TIA

Nasib itu ada di tangan Tuhan. Seringkali aku memikirkan kalimat ini. Rasanya ada benarnya juga. Tapi apakah ini nasib yang digariskan Tuhan aku tidak tau mungkin lebih tepat ini adalah godaan dari setan. Seperti pagi ini ketika di dalam bus menuju ke kantor aku duduk di sebelah akhwat cantik dengan jilbab dengan tinggi 150 cm, umur sekitar 27 tahun, bertubuh sekal dan berkulit putih (keliatan dari kulit wajah dan telapak tangannya).

 Mula-mula aku tidak perduli karena hobiku untuk tidur di bis sangat kuat namun hobi itu lenyap seketika ketika akhwat berjilbab di sebelahku menarik tas dipangkuannya untuk mengambil hp-nya yang berdering. Sepasang paha montok tercetak jelas dari rok biru tua panjang nan ketat yang dipakainya. Pemandangan itu cukup menarik sehingga menggugah seleraku menjadi bangkit. Aku lantas mencari akal bagaimana memancing percakapan dan mencari informasi. Sepertinya sudah alamnya ketika kita kepepet seringkali ada ide yang keluar.

 Saat itu setelah dia selesai menelefon tiba-tiba mulutku sudah meluncur ucapan ,”Wachhh… hobinya sama juga yach !”

 Sejenak dia memandangku bingung, mungkin berpikir orang ini sok akrab banget sich

 “Hobi apaan ?” tanyanya.

 “Itu nitip absen”, sahutku dan dia tertawa kecil.

 “Tau aja kamu. Dasar tukang nguping”, sahutnya.

 Akhirnya obrolan bergulir. Selama percakapan aku tidak menanyakan nama, pekerjaan maupun teleponnya, tapi lebih banyak cerita lucu.

 Sampai akhirnya dia ngomong “kamu lucu juga yach.., nggak kaya cowok yang laen.”

 “Maksud kamu ?” tanyaku lagi.

 “Biasanya mereka baru ngobrol sebentar udah nanya nama terus minta nomor telepon.”

 Setelah itu kami saling berkenalan. Perempuan muda berjilbab bernama Siti Fathiya, biasa dipanggil Tia. Obrolan terus berlanjut sampe dia turun di Thamrin dan aku terus ke kota. Dua hari kemudian aku bertemu dia lagi. Akhwat manis berjilbab itu menghampiriku dan duduk disebelahku sambil bercerita bahwa teman-temannya penasaran karena dia Hari itu punya banyak cerita konyol. Pagi itu kami menjadi lebih akrab.

 Sambil bercanda tiba-tiba dia berkata “Kamu pasti suka maen cewek yach, soalnya kamu jago ngobrol banget. Pasti banyak cewek di bis ini yang kamu pacarin”

 Sumpah mati aku kaget sekali denger omongan dia. Kayanya maksud aku buat kencan ama dia udah ketauan. Akhirnya karena udah nanggung aku ceritain aja ke dia kalo aku sudah beristri dan punya anak. Ech rupanya dia biasa aja, justru aku yang jadi kaget karena ternyata dia sudah nggak perawan lagi karena pernah MBA waktu lulus sekolah dulu. Sekarang dia sudah bercerai. Wuichhh, nggak nyangka banget kalo doi ternyata janda muda. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Obrolan sudah lebih ringan arahnya. Akupun mulai memancing obrolan ke arah yang menjurus sex. Keakraban dan keterbukaan ke arah sex sudah di depan mata.

 Sampai suatu sore setelah dua bulan perkenalan, kami janjian pulang bareng. Hari itu dia mengenakan jilbab merah muda sewarna dengan hem dan rok panjangnya. Posisi duduk kami sudah akrab dan menempel. Bahkan Tia tidak sungkan lagi mencubit aku setiap dia menahan tawa atau tidak tahan aku goda. Beberapa kali ketika dia mencubit aku tahan tangannya dan dia tampaknya tidak keberatan ketika akhirnya tangan kirinya aku tumpangkan di pahaku dan aku elus-elus lengannya yang tertutup hem lengan panjangnya sambil terus ngobrol.

 Akhirnya dia sadar dan berbisik, “Wachh, kok betah banget ngelus tanganku, entar lengan bajuku jadi kusut lho.”

 “Habis gemes ngeliat muka manis kamu, apalagi bibir tipis kamu,” sahutku sambil nyengir.

 “Dasar gila kamu,” katanya sambil menyubit pahaku.

 Serrrrrr…, pahaku berdesir dan si junior langsung bergerak memanjang. Aku lihat bangku sekelilingku sudah kosong sementara suasana gelap malam membuat suasana di dalam bis agak remang-remang. Aku angkat tangan kirinya dan aku kecup lembut punggung jarinya. Janda muda berjilbab itu hanya tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. Akhhhhh… sudah ada lampu hijau pikirku.

 Akhirnya aku teruskan ciuman pada punggung jarinya menjadi gigitan kecil dan hisapan lembut dan kuat pada ujung jarinya. Tampaknya dia menikmati sensasi hisapan di jarinya. Wajahnya yang dihiasi jilbab itu tampak sendu terlihat cantik sekali. Dan akhirnya dia menyender ke samping pundakku

 Ketika bis memasuki jalan tol, aktivitas kami meningkat. Tangan kananku sudah mengusap payudaranya yang putih berukuran 36 B dari luar kemeja merah mudanya. Terasa padat dan kenyal. Lalu perlahan jemariku membuka kancing kemejanya satu persatu dan menyusup kedalam BH miliknya. Putingnya semakin lama semakin mengeras dan terasa bertambah panjang beberapa mili.

 Sementara itu tangannya juga tidak tinggal diam mulai mengelus-ngelus kontolku dari luar. Setelah beberapa menit kemudian tiba-tiba sikapnya berubah menjadi liar dan agresif. Dia tarik ritsletingku dan terus merogoh dan meremas kontolku yang sudah tegang. Tanganku yang di dada ditarik dan diarah kan ke selangkangannya. Aku tidak dapat berbuat banyak karena posisinya tidak menguntungkan sehingga hanya bisa mengelus paha dari luar rok panjangnya saja. Aktifitas kami terhenti kala hampir tiba di tujuan. Dan dengan nafas yang masih tersengal-sengal menahan birahi kami merapikan pakaian masing-masing. Turun dari bis aku bilang mau anter dia sampai dekat rumahnya.

 Aku tau kita bakal melewati pinggir jalan tol. Daerah itu sepi dan aku sudah merencanakan untuk menyalurkan hasratku di daerah itu. Tampaknya janda muda berjilbab itu juga memiliki hasrat yang sama. Ketika berjalan, tangan kirikuku merangkul sambil mengelus payudaranya dari luar hem merah muda lengan panjang yang dikenakannya. Dan ketika kita melewati jalan yang sepi tersebut secepat kilat tangan kananku meraih kepalanya yang dibalut jilbab merah muda model modis dan langsung mencium dan melumat bibir tipisnya itu. Dengan cepat pula akhwat berjilbab itu menyambut bibirku, menghisap dan menyedotnya. Tangannya langsung beraksi menurunkan ritsleting celanaku dan aku sendiri langsung mengangkat rok panjang model ketat miliknya. Rrrretttttt… aku tarik kasar cdnya…, jariku langsung menyelusup masuk ke memeknya terasa hangat dan licin. Rupanya dia sangat terangsang sejak di bis tadi. Di tengah deru nafasnya

 Tia berdesah : “Ayo mas… masukin aja… aku kepengen banget nech. Hhhhhh…

 “Sebentar sayang”, sahutku, “Kita cari tempat yang aman.”

 Aku tarik dia melewati pagar pengaman tol dan ditengah rimbun pohon aku senderkan dia dan setelah menarik rok panjang model ketatnya itu sampai sepinggang Lalu buru-buru kuloloskan celana dalamnya kemudian kuangkat kaki kanannya. Sengaja celana dalamnya kusangkutkan di pergelangan kakai kanan yang kuangkat itu biar celana dalamnya tidak kotor menyentuh tanah. Dengan bernafsu aku buka celanaku dan megarahkan kontolku ke memeknya tapi cukup sulit juga. Akhirnya dia menuntun kontolku memasuki memeknya.

 ?Emmhhh…!?, kepala janda muda berjilbab merah muda itu mendongak sembari melenguh tatkala ujung kontolku mulai penetrasi kedalam memeknya.

 Luar biasa, itulah sensasi yang aku rasakan ketika kontolku mulai menyeruak memasuki memeknya yang sudah dibasahi cairan nafsu. Ditengah deru mobil yang melintasi jalan tol aku memompa pantatku dengan gerakan pelan dan menghentak pada saat mencapai pangkal kontolku. Tia menyambut dengan menggigit pundakku setiap aku menghentak kontolku masuk kedalam memeknya.

 “Ooochhhh… auchhhh… Masssss… oochhh…”, desahnya. Birahi dan ketegangan bercampur aduk dalam hatiku ketika terdengar suara orang melintasi jalan dibalik pagar.

 Namun lokasi kami cukup aman karena gelapnya malam dan terlindung pohon yang cukup lebat. Bahkan mungkin orang yang berjalan itu tidak akan berpikir ada sepasang manusia yang cukup gila untuk ber cinta di pinggir jalan tol tersebut.

 “Gantian mas… aku cape”, katanya

 Aku lantas duduk menyandar dan perempuan muda berjilbab merah muda itu memegang rok panjang yang kusingkap tadi agar tidak jatuh kebawah. Kemudian Tia mulai berjongkok mengarahkan memeknya. Ketika kontolku kembali menyeruak diantara daging lembut memeknya yang sudah licin, sensasi itu kembali menerpa diriku. Sambil memegang bahuku, dia mulai menekan pantatnya dan menggerakan pinggulnya dengan cara menggesek perlahan, maju mundur sambil sesekali memutar. Kenikmatan itu kembali mendera dan semakin tinggi intensitasnya ketika aku membantu dengan menekan keatas pinggulku sambil menarik pantatnya. Desahan suaranya makin keras setiap kali kemaluan kami bergesekan, “uchhhhh… ssshhh… uchhhhh…”.

 Mataku sendiri terpejam menikmati rasa yang tercipta dari pergesekan bulu kemaluan kami sambil terus menggerakkan pinggul mengimbangi gerakannya.

 “Terus sayang… ayo terus”, desahku.

 Keringat sudah membasahi punggungnya dan gerakan kami sudah mulai melambat namun tekanan semakin ditingkatkan untuk mengimbangi rasa nikmat yang menjalar disekujur tubuh kami dan terus bergerak ke arah pinggul kami, berkumpul dan berpusar di ujung kemaluan kami. Berdenyut dan ujung kontolku mulai siap meledak, sementara perempuan berjilbab ini mulai mengerang sambil menjepitkan memeknya lebih keras lagi.

 “Hegghhhhhh… hhhegghhhh… heghhh… terus mas… sodok… sodok terussss… mas… yachhh… disitu… terus… terussss… ooocchhhhhhh”, dengan desahan panjang sambil mendongakkan kepalanya yang terbungkus jilbab.

 Tia menekan dan menjepit keras kontolku sementara memeknya terus berdenyut-denyut.

 ?Mass…mmhh…oouuccchh…?, pekiknya tertahan sembari menundukkan kepalanya yang berjilbab itu tatkala mencapai puncaknya. Aku hanya bisa terdiam sambil memeluk tubuhnya menunggu dia selesai orgasme

 Ketika jepitannya mulai mengendur aku langsung bereaksi meneruskan rasa yang tertunda itu, tanpa basa basi rasa nikmat itu mulai menerjang kembali, berkumpul dan meledak menyemburkan cairan kenikmatanku ke dalam memeknya. Aku sodokan kontolku sambil menekan pinggulnya sementara kakiku mengejang menikmati aliran rasa yang menerjang keluar dari tubuhku itu. Setelah beristirahat beberapa menit kami saling memandang… akhirnya tersenyum dan tertawa.

 “Kamu memang bener-bener gila, tapi jujur aku sangat menyukai bercinta dengan cara seperti ini. Aku belum pernah senikmat ini bercinta.” akunya.

 “He.. he.. he.. sama donk”, kataku sambil mengecup bibir sang janda muda berjilbab yang tipis itu sementara kemaluanku mulai mengendur di dalam memeknya.

 Setelah itu kami merapikan pakaian masing dan berjanji untuk mengarungi kenikmatan seks ini untuk hari-hari mendatang.

