VINA DAN MAYA

Perkenalkan nama saya Laila, saya seorang mahasiswi semester 4 di Purwokerto. Ada satu pengalaman nyata yang saya alami yang berkaitan dengan cewek-cewek ROHIS. Di Purwokerto sendiri banyak sih cewek ROHIS terutama di Kampus, hanya saja saya tidak ada yang kenal mereka semua. Cuman saya melihat mereka adalah cewek-cewek yang alim dengan jilbab panjang dan jubah mereka itu.Saya sendiri cuman pakai kerudung kecil yang seringkalai dipandang sebelah mata oleh cewek-cewek ROHIS yang berkerudung lebar.

Dua minggu yang lalu, saya harus ke Jogja untuk urusan kuliah. Karena saya banyak ke sibukan, sehingga baru jam 5 sore saya berangkat ke Jogja. Saya naik bis Patas Raharja dan di sebelah saya duduk seorang cewek berjilbab gede. Semula saya cuekin, tapi kemudian dia ngajak ngobrol. Orangnya ramah, cantik, putih dan kuliah di UGM hampir selesai. Asalnya Bandung, namanya Neneng dan ternyata dia aktivis ROHIS. Kami ngobrol banyak terutama tentang pemilu, nyambung karena sayajurusan sospol dan akhirnya dia nawarin numpang di kostnya setelah dia tahu saya kesulitan bermalam di Jogja dan berniat bermalam di penginapan.

Kurang lebih jam 8 malam kami sampai di Jogja dan Mbak Neneng tetep ngajak saya tidur di kostnya. Singkat cerita kami sampai di kostnya yang terletak di di daerah Jln Kaliurang sekitar UGM. Di kost tersebut ada 5 cewek lainnya dan saya di persilahkan tidur kamar Mbak Neneng. 5 cewek temen kost Mbak Neneng ternyata juga aktivis ROHIS di Jogja. Ke 5 cewek ROHIS itu kelihatan merendahkan saya karena kerudung saya yang kecil walaupun jujur saja saya merasa iri dengan ke 5 cewek temen Mbak Neneng, karena mereka berwajah cantik dan berkulit putih- putih bersih.

Pukul 10 malem saya sudah ngantuk berat hingga saya pamit tidur, tak lama kemudian Mbak Neneng juga menyusul ke kamar. Ketika saya sudah berbaring,saya merasa heran ketika Mbak Neneng membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Mbak nenneg mengakui kalau selama ini, dia tidur jarang memakai pakian lengkap, kadang cuman BH dan CD atau CD aja atau bahkan bugil seperti malam ini. Kata dia sih karena Jogja sangat panas. Aku diam saja mendengar penjelasan dia dan saya akui lekak-lekuk tubuh Mbak Neneng memnag sangat sintal membuat saya menjadi sangat iri.Karena kami sama-sama perempuan, saya tidak merasa tergganggu olehnya lagian mata saya sudah sangat mengantuk.

Pukul 12 malam, saya terbangun karena pengen kencing. Saya kaget ketika menyadari Mbak Neneng yang bugil tengah memeluk saya dalam tidurnya. Akhirnya setelah melepaskan pelukan Mbak Neneng dengan susah payah, saya keluar kamar menuju WC. Setelah saya selesai dariWC saya bermaksud kembali ke kamar Mbak Neneng, tapi kemudian sayainget kalau Mbak Neneng malam ini tidur tanpa busana sehingga membuat saya ingin melihat apakah 5 cewek ROHIS temen Mbak Neneng juga tidur tanpa busana.

Saya mengintip 5 kamar lainnya dan saya dapati 3 temen Mbak Neneng tidur tanpa busana sementara 1 orang tidur hanya memakai celana dalam dan satu orang lagi tampak sedang membuka internet namuan alangkah kagetnya saya ketika saya amti ternyata yang sedang dibukanya adalah situs-situs hot. Apalagi ketika saya lihat cewek ROHIS yang sedang buka internet itu juga sambil bermasturbasi.

Yah akhirnya sisa malam itu, saya nggak bisa tidur. Saya nggak mau tidur dengan Mbak Neneng yang kayaknya lesbian. Dalam pikiran ana timbul kesadaran, ternyata tidak mesti cewek ROHIS itu alim-alim buktinya di tempat kost tempat saya menumpang. semalamman saya berpikir seperti itu hingga pagi. Bahkan kemudian, malam itu juga saya menemukan foto laki-laki bugil dalam salah satu tumpukan majalah UMMI di ruang tamu.

