TANTI 2 : WINDY

Malam terasa dingin. Gerimis masih mengguyur pelan ketika aku tiba di rumah Tanti. Seiring usia kandungannya yang semakin besar, ia sudah tidak bisa lagi menjemputku di terminal. Dokter melarangnya menyetir mobil sendirian. Jadi terpaksa aku harus naik angkot kalau mau ke rumahnya. Meski jadi agak lama dan sedikit berdesak-desakan, tapi aku rela melakukannya. Demi bisa meniduri wanita cantik dan montok seperti dia, apapun akan aku lakukan.

Kulihat rumahnya sangat sepi. Hanya lampu teras yang menyala, menerangi halamannya yang mungil namun cukup asri. Ruang tamu terlihat agak sedikit gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apakah dia ada di rumah? Atau sedang tertidur? Untuk memastikan, kupencet bel di pintu. Tak lama kemudian, kudengar suara langkah kaki. Tanti melongokkan kepalanya yang berbalut jilbab dari celah jendela dan langsung tersenyum begitu melihatku.

“Ayo masuk, mas. Dingin ya?“ ujarnya sambil membukakan pintu dan mengelus pipiku pelan.

“Iya, hujan terus dari aku berangkat tadi.” kupeluk dia dan kucium bibirnya sekilas sebagai salam perkenalan.

“Kangen ya?“ godanya.

“Ya iyalah. Masa nggak kangen?!“ kataku sambil mendorong tubuhnya hingga jatuh ke sofa, dan menindihnya. Tapi pelukanku terganjal tonjolan perutnya yang sudah membulat cukup besar.

“Sabar, mas, sabar. Kita masih punya banyak waktu. Suamiku masih besok sore pulangnya.“ ia memijit hidungku.

“Mana bisa sabar melihat kemontokan tubuhmu, Tan.“ Kuelus pipinya yang bulat, kudekatkan kepalaku, dan kucium pelan bibirnya. Pagutanku dibalas olehnya. Kami saling berpagutan penuh cinta untuk beberapa saat.

”Masa langsung main, mas? Nggak pengen makan dulu?” tawar Tanti saat ciuman kami terlepas. Malam itu ia terlihat cukup cantik, kemeja gombrong dan rok panjang yang ia kenakan tidak bisa menutupi kemolekan dan kesintalan tubuhnya. Bokong dan buah dadanya juga terlihat cukup besar dan membulat karena usia kehamilannya.

”Makan bisa menunggu. Aku sudah tidak sabar pengen merasakan tubuhmu, Tan.” kupeluk dia, kulingkarkan tanganku untuk memberi elusan pada punggungnya. Selanjutnya dengan lihai, jari-jariku menyusup masuk ke dalam bajunya untuk mencari tonjolan buah dadanya yang masih tertutup BH. Kuremas-remas pelan daging empuk itu saat sudah berada dalam genggamanku.

“Ehmm, mas!” Tanti melenguh. Ia semakin rakus membalas lumatanku, lidah kami saling membelit dan menghisap, pagutan demi pagutan membuat mulut kami semakin basah oleh air liur. “Kamu nakal,“ ujarnya genit sembari mencekal tanganku yang semakin jauh masuk ke dalam cup BH-nya.

“Aku sudah lama merindukanmu, Tan. Sudah berapa lama kita nggak ketemu?” tanyaku sambil terus meremas-remas gemas kedua buah dadanya dan sesekali memilin-milin putingnya.

”Ehm, nggak tahu, mas. Ehsss… cukup lama kayaknya. Ughhh… aku juga kangen mas. Kangen yang ini!!” Tanti mengulurkan tangan dan membelai lembut kontolku yang sudah ngaceng parah di dalam celana. Kubalas dengan menyingkap rok panjangnya ke atas dan mengelus-elus pahanya yang halus dan putih mulus. Saat kuraba selangkangannya, terasa kalau daerah itu sudah mulai basah.

“Kamu ngompol ya, Tan?“ tanyaku menggoda. Kuselipkan tanganku ke celah celana dalamnya dan kubelai bibir vaginanya yang sudah sangat lengket dan licin.

“Mas sih… bikin aku nggak tahan.” sahut Tanti di sela-sela nafasnya yang turun naik. Buah dadanya yang kian membusung padat terasa makin membesar dalam genggamanku.

Penasaran, aku pun membuka jilbab dan kemejanya. Kulepas kancingnya satu per satu hingga bisa kulihat tonjolan buah dadanya yang masih terbungkus BH merah berenda. Sungguh indah sekali, begitu besarnya hingga benda itu nampak seperti tidak muat dalam kungkungan cup BH-nya. Beberapa bagiannya tergencet hingga terhimpit keluar. “Nggak sakit, Tan?” tanyaku. ”Kayak sesak banget gitu.”

Tanti tersenyum. ”Makanya cepetan dibuka, mas.” katanya menantang.

Segera kulepas kait BH yang ada di punggungnya. Tanti bernafas lega saat aku berhasil melakukannya. kutarik BH itu dan kubuang begitu saja ke lantai. Kini dihadapanku terpampang payudara Tanti yang bulat indah, yang tidak akan mampu kutangkup meski dengan dua tangan. Putingnya yang dulu kemerahan, kini tampak agak menghitam, tapi asyiknya, jadi sedikit lebih besar dan panjang, hampir seujung jari jempolku. Pasti nikmat sekali menyusu disana. Melihat ukurannya, benda itu tampak seperti tidak mau kalah dengan perut Tanti yang kelihatan semakin membesar.

”Kok bengong, mas?” tanya Tanti heran. ”Biasanya mas paling suka sama susuku,” tambahnya sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

Aku yang tersadar segera menurunkan kepala dan perlahan mulai mengulum putingnya. ”Indah sekali, Tan. Gede banget, tapi tetap bulat dan kencang.” sambil berkata, kujulurkan lidahku dan mulai menjilati putingnya.

”Ehhsss…” Tanti mendesah dan memegangi kepalaku, tangan satunya turun ke bawah dan meremas-remas penisku. ”Emang punya istri mas dulu nggak seperti ini?” tanyanya, teringat istriku yang sudah hamil duluan.

”Tambah gede sih, tapi tidak sebesar punyamu ini.” kuremas-remas terus tonjolan buah dadanya bergantian sambil tak henti-hentinya kujilat dan kuhisap putingnya.

”Ehmm… mas!” Tanti merintih dan menggelinjang. Berbaring pasrah di sofa ruang tamu, dia berusaha menarik turun celanaku. Kubantu dia dengan berdiri sebentar, tapi tanganku tetap hinggap di atas bukit payudaranya, meremas-remas pelan disana.

Tanti berbinar melihat penisku yang sudah siap mengoyak-oyak lubang vaginanya. Ia mengelusnya pelan sambil berbisik, ”Ehm… mas, punyamu selalu bikin aku gemes.” ujarnya sambil meremas batangku agak sedikit keras.

“Auw! Sakit, Tan!” aku mengaduh, dan kubalas dengan menarik kedua putingnya kuat-kuat.

”Auw! Mas!!!” Tanti ikut mengaduh, dia memandangiku dan selanjutnya kami tertawa berbarengan. Mesra sekali.

“Ayo, Tan. Aku jauh-jauh datang kemarin bukan cuma untuk bercanda denganmu.” kutarik turun celana dalamnya hingga Tanti benar-benar telanjang sekarang. Tanpa berkedip kupandangi tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat.

