IZUL – MBAK KIKO

“Halo, Izul… kamu dimana?” ibu muda itu berteriak histeris dari telepon seluler.
“Iya, Mbak… Izul sudah di pintu masuk. Mbak dimana?” tanyaku balik.
“Dimananya, Zul? Di depan loket?” tanya dia lagi.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (10)
“Oh, bukan… belum nyampe loket, Mbak. Di pintu masuk. Mbak dimana ya, kok nggak kelihatan? Izul pake baju putih.“ mataku beredar ke depan, mengamati taksi, becak, dan mobil yang berbaris rapi di luar, mencari-cari sosoknya. Ini kali pertama aku akan bertemu dengan ibu muda yang cantik tersebut.
“Oh, Izul… Aku sudah lihat kamu.” ucapnya di telepon.
Aku pun bingung. Di depan tak satupun terlihat sepasang mata yang mencari diriku.
“Izul…!!” terdengar suara wanita memanggilku dari belakang. Bukan lagi dari telepon seluler.
Aku pun membalikkan badan, terlihat ibu muda itu melambaikan tangan ke arahku. Aku bergegas menyusul, ke depan loket. “Mbak Kiko ya?” sapaku.
“Iya, Zul. Akhirnya nggak sekedar di dunia maya, hehehe…” ia tersenyum.
”Saya senang bisa ketemu Mbak.” sambil berjabat tangan, kucium kedua pipinya. ”Dek Afi mana, Mbak?” tanyaku, tadi lewat sms dia mengabarkan kalau datang bersama anaknya.
Belum sempat dia menjawab, datanglah adik kecil dengan jilbab pastel membingkai wajahnya yang imut. Dia malu-malu, tapi santun sekali. Tidak nakal.
“Halo… Dek Afi ya?” aku menyapa ramah. Seketika gadis kecil itu mencium tanganku. Kali ini dia tidak hanya tersenyum, tapi hampir tertawa, memamerkan gigi-gigi kelincinya yang lucu sekali.
“Iya. Ini Afi, Zul. Kalau kakaknya yang gendut itu nggak kuajak, kemarin udah ikut ke Bromo soalnya. Hihihi…” Mbak Kiko tertawa ceria.
Kamipun masuk ke bioskop dan lekas mencari tempat duduk. Sesekali masih kuperhatikan dia, ternyata Mbak Kiko melebihi bayanganku selama ini. Tante Retno bilang kalau dia gendut, Mbak Kiko juga sering berkata demikian. Tapi ibu muda yang saat ini duduk denganku, jauh dari kesan itu. Ya, memang tidak bisa dibilang kurus. Tapi untuk dibilang gendut, tidak cocok juga. Tubuhnya berisi, kalau tidak mau dikatakan seksi ataupun montok. Wajahnya sedikit cubby, matanya tidak terlalu lebar, tapi hidungnya mancung dan kulitnya cukup bersih.
Yang paling menarik adalah, dia sangat-sangat cantik, hampir mendekati jelita. Tidak terlalu kelihatan kalau sudah mempunyai dua orang anak. Mbak Kiko begitu lincah dan ceria, mirip gadis perawan.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (9)
“Mbak, Izul kaget lho tadi. Ternyata Mbak sangat cantik, hihihi…” candaku saat film sudah mulai diputar.
“Cantik dari mana, Zul? Aku tuh gendut, udah ibu-ibu lagi.” sahutnya.
”Enggak… bagiku, wanita seperti Mbak ini yang kelihatan menarik.” bisikku.
Mbak Kiko tertawa, ”Ah, kamu bisa aja, Zul.”
Kugenggam tangannya, dia tidak menolak. Kami terus saling bergandengan selama film diputar.
”Aku juga kaget tadi pas lihat kamu, kok ternyata bongsor ya. Hihihi…” senyumnya begitu keluar dari ruang bioskop. Dia mengomentari tonjolan penisku, tak sengaja dia menyenggolnya tadi.
Aku tertawa, “Hehe… iya, Mbak. Kalau kurus, bisa-bisa Izul nggak laku. Yang ini harus dirawat baik-baik.” sambutku.
Dia ikut tertawa, dan mengajakku mampir ke foodcourt untuk makan siang. ”Jadi gak sabar pengen cepat merasakannya,” bisiknya nakal di telingaku saat kami duduk menunggu pesanan.
”Sabar, Mbak. Bentar lagi,” kugenggam tangannya.
Dia ekspresif sekali. Gerak-gerik matanya menggambarkan kalau ibu muda yang satu ini memang tidak betah kalau hanya diam saja. Gerakan kepalanya, pandangan matanya, cara berjalannya… semuanya membuatku penasaran, apakah dia akan begitu juga di atas ranjang? Ah, mudah-mudahan saja.
Pembicaraan demi pembicaraan kami mengalir begitu saja dalam kurun waktu satu jam tersebut. Mbak Kiko banyak bercerita, aku banyak mendengarkan. Sesekali dia bertanya dan aku menjawab sambil senyum saja. Aku juga sempat mengobrol sama Afi, anak pertamanya yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SD. Begitu mengalir saja. Anak-anak selalu menarik perhatianku.
“Zul, kok Mbak Retno bisa tahu kamu?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dapat info dari siapa?” dia bertanya lagi.
Aku menggeleng, “Maaf, Mbak. Itu rahasia, hehe…” kilahku.
Mbak Kiko terlihat penasaran sekali, tapi roman mukanya tetap ceria penuh canda. Mungkin dia tahu kalau aku tidak akan memberikan keterangan apa-apa, jadi begitu dia paham dengan ekspresiku, dia ganti topik pembicaraan.
Ceritanya pun mengalir begitu saja. Tentang gunung, tentang saxophone, tentang musik jazz yang ia gemari, tentang lomba lukis yang pernah diikuti Afi di Bogor, tentang apa-apa yang mungkin bisa mengisi waktu luang kami.
Aku membalas ceritanya dengan senyum ringan saja, sesekali menjawab seperlunya. Sudah prinsipku, biar klien yang mengungkapkan jati diri mereka, sedangkan aku harus tetap menjadi misteri bagi mereka. Dengan begitu para ibu atau tante itu akan selalu mencari dan penasaran dengan keberadaanku. Dan itu berhasil. Aku sudah membuktikannya, percayalah!
“Dek Afi suka nglukis ya… kakak boleh lihat?” kugoda Afi yang sejak tadi mungkin bingung dengan percakapanku dengan ibunya.
Afi menggeliat. Tersenyum. Mungkin gadis kecil ini setipe denganku. Respon untuk mengatakan suka atau tidak ketika diajak bicara, sempurna ditutupi. Bukan datar, tapi senang mendengar dulu, baru sedikit-sedikit mengomentari.
Kami cukup lama mengobrol, sampai akhirnya… mbak Kiko memintaku untuk mengantarnya pulang. Ok, inilah saatnya. Dengan menggunakan mobil Mbak Kiko, kamipun meluncur.
Berhubung waktu pulang hujan turun cukup lebat, aku harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh untuk menghindari wilayah yang biasanya banjir. Selama perjalanan menuju rumahnya, kami terus mengobrol kesana kemari. Saat masih berada di mobil, entah dalam konteks apa, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang cukup menyentil.
“Apa kamu suka melakukan pekerjaan ini, Zul?” itu pertanyaan pribadinya yang pertama kuingat. Pandangannya tetap lurus ke depan kaca mobil. Di bangku belakang, Afi sudah terlelap tertidur sambil memeluk boneka beruangnya.
“Yah, namanya nyari uang, Mbak. Apapun harus dilakukan,” jawabku diplomatis, setelah sebelumnya agak gelagapan menerima pertanyaan yang agak sensitif itu.
“Kamu nggak bohong?” tanyanya bernada tak percaya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (8)
“Memang kenapa?” aku mulai berani memancing.
“Ya nggak apa-apa, cuma nanya aja kok. Nggak boleh?” ia menoleh ke arahku, menatap wajahku.
“Boleh,” aku tersenyum.
Kemudian kami saling terdiam selama beberapa menit.
“Mbak sendiri gimana?” tanyaku balik.
“Maksud kamu?” ia pura-pura tak mengerti.
“Dengan melakukan ini, apa mbak nggak merasa berdosa sama suami?” Ok, aku tahu, ini pertanyaan yang berbahaya. Kalau dia tiba-tiba mengusirku, aku tidak akan membantah.
“Ya kadang-kadang sih…” gumamnya pelan. “Tapi ini bukan salahku juga. Kalau saja suamiku nggak sibuk kerja, aku pasti nggak akan melakukannya.” ia menambahkan.
“Sudah lama?” tanyaku lagi.
Kali ini Mbak Kiko mengerti arah pertanyaanku, ia tampak menerawang sejenak sebelum menjawab. “Baru dua kali, dan semuanya mengecewakan.” dia lalu menatapku, ”Aku harap kali ini berbeda.” pintanya.
Aku tersenyum, “Percayalah, Mbak. Aku nggak akan berani memenuhi undangan Mbak kalau nggak yakin bisa!”
Dia mengangguk dan ikut tersenyum, “Mudah-mudahan begitu, percuma aku berbuat dosa kalau apa yang kucari tidak kudapatkan.”
”Mbak,” kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dan ia diam saja. Bahkan kemudian membalas remasan tanganku. “Aku jadi takut!” kataku lirih.
“Takut apa?” ia bertanya.
“Takut kalau Mbak akan ketagihan sama punyaku.” candaku.
“Ihh, dasar!” ia memekik sambil tangannya mencubit pahaku.
”Auw,” aku berteriak, meskipun cubitannya tidak sakit. “Cubit yang lainnya dong…” aku menggodanya lagi.
“Yee, maunya!” tapi tangannya tetap terulur ke arah selangkanganku dan mulai menarik retsleting celana jeans-ku ke bawah.
Masih dalam posisi menyetir, aku segera mengatur posisi agar ia bisa leluasa membuka celanaku. Dalam sekejap milikku sudah terjulur keluar dari celah atas celana dalamku. Milikku mulai membesar tapi belum tegang.
Tangan kanan Mbak Kiko lalu mulai beraksi dengan meremas dan memijit-mijitnya, membuat otot pejal kebanggaanku itu mulai bangun dan berdiri tegak. Rasanya nikmat sekali, aku harus berusaha keras membagi konsentrasi dengan menyetir mobil. Apalagi di luar sana hujan turun semakin lebat. Wiper yang bergerak-gerak seperti tak mampu menahan air hujan yang mengalir turun memenuhi kaca depan, sebagaimana aku tak dapat menahan rasa geli akibat tangan Mbak Kiko yang mulai mengocok pelan.
“Digenggam dong…” kataku menuntut saat Mbak Kiko hanya menjepit dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya.
“Tadi katanya minta dicubit aja,” jawabnya sambil melakukan gerakan mencubit pelan pada pangkal kemaluanku yang kini sudah mengeras tajam, membuatku menggelinjang ringan karena kegelian.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ya sudah, aku nikmati saja apa yang ia lakukan. Bahkan aku kemudian menjulurkan tangan kiri ke arah buah dadanya yang masih terbungkus baju lengan panjang tanpa kancing, sementara tangan kananku tetap memegang kemudi. Kurasakan buah dadanya sudah mengeras kencang. Meski tertutup jilbab lebar, benda itu terasa empuk dan sangat kenyal sekali. Ukurannya juga begitu besar, membuatku jadi makin bernafsu meremasnya. Maka mulailah acara saling meremas dan memijit di dalam mobil, di tengah hujan deras yang masih mengguyur di sepanjang jalan.
Tampaknya Mbak Kiko mulai terangsang dengan gerayangan tanganku pada buah dadanya. Ia memintaku untuk melakukannya di bagian tubuhnya yang lain, dengan tangannya ia menuntun jariku untuk menuju ke sela-sela pahanya yang sengaja dibuka agak lebar. Roknya sudah ia tarik ke atas sebatas pinggul, menampakkan kulit pahanya yang putih mulus dan sangat licin sekali. Maka jari-jari tangan kiriku pun segera beraksi, meraba tepat di bagian depan celana dalamnya yang menyembul hangat dan sudah mulai basah.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (7)
Tapi pandanganku tetap harus ke depan, ke arah jalan yang mulai masuk ke kompleks perumahan. Di sampingku, Mbak Kiko dengan enaknya terus menggeliat-geliat sambil mendongakkan kepalanya, menikmati segala gelitikanku pada bagian luar cd-nya, tepat di bagian celah kemaluannya. Sementara tangan kanannya kini tak lagi memijit-mijit, tapi sudah menggenggam batang penisku yang makin meradang karena terus dikocok-kocok olehnya.
Aku menarik tanganku dari sela paha Mbak Kiko ketika mobil sudah mulai masuk ke jalan menuju rumahnya. Ia sempat mendesah ketika aku menghentikan aksiku, terlihat nanggung dan kecewa.
“Sudah sampai, Mbak.” kataku memberi alasan sekaligus mengingatkan dia.
Mbak Kiko segera membenahi pakaiannya dan kemudian gantian membereskan celanaku yang sudah setengah terbuka. Kemaluanku yang belum sepenuhnya lemas, agak sulit untuk dibungkus kembali.
“Bandel nih!” gerutunya lucu.
“Makin bandel makin ngangenin, Mbak… hehehe.” aku tertawa melihat ia kesulitan memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam celana.
”Kegedean, Zul.” gumamnya rikuh.
“Sudah biarin, nanti juga dikeluarin lagi.” sahutku.
Dia lalu kusuruh turun duluan menuju teras sambil menggendong Afi yang masih terus terlelap. Aku kemudian memasukkan mobil ke garasi, lalu membetulkan celanaku dan kemudian bergegas keluar menuju teras, menyusulnya. Jilbab dan baju Mbak Kiko terlihat agak basah oleh air hujan.
