MARISSA ICHA

Marisa, 44 tahun, adalah seorang artis senior di perfilman Indonesia, juga seorang dosen dan seorang politikus wanita yang cukup diperhitungkan di dunia politk akhir akhir ini.. Marisa Handayani atau sering dipanggil Icha itu memiliki wajah yang cantik, berkulit putih dengan bibir yang merah merekah, tubuhnya berisi, padat dan sekal. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang wanita yang berani dalam memperjuangkan kaum wanita, dan juga sebagi seorang wanita yang taat beribadah dan rumah tangganya yang tidak pernah diterjang gosip perselingkuhan.
Tinggi badannya 170 cm, membuat wanita cantik itu berpenampilan anggun dan terhormat. Usia nya yang hampr setengah baya tidak menyurutkan kecantikan dirinya, icha dahulunya adalah mantan model, artis layer lebar, produser dan sekarang , panggung politik. Walaupun dirinya seorang wanita, icha tidak surut dalam berkiprah di panggung politik Indonesia. Karena icha adalah wanita hasil blasteran sunda dan prancis, dua buah kiblat suku bangsa yang terkenal akan kecantikan kaum hawanya. Sadar akan usianya yangsudah tidak muda lagi, belakangan icha lebih sering memakai jilbab dan pakaian tertutup saat tampil di depan public maupun dalam kesehariannya
Di kancah percaturan pokitik yang sekarang digeluti icha, wanita cantik itu terkenal sebagai seorang wanita yang tegas dan yakin akan pendirian politk yang dianutnya, sosoknya yang cerdasa dan kritis selalu berani menghujat dan mengecvam pemerintah maupun para rival politiknya tanpa basa basi. Seperti kasus pemalsuan ijazah seorang wanita yang merupakan saingannya dalam memperbutkan kursi kepala daerah suatu kabupaten, dengan gamblang icha memperkarakan keaslian ijazah rivalnya itu kehadapan public melalui media massa. Hal ini sempat membuat icha terseret kepengadilan dan hasilnya adalah keputusan pengadilan bahwa icha dituduh melakukan pencemara nama baik dan hasilnya ia didenda dalam perkara itu, namun icha berhasil lepas dan tetap pada pendiriannya, ia menjadi oposisi dan mengkritisi kebijakan wanita yang bernama R*******H itu. Hal ini mengakibatkan banyak dating terror dan ancaman pada icha agar icha menghentikan sepak terjangnya, hingga terjadi lah peristiwa naas itu,
Pada suatu malam sehabis pulang dari rumah produksi miliknya, icha mengemudikan mobilnya seorang diri menuju tempat tinggalnya. Hari itu icha membawa mobil sendiri tanpa ditemani sopirnya, Dia merasakan badannya amat lelah akibat seharian mengawasi pembuatan sebuah film tentang kejahatan politik yang diproduserinya sendiri.
icha mengemudi dengan kecepatan sedang, pada sebuah jalan pintas menuju ke complex rumahnya yang kini tinggal berjarak kurang lebih 2 kilo, yang dikelilingi hutang lindung tropika yang rimbun itu, namun jalan tersebut agak sunyi dan gelap. Tiba-tiba tanpa disadarinya, sebuah mobil memotong mobilnya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Icha kaget dan spontan menginka rem Belum lagi hilang rasa kagetnya, sekonyong-konyong keluar dua pemuda berbadan kekar dari pintu belakang, mereka membawa kapak merah dan langsung menyerang mobil icha dengan cara memecahkan kaca samping mobil itu berkali kali, icha menjerit histeris, namun pintu samping tempat dia duduk mengemudi itu telah berhasil dibuka paksa oleh mereka. Mereka menyeret icha keluar dari mobilnya, kejadian itu begitu cepat, Marisa haque yang tidak sempat memberikan perlawanan itu diseret masuk ke dalam mobil mereka, dan mobil itu kemudian langsung tancap gas dalam-dalam meninggalkan lokasi .
Di dalam mobil tersebut ada empat orang pria. Marisa haque diancam untuk tidak berteriak dan bertindak macam-macam, sementara mobil terus melaju dengan cepat. Icha yang masih terbengong-bengong pun didudukkan di bagian tengah, diapit 2 orang pria. Sementara mobil melaju, icha berusaha berdialog dengan mereka,
“ heii.. siapa kalian ini?? Mau dibawa kemana kau haaaa??!! “ hardik icha saat ia berusah berontak, namun kedua tangannya dicengkram dua lelaki di sebelanya itu.
Mereka cuam diam. Kesal pertanyaannya tidak ditanggapi icha terus meronta mina dilepaskan dan pada satu kesempatan icha berhasil menggigit tangan seorang lelaki di sebelahnya, lelaki itu terpanjat dan dengan reflek dia memukul kepala icha hingga cah tersungkur.
“ eeehh.. wanita ini liar sekali kelihatannya “ ujar lelaki yang menggampar icha barusan. “ gua perosa juga ni perempuan” tambahnya, membuat icah begidik mendengarnya.
“udah ikat aja tangannya” ujar lelaki yang duduk disamping supir. Dengan patuh lelaki tersebut memegang kedua tangan icha kebelakang dan mengikat tangan icha dengan menggunakan ikat pinggangnya. Icha kalah dalam adu tenaga hingga kedua tangannya terikat kebelakang. Namun tak sampai dissitu, setelah kedua tangan icha terikat mereka berusaha meremas-remas paha icha. Tangan kedua lelaki tersebut mulai bergantian mengusap-usap kedua paha mulus artis senior yang cantik itu.
Naluri wanita icha kini bangkit dan berontak. Namun belum lagi berbuat banyak, tiba-tiba lelaki yang duduk di sampingnya memukul kepala icha untuk kedua kalinya beberapa kali hingga akhirnya wanita cantik itu pun mengakhiri perlawanannya dan pingsan.
Kedua tangan icha yang diikat ke belakang dengan tali pinggang, hingga dadanya yang masih montok dan masih dilapisi baju kemeja berbahan blazer itu mencuat ke depan. Sementara itu selama dalam perjalanan kedua orang pria yang mengapitnya itu memanfaatkan kesempatan dengan membentangkan kedua belah kaki icha lebar-labar ke kiri dan kanan sampai akhirnya tangan-tangan nakal kedua lelaki tersebut dengan leluasa menyeruak ke dalam celana dalam Icha, kemudian dengan bernafsu mengusap-ngusap kemaluan wanita setengah baya yang cantik itu
Akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah besar yang sudah lama tidak ditempati di suatu daerah sepi. Mobil langsung masuk ke dalam dan garasi langsung ditutup rapat-rapat. Kemudian Icha yang masih pingsan itu langsung digotong oleh dua orang yang tadi mengapitnya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah tersebut kelihatan sekali tidak terawat dan kosong, namun di tengah-tengahnya terdapat satu sofa besar yang telah lusuh.
Marisa Haque kemudian didudukkan di sebuah kursi sofa panjang di antara mereka.
Salah seorang dari mereka berujar memerintah, “Robert.., ambilin air..!”
Seseorang bernama Robert segera keluar ruangan dan tidak lama kemudian masuk dengan seember air.
“Ini Bos..,” ujar Robert
Frans adalah seorang pria yang berbadan tegap dan berambut gondrong sebahu namun tampak klimis itu berdiri dan menyiramkan air pelan-pelan ke wajah Icha.
Beberapa saat kemudian, ketika sadar artis cantik itu terlihat sangat terkejut melihat suasana di depannya, “Kamu..” katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar kalau tangannya terikat erat.
Kali ini Frans tersenyum, senyum kemenangan.
“Mau apa kamu.. Frans!!” Marisa haque yang ternyata mengenal pria yang bernama Frans itu. Icha sudah taka sing lagi dengan frans, yang merupakan rival satu partainya yang dahulu, sebuah partai berlogo moncong putih, yang telah lama ditinggalkan icha, karena partai tersebut memecatnya menjadi anggota DPR, saat ia maju mencalonkan diri menjadi kepala daerah banten.
“Jangan macam-macam ya, nanti saya lapor polisi.!” lanjutnya lagi.
Frans hanya tersenyum, “Silakan saja teriak, nggak bakal ada yang dengar kok. Ini rumah jauh dari mana-mana.” kata Frans.
“Asal tau aja, begitu urusan gue di Polda waktu itu beres, elo udah jadi incaran gue nomer satu.” sambungnya.
Sadar akan posisinya yang terjepit, keputusasaan pun mulai terlihat di wajah wanita cantik itu, wajahnya yang cantik sudah mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hati Frans masih belum padam, terlebih-lebih dia masih ingat ketika Icha memperkarakannya ke Polda Metro Jaya, karena ia telah memperkosa seorang mahasiswi. Kasus ini dilaporkan icha karena frans telah menghasut dewan penasehat partai bergelar moncong putih itu untuk menonaktikan icha sebagai wakil dari fraks partainya, frans adalah tangan kanan wanita yang mengalahkan perolehan suara icha dalam pemilihan kepala daerah provinsi B****N. Namun karena frans memiliki beberapa rekan yang merupakan oknum polisi, dengan alasan bukti yang kurang dari pihak kepolisian, Frans pun akhirnya dibebaskan. Hal inilah yang membuat nama Frans di panggung perpolitikan menjadi tercemar karena sudah ketahuan belangnya oleh public, frans pun ikut dipecat dari kader partai tersebut. Itulah alasan frans mengapa dia begitu mendendam dan bertindak nekat seperti ini.
Memang di kalangan dunia hiburan malam nama Frans cukup terkenal. Pria yang berusia 40-an tahun itu dikenal sebagai pemilik beberapa tempat hiburan maksiat di Jakarta, dan isunya dia otak dibelakang gerombolan kapak merah yang sangat terkenal akan reputasinya sebagai penyakit masyarakat itu..
“Ampun Frans, maafkan aku,atas sikapku waktu itu…” kata icha seolah membela diri.
“Ha.. ha.. ha..” Frans tertawa lepas dan serentak lelaki yang lainnya pun ikut tertawa sambil mengejek Icha yang duduk terkulai lemas.
“Hei perempuan sok pintar , lo berani macem-macem am ague waktu itu yee.. lo gak tahu berhadapan sama siapa??!!” ujar Frans sambil mengelus-elus dagunya.
“Sekarang elo musti bayar mahal atas tindakan elo itu, dan gue mau kasih elo pelajaran.” sambungnya.
Icha pun tertunduk lemas seolah dia menyesali tindakan yang telah diambilnya dulu, airmatanya pun mulai berlinang membasahi wajahnya yang cantik itu.
Mulai mendekati icha Frans dengan kasarnya mengangkakngkan kedua kaki icha,
Icha menatap Frans dengan ketakutan, “Jangan, jangan Frans..” ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya.
Dengan paksa ia menyingkapkan rok panjang yang dikenakan icha ke atas hingga kedua paha mulus Icha terlihat jelas, juga celana dalam icha yang berwarna krem berenda.
Kemudian, dengan kasar ditariknya celana dalam icha sehingga bagian bawah tubuh Icha telanjang. Kini terlihat gundukan kemaluan Icha yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang terlihat begitu terawatt potongannya, sementara itu Icha menangis terisak-isak.
Para lelaki yang berada di sekitar Frans itu pun pada terdiam melongo melihat kemaluan Icha yang terhidang indah itu. mereka hanya dapat menyaksikan bos mereka mengerjai artis cantik itu itu untuk melampiaskan dendamnya. Kini Frans memposisikan kepalanya tepat di hadapan selangkangan Icha yang nampak mengeliat-geliat ketakutan. Tanpa membuang waktu, direntangkannya kedua kaki icha hingga selangkangannya agak sedikit terbuka, dan setelah itu dilumatnya kemaluan Ichai dengan bibirnya.
Dengan rakus bibir dan lidah Frans mengulum, menjilat-jilat lubang vagina Icha. Badan Icha pun menggeliat-geliat kerenanya, matanya terpejam, keringat mulai banjir membasahi tubuhnya, dan rintihan-rintihannya pun mulai keluar dari bibirnya akibat ganasnya serangan bibir Frans di kemaluannya, “Iihh.. iihh.. hhmmh..” sementara itu kedua tangan frans tak henti-hentinya menggerayangi paha icha yang putih mulus dan terawat itu
Marisa Haque berusaha meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu Frans. Jari-jari Frans juga meraba secara liar daerah liang kemaluan yang telah banjir oleh cairan kewanitaannya dan air liur Frans. Jari telunjuknya mengorek dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk-nusuk.
“Aakkh.. Ooughh..” icha semakin keras mengerang-ngerang.
Setelah puas dengan selangkangan icha kini Frans bergeser ke atas ke arah wajah Icha. Dan kini giliran bibir merah Icha yang dilumat oleh bibir Frans. Sama ketika melumat kemaluan icha, kini bibir icha pun dilumat dengan rakusnya, dicium, dikulum dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut artis senior setengah baya itu.
“Hmmph.. mmph.. hhmmp..” icha hanya dapat memejamkan mata dan mendesah-desah karena mulutnya terus diserbu oleh bibir Frans.
Bunyi decakan dan kecupan semakin keras terdengar, air liur mereka pun meleleh menetes-netes. Sesekali Frans menjilat-jilat dan menghisap-hisap leher jenjang icha.
“It’s showtime..!” teriak Frans yang disambut oleh kegembiraan teman-temannya.
Kini Frans yang telah puas berciuman berdiri di hadapan icha yang napasnya terengah-engah akibat gempuran Frans tadi, matanya masih terpejam dan kepalanya menoleh ke kiri seolah membuang wajah dari pandangan Frans. Frans pun membuka celana jeans lusuhnya hingga akhirnya telanjang bulat. Kemaluannya yang berukuran besar telah berdiri tegak mengacung siap menelan mangsa.
Frans menghampiri icha dan merenggut jilbab yang masih melekat menutupi rambut icha dengan kasar. Setelah itu Kini Frans meluruskan posisi tubuh icha dan merentangkan kembali kedua kakinya hingga selangkangannya terkuak sedikit kemudian mengangkat kedua kaki itu serta menekuk hingga bagian paha kedua kaki itu menempel di dada icha. Hingga kemaluan icha yang berwarna kemerahan itu kini menganga seolah siap menerima serangan. Tangis icha semakin keras, badannya terasa gemetaran, dia tahu akan apa-apa yang segera terjadi pada dirinya.
Frans pun mulai menindih tubuh mulus icha , tangan kanannya menahan kaki icha, sementara tangan kirinya memegangi batang kemaluannya membimbing mengarahkan ke lubang vagina icha yang telah menganga.
“Ouuhh.. aah.. ampuunn.. Fransss..!” rintih Icha
Badan Icha menegang keras saat dirasakan olehnya sebuah benda keras dan tumpul berusaha melesak masuk ke dalam lubang vaginanya.
“Aaakkh..!” Icha mejerit keras, matanya mendelik, badannya mengejang keras saat Frans dengan kasarnya menghujamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vaginanya dan melesakkan secara perlahan ke dalam lubang vagina Icha yang masih terasa keset dan rapat bagi frans. Keringat pun kembali membasahi tubuh artis senior itu. Badannya semakin menegang dan mengejang keras disertai lolongan ketika kemaluan Frans berhasil memasuki belahan kemaluannya yang selama ini hanya diperuntukannya pada suami tercintanya.
Setelah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya di dalam lubang vagina Icha, Frans mulai menggenjotnya mulai dengan irama perlahan-lahan hingga cepat. Cairan berwarna putih dan kental pun mulai mengalir dari sela-sela kemaluan Icha yang sedang disusupi kemaluan Frans itu. Dengan irama cepat Frans mulai menggenjot tubuh Icha, rintihan Icha pun semakin teratur dan berirama mengikuti irama gerakan Frans.
