Mataku semakin terbeliak-beliak menahan nikmat “Ouh…ouh… aduhh….aduh… “ erangan nikmatku keluar tanpa dapat kucegah.

susu montok-selvie (4)
Dia begitu gemas dengan penis tegangku, bagaikan seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan penis yang tegang. Tanpa memperdulikan diriku yang terengah-engah menahan nikmat, mulut dan lidahnya terus menerus memberikan kenikmatan pada diriku. Aku tak tahan, ku geserkan kepalaku mendekati lututnya yang sedang menungging. Aku posisikan kepalaku diantara kedua lututnya yang terbuka, sehingga posisi kami menjadi posisi 69. Aku mulai menjilati jembut hitam yang menutupi vagina yang ada dihadapanku. Kedua tanganku membelai pantat montok, sementara lidahku terus mencari celah vagina yang tertutup jembut yang lebat, kusibakkan jembut lebat tersebut, terlihatlah vagina yang sudah sangat basah, lidahku terjulur menjilati celah vagina tersebut, badannya tergetar setiap kali lidahku menyentuh klentitnya. Aku semakin semangat menjilati dan menghisap vaginanya, dia semakin sering bergetar dan mengerang nikmat, sehingga mulutnya berhenti mempermainkan penisku. Aku tak peduli, lidah dan mulutku semakin lincah bermain di vaginanya, badannya semakin bergetar dan menekan-nekankan vaginanya dengan keras ke arah mulut dan hidungku sambil menjerit-jerit nikmat “Ouh.. ouh… ouh… euh…euh…”
Gerakannya semakin keras dan jeritannya semakin tak terkendali, hingga akhirnya pantatnya dia tekankan dengan keras ke arah mukaku hingga mulut dan hidungku tertekan vagina dengan sangat rapat sehingga aku sulit bernapas dan terdengar dia menjerit keras “Aaaakkkhhhh……..” kemudian terlihat olehku vaginana mengempot-ngempot dengan sangat keras.
Tak lama kemudian badannya ambruk menindih tubuhku. Beberapa saat kemudia dia menggulingkan tubuhnya hingga tidur telentang. Kubangunkan tubuhku dan memposisikan tubuhku agar tidur berdampingan. Kemudian matanya terbuka memandangku. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berkata “kalau Iwan percaya…, Sudah 4 tahun saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bukannya saya tidak ingin, tapi si bapak sudah tidak sanggup lagi. Sebagai wanita normal, tentu saja saya merasa sangat tersiksa denga keadaan ini…” Aku tidak mengomentari ucapannya, hanya dalam hati aku berkata pantas saja dia terlihat sangat gemas memandang penisku yang sangat tegang.
Karena aku belum apa-apa, maka badanku bangkit dan tanganku meremas-remas buah dadanya serta memilin-milin putting susunya yang perlahan-lahan mulai kembali tegak menjulang. Kembali badanku menindih tubuhnya dan bibirku mencium bibirnya, bibirnya menyambut bibirku dengan gairah yang kembali bangkit. Tangannya merayap ke arah penisku dan meremas-remas dengan gemas, kemudia berkata “Sekarang aja Wan! Saya sudah nggak tahan…”
Aku mengangkat pinggulku memberi jarak dengan selangkangannya, kemudian pahanya terbuka lebar dan tangannya menuntun penis tegangku agar tepat berada liang vaginanya. Dia sibakkan jembut lebat yang menghalangi liang vagina dengan kepala penisku, hingga akhirnya kepala penisku tepat berada di mulut liang vagina yang sangat basah. Kemudian kedua tangannya merengkuh pantatku dan menariknya.
Aku mengerti apa yang dia inginkan. Ku dorong pantatkudan Blessh…. Perlahan-lahan batang penisku menyusuri liang vagina hangat yang basah berlendir yang disertai kedutan-kedutan yang memijit batang penisku selama aku memasukinya. Jepitan dan kedutan vaginanya pada penisku memberikan sensasi nikmat yang luar biasa. Perjalanan masuk ini kulakukan perlahan-lahan, karena aku ingin menikmati setiap mili pergeseran antara batang penisku dan veginanya yang selama 10 tahun ini menjadi obsesi dan khayalanku. Aku tidak ingin obsesi yang menjadi kenyataan ini berlangsung cepat.
Setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya, kudiamkan sejenak untuk menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh vaginanya pada diriku. Kemudian kutarik secara perlahan hingga menyisakan ujung kepalanya dan kudorong kembali masuk hingga amblas. Gerakan ini terus kulakukan dengan sabar sambil menikmati deraan nikmat yang datang bertubi-tubi.
Nampaknya Bu Hj Amelia ini sudah tidak sabar, pantat terangkat setiap aku mendorong masuk, dan tangannya memberikan bantuan kecepatan pada pantatku agar aku melakukan dengan lebih cepat dan keras. Aku tidak terpengaruh dengan gerakan pantatnya yang semakin bergelinjang dan tangannya yang semakin menarik-narik keras pantatku agar bergerak lebih cepat. Aku hanya menambah sedikit kecepatan pada gerakan mengocokku.
Pinggulnya semakin bergelinjang, kepalanya terlempar ke kiri dan kanan sambil mulut yang kembali mengerang-ngerang nikmat “Auh…auh….euh… euh…..” Gelinjang tubuhnya semakin keras dan hebat. Berputar, kekiri kekanan dan ke atas ke bawah, hingga akhirnya gerakannya semakin tak beraturan, badannya terlonjak-lonjak, tangannya menarik punggungku hingga tubuhnya terangkat dan kepalanya terdongak dengan mata terbeliak dia menjerit keras “Aaaaaakkkhhhhhh……. “ kakinya terjulur kaku, tak lama kemudian badanya terhempas lemas dan tangannya terlepas dari punggungku dan jatuh ke samping tubuhnya. Kurasakan vagina berkontraksi sangat keras memijit-mijit dan menghisap-hisap penisku sehingga akupun terbeliak menahan sensasi nikmat yang teramat sangat.

