NURLAELAH

Kejadian ini sudah berlangsung lama sekali, tapi tiap detil kejadiannya masih kekenang hingga sekarang. Waktu itu aku masih menjadi seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal di Bandung.
Sore itu, kira-kira jam 5.30 sore, aku pulang kuliah naik bus kota bersama teman cewek sekelasku yang sedang dalam masa pendekatan. Di sekitar daerah tegalega , para penumpang sudah banyak yang turun sehingga banyak kursi kosong tak berpenumpang, aku dan temanku melihat seorang gadis manis berjilbab lebar dan bergaun longgar yang panjang sedang sesenggukkan menangis dengan ekspresi wajah yang kelihatan bingung.
Temanku menyentuh tanganku dan berkata “Ded… (namaku Dedi), perhatikan gadis berjilbab itu? Kelihatannya dia seperti yang bingung. Coba kamu tanyain, siapa tahu dia memerlukan bantuan !” sambil mendorongkan tubuhku agar aku menghampiri gadis berjilbab tersebut.
Mataku menatap mata teman ceweku yang sebenarnya sedang dalam masa pendekatan ini dan berkata padanya : “Kamu ‘nggak apa-apa kalau aku nanyain dia ? ‘Ntar kamu cemburu dan ngambek, khan bisa gawat !”
“Nggaklah Ded…, kan aku yang nyuruh kamu , lagi pula tujuannya ‘khan menolong orang yang sedang kesusahan “ katanya sambil menerus memaksaku untuk menanyai gadis berjilbab tersebut.
Akhirnya aku kalah , walaupun sebenarnya aku kasihan pada gadis tersebut dan ingin menolongnya tapi aku masih menjaga perasaan ceweku ini dan kebutulan dia yang minta. Aku berdiri dan melangkah menghampiri gadis berjilbab itu dan duduk disampingnya. Dia kaget melihat orang asing duduk disampingnya padahal masih banyak kursi lain yang kosong.
“Jangan curiga dulu, Neng ! “ kataku menenangkannya.
“Saya dan teman saya dibelakang..” kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah teman cewekku dan gadis berjilbab inipun memandang temen cewekku dan melemparkan senyum manisnya sambil mengangguk. Lalu lanjutku lagi “Dari tadi kami melihat Eneng seperti yang sedang bingung dan menangis. Ada apa ? Mungkin kami bisa membantu ?” kataku sambil menatapnya dengan penuh kesungguhan.
Dia menatapku dan beralih menatap teman cewekku kemudian berkata padaku “benar kang…, saya lagi bingung. Bingung nggak bisa pulang ke rumah karena sudah kemalaman..”
“Emangnya Eneng mau kemana dan dari mana ?” tanyaku
“ke Majalaya” jawabnya menyebutkan nama suatu kecamatan di kabupaten Bandung yang letaknya berada di sebelah tenggara kota Bandung.

“Saya baru pulang dari Pasantren di Tasikmalaya dan akan melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Gunung Jati, datang ke terminal Kebon Kelapa jam 5 sore tadi ( waktu kejadian ini terjadi terminal Kebon kelapa masih ada dan belum dipindahkan ke terminal Leuwi Panjang). Padahal sebentar lagi magrib, dan bila lepas magrib maka angkot ataupun bus yang ke Majalaya sudah jarang. Saya takut kang… takut terjadi apa-apa pada diri saya” Ceritanya menerangkan siapa dirinya sambil bingung dan mulai kembali mengeluarkan air mata dan terisak
“Oohhh….gitu…, kalau gitu bagaimana kalau akang antar sampai ke rumah ?” kataku semangat menawarkan jasa ingin menolong gadis manis berjilbab yang baru keluar dari pasantren ini.
Dia menatapku gembira, tapi kemudian dia menatap ceweku dan berkata “Bagaimana dengan si Teteh ? Apa dia mengijinkan dan tidak marah ?”
“Tenang…, nanti aku akan minta ijin padanya dan lagi pula dari tadi dia kok yang mendorong diriku untuk menolong Eneng..” jawabku
“Oh ya neng, nama Eneng siapa ? nama Saya Dedi saya kuliah di …..” Kataku memperkenalkan diri dan menyebutkan nama sebuah pertinggi yang sudah dikenalnya
“Nama saya Nurlaelah, akang boleh panggil saya Elah. Saya alumnus Aliyah yang terdapat di Pansantren. Sebenarnya saya juga ingin kuliah ke sana, tapi orang tua menganjurkan saya untuk daftar ke IAIN” katanya lagi menjelaskan siapa dirinya.
“Sebentar ya…, aku mau ngomong dulu ke temanku..” kataku, lalu aku berdiri dan menghampiri ceweku yang duduk sendiri sambil memperhatikan diriku ngobrol dengan gadis berjilbab yang sedang bingung.
“Siapa dia dan ada apa dengannya ?” tanya ceweku begitu aku duduk disampingnya. Lalu kuterangkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia menangis..
“Ohhh gitu…, antar aja atuh ke rumahnya, apalagi orangnya cantik…!” katanya tapi ada nada cemburu yang kutangkap dari kata-kata tersebut.
“Benar nich, boleh kuantar…, kamu ikhlas. Kalau kamu larang juga aku tidak akan mengantar gadis itu !” kataku pada ceweku memberikan penekanan bahwa aku lebih berat pada ceweku dibandingkan cewe manis berjilbab lebar yang membutuhkan pertolonganku.
Tapi ceweku menjawab dengan sungguh-sungguh “Benar ..aku serius…kasihan dia, tapi kamu jangan macam-macam ya padanya.. kamu hanya ngantar kerumahnya setelah itu langsung pulang jangan merayu-rayu segala…” Aku aneh waktu mendengar kalmatnya yang terakhir, karena ada nada kekhawatiran dan kecemburuan. Apakah itu berarti bahwa teman ceweku ini juga sedang mendekatiku dan berusaha supaya jadi pacarku, aku berbunga-bunga memikirkan hal ini.
Begitu bus kota tiba di pool terakhir di daerah Cigereleng Mohamad Toha, semua penumpang turun, kemudian Elah menghampiri teman ceweku dan berkata “Makasih The yah , telah mengijinkan si Akang mengantarkan saya ke rumah. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau tidak ketemu Teteh dan Akang “
“’Nggak apa-apa…, sok aja , semoga selamat di jalan “ kata ceweku pada Elah sambil tersenyum. Kemudian kami menunggu angkot yang akan ditumpangi oleh ceweku. Setelah ceweku naik angkot maka aku dan Elah menunggu angkot yang menuju ke arah Majalaya yang masih sepi dan jarang ada angkot pada saat itu.
Akhirnya aku mengantar Elah ke rumahnya yang letaknya dipinggir sawah yang tak jauh dari jalan raya yang menuju ke arah ibu kota kecamatan Majalaya. Di rumahnya hanya ada Ibu dan Bapaknya berdua. Sebab orang tua hanya memiliki tiga orang putri yang sudah dewasa sedangkan Elah adalah putri bungsu sedangkan putri pertamanya sudah menikah dan tinggal di kota Bandung dan putri keduanya juga sudah menikah dan tinggal di Bogor. Sehingga dalam keseharian di rumah itu orang tua Elah hanya tinggal berdua.
Mereka sangat berterima kasih atas kesediaanku mengantar anak mereka yang kemalaman di jalan. Aku tak berlama-lama di rumah Elah, hanya sebentar duduk dan minum lalu pamit mohon diri untuk segera pulang.
