MURTI 3

Gatot semakin betah bekerja di rumah Pak Camat. Pak camat juga semakin menaruh kepercayaan pada Gatot. Jika sebelumnya Gatot cuma diberi jabatan sopir, sekarang jabatannya bertambah satu, yakni sebagai penjaga malam di rumah Pak Camat, otomatis juga gajinya meningkat. Jadi sekarang Gatot jarang menempati rumahnya karena lebih sering berkeliaran di sekitar rumah Pak Camat. Meskipun sudah tobat, tapi orang-orang tetap menaruh segan dan takut pada kegarangan Gatot. Atas dasar itulah Pak Camat mempercayai Gatot banyak hal, memberi Gatot kebebasan keluar masuk rumahnya. Para tamu Pak Camat juga merasa nyaman dan tenang tanpa perlu takut kehilangan motor.

Dulu memang pernah ada kejadian motor salah satu tamu Pak Camat hilang saat diparkir di depan pagar. Ketika itu secara tidak langsung orang-orang mengarahkan tuduhan pada Gatot. Untung tuduhan itu tak terbukti. Lebih untung lagi Gatot tidak tahu kalau dirinya dituduh mencuri. Seandainya Gatot tahu, entah apa yang akan terjadi pada komplek. Bisa jadi ada beberapa orang mati tersambar golok maut si Gatot. Sekarang Gatot tidak pernah lagi membawa golok itu. Cuma Pak Camat dan Murti saja yang tahu bahwa Gatot selalu menyelipkan celurit kecil di balik jaketnya kemanapun pergi. Celurit kecil yang bisa membawa bencana besar jika ada yang mencoba macam-macam.

“Rokok, Tot.” Pak Camat menawari Gatot rokok saat duduk duduk santai di teras depan.

“Terima kasih, Pak.” Gatot mengambil sebatang lalu menyulut menggunakan korek Zippo milik Pak Camat dan mengebulkan asap rokok itu sampai ke dalam rumah, tercium oleh Murti yang lagi menonton sinetron.

“Ada pegawai kantor yang sering menanyakan kamu,” kata Pak Camat.

“Siapalah saya ini kok sampai ada yang menanyakan,” jawab Gatot merendah.

Murti mulai tidak serius nonton sinetron mendengar obrolan itu. Dia lalu beringsut sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.

“Bapak serius, Tot. Si Dewi itu yang sering nanyakan kamu.”

“Saya yakin Mbak Dewi itu cuma bercanda, Pak Camat.”

“Gatot, kalau bercanda itu tidak mungkin tiap hari nanya terus. Dewi perempuan yang baik kok.”

“Justru karena itu, Pak. Seorang duda yang bergelimang dosa sangat tidak pantas buat perempuan manapun.”

“Kamu terlalu pesimis. Padahal bukan cuma Dewi yang tanya seputar kamu. Banyak lho gadis komplek ini yang naksir kamu.”

“Saya belum ada niat untuk memulai lagi, Pak.”

“Ya sudah. Sebelumnya bapak mohon kamu tidak tersinggung dengan pertanyaan bapak ini,”

“Pak Camat mau menanyakan apa?”

“Tentang ayahmu. Bapak dengar dari cerita Murti, ayahmu menghilang dan sampai sekarang tak ada kabar.”

Gatot mengangguk. Seumur-umur belum pernah ia memikirkan tentang ayah kandungnya, namun pertanyaan Pak Camat membuat bayang-bayang ayahnya kembali muncul. Gatot ingat hari hari terakhir dia bersama ayah ibunya. Saat itu malam sangat buta. Dia duduk di warung ayahnya, menonton ayahnya mengadu untung dengan berjudi besar-besaran. Betapa dia melihat uang taruhan ayahnya sedikit demi sedikit beralih tangan sampai uang itu ludes sama sekali. Tapi ayahnya tidak berhenti berjudi, bahkan kemudian berunding dengan musuhnya. Perundingan yang tampaknya disetujui karena kemudian judi berlanjut. Ayahnya sempat menang beberapa kali tapi kemudian lebih banyak kalahnya. Dan ayahnya yang kalah total lalu membawa tiga musuhnya ke rumah.