Kami lalu segera masuk ke dalam rumah. Inilah pertama kalinya aku melakukan kencan di rumah, biasanya di hotel atau villa. Untuk Mbak Kiko aku memberi pengecualian, tante Retno sudah mengatakannya kemarin, ibu muda itu cuma mau melakukannya disini, di rumahnya. Ok, ya udah. Aku jalani aja.
Memang aku jadi sedikit canggung dan kurang nyaman, takut dipergoki oleh penghuni yang lain. Tapi jaminan dari Mbak Kiko, juga saat menatap kaos panjangnya yang basah, yang menampakkan bagian gumpalan buah dadanya, membuatku jadi berpikir lain.
Aku kembali terangsang melihat tubuhnya. Maka setelah ia menaruh Afi di kamar dan keluar menemuiku yang menunggu di ruang tengah, segera kupeluk tubuhnya dan kami pun lalu tenggelam dalam ciuman yang hangat dan penuh gelora.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibirnya. Sudah sejak tadi aku merindukan percumbuan seperti ini, sehingga nafasku terdengar memburu saat kami berciuman dengan lahapnya. Tanpa perlu disuruh, mulai kujamah bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Terutama dada dan pantatnya yang membulat, yang sepanjang jalan tadi selalu membuatku bergairah.
Mbak Kiko pun langsung membalas, ia remas cepat milikku yang sudah mengeras di balik celana pantalon yang kukenakan. ”Ehm, Zul…” ia merintih dalam dekapanku.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (6)
Aku makin bernafsu, sambil tetap melumat bibirnya, kutekan telapak tanganku ke celah pahanya yang tertutup rok panjang lebar, meremas daging lembut yang ada di sana. Aku sudah akan mencopotnya saat Mbak Kiko berbisik di telingaku, ”Jangan disini, nanti ada orang yang lewat.”
Ah ya, benar. Maka cepat kulepas pelukanku.
“Kita ke kamar aja.” katanya sambil menarik tanganku, mengajakku pergi ke kamar tidurnya. Aku menurut saja, kuikuti dia sambil menggandeng pinggulnya.
Di dalam, birahi kami memanas kembali. Ciuman pun berkembang menjadi acara saling remas, saling tekan, saling rangsang, dan puncaknya; kami berdua lalu saling membantu untuk melepas pakaian satu sama lain dan membiarkannya terserak di lantai.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Suara tempaan airnya menyamarkan desahan dan lenguhan yang keluar dari mulut kami berdua. Tubuh bugil kami bergelut dengan penuh gairah di atas ranjang. Mbak Kiko yang berjilbab, ternyata besar juga nafsunya. Ia meminta ijinku untuk melakukan oral seks setelah beberapa saat tubuh telanjang kami menempel erat.
”Boleh ’kan, Zul?” pintanya sambil memegangi penisku.
Tentu saja kuijinkan.  Siapa juga yang mau menolak.
Ia dengan penuh nafsu segera melumat dan mengisap kepala kemaluanku yang terlihat bulat membonggol dan tampak licin mengkilat akibat lumuran cairan precum. Mbak Kiko mengaku, ia suka dengan milikku yang katanya berukuran besar dan panjang. ”Pasti aku akan puas nanti!” yakinnya sambil terus melakukan permainan mulut.
Aku berusaha mengimbangi dengan merangsang bibir kemaluannya dengan jariku. Saat itu posisiku setengah rebahan dan menyandarkan kepalaku pada sandaran springbed. Sedangkan Mbak Kiko berbaring miring setengah telungkup di samping pinggangku. Ia menggeliat ketika jari tengahku mulai menerobos masuk ke celah kemaluannya, sementara jempolku bermain-main pada klitorisnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (5)
“Ouw…” jeritnya tertahan, sedikit menjengit tapi terlihat suka.
“Kenapa, Mbak, enak?” tanyaku sambil menusukkan jari tengahku lebih dalam dan memutar jempolku lebih keras pada tonjolan kecil di atas bibir kemaluannya.
”Ahh, Zul…  aku.. ehss… ughh…” kembali mulutnya bersuara, tapi kali ini lebih riuh dan lebih mirip desisan. Sejenak mulutnya terlepas dari batang kemaluanku, tapi sesaat kemudian ia menunduk kembali dan melumat habis batangku hingga hampir ke pangkalnya, dan mengisapnya sedemikian rupa sampai aku merinding kegelian. Pantatku sempat tersentak-sentak karena saking nikmatnya.
Gila! Kelihatannya aja lugu dan alim, ternyata jago juga nyepong kontol. Aku takjub dan benar-benar tak menyangka. Ditambah tubuhnya yang masih utuh sempurna, resmilah Mbak Kiko jadi salah satu langganan favoritku.
“Kenapa, enak ya?” katanya sambil melirikku, lalu melanjutkan kulumannya kembali. Sepertinya ia ingin membalas atau mungkin ingin mengimbangi perbuatanku.
Selanjutnya kami tak sempat bicara sepatah kata pun karena terlalu serius untuk saling melakukan dan menikmati rangsangan. Mataku terpejam mencoba menikmati setiap hisapan mulutnya, sementara jari-jari tanganku terus asyik bermain-main di sekitar liang kewanitaannya.
Berbeda dengan milikku yang kasar dan lebat, rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Mbak Kiko tak terlalu lebat, terlihat halus dan tercukur rapi. Tentu saja karena dia wanita yang cinta kebersihan. Aku jadi suka sekali mengusap-usapnya. Mbak Kiko berusaha mengimbangi dengan menciumi juga bulu-bulu yang tumbuh di sekitar selangkanganku. Saat sudah tidak tahan lagi, barulah dia melepaskannya.
”Ayo, Zul, sekarang!” ia meminta sambil bangkit dari posisi tengkurapnya, lalu mulai mengangkangi pinggulku, dan kemudian menelusupkan batang penisku yang sudah menegang keras ke sela-sela pahanya.
Dengan posisi antara duduk dan bersandar, aku mencoba membantunya dengan sedikit mengangkat pantatku ke atas. Maka sedikit demi sedikit amblaslah kepala kemaluanku ditelan mulut kecil yang ada di selangkangannya. Terasa sekali liang itu begitu ketat, lembut menjepit sepanjang batangku. Rasanya hangat, lembut dan agak-agak terasa kesat. Tipikal kewanitaan yang jarang sekali dipakai.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (4)
Kenikmatanku semakin terasa ketika kepala penisku yang sensitif mulai menyentuh ujung dinding kemaluannya. Sejenak Mbak Kiko memutar-mutar pinggulnya seolah merayakan pertemuan total itu. Secara spontan kami berdua serempak mengeluarkan rintihan kenikmatan yang sejak tadi tertahan, ”Ooughhhh…!!!”
Mbak Kiko tampak meresapi jejalan batang penisku dan gesekan urat-urat yang ada di sekujur permukaannya. Mulutnya mendesis-desis seperti orang kepedasan. Beberapa kali jarinya berusaha menyentuh bagian luar bibir kewanitaannya, seperti mau menggaruk seolah kegelian, namun tak bisa.
Ia kemudian mengatur posisi berlututnya sedemikian rupa hingga jadi lebih bebas bergerak. Beberapa saat kemudian, setelah kami sama-sama siap, Mbak Kiko mulai menggenjot tubuhnya naik turun. Makin lama genjotannya menjadi semakin cepat, sehingga membuat buah dadanya yang besar jadi tampak berayun-ayun indah di depan wajahku.
Mulutku segera menangkap putingnya yang sudah mengeras tajam dan langsung melumatnya habis, dua-duanya, kiri dan kanan.
”Auw!” ia menjerit tertahan, namun aku tak mempedulikan. Terus aku mengulum kedua bukit padatnya itu secara bergantian. Sementara di bawah sana, pinggulku terus menyentak-nyentak mengimbangi genjotannya di atas tubuhku. Terasa sekali rasa nikmat mulai menjalar di sekitar pangkal dan sekujur batang kemaluanku. Suara hujan di halaman depan makin membuatku bergairah.
Entah sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini, terus menggoyang dan saling memperdengarkan rintihan dan desah penuh kenikmatan. Tubuh Mbak Kiko makin meliuk dan menggeliat-geliat di atas tubuhku. Kedua pahanya yang sejak tadi mengangkang dan bertumpu di tempat tidur, mulai kuelus-elus. Dan rupanya ia menyukainya, karena lenguhan kenikmatannya makin keras terdengar.
Elusanku lalu bergeser ke bukit pantatnya. Tapi kini aku tak lagi mengelus, tanganku lebih sering meremas di bagian itu, membuat Mbak Kiko makin menggelinjang geli akibat ulahku. Tak lupa juga terus kucucup dan kujilati kedua putingnya hingga membuat dia merintih semakin keras. Kami mengakhiri permainan ketika Mbak Kiko mulai menunjukkan tanda-tanda akan mencapai puncak birahi.
Aku segera mempergencar tusukan dan hentakan dari bawah, sementara dia memeluk kepalaku erat-erat hingga membuatku terbenam dalam di belahan dadanya yang curam. Kedua kakinya juga menjepit erat pinggangku, membuat posisi bersandarku jadi agak merosot ke bawah. Beberapa menit kami masih sempat bertahan dalam posisi itu sambil terus berpacu menuju puncak kenikmatan.
“Zul… Izul… ahh… aku…” rintihnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (2)
“Iya, Mbak… keluarin aja… jangan ditahan…” sahutku.
”Ahh… auw!” mendadak rintihannya berubah menjadi keras.
Segera kuangkat dan kubalik tubuhnya, lalu kembali kutindih dia. Kini aku yang berada di atas, kugenjot tubuh mulus Mbak Kiko habis-habisan sampai kami berdua akhirnya mencapai orgasme secara hampir bersamaan.
”Mbak… ahh… ahh…” aku mengerang-ngerang ketika kurasakan air maniku mulai menyembur kencang. Ada sekitar empat kali aku menembakkannya. Alirannya terasa nikmat di sepanjang batang kemaluanku. Rasanya berdesir-desir menggelikan.
”Ehm, Zul…” Mbak Kiko pun kulihat ikut menikmati puncak birahinya. Wajah cantiknya memerah dan matanya terpejam, sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa nikmat yang menjalar di seluruh pusat kewanitaannya.
Pelan kulumat bibirnya yang basah memerah, dan kami pun melengkapi puncak kenikmatan ini dengan ciuman yang amat dalam dan lama. Sesekali tubuh kami tersengal oleh sisa-sisa letupan kenikmatan yang belum sepenuhnya reda.
Suara riuh hujan tak terdengar lagi. Hanya bunyi tetes-tetes air yang masih berdentang-dentang menimpa atap teras depan. Entah sejak kapan hujan mulai reda. Kami terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Selama beberapa saat, kami terus berbaring berpelukan di atas ranjang. Masih dengan telanjang dan alat kelamin menempel erat. Aku berbaring di atas tubuh Mbak Kiko yang telentang. Tanganku mengusap-usap tonjolan buah dadanya yang bergerak-gerak halus seiring tarikan nafasnya. Sementara ia bermain-main di sekitar pantat dan buah zakarku yang terasa basah oleh ceceran sperma dan cairan kewanitaannya.
“Gimana, Mbak, suka dengan permainanku?” tanyaku meminta pendapatnya.
“Suka banget!” dia mengangguk. ”Nggak salah Mbak Retno merekomendasikanmu.” tambahnya genit.
“Aku juga, Mbak…  selain cantik, Mbak juga sangat seksi dan begitu menggairahkan!” kataku.
“Ah, kamu bisa aja,” ia melenguh manja.
“Beneran… nih buktinya.” kugerakkan penisku yang mulai kembali menegang di dalam liang vaginanya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (1)
”Auw… sudah ah… geli, Zul!” ia tergelak, dan kami lalu tertawa bersama. Sementara tanganku terus meremas tonjolan buah dadanya, meremas dan terus meremas hingga akhirnya kami kembali bergelut di atas ranjang, mempersiapkan permainan berikutnya.
Tapi untuk ronde yang kedua ini, kami hanya melakukannya sebentar saja karena suami Mbak Kiko sudah waktunya pulang dari kantor.
“Makasih ya, Zul…” katanya saat kembali merasakan orgasme, entah untuk yang keberapa kalinya di hari itu, di pertemuan pertama kami. Sementara aku baru saja menyemburkan spermaku yang kedua, sekaligus juga yang terakhir.
”Sama-sama, Mbak.” sahutku sambil mencium bibirnya.
Kami pun berpisah. Sesaat sebelum aku pergi, Mbak Kiko memberiku satu bungkus jajanan untuk oleh-oleh, “Maaf ya, Zul… cuma ada ini.” katanya. “untuk bayaranmu, besok aku transfer.” tambahnya lagi.
“Eh, iya… nggak apa-apa, Mbak… ngak usah buru-buru.”sahutku. Kupandangi ia yang kini kembali mengenakan baju panjang dan jilbab lebar, tidak lagi telanjang seperti tadi. Dengan pakaian seperti ini, tentu tidak akan ada yang menyangka kalau Mbak Kiko sebenarnya adalah wanita kesepian yang butuh kehangatan.
Dia memencet hidungku, ”Burungmu enak, kapan-kapan kupanggil lagi ya…” bisiknya.
”Siap, Mbak… anytime deh pokoknya buat mbak.” aku melambaikan tangan, berharap bisa secepatnya bertemu lagi dengan bidadari berjilbab ini.