NISA

namaku toni, ak masi kuliah semster 6 namun ak udah sering merasakan enaknya vagina wanita, apalagi mereka yang udah berpengalaman,, tidak jarang aku dugem sendiri untuk mendapatkan tante yang lagi ingin disodok… pagi itu hari minggu aku pulang kira2 jam setengah 8 an, setelah aku parkir mobilku aku melihat rumah sebelah yang kira2 3 blan kosong ada yang menempati,, ak pura2 lewat depan rumah itu, ternyata dia baru pindah kemaren malem, di sapalah aku dengan seorang pria setengah baya

paha ketat seksi-cheche (1)
“mas yang punya rumah sebelah ya? kenalin nama saya karno” sapanya
“eh iya pak, saya toni, mm baru pidah ya pak?”jawabku
“iya mas baru kemaren malem pindah, mari mas masuk dulu”
“iya pak mkasi, saya mau nyuci mobil dulu” ak menolak karna ak capek, “kalo bapk punya anak cantik sih aku masuk tiap har” pikirku dalam hati, bagaikan disambar petir cinta, tiba2 ada suara lembut memeanggil dari jauh
“paa… ada telpon dari om trio nih…”
dan aku pun terdiam kaku bagai si otong yang udah terangsang… “gila cantik bener nih cew, kukejar sampai kapanpun lo” pikirku menggila
“oh ya nis, ini kenalin mas toni yang punya rumah sebelah…”pak karno memperkenalkan bidadari itu padaku.
“eh toni..”langsung kujulurkan tanganku berharap perkenalan ini memulai pagiku di esok hari seranjang dengan dia
“nisa mas” senyum yang indah dengan bibir yang merah, kulit putih, dengan kerudung abu2, dan celana jeans abu2 ketat sungguh membuat ak ingin merasakannya

paha ketat seksi-cheche (2)
hari2 berlalu tiap pagi aku selalu lewat depan rumahnya, melihat dia berangkat sekolah d anter papanya.hingga suatu hari ak berniat kerumah nya, kubeli kue kue untuk pura2 kuberikan ortunya, padahal niatku hanya melihat nisa..
aku berjalan menuju rumahnya.. ” selamat sore pak..tok..tok..tok”
“eh mas toni, masuk mas sini ada apa?” pak karno mempersilahkan aku duduk
“ini pak tadi toni di suruh mama buat beli kue, buat d kasi ke tetangga” aku bingung bnr2 mau alasan apa lagi
“nisa, tolong buatin teh buat mas toni y”
“iya pa” suara lembut itu kembali megangkat gairahku seandainya suara itu terdengar mendesah d depanku dengan hujaman kontolku pasti indah sekali
“eh g usah pak makasi repot2 aja”
“gpp kok skalian ngobrol disini”
kluarlah istrinya dgn memakai piyama, dan anjriitt cantik juga istri bapak ini, beruntung bgt, meski badannya uda kemana2 tapi wajahnya cantik, g slah anaknya bgai cleopatra yang siap di entot, pikirku kembali nakal
tidak lama kami ngobrol, kluarlah bidadariku dengan memakai celana pendek d atas lutut sehingga menyguhkan paha yang gak wajar, putih bgt,, dan tanktop putih yang menyuguhkan keindahan tubuhnya dengan sempurna, saat memberi teh kepadaku dia merunduk terlihat belahan dadanya yang begitu indah… “arrggh udah g kuat nih buruan donk makan kontolku sayang”pikirku udah melayang entah kemana…..

paha ketat seksi-cheche (3)
kami nngobrol lama bgt, si nisa juga ikut nimbrung.. di akhir aku pamit untuk pulang
“pak permisi saya mau pamit, mau ngerjain tugas dulu”
“eh iya ton buru2 masi jam 8 juga”
“hehe, misi pak bu nis..”
mereka tersenyum kepadaku, aku m*****kahkan kaki menuju rumah, karna gak tahan aku pergi dugem, berharap mendapat tante yang haus sex, ternyata d tempat dugem g ada satupun tante yang muncul, yang tamabh bikin bete ada maho menghampiriku, anjrriitt langsung lah aku cabut dengan tangan hampa. tidur lah aku…
pagi hari aku seperti biasa aku melihat rumah sebelah, entah apa yang terjadi sepertinya mereka lagi sedih trus pak karno dan ibu mengangkat koper dan memasuki mobil travel. setlah travel itu pergi aku berpura2 bertamu kesana karena aku tahu nisa tidak ikut pasti dia ma pembantunya dan adiknya yang masi SMP..
“permisi pak karno.tok..tok..tok..”
kluarlah nisa dengan seragam skolahnya dan kulihat matanya agak bengkak seperti abis nangis.. “eh mas toni, papa gak ada mas, baru aja berangkat ke singapura mas”
“loh iya kah, ada apa dek?”
“anu mas papa kuliah disana mas”
“wah hebat ya, btw kamu nangis ya??s2 ato s3 dek??”
“hehe iya lah mas kan bakal g ketemu lama, s2 mas” wajahnya memerah ketika menjawab pertanyaanku
“owh brarti bentar lagi mas liat si pahlawan nganter jemput nisa ke skolah donk??”
“maksut mas?paan sih?”
“maksutku cowo kamu dek yang anter jemput”

paha ketat seksi-cheche (4)
“hahaha mas bisa aja, nisa g punya cowo kok mas, mas aja yang jadi cowo nisa, mau??”dengan ketawa dia menggoda ku
“mau deh barg mas aja ya bsk??”
“hahaha ke GR an nih, dasar cowok dikasi sinyal gitu aja udah pgn nyosor aja”….
akhrnya keesokan harinya dia jalan bareng adiknya buat tunggu angkot d depan rumah, langsung aku samperin dah..
“dek bareng aja gpp, ayok masuk”
“beneran nih mas??”ungkapnya gembira
“iyes masa mas bohong sih, buruan tar telat loh??”
akhirnya aku menjadi pengganti papanya mengantar jemput bidadriku tapi itu kulakukan biar dapet perhatin nisa, hari2 kulalui aku makin deket mas nisa, sering jalan bareng karna ortunya tau aku, kluargaku tau nisa. hingga suatu malem kunyatakan cintaku sama nisa, dia pun menerima cintaku, akhirnya kita pacaran, dan semakin sering aku kerumahnya… hari itu hari sabtu ksuruh pembantuku pulang kampung, dia pun seneng bgt, setelah nganter pembokat kemudian aku jemput nisa diskolah, sesampainya di rumah dia aku mengajaknya kerumah. “eh sayang nonton film yuk d rumah” pintaku
“film apa mas?ayo aja aku ganti baju dulu ya”
“ok ak tunggu sayang”
setelah beberapa menit nisa kluar dari rumahnya memakai kaos lengan panjang berwarna putih, kemudian kerudung abu2 dan celana jeans abu2 seperti pertama aku lihat dia, cantik banget… akhirnya kita berdua kerumah yang kebetulan sepi tanpa penghuni.. kemudian kita nonton film komedi, kupeluk nisa dari belakang ternyata disandarkan kepalanya ke pundakku.. semakin tegang aja jantungku dibuatnya,,,
film itu terasa tidak bercerita karena pikiranku melayang ke tubuh nisa. semakin terangsang aku waktu nisa mengarahkan tanganku ke perutnya dapat kurasakan dadanya empuk bgt.. akhirnya kuberanikan diri buat naikin tanganku ke dadanya, kemudian meremas dadanya secara halus..
“oouhhh” desah nisa dengan tetap melihat film itu.. kulanjutkan dengan memalingkan wajahnya, kusambut bibirnya, tapi ku selingi dengan “iluv u sayang” … dia jawab “luv u too” kupagut bibirnya, dia juga membalasnya bnr2 hari yg indah pikirku, tanganku mulai meremas toketnya yang bnr2 sempurna menurutku karna selama ini ak sering merasakan toket yang udah g perwan lagi karna emang punya tante2.
proses pemanasan sudah berlalu, ciuman panas dan raba2 toket udah terjadi, kemudian ak beranikan membuka kerudungnya, dia pun terlihat pasrah sekali.. aku buka, kulanjutkan membuka bajunya. dia berhenti “mas mau apa??” langsung ku raih bibirnya ku cium biar g ada keraguan…”clop clop clop” suara bibirku berpagut dengan bibirnya, tanganku mulai mengangkat bajunya yang ketat, berhasillah aku membukanya kupagut kembali bibirnya, aktau dia udah terangsang, kemudian kulepas BH nya, langsung ku emut putingnya yang merah keras,, “oouugghhh sayang enakkkk banget”, kuhentikan emutanku, kutanya dia “udah pernah ngrasain ini??” dia pun menggeleng malu sambil tangannya mentupi toketnya, langsung aku lahap kembali toketnya itu kali ini seluruhnya aku lahap..
“oouuggghh sayanngg sshhhhh” tangaku aku rabakan ke bwah, kumasukkan dalam celana, dan kumasukkan ke dalam CD nya, kaget ternyata jembutnya bnr2 tipis, pasti indah nih penampakannya, ak permainkan tanganku menggesek2,”shhhhh ouggghhhh syaaannngg, akkuuu enak masssssss, oouughhh” gila gini aja udah kluar, becek bgt udah, tapi aku lucutin celana n CD nya dan sekarang yang ada di mataku tubuh indahh, dengan meki tanpa jembut menghiasi nya,, aku langsung menjilat mekinya
“aaahhhhhh… aaapppaaaa iniiiii eeenaaakkk bgt aahhhhh. ouughghgh ssshhhh” dia rebahkan badannya ke karpet, dan kakinya semakin menjepit kepalaku…”ahhh truuussinnn massss sshhshshshh”

paha ketat seksi-cheche (5)
kulakukan penjilatan itu sampai akhirnya dia kluar untuk kedua kalinya, kontolku tegang bgt udah, aku arahkan ke mulutnya, dia pun gak mau memakannya,, akhirnya ak balik dia kujilat mekinya kembali…””oouuugghgh mmasss enaakkkk” langsung kerebahkan badanku kuarah kan tubuhnya di atas ku, ak jilat mekinya kuarahkan tangannya mengocok kontolku,,kemudian kubisikkan dia,”dek kamu emut punyaku y?aku emut punyamu, mau??” dia mengangguk tapi bingung caranya gimana, aku arahkan dan akhirnya dia mau memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, abis dah kontolku d makannya…
entah berapa lama kita di posisi 69, ternyata dia begitu emnikmati posisi ini,,,
kemudian aku gendong dia ke kamar yang memang ada peredam karna aku suka latiahn drum d kamar, kurebahkan nisa di kasur, ku angkat kakinya biar ngangkang, kujilat mekinya yg udah basah “ouggh” desahan lembut itu kluar lagi
“dek kumasukkan punya mas ya?enak loh rasanya”
dia pun tak tahu apa yg ku katakan yg jelas dia udah keenakan pasrah karna orgasme udah 2xpaha ketat seksi-cheche (7)

torpedoku kuluncrukan ke lubang kecil yang indah itu, perlahan kumasukkan karna aku tau dia masi perawan,,
“auuww sakit masss jangaannn” dia menjauh dariku
“nisa sayang, percaya deh aku g mungkin bohong, ini enak sayang pertama emang agak sakit, tenang y syg?percaya kn ma aku?”
dia pun mengangguk pasrah sembari membuka kakinya kembalinya, tanpa menunggu kuluncurkan kembali torpedoku perlahan tapi pasti aku mendorong sedikti demi sedikit pinggulku..
“bles” kontolku masuk ke dalam lubang perawan itu
“aauuuuww mmasss pelan2 yaa ssaaakiiitt”
tangannya menggenggam rambutku, kugenjot pelan2, akhirnya dia
“ougggh massss kamu bnr2 enaaakk”
kugenjot lagi pelan2, ak tau dia orgasme kulihat giginya menggigit bantal “aahhhh enaaakkkk ahhh pgn nyoba lagiiiiii”
aku tambahin kecepatan genjotku.. “aahhhhh nisaaaa” desahkku
“ouggghh massss ssssshhhhhh, cepetin massss ougghhh enaaakk”
kuteruskan genjotanku sampai kira2 10 menitan aku hampir kluar, ku genjot dengan lebih cepat,,
“ahhh sayaannngg enaakkkkkssssshhhhhh” desahnya “ooouugghhh aku kluar lagiiiii oouuughhghg”kakinya menegang mencengkram ke badanku
“ooouugghhh kluarin udah yank” kontolku di dalem terasa di siram banyak cairan
“ooouugghhhh aku juga mau kluar nih syang…”kupercepat sampai udah mau nyemprot aku cabut lalu kuarahkan kontolku k tubuhnya kusuruhh tangan nisa mengocok kontolku
“oouughhh akuuu dataaaanngggg” crrooootzzzz crooottt crooott, kluarkah pejuhku membasahi dadanya dan perutnya, aku lap itu dengan tisuuu, kemudian aku peluk nisa “ak syg kamu, besok lagi y??” nisa nangis saambil memelukku “jangan tinggalin aku mas??”

paha ketat seksi-cheche (6)
aku jawab “iya sayang, aku janj” sambil tersenyum dia cium bibirku, kemudian kita berpelukan hingga tertidur,, ternyata hari sudah malam jam 7, akhirnya nisa membersihkan tubuhnya yang berlumuran spermaku, kemudian dia kluar sambil mengecup bibirku kembali “aku sayang kamu, besok lagi y” bisiknya
aku hanya tersenyum melihat dia yang cantik menawrakan keindahan ini lagi
keesokan harinya setelah pulang sekolah aku menyempatkan diri untuk menyetubuhinya, layaknya suami istri kita selalu berhubungan sex tiap hari tanpa bosan karna aku mengajarkan nya gaya yang lain..

