KISAH KELABU HANIFAH

Hanifah menangis tak berdaya menahan gejolak nafsunya. Tejo mulai menggerakkan kepala Hanifah yang tertutup jilbab naik turun, mengocok penisnya dengan mulutnya, sambil tangan kanannya mulai menggerayangi..

Tubuhnya yang langsing, padat dan dapat dibilang cukup menggiurkan untuk anak seusianya selalu tertutup oleh pakaian longgar. Rambutnya yang pendek ala Demi Moore selalu tertutup dengan jilbab lebar. Ia sangat menjaga penampilannya karena dia tahu, wajahnya yang cantik pastilah mengundang banyak laki2, dan sangat berbahaya jika dia tidak menjaganya. Apalagi usianya yang baru menginjak 17 tahun adalah usia dimana seorang gadis sedang ranum-ranumnya. Namun ternyata justru usahanya dalam menjaga dirinya malah membuat banyak laki2 penasaran untuk menyetubuhinya. Salah satunya adalah tetangganya, Tejo.

Hanifah, walaupun selalu berusaha menjaga dirinya, memang cukup supel dalam bergaul. Suatu malam Hanifah pulang dari menghadiri suatu acara rohani di sekolahnya dan ketika menunggu bis, Tejo muncul dan menawarkan diri untuk mengantarnya. Tejo, yang sudang mengintai mangsanya sejak seminggu lalu, tahu inilah kesempatan terbaiknya. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk obat perangsang yang sangat kuat, dan sebuah tustel. Karena takut kehabisan bis dan karena paksaan halus dari Tejo, jadilah Hanifah pulang bersama Tejo. Tejo sengaja mengambil jalan memutar lewat pinggiran kota yang sepi. Saat itu Tejo juga sudah sangat terangsang melihat baju hitam longgar dan rok hitam panjang yang dipadukan dengan jilbab lebar putih. Nuansa hitam yang dikenakan Hanifah membuat dirinya tampak misterius, sehingga Tejo semakin bernafsu untuk mengetahui lekuk tubuh yang tersembunyi itu.

Hanifah terkejut merasakan sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Ia merasa terangsang, sangat terangsang. Hanifah tak tahu Tejo sudah mencampur minuman yang tadi ditawarkan Tejo dan diminum gadis berjilbab itu dengan obat perangsang dosis tinggi. Lelaki itu tersenyum melihat Hanifah gelisah. Tiba-tiba Tejo menghentikan mobilnya ditepi jalan yang sepi.

“Hanifah, kau mau ini??” Tejo tiba-tiba menurunkan retsletingnya, mengeluarkan penisnya yang talah mengeras dan membesar. Hanifah yang selama ini belum pernah melihat penis laki2 secara langsung menatapnya terkejut, tubuhnya lemas tak berdaya, “J.. Jaangan. Tejo. Aku.. Harus balik.”

Tejo menarik kepala Hanifah yang terbungkus jilbab lebar, menundukkan gadis itu, menghadapkannya pada penisnya. Hanifah tak bisa menguasai dirinya, langsung membuka mulutnya dan segera saja Tejo mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Hanifah yang masih perawan.

“Akhh..enak sekali mulut cewek berjilbab…..” Tejo mengerang nikmat.

Hanifah menangis tak berdaya menahan gejolak nafsunya. Tejo mulai menggerakkan kepala Hanifah yang tertutup jilbab naik turun, mengocok penisnya dengan mulutnya, sambil tangan kanannya mulai menggerayangi pantat Hanifah yang tertututup rok panjang dan meremas-remasnya. Suara berdecak-decak liur Hanifah terdengar jelas. Tiba-tiba Tejo mengangkat kepala Hanifah hingga Hanifah tersandar kembali ke jok.

“Sudah..! Tejo!! Sudah..!” Hanifah menangis sesenggukan, terengah-engah. Air liurnya yang berlepotan menetes sampai membasahi jilbabnya.

Tubuhnya lemas. Tejo dengan cepat menyibakkan jilbab lebar Hanifah dan menyampirkannya ke pundak Hanifah sehingga terlihat dua bukit payudara gadis berjilbab itu yang menggunduk di balik baju longgar hitam yang Hanifah pakai.

Dengan penuh nafsu Tejo meremas-remas payudara gadis berjibab itu dari balik baju hitamnya dan segera membuka kancingnya. Lalu disibakkan baju longgar hitam yg sudah terbuka kancingnya itu, sehingga terlihatlah bh putih yang dikenakan gadis bercadar itu membungkus dua bukit indahnya yang besar menantang kencang menculat keluar. Kemudian ia membuka kancing rok panjang Hanifah dengan tak sabar, memelorotkannya hingga lepas. Tubuh Hanifah yang langsing dan sintal itu kini bawahannya hanya dibalut baju yang sudah terbuka, bra dan celana dalam katun hitamnya. Jilbab yang masih dikenakan Hanifah membuat Tejo semakin bernafsu.

“Oii Hanifah, kau ni bahenol nian. Aku ingin menyetubuhimu…..”

Tejo menarik Hanifah yang sudah lemas karena pengaruh obat perangsang dan melentangkannya di jok belakang kijang itu. Hanifah hanya mampu manangis sambil terengah engah. Tejo menarik celana dalam Hanifah dengan cepat, kemudian melepas paksa baju hitamnya dan menarik putus branya. Hanifah telanjang bulat dengan hanya jilbab yang menutupi bagian kepalanya. Kemudian Tejo mengambil sebuah tustel dan memfoto Hanifah beberapa kali. Tejo membukai pakaiannya sendiri dengan bernafsu. Melihat gadis yang masih mengenakan jilbabnya, namun bagian tubuh bawahnya telanjang, Joni menjadi semakin bernafsu.

Hanifah terus menangis tak berdaya melihat kemaluan Tejo yang besar dan panjang. Tejo mulai mengangkangkan kaki gadis itu kemudian menindihi Hanifah dengan bernafsu. Payudara Hanifah yang putih, kejal dan kencang disedot sedotnya hingga tubuh gadis berjilbab itu menggeliat geliat tak menentu.

“Ahh.. R.. Tejo.. S.. Sudahh.. Jangan..”

Melihat Hanifah menggeliat-geliat, menangis tak berdaya antara menikmati dan ingin berontak membuat Tejo semakin bernafsu. Sementara mulutnya sibuk mengulum mulut Hanifah, Tejo mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Hanifah. Hanifah menjerit ketika tiba-tiba Tejo menekan pinggulnya keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam tubuh Hanifah, merobek selaput daranya, yang ia jaga untuk suaminya kelak. Tejo mulai menggenjot gadis itu. Kedua tangan Hanifah ditekannya di atas kepala Hanifah di atas jok, sementara ia mengayun, menyetubuhi Hanifah dengan kasar dan bersemangat.

“Ohhs.. Shh. Oh. Hanifah…enak nian… Memek gadis berjilbab… Ssh..” Tejo mendesis desis nikmat.

Hanifah hanya bisa menangis tak berdaya, tubuhnya terguncang-guncang kasar, kijang itu terasa ikut berderit-derit bergerak mengikuti gerakan mereka berdua. Lama-kelamaan rasa sakit yang dirasakan gadis berjilbab itu berkurang, tergantikan dengan rasa nikmat. Tiba-tiba Hanifah yang sudah terpengaruh obat perangsang merasakan seluruh tubuhnya mengejang dalam kenikmatan. Hanifah mengerang dan menjerit keras, kemudian lemas. Ia orgasme. Sementara Tejo tidak peduli terus menggenjot Hanifah dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina dan darah perawan Hanifah yang mengalir deras.

Tejo berhenti bergerak kemudian membalik Hanifah, menengkurapkankannya.

“Sss.. Sudah Tejo. Sss sudah.. Jangan.”

Hanifah hanya bisa memohon dan menangis pasrah.

Tejo tidak peduli, ia mulai membukai lubang anus Hanifah dengan jari-jarinya.

“Aku ingin nyodomi kau Hanifah.. Tahan.” Tejo terengah-engah bernafsu.

Hanifah menahan nafas ketika dirasakannya kepala penis Tejo yang besar mulai memaksa membuka lubang duburnya yang sempit.

“AAKKHH!! Ampunn. R.. Tejo.. AkhhH!! SAKIT!!” Hanifah meronta hingga Tejo terjatuh dari jok.

Secara reflek Hanifah membuka pintu mobil dan berlari keluar, namun perih di selangkangannya membuatnya limbung dan tersungkur di semak belukar. Mereka berada dipinggiran kota ******* yang gelap dan penuh belukar. Tejo segera menyergap dari belakang, memiting tangan Hanifah kemudian mengikatnya. Kemudian menyusul kedua kakinya. Hanifah tertelungkup tak berdaya, menangis memohon,

“Ampun Tejo.. Jangan..”

Tanpa menunggu lagi Tejo kembali menindih punggung gadis berjilbab itu, kemudian memaksakan penisnya masuk ke lubang dubur Hanifah.

“AKHH!!” Hanifah menjerit kesakitan ketika Tejo mendesak masuk, senti demi senti. “Nikmati ajalah…. Hanifahn.. ssssshhH!” Tiba-tiba Tejo menekan dengan keras, membuat seluruh batang penisnya masuk ke dubur gadis itu.

Tubuh Hanifah mengejang kesakitan. Pandangannya berkunang-kunang menahan sakit. Walaupun penis Tejo sudah dibasahi cairan vaginanya, masih tetap terasa seret dan kesat. Kini Tejo mulai mengeluar masukkannya, dan setiap ia bergerak tubuh Hanifah mengejang kesakitan. Hanifah menangis dan mengerang kesakitan, namun hal itu malah membuat Tejo semakin bernafsu menyodominya dengan kasar. Ia semakin bernafsu melihat jilbab yang masih dikenakan Hanifah. Akhirnya Hanifah lemas dan hanya bisa merintih kesakitan. Hanifah, gadis berjilbab itu di sodomi ditepi jalan, diatas semak belukar.

Tiba-tiba sekelebat cahaya senter membuat Tejo yang tengah bernafsunya berhenti.

“Hei! Lagi ngapain itu!!” Tiga orang bertubuh tegap muncul.

Tejo segera mencabut penisnya kemudian berdiri. Hanifah ambruk kesakitan. Hanifah hanya dapat melihat keempat lelaki itu berbicara tak jauh darinya, menunjuk-nunjuk dirinya sambil tersenyum-senyum. Tiba-tiba Tejo menarik tubuh Hanifah, mendudukannya, sementara ketiga orang tadi tiba-tiba membuka celana masing-masing.

“Tolong Pak. Aku diperkosa dia!!”Hanifah memohon sambil menunjuk kearah Tejo….

Tapi salah seorang dari orang itu tiba-tiba mencengkeram kepalanya yang masih tertutup jilbab, meludahinya kemudian mengarahkan penisnya kemulut Hanifah.

“Aku dak peduli! Sekarang kulum ini! kalau tidak kutembak pepekmu…!!”

Gadis berjilbab itu menangis ketakutan, ketiga orang itu malah minta jatah. Dengan terpaksa Hanifah mulai mengulum dan mengemut batang penis milik orang itu, sementara dua rekannya dan Tejo mendekatinya.

Orang itu menarik kepala Hanifah lepas dari penisnya. Penisnya sudah menegang penuh, besar dan panjang. Mereka membentang terpal ditepi jalan, kemudian orang itu melentangkan tubuhnya. Temannya mengangkat tubuh Hanifah dan mengangkangkannya diatas rekannya tadi. Ketika penisnya tepat berada di vagina Hanifah, mereka menarik tubuh Hanifah hingga penis orang itu masuk dengan lancar ke selangkangan gadis berjilbab itu.

Hanifah menangis ngilu dan perih. Hanifah ditengkurapkan. Sementara vaginanya terus dipompa dari bawah, seseorang dari mereka memaksa Hanifah membuka mulutnya dan mengulum penisnya. Kepalanya dipegang erat-erat kemudian digerakkan maju mundur dengan kasar. Jilbab putihnya sudah lusuh dan kotor, terkena tanah dan air liurnya sendiri, yang mengalir deras saat dia dipaksa mengulum penis orang-orang tadi. yang satu lagi meremas remas kedua payudara Hanifah, memilin-milin putingnya yang coklat dan runcing. Tejo tiba-tiba berlutut di belakang Hanifah, kemudian kembali memaksa masuk ke dubur Hanifah. Tubuh Hanifah menegang dan mengejang kesakitan. Jeritan gadis berjilbab itu tertahan karena mulutnya tersumbat penis.

Gadis berjilbab itu hanya bisa menangis dan mengerang merintih tertahan, meratapi nasibnya dalam hati. Tejo mulai memompa dubur Hanifah dengan bernafsu. Bergiliran dengan orang yang memompa vaginanya dari bawah. Tiba-tiba Tejo mengerang, mencengkeram pantat Hanifah yang putih sekal itu, dan menekankan penis sedalam-dalamnya ke dalam anus Hanifah, bersamaan dengan itu Hanifah dapat merasakan semburan spermanya mengisi duburnya. Belum sempat Hanifah bernafas normal, seorang yang tadi sibuk dengan payudaranya menggantikan posisi Tejo, menduburinya dengan kasar, dengan bantuan sisa sperma Tejo di anusnya. Peluh sebesar jagung mengalir disekujur tubuh Hanifah, bercampur dengan peluh pemerkosanya.

Tejo mengambil tustel di mobilnya kemudian memfoto adegan Hanifah yang diperkosa tiga lelaki bersamaan, disemua lubang ditubuhnya, vagina, anus dan mulutnya. Hanifah yang telanjang bulat dan tinggal mengenakan jilbab lusuh yang menutupi kepalanya tengkurap diatas pemerkosanya yang memeluknya erat, sementara seorang lagi yang tengah mengerjai duburnya dengan semangat mencengkeram pinggulnya, dan seorang lagi mencengkeram kepala Hanifah yang terbungkus jilbab dan memaju mundurkannya, memaksa gadis berjilbab itu mengulum penisnya.

Hingga tiba-tiba kepala Hanifah dipegang erat, penis dimulutnya dimasukkan hingga ke tenggorokannya, kemudian cairan sperma mengalir deras mengisi rongga mulutnya, dan karena saking banyaknya meluber sampai membasahi jilbab putihnya.

“Telenn!! Semua! Cepat! Aakhh!” Hanifah gelagapan tak bisa bernafas terpaksa menelan semua cairan kental yang masih tersisa dimulutnya. Kemudian lagi-lagi cairan sperma memuncrat mengisi dubur dan vaginanya. Hanifah pingsan. Ketika sadar ia sudah didalam mobil, berpakaian lengkap, Tejo menyeringai disebelahnya.

Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Hanifah tepat dibelahan pantatnya. Gadis berjilbab itu hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak perlahan ke duburnya, masuk senti demi senti.

Seminggu setelah kejadian di pinggiran kota itu, Hanifah tengah menunggu rumahnya sendirian. Seluruh isi rumah pergi menginap di Krian karena ada acara keluarga, kecuali 2 keponakannya yang masih berumur 5 tahun. Jam 9 malam ketika tiba-tiba pintu diketuk. Segera ia memakai jilbab rumah yang berbahan kaus berwarna pituh, dan bergegas membuka pintu. Tejo tiba-tiba muncul di balik pintu itu.

“Pergi dari sini!” Hanifah berusaha mengusir Tejo.

Namun dengan santai Tejo mengeluarkan beberap lembar foto dan diletakkannya di atas meja. Gadis ini miliknya, dan entah mengapa ia sangat terangsang jika melihat Hanifah tersiksa. Wajah putih gadis berjilbab itu memucat melihat foto-foto yang diletakkan Tejo diatas meja. Itu foto telanjangnya dan foto-foto adegan ketika ia digagahi beramai-ramai oleh orang malam itu.

“Nah, Hanifah sekarang nurut aja.. Tenang aja, aku janji tidak maen kasar.” Tejo menyeringai sambil mengelus paha Hanifah yang tertutup rok panjang biru.

Hanifah memang disuruh menjaga rumah itu sendirian bersama kedua ponakannya yang masih kecil yang sudah tidur. Hujan turun deras membuat udara malam itu dingin menggigit. Hanifah diam pasrah ketika Tejo menariknya ke belakang.

“Tenang …, kalau tidak nurut fotomu, kusebarkan di kampung kau. Biar tahu kalau gadis berjilbab kayak kamu bisa dientot.” Tejo menarik Hanifah kedapur, pintu depan belum ditutup. Hanifah mendesis tak berdaya. “Tenang ….., Hanifah. Aku cuma sebentar..”

Tejo mulai meraba-raba payudara Hanifah yang masih tertutup t shirt dan jilbab. Hanifah memang sudah bersiap tidur hanya mengenakan t shirt lengan panjang longgar tanpa BH dan rok panjang yang juga longgar. Puting susu Hanifah yang runcing tampak menonjol keluar ketika Tejo menyampirkan jilbab Hanifah ke bahu sambil terus menggerayangi dada Hanifah. Gadis berjilbab itu menggigil ketika baju kaosnya disibakkan ke atas dan ditarik lepas oleh Tejo sehingga bagian atas tubuh gadis berjilbab itu tinggal menyisakan jilbab putihnya. Dengan tangannya Tejo menarik tangan Hanifah yang berusaha menutupi dadanya yang telanjang kemudian mulai menggerayangi payudara gadis itu dengan mulut dan lidahnya.

Hanifah hanya dapat tersandar ketembok yang dingin sambil meringis-ringis ngilu ketika Tejo menggigiti putingnya sementara tangannya dengan leluasa memelorotkan rok panjang longgar Hanifah hingga jatuh ke lantai. Tejo terbelalak melihat celana dalam sutra Hanifah yang berwarna putih dengan motif bunga itu begitu mini dan seksi. Ia tidak pernah berpikir kalau gadis berjilbab lebar seperti Hanifah mau memakai celana dalam seseksi itu. Tanpa menunggu lagi jilatan Tejo turun ke perut Hanifah yang rata, pusarnya, kemudian lambat laun celana dalam Hanifah menyusul jatuh ke lantai. Tejo melempar semua busana Hanifah jauh ke sudut. Dengan sedikit paksaan Tejo membentang paha Hanifah kemudian menjilati vagina gadis berjilbab itu.

“Ohkk..”

Hanifah terdongak merintih-rintih ngilu, antara rasa nikmat, marah dan malu menguasai dirinya ketika kedua tangan Tejo mencengkeram pantat sekalnya, membuka lebar vaginanya kemudian menjilatinya dengan bernafsu. Nafas gadis berjilbab itu terengah-engah tak terkendali mencoba menahan dirinya agar tidak terangsang.

Tejo berdiri kemudian membuka baju dan celananya, hingga pakaian dalamnya, kemudian memegang penisnya yang panjang dan besar.

“Isep Hanifah, ayo. Kalau tidak ingin dikasari.”

Hanifah terpaksa berlutut dihadapan Tejo, kemudian mulai menjilati batang penis Tejo. Hanifah memejamkan matanya kemudian mulai mengocok Tejo dengan mulut dan lidahnya. Tejo mencengkeram kepala Hanifah yang masih terbalut jilbab kemudian menggerakan kepala Hanifah maju mundur, menyetubuhi mulut gadis berjilbab itu. Suara berdecak-decak terdengar jelas disela deras air hujan. Hanifah berusaha semampunya agar Tejo puas dan berhenti, ia menjilat, mengulum, mengocok sebisanya. Tejo mengerang-erang nikmat, tubuhnya sampai tersandar ke meja dapur, “Ahh. Ohh. Hanifahh… Kau memang gadis alim yang pintar.. Ohh..”

Tiba-tiba Tejo menarik tubuh Hanifah kemudian mendudukkannya di atas meja pantry. Hanifah hanya diam sambil terengah-engah ketika Tejo mengangkangkan kedua pahanya kemudian mulai menekan pinggulnya. Gadis berjilbab itu meringis ngilu dan merintih panjang ketika penis Tejo yang keras dan besar itu menerobos vaginanya. Tejo mulai menyetubuhi Hanifah, memperkosanya dengan bertubi-tubi. Hanifah hanya mendengus-dengus dan merintih-rintih menahan diri. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan kencang. Peluh membasahi tubuh mereka berdua. Hanifah memejamkan matanya berharap Tejo selesai, sementara lelaki itu terus menyentak-nyentak, mengeluar masukkan rudalnya ke dalam tubuh Hanifah yang padat dan langsing, semakin bernafsu melihat gadis alimn yang masih memakai jilbab putihnya, dengan muka merah menahan dirinya agar larut dalam kenikmatan. Tejo semakin cepat menggenjot gadis itu, dan akhirnya Hanifah tidak dapat menahannya lagi. Diiringi seringai kemenangan Tejo, gadis berjilbab itu memekik lirih sambil memejamkan mata. Seluruh tubuhnya mengejang dalam kenikmatan, diiringi mengalir derasnya cairan vagina Hanifah. Tubuh putihnya terguncang-guncang selama beberapa saat.

Beberapa saat kemudian Hanifah terperanjat ketika membuka matanya, Ada lima lelaki bertubuh besar telanjang bulat di dapur itu! Ternyata Tejo membawa teman-temannya dan mereka menunggu di mobil.

” Apa-apaan ini, Tejo!!” Gadis berjilbab itu berontak melepaskan diri. Tapi ia tersudut disudut ruangan. Keenam lelaki itu mengepungnya.

“Sudahlah Hanifah. Mereka cuma temen yang pengen ngerasain memeknya cewek berjilbab. Kalau kau njerit tidak akan ada yang dengar juga. Paling ponakanmu aja yang bisa dengar……. Pintu depan udah kami kunci, lampupun udah kami matikan. Kamu pasti dikira sudah tidur.. He.. He. Nurut aja.., aku janji tidak kasar, …………..!”

Tejo dan kelima temannya menyeringai bernafsu. Tubuh Hanifah lemas, ia tak dapat melakukan apa-apa lagi selain pasrah. Tak terasa air telah tergenang di pelupuk matanya. Tangannya ditarik ketengah ruangan, kemudian disuruh berjongkok.

“Ayo! Sedot punya kami ramai ramai….!”

Enam batang penis disodorkan diwajah Hanifah. Dan sambil menangis Hanifah terpaksa mulai meng’karaoke’nya bergantian.

“Ohh.. Hebat amat…….., gadis ini Joooo…”!!” “Akhh. Aku.. Nak. Keluarr..” Srett.. Srrtt.. Kepala Hanifah yang masih terbalut jilbab dipegangi beramai-ramai sehingga ia terpaksa menelan sperma mereka satu demi satu, bahkan sampai mengalir ke jilbab putih yang masih ia kenakan. “Katamu segala lubang cewek ini bisa dimasukin..??” Tejo hanya tersenyum sambil mengangguk…… “yuuuk kita coba nusuk rame…rame……!!”

Hanifah menangis mendengarnya, “Jangann.. Ampun.. Sakit..”

Dengan cepat mereka menarik tubuh putih Hanifah yang langsing dan padat itu dan menengkurapkannya di lantai. Kelima lelaki itu mengeroyoknya, ada yang memegangi tangannya, menahan kakinya dan menunggingkan pantatnya, ada yang menahan kepalanya hingga Hanifah benar-benar tak dapat bergerak. Air mata terus deras mengalir dari matanya. Salah seorang dari mereka mengambil botol minyak goreng di dekat kompor.

“Kami baik kok, Hanifah, biar tidak sakit, kami minyaki dulu.”

Yang lain tertawa tawa, Hanifah dapat merasakan minyak goreng itu dituangkan dibelahan pantat putihnya yang sekal, kemudian terasa jari jemari mereka mengusap-ngusap pantatnya, membukai lubang anusnya kemudian menusuk-nusuknya beramai-ramai. Hanifah menangis dan merintih nyeri ketika lubang anusnya dibuka paksa oleh jari-jari itu. Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Hanifah tepat dibelahan pantatnya. Gadis berjilbab itu hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak perlahan ke duburnya, masuk senti demi senti.

Hanifah mulai disodomi dilantai dapur itu. Sebuah penis yang berbau menjijikkan disodorkan diwajahnya.

“Isep dulu Hanifah, kalau tidak kami sodomi serempak ………berlima!”

Hanifah terpaksa mulai mengulum-ngulum penis lelaki yang berlutut dihadapannya, berusaha menahan diri agar tidak muntah. Sementara lelaki yang dengan kasar menyodominya terus menyentak-nyentak. Hanifah melihat sekilas salah seorang dari mereka mengambil sebuah terong panjang besar berwarna ungu dari kulkas. Tiba-tiba gadis berjilbab itu merasakan sesuatu yang dingin dan keras menerobos vaginanya.

“Nghh..!!”

Hanifah hanya mampu melenguh perih karena mulutnya tersumpal sebuah penis yang terus bergerak maju mundur. Seorang lelaki mengeluar masukkan terong itu ke vaginanya sementara duburnya disodomi.

“Biar terpake semua lubangnya….!!”

Mereka tertawa-tawa puas. Tiba-tiba lelaki yang sedang menyodominya mengerang dan menyodok dengan keras. Hanifah dapat merasakan cairan sperma yang hangat tumpah di anusnya. Kemudian rekannya segera mengambil alih posisinya menyodomi Hanifah. Tiba tiba lelaki yang dari tadi di’karaoke’ oleh Hanifah berbaring terlentang, dengan isyarat ia meminta teman-temannya menarik Hanifah ke atas tubuhnya. Kemudian menarik tubuh gadis berjilbab itu hingga penisnya masuk ke vagina gadis itu. Bless.

“Aarhh..!!” Hanifah mengerang kesakitan, sebelum sebuah penis lagi menyumbat mulutnya.

Hanifah kembali diperkosa tiga orang sekaligus. Payudaranya diremas-remas dengan kasar hingga Hanifah merasakan sakit bukan hanya dari dubur dan vaginanya yang dikocok paksa tapi juga dari buah-dadanya yang dipilin dan diremas dengan kasar. Jilbab putih yang masih dikenakannya malah membuat keenam orang itu semakin bernafsu memperkosanya. Tiba-tiba kedua tangannya ditarik kemudian dilumuri minyak sayur. Kemudian dipegangkan pada penis dua lelaki lain. Hanifah tertelungkup, dipeluk erat dari bawah, sementara vaginanya dipompa dengan kasar, seorang lagi menyodomi gadis berjilbab itu seperti binatang, seorang lagi memaksanya menghisap penisnya, menyetubuhi mulut Hanifah dengan mencengkeram kepalanya yang masih memakai jilbab, sedangkan dua lagi minta dikocok dengan kedua tangan Hanifah.

Dan setiap salah seorang mencapai kepuasan, yang lain segera menggantikan posisinya, hingga pagi menjelang. Matahari mulai muncul ketika Tejo menyentak-nyentak dubur Hanifah dengan keras dan

“Oohh..”

Ia menyemburkan spermanya dipantat Hanifah. Hanifah pingsan. Ia tertelungkup telanjang diatas lantai. Sperma berlepotan di perut, punggung dan wajah dan jilbabnya, satu-satunya pakaian yang masih dipakainya, yang malah membuat para pemerkosanya semakin bernafsu menggagahinya.

Mereka tidak sadar jendela terbuka dengan lampu menyala. Beberapa pemuda di rumah sebelah menyaksikan semuanya. Bahkan mereka memfoto dan memfilmkan kejadian itu. Bahkan dengan aneh, Tejo membiarkan pintu dapur terbuka ketika pulang.

Keenam pemuda itu menggilir Hanifah di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, gadis berjilbab tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya..

Keenam pemuda berandal itu segera bergegas ke rumah Hanifah. Hanifah baru saja sadar. Dubur dan vaginanya perih. Ia tertelungkup di lantai dapurnya, telanjang. Sperma kering berceceran di sekujur tubuhnya. Ia tersentak ketika lampu blits menyala. Betapa terkejut Hanifah melihat enam pemuda tetangganya berdiri mengelilinginya, sibuk memfoto tubuh telanjangnya sambil menyeringai. Mereka tersenyum mesum sambil menatap tubuh Hanifah. “Ternyata kamu memang hebat….Hanifah…..” Gadis berjilbab itu menangis tak berdaya ketika mereka membopong tubuh putihnya yang berlepotan sperma kering ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih lemas. Dengan mudah tubuhnya ditelungkupkan diatas ranjangnya. Jilbab putih yang sudah penuh noda sperma tadi tetap dibiarkan terpakai di kepala Hanifah. Rupanya sama seperti Tejo dan kawan-kawan, para berandalan itu juga tambah bernafsu melihatnya.

“Jangann…… ponakan aku nanti bangun.. Jangan..” Hanifah menangis tak berdaya.

Ia tahu mereka tak segan-segan menyebarkan fotonya. Jika itu terjadi entah bagaimana nasibnya di kampung itu.

“Diem Hanifah, biarkan kami melakukannya dengan enak…jadi nurut aja……”

Seseorang dari keenam pemuda itu membuka celananya. Menunggingkan pantat putih Hanifah. Kemudian mulai menyodomi anus Hanifah.

“Uhh uhh! Uhh!” seperti binatang ia mulai menyentak-nyentak dubur gadis berjilbab itu.

Wajah Hanifah terbenam diatas kasur, meringis dan menangis tak berdaya, sementara kelima pemuda lain telah membuka celana masing-masing sambil mengocok kemaluannya memperhatikan Hanifah yang terengah engah tak berdaya. Anusnya perih dan kesat. Hingga tiba-tiba pemuda itu menekan keras. Hanifah menggigit seprei menahan sakit. Sperma pemuda itu muncrat mengisi anus Hanifah, bertubi tubi.

“Aaahh.. sssssshhhhhhhh……enak…..bennnerrr.”

Ia terkulai lemas. Menarik penisnya dari anus Hanifah. Begitu pemuda pertama selesai, yang kedua segera mengganti posisinya. Menyodomi Hanifah dengan brutal. Hanifah hanya bisa melolong tertahan. Tertelungkup sambil menggigit sepreinya kencang. Keenam pemuda itu menggilir Hanifah di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, gadis berjilbab tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya.

Mereka berenam tertawa. Hanifah lemas ketika dilentangkan. Kemudian lelaki yang selesai meyodominya tiba-tiba duduk didada Hanifah,

“Ayo suruh ngisep ………!” penisnya yang berlumuran kotorannya yang kental kuning dan bau itu disodokkan ke mulut Hanifah. Sementara rekannya yang lain memegangi kepalanya. Hanifah terbelalak dan meronta ronta. Lelaki itu menyetubuhi mulutnya. Dan Hanifah dapat merasakan cairan asam, pait dan busuk itu memenuhi mulutnya. Hanifah meringis menahan muntah. Tapi mereka tak peduli. Hanifah tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Keenam pemuda itu segera keluar. Diluar suasana mulai ramai.

“Hanifah, ingat yah kalu kami kepengen kamu harus melayani kami………..!! ……..Setiap kami ingin!”……. Ancam mereka. Dan Hanifah hanya sanggup menangis. Sejak kejadian malam itu Hanifah tak berdaya……….ia betul betul kehabisan tenaga…dan dia hanya bisa diam terpaku dirumah sambil merenungi nasibnya…… Dan Hanifah tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

****

Di suatu pagi yang dingin, Hanifah berangkat berjalan kaki menuju halte bis. Disana ada bis yang akan mengantarkannya ke sekolahnya SMA ***** yang jauh dari rumahnya. Baju seragam putih lengan panjang, rok abu-abu panjang dan jilbab putih bersih membalut tubuhnya ketika tiba-tiba lengannya dicekal. Tono, salah seorang yang memegang fotonya dan yang pernah memperkosanya rame rame bersama Tejo……… Tono menarik Hanifah ke balik pagar seng kumuh.

“Jangan Kak. ………..” Hanifah menangis ketika melihat Tono sudah memelorotkan celananya. “Terserah, kalau kamu nolak……, foto mu akan tersebar dikampung sini…” gadis berjilbab itu dipaksa berjongkok. ahirnya iapun kembali pasrah….. “Ayo, isep.”

Hanifah dipaksa mengoral Tono. Tempat itu adalah bekas pembuangan sampah yang sudah dipagari seng. Hanifah dengan jengah memasukkan penis Tono ke mulutnya, kemudian mulai menyedot dengan cepat, berharap Tono segera ejakulasi. Air liur gadis berjilbab itu meleleh ke dagunya, turun membasahi jilbab putih yang ia kenakan. Tono mencengkeram kepala Hanifah yang berjilbab itu kemudian menyetubuhi mulutnya. Baju seragam SMA dan jilbab putih yang Hanifah pakai malah semakin membuat Tono terangsang.

“lepas rok mu, Hanifah..”

kata Tono sambil menarik Hanifah berdiri, dan menggerayangi tubuh Hanifah yang masih terbungkus BH, seragam sekolah dan jilbab. Hanifah menangis, tapi ia tahu percuma membantah. Perlahan ia membuka kancing rok panjang abu-abunya kemudian menurunkan retsletingnya. Tono menelan ludah ketika rok itu merosot ke mata kaki. Gadis berjilbab itu mengenakan celana dalam mini berenda.

“Ayo, nunduk! Cepat.”

Hanifah dipaksa berpegangan pada sebuah bekas meja. Kemudian celana dalamnya dipelorotkan menyusul roknya. Tono telah ngaceng berat. Tanpa ba bi Bu lagi ia menyodokkan penisnya ke vagina Hanifah dari belakang.

“Ukhhnnghh. Nghh!” Hanifah merasa ngilu di selangkangannya. Tono merasakan vagina Hanifah yang kering dan kesat menjepit penisnya, menimbulkan kenikmatan.

“Jeritlah kalau berani Hanifah. Uh! Uh! Uh!”

Tono mulai menyetubuhi Hanifah. Menyodok nyodok gadis berjilbab itu hingga tubuhnya tersentak sentak. Hanifah mencengkeram pinggiran meja itu keras, menggigit bibirnya menahan jeritan kesakitan. Di samping seng terdengar beberapa orang lewat. Hanifah mati-matian menahan jangan sampai bersuara. Tono yang melihat itu semakin bernafsu memperkosa Hanifah. Tangannya bahkan telah menyusup kedalam baju gadis berjilbab itu setelah membuka kancing seragam putih Hanifah. Ia meremas remas payudara Hanifah yang bundar menggantung. Bahkan Tono mencabut penisnya dan memindahkannya ke lubang dubur Hanifah.

“Ngngkh!! Nghh!!” Hanifah menggigit bibirnya.

Hampir terjerit. Dan Tono menunggangi gadis berjilbab itu seperti anjing. Hingga, croott.. Crrt.. Crrt. Spermanya memancar mengisi dubur Hanifah. Tono meremas buah pantat Hanifah yang putih dengan keras. Ia mencabutnya perlahan.

“Ohh.. Nikmat Hanifah. Besok lagi ya he he he.” Tono membenarkan celananya sambil menyeringai. Meninggalkan Hanifah yang terduduk lemas.

Hanifah kembali termangu…….sampai kapan penderitaan ini berahir?……

LINA

Hai, sudah lama sekali gak ketemu denganku ya? Sekarang aku, wawan, akan kembali menceritakan pengalaman yang kudapat dengan seorang mahasiswi berjilbab baru-baru ini.
Pada suatu hari, aku sedang berjalan dan melihat sebuah pengumuman tentang sebuah kursus les privat bahasa inggris. “Diampu oleh mahasiswi bahasa inggris tingkat akhir yang sangat kompeten di bidangnya” kata pengumuman itu.
Wah, mahasiswi, pikirku. Langsung saja aku coba untuk mengontak dan mendaftar lewat nomor yang tertera di pengumuman itu.
Akhirnya, siang itu juga, setelah janjian di rumah baruku yang kecl namun terawatt rapi (yaiyalah, biaya perawatanya aja 2juta sebulan!), aku menunggu dia. Tidak sampai 5 menit dari waktu yang disepakati, bel pintu depan berbunyi dan ketika kubuka, kulihat sesosok wajah cantik yang berjilbab, tersenyum didepan pintu.
“Assalamu alaikum.. mas wawan ya?” kata dia. Segera saja kupersilahkan masuk dan kubawa ke ruang dalam rumahku, agar lebih pribadi hehe.

rupanya gadis manis berjilbab hitam ini namanya Lina, mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negri terkenal. Manis juga, pikirku. Kulitnya putih langsat, tinggi, lebih pendek sedikit dari aku. Kira – kira sekitar 165 cm. Wajahnya oval dengan hidung yang mancung. Yang paling menggairahkan adalah bibirnya. Kecil merah muda merekah.. Badannya lumayan bagus, agak kurus tapi montok, terutama bagian pantat dan dadanya. Ia mengenakan rok hitam panjang dan baju yang longgar. Buahdadanya yang besar nampak menyembul dari balik jilbab dan baju hitamnya. Lina ini baru brumur 21 tahun. Masih muda juga, pikirku.
Setelah beberapa lama berbincang2 dan masuk ke materi, terlihat Lina agak gelisah. Tentu saja gelisah, karena sudah kucampur obat perangsang diminumannya hehe.
“Eh,… mas… bisa pinjem kamar mandinya“, tanya Lina beberapa saat kemudian.. Kelihatannya Mahasiswi berjilbab cantik itu sudah gak kuat. Biasa terjadi pada yang terangsang, mereka langsung ke kemar mandi. Yang gak kuat lagsung masturbasi sendiri, yang kuat Cuma membasahi muka agar sadar.
“Bisa,… masuk aja…. Sepi koq, nggak ada siapa – siapa. Kamu jalan terus aja, ntar kamar mandinya di sebelah kiri.“ Jawabku. Sengaka kuberi kamar mandi yang slotnya agak rusak sehingga gak bisa dikunci hehe. Langsung saja Lina bergegas menuju kamar mandi, entah mau apa hehe. Langsung saja ku ikuti dirinya perlahan.
Beberapa saat kudiam didepan pintu kamar mand, sampai kudengar desahan dan rintihan Lina, wah, ternata dia gak kuat, udah pegang2 sendiri kataku hehe. Langusng saja aku masuk ke dalam kamar mandi. Kudapati si Mahasiswi berjilbab montok itu ini duduk di kloset sambil memeknya terbuka lebar. Roknya sudah tersingkap keatas. Tangannya mengelus2 memeknya keenakan.
“Eh,.. sorry mbak, cuma mau nganterin sabun….“, kataku. Agak lama juga kami berdua terpaku. Lalu perlahan – lahan aku mendekati Mahasiswi berjilbab cantik itu yang masih termangu. Wajahnya merah padam, sebagian malu, sebagian lagi gak kuat menahan birahi. Kepalanya menggeleng pelan, namun tangannya tidak mampu berhenti memegang memeknya. tanganku mulai mengocok kontolku dengan pelan dari luar celana jeansku. Mahasiswi berjilbab cantik itu merhatiin apa yang aku sambil terus memegang memeknya.
“Tolong dong sekalian pegang kontolku, mbak…..“, pintaku sambil mendekat. Lina kelihatan ragu.
Kuhampirinya dengan pelan. Kutarik tangannya dan kutuntun ke kontolku. Dipegangnya kontolku dengan ragu ragu. Kemudian dengan lembut ia mulai mengocok kontolku turun naik. Kesampaian juga keinginanku untuk dikocok tangan halus itu.
“Ahh… enak sekali mbak….uh…“. rintihku. tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal.
“Ssshh.., ahh…jangan… “ Lina merintih keenakan. Tak kuhiraukan omongannya, tanganku mulai merogoh payudaranya. Mahasiswi berjilbab cantik itu semakin terangsang. tangannya mulai mempercepat ritme gosokannya di memeknya dan kontolku. Segera tanganku menyibakkan jilbabnya kepundaknya, lalu mencopoti kancing baju dan BH nya. Segera setelah baju dan BH nya jatuh ke lantai, payudara Lina dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara Mahasiswi berjilbab montok itu. Langsung kuremas payudara kirinya sementara tangan kananku memilin – milin dan menarik putting susu kanannya.
“Ah……“ Lina semakin merintih keenakan. Kudekatkan kepalaku ke dadanya, ku hisap – hisap puting kanannya. Lina semakin menggelinjang. Tangan kananku mulai bergerak turun, mengelus – elus perutnya yang padat. Karena terangsang, dengan cepat aku melorotkan celana jeans dan cd ku. Kontolku langsung menyembul keluar memperlihatkan seluruh bentuknya. Mata Mahasiswi berjilbab montok itu tak lepas – lepasnya dari kontolku.
Tangannya mulai membelai buah pelirku dengan ganas semantara tangannya yang lain semakin keras mengocok memeknya.
Nikmat sekali rasanya gesekan tangannya dengan kontolku. Rasa enaknya sampai ke seluruh urat sarafku sehingga tanpa kusadari badanku mulai bergetar keenakan. Kedua tanganku segera bergerak menjelajah ke bagian memek Lina.
Segera kutemukan clitoris di belahan memeknya. Lina telah mencukur habis jembutnya sehingga terasa memeknya licin dan bersih. Memek model begini yang membuat aku terangsang hebat. Kubuka belahan memeknya. Tangan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang satu berpindah dari memeknya, membantu memberi kenikmatan di kontolku.
“Ah……enaaak… “ Lina mengejang keenakan begitu ku gosok dengan lembut clitorisnya. Kuputar – putar clitorisnya dengan ibujariku sementara jari tengahku mulai masuk ke liang senggamanya yang sudah basah kuyup.
Melihat Lina sudah terangsang berat, langusng kusodorkan kontolku ke mulutnya. dengan ganas kontolku kumasukkan ke dalam mulutnya. Sedotannya terasa enak sekali. Lidah Mahasiswi berjilbab cantik itu yang bermain – main di bagian sensitifku sementara mulutnya yang menghisap maju mundur membuatku kesetanan. Tanganku meremas – remas payudara dan pantatnya dengan kuat, lebih kuat dari sedotannya.
“mmmmmmm…..“, Mahasiswi berjilbab montok itu mengeluh keenakan. Beberapa detik kemudian rasa enak itu tak dapat kutahan lagi.
“Ahhh… mbak, aku mau klimaks nih….uh…..“. Lina tak menyahut, hanya mempercepat gerakan mulut dan lidahnya. Tak dapat kutahan lagi, spermaku keluar dengan derasnya. Begitu banyaknya yang keluar sampai – sampai spermaku menetes keluar dari mulutnya. Setelah 6 sampai 7 kali semprotan, aku pun lemas keenakan.
Lina tau kalau aku sudah puas, ia mulai mengendorkan sedotannya, lalu kemudian melepaskan kontolku dari mulutnya. Lina rupanya telah menelan semua spermaku, sedangkan tetesan sperma yang sempat lolos dari mulutnya menetes ke jilbab dan payudaranya.
Walaupun telah mencapai klimaks, kontolku tetap nggak mau kendur juga. Langusng kutarik Mahasiswi berjilbab cantik itu berdiri, aku berganti duduk di kloset. Kuposisikan dia membelakangiku. Ia bereaksi menarik rok hitamnya keatas pinggangsehingga semakin memamerkan memeknya dari belakang. bagus bener bentuknya, pikirku. Memek yang bersih licin itu berwarna merah jambu. Karena tak ada sehelai rambutpun yang menutupinya, dengan jelas dapat kulihat setiap lekuk memeknya. Memek yang basah kuyup dengan bibir yang merekah itu menantangku. Tak boleh kulewatkan kesempatan untuk ngerasain memek cewek ini. Kuremas memeknya dari belakang, kugesek clitorisnya dengan semua jari – jariku. Kugosok – gosok clitorisnya dengan cepat.
“sssss… cepetan mas,… cepet masukin kontolmu… aku udah gak tahan….. ssss“, Lina memohon. Lalu dengan jari telunjuk dan jari tengah kubuka bibir memeknya. Kontolku tanpa basa basi langsung kuhujamkan keliang vaginanya yang sudah terbuka.
“Ahhh…“, Lina merintih keenakan karena kontolku bener – bener menuh – menuhin memeknya dari dalam. Dengan beberapa kali desakan, kontolku kudorong mentok ke liang rahimnya. Memek Mahasiswi berjilbab cantik itu bener – bener seret rasanya. Enak sekali ngerasain memek yang seret anget basah itu. Kali ini kugerakkan pinggangku maju mundur secara kuat, Lina tampaknya menyukainya.
“terusss… ahh…. Lebih cepat… lebih cepat…. Ahhh….“ Tangan kiri Lina mulai menggesek – gesek clitorisnya sendiri menggantikan tanganku. Kupercepat gerakan ku sampai sampai terdengar bunyi gesekan kontolku dengan memek Lina. Kupegang pinggang Mahasiswi berjilbab cantik itu dengan kedua tanganku untuk membantu kontolku keluar masuk. Lina juga tak mau tinggal diam, ia memutar – mutar pinggulnya dengan kencang. Tak lama kemudian Lina mulai menggelinjang, menggelepar – gelepar sambil merintih keenakan. Tak sampai lima detik kemudian tubuhnya menegang. Sambil berteriak keenakan Mahasiswi berjilbab montok itu mencapai klimaks. Kurasakan denyutan memeknya memijat – mijat kontolku dengan kerasnya. Keadaan ini membuat kontolku muntah untuk kedua kalinya. Kami berdua merintih keenakan.
Sedetik kemudian kami colapse di lantai porselen putih kamar mandi itu. Kami berdua terengah – engah, mengatur nafas yang mungkin terlupakan sewaktu kami berdua asik tadi. Kupeluk Lina dari belakang. Kudekatkan bibirku ketelinganya.
“Makasih ya mbak“, bisikku dengan agak parau. Kuciumi tengkuknya dengan lembut, lalu perlahan – lahan kujilati kupingnya sambil merintih untuk memancing Mahasiswi berjilbab cantik itu kembali. Kontolku masih tetap ngaceng, mau minta lagi. Ku tempelkan kontolku ke pantatnya, perlahan kugesek – gesekkan.
Tanganku mulai beraksi lagi. Kujelajahi memeknya yang kian basah. Spermaku meleleh keluar dari memeknya dan membasahi pahanya. Kumainkan cairan putih itu. Clitorisnya yang mulai lemas kembali menegang. Tanganku mulai naik ke atas, meremas – remas payudaranya yang padat. Mula – mula lembut kemudian mengeras dan mengeras. Lina merintih keenakan. Pantatnya yang sintal mulai digosok – gosokkan ke belakang sehingga menyentuh kontolku.
Tak tahan lagi kumasukkan kontolku ke memeknya dari belakang. Kutindih tubuh Lina. Lina yang dalam posisi telungkup dan berada di bawah tak bisa berbuat banyak. Di rentangkannya kakinya yang mulus dan jenjang itu untuk mempermudah kontolku masuk.
Dengan tangan yang terus meremas – remas dan memilin – milin payudara serta putingnya itu aku memompa Mahasiswi berjilbab montok itu dengan sangat bernafsu.
“Oh… enak sekali mas….“,katanya tersengal – sengal. Kuciumi tengkuknya dengan ganas. Lina hanya bisa menggelepar keenakan. Tak lama kemudian Lina klimaks untuk kedua kalinya. Tanpa memperdulikan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang terus mengejang kupercepat ayunan kontolku. Bunyi yang dihasilkan dari kecepatan dan basahnya memek Lina membuatku makin bernafsu. Lama sekali Mahasiswi berjilbab cantik itu mengejang keenakan sampai akhirnya aku keluar juga. Kali iniku semprotkan spermaku ke pantatnya. Karena udah tiga kali aku klimaks, air maniku tak sebanyak semprotan yang pertama dan kedua, tapi cukuplah untuk membasahi pantat Lina yang merangsang itu. Akhirnya aku colapse lagi di atas mahasiswi berjilbab cantik itu. Mahasiswi itu kunikmati semalaman, merintih2 sampai pagi dirumahku

ZASKIA

Godaan birahi bisa menerpa siapa saja, tak kenal tebal tipis imannya, tak kenal dia alim atau bermuka mesum. Orang berjilbab pun tak pernah bisa lepas dari namanya godaan seks, bahkan malah lebih parah, sangat doyan seks dibanding wanita tidak berjilbab. Entah kenapa pikiranku kini tertuju pada wanita mungil bernama Zaskia Adya Mecca, artis berjilbab ini toketnya tidak besar justru malah membuatku ngaceng. Aku secara pribadi aku tidak mengenalnya, namun jika aku menyatut nama salah satu artis yang pernah aku garap pastilah dia akan tahu. Dengan berbekal modal seperti itu aku menjadi nekad, aku pengin menyetubuhi Zaskia Adya Mecca ini. Aku pengin sekali lagi merasakan batangku ditelan dalam bibir mungil seperti milik Cut Memey, kalau Zaskia Adya Mecca yang melakukan apalah jadinya, lebih kecil di banding milik Cut Memey.

Modal nekad saja yang aku bawa untuk mencoba menyantroni vagina Zaskia Adya Mecca yang pastilah sangat sempit untuk ukuran kontolku. Aku juga hanya bisa fifty fifty saja untuk kali ini. Dengan kutambahi semangat sore itu aku meluncur ke rumah Zaskia Adya Mecca yang tinggal bersama suaminya Hanung Bramantyo seorang sutradara. Tepat ketika menginjak jam 7 malam aku sampai di depan rumahnya, entahlah .. kalo orangnya nggak ada ya sudah .. lain hari aku bisa lakukan lagi. Kukantongi nomer handphone Zaskia Adya Mecca dari artis yang sering kuajak bercinta. Tak lama kemudian aku pun cuap cuap dengan Zaskia Adya Mecca.

“Oooh .. Burhan .. okee deeh .. tunggu saja yaaa .. surprise daaah “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan tertawa, rupanya Zaskia Adya Mecca malah mengenalku. Tak lama kemudian Zaskia Adya Mecca membukakan gerbang, aku pun memasukan mobilku, huuuuh ..sungguh megah rumahnya, wanita mungil ini sangat cantik sekali dengan pakaian baju lengan panjang dan celana panjang, tak lupa jilbabnya yang menambah kecantikan dan kemolekan tubuhnya semakin tercetak jelas karena pakaiannya tidak longgar, justru malah menampakan busungan dadanya itu. Tak terasa penisku semakin tidak tahan dengan kemolekan tubuh mungil seksi milik Zaskia Adya Mecca.

Aku dipersilakan duduk di ruang tamu bagian depan, yang mungkin kelak di mana aku menggeluti Zaskia Adya Mecca dengan bertelanjang bulat, kubayangkan tubuh Zaskia Adya Mecca meliuk liuk di sofa yang kududuki itu, dengan merengek rengek pengin disetubuhi dengan kontol besar, atau aku pengin kontolku hanya dijilati oleh lidah Zaskia Adya Mecca karena besarnya bibir mungilnya tak akan muat dimasukin batangku, kurasakan penisku mendesak desak luar biasa, untung aku memakai kaus yang longgar sampai menutupi selakanganku. Senyum manis diberikan padaku setelah aku bersalaman dengannya, tangannya lumayan dingin.

Tak lama kemudian aku dihidangkan minuman dingin agar aku segar, kami berbincang bincang berdua, entah kenapa Zaskia Adya Mecca tidak merasa risih padaku yang baru dikenalnya.

“Sudah lama berkecipung dalam dunia itu ?” tanya Zaskia Adya Mecca dengan mimik yang membuatku semakin tergoda, terkadang muka mesumnya tampak, entah aku merasa terkejut tiba tiba rokok di depanku diambil, Zaskia Adya Mecca langsung menyulutnya, kemudian menghisapnya dalam dalam.

“Doyan rokok juga ya “ tanyaku dengan bercanda

“Aaaaah ..dah lama .. “ jawab Zaskia Adya Mecca dengan cuek

“Kalo rokok hidup pasti juga suka .. “ kataku dengan tertawa sampai membuat Zaskia Adya Mecca melemparkan bungkus rokokku. Hampir sejam kami saling berbicara, banyak masukan yang aku berikan, saatnya aku melancarkan aksiku, entahlah .. aku bingung melakukan dari mana, meminta langsung jelas tidak mungkin. Entahlah . aku sampai termenung sampai Zaskia Adya Mecca mengibaskan tangannya agar aku tidak tercenung seperti orang bloon. Apalagi dari obrolan kami, Zaskia Adya Mecca sedang di rumah sendirian, hanya pembantu tua renta di pojokan belakang yang jauh dari rumah megahnya itu.