AULIA PUTRI

jilbab semok bohay-destiana (10)

Aulia putri baru saja selesai mandi sore itu. Ia hanya mengenakan handuk kuning kesayangannya. Hujan turun deras dari sejam yang lalu. Rumahnya kosong. Ia berdiri di depan cermin kamarnya sambil mengeringkan rambutnya. Iseng-iseng ia melepas handuknya. Hmm tubuhnya indah dan kencang. Payudaranya menggantung ibarat mangga yang mengkal, perutnya rata. Aulia meraba buah dadanya, turun ke perutnya, hingga selangkangannya dengan bulu yang tercukur rapi. Usianya baru 22 tahun. Mendadak petir menggelegar kencang. bersamaan dengan itu listrik mendadak padam.”Aih… sialan.” Gerutunya. Ia mengingat-ingat dimana ia meletakkan lilin dan korek api. Di dapur.

jilbab semok bohay-destiana (1)

Dengan meraba-raba ia bergerak ke dapur, “Ah. dak ado yang jingok jg” Katanya dalam hati. Aulia membiarkan tubuhnya telanjang bulat mengendap ke dapur rumahnya. Ia terkesiap melihat pintu belakang terbuka lebar. Dan sebelum sempat bereaksi sepasang tangan yang kekar menyergapnya. Aulia meronta dan menjerit sebisanya. Namun tangan yang lain membekap mulutnya. Tubuhnya diangkat dan dibopong dengan mudah.

jilbab semok bohay-destiana (9)

Dalam keremangan Aulia dapat melihat ada sekitar 5 atau 6 lelaki bertubuh besar di dalam ruangan itu. Mereka membopong Aulia ke kamar tidurnya. Tubuh telanjangnya direntangkan di kasur. Mendadak lampu menyala. Aulia menjerit jerit dan meronta. namun suaranya tenggelam oleh derasnya hujan. Kini ia dapat melihat ada 6 lelaki di ruangan itu.

jilbab semok bohay-destiana (2)

Mereka basah kuyup. Mengenakan topeng kupluk yang menyisakan mulut dan mata mereka. “Jangan kak… Jangan….” Aulia mulai menangis melihat mereka mulai membukai pakaian masing-masing. Ia dapat melihat batang-batang penis mereka mengacung keras. bagaimana tidak, ia terlentang telanjang bulat di ranjangnya. Sementara 2 orang memegangi tangannya di sudut. “Ikat tangannyo.” Salah seorang dari mereka, pimpinannya, memerintahkan. seorang dari mereka membongkar lemari pakaian Aulia dan mengambil 2 jilbabnya yang panjang kemudian tanpa memperdulikan tangis gadis itu mereka mengikat Aulia dengan jilbabnya sehingga kedua tangannya terentang lebar.

jilbab semok bohay-destiana (3)

Kemudian pemimpinnya yang bertubuh besar mulai menindihinya. Sementara kedua kakinya direntangkan lebar-lebar. Aulia tak sanggup melawan. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan menangis sesenggukan ketika buah dadanya mulai dikenyot-kenyot. Dikulum dan digigit-gigit. Tubuhnya lemas.. Mendadak lelaki itu mencengkram wajahnya dan memaksa melumat bibirnya. Aulia meronta sebisanya,”MMmmhh… sssp… mmmhhh…” Ia merasa sangat dilecehkan. Salah seorang dari mereka membuka jendela lebar-lebar. Kemudian menempelkan pisau di leher gadis itu.”Diem Bae… Nurut.. Kalo dak galak digorok! Ngerti!!?” Aulia menggigit bibirnya dan menangis sesenggukan. Ia benar-benar tak berdaya. Dapat dirasakannya penis raksasa pemerkosanya tengah menggosok-gosok bibir vaginanya, siap mendobrak masuk.

jilbab semok bohay-destiana (4)

“AKKKHHHHHH!!!” Aulia meregang kesakitan ketika lelaki itu menekan memaksakan batangnya yang berdiameter cukup besar masuk ke selangkangannya. Tanpa ampun lelaki itu mencengkeram bahu Aulia sehingga ia dapat menyodok sedalam-dalamnya.

