ASNA

Sudah lama Asna tertarik dengan sebuah rumah di sebelah rumah kosnya. Bukan, bukan tertarik dengan rumah yang sejak dulu selalu terlihat sepi itu, bukan… lebih tepatnya, kini dia tertarik dengan penghuni tunggalnya, seorang cowok keren dan unyu-unyu. Sepintas perawakannya mirip Barry Prima, bintang film aksi bertubuh kekar jaman dahulu kala. Wajahnya ganteng, jantan dengan kecenderungan melankolik tapi bad boy, persis Roy Marten.

Awalnya, Asna tidak terlalu peduli dengan cowok itu yang hampir setiap malam, sejak sekitar dua minggu lalu selalu muncul di balkon rumah, berdiri mematung lama sekali. Biasanya malah sampai dini hari. Asna pun hobi bertengger di balkon rumah kosnya sejak dulu, maka kebiasaan cowok itu tidak luput dari perhatiannya. Apalagi balkon rumah kosnya dengan balkon rumah cowok itu tidak terlalu jauh, hanya terpisah tembok setinggi tiga meteran. Jadilah balkon sana dengan sini hanya seperti berdampingan saja.

iffa-jilbabsemok (1)

Asna menduga-duga, cowok itu sedang depresi berat, paling tidak ada yang sedang mengganggu pikirannya. Seorang cowok ganteng, berdiri di balkon tiap malam tanpa melakukan apa-apa, bagi Asna jika bukan orang stres, pasti hantu. Hantu? Sepertinya bukan.

“Woi!” sapa Asna pertama kali. Cowok itu diam saja. “Woi! Situ yang hobi bengong malem-malem!”

Masih diam saja. Kesal, Asna melemparkan pecahan-pecahan kecil tegel lantai balkon ke arah si cowok. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali… kebangetan, sampai lemparan ke 127 baru itu cowok bereaksi. Tegel lantai balkon padahal sudah hampir habis 9 kotak dipethil-pethil Asna.

“Please, jangan ganggu aku!” kata si cowok akhirnya, tapi dia lalu memutar tubuh memunggungi Asna.

“Slompret, malah mungkur! Situnya pikir saya menakutkan apa?”

“Menakutkan sih nggak. Tapi aku memang sudah nggak mau peduli apapun lagi. Nggak ada yang bisa menakuti aku di dunia ini!”

Sip, pikir Asna. Akhirnya dia punya teman ngobrol. Beda dengan penghuni kos putri ini, kebanyakan tidak cocok dengannya. Tidak ada yang bisa diajaknya mengobrol. Jam segini sudah pada mengkeret semua di dalam selimut. Dia saja sampai sering jengkel sendiri.

“Situ kenapa tiap malam berdiri di situ? Cari inspirasi apa cari-cari kesempatan buat loncat kesini?”

“Loncat kesitu mau ngapain, coba?”

“Ngapain aja bisa to? Masuk ke kamar cewek-cewek yang lagi tidur, nyuri celana dalem, daster, beha, jeroan-jeroan yang bentuknya aneh kaya punya si Latif itu atau pasang kamera tersembunyi.”

“Enak aja! Emang saya cowok apaan?” cowok itu berbalik. Masya Allah, gantengnya, pikir Asna. Benar-benar perpaduan antara Barry Prima dan Roy Marten. Kalau sudah jelas terlihat wajahnya begini, tambah Herman Felani juga masih masuk. Tentu saja dia langsung jatuh cinta.

“Apaan coba?”

“Please, jangan ganggu aku.”

Tapi namanya Asna, semakin dilarang dia semakin menjadi. Memang kemudian dari awalnya seperti itu, mereka bisa jadi akrab. Ngobrol ngalor-ngidul. Malahan setiap malam mereka seakan-akan sudah punya schedule tersendiri untuk bertemu. Antar balkon atau dari balkon ke balkon. Asna jadi tahu, Agus, nama cowok itu sedang punya masalah berat dan kompleks. Dari putus dengan pacarnya sampai putus hubungan kerjaan.

iffa-jilbabsemok (2)

“Aku bangkrut,” kata Agus mulai curhat. Itu hari kesekian setelah perkenalannya dengan Asna dan rasa-rasanya mereka memang semakin lengket dan saling cocok. “Sudah bangkrut, Susanti punya cem-ceman lain. Sakit hati aku.”

“Jadi itu yang bikin situ kaya orang gila baru yang suka merenung di balkon padahal sebelumnya tidak pernah?”

