AULIA PUTRI

jilbab semok bohay-destiana (10)

Aulia putri baru saja selesai mandi sore itu. Ia hanya mengenakan handuk kuning kesayangannya. Hujan turun deras dari sejam yang lalu. Rumahnya kosong. Ia berdiri di depan cermin kamarnya sambil mengeringkan rambutnya. Iseng-iseng ia melepas handuknya. Hmm tubuhnya indah dan kencang. Payudaranya menggantung ibarat mangga yang mengkal, perutnya rata. Aulia meraba buah dadanya, turun ke perutnya, hingga selangkangannya dengan bulu yang tercukur rapi. Usianya baru 22 tahun. Mendadak petir menggelegar kencang. bersamaan dengan itu listrik mendadak padam.”Aih… sialan.” Gerutunya. Ia mengingat-ingat dimana ia meletakkan lilin dan korek api. Di dapur.

jilbab semok bohay-destiana (1)

Dengan meraba-raba ia bergerak ke dapur, “Ah. dak ado yang jingok jg” Katanya dalam hati. Aulia membiarkan tubuhnya telanjang bulat mengendap ke dapur rumahnya. Ia terkesiap melihat pintu belakang terbuka lebar. Dan sebelum sempat bereaksi sepasang tangan yang kekar menyergapnya. Aulia meronta dan menjerit sebisanya. Namun tangan yang lain membekap mulutnya. Tubuhnya diangkat dan dibopong dengan mudah.

jilbab semok bohay-destiana (9)

Dalam keremangan Aulia dapat melihat ada sekitar 5 atau 6 lelaki bertubuh besar di dalam ruangan itu. Mereka membopong Aulia ke kamar tidurnya. Tubuh telanjangnya direntangkan di kasur. Mendadak lampu menyala. Aulia menjerit jerit dan meronta. namun suaranya tenggelam oleh derasnya hujan. Kini ia dapat melihat ada 6 lelaki di ruangan itu.

jilbab semok bohay-destiana (2)

Mereka basah kuyup. Mengenakan topeng kupluk yang menyisakan mulut dan mata mereka. “Jangan kak… Jangan….” Aulia mulai menangis melihat mereka mulai membukai pakaian masing-masing. Ia dapat melihat batang-batang penis mereka mengacung keras. bagaimana tidak, ia terlentang telanjang bulat di ranjangnya. Sementara 2 orang memegangi tangannya di sudut. “Ikat tangannyo.” Salah seorang dari mereka, pimpinannya, memerintahkan. seorang dari mereka membongkar lemari pakaian Aulia dan mengambil 2 jilbabnya yang panjang kemudian tanpa memperdulikan tangis gadis itu mereka mengikat Aulia dengan jilbabnya sehingga kedua tangannya terentang lebar.

jilbab semok bohay-destiana (3)

Kemudian pemimpinnya yang bertubuh besar mulai menindihinya. Sementara kedua kakinya direntangkan lebar-lebar. Aulia tak sanggup melawan. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan menangis sesenggukan ketika buah dadanya mulai dikenyot-kenyot. Dikulum dan digigit-gigit. Tubuhnya lemas.. Mendadak lelaki itu mencengkram wajahnya dan memaksa melumat bibirnya. Aulia meronta sebisanya,”MMmmhh… sssp… mmmhhh…” Ia merasa sangat dilecehkan. Salah seorang dari mereka membuka jendela lebar-lebar. Kemudian menempelkan pisau di leher gadis itu.”Diem Bae… Nurut.. Kalo dak galak digorok! Ngerti!!?” Aulia menggigit bibirnya dan menangis sesenggukan. Ia benar-benar tak berdaya. Dapat dirasakannya penis raksasa pemerkosanya tengah menggosok-gosok bibir vaginanya, siap mendobrak masuk.

jilbab semok bohay-destiana (4)

“AKKKHHHHHH!!!” Aulia meregang kesakitan ketika lelaki itu menekan memaksakan batangnya yang berdiameter cukup besar masuk ke selangkangannya. Tanpa ampun lelaki itu mencengkeram bahu Aulia sehingga ia dapat menyodok sedalam-dalamnya.