Wajahnya yang manis sekarang jadi agak sedikit chubby, tapi sama sekali tidak mengurangi nafsuku untuk menggumulinya. Menggantung di depan dada, tampak kedua tonjolan payudaranya yang cukup besar, yang ukurannya hampir dua kali lipat dari ukuran semula. Putingnya jadi agak sedikit hitam, tapi begitu menonjol ke depan. Perutnya yang membuncit sudah nampak begitu besar, menyembunyikan dengan baik lubang vaginanya yang kini sudah tercukur bersih. ”Buat persiapan melahirkan,” jelas Tanti saat kutanya alasannya. Sungguh, begitu sangat sempurna wanita satu ini. Melihatnya saja sudah membuatku terangsang berat.

”Tubuhmu indah sekali, Tan.” bisikku sambil membelai kemana-mana, mulai dari betis hingga ke pundaknya. Parkir di depan dada, kembali kupilin-pilin putingnya.

”Ehmm, mas!” Tanti mendesah dan memelukku. Kami berciuman. Perlahan mulai kugesekkan batang penisku ke belahan memeknya. Dia sekarang sudah berbaring pasrah di sofa, siap menerima tusukan dan hunjamanku.

“Aku masukkan sekarang, Tan.” Kutatap matanya yang bulat sayu saat aku mulai mendorong. Sebelumnya kusuruh Tanti untuk mengulum penisku sebentar agar benda itu jadi agak sedikit basah.

“Ahh, iya. Agak ke bawah, mas!!” balasnya genit. Dia meremas penisku dan membimbingnya agar masuk ke lubang yang tepat. Dengan usia kehamilannya yang sudah mendekati akhir, memang jadi agak sulit untuk menyetubuhinya. Tapi bonusnya, rasa memek Tanti jadi luar biasa nikmat; sempit dan sangat menggigit sekali. Ditunjang dengan kemontokan dan kesintalan tubuhnya yang berlipat ganda, aku makin ketagihan dibuatnya.

Kuelus payudaranya yang mulus bak pualam saat ujung penisku mulai mencari celahnya, tapi ternyata sangat sulit sekali. Beberapa kali pun aku mencoba, aku terus salah sasaran. Perut buncit Tanti menyulitkan gerakanku.

”Tan?” kupanggil namanya agar dia membantuku.

“Aku diatas saja, mas.” kata Tanti setelah berpikir sejenak. Dia bangun dari posisi tidurnya dan merangkul pundakku. Kini gantian aku yang rebahan di sofa. Tanti menduduki bagian bawah perutku, berjongkok disana. Lubang memeknya yang sudah menganga lebar tepat berada di depan batang penisku. Tanti memeganginya dan perlahan mengarahkannya masuk.

“Kontolmu gede banget, mas!” bisiknya saat merasa kesulitan menelan penisku.

”Ah, memekmu aja yang terlalu sempit.” balasku sambil meraba dan meremas tonjolan buah dadanya yang menggantung padat dan keras.

”Ehm… mas!!” Tanti terus berusaha menekan pinggulnya ke bawah, sedikit demi sedikit penisku mulai menerobos masuk menembus lubang surgawinya. Dia agak sedikit meringis saat menerimanya, campuran antara rasa geli dan perih.

”Pelan-pelan aja, Tan.” aku tidak ingin persetubuhan ini membuatnya kesakitan, bagaimanapun dia kan lagi hamil besar.

Tanti menurut, dia menekan pinggulnya perlahan.

“Bodoh banget suamimu, Tan. Istri secantik kamu disia-siakan.” ujarku sambil menekan pinggul ke atas, membantunya agar kelamin kami lekas bertaut dan saling mengisi.

Tanti menutup mulutku dengan bibirnya. Dia menciumku dan berbisik, “Jangan kau sebut dia, mas. Aku milikmu malam ini.” dan sehabis berkata begitu, ia menyentakkan pinggulnya keras-keras ke bawah, menduduki penisku hingga amblaslah benda itu menembus ke kedalaman lubang vaginanya.

Pekikan tertahan kami keluarkan secara bersamaan, “Aarrgghhhhhhhhhhhhh…!!” rasanya sungguh sangat nikmat. Memek Tanti menjepit batang kontolku begitu ketat, sementara kupenuhi lubang vaginanya hingga ke relung yang terdalam.

Kami kembali berciuman, dengan tanganku tak henti-henti membelai dan meremas-remas buah dadanya yang menggantung indah di depanku mataku. ”Genjot bareng, Tan.” bisikku kepadanya.

Tanti mengangguk dan mulai menggerakkan pinggulnya, memompa bokong besarnya ke atas dan ke bawah, menelan dan meludahkan penisku tapi tidak sampai melepasnya, menciptakan rasa yang begitu nikmat akibat gesekan kelamin kami berdua. Jepitan vaginanya terasa kuat sekali, membuat kontolku serasa diremas-remas oleh dagingnya yang empuk.

“Tan, nikmat banget. Aku nggak kuat.” bisikku sambil menciumi pundaknya.

“Tahan, mas. Jangan keluar dulu!” ujarnya sambil mencari bibirku dan melumatnya dengan rakus. Sekali lagi kami berciuman panas dan mesra. Di bawah, pinggul kami masih terus saling mengisi dan memacu penuh birahi. Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua. Kuremas-remas payudara Tanti sambil kunikmati kehangatan vaginanya.

Detik demi detik harus kujalani dengan berat, aku harus berusaha keras menahan gairahku agar tidak keburu meledak. Namun apa daya, tubuh Tanti terasa begitu nikmat. Hingga akhirnya, ketika aku sudah tidak kuat lagi, akupun merangkulnya dan melenguh keras di bawah tubuhnya. ”Taannn… aku keluar! AARGGHHHHHHHH…” rintihku sambil mempercepat genjotan dan menusukkan penisku dalam-dalam. Sedikit terkejang-kejang, kusemprotkan seluruh spermaku ke dalam liang rahimnya.

”Ahh… mas!!” Tanti ikut melenguh dengan tubuh melengkung ke belakang. Buah dadanya yang besar jadi membusung indah, tepat di depan wajahku. Sambil menikmati guyuran air cintanya di batang penisku, akupun menjilat dan menciuminya.

Dengan kelamin masih bertaut erat, kami berpelukan. Nafas kami terengah-engah. Kubiarkan Tanti menikmati orgasmenya sejenak sebelum kuangkat tubuhnya dan kutidurkan di sofa. Penisku yang sudah setengah mengkerut dengan mudah lepas dari jepitan vaginanya.

”Enak banget, mas. Nanti kita lanjutin lagi ya?” tersenyum Tanti memandangiku yang duduk kelelahan di sebelahnya. ”Ehmm,” dia melenguh saat tanganku kembali meremas-remas tonjolan buah dadanya. Entah kenapa, aku sangat suka sekali dengan benda putih mulus itu.

“Andai bisa begini tiap hari, Tan…” kataku menerawang, membayangkan seandainya Tanti yang menjadi istriku, aku pasti akan sangat bahagia.

“Jangan, mas.” Tanti menggeleng. ”Lebih baik begini. Sensasinya lebih terasa.” dia tertawa.

”Dasar kamu,” kucubit hidungnya yang bangir. Kami berciuman sekali lagi sebelum kemudian Tanti minta diri untuk pergi ke kamar mandi.

”Kebelet kencing,” dia terkikik dan berjalan cepat ke belakang, meninggalkanku dengan goyangan pinggulnya yang masih telanjang.

Kulirik jam di dinding, sudah hampir tengah malam. Lama juga kami bermain tadi, sama sekali tidak terasa. Kenikmatan memang membuat waktu begitu cepat berlalu. Kuambil celana untuk menutupi kontolku yang sudah mengkerut kecil, kutunggu Tanti sambil tidur rebahan di sofa, mengumpulkan tenaga untuk persiapan di ronde kedua.