Bererapa hari setelah kejadian itu, aku mendapat surat dari Elah yang dia kirimkan melalui alamat kampusku yang isinya tentang ucapan rasa terimakasih darinya dan keluarganya yang sangat besar padaku karena telah mengantarkan dirinya pulang ke rumah. Pujian dan sanjungan yang dia tuliskan dalam surat itu kurasakan sangat berlebihan dan membuatku tersanjung bahkan di akhir suratnya dia sangat mengharapkan kehadiranku untuk sering-sering main ke rumahnya.
Tapi surat yang kuterima itu tidak kutanggapi dan akhirnya kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa aku berusaha untuk mengingatnya. Namun , sebulan setelah peristiwa itu sahabat dekatku Odang mengajakku untuk menemaninya ke Majalaya karena ada urusan yang harus dia selesaikan.
Pada saat aku sudah berada di Majalaya, aku teringat akan Elah yang pernah kuantarkan dulu, maka aku berkata pada Odang : “Dang, aku punya kenalan cewe cantik berjilbab di daerah sini. Setelah urusanmu selesai, kita main kerumahnya yuk !” ajakku.
“Ayo… apalagi kalau cantik dan berjilbab mah, aku paling suka dengan cewe cantik berjilbab..” kata temanku ini bersemangat.
Setelah urusan temanku ini selesai, kami langsung menuju ke rumah Elah, namun rupanya kami kurang beruntung. Karena Elah tidak ada di rumah tapi di rumah kakaknya di Bandung. Akhirnya kami pulang dengan kecewa.
Tiga hari setelah aku ke rumahnya, datang lagi surat dari Elah melalui alamat kampusku yang isinya tentang penyesalannya yang tidak bisa bertemu denganku dan permohonan maafnya yang teramat dalam padaku karena telah membuatku kecewa. Dan di akhir suratnya dia gambarkan peta tempat tinggal kakaknya di Bandung dan sangat mengharapkan aku bisa mengunjunginya di sana, karena sekarang dia tinggal dengan kakaknya di Bandung.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjunginya, karena merasa kasihan padanya yang telah susah payah menggambarkan peta tempat tinggalnya pada ku dan pastinya sangat mengharapkan untuk bisa bertemu denganku. Maka pada hari jum’at sore sekitar jam 3.30 setelah selesai kuliah aku berniat berangkat ke rumah kakaknya Elah langsung dari kampusku. Dan aku tiba di rumahnya sekitar jam 4.30.
Walaupun dia menggunakan jilbab pada saat menyambutku, namun jilbab itu tidak mampu menyembunyikan kegembiraan dan kebahagiannya pada saat bertemu denganku.Kami ngobrol cukup lama dan iseng-iseng aku berkata padanya
“Kalau besok Akang datang malam mingguan ke sini, ada yang marah ‘ngga ?” dia langsung menjawab dengan spontan dan gembira penuh harap
“Siapa yang akan marah kang ? Saya mah disini orang baru, belum ada yang kenal. Akang mungkin yang bakal dimarahin dan diputusin sama si Teteh kalau malam mingguan ke sini ? “ tanyanya menyelidiki apakah aku sudah punya pacar atau belum.
“Akang mah Lah , saat in ‘nggak punya pacar. Yang kemarin itu adalah teman kuliah Akang, bukan pacar Akang. Kalau dia pacar Akang, masa dia menyuruh pacarnya untuk mengantar cewe cantik lain ke rumah ?” jawabku memberi alasan sambil memuji kecantikannya secara tidak langsung
“Kalau gitu, Elah akan nunggu kedatangan Akang besok, janji Kang ya!” katanya gembira.
“Iya Akang janji, besok Akang kesini ngapelin Elah..” Kataku kembali berjanji. Dia sangat gembira setelah mendengar janji dariku bahwa aku akan datang malam mingguan.
Menjelang magrib aku pamit pulang. Dan dengan berat hati Elah mengizinkan aku pulang dan mengantarkan aku sampai ke depan pagar rumahnya.
Keesokkan harinya setelah magrib aku bersiap-siap untuk malam mingguan ke rumah Elah. Aku datang ke rumahnya sekitar jam 7.15 malam. Dia menyambutku dengan mengenakan jilbab, baju lengan panjang dan serta rok panjang. Dia kelihatan sangat cantik dan segar saat itu. Aku tercengang memandangnya.
“Ada apa Kang ? kok bengong ?” Tanyanya padaku melihat aku bengong dengan mulut terbuka.
“Oh…’nggak. Elah kelihatannya cantik sekali “ kataku gugup tak mampu menyembunyikan keterkesimaanku melihat kecantikannya
“Ah..Akang mah..merayu. Cantikan juga Teteh teman Akang yang kemarin itu “ katanya tersipu malu.
Aku duduk di kursi panjang yang terdapat di ruang tamu. Setelah dia menyuguhi air minum dan kue-kue dia menutup pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Alasannya agar keponakannya yang berumur 3 tahun tidak mengganggu mengacak-ngacak minuman dan kue yang disuguhkan padaku. Jadi hanya kami berdua di ruang tamu itu yang hanya di terangi oleh lampu pijar 5 watt..
Dia duduk disampingku. Aku gelisah, karena seumur hidup aku belum pernah duduk berdampingan berdua-duaan. Karena pacaran yang kulakukan sejak SMA dulu hanya sebatas jalan-jalan, jajan dan bila main ke rumah juga aku akan duduk dengan kursi yang berbeda dengan kursi yang diduduki pacarku dulu.
Sedangkan saat ini aku duduk berdampingan dengan gadis cantik yang dengan beraninya mendekatkan badan dan wajahnya ke depan wajahku. Tentu saja hal ini membuat aku gugup, aku selalu membuang muka bila Elah bicara sambil memandangku. Hingga pada suatu waktu, setelah aku membuang muka dan kembali menghadapkan wajahku ke wajahnya . Elah langsung menyerangku dengan menyosor bibirku.
Aku gugup dan kaget, tak tahu berbuat apa-apa. Aku hanya terdiam merasakan bibirku dilumat oleh Elah. Jujur….sampai aku tingkat dua saat itu belum pernah merasakan berciuman dengan seorang gadis.
Badanku bergetar seperti dialiri listrik, namun bibirku merasakan manisnya bibir dan air liur Elah, birahiku terdongkrak dengan cepat, maka secara naluri aku membalas ciuman dan lumatan bibir Elah padaku. Dan secara reflek tanganku memeluknya erat-erat sehingga percumbuan yang kami lakukan semakin panas dan lama.
Setelah bibirku merasakan kaku aku melepaskan pagutan bibirku dari bibir Elah. Sambil kembali duduk berdampingan, aku berkata pada Elah “Kok Elah demikian lihainya berciuman ? Akang mah baru saat ini mengalami apa itu ciuman ?” tantaku padanya penuh selidik.
“Elah suka melakukan ini waktu di Aliyah dulu dengan kakak kelas yang menjadi pacar Ellah yang sekarang sudah putus…” jawabnya menerangkan
Oh…pantas saja dia sangat berpengalaman dalam berciuman. “Tapi apa ‘nggak takut dosa ?” tanyaku lagi polos padanya. Dan aku memang bego dalam hal ini.
“Kata kakak kelasku dulu, dosanya akan terhapus , kalau setelah melakukan percumbuan kitanya bersuci kembali” jawabnya memberikan alasan.