“Ooh.. oh.. oohh..!” badannya terguncang-guncang keras dan terbanting-banting akibat kerasnya genjotan Frans yang semakin bernafsu.
Setelah beberapa menit kemudian badan Frans menegang, kedua tangannya semakin erat mencengkram kepala Icha, dan akhirnya disertai erangan kenikmatan Frans berejakulasi di rahim Icha. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak hingga meluber keluar. Icha hanya dapat pasrah menatap wajah Frans dengan panik dan kembali memejamkan mata disaat Frans bergidik untuk menyemburkan sisa spermanya sebelum akhirnya terkulai lemas di atas tubuh Icha .
Tangis Icha pun kembali merebak, ia nampak sangat shock. Badan Frans yang terkulai di atas tubuh Icha pun terguncang-guncang jadinya karena isakan tangisan dari Icha.
“Gimana rasanya Nyonya..? Nikmat kan..?” ujar Frans sambil membelai-belai rambut Icha.
Beberapa saat lamanya Frans menikmati kecantikan wajah Icha sambil membelai-belai rambut dan wajah Icha yang masih merintih-rintih dan menangis itu, sementara kemaluannya masih tertancap di dalam lubang vagina Icha.
“Makanya jangan main-main sama gue lagi ya..!” sambung Frans sambil bangkit dan mencabut kemaluannya dari vagina Icha
Icha menagis tersdu meratapi nasibnya, yang diperkosa oleh seorang penjahat dan juga merupakan orang yang dia jebloskan ke pengadilan, sejenaj icha menyesali tindakannya yang berujung penderitaan yang sedang dialaminya sekarang. Belum lagi selang beberapa saat setelah frans memperkosanya, tiba-tiba badannya sudah ditindih oleh seorang pria lainnya, teman frans yang dari tadi juga berada di samping.
“Ouuh..,” Icha mendesah akibat ditimpa oleh tubuh lelaki yang ternyata telah telanjang bulat itu.
Kini dengan kasarnya lelaki melucuti baju muslim dan blazer masih dikenakan Icha itu. Tetapi karena kedua tangan Icha masih diikat ke belakang, maka yang terbuka hanya bagian dadanya saja.
“ nyonya marisa… nama gue yonas… gua udah lama pengen ngentotin elo” ujar pria yang memperkenalkan dirinya tadi dengan kasar, icha merintih pahit mendengar pelecehan yang terlontar dari mulut pria yang bernama yonas itu.
“ asal elo tahu.. gua udah lama pengen memperkosa lo.. dan kini lah saatnya nyonya cantik” ujarnya sambil membuka celananya.
Setelah itu dengan kasarnya Yonas menarik BH yang dikenakan Icha dan menyembulah kedua buah payudara Icha yang masih terlihat bagus dan terjuntai indah. Pemandangan itu segera saja mengundang decak kagum dari para lelaki itu.
“Aah.. udah Mass.. ampuunn..!” dengan suara yang lemah dan lirih Icha mencoba untuk meminta belas kasihan dari para pemerkosanya.
Rupanya hal ini tidak membuahkan hasil sama sekali, terbukti Yonas dengan rakusnya langsung melahap kedua bukit kembar payudara Icha yang montok itu. Diremas-remas, dikulum dan dihisap-hisapnya kedua payudara indah itu hingga warnanya berubah menjadi kemerah-merahan dan mulai membengkak.
Setelah puas mengerjai bagian payudara itu, kini Yonas mulai akan menyetubuhi Icha.
“Aaakkhh..” kembali terdengar rintihan Icha dimana pada saat itu Yonas telah berhasil menanamkan kemaluannya di dalam vagina Icha.
Mata Icha kembali terbelalak, tubuhnya kembali menegang dan mengeras merasakan lubang kemaluannya kembali disumpal oleh batang kejantanan lelaki pemerkosanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Yonas langsung menggenjot memompakan kemaluannya di dalam kemaluan Icha Kembali Icha hanya dapat merintih-rintih seiring dengan irama gerakan persetubuhan itu.
“Aaahh.. aahh.. oohh.. ahh.. ohh..!”
Selang beberapa menit kemudian Yonas pun akhirnya berejakulasi di rahim Icha. Yonas pun juga tumbang menyusul Frans setelah merasakan kenikmatan berejakulasi di rahim Icha.
“ hhhh…. Enak sekali memek elo ya cha..” ujar yonas mendengus merasakan senggamanya di dalam rahim icha.
“ kayaknya elo senang dibeginiin ya..” ujar frans pada icha yang hanya menagisi nasibnya.
“ nah … sekarang siapa lagi yang mau.. hayoo “ ujar yonas santai sambil beranjak dari atas tubuh icha.
Dua orang dari mereka yang dari tadi hanya menjadi penonton sudah tidak dapat menahan nafsu, dan mulailah mereka menyetubuhi Icha satu persatu. Yang bernama Robert mendapat giliran, ia menelanjangi icha hingga tidak ada sehelai benangpun melekat di tubuh wanita cantik itu. Robert pun mulai menyetubuhi wanita cantik itu dari belakang, dia menggenjot vagina icha dengan gaya doggie style. Sementara lelaki yangsatunya memaksa icha mengoral penisnya dari depan. Icha seolah menjadi mainan mereka. Tak lama kemudian Robert pun berejakulasi di rahim Icha.Namun pada saat orang ke keempat yang menggagahi Icha, tiba-tiba Icha yang telah kepayahan tadi pingsan.
mereka masing-masing menyemprotkan sperma mereka di rahim dan serta ada juga yang berejakulasi di mulut Icha
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi, para anggotanya itu diperintah Frans untuk melepas tali yang dari tadi mengikat tangan Icha. Kemudian mereka disuruh mengenakan dan merapikan seluruh pakaian icha dan mengenakannya kembali seperti semula, hingga akhirnya Icha komplit kembali mengenakan pakaiannya walau dalam keadaan pingsan.
Setelah ketiga anak buah frans menggotong tubuh Icha ke mobil mereka. Frans memerintahkan mereka untuk membawa icha ke villa kediaman frans di sebuah desa jau dari Jakarta. Disanalah penderitaan icha akan berlanjut…..

kali dijamah dan digauli yonas dan frans. Setelah selesai dimandikan, akhirnya yoris membawa icha ke kamarnya, dan icha di tidurkan di atas ranjangnya. Sementara itu Robert memasang kamera cctv di kamar itu. Mereka berdua berencana membuat rekaman saat nanti malam yoris memperkosa icha kembali.

Icha baru sadar setelah badannya ditiup hembusan angin dingin AC yang terasa membekukan. Sontak Icha gelagapan dan kebingungan. Dia melihat di sekelilingnya. Dia berada di dalam sebuah ruangan yang cukup mewah berukuran sedang, dindingnya terbuat dari kayu masif, sedangkan lantainya terbuat dari keramik itali yang dilapisi sebuah karpet dari bulu binatang. Dia kemudian menyadari kalau dirinya terbaring di atas sebuah ranjang empuk. yang dilapisi bed cover yang disusun secara rapi. Ranjang berukuran deluxe itu terletak di tengah ruangan, berhimpitan dengan dinding. Tepat di atas ranjang terdapat sebuah jendela besar berteralis baja tanpa daun jendela, hanya ditutupi tirai yang terbuka sampai setengahnya, membuat cahaya matahari yang mulai tenggelam leluasa masuk. Sebuah meja dan kursi sederhana yang juga terbuat dari kayu masif terletak di sudut kiri ruangan icha merasakan kepala berat dan seluruh badannya pegal2. Jantung icha bergegup saat ia menyadari dirinya saat itu hanya mengenakan bh dan celana dalam saja..
Kebingungan Icha terbuyarkan oleh suara derit pintu yang terbuka ke arah dalam. Icha serentak menoleh ke arah pintu yang tepat berada di depannya. Dilihatnya Yoris memasuki ruangan.
Yoris masuk membawa baki makanan dan Lalu yoris menyodorkan makanan dan minuman itu.
“Ini minum..” kata yoris datar. Icha melengos .Semula icha menolak makanan dan minuman itu, tapi yoris memaksanya untuk makan dan minum dan icha tidak dapat menolak.dan sebenarnya icha merasakan lapar karena ia merasa tubuhnya bergitu terkuras tenaganya. Perlahan icha mulai menyantap makanan dan minuman itu. yoris pun keluar dari ruangan itu. setelah makanan itu habis, berikut minuman, icha merasakan kepalanya berat dan pusing. Tak lama kemudian yoris kembali masuk kekamar dan langsung menghampiri icha yang tampak sedikit linglung setelah menyantap makanan dan minuman yang diberikan yoris tadi.
Dan Yoris pun mulai melancarkan aksinya, dia berusaha memeluk Icha dari belakang sambil menciumi pundak Icha, karena posisi icha saat itu tidur terlungkup karena menahan berat di kepalanya. Menyadari itu Icha meronta dan berusaha menjauhi Yoris.
“Jangan sentuh aku binatang.!? Icha berteriak. Tapi yoris yang berbadan tegap langsung mendekapnya dan mulai menelusuri wajah dan leher icha dengan buas. Icha mencoba meronta dan berusaha untuk tetap sadar tapi sentuhan demi sentuhan yoris membuatnya terhanyut. Tanpa sadar icha mulai mendesah merasakan kenikmatan sentuhan yoris. makin buas. Dengan paksa tubuh icha yang hanya ditutupi oleh BH berwarna krem transparan itu diciuminya penuh nafsu. Payudaranya yang putih mulus terlihat mencuat menantang. Yoris menelipkan tangannya yang besar ke dalam mangkuk BH Icha dan mulai meremas-remas payudara Icha. Icha merasakan sebuah sensasi yang sangat hebat melanda tubuhnya, gairah sexual yang begitu membara melandanya saat itu.
Yoris makin buas, dia segera merenggut BH Icha sehingga payudara Icha yang mulus dan montok itu sekarang telanjang. Bentuknya sangat bagus dan masih kenyal dengan puting susu yang merah segar. Tidak sabar yoris mulai meremas-remas dan menjilati payudara Icha, lalu bibir yoris berganti-ganti melumat dan mengulum puting susu Icha . Icha mengejang mendapat perlakuan itu. Kesadarannya mulai hilang, dirinya sekarang sudah dikuasai oleh dorongan seks yang makin kuat, karena itu dia diam saja saat yoris mulai menarik celana dalam krem berenda milik icha. sampai lepas. Dan sekarang benar-benar sempurna telanjang bulat de depan yoris . yoris memandangi kemulusan tubuh telanjang Icha dengan takjub.
“Ohh.. kamu jauh lebih cantik jika ditelanjangi seperti ini, ? kata yoris dangan deru nafas memburu. Lalu yoris mulai menelusuri sekujur tubuh telanjang Icha dengan bibir dan tangannya. Bibir Icha yang merah segar tidak henti-hentinya dilumat oleh yoris sementara tangan yoris tidak berhenti menggerayangi dan meremas payudara Icha Icha hanya bisa pasrah dikerjai oleh yoris . yoris lalu menjilati bagian perut Icha yang agak sedikit berlemak namun mulus dan licin. Kemudian dia membuka paha Icha lebar-lebar hingga terkuaklah liang vagina Icha.
Yoris perlahan mendekatkan wajahnya pada vagina Icha, lalu dengan menggunakan bibir dan lidahnya yoris mulai menjliati vagina Icha. Dan jari-jari tangan yoris perlahan mulai mengorek-korek vagina Icha. Icha langsung mengejang ketika vaginanya dikerjai oleh yoris. Dirangsang sedemikian rupa membuat pertahanan Icha akhirnya runtuh apalagi ditambah pengaruh minuman yang tadi diminumnya.
?Oohhh… aahhh… oohhhh …. aahssss… ehhsss…? Tanpa sadar Icha mulai mendesah merasakan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. yoris mengetahui Ichamulai terangsang makin buas menggeluti tubuh artis setengah baya yang putih mulus itu. Dia mengangkangkan kaki Icha dan membenamkan wajahnya ke vagina Icha. Bibir dan lidahnya terus-menerus mengorek liang kemaluan Icha, sementara tangannya yang kekar dan berbulu meremas-remas payudara mulus Icha. Tak tahan lagi Icha akhirnya mengalami orgasme, tubuhnya mengejang sesaat sebelum akhirnya melemas lagi, dari vaginanya mengucur cairan bening kewanitaan. Yoris segera menelan cairan vagina Icha dengan buas sambil menjilati sekitar kemaluan Icha karena berdasarkan keyakinannya, keperkasaan pria akan bertambah jika dia bisa meminum cairan vagina dari perempuan yang akan dia setubuhi.
Icha terbaring terengah-engah di ranjang, dia baru saja mengalami orgasme yang luar biasa, tubuhnya yang putih mulus sampai berkeringat padahal udara teramat dingin. Yoris mamandangi tubuh yang mulus itu dengan tatapan buas, matanya menatap ke arah payudara Icha yang naik turun, begitu putih mulus. Dia lalu mendekati Icha dan mambimbingnya untuk duduk. Perlahan dia melepaskan seluruh pakaiannya dan seketika penisnya yang hitam dan berukuran besar mencuat di depan wajah Icha. Icha yang dalam keadaan terangsang hanya memandangi penis itu. Penis itu berukuran besar, panjangnya mungkin sekitar 20 senti dengan empat atau lima senti, lebih besar daripada milik suaminya. Yoris lalu menyodorkan penisnya ke bibir Icha.
Sekarang Nyonya emut punya saya ya.. ? perintah yoris pada Icha. Icha yang sudah dikuasai nafsu birahi menuruti perintah yoris, segera dia mengulum penis itu, ia sudah tidak dapat membedakan lagi berfikir dengan akal sehat, icha telah larut dalam pengaruh obat perangsang yang diminumnya. Seorang wanita terpelajar seperti icha tidak akan mau berlaku bejad seprti ini. Namun nafsu yang berkecamuk membuyarkan segala batasan batasan itu
“uuggh.. terussss…” yoris menggoyangkan kepala Icha maju mundur dengan demikian penis di dalam mulut Icha terkocok dengan sendirinya oleh bibir Icha sampai akhirnya Icha menikmatinya, dia menggerakkan kepalanya maju mundur untuk mengocok penis yoris dengan bibirnya. yoris memejamkan mata merasakan kenikmatan kuluman bibir Icha yang sexy itu sementara tangan kekarnya juga sibuk meremas-remas payudara Icha dan memilin-milin puting payudara Icha perlakuan yoris yang kasar namun liar itu malah membuat Icha makin terangsang.
Sekitar 15 menit lamanya icha mengulum penis yoris sampai akhirnya yoris mengejang. Dia menarik Wajah icha dan membenamkan wajah cantik itu ke dalam selangkangannya. Diiringi teriakan penuh kenikmatan yoris menyemburkan spermanya ke dalam mulut icha. icha merasakan cairan hangat dan kental memenuhi mulutnya dan mengalir ke dalam kerongkongannya. Oleh yoris, icha dipaksa menelan Sperma itu
“Ayo telan sperma saya nyonya marisa .. telan..!! perintah yoris. icha yang masih mengulum penis milik yoris hanya bisa melirik pasrah.
?Glk.. glk.. glk…? icha akhirnya menelan seluruh sperma yoris. Yoris tertawa puas. Yoris membiarkan saja ketika icha melepaskan kulumannya. icha lalu dibaringkan terlentang di ranjang. Dipandanginya tubuh telanjang wanita yang ayu itu.
“Nah Nyonya Marisa haque… gimana rasanya.? Nikmat kan?” Kata yoris.