“Aku memang sudah gila. Kadang memang aku berpikir untuk loncat saja dari atas balkon.”

“Memang seberat itu dan situ nggak sanggup menanggung? Jadi laki-laki kenapa cengeng begitu? Lemah!”

“Justru lelaki itu adalah mahluk terlemah di dunia tapi mereka tidak tahu. Jika mereka ada di posisiku sekarang, mereka pasti mengerti.”

Asna merasa kasihan juga. Disentuhnya pipi Agus dengan lembut, seolah ingin memberinya kekuatan. Entah kenapa, dengan Agus ini rasa sayangnya langsung jatuh. Seakan ada daya tarik yang membetotnya untuk menjadikan cowok itu sebagai kesayangannya selama-lamanya.

Saat itu Agus berada di balkon rumah kos yang ditempati Asna setelah lebih dulu menyeberang dengan menggunakan tangga yang dilintangkan mirip jembatan antar balkon. Mereka duduk berdampingan dan sesekali bersentuhan lengan. Merasa ada yang peduli padanya, Agus hatinya menjadi besar. Tangannya pun jadi ringan. Dibalasnya sentuhan Asna itu.

Asna mencubit pipi Agus, Agus membalas. Mereka cubit-cubitan jadinya. Tertawa cekikikan berdua. Agus memegang dagu Asna, Asna membalas dengan menarik jenggot Agus. Mesra, seperti Pai Su Chen dan Si Han Wen dari legenda ular putih.

Lama kelamaan, suhu berubah. Entah siapa yang memulai, mereka tiba-tiba saja sudah berpelukan erat. Satu sama lain seakan tidak ingin lepas. Asna merasakan napas Agus yang gemuruh di telinganya, juga debaran jantungnya yang meningkat beberapa kali lipat dari normal. Saat kemudian bibir Agus pelan-pelan merayapi pipi lalu meniup-niup matanya, dia hanya mendesah, seperti memberikan permit agar Agus melakukan yang lebih dari itu. bibir tipisnya yang pucat kemerahan dibiarkannya jadi tempat bibir Agus meletakkan kecupan-kecupan penuh birahi.

iffa-jilbabsemok (3)

Bibir mereka pun berpagutan, lidah mereka saling mencari dalam kehangatan rongga mulut yang basah. Melingkar-lingkar seperti sepasang lintah yang bergumul dalam lumpur. Belaian, sentuhan bahkan remasan-remasan nakal nan lembut di setiap jengkal tubuh Asna membuatnya melayang dalam keindahan tiada tara. Sekejap, Agus mendorong tubuh Asna dan mereka rapat berguling di atas lantai balkon. Tangan Agus liar melucuti pakaian Asna, demikian pula Asna yang sibuk melepaskan pakaian Agus. Telanjang. Mereka berdua telanjang. Hanya jilbab merah yang tersisa di tubuh bugil Asna sekarang.

Keindahan lekuk tubuh perempuan bagai semua dimiliki Asna. Wajah ayu dengan tatapan mata yang sayu dalam birahinya, kedua buah dadanya yang penuh tegak menantang, kulitnya yang mulus… lalu farji, yang berhiaskan seribu pesona… Suram cahaya lampu balkon menembak itu semua, lalu memantul seperti menyilaukan mata Agus. Dia sungguh terpesona menatap tubuh indah nan telanjang di hadapannya. Asna mengangkat dagu lalu menarik leher Agus mendekat pada tubuhnya dengan tidak sabar. Pun malu dengan tatapan Agus yang seakan menelan keseluruhan tubuhnya bulat-bulat. Kedua kakinya melingkari pinggang si cowok.

Tanpa basa-basi, Agus menindih tubuh Asna, menyebabkan gadis cantik yang seksi itu terhimpit ke lantai. Keduanya sudah seperti diburu oleh nafsu yang bergejolak tak tertahankan. Agus menerkam tubuh putih mulus yang sintal dan padat itu dengan penuh gairah. Asna menjerit manja menyambutnya. Mereka berguling-gulingan saling berciuman, saling meremas, saling menindih. Pakaian mereka yang berserakan jadi berantakan dibuatnnya.