“Sorry deh .. aku banyak pikiran yang tak bisa kuselesaikan sendir .. terkadang kita manusia tidak bisa hidup sendirian .. “ kataku menetralisir dan disambut senyum manis plus nakalnya itu, muka mesumnya semakin tampak ketika ekor matanya yang nakal itu melirik ke selakanganku, ketika aku tak sengaja mengambil handphoneku karena bergetar dan berdering, mata Zaskia Adya Mecca sampai membuka ke atas kemudian tersenyum kecut karena kaosku kembali menutupi selakanganku.

Zaskia Adya Mecca kemudian pamit menuju ke belakang, aku menguntitnya diam diam, ketika masuk ke ruang tengah, aku menyelinap lebih dalam, tak lama kemudian Zaskia Adya Mecca mencariku karena tidak ada di ruang tamu

“Haaaaan .. kemana nich .. “ panggil Zaskia Adya Mecca padaku, aku kemudian sudah berada di belakangnya, aku sudah tidak tahan lagi, aku pengin segera melucuti pakaian Zaskia Adya Mecca itu, kurasakan batangku sungguh tersiksa, aku langsung membekap tubuhnya, kubekap bagian mulutnya agar tidak berteriak. Zaskia Adya Mecca meronta ronta. Tangannya kuat hendak melepaskan diri, namun aku kuat memegangnya dan tanganku tepat meremas kedua bukit kembarnya itu.

“Mmmmffffffff …mmmmmmmmmhhhhhhhhh .. “ suara yang keluar dari mulut Zaskia Adya Mecca yang kubekap dengan telapak tanganku. Kubisikan kata kata gombal

“Aku sudah nggak tahaaan . pengin merasakan tubuhmu, Zaskiaaaaa “ kataku membuat mata Zaskia Adya Mecca melotot, Zaskia Adya Mecca masih mencoba melawan, namun sudah tidak mampu karena aku sangat kuat memegang tubuhnya, kakinya hendak menendang nendang, namun aku sudah menguncinya, kutarik tubuhnya kemudian aku membawanya ke karpet empuk di belakangku, kemudian aku memaksa Zaskia Adya Mecca bisa berada di karpet, aku langsung menindihnya

“Mau apa kau “ bentak Zaskia Adya Mecca dengan memukul kepalaku. Kutahan rasa sakit itu.

Anehnya Zaskia Adya Mecca tidak berteriak ketika tanganku kulepas itu.

“Aku pengin bercinta denganmu .. “ kataku polos

“Aku istri milik orang .. nggak bisa .. “ tolak Zaskia Adya Mecca dengan masih kesal. Aku tak tahan, maka aku langsung menyerbu bibirnya, Zaskia Adya Mecca menolak dengan diam tidak membuka bibirnya, aku terus merangsangnya, kuremas buah dadanya itu, buah dadanya sudah mulai menyembul menegang karena rangsanganku yang gencar melakukan gerilnya

“Pleasee ..jangaaan aaaaaaah .. pleasee “ rengek Zaskia Adya Mecca, ketika berbicara itu mulutnya terbuka, maka aku langsung menyumpal dengan bibirku dan kusedot. Zaskia Adya Mecca sampai melotot karena aku sudah melumat bibirnya dan menghisap, tanganku semakin nakal, bagian selakangannya aku elus elus dan kutekan meembuat Zaskia Adya Mecca menjadi tak karuan

“Haaaaan ..aaakuu mooohoon .. jangaan lakukaan .. “ iba Zaskia Adya Mecca dengan menatapku lekat, namun tak lama kemudian kembali menunduk mmebiarkan aku semakin nakal bermain dengan selakangannya itu, kuusap selakangan Zaskia Adya Mecca dengan telapak tanganku

“Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh …aaaaaah “ erang Zaskia Adya Mecca ketika aku naik meremas buah dadanya itu dengan penuh kelembutan. Aku juga tidak tahan lagi, aku membuka kancing bajunya, Zaskia Adya Mecca seolah olah pasrah, membiarkan aku lebih dalam memasukan tanganku masuk ke dalam bajunya, kemudian menyingkirkan cup BHnya, tanganku langsung menangkap bukit kembarnya sebelah kirinya lalu kuremas dengan gemas

“Pleasee ..Haaaaaaan .. jangaaaan .. Ooooh .. dosaa aaaaaaaaaah “ Zaskia Adya Mecca masih mencoba melawan pikirannya, namun hatinya sudah buta oleh birahi. Aku menjadi semakin menguasai wanita ini, kubisikan kata kata yang membuat Zaskia Adya Mecca sampai melotot

“Kau akan merasakan kontol besarku, Zaskia .. kontolku lebih besar dari pada punya suamimu .. buktikan saja “

“Jangaaaaaaaaaan “ tolak Zaskia Adya Mecca lagi.

“Kalo begitu aku akan memperkosamu .. “

“Jangaaaaaaaaaan “ kata itu lagi yang keluar dari mulut Zaskia Adya Mecca

“Kalo begitu aku akan pergi .. “ pancingku untuk membuang logika berpikirnya.

“Jangaaaaaaaaaaaan “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan merem merasakan remasan tanganku di buah dadanya dengan lembut. Aku sampai pengin tertawa keras namun kutahan, kulirik selakangannya sudah mulai membasah.

“Maukah kau bercinta denganku . “ tanyaku dengan lekat memandang wajah Zaskia Adya Mecca yang masih merem menikmati remasan tanganku di buah dadanya, kelembutan buah dadanya sungguh membuatku semakin ingin terus menggeluti Zaskia Adya Mecca sepuasku, kutarik resluting celanaku dengan tangan kiriku, kemudian tanganku memaksa membuka, walau sulit namun aku berhasil mengeluarkan rudalku yang sudah ngaceng bak tugu monas itu. Zaskia Adya Mecca masih belum menyadari kalau batangku sudah menyembul keluar dari celana dalamku, aku tetap meremas buah dadanya dengan pelan pelan.

Jilbabnya masih terpasang di kepalanya hanya bergeser ke samping membuka sedikit kelihatan rambutnya.

“Akan kuberikan kenikmatan cinta, sayang “ kataku dengan menindihnya lagi membuat Zaskia Adya Mecca membuka matanya dan memandangku

“Kau benar benar nekad …. “ ujar Zaskia Adya Mecca hanya malah memburu dengan nafas tak karuan. Kugiring tangannya menyelusup ke selakanganku, Zaskia Adya Mecca sampai melotot matanya ketika penisku digenggamnya.

“Ooooooh .. My God .. … “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan kaget dan mendorong dadaku dengan kuat, aku sampai terduduk dengan penisku mengacung perkasa, Zaskia Adya Mecca sampai menutup mulutnya menyaksikan batangku itu tepat di hadapannya. Zaskia Adya Mecca sampai tak berkedip memandang batangku yang besar itu, bahkan Zaskia Adya Mecca sampai sangat kawatir, bibirnya sampai gemetaran menyaksikan kontol besar, Zaskia Adya Mecca hanya diam memandang batangku yang bergerak pelan ke sana kemari karena nafasku juga mulai tak karuan.

“Ayolah, sayaaang .. nikmati saja kontolku .. “ bujukku dengan memegang tangan Zaskia Adya Mecca ke penisku, Zaskia Adya Mecca sangat kuat menahan tangannya namun akhirnya Zaskia Adya Mecca menurut juga sehingga kini penisku terpegang namun Zaskia Adya Mecca masih diam, lingkaran jari tangannya tidak bisa melingkari batang penisku.

“Sialan kau Haan .. kamu kesini hanya pengin tubuhku ?” pandang Zaskia Adya Mecca tanpa melepaskan pegangan pada batangku

“Aku sudah nafsu .. sudahlah sayaaang .. malam ini akan kuberikan kenikmatan tiada duanya .. akan kuberikan kepuasan batin .. “ rayuku dengan semakin nakal mengusap selakangannya yang semakin membasah. Zaskia Adya Mecca melirik ke samping.

“Jangan di sini .. “ bisik Zaskia Adya Mecca ke telingaku dengan mendekat, aku menjadi senang, akhirnya kudapatkan wanita bengal nan mesum wal doyan kontol ini. Aku langsung meraup tubuh mungil Zaskia Adya Mecca ini dan kupondong ke kamar di arah lirikan Zaskia Adya Mecca tadi. Zaskia Adya Mecca merangkulku

“Kalo ketahuan Kang Hanung kamu harus berani ambil resiko “ ucap Zaskia Adya Mecca dengan wajah mesumnya yang mulai tampak, ketika masuk kamar dan kututup dengan kakiku, Zaskia Adya Mecca memegang handle kemudian mengancing pintu itu, kulemparkan wanita mesum ini ke ranjang kamar tidur tamu ini. Zaskia Adya Mecca sampai tersenyum semakin nakal.

“Buka bajumu, Zaskia sayaaang ..sisakan jilabmu .. “ perintahku dengan tidak memandangnya karena aku membuka kaosku dan membuangnya, kemudian memelorotkan celanaku yang sudah tak karuan karena lepas kancing dan reslutingnya. Zaskia Adya Mecca dengan ragu hendak membuka bajunya, namun melihatku yang sudah naik dengan telanjang bulat membuat Zaskia Adya Mecca pelan pelan membuka kancing bajunya. Birahi telah membutakannya.

Aku kemudian langsung menarik kakinya, kubuka celana panjangnya

“Kau sudah tidak tahan, bukan ?”

“Kau benar benar nakal, Haaaaan .. hhhhmmm .. tapi kontolmu .. benar benar besar sekaaalii .. aku tak yakin bisa masuk ke vaginaku … “ kata Zaskia Adya Mecca dengan sikap nakalnya mulai mengemuka. Bajunya sudah lepas, punting susunya sudah mencuat, tangannya ke belakang membuka kaitan BHnya, dan BH itu akhirnya lepas, kemudian dilempar kemukaku.

“Silakan beri aku kenikmatan yang kau katakan .. “ kata Zaskia Adya Mecca dengan membuka lebar pahanya ketika celana panjangnya kutarik itu, celana dalam warna pink itu sudah basah termakan birahi, kupelorotkan celana dalamnya, Zaskia Adya Mecca sampai tangannya menutup vaginanya karena malu

“Luar biasa sempit .. tenang saja,sayang .. vagina eeh .. tempek dan kontol itu lentur .. “ kataku ngawur

“Kamu jorok “ maki Zaskia Adya Mecca dengan mencubit lenganku

“Katakan deh .. bilang suka sama kontol besarku .. “ desakku

“Ogaaaah aaaaaaaaaah “ tolak Zaskia Adya Mecca dengan tersenyum nakal, kini Zaskia Adya Mecca mulai bersikap mesum, namun belum sempat aku bicara, Zaskia Adya Mecca menyela

“Tadi aku sempat melihat selakanganmu pas ngambil hape .. kontolmu besar banget ..aaaaah .. meman betul, Han .. kontolmu besar .. malah lebih besar dari dugaanku .. “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan memegang batangku dengan kuat kemudian menggeleng geleng.

“Kau benar benar munafik .. nggak mau nyatanya sangat mau .. payah aah “ ejekku

“Habis kamu maksa sih “ balas Zaskia Adya Mecca dengan tertawa.

“Masak aku bilang .. yuuk bercinta denganmu .. kuno aaah “ kataku dengan langsung mendorong tubuh Zaskia Adya Mecca dan menindihnya, kulumat bibirnya. Zaskia Adya Mecca kemudian membalas lumatanku, kutahan kepalanya agar jilbab yang menututpi bagian atas tidak terlepas. Kurasakan lumatan demi lumatan kami saling menghisap. Zaskia Adya Mecca sampai kewalahan ketika dengan sangat nakalnya aku melumat da meremas buah dadanya.

“Mmmmmhhhh ..mmmmmmmhhhhhhh …hhh.. “ lenguh Zaskia Adya Mecca ketika bibir kami terlepas, nafsu sudah semakin memburu.

“Lakukan Haan .. lakukan sayang .. lakukan .. jangan biarkan aku kedinginan .. malam ini aku adalah milikmu .. aku sudah 2 minggu tidak digauli sama suamiku .. beri aku .. aaaah .. aku pengin air manimu memenuhi memekku .. “ kata Zaskia Adya Mecca dengan memohon. Aku hanya menggeleng geleng

“Tidak mau ? jahat aaaaaah “ protes Zaskia Adya Mecca

“Bukan itu, bukan itu ..sayaaang .. kamu menolak awalnya .. kini malah pengin .. “ kataku dengan gemas

“Aaaaaaaaaah ..kalo itu aaah mana kutahu .. segera deh .. yuuk … aku nggak keberatan bercinta denganmmu .. aku pengin merasakan kontol besarmu .. aku menikah dengan Hanung cuma masalah harta kok .. ayooo deh .. masak kamu mau membiarkan aku kesepian .. aku milikmu sayaaang .. milikmu ..segera tumpahkan spermamu di dalam tempekku .. sodok tempekku dengan kontolmu .. aku senang denga kontol besarmu itu .. “ pancing Zaskia Adya Mecca.

Aku langsung kembali menindih, kami saling memeluk dengan penuh nafsu, kami saling memilin dan meremas, Zaskia Adya Mecca sampai meremas sprei sekuatnya ketika tidak tahan akan lumatan dan remasan tanganku di buah dadanya bergantian. Jilbabnya semakin basah dengan keringat kami, namun menambah indahnya tubuh telanjang polos dan hanya ada penutup kepala. Sebentar lagi akan kumasukin lubang surgawinya dengan kontolku, namun aku pengin mengerjai dengan mengulum penisku mampu atau tidak.

Kami berdua saling merangsang dengan penuh birahi, Zaskia Adya Mecca semakin lama semakin terbuai dengan indahnya birahi, penisku juga sudah tidak tahan lagi, aku pengin merasakan kuluman dan jilatan lidah Zaskia Adya Mecca yang mungil itu. Tak terasa aku menggeluti istri Hanung Bramantyo ini dengan penuh kelembutan, kulakukan dengan penuh kemesraan, pelan pelan kuatur ritme lumatanku dari ganas menjadi penuh kelembutan, remasan tanganku di buah dada Zaskia Adya Mecca kulakukan dengan lembut meremas dan kadang memutir punting susunya itu. Zaskia Adya Mecca dengan gemas melingkarkan kakinya menjepit pinggangku kemudian memegang kepalaku, namun tangan kirinya menggapai gapai mencari pegangan karena tidak tahan dengan lumatanku yang panjang tanpa memberikan nafas kepada Zaskia Adya Mecca. Gerakan geliat tubuh mulus nan putih Zaskia Adya Mecca sering tertahan dengan tubuhku yang menindih sangat gemas, terkadang Zaskia Adya Mecca dengan memaksa menahan kepalaku untuk mengambil nafas, kulepas remasan buah dadanya itu dan kedua tanganku menyelusup di balik jilbabnya itu, kuangkat dan aku kembali melumat bibir Zaskia Adya Mecca tanpa memberikan jeda dalam berpagutan sangat lama. Zaskia Adya Mecca sampai terengah engah ketika aku melepaskan pagutan dan lumatan itu.

“Sssssssssshhhhh ..ssssssssssssssshhh …mmmmmmmhhh .. hhhhhsssss ..hhhhh “ Zaskia Adya Mecca merasakan beratnya nafas, nafasnya berantakan kepalanya mengeleng pelan menandakan tidak kuat melayani adu bibir dengan lama. Dadanya naik turun, badanya semakin mengkilap karena keringat. Matanya semakin sayu pertanda lapar sekali akab birahi. Aku mendiamkan saja Zaskia Adya Mecca mengatur nafasnya, aku kemudian bangun dan berposisi duduk, kutarik tubuh Zaskia Adya Mecca agar kupangku, Zaskia Adya Mecca menurut dan kemudian dengan gemulai menopangkan kedua tangannya kepundakku

“Kaaauu ..heee..heebaaat ..saay sayaaaang “ ujar Zaskia Adya Mecca dengan terbata bata sambil mengusap mukanya yang penuh air liur itu. Dibenahi jilbanya yang posisinya berantakan itu.

“Jangan dilepas jilbabmu, sayaaang .. “ kataku sambil menghembuskan nafasku menerpa ke mukanya

“Oke deeeh ..sayaaang .. nggak masalaaah .. walaaau panaas .. tapi demi sebuah kenikmatan cinta harus berani mengambil resiko .. “ kata Zaskia Adya Mecca sampai merogoh ke bawah dan meremas batangku dengan pelan. Kupangku Zaskia Adya Mecca dalam pahaku itu, Zaskia Adya Mecca mengangkang dari vaginanya sudah sangat basah termakan birahi. Kuberikanw aktu untuk menghela nafas agar Zaskia Adya Mecca bisa kembali bersemangat mengarungi samudera birahi bersamaku.

“Sekarang .. aku pengin kamu mainin kontolku .. emut kontolku yaa . tapi aku pengin ini duluuu .. “ perintahku pada Zaskia Adya Mecca yang tersenyum dengan sangat mesumnya

“Srruuuuuuuuuuuuuuuup “

Punting susunya aku kulum dan air permainkan, Zaskia Adya Mecca meremasi kepalaku, menekan nekan kepalaku agar aku bermain di kedua bukit kembarnya itu, kukulum punting itu dengan kusedot sedot

“Sayaaaaaaang aaaaaaaaaah … isaaaaaaaaap ..aaaaaaaah ..enaaaaaaak “ erang Zaskia Adya Mecca dengan menggelinjang sehingga membuat penisku jutsru malah terdesak oleh selakangan Zaskia Adya Mecca yang menekan, gesekan antara dinding luar vagina dengan penisku membuat Zaskia Adya Mecca semakin lama semakin tidak tahan.

“Sayaaaaaaang .. geliiiii aaaaaaaaaaaaah “ timpal Zaskia Adya Mecca dengan merangkulku lebih erat agar aku bisa semakin lama bermain dengan buah dadanya, kuremas buah dadanya ketika aku mengulum punting sebelahnya. Zaskia Adya Mecca sampai mendongak ke atas merasakan remasan tanganku yang semakin kuat merengkuh kenyalnya daging di dadanya itu, Zaskia Adya Mecca sampai melengkung memberikan buah dadanya dan kupermainkan dengan lidah dan tanganku.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Zaskia Adya Mecca penuh kenikmatan ketika buah dadanya aku remas dengan kuat, kepalanya kemudian menggeleng geleng dengan ke sana kemari membuat jilbabnya yang memanjang ke belakang bersliweran ke sana kemari, luar biasa nafsu seksnya wanita ini, tubuh mungil itu sudah memberikan jiwa raganya untuk kuberikan kenikmatan surga. Memberikan tubuhnya untuk kunikmati luar dalam, untuk disantroni vaginanya dengan penisku dan menyemburkan air maniku dalam dalam.

Cumbuan demi cumbuan, rangsangan demi rangsangan semakin membuat Zaskia Adya Mecca menjadi semakin suka

“Teruuus Haaaaan .. aaaaaah .. akuuu sukaaaa kamuuu aaaaaaaah .. kaaau aaaaaaaah .. benaar benaar memuaskan akuuuuuuu ..hhhsssss ….ssssssssshhhhh .. mmmmmmmmhhhh “ kata kata Zaskia Adya Mecca bercampur dengan desisan tak karuan itu, kusudahi bermain dengan buah dadanya, kemudian aku memberikan pagutan mesra.

“Haaaaaaaaaan ..aaah, sayaaang … saatnya aku disetubuhi, sayaaaaaaaaaaang “ ajak Zaskia Adya Mecca

“Belum, Zaass .. aku masih pengin kitaaa .. kitaaa …saling mencumbuuu duluuu .. aku pengiin kamuuu menguluuum kontolkuuu kalo kamu sanggup menelan kontolku ini .. “ kataku sambil membawa tangan Zaskia Adya Mecca menuju ke penisku yang mengaceng dengan sangat kuat itu. Zaskia Adya Mecca kemudian mundur dari selakanganku dan menyaksikan batangku mengkilap karena keringat yang membanjir di seluruh tubuhku.

Zaskia Adya Mecca memandang ke batangku dengan sangat kawatir, saking besarnya batangku itu.

“Nggak bakalan masuk dalam mulutku, sayaaaaaaang .. jadi maafin yaaa .. aku cukup menjilati kontolmu itu .. palingan aku telan buah telurmu itu ..hi hi hi hi hi hi .. “ ucap Zaskia Adya Mecca dengan tertawa kecil.

“Lakukan Zaskiaaa .. aku pengin kamuuu menjilati kontolku ini .. sebelum aku menggenjotmu nanti ..”

“Iiih … omonganmu sangat jorok banget .. dari kontol, tempek, genjot, memek, vagina, itil, silit .. muka mesum, kau sangat menghinaku dengan kata itu … aku bermuka mesum ndak sih ? “ kata Zaskia Adya Mecca dengan tertawa lagi dan kali ini sangat mesum sekali.

“Lha kamu merasa mesum ndak sih ?” tanyaku yan balik yang disambut tawa Zaskia Adya Mecca

“Lha kalo posisi begini dengan suami brengseku itu .. ya mesumlah .. “ balas Zaskia Adya Mecca kemudian dan mencubitku

“Katakan deh .. aku memang mesum “ godaku

“Nakaaaaaaal aaaaaaaaah ..dasar muka kontooool “ ejek Zaskia Adya Mecca dengan tertawa.

“Emang mukamu nggak yaka tempekmu apa ?” balasku lagi yang di sambut dengan rengkuhan tangan Zaskia Adya Mecca ke kepalaku dan langsung melumat bibirku dengan rakus, kulayani lumatan Zaskia Adya Mecca itu sampai dirinya ngos ngosan lagi.

“Trims, sayaaaaaang .. biarlah aku bermuka tempek .. kamu bermuka kontol .. “ kata Zaskia Adya Mecca sambil melepaskan tangannya dari kepalaku kemudian menepuk nepuk pipiku.

“Janji yaaa .. kalo aku ngajak kamu begini kamu nggak boleh nolaaak .. aku punya villa di Bogor .. kapan kapan kita berdua saja di sana, mengadu birahi, memuaskan hasrat kita .. diperlakukan aku di sana bak seorang istri yang harus kau geluti siang malam .. kamu nanti bisa menggenjotku terserah kapan kamu mau ..”

“Oke deeh “

Zaskia Adya Mecca kemudian mundur lagi, kini dengan membungkuk langsung menjilati batangku dari atas ke bawah kemudian naik lagi, lidahnya yang kecil itu terasa membuat batangku geli.

“Yaaaa aaaaaaaah .. kaaamuu …aaaaah .. mukaaa tempeeek yangg sukaaa sama kontol “ kataku sambil mengelus elus kepala lewat jilabnya itu. dengan penuh kerakusan Zaskia Adya Mecca menjilati batangku berulang ulang, tangan kiriku menyusuri punggung mulusnya itu, sedang tangan kananku turun ke arah dadanya dan meremasnya dengan gemas, tangan Zaskia Adya Mecca sampai menahan tangan kananku agar tidak meremas dengan kuat

“Sssssssssh …hhhhmmm ..mmmmmmmmfffff .. “ desis Zaskia Adya Mecca ketika dengan sangat rakusnya menjilati batangku naik turun, bahkan mulutnya membuka dan ingin menelan diameter batangku pas ditengah, sialnya Zaskia Adya Mecca kemudian menggigit batangku dengan giginya walau pelan membuat sampai meremas buah dadanya dengan kuat

“Zaaaaaaaaskiaaaaaaaaa …..aaaaaaaaaaaaaaah ..nakaaaaaaaaaaal kamuuuuuuuu .. “

Zaskia Adya Mecca kemudian tersenyum ke atas padaku sambil menjulurkan lidahnya

“Kontolmu adalah kontol terbesar yang pernah kurasakan .. punya suamiku .. wuiih .. sudah jelek kecil lagi ..kalo ini mah extra large deh .. mimpi apa aku ini dapat kontol besaaaaaar “ kata Zaskia Adya Mecca yang kemudian kembali menjilati batangku nai turun, kemudian menjilati buah zakarku dan dimasukan ke dalam mulutnya dan dikulum, lidahnya sangat piawai mengerjai telurku, aku sampai berdegup kencang.

Jilatan lidahnya kembal menjur julur, tangannya kemudian mengocok batangku dengan gemas dan senang sekali, sesekali tersenyum melihat besarnya batangku itu, kocokannya sangat nikmat dan tidak kasar, tidak cepat sampai membuatku gemetaran di kaki. Kocokan demi kocokan dilakukan Zaskia Adya Mecca dengan senang dan sesekali naik mencium pipiku tanda senang sekali.

Zaskia Adya Mecca membuka mulutnya dan memasukan kepala penisku, terasa sangat sesak, diemutnya kepala batangku dan disedot dengan kuat

“Huuuuuuuuuuuuuuuuh .. pinteeer kamuuu mainin kontol, sayaaang “ pujiku sambil merapikan jilbabnya itu. Zaskia Adya Mecca kemudian berusaha membuka lebar mulutnya namun besaran penisku tidak muat, Zaskia Adya Mecca hanya mampu menelan batangku sepertiganya saja.

“Panjaaaaaaaang .. besaaaaaaaar ..uuuuuuuh .. luar biasa kontolmu ini .. aku bisaaa pingsan kalo aku digenjot oleh kontolmu ini .. hihihihihihi “ goda Zaskia Adya Mecca dengan sangat nakalnya.

Zaskia Adya Mecca kemudian mengeluarkan batangku dan dikocok kocok lagi, lingkaran jari jari tangannya tidak bisa menjangkau diameter batangku itu.

“Kau wanita hebaaaaat ,sayaaaaaang .. aku suka sama muka mesummu yang persis tempekmu itu “ pujiku yang disambut dengan senyum nakal Zaskia Adya Mecca itu

“Trim .. aku suka julukan ituuuu, sayaaaaaaang .. muka tempek, membuat aku bersemangat ingin segera aku disetubuhi.. aku sudah nggak tahaaan .. pengiiin kontolmuuu mengoyak tempekku “ balas Zaskia Adya Mecca dengan kembali langsung menjilati batangku. Zaskia Adya Mecca akhirnya berhenti bermain dengan batangku kemudian merebah ke ranjang lalu membuka pahanya lebar lebar

“Giliran aku sayaaaaaaaang .. cumbu aku di tempekku ini .. buat aku menggelepar sampai puncaaak ..ajaaak akuu ke puncaaaaaaak birahiii ..segeraaa sayaaaaaaang .. “ pancing Zaskia Adya Mecca dengan menatapku penuh dengan kenafsuan birahi.

Aku langsung saja menyusuri pahanya yang mulus itu dengan menjilati sampai membuat Zaskia Adya Mecca menjadi menggelinjang

“Gelii aaaaaah… sayaaaaaaang ‘’ kata Zaskia Adya Mecca dengan mengelus elus kepalaku, aku menjilati dengan pelan pahanya sebelah kiri itu sampai di segitiganya yang sudah membasah itu, sampai di vaginanya yang jembutnya tipis itu, aku menjilati pelan pelan, terasa asin dan amis bau vaginanya, namun bau wangi samar samar menerpa hidungku, terasa menambah semangatku untuk terus menguliti nafsu birahi Zaskia Adya Mecca yang kelihatan alim di luar karena berjilbab itu, namun nyatanya tak beda dengan tempeknya .. suka mesum.

Kususuri daging belahan vaginanya itu dengan lidahku membuat Zaskia Adya Mecca menggelinjang bak cacing kepanasan di padang pasir.

“Uuuuuuuuuuh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah ..uuuuuuuuh ..sssssssshhh .. ooouuuh ..aaaah .sayaaaaaang ..teruuuus ..cumbuuuu aaaaaaaah …tempekkku aaaaaah eeenaaaaaaaaaaaak .. pinteeer aaaaah “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan meremas sprei dengan kuat merasakan jilatan demi jilatan lidahku merongrong vaginanya itu. Tangannya sangat kuat sekali meremas sprei, tubuhnya kadang hendak menggelinjang ke kanan dan kekiri, lidahku semakin dalam membuka daging kenyal itu, cairan dari dalam tak pernah berhenti meneteskan cairan kewanitaannya.

Kusedot bibir vaginanya itu sampai membuat Zaskia Adya Mecca menggigit bibirnya kuat kuat, Zaskia Adya Mecca sampai merem melek keenakan, bola matanya hanya memutih, badannya kembali menggeliat, kuremas buah dadanya dengan kuat membuat Zaskia Adya Mecca semakin kewalahan

“Teruuuus aaaaaah teruuuus ..yaaaaaaaaaaa.. teruuuus .nggaaak aaaaaaah ..taaahaaaaaaan “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan keras membuat kamar sangat berisik penuh dengan rintihan, erangan dan lenguhan serta desisan kami. Lubang vaginanya semakin melebar, kaki Zaskia Adya Mecca mulai merapat menjepit kepalaku, sehingga aku tak bisa kemana mana sekalin bermain dengan tempek milik Zaskia Adya Mecca ini.

“Teruus … yaa ..sayaaaang ..aaakuu sukaa kamuu .. kamuuu pandaai memuaskaaan aaaakuu “ kata Zaskia Adya Mecca tanpa membuka kepalanya, jilbabnya kemudian diatur lagi agar tidak lepas, nafasnya semakin berantakan. Pahanya merapat dan aku pun juga merasakan, tidak lebih dari sepuluh menit Zaskia Adya Mecca pasti akan menggelepar merasakan sedotan bibirku dan jilatan lidahku.

Zaskia Adya Mecca semakin tak karuan gelinjangannya, tangannya memukul mukul ranjang pertanda tidak kuat lagi. Tangannya kadang mencakar cakar ke lenganku sampai berdarah membuatku perih.

“Haaaaaaaaan ..aaaakuuu aaaaaaaaaaaaah “ jerit Zaskia Adya Mecca dengan keras

Jepitan pahanya semakin kuat, kurasakan orgasmenya akan datang, kujilati dan kupermainkan klitorisnya membuat Zaskia Adya Mecca semakin kuat menggelinjang, tubuhnya kemudian menegang dengan membusung ke atas cukup lama, kuremas buah dadanya dengan kuat, kusedot lagi bibir vaginanya itu dan dari dalam akhirnya muncrat menerpa mukaku

“Cruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut “

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” erang Zaskia Adya Mecca panjang mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya kemudian berkelonjotan tak karuan, badannya melemas dengan cepat, tubuhnya bak disetrum lisrik ribuan volt, dadanya naik turun, kutarik mukaku dan kulihat Zaskia Adya Mecca memejamkan matanya dengan sangat erat, desahan dan desisannya masih terdengar, lama kudiamkan Zaskia Adya Mecca ini, dadanya masih naik turun dengan berantakan, aku kemudian meraba raba pahanya untuk memberikan rangsangan agar bangun lagi, naik dan meremas buah dadanya dengan penuh kelembutan.

Zaskia Adya Mecca menikmati orgasmenya dengan penuh kesenangan, tak lama kemudian matanya membuka dan tersenyum padaku.

“Baruuu kalii ini kurasakan seks yang nikmat, sayaaang ..Oooh ..pacarku memang hebaaaat “ puji Zaskia Adya Mecca padaku

“Pacar ???” tanyaku heran

“Selingkuhanku .. mau ya jadi selingkuhanku .. tenang saja .. kita atur waktu kita .. janji ya selalu memenuhi kebutuhan batinku” pinta Zaskia Adya Mecca sambil menunggu jawabanku

Aku tak menjawab sehingga membuat Zaskia Adya Mecca senewen

“Mau ndak sih ? oke deh .. kalo kamu ngajak aku bercinta begini make jilbab nggak masalah kok .. aku juga menikmati .. aku ini wanita .. butuh kenikmatan seks donk .. “ iba Zaskia Adya Mecca dengan memohon belas kasihan.

“Dasar muka tempek “ makiku gemas

“Lha khan sudah aku akui .. aku bermuka tempek .. masih aja ngejek .. “ canda Zaskia Adya Mecca sambil menjawil hidungku tanda sayang

“Oke deeeh .. akan kupenuhi kebutuhan batinmuuu “ sahutku enteng

“Naaaaaaaaaah gitu .. muka kontol,sayaaaaaaaaang “ ejek Zaskia Adya Mecca balik

Kami berdua diam sejenak aku kemudian menindihnya sambil menempelkan batangku ke belahan vaginanya agar tidak cepat menutup. Kini saatnya aku ingin memasukan lubang surgawinya yang sempit itu. Entah bagaimana rasanya, tunggu saja besok lanjutan cerita mesum Zaskia Adya Mecca ini.

NOVIAH

Namanya Noviah. Cerita ini adalah pengalaman sewaktu Noviah masih duduk di bangnya SMA kelas 1. Hari ini pelajaran yang diberikan belum terlalu banyak karena mereka masih dalam tahap transisi dari murid SMP menjadi murid SMU. Tak terbayang olehnya dapat masuk ke SMU yang masih tergolong favorit di ibu kota ini. SMU yang sangat sarat dengan nuansa keislaman. Di SMU ini, banyak sekali gadisnya yang memakai jilbab. Begitu juga Noviah. Dari masuk SMU ini, ia sudah memutuskan untuk memakai jilbab. Jilbab yang lebar, yang menutupi dada dan pungungnya. Rok SMUnya pun panjang, dan baju putihnya juga longgar. Namun itu tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang sedang ranum2nya, dan kecantikan alami yang terpampang di wajahnya. Banyak pria di sekolahnya ingin jadi pacarnya, namun sebenarnya Noviah tertarik pada hanya satu orang. namanya Indra. Membayangkan wajahnya saja bisa membuat Noviah melambung.

jilbab hot bahenol (11)

Pada suatu hari, tiba-tiba Noviah mendapatkan sebuah surat di lacinya. “nov, jangan pulang dulu yah, nanti. Ada yang ingin kukatakan padamu. Indra.” Jantung Noviah berdegup kencang. Baju abu-abu putih lebar dan jilbab yang selalu ia gunakan terasa semakin membuatnya gerah. Apakah Indra juga merasakan cinta seperti yang ia rasakan? Mau apa Indra menemuinya? Apakah mau mengutarakan cinta? Selama jam pelajaran pikirannya tak menentu, berbagai pertanyaan terus mengalir di otaknya. Untungnya pelajaran belum begitu maksimal. Bel pulang pun berdering, jantungnya berdegup cepat. Noviah hanya duduk menunggu di bangkunya. Agak lama ia menunggu, dan tak terasa sekolah sudah sepi.

“Jangan-jangan Indra ingin agar sekolah sepi dan mengajaknya bercinta?” kepalanya penuh pertanyaan. Ia segera berusaha menepis pikiran itu. Ia tidak ingin melakukan hubungan seks sebelum nikah. Terlebih lagi, sekarang ia sudah memakai jilbab, jadi ia harus benar2 menjaga dirinya. Dalam penantiannya tiba-tiba ada orang datang. Noviah kecewa karena bukan Indra yang datang melainkan Malik dan Ardy dari kelas I-3.

jilbab hot bahenol (9)

Mereka menghampirinya, Malik di depannya dan Ardy disampingnya. Perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan. Dengan kulit yang hitam dan badan yang kurus kering, Noviah rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini.

“Lagi nugguin Indra Nov?” kata Malik.
“Koq tahu?” katanya.
Malik dan Ardy cuma cengengesan.
“Lo suka sama Indra ya Nov?” tanya Malik lagi. Noviah cuma diam saja.
“Koq diem?” kata Ardy.
“Males aja jawabnya,” katanya.

Perasaan bt mulai menjalar tapi Noviah harus menahan karena pikirnya Ardy dan Malik adalah teman Indra.

“Koq lo bisa suka sama Indra sih cha?” tanya Ardy tapi kali ini sambil merapatkan duduknya kepadanya dan menaruh tangannya di paha Noviah yang masih tertutup rok panjang.
“Indra ganteng dan enggak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahanya.
“Kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya Ardy lagi sambil menaruh tangannya lagi di paha Noviah dan mulai mengelus-elusnya.
“Ya kayak gini!” jawab Noviah sambil menunjuk tangan Ardy sambil kembali menepisnya.
“Tapi enak kan?” kali ini Malik ikut bicara.

Ardy tiba-tiba langsung mendaratkan tangannya di pangkal paha Noviah dan mengelus-elusnya. Noviah berusaha berontak, tapi tiba-tiba terasa getaran2 aneh yang membuat Noviah tidak berdaya. Ternyata titik birahinya sudah sersentuh oleh tangan laknat Ardy.

jilbab hot bahenol (8)

“Sudah jangan sok berontak,” kata Malik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. Wajah cantik Noviah yang masih memakai jilbab putih lebar terlihat memerah. Sorot matanya memperlihatkan kemarahan, namun juga gejolak birahi. Ia tidak mampu melawan kekuatan kedua laki2 yangs edang mengerjainya, pun ia juga tak mampu melawan birahinya sendiri.

Makin lama usapannya membuat Noviah membuka lebar pahanya. Mulutnya setengah terbuka. Desahan mulai keluar bersama penolakan Noviah yang setengah hati.
“aaaiikhh….janngaannhhh…..mmmhhh…..uukhh…..” geliat tubuh cantik yang berjilbab itu sudah bukan geliat pemberontakan, namun merupakan usaha menahan birahi yang meluap2.
“Tadi bilang kita kurang ajar, eh sekarang malah ngangkang.”
“Nantangin yah?” kata Malik.

jilbab hot bahenol (6)

Dia menggeser bangnya di depan mejanya dan mulai masuk ke kolong meja Noviah. Sekarang Ardy berganti mengerjai payudara Noviah. Jilbab panjang Noviah dililitkan ke lehernya sehingga bagian dada Noviah yang masih tertutup seragam sekolah terbuka. tangan kirinya mengusap payudara kanan Noviah sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudara kirinya sehingga seragamnya basah tepat di daerah payudaranya saja. Malik yang berada di kolong meja menyibakkan rok panjang Noviah sampai ke pangkal pahanya, menjilat-jilat paha sampai pangkal paha Noviah dan sesekali lidahnya menyentuh memeknya yang masih terbungkus CD tipisnya yang berwarna putih. Perbuatan mereka membuat Noviah menggelinjang dan sesaat membuatnya melupakan Indra. Ardy melepas kancing kemeja seragam Noviah satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana. Merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar bra Noviah. Lidahnya menari-nari di putingnya membuatnya menjadi semakin membesar. Noviah semakin terangsang. Melihat seorang gadis berjilbab yang masih memakai jilbab yang tersingkap, terbuka bagian dada dan memeknya, membuat kedua remaja haus seks itu semakin ganas.

“Ough… Dy… sudah donghhh……., gimana nanti kalau ketauan,” kata Noviah sambil masih terus mendesah.
“Tenang aja guru sudah pada pulang,” kata Malik dari dalam roknya.

Sedangkan Ardy terus mengerjai kedua payudara Noviah memilinnya, meremas, memghisap, bahkan sesekali menggigitnya. Gadis SMU alim itu benar-benar tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. Noviah merasakan ada sesuatu yang basah mengenai memeknya, Noviah merasa Malik menjilatinya. Noviah tak dapat melihatnya karena tertutupi oleh roknya.

Perlakuan mereka sungguh membuat Noviah melayang. Gadis berjilbab itu merasa kemaluannya sudah amat basah dan Malik menarik lepas CDnya dan melemparnya juga. Ia menyingkap roknya dan terus menjilati kemaluannya. Tak berapa lama Noviah merasa badannya menegang. Noviah sadar dia akan orgasme. Noviah merasa amat malu karena menikmati permainan ini. Permainan yang seharusnya terlarang bagi gadis yang berjilbab seperti dirinya. Noviah melenguuh panjang, setengah berteriak. Gadis berjilbab itu mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yang baru Noviah kenal.

jilbab hot bahenol (5)

“Ha.. ha.. ha.. ha..” mereka tertawa berbarengan.
“Ternyata lo suka juga yah? Gadis alim berjilbab juga bisa orgasme yah?” kata Ardy sambil tertawa.
“Jelaslah,” sambung Malik.
“SMP dia kan dulu terkenak pecunnya. Sekarang aja pura2 alim!” kata-kata mereka membuat telinga Noviah panas.

Kemudian mereka mengangkat Noviah dan menelentangkannya di lantai. Mreka membuka pakaiannya. Oh.. ini pertama kalinya Noviah melihat kontol. selama ini gadis berjilbab itu benar2 menjaga pandangannya dari hal2 yang berbau seks. Malik menyibakkan rok panjangnya semakin keatas, lalu membuka lebar paha Noviah dan menaruh kaki putih gadis SMU yang alim dan menggairahkan itu di atas pundaknya. Pelan-pelan ia memasukkan kontolnya ke liang senggamanya.

“Ough, sakit Lik! Jangan lik!” teriak Noviah ketakutan. Ia kembali meronta. Gadis berjilbab itu sungguh tidak ingin kehilangan keperawanannya. Tapi kedua laki2 itu jauh lebih kuat darinya. Ia berusaha berteriak, namun bibir indahnya langsung dilumat oleh Ardy, sehingga suaranya tidak bisa keluar.
“Tenang Cha, entar juga lo keenakan,” kata Malik.
“Ketagihan malah,” sambung Ardy diantara lumatan bibirnya. “wah, akhirnya berhasil juga kita dapet memek cewek berjilbab.”

Perlahan-lahan ia mulai menggenjotnya, rasanya perih tapi nikmat. Sementara Ardy meraih tangan Noviah dan menuntunnya ke kontol miliknya. Ia memaksa Noviah mengocoknya. Malik memberi kode kepada Ardy, Noviah tidak mengerti maksudnya. Ardy mendekatkan kontolnya kemulutnya dan memintanya mengulumnya. Noviah mejilatinya sesaat dan kemudian memasukkannya ke mulutnya. Bau kontol Ardy membuat Noviah mau muntah, tapi karena ketakutan, tetap ia jejalkan kontol hitam bau itu ke mulutnya.

“Isep kontol gue kuat-kuat Nov!!” bentak Ardy.

Noviah mulai menghisap dan mengocoknya dengan mulutnya. Tampaknya ini membuat Ardy ketagihan. Ia memaju mundurkan pinggangnya lebih cepat. Disaat bersamaan Malik menghujamkan kontolnya lebih dalam.

“Mmmffhh” Noviah ingin berteriak tapi terhalang oleh kontol Ardy.

Rupanya arti dari kode mereka ini, agar Noviah tak berteriak. Gadis berjilbab itu menangis karena sadar kevirginannya diambil mereka, oleh orang yang baru beberapa hari Noviah kenal.

jilbab hot bahenol (4)

“Ternyata masih ada juga anak SMP SB yang masih virgin”
“Memek cewek virgin berjilbab emang paling enak,” kata Malik.

Dia menggenjotnya semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pinggul Noviah dan hisapannya terhadap kontol Ardy juga semakin cepat. Tak lama Noviah orgasme untuk yang kedua kalinya. Noviah pun menjadi sangat lemas tapi karena goyangan Malik. Malik semakin liar Noviah pun juga tetap bergoyang dan menghisap. Tak lama Malik menarik keluar kontolnya dan melenguh panjang disusul derasnya semprotan maninya ke seragam putih gadis berjilbab itu yang sudah awut-awutan. Ia merasa puas dan menyingkir.

Sudah 45 menit Noviah menghisap kontol Ardy tapi ia tak kunjung orgasme juga. Ia mencabut kontol dari mulutnya, Noviah pikir ia akan orgasme tapi Noviah salah. Ia telentang dan memaksa gadis berjilbab itu naik diatasnya. Noviah disetubuhi dengan gaya woman on top. Noviah berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan Ardy leluasa meremas susunya. Terlihat pemandangan erotis, dimana seorang gadis berjilbab besar yang cantik sedang disetubuhi olehs eorang laki2 bertampang kasar, namun si gadis berjilbab tadi justru melenguh-lenguh birahi.

Sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba-tiba Malik mendorong Noviah dan iapun jatuh menindih Ardy. Malik menyingkap rok panjang Noviah yang selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahnya. Ia mulai mengorek-ngorek lubang anus Noviah. Noviah ingin berontak tapidalam hatinya ia sudah sangat terangsang sehingga tidak ingin saat ini selesai begitu saja. Jadi Noviah biarkan ia mengerjai liang dubur gadis cantik berjilbab itu yang sangat sempit.

jilbab hot bahenol (3)

Tak lama Noviah yang sudah membelakanginya segera ditindah. Kontolnya masuk ke dalam anus Noviah dengan ganas dan mulai mengaduk-aduk duburnya. Tubuhnya betul-betul terasa penuh. Noviah menjerit keras. Tangisnya semakin keras. Air matanya mengalir membasahi jilbabnya yang awut2an. Namun lama2, karena genjotan dua orang laki2 tadi, Noviah mulai menikmati keadaan ini. Sampai akhirnya Malik mulai memasukkan penuh kontolnya ke dalam anus Noviah. Gadis alim itu merasakan perih dan nikmat yang tidak karuan. Jadilah Noviah kembali berteriak sekeras-kerasnya. Noviah yang kesakitan tidak membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotnya. Sekitar 15 menit mereka membuatnya menjadi daging roti lapis dan akhirnya Noviah orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini gadis berjilbab itu berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih Ardy. Saat itu penjaga sekolah masuk tanpa Noviah sadar dan menonton Noviah yang sedang dikerjai 2 orang biadab ini.

Goyangan mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. Noviah yang sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini. Tak lama mereka berdua memeluknya dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liang gadis berjilbab itu. Noviah dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena memeknya tidak cukup menampungnya. Mereka mencabut kedua kontol mereka. Noviah yang lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar Ardy berkata.

jilbab hot bahenol (2)

“Nih giliran Pak Maman ngerasain memek cewek berjilbab!!”

Noviah melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan kontolnya yang lebih besar dari Ardy dan Malik dengan gagahnya mengangkanginya seakan menginginkan lubang untuk dimasuki. Ia menuntun kontolnya ke mulut Noviah untuk dihisap. Noviah kewalahan karena ukurannya yang sangat besar. Melihat Noviah kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. Tetapi sekarang ia malah membuat gadis cantik alim itu menungging. Ia mengorek-ngorek kemaluannya yang sudah basah sehingga makin lama Noviah pun mengangkat pantatnya. Noviah sungguh takut ia menyodominya.

Akhirnya Noviah bisa sedikit lega saat kontolnya menyentuh bibir kemaluannya. Dua jarinya membuka memeknya sedangkan kontolnya terus mencoba memasukinya. Entah apa yang Noviah pikirkan, Noviah menuntun kontolnya masuk ke memeknya. Ia pun mulai menggoyangnya perlahan. Gadis berjilbab itu secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. Roknya yag tersinggkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu-abu panjangnya melalui kepalanya. Saat ini Noviah telah telanjang, dan hanya tinggal memakai jilbab putih penuh keringat dan kaus kaki putih. Semua itu justru membuat para pemerkosanya semakin bernafsu. . Tangan pak Maman meremas payudara Noviah dan terus menggerayangi tubuhnya. Disaat-saat kenikmatan Noviah tak sengaja menoleh dan melihat Malik duduk di pojok. Yang lebih mengagetkan ia memegang Digcam dan mengambil gambar gadis berjilbab itu berkali2. Noviah kesal tapi terlalu capek untuk berontak. Akhirnya gadis berjilbab itu hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh Malik.

Pak Maman semakin ganas meremas dada Noviah. gerakannya pun semakin cepat. Tapi entah kenapa dari tadi Noviah selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. Noviah berteriak panjang dan disusul Pak Maman yang mencengkeram kepala Noviah yang masih terbalut jilbab kemudian mencabut kontolnya dan menyuruhnya meghisapnya. Ia berteriak tak karuan. Menjambaknya, meremas-remas dadanya sampai akhirnya ia menembakkan maninya di mulutnya.

jilbab hot bahenol (1)

Terdengar entah Malik, Ardy, atau Indra yang berteriak telan semuanya. Noviah pun menelannya. Namun Air mani pak Maman sangat banyak, sehingga sebagian meleleh turun ke jilbab putih yang masih Noviah kenakan. Mereka meninggalkannya yang telanjang di kelas sendirian. Setelah mereka pergi Noviah menangis sambil mencari-cari seragamnya yang mereka lempar dan berserakan di ruang kelas. Noviah menemukan branya telah digunting tepat di bagian putingnya dan Noviah menemukan CDnya di depan kelas telah dirobek-robek. Sehingga gadis berjilbab itu pulang tanpa CD dan bra yang robek bagian putingnya. Perasaannya campur aduk. Marah namun juga malu karena turut menikmati perkosaan yang ia alami.

BUKU HARIAN LINA

Namaku Lina. Sejak aku kuliah semester awal, aku telah memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah termasuk mengenakan Jilbab yang menutupi Kepalaku. Meski demikian pakaian tersebut tak mampu menutupi lekuk liku tubuhku yang indah. Terutama pada bagian dada 34C ku yang memang sangat menonjol itu.

Jika pada umumnya wanita lain mengenakan busana muslimah dengan ukuran longgar, aku memilih mengenakan pakaian yang ketat hingga membentuk tubuhku dengan jelas. Jika pada umumnya wanita lain mengenakan Jilbab yang panjang hingga sampai ke perut, aku justru memilih Jilbab pendek yang bahkan tidak sampai menutupi dadaku. Karena terus terang saja, aku memang sangat bangga pada bentuk dadaku yang besar, montok menggelayut indah. Jika mengenakan BH yang tepat, dipadu dengan baju yang ketat, maka akan terlihat menonjol dan menantang sekali.

Pacarku sangat tergila-gila pada bentuk dadaku. Setiap kali kami bertemu, pasti disempatkannya untuk mencumbu dadaku. Sementara kedoyananku pada kontol bermula ketika aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu aku hanya berani menyentuh kontol pacarku saja. Menyentuh, mengelus-elus. Tidak lebih dari itu.

Lagipula ketika SMA itu pacarku memang tidak pernah menuntut lebih. Dia sudah cukup keenakan hanya dengan kusentuh-sentuh saja. Bahkan seringkali aku hanya menyentuh kontolnya dari luar celananya.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah di Jakarta. Perkenalanku dengan cowok-cowok Jakarta yang ternyata penuh pengalaman membuat hidupku berubah.

Sejak pertama kali pacarku meminta aku mengisap kontolnya, aku langsung suka . Dan sejak itu aku jadi wanita berjilbab yang doyan kontol.

***

# Sebuah Permulaan

Pagi ini hangatnya mentari yang menerobos jendela kamarku membuatku terbangun dari tidurku yang lelap setelah semalam memekku luluh lantak dijilat pacarku.

Masih terbayang bagaimana lidahnya menari-nari di dalam memekku. Masih terbayang juga bagaimana kontolnya memenuhi rongga mulutku sampai muncrat dengan derasnya di dalam mulutku. Saking derasnya sampai-sampai tumpah meleleh membasahi leherku.

Malas-malasan kusingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Kubiarkan angin menerpa tubuh mulusku. Sambil tanganku meraba-raba bulu memekku yang tipis, aku membayangkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu saat pertama kali aku mengenal kontol.

***

Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Sebenarnya saat itu aku belum boleh pacaran. Tapi mana bisa aku tahan. Maka dengan diam-diam aku tetap menjalin hubungan dengan teman sekelasku.

Ceritanya waktu itu aku janjian dengan pacarku mau nonton film di bioskop. Sekitar jam 6.30 sore aku bergegas pergi tanpa pamit.

Sesampai di bioskop pacarku menyambut dengan senyum lebarnya. Langsung digandengnya tanganku menuju teater 3 karena pertunjukan sudah hampir dimulai.

Ternyata da memilih tempat duduk paling belakang dan paling ujung. Benar-benar tempat yang strategis dan aman untuk pacaran. Kami pun langsung duduk manis di pojok bioskop ini.

Belum lagi pertunjukan dimulai, tangannya sudah mulai bergerilya meraba-raba pahaku yang terbungkus rok longgar dengan potongan agak pendek. Perlahan dia menyentuh lututku yang tidak tertutup rok. Padahal lampu bioskop belum dimatikan. Tapi kudiamkan saja perbuatannya itu. Karena kulihat di barisan tempat kami duduk tidak ada penonton lain. Jadi bisa dipastikan tidak ada yang melihat gerakan jemarinya di lututku.

Mungkin karena merasa tidak ada penolakan dariku membuat jemarinya semakin berani. Perlahan jari-jemarinya bergerak ke atas menggeser rokku hingga sedikit tersingkap. Bulu kudukku lamgsung meremang menerima serangan seperti ini.

Ini adalah pengalaman pertama aku di raba-raba seperti ini. Biasanya pacarku hanya berani menggandeng dan menggenggam tanganku saja. Kejadian ini benar-benar pengalaman pertama buatku.