Icha hanya bisa menangis mendapatkan dirinya yang telanjang bulat bersama seorang pria yang bukan suaminya, siap untuk menyetubuhinya. Perlahan yoris mulai menarik paha Icha yang putih mulus dan sekal sampai mengangkang lalu yoris mulai mengarahkan penisnya yang besar ke dalam liang kemaluan artis cantik itu. Anehnya icha tidak lagi berusaha mencegah perbuatan yoris, icha seperti merelakan vaginaya dimasuki penis yoris. Icha meringis sesaat ketika penis yoris menerobos liang vaginanya. Didorongnya penisnya sampai amblas ke dalam vagina Icha.
“Ehkkhh.. ahhhh…? Icha mengerang tertahan, vaginanya yang walau telah melahirkan dua orang anak itu masih terasa sempit bagi penis yoris yang besar, tapi secara kasar yoris terus mendesakkan penisnya dalam-dalam lalu dipaksakannya penis itu memompa vagina Icha yang merintih setiap kali penis yoris menggenjot vaginanya tapi lama-lama penis itu makin lancar memompa vagina Icha. Yoris pun makin bersemangat menggenjotkan penisnya. Tubuh Icha yang telanjang sampai tersentak-sentak setiap kali yoris menggenjot vaginanya. Sambil terus menyetubuhi Icha , yoris juga melumat bibir Icha dengan buas. Icha yang tidak berdaya diperkosa seperti itu akhirnya ikut terhanyut dalam dorongan seksual yang sedari tadi memang sudah menggelegak, akhirnya erangan Icha mulai teratur seirama dengan gerakan penis yoris di dalam vaginanya.
Setelah sekitar limabelas menit, yoris secara tiba-tiba bangkit sambil tetap mendekap tubuh bugil Icha . Dipaksanya Icha duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Icha yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat yoris merasa iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah bila melihat Icha tersiksa.
“Sekarang Nyonya yang goyang ya..,?” kata yoris. Icha hanya bisa mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Icha. yoris mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Icha dan mendorong pantatnya maju mundur. Secara naluriah icha mencoba untuk menggapai kepuasan seksual yang akan segera melandanya. Sementara bibir yoris sibuk menyusu pada payudara Icha sambil sesekali mengulum dan menjilati puting payudara Icha.
Sebagai wanita yang telah berpengalaman dalam berhubungan intim dengan suaminya, icha tahu betul cara membuat lelaki puas. Walaupun icha sadar bahwa saat itu dia diperkosa sedemikian rupa, akhirnya dia pun sudah terbiasa dalam menggoyangkan pantatnya seirama sodokan penis yoris yang berdiri tegak perkasa. akhirnya pertahanan Icha jebol juga akibat keperkasaan yoris. Dia tidak pernah merasakan kepuasan seperti saat yoris memperkosanya saat ini Dengan rintihan panjang, Icha merasakan sensasi kuat menjalari sekujur tubuhnya. Tubuhnya menegang dan melengkung ke belakang, tangannya dengan kuat mencengkeram punggung yoris. Vaginanya berdenyut kuat sekali seperti meremas penis yoris.
?Aahhhhhhkkkhhhhh…. Oohhhhhhh….? Icha mengejang dan merintih keras, orgasmenya meledak menghantam seluruh syaraf kenikmatan seksualnya. Sesaat kemudian tubuhnya melemas kembali dan tergolek di ranjang. Nafasnya memburu membuat payudaranya naik turun. Yoris segera menarik tubuh mulus itu dan mendekapnya erat-erat.
“Jangan buru-buru Nyonya cantik, saya belum selesai, ? kata yoris sambil tertawa. Dia lalu membalikkan tubuh Icha yang putih dan mengkilat kerena keringat lalu memaksanya menungging. Kedua kaki Icha dipaksanya mengangkang.
“Sekarang saya mau coba gaya ini pada Nyonya.. saya yakin nyonya menikmatinya?” kata yoris datar. Icha menggelengkan kepalanya.
“Jangan ., ? hanya kata itu yang keluar dari mulut Icha . yang hanya bisa pasrah dikerjai yoris “Ah.. diam!? yoris membentak. “Dasar jablay!!, wanita seumuran elo tuh dimana-mana sama, pertama bilang tidak mau tapi akirnya orgasme juga.!”
Yoris menarik paha Icha dengan kasar, lalu kembali penisnya didesakkan ke dalam vagina Icha, kemudian pantatnya digoyangkan maju mundur. Sembil menggenjot vagina Icha, yoris juga meremas-remas payudara Icha yang tergantung begitu bebas dan bergoyang seirama goyangan pantatnya. Icha mendesah-desah setiap kali vaginanya digenjot.
“Ayo.. teruss.. terus Nyonya… terusss…!” Yoris makin kuat menggenjot vagina Icha dengan penisnya, badan Icha sampai tersentak-sentak setiap kali vaginanya digenjot.
“Akhhh.. ahhh… ohhh… shitt… shittt…” Icha mulai meracau karena merasakan gelombang birahinya meledak dan akhirnya kembali Icha mengalami orgasme meskipun tidak sehebat sebelumnya, kembali vaginanya berdenyut kencang. Tapi yoris tetap belum juga selesai, kali ini dibalikkannya tubuh icha hingga terlentang, lalu kedua paha Icha diangkat dan disampirkannya ke bahunya kemudian kembali digenjotnya vagina Icha dengan penisnya sambil memegangi pantat Icha karana khawatir Icha akan melepaskan penis itu dari vaginanya. Kali ini Icha sudah tidak berdaya lagi, dia hanya bisa merintih setiap kali digenjot, payudaranya yang putih mulus bergoyang seirama genjotan yoris., Icha hanya bisa menggigit bibirnya merasakan penderitaan sekaligus kenikmatan yang dia alami sampai akhirnya dia mengalami orgasme untuk kali ketiga, barulah setelah Icha tiga kali orgasme yoris menyudahinya . Diiringi erangan dahsyat yoris menyemburkan spermanya di dalam vagina artis setengah baya itu.
Icha merasakan dunianya sudah hancur, dirinya sudah tidak ada harganya lagi setelah diperkosa sedemikian rupa oleh yoris. Dan diam diampun ia mengakui kehebatan yoris diatas ranjang. Tidak pernah ia merasa sepuas itu bercinta dengan yoris yang begitu liarnya memperlakukan wanita sepertinya yang telah lama tidak merasakan hubungan intim sedahsyat ini.
Sehabis memperkosa icha, yoris meninggalkan icha seorang diri dikamar. Icha hanya menangis tersedu, menahan penderitaannya sebagai pemuas nafsu yoris, tangan kanan frans yang perkasa itu. di lubuk hatinya ia merasa bersalah pada suaminya, bahwa ia telah dinodai orang kasar yang bukan suaminya. Namun Di sisilain ia merasakan kepuasan seksual yang selama ini tidak dia dapatkan. Sebagai wanita anggun dan terpelajar icha dan suaminya tidak pernah berperilaku aneh saat mereka berhubungan badan, apalagi perlakuan kasar yoris dalam bersetubuh dengannya, meninggalkan kepuasan seksual yang tersendiri bagi icha. Disela kepuasan birahi bercampur lelah icha pun tertidur pulas.
Marisa haque baru tersadar setelah matahari sudah tinggi, Dia berusaha bangun tapi sekujur badannya serasa sakit seperti habis dipukuli. Sisa-sisa sperma masih berceceran di sekitarnya, sebagian yang masuk ke dalam rahimnya meleleh keluar dan mengering. Icha merasakan kemaluannya sakit sekali, perutnya juga terasa nyeri. Lalu dengan tertatih-tatih Icha berusaha meraih pakaian dalamnya. Tapi dia tidak menemukan pakaiannya di ruangan itu, pasti yoris telah mengambilnya. Icha kemudian meraih kain usang di ranjang untuk menutupi tubuhnya lalu berusaha untuk berjalan. Belum lagi dia mencapai pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar. Seorang wanita gemuk yang juga bertampang bengis masuk dan mendekati Icha. Icha mundur mencoba menghindar tapi wanita itu mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan kuat. Icha mencoba meronta tapi wanita itu lebih kuat, dipelintirnya tangan Icha ke belakang.
Diam kamu!!.? Wanita itu berbisik ke telinga Icha. “Saya hanya mau menyuruhmu mandi biar bersih.” katanya. Icha yang tidak berdaya menurut saat digelandang ke luar rumah menuju ke kamar mandi. Wanita itu lalu mengantar icha kekamar. Ia mengawasi icha mandi dan membatu mengguyur tubuh icha. selesai mandi icha diberinya handuk. Selesai mandi, Icha kembali dibawa ke kamar. Perempuan itu melemparkan sesuatu pada icha.
“Ini pakaian yang harus kamu pakai…” katanya sambil tersenyum jahat. Icha memandangi barang yang dilemparkan oleh wanita itu, pakaian yang dimaksud oleh wanita itu adalah satu set pakaian dalam berwarna hitam, lengkap dengan bh dan cd nya. Icha memandangi
“pakaian? Batin icha. Dia merasa sedang mengalami pelecehan seksual yang sangat besar.
“Dasar tolol!!” wanita itu marah dan menampar wajah Icha. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Icha yang kehabisan tenaga untuk melawan. Icha hanya dapat menjerit. Dia segera menarik handuk yang menutupi tubuh Icha lalu memaksa Icha memakai pakaian yang dia maksudkan.
“Pakai!” bentaknya. Icha hanya terduduk sambil terus menangis.
“ oo kamu mau telanjang dan diperkosa rame-rame lagi?” ujar wanita itu menatap icha tajam mendngar kata kata wanita itu. Icha merasa ketakutan dan segera memakai pakaian dalam yang dimaksudkan wanita itu. bh dan cdnya berwarna hitam. Cdnya mungil berenda, berbentuk g string. Memamerkan pantat icha yang montok berisi itu. icha merasa tidak pantas ia mengenakannya. Namun ia lebih takut kalau tidak mengenakan pakaian sama sekali dan diperkosa kembali. “Sekarang Tuan yoris ingin bertemu kamu,? kata wanita itu. “Ayo Ikut.” Katanya sambil menarik tangan icha. icha mencoba bertahan tapi wanita besar itu menyeretnya dengan paksa keluar dari kamar.
Icha dibawanya sampai ke sebuah ruangan besar yang berada di bagian belakang rumah, Ruangan itu cukup besar, tapi terkesan kosong. Hanya ada sebuah meja makan berukuran sekitar dua kali tiga beat dilengkapi enam kursi yang mengelilinginya, meja dan kursi itu juga terbuat dari kayu masif yang dihaluskan. Di atasnya terdapat banyak sekali makanan,. Di kursi batten ujung dari tempat icha berdiri terlihat yoris duduk sambil makan sesuatu. Begitu melihat icha berjalan mendekat yoris langsung berhenti, dia melotot melihat icha yang berdiri nyaris telanjang tidak jauh darinya, dipandanginya kemulusan tubuh icha dengan seksama, matanya menatap pada daerah payudara dan vagina icha.
“ck.. ck.. ck…nyonya masih sexy sekali?” Yoris berdecak kagum memandangi tubuh setengah telanjang icha . icha menunduk malu dipandangi seperti itu, tanpa sadar tangannya berusaha menutupi bagian-bagian penting tubuhnya yang terbuka meskipun usaha itu sia-sia karena tangannya jelas tidak mampu menutupi tubuhnya yang telanjang, akibatnya yoris dengan bebas menikmati keindahan tubuh mulus wanita cantik itu .
“Kamu boleh pergi Tira,” yoris berkata pada wanita yang memandikan Icha yang ternyata bernama Tira. Tira mangangguk lalu meninggalkan ruangan menuju ke tempat dia masuk.
Yoris lalu berdiri dan berjalan mendekati Icha. Icha merinding ketika pria yang semalam memperkosanya berjalan mendekat. Jantungnya berdetak kencang. Sementara yoris tidak henti hentinya memandangi tubuh mulus wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu dengan tatapan kagum bahkan ketika dia berdiri di belakang icha, tangannya sempat meremas pantat icha yang telanjang.
“ sudahlah yoris… aku capek…”ujar icha tersedu. Batinnya menagis mengalami pelecehan itu.
“Jangan menangis Manisku,” yoris membelai rambut icha yang masih basah. “Sekarang duduklah dan makan.” yoris menarik sebuah kursi di dekatnya. Lalu memaksa icha duduk. Tapi icha tidak bereaksi apa-apa.
“Keras kepala ya,?” Yoris mulai jengkel. “Baiklah, kalau kamu tidak makan kamu akan saya kurung disini selamanya” ancam yoris.
“ jadi,.. setelah ini saya boleh pulang? Ujar icha penuh harapan.
“ ya…aku udah puas ngentotin kamu apalagi” ujarnya.
Perih hati icha mendengarnya. Tapi icha berusaha tenang dan tidak memasukan ke hati, karena nanti dia berencana pulang ke rumahnya dan memikirkan masa depannya.
“Iya yoris.. kamu janji antar saya pulang..” Icha bertanya sambil menatap yoris dengan penuh harap. yoris hanya tersenyum dan mengangguk..
Tanpa sadar Icha menghembuskan nafas lega. Dia lalu melihat yoris meninggalkan tempat itu. Dia kemudian menatap makanan yang ada di depannya, perutnya yang lapar membuatnya meraih makanan di depannya.,, Icha menelannya.
Setengah jam kemudian yoris datang lagi dan melihat Icha sudah terlihat segar. Dia yakin Icha tidak tahan menahan lapar. Ia duduk di sebelah icha.
“Nah,, sekarang duduk dipangkuan saya..” kata yoris datar, nyaris tanpa emosi. Icha tersentak, seketika tubuhnya gemetar, Icha tidak dapat membayangkan dirinya akan dilecehkan lagi. Namun ia menuruti juga. Yoris merengkuh tubuh icha dalam pelukannya, mulai menciumi sekujur tubuh icha yang mulus dan wangi sehabis mandi.
“ ahhh,.. hhhh.. jangannn .. sudahhhhh ohh..” desah icha menggelinyang. Yoris beranjak menciumi bibir icha. Yoris memasukan lidahnya ke rongga mulut icha dan melilit lidah icha. Icha pun jadi terpancing dan membalas melilit lidah yoris, sementara tangan yoris tak hentinya meremas remas payudara icha.. icha berusaha menepis tangan yoris yang menggerayangi dadanya, namun makin larang yoris makin menjadi, tangan yoris malah menjalar ke pahanya dan meremas pantat icha hingga membuat icha mendesah menahan nikmat. Sejenak mereka berdua bercumbu hangat. Icha seperti telah rela menjadi pemuas nafsu yoris, terbukti ia merelakan tubuhnya dijamah yoris.
Nyonya, sekarang buka celana saya dan hisap punya saya” perintah yoris pada icha. Bagai kerbau dicocok hidung, dengan tanpa malu malu lagi icha mengerjakan apa yang diperintah yoris. Ia begitu menikmati mengulum dan menjilati penis yoris. Icha terlihat sudah sangat terangsang melihat penis yoris yang panjang dan perkasa itu. Ia mengulum, menjilati dan menyedot kemaluan yoris panjang dan begitu sempurna di mata icha, yoris membenamkan kepala icha ke selangkangannya. Sebagai seorang istri icha juga sudah terbiasa melakuakan ini untuk memuaskan suaminya, tapi milik yoris jauh lebih besar dan perkasa daripada milik suaminya. Icha begitu bernafsu sampai sampai yoris dibuat merem melek oleh kuluman lidah icha yang menari indah menikmati kejantanan yoris, sang bandit itu. sampai akhirnya yoris tak sanggup membendung birahinya, akhirnya yoris berjakulasi dalam mulut icha dan icha membiarkan yoris menikmatinya. Setelah itu yoris memerintahkan icha agar berdiri dan duduk diatas meja makan, dengan penuh nafsu birahi yang membara, yoris terus menggumuli icha, ia menciumi leher icha dan seluruh tubuh artis senior yang cantik itu, kali ini giliran yoris mencoba menyulut nafsu icha dengan cara mengorek ngorek klitoris icha dengan jarinya.