Paginya, ana kembali kaget oleh cewek-cewek ROHIS di tempat kost ini ketika ternyata mereka membeli sarapan pagi ke warung tanpa pakain dalam. Memang mereka pakai pakaian jubah panjang dan jilbab lebar dan kaus kaki tapi saya tahu mereka nggak pakai pakaian dalam. Kata mereka sih pakaian ini sudah cukup menutupi.

Saya menolak tawaran mandi bareng Mbak Neneng, dan akhirnya pagi-pagi sekali saya cabut dari tempat kost cewek ROHIS itu. Jadi saya pikir, tidak mesti semua cewek-cewek ROHIS itu alim-alim Bonar, Monang dan Togar bengong. Tiga preman terminal itu tak menyangka bakal dapat order seperti itu.

“Kau serius?” tanya Monang kepada lelaki perlente di depannya.

“Serius Bang. Dua juta untuk persekot. Delapan juta lagi kalau sudah selesai,” sahutnya.

“Kalau sudah kita perkosa, terus diapain?” lanjut Monang.

“Pokoknya terserah abang bertiga. Mau dipelihara terus boleh, dijual ke germo juga boleh. Asal jangan dibunuh,” sahut lelaki itu.

Tiga preman itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka sering menerima order untuk menagih utang, menghajar seseorang atau bahkan membunuh. Tapi order kali ini mereka anggap sangat aneh: menculik dan memperkosa dua mahasiswi lalu memaksanya agar berhenti kuliah. Mereka makin terkejut begitu melihat foto dua calon korban mereka. “Gila ! Kau suruh kami perkosa cewek pake cadar ! Sebetulnya apa sih masalahnya?” kali ini Bonar yang bicara.

Lelaki perlente itu menghela napas dalam-dalam. “Dua cewek ini bikin suasana kampus jadi nggak enak. Sudah lah… abang bertiga mau duit sepuluh juta tidak?” sahutnya. Tiga preman itu saling berpandangan. Di tengah keraguan dan hasrat mendapat uang mudah, menyeruak perasaan aneh di hati mereka.

Terbayang di benak kotor ketiganya, mereka akan menelanjangi dua gadis yang berpakaian serba tertutup, lalu memperkosanya.

“Oke… kami mau !” Monang yang langsung ambil keputusan. Kedua temannya mengangkat bahu, tak berkomentar tapi menunjukkan persetujuan. “Kapan kami harus lakukan?” lanjut Monang.

Lelaki perlente itu tersenyum. “Minggu ini juga. Ini duit dua juta, ini foto dan alamat dua cewek itu. Telepon saya kalau sudah selesai,” ujarnya.

***

Sepeninggal lelaki itu, ketiganya memandangi lagi foto dua gadis itu. Terlihat seorang yang berjilbab dan cadar serba putih dan rekannya yang mengenakan busana serupa berwarna hitam tengah diwawancarai seorang reporter TV. Cadar yang menutup wajah keduanya membuat hanya sepasang mata kedua gadis itu yang terlihat. Pada cadar putih tertulis nama ‘Maya’ sedang pada cadar hitam tertulis ‘Vina’. “Boleh juga nih. Aku jadi terangsang Bang, pengen cepat lihat memiawnya dua cewek ini!” ujar Togar yang sejak tadi diam.

VINA

VINA

“Bah, bukan cuma kau lihat. Kau boleh makan memiaw dia. Kita memang beruntung. Dapat memiaw dua, bukan cuma gratis, dibayar 10 juta pula !” sahut Monang disambut gelak dua kawannya.

Tiga preman itu pun langsung berunding untuk menentukan cara menculik kedua gadis itu. Akhirnya mereka pun menemukan cara mudah: menjebak keduanya. Togar yang berpenampilan rapi ditugaskan menyamar sebagai wartawan yang akan mewawancarai keduanya. Monang menyamar sebagai fotografer, sedang Bonar menunggu di belakang kemudi mobil van mereka.