Perlahan jemari di atas pahaku semakin bergerak ke atas. Perasaan aneh menyelimuti diriku. Geli… tapi nikmat. Hingga akhirnya rokku benar-benar tersingkap sampai atas. Dan celana dalamku pun terpampang dengan jelasnya sementara lampu bioskop masih terang benderang. Sejenak ada terbersit rasa takut ketahuan. Tapi rasa nikmat mengalahkan pikiran sehatku. maka kubiarkan saja jemari kasar itu terus bermain-main di atas pahaku. bahkan kemudian kurasakan jemarinya mulai menyentuh belahan memekku dari luar celana dalam.

Aku tersentak nikmat. Rasa nikmat yang belum pernah kurasakan.

Sedang kunikmati gesekan jemarinya di belahan memekku, tiba-tiba lampu padam. Ah, pertunjukan akan dimulai.

Aku tidak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Langsung kurengkuh wajah pacarku ini. Kucium bibirnya penuh nafsu. Lidahku bermain-main di rongga mulutnya. Saling membelit, melilit, menjilat-jilat dengan liar. Padahal ini adalah ciuman pertama bagiku. Aku hanya mengikuti naluri nafsuku saja.

Menerima perlakuanku yang penuh nafsu itu membuat dia bertambah semangat. Jemarinya langsung menerobos celana dalamku. Dan akupun terpekik pelan saat kurasakan jemarinya menyentuh memekku secara langsung. Perlahan dibukanya belahan memekku sambil mencari-cari klitorisku. Dan saat benda kecil itu tersentuh, sungguh rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Luar biasa nikmatnya. Jika saja aku sedang tidak di dalam bioskop, aku pasti sudah berteriak histeris penuh nikmat.

Saat kurasakan tangan pacarku agak terhambat celana dalam, tanpa ragu-ragu segera kupelorotkan celana dalamku dan kuletakkan celana dalamku itu di kursi sebelah. Lalu kubentangkan kakiku lebar-lebar agar memekku bebas terhidang dengan lezatnya. Dengan demikian jemari nikmat itu semakin mudah mengobok-obok memekku yang sudah banjir bandang.

“Aaaaah… gosok terus, sayaaang…” aku mengerang perlahan takut terdengar penonton lain. kugoyang-goyangkan pinggulku agar jemarinya menyentuh itilku. Setiap kali itilku tersentuh, rasanya seperti ada ribuan jemari yang menggelitik sekujur tubuhku.

Nikmaaaaaat… Oooooh…!!!

Tak cukup sampai disitu, segera kubuka kancing-kancing kemejaku. Kubuka semuanya sampai tubuh bagian depanku terbuka bebas. Lalu kubuka kancing BH ku dari belakang. Tak ayal kedua payudaraku yang berukuran extra itu langsung melompat mencari udara segar.

Kubuka BH-ku lewat kedua lenganku dan kuletakkan di kursi sebelah bersama CD-ku yang sudah nangkring duluan. Kini dadaku terpampang dengan indah. Lalu kuremas-remas sendiri mengimbangi gerak jemari pacarku yang masih asik bermain-main di memekku.

Tak lama kurasakan ada sesuatu yang mendesak akan meledak dari dalam tubuhku. Seluruh otot ditubuhku mengejang. Terutama otot memek. Beberapa kedutan kurasakan dengan rasa nikmat yang tak terkira. “Aaaaaaaah… sayaaaaanggg… enak bangeeeeet…”

Masih tersisa beberapa kedutan lagi sampai akhirnya tubuhku lemas tak berdaya. Rasanya bagaikan tulang-tulang di seluruh tubuh ku di lepas satu per satu.

Aku masih terbuai dengan rasa nikmat yang tiada tara saat kurasakan puting dadaku ada yang mencium. Oooh… nikmat itu datang lagi. Lalu pacarku berbisik lembut di telingaku. “Lin, gantian pegang kontolku donk…”

Aku hanya mengangguk sambil menjawab “Iya…” dengan perlahan. Dalam hatiku muncul rasa penasaran seperti apa bentuk kontol itu sebenarnya.

Dengan agak terburu-buru kekasihku menurunkan celana berikut celana dalamnya sampai sebatas lutut. Dan terlihat lah benda bulat panjang yang mengacung dengan gagahnya.

Agak ragu kusentuh benda yang katanya bisa bikin enak memek itu.

Melihat aku ragu-ragu, pacarku langsung menyambar tanganku dan membimbingnya untuk menggenggam kontol besar itu. Baru sekali itu aku melihat langsung kontol yang sedang ngaceng. Karena belum mengerti harus bagaimana, aku hanya mengelus-elus perlahan sambil kubolak-balik memperhatikan bentuknya.

Sedang seru-serunya menggenggam kontol, tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Aku panik bukan main. Buru-buru kukancingkan bajuku tanpa sempat memakai BH. Bahkan celana dalam pun belum sempat kukenakan.

Jadilah aku pulang dengan tanpa BH tanpa celana dalam…

***

# Ancol Kenangan

Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah ke Jakarta di sebuah perguruan tinggi yang lokasinya dekat dengan Ancol. Disaat kuliah inilah aku memutuskan untuk memakai busana muslim lengkap dengan Jilbab yang menutupi kepalaku.

Di bulan ketiga aku kuliah, aku berkenalan dengan seorang cowok dari fakultas teknik. Wajahnya lumayan ganteng, tubuh atletis karena memang dia rajin berolah raga. Dadanya bidang tegap dengan bongkahan pantatnya yang membulat bikin ngences. Doni benar-benar punya bentuk tubuh yang sangat menjanjikan.

Kencan pertama kami pergi nonton di bilangan Kelapa Gading. Saat film dimulai, Doni mulai menggenggam jemariku. Kemudian dia mencium jemariku. Aku menunggu dengan berdebar langkah berikutnya.

Tapi ternyata serangannya hanya sampai di situ saja. Hingga film usai, dia hanya menciumi jemariku tidak lebih. Ah, padahal aku ingin lebih. Ingin rasanya aku memulai, tapi malu juga. Apalagi ini baru kencan pertama. Akhirnya kami pulang tanpa meninggalkan kesan apapun.

Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan kuliah hingga tidak terlalu sering bertemu dengan dia.

Namun selang 3 hari, kembali Doni mengajakku kencan. Mau makan malam katanya. Akupun langsung menyetujui dan minta dia menjemputku di tempat kostku.

Jam 8 malam dia datang menjemput, dan kami langsung menuju Ancol dengan mobilnya. Awalnya kami hanya berputar-putar saja di kawasan ancol. Mungkin karena dia mengira aku belum pernah ke ancol. Maklum baru 3 bulan di Jakarta.

Akhirnya kami parkir di tempat yang agak sepi. Sebenarnya aku bingung juga, ngapain ngobrol di mobil. Katanya mau makan malam. Tapi belum sempat aku bertanya, tiba-tiba dia sudah langsung mencium bibirku. Ciumannya begitu menghanyutkan membuat aku benar-benar terlena. Apalagi tangan kanannya langsung meremas dada kiriku dengan lembut. Lalu tanpa sempat aku menolak, Jilbabku di buka. Aku ingin mencegah, tapi kupikir pacaran begini pake jilbab, ya malu sama jilbab lah. Maka kubiarkan saja jilbabku melayang entah kemana.

Perlahan ciumannya berpindah ke kupingku yang sudah tak tertutup jilbab lagi. Langsung aku gemetar merasakan geli-geli enak yang luar biasa. Setelah itu lidahnya turun menjilati leherku yang putih mulus. Aku semakin melayang.

Perlahan tangannya membuka kancing-kancing bajuku sampai copot semua. Dengan semangat, kemejaku di kuakkannya hingga terbuka lebar. Lalu tangannya bergerak ke punggungku dan ‘Tasss !’ kancing BH-ku dilepas. Dadaku yang besar langsung melompat indah.

Dengan penuh nafsu dia angkat BH-ku keatas, dan tampaklah payudaraku yang putih besar dengan putingnya yang sudah mengacung keras. Sejenak dipandanginya kedua buah dadaku. Lalu perlahan diusapnya putingku. Dipencet-pencet, dipelintir pelan, ooooh…. rasanya tidak kuat lagi. Langsung kutarik kepalanya minta diisep.

Rupanya dia mengerti keinginanku. Langsung lidahnya bermain-main di putting susuku. Ujung pentilku di sentil-sentil dengan lidahnya. Rasanya bukan main. Enaaakkk sekali…

“Aaaaah… Sayaaaang…. Isep, sayaaang…” tak mampu kutahan kejolak nafsuku. Saat mulutnya melahap dadaku, eranganku semakin menjadi. “Aaaaaaghhhh… terus, sayaaang… isep yang kenceeeng…” Lupa sudah aku dengan Jilbabku. Yang kuinginkan saat ini adalah kenikmatan yang lebih dan lebih …

Celana dalamku rasanya sudah basah. Maka agar dia langsung menuju memekku yang sudah becek ini, kuangkat kakiku dan ngangkang selebar-selebarnya. Rok-ku tersingkap sampai perut. CD-ku terlihat dengan bebasnya. Benar saja. Melihat gayaku seperti itu, tangannya langsung dimasukkan ke dalam CD-ku.

“Ooooooooogh… iya itu, sayang… mainin yang itu…” aku benar-benar sudah lupa diri. Saat itilku dimainkan, teriakanku semakin menjadi-jadi. Kugoyang-goyangkan pantatku mencari kenikmatan lebih. Kuimbangi gerakan jarinya di memekku dengan goyangan pinggulku.

Sampai akhirnya desakan di memekku semakin kuat. Otot-otot memekku mengejang, dan… “Oooooooooghhh… sayaaang… enaaaaaaak!!” Memekku berkedut-kedut beberapa kali. Rasanya sungguh luar biasa. Bagaikan dilempar ke angkasa, kemudian dihempaskan kembali ke bumi dengan nikmat.

Aku lemas, tersandar, ngangkang…

Kubiarkan kakiku ngangkang dengan lebarnya beberapa saat. Sambil kuresapi kenikmatan barusan. Saat kubuka mataku, tampak senyum lebar pacarku. Langsung kukecup mesra bibirnya. Lalu dia bangkit dan merebahkan sandaran kursinya. Dia pun terlentang di kursinya, dan tampaklah kontolnya mengacung dengan gagahnya, Rupanya saat aku terpejam tadi dia sudah membuka celana berikut CD-nya.

Aku tertegun menatap kontolnya yang sudah ngaceng itu. Wuiiiih… Gede banget. Tegak berdiri, Urat-uratnya tampak bertonjolan di sekitar kontolnya. Kepala kontolnya begitu besar seperti helm tentara. Nafsuku langsung bangkit lagi.

Perlahan kugenggam kontol besar itu. Waaaw, tanganku yang mungil ini hampir tidak cukup menggenggamnya. Kontolnya kuremas-remas, kuusap-usap, seperti yang biasa dulu kulakukan dengan pacarku saat di SMA.

“Diisep donk, say…” kata pacarku tiba-tiba.

Aku terkejut. ”Kok diisep? kenapa ?”

“Ya biar enak”. jawabnya.

Karena penasaran, kucoba mencium kepala kontolnya perlahan. Lalu kujilat batang kontolnya dari bawah ke atas. Tapi dia rupanya belum puas kalau belum kukulum. Dia minta aku memasukkan kontolnya ke mulutku. Meski agak jijik, tapi karena memang pengen tau, kumasukkan kontol gede itu ke mulutku yang lebar. Kuisap, kepalaku naik turun dengan sendirinya. Ternyata enak juga.

Gesekan kontol besar itu di mulutku menimbulkan sensasi nikmat sendiri. Aku semakin semangat mengelomoh kontolnya yang luar biasa itu. Sesekali kujilati kepala kontolnya. Lalu lubang kencingnya kubuka-buka dengan lidahku. Dia sampai merem melek akibat perbuatanku itu. Kubasahi seluruh batang kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok dengan kuat pake tangan. Saat kontolnya agak kering, kumasukkan lagi ke mulutku. Lalu kukocok lagi.

“Iyaaaah… terus, sayang… isep yang kenceng…. Ooohhh…” pacarku benar-benar keenakan. Melihat kondisi pacarku seperti itu, aku semakin bersemangat memberikan kenikmatan padanya.

“Oooogghhh… kamu pinter, sayang… kocok terus, sayaaaang…” rintihnya.

Sampai kurasakan kontolnya semakin membesar, lalu tiba-tiba… “Craaaaattttss…!!!” air maninya menyembur saat kukocok dengan kencang. Aku tak sempat mengelak hingga mukaku terkena muncratan air maninya. Begitu juga leher dan dadaku.

Terus kukocok kontolnya sampai tidak ada lagi air mani yang keluar. Lalu kujilati kontolnya sampai bersih. Tampak pacarku begitu puas. Dan aku juga sangat puas. Pertama kali ngisep kontol dan pertama kali melihat sperma laki-laki.

Sejak itu, aku semakin doyan ngisep kontol. Setiap ada kesempatan aku selalu minta untuk ngisep kontolnya sampai dia muncrat keenakan…

***

# Kontol Sore-Sore

Aku masih bengong sendirian di kamar. jam baru menunjukkan pukul 4 sore, Sudah seminggu lewat sejak terakhir aku ngisep kontol. Dan malam ini pacarku mengajakku jalan malam lagi. Ugh… masih lama. Padahal aku udah kangen banget sama kontolnya. Kangen pengen kuisep-isep lagi.

Sedang aku termenung sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Dengan agak malas aku membuka pintu.

Saat pintu terbuka, ternyata pacarku yang datang lebih awal. Aku terkejut sekaligus senang dengan kedatangannya. “Kok udah dateng am segini? Aku belom mandi lho…”

Pacarku tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamarku. Katanya dia udah kangen. Gak tahan nunggu sampai malam.

Aku senang mendengarnya. Supaya bisa cepat berangkat, aku pamit mau mandi dulu. Tapi pacarku mencegah. Dia bilang mandinya nanti aja. Sekarang ngobrol-ngobrol dulu katanya. Lalu dia menutup pintu kamar. Ups! Cepat-cepat aku cegah. Soalnya di tempat kostku ini kalau ada tamu cowok boleh aja di bawa ke kamar. Tapi gak boleh tutup pintu.

Pacarku sepertinya kecewa. Untung aku cepat dapat ide. Segera aku minta pacarku menggeser tempat tidurku ke balik pintu kamar. Sehingga pintu hanya bisa di buka sepermpat. Dan ruang dibalik pintu menjadi agak lega dan aman. Kalaupun ada yang masuk, pasti kita yang di dalam udah tau duluan.

Mendengar itu pacarku langsung semangat. Dengan badannya yang kekar itu sebentar saja tempat tidurku sudah berpindah posisi. Dan benar. Posisi di balik pintu benar-benar aman.

Dengan agak tergesa tubuhku di dorong hingga jatuh telentang di atas tempat tidurku di bagian yang terlindung. Dan dengan tergesa juga tiba-tiba dia sudah menindih tubuhku. Bibirku langsung dilumatnya dengan penuh gairah. Lidah kami langsung saling melilit. Bahkan lidahnya sampai menggaruk-garuk langit-langit mulutku.

Dengan cepat gairahku naik. Memekku langsung terasa lembab dan berdenyut minta di jilat.

Ciuman pacarku mulai bergerak dari bibirku bergeser ke kupingku. Daerah paling sensitive yang bisa bikin aku menggelinjang hebat. Kalau bukan karena pintu yang masih terbuka, pasti aku sudah mengerang-ngerang keenakan. Terpaksa aku tahan suaraku agar tidak terdengar dari luar. Benar-benar tersiksa rasanya. Tersiksa dalam penjara kenikmatan birahi yang luar biasa.

Lalu lidahnya meluncur turun ke leherku. Digigit-gigit kecil leherku, bikin aku tambah kelojotoan. Aku tidak perduli walau leherku penuh dengan bekas gigitan. Toh kalau keluar aku selalu pakai jilbab. Gak bakal keliatan.

Sambil terus menjilat leherku, tangannya mulai menggerayangi dadaku. Diremas-remas begitu benar-benar bikin aku tidak tahan. “Hhhhhhh… sayaaang…” erangku pelan takut terdengar dari luar. Kurasakan jemari tangan pacarku mulai bekerja membuka kancing-kancing kemejaku. Ups! segera kucegah. Aku takut kalau aku sampai telanjang lantas tiba-tiba ada yang masuk, bisa berabe.

Akhirnya pacarku hanya meremas-remas dadaku dari luar bajuku saja. Tidak berhenti disitu, tangannya dengan cepat mengangkat rokku sampai ke perut. Maka memekku yang masih tertutup CD langsung terhidang dihadapannya. Tidak menunggu lama-lama, jemarinya langsung menyelinap kebalik CD-ku dan menari-nari di lubang penuh nikmat itu.

Aku benar-benar tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku menggelinjang dan bergetar dengan hebat. Setiap gesekan jemarinya membuat aku melayang-layang tidak karuan. Tiba-tiba tangannya berusaha menarik lepas CD-ku.

“Jangan!” meski sudah dipenuhi birahi, aku masih sempat kuatir jika nanti ada yang masuk secara tiba-tiba.

Untunglah pacarku tidak protes. “Ya udah, kalo kamu gak mau buka celana, aku aja deh.” katanya sambil langsung membuka celananya sampai sebatas lutut.

Woooow… aku terbelalak melihat kontolnya yang gede panjang sudah berdiri tegak siap tempur. Belum sempat aku meraih batang kontol besar itu, pacarku sudah menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang sudah keras itu di gesek-gesekkannya ke memek aku yang masih tertutup CD.

Ampuuuunnn…. rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Enaknya luar biasa.

Terus saja dia gesek-gesek kontolnya ke memekku. Terkadang malah kepala kontolnya di tusuk-tusukkan ke lobang memekku. Membuat tubuhku semakin bergetar.

Akhirnya aku tak mampu lagi bertahan. Bagaikan bendungan yang jebol, seluruh hasratku memancar dengan derasnya. Memekku berkedut-kedut dengan gencarnya. CD-ku basah, benar-benar banjir. Tubuhku lemas lunglai, kunikmati terjangan gelombang orgasme ini dengan kaki mengangkang lebar. Nikmaaaaat…

Setelah dilihatnya napasku mulai teratur, tanganku ditariknya sampai aku terduduk di kasur. Lalu disodorkannya kontolnya yang besar itu ke mulutku. Aku mengerti keinginannya. Langsung saja kuraih batang enak itu, kuelus-elus sejenak sebelum kumasukkan ke dalam mulutku.

Aku selalu suka jika batang kontol besar memenuhi rongga mulutku. Dengan semangat batang kontol itu aku isap, kujilat, mulutku maju mundur dengan teratur.

Setelah kontolnya basah dan licin, segera kukocok kontol itu dengan tanganku. Kuisap lagi, kocok lagi begitu seterusnya, sampai tiba-tiba tubuh pacarku menegang dan… Craaaaat…!! air maninya memancar seperti pemadam kebakaran. Banyak sekali. Langsung saja kutelan semua air mani itu sambil kubersihkan kontolnya dengan lidahku.

Akhirnya malam itu kami tidak jadi keluar. Kami lebih suka menghabiskan malam dengan ngobrol di kamarku sambil sedikit raba-raba. Malah aku masih sempat ngisep kontolnya sampai ngecret di mulutku sekali lagi.

***

# Sehari Dua Kontol

Hubunganku dengan Doni sudah berjalan hampir setahun. Selama kami berpacaran, entah sudah berapa kali kontolnya yang besar itu menyemburkan air maninya di dalam mulutku.

Untunglah aku masih bisa bertahan untuk tidak menyerahkan keperawananku pada Doni. Betapapun menggairahkannya kontol Doni, namun aku tetap pada prinsip bahwa perawanku hanya untuk suamiku kelak.

Belakangan frekuensi pertemuan kami semakin berkurang. Terkadang sampai sebulan kami tidak bertemu sama sekali.

Di tengah jarangnya pertemuanku dengan Doni, aku berkenalan dengan Sam, mahasiswa di kampusku juga. Pemuda asal Padang ini lumayan ganteng. Badannya juga gak kalah dengan Doni. Malah mungkin bisa dibilang lebih bagus, lebih berisi.

Hubungan kami dimulai dengan ngobrol di kantin, makan bareng. Hanya di kampus. Aku belum berani menerima ajakan Sam untuk jalan, karena kuatir ketauan Doni. Bagaimanapun sampai saat ini statusku masih pacar Doni.

Saat makan siang hari ini, Sam mengajak aku menemaninya besok siang ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Semula aku menolak, tapi melihat wajah Sam yang kecewa, akhirnya aku bersedia.

Begitu juga saat Sam memaksa untuk mengantarkanku ke tempat Kost, aku tidak menolak. Kupikir toh Doni tidak akan tahu. Dia kan sedang ke Bandung dengan teman-temannya.

Sesampai di tempat kost, aku sengaja tidak mengajak Sam ke kamarku karena ini adalah kunjungan pertamanya. Dia hanya kuajak ngobrol di ruang tengah yang biasanya dipakai untuk menerima tamu.

Saat ngobrol, Sam mulai berani menyentuh tanganku. Jemariku diremas-remas, terkadang dikecup lembut. Gairahku mulai terpancing, tapi aku masih menunggu Sam yang memulai. Untungnya saat ini tempat kost ku sedang sepi.

Sampai akhirnya Sam mencium bibirku. Ciumannya panjang dan lama sekali. Seolah tak mau berhenti. Tapi kurasakan bahwa Sam belum banyak pengalaman dengan perempuan. Ciumannya terasa biasa-biasa saja. Saat aku baru akan mulai melayani ciumannya dengan penuh gairah, Sam malah menghentikan ciumannya. Dia pamit pulang. Aaah… nanggung banget rasanya…

Saat pulang Sam sempat mengingatkan soal rencana besok ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Aku katakan untuk bertemu di kampus saja. Aku janji jam 10 pagi sudah bisa meninggalkan kampus.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Aku teringat dengan janjiku dengan Sam jam 10 nanti. Artinya hari ini aku hanya akan mengikuti satu mata kuliah saja.

Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar, Doni sudah berdiri di depan pintu dengan senyumnya yang khas. Tanpa kupersilahkan masuk, Doni sudah melangkah ke dalam kamarku.

“Eh… ngapain masuk? Yuk berangkat. Aku mau kuliah.” kataku. Tapi Doni hanya senyum-senyum sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

“Lho… kamu gak mau kuliah, Don?” tanyaku. Lagi-lagi Doni hanya tersenyum sambil menarik tanganku sampai aku terjatuh menimpa tubuhnya.

“Aku kangen,” kata Doni singkat dan langsung mencium bibirku. Aku tidak bisa apa-apa selain meladeni ciuman Doni yang memang jago ciuman itu. Perlahan gairahku bangkit. Lumatan lidahnya di dalam rongga mulutku membuat aku melenguh nikmat.

Tapi saat Doni akan membuka jilbabku, cepat-cepat aku menolak. Aku teringat akan janjiku dengan Sam. Gawat… bisa telat nih. Jadi kupikir, supaya cepat selesai, lebih baik biar aku saja yang memuaskan Doni. Segera lidahku bermain di sekujur wajah Doni. Lalu ciumanku turun ke lehernya. Mulai dari leher bagian bawah, ke jakun sampai dagu kujilati naik turun. Doni tampak mulai keenakan. Kepalanya sampai mendongak ke atas.

Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya yang bidang bikin ngiler itu. Puting susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Doni mulai mendesah nikmat. Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat perut Doni bergerak karena menahan napas.

Puas menjilati perutnya, kubuka resleting celana Doni. Lalu kuturunkan celananya berikut CD nya sekaligus. Wooow! kontolnya sudah ngaceng dan keras sekali. Aku sangat suka dengan kontol Doni. Apalagi sudah sebulan aku tidak bertemu dengan Kontolnya ini. Langsung saja kontolnya yang besar itu kukulum dan kuisap-isap dengan kuat. Aku berharap Doni cepat keluar supaya aku tidak terlambat menepati janjiku dengan Sam.

Namun sepertinya kali ini Doni benar-benar hebat. Sudah hampir 1 jam aku mengulum kontolnya yang besarnya minta ampun ini. Tapi belum juga ada tanda-tanda dia mau keluar. Sementara waktu sudah semakin siang. Bisa-bisa aku terlambat. Sam pasti sudah menungguku.

Kujilati kontol besar panjang itu mulai dari bijinya yang kencang, terus kujilat ke atas sampai kepala kontolnya. Turun lagi sampai ke bijinya. Lalu kubolak balik kontol besar itu. Kujilat bagian atasnya, lalu kujilat bagian bawahnya yang banyak urat-uratnya. Lalu kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil lidahku bermain-main di kepala kontolnya.

Tidak itu saja, aku mengocok kontol Doni dengan mulutku sambil menghisapnya. Saat mulutku maju dan kontolnya masuk ke dalam mulutku, lidahku bermain-main di batang kontolnya. Saat mulutku mundur kuhisap kontol Doni dengan kuat sambil kukeluarkan sampai batas kepala kontolnya.

Gayaku ini tampak membuahkan hasil. Doni mengerang-ngerang keenakan. Lalu kukocok kontolnya dengan tanganku. Kuhisap lagi, kukocok lagi. Kubasahi kontol Doni dengan ludahku supaya licin. Kemudian kukocok dengan cepat. Sampai akhirnya terasa Kontol itu semakin membesar dan semakin keras. Lalu bisa kurasakan ada kedutan-kedutan di urat-uratnya yang sudah sangat kuhapal. Doni mau keluar. Cepat kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

Crooooot… croott… air maninya menyembur ke dalam mulutku. Kutelan semuanya sambil terus kuisap kontolnya sampai tidak ada lagi tetesan air mani yang keluar.

Akhirnya… aku lega.

Cepat aku membersihkan diri, merapikan pakaian dan menyemprotkan parfum di bajuku. Aku takut nanti Sam mencium bau sperma di mulutku. Bisa gawat.

Setelah semuanya rapi, Doni mengantarkanku ke kampus. Doni tidak kuliah. Mau istirahat di rumah, katanya. Aku lega sekali. Berarti dia tidak akan tahu aku pergi dengan Sam hari ini.

***

Meski agak terlambat, aku dan Sam tetap pergi ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar sesuai rencana. Ternyata tempatnya berupa mess atau guest house yang dihuni oleh para mahasiswa asal Sumbar.

Hari ini mess tersebut terlihat sepi. Menurut Sam kalau jam segini memang biasa sepi. Baru ramai nanti sore menjelang malam. Sam membawaku ke sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Tidak menunggu lama, Sam langsung menciumku dengan penuh semangat. Tapi seperti kemarin, Sam hanya menciumku lamaaaa tapi tidak melakukan hal-hal yang lain. Jika kemarin aku masih ja’im, tidak hari ini. Langsung kudorong tubuh Sam hingga terlentang di kasur. Kakinya masih menjuntai ke lantai.

Kucium bibir Sam dengan ganas, lidahnya kubelit dengan lidahku. Sam tampak gelagapan tidak menduga aku yang pakai jilbab bisa seganas ini. Lalu bibirku mulai turun menjilati lehernya, kupingnya, kembali lagi ke lehernya. Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya. Puting susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Sam semakin kelojotan.

Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat perut Sam bergerak-gerak dengan cepat. Lidahku terus menari-nari di sekitar pusarnya sambil kuusap-usap perut bawahnya. Lalu lidahku turun lagi sampai ke perut bawahnya. Kemudian kubuka kubuka resleting celananya. Sam sempat mencegah dengan memegang tanganku erat. Tapi sambil tersenyum dan menatap matanya, kusingkirkan tangan Sam yang mencegah perbuatanku.

Celananya kuperosotkan ke bawah. Terlihat gundukan besar di dalam CD nya. Kuciumi gundukan besar itu. Lalu kuturunkan CD nya menyusul celananya yang sudah merosot duluan.

Oooowwgh… besarnyaaa…!!! ternyata kontol Sam lebih besar dari kontol Doni. Tidak sabar, langsung aku merosot berjongkok di lantai dan kujilati batang kontol yang luar biasa indahnya itu. biji pelernya kuremas-remas lembut sambil terus kujilati batang kontolnya.

Lalu mulai kumasukkan batang kontol itu ke dalam mulutku. Kuisap-isap, kuemut-emut dan kujilati dengan penuh nafsu.

Namun, mungkin karena ini pengalaman pertama buat Sam, baru sebentar aku mengisap kontolnya sudah terasa kedutan-kedutan tanda Sam mau muncrat. Cepat kukeluarkan kontol itu dari mulutku dan kukocok-kocok. Aku belum mau Sam keluar di mulutku karena ini baru pertama.

Cepat kukocok-kocok kontol Sam sambil aku agak menghindar ke samping. Dan benar saja, tak lama kemudian Sam berteriak tertahan, dan… Crooooootttt…! air maninya mucrat dengan derasnya. Muncratannya sampai mengenai dinding kamar saking kencangnya. Benar-benar kontol perjaka.

Tanganku terus saja bermain-main dengan kontol Sam sampai kontol itu mengecil kembali. Tapi aku tidak berhenti, terus saja kontol itu aku permainkan. Aku begitu terpesona dengan kontol Sam sampai rasanya sayang kalau buru-buru dilepaskan.

Aaaghhh… segarnya. Seharian ini aku sudah dapat 2 kontol.

Saat di jalan pulang, dengan mengendarai motor, tanganku tetap masuk ke dalam celana Sam. Sepanjang jalan aku terus bermain-main dengan kontolnya.

***

# Segarnya Kontolmu Sayang

Sejak kejadian dengan Sam di Mess Mahasiswa Sumbar, hubunganku dengan Sam semakin dekat. Sementara hubunganku dengan Doni semakin merenggang. Terus terang, dibanding dengan Doni, Sam kalah jauh untuk urusan percumbuan. Karena bagaimanapun Doni jauh lebih jago untuk urusan bercumbu. Jilatan-jilatannya pada dadaku, serta permainan jarinya di memekku membuatku benar-benar ketagihan. Belum lagi kontolnya yang besar panjang itu terasa sekali memenuhi rongga mulutku. Aku selalu bernafsu ingin mengisap kontolnya.

Sementara Sam sangat lugu dan kurang pengalaman. Namun kelembutan Sam mampu membuat aku merasa nyaman berada di dekatnya. Siang ini sepulang kuliah seperti biasa aku membonceng motor Sam menuju Kost-ku. Seperti biasa juga sepanjang jalan tanganku masuk ke dalam celananya sambil meremas-remas kontolnya. Aku suka dengan bentuk kontolnya yang gemuk dan kekar.

Tapi di perjalanan aku sempat bingung karena ternyata motor Sam tidak menuju ke tempat kostku. Sebenarnya aku mau protes, tapi akhirnya kubiarkan saja sambil terus menikmati bermain-main dengan kontol Sam yang sudah semakin menegang.

Ternyata aku dibawa ke rumahnya. Saat itu rumahnya dalam keadaan sepi. Langsung aku dibawa ke dalam kamarnya.

“Kamu mau minum apa, Lin?” tanya Sam basa-basi.

Aku tau itu sekedar basa-basi makanya aku menjawab dengan menggoda “Minum kontol kamu aja deh…”

Mendengar jawabanku, Sam langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian menubruk tubuhku sampai aku terlentang di tempat tidurnya. Sam mencium bibirku lama sekali. Bibirku di sedot-sedot, berganti-ganti bibir atas dan bibir bawah. Tapi lidahnya sama sekali tidak bermain. Maka aku segera mengambil inisiatif. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Kucari lidahnya, kemudian kubelit-belit dengan lidahku. Perlahan namun pasti Sam mulai bisa mengimbangi ciumanku. Lidahnya mulai bisa menari-nari didalam rongga mulutku. Sampai langit-langit mulutkupun di jilatinya. Rasanya cukup membuat aku terangsang.

kemudian tangannya mulai meremas-remas dada kiriku. Aku langsung menggelinjang nikmat. Sam terus bermain dengan dadaku dari luar kemejaku. Tidak sabar, aku buka sendiri kancing bajuku hingga terbuka lebar, Jilbabku kutarik lebih keatas agar dadaku tidak terhalang meski jilbabnya tidak dibuka.

Melihat keadaanku yang sudah terhidang, ciuman Sam langsung pindah ke dadaku. Gumpalan dadaku diciumi dengan penuh nafsu. Terkadang digigit-gigit kecil sampai meninggalkan tanda merah.

Sekali lagi aku merasa tidak sabar. Sam hanya menciumi bukit dadaku sambil meremas tanpa berusaha membuka BH-ku. Langsung saja kukeluarkan toketku dari BH dan kusodorkan puting susuku ke mulutnya seperti ibu yang menyusui bayi. Sam dengan lahap langsung menyedot puting susuku.

“Ooooh… Saaaam… sedot terus, sayaaang… sedot yang kenceeeng…” teriakku tak perduli apakah suaraku terdengar keluar atau tidak. Toh rumah ini sedang sepi.

“Teruuuuss… Saaaam…. sedot teruuuuussss… remes-remes yang kenceng…” pekikanku semakin tidak karuan.

Mendengar eranganku, Sam semakin bersemangat. Dia menciumi dadaku berganti-ganti yang kiri dan kanan. Saat mencium dada kiri, Tangannya meremas dada kananku. Sebaliknya saat mencium dada kanan, tangannya meremas dada kiriku.

Aku benar-benar dibawa ke dunia kenikmatan yang sangat indah. Sambil terus menikmati ciuman Sam pada dadaku, kuangkat rokku sampai ke perut. Hingga tampaklah memekku yang masih tertutup CD. Sudah terasa denyutan di bawah sana minta dicolok.

Kemudian kubuka resleting celana Sam. Rupanya dia mengerti. Dia segera bangkit dan membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. Terlihatlah kontolnya yang sudah tegang. Begitu besar dengan urat-urat disekitar batang kontolnya. Setelah itu dia langsung menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang tegang di gesek-gesekkan ke memekku yang masih tertutup CD. Rasanya sungguh luar biasa.

Sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya, Sam kembali menciumi dadaku. Dengan tubuh agak membungkuk dia terus menyedot puting susuku sambil kontolnya terus maju mundur menggesek-gesek memekku.

Kutarik tangan Sam dan kubawa ke memekku. Tangannya langsung masuk ke balik CD-ku dan bermain-main disana. Ketika itilku tersentuh, aku spontan terpekik nikmat. “Oooooowwwgh… Saaaaam…. enaaaaak… enak bangeeet, sayaaaang…” Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kenikmatan yang mendera seiring dengan permainan jari-jari Sam di itilku.

Jari-jari Sam terus meluncur naik turun di memekku. Tekadang dijepitnya memekku dengan jempol dan telunjuknya. Membuat aku semakin berteriak-teriak histeris. “Addduuuh… Saaaam…. enak bangeeet… terus, sayaaaang…”

Sementara bibir dan lidah Sam masih terus saja mengerjai dadaku, membuat aku benar-benar seperti cacing kepanasan. Menggeliat-geliat nikmat. Kutekan kepala Sam lebih keras lagi ke dadaku. Kujenggut-jenggut rambutnya menahan kegelian dan kenikmatan yang tiada tara.

Sampai kemudian kedutan di memekku semakin terasa nyata, dan gelombang kenikmatan seperti mengalir dari sekujur tubuhku menuju memekku, dan… “Aaaaaaaakhhh… Saaaaam…. aku nyampeeee….ooooowhg…!!!”

Pancaran kenikmatan menyembur membasahi memekku. Dan tubuh serasa tersedot menuju lubang yang dalam. Gelap, indah, nikmaaaat…

Setelah mengatur nafas, segera kudorong tubuh Sam hingga ia terlentang di kasur. Lalu kutindih tubuh bugil Sam. Kontolnya kududuki sambil kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur menggesek kontolnya yang besar.

Sam tampak keenakan dengan perbuatannku. Kulanjutkan dengan menjilati lehernya, kemudian kupingnya. Sam semakin kelojotan. Napasnya menjadi tidak teratur.

Ciumanku turun ke dadanya. Puting susunya kujilati. Kugigit-gigit kecil, kemudian kusentil-sentil dengan lidahku. Kujilati terus dadanya kiri dan kanan. Sementara pantatku terus maju mundur menggesek-gesek memekku ke kontolnya yang sudah sangat tegang.

Kontolnya yang besar terasa sekali mengerus belahan memekku meski aku masih mengenakan CD. Walau hanya di gesek-gesek dari luar, rasanya memekku sudah belah menjadi lebar.

Kemudian lidahku turun lagi menyusuri tubuh telanjangnya menuju perutnya. Akupun semakinmerosot ke bawah. Meski sayang kutinggalkan kontolnya dari memekku. Kucium perutnya dan kujilati sekitar pusarnya dengan melingkar. Lalu lidahku terus turun dan menyentuh ujung kontol kerasnya.

Kujilati kepala kontol besar itu. Kujilati lubang kecilnya sambil kubuka-buka lubangnya dengan lidahku. Lalu kujilati batang kontolnya mulai dari bijinya, naik keatas sampai kepala kontolnya. Kujilati lagi terus berulang ulang.

Lalu perlahan kumasukkan batang kontol yang besar itu kedalam mulutku. Kudiamkan sejenak dalam mulutku sambil lidahku bemain-main mengusap batang kontolnya. Baru kemudian perlahan kutarik mulutku keatas sampai ujung, kemudian kuturunkan lagi. Lalu kunaikkan lagi sambil kuisap kuat-kuat. Kuturunkan lagi. Begitu terus, kepalaku naik turun secara otomatis. Penuhnya rongga mulutku dengan batang kontolnya membuat aku semakin bernafsu. Memekku sampai basah lagi.

Jika sebelumnya aku membiarkan Sam muncrat ke tembok, kali ini aku ingin memberi hadiah pada Sam untuk muncrat di dalam mulutku. Cepat kukocok-kocok kontol Sam dengan tanganku. Jika kering kukulum lagi kontolnya sampai licin, kemudian kukocok lagi dengan tanganku.

Saat kurasakan denyutan kontol Sam semakin terasa, buru-buru kontol Sam kumasukkan ke dalam mulutku lagi dan kuisap kuat-kuat. Sampai akhirnya … Crooooottzz…!!! Air mani Sam muncrat kedalam mulutku dengan deras dan banyak sekali. Saking banyaknya sampai-sampai air mani itu tidak bisa kutelan semua dan ada yang meleleh membasahi dagu dan Jilbabku.

Buru-buru aku lari ke kamar mandi membersihkan jilbabku. Kuatir nanti aromanya tercium saat aku pulang nanti.

***

# Ih, Kecil Banget..

Memasuki Semester akhir, hubungan cintaku malah berantakan. Sudah 3 bulan aku menjomblo. Artinya sudah 3 bulan aku tidak ketemu kontol.

Seringkali aku membayangkan saat-saat bercumbu dengan pacar-pacarku dulu. Saat dengan bernafsu kancing bajuku dilucuti, saat BH ku dibuka dan selanjutnya dadaku diremas-remas dengan kuat. terbayang bagaimana lidah mereka menjilati puting susuku. menyentil-nyentil nakal, lalu toketku di hisap dengan gemas. Aaaaah…. nikmatnya.

Kalau sudah begitu biasanya aku langsung buka baju dan BH ku kemudian rebahan di tempat tidur. Kuremas-remas sendiri dadaku sambil membayangkan ada tangan lelaki yang meremasnya.

Lalu terbayang saat ada lidah yang menyusuri tubuhku. Mulai dari dada turun ke perut, berputar-putar di pusarku, lalu turun lagi menjilati bawah pusarku. teruuuuuss… turun sampai menyentuh bagian atas memekku.

Oooowgh… tidak tahan langsung kugosok-gosok sendiri itilku. Daging kecil itupun membesar dan habis kupermainkan dengan jariku. Kugosok, kujepit, kemudian jariku kugosok naik turun sepanjang belahan memekku. Banjir sudah memekku. Terasa semakin licin saja.

Pantatkuku goyang-goyang mengejar kenikmatan yang mulai mendera. Oooooh… aku pengen kontooolll…

Jemariku semakin cepat menggosok-gosok memekku. Pantatku berputar-putar hebat. Sampai akhirnya tubuhku mengejang hebat. Memekku berdenyut-denyut.

Ah, gila. begitu kangennya aku sama kontol sampai-sampai aku bisa orgasme hanya dengan masturbasi begini. Terlalu…

***

Pulang kuliah… aku masih tidak semangat. Masih terbayang kejadian tadi pagi saat aku masturbasi sebelum berangkat kuliah. Memekku gatal lagi.

Sedang aku berjalan sambil melamun jorok, tiba-tiba ada suara orang memanggilku. “Lin, tunggu…”

Aku menoleh mencari arah suara itu. Terlihat seorang cowok ganteng berlari menghampiriku. Oh, si Sony. Teman sekelasku. “Ada apa, Son” tanyaku saat Sony sudah berada dihadapanku sambil aku melanjutkan langkahku.

“Mau pulang bareng gak? Gue anter deh. Kan gue emang selalu lewatin tempat kost kamu.” kata Sony sambil berjalan di sampingku.

Aku katakan pada Sony bahwa siang ini aku mau ke rumah kakakku di Rawamangun. Gak langsung pulang ke kost.

“Ya gak pa pa. Gue anterin aja sekalian ke Rawamangun. Gimana, mau kan?” sahut Sony semangat.

Kupikir, apa salahnya. Lumayan irit ongkos. Dan tentunya lebih enak naik mobil dari pada naik bajaj. Lantas kami segera menuju mobil Sony di tempat parkir.

Di perjalanan berkali-kali tangan Sony seperti tidak sengaja menyentuh pahaku saat memindahkan gigi mobilnya. Semula aku ingin bergeser menghindar. Tapi sentuhan-sentuhan kecil yang seolah tidak sengaja itu justru membawa sensasi tersendiri. Maka bukannya aku bergeser menjauh, justru aku menggeser mendekat. Sempat aku melirik senyum Sony yang merasa berhasil menggodaku. Wah gawat. bisa dikira cewek gampangan nih.

Sesampai di depan rumah aku langsung turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Tapi Sony bukannya langsung pergi malah mematikan mesin mobilnya dan ikut turun mengikutiku ke depan pintu rumah.

“Lin, aku boleh mampir ya. ngobrol-ngobrol aja sebentar. Males pulang sekarang.” kata Sony sambil menatap mataku lembut. Aku tidak bisa menolak. Maka kuajak Sony masuk ke rumah.

Seperti biasa, kalau jam segini pasti rumah kakakku kosong. Maka tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa di dalam tasku.

“Wah, kamu bawa kunci sendiri. Rumahnya kosong ya, Lin?” tanya Sony.

“Iya. kalo jam segini masih pada kerja. nanti pulangnya menjelang maghrib.”

“Wah, asik donk..”

“Asik apaan! jangan macem-macem deh.” ancamku pada Sony sambil cemberut. Sony hanya tersenyum sambil ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa dipersilahkan Sony langsung menghempaskan pantatnya di sofa.

Aku menawarkan Sony untuk minum, tapi Sony menolak. Katanya mending ngobrol-ngobrol dulu aja. Nanti kalo udah haus baru minum.

Ternyata enak juga ngobrol dengan Sony. Orangnya humoris, sering membuat aku tertawa. Lama kelamaan obrolan kami mulai nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau porno . Entah bagaimana mulanya, tau-tau kami sudah berciuman.

Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, sampai akhirnya ketika lidah kami mulai saling melilit ciuman tu berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang ganas.

Tangan Sony mulai meremas dadaku dari luar bajuku. Aku langsung tersentak nikmat. Oooh… sudah 3 bulan dadaku tidak disentuh lelaki. Aku begitu menginginkannya. Ingin lebih.

Tangan Sony bergerak ingin membuka jilbabku. Segera kutahan. “Son… kita di kamar aja yuk.”

Sony tersenyum girang mendengar ajakanku. Kamipun bergegas menuju kamar tamu. Sesampai di kamar, Sony menutup pintu dan langsung mendorong tubuhku ke pintu.

Aku dipepet ke pintu dan bibirnya kembali menyergap bibirku. Ciumannya kali ini benar-benar ganas. Jilbabku dibuka, dan langsung leherku diserang dengan jilatan-jilatan yang membuat aku mengerang.

Lalu tangannya mulai mempereteli kancing bajuku satu persatu. Bajuku dilempar begitu saja ke lantai. Sony sempat tertegun memandang dada besarku yang seperti mau melompat keluar dari BH.

Tidak menunggu lama, bibirnya langsung nyosor menciumi dadaku. Sementara tangannya bergerak ke belakang mencari kaitan BH-ku. Aku membantu melepas BH dan membuangnya ke lantai.

Sony semakin bernafsu melihat dadaku yang sudah terhidang bebas di depan wajahnya. Lidahnya pun langsung menari-nari di pentil susuku. Ugh… nikmatnya. Rasa yang sudah lama tidak kudapatkan. Kutekan kepala Sony ke dadaku lebih erat lagi. Sony semakin kuat menyedot pentil susuku. Lalu lidahnya kembali menjalar ke leherku. Lalu bibirku dicium lagi. Kami ciuman panjang dan lama. Lidah kami saling melilit.

Tak sabar kubuka kancing baju Sony, lalu kulepas baju itu dan kubuang ke lantai. Kupeluk Tubuh Sony erat hingga dadaku menempel ketat dengan dadanya. Tangan Sony mengelus punggungku, lalu turun ke bawah ke arah pinggangku. Terus ke bawah lagi. Bongkahan pantatku di remas-remasnya. Aku menggelinjang geli. Goyanganku membuat memekku bergesekan dengan gundukan daging di selangkangannya menambah nikmat percumbuan ini.

Dengan terampil Sony membuka kancing dan resleting rok panjangku. Dan rok itupun meluncur jatuh di kakiku. Kini aku berdiri hampir telanjang dengan hanya mengenakan CD ku saja.

Aku tidak mau kalah, kubuka ikat pinggang celana Sony. Lalu kubuka kancing dan resletingnya. Sony membantu memerosotkan celana panjangnya. Setelah celananya merosot, kembali Sony merangkul tubuhku dengan erat. Ciumannya semakin ganas.

Sangat terasa ada yang mengganjal dan menekan-nekan memekku. Ugh, sepertinya kontol Sony sudah mulai ngaceng walau belum sepenuhnya. Tapi sudah mulai terasa nikmat gesekannya.

Ciuman Sony meluncur turun ke leher, lalu turun lagi ke dadaku. Bergantian puting dada kanan dan dada kiriku di isapnya. “Ooooogh… Sonnn… isep terusssss… iyaaaahhhh…” erangku tak kuasa menahan nikmat. Rasa kangen akan sentuhan yang telah kutahan selama 3 bulan ini benar-benar minta di tuntaskan.

Tubuh Sony mulai merosot sambil terus menjilati tubuhku. Perutku di jilat-jilat. Lidahnya bermain-main di lubang pusarku. Akhirnya Sony berjongkok, dan wajahnya langsung menghadap memekku yang masih terbungkus CD. Dengan sekali tarikan meluncurlah CD ku sampai kaki. Aku membantu mengangkat kaki dan menendang CD ku sampai melayang entah kemana.

Lalu Sony mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan dibahunya. Akibatnya memekku langsung merekah lebar menganga di hadapannya. Perlahan lidah Sony menyapu belahan memekku dari bawah ke atas. “Aaaawh! Sonnnn… enaaaaaak, sayaaaanghhh…”

Ini gaya baru. Belum pernah memekku dijilati sambil berdiri begini. Rasanya luar biasa nikmat. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur mengejar lidahnya yang terus menari-nari di memekku. Terkadang lidahnya terasa menerobos masuk menjilati pinggiran dinding dalam memekku. Aku semakin bergelinjang tak karuan. Teriakanku semakin keras menerima rangsangan yang hebat seperti ini.

“Adddduhh, Son.. enak bangeeeet…. Gilaaa… lu pinter banget sih jilat memeknyaaa…”

Sedang nikmat-nikmatnya dijilat, tiba-tiba Sony menghentikan serangannya dan berdiri. Dia lalu meraih lenganku dan membimbingku ke tempat tidur. Aku langsung berbaring telentang. Kakiku kukangkangkan lebar-lebar menanti serangan Sony berikutnya.

Melihat posisiku yang menantang itu Sony sampai terbelalak. Cepat dia memelorotkan CD nya. Tampaklah kontolnya. Kelihatannya belum ngaceng benar. ukurannya belum maksimal.

Sonny langsung menerkam aku. Tubuhku ditindih, bibirku dicium dengan ganas. Kontolnya di gesek-gesek ke memek. Sempat kurasakan ujung kontolnya menyeruak belahan memekku.

“Son, jangan dimasukin. Gue masih perawan.” desahku di tengah kenikmatan yang menderu.

Sony agak kaget mendengarnya. Untung dia mau ngerti. “Iya. Gak gue masukin deh. Tapi nanti bantu keluarin ya…”

Aku menjawab dengan ciuman penuh nafsu pada bibirnya. Sony bangkit, kali ini langsung nyungsep ke memekku. Jilatan-jilatannya semakin menggila. Aku tidak tahan lagi.

“Soooonnn… gue keluaaarrrr…” aku kejang. Tubuhku tersentak-sentak bersama dengan kedutan-kedutan yang menyembur di memekku. Sony bukannya berhenti malah terus menjilati memekku dengan ganas. Aku bagai kapas yang ditiup dan melayang-layang. Nikmaaaat…

Sony lantas menindihku lagi dan mencium bibirku mesra. Lalu tubuhnya bergulir dan tiduran telentang di sampingku.

Aku mengerti yang diinginkannya. Segera aku bangkit duduk, dan kuraih kontolnya. Kuremas-remas lembut. Kontolnya belum juga membesar meski sudah sangat keras. Aku sempat bingung. Perasaan tadi sudah di puncak nafsu. Kok kontolnya masih kecil gini?

Segera kukulum kontol Sony, kujilat-jilat, kusedot-sedot. Tetap saja kecil. Ah, kayaknya kontolnya memang kecil nih. Cuma sebesar pisang lampung. Seluruh kontolnya bisa masuk ke mulutku dengan mudah. Nafsuku langsung hilang… yaaaaah… kecil bangeeeeettt…

Untuk tidak mengecewakan Sony, kukocok-kocok saja kontolnya dengan tanganku. Kalau kering aku hanya meludahinya saja. Aku malas memasukkan kontol kecil itu ke mulutku. Tidak ada sensasi apa-apa. Terlalu longgar.

Tak berapa lama, Sony ngecret. Langsung saja dia kutinggal ke kamar mandi sambil kubawa semua pakaianku.

Jilatnya pinter sih… tapi kecilnya itu…

***

# Oops!

Petualanganku dengan Sony sempat berlanjut selama beberapa kali. Tapi aku sudah malas untuk ngisep kontolnya lagi. Gairahku langsung hilang bila melihat kontolnya yang kecil itu. Jadi aku lebih suka minta dia menjilat memekku sampai aku selesai, baru kemudian kontolnya kukocok. Paling hanya kukulum sebentar untuk melicinkan kontolnya saja. Toh dengan begitupun dia sudah kelojotan. Begitu dia selesai, gairahku selalu hilang tanpa bekas. Maka biasanya kalau kami bercumbu di rumahku, dia akan langsung kusuruh pulang dengan berbagai alasan. Atau jika di tempat lain, aku akan buru-buru minta diantar pulang.

Tak lama berselang kuliahku selesai. Dan selesai juga hubunganku dengan Sony. Beruntung bagiku selesai kuliah tidak pelu repot-repot mencari kerja. Salah satu familyku mengajakku bekerja di perusahaannya yang baru dibangun.

Berhubung kantornya terletak di bilangan Kebayoran, maka kuputuskan untuk mencari tempat kost di dekat-dekat kantor.

Di kantor ada salah seorang staff yang usianya terpaut 4 tahun lebih muda dari aku. Penampilan Dodi yang energik dan humoris membuat aku betah berlama-lama ngobrol dengannya.

Sebenarnya aku sadar setiap kami ngobrol, mata Dodi seringkali menatap dadaku yang berukuran 34C ini. Dan menyadari hal itu membuat aku ingin menggodanya dengan sering-sering membusungkan dadaku. Terkadang aku sengaja mengangkat tanganku tinggi-tinggi seolah ingin menghilangkan pegal. Padahal maksudnya supaya dadaku semakin terekspos di depan matanya.

Benar saja, setiap kali aku melakukan gerakan-gerakan seperti itu matanya tak berkedip memandang dada besarku.