“ uugghhh… shhhh.. “ desah icha tak karuan saat klitorisnya diobok obok oleh jari-jari tangan yoris yang besar. Yoris terus mengelus dan memasukan setengah jarinya dalam jepitan vagina icha,
“ uuhhh,… ahhhhh” desah icha hebat saat orgasme hampir melanda. Liang kenikmatannya mulai basah akibat cairah putih berlendir yang keluar dari dalam liang vaginanya. Setelah icha hampir mencapai orgasme, tiba tiba yoris menghentikan cumbuannya. Yoris melepaskan tangannya dari klentit icha. Icha yang masih terengah engah ingin memuncratkan libidonya itu terlihat tidak rela. Namun yoris tetap menghentikan serbuannya dan memakai seluruh pakaiannya kembali.
“ nyonya istirahat di kamar, nanti malam saya antar nyonya pulang. Suami nyonya telah sibuk mencari nyonya dan kehilangan nyonya telah jadi berita.. jadi pandai pandailah berbicara pada suami nyonya. Sebelum para wartawan itu tahu nyonya kami culik dan apa yang terjadi dengan nyonya” jelas yoris panjang lebar meredakan suasana birahi icha yang hampir orgasme itu. Icha menghela nafas menahan birahinya. Wajahnya yang cantik itu tampak memerah menahan nafsu rangsangan seksuak yang hamper melandanya, namun tiba-tiba api itu dipadamkan oleh yoris. Mau tak mau terlihat waja kecawa dari raut icha.
Karena kelelahan akibat dipaksa melakukan articulate seks, Ichapun akhirnya menurut, masuk kamar dan akhirnya tertidur.
Di tengah-tengah tidurnya, Icha merasakan pipinya dibelai dan dielus-elus oleh sebuah tangan kasar. Seketika itu pula Icha terbangun. Dia agak menjerit ternyata yoris sudah berada di sampingnya, telanjang bulat. Rupanya yoris tak tahan juga menggantung birahinya beberapa waktu sebelumya. Meski begitu Icha tetap merasa ketakutan. Dia segera beringsut mundur ke sudut ranjang sambil mendekap tubuhnya yang mengenakan pakaian dalam g string itu
“Jangan yoris.. jangan..” Icha merapat ke dinding, sementara ternyata di luar petir meggelegar dengan keras. Rupanya malam itu turun hujan yang sangat deras sehingga suasana menjadi dingin.
“Jangan takut Sayang..” Yoris mendekati Icha dan kemudian duduk di sebelahnya sambil membelai rambutnya. “malam ini dingin sekali, kamu kedinginan?”
Icha hanya mengangguk tertahan, mencoba tidak menatap wajah Yoris. “Aku juga kedinginan.” Kata Yoris. “bagaimana kalau kita saling menghangatkan..?? “kata Yoris sambil memeluk erat-erat tubuh Marisa haque yang notabene istri orang itu.
“Jangan.. sudahlahhh…” Icha meronta saat Yoris mulai menyentuh bagian tubuhnya dengan ciumannya. Tapi Yoris tidak melepaskan pelukannya, bahkan makin ketat memeluk tubuh Icha. Kemudian kembali dia mencumbui wajah Icha, bibirnya dengan rakus melumat bibir Icha yang sexy, lalu dengan lidahnya dia menelusuri pipi dan leher Icha.
“Ahhh… jangan…. ahhhh… Oohhh…” Icha yang telah sadar posisinya sebagai istri orang meronta sekuat tenaga, tapi rontaan tubuhnya yang putih mulus itu justru membangkitkan gairah icha. Dengan ganas Yoris menciumi sekujur leher icha. Pelan-pelan icha dibawanya kembali merasakan gejolak seksualnya bangkit, dan akhirnya dia pasrah digeluti oleh tubuh hitam itu sehingga ketika Yoris membuka bh icha, icha diam saja. “Dingin Yoris…” Icha mendekapkan tangannya ke payudaranya yang putih kenyal dan telanjang.
“Jangan khawatir… Sebentar lagi juga panas…” kata Yoris tersenyum sambil menatap mata Icha yang bening dengan penuh arti. Dibukanya lipatan tangan icha karena dia ingin menikmati dan merabai keindahan kedua payudara wanita itu. Icha yang semula menolak akhirnya membiarkan saja yoris memulai aksinya dan menikmati rangsangan yang diberikan padanya. Yoris yang mengetahui nyonya cantik itu sudah pasrah makin bersemangat. Dengan tangannya yang besar dicengkeramnya kedua payudara Icha yang bergelantungan,. Payudara itu kemudian diremasnya dengan kekuatan penuh. Icha meringis menahan sakit. kemudian. Yoris terus menggerak-gerakkan genggaman tangannya melingkar membuat payudara Icha seperti adonan kue yang sedang diuleni, hal itu membuat Icha merasa kegelian tapi juga sekaligus terangsang.
“Ohhh…. Ahhhh….. Ahhhhhh………’ Icha merintih penuh kenikmatan, sikap kepasrahannya untuk disetubuhi membuatnya bisa menikmati setiap rangsanganYoris, apalagi ketika Yoris mendaratkan ciuman-ciuman dan sapuan lidahnya ke bagian puting payudaranya membuat icha tersentak-sentak dan menggeliat menahan desakan birahi yang kian meledak di dalam tubuhnya. Sekujur tubuh Icha kembali basah oleh keringat sehingga tubuhnya yang mulus itu berkilau diterpa sinar lampu yang temaram. Dan dalam waktu singkat Yoris telah berhasil membuat icha tidak berdaya menolak apa pun yang dimintanya. Seakan wanita itu telah berada sepenuhnya dalam kekuasaannya.
“AAAAHHH…….. AAAHHHH……..” terdengar erangan dari bibir nyonya cantik itu saat dia kembali dilanda orgasme. Tubuhnya menegang kuat sekali utuk sesaat sebelum kemudian melemas kembali dan tergeletak di ranjang.
Yoris tersenyum puas melihat istri ikang fauzi itu terkapar tidak berdaya di pelukannya.. Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis telah siap melakukan persetubuhan. Yang wanita adalah seorang wanita terhormat, istri dari pengusaha ikang fauzi, cantik, pintar dan terkenal yang terbaring tak berdaya setelah diculik , kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan. Seorang publik figur dengan karir cemerlang di dunia politik. Sedangkan si pria di atasnya yang siap menyetubuhinya adalah seorang pria hitam, kekar dan terkenal sebagai seorang bajingan intelektual.
Untuk kedua kalinya Icha dan Yoris melakukan hubungan badan. Kali ini permainan menjadi amat bergairah. Icha yang cantik sudah mulai terbiasa menerima sodokan penis Yoris di kemaluannya. Icha suda tidak memikirkan suaminya lagi, baginya ia tidak mau kehilangan kepuasan bercinta yang telah ia alami bersama pria yang bukan suaminya itu, lebih perkasa dari suaminya. Keduanya sudah seperti pasangan yang serasi. sudah seirama dan saling beradaptasi dalam persetubuhan itu. icha pun tak melakukan perlawanan sama sekali terhadap Yoris. Dibiarkannya pria yang bukan suaminya itu menggenjot vaginanya dan menuju puncak kenikmatan bersama. Icha yang memang wanita baik-baik dan terpelajar, kadang masih berusaha membuat kesan ia tidak begitu menikmati persetubuhan itu. Namun yang sebenarnya terjadi, wanita cantik setengah baya itu benar-benar menikmatinya. Berkali-kali Icha mengalami orgsme saat kemaluannya digenjot oleh penis Yoris.
“OOOHHHHHH…….” Icha mengerang kuat menikmati orgasmenya yang bertubi-tubi dan memabukkan. Rintihan dan ekspresi wajahnya yang erotis membuat yoris kian terpacu dan kian bersemangat menyetubuhi icha yang seolah sudah resmi menjadi gundiknya.
“Marissssssaaa…… Hhhggggh….” lenguh Yoris melepaskan semua sperma yang ditahannya dari tadi ke dalam rahim ibu dua anak yang masih menggairahkan itu sebagai balasannya. Kemudian hening. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa bergejolak di dada mereka yang saling menempel. Si lelaki macho setengah baya dan gundik barunya yang berusia kurang lebih sama itu menyatu bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Yoris di atas icha. Kaki Icha yang mengapit pinggul Yoris menekan pantat lelaki itu supaya tetap di tempatnya. Mereka pun berciuman dengan ganas menikmati setiap detik keintiman mereka. Kedua tubuh itu masih saling menghimpit menciptakan sebuah pemandangan yang sangat kontras, tubuh yang putih, mulus dan bersih dengan wajah yang begitu cantik ditindih oleh sosok hitam legam dan bertato yang bukan suaminya.
Icha memejamkan matanya, air matanya meleleh membasahi pipinya yang putih, sementara yoris masih membirkan penisnya menancap di vagina icha, mencoba merasakan kenikmatan tubuh Marisa haque yang mulus itu sepuas-pusnya. Ditatapnya wajah cantik icha dengan perasaan sangat puas. Sebuah sensasi dan kenikmatan tersendiri bagi Yoris bisa menikmati kehangatan tubuh seorang artis, pengusaha, produser film sekaligus orang terpelajar, selebritis yang begitu cantik seperti Icha. Walaupun icha seorang ibu ibu, ia amat terobsesi dengan kecantikan icha.
Segala pikiran busuk dan jahat makin memenuhi kepala Yoris, membuatnya tertawa penuh kemenangan, sementara tubuh Icha yang putih mulus masih berada di dalam dekapannya.

Marisa haque masih sibuk membereskan pakainnya di villa sebelum yoris yang menggilirnya seharian mengijinkannya kembali ke Jakarta. Tubuhnya terasa meriang karena semalaman bercinta dengan yoris… Usai membersihkan tubuhnya, dia berusaha memakai kembali pakaiannya dan berdoa agar sesegera mungkin dirinya bisa meninggalkan tempat terkutuk itu. Tapi baru saja dia mengenakan celana dalam krem yang berenda, tiba-tiba pintu menjeblak terbuka. Spontan Icha mendekap payudaranya yang telanjang.
“Yoris.!” Icha menjerit ngeri melihat yoris sudah berdiri di ambang pintu. “Mau apa lagi kamu..?”Icha nyaris menangis saking kesalnya melihat yoris yang berdiri cengar cengir.
Pria kekar dan hitam itu hanya memakai celana boxer kumal, sepertinya sudah siap tempur.
“Ke sini!” bentak yoris membuat Icha mengkeret seolah ukuran badannya menyusut seukuran botol.
Dengan lemas Icha menurut. Tubuhnya yang hanya tertutup sehelai celana dalam tipis membuat yoris meneguk ludah. Ketika Icha mendekat, seketika yoris segera mendekap tubuh putih mulus itu erat-erat.
“Kenapa buru-buru cha.?” Katanya kalem sambil mencumbui payudara Icha yang mencuat ketat.
“Engh.. “Icha melenguh pelan. “Apa maksud kamu ? Bukankah saya udah kamu ijinkan pulang?”
“Oh. Ya..” Yoris menjawab pendek. “Tapi tidak sebelum kamu melakukan salam perpisahan.” kata pria itu. “Ayo ikut.” perintahnya sambil membawa Icha meski wanita cantik setengah baya itu belum menyatakan persetujuannya. Icha dibawa ke ruang tengah, dimana disitu Robert, anak buah yoris yang juga berpostur kekar menunggu, dia mengenakan kaus singlet dan celana pendek dan terlihat duduk santai di sofa ditemani minuman kaleng dan rokok.

“Wah wah wah…” Robert berdecak melihat wanita secantik Icha berjalan ke arahnya dengan keadaan nyaris telanjang bulat. “Sini, duduk di sini, katanya sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya. Icha disuruhnya duduk di tengah-tengah antara dirinya dan yoris.
“Nyonya temani kami nonton film ya..?” kata Robert pelan sambil menyambar remote TV.
Dengan beberapa kali tekan, volume suara TV membesar. Semula Icha tidak memperhatikan film apa yang ditonton oleh Robert karena panik. Tapi setelah duduk di sofa, dia memperhatikan baik-baik televisi di depannya. Langkah kagetnya dia ketika tahu filam apa yang tengah ditontonnya. Tidak lain adalah film pemerkosaan dirinya sendiri oleh yoris yang ternyata direkam entah kapan.
“Kalian gila!” Icha meraung murka melihat bagaimana dirinya sendiri sedang melakukan hubungan seksual bak seorang bintang film porno, dia berusaha berdiri untuk meninggalkan ruangan itu, tapi Robert menyuruhnya duduk dengan paksa.
“nggak usah terlalu lebai gitu ah Mbak.” Kata yoris santai. “Lihat aja tuh, nyonya konak berat waktu saya entot.”
Icha memalingkan wajahnya, meski begitu dia memang harus mengakui kalau dia ternyata menikmati hubungan seksnya dengan yoris. Ketika dia mencuri pandang ke layar TV pun terlihat kalau ekspresinya sangat natural dan sangat menikmati persetubuhan yang dia lakukan. Mau tidak mau tubuh Icha mulai panas dingin melihat film persetubuhannya sendiri tersebut.
“Hehehe… Mbak icha suka ya..?” Robert terkekeh melihat perubahan reaksi Icha.
Icha hanya diam meski mengakui hal tersebut. Icha makin panas dingin saat Robert dan yoris mulai menjamah tubuhnya yang nyaris telanjang. Robert meremasi payudara Icha sementara yoris sibuk menciumi dan menjilati leher jenjang wanita cantik itu.
“nggak enak kan kalau cuma nonton?” kata robert sambil terus mencumbui leher Icha, seketika saja jejak kemerahan mulai menghiasi leher putih mulus itu.
Icha mendesah diperlakukan seperti itu oleh dua pria sekaligus. Tidak puas hanya dengan mencumbui leher Icha, yoris mulai menyerang daerah kemaluan Icha yang terbalut celana dalam tipis. Tangannya menyusup ke balik celana dalam berenda itu dan mengaduk aduk vagina wanita cantik itu.
Icha kian tegang merasakan daerah vitalnya dibelai dan diremas-remas. Apalagi Robert yang tengah sibuk mempermainkan payudaranya kian ganas, tidak hanya diremas-remas, payudara Icha yang putih kenyal itu mulai dijilatinya terutama di bagian putingnya yang mencuat. Lidah Robert menyentil-nyentil ujung puting payudara Icha membuat daya rangsang kian hebat menggempur tubuh putih mulus itu. Apalagi saat yoris mulai menciumi bibir seksi Icha, Icha seperti terhanyut, dia memalingkan wajahnya untuk mempermudah yoris dalam menciumi bibirnya. Yoris yang mendapat peluang itu segera melumat bibir merah itu dengan rakus. Selama beberapa menit yoris mengulum bibir seksi artis cantik tersebut seolah tidak ingin dilepaskan. Yoris kemudian berusaha membuka mulut wanita cantik itu dan mendesakkan lidahnya ke dalam mulut Icha. Dalam keadaan terangsang, wanita itupun segera meresponnya sehingga kedua lidah mereka bertemu dan saling belit. Di sisi lain, Robert masih dengan keganasan yang sama, mempermainkan payudara Icha. Dia meremas-remas sepasang payudara mulus itu sambil terus menjilati putingnya yang merah mencuat, kombinasi dari serangan dua pria tersebut membuat Icha tidak tahan untuk mengerang merasakan kenikmatan.