***

“Mas, aahhhh… aku mau sampai!!” jerit Tanti keras, bersahutan dengan teriakan tukang sayur yang melengking cempreng di depan rumah.

Hari sudah pagi ketika aku menyetubuhinya untuk yang keempat kalinya hari itu. Semalaman kami tidak tidur, Tanti terus menggodaku dengan kemontokan dan kesintalan tubuhnya. Dan lama tidak bertemu membuatku dengan senang hati meladeninya. Pagi ini, saat dia sedang menyiapkan sarapan dengan tubuh telanjang, kusodok tubuhnya di meja dapur. Tanti membungkuk di meja makan, sementara aku menggenjot penisku dari belakang.

”Iya, terus, mas! Ughhh… enak!” rintihnya dengan vagina terasa menjepit kuat. Benar-benar luar biasa, meski sudah kupakai semalaman, benda itu masih tetap kaku dan ketat, sama sekali tidak terasa kendur sedikitpun. Aku menyukainya. Aku ketagihan dibuatnya. Dan aku tak tahan untuk menumpahkan sperma di dalam lorongnya.

Jadi, saat Tanti menyemburkan cairan cintanya, aku pun menyusul tak lama kemudian. ”ARGHHHH!!” kami sama-sama menjerit, panjang dan nikmat. Tubuh kami berkelojotan dengan keringat menetes deras, membasahi badan kami berdua yang melemas begitu cepat, seperti tak bertulang. Desahan dan hembusan nafas kami saling bersahutan, mengiringi tetesan lendir kental yang mengalir turun dari belahan memek Tanti saat aku mencabut penisku.

Tanti membuka matanya dan tersenyum, susah payah ia berusaha untuk duduk di kursi. ”Capek, mas.” ia berkata.

Aku segera membantunya, kami duduk bersisian di sofa depan teve dengan tubuh masih tetap telanjang. Kalau menginap di rumah Tanti, aku memang jarang memakai baju. Buat apa, toh nanti juga bakal dilepas.

Tanti menyandarkan kepalanya di pundakku dan berkata, ”Trims ya, mas, masih mau sama aku yang lagi hamil gini. Aku puas sekali.”

”Sama-sama, Tan. Apapun kondisi tubuhmu, aku tetap menyukainya.” sahutku sambil memagut bibirnya pelan. ”Malah kalau hamil gini, kamu jadi lebih cantik dan semok.” tambahku yang disambut cengiran manja olehnya.

Kami terdiam dalam hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya Tanti kembali membuka suara, “Ehm, mas, masih ingat sama Windy?” tanyanya.

”Windy?” aku mencoba mengingat-ingat. Yang muncul dalam ingatanku adalah sesosok wanita kecil mungil tapi cantik, berjilbab juga seperti Tanti. Dulu sempat satu ruangan denganku, tapi sudah pindah ke kota lain setelah perusahaanku membuka cabang disana. ”Windy yang itu?” kuutarakan sosok dalam pikiranku.

Tanti mengiyakannya. ”Kemarin kami sempat berbincang-bincang di telepon.” katanya.

”Iya, lalu?” aku masih bingung dengan arah pembicaraan ini.

”Mas tahu kan kalau dia sudah menikah dari dulu?” tanya Tanti.

”Iya, kalau sampai sekarang… berarti sudah hampir tiga tahun.” sahutku membenarkan. Memang, diantara perempuan seruangan, Windy yang paling dulu melepas masa lajang. Tapi pantas sih, dia kan yang paling tua, hampir seumuranku. Kalo Tanti, empat tahun di bawahku. ”Emang ada apa dengan dia?” tanyaku tak mengerti.

”Sampai sekarang dia belum hamil, mas!” kata Tanti dengan pandangan penuh arti.

Mendengarnya membuatku bagai disambar petir di siang bolong, tanpa adanya hujan ataupun angin! Sungguh sangat-sangat mengagetkan. Dengan sedikit tergagap, akupun berkata. ”J-jangan bilang… k-kalau dia…”

”Iya, mas.” Tanti mengangguk. ”Windy ingin meminta bantuan mas untuk menghamilinya!”

”HAH!!!” aku melongo. Benar-benar kaget sekaligus bingung. Meski sudah bisa menebak arah jawabannya, tak urung aku tetap terdiam juga.

“Nggak usah norak gitu ah, mas!” Tanti menepuk pundakku. ”Biasa aja kali… dan harusnya mas senang, bisa menikmati tubuh perempuan secantik Windi.”

Aku menggeleng, ”G-gila kamu, Tan. A-aku nggak bisa. Ini…”

”Ah, nggak usah sok alim gitu.” Tanti memotong ucapanku. ”Bilang nggak bisa, nggak mau, tapi kontolnya ngaceng gitu! Mana bisa aku percaya!” dia lalu tertawa.

Aku benar-benar terhantam telak. Tidak ada kata-kata yang bisa kukeluarkan dari mulutku untuk membela diri. Yang aku bisa hanya ikut tertawa bersamanya sambil memeluk tubuh Tanti lebih erat. ”Emang kamu rela membagi tubuhku bersama Windy?” tanyaku pada akhirnya.

Tanti terdiam dan memandang ke arah teve yang menayangkan acara memasak pagi-pagi. ”Rela sih nggak.” dia berkata tanpa melihatku. ”Aku cuma kasihan sama Windy, sudah tiga tahun menikah, hampir empat malah, tapi belum juga dapat momongan. Pasti dia sangat tertekan sekali.” Ada sebulir cairan bening di sudut matanya. ”Aku sudah pernah merasakannya, mas. Dan itu sangat berat!” tambah Tanti dengan suara tertahan.

Aku segera memeluk dan mengecup pipinya. ”Iya, Tan. Aku mengerti. Kalau keputusanmu sudah begitu, aku cuma bisa ngikut aja.”

“Ngikut apa seneng nih?” Tanti melirikku, sedikit menyunggingkan bibir.

“Kalau bilang nggak seneng, nanti dikira munafik.” jawabku.

Tanti tersenyum dan memukul bahuku. “Dasar lelaki, dikasih ikan asin langsung aja nyamber!” dia menyamakanku dengan kucing.

“Eman-eman toh, daripada ikan asinnya jadi garing.” sahutku.

Kami pun tertawa berdua.

Selanjutnya Tanti menjabarkan bagaimana teknis PDKT-ku pada Windy agar perempuan itu tidak merasa jadi wanita murahan. Aku harus mendekatinya sebagai sosok seorang sahabat yang tulus memberikan bantuan, bukan sebagai seorang laki-laki licik yang pandai memanfaatkan situasi. Untuk itu, aku harus sabar dan pelan-pelan karena pada dasarnya aku dan Windy tidak begitu akrab. Dulu, saat masih seruangan, dia jarang kugoda karena sudah menikah, aku ingin menghormati suaminya. Tapi kini, itulah yang harus kulakukan. Jadi, bisakah aku melakukannya?!

***

Dengan bantuan Tanti, ternyata hal itu tidak menjadi suatu halangan yang berarti. Dalam waktu dua minggu, aku dan Windy sudah jadi begitu akrab, layaknya orang pacaran saja. Dimanapun dan kapanpun kami berada, sms dan telepon tidak pernah telat mengiringi. Bahkan istriku sampai curiga dibuatnya, dikiranya aku punya WIL. Aku harus bersusah payah berbohong dan menjelaskan kepadanya bahwa itu tidak benar. Bahkan aku sampai bersumpah segala. Maafkan aku, sayang!!!