Sekali waktu Dodi mengajakku nonton ke bioskop sepulang kerja. Karena aku juga tidak ada acara, aku pun menyambut ajakannya. Kami segera menuju kawasan Blok M.

Saat film dimulai, Dodi mulai menggenggam tanganku. Kubalas dengan genggaman yang lembut sambil jemariku bermain mengelus jarinya. Karena dilihatnya aku tidak menolak, Dodi melepas genggaman tangannya dan beralih merangkul pundakku. Akupun segera merebahkan kepalaku di dadanya.

Terasa bahuku diusap-usap dan terkadang diremas dengan keras. Aku membalas dengan mengusap-usap dadanya, kemudian turun ke perutnya. Lama telapak tanganku berputar-putar di perutnya.

Lalu Dodi mengangkat daguku dengan tangannya. Saat kepalaku terdongak ke atas dia langsung mencium bibirku. Bukan ciuman lembut, tapi langsung ciuman penuh nafsu. Ah… dasar anak muda. Maunya langsung-langsung aja. Aku mengimbangi permainan bibir dan lidahnya. Perlahan nafsuku mulai bangkit.

Di tengah pergumulan lidah itu kurasakan tangan Dodi mulai meraba dadaku, Segera kutolak. Ini baru kencan pertama. Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkannya, tapi kupikir aku harus jaga image dulu di kantor baruku ini. Aku takut Dodi yang masih muda ini akan membanggakan diri cerita ke teman-teman lainnya. Bisa berabe aku.

Kutepis tangan Dodi sambil aku melepaskan ciuman dan mencoba konsentrasi pada film yang diputar. Sebenarnya bukan konsentrasi, tapi aku harus menurunkan nafsuku sendiri yang sebenarnya sudah mulai bergejolak. Meski terlihat agak kecewa, tapi Dodi tetap merangkul dan mengusap-usap bahuku sampai film usai.

***

Sejak ciuman di bioskop, hubunganku dengan Dodi semakin dekat. Mungkin dia menganggap ciuman itu sudah merupakan tanda bahwa kami resmi pacaran. Padahal bagiku itu tidak lebih dari sekedar ciuman iseng saja.

Jelang 2 hari kemudian, kembali Dodi mengajakku nonton bioskop. Kali ini kami kebagian duduk di barisan agak tengah. Tapi untungnya masih kebagian yang paling pinggir. Jadi tetap bisa mojok walaupun ada resiko telihat oleh penonton yang duduk di barisan atas.

Dasar anak muda, begitu lampu padam aku langsung direngkuhnya. Bibirku dilumat dengan penuh nafsu. Dan tidak menunggu waktu lama tangannya langsung meremas dadaku. Kali ini kudiamkan saja karena aku juga sudah sangat rindu dengan remasan-remasan pada dadaku.

Perlahan tanganku meluncur dari dadanya, turun ke perutnya dan akhirnya mendarat di selangkangannya. Terasa kontol ngacengnya dari balik celananya. Kuremas-remas dan kugosok-gosok kontol itu dari luar celana. Woooow… besaaaar… Jenis kontol yang kusuka. Kugosok-gosok .dan kuremas-remas terus kontolnya. Sesekali kuremas biji-bijinya meski hanya dari luar celananya.

Aku begitu bernafsu sampai tidak menyadari bahwa kancing bajuku telah terbuka semua. Bahkan BH ku telah terlepas ke atas. Aku begitu terkejut saat tiba-tiba bibir Dodi menyergap putting susuku. Owwwgh… What ! Aku sudah telanjang dada?!

Aku kaget bercampur takut ada yang melihat. Soalnya posisi duduk kami sangat tidak aman. Apalagi penonton di barisan belakang cukup ramai. Cepat aku mendorong kepala Dodi agar menghentikan aksinya.

Bukannya berhenti, Dodi malah menyedot puting susuku dengan kuat. Sementara sebelah tangannya meremas susuku yang sebelah lagi. Aku langsung menggelinjang hebat. Betapapun aku takut dilihat orang, tapi rasa nikmat yang mendera tubuhku lebih kuat dari rasa takutku. Akhirnya aku hanya sanggup mengerang pelan sambil kuremas kepala Dodi dan menekannya lebih kuat lagi ke dadaku.

Ciuman dan jilatan Dodi mulai turun ke bawah ke arah perutku. Terus turun sampai di bawah pusarku. Aku semakin kelojotan tidak karuan. Tiba-tiba Dodi membuka resleting celana panjangku dan menariknya turun besama dengan celana dalamku. Aku bukannya mencegah, malah kuangkat sedikit pantatku agar Dodi lebih mudah membuka celanaku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan keadaan sekeliling yang mungkin saja ada yang melihat kelakuan kami berdua ini. Nafsu birahi sudah menutupi akal sehatku.

Celana panjang berikut celana dalamku meluncur sampai ke mata kakiku. Dodi mengangkat kaki kananku hingga celanaku terlepas sebelah. Kaki kananku diletakkan pada sandaran kursi hingga posisiku mengangkang dengan lebar. Kemudian Dodi berjongkok di lantai dan menghadap memekku secara langsung.

Dengan penuh nafsu Dodi langsung menjilati memekku dari bawah ke atas. Itilku dijilat dan dipermaikan dengan lidahnya. Terkadang itilku di sedot dengan kuat. Duniaku sudah gelap. Bahkan suara film yang sedang diputar pun sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya rasa nikmaaaaaat… enaaaaaaaak…

Sampai akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kuhapal. Denyutan yang menyerbu memekku dengan deras. Tubuhku mengejang, aku mengerang panjang. ”Oooooooooghhhhh… enaaaaaaaakkkk… aaaaakhhhh…”

Memekku banjir sudah. Aku lemas. Aku terpejam mengangkang menikmati semburan nikmat yang baru saja lewat. Aku tidak perduli dengan keadaanku yang separuh telanjang sambil mengangkang. Sampai tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Oops! Filmnya habis.

Aku panik. Segera kukatupkan kemejaku menutupi dadaku yang terbuka. Tapi celanaku belum sempat kupakai. Terpaksa celana panjangku kudorong agak ke bawah tempat duduk. Kuambil tasku dan kuletakkan diatas pahaku menutupi ketelanjangan bagian bawahku.

Kami tetap duduk menunggu seluruh penonton pergi. Entahlah apakah para penonton yang melewati tempat duduk kami menyadari bahwa aku tidak pakai celana. Semoga saja tidak ada yang sadar.

Setelah seluruh penonton meninggalkan ruangan, barulah aku mengenakan celana dan merapikan BH serta kemejaku.

***

# Ke Ancol Lagi
Pengalaman percumbuan di bioskop bersama Dodi waktu itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Bukan karena aku tidak menyukainya. Bukan… Jujur saja pengalaman bercumbu di depan orang banyak begitu menimbulkan sensasi erotis yang menggairahkan bagiku. Mengingatnya saja bisa membuat memekku basah.

Namun yang membuatku enggan meneruskan petualangan bersama Dodi adalah sikapnya yang menjadi sangat protektif terhadap diriku. Dia benar-benar menganggap aku ini sebagai miliknya yang bisa dikuasai sesuai dengan keinginannya.

Sementara bagiku, Dodi is just another Kontol. Tidak lebih. Dia sudah mulai banyak bertanya jika aku dekat dengan teman pria lain. Atau di lain kesempatan dia mulai mengatur cara aku berpakaian. Dia tidak suka dengan jilbabku yang pendek. Dia meminta aku mengenakan jilbab panjang yang menutupi dadaku. Katanya jilbab yang aku kenakan saat ini justru sangat menonjolkan bentuk dadaku yang besar. Lho… So What ? Memang itu yang kuinginkan.

Atas sikapnya itu aku memutuskan mulai menjaga jarak dan lebih sering menghindar. Beberapa kali ajakannya untuk menonton aku tolak. Walau sebenarnya saat dia mengajak aku nonton di bioskop, langsung terbayang kejadian dimana dia begitu bernafsu menjilat memekku. Ingin sekali rasanya aku mengulangi kejadian itu.

Namun jika mengingat hidupku yang semakin tidak nyaman, aku kuatkan untuk tetap menolak.

“Kamu kenapa sih, gak pernah mau lagi jalan sama aku?” tanya Dodi kesal saat aku kembali menolak ajakannya untuk nonton.

“Gak apa-apa kok. Lagi males aja.” jawabku santai. “Kalau mau jalan, kita makan aja yuk, gak usah nonton” sambungku.

Walau dengan wajah cemberut, akhirnya Dodi setuju untuk pergi makan malam. Akhirnya kami pergi ke Pondok Indah.

“Sebenernya ada apa sih, Lin? Belakangan sikap kamu aneh.” ujar Dodi sambil menunggu makanan pesanan kami datang. Kutatap mata Dodi lekat-lekat. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Kubiarkan saja pertanyaannya, atau aku berterus terang saja soal perasaanku padanya yang hanya menganggap teman, bukan pacar.

Kembali Dodi mendesak dengan pertanyaannya, Kutatap lagi matanya.

“Loe beneran mau tau?” tanyaku sambil menatap matanya tajam.

“Ya iya lah. Gak enak pacaran tapi aneh gini.” jawabnya.

Aku mengambil nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat. “Dod, sebelumnya sorry ya. Gue akui loe orangnya baik, lucu, ganteng. Tapi masalahnya, belakangan gue mulai merasa gak nyaman karna kayaknya gue udah gak bebas lagi sejak deket sama loe.” aku berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan sangat sopan.

Tapi tak urung Dodi tersentak kaget. “Gak nyaman gimana maksud kamu, Lin?”

“Ya, belakangan loe udah berani ngatur-ngatur gue, ngatur cara berpakaian gue, ngatur dengan siapa gue bisa berteman, ya gitu deh. Buat gue itu udah bikin gue gak nyaman.” jawabku dengan suara yang kucoba sedatar mungkin.

“Lho… wajar donk, namanya juga orang pacaran…“

“Nah, itu dia masalahnya,“ tukasku memotong ucapannya. “Loe terlalu gegabah menganggap kita pacaran. Sementara gue cuma menganggap loe sebagai teman dekat gue. Gak lebih gak kurang, Dod.”

Dodi tampak terkaget-kaget mendengar ucapanku. “Cuma teman? Trus, gimana dengan hubungan kita selama ini…” tanya Dodi seperti tidak bisa menerima ucapanku.

“Hubungan yang mana…” tanyaku belaga bego.

“Ya hubungan kita. Ciuman-ciuman kita… trus … yang di bioskop…”

Aku tersenyum geli melihat Dodi mencak-mencak begitu. “Dod, ciuman sama loe emang nyaman buat gue. Apalagi kejadian yang di Bioskop. Jilatan loe emang bener-bener hebat. Gue sampe menggelapar waktu itu, Dod. Tapi itu kan gak berarti lantas gue jadi pacar loe? Itu kan hubungan sama-sama enak. Memek gue enak loe jilatin, loe juga dapet rejeki bebas jilatin memek gue. Kurang apa, Dod? Cukuplah hubungan kita sebatas itu aja. Jangan berharap lebih lagi. Soalnya menurut gue itu udah lebih banget. Coba… sampe memek gue aja gue kasih, kurang gimana lagi hayo?!”

Dodi tampak geram mendengar ucapanku. Lalu dengan suara berat dia lanjut bertanya. “Jadi… bukan cuma aku yang kamu kasih jilatin memek kamu?”

Aku menatap tajam matanya mendengan ucapannya yang menurutku cukup kurang ajar. “Itu urusan gue. Loe gak perlu tau!” ujarku ketus sambil tetap menatap matanya dengan tajam.

“Hah, gak nyangka, Lin. Kamu gak beda sama perek-perek di jalan. Percuma kamu pake jilbab. Mending telanjang aja kamu!” Dodi memakiku sambil bangkit dan beranjak meninggalkan aku sendiri di rumah makan itu.

Aku cukup sakit hati mendengar ucapannya. Laki-laki! Waktu dia berusaha menelanjangi tubuhku apa pernah dia berpikir seperti itu. Saat sudah gak dapet memek lagi, langsung pandangannya berubah. Dasar!

Malam itu aku pulang sendiri. Hatiku gundah, sedih, sakit… Belum pernah aku dihina seperti ini. Mantan-mantanku dulu tak pernah menyakitiku seperti ini.

Besoknya aku tidak melihat Dodi di kantor. Besoknya lagi juga tidak. Hari ketiga dia muncul menghadap HRD dan mengajukan pengunduran dirinya. Lalu dia pergi tanpa berpamitan denganku.

Meski begitu, tetap saja rasa sakit hatiku belum bisa hilang. Jika kuingat lagi ucapannya di restoran malam itu, hatiku benar-benar seperti di sayat-sayat. Untunglah beberapa hari kemudian ada karyawan baru yang ganteng dan bertubuh atletis. Tidak membutuhkan waktu lama, aku sudah akrab dengan Torik, karyawan baru tersebut.

Sudah 2 hari berturut-turut kami makan siang bersama. Bukan itu saja, sudah 2 hari berturut-turut pula aku diantar pulang dengan mobilnya. Di hari ke 3, bertepatan dengan akhir pekan, Torik mengajakku jalan-jalan dulu sebelum pulang. Aku setuju saja. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan cowok ganteng seperti Torik. Apalagi badannya juga bagus sekali, terutama bagian bokongnya yang terlihat begitu kencang.

Ternyata Torik membawa mobilnya menuju Ancol. Ah… Ancol. Teringat aku pada pengalaman pertamaku ngisep kontol. Di ancol inilah pertama kali aku belajar ngisep kontol pacarku waktu kuliah dulu.

Torik memarkir mobilnya di tempat sepi. Sama seperti kejadian dengan pacarku dulu. Membayangkan hal itu aku sudah panas dingin duluan. Torik memarkir mobil tanpa mematikan mesinnya. Lalu tanpa ba bi bu dia langsung mencium bibirku. Ah… sudah nafsu rupanya. Aku tidak mau tinggal diam, kuladeni ciumannya dengan menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Ugh… cepat sekali birahiku naik.

Kupeluk erat tubuh Torik sambil kubisikkan kata-kata… “Sayang, pindah ke belakang aja yuk…”

Torik tersenyum penuh semangat mendengar ajakanku. Tak menunggu lebih lama lagi kami langsung pindah ke kursi belakang. Begitu sampai di belakang Torik langsung membuka jilbabku. Kemudian diserangnya leherku yang jenjang dengan jilatan-jilatannya yang membuat aku menggelinjang birahi.

Tangannya tak tinggal diam, satu-persatu kancing kemejaku di preteli. Kemudian di lepaskannya kemejaku dan dilemparkan ke lantai mobil. Setelah itu lidahnya langsung pindah menuju bukit dadaku yang hampir melompat keluar dari BH ku. Tidak puas menjilati bukit dadaku, Torik membuka kait BH- ku dan merenggutnya hingga lepas dan terbang entah kemana. Setelah itu lidahnyapun mendarat di puting susuku yang sudah tegak mencuat dan keras.

Aku terhenyak nikmat merasakan sedotan bibirnya pada putting susuku. Aaaaaagh… aku kangeeeennnn sama beginian…

Aku di dorong hingga terlentang di jok mobilnya. Kemudian jilatannya bergeser menuju perutku. Terus turun lagi sampai perut bagian bawah… Oghhh… aku tidak tahan. Pasti memekku sudah banjir.

Dengan penuh nafsu Torik membuka resleting celana panjangku, lalu menarik lepas celana berikut celana dalamku. Dan bugil lah aku. Kemudian Torik bangkit duduk untuk membuka seluruh pakaiannya. Dan wooooowww… kontolnya… Besaaaarrr…!

Memekku sampai berdenyut-denyut melihat kontol Torik yang mengangguk-angguk seolah memanggilku untuk menghisapnya. Dengan tidak sabar Torik melebarkan kakiku sampai terpentang ngangkang. Kemudian dia menindih tubuhku. Sepertinya nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Gerakannya begitu bersemangat.

Kurasakan kontolnya mulai berusaha menerobos lubang memekku. Oh Gawat ! “Sayang, jangan dimasukin! Aku masih perawan!”

Tapi sepertinya Torik tidak perduli. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan kontolnya terus berusaha menyodok lubang memekku. “Jangan… oghhh… jangan….. digesek-gesek di luar aja….” erangku antara menolak dan ingin.

Sodokan kepala kontolnya benar-benar nikmat. Aku hampir tidak kuasa lagi untuk menolak kenikmatan ini. Ditengah kebimbangan antara takut kehilangan perawan dan rasa nikmat yang luar biasa, tiba-tiba…

Creeet… Creeeet… Creeeet… Terasa memekku disiram dengan semburan-semburan hangat dari kontolnya. Aaaah… rupanya Torik begitu bernafsu sampai-sampai sudah keluar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah… perawanku selamat.

Cepat kudorong tubuh Torik yang sudah lemas, kemudian segera kubersihkan air mani Torik dengan tissue yang sudah tersedia di mobilnya. Buru-buru kupakai celanaku. Soalnya aku tidak yakin bisa menolak jika nanti Torik minta lagi. Segera aku pindah ke kursi depan menunggu Torik selesai berpakaian. Aku mengajak Torik segera pulang.

***

# Hampir Saja Perawanku Hilang

“Terima kasih ya, pak.” ujarku mengakhiri percakapanku di telepon dengan seorang Manager Hotel di kawasan Sudirman. Karena seringnya perusahaan kami memesan kamar hotel untuk klien-klien kami dan selama ini aku yang selalu berhubungan dengan pihak Hotel, maka pihak Hotel memberi hadiah berupa beberapa lembar voucher untuk menginap gratis di kamar Superior mereka. Lumayan…

Ah… memekku langsung berdenyut saat membayangkan akan mengajak Torik untuk menggunakan voucher ini. Terbayang Kontol besar Torik saat kami bercumbu di ancol beberapa hari lalu. Apalagi aku belum sempat merasakan kontol besarnya secara utuh. Ugh… menbayangkan itu saja aku sudah tidak sabar ingin ngisep kontolnya.

Seperti dugaanku Torik sangat bersemangat saat hal itu kusampaikan padanya ketika kami makan siang. “Ya udah ntar malem aja, Lin.” ucap Torik dengan penuh semangat. Aku tersenyum pengen melihat semangatnya itu.

“Besok aja deh, malem ini gue musti ke rumah tante gue.”

“Yaah… kelamaan nunggunya, Lin. Udah pengen nih.” ujar Torik dengan wajah kecewa. Aku tertawa melihatnya begitu.

“Sabaaar ah. Besok pagi jemput gue ke tempat kost ya. Kan musti bawa baju ganti.”

“Sip. Pagi-pagi gue jemput.” jawab Torik girang.

“Tapi janji dulu.” ucapku membuat Torik memandangku heran.

“Janji apa?” tanya Torik.

“Jangan dimasukin. Gue masih perawan.”

“Iyaaa.. jangan kuatir.” jawab Torik sambil kembali menyeruput kopinya.

***

Pagi-pagi sekali Torik sudah menjemputku di tempat kost. Gila, semangat amat. Untung aku sudah menyiapkan pakaian ganti sejak tadi malam. Jadi bisa langsung berangkat.

Hari ini sepertinya pekerjaan begitu membosankan, Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati kontol Torik di hotel nanti. Brengseknya hari ini justru aku banyak pekerjaan.

Sudah pukul 8 malam lewat sedikit saat aku menyelasikan pekerjaanku. Saat aku sampai di lobby, kulihat Torik masih menunggu dengan wajah bosan. Kamipun segera bergegas menuju Sudirman.

Di perjalanan sepertinya Torik sudah tidak sabar. Tubuhku dirangkul sampai tersandar di perutnya sementara tangannya terus saja meremas toketku dari balik punggungku.

Aku tidak mau kalah, kuremas-remas kontolnya dari luar celana. Terasa sekali kontol itu sudah begitu tegangnya. Besaaar… keraaaas…

Rupanya Torik benar-benar sudah tidak tahan. Dia membuka sendiri kait ikat pinggang dan menurunkan resleting celananya. Tampaklah kepala kontolnya yang sudah menyembul keluar dari celana dalamnya.

Kusentuh kepala kontol itu dengan jari-jariku. Woow… lebar sekali. Kuturunkan celana dalamnya. Kontol besar itu sampai melompat bergoyang-goyang saat terbebas dari celana dalamnya. Gilaaa… gede bangeeet… Dengan gemas kugenggam batang kontolnya dengan kedua tanganku. Uuuh… sudah pakai dua tangan, tapi kepala kontolnya masih nongol. Panjaaaang…

Hhh.. tak sadar aku mendesah. Bukan karena toketku yang terus diremas-remas oleh Torik. Tapi karena tak kuat membayangkan enaknya kontol besar begini.

Kuremas-remas kontol besar itu. Kukocok dengan lembut. Lalu kuusap-usap kepala kontolnya dengan jari telunjuk dan jempolku. Tak lama terlihat cairan bening keluar dari lubang di ujung kontolnya. Bening… tapi kental. Kusapukan cairan itu ke seluruh permukaan kepala kontolnya.

Kontan Torik tersentak dan mengerang “Aaaaaghhh…”

Aku sudah tidak sabar ingin mengemut kontol ini. Tapi baru saja aku akan memasukkan kontol itu ke mulutku, Torik sudah menarik tubuhku untuk bangun.

“Udah dulu sayang… kita udah sampe.”

Aaah… tanggung bener sih… Segera kurapikan celana Torik dan akupun bangkit duduk dengan manis.

Sesampai di kamar, Torik benar-benar seperti Tarzan yang mau perang. Begitu pintu di kunci, aku langsung direngkuhnya dengan ganas. Bibirku dicium dengan bernafsu sekali. Aku sampai gelagapan sulit bernapas. Jilbabku dibuka dengan terburu-buru. Lalu kembali aku diciumi sambil berdiri. Leherku dijilat-jilat dan digigit-gigit kecil.

Lalu bajuku dibuka dengan kasar. Saking kasarnya sampai ada kancing yang copot terpental entah kemana. Bajuku dilemparkan begitu saja, dan tidak menunggu lama langsung tangannya menuju punggungku membuka kait BH. Kembali BH itu terlempar. Tidak seperti biasanya, Torik melewatkan Toketku yang sudah tegang. Tangannya langsung meraih kancing dan resleting celana panjangku. Celanaku dipelorotkan berikut dengan celana dalamnya. Oooh… aku langsung bugil dihadapannya.

Kemudian Torik dengan terburu-buru melucuti seluruh pakaiannya sampai sama-sama bugil. Aku masih saja terbelalak menyaksikan kontolnya yang menakjuban itu. Tiba-tiba aku terkaget karena tubuhku digendong dan dibawa ke ranjang. Torik melempar tubuhku begitu saja ke atas ranjang. Owgh… kasar sekali. Tapi aku suka.

Belum hilang kagetku, Torik sudah melompat menindih tubuhku dan langsung menyerang bibirku dengan ganas. Terasa kontol besarnya bergesekan dengan memekku. Oooghhh… enak sekali permainan kasar begini. Aku belum pernah dipelakukan seperti ini. Ternyata sensasinya sungguh beda. Lebih nikmat.

Tiba-tiba Torik bangkit duduk. Kedua belah kakiku diangkat terlipat, sampai dengkulku menyentuh Toket. Aku benar-benar terkangkang dan memekku terekspos dengan bebas di hadapan Torik. Kemudian Torik mulai berusaha memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Oh gawat! Torik pengen ngentot.

“Jangan… Torik! Jangan…” aku benar-benar panik. Kugoyang-goyangkan pantatku menghidari kontolnya yang ingin menerobos ke dalam memekku. Tapi goyanganku justru membuat kontol itu seperti di gesek-gesek kebelahan memek. Dan rasanya luar biasa nikmat. Aku benar-benar dipersimpangan jalan. Kubiarkan kontol itu masuk dan kehilangan perawan, atau biarin aja. Enaaaaak…

Torik terus berusaha memasukkan kontolnya. Aku semakin panik dan semakin bimbang. Pantatku masih terus kugoyang-goyangkan. Tapi sepertinya bukan lagi untuk menghindar, melainkan untuk mendapatkan rasa enak yang semakin menjalar.

Akhirnya kepala kontol Torik mulai menemukan jalan masuk. Goyanganku justru membuat jalannya semakin terbuka. Ooohhhh… gawaaaaat…

Mungkin karena merasa yakin sudah pasti masuk, Torik langsung merebahkan tubuhnya menindihku dan kembali menjilati leherku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, kugigit kupingnya dengan keras. Torik terpekik kesakitan dan tubuhnya merenggang. Langsung kudorong tubuh kekarnya sampai terguling ke samping. Dan lepaslah kontolnya dari memekku.

Sebelum Torik marah, segera kudorong Torik sampai telentang, lalu cepat kutindih tubuhnya. Kucium bibirnya. Kususupkan lidahku ke dalam mulutnya. Untung, Torik tidak jadi marah. Dia membalas lilitan lidahku. Memekku tepat diatas kontolnya. Terasa batang kontol itu sampai membelah memekku. Kugesek-gesek memekku maju mundur mengejar nikmat batang kontolnya. Tiap kali Torik berusaha bergerak ingin menggulingkan tubuhku cepat aku mendekapnya erat sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya ke memekku.

”Owwwgggghhhh… nikmatnya…” memekku semakin basah membuat gesekan memekku di kontolnya semakin licin dan lancar. Terus kugesek sampai kepala kontolnya berkali-kali terasa menyundul klitorisku. Uuuuuaaaagghhh… enaaak bangeeeet…

Cepat sekali birahiku menyerbu. Denyutan-denyutan terasa mendera memekku. Tubuhku kejang, dan ooooggggh…. Aku orgasme. Terasa ada yang menyembur-nyembur dari dalam memekku. Aku lemas. Sungguh rasanya tulangku copot semua. Kudekap erat tubuh Torik. Untung aku segera tersadar. Jika tidak cepat bertindak, pasti aku akan diperkosa lagi oleh Torik.

Cepat aku meluncur ke bawah menuju kontolnya. Langsung kumasukkan kontol yang masih belepotan cairan cintaku itu ke dalam mulutku. Kusedot dengan kuat. Torik sampai teriak nikmat merasakan sedotanku. Lalu mulutku mulai naik turun mengocok kontol besarnya. Mulutku sampai terasa penuh menampung batang kontol besar panjang ini.

Saat mulutku naik, kusedot kontolnya dengan kuat sampai kepala kontolnya hampir terlepas. Lalu kuturunkan lagi mulutku. Kuangkat lagi sambil kusedot kuat-kuat. Torik benar-benar kubikin sampai kelojotan dan mengerang-ngerang hebat.

Saat mulutku mulai terasa pegal segera kuludahi kontol itu sampai basah kuyup, lalu ku kocok-kocok dengan tanganku. Begitu kontolnya kering, kulumat lagi kontolnya dengan mulutku sampai pegal. Kuulangi terus berkali-kali.

Sedot…. kocok…. sedot…. kocok….

Memekku sampai gatal lagi. Segera aku rubah posisi dari nungging menjadi telungkup. Memekku kugeser-geser menindih kakinya sampai terasa jempol kakinya menyentuh memekku.

Langsung saja jempol kaki Torik kujadikan pemuas memekku sambil aku terus mengerjai kontolnya dengan mulutku. Uuuughhhh enak banget…. memekku terus kugesek-gesek ke kakinya, sementara mulutku terus bekerja. sedot… kocok… sedot… kocok…

Gelombang orgasmeku kembali menyerbu. Kurapatkan pahaku sambil menjepit jempol kaki Torik. Kusedot kontolnya dengan kuat sambil menikmati gelombang orgasmeku. Sedotanku yang kuat membuat Torik tidak mampu bertahan lagi. Kontonya mendenyut-denyut dan… crooooot… crooot… crooot… air maninya menyembur ke dalam tenggorokanku.

Aku sampai kaget merasakan kencangnya semburan dari kontol Torik. Air maninya begitu banyak sampai tidak tertampung dalam mulutku. Sebagian ku telan saja, tapi tidak bisa semuanya. Masih banyak yang melelh keluar dari bibirku dan mengalir ke dagu dan terus ke leherku. Aaaaah… segarrr… ngisep kontol memang benar-benar nikmat. Cepat kukenakan jas mandi yang sudah tersedia di kamar hotel mewah ini.

“Rik, loe pulang aja deh sekarang.” ujarku pada Torik sambil aku mengumpulkan pakaian Torik dan kulemparkan ke arahnya.

Torik menangkap pakaiannya dengan terkejut. “Lho, kok pulang? Kan kita mau nginep…“ tanyanya dengan bingung.

“Siapa bilang kita mau nginep. Gue mau nginep sendiri. Bukan nginep bareng.” ucapku sambil berdiri dekat pintu, kuatir Torik menolak aku suruh pulang. Maksudku, jika dia menolak aku akan membuka pintu lebar-lebar hingga terlihat dia masih telanjang.

Torik tampak kesal, tapi melihat wajahku yang serius akhirnya dia segera mengenakan pakaiannya dan mengangkut tasnya menuju ke arahku, “Gue gak ngerti sama sekali, Lin. Kenapa cepet sekali berubah…” ucap Torik dengan wajah kaku.

Aku menghela nafas dan menatapnya lembut. “Sorry, Rik. Gue belom siap tidur bareng. Cuma itu aja. Cukup kayak gini aja. Terima kasih Rik. Tadi itu luar biasa enak. Tapi gue belum bisa lebih dari itu…” ucapku pelan. Aku benar-benar tidak yakin bisa bertahan jika Torik tetap menginap malam ini.

Torik meletakkan tasnya di lantai dan berusaha menyentuh wajahku. Aku segera mundur sambil menarik pintu hingga terbuka lebar. Torik menghentikan gerakannya melihat sikapku seperti itu.

“Tapi boleh gak gue jilat memek loe sebentar. Bentaaar… aja!” memekku langsung berdenyut mendengar permintaannya. Aku langsung bimbang.

“Tapi disini aja ya. Jangan di kasur.” jawabku sambil beringsut sedikit berlindung dibalik pintu. Torik menyeringai girang merasa menang. Cepat dia berjongkok di depan memekku dan menyibakkan jas mandiku dimana aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalamnya.

Torik langsung mencium memekku. Ooogh… aku tidak tahan. Kuangkat sebelah kakiku dan kutumpangkan di bahunya untuk semakin memudahkan serangan Torik.

Lidahnya langsung menari-nari di celah memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berulang-ulang. Uuuugh… nikmat luar biasa. Orgasmeku mulai mendekati. Aagggh… cepat sekali aku terangsang.

Torik meneruskan serangannya dengan menyedot keras itilku sambil lidahnya menari-nari di seputar itilku. “Oooooggghhhh… iyaaaaah… itu enak bangeeeet..” Aku lupa bahwa pintu terbuka hingga tak sadar berteriak lumayan keras menikmati jilatan Torik.

Akhirnya kedutan-kedutan nikmat itu muncul juga. Kutekan kepala Torik ke arah memekku dengan kuat. Aku kejang… dan… “Oooogghhhh… sayaaanggg… aaaaakh…” memekku berkedut kencang. Aku lemas. Cepat kuraih daun pintu menjaga agar aku tidak jatuh. Kudorong kepala Torik menjauhi memekku,

“Udah.. udah… Rik! Udah…” ujarku sambil terus kudorong kepalanya.

Torik bangkit lalu dia pergi tanpa pamit lagi. Segera kututup pintu dan kukunci. Lalu kubuka jas mandiku dan kuhempaskan tubuh telanjangku ke atas kasur empuk hotel ini.

Aku terbaring telentang…. telanjang…. ngangkang….

***

# Perjodohan Yang Nikmat

Aku terbangun dengan tubuh agak menggigil kedinginan. Uuuh… pantas saja dingin. Aku masih telanjang bulat. Kuraih jam tanganku yang kuletakkan di meja samping tempat tidur. Ah, masih jam 2 pagi. Aku kembali meringkuk di balik selimut tebal kamar hotel.

Sempat terpikir untuk mengenakan pakaian. Tapi rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur empuk ini. Akhirnya aku terus saja meringkuk sambil kuselipkan tanganku diselangkangan untuk mencari kehangatan. Namun rupanya hal itu malah menimbulkan getar-getar enak di seputar memekku.

Aaaah… terbayang lagi bagaimana Torik menjilati memekku di depan pintu sebelum dia kuusir tadi. Gila, semalaman tadi sudah orgasme sampai dua kali. Sekali saat kugesek memekku ke kontolnya yang luar biasa besar itu, kemudian saat dia menjilati memekku habis-habisan sambil berdiri di balik pintu.

Membayangkan hal itu menyebabkan memekku kembali basah. Kugosok-gosok permukaan memekku dengan tanganku yang masih kuselipkan di antara selangkangan. Aaaah… nikmat. Aku telentang sekarang. Kubentangkan kaki selebar mungkin, lalu kuraba-raba memekku. Kuusap-usap bulu-bulu memekku dengan halus, kemudian perlahan jariku bergerak kebawa sampai hampir menyentuh duburku. Kemudian dengan agak ditekan, kutarik jemariku menelusuri memekku dari bawah sampai ke itilku. Aaaaaah… enaaaak…

Kugosok lagi memekku ke bawah, kemudian kutekan dan kutarik lagi ke atas sampai ke itilku. Sungguh nikmat. Kuulangi terus menerus sambil sebelah tanganku yang lain meremas dadaku sendiri. Puting toketku sudah sangat tegang berdiri mengacung dan keras. Kupelintir-pelintir putingku sambil sesekali kuremas dadaku kuat-kuat. Sementara di bawah sana jemariku terus bermain-main dengan lobang memekku yang sudah semakin licin.

Kugoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat sambil terus kugosok-gosok memekku mencari kenikmatan yang terus mendera. Jemariku berhenti sejenak di itilku. Kupermainkan daging kecil itu ke kiri dan ke kanan. Kucolek-colek, kupencet dengan dua jari. Oooooghhhh… nikmatnya…

Kubayangkan lidah Torik menyentil-nyentil itilku. Nafsuku semakin menggelora. Ooooowgh…. pengen di jilaaaatttt… Sempat aku menyesal telah mengusir pulang Torik tadi malam. Seandainya tidak kuusir, pasti sekarang kontol besarnya sedang menggesek-gesek memekku. Oh, kontol itu… terbayang besarnya kontol Torik. Terbayang bagaimana kepala kontolnya yang sepert helm tentara itu masuk ke celah memekku dan menyundul-nyundul itilku.

Terbayang batang kontolnya yang besar dan berurat menggesek-gesek celah memekku. Urat-uratnya begitu terasa seperti polisi tidur menggerus memekku.

Aku semakin hebat bergoyang, menggosok-gosok memek, meremas toket sambil terus membayangkan kontol besar Torik. Dan… aaaaaaahhhhhkkkk… tubuhku kejang… seluruh urat di tubuhku menegang, memekku berkedut-kedut… seerrrrr… srrrr… denyutan-denyutan kencang menerpa bersamaan menyemburnya cairan cintaku membasahi relung-relung memekku. Aku terengah-engah lemas. Tubuhku bagai dihempaskan dari loteng. Aku telentang, kedua tanganku terentang ke kiri dan kekanan, kakiku mengangkang lebar seperti kaki kodok. Nikmaaat… dan akupun jatuh tertidur lagi…

***

HP-ku berdering membangunku dari tidur nikmatku. Kuraih Hp itu dan kubaca nama pemanggilnya. Hhhh… tante Neni? Mau apa dia pagi-pagi begini?

“Assalamualaikum… “ sapaku dengan suara serak akibat nyawa yang belom kumpul semua.

“Waalaikum salaaam. Ya ampuuuun… Lin, jam segini belum bangun? Gimana sih, anak perawan kok males banget.” Tante Neni yang memang cerwet itu terus saja nyerocos ngomel. Aku hanya mendengarkan saja omelannya dengan malas-malasan. Pada intinya dia memintaku untuk bolos kerja hari ini dan harus sudah ada dirumahnya paling telat pukul 9 pagi. Aku lirik jam tanganku yang ada di meja. Jam 6. Buset, masih pagi bener, Pantes males banget bangun.

“Pokoknya kamu pasti suka deh. Orangnya ganteng, bisnisnya juga udah mapan, dan yang pasti orang tuanya kaya. Kalo kamu bisa kawin sama dia, dijamin hiduo kamu gak bakalan susah.” semangat sekali tante Neni mempromosikan anak temannya yang akan dijodohkan denganku. Huh… Jaman gini, masih musim ya jodoh-jodohin orang.

Tapi agar tidak mengecewakan tante Neni akupun menyanggupi untuk datang ke rumahnya dengan syarat tante Neni harus telpon adiknya yang jadi bossku sekarang ini.

Selesai menutup telepon kembali kuhempaskan tubuh telanjangku ke ranjang. Lima menit kemudan barulah aku bangkit. Kusingkapkan selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangku, kemudian aku beranjak ke jendela. Kubuka tirai yang menutupi dan Ups! silau sekali saat sinar mentari menyambar mataku yang masih ngantuk.

Kubiarkan sinar mentari pagi meraba tubuhku. Kurentangkan tanganku tinggi-tinggi dan kunikmati hangatnya mentari pagi menyusuri seluruh tubuhku, wajahku, leherku, dadaku, perutku, memekku… lalu… Opss lagi!

Ternyata tirai benar-benar terbuka, termasuk vitrage tipis yang biasanya menjadi pelapis kedua gorden. Artinya, tubuhku benar-benar ter-ekspos di depan kaca. dan pastinya akan terlihat dengan jelas dari luar sana. Kuperhatikan kondisi diuar. Ah, untung aku ada di lantai 5. Agak sulit orang di bawah sana melihat kemari. Paling-paling orang-orang di gedung sebelah yang sejajar dengan kamarku. Biarin deh…

Setelah puas berjemur ringan, aku segera menuju kamar mandi. Mau mandi tentunya…

***

Aku mampir sebentar ke tempat kost untuk meletakkan tas pakaianku, baru aku berangkat ke rumah tante Neni. Bisa bingung dia kalo aku datang kesana sambil bawa-bawa tas pakaian.

Sekitar pukul 10 pagi teman tante Neni datang. Seorang ibu yang kira-kira seusia dengan tante Neni. Kelihatan dari dandanannya memang dia berasal dari keluarga berada. Tapi yang menarik perhatianku adalah cowok ganteng yang datang bersamanya. Gilaaa… ganteng banget. Putih, tinggi dan tubuhnya atletis.

Celana jeans ketatnya memperlihatkan paha yang kuat dan bokong yang kencang. Selera gue banget deh, asli bikin ngences… Setelah basa-basi perkenalan yang membosankan, ibu si Dito, cowok ganteng itu menyarankan agar kami jalan-jalan dulu malam ini.

Supaya tidak terlalu terlihat bahwa aku sudah mupeng, aku minta Dito menjemputku ke kantor besok sore saja. Semuanya setuju dengan usulku. Tante Neni terlihat senang sekali karena aku sepertinya menyambut perkenalan ini. Ya iya laaah… siapa sih yang bisa nolak cowok keren kayak gitu.

***

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku masih saja duduk di lobi kantor sambil membaca majalah yang baru saja kubeli saat makan siang tadi. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada satpam dan beberapa karyawan yang memang akan kerja lembur.

Malam ini aku menunggu Dito yang berjanji akan menjemputku pulang kantor sesuai kesepakatan kami kemarin. Tak lama tampak sebuah sedan memasuki pelataran parkir. Ah, itu pasti Dito. Aku segera bergegas menghampiri mobil tersebut dan langsung duduk di kursi depan. Dia berseri-seri melihatku mengenakan pakaian muslim ketat hingga dia bisa melihat lekuk liku bodyku yang proporsional dan langsung mengundang selera lelaki yang melihatnya.

“Kamu laper gak, kita makan dulu yuk?” ujar Dito.

“Terserah kamu deh, aku ikut aja.” jawabku sambil tersenyum.

Tidak sampai 20 menit kami sudah memasuki kawasan Senayan, dimana banyak pedagang makanan di pinggir jalan berjejer dengan tenda-tenda semi permanen. Memang kantorku tidak jauh dari kawasan Senayan.

Dito memilih parkir yang agak jauh dari keramaian dan cukup terlindung pepohonan hingga suasananya cenderung gelap. Didukung kaca mobilnya yang memang gelap, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang dapat melihat ke dalam mobil. Aku tersenyum sendiri menyadari maksud Dito memilih tempat parkir yang sepi begini.

Seorang pelayan berlari kecil menghampiri mobil. Dito membuka kaca mobilnya sambil bertanya padaku. “Kamu mau makan apa, Lin?”

“Minum aja ah, aku belum laper.” jawabku.

“Ya udah, aku juga minum dulu aja deh.” Dito segera meminta pelayan tersebut untuk membawakan 2 botol soft drink.

Sepeninggal pelayan, kami lanjutkan obrolan-obrolan ringan kami. Setelah beberapa lama ngobrol, Dito menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangannya di pahaku. Merinding aku merasakan gerak jemarinya di atas pahaku.

Tiba-tiba kurasakan bibirnya sudah menyentuh dahiku, terus menyusur pipiku. Tubuhnya begeser merapat, bibirku dilumat dengan lembut. Kenikmatan menjalar hangat di sekujur tubuhku. Sensasi nikmat yang sudah kutunggu sedari tadi. Di tengah gelora nikmat yang melanda, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca mobil.

Kamipun terkejut dan segera melepaskan ciuman. Ternyata itu adalah pelayan yang datang membawa minuman pesanan mereka. Dito segera mengambil minuman tersebut dan menutup kaca mobilnya kembali. Sepertinya Dito sudah tidak perduli lagi dengan minuman yang dipesannya karena botol minuman itu langsung diletakkan begitu saja di lantai mobil.

Selanjutnya tanpa dikomando kembali kami berpagutan. Kali ini ciuman Dito bukan lagi ciuman mesra, namun sudah berubah menjadi ciuman-ciuman panas.

Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangannya meremas lembut toketku yang masih terhalang baju muslim dan terbungkus BH. Ooooh… aku merasa sudah tidak kuat menahan gejolak nafasku, padahal baru awal pemanasan.

Perlahan jemari Dito mulai menjalar ke arah perutku. Dan terus turun hingga pinggulku. Diremas-remasnya pinggulku dengan gemas sambil bibirnya terus menciumi bibirku. Desahanku semakin kuat apalagi saat kurasakan jemari Dito mulai membelai-belai pahaku yang masih tertutup celana panjang.

“Kita pindah ke belakang yuk,” bisik Dito tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan dan langsung beranjak mengikuti Dito pindah ke kursi belakang.

Di kursi belakang Dito menerkamku dengan lebih ganas. ciumannya semakin gencar menyerang. Lidahnya menari-nari dirongga mulutku. Bibirnya meneruskan jelajahannya, sambil tangannya melepas satu persatu kancing baju muslimku. Maka tampaklah bulatan dadaku yang putih tertutup BH hitamku. Tangan Dito langsung meremas toketku dan menyelusup kebalik BH ku. Pentil toketku dipermainkan membuatku semakin menggelinjang. Kemudian tangannya menjalar kepunggungku dan melepas kaitan BH-ku hingga toketku terbebas dan semakin mudah untuk diremas.

Lalu aku direbahkan hingga terbaring telentang di kursi belakang mobil ini. BH ku diangkat hingga kedua toketku benar-benar terhidang dengan bebas. Bibirnya langsung menelusur di permukaan kulitku.

Dari mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, nafsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. Menyentuh memekku yang pasti sudah basah sekali.

Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celanaku dan menarik celanaku ke bawah terus melewati kakik kemudian teonggok di lantai mobil. Tinggalah CD miniku yang tipis. Dibelainya celah memekku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku. Ketika benda itu dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah memekku dengan leluasa. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia bisa melepas pembungkus memekku dengan leluasa.

Jadilah aku wanita muslimah berjilbab dengan baju bagian depan terbuka memperlihatkan toket besar menantang dan kaki mengangkang mempertontonkan memek telanjangku.

Dito mengangkat kakiku hingga terpentang tinggi. Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Oh, nikmatnya… bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutku yang tipis dan aku rasakan bibir memekku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali memekku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar-benar mahir memainkan memekku.

Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya. Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga nafsuku bangkit kembali dengan cepat. Kubuka pahaku lebih lebar lagi untuk menggapai kenikmatan lebih dalam.

Dito kemudian membuka celananya. Aku terkejut melihat kontolnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CD-nya, gak kebayang ada kontol sebesar itu. Kemudian dia juga melepas CD-nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. Kontolnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut.

Dan saat dia pelan-pelan menggesek-gesekan kontolnya di memekku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar memekku menunggu kontol extra gede itu. Aku pejamkan mata. Kurasakan bibir memekku mulai tersentuh ujung kontolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku terdesak menyamping. Ohh, benar-benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kontolnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Gesekan demi gesekan kurasakan memenuhi memekku. Kepala kontol besar itu bergerak ke atas menyentuh klitorisku, turun lagi ke bawah berkali-kali.

Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus… Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang terus saja di gesek-gesekan ke bagian dalam memekku. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat tak berujung. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kontol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar remasan tangannya di toketku.

Dengan kontolnya dipepetnya itil-ku sambil digoyang-goyangkan, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang tiada tara. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

“Ditooooo… aku nyampeeeee…” Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku.

Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan.

Kemudian perlahan Dito bangkit dan jongkok di samping kepalaku. Ketika menengadah kulihat kontolnya telah berada persis di depanku. Kuremas kontolnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala kontolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kontolnya. Dia makin menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

Kurasakan agak sulit ngisep kontol dengan posisi seperti ini. Aku segera bangkit duduk dan kuminta Dito gantian berbaring di kursi. Lalu aku yang gantian jongkok di lantai sambil menghadap kontolnya yang sudah tegak itu. Kusedot-sedot kontol besanya dengan semangat. Kukeluarkan segala kemampuan ngisepku. Sesekali kujilati batang kontolnya dari bawah sampai ke kepala kontolnya. Lidahku menyusuri batang kontol yang putih bersih itu terus menerus. Sempat kujilati kedua biji pelernya. Bahan biki peler itu kumasukkan ke dalam mulutku sambil kuhisap bergantian. Hisap yang kiri, hisap yang kanan, lalu lidahku menjilati batangnya dari batas lubang pantatnya ke biji, ke pangkal batang, batang terus sampai ke kepala kontolnya. Kumasukkan kepala kontolnya ke mulutku sedikit, sambil lidahku berputar-putar menjilati kepala kontolnya. Lalu lidahku menjilati lubang kencingnya. Kubuka-buka lubang kencing itu dengan lidahku. Dito sampai terkejang-kejang saat lubang kencingnya kupermainkan.

Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke mulutku. Huaaah… hampir sampai ke tenggorokan. Enak sekali ngisep kontol besar begini. Kunaik-turunkan mulutku di sepanjang kontolnya. lalu kubasahi kepala kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok-kocok dengan taganku. Lalu kumasukkan lagi ke dalam mulutku dan kuhisap-hisap dengan nikmat.

Tiba-tiba tangannya meremas-remas pundakku dengan kuat. Kurasakan kontolnya semakin besar dan penuh dalam mulutku. Tubuhnya mengejang dan menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram kepalaku yang masih tertutup jilbab dan satunya meremas pundakku. Puncak kenikmatan diikuti semburan peju yang kuat di dalam mulutku, menyembur berulang kali.

Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi mulutku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Langsung kutelan semua cairan nikmat itu tanpa bersisa. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya meraih wajahku hingga mendekati wajahnya. Tangannya meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

“Lin, kamu luar biasa, memekmu licin, isepanmu nikmatnya bukan main.” Aku tersenyum bahagia mendengarnya sambil terus kugenggam kontolnya yang mulai mengecil.

Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung bangkit merapihkan pakaian, tapi malah mengajak mengobrol sembari kontolnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai wajahku dan paling suka membelai toketku. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, dia menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya.

Hari-hari selanjutnya kejadian ini selalu kami ulangi dan ulangi lagi. Aku semakin suka dengan kontolnya yang besar dan panjang itu.

***

# Mandi Bareng Yang Nikmat
Sejak kuusir dari kamar Hotel beberapa waktu lalu, Torik semakin menjauhiku. Jika bukan untuk urusan kerja, dia tidak pernah lagi menegurku. Bahkan jika memungkinkan untuk urusan kerjapun dia hanya menitipkan dengan rekan kerjaku. Kecuali untuk pengambilan uang tunai yang memang harus menhadap aku secara langsung.

Apalagi sejak dia mengetahui aku mulai sering jalan bareng Dito. Bisa dikatakan hubunganku dengan Torik usai sudah. Bagiku tidak menjadi masalah. Karena hubunganku dengan Dito jelas jauh lebih menjanjikan.

Sejak aku resmi pacaran dengan Dito yang dideklarasikan saat air maninya menyembur di dalam mulutku di parkiran mobil Senayan beberapa hari lalu, gaya berpakaianku berubah total. Jika biasanya aku selalu mengenakan gaun muslim ketat dengan resleting di bagian punggung hingga bagian depan tubuhku benar-benar tercetak dengan jelas, kini aku selalu mengenakan busana dengan kancing-kancing yang banyak di bagian depan. Begitu juga dengan bagian bawahnya. Biasanya aku selalu mengenakan celana panjang, kini aku selalu mengenakan rok panjang.

Hal itu kulakukan atas permintaan Dito. Dia lebih suka aku mengenakan rok dan busana muslim berkancing depan. Bagiku tidak masalah, toh semua pakaian itu Dito yang membelikan.

Alasannya aku terlihat lebih anggun jika mengenakan busana seperti itu. Padahal aku tahu pasti alasan sebenarnya. Busana dengan kancing depan, tentunya supaya mudah dipreteli. Dan rok panjang, tentunya supaya mudah diangkat tanpa harus diplorotin seperti jika aku mengenakan celana panjang.

Apalagi sekarang ini jika kami akan kencan di tempat parkir Senayan yang sudah menjadi lokasi tetap kami itu, Dito selalu meminta aku untuk tidak mengenakan BH dan celana dalam. Dia selalu memeriksa kondisi ini ketika menjemputku di kantor. Begitu aku duduk di mobilnya, dia langsung meraba toket dan memekku. Jika ternyata aku masih mengenakan pakaian dalam, pasti aku disuruh turun lagi untuk segera melepasnya di toilet kantor.

Pernah usai kencan di mobil sampai dia ngecret di mulutku seperti biasanya, kami lanjut jalan-jalan ke Plaza Senayan. Padahal saat itu aku tidak mengenakan pakaian dalam karena Dito tidak mengijinkan aku mengenakannya. Jadilah aku jalan-jalan di sepanjang mall tanpa pakaian dalam. Selama jalan-jalan itu Dito tidak pernah lepas merangkul pinggangku sambil sesekali meremas pantatku yang telanjang di bagian dalamnya.

Dengan Dito memang aku cenderung jadi penurut. Bukan hanya karena Dito begitu royal dalam memberi hadiah termasuk HP terbaru yang saat ini aku gunakan. Tapi mungkin karena aku sudah yakin bahwa Dito akan menikahiku mengingat hubungan ini memang diawali oleh niat kedua belah pihak keluarga untuk menjodohkan kami. Aku suah sering dibawa berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, atau hanya sekedar silaturahmi saja.

Seperti hari ini, dimana aku menghabiskan hari mingguku di rumah orang tua Dito sejak jam 8 pagi tadi. Bahkan untuk datang ke rumah orang tua Dito kali ini aku tidak perlu janjian dengan Dito, dan tidak perlu di jemput. Aku bisa datang sendiri.

Saat aku tiba dirumah orang tua dito di kawasan kemayoran, aku hanya diterima oleh ibunya. Sementara Dito sendiri masih tidur di kamarnya. Sebenarnya ibunda Dito mempersilahkan aku untuk membangunkan Dito di kamarnya. Tapi aku menolak karena rasa tidak enak dan tentunya jaga image sebagai calon menantu solehah, hahaha..

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata ibu dan ayah Dito harus pergi berbelanja beberapa keperluan. Aku sempat kecewa dan segera pamit pulang.

Tapi mereka mencegah, malah menyuruhku untuk jangan pulang dulu sampai mereka kembali dari berbelanja nanti. Katanya aku harus bantu mereka merias beberapa kado untuk pernikahan sahabat mereka.

“Emang belanjanya di mana, Bu?” tanyaku ingin tahu kira-kira berapa lama mereka meninggalkan rumah.