“Ohh… ooh.. nnhh… nnhh… aahh…” icha mengerang penuh kenikmatan.
Dengan memasrahkan dirinya, wanita cantik itu bisa merasakan kenikmatan seksual yang begitu menggelora. Meski agak malu dan terpaksa tapi lama-lama Icha bisa menikmati permainan seksual yang dijalaninya bersama dua pria bejat tersebut. Lama-kelamaan ketiganya semakin terhanyut permainan seksual yang tengah mereka lakukan membuat film yang sedang diputar di TV terlupakan. Robert dan Yoris pun kian berani dalam menggarap tubuh artis cantik tersebut. Yoris dengan kasar menarik lepas celana dalam Icha membuat wanita itu kembali sepenuhnya telanjang bulat. Lalu dengan paksa, dua pria itu mengangkat kedua belah kaki Icha ke samping dan diletakkan ke paha mereka berdua sehingga posisinya mengangkang lebar membentuk huruf M membuat vagina Icha terkuak lebar. Posisi itu membuat Yoris kian leluasa mengaduk-aduk daerah kemaluan wanita itu.
“Ehss… aahh… oohh…” Icha mengerang lirih ketika tangan Yoris kembali mengaduk-aduk vaginanya. Apalagi saat yoris mulai memasukkan jari-jari tanganya yang kasar ke dalam liang vaginanya dan mulai mengocok liang vagina itu degan gerakan kuat.
“Ahh… aahh… oohh… oohh…” Icha mengerang, kali ini lebih keras, tubuhnya mulai menegang merasakan rangsangan yang kian hebat menekan tubuhnya. Tanpa terasa vaginanya mulai basah sehingga saat Yoris mengocoknya dengan jari, suara berkecipak terdengar keras ditingkahi desahan nafas dan erangan Icha. Tahu kalau rangsangannya berhasil, Yoris kian buas mengaduk-aduk kemaluan Icha, apalagi ketika klitoris wanita itu berhasil disentuhnya. Icha kian tak tahan merasakan desakan orgasme yang makin menggelora.
“Ohh.. oohh… ahh…” Icha tidak tahan lagi, dia merasa tubuhnya bisa meledak kapan saja. Tapi tepat ketika orgasmenya akan meledak, Mendadak Yoris dan Robert menghentikan rangsangannya. Seketika gelombang orgasme itupun melorot kembali. Hal itu membuat tubuh Icha melemas kembali. Sisa-sisa rangsangan orgasmenya membuat tubuh wanita cantik itu bergetar, dan mencoba untuk mendapatkan kembali orgasmenya, Icha menggerakkan pantatnya maju mundur seolah mencoba melakukan persetubuhan semu.
“Hehehehehe..” Robert dan Yoris tertawa melihat reaksi Icha yang terlihat menggelikan. Sontak Icha merasa malu. Orgasmenya melorot kembali ke titik nol.
“Kamu suka ya digituin?” tanya Robert sambil tersenyum sinting.
“Iya nih.. kayaknya konak berat..” Yoris menimpali. Icha diam saja, hanya nafasnya yang memburu saja yang terdengar. Tapi jelas sekali kalau dia menikmati permainan Robert dan Yoris. Karena itu Icha menurut saja saat kedua pria bejat itu mengulangi perbuatannya. Kembali Icha melenguh-lenguh merasakan kenikmatan seksual yang memuncak, tapi sekali lagi, saat hantaman orgasme terasa akan menjebol ubun-ubunnya, kembali Robert dan Yoris menahan rangsangannya, begitu terus selama beberapa kali membuat Yoris frustrasi setengah mati. Akibatnya ketika Robert dan Yoris akan menghentikan rangsangannya, dengan spontan wanita cantik itu menahan mereka berdua. Hal itu membuat Robert dan Yoris tertawa penuh kemenangan.
“Akhh… oohh..” Icha melenguh keras dengan wajah merah padam, rangsangan dari Robert dan Yoris benar-benar membuatnya tak tahan. Akhirnya setelah frutrasi menahan orgasmenya yang gagal berulang kali, Icha meledakkan dorongan seksualnya itu dengan satu erangan kuat.
“AAHHHKK…… AAHHHHH…!!!” Icha mengejang merasakan gelombang orgasme yang seperti meledakkan tubuhnya, bagaikan gelombang air bah yang memecah bendungan, desakan libido itu ditumpahkannya sekuat yang dia bisa.
Tubuh putih mulus wanita cantik itu mengejang ngejang beberapa saat, badannya melengkung ke depan seperti busur yang teregang kuat, membuat payudaranya yang kenyal terlihat makin menonjol dan mencuat dahsyat. Payudara itu bergetar hebat mengikuti irama tubuhnya yang bergetar keras, membuat tubuh yang telanjang bulat itu makin terlihat menggairahkan dan membangkitkan nafsu. Setelah orgasme yang begitu dahsyat itu tubuh mulus Icha langsung lemas seperti balon kempis. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang putih mulus membuat tubuh sintal Icha yang telanjang bulat itu terlihat begitu menggairahkan. Icha merasakan kenikmatan yang menghantam sekujur syarafnya sejenak membuat tubuhnya seperti melambung ke angkasa dan membuatnya mengambang selama beberapa detik. Seluruh akal sehatnya sudah tersapu oleh gelombang seksual yang melandanya. Nafasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari puluhan kilometer. Tak lagi dikontrol oleh akal sehatnya, Icha hanya bisa menurut saat Robert dan Yoris yang sudah melepaskan celananya memaksa wanita cantik itu untuk menggenggam penis mereka, dan dengan gerakan penuh nafsu, Icha mulai mengocok kedua penis yang sudah berdiri tegak itu sambil sesekali menjilatinya menggunakan lidah dan bibirnya yang seksi secara bergantian.
“Ohh… oohh…” Robert dan Yoris mengerang-erang merasakan cengkeraman tangan lembut Icha dan jilatan bibir wanita cantik itu menyerang penisnya. Secara cepat, gairah seksual mereka meledak kembali, dan sebagai wanita berpengalaman Icha tahu kalau kedua pria bejat itu sudah terangsang hebat, maka wanita cantik itu makin menggencarkan serangannya dan berharap kedua pria itu segera mengalami ejakulasi. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat Icha kecewa. Yoris dengan gerakan kasar mencengkeram tangan icha yang masih mengocok penisnya.
“Gak usah buru-buru deh Mbak..” kata Yoris kasar. Icha yag masih sibuk mengocok penis Robert terkejut sesaat.
“Apa…” Icha tergagap, tapi dia tidak sempat meneruskan ucapannya, karena Yoris segera menyuruhnya menungging di atas sofa dengan tangan menumpu pada pegangan sofa, sebelah kakinya, yang kanan, bertumpu di sofa pada lututnya, sedangkan kaki kirinya lurus menapak lantai, memuat pantat wanita cantik itu sedikit lebih tinggi ketimbang kepalanya.
“Jangan..” Icha menggeleng melihat yoris yang berdiri tepat di belakangnya mulai menggerayangi pantatnya yang padat, tapi ucapannya terhenti karena Robert yang berdiri di depannya memaksa wanita cantik itu untuk mengulum penisnya. Icha merasa mual merasakan penis Robert menjejali mulutnya, sementara di belakang, Yoris sedang bersiap-siap untuk menyarangkan penisnya ke dalam liang vagina artis cantik itu.
“Ohkh..” Icha mengerang teredam, penis Yoris yang berukuran besar membuat vaginanya seperti disodok pipa besi panas, rasa nyeri menyebar ke tubuhnya, meskipun sat itu vaginanya sudah dilicinkan oleh caran vagina akibat orgasmenya sebelum ini.
Seolah tidak peduli dengan keadaan Icha, Yoris pun langsung menggenjot vagina artis cantik itu dengan sekuat tenaga. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat seperti gerakan piston, mendesak vagina wanita cantik itu dengan gerakan kasar tak teratur. Meskipun sudah pernah melahirkan, tapi Icha rajin merawat vaginanya oleh karena itu tetap terasa sempit dan dinding-dindingnya terasa menjepit penis Yoris yang legam, saat ini sedang memenuhi organ, kewanitaannya.
“Ah.. ah… ah…” Icha hanya bisa mendesah pendek dengan nafas memburu atas perlakuan Yoris dengan suara teredam karena di lain pihak, mulutnya tersumpal oleh penis Robert yang sedang dikulumnya.
Yoris terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat membuat ubuh putih mulus artis itu tersentak maju mundur, membuat payudaranya yang indah bergoyang menggemaskan. Sodokan penis Yoris dari belakang membuat gerakan Icha tanpa diperintah mengulum penis Robert maju mundur. Penis Robert yang juga berkukuran besar membuat Icha membuka mulut dan tenggorokannya selebar yang dia bisa supaya bisa menampung keseluruhan batang penis Robert kekar itu.
“Mmhh.. mmmhh..” Icha hanya bisa bergumam tidak jelas sambil melirik ke arah wajah Robert yang meringis-ringis menahan gejolak seksual yang meledak-ledak. Bibir Icha mengatup dan menjepit ketat penis legam yang menyumpal mulutnya itu.
“Ahh… aahh.. yeah…” Robert mulai meracau tidak jelas merasakan kenikmatan yang menghajar sekujur penisnya, dan, seolah tidak sabar, dengan kasar Robert menjambak rambut Icha, kemudian menggerakkan kepala wanita cantik itu maju mundur sengan gerakan kasar membuat penisnya terpompa keluar masuk di mulut Icha. Sementara di sisi lain, Yoris terus menyodokkan penisnya di dalam liang vagina Icha dengan penuh semangat.
“Mmhh… nghh… mhh… agghhh…” Icha mengerang teredam menahan kenikmatan yang melanda tubuhnya.
Vaginanya terasa sangat perih tapi juga sangat nikmat saat gembong perampok itu menggenjot penisnya. Icha melenguh-lenguh liar merasakan kenikmatan persetubuhan yang dilakukannya, tubuhnya menggeliat-geliat dan bergetar hebat yang membuat Yoris kian bersemangat dalam menyodokkan penisnya. Pelan tapi pasti pria besar itu meningkatkan sodokan penisnya pada vagina icha. Goyangan pantatnya makin kuat membuat sodokan penisnya makin keras memompa liang vagina Icha membuat wanita cantik itu tidak kuasa menahan desahan kenikmatannya yang kian keras.
“Mhh… nghh… mmhh.. oogghh… ogghh…” erangan kenikmatan yang tak jelas tidak henti meluncur dari bibir Icha, deru nafasnya makin memburu seperti sedang berlari ribuan kilometer, keringat membasahi tubuhnya yang putih mulus membuat tubuh Icha yang telanjang bulat seperti berkilau. Gerakan wanita cantik itu makin liar membuat Robert yang tengah menikmati kuluman pada penisnya merasakan orgasmenya berakselerasi dengan amat cepat.
“Aahh… aahhh… oohh… fuckk… fucckkkhh…… aahhh…… aahhh…..” Robertpun mengerang seperti orang gila. Tidak seperti sebelumnya yang bisa menahan desakan ejakulasinya sendiri selama berpuluh menit, kali ini Robert harus menyerah.
“OOOHHKKHHH……. AAAHHH…” Robert mengerang keras merasakan hantaman orgasme yang menyerbu tubuhnya bagaikan badai api.
Seperti seluruh darahnya tersedot oleh kejutan ejakulasinya, tubuuh Robert mengejang. Sperma kental langsung memancar dari penisnya ke dalam tenggorokan Icha dan langsung tertelan oleh wanita cantik itu tanpa sanggup ditahan-tahan. Akhirnya Robert pun terkapar lemas merasakan sisa-sisa kenikmatan seksual yang baru saa menghajar tubuhnya. Icha merasa sedikit lega karena satu orang sudah menyerah, tapi dia masih harus melayani Yoris, pria itu tampaknya punya energi lebih dibanding Robert.
“Ohh… oohh.. yess.. yesss.. ah.. ah.. ayo Marisa.. lebih kerass.. ayo.. teruss..” Yoris menyemangati Icha.
Pria kekar itu masih berkutat menyetubuhi Icha dangan gaya menungging seolah tidak terpengaruh oleh ambruknya Robert. Dia makin kuat menggenjotkan penisnya. Dipeganginya pinggul Icha yang bulat lalu dengan kasar disentakkannya penisnya keras-keras di vagina Icha membuat tubuh putih mulus yang telanjang bulat itu tersentak-sentak maju mundur, dan hal itu dilakukan berulang ulang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat dan keras, kadang pelan tapi kasar. Tapi meski diperlakukan sedemikian kasarnya, Icha justru makin merasa nikmat. Lenguhan dan desahannya terdengar makin manja dan kian merangsang.
“Oohhh… aahhh… aahhh… oohh.. oohh.. aahh.. aahh..” kembali erangan dan desahan terdengar dari mulut Icha saat Yoris menggenjotkan penisnya dengan kuat.
Vagina Icha terasa melar disodok oleh penis Yoris yang berukuran besar. Suara berdecak keras terdengar sebagai akibat dari gesekan dua alat kelamin yang menyatu ketat mengiringi erangan dan rintihan nikmat kedua insan yang berbeda status yang tengah melakukan persetubuhan itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, gelombang birahi yang hebat kembali mencengkeram tubuh wanita cantik itu. Kembali tubuh putih mulus yang telanjang bulat itu menegang dan gemetar merasakan geombang orgasme yang memuncak. Marisa Haque benar-benar kehilagan akal menahan gelombang birahi yang makin keras melanda tubuhnya. Otaknya serasa macet tertutup oleh kenikmatan yang kian menggebu-gebu.
“OOHHKK….!! AAHHHH….!!” Icha tidak bisa menahan diri lagi. Erangan keras meluncur begitu saja dari bibirnya yang seksi. Tubuhnya kembali menggeliat keras.
“HGH… OHH….!!!” Dilain fihak Yoris juga tidak dapat menahannya, gelombang orgasmenya kali ini berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Wajah Yoris memerah merasakan aliran orgasme yang meningkat cepat. Sodokan penisnya mengeras dan akhirnya dia membenamkan penisnya sedalam yang dia bisa di liang vagina Icha.
“OOOHHHKKK…….. OOOHHHH….!!!” Yoris melenguh keras.
Spermanya menyembur di dalam vagina Icha mengisi rahim wanita cantik itu dengan benihnya.
Ketiganyapun akhirnya ambruk merasakan kenikmatan seks yang mereka dapatkan. Icha sendiri meskipun terpaksa, tapi dia merasakan kenikmatan yang asing dan jahat dalam tubuhnya yang, seperti candu, yang selalu ingin dia nikmati kembali.
