NINDYA

Beberapa hari aku sendiri tanpa ada kegiatan, aku mendapat sms menarik di hp ku. Dari rekanku sesama hunter, bunyinya, “ternyata cewek sma sekarang gampang diajak ML. Cuman modal nekat, sedikit rayuan dan uang bisa kita dapatkan. Coba aja. Kalo gak bisa, cari target lain, gampang kan..” katanya. Wah, benar, aku yang suka akan tantangan langsung tertarik. Buat apa bingung, mending langsung cari, kalo ditolak ya cari lagi..

Segera kupacu mtorku berputar kota. Jam tanganku menunjukkan pukul 16 ketika aku menjumpai sesosok gadis sma bewrjilbab sedang sendiri disudut jalan. Rok panjangnya terlihat ketat, juga baju putihnya. Tubuhnya nampak sekal membuatku tergiur. Segera aku datangi. Persetanlah, nekat aja.

“permisi, ke pantai lewat sini ya?” tanyaku saat sudah didekatnya. Gadis itu melihatku dan tersenyum. “iya mas, terus saja nanti kira2 1 jam lagi sampai.” Jawabnya. Wah, dia mau nanggepin, “ee.. lagi mau pulang ya? Mau gak nemenin kesana? Gak asyik ni, sendirian..” kataku lagi mancing2. Dia terlihat sedikit berpikir, lalu menjawab, “gak lama kan? Kalo gak lama mau aja..” katanya sambil tersenyum daqn mendekat. YESS!! Akhirnya gadis SMA berjilbab itu ikut denganku setelah terlebih dahulu kami berkenalan. Namanya Nindya, siswa kelas dua sma islam didekat situ.

Sesampainya diwilayah pantai, segera kubawa gadis berjilbab itu kesebuah losmen yang bagian dalamnya ada sebuah café taman yang indah dan bisa melihat ke pantai. Segera kuambil tempat yang strategis dan memesan minuman, mengajaknya ngobrol. Ternyata dia gadis yang asyik dan nyaman untuk diajak bicara. Walaupun targetku bukan hanya bicara heheheh.

Beberapa menit berlalu, akhirnya siasatku berhasil. Obat bius dosis rendah tidak berbahaya yang tadi kutitipkan lewat pelayan untuk mengerjainya mulai bereaksi. Gadis berjilbab itu terlihat agak pucat dan memegang kepalanya. “kenapa nin?” tanyaku pura2 gak tahu. Wahm aku harus memberi uang tips ni, ke pelayan tadi. “aduh.. gak tahu mas.. tiba2 pusing..” jawabnya. “kok bisa?” tanyaku sambil pura-khawatir. “Mau istirahat disini apa pulang aja?” tanyaku lagi sambil memegang pundaknya sok menenangkan. Kayaknya pulang aja deh mas..” kata gadis berjilbab bertubuh sekal itu. “ya gapapa kalo kuat..” kataku sambil berdiri. Ketika gadis manis berjilbab itu akan ikut berdiri, terlihat obat bius itu sudah bereaksi sepenuhnya. Tubuhnya oleng dan segera kutangkap agar tidak jatuh (CIHUI!! MANGSA!!) “wah, kok kamu lemes gini? Udah, istirahat bentar disini, tar kalo sudah baikan kuantar pulang.” Kataku sambil menuntunnya ke salah satu bangunan di losmen itu dimana ada kamar kosong.

