NYAI SITI 3 : ROHMAH

Rohmah dan Wiwik baru saja pulang dari jalan-jalan di sekitar desanya. Keduanya nampak anggun dengan memakai jubah dan jilbab lebarnya. Kecantikan dan kemolekan tubuh mereka membuat keduanya menjadi incaran pemuda kampung. Tetapi tidak ada yang benar-benar berani mendekat karena takut dengan Kyai Kholil.

Dewo merencanakan akan memperawani anak Nyai Siti dulu, dia meminta Nyai Siti untuk memasukkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam minuman Rohmah. Dan kemudian meminta Nyai Siti untuk mengajak keluar Wiwik selama beberapa jam. Nyai Siti dengan tanpa membantah mematuhinya.

Sesampainya di rumah, Nyai Siti menyambut mereka dan kemudian menyodorkan minuman. Rohmah tanpa curiga langsung menghabiskan minumannya dan kemudian pergi ke kamarnya. Nyai Siti dengan perasaan bersalah namun tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian meminta Wiwik untuk mengantarkannya ke rumah sanak keluarga di desa sebelah dengan terlebih dulu memberitahu anaknya, si Rohmah.

jilbab legging ketat-tikha (1)

”Mah, Umi mau pergi ke rumah budhe-mu dulu sama Wiwik, kamu hati-hati ya di rumah.” katanya.

”Iya, Mi.” sahut Rohmah dari dalam kamar.

Maka berangkatlah Nyai Siti dan Wiwik dengan mengendarai sepeda, meninggalkan Rohmah berdua dengan Dewo.

Minuman yang diberikan Nyai Siti atas perintah Dewo ternyata bukan hanya obat perangsang saja, tetapi juga telah diberi mantra pelet. Setelah lima belas menit, Rohmah mulai kelihatan gelisah, birahinya perlahan memuncak. Tanpa sadar tangannya mulai meremas-remas payudaranya sendiri. ”Kenapa aku jadi begini?” batin Rohmah dalam hati, ia menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya, tapi sama sekali tidak tahu penyebabnya dan sekaligus tidak bisa melawan.

Malah seperti dituntun oleh kekuatan gelap, Rohmah keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu dengan masih melanjutkan remasan pada buah dadanya. Dewo yang mengintai dari balik pintu ruang tengah perlahan berjalan mendekat dan bertanya, ”Neng Rohmah, kenapa susunya diremas-remas, gatal ya?” tanya Dewo dengan seringai mesum.

Rohmah tidak menjawab, tapi masih terus melanjutkan remasan tangannya. Ia tidak bisa menghentikannya, padahal tahu kalau perbuatan itu salah. Bahkan kini ada paman Dewo di depannya yang menonton dengan liur meleleh di bibir.

Merasa kalau obat perangsang dan mantra peletnya sudah bekerja sempurna, Dewo makin berani bertindak. ”Mau saya bantu?” tanyanya kemudian.

Dan Rohmah seperti orang linglung, hanya mengangguk mengiyakan.

Melihat kesempatan itu, Dewo langsung meremas susu mulus Rohmah. Bisa dirasakannya payudara Rohmah yang baru tumbuh begitu empuk dan kenyal di genggaman tangannya. Beda sekali dengan punya Nyai Siti yang besar dan bulat, tapi sudah agak kendor. Payudara Rohmah masih terasa ’utuh’, nyata kalau benda itu tidak pernah terjamah oleh tangan-tangan yang tidak berhak. Tapi sekarang Dewo berhasil menguasainya.

Dengan tidak sabar, Dewo menelusupkan tangannya masuk ke dalam BH mungil Rohmah. Sekarang bisa dipegangnya payudara gadis itu secara langsung. Ukurannya pas dengan cakupan tangannya, dengan puting mungil yang masih terasa sedikit rata. Dewo meremasnya, bergantian kiri dan kanan, merasakan teksturnya yang empuk dan kenyal, juga begitu hangat dan lembutnya benda itu. Tak lupa juga putingnya yang mungil ia pijit dan pilin-pilin sedemikian rupa hingga perlahan membuatnya makin menegak dan menegang keras.

jilbab legging ketat-tikha (2)

Mendapat perlakuan seperti itu, Rohmah yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki, jadi kelojotan sendiri. Tubuh mudanya perlahan mengejang dan menggelinjang, rintihan dan desisan silih berganti keluar dari bibir mungilnya. Apalagi ditambah obat perangsang Dewo yang makin kuat mencengkram iman tipisnya, dalam waktu sekejap, ia langsung orgasme. Cairan kewanitaan menyembur deras dari relung liang memeknya yang bahkan belum diapa-apakan oleh Dewo.

Melihat Rohmah sudah terkulai kelelahan dalam pelukannya, Dewo tersenyum semakin lebar. Nyai Siti saja yang sudah sering memberikan pengajian kepada ibu-ibu, takluk kepada dirinya, apalagi anak bau kencur seperti Rohmah, dengan mudah Dewo menjalankan rencananya. Tanpa perlu sungkan-sungkan lagi, ia pun bertanya. ”Neng Rohmah, mau nggak melihat kontol Paman?”

Rohmah hanya tersipu malu menanggapi, tapi matanya tetap melirik ke arah tonjolan besar yang ada di selangkangan Dewo. Ia pasrah saja saat Dewo menarik tangannya dan meminta agar gadis itu mengelus-elus pelan batang penisnya. Dari luar celana saja benda itu sudah terasa begitu keras dan panjang, saat mencoba menggenggamnya, tangan mungil Rohmah tidak bisa mencakup semuanya. Rohmah sedikit terhenyak menghadapinya. ”Gede banget, Paman!” lirihnya antara takut dan suka.

jilbab legging ketat-tikha (3)

Dewo kemudian memelorotkan celananya, juga celana dalamnya, hingga kontol hitamnya yang sebesar pisang ambon tegak mengacung di depan Rohmah. Dengan sabar terus dibimbingnya tangan anak Kyai Kholil itu agar tetap menggenggam dan mengelus-elusnya pelan. ”Ayo, Rohmah, emut dan sepong kontolku, pakai bibirmu!” kata Dewo saat mulai tak tahan. Ia memang paling suka kalau kontolnya diemut oleh perempuan. Bahkan dengan Nyai Siti, Dewo lebih banyak ejakulasi di mulut perempuan cantik itu daripada di memek Nyai Siti yang sempit.

Tidak membantah, meski agak sedikit kesulitan pada awalnya, Rohmah mencoba mengoral kontol Dewo. Ia mencoba menelannya bulat-bulat, tapi hanya muat kepalanya saja. Akhirnya Rohmah hanya menghisap ujung kontol Dewo sambil sesekali lidahnya terjulur untuk menjilati batangnya yang berurat tebal, tanpa pernah bisa melahapnya sama sekali. Dewo yang merasa tanggung dengan sepongan Rohmah, segera memberi tahu cara yang benar.

”Tahan nafasmu, Neng Rohmah. Anggap saja Neng lagi makan eskrim, nanti lama-lama juga bakal terbiasa sendiri.” kata Dewo memberi saran.

Rohmah segera mengikutinya. Dengan saran Dewo, ia mulai bisa menyepong kontol walaupun tetap terlihat agak sedikit kaku. Tapi sudah lumayan dibanding yang tadi. Sekarang sudah hampir setengah kontol Dewo yang masuk ke dalam mulutnya. Dewo juga mulai merasakan nikmat, bahkan lama-lama ia menjadi tak tahan hingga tanpa sadar mulai memegang kepala Rohmah yang masih terbungkus jilbab dan menggerakkannya maju-mundur dengan cepat. Ia memompa kontolnya ke mulut mungil gadis muda itu, sampai akhirnya…

Crooot! Crooot! Crooot! Spermanya muncrat memenuhi mulut basah Rohmah. ”Aghmph… uhuk, uhuk!” Rohmah sedikit kaget dan terbatuk-batuk saat menerimanya, tapi sama sekali tidak bisa menolak.

jilbab legging ketat-tikha (4)

”Ayo, Neng telan maniku! Aarrghhh… aku keluar!!” erang Dewo sambil menembakkan seluruh isi kontolnya ke mulut Rohmah.

Tidak ingin tersedak, dan juga penasaran ingin merasakan rasa air mani, Rohmah segera menelan seluruh sperma Dewo. Ia jilati seluruh cairan putih kental yang keluar dari kontol Dewo hingga tidak tersisa sedikitpun, bahkan yang masih menempel di batang penis Dewo juga ia hisap hingga bersih. Rasanya ternyata tidak sejijik yang ia bayangkan. Rasa mani Dewo ternyata cukup enak juga. Rohmah menyukainya. Gadis itu sama sekali tidak sadar kalau itu akibat dari obat perangsang yang ditaruh Dewo dalam minumannya. Rohmah yang tadinya lugu dan pendiam jadi nakal dan liar seperti sekarang.

Melihat Rohmah berani menelan maninya, Dewo merasa yakin bahwa gadis itu kini sudah benar-benar berada dalam genggamannya. Ia tidak perlu merapal lagi mantra peletnya untuk membuat Rohmah semakin bertekuk lutut dalam dekapannya. Maka, sambil tersenyum puas, Dewo pun kemudian meminta Rohmah untuk berjanji, ”Apakah kamu mau menjadi lonte, gundik dan budak seks-ku, Cah Manis?”

Tanpa membantah dan berpikir lagi, Rohmah segera mengangguk mengiyakan. ”Iya, Paman!”

”Apakah kamu menyerahkan segenap jiwa ragamu untuk kontolku?” tanya Dewo sambil menatap lekat mata gadis muda itu.

Rohmah dengan takzim menjawab, ”Aku akan selalu menjadi milik Paman, apapun yang Paman mau dan perintahkan akan saya laksanakan. Kontol Paman Dewo adalah segalanya bagiku, seluruh tubuhku hanya untuk kontol Paman. Mulutku, memekku dan anusku milik Paman semua. Paman boleh memasuki kapan dan dimanapun Paman ingin!”

Dewo tertawa terbahak-bahak. Tambah satu lagi koleksi budak seksnya, dan kali ini adalah anak bau kencur putri Kyai Kholil. Setelah mendapatkan ibunya, kini ia mendapatkan anaknya juga. Sungguh beruntung dirinya. Tinggal Wiwik, adik Nyai Siti, yang belum. Tapi itupun juga tidak akan lama karena Dewo sudah merencanakan sesuatu pada gadis itu. Setelah semuanya bertekuk lutut, baru Dewo akan tenang menjalani sisa hidupnya.

Melihat Dewo cuma tertawa-tawa sambil memandangi dirinya, Rohmah buru-buru menambahkan. ”Bahkan Paman juga boleh mengencingi saya jika Paman mau, akan kubersihkan dengan mulut saya setelah Paman buang air. Apapun hanya untukmu, Paman Dewo.” kata gadis muda itu.

Mendengar janji Rohmah yang begitu muluk, Dewo tertawa semakin keras. Ia bagai malaikat saja di hadapan anak Kyai Kholil ini, pas sekali dengan namanya; Dewo! benar-benar seperti Dewa, begitu kuat dan perkasa, juga begitu berkuasa. Tidak ingin menyia-nyiakan keberadaan Rohmah yang sudah pasrah sepenuhnya, Dewo berniat untuk memperawani mulut, memek dan anus gadis cantik itu dengan kontolnya, sekarang, saat ini juga!

”Neng Rohmah, sekarang kamu lepas jubah dan celana dalammu. Setelah itu sepong kontolku sekali lagi, manisku!” kata Dewo dengan tersenyum buas.

Tanpa diminta dua kali, Rohmah pun melakukannya. Bahkan dia tampak melakukannya dengan terburu-buru karena sudah tak sabar untuk memegang dan mengemut kontol Dewo sekali lagi. “Sudah ngaceng lagi ya, Paman… gede banget, Rohmah suka!” desahnya lirih ketika kontol Dewo mengacung tegak di depan wajahnya yang cantik. Dielusnya perlahan batang kemaluan itu sebelum mulai menjilati ujungnya. Tampak matanya yang lentik menatap gemas ke arah kontol panjang Dewo.

“Arghh… terus, Budak cilikku! Hisap pakai mulutmu!” erang Dewo ketika Rohmah mulai mengulum kepala penisnya.

Rohmah terus menjilati lubang kencing Dewo, sebelum akhirnya mulai melahap dan mengulumnya setelah ujung kontol itu mulai melelehkan cairan beningnya. Sambil mengemut sebisa mungkin, tangan mungil Rohmah mengocok lembut batang kontol Dewo, sesekali juga diremasnya perlahan buah zakar laki-laki tua itu. Mendapat perlakuan seperti itu, rasa nikmat yang tiada tara langsung menghinggapi tubuh kurus Dewo, meski Rohmah hanya menghisap sebagian batangnya, tapi itu sudah cukup untuk membuatnya mengerang dan mendesis keenakan.

jilbab legging ketat-tikha (6)

”Ya, terus begitu, Neng! Masukkan semuanya, jangan sampai ada yang tersisa!” Dewo memperhatikan kepala Rohmah yang masih tertutup jilbab bergerak maju mundur secara teratur menghisap batang penisnya. Gadis itu sama sekali tidak mengeluh meski kontol Dewo membuat mulutnya ngilu karena saking besarnya. Justru Dewo yang merintih kecapekan karena kelamaan berdiri. Ia pun segera pindah ke kursi dan meminta Rohmah untuk jongkok di hadapannya, ia menyuruh gadis itu untuk kembali mengemut dan menjilati kontolnya.

“Isep lagi ya, Neng. Paman masih belum puas.” kata Dewo lirih.

Kembali mulut Rohmah hinggap di penisnya, menghisap lembut disana sambil sesekali menggigiti ujungnya yang sudah memerah tajam. Cairan bening yang terus keluar dari lubang kencingnya ditelan semua oleh Rohmah tanpa rasa ragu. Gadis belia itu sudah benar-benar berubah liar sekarang, sama seperti ibunya. Dewo tertawa senang melihatnya. Sambil mengelus-elus kepala Rohmah yang masih tertutup jilbab, diperhatikannya bagaimana kontolnya yang besar menyesaki mulut Rohmah yang mungil. Rasanya benar-benar begitu nikmat.

Puas menikmati mulutnya, Dewo lalu meminta Rohmah untuk bangkit berdiri. Ia cium bibir gadis itu sambil meremas-remas tonjolan bukit payudaranya yang baru tumbuh dengan gemas. Tangan Dewo juga menyusup ke celah selangkangan Rohmah dan mulai mengusap-usap memeknya yang sudah terasa basah. Ia buka paha gadis itu sedikit lebih lebar untuk mengelus-elus lubang serta itilnya. Tubuh mulus Rohmah kontan menggelinjang mendapat serangan beruntun seperti itu, ia memekik dan merintih-rintih di dalam dekapan Dewo, tapi sama sekali tidak menolak. Seperti janjinya tadi, ia rela menerima apapun perbuatan Dewo pada tubuhnya!

Dewo yang sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini, dengan kontol berdiri tegak, segera melepaskan pelukannya dan tidur telentang di lantai. Rohmah yang sudah telanjang bulat duduk bersimpuh di sebelahnya dengan muka menunduk merah, tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Maklum, ini adalah untuk pertama kalinya ia bersetubuh, dan selama ini ia belum pernah mendapatkan pendidikan apapun tentang seks dari kedua oarng tuanya. Bagi Kyai Kholil, adalah tabu membicarakan hal seperti itu dalam keluarganya. Maka jadilah Rohmah seperti kerbau yang dicocok hidungnya menghadapi Dewo yang sudah berpengalaman, tanpa membantah ia menuruti apapun perkataan laki-laki tua itu.

Tanpa memberi tahu Rohmah apa yang akan ia lakukan, Dewo membimbing gadis muda itu agar ikut telentang di sebelahnya. Rohmah menurut. Ia juga tidak membantah saat Dewo mengangkat kedua kakinya hingga ke pundak, membuat memeknya yang tadi tersembul malu-malu kini jadi terekspos dengan jelas. Lubangnya yang mungil tampak membelah tipis, dengan lorong berwarna kemerahan yang sangat kecil, rambut-rambut halus tampak mulai tumbuh di sekitarnya, tapi masih belum begitu panjang. Dilihat dari segi manapun, sepertinya mustahil bagi kontol Dewo untuk menembus memek sekecil itu. Rohmah benar-benar masih perawan! Dewo tersenyum saat melihatnya. Ia benar-benar beruntung hari ini.