Tapi gara-gara peristiwa itu, aku jadi bertekad, ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Dengan Tanti yang sudah berjalan berbulan-bulan saja aku tidak pernah ada masalah. Dengan Windy, belum apa-apa sudah terjadi hal seperti ini. Aku harus segera bertindak, terus maju atau malah mundur. Jadilah di pertemuan berikutnya dengan Tanti, aku mengutarakan maksudku.

”Mas yakin?” tanya Tanti sambil melepas behanya, membiarkan buah dadanya yang bulat besar tumpah ruah ke dalam telapak tanganku.

”Bilang pada Windy, bagaimana kalau minggu depan?” kuremas-remas daging empuk itu, putingnya yang terasa mengganjal kujepit dengan dua jari.

”Kenapa mas nggak bilang sendiri? Ehmmm!” Tanti melenguh saat kuendus lehernya yang jenjang.

”Sungkan, Tan.” di bawah, penisku yang sudah basah akibat kulumannya perlahan kuselipkan masuk ke dalam belahan vaginanya.

”Aghhh… mas!” Tanti merintih pelan. Matanya terpejam.

Kulumat bibirnya saat mulai menggerakkan pinggulku. ”Semakin cepat dia hamil, semakin bagus untuk kita semua, Tan.” bisikku di telinganya.

”Ahh… iya, mas!” Tanti merintih dan ikut menggerakkan pinggulnya.

Selanjutnya kami tidak berkata apa-apa lagi karena sibuk memuaskan birahi masing-masing.

***

Minggu depannya, dengan naik bis AKDP aku pergi ke kota S, tempat dimana rumah Windy berada. Tadi dia sudah sms kalau suaminya ada piket malam ini, harus lembur sampai besok pagi. Itulah kesempatan bagi kita berdua. ”Cuma delapan jam, mas, sampai besok pagi. Gimana?” tanya Windy dengan sedikit ragu.

”Itu sudah lebih dari cukup,” jawabku meyakinkannya.

Sesuai yang dikatakan Tanti, aku bisa menyetubuhi Windy malam ini. Sudah seminggu Tanti berusaha membujuknya, dan hasilnya, Windy cuma memberiku waktu delapan jam, malam ini. Suaminya sering berada di rumah, jarang keluar, jadi dia sangat sulit meluangkan waktu untuk bertemu denganku. Tapi tak apa, itu juga sudah cukup, yang penting aku bisa menaburkan benihku ke dalam memeknya, meski sepertinya aku harus sedikit bekerja keras malam ini.

Tiba di terminal, aku menunggu sekitar limabelas menit sebelum akhirnya Windy muncul. Sosok mungil berwajah manis itu menyapaku ramah, ”Sudah lama nunggu, mas?” tanyanya sambil tersenyum manis.

“Belum, baru aja.” jawabku terus-terang. Kulihat dia agak sedikit gemuk sekarang.

“Maaf, harus nunggu suamiku berangkat kerja dulu.” jelasnya. ”Ya udah yuk, kita ke rumah.” Windy berbalik dan mengajakku menuju ke mobilnya yang terparkir di luar terminal.

Kuikuti dia, berjalan sedikit di sebelah kirinya. Kuperhatikan, dandanan Windy masih tetap seperti dulu; jilbab lebar membingkai wajah ovalnya, dengan baju lengan panjang untuk menyembunyikan tubuh sintalnya. Windy memang terkenal memiliki payudara yang cukup besar. Dulu hal itu sering jadi bahan olok-olok teman-temannya, dibilangnya tubuh Windy tidak proporsional; badan kurus tapi payudaranya bulat besar, seperti semua lemaknya ditumpuk di daerah situ. Aku sama sekali tidak setuju dengan mereka. Menurutku, justru wanita seperti itulah yang paling seksi!

Sebagai bawahan, Windy mengenakan celana leging hitam yang cukup ketat. Dengan jelas mencetak bentuk paha dan pinggulnya meski masih terhalang baju atasannya yang menjuntai sampai ke lutut. Kulitnya yang putih bersih disaput bedak tipis di bagian muka, sedang bibirnya yang merah pucat dibiarkan polos tanpa lipstik. Tapi justru dandanan natural seperti itulah yang membuat Windy jadi kelihatan makin cantik. Aku jadi makin tak sabar untuk menelanjangi dan menindih tubuh sintalnya.

Di sepanjang perjalanan, Windy banyak bercerita tentang dirinya. Mulai dari hobi dan kesibukannya, hingga rahasia perkawinannya yang ia pendam rapat-rapat selama tiga tahun ini. ”Penis suamiku kecil, mas.” katanya lirih. ”Tahu sendirikan kan gimana gemuknya dia… Ditambah kualitas spermanya yang kurang bagus, jadilah aku tidak hamil-hamil sampai saat ini.”

”Aku turut prihatin, Win.” kupegang tangan kirinya yang ada di tuas persneling, ia tidak menolak. Hmm, suatu tanda yang cukup bagus.

”Aku harap mas bisa memecahkan masalah itu,” kata Windy penuh harap.

”Yakinlah, Win. Tanti sudah membuktikannya.” sahutku.

Windi mengangguk dan tersenyum. ”Iya, mas. Tanti sudah menceritakan semuanya.”

”Ehm… soal suamimu, apa dia tidak curiga kalau lihat kamu tiba-tiba hamil?” ini pertanyaan standar.

”Biar aja,” Windy membelokkan mobilnya ke arah gang perumahan. ”Bagiku, semua tidak ada bedanya. Kalau tidak hamil-hamil, dia mengancam akan menceraikanku. Jadi, kalau misal dia tahu aku hamil dengan orang lain dan menceraikanku, minimal aku sudah punya bayi. Darah dagingku sendiri, yang bisa menemaniku menikmati sisa hidupku.”

Aku terenyuh mendengar kata-katanya, sempat tidak tahu harus berkata apa. ”Wah, repot juga ya?” akhirnya hanya itu yang bisa aku ucapkan, dengan tangan menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal.

”Kita sampai, mas.” Windy menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar. Setelah kubukakan pintu gerbangnya, dia memasukkan mobilnya ke dalam garasi.

”Bagus juga rumahmu,” aku berkomentar saat Windy mengajakku masuk ke ruang tamu.

”Rumah suamiku.” ia meralat. ”kalau kami bercerai, aku harus pergi dari sini.” tambahnya, yang sekali lagi membuatku malu dan terdiam. Ternyata, di balik keharmonisan rumah tangganya, tersimpan bara api yang cukup besar, yang siap meledak sewaktu-waktu.

“Makan dulu ya, mas, baru setelah itu kita…” Windy tidak meneruskan kata-katanya, ”Atau mas mau langsung sekarang?” tanyanya dengan senyum manis menggoda.

Glek! Aku kesulitan menelan ludah, tidak menyangka kalau dia akan menyerang frontal seperti ini. “Ehm… m-makan, iya makan… makan dulu.” jawabku tergagap.

Windy tertawa tergelak melihat sikapku. “Santai aja, mas. Kok jadi mas yang grogi sih.” sindirnya.

Bener juga, yang mau selingkuh kan Windy, kok jadi aku yang grogi?! ”Hehe… maklum aja, Win. Aku benar-benar nggak nyangka bisa melakukan ini sama kamu.” jawabku terus terang.

Windy kemudian mengajakku ke ruang tengah, tempat dimana meja makan berada. Kami makan bareng, bersisian. Selama itu Windy terus mengajakku ngobrol, bakat ceriwisnya ternyata belum hilang. Dia menanyakan kabar anak dan istriku, juga teman-teman di kantor yang ia kenal. Bahkan tukang gorengan yang dulu menjadi langganan kami juga ia tanyakan.

