LASTRI

“Wethon-mu apa, nduk?” tanya orang tua ceking hitam di depan Lastri.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia pandangi sosok mbah Suryo yang masih duduk merapal mantra-mantra sambil terpejam. “Ehm… selasa wage, mbah.” jawabnya kemudian.

Lelaki tua itu mengangguk-angguk sembari membalik-balik buku tebal yang ada di hadapannya. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih sebagian. Tapi fisiknya masih kelihatan sangat bugar. ”Nama lengkap?” tanyanya lagi.

“Lastri, mbah… Sulastri,” Lastri bisa melihat jari-jemari orang itu yang panjang dan hitam-hitam saat membalik buku, terlihat sangat angker dan menjijikkan.

”Terus nama ibumu?“ tanya mbah Suryo lagi. Para dukun memang selalunya menanyakan nama ibu kandung pasiennya.

”Triyatmini, mbah.” Gadis berwajah tirus itu menjawab tanpa berani menatap wajah mbah Suryo. Tapi Lastri bisa memastikan kalau laki-laki itu begitu tinggi, hampir 180cm. Ia paling hanya sepundaknya kalau berdiri berjajar.

“Bapakmu Lasijo, gitu?” tebak mbah Suryo.

Tapi ternyata salah. “Bukan, mbah. Bapak saya Tugiran.” jawab Lastri. Perempuan berjilbab itu masih menundukkan mukanya.

memek legit jilbaber hot (1)

“Ehm, baik,” mbah Suryo berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya. ”Kamu tunggu dulu, mbah mau nyiap-nyiapkan dulu. Nak Lastri masuk kamar situ.” laki-laki tua itu beranjak dari bale-bale dan meninggalkan Lastri seorang diri.

Lastri masuk ke kamar yang ditunjuk oleh mbah Suryo. Sebuah ruangan tak berjendela yang hanya diterangi lampu bohlam kecil. Aroma kembang kanthil menyeruak menusuk hidung. Lastri mengambil posisi duduk bersila di muka meja kecil. Ada pernak-pernik perdukunan di situ.

Tak lama kemudian, mbah Suryo masuk, sekarang bajunya hitam-hitam dan mengenakan ikat kepala merah, persis seperti pendekar yang ada di film-film silat jadul. Mbah Suryo duduk dihadapan Lastri lalu menyalakan kemenyan. Seketika itu pula aromanya menyeruak ke seisi ruangan. Asap putih membumbung ke langit-langit kamar.

Mbah Suryo mulai berkomat-kamit sambil sesekali menaburkan butiran menyan. Lastri tetap menunduk, matanya mulai pedih.

“Lihat sini, nduk. Mbah tahu kamu ke sini karena laki-laki bukan?”

Lastri coba memberanikan diri melihat lawan bicaranya itu, tapi tetap tak mau menatap mata mbah Suryo. “Betul sekali, mbah. Kekasih saya direbut gadis lain. Ehm… saya ingin dia kembali, mbah.” jawab Lastri pelan. Diamatinya wajah mbah Suryo yang masih terpejam berkomat-kamit. Meski brewok dan bercambang tebal, namun laki-laki itu masih meninggalkan gurat-gurat sisa ketampanan masa mudanya.

Di daerah ini, mbah Suryo dikenal sebagai orang pintar yang sanggup menyelesaikan berbagai masalah. Banyak orang dari jauh mencari dia. Entah untuk penglaris dagangan, interview pekerjaan, orang-orang yang sedang terbelit kasus hukum, atau pun wanita-wanita putus cinta seperti Lastri ini.

“Ehm…” mbah Suryo membuka matanya. “Siapa nama laki-laki itu, nduk?” dia bertanya sambil menatap Lastri dengan tajam.

“Wisrawan, mbah… Wisrawan Adi Satrio.” jawab Lastri kembali menunduk. Ia jadi salah tingkah sendiri diperhatikan seperti itu.

Mbah Suryo mengelus jenggot putihnya sambil menerawang, seolah-olah berpikir. “Hmm… sepertinya gadis itu sudah mengguna-gunai kamu, nduk. Itulah kenapa Wisrawan sampai tega meninggalkan kamu.” jawabnya kemudian.

“Ah, benarkah, mbah?” tanya Lastri kaget. Ia tidak pernah membayangkan kalau sampai ada guna-guna yang masuk ke dalam dirinya. ”Apa berbahaya, mbah?” tanyanya ketakutan.

memek legit jilbaber hot (2)

“Memang berbahaya kalau tidak cepat disingkirkan. Apabila tubuhmu tidak kuat, bisa-bisa kamu jadi gila, hilang akal, stress, dan ujung-ujungnya depresi. Bahkan kalau sudah fatal, bisa bunuh diri, nduk!” kata mbah Suryo memperingatkan.

”Saya tidak mau, mbah.” Lastri sudah ingin menangis begitu mendengarnya.

”Semua orang juga tidak mau terkena guna-guna.” jawab mbah Suryo.

”Apa tidak bisa dihilangkan, mbah?” tanya Lastri penuh harap.

Mbah Suryo mengangguk. ”Ada, kamu tenang saja.”

”Kalau begitu, cepat lakukan, mbah!” pinta Lastri cepat.

”Tapi ada syaratnya, nduk…” lanjut mbah Suryo.

Lastri mengangkat mukanya dan memandang laki-laki tua itu. ”Syaratnya sulit apa nggak, mbah?” tanyanya lemas.

”Tergantung guna-gunanya. Kalau untuk kasusmu, cuma ritual pembersihan sama pemasangan susuk. Nanti akan kuberikan juga perlindungan buat pacarmu agar tidak diganggu lagi sama gadis-gadis lain.” mbah Suryo menjawab kalem.

”Begitu ya, mbah.” Lastri menimbang-nimbang, tampak berpikir sejenak.

”Bagaimana, nduk, kamu mau?” tanya mbah Suryo, tidak memberi Lastri kesempatan untuk berpikir.

Memutuskan dengan ragu-ragu, takut akan kehilangan mas Wisrawan-nya tersayang, perempuan berjilbab itu pun mengangguk. ”Baik, mbak. Saya bersedia.”

Mbah Suryo manggut-manggut mengiyakan. ”Bagus! Sekarang dengarkan omonganku; kamu harus menuruti semua perintahku agar ritual ini berhasil. jangan membantah sedikitpun. Mengerti?!!”

”I-iya, mbah.” sudah kepalang tanggung, Lastri tidak bisa mundur sekarang.

“Baiklah. Sekarang, buka bajumu.” perintah mbah Suryo dingin.

Lastri terkejut dengan permintaan laki-laki tua itu. Reflek tangannya bergerak untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang membusung indah. “T-tapi, mbah…” rengeknya.

Mbah Suryo diam menunggu, matanya terpejam.

Lastri bingung dan tampak ragu-ragu. Badannya mulai panas dingin keringetan.

memek legit jilbaber hot (3)

“Nggak usah semua, atasannya saja.” pinta mbah Suryo kemudian.

Lastri tertunduk. Dia tak punya pilihan lain, tidak mungkin untuk menolak lagi. Ketakutan kehilangan orang yang dicintai mengalahkan akal sehatnya. Jadi pelan, satu per satu kancing baju mulai ia buka. Lalu diletakkannya baju itu dipangkuannya. Tubuh Lastri yang putih mulus bak pualam, kini hanya dibalut rok panjang dan jilbab lebar saja. Sepasang payudaranya yang begitu kenyal dan padat tampak tegak ditopang oleh beha krem bermotif bunga. Ia segera menundukkan mukanya, tak kuasa untuk menatap mata mbah Suryo lebih lama lagi.

Anehnya, dukun tua itu seperti tidak terpengaruh oleh pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Ia tetap memejamkan mata sambil mulutnya terus komat-kamit merapalkan mantra. “Nduk, apapun yang kamu rasakan nanti, jangan dilawan, karena itu bisa menggagalkan ritual kita!” kata mbah Suryo kalem.

Belum sempat Lastri menjawab, telapak tangan laki-laki itu sudah bergerak menelusuri tubuhnya, seperti sedang meraba. Lastri terkejut karena merasakan sentuhan-sentuhan di buah dadanya, padahal mereka sama sekali tidak bersentuhan. Mbah Suryo memegangnya dari jauh!

”Hei, apa-apaan ini?!” tanyanya dalam hati.

Wanita itu mulai berkeringat. Butiran peluh perlahan mengalir di lehernya yang jenjang dan putih mulus. Usapan di buah dadanya kini berubah menjadi pijitan dan remasan keras yang perlahan namun pasti mulai membangkitkan gairahnya. Beha tipis yang ia kenakan sama sekali tidak bisa melindunginya. ”Mbah?!” Lastri berkata diantara desah nafasnya.

”Sst… diam!” hardik mbah Suryo. Tidak jauh beda dengan Lastri, keadaannya juga sudah tak karuan. Wajahnya yang tirus bermandikan keringat, nafasnya sudah mulai terengah-engah seperti orang kesurupan, sementara tonjolan misterius tampak membumbung di depan selangkangannya. ”Biar kuselesaikan ritual ini, nduk!” ujarnya parau.

Nyala bohlam yang ada di atas langit-langit berkedap-kedip, lalu tiba-tiba padam. Semuanya menjadi gelap. ”Mbah?!” panggil Lastri lagi saat merasakan sentuhan misterius menjalar di kakinya. Sentuhan nikmat mulai dirasakan wanita cantik itu di bagian paha dan bokongnya, berusaha untuk menyingkap rok panjangnya agar ikut terbuka. ”Hsshh… mbah!” ia mendesah lagi. Tanpa Lastri sadari, tubuhnya mulai gemetar dan menggeliat.

Mengetahui libido Lastri yang mulai meningkat, mbah Suryo makin memberanikan diri mengusap-usap pangkal paha wanita cantik itu sambil sesekali tangannya menyetuh bibir vagina Lastri yang masih terbungkus celana dalam. ”Guna-guna ini cukup kuat, nduk, dan sudah merasuk jauh ke dalam darahmu.” ia berkata sambil menggelitik lubang vagina Lastri menggunakan jempolnya.

Menggelinjang kegelian, Lastri melenguh dan semakin melebarkan kakinya, memberikan ruang lebih luas bagi mbah Suryo untuk menyentuhnya. Rok panjangnya sudah tergulung sampai ke perut, memperlihatkan paha mulus dan bukit vaginanya yang basah dan membusung. “A-apa yang harus saya lakukan, mbah?” tanyanya sambil menggeliat.

”Lepas celana dalammu, nduk! Aku harus mengambil guna-guna itu langsung dari sumbernya.” tegas laki-laki tua itu.

”Lakukan, mbah. Bantu aku untuk melepasnya.” Lastri agak sedikit mengangkat pinggulnya saat tangan yang tak kasat mata mulai menariknya turun hingga ke dengkul. Rasa takut karena guna-guna ditambah desir kenikmatan yang terlanjur ia rasakan akibat sentuhan jari-jemari mbah Suryo, membuat Lastri sama sekali tak melawan. Ia sepenuhnya berada di bawah kendali dukun tua itu.

Mbah Suryo terbelalak tak percaya saat berhasil menarik celana dalam Lastri hingga terlepas. Meski masih ada meja kecil yang memisahkan tubuh mereka, ia bisa menyaksikan betapa mulus tubuh Lastri yang duduk pasrah di hadapannya. Wanita itu tengah terdiam menundukkan kepala, menunggu untuk disentuh, dengan susu dan selangkangan yang sudah terbuka lebar, siap untuk dinikmati.

Jadi, dengan sikap serius seolah melakukan ritual sesungguhnya, mbah Suryo kembali berkomat-kamit. Dengan ketinggian ilmunya, ia kembali menyentuh tubuh Lastri dari jauh. Pelan tangannya mulai menelusuri bongkahan payudara Lastri yang bulat dan membusung, diremas-remasnya sebentar untuk merasakan teksturnya yang empuk dan kenyal, sebelum akhirnya hinggap di putingnya yang sudah mengeras, dan memilinnya dengan keras hingga membuat Lastri merintih dan mendesis tak karuan. ”Mbah, oughhh… ehhs…!!”

Puas disitu, mbah Suryo memindahkan tangannya ke perut Lastri yang langsing dan rata. Dia mengusap-usapnya sebentar, tetapi kemudian kembali lagi ke atas, ke arah payudara Lastri yang baru saja ditinggalkannya. Tampaknya, ia ketagihan oleh rasa buah dada wanita cantik itu. Mbah Suryo kembali meremas-remasnya, bergantian kiri dan kanan sambil tak lupa menjepit dan memilin-milin putingnya.

memek legit jilbaber hot (4)

”Ehsss… mbah!” Lastri terpejam dan menggelinjang merasakan sentuhan langsung telapak tangan kasar mbah Suryo di kulit mulusnya. Tidak cuma meremas payudara, tangan laki-laki itu juga mulai menelusur ke bawah untuk mengelus dan mengusap-usap belahan selangkangannya.

”Hss… hahh… hahh… mbah!!” Nafas Lastri menjadi semakin berat manakala sentuhan gaib tangan mbah Suryo mulai menjelajahi bibir vaginanya. Ia sebenarnya ingin melawan dan menolak, tetapi rasa takut akan guna-guna dan kenikmatan yang sedang melanda tubuh sintalnya, mengalahkan perasaan risihnya. Apalagi saat mbah Suryo mulai membelai lebih intens permukaan vaginanya, ia semakin terbenam dan tak kuasa lagi untuk memberontak. Bahkan yang ada, cairan vaginanya mulai merembes keluar dan meleleh semakin banyak, membuat permukaan kemaluannya menjadi semakin licin dan basah.

“Ahhhsss…” Lastri mendesis dan menjerit kecil, tak kuasa menahan gejolak birahinya yang semakin tak terbendung. Kenikmatan sentuhan mbah Suryo pada tubuhnya membuatnya melayang. Di bawah, ia merasakan sesuatu menguak bibir vaginanya dan mengocok cepat disana, sementara di atas, hal yang sama terjadi pada puting susunya; benda mungil kemerahan itu terasa dipilin dan dipijit-pijit keras, sambil buah dadanya diremas-remas, padahal sama sekali tidak ada tangan yang hinggap disana!

Lastri tidak bisa menjelaskan keanehan itu, karena di saat yang sama ia merasakan libidonya semakin memuncak. Itu disebabkan oleh sesuatu yang basah dan hangat, yang mulai menyapu-nyapu bibir vaginanya. Benda lunak bertekstur kasar itu berusaha menerobos masuk untuk menjelajahi lubang kemaluannya.

“Ouhh… ahhss… mbah, apa yang mbah lakukan?” Lastri terperanjat saat menyadari lidah mbah Suryo yang menjulur-julur panjang. Pria itu melakukannya dari sana, tapi kenapa rasa gelinya bisa sampai kesini?! Aneh, Lastri benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Dan ia makin terpojok dan terjepit saat mbah Suryo menemukan klitorisnya dan tanpa membuang waktu, langsung menghisapnya dengan rakus. ”AAHHHHH… mbah!!!” Lastri menggelinjang dan menjerit keras. Tubuhnya kelojotan kesana kemari merasakan lidah hangat mbah Suryo yang menyapu cepat di belahan vaginanya.

“Tahan, nduk! Ini agar guna-gunamu keluar semua.” kata mbah Suryo menenangkan. Kepalanya terus berputar-putar dengan lidah terjulur untuk meneruskan jilatannya pada vagina sempit milik Lastri.

”I-iya, mbah!” mengangguk mengerti, Lastri pun memejamkan matanya dan melebarkan kedua kakinya, membiarkan mbah Suryo meneruskan ritual yang sangat memberi kenikmatan pada dirinya itu. Toh ia melakukannya dari jauh, tidak menyentuhku sama sekali! pikir Lastri dalam hati. Tanpa ia sadari, tangannya berusaha menekan kepala tak kasat yang berada di selangakangannya agar menjilat lebih dalam dan keras.

Melihat itu, mbah Suryo berkata. ”Sabar, nduk. Harus dilakukan dengan pelan-pelan!” Selesai berkata, kembali ia menggerakkan tangannya untuk meraih dan meremas-remas payudara Lastri yang menggantung indah. Sambil terus menjilat, mbah Suryo mempermainkan benda bulat padat itu dengan kedua tangannya.

”Aughhhh… mbah! Aku… arghhhh!!” Lastri makin menjerit dan menggelinjang. Diserang atas bawah seperti itu membuatnya makin merintih dan memekik nyaring. Tubuh montoknya kelojotan, sementara keringat makin membasahi tubuh mulusnya.

”Lepaskan, nduk! Jangan ditahan. Kita sudah hampir berhasil!” kata mbah Suryo begitu mengetahui keadaan pasiennya. Ia terus menggarap tubuh Lastri dari jauh dengan ketinggian ilmunya.

”Ehmm… iya, mbah!” Lastri melenguh. Ia mulai merasakan sensasi aneh di sekitar lubang vaginanya, seperti ada hawa panas yang menjalar dari dalam perutnya dan berkumpul disana. Hawa panas itu terus mendesak, dan semakin lama menjadi semakin tak tertahankan lagi.

”Lepas, nduk! Jangan ditahan lagi!!” perintah mbah Suryo dengan jilatan semakin keras. Dia juga mencengkeram bulatan payudara Lastri semakin kencang.