Pelan, Dewo memposisikan dirinya hingga ujung kontolnya tepat berada di depan lubang memek Rohmah. Bisa dirasakannya kalau memek itu seperti menolak kehadirannya. Begitu sempitnya hingga kontol Dewo seperti membentur dinding saat mencoba menerobosnya.

”A-aduh… sakit, Paman!!” rengek Rohmah saat Dewo terus merusaha menekan kontolnya.

”Diam kamu, Lonte! Tahan… katanya kamu mau kuperawani!!” ancam Dewo dengan pinggul terus terdorong ke depan. Pelan tapi pasti, setelah usaha berkali-kali yang cukup menguras keringat, akhirnya batang kontolnya perlahan menggelosor masuk. Meski terasa kesat dan sangat sempit, Dewo terus memaksakannya, tak peduli dengan Rohmah yang merintih-rintih dan menjerit pilu di bawah tubuhnya.

”Diam kamu! Atau mau kupukul?!” hardiknya.

Rohmah langsung terdiam. Untuk menahan rasa sakitnya, dia kemudian menggigit bibirnya agar tidak dimaki lagi oleh Dewo.

Begitu kontolnya sudah menancap semua, tanpa memberi kesempatan memek Rohmah untuk menyesuaikan diri, Dewo mulai menggenjot tubuhnya dengan kasar. Rohmah yang menerimanya cuma bisa menangis dan merintih sepelan mungkin, ia tidak ingin membuat Dewo jadi tersinggung. Rohmah ingin Pamannya itu benar-benar menikmati saat-saat mengambil keperawanannya, tak peduli meski dirinya merasa sakit dan terhina. Apapun akan sekuat tenaga ia tahan, yang penting Dewo merasa nikmat.

jilbab legging ketat-tikha (7)

Darah perawan Rohmah yang mulai merembes keluar membuat kontol Dewo menjadi hitam kemerahan. Sambil terus menggoyang, tak henti-henti ia memijiti tonjolan buah dada Rohmah yang tersaji indah di depannya. Putingnya berulang kali ia pilin dan cubit keras-keras hingga membuat Rohmah menggelinjang kesakitan, namun tetap tidak mau berteriak. Gadis itu benar-benar pasrah pada Dewo. Untunglah setelah beberapa saat, Rohmah yang tadinya kesakitan kini merasa keenakan. Memeknya sudah mulai melar dan menerima kehadiran kontol besar Dewo. Benda itu bahkan mulai mengucurkan cairan pelumas lebih banyak lagi untuk membantu Rohmah menahan gempuran si kakek tua.

”Terus entot aku, Paman!” pinta Rohmah semakin memanjakan Dewo. Tubuh mungilnya bergerak seirama dengan goyangan badan Dewo yang menindihnya dari atas. Terkadang erangannya berhenti saat Dewo menyodorkan jemarinya untuk dihisap.

Sambil terus menggenjot, Dewo sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga dapat menghisap bulatan payudara Rohmah. Enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini sambil memompa kontolnya naik turun dengan liar. Gemas Dewo melahapnya sambil sesekali menjilati puting merah mudanya yang tegak menantang. Perbuatannya itu membuat erangan Rohmah semakin keras terdengar, Dewo jadi semakin bergairah dibuatnya.

”Oughhh… Paman, aku mau keluar! Ooughhh…!!” tanpa bisa ditahan, gadis itupun klimaks. Cairan cintanya yang keluar bersamaan dengan darah perawannya membuat lantai keramik putih yang menjadi alas persetubuhan mereka berubah warna menjadi merah, terutama disekitar pantat Rohmah.

Tapi bukannya jijik, Dewo malah jadi sangat bernafsu dibuatnya. Goyangannya menjadi semakin liar dan brutal, begitu juga pilinan jari-jarinya di bukit payudara Rohmah, hingga membuat putri Kyai Kholil itu menjerit dan merintih semakin keras. ”Ahh, Paman… ehssh! Arghh!” tubuhnya menggelinjang dan makin terkulai pasrah dalam dekapan Dewo. Dia telah dua kali mengalami orgasme, tetapi tampaknya kontol si Dewo masih belum terpuaskan. Benda itu terus menusuk dan mengobok-obok memek sempitnya yang kini sudah tidak perawan lagi, dan terus bergerak liar disana sampai Dewo mencabutnya tak lama kemudian.

Rohmah sedikit bernafas lega saat sumbat di memek sempitnya terlepas. Dia kira permainan ini akan segera berakhir, namun ternyata dia salah. Bukannya berhenti, Dewo malah meminta Rohmah agar membersihkan darah perawannya yang berceceran di lantai dengan menjilatinya. Tak bisa menolak, Rohmah pun melakukannya. Dengan sedikit menungging, ia menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat. Selama dia bekerja, Dewo tak henti-henti meremas pantat mulusnya sambil sesekali salah satu jarinya menusuk masuk lubang anus Rohmah yang masih tertutup rapat. Rohmah sedikit berjengit saat menerimanya, namun tidak bisa menolak. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Dewo selanjutnya.

Setelah lantai kembali bersih, Dewo kemudian memberinya perintah lain. ”Isep lagi kontolku, pelacur cilik!” bisiknya dengan muka merah padam akibat menahan gairah.

Tanpa banyak bertanya, Rohmah kembali mematuhi. Dengan bibir merah karena belepotan oleh darah, ia menjilati kontol besar Dewo yang tersaji mantab di depan mulutnya. Setelah bersih, dia kemudian berkata pada Dewo. ”Sudah, Paman. Sekarang apalagi yang bisa kulakukan untuk Paman?” tanyanya menantang.

Merasa disepelekan, Dewo segera meminta Rohmah untuk menungging. ”Sebenarnya aku ingin melakukan ini di permainan kita yang kedua nanti, sama seperti yang kulakukan pada ibumu. Tapi karena kamu yang meminta, terpaksa akan aku lakukan sekarang.” jelasnya sambil mengelus-elus pantat mulus Rohmah yang tersaji indah di depannya. Dewo kelihatan sudah tak tahan ingin cepat-cepat mencicipi benda bulat itu.

”Lakukan, Paman. Apapun yang Paman inginkan, jangan sungkan-sungkan untuk memintanya. Tubuhku milik Paman sepenuhnya!” kata Rohmah.

Melihat kepasrahan gadis muda itu, Dewo pun segera menyiapkan kontolnya. Berpegangan pada bokong Rohmah yang bulat sekal, dia mulai menusukkannya ke depan, menerobos memek sempit Rohmah dari belakang. “Tahan, gundikku. Akan aku berikan kepuasan pada lubang anusmu sekarang!” kata Dewo menyeringai.

jilbab legging ketat-tikha (8)

”Silahkan, Paman. Perawani bokongku sesuka Paman.” balas Rohmah tanpa rasa takut sedikitpun. Setelah kehilangan keperawanannya, ia benar-benar bisa lepas menyalurkan hasrat seksnya. Apalah bedanya kehilangan ’lubang’ satu lagi, kalau tidak sekarang, toh Dewo bakal memintanya juga suatu saat nanti.

Rohmah menahan nafas saat merasakan air liur Dewo yang membasahi lubang anusnya. Dewo meludahinya berkali kali sambil terus berusaha menguak dengan jari-jarinya hingga lubang anus Rohmah perlahan mekar dan terbuka, semakin lama menjadi semakin lebar. Setelah dirasa cukup, barulah Dewo menempatkan batang kontolnya persis di tengah lubang dan mulai mendorong. Belssh! Dengan agak seret kontolnya menerobos masuk. Rohmah hanya bisa diam menahan sakit. Terasa kontol panjang Dewo mentok hingga ke usus besarnya.

”Oohhh… Sempit sekali bo’olmu, Neng.” desis Dewo penuh kepuasan. Jepitan anus Rohmah tak kalah dengan cekikan dinding memeknya. Dewo menyukainya. Perlahan ia mulai menggenjot pinggulnya untuk menyodomi anus Rohmah dari belakang. Sambil melakukannya, sesekali Dewo juga menampar dan memukul pantat gadis muda itu serta meremasi buah dadanya yang menggantung indah.

”Ooughhh… enak, Paman… nikmat… terus… terus entot tubuhku, Paman… lebih keras… lebih cepat…” rengek Rohmah untuk menyenangkan hati Dewo. Sama seperti pada memeknya tadi, awalnya memang sakit, tapi lama kelamaan berubah menjadi enak, bahkan cenderung menjadi nikmat. Sangat nikmat malah hingga Rohmah mencapai klimaksnya tak lama kemudian. Cairan cintanya kembali membanjir keluar membasahi lantai keramik.

Dewo yang melihatnya menjadi begitu bergairah. Dipeluknya tubuh mungil Rohmah yang masih berkedut-kedut pelan sambil terus menggerakkan batang kontolnya semakin cepat di liang vagina gadis itu. Jepitan anus Rohmah yang semakin terasa kencang membuat Dewo tak mampu lagi menahan gejolak birahinya. Tak perlu waktu lama, iapun menyusul Rohmah.

Seperti biasa, beberapa detik sebelum pejuhnya meledak keluar, Dewo cepat-cepat menghentikan genjotannya dan menarik keluar batang penisnya. Memutar tubuh, ia berikan daging panjang itu kepada Rohmah. ”Emut, nduk!” perintahnya dengan tubuh gemetar dan badan mengkilat oleh keringat.

Rohmah segera membuka mulutnya dan melahap kontol Dewo semampu mungkin. Dikocoknya benda itu dalam mulutnya hingga Dewo menggeram pelan, “Arghhh… terima ini, Lonteku! Arghhh… arghhh…” sambil memegangi kepala Rohmah yang masih tertutup jilbab, Dewo mengeluarkan cairan maninya. Berkali-kali benda putih lengket itu menyembur keluar hingga memenuhi tenggorokan Rohmah. Sama seperti kejadian pertama, Putri Kyai Kholil itu dengan sigap langsung menelannya. Tampaknya ia sudah ketagihan dengan gurihnya sperma Dewo. Rohmah terus menjilati kontol Dewo sampai akhirnya benda itu melemas dan mengecil tak lama kemudian.

”Aghh… sudah, Neng Rohmah!” Dewo menarik keluar kontolnya dan terduduk lemas di kursi ruang tengah dengan badan gemetaran karena lelah.

”Iya, Paman. Rohmah ucapkan terimakasih karena Paman telah sudi ngewe sama aku.” kata Rohmah sambil tersenyum dan berkedip penuh arti.

Tepat setelah mereka selesai membersihkan tubuh, Wiwik dan Nyai Siti pulang ke rumah. Dewo dan Rohmah bersikap senormal mungkin, pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Hanya Nyai Siti yang tahu, tapi berusaha tidak menunjukkannya. Sedangkan Wiwik sama sekali tidak curiga karena Rohmah sudah membersihkan lantai ruang tengah yang penuh dengan noda darah perawannya hingga mengkilat. Rohmah juga berusaha menahan rasa sakit di memek dan lubang anusnya dengan sebisa mungkin berjalan seperti biasa.

jilbab legging ketat-tikha (9)

Nyai Siti tersenyum saat melihatnya. Dia kemudian menuju ke belakang, pergi ke kamar Dewo secara diam-diam. Sedangkan Wiwik yang sudah lelah langsung masuk ke dalam kamarnya. Rohmah juga sudah terlelap dalam tidurnya setelah kelelahan dientot oleh Dewo. Dengan perlahan-lahan Nyai Siti membuka pintu kamar Dewo, terlihat Dewo tengah duduk membelakanginya sambil menghisap rokok.

”Gimana, Mas, apakah kamu puas menikmati tubuh anakku?” tanya Nyai Siti.

Dewo menoleh dan tersenyum. ”Kamu memang benar-benar lonteku yang baik, Nyai.” jawab Dewo. ”Bersimpuhlah di depanku, akan kuberikan hadiah kontol kesukaanmu.”

”Ohhh… terima kasih, Mas Dewo.” Nyai Siti segera bersimpuh di depan Dewo yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung. Bau badan Dewo yang tidak mandi setelah menikmati keperawanan anaknya, malah membuat Nyai Siti semakin bernafsu. Dia masukkan kepalanya ke dalam sarung Dewo, dan mulai mengoral kontol Dewo sambil sesekali menjilati pelirnya.

Dewo langsung mendesah mendapat perlakuan itu, setelah mematikan rokoknya, dia kemudian memegang kepala Nyai Siti yang berada di dalam sarungnya. ”Agrhh, lonteku… terus… rasakan kontolku di tenggorokanmu!!” raung Dewo sambil menekan kepala Nyai Siti kuat-kuat, ia berusaha memasukkan lebih dalam lagi kontolnya ke mulut manis Nyai Siti.

Nyai Siti hampir tidak dapat bernafas karenanya. Ia berkali-kali tersedak, tapi tetap mengulum mesra karena ia menyukainya.

”Sebentar, Nyai.” kata Dewo sambil melepaskan kontonya dari mulut Nyai Siti.

“Ada apa, Mas?” tanya Nyai Siti heran, tidak biasanya Dewo menolak hisapannya.

”Aku mau mau kencing dulu, Nyai.” jawab Dewo.

Sambil tersenyum nakal, Nyai Siti berkata, ”Ah, Mas Dewo, kenapa harus repot kencing ke luar… nih, mulutku kan bisa buat nampung kencingmu.” Nyai siti kemudian membuka mulutnya sambil mengarahkan kontol Dewo ke dalamnya.

”Benarkah, Nyai?” tanya Dewo tak percaya.

”Pelan-pelan ya, Mas, kencingnya… biar bisa aku minum semuanya.” sahut Nyai Siti kalem.

Mengangguk kegirangan, Dewo dengan pelan segera mengencingi mulut Nyai Siti. Air seninya yang berwarna putih kekuningan mengalir turun memenuhi mulut perempuan cantik itu. Dan seperti orang yang kehausan, Nyai Siti segera menelan dan menenggak semuanya, ia habiskan semua air kencing berbau pesing yang keluar dari kontol panjang Dewo.

”Nyai, cepat nungging di lantai, aku jadi tidak sabar pengen memasukkan kontolku ke dalam anusmu.” kata Dewo begitu kandung kemihnya sudah kosong, kebinalan Nyai Siti membuatnya jadi tak tahan.

Nyai Siti pun segera menungging, dan tanpa menunggu lama… jleebss! Dewo menusukkan kontolnya, dan… arghhh! Ia mulai memompa anus istri Kyai Kholil itu.

“Arghhh… terus, Mas… enak… ougghhhhh!!” genjotan Dewo yang sangat keras namun nikmat membuat Nyai Siti cepat orgasme tak lama kemudian. Cairan cintanya mengucur deras dari lubang memeknya, berjatuhan di lantai dan tikar tipis yang mereka gunakan sebagai alas. Dewo meraupnya dan segera meratakannya ke seluruh tubuh Nyai Siti. Diremas-remasnya payudara Nyai Siti yang bulat besar sambil terus menggenjot tubuhnya semakin keras. Kontol Dewo masih tetap perkasa, padahal Nyai Siti sudah dua kali mengalami orgasme. Laki-laki itu benar-benar luar biasa.

Dengan kasar Dewo kemudian membalik tubuh Nyai Siti hingga wanita itu sekarang telentang di lantai. Dewo bergeser ke atas, sambil kembali memainkan payudara Nyai Siti yang menjulang indah, ia masukkan kontolnya ke dalam mulut Nyai Siti yang sudah siap menerimanya. Meski sudah berancang-ancang sebelumnya, tapi karena begitu gedenya kontol Dewo, tak urung Nyai Siti tetap tersedak juga.

”Ayo, Nyai lonteku… aku entot mulutmu…” Dewo menusukkan kontolnya kuat-kuat, begitu kuatnya hingga hampir masuk ke dalam tenggorokan Nyai Siti.

Nyai Siti semakin terdesak dan tersiksa, namun sama sekali tidak bisa menolak. Untunglah tak lama kemudian Dewo sudah memuntahkan air maninya, Nyai Siti segera menelan semuanya karena Dewo tengah menacapkan kontolnya dalam-dalam, membuat spermanya masuk ke dalam kerongkongan Nyai Siti tanpa meluber sedikit pun.