susu besar-selvie (3)
Kubiarkan batang penisku amblas di dalam vaginanya menikmati sensasi orgasme yang kembali dialaminya. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan yang menahan di pinggir bahunya. Perlahan-lahan matanya terbuka dan berkata dengan napas tersengal-sengal menahan lelah “Makasih.. Wan.., barusan betul-betul nikmat…uuhhhh..” Aku hanya menjawab dengan mencium bibirnya dengan nafsu yang menggelora.
Dia menyambut lemah ciumanku. Dengan sabar aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya. Kuciumi lehernya dari balik jilbab yang masih dikenakannya namun telah basah oleh keringat, kujilati dadanya yang juga basah oleh keringat. Ketelusuri hingga ke bawah hingga akhirnya mulutku kembali memilin-milin putting susunya untuk membangkitkan gairahnya. Sambil perlahan-lahan kukocok penisku yang masih terbenam divaginanya yang semakin basah, namun tetap masih terasa sempit dan memijit-mijit.
Perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan ciumanna yang semakin hangat dan pinggulnya yang bergerak membalas setiap gerakan pinggulku. Makin lama gerakan pinggulnya semakin erotis dan bersemangat dan erangan nikmat kembali terdengar dari mulutnya.
Kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku yang masih tegang. Dia menatapku kecewa sambil berkata “Ada apa Wan? “. Aku tersenyum lalu berkata “Kita nungging bu!” Dia mengerti apa yang kuinginkan. Lalu dia bangun dan membuat posisi merangkak. Aku posisikan selangkanganku pada tengah-tengah pantatnya. Sebelum kumasukkan penisku, kembali aku terpana melihat keseksian tubuhnya dalam posisi menungging, kulit punggung yang begitu putih kekuning-kuningan, mengkilap oleh basahnya keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Hanya ada satu kata untuk mengomentari keadaan itu, yaitu “Sempurna..!” tanpa terasa bibirku berguman.
“Ada apa ..Wan..?” tanyanya padaku. Aku segera menjawab “Tubuh ibu betul-betul sempurna.”. Dia tidak menjawab mungkin dia merasa bangga dengan pujianku. Tangannya hanya menggapai-gapai meraih penisku untuk diarahkan vaginanya yang sudah menanti. Lalu kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan Bleshhhh……
Kembali penisku menyusuri liang vagina basah yang masih tetap sempit dan memijit-mijit. Pantatku memulai bergoyang maju mundur agar penisku mengocok-ngocok vaginanya. Tanganku meraih buah dadanya yang bergantungan bebas dan kuremas-remas dengan gemas untuk menambah sensasi nikmat yang kembali mendera sekujur tubuhku. Tubuhnya bereaksi dengan apa yang kulakukan, mulutnya mengerang nikmat “Auh… auh… euh …. Euh… “, dan pinggulnya bergerak-gerak semakin liar. Kudiamkan gerakan pinggulku, namun pinggul dan pantatnya menghentak-hentakkan selangkanganku sehingga penisku semakin dalam mengocok dan mengaduk-aduk vaginanya. Kepalanya tidak bisa diam menggeleng-geleng sambil mulut yang tak henti-hentinya mengerang nikmat.
Gerakan pinggul dan pantatnya semakin liar tak terkendali, jeritan nikmatnya semakin keras, dan kedutan dan pijatan vaginanya pada penisku semakin keras. Hingga akhirnya badannya kaku, tangannya mencengkram kasur dengan sangat keras dan menjerit “Aaaakkhhhh…..” kembali kepala terdongak dengan mata yang terbeliak. Setelah itu kembali kontraksi keras terjadi pada vaginanya yang memelintir dan menghisap-hisap penis membuat aku terbeliak-beliak menahan nikmat. Tak lama kemudian… BRUK.. badannya jatuh tertelungkup hingga penisku yang masih tegang lepas dari vaginanya.
Kubiarkan dia istirahat menikmati sensasi orgasme yang kembali menderanya. Lalu mendekati punggungnya yang basah, kubelaikan tangan kiriku dari punggung hingga pantatnya, dan kuremas-remas pantat seksi itu. Tangan kananku menyibakkan jilbab yang sudah sangat basah dan akhirnya kulepaskan jilbab itu. Bibir dan mulutku menciumi tengkuk dan lehernya yang putih mulus tiada kerut. Mulutku menyusuri tengkuk dan punggung sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya. Akhirnya gairahnya bangkit kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga telentang dan tangannya meraih tubuhku hingga menindih tubuhnya bibirnya mencium bibirku dengan ganas, kemudian tangannya mencari-cari penisku dan mengarahkan ke vaginanya.
Blesshh…. Untuk kesekian kalinya kembali penisku menjelajahi liangvagina yang semakin basah dan berdenyut. Aku menggerakkan pantatku untuk mengocok penisku di dalam vaginanya, dia menyambut dengan erangan dan gerakan pinggul yang bisa memelintir-melintir batang penisku dengan liarnya. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan gerakannyapun semakin cepat dan liar.