Sampai didalam kamar, kurebahkan Nindya di tempat tidur. Kuambilkan air putih yang sudah kucampur obat penetral sehingga bisa segera pulih. “kupijit ya..” kataku sambil memijit2 pundak gadis manis itu yang tidur tengkurap. Beberpa lama, terdengah desahan gadis itu karena keenakan kupijat. Kudekati wajah mulus gadis itu dan kukecup pipinya, dia diam saja. Segera kubalikkan tubuhnya yang masih lemas, dn kulahap bibirnya. Nindya berusaha mengelak, namun tenaganya yang belum pulih tidak mampu mengimbangi tenagaku. Siumanku semakin ganas dan semakin turun, membuat gadis manis sma berjilbab itu mendesah-desah keras sambil merntih menolak namun tanpa daya upaya. Sampai didepan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku pegang payudaranya dari luar jilbab dan baju smanya, aku elus-elus. Si Nindya hanya diam dan memejamkan matanya.. kusibakkan jilbabnya dan ku buka dengan cepat baju seragam sekolahnya serta BH biru langitnya, lantas aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya. Nindya mendesis, “Mas.. Mas.. ahh.., ah ah ahh..” Terus aku kulum putingnya, tanganku pun nggak mau ketinggalan bergerilnya di vaginanya dari luar rok abu2 smanya. Pertama gadis berjilbab itu mengibaskan tanganku dia bilang, “Jangan Mas.. jangan Mas..” Tapi aku nggak peduli.. terus saja aku menyibakkan roknya dan memasukkan tanganku ke CD-nya, ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa bisa ditahan oleh Nindya aku buka rok dan CD-nya, gadis berjilbab itu hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, “jangan Mas..” Kini baju Nindya sudah terbuka siap untuk kusantap, wah.. putih mulus, bulunya masih jarang maklum dia baru umur 16 tahun (SMA kelas 2). Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilati vaginanya sampai aku mainkan kelentitnya, gadis berjilbab itu mengerang keenakan, “Mas.. ahh.. uaa.. uaa.. Mas..”

Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku kemudian langsung kuseret tangan Nindya untuk memegang penisku dan mengocok penisku. Aku suruh gadis berjilbab itu untuk mengulum, dia nggak mau, “Nggak Mas jijik.. tuh, nggak ah.. Nindya nggak mau.” Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. “Jilatin saja coba..” pintaku. Lantas Nindya menjilati penisku, lama-kelamaan gadis berjilbab itu mau untuk mengulum penisku sambil kupegangi kepalanya yang masih terbungkus jilbab putih. Namun pas pertama dia kulum penisku, gadis berjilbab itu mau muntah “Huk.. huk.. aku mau muntah Mas, habis penisnya besar dan panjang.. nggak muat tuh mulutku.” katanya. “Isep lagi saja Nin..” Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Nindya.

Rasanya penisku sudah nggak tahan ingin merenggut keperawanan Nindya. “Nindya.. Mas masukkan yah.. penis Mas ke vaginamu”, kataku. Nindya bilang, “Jangan Mas.. aku kan masih perawan.” katanya. Aku turuti saja kemauannya, aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Gadis berjilbab itu merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya, “Mas.. Mas.. jangan..” Aku nggak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya, lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep.. Nindya menjerit, “Ahk.. Mas.. jangan..”

Aku tetap saja meneruskan makin kusodok dan slep.. bles.. Nindya menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya, “Mas.. Mas.. sakit tuh.. Mas.. jangan..” Lalu Nindya menangis, “Mas.. jangan dong..” Aku sudah nggak mempedulikan lagi, sudah telanjur masuk penisku itu.

Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. “Ah.. Mas.. ah.. Mas..” Rupanya Nindya sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. “Mas..” Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. “Mas.. Mas..” Dan aku merasakan vagina Nindya mengeluarkan cairan. Rupanya gadis berjilbab itu sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku. “Terus Mas.. terus Mas.. lebih cepat lagi..” pinta Nindya. Tak lama aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani, aku cabut penisku (takut hamil sih) dan aku suruh untuk Nindya mengisapnya.

Nindya mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah. “Hem.. hem.. nikmat.. Mas..” Aku bilang, “Terus Nin.. aku mau keluar nich..” Nindya mempercepat kulumnya dan.. cret.. cret.. maniku muncrat ke mulut Nindya. Nindya segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan jilbabnya. “Ah.. ah.. Nindya.. maafkan Mas.. yach.. aku khilaf Nin.. maaf.. yach!” “Nggak apa-apa Mas.. nindya juag enak kok mas..” Lantas Nindya bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Nindya dengan penuh kesayangan. Beberapa saat kemudian birahi kami berdua bangkit lagi dan kembali kusetubuhi gadis smu berjilbab itu dikamar losmen dipinggir pantai itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s