RIF’AH DAN FAIZAH

Membayangkan film-film porno yang kemarin ditonton di warnet, membuat rif’ah tidak bisa tidur nyenyak. Tanpa sadar dia masturbasi sambil berfantasi dengan gambar-gambar porno milik Rikhanah yang kemarin dia sita.

Tanpa sepengetahuan Rif’ah, sedari tadi Faizah, teman dekatnya, mengintip dari balik jendela. Faizah menyeringai melihat perbuatan Rif’ah dan diam-diam dia menghampiri Rif’ah yang tengah tenggelam dalam amuk birahi. Dari belakang, kedua tangan Faizah memeluk Rif’ah erat.

“Lagi ngapain, mbak?” tegurnya di dekat telinga Rif’ah yang masih tertutup jilbab.

”Aww!!” pekik Rif’ah kaget dengan tubuh terlonjak. Secara refleks dia menghentikan aktivitas masturbasinya dan segera membenahi jubahnya yang tersingkap lebar hingga ke pinggang. Wajah cantik akhwat PKS ini merah padam dan beberapa saat dia hanya terpaku oleh rasa kaget luar biasa karena dipeluk oleh Faizah dari belakang.

“Nggak papa kok, mbak. Aku nggak akan lapor sama Ummu Nida atau mbak Mufidah kok. Aku paham kok, aku juga suka dengan gambar-gambar punya mbak Rikhanah ini. Ayo terusin lagi!” desis Faizah di dekat telinganya yang membuat Rif’ah merinding.

Rif’ah masih terdiam ketika tanpa diduganya tangan Faizah yang memeluknya tiba-tiba meremas kedua buah dadanya, membuat Rif’ah terkejut luar biasa.

“Mbak Rif’ah masih terangsang yah, buah dada mbak masih kenceng gini?”

“Eh, Faizah. Apa-apaan ini?!” protes Rif’ah pelan sambil berusaha menepis tangan Faizah.

“Jangan protes, mbak. Aku tahu mbak Rif’ah punya kumpulan gambar porno dan cerita-cerita erotis dalam flash disk punya mbak yang semalam aku pinjem. Aku janji nggak akan melaporkannya kepada Ummu Nida dan mbak Mufidah kok. Tenang aja, nasib mbak Rif’ah nggak akan kayak mbak Rikhanah.”

Rif’ah terdiam dan dirinya merasa aneh dengan tingkah Faizah yang tidak diduganya ini. Dia merasa merinding ketika tangan Faizah yang memeluknya kembali meremas-remas buah dadanya dan Rif’ah mulai merasakan nafas Faizah tersengal memburu menerpa jilbabnya seperti tengah dilanda birahi.

“Mbak Rif’ah masih birahi khan? Ayolah, nikmati saja, mbak!” desis Faizah dengan suara gemetar, sementara kedua tangannya terus meremas-remas buah dada montok di dada Rif’ah yang masih tertutup jilbab putih yang lebar.

“Faizah, jangan!” desis Rif’ah dengan tegang ketika tangan Faizah kini menyusup ke balik jilbab putih lebar yang dipakainya.

“Sudahlah, mbak. Flashdisk punya mbak Rif’ah masih di tanganku, aku janji nggak akan melaporkan ke atas!” desis Faizah dalam.

Rif’ah yang tidak mau nasibnya seperti Rikhanah, ditambah dengan gelegak birahi yang masih menguasainya, akhirnya pasrah ketika tangan Faizah membuka kancing jubahnya di balik jilbab lebar yang dipakainya. Beberapa saat kemudian tangan Faizah segera menyusup meremas buah dada miliknya yang montok dan kencang tersebut, membuat Rif’ah merasakan sebuah sensasi yang aneh dan membuatnya bingung.

“Mmm, montok dan kenyal. Aku sudah lama merindukan bisa beginian dengan mbak Rif’ah. Mbak Rif’ah cantik dan sintal, selama ini selalu membuatku bergairah.”