susu besar-selvie (2)
Lenguhan nikmatku dan erangan nikmatnya bersatu padu membangun suatu komposisi musik penuh gairah dan merangsang, semakin lama suara erangan dan lenguhan nikmat semakin riuh rendah. Hingga akhirnya pantatku bergerak sangat keras dan liar tak terkendali demikian pula gerakan pinggulnya. Gerakan kami sudah menjadi hentakan-hentakan nikmat yang keras dan liar. Hingga akhirnya aku merasa gelombang yang maha dahsyat keluar dari dalam diriku melalui penis yang semakin keras dan kaku dan akhirnya tanpa dapat kukendalikan tubuhku menegang kaku dan badanku melenting ke atas serta menjerit melepas nikmat yang tak tertahankan “Akhhh….” Dan secara bersamaanpun dia menjerit nikmat “Akhhhh… “ dengan badan yang kaku dan tangan yang mencengkram punggungku dengan sangat keras.
Tak lama kemudian, tubuh kami ambruk kelelahan seperti orang yang baru saja berlari cepat dalam jarak yang sangat jauh. Aku menggulingkan tubuhku agar tidak menindih tubuhnya. Dan kami telentang berdampingan sambil menikmati sensasi kenikmatan orgasme yang masih datang menghampiri kami.
Setelah beberapa menit kami terdiam menikmati sensasi orgasme dan napas yang perlahan-lahan mulai pulih, Dia memiringkan badannya menghadapku, sambil tangannya membelai-belai dadaku dia berkata “Wan… kamu memang luar biasa… Dulu saja waktu si Bapak masih sehat. Belum pernah saya merasakan sepuas ini dalam berhubungan badan. Sebagai lelaki kamu mampu bermain cukup lama dan memberikan beberapa kali orgasme pada pasangan kamu. Pantas saja, istrimu sangat sayang padamu..”
“Ahh… jangan begitu ach… Bu! Saya jadi malu…” Sahutku sambil merasa bangga dipuji seperti itu.
Setelah cukup lama beristirahat kembali kami berpakaian, dan aku terlebih dahulu ke ruang tamu untuk memeriksa laptop yang masih menyala. Ternyata laptop sudah lama mati, karena hampir 1,5 jam aku tinggalkan. Tak lama kemudian Bu Hj. Amelia menghampiriku dan duduk disampingku sambil menggelayut mesra dan bertanya “bagaimana Wan , beres ?”. “Belum saya periksa bu…, keburu mati..” jawabku
“Ok dech , kamu lanjutin aja dulu, saya mau nyiapkan makan malam.