“AKhhhhh luar biasa sempitnyo punyo gadis ini…!!” Lelaki besar itu mengerang penuh kenikmatan. ia mulai menggenjot vagina Aulia yang kering itu. Aulia mengerang kesakitan. Perih dan pedih. Ia merasa seakan tubuhnya akan dibelah dua. “Akhhh!! Akhhh!!! Sssakitt kakk…. Akhhh! Akhhmmmphhhmm…!!!! MMMP!!” Teriakan Aulia terpotong karena seseorang dari mereka menjejalkan penisnya ke mulut Dian. Sementara yang lain sibuk meremas-remas dadanya.

jilbab semok bohay-destiana (5)

Terkadang dengan brutal menarik-nariknya. “AKHHHH luar biassaaaaaa…!” Pemerkosanya meregang keras sebelum spermanya memuncrat mengisi rahim Aulia. Ia mencengkeram erat pinggul gadis itu. Menghabiskan maninya. Aulia hanya mampu meringis kesakitan. Mulut dibungkam dengan batang kemaluan yang besar, keras. “Akhhh….,” pemimpinnya mencabut kemaluannya yang mengecil dari vagina Aulia yang bengkak memerah. “Ayo giliran!” Lelaki selanjutnya segera mengambil posisinya. Mulai menyetubuhi Aulia seperti anjing.
“Akh! Akh!! Lonte! khh!!!” Sementara salah seorang dari mereka duduk di dada Aulia, menggosok batangnya diantara kedua buah dada gadis itu. “Akhhh ” ketika muncrat ia dengan mantap menjejalkan batang kemaluannya ke mulut Dian. Aulia terengah-engah. merasa mual ketika sperma yang hangat dan kental itu disemburkan ke dalam mulutnya. Mereka terus bergantian menyetubuhi gadis itu.

jilbab semok bohay-destiana (6)

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Aulia putri tergeletak lemas di ranjangnya. Vaginanya becek oleh mani pemerkosanya. Demikian juga dada dan perutnya. Ikatan tangannya telah dilepas namun ia tak mampu berdiri. Aulia putri hanya mampu menangis sesenggukan. Para pemerkosanya masih memperhatikannya, mereka tengah beristirahat. Sebagian membongkar isi kulkas dan mengisi perut mereka. Mereka belum puas mengerjai Aulia.

jilbab semok bohay-destiana (7)

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berdiri dan menjambak rambut Aulia yang pendek. “AAHHH Ampun Kak!!! Ampunn…” ia menyeret gadis itu ke ruang tamu yang memiliki banyak jendela. Lampu dihidupkan. Aulia merinding karena walaupun rumahnya bertingkat, beberapa rumah diseberang jalan juga bertingkat sehingga mungkin saja orang dapat melihatnya telanjang bulat. Lampu yang dihidupkan membuat ruang tamunya bagai aquarium. Mereka menelungkupkan Aulia di meja tamu. “Jangan meronta biar dak sakit.. he he he” Sambil berkata seperti itu Ia mulai melesakkan batang kemaluannya ke dubur gadis itu. Keras dan cepat. membuat tubuh Aulia meregang kesakitan.”AAAAAAAAAAHHHH!!!! SAAAkitttt!!! Jangan disodomi KAK!!! akkkhhh!!! AMPUNN!!!” Aulia putri menjerit kesakitan. Anusnya perih dan pedih hingga ke pusarnya.

jilbab semok bohay-destiana (8)

Pemerkosanya menjambak Aulia sehingga wajahnya menengadah. melihat ke jendela paling besar. “Akhh Akhhh nikmat nian duburmu!” Aulia akhirnya hanya mampu menangis. Pandangannya berkunang-kunang menahan sakit dan perih di anusnya. Mereka bergiliran mensodomi Aulia dimeja itu. Sebagian mengeluarkan maninya didalam anus Dian. kemudian memaksanya membersihkan batang kemaluan mereka dengan mulutnya. Aulia hanya sanggup menangis menahan muntah membayangkan bahwa yang dirasakannya adalah aroma pantatnya sendiri. ia hanya berharap mereka puas mengerjainya dan meninggalkannya. Sebagian lagi menyemburkan sperma mereka ke punggung dan rambut Dian.