******************************
Yoris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan tol. Disebelahnya icha duduk dengan raut letih Keinginannya saat ini adalah secepat mungkin sampai di rumah dan tidur untuk melepaskan penatnya. Dia merasa lelah secara fisik dan mental setelah selama beberapa hari ini dirinya dijadikan budak seksual untuk melayani nafsu bejat orang-orang yang sama sekali tidak pantas menjamah tubuhnya. Icha diantar di dekat komplek perumahan mewah dimana dia dankeluarganya tinggal. Icha menelepon suaminya dan minta dijemput. Setelah itu yoris meninggalkan icha sendirian, sembari menunggu kedatangan suami tercintanya. Setelah dijem[ut suaminya yang merasa cemas akan keadaan icha, icha pun dibawa pulang kerumah, sesampai disana icha menceritakan pada mereka bahwa dia kecelakaan mobil dan tersesat selama beberapa hari di hutan. , setelah menceritakan cerita karangan itu pad suami dan kedua anaknya, icha lalu masuk ke kamar mandi, Mandi di air dingin berjam-jam menjadi pelarian Icha untuk merontokkan kegalauan hatinya, seolah berharap penderitaannya akan larut bersama air yang menyiram tubuhnya. Bekas-bekas fisik persetubuhan yang tak dikehendakinya memang tersapu oleh air tapi bekas secara tak kasat mata terus melekat di hati wanita cantik itu. Tidurnyapun menjadi tidak nyenyak karena sepanjang malam mimpi buruk terus menerus mengganggu ingatannya ditambah dengan rasa bersalahnya jika menatap wajah suami dan anak anaknya yang begitu menyayanginya. Ia telah membohongi mereka dengan cerita dia tersesat di kawasan puncak, sampai seseorang menolongnya dan mengantarnya sampai persimpangan komplek rumahnya. Icha pun berpesan pada suaminya agar media massa tidak mengetahui bahwa dia telah hilang beberapa hari. Di satu sisi Icha merasakan jijik dan terhina luar biasa oleh kelakuan para pria bejat yang merampok tubuhnya luar dalam, tapi di pihak lain, alam bawah sadarnya mengatakan ingin kembali merasakan pengalaman yang penuh sensasi itu. Suaminya tidak pernah memberikannya kepuasan sexual sedahsyat yoris. masih terkenang bagaimana tubuhnya diremuk oleh kekuatan orgasme yang bagaikan ledakan seribu meriam menghajar syaraf seksualnya berkali kali. Tubuhnya yang rindu belaian pria. Icha menemukan muara untuk menyalurkan hasrat seksualnya yang melimpah. Tidak dari Ikang fauzi suaminya, melainkan yoris, pria yang bisa membawanya ke awang-awang kenikmatan duniawi yang selama ini dia cari-cari. Sekarang icha harus membuat sebuah scenario agar apa yang terjadi padanya selama beberapa hari menghilang dari rumah dapat disamarkan. Ia tidak ingin suami dan kedua anaknya tahu apa yang telah menimpanya.
*********************************
Lima hari setelahnya
“Lightingnya gimana?” teriak sutradara melalui TOA yang dipegangnya. Wajahnya pucat entah karena stress atau kelelahan. Sedari tadi dia sibuk berteriak sampai serak mengatur seluruh kru. Sedianya syuting hari itu akan diselesaikan hari itu juga, tapi semuanya berantakan ketika generator untuk tata cahaya meledak.
“Wah… parah Boss…” kata seorang kru. Perawakannya kurus dengan rambut gondrong diikat ekor kuda. Wajahnya tirus dan cekung mirip seorang pecandu narkoba. Dia bertugas sebagai kru peralatan yang biasanya melakukan bongkar pasang.
“Parah apanya?” tanya si sutradara melotot.
“Gensetnya… pan tadi Si Boss udah lihat sendiri..” katanya kalem.
‘Gua gak mau tahu ya..” si sutradara mulai naik darah. “Dalam satu jam semuanya harus sudah siap… kalau nggak..” Si sutradara tidak meneruskan ucapannya. “Dan elo Mad, elo bereskan itu kamera sebelum kena hujan,” kata si sutradara menunjuk ke atas. Langit memang terlihat gelap karena mendung. Sebuah keadaan yang tidak menguntungkan untuk meneruskan syuting. Belum lagi kru bertampang tirus itu menjawab, seorang petugas di bagian kamera berteriak keras.
“SOMAD………!!! bantuin gua angkat kabel …!!”
“Sial..!” kru yang ternyata bernama Somad itu mengutuk pendek sebelum melesat menuju orang yang memanggilnya. Gulungan kabel besar besar sudah menunggunya untuk diangkat.
“Mau dibawa ke mana Bang..?” tanya Somad gemetar karena keberatan membawa kabel sebanyak itu. Badannya yang kurus seolah tidak mampu menahan berat kabel yang diangkatnya sehingga orang-orang khawatir kalau sebentar lagi Somad akan roboh tidak sanggup mengangkat kabel segitu banyak. Meski begitu ternyata Somad mampu mengangkatnya, kendati kakinya yang terbungkus celana hipster ketat sedikit gemetar.
“Bawa ke wardrobe sono, tapi jangan tercampur sama properti yang lain,” kata kru yang memerintahnya. “hati-hati juga, di sana banyak kostum, jangan sampai elo salah taruh..”
Yang lainnya tertawa mendengar ledekan itu, tapi Somad santai saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dia berjalan terhuyung membawa gulungan kabel menuju tempat penyimpanan properti. Yang dimaksud sebagai tempat penyimpanan properti itu ternyata sebuah karavan (rumah mobil) yang disulap menjadi gudang berjalan bercat warna oranye dan hitam sewarna dengan logo rumah produksi pemiliknya, yakni artis cantik yang juga politisi, Marisa Grace Haque Fauzi. Ukurannya cukup besar sehingga pas kalau disebut sebagai rumah berjalan. Agak kesulitan Somad membuka pintu tempat penyimpanan. Ruang dalamnya yang sempit makin terlihat sempit karena dipenuhi barang, mulai dari tumpukan peti yang entah apa isinya, deretan rak dengan puluhan baju kostum syuting yang tergantung, gulungan kabel dan tumpukan barang lain yang kelihatannya merupakan properti usang. Pandangan Somad mengarah pada sebuah peti kecil berwarna hitam seukuran kopor baju.
“Wah..” Somad nyengir. “Ini kan kamera Ikagami terbaru..” kata Somad.
Dan meskipun tampangnya bego, otak Somad tidak setolol wajahnya. Dia pernah diajari oleh salah satu kru bagaimana cara mengoperasikan kamera itu. Lalu dengan gaya kameraman profesional dia mulai mengulik kamera digital canggih itu.
“Wah…” Somad ternganga. “Memory cardnya masih ada. Pasti ada kru yang lupa mencabutnya, wah.. akan gue laporin sama Boss..” katanya pada dirinya sendiri. Somad masih ingat kehebatan kamera di tangannya. Zoomnya mampu menjangkau jarak sampai seratus meter lebih, karena itu kamera ini sangat pas untuk megambil gambar Long Range, sementara close up shoot nya juga sangat mengagumkan, dia ingat petunjuk kawannya kalau kamera ini mampu meng close up wajah orang yang berdiri dengan jarak 150 meter tanpa cacat sedikitpun.Keasyikan Somad mengagumi kamera itu mendadak buyar ketika ada orang lain yang berjalan mendekat. Somad kelimpungan setengah mati ketika orang itu makin mendekat. Apalagi saat dengan jelas Somad mendengar gagang pintu diputar. Dengan gugup, tanpa sempat mengembalikan kamera mahal yang dipegangnya, Somad segera menutup peti penyimpanan kamera dan membawa kamera canggih di tangannya bersembunyi. Dengan gerakan seperti seekor tupai, Somad melompat masuk ke sela-sela tumpukan kostum syuting yang tergantung di rak yang ada di dekatnya, tepat ketika pintu terbuka.
“Elo gila! Ngapain elo ke sini..?” Somad samar-samar mendengar percakapan antara seorang laki-laki dan perempuan, yang, meskipun dilontarkan dengan setengah berbisik, tapi jelas kalau kedua orang itu tengah bertengkar.
”Nggak usah marah begitu deh Cha..” suara pria diiringi tawa lunak terdengar. “Gue udah bilang kan, kapanpun gue mau, gue bakal minta ke elo..”
“Tapi tidak di sini!” terdengar suara wanita dengan nada jengkel seolah nyaris menangis. “Elo bisa nunggu sampai gue selesai kan?”
“Nah.. itu persoalannya..” kata si pria lagi. “Gue nggak bisa nunggu lagi.. Tapi kalau elo nggak mau ya nggak apa-apa, sebentar lagi semua orang bakal tahu perempuan macam apa elo itu..”
“Jangan!” si wanita berkata tertahan dengan nada ketakutan. “Jangan.. baik, saya mau.. tapi jangan sampai ada yang tahu..”
“Ah.. di sini tidak ada siapa-siapa.. semua orang sedang sibuk di luar sono..” kata si pria kalem.
Somad yang bersembunyi merasa ketakutan setangah mati mendengar percakapan bernada ancaman itu. Dia sedapat mungkin berusaha tidak menimbulkan suara yang mencurigakan, dan selama beberapa menit dia berhasil melakukannya, sampai suara-suara ganjil membuatnya penasaran. Tadinya Somad bertekad tidak akan melihat apapun yang mereka lakukan, tapi suara-suara ganjil itu membuat darah Somad seolah bergolak. Desahan-desahan nikmat yang tertangkap telinga Somad menggedor jantung pemuda itu. Dengan mengerahkan segenap keberanian yang dimilikinya Somad mencoba melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh sepasang pria dan wanita itu. Jantung Somad seolah berhenti berdetak selama beberapa detik saat dia melihat apa yang terjadi. Sebuah pemandangan erotis terpampang di hadapannya. Seorang wanita cantik bertubuh indah, dalam keadaan setengah telanjang, hanya megenakan baju, begelantungan di tubuh seorang pria hitam dan berbadan kekar, pria itu menyetubuhi wanita itu sambil berdiri. Kedua kaki wanita itu mengapit melingkari pinggang si pria. celana panjang begitu pula dengan celana dalam mereka tergeletak di lantai, sedangkan baju safari yang dipakai si wanita terangkat ke atas dengan Bra merosot dari tempatnya sehingga payudara indah si wanita itu terlihat begitu jelas, sementara si pria, yang sama sekali jauh dari tampan, hanya pria itu berbadan kekar. celananya melorot sampai sebatas lutut, penisnya jelas-jelas membenam di dalam liang vagina si wanita, tengah menyetubuhi wanita cantik yang mengenakan jilbab itu dengan gerakan kasar, sementara mulutnya menjejali leher wanita yang mengenakan jilbab itu dengan cumbuan kasar. Dan jantung Somad makin tidak karuan ketika dia tahu siapa wanita yang tengah disetubuhi oleh si pria.
‘Itu… itu…” Somad menutup mulutnya menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara bahkan sebuah bisikan sekalipun.
Dia tidak pernah menyangka akan melihat sebuah adegan yang sama sekali bukan rekayasa dimana wanita yang sedang berhubungan badan itu adalah seorang artis cantik dan terkenal, Marisa Grace Haque, seorang yang selama ini somad kenal sebagai wanita yang taat dan setia pada suami. yang juga pemilik rumah produksi tempat dia bekerja tengah digagahi oleh pria yang bukan suaminya. yang sama sekali tidak ada seujung kukunya kalau dibanding dengan wanita cantik tersebut. Entah mendapat bisikan dari mana, Somad tiba-tiba menyalakan kamera Ikagami super canggih yang tanpa sadar digenggamnya begitu erat, dan dari balik lapisan kostum yang tergantung di rak, Somad mulai mengabadikan adegan erotis itu. Kehebatan kamera yang ada di tangan Somad dimanfaatkan dengan baik oleh pemuda itu. Gambar close up Icha yang melenguh-lenguh ditangkap dengan sempurna.
“Oohhh… aahhh… aahhh… oohh.. oohh.. aahh.. aahh..” erangan dan desahan terdengar dari mulut Icha, meski semula terpaksa, tapi jelas sekali kalau wanita cantik itu sagat menikmati hubungan seksual gila yang dia lakukan saat ini.
Meski begitu tampaknya pria itu tidak mau mengambil terlalu banyak, hanya limabelas menit lamanya kedua orang itu melakukan hubungan seks. Icha turun dari pelukan pria berpostur tegap itu, icha yang tadi disetubuhi pria itu sambil berdiri, belakangan ini mudah sekali mengalami orgasme, tidak mampu menahan sensasi dari dalam tubuhnya itu, dengan erangan tertahan dia melepaskan gelombang orgasmenya, sementara pada saat yang hampir bersamaan pria yang menyetubuhinya pun mengerang lirih dan melepaskan spermanya di dalam liang vagina artis cantik itu. Tangan pria tersebut menahan dan meremas kedua pantat icha yang montok seolah ia tak mau melepaskan icha yang tak kalah menikmati orgasmenya. Terlihat pria itu melepaskan icha yang bergelayut di tubuhnya.
“Sekarang kau pergi yoris…” kata Icha yang merapikan pakaiannya dengan tergesa-gesa saat ada orang yang memanggil-manggil namanya.
Pria yang ternyata adalah Yoris itu hanya mesam-mesem sambil menarik retsleting celananya.
“Nanti malam kita terusi lagi…” katanya pendek sambil mengambil rokok dari saku bajunya, lalu dengan santainya Yoris berjalan keluar seloah tidak terjadi apa-apa.
Icha bergegas merapikan pakaiannya dan berjalan keluar dari tempat terkutuk itu. Terdengar seorang kru berbicara dengan pemilik production house itu yang dijawab dengan bentakan galak oleh Icha.
Somad, yang meskipun sudah selesai menyaksikan adegan –sekali seumur hidup- barusan, kaku di tempat persembunyiannya. Wajahnya pucat pasi, sementara tangannya menggenggam erat kamera canggih yang dipegangnya seolah takut kamera itu bakal berteriak mengenai apa yang baru saja dia rekam. Baru setelah lewat sekian detik, Somad menghela nafas panjang sekali. Dirinya baru sadar kalau dia dari tadi menahan nafas begitu lama.
‘Oke Mad.. oke.. tenang..” kata Somad pada dirinya sendiri.
Jantung pemuda kurus itu berdetak dua kali lebih kencang, tanpa sadar dia memegang penisnya yang tegang menyaksikan adegan seks yang terpampang di hadapannya. Celana dalamnya terasa lengket oleh cairan kental, tanpa sadar rupanya sperma Somad ikut keluar akibat tidak tahan. Lalu dengan gemetar, Somad mengembalikan kamera yang dipegangnya ke dalam pei penyimpanan, tapi entah apa yang mendorongnya, Somad mengambil kartu memori tempat penyimpanan flm dari kamera itu. Sepanjang malam Somad tidak bisa tidur nyenyak. Langit-langit kamar kostnya yang kosong dipelototi terus menerus dan selalu saja adegan hubungan seksual antara Marisa haque, wanita pemilik rumah produksi ini dan Yoris muncul di sana. Kejadian yang diabadikannya dengan kamera itu terus-menerus melekat dalam pikirannya. Dipandanginya foto Icha yang dipajang di kamarnya dengan pikiran melantur tidak jelas. Tidak tahan melihat foto wanita yang tadi pagi dilihatnya nyaris telanjang, Somad segera kabur ke kamar mandi dan disanalah dia beronani. Somad, adalah pria yang senantiasa mempuyai fantasi seksual gila terhadap artis setengah baya namun masih tetap cantik itu, mereka bersedia membayar berapapun untuk bisa berhubungan badan dengan Marisa haque, bahkan jika seandainya ada iblis yang menawarkan diri membantu dengan imbalan menukar jiwa mereka sebagai imbalan mereka hampir bisa dipastikan akan menerimanya. Somad bekerja dengan pikiran kalut. Ribuan rencana kini memenuhi otaknya yang setengah kriminal, sehingga kalau seandainya sebuah mesin, orang akan mampu mendengar roda gigi di dalam otak Somad berputar puluhan kali lebih kencang. Meski begitu dia tidak mampu menentukan pilihan apa yang akan diambilnya dengan kejadian yang dialaminya kemarin.
‘Bagaimana caranya..?” begitu terus menerus Somad menggumam tak jelas.