RAME-RAME 1 : TARI

“Mmmmpfff….mmmpffff….”
kulihat perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Mulutnya tersumpal celana dalamnya sendiri.
Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Tari namanya. Kulitnya putih mulus. Setidaknya, itulah yang ketika itu terlihat pada kulit wajah dan telapak tangannya. Memang hanya itulah yang bisa terlihat. Ya, sebab ia selalu berbusana tertutup. Jubah panjang dan jilbab lebar.
Aku mencintainya. Cinta sekaligus nafsu. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya, menjadi suaminya. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi. Atau, menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan.
Cintaku padanya belum berubah. Yang berubah adalah caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Tari dalam dekapan lelaki lain. Aku bayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan lelaki lain.
Tari istri yang setia. Tentu saja, dalam imajinasiku itu, Tari tidak sedang berselingkuh.
Sudah dua tahun pernikahan kami ini belum juga mendapatkan buah hati, ya, kami belum punya anak, berbagai usaha dan pengobatan, dokter maupun alternative sudah kami jalani dan belum Nampak hasilnya hingga sekarang. Akhirnya muncullah ide dibenakku ini, sekaligus imajinasi yang luar biasa. Aku tahu, seandainya aku bilang langsung ke istriku dia tidak akan setuju karena memang istriku ini orang yang alim dan selalu menjaga dirinya.
Dan kini imajinasiku itu mewujud nyata. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya.

TARI

TARI

Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Tari, seorang istri setia yang alim. Di depan suaminya sendiri. Atas perintah suaminya sendiri.
Tentu saja, Tari tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat.
Tiga lelaki itu, kukenal lewat internet. Searching sekian lama lewat milis-milis tentang fantasi liar atas gadis-gadis berjilbab.
Tidak mudah menemukan orang yang bisa dipercaya di internet. Apalagi, untuk berbicara hal yang sangat sensitif: gadis berjilbab. Tapi akhirnya kudapatkan juga tiga lelaki yang kini jadi kawan akrabku ini. Mereka satu kota denganku. Ini untuk memudahkan komunikasi dan aksi.
Ketika aku mulai yakin tentang keseriusan mereka, kontak dilanjutkan lewat HP. Lalu, kami sepakat bertemu. Pertemuan itu membuatku makin yakin. Sebab, saat itu kami saling bertukar informasi detail tentang diri kami masing-masing.
Lelaki pertama, Al masih kuliah di Fakultas Kedokteran. Aku langsung menyukainya. Bagaimanapun, aku tak ingin istriku disetubuhi lelaki yang ‘kotor’. Perawakan Al mirip denganku.
Al mengaku tak pernah main pelacur. Tetapi, katanya, tak kurang 3 mahasiswi pernah ditidurinya. Dua yang pertama, sekarang sudah jadi mantan pacarnya. Sedang yang terakhir, masih jadi pacarnya. Yang menarik, pacarnya ini berjilbab.
“Mungkin karena keseringan nidurin dia, saya jadi terangsang kalau melihat perempuan berjilbab,” katanya.
Lelaki kedua Bob, seorang pengusaha agrobisnis. Aku juga suka begitu melihatnya. Ia seorang lelaki yang matang. Umurnya 10 tahun di atasku. Yang aku suka, perutnya gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Tari yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut.
Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati yang cantik dan berjilbab. Ia bahkan memperlihatkan foto gadis itu kepada kami. Memang cantik.
Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya. Tetapi, gadis itu selalu menolaknya.
“Setelah bermain-main dengan Tari, aku ingin kalian membantuku memperkosa Anisa,” katanya.
“Boleh. Dengan senang hati. Kalau cewek lu Al, boleh nggak kita perkosa ?” kataku.
Al terlihat agak kaget.
“Ehh, gimana ya ?” katanya.
“Iya Al, pacarmu itu kan udah nggak perawan toh ? Kamu nggak usah khawatir. Nanti kita bikin dia nggak tahu kamu ikut merancang perkosaannya,” timpal Bob.
“Well, okelah,” akhirnya Al setuju.
“Semua sudah setuju barter cewek berjilbab. Terus kamu gimana Ben ?” kali ini aku menoleh ke Ben, lelaki ketiga.
Aku juga suka Ben. Tubuhnya kekar. Kulitnya hitam, sepertinya keturunan Arab. Melihatnya, aku langsung membayangkan Tari menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis Arab.
“Ane nggak punya istri atau pacar berjilbab. Tapi jangan khawatir, paman Ane punya kos-kosan yang penghuninya jilbaban semua. Ane punya cewek favorit di situ. Ntar kite atur gimana caranya nyikat die,” sahut Ben. Gaya ngomongnya memang mirip Said di sinetron Bajuri.
“OK guys, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Rencana aksi kita atur lewat email, oke ?” kataku mengakhiri pertemuan.
***
Lewat email, kukirimkan kepada tiga maniak itu foto-foto Tari. Close up wajahnya yang lembut. Full body dengan jubah dan jilbab lebar. Hingga foto-foto curian saat ia tertidur dengan jubahnya yang sengaja kusingkap hingga ke pinggang. Juga saat ia tertidur kecapekan setelah bermain tiga ronde denganku. Ini foto favoritku. Sengaja kuminta ia tetap berjilbab putih lebar dan berjubah hijau muda saat aku menyetubuhinya.
Ketika usai, kupeluk ia sampai tertidur lelap. Lalu, diam-diam aku bangun dan memotretnya. Tari terlentang dengan kaki mengangkang. Jubahnya tersingkap sampai ke pinggang. Dari celah vaginanya terlihat menetes spermaku. Jubah di bagian dada juga kubuat terbuka dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang montok dengan puting yang menegang.

TARI

TARI

Sejumlah skenario kami bahas lewat email. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik Tari dan membawanya ke salah satu rumah Bob yang besar. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar rumahnya itu. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Tari.

Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Tari akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Aku bersorak melihatnya menyiapkan jubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Ini memang pakaian favoritku. Selalu saja aku tergoda untuk menyetubuhinya jika ia mengenakan pakaian itu.
Aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob.
Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Tari. “Sudah mandi, sayang ?” kataku.
“Barusan selesai,” sahutnya.
“Sekarang lagi apa ?”
“Lagi mau pake baju, hi hi…” katanya manja.
“Wah, kamu lagi telanjang ya ?”
“Hi hi… iya,”
“Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !” kataku.
“Iya sayang, ini lagi pake BH,” sahutnya lagi.
“Ya udah, aku kerja dulu ya ? Cup mmuaachh…” kataku menutup telepon.
Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Tari tak akan bisa mengintip siapa yang datang.
Bob, Al dan Ben turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci.
Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Al sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.
“Matanya sudah ditutup Al ?” kataku.
“Sudah bos. Mbak Tari sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut,” katanya.
Memang, kulihat Bob dan Ben sedang menggotong Tari yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu sudah berjubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Kedua tangannya terikat ke belakang.
Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Tari yang terbaring di jok tengah.
“Ha ha… gampang banget,” kata Bob.
Aku menelan liurku ketika jubah Tari disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka kini berebut menjamah vaginanya !
Ben bahkan telah membuka bagian dada jubah Tari dan menarik keluar sebelah payudaranya dari BH. Lalu, ia menghisapnya ! Tari merintih-rintih. Gila, aku menikmati betul pemandangan itu.
“Udah, ayo berangkat,” kata Bob. Kulihat jari gemuknya sedang mengorek-ngorek vagina Tari.
***
Itulah yang kini terjadi. Tari terikat dengan tangan terentang ke atas. Ben tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.
“Pak Bob, sampeyan ngerokok kan ? Tari benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya,” bisikku kepada Bob. Bob mengangguk.
Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Tari, tapi aku leluasa melihatnya.
Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Tari. Dilepasnya penutup mata Tari. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot.
Rontaan Tari makin menjadi ketika Bob menyampirkan jilbab putih lebarnya ke pundak. Apalagi, kulihat tangan Ben sudah berada di balik jubahnya. Pinggul Tari menggeliat-geliat.
“Ben nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Tari,” kata Al yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.
“Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana,” kataku.
“Oh iya. Lupa !” kata Al sambil ngakak.
Bob terlihat menarik lepas celana dalam Tari yang menyumbat mulutnya.
“Lepaskaaaan…. mau apa kalian… lepaskaaaan….!” langsung terdengar jerit histeris Tari. Jeritan marah bercampur takut.
“Tenang Mbak Tari, kita cuma mau main-main sebentar kok,” kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Tari. Kulihat Tari melengos dengan kening berkerut.
“Ya nggak sebentar banget, Mbak. Tuh si Arab dari tadi maenan memek Mbak,” kata Al. Ia berjongkok di hadapan Tari. Disingkapkannya bagian bawah jubah Tari. Diclose-upnya jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.
“Memek Mbak rapet sih. Ane betah maenan ini searian,” timpal Ben.
“Aaakhhh… setan… lepaskaaann…nngghhhh…” Tari meronta-ronta. Telunjuk Al ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya.
Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Tari dari luar jubahnya.
“Lepaskaaaan… jangaaann…. setaan….mmmfff…..mmmmfffff….mmmpppfff….” Jeritan Tari langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.
Mata Tari mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al mengclose-up ciuman dahsyat itu.
Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Tari terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Tari terbatuk-batuk.
“Ciuman yang hebat, Jeng Tari. Sekarang aku mau mencium memekmu,” kata Bob.
Tari masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat.
Bob berlutut di hadapan Tari. Ben dan Al membantunya menyingkapkan bagian bawah jubah Tari dan merenggangkan kedua kakinya.
“Wow, memek yang hebat,” kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Tari yang tak berapa lebat. Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini.
Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Tari. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Al meng-close-upnya dengan handycam.
Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Tari. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Tari lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Tari yang terbuka.
“Uhug…uhug…aaaakkhhh… aaaaakkhhh….aaaaakkkhhhh…” Tari menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.
“Aaakhhhh… panaaassss….adududuhhhh….” Tari terus menjerit dan meronta-ronta.
Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku. Kulihat Al mengclose up asap yang mengepul dari vagina Tari.
Tari kini terdengar menangis. Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada jubah istriku. Tari memekik. Begitu pula ketika Bob merenggut putus bra-nya. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya.

Kulihat Ben kini berdiri di belakang istriku. Penisnya mengacung, siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain.
Kuberi kode kepada Al agar mendekat.
“Tolong tutup lagi matanya. Aku ingin Tari menelan spermaku. Dia belum pernah melakukan itu,” kataku.
Al mengangguk dan segera melakukan perintahku.
Setelah yakin Tari tak bisa melihatku, aku pun mendekat.
“Aaakkhhh….aaakkkhhh….. jangaaaannn….!” Tari menjerit lagi. Kali ini lantaran penis Ben yang besar mulai menusuk vaginanya. Kulihat, baru masuk setengah saja, tapi vagina Tari tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis Arab itu.
Kulepaskan ikatan tangan Tari. Tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis Ben masih menancap di vaginanya. Ben kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Tari membuat penis Ben makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Tari menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan.
Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang berjilbab. Tari bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu saja ia menolak kalau kuminta air maniku tertumpah di dalam mulutnya.
“Jijik ah, Mas,” katanya berkilah.
Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis Ben masuk lebih jauh lagi. Akibatnya Tari menjerit lagi. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku. Jeritannya langsung terbungkam. Aku berharap Tari tak mengenali suaminya dari bau penisnya.
Ughhhh… rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. KUpegangi bagian belakang kepalanya yang masih berjilbab itu. Kugerakkan maju mundur. Sementara terasa Ben juga sudah mulai menaikturunkan penisnya. Tari mengerang-erang. Dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras.
Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai.
Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Al menarik kedua puting istriku.
“Ayo, telan protein lezat itu,” kata Bob.
Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya.
Nafas Tari terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.
****
Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga lelaki. Penis Ben masih menancap di dalam vagina Tari. Kini Bob mendorong dada Tari hingga ia rebah di atas tubuh tegap Ben.