Tak menunggu lama, Togar langsung beraksi. Diangkatnya ponselnya, menghubungi rumah kos Maya. Suara lembut seorang gadis terdengar menyapa.

“Dik Maya, saya wartawan. Saya ikut prihatin dengan kejadian di kampus. Bisa tidak saya wawancara adik?” katanya.

“Ya…ya… berdua dengan Vina sekalian,”

“Besok siang, sepulang kuliah ? Di mana?”

“Tempat kos? Oke ! Vina sekalian ke situ? Oke ! Sampai ketemu besok,” Togar bersorak begitu menutup ponselnya.

***

Siang yang dijanjikan pun tiba. Togar mengenakan rompinya yang bersaku banyak. Di salah satu saku sengaja disembulkan ujung sebuah blocknote dan beberapa bolpoin. Tapi di salah satu saku yang lain, ia mengantongi sepucuk pistol yang dibelinya di pasar gelap. Monang tak kalah miripnya dengan fotografer betulan. Ia menyandang tas kamera.

Tak ada yang bakal menyangka kalau tas itu isinya juga pistol. Sampai di depan rumah kos Maya, mobil van yang dikemudikan Bonar berhenti. Dua rekannya turun dan memasuki halaman rumah. Bonar menunggu di belakang kemudi sambil mengawasi keadaan sekitar yang sepi.

Togar mengetuk pintu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

“Kami, wartawan,” sahut Togar. Pintu pun terbuka. Togar dan Monang masuk.

VINA

VINA

Di ruang tamu tak ada kursi ataupun meja, tetapi sehelai karpet tipis tergelar di sudut. Di sudut yang jauh, duduk seorang gadis berjubah dan jilbab panjang serta cadar serba biru tua. Gadis yang membukakan pintu mengenakan busana serupa tetapi berwarna hijau botol, menyusul duduk di sebelahnya.

Togar mengeluarkan blocknote-nya.

“Kok sepi? Yang lain mana?” Togar membuka percakapan, sekaligus mengecek kondisi rumah.

“Masih pada kuliah, belum pulang,” sahut si cadar hijau.

“Baik. Kami ingin dengar cerita dari adik berdua. Tapi sebelumnya, saya ingin tahu mana yang Maya mana yang Vina,” katanya. Dua gadis itu saling pandang.

“Saya Maya, ini Vina,” kata gadis bercadar hijau. Ia lalu menuturkan kesulitan mereka berdua di kampus.

“Kalian pernah diteror?”

“Ya, kami sering diteror lewat telepon,”

“Bentuk terornya bagaimana?”

“Yaaa… diancam bunuh lah, dimaki-maki dengan kata-kata kotor…”

“Eh, maaf ya… ada yang mengancam memperkosa tidak?” Togar bertanya sambil memasukkan tangannya ke kantong tempatnya menyimpan pistol.

Diliriknya Monang yang tengah membuka tas kamera. Maya dan Vina saling berpandangan lagi.

“Ah, eh… tak ada itu…” sahut Maya sambil menggelengkan kepala diikuti Vina.

“Bagus kalau begitu. Sebab sekarang kami yang mengancam kalian,” kata Togar sambil tiba-tiba mengacungkan pistolnya. Monang terkekeh danikut mengacungkan pistolnya juga.

VINA

Kedua gadis itu memiawik, terkejut luar biasa. Keduanya langsung berpelukan ketakutan melihat Togar dan Monang mendesak mereka ke sudut.

“Tak perlu teriak, karena tak bakal ada yang dengar. Selain itu, kalau kalian nekad, pistol ini akan menghabisi kalian!” ancam Togar sambil mengarahkan moncong pistol ke kepala Maya.

Maya dan Vina yang ketakutan diperintah tengkurap di atas karpet. Togar lalu menelikung tangan Maya ke belakang dan mengikatnya dengan tali. Monang melakukan hal serupa pada Vina.

“Eiiiiiii….” Vina menjerit, sebab begitu tangannya terikat, Monang membalik tubuhnya dan meremas-remas sepasang payudaranya dari luar lapisan kain yang dikenakannya.

Togar terlihat masuk ke bagian belakang rumah kos. Sekejap kemudian ia kembali dengan membawa dua helai celana dalam dari tempat cucian.

Saat kembali, ia melihat Monang tengah meremas payudara Maya dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meremas-remas pangkal paha gadis itu. Maya meronta-ronta dan menyumpah-nyumpah.