Agus segera mengambil inisiatif kala tubuh mereka sudah terasa panas dan bergejolak. Didorongnya Asna dengan lembut agar tidur menelentang. Lalu dia berjongkok di antara kedua kaki gadis itu. Asna dengan tegang menunggu layanan istimewa dari kekasihnya. Inilah permainan pembukaan yang selalu dinantinya dengan penuh antisipasi. Belum apa-apa, Asna sudah bergidik menahan geli yang akan segera datang. Agus sudah mulai menciumi pahanya yang putih mulus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, membuat Asna mengerang dan mengejang pelan. Apalagi kemudian Agus mulai menjilati pahanya, menelusuri bagian bawah lututnya. Asna menggelinjang kegelian.

iffa-jilbabsemok (4)

Dia merasa pahanya bergetar lembut ketika lidah Agus terus menjalar mendekati selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Asna menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Agus menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah melembab dari tadi. Terengah-engah, Asna mencengkeram rambut Agus dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksa pria itu segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif.

Dengan satu tangan lainnya, Asna menguak lebar-lebar bibir basah di bawah itu, memperlihatkan liang kemerahan yang berdenyut-denyut kencang, dan sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras padat. Lidah Agus menuju ke sana, perlahan sekali. Asna mengerang, “Ughh… kamu nakal.” bisiknya gelisah. Rasanya lama sekali, membuat Asna bagai layang-layang yang sedang diulur pada saat seharusnya ditarik. Dia mati rasa. Tak berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketidak-berdayaan itu.

Agus akhirnya menjilat bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. ”Auw!” Asna menjerit tertahan, kedua tangannya melayang lalu jatuh mencengkram sprei. Geli sekali rasanya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulut sang kekasih. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas.

Agus kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Asna berguncang di setiap hisapan, sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jari Agus menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Asna. Kedua kakinya yang indah terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, karena Asna ingin Agus menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!

iffa-jilbabsemok (6)

Maka Agus pun melakukannya. Ia tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang yang panas membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Asna berguncang-guncang merasakan nikmat yang amat sangat. Dua jari Agus kini bermain-main di sana, bergerak keluar-masuk dengan penuh gairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut.

Cairan hangat memenuhi seluruh kewanitaan Asna, mulai membasahi bibir dan dagu Agus. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara kecipak yang seksi. Asna menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup di sela-sela pahanya, di pinggulnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!

Agus merasakan kewanitaan Asna berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut hitam keriting yang tumbuh di sekitarnya, dan dengan tubuh Asna yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, Agus dapat melihat betapa liang kewanitaan gadis itu membuka dan menutup, serta dinding-dindingnya berdenyut-denyut kencang, sepertinya jantung Asna telah pindah ke bawah.

iffa-jilbabsemok (5)

Agus juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Asna menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Agus terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh gadis itu agar tidak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda Asna, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda gempa. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, untuk kemudian terengah-engah pelan.

Agus bangkit setelah Asna terlihat agak tenang. Berdiri, ia melepas celana dalamnya. Kelaki-lakiannya segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama detak jantungnya yang berdegup keras. Asna masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas hamparan karpet tipis berwarna biru muda. Tangan Asna mencengkram karpet itu bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan sepasang buah dada yang mulus menggairahkan, jilbab merahnya terurai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi.

Tersenyum, Agus menempatkan dirinya di antara kaki Asna, lalu mengangkat kedua paha gadis itu, membuat kewanitaan Asna semakin terbuka. Asna yang tersadar dari buaian orgasmenya, dengan segera menuntun kejantanan Agus memasuki gerbang kewanitaannya. Tak sabar, ia menjepit pinggang pemuda itu dengan kedua kakinya, membuat Agus terhuyung ke depan, dan dengan cepat kelaki-lakiannya yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Asna. Bagi Agus, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang panas berdenyut. Bagi Asna, rasanya seperti diterjang batang membara yang membawa geli-gatal ke seluruh dinding kewanitaannya. Belum apa-apa, Asna sudah terlanda gelombang puncak birahinya yang kedua. Begitu cepat!

Agus pun segera melakukan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya keluar masuk dengan cepat. Gerakannya ganas, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Asna yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, kejantanan Agus menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang Asna yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Asna menjerit-jerit nikmat, menyuruh Agus lebih keras lagi bergerak, mengangkat seluruh tubuh bagian bawahnya, sehingga hanya bahu dan kepalanya yang ada di atas lantai.