TARI

TARI

Ia kini langsung mengangkangi wajah Tari. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah berjilbab Tari terjepit pangkal paha lelaki gendut.
Kuambilalih handycam dari tangan Al, lalu kuclose up wajah Tari yang menderita. Tari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob.
Kubantu Ben menarik jubah hijau muda Tari sampai ke atas dadanya. Kini kedua tangan kekarnya menggenggam payudara Tari. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Tari dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam.
Al tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Tari. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Tari mengerang-erang. Tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.
“Boleh aku gigit klitorisnya ?” tanya Al padaku sambil berbisik.
“Boleh, asal jangan sampai luka,” sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.
Mahasiswa fakultas kedokteran ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Al. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Tari.
“Aaaaakkhhhh….saakkkkiiiittt…”
Rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Ben ingin berganti posisi.
Ben memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Tari pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu.
Tari terus menjerit-jerit dalam gendongan Ben. Ben ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Tari hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah. Kedua payudaranya tepat di tepi meja.
“Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya,” kata Ben. Kulihat ia menusukkan dua jari ke vagina Tari.
“Sudaaahh…. hentikaaan… kalian…jahaaat…” teriaknya di sela isak tangisnya.
“Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini, ya ?” sahut Ben, sambil kembali memperkosa istriku.
Suara Tari sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya.
Dalam posisi seperti itu, Ben betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya.
Tubuh Tari sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Tari yang putih mulus kini tampak memerah.
Ben terlihat betul-betul kasar. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya, “Buang ke mulutnya dulu Ben. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,” kata Bob. Ben mengangguk.
Lalu, Ben terlihat bergerak ke depan Tari. Vagina Tari tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat.
Ben dengan cepat menggantikan posisi Ben. Penisnya kini menyumpal mulut Tari. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Tari.
“Ayo, telen spermaku ini… Uuughhhh….yah…. telaaannn…..” Ben meracau.
Ben baru melepaskan penisnya setelah yakin Tari benar-benar menelan habis spermanya.
Tari terbatuk-batuk. Ben mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Tari yang mancung.
“Uuggghhh….nggghhhhhh…..” Tari merintih. Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Tari. Tari tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa Ben. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.
“Aiaiaiaiiiii…. jangaaan…. aduhhhh…. sakiiit….” tiba-tiba Tari mendongak dan menjerit kesakitan.
“Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?” katanya. Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Tari, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Tari.
Kudekati Bob, “Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ,” bisikku.
“Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan ?” sahutnya juga dengan berbisik. Aku mengangguk.
Bob tak mau kalah dengan Ben. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Tari dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Tari melolong-lolong dalam orgasme.
Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Al kini membungkam mulutnya dengan penisnya.
***
Peluh membahasi sekujur tubuh Tari. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuhnya lunglai kelelahan. Tetapi, kulihat ia masih sadar.
Al membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Tari diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.
“Sebentar ya Mbak. Saya mau lepas baju Mbak. Mbak pasti terlihat cantik sekali dengan jilbab lebar tetapi tetek dan memek Mbak terbuka,” katanya sambil melucuti jubah Tari.
Tari berbaring terlentang di kasur busa. Hanya jilbab lebar putih dan kaus kaki krem yang masih melekat di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak.
Al kemudian mengikat kembali kedua tangan Tari menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Al yang berlagak lembut kepada Tari.
“Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini,” katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.
Dibelainya juga kedua puting Tari dengan ujung jarinya. Tari menggeliat.
“Siapa yang menggigit ini tadi ?” kata Al lagi.
“Alaaaa, sudahlah cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini,” terdengar Bob berseru.
“Ah, jangan kasar begitu. Perempuan secantik dan sealim ini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Tari ?” Al terus bermain-main.
Kali ini ia menyentil-nyentil puting Tari dengan lidahnya. Sesekali dikecupnya. Biasanya, Tari bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu. Dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Al setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.
“Unngghhh…. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini,” katanya.
Al tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Tari yang mulus tanpa rambut sehelaipun.

TARI

TARI

Tari menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Al mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya.
“Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak,” kata Al sambil melanjutkan mengulum puting Tari. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Tari terhisap masuk.
“MMmfff….. ouhhhhh…. tidaaakk… saya tidak bisa… ” sahut Tari dengan isak tertahan.
“Bisa, Mbak… Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja… ” Al terus menyerang Tari secara psikologis.
Jilatannya sudah turun ke perut Tari yang rata. Dikorek-koreknya pusar Tari dengan lidahnya. Tari menggeliat dan mengerang lemah.
“Vaginamu indah sekali, istriku…” kata Al sambil mulai menjilati tundun vagina istriku. Tari mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku.
Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah Al pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Al berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat Al dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Al. Itu memang titik sensitifnya.
Al menjilati bagian dalam kedua paha Tari, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Tari merapatkan pahanya mengempit kepala Al dengan desahan yang menggairahkan.
“Iya Tari, nikmati cinta suamimu ini,” Al terus meracau.
Direnggangkannya kembali kedua paha Tari. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat sensasi Tari. Dijilatinya celah vagina Tari dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.
“Ooouhhhhhh…. aahhhh…. am…phuuunnn….” Tari merintih menahan nikmat. Apalagi, Al kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.
Tari makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Al kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.
“Ayo Tari, nikmati…. nimati… jangan malu untuk orgasme…” kata Al, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Tari.
Akibatnya luar biasa. Tubuh Tari mengejang. Dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.
“Bagus Tari, puaskan dirimu,” kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.
“Aaakkhhhh….aaauuunnghhhhhh…” Tari melolong. Lalu, ia menangis. Merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.
Al memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.
“Oke Tari, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu,” katanya sambil memaksa Tari mengulum kedua jarinya.
Tari hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Al ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Tari dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.
“Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi,” kata Al, lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Tari.
Penisnya langsung menusuk jauh. Tari menjerit kesakitan. Apalagi Al memperkosanya, kali ini, dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Al tak henti mencengkeram kedua payudara Tari. Kadang ditariknya kedua puting Tari hingga istriku menjerit-jerit minta ampun.
Seperti yang lain, Al juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Tari pingsan saat baru sebagian sperma Al ditelannya. Al dengan gemas melepas penutup mata Tari, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah lembut istriku.

Tari sudah satu jam pingsan.
“Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau,” kataku sambil menghisap sebatang rokok.
“Ya masih dong, bos. Baru juga sekali,” sahut Ben. Tangannya meremas-remas payudara Tari.
“Iya, aku masih ingin anal,” timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Tari.
“Oke, terserah kalian. Tapi jam 2 siang dia harus segera dipulangkan,” kataku.
Tiba-tiba Tari menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya ?
Kulihat Tari beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Jilbab putih lebarnya dirapikannya hingga menutupi organ-organ vitalnya.
Ben berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.
“Jangan… saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas !” Tari memaki-maki.
“Belum ! Tapi sekarang kamu harus mandi dulu. Bersihin memekmu ini !” bentak Ben sambil tangan satunya mencengkeram vagina Tari yang tertutup ujung jilbabnya. Tari menjerit-jerit waktu Ben menyeretnya ke halaman belakang.

TARI

TARI

Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Ben merenggut lepas jilbab putihnya. Di dalamnya, masih ada kerudung kecil berwarna merah jambu, warna favorit Tari. Itupun direnggutnya. Rambut Tari yang panjang terurai hingga ke pinggangnya.
Al menarik selang panjang. Langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Tari. Tari menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Tari.
“Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin,” katanya.
Tari tampak ragu.
“Cepat, sabuni tubuh indahmu itu,” seru Al. Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Tari.
Tari perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya. Tetapi, terlihat Bob mendekat.
“Begini caranya nyabunin memek !” katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok vagina Tari.
Acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Tari. Tari segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
“Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan,” bentak Ben.
“Kalau sudah, pakai jilbab lagi ya Mbak, tapi tetek dan memek jangan ditutupin,” kata Al sambil menyerahkan jilbab putih lebar Tari berikut jilbab kecilnya.
“Aiiihhh…” Tari memekik. Al sempat-sempatnya mencomot putingnya.
“Kalau sudah pakai jilbab, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,” lanjut Bob sambil meremas bokong Tari yang bundar.
***
Kulihat Tari telah mengenakan jilbabnya. Ia mematuhi perintah mereka, menyampirkan ujung jilbabnya ke pundaknya.
Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun kecuali jilbab dan kaus kaki. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan.
Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Tari menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Tari yang terbuka bebas.
Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Tari. Kuihat ia menciumnya. “Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi,” katanya. Tari menggigit bibirnya dan memejamkan mata.
“Teteknya juga wangi,” kata Al yang menggenggam sebelah payudara Tari dan mengulum putingnya.
“Ngghhh… kenapa kalian lakukan ini pada saya,” rintih Tari.
“Mau tahu kenapa ?” tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Tari.
Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.
“Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X,” kata Bob. Aku lega mendengarnya.
“Siapa itu Mr X ?” tanya Tari.
“Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya,” jelas Bob.
“Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup.” lanjut Bob.
“Sudah, Bos, biar Mbak Tari makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras,” sela Ben.
“Maaf ya Mbak Tari. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini,” kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.
“Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,” katanya.
Tangan Tari terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Ragu-ragu ia menjilati sosis itu, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong.
Habis sepotong, Al mengupaskan pisang Ambon. Lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.
“Pilih pisang yang mana, Mbak ?” goda Al. “Ayo ambil,” lanjutnya.
Tangan Tari terjulur hendak mengambil pisang. Al menangkap pergelangannya dan memaksa Tari menggenggam penisnya.
“Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja,” katanya.
“Tangannya lembut banget Ben,” kata Al. Ben tak mau kalah. Ia menarik sebelah tangan Tari dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Tari menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Al.
Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Tari tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Tari dengan bernafsu.
Tari mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.
“Sudah…uhukkk… sudah cukup,” kata Tari dengan nafas terengah-engah.
“Eee ini masih banyak. Sosis satu, pisang satu lagi ya,” kata Ben. “Tapi dikasih saus dulu ya ?” lanjut Ben sambil merenggangkan paha Tari.
Tari meronta-ronta, tetapi Al dan Bob memeganginya. Ben ternyata memasukkan sepotong sosis ke dalam vagina Tari. Didorongnya sampai terbenam di dalam vagina Tari yang tembam.
“Coba sekarang didorong keluar,” katanya sambil menepuk vagina Tari.
Tari terisak-isak. Ia mencoba mengejan dan akhirnya perlahan sosis itu keluar. Ben mendorongnya lagi dan menyuruh Tari mengeluarkannya lagi. Terus diulang-ulang sampai sosis itu terlihat berlendir. DIberikannya kepada Al yang kemudian menyuapi Tari. “Enak kan, sosis pakai saus memek ?” katanya. Tari menangis tersedu-sedu.
“Sekarang pisangnya ya,” kata Ben lagi.
Kulihat ia mengupas sepotong pisang. Dan kini ia melebarkan celah vagina istriku. Didorongnya pisang seukuran penisnya itu ke dalam. Tari menjerit-jerit. Pisang itu akhirnya terbenam di dalam vaginanya.
“Ayo, hancurkan dengan otot memekmu ini. Kita bikin bubur pisang,” kata Ben sambil meremas-remas vagina Tari.
Ben kemudian membantu mengaduk-aduk pisang di dalam vagina Tari itu dengan dua jarinya.
“Nih, bubur pisang rasa memek,” katanya sambil memaksa Tari mengulum dua jarinya yang berlepotan bubur pisang. Diulanginya hal itu berkali-kali.
“Sepertinya lezat. Aku mau coba bubur pisang rasa memek ah,” kata Bob. Ia kemudian merapatkan mulutnya ke celah vagina Tari.
Tari tak henti menjerit dan merintih.
Bob bangkit. Mulutnya belepotan bubur pisang. Diciumnya bibir Tari dengan bernafsu. Al dan Ben tak mau ketinggalan mengicipi bubur pisang itu.
Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Tari. Mereka kembali memperkosanya di atas rumput. Kali ini, mereka menumpahkan sperma di dalam vagina Tari.
Begitu usai, mereka membaringkan Tari kembali di atas meja. Kulihat pangkal paha Tari betul-betul berantakan oleh cairan sperma yang bercampur bubur pisang.
Tari terisak-isak saat Bob menyendoki campuran sperma dan bubur pisang itu dan memaksanya menelannya.
Dari tempatku sembunyi kuhubungi selular Bob.
“Pak Bob, tolong tutup lagi matanya dan ikat tangannya. Aku mau sodomi istriku,” kataku.
“Oke bos,” sahutnya.
Kulihat Tari melotot waktu Bob menyampaikan pesanku.