susu besar-selvie (1)
Akhirnya malam itu, aku menelepon istriku untuk memberitahukan pada iatriku bahwa aku tidak bisa pulang, karena ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya sepanjang malam itu hingga mendekati subuh, kami isi dengan persetubuhan yang sangat bergairah. Kami hanya istirahat untuk minum dan makan memulihkan tenaga. Malam itu kami bagaikan sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertamnya. Hal ini terjadi barangkali karena Bu Hj Amelia ini merupakan Wanita yang menjadi obsesi saya yang selama 10 tahun menjadi khayalan dan impian. Sedangkan bagi Bu Hj. Amelia, malam itu merupakan malam pertama selama 4 tahun dia tidak mendapatkan kehangatan tubuh laki-laki.
Akhirnya sampai saat ini aku dan Bu Hj Amelia berselingkuh, tanpa seorang temanpun yang tahu. Kami berusaha menjaga perselingkuhan ini serapih mungkin. Entah sampai kapan….
TAMAT

ASTRI

“Syukurlah. Saya memang menunggu tawaran yang seperti ini. Saya memang sudah bertekad hanya mau berkiprah lagi di film iklan, sinetron atau yang lainnya, asalkan saya boleh tetap mengenakan jilbab,” katanya.
“Betul Mbak. Dengan jilbab, Mbak tampak lebih… eh maaf… cantik begitu…” sahut lelaki berdasi hijau dengan perut lumayan membuncit.