Kini Dewo sudah sepenuhnya menguasai tubuh Nyai Siti, wanita itu rela melakukan apapun asalkan dibayar dengan kontol si Dewo. Impian Dewo untuk menguasai wanita di rumah itu tinggal selangkah lagi, giliran Wiwik, adik kandung Nyai Siti yang akan menjadi budak nafsu selanjutnya.

CHIKA

Hai bozz, jumpa lagi dengan Wawan, sang hunter hebat. Kali ini aku berkenalan dengan sopasang suami istri di sebuah restoran di kota ******. Awalnya adalah karena aku melihat sosok sang istri. Wah, wanita ini cantik sekali!! Apalagi kulihat dia juga lagi hamil muda, wah pasti memeknya legit sekali.

Akhirnya, setelah 3 kali bertandang kerumahnya (aku mengaku ingin belajar bisnis dari suaminya yang pebisnis sparepart motor), aku berhasil akrab dengan suaminya. Pada kunjungan yang keempatku, aku tepatkan ketika sang suami, anwar, sedang diluar kota. Tentu saja aku sudah meneleponnya untuk memastikan .sang istri, Mbak Chika yang cantik dan berkulit putih serta berjilbab lebar itu pasti dirumah karena berprofesi menjadi guru SD.
“wah, maaf dik, mas anwar sedang keluar kota tuh?” jawab Mbak Chika ketika aku bertandang.
“aduh.. saya kira sudah pulang..” jawabku bersandiwara. “maaf Mbak Chika, walaupun asaya tahu kalo pak anwar gak ada dirumah, saya boleh menumpang istirahat sebentar? Saya baru saja dari luar kota juga, langsung kesini.. “ kataku beralasan lagi. Dengan sedikit bingung, akhirnya Mbak Chika yang saat itu mengenakan gamis merah kotak2 dan jilbab hitam mempersilahkanku masuk dan duduk diruang depan.

jilbaber minta dientot (1)

Setelah beberapa saat, aku sendirian di ruang itu. Mbak Chika ada didalam rumah, sehingga aku penasaran apa yang dilakukannya. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip. Saat di depan pintu dalam, samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Chika sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang gamisnya tersibak sampai pinggang, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya yang masih tertutup gamis dan jilbab bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya yang cantik dan putih kelihatan memerah dengan mata terpejam.

“Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar wanita muda berjilbab cantik itu menyebut namaku, “Ouhhh Dik Wawaaaannhh.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Chika, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Wanita muda berjilbab cantik itu tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

jilbaber minta dientot (4)

“Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup.
“Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi wanita muda berjilbab cantik itu terus menghindar.
“Ingat Dik, saya sudah bersuami dan lagi hamil,” Dia terus menghiba.
“Mbak, sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!”
“Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus.
Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik wanita muda berjilbab cantik itu dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya yang masih memakai jilbab dan gamis yang telah tersingkap, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal.
“Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya.

Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya yang sudah tak tertutup apapun, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya wanita muda berjilbab cantik itu mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Chika semakin liar, wanita muda berjilbab cantik itu mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini wanita muda berjilbab cantik itu mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu tanganku kujulurkan kebelakang membuka retsleting gamisnya dan menarik turun gamisny, lalu merenggut lepas BHnya. Langsung kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “aahh.. ahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang.

jilbaber minta dientot (2)

Kemudian aku bangun, kulebarkan kaki ibu berjilbab yang masih memakai gamisnya itu dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Chika. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Chika. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar. Seksi sekali, seorang wanita muda berjilbab lebar, dengan gamis masih terpakai, digagahi terlentang pasrah oleh orang yang bukan suaminya.
“Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Wanita muda berjilbab cantik itu menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Chika mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya wanita muda berjilbab cantik itu menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku wanita muda berjilbab cantik itu saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi wanita muda berjilbab cantik itu sedang hamil.

“Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Wanita muda berjilbab cantik itu menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Wanita muda berjilbab cantik itu mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Wanita muda berjilbab cantik itu kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Chika menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Wanita muda berjilbab cantik itu semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku yang satu menjambak rambut dan jilbabnya, semntara yang lain menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata wanita muda berjilbab cantik itu juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi, membasahi gamisnya dan kasur yang ia gunakan tidur bersama suaminya.

jilbaber minta dientot (3)

Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Chika dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku.
Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu sebelum suami Mbak Chika pulang dari luar kota, aku tidak keluar rumah, menikmati tubuh montok Mbak Chika yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumah Mbak Chika dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli wanita muda berjilbab cantik itu sepuasnya. Tentu saja kuminta dia untuk berdandan cantik dan memakai jilbab lebar agar semakin seksi

LENDY

“Bulan ramadhan tahun 2008 telah datang”,pikirku.Aku kala itu masih menjadi salah satu ketua organisasi keagamaan di salah satu smpn di jogja,kata kanlah SMPN ** yk,tanggung jawabku sebagai ketua harus menjalankan kegiatan keagamaan pada bulan Ramadhan,tetapi disitulah aku menjadi punya banyak kesempatan untuk berdekatan dengan salah satu jibaber cantik,jilbaber ini adalah seorang sekertaris di organisasi keagamaan.Jilbaber ini bernama Lendy.

Singkat cerita,pada suatu hari aku dan teman-teman mengajukan proposal untuk mendapatkan persetujuan agar kami sanggup menggunakan waktu libur kami dengan mengikuti pondok pesantren kilat,ternyata proposal yang aku buat di setujui oleh kepala sekolah dan guru agama,

jilbab montok - onyod (1)

Tanggal 25 desember 2008, kami bersiap untuk pergi ke salah satu pondok pesantren di daerah magelang, kami yang sudah menyiapkan bus untuk keberangkatan langsung saja menuju bus,sebelum keberangkatan aku memimpin untuk berdo’a bersama agar selamat hingga tujuan.Pada waktu berebut kursi dan masuk bus. Aku melihat ada seorang jilababer cantik dan manis yang menggunakan baju ketat dan rok panjang ketat sehingga liukan pantatnya tertampak jelas, aku yang sudah tidak kuat melihat pantat yang seolah lembut dan kenyal itu, langsung menempelkan tangan kananku dan sedikit mengelus juga meremas lembut pantatnya, yang paling membuatku heran adalah jilababer ini seolah tak merasakan remasanku ke pantatnya, tak aku sangka lagi, pantat jilbaber yang aku gunakan untuk mainan tadi adalah pantat Lendy,jilbaber yang manis dan cantik,

jilbab montok - onyod (2)

Di jalan bus yang aku tumpangi mengalami kerusakan mesin, terpaksa kami harus berganti bus, sopir bus itu turun dan melihat dimana kerusakannya,teman-teman yang kepanasan keluar dari bus untuk mencari udara segar sejenak. Lendy yang juga kepanasan keluar, aku yang berdiri di pintu keluar mendapatkan kesempatan menyentuh pantatnya lagi, langsung saja tangan yang sudah ketagihan ini menempel pada pantat jilbaber cantik ini.Lagi-lagi jilbaber ini tidak merespon.

jilbab montok - onyod (9)

Sekitar 5 menit kami menunggu, akhirnya bus yang kami tunggu datang dan teman-teman kembali berebut masuk bus. Aku yang sudah ketagihan ingin agar mendapatkan yang lebih dari pantat jilbaber.Jadi saat berebutan aku menaruh tangan kananku kepayu dara Lendy. Ternyata tak seperti harapanku,Lendy jilbaber cantik ini merasakan dan merespon dengan melihat ke belakang.Tetapi yang menjadi keherananku adalah jilbaber ini tidak marah tetapi senyum dan membiarkan aku tetap meremas payu daranya.Sekitar 5 menit aku meremas payu daranya, dia berkata,”udah jangan lama-lama, nggak enak kalo dilihat temen-temen.”Kemudian aku melepas tanganku dari payu dara jilbaber ini.

jilbab montok - onyod (3)

Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya sampai di pondok yang kami tuju.Setelah kami keluar bus, panitia menyiapkan tempat untuk penyambutan,kami kemudian menuju tempat penyambutannya,

Singkat cerita setelah 2 hari kami di pondok dan menjalankan kegiatan pondok bersama. Pada malam hari sekitar pukul 21.00 wib kami di minta berkumpul untuk menyampaikan keluh kesah atau kritik dan saran.Aku yang paling berani dan paling di percaya untuk berbicara maju dan menyampaikan beberapa pujian dan beberapa kritikan. Lendy yang juga melihat kau menyampaikan kritik dan saranku kemudian tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Serelah selesai aku menuju ke samping Lendy dan aku mencoba berbicara kepadanya.”Len,nanti aku boleh ngomong sama kamu nggak?bentar aja kok, boleh ya?”pintaku. Ya deh, dimana?jawab Lendy sambil menganggukan kepalanya.

jilbab montok - onyod (4)

Sekitar pukul 22.00 wib aku dan jilbaber itu menuju ke kamar mandi yang berada di samping masjid. Kami masuk dan menutup pintu dengan penerangan yang minim aku mencoba membuka pembicaraan kami.

”Len, maaf kemarin aku meremas payu daramu waktu kita berebut tempat. Kamu masih ingat kan?kamu marah sama aku nggak?kalo iya,maaf banget ya?,pintaku,

”nggak apa-apa kok, aku nggak marah, mungkin kamu nggak sengaja,”ucapnya

jilbab montok - onyod (5)

”sebenarnya,aku sengaja lakuin itu, soalnya aku dah nggak kuat kalo ada cewek secantik kamu ada di depanku dengan baju yang ketat gitu,maaf banget ya?,”jelasku.

”ooooh, jadi kamu sengaja?tapi nggak apa-apa deh,toh aku jug anggak kenapa-kenapa,”ucap jilbaber ini dengan senyuman manisnya,

Sekitar beberapa menit kami berbicara, aku menyatakan kalo aku cinta sama,”Len,maaf banget.Aku mau ngomong kalo aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku nggak?”ucapku.”Boleh kok,aku juga suka kamu.”jawab jilbaber ini.

jilbab montok - onyod (6)

Karna sudah malam, jilbaber ini mulai kecapekan dan ingin tidur, jilbaber ini berkata,”aku ngantuk nih, besok aja lagi ya?”pintanya.”ya deh,tapi sebelum pergi aku boleh cium kamu nggak?merayakan jadian kita gitu?boleh ya?”pintaku.”ya deh,tapi sekali aja,ya udah mana cepet?”jawab jilbaber ini dengan senyum gairah.”Nih”ucapku dengan meyerbu mulut imuthnya.

”Wah nakal juga kamu tuh, kerap gini ya?hayo ngaku.”ucapnya dengan ketawa kecil.

”nggak kok,baru sekali ini, tapi aku kerap lihat di film-film,hehehe,”jawabku.

jilbab montok - onyod (7)

Tanganku yang mulai nakal meraba payu dara jilbaber ini dengan masuk ke dalam baju muslimnya. Jilbaber ini mulai kegirangan dengan merintih kecil,”uh..uh..uh..”Dengan handal aku mencoba melepas baju yang di kenakan dan juga rok jilbaber ini. Akhirnya hanya tinggal jilbabnya saja yang menutupi tubuhnya. Aku mencoba untuk memasukkan tangan ke dalam vagina jilbaber dan berhasil,setelah aku menemukan klitoris jilbaber ini aku mulai mencubit dan mengelus-elusnya.”uuuh…uuuh..” rintihnya. Tanpa belas kasihan lagi, aku tetap menciumi mulut jilbaber ini dengan bertubi-tubi. Setelah vagina jilbaber ini basah karna pejuh,aku minta dia untuk jongkok di depanku dan aku minta jilbaber ini meraba testisku, setelah dia buka celanaku, jilbaber ini mulai nekat dengan menjilat testisku. Aku kemudian memaju-mudurkan pantatku agar testisku mendapatkan kocokan di dalam mulutnya. Sekitar 30 menitan aku mengocokan testisku keluarlah cairan hangat dan lengket dari testisku. Jilbaber langsung saja membuang atau meludahkan spermaku dari mulutnya. Dia pun tersenyum ke arahku dengan berkata,”dah ya?sampe sini aja, aku capek nih,klimaknya lama banget sih?kerap latihannya?”

jilbab montok - onyod (8)

”nggak juga”jawabku sambil merapikan baju dan celana.

Akhirnya selesai juga pertandingan mendadakku,dengan waktu yang cukup lama yaitu 30 menit.Setelah kami membenarkan baju dan celana kami,kami keluar dari kamar mandi dan kembali ke pondok masing-masing. Tetapi setelah itu kami selalu melakukannya setiap malam minggu dan waktu luang di sekolah.

MARFUAH

Pagi itu saya lihat Marfuah anak tetangga samping rumah yang biasanya selalu memakai jilbab ketika pergi ke sekolah, sedang mau mandi sebelom berangkat ke sekolah di kamar mandi yang letak nya di belakang rumah saya,timbul niat saya untuk ngintipin Marfuah mandi,maklum karena di rumah Marfuah belom punya kamar mandi sendiri jadi tiap hari mandi nya di kamar mandi di belakang rumah saya.

payudara jilbab (1)
setelah Marfuah masuk ke kamar mandi perlahan saya berjalan mendekati kamar mandi,setetah mencari-cari celah buat ngintip akhir nya saya dapetin celah walaupun celah nya hanya sebesar lobang paku,tapi saya bisa lihat Marfuah melepas pakain nya,oohhhsungguh pemandangan yang luar biasa.
tubuh Marfuah yang putih mulus terlihat dengan buah dada yang begitu montok nya di hiasi punting yang masih ramun apalagi mem*k Marfuah yang masih di tumbuhi bulu-bulu tipis di sekitar mem*k nya yang membuat saya lebih bernafsu ngelihat nya.
saya liat Marfuah mulai membasahi tubuh nya dengan air dan mulai menyabuni seluruh badan nya,oohhh betapa nikmat nya klau saya bisa menikmati tubuh nya yang begitu menggoda, rupanya Marfuah enggak tau klau sedang saya intip,terkadang Marfuah meremas-remas buahdada nya sendiri menambah pemandangan saya lebih hott,tanpa sadar oleh saya kalau Marfuah dah mo selesai mandi nya,buru-buru saya meninggal kan kamar mandi terus duduk di teras belakang rumah saya sambil nungguin Marfuah lewat di depan teras.

payudara jilbab (2)

selang 10 menit kemudian Marfuah lewat depan teras rumah saya,oohh Marfuah lewat di depan teras saya hanya memakai jilbab dan pakain longgar,….mari om tumben kok belom berangkat kerja sapa Marfuah,langsung saya panggil Marfuah.
Marfuah ke sini sebentar om mau ngasih sesuatU ke Marfuah. apa sih om??ntar aja klau Marfuah dah ganti baju dulu,Marfuah kan malu.
gpp cuma sebentar aja kok lagian napa meti malu Marfuah kan masih pake handuk,bentar aja.
apa sih om kata Marfuah sambil berjalan masuk ke teras rumah saya.yuk masuk dulu san gak enak klau ngasih sesuatu nya di luar bujuk saya.
akhir nya Marfuah masuk ke rumah saya,tanpa sepengetahuan Marfuah langsung saya kunci pintu rumah dari dalam.

payudara jilbab (5)
mang mo ngasih apa om,buruan ntar Marfuah terlambat pergi ke sekolah nya kaya Marfuah.
om mau ngasih sesuatu ke Marfuah tapi Marfuah harus pejamin mata dulu biar surprice,iihh om ini ada-ada aja pake acara pejamin mata segala sih,setalh Marfuah mejamin mata nya saya ajak masuk ke kamar saya,setelah sampai di kamar saya kunci kamar saya dari dalam dan saya lepasin pakaian saya hingga telanjang.
dah belom om cepetan ntar Marfuah telat berangkat sekolah nya kata Marfuah yang masih memejam kan mata nya.
setelah saya telanjang saya peluk Marfuah dari depan sambil bisikin sekarang Marfuah buka mata nya.
haahhhh,,,,,oommmm mau ngapain,,,,sambil mencoba berontak berusaha ngelepasin dekapan saya.
jaaangggaannnn,,,ommmm,,,,jangannn perkosa Marfuah,,,jangan, diemm klau Marfuah berani teriak om bunuh,sambil saya tarik bajunya longgarnya yang menutupi tubuh mulus nya.
sambil saya dekap saya rebahin tubuh Marfuah di atas ranjang saya,
langsung saya tindih tubuh Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang montok,kadang kadang saya gigit puting nya hingga Marfuah merintih kesakitan.