“Pondok Indah. Soalnya waktu itu udah coba cari di Senen sama di Kelapa Gading gak ada. Temen ibu bilang sih di Pondok Indah ada. Ya udah, mending yang pasti-pasti ajalah,”

Wah, kemayoran – pondok indah kan jauh. Berarti mereka bakalan lama banget baru pulang. Langsung pikiran jorokku melintas.

“Ya udah, Lin, kita pergi dulu ya. Tolong jagain rumah ya, Lin, pintunya di kunci aja.” Aku hanya mengangguk. Pastilah pintunya akan aku kunci. Supaya kalau mereka kembali aku sempat pake baju dulu.

Begitu mobil mereka hilang dari pandanganku, langsung kukunci pintu. Kemudian aku segera berjalan menuju kamar Dito. Kubuka pintu kamar Dito pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan Dito.

Di dalam kamar yang luas ini kulihat Dito tergeletak di kasurnya bertelanjang dada dengan selimut yang hanya menutupi pinggang ke bawah. Kututup pintu pelan-pelan, langsung kubuka seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi. Kemudian aku langsung rebah disamping Dito, dan kukecup bibir Dito lembut. Dito hanya menggeliat kecil saat kukecup bibirnya. Kembali bibirnya kukecup pelan sambil tanganku mengusap-usap perutnya.

Perlahan Dito membuka matanya, dan terkejut melihat aku sudah berbaring bugil di sampingnya. “Eh, kamu kok telanjang di sini, nanti ketahuan ibu gimana?” sergah Dito sedikit panik.

“Tenang aja. Semuanya pergi ke Pondok Indah. Rumah sepi kok. Cuma ada pembantu. Mereka gak akan ngadu kan?” jawabku sambil menindih tubuh Dito dan mengeser-geser putting dadaku ke dadanya.

Dito tersenyum sambil merangkul tubuhku dan tangannya meremas pantatku. Kemudian aku digulingkan ke samping hingga aku terbaring telentang. Kemudian gantian Dito yang menindih tubuhku. Dia langsung menyerbu bibirku dengan penuh nafsu.

“Iiih… jorok ah. Belom sikat gigi. Mandi dulu gih sana.” teriakku sambil meronta centil menghindari ciuman-ciumannya.

“Mandiin…” rengek Dito manja.

“Manja deh…” tapi aku tidak menolak.

Kami segera bangkit dari tempat tidur. Aku keluar dari kamar Dito menuju kamar mandi sambil tetap dalam keadaan telanjang bulat. Aku yakin jika pembantu Dito melihatpun tidak akan berani bicara apa-apa pada keluarga Dito.

Di dalam kamar mandi aku langsung menelanjangi Dito yang tinggal memakai celana pendek. Kutarik celananya sambil aku berjongkok di depannya. Kontolnya hampir menampar mukaku saat celana dalamnya kupeloroti. Terlihat kontolnya sudah mulai ngaceng walau belum terlalu keras. Arahnya masih tegak lurus menunjuk mukaku. Belum sampai tegak berdiri. Biasanya kalau sudah ngaceng maksimal, pasti kontolnya akan tegak ke atas. Bukan menunjuk ke mukaku seperti sekarang ini.

Kugenggam pelan kontol Dito sambil kemudian kekocok-kocok pelan. Lalu kukecup ujung kepala kontolnya sambil aku bangkit berdiri. “Ayo, mandi dulu” bisikku seraya mengecup bibir Dito pelan.

Dito segera berbalik menuju Washtafel dan mulai menggosok giginya. Selama Dito menggosok gigi, aku menempelkan tubuhku dari belakang. Kutekan-tekan dadaku ke punggungnya, sementara kedua tanganku bermain-main dengan kontol besarnya. Batang kontolnya kukocok-kocok pelan dan biji pelernya kuremas-remas lembut. Saat Dito membungkuk untuk berkumur, aku meremas biji pelernya dari belakang pantatnya.

Selesai berkumur, Dito langsung mendekap tubuhku dan mengecup bibirku penuh nafsu. Lidah kami langsung saling membelit mengahdirkan rangsang-rangsang birahi yang menghanyutkan. Perlahan Dito mendorong tubuhku sampai dibawah shower. Sambil tetap berciuman tangan Dito membuka keran Shower.

Aku sempat terkaget sedikit saat air mengguyur tubuhku. “Oooghh….” desahku sambil terus menikmati jilatan-jilatan Dito di leherku.

Kontol Dito yang masih belum berdiri tegak terlipat ke bawah menyodok memekku. Kepala kontolnya menggerus-gerus memekku. Terasa sangat kencang karena kontol yang sedang berusaha bangkit berdiri itu tersangkut di belahan memekku. Tangan Dito meluncur dari punggungku terus turun sampai ke pantatku. Bongkahan pantatku diremasnya dengan gemas. Sambil terus menjilati leher dan pundakku, tangannya yang meremas pantatku terus turun sampai ke lobang pantatku. Jemarinya melewati lobang pantat dan menyentuh memekku. Aku tersentak dan otomatis memaju-mundurkan pinggulku.

Kuangkat sebelah kakiku membelit kakinya hingga aku agak terkangkang. Akibatnya kepala kontol Dito semakin leluasa menyodok memekku. “Katanya mau mandiin aku…” bisik Dito ditelingaku sambil daun telingaku di kecup dan ditarik-tarik dengan bibirnya. Aku segera melapaskan pelukanku dan mengambil botol sabun cair dan menuangkannya ke kain busa yang sudah tersedia.

Lalu kogosok tubuh Dito mulai dari dadanya, kemudian turun keperut bawahnya sampai hampir menyentuh batang kontolnya. Kemudian aku berputar ke balik tubuhnya dan mulai menyabuni punggung Dito. Aku merosot turun sampai berjongkok dan lama menyabuni pantat seksi Dito. Kugosok-gosok dan kuremas-remas pantatnya. Kemudian aku terus menyabuni paha belakangnya sampai ke betis dan mata kakinya. Lalu aku meminta Dito berbalik hingga kontolnya kembali menghadap wajahku. Kusabuni paha depan Dito dan bagian dalam paha di dekat biji pelernya.

Aku tidak menyabuni kontolnya karena aku lebih tertarik menjilati kontol yang sudah tegang itu. Kukecup ujung kontol Dito, kuemut-emut kepala kontolnya. Lalu kuhisap kontol Dito kuat-kuat sambil mulutku maju. Kontol itu seolah tersedot ke dalam mulutku sampai pangkal batang kontolnya. Seluruh batang kontol Dito masuk sudah ke dalam mulutku. Lidahku berputar-putar menjelajahi seluruh batang kontolnya. Lalu kembali kusedot kuat sambil mulutku mundur sampai ke ujung kepala kontolnya. Begitu sampai di kepala kontol, aku menghisap lebih kuat lagi lalu kumundurkan mulutku sampai kontolnya terlepas. Kontol Dito sampai terpental dan plak! terdengar suara keras saat kontol itu terpental menyentuh perutnya. Kontolnya benar-benar sudah ngaceng penuh.

Aku sedikit bangkit dan menunduk untuk mengambil kembali kontol Dito dengan mulutku, dan melanjutkan menghisap, menjilat dan mengulum kontol besar yang menggairahkan itu. Kukocok-kocok kontol Dito dengan tanganku yang belepotan sabun. Akibat banyaknya sabun di tanganku, kocokanku pada kontol Dito menjadi licin dan lancar. Kemudian kubiarkan air shower menghapus busa sabun di kontolnya dan kembali aku memasukkan kontol itu ke dalam mulutku, membuat Dito mengerang-ngerang hebat.

Tiba-tiba Dito menggenggam bahuku dan memaksaku berdiri. Gantian sekarang dia yang menyabuni tubuhku. Padahal tadi pagi aku sudah mandi. Tapi mandi kali ini jauh lebih nikmat daripada mandiku tadi pagi.

Dito menyabuni tubuhku dengan telaten. Apalagi saat sampai di bagian dadaku. Lama sekali tangannya berputar-putar di sekitar puting susuku. Kedua tangannya berputar-putar di kedua belah dadaku sambil meremas-remas. Kemudian putaran tangannya semakin mengerucut hingga menyentuh pentil toketku. Lalu pentil toketku di jepit dengan jari-jarinya dan dipilin-pilin kemudian ditarik-ditarik. Setelah itu kembali tangannya berputar-putar menjelajahi dadaku dan terus menjawil-jawil pentil toketku lagi.

Aaaaaghhh… aku benar-benar menikmati permainan Dito. Nikmat sekali dikerjain sambil diguyur shower seperti ini. Dito meletakkan busa ke tempatnya di dinding kamar mandi dan kembali meremas dadaku sampai busa sabunnya benar-benar hilang tersapu air shower.

Lalu gantian lidahnya yang menyerbu toketku. Pentil toketku di sedot dengan kuat sambil lidahnya terus menyentil-nyentil. Bergantian dada kiri dan kananku diserbu oleh Dito. Aku semakin bergelinjang nikmat. Pentil susuku sudah berdiri mengacung dengan tegak. Mulutku hanya mampu mendesis-desis tidak bisa berkata yang lain.

Dito mulai menurunkan tubuhnya sambil lidahnya ikutan turun menjelajahi perutku. Tanpa mampir ke perutku, Dito terus turun dan langsung melahap memekku. Tidak perlu dikomando lagi langsung kuangkat sebelah kakiku. Telapak kakiku kuletakkan di bahu Dito. Posisiku saat ini benar-benar merangsang. Ngangkang lebar sekali.

Dengan posisiku seperti itu lidah Dito menjadi leluasa untuk menjilati seluruh relung memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berkali-kali.

“Ooooohhhhh… Ditoooo… enaaaaak…” aku menggoyang-goyangkan pinggulku mencari kenikmatan. Dito terus saja menjilati memekku dari bawah keatas. Lalu tiba-tiba itilku disedot dengan kuat.

“Aaaaaawww…” aku bukan lagi sekedar mendesah. Tapi aku menjerit sekuatnya. Sedotan Dito pada itilku benar-benar membuat aku tersentak-sentak nikmat. Sepinya rumah membuat aku merasa leluasa untuk menjerit-jert histeris.

Kemudian sambil terus menjilati memekku, Dito membuka memekku dengan kedua belah tangannya. Memekku sampai merekah lebar. Lalu lidah Dito menerobos lebih ke dalam lagi lubang memekku.

“Aaaawwwwhhhh… Dito… diapaiiin ituuu… enak bangeeeet…” aku semakin histeris merasakan lidah Dito yang menerobos ke dalam lubang memekku. Lidah itu tidak hanya menerobos, tapi berputar-putar menjilati dinding-dnding memek.

Aku tidak mampu lagi bertahan. Gelombang orgasme menderu dengan derasnya. Aku berpegangan pada kepala Dito sambil kuremas rambutnya. Memekku kutekan kuat-kuat ke mulutnya mengiringi semburan-semburan nikmat dari dalam memekku. Aku kejang… tegang… lemas…

Tak bisa ditahan lagi, tubuhku meluncur turun sampai aku terduduk di lantai dan bersandar lemah ke dinding kamar mandi. Dito membiarkan aku terduduk lemas dan melanjutkan mandinya. Kulihat perlahan kontol Dito mulai mengecil karena terguyur air dingin. Tapi tidak sampai kecil sekali. Kontolnya hanya mengecil sedikit sampai pada posisi menunjuk ke depan lagi. Setelah selesai mandi dia mematikan shower dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Setelah itu dia mengelap tubuhku dengan handuk. Mulai dari rambutku, wajahku, leher, kemudian dada, perut, memek dan kakiku dikeringkannya dengan handuk. Kemudian aku ditarik hingga duduk tegak agar dia mudah mengeringkan punggungku. Aku merasa tersanjung sekali dengan perlakuannya.

Setelah selesai, aku digendong keluar kamar mandi dalam keadaan kami masih sama-sama telanjang bulat. Saat akan memasuki kamar Dito, kami berpapasan dengan salah seorang pembantu Dito yang langsung menjerit kaget melihat kontol Dito yang mengangguk-angguk. Pembantu itu langsung terbirit-birit ke dapur sambil menutup mukanya. Aku dan Dito hanya cekikikan menyaksikan peristiwa itu.

Sesampai di kamar, Dito menutup pintu kamar dengan cara menendangnya. Kemudian aku direbahkan ke kasur dan langsung Dito menindih tubuhku. Bibirku kembali diciumi denga ganas, sementara kontolnya menggesek-gesek memekku.

Kemudian tiba-tiba Dito bangkit berjongkok di depan memekku. Kedua belah kakiku diangkat sampai mengangkang lebar. Kemudian Dito mulai menggesek-gesek memekku dengan kontolnya.

Aku langsung tegang menerima serangan seperti ini. Aku takut Dito memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Tapi aku juga tidak ingin menyuruhnya berhenti.

Rupanya Dito menyadari ketakutanku. Dia menunduk mengecup puting dada kananku kemudian memandangku sambil tersenyum. “Tenang, sayang… aku tahu kamu masih perawan. Aku cuma mau gesek-gesek aja kok. Kamu nikmatin aja ya. Gak usah tegang gitu.”

Aku tenang mendengar janji Dito. Walaupun bisa saja Dito melanggar janjinya dan nekat menerobos masuk. Kembali Dito meletakkan kontolnya di belahan memekku. Kemudian kontol itu digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah. Terkadang dengan bantuan tangannya kontol itu digetar-getarkan dengan kuat di lubang memekku.

“Aaaaawwww… Dito… iyaaa… gitu, sayaaaang… enak bangeeet…” aku menjerit-jerit lagi. Dito terus memainkan kontolnya di memekku. Itilku disundul-sundul menggunakan kepala kontolnya.

Gelombang nikmat kembali menderaku dengan hebat. Seluruh tubuhku menegang, pentil susuku mengacung keras, aku mengangkat pantatku tinggi menekan kontolnya lebih keras lagi. Dan… serrrr… srrrrrr… semburan nikmat terasa melanda dari dalam memekku dengan derasnya.

Pantatku terus terangkat tinggi. Memekku menempel ketat pada kontolnya. Setelah itu aku terjerembab lemas terkangkang di kasur. Dito masih menindih tubuhku sebentar sambil menciumi wajahku. Setelah itu dia bangkit dan duduk bersandar di sebelahku. Kontolnya masih mengacung tegak dekat sekali dengan kepalaku.

Aku berguling kepangkuannya dan langsung menghadap kontolnya. Kumasukkan kontol besar yang full ngaceng itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot, kukocok-kocok dengan mulutku. Lidahku menjilati batang kontolnya mulai dari biji pelernya, naik terus ke batang kontol sampai ke ujung kepala kontolnya. Lubang kencingnya kujilat-jilat dan kubuka-buka dengan ujung lidahku. Kumasukkan lagi seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Mulutku kutekan sampai menyentuh pangkal kontolnya. Terasa ujung kontolnya hampir menyentuh kerongkonganku. Lidahku bermain-main di dalam sana. Lalu kutarik pelan mulutku sambil menghisap kontol Dito kuat-kuat.

Kuturunkan lagi, kuhisap lagi sambil kutarik keluar, kuhisap lagi, lalu kukocok-kocok dengan mulutku berkali-kali dengan kecepatan sedang. Setelah itu kontolnya kukocok dengan tanganku setelah seluruh permukaan kontolnya kubasahi dengan ludahku. Dito mengerang keras saat tanganku mengocok kontolnya. Sepertinya dia merasa lebih nikmat saat kukocok. Karena teriakannya lebih keras saat kontolnya kukocok dengan tangan dibandingkan saat kuhisap-hisap dengan mulutku.

Menyadari itu aku lebih sering mengocok dengan tangan daripada menghisapnya dengan mulut. Paling-paling saat kontolnya agak kering, aku mengulumnya sejenak untuk membasahi kontonya lagi. Setelah itu kukocok lagi menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi.

Cara ini membuahkan hasil. Dito sampai mendelik sambil mengerang keras. Kontolnya terasa mendenyut-denyut keras. Cepat-cepat kumasukkan lagi kontolnya ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Dan… Crooooooot… croooot…

Terasa tidak kurang dari 6 kali semburan hangat menerpa mulutku. Kutelan semua air mani Dito. Tapi saat kontolnya kulepaskan dari mulutku, ternyata masih ada 2 kali semburan lagi yang langsung menerpa wajahku dan membasahi hidung dan bibirku. Aku sampai terkaget-kaget menerima semburan yang tiba-tiba itu.

Setelah aku yakin semburannya sudah berhenti, kubersihkan kontol Dito dengan mulutku. Kemudian aku berguling telentang.

Aaah… nikmat sekali…

***

# Sebuah Pengakuan

“Iya, sayaaang… isep terussss… isep yang kenceng…” teriak Dito di tengah sibuknya mulutku mengulum kontol besarnya. Kulepaskan kontol Dito dari mulutku lalu kukocok-kocok kontol itu dengan tanganku.

“Aaaaaahh… iseeep lagiiii…” kurasakan kontol Dito semakin keras. Cepat kulahap lagi kontol Dito. Kuhisap kuat-kuat dan… crooottt… crooott… beberapa semburan hangat menerjang tenggorokanku.

Kutelan semua air maninya, kemudian kubersihkan kontol Dito dengan cara menjilati sekujur batang kontolnya. Setelah kontolnya bersih, kurebahkan tubuh telanjangku di sebelah Dito.

Hhh… sudah jam 9 malam. Capek juga. Sudah tiga kali Dito ngecret di mulutku sejak kami check-in sore tadi. Hotel dikawasan Sudirman ini lagi-lagi memberiku hadiah voucher menginap. Kali ini aku menikmatinya bersama Dito. Dan begitu kami masuk kamar kami langsung bertempur hebat dalam keadaan bugil total. Dan sampai saat ini kami belum berpakaian sama sekali. Termasuk saat makan malam tadi, tetap kami nikmati dalam keadaan bugil.

Saat pelayan mengantarkan makanan, aku hanya menutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal sambil berbaring. Sementara Dito hanya melilitkan handuk menutupi kontolnya yang baru saja muncrat.

Dito mengusap kepalaku lembut, kemudian mengecup bibirku pelan. Selanjutnya aku bergeser mendekat dan meletakkan kepalaku di bahunya. “Kamu pinter banget sih ngisep kontolnya, sayang…” ucap Dito sambil mengusap-usap bahuku. Aku diam saja tidak berkomentar. Hanya jemariku saja yang terus mengusap-usap dada bidangnya.

“Emang kamu udah pengalaman ya ngisep kontol?” tanya Dito tiba-tiba. Aku agak tercekat mendengar pertanyaannya.

“Nggak kok… kamu nuduh…” jawabku pelan dan hati-hati. Dito tetap mengusap-usap bahuku.

“Kalo gak pengalaman, kok bisa jago gitu ngisepnya?”

“Ya nggak tau… aku cuma ngikutin naluri aja.” jawabku berdalih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa sebenarnya hampir semua mantan pacarku pasti pernah aku isap kontolnya.

“Cerita donk, sayang… aku gak apa-apa kok kalo memang ternyata kamu udah pengalaman. Malah enak kan, punya pacar yang jago ngisep kontol.” Dito terus saja medesak dengan pertanyaannya.

Aku bimbang. Haruskah aku jujur padanya? Bagaimana kalau nanti dia merasa jijik dan malah meninggalkanku. Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana jika nanti dia tau dari orang lain? Apalagi jika kami sudah menikah nantinya, tiba-tiba ada mantan pacarku yang cerita. Pasti Dito akan marah besar. Aku benar-benar bingung.

Dito terus saja membujukku dengan kata-kata yang lembut sambil terus mengusap-usap bahuku. Sampai akhirnya aku merasa Dito benar-benar sayang padaku dan mau menerimaku apa adanya.

“Iya emang aku udah pernah sih ngisep kontol sebelum kamu…” ujarku pelan. Sangat pelan malah. Nyaris hanya berbisik. Aku menunggu reaksi Dito dengan takut. Dito meremas bahuku sejenak.

“Nah, kan gitu enak. Gak apa-apa lagi. Gak usah malu-malu. Lagian kan berasa isepan yang udah pengalaman sama yang belom.” Aku tetap tidak berani menatap wajah Dito. Ada rasa malu yang hinggap ketika harus mengaku mengenai masa laluku.

“Udah berapa kontol yang pernah kamu isep?” tanya Dito lagi tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia tetap dengan gaya tenangnya sambil mengusap-usap bahuku.

“Iih… udah ah. Jangan bahas yang begituan.” aku menghindar dari pertanyaannya. Sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan yang satu ini.

“Gak apa-apa, sayang. Aku pengen tau aja. Gak akan ada pengaruhnya buat aku. Aku tetep sayang kamu kok.” terus saja Dito membujukku untuk mengaku.

“Ya ampir semua mantan pacarku pernah aku isep.” jawabku akhirnya.

“Kamu udah berapa kali pacaran sih?” taya Dito lagi.

“Delapan kali, termasuk kamu.”

“Semuanya pernah kamu isep?” kejar Dito. Sepertinya dia benar-benar penasaran ingin tahu yang sebenarnya.

“Ya nggak lah. Gak semuanya aku isep.” sergahku. Kupererat pelukanku pada tubuh Dito untuk menutupi rasa khawatirku.

“Jadi berapa kontol yang udah pernah kamu isep?” tanya Dito terus-menerus sampai akhirnya aku menyerah.

“Lima, termasuk kamu.” jawabku hati-hati.

“Wooow… dari 8 pacar, 5 orang kamu isep kontolnya? Hebat. Ternyata kamu bener-bener pengalaman soal kontol, sayang…” ujar Dito sambil mengangkat wajahku. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Tapi melihat senyumnya, akhirnya aku menjadi lega. Dito tidak marah. Dia malah mencium bibirku dengan penuh nafsu.

“Ngebayangin kamu ngisep kontol pacar-pacar kamu, aku jadi ngaceng lagi nih…” Mendengar ucapannya buru-buru kuraba selangkangannya. Oooh… memang benar. Kontolnya sudah keras lagi.

“Ayo, sayang… puasin aku lagi. Keluarin semua ilmu ngisep kontol kamu, sayang…” pinta Dito sambil tersenyum penuh nafsu.

“Beneran kamu pengen diisep?” tanyaku berbasa-basi.

“Iya donk, sayang… percuma punya pacar jago ngisep kontol kalo gak mau di isep. Ayo, sayang, puasin aku.” Dito berkata begitu sambil mendorong kepalaku menuju kontolnya.

Aku segera menggeser tubuhku turun dan menjilati perutnya. Tapi Dito terus saja mendorong kepalaku. “Gak usah mampir di perut. Langsung aja isep kontolnya.” aku mendengar nada yang agak aneh dan tidak biasanya. Tapi buru-buru kuhapus rasa aneh tersebut. Aku langsung merosot menuju kontolnya.

Kugenggam kontol Dito yang sudah ngaceng penuh itu. Urat-urat di batang kontolnya sudah bertonjolan membuat kontol itu tampak begitu gagah. Kujilat pelan kepala kontolnya yang seperti helm tentara itu. Kuputar-putar lidahku di selebar kepala kontolnya. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan ujung lidahku. Erangan Dito mulai terdengar agak keras.

Aku tidak ingin buru-buru memasukkan kontol besar ini ke dalam mulutku. Kujelajahi dulu seluruh batangnya dengan lidahku. Mulai dari kedua bijinya, kujilati bergantian biji kiri dan kanan. Kemudian kumasukkan salah satu biji pelernya ke dalam mulutku. Kusedot pelan sambil lidahku bermain-main di seputar biji itu. Lalu kulakukan hal yang sama pada biji satunya lagi. Kumasukkan ke dalam mulut, kuhisap pelan dan kujilati seluruh permukaan bijinya. Lalu kutarik-tarik bulu-bulu di sekitar bijinya dengan bibirku.

Kemudian lidahku menjilati dari biji naik ke atas menyusuri seluruh batang kontolnya. Kujilati dari bawah ke atas berulang-ulang sambil terus kugenggam kontol beras itu dengan tanganku.

Selanjutnya kutekuk kontol Dito sedikit ke arah bawah, sehingga aku bisa menjilati perut bawah Dito. Kutarik-tarik lagi bulu-bulu di perut bagian bawah tepat diatas pangkal kontol dengan bibirku. Kemudian kuciumi permukaan kontolnya sampai ke ujung kepala kontolnya. Barulah setelah itu kumasukkan kepala kontolnya ke dalam mulutku.

Kuisap-isap dan kupermainkan lidahku dipermukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya ke dalam mulutku. Memang terasa batang kontol Dito lebih besar dan lebih keras dari biasanya. Mungkin benar Dito menjadi lebih terangsang mendengar aku sudah banyak pengalaman soal kontol.

Memikirkan itu aku jadi lebih bersemangat. Kugerakkan mulutku maju mundur mengocok kontolnya sambil lidahku terus menjilat-jilat. Kusedot-sedot kontolnya sampai hampir melejit keluar dari mulutku.

Setelah mulutku agak pegal, kukocok kontol Dito dengan tanganku. Kukocok dengan kecepatan tinggi. Dito sampai berteriak saking enaknya. “Uaaaaaahhhhhh… enak banget, sayang….. terus, sayaaaanggg…”

Semakin Dito berteriak, semakin semangat aku mengocok dan menghisap kontolnya. Sampai akhirnya kurasakan denyutan-denyutan kecil di kontol Dito. Menyadari bahwa Dito sebentar lagi akan ngecret, cepat kuhisap kontol Dito sekuat-kuatnya sambil batang kontolnya dibagian bawah kukocok-kocok dengan tanganku.

Akhirnya sampai juga. Dito berteriak histeris menjemput ejakulasinya. Crooooooootttt…!!! semburannya begitu keras terasa menggempur dinding-dinding mulutku. Kuhisap terus, kusedot-sedot sambil aku menelan semua air mani yang ada. Kusedot-sedot terus sampai tidak ada lagi yang keluar dari kontolnya.

Kusedot terus sampai kontol Dito melemas dan mulai mengecil. Terus saja kusedot-sedot sampai kontol itu benar-benar kecil dan lemas.

Dito terkapar nikmat. Matanya terpejam sementara dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Aku berbaring disebelah Dito sambil mengangkang lebar menunggu serangan Dito selanjutnya. Tapi kutunggu-tunggu Dito tetap memejamkan matanya tak peduli dengan memekku yang sudah gatal ingin dijilati.

Dengan tak sabar kutindih tubuh Dito lalu kukecup bibirnya. Tak ada reaksi, malah terdengar dengkur tipis Dito. Aahh… Dito tidur? Kok curang sih?

Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur dengan sedikit kesal. Tapi setelah kupikir lagi, ya wajarlah Dito jatuh tertidur. Dia sudah 4 kali ngecret semalaman ini saja. Menyadari hal itu kukecup pipi Dito yang masih terlelap itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian aku mencoba untuk tidur.

***

# Dia Mulai Berubah

Semenjak Dito tahu bahwa aku sudah biasa ngisep kontol-kontol para mantanku dulu, nafsunya seolah menjadi semakin liar. Jujur sebenarnya aku takut masa laluku yang cukup liar dalam berpacaran membuat hilangnya rasa sayang Dito padaku. Tapi melihat perkembangan hubungan kami setiap hari yang semakin panas, aku menjadi lebih tenang dan yakin bahwa perilaku liarku dimasa lalu tidak akan mempengaruhi hubungan kami.

Namun meski Dito semakin liar padaku, terkadang aku menjadi agak risih dengan keinginannya yang semakin aneh-aneh. Belakangan ini Dito senang sekali memintaku telanjang meski di lokasi yang tidak terlalu aman.

Seperti hari ini, seperti biasa Dito menjemputku ke kantor. Dan seperti biasa aku sudah siap tanpa celana dalam dan BH menghampiri mobilnya. Begitu aku duduk, Dito langsung meremas dada dan memekku sekedar men-check apakah aku mengenakan pakaian dalam atau tidak. Setelah yakin aku polos didalam, Dito tersenyum dan mengecup bibirku perlahan kemudian menjalankan mobilnya.

Belum jauh mobil meninggalkan kantor, Dito memintaku untuk membuka rok panjangku. Aku sempat protes karena saat ini jalanan masih ramai. Baru jam enam sore lewat sedikit. Bahkan masih cukup terang. Tapi Dito tetap memaksa dengan alasan kaca mobilnya sangat gelap sehingga tidak akan terlihat dari luar.

Dengan deg-degan aku melepas rok panjangku dan melemparnya ke kursi belakang. Kemudian cepat aku berusaha menutupi memekku dengan ujung kemeja walau dengan sangat susah payah. Karena sialnya hari ini aku mengenakan kemeja yang agak pendek, hingga aku harus menahan ujung kemeja itu dengan tangan agar tetap bisa menutupi memekku.

Gawatnya Dito segera menepis tanganku. Akibatnya memekku terbuka dengan bebas karena kemejaku tak mampu menutupinya. Aku benar-benar malu saat itu. Rasanya semua mata di jalanan melihat bagian bawahku yang telanjang. Tapi belum sempat aku protes, Dito telah melebarkan pahaku hingga mengangkang dan langsung jemarinya menggosok-gosok memekku. Aku tak mampu lagi untuk protes. Aku hanya bisa menengadah merasakan getar nikmat akibat rabaan jemari Dito di memekku. Untunglah perlahan namun pasti matahari semakin tenggelam. Dengan demikian aku bisa lebih tenang menikmati serangan Dito di memekku.

Dito begitu bersemangat mengubek-ngubek memekku. Bibir memekku di buka-buka dengan dua jarinya. Kemudian jarinya langsung menggosok itilku. Uuugh… nikmatnya. Aku terkapar tak berdaya sambil mengangkat-angkat pantatku mengejar jemarinya.

Tiba-tiba Dito menjepit itilku dengan dua jari, kemudian memelintirnya bolak-balik. “Aaaaaaakhhh… Ditooooo… diapain sihhh, sayaaaang…”

Dito tidak menjawab. Tatapannya tetap konsentrasi pada jalanan di depannya, sementara tangan kirinya terus mengerjai memekku tiada henti. Itilku di pelintir, digosok atas bawah, digosok kiri kanan, Kemudian jemarinya menggosok memekku dari bawah ke atas sampai menyentuh itilku. Lalu tiba-tiba tangannya menggosok bibir memekku dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi.

“Aoooooowwwwhhh…. Enaaaak bangeeettt…” Aku sudah hampir orgasme ketika tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Ah, rupanya kami sudah sampai di Senayan tempat biasa kami berkencan.

Dito langsung memarkir mobilnya di tempat yang agak sepi. Begitu mengaktifkan rem tangan, Dito langsung menarik jilbabku sampai lepas dan serta merta mencium bibirku penuh nafsu. Bibirku disedot dengan ganas. Lidahnya langsung menari-nari dalam rongga mulutku. Nafsuku yang sempat tertunda langsung naik lagi. Apalagi tangan kanan Dito mulai lagi menari-nari di memekku.

Sedang seru-serunya kami ciuman, tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela sebelah Dito. Dengan santai Dito melepas ciumannya kemudian membuka kaca jendela mobil tanpa perduli dengan keadaanku yang setengah telanjang.

“Dito, tunggu…!”. Terlambat. Kaca mobil sudah terbuka dengan lebar. Aku hanya bisa menutupi memekku dengan telapak tangan. Aku yakin pelayan makanan itu pasti puas melihat paha mulusku yang terbuka sambil mendengarkan pesanan Dito.

Sepeninggal pelayan, Dito menutup kembali kaca jendela mobil dan langsung merengkuh tubuhku lagi. Kurasakan ciumannya semakin ganas. Dan kali ini jemarinya dengan tangkas mempereteli kancing kemejaku.

“Nanti aja Dito. Bentar lagi minumannya datang. Bisa repot kalo telanjang sekarang.” bisikku berusaha mencegah tangan Dito yang sedang menelanjangiku.

“Buka kancingnya aja. Bajunya gak usah dulu.” jawab Dito sambil terus mempereteli kancing bajuku satu persatu sampai terlepas semuanya. Setelah itu kemejaku disibakkan ke kiri dan kanan hingga dadaku yang tanpa BH bebas merdeka.

Dito langsung menciumku lagi sambil meremas dada kiriku. Aku risih dengan perlakuan Dito ini, tapi ada rasa nikmat yang lebih dari yang biasa kurasakan. Perlakuan Dito yang sedikit agak ’merendahkanku’ ini justru membuat nafsuku cepat sekali bangkit. Desahanku semakin keras seiring dengan remasan-remasan tangan Dito di dada kiriku.

Dan benar saja…. kembali terdengar ketukan di kaca jendela. Pelayan warung sudah siap dengan 2 buah teh botol di tangannya. Lagi-lagi Dito langsung membuka kaca jendela tanpa menunggu aku selesai merapikan bajuku. Terlihat dari sudut mataku pelayan itu melotot menyaksikan memekku yang tidak sempat kututupi karena kemejaku hanya sempat menutupi dadaku saja. Sementara bagian bawahnya masih terbuka lebar.

Dito segera menutup kembali kaca jendela setelah meletakkan teh botol kami di lantai. Lalu dengan cepat dia melepaskan kemejaku hingga aku bugil total. “Pindah ke belakang aja yuk…” bisikku di tengah serangan. Mendengar permintaanku, Dito menghentikan serangannya dan segera pindah ke belakang mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan perasaan was-was takut dilihat orang karena tubuhku sudah bugil.

Sesampai di belakang, Dito langsung menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kami sama-sama bugil. Terlihat kontolnya sudah ngaceng sempurna. Dia memintaku untuk duduk dipangkuannya. Aku segera mengangkang dipangkuannya. Tak bisa dihindari, memekku bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku merinding merasakan kontolnya menggesek belahan memekku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur menikmati gesekan kontolnya disepanjang belahan memek.

Sementara Dito begitu lahapnya menciumi toketku. Toketku dihisap sekuat-kuatnya seperti ingin ditelan seluruhnya. Selanjutnya pentil susuku di sentil-sentil dengan lidahnya sebelum akhirnya di hisap dengan kuat. Erangan dan goyanganku semakin menjadi-jadi. Apalagi tangan Dito mulai meremas bongkahan pantatku dan membantuku memaju mundurkan pantat menggesek kontol Dito ke memekku.

Lalu kurasakan jemari Dito menelusuri bawah pantatku dan bermain-main di pinggiran lobang pantatku. ”Oooooooowwgghhhh… gilaaaaaa… enaaaaaakkk…”

Memekku banjir sudah. Kedutan-kedutannya semakin jelas terasa. Aku semakin menggila menggoyang-goyangkan pantatku dan menggesek-gesekkan memekku ke kontol besar Dito.

Sampai akhirnya… ”Aaaaaakkhhhh…” aku berteriak kuat sambil memeluk kepala Dito kuat-kuat. Orgasmeku memancar dengan derasnya diiringi kedutan-kedutan dahsyat. Lebih sering dan lebih kuat dari biasanya.

Gilaaaa… nikmat sekali. Aku lemas… aku tergolek kesamping, tersandar… Kemudian aku tersadar bahwa kontol Dito masih berdiri tegak menunggu giliran. Tanpa di komando lagi aku merosot ke bawah bersimpuh di depan kontol Dito.

Kugenggam kontol besar yang penuh cetakan urat-urat menonjol itu. Kuusap-usap sambil meratakan cairan cintaku yang membasahi bawah kontolnya. Kukecup pelan ujung kontolnya, kujilati seluruh permukaan kepala kontol yang menjamur lebar itu. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan lidahku. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya ke dalam mulutku. Kubiarkan sejenak batang kontol besar itu di dalam mulutku sambil lidahku bermain-main didalamnya. Baru kemudian kuangkat kepalaku perlahan sampai kontol itu terlepas dari mulutku.

Kujilati kedua biji pelernya. Kutarik-tarik jembutnya dengan bibirku sambil tanganku menggenggam lembut batang kontolnya. Kumasukkan satu biji pelernya ke dalam mulutku, kuhisap pelan sambil lidahku terus menjilati. Setelah itu ganti biji satunya lagi kuperlakukan dengan sama.

Kemudian kutelusuri seluruh batang kontolnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit-gigit kecil kulit kontolnya. Sampai di kepala kontolnya lidahku bermain-main di bagian bawah topi helm kontol Dito.

Seluruh permukaan bawah kepala kontolnya kujilati sambil lidahku berputar-putar disekitar kepala kontolnya. Baru kemudian kuhisap kuat-kuat kepala kontolnya. Dan mulailah kumaju-mundurkan kepalaku mengocok kontolnya dengan mulutku.

Kubasahi seluruh permukaan batang kontol Dito dengan ludahku. Lalu kukocok-kocok kontolnya menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi. Pada saat tanganku sampai di kepala kontolnya, kuremas sejenak kepala kontol itu sebelum kembali aku mengocok dengan kencang.

Tak sampai 5 menit aku isap dan kocok, kurasakan kontol Dito semakin membesar dan berdenyut-denyut. Kukocok semakin kuat. Dan saat Dito menegang, cepat-cepat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil kuhisap dengan kuat. Dan… Crooooot… crooottt… 5 sampai 6 tembakan kurasakan mendera rongga mulutku. Kutelan semua air mani yang terpancar. Air kental asin yang sangat kusuka…

Belum lagi aku istirahat, Dito meminta aku mengambil teh botol yang ada di lantai depan. Segera aku meraih bajuku untuk sekedar menutupi ketelanjanganku. Tapi Dito mencegah.

“Gak usah pake baju dulu. Ambil aja tehnya dulu.” sergah Dito.

“Kaca depannya gak terlalu gelap Dito. Nanti orang diluar bisa liat aku telanjang.” jawabku menjelaskan kenapa aku harus pake baju.

“Udaaah… jangan banyak jawab. Ambil aja minumannya. Gak usah pake baju.” sergah Dito lagi agak keras.

Aku sempat tersentak mendengar nada bicara Dito yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak lemah lembut, tapi agak sedikit membentak. Dengan menahan kecewa aku melangkah ke kursi depan dengan tubuh telanjang bulat. Kubungkukkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar. Cepat-cepat kuambil teh botol dan segera kembali ke kursi belakang.

Sesampai di belakang, kulihat Dito sedang membersihkan kontolnya menggunakan jilbabku. Aku kesal sekali melihat perbuatannya. Gak mungkin kan aku pulang dengan jilbab belepotan air mani begitu.

“Kamu apa-apan sih? Itu kan jilbab. Kenapa gak pake Tissue?” bentakku sambil merebut jilbabku dari tangannya.

“Lho… kenapa memangnya?” tanya Dito berlagak bodoh.

“Kok kenapa sih? Nanti aku pulang gimana, masak pake jilbab belepotan mani gini?” aku benar-benar kesal jadinya.

“Yang aku pake kan bagian dalemnya. Gak akan keliatan dari luar.” jawab Dito seenaknya.

“Ya tetep aja ada baunya.” sergahku lagi.

“Nggak lah… gak semua orang apal bau kontol. Kecuali yang udah sering ngisep kontol kayak kamu.”

Seperti di tampar rasanya aku mendengar kata-kata Dito. Aku sedih sekali. “Kita pulang sekarang!” aku segera mengenakan semua pakaianku dan pindah duduk di bangku depan.

Dito mengikuti setelah selesai berpakaian. Setelah membayar minuman, kami beranjak pulang. Disepanjang perjalanan kami hanya diam membisu. Aku benar-benar kecewa dengan ucapan Dito barusan.

Sampai di kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya… Sedih… perih… sakit…

***

# Dinginnya Bandung

Hampir seminggu aku mogok kencan dengan Dito. Bukan hanya mogok kencan, bahkan telepon dan smsnya pun tak mau kujawab. Aku benar-benar tersinggung atas kata-katanya padaku.

Tapi Dito terus saja membujukku melalui sms-smsnya. Kata-kata maaf mengalir terus menerus membuatku goyah juga. Akhirnya aku setuju untuk dijemput seperti biasanya, dan kembali bercumbu di mobil seperti biasa. Dito menepati janjinya. Tidak sedikitpun dia menyinggung soal masa laluku yang sudah banyak mengenal bentuk kontol.

Bahkan malam ini percumbuan kami begitu menggairahkan. Setelah kontolnya kuisap sampai ngecret di mulutku, Dito tidak langsung istirahat. Dia malah segera melahap memekku lagi dengan lidahnya. Padahal, sebelum kontolnya kuhisap tadi, dia sudah menjilati memekku sampai aku lemas.

Cepat sekali birahiku mendera. Tubuh telanjangku menggeliat-geliat hebat di kursi belakang mobil Dito. Eranganku tak putus-putus menerima serangan lidah Dito yang terus saja menyeruak belahan memekku.

Dito membuka memekku dengan kedua tangannya hingga lobang memekku menganga lebar. Aku terkangkang hebat menerima perlakuannya. Setelah itu lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang yang menganga. Mengaduk-aduk dinding lobang yang telah banjir ini. Kemudian lidahnya bergerak dari bawah keatas berkali-kali sambil sesekali menyentuh klitorisku. Aku benar-benar terlempar-lempar merasakan nikmat yang tiada tara.

Tiba-tiba kurasakan klitorisku dilumat dan disedot kuat-kuat. “Aaauuuuwwwwhhhhh…“ aku menjerit sejadi-jadinya. Dito bukannya berhenti mendengar teriakanku. Dia malah mengunyah itilku dengan bibirnya, membuatku terlonjak-lonjak di kursi.

Aku benar-benar tak kuasa menahan kenikmatan ini. Tubuhku melengkung menyambut semburan dahsyat dari dalam tubuhku yang menyerbu menuju memekku. Kedutan-kedutan deras di memekku tak dapat kubendung lagi. Aku terus melengkung mengangkat pinggulku tinggi-tinggi sampai akhirnya aku terhempas ke kursi dengan tubuh lunglai… lemas… nikmat…

Aku terpejam bersandar. Masih kurasakan belaian lembut Dito pada dadaku, kecupan ringan di puting susuku. Kubiarkan semuanya… aku benar-benar terhempas dalam kenikmatan…

“Sayang… “ bisik Dito di telingaku sambil bibirnya melumat daun telingaku pelan.

“Hmmmmm…” aku hanya menggumam menjawab panggilannya.

“Besok ikut aku ke Bandung ya?” sambung Dito di telingaku.

“Ke Bandung? Jam berapa?”

“Pagi-pagi. Kita nginep semalem.” jelas Dito. Tangannya terus saja meremas-remas dadaku.

“Besok kan aku masih kerja,” aku ragu-ragu antara kepengen dan bingung karena besok masih hari kerja.

“Ya ijin aja lah. Besok telepon aja boss kamu dari jalan. Alesan apa kek…” bujuk Dito lagi.

Akhirnya aku setuju dengan ajakannya. Di depan rumah kost-ku, kembali Dito mengingatkan akan menjemputku pagi-pagi sekali. Dan lagi-lagi dia minta aku tidak mengenakan pakaian dalam. Ah… masih aja dia begitu. Padahal, sekarang pun aku turun dari mobilnya tanpa pakaian dalam.

***

Baru saja aku selesai Sholat subuh ketika kudengar suara mobil parkir di depan rumah kostku. Entah karena masih subuh dan sepi hingga suara mobilnya terdengar jelas, atau karena memang letak kamarku yang lokasinya paling depan. Yang jelas aku langsung keluar buka pintu dan mengajak Dito masuk kamarku sambil menunggu aku merapikan pakaian yang akan aku bawa.

Selesai aku menyiapkan pakaian, aku segera menanggalkan pakaianku. Ganti baju. Soalnya aku masih mengenakan pakaian tidur. Baru saja aku akan mengenakan rokku, Dito cepat mencegah.

“CD-nya buka donk. Ngapain pake CD? BH-nya juga.”

Aku berusaha menolak, “Bandung kan dingin, Dit. Apalagi sekarang masih subuh…”

“Nanti AC mobilnya aku kecilin. Bawa jaket aja.”

Akhirnya aku menurut saja pada permintaan Dito. Segera kutanggalkan CD dan BH-ku. Lalu cepat kukenakan rok panjang dan kemeja serta jilbabku. Kalau kelamaan bisa-bisa aku diserbu. Bisa gak jadi ke bandung nanti.

Di mobil, setelah menyalakan mesin, Dito masih sempat memelukku dan mencium bibirku. Dan tangannya langsung membuka kancing jaket serta kancing kemejaku. Kemudan di bentangkannya jaket dan kemeja itu hingga dada telanjangku terbuka. Setelah itu diangkatnya rok panjangku hingga memekku terlihat. Barulah setelah itu dia menjalankan mobilnya.

Setelah masuk Tol, Dito memintaku untuk duduk menghadap dia. Aku bersandar ke pintu mobil memperlihatkan tubuh telanjangku yang dibungkus kemeja dan jaket yang terbuka. Sebelah kakiku kuangkat ke kursi, hingga praktis aku terkangkang menampakkan memekku dengan jelas.

Sepenjang perjalanan tak henti jemarinya bermain-main di dada dan memekku bergantian. Berkali-kali dia mencubit dan menarik-narik itilku, membuat aku benar-benar banjir.

Sesampai di tempat parkir Hotel, tak kurang sudah 3 kali aku orgasme. Begitu masuk kamar, aku langsung menggila. Kupereteli semua pakaian Dito sampai dia bugil. Kudorong tubuhnya sapai terhempas telentang di kasur. Tidak menunggu lama lagi, kuisap habis kontolnya yang sudah ngaceng. Aku benar-benar tidak tahan menunggu dari subuh tadi. Kulumat kontolnya dengan ganas. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas seperti menjilati es lilin. Aku benar-benar menggila dan liar.

Kumasukkan kontol besar itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Bukan hanya kukulum, tapi benar-benar kusedot. Lalu kukocok-kocok dengan tanganku kuat-kuat. Aku bagaikan cewek yang sudah setahun gak ketemu kontol. Aku sendiri heran kenapa bisa begini. Aku begitu lapar akan kontol Dito yang besar.

Sepertinya Dito pun sudah kewalahan dengan keliaranku. Kurasakan kontolnya semakin keras dan berdenyut-denyut. Cepat kuhisap dan kusedot lagi kontolnya. Benar saja… tak lama, croooot… crooott… semburan hangatnya menerpa mulutku. Kutelan semua sambil aku terus menyedot kuat kontolnya.

Sebelum kontol Dito mengecil, cepat kutindih tubuh Dito dan kugesek-gesek kontol yang hampir lemas itu ke memekku. Ingin kuraih lagi kenikmatan yang mulai menghampiriku. Tapi Dito menolak…

“Udah dulu, sayang… aku harus ketemu orang pagi ini.” ujar Dito sambil bangkit dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.

Aku terhempas kecewa. Tapi kupikir, sudahlah. Dito kesini karena ada kerjaan. Aku tidak boleh egois. Segera aku bangkit menyiapkan pakaian Dito. Sebelum pergi, ia meninggalkan uang tunai 1 juta. Katanya untuk aku belanja-belanja di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Apalagi kami menginap di kawasan Dago yang banyak sekali FO nya.

Sepeninggal Dito, aku lanjutkan berbaring telanjang di kasur empuk hotel ini. Dan aku terlelap lelah.

Aku terjaga sekitar pukul 1 siang lewat. Perutku lapar. Segera aku mandi dan berpakaian. Kutelusuri Dago dengan berjalan kaki. Kubelanjakan uang 1 juta dari Dito. Senang sekali rasanya dimanjakan seperti ini.

Sekitar jam 4 sore, aku sudah telanjang lagi di hotel menunggu kedatangan Dito. Tapi sampai jam 9 malam, Dito tidak juga pulang. Akhirnya aku tertidur telanjang dibalik selimut.

Di tengah lelapnya aku tertidur, kurasakan ada yang bermain-main dengan memekku. Kurasakan ada benda tumpul yang menggesek-gesek memekku. Saat kubuka mataku, kulihat Dito sedang berjongkok telanjang di depan selangkanganku sambil menggosok-gosokkan kontol ngacengnya ke belahan memekku. Aku langsung kejang merasakan nikmatnya. Dito terus menyodok-nyodokkan kontolnya sampai menyundul-nyundul itilku. Luar biasa nikmatnya. Seandainya Dito nekat memasukkan kontolnya ke dalam memekku, aku yakin aku tak mungkin mampu menolak.

Pinggulku bergoyang-goyang mengikuti irama sodokan kontol Dito. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Orgasmeku menyerbu dengan derasnya. Setelah aku terhenyak lemas, Dito duduk bersandar di sebalah kepalaku. Kontolnya berdiri tegak dengan gagahnya. Memandang kontol besar yang indah itu, aku segera berguling ke pangkuan Dito.

Kini kepalaku menghadap langsung kontol ngaceng Dito yang sudah tegak dengan perkasa. Segera kugenggam kontol indah itu dengan kedua belah tanganku. Kukocok-kocok, lalu kujilat-jilat.

Kuhisap dan kulumat kontolnya dengan penuh semangat. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas. Kukocok-kocok lagi dengan tanganku. Begitu terus, isap, kocok, isap, kocok…

Akhirnya kontol di dalam mulutku ini mulai berdenyut-denyut lagi dan… croooot… kurasakan lagi semburan kerasnya.

Dito telentang puas. Aku telentang nikmat…

***

# Akhir Yang Menyakitkan

Aku terbangun karena sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata kain gorden penutup jendela terbuka dengan lebar. Kugeliatkan tubuh telanjangku menghapus sisa-sisa kantuk dari tidur nikmatku semalam.

Aku menoleh kesamping. ”Lho, Dito mana?” aku tidur sendirian. Ah, mungkin dia di kamar mandi. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada tumpukan uang 100 ribuan di meja kecil samping tempat tidur. Didekatnya ada secarik pesan. Kuambil pesan itu. Dari Dito…

“Lin, sorry aku berangkat pagi-pagi. Kamu pulang duluan aja ke Jakarta. Gak usah nunggu aku. Aku udah tinggalin kamu duit 2 juta. Anggap aja tanda terima kasih karena udah kamu bikin enak semalam. See you, Dito.”

Aku merasa kata-kata dalam surat ini agak kasar. Apakah Dito serius memberiku 2 juta sebagai tanda terima kasih? Bukan karena sayang? Atau Dito cuma bercanda. Ya semoga dia cuma bercanda.

Berpikir seperti itu aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan santainya aku berdiri telanjang bulat sambil menggeliat meluruskan otot-ototku. Tapi oops! Ternyata jendela kamar benar-benar terbuka tanpa penutup kain vitrage sekalipun. Padahal kamar ini ada di lantai dasar dan jendelanya menghadap taman. Akibatnya beberapa tamu hotel yang sedang berjalan-jalan di taman tertegun menatap tubuh telanjangku yang sedang dalam pose menggairahkan. Telanjang, kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, hingga dada dan memekku jelas terpampang.

Gila! Dito benar-benar gila! Aku segera berlari menuju kamar mandi. Seusai mandi aku keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Perlahan aku melangkah menuju jendela. Kututup jendela dengan menarik tali di pinggirannya. Ah… aman.

Barulah setelah itu aku berani melepas handuk penutup tubuhku dan segera berdandan. Aku harus checkout pagi ini juga dan langsung pulang ke Jakarta. Seharian aku berputar-putar di kota Bandung sendirian. Baru menjelang malam aku pulang ke Jakarta mengendarai mobil angkutan Cipaganti.

***

Sesampai di kamar kostku di Jakarta, kuhempaskan tubuhku di kasur kamarku. Pikiranku menerawang. Aku memikirkan kejadian-kejadian yang kualami belakangan ini.

Kuraih dompetku. Kukeluarkan sisa uang pemberian Dito. Menginap semalam bersama Dito aku mendapatkan 3 juta. Tapi kenapa hati ini tidak bisa senang. Kenapa aku justru merasa terhina. Apalagi kata-kata Dito dalam pesan yang ditinggalkannya pagi tadi sungguh menyakitkan.

Apa iya Dito hanya menganggapku perempuan bayaran? Ah, tapi tidak mungkin. Dengan 3 juta seharusnya Dito bisa dapat pelayanan penuh dari perempuan-perempuan malam yang siap memberikan kepuasan. Sedangkan dengan aku, Dito tidak bisa menikmati tubuhku sepenuhnya. Artinya, Dito tidak mungkin menganggapku sama dengan para perempuan malam itu.

Lagipula, kami sudah sering membahas rencana pernikahan kami dengan kedua orang tua Dito. Bahkan seluruh keluarga sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan 4 bulan lagi.

Tapi… tetap saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi Dito seringkali seolah sengaja mempertontonkan tubuh telanjangku kepada orang lain. Di mobil, dan terakhir pagi tadi di Hotel setelah dengan sengaja membuka tirai Hotel lebar-lebar.