Gatot ingat betul teriakan minta tolong ibunya yang ditelanjangi kemudian diperkosa ketiga lelaki itu. Gatot mendengar tangisan ibunya yang menyayat hati sementara ia tidak melihat ayahnya sama sekali. Tiga hari tiga malam Gatot mendengar berbagai ratapan, tangisan, sumpah serapah ibunya. Selama tiga malam pula tiga lelaki itu tidak keluar sama sekali dari kamar ibunya. Pada malam keempat tiga lelaki itu keluar dan pergi begitu saja. Gatot yang masuk kamar ibunya terkejut melihat sebilah pisau menancap tepat di jantung ibunya yang telanjang bulat. Ibunya mati. Orang-orangpun berduyun-duyun datang dan bilang kalau ibunya mati bunuh diri. Tetapi Gatot yakin ibunya mati dibunuh tiga begundal itu. Wajah tiga orang itu masih diingat Gatot sampai sekarang, sama dengan ingatannya tentang wajah sang ayah. Semua telah menjadi musuh dalam hatinya.

“Saya tidak ingin orang menanyakan ayah saya. Siapapun!” kata Gatot dengan suara bergetar menahan marah. Beruntung Murti muncul dan dengan gerakan yang anggun menyuguhkan kendi berisi air dingin. Seketika jiwa Gatot yang sempat membara jadi dingin tersiram gerakan itu, juga tersiram oleh air yang mengalir ke tubuh. “Maafkan kalau saya agak kasar, Pak Camat.” katanya kemudian.

“Seharusnya bapak yang minta maaf. Lanjutkan saja tugasmu, ya.”

“Iya, Pak. Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya.”

Pak Camat masuk meninggalkan Gatot. Sampai di dalam rumah, lengannya ditarik menuju kamar oleh Murti. Pak Camat sampai hampir jatuh saking kerasnya seretan itu. “Apa-apaan sih kamu, Murti?!” tegur Pak Camat agak marah. Mereka sudah ada di kamar dan Murti mengunci pintu, juga menutup tirai kamar.

“Mas Joko gimana sih? Saya kan sudah bilang jangan pernah tanyakan hal itu ke Gatot!”

“Jadi kamu nguping ya?” kata Pak Camat mulai lunak.

“Bukannya nguping, Mas. Tapi aku khawatir mas nanya yang macam macam ke Gatot. Nyatanya terbukti kan?”

“Aku cuma ingin tahu saja, Murti. Siapa tahu Gatot mau berbagi masalah pribadinya pada kita.”

“Tapi Gatot itu sangat sensitif kalau ditanya masalah keluarganya. Untung tadi Gatot cuma gusar.”

“Maaf deh. Aku janji nggak bakal nanya-nanya itu lagi.”

“Aku nggak mau kehilangan Mas Joko,”

“Kalau aku mati, kamu kan bisa kawin lagi. Kamu masih terlihat muda, masih seksi dan bahenol, masih…”

Pak Camat tak meneruskan kata-katanya karena Murti keburu menghujaninya dengan cubitan. Dari sekedar cubit mencubit kemudian berkembang jadi jepit menjepit. Tapi keduanya memang lagi tidak berselera. Pak Camat menjauhkan wajahnya dari buah dada Murti yang masih ranum dan montok padahal Murti sudah membukanya lebar-lebar.

“Aku mau pergi menemui Pak Hasan. Kamu di rumah saja ya?!” katanya sambil menutup kembali baju Murti.

“Tapi jangan pulang terlalu malam ya, Mas!” Murti mengancingkan kembali bajunya.

“Tidak usah takut. Ada Gatot yang berjaga di depan.” Pak Camat mencium bibir Murti sebelum keluar kamar. Kemudian Murti mendengar deru mobil menjauh dan hilang di keramaian jalan.

Murti melangkah keluar kamar menuju teras, duduk menemani Gatot yang juga masih ada di teras. Keduanya duduk bersebelahan, dibatasi meja kecil yang memisahkan kursi mereka. Seperti biasa, keduanya saling diam terlebih dulu sampai bermenit-menit, lalu saling tersenyum, dan kemudian tawa merekapun pecah.

“Apa yang kamu tertawakan, Mur?”

“Tidak ada, Tot. Aku cuma menertawakan diriku sendiri.”

“Bohong. Kemana Pak Camat pergi?”

“Ke rumah Pak Hasan. Ada urusan kantor bilangnya. Kuambil cemilan dulu ya,” Murti berkelebat ke dalam, tak sampai satu menit keluar lagi dengan mendekap toples berisi keripik singkong. Diletakkan toples itu di meja. Angin malam berhembus agak kencang, juga agak nakal karena membuat Murti sibuk menahan dasternya agar tidak tersingkap. Untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang segar, malam itu ia sengaja mengenakan jilbab yang agak lebar.