Kujawab semua sambil menikmati wajah cantiknya. Windy tidak keberatan aku menatapnya penuh nafsu, bahkan dia yang menyuruh. ”Biar mas nggak grogi.” katanya.

Selesai makan, Windy mengajakku masuk ke dalam kamarnya. ”Kita lakukan disini, mas.” ia berkata sambil melepas jilbabnya, mempertontonkan rambut hitamnya yang panjang dan lebat.

”Kamu cantik, Win.” kataku memuji, jujur dari dalam hati.

Windy tertawa, ”Sudah dari dulu, mas. Kalau nggak, masa sih aku bisa kawin duluan.” sahutnya, membuatku ikut tertawa. Dia kemudian pamit untuk gosok gigi sebentar.

Sementara dia berada di kamar mandi, kuedarkan pandanganku ke seantero ruangan. Kamar itu terlihat cukup mewah; ranjang besar tertata rapi tepat di sudut, ada kamar mandi dalam tempat dimana Windy sekarang berada (terdengar suara gemericik air dari sana), dua lemari besar berjajar kokoh di sebelah jendela, serta seperangkat audio dan teve layar datar 29’ di atas meja. Kesan yang kudapat: Windy cukup berlimpah dalam urusan materi.

Tak lama, wanita itu keluar. Tubuh mulusnya hanya dibalut handuk dengan pundak dan rambut sedikit agak basah, kelihatan sangat seksi sekali. Rupanya Windy memutuskan untuk mandi alih-alih cuma gosok gigi. Tersenyum manis, dia melangkah ke arahku yang sedang duduk di tepi tempat tidur. ”Maaf kalau lama. Gerah, sekalian aja mandi.” katanya.

Pahanya yang putih mulus tampak jelas kelihatan, begitu beningnya hingga jadi menyilaukan. Payudaranya yang montok seukuran kepala bayi, sedangkan handuk yang melilitnya hanya mampu menutupi separuhnya, sisanya mencuat kemana-mana. Tanpa merasa risih sedikit pun, Windy duduk di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya. ”Tunggu bentar ya, mas.” ia berkata seakan aku adalah benar-benar suaminya yang lagi menunggu untuk meminta jatah.

Benar-benar sangat romantis. Tanpa perlu diperintah dua kali, seketika penisku pun langsung kaku dan mengeras. Terpaksa aku harus membetulkan posisinya agar sedikit lebih nyaman. Windy yang melihatnya langsung tertawa ngakak. ”Udah nggak sabar ya, mas?” tanyanya menyindir.

Aku cuma mengangguk mengiyakan. Ikut tersenyum, kuperhatikan dia dari balik kaca. Windy sekarang kelihatan lebih dewasa, tampak lebih matang sebagai seorang perempuan. Begitu juga dengan tubuhnya, sudah begitu montok dan sempurna. Aku jadi tak tahan untuk segera memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya yang mulus itu.

“Nggak mandi, mas, biar seger?” tanya Windy mengagetkan lamunanku.

“Eh, iya. Iya!” sedikit tergagap, aku pun lekas berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Tapi sebelum menutup pintunya, Windy memanggilku. “Tunggu, mas. Ini handuknya.” dia mengambil handuk besar dari dalam lemari dan memberikannya kepadaku. Ah, kukira handuk yang dipakainya itu yang akan diberikan kepadaku, hehe.

Di dalam kamar mandi, berdiri dengan tubuh telanjang, kulihat betapa tegang dan kerasnya penisku, mengacung begitu tegak, dengan urat-urat mungil bertonjolan melingkar-lingkar disana-sini. Aku sudah begitu terangsang, tapi kenapa aku masih belum berani untuk langsung melakukannya ya? Heran, dengan Windy kok aku jadi sopan gini.

Selesai mandi, aku keluar cuma memakai handuk. Semua dalaman dan bajuku kulipat dan kutaruh di dalam lemari kecil yang ada di kamar mandi. Kalau Windy berani berbuat seperti itu, kenapa aku tidak?

Windy agak sedikit surprise saat melihatku. “Wah, bagus juga tubuh mas.” ia berdecak kagum menatap tubuhku, terutama gundukan di depan selangkanganku yang tampak menonjol indah, menjanjikan sejuta hangat dan kenikmatan bagi wanita kesepian seperti dirinya.

Aku tersenyum. Penisku memang kembali mengeras. Bagaimana tidak, di depanku, Windy memang sudah berganti pakaian. Tapi tetap saja tubuh sintalnya terlihat begitu menggoda. Meski bodynya mungil, tapi dengan daster putih tipis yang ia kenakan sekarang, siapa juga yang tidak tergoda?! Dengan jelas bisa kulihat bayangan BH dan celdam yang ada dibaliknya. Seperti dugaanku, payudaranya yang sekal menantang terlihat begitu indah, tampak tidak muat saat ditampung oleh BH 36B-nya.

“Ini, mas.” Windy memberiku sebuah sarung. ”biar praktis,” katanya sambil tersenyum malu-malu.

”Iya, terima kasih.” berbalik memunggunginya, aku mengganti handukku dengan sarung itu. Aku bisa memastikan kalau Windy menatapku selama aku berganti pakaian. Aku tidak tahu apa saja yang ia lihat, tapi yang jelas, ia tersenyum lebar saat aku berbalik menatap wajah cantiknya.

”Sini, mas. Duduk sini.” Windy memanggilku, mengajakku untuk duduk di sebelahnya. ”Santai aja ya, jangan grogi.” lanjutnya.

Akupun mendekat dan menaruh pantat di sebelah kanannya, bisa kucium bau harum sabun mandi di tubuh mulusnya, begitu merangsang, membuatku deg-degan tak karuan. “Iya, aku nervous banget nih.” kataku menanggapi.

Selanjutnya percakapan kami berlangsung lancar. Sambil terus ngobrol, perlahan-lahan tubuh kami mendekat dan tanpa sadar sudah saling menempel. Entah apa yang menggerakkan keberanianku, tiba-tiba saja kaki kiriku sudah menindih kaki kanan Windy. Dan asyiknya, Windy diam saja. Ia memang sedikit kaget, tapi melihat senyumku yang tulus, ia tak kuasa untuk menolak. Bahkan ia mulai menggerakkan pahanya yang mulus itu agar bergesekan dengan pahaku yang masih terbungkus kain sarung.

Kuletakkan tanganku di salah satu belahan pahanya, kuusap-usap pelan dari atas ke bawah, terasa halus dan licin sekali, aku menyukainya. Windy membalas dengan menyingkap kain sarung yang kukenakan dan ikut mengusap-usap pahaku, ”Mas nakal,” gumamnya manja.

”Kamu suka?” tanyaku sambil menempelkan badan ke lengannya yang terbuka. Tubuhku langsung bergidik begitu merasakan kehangatan dan kehalusannya. ”Win,” lenguhku saat darahku seperti dialiri listrik ribuan volt. Aku terangsang berat! Penisku yang sudah tegang dari tadi, kini jadi semakin memberontak tak terkendali.

Windy yang melihat tonjolan besar di balik kain sarungku, tersenyum gembira. ”Mas suka dengan tubuhku?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku mengangguk, ”Suka, Win. Suka sekali!!” Kuberanikan diri mengusap tangannya yang naik turun di atas pahaku dan menggenggamnya mesra. Windy tidak menolak. Jadilah kami mulai saling mengusap-usap tangan satu sama lain.

“Tanganmu kok dingin, mas?” tanya Windy dengan tubuh bersandar penuh di pundakku, dia menempelkan payudaranya yang besar ke bahuku. Ehm, terasa empuk dan kenyal sekali.

“Grogi, Win, berdekatan sama orang secantik dirimu.” jawabku berseloroh.