Aku bingung… aku bimbang… akhirnya aku tertidur lelah…

***

Pagi…

Baru saja aku akan berangkat ke kantor ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pitu dengan hati bertanya-tanya siapa yang sepagi ini mau bertamu ke kamarku.

Saat kubuka pintu, kulihat Dito berdiri sambil tersenyum tipis. Sebelum sempat kusapa, Dito sudah mendorong tubuhku masuk kembali ke kamar. Kemudian Dito menutup pintu dan menguncinya sekaligus. Setelah itu tanpa berkata apa-apa dia mulai membuka seluruh pakaiannya sendiri.

“Dit, mau ngapain? Nanti aku terlambat.” protesku. Aku agak tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan langsung buka pakaian di hadapanku tanpa basa-basi.

“Biarin lah terlambat sedikit. Udah biasa kan?” jawab Dito santai sambil membuka celana dan celana dalamnya sekaligus. Aku ingin protes lagi, tapi mataku tertumbuk pada kontol besarnya yang sudah ngaceng dan berdiri tegak. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat Dito memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

Aku hanya pasrah saja saat Dito membuka jilbabku dan melemparkannya entah kemana. Aku semakin pasrah ketika lidah Dito menari-nari di telingaku sementara kurasakan kontol kerasnya mendesak-desak perutku. Kuremas rambut Dito sambil meresapi jilatannya di telinga dan leherku.

Dito tidak hanya menjilat leherku, tapi menggigit-gigit kecil sambil dihisap kuat-kuat. Aku yakin gigitannya pasti meninggalkan bekas merah di leherku. Aku tidak perduli. Toh nanti akan tertutup jilbabku. Aku hanya peduli pada kenikmatan yang kurasakan saat ini.

Setelah puas menggarap leherku, Dito berhenti sejenak sambil menatap tubuhku yang masih berpakaian lengkap. Kemudian tiba-tiba dengan agak kasar dan terburu-buru Dito melepas kancing-kancing bajuku dan merenggutnya dengan keras untuk kemudian melemparkannya begitu saja. Lalu tangannya bergerak ke punggungku membuka kait BH ku. Lagi-lagi Dito merenggut BH ku dengan agak kasar dan melemparkannya.

Sejenak dipandanginya dada telanjangku. Lalu diremasnya dengan kedua tangannya. Oooh… kasar sekali. Tapi rasanya justru aku menyukainya. Remasan kasar Dito pada dadaku berhenti saat Dito meluncur turun berjongkok di hadapanku.

Tangannya dengan lincah membuka celana sekaligus celana dalamku dalam satu tarikan. Dan bugil lah aku… Di kecupnya memekku dan dijilat dari bawah keatas. Uuughhh… aku berdiri dengan gemetar merasakan jilatan Dito pada memekku.

Disaat aku sedang menikmati jilatannya, tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Dia bangkit berdiri dihadapanku lalu tanpa persiapan sama sekali aku di dorong keras hingga terpental ke kasur.

Aku kaget dengan perlakuan kasar Dito ini. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, Dito sudah menerkam menindih tubuhku. Ciumannya begitu ganas. Lidahnya menerobos membelit-belit lidahku. Pinggulnya bergerak-gerak menekan kontolnya di atas memekku.

Aku benar-benar terhanyut dengan permainan kasar ini. Sensasi dari ketidak berdayaan seolah akan diperkosa ini justru menambah nikmat cumbuan-cumbuan yang kurasakan.

Jilatan Dito mulai turun ke dadaku. Mulutnya melahap dada kiriku dengan penuh nafsu seolah ia ingin memasukkan seluruh daging dadaku itu ke dalam mulutnya.

“Ooooh… Dit… kamu tambah hebat, sayang…” aku semakin meracau tidak karuan dengan perlakuannya ini. Ditambah lagi sementara mulutnya melahap sambil menjilati puting dada kiriku, tangan kirinya meremas kuat dada kananku sambil jemarinya memilin-milih puting susu kananku dengan cepat dan berulang-ulang.

Aku tak tahan menghadapi serang Dito kali ini. Belum-belum memekku banjir sudah. Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kontolnya yang terus saja menggesek permukaan memekku.

Dito merosot ke bawah. Tangannya menggenggam kedua pahaku dan di bentangkannya lebar-lebar. Lalu kepalanya merangsek selangkangku dengan tiba-tiba.

“Aoooow! Oooooooohhh…!” Aku benar-benar dibuat menjerit. Lidah Dito langsung bermain menjilati lubang memekku. Dengan kecepatan lebih dari biasanya, Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lidahnya serasa menggaruk-garuk memekku yang memang sudah gatal sedari tadi.

Lalu Dito melahap sebelah bibir memekku seperti sedang mencium bibirku. Di sedot-sedotnya bibir memekku sambil lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang memekku dan menjilati dinding-dinding bagian dalam memekku. Ooowwwh… semoga selaput daraku tidak sampai pecah gara-gara lidah Dito yang bermain sampai ke dalam.

Kemudian kembali Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang, Lalu tiba-tiba mulutnya menangkap itilku dan menghisapnya kuat-kuat sambil giginya mengunyah perlahan membuat itilku seperti digiling.

Aku tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku kejang. Pantatku kuangkat tinggi-tinggi mengejar mulut Dito. Tanganku terlempar ke kiri dan kanan sambil meremas apa saja yang bisa kugapai. Punggungku melengkung, kepalaku terdongak ke atas.

Kupejamkan mataku sambil berteriak histeris, “Aaaaaaaaaaagghhhhhh…”

Rasanya cairan memekku bukan hanya mengalir. Tapi benar-benar menyembur dengan kuat. Entahlah, benar begitu atau perasaanku saja. Yang jelas aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

Lama aku kejang dalam posisi melengkung seperti itu sampai akhirnya aku terhempas hebat ke kasur. Nafasku tersengal dengan keringat yang membasahi tubuhku.

Plak! Dito menampar pahaku tiba-tiba sambi menghempaskan tubuhnya telentang di sampingku. “Ayo gantian. Isep kontolku sekarang.” ujar Dito agak kasar.

Meski masih terasa lemas, aku bangkit duduk menghadap kontol Dito. Kuraih batang kontol yang besar dan berurat itu. Kuremas-remas dengan gemas. Lalu tanpa basa basi lagi kumasukkan batang keras yang hangat itu ke dalam mulutku.

Kumajukan kepalaku naik turun mengocok kontolnya dengan mulutku. Sesekali kuhisap kuat-kuat kontol itu sebelum akhirnya kukocok lagi dengan mulutku. Kujilati kepala kontol Dito, lalu kuhisap. Hanya kepala kontolnya saja yang masuk ke mulutku. Lalu kuhisap-hisap sambil lidahku ikut menjilat-jilat. Kuhisap-hisap sampai kepala kontol itu melejit dan hampir terlontar keluar. Tapi sebelum kontolnya terlepas dari mulutku, segera kumasukkan lagi kepala kontol itu sambil tetap kuhisap-hisap.

Setelah itu kembali kumasukkan seluruh batang kontol besar itu ke dalam mulutku. Kukocok-kocok lagi dengan mulutku sampai akhirnya kubasahi seluruh permukaan kontolnya dengan ludahku.

Selanjutnya giliran tanganku yang bertugas memberikan kenikmatan kepada kontol Dito. Kukocok dengan cepat batang kontol besar ini. Tiba-tiba Dito bangkit duduk dan berdiri diatas kedua lututnya membuat aku ikut terduduk.

“Ayo, isep terus… kocok yang kenceng… aku udah mau keluarrrr…” teriak Dito.

Aku pun semakin bersemangat mengocok kontol Dito. Kurasakan kontol itu semakin keras. Dan mulai terasa kedutan-kedutan pertanda sudah mau keluar. Seperti biasa, aku segera memasukkan kontol Dito ke dalam mulutku supaya bisa ngecret di mulut.

Tapi Dito justru menepis tanganku dan mencabut kontolnya dari mulutku. Lalu dia malah mengocok sendiri kontolnya dengan tangannya di hadapan mukaku, dan… Crooot… Croooot… crooot… tiga semburan menerpa wajahku. Mata, hidung dan mulutku. Dan Dito mendorong tubuhku hingga telentang sambil terus saja mengocok kontolnya. Dengan sengaja Dito mengarahkan semburan kontolnya ke leher, dada dan terakhir ke perutku.

Aku terkapar telentang belepotan air mani di sekujur wajah dan tubuhku. Kulihat Dito bangkit meraih bajuku dan membersihkan kontolnya dengan bajuku itu. Aku ingin protes, tapi lemas sekali rasanya. Kubiarkan saja kelakuannya itu.

Tanpa berkata-kata Dito mengenakan pakaiannya kembali. Sementara aku tetap saja terbaring lemas di kasur. Kupikir sudahlah, aku tidak usah ngantor hari ini.

“Lin, aku mau ngomong…” ujar Dito sambil mengenakan sepatunya. Aku tidak menjawab selain menatapnya heran dengan wajahku yang masih belepotan air maninya itu.

“Mulai hari ini… kita putus!” ucap Dito tiba-tiba.

Aku tersentak bangun. Aku duduk menatap wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu. “Kenapa ?” tanyaku lemah.

“Terus terang, sebenernya pacaran sama kamu itu enak. Nikmat banget. Susah nyari perempuan yang bisa bikin enak kayak kamu, Lin. Masalahnya, kamu cuma enak buat dipacarin. Kalau untuk dijadikan istri, aku mau cari perempuan baik-baik yang belum kenal kontol sama sekali. Bukan yang udah kebanjiran air mani kayak kamu gini… Sorry ya, Lin. Kita sampai disini aja. Terima kasih, barusan luar biasa enak.”

Aku tak mampu lagi berteriak. Aku hanya menatap Dito yang melangkah ke pintu dengan air mataku yang berlinang bercampur dengan air mani yang membasahi pipiku.

Sebelum membuka pintu, kembali Dito berkata “Eh, tapi kalo kamu kangen sama kontol aku, telpon aja ya. Aku siap kok. Oke?“ setelah itu Dito membuka pintu dan berlalu.

Aku membanting tubuhku telentang ke kasur. Dan menangis sejadi-jadinya…

***

# Bertemu Dana

Enam bulan sudah sejak perpisahanku dengan Dito yang menyakitkan. Terlebih lagi jika mengingat hubungan kami sebenarnya sudah sangat serius. Bahkan rencana pernikahan sudah sering dibicarakan diantara keluarga kami. Hubunganku dengan orang tua Dito sudah demikian dekat.

Tak bisa kubayangkan jika Dito menyampaikan kepada orang tuanya alasan dia memutuskan hubungan kami. Bagaimana mungkin gadis baik-baik berjilbab yang mereka sayangi ini ternyata luar biasa binal, bahkan saat putus dengan anaknya pun penuh belepotan air mani.

Untunglah Dito masih punya sisa-sisa kebaikan. Dia cuma bilang bahwa kami sangat tidak cocok.

Well, enam bulan gak ketemu kontol. Enam bulan gak ada yang jilatin memek. Kangennya luar biasa. Tapi untuk memulai hubungan lagi rasanya juga gampang. Trauma dengan sikap Dito setelah menerima kenikmatan dariku membuatku semakin ragu untuk pacaran lagi.

Tapi kemudian semuanya berubah. Aku dipindah tugaskan sebagai staff administrasi khusus untuk event-event seminar wilayah Jakarta. Hal ini menyebabkan aku sering terlibat langsung dengan penyelenggaraan event, bahkan sampai menginap di hotel tempat penyelenggaraan.

Pada saat event-event inilah aku sering bertemu Dana, salah seorang Staff yang biasa mengurus operasional event. Seringnya kami kerja bersama-sama dalam sebuah event membuat kami tambah akrab. Keakraban itu berlanjut tidak hanya di tempat event, tapi juga ke kantorku. Setiap hari kami makan siang bareng, walaupun untuk pulang bareng masih belum menjadi rutinitas.

Dana tidak terlalu ganteng jika dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu. Secara fisik hampir tidak ada yang istimewa. Namun wajah teduhnya membuat aku nyaman berada di dekatnya.

Sangat terlihat bahwa Dana belum banyak pengalaman soal perempuan. Seringkali Dana terlihat canggung jika aku mengajaknya bicara yang agak nyerempet-nyerempet bahaya. Wajahnya terlihat tersipu, dan aku tahu itu bukan pura-pura. Satu lagi, Dana sangat sholeh. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Sholat. Bahkan jika kebetulan aku datang ke kantor agak pagi, kerap aku memergoki Dana sedang Sholat Duha. Melihat kenyataan itu, tipis rasanya harapanku untuk merasakan kontolnya. Tapi di lain sisi, aku berharap Dana bisa menjadi calon suamiku.

Suatu ketika, kembali kantorku menyelenggarakan event seminar. Dan seperti biasanya aku ditugaskan langsung dimulai sejak persiapan.

Saat itu seluruh team yang bertugas diberi fasilitas menginap di Hotel dimana event tersebut diselenggarakan. Tentunya karyawan wanita sekamar dengan yang wanita. Sebaliknya karyawan pria dengan karyawan pria. Dan tidak ada satupun dari kami yang kebagian sekamar sendirian. Sehingga tipis kemungkinan aku bisa tidur bareng Dana.

Dana mendapat kamar di lantai 4 sekamar dengan Baron sedangkan aku menempati kamar dilantai 5 sekamar dengan rekanku Nani yang bertugas sebagai kasir.

Persiapan baru selesai sekitar pukul 9 malam. Saat akan kembali ke kamar, Baron mengajak Dana untuk mencari makan di luar saja. Alasannya makanan di kamar disamping mahal, rasanya juga gak nendang. Aku agak malas untuk makan diluar karena rasanya sudah sangat letih dan ingin segera rebahan untuk istirahat.

Sesampai di kamar aku segera mengganti pakaian dengan daster panjang tanpa lengan dimana di dalamnya aku tidak mengenakan apa-apa lagi. Sebenarnya aku lebih suka tidur telanjang bulat. Namun karena aku tidak sendirian, terpaksa kututupi tubuh bugilku dengan daster panjang.

Rasanya belum lama aku memejamkan mata ketika HP ku berbunyi. Ah.. Dana. Ngapain malam-malam gini telpon?

“Ya, Dan… ada apa?” tanyaku dengan suara agak serak-serak bangun tidur.

“Udah tidur ya. Aku beliin martabak nih. Mau gak?”

“Aku udah kenyang, Dan. Nggak usah deh.” jawabku malas-malasan. Malam-malam gini makan martabak? Bisa gendut aku.

“Yaaah… sayang donk. Ya udah, temenin kita makan aja yuk. Sambil ngobrol-ngobrol.”

Sebenarnya aku masih sangat ngantuk. Tapi ngobrol-ngobrol dengan Dana di kamar? Sayang kalau dilewatkan. “Iya deh. Tunggu sebentar ya.” Aku segera bergegas bangkit dari kasur. Kukenakan kembali Jilbabku. Aku sempat bimbang apakah aku harus ganti baju, pakai celana dalam dan BH, atau gak usah aja. Kupandangi sejenak tubuhku melalui cermin. Rasanya tidak akan terlihat kalau aku tidak pakai celana dalam. Tapi BH? wow, pentil susuku jelas sekali terlihat. Lagipula daster ini tanpa lengan. Bisa rusak imageku nanti.

Akhirnya kukenakan jaket dan kukancingkan rapat untuk menutupi dada serta lenganku yang terbuka. Yup. Cukup tertutup lah. Jadi aku tidak perlu ganti baju.

Yakin dengan dandananku yang cukup tertutup, segera aku keluar menuju kamar Dana di lantai 4.

Sama seperti kamarku, kamar Dana memiliki dua buah tempat tidur yang dipisahkan oleh meja kecil di tengah-tengahnya. Sesampainya aku di sana ternyata mereka sedang makan nasi goreng di atas tempat tidurnya masing-masing. Aku segera menghampiri Dana dan duduk di kasur berdekatan dengan Dana.

Selesai makan kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Dana pindah duduk di kursi sementara Baron tetap duduk di kasurnya. Sedangkan aku dengan santai duduk di kasur Dana bersandarkan bantal yang kususun tinggi.

Jujur saja, isi obrolan sangat membosankan. Apalagi Baron. Omongannya gak ada yang menarik. Jokenya pun garing banget. Seandainya bukan karena Dana, aku pasti sudah balik ke kamar. Tapi kesempatan berdekatan begini sayang rasanya kalau kulewatkan begitu saja.

Untunglah setelah sekitar sejam ngobrol gak jelas, Baron ngantuk dan pamit tidur duluan. Dia langsung masuk ke balik selimut dan tidur miring menghadap tembok. Ah, asiiik…. aku tinggal berdua dengan Dana.

Kutunggu sesaat sampai kira-kira Baron sudah tertidur. Setelah kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan, kubuka kancing jaketku hingga tubuh bagian depanku yang terbungkus daster bisa terlihat. Terutama bentuk dada besarku serta putingnya pasti tercetak dengan jelas.

Berkali-kali kulihat Dana menatap dadaku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya. Aku yakin Dana bisa melihat bentuk dadaku, dan aku yakin dia tahu kalau aku tidak pakai BH. Terlihat sekali dia canggung dengan keadaan pakaianku. Wah, bagaimana kalau dia tahu aku tidak pakai celana dalam ya?

“Dan, ngobrolnya sini donk. Jangan jauh-jauhan gitu. Kayak musuhan aja.” ajakku ketika kulihat Dana tidak juga mengambil inisiatif. “Ayo sini. Gak akan aku gigit deh. Kecuali kamu yang minta.” ajakku lagi saat Dana tidak juga bereaksi.

Akhirnya Dana bangkit pindah duduk di sebelahku. Terasa sekali Dana sangat canggung duduk berdekatan di atas tempat tidur berduaan denganku. Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya yang serba salah itu.

Kugeser dudukku lebih dekat dan menghadap dia. Kuusap kepalanya lembut sambil terus ngobrol ngalor ngidul. Saat bercerita, sesekali siku lengan Dana menyenggol dadaku yang tanpa BH. Dana semakin gelisah.

Tidak tahan dengan sikapnya yang pasif, segera kuraih kepala Dana dan kucium bibirnya. Beberapa kali kukecup-kecup bibirnya sampai akhirnya Dana mulai bisa menguasai keadaan. Tangannya mulai meraih pipiku sambil lidahnya bermain-main di mulutku. Kemudian perlahan tangannya turun ke leherku, terus turun lagi sampai ke dadaku. Diremasnya dadaku perlahan. Ah… akhirnya bisa juga dia.

Aku benar-benar tidak tahan. Kudorong tubuh Dana hingga terlentang, lalu kutindih dia. Kuciumi bibirnya dengan penuh gelora nafsu sambil memekku kugesek-gesekkan ke kontolnya yang terasa sudah keras dibalik celana panjangnya.

Sedang seru-serunya kami bercumbu, tiba-tiba …

“Lin, kalo mau pacaran jangan disini. Gue gak bisa tidur dengerinnya…” terdengar suara Baron agak ketus walau wajahnya tetap menghadap tembok.

Aku menghela nafasku yang sudah tersengal-sengal. Duuuuh… ganggu aja deh… Terpaksa kami menghentikan kegiatan nikmat ini. Aku minta Dana untuk mengantarku ke kamar. Di dalam Lift kembali kucium Dana dengan penuh nafsu. Dana memelukku erat. Tiba-tiba tangannya meremas pantatku. Saat itulah dia sadar kalau aku tidak pakai celana dalam. Sayang, pintu lift keburu terbuka. Kami keluar dari lift dengan saling rangkul. Rupanya tangan Dana masih betah berdiam di pantatku. Kurasakan tangannya mengelus-elus pantatku dengan mesra.

Di depan pintu, kembali kami berciuman. Kali ini Dana sangat bernafsu. Tangannya tidak henti meremas dadaku. Kurasakan kontolnya begitu keras menekan atas perutku.

“Dan… besok kita buka kamar aja yuk…” bisikku di telinga Dana dengan nafas memburu. Dana menatap mataku sejenak. Terlihat dia agak ragu. “Aku yang bayar deh. Mau yah… yah… yah…” bisikku lagi setengah memaksa.

Akhirnya Dana mengangguk setuju. Kucium bibirnya lama sebelum akhirnya kulepaskan dan meninggalkannya berdiri di depan pintu.

***

Seharian ini kuikuti kegiatan seminar dengan tidak sabar. Pikiranku sudah tertuju pada rencana malam nanti. Saat break makan siang tadi aku sudah memesan kamar dilantai 8. Agak mahal memang, tapi yang penting terpisah jauh dari teman-temanku yang lain.

Begitu Seminar hari pertama selesai, aku langsung menghilang ke kamar. Kepada Nani teman sekamarku kukatakan bahwa malam ini aku tidak menginap. Padahal sesungguhnya aku pindah ke kamar yang telah kupesan.

Di kamar aku langsung melepas seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Semula aku akan menyambut Dana dengan tubuh bugil seperti ini. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya terlalu ekstrim. Akhirnya aku memilih daster yang paling tipis. Setelah siap, kutelpon Dana, memintanya segera menemuiku di kamar.

Tak berapa lama kudengar bel berbunyi. Segera kubuka pintu, dan Dana tertegun memandangku.

Kutarik tangan Dana dan segera kututup pintu. Dana menatapku dengan takjub. Aku yang biasa berpakain serba tertutup kini berdiri di hadapannya hanya mengenakan daster tipis tanpa apa-apa lagi di dalamnya.

Kudorong tubuh Dana hingga tersandar di pintu. Kupeluk dia, kucium dengan ganas. Dana sampai gelagapan menghadapi seranganku yang tiba-tiba. Dengan tergesa dan penuh nafsu kupereteli kancing-kancing kemejanya. Lalu kubuka kemeja itu dan kulemparkan ke lantai. Lidahku langsung menari-nari di lehernya. Kugigit-gigit kecil lehernya. Lalu kujilati mulai pangkal lehernya melewati jakun sampai ke dagunya. Kujilati berulang-ulang. Dana tidak bisa bisa berkata-kata selain ucapan uh-uh yang tidak jelas.

Lidahku meluncur ke dadanya. Kujilat pentil dadanya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Lalu kusedot kuat-kuat bergantian pentil kiri dan kanan. Selanjutnya aku merosot turun berjongkok dihadapannya. Kujilati pusarnya sambil tanganku membuka ikat pinggangnya. Kubuka kancing celananya, kubuka resletingnya lalu kuperosotkan celana panjangnya hingga ke mata kaki. Tampaklah tonjolan dibalik celana dalam putih yang sudah siap untuk dikulum.

Saat aku akan merenggut celana dalamnya, Dana mencegahku. Tubuhku ditarik berdiri, kemudian dia memelukku dengan kuat sambil kembali mencium bibirku. Tangannya meremas-remas pantatku.

Aku benar-benar tidak tahan. Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Kudorong tubuhnya hingga jatuh telentang diatas tempat tidur. Kubuka dasterku dan berdiri telanjang bulat dihadapannya. Dana sampai melotot melihat tubuh telanjangku. Tak menunggu lama lagi kutarik celana dalam Dana melewati kakinya dan kulempar entah kemana. Maka terlihatlah kontolnya yang sudah ngaceng sepenuhnya. Berdiri tegak menanti untuk di sedot.

Ukuran kontolnya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi bagiku yang sudah enam bulan tidak ketemu kontol, pemandangan di hadapanku ini menjadi begitu menggairahkan.

Kupanjat tubuh telanjang Dana. Kuciumi bibirnya dengan nafsu membara. Kutekan dadaku ke dadanya hingga gepeng. Lalu kugoyang-goyang pinggulku hingga memekku bergesekan dengan kontolnya. Kugoyang pantatku maju mundur, membuat belahan memekku yang sudah basah meluncur lancar disepanjang batang kontolnya.

Tidak sampai dua menit aku menggesek memek kulihat Dana mengerang keras, dan… Croooot air maninya menyembur membasahi perut kami berdua. Ah… kontol perjaka. Nyesel tadi gak aku isep aja. jadi kan air maninya gak mubazir terbuang percuma begini.

Sedikit kecewa aku beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhku dari semburan air mani Dana. Setelah itu aku kembali ke kamar sambil membawa handuk kecil. Kubersihkan perut Dana dengan handuk kecil yang kubawa. Kubersihkan juga kontolnya yang sudah mulai mengecil.

Setelah itu aku berbaring di samping Dana. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil tanganku terus meremas-remas kontolnya. Aku berharap kontol Dana bisa cepat bangkit kembali.

Dan benar saja, tidak perlu berlama-lama kurasakan kontol itu semakin membesar. Kukocok-kocok terus kontolnya sampai benar-benar ngaceng. Setelah itu aku langsung bangkit menindih tubuhnya lagi.

Aku berjongkok di atas kontolnya. Kuraih kontolnya dengan tanganku, lalu dengan nekat kugosok-gosok kepala kontolnya ke dalam belahan memekku. Aaaah… rasanya luar biasa nikmat. Ingin rasanya kumasukkan seluruh batanp style=”text-align:justify;”p style=”text-align:justify;”g kontol ini ke dalam memekku ketika tiba-tiba Dana meronta menghindari memekku.

“Jangan, Lin. Gak boleh. Kita belom nikah…” wajah Dana terlihat tegang. Antara takut dosa dan kepengen dosa.

Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Kukecup lembut pipinya. “Iya, aku tau. Aku juga masih perawan kok.” ujarku sambil kemudian kukecup lembut bibirnya. “Tapi kalo main-main dikit boleh kan?” aku tak menunggu jawabannya, tapi langsung melorot ke bawah hingga wajahku berhadapan langsung dengan kontolnya.

Kuraih benda yang sudah lama kurindukan itu. Kuusap-usap, lalu kemudian kujilat dari bawah ke atas. Ooooh… akhirnya… ketemu kontol lagi…

Kusedot-sedot kepala kontolnya sambil lidahku menari-nari diseluruh permukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Karena kontol Dana tidak terlalu panjang, tidak sulit aku menelan seluruh batang kontolnya.

Kukocok-kocok kontol ngaceng itu dengan mulutku. Maju-mundur-maju-mundur, kuisap kuat-kuat sambil kutarik sampai hampir terlepas. Lalu kuisap lagi kuat-kuat sambil menelan kontolnya.

Belum lama kontol itu kuisap, kurasakan denyutan-denyutan yang sudah sangat ku kenal. Ah cepat sekali… Langsung kuisap-isap dengan kuat dan cepat, dan… crooot.. crooot.. crooot.. terasa semburan yang sangat kuat menerpa mulutku. Kutelan semua cairan yang menyembur itu sambil terus kusedot-sedot kepala kontolnya dengan kuat. Kontol itu baru kulepaskan setelah menciut jadi kecil dan lembek lagi.

Kutatap wajah Dana. Matanya terpejam puas. Aku berbaring di sebelahnya sambil kubelai-belai rambutnya. Tak lama, Dana tertidur…

Tinggal aku yang terbaring bugil dengan nafsu yang masih menggantung. Tak apalah, lumayan setelah enam bulan nganggur…

***

# Gairah di Pagi Hari

Bangun tidur, aku merencanakan untuk menggoda Dana lagi. Pura-pura mau mandi, aku berjalan pelan di depannya. Aku hanya menggunakan handuk kecil untuk kulilitkan ke tubuhku seadanya. Saat lewat di depannya yang sedang menonton TV, persis di depan matanya, handuk itu kulepaskan hingga jatuh ke lantai, kontan tubuhku yang tidak terbungkus apapun terlihat jelas olehnya.

Dana langsung tersipu malu dan melengoskan pandangannya. Dasar bocah lugu. Sudah menikmati tubuhku semalaman, masih juga malu. Kuteruskan langkahku ke kamar mandi sambil tersenyum tertahan melihat tingkahnya.

Tidak lama di dalam, aku berseru memanggil Dana untuk mengambilkan sabun cair di tas, ”Dan, tolong ambilin sabun yaaa…” kataku.

”Iya, Lin, sebentar…” kudengar dia turun dari ranjang dan melangkah pelan ke lemari, tempat dimana tasku berada. Setelah ketemu, dia mengetuk pintu kamar mandi yang tidak kukunci.

Aku berseru. ”Masuk aja, Dan.”

Dana membuka sedikit pintu itu dan menjulurkan tangannya yang menggenggam sabun. Segera kutarik tangannya ke dalam sambil berkata, ”Tolong dong, sabuni aku. Aku nggak bisa menyentuh bagian belakangku.”

Dana tertegun melihat tubuh telanjangku yang mengkilat karena basah. Terutama payudara dan puting susuku yang tampak makin membengkak besar. Dia sudah tidak melengoskan pandangannya lagi, malah Dana memperhatikan tubuhku yang bugil dan ranum itu dengan muka memerah.

“Heh, kok malah ngeliat gitu sih?” ujarku sambil pura-pura menutupi buah dadaku yang sudah besar dari dulu ini, karena susuku sering diremas dan di rangsang oleh laki-laki. ”Sini, buka bajumu agar gak basah. Kita mandi sama-sama.” segera kulucuti pakaian Dana tanpa menunggu jawaban darinya.

Setelah kubuka celana dalamnya, kulihat kontolnya masih kecil, belum tegang sama sekali. Penasaran banget aku, masa ngeliat tubuhku gini, dia belum ngaceng sih, pikirku. Biar, nanti kuhisap dan kubuat kau ketagihan hisapan mulutku, pikirku mesum.

Kupasang shower dan aku mulai mandi di depan Dana yang juga sudah telanjang bulat. ”Ayo, sabuni aku. Jangan bengong aja gitu.” ujarku. Dia mulai mengusap punggungku dengan tangan gemetar. Wah, asik nih, akan kuajari dia cara menyenangkan perempuan, pikirku.

”Sini, depannya juga. Masa cuma punggungnya aja.” kataku sambil membalikkan badan. Kuberikan bongkahan payudaraku kepadanya.

”Eh, i-iya, Lin….” Dana menjawab dengan gugup. Dia mulai mengusap-usap dadaku, meremasnya pelan, dan memilin-milin putingnya yang mungil menggiurkan. Aku jadi terangsang dengan usapan tangannya. Kunikmati pijatannya sambil merem melek.

Tidak puas, aku juga mulai menyabuninya, ”Sini, Dan… tubuhmu juga harus dibersihkan, biar wangi dan harum.” kataku.

Dana diam saja. Tapi tangannya masih tetap mengusap-ngusap buah dadaku. Dia meremasnya kuat-kuat saat tanganku berhenti di kontolnya dan mengocoknya lembut. Nah, mulai kelihatan aslinya, pikirku. ”Aduh, Lin, geli… geli banget… tapi enak.” katanya takut-takut.

”Udah, kamu diam aja.” Setelah kusiram bersih tubuhku dan tubuhnya, aku jongkok di depannya sambil kugenggam erat kontolnya yang belum terlalu ngaceng itu, masih agak lembek. Sambil melihat wajahnya, kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kukemot pelan-pelan. Kulihat mata Dana melotot sambil memperhatikan kontolnya yang keluar-masuk di mulutku, dia mendesah dan menelan ludah.

Pelan kujilati seluruh kontolnya, mulai dari pelirnya sampai ke ujung kepala. Dari situ kumasukkan seluruh kontolnya ke mulutku, lumayan keras meski belum ngaceng sempurna.

Setelah beberapa lama menghisap kontolnya, Dana mulai bergetar. Wah, tandanya dia mau keluar nih, pikirku. Semakin kuperkuat hisapanku, kontolnya kukenyot cepat di mulutku. Saking enaknya, tanpa disadari Dana, pantatnya sampai maju mundur seperti orang ngentot. Dia memperkosa mulutku.

Lin, aduh… aku… Oughh! Enak sekali…” teriaknya, lalu… croott… crooottt… crooooottth…!!! banyak sekali pejuhnya keluar di dalam mulutku, langsung kusedot habis dan kutelan dengan kenikmatan luar biasa. Kulihat wajahnya merah padam pada saat pejuhnya keluar. Dana mendongak ke atas dan oleng ke kiri dan ke kanan.

”Enak nggak, Dan? Kau suka kontolmu kuhisap?” tanyaku nakal.

”He-eh, Lin. Enak sekali.” katanya masih sambil bergetar.

Aku maklum, karena meski ini bukan pejuh pertamanya, tapi tetap saja dia menikmatinya. Pengalaman ini pasti terasa begitu luar biasa bagi orang pemula seperti Dana.

Setelah dia bisa mengatur nafas, kini giliranku yang minta kepuasan. Berbaring mengangkang di lantai kamar mandi, kuminta dia menjilat memekku. Dana melakukannya dengan senang hati.

Total hari itu, lebih dari 12 kali kami moncrot. Pejuh Dana berhamburan di mulutku, juga ke wajah, rambut, dan susuku. Bahkan ada yang ditaruh di atas memekku, sempat membuatku takut juga kalau sampai hamil. Cepat kuseka cairan itu dengan tissue sampai bersih.

Sementara cairanku sendiri mengalir deras membasahi kasur dan sprei. Beberapa ada juga yang menyembur sampai ke lantai.

Sama-sama puas, kami akhirnya terkulai lemas dan berbaring berpelukan. Mataku terpejam, sementara mulutku terbuka mengalirkan pelan pejuh Dana masuk ke dalam perutku.

Aku lelah… tapi juga gembira luar biasa…

***

Sejak itu, hubunganku dengan Dana makin dekat dan intim. Di kantor, kami sudah tidak malu-malu lagi untuk mengakui kalau kami berpacaran. Bahkan bisa lebih dari sekedar pacar, karena kini Dana sudah tidak malu-malu lagi meminta oral kepadaku. Aku juga begitu, horny dikit, aku langsung kontak Dana untuk ketemuan. Pokoknya, asal waktu dan tempatnya terpenuhi, kami akan melakukannya. Tapi meski begitu, satu yang kami pegang, aku mau tetap perawan sampai menikah nanti. Jadi terangsang bagaimanapun, kami harus bisa nahan diri cukup dengan emut atau gesek saja, tanpa tusuk apalagi genjot.

Sama seperti sore ini, jam 17:15 aku datang ke ruangan Dana. Sudah sejak siang, memekku gatal pingin digaruk. Kebetulan seisi ruangan sudah pada pulang semua, tinggal aku berdua dengan Dana. Maka tanpa membuang waktu lagi, kubanting tubuh Dana ke meja kerjanya dan kuciumi dengan penuh nafsu.

Dia yang sudah mengerti akan nafsu gilaku, mengimbangi dengan menyentuh paha mulusku pelan. Kebetulan hari itu aku mengenakan rok panjang longgar, jadi Dana mudah saja menyelipkan tangannya. Dengan cepat jari-jarinya naik, sedikit demi sedikit, menuju pangkal pahaku. Aku mulai merem melek keenakan, sambil tanganku merangkul pundaknya, sementara bibirku tetap menancap di mulut Dana yang tebal.

Aku melenguh saat ujung jari tengah Dana menyentuh selangkanganku dan mengelus pelan sekumpulan rambut hitam yang ada disana, yang masih tertutup oleh celana dalam. ”Ahhhh… Dan, terus…” aku mendesah.

”Kamu memang sangat menggairahkan, Lin.” Dana berkomentar.

Aku cuma menjawab dengan anggukan kecil dan mata makin terpejam rapat. Desahanku terdengar semakin keras. Jari tengah Dana sudah melewati celah celana dalamku sekarang, dia menyentuh bibir kemaluanku, dan mengelusnya. Dana menggesek-gesekkan jarinya di permukaan klitorisku yang sudah menyembul keras. Oughhhh… tubuhku langsung melenting. Aku kegelian, tapi juga enak.

Setengah sadar aku berkata, ”Aduh, Dan… geliii… oughhh… geliii…” terasa sekali memek dan celana dalamku sudah basah berlendir. Tanganku makin rapat memegang pundak Dana, sementara mulut kami terus saling beradu.

Tak mau kalah, tangan kananku merambat ke arah gundukan kaku di selangkangan Dana. Kubuka resletingnya dan kulorotkan celana dalamnya hingga sebatas paha. Tanpabisa dicegah, tersembulah kontol Dana yang sudah menegang dahsyat. Benda itu berdiri tegak, siap untuk diapain aja. Tanpa disuruh, aku segera memegang dan mengelus-elusnya.

Dana yang sepertinya juga sudah nafsu buanget, meraih celana dalamku dan menariknya turun. Sementara rok panjangku cuma ia gulung hingga ke pinggang. Dana lalu mendudukkanku di meja sambil tangannya membuka kancing bajuku satu per satu. Ia juga meraih tali pengait BH-ku dan melepasnya dengan mudah. Maka lengkaplah sudah, aku telanjang di depannya.

Kami saling melumat beberapa saat sebelum akhirnya ciuman Dana turun ke leher dan dadaku. Dia mencucup dan menjilati puncak gunung kembarku dengan rakus. Oughhh… Aku langsung mengerang keenakan. Tanganku makin keras meremas dan mengelus burung Dana.

Setelah agak lama menyusu, dia lalu berbisik. ”Lin, jadi pengen masukin burungku ke sangkarnya…” sambil tangannya menerobos pelan lubang memekku.

Aku yang tidak ingin ngentot, tentu saja menolaknya. ”Jangan, Dan… ingat komitmen kita.” aku masih ingin mempersembahkan perawanku untuknya saat malam pertama nanti.

Dana yang pada dasarnya juga lugu, dengan mudah tersadar. Dia pun tidak berkata-kata lagi. Asyiknya, tangan dan mulutnya tidak berhenti bekerja, dia terus memborbardir pertahananku dengan lumatan dan elusannya yang sungguh-sungguh membangkitkan gairah.

Melihat dia sudah tidak kuat lagi, aku segera turun dari meja dan berjongkok di bawah untuk mengulum burungnya. Dengan perlahan bibirku mengecup ujungnya, kujilati cairan precum Dana yang mulai meleleh keluar. Kemuadian dengan sangat berhati-hati kutelan kontol itu, kumasukkan ke dalam mulutku. Kuhisap kontol itu bervariasi, dengan menjilati batangnya dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirnya, kemudian kuhisap-hisap keras seluruhnya hingga membuatku hampir tersedak, lalu kembali lagi pelan di sekitar ujungnya.

Begitu terus hingga tanpa terasa 15 menit pun berlalu. Kurasakan kontol Dana mulai memanas dan berkedut-kedut. Sepertinya benda itu sudah mau meledak. Aku segera mempercepat kocokanku. Kumasukkan kontol Dana dalam-dalam ke mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

Dana menggeram, ”Lin, aku sudah mau keluaaarrr…”

Segera kulepas kontol itu dan kukocok-kocok di depan wajahku. Tak sampai 1 menit, muncratlah air mani Dana membasahi wajah dan payudaraku. ”Ssshh… Lin… Enaknya…” dia mendesah sambil bersandar di kursi.

Aku yang sudah sangat bergairah, segera berbaring telentang di meja. Kubuka kakiku lebar-lebar hingga Dana bisa melihat memek merahku yang sudah sangat basah. ”Ayo… Dan, jilat!” aku meminta.

Dana pun segera membenamkan kepalanya disana…

Begitulah hubunganku dengan Dana yang begitu panas dan menggairahkan.
Hubungan kami terus berlanjut hingga ke tahap yang serius. Aku yakin Dana adalah laki-laki yang tepat untukku. Dia alim sekaligus nakal. Sementara bagi Dana, aku adalah gadis yang telah berjasa membawanya menuju kedewasaan. Kami saling mengisi dan melengkapi.

***

# Malam Pertama Pengantin Baru

Dua bulan kemudian, kami menikah. Setelah lama cuma petting dan oral sex , inilah saat dimana kami akan melakukan yang sebenarnya. Berbekal pengetahuan seks yang kudapat dari internet, aku siap melayani Dana, suamiku.

Wangi harum melati semerbak ke setiap sudut kamar pengantin kami yang dihias warna dominan merah jambu. Berbalut daster tipis yang juga berwarna pink, aku berbaring di ranjang. Jilbabku sudah kulepas sejak tadi. Dana ada di sisiku. Matanya yang bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran.

Suasana yang romantis, ditambah dengan sejuknya hembusan AC, sungguh membangkitkan nafsu. Dana memelukku dan mengecup keningku, lalu mengajakku berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan pak Kyai tadi. ”Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.”

Dari kening, ciuman Dana turun ke alis mataku yang hitam dan lebat, lalu berlanjut ke hidung dan terus hingga sampai ke bibirku. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling melumat diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Dana yang tadinya memeluk punggungku, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke gundukan payudaraku yang cukup besar. Dia memujiku karena sudah pintar memilih daster. Baju ini berkancing di depan dan hanya 4 buah, jadi mudah bagi Dana untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian, baju itu pun terkuak, juga kaitan BH-ku yang melingkar di punggung. Kedua bukit kembar ku pun tersembul keluar. Tampak indah menggoda dengan ukurannya yang besar dan bentuknya yang bulat sempurna, lengkap dengan putingnya yang mungil kemerahan.

Sementara Dana mengelus dan memandanginya dengan kagum, aku juga berhasil membuka kancing piyamanya, melepas singlet dan juga celana panjangnya. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dana tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Dia lalu melanjutkan ciumannya ke leherku, turun ke dada, dan dengan amat perlahan, mendaki bukit payudaraku dengan lidahnya. Saat sampai di puncak, Dana menjilat dan mengulumnya dengan penuh nafsu. Diperlakukan seperti itu, putingku yang sudah mengacung keras, makin menegak tak karuan.

”Oughhh.. Arrgghhhhh…” aku jadi mendesah dan meracau tidak jelas. Mataku terpejam, sementara bibirku yang tebal sensual sedikit merekah. Sungguh sangat menggairahkan sekali.

Sambil terus mencucup, tangan Dana mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Dia seperti tidak ingin buru-buru, seperti ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Mulutnya berpindah dari satu sisi susu ke sisi satunya lagi, diselingi dengan ciuman ke bibirku, membuatku makin berkeringat. Aku cuma bisa membalas dengan mengacak-acak rambutnya liar, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang penting birahiku terlampiaskan.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, Dana melepas celana dalamku. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kulakukan kepadanya, membuat kontolnya yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Dana membelai kakiku sejauh tangannya bisa menjangkau, perlahan naik ke paha, berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sesekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu lebat milikku.

Sementara aku yang juga sudah tidak sabar, segera membelai dan menggenggam kontolnya. Kukocok benda itu, kugerakkan tanganku maju mundur.

”Ahhhssss…” Dana melenguh nikmat. Walaupun hal itu sudah sering dia rasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya sungguh lain. Pikiran dan konsentrasi kami tidak lagi terpecah. Kami sudah halal untuk melakukannya.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tangan Dana naik ke atas, menuju ke memekku. Begitu tersentuh, aku mendesah semakin keras. Nafasku juga semakin memburu. Perlahan Dana membelai rambut kemaluanku, lalu jari tengahnya mulai menguak ke tengah, membelai dan memilin-milin tonjolan daging sebesar kacang milikku yang sudah sangat licin dan basah.

Tubuhku langsung menggelinjang, pinggulku bergerak ke kiri ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringat semakin deras keluar dari tubuhku yang montok.

Di atas, ciuman Dana menjadi semakin ganas. Ia mulai menggigiti lidahku yang masih berada di dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin cepat bermain di atas klitorisku, mengelusnya maju-mundur dengan cepat, hingga tak lama tubuhku mengejang dan melengkung, kemudian terhempas keras ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil ia persembahkan untukku.

Kupeluk dia dengan erat dan berbisik, “Ohh… nikmat sekali. Terima kasih, sayang.”

Dana yang tidak ingin beristirahat lama-lama, segera menindih tubuhku, lalu dengan perlahan menciumi payudaraku, dan terus ke bawah hingga ke perut, ke bawah lagi, dan terus ke bawah, hingga deru nafasku kembali terdengar berisik disertai rintihan panjang begitu lidahnya mulai menguak lubang memekku. Cairan vagina ditambah dengan air liur Dana membuat lubang hangat itu semakin basah.

Dana memainkan klitorisku dengan lidahnya, sambil kedua tangannya meremas-remas pantatku yang padat berisi. Tanganku kembali mengacak-acak rambutnya, sambil sesekali kukuku yang tidak terlalu panjang menancap di bahunya. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalaku terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan amat sangat yang diberikan oleh Dana. Perutku terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakiku menjepitnya dengan kuat.

Tak tahan, kutarik kepalanya, lalu kucium dia dengan gemas. Dana menatap mataku dalam-dalam, meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasnya sebagai suami. Tanpa kata, aku mengiyakannya. Akhirnya, tiba juga saat itu. Sambil tersenyum manis, kuanggukkan kepalaku.

Dana memberikan kontolnya untuk kukulum sebentar, sekedar untuk membasahinya, sebelum akhirnya dengan perlahan, mengarahkannya menuju liang kewanitaanku. Dia menggosok-gosoknya sedikit untuk menambah bukaan memekku, kemudian dengan amat perlahan, menekan dan mendorong masuk.

Aku langsung merintih keras, kesakitan. Spontan kudorong bahunya, meminta Dana untuk berhenti sebentar. Air mata meleleh di sudut mataku.

Dana yang tidak tega, segera menarik kembali penisnya. Dia memeluk dan menciumiku. Hilang sudah nafsunya saat itu juga.

”Maafkan aku, sayang..” aku berkata penuh sesal.

”Iya, aku mengerti.” Dana melumat bibirku. ”kita coba lagi nanti.”

Setelah beristirahat beberapa lama, Dana mencoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Dia sangat mencintaiku sehingga tidak tega untuk menyakitiku.

Aku sendiri juga sangat ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya memang sangat-sangat sakit. Jadilah malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Aku meminta maaf kepadanya dengan mengoralnya sampai keluar. Tapi Dana kelihatan tidak begitu puas. Dia ingin memecah perawanku. Aku bisa mengerti kegusarannya.

***

Esoknya, kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk di akal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga? Apalagi kalau sampai wanita itu menikmati dan sampai orgasme, itu sangat-sangat tidak mungkin.

Jam 10 malam, kami kembali masuk kamar dengan bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok saudara-saudara iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran dari mulut saudara-saudara ipar, kutanggapi dengan senang dan bahagia.

Seperti biasa, setelah saling merayu dan memuji, kami segera melepas pakaian masing-masing. Dengan tubuh sama-sama telanjang, kami naik ke atas tempat tidur dan berpelukan dengan erat. Setelah berciuman dan saling remas beberapa saat, aku pun segera menghisap penis Dana. Kulakukan sampai dia hampir keluar. Sebelum moncrot, Dana meminta untuk berhenti. Sepertinya dia benar-benar berniat akan mangambil perawanku malam ini.

Dana memintaku untuk berbaring telentang di tempat tidur. Dia menarik lututku hingga aku mengangkang. Telungkup tepat di bawahku, muka dan mata Dana persis berada di depan vaginaku. Dia memelototi bagian dalam memekku yang merah basah, sungguh menggairahkan. Dengan dua jari, Dana membuka dan memperhatikan bagian-bagiannya.

”Baru kali ini aku melihat memekmu dengan jelas.” katanya. Aku tahu, meski sudah sering menjilatinya, tapi Dana melakukannya dengan mata tertutup.

”Aku baru tahu kalau klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kau jaga utuh selama ini. Jauh dari bayanganku, selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Di tengahnya ada lubang kecil.” Dia menerangkan.

Tidak tahan berlama-lama, Dana segera mulai menciumi memekku. Dia memainkan klitorisku dengan lidahnya yang basah, hingga membuatku kembali mengejang.

”Arghhhhh…” merintih keenakan, kujepitkan kedua kakiku ke kepalanya erat-erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi.

Dana terus memilin, menyedot, dan memain-mainkan klitoris kecilku dengan lidah dan mulutku. Dia semakin liar, bahkan aku sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat.

Aku lalu menarik pinggulnya, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepala Dana berada di depan memekku, sementara aku dengan rakusnya telah melahap dan mengulum batang penisnya yang sudah sangat keras dan besar. Oughhh… rasanya sungguh nikmat tiada tara.

Tapi Dana kelihatan kesulitan untuk melakukan oral terhadapku dalam posisi seperti ini. Jadi dia memintaku kembali telentang di tempat tidur. Dana lalu naik ke atas tubuhku, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda, karena kami sudah suami istri sekarang.

Hampir bobol pertahanan Dana menerima jilatan dan hisapan lidahku yang hangat dan kasar. Apalagi saat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku seperti akan menelannya, kemudian aku bergumam. Getaran pita suaraku seakan menggelitik ujung kemaluannya, membuatnya menggelinjang keras. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, Dana segera mengubah posisi. Wajah kami berhadapan. Kembali dia menatap mataku, membisikkan bahwa dia sangat menyayangiku. Dana juga bertanya, apakah kira-kira aku akan tahan kali ini? Kucium bibirnya dengan gemas sebagai jawaban, kuminta dia untuk melakukannya pelan-pelan.

Dana menuntun kontolnya menuju lubang vaginaku. Berdasarkan pengamatannya tadi, Dana tahu dimana kira-kira letak Liang Senggamaku. Dia menciumku sambil menurunkan pinggulnya pelan-pelan.

Aku langsung merintih tertahan, tapi kali ini tanganku tidak lagi mendorong bahunya. Dana mengangkat lagi pinggulnya sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kukatakan bahwa aku juga sangat menginginkannya.

Setelah memintaku untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti, Dana menekan pinggulnya. Dia memasukkan kontolnya sedikit demi sedikit.

Kepalaku terangkat ke atas menahan sakit. Dana segera menghentikan usahanya saat melihatku meringis. Dia menatap mataku lagi, meminta persetujuan.

Meski ada setitik air mata disana, tetapi sambil tersenyum, aku menganggukkan kepala. ”Lakukan… sayang!” bisikku lirih.

Mengangkat pinggulnya sedikit, Dana kemudian menekannya lagi pelan-pelan. Saat aku sudah tidak menolak, dia lalu mendorongnya kuat-kuat.

”Heggkkhhh…” aku mengerang keras sambil menggigit kuat bahunya. Kelak, bekas gigitan itu baru akan hilang setelah beberapa hari.

Akhirnya, setelah melewati perjuangan keras dan menyakitkan, seluruh batang Dana berhasil masuk ke dalam lubang memekku. Dia tampak bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasnya. Dana menciumi bibirku dengan mesra, dan menyeka butir air mata yang mengalir dari sudut mataku.

Aku membuka mata. Sebagai istri, aku juga bahagia. Di balik rasa sakit yang kualami, aku juga telah berhasil mempersembahkan satu-satunya milikku yang berharga pada suamiku.

Setelah rasa sakitku sedikit mereda, perlahan Dana menarik keluar kontolnya, lalu menekan lagi, ditarik lagi, ditekan lagi, begitu terus berulang-ulang, tapi tetap dalam tempo pelan, takut membuatku kesakitan. Baru setelah memekku bisa menerima kehadiran kontolnya, dia melakukannya dengan sedikit cepat.

Setiap Dana menekan masuk, aku mendesah. Dan kali ini bukan lagi rintihan penuh kesakitan, tapi desisan dari rasa nikmat yang amat sangat yang menyerang memekku saat kontol kaku Dana menggesek cepat permukaannya yang hangat dan lembut. Menimbulkan rasa nikmat tiada tara yang baru kali ini kurasakan. Rasanya lebih nikmat dari sekedar jilat atau petting. Rupanya, beginilah kenikmatan persetubuhan yang sebenarnya. Oughhh… aku menyukainya. Kurasa, aku bisa ketagihan dan tergila-gila dibuatnya.

Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepalaku mulai membanting ke kiri dan ke kanan, seiring kontol Dana yang mengocok lubang memekku semakin cepat.

”Oughhhh… Sshhhh…” aku merintih. Kupeluk erat tubuh Dana sambil sesekali kukuku menancap di punggungnya.

Pijitan dan jepitan erat memekku membuat Dana jadi tidak tahan lagi. Sambil menancapkan batang kontolnya dalam-dalam, ia pun menyemburkan spermanya banyak-banyak ke dalam rahimku. Dana kalah kali ini. Dia memeluk dan menciumi wajahku yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih.

Mataku yang bening indah menatapnya bahagia. Meski tidak sampai orgasme, tapi aku sangat puas bisa mempersembahkan milikku yang paling berharga kepadanya.

Dana menambahkan, ”Aku titip padamu, jaga baik-baik anak kita bila benih itu tumbuh nanti.”