“Iblis… kalian memang iblis !” pekiknya.

“Ha ha ha… kalian akan tahu rasanya diperkosa iblis,” sahut Monang. Togar lalu melemparkan sehelai celana dalam bau itu ke arah Monang.

“Sudah, kita harus cepat !” perintahnya.

VINA

Monang langsung menarik turun cadar Maya. Sejenak ia terpana memandang wajah cantik di balik cadar itu. Sorot matanya memperlihakan kemarahan dan ketakutan. Tapi Monang tak peduli, disumpalnya mulut gadis itu dengan celana dalam. Togar pun melakukan hal serupa pada Vina.

Tak lama kemudian, kedua gadis itu pun digelandang ke mobil van Di dalam mobil, penderitaan keduanya pun dimulai. Kedua lelaki itu  dengan buas terus meremas-remas payudara dan pangkal paha Maya dan  Vina sepanjang jalan. Kedua lelaki itu bahkan menemukan jalan lewat  celah-celah kancing jubah sampai ke bra keduanya. Lalu tangan-tangan  kasar pun menyelusup ke baliknya dan meremas-remas daging kenyal dan  lembut di baliknya.

Vina mengerang panjang ketika kedua putingnya dijepit keras oleh  Monang. Sementara Maya tak kalah menderitanya karena payudaranya yang  tak seberapa besar dicengkeram dan dibetot, seolah hendak dilepaskan  dari tempatnya. Dari celah cadar, terlihat mata kedua gadis itu  meneteskan air bening.

Maya dan Vina tak tahu kemana mereka dibawa. Yang mereka tahu, mobil  akhirnya berhenti di dalam sebuah ruangan besar yang mirip gudang.  Keduanya lalu digiring ke tengah ruangan. Maya dan Vina agak lega  ketika ikatan tangan mereka dan sumpal di mulut mereka dilepas.

“Jahanam…. kalian mau apa sebenarnya?!” pekik Maya begitu sumpal  mulutnya dilepas.

Tiga lelaki itu terbahak.  “Jangan galak-galak begitu. Kalian tak bisa melawan kami. Mau teriak  pun boleh. Tak ada yang akan mendengar,” sahut Monang. “Begini…  sepulang dari sini nanti, kalian harus memutuskan untuk berhenti  kuliah,” lanjutnya.

“Kalian siapa? Kenapa meminta kami melakukan itu?” sahut Maya ketus. “Kau tak perlu tahu siapa kami. Yang perlu kau tahu, kami akan  memperkosa kalian dan merekam semuanya. Kalau kalian menolak berhenti  kuliah, rekaman itu akan tersebar di kampus….” ancam Monang.

“Tapi kami lebih suka kalau kalian bekerjasama dan kita akan sama- sama menikmatinya. Kalau kalian menolak bekerjasama, kami bisa  berlaku kasar !” ancamnya lagi.

“Ayo, sekarang mulai buka baju panjang kalian itu. Cepat !”  Kedua gadis itu kelihatan mulai panik. Tapi lagi-lagi Maya  memberanikan diri menolak. Akibatnya, ia diringkus Togar dari  belakang. Dari depan, Monang menyampirkan jilbabnya yang panjang  sampai pinggul ke pundaknya. Lalu, dicengkeramnya kuat-kuat payudara  kanan Maya. Gadis itu menjerit histeris saat belati Monang mengoyak  berlapis kain yang menutupi dadanya sampai akhirnya terlihat  payudaranya yang terbungkus bra putih.

“Aaaarrghhhh…..” Maya menjerit keras ketika Monang mengeluarkan  payudaranya dari cup branya.

“Kalau kamu tak mau kerjasama, kamu bisa kehilangan benda ini !”  Monang menggerakkan ujung belatinya melingkari payudara Maya yang  lumayan besar.

“Hei… kau duluan buka baju. Ingat, kalau menolak, tetek temanmu ini  aku potong,” lanjutnya. Monang pun mulai menjilat puting Maya dan  sesekali menggigitnya agak keras.

Vina ketakutan. Ia tak ingin temannya disakiti. Ia pun mulai  melepaskan kancing atas jubahnya setelah Bonar menyampirkan jilbab  panjangnya ke pundak.