Agus mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenuhi permintaan Asna. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan berkilat-kilat karena keringat. Pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh Asna, ramai sekali.

iffa-jilbabsemok (7)

Asna tak lagi sadar sedang berada di mana. Ia berteriak bagai kesetanan merasakan kenikmatan yang ganas dan liar itu. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian dan kegatalan yang membuat otot-ototnya menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setiap kali kejantanan Agus menerobos masuk, ia merasa bagai tersiram berliter-liter air hangat yang memijati seluruh tubuhnya. Setiap kali Agus menariknya keluar, Asna merasa bagai terhisap pusaran air yang membawanya ke sebuah alam penuh kenikmatan belaka. Dengan mata terus terpejam, Asna menjeritkan penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi.

Agus sendiri merasakan kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya. Ia pun tak tertahankan lagi, memuncratkan seluruh penantian panjangnya, memuntahkan seluruh rasa terpendamnya, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan Asna yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Asna mengerang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuhnya. Asna mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas lantai. Agus menyusul roboh menimpa tubuh putih yang licin oleh keringat itu. Nafas mereka berdua tersengal-sengal bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang.

“Oh, kamu ganas sekali, Gus. Betul-betul ganas.” kata Asna pada akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu. Agus cuma menggumam dan menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Asna yang besar dan lembut dan menggigit putingnya cukup keras sehingga Asna tersentak dan membalasnya dengan meremas penis Agus keras-keras. Mereka berdua tertawa-tawa seperti anak kecil bermain gulat. Cairan-cairan cinta mereka berjatuhan menimpa karpet, melekat di tubuh mereka berdua, sebuah perpaduan tubuh putih mulus dan tubuh coklat gelap.

Malam itu mereka bercumbu tak henti-hentinya sampai pagi. Bagi Asna, inilah cumbuan pertamanya, sekaligus juga yang terakhir, karena sejak kejadian malam itu, rasa-rasanya hubungan mereka berdua malah jadi canggung. Mereka tetap bertemu setiap malam, tapi seperti ada jarak yang memisahkan. Asna merasakannya, Agus sudah sedikit berubah. Mungkinkah karena kejadian malam itu?

“Kamu berubah,” kata Asna yang tidak tahan. Kali itu giliran dia yang menyeberang ke balkon rumah Agus.

“Berubah apanya?” tanya Agus.

“Sedikit lebih diam. Sama seperti waktu pertama kita kenal. Ada yang dipikirkan? Kalau ini tentang kejadian malam itu, saya nggak terlalu pusing kok. Itu kan kita lakukan suka sama suka. Kamu nggak usah terbebani begitu, saya tidak akan menuntut apa-apa.”

iffa-jilbabsemok (8)

Agus menghela napas. “Bukan itu, karena aku merasa apa yang kita lakukan itu indah. Tapi aku tidak bisa…” Agus menghentikan kata-katanya. Kepalanya menunduk.

“Tidak bisa apa?” kejar Asna.

“Tidak bisa lari dari perasaan… mencintai kamu.”

“Kamu mencintai aku? Memangnya ada apa dari saya yang bisa bikin kamu jatuh cinta?” Asna tertawa keras mendengar kata-kata Agus.

Agus menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Mungkin kamu datang di saat yang tepat buat aku. Itu saja.”

Asna tertawa lagi. Tertawa dan terus tertawa seakan-akan hal itu sedemikian lucu bagi dirinya. Agus hanya diam, sadar bahwa dengan menyatakan perasaannya kepada Asna tidak membuat segalanya mudah bagi cintanya. Keheningan lalu berlaku begitu lama di antara mereka. Tanpa kata-kata, sedemikian lamanya. Begitu saja hingga Asna berlalu, kembali ke rumah kos putri itu.

Sebenarnya, jika Agus bisa mengerti, tawa Asna dan sikap diamnya adalah untuk menutupi kesedihannya. Dia pun merasa ada benih-benih cinta yang tumbuh, tapi segera harus disingkirkannya karena dia tidak merasa pantas dan mampu untuk itu.

***

Berminggu-minggu Asna tidak muncul di balkon tempat biasanya dia mengisi malam setelah pengakuan cinta Agus. Dia hanya banyak berdiam dalam kamar di lantai teratas rumah kosnya itu. Rindu pada Agus selalu datang bertubi-tubi, tapi dia tidak ingin menumbuhkannya semakin perkasa. Dia harus segera membunuhnya. Mereka berdua tidaklah ditakdirkan untuk bersama, pikir Asna.