“Apa yang akan dikatakan orang kalau melihat kita duduk berdua seperti ini, Mur?”

“Semua orang di komplek ini tahu kalau kamu temanku sejak kecil,” sahut Murti enteng.

“Tapi tetap saja bakal ada yang berpikiran lain.”

“Sudahlah. Jangan bahas itu lagi, toh kita memang melakukannya. Bahas yang lain saja.”

“Aku cuma mau jujur, Mur. Di usia setua ini, kamu masih cantik, Murti…”

“Gombal. Aku malah kagum denganmu, Tot. Sampai sekarang kamu masih bisa menarik minat gadis-gadis muda.”

“Pasti Pak Camat yang cerita kan?”

“Aku yakin cerita itu benar. Tinggal kamunya saja mau atau tidak.”

“Aku belum ada niat. Lagian, kalau aku menikah, aku akan meninggalkan kamu, Mur.”

“Bagiku itu bukan masalah besar. Kita masih bisa tetap berhubungan, dengan sembunyi-sembunyi tentunya.”

“Itu sangat berbahaya, Mur.”

”Yah, mau bagaimana lagi.”

”Satu-satunya orang yang bisa mengerti aku ya cuma kamu, Mur. Sayang kamu sudah jadi istri orang.”

“Kalau aku masih perawan gimana?”

“Tetap saja aku tidak akan bisa kawin denganmu. Mana mau orangtuamu menerimaku.”

“Gatot, aku jujur pernah jatuh cinta padamu.”

“Ah, ada-ada saja kamu ini. Sudah malam, ayo masuk saja sana.”

Murti meninggalkan teras. Sepeninggalnya, Gatot terus berjaga sambil bersiul siul kecil serta menghabiskan sisa keripik singkong dalam toples. Ketika dilihatnya handphone Murti tertinggal di meja, dia segera memanggil istri Pak Camat itu. Tidak terdengar jawaban dari Murti. Gatot pun berdiri dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Dia mengetuk pintu perlahan, setelah tetap tidak ada jawaban, ia pun mendorongnya hingga terbuka dan melangkah ke dalam. Dilihatnya Murti telah terlelap tidur di depan televisi, jilbabnya sudah dilepas, hanya tersisa daster putih tipis yang membalut tubuh sintalnya. Gatot terpana karena daster itu agak sedikit terangkat sehingga memperlihatkan sebagian paha Murti yang putih mulus, Gatot jadi terangsang karenanya.

Dengan cepat ia lupa mau apa dia masuk kemari tadi, Gatot segera mendekat dan mulai mengelus paha mulus Murti, betul-betul hangat dan terasa lembut. Gatot menunduk dan mulai menciuminya, mulai dari lutut hingga ke atas paha, mendekati selangkangan Murti. Ia melihat istri Pak Camat itu masih tetap terlelap tidak bergeming, Gatot pun mulai berani merenggangkan kakinya hingga selangkangan Murti terbuka lebar di depan matanya. Tak tahan, Gatot segera menunduk dan melumatnya, mulutnya bergerak liar di sekitar selangkangan Murti. Dengan penuh nafsu ia pagut daging lembut milik Murti yang masih tertutup oleh celana dalamnya.

Merasa belum puas, dengan hati-hati sekali Gatot menggeser pinggir celana dalam Murti ke sebelah kanan. Ia makin terangsang hebat manakala melihat daging berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan di selangkangan Murti. Meski sudah sering mencicipi dan merasakannya, tak urung tetap membuatnya tergoda juga. Sambil tangannya menahan pinggir celana dalam Murti, Gatot mencium lembut vagina yang berbulu jarang itu. Hmm, nikmat sekali rasanya ketika lidahnya mulai menjilat-jilat lubang kemaluan Murti.