Tidak tahan lagi, Lastri pun akhirnya menjerit keras. ”AARRGGHHHHHHHHHH…. MBAAAHHH!!!” pinggulnya berputar, sementara tubuhnya kelojotan kesana-kemari saat kumpulan hawa panas itu meledak, mengantarnya menuju orgasme yang begitu nikmat dan melelahkan.

Mbah Suryo segera meraih mangkok yang ada di bawah meja dan digunakannya untuk menampung cairan Lastri yang menyembur keluar. ”Keluarkan semua, nduk! Keluarkan!!” perintahnya sambil berusaha menampung sebanyak mungkin.

Saat Lastri berhenti terkejang-kejang dan sekarang diam terengah-engah, mbah Suryo menunjukkan mangkok di tangannya yang kini terisi setengah penuh. ”Lihat warnanya, begitu hitam.” kata dukun tua itu.

Lastri terkejut melihatnya; memang hitam, dan sepertinya sangat kental sekali! ”I-itu guna-gunanya, mbah?” tanyanya takut sekaligus lega. Lega karena ia sudah berhasil mengeluarkan guna-guna itu dari dalam tubuhnya.

”Iya, sekarang kamu sudah bersih.” mbah Suryo mengangguk.

”Eh, t-terima kasih, mbah.” Lastri berusaha tersenyum meski tubuhnya masih sangat kaku dan lemah. Ia berusaha membenarkan pakaiannya yang masih terbuka dan acak-acakan, yang memperlihatkan semua auratnya.

“Bagaimana rasanya, nduk?” tanya mbah Suryo kemudian.

“Hmm… nikmat, mbah.” jawab Lastri tanpa sadar.

memek legit jilbaber hot (5)

”Bukan itu!” mbah Suryo mendelik. ”Maksudku, bagaimana rasanya setelah guna-gunamu kutarik keluar?!”

“Oh, itu… ehm, agak ringan, mbah. Tubuh saya jadi enteng sekarang.” Lastri tersenyum malu. Ia menarik rok panjangnya ke bawah agar mbah Suryo tidak lagi memandangi paha dan pinggulnya yang masih telanjang.

Mbah Suryo menarik nafas panjang. “Kalau begitu, sekarang pakai bajumu, nduk!” laki-laki itu menyalakan lilin yang ada di atas meja dan berpaling, memberi kesempatan pada Lastri untuk memakai pakaiannya kembali.

”Emm, iya. Terima kasih, mbah.” Lastri menatap tajam gigi-gigi hitam mbah Suryo saat laki-laki tua itu berbicara. Dengan cepat ia memakai kemeja lengan panjangnya agar tubuhnya yang sintal kembali tertutup.

Suasana begitu hening, hanya sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan. Rumah mbah Suryo berada paling atas di antara rumah-rumah warga di dusun terpencil ini. Jaraknya pun berjauhan, dipisahkan kebon-kebon Jati yang daunnya mulai meranggas karena kemarau. Bau kotoran manusia kadang tercium terbawa angin kering. Di dusun tertinggal ini, hampir tak ada warga yang mempunyai jamban.

“Sudah, mbah?” Lastri memberanikan diri untuk berkata. Ia sudah sopan lagi sekarang; memakai baju panjang dan jilbab lebar yang mempercantik penampilannya.

Mbah Suryo manggut-manggut lalu menjawab. “Sekarang masuk ke ritual yang kedua, nduk. Kamu mesti dipasangi susuk agar pacarmu berpaling lagi padamu. Ini juga ada tiga kerikil yang mesti kamu simpen di kantong sebagai penangkal guna-guna.”

Lastri mengangguk. “Iya, mbah.”

memek legit jilbaber hot (10)

”Sekarang kamu ke sumur belakang, mandi lah, ada sedikit air di sana. Trus ganti pakaianmu dengan kain ini,” mbah Suryo menyerahkan lipatan kain batik warna coklat tua kepada Lastri. ”Setelah itu kita mulai ritual pemasangan susuknya.”

***

Lima belas menit kemudian, Lastri masuk kembali kamar. Tubuhnya hanya dililit kain batik tadi, membuat puting susunya yang menonjol membekas dengan jelas. Rambutnya tergerai basah. Tangannya membawa baju, jilbab dan rok panjang yang sebelumnya ia pakai. Rupanya selagi dia mandi, mbah Suryo sudah menyiapkan segalanya. Ada hamparan tikar dan sebuah bantal di lantai. Lastri bergidik melihat semua itu. Tubuhnya mematung. Mbah Suryo sendiri duduk bersila membelakanginya. Tangannya memegang sebuah botol sambil merapal mantra.

Mengetahui kehadiran Lastri, laki-laki itu kemudian berkata “Rebahkan badanmu di tikar itu, nduk.”

Lastri melakukannya. Pelan dia telentang di lantai yang beralaskan tikar sesuai petunjuk dari mbah Suryo.

“Jangan malu, aku akan membalurmu dengan minyak bulus ini.” kata mbah Suryo sambil beringsut mendekati tubuh montok Lastri yang hanya berbalut kain. Dengan mulut komat-kamit membaca mantra, ia mulai menyapukan minyak itu; jari-jari kasarnya mengurut perlahan betis Lastri, lalu merambat naik ke arah paha. Kali ini ia tidak menutup matanya. Tak berkedip, mbah Suryo menatap tubuh mulus Lastri yang tergolek pasrah di hadapannya.

Lastri merinding, bulu romanya berdiri, badannya mulai gemetar, tapi mulutnya serasa terkunci saat laki-laki tua itu menambah minyak dan mengurut lembut kulit pahanya, bergantian kiri dan kanan. Kain batik yang yang cuma sebatas pinggul membuat mbah Suryo sangat leluasa untuk melakukan itu.

”Ehmm… mbah?!” desah Lastri saat mbah Suryo menarik salah satu kakinya untuk ditaruh di atas pangkuan.

”Sstt… diam, nduk!” bisik dukun tua itu sambil tangannya kembali memijat paha Lastri, pijatan yang semakin lama menjadi kian lemah, hingga akhirnya berubah menjadi elusan dan usapan lembut yang sangat membangkitkan gairah. Dan Lastri tidak sanggup untuk melawannya.

”Ahh… mbah!” desah perempuan cantik itu. Dengan kakinya, Lastri bisa merasakan sesuatu yang keras mulai menggeliat di selangkangan laki-laki tua itu; penis mbah Suryo yang sudah mulai ngaceng dan tegang!

Mengetahui Lastri yang sudah pasrah sepenuhnya, tangan dukun mesum itu semakin berani naik menjelajahi pangkal paha Lastri, sesekali menyentuh celana dalam perempuan alim itu.

“Ehss..!!” Lastri mendesah merasakannya, tapi tidak menolak. Bahkan saat mbah Suryo mulai menyingkap bagian bawah kain batiknya dengan sangat pelan, ia juga diam saja. Suasana begitu hening, hanya nafas mbah Suryo yang sudah mulai berat yang terdengar cukup nyaring.

Tak berkedip laki-laki tua itu menatap paha dan perut Lastri yang kini terbuka cukup lebar di hadapannya. ”Indah sekali, nduk!” gumam mbah Suryo tanpa sadar saat menatap gundukan daging nikmat milik Lastri yang masih terbungkus celana dalam katun tipis. Tampak noda hitam mulai membayang di depan selangkangan wanita cantik itu, menunjukkan kalau Lastri juga sudah mulai terangsang.

memek legit jilbaber hot (9)

Tidak menyahut, Lastri kembali mendesah saat mbah Suryo kembali mengusap-usap paha putih mulus miliknya. ”Aaghhh…!!” dirasakannya usapan halus di pangkal pahanya, dan terus berlanjut ke lubang vaginanya yang masih terbungkus celana dalam. ”Auhhh… mbah, geli!!” nikmat sentuhan jemari mbah Suryo membuat Lastri merintih dan menggeliat sambil melebarkan kedua kakinya.

Merasa berhasil menaklukkannya, mbah Suryo menggeser tubuhnya ke samping agar wajahnya bisa menemukan selangkangan Lastri. Dengan sangat perlahan ia menarik celana dalam Lastri ke samping hingga ia bisa melihat vagina perempuan itu dengan lebih jelas. Lubang mungilnya sudah tampak basah dan lengket. Belahannya masih tampak mungil, tapi begitu merah dan mengkilat. Rambut-rambut halus tumbuh sembarangan di sekitarnya, tapi bukannya bikin kotor, malah makin menambah daya tariknya. Inilah vagina terindah yang pernah dilihat oleh mbah Suryo; begitu utuh dan sempurna! Tetap dengan posisi duduk di lantai, laki-laki tua itu lalu merunduk dan menempatkan wajahnya tepat di tengah kedua kaki Lastri yang melebar.

”Aughhh!!” rintih Lastri ketika merasakan sapuan lidah hangat mbah Suryo di bibir vaginanya, membuat ia menggelinjang kegelian. Wanita itu kembali mendesis sambil menyebut nama sang dukun, ”Mbah! Oughhh…” pinggulnya bergerak-gerak mengimbangi irama jilatan.

Yakin kalau Lastri sudah benar-benar terbuai, mbah Suryo memberanikan diri menurunkan celana dalam yang dipakai oleh Lastri. Kini akses lidahnya menjadi semakin bebas, dengan rakus ia jilati vagina Lastri yang semakin mekar dan membasah.

Lastri yang merasakan lidah panjang mbah Suryo menyusup-nyusup di bibir vaginanya, menekuk tubuhnya dan memekik lirih untuk menahan sensasi nikmatnya. “Auhmm… mbah! Aku nggak tahan!” ia sudah hilang kendali, tubuhnya sudah sepenuhnya dilanda birahi sekarang.

Di bawah, penis mbah Suryo terasa semakin tegang, tapi ia masih tidak punya niat untuk menyetubuhi Lastri sekarang, masih belum waktunya. Ia masih ingin terus menjilati vagina Lastri untuk beberapa lama, sampai akhirnya laki-laki tua itu berkata, “Sudah, sekarang buka kainmu, nduk. Mbah akan memasang susuk emas pada badanmu.” Mbah Suryo lalu berdiri dan berjalan ke lemari kecil di ujung ruangan untuk mengambil sesuatu. “Kalau sudah tengkurap ya!” perintahnya tanpa menoleh.

memek legit jilbaber hot (12)

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Lastri melakukannya. Perlahan ia mulai melepas kain yang membalut tubuh sintalnya, juga BH dan celdamnya, diletakkannya semuanya di bawah meja, lalu tidur tengkurap, persis seperti yang diperintahkan oleh mbah Suryo.

Mbah Suryo berlutut di sampingnya. Tangannya menggapai bokong Lastri yang bulat dan menyapukan minyak bulus yang ia pegang ke atasnya, lalu meratakannya dengan meremas-remas bokong Lastri lembut. Laki-laki itu juga menuangkan minyaknya ke punggung Lastri, dan mengurutnya perlahan seirama dengan pijatannya; mulai dari tengkuk, pundak, sampai pinggang Lastri yang ramping, lalu turun ke betis perempuan cantik itu.

“Enghh… mbah! Hegghh…” Darah Lastri menggelegak, jantungnya bergerak cepat, sementara tubuhnya meliuk-liuk penuh kenikmatan. Tangannya meremas-remas bantal, tubuh polosnya berkilat-kilat karena cahaya dia lilin. Perlakuan mbah Suryo benar-benar membuatnya melayang.

“Gimana rasanya, nduk?” tanya mbah Suryo sambil tersenyum dan melucuti pakaiannya sendiri. Ia keluarkan penisnya yang sudah menegang dahsyat dari kungkungan celana dalam. Telanjang ia berdiri di sebelah Lastri dan berbicara, “Sudah, sekarang tinggal masukin emasnya. Habis ini rampung. Balikkan badanmu, nduk.” perintahnya kemudian.

“Mbah, isin aku, mbah. Malu!” meski sudah terbuai oleh nafsu, tapi Lastri enggan menuruti begitu saja perintah sang dukun. Ia masih ingin mempertahankan statusnya sebagai wanita terhormat untuk yang terakhir kali.

“Lha, gimana tho? Ini syaratnya, nduk. Tanggung!” suara mbah Suryo meninggi. Penisnya yang tegang tampak mengacung tegak hingga ke pusar; besar dan panjang sekali, berwarna coklat kehitaman. Jembutnya yang tumbuh semrawut di bagian pangkal, makin menambah kesan sangarnya. “Cepat balik, kita tidak punya banyak waktu!!” melihat tubuh Lastri yang molek dan montok membuat laki-laki tua itu menjadi tidak tahan lagi.

“Matikan lilinnya dulu, mbah. Aku malu.” kata Lastri lirih.

“Ya wes,” jawab mbah Suryo. Lalu ia melangkah menuju lilin yang ada di meja dan meniup apinya hingga padam. Gelap segera menyelimuti bilik kecil itu. “Sudah, nduk?” ujar mbah suryo sambil mengusap-usap mesra bokong bulat Lastri.

memek legit jilbaber hot (11)

“Iya, mbah.” perlahan Lastri membalikkan tubuh sintalnya, telentang. Bisa dirasakannya mbah Suryo mengambil posisi setengah berlutut di ujung kakinya.

“Dengar baik-baik, inti dari ritual pamungkas ini adalah sikap pasrah!!” nada suara mbah Suryo berubah berat dan berwibawa. Ia memegangi penisnya dan perlahan mulai mengarahkannya ke bibir vagina Lastri yang licin dan basah.

“Ehmm… mbah!” Lastri melenguh saat mbah Suryo menyundul-nyundul dan menggesekkan ujung tumpulnya disana. Ia segera mengangkat pinggulnya agar penis itu bisa lebih cepat masuk ke dalam lubang kemaluannya.

“Biarkan para dewa bekerja melalui emas yang aku masukan melalui jalan lahir milikmu ini, nduk. Paham?!” kata laki-laki tua itu sambil menindih tubuh molek Lastri dan mulai menghisap puting susu wanita cantik itu dengan penuh gairah.

“Pa-paham, mbah.” jawab Lastri pelan. Ia sudah merasakan birahi puncak yang amat sangat dan begitu ingin dipenuhi. Pinggulnya semakin naik mengejar penis besar milik mbah Suryo. Ia juga merangkulkan kakinya ke pinggang laki-laki tua itu dan menarik ke arah dirinya agar mbah Suryo segera menjejalkan batang penisnya.

memek legit jilbaber hot (8)

Tapi itu tidak berhasil, karena mbah Suryo memang sengaja menahannya. Alih-alih mendorong, ia malah kembali meracau dengan mantra-mantra bahasa jawa kunonya. “Mbah akan menyalurkan energi padamu, nduk. Supaya dirimu kuat dengan ‘pegangan’mu ini.” kata laki-laki tua itu.

Lastri mengangguk. ”Cepat lakukan, mbah. Aku sudah tidak tahan lagi!!”

“Buka kakimu agak lebar, nduk. Tekuk ke atas!” mbah Suryo merangkul tubuh molek Lastri dan mulai mendorong ujung penisnya masuk ke vagina mungil gadis itu.

Lastri yang sudah ingin sekali merasakan penis itu memenuhi vaginanya, segera menuruti perintah itu. Dia membuka dan menekuk kakinya agar mbah Suryo lebih mudah untuk melakukan penetrasi.

Mbah Suryo menunduk, coba merapatkan tubuhnya ke tubuh Lastri. Bibir Lastri yang ranum dilumatnya, sementara tangannya meremasi susu perempuan berjilbab itu. “Ouh…” jerit Lastri menyambut ujung penis mbah Suryo yang mulai mendesak di bibir vaginanya. Dengan jelas Lastri bisa merasakan betapa kaku dan besarnya benda itu. Nafas mbah Suryo yang bau rokok juga menusuk hidungnya saat dukun tua itu menyusupkan lidahnya untuk mengajak Lastri bertarung lidah dan bertukar air liur.

“Tahan ya, nduk. Aku masukkan sekarang,” kata mbah Suryo sambil mendorong ujung penisnya lebih dalam ke belahan memek Lastri yang sempit.

Lastri kembali merintih dan mendesah lirih. “Ennghhhss… mbah!!” ia merasakan ujung penis mbah Suryo mendesak ketat di lubang vaginanya.

“Ayo sekarang kamu goyang pinggulmu, biar penisku semakin masuk ke dalam kemaluanmu,” kata mbah Suryo memberi perintah.

“Ampun, mbah! Oouh… ahhh…” di atas, bibir Lastri memekik minta ampun, tapi di bawah, bibir vaginanya justru memberi akses penuh pada penis mbah Suryo agar bergerak lebih jauh. Lastri mengangkat pinggulnya untuk lebih merasakan tusukan penis laki-laki tua itu.

Merasakan jepitan memek Lastri yang ketat dan sempit membuat mbah Suryo jadi tidak bisa mengontrol birahinya. Ia pun segera menekan penisnya kuat-kuat agar segera menembus dan memasuki lubang senggama wanita cantik itu.

”Oughhh… aghhhh… mbah!!!” Lastri melenguh keras dengan tubuh melenting ke atas saat merasakan penis mbah Suryo yang tiba-tiba tenggelam dan memasuki vaginanya secara utuh dan cepat. Ia segera menggoyangkan pinggulnya kencang-kencang untuk menyambut dan mengimbangi gerakan laki-laki tua itu. Vaginanya terasa begitu sesak dan berat, tapi sangat nikmat.

“Ohh… gimana, nduk, aku tidak menyakitimu kan?” tanya mbah Suryo sambil mendesis merasakan goyangan Lastri yang begitu liar dan brutal.