TARI

TARI

“Tidaaaakk…. jangaaaann… kalian… jahaaat…. setaaaannn….” ia memaki-maki saat Ben meringkus tangannya dan mengikatnya ke belakang punggung. Lalu, Al mengikatkan kain hitam menutup matanya.
Mereka membaringkan Tari menelungkup di atas meja. Dari belakang, pinggulnya yang bundar sungguh menggoda. Kutusukkan dua jari ke dalam vaginanya. Betul-betul banjir sperma bercampur bubur pisang.
“Jahanaaaamm…. Aaaaiiikkhhhhh… “Tari menjerit waktu dua jariku yang basah kutusukkan ke dalam anusnya. Kugerakkan berputar-putar untuk melebarkannya. Pada saat yang sama, kutancapkan penisku ke dalam vagina istriku.
Dan kini, penisku betul-betul basah. Kutekan ke anusnya yang sedikit terbuka. Aaakhh… sempit sekali. Tetapi, akhirnya kepala penisku mulai masuk diiringi jerit histeris Tari. Kudorong terus. Istriku yang tercinta terus menjerit-jerit.
Kudorong dengan sedikit lebih bertenaga. Akhirnya batang penisku masuk semua. Betul-betul sesak. Tari menjerit dan menangis hingga suaranya serak.
Kucengkeram buah pinggulnya yang bundar lalu kugerakkan pinggangku maju mundur dengan cepat dan kasar.

DIANA

Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang bernama Diana Purnamasari, seoranggadis cantik, manis dengan wajah khas bumi parahiangan yang ceria dan mudahsekali bergaul, dengan tinggi kira-kira 165 cm dan berat badan yang proposionaldengan tinggi badannya. Maka terlihat tubuh sintal milik gadis tersebut,apalagi payudaranya yang berukuran 34B. Menambah dirinya semakin menarik.Apalagi pakaian yang digunakannya selalu ketat dan membuat lekuk tubuhnya semakinterekspose, meskipun dalam kesehariannya selalu menggunakan kerudung.

Selepas sekolah disalah satu sekolah kejuruan yang cukup terkemuka di kotanya, karenaketerbatasan biaya maka Diana memutuskan untuk bekerja, maklum orang tua Dianabukanlah tergolong pada kriteria warga yang mampu. Setelah dua bulan nganggurakhirnya Diana diterima disebuah pabrik tekstile pada bagian produksi sebagaiOperator dan waktu bekerjanya menggunakan system shift. Selama satu bulanbanyak sekali pemuda di pabrik itu yang mengingkan dia sebagai pacarnya, bahkanbapak-bapak di pabrik tersebut pun senang dengannya, karena Diana memang supeldan mudah bergaul, sehingga tidak heran bila dia menjadi idola baru di pabriktersebut.

Malam itu Diana baru pulang jam 10.30 malam, maklum Diana kebagian shift II (sore)hari itu. Pulang dari pabrik Diana memang diantar menggunakan jemputan, tetapijemputan tersebut hanya sampai titik-titik tertentu, sehingga tidak langsungmenuju rumahnya. Sehingga Diana harus naik ojek lagi untuk sampai kerumahnya.“Emmmhhh, ngak ada ojek satupun nih…”, dalam hati Diana, terpaksa Dianaberjalan kaki menuju rumahnya yang lumayan masih jauh, memang tadi hujan lebat,sehingga para tukang ojek yang biasa mangkal tidak terlihat satupun.

Diana pulang menyusuri jalan sepi, “Emmhhh enak lewat pesawahan nih, biar bisa cepetsampe rumah”, ujar Diana, sambil berbelok menuju pesawahan. Tepat sebelumpesawahan ada sebuah pos hansip, disana ada empat preman desa yang sedang mainkartu mereka adalah Joni, Asep, Saepul dan Jajang. Muka mereka lumayansangar-sangar apalagi mereka berempat habis minum-minum.

“Eh…liat tuh ada cewe menuju kemari…”, ujarAsep kepada teman-temannya. Otomatis ketiga pemuda pengangguran itu melihat kearah Diana. “emh… mau kemana neng malem-malem”, ujar Jajang kepada Diana, Dianatidak memperdulikan dan mempercepat langkahnya. Joni melompat dari pos satpamdan mendekati Diana, “Dingin-dingin begini mendingan neng nemenin kita…hehehe…”, sambil berusaha memeluk Diana. “ihhh… apaan sih….”, tanpa sengajaDiana menampar muka Joni.

Muka Joni merah padam menerima tamparan dari Diana, “Kamu jangan macam-macam”, ujarJoni, seraya mengeluarkan pisau lipatnya dan menempelkannya dileher Diana.“Maaf kang, saya ngak bermaksud…”, belum selesai Diana berucap sebuah tamparandari Joni mendarat dipipinya “Plakkk”.

“Sudah Jon… kita garap saja cewe ini…” teriak Jajang dari dalam Pos, sementara Asepyang sudah berada dibelakang Diana menelikung tangan gadis berjilbab tersebut.“Kita garap dirumah kosong ditengah sawah saja…, biar ngak ada yang tahu”,Saeful berujar sambil mendekati mereka bertiga. Mendengar ucapan-ucapan paraberandalan itu wajah Diana pucat pasi. “Jangan…. Tolong lepaskan saya….”, ujarDiana, tampak diujung kelopak matanya setetes air mata.

Keempat berandalan itu tidak menggubris ucapan Diana, mereka menyeret tubuh Dianaketengah sawah yang sudah mengering menuju sebuah rumah kosong di tengah sawahtersebut. Diana sempat menjerit memintatolong, tetapi sebuah tamparan menghentikan teriakannya. “Diam kamu …., apakamu sudah bosan hidup”, hardik Joni kepada Diana.

Sesampainya dirumah kosong yang terbuat dari bilik tersebut, tubuh Diana didorong hinggaterjerembab diatas bale-bale. Kedua tangan Diana diikat diatas bale-bale.“ammppuunn, tolong lepaskan saya, jangan perkosa saya.…hik…hik”, Diana memohonkepada para berandalan tersebut, yang disambut oleh gelak tawa keempatnya.

“brreetttt…”,kancing-kancing baju Diana terlepas ketika Joni membuka paksa baju kerja yangdigunakan, dengan menggunakan pisau lipatnya bra Diana pun diputusnya hinggaterlihat bongkahan payudara yang sekal dan ranum. “wah… gede juga nihtoket…cewe ini”, kata Joni sambil meremas-remas payudara Diana dan memainkanputingnya. “Ohh…. Jangan…..”, rengek Diana tidak berdaya. “Sudah, kamu nikmatisaja….”, ujar Saeful sambil memainkan sebelah payudara Diana. Kini payudaraDiana dimainkan oleh Saeful dan Joni. Keduanya kadang meremas, menghisap-hisappayudara Diana. Sementara Jajang menarik celana dan celana dalam Diana hingga terpampanglahvagina ranum yang disertai bulu-bulu tipis. “Memeknya bagus nih….keliatannyaperet….emmhhh wangi lagi…”, ujar Jajang sambil mendengus di dekat vagina Diana.Kini tubuh Diana Cuma terbalut jilbab yang dililitkan dilehernya.

“aavvkkhhh jangan….”, jerit tertahan Diana ketika Jajang mulai mencolok vaginanya langsungmenggunakan dua jarinya. “acckkkkhhh….tolll”, belum selesai Diana berkata Asep mengulum mulut dari gadis itu denganmulutnya yang bau alkohol. Sementara Jajang membenamkan wajahnya dikemaluangadis berjilbab tersebut dan menjilati vagina sambil memainkan klitoris dariDiana menggunakan lidahnya.

Diransang dari segala arah mau tidak mau Diana mulai teransang, pagutan Asep mulaidibalas oleh Diana, keduanya saling memainkan lidah. Sementara payudara Dianasemakin mengeras dan putingnya pun membesar menerima ransangan dari Joni danSaeful dan dibawah Jajang sedang asik menjilati klitoris Diana sambilmencolok-colok vagina tersebut dengan jarinya, vagina Diana sudah mulai becek.

Secara bergantian keempat berandalan itu meransang setiap daerah sensitif Diana danentah kapan keempat pemuda sekarang hanya menggunakan celana dalam, tidaksampai 10 menit, tubuh Diana tampak mengejang dan “Acckkkkkkhhhhh…..”, dariarah vagina mengucur deras cairan cinta Diana. “Hahahaha…. Ternyata ceweberjilbab juga bisa orgasme…”, kata Asep sambil melihat ke arah vagina Diana,“Iya…. Kaya lonte yang suka aku pakai..”, seru Jajang sambil merabai tubuhDiana. Mendengar penghinaan itu wajah Diana tampak memerah, rasanya ingin marahtetapi apa daya tenaganya belum pulih meski tangannya sekarang telah dibukaikatannya.

Tiba-tiba Joni menjambak jilbab putih milik Diana,”Heh… lo pelacur ya….”, hardik Jonikepada Diana. “Sa..saya.. bukan pelacur…”, jawab Diana. “Alah…. Sudah ngakuaja… tadi lo nikmatinkan … sampai orgasme begitu..”, timpal Jajang membuatharga diri Diana terpental ketitik nadir.”Ayo… jawab….”, bentak joni didepanmuka Diana.

“Iy…..Iy…saya pela…cur…”, jawab Diana ketakutan. Matanya sudah sembab. “Hahaha…. Akhirnyangaku juga…”, ujar Saeful. “Biasanya pelacur mau apa …”, kembali Asep ikutnimbrung membentak Diana, Diana hanya diam mukanya tiba-tiba “Pllakkk, Jawab…lonte…”, sebuah tamparan kembali mendarat diwajah Diana. “Ma….ma…mau penis….”,jawab Diana ditengah ketakutannya.

“Bukan  penis cantik…. Tapi kontol….”, Jajang maju sambil mengacungkan penisnya didepan muka Diana. Diana mencoba memalingkan muka.tapi kepalanya ditahan olehJoni. “Jon, suruh aja dia jilatin kolor gw…, udah tiga hari belum dicuci…”, kataAsep seraya melemparkan celana dalamnya. “Dengar apa kata temanku…kerjakan…”,ucap Joni sambil mendorong tubuh Diana.

Diana tidak menyangka akan dilecehkan sedemikian rupa tapi apa daya dirinya tidakmungkin melarikan diri dari tempat tersebut, tangan Diana bergetar mengambilcelana dalam milik Asep dan mulai menjilati celana dalam itu. Rasanya Diana maumuntah mencium bau yang menyengat dari celana dalam yang dia jilati. Tapi semuarasa itu ditahan oleh Diana. Gelak tawa mewarnai rumah kosong itu melihat Dianayang sedang menjilati celana dalam milik Asep. Panas rasanya telinga Dianamenerima cemoohan dari mereka berempat, tetapi ada rasa lain semakin lama Dianamenjilat celana dalam tersebut, dirinya merasa teransang, Diana membayangkanrasanya menjilat penis.