Gatot menjilat-jilat lipatan di kiri dan kanannya, ia pakai kedua tangannya untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam vagina sempit itu dan kemudian mulai menjilati klitorisnya. Ia terus memainkan lidahnya di daerah sensitif Murti, yang lama kelamaan tentu saja membuat Murti mulai merasakan kenikmatan permainannya, nafas istri Pak Camat itu mulai memburu dan tak beraturan. Gatot terus menggerakkan lidahnya, sambil menjilat, tak lupa tangannya mulai mermbat naik menuju ke arah payudara Murti yang bulat besar. Gatot meremas-remasnya sebentar, merasakan betapa lembut dan kenyalnya benda itu, sebelum tiba-tiba ia dikejutkan oleh Murti yang mendadak terbangun. Istri Pak Camat itu mengusap-usap matanya dengan bingung, ia menatap Gatot seperti tak percaya kalau dirinya sedang dikerjai oleh laki-laki itu. Tangan Gatot masih berada di atas gundukan payudaranya dan meremas-remas lembut disana.

Belum sempat Murti berkata apa-apa, Gatot segera mengecup bibirnya dengan lembut dan berbisik, “Ayo, Mur, mumpung Pak Camat lagi nggak ada.” ajaknya berani.

Murti masih belum sepenuhnya sadar rupanya, ia hanya bisa mengguman tak jelas sebagai jawaban. Gatot mengecup bibirnya lagi, dan kali menghisap-hisap bibir itu dengan rakus. Murti sepertinya merasakan kenikmatan, antara sadar dan tidak sadar dia mulai melenguh dan merintih keenakan. Apalagi sambil memainkan bibirnya, Gatot juga terus meremas-remas gundukan payudaranya.

Selanjutnya Gatot melepaskan kecupannya di bibir Murti, dan ganti menghujani pipi istri Pak Camat itu dengan ciuman, dan saat ia kembali mengulum bibir Murti, wanita itu langsung membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Gatot memberanikan diri menaruh tangannya ke selangkangan Murti dan mulai mengusap-usap lembut disana. Mula-mula ia hanya mengusap pelan bibir luar vagina sempit Murti, tapi setelah beberapa lama mereka berpelukan, Gatot mulai memasukkan jari-jarinya ke celah vagina Murti yang basah dan hangat itu. Dengan jari tengahnya Gatot memainkan klitoris Murti. Licin dan hangat sekali rasanya.

Permainan jarinya membuat Murti menggelinjang, pinggulnya yang besar bergerak-gerak seirama dengan gerakan tangan Gatot, apalagi saat laki-laki itu berbuat lebih jauh lagi dengan menarik daster yang dipakainya ke atas. Seakan mengerti dengan maksud Gatot, Murti menaikkan pinggulnya sehingga daster itu dapat dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuh sintalnya.

Gatot melepas kancing BH Murti, ia sedikit terpana saat menatap tubuh putih mulus milik Murti yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera Gatot menunduk untuk menghisap puting payudara Murti yang berwarna coklat kemerahan, sementara tangan kanannya ia selipkan ke balik celana dalam istri Pak Camat itu dan kembali memainkan klitorisnya. Kali ini Murti betul-betul terangsang dan merasakan keenakan yang luar biasa, ini bisa terlihat dari deru nafasnya yang semakin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan yang terus keluar dari bibir tipisnya.

Gatot terus mempermainkan tubuh mulus wanita cantik itu hingga beberapa saat kemudian, Murti tiba-tiba merintih kencang, hampir setengah berteriak. Otot-otot badannya mengejang, sepertinya ia telah orgasme. Setelah terkejang-kejang beberapa saat sambil menyemburkan cairan kenikmatannya, Murti menghembuskan nafas panjang dan berbisik lirih, “Tot, nikmat banget… kamu memang betul-betul…”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera Gatot mengecup bibirnya yang seksi dan melumatnya dengan begitu mesra. “Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi?” bisik Gatot sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaiannya. Ketika Gatot membuka celana, penisnya yang sudah menegang sejak tadi, langsung terlontar keluar dan menunjuk ke depan, besar dan tegang, tepat di depan muka Murti.

Mata Murti tidak berkedip melihat batang yang sudah sering memasuki liang kewanitaannya itu. Dengan cepat ia meraihnya dan mulai mengusap-usapnya pelan. “Ya ampun, besarnya…” lirih Murti dengan mata tak berkedip, tampak takut sekaligus menyukainya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil tangannya terus mengelus-elus barang Gatot yang kini semakin bertambah besar dan keras.

“Mur, isep ya?” tanya Gatot meminta.