“Hmm… enak, mbah! Oughhhh… enak sekali!!!” Lastri terus meliuk-liuk penuh birahi. Tubuhnya sudah keringetan, sementara buah dadanya yang besar terlempar-lempar kesana-kemari. Tanpa sadar ia menjawab dengan lugas apa sedang dirasakannya sekarang tanpa rasa malu lagi. Hilang sudah Lastri yang lugu dan alim, yang setiap hari selalu mengenakan jilbab lebar dan baju panjang. Berganti dengan Lastri jalang yang sedang haus akan sentuhan birahi, dan menuntut untuk dipuaskan pada saat ini juga.

Mendengar jawaban menyerah dari wanita cantik itu, mbah Suryo mulai ikut menggenjotkan penisnya keluar masuk di vagina Lastri, menyetubuhinya, memberinya kepuasan. Liar, sambil terus menggerakkan pinggulnya, ia hisap bibir Lastri yang terus menerus merintih keenakan. Sementara tangannya bergerak cepat menangkup kedua buah dada Lastri yang membusung indah, dan memeganginya erat-erat agar kedua benda bulat itu tidak saling bertubrukan lagi.

“Ahh… Nduk, nikmat sekali memekmu!!” rintih mbah Suryo tak tahan.

“Ughh… iya, mbah. Kontol mbah juga enak, ahhh… aku suka!!” sahut Lastri tak terkendali. Hilang sudah harga dirinya sebagai wanita baik-baik. Yang ada kini hanyalah hasrat untuk meraih kepuasan dari penis besar milik mbah Suryo. Apalagi sekarang kedutan-kedutan kecil mulai terasa di dinding vaginanya, dan hawa panas mengumpul di sekitar pangkal pahanya, pertanda kalau tak lama lagi ia akan segera mencapai klimaks, Lastri semakin menjadi gila dibuatnya.

Di lain pihak, mbah Suryo terus menggenjot semakin kencang dan cepat. Penis panjang milik laki-laki tua itu bagai memenuhi lubang vagina Lastri, menekan keras ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang mentok hingga ke mulut rahimnya, membuat kontraksi di dinding vagina Lastri menjadi semakin kuat dan tak tertahankan lagi.

Tidak kuat menahan kenikmatan itu, Lastri akhirnya menjerit kencang. “EGHHHH… MBAAHH!!! OHHHHH… ARRGGHHHHHH!!! AKU KELUAAR!!” tubuhnya mengejang saat cairan kenikmatan menyembur deras dari dalam lubang vaginanya. Begitu kerasnya hingga menyemprot ke perut dan dada mbah Suryo saat laki-laki itu mencabut penisnya.

memek legit jilbaber hot (7)

Mbah Suryo kelihatan puas sekali melihat Lastri yang terkejang-kejang merasakan sensasi kenikmatannya. Cairan perempuan itu masih terus menyembur beberapa kali, sebelum akhirnya cuma menetes pelan seiring meredanya orgasme yang dialami olehnya.

”Sudah enakan, nduk?” tanya dukun tua itu sambil mengelus-elus penisnya yang masih menegang dahsyat.

Tidak menjawab, Lastri cuma mengangguk mengiyakan.

”Sekarang giliranku.” kata mbah Suryo. Ia lalu menindih kembali tubuh molek Lastri. Tapi saat ia ingin menghujamkan penisnya ke vagina Lastri yang masih basah membanjir, wanita itu reflek menutup pangkal pahanya. Mbah Suryo jadi terkejut dibuatnya, “Lho, piye tho iki?” ia berusaha untuk menyingkap kaki perempuan itu.

Dengan cepat, memanfaatkan kelengahan sang Dukun, Lastri meraih sesuatu yang berada di tumpukan bajunya. Seketika itu juga, lebih cepat dari kedipan mata…

SEERRT!!! CRAASHH!!!

Darah menyembur kencang kemana-mana. “Arghh… arghh…!!!” mbah Suryo menjerit sekeras-kerasnya. “Ahh… kurang ajar! Asuuu! Celeng! Dasar sundal kamu!!!” ia berlutut mengerang kesakitan sambil memegangi kemaluannya yang terpotong menjadi dua. Dipelototinya Lastri yang sudah berdiri di sudut kamar, tangan kanannya memegang cutter, sementara tangan kirinya memegangi potongan penis mbah Suryo yang berlumuran darah.

“Hahaha… rasakan kau dukun cabul!! Memang harus ada yang datang untuk menghentikanmu!!!” wanita itu tertawa penuh kemenangan.

“Siapa kamu?! Ahh… tolong! Tolong aku! Aku bisa mati!!” tertatih-tatih, mbah Suryo berusaha untuk menghentikan pendarahan di kemaluannya dengan membalutnya memakai kain sarung, tapi percuma, darah tetap saja merembes keluar.

“Aku? Aku hanya seorang kakak yang adiknya mati bunuh diri!” Lastri berkata bengis. “Mbah ingat Sundari, gadis cantik yang pernah datang kemari beberapa bulan lalu?”

“Banyak! Banyak wanita yang datang kemari!! Ahggg…” kata dukun itu pelan sambil merintih, kesadarannya mulai menghilang. Pandangannya perlahan buram dan menggelap.

“Memang banyak!! Tapi hanya satu saja kan yang punya tanda hitam di lehernya?! Dia itu adikku, bangsat!” Lastri meradang, “Kau telah menodai, menghamili, dan membuat dia bunuh diri!!!”

Tak ada jawaban dari mbah Suryo. Lelaki itu sudah tergeletak diam tak bergerak. Sekarat. Hanya sisa-sisa nafasnya saja yang terdengar pelan menjemput datangnya ajal.

memek legit jilbaber hot (6)

Lastri mendekati meja coba mencari korek api. Dapat, lalu dinyalakannya lilin yang ada disitu. Cahayanya menerangi semesta kamar. Lastri memandangi badan polosnya yang penuh cipratan darah, baunya sangat amis. Diliriknya tubuh mbah Suryo yang meringkuk di tikar, tak bernyawa. Tikar itu berkubang darah.

Lastri mengelap tubuhnya dengan kain batik milik si dukun, lalu segera berpakaian. Dijejalkanya potongan penis mbah Suryo ke mulut laki-laki itu, lalu berjalan keluar sembari membuang cutter yang ia pakai untuk menbunuh ke halaman depan.
.
Malam semakin larut, Lastri keluar dari rumah mbah Suryo dan berjalan menuruni tangga padas gamping ditemani suara jangkrik dan lolongan anjing. Ia tak berharap bertemu siapapun sampai ke jalan raya. Dusun ini sungguh mati, gelap di mana-mana. Ia pasti akan aman sampai tiba di rumah.

NYAI SITI PART 2

JILBAB SEKSI-AULIA W (10)

Dewo membuka tas yang ia bawa dari Malaysia, dia sedang mencari kaset film porno yang dia beli dari negeri jiran tersebut. Dia berniat akan memperlihatkan permainan seks panas yang ada di kaset tersebut dimana si perempuan dientot di mulut, vagina, dan anusnya, sampai disuruh menelan sperma di mulut yang bercampur dengan kotorannya sendiri. Anehnya si perempuan sangat menikmati permainan tersebut.

Dewo kemudian menemui Nyai Siti dan bertanya, ”Apa Nyai pernah melihat film porno?”

”Belum,” jawab Nyai Siti.

JILBAB SEKSI-AULIA W (1)

Dewo pun segera meminta Nyai Siti untuk memutar kaset yang ada di tangannya. ”Nyai nonton dulu ya, saya tinggal beli rokok di warung.” ucapnya. Dewo pergi ke warung yang agak jauh dari rumah Kyai Kholil. Ia sengaja melakukannya agar Nyai Siti puas menonton filmnya. Hampir setengah jam, baru Dewo kembali. Saat itu Nyai Siti sudah sangat bergairah sekali, tapi dia masih sungkan menunjukkannya pada Dewo. Layar di TV menunjukkan adegan seorang cewek yang dientot di anus kemudian menelan sperma si pria.

Dewo yang telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam minuman kaleng dibawanya, segera mendekati istri Kyai Kholil itu. ”Nggak haus, Nyai. Ini, ada sedikit minuman. Silahkan.” Dewo memberikannya pada Nyai Siti.

Dengan wajah semburat merah akibat menahan gairah, Nyai Siti menerimanya. ”Terima kasih, Mas Dewo.” dan segera meminumnya tanpa curiga sama sekali. Dewo tersenyum melihatnya.

Lima menit kemudian, efeknya mulai merasuk. Gairah Nyai Siti jadi makin membara, dan karena saking bernafsunya hingga ia tanpa sungkan lagi membuka celana Dewo yang duduk di sebelahnya. ”Mas Dewo, tolong bantu aku.” bisiknya serak.

JILBAB SEKSI-AULIA W (2)

Melihat tingkah istri Kyai Kholil itu, senyum Dewo semakin terkembang lebar. ”Tentu saja, Nyai.” sahutnya sambil mengecup pipi Nyai Siti dan menyuruh wanita cantik itu agar menghisap penisnya.

Sekitar lima belas menit Nyai Siti menyepong kontol si Dewo, dia kemudian meminta Dewo untuk segera mengentotnya begitu ia sudah benar-benar tak tahan. ”Mas, ayo masukkan kontol besarmu ke memekku.” pinta Nyai Siti tanpa malu.

Dewo yang merasa di atas angin, menyahut santai. “Aku mau ngentot kamu, Nyai, tapi aku minta dulu untuk memperawani anusmu.”

”Jaangan… sakit…!” Nyai Siti menggeleng.

”Kalo nggak mau, aku nggak akan ngentot kamu lagi.” ancam si Dewo.

Nyai Siti terdiam.

”Gimana, Nyai, mau apa enggak aku memperawani anusmu?”

JILBAB SEKSI-AULIA W (3)

Nyai Siti tetap diam. Ia tampak bingung, antara pengen dientot dan takut sakit, karena selama pernikahan dengan Kyai Kholil, ia belum pernah ditusuk di anus. Gaya bercinta Kyai Kholil sangat monoton, hanya posisi misionaris dengan Nyai Siti di bawah dan Kyai Kholil di atas. Itupun hanya berlangsung beberapa saat, paling lama lima menit sudah keluar. Nyai Siti tidak pernah puas dengan persetubuhan mereka, tapi sebagai istri yang baik, ia tabu untuk mengeluhkannya. Dan sekarang, setelah bertemu dengan Dewo, sisi liarnya sebagai seorang wanita muncul keluar. Gaya bercinta Dewo yang cenderung kasar tapi sangat memuaskan sungguh sangat dirindukannya. Nyai Siti tidak sanggup untuk berpisah dengan laki-laki itu. Jadi, sambil menghela nafas berat, iapun berkata…

”Baik, aku mau. Tapi setelah kuberikan keperawanan anusku, nanti entot memekku ya?” pintanya.

”Hahaha…” Dewo tertawa puas. ”Iya, nanti akan aku entot memekmu,” jawabnya menyanggupi.

Nyai Siti menunduk malu, merasa kalau harga dirinya sudah tidak ada lagi. Tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah adanya. Jadi saat Dewo berkata sambil tertawa, ”Sekarang nungging di lantai!” dia tidak menolak sama sekali.

Nyai Siti pun segera membungkukkan badan dan kemudian menungging di lantai. Ia mengangkat baju gamisnya sampai ke pinggang dan memelorotkan celana dalamnya sampai ke lutut. Jilbabnya tetap ia biarkan melingkar menutupi kepala. Dewo yang melihat lubang anus Nyai Siti mengintip malu-malu dari belahan pantatnya, menjadi tidak sabar lagi untuk segera memasukinya. Setelah diludahi sedikit, ia pun segera membenamkan kontolnya dalam-dalam. Tak peduli pada Nyai Siti yang menjerit kesakitan

”Aaaaaaaduhhhh… ssssakittttttt,” rengek Nyai Siti.

“Diam kamu, Lonte! Katanya mau dientot, sebentar lagi kamu tidak merasakan sakit lagi.” kata Dewo kejam.

Dengan sedikit agak kesulitan, akhirnya kontol Dewo pun berhasil menjebol anus Nyai Siti yang masih perawan. Dan kemudian, tanpa menunggu lama, mulai memompanya maju-mundur dengan cepat. Dewo melihat kontolnya memerah karena darah yang keluar dari anus Nyai Siti. Ia tersenyum gembira.

JILBAB SEKSI-AULIA W (4)

Setelah beberapa menit, betul seperti yang dikatakan Dewo, Nyai Siti mulai merasakan kenikmatan yang bercampur dengan rasa sakit pada lubang anusnya. ”Ooh… enak, Mas… sakittt… tapi enak, Mas… aduh!” rintihnya.

”Sakit apa enak, Nyai Siti lonteku… perekku… gundikku…” tanya Dewo sambil meremas-remas kuat bokong Nyai Siti yang membulat indah. Ia tidak sungkan untuk mengeluarkan kata-kata kotor karena merasa Nyai Siti sudah tidak berharga lagi. Wanita itu sudah jadi budak seksnya.

”Enak, Mas Dewo. Terusss… lakukan sesukamu…” jawab Nyai Siti suka.

Sambil terus menggenjot penisnya, tak lupa tangan Dewo menyusup masuk ke dalam gamis Nyai Siti dan kemudian meremas serta memilin susu Nyai Siti yang masih tertutup dengan beha.

Tak lama kemudian Nyai Siti berteriak. ”Aaaaaaa… aku keluar, Mas Dewo… remas susuku yang kuat!” Nyai Siti mendapatkan orgasmenya yang pertama saat dientot di anus.

Dewo menggeram. ”Iya, tahan Lonteku sayang. Aku masih belum.” dia terus menggenjot pinggulnya, tak peduli dengan vagina Nyai Siti yang berkedut kencang saat menyemburkan cairan cintanya ke lantai.

Diremas-remasnya payudara Nyai Siti semakin kuat saat dua puluh menit kemudian Dewo tidak mampu lagi untuk menahan hasrat birahinya. Padahal saat itu Nyai Siti yang sedang ia sodomi, hampir mendapatkan orgasmenya yang kedua. “Nyai, aku mau keluar…!” bisik Dewo dengan penis menusuk semakin dalam.

”Aku juga, Mas Dewo… kamu memang hebat! Aaaaaaah…” selesai berkata, tubuh Nyai Siti kembali bergetar. Ia kembali orgasme. Cairan bening kembali memancar dari liang vaginanya yang sama sekali tidak dipakai oleh Dewo.

Dewo yang juga sudah hampir mencapai klimaks, segera mengeluarkan kontolnya dari anus Nyai Siti, kemudian menggulingkan tubuh wanita cantik itu hingga telentang. Dia kemudian menduduki dada Nyai Siti. Tangan kanannya mengocok kontolnya dengan cepat, sedangkan tangan kirinya mengangkat sedikit kepala Nyai Siti yang terbungkus jilbab. “Ini, Nyai, air mani kesukaanmu… telan! Buka mulutmu!” perintah Dewo.

JILBAB SEKSI-AULIA W (5)

Tanpa rasa jijik, mengabaikan bau kotoran dari kontol Dewo, Nyai Siti segera membuka mulutnya. ”Aaaaahhhhhh…”

”Terima ini, Nyai!” sedikit mendelik, Dewo menyemburkan air maninya ke mulut Nyai Siti. Ia mengarahkannya tepat ke kerongkongan istri Kyai Kholil itu hingga Nyai Siti bisa menelannya dengan mudah. Seperti orang kehausan, Nyai Siti menenggak semuanya. Tak lupa juga ia membersihkan kontol Dewo yang penuh dengan sperma dan darahnya sendiri dengan menjilatinya penuh nafsu. Kelelahan tapi puas, Dewo kemudian rebah di samping tubuh Nyai Siti.

Nyai Siti yang sudah gila dengan kontol Dewo, ikut menggeser tubuhnya. Ia seperti tidak rela kehilangan kontol laki-laki tua itu. Dengan lembut ia memandangi kontol Dewo sambil mulutnya mulai menjilat lagi, sesekali ia juga menciumi ujung kontol Dewo yang tumpul. Akibatnya kontol Dewo jadi mengeras kembali akibat perbuatannya itu.

Dewo hanya tersenyum kecil menerimanya dan berkata, ”Teruskan, Lonteku yang binal, sepong kontolku sesukamu. Apa kamu menyukainya?” tanya dewo dengan tangan meremas-remas payudara Nyai Siti yang membulat indah.

Nyai Siti memandang sebentar wajah Dewo, dan sambil tersenyum malu-malu ia mengangguk.

”Nyai, apakah aku boleh meminta sesuatu darimu?” tanya Dewo, dipilinnya kedua puting Nyai Siti yang berada dalam genggaman tangannya kuat-kuat.

”Ehmm,” merintih sebentar, Nyai Siti kemudian menjawab. ”Mintalah, pasti akan aku penuhi, Mas Dewo. Bahkan jiwa dan ragaku hanya untukmu, untuk kontolmu.” yakinnya.

Dewo mengangguk puas. ”Kalau begitu, aku minta perawan anak dan adikmu… gimana, Nyai?” tanyanya. ”Aku kasihan dengan tempekmu yang tidak mampu lagi menahan genjotan kontolku, dan aku janji akan memberikan kepuasan kepadamu, setiap hari.” tambah Dewo.

Tanpa berpikir panjang, Nyai Siti mengangguk. ”Baik, Pangeran Kontol,” hanya itu jawaban singkat darinya.