Ouh.. rupanya gadis ini masih sangat lugu sehingga bisa ditipu oleh kakak kelasnya dulu. Tapi saat itu aku tak terlalu memperdulikannya, dan kembali bibirku mencium bibirnya. Dan kembali kami terlibat percumbuan bibir yang panas dan menggairahkan, nafsuku sudah menguasaiku, penisku sudah sangat tegang dan keras mendorong celana jean yang kukenakan sehingga menimbulkan rasa nyeri pada batang penis dan selangkangannku.
Dengan malu-malu meluruskan posisi batang penisku, Elah melihatnya dan hanya tersenyum seolah tahu apa yang terjadi pada penisku. Kemudian dengan malu-malu , ragu-ragu namun penuh nafsu kucoba untuk meremas buah dada Elah dari luar bajunya. Ternyata dia diam saja, malah memberi kesempatan dengan mendongakkan kepala dan melenguh nikmat dengan desahan yang merangsang…”Ouh….kang..”
Nafsuku semakin berada diubun-ubun, tangan kiriku meyibakkan jilbab yang dkenakannya dan bibirku langsung lehernya yang putih jenjang dan menggairahkan, sehigga kepalaku berada dibalik jilbab.. Mata Elah terpejam menikmati apa yang kulakukan padanya sambil mengerang “Ouh…euh….Kang…..kang… ouh..”
Aku semakin berani, maka dengan tergesa-gesa aku berusaha membuka kancing bajunya. Karena aku tidak punya pengalaman maka aku menarik kancing bajunya denga keras, saking kerasnya tarikanku membuat kancing itu copot. Aku malu pada Elah dan berkata dengan tampang bloon “Maaf … Lah, kancingmu copot !”. Tapi dia tidak memperdulikannya, dengan napas yang meburu tersengal-sengal dia membantu membukakan kancing baju dan Bhnya sekalian. Rupanya Elah sudah dikendalikan oleh nafsunya sendiri sehingga sudah tidak malu-malu lagi padaku.
Begitu buah dadanya terbuka, maka tampaklah pemandangan indah yang baru pertama kali aku melihatnya selama aku dewasa. Buah dada gadis remaja yang montok putih dan mulus dengan putting yang menantang tegak. Pemandangan ini membuat mataku nanar. Bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada itu. Dan akhirnya bibir dan lidahku asyik memilin putting susunya yang tegak merangsang. Mulut Elah semakin tak bisa diam terus menerus mengerang dan mendesah menahan nikmat. Dia membalas membuka sleting celanaku dan mengeluarkan penis tegangku dari cd, tanpa ragu-ragu dia remas-remas dan kocok-kocok penisku membuat aku terhenyak merasakan nikmatnya permainan tangan yang diberikan oleh Elah pada penisku
“Oukh…ouch…hohh….” Aku mengerang melayang-layang
Tiba-tiba…, dengan nafsu yang mengebu-gebu. Elah mengagetku dengan melakukan sesuatu yang tak kuduga-duga. Kepalanya menunduk, lidahnya langsung menjilati penisku yang sudah sangat keras dan tegang berdiri dengah gagahnya. Tanganku tersentak dan badanku seolah-olah dialiri listrik ribuan volt
Seeerrr….. bergetar seluruh tubuh ini ketika lidah basah nan panas membara terus terus menjilati dan diselingi dengan mulutnya yang mengemut dan menghisap penisku. Aku semakin tak tahan, seluruh bulu yang ada di tangan dan tengkukku seolah berdiri dengan perasaan nikmat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Hanya bibirku saja tanpa sadar mengeluarkan keluhan dan erangan nikmat
“Ouh…. Lah…. Ouh……”
Aku terus melayang dan melayang dengan mata yang terbeliak-beliak menyaksikan pemandangan sensasional dari seorang gadis berkerudung sedang mengoral penisku dengan lihainya. Kakiku terkejang-kejang menerima deraan nikmat ini.
Tak lama kemudian jari tangannya menggantikan mulutnya yang bekerja cukup lama memberikan kenikmatan pada penisku. Mulutnya kembali mencari menciumi wajah dan bibirku dengan panas membara. Luar biasa kemampuan gadis berjilbab ini dalam memberikan kepuasan pada laki-laki. Aku dibuat terus dan terus melayang tanpa diberi kesempatan untuk menghirup napas dengan tenang. Nafasku terus menerus dibuatnya berpacu mengejar sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya.
Tanganku bergerak mencari kepuasan tambahan, tanganku berusaha menyingkapkan rok panjangnya dan mengusap-ngusap paha yang mutih mulus menggairahkan, membuat nafsu semakin membungbung tinggi. Kemudian dengan perlahan namun pasti tanganku menyelusup kebalik cd-nya dan mengubek-ngubek vaginanya yang terasa lembut ditimbuni oleh jembut yang lebat dan lembut.
Kembali kepuasan dan nafasku terhenti mendapatkan pengalaman yang yang pertama kali kulakukan yaitu menyentuh vagina seorang wanita dengan penuh nafsu. Asaku melayang dan aku merasa nerveous dan surprise yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Vagina itu terasa lembab dan sedikit basah terutama tepat di bagian lipatan bibir vagina.
Dan ketika jari-jariku berusaha menyibakkan bibir vagina itu dengan lembut dan berusaha menggesekkan jari tengahku kebagian dalam lipatan yang sudah sangat basah dan menggairahkan. Tiba-tiba tanganku dipegang dan ditahannya seraya berkata “Jangan dipegang-pegang daerah sana Kang ! Saya suka tidak kuat… “ katanya dengan nafas yang tersengal-sengal, kemudian sambungnya “Biar Akang Saya puasin aja Kang. Saya akan sangat puas bila melihat Akang puas sebab saya sangat mencintai Akang, karena Akang begitu baik pada Elah”
Setelah itu kembali mulut dan tangannya memberikan kenikmatan padaku dan membuatku melayang-layang kembali. Gerakan mulut, bibir dan lidahnya demikian hebatnya memberikan kenikmatan padaku, ditambahkan dengan tangan halusnya yang mempermainkan buah pelir dan panggal penisku yang tak terjangkau oleh mulutnya membuat kenikmatan ini seolah-olah datang bertubi-tubi tiada henti.
Hingga akhirnya penglihatanku terasa gelap, nafasku terhenti dan tanpa dapat kukendalikan tubuhku mengejang kaku dan akhirnya ada dorongan dalam tubuhku melalui penisku melepaskan sperma demikian kuat dan derasnya membuat aku menjerit tertahan menahan nikmat yang tak terkira
“Aaaahh……”
Cret…cret…cret…., spermaku terpancar dari penisku yang masih berada di dalam mulutnya yang seksi. Mulutnya tidak mau melepaskan penisku walaupun pada saat itu penisku terus menembakkan sperma beberapa kali, bahkan dengan rakusnya penisku dihisap-hisapnya hingga sperma yang kusemprotkan langsung ditelannya dengan lahap. Hingga akhirnya spermaku habis tak bersisa . Tubuhku secara perlahan-lahan mengendur dan napasku tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen. Tangan dan kakiku sangat lelah dan lunglai tak bertenaga. Akhirnya badanku kusandarkan di sofa dengan nafas yang masih tersengal-sengal menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang telah diberikan oleh gadis berjilbab yang sangat cantik dan menggairahkan ini.
Dia mengambil air dalam cangkir yang ada di atas meja tamu dan meminumnya dengan tergesa-gesa seperti orang yang kehausan karena habis bekerja keras. Kemudian memandangku dengan pandangan penuh kepuasan karena telah berhasil memberikan kenikmatan yang tak terhingga kepada pria yang sangat dikagumi.