Aulia tergeletak lemas telanjang bulat diatas lantai kayu di ruang tamunya. Tubuhnya berkilat oleh peluhnya, peluh pemerkosa, dan mani kental berleleran disekujur tubuhnya. Ia hanya sanggup menangis. Tapi siksaan belum usai. “Capek yoo?? he he he.. ayo kami traktir minum!” Mereka menjambak rambutnya dan menyeretnya lagi ke kamar mandi.

Aulia tak sanggup meronta lagi. Aulia dilentangkan di lantai kamar mandi. Mereka tertawa-tawa melihat gadis itu. Kemudian salah seorang dari mereka duduk di dadanya, ‘Buka mulut sayang..” Aulia hanya pasrah saja ketika batang kemaluan lelaki itu yang lemas dijejalkan ke mulutnya. Mendadak ia merasakan cairan hangat anyir mengisi mulutnya. Lelaki itu mulai mengencinginya. Aulia berusaha meronta namun yang lain menjambak rambutnya dan menekannya ke lantai. Mereka tertawa-tawa nmelihat Aulia kelabakan berusaha keras menelan air kencing itu supaya tidak tersedak, sebagian besar meluap dari mulutnya. Aulia terbatuk-batuk. Belum pernah ia dilecehkan seperti itu. Puncaknya mereka berlima mengencingi sekujur tubuh Aulia putri… Terutama wajah dan dadanya.

Menjelang fajar ketika keenam lelaki itu meninggalkan Aulia berbaring telanjang bulat tak sadarkan diri di lantai kamar mandinya. Bermandikan air kencing..

MURTI 6

Setelah ngebut menembus hujan lebat selama dua jam, Gatot sampai di jalanan tanah menuju desa Cemorosewu. Ia berhenti dan turun dari motor, menuntun motor itu menuju semak-semak, menutupinya dengan tanah lempung dan daun-daun, lalu meninggalkannya disana. Langit yang menghitam berwarna sama dengan bayangan tubuhnya yang serba hitam, berkelebat cepat di sepanjang tepian desa Cemorosewu, dalam sepi sunyi yang teramat senyap.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan sebuah rumah. Mata elangnya menatap nyalang mengamati rumah itu dari atas pohon mangga. Ia lalu melompat ringan dan hinggap di genteng rumah. Seluruh panca indranya bekerja dan senyumnya mengembang dari balik topeng hitam. Dengan penuh tenaga, ia jejakkan kaki menjebol genteng dan dalam hitungan detik ia sudah berada di dalam sebuah kamar.

Gerakannya teramat sangat cepat menghunus golok dan mengayunkan ke arah sesosok tubuh yang masih berbaring. Tidak ada teriakan dan sosok itupun mati seketika. Setelah itu ia menyelinap dalam gelap dan berkelebat cepat hingga sampai di tempat ia menyembunyikan motor. Kemudian ia pergi bagai hantu.

***

Di pagi yang masih diselimuti mendung, desa Cemorosewu geger. Kentongan berbunyi bertalu-talu memanggil penduduk untuk berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa. Pengumuman disebarluaskan melalui mulut ke mulut, dari surau ke surau, dari satu dusun ke dusun yang lain. Bendera hitam berkibar di sepanjang jalan menuju desa.

“TELAH TUTUP USIA BAPAK ASNAWI, PEMIMPIN DAN SESEPUH DESA CEMOROSEWU.”

Begitulah inti dari kegegeran itu. Dalam sekejap rumah kepala desa dipenuhi ratusan orang. Di jalan-jalan masyarakat ramai membicarakan penyebab tewasnya bapak kepala desa. Ada yang bilang kepala desa mati dibacok. Yang lain berkata kepala desa dibunuh selingkuhan istrinya. Banyak juga yang yakin kepala desa mereka korban balas dendam. Semuanya masih simpang siur.