Mata Rif’ah membelalak lebar mendengar ucapan Faizah, akhwat PKS ini tidak menyangka bahwa akhwat berperawakan atletis dan anggota Santika adalah seorang akhwat yang menyukai sesama jenis. Belum hilang keterkejutannya, Rif’ah merasakan tangan Faizah kemudian tidak hanya sekedar meremas-remas buah dada miliknya, namun juga memilin-milin puting susunya yang tegang tersebut, membuat tubuh akhwat PKS yang cantik ini menggeliat dan desahnya tak mampu ditahannya meloncat dari mulutnya.

“Ahhhh… Faizah, jangaaan!” desah Rif’ah spontan. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa merinding karena yang memilin puting susunya dengan lihainya adalah seorang akhwat seperti dirinya.

“Kita ke kamar aja, mbak.” bisik Faizah begitu mesra kepada Rif’ah.

Entah kenapa Rif’ah terlihat pasrah ketika Faizah menariknya ke dalam kamar yang terletak di sebelah ruang Arsip. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.

Dalam kamar tersebut, Faizah tidak serta merta merebahkan Rif’ah di pembaringan, namun akhwat PKS yang cantik sekaligus seniornya ini ia sandarkan di dinding kamar. Tubuh Faizah memang lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan tubuh Rif’ah sehingga Faizah terpaksa menundukkan wajahnya memandang wajah cantik yang berbalut jilbab putih yang lebar yang kini tengah dipeluknya mesra.

“Mbak Rif’ah cantik, aku udah lama nungguin yang kayak gini. Mbak begitu cantik, tubuh mbak sintal.” ungkap Faizah sembari membelai wajah Rif’ah, sementara akhwat PKS yang cantik ini hanya membelalakkan kedua matanya menatap Faizah dengan tatapan yang sulit dimengerti. Deru nafas Faizah yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya.

Faizah kian mendekatkan wajahnya ke wajah Rif’ah hingga bibirnya menyentuh bibir akhwat yang cantik ini, membuat tubuh Rif’ah kejang. Rif’ah sempat melengos ketika bibir Faizah hendak melumat bibirnya, namun dengan cepat Faizah memburunya sehingga sesaat kemudian bibir Rif’ah yang ranum tersebut dapat dilumatnya dengan penuh nafsu. Tubuh Rif’ah semakin kejang dan sesaat kemudian akhwat PKS ini menggelinjang ketika lidah Faizah menyapu dan membelit lidahnya dengan lihainya. Seumur hidupnya baru kali ini bibirnya dilumat dengan bernafsu oleh orang lain dan yang membuatnya terlihat bingung karena yang melumat bibirnya adalah seorang akhwat seperti dirinya.

Faizah tidak memperdulikan kebingungan Rif’ah karena dia mengetahui kalau akhwat seniornya yang cantik ini masih dalam keadaan birahi, ketika tangannya yang kembali menyusup ke balik jilbab menemukan buah dada montok Rif’ah masih mengeras kencang. Bahkan ketika tangannya menyentuh puting susu akhwat yang cantik ini, Faizah masih merasakan puting susu tersebut terasa sangat kencang sehingga membuat Faizah dengan gemas memilinnya. Tubuh Rif’ah menggelinjang ketika kembali puting susunya dipilin-pilin Faizah sementara bibirnya terus melumat bibir akhwat berwajah cantik ini dengan penuh birahi.

Tanpa melepaskan pagutannya serta dengan tangan masih bermain-main di dada Rif’ah, Faizah mendorong akhwat PKS yang cantik ini ke arah pembaringan dan merebahkannya di atas pembaringan tersebut. Rif’ah terengah-engah antara rasa nikmat dan kebingungan yang mencekamnya, sementara tatapan matanya nanar menatap Faizah yang berdiri di sisi pembaringan.

“Ayo, mbak, kita bermain-main. Aku sudah lama pengen ginian sama mbak.” ujar Faizah sambil duduk di pembaringan.