“Ehhh… aslinya memang cantik kok !” bantah Astri dengan nada bercanda, ditimpal tawa berderai kedua tamunya.
Perbincangan mereka terhenti sejenak oleh datangnya pembantu yang membawa baki berisi tiga gelas minuman.
“Eh… maaf Mbak. Kalau tidak keberatan, tolong sopir kami juga dikasih minum. Dari tadi dia ribut haus,” ujar lelaki berdasi merah ati.
Astri tersenyum dan menyuruh pembantunya membawakan minum buat sopir di luar. Mereka kembali terlibat pembicaraan serius. Namun, lagi-lagi ada gangguan datang. Kali ini, si sopir yang masuk tergopoh-gopoh.
“Eh…oh… tolong, simbok kepleset di depan. Dia pingsan,” kata sopir bertubuh besar itu.
Ia membopong pembantu yang tadi mengantar minuman. Tanpa setahu Astri, lelaki itu mengerdipkan mata kepada kedua temannya. Astri tergopoh-gopoh memberitahu pembantunya yang lain. Mereka kemudian membawa pembantu yang pingsan itu ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.
“Bagaimana ? Perlu panggil dokter?” tanya Astri dengan raut wajah cemas.
Si sopir dan lelaki berdasi biru berlagak mengecek denyut nadi simbok.
“Nggak apa-apa. Cuma kaget. Kamu tunggu di sini, kasih minum kalau sudah bangun,” ujar lelaki berdasi hijau.
“Syukurlah kalau gitu. Bibi, kamu ambil minum dan tunggu simbok bangun ya?” sahut Astri. “Yuk, kita ke depan lagi,” lanjutnya kepada dua tamunya.
“Eh, kamu apain dia?” lelaki itu berbisik kepada temannya.
Si sopir memberi kode pukulan di belakang kepala. Temannya tersenyum dan memberi kode jempol. Astri dan kedua tamunya sudah kembali duduk di ruang tamu. Mereka kembali serius membincangkan soal kontrak dan honor. Namun, 10 menit kemudian, pembicaraan itu kembali terganggu. Si sopir keluar dari ruang dalam sambil senyum-senyum. Astri merasa heran juga dengan sikap lelaki itu.
“Gimana? Simbok sudah siuman?”
“He he he… belum tuh. Malah sekarang dua-duanya pingsan,” sahutnya.
“Pingsan?” Astri makin heran.
“Iya betul. Gue senggol kepalanya sedikit aja pingsan. Payah tuh dua pembokat,” sahutnya sambil cengengesan kayak Amrozy tersangka bom Bali.
“Eh, apa-apa… ada apa ini?” Astri tampak amat terkejut.
Lelaki berdasi hijau berlagak mencoba menjelaskan.
“Begini Mbak Astri. Si Panjul ini ingin bilang bahwa Mbak Astri sekarang sendirian menghadapi kami bertiga. Betul gitu, Njul?”
Astri baru akan membuka mulutnya saat Panjul kembali berucap.
“Iya Ndut. Kita kan nggak mau waktu senang-senang sama Mbak Astri, diganggu dua mbok-mbok itu. Iya kan Wer?”
Lelaki berdasi merah ati yang dipanggil Dower oleh temannya cuma manggut-manggut. Bibirnya memang dower. Astri mulai menyadari dirinya dalam bahaya. Dengan tiba-tiba ia bangkit dari duduknya di sofa. Tapi gagal, sebab Panjul dari belakang menekan bahunya.
“Iiiihhhh… apa-apaan sih ini?”
Astri meronta, tangannya mencoba menepis kedua tangan Panjul. Tapi tentu saja sulit. Tangan mungil Astri tak ada artinya menghadapi tangan kekar Panjul. Kini Panjul malah memegang kedua pergelangannya dan menariknya terentang, lalu menekannya di bagian atas sandaran sofa.
“Mbak nggak usah repot-repot melawan dan teriak. Nanti capek sendiri, atau malah jadi kesakitan,” kata Panjul setengah berbisik di dekat telinga Astri.
Astri begitu tersiksa dengan posisi seperti itu. Apalagi, Panjul menyempatkan menjilat pipinya yang mulus. Artis mungil itu pucat pasi. Gendut dan Dower kini duduk mengapitnya.
“Soal kontrak itu, Mbak jangan khawatir. Kita tetap akan buat videoklip dan Mbak tetap pakai jilbab,” kata Gendut seraya memegang ujung jilbab Astri dan menyampirkan ke bahunya.
“Aihhh… saya nggak mau… tolong… berhenti…. AIIIHHH….” Astri memekik, sebab Gendut mengusap-usap tonjolan di dada kirinya.
Dower ikut-ikutan mengusap, bahkan meremas-remas tetek kanan Astri yang masih terasa kenyal.
“Betul Mbak. Mbak boleh dan bahkan harus tetap pakai jilbab. Cuma, dari sini ke bawah harus… dibuka !!!” Dower mengakhiri kalimatnya dengan mengoyak bagian muka gamis Astri diiringi jerit Astri.
Tiga lelaki itu berdecak-decak, mengagumi mulus dan padatnya kedua tetek Astri yang masih tersangga bra. Gendut dan Dower bersama-sama menarik turun tali bra Astri. Lalu, bersamaan pula mereka merogoh ke balik cup bra Astri diiringi pekik perempuan itu. Astri merintih-rintih, mengiba-iba agar mereka berhenti mempermainkannya. Tapi tetap saja kedua lelaki yang mengapitnya, meremas-remas sepasang teteknya. Mereka kini bahkan mengeluarkan teteknya dari wadahnya. Dower dan Gendut seperti berlomba menjilati dan mengulum puting Astri.
“Tetek Mbak Astri hebat juga. Saya suka jenis yang seperti ini,” kata Dower sambil menjepit puting Astri dan mengguncang-guncangkannya.
“Kalian…ohhh…kurang…ajar !” pekik Astri.
“Video kita pasti laris manis, Mbak,” timpal Gendut sambil mencengkeram tetek Astri dengan sebelah tangan dan menyentil-nyentil putingnya.
“Kita sekarang sudah siap bikin edisi sampelnya. Tuh, kameramen kita sudah datang. Ayo Lae, siap action,” lanjutnya.
Astri menjerit. Di depan mereka kini sudah ada lelaki lain yang menyandang kamera. Lampu kamera tampak menyala, tanda si kameramen mulai bekerja. Teteknya kembali jadi sasaran pemuas mulut.
“Gantian pegangin dong… gue juga pengen pegang teteknya,” kata si Panjul. Kedua temannya tertawa, lalu ganti memegangi tangan Astri.
Panjul dengan kegirangan langsung menggenggam kedua tetek Astri, meremas-remasnya dengan gemas dan menarik-narik kedua putingnya ke atas. Astri tentu saja menjerit-jerit kesakitan. Dower berinisiatif merenggut putus bra Astri dan mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Astri menangis waktu gamisnya ditarik turun, hingga kini ia hanya memakai jilbab dan cd. Panjul masih asyik dengan tetek Astri. Kedua temannya kini mengangkat kedua kaki Astri hingga kini bertumpu di pinggir sofa. Posisi ini membuat pangkal paha Astri terbuka bebas. Gendut mengelus-elus gundukan yang berlapis katun putih di pangkal paha Astri.

“Ini akan membuat video kita makin laris, Mbak Astri,” kata Gendut sambil menarik bagian tepi cd Astri.
Astri memekik dan meronta-ronta dengan sia-sia. Si Lae mengclose-up pangkal paha Astri dengan kameranya. Memek artis berwajah lembut itu tampak cantik. Celah di antara dua bibir memeknya tampak masih mulus dan rapat. Padahal, tiga bayi sudah pernah melewatinya.
“Pinjam memeknya sebentar, ya Mbak?” si Gendut tiba-tiba melorot ke depan Astri.
“Jangaaaan…. oohhh…. jangaaaannnn!!!” Astri menjerit-jerit.