Windy tertawa dan makin mendekatkan tubuhnya, kepalanya disandarkan ke pundakku. ”Istri mas kan juga cantik. Tanti juga.” sahutnya merujuk pada perempuan-perempuan yang pernah kutiduri.

”Bagaimana pun, malam pertama itu tetap bikin grogi, Win.” kucoba melingkarkan tangan ke kepalanya, kubiarkan Windy tiduran di tubuhku dengan berbantal tangan dan ketiakku.

”Malam pertama apaan? Aku sudah nggak perawan lho, mas.” dia mengingatkan.

”Bagiku, kau tetap perawan, Win. Malam ini, untuk pertama kalinya aku bisa mencicipi tubuhmu.” Aku yang sudah horni berat memberanikan diri mengelus-elus pundak kirinya. Windy diam saja, malah dia memejamkan mata, seperti menikmatinya.

Tak tahan menunggu lama-lama, aku pun menunduk dan mencium keningnya. Windy melenguh pelan, tapi tetap diam, sama sekali tidak menolak. Dituntun oleh nafsu, kuturunkan ciumanku menuju ke pipinya. Kuendus pelan disana sebelum akhirnya mulutku merambat dan hinggap di bibirnya yang tebal.

”Ehm, mas!” Windy mendesis lirih saat kulumat pelan bibir merahnya. Terasa sangat manis dan lembut sekali. Aku terus memagut dan menghisapnya rakus hingga Windy yang awalnya diam, kini mulai sedikit merespon. Dia membuka bibirnya dan membiarkan lidahku masuk menjelajahi mulutnya.

”Ahhh… Win!!” Lidah kami saling bertautan, saling hisap dan saling belit. Air liur kami bercampur. Kulihat mata Windy terpejam selama ciuman panas itu berlangsung. Hanya nafasnya saja yang sedikit berubah, mulai agak berat dan tak beraturan.

Secara naluriah, tanganku akhirnya bergerak menuju ke bongkahan buah dadanya, area yang selama ini begitu menggodaku. Kulihat benda itu bergerak-gerak indah seirama tarikan nafas Windy yang kian memburu. Pelan, dengan tangan gemetar, aku memegangnya. Ah, begitu besar, hingga telapak tanganku tidak bisa menangkup semuanya.

”Win?” kupanggil namanya saat aku mulai meremas-remasnya pelan. Bisa kurasakan kepadatan dan kekenyalannya meski benda itu masih tertutup beha.

“Puaskan aku, mas! Kau bebas berbuat sesukamu malam ini!!” kata Windy di sela-sela nafasnya yang turun naik. Kurasakan tangannya perlahan menyusup ke balik kain sarungku dan bergerak merayap untuk menangkap batang penisku yang sudah menegang dahsyat. “Gede banget, mas! Hhm…“
gumamnya begitu mengetahui ukuran yang sebenarnya.

Satu persatu kubuka pakaiannya, aku langsung terpana begitu melihat kemolekan tubuhnya. Sekarang hanya tinggal BH dan celana dalam saja yang masih menghias di tubuhnya yang sintal. Astaga naga, begitu sangat sempurna wanita cantik yang satu ini. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya?

Kubuka bajuku tanpa berkedip memandangi tubuh Windy yang putih mulus tanpa cacat, wajahnya yang cantik dan genit membuatku tambah bernafsu ingin segera menggumulinya. Kupelorotkan kain sarungku hingga aku telanjang bulat di depannya.

”Ya Tuhan, gede banget, mas!” ujar Windy terkagum-kagum melihat ukuran kontolku yang besar dan panjang. Ia segera menghambur ke dalam pelukanku dan mendorong tubuhku hingga rebah ke atas ranjang. Bertindihan, kami saling bergumul mesra.

Kuremas dengan lembut buah dada Windy yang tidak bisa kutampung dengan tanganku, kulepas BH yang menutupinya hingga aku bisa memeganginya secara langsung. Benda itu terasa begitu empuk dan kenyal, membuatku sangat nyaman saat meremas-remasnya. Windy tersenyum ke arahku dan memagut bibirku mesra. Saling berciuman, kali kembali bergulingan di atas ranjang. Kurasakan kalau puting susu Windy
sudah tegang berdiri, pertanda kalau birahinya sudah memuncak.

“Mas… pelan-pelan aja, kok nafsu banget sih?” kata Windi di sela-sela lumatan bibirku.

“Gimana nggak bernafsu. Win. Sejak Tanti mengutarakan rencana ini, aku kadang suka masturbasi sambil membayangkan dirimu.” sahutku sambil memenceti gundukan payudaranya semakin keras.

“Mas bisa aja,” ujarnya dengan genit sambil meremas penisku dan mengocoknya pelan. “Besar sekali punyamu, Mas. Kukira dulu Tanti bohong, tapi ternyata tidak.“ ujarnya senang.

Kuelus-elus pahanya yang mulus bak pualam, sedang Windy terus mengocok-ngocok penisku. “Jangan cuma dikocok, Win… isepin donk!” pintaku.

Windy langsung saja menjilati penisku dengan penuh nafsu, sepertinya ia sudah terbiasa ngemut kontol, terbukti ia mudah saja melakukannya, mungkin suaminya suka minta yang seperti ini.

“Kontol mas gede banget, mulutku sampe ngilu rasanya, aahh… mmph… nggmm…” kata Windy tak lama kemudian sambil terus menghisap penisku.

Aku cuman tersenyum saja mendengarnya, ”Gede mana sama punya suami kamu?” tanyaku kemudian sambil kuremas-remas terus bongkahan payudaranya yang menggantung indah sementara dia menjilati penisku.

”Ehmm… suamiku kan gendut, kontolnya mungil, ya jelas gede punya mas donk!” jawab Windy dengan muka memerah akibat menahan nafsu.

Kurangkul tubuhnya dan kuhunjamkan penisku dalam-dalam ke rongga mulutnya…. Croop! batangku langsung memenuhi tenggorokannya yang mungil. Windy agak sedikit tersedak menerimanya, tapi sama sekali tidak menolak. Malah ia terus menjilat dan menghisap penisku hingga membuatku meringis-ringis menahan geli yang amat sangat yang justru semakin membuat batangku menegang dan mengeras.

“Aduh… enak banget, Win… oohh… enaknya!” mulutku mulai mengeluarkan desisan panjang sementara Windy terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk di dalam mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku kembali meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus.

”Mmm… mmm…” hanya itu yang keluar dari mulut Windy seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya. Windy membalas dengan sesekali menggigit ringan kepala kemaluanku yang terbenam lembut di dalam mulutnya.

Fiuhh! Windy mengeluarkan penisku saat sudah lelah mengulum. Ia lalu bangkit dan memelukku. Kami berciuman sekali lagi. Sambil melumat bibir tipisnya, segera kusergap pinggulnya untuk meraba daerah bukit selangkangannya yang sepertinya sudah membanjir oleh cairan kewanitaannya. Gantian kini giliranku. Segera kutarik cd-nya ke bawah hingga Windy sama-sama telanjang bulat sepertiku. Alamak, kulihat jembutnya tertata rapi, dengan labia mayora yang masih kelihatan utuh dan rapat, warnanya juga sangat cerah sekali; merah kecoklat-coklatan, terlihat begitu indah dan menggiurkan. CD-nya terus kutarik ke bawah hingga lolos dari kakinya, Windy membantu dengan sedikit mengangkat pinggulnya.

“Mas, puaskan aku malam ini! Hamili aku… suamiku sepertinya tidak bisa memberiku keturunan! Oughhh…” rintihnya dengan tatap mata sayu.

“Kau rela mengandung anak dariku?” tanyaku sambil menjilati vaginanya.