Kedua tangan Faizah terulur ke tubuh Rif’ah lantas menyusup masuk ke balik jubah panjang yang dipakai akhwat PKS berparas cantik ini. Rif’ah tersentak dan secara refleks tangannya mencegah tangan Faizah namun akhwat PKS juniornya ini hanya tersenyum penuh arti kepadanya. Tatapan dan senyuman Faizah itu membuat Rif’ah memahami bahwa gadis ini mempunyai kartu truf yang akan menghancurkan kariernya di PKS sebagaimana Rikhanah. Akhirnya Rif’ah membiarkan tangan Faizah menggerayangi tubuhnya di balik jubah panjang yang dipakainya.

“Tenang, mbak. Mbak tidak akan ternodai. Keperawanan mbak Rif’ah tetap akan utuh.” bisik Faizah ketika tangan gadis PKS ini telah sampai di selangkangan Rif’ah.

“Faizah…” desis Rif’ah tegang ketika dia merasakan jemari Faizah menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya. Lantas jemari gadis PKS asal Jakarta ini menyusuri belahan bibir kemaluan Rif’ah ke atas dan ketika telah menyentuh kelentitnya, jemari Faizah seketika memilin bagian tubuh Rif’ah yang paling sensitif tersebut.

“Ahhhh…” desah Rif’ah menggelinjang ketika jemari Faizah memilin dan merangsang kelentitnya dengan luar biasa.

Faizah tersenyum melihat reaksi Rif’ah dan reaksi tersebut membuatnya semakin bernafsu merangsang akhwat PKS yang cantik ini. Faizah melepaskan kaus kaki krem yang membungkus kedua kaki Rif’ah dan diletakkannya di bawah pembaringan. Satu tangan Faizah masih mempermainkan kelentit Rif’ah sementara tangan lainnya mengelus-elus kaki akhwat PKS yang putih mulus itu. Bahkan kemudian Faizah membungkuk dan menciumi kaki Rif’ah dari jemarinya yang halus kemerahan terus merayap ke atas sembari menyingkap jubah panjang yang dipakai Rif’ah.

Rif’ah menggelinjang dan mendesah di tengah keterombang-ambingannya antara rasa nikmat oleh rangsangan Faizah dan nalurinya yang menolak dicabuli oleh sesama jenis. Faizah yang mempunyai kartu truf tentang kejelekan Rif’ah membuat Rif’ah tak kuasa melawan keinginan Faizah sehingga rasa birahilah yang akhirnya dominan terhadap diri akhwat PKS yang cantik ini walaupun dia menyadari yang merangsangnya adalah seorang akhwat seperti dirinya.

Rif’ah membiarkan Faizah menyingkap jubah panjang yang dipakainya hingga ke pinggangnya. Akhwat PKS berwajah cantik ini juga hanya pasrah ketika setelah itu Faizah kemudian menciumi dan menjilati sekujur kakinya dari jemari kakinya lantas kedua betisnya hingga sepasang paha Rif’ah yang padat dan kencang membuat sekujur tubuh Rif’ah dari ujung kaki hingga pangkal pahanya basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Faizah. Rif’ah pasrah terhadap segala yang Faizah lakukan terhadap dirinya.

Faizah tersenyum melihat Rif’ah yang kini dalam keadaan setengah telanjang di depannya. Mata akhwat PKS asal Bekasi ini membulat menatap kemaluan Rif’ah yang terlihat membukit terbungkus ketat oleh celana dalam warna krem.

“Faizah, jangan!!!” desis Rif’ah tertahan ketika tangan Faizah menarik turun celana dalam krem yang dipakainya.

Tapi Faizah tidak lagi menanggapi Rif’ah, apalagi ketika matanya telah melihat gundukan kemaluan Rif’ah telanjang di depannya. Tubuh Rif’ah tersentak ketika dengan buas Faizah membenamkan wajahnya diantara kedua pahanya dan dalam hitungan detik, Rif’ah merasakan kemaluanya dikunyah oleh akhwat PKS juniornya ini. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Rif’ah namun akhirnya nafsu birahilah yang kemudian menguasai akhwat cantik ini. Rif’ah menggelinjang jalang dengan mulut yang mendesah dan merintih merasakan kelihaian jilatan dan sedotan Faizah pada bagian tubuhnya yang paling rahasia tersebut. Begitu mahirnya jilatan dan sedotan Faizah di kemaluan Rif’ah hingga membuat pantat akhwat PKS yang cantik ini terangkat ke atas setiap kali.