“AKhhhhh luar biasa sempitnyo punyo gadis ini…!!” Lelaki besar itu mengerang penuh kenikmatan. ia mulai menggenjot vagina Aulia yang kering itu. Aulia mengerang kesakitan. Perih dan pedih. Ia merasa seakan tubuhnya akan dibelah dua. “Akhhh!! Akhhh!!! Sssakitt kakk…. Akhhh! Akhhmmmphhhmm…!!!! MMMP!!” Teriakan Aulia terpotong karena seseorang dari mereka menjejalkan penisnya ke mulut Dian. Sementara yang lain sibuk meremas-remas dadanya.

jilbab semok bohay-destiana (5)

Terkadang dengan brutal menarik-nariknya. “AKHHHH luar biassaaaaaa…!” Pemerkosanya meregang keras sebelum spermanya memuncrat mengisi rahim Aulia. Ia mencengkeram erat pinggul gadis itu. Menghabiskan maninya. Aulia hanya mampu meringis kesakitan. Mulut dibungkam dengan batang kemaluan yang besar, keras. “Akhhh….,” pemimpinnya mencabut kemaluannya yang mengecil dari vagina Aulia yang bengkak memerah. “Ayo giliran!” Lelaki selanjutnya segera mengambil posisinya. Mulai menyetubuhi Aulia seperti anjing.
“Akh! Akh!! Lonte! khh!!!” Sementara salah seorang dari mereka duduk di dada Aulia, menggosok batangnya diantara kedua buah dada gadis itu. “Akhhh ” ketika muncrat ia dengan mantap menjejalkan batang kemaluannya ke mulut Dian. Aulia terengah-engah. merasa mual ketika sperma yang hangat dan kental itu disemburkan ke dalam mulutnya. Mereka terus bergantian menyetubuhi gadis itu.

jilbab semok bohay-destiana (6)

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Aulia putri tergeletak lemas di ranjangnya. Vaginanya becek oleh mani pemerkosanya. Demikian juga dada dan perutnya. Ikatan tangannya telah dilepas namun ia tak mampu berdiri. Aulia putri hanya mampu menangis sesenggukan. Para pemerkosanya masih memperhatikannya, mereka tengah beristirahat. Sebagian membongkar isi kulkas dan mengisi perut mereka. Mereka belum puas mengerjai Aulia.

jilbab semok bohay-destiana (7)

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berdiri dan menjambak rambut Aulia yang pendek. “AAHHH Ampun Kak!!! Ampunn…” ia menyeret gadis itu ke ruang tamu yang memiliki banyak jendela. Lampu dihidupkan. Aulia merinding karena walaupun rumahnya bertingkat, beberapa rumah diseberang jalan juga bertingkat sehingga mungkin saja orang dapat melihatnya telanjang bulat. Lampu yang dihidupkan membuat ruang tamunya bagai aquarium. Mereka menelungkupkan Aulia di meja tamu. “Jangan meronta biar dak sakit.. he he he” Sambil berkata seperti itu Ia mulai melesakkan batang kemaluannya ke dubur gadis itu. Keras dan cepat. membuat tubuh Aulia meregang kesakitan.”AAAAAAAAAAHHHH!!!! SAAAkitttt!!! Jangan disodomi KAK!!! akkkhhh!!! AMPUNN!!!” Aulia putri menjerit kesakitan. Anusnya perih dan pedih hingga ke pusarnya.

jilbab semok bohay-destiana (8)

Pemerkosanya menjambak Aulia sehingga wajahnya menengadah. melihat ke jendela paling besar. “Akhh Akhhh nikmat nian duburmu!” Aulia akhirnya hanya mampu menangis. Pandangannya berkunang-kunang menahan sakit dan perih di anusnya. Mereka bergiliran mensodomi Aulia dimeja itu. Sebagian mengeluarkan maninya didalam anus Dian. kemudian memaksanya membersihkan batang kemaluan mereka dengan mulutnya. Aulia hanya sanggup menangis menahan muntah membayangkan bahwa yang dirasakannya adalah aroma pantatnya sendiri. ia hanya berharap mereka puas mengerjainya dan meninggalkannya. Sebagian lagi menyemburkan sperma mereka ke punggung dan rambut Dian.

Aulia tergeletak lemas telanjang bulat diatas lantai kayu di ruang tamunya. Tubuhnya berkilat oleh peluhnya, peluh pemerkosa, dan mani kental berleleran disekujur tubuhnya. Ia hanya sanggup menangis. Tapi siksaan belum usai. “Capek yoo?? he he he.. ayo kami traktir minum!” Mereka menjambak rambutnya dan menyeretnya lagi ke kamar mandi.

Aulia tak sanggup meronta lagi. Aulia dilentangkan di lantai kamar mandi. Mereka tertawa-tawa melihat gadis itu. Kemudian salah seorang dari mereka duduk di dadanya, ‘Buka mulut sayang..” Aulia hanya pasrah saja ketika batang kemaluan lelaki itu yang lemas dijejalkan ke mulutnya. Mendadak ia merasakan cairan hangat anyir mengisi mulutnya. Lelaki itu mulai mengencinginya. Aulia berusaha meronta namun yang lain menjambak rambutnya dan menekannya ke lantai. Mereka tertawa-tawa nmelihat Aulia kelabakan berusaha keras menelan air kencing itu supaya tidak tersedak, sebagian besar meluap dari mulutnya. Aulia terbatuk-batuk. Belum pernah ia dilecehkan seperti itu. Puncaknya mereka berlima mengencingi sekujur tubuh Aulia putri… Terutama wajah dan dadanya.

Menjelang fajar ketika keenam lelaki itu meninggalkan Aulia berbaring telanjang bulat tak sadarkan diri di lantai kamar mandinya. Bermandikan air kencing..

DI KRL

Setelah pergi dari mbak Oki (kisah Guru TK/Akhwat), aku menuju daerah Bogor dan tinggal beberapa lama di sana, aku sering nongkrong di stasiun Bogor dan bolak balik Jakarta untuk menjalankan bisnis komputerku. Aku betah nongkrong sambil memandang gadis -gadis SMA dengan rok pendeknya.Tapi kesukaanku tetap gadis-gadis ayu yang berjilbab lebar, karena mereka menjaga dari hubungan intim dengan laki-laki non mukhrim termasuk himbauan jangan berdesak-desakan di KA maka , hobbyku tidak mudah terlaksana.

ats302

Kondisi KA sangat berdesak-desakan, dengan malas aku naik KA dan mengambil posisi paling belakang , ketika aku lagi bergelantungan dengan ngantuk-ngantuk tiba-tiba ada bau wangi menyeruak.

Tampak seorang wanita muda dengan rok panjang mendesak ke arah ku, karena penumpang memang terus bertambah sehingga wanita berjilbab itu mau tak mau terdesak ke arahku. Wajahnya cantik dengan baju blus lengan panjang agak ketat dan rok panjang yang agak ketat, menurutku kerjaannya seperti kasir bank atau semacamnya, kepalanya tertutup jilbab sebahu, wanita muda ini tampak agak kegerahan, tampaklah tonjolan-tonjolan dada di balik baju panjang ketatnya, sungguh beruntung aku hari ini. Rok panjangnya punya belahan di belakang.

Lama-lama wanita muda itu terdesak dan menyentuh bagian penisku. Pantat yang menggelembung itu terasa empuk, terasa mengelus penisku. Dia sempat memalingkan wajah ke belakang dan tersenyum, sambil berkata ” Maaf ya…”. Karena kereta mulai berjalan aku berpegangan ke besi di atas dan tak terduga tangan kami bersentuhan, kami pun hanya bertukar senyum, lama-lama penisku menegang dan membesar. Si mbak terlihat risih, walau dia berusaha tersenyum. “Enak nih!” pikirku. Karena membelakangiku, aku tak dapat melihat reaksi pada wajahnya.

Pikiran ngeresku jadi kumat, sambil mengikuti goyangan kereta, penisku aku gesekkan ke belahan pantat mbak cantik didepanku, kebetulan celana yang ku pakai celana gombrong, gesekan penisku ku geser-geser ke belahan rok si embak, si embak menengok aku hanya menempelkan jariku di bibir manisnya tanda suruh diam. Dia diam saja, aku merasa kalau dia juga terangsang karena berdempetan dalam kereta ini, sebab dia tidak melawan. Tubuhku aku rapatkan layaknya memeluk wanita di depanku ini. Rok embak di bagian belakang aku turunkan resletingnyaaku sisingkan sedikit dan aku keluarkan penisku dari sarangnya sehingga penisku menggesek gesek pantat si mbak yg langsung kena celana dalamnya, terasa nikmat sekali. Aku berusaha menenangkan mbak, sambil membisikkan , tidak ada yang tahu. Beberapa orang di samping yang kebetulan ibu muda dan gadis SMA mulai melirik keakraban kami, tapi tidak menyadari apa yang terjadi di antara penisku dan pantat mbak.

ats303

Aku juga mulai menyusupkan tangan ku untuk meremas buah dadanya, sungguh nikmat rasanya.

Pada pemberhentiaan berikutnya aku bisikan, “Turun yuk” dan si embak mengangguk. Aku pergi ke belakang stasiun yang kebetulan sepi dan langsung meminta mbak tadi untuk mengocok penisku dengan mulutnya. Setelah puas langsung aku naikkan rok nya ke perut dan terpampanglah kemolekan pantat nya, putih nyaris tiada cela. Aku ambil posisi berhadapan dan menyodoknya dari depan, si embak tampak melenguh, menikmati besarnya penisku membelah vagina nya yang masih rapet itu. Agak susah tapi akhirnya berhasil juga mbak itu aku perawani. Setelah melakukan penetrasi sekitar 10 menit, aku lentangkan lagi tubuhnya dan aku renggangkan kaki kanan dan ku tusuk kembali vaginanya, hampir meledak rasanya penisku di emut vagina wanita muda ini.

Ketika aku mau orgasme, si embak minta gantian di posis di atas, aku gantian terlentang dan si embak duduk menghadap ke kaki sambil mengocok penisku dengan vaginanya, kami pun orgasme bersamaan dan tubuhnya langsung terlentang ke atas dan menindihku. Karena si embak terburu buru, kami hanya bertukar kartu nama, dan si embak ngeloyor kembali ke kereta. Sungguh luar biasa pengaruh ilmu pelet yang aku pelajari, hanya dengan sekali ketemu saja dia langsung bisa aku setubuhi.

Aku kemudian bersantai di warung kedai kopi terdekat.

BELLA

Bella, seorang wanita cantik. Jilbab lebar, kemeja longgar putih dan rok tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Bella berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki. Kacamata kecil menghiasi wajahnya membuatnya terlihat makin berwibawa. Dia juga yang terlihat paling dewasa diantara kawan-kawannya.

ngentot jilbab semok (1)

Sebagai mahasiswi kedokteran, Bella bertugas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Dia juga sering bertugas di puskesmas sebagai tenaga medis karena di desa itu tidak ada dokter yang bertugas. Satu-satunya petugas kesehatan yang ada hanyalah mantri kesehatan yang kemampuannya jelas kurang memadai.