Aku mengangguk mengiyakan. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput daraku cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus sampai ke kasur. Itu akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, Dana berhasil membawaku orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Dia yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, hingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat…

***

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu kami seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam. Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

END

IBU RINA, ISTRI DAN MERTUA

Pengalaman ini berawal ketika aku kuliah di universitas di daerah Setiabudhi Badung. Aku nge-kost di daerah Geger Kalong yang saat itu identik dengan DT-nya Aa Gym yang menjadikan tidak terbesit olehku akan mengalami pengalaman yang seru ini.

Aku nge-kost di sebuah rumah pasangan suami-istri. Mereka mempunyai anak satu namun karena sudah berumah tangga maka anaknya itu sudah tidak tinggal di rumah itu. Tempat kost-ku mungkin berada agak jauh dari kampus dibandingkan dengan tempat kost-kost yang lain dan suananya lebih sepi dan tenang. Mungkin karena itu pula aku memilih kost-an itu disamping harganya yang lebih murah daripada kost-kostan yang lain. Hanya terdapat 3 kamar yang di sewakan di belakang bangunan utama yang ditinggali oleh pemilik kost tersebut. Pemilik kost tersebut Pak Dedi yang bekerja di sebuah perusahaan operator telepon seluler dan istrinya Bu Rina yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Pak Dedi berumur sekitar 45 tahunan dan Bu Rina sekitar 38 tahunan.

Pekerjaan Pak Dedi yang suka mengurusi proyek-proyek pembangunan BTS di daerah-daerah menjadikannya sering keluar kota, mungkin dari itu juga makanya rumah mereka di kostkan, biar Bu Rina tidak kesepian kalau ditinggal keluar kota katanya. Bu Rina mungkin bisa dibilang sudah cukup berumur bahkan sudah menjadi nenek dari anak putrinya semata wayang. Namun dari wajahnya masih terlihat segar dan manis, mungkin waktu mudanya memang cantik.

ibu rina

Waktu awal aku ngekost disana, aku menganggap Bu Rina seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya, bahkan aku menganggap sebagai wanita yang alim karena penampilan sehari-harinya selalu menggunakan jilbab dan baju gamis yang longgar sehingga tidak pernah terlihat sedikit pun lekuk tubuhnya dari luar. Pada awal-awal aku biasa saja, mungkin hanya senyum kalau bertemu atau berucap sapa sewajarnya. Bu Rina biasanya sering ngobrol dengan Putri, penghuni kost yang lain.

Keadaan mulai berubah ketika memasuki smester ke-3, penghuni di kost-an itu hanya tinggal aku karena Putri telah lulus dan sudah tidak tinggal di situ lagi, sedangkan kamar yang satunya lagi memang sudah lama kosong, mungkin karena jaraknya yang jauh dari kampus sehingga kurang peminatnya.

Suatu pagi hari rabu, aku dapat jam kuliah siang. Sambil nunggu kuliah, aku hanya santai-santai di kost-an sambil baca buku. Lalu datang Bu Rina menjemur pakaian, kebetulan tempat jemuran berada di depan kamarku, jadi sempat juga kuperhatikan Bu Rina yang sedang menjemur pakaian. Tidak seperti biasanya, saat itu Bu Rina menghampiriku setelah selesai menjemur pakaiannya.

“Tidak kuliah, Din?” tanyanya mengawali percakapan.

“Jadwalnya siang, Bu.” jawabku.

“Gimana tinggal di sini, betah gak?” tanyanya lagi.

“Betah kok, bu, tempatnya bersih, tenang, murah lagi.” jawabku sambil sedikit tertawa.

“Ya mungkin buat nak udin sih tenang, tapi buat Ibu sih sepi, apalagi setelah anak ibu menikah dan ikut suaminya, makanya rumahnya ibu kost-kan.” kata Bu Rina.

“Owh… tapi kenapa ibu gak jual aja bu rumahnya trus ibu beli rumah yang tempatnya ramai gitu?” aku balik bertanya.

“Ini rumah warisan orang tua ibu, dan diamanatkan supaya tidak boleh dijual, makanya ibu tetap bertahan.”

“Ya bagus lah, bu, kan saya juga jadi dapat kost-an yang murah.” candaku.

“Ah, kamu bisa aja, Din.” kata Bu Rina sambil tersenyum. “Udah dulu ya, Din, Ibu mau beres-beres rumah dulu.” lalu dia masuk ke rumahnya.

Hari itu aku merasa sesuatu yang beda, mungkin sudah gak ada Putri teman ngobrolnya yang dulu, jadi Bu Rina mencari teman ngobrol yang lain. Semakin hari aku semakin sering ngobrol berduaan dengan Bu Rina tapi hanya obrolan-obrolan biasa sekitar lingkungan tempat tinggal, aktifitas sehari-hari, hanya sebatas itu. Namun hampir setiap hari atau saat Bu Rina sedang tidak ada kerjaan selalu saja datang untuk ngobrol denganku.

Hingga pada suatu hari Pak Dedi dapat tugas keluar jawa untuk proyek BTS-nya. Saat itu aku baru saja pulang kuliah. Waktu itu tiba-tiba hujan, karena Bu Rina sedang tidak ada di rumah maka aku mengangkat jemurannya biar tidak kehujanan. Sepulangnya Ibu Rina, aku langsung mengantarkan jemurannya tadi, namun ketika aku kembali ke kamarku, tanpa kusadari ternyata celana dalam bu Rina ketinggalan secara tidak sengaja. Duh, bingung juga jadinya. Mau kuantarkan pasti malu lah hanya mengantarkan satu celana dalam Bu Rina, tapi kalau tidak kuantarkan pasti Bu Rina bakalan berpikiran negative kalau aku sengaja menyembunyikan celana dalamnya. Ah, daripada nantinya jadi macam-macam lebih baik aku antarkan saja.

Tok.. Tok.. kuketuk pintu belakang rumah Bu Rina. Muncul lah Ibu Rina. “Eh, nak Udin.” sapanya ramah seperti biasa.

“Maaf, bu, ini ada jemurannya yang tertinggal tadi.” kataku sambil memberikan celana dalamnya dengan menahan malu.

“Oh ya, makasih, Din.” terlihat wajah Bu Rina juga nampak malu karena celana dalamnya aku pegang. “Udah makan, nak Udin?” Bu Rina mengalihkan pembicaraan.

“Udah bu, makasih.” jawabku bohong.

“Ah, pasti belum, ibu juga tahu kamu tuh suka makannya malam, ayo temenin ibu makan.” ajaknya.

“Udah kok, bu. Beneran.” aku coba menolak.

“Ayo sini temenin ibu makan, gak baik loh nolak rezeki.” katanya sambil menarik tanganku, memaksa untuk masuk.

Tak kuasa menolak, aku pun menuruti permintaan Bu Rina. Aku masuk dan mengikutinya yang membawaku ke meja makan.

“Silahkan duduk, nak Udin.” kata Bu Rina

“Iya, makasih, bu.” aku pun duduk diikuti dengan Bu Rina yang ikut duduk. “Loh, bapak kemana, bu?” aku bertanya melihat hanya kami berdua yang ada di ruangan itu.

“Tadi bapak ada tugas mendadak ke Bengkulu, padahal Ibu susah masak, jadinya ga ada yang makan, makanya Ibu ajak nak Udin makan sekalian, biar gak mubazir.” jawabnya.

Kami pun makan bersama sambil mengobrol berdua. Mulai dari masalah makanan, hoby, tempat kost-an dan lain-lain. Selesai makan aku hendak pamit, meski masih betah ngobrol dengan Bu Rina tapi tak enak juga berduan dalam satu rumah. Apalagi sudah hampir malam, mungkin juga Bu Rina mau melakukan aktivitas lainnya.

“Sudah dulu yah, bu, sudah malam.” aku pamit.

“Nyantai aja, nak Udin, temenin Ibu dulu kenapa.” tapi Bu Rina melarang.

“Ah, gak enak, bu. Kalau dilihat orang kan gak enak.” aku berdalih.

“Ah, tenang aja, lagian ga akan ada orang yang lihat. Mau ibu bikinin kopi?”

“Gak usah, bu, makasih.”

Namun Ibu Rina tetap membikinkan kopi dan mengajakku untuk melanjutkan obrolannya di sofa di depan TV. Kami pun melanjutkan obrolan tadi namun kali ini Bu Rina menanyakan hal tentang aku.

“Kamu sudah punya pacar, Din? Kok ibu perhatikan kamu gak pernah ngajak perempuan ke sini, padahal kan usia seumur kamu pasti lagi asyik-asyiknya pacaran?”

“Saya gak punya pacar, bu, lagi konsentrasi kuliah dulu.”

“Tapi kalau pacaran pasti udah pernah kan?”

“Gak juga, bu, paling kalau sekedar suka sih pernah, tapi kalau pacaran belum.”

“Masa sih secakep kamu belum pernah pacaran, Din? Kalau begitu sama donk kaya ibu.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Dulu ibu tuh nikah muda, usia 15 tahun ibu sudah dijodohkan, malahan waktu itu baru pertama bertemu Bapak tapi ibu langsung dinikahkan. Usia 16 tahun ibu sudah punya anak.”

“Oh, pantes masih muda Ibu udah punya cucu, kan Ibu masih cantik, gak kelihatan kaya nenek-nenek.” jawabku sambil becanda.

ibu rina

“Ah, kamu bisa aja, Din.” Bu Rina tersipu malu.

“Tapi meskipun belum pernah bertemu akhirnya Ibu cinta juga kan sama bapak?”

“Gak tau juga yah, Din, mungkin selama ini Ibu hanya berusaha menjadi seorang istri yang baik. Kalau dibilang cinta mungkin ibu hanya menjalani tugas saja. Mungkin juga ibu bertahan hanya demi anak saja.”

“Maksud ibu bertahan?”

“Yah, mungkin kalau ingin hati ibu itu ingin berpisah. Bapak itu tidak pernah mau ngertiin ibu, keras kepala, kadang kalau keinginannya gak sesuai suka main kasar.”

“Sabar aja yah, bu.” aku mencoba menghibur.

“Loh, kok ibu malah jadi curhat sama kamu sih, Din, maaf yah.”

“Ah, gak pa-pa kok, bu, sapa tau aja bisa ngurangi beban ibu.” dengan spontan kupegang tangan Bu Rina.

“Gak tau kenapa yah, Din, akhir-akhir ini hari-hari ibu terasa berbeda, seperti ada hal baru yang ibu rasain yang tak pernah ibu rasain dulu.”

Aku juga merasa yang berbeda. Suatu perasaan yang tak bisa ku pahami. Kalau sedang ngobrol dengan Bu Rina hati terasa tenang, terasa nyaman. Untuk beberapa saat kami tertegun mata kami saling memandang. Pandangan yang tak biasa yang membawa kami untuk beberapa saat berada di alam yang berbeda.

Bu Rina melepaskan genggaman tanganku, tapi tanpa kuduga dia langsung memelukku. Aku hanya bisa terdiam karena kaget. Lalu aku memberanikan diri membelai kepalanya yang masih tertutup jilbab. Untuk beberapa saat kami berpelukan, lalu Bu Rina mengangkat kepalanya dan kami saling bertatap mata lagi. Seperti sudah kompakan, bibir kami pun langsung melaju hingga saling bersentuhan.

Cuuup… satu kecupan. Dan diteruskan dengan kecupan-kecupan lain hingga kami saling mengulum bibir dan bermain lidah. Sungguh nikmat kurasakan, bibirnya yang tipis manis dan ludahnya yang hangat melambungkan birahiku hingga saat itu juga penisku mulai berdiri.

Namun tiba-tiba Bu Rina seperti tersentak. “Maaf kan ibu ya, Din, ibu kelewatan.” katanya sambil cepat-cepat melepaskan ciuman dan menarik pelukan.

“Ah, nggak kok, bu. Saya juga gak bisa menahan.” aku menjawab. Mungkin ada rasa malu pada dirinya, namun dari wajahnya, aku dapat melihat hal yang sama denganku. Birahi yang meninggi…

Kami terdiam, tanpa kusadari tatapan Bu Rina tertuju pada celanaku, dia memperhatikan perubahan penisku yang membesar. “Maaf, bu, gak bisa nahan.” dengan malu kututupi celanaku dengan kedua tangan.

Bu Rina hanya tersenyum.

“Ah, ibu curang, gak kelihatan, gak seperti aku.” aku coba bercanda untuk menutupi rasa maluku.

“Kamu juga kan tadi sudah lihat celana dalam ibu, sudah pegang lagi.” sahut Bu Rina, matanya masih tertuju pada tonjolan penisku.

“Tapi kan itu gak ada isinya, bu. Kalau aku kan isinya yang menonjol yang dilihat ibu.”

“Apa kamu mau lihat juga celana dalam yang ada isinya? Nih ibu kasih.” Aku terkaget ketika tiba-tiba bu Rina berdiri dan menganggat baju gamisnya sampai ke pinggang hingga bisa kulihat celana dalam warna krem yang menempel pada pantatnya yang montok. Aku hanya melongo sambil menatap indahnya pantat Bu Rina tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba bu Rina naik ke pangkuanku dan langsung mencium bibirku. Aku hanya mengikuti karena ini yang pertama bagiku dan aku tak tahu harus bagaimana.

Semakin lama hisapan Bu Rina kurasa semakin kencang, lalu tiba-tiba Bu Rina memasukkan lidahnya ke mulutku sambil mendesah… ”Ssshhh… ssshhh…!” Ya ampun, nikmat sekali aku rasa saat lidah kami saling bersentuhan dan bermain-main. Sambil menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku, bu Rina memegang tanganku dan mengarahkannya ke tonjolan buah dadanya, mengisyaratkan untuk diremas. Aku pun mulai meremas-remas payudara sebelah kanan Bu Rina hingga desahannya semakin kuat.

ibu rina

Bu Rina membuka kaos oblong yang kukenakan dan dijilatinnya putingku dan sesekali menggigitnya. Aku hanya terdiam, tubuhku serasa merinding. Jilatannya semakin bawah ke pusarku dan langsung dibukanya celana jeans yang kukenakan. Penisku langsung menyembul keluar karena telah bangun dari tadi. Tanpa disentuh langsung dimasukkannya benda itu ke dalam mulutnya. Aku tersentak.

“Aww…!” erangku, keenakan
.
Bu Rina mengeluarkan penisku dari mulutnya. “Kenapa, Din?” dia bertanya.

“Ngilu, bu. Tapi enak yah?” jawabku cengingisan. “Ibu buka juga dong bajunya, masa aku aja yang telanjang.” lanjutku.

Bu Rina tersenyum dan mencium penisku, lalu dia mulai membuka bajunya satu persatu. Dibukanya jilbab yang ia pakai hingga terlihat rambutnya yang lurus panjang terurai. Cantik sekali, untuk pertama kali aku lihat bu Rina tanpa kerudung. Dibukanya juga baju gamis dan celana panjang tipis yang melindungi kakinya, hanya menyisakan celana dalam dan BH saja. Terlihat tubuhnya yang montok dengan payudara dan bokong yang besar, meski terlihat sedikit kendur namun tidak mengurangi sedikitpun keindahannya. Lalu dibukanya BH warna krem hingga payudaranya yang bulat besar menyembul keluar dengan puting merah kecoklatan. Dan yang terakhir, bu Rina melepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, terlihat bulu-bulu tipis yang tampak dicukur rapi dengan bokong yang besar dan seksi. Baru pertama kali aku melihat wanita telanjang bulat di depanku.

“Nih, udah sama telanjang, mau diapain sekarang?” tanya Bu Rina menggoda.

“Hmm.. gak tau juga mau diapain, bu.” jawabku jujur.

“Uh, dasar! Sini punya kamu dulu, Din, Ibu mainin.” bu Rina langsung memegang penisku yang semakin tegang. “Tahan yah, Din, nanti juga ngilunya jadi nikmat.”

Bu Rina menjilati penisku, dia mengulum dan menghisap-hisapnya. Tampak jauh beda dengan Ibu Rina yang selama ini aku lihat dengan watak yang tenang dan kalem, namun kali ini Bu Rina terlihat begitu semangat dan menggebu-gebu.

“Ahh… bu, enak banget! Terus, bu, jangan berhenti…!” erangku sambil memegangi kepalanya. Aku masih belum berani menyentuh tubuhnya.

Bu Rina pun semakin kencang mengulum penisku dan sesekali juga meremas-remas bijiku. “Gantian yah, Din.” pintanya saat dirasa penisku sudah sangat licin dan basah.

Ia pun duduk di sofa dan membuka kakinya, dengan perlahan Bu Rina menuntun kepalaku ke arah lubang vaginanya. Bisa kulihat dengan jelas benda berbelahan sempit miliknya yang berwarna merah dan sudah sangat basah. Awalnya aku sungkan, namun dengan bu Rina, lama-kelamaan aku pun menikmatinya. Kuciumi bulunya yang tipis dan kujilat perlahan-lahan lubangnya.

“Aahhh… aaahhh… sssttt… shhh…” hanya desahan dari Bu Rina yang kudengar saat kumasukan lidahku ke lubang vaginanya. “Iya, sayang, terus! Sshhhs… Itu itilnya juga ya, sayang!“

Berbunga-bunga aku dipanggil sayang oleh Bu Rina. “Itil tuh yang mana, bu?” aku bertanya belum paham.

“Itu tuh yang seperti kacang tapi kecil.” jawabnya parau.

Oke, aku menemukannya, ada di atas bibir vagina bu Rina. Tanpa bicara lagi langsung aku jilati benda mungil bernama itil itu. “Ouw yah, terus sayang…! isep yang kuat! Owwhhh… sssshhh…” bukan hanya desahan kali ini, tapi juga erangan keluar dari bibir manis Bu Rina.

Rintihannya terdengar dahsyat. Bu Rina memegang rambutku, mengisyaratkan agar aku lebih kencang menghisap-hisap itilnya. Tubuh Bu Rina yang montok dan semok menggeliat dan menggelinjang-gelinjang semakin kencang dan tak beraturan. Kupegangi pinggulnya agar itilnya tetap dalam hisapanku.

“Oowwhhhhh…. Sayaaang!” erang panjang Bu Rina. Kurasakan cairan hangat keluar dari lubang vaginanya. “Hhhh… hhh… Ibu sudah keluar, sayang.” katanya sambil terengah-engah. “Sini, masukin punya kamu, Din!” Bu Rina memegang penisku dan menuntunya masuk ke lubang vaginanya.

Cleebb! Kudorong penisku hingga masuk menembusnya. Terasa hangat dan ketat kurasakan. ”Goyang, Din. Gerakkan maju mundur, tapi jangan sampai lepas.” perintahnya. Mulai kugoyang pinggulku sambil kupegangi pinggang ramping Bu Rina. Payudaranya yang membulat besar, yang terlihat sungguh sangat menggiurkan, masih belum berani kupegang.

“Owh yeah, sayang… hmmmm… sshhh.. yeah…” Bu Rina kembali mendesah. Kupercepat gerakanku yang terus menghujam vaginanya. “Owhhh… ahhhhh… oowwssshhhhhh…“ desahannya terdengar semakin memilukan. ”Aarrgghhhhhhhh…!” kembali Bu Rina mengerang panjang, dan kali ini cairan hangat terasa menyembur di batang penisku. Ternyata dia telah kembali orgasme.

“Kamu juga keluarin dong, sayang.” rayu bu Rina genit dengan muka memerah dan berkeringat.

“I-iya, bu.” aku memang merasa seperti kebelet namun kutahan dari tadi. Aku masih ingin menikmati rasa ini sedikit lebih lama. “Ntar kalau keluarnya di dalam gimana, bu?” tanyaku sambil terus menggoyang.

“Gak pa-pa, sayang, Ibu sudah di KB kok. Mau gaya lain gak, sayang?” tawarnya.

“Gaya gimana, bu?” tanyaku yang memang belum pengalaman.

Bu Rina mengeluarkan penisku dan langsung nungging. Kulihat pantatnya yang masih kencang, mulus dan besar, lalu dituntunnya lagi penisku masuk ke lubang vaginanya. “Hmm, nikmat, sayang!” erang Bu Rina saat kutusuk tubuh montoknya dari belakang.

“Iya, bu. Nikmat baget…” aku mengangguk mengiyakan. Ternyata gerakan nungging ini membuatku tak tahan. Semakin cepat kugoyang Bu Rina, semakin terasa nikmat kedutan di ujung penisku. “Aaahhh….” aku mengerang keenakan.

“Ooowhhh… shhhh…” desis Bu Rina tak kalah nikmat.

“Aku mau keluar, sayang.” tanpa sadar, aku ikut memanggil Bu Rina dengan sebutan sayang.

“Aku juga, sayaaaang…!“ Bu Rina menjerit panjang.

“Ahhhh…” aku menggeram. Lalu crottt.. crottt.. crottt.. aku pun meledak, spermaku berhamburan memenuhi liang kewanitaannya.

“Ahhh… shhh… nikmat, sayanggg…” Bu Rina menyambutnya dengan semburan yang tak kalah dahsyat. Dia kembali orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

Aku pun terkulai lemas di lantai sambil menyandarkan tubuhku ke sofa. Bu Rina turun dari sofa dan ikut berbaring di lantai dengan kepala diletakkan di pahaku. Untuk sesaat kami hanya tertegun diam tanpa kata. Setelah nafas kami kembali teratur, aku segera mengenakan kembali pakaianku, begitu juga dengan Bu Rina. Kami berpelukan dan berciuman sesaat sebelum akhirnya berpisah malam itu.

Aku tertegun di kamar kost-anku, perasaanku tak menentu, pikiranku kacau balau. Aku masih belum percaya dengan kenikmatan yang baru saja kurasakan, namun di sisi lain ada perasaan takut dengan apa yang telah terjadi. Mungkinkah suatu hari suami Bu Rina akan mengetahui atau kah sikap Bu Rina akan berubah terhadapku. Tidak bisa dipungkiri meski usia Bu Rina dua kali lebih tua dariku tapi ada perasaan yang special terhadapnya.

Esoknya aku menjalani aktivitas seperti biasa, bangun pagi dan berangkat ke kampus. Seperti biasa juga kulihat Bu Rina sedang menjemur pakaian di depan kamar kostku. Namun ada yang tidak biasa pagi ini, biasa nya Bu Rina selalu mengunakan jilbabnya bahkan sedang menjemur sekalipun namun pagi ini kutemui Bu Rina menjemur tanpa jilbabnya, bahkan hanya menggunakan daster tipis. Aku berjalan menuju luar, Bu Rina hanya memandang sesaat, tanpa sapa bahkan tanpa senyum. Sungguh aneh aku rasa, biasanya kalau aku lewat Bu Rina selalu menyapa atau setidaknya tersenyum.

Di kampus, pikiranku melayang, pelajaran kuliah tak ada yang masuk. Pikiranku terus tertuju pada Bu Rina, apakah Bu Rina menyesali apa yang telah aku dan dia lakukan sehingga sikapnya dingin begitu. Aku tak bisa terus membiarkan pikiranku menerka-nerka. Sehabis mata kuliah pertama aku langsung pulang, aku memberanikan diri bertanya pada Ibu Rina.

Tanpa masuk ke kamar kost, aku langsung menuju pintu rumah Bu Rina. “Pagi, bu.” sapaku, kebetulan pintu belakang rumah Bu Rina tidak tertutup.

“Masuk aja, Din.” terdengar sahutan dari dalam rumah. Kutemui Bu Rina yang sedang menonton TV dengan masih mengggunakan daster merah muda yang tadi pagi.

Setelah dipersilahkan duduk, aku pun memulai percakapan. “Maaf, bu, ada yang ingin kubicarakan.” Bu Rina hanya terdiam dan nampaknya dia juga tahu akan arah pembicaraanku. “Maaf ya, bu, kalau aku lancang, aku mau bertanya tentang yang kemarin.”

“Memangnya kenapa, Din?”

“Maaf ya, bu, dengan yang kemarin.”

“Kenapa minta maaf?”

“Sepertinya Ibu menyesali dengan yang terjadi kemarin.”

“Hmm…” Bu Rina terdiam sejenak sambil menarik nafas. “Ibu gak menyesal kok, Din, justru ibu merasa malu sama kamu.”

“Loh, kok malu sama aku, bu?”

“Yah, kamu masih muda, masa ibu yang sudah tua ini suka sama kamu.”

“Yah, aku juga gak tahu, bu, tapi aku juga merasakan perasaan yang aneh terhadap ibu, entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut karena kemarin sikap ibu menjadi berubah dingin seperti tadi.”

“Ibu bukan dingin, Din, ibu juga bingung harus gimana. Apalagi tadi pagi ibu sudah sengaja menggunakan baju ini tapi kamu terus berjalan tanpa melirik sama sekali.”

“Oh, jadi untuk aku ya, bu?”

“Gak tau kenapa bangun tidur tadi ibu ingin merasakan kembali seperti kemarin, jadi ibu langsung menggunakan baju ini, eh tapi kamunya lurus terus gak ngelirik sekalipun.”

“Seperti kemarin gimana, bu, bukannya ibu sering seperti itu?”

“Yah, ibu memang sering berhubungan intim seperti itu, tapi yang kemarin beda banget.”

“Beda gimana, bu?”

“Seumur-umur ibu baru ngerasain keluar lebih dari 1 kali dalam sekali main, kalau sama suami ibu paling cuma sekali, bahkan sering juga ga keluar sama sekali.”

Aku tidak bisa komentar sama sekalai, aku hanya bisa pandangi wajah Bu Rina saat bicara, gerak bibirnya yang tipis memancarkan pesona yang mendalam dan menaikkan hasratku untuk melumatnya.

“Kenapa, Din?” dia bertanya.

“Ah, gak pa-pa, bu.” aku terkaget. “Hmm, daster ibu masih sama, berarti dari pagi ibu belum mandi donk.” aku coba alihkan pembicaraan.

“Ah, kamu, Din, ibu kan jadi malu.” wajah cantik bu Rina bersemu merah.

“Tapi meski belum mandi ibu tetap cantik kok.” kataku.

“Ah, masa sih, ibu kan sudah tua gini. Ya sudah lah, ibu mandi dulu.” bu Rina langsung beranjak masuk ke kamar mandi, entah kenapa dia langsunag mandi tanpa menungguku pulang dulu dan entah kenapa juga pintu kamar mandinya dibiarkan terbuka gitu.

“Maaf, bu, kok pintunya gak ditutup?” tanyaku dari luar.

“Ah, kamu, Din. Gak ngerti aja, cepetan masuk sini.” timpalnya dari dalam.

Aku pun masuk ke kamar mandi, Bu Rina tiba-tiba langsung memelukku dan mencubuku seperti seorang yang sedang kesurupan sampai-sampai bibirku digigitnya. Nampaknya sudah dari pagi hastratnya dipendam. Dibukanya daster merah mudanya dan ternyata sudah tanpa BH dan CD sehingga telanjang bulat lah dia.

“Jilati memekku, Din.” pintanya sambil menaruh bokong di atas closet duduk yang tertutup.

Memek? Pikirku, aneh kata itu bisa terucap dari mulut Ibu Rina yang selama ini selalu santun dalam bertutur kata. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju arah memeknya yang sudah mengaga. Kurasakan cairan di dalamnya, ternyata sudah basah. Kugoyangkan lidahku membelai klitorisnya dan dengan seketika tubuh Bu Rina menggeliat dan mendesah.

“Aaaahh… terus, sayang.” tangannya memegang kepalaku dan sesekali menjambak rambutku ketika rangsanganku makin menghebat. Kuangkat kakinya ke pundakku agar semakin leluasa aku bereksplorasi di bagian selangkangan Bu Rina. Sesekali aku jilati lubang pantatnya yang berwarna coklat hingga tubuh Bu Rina pun menggeliat dengan hebatnya.

“Aaahh…” terdengar teriakan Bu Rina. “Pelan-pelan, sayang.” ternyata dia kaget saat kugigit klitorisnya.

“Eh, iya, bu. Gantian ya, bu.” aku pun berdiri sambil membuka bajuku, dan tanpa kuminta, Bu Rina langsung membuka celana dan CD-ku hingga langsung menyembul lah penisku dengan kencangnya. Tanpa menunggu lama, Bu Rina langsung memasukkan penisku ke mulutnya, perlahan tapi pasti gerakannya membuatku merinding nikmat. Dijulurkan lidahnya dan dijilatinya inci demi inci batang penisku, mulai dari biji zakar sampai kepalanya, terus begitu bolak-balik. Terlihat wajahnya begitu menikmati layaknya anak kecil makan es krim.

“Auw!” aku tersentak kaget saat tiba-tiba kepala penisku digigitnya. Namun kulihat Bu Rina malah tersenyum nakal.

“Gantian tuh…” bisiknya.

“Ah, ibu nakal.” kataku sambil kucubit pipinya.

ibu rina

Bu Rina pun berdiri sambil terus memegangi penisku, dituntunnya aku duduk di atas WC dan ia pun langsung naik ke pangkuanku sambil menuntun penisku masuk ke dalam lubang vaginanya.

“Aaaaahhh…” sambil mendesah, kulihat matanya terpejam saat penisku masuk menerobos vaginanya. Terasa kehangatan menyelimuti batang penisku, nikmat sekali. Bu Rina mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun, sesekali juga digoyangkan berputar. Didekatkannya dadanya sehingga payudaranya menempel tepat di wajahku, kujilati putingnya dan sesekali kugigit, namun kali ini bukan jeritan yang keluar dari mulut manis Bu Rina, tapi desahan yang semakin mendera.

“Owhhh… ahhhh… nikmat, sayang.” jeritnya. Dituntunnya tanganku ke pantatnya. Sumpah, seksi banget pinggulnya, walau sudah berumur namun pantatnya belum turun sama sekali dan seperti jarang terjamah. Kuremas-remas daging bulat itu sambil sesekali kuelus-elus paha mulusnya.

“Hmm… yeah, begitu, sayang!” nampaknya Bu Rina menikmati ketika aku memainkan lubang anusnya. Kucoba untuk memasukan jariku kesana, namun tidaklah mudah karena begitu rapatnya, hanya ujung kukuku saja yang dapat menerobos masuk.

Tak lama kemudian kudengar desahan panjang yang mulai tak asing. “Aaahhhhhhh…” tubuh montok Bu Rina menggeliat dengan hebatnya yang menandakan dirinya sudah mencapai orgasme. Penisku terasa nikmat tercengkeram jepitan vaginanya, dan ujung jari telunjukku pun ikut terjepit lubang pantatnya.

“Udah keluar, bu?” tanyaku.

“Iya, sayang.” jawab bu Rina dengan nafas yang belum beraturan. “Sebentar ya, sayang.” katanya sambil merebahkan tubuhnya ke dadaku. Kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang panjang lurus terurai dan sesekali kukecup keningnya dengan penis yang masih menancap dalam di lubang vaginanya.

“Nikmat baget, sayang, sampai aku lemas gini. Mau gantian, sayang?” tanyanya mesra.

“Hmm, terserah ibu saja deh.” jawabku.

“Gantian ya, kamu yang ngegoyang aku. Tapi sebelum itu, boleh minta sesuatu gak?”

“Minta apa, bu?” tanyaku.

“Kalau kita lagi berdua, jangan panggil ibu dong, panggil aja Rina atau apalah.” katanya sambil memainkan pentil dadaku.

“Ah, ntar gak sopan, bu.” aku berkilah.

“Kamu sayang aku gak? Kalau sayang, jangan panggil ibu dong.” dia meminta lagi.

“Iya, Rinaku sayang.” kukecup bibirnya dan saat itu juga wajahnya tersipu merona. “Terusin yuk, bu… eh, Rina sayang.”

Bu Rina menatap wajahku, lalu ia turun dari pangkuanku dan gantian, sekarang dia yang duduk di atas WC dengan mengangkangkan kedua kakinya. Kuhujamkan penisku ke vaginanya dalam-dalam lalu kukocok dengan cepat hingga desahan Bu Rina pun kembali keluar.

“Ahhh… sayaang!” nampaknya Bu Rina mencapai oragame lagi, begitu cepat, tidak sampai tiga menit.

“Lho, sudah keluar lagi, sayang?” aku bertanya heran.

“He-eh.” bu Rina mengangguk malu-malu.

“Kok cepet banget?” sambil terus kutusukkan penisku untuk menggenjot tubuh sintalnya.

“Iya, gak tau nih. Kalau sama kamu, aku jadi cepet banget.” muka bu Rina tersipu. “Kamu juga keluarin donk sayang.” dia meminta.

“Kalau begitu, Rina sayang, nungging yah…” kataku selanjutnya.

Bu Rina pun langsung nungging dengan tangan bertumpu pada bak mandi. Kuhujamkan penisku ke vaginanya dari belakang. “Aaaahhh…” wanita itu menjerit nikmat. Begitu juga denganku.

Kupercepat kocokanku sambil kuremas payudaranya, terdengar suara pok.. pok.. pok.. saat hujamanku mengenai pantatnya yang seksi. Lubang anusnya yang berkerut-kerut membuatku tergoda untuk memainkannya. Kutekan-tekan dengan jempolku dan kucoba mencoloknya. Sedikit demi sedikit jempolku masuk ke lubang pantanya dan saat itu juga kurasakan vaginanya menjadi bertambah kencang mencengkeram penisku. Desahan Bu Rina sekarang sudah mulai berubah menjadi erangan.

“Aarrgghhhhh… sayang! Aku mau lagi…” jeritnya.

“Iya, sayang mau apa?” jawabku tanpa menghentikan hujamanku.

“Mau…. ke-keluar… aarrgghhhhh…” saat itu juga penisku terjepit dengan kerasnya. Sekali lagi Bu Rina orgasme. Aku yang juga sudah tak tahan, menyusul tak lama kemudian. Penisku meledak, menyemburkan mani ke dalam vaginanya. Croot.. crooot.. croooot.. terasa cairan hangat mengalir dari ujung penisku.

“Arghhh… Rina sayang!” erangku keenakan. Aku tersungkur di lantai kamar mandi, demikian juga dengan bu Rina. Namun itu tak lama, karena selanjutnya kami mandi bareng. Saling menyirami, saling menggosoki tubuh masing-masing dengan sabun, dan membilasnya sampai bersih.

“Bisa minta tolong gak, sayang?” tanya bu Rina saat menyeka tetesan air di tubuh mulusnya dengan handuk.

“Minta tolong apa, sayang?” tanyaku balik.

“Aku lemes. Gendong aku ke kamar ya?” pintanya dengan manja.

“Apa sih yang nggak buat Rinaku sayang.” tanpa basa-basi, langsung kuangkat tubuh molek Bu Rina menuju kamarnya.

Di dalam, kami tidak langsung memakai baju. Kami berdua tidur terlentang di kasurnya Bu Rina, rasa capek menghinggapiku dan tanpa kusadari aku pun tertidur, dengan tubuh telanjang Bu Rina berada di pelukanku.

***

Aku terperanjat dari tidurku, kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam, ternyata sudah dua jam aku terlelap tidur. Kupandangi diriku, masih tampak telanjang namun sehelai selimut sudah menutupi tubuhku. Kulihat sampingku dan sekeliling kamar, ternyata Bu Rina sudah tidak ada. Aku beranjak dari tempat tidur, dengan selimut yang kubelitkan, aku menuju kamar mandi hendak cuci muka dan mengambil pakaianku yang masih tertinggal di sana. Ketika keluar kamar mandi, kudapati Bu Rina sedang menyiapkan makanan di meja makan.

“Udah bangun ya? Makan dulu yuk, sayang.” sapanya dengan senyuman manis.

“Eh, iya, bu.” jawabku malu-malu.

“Eits…” jari telunjuknya mengangkat sambil mendelik ke arahku.

“Eh, iya, sayang.” nampaknya aku masih belum terbiasa tidak memanggilnya ibu. Kupandangi bu Rina dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia nampak berbeda. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai sampai setengah punggungnya. Wajahnya yang manis tambah semakin cantik saja dengan riasan tipis yang menawan. Tubuhnya yang montok terlihat jelas setiap lekukannya, meski tidak langsing lagi namun terlihat kencang terawat. Bu Rina hanya mengenakan pakaian tidur transparan warna putih dengan motif bunga yang panjangnya sepaha dan mengunakan CD yang juga transparan. Tampak jelas payudaranya terlihat karena tidak mengenakan BH. Pantatnya tercetak indah pada pakaian tidurnya.

“Kok ngelihatnya kaya gitu banget sih?” tanya bu Rina.

“Kamu cantik banget.” aku hanya bisa terpana.

“Ah, masa sih?” Bu Rina tersipu malu.

Aku menghampirinya dan duduk di kursi meja makan yang sudah tersedia hidangan. Bu Rina lalu mengambilkan nasi dan lauknya serta memberikan kepadaku. Selanjutnya bu Rina duduk di pangkuanku. “Suapin aku ya, say.” pintanya manja.

“Ih, kaya bayi aja deh.” jawabku sambil meremas payudaranya gemas.

“Lha, kan tadi udah dimandiin, ya sekarang tinggal disuapinnya dong.”

Kami pun makan bersama dan saling suap-suapan, sesekali kami bercanda. Nampak indah aku rasa hari itu. Demikian juga dengan Bu Rina, wajahnya memancarkan keceriaan yang seperti mengembalikannya ke masa mudanya.

“Tidur di sini ya, sayang?” pintanya.

“Emang bapak kapan pulangnya?” tanyaku.

“Seminggu lagi baru pulang, kamu di sini aja ya temenin aku.”

“Hmm, kalau dengan suami, Rina suka seperti ini gak?”

“Seperti ini gimana?”

“Ya, manja-manjaan gini?”

“Hmm.. Boro-boro, aku manja dikit aja udah dibilang kaya anak kecil, justru yang ada malah aku dimarahi. Emang kamu gak suka ya aku kaya gini?” wajanya cemberut.

“Ya suka lah, sayang.”

“Hmm.. jadi gimana, mau tidur di sini kan?”

“Iya deh. Mau tidur sekarang?” tanyaku.

“Hmm, main dulu ya?” jawab bu Rina sambil tersenyum.

“Main apa, Rin?” jawabku pura-pura gak tau.

“Tuh dedenya sudah bangun lagi…” Bu Rina menggodaku.

“Ah, kamu tahu aja.” kuremas lagi payudaranya.

“Ya tau donk, kan ada yang ngeganjal nih di bawah. Ke kamar yuk!” ajaknya.

“Ayo, sapa takut.” kutanggapi ajakannya.

“Ya ayo.” bu Rina tersenyum-senyum.

“Ya turun donk, sayang.” mana bisa jalan kalo dia masih pangku seperti ini.

“Gak mau. Pengennya diangkat lagi.” manjanya mulai keluar lagi. Entah kenapa manjanya ini yang sangat aku sukai.

Kami pun beranjak ke ranjang di kamar, kurebahkan tubuh montok Bu Rina ke atas kasur. Tanpa basa basi kuciumi bibirnya, kulumat penuh nafsu. Demikian juga dengan Bu Rina, membalas ciumanku dengan nafsu yang bergelora juga. Kumasukan lidahku ke mulutnya, lidahnya pun menyambut lidahku, lidah kami bergulat dengan menggebu, sesekali lidahku dihisapnya. Tanganku pun gak mau kalah, kuremas payudaranya yang 38D, kupilin-pilin putingnya. Desahannya kian menjadi, kujilati lehernya, kukeluarkan payudaranya dari baju tidurnya dan sampailah jilatanku di putingnya. Nampaknya kali ini Bu Rina sudah tak tahan dengan pemanasan lama-lama.

“Langsung masukin, Say.” dia meminta.

“Sekarang?” tanyaku heran.

“Iya, cepet, sayang.” tangan bu Rina langsung mengarahkan penisku ke vagina. Dengan digosok-gosokkan sebentar, penisku langsung dihujamkannya. Dipeluknya tubuhku sampai aku menindih tubuhnya, diciuminya mulutku dengan penuh nafsu. Aku hanya menggenjotnya dan mengikuti permainan yang Bu Rina mau. Tubuhnya menggeliat, dilepaskannya ciuman mulutku lalu kakinya diangkat ke pundakku. Pada saat itu, aku rasakan jepitan vagina yang luar biasa, dan tak lama kemudian tubuh Bu Rina menggeliat dengan hebatnya dan erangan kerasnya pun keluar.

“Aahhhhhh… sayang, aku keluar!” tubuh bu Rina lemas seketika, dan aku pun menghentikan genjotan. Kucium keningnya dan berbaring di sampingnya, memberi waktu bagi wanita cantik itu untuk mengunpulkan tenaga kembali.

“Say…” suaranya lirih di telingaku.

“Iya,” jawabku.

“Kamu belum keluar ya?”

“He-eh.” jawabku. “Sudah siap untuk nerusin lagi?” sambungku.

“Ayo, tapi minta yang belakang ya?”

“Sambil nungging gitu?” tanyaku.

“Iya, tapi lubang yang satunya lagi. Tadi waktu di kamar mandi pas kamu mainin itu enak banget rasanya.”

“Lubang pantat??” tanyaku heran.

“Iya, sayang. Mau ya?” pintanya setengah memohon. Bu Rina pun langsung mengambil posisi nungging, aku bingung gimana harus memulai yang satu ini. Kucoba masukkan kepala penisku ke lubang pantat Bu Rina namun setelah beberapa kali berusaha tetap gak bisa. Lubang itu terlalu kecil dan rapat.

“Coba mainin dulu, Say.” kata bu Rina.

Tanpa menjawab, aku pun segera memainkan jariku di lubang pantatnya. Kutekan-tekan perlahan, kugunakan ludahku untuk melumasinya karena kering. Perlahan-lahan ujung jariku masuk dan Bu Rina pun mengerang sambil menggeliat. Kutekan jari telunjukku sehingga masuk semua ke lubang pantatnya, dia pun langsung menjerit mengerang. “Aaaahhhhh…”

“Kenapa, Say, sakit ya?” tanyaku.

“Hu-uh.” jawab bu Rina singkat.

“Mau diterusin gak?”

“Terusin aja, Say, nanti lama-lama juga nikmat.”

Kukeluarkan jariku, kucoba memasukkan kembali penisku ke lubang pantat bu Rina. Meski tidak selancar seperti masuk ke vagina, namun kali ini penisku berhasil masuk. Tapi kali ini aku terkaget-kaget, kulihat darah merah keluar dari sekitar lubang pantatnya. Kulihat Bu Rina hanya terpejam menggigit bibirnya sambil menahan erangan.

“Gimana nih, Say, berdarah gini?” aku tak tega untuk mulai menggoyang.

“Terusin aja, Say, tanggung.” jawab bu Rina. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kalau dia merasakan sakit di pantatnya, namun rasa penasaran yang begitu besar mengalahkan rasa sakitnya. Namun sebaliknya dengan aku, kurasakan nikmat sekali, penisku terasa dicengkeram kuat, lebih nikmat daripada dimasukkan ke lubang vagina.

Pelan, kukocok penisku, namun tak secepat seperti di vagina. Lubang pantat bu Rina yang begitu rapat menjadikan penisku terbatas dalam bergerak. Aku juga sengaja tidak mempercepat gerakanku agar bu Rina tidak semakin sakit. Hanya 5 menit, penisku langsung mengeluarkan isinya. Cengkeraman pantat bu Rina yang kuat menjadikan penisku tak dapat menahan sperma seperti biasa. Kurasakan nikmat yang begitu dasyat, namun dari tanda-tandanya, aku tidak melihat kalau bu Rina mencapai orgasme.

“Udah keluar nih, kamu belum ya?” tanyaku.

“Hu-uh.” jawabnya singkat, mungki masih merasakan sakit di pantatnya.

“Gimana dong?”

“Gimana apanya?”

“Kamu kan belum keluar.”

“Ah, gak pa-pa.”

“Sakit ya, Say?” kupeluk dari belakang tubuh Bu Rina yang masih tengkurap. Entah kenapa ada perasaan bersalah karena telah membuatnya kesakitan.

“Gak pa-pa kok, Say. Ntar sakitnya juga ilang, sama kaya waktu pertama kali memekku diperawanin.” kata bu Rina.

Aku tak membalas lagi ucapannya. Aku hanya memeluknya dan membelai rambutnya dengan sayang. Malam itu pun untuk pertama kalinya aku tertidur semalaman dengan seorang wanita dalam pelukanku.

ibu rina

***

Entah berapa kali dalam seminggu itu aku berhubungan badan dengan Bu Rina, tidak bisa dihitung sepertinya. Tidak pagi, siang, atau malam, pokoknya kalau mau, langsung saja kami berhubungan badan. Tidak hanya kebutuhan batinku saja yang terpenuhi, Bu Rina pun selalu menyiapkan makanan dan mengurus keperluanku.

Setelah suaminya pulang, kami tak lantas berhenti berhubungan badan. Pada siang hari, kami selalu mencuri-curi waktu untuk saling memuasakan birahi. Bukan hanya birahi, rasa sayang pun kian menjadi, bahkan menjadi cinta. Tak jarang juga saat Bu Rina sedang dengan suaminya, timbul rasa cemburu di dadaku. Mungkin ini terlarang, bahkan dosa, namun semua itu seakan sirna saat tubuhku dan tubuh Bu Rina bersatu. Aku sudah seperti suaminya di siang hari dan kalau suaminya sedang tugas keluar kota, dia menganggapku suami sepenuhnya. Hubungan sembunyi-sembunyi ini terus kami lakukan sampai aku lulus kuliah.

Setelah aku lulus, tak ada lagi alasanku untuk menetap di kost-an Bu Rina. Aku juga tak punya alasan untuk mengujunginya, nanti bisa menimbulkan kecurigaan. Namun hubunganku dengan Bu Rina tidak sepenuhnya terputus. Kami masih suka bertemu melepas kerinduan yang selalu diteruskan dengan melepas birahi dengan bercinta. Mungkin hanya dua minggu sekali atau pada situasi yang memungkinkan, namun karena frekuasi yang berkurang itu menjadikan hubungan seks kami menjadi lebih nikmat.

***

Asap mengepul dari mulutku setelah rokok kuhisap. Sudah hampir 15 menit aku duduk menunggu di depan hotel melati murahan di kota Bandung. Dari arah gerbang hotel datanglah sosok yang sudah aku nanti dari tadi. Wanita dengan baju muslim, lengkap dengan jilbabnya dan tas kecil yang ditentengnya. Tanpa keluar sepatah katapun, kami langsung menuju kamar di belakang yang sudah aku pesan tadi. Setelah masuk kamar, pintu langsung aku kunci. Kami langsung berpelukan. Hampir 5 menit lebih kami berpelukan erat. Rasa rindu yang menggebu dua insan yang saling mencinta bersatu dalam sebuah pelukan.

Kukecup keningnya. “Kangen, Say.” kata itu yang pertama terucap dari mulutku.

“Sama,” bu Rina menjawab lirih. Hampir sebulan kami tidak bertemu. Suami Bu Rina telah pensiun dan juga mereka habis berlibur ke luar kota.

“Gak ilang juga…” bisikku.

“Ilang apanya?” Bu Rina bertanya.

“Cantiknya.”

“Ah, bisa aja kamu, Say. Kamu gimana kabarnya?” Bu Rina balik bertanya.

“Baik.” aku menjawab.

“Kalau dede nya?”

“Hmm, kangen ya sama dedeku?” kucubit pipinya.

Saat itu juga kami langsung berpelukan. Bibir kami menari-nari saling melumat, lidah kami bergumul dengan hebatnya dan ludah kami bercampur. Tanganku mulai merayap menuju gundukan daging di dadanya. Dengan penuh nafsu kuremas payudara itu. Tangan Bu Rina pun tak mau kalah, diremas-remasnya pula tonjolan di celanaku, yah penisku yang telah bangun dan minta dikeluarkan dari celana.

Satu per satu kami saling melepas pakaian sampai kami telanjang bulat. Bibirku terus menjilati mulut, pipi, telinga, leher, dan payudaranya. Di daerah payudara, jilatanku cukup lama. Kumainkan puting coklat Bu Rina yang sudah mengeras. Desahan terus keluar dari mulut Bu Rina yang manis tipis. Jilatan lalu kuterukan ke perutnya. Di pusarnya, lidahku menari-nari. Dan terus turun semakin ke bawah, menuju bulu rambut kemaluan Bu Rina.

Seolah mengerti, Bu Rina membuka kakinya sehingga terlihatlah vaginanya yang sempit dan legit. Tercium aroma khas yang menyengat, namun aroma itulah yang aku rindukan. Lidahku terus berkelana, klitorisnya yang menyembul menjadi sasaranku selanjutnya. Keras terasa di lidahku, semakin menggeliat pula tubuh Bu Rina saat lidahku menyentuh klitorisnya. Selanjutnya lubang vagina, lidahku menari-nari masuk keluar lubangnya. Kugigit juga bibir vagina Bu Rina yang seperti jengger pada ayam.

Hampir 5 menit lidahku menari-nari di daerah vagina, dan akhirnya sampai juga pada moment yang kutunggu-tunggu. Yah, bu Rina orgasme. Ada perasaaan bahagia, senang, bangga saat aku bisa membuat wanita cantik itu orgasme.

“Aku sudah keluar, Sayang!” bu Rina berbisik lirih dengan nafas yang belum teratur. Dia lalu beranjak bangun, mengerti dengan tugasnya selanjutnya. Sambil berlutut, dihisapnya penisku dengan lahap. Hampir semua batangku dijelajahi dengan lidahnya, buah zakarku juga dikulum di mulutnya.

“Terus, sayang…” ucapku. Bu Rina semakin cepat dengan kulumannya.

Aku yang sudah horny, segera menelentangkan tubuh Bu Rina di atas ranjang. Tanpa basa-basi, langsung kutancapkan penisku ke vaginanya. ”Ahhh… “ Bu Rina merintih saat penisku menerobos masuk kemaluannya.

Kuangkat kaki Bu Rina ke pundakku, aku tahu posisi itu lah yang paling disukai oleh Bu Rina, katanya penetrasinya lebih terasa. Setahap demi tahap kocokanku semakin kencang, demikian pula dengan desahan Bu Rina. “Ahhh… aku mau keluar lagi, sayang.” jeritnya.

Mendengar itu, semakin cepat pula kocokanku. Hingga akhirnya, “AAAGGHHHHHHHHH…!!!” tubuh Bu Rina menggeliat kencang, tangannya meremas kain seprei. Aku tahu, dia sudah orgasme lagi.

“Hah.. hah.. hah..” nafasnya masih belum beraturan, namun tidak aku beri kesempatan berlama-lama. Aku segera membangunkannya dan meminta berganti posisi. Kini aku yang telentang, Bu Rina langsung menaikiku dan menuntun masuk penisku ke vaginanya. Seperti anak kecil yang menaiki kuda, Bu Rina terus mennggenjotku. Payudaranya yang sudah sedikit kendur ikut bergoyang naik turun mengikuti irama tusukanku. Sambil sesekali membetulkan rambutnya yang terurai, mulut Bu Rina tak berhenti mengeluarkan desahan. Tanganku pun ikut aktif memainkan klitorisnya untuk menambah kenikmatan. Dan hanya 5 menit berselang, orgasme ketiga Bu Rina.

“Aahhhh… nikmat, sayang!” tubuh Bu Rina terkulai lemas di atasku, penisku masih berada di dalam vaginanya. Kupeluk dia, kuciumi pipinya. Bu Rina berbisik di telingaku. “Anal yuk, sayang?”

Aku hanya mengangguk menyetui permintaannya. Bu Rina langsung menungging, lubang pantatnya sekarang sudah longgar dan tidak serapat dulu sehingga tidak perlu waktu lama, penisku pun sudah berada di dalam pantatnya.

“Nikmat, sayang. Terus, aku milikmu!” Kalau sudah anal, memang bukan hanya desahan, namun mulut bu Rina pun tak berhenti meracau. “Pukul pantatku, plissss…” dia meminta.

Plak.. Plak… Plaaaak… Kupukul pantat bu Rina yang montok dengan telapak tanganku. Warna putih mulus pantatnya kini berubah menjadi memerah.

“Kurang keras, sayang! Yang keras mukulnya! Lebih keras lagi!” pintanya lagi.

Plaaak… Plaaakk… semakin keras pukulanku, dan semakin kencang pula kocokanku di pantatnya. “Aahhhhhh…” Bu Rina menjerit. “aku keluar, sayang! arghhhhh…” tubuhnya berkedut-kedut saat dari dalam liang vaginanya menyembur cairan hangat yang banyak sekali hingga membasahi lantai.