Gendut mengoyak cd-nya sampai lepas. Dikucek-kuceknya memek dengan rambut yang tak seberapa lebat itu. Lidahnya mulai menyapu bagian muka celah memek Astri dari bawah ke atas. Dua jempolnya dengan kasar melebarkan celah memek Astri, lalu lidahnya langsung menusuk-nusuk ke dalam. Dari dalam, lidah yang kasar itu menyapu naik hingga menyentuh klitoris Astri. Teriakan Astri sudah makin keras saat Dower naik ke sofa dan mengangkangi wajahnya.

“Ini juga bisa bikin videoklip kita laris !” teriaknya sambil mendorong kontolnya menyumpal bibir mungil Astri.
Berjuta perasaan mengganggu Astri. Di satu sisi, ia merasa terhina dengan perlakuan itu. Ia mual juga karena harus mengulum kontol milik lelaki yang baru dikenalnya. Namun, rangsangan intens di klitorisnya begitu mengganggu dirinya. Apalagi, Panjul pun kini mulai menggelitik putingnya dengan lidahnya. Astri nyaris gagal mempertahankan harga dirinya untuk tidak orgasme ketika Gendut tak henti-henti menghisap klitorisnya. Tapi perempuan itu bersyukur karena Gendut berhenti sebelum ia mencapai orgasme. Ia pasti akan sangat terhina kalau menikmati pemerkosaan ini ! Terhina tapi merasakan nikmat dan tersiksa oleh rasa sakit adalah pilihan yang teramat sulit. Tapi Astri tak harus memilih. Lolos dari perasaan hina, ia masuk ke alternatif kedua… rasa sakit. Itulah yang kini dirasakannya saat Gendut dengan tanpa perasaan menusukkan kontolnya langsung sejauh-jauhnya ke dalam memeknya. Astri bukan lagi perawan, tapi diperlakukan seperti itu, pasti sakitnya bukan kepalang. Ia mencoba menjerit, tapi mulutnya tersumpal kontol besar.

“Memek Mbak…hihhhh….hebat….sekali….” Gendut terus meracau sambil menggenjot pinggulnya.
Astri mencoba membunuh perasaannya. Dipejamkannya matanya erat-erat saat cairan hangat memenuhi rongga memeknya, disusul beberapa detik kemudian di dalam mulutnya ! Gendut dan Dower terkekeh-kekeh di hadapan korbannya yang terkapar di sofa dengan napas terengah-engah. Panjul masih saja asyik mempermainkan gunung kembarnya. Astri tak kuasa melawan ketika Panjul mengangkat tubuhnya hingga kini terlentang di atas meja tamu.

Kepala Astri dengan jilbab yang agak kusut terkulai di ujung meja. Si Lae masih dengan kameranya mendekati Astri dari arah kepala. Astri panik ketika Lae menggeletakkan kontolnya di atas dahi, menjulur ke bibirnya yang masih belepotan sperma. Tangan kiri Lae menjulur ke dada kiri Astri dan menjepit putingnya.
“Ayo Mbak… emut kontolku !” katanya diiringi mengerasnya jepitan di puting Astri.
Tak kuasa menahan sakit, Astri membuka mulutnya dan membiarkan kontol Lae memasukinya. Pada saat bersamaan, Panjul mendorong kontolnya masuk ke memeknya yang masih terasa pedih. Cukup lama itu berlangsung sampai saatnya Panjul menarik kontolnya keluar dan berlari ke arah Lae.
“Minggir Lae. Gantian loe sikat memeknya,” katanya sambil menggenggam kontolnya.

Ternyata Panjul cuma ingin menyemprotkan spermanya ke wajah imut Astri. Sekejap saja, wajah Astri basah oleh cairan putih kental. Setumpuk sperma malah sampai menutup sebelah matanya. Begitu spermanya habis, Panjul memaksa Astri mengulum kontolnya sampai bersih. Lae yang kini menggarap memek Astri pun tak mampu lebih lama lagi. Ia menarik kontolnya keluar dan berejakulasi di dalam mulut Astri.

Keempat lelaki itu membiarkan Astri tergeletak di meja sekian lama. Tetapi perempuan itu akhirnya menangis terisak-isak saat didudukkan di meja dan ikatan tangannya dilepas.

“Sekarang kamu jalan merangkak ke kamar mandi, terus mandi yang bersih. Habis ini kita pergi untuk melanjutkan produksi video. Cepat dan jangan macam-macam,” kata Gendut sambil mendorong Astri hingga terguling ke lantai.