Berkali-kali dia ditegur karena teledor melakukan kerjanya. Semua rekan kerjanya bingung dengan kelakuan Somad yang ganjil. Beberapa mengira kalau Somad kerasukan setan yang ada di lokasi syuting yang buru-buru disanggah oleh rekan yang lain. Somad baru berhenti bergumam sendiri saat dia melihat seorang kru mencabut kartu memori dari kamera dan dipindah ke card reader yang ada di laptopnya. Spontan Somad meraba saku celananya dimana kartu memori yang menyimpan adegan seksual Icha dengan Yoris tersimpan. Dengan tekun Somad memperhatikan bagaimana kru tersebut memindah isi kartu memori ke dalam hard disk. Otak Somad rupanya cukup cerdas untuk mempelajari hal-hal seperti itu, apalagi dengan prospek menyenangkan menunggunya di depan mata. Lalu dengan sedikit memberanikan diri, Somad mulai menanyakan beberapa hal pada kru tersebut.
“Kalau untuk membuat video yang profesional emang rumit Mad. Elo butuh program khusus, misalnya Adobe Director, Adobe Premiere dan After Effect untuk melakukan editing dan memberi efek khusus buat video elo itu, dan elo tahu nggak sekali jadi buat belajar sampai level kayak gitu.” Kata si kru. “Tapi kalau sekedar memindah isi memory card ke CD sih gampang. Elo cukup modal CD writer sama program burner, misalnya Nero.” Kata si kru sambil menunjuk logo program Nero Startsmart pada desktop.
Rupanya keberuntungan sedang memayungi kehidupan Somad belakangan ini, terbukti ketika dia berniat meminjam laptop dari temannya malahan teman Somad tersebut berniat menjual laptopnya dengan harga murah dengan alasan butuh uang. Somad langsung menyetujui untuk membayari laptop temannya itu setelah dia tahu semua kebutuhannya ada pada laptop yang dimaksudkan. Meski begitu baru tiga hari setelah hari keberuntungan itu Somad bisa melaksanakan aksi Mission Impossible nya.
Icha baru saja memasuki mobilnya untuk bersiap pulang ketika seorang kru anak buahnya dari bagian make up memanggilnya.
“Buk.. ini ada yang ketinggalan.” Kata kru pria yang agak kemayu itu.
“Apa ini Han..?” Icha bertanya bingung. Sebuah amplop kecil berwarna coklat, disegel dengan lem agak berlebihan. Tulisan “UNTUK IBU MARISA HAQUE” dengan spidol hitam tertera jelas di bagian depan, meski agak mirip tulisan cakar ayam.
“Buat saya.?” kata Icha seperti ditujukan buat dirinya sendiri.
“Sepertinya emang untuk mbak Icha, kan namanya ditulis jelas.?” kata kru bernama Han itu dengan gaya kenes.
“Dapat dari siapa?” tanya Icha ragu.
“Wah, dari siapa nggak tahu mbak.. soalnya tadi ngegeletak di meja rias .” jawab han, masih dengan gaya kenes.
“Icha tertawa melihat gaya kemayu si Han, dengan sedikit penasaran dia merobek amplop coklat itu. Isinya sebuah Compact Disk putih polos dengan merk murahan. Sebuah catatan dari sepotong kertas bekas sobekan notes yang ada kop rumah produksinya ikut terjatuh saat Icha mengambil CD dari dalam amplopnya.
“Hanya boleh dilihat kalau sudah ada di rumah. Kalau sudah selesai melihat isinya, segera hubungi nomor ini ..” Icha membaca isi catatan. Sebuah nomor telepon CDMA tertera di sana. Penasaran Icha menghidupkan CD player di mobilnya, tapi invalid. CD tidak bisa dibaca oleh player biasa. Tamara paham kalau CD itu hanya bisa dibaca menggunakan komputer.
Agak mengabaikan CD yang diperolehnya secara misterius, Icha mengemudikan mobilnya dengan kecepatan biasa. Begitu sampai di rumahpun Icha masih sempat mandi dan makan malam. Baru ketika akan tidur Icha ingat dengan CD misteriusnya. Sedikit rasa penasaran dan khawatir menyelimuti perasaan Icha yang belakangan ini tidak karuan. Bahkan sebuah perasaan menakutkan bahwa akan ada bencana susulan menyergap perasaan wanita cantik itu, meskipun segera ditepisnya.
Pelan-pelan Icha menyalakan laptopnya dan memasukkan CD ke dalam drivenya. Semula hanya beberapa adegan sinetron yang muncul di layar laptop. Selama beberapa menit semuanya berjalan normal, sampai adegan yang membuat Icha panas dingin. Adegan persetubuhannya dengan Yoris di ruang wardrobe terpampang dengan jelas. Beberapa scene malah menunjukkan dengan jelas ekspresi Icha yang terlihat menikmati hubungan seksual yang dilakukannya. Spontan Icha mengangkat laptop miliknya itu dan membantingnya ke lantai sampai hancur berkeping keping diiringi suara ledakan keras. Masih belum cukup, Icha mengangkat kepingan laptop tersebut dan menghantamkannya ke lantai berkali-kali sampai benar-benar hancur, termasuk CD yang ada di dalamnyapun ikut hancur berkeping-keping. Penderitaan yang dialaminya rupanya bakal bertambah dengan adanya orang lain yang memanfaatkan kelengahan dan keteledorannya. Rasa kesal, malu, marah dan tidak berdaya yang teraduk menjadi satu membuat dada icha seperti diinjak oleh seekor gajah raksasa, dan perlahan tangis wanita cantik itupun pecah tidak kuasa menahan perasaan yang makin menggila di hatinya. Lalu bagaikan orang gila, Icha mengaduk-aduk isi tasnya, mencari catatan yang ditemukannya bersama CD yang memutar kehidupannya kembali ke awal bencana. Segera Icha menyambar HP nya dan menekan nomor yang ada di catatan kecil itu.
“Halo!” Icha mmbentak marah ketika teleponnya tersambung. Suara pria menjawab dari seberang.
“Jadi sudah dilihat isinya buk…?” kata orang itu.
“Jangan macam-macam Bangsat..!” Icha meluapkan emosinya. “Kalau kamu berani macam-macam..”
“Hmm ibu tidak pada posisi yang kuat untuk mengancam buk!” balas pria di seberang dengan tidak kalah galaknya. “Karena rahasia bu icha ada sama gue. Jadi, kalau elo mau selamat, lebih baik elo nurut sama gue.. atau…” pria itu mengulur suaranya, menikmati efek ketakutan yang tengah melanda Icha. “Seluruh dunia akan tahu .. ..”
“Jangan!” Icha mendadak merasa lemah dan takluk mendengar ancaman itu. Tawa kemenangan terdengar dari seberang.
“Jadi.. sekarang ikuti perintah gue, patuhi apa yang gue katakan.. paham?” bentak pria itu. Icha mengiyakan dalam isakan tertahan. Pria itu memerintahkan Icha untuk pergi ke suatu tempat .
Keesokannya icha mengendarai mobilnya sendirian ke tempat yang ditunjukan pria misterius itu, sekarang Icha telah sampai di tempat yang sudah ditentukan itu , Wanita cantik itu terlihat celingukan tidak tahu harus ke mana. Jalanan dimana dia berada saat ini sepi sekali, wajar karena jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Deretan ruko dengan rolling door besi kelabu seperti benteng baja yang mengepung Icha, kesemuanya sudah tutup. Sesekali Icha dikagetkan bunyi kelontang kaleng jatuh tersenggol hewan malam. Keremangan lampu penerangan yang terkesan setengah hati makin mengesankan kalau tempat itu merupakan tempat berkumpulnya para pelacur murahan, dan dengan pakaian seadanya yang dia pakai membuat Icha merasa dirinya benar-benar sudah berubah menjadi pelacur pinggir jalan. Mendadak HP icha bergetar tanpa suara. Wanita cantik itu buru-buru mengambilnya. Nomor yang sama seperti yang ada di catatan CD tertera di sana.
“Udah sampai ya..?” tanya pria itu, membuat Icha gelagapan, seolah pria itu bisa melihatnya. Spontan Icha memandang ke segala penjuru, mencari apakah ada orang yang mengawasinya.
“Kalau elo mau cari gue..” kata pria itu sambil tertawa, membuat Icha menghentikan usahanya. “Coba elo lihat di depan elo, ada ruko yang pintunya dicoret-coret pake pilox..”
Icha segera mencari ruko yang dimaksud, tidak mudah mencarinya karena hampir semua pintu ruko sudah dicorat-coret para seniman liar jalanan dengan grafitti yang sesungguhnya sangat indah kalau dipasang di tempat yang pas. Tapi Icha beruntung saat dia melihat sebuah ruko yang rolling door nya tidak tergembok. Icha makin yakin setelah si penelepon mengiyakan bahwa memang ruko yang dilihatnyalah yang dia maksud. Dengan sedikit gemetar Icha mendorong pintu besi kelabu itu dan menutupnya kembali. Butuh beberapa saat bagi mata Icha untuk menyesuakan diri dengan keremangan ruang di dalam ruko yang hanya diterangi sebuah bola lampu kecil.
Icha mengasumsikan kalau dirinya sedang berada di sebuah gudang atau bekas bengkel mobil, kalau menilik barang yang ada di sana dan bau karet bercampur oli bekas yang mendominasi ruangan. Ruangan itu tidak lebih luas dari sebuah garasi dua mobil. Sebuah kompresor ukuran sedang tergeletak di sebelah kiri dinding yang penuh dengan rak berisi onderdil bekas. Tumpukan ban bekas ada di sisi yang lain dan sebuah motor tua karatan dengan kedua bannya kempes teronggok merana di bagian paling ujung ruangan. Di sebelahnya terdapat tumpukan peti yang tertutup lembaran-lembaran tripleks. Icha melihat sebuah tangga besi di dinding paling dalam, menuju ke lantai dua. Di beberapa tempat terserak kaleng-kaleng bekas oli dengan berbagai merk. Mendadak lampu gantung yang menjdi penerangan utama ruangan itu menyala secara serentak, membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Icha terkesiap kaget, dia merasa saat-saat yang mengerikan itu akan tiba kapan saja. Dalam kondisi terang benderang Icha bisa melihat jelas kalau ruangan tempatnya berada saat ini adalah sebuah bengkel yang tidak terpakai, merujuk pada debu tebal yang melapisi tempat itu dan sarang laba-laba yang menempel di beberapa sudut. Meski begitu Icha sempat melihat ada beberapa tempat yang terlihat sangat bersih, terutama bagian lantai ruangan yang terbuat dari keramik kelabu kusam, seperti ada yang mengepel lantai itu beberapa saat sebelumnya.
“Sampai juga akhirnya..” terdengar suara pria dari arah tangga besi yang menuju lantai dua. Icha yang sibuk memperhatikan keadaan sekeliling tidak menyadari kedatangannya, dia serentak membalikkan badan.
“kamu kan…” Icha terperanjat dengan mata terbelalak setelah mengetahui siapa pria yang mempermainkannya selama ini. Somad, pria yang dikenalnya sebagai kru di rumah produksi miliknya!. “kamu kan….”
“Somad, Buk…” kata Somad meninggalkan basa-basi yang selama ini dia gunakan jika bertemu orang lain. Icha yang kesal dan marah setengah mati langsung mendekati Somad dan menampar wajah pria itu dengan keras.
Somad terdorong ke belakang beberapa langkah. Icha yang tinggi tubuhnya 175 cm tampak menjulang di hadapan Somad yang Cuma 155 cm. Meski begitu, Somad tetaplah seorang pria dengan kekuatan tersendiri. Seketika Somad bangkit dan melancarkan sebuah pukulan keras ke bagian perut Icha, Icha langsung terjatuh dan meringis kesakitan.
“Kesalahan besar buk…” kata Somad memegang pipinya yang masih terasa panas. “Ibuk marisa sudah berbuat kesalahan besar… “ katanya sambil menjambak rambut Icha. “Dan elo bakal menyesal melakukannya..” Somad mendekatkan bibirnya ke telinga Icha dan berkata pelan. “Elo masih ingat film mesum elo yang gue kirim..?” somad mulai bicar tak sopan,
Seketika Icha pucat mendengarnya, dia merasa menyesal bukan main telah menampar Somad, dia menatap wajah Somad dengan ketakutan.
“Kalau gue telepon temen gue sekarang, maka besok pagi, film bokep elo bakal jadi film bokep yang paling dicari di Glodok.” Kata Somad dingin.
“Jangan..” Icha bergidik ngeri. Untuk kesekian kalinya Icha harus takluk pada orang yang sama sekali tidak sebanding dengannya. Tapi Icha tidak berani berbuat macam-macam dengan ancaman itu, kalau sampai ancaman itu terbukti, maka kehidupannya bakal lebih sengsara ketimbang saat ini.
“Jangan.. saya mohon, maafin gue.. maafin gue..!” Icha menghiba dan berlutut di bawah kaki Somad. Seketika mental Somad terangkat, kebanggaan luar biasa membuncah di dalam hatinya, sebagai seorang yang selama ini terpinggirkan, hari ini bisa menaklukkan seorang selebriti cantik dan dihormati banyak orang.
“Baik..” kata Somad dingin, lalu dia mulai melakukan percobaan untuk melihat sampai seberapa jauh dia bisa menguasai artis cantik itu. “gue maafin elo, tapi elo musti ikutin semua perintah gue..”
“I.. iya.. baik.. gue nurut sama elo..” balas Icha.
Somad terkejut sesaat, dia tidak menyangka hasilnya akan seperti ini, jauh di luar pengharapannya. Bahkan jauh lebih besar dari apa yang diinginkannya. Semua rencananya berjalan dengan mulus, semulus wanita cantik yang ada di hadapannya.
“Eh.. baik..” kata Somad agak gugup karena kebingungan dan sudah mulai panas dingin. “Sekarang elo lepasin pakaian elo, sampai bugil..!”
Icha tergagap. Meskipun sudah pernah menghadapi peristiwa seperti ini sebelumnya, tapi tetap saja nalurinya sebagai wanita menolak kalau harus bertelanjang bulat di hadapan pria yang bukan siapa-siapanya, apalagi pria itu adalah orang yang sama sekali tidak pantas disejajarkan dengannya.
“ sadarlah mad.. sadar…” ujar icha berusaha bernegosiasi
“Buka!” Bentak Somad membuat icha gemetar.
“I.. iya.. gue buka..” icha berujar tergagap. Icha membuka kancing baju nya stau persatu,
“ celana mu juga!” perintah somad. Icha pun melepaskan celananya.
“Oohh.. muluss…” Somad meneguk ludah menyaksikan icha mulai melepas pakainannya satu persatu, keindahan paha mulus icha yang bening dengan pinggul yang bulat padat berakhir pada pinggang yang indah.
“Lepas tuh CD nya, .!” perintah Somad jelas.
Icha terisak sesaat, lalu dengan sekali tarik, celana dalam itu langsung lepas dari selangkangannya, menampakkan gundukan vagina yang terawat cermat, tanpa rambut sama sekali karena icha selalu rajin merawat bagian kewanitaannya tersebut. Mengingat icha sudah punya anak, Somad heran sekali melihat vagina majikannya yang terlihat begitu bagus, tapi sesaat kemudian diapun maklum karena wanita itu adalah artis terkenal dan punya banyak uang sehingga tidak sulit baginya utuk melakukan perawatan tubuh.
“Hehehehe… mulus banget nih body elo!, gak disangka wanita seumur elo masih mulus banget.. apalagi toked elo… gede, montok, mulus pula..” puji Somad tanpa basa-basi, meski lebih terdengar sebagai bentuk pelecehan. Icha menjadi malu dan menutupi bagian tubuhnya yang mana saja yang bisa dia tutupi dengan tangannya.