“Aku juga, Say!” crot.. crot.. crot..!! spermaku menghujam di dalam pantat Bu Rina dan saat kukeluarkan penisku, nampak spermaku berceceran keluar dari lubang pantatnya. Bu Rina tengkurap lemas, sementara aku terbaring terlentang di sampingnya. Untuk beberapa saat, kami terdiam karena kecapekan. Kusibakkan rambutnya hendak mencium pipinya, namun aku terkaget ketika melihat air mata menetes dari mata Bu Rina.

“Kenapa menangis, Say?” tanyaku heran.

“Ini untuk yang terakhir kali, Sayang.” jawab bu Rina Lirih.

“Kenapa terakhir?” aku semakin heran, apa dia sudah bosan? “Ibu sudah gak menginginkan aku lagi?”

“Nggak. Bukan begitu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, tapi ini harus.” tangisannya menjadi. “Aku akan pindah ke Makasar.”

“Tapi aku gak mau pisah.” aku tidak bisa menerima keputusannya. “Kenapa?” aku menuntut penjelasan.

“Aku cinta kamu, Din, tapi aku gak mau menghancurkan hidup kamu, masa depan kamu, selamanya kita tidak mungkin bisa bersama.”

Aku hanya tertegun, hatiku hancur berkeping-keping.

“Selamanya aku cinta kamu, Din. Maafkan aku…” kata bu Rina untuk terakhir kali.

***

Lima tahun sudah perpisahanku dengan bu Rina. Kami tidak pernah berkomunikasi, tidak ada kabar sedikitpun. Mungkin ia sengaja demikian dan aku juga tidak mencari jejaknya karena hanya akan membuat perasaanku sakit. Yah, setelah 5 tahun berpisah, perasaanku terhadap Bu Rina tidak hilang sehingga selama lima tahun ini juga aku tidak berhubungan khusus atau pacaran.

Aku bisa menahan perasaan, tetapi tidak dengan birahiku. Kebiasaanku berhubungan badan dengan Bu Rina rupanya telah menjadi candu yang selalu ingin terpuaskan. Mungkin selama enam bulan syahwatku bisa tertahan, namun lambat laun birahiku berontak minta dilampiaskan. Akhirnya WTS lah yang menjadi sasaran pemuas birahiku, tidak perlu hubungan khusus atau perasaan, asal ada uang birahi pun terpuaskan.

Sudut-sudut kota Bandung sudah kujelajahi untuk memuaskan birahiku. Mulai dari Saritem yang terkenal, Tegalega, stasiun KA, sampai ke gang-gang yang kumuh. Aku sudah hapal betul tempat-tempat yang aman untuk memuaskan birahi. Mulai yang kurus sampai yang gendut seperti gajah, mulai ABG anak SMA sampai nenek-nenek yang banyak kriputnya, mulai yang tarif 2 juta sampai yang 50 ribu telah aku coba, namun tak ada satu pun yang seindah Ibu Rina.

Umurku sekarang sudah 29, usia yang sudah layak untuk berumah tangga. Keluargaku selalu mendorongku untuk menikah karena umurku yang sudah cukup dan pekerjaanku yang sudah tetap dengan penghasilan yang lumayan. Beberapa kali mereka mencoba mencarikan calon istri buatku namun aku selalu menolak. Bukan karena kurang cantik atau kurang apapun, tapi aku memang tidak bisa menikah tanpa adanya perasaan.

Risna

Hingga suatu saat, ketika reuni akbar di sekolahku dulu, aku bertemu dengan seorang wanita. Risna namanya, adik kelasku beda 2 angkatan. Aku dulu memang akrab dengan dia, bahkan dekat sekali, tapi selama itu, aku hanya menganggap dia tak lebih sebagai adik. Dari acara reuni itu, kami saling tukar nomor telepon, kami pun lebih sering berhubungan. Sebenarnya dari dulu aku mengetahui kalau Risna memendam perasaan kepadaku, namun karena waktu itu aku hanya konsentrasi sekolah maka aku selalu mengabaikan hal-hal yang seperti itu.

Risna belum menikah, bahkan dari pengakuannya, dia belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin terasa aneh ketika wanita umur 27 tahun belum pernah pacaran, tapi itulah dia. Setelah lulus SMA dulu, dia tidak melanjutkan kuliah, tapi lebih memilih langsung bekerja untuk mengobati sakit bapaknya dan membiayai sekolah dua adiknya. Dua tahun yang lalu bapaknya meninggal karena sakit, dan sekarang adik-adiknya sudah pada lulus sekolah, mungkin sudah saatnya dia untuk mencari pasangan hidup, namun sialnya justru aku lah yang menjadi sasarannya.

Risna

Awalnya aku menolak, karena dari dulu aku selalu menganggapnya adik, namun akhirnya aku bersedia juga menikahinya. Rasa sayang ada, namun tidak dengan cinta. Yah, memang sudah saatnya aku nikah dan daripada aku selalu jajan untuk memuaskan birahiku, lebih baik aku nikah. Dua bulan setelah reuni, kami melaksanakan pernikahan. Pernikahan yang ala kadarnya tanpa pesta yang mewah karena tanpa ada persiapan.

Setelah menikah, aku tinggal di rumah orang tua Risna. Aku sebenarnya menginginkan tinggal berpisah, namun Risna menolaknya. Kedua adik Risna sekarang sudah bekerja di Batam dan Jakarta, makanya Risna tetap menginginkan tinggal di situ untuk menemani ibunya.

Risna

Setelah tiga bulan menikah, suatu hal yang aneh terjadi. Waktu itu hari sabtu, hari libur bagiku karena aku hanya kerja dari senin sampai jumat, tetapi tidak dengan istriku Risna yang bekerja di pabrik garment. Pagi itu, setelah istriku pergi, aku hanya menghabiskan waktu luangku di kamar sambil mendengarkan musik dan tiduran.

“Libur ya A’?” tanpa kusadari, mertuaku sudah ada di pintu kamar yang memang tidak tertutup. Risna anak pertama sehingga di keluarga dipanggil Teteh, makanya aku juga ikutan dipanggil Aa.

“Oh, iya, mah.” aku sedikit kaget.

“Tetehnya dah pergi?”

“Udah, mah, barusan aja.”

“Oh, mamah tadi habis senam ngerumpi dulu sih sama ibu-ibu jadi gak tau perginya. Aa hari ini gak kemana-kemana?”

“Nggak, mah, emang ada apa ya?” tanyaku.

Risna

“Ah, nggak, cuma mau ngobrol aja.” tiba-tiba mertuaku masuk dan duduk di kasur di sebelahku. “Aa kapan atuh mau ngasih mamah cucu, mamah kan sudah pengen ngegendong cucu nih.” lanjutnya.

“Belum dikasih aja, mah, kami juga sedang berusaha kok.”

“Mainnya kurang benar kali, A’!”

“Main apanya sih, mah?” aku sudah tahu kalau mertuaku sudah menjurus ke seks, tapi aku pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya.

“Coba mamah lihat, apa Aa mainnya sudah benar apa belum?” Aku kaget saat tiba-tiba mertuaku berdiri dan membuka bajunya sampai bugil. Mertuaku umurnya sekitar 50 tahunan, badannya sudah melar namun tak nampak lemak yang bergelambir. Meski melar, tubuhnya terlihat masih pada kencang, mungkin karena rajin senam. “Ayo donk, A’…” dia meminta lagi.

Risna

“Ah, nggak, mah. Ntar Risna gimana?” meski penisku sudah menegang melihat mertuaku telanjang, aku coba untuk menolaknya. Bagaimanapun aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengkhianati Risna.

“Udah. Teteh mah gak usah dimalahin. Tenang aja A!” melihatku hanya melongo, mertuaku langsung membuka celanaku dan langsung mengulum penisku yang sudah menegang.

“Udah, mah, jangan!” mulutku berucap menolak, namun tidak dengan penisku. Kuluman mertuaku begitu nikmat terasa, lebih nikmat daripada kuluman Risna, istriku, mungkin karena lebih berpengalaman. Aku pun terhanyut dalam kuluman ibu mertuaku, tak ada niat lagi untuk menolak atau berontak. Lidah ibu mertuaku lincah megenai titik sensitifku.

Risna

“Gantian ya, A.” tanpa memberi kesempatan menjawab, ibu mertuaku langsung naik dan menindih wajahku dengan selangkangannya. Vaginanya langsung menghujam wajahku, namun tidak seperti yang kubayangkan, ternyata vaginanya tidak terlalu bau, bahkan nyaris tak berbau, hanya bau daun sirih yang kucium. Dibandingkan dengan ibu mertuaku ini, vagina Risna istriku ternyata lebih bau, sekali lagi pengalaman yang membedakan.

Lidahku pun bergoyang di vagina ibu mertuaku, saat klitorisnya kumainkan, terdengar desahan nikmat darinya. “Hmm… pintar juga nih Aa.” Ibu mertuaku turun dari atas wajahku. “Kalau punya Teteh suka dijilatin juga gak A?” lanjutnya.

“Gak pernah. Risna gak mau, mah.” Duh, kepikiran lagi istriku, Risna. Maafkan Aa ya. Mungkin mamahmu ini sudah edan. Sudah dua tahun gak ngerasain, makanya jadi haus banget. Tapi tidak bisa kupungkiri juga, dia memang hot. Aku lebih horny dengan mamah kamu dibanding kamu, ucapku dalam hati.

“Yuk, sekarang masukin punya Aa ke mamah.” mertuaku langsung tidur mengangkang.

Kali ini aku tak berpikir panjang, kuhujamkan penisku yang sudah mengeras ke vagina ibu mertuaku. Perlahan-lahan kukocok dan dengan berirama kocokanku kian cepat. “Hmm… sudah bagus ritmenya A. Terus. Terus, A!” rintihnya.

Tak lama kemudian nampaknya ibu mertuaku mencapai orgasme, tubuhku dipeluknya erat sampai kukunya terasa mencengkeram kulit punggungku. “Ahhh… mamah keluar A!” ucapnya. Untuk sesaat, aku pun berhenti. “Sekarang mamah yang di atas ya, A!” ucapnya lagi, aku pun hanya mengangguk mengiyakannya.

Aku telentang, ibu mertuaku langsung menaikiku dan memasukan penisku ke vaginanya. Mertuaku hanya diam, tidak bergoyang, namun kurasakan vaginanya meremas-remas penisku. Sungguh nikmat.

“Gimana A, enak gak?” tanya mertuaku.

“Iya, mah. Enak!” sahutku.

“Teteh mah belum bisa kaya gini, harus senam khusus dulu.” kata mertuaku. dia lalu bergoyang naik turun, tangannya menuntunku untuk meremas payudaranya yang sudah agak kendur. Sesekali putingnya yang kecoklatan aku mainin, dan pada saat itu juga desahan dari bibir mertuaku terlontar.

Setelah beberapa lama bergoyang erotis, mertuaku akhirnya mencapai puncak orgasme yang kedua. Kurasakan selangkangannya menjepit pinggulku, liang vaginanya mengejang, mengeras, mencengkeram kuat batang penisku.

“Ahhh… Ahh… mamah keluar lagi… Aa juga keluarin donk.” rintihnya.

“Eh, iya, mah.” jawabku sambil menikmati jepitan vaginanya.

Beberapa saat kemudian, dengan posisi yang masih sama, mertuaku kembali bergoyang. Kali ini goyangannya memutar. Kurasakan sensasi yang berbeda dari goyangan yang tadi. Penisku terasa dimanjakan dan terkena pada titik sensitifnya. Makin cepat goyangannya, makin tak bisa aku tahan. “Aku mau keluar, mah.” erangku.

“Keluarin aja, A!” jawab mertuaku.

“Dimana, mah?” aku ragu untuk menembakan sperma di dalam vaginanya.

“Yah di dalam aja, A.”

“Gak pa-pa nih, mah?” aku masih ragu.

“Gak pa-pa, A, biar nikmat.” sahut mertuaku.

Kulepaskan cairan sperma yang dari tadi kutahan. Lima kali muncratan aku rasa spermaku menghujam vagina mertuaku. Setelah selesai muncratannya, mertuaku langsung mengeluarkan penisku dari vaginanya dan turun dari atas tubuhku.

mertua

“Ternyata Aa udah hebat mainnya.” ucap mertuaku. “Ya udah, mamah mandi dulu yah, A.” dia meninggalkan kamar dengan masih keadaan telanjang bulat. Ditentengnya baju senam yang tadi berserakan di lantai.

Aku tidak sempat membalas ucapan mertuaku karena aku masih sibuk mengatur nafas. Pikiranku melayang membayangkan apa yang telah terjadi. Kepuasan yang begitu hebat. Ingin aku menyusul mertuaku ke kamar mandi dan mengulangi yang telah kami lakukan. Tapi saat itu juga aku terbayang wajah Risna istriku. Tidak! cukup kali ini saja, aku gak boleh mengulangi lagi, ucapku dalam hati.

Setelah mertuaku selesai mandi, aku segera mandi pula. Selesai mandi, aku langsung keluar menyalakan motor. Aku bilang ke mertuaku kalau aku mau servis motor sekalian jemput istriku. Padahal tidak ada rencana pada hari itu aku servis motor, namun aku tak bisa berduan dalam satu rumah dengan mertuaku yang edan itu. Bisa-bisa nanti aku ditidurin lagi. Memang nikmat dan memuaskan sih, tapi aku tak tega mengkhianati istriku.

Rupanya terlalu lama servis motornya sehingga aku terlambat menjemput istriku yang memang hanya setengah hari kerjanya. Setelah aku telepon, ternyata istriku sudah pulang duluan dan berada di rumah, saat itu juga aku putuskan kembali ke rumah.

Setiba di rumah, kudapati isriku dan mertuaku sedang mengobrol di depan TV. Aku hanya menyapa mereka dan langsung menuju kamar. Aku sengaja tidak ikut mengobrol karena masih terbayang apa yang telah aku lakukan bersama mertuaku tadi. Aku tidak bisa membayangkan seandainya istriku tahu apa yang telah kami lakukan.

Tidak beberapa lama, isriku menyusulku masuk ke kamar. “Udah makan, A?” dia menyapa.

“Belum, ntar aja ah, Ris, belum lapar.” nafsu makanku seolah hilang.

“Tadi sama mamah gimana, A?” Dug! Pertanyaan itu terasa tajam. Apakah istriku sudah tahu? Apa yang akan dikatakan istriku nanti. Baru 3 bulan nikah, aku sudah selingkuh, dengan ibunya dia sendiri lagi. “Aa?” Risna memanggil lagi.

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Maafin Aa, Ris… Aa gak bermaksud, tapi mamah yang…”

Belum selesai kalimatku, istriku langsung memotong. “Aa kenapa sih? Kan Risna yang menyuruh mamah.” ucapnya.

“Maksudnya?” aku terkaget dan juga bingung dengan ucapannya.

“Iya, memang Risna yang nyuruh mamah buat main sama Aa.” Aku semakin bingung dengan ucapannya, apakah istriku mau ngetest kesetianku. Kalau memang iya, berarti sudah gagal lah aku.

“Gimana, Aa puas main sama mamah?”

“Emang maksud Risna tuh apa sih?” nadaku agak meninggi.

“Aa marah yah?” Pertanyaannya semakin membuatku bingung, kenapa harus aku yang marah? Seharusnya kan Risna yang marah karena aku telah berselingkuh dengan ibunya.

“Risna selama ini ngerasa belum bisa muasin Aa.” lanjutnya. “Risna sudah belajar sama mamah, semua yang mamah ajarin juga udah Risna praktekin, tapi tetep aja Risna masih belum ngerasa Aa belum terpuaskan. Mamah juga katanya bingung mau ngajarin Risna apalagi soalnya mamah sendiri belum tahu Aa sukanya kaya gimana, makanya Risna nyuruh mamah nyobain main ma Aa.”

Gila! Ibu dan anak sama edannya. Aku selama ini memang suka kikuk kalau sedang bercinta dengan istriku, Risna, karena selama ini aku biasa bermain dengan wanita-wanita yang sudah berpengalaman. Tapi apa selama ini Risna gak sayang sama aku sehingga dia tidak cemburu sama sekali aku bercinta dengan orang lain?

“Sebenarnya Risna sayang gak sama Aa?” aku bertanya penasaran.

“Ya sayang atuh, A!” jawabnya singkat.

“Tapi kamu kenapa gak cemburu Aa bercinta dengan orang lain?”

“Ah, Aa, orang lain siapa? Itu kan mamah Risna sendiri, ngapain juga pake cemburu, kalau Aa mainnya sama orang lain, baru Risna cemburu.”

“Emang tadi mamah bilang apa saja sama Risna?”

“Ya bilang yang Aa suka seperti apa, sukanya diapain… mau praktekin sekarang A?”

“Ayo,” jawabku singkat.

Risna langsung membuka celanaku dan mengeluarkan penisku. Dihisapnya penisku secara perlahan, memang hisapannya berbeda dari biasanya namun masih tetap lebih nikmat ibunya. Setelah penisku cukup keras, aku menyuruh istriku berhenti mengulumnya. Lalu aku menelanjangi istriku dan bersiap untuk merangsangnya. Kulumat mulut istriku, sambil kuremas-remas payudaranya. Payudara istriku memang tidak terlalu besar dibandingkan ibunya, mungkun hanya ukuran 34B, tetapi masih kencang dan kenyal saat diremas. Lalu aku buka kakinya hingga mengangkang dan hendak kujilati vaginanya. Namun ketika lidahku sudah menyentuh bibir vaginanya, istriku menolak.

“Jangan dijilatin ya, A… linu, langsung masukin aja ya?”

“Yah, Aa kan pengen ngerasain, Say.” jawabku kecewa.

Saat itulah terdengar suara ketukan di pintu kamar. “Teh, Teteh, chargeran HP mamah yang dipinjam teteh dimana?” tenyata mertuaku.

“Nih di meja, mah. Mamah ambil aja sendiri, teteh lagi nanggung nih, pintunya gak dikunci kok.” jawab istriku. Aku melirik padanya, menandakan protes terhadap istriku yang malah menyuruh masuk pada ibunya saat aku dan dia dalam keadaan telanjang.

“Gak pa-pa atuh, A… kan mamah juga sudah pernah liat Aa telanjang. Iya kan, mah?” jawab istriku sambil melirik ibunya yang sudah masuk ke dalam kamar. “Oh iya, mah, gimana sih caranya biar kalau dijilatin gak linu?” lanjut istriku lagi.

“Ya tetehnya rileks atuh, nyantai, jangan ditahan, nikmati aja.” jawab mertuaku.

“Yuk, A, cobain lagi ya…” pinta Risna padaku.

Duh, kacau nih, pikirku. Tiba-tiba moodku hilang dengan masuknya mertuaku itu. Tapi yah tanggung, kasihan juga istriku kalau sampai tak jadi main. Jadi aku coba jilat lagi vaginanya, namun masih sama. Ketika lidahku menyentuh bibir vagina, kaki istriku langsung merapat karena linu.

“Duh, teteh mah… nih, lihat mamah.” nampaknya mertuaku gemas melihat tingkah sang anak. Dia langsung membuka celana dalam dan mengangkatkan dasternya. Mertaku lalu berbaring dan mengangkangkan kakinya. “Coba, A, jilat punya mamah.” lanjutnya.

Aku agak sedikit ragu, kulirik istriku. ”Gak pa-pa, Ris?” aku bertanya.

“Iya, gak pa-pa atuh, A, kan Risna juga pengen tahu.” jawab istriku.

Aku lalu berpindah ke vagina ibu mertuaku. Memang vagina mertuaku sudah berkerut dan bibir vaginanya sudah bergelambir coklat, berbeda sekali dengan vagina istriku yang masih mulus kencang tidak bergelambir. Namun dari aromanya, vagina mertuaku lebih harum dari vagina istriku yang berbau pekat. Aku mulai menjilati bagian luar vagina mertuaku, bibir vagina yang bergelambirnya kuhisap-hisap. Mertuaku mulai mendesah, sedangkan istriku memperhatikan secara seksama di sampingku.

“Nih, teh, kaya gini… nyantai aja, ahhhh…” kata metuaku sambil mendesah.

Lalu aku jilati klitorisnya yang menyembul. Desahan mertuaku semakin menjadi. Saat itu juga istriku menarik tangan kiriku dan menempelkannya di vaginanya untuk kumainkan. Aku tak berhenti menjilati vagina mertuaku dan tanganku juga aktif di vagina Risna. Sekarang istriku pun mulai mendesah.

“Sudah, A, tuh jilati juga punya teteh.” kata mertuaku sambil beranjak mau pergi. Aku pun menghentikan jilatan di vaginanya.

“Mamah mau kemana? Jangan pergi dulu atuh, mah.” Istriku mencegah ibunya pergi.

“Sudah, Teteh terusin aja. Nanti mamah malah jadi pengen…” jawab mertuaku.

“Ajarin Teteh lagi atuh, mah. Kalau pengen, ntar sekalian dimasukin sama Aa. Mau kan, A?” Risna melirikku.

“Yah, gimana Risna sama mamah aja.” kataku pada akhirnya. Siapa juga yang bisa menolak kenikmatan seperti ini.

“Ya sudah, tuh terusin dulu jilatin punya teteh, A.” kata mertuaku.

Aku pun bersiap kembali menjilat vagina istriku yang dari tadi sudah mengangkang lebar. “Pelan-pelan ya, A.” kata istriku.

Perlahan mulai kujilati vaginanya. Pertama-tama aku jilati bulu-bulunya, lalu bagian luar secara perlahan. Risna mulai menikmati dan mengeluarkan desahannya. Kemudian kulanjutkan dengan bagian dalam vaginanya, perlahan-lahan klitorisnya kujilati. Saat klitorisnya kuhisap, istriku seperti tersentak kaget sambil memegangi tangan ibunya yang sudah ada di sampingnya.

“Linu, A.“ erang istriku. “Udah ya, A?!” pintanya.

mertua

Aku pun berhenti menjilati vagina istriku, lalu aku berganti ke payudara istriku. Kujilati puting kanan payudaranya, dan tanganku meremas payudara yang sebelah kirinya. Istriku sangat menikmati, desahannya semakin mengencang. Pada saat itu juga tiba-tiba penisku terasa hangat. Rupanya penisku sudah berada di mulut ibu mertuaku yang masih menggunakan daster. Sungguh terasa nikmat.

Melihat aku yang sedang menikmati kuluman mertuaku, istriku langsung bangun dan menyuruhku terlentang. Istriku memperhatikan secara detail kuluman mertuaku terhadap penisku. Melihat istriku yang memperhatikannya, mertuaku menyuruh istriku menggantikannya mengulam penisku. Kemudian dia membuka daster dan BH-nya sehingga telanjang bulat. Didekatkannya puting payudara yang sudah agak mengendur ke mulutku. Tanpa bertanya lagi, aku langsung menghisap dan menyedot puting itu.

“Masukin, Ris. Masukin!” aku sudah tidak tahan dengan kulumannya, kusuruh istriku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Istriku pun langsung menaikiku dan memasukan penisku ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia bergoyang, sedangkan mulutku masih menghisap puting mertuaku. Tanpa kusadari, tangan mertuaku memegangi pinggul istriku, memberikan arahan dalam bergoyang. “Nah, gitu, teh. Enak kan?” katanya sambil memberi arahan goyangan memutar pada istriku.

“Iya, mah… ahhh… Teteh mau keluar, mah… Aaahhhhhhh…” seketika itu vagina Risna mencengkeram erat batang penisku, tubuhnya mengejang. Dia sudah orgasme. Lalu istriku menghentikan goyangannya dan mengatur nafasnya.

“Gantian mamah ya?” kata mertuaku. Istriku turun dari atas tubuhku sambil menarik ibunya untuk menggantikan posisinya. Namun saat mertuaku hendak naik, aku menolaknya. Aku tahu kalau mertuaku sudah bergoyang di atas, aku pasti cepat keluar.

“Mamah di bawah dulu ya…” kataku sambil mendekap tubuh montoknya dan meletakannya dalam posisi telentang. Kumasukkan penisku ke vaginanya yang bergelambir, kudekap erat tubuhnya sambil kuciumi mulutnya. Kugoyang terus sambil terus kuciumi mertuaku. Kuciumi lehernya, kucupang sampai memerah.

“Ahhhh… terus, A! Iya, begitu! Enak banget…!” ucapan itu keluar dari mulut mertuaku.

Mendengar desahannya, semakin kupercepat kocokan penisku pada lubang vaginanya. Dan beberapa saat kemudian, tubuhnya mengejang, tangannya memelukku kencang, sementara vaginanya mencengkeram keras.

“Aa… mamah keluar… hah.. hah.. hah.. hah..“ nafas mertuaku masih terputus-putus. Sebenarnya saat tadi juga aku hendak keluar, namun kucoba tahan.

“Teh, sama teteh lagi nih.” kata metuaku.

“Gak ah, mah, teteh masih linu. Sama mamah aja ya, gak pa-pa kan, A?” istriku bertanya padaku.

Aku juga sebenarnya lebih menikmati mertuaku dibanding istriku, mungkin karena lebih berpengalaman. “Ya sudah, tapi ganti mamah yang di atas ya?” aku mengiyakan.

Kami pun bertukar posisi, sekarang mertuaku yang berada di atas. Pada saat penisku menancap di vaginanya, mertuaku tidak langsung menggoyang. Tapi justru ini yang paling aku suka, saat penisku serasa dicengkeram-cengkeram oleh dinding vaginanya.

“Enak, mah.” gumamku tanpa sadar.

“Ntar teteh ajarin yang itu ya, mah.” kata istriku.

“Iya, ntar mamah ajarin.” kata mertuaku dengan senyum bangga.

Tak lama kemudian mertuaku mulai bergoyang. Payudaranya yang sudah menggelantung terlihat naik turun sesuai irama. Dan seperti yang sudah aku kira kalau aku tak kuat lama kalau mertuaku yang di atas. “Nikmat, mah. Aa mau keluar nih. “ kataku.

“Keluarin aja, A. “ jawab mertuaku.

Kugenggam tangan istriku yang berada di sampingku, dan tak lama kemudian kurasakan nikmat yang tak terkira saat air maniku keluar, menyembur dari penisku, menghujam jauh ke liang vagina mertuaku. Crot.. crot.. crot.. crot..! “Arghhhhhhh…” aku menjerit penuh kepuasan.

Setelah selesai, mertuaku langsung turun. Masih dalam keadaan telanjang, dia lalu pergi meninggalkan kamarku. Sekarang tinggallah aku dan istriku. Kubelai rambutnya. Meskipun terasa gila, tapi kurasakan aku semakin sayang kepadanya.

“Ris…” aku memanggil.

“Iya, A.” sahut istriku.

“Kok bisa ya kamu berbagi seperti itu?” tanyaku yang masih heran.

“Risna sama mamah mah dari dulu sudah dekat banget. Apa-apa suka berdua, pergi kemana-mana berdua, tidur berdua, bahkan mandi juga kadang suka berdua sama mamah. Makanya kalau Aa main sama mamah ya udah, ga masalah buat Risna.” jawabnya.

“Jadi Risna juga berbagi suami sama mamah?”

“Ya nggak atuh, A. Aa tuh suaminya Risna, trus kalau mamah ya tetep aja mertuanya Aa. Ini kan cuma masalah seks aja, A. Risna juga kasihan sama mamah, semenjak bapak sakit sampai meninggal, mamah tuh gak pernah berhubungan badan gitu, palingan cuma masturbasi sendiri. Terus kan nanti kalau Risna lagi mens atau sehabis ngelahirkan, kan gak bisa main. Jadi kalau Aa mau, tinggal main sama mamah, Risna kan gak mau Aa jajan atau nyari di luar.” jawaban istriku begitu datar seperti yang biasa, padahal bagiku ini hal yang aneh dan juga begitu gila. Tapi yah kalau boleh jujur, aku merasa lebih puas main dengan mertuaku yang lebih berpengalaman.

***

Setelah saat itu, kami sering bermain bertiga, bahkan tak jarang kalau istriku sedang kerja, aku bermain dengan mertuaku, tapi dengan sepengetahuan istriku. Sekarang aku sudah 5 tahun menikan dan sudah dikarunia seorang anak. Sampai saat ini juga aku masih suka berhubungan badan dengan mertuaku, apalagi kalau istriku sedang datang bulan.

NURUL

Namaku Arif, aku bekerja di sebuah kantor BUMN. Aku sudah menikah selama 3 tahun dengan istriku. Walau kami belum dikaruniai anak, kami sangat bahagia karena istriku adalah orang yang pandai sekali menyenagkan suami. Sepertinya tidak ada habisnya sensasi, gaya, dan teknik yang istriku peragakan setiap kami bergumul di ranjang. Aku 7 tahun lebih tua dari istriku yang kini berusia 28 tahun.

jilbab montok bohay (9)

Beberapa waktu lalu, rumah kami semakin berwarna ketika adik bungsu istriku yang kuliah kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri tengah menjalankan Koass di salah satu Rumah Sakit negeri yang kebetulan berada dekat dengan rumah kami. Umurnya masih sangat muda sekitar 22 tahun, dia termasuk mahasiswi yang cerdas karena dapat menuntaskan studi tepat pada waktunya.

Jika dilihat dari wajahnya, dia lebih cantik dari istriku, ditambah wajahnya yang teduh dan keibuan. Walaupun tubuhnya aku taksir tidak sebagus tubuh istriku tapi masih diatas rata-rata wanita pada umumnya. Perbedaan lainnya, jka istriku senang berpakaian seksi dan menarik lawan jeNurnya, apalagi ditunjang dengan tubuh yang sangat aduhai. Adik dari istriku ini malah sebaliknya, dia menutupi kecantikannya dengan pakaian yang sangat longgar dan jilbab yang lebar. DItambah manset dan kaus kaki sehingga aku hanya bisa melihat wajahnya yang putih bersih dan telapak tangannya. Bahkan setiap aku ada di rumah dia tidak melepaskan jilbab dan kaoskakinya walau barang sebentar. Naman gadis cantik itu adalah Nurul.

jilbab montok bohay (14)

Kami lalui hari dengan wajar, aku bisa berangkat terlebih dahulu dengan mengantarkan istriku ke kantornya. Sedangkan Nurul terbiasa berangkat terakhir karena letak Rumah Sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Walau dalam hati aku menyimpan ketertarikan pada Nurul. Aku semakin bergairah ketika melihat tingkahnya yang sopan, murah senyum, dan lenggok pinggulnya ketika berjalan walau aku yakin bukan maksud dia untuk melakukan itu. Inner beauty yang terpancar ditambah bakat kecantikan den kemolekan tubuhnya selalu ia jaga dengan baik. Katanya hanya untuk suaminya saja, bahkan dia tidak mau pacaran walau saya yakin pasti banyak laki-laki yang menginginkannya. Jilbabnya yang lebar itu tidak dapat menutupi lekukan dadanya yang membusung. Jika istriku berukuran 38 B aku taksir besar tetek adik istriku itu sekitar 36 B. Tingginya yang semampai hampir mencapai 165 cm ditunjang tubuh yang tidak kurus juga tidak gemuk membuat mata laki-laki manapun pasti akan terkesima. Apalagi jika dirumah aku sering melihatnya hanya menggunakan daster saja walau wajah dan kakinya tidak dapat aku lihat, tapi aku dapat membayangkan bagaimana tubuhnya.

Terkadang ketika aku bergumul dengan istriku aku membayangkan sedang melakukan dengan Nurul, sikapnya yang tertutup pada laki-laki dan selalu menutup tubuhnya semakin membuatku penasaran. Hanya saja aku masih menghargainya sebagai adik dari istriku, dan sikapnya yang menjaga diri. Gayanya dan sikapnya yang renyah membuat siapapun jadi tidak sungkan untuk mengenalnya lebih dekat denganna walau ia tetap menjaga jarak.

jilbab montok bohay (15)

Suatu hari, sepulang kantor aku membuka DVD Blue Film yang baru aku pinjam dari teman kantorku, Blue Film yang aku tonton degan menggunakan komputer cukup bagus dimana Film tersebut tidak terlalu vulgar dan seronok yang membuat orang jijik. Itu membangkitkan gairahku, kudekati istriku yang sedang menonton tivi di ruang tengah, aku mulai mencumbunya dan dia pun membalas cumbuanku, tiba-tiba ku dengar pindu depan terbuka, pasti Nurul gumamku. “Tumben jam 9 baru datang Nur?” Tanya istriku, “Iya mbak, tadi praktik bedah dulu. O ya mas, boleh kan aku pakai ruang kerjanya, aku mau buat laporan” lanjut Nurul. “Silahkan aja, pakai sebabasnya dan jangan canggung disini” ujarku sambil menahan birahi yang baru saja naik. “Terima kasih ya mas” ucapnya. Setelah Nurul masuk kamar kamipun segera melanjutkan kegiatan kami dan pindah ke dalam kamar kami. Pergumulanpun semain seru karena istriku mulai mengeluarkan jurus-jurus barunya. Tapi tidak perlu ku ceritakan karena bukan ini inti cerita yang akan aku ceritakan. Setelah kami puas kamipun tertidur.

Aku terbangun sekitar pukul 1 dini hari, kulihat istriku masih terlelap kelelahan tanpa sehelai benangpun disebelahku. Aku keluar kamar untuk mengambil air minum dan memeriksa kondisi rumah. Kulihat sekilas Nurul masih di ruang kerjaku dan masih di depan komputer, setelah kupastikan semua pintu terkunci dan aku mengambil segelas air. Aku mulai perhatikan Nurul yang tampaknya tidak mengetahui keberadaanku. Aku puji kecantikanya dalam hati. matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan menawan. Namun…tiba-tiba aku melihat sesuatu yang ganjil. Mata Nurul masih memandangi layar komputer saat itu, tapi tangannya mulai menyusup dibalik jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang tertutup jilbabnya itu aku tahu apa yang dia lakukan. Dia meremas-remas teteknya sendiri, ku lihat matanya setengah terpejam bibirnya terbuka. mungkin dia sedang merasakan sensasi yang baru dia rasakan. “mhh..uuhhhmmm…aaahhh….” ku dengar desahan samar dari mulutnya, aku segera bergegas ke kamar untuk mengambil Handhone ku dan segera merekam kejadian langka ini. Tangan kanan Nurul masih terus meraba teteknya, kini rabaannya kian keras dan bersemangat dan tidak hanya itu aku lihat sepintas tangannya melepas kancing daster bagian atasnya, dan aku yakin dia memasukkan tangannya ke dalam teteknya. Kejadian itu terus aku rekam. Sesekali Nurul melengguh “uuhh…aahhh…mhh…..oohh…” matanya terus terpejam, bibir bawahnya dia gigit, terkadang kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri. Ternyata tidak selesai disitu, tangan kirinya mulai menuju ke selangkangannya, dia meraba memeknya sendiri dari luar dasternya. ku lihat jari tengahnya terus menggosok bagian tengah memeknya, aku zoom kamera HPku, dan melihat secara close up apa yang sedang dia lakukan. Nurul mulai menarik dasternya ke atas, walau masih menggunkan kaus kaki mulai terlihat betis atasnya yang sangat putih, sedikit-demi sedikit daster tersebut tertarik ke atas oleh tangan kiri Nurul. Pahanya yang putih mulus mulai tersingkap, kontolku mulai tegang melihat pemandangan iu. Sampai akhirnya tangannya berhenti ketika daster mulai sampai di bagian perutnya. Dan terpampanglah celana dalam Nurul yang berwarna putih. Tangan kiri Nurul terus bergerak masuk ke dalam celana dalamnya. Ku lihat tangannya terus bergerak-gerak diantara selangkangannya. Desahannya semakin menjadi, rangsangan yang sungguh hebat membuat dia tidak merasakan keberadaanku. “Auuuuww…oohh….ahhh….eehhhmmm…yyaaahhh ” racaunya. Sungguh pemandangan yang belum pernah aku lihat seorang wanita berjilbab yang tengah bermasturbasi tanpa melepaskan jilbabnya. Dulu saat kuliah aku pernah mengintip anak ibu kosku yang melakukan itu, tapi itu kurang menantang karena anak ibu kos ku itu sering mengumbar auratnya dan punya affair dengan salah satu teman kosku. Tapi ini pemandangan yang berbeda dan sungguh luar biasa.

jilbab montok bohay (10)

Gerakan tangan kiri Nurul di memeknya semakin cepat, dan remasan tangan kanan di teteknya semakin kuat. Ingin rasanya aku membantunya, tapi masih sibuk merekam dengan kamera handphoneku. Sesaat kemudian aku lihat dia mulai menghentikan aktifitasnya, nafasnya naik turun teratur, matanya masih terpejam, tapi aku tidak tahu apakah dia telah mencapai puncak kenikamatan atau belum karena aku tidak mendengar jeritan yang biasanya menjadi ciri wanita saat orgasme. Sebelum dia sadar aku segera bergegas menuju kamarku, dan mulai mereview kembali dari HPku apa yang baru aku saksikan tadi. Tanpa sadar aku melakukannya sambil beronani, sampai orgasme beberapa kali. Aku baru menyadari DVD Blue Film yang baru aku pinjam tadi, ternyata masih tertinggal dalam komputerku, aku yakin tadi tanpa atau dengan sengaja dia melihatnya. Aku yakin karena dalam DVD itu ada adegan wanita yang melakukan masturbasi, mungkin dia mengikutinya.

jilbab montok bohay (17)

Keesokan paginya, semua sepertinya biasa dan nampak wajar, istriku masih sibuk berdandan, maklum dandannya bisa sampai 2 jam sendiri. Aku memulai sarapan tanpa menunggu istriku, kemudian ku lihat Nurul sudah rapih dan keluar dari kamarnya. Dia sangat cantik dengan dandanannya yang sederhana, hanya berbalut bedak tipis dan lip glose seperlunya. Tapi ini adalah pemandangan fantastis, wanita yang apa adanya aku lihat menjadi jauh lebih cantik dibandngkan yang ber-make up. Jilbab warna pink dipadu kemeja putih dan rok panjang warna senada dengan jilbabnya membuat dia semakin cantik. Diapun tanpa merasakan apapun memulai sarapan paginya. Aku membuka obrolan pagi itu “Gimana Nur? laporannya selesai semalam?”, “Sudah selesai mas, terima kasih ya ruangan dan komputernya” katanya tenang. “Ngerjain laporan atau ngerjain yang lainnya?” sindirku, Nurul langsung terdiam dan menghentikan kegiatannya yang sedang mengambil nasi dari rice cooker. Wajah putihnya mulai bersemu merah, mungkin dia mulai menyadari aku melihat apa yang dilakukannya. “Tenang saja, kita kan sama-sama dewasa, tahu sama tahu lah dan aku pun tidak akan ceritakan ini ke kakakmu” ujarku sambil ku perlihatkan hasil rekaman di HPku. Wajah Nurul semakin tegang, keringat mulai membasahi wajahnya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, aku tahu dia sedang bingung, malu, dan mungkin takut juga. “Mungkin lain kali kalu mau jangan sendiri, aku siap membantu kamu sampai kamu puas” Bisikku. Tanpa menjawab dia langsung beranjak dari kursinya dan menyambar tasnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, yang aku tahu matanya yang berbicara, matanya nampak mulai penuh dibasahi air mata yang hendak meloncat keluar.

jilbab montok bohay (13)

Malamnya, aku berlaku seperti biasa seperti tidak terjadi apapun. Sedangkan Nurul seperti agak sungkan dan kaku setiap bertemu denganku. “Pah, tidur yuk, mamah dah ngantuk banget nich”, “Ya sudah tidur aja dulu, nanti papah menyusul”. Setelah kulihat istriku sudah tertidur lelap, aku beranikan diri mendekati kamar Nurul, yang nampaknya masih menyala terang, sepertinya dia masih belajar. Tok…tok…tok… aku mengetuk pintu kamarnya. “Siapa?” sahutnya dari dalam, saat dia buka pintu kamarnya, aku segera mendorong pintu itu sehingga Nurul agak tersungkur kebelakang. Aku kunci dari dalam pintu kamarnya, “Mass….mas mau apa? keluar dari kamarku”, “Kamarmu? apa kamu lupa kamu tinggal dimana?” sahutku agak tinggi, dia terdiam. “Kamu mau videomu tersebar kemana-mana? bahkan wajahmu close up di video itu, semua orang akan melihat apa yang kamu lakukan”, “A…apa mau mas?” ucapnya terbata. “Aku hanya mau kamu memuaskanku malam ini…”, “Ja…jangan mas, aku masih perawan, aku lakukan apa saja asal bukan melakukan itu”, “Buka!” perintahku ketika kontolku tepat berada di hadapan wajahnya. Dia mulai membuka celana pendek yang aku kenakan sampai ke lutut, Nurul agak terperangah meihat kontolku yang mulai tegang dan begitu menonjol seakan celana dalamku tidak sanggup memuatnya.

Dengan bergetar tangannya menurunkan celana dalamku dan kemudian menurunkannya hingga ke lutut. Tampak kini dihadapannya kontolku yang telah tegak mengacung bagaikan sebuah tombak yang siap dihujamkan. Tampak ragu dia meraih kontolku dengan sambil menundukkan kepalanya. Akupun meraih tangannya yang halus, dan menyentuhkannya ke kontolku, rasanya sangat nyaman, dimana kulit lembutnya menyentuh kontolku yang sudah mengeras, kokoh, otot-otot yang keluar menambah kesan sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai tersedu, tapi aku tak menghiraukan, aku maju mundurkan tangannya, sampai beberapa saat aku tak perlu menuntunna karena tangannya sudah faham apa yang harus dilakukannya. Nurul pun mulai berani menaikkan wajahnya dan menatap kontolku. Tak berapa saat aku merasakan sesuatu yang ingin melesak dari dalam tubuhku, sampai akhirnya…”aahh…..”aku melengguh disertai keluarnya sperma dari kontolku. “aaaauuwww….” Nurul tersentak kaget ketika spermaku keluar. Karena dia berada tepat didepan kontolku, muncratan spermaku mengenai wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan sebagian lagi ke jilbabnya. Aku tersenyum puas lalu ku tinggalkan Nurul yang masih terpaku.

jilbab montok bohay (11)

Esoknya aku melakukan hal yang sama. kali ini, aku tidak perlu membentak dan memerintahkan, Nurul sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Walau agak ragu, dia mulai berani menurunkan celanaku sendiri, sampai celana dalamku, dan memulai belaian lembut pada kontolku. dia tidak malu dan canggung seperti kemarin walu masih nampak wajah takut dan terpaksa melakukan itu. Aku memegang tangan kanannya, sambil membiarkan tangan kirinya tetap menggenggam kontolku yang hampir tak tergenggam tangan mungilnya karena diameternya yang hampir mencapai 7 cm. AKu renggangkan telapak tangannya dan aku tuntun melakukan gerakan mengusap pada ujung kontolku, telapak tangannya mengusap dengan melakukan gerakan memutar di ujung kontolku seperti yang sering istriku lakukan. Hal ini memberiku sensasi yang lebih, apalagi yang melakukan adalah seorang wanita yang polos tentang seks, alim dan selalu berjilbab, menjaga dirinya dan menutupi tubuhnya. suatu sensasi yang sangat luar biasa. Aku kembali mencapai puncak dan memuntahkannya diwajahnya. Kegiatan itu sering kami lakukan tanpa sepengetahuan istriku sampai beberapa waktu lamanya.

Pagi ini aku baru sampai dari kantor karena mendapat giliran piket, karena itu siang ini aku mendapat libur. Sampai di rumah suasana wajar setiap pagi seperti yang telah menjadi rutinitas. Istriku sudah siap berangkat ke kantor, dan taksipun telah menunggunya diluar. “Pah aku berangkat dulu ya..” sambil menciumku, tubuhnya indah dibalut blazer ketat dan rok yang sangat pendek, ahh…itu pemandangan biasa. “Mah…sekalian kunci ya pintunya” ujarku, “Nanti saja, Nurul belum berangkat, biar dia saja yang kunci pintu…” ujarnya sambil berlalu. “Hah..Nurul masih di rumah..padahal biasanya dia sudahberangkat pagi-pagi sekali” bisikku. “Kreeekkk…blak” kulihat intu kamar yang dibuka dan kemudian di tutup, ku lihat Nurul mengenakan jilbab warna puti sampai dibawah sikunya, gamis pink warna kesukaannya dan rok puti…manset dan kaos kaki putih pun sudha menghiasi lengan dan kakinya. Dia terperanjt melihatku sudah di dalam, dia langsung menundukkan wajahnya dan bergegas menuju pintu. “Nggak makan dulu Nur?” sahutku memecah keheningan,”Ngga mas..di RS aja, ngga enak sudah telat…” sambil terus menundukan wajahnya dan berlalu. “Eii…ttt…mau kemana?santai dulu di sini”, “Jangan mas…aku udah telat ke RS, nanti residentku marah” sahutnya ketakutan, “Apa peduliku…!”, langsung muncul niat di pikiranku, “Kamu mau video itu tersebar? kamu ingat? kamu tingga di rumah siapa? akan tinggal makan, tidur tinggal tidur…”, wajahnya semakin memerah sangat jelas karena kulitnya yang putih tidak dapat menutupinya. “Kamu juga harus punya pengorbanan…” lalu aku duduk di sofa depan TV yang biasa kami gunakan untuk menonton, aku masih berkemeja lengkap. “sini…duduk didepanku”, dia langsung memahami perintahku, wajahnya masih tertunduk, dan sama sekali tidak melihatku. Tanpa di suruh dia langsung membuka ikat pinggangku, lalu celanaku dan menurunkannya sampai ke mata kaki. Ahh…pemandangan yang sangat tidak ingin aku lewatkan, berdua dengan wanita cantik di rumah, dan yang paling penting, kami tidak melakukannya sembunyi-sembunyi di kamar, tapi di ruang tengah yang sangat luas, aku semakin terobsesi. Tanpa di suruh, Nurul langsung mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok batang kontolku yang mulai tegak. berapa saat kemudia, “berhenti…aku sudah bosan dengan cara itu, ganti dengan cara lain!!”, “Cara gimana mas…aku ngga ngerti” ambil terus tertunduk pasrah. “dengan mulut kamu….sekarang”, aku lihat tubuhnya merespon dengan sangat terkejut perintahku, hal yang tidak pernah sama sekali dia bayangkan. “semakin lama kamu melakukannya…semakin terlambat sampai RS…”bentakku. Nurul pun mulai menuruti perintahku, didekatkan bibirnya yang mungil itu ke kontolku, ketika bibirnya yang lembut, hangat dan basah oleh lipglose itu menempel ujung kontolku, aku merasakan sensasi yang luar biasa. Cara menciumnya pun sangat aneh, karena dia tidak pernah melakukannya sama sekali, tapi aku biarkan karena di situ seninya, melihat wanita alim yang masih polos melakukan oral sex. Aku tertawa dalam hati, dan menikmati apa yang ada di hadapanku. Mungkin sudah insting, ciumannya mulai mengitari seluruh kontolku, bahkan sesekali dia basahi dengan lidahnya. Dia melakukannya dengan mata yang selalu terpejam, kuberanikan memegang punggungnya, aku rasakan detak jantungnya berdebar sangat keras hingga ke punggung.

“ahh…nikmati sekali Nurul sayang….terus sayang…kulum semuanya…seperti kamu mengulum permen lolipop ketika kamu kecil dulu” ujarku sambil mulai berani mengusap dan membelai jilbabnya. Dengan ragu Nurul memasukkan kontolku ke rongga mulutnya, aku tidak tinggal diam aku segera mendorong kepalanya semakin masuk, sehingga dia tahu apa yang harus dia lakukan….Tangaku mulai berani menyusup ke balik jilbabnya, dan menemukan sebuah gundukan yang sangatlembut terbalut bra, “mhh…cuma 34B tapi lembut dan indah sekali” desisku. Nurul terperangah, dan langsung tangannya memagang tanganku dan menjauhkannya dari dadanya. “Diam!!!” bentakku. Dia terdiam, dan matanya mulai meneteskan air mata. Lalu tangan kananku memegang bagian belakang kepalanya dan memaju mundurkan kepalanya, sehingga bibirnya yang lembut beradu dengan lapisan kulit kontolku, aku merasakan sensasi yng sangat luar biasa dan tidak pernah aku dapatkan. tangan kiriku kembali bergerilya di teteknya, kali ini tidak ada perlawanan, bahkan ketika aku mulai meremas teteknya yang lembut. Aku merasakan putingnya semakin mengeras, tanda dia mulai terangsang dan menikmatinya. Sampai beberapa saat akhirnya “aaahh…aauuww…” Aku mengejang, dan seketika muncullah sperma hangat dari ujung kemaluanku. Nurul kaget bukan kepalang, dia berusaha mengeluarkan kontolku dari mulutnya, tapi itu sia-sia karena tangan kananku menahannya. Akhirnya spermaku muntah di rongga mulutnya…..dia hanya bisa tergugu dan diam dengan mulut yang masih mengemut kontolku. ketika ku cabut, spermaku meleleh dari bibirnya yang manis, dan diapun memuntahkannya…ahhh…indah sekali. dia langsung berlari ke wastafel untuk memntuahkan apa yang baru ditelannya. dia meludah terus menerus, sambil terus senggukan menahan tangis. Lalu dia pun masuk ke kamar. aku masih menikmati ejakulasi terindah yang pernah aku rasakan, sambil tetap duduk di sofa tengah.

jilbab montok bohay (12)

Tak berapa lama, Nurul keluar dari kamarnya, dengan jilbab dan gamis yang baru, mungkin karena kusut dan terkena cipratan spermaku. Walaupun tetap dengan wajah menunduk, tai dia mulai berusaha bersikap biasa, dan berani mencairan suasana. “Mas…aku berankat dulu”, “Iya…hati-hati ya…rahasiamu aman denganku”. Malam harinya aku bergumul hebat dengan istriku hingga aku terlelap. Sebenarnya aku ingin sekali segera memiliki buah hati, tapi itu belum terjadi, ya sekarang sih aku puas-puasin dulu dengan istri. Saking terlelapnya aku tidak tahu kapan Nurul datang. Jam 2 dini hari aku terbangun lagi, dan seperti biasanya aku mengambil minum di kulkas. Ku lihat kamar Nurul masih terang, “mhh…rajin sekali belajarnya”, lalu ku ketuk pintu kamarnya, libidoku pun mulai naik lagi. “Nur…buka pintunya” ujarku. “I…iya mas…”, agak lama dia membuka pintunya karena biasanya dia mengenakan jilbabnya dulu sebelum menemuiku. “belum tidur ya?”, “Belum mas, masih ada tugas…mhh…boleh aku pinjam lagi komputernya mas?”, “Tentu saja boleh…tapikamutahu syaratnya bukan?”, dia terdiam…mungkin bingung, dia tahu arah pertanyaanku, tapi dia tidak ingin melakukannya. Mungkin tidak ada pilihan lagi, seketika dia segera menjalankan tugasnya, anehnya kali ini dia sangat buas mengulum kontolku, dia seperti sudah lihai dengan tugasnya, “ah…mungkin dia mencontoh dari DVD BF yang dulu dia tonton di komputerku”, “mulutnya terus membasahi kontolku, terus melakukan gerakan mengurut dan merangsang agar kontolku segera mengeluarkan lahar putihnya. Pemandangan yang luar biasa, dengan daster yang lebar dan mengenakan jilbab kaos putih ang sangat lebar. Dan dia pun hanya diam ketika dua tanganky menyelinap dibalik jilbabnya dan mulai meremas teteknya. Aku perhatikan mukanya mulai memerah, kadang nafasnya tertahan dan mulai memburu. DIa tarangsang…aku yakin sekali, dia juga manusia yang punya hasrat. Sesaat kemdian kontolku mulai bergetar dan segera melesakkan lahar putihnya, Nurul kaget dan spontan mengeluarkan kontolku dari mulutnya, aku tidka dapat menahannya karena tanganku sedang sibuk meremas teteknya. Seketika spermaku menyembur di wajahnya, mengenai matanya, bibirnya, dan pipinya yang merona merah. “Ahhh….” aku kaget mendengar kata itu keluar dari bibirnya. “bersihkan!” serta merta bibir dan lidahnya membersihkan sperma yang masih menempel di kontolku.

Akhirnya, kegiatan ini sering saya lakukan, walaupun tetap aku paksa, namun dia sudah tidak canggung untuk melakukannya. Bahkan, dia semakin lihai agar membuatku segera ejakulasi. Mungkin itu dia dapatkan dari pelajaran di kuliahnya, dia tahu titik rangsang yang paling sensitif.