“Akang puas ?” Tanyanya padaku
“Banget…” jawabku lemah sambil mengangguk
“Lah…., kamu betul-betul luar biasa seperti yang sudah sangat berpengalaman. Betul-betul diluar dugaan melihat penampilan Elah yang anggun dan selalu menggunakan jilbab .” kataku melanjutkan mengomentarinya.
“Seperti yang saya ceritakan tadi kang, pacarku dulu sering mencumbuku waktu masih di Aliyah. Dan saya jadi ketagihan untuk melakukan itu. Makanya waktu tadi Akang meraba-raba vagina saya , Saya menolaknya sebab biasanya kalau vagina udah digesek dan dipermainkan. Saya suka tidak tahan untuk menjerit dan melanjutkan yang lebih jauh. Sedangkan disini tempatnya tidak memungkinkan.” Ceritanya panjang lebar.
Waktu telah menunjukkan jam 11 malam, maka dengan terpaksa aku pamit pulang. Elah mengijinkan dengan nada terpaksa. Kami beres-beres merapihkan pakaian yang kusut karena percumbuan yang demikian panjang dan melelahkan, serta tentu saja dengan kepuasan yang tak terlupakan dalam hidupku. Sebelum pulang kami bercumbu kembali sebagai acara penutup dan Elah menegaskan padaku “Minggu depan datang lagi ya, Kang !” sambil bibirnya mengecup mesra bibirku.
Akupun menjawabnya dengan anggukan dan membalas kecupannya. Dan setelah itu akupun pulang dengan pengalaman baru dan tubuh melayang ringan seringan kapas , sambil mulut tersenyum puas dan nafas terasa lapang.
Selama seminggu sesudah itu, Aku selalu gelisah, tak sabar menunggu malam minggu berikutnya. Selalu saja terbayang apa yang kami lakukan malam itu dan masih kurasakan hisapan dan jilatan lidahnya yang luar biasa pada penisku yang membuat spermaku tersedot keluar begitu banyak sehingga lututku serasa mau copot.
Malam yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang juga dan seperti malam minggu sebelumnya, jam 7 malam aku sudah ada di depan rumahnya dengan bayangan dikepala akan mendapatkan sesuatu yang nikmat seperti malam minggu sebelumnya atau bahkan mungkin lebih.
Elah membuka pintu dan menyambutku dengan mesra dan tatapan mata yang memancarkan luapan kerinduan yang menggelora bagaikan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun tidak dijenguk oleh kekasihnya. Elah mengenakan kaos longgar lengan panjang dengan jilbab yang tak pernah lepas dari tubuhnya serta rok panjang yang longgar pula. Malam itu kulihat Elah sangat cantik dan menawan serta farfum yang dia kenakan begitu cepat membangkitkan kelaki-lakianku.
Dia mempersilahkan aku masuk ke ruang tamu dan aku duduk di sofa panjang. Elah masuk ke dapur untuk mengambil air dan penganan yang akan ia suguhkan padaku. Aku menantinya dengan perasaan yang tidak sabar. Setelah ia menyuguhkan air dan penganan di meja tamu, kemudian ia dengan manjanya duduk disampingku sambil menggelayut manja dan berbisik “Saya kangen berat ke Akang… rasanya seminggu ‘ngga ketemu sama Akang bagaikan bertahun-tahun…” katanya diakhiri dengan mengecup mesra pipiku.
Badanku menjauh darinya seraya berkata-kata “Jangan begitu ach…malu dilihat sama Tetehmu atau keponakanmu !” sebab saat itu pintu ruang tamu belum tertutup sehingga aku masih bisa melihat keadaan ruang tengah.
“Tenang aja…Kang. ‘Ngga ada siapa-siapa. Teteh dan keluarganya lagi menjenguk Bapak dan Ema di Majalaya . Dan saya disuruh Teteh untuk jaga rumah..” katanya menerangkan kondisi rumah yang tidak ada siapa-siapa. Hatiku langsung berbunga-bunga membayangkan bahwa aku mungkin akan lebih bebas bermesraan dengan Elah yang cantik ini.
Maka tanpa ragu-ragu tanganku membelai jilbab yang menempel dikepalanya dan bibirku langsung mencium bibirnya dengan gemas..
Serrr….darahku berdesir dengan cepat menikmati bibirnya yang lembut dan basah menggairahkan. Dan Elahpun membalas ciumanku dengan tak kalah mesranya, mulutnya menghisap bibirku dalam-dalam seperti orang kehausan. Hisapannya demikian lama dan menghanyutkan. Tangannya dengan lincah mencopoti kancing bajuku satu persatu dan tangannya menyelusup ke bali bajuku dan langsung membelai dadaku dengan mesra serta memainkan putting susuku dengan memilin-milinnya.
Kemudiannya kepalanya mengarah ke dadaku dan menjilati serta menciumi seluruh dadaku memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat berahi bangkit dengan cepat. Aku dibuatnya melayang dan mendengus
“Ouhh…. Lah…Kamu kok pinter banget sich …?” kataku terbata-bata menahan nafas yang tersengal-sengal menahan nafsu. Penisku langsung mengeras dengan hebat.
“Kan…semua ini untuk Akang…, Orang yang Elah cintai dan sayangi..” katanya sambil terus menjilati dada dan leherku.
Tanganku secara naluri mulai menelusup ke balik kaos panjang yang Elah kenakan mencari-cari buah dada Elah yang bulat dan montok. Aku terpana dan heran, ternyata Elah tidak mengenakan BH. Aku berkomentar heran “Kok.. Elah ‘nggak pake BH ?”
“Khan…biar Akang gampang meremas-remas dan menciuminya, daripada nanti kancingnya copot lagi ” Jawabnya sambil tersenyum manis menggodaku mengingatkan kecerobohanku yang mengakibatkan kancing bajunya lepas seminggu yang lalu. Aku hanya tersenyum malu mengingat kebodohanku minggu lalu
Kaos panjang itu langsung aku tarik ke atas dan tanganku langsung meremas buah dada yang menggairahkan ini dan bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada Elah yang sebelahnya. Elah langsung mengerang dan melenguh dengan lepas tanpa tertahan “Ouh….Kang…ouh…”
Tangan dan bibirku terus dengan intensif mempermainkan kedua buah dada dan putting susu Elah yang sudah tegak menantang. Dan Kepala Elah terdongak dengan terus-menerus mengerang menikmati rangsangan yang kuberikan
“Euh…euh…euh…oh…Kang….Kang…”
Tanganku yang satu lagi mulai menarik rok panjangnya ke atas dan menari-nari mulai dari betis, lutut hingga paha kemudian mengusap-ngusapnya dengan lembut dan penuh gairah.
Elah semakin menggelinjang dan mengerang. Kemudian tanganku bergerak keatas menuju selangkangan Elah. Kembali aku terpana ternyata Elah tidak mengenakan CD, karena jariku langsung meraba bulu-bulu jembutnya Elah ketika tiba di selangkangannya. Aku terdiam dan memandangnya heran.
Rupanya Elah mengerti akan keherananku dan langsung menjawab “Biar praktis Kang, karena saya yakin pasti Akang akan membongkar CD Elah…Ya udah . Elah lepas aja “ katanya kembali menggodaku.
Aku langsung turun dari sofa dan dengan pantatku kudorong meja tamu ke belakang supaya badan dan wajahku bisa berhadapan dengan selangkangan Elah. Dan kusibakkan rok panjang itu Dan..