“Jangan Vinaaa… jangan turuti mereka. Aaaaakkhhhh… !!!” Maya  menjerit. Gigi Monang menggigit putingnya lumayan keras, sementara  pangkal pahanya diremas-remas.

Jubah Vina yang terbuat dari kain yang tebal melorot jatuh ke  kakinya. Tapi di baliknya masih ada busana serupa dari bahan yang  lebih tipis. Bentuk tubuhnya mulai terlihat. Bonar terus merekam  dengan handycamnya. Sesekali ia tak sabar menyentuh payudara Vina.  Isak Vina mulai terdengar saat baju yang lebih tipis itu pun jatuh ke  lantai. Tapi masih ada lagi di baliknya, rok dalam dan kaus dalam.  Lengan telanjang Vina tampak kuning langsat, kontras dengan kaus  tangan biru tuanya.

“Kalian apa tidak gerah pakai baju berlapis-lapis begitu ?” ujar  Togar yang masih memegangi Maya. Monang yang asyik menghisap puting  Maya pun menoleh.

“Kau lama sekali. Sini kubantu…” katanya sambil mendekati Vina.

Breett… brettt… brettt….  Dengan kasar direnggutnya kaus dalam dan rok dalam Vina, lalu celana  dalam dan branya. Vina menjerit-jerit, tapi ia tak kuasa melawan  lelaki kasar itu. Bonar terus merekam ketika kedua temannya tak  berkedip melihat pemandangan langka, seorang gadis muda berjilbab dan  cadar, tetapi dari dada ke bawah telanjang.

Payudaranya tak sebesar milik Maya, tapi terlihat padat dan agak  mengacung. Vaginanya tampak mulus, sepertinya bekas dicukur. Bonar  menepis tangan Vina yang berusaha menutupi payudara dan pangkal  pahanya.

Sekujur tubuh Vina merinding ketika Monang memeluknya dari belakang. Telapak tangannya langsung bermain-main di pangkal paha Vina. Jari  tengahnya bergerak naik turun menyusuri celah sempit vagina gadis itu. Vina terisak-isak. Sepasang payudaranya didorong ke atas hingga makin menjulang.

“He Togar, lepaskan cewek sok tahu itu. Kita lihat solidaritasnya dengan teman,” ujar Monang.

“He kau Maya ! Cepat kau bikin striptease buat kami. Jangan membantah kalau tak ingin teman kau ini kehilangan tetek cantik ini,” katanya. Maya masih diam mematung. Tiba-tiba terdengar jerit kesakitan Vina. Ternyata puting kanannya dijepit dan ditarik ke depan, sementara belati Monang menempel ke areolanya yang sempit. “Ayo cepat !” bentak Monang lagi.

Maya tak punya pilihan lain. Dilepaskannya busananya sampai ia telanjang bulat kecuali jilbab, cadar, kaus kaki dan kaus tangannya.

Seperti Vina, ia juga tak punya rambut kemaluan. “Kenapa sih kalian tak punya jembut?” kata Togar yang langsung mengucek-ngucek kelamin Maya.

Dua gadis itu lalu dipaksa berlutut berdampingan. Mereka ketakutan ketika Togar dan Monang berdiri di depan mereka dan mulai membuka celana. Keduanya terus menundukkan muka sampai akhirnya dagu mereka diangkat. Keduanya memiawik bersamaan melihat di depan wajah mereka penis kedua lelaki itu mengacung.

“Ayo… dikulum !” perintah Monang sambil mengangkat cadar Maya. Hal yang sama dilakukan Togar kepada Vina.

MAYA

Maya dan Vina tak kuasa melawan lagi. Mereka tak pernah membayangkan bakal melakukan perbuatan itu. Begitu kepala penisnya terjepit bibir Maya, Monang pun langsung memegang bagian belakang kepala Maya dan menariknya. Dua preman itu tak mempedulikan erangan dua gadis bercadar itu. Bonar terus merekam dengan handycamnya saat penis dua lelaki itu keluar masuk bibir Maya dan Vina di balik cadarnya. Tapi Bonar tak sabar juga. Ia berlutut di belakang kedua gadis itu, bermain-main dengan payudara dua gadis itu. Tak hanya itu, vagina telanjang kedua gadis itu pun diremas-remasnya. Vina dan Maya pun mengerang-erang kesakitan ketika puting mereka ditarik-tarik Bonar. Apalagi, jemari Bonar kemudian mempermainkan klitoris mereka sesuka hati.