Karena itu, di puncak kejenuhannya, dia lalu turun, turut berkumpul dengan beberapa penghuni kos putri yang sedang ngobrol di ruang tamu lantai bawah. Siapa tahu dengan demikian rasa sepinya akan lenyap.

“Baunya busuk banget. Inget nggak beberapa hari lalu aku sudah mulai mengeluh soal bau busuk itu?” terdengar Latif, mahasiswi paling senior di rumah kos itu berkata. “Kejadian, kan? Baru deh hari ini bisa hilang tuh bau. Ada yang lihat waktu mayatnya dievakuasi tadi pagi?”

Serempak, hampir semua menggeleng.

iffa-jilbabsemok (9)

“Orangnya juga tinggal sendirian sih,” sahut Ajeng, “Jadinya nggak ada yang tahu sampai berhari-hari begitu. Padahal orangnya ganteng loh, aku pernah lihat dia. Masih muda, punya rumah besar, tinggal sendirian tapi ternyata hidupnya nggak bahagia. Siapa yang bisa mengira dia punya kecenderungan bunuh diri gitu?”

“Kemungkinan sudah lebih dari seminggu dia tergantung di sana, bahkan lebih. Nggak ada pesan terakhir, tapi dugaan pertama sih motifnya karena putus cinta.”

“Pada ngomongin apa, sih?” tanya Asna penasaran.

“Cerita itu lagi. Jangan mulai lagi deh. Takut nih,” kata Nisa.

Tapi Latif cuek saja. Dia malah terkesan ingin menakut-nakuti teman-temannya. “Tahu nggak, kalau orang bunuh diri karena putus cinta, biasanya arwahnya bakalan nglanglang kemana-mana mencari cinta. Kos putri ini jangan-jangan dijadikan ajang buat arwahnya Agus mencari cinta nantinya!”

“Hiaaaaaaa….!!!” hampir semua yang ada di sana menjerit, sementara Latif cekikikan kesenangan.

Asna terkejut bukan main. Agus, cowok penghuni rumah sebelah bunuh diri? Agus yang mencintainya dan kini selalu dirindukannya itu kini sudah mati? Benarkah? Sulit menahan perasaan yang kalut, dipukulnya kepala Latif yang sedang menggoda teman-temannya dengan keras.

Plak! Tentu saja Latif langsung terjungkal dari duduknya.

“Jangan bercanda gitu! Ceritamu tadi betul nggak?” tanya Asna. Perasaannya sudah hampir kacau.

Wajah Latif pucat pasi terduduk di lantai, sementara teman-temannya menatapnya dengan heran. Tapi pintar juga dia menutupi keterkejutannya dengan canda lagi. “Hantu Agus datang! Lihat, buktinya aku dipukul dari belakang sampai njungkel! Hiii…!!” katanya.

“Hiaaaaaaaa…!!!”

Asna tidak peduli lagi dengan mereka. Secepatnya, dia segera berlari menuju lantai teratas, keluar menuju balkon. Di balkon seberang, dilihatnya Agus. Berdiri bersidekap dan tersenyum kepadanya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Asna.

“Tidak ada.”

“Bohong!”

“Hanya gantung diri, apa hebatnya?”

“Untuk apa?”

“Kamu kira untuk apa?” dia tertawa lagi. Lalu dengan sekali loncatan, sampai dia di balkon rumah kos putri itu. Asna tidak mampu berkata-kata saking takjubnya. Tapi hanya sebentar, setelahnya dia justru tertawa lepas. Bahagia dan lega rasanya.

“Sejak dulu aku ragu-ragu untuk mengakhiri hidupku biarpun hanya itu yang selalu kupikirkan tiap berdiri di balkon itu. Tapi sejak bertemu lalu mencintai kamu, aku menjadi yakin,” kata Agus. Dikecupnya dahi Asna dengan mesra. “Sebagai orang hidup, aku gagal. Siapa tahu setelah mati aku bisa sukses.”

Untuk Asna, sepertinya tiada akan ada lagi hari-hari sendirian duduk mencangkung di balkon rumah kos putri itu. Tiada lagi pula sepi di kamarnya, kamar yang selalu tertutup dan tidak pernah lagi disewakan sebagai kamar kos oleh Haji Kusnadi sejak dirinya meloncat dari balkon beberapa tahun lalu.

Sekarang hari-harinya akan jadi sempurna. Ada Agus, hantu kesayangan yang mirip Barry Prima, Roy Marten dan Herman Felani sekaligus, menemani dirinya untuk selama-lamanya.

One thought on “ASNA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s