Dengan mulut masih mencumbu kemaluan Rif’ah, tangan Faizah menggerayangi bagian dada akhwat cantik ini. Tangan akhwat hitam manis ini kembali menyusup ke balik jubah panjang yang dipakai Rif’ah melalui bagian atas jubahnya yang telah terbuka kancingnya sejak di ruang arsip, lantas menelusup ke balik BH yang dipakai Rif’ah. Beberapa saat kemudian tangan Faizah pun telah meremas-remas kedua payudara montok di dada Rif’ah yang telah mengeras dan memilin-milin puting susu payudara tersebut dengan gemas.

“Ahhh… ahhhhh…” rintih Rif’ah ketika dirangsang sedemikian rupa oleh Faizah. Tubuhnya menggelinjang jalang dan kedua tangannya meremas-remas kepala Faizah di selangkangannya yang masih berjilbab sehingga membuat kusut jilbab yang dipakai akhwat anggota Santika ini.

Puas mengunyah daging kemaluan Rif’ah, Faizah beralih ke dada akhwat PKS yang cantik ini. Jilbab lebar yang dipakai Rif’ah disingkapnya hingga ke pundak lalu dikeluarkannya sepasang bukit montok di dada Rif’ah dari BH yang membungkusnya hingga terpampang di depan matanya. Faizah terpesona melihat sepasang payudara Rif’ah yang telanjang di depan matanya. Sebelumnya dia pernah sekali tak sengaja melihat payudara telanjang Rif’ah ketika akhwat ini berganti pakaian tapi itu hanya sesaat karena waktu itu Rif’ah segera menutupinya. Sekarang kedua payudara akhwat cantik ini terpampang di depannya dalam keadaan terangsang, sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggiurkan.

Faizah segera menerkam menciumi dan menjilati kedua payudara Rif’ah secara bergantian. Dikunyah-kunyahnya payudara yang putih mulus itu hingga berbekas bilur-bilur kemerahan, lantas disedotnya dan dipelintir puting susu yang tegak kemerahan tersebut dengan gemas, membuat Rif’ah semakin jalang merintih oleh birahi yang melandanya. Tubuhnya menggelinjang liar dan mulutnya mendesah dan merintih menahan kenikmatan yang dirasakannya. Rif’ah tidak lagi terpikir bahwa yang merangsangnya adalah akhwat seperti dirinya, yang ada dalam benaknya hanya kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.

“Buka semua bajunya ya, mbak?!” desis Faizah puas menikmati payudara Rif’ah. Dia lantas turun dari pembaringan tersebut dan tanpa menunggu jawaban Rif’ah, tangannya segera melepas jilbab putih lebar yang dipakai Rif’ah, kemudian jubah panjangnya, juga bh dan cd warna krem yang dikenakan Rif’ah hingga akhirnya Rif’ah telanjang bulat. Faizah benar-benar terpesona melihat Rif’ah yang kini tergolek di pembaringan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuh bugil Rif’ah terlihat begitu indah sehingga beberapa saat Faizah terpesona memandangi sekujur tubuh bugil Rif’ah dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.

Rif’ah membiarkan Faizah memandangi sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Akhwat cantik ini balas memandang Faizah ketika dia melihat Faizah kemudian juga mulai membuka pakaiannya. Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kakinya, disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan. Setelah itu barulah Faizah melepas jubah panjang warna coklat yang dipakainya sehingga Faizah kini hanya terlihat memakai bh, sementara bagian bawahnya memakai celana panjang warna coklat gelap. Rif’ah memang melihat Faizah adalah seoarang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil.