Windy mengangguk, “Hanya kepada mas aku berharap, Ohhh… Suamiku loyo, tak pernah mampu memuaskanku, apalagi memberiku seorang anak!“ jawabnya.

“Jangan sebut-sebut dia, Win. Aku suamimu malam ini. Akan kutanam benihku ke dalam rahimmu!” yakinku.

“Lakukan, Mas… lakukan!” ujarnya dengan penuh harap dan senyum lebar penuh arti.

Kembali kujilati vaginanya, membuat Windy mengerang lagi, semakin keras. “Ohh… Mas… ahh… ahh… ughh… enak!” erangnya suka. Tangannya yang mungil kulihat meremas-remas seprei ranjang untuk menahan sensasi jilatanku yang semakin lama semakin menggila menyerang lubang kewanitaannya. Terus kuhisap dan kukuak lubang sorga itu dengan lidahku hingga membuat Windy mengerang dan menjerit tak lama kemudian, pertanda kalau akan segera orgasme.

“Ohh… Mas, aku mau sampai… terus… terus!” rintihnya. Dan rintihan itu berubah menjadi pekikan keras saat kelentitnya yang sebesar biji kacang aku jilat dan sesekali kusentil dengan lidahku. Windy langsung menggelinjang dan menjerit-jerit tak karuan.

“Jangan keras-keras, Win. Nanti didengar sama tetangga.” aku memperingatkan, tapi dengan lidah tetap menancap di belahan vaginanya.

“Biar aja, nggak ada yang dengar kok. Teruskan, Mas… aku sudah hampir sampai!” pintanya dengan pinggul digoyang-goyang liar.

Tak lama kemudian dia melenguh dengan keras. Dari lubang vaginanya keluar cairan bening yang amat banyak, menyemprot dengan dasyat hingga membasahi ranjang serta sebagian mengenai mukaku. Tubuh mungil Windy kelojotan menahan nikmat orgasmenya. Kuhentikan jilatanku dan kupeluk tubuhnya penuh rasa sayang. Windy masih kelihatan terengah-engah menahan nafasnya saat kuciumi bibirnya.

“Terima kasih, Mas… beri aku sitirahat sebentar ya?“ dia membalas lumatanku sebentar sebelum meringkuk kecapekan dalam pelukanku.

Kubiarkan dia untuk memulihkan staminanya. Hampir lima menit kami berada dalam posisi seperti itu hingga kontolku yang terganjal bokongnya terasa gatal minta untuk diperhatikan. Kuremas buah dadanya untuk mengembalikan kesadaran Windy. Kukulum juga putingnya agar gairah Windy bisa cepat kembali. Pelan tapi pasti, usahaku itu membuahkan hasil. Windy mulai membuka matanya dan melenguh pelan. Nafsunya sudah bangkit kembali, bahkan kini menjadi kian ganas akibat orgasmenya tadi.

“Masukin sekarang, Mas! Keluarin di dalam! Hamili aku…“ rintih Windy manja sambil merebahkan tubuh montoknya di ranjang. Dia membuka kakinya lebar, memberikan vaginanya yang sudah basah memerah kepadaku.

Kukocok penisku sambil memandanginya. Busyet… lubang kecil segitu, kontolku mana bisa masuk. Kucoba untuk menguaknya dengan tangan, uh… memang benar-benar kecil. ”Kamu masih perawan ya, Win?” godaku sambil menusukkan salah satu jariku ke dalam, kukorek-korek dindingnya yang basah dan lengket berulang-ulang.

Windy sedikit menjengitkan tubuhnya saat kupencet ringan biji klitorisnya. ”Ehm… ya enggak lha, Mas. Punya suamiku aja yang kekecilan, jadi gak bisa menguak sampai tuntas.” jelasnya.

Ah, aku mengerti sekarang. Tapi jadi ada problem baru lagi nih, ”Kalau nanti dia curiga gimana?” tanyaku.

”Curiga apanya? Kalau aku nggak cerita-cerita, kan dia nggak bakal tahu.” sahut Windy.

”Bukan begitu… sehabis kuterobos pake penisku, lubangmu pasti bakal melar. Kalau dipakai sama suamimu, trus dia curiga sama ukuran lubangmu yang kegedean, gimana?”

Windy tertawa mendengar pertanyaanku. ”Mas nggak usah mikirin itu. Sekarang pikirin aja bagaimana cara Mas menghamiliki. That’s it, titik!”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, sambil mengelus-elus paha mulusnya yang bulat mempesona, aku akhirnya mengangguk. ”Baiklah, kalau memang itu yang kamu inginkan. Tapi kalau nanti ada apa-apa sama suamimu, jangan salahkan aku lho ya,” aku memperingatkan.

Windy tersenyum. ”Biarlah itu menjadi urusanku, yang penting aku bisa hamil.” sambil berkata, dia membuka kakinya semakin lebar dan menarik tubuhku agar segera menindih tubuhnya.

Mencium kembali bibirnya, akupun segera mengarahkan penisku ke dalam lubang kencingnya. Terasa sangat sesak saat aku mencoba mendorongnya. Hanya masuk kepalanya saja, itupun sudah sangat memaksa.

“Punyamu terlalu besar, Mas… nggak bisa masuk kalo terus begini. “ kata Windy penuh nafsu.

“Iya, sulit banget… trus, gimana enaknya?” aku bertanya.

“Aku diatas saja, Mas duduk…” ujarnya sambil berpegang pada tanganku. Ia lalu bangun dari posisi tidurnya dan kemudian merangkul pundakku. Berpelukan, Windy mulai mengarahkan lubangnya pas di depan penisku.

“Pelan-pelan aja, Win…“ aku berpesan.

Windy jongkok dan memegangi penisku. “Ehm, kontol Mas benar-benar keras!” bisiknya parau.

“Vaginamu juga sangat sempit, Win… aku suka!” sahutku.

”Tapi gara-gara sempit itu kita jadi kesulitan seperti ini.” Windy tertawa. Ia mulai mengesek-gesekkan ujung penisku ke celah bibir kemaluannya.

“Ah, bener juga. Tapi aku memang suka sama punyamu, rapet singset kayak perawan!” Aku tertawa keras, tapi Windy segera membekap mulutku dengan ciuman dashyat di bibir. Dia melumat bibirku penuh nafsu, aku membalasnya tak kalah panas. Sambil mencium, tanganku mulai merambat untuk meremas-remas buah dadanya yang menggelantung padat dan keras di depan perutku.

Pelan-pelan Windy menekan tubuhnya ke bawah, memasukkan penisku ke dalam lubang sorgawinya. Mili demi mili, penisku mulai meluncur masuk. Terasa sangat sesak sekali, tapi tetap bisa menerobos meski sangat perlahan. Untuk menahan rasa perih di selangkangannya akibat gesekan alat kelamin kami berdua, Windy terus melumat bibirku sambil sesekali meringis kesakitan.

“Dorong, Mas… Dorang tapi pelan…” pintanya di telingaku.

Aku menurutinya. Kutekan penisku yang sudah setengah tenggelam ke dalam memeknya. “Benar-benar bodoh suamimu, Win, menyiakan-nyiakan wanita seseksi dir…”

Windy cepat menutup mulutku dengan bibirnya. “Aku tidak disia-siakan kok, dia cuma tidak bisa menghamiliku saja.” jelasnya.

”Kalau begitu, biar aku saja yang menghamilimu! Ughh!” kataku sambil menekan keras-keras penisku dengan sekali sentakan hingga amblas seluruhnya, masuk ke dalam vagina Windy yang sempit dan legit.