payudara jilbab (6)
ammmpunnn ommmm,,ampuunnn,,jangan perkosa Marfuah,,,tanpa menghiraukan rintihan Marfuah saya gesekin jari saya ke mem*k Marfuah,
ahhh,,aahhh,,,ahhh,,,tanpa sadar Marfuah mendesah saat saya menggosok clitoris nya,perlahan saya coba masukin jari saya ke mem*k Marfuah.oooohhhh,,,saaaakiiiiittt ommmm,,,saat jari saya masuk ke mem*k Marfuah.
wah nih anak masih perawan kayak nya,saya cabut jari saya terus saya naik ke atas kepala Marfuah hingga kont*l saya tepat di depan wajah Marfuah.
sekarang Marfuah hisap kont*l om klau gak mau Marfuah saya tampar,,gakk mau Marfuah gak mau sambil berusaha menghindari kont*l saya,om bilang hisap sambil saya tampar pipi nya,tampak Marfuah syok sehabis saya tampar.perlahan Marfuah membuka mulut nya langsung saya masukin kont*l saya ke mulut nya yang mungil.
tampak mulut Marfuah penuh dengan kont*l saya,saya dorong lagi kont*l saya lebih dalam ke mlulut Marfuah..aaakkkhhh,,,aaakhhh rupa nya Marfuah tersedak karena kont*l saya lebih masuk di dalam mulut nya,
perlahan saya gerakin kont*l saya maju mundur sambil saya pegangin kepala Marfuah,
setelah 15 menit kemudian saya lepasin kont*l saya dari dalam mulut Marfuah,tampak Marfuah menangis karena takut klau saya bunuh dan Marfuah terlihat pasrah apa yang akan saya perbuat.
saya lebarin kedua paha Marfuah hingga membentuk huruf v saya jilatin mem*k Marfuah terkadang saya sedot clitoris nya sehingga tanpa sadar Marfuah ikut menggerakkan pantat nya,setelah mem*k Marfuah basah dengan air liur saya dan cairan kenikmatan nya saya arahin kont*l saya yang dah gak sabar pengin merobek keperawanan Marfuah, setelah kont*l saya pas di lobang mem*k nya saya dorong dengan sekuat tenaga sambil saya pegangin pantat nya.

payudara jilbab (7)
ooooocchhhhh,,,saaaakkiiiitttttttttttt,,,,sssaaakk iitttt,,,,,ammmpppuunnnn jerit Marfuah saat kont*l saya masuk menembus mem*k nya yang masih perawan,tenang aja Marfuah nikmain aja ntar juga nikmat kok kata saya sambil terus mendorong kont*l saya yang baru masuk setengah,saya lihat Marfuah meringis kesakitan akibat mem*k nya saya masukin kont*l saya,
setelah kont*l saya masuk seluruh nya saya diemin sambilo meresapi nikmat nya jepitan mem*k abg,saya lihat tampak darah perawan Marfuahmengalir dari sela-sela kont*l saya hingga membasahi sprei ranjang saya.
perlahan saya genjot mem*k Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang masih kencang dan montok.
ooohhh,,oohhh,,,ampuunn omm sakittttt,rintihan Marfuah membuat nafsu saya lebih memuncak.saya genjot mem*k Marfuah yang masih sempit hingga Marfuah mengerang ooocchhh,,,aakkkhhhh,,,akhhhh,
bosen ngent*tin Marfuah dengan gaya missionary saya balikin tubuh Marfuah hingga sekarang tubuh Marfuah berada di atas saya.langsung saya genjot tanpa kenal ampun.
goyangin pantat loe sambil saya remas buah dada nya dengan keras hingga Marfuah menjerit..aaakkkhhhh,,iiiiyaaaa ommm
oooohhhh nikmat nya goyangan mu sannnn,ayoo goyangin terus sambil saya tampar pantat saat Marfuah berhenti menggoyangkan pantat nya.
setetah 15 menit saya ent*tin Marfuah,saya suruh Marfuah turun darui tubuh saya trus saya suruh nungging dengan tangan bertumpu pada pinggir ranjang.
sekarang saya pengen ngent*tin Marfuah dari belakang kata saya sambil meremas pantat Marfuah yang semok
perlahan saya selipin kont*l saya di antara paha Marfuah hingga akhir nya saya tempelin kont*l saya di lobang mem*k Marfuah yang tampak membengkak akibat saya sodok.
dengan satu hentakan keras saya masukin lagi kont*l saya ke mem*k Marfuah dari belakang sambil saya tarik pantat Marfuah ke belakang hingga membuat kont*l saya masuk seluruh nya,
goe ent*tin Marfuah sambil saya ramas-remas buah dada ya yang tampak terayun-ayun karena sodokan saya.ooohhh..ooohhh.oooh nimat banget mem*k kamu Marfuah sambil terus saya ent*tin Marfuah.
tanpa sadar hampir 1jam saya menyetubuhi Marfuah dan geu ngerasa klau saya dah mau klimaks,langsung saya cabut kont*l saya dri mem*k Marfuah
saya suruh Marfuah jongkok di depan saya sambil saya paksa masukin kont*l saya ke mulut nya lagi.
Marfuah yang terlihat sudah lemas hanya bisa nurutin kemauan saya,perlahan kont*l saya masuk ke mulut nya yang mungil.

payudara jilbab (8)
langsung saya pegangin kepala Marfuah sambil terus saya genjot kont*l saya hingga akhir nya
cccoorttt,ccrrrooott.ccrooott,saya tahan kepala Marfuah sambil saya semburin sperma saya ke mulut Marfuah,
Marfuah mencoba melepaskan kepalanya tapi usaha nya sis-sia karena pegangan tangan saya di kepala nya terlalu kuat hingga sperma saya tertelan oleh Marfuah..ooohhh..ooohhh nikmat nya mulut kamu Marfuah,semburan demi semburan tanpa ada sperma saya yang keluar dari mulut Marfuah,setelah kont*l saya menyemburkan sperma nya di mulut Marfuah perlahan saya cabut kont*l saya,saya suruh Marfuah membersihkan sisa-sisa sperma saya yang masih melekat di kont*l saya.
timbul pikiran saya,
saya ambil hp saya langsung saya foto Marfuah yang masih telanjang sambil saya ancam lagi klau Marfuah berani macam-macam ama saya akan saya sebarin foto-foto telanjang Marfuah ke teman-teman Marfuah

RAME-RAME 2 : FIKA

Aku tak bisa bertahan lama. Cepat kutarik keluar dan kutumpahkan spermaku ke wajah Tari yang lembut. Kuratakan ke pipi dan dagunya yang runcing. Tari terus menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba saja, kepalanya terdongak. Ternyata, Bob baru saja menyodominya. Aku terduduk di kursi, menyaksikan satu persatu temanku menyodomi Tari. Semuanya menumpahkan sperma di dalam anusnya.

TARI

TARI

Sudah lima belas menit kami membiarkan Tari tertelungkup di meja. Ia masih terisak-isak. Kulihat sperma tiga lelaki mengalir dari anusnya ke kedua belah pahanya.
Kuperlihatkan jam tanganku kepada teman-temanku. Mereka bangkit dan memapah Tari. “Yuk kita pulang Mbak. Sudah siang. Nanti suami Mbak curiga kalau dia pulang Mbak nggak di rumah,” kata Al.
Mereka membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Memakaikan kembali jubah hijau muda Tari tanpa memandikannya lagi. Akibatnya, bagian belakang jubah Tari basah oleh sperma yang terus mengalir dari anusnya.
Tak lama kemudian, kami sudah berada di dalam mobil. Tari dipangku tiga lelaki di jok tengah. Aku di bagian kaki. Kedua tangan Tari masih terikat. Matanya pun tertutup oleh ikatan kain hitam.
Kusingkapkan jubah Tari sampai ke pinggang. Dengan tissue kubersihkan vaginanya dari lelehan sperma dan bubur pisang. Al di bagian tengah tak bosan-bosannya meremas-remas payudara Tari yang dikeluarkannya dari balik jubahnya.
Sampai di rumah, mereka membawa Tari ke sofa. Al sibuk menghubungkan handycam dengan TV. Aku ada di balik lemari, melihat Bob memangku Tari, sambil melepaskan penutup matanya.
TV sudah menyala dan memperlihatkan rekaman aksi kami memperkosa Tari. Tari memalingkan wajahnya, tetapi Bob memaksanya tetap menonton. Terutama adegan ketika ia orgasme lantaran ulah Al.
“Lihat itu, Mbak Tari. Dengan itu Mr X bisa memeras suami Mbak. Dengan rekaman itu pula, kami bisa memaksa Mbak melayani kami kapanpun kami mau,” kata Bob sambil meremas-remas payudara istriku.
Tari menangis tersedu-sedu. Kuberi kode kepada Al agar mendekat. “Suruh pak Bob memperkosa dia lagi sambil duduk. Aku mau telepon Tari saat kontol Bob mengaduk-aduk memeknya,” kataku.
Al berbalik dan kulihat ia berbisik kepada Bob. Bob tertawa.

TARI

TARI

“Oke Mbak Tari, sebentar lagi mungkin suamimu pulang. Aku mau ngentot kamu sekali lagi. Boleh ya ?” kata Bob.
Tari menoleh dan melotot.
“Kamu ini ! Apa belum puas menyiksa saya !?” teriaknya histeris.
“Belum,” kata Bob kalem sambil membalikkan tubuh Tari hingga kini duduk di lantai, di hadapannya.
“Ayo, emut kontolku supaya basah. Kalau kering, nanti memekmu lecet,” katanya sambil melepas celananya. Penisnya terlihat masih lembek. “Cepat. Ingat, kamu nggak bisa nolak karena rekaman itu bisa dilihat suamimu, kalau kamu membantah,” lanjutnya.
Tari tak berdaya. Kulihat ia kini menggenggam penis Bob dan mulai mengulumnya. Dari belakang, Al menyingkapkan jubah hijau Tari. Anusnya masih basah oleh sperma. Al mengorek-ngorek vagina dan anus Tari dengan jarinya.
Penis Bob sudah mengacung. Dibimbingnya Tari naik ke Sofa, mengangkangi dirinya yang berbaring. Akhirnya, kulihat Tari menurunkan tubuhnya. Penis Bob pun masuk ke vaginanya.
“Ayo Mbak Tari, nikmati saja. Anggap saja aku suamimu,” kata Bob. Ia pun kini menyerang kedua payudara Tari. Dikulumnya kedua putingnya berganti-ganti.
Pada posisi seperti itu, biasanya Tari mudah mencapai orgasme. Apalagi dengan puting yang terus diserang. Dan memang, kudengar Tari mulai mendesah, mengerang dan merintih. Kuihat juga kini ia yang aktif menaikturunkan dan memutar-mutar pinggulnya.
Saat desahannya makin keras terdengar, kutelepon nomor seluler istriku. Tari terkejut mendengar handphonenya berdering.
“Ounnghh… itu… mungkin suamiku…” katanya.
“Nggak apa-apa, kita teruskan saja,” kata Bob sambil terus menyerang puting Tari.
Al mengambilkan handphone Tari dan menyerahkannya. “Dari suamimu,” kata Al. Di layar handphone memang tertulis namaku.
Tari tampak ragu. Nafasnya masih tersengal-sengal. Apalagi, Bob masih menaikturunkan penisnya.
“Dijawab saja, nanti suamimu curiga,” kata Al sambil menekan tombol ‘yes’ pada handphone yang dipegang Tari.
“I… i…ya… ada apa, Mas ?” Kudengar Tari menjawab. Suaranya sangat menggairahkan.
“Lagi apa sayang ?” tanyaku.
“Eunghhh… ini, lagi sibuk…”
“Kok suaramu seperti waktu kita bercinta dan kamu hampir orgasme ?” kugoda dia.
“Ehhh… ti…tidak… Aku lagi angkat cucian pakaian… ughhh…. berat,” katanya bersandiwara.
“Ya sudah, nanti malam aku buat kamu orgasme mau ?”
“Eunghhh… jangan…. aku capek sekali…” jawabnya.
“Yaaa, bagaimana dong ? Batangku sudah keras sekali nih. Di-oral saja ya ?”
“Iya…i…iyahhh…”
“Spermaku ditelan ya ?”

TARI

TARI

“I…iyahhh… eh… enggak.. aduhhh.. iyahh…”
“Kenapa, kok aduh ?”
“Ini… iniku digigit …semut…”
“Apa yang digigit semut nakal itu ?”
“Ini… tetek… aduhhhh…” kulihat Bob menggigit puting Tari.
“Wah, itu semut nakal betul. Nanti aku boleh gigit tetekmu kan, sayang ?”
“Iya.., boleh… aduhhh…”
“Aku ingin mendengarmu bicara yang agak jorok boleh ?”
“Engghhh… bagaimana ?”
“Tolong bilang…seperti di film blue itu lho… bilang begini, come on fuck me, ohhh…yesss… oh yesss… begitu. Ayo sayang…”
Saat itulah Bob menggenjot lebih kuat.
“Iyaahhhh… come on… ounghhh.. fuck me…yess… yess…” Tari menjerit.
“Ahhh… terima kasih sayang. Nanti aku pulang jam 8 malam. Jangan lupa, aku ingin dioral gadis berjilbab sepertimu… bye mmuuacchhh…”
Kututup telepon. Lalu kuberi kode kepada Al agar menyumbat mulut Tari dengan penisnya.
Tari mengerang-erang. Tubuhnya menelungkup di atas tubuh Bob dengan vaginanya terus ditusuk-tusuk penis Bob. Al sudah menyumbat mulut Tari dengan penisnya.
Dari belakang, aku mendatangi Tari. Kusingkapkan jubahnya hingga pinggang. Kujaga agar ia tidak menoleh ke belakang dan melihat suaminya.
Langsung aku masukkan dua jariku ke anusnya. Tari mengerang keras. Erangannya makin menjadi saat akhirnya aku menyodominya lagi.
Ada lima menitan aku melakukan itu. Tapi aku punya ide baru. Kutarik keluar penisku. Dan kini kuarahkan ke vaginanya yang sedang melayani penis Bob.
Ughhh… tak mudah, tapi akhirnya masuk juga. Tubuh Tari mengejang. Ia mengerang panjang. Al memegangi kepalanya yang berjilbab karena Tari terlihat seperti hendak menoleh ke belakang.
Lima menit juga penisku dan penis Bob mengaduk-aduk vaginanya. Bob sudah tidak tahan. Ia menumpahkan spermanya di dalam. Terasa sperma Bob juga membasahi penisku. Gerakan penisku akhirnya menarik penis Bob yang telah lembek keluar.
Kupindahkan lagi penisku ke anus istriku. Kugenjot dengan cepat dan akhirnya kutumpahkan ke dalam sana. Cepat kubersihkan penisku dengan jubah istriku. Lalu, aku kembali ke tempat persembunyianku.
Kini Al yang menyetubuhi istriku. Tampaknya ia juga memindah-mindahkan penisnya dari vagina ke anus. Ben yang sejak tadi hanya menonton, ganti memaksa Tari mengulum penisnya.

TARI

TARI

Dua pemerkosa terakhir itu akhirnya menuntaskan hasrat mereka dengan membuang sperma mereka ke wajah Tari.
“Sudah ya, Mbak tari. Kapan-kapan kita ketemu lagi,” kata Bob, sambil mencubit puting istriku yang terbaring lemah di sofa.
***
“Thank’s friend. Your wife sungguh luar biasa,” kata Bob sambil menyalamiku ketika kami akhirnya berpisah kembali di rumahnya.
Al dan Ben juga menyalamiku.
“Aku suka suaranya waktu orgasme,” kata Al.
“Well, aku juga ingin dengar suara pacarmu saat orgasme,” sahutku.
“OK, itu bisa diatur,” katanya.
Aku pergi dari rumah Bob dengan perasaan campur aduk. Gairah, puas sekaligus kasihan pada Tari. Tapi, hasrat tergilaku sudah terlampiaskan. Sekarang aku harus kembali ke kantor.
***
Aku pulang kantor pukul 8 malam. Tari sudah tidur. Tapi aku boleh masuk rumah karena aku punya kunci cadangan.
Kulihat Tari tidur dengan memeluk tubuhnya. Ia tampak amat lelah. Tetapi begitu melihatku datang, ia bangkit dan langsung memelukku.
“Kenapa ?” tanyaku.
“Kepalaku sakit… ” katanya.
“Berarti tak jadi mengulum iniku ?” Kubimbing tangannya ke pangkal pahaku.
“Maas… aku pusing… ” keluhnya.
Kusentuh pangkal pahanya. Tapi ia menghindar dengan halus. “Nanti kalau sudah nggak pusing ya ?” katanya.
“Oke. No problem,” sahutku.
Aku kemudian ke kamar mandi. Melewati mesin cuci, hatiku tergerak untuk membukanya. Ada jilbab putih lebar, anak jilbab pink dan jubah hijau muda. Kuangkat pakaian favoritku itu. Ufhhh… betul-betul beraroma sperma !
Tengah malam aku terbangun. Kulihat Tari masih lelap terlentang di sebelahku. Kusingkapkan bagian bawah baju tidurnya. Vaginanya terlihat lebih gemuk dari biasanya. Kulitnya pun memerah. Kurapikan lagi pakaiannya. Lalu kubuka di bagian dadanya. Kulit payudaranya yang putih mulus juga terlihat memerah. Di beberapa bagian dekat putingnya bahkan terlihat bekas-bekas lovebite.