Tanpa memperdulikan pandangan Rif’ah, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya lalu celana panjang yang menutup bagian tubuhnya juga dilepas. Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana panjang itu terlepas dari tubuhnya, Faizahpun bugil seperti Rif’ah. Rif’ah ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini karena baru pertama kali ini dia melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benang pun di tubuhnya. Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita, apalagi kulitnya yang coklat mengesankan keperkasaannya. Satu hal yang tak diduga Rif’ah sebelumnya, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.

Rif’ah tak sempat memikirkan lebatnya rambut kemaluan Faizah yang lebat tersebut lebih lama, karena Faizah segera naik ke pembaringan dan segera menindihnya. Sesaat Rif’ah sempat tersadar kalau yang mencumbunya adalah seorang wanita seperti dirinya, namun kesadaran itu tak sempat menguasainya. Faizah segera merangsangnya kembali, membuat Rif’ah kembali tenggelam dalam birahi. Dengan liar Faizah mencumbu Rif’ah, melumat bibir sensual Rif’ah, mengesekkan payudaranya dengan payudara Rif’ah, menempelkan bibir kemaluanya dengan bibir kemaluan Rif’ah lantas menggesek-gesekkannya.

Deru nafas, desahan dan rintihan kenikmatan kedua gadis yang tenggelam birahi itu seakan tak putus terdengar disela-sela suara beradunya dua tubuh yang saling membelit. Rif’ah yang semula adalah akhwat PKS alim dan jauh dari perbuatan-perbuatan mesum larut dalam kenikmatan dan sensasi birahi yang dibawa oleh Faizah.

Persetubuhan kedua gadis ini berakhir lewat dini hari. Rif’ah dan Faizah terkapar lemas di pembaringan. Tubuh bugil kedua gadis ini penuh dengan bilur-bilur warna merah bekas gigitan mereka masing-masing, terutama tubuh Rif’ah yang berkulit putih mulus seperti pualam.

“Pulang sekarang atau besok pagi, mbak?” tanya Faizah dengan nafas yang masih memburu satu-satu.

“Terserah Faizah aja, khan Faizah yang bawa motornya.” jawab Rif’ah.

“Ya udah, besok pagi aja. Kita tidur aja, mbak, capek. Berpelukan, mbak, dingin!” ujar Faizah sambil memeluk tubuh Rif’ah yang masih bugil dengan mesra, kemudian dengan kakinya Faizah menarik selimut yang ada di ujung pembaringan untuk menutupi tubuh bugil mereka berdua.

***

Keesokan paginya ketika matahari telah terbit, sebuah sepeda motor yang dinaiki dua gadis berjilbab lebar yang tak lain Faizah dan Rif’ah terlihat keluar meninggalkan rumah yang dijadikan kantor DPD PKS.

“Mbak Rif’ah mau ke kampus atau ke kost dulu?” tanya Faizah.

“Ke kost dulu aja,” jawab Rif’ah datar seakan tak bergairah, membuat Faizah mengerutkan keningnya.

Pikiran Rif’ah masih terbayang kejadian semalam. Dia serasa masih belum percaya kalau semalam dia telah melakukan persetubuhan dengan Faizah. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya, antara perasaan merasa bersalah namun ternyata semalam dia sangat menikmati persetubuhan dengan Faizah.

Faizah dapat merasakan kalau Rif’ah masih terguncang dengan kejadian semalam. Faizah bisa mengerti karena ketika pertama kali dia mengenal dunia lesbian juga terguncang sebelum akhirnya kecanduan. Faizah menyadari perbuatannya adalah perbuatan terlarang ketika dia ikut PKS dan dia berusah menghilangkannya, namun hasratnya ternyata sulit untuk dibendung ketika melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Rif’ah, akhwat seniornya di PKS yang di matanya mungkin bernilai 8. Tanpa diduganya, Rif’ah ternyata mudah sekali untuk dibawa bercinta seperti tadi malam. Betul-betul akhwat yang polos dalam masalah seks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s