“Eh.. siapa yang suruh elo nutupin pemandangan indah gue..?” kata Somad dengan nada tinggi. Icha gugup mendengarnya dan langsung menyingkirkan tangannya dari tubuhnya sendiri.
“Biar kata lo istri orang, udah emak – emak ,tapi tetap sip, nah elo sekarang buka kaki elo lebar-lebar, lalu angkat tangan elo ke atas kepala..” perintah Somad tajam. Tanpa bisa berbuat banyak, Icha segera menuruti perintah itu, kedua kakinya direnggangkan lebar-lebar membuat belahan vaginanya ikut membuka, dan posisi tangannya yang di atas kepala membuat payudaranya kian mencuat ketat.
“Ohh… muluuss..” Somad mengagumi keindahan tubuh artis senior yang cantik itu,, membuat keseksiannya kian menonjol.
“Sekarang elo pindahin tuh tripleks-tripleks yang ada di situ!” Somad menunjuk ke arah tumpukan tripleks yang menutupi tumpukan peti. Dengan enggan icha mengangkat tripleks-tripleks itu, terlalu berat untuk seorang wanita yang tidak biasa bekerja kasar sepertinya. Icha langsung lemas setelah mengetahui mengapa Somad memerintahkannya memindah tripleks-tripleks itu. Di balik tumpukan tripleks itu rupanya tersembunyi sebuah ranjang kayu usang yang dilapisi kasur tipis yang tidak kalah usangnya. Menjadi jelas baginya kalau sebentar lagi tubuhnya yang mulus bakal menjadi pelampiasan nafsu seksual bagi Somad. Yang mengherankan Icha adalah, bagaimana bisa seorang Somad yang baginya terlihat lugu dan bego bisa merencanakan sampai sedetil ini.
“Elo… elo mau perkosa gue..?” Icha tercekat mengucapkannya.
“Nggak… nggak..” Somad tertawa pelan. “Siapa yang mau perkosa elo..?” Somad tersenyum licik. “ sebenarnya gua demen sama anak lo yang paling besar.. tapi setelah kuperhatikan, ternyata ibunya tak kalah cantik dari anaknya,.. dan Elo musti mau gue entot secara suka rela, paham?”
Ucapan terakhir itu membuat Icha merah padam wajahnya karena malu dan marah.
“kamu gila..!” Icha mendesis marah.
Somad yang terangsang berat itu dengan cepat mendekati icha dan menggumulinya, hingga icha terdorong keatas ranjang.
“Ohh… mulus bangeet…” Somad mulai menaiki tubuh putih mulus Icha yang telanjang bulat dan terlentang pasrah di atas ranjang.
“Nggak… jangan… mmmhh !” Icha menggeleng saat bibir Somad akhirnya melumat bibir seksinya. Tapi tentu saja itu tidak menghentikan Somad untuk menikmati sesuatu yang sedari tadi ditahannya. Tangan kurus pria itu mendekap kepala Icha membuat artis cantik itu tidak berdaya untuk menghindar saat Somad menghujani bibir dan wajah cantiknya dengan kecupan-kecupan.
“setan kau somad.. lepaskannn…. Dasar tak tahu diriii!!! Mmmmhhh..” lama lama makian icha terdengar menjadi mulai mendesah karena lidah Somad mencoba masuk dan menjilat langit-langit mulutnya. “Mmmmhhh..” desah icha tertahan karena mulut mereka masih menyatu. Somad pun menurunkan ciumannya ke arah leher. Dijilati dan diciuminya leher putih tersebut. Tangan kanannya pun mulai bermain main di sekitar puting kiri icha. Jari telunjuknya berputar putar di sekitar ujung putingnya dan terkadang digeseknya pelan sehingga semakin lama icha pun menjadi semakin naik birahinya.
“Oohhh…” Icha mendesah pelan menandakan kalau birahinya mulai naik, sesuatu yang aneh mengingat tadinya dia menolak melakukan hubungan seksual dengan pria kurus itu. Somad pun menurunkan lagi ciumannya ke arah dada kanan icha. Lalu ia mulai menyerang puting payudara Icha dengan lidah dan bibirnya. Dihisap dan terkadang digigit dengan lembut puting kanannya itu membuat Icha serasa terbang melayang. Tangan kanan Somad mulai memencet dan memilin puting kiri icha.
“Ohh…shitt!! Ohhh!! God!!” icha mendesah-desah liar ketika Somad menyentil-nyentilkan lidahnya pada putingnya yang sensitif, kadang disertai gigitan kecil yang membuatnya makin menggelinjang, dia merasa vaginanya mulai basah karena rangsangan-rangsangan itu. Tapi tampaknya Somad tidak mau terburu-buru dalam mengerjai icha. Somad mengangkangkan kaki kedua kaki icha lebih lebar lagi membuat vagina artis senior itu membuka lebar, maka dengan leluasa Somad mulai mengobok-obok daerah paling rahasia icha dengan tangannya. Dielus-elusnya dan diremasinya daerah kemaluan icha yang licin tak berbulu, membuat icha menggeliat dan mendesah nikmat. Desahan icha kian keras saat Somad mulai mengaduk-aduk liang vagina itu menggunakan jarinya.
“Oohh.. ohh.. aahh.. ahh.. kamu apain aku somaddd setannnn!!!!” icha mengerang dan menggeliat tak terkendali merasakan rangsangan Somad yang mengaduk-aduk vaginanya. Akhr-akhir ini Icha merasa dirinya mudah sekali dibangkitkan nafsunya, apalagi jika daerah sensitifnya sudah disentuh. Akhirnya tidak dapat ditahan lagi, gelombang kejut orgasme segera menghantam tubuh artis senior itu.
“Ayo.. Jangan ditahan buk. Keluarin aja.. Ayo..” Somad menyemangati icha sambil terus mengobok-obok vagina artis setengah baya yang tengah terangsang hebat itu, membuat icha makin tak tahan.
“Nnhh.. ngghh.. oohggh.. ohh..” Icha melenguh sambil menggigit bibir. Rangsangan Somad dirasakan kian hebat menyiksa sekujur syarafnya yang sudah menegang. Akhirnya icha menyerah pada libidonya yang kian meledak, tubuhnya kembali mengejang keras dan melengkung kaku sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali. Seketika cairan vaginanya membanjir membasahi selangkangannya. Dan Somad tahu kalau wanita cantik itu kini sudah siap untuk disetubuhi, dia langsung melepas celana dalamnya, membuat penisnya yang sedari tadi tegang langsung mencuat tegak. Ukurannya sedikit lebih kecil dibanding milik Robert atau Yoris tapi terlihat lebih kokoh dan berurat. Sejenak dipandanginya tubuh putih mulus wanita cantik yang terbaring telanjang bulat itu, kemudian Somad mulai menindih tubuh icha.
“Mmmhh…. Ohh..” Icha mendesah tertahan saat penis Somad membenam di dalam liang vaginanya.
icha merasakan penis Somad berdenyut memenuhi liang vaginanya. Somad melihat reaksi icha bukannya mengendor malah justru makin bersemangat, dilumatnya bibir icha yang seksi itu sambil terus berusaha mendorongkan penisnya sampai seluruhnya terbenam ke dalam vagina icha.
“Ohh.. alot banget punya lo ya!!!..” Somad mengerang saat penisnya membenam seluruhnya di dalam liang vagina icha. icha merasakan kemaluannya seperti terbelah. Dia berusaha melebarkan kakinya selebar mungkin untuk mengurangi rasa sakit itu sehingga membuat Somad lebih leluasa melakukan penetrasi.
“Ngghhh… oohhh…” Somad mendengus-dengus penuh nafsu, desakan seksual sudah sampai di ubun-ubunnya, maka diapun segera menggerakkan pantatnya maju mundur untuk menggenjot vagina artis senior itu dengan penisnya.
“Ngghh… oohh… ohh…” Somad mengerang-erang penuh nikmat tiap kali penisnya memompa liang vagina icha. Gerakannya makin lama makin kuat dan kasar membuat wanita setengah baya itu kewalahan, dan sementara bagian kemaluan mereka bersatu ketat, bibir merekapun bertaut satu sama lain, saling lumat dan saling kulum penuh semangat. Rupanya kepasrahan icha membuat wanita itu merasakan kenikmatan seksual yang diinginkannya. Apalagi Somad cukup lihai dalam melakukan French kiss, lidahnya beraksi di dalam rongga mulut icha dan membelit lidah wanita cantik yang terpelajar itu dengan ketat. Icha yang terangsang membalas perlakuan itu dengan keganasan yang sama. Kepasrahan ditambah ledakan orgasmenya membuat wanita itu melupakan posisinya yang sedang mengalami perkosaan. Tidak tampak lagi Marisa haque yang tadi merasa terhina, yang ada sekarang adalah seorang wanita setengah baya yang haus akan belaian liar, yang siap memuaskan pria yang menidurinya.
Pelan tapi pasti, rintihan kesakitan Icha mulai berubah menjadi desahan-desahan manja. Vaginanya sekarang sudah mampu menerima sodokan penis Somad. Somad juga makin lancar menggenjot vagina majikannya itu. Gerakan sodokan penis Somad makin lama makin cepat dan ganas membuat wanita melenguh-lenguh penuh nikmat.
“Ohh.. ohh.. ahh.. ahh.. nnhh.. nghh..ohh..” Icha menggeliat-geliat menikmati setiap sodokan penis Somad pada vaginanya.
Selama hampir sepuluh menit Somad menggenjot vagina bosnya yang masih alot itu, sampai akhirnya pertahanan icha jebol. Diiringi dengan rintihan panjang, icha merasakan sensasi kuat menjalari sekujur tubuhnya. Tubuhnya menegang dan melengkung ke belakang, tangannya dengan kuat mencengkeram punggung Somad. Vaginanya berdenyut kuat sekali seperti meremas penis Somad. Di ambang klimaks, tanpa sadar icha memeluk Somad dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan sampai icha mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat pundak Somad sampai kuku-kukunya membenam di punggung pria kurus itu.
“Aahhhhhhkkkhhhhh…. Oohhhhhhh….” Icha mengejang dan merintih keras, orgasmenya meledak menghantam seluruh syaraf kenikmatan seksualnya. Sesaat kemudian tubuhnya melemas kembali dan tergolek di ranjang. Nafasnya memburu membuat payudaranya naik turun.
Somad sendiri merasa cengkeraman vagina Icha seolah hendak membobol pertahanannya juga, tapi dia harus berterima kasih pada obat kuat yang diminumnya sebelum ini karena penisnya tetap menegang dan mampu menahan desakan ejakulasi yang sudah sampai di ujung kepalanya. Tanpa menunggu apakah Icha siap, dia langusung menarik tubuh telanjang wanita cantik, yang adalah orang yang menggajinya setiap bukan itu dan memposisikannya menungging dengan posisi pantat lebih tinggi dari kepala lalu dilebarkannya kedua paha mulus wanita itu sampai liang vaginanya kembali membuka.
”Ehssss…..” Icha mengerang sambil menggigit bibir ketika penis Somad kembali membenam di dalam liang vaginanya. Kali ini tanpa kesulitan karena vagina itu sudah benar-benar basah. Maka kembali Somad menikmati jepitan liang vagina Icha pada penisnya dengan menyodok-nyodokkan penisnya kuat kuat di dalam liang vagina wanita itu.
“Nhh… ngghh.. ohh… ohhh…” Somad melenguh-lenguh menikmati sepenuhnya bersetubuhan yang dilakukannya.
Betapa besar perbedaan yang dirasakannya karena selama ini Somad hanya mampu melakukan hubungan seksual dengan pelacur murahan, sekarang yang tenah disetubuhinya adalah seorang wanita yang tidak saja cantik dan seksi tapi juga berstatus sebagai seorang artis terkenal, dan kenikmatan lebih yang dia rasakan adalah kenyataan bahwa artis cantik itu sudah sepenuhnya ada dalam kekuasaannya sehingga kapan saja dia mau dia bisa memintanya untuk bersenggama lagi dan lagi. Kali ini dimintanya icha mengangkangi penisnya sementara dia sendiri terlentang di atas kasur. Posisi itu membuat icha leluasa bergerak. Dengan penuh semangat Icha menggerakkan pantatnya naik turun sehingga penis Somad yang menyatu ketat di dalam vaginanya terpompa dengan keras.
Desahan nafas diimbangi dengan suara kecipak akibat gesekan dua kemaluan mereka yang menyatu membuat gairah mereka kian terpacu. Ditambah lagi Somad yang kemudian sibuk menikmati kedua belah payudara icha yang menggantung bebas dengan remasan lembut dan jilatan jilatan pada kedua puting payudara itu membuat birahi icha kian tak terbendung lagi. Sejenak icha kembali lupa daratan, icha hanyut oleh dorongan seksual liar akibar permainan somad, karyawannya yang kurang ajar itu.
Dan ketika keduanya sudah mendekati puncak, Somad memeluk erat tubuh mulus bosnya itu dan kembali menindih tubuh telanjang itu. Icha, yang memang telah menjadi wanita jablay, menyambutnya dengan ciuman ganas di bibir Somad sambil melingkarkan kedua kakinya di pinggang Somad, membuat pria itu leluasa menyodokkan penisnya kuat-kuat. Selama beberapa menit mereka berpagutan sementara bagian selangkangan mereka saling menyatu ketat, akhirnya keduanya tidak tahan lagi dan melepaskan orgasmenya. Icha yang lebih dulu jebol, tubuhnya kembali mengejang dan gemetar, cengkeraman tangannya kian erat membuat kukunya menggores punggung Somad, sementara kedua kakinya kian kuat melingkar di pinggang pria itu.
“OOOHH..!!! AAAHH…..!!!” Marisa haque mengerang keras, tubuhnya melengkung ke belakang seperti hendak melemparkan pria yang tengah menindihnya ke udara. Diinding vaginanya berkontraksi keras, lebih keras dari sebelumnya membuat Somad merasa sebentar lagi penisnya bakal terbetot lepas. Kekuatan kontraksi dinding vagina icha yang begitu kuat membuat Somad tidak bisa lagi menahan ejakulasinya.
“Oohhhh…. Oohhhhh….” Somad mengejang ketika spermanya menyembur deras mengisi rahim wanita cantik itu. Dia menyodokkan penisnya sedalam yang dia mampu untuk menuntaskan ejakulasinya. Selama beberapa detik Somad merasakan tubuhnya melontar ke angkasa, segenap kesadarannya tersapu habis saat itu, yang ada hanyalah naluri seksualnya yang membawanya ke puncak kenikmatan yang paling dicari oleh setiap pria di muka bumi ini. Dan selama beberapa detik kedua anak manusia berbeda status itu tenggelam dalam kenikmatan seksual yang menghantam sekujur syaraf mereka.
“Ohh… ohh…” Somad terengah lemas menindih tubuh telanjang Icha.
Sensasi seksual yang diperolehnya membuat sekujur tubuhnya lemas seperti baru saja berlari ribuan kilometer. Dirasakannya tubuh Icha yang lembut dan haus sensasi seksual bergerak tidak teratur akibat deru nafasnya yang tersengal. Tubuhnya yang mulus seperti tidak punya tenaga lagi sehingga dibiarkannya tubuh Somad tergeletak menindihnya. Tanpa terasa sudah hampir tengah malam ketika persetubuhan mereka selesai. Icha beruntung Somad tidak menahannya di tempat itu semalam penuh dengan begitu dia bisa pulang dan beristirahat di rumah. Meski begitu Somad mengisyaratkan kalau Icha masih harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh pria itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s