TARI

TARI

Seminggu sejak perkosaan itu, Tari tampak lesu. Ia mengaku sakit, tetapi tak tahu sakit apa. Kurayu untuk ke dokter, ia tak mau.
“Sepertinya hanya butuh istirahat,” katanya.
Jalannya pun tertatih-tatih, seperti menahan sakit di sekitar pinggangnya. Kalau kusentuh payudara dan pangkal pahanya, ia pun dengan halus menolak.
Tetapi, Tari memang istri yang baik. Ia mau juga ketika kuminta membantuku masturbasi. Diurutnya penisku dan akhirnya dikulumnya. Aku agak surprised saat ia membiarkan spermaku tumpah di mulutnya, meski kemudian dimuntahkannya kembali.
“Kok mau menerima spermaku di mulut ?” kataku.
“Nggak sengaja…” katanya dengan wajah bersemu merah.
Akhirnya, di minggu kedua, ia mulai kembali seperti dulu. Ia kembali tampak sehat dan melayaniku kembali di ranjang.
Di saat itulah, tak sengaja aku membuka SMS di seluler Tari. Tertulis di situ, “Mbak Tari, aku kangen memek Mbak. Senin jam 12 siang, aku ke rumah Mbak pas suami Mbak di kantor. Pakai jubah, jilbab lebar dan kaus kaki, tapi jangan pakai celana dalam dan bra. Kita main di ranjangmu ya ? -Al”.
“Ini ada SMS, sayang… belum sempat kubaca… perutku mulas…” aku berlagak terburu-buru ke kamar mandi sambil menyerahkan handphone Tari kepadanya.
Sekitar 10 menit kemudian aku keluar kamar mandi. Kulihat wajah Tari agak pucat.
“SMS dari siapa sayang ?” tanyaku.
“Eh…uh… dari Bu Ani,” jawabnya gelagapan.
“Ada apa ?”
“Uh… katanya… mau ambil uang arisan, Senin siang,”
“Ooo…” aku berlalu, seperti tak ada apa-apa.
***
Hari Senin, aku sengaja berangkat kantor agak siang. Pukul 11.30. Tetapi tanpa sepengetahuan Tari, kusiapkan handycam di tempat tersembunyi, mengarah ke ranjang. Setting kamera kuatur dengan timer agar mulai recording setengah jam lagi.
Kulihat Tari gelisah dan bolak-balik melirik jam dinding. Ia sudah pakai jilbab putih lebar dan jubah ungu. Cantik sekali.
Kucium pipinya saat berpamitan sambil tanganku meraba bokongnya.
“Eh, kamu nggak pake celana dalam ya ?” kataku, pura-pura kaget, sambil meremas bokongnya yang bundar.
Tari tersenyum kecut. Ia menggeliat-geliat waktu pangkal pahanya kuremas-remas.
“Jangan-jangan kamu juga nggak pakai bra,” kataku.
“Nah, betul kan,” kataku ketika tanganku meraba payudaranya.
Kusingkapkan jilbab lebarnya, lalu kubuka kancing jubah di bagian dadanya. Bibirku langsung menyerang putingnya. Tari mengerang-erang.
“Maaas… sudaahh… ngantor sana !” katanya dengan nada manja. Tapi kutahu ia khawatir Al datang sebelum aku pergi. Kugigit dengan gemas putingnya. Tari memekik kecil.
“Nakal !” katanya.
Akupun berangkat. Tapi di ujung jalan aku berhenti. Tepat pukul 12.00 kulihat mobil Al masuk garasi rumahku.
Handycamku pasti sudah mulai bekerja. Lima belas menit berlalu, kuhubungi nomor handphone Al.
“Sedang di mana Al ?” kataku. Terdengar Al menjawab dengan gugup.
“Di rumah teman, bos,” katanya.
“Maksudmu rumahku, kan ?” Al makin gugup.
“Eh… oh… iya…sorry bos,” katanya.

TARI

TARI

“OK, nggak apa-apa. Tapi lain kali izin dulu ya Al ?” kataku.
“Iya bos… iya bos…” sahutnya.
“By the way, kontolmu sudah masuk memek istriku belum ?”
“Sudah bos…”
“Bagus, coba tolong kamu jepit putingnya. Aku ingin dengar jeritan istriku,” kataku.
Al patuh. Tak lama kemudian kudengar jerit kesakitan Tari.
“OK Al, silakan kamu perkosa istriku. Di memek boleh, anus boleh di mulut juga boleh. Kamu ikat saja dia di ranjang. Terus kamu kerjain dia sampai orgasme berkali-kali. Bye Al.” Kututup telepon, lalu melaju ke kantor. Nanti malam, rekaman handycam akan kunikmati.
***
Aku pulang tengah malam. Tari membukakan pintu. Kukecup keningnya. Ia tampak letih. Tetapi, ia memang istri yang setia. Dibuatkannya aku segelas teh hangat.
“Aku tidur lagi ya, badanku pegal semua,” katanya.
Aku menganggukkan kepala dan kukecup lagi keningnya.
Kutunggu setengah jam. Kutengok Tari betul-betul tertidur pulas. Kuambil handycam yang kutempatkan di lokasi tersembunyi. Lalu, kubawa ke ruang kerjaku.
Dengan jantung berdebar, kuputar ulang hasil rekaman otomatis tadi siang. Yes, hasilnya sempurna.
5 menit pertama hanya terlihat ruangan kamarku yang kosong. Tetapi, kemudian terlihat sosok perempuan berjubah ungu dan jilbab lebar putih berlari diikuti Al.
Perempuan itu, Tari, terdesak di dinding kamar. Terlihat Tari dengan wajah marah berdebat dengan Al yang terus tersenyum. Terlihat juga Tari kewalahan menepis tangan nakal Al yang menjamah pangkal paha dan payudaranya.
Kemudian terlihat Al seperti marah dan mencekik leher Tari. Setelah itu, Tari sepertinya menyerah. Ia biarkan saja Al memagut bibirnya.
Al lalu menyeret istriku dan menghempaskannya hingga terduduk di tepi ranjang. Tari memalingkan mukanya saat Al berdiri di hadapannya melepas celananya. Al kemudian memaksanya mengulum penisnya.
Tak lama kemudian, Al mendorong Tari hingga terlentang di ranjang. Lalu disingkapkannya jubah Tari hingga ke pinggang. Dengan kasar, ia langsung menancapkan penisnya ke vagina istriku. Tari terlihat menjerit kesakitan.
Baru beberapa genjotan, Al tampak berbicara di handphonenya. Itu tadi saat aku meneleponnya. Masih sambil menelepon, Al terus menggenjot penisnya keluar masuk vagina Tari. Terlihat juga saat Al menjepit puting kanan Tari hingga ia menjerit kesakitan.
Ketika telepon ditutupnya, Al tampak seperti kesetanan. Ia membolak-balik tubuh Tari seperti orang membanting-banting bantal. Sekali ia membuat Tari terlentang dan memperkosanya. Kali lain, dibuatnya Tari menungging dan ia menyodominya. Kali lain lagi dibuatnya tubuh Tari tertekuk dan ia dengan kasar memperkosanya sambil menusukkan jarinya ke anus Tari. Sampai akhirnya kulihat Al orgasme di dalam mulut Tari.
Kulihat Tari terisak-isak. Selesai memuaskan hajatnya, Al mengikat Tari terlentang dengan kedua tangan dan kaki terpentang ke sudut-sudut ranjang.
Al kemudian terlihat menghisap rokoknya sambil berbaring di tengah paha Tari yang mengangkang. Kepalanya berbantalkan paha Tari, di dekat pangkalnya. Sambil merokok, Al membelai-belai vagina Tari. Sesekali, Al dengan nakal mencabuti sehelai rambut kemaluan Tari. Terdengar Tari memekik saat Al menjatuhkan abu rokoknya di tempat tumbuhnya rambut kemaluannya.

TARI

TARI

Al kemudian bangkit dan duduk di sisi Tari. Dibukanya jubah Tari di bagian dada. Kedua payudara istriku tampak membusung. Tari memekik lagi waktu Al dua kali menjatuhkan abu rokok di pucuk payudaranya.
Yang terjadi kemudian membuatku terpaksa mengacungkan jempol kepada Al. Lagi-lagi, ia mempermainkan istriku dengan sempurna. Dirangsangnya Tari dengan berbagai cara, hingga istriku yang alim itu berkali-kali orgasme.
Tetapi, Al memang pemerkosa sejati. Di saat Tari mencapai kepuasan, ia mulai menyakitinya lagi. Disumpalnya mulut Tari dengan celana dalamnya. Lalu, dijepitnya kedua puting Tari dengan jepit pakaian. Terlihat dalam rekaman, Tari meronta-ronta dan matanya melotot. Belum lagi rontaannya berhenti, Al melakukan hal yang sama pada klitorisnya.
Al kemudian kembali menindihnya. Suara rintihan Tari terdengar sangat memilukan. Juga pekik tertahannya ketika Al dengan kasar menarik lepas jepit pakaian pada kedua putingnya. Tak cukup sampai di situ. Mahasiswa fakultas kedokteran itu terus menyentil-nyentil kedua puting Tari dengan keras.
Al akhirnya terlihat sampai pada klimaksnya. Kulihat ia mengangkangi wajah Tari, melepas sumpal di mulut Tari dan ganti memasukkan penisnya ke situ. Tubuh Al tampak bergetar sampai akhirnya lemas dan duduk mengangkangi perut istriku.
Tari terbatuk-batuk, sebagian sperma pemuda itu keluar dari sisi bibirnya. Kulihat Al menyapu dengan jarinya dan meratakannya ke seluruh bagian wajah Tari.
Terdengar Tari menangis sesenggukan saat Al bangkit dan mengenakan celananya kembali. Kukira Al sudah akan mengakhiri aksinya. Ternyata tidak. Kulihat ia mengambil kamera digital dan memotret istriku yang tengah tak berdaya.
Al membuka lebar-lebar bagian dada jubah istriku. Tari memalingkan wajah ketika Al memotret payudaranya yang terbuka dari jarak dekat. Al juga memotret sambil berdiri dengan sebelah kakinya menginjak sebelah payudara Tari. Ia juga lakukan itu pada vagina Tari.
Baru setelah itu kulihat ia melepaskan ikatan di tangan dan kaki Tari. Istriku langsung meringkuk membelakangi Al. Tetapi Al malah menyingkapkan jubahnya sampai ke pinggang. Kulihat ia memotret lagi istriku dengan pantatnya yang terbuka. Ia bahkan menguakkan bongkahan pantat Tari untuk melihat vaginanya dan memotret lagi dengan dua jarinya masuk ke vagina Tari.

jilbab maniak seks (20)
Aku agak kaget melihat Al kemudian menampar keras sekali pantat Tari. Kulihat Tari sampai memekik. Ternyata, itu salam perpisahan dari Al.
Sepuluh menit terakhir rekaman itu hanyalah gambar Tari tiduran meringkuk. Tampaknya ia menangis karena sesekali tubuhnya terlihat berguncang.
Kusimpan hasil rekaman rahasia itu di tempat yang aman. Lalu aku kembali ke kamar. Tari terlihat tidur amat pulas. Posisinya seperti bagian akhir rekaman tadi.
Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai bokongnya yang bundar terlihat. Masih terlihat merah bekas tamparan Al di kulitnya yang mulus. Kusibakkan pantatnya hingga terlihat vaginanya yang tembam.
Sebetulnya, aku ingin menyetubuhinya malam ini. Tetapi, aku kasihan melihatnya kelelahan. Akupun tidur sambil memeluknya.