Murti terbangun dari tidurnya oleh dering handphone. Semalaman ia tidur sendiri karena Pak Camat, suaminya, belum pulang. Ia sangat malas untuk bangun. Tapi dering handphone tak kunjung berhenti, memaksanya menyingkirkan selimut dan sempoyongan mendekati meja rias, meraih HP untuk mencari tahu siapa yang berani mengusik tidurnya di pagi buta begini.

“Assalamu’alaikum,” jawab Murti.

“Wa’alaikum salam… selamat pagi, Bu. Saya cuma mau menyampaikan kabar kalau pagi ini Madrasah diliburkan. Ayahnya Bu Aisyah meninggal.” kata suara di seberang.

“Pak Asnawi meninggal? Kapan terjadinya, Bu Minah?” tanya Murti pada rekannya sesama guru yang menelepon.

“Tadi malam. Kalau Bu Murti mau ikut melayat, bisa ikut rombongan guru-guru.” kata Bu Minah.

“Baiklah, Bu Minah. Biar saya berangkat sendiri saja. Terima kasih informasinya, Bu.” kata Murti.

Murti tidak bisa tidur lagi. Kabar yang disampaikan oleh Bu Minah membuatnya terkejut. Tidak ada angin, tiba-tiba ada kabar buruk bahwa Pak Asnawi, salah satu pendiri Madrasah, ayah kandung dari Aisyah, kepala desa Cemorosewu, meninggal dunia. Ia pun segera keluar kamar dan menuju halaman belakang. Terlihat olehnya Gatot sedang mengambil air.

“Tot, cepat mandi. Antar aku ke rumah Aisyah.” kata Murti.

“Di mana itu, Mur?” tanya Gatot.

“Cemorosewu. Kutunggu di rumah ya,” tanpa menunggu jawaban, Murti berbalik masuk ke dalam rumah.

Wajah Gatot langsung berubah begitu mendengar kata Cemorosewu. Entah kenapa hatinya berdebar-debar tak nyaman. Tapi perintah Murti harus dilaksanakan karena Murti adalah istri majikannya, yakni Pak Camat. Menolak perintah Murti sama saja dengan menolak perintah Pak Camat. Maka Gatot pun tidak meneruskan pekerjaannya mengambil air. Ia langsung masuk dan tidak sampai sepuluh menit sudah berada di ruang tamu rumah Pak Camat. Gatot heran karena suasana rumah Pak Camat masih sangat sepi, padahal ini masih teramat pagi. Lagipula tidak mungkin Pak Camat pergi ke kantor tanpa bersamanya.

“Pak Camat sudah berangkat ya, Mur?” tanya Gatot sambil memandangi Murti yang baru keluar dari kamar mandi.

“Suamiku malah belum pulang sejak kemarin. Entah dimana dia,” kata Murti.

Gatot pun manggut-manggut sambil matanya nyalang memandangi tubuh Murti yang masih belum berpakaian lengkap, belum memasang kerudung, bahkan belum juga mengenakan pelindung. Tubuh yang masih setengah basah itu tampak begitu indah, memancing penuh hasrat gairahnya. Tapi Gatot lekas berpaling dari hadapan Murti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia kembali memikirkan Pak Camat yang menurut Murti belum pulang sejak kemarin.

’Berarti Pak Camat masih ada di sana,’ pikir Gatot dalam hati. Ia sangat tahu persis dimana Pak Camat berada saat ini, tapi ia tidak mau memberitahukannya pada Murti. Semua ini ia lakukan demi sebuah janji.

Gatot cuma menyayangkan kenapa Murti harus menikahi pria semacam Pak Camat, yang kurang lebih sama bejatnya dengan dirinya sendiri. Pak Camat lebih suka bersenang-senang dengan daun muda, meninggalkan istrinya yang cantik merana seorang diri. Istri yang kemarin ia gauli dengan sepenuh hati.

“Ayo berangkat, Tot!” seru Murti mengagetkan lamunan Gatot.