“Heh….Pecun… daripada lo jilat kolor gue.. lebih baik lo ngerangkak kesini jilatinkontol gue…..”, dengan perlahan Diana mendekati Asep, tetapi ketika Dianamencoba meraih penis milik Asep, tangannya ditepis oleh Asep, “Mo ngapain lo….,mo kontol gua…, minta yang bener donk”, hardik Asep, membuat kuping Dianamemanas. “Kang…. Boleh sa…saya ngi…ngisap… dan ngejil…jilat… kontolnya…”, kataDiana terbata-bata, menahan rasa amarah di dadanya. “Jilat…dan Emut Cantik….Tapi awas jangan digigit…”, Diana secara perlahan memegang penis Asep yangdiluar ukuran biasa, diantara mereka berempat memang penis Asep memang yangterbesar dan terpanjang, Maklum Asep adalah salah satu murid dari Ma Erot,“Ayo, Jilat… jangan Cuma bengong ..”, kata Asep, Dianapun mulai menjulurkanlidahnya, lidah Diana mulai menyapu ujung penis besar milik Asep, “Ahh…. Yabegitu cantik…. Jilat dari pangkal sampai ujung”, bau apek penis Asep tidakjauh dari celana dalam yang di jilat oleh Diana dan itu membuat Diana semakinteransang meski ini merupakan oral pertamanya. Diana menjilat penis Asep, mulaidari pangkal sampai ujung penisnya, sesekali ujung lidah gadis berjilbab itumemainkan liang penis Asep, dan buah zakar Aseppun tak luput dari kuluman danjilatan Diana. “Ahhh…. Kamu pintar….terus sepong kontolku…lonte…”, seru Asep,hinaan terhadap Diana kini merupakan sanjungan buatnya, yang sedang teransang.Diana memasukan penis tersebut kedalam mulutnya. Sementara Asep memegang kepalaDiana yang terbalut jilbab dan menekannya supaya penisnya mentok di tenggorokansang gadis berjilbab.

Sementara itu ketiga temannya tidak tinggal diam, Saeful dan Jajang menggerayangi tubuhindah Diana, sedangkan Joni sedang memainkan jarinya didalam vagina sang gadisberjilbab. Joni yang sudah tidak tahan langsung mengarahkan penisnya ke vaginaDiana, dengan kasar Joni berusaha memasukan penisnya tersebut dan masuklahkepala penis Joni di vagina Diana yang mulai basah kembali, “Ini hukuman buatkamu…karena tadi menampar aku”, dengan kekuatan penuh dan sambil menahanpinggang sang gadis berjilbab, penis milik Joni amblas seluruhnya kedalamvagina Diana dan membuat selaput dara milik gadis berjilbab itu pecah.“Acckkhh…”, terdengar jerit tertahan Diana yang merasakan sakit di vaginanya,namun mulutnya dipenuhi oleh penis Asep yang sedang memaju-mundurkan pantatnyaseolah sedang bersenggama.

Kini gadis berjilbab itu bagai di sandwich, dua lubang dari depan dan belakangdimasuki oleh penis. “plookk…..pllookkk…plookk”, terdengar sangat jelasbenturan antara Joni dan selangkangan Diana, semakin lama rasa ngilu di vaginaDiana berubah menjadi rasa nikmat yang belum pernah didapatnya. Diana terlarutdalam birahi, membuat dirinya semakin kuat menghisap penis milik Asep. Aseptiba-tiba melepaskan penisnya, sedangkan dibelakangpun Joni menghentikansodokan terhadap Vagina Diana. “Siapa namamu Neng geulis….”, Tanya Asep kepadaDiana, “Di….di..ana…kang”, kata Diana tersengal-sengal sebetulnya Diana masihingin di senggamai, tetapi karena berhenti tiba-tiba membuat birahinya tidakmenentu, “Diana, suka di entot…, Diana suka kontol ku…”, Tanya Asep kepadaDiana. “Emmhh… Diana suka kontol…, Diana suka dientot…..”, jawab sang gadisberjilbab itu meluncur begitu saja. Joni pun tersenyum dan mulai menggenjotkembali vagina Diana dengan irama yang cepat. “Acckkkhhhh……., iiyyyyaaaa…..ennnakkkk….terrruussss”, jerit Diana, semua berandalan itu cekikikan mendengarocehan Diana.

Sementara sekarang penis Saeful berdiri tegak di depan Diana, tampa di komando Dianamembuka mulutnya dan mengulum penis milik Saeful,”Acckkhhh….enak… bangetnih….sepongannya..”,oceh Saeful sambil menjambak jilbab sang gadis berjilbab,“Iya .. pul…. Disini juga nikmat…. Seret……”, kata Joni sambil mempercepatgenjotan terhadap Diana. Saeful yang memang sudah ingin ereksi tak lamakemudian memuntahkan spermanya dimulut Diana “Acckkkkhhhh…”, seru Saeful sambilmenekan kepala Diana hingga mentok diselangkangannya. Sedangkan Diana langsungmenelan sperma yang tertumpah dimulutnya, sedangkan yang tersisa disisi bibir danpenis Saeful dijilatnya hingga habis.

“Wah,cewe ini doyan peju juga…..”, ujar Jajang yang belum kebagian dari tadi. WajahDiana memerah malu, tapi itu tidak lama, karena dorongan birahi dari belakangsemakin gencar.”Accckkkkkkkhhhhh……………..”, Diana memuntahkan kembali cairancintanya. Seraya Joni mengeluarkan penisnya. Terlihat cairan cinta bercampurdarah perawan dari Diana. Sementara Diana duduk bersimpuh menerima sperma dariJoni “habiskan….acckkkkhhhh….”, seluruh isi sperma yang meluncur dari dalam penistersebut diminum oleh Diana.

Diana yang sekarang sudah dikuasai oleh birahi, dirinya telah melupakan bahwa diasedang diperkosa. “Kamu masih mau dientot….”, Tanya Asep kepada Diana, Dianacuma mengangguk. Asep kemudian tiduran diatas bale-bale, “Masukan kontolku kedalam memekmu sayang…”, Diana kemudian menaiki bale-bale. Diana mengangkangdiatas tubuh Asep, penis Asep dipegang oleh Diana kemudian diarahkan menujuvaginanya. Ya penis besar milik Asep perlahan memasukivaginanya…”Accckkkkkkhhhhhh….Saakkkkiitttt…..”, ketika kepala penis Asepmemasuki ruang vagina Diana. “Sakit sayang ….., nanti kamu yang bakalan mintatambah…”, kata Asep kepada Diana, “Accckkkkkhhhh……….”, setengah penis Asepmemasuki vagina Diana, melihat hal tersebut Jajang menaiki bale-bale danmenekan tubuh Diana sekaligus, hingga Amblas semua penis milik Asep, “Accccccccckkkhhhh……sakkkkiiiittt……ammmppuuunnn…..keeelllluuarrinn laaaggiii…”, Diana tidak kuasa menahan rasasakit, vaginanya terasa dirobek dan ulu hatinya terasa sakit serasa tertekanpenis yang menekannya. Tubuh Diana roboh diatas tubuh Asep.

Kemudian Asep membalikan posisinya, sehingga tubuh Diana dibawah, kaki Diana diangkat keatas dan direntangkan. “Tenang Sayang, nanti kamu akan menyukainya dan malahminta tambah…”, Asep memulai ngenggenjot vagina sang gadis berjilbab.“Accckkkkkkkhhhhh…. Tiddaakkk… suuuddaahhhhh…. Ssssaaakkkiiit…”, teriak sang gadis berjilbab. Tetapi Aseptetap menggenjot vaginanya, setiap penis Asep keluar masuk liang vagina Diana,ternyata selalu menyentuh klitoris sang gadis berjilbab, sehingga membuat gadistersebut teransang selain itu perasan dan gesekan penis Asep pada dindingVagina menambah nikmat birahi sang gadis. “Acckkkkhhhh………Ohhhhh…..nikmmattt……terruuussss…ddiiiaannnaassuukkkaa… kkooonnntttoolll”, erang gadis tersebut semakin menikmati setiapgenjotan Asep. “Ohhh… enak…..sekali… remasan …. Memekmu ….”, kata Asep kepadaDiana. “Acckkkkkhhhhh… Diana….Mmmaauuuuu”, Erang Diana dengan tubuh yangmelengkung mengeluarkan orgasmenya.

Sedang Asep belum menunjukan akan ereksi, Asep terus menggenjot tubuh Diana kadanggenjotan dilakukan dalam tempo sedang kadang dalam tempo cepat, membuat Dianakembali teransang, “Acckkkkhh ….. jangan ….. jangan…lepaasskan…kkkoonnttoollmuu…”, Diana menyeracau. “Kamu suka kontol dimasukin ke memek kamu….kamu sukadientotin kontol gede…..”, Tanya Joni di telinga sang gadis berjilbab.“Acckkkkhhhh …. Iiiyyaa…. Dddiiaannnaaa sssuukkaaa… dii eeennnttootkkoonnntttoolll…aacckkhhhh ttteerruuusss”, Jerit Diana meradang seolah memintaterus disetubuhi. “Hahahhaha…ngak yang pake jilbab…. Sama yang berjilbab… sudahdientot… minta terus….. kaya lonte luh”,Timpal saeful, jika dalam kondisi biasapastinya Diana akan marah tetapi kali ini bagaikan sebuah pujian bagi dirinya.

“Accckkkhhhhhh……Akkuukelluaarrr….”, lagi-lagi tubuh Diana mengejang dan kembali orgasme, tubuh melemahDiana tetapi Asep semakin gencar memacu penisnya dan mengobok-ngobok vaginasang gadis berjilbab tersebut. Membuat Diana kembali teransang birahinya dansemakin mengangkatnya bagaikan melayang ke langit ke tujuh, menikmati setiapgenjotan Asep dan kembali orgasme dengan jarak tidak sampai 3 menit. Dianasudah mendapatkan Orgasme ke limanya semenjak di genjot oleh Asep.

“Accckkkkkkhhhh……Akkuuu… Kelluuarrrr…..”, Diana kembali mengerang yang ke enam kalinya dan kali inimembuat dirinya tidak sadarkan diri karena kecapaian. Tidak lamakemudian”Accckkkkhhh…..Crroooottttt….Crroootttt…..”, Asep mengerang sambilmembenamkan penisnya dalam-dalam seluruh peju Asep memenuhi ruang rahim sanggadis berjilbab. Sebelum akhirnya Asep roboh disebelah tubuh gadis berjilbabtersebut. Terlihat lelehan sperma yang keluar di bibir vagina sang gadisberjilbab.

Jajang yang belum mendapatkan jatah segera membalikan tubuh gadis berjilbab yangtengah tak sadarkan diri. Jajang dengan penisnya kali ini gadis berjilbab yangtengah sadarkan diri di sodomi oleh Jajang. Jajang yang tengah dilanda birahimenggarap anus sang gadis tersebut seperti orang kesetanan, tubuh Dianabagaikan seonggok daging yang tidak berdaya. Tidak sampai sepuluh menit Jajangsudah mengeluarkan pejunya.

Setelah puas melakukan pemerkosaan terhadap Diana mereka berempat segera meninggalkanDiana yang masih tidak sadarkan diri, ketika pagi hari seorang petani yang menemukanDiana segera menolong gadis berjilbab tersebut dan di antarkan kerumahnya.Kasus pemerkosaan terhadap Diana ditutup oleh polisi karena Diana tidakmemberikan keterangan yang berarti kepada aparat. Sedangkan Diana sendirikadang terlihat murung, baik dirumah maupun ditempat kerjanya.

Satu bulan telah berlalu semenjak kejadian tersebut, Diana yang kebagian shift IIhari itu pulang jam 10.30, setelah turun dari bis jemputan Diana tampak sepertiorang yang tengah bimbang. Kemudian dia berjalan menuju tempat dia bertemudengan ke empat pemuda berandalan tersebut.

Keempat berandalan tersebut terkejut ketika melihat Diana sudah ada didepan pos tempat,“Mau ngapain kamu kesini, Mau di entot lagi….”,Tanya Joni kepada Diana yangtampak tertunduk, “A…aku….. Ma…Mauu… di….se….setubuhi….”, Jawab Diana pelan danterbata-bata. “Memek kamu minta di entotin lagi ma kontolku”, Tanya Asep kepadaDiana, dan Diana pun hanya mengangguk. Keempat pemuda tersebut tersenyum, Asepkemudian merangkul tubuh Diana dan mengajaknya duduk diantara mereka. Malam ituDiana kembali digilir oleh keempat pemuda tersebut, tetapi kali ini Dianamelakukan dengan suka rela dan tanpa paksaan. Diana menjadi seorang yang hypersex, dan selalu akan haus akan sex, Diana rela dirinya menjadi pelampiasannafsu laki-laki asalkan dirinya mendapatkan kepuasan dari hubungan yangdilakukannya.

VINA DAN MAYA

Perkenalkan nama saya Laila, saya seorang mahasiswi semester 4 di Purwokerto. Ada satu pengalaman nyata yang saya alami yang berkaitan dengan cewek-cewek ROHIS. Di Purwokerto sendiri banyak sih cewek ROHIS terutama di Kampus, hanya saja saya tidak ada yang kenal mereka semua. Cuman saya melihat mereka adalah cewek-cewek yang alim dengan jilbab panjang dan jubah mereka itu.Saya sendiri cuman pakai kerudung kecil yang seringkalai dipandang sebelah mata oleh cewek-cewek ROHIS yang berkerudung lebar.