Dua hari kemudian, kutemui Bob di rumahnya. Kuceritakan kecurangan Al beraksi sendirian. Gilanya lagi, kuperlihatkan hasil rekaman rahasiaku kepadanya.
“Wah, Al curang. Dia harus membayar kecurangannya ini,” katanya sambil matanya tak lepas dari layar TV yang memperlihatkan adegan saat istriku mengulum penis Al.
“Bagaimana ?” sahutku.
“Dia harus memberi kita kesempatan memperkosa pacarnya,” jawab Bob.
Bob serius dengan ucapannya. Buktinya, ia langsung menelepon Al saat itu juga.
“Kamu nggak boleh ngentot Tari sendirian. Sekarang juga kamu ke sini. Kita bicarakan skenario perkosaan pacarmu ! Kalau kamu menolak, kita bisa habisi kamu rame-rame !” ancamnya.
Ancaman Bob rupanya manjur.
Buktinya, Al 1 jam kemudian datang. Ia minta maaf sekaligus menyetujui pacarnya kita perkosa. Well. kawan-kawan yang lain pun kami kontak. Tahu bahwa mereka bakal segera menikmati tubuh Fika Aditya, mahasiswi Farmasi UAD berusia 22, mereka pun datang.
Aku sudah pernah melihat Fika. Cantik dan tubuhnya terlihat ranum. Wajar karena usianya yang masih muda. Kalau dia seusia Tari, mungkin dia pun lebih montok dari Tari. Bedanya dengan Tari adalah cara berpakaiannya. Fika juga berjilbab, tapi jilbabnya jilbab gaul. Jilbab pendek yang dilingkarkan di leher. Seringkali pakai blus atau t shirt lengan panjang ketat yang menampakkan tonjolan lumayan besar di dadanya. Bahkan, cenderung terlalu besar untuk tubuhnya yang imut.
Al pernah cerita tentang payudara Fika yang luar biasa itu. Katanya, tiada saat kencan terlewatkan tanpa ia mengulum kedua puting Fika. Tak cuma itu, katanya, dia juga suka menjepitkan penisnya di antara dua gunung kenyal itu sampai senjatanya menyemprotkan peluru lendir putih ke wajah Fika yang lembut.
Semua bersemangat mengajukan usulan skenario perkosaan. Al tak banyak bicara. Mungkin masih merasa sayang menyerahkan pacarnya untuk digarap rame-rame.
“Kenapa Al ? Nggak ikhlas ?” aku tanya dia.
“Nggak kok pak…. nggak papa,” sahutnya.
“Iya lah, kita kan udah sepakat saling berbagi. Lo dapet memek bini gue, gue juga boleh dong maenin memek Fika,” kataku.
“Iya Pak… silakan. Lagian, saya juga kepengen ganti pacar nih,” sahut Al.
Well, akhirnya sebuah skenario bagus pun disepakati.
****
Masih petang. Aku, Bob dan Ben memarkir mobil di salah satu sudut sebuah taman dekat kampus. Di depan taman ini ada lahan berbentuk lembah. Beberapa pasangan terlihat duduk berdua-duaan. Tempat ini memang sering digunakan untuk berkencan pasangan yang sedang dilanda cinta.
Tak lama kemudian terlihat mobil Avanza Al datang. Ia memarkir mobilnya di sudut lain taman itu. Yang pertama turun adalah seorang gadis manis berkerudung pink. Ujung kerudungnya dibelitkan ke leher dan dimasukkan ke leher t-shirt ketat berlengan panjang berwarna putih. Celananya blue jeans ketat yang menampakkan bentuk tungkai dan paha yang indah.
Ben yang belum pernah melihat Fika berdecak. “Wow…. kelihatanya itu tetek bisa kita bikin melembung. Ane pengen iket pangkalnya pake tali,” kata Ben.
“Bibirnya kelihatannya enak kalo dipake ngemut kontolku,” timpal Bob.
Aku diam saja. Yang jelas memek mahasiswi itu harus merasakan kontol kami semua.
Al terlihat menyusul keluar lalu menggandeng pacarnya berjalan ke lembah. Dari belakang punggung Fika, Al memberi kode ibu jari kepada kami. Kami biarkan sejoli itu berasyik masyuk di lembah dulu. Hampir satu jam kemudian keduanya masuk mobil. Sebentar lagi, skenario penyergapan akan kami jalankan.
Ben menyiapkan handycam. Aku dan Bob memegang pentungan karet. Kami semua mengenakan seragam security.
Dengan tegang kami menunggu. Dan akhirnya, lampu mobil Al berkedip. Itu kode dari Al. Segera kami mendekati mobil Al. Aku dan Bob membuka kedua pintu depan. Ben membuka pintu tengah sambil menyorotkan kameranya.
Terdengar pekik kaget seorang gadis.
Kami semua melotot. Fika tengah duduk mengangkangi selangkangan Al yang berbaring di jok mobil yang direbahkan. Celana blue jeans gadis itu telah lepas, begitu pula celana dalamnya. Celana panjang Al pun melorot. Terlihat jelas penisnya melesak ke dalam vagina Fika.
T-shirt lengan panjang Fika digulung sampai ke atas payudaranya. Branya pun telah terlepas. Sepasang buah dada gadis itu tampak ranum. Fika yang pucat pasi dengan panik menurunkan t-shirtnya dan tangannya mencoba menutupi vaginanya. Tetapi Al, sesuai skenario malah memegangi pinggulnya dan “Ahhh….” tampaknya ia orgasme dan menumpahkan spermanya ke dalam vagina Fika.
“Bagus ya ?! Pake jilbab dan ngentot di tempat umum. Sekarang kalian harus ikut ke kantor,” bentak Bob.
Fika kelabakan, antara malu dan takut segera beringsut ke jok sebelah. Gadis itu kerepotan menutupi pangkal pahanya dengan ujung t-shirnya. “Pak…. tolong…. celana saya….” pinta Fika memelas kepada Bob yang menguasai celana blue jeans, cd dan bra-nya.
“Nggak usah. Kamu duduk di situ aja. Nanti pake celananya di kantor. Heh… kamu ikut ke mobil sana. Cewekmu pake mobil ini sama bapak ini,” lanjut Bob sambil menunjukku.
Al dengan lagak panik, segera mengenakan celananya dan keluar mengikuti Bob. “Pak… pacar saya jangan diapa-apain…. tolong pal,” kata Al kepadaku.
“Nggak…. paling gue suruh ngemut kontol gue,” sahutku. Al berlagak marah, tetapi Bob dan Ben mendorongnya ke mobil.
Pintu mobil sudah ditutup. Fika yang gemetaran duduk di sebelahku. Gadis manis itu mulai terisak. Ia masih kerepotan menutup sepasang pahanya yang mulus.
“Pak… tolong…. bisa kan kita selesaikan ini ?” katanya. Aku pura-pura cuek dan mulai menyetir.
“Pak… hik…. orangtua saya bisa marah besar….” katanya lagi.
“Kamu punya usul apa supaya ini kita selesaikan ?” aku mulai memancing dia.
“Mungkin…. pake…. uang….” sahut Fika ragu-ragu. Aku menatapnya dengan lagak marah.
“Huh, kamu pikir kita bisa dibeli ? Cewek sombong. Memekmu aja kamu kasihkan ke cowok itu gratis….” Fika terlihat terpukul.
“Tolong pak…. bapak ingin apa ?” katanya. Ini dia pertanyaan yang aku suka.
“Menghadap ke sini dan perlihatkan tetekmu !” sahutku.
Fika kaget. Tapi tampaknya dia merasa tidak punya pilihan lain. Diangkatnya ujung t-shirtnya ke atas dadanya. Sepasang buah dada yang montok, putih mulus menggantung indah di situ. Mahasiswi Farmasi UAD itu menggigit bibirnya ketika tangan kiriku menjamah sebelah payudaranya. Wow… payudara yang kenyal, liat dan hangat… terlalu besar untuk digenggam. Kuremas agak kuat….
“Aduh….pelan-pelan pak…..” pintanya. Kini jempol dan telunjukku malah memilin-milin putingnya. Kujepit agak keras dan kutarik ke arahku. Fika merintih….”Aduh pak…. sakit pak…. aaaihhhh….” Fika memekik ketika putingnya agak kasar kubetot baru kemudian kulepaskan.
“Sekarang kamu perlihatkan memekmu….” lanjutku. Fika masih mengusap-usap putingnya.
“Tapi…. tapi kita bisa selesaikan ini kan pak ?” sahutnya.
“Bisa…. makanya kamu jangan banyak nanya. Nurut aja apapun yang aku suruh,” kataku.
Gadis itu beringsut, membenahi posisi duduknya hingga kini pahanya mengangkang menghadapku. Wow…. memeknya yang tanpa jembut itu terlihat kemerahan. Dari celahnya terlihat menetes sperma Al. Tangan kiriku langsung merabanya. Dua jariku tak sabar langsung menerobos. Fika memekik…. Masa bodoh, kuaduk-aduk vagina yang basah oleh sperma itu. Lalu kukeluarkan kedua jariku yang berlumur sperma. Kusodorkan ke mukanya.
“Emut jariku…” kataku.
“Tapi pak….. adududuh…..iya….. iyaaaa…..” Fika coba membantah tapi jariku langsung menarik putingnya kuat-kuat. Dan kini, Fika mengulum dua jariku yang basah oleh sperma Al.
Gila, penisku menegang kuat. Kukeluarkan saja dari celah ritsleting….
“Sekarang bantu aku…. emut kontolku dan telan spermanya. Itu kalau kamu mau ini kita selesaikan baik-baik….” kataku.
Fika tampaknya tahu bahwa ia tak mungkin membantah lagi…. Gadis itu segera menundukkan kepalanya ke selangkanganku. Fiuhhhh…. rasanya sungguh luar biasa, menyetir sambil penis dioral oleh mahasiswi cantik berjilbab. Siapa yang punya pengalaman langka ini ?
Fika tampaknya berusaha keras membuatku segera klimaks. Tapi aku sudah siap untuk momen ini. Jadi, kulumannya pada penisku betul-betul bisa kunikmati tanpa segera ingin orgasme. Fika diam saja ketika tangan kiriku asyik bermain dengan kedua payudaranya. Gadis berusia 22 tahun itu sesekali mengerang-erang karena payudaranya sesekali kucengkeram dan kubetot seolah hendak menariknya lepas. Atau saat kedua putingnya yang kuperlakukan seperti itu. Entah kenapa aku senang sekali menarik puting sampai jauh….
10 menit lagi sampai rumah Bob. Fika masih berusaha keras untuk membuatku orgasme.
“Ayo cepat… sebentar lagi sampai kantor. Kamu nggak mau pacarmu ngelihat kamu lagi ngemut kontolku kan ?” kataku sambil memelintir sebelah putingnya.
Dan Fika memang betul-betul berusaha. Ia menyedot dan menjilati penisku dengan berbagai gaya. Akhirnya aku sampai juga.
Sekujur tubuhku bergetar merasakan sensasi hebat ini. Menumpahkan sperma di dalam mulut seorang gadis berjilbab. Rasanya spermaku tak habis-habis. Untung mobil sudah masuk halaman rumah Bob. Sebab, tanganku yang memegang kemudi bergetar hebat.
Kuhentikan mobil. Kepala Fika kutahan sehingga penisku tetap di dalam mulutnya sampai tetes sperma terakhir. Fika pun terpaksa menelan spermaku. Wajah putih gadis itu jadi kemerahan setelah ia melepaskan penisku dari kulumannya.
“Gimana, spermaku enak ?” godaku.
Fika menggigit bibirnya. Sejurus kemudian ia celingukan melihat garasi rumah Bob yang luas.
“Kantor apa ini ? Kita di mana ? Pacar saya di mana ?” katanya. Setitik spermaku masih terlihat di sudut bibirnya.
“Sudah, kamu sekarang turun. Ambil celanamu di ruang sana,” kataku.
Meski ragu, Fika turun juga. Apalagi, garasi itu terlihat sepi. Dengan tetap berusaha menarik turun bagian bawah t-shirtnya, Fika setengah berlari ke pintu terbuka di ujung garasi. Dia tak tahu apa yang akan terjadi di sana.
Mobil Al kuparkir dan aku turun menyusul Fika. Siap berpesta bersama serigala-serigala pecinta tubuh gadis berjilbab.

Begitu memasuki ruangan, kulihat Fika berdiri dengan canggung di depan Bob dan Ben yang duduk di sofa. Gadis itu masih memegangi ujung t-shirtnya yang tak cukup panjang untuk menutupi pangkal pahanya. Sambil berlalu di belakang Fika, kutarik ke atas ujung t-shirtnya.
“Aiihhhhh……” Fika memekik, apalagi pantatnya yang montok kemudian kuremas.
Aku kini duduk di sebelah Bob dan Ben. Fika terlihat membenahi lagi ujung t-shirtnya. Gadis itu menggigit bibir dan mulai terisak.
“Pak…. tolong….. saya mohon…. jangan perlakukan saya seperti ini…. tolong…. ihik…. Mas Al mana pak ?” katanya memelas sambil membenahi kacamata minus yang bertengger di hidung mancungnya.
Bob berdiri sambil menyulut rokoknya dan mendekati Fika.
“Bisa kita atur Non. Tapi aku mau tanya dulu, ini apa sih ?” Bob mendekat dan mencolek sudut bibir Fika. Ada bekas spermaku di situ.
“Kok ada sperma di sini ?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok ke wajah manis Fika.
“Punya…. bapak itu…” sahut Fika sambil melirik aku. Bob berjalan ke belakang Fika. Dan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Fika memekik. Tubuhnya gemetar tapi ia tak kuasa menolak kedua tangan Bob yang langsung menyusup ke balik t shirtnya dan menggenggam kedua buah dadanya.
“Kok cuma kontol bapak itu yang kamu isep ? Saya sama dia gimana ?” kata Bob sambil menjilat pipi Fika. Gadis itu makin terisak. Tahu-tahu Fika melorot dan duduk bersimpuh sambil menangis. Ia tidak terlalu berontak waktu Bob meloloskan t-shirtnya lewat kepala. Kini tinggal jilbab pink yang melekat di kepalanya.
Bob kembali ke sofa. Lelaki gendut itu melepas celana panjang dan celana dalamnya.
“Sini kamu, kontolku juga diisep…. Cepat ! Kalau nggak, kontol pacarmu kita gebuk pake pentungan ini biar nggak bisa nyodok memekmu lagi !” perintah Bob. Akhirnya, kami melihat mahasiswi imut itu merangkak ke arah kami. Sepasang payudaranya berayun-ayun. Pinggulnya yang besar dan montok sungguuh menggemaskan.
Kedua pipi gadis itu basah air mata. Bob mengangkat dagunya. “Ayo, cepet isep kontolku biar kamu cepet pulang….” kata Bob.
Sambil terisak, Fika berusaha meraih penis Bob. Tidak mudah, sebab penis Bob terhalang perutnya yang buncit. Tapi akhirnya bisa juga penis Bob yang masih mengkeret masuk ke mulut Fika. Lelaki gendut itu terlihat merem melek…..
Ben tak mau tinggal diam. Cowok keturunan Arab itu juga sudah melepas celananya. Fika masih sibuk dengan penis Bob. Ben menarik tangan kanan Fika dan mengarahkannya untuk menggenggam penisnya yang hitam dan besar. Tangan Ben sendiri kini mulai menjamah payudara Fika yang berayun-ayun.
Pemandangan di ruangan itu jadi super aneh. Seorang lelaki gendut setengah berbaring di sofa. Di depannya, gadis imut menyurukkan kepalanya yang berjilbab pink di tengah selangkangan si gendut. Tangan kiri gadis itu sibuk memegangi penis Bob sementara tangan kanannya juga melakukan hal yang sama pada penis Ben.
Pemandangan aneh itu jelas membuatku bergairah lagi. Apalagi, dari belakang terlihat pemandangan yang luar biasa. Pinggul Fika ketika berbusana lengkap saja sudah menggairahkan. Kini, pinggul itu terbuka bebas….
Dari belakang terlihat jelas vagina Fika. Bekas-bekas sperma Al mulai mengering di sekitar bibir vagina dan kedua belah paha mulus Fika. Tubuh Fika bergetar ketika bagian dalam kedua pahanya kucengkeram. Ia juga mengerang saat vaginanya kubekap dengan telapak tanganku. Fika berusaha berontak, tetapi Bob dan Ben memegangi kedua tangannya.
“Memek yang indah…. sayang kalau cuma dinikmati satu cowok,” kataku sambil menjambak rambut kemaluan Fika yang tak seberapa lebat.
“Mmmfff…. mmmfffff….” Fika mengerang kesakitan. Apalagi kemudian kucabut sehelai.
Vagina Fika memang indah. Labia mayoranya tembam. Bibir kemaluannya masih rapat. Tidak terlihat bagian labia minoranya yang melet keluar. Indah sekali ketika bibir vagina yang rapat itu aku kuakkan…..
“Pink dan basah…. gue seneng memek yang kayak gini….” kataku sambil menyentuh klitoris Fika.
Telunjuk dan ibu jari kiriku melebarkan bibir vagina Fika, lalu telunjuk dan jari tengah kananku mulai masuk. Fika mengerang dan berupaya berontak.
“Nggak usah berontak Non…. mending lo nikmatin aja. Mulai hari ini lo akan belajar menikmati banyak kontol,” kataku sambil memutar-mutarkan dua jariku di dalam vagina Fika.
Wow….vagina yang rapat dan lembut. Dua jariku seperti diremas-remas di dalam sana. Di ujung jariku terasa dinding yang lembut tapi liat….
Masih terasa sisa-sisa sperma Al di dalam vagina Fika. Kugerak-gerakkan 2 jariku maju mundur, berputar dan menggaruk-garuk dindingnya yang lembut. Perlakuan itu bagaimanapun pasti mendatangkan kenikmatan tersendiri bagi gadis seperti Fika. Apalagi, ia sebelumnya juga merasakan kenikmatan yang terputus bersama pacarnya.
Kurasakan pinggul Fika mulai bergerak-gerak merespons kehadiran jariku di dalam vaginanya. Sementara Bob tampaknya bakal segera klimaks. Lelaki gendut itu memegangi kepala Fika yang berjilbab pink dengan kedua tangannya. Sejurus kemudian terdengar Bob menggeram…. Fika meronta-ronta, tetapi Bob terus memegangi kepala gadis itu.
Beberapa saat kemudian, Bob mencengkeram dagu Fika. Gadis itu terus terisak-isak. Jelas ia merasa terpaksa menelan sperma Bob.
Penisku menegang lagi melihat adegan itu. Celanaku sudah kulepas. Kini penisku dalam keadaan siap tempur. Ini saatnya untuk mendapat balasan atas kebaikanku meminjamkan tubuh istriku kepada Al cs.

RATNA

Sekarang aku sudah kuliah di PTS terkemuka di kota B, Di kampus aku sudah lama aku berkenalan dengan Ratna teman kuliahku. Orangnya pendiam,tidak banyak omong, namun apabila suah kenal, akan nampak bahwa dia ternyata sangat supel. Dengan jilbab yang menghiasi wajahnya, tubuhnya yang sangat montok tidak banyak menarik perhatian orang. Pernah sekali aku melihat dia memakai baju biasa tanpa jilbab, waktu aku main ke kostnya. wow, ternyata Ratna sangat sexy. Namun pemandangan itu hanya sebentar saja, karena dia cepat-cepat mengganti baju tidurnya dengan pakaian jilbabnya. Hal itu mengingatkan aku akan kakakku dan semakin membuatku ingin menjamah tubuhnya. Namun selalu saja dia bisa menolak. Paling-paling, kami hanya berciuman, namun tidak pernah lebih dari itu.