Tidak menjawab, Murti segera mencium dan mulai menjilati kepala penis Gatot dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan penis itu ke dalam mulutnya, walaupun hanya kepala penisnya saja, dan Murti mulai menghisapnya maju mundur. Gatot merasakan kegelian sekaligus nikmat. Tubuhnya menggelinjang. Agar bisa bertahan, ia segera meraih payudara mulus milik Murti dan lekas meremas-remasnya dengan begitu rakus untuk mengalihkan perhatiannya.

Tapi meski begitu, tak urung ia tetap tak tahan juga. Saat sudah tak kuat lagi, Gatot segera menyuruh Murti agar merebahkan tubuh mulusnya di sofa ruang tengah, dengan pantat berada di pinggiran kursi empuk itu. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya mereka bercinta di tempat ini. Gatot dengan cepat melepas celana dalam Murti yang sejak tadi belum dilepas agar mereka jadi sama-sama telanjang. Ia kembali menjilat-jilat vagina Murti yang telah kembali menguncup. Dihisapnya cairan putih kental yang telah banyak mengalir keluar di pinggiran liang surga Murti.

“Aghh… Tot!” wanita itu merasakan kenikmatan yang amat sangat dan mulai mendesah perlahan. Vaginanya mulai basah kembali oleh ludah Gatot, dan pelan namun pasti lubangnya yang sempit mulai membesar kembali.

Gatot merasa inilah saatnya, dengan berdiri di atas lutut, ia pun segera memasukkan penisnya ke dalam vagina Murti yang hangat dan lembab. Ia berusaha  melakukannya dengan cepat karena takut akan Pak Camat yang bisa kembali sewaktu-waktu.

Bless…!! dengan mudah penisnya terbenam semua, dilihatnya wajah cantik Murti yang terpejam menahan nikmat. Agar rasa itu bisa lebih bertambah lagi, Gatot segera menggerakkan penisnya maju-mundur di dalam liang vagina Murti. Terasa hangat dan ketat sekali vaginanya. Gatot menyukainya, inilah yang membuatnya tidak pernah bosan ngentot dengan Murti. Semakin lama, genjotan penisnya menjadi semakin lancar, juga semakin nikmat, Gatot sampai memejamkan matanya merasakan keistimewaan vagina sempit Murti.

Mereka saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya Gatot menggenjot, sampai sofa yang mereka pakai ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan Gatot jadi tak tahan lagi, begitu Murti orgasme untuk yang kedua kalinya, iapun menyusul tak lama kemudian. Sambil menggeram, ia tembakkan seluruh isi penisnya ke kedalaman vagina sempit Murti. Gatot terus mengocok penisnya hingga seluruh cairannya terkuras habis, barulah kemudian ia ambruk di sebelah Murti yang juga terkapar kelelahan. Keduanya tersenyum dan saling memagut mesra untuk beberapa saat.

Gatot sedang asyik meremas-remas payudara Murti saat berita malam di televisi menyiarkan tentang ditemukannya buronan yang paling dicari oleh polisi. Buronan yang telah bertahun tahun lamanya malang melintang di dunia hitam, yang sudah menghabisi berpuluh-puluh nyawa, pembunuh bayaran paling mahal di seantero jagad bumi. Buronan yang akan didakwa dengan pasal berlapis-lapis, dengan hukuman penjara minimal seumur hidup dan maksimal hukuman mati. Buronan itu bernama Sukarso, sebuah nama yang seketika memaksa Gatot mencabut penisnya dari jepitan kewanitaan Murti.

Nama itu juga mengejutkan Murti. Ia yang masih telentang dengan cepat bangkit dan duduk di samping Gatot, dicengkeramnya lengan Gatot kuat-kuat, mencegah agar laki-laki itu tidak murka setelah melihat dengan pasti wajah buronan tersebut. Tidak salah lagi. “Itu Cak Karso! Ayahmu, Tot!” bisik Murti hati-hati.

“Benar, Mur. Itu memang ayahku.” jawab Gatot, sukar untuk membaca ekspresi wajahnya.

“Istighfar, Tot, kuatkan hatimu.” Murti hendak mengubah channel, tapi Gatot melarang. Wajah Karso berkali-kali ditayangkan secara langsung disertai riwayat kejahatannya yang membuat Gatot serasa ingin membanting TV. Murti buru-buru mengenakan pakaiannya dan mengantar Gatot pulang lewat pintu belakang. “Kamu di rumah saja, Tot. Biar nanti aku bilang ke Pak Camat kalau kamu sakit.”

“Terima kasih, Mur. Aku akan baik baik saja.”