Suatu ketika saat Bella sedang bertugas di puskesmas, tiba-tiba datang seorang pria setengah baya yang terburu-buru menemuinya. Bella mengenalnya, pria itu adalah Pak Hasan, salah satu kerabat dekat kepala desa. Pak Hasan walaupun sudah tua, limapuluh tahun tapi terlihat masih kuat dan kekar. Dulunya Pak Hasan adalah jawara desa yang sangat ditakuti. Tampangnya seram, rambutnya yang penuh uban tumbuh tidak teratur seolah tidak pernah tersentuh air, senada dengan kumis dan janggut kambingnya yang juga tidak terawat, tampangnya semakin sangar dengan sebuah bekas luka yang menoreh pipi kirinya, separti luka bekas bacokan senjata tajam

“Pak Hasan… ada apa Pak?” Tany Bella dengan tergopoh-gopoh. Pak Hasan yang terengah-engah tidak segera menjawab. Dia masih terbungkuk mencoba mengatur nafasnya, sepertinya dia baru saja berlari mengelilingi desa.

“Eh.. tolong Neng Dokter.. ibunya.. anu.. maksud saya.. istri saya..” Pak Hasan berujar terputus-putus di tengah nafasnya yang tidak teratur.

“Istri Bapak kenapa..?”

“Tidak tahu Neng Dokter.. tahu-tahu panasnya tinggi dan muntah-muntah.”

“Di mana sekarang istri Bapak?” Bella bertanya bingung. “Kenapa tidak dibawa ke sini..?”

“Di rumah Neng.. boro-boro dibawa ke sini, jalan saja susah, kalau bisa Neng Dokter yang ke sana,” Pak Hasan menunjuk ke arah luar, maksudnya mungkin menunjuk ke arah rumahnya.

“Iya Pak.. sebentar saya ambil tas dulu.” Bella segera menyambar tas peralatannya, dan tanpa menunggu persetujuan, Pak Hasan menarik tangan Bella, Bella mengikuti dengan langkah terseret.

“Aduh.. tunggu Pak.. jangan cepat-cepat,” Bella mengeluh, dia memakai sepatu hak tinggi, tentu saja susah kalau diajak jalan cepat.

“Kalau tidak cepat nanti keburu hujan Neng,” Pak Hasan menunjuk ke atas. Bella ikut menengok, langit terlihat suram karena tertutup mendung tebal. Mereka segera mempercepat jalannya. Tapi perkiraan Pak Hasan tepat, baru setengah perjalanan hujan sudah mulai turun dan makin lama makin deras, membuat keduanya basah kuyup. Bella merasakan tetes air sebesar kelereng seperti hempasan peluru yang menghajar tubuhnya. Tubuhnya menggigil kedinginan sementara tidak ada tempat untuk berteduh. Akhirnya mereka terpaksa berjalan di tengah badai.

Sampai di rumah Pak Hasan hujan belum reda sedikitpun, bahkan makin deras. Bella merasa lega akhirnya bisa berteduh, baju yang dipakainya sudah basah kuyup oleh air hujan menciptakan genangan kecil tiap kali dia berhenti. Di teras rumah Pak Hasan ada dua orang pria yang sepertinya juga sedang berteduh menghindari hujan yang kian menggila.

“Lho.. Parjo.. Somad.. kalian di sini..?” Pak Hasan mengenali mereka, mereka adalah petugas Hansip desa yang sering ronda kalau malam hari.

“Eh iya Pak.. tadi barusan dari desa sebelah, baru sampai di tengah prjalanan kehujanan,” ujar Parjo, pria bertubuh gemuk dengan rambut botak di bagian depannya, menyeringai. Di sebelahnya, Somad yang bertubuh pendek tapi gempal dengan rambut dipangkas pendek bak tentara, juga menyeringai.

“Kok sama Neng Dokter ini Pak..?” Parjo bertanya dengan nada tertahan seolah tidak ingin mencampuri urusan pribadi Pak Hasan. Sesekali matanya melirik ke arah Bella. Tatapannya bagaikan srigala lapar yang siap menerkam mangsanya. Bella mendadak merasa risih ditatap oleh Parjo dan Somad, seolah kedua orang itu mampu melihat menembus ke balik jilbab putih dan kemejanyanya.

“Istri saya sedang sakit.” Pak Hasan menjawab kalem. Parjo dan Somad hanya menjawab dengan O panjang. Pak Hasan lalu menyuruh mereka masuk.

“Neng Dokter bajunya basah kan.. nanti pakai saja baju punya anak saya.” Kata Pak Hasan. Dia masuk ke salah satu kamar dan tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa lembar pakaian.

“Eh.. “ Bella menatap Pak Hasan. “Boleh saya numpang ganti baju Pak?”

“Oh ya.. di situ saja..” Pak Hasan menunjuk ke arah kamar belakang yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu triplek tipis.

Bella yang sudah kedinginan bergegas masuk ke dalam kamar itu dan segera mengunci pintunya. Kamar itu tidak seberapa luas, hanya berukuran dua kali tiga meter dan terkesan kosong, ada sebuah ranjang kayu usang di dekat dinding sebelah kiri pintu dan sebuah lemari kayu yang juga usang. Beberapa poster artis India tertempel di dinding secara acak dan tidak teratur.

Bella untuk sesaat hanya berdiri seperti bengong. Dia kemudian meletakkan baju pemberian Pak Hasan di atas ranjang. Kemudian dengan gerakan perlahan dia mulai membuka satu persatu pakaiannya. Mula-mula kemejanya yang basah kuyup sehingga tubuh bagian atasnya sekarang hanya berbalut Bra berwarna pink berenda dan jilbab putih. Tubuhnya jelas sekali terawat dengan baik. Putih dan mulus. Payudaranya terlihat padat dan ketat di balik mangkuk Branya. Lalu Bella mulai menurunkan rok panjangnya, sepasang kaki yang jenjang dan mulus terlihat begitu elok dipandang, pahanya yang padat dengan pinggul membulat berakhir pada pinggang yang ramping. Sebuah celana dalam yang juga berwarna pink berenda melekat di bagian segitiga selangkangannya. Pantatnya terlihat begitu padat, dan meskipun masih berada di balik celana dalam, tidak dapat dipungkiri pantat itu sangat bagus, padat dan mulus, semulus bagian tubuh Bella yang lain.

Bella kemudian menyeka seluruh tubuhnya dengan selembar handuk dengan gerakan tenang seolah di rumah sendiri, bahkan Bella terdengar bersenandung kecil. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang bergerak liar di luar mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan mata yang liar. Rupanya di luar kamar, Parjo sedang berkasak-kusuk di dekat tembok kamar tempat Bella berganti baju. Rupanya sejak dari awal Parjo bertemu Bella di rumah Pak Hasan, Parjo mempunyai niat jahat pada Bella. Dia hafal seluk beluk rumah Pak Hasan karena sering sekali menginap di situ. Dia tahu di dinding kamar itu ada celah kecil yang tersembunyi jika diilihat dari dalam, letaknya agak di bawah dekat dengan lemari. Parjo dengan nekat mencoba melebarkan celah itu dengan menggunakan pisau hansip yang saat itu dibawanya. Celah itu membuka cukup lebar untuk Parjo bisa mengintip ke dalam. Dan Parjo dengan jelas bisa melihat apa yang terjadi di dalam, dan dengan jelas pula dia bisa melihat kemulusan tubuh Bella yang hanya berbalut celana dalam dan Bra serta selembar jilbab menutup kepalanya.

Parjo meneguk ludahnya menyaksikan kemulusan dan kemolekan tubuh Bella. Tubuhnya panas dingin dan gemetar menahan dorongan seksualnya yang tiba-tiba bangkit saat menyaksikan tubuh yang nyaris telanjang itu.

“Apa yang..” Pak Hasan dan Somad yang tahu-tahu sudah ada di dekat Parjo melongo tertegun menatap ulah Parjo. Parjo terkejut sesaat dan beringsut mundur. “Ngapain kamu..?” Pak Hasan bertanya, tapi dengan suara lirih. Parjo menunjuk ke arah celah yang dibuatnya. Pak Hasan lalu ikut mengintip ke dalam. Seperti Parjo, diapun meneguk ludah menyaksikan tubuh Bella yang mulus itu. Gairah kelelakiannya bangkit seketika, nafasnya terengah-engah menahan gejolak liar dari dalam tubuhnya.

“Mulus banget Pak…” Parjo berbisik. Pak Hasan hanya mengangguk tanpa menggeser tubuhnya dari tempat mengintip itu. Dilihatnya Bella sedang menimbang-nimbang apakah perlu melepaskan Bra dan celana dalamnya juga.

“Buka… ayo buka..” Pak Hasan bergumam lirih pada dirinya sendiri. Tapi dia kecewa karena Bella memutuskan untuk tetap memakai pakaian dalamnya dalam keadaan basah. Pak Hasan makin kecewa saat Bella memakai baju pemberiannya, seolah menyesali keputusannya memberikan baju itu pada Bella.

Ketika Bella keluar kamar, Pak Hasan dan Parjo bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun begitu Parjo tidak dapat menahan diri untuk terus menatap tubuh Bella, terutama pada bagian payudara, selangkangan dan pantatnya. Bella sendiri tidak tahu kalau beberapa saat yang lalu tubuhnya dijadikan obyek wisata. Dia segera bergegas memeriksa keadaan istri Pak Hasan yang sedang sakit, yang terbaring lemah di ranjang. Bella kemudian memriksa kadaan istri Pak Hasan. Tanpa disadari oleh Bella, Pak Hasan dan Parjo sedang berkasak-kusuk merencanakan sesuatu.

Bella lalu berdiri sambil menatap ke arah Pak Hasan.

“Dia nggak apa-apa, cuma terserang flu berat, sekarang sudah tidur.” Kata Bella lembut. “Dia cuma perlu istirahat.”

“Terima kasih Neng Dokter,” Pak Hasan mengucapkan terima kasihnya sambil menyilakan Bella duduk di ruang tengah. Ada secangkir minuman di tangan Pak Hasan.

“Silakan diminum dulu Neng,” Pak Hasan menyodorkan cangkir di tangannya sambil tersenyum aneh. Bella menerimanya dengan canggung sambil mengucapkan terima kasih. Bella perlahan meneguknya sedikit, bukan teh, bukan pula kopi, cairan hangat yang mengalir di dalam tenggorokannya terasa aneh, segar dan membangkitkan sesuatu dari dalam dirinya, seperti kehangatan yang sulit dilukiskan.ngentot jilbab semok (2)

“Minuman apa ini Pak..?” tanya Bella sambil menatap penuh tanda tanya.

“Oh.. itu minuman tradisional desa ini Neng, dibuat dari daun teh liar dari hutan sini..” Pak Hasan menjawab ringan. “Habiskan Neng.”

Bella agak ragu untuk meneguknya lagi, tapi dia merasakan tubuhnya yang tadi kedinginan mendadak menjadi hangat, maka Bella sedikit demi sedikit meneguk minuman itu sampai habis.