Pekikan keras langsung dikeluarkan oleh wanita cantik itu, “Auuuuuuuhhhhhhhh…” tubuhnya menggelinjang, sementara pelukan tangannya di tubuhku menjadi kian erat. Di bawah, remasan dinding-dinding vaginanya serasa mengurut-urut batang penisku, terasa begitu nikmat sekali.

Kembali kulumat bibir tipis Windy, sambil tanganku meremasi buah dadanya yang mengganjal empuk di depan dadaku. “Kita genjot bareng ya, Win?” aku berbisik di telinganya.

Windy mengangguk dan mulai menggerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah, sementara aku mengimbanginya dengan menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Gesekan alat kelamin kami terasa begitu nikmat, apalagi saat vagina Windy sudah mulai bisa menerima kehadiran penisku, cairan yang keluar dari benda itu menjadi kian banyak, membuat genjotanku menjadi semakin lancar dan mantab.

Kami terus berpacu dengan posisi seperti itu; aku duduk sambil memangku Windy dalam pelukanku. Aku tidak pernah melakukan posisi seperti ini sebelumnya, baik dengan Tanti maupun dengan istriku. Ternyata rasanya begitu nikmat. Aku menyukainya. Kapan-kapan aku harus mencobanya dengan wanita lain.

Sambil saling memompa, tanganku aktif meremas-remas buah dada Windy yang membusung padat. Wanita itu bergoyang di pangkuanku, kakinya menyilang di pinggangku, membuat penisku yang terjepit di vaginanya jadi serasa seperti diremas-remas kuat sekali.

“Win, punyamu keras banget mencekik burungku… aku bisa nggak tahan nih.” kataku.

“Awas kalau Mas sampai keluar duluan,“ ujarnya sambil mencari bibirku.

Kami lalu saling memagut mesra dengan keringat mulai bercucuran. Menit demi menit berlalu dengan begitu cepat, tak terasa sudah lebih dari lima menit aku menyetubuhinya. Windy yang tampaknya mulai tak tahan, segera mempercepat genjotannya, dan aku meladeninya.

“Mas, ahh… a-aku… dah mau… sampai!” ujarnya dengan terputus-putus.

“Tahan sebentar, Win. Genjot terus tubuhmu!” sahutku.

“I-iya, Mas… aghh…“ Windy mempercepat genjotannya. Tak lama kemudian dia melenguh sangat keras, tubuhnya melengkung ke belakang sehingga buah dadanya yang bulat jadi membusung padat. Segera kucucup dan kuremas-remas benda itu untuk memberikan sensasi orgasme yang lebih optimal kepadanya, penisku juga terus aktif menyodok liang vaginanya dari bawah.

“Mas… arghhhh… aku sampaai… aughhh!” jerit Windy keenakan. Semprotan air maninya benar-benar dashyat, juga begitu banyak, hingga membasahi penis dan pahaku. Jepitan vaginanya yang semakin kencang serasa meremukkan batangku. Untunglah ada siraman lendir cintanya yang menyejukkan sehingga aku masih bisa mengontrol orgasmeku agar tidak keburu menyusul dirinya.

Windy lemas dalam pelukanku, tubuh montoknya lunglai lemas, matanya terpejam rapat, sementara nafasnya terus terengah-engah. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya sebentar, sebelum kuangkat tubuhnya dan kutidurkan di ranjang tak lama kemudian. Kutindih dia dan kubisikkan kata cinta di telinganya. ”Gimana, enak?” tanyaku menggoda.

Windy menjawil hidungku dan tersenyum. ”Enak banget, Mas. Baru kali ini aku keluar dua kali dalam satu babak permainan. Mas benar-benar hebat.” pujinya.

Kucium bibirnya dan kuremas-remas payudaranya sebentar sambil kumasukkan kembali penisku ke dalam liang vaginanya. Windy menerimanya dengan senang hati, dia menjepitkan kedua kakinya di pinggangku agar alat kelamin kami semakin kuat menyatu.

“Mau yang lebih enak, sebentar lagi aku akan segera menyusul kamu lho…” bisikku di telinganya.

Windy tersenyum kegirangan, ”Lakukan, Mas! Keluarkan manimu di dalam vaginaku! Penuhi rahimku dnegan calon bayi kita!” dia berkata dengan penuh antusias.

“Kamu semangat banget, Win.“ timpalku sambil tersenyum.

Windy tertawa lepas. “Habisnya, sudah lama banget aku pengen hamil. Dan sekarang, bukan saja dapat anak, aku juga dapat enak dari mas. Benar-benar surprise!”

”Aku juga suka dengan tubuhmu, Win. Nikmat banget!” timpalku.

”Andai kita bisa begini tiap hari, pasti enak ya?” ia berharap.

“Aku mau kok tiap hari menyetubuhimu…“ kataku.

“Hah, benarkah?” tanyanya gembira.

”Iya, asal kamu balik bekerja sekantor sama aku! Nanti aku setubuhi kamu tiap hari pas jam makan siang.”

”Yee… mana bisa begitu!“ Windy tertawa. Usulku itu memang tidak mungkin dilaksanakan.

“Nggak apa-apa, Win. Biar aku saja yang kesini menemanimu. Sebentar lagi Tanti melahirkan, akan ada lebih banyak waktuku buat kamu!” sambil berkata, aku mulai bergerak menarik pantatku dan mendorongnya perlahan.

Windy merintih merasakan gesekan alat kelamin kami berdua, “Ohh… enak sekali penismu, Mas! Terus! Setubuhi aku! Buat aku hamil! Oughhh…”

Akupun makin mempercepat sodokan penisku, sambil mulutku mencari bibirnya dan melumatnya rakus. Tak lupa tanganku juga hinggap di atas gundukan payudaranya dan meremas-remas lembut disana. Windy memelukku erat sambil mengelus-elus punggungku, tampak sangat menikmati sekali apa yang kami lakukan. Tubuh kami telah basah oleh keringat, sebasah hujan deras yang mulai turun di halaman. Erangan kami bersahutan dengan suara geledek yang sesekali membahana.

”Win,” kupanggil namanya saat sodokanku beberapa kali mencapai tempat terdalam di lorong vaginanya. Tidak menjawab, Windy malah makin mempererat jepitan kakinya, menambah sesaknya gerakan penisku di dalam lubangnya.

“Uhh… enak sekali, Win.” erangku lagi.

Windy menarik kepalaku dan melumat bibirku gemas. Kembali kami saling berciuman mengadu bibir, sambil bokongku tetap bekerja menyodok-nyodok liang vaginanya. Terus kupacu tubuhku, semakin lama menjadi semakin cepat hingga tanpa sadar Windy mulai menjerit dan merintih-rintih tak karuan.

“Mas… aku… aah… oh enaknya!!” ucapnya meracau.

Aku merasa ada yang semakin mendesak dari batang penisku, tampaknya aku akan segera keluar. Sambil memegangi buah dada Windy yang bergerak naik turun menggiurkan, akupun menjerit keras. ”Ahhh… Win! Aku keluar! Uhhhh… ahhh…” Croott… croott… croott… beberapa kali aku menembakan peju ke dalam rahimnya. Windy ikut terkejang-kejang saat menerimanya. Kembali kami saling berpelukan dan berpagutan mesra dengan alat kelamin kami masih saling bertaut dan berkedut-kedut pelan.

Kami terdiam cukup lama setelah percintaan yang cukup menguras tenaga itu. Jam masih menunjukan pukul sepuluh malam, masih banyak waktu bagi kami untuk memadu cinta dan birahi malam itu. Aku yakin, dengan guyuran spermaku, Windy bisa hamil tidak lama lagi.

2 thoughts on “TANTI 2 : WINDY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s