Deg…jantung seolah berhenti berdetak begitu melihat pemandangan yang baru kualami seumur hidup, di hadapanku tampak vagina indah yang dihiasi oleh jembut-jembut yang lebat namun halus dari seorang gadis cantik yang masih mengenakan jilbab walaupun bentuknya sudah tak karuan.
Kembali naluri kelaki-lakian bekerja secara reflek, wajahku langsung menghampiri vagina indah yang menggairahkan dan membuat penisku semakin keras ini, bibirku langsung menciumi seluruh permukaan vagina itu tanpa ragu dan sungkan
Ouhh…. Betapa harum dan menggairahkannya vagina ini. Bibirku menciuminya dengan penuh nafsu dan nafas yang tersengal-sengal. Lidahku bergerak dari bawah ketas sepanjang lipatan bibir vagina indah ini.
“Auh….auh….auw……Ouhh…Kang..ouh kang “ Elah terus meracau seiring dengan bibirku yang bergerak tak bisa diam menciumi dan menjilati vaginanya yang menggairahkan ini.
Bibirku terus bergerak menikmati sensani vagina yang baru pertama kali kurasakan. Hingga akhirnya Erangan, lenguhan dan kata-kata meracau yang keluar dari mulut Elah semakin sering dan nyaring dan gerakan badan yang melonjak-lonjak tak terkendali
“Ouh…Kang…Ouh…Kang…, saya … ‘ngga kuat…saya … ‘nggak kuat Ouuuuhhhh….”
Tiba-tiba Elah berdiri dan berkata “Jangan di sini Kang ! Kita ke kamar Elah aja” lalu tangannya menarik tanganku dan membingbing ku ke kamarnya. Dengan tergesa-gesa Elah menarik badanku menuju kamarnya dan tanpa menutup kamarnya kembali Elah langsung menarik badanku ke tempat tidur dan mendorongku hingga jatuh telentang dikasurnya yang empuk. Lalu dengan tergesa-gesa penuh nafsu tangannya berusaha membuka celanaku sekaligus dengan celana dalamku hingga bagian bawahku menjadi telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak dengan gagahnya. Aku merasa malu, karena baru pertama aku telanjang bulat di depan seorang gadis. Tampaknya Elah tak memperdulikan rasa maluku. Dia terus menyerangku, telapak tangannya meraih pangkal penisku dan mengocoknya, sementara mulutnya langsung melahap penisku dengan rakus dan penuh nafsu. Bibir dan lidahnya bekerja dengan lincahnya memberikan kenikmatan yang tak terperi sehingga aku terlonjak-lonjak dan melenguh…”Ouh…upsss ouh….”
Elah terus memberikan kenikmatan padaku dengan mempermainkan penisku oleh bibir dan lidahnya. Sampai akhirnya dia merasa tak tahan dia berdiri dan mencopoti jilbab, kaos panjang dan rok panjang yang ia kenakan. Dihadapanku tampaklah seorang bidadari cantik yang telanjang sedang merangkak menghampiriku yang sedang telentang menahan nafsu yang menggebu.
Elah langsung memelukku , namun langsung kugulingkan dia hingga posisinya di bawah. Dan badanku bergeser ke bawah agar wajahku bisa berhadapan kembali dengan vaginanya yang sekarang tampak lebih indah dibandingkan dengan tadi waktu di ruang tamu karena sudah tidak terhalam oleh rok panjangnya lagi.
Bajuku belum lepas sehingga terasa mengganggu maka aku langsung melepaskannya dengan tergesa-gesa. Lalu kedua tanganku langsung merengkuh pantat Elah yang mulus menggairahkan dan bibirku kembali menciumi vagina Elah yang sudah semakin basah. Lidahku mengorek-ngorek liang sempit yang terhalang oleh lipatan bibir vaginanya
“Auw….auw…” jeritnya setiap kali lidahku menyentuh liang vagina Elah. Namun tanganku terus meremas pantat Elah dan lidahku terus mengulas-ngulas celah vagina Elah hingga nampak basah mengkilat
“Auwhhh … auwhhh…” jeritnya semakin panjang. Badannya terlonjak-lonjak tak terkendali lagi dan kedua tangannya mulai meremas dan mencengkram kepalaku seperti yang sedang menahan sesuatu, hingga akhirnya pantatnya menegang kaku terangkat ke atas dan kedua tangannya menekan kepalaku hingga wajahku rapat dengan vaginanya disertai dengan jeritan panjang seperti tercekik..
“Aaaaaaakkhhh…..” Diakhiri dengan kedutan pantat yang menggetarkan tanganku dan liang di vaginanyapun berdenyut-denyut berkotraksi meremas-remas ujung lidahku yang sedang menelusurinya.
Lalu setelah itu…badannya terhempas dan dari mulutnya keluar desahan panjang
“Hhuhh……” disertai nafas yang tersengal-sengal seperti yang baru selesai melakukan lari sprint. Dan badannya diam lemas seolah tak bertenaga…
“Sudah dulu kang…. Saya cape…” katanya padaku.
Aku yang belum mengerti apa yang sedang terjadi hanya termangu sambil menahan nafsu yang masih menggebu. Kedua tangannya menarik lemah badanku agar bisa berhadapan dan berpelukan, kemudian dia berkata…”Akang…hebat… Saya baru aja keluar… Pacar saya dulu waktu di Aliyah ‘nggak pernah membuat saya bisa melayang dan menghempaskan seperti ini.”
“Tapi malah Dia saja yang keluar dan membasahi mulut atau selangkangan Elah setiap kali kami bercumbu” lanjutnya lagi.
“Oh gitu…” sahutku..tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkannya, karena gairah nafsuku masih menari-nari dikepalaku dan penisku yang keras dan tegang perlu penyaluran. Aku menciuminya kembali untuk menuntaskan nafsuku. Dengan nafas yang memburu tangankupun bergerak liar membelai dan meremas buah dadanya montok menggemaskan, rasanya tak pernah bosan-bosan bagiku jika seharian aku harus mempermainkan buah dada indah ini.
Mulut, bibir dan lidah serta tanganku secara intensif terus-menerus secara konstan memberikan rangsangan-rangsangan kenikmatan kepada Elah. Usahaku berhasil, gairah Elah kembali bengkit dan Elah mulai membalas ciumanku dengan panas dan bergairah, Badan Elah bergelinjang-gelinjang menahan nafsu yang kembali membludak dalam dirinya. Tangan kananku bergerak kearah selangkangannya dan jari tengahku dengan lincah menari-nari dibelahan bibir vagina yang kurasakan basah, klirotisnya ku tekan dan kupilin. Elah mengerang…cukup keras “Ouh…..Kang…”
Kembali jari tengahku menekan klitorisnya dan menari-nari di atasnya, erangan dan lenguhannya semakin keras dan terengah-engah
“Auw…. Aouh….Oh…..Kang…, Elah .. ‘ngga tahan…” Katanya mendesah seperti menahan derita nikmat yang tak terperi. Kemudian pahanya terbuka semakin lebar dan pinggulnya bergoyang-goyang erotis sambil mengerang dan mengeluh “Ouh….Ah….”
Aku sudah tak sabar dan naluriku menuntunku untuk memposisikan diriku diantara dua paha yang terbuka lebar dengan vagina yang berwarna merah muda mempesona. Dan kuarahkan ujung penisku ke depan liang vagina Elah, lalu dengan terburu-buru aku menekankan pantatku.