Sesaat Bella merasakan tubuhnya hangat dengan kehangatan yang tidak lazim. Seperti ada yang menyalakan api kecil di dalam tubuhnya, kepalanya perlahan seperti berputar dan pandangannya mengabur membuat keadaan di sekelilingnya menjadi berwarna abu-abu. Bella juga merasakan dorongan aneh di dalam tubuhnya, seperti seekor kuda liar yang berusaha mendesak keluar. Mendadak badannya menjadi terasa gelisah, keringat mulai menetes dari tubuh Bella. Desakan asing dari dalam tubuhnya membuat Bella seolah ingin secepatnya melepaskan seluruh pakaiannya dan membuatnya seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu Bella merasa tubuhnya seperti diangkat dan dipindahkan dari ruangan tengah dan direbahkan ke sebuah tempat yang lembut dan lebar. Setelah beberapa saat Bella kemudian benar-benar hilang kesadaran.

Beberapa saat kemudian Bella terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat Bella merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang berada di sebuah kamar sempit dan terbaring di atas sebuah ranjang lebar berbau melati. Samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang berdiri di dekatnya mengelilingi tubuhnya.

“Pak Hasan..” Bella mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas, perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk aslinya, Pak Hasan, Parjo dan Somad berdiri mengelilinginya di pinggir ranjang. Ketiganya hanya memakai celana kolor.

Bella berusaha bangun, tapi tubuhnya lemas sekali, pengaruh minunam yang diminumnya membuat sekujur badannya lemas.

“Sudah bangun Neng..” Pak Hasan berujar sambil tersenyum dengan tatapan matanya memelototi Bella. Parjo dan Somad bahkan menatap Bella tanpa berkedip sedikitpun sambil sesekali menguk ludahnya. Bella merasa ada yang salah dengan tubuhnya melihat ketiga orang itu menatapnya. Dan beberapa detik kemudian Bella baru sadar kalau dirinya terbaring di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya.

“Apa yang kalian lakukan pada saya..?” Bella menjerit, tapi suaranya terdengar terlalu lemah, dia berusaha mundur dan bangkit, tapi tubuhnya tidak bertenaga, dia hanya mampu menutupi payudaranya yang telanjang sambil berusaha merapatkan kakinya, sementara jilbabnya sudah tersingkap hingga leher.

“Hehehehe..” Pak Hasan tertawa pelan. “Belum ada sih Neng, soalnya kami baru saja selesai menelanjangi Neng Dokter.”

“Jangan Pak.. jangan.. jangan sakiti saya..” Bella mulai menangis sambil berusaha berontak, meskipun dia terlalu lemah untuk itu, yang dilakukannya hanya mengejang-ngejang di atas ranjang yang justru membuat gerakan erotis karena dirinya dalam keadaan bugil.

“Oh.. tentu tidak Neng, Bapak hanya ingin senang-senang sedikit saja,” kata Pak Hasan sambil menoleh ke arah Parjo dan Somad yang menyeringai liar.

“Tidak apa-apa Neng.. Bapak hanya minta Neng melayani Bapak sebentar saja, Bapak sudah lama tidak mendapat jatah dari istri Bapak.” Kata Pak Hasan

“Jangan Pak.. jangan.. saya tidak mau..” Bella menangis sesenggukan sambil menggeleng ketakutan.

“Jangan nangis Neng, Bapak janji bakal muasin Neng Dokter juga, malah mungkin Non yang ntar ketagihan” katanya setengah berbisik, hembusan nafasnya terasa di telinganya. Bella merinding mendengar usapan itu, sama sekali tidak disangkanya Pak Hasan tega melakukan hal ini padanya, Bella memang sudah tidak perawan karena pernah melakukan masturbasi dengan timun sehingga selaput daranya robek, tapi dia tidak mau dijadikan pelampiasan nasu seorang tua bangka seperti Pak Hasan.

“Neng Dokter cantik sekali..” Pak Hasan menyeka air mata yang membasahi pipi Bella lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya. Bella memejamkan mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan Pak Hasan, malah rontaan itu membuat Pak Hasan makin bernafsu mengerjainya. Ketika tangan Pak Hasan mulai merogoh bagian kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah lidah Pak Hasan menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya habis-habisan, lidah Pak Hasan menyapu telak rongga mulutnya. Bella merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Pak Hasan masuk lebih jauh, namun dengan begitu Pak Hasan malah senang bisa sekalian membelai paha mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan. Sekali lagi tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Pak Hasan telah berhasil mengelus belahan vaginanya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya. Tangan Pak Hasan menyusup menyentuh permukaan kemaluan Bella yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

ngentot jilbab semok (3)

Bella mengejang sesaat ketika tangan itu menyentuh kemaluannya, campuran antara sensasi yang ditimbulkan sentuhan tangan itu dan pengaruh minuman yang tadi diminumnya membuat tubuhnya menegang sesaat. Bella mulai merasakan getaran-getaran yang mengenai syaraf seksualnya, tanpa sadar Bella mendesah.

“Ahhhhhh… ehsssss…. ohhhkkkhhhh…’ Bella merintih dan bergerak liar merespon sentuhan Pak Hasan. Pak Hasan melihat reaksi itu semakin bersemangat. Pak Hasan lalu berusaha membuka kedua belah paha Bella lebar-lebar sambil terus menerus menciumi bibir Bella. Nafas gadis itu semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena rangsangan-rangsangan gencar Pak Hasan. Tangan Pak Hasan akhirnya berhasil membuka paha Bella membuat vagina Bella sekarang terbuka lebar, vagina itu terlihat bagus dengan ditumbuhi rambut halus dan rapi.

Parjo dan Somad yang melihat aksi Pak Hasan mengerjai Bella hanya bisa meneguk ludah sambil mengocok penis mereka sendiri.

“Ohh.. jangan lama-lama Pak.. kami juga kebelet..” Parjo mengerang pelan sambil meneguk ludah.

Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang gadis cantik yang alim, berjilbab lebar dan berbaju longgar yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari pikiran kotor para lelaki bejat, kini terbaring tak berdaya dengan jilbab tersingkap dan buah dada serta perut yang terbuka lebar, penuh liur dari orang yang memperkosanya. Dari mulutnya terdengar lenguhan dan desahan birahi yang terdengar semakin meninggi, disela jeritan dan kata2 penolakan yang seperti dikatakan hanya untuk menjaga kehormatannya.

“Hehehe.. giliran kalian nanti ya..” Kata Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan mulai memainkan jari-jarinya di vagina Bella sambil terus menciumi dan mengulum bibir Bella Lidah Bella yang berusaha menolak lidahnya justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya. Beberapa saat lamanya Pak Hasan terus menciumi bibirnya dan mengelus-elus bibir vaginanya. Jari-jari Pak Hasan yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah, Pak Hasan menyerang daerah lainnya, payudara Bella yang telanjang perlahan mulai diremas oleh Pak Hasan. Bella berusaha menepis tangan Pak Hasan dan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Pak Hasan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping badan. Dia memejamkan mata dan menangis, seorang bertampang buruk dan seusia ayahnya meremas, menjilati dan mengenyot payudaranya.

Gadis berjilbab itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi pemerkosanya. Cukup lama Pak Hasan menyedoti payudara Bella sehingga meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya terus memainkan payudara Bella.

‘Tidak…jangan Pak, jangan !” ucap Bella memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Pak Hasan mau menjilati vaginanya.

Pak Hasan hanya menyeringai lalu membuka paha Bella dengan setengah paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Bella menggelinjang begitu lidah Bella yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, bagi Bella lidah itu adalah lidah pertama yang pernah menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya. Pak Hasan berlutut di ranjang dan menaikkan kedua paha Bella ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis berjilbab  itu setengah terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti sedang makan semangka.

ngentot jilbab semok (4)

“Sudahhh Pak…ahh…aahh !” desah Bella memelas saat lidah Pak Hasan masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya.

Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan ngerinya bercampur baur dengan birahi dan naluri seksual.

Sekitar seperempat jam Pak Hasan menikmati vagina Bella demikian rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis berjilbab itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

“Eenngghh…aaahh !” Bella pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang. dia menyedoti bibir vagina Bella sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. Parjo dan Somad yang melihat Bella orgasme tertawa senang.

“Hehehehe.. ternyata konak juga, tadi nolak-nolak tuh.. dasar pelacur, dimana-mana sama saja..meski pakai jilbab kalo pelacur yah konak juga ” Parjo berujar datar.

“Iya nih… tadi berlagak alim nggak mau, ternyata nyampe juga..” timpal Somad yang juga masih mengocok-ngocok penisnya sendiri.

“Nah.. kalau begitu Neng dokter sudah siap ya..” kata Pak Hasan. Bella tahu maksud ‘siap’ yang dilontarkan Pak Hasan. Dirinya memang terangsang hebat oleh perlakuan Pak Hasan, meskipun pikirannya menolak, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bella yang sudah mulai kehilangan akal sehatnya hanya terdiam. Diamnya Bella itu bagi Pak Hasan dan kawan-kawannya dianggap sebagai lampu hijau dari Bella untuk menidurinya. Perlahan Pak Hasan mulai menarik kedua belah kaki jenjang Bella ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak. Lalu perlahan Pak Hasan mulai menindih tubuh mulus Bella yang telanjang bulat. Pak Hasan merasakan kenyalnya payudara Bella menekan dadanya dengan lembut.

Perlahan-lahan, Pak Hasan lalu menaikkan kedua kaki Bella yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang kekar. kedua pahanya kini melingkari bagian perut Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Bella.membuatnya kegelian merasakan kemaluan Pak Hasan yang menyentuh kemaluannya. Setelah penis Pak Hasan mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, dia lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir kemaluan Bella. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu Pak Hasan mendorong pinggangnya maju mendesak pinggul Bella membuat penisnya masuk ke dalam vagina Bella. Saat penis Pak Hasan melesak ke dalam kemaluan Bella, spontan Bellapun mengejang. Jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba. Pak Hasan masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Bella. Bella pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Pak Hasan.

Mengetahui tangisan Bella saat menerima penisnya masuk, Pak Hasan lalu memeluk Bella dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Bella. Ia peluk Bella dan diciuminya bibir Bella seakan tidak ingin terpisahkan. Pak Hasan ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti tubuh mereka yang telah menyatu saat itu.