“B-baik.” Gatot berpaling cepat. ”Betulkan kerah bajumu dulu, Mur.” tambahnya saat melihat kerah baju Murti yang sedikit terbuka, menampakkan belahan buah dadanya yang ranum dan indah.

Murti mesem, tapi tetap membiarkan kerah bajunya melonggar. Ia juga tidak memakai kerudung yang sengaja ia simpan di dalam tas kecil. Murti merasa aman di dalam mobil yang baru sebulan dibeli Pak Camat. Kacanya gelap, inilah mobil pribadi yang dibeli Pak Camat khusus untuknya. Selama ini mobil baru itu nongkrong di garasi karena Pak Camat lebih suka mobil dinas, sementara ia sendiri belum bisa nyetir.

“Sebaiknya kamu turuti suamimu, Mur. Sayang kan kalau mobil sebagus ini cuma diam saja di garasi.” kata Gatot saat mereka mulai meninggalkan rumah Pak Camat.

“Kamu serius mau ngajari aku nyetir?” tanya Murti.

“Tentu. Apalagi Pak Camat sudah memberi ijin.” sahut Gatot.

“Aku tidak mau,” sergah Murti.

“Kenapa? ’Kan malah enak. Kemana-mana kamu bisa pergi sendiri.” kata Gatot.

“Aku tidak suka pergi sendiri.” sahut Murti.

Gatot menghela nafas. Ia pun berusaha untuk mengganti topik pembicaraan, “Ada keperluan apa kamu minta diantar ke Cemorosewu?” tanyanya.

“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Murti, masih sedikit ketus.

Gatot diam tidak bertanya-tanya lagi. Murti memang seperti tidak ingin diganggu saat ini. Mungkin karena ketidakpulangan Pak Camat malam tadi. Jadilah dua insan itu terdiam dalam sepi. Larut dalam irama hati masing-masing. Murti lalu rebah, menyandarkan kepalanya ke dada Gatot, sementara tangannya menyusup ke balik kemeja Gatot dan mengusap bulu-bulu dada pria kekar itu.

“Aku sangat menyesali diriku, Tot.” bisik Murti lirih.

Gatot menghela napas dan mengurangi kecepatan mobil untuk mengimbangi konsentrasinya yang mulai terpecah. “Apa yang membuatmu menyesal?” tanyanya sambil membelai rambut panjang Murti dengan tangan kiri.

“Aku menyesal kenapa harus menikah dengan Mas Joko.” kata Murti lirih.

“Itulah jodohmu, Mur. Pak Camat sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga cinta dia.” balas Gatot.

“Salah. Aku tidak mencintai Mas Joko, Tot. Aku menikah dengannya demi menyenangkan hati ayahku. Abah yang memilih jodoh untukku, Tot.” terang Murti.

“Semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, Mur. Pun demikian dengan ayahmu. Nyatanya Pak Camat memang baik.” kata Gatot.

“Tapi aku tidak mencintainya,” Murti bersikeras.

“Cinta sudah tidak penting buat orang seusia kita, Mur. Apalagi kamu sudah bertahun-tahun berumah tangga.” Gatot mencoba bersikap bijak.

“Tapi cintaku hanya buat satu orang saja, Tot.” tukas Murti.

“Siapa itu?” tanya Gatot, meski dalam hati ia takut dengan jawabannya.

“Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, orang itu membuatku ingin mengakhiri saja kehidupan rumah tanggaku.” jelas Murti.

“Janganlah terbawa perasaan, Mur. Belum tentu setelah cerai nanti kehidupanmu jadi lebih baik.” kata Gatot.

“Jadi kamu mendoakan aku sengsara seumur hidup?” sengit Murti.

“Aku hanya mengatakan hal-hal yang pernah kualami, Mur. Aku adalah potret dari manusia yang gagal dalam perkawinan.” kata Gatot.

”Aku tidak peduli,” Murti mencubit perut Gatot dan tersenyum ketika merasakan sesuatu yang kaku tersentuh oleh ujung jemarinya. Wajahnya bersemu merah, semerah bibir yang basah dan merekah bagai mawar itu, menanti hisapan sang kumbang. ”Ahh,” Murti mendesah, melenguh ketika merasakan tangan Gatot yang semakin turun dan terus turun, lalu hinggap di atas gundukan payudaranya.