Togar dan Monang seperti tengah berlomba. Keduanya mengocok penis mereka di mulut kedua gadis bercadar itu. Awalnya Togar yang berteriak keras saat mencapai puncak kenikmatan. Dibenamkannya jauh-jauh penisnya ke pangkal tenggorokan Vina. Gadis itu memelototkan matanya saat semburan sperma Togar memenuhi rongga mulutnya. Ia terpaksa menelannya, karena Togar terus memegangi kepalanya.

Tiba-tiba Togar mendorong kepala Vina hingga gadis itu jatuh terlentang. Tapi dengan cepat ia meringkuk, berusaha menutupi ketelanjangannya sebisa mungkin. Terdengar ia menangis. Kain cadar biru tua di bagian bibirnya terlihat basah oleh sebagian sperma Togar yang keluar dari mulutnya.

Tak lama kemudian, giliran Monang yang berejakulasi di mulut Maya. Seperti temannya, ia juga membiarkan beberapa lama penisnya tetap di dalam mulut gadis itu dan kemudian mendorong Maya jatuh ke sisi Vina.

Giliran Bonar mendekat. Langsung disergapnya pinggul Vina yang masih meringkuk di lantai. Mahasiswi itu menjerit-jerit dan meronta dengan sia-sia. Wajah Bonar telah melekat erat di selangkangannya. Mulut

Bonar dengan rakus melahap vagina Vina yang mulus tanpa rambut. “Aaakhhh….hentikaaaan… aarrghhh…oouhhhhh….nngghhhhh…” Vina merintih sejadi-jadinya. Lidah Bonar menyapu sekujur permukaan vaginanya.

Lalu terasa bibir kelaminnya dikuakkan dan kini lidah lelaki itu menjulur-julur ke dalam. Vina merintih panjang saat lidah Bonar menyentuh klitorisnya. Lalu, titik peka di tubuhnya itu pun dihisap kuat-kuat.

“Lepaskan….lepaskan….kalian bejat !” terdengar Maya memaki-maki. Togar dan Monang meringkusnya dan memaksanya menduduki wajah Vina. Monang menyingkapkan dulu cadar Vina sebelum akhirnya pangkal paha Maya melekat di bibirnya.

“Ayo, jilati memiaw temanmu ini !” kata Togar sambil menjepit kuat-kuat dua puting Vina.

Tak kuasa menahan sakit, Vina mulai menjilati kelamin temannya, sementara miliknya sendiri terus dijilati Bonar. Kedua gadis itu mengerang-erang. Monang dan Togar berebut menghisap puting Maya sambil tangan mereka meremas-remas payudara Vina.

“Ayo Bonar, lakukan sekarang !” ujar Monang. Bonar menyeringai dan menempatkan dirinya di antara kedua paha mulus Vina yang mengangkang lebar. Vina tak sadar apa yang akan terjadi sampai terasa sesuatu yang keras menekan liang vaginanya.

“Aaakhh…. jangaaann… mmff…” Vina menjerit. Kepala penis Bonar mulai menyelinap di antara bibir vaginanya.

Lalu, dengan kekuatan penuh, Bonar mendorong pinggangnya. “Aaaaaaaakkhhhhhh….!!!” Vina menjerit histeris, tapi jeritnya langsung terbungkam oleh vagina Maya yang ditekan ke mulutnya.

Bonar merasakan penisnya terjepit vagina Vina dengan sangat kuat. Tapi perlahan ia merasakan ada cairan yang membasahinya. Ia hapal betul, itu adalah darah dari koyaknya selaput dara. Bonar menarik mundur penisnya. Lalu seperti gila ia mendorong ke depan, menghunjam sampai terasa kepala penisnya menekan dinding belakang vagina Vina.

Bonar terus menggenjot dengan brutal. Vina menjerit-jerit kesakitan.

Sampai akhirnya…

“Ouughh…..aaargghhhhh….!!!” Bonar menggereng. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Vina. Pinggulnya sendiri didorong jauh ke depan.

Vina terisak-isak merasakan cairan hangat memenuhi rongga vaginanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s