Bella meronta mencoba mendorong tubuh Pak Hasan yang menindihnya tapi dirinya terlalu lemah, rontaan Bella bukannya membuat Pak Hasan bergeser justru membuatnya semakin bernafsu, sensasi yang didapatnya saat vagina Bella mencengkeram penisnya benar-benar membuatnya merasa nikmat. Pak Hasan tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Bella. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh gadis berjilbab cantik itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari cengkeraman vaginanya. Apalagi dinding-dinding kemaluan Bella terasa berdenyut-denyut. meremas penis Pak Hasan yang keras. Ia pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Bella dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat. Dari tengkuk Bella jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Bella. Nafsu Pak Hasan terus terpacu karena wangi tubuh Bella yang juga masih tercium aroma minyak wangi mahal yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu. Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Bella yang bernomer 34B itu. Mulut Pak Hasan terus bermain-main dengan puting dan belahan Payudara Bella. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu.

Diperlakukan sebegitu rupa, pelan-pelan bertahanan Bella jebol, tubuhnya sudah tidak mematuhi perintah otaknya yang menolak cumbuan Pak Hasan, desakan luar biasa sebagai akibat pengaruh minuman yang diberikan Pak Hasan benar-benar bagaikan kuda binal yang menghentak-hentak di setiap ujung syaraf kenikmatan seksual Bella. Cengkeraman Bella pada bahu Pak Hasan makin mengers dan tubuh Bella akhirnya mengejang keras seperti dialiri listrik yang membuatnya terhentak. Wajah Bella merah padam seperti menahan sesuatu yang inginn dilepaskan. Akhirnya diiringi desahan lirih, Bella mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya.

Pak Hasan menyadari Bella kembali dilanda orgasme, karena vagina Bella dirasakan mencengkeram penisnye dengan kuat seperti cengkeraman tangan baja. Pak Hsan kemudian mulai mengerakkan pantatnya maju mundur untuk menggenjot kemaluannya ke dalam liang vagina Bella. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Bella agar tetap di tempatnya. Bella perlahan-lahan menikmati genjotan Pak Hasan yang kasar itu. sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei yang sudah tak jelas warnanya itu. itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua orang yang sedang bersetubuh itu.

Selama setengah jam lamanya Pak Hasan menyetubuhi Bella, ditonton oleh Parjo dan Somad yang sudah blingsatan setengah mati menahan gejolak yang menggebu. Sungguh sebuah ketahanan yang luar biasa, terutama mengingat umur Pak Hsan yang sdah tua, Sementara Bella semakin lama makin menikmati persetubuhan itu. Tanpa sadar dia mulai mengimbangi gerakan Pak Hasan, bahkan saat Pak Hasan berhenti menggenjot vaginanya, Bella spontan menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur. Respon yang diberikan Bella membuat Pak Hasan makin bersemangat. Kemudian Pak Hasan membuat gerakan memutar-mutarkan pantatnya sehingga penisnya seperti mengaduk vagina Bella. Bella merasakan batang penisnya menyentuh seluruh rongga vaginanya, terasa berputar putar, terasa sangat penuh, sampai akhirnya Bella merasakan penis Pak Hasan berdenyut denyut di dalam rongga vaginanya dan Bella sendiri sudah akan mencapai orgasme yang ketiga kalinya. Tubuh Bella kembali mengejang, tanpa sadar Bella memeluk badan Pak Hasan dan mencakari punggungnya dengan garukan keras.

“AHHHHHKKKKHHHHHHHHH………………….” Bella mengerang kuat, seluruh enersinya tumpah keluar saat orgasme untuk ketiga kalinya, pada saat itulah Pak Hasan mencapai puncaknya.

“AAAARRRRGGGGHHHHHH …..” Pak Hasan berteriak kuat-kuat sambil menjambak jilbab Bella, badannya melengkung ke atas sambil wajahnya menunjukkan ekspresi puas luar biasa dan kemudian spermanya menyembur bagitu banyak di dalam rongga rahim Bella. Akhirnya tubuh kedua insan yang baru saja melakukan persenggamaan itu melemas kembali. Pak Hasan selama beberapa menit membiarkan tubuhnya menindih tubuh putih mulus Bella, mencoba merasakan sebanyak mungkin kenikmatan dari tubuh gadis berjilbab cantik dan terpelajar itu sepuas-puasnya sambil sesekali mulutnya mencium dan mengulum bibir Bella. Bella kembali meneteskan air matanya, tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dirinya baru saja menerima pengalaman seksual yang sangat luar biasa sehingga di dalam hatinya dia ingin lagi dan lagi disetubuhi oleh mereka.

Pak Hasan akhirnya melepaskan penisnya dari jepitan vagina Bella. Dia sendiri kemudian terkapar lemas di samping Bella sambil mengelus kepala berbalut jilbab Bella.

“Sekarang giliran saya Pak..” suara Parjo yang bergetar membuat Pak Hasan tersadar. Dia lalu berdiri dan menjauh.

“Nah.. giliranmu sekarang Jo..” kata Pak Hasan. Parjo hanya tersenyum liar sambil memandangi tubuh Bella yang basah oleh keringat. Parjo tipe orang yang tidak sabaran, apalagi dia memang sudah sejak tadi terangsang hebat melihat adegan persetubuhan Bella dengan Pak Hasan, Parjo segera menarik tubuh bugil Bella yang tergolek lemas di atas ranjang lalu dibalikkannya tubuh Bella sampai menelungkup.

“Saya mau nyoba gaya anjing boleh ya Neng..” Parjo berlagak sopan. Lalu dengan kasar ditariknya pantat Bella sampai menungging membuat Bella sekarang dalam posisi pantat lebih tinggi dari kepalanya. Parjo kemudian berlutut tepat di belakang Bella sambil segera melepaskan celananya, dan sebatang penis sepanjang 20 cm dengan diameter sekitar 4 cm segera mengacung keras. Parjo mengarahkan penisnya ke bibir vagina Bella yang sudah basah oleh cairan lendir dan sperma Pak Hasan kemudian Parjo segera menekankan penisnya ke dalam vagina Bella, Bella menjerit kecil sambil mendongak, meskipun penis itu masuk tanpa perlawanan akibat vaginanya yang sudah licin, tapi karena ukurannya yang besar membuat Bella merasa kesakitan.

ngentot jilbab semok (5)

“Oookkkhhh….” Bella meringis menahan sakit pada vaginanya. Air matanya sampai meleleh kembali di pipinya yang mulus. Sementara Parjo memejamkan matanya merasakan sensasi jepitan vagina Bella pada penisnya. Kemudian Parjo pelan-pelan mulai menggoyangkan pantatnya membuat penisnya mendesak lebih dalam di dalam vagina Bella. Sentakan itu membuat Bella mengejang sambil merintih.

“Akkhh… sakiit Paak.. aduuuhhh.. sakiit..” Bella merintih sambil menghiba.

“Sakit ya? Tenang saja Neng, sebentar lagi juga enak, tadi kan Neng dokter seneng banget waktu digenjot sama Pak Hasan..” Parjo mengejek. Sambil memegangi pantat Bella, Parjo mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan frekuensi genjotan makin naik. Setiap pria itu menyentakkan pinggulnya, Bella mendesah keras sampai suaranya terdengar keluar, dia merasa perihpada vaginanya, namun juga ada rasa nikmat bercampur di dalamnya, penis yang menyesaki liang kemaluan itu menggesek-gesek klitorisnya yang tentu saja merangsang gairahnya. Parjo melenguh-lenguh menikmati penisnya menggesek-gesek dinding vagina Bella yang masih ketat. Bella sendiri mulai bangkit kembali gairah seksualnya. Dia lama-lama bisa mengimbangi gerakan kasar Parjo. Pinggul Bella kini malah ikut bergoyang mengimbangi sentakan-sentakan Parjo. Lama-lama Bella pun tidak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang karena klimaks.

“Ooohhhhhh……….” desahan panjang terdengar dari mulutnya, dia merasakan mengeluarkan cairan dari vaginanya meleleh keluar dari selangkangannya. Selama klimaksnya, Parjo tidak sedikitpun berhenti maupun memperlambat genjotannya, sebaliknya dia semakin bersemangat melihat gadis berjilbab cantik itu telah takluk.

Setelah selama sekitar limabelas menit menggagahi Bella dengan gaya anjing, rupanya Parjo kurang puas, dengan gerakan kasar dia mendorong tubuh Bella membuat penisnya yang masih menancap di vagina Bella terlepas dari jepitan vagina itu. Lalu Dipaksanya Bella duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Bella yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat Parjo merasa iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah.

“Sekarang Neng dokter yang goyang ya..” kata Parjo. Bella hanya bisa mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Parjo. Parjo mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Bella dan mendorong pantatnya maju mundur. Sementara bibirnya sibuk menyusu pada payudara Bella sambil sesekali mengulum dan menjilati puting payudara Bella. Selama beberapa menit berikutnya yang terdengan hanyalah gesekan penis Parjo di dalam vagina Bella diiringi dengan desahan erotis dari bibr Bella yang mungil, sementara Parjo tanpa henti terus mengaduk-aduk vagina Bella membuat Bella makin merasa nikmat, pelan-pelan birahi Bella kembali meninggi dan akhirnya Bella bersedia mengimbangi setiap gerakan Parjo, membuat mereka bisa berpadu dengan serasi dalam mencapai puncak kenikmatan seksual.

Selang beberapa menit, Parjo perlahan merebahkan kembali tubuh mulus Bella yang sekarang kembali basah oleh keringat membuat posisinya kembali tertindih tubuh Parjo, tapi dengan kedua kaki masih melingkari pinggul Parjo. Parjo tanpa berhenti terus menggenjotkan penisnya di dalam vagina Bella, hal itu membuat Bella makin terhanyut, desahannya makin menjadi-jadi, tubuhnya makin lama makin menegang, tangannya mencngkeram kasur dengan sangat erat dan beberapa menit kemudian Bella akhirnya tidak tahan lagi, orgasmenya meledak.

“OOOOHHHHH……………………..” Bella mengerang kuat-kuat sambil badannnya melengkung membuat payudaranya mencuat menekan dada Parjo dengan lembut. Parjo merasakan vagina Bella berdenyut-denyut, seolah menyempit dan meremas penisnya dengan kekuatan cengkeraman tangan, sensasi itu membuat Parjo megap-megap, dia tidak tahan lagi, sensasi dahsyat menghantam sekujur tubuhnya seolah cakar harimau yang merobek tubuhnya dari dalam.

“AHHHHHKKHHHH…………….” Parjo tidak tahan lagi, dengan erangan keras dia menyentakkan penisnya dengan keras ke dalam vagina Bella, lalu saat itu juga spermanya menyembur dengan deras membanjiri rahim Bella. Tubuh Parjo menegang sesaat sebelum melemas lagi. Parjo ambruk setelah mendapat orgasme yang luar biasa. Belum pernah Parjo melakukan hubungan seks senikmat ini, kenikmatan yang diperolehnya daripara pelacur yang pernah digaulinya jelas tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkannya saat menggauli tubuh gadis secantik Bella.