Perlahan perempuan itu merangkak. Lae tak melewatkan adegan langka itu. Seorang perempuan berjilbab dengan wajah basah sperma dan tak ada kain lain yang melekat di tubuh matangnya, merangkak perlahan. Dari belakang, diambilnya close up gambar selangkangan Astri dengan sperma yang masih meleleh keluar dari celah memeknya yang agak membuka. Astri hampir sampai kamar mandi ketika Dower mendekatinya dari belakang. Lelaki itu memegangi kedua pantat telanjangnya yang bundar.

“Sebentar. Ada yang kelupaan. Gue lupa pantat loe masih perawan,” katanya.
“Jangan….auhhhh… jangannn…” Astri merintih merasakan dua jari Dower menusuk memeknya.
“Aaakhhhh….sakkiiiit… jangan di situ…. ohhhh…” rintihan Astri makin keras.

Dua jari Dower kini berusaha memasuki lubang pantatnya yang sempit. Tapi percuma saja Astri melawan. Lelaki itu begitu kuat, sementara ia sudah kehabisan tenaga. Apalagi, tiga lelaki lainnya kini ikut merubungnya.
“Udaaah… nggak apa-apa Mbak. Mending disodomi sekarang daripada nanti habis mandi,” kata Lae, sambil menghidupkan lagi kameranya.

Astri cuma bisa menggigit bibirnya, menahan pedihnya pantatnya yang mulai diterobos kontol Dower. Tapi akhirnya ia menjerit histeris ketika Dower berhasil menembus lubang sempit itu. Pandangan matanya berkunang-kunang selama 10 menit aksi sodomi itu, sampai akhirnya Dower menumpahkan lagi spermanya, kali ini ke dalam lubang pantatnya.

Tak pernah terbayangkan oleh Astri akan diperlakukan sedemikian rupa. Berada di dalam kamar mandinya sendiri, dikerumuni empat lelaki asing yang semuanya telanjang. Jangankan telanjang bulat, untuk membuka jilbab seperti saat ini dilakukannya pun, ia sudah bertekad untuk tidak melakukannya di hadapan lelaki yang tak dikenalnya.

Tapi yang tak terbayangkan itu kini terjadi. Astri mengguyur sekujur tubuhnya, membersihkan bekas-bekas pemerkosaan di hadapan 4 pasang mata lelaki, salah satunya dengan kamera yang menyala. Lalu, bukan ia sendiri yang menyabuni setiap inchi tubuhnya, tetapi para lelaki itu. Bayangkan, bagaimana mereka menyabuni teteknya sambil sesekali nakal memilin-milin kedua putingnya.

Tak terbayangkan pula tangan-tangan kasar menyabuni pangkal pahanya yang sudah pasti diikuti dengan masuknya dua tiga batang jari ke lubang memeknya. Pengalaman baru pula bagi Astri ketika harus mencuci bersih empat batang kontol yang tadi memperkosanya. Malah, salah satu dari mereka, tak mampu menahan diri, menyetubuhinya sekali lagi di bawah shower !

Usai mandi dan menghanduki tubuhnya sampai kering bukan berarti akhir semua penghinaan itu. Keempat pemerkosanya melarangnya menutupi tubuhnya dengan handuk yang kecil sekalipun. Jadilah Astri dengan rambutnya yang lebat terurai sebahu, berjalan telanjang bulat diiringi keempat lelaki itu ke kamarnya. Astri agak lega ketika disuruh mengambil jilbab dan gamis dari lemari pakaian, meski dilarang mengenakan bra dan cd.
“Pakai jilbab dulu,” kata Gendut ketika melihat Astri hendak mengenakan gamis krem.
Jilbab itu pun kini terpasang, cukup panjang untuk menutupi teteknya. Tapi Gendut mendekatinya, memegang ujung jilbab dan menyampirkannya ke bahu.
“Ini nggak perlu ditutupi,” katanya seraya meremas-remas kedua tetek Astri yang tampak segar sehabis mandi.
Astri menunggu disuruh mengenakan gamisnya. Karena itu, ia agak kecewa ketika disuruh duduk di tepi ranjangnya, menghadapi kaca meja rias. Ia makin cemas saat kedua kakinya diangkat, hingga kini ia duduk mengangkang.
“Jembutmu lebat sekali, Mbak. Cukur dulu ya?” kata Dower sambil menyodorkan pencukur jenggot kepada Astri.
Tanpa banyak tanya, disemprotnya selangkangan Astri dengan busa pencukur.
“Cukur yang bersih ya? Jangan tersisa sehelai pun,” lanjutnya sambil mengucek-ucek selangkangan Astri.
Wajah Astri merah padam menahan malu. Tangannya gemetar saat mulai mencukur. Kedua matanya yang sayu meneteskan air bening. Tapi para lelaki itu tak peduli. Lae malah dengan santai bersila di lantai di hadapan Astri dan mengarahkan kameranya ke kesibukan di memek perempuan itu.
Akhirnya ritual bersih-bersih itu usai. Astri melemparkan pencukur ke lantai dengan frustrasi. Tiba-tiba Gendut mendorongnya hingga jatuh terlentang ke ranjang.