Dua minggu yang lalu, saya harus ke Jogja untuk urusan kuliah. Karena saya banyak ke sibukan, sehingga baru jam 5 sore saya berangkat ke Jogja. Saya naik bis Patas Raharja dan di sebelah saya duduk seorang cewek berjilbab gede. Semula saya cuekin, tapi kemudian dia ngajak ngobrol. Orangnya ramah, cantik, putih dan kuliah di UGM hampir selesai. Asalnya Bandung, namanya Neneng dan ternyata dia aktivis ROHIS. Kami ngobrol banyak terutama tentang pemilu, nyambung karena sayajurusan sospol dan akhirnya dia nawarin numpang di kostnya setelah dia tahu saya kesulitan bermalam di Jogja dan berniat bermalam di penginapan.

Kurang lebih jam 8 malam kami sampai di Jogja dan Mbak Neneng tetep ngajak saya tidur di kostnya. Singkat cerita kami sampai di kostnya yang terletak di di daerah Jln Kaliurang sekitar UGM. Di kost tersebut ada 5 cewek lainnya dan saya di persilahkan tidur kamar Mbak Neneng. 5 cewek temen kost Mbak Neneng ternyata juga aktivis ROHIS di Jogja. Ke 5 cewek ROHIS itu kelihatan merendahkan saya karena kerudung saya yang kecil walaupun jujur saja saya merasa iri dengan ke 5 cewek temen Mbak Neneng, karena mereka berwajah cantik dan berkulit putih- putih bersih.

Pukul 10 malem saya sudah ngantuk berat hingga saya pamit tidur, tak lama kemudian Mbak Neneng juga menyusul ke kamar. Ketika saya sudah berbaring,saya merasa heran ketika Mbak Neneng membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Mbak nenneg mengakui kalau selama ini, dia tidur jarang memakai pakian lengkap, kadang cuman BH dan CD atau CD aja atau bahkan bugil seperti malam ini. Kata dia sih karena Jogja sangat panas. Aku diam saja mendengar penjelasan dia dan saya akui lekak-lekuk tubuh Mbak Neneng memnag sangat sintal membuat saya menjadi sangat iri.Karena kami sama-sama perempuan, saya tidak merasa tergganggu olehnya lagian mata saya sudah sangat mengantuk.

Pukul 12 malam, saya terbangun karena pengen kencing. Saya kaget ketika menyadari Mbak Neneng yang bugil tengah memeluk saya dalam tidurnya. Akhirnya setelah melepaskan pelukan Mbak Neneng dengan susah payah, saya keluar kamar menuju WC. Setelah saya selesai dariWC saya bermaksud kembali ke kamar Mbak Neneng, tapi kemudian sayainget kalau Mbak Neneng malam ini tidur tanpa busana sehingga membuat saya ingin melihat apakah 5 cewek ROHIS temen Mbak Neneng juga tidur tanpa busana.

Saya mengintip 5 kamar lainnya dan saya dapati 3 temen Mbak Neneng tidur tanpa busana sementara 1 orang tidur hanya memakai celana dalam dan satu orang lagi tampak sedang membuka internet namuan alangkah kagetnya saya ketika saya amti ternyata yang sedang dibukanya adalah situs-situs hot. Apalagi ketika saya lihat cewek ROHIS yang sedang buka internet itu juga sambil bermasturbasi.

Yah akhirnya sisa malam itu, saya nggak bisa tidur. Saya nggak mau tidur dengan Mbak Neneng yang kayaknya lesbian. Dalam pikiran ana timbul kesadaran, ternyata tidak mesti cewek ROHIS itu alim-alim buktinya di tempat kost tempat saya menumpang. semalamman saya berpikir seperti itu hingga pagi. Bahkan kemudian, malam itu juga saya menemukan foto laki-laki bugil dalam salah satu tumpukan majalah UMMI di ruang tamu.

Paginya, ana kembali kaget oleh cewek-cewek ROHIS di tempat kost ini ketika ternyata mereka membeli sarapan pagi ke warung tanpa pakain dalam. Memang mereka pakai pakaian jubah panjang dan jilbab lebar dan kaus kaki tapi saya tahu mereka nggak pakai pakaian dalam. Kata mereka sih pakaian ini sudah cukup menutupi.

Saya menolak tawaran mandi bareng Mbak Neneng, dan akhirnya pagi-pagi sekali saya cabut dari tempat kost cewek ROHIS itu. Jadi saya pikir, tidak mesti semua cewek-cewek ROHIS itu alim-alim Bonar, Monang dan Togar bengong. Tiga preman terminal itu tak menyangka bakal dapat order seperti itu.

“Kau serius?” tanya Monang kepada lelaki perlente di depannya.

“Serius Bang. Dua juta untuk persekot. Delapan juta lagi kalau sudah selesai,” sahutnya.

“Kalau sudah kita perkosa, terus diapain?” lanjut Monang.

“Pokoknya terserah abang bertiga. Mau dipelihara terus boleh, dijual ke germo juga boleh. Asal jangan dibunuh,” sahut lelaki itu.

Tiga preman itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka sering menerima order untuk menagih utang, menghajar seseorang atau bahkan membunuh. Tapi order kali ini mereka anggap sangat aneh: menculik dan memperkosa dua mahasiswi lalu memaksanya agar berhenti kuliah. Mereka makin terkejut begitu melihat foto dua calon korban mereka. “Gila ! Kau suruh kami perkosa cewek pake cadar ! Sebetulnya apa sih masalahnya?” kali ini Bonar yang bicara.

Lelaki perlente itu menghela napas dalam-dalam. “Dua cewek ini bikin suasana kampus jadi nggak enak. Sudah lah… abang bertiga mau duit sepuluh juta tidak?” sahutnya. Tiga preman itu saling berpandangan. Di tengah keraguan dan hasrat mendapat uang mudah, menyeruak perasaan aneh di hati mereka.

Terbayang di benak kotor ketiganya, mereka akan menelanjangi dua gadis yang berpakaian serba tertutup, lalu memperkosanya.

“Oke… kami mau !” Monang yang langsung ambil keputusan. Kedua temannya mengangkat bahu, tak berkomentar tapi menunjukkan persetujuan. “Kapan kami harus lakukan?” lanjut Monang.

Lelaki perlente itu tersenyum. “Minggu ini juga. Ini duit dua juta, ini foto dan alamat dua cewek itu. Telepon saya kalau sudah selesai,” ujarnya.

***

Sepeninggal lelaki itu, ketiganya memandangi lagi foto dua gadis itu. Terlihat seorang yang berjilbab dan cadar serba putih dan rekannya yang mengenakan busana serupa berwarna hitam tengah diwawancarai seorang reporter TV. Cadar yang menutup wajah keduanya membuat hanya sepasang mata kedua gadis itu yang terlihat. Pada cadar putih tertulis nama ‘Maya’ sedang pada cadar hitam tertulis ‘Vina’. “Boleh juga nih. Aku jadi terangsang Bang, pengen cepat lihat memiawnya dua cewek ini!” ujar Togar yang sejak tadi diam.

VINA

VINA

“Bah, bukan cuma kau lihat. Kau boleh makan memiaw dia. Kita memang beruntung. Dapat memiaw dua, bukan cuma gratis, dibayar 10 juta pula !” sahut Monang disambut gelak dua kawannya.

Tiga preman itu pun langsung berunding untuk menentukan cara menculik kedua gadis itu. Akhirnya mereka pun menemukan cara mudah: menjebak keduanya. Togar yang berpenampilan rapi ditugaskan menyamar sebagai wartawan yang akan mewawancarai keduanya. Monang menyamar sebagai fotografer, sedang Bonar menunggu di belakang kemudi mobil van mereka.

Tak menunggu lama, Togar langsung beraksi. Diangkatnya ponselnya, menghubungi rumah kos Maya. Suara lembut seorang gadis terdengar menyapa.

“Dik Maya, saya wartawan. Saya ikut prihatin dengan kejadian di kampus. Bisa tidak saya wawancara adik?” katanya.

“Ya…ya… berdua dengan Vina sekalian,”

“Besok siang, sepulang kuliah ? Di mana?”

“Tempat kos? Oke ! Vina sekalian ke situ? Oke ! Sampai ketemu besok,” Togar bersorak begitu menutup ponselnya.

***

Siang yang dijanjikan pun tiba. Togar mengenakan rompinya yang bersaku banyak. Di salah satu saku sengaja disembulkan ujung sebuah blocknote dan beberapa bolpoin. Tapi di salah satu saku yang lain, ia mengantongi sepucuk pistol yang dibelinya di pasar gelap. Monang tak kalah miripnya dengan fotografer betulan. Ia menyandang tas kamera.

Tak ada yang bakal menyangka kalau tas itu isinya juga pistol. Sampai di depan rumah kos Maya, mobil van yang dikemudikan Bonar berhenti. Dua rekannya turun dan memasuki halaman rumah. Bonar menunggu di belakang kemudi sambil mengawasi keadaan sekitar yang sepi.

Togar mengetuk pintu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

“Kami, wartawan,” sahut Togar. Pintu pun terbuka. Togar dan Monang masuk.

VINA

VINA

Di ruang tamu tak ada kursi ataupun meja, tetapi sehelai karpet tipis tergelar di sudut. Di sudut yang jauh, duduk seorang gadis berjubah dan jilbab panjang serta cadar serba biru tua. Gadis yang membukakan pintu mengenakan busana serupa tetapi berwarna hijau botol, menyusul duduk di sebelahnya.

Togar mengeluarkan blocknote-nya.

“Kok sepi? Yang lain mana?” Togar membuka percakapan, sekaligus mengecek kondisi rumah.

“Masih pada kuliah, belum pulang,” sahut si cadar hijau.

“Baik. Kami ingin dengar cerita dari adik berdua. Tapi sebelumnya, saya ingin tahu mana yang Maya mana yang Vina,” katanya. Dua gadis itu saling pandang.

“Saya Maya, ini Vina,” kata gadis bercadar hijau. Ia lalu menuturkan kesulitan mereka berdua di kampus.

“Kalian pernah diteror?”

“Ya, kami sering diteror lewat telepon,”

“Bentuk terornya bagaimana?”

“Yaaa… diancam bunuh lah, dimaki-maki dengan kata-kata kotor…”

“Eh, maaf ya… ada yang mengancam memperkosa tidak?” Togar bertanya sambil memasukkan tangannya ke kantong tempatnya menyimpan pistol.

Diliriknya Monang yang tengah membuka tas kamera. Maya dan Vina saling berpandangan lagi.

“Ah, eh… tak ada itu…” sahut Maya sambil menggelengkan kepala diikuti Vina.

“Bagus kalau begitu. Sebab sekarang kami yang mengancam kalian,” kata Togar sambil tiba-tiba mengacungkan pistolnya. Monang terkekeh danikut mengacungkan pistolnya juga.

VINA

Kedua gadis itu memiawik, terkejut luar biasa. Keduanya langsung berpelukan ketakutan melihat Togar dan Monang mendesak mereka ke sudut.

“Tak perlu teriak, karena tak bakal ada yang dengar. Selain itu, kalau kalian nekad, pistol ini akan menghabisi kalian!” ancam Togar sambil mengarahkan moncong pistol ke kepala Maya.

Maya dan Vina yang ketakutan diperintah tengkurap di atas karpet. Togar lalu menelikung tangan Maya ke belakang dan mengikatnya dengan tali. Monang melakukan hal serupa pada Vina.

“Eiiiiiii….” Vina menjerit, sebab begitu tangannya terikat, Monang membalik tubuhnya dan meremas-remas sepasang payudaranya dari luar lapisan kain yang dikenakannya.

Togar terlihat masuk ke bagian belakang rumah kos. Sekejap kemudian ia kembali dengan membawa dua helai celana dalam dari tempat cucian.

Saat kembali, ia melihat Monang tengah meremas payudara Maya dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meremas-remas pangkal paha gadis itu. Maya meronta-ronta dan menyumpah-nyumpah.

“Iblis… kalian memang iblis !” pekiknya.

“Ha ha ha… kalian akan tahu rasanya diperkosa iblis,” sahut Monang. Togar lalu melemparkan sehelai celana dalam bau itu ke arah Monang.