JILBAB SEKSI-AULIA W (6)

Dewo tertawa penuh kemenangan. Dengan kasar ia menjambak jilbab Nyai Siti dan berkata, ”Terima kasih, Lonte budak nafsuku. Nah sekarang, aku pengen ngentot mulutmu, dan akan kuberikan mani kesukaanmu.”

Dewo kemudian menggenjot kontolnya di mulut Nyai Siti, sampai muka istri Kyai Kholil itu memerah, bahkan tersedak. Tapi Dewo tidak menghiraukannya, malah ia memasukkan kontolnya semakin dalam, sampai mentok di tenggorokan Nyai Siti. Tidak bisa menolak, dengan pasrah Nyai Siti menerimanya. Meski nafasnya sedikit sesak, ia nikmati hujaman kontol panjang Dewo di mulutnya sampai laki-laki itu klimaks. Dewo menekan kontolnya dalam-dalam ke tenggorokan Nyai Siti saat spermanya menyembur keluar.

”Aahhhhh… aku keluar, Nyai.” rintih laki-laki tua itu. ”Ini lonteku, terima maniku!” racau Dewo tidak karuan.

Nyai Siti segera meneguk dan menelan semuanya sebelum terkapar lemas di lantai. Ia kelelahan, sangat kelelahan. Dewo menyeringai kejam dan mengecup bibir manis Nyai Siti. ”Mandi yuk?” ajaknya. Dibopongnya tubuh Nyai Siti dan diantarnya menuju kamar mandi.

Di dalam, Dewo segera menelanjangi tubuh wanita cantik itu. Nyai Siti hanya pasrah saja menerimanya. Ia sudah terlalu lemas untuk memprotes. Lagian, ia juga suka dengan acara mandi bareng Dewo. Biasanya acara mandi mereka akan diakhiri dengan persetubuhan pamungkas yang hangat dan panas.

Tapi baru saja Dewo membuka kran bak mandi, terdengar suara ketukan di pintu depan. ”Assalamu’alaikum…” itu suara Kyai Kholil. Dewo dan Nyai Siti yang sedang berpelukan langsung terdiam, tubuh mereka membeku. Dewo mengumpat dalam hati karena kesenangannya terganggu, begitu juga dengan Nyai Siti. Tapi sebelum Kyai Kholil memergoki mereka, Nyai Siti sudah cepat menyusun rencana. Dengan hanya berbalut handuk, ia keluar menemui sang suami.

”Tumben Abi pulang cepat?” sapanya ramah.

Kyai Kholil sedikit mendelik melihat dandangan sang istri. ”Kok cuma pake handuk?” tanyanya pada Nyai Siti.

Nyai Siti segera menjawab, ”Habis nguras kamar mandi.” didekatinya laki-laki itu dan ia salami tangannya.

”Aku mau ke kamar mandi, cuci muka.” kata Kyai Kholil mengagetkan.

JILBAB SEKSI-AULIA W (7)

”Jangan!” Nyai Siti berseru cepat, sedikit mencurigakan. ”Em, maksudku… aku belum selesai, kamar mandi masih kosong.” kata Nyai Siti berbohong. Bahaya kalau sampai Kyai Kholil memergoki Dewo yang sedang ngumpet di kamar mandi dengan tubuh telanjang.

”Oh, begitu.” Kyai Kholil mengangguk. ”Ya sudah, selesaikan dulu. Aku tunggu di kamar. Tubuhku capek.”

Nyai Siti tersenyum, ”Tidak lama kok. Nanti habis ini Abi aku pijat.”

Kyai Kholil berbalik dan segera melangkah ke kamar. Begitu sang suami menutup pintu, Nyai Siti cepat melesat ke kamar mandi. Memeknya terasa sudah gatel banget akibat penundaan barusan. Ia sudah tak sabar untuk disetubuhi oleh Dewo yang sudah menunggu dengan penis mengacung tegak di kamar mandi.

“Dimana suamimu?” tanya Dewo saat Nyai Siti kembali masuk, segera dipeluknya tubuh sintal perempuan cantik itu.

Nyai Siti menggelayut manja di pundak Dewo dan berbisik. ”Sudah kusingkirkan ke kamar. Ayo mandi barenga.” ajaknya pada Dewo.

Berikutnya, mereka mandi bersama dengan saling membantu menyabuni dan menyirami tubuh masing-masing. Nyai Siti mendesah memperhatikan bentuk tubuh Dewo yang masih tegap dan gempal di usia tuanya, termasuk juga ukuran kontol laki-laki itu yang cukup besar, hampir dua kali lipat kontol Kyai Kholil. Bagi Nyai Siti, semakin besar ukurannya semakin nikmat, ia sudah membuktikannya sendiri. Jadi dengan sayang ia menggenggam dan mempermainkan batang kontol Dewo hingga benda itu mekar mengembang lebih besar lagi.

“Kok dari tadi masih keras aja, Mas Dewo, padahal sudah dua kali keluar?” kata Nyai Siti dengan nada khas ibu-ibu yang doyan kontol, sudah tidak terlihat lagi kesan lugu dan alim dalam suaranya.

Dewo hanya tersenyum geli, “Iya, itu tandanya sudah pengen ngentot Nyai lagi.”

Nyai Siti menggenggam dan mengocoknya lembut. “Tapi di memek ya, kan belum dari tadi. Mas Dewo sudah janji lho,” tagihnya.

“Iya, aku juga pengen ngerasain memekmu, Lonteku sayang!” kata Dewo. Tangannya terulur untuk meremas-remas payudara Nyai Siti yang terasa licin dalam genggamannya.

JILBAB SEKSI-AULIA W (8)

Nyai Siti yang sudah begitu bergairah hanya bisa meringis-ringis kegelian menerima pijitan Dewo pada bulatan payudaranya, sementara ia sendiri menjulurkan tangan untuk meremas-remas kontol Dewo yang sudah mengeras tajam, ”Cepat masukin, Mas Dewo. Aku sudah tak tahan.” pinta Nyai Siti memelas.

Tersenyum, Dewo segera menyuruh Nyai Siti berbaring di lantai dengan kedua kaki dibuka lebar-lebar. Tampak memek basah Nyai Siti terkuak dengan begitu jelasnya. Ia menciuminya sebentar sebelum akhirnya mulai menembus menggunakan batang penisnya.

”Hoghh,” rintih Nyai Siti saat kontol panjang Dewo mulai menusuk lubang memeknya. Terasa sedikit ketat dan perih karena begitu besarnya benda itu. Tapi Nyai Siti menyukainya karena memang inilah yang ia cari. Sedikit mengetatkan rangkulannya ke tubuh Dewo, ia meminta laki-laki itu agar meneruskan aksinya. ”Tusuk terus, Mas Dewo. Terus. Ya… begitu!” rintih Nyai Siti.

Dengan keras Dewo menghunjamkan kontolnya, dan begitu sudah masuk, langsung menggoyangnya cepat. Nyai Siti yang sudah hafal dengan gaya permainan Dewo, melolong-lolong penuh kenikmatan. ”Ughh… terus, Mas Dewo… ahh, nikmat sekali. Terus!”

Begitu nikmatnya permainan Dewo hingga tak butuh waktu lama, Nyai Siti sudah mengerang membuka kembali orgasmenya. Dan berikutnya saling susul menyusul hingga total empat kali ia mencapai puncak. Sementara Dewo tampak masih enjoy saja. Ia tersenyum menikmati jepitan hanhat memek Nyai Siti. Tangannya melingkar di payudara perempuan cantik itu dan terus meremas-remas lembut disana sepanjang permainan. Di orgasme Nyai Siti yang kelima, barulah Dewo memuntahkan spermanya. Dengan cepat ia menarik keluar batang kontolnya dan mengarahkannya ke mulut Nyai Siti.

Nyai Siti yang sudah hafal dengan hobi Dewo, segera membuka mulutnya dan menerima semprotan pejuh Dewo dengan senang hati. ”Terima ini, Lonteku cantik!” geram Dewo saat air maninya menyembur keluar. Dibungkamnya mulut Nyai Siti dengan batang penisnya hingga istri Kyai Kholil itu menelan semua spermanya. Setelah bersih, barulah ia melepaskan.

”Hh… hh…” Nyai Siti bernafas tersengal-sengal, tapi dia sangat puas.

“Gimana, enak kan kontolku?” tanya Dewo menguji apa yang barusan dialami oleh Nyai Siti.

“Bukan puas lagi, Mas. Tapi sangat puas. Aku mabok sama kontolmu.” jawab Nyai Siti mengakui apa yang didapatnya.

”Masih mau lagi?”

JILBAB SEKSI-AULIA W (9)

Nyai Siti mengangguk.

”Penuhi saja janjimu, dengan begitu aku bakal memuaskan Nyai tiap hari.” kata Dewo.

”Keperawanan anak dan adikku?” tebak Nyai Siti.

Dewo mengangguk dan tertawa pelan.

Nyai Siti terdiam. Sanggupkah dia menukar anak dan adiknya dengan kontol Dewo?

MBAK TARI

Aku bangun dari tidur setelah ritual yang melelahkan karena kenikmatan. Aku makan siang, terus buka diktat kuliahku kalau-kalau ada tugas. Aku ingat bahwa ada tugas yang belum aku kerjakan. Dengan terpaksa aku berangkat ke kost temanku untuk kerjakan tugas yang terlupakan. Setelah sampai kost, ternyata teman-temanku sudah ngumpul, sudah mengerjakan tugas yang cukup menyita waktu itu. Aku langsung nimbrung ngerjakan tugas dengan semangat, jangan sampai aku tidak berhasil gara-gara memek mbak Lasmi. Aku lupakan dulu semua, toh mbak Lasmi pun mungkin akan menerima alasanku tidak nyodok memeknya. Sampai tengah malam, aku baru selesai. Akhirnya aku tertidur kelelahan di rumah temenku sampai pagi.

Tanpa pulang dulu, aku langsung kuliah dengan pakaian seadanya. Maklum mahasiswa teknik, isinya cowok semua, kuliah tidak ganti baju tidak masalah. Tugas berhasil aku kumpulkan meskipun masih ada sedikit kesalahan, tapi dosen memakluminya. Ia menghargai mahasiswa yang masih mau berusaha. Sampai sore, aku sibuk di kampus. Jam tiga baru aku pulang ke rumahku. Dalam perjalanan pulang, sudah mulai terbayang lagi kemontokan tubuh mbak Lasmi. Dalam hati aku berucap, ”Mbak, akan kuganti ketidakhadiranku. Akan kuentot mbak sampai pagi.”

Sampai rumah…

“Pergi kok sehari semalam to, Riz, kemana kamu?” tanya ibuku.

“Anu, bu, semalam ngerjakan tugas di kost teman, trus langsung kuliah.“ jawabku.

“Oalah, masak anak ibu kuliah tidak ganti baju… tugasnya beres tidak?” kata ibu.

“Beres dong, lha ibu mau kemana?” tanyaku melihat kedua orang tuaku siap dengan tas besar.

“Ini, Riz, aku dan bapak mau ke Semarang sama om Joko, ada acara mantenan besok pagi. Malam ini acara midodareni, jadi aku sama bapak nginep di sana.“ jelas ibuku.

“Lha kok gantian yang pergi, aku jadi sendirian lagi.” kataku sambil ngeloyor ke kamarku.

Tak berapa lama, mobil om Joko datang. Aku keluar untuk bantu angkat-angkat barang bawaan orang tuaku.

“Kamu nggak ikut, Riz?” tanya om Joko.

“Tidak, om. Besok masuk.“ jawabku singkat. Dalam hati: ”Aku malam ini mau merengkuh kenikmatan, om.”

“Walah, paling kamu kencan sama pacarmu ya?” canda om Joko.

“Ti-tidak, om. Belum ada yang mau.” jawabku agak gelagapan.

“Hati-hati di rumah ya, Riz. Jangan kamu tinggalkan rumah lagi.” pesan ibu.

“Iya, bu. Salam untuk keluarga disana.” jawabku.

Akhirnya mereka berangkat, aku lambaikan tanganku mengantar mereka pergi, dalam hati aku berdoa semoga lancar perjalanan mereka. Aku lihat rumah mbak Lasmi kosong, mungkin lagi pergi. Sebenarnya aku pengin kesana, tapi akhirnya aku langsung tidur di kamarku. Sampai sore aku tertidur, terasa lapar saat aku bangun. Aku langsung makan dan mandi. Sore itu kuisi dengan mengobrol dengan tetangga di luar rumah sambil melihat keadaan rumah mbak Lasmi.

Habis maghrib hujan malah turun, kelihatan jalan sudah sepi. Aku merasa sepi di rumah, sementara kulihat rumah mbak Lasmi masih saja gelap pertanda tidak ada kehidupan disana, mungkin mbak Lasmi memang pergi atau malah marah karena semalam aku tidak main ke rumahnya. Mungkin dia ingin balas dendam kepadaku. Dalam kesendirian, terlihat sepeda motor mbak Lasmi datang, tapi dia cuek saja, tidak sedikitpun melihat ke rumahku. Aku tidak sabar ingin langsung ke rumah mbak Lasmi, tapi sebelumnya tak lupa beres-beres rumah supaya kelihatan aku pergi jauh. Motor kusembunyikan di belakang supaya kalau ada yang datang mengira aku pergi keluar. Aku pingin memberi kejutan kepada mbak Lasmi. kulihat rumah mbak Lasmi lampunya sudah menyala. Karena situasi saat itu yang sepi, akupun masuk ke rumahnya lewat pintu samping seperti biasa dan mendengar ada yang sedang mandi. Kulihat pintu kamar mandi terbuka sedikit. Saat akan mengintipnya, kurasa ada yang memergokiku dan langsung menguncinya dari dalam. Aku jadi ragu, apakah mbak Lasmi benar-benar marah?

Setelah pintu samping kututup, kupanggil mbak Lasmi yang ada di kamar mandi. “Mbak, lagi mandi yah?” tanyaku basa-basi.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan. “Kamu marah yah. mbak? Maaf yah, aku gak kasih tahu kalo aku mau nginep di kost temanku. Malam ini aku mau buat mbak puas. Aku akan cium mbak, bikin mbak puas hari ini. Aku akan jilati tubuh mbak mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.” rayuku.

Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Aku mendekati pintu kamar mandi sambil berkata, “Mbak. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan kontolku. Aku akan cium memekmu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan kontolku. Mbak ingat waktu memekmu kusodok dibelakang mas slamet?”

Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi, sudah tidak terdengar guyuran air lagi, tinggal suara orang yang menggunakan handuk.

“Mbak, maafkan aku. Aku rela mencium kakimu untuk memohon maaf. Mbak nggak usah pakai baju saja, toh nanti akan kuciumi semua. Tidak hanya kakimu, pokoknya semua, sampai itilmu. Aku kunci pintu depan dulu dan matikan lampunya ya, mbak.” Akupun berbalik untuk mengunci pintu dan mematikan lampu depan, sekarang tinggal lampu ruang tengah yang menyala. Kupikir dengan begini, aku bisa ngentot mbak Lasmi dengan tenang.

Ketika kumatikan lampu depan, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Aku langsung balik ke ruang tengah, pengin langsung memeluk mbak Lasmi. Tapi ternyata, yang ada dalam kamar bukanlah mbak Lasmi, tapi mbak Tari, adiknya. Aku jadi kaget dan mematung, memang mbak Tari mirip sekali dengan mbak Lasmi, tapi agak sedikit hitam. Namun untuk masalah bodi, tidak kalah sama mbak Lasmi, malah menurutku lebih bahenol mbak Tari. Aku memang sering memperhatikan bodinya ketika ia berkunjung kesini. Mbak Tari umurnya lebih muda dua tahun dari pada mbak Lasmi, suaminya seorang PNS di Jogja. Mereka belum dikaruniai anak, entah apa sebabnya, aku tidak tahu.

Terlihat mbak Tari yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan daster bertali merah milik mbak Lasmi yang sangat ketat membalut tubuh sintalnya. Ia berdiri memandangiku penuh pertanyaan. Ia memang sudah mengenalku. Aku juga memandanginya; mulai dari kakinya yang mulus terawat, betisnya yang indah, pahanya yang kencang, bokong dan pinggulnya yang besar, pinggangnya yang ramping, hingga ke belahan buah dadanya yang terlihat sangat menantang sekali untuk diremas dan dielus. Ukurannya jelas sedikit lebih besar dari punya mbak Lasmi.

Mbak Tari hanya tersenyum sambil berkata, ”Cari siapa, Riz, kok langsung nylonong masuk?”

“Anu, mbak, aku cuma pingin nyambangi rumah ini. Kan mbak tahu aku sudah seperti keluarga sendiri.” kataku berkelit. “Mbak Lasmi kemana, mbak, kok nggak kelihatan?” tanyaku sambil duduk di sofa.

Mbak Tari pun ikut duduk. “Mbak Lasmi sedang ke Yogya, menginap di acara dikeluarga mas Slamet. Tadi aku ketemu di Solo, mbak Lasmi ke Jogja dan motornya aku pakai. Karena besok masih ada acara, maka aku menginap disini.” terang mbak Tari sambil menyilangkan kakinya sehingga hampir semua pahanya kelihatan. Tidak aku sia-siakan pemandangan itu, langsung aku memelototinya, otomatis kontolku yang tadi sempat tertidur sebentar langsung berdiri tegak.

“Kalau mbak sudah di sini, aku sebaiknya pulang saja. Mau jaga rumah, kebetulan rumahku juga kosong.” kataku kaya maling ketahuan.