Penisku bukannya masuk ke dalam liang vagina yang sempit itu, tapi terpelset kea rah depan. Berkali-kali kucoba…., selalu meleset kadang ke belakang, ke samping atau kedepan. Keringatku semakin bercucuran dan dalam kati aku merasa malu pada Elah. Masa aku yang mahasiswa ini tidak bisa memasukkan penis yang sudah tegang kedalam vaginanya. Namun aku terus mencoba walaupun selalu gagal. Akhir aku menyerah dan berkata pada Elah
“Kok susah sich masuknya ? Akang sudah ‘nggak tahan nich..!”
“Pacar Elah juga dulu ‘nggak bisa masuk-masuk, makanya dia selalu keluarkan maninya di selangkangan Elah, karena udah ‘nggak bisa menahan nafsunya lagi. Jadi aja keluar diluar…”
Oh.. kalau gitu berarti vagina Elah masih perawan, sebab belum pernah diterobos oleh penis sebelumnya, pantas aja susah.
Setelah tahu bahwa sesungguhnya Elah masih perawan, maka aku mulai berhati-hati dan lebih konsentrasi. Jari-jariku menyibakkan lipatan bibir yang menutup liang vagina, kuperhatikan dengan seksama, ternyata di bagian bawah lipatan bibir vagina itu terdapat sebuah lubang yang sangat sempit. Aku arahkan kepala penisku yang sudah sangat tegang ke lubang yang sangat sempit itu. Kutekan secara perlahan pantatku agar ujung penisku menekan dan menerobos lobang sempit itu. Agak susah dan terlihat Elah menyeringai.
Kudorong lagi sedikit…., ujung kepala penisku agak masuk, kulihat Elah semakin menyeringai dan terlihat seperti meringis.
Kudorong lagi agak keras…, lobang itu terbuka sedikit. Elah menjerit lirih “Aduhhh Kang…”, Kuhentikan gerakanku tapi Elah berkata lagi “jangan hentikan Kang, terus aja.” Rupanya dorongan nafsu Elah mengalahkan rasa perih dari selaput darahnya yang mulai terkoyak.
Kudorong lagi dengan keras hingga kepala penisku bisa masuk kedalam liang vaginanya. Elah kembali menjerit lirih sambil menahan badanku “Aaauuuhhh…”. Sedangkan aku merasa nerveous begitu kepala penisku berada dalam liang vagina Elah. Berjuta-juta perasaan yang tak kumengerti melayang-layang diatas kepalaku. Aku tak bisa menjelaskan rasa apa itu. Setelah tahanan tangan Elah melemah, kembali kudorongkan penisku hingga amblas sampai ke pangkal paha
“Aukh…” jerit Elah sambil memeluk erat tubuhku. Kuhentikan gerakanku menikmati sensasi yang luar biasa ini. Setelah sensasi itu berkurang kucoba mencabut penisku sedikit demi sedikit. Pergesekan antara kulit penisku dengan dinding vagina Elah yang basah berdenyut menghasilkan kenikmatan yang tiada tara, demikian juga nampaknya bagi Elah, sebab jerit lirihnya diselingi dengan erangan nikmat
“Aduh….Ouh…..” antara perih dan nikmat dirasakan Elah secara bersamaan. Ketika hanya kepala penis yang masih tertanam di dalam liang vagina Elah, aku hentikan gerakan mencabut dan kudorong penisku kedalam untuk kembali menyelam menikmati sensasi gesekan penis dengan dinding vagina yang basah berdenyut tiada henti
“Ouh….” Erangku menahan nikmat
Gerakan keluar masuk penisku di dalam vagina Elah kulakukan berulang dengan kecepatan yang konstan. Jerit lirih kesakitan Elah telah hilang secara total tergantikan oleh sensasi kenikmatan yang juga pertama kali dirasakannya..
“Ouh…Kang….nikmat…, Ouh Kang…. Ouhhhh…” demikian erangan dan lenguhan Elah keluar dari mulutnya berulang-ulang.
Hingga akhirnya pinggul Elah turut bergerak memberikan tambahan sensasi nikmat yang berlebihan bagi diriku maupun dirinya
“Auh…auh… hehh….”Dengusan dan erangan bersatu dalam keriuhan deru nafas kami. Rasa nikmat ini terus melayang-layangkanku dan Elah sehingga erangan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat Elah. Sehingga mengahasilkan suatu konser desahan kenikmatan yang bisa membuat terangsang bagi yang mendengarnya.
Gerakanku dan goyangan pinggul Elah semakin cepat dan mulai kejang-kejang tanpa dapat dikendalikan. Dan deraan nikmatpun semakin membuat kami lupa diri. Aku dan Elah terus mendengus dan mengerang bersahutan dengan gerakan yang sudah tidak beraturan lagi, seolah sedang menggapai nikmat yang semakin lama semakin bertambah tinggi.
“Ouh…Kang…., ouh…nikmat….ouh…..auwh…” Elah semakin meracau
“Oh … Lah…. Oh ….. heks.. heks….” Dengus nikmatkupun semakin nyaring
Tiba-tiba ada dorongan tenaga yang sangat besar dari dalam tubuhku yang tidak bisa kulawan. Badanku melenting kejang kaku, penisku tertanam dalam menekan vagina Elah hingga ke pangkalnya dan dari mulutku keluar jeritan nikmat yang panjang tak tertahan “Aaaahkkks…..”
Pada saat yang samapun Elah mengalami hal yang sama. Badannya melenting, kukunya menancam dipunggungku dan pinggulnya naik menekan selangkanganku serta kepala terdongak dan keluar jeritan panjang “Aaaaaaahhhhkkkks……..”
Sedetik kemudian…. Cret….cret…cret… spermaku keluar dengan derasnya membasahi seluruh rongga liang vagina Elah dan disambut dengan kontraksi yang sangat hebat dari dalam liang vagina Elah yang memeras dan memijit-mijit batang penisku serta menghisap-hisap seluruh sperma yang terpancar dari ujung penisku menghasilkan suatu puncak kenikmatan yang tak terbandingkan secara bersamaan yang kami rasakan.
Setelah itu, kurasakan badanku seolah melayang ringan jatuh terhempas diatas tubuh Elah yang juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan..
“Hhwahhhhhsss…..” napas kami keluar seperti orang yang sangat kelelahan. Dengan napas yang ngos-ngosan kami saling berpandangan dengan rasa puas dan nikmat. Kemudian bibirku mencium mesra bibir Elah dan disambutnyapun dengan mesra “Wuih…. enak banget Kang…., baru kali ini Elah merasakan hal yang seperti ini “ katanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal
“Akang juga sama geulis….. Ini adalah pengalaman pertama Akang..” jawabku.
Kemudian badanku kugulirkan kesamping tubuh Elah sehingga penis tercabut dari liang vagina Elah. Kuperhatikan ada lelehan sperma kental yang berwarna putih bercampur dengan warna kemerahan yang keluar dari liang vagina. Rupanya Elah memang benar-benar masih perawan. Jadi selama ini pacarnya belum memerawani Elah secara sempurna, mungkin karena kondisi lingkungan Aliyah atau pasentren tidak memungkinkan mereka berdua dapat melakukan persetubuhan dengan tenang sehingga percumbuan yang mereka lakukan selalu terburu-buru, sehingga pacar Elah yang dulu hanya memikirkan bagaimana agar spermanya cepat keluar tanpa bisa menembus selaput dara Elah yang mesih menjaga keperawanannya.
Kami berpelukan cukup lama mengumpulkan semua kesadaran yang sempat hilang sambil menormalkan helaaan napas yang tersengal-sengal akibat percumbuan yang demikian lama.