Siang itu Ratna kuajak jalan-jalan, hutan wisata yang ada di sebelah Utara kota B. Setelah parkir, akupun mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dan strategis buat pacaran. Begitu dapat, kamipun asyik ngobrol ngalor ngidul. Tak sengaja, tanganku asyik mngelus-elus jemarinya di atas pahanya. Ratnapun menatapku dengan sayu. Segera kucium bibirnya yang mungil. Ratnapun menyambut dengan antusias. Lidahnya dengan lincah memilin lidahku hingga membuatku tersengal-sengal. Kudekap erat tubuhnya, sambil tangan kananku mencoba meremas remas pantatnya yang bahenol dan dia tidak menolaknya. Tubuhnyapun bergetar hebat. Pelahan tanganku merayap menyingkapkan rok panjangnya dan mengusap pahanya yang ternyata sangat mulus sekali ketelusupkan jemariku ke dalam celana dalamnya. “ Mas, jangan ahhh, malu dilihat orang” katanya sembari mencoba mencegah tanganku beraksi lebih lanjut. “Pindah tempat yuk, yang lebih aman,” ajakku sambil terus mencoba meremas payudaranya. Ratna langsung menggelinjang. Terasa buah dadanya yang ranum mulai mengeras, tanda bahwa Ratna mulai terangsang hebat. Matanya yang sayu jadi tampak mesum, tanda Ratna dilanda rangsangan berahi yang amat dahsyat. Kamipun segera berbenah diri, membetulkan pakaian yang sempat berantakan.

Kami pun segera pulang dan ku ajak Ratna ke rumah kontrakanku, karena aku di kota B mengontrak rumah mungil dan tinggal sendirian.
Saat itu, hari sudah gelap. Sebenarnya aku sudah nggak tahan lagi ingin mencium dia lagi, dan tahu sendirilah selanjutnya. Tapi gimana lagi, lha wong Ratna hanya diam terpaku. Aku jadi malah takut, jangan-jangan dia menyesal telah mau kuajak nginap di rumahku. “Em, lagi mikirin apa? Kok termangu-mangu ?” tanyaku sambil menghampirinya. Ratna hanya memandangku sekilas. “Sudahlah, tiduran saja di kasur, aku nanti biar tidur di sofa. Aku janji nggak akan menyentuhmu kecuali kalu Ratna pengen,” kataku lagi sambil menuju sofa.

Tiba-tiba Ratna menangis dan kuberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Ratna tak menolaknya. Setelah agak tenang kubisiki dia bahwa dia tampak cantik malam ini apalagi dia mengenakan jilbab yang aku sangat suka akan wanita yang mengenakan jilbab. Ratna tersenyum dan menatapku dalam, lalu memejamkan matanya. Kucium bibirnya, hangat, dia menerimanya. Kucium dia dengan lebih galak dan dia membalasnya, lalu tangannya merangkul pundakku. Kami berciuman dengan penuh nafsu. Kusibakkan jilbabnya yang menutupi lehernya lalu aku turun ke lehernya, Ratnapun mendesah “aaaahh.” Mendengar itu kuberanikan meremas payudaranya yang montok. Ratna mendesah lagi, dan menjambak rambutku. Setelah beberapa saat kulepaskan dia. Ratna sudah terangsang, kuangkat baju panjangnya, tampaklah bra hitamnya yang sangat kusukai, kumulai meremas payudara yang masih terbungkus branya, diapun melenguh terangsang. Lalu mulai kusingkap bra hitamnya ke atas tampaklah gunung kembar yang pas dalam genggaman tanganku, dengan punting merah-coklat cerah yang telah mengeras. Kubasahi telunjukku dan mengelusnya, Ratna hanya memjamkan matanya dan menggigit bibirnya.

Kulanjutkan menyingkap rok panjangnya, dia memakai CD warna hitam berenda transparan sehingga tampak sebagian rambut kemaluannya yang lembab. Sengaja aku tidak melepas jilbabnya dan pakainya, karena Ratna tampak lebih sexy dengan hanya memakai jilbab dan pakaian yang tersingkap. Kumulai menurunkan CD hitamnta dan WOW, ternyata jembutnya tidak terlalu lebat dan rapi, rambut di sekitas bibir kemaluannya bersih, hanya di bagian atasnya. Dan kemaluannya tampak kencang dengan clitoris yang cukup besar dan mulai basah. “Kamu rajin mencukur ya,” tanyaku. Dengan wajah memerah dia mengiyakan. Kupangku dia dan mulai menciuminya lagi, dan sapuan lidahku mulai kukonsentrasikan di puntingnya, kujilati, kutekan bahkan kugigit kecil dengan gigiku, Ratna menggelinjang keasyikan, dan mendesah-desah merasakan rangsangan kenikmatan. Tangan kananku mulai memainkan clit-nya, ternyata sudah banjir, kugesek klitorisnya dengan jari tengahku, perlahan-lahan, desahan dan lenguhan makin sering kudengar. Seirama dengan sapuan lidahku di puntingnya, Ratna makin terangsang, dia bahkan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke payudaranya, “Mas, enakh… banget…enakh…” Desahannya dan lenguhannya. Kira-kira 5 menit dari kumulai, badannya mulai mengejang dan “Mas… Ratna… mo… keluaaaarrr!” Sambil berteriak Ratna orgasme, denyutan kemaluannya kurasakan di tangan kananku. Ratna kemudian berdiri. “Sekarang giliranmu,” katanya. Celanaku langsung dilucutinya dan akupun disuruhnya berbaring. Salah satu tangannya memegang kemaluanku dan yang lain memegang zakarnya, dia mengelusnya dengan lembut “mmmmhhh…,” desahku. “Enak ya, Mas.” Akupun mengangguk. Ratna mulai menciumi kemaluanku dan mengelus zakarnya, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku, kocokannya sungguh nikmat. Aku heran, sejak kapan dia belajar mengulum dan mengocok kemaluan lelaki. Nampak dia sudah sangat mahir dalam urusan kocok mengocok kemaluan laki-laki. “Belajar darimana Rat, kok lincah banget?, tanyaku. “Hmmm, aku pernah liat BF bareng teman-teman di kostku. Kayaknya enak banget, dan ternyata memang benar,”jawab Ratna sambil terus mengulum kemaluanku. Ratna tampak sexy dengan jilbab yang masih terpasang diwajahnya, namun payudaraya keluar karena kaosnya terangkat keatas. Bibirnya yang mungil sibuk melumat habis kemaluanku.

Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti. “Mas, kontolmu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku makin terangsang nich.” Aku hanya tersenyum, lalu kuajak dia main 69, dia mau. Kemaluananya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Ratna masih asyik mengocok kemaluanku. Saat itu aku baru menikmati lagi kemaluan seorang wanita, setelah kakakku menikah. Aku mulai menjilati kemaluannya, harum sekali bau sabun dan bau cairan kewanitaanya, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap kemaluanya keras-keras. “Masss… I lovvve ittt, babbyy”, dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena kenaluanya sedang kujilat dan saat itulah aku rasakan cairan wanita lagi selain punya kakakku dulu yang asam-asam pahit tapi nikmat.

Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum keluar dan aku bilang ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan kontolku ke sela-sela pahanya yang menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Baru dijepit pahanya saja, rasanya sudah di awang-awang. Apalagi kalau kemaluanku bisa masuk ke kemaluanya. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku. Ratna memandangku dengan sayu. Segera kukulum puting payudaranya yang tampak mengeras itu, kontan dia melenguh hebat. Ternyata puting payudaranya merupakan titik rangsangnya. Dengan diam-diam aku mulai menempelkan kemaluanku ke dalam kemaluanya yang ternyata sudah basah lagi.
Kugesek gesek dam ku tekan tekan kemaluanku ke kemaluannya karena aku tidak mau mngambil keperawanannya, karena aku sangat mencintai dan menyayanginya.
Saat aku berada di atas Ratna, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan “Mass… aku mauuu keluaarrr” dan aku juga menjawabnya “Em… kayaknya akuu jugaa maauu…” nggak sampai 2 atau 3 detik, badanku dan Ratna sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari kemaluanku diatas kemaluannya dan aku juga merasa ada yang membasahi kemaluanku dengan amat sangat. Setelah itu, Ratna terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya. Aku mulai membelai-belai rambutnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas.

Keesokan harinya aku terbangun dan melihat ratna sudah memakai pakaian dan jilbabnya dengan rapi, kemudian dia memelukku serta berkata
” Mas makasih kamu tidak mengambil keperawanku, padahal aku sudah tidak tahan lagi untuk merasakan kemaluanmu yang besar itu”
Aku tersenyum lalu aku bilang “selaput daramu nanti akan aku minta pada malam pertama setelah kita menikah nanti”
Setelah kejadian itu, kami sering melakukan lagi tapi hanya sebatas oral dan petting saja.

MALAPETAKA DI HUTAN

Tangan Johan memegang pinggang Hanifah dan mulai menarik maju mundur badan wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

***

Desa itu desa terpencil, yang berada di tepi sebuah hutan yang besar dan gelap. Karena keterpencilannya, maka jarang sekali ada orang yang masuk ke desa itu. Setelah lama tidak pernah ada pendatang, pada suatu hari datanglah sepasang suami istri muda. Sang suami, Farid, adalah seorang guru SD yang dengan sukarela mau mengajar di desa terpencil itu. Sementara sang istri, Hanifah, ikut sebagai pendamping, dan membantu mengajar TPA di masjid kecil di tengah desa.

Segera mereka berdua menjadi terkenal. Farid, berusia 28 tahun, yang guru dan sangat pandai dalam hal agama sering diminta menjadi pembicara pengajian sampai ke desa-desa tetangga yang lumayan jauh, selain juga menjadi guru di SD-SD tetangga yang kekurangan guru. Hanifah, seorang ibu muda cantik yang baru berusia 22 tahun, sangatlah populer di kalangan anak-anak dan ibu-ibu. Kelembutannya dalam berbicara, kepandaiannya dalam hal agama, dan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak membuatnya menjadi idola di desa itu.

Hanifah adalah seorang wanita yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luar biasa cantik sungguh mengundang birahi banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Hanifah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas membayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambil mambayangkan bersetubuh dengannya, wanita alim yang bahenol. Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar-benar menginginkannya. Mereka adalah Arman dan rekan-rekannya, para pemburu yang suka keluar masuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sungguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenol yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya di dalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid, suami Hanifah, dipanggil ke kota untuk mengikuti pembekalan guru tingkat lanjut. Tiga hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Hanifah tidak ikut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Arman dan rekan-rekannya untuk menuntaskan nafsunya pada ibu muda alim yang molek itu.

Saat malam tiba, setelah sholat Isya’, Hanifah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah Arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera Arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“Diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi ke arah Hanifah. Wanita itu kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, di bawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Hanifah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuhnya yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Hanifah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian, Hanifah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Hanifah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya di luarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya, perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah, Ibu yang cantik, sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami karena sudah membuat penunggu hutan ini resah.” ujar Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Hanifah yang tertutup jilbab yang tersingkap dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya.

Hanifah bingung. “A-apa salah saya, pak?” tanyanya.

“Diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tahu!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak Arman lagi.

Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan Arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm, hukumannya apa ya?” Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Ah iya, mbak Hanifah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami. Tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak.” lanjut laki-laki itu datar, nyaris tanpa emosi. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar-benar seret dan legit.

Hanifah yang mendengarnya tersentak kaget, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar. Dia terkesiap, tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, Hanifah hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

“Jangan!” pintanya dengan pasrah. “Kalian minta apa saja, silahkan. Tapi jangan seperti itu…”

“Hehehehe… ” Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Mbak hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”

Hanifah gemetar ketakutan, air matanya semakin deras mengaliri pipinya yang mulus. Wanita itu tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

“Bagaimana, Non?” Arman bertanya datar.

Hanifah diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga pemburu itu langsung meledak penuh kemenangan.

“Horee… Asiik.! Hari ini kita bakal dapat tontonan bagus. Jarang lho ada wanita alim, berjilbab lebar secantik Mbak mau menari bugil buat kita,” kata Pak Man yang dari tadi diam saja dengan nada dibuat-buat.

Hanifah menunduk sambil menggigit bibirnya untuk menahan malu dan takutnya yang makin memuncak. Ia merasa bersalah terhadap Farid, suaminya, yang sedang ada di kota.

“Tunggu dulu, pakai musik dong.” kata Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

“Nah, ayo dong, Non. Mulai goyangnya.” seru laki-laki itu di sela-sela suara musik yang lumayan keras.

Hanifah mencoba pasrah. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan erotis yang coba ia tiru dari joged para penyanyi dangdut di TV. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan, membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika ketiga pemburu itu bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantatnya. Apalagi saat gadis berjilbab itu mulai membuka kancing jubahnya satu per satu, mereka makin bersorak.

Saat ia merasa sangat malu dan sejenak berhenti, senjata berburu Arman langsung teracung padanya, membuatnya takut dan segera melanjutkan goyangannya. Ketiga pemburu itu terdiam saat jubah Hanifah meluncur turun ke tanah, memperlihatkan tubuh yang sangat montok, putih dan mulus tanpa cacat. Birahi mereka langsung memuncak.

“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka sambil terus memelototi tubuh Hanifah yang bergoyang erotis. Wanita alim yang bahenol itu lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutupi payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Hanifah yang masih kencang sekarang tergantung telanjang, begitu putih dan mulus. Payudara itu berguncang seirama gerakannya.

Melihat bulatan daging yang begitu mulus itu, ketiga pemburu itu makin liar berteriak, meminta Hanifah untuk membuka celana. ”Celana! Sekarang celanamu… buka! Buka!”

Hanifah dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnya dan melemparkannya ke tanah. Sekarang ibu muda berjilbab itu sudah telanjang bulat di hadapan ketiga pemburu yang memelototinya dengan penuh nafsu. Dia meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga pemburu itu tampak paling suka saat Hanifah melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah milik Anisa Bahar. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Jilbab yang tersampir dipundaknya dan kaus kaki putih yang membungkus kaki sampai betisnya membuatnya semakin cantik.

Selama hampir satu jam Hanifah menghibur ketiga pemburu itu dengan tarian bugilnya. Tubuhnya sampai basah karena keringat, membuat kulitnya yang putih mulus terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Arman menyuruhnya berhenti.

“Hehehehe… Ternyata Mbak pintar juga narinya. Kami jadi terangsang lho.” kata laki-laki itu sambil tersenyum keji.

“Sudah cukup, Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak. Sekarang lepaskan saya.” pinta wanita alim yang bahenol itu dengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan memeknya yang terbuka.

“Cukup?” Arman tertawa. “Hukumanmu belum lagi dimulai.”

Hanifah merasa mual mendengar ucapan itu. Kalau yang tadi belum apa-apa, ia ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

“Hukuman selanjutnya… sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala!” Arman memerintah dengan jelas.

Hanifah tersedu sesaat, tapi wanita alim itu mulai membuka kakinya lebar-lebar, membuat bagian selangkangannya terkuak lebar sehingga memperlihatkan memeknya dengan jelas. Benda itu terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Hanifah selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat demi menyenangkan suaminya. Selanjutnya tangannya diangkat ke atas dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya, membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat hingga terlihat makin membusung dan mencuat menggemaskan.

“Nah, sekarang… boleh nggak kami meraba tubuh Mbak?” tanya Arman.

Hanifah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu. Wanita alim itu mengangguk sambil menangis.

“Sekarang kita mulai ya,” kata Arman.

Hanifah hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan laki-laki itu mulai bergerilya di wajah putih mulusnya.

“Uhh, wajahmu mulus sekali, Non.” Arman mencium pipi Hanifah.

Antara geli dan jijik, Hanifah memejamkan mata saat Arman mulai menelusuri bibirnya yang merah dan melumatnya dengan gerakan lembut. Laki-laki itu terus berusaha mendesakkan bibirnya untuk mengulum bibir Hanifah, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut wanita cantik itu, sementara tangannya bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Hanifah yang putih mulus. Hanifah menggelinjang menerima perlakuan itu.

Sambil bibirnya terus mengulum bibir wanita alim itu, tangan Arman kini memilin-milin puting payudara Hanifah dengan gerakan kasar. Hanifah meringis kesakitan, tapi perlahan perlakuan laki-laki itu justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuhnya menegang saat sensasi itu melandanya. Tanpa sadar wanita alim itu mulai mendesah. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini.

“Ayo, kalian juga boleh ikut.” Arman memanggil kawan-kawannya.

Hanifah makin menderita mendengar ucapan itu. Tiga orang langsung mengerubutinya. Mereka meraba-raba ke sekujur tubuh montoknya. Pak Man yang berangasan meremas-remas payudara kirinya dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Hanifah yang sekal.