“Ohhh… gila, enak banget memeknya Neng dokter..” kata Parjo lirih di telinga Bella. Bella hanya diam saja meskipun air matanya meleleh membasahi pipinya. Tapi meskipun sedih, Bella juga merasakan kenikmatan yang tiada taranya saat digauli oleh Parjo. Pacarnya sekalipun belum pernah memberikan kenikmatan begitu dahsyat seperti yang baru saja dialaminya bersama Parjo dan Pak Hasan. Karena itu Bella diam saja ketika dilihatnya Somad naik ke ranjang menggantikan posisi Parjo.

“Sekarang giliran saya Neng..” ujar Somad sambil cengar-cengir. Bella hanya menatapnya dengan tatapan sayu. Somad untuk beberapa saat hanya mengagumi tubuh telanjang Bella yang terlentang di hadapannya.

“Astaganaga, gila bodinya Neng dokter mantap banget nih, wah beruntung banget nih kita, ” kata Somad, ” Lalu tanpa ba bi bu lagi tubuh Bella langsung diterkamnya.

ngentot jilbab semok (6)

“Hmmphhh ungghhh pak… hmmph,” Bella merasa sangat sesak sekali, karena selain tubuh Somad yang gempal itu, nafas dan bau badannya sangat mengganggu, tapi Somad tidak mempedulikannya, Mulut Bella langsung dijilatnya tanpa menghiraukan rintihan Bella, lidahnya mulai berhasil menembus mulut Bella, dan selama beberapa saat keduanya saling bergulat bibir dengan ganas.

Tiba–tiba tanpa peringatan Somad langsung menjambak jilbab dan rambut Bella membuat Bella kesakitan.

“AAhhh sakit pak.” Bella merintih, Somad justru menyeringai.

‘Keluarin lidahnya Neng dokter…” Somad memberi perintah, dan dalam keadaan seperti itu Bella hanya pasrah, dijulurkannya lidahnya yang berwarna pink. Somad tanpa pikir panjang langsung mengulum lidah Bella tanpa merasa jijik sedikitpun. Lidah Bella bahkan di permainkan di mulutnya Kemudian Somad mulai meremas remas payudara Bella, ia mainkan puting susu Bella seperti orang ingin mencari gelombang radio, Somad juga menjilat-jilati puting susu Bella dan dimainkan terus sehingga puting susu Bella mengeras dan mengacung dengan indahnya, Bella kembali menegang, birahinya seperti dibakar kembali, dan tanpa sadar Bella kembali hanyut dalam permainan yang kali ini dilakukan oleh Somad. Bella hanya mampu mengerang menahan gejolaknya yang kembali menggebu.

Melihat Bella yang sudah kembali terangsang, Somad segera melepaskan celana kolornya, dan penisnya yang hitam legampun mengegang keras siap untuk dihujamkan ke dalam vagina Bella. Somad kemudian mengatur posisi kaki Bella supaya mengangkang lebar membuat vaginanya yang sudah basah itu membuka lalu Maan mngatur posisi tubuhnya tepat di depan celah kemaluan itu. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menggesek-gesekkan ujung kemaluannya di bibir vagina Bella, hal itu membuat Bella mengerang lirih. Somad kemudian mendorong pantatnya maju dengan gerakan pelan, membuat penisnya sdikit demi sedikit mendesak masuk ke dalam liang vagina Bella. Bella merasakan vaginanya seperti melebar ketika menerima penis Somad yang lebih besar dari penis Parjo, membuatnya meringis kesakitan.

“Ahhh… sakiiitt.. sakit Pak…” Bella merintih lirih. Air matanya kembali meleleh, dia berusaha melebarkan kakinya agar vaginanya bisa menanpung penis Somad.

“Sakit ya Neng..? Bentar lagi juga enak.. tahan ya Neng..” Somad berujar santai sambil menindih tubuh mulus Bella lalu mendekapnya dengan kedua tangannya yang kekar. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menarik penisnya, membuat Bella sedikit bisa bernafas lega. Tapi sedetik kemudian Somad kembali menusukkan penisnya ke dalam vagina Bella, kali ini dengan sentakan kasar.

“Ahhhkk….!!” Bella merintih sambil menggeliat, membuat tubuhnya melengkung dan tulang rusuknya seperti menjiplak di kulitnya. Tanpa sadar Bella mencengkeram punggung Somad dengan kuat membuat goresan kecil dengan kuku-kukunya. Tapi Somad tidak merasakan goresan kecil itu, konsentrasinya sepenuhnya berpusat pada kemaluannya yang sudah bersatu dengan kemaluan Bella. Sensasi luar biasa mengalir ke dalam setiap pembuluh darahnya membuat darahnya seperti menggelegak. Somad lalu mengulangi aksinya, meanirk penisnya pelan dan menghunjamkannya ke dalam vagina Bella dengan kasar. Kembali Bella menjerit lirih menerima perlakuan itu. Somad lalu mengulanginya lagi, membuat Bella kembali menjerit. Dan selama sepuluh menit kemudian yang terdengar di kamar itu adalah jeritan-jeritan lirih Bela ketika vaginanya digenjot oleh Somad dengan kasar. Rupanya jeritan Bella yang sensual itu menjadi sensasi tersendiri yang menambah kenikmatan Somad dalam melakukan persenggamaan dengan Bella.

Bella sendiri meskipun merasa tersiksa, tapi mulai bisa menikmati sensasi yang dihasilkan dari persetubuhannya dengan Somad. Pelan-pelan rintihannya berubah dari rintihan kesakitan menjadi rintihan kenikmatan. Bella perlahan juga mulai mengimbangi gerakan-gerakan Somad yang kasar dengan gerakan pinggulnya. Sensasi yang dibuat oleh Somad pada diri Bella membuat Bella tak berkutik lagi, lenguhan dari bibirnya yang mungil makin menjadi-jadi seolah meracau. Karena itu Bella tidak menolak ketika Somad memintanya berganti posisi. Somad yang masih mendekap tubuh Bella yang mulus berguling sehingga sekarang posisinya terbalik, tubuh mulus Bella yang telanjang sekarang berada di atas Somad. Somad lalu meminta Bella untuk menggerakkan pantat sehingga penis Somad yang masih mendekam di dalam vagina Bella kembali terkocok oleh jepitan vaginanya. Bella melakukannya sambil terengah-engah, Somad meresponnya dengan melumat bibir Bella yang megap-megap dengan rakus seolah berusaha menelan bibir itu mentah-mentah. Selama sepuluh menit keduanya berada dalam posisi berdekapan dan saling berpagutan bibir.

Masih tidak puas dengan gaya itu, Somad lalu bangkit dalam posisi duduk tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Bella sehingga sekarang keduanya saling menempel dalam posisi duduk di ranjang. Kaki Bella sekarang melingkari pinggul Somad, lalu keduanya bergantian menggerakkan pinggulnya membuat kemaluan mereka yang bersatu kembali terbenam dalam sensasi seksual yang menggebu. Bella mendesah penuh kenikmatan diperlakukan sedemikian rupa. Dan Somad membalas aksi Bella dengan memagut bibirnya kemudian menelusuri leher dan belahan payudara Bella dengan ciuman-ciuman, meninggalkan bekas kemerahan di bagian yang diciuminya.

Setelah bebarapa menit Somad kembali kepada posisinya semula, direbahkannya tubuh Bella dan ditindihnya kembali tubuh mulus itu. Somad kemudian menggenjotkan penisnya lagi, kali ini gerakannya teratur, membuat Bella serasa melayang ke angkasa oleh sensasi yang dihasilkan genjotan Somad. Menit demi menit berlalu, Somad masih bersemangat menggenjot Bella. Sementara Bella sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Somad. Bella merasakan ingin selamanya disetubuhi seperti ini, Bella tanpa sadar memeluk Somad dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Bella mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan kokoh Somad.

“Aaaaaahh…ooooohh !” desah Bella sambil memeluk Somad dengan kuat saat penis Somad melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Bella menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Bella membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Clara dan meremasnya kuat-kuat membuat Bella meringis kesakitan bercampur nikmat. Bella merasa dirinya seperti mau meledak. Tubuhnya bergetar dan kemudian mengejang kuat sekali.

“AHHKHHH….. OHHHHH…..” Lolongan kuat meluncur begitu saja dari bibir mungil Bella, untuk kesekian kalinya Bella mengalami orgasme gila-gilaan. Somad akhirnya menyerah, diapun kemudian melepaskan sensasi yang sedari tadi ingin dilepaskannya.

“Ahhhhh….. “ Somad melenguh penuh kepuasan saat spermanya menyembur mengisi rahim Bella.

“Minggir Mad!” Terdengar suara Pak Hasan dan Parjo, Somad yang masih dikuasasi sensasi orgasme gelagapan, dia menyingkir dan melihat Pak Hasan dan Parjo tiba-tiba naik ke atas ranjang sambil berlutut tepat di atas wajah Bella sambil mengocok penisnya. Lalu.

ngentot jilbab semok (7)

“Crtt…crt…crt….,” sperma kedua orang itu muncrat membasahi wajah Bella. Rupanya selama mereka melihat Bella disetubuhi oleh Somad, mereka kembali naik birahinya dan melakukan onani. Setelah puas menyemprotkan spermanya di wajah Bella mereka terkapar di ranjang dengan nafas terengah-engah. Dibiarkannya Bella ranjang itu, wajahnya tampak sedih dan basah oleh keringat, air mata dan cairan sperma yang sangat banyak melumuri wajahnya, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yang dialaminya dan rasa benci pada ketiga orang yang baru saja memperkosanya.

Selama sehari semalam penuh, ketiga orang itu kembali menikmati kemulusan tubuh Bella dengan berbagai macam cara. Bella dipaksa untuk melakukan oral seks sambil mengocok penis yang lain, lalu dipaksa pula untuk melayani tiga orang sekaligus. Ketiganya melakukan hal itu secara bergantian membuat Bella berkali-kali orgasme. Bella juga dipaksa untuk menari dalam keadaan telanjang bulat, lalu mereka menyuruhnya untuk menjilati penis mereka satu-persatu sambil kemudian menyemprotkan spermanya di wajah dan tubuh Bella. Baru keesokan paginya setelah semalam suntuk menggarap tubuh Bella habis-habisan mereka mengantar Bella pulang ke pondokan sambil disertai ancaman akan melakukan sesuatu yang buruk jika Bella berani buka mulut tentang perlakuan mereka semalam. Gadis berjilbab itu segera mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Sementara Pak Hasan tidak lupa untuk berpesan agar Bella setiap saat siap jika mereka ingin menikmati tubuhnya lagi.