“Sudah, kita harus cepat !” perintahnya.

VINA

Monang langsung menarik turun cadar Maya. Sejenak ia terpana memandang wajah cantik di balik cadar itu. Sorot matanya memperlihakan kemarahan dan ketakutan. Tapi Monang tak peduli, disumpalnya mulut gadis itu dengan celana dalam. Togar pun melakukan hal serupa pada Vina.

Tak lama kemudian, kedua gadis itu pun digelandang ke mobil van Di dalam mobil, penderitaan keduanya pun dimulai. Kedua lelaki itu  dengan buas terus meremas-remas payudara dan pangkal paha Maya dan  Vina sepanjang jalan. Kedua lelaki itu bahkan menemukan jalan lewat  celah-celah kancing jubah sampai ke bra keduanya. Lalu tangan-tangan  kasar pun menyelusup ke baliknya dan meremas-remas daging kenyal dan  lembut di baliknya.

Vina mengerang panjang ketika kedua putingnya dijepit keras oleh  Monang. Sementara Maya tak kalah menderitanya karena payudaranya yang  tak seberapa besar dicengkeram dan dibetot, seolah hendak dilepaskan  dari tempatnya. Dari celah cadar, terlihat mata kedua gadis itu  meneteskan air bening.

Maya dan Vina tak tahu kemana mereka dibawa. Yang mereka tahu, mobil  akhirnya berhenti di dalam sebuah ruangan besar yang mirip gudang.  Keduanya lalu digiring ke tengah ruangan. Maya dan Vina agak lega  ketika ikatan tangan mereka dan sumpal di mulut mereka dilepas.

“Jahanam…. kalian mau apa sebenarnya?!” pekik Maya begitu sumpal  mulutnya dilepas.

Tiga lelaki itu terbahak.  “Jangan galak-galak begitu. Kalian tak bisa melawan kami. Mau teriak  pun boleh. Tak ada yang akan mendengar,” sahut Monang. “Begini…  sepulang dari sini nanti, kalian harus memutuskan untuk berhenti  kuliah,” lanjutnya.

“Kalian siapa? Kenapa meminta kami melakukan itu?” sahut Maya ketus. “Kau tak perlu tahu siapa kami. Yang perlu kau tahu, kami akan  memperkosa kalian dan merekam semuanya. Kalau kalian menolak berhenti  kuliah, rekaman itu akan tersebar di kampus….” ancam Monang.

“Tapi kami lebih suka kalau kalian bekerjasama dan kita akan sama- sama menikmatinya. Kalau kalian menolak bekerjasama, kami bisa  berlaku kasar !” ancamnya lagi.

“Ayo, sekarang mulai buka baju panjang kalian itu. Cepat !”  Kedua gadis itu kelihatan mulai panik. Tapi lagi-lagi Maya  memberanikan diri menolak. Akibatnya, ia diringkus Togar dari  belakang. Dari depan, Monang menyampirkan jilbabnya yang panjang  sampai pinggul ke pundaknya. Lalu, dicengkeramnya kuat-kuat payudara  kanan Maya. Gadis itu menjerit histeris saat belati Monang mengoyak  berlapis kain yang menutupi dadanya sampai akhirnya terlihat  payudaranya yang terbungkus bra putih.

“Aaaarrghhhh…..” Maya menjerit keras ketika Monang mengeluarkan  payudaranya dari cup branya.

“Kalau kamu tak mau kerjasama, kamu bisa kehilangan benda ini !”  Monang menggerakkan ujung belatinya melingkari payudara Maya yang  lumayan besar.

“Hei… kau duluan buka baju. Ingat, kalau menolak, tetek temanmu ini  aku potong,” lanjutnya. Monang pun mulai menjilat puting Maya dan  sesekali menggigitnya agak keras.

Vina ketakutan. Ia tak ingin temannya disakiti. Ia pun mulai  melepaskan kancing atas jubahnya setelah Bonar menyampirkan jilbab  panjangnya ke pundak.

“Jangan Vinaaa… jangan turuti mereka. Aaaaakkhhhh… !!!” Maya  menjerit. Gigi Monang menggigit putingnya lumayan keras, sementara  pangkal pahanya diremas-remas.

Jubah Vina yang terbuat dari kain yang tebal melorot jatuh ke  kakinya. Tapi di baliknya masih ada busana serupa dari bahan yang  lebih tipis. Bentuk tubuhnya mulai terlihat. Bonar terus merekam  dengan handycamnya. Sesekali ia tak sabar menyentuh payudara Vina.  Isak Vina mulai terdengar saat baju yang lebih tipis itu pun jatuh ke  lantai. Tapi masih ada lagi di baliknya, rok dalam dan kaus dalam.  Lengan telanjang Vina tampak kuning langsat, kontras dengan kaus  tangan biru tuanya.

“Kalian apa tidak gerah pakai baju berlapis-lapis begitu ?” ujar  Togar yang masih memegangi Maya. Monang yang asyik menghisap puting  Maya pun menoleh.

“Kau lama sekali. Sini kubantu…” katanya sambil mendekati Vina.

Breett… brettt… brettt….  Dengan kasar direnggutnya kaus dalam dan rok dalam Vina, lalu celana  dalam dan branya. Vina menjerit-jerit, tapi ia tak kuasa melawan  lelaki kasar itu. Bonar terus merekam ketika kedua temannya tak  berkedip melihat pemandangan langka, seorang gadis muda berjilbab dan  cadar, tetapi dari dada ke bawah telanjang.

Payudaranya tak sebesar milik Maya, tapi terlihat padat dan agak  mengacung. Vaginanya tampak mulus, sepertinya bekas dicukur. Bonar  menepis tangan Vina yang berusaha menutupi payudara dan pangkal  pahanya.

Sekujur tubuh Vina merinding ketika Monang memeluknya dari belakang. Telapak tangannya langsung bermain-main di pangkal paha Vina. Jari  tengahnya bergerak naik turun menyusuri celah sempit vagina gadis itu. Vina terisak-isak. Sepasang payudaranya didorong ke atas hingga makin menjulang.

“He Togar, lepaskan cewek sok tahu itu. Kita lihat solidaritasnya dengan teman,” ujar Monang.

“He kau Maya ! Cepat kau bikin striptease buat kami. Jangan membantah kalau tak ingin teman kau ini kehilangan tetek cantik ini,” katanya. Maya masih diam mematung. Tiba-tiba terdengar jerit kesakitan Vina. Ternyata puting kanannya dijepit dan ditarik ke depan, sementara belati Monang menempel ke areolanya yang sempit. “Ayo cepat !” bentak Monang lagi.

Maya tak punya pilihan lain. Dilepaskannya busananya sampai ia telanjang bulat kecuali jilbab, cadar, kaus kaki dan kaus tangannya.

Seperti Vina, ia juga tak punya rambut kemaluan. “Kenapa sih kalian tak punya jembut?” kata Togar yang langsung mengucek-ngucek kelamin Maya.

Dua gadis itu lalu dipaksa berlutut berdampingan. Mereka ketakutan ketika Togar dan Monang berdiri di depan mereka dan mulai membuka celana. Keduanya terus menundukkan muka sampai akhirnya dagu mereka diangkat. Keduanya memiawik bersamaan melihat di depan wajah mereka penis kedua lelaki itu mengacung.

“Ayo… dikulum !” perintah Monang sambil mengangkat cadar Maya. Hal yang sama dilakukan Togar kepada Vina.

MAYA

Maya dan Vina tak kuasa melawan lagi. Mereka tak pernah membayangkan bakal melakukan perbuatan itu. Begitu kepala penisnya terjepit bibir Maya, Monang pun langsung memegang bagian belakang kepala Maya dan menariknya. Dua preman itu tak mempedulikan erangan dua gadis bercadar itu. Bonar terus merekam dengan handycamnya saat penis dua lelaki itu keluar masuk bibir Maya dan Vina di balik cadarnya. Tapi Bonar tak sabar juga. Ia berlutut di belakang kedua gadis itu, bermain-main dengan payudara dua gadis itu. Tak hanya itu, vagina telanjang kedua gadis itu pun diremas-remasnya. Vina dan Maya pun mengerang-erang kesakitan ketika puting mereka ditarik-tarik Bonar. Apalagi, jemari Bonar kemudian mempermainkan klitoris mereka sesuka hati.

Togar dan Monang seperti tengah berlomba. Keduanya mengocok penis mereka di mulut kedua gadis bercadar itu. Awalnya Togar yang berteriak keras saat mencapai puncak kenikmatan. Dibenamkannya jauh-jauh penisnya ke pangkal tenggorokan Vina. Gadis itu memelototkan matanya saat semburan sperma Togar memenuhi rongga mulutnya. Ia terpaksa menelannya, karena Togar terus memegangi kepalanya.

Tiba-tiba Togar mendorong kepala Vina hingga gadis itu jatuh terlentang. Tapi dengan cepat ia meringkuk, berusaha menutupi ketelanjangannya sebisa mungkin. Terdengar ia menangis. Kain cadar biru tua di bagian bibirnya terlihat basah oleh sebagian sperma Togar yang keluar dari mulutnya.

Tak lama kemudian, giliran Monang yang berejakulasi di mulut Maya. Seperti temannya, ia juga membiarkan beberapa lama penisnya tetap di dalam mulut gadis itu dan kemudian mendorong Maya jatuh ke sisi Vina.

Giliran Bonar mendekat. Langsung disergapnya pinggul Vina yang masih meringkuk di lantai. Mahasiswi itu menjerit-jerit dan meronta dengan sia-sia. Wajah Bonar telah melekat erat di selangkangannya. Mulut

Bonar dengan rakus melahap vagina Vina yang mulus tanpa rambut. “Aaakhhh….hentikaaaan… aarrghhh…oouhhhhh….nngghhhhh…” Vina merintih sejadi-jadinya. Lidah Bonar menyapu sekujur permukaan vaginanya.

Lalu terasa bibir kelaminnya dikuakkan dan kini lidah lelaki itu menjulur-julur ke dalam. Vina merintih panjang saat lidah Bonar menyentuh klitorisnya. Lalu, titik peka di tubuhnya itu pun dihisap kuat-kuat.

“Lepaskan….lepaskan….kalian bejat !” terdengar Maya memaki-maki. Togar dan Monang meringkusnya dan memaksanya menduduki wajah Vina. Monang menyingkapkan dulu cadar Vina sebelum akhirnya pangkal paha Maya melekat di bibirnya.

“Ayo, jilati memiaw temanmu ini !” kata Togar sambil menjepit kuat-kuat dua puting Vina.

Tak kuasa menahan sakit, Vina mulai menjilati kelamin temannya, sementara miliknya sendiri terus dijilati Bonar. Kedua gadis itu mengerang-erang. Monang dan Togar berebut menghisap puting Maya sambil tangan mereka meremas-remas payudara Vina.

“Ayo Bonar, lakukan sekarang !” ujar Monang. Bonar menyeringai dan menempatkan dirinya di antara kedua paha mulus Vina yang mengangkang lebar. Vina tak sadar apa yang akan terjadi sampai terasa sesuatu yang keras menekan liang vaginanya.

“Aaakhh…. jangaaann… mmff…” Vina menjerit. Kepala penis Bonar mulai menyelinap di antara bibir vaginanya.

Lalu, dengan kekuatan penuh, Bonar mendorong pinggangnya. “Aaaaaaaakkhhhhhh….!!!” Vina menjerit histeris, tapi jeritnya langsung terbungkam oleh vagina Maya yang ditekan ke mulutnya.

Bonar merasakan penisnya terjepit vagina Vina dengan sangat kuat. Tapi perlahan ia merasakan ada cairan yang membasahinya. Ia hapal betul, itu adalah darah dari koyaknya selaput dara. Bonar menarik mundur penisnya. Lalu seperti gila ia mendorong ke depan, menghunjam sampai terasa kepala penisnya menekan dinding belakang vagina Vina.

Bonar terus menggenjot dengan brutal. Vina menjerit-jerit kesakitan.

Sampai akhirnya…

“Ouughh…..aaargghhhhh….!!!” Bonar menggereng. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Vina. Pinggulnya sendiri didorong jauh ke depan.

Vina terisak-isak merasakan cairan hangat memenuhi rongga vaginanya

RIDA, PEGAWAI BANK

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Walaupun sehari hari ia mengenakan kerudung khusus untuk pakaian muslimah, Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak jilbab ungu Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan jilbab yang berwarna ungu. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai jilbab Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan jilbab ungu itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. kerudungnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena jilbabnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.