Maka pecahlah suasana malam itu di komplek. Berita tertangkapnya Cak Karso menyebar dari mulut ke mulut, dari pintu ke pintu, mulai dari depan sampai ujung komplek semuanya pada ribut dengan berita itu. Di jalan-jalan orang berkerumun cuma untuk membicarakan tentang Cak Karso. Para bapak sampai rela meninggalkan istri masing-masing. Ada yang keluar cuma pakai sarung, ada yang masih tertempel lipstick istrinya, ada juga yang berpakaian ala manusia purba saking semangatnya. Mereka berkumpul untuk membicarakan satu nama putra asli kelahiran komplek, Cak Karso.

Kantor Polsek menjadi pusat para pencari berita. Pokoknya malam ini suasana komplek dan sekitarnya persis pasar malam. Lampu-lampu jalan yang jam segini biasanya sudah mati, khusus malam ini terang benderang. Warung-warung dan toko memperpanjang masa buka. Semakin malam, kerumunan orang di depan rumah Gatot semakin banyak serta makin berisik, mengganggu pikiran Gatot yang jiwanya sedang terguncang. Gatot merasa perlu untuk keluar rumah dan mengusir para manusia di depan rumahnya.

“Pergi kalian semua dari sini. Pergi!!” teriakan Gatot membahana sampai ke segala penjuru. Maka semburatlah orang-orang itu berlarian tunggang langgang demi melihat Gatot mengacung-acungkan golok mautnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Pak Camat dan Murti yang juga mendengar teriakan Gatot sampai harus melompat dari tidurnya. Sejenak keduanya saling pandang lalu menghambur ke belakang rumah, melompati tembok dan dalam sekejap sudah berada di tempat Gatot mengacungkan golok. Tidak ada lagi orang selain mereka bertiga. Semuanya dilanda takut. Para tetangga yang dekat dengan rumah Gatot kini menutup pintu rapat-rapat, mengintip dari dalam rumah masing-masing.

“Tenang, Tot!” Pak Camat menurunkan lengan Gatot dan Murti mengambil perlahan golok dari genggaman jari kekar itu. Gatot tidak melawan. “Masuklah ke dalam, Tot. Biar bapak yang memberitahu warga komplek.”

“Saya cuma tidak senang mereka mengganggu ketenangan saya, Pak.”

Tengah malam itu juga, lagi-lagi Gatot didatangi oleh dua anggota Polsek berseragam lengkap. Pak Camat berbincang serius dengan dua polisi itu, lalu mengangguk anggukkan kepala kemudian memandang Gatot. “Bapak-bapak ini ingin bicara denganmu di kantor polisi, Tot.”

“Baik. Kalau tidak sibuk, Pak Camat boleh ikut.” kata salah satu polisi.

Maka pergilah keempat orang itu ke kantor polisi. Pak Camat menyuruh Murti pulang. Murti mengangguk tapi masih tetap berada di dalam rumah Gatot. Murti melangkah ke kamar Gatot, berdiri tercenung sambil menahan jatuhnya airmata manakala ingat ini adalah kamar Lek Sumiah mengalami penyiksaan lahir batin sampai akhir hayat. Dia membayangkan Lek Sumiah berbaring di kasur itu, berbaring dengan senyum keibuan. Murti duduk di kasur, merasakan betapa kasur itu telah mengeras, tak layak untuk ditiduri. Murti lalu mendekati almari yang berpintu dua.

Satu pintu tidak terkunci, pintu yang satunya dikunci dan digembok. Saking lamanya tak pernah dibuka, kunci dan gembok itu sampai berkarat. Murti membuka almari yang tidak terkunci dan tercekat. Matanya berkunang-kunang menatap potret besar di lemari bagian atas. Potret dirinya sendiri ketika masih SMA. Itu adalah potret dirinya yang diambil Gatot di dalam mobil. Ada satu lagi potret tentang pernikahan terdahulu Gatot.

Murti menutup almari dan keluar kamar. Pintu-pintu dia kunci dari dalam agar aman, lalu dia menyelinap lewat pintu belakang, melompati tembok sebelum akhirnya sampai di dapurnya sendiri. Murti menarik napas yang terasa berat dan melangkah menuju kamar, mengucapkan beberapa lafal do’a sebelum memejamkan mata. Di sisa waktu malam, Murti tertidur dan merajut mimpinya sendiri, tanpa ada Pak Camat yang biasa menemani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s