“Tunggu, Riz, ada yang perlu aku omongkan.“ kata mbak Tari mencegah kepergianku.

“A-ada apa, mbak?” tanyaku penuh cemas, jangan-jangan mbak Tari akan marah atas rayuanku yang salah sasaran tadi.

“Kamu harus jawab jujur! Tadi mbak sudah dengar rayuanmu, maaf mbak memang sengaja mendengarkan rayuanmu ataupun pengakuanmu, jadi selama ini kamu suka ngentot ya sama mbak Lasmi? Padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama kakakku.” kata mbak Tari.

“Kuakui, mbak, aku memang pernah ngentot sama mbak Lasmi. Tapi mungkin baru sebulan ini, semenjak mas Slamet ditahan kemarin karena kita sama-sama mau dan keadaan memungkinkan.” jelasku sambil menunduk.

“Kamu cinta mbak Lasmi?” tanya mbak Tari.

“Tidak, mbak. Hubungan kita cuma atas nama nafsu, saya tidak akan mengganggu rumah tangga mas Slamet, itu prinsip kami.” jawabku sedikit lebih berani.

“Kamu pernah ngentot yang lain selain mbak Lasmi?” tanya mbak Tari lebih lanjut.

“Tidak, mbak. Baru sama mbak Lasmi dan itupun aku banyak diajari untuk menjadi lelaki sejati olehnya.“ jelasku.

Kami diam beberapa saat dengan pikiran masing-masing. Akhirnya aku beranikan ngomong untuk mencairkan suasana. “Maaf, mbak. Aku nggak tahu kalo yang di dalam itu mbak Tari.” kataku sambil kuberanikan diri memandangnya meskipun aku masih takut. Tapi di lain sisi aku juga terangsang melihat tubuhnya. Mbak Tari menyadari kalau aku sedang memandanginya, tapi ia membiarkannya saja. Rambutnya yang hitam sepundak tampak tergerai basah. Dada yang menantang dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapi. Kalau menurutku, mbak Tari boleh mendapat nilai 8 hingga 8,5 dari 10.

“Lalu kalo bukan mbak Lasmi kenapa? Kamu nggak mau mencium mbak, buat mbak puas, menjilati tubuh mbak seperti yang kamu bilang tadi?” tanya mbak Tari memancingku.

“Aku sih mau aja, mbak, kalo mbak kasih!” jawabku langsung tanpa berpikir, seperti kejatuhan duren lagi sambil melangkah mendekatinya. Sebab sebagai laki-laki normal, aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada putih mulusnya yang sangat menggoda.

Setelah duduk di sebelahnya, aku mencium wangi harum tubuhnya. “Tubuh Mbak harum sekali,” kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.

Mbak Tari menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Mbak Tari pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat mbak Tari semakin hangat.

Perlahan tangan kiriku menyelusup ke dalam dasternya, ternyata mbak Tari tidak memakai bra, persis seperti dugaanku. Kuraba payudaranya yang hangat dan kenyal, terasa lebih besar dari punya mbak Lasmi. Sambil terus berciuman, kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnya pun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.

Tidak puas dengan itu, aku angkat dasternya dan mbak Tari membantuku sehingga dengan mudah kain itu melewati kepalanya. Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh mbak Tari di sofa sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya.. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi ini, karena aku belum pernah melihat tubuh mbak Tari tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela.

Payudaranya yang montok dan tegak menantang berukuran lebih mantap dari milik mbak Lasmi, dengan puting yang sudah naik penuh, terlihat sangat menggairahkan. Pinggangnya juga langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin mbak Tari baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan.

“Hh, gimana, Riz, kamu mau ngentot denganku?” desah mbak Tari membuyarkan lamunanku.

Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi sempat terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya. Kembali kulumat bibir mbak Tari sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan mbak Tari pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciuminya dengan leluasa. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling putingnya.

Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling memeknya dahulu untuk memancing reaksi mbak Tari. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki mbak Tari pun merapat. Terus kuelus paha mbak Tari hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik olehnya dan diarahkan ke belahan memeknya.

“Elus dong, Riz. Biar mbak ngerasa enak, Riz.” ucapnya sambil mendesah.

Bibir memek mbak Tari sudah basah ketika kusentuh. Kugesekkan jariku sepanjang bibir kemaluannya, dan iapun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di atas gundukan payudaranya.

“Ahh, terus, Riz!” Pinggulnya makin bergoyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan ke dalam lubang memeknya yang semakin terasa basah. “Ohh… Riz, enak sekali, Riz!!” desah mbak Tari makin hebat dan goyangan pinggulnya juga menjadi semakin cepat.

Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit memek mbak Tari. Kucoba memasukkan kedua jariku dan desahan serta goyangan mbak Tari makin hebat, membuatku semakin terangsang.

“Ahh… Riz!!” mbak Tari pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya, tapi jariku masih terus mengobok-obok memeknya yang sempit dan basah dengan leluasa.

Remasan tangan mbak Tari di kepalaku semakin kencang, mbak Tari seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama, mbak Tari pun melenguh panjang, jepitan tangan dan kakinya pun perlahan mengendur.

Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan sarungku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja, kuubah posisi tidur mbak Tari. Semula seluruh badan mbak Tari ada di atas sofa, sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas sofa, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah. Dengan posisi ini, aku bisa melihat memek mbak Tari yang merah merekah. Kuusap sesekali benda itu, masih terasa basah. Akupun mulai menciuminya. Terasa lengket tapi harum sekali. Pasti mbak Tari selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.

“Ahh… Riz, enak, Riz!!” racau mbak Tari. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang memeknya. Memek merahnya semakin basah oleh lendir cinta yang harum lengket. Desahan mbak Tari pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku ke dalam lubang memeknya. Ia menggelinjang hebat. “Terus, Riz!!” desahnya.

Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tangannku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati memeknya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan mbak Tari pun mengalami orgasme yang kedua. “Ahh… Riz, aku keluar, Riz!!!” jeritnya.

Aku pun merasakan cairan hangat keluar dari lubang memeknya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir mbak Tari yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.

Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat di depan memeknya. Sambil terus menciumnya, kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar dari CD-ku ke bibir memeknya. Tangan mbak Tari yang semula berada disamping, kini bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.

“Besar juga punya kamu, Riz, panjang lagi. Lebih besar dari milik suamiku dan mas Slamet.” ucap mbak Tari di sela-sela ciuman kami.

Aku kaget, kok mbak Tari bisa ngomong lebih besar dari milik mas Slamet? Berarti dia pernah merasakannya. “Kok kontol mas Slamet? Jangan-jangan mbak pernah ngentot sama mas Slamet ya?” tanyaku.

“Iya, Riz. Tapi itu tidak sengaja. Cepat, Riz, mau nggak sama memek mbak?” desaknya. ”Meskipun sudah dipakai dua orang, tapi kurasa akan nikmat untuk kontolmu yang besar ini.” kata mbak Tari lagi. “Nanti aku ceritakan bagaimana kau bisa ngentot sama mas Slamet, sekarang cepet sodok memekku, Riz.” tambahnya.

Aku sudah tanggung pinging ngentot meskipun dapat dua memek yang semuanya pernah dipakai oleh mas Slamet, tapi kurasa akan tetap sempit sebab milikku lebih besar. Sambil masih berciuman, aku melepaskan CD-ku sehingga tangan mbak Tari bisa leluasa mengocok kontolku. Setelah lima menit, akupun menepis tangan mbak Tari dan menggesekkan kontolku ke bibir memeknya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.

Perlahan aku mulai mengarahkan penisku ke dalam memeknya. Ketika penisku mulai masuk, badan mbak Tari pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali sekaligus nikmat. Lobang memeknya lebih sempit dibandingkan punya mbak Lasmi, atau mungkin karena lubang memeknya belum terbiasa dengan kontolku?

“Ahh… Fariz. Ya, begitu, sayang! Uhh, enak sekali!” racaunya ketika kontolku mulai kugerakkan maju mundur. Pinggul mbak Tari bergoyang liar mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.

“Ahh…” desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku, semakin cepat pula goyangan pinggul mbak Tari. Kaki mbak Tari yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas sofa.

Setelah seluruh badan ada di atas sofa, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat. Goyangan mbak Tari pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat yang diimbangi goyangan pinggul mbak Tari yang semakin lama menjadi semakin liar.

“Riz, kamu hebat, Riz. Terus, Riz. Penis kamu besar dan panjang, Riz. Terus. Goyang lebih cepat lagi, Riz.” begitu racau mbak Tari di sela kenikmatannya.

Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Memek mbak Tari memang lebih enak dari punya mbak Lasmi, lebih sempit, sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam lorongnya. Goyangan mbak Tari yang semakin liar, juga desahannya yang tidak beraturan, membuatku semakin bernafsu hingga mempercepat gerakanku.

“Mbak, aku mau keluar, Mbak!” kataku tersengal.

“Di dalam aja, Riz, biar enak.” desah mbak Tari sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari memeknya barang sedikitpun.

“Ahh!!” desahku saat aku memuntahkan semua cairanku ke dalam lubang rahimnya.

Tangan mbak Tari menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya terpejam. Aku pun mencium bibir mbak Tari, dengan posisi badan masih diatasnya dan penisku masih dalam memeknya. Mata mbak Tari terbuka, dia membalas ciuman bibirku cukup lama. Badannya basah oleh keringat.

“Kamu hebat, Riz, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya.” kata mbak Tari.

“Mbak juga hebat. Memek Mbak sempit, legit dan harum lagi.” ucapku.

“Memang memek mbak Lasmi nggak?” senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Sedikit lebih sempit punya mbak dibanding punya mbak Lasmi.” jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Sepertinya dia masih ingin melanjutkan lagi, pikirku.

“Penis kamu masih keras, Riz?” tanya mbak Tari sambil memutar pinggulnya.

“Masih, Mbak masih mau lagi?” tanyaku.

“Mau, tapi Mbak diatas ya?” kata mbak Tari. “Cabut dulu, Riz.” Ia menyuruh.

Setelah kucabut, mulut mbak Tari pun bergerak untuk menciumi penisku. Ia mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan memeknya kepadaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan mbak Tari dan hangat lubang memeknya yang harum membuatku melupakan mbak Lasmi untuk sementara waktu. Malam itu sampai pagi, aku ngentot mbak Tari. Mungkin sampai lima kali aku orgasme di memek maupun mulutnya, tapi mbak Tari lebih banyak lagi. Kupikir mumpung mbak Lasmi tidak ada, kucumbu saja adiknya dulu.

NURUL

Realita kalau banyak yang perkawinan lewat ta’aruf itu tidak semuanya didasari cinta, dan cinta itu justru ada setelah seringnya bertemu. Johan menganggap Syamsul sangat beruntung mendapatkan isteri secantik Nurul, berjilbab rapih dan terlihat sangat cerdas karena lulusan universitas terpopuler dinegeri, dimana Johan pernah kuliah di fakultas yang berbeda. Sementara suaminya seorang guru honorer adalah teman kuliah isteri Johan di PT pendidikan di Jakarta dan jelas hidupnya pas-pasan sekali dengan kekakuannya dalam memperlakukan isterinya.

Johan bisa masuk keluarga itu gara-gara anak yang kedua Nurul dirawat di rumah sakit karena sakit ostereoporosis, Johan menolongnya karena pertemanan dengan suaminya, walau sebelumnya tidak pernah menduga kalau Nurul yang pernah ditaksir saat di kampus dulu sebelum masing-masing masuk tarbiyah ternyata isteri temannya, tapi sayang Nurul menolaknya saat itu karena Johan belum tarbiyah.

jilbab bahenol (1)

Namun seringnya Johan bertemu tanpa sengaja jelas mencipratkan kembali cinta lamanya, padahal Johan awalnya sangat takut karena ini salah, tapi dorongan hebat terhadap kecantikan dan kelembutan Nurul membuatnya sesat, semakin didera hasrat untuk menyentuh, melihat dan membayangkan betapa perfect-nya, wanita itu dan Johan yakin lelaki manapun akan tertarik secara fisik teradap kecantikan yang disembunyikan dan pernah diharapkan bertahun-tahun dari wanita muda seperti Nurul.

Dan Nurul-pun tahu suaminya tidak memperlakukan dengan pantas karena ketidak tahuan, kalau wanita sealim manapun masih butuh sanjungan dan perhatian berupa hadiah-hadiah kecil dan Johan rajin memberikan hadiah-hadiah bagi Wanita itu saat ultah dan menolong Syamsul, suaminya dalam bisnis dibidang percetakan, apalagi Johan-pun rajin mendekati dua anaknya tanpa sepengatahuan nurul..sehingga Johan punya kesempatan untuk bertemu dengan Nurul atau curi-curi pandang Nurul dan suatu waktu memergokinya, dia memalingkan wajahnya dengan senyum malu-malu. Dari situlah Johan meyakini kalau Nurul-pun mengetahui perasaanya yang salah dan tak pantas.
”Seharusnya akhi tidak datang disaat suamiku tidak ada dirumah?”tegurnya ketika lelaki itu datang tiba-tiba disaat suaminya tidak ada.

”Aku kebetulan saja kangen pada anak-anak jadi aku lewat, dikiranya syamsul ada, afwan ana tak sengaja”, kata lelaki tinggi besar dan berjanggut tipis sambil berdiri mematung dan anak-anak berhamburan memeluknya dan lelaki itupun bermain dengan dua anaknya Nurul yang lucu.
Dari balik bibir pintu dapur Nurul melihat kemesraan lelaki yang dulu pernah menaksirnya dan ditolaknya karena masih belum tarbiyah dan ternyata sekarang malah begitu dekat dengan anak-anaknya. Johan begitu pintar mendekatinya melalui anak-anak jelas sulit dilarang, walau kekawatiran itu semakin mengganggunya. Debaran jantung saat lelaki itu hadir dalam tidurnya atau senyum lembut dan sorot mata penuh cinta, berbeda dengan sikap kaku suaminya yang sedikitpun belum pernah menyanjungnya ataupun mengingat ulang tahunnya walaupun dilarang, tapi dia butuh perhatian dan lelaki itulah yang beberapa bulan terakhir ini yang memberikan perhatian lebih.sebuah dilema antara rasa kewanitaannya yang butuh perhatian dan ketakutan akan larangan affair..

jilbab bahenol (2)

Johan terus hadir menganggunya, secara halus benih itupun tumbuh, johan seolah tahu kalau dirinya diintip dari balik pintu dapur dan senyum itupun mendorongnya m*****kah ketika dia tiba-tiba kedapur, ”Dug”, dua tubuh bertabrakan dan wanita tubuh berjilbab ungu dan terusan bunga crisan kecil warna sepadan.
”Afwan ana tak tak tahu kalau ukhti sedang dipintu..” katanya dengan lembut ketika bahu mereka bersentuhan dan tercium keharuman masing-masing..
”Tak apa, aku kebetulan mau lihat anak-anak..”, jawabnya menghindar dari sentuhan Johan yang diluar dugaanya malah menujunya dan menjauhinya dengan gugup. Johan melihat tubuh yang tanpak lebih ramping dan berisi walalu sudah punya anak dua, Nurul nampak masih cantik bahkan lebih terlihat aura kecantikannya.
”Aku tetap menunggu sampai kapanpun, Nur, Aku sulit untuk tidak mencintaimu..”kata Johan terbata-bata ketika Nurul kebelakang dan mematung tak sepatah katapun dibalasnya karena takut dan bingung. ”Akupun tahu perasaan ini salah, tapi perasaan cinta itu hanya sekali dalam hidup”
”Tak seharusnya begitu Jo, tapi akupun takut ini akan menggangu hidupku, aku punya suami dan dua anak yang jelas sangat membutuhkan lindungan..”
”Aku tahu, kamu sebenarnya tidak pernah mencintai Syamsul dan tidak pernah tahu cara mencintaimu..”, kata Johan lancang sambil tiba-tiba tangannya mendekatinya dengan debaran jantung yang bertalu-talu.
”Ja..jangan, Jo. Jangan menjerumuskanku dalam kesulitan lebih baik menjauh dan biarkan masa lalu itu tertutup oleh takdir, maafkan aku..”
”Yah, aku faham..tapi maafkan sikap sesatku, aku bukan ikhwan sejati seperti yang lainnya yang bisa menahan diri..”kata Johan menyentuh bahu Nurul. Dan merengkuhnya dengan lembut.
”Please, jangan akhi..ini jinah dan janganlah mengalahkan akal kita..”, suara bergetar Nurul mengingatkannya, tapi mata itu terpejam merasakan tangan kekar berbulu Johan menyentuh pinggang rampingnya dan menyusup kain belakakang panggulnya.
”Ayolah Nur, Syamsul tidak pernah memperlakukanmu seperti ini..” kata-katanya semakin terbata-bata dan maracau menahan gairah yang cukup lama terpendam, lupa kalau wanita berjilbab itu isteri sahabatnya sendiri, semuanya gelap gulita..

ketika sentuhan itupun bukan sekedar pelukan saja, tapi jemari lelaki itu menjamah buah panggulnya dari bawah sehingga Nurul merasakan jemari itu meremas-remas pantatnya, sementara jemari lainnya merab-raba dadanya yang masih tertutupi jilbab, tapi remasan johan begitu kuat, dibawah semakin kuat buah panggul Nurul yang bulat dan masih sintal dalam remasan Johan dan menekan-nekan panggulnya sehingga batang keras itu terasa menyentuh vaginanya.
”Umi..!!!Amma!!!!dimana, aku takut?”, terdengar teriakan Jeihan anak pertama Nurul mengagetkan keduanya dan akhirnya terlepas pelukan itu dengan nafas terengah-engah, dibalik pintu lelaki kecil menatap ibunya dengan aneh.
Nurul cepat memangkunya dan masuk kekamar. Sementara Johan kembali kedepan lalu minta ijin keluar, tapi kejadian itu sangat mengagetkannya. Johan tidak pernah datang lagi sempat syamsul menanyakannya, tapi johan berdalih kesibukan di percetakannya.
Bagi nurul kejadian itu lain, sangat membekas sekali dia merasakan gairah dan kenikmatan ketika tangan itu meremas-remas panggulnya walau masih dalam gamis tapi itu membuatnya melayang bahkan dia merasakaan batang keras lelaki menusuk-nusuk lobang kemaluannya dan tubuhnya lemas..
Seminggu berikutnya Ada SMS :
”Ana menyesal atas kejadian itu, Nur. Maafkan aku telah merusak kesetiaanmu pada Akh Syamsul..tapi ana merasa tenang kalau antum merasakan perasaan cinta itu, wallau itu terlarang..”
”Akhi, anapun ikut bersalah..merasakan itu…”, balasnya dengan tiba-tiba dan ada rasa bersalah karena terbawa oleh emosi cinta yang belum pernah dirasakan setelah tiga tahun menikah dengan suaminya.