Sambil berbaring kuperhatikan tubuh gadis cantik yang biasanya berjilbab ini dalam keadaan telanjang tergolek lemah. Oh… betapa indahnya…, betapa putih dan mulusnya…, tanganku membelai dan mengusap tubuh indah yang basah oleh keringat ini. Matanya memandangku mesra dan bibirnya tersenyum manis menggiurkan. Kucium lagi bibir lembutnya dan tanganku membelai serta meremas buah dadanya yang montok merangsang.
Tak terasa gairahku bangkit kembali, perlahan namun pasti penis mulai mengeras kembali. Dan Elahpun merasakan hal yang sama, gairahnya mulai bangkit kembali dan kembali kami berciuman dan berpelukan bergulingan di kasur.
Kami kembali bercumbu dengan penuh gairah dan penisku kuarahkan kembali ke liang vaginanya. Kali ini penisku dapat masuk dengan mudah, dan persetubuhan kali inipun berlangsung lebih panas dan lebih menggairahkan dari percumbuan sebelumnya.
Percumbuan kami terhenti setelah aku melihat waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam. Maka dengan terpaksa aku pamit pulang dengan janji akan mendatanginya lagi malam minggu berikutnya.
Malam minggu berikutnya, aku mendatanginya dengan harapan kami bisa kembali mereguk kenikmatan secera bersama-sama. Namun harapanku tak terlaksana karena ternyata dia sedang haid dan lagi pula keluarga kakaknya ada di rumah. Dan sebagai gantinya saat itu Elah memang betul-betul menservisku secara sempurna di ruang tamu. Dengan mengenakan jilbab dan baju longgar, Elah mengoral penisku dengan cara yang sangat bervariasi sehingga spermaku sampai muncrat membasahi wajah dan baju yang dia kenakan. Sungguh luar biasa pelayanan sex dari gadis berjilbab ini.
Hari sabtu berikutnya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu padaku, sekitar jam 1 siang, Elah datang ke rumahku mengendarai mobil Jimny dengan mengenakan pakaian seperti biasa yaitu jilbab lebar dengan baju longgar yang panjang..dan saat itu memang aku tidak ada jadwal kuliah.
“Yuk, Kang kita jalan-jalan malam mingguan ke pemandian air panas Ranca Upas di daerah Ciwidey..!” Ajaknya padaku.
“Pake apa dan dengan siapa ?” tanyaku
“Pake Jimny itu, Kang. Kita berdua aja..” jawabnya sambil menunjuk Jimny putih yang diparkir di depan rumahku.
“Tapi Akang belum bisa nyetir..” kataku malu-malu
“’Ga apa-apa atuh, Kang. Biar saya aja yang nyetir. Cuek aja…” jawabnya pula
“Ok dech, kalo gitu mah…” jawabku bersemangat
Aku siap-siap dan tak lama kemudian kami berangkat. Di perjalanan Elah bercerita bahwa mobil Jimny itu adalah milik kakaknya yang nomor dua yang sekarang sedang menginap di rumah kakaknya yang pertama, jadi di rumahnya saat ini ramai dengan keponakannya. Sehingga daripada menggangu kemesraan kami, maka Elah berinisiatif padaku untuk bermesraan di luar rumah. Tentu saja aku gembira mendengar ceritanya.
Sepanjang perjalanan tangan kananku selalu mengusap-ngusap paha Elah yang tertutupi olah rok panjangnya. Namun tetap saja mampu memberikan kehangatan dan rangsangan kenikmatan pada diri Elah yang bisa membuat matanya merem-melek merasakan sensasi nikmat dan napasnya melenguh nikmat sambil tetap konsentrasi pada kemudi yang sedang dipegangnya.
“Jangan terlalu akh Kang…, nanti celaka….! Lagi di jalan nich..!” katanya dengan napas yang menderu. Aku sadar untuk tidak melakukan hal yang jauh lagi yang bisa mencelakakan kami berdua. Namun usapan dan belaian mesra selalu kulakukan di sepanjang perjalanan itu. Membuat dirinya nyaman dalam perjalan, sehingga tak terasa kami sudah tiba di tempat yang kami tuju sekita jam 4 sore
Kami masuk ketempat itu bagaikan pasangan muda suami istri, karena terlihat sangat mesra. Kami berjalan-jalan sambil berpelukan erat menahan hawa dingin pegunungan di daerah Ciwidey ini, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan romantis. Setelah lelah jalan-jalan, kami menyewa sebuah kamar mandi untuk keluarga yang di dalamnya terdapat kolam air panas dengan ukuran 2 X 2 meter.
Begitu masuk kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi kami langsung berpelukan erat dengan bibir yang saling berpagut mesra. Percumbuan itu kami lakukan cukup lama sambil berdiri sehingga akhirnya kami hentikan dan kubisikan “ sambil berendam air panas Yuk !” ajakku, Elah menatapku mesra dan mengangguk setuju.
Dengan tergesa-gesa kami menanggalkan semua pakaian yang melekat di badan sehingga kami telanjan bulat. Penisku telah berdiri tegak dan Elah dengan gemasnya meremas penisku sambil berkata manja “Iihhh … ini burung, kok sudah berdiri tegak lagi. ?” diakhiri dengan mengecup mesra kepala penisku. Aku hanya tersenyum bangga melihat kelakuan Elah yang menggemaskan ini.
Kemudian dia kembali berdiri tegak. Tampaklah putting buah dadanya sudah tegak menantang dan secara spontan bibirku langsung menghisapnya dengan penuh gairah Elah mengeluh “Uuhh…” tapi mendorong badanku seraya berkata “katanya pingin sambil berendam…?” protesnya sambil tersenyum. Maka kubimbing Elah dan kami berduapun masuk ke dalam kolam air panas yang kedalamannya hanya sebatas pinggang.
Di dalam kolam, air panas itu begitu menghangatkan dan membuat nyaman di tengah suasan pegunungan yang dingin menusuk tulang. Kami berpelukan dan berpagutan bibir dengan gairah yang berapi-api, tanganku meremas-remas buah dadanya yang montok membulat, badannya kesandarkan dipinggir kolam. Lalu mulutku mulai menyosor buah dada menggemaskan itu penuh dengan nafsu, bibirku menghisap dan mengecup seluruh bagian buah dada itu, dan lidahku menjilat-jilat dan akhirnya mengulum dan menghisap putting susu yang semakin tegak menjulang.
“Ouh…ouh…..” erangan Elah mulai terdengar sambil meremas-remas rambutku dan terkadang menariknya dengan cengkraman yang seperti sedang menahan nikmat yang tak tertahan. Kemudian dengan ganas tangannya menarik kepalaku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya da bibirnya langsung menyosor bibirku dengan nafsu yang menggebu dan napas yang memburu.
Ciuman Elah begitu liar, lidah dan bibirnya menyusuri bibir, pipi, telinga lalu turun ke leher, menghisap-hisap leherku membuat aku terpejam menahan nikmat dan rangsangan yang semakin menggila. Kemudian bibir dan lidahnya turun menjilati dadaku hingga ke putting susuku yang telah berdiri kaku. Tangannya bergerak ke bawah kedalam air kolam yang hangat menggapai penisku yang sangat tegang dan mengocoknya dengan irama yang menghanyutkan memberikan kenikmatan tiada henti.