“Kita lihat, sudah bersih belum,” katanya, lalu mengelap memek Astri dengan ujung sprei.

Memek perempuan dewasa itu kini tampak mulus dengan kulit kemerahan. Gendut merapatkan wajahnya ke selangkangan Astri. Tak disangka, ia menemukan dua helai rambut kemaluan Astri masih belum tercukur. Dicabutnya satu persatu. Akibatnya, Astri dua kali menjerit kesakitan. Tapi perempuan itu diam-diam lega juga, karena lidah lelaki itu kemudian menjilati kulit bekas tempat tumbuhnya rambut yang dicabut itu.

“Nanggung ah…. aku kepengen lagi,” tiba-tiba Gendut berlutut dan langsung menempatkan kontolnya ke lubang memek Astri. Teman-temannya kontan protes.
“Eh jangan Ndut… dia kan udah mandi…”

“Alaaa nggak apa-apa. Gue janji ngecrot di luar,” kata Gendut sambil mendorong kontolnya masuk.
Astri mengerang tanpa daya. Ia tak bisa lagi menghitung sudah berapa kali disetubuhi sesiang ini. Betul saja, Gendut menarik keluar kontolnya begitu mencapai orgasme untuk kesekian kalinya. Tapi yang Astri tidak tahu, Gendut menampung spermanya ke dalam cangkir. Gendut lalu menyodorkan gelas itu kepada Panjul. Astri tak kuasa menolak ketika rahangnya dicengkeram sehingga mulutnya membuka dan sperma Gendut dicurahkan ke dalamnya. Astri terpaksa menelannya dengan penuh rasa jijik.

Yang ditunggu Astri datang juga. Ia akhirnya diminta memakai gamis kremnya. Panjul berlagak merapikan gamis Astri. Tapi sebetulnya ia cuma ingin merasakan lagi menyentuh tetek dan memek Astri dari luar busananya.

Keempat pemerkosa itu kemudian menggiring Astri keluar. Di halaman rumahnya yang berpagar rapat, mereka berhenti di samping mobil komplotan itu.
“Kita foto bersama dulu,” kata Lae.
Lagi-lagi Astri harus tersiksa. Perempuan berjilbab dan bergamis itu kini diapit Gendut dan Dower. Gendut melepaskan tiga kancing atas gamis Astri hingga kini sepasang teteknya terbuka. Digenggamnya tetek kanan Astri hingga tampak tegak. Tetek kiri digenggam Dower sambil mengulum putingnya. Dower pun mengangkat kaki kiri Astri setelah Panjul menarik gamisnya sampai batas pinggang. Panjul duduk di bawah sambil memeluk paha kanan Astri dan dua jarinya tampak masuk ke memeknya.
“Yak… pose yang bagus !” seru Lae sambil menghidupkan kameranya.

Dengan tripod ditaruhnya kameranya. Ia lalu bergabung dengan teman-temannya. Lae langsung duduk di sebelah Panjul. Dua jarinya ikut masuk dan bersama Panjul melebarkan lubang memek Astri.

Mobil kini mulai berjalan meninggalkan rumah Astri. Tapi tampaknya ini baru permulaan bagi artis berjilbab ini. Betapa tidak, ia sama sekali tak kebagian kursi. Ia kini dibaringkan di atas paha tiga lelaki. Gamisnya tertarik sampai ke pinggul dan kini memeknya tengah dipermainkan. Leher botol Mansion terjepit di situ. Guncangan mobil menyebabkan isi botol yang tinggal separuh, sesekali masuk ke memeknya. Klitorisnya sampai memerah karena terus dikucek-kucek. Sementara bagian dadanya terbuka bebas dan ada tangan-tangan yang tengah beraktivitas di situ. Kedua putingnya terus diputar-putar seperti tombol radio, menimbulkan suara-suara rintihan dari bibir tipisnya. Sebatang kontol yang tegang pun menempel rapat di pipinya yang mulus.