Tapi sayang sekali, disaat sang kumbang akan menghisap sisa madu yang tentu masih terasa manis itu, gerbang desa Cemorosewu sudah siap menyambut. Terpaksa acara intim mereka harus diakhiri sampai disitu. Murti segera memperbaiki posisi duduknya, ia juga lekas memasang kerudung hitam dan membenahi kancing baju muslimnya yang tadi sempat sedikit terbuka, dan menyapu wajahnya dengan make up tipis. Dengan cepat ia telah menjelma kembali menjadi ibu guru Madrasah yang cantik dan alim.

“Kamu tahu arti umbul-umbul hitam itu, Tot?” tanya Murti pada Gatot.

“Hitam identik dengan duka dan kematian. Benar kan?” tebak Gatot.

“Benar. Hari ini desa Cemorosewu berkabung. Pak Asnawi, kepala desa ini meninggal semalam.” kata Murti.

“Kamu mau melayat?” tanya Gatot.

“Iya. Untuk menghormati Aisyah, Tot. Dia pasti sangat terpukul oleh kematian ayahnya.” sahut Murti.

Gatot merasakan ulu hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Murti. Mulutnya terkunci dan wajahnya berubah pias. Ia ingin bicara tapi tak bisa. Ocehan Murti sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia lebih sibuk mendengarkan kata hatinya sendiri.

“Kita sudah sampai, Tot. Ayo ikut ke dalam.” ajak Murti.

Gatot melangkah ragu memasuki rumah duka. Semakin masuk ke dalam rumah, hati dan perasaannya semakin gundah dan gelisah. Terlebih setelah ia dan Murti sampai di kamar tempat sesosok tubuh terbujur kaku, dibungkus kain jarik dan dikelilingi beberapa orang. Tubuh pak kepala desa. Gatot tak menyangka sama sekali. Terlebih ketika seorang wanita menoleh, wanita yang seketika menyiksa batinnya. Wanita itu adalah Aisyah, wanita jelita yang kini bersimbah airmata.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” kata Murti.

“Wa’alaikum salam, Bu Murti, silahkan duduk. Silahkan, Mas.” kata Aisyah pada Gatot.

“Terima kasih. Biar saya di luar saja.” jawab Gatot. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai tanda bela sungkawa lalu melangkah keluar, menuju kerumunan polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar rumah kepala desa. Begitu ia muncul, para polisi langsung mengajaknya ngobrol. Maklum sebagian besar polisi telah mengenalnya. Ia juga sudah dikenal karena seringnya mendatangi kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak.” sapa Gatot.

“Selamat pagi, Tot. Kamu melayat?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, Pak. Saya ngantar Bu Murti, istrinya Pak Camat.” Gatot terdiam sejenak sambil memperhatikan sekitar rumah. “Kok banyak anggota bapak disini?” tanyanya kemudian.

“Kami sedang melakukan olah TKP. Ini kan pembunuhan.” kata polisi itu.

“Pembunuhan?” Gatot pura-pura tidak tahu.

“Benar. Semalam kepala desa dibacok orang. Kepalanya hampir putus.” jawab sang polisi.

“Sudah dapat pelakunya, Pak?” tanya Gatot.

“Sampai saat ini belum. Kami masih menanyai beberapa saksi dan berusaha mencari barang bukti.”

“Kan biasanya ada petunjuk, Pak?” kata Gatot.

“Pembunuh yang ini mahir, Tot.” jawab si anggota polisi. ”Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hujan deras semalam juga menyulitkan kami.” terangnya.

“Semoga cepat terungkap, Pak.” sahut Gatot.

Polisi itu mengangguk. “Oh ya, Tot. Ada kabar kalau ayahmu mendapat pengampunan. Dia cuma dihukum seumur hidup.” kata polisi itu.

“Apapun yang terjadi pada ayah saya, biar saja. Bapak sudah tahu keputusan saya.” jawab Gatot.