“Uohh, pentilnya dahsyat. Pantatnya juga nih. Kayaknya enak kalo ditidurin,” kata Pak Man.

Sementara di sebelahnya, Johan tampak asyik berkutat dengan payudara Hanifah yang sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara putih bersih wanita berjilbab itu dengan lidahnya.

“Ohh, baru tahu ya?” Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Hanifah. Wanita cantik itu hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Arman mulai menggerayangi memeknya.

“Ohh, tempiknya bagus banget nih, Pak Man.” kata laki-laki itu sambil menggesek-gesekkan jarinya di bibir memek Hanifah.

Pak Man tidak menanggapinya karena kini dia sibuk menciumi dan menjilati payudara Hanifah bersama Johan. Tangan laki-laki tua itu juga membelai-belai perut Hanifah yang licin. Wanita alim itu semakin menggelinjang dan terus mendesah tertahan.

“Ohh…” Hanifah menjerit kecil saat Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke dalam memeknya. “Jangan, Pak…” dia merintih, tapi rintihan pasrah wanita alim itu ibarat musik perangsang bagi Arman dan kawan-kawannya. Laki-laki itu makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Hanifah, bahkan dia juga meremas-remas gundukan memek ibu muda cantik itu. Hanifah makin merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

“Hei, Ar, kayaknya Mbak ini sudah mulai terangsang nih. Tuh lihat, dia mulai merintih, keenakan kali ye?” ujar Johan diiringi tawa. Hanifah makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

“Jangan! Oohh…” wanita itu mulai meracau tidak karuan saat Arman mulai menjilati memeknya. Dia menjerit saat lidah laki-laki itu bermain di klitorisnya. Lidah Arman mencoba mendesak ke bagian dalam memek wanita berjilbab itu sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok memek itu. Sungguh Hanifah tidak mau diperlakukan seperti itu, karena bahkan suaminya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ahkkhh.. Oohh.. jangan!!” rintih Hanifah sambil menggeliat. Semantara Pak Man dan Johan kali ini berdiri di belakangnya sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Hanifah dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara wanita berjilbab itu dipilin-pilin dengan ujung jari seperti orang sedang mencari gelombang radio. Hanifah mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat semakin bernafsu.

“Ayo terus, sebentar lagi dia nyampe.” Pak Man berteriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Hanifah sementara Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan wanita alim itu. Lidahnya terus menyapu bibir memek Hanifah dan sesekali menyentil klitorisnya.

Hanifah menjerit kecil setiap kali lidah Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangan laki-laki itu terus bermain meremasi pantatnya. Tubuh Hanifah sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Hanifah akhirnya menyerah, tubuh montoknya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan memeknya sendiri ke wajah Arman dan menggerakkannya maju mundur dengan liar dan menyentak-nyentak. Hanifah sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

“OOHHHKKHHHH… AGGGHHHH…” wanita berjilbab lebar itu mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Wajahnya merah padam penuh aura birahi, Dan seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan memeknya muncrat keluar. Tanpa sadar Hanifah mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Johan menahan tubuh ibu muda cantil itu supaya tidak jatuh.

Arman tertawa senang melihat bagaimana Hanifah mengalami orgasme dengan begitu dahsyat. “Hehehehe…” dia tertawa seperti orang sinting. “Enak ya, mbak? Galak juga kalau lagi orgasme. Gak ngira kalo cewek berjilbab besar kayak mbak bisa orgasme liar kayak gitu.” sindirnya.

Hanifah hanya diam saja. Tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat. Sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa, membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat hingga wanita alim itu serasa ingin dientot. Namun ia berusaha mengusir pikiran itu.

“Nah, sekarang hukuman ketiganya.” Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

“Nah, Mbak sekarang tiduran di situ ya.” Arman menunjuk ke arah kasur bau itu.

Hanifah hanya bisa mengangguk. Didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora, wanita berjilbab yang biasanya pemalu itu merebahkan dirinya terlentang di atas kasur. Jilbab lebarnya sudah basah penuh keringat. Hanifah refleks membuka kakinya lebar-lebar, sehingga posisinya sekarang telentang di atas kasur dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga pemburu itu terkagum-kagum melihat gadis alim yang sangat cantik, yang biasanya menjaga dirinya dengan jilbab dan jubah panjang, sekarang sudah terlentang pasrah, siap untuk disetubuhi.

Arman segera membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Hanifah sambil mengarahkan penisnya yang besar ke memek wanita berjilbab itu.

“Sudah siap kan, Mbak?” tanyanya lirih sambil mendorongkan penisnya ke dalam memek Hanifah.

“Aagghh…” wanita alim itu merintih keras ketika penis besar Arman mulai memasuki memeknya yang sudah basah. Arman dengan kasar mendorongnya sampai mentok. Karena besarnya diameter penis laki-laki itu, memek Hanifah sampai terlihat tertarik penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Arman. Meskipun Hanifah sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini memeknya dimasuki penis sebesar milik Arman. Wanita berjilbab itu meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk memek Hanifah. Hanifah yang belum pernah dipompa oleh penis sebesar milik Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Wajahnya memperlihatkan kesakitan sekaligus birahi. Sungguh kini ia sudah tak mampu berpikir jernih, dan terhanyut oleh perkosaan yang ia alami.

“AAAHHH… UUUUHHHH… OOOHHHH…!!” teriaknya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangannya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Arman semakin cepat memompa memek Hanifah dengan penisnya. Hanifah yang keenakan, mengangkat kakinya ke atas, memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk terus memompa memeknya dengan lebih cepat lagi dan lebih dalam lagi.

“Aaahh… enak… terus, paaakk… oohhhh… maafkan Hani, mas Fariiiidd… Oooohhh… ini enaaakkk sekaliiii… Aku tidak bisa menahannya!!!” Hanifah mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah dua puluh menit disetubuhi Arman, tiba-tiba badan montok ibu muda berjilbab yang sudah basah bersimbah peluh itu mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Arman, tangannya memeluk erat leher laki-laki itu.

“AAAARRGGHHH…” erang Hanifah saat mencapai orgasme yang kedua. Tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di memek wanita berjilbab lebar itu. Lalu diciuminya seluruh wajah Hanifah. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Hanifah yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia membiarkan bibirnya dilumat oleh Arman dengan kasar.

Setelah bergetar-getar beberapa saat, badan Hanifah kemudian melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Arman, jatuh ke kasur. Memek wanita alim itu yang tersumpal rapat oleh penis Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kasur.

Arman yang juga keenakan, menyusul tak lama kemudian. Si pemburu kasar itu menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Hanifah. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh memek ibu muda alim itu. Rembesannya juga keluar membasahi kasur.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Arman berdiri meninggalkan tubuh Hanifah yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada memeknya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

“Ohhhh…” Arman mendesah penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang wanita berjilbab yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.

Hanifah hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh pemburu ugal-ugalan, tapi dalam hatinya dia tidak memungkiri kalau sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Farid, suaminya, bahkan Hanifah merasa Farid tidak ada apa-apanya dibandingkan Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya, wanita alim itu hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

“Nah, sekarang giliranku.” kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. “Kita ganti gaya ya, mbak…” katanya kalem.

Mungkin karena saking terangsangnya, Hanifah menurut saja apa yang diminta oleh laki-laki itu. Pak Man membalikkan tubuhnya dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Hanifah bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantatnya yang mulus telanjang sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

“Busyeet… pantatnya gede banget, putih mulus lagi.” kata Pak Man kegirangan. Penisnya mulai memasuki memek Hanifah dari belakang.

“Oohh… gila!” laki-laki itu mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam memek sang ibu muda. “Tempiknya Mbak masih seret aja, nggak pernah dipake sama suaminya ya?” Pak Man berujar.

Hanifah hanya diam saja sambil memejamkan mata karena kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding memeknya sebelah dalam. Sekarang Pak Man mulai memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat wanita alim berjilbab itu. Hanifah serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu mencengkeram kepalanya yang masih terbungkus jilbab merah muda, dan ditariknya hingga wajah Hanifah terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali laki-laki itu menggenjotkan penisnya.

“Ahhh… Aahhhh… Ooohhhhh… Ooohhhh…” Hanifah mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya.

Di lain pihak, Arman dan Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok memek gadis berjilbab lebar yang sudah sangat terangsang itu. “Ayo, terus! Terus, Mbak… Yeahh… Ooohhh… Bagus!” seru keduanya bergantian.

”Aghhh.. Aahhhh… Auwhhhh…!” Hanifah yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam memeknya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot tubuh ibu muda cantik itu. Sementara Hanifah sendiri sudah mulai kehilangan kendali, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man.

Saat laki-laki itu minta untuk ganti gaya lagi, Hanifah dengan senang hati mengabulkannya. Kali ini dia telentang lagi. Pak Man mengangkat kedua paha sekal Hanifah dan disampirkan ke pundaknya, lalu kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan wanita cantik itu dan menariknya kuat-kuat. Kemudian dia kembali mendesakkan penisnya ke memek Hanifah dan menggenjotnya kuat-kuat. Wanita alim itu kembali menggeliat antara sakit bercampur nikmat.

Di ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan kembali menindih tubuhnya, Hanifah memeluk laki-laki itu dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai gadis berjilbab itu mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Cairan kentalkembali menyembur dari dalam memeknya.

Tapi Pak Man yang belum terpuaskan, setelah jeda beberapa menit, kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam memek Hanifah.

“Uugghh… Ooohh !” desah Hanifah sambil mencengkeram kasur dengan kuat saat penis Pak Man kembali melesak ke dalam memeknya, cairan yang sudah membanjir di memeknya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis laki-laki itu menghujam. Suara desahan pasrah wanita alim itu membuat Pak Man semakin bernafsu. Dia meraih payudara Hanifah dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan benda kenyal itu.

Lima belas menit lamanya Pak Man menyetubuh Hanifah sampai akhirnya laki-laki itu menggeram saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

“Crott… crot… crot…” spermanya menyembur berhamburan membasahi rahim Hanifah dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh tuanya menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Hanifah. Setelah puas, baru dia bangkit. Dibiarkannya wanita alim yang bahenol itu terkapar di ranjang, wajah Hanifah tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari memeknya yang sempit. Jilbab yang ia pakai sudah kusut dan basah kuyup oleh keringat.

Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut. Dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan wanita berjilbab yang ternyata sangat cantik dan seksi itu.

“Jangan tiduran saja di situ, Mbak cantik.” Johan menarik tangan Hanifah dengan kasar hingga membuatnya tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Hanifah yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil wanita itu dengan ganas.

Mata Hanifah membelalak menerima serangan kilat itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Johan, namun sia-sia karena Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Johan juga semakin turun ke leher jenjangnya yang tidak tertutup jilbab, laki-laki itu membungkukkan badannya agar bisa menciumi payudara Hanifah yang mulus dan sekal. Johan menjilatinya dengan liar hingga permukaan payudara Hanifah basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti puting susu wanita berjilbab itu, memberikan sensasi tersendiri bagi Hanifah. Sementara tangan satunya turun meraba-raba kemaluan Hanifah dan memainkan jarinya disitu, menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak… Pak… Ooohh… Aaaah!” desah Hanifah antara menolak dan menerima.

Johan kembali melumat bibirnya, sambil pelan-pelan merebahkan tubuh mulus Hanifah kembali ke atas kasur dan kemudian menekan penisnya dalam-dalam ke liang memek wanita cantik itu.

“Sshhh… sakit! Aawhhh…!!” rintih Hanifah ketika penis Johan yang besar menerobos memeknya. Sementara Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

“Ough… aduh! Aduduhhhh…! Pak, pelan-pelan, pak!!! Aahhh… Auggghhhh…!” jerit Hanifah sambil mendorong tubuh Johan sedikit menjauh. Namun Johan tetap tidak peduli. Ia pun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Hanifah membuat Hanifah merasakan sakit di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Johan yang terbilang agak berat itu.

Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat ibu muda alim itu tersiksa lebih lama, Johan pun mendorong penisnya dengan kekuatan penuh hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Hanifah agar batangnya tidak terlepas dari liang itu.

Johan mulai menarik penisnya yang masih tertancap di memek yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Hanifah menggigit bibir bawahnya. Rasa perihnya mulai hilang, diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin. Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu hingga sebuah erangan panjang keluar dari mulut manis Hanifah.

“Ooooughhhhhhh… Ooughhhh… Oooooohhhhhhhhh… Paaak…!!!” Tubuh montoknya mengejang, kakinya menekan pinggul Johan. Cengkeraman kukunya di lengan laki-laki itu menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya. Setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Hanifah untuk mengimbangi serangan Johan.

Melihat kejadian itu, Johan pun mempercepat gerakannya, ia meningkatkan tempo goyangannya. Penisnya yang besar dan berurat menggesek dan menekan klitoris Hanifah ke dalam setiap kali benda itu menghujam. Kedua payudara Hanifah yang membusung tegak ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya.

Johan segera meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah wanita alim berjilbab itu mulai bangkit lagi, Hanifah merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan suaminya. Tanpa disadarinya, ia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Johan. Tapi Belum lagi sempat Hanifah menarik napas, Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh sintalnya. Johan membuat Hanifah sekarang dalam posisi menungging. Pantat wanita cantik itu terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat, kembali memompa memek becek Hanifah dari belakang.

“Aaaaghh… Eegghhhh… Sakiiit…!!” teriak Hanifah menerima perlakuan kasar dari Johan.

Mendengar itu, Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar memek Hanifah dengan penisnya yang besar. Tangannya memegangi pinggang Hanifah sambil terus menarik maju mundur badan mulus wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat.

Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Hanifah bergerak maju mundur mengikuti pompaan keras penis Johan. Setiap kali laki-laki itu memasukkan penisnya sampai mentok ke memeknya, ia berteriak. “AAHGHH… AAGHHHH… AGHHH…!!” serunya berulang-ulang. Semakin cepat Johan memompa penisnya, semakin keras pula erangan Hanifah.

Kemudian Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Hanifah. Posisi itu membuat Johan dapat makin cepat lagi memompa memek sang ibu muda dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan memek Hanifah, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok. Johan makin mempercepat pompaan penisnya sambil menjambak rambut Hanifah.

“Aaaaahh… Ouuuuhh… Aaaaaahhhh… Eeeeeehhhgggh…!!” teriakan Hanifah menggema di tengah hutan itu. Penis Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk di dalam memeknya.

Hanifah dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan laki-laki itu, mengikuti apa maunya Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Hanifah yang terdongak menunjukkan betapa dia sebenarnya menikmati perlakuan kasar laki-laki itu. Matanya merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Johan dari belakang. Tangannya makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, memeknya sudah sangat basah, cairan memeknya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas. Ternyata wanita berjilbab itu sudah sangat menikmati perlakuan kasar dari para pemerkosanya, dan orgasme berkali-kali.

Setengah jam lamanya Johan menyetubuhi dirinya. Cairan kewanitaan semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kaki Hanifah sudah mulai bergetar karena terlalu letih akibat orgasme yang berulang-ulang. Sementara Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Hanifah orgasme lagi, laki-laki itu mengejang kuat-kuat sambil menyentakkan penisnya dalam-dalam ke liang memek Hanifah yang sempit.

Johan melenguh keras. “AAAAHHHHKKKHHHH…!” dia merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras ke dalam rahim Hanifah. Seketika didorongnya tubuh ibu muda itu hingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah menyetubuhi wanita berjilbab besar yang ternyata begitu cantik dan montok.

***

Dan selama sehari semalam, ketiga orang pemburu itu memperlakukan Hanifah tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Mereka tidak mengijinkan Hanifah untuk berpakaian, kecuali jilbab merah muda dan kaus kaki putihnya. Mereka juga memaksa Hanifah untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Hanifah untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan.

Pesta seksual itu baru selesai sekitar jam empat pagi setelah Hanifah benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Johan tidur sambil menggenggam payudara Hanifah, Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya.

Hanifah kembali ke rumahnya dengan tertatih, namun tidak menceritakan peristiwa itu pada siapa pun, termasuk suaminya. Ternyata ia memang diam-diam menikmati perkosaan yang menimpanya, sehingga saat suaminya keluar desa dan ia kembali diperkosa oleh ketiga orang pemburu itu dirumahnya, wanita alim itu hanya pasrah. Bahkan ia kembali orgasme berulang-ulang.