Tangan kiriku merengkuh tubuhnya memeluk erat, bibirku mencium bibirnya dan menghisapnya dalam penuh nafsu serta tangan kananku mengarah ke vaginanya mengusap dan mengobel seluruh permukaan vaginanya. Tubuh Elah mulai tak bisa diam, bibirnya melepaskan dir dari pagutanku dan kepalanya terdongak ke belakang serta mengerang “Ouh….ouhh….Kang…..ouh…”
Erangannya semakin meningkatkan nafsuku semakin tinggi dan tinggi. Jariku mulai mencari celah lipatan liang vagina Elah dan mengoreknya dari bawah hingga ke atas menuju klitorisnya yang sudah semakin membesar menonjol keras. Dan begitu jari tengahku menyentuh dan menekan klitorisnya, Erangan Elah semakin keras “Auh…Ah..”
Jariku terus mempermainkan vaginanya. Pinggul Elah bergoyang dan bergetar menahan nikmat yang kuberikan desisan dan erangannya semakin nyaring “Ouh…..”.
Akhirnya jari tengahku menussuk liang vagina Elah, Tubuh Elah bergetar, matanya mendelik serta menjerit “Auwh…..auw…” Gelinjang tubuh Elah semakin liar.
Jari tengahku semakin mengocok-ngocok vagina Elah keluar masuk masuk dengan cepat hingga ke pangkal jariku.
“Oh … Kang…. Elah …’ngga tahan…Elah…ngga tahan…” racaunya… lalu
“Oh…Kang…. Masukkan…masukkan….ouh…” pintanya padaku memelas dengan nafas yang semakin tersengal-sengal diburu nafsu yang semakin membludak.
Sebenarnya akupun sudah tak tahan ingin segera memasukkan penis tegangku ke dalam vaginanya yang nikmat. Aku arahkan penis tegangku ke vagina Elah, kakiku kutekukkan, Elah membuka pahanya memberi jalan bagi penisku, tangan kanannya meraih penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat didepan liang vaginanya. Setelah dirasakannya pas, dia memajukan pinggulnya.Aku langsung mengerti pantatku mendorong penisku dan
Blesss….perlahan-lahan penisku masuk……”Ouh….” Elah mengerang sambil memejamkan matanya rapat-rapat seolah sangat menikmati proses itu. Aku merasakan proses penetrasi di dalam air hangat ini memberikan sensasi nikmat yang sangat berbeda. Nikmat luar biasa “Wwhohh…” Akupun mendesah nikmat…
Pantatku semakin kutekan dalam-dalam sehingga seluruh penisku dapat masuk hingga ke pangkalnya, kaki Elah terangkat dan tangannya memeluk erat tubuhku. Lalu kami diam selama beberapa saat menikmati penetrasi didalam air hangat yang nikmat luar biasa..Dinding vagina Elah berdenyut-denyut memberikan sensasi kenikmatan yang membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat.
Perlahan-lahan aku mulai menggoyang pantatku agar penisku bisa keluar masuk vagina Elah memberikan gesekan antara batang penis dan dinding liang vagina Elah yang semakin berdenyut dan menghisap-hisap liar batang penisku. Aku semakin melayang dan Elahpun semakin mengerang dan mengeluh nikmat “Ahhh…”
Pinggul Elah turut bergoyang erotis didalam air memberikan tambahan sensasi nikmat. Air kolam bergolak seiring dengan gerakan kami yang makin lama semakin cepat dan liar. Bunyi berkecipaknya air kolam bersatu padu dengan erangan serta lenguhan Aku dan Elah yang saling bersahutan.
Makin lama gerakan kami makin tak terkendali, riak dan bunyi berkecipaknya air semakin nyaring. Dan erangan dan lenguhan Elah sudah berganti dengan jeritan-jeritan nikmat yang semakin tak dapat dikendalikannya
“Aouh…aouhhh…oh…oh…..”
Dengusankupun semakin cepat seiring dengan gerakan pantatku yang semakin menghentak-hentak cepat dan keras membuat tubuh Elah terlonjak-lonjak. Hingga akhirnya aku merasakan desiran darahku mengalir begitu cepat dan melemparkan tubuhku tinggi melayang. Pantatku kehentakan keras kedepan hingga seluruh penisku menancap dalam hingga ke pangkalnya di dalam vagina Elah. Badanku melenting kaku dan dari mulutku keluar teriakan tertahan “Aaakkhhhhss…”
Pinggul Elahpun menyambut tekanan pantatku dengan arah yang berlawanan membuat kedua selangkangan kami menempel erat. Badannya melenting kaku dan dari mulutnyapun keluar teriakan panjang menahan nikmat “Aaaaaaaaaahhhhkkkk….”
Sesaat kemudian…
Cret…cret…cret….spermaku menyemprot dengan deras di dalam vagina Elah disambut dengan denyutan vagina Elah sangat keras memijit dan memeras badan penisku serta hisapan-hisapan yang menyedot habis seluruh spermaku di dalam veginanya.
Kedua tubuh kami terdiam kaku menikmati puncak orgasme secara bersamaan dalam suasana sensasi nikmat yang sukar diucapkan. Mataku berkunang-kunang menahan nikmat yang menghilangkan hampir seluruh kesadaran yang ada dalam diriku. Perasaan kami seolah-olah sedang melayang tinggi, lalu
“Hhhooahhhh….” Secara bersamaan kami mengeluarkan napas lepas merasakan tubuh kami melayang jatuh terhempas ke dasar jurang yang sangat dalam. Riak air kolam perlahan-lahan mulai tenang, seiring tenangnya tubuh kami menyisakan rasa cape dan lelah yang teramat sangat.
Sesaat kami merasakan tubuh kami lunglai tak bertenaga di dalam air kolam yang hangat. Sambil berpelukan kami menjaga keseimbangan agar tidak tenggelam ke dasar kolam merasakan sisa-sisa kenikmatan dan kepuasan yang masih terus kami rasakan selama beberapa saat.
Setelah kesadaran dan tenaga kami berangsur-angsur pulih. Kami lanjutkan dengan mandi dan bercengkrama mesra di dalam kolam. Setelah cukup puas mandi berendam, kami keluar dari kolam dan berpakaian dengan perasaan yang sangat bahagia. Aku semakin merasa cinta pada gadis berjilbab yang luar biasa ini.
Kami pulang dari Ranca Upas sebelum magrib dan tiba di rumah Elah sekitar jam 8 malam. Dan karena suasan rumah sangat ramai oleh keluarga kakaknya Elah, maka aku tidak berlama-lama di rumahnya dan akupun pamit pulang.
Sejak saat itu aku semakin memantapkan diri untuk menjadi kekasih Elah dan kami saling mencintai. Aku sudah melupakan perasaanku pada cewe teman sekampusku yang tadinya akan kupacari, karena aku telah menemukan seorang gadis berjilbab yang bisa memberikan kebahagiaan padaku.
Namun enam bulan setelah aku mengikat hubungan cinta dengan Elah. Suatu hari Elah menemuiku sambil menangis. Dia bercerita bahwa dia telah dilamar oleh mantan pacarnya waktu di pasantren dulu yang ternyata sampai sekarang masih mencintainya dan lagipula dia merasa berdosa pada Elah karena telah menodai Elah pada waktu mereka masih di pasantren Tasikmalaya. Ternyata mantan pacar Elah itu adalah putra seorang ulama yang cukup ternama di daerah Tasikmalaya dan keluarga Elah sangat setuju atas lamaran tersebut.
Mereka memaksa Elah untuk menerima lamaran tersebut membuat Elah tidak berdaya untuk menolaknya. Dengan perasaan duka yang sangat dalam aku tidak dapat berbuat banyak. Terpaksa aku relakan Elah yang sangat kucintai ini untuk menikah dengan orang lain.
Oh…Elah…semoga engkau bahagia dengan suamimu….
TAMAT