Dalam pertemuan taskif itulah untuk terakhir kalinya Johan bertemu dan melihat Nurul, semakin cantik dan senyum manis menebar rahasia disaat johan mencuri-curi pandang ketika bertemu suaminya. Ada rasa rindu yang luar biasa tertahan antara rasa takut dan naluri manusiawinya dan rasa tertarik terhadap wanita itu..Karena tak tahan merasa rindu itulah tiba-tiba Nurul datang bertemu isterinya dengan membawa anak dan Johan merasakan penderitaan itu, hujan deras menahan Nurul untuk meninggalkan rumah Johan, apalagi isteri Johan-pun melarang pergi, tapi Nurul berseteguh karena ijinnya hanya hari itu harus pulang, akhirnya johan mengantarkannnya sampai tempat taksi sambil memangku anak keduanya, tapi SMS dari suaminya menenangkannya, ”saat ini ana masih liqoan, agak telat pulangnya”

jilbab bahenol (3)
Johan sempat minum teh dan hujan semakin keras.Johan kebelakang melihat Nurul keluar dari kamar anaknya dan wajahnya nampak gugup,.”Antum secepatnya pergi, Syam sebentar lagi pulang..”
”Iyah, gimana anak itu sudah tidur?”tanyanya mengalihkan wajahnya yang tanpa sengaja menatap baju gamis yang basah kuyup sehingga dada wanita itu tercetak indah, Nurul cepat menutup dadanya sambil menunduk malu. ”Sudah, sebaiknya antum cepat pulang…?”
”Nur, kamu sedikitpun tidak merasakan itu..”, kata Johan sambil tiba-tiba merangkulnya dan Nurul tak sempat mengelak dari cumbuan ke bibirnya, bibir lelaki itu mengulum penuh nafsu. Ciuman yang belum dirasakan sebelumnya, bukan sebuah formalitas yang dingin tidak ada gairah dan kehangatan, tapi ciuman lelaki itu sangat panas melenakannya. Kerudungnya kusut masai, sisa rambutnya keluar. Wajah johan menyusuri pipi dan lehernya berulang-ulang terus turun kedadanya dengan yang masih berbalut gamis basah…tapi dengan spontan wajah Johan didorongnya. Johan menatap pipi kemerahan Nurul tampak begitu cantik, bibirnya merah basah dengan kulit memucat, begitu juga wajah johan yang klimis tanpa janggot, begitu tanpan dan bibirnya begitu lembut menyentuhnya, ada getaran aneh yang mendorong bibirnya pasrah ketika Johan kembali mendorong wajhnya dalam luapan ciuman lelaki yang bukan muhrimnya

Nurul merasakan tangan Johan meremas-remas dadanya itu, menyusup ke balik jilbab yang dikenakannya lantas membuka kancing-kancing jubah yang dikenakannya di bagian dada, kemudian tangan itupun menyusup ke balik jubah yang dipakai wanita berjilbab ini pada bagian dada. Baju gamis itu dikuakan oleh tangan kekar itu…mata johan terbelalak melihat dada montok dan sintal milik wanita impiannya itu ternyata jauh lebih indah dalam balutan bra wacoal warna krem.
”Jangan, Jo..jangan lakukan..”, ungkapnya melerai walau bahasa tubuh Nurul mengejang tak karuan ketika wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan Johan merayap di balik BH wacoal yang dikenakannya, lantas meremas-remas kedua payudaranya secara bergantian.Nurul semakin menggelinjang saat wanita cantik ini merasakan puting susu yang biasa dihisap kedua anaknya, kali ini dipelintir pelan oleh jari-jari tangan Johan,wanita ini merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.bibir itu menyentuh dan melumat dan mengunyah daging dadanya dengan gigitan gemes dan disertai rintihan tanpa sadar.. wanita berjilbab nyaris histeris menahan nikmat ketika bibir liang kemaluannyapun tak luput diusap pelan oleh jemari tangan Johan setelah menyibakan tepian gamisnya.
Sekian lama daerah tersebut tak tersentuh tangan laki-laki termasuk Syamsulpun tidak pernah melakukannya,namun kini diusap oleh tangan laki-laki yang bukan suaminya.Rasa birahi ternyata telah membutakan kenyataan bahwa tangan laki-laki yang tengah menyentuh kemaluannya bukanlah suaminya..justru Nurul mulai menggelinjang saat jemari tangan Johan mengelus-elus perlahan bibir kemaluannya beberapa saat lantas wanita berjilbab ini merasakan bibir kemaluannya itu dibukanya dan jemari tangan Johan pun segera melesak ke dalam liang kemaluan yang telah mengeluarkan dua orang anak..Tubuh Nurul gemetaran dan mulutnya mendesah saat kemudian kelentit dalam kemaluannya disentuh oleh jemari tangan Johan lantas dipilinnya lembut membuat wanita berjilbab lebar ini nyaris terlonjak dari tempat duduknya..
“Aihhhh…eungghhhh….” Nurul mengerang dengan mata mendelik, ketika beberapa saat kemudian sesuatu yang besar, panjang dan panas mulai menusuk kemaluannya melalui belakang. Tubuh wanita berjilbab ini mengejang ketika menyadari kemaluannya tengah dimasuki penis Johan dan Nurul hanya bisa pasrah.Hingga sekejap kemudian Nurul merasakan batang penis Johan yang jauh lebih besar dan panjang di banding milik suaminya, telah bersarang di liang kemaluannya hingga menyentuh rahimnya.Tubuh Nurul hanya mampu menggelinjang ketika Johan mulai menggerakan penis dalam jepitan kemaluannya
“Mmmfff…oh, Nur ….nnghhh…” kata Johan di belakangnya sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah.Nurul dapat merasakan penis Johan yang kini tengah menusuk-nusuk liang kemaluannya, jauh lebih besar dan panjang dibanding penis suaminya.
Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Nurul lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita yang alim ini menggigit bibirnya.

jilbab bahenol (4)
Nurul tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi
tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik jubahnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka…
“Ayo Nur….ahhhh…jangan bohongi dirimu sendiri…nikmati…ahh….nikmati….” Johan itu terus memaju mundurkan penisnya yang terjepit vagina wanita muda yang alim ini. Nurul menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa sakit dan malu. Tapi ia tak mampu. Nurul mendesah dan mengerang dengan tubuh menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab ini menjerit saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang baru pertama kali ditemuinya walaupun 6 tahun dia telah menjalani pernikahan dengan mas Syamsul.
Tubuh Nurul langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya s*****kah lagi sampai ke puncak. Terus mengaduk vaginanya dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan penisnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini.Kedua tangannya mencengkeram payudara Nurul yang padat dan montok dengan kuat.
Nurul yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam vaginanya disembur cairan hangat mani dari penis Johan yang terasa banyak membanjiri liang vaginanya.
Nurul kembali merintih, mirip suara anak kucing, saat perlahan
Johan menarik keluar penisnya yang lunglai. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita berjilbab. Nurul terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.
“maafkan ana atas kehilapan ini, Nur !!” kata Johan dengan tekanan keras sambil membenahi celanannya.
Nurul diam saja, harga dirinya sebagai seorang istri hancur, namun tak urung matanya sempat mengamati penis Johan yang sebelum laki-laki ini merapikan celananya. Ada rasa takjub pada diri Nurul melihat ukuran penis teman suaminya tersebut, walaupun tidak sedang dalam keadaan tegang. Johan tidak menyadari kalau penisnya tengah diamati oleh wanita yang telah lama dicintainya, hingga setelah merapikan celananya laki-laki ini buru-buru keluar dari dapur dengan gugup.

jilbab bahenol (5)
Nurul itu baru merapikan pakaiannya yang awut-awutan ketika, ketika dilihatnya Johan telah pergi dari dapur dan beberapa saat kemudian tanpa berpamitan, terdengar suara mobil Johan berlalu meninggalkan halaman rumahnya.
Nurul terisak menyesali kejadian itu, namun dia juga merasa malu betapa dia ikut menikmati ketika Johan menyetubuhinya, namun wanita berjilbab ini buru-buru menghapus air matanya ketika didengarnya ketukan pintu suaminya.

FITRI

Pada suatu pagi, sekitar pukul setengah delapan aku sedang nongkrong di warnet langgananku. Sengaja aku nongkrong disitu karena sering ada gadis2 cantik yang browsing di warnet itu, aku seorang hunter yang hebat tentu saja tidak mau melewatkan calon mangsa yang banyak itu hehe.
Ketika sedang ada di depan, ngobrol dengan OP yang juga sama mesumnya, tiba2 ada seorang wanita muda yang memakai baju ketat oranye dengan logo perusahaan madu terkenal dengan jilbab ketat yang dililitkan ke leher dam masuk ke balik kerah bajunya. Kutaksir usia wanita itu sekitar 28-30an tahun. Wah, montok juga nih, pantatnya yang memakai jenas ketat Nampak sangat bahenol. Segera aku bertanya nomor bilik warnetnya kepada si OP mesum, lalu aku message lewat bilik yang sudah biasa aku pakai.
“hai” tulisku. “kenalan dunk”
“siapa ini ya?” kata dia.
“boleh kenalan gak.. aku yang tadi duduk diluar..” kataku lagi.
“oh, boleh..” jawabnya.
“namaku wawan, kamu?”

jilbab bohay-anita (1)
“aku Fitri.”
Akhirnya percakapan melalui message warnet itu berlanjut, sampai ketika dia keluar bilik warnet, aku langusng kenalan langsung dan ngajak dia makan pagi, tapi dia sudah akan beranjak pulang.
“kalo gitu aku antar deh, boleh gak mbak? “ kataku. “tapi ada yang marah gak nih..”
Dengan berusaha sedemikian hebat, akhirnya dia mau kuantar. Selama di mobil, akhirnya aku tahu kalau dia adalah seorang janda muda yang bercerai dengan suaminya. Sekarang usia wanita montok berjilbab ketat ini 30 tahun, dan mempunyai anak 1 yang duduk di TK nol kecil.
“aku tunggu deh, kamu nanti mau jemput anakmu kan? Aku temenin..” kataku sesampainya dirumah petak kontrakan wanita cantik montok itu. Dia mengangguk sambil tersenyum dan mempersilahkan aku masuk.
Sampai didalam, segera dia membuatkan aku minuman dingin dan akhirnya kami ngobrol lagi. Lama kelamaan, obrolan kami semakin mendalam, sambil aku sedikit demi sedikit mendekati tubuh montoknya. Pada sebuah kesempatan, ketika dia kukira sudah tidak akan melawan, segera kuraih tangannya, Mbak Fitri tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyentuh selakanganku. wanita berjilbab ketat itu terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, aku segera membuka celana jeansku dan memperlihtakan penisku yang sudah tegak. Segera kusorongkan kedepan wajahnya yang masih terbalut jilbab ketat. Pelan2 dia menyentuh kejantananku serta meremas-remasnya.
“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku sengaja kukeraskan, agar mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu berjongkok, serta melumat kepala kontolku.
“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” janda montok berjilbab ketat itu sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

jilbab bohay-anita (2)
Dengan semangat, SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulut janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.
Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.
“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”
Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulut wanita berjilbab ketat itu , sampai membasai dagu dan mengalir ke jilbabnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Mbak Fitri berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.
Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Mbak Fitri tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidah janda montok berjilbab ketat itu terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Mbak Fitri melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya, kecuali jilbab ketatnya karena itu semakin membuat gairahku naik.. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudara ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu yang semakin bengkak.
“Ohh.. Teruss Wan.. Teruss..” desah SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu .
Kuhisap-hisap pentil wanita berjilbab ketat itu yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulut janda montok berjilbab ketat itu . Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan paha janda montok jablay yang berjilbab ketat itu . Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.
Dengan penuh nafsu, aku menciumi memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.
“Oh.. teruss.. Wan.. Aduhh.. Nikmat..”

jilbab bohay-anita (3)
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu seperti ular cobra.
“Wan.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”
Desis kenikmatan yang keluar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu , semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.
“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakan wanita berjilbab ketat itu semakin merintih.
Tiba-tiba wanita berjilbab ketat itu menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.
“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”
Ternyata Mbak Fitri mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang janda montok berjilbab ketat itu lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu . Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.
Mbak Fitri masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..
“Oh.. enakk..”
Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Mbak Fitri.
“Oh.. Mbak Fitri.. sayang.. enakk.”
Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Mbak Fitri yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Wan.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”
Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Mbak Fitri.. Lalu janda montok jablay yang berjilbab ketat itu meminta agar aku berada di bawah.
“Kamu di bawah ya, sayang..” bisik SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu penuh nikmat.
Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Mbak Fitri dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.
“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu .

jilbab bohay-anita (4)
“Oh.. Mbak Fitri.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.
Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggul wanita berjilbab ketat itu semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.
“Wawani.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”
Ternyata Mbak Fitri telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.
Kemudian aku membalikkan tubuh Mbak Fitri, sehingga posisi ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.
“Oh.. Mbak Fitri.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”
Crott.. Crott.. Tttcrott.
Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Mbak Fitri.
“Oh.. Wan.. kau begitu perkasa.”
Telah lama aku menantikan hal ini. Ujar SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Mbak Fitri memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.
Kemudian, tanpa kukomando, Mbak Fitri berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian janda montok berjilbab ketat itu meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Mbak Fitri terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanan janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.
“Ohh.. Mbak Fitri.. Geli..” desahku lirih.
Namun Mbak Fitri tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina Mbak Fitri membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
“Oh.. Wan.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.
Mbak Fitri menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.
“Oh.. Terus.. Sss.” desah janda montok berjilbab ketat itu sembari kepalanya berdiri tegak.
Kini mememeknya memenuhi mulutku. wanita berjilbab ketat itu menggerak-gerakkan pinggulnya.
“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vagina wanita berjilbab ketat itu .
“Wan.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”

jilbab bohay-anita (5)
SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Mbak Fitri merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.
Mbak Fitri terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
“Oh.. Mbak Fitri.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Mbak Fitri terus mempercepat gerakan kepalanya.
“Au.. Mbak Fitri.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”
Croott.. Croott.. Croot..
Maniku tumpah ke dalam mulut janda montok berjilbab ketat itu . Sementara Mbak Fitri seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.
“Terimakasih sayang..” ucapku..
Aku merasa puas.. ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu mengecup bibirku. akhirnya karena kelelahan kami tertidur pulas.

CHIKA

Hai bozz, jumpa lagi dengan Wawan, sang hunter hebat. Kali ini aku berkenalan dengan sopasang suami istri di sebuah restoran di kota ******. Awalnya adalah karena aku melihat sosok sang istri. Wah, wanita ini cantik sekali!! Apalagi kulihat dia juga lagi hamil muda, wah pasti memeknya legit sekali.

Akhirnya, setelah 3 kali bertandang kerumahnya (aku mengaku ingin belajar bisnis dari suaminya yang pebisnis sparepart motor), aku berhasil akrab dengan suaminya. Pada kunjungan yang keempatku, aku tepatkan ketika sang suami, anwar, sedang diluar kota. Tentu saja aku sudah meneleponnya untuk memastikan .sang istri, Mbak Chika yang cantik dan berkulit putih serta berjilbab lebar itu pasti dirumah karena berprofesi menjadi guru SD.
“wah, maaf dik, mas anwar sedang keluar kota tuh?” jawab Mbak Chika ketika aku bertandang.
“aduh.. saya kira sudah pulang..” jawabku bersandiwara. “maaf Mbak Chika, walaupun asaya tahu kalo pak anwar gak ada dirumah, saya boleh menumpang istirahat sebentar? Saya baru saja dari luar kota juga, langsung kesini.. “ kataku beralasan lagi. Dengan sedikit bingung, akhirnya Mbak Chika yang saat itu mengenakan gamis merah kotak2 dan jilbab hitam mempersilahkanku masuk dan duduk diruang depan.

jilbaber minta dientot (1)

Setelah beberapa saat, aku sendirian di ruang itu. Mbak Chika ada didalam rumah, sehingga aku penasaran apa yang dilakukannya. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip. Saat di depan pintu dalam, samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Chika sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang gamisnya tersibak sampai pinggang, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya yang masih tertutup gamis dan jilbab bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya yang cantik dan putih kelihatan memerah dengan mata terpejam.

“Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar wanita muda berjilbab cantik itu menyebut namaku, “Ouhhh Dik Wawaaaannhh.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Chika, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Wanita muda berjilbab cantik itu tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

jilbaber minta dientot (4)

“Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup.
“Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi wanita muda berjilbab cantik itu terus menghindar.
“Ingat Dik, saya sudah bersuami dan lagi hamil,” Dia terus menghiba.
“Mbak, sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!”
“Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus.
Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik wanita muda berjilbab cantik itu dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya yang masih memakai jilbab dan gamis yang telah tersingkap, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal.
“Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya.

Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya yang sudah tak tertutup apapun, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya wanita muda berjilbab cantik itu mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Chika semakin liar, wanita muda berjilbab cantik itu mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini wanita muda berjilbab cantik itu mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu tanganku kujulurkan kebelakang membuka retsleting gamisnya dan menarik turun gamisny, lalu merenggut lepas BHnya. Langsung kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “aahh.. ahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang.

jilbaber minta dientot (2)

Kemudian aku bangun, kulebarkan kaki ibu berjilbab yang masih memakai gamisnya itu dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Chika. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Chika. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar. Seksi sekali, seorang wanita muda berjilbab lebar, dengan gamis masih terpakai, digagahi terlentang pasrah oleh orang yang bukan suaminya.
“Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Wanita muda berjilbab cantik itu menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Chika mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya wanita muda berjilbab cantik itu menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku wanita muda berjilbab cantik itu saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi wanita muda berjilbab cantik itu sedang hamil.

“Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Wanita muda berjilbab cantik itu menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Wanita muda berjilbab cantik itu mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Wanita muda berjilbab cantik itu kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Chika menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Wanita muda berjilbab cantik itu semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku yang satu menjambak rambut dan jilbabnya, semntara yang lain menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata wanita muda berjilbab cantik itu juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi, membasahi gamisnya dan kasur yang ia gunakan tidur bersama suaminya.

jilbaber minta dientot (3)

Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Chika dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku.
Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu sebelum suami Mbak Chika pulang dari luar kota, aku tidak keluar rumah, menikmati tubuh montok Mbak Chika yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumah Mbak Chika dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli wanita muda berjilbab cantik itu sepuasnya. Tentu saja kuminta dia untuk berdandan cantik dan memakai jilbab lebar agar semakin seksi

AMELIA

Sebelum aku mulai cerita ini, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Iwan dan Aku adalah seorang pegawai negeri yang ditempatkan disebuah kota di Jawa Barat sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku merasa nyaman kerja di kota ini, karena teman-teman sekantorku orangnya ramah-ramah dan mengayomi bagi para pegawai muda yang masih mentah dalam pengalaman kerja Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan kerjaku yang tanpa pamrih membimbingku dalam berbagai hal.
Diantara rekan-rekan kerjaku ini, ada seorang wanita yang cantik keibuan dan umurnya 8 tahun diatasku. Namanya Amelia. Pada saat pertama kali aku bertemu dengannya dia belum menunaikan ibadah haji dan belum mengenakan jilbab, sehingga aku bisa melihat putih dan mulusnya kulit betis sebagian pahanya pada saat dia duduk. Tapi yang membuat aku tertarik padanya adalah banyaknya bulu-bulu yang tumbuh di betis dan lengannya yang membuat dirinya semakin seksi dimataku. Karena dalam imajinasiku jika seorang wanita mempunyai bulu-bulu yang lebat di betis dan lengan, terbayang olehku pastilah dia akan sangat menggairahkan dan mampu memberikan kenikmatan pada lelaki di tempat tidur. Maka aku selalu membayangkan dan menghayalkan betapa nikmatnya bila aku dapat menggaulinya. Obsesiku untuk dapat menggaulinya tidak pernah hilang, walaupun aku telah menikah dua tahun setelah aku bekerja. Dan dia selalu ada dalam hayalanku pada saat aku dan istriku sedang melakukan hubungan suami istri.

susu montok-selvie (1)
Tapi sebagai yunior, tentu saja aku tidak berani macam-macam padanya. Apalagi dia adalah seorang istri pejabat Pemda di daerahku. Oh ya, Dia sudah menikah selama 10 tahun dan baru dikaruniai putra berumur 2 tahun. Rupanya rumah tangganya termasuk yang cukup lama untuk mendapatkan momongan. Dari rekan-rekanku, kuketahui bahwa pada awal pernikahan mereka, suaminya pernah mendapat masalah dalam urusan vitalitas, itulah sebabnya dia lambat mendapatkan momongan. Disamping itu kuketahui pula bahwa perbedaan usia antara dirinya dan suaminya cukup jauh, yaitu sekitar 15 tahun.
Aku sering mendekatinya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul, orangnya enak diajak ngobrol, ramah pada setiap orang. Itulah sebabnya rekan-rekan lelaki ditempat kerjaku senang menggodanya, dan dia tidak marah jika godaan-godaan itu tidak terlalu bersifat pelecehan. Namun aku tidak pernah menggodanya, karena selain usiaku jauh lebih muda darinya, aku tidak ingin ia menganggapku macam-macam. Aku selalu bertindak sebagai seorang yunior yang memerlukan petunjuk dari seniornya sehingga aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia merasa bahwa aku sangat menghormati dan mengaguminya.
Lima tahun setelah aku bekerja, dia menunaikan ibadah haji dengan suaminya dan sejak saat itu dia selalu mengenakan jilbab untuk menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun jilbab yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya, dan bahkan membuat dirinya semakin cantik dan keibuan, ditambah lagi dengan gaun dan jilbab yang ia kenakan selalu serasi dengan model-model yang gaul. Sehingga dia semakin menjadi objek hayalanku pada saat aku sedangkan melakukan hubungan suami istri dengan istriku.
Aku selalu konsisten menjaga sikapku dihadapannya, karena tidak ingin dia benci atau menjauh dariku. Maka dengan sabar aku selalu menjaga kedekatanku dengan dirinya sehingga aku dapat menikmati kecantikan, keanggunan dan keseksian tubuhnya dari dekat.
Kesabaranku itu kujalani hingga saat ini setelah 10 tahun mengenalnya dan dia merasa aku sebagai sahabat baik dan sekaligus bagaikan adik baginya, sehingga tidak segan-segan menceritakan berbagai masalah dengan diriku, bahkan meminta bantuanku untuk hal-hal yang tak dapat dia kerjakan. Bahkan kami sering duduk berdampingan dalam mengerjakan sesuatu sehingga aku bisa merasakan lembutnya buah dadanya yang montok. Dan pernah aku menggeser-geserkan bahuku yang menempel dengan buah dadanya, tapi dia hanya berkomentar “jangan nakal ach…, Wan !” sambil tersenyum dan tidak ada nada marah sama sekali. Sehingga hal itu sering aku lakukan bila kami duduk berdampingan pada saat mengerjakan sesuatu
Pada suatu hari ia datang padaku dan mengkonsultasikan laptop miliknya yang terasa lambat dan juga minta diajari bagaimana caranya mengkoneksikan laptop dengan internet. Setelah kuperiksa, ternyata banyak virus yang mengerogoti sistem di laptopnya sehingga mengakibatkan kinerja laptopnya menjadi terganggu. Dan aku bilang untuk membersihkan semua virus di laptopnya diperlukan waktu yang cukup lama, sedangkan agar bisa dikoneksikan ke internet, harus ada jalur telepon. Lalu dia menyarankan agar untuk menangani laptopnya dikerjakan di rumah kost miliknya yang ada di dekat kantor kami. Rumah kost itu terdiri dari 10 kamar dan diisi oleh para pelajar yang bersekolah di sekitar daerah itu. Dan aku menyanggupinya.
Sepulang dari kantor, aku dan dia menuju rumah kost miliknya dan kebetulan, hari itu adalah hari sabtu, sehingga semua penghuni kost pada pulang ke kampungnya masing-masing dan rumah kost tersebut kosong. Begitu tiba di sana, dia langsung membawaku ke ruang tamu dan aku mulai melakukan pembersihan virus dengan software yang aku bawa.
Sambil menunggu anti virus bekerja, kami ngobrol berbagai hal diselingi dengan minum dan makan camilan yang ia sediakan. Dari obrolan itu kuketahui, bahwa setiap malam minggu dia suka tidur di rumah kost ini pada saat para penghuni kost pulang ke kampung halamannya masing-masing. Oleh sebab itu di rumah ini ada kamar khusus untuk dirinya. Aku merasa heran, apakah suaminya tidak apa-apa ditinggal tidur sendiri di rumah sementara dia menunggu di rumah kost. Dia menjawab tidak ada masalah dengan hal itu, bahkan katanya di rumah pun dia jarang tidur sekamar dengan suaminya. Karena sejak suaminya pensiun, suaminya lebih sering ingin tidur sendiri. Aku heran dengan kenyataan ini, kenapa ada rumah tangga seperti ini, tapi aku mau bertanya lebih lanjut, takut dia merasa aku akan semakin jauh mengetahui privasi rumah tangganya.

susu montok-selvie (2)
Hari semakin gelap, tetapi anti virus masih bekerja, karena banyak sekali virus yang menyerang laptopnya dan kami terus melanjutkan obrolan. Tanpa disadari atau seolah-olah tanpa disadari, kami telah duduk berdampingan di ruang tamu yang sepi ini. Sambil mengobrolkan hal-hal yang bersifat pribadi. Perlahan-lahan aku mulai terangsang terhadapnya, tapi aku masih merasa takut untuk memulainya, walaupun bisikan-bisikan di kepalaku mengatakan bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mewujudkan obsesi yang selama ini ada dalam khayalanku.
Akhirnya dengan hati-hati aku berkata padanya “Apakah, bapak tidak sayang meninggalkan ibu tidur sendiri ? Uhh… kalau saya jadi bapak, tidak akan saya biarkan ibu tidur sendiri satu malampun. Sayang dong…., membiarkan tubuh seksi dan cantik seperti ibu ini sendirian….. mubazir ”
“Ach… Iwan bisa aja ! Masak sih… tubuh peot dan wajah keriput ini disebut seksi dan cantik ?” katanya tersenyum dan tampaklah ekspresi kebanggaan diwajahnya mendengar pujianku. Dan aku merasa gembira karena dia tidak marah dengan ucapanku.
Dan kembali aku lanjutkan rayuanku “ bener lho, Bu! Saya ‘ngga bohong… , Di mata saya ibu adalah wanita yang paling cantik dan seksi di kantor kita..!”
“Udah ach… , jangan dilanjutkan rayuannya nanti saya bisa terbang… !” jawabnya samibil tersenyum semakin tersanjung.
“Ngomong-ngomong… , Bu..! Boleh ‘nggak saya minta sesuatu, nggak macam-macam kok, swear !” kataku
“Minta apaan sich.. ? kalau nggak macam-macam akan saya penuhi ! “ katanya
“Sebelumnya maaf ya, bu ! Boleh ngga saya membelai bulu kaki yang ada di betis dan bulu tangan yang ada di lengan ibu yang dulu sering saya lihat. Saya benar-benar terobsesi dengan bulu-bulu yang dimiliki ibu ?” kataku memberanikan diri.
Dia memandangku heran “Kok, Iwan tahu kalau saya memiliki bulu di kaki dan lengan…? Rupanya Iwan sering ngintipin ibu ya ?” Katanya menggodaku.
Aku tergagap mendapat godaannya “Ti…tidak bu…, saya tidak pernah ngintip.. khan dulu ibu ngga pake jilbab..” jawabku membela diri
“Apa sich.. istimewanya bulu-bulu itu ? saya justru merasa risih” katanya lagi
“Justru bagi saya hal itu sangat istimewa dan menggairahkan….., boleh kan bu, saya membelainya !”
“Ya.. dech …” Dia mengalah dan menyingsingkan ujung lengan bajunya hingga sebatas siku. Mataku terbelalak melihat putih dan mulusnya kulit lengan yang dihiasi dengan bulu-bulu lengan yang cukup panjang, aku semakin terangsang namun masih bisa mengendalikan diri. Dengan tangan gemetar aku membelai lengan halus tersebut. Darahku berdesir ketika tanganku mengusap dan membelai langan halus nan berbulu itu. Dari sudut mataku terlihat dia merasa bangga atas keterpanaanku pada kemulusan dan keindahan kulit lengannya. Aku tak tahu apakah dia merasakan desiran-desiran rangsangan pada saat telapak tanganku membelai lengannya.
Setelah puas membelai lengannya, kembali aku berkata “kakinya belum bu ? “. Namun dia menjawab tidak serius “udah ach…, cukup .”. Lalu rayuku lagi “Akh… Ibu, khan tadi saya mintanya lengan dan kaki !”
Lalu dengan gaya seperti yang terpaksa dia mengangkat rok panjangnya sebatas lutut sehingga terlihat betis indah yang putih mulus dihiasi oleh bulu-bulu yang cukup panjang dan merangsang. Kembali tanganku bergetar membelai betih indah tersebut, mataku terpejam dan darahku semakin berdesir memberikan rangsangan-rangsangan yang sangat kuat padaku. Cukup lama tanganku membelai dan mengusap betis indah milik Hj Amelia ini. Aku sangat menikmati apa yang kulakukan. Betis kiri dan kanannya secara bergantian aku belai dan usap, terlihat mata Hj. Amelia terpejam menikmati belai tanganku “Oh..mmmnn .. “ mulutnya berguman tidak jelas.
Melihat itu aku tak mau berhenti, tanganku terus membelai betis indah itu dan dengan sangat hati-hati arah belaian semakin ke atas di sekitar lutut . Mata Hj Amelia semakin rapat terpejam. Dengan hati-hati kedua betis Hj Amelia aku naikkan ke atas jok kursi panjang yang kami duduki dan aku duduk di lantai menghadap betis indah dan sebagian paha disekitar lutut yang terbuka”
Dengan suara bergetar dan suara yang sedikit memburu dia berkata “Kok jadi duduk dibawah ?”
“Ngga apa-apa bu, supaya lebih jelas “ jawabku beralasan ”Awas lho… jangan macam-macam !” ancamnya dengan nada yang tidak yakin.

susu montok-selvie (3)
Kembali tanganku melanjutkan belaian dan usapan pada betis berbulu yang merangsangku ini, tanganku dengan lembut membelai betis kiri dan kanan secara bergantian . Kembali matanya terpejam menikmati belaian tanganku pada betisnya. Kuberanikan diri untuk mencium lembut ujung kakinya. Matanya terbuka dan berkata “Kok..?” hanya kata itu yang keluar. Akhirnya kedua tangan dan bibirku membelai betis hingga lutut dan paha di sekitar lutut. Ciumanku dan tanganku semakin naik ke atas, ciumanku sudah mencapai lututnya dan kedua tanganku sudah membelai kedua pahanya. Dia semakin terlena, napasnya semakin memburu dan mulutnya semakin sering mengguman sesuatu yang tidak jelas. Sedangkan aku semakin terangsang penisku sudah mulai mengeras. Tapi aku masih berhati-hati agar dia tidak menghentikan usahku ini.
Tanganku semakin aktif membelai paha bagian bagian dalam dan mulutku menciumi lututnya yang kiri dan kanan secara bergantian. Duduknya sudah mulai gelisah, pinggulnya sudah bergoyang-goyang dan dari mulutnya sudah mulai memperdengarkan erangan-erangan nikmat dan terangsang. Ku hentikan gerakanku, matanya terbuka memandangku sayu, terlihat bahwa dia sudah sangat terangsang, kuberanikan diri wajahku mendekati wajahnya, dia memejamkan matanya kembali dengan mulut yang terbuka menantang, lagsung bibirku menciumi bibirnya yang seksi. Dia tidak marah, bahkan menyambut ciumanku dengan hangat dan sangat bergairah. Kami berciuman dengan sangat bergairah. Kedua tangannya meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan sangat panas, bibirnya menghisap-hisap bibirku dan lidahnya menari-nari dengan lidahku seperti seorang wanita yang sudah sangat lama tidak bermesraan, tentu saja aku semakin melayang nikmat dan bersemangat. Tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang montok, dia diam saja bahkan semakin bergairah dan mengerang nikmat. Tanganku mulai mencopoti kancing bajunya satu-persatu dan menyusupkan tangan kananku ke dadanya yang sudah terbuka, kemudian menarik cup bh-nya ke atas, sehingga kedua buah dadanya yang putih montok terbuka bebas. Tanganku langsung meremas buah dada montok itu yang kiri dan kanan.
Dia menghentikan ciumannya dan memegang tangan kananku, sambil memandang padaku dengan sayu. Aku terkejut, takut dia marah dan menghentikan usaha yang telah dengan sabar aku lalui. Namun dengan suara bergetar dan napas memburu dia berkata “Jangan disini Wan..! bahaya kalau ada tamu datang… Di kamar saya aja.., biar tenang!” Plong… dadaku terasa lapang, ketakutanku ternyata tidak terbukti. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu tamu dan menarik diriku menuju kamarnya.
Tak kuperhatikan lagi anti virus yang masih bekerja pada laptop. Dengan tergesa-gesa kami menuju kamarnya yang cukup luas. Begitu tiba di dalam kamar, dia langsung menutup pintu kamar dan menarikku ketempat tidur. Aku langsung menindihnya dan bibirku kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ciumannya kali ini semakin panas dan bergairah dan dia sudah tidak segan-segan lagi mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.
Tanganku kembali merayap ke buah dadanya yang masih terbuka dan meremas-remasnya dengan nikmat, Dia membantu mencopoti sisa kancing yang masih terkait sehingga semua kancing bajunya terlepas dan melepaskan kaitan tali bh-nya. Kemudian dia duduk dan melepaskan baju dan bh dari tubuhnya. Tampaklah dihadapanku tubuh seorang wanita matang yang masih mengenakan jilbab dan rok panjang, namun sudah tidak mengenakan baju dan bh.
Aku kembali menubruknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang diatas kasur, bibirku menciumi seluruh bagian buah dadanya baik bagian kiri maupun bagian kanan sedangkan tangan meremas-remas buahdada yang tidak aku ciumi. Aku begitu bernafsu menciumi buah dada Bu Hj Amelia ini. Walaupun dia sudah berumur, namun buah dadanya masih montok dan sekal, tidak mengelayut dan kendor. Kuhisap dan kujilati setiap mili bagian buah dada menggairahkan ini. Dan akhirnya bibirku dengan asyiknya menghisap dan menjilati putting susu yang tegak menantang. Dia semakin mengerang nikmat “Akhhhh… wan… euh … euh….!” Badannya bergelinjang-gelinjang menahan nikmat yang menderanya.
Setalah cukup lama bermain-main di buah dadanya, kedua tanganku berusaha melepaskan pengait rok panjang yang masih dikenakannya dan menariknya hingga lepas sekaligus dengan celana dalam nilon yang dia kenakan, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang semakin sayu, kembali mataku nanar melihat pemandangan merangsang yang ada dihadapanku. Sungguh luar biasa Bu Hj Amelia ini, walaupun sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya masih sangat sempurna, perutnya masih ramping tanpa ada timbunan lemak, paha masih padat dan mulus dan yang paling luar biasa adalah jembut yang menutup vaginanya demikian lebat dan hitam menutupi hampir seluruh bagian antara kedua paha hingga keatas mendekati pusat
Beberapa saat aku terpana menatap pemandangan indah ini, Dia bangun dan meraih bajuku sambil berkata “Buka bajunya Wan… , ngga fair dong…, saya udah telanjang sementara Iwan masih berpakaian lengkap..” Dengan bantuannya aku mencopoti bajuku yang sudah basah oleh keringat dan sekaligus aku membuka celana panjangku sekaligus dengan cd yang aku kenakan. Dia terpana memandang penisku yang tegak menjulang, Tangannya mendorong tubuhku hingga aku telentang , kemudian dengan gemetar tangannya meraih penisku dan mengocoknya dengan gemas, aku melayang nikmat merasakan kocokan tangannya pada penisku, kemudian bibirnya dengan lembut menciumi penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku. Aku semakin melayang.. “Ouhhh…. “ aku melenguh nikmat. Cukup lama lidah dan bibirnya bermain di kepala penisku membuat aku melayang-layang nikmat, kemudian mulutnya semakin terbuka lebar untuk memasukkan penis tegangku kedalam mulutnya sambil lidahnya terus-menerus menjilati kepala penisku. Mataku semakin terbeliak-beliak menahan nikmat “Ouh…ouh… aduhh….aduh… “ erangan nikmatku keluar tanpa dapat kucegah.

susu montok-selvie (4)
Dia begitu gemas dengan penis tegangku, bagaikan seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan penis yang tegang. Tanpa memperdulikan diriku yang terengah-engah menahan nikmat, mulut dan lidahnya terus menerus memberikan kenikmatan pada diriku. Aku tak tahan, ku geserkan kepalaku mendekati lututnya yang sedang menungging. Aku posisikan kepalaku diantara kedua lututnya yang terbuka, sehingga posisi kami menjadi posisi 69. Aku mulai menjilati jembut hitam yang menutupi vagina yang ada dihadapanku. Kedua tanganku membelai pantat montok, sementara lidahku terus mencari celah vagina yang tertutup jembut yang lebat, kusibakkan jembut lebat tersebut, terlihatlah vagina yang sudah sangat basah, lidahku terjulur menjilati celah vagina tersebut, badannya tergetar setiap kali lidahku menyentuh klentitnya. Aku semakin semangat menjilati dan menghisap vaginanya, dia semakin sering bergetar dan mengerang nikmat, sehingga mulutnya berhenti mempermainkan penisku. Aku tak peduli, lidah dan mulutku semakin lincah bermain di vaginanya, badannya semakin bergetar dan menekan-nekankan vaginanya dengan keras ke arah mulut dan hidungku sambil menjerit-jerit nikmat “Ouh.. ouh… ouh… euh…euh…”
Gerakannya semakin keras dan jeritannya semakin tak terkendali, hingga akhirnya pantatnya dia tekankan dengan keras ke arah mukaku hingga mulut dan hidungku tertekan vagina dengan sangat rapat sehingga aku sulit bernapas dan terdengar dia menjerit keras “Aaaakkkhhhh……..” kemudian terlihat olehku vaginana mengempot-ngempot dengan sangat keras.
Tak lama kemudian badannya ambruk menindih tubuhku. Beberapa saat kemudia dia menggulingkan tubuhnya hingga tidur telentang. Kubangunkan tubuhku dan memposisikan tubuhku agar tidur berdampingan. Kemudian matanya terbuka memandangku. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berkata “kalau Iwan percaya…, Sudah 4 tahun saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bukannya saya tidak ingin, tapi si bapak sudah tidak sanggup lagi. Sebagai wanita normal, tentu saja saya merasa sangat tersiksa denga keadaan ini…” Aku tidak mengomentari ucapannya, hanya dalam hati aku berkata pantas saja dia terlihat sangat gemas memandang penisku yang sangat tegang.
Karena aku belum apa-apa, maka badanku bangkit dan tanganku meremas-remas buah dadanya serta memilin-milin putting susunya yang perlahan-lahan mulai kembali tegak menjulang. Kembali badanku menindih tubuhnya dan bibirku mencium bibirnya, bibirnya menyambut bibirku dengan gairah yang kembali bangkit. Tangannya merayap ke arah penisku dan meremas-remas dengan gemas, kemudia berkata “Sekarang aja Wan! Saya sudah nggak tahan…”
Aku mengangkat pinggulku memberi jarak dengan selangkangannya, kemudian pahanya terbuka lebar dan tangannya menuntun penis tegangku agar tepat berada liang vaginanya. Dia sibakkan jembut lebat yang menghalangi liang vagina dengan kepala penisku, hingga akhirnya kepala penisku tepat berada di mulut liang vagina yang sangat basah. Kemudian kedua tangannya merengkuh pantatku dan menariknya.
Aku mengerti apa yang dia inginkan. Ku dorong pantatkudan Blessh…. Perlahan-lahan batang penisku menyusuri liang vagina hangat yang basah berlendir yang disertai kedutan-kedutan yang memijit batang penisku selama aku memasukinya. Jepitan dan kedutan vaginanya pada penisku memberikan sensasi nikmat yang luar biasa. Perjalanan masuk ini kulakukan perlahan-lahan, karena aku ingin menikmati setiap mili pergeseran antara batang penisku dan veginanya yang selama 10 tahun ini menjadi obsesi dan khayalanku. Aku tidak ingin obsesi yang menjadi kenyataan ini berlangsung cepat.
Setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya, kudiamkan sejenak untuk menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh vaginanya pada diriku. Kemudian kutarik secara perlahan hingga menyisakan ujung kepalanya dan kudorong kembali masuk hingga amblas. Gerakan ini terus kulakukan dengan sabar sambil menikmati deraan nikmat yang datang bertubi-tubi.
Nampaknya Bu Hj Amelia ini sudah tidak sabar, pantat terangkat setiap aku mendorong masuk, dan tangannya memberikan bantuan kecepatan pada pantatku agar aku melakukan dengan lebih cepat dan keras. Aku tidak terpengaruh dengan gerakan pantatnya yang semakin bergelinjang dan tangannya yang semakin menarik-narik keras pantatku agar bergerak lebih cepat. Aku hanya menambah sedikit kecepatan pada gerakan mengocokku.
Pinggulnya semakin bergelinjang, kepalanya terlempar ke kiri dan kanan sambil mulut yang kembali mengerang-ngerang nikmat “Auh…auh….euh… euh…..” Gelinjang tubuhnya semakin keras dan hebat. Berputar, kekiri kekanan dan ke atas ke bawah, hingga akhirnya gerakannya semakin tak beraturan, badannya terlonjak-lonjak, tangannya menarik punggungku hingga tubuhnya terangkat dan kepalanya terdongak dengan mata terbeliak dia menjerit keras “Aaaaaakkkhhhhhh……. “ kakinya terjulur kaku, tak lama kemudian badanya terhempas lemas dan tangannya terlepas dari punggungku dan jatuh ke samping tubuhnya. Kurasakan vagina berkontraksi sangat keras memijit-mijit dan menghisap-hisap penisku sehingga akupun terbeliak menahan sensasi nikmat yang teramat sangat.

susu besar-selvie (3)
Kubiarkan batang penisku amblas di dalam vaginanya menikmati sensasi orgasme yang kembali dialaminya. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan yang menahan di pinggir bahunya. Perlahan-lahan matanya terbuka dan berkata dengan napas tersengal-sengal menahan lelah “Makasih.. Wan.., barusan betul-betul nikmat…uuhhhh..” Aku hanya menjawab dengan mencium bibirnya dengan nafsu yang menggelora.
Dia menyambut lemah ciumanku. Dengan sabar aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya. Kuciumi lehernya dari balik jilbab yang masih dikenakannya namun telah basah oleh keringat, kujilati dadanya yang juga basah oleh keringat. Ketelusuri hingga ke bawah hingga akhirnya mulutku kembali memilin-milin putting susunya untuk membangkitkan gairahnya. Sambil perlahan-lahan kukocok penisku yang masih terbenam divaginanya yang semakin basah, namun tetap masih terasa sempit dan memijit-mijit.
Perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan ciumanna yang semakin hangat dan pinggulnya yang bergerak membalas setiap gerakan pinggulku. Makin lama gerakan pinggulnya semakin erotis dan bersemangat dan erangan nikmat kembali terdengar dari mulutnya.
Kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku yang masih tegang. Dia menatapku kecewa sambil berkata “Ada apa Wan? “. Aku tersenyum lalu berkata “Kita nungging bu!” Dia mengerti apa yang kuinginkan. Lalu dia bangun dan membuat posisi merangkak. Aku posisikan selangkanganku pada tengah-tengah pantatnya. Sebelum kumasukkan penisku, kembali aku terpana melihat keseksian tubuhnya dalam posisi menungging, kulit punggung yang begitu putih kekuning-kuningan, mengkilap oleh basahnya keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Hanya ada satu kata untuk mengomentari keadaan itu, yaitu “Sempurna..!” tanpa terasa bibirku berguman.
“Ada apa ..Wan..?” tanyanya padaku. Aku segera menjawab “Tubuh ibu betul-betul sempurna.”. Dia tidak menjawab mungkin dia merasa bangga dengan pujianku. Tangannya hanya menggapai-gapai meraih penisku untuk diarahkan vaginanya yang sudah menanti. Lalu kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan Bleshhhh……
Kembali penisku menyusuri liang vagina basah yang masih tetap sempit dan memijit-mijit. Pantatku memulai bergoyang maju mundur agar penisku mengocok-ngocok vaginanya. Tanganku meraih buah dadanya yang bergantungan bebas dan kuremas-remas dengan gemas untuk menambah sensasi nikmat yang kembali mendera sekujur tubuhku. Tubuhnya bereaksi dengan apa yang kulakukan, mulutnya mengerang nikmat “Auh… auh… euh …. Euh… “, dan pinggulnya bergerak-gerak semakin liar. Kudiamkan gerakan pinggulku, namun pinggul dan pantatnya menghentak-hentakkan selangkanganku sehingga penisku semakin dalam mengocok dan mengaduk-aduk vaginanya. Kepalanya tidak bisa diam menggeleng-geleng sambil mulut yang tak henti-hentinya mengerang nikmat.
Gerakan pinggul dan pantatnya semakin liar tak terkendali, jeritan nikmatnya semakin keras, dan kedutan dan pijatan vaginanya pada penisku semakin keras. Hingga akhirnya badannya kaku, tangannya mencengkram kasur dengan sangat keras dan menjerit “Aaaakkhhhh…..” kembali kepala terdongak dengan mata yang terbeliak. Setelah itu kembali kontraksi keras terjadi pada vaginanya yang memelintir dan menghisap-hisap penis membuat aku terbeliak-beliak menahan nikmat. Tak lama kemudian… BRUK.. badannya jatuh tertelungkup hingga penisku yang masih tegang lepas dari vaginanya.
Kubiarkan dia istirahat menikmati sensasi orgasme yang kembali menderanya. Lalu mendekati punggungnya yang basah, kubelaikan tangan kiriku dari punggung hingga pantatnya, dan kuremas-remas pantat seksi itu. Tangan kananku menyibakkan jilbab yang sudah sangat basah dan akhirnya kulepaskan jilbab itu. Bibir dan mulutku menciumi tengkuk dan lehernya yang putih mulus tiada kerut. Mulutku menyusuri tengkuk dan punggung sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya. Akhirnya gairahnya bangkit kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga telentang dan tangannya meraih tubuhku hingga menindih tubuhnya bibirnya mencium bibirku dengan ganas, kemudian tangannya mencari-cari penisku dan mengarahkan ke vaginanya.
Blesshh…. Untuk kesekian kalinya kembali penisku menjelajahi liangvagina yang semakin basah dan berdenyut. Aku menggerakkan pantatku untuk mengocok penisku di dalam vaginanya, dia menyambut dengan erangan dan gerakan pinggul yang bisa memelintir-melintir batang penisku dengan liarnya. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan gerakannyapun semakin cepat dan liar.

susu besar-selvie (2)
Lenguhan nikmatku dan erangan nikmatnya bersatu padu membangun suatu komposisi musik penuh gairah dan merangsang, semakin lama suara erangan dan lenguhan nikmat semakin riuh rendah. Hingga akhirnya pantatku bergerak sangat keras dan liar tak terkendali demikian pula gerakan pinggulnya. Gerakan kami sudah menjadi hentakan-hentakan nikmat yang keras dan liar. Hingga akhirnya aku merasa gelombang yang maha dahsyat keluar dari dalam diriku melalui penis yang semakin keras dan kaku dan akhirnya tanpa dapat kukendalikan tubuhku menegang kaku dan badanku melenting ke atas serta menjerit melepas nikmat yang tak tertahankan “Akhhh….” Dan secara bersamaanpun dia menjerit nikmat “Akhhhh… “ dengan badan yang kaku dan tangan yang mencengkram punggungku dengan sangat keras.
Tak lama kemudian, tubuh kami ambruk kelelahan seperti orang yang baru saja berlari cepat dalam jarak yang sangat jauh. Aku menggulingkan tubuhku agar tidak menindih tubuhnya. Dan kami telentang berdampingan sambil menikmati sensasi kenikmatan orgasme yang masih datang menghampiri kami.
Setelah beberapa menit kami terdiam menikmati sensasi orgasme dan napas yang perlahan-lahan mulai pulih, Dia memiringkan badannya menghadapku, sambil tangannya membelai-belai dadaku dia berkata “Wan… kamu memang luar biasa… Dulu saja waktu si Bapak masih sehat. Belum pernah saya merasakan sepuas ini dalam berhubungan badan. Sebagai lelaki kamu mampu bermain cukup lama dan memberikan beberapa kali orgasme pada pasangan kamu. Pantas saja, istrimu sangat sayang padamu..”
“Ahh… jangan begitu ach… Bu! Saya jadi malu…” Sahutku sambil merasa bangga dipuji seperti itu.
Setelah cukup lama beristirahat kembali kami berpakaian, dan aku terlebih dahulu ke ruang tamu untuk memeriksa laptop yang masih menyala. Ternyata laptop sudah lama mati, karena hampir 1,5 jam aku tinggalkan. Tak lama kemudian Bu Hj. Amelia menghampiriku dan duduk disampingku sambil menggelayut mesra dan bertanya “bagaimana Wan , beres ?”. “Belum saya periksa bu…, keburu mati..” jawabku
“Ok dech , kamu lanjutin aja dulu, saya mau nyiapkan makan malam.

susu besar-selvie (1)
Akhirnya malam itu, aku menelepon istriku untuk memberitahukan pada iatriku bahwa aku tidak bisa pulang, karena ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya sepanjang malam itu hingga mendekati subuh, kami isi dengan persetubuhan yang sangat bergairah. Kami hanya istirahat untuk minum dan makan memulihkan tenaga. Malam itu kami bagaikan sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertamnya. Hal ini terjadi barangkali karena Bu Hj Amelia ini merupakan Wanita yang menjadi obsesi saya yang selama 10 tahun menjadi khayalan dan impian. Sedangkan bagi Bu Hj. Amelia, malam itu merupakan malam pertama selama 4 tahun dia tidak mendapatkan kehangatan tubuh laki-laki.
Akhirnya sampai saat ini aku dan Bu Hj Amelia berselingkuh, tanpa seorang temanpun yang tahu. Kami berusaha menjaga perselingkuhan ini serapih mungkin. Entah sampai kapan….
TAMAT