“Bapak mengerti.” Polisi itu mengangguk. “Tuh, Bu Murti manggil kamu,” dia menunjuk ke arah rumah Aisyah.

Gatot menoleh dan tersenyum, “Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Ia meninggalkan sang komandan polisi dan menghampiri Murti. Kini Gatot telah berada kembali di hadapan Aisyah, yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu. Ia tidak berani berlama-lama menantang sorot mata itu. “Jam berapa pemakamannya?” tanyanya pada Aisyah.

“Sepuluh menit lagi, Mas. Saya harap Mas Gatot ikut mendoakan ayah saya.” sahut Aisyah.

“Saya akan berdoa, Aisyah. Semoga kamu tabah.” jawab Gatot.

“Saya menerima ini dengan ikhlas, Mas. Semoga pembunuh ayah saya mendapat rahmat dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga dia juga ikhlas menyerahkan diri.” kata Aisyah lirih, air mata kembali bergulir di matanya yang lentik.

“Allah mendengar doa orang-orang yang ikhlas, Aisyah.” timpal Gatot dengan hati tercabik-cabik.

“Terima kasih, Mas. Pemakaman sudah siap. Saya mohon Bu Murti dan Mas Gatot mau mendampingi saya.” pinta Aisyah.

Permohonan itu membuat Gatot semakin resah dan gelisah. Terlebih saat jemari halus gadis itu menggandengnya menuju pemakaman umum yang cuma beberapa langkah saja dari rumah duka. Ia sungguh tak mampu berkata-kata. Gatot kini berada di sisi sebelah kanan Aisyah, sementara Murti ada di sebelah kiri. Ia tak kuasa menolak cengkeraman jemari yang semakin kuat menggenggam lengannya, ikut merasakan isak tangis yang tak tertahan saat jenasah diturunkan ke liang lahat dan tanah-tanah mulai menimbun.

Belum selesai makam ditimbun, sosok mungil Aisyah limbung, tepat di rengkuhan Gatot. Aisyah pingsan dan wajah ayunya pucat kelelahan. Gatot dengan dibantu beberapa orang segera membopong Aisyah dan membawanya kembali ke dalam rumah.

“Tolong dijaga ya, Mas.” kata seorang warga memintanya menjaga Aisyah.

“Baik, Pak.” angguk Gatot.

Kini ia berada berdua saja dengan Aisyah, gadis berhati mulia yang tiba-tiba mengingatkannya pada sang ibunda. Ia melihat sosok Aisyah yang terbujur sama seperti ia melihat sosok ibunya saat tidur. Sangat damai. Membuat matanya jadi terasa panas, menahan airmata agar tidak jatuh. Tapi usahanya gagal dan setitik airmatanya jatuh ke wajah Aisyah, tepat di saat gadis itu perlahan membuka mata.

“Abaaah,” lirih suara Aisyah, terucap dengan getar yang menghantam seluruh sendi tubuh Gatot. Laki-laki itu terpaku, diam membatu menatap Aisyah tanpa menyadari ia telah menggenggam jemari Aisyah dengan sangat kuat.

“Saya bisa merasakan kesedihanmu, Aisyah.” bisik Gatot tulus.

“Saya tidak sedih dengan kematian abah, Mas. Tapi sedih dengan dosa pembunuh abah.” sahut Aisyah.

“Tuhan akan membalas setiap perbuatan umatnya.” balas Gatot.

“Semoga dosa orang itu terampuni, Mas. Aisyah ikhlas lahir dan batin.” kata Aisyah.

“Keikhlasanmu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, Aisyah. Maafkan saya,” Gatot melepaskan cengkeramannya. Ia meninggalkan Aisyah dan pergi ke mobil.

Sambil menunggu Murti, Gatot tercenung sendiri, merenungi betapa kejahatan yang telah ia lakukan semalam telah membuat begitu banyak orang berduka, membuat beberapa hati terluka. Ia sungguh tidak tahu siapa sebenarnya orang yang semalam mati di ujung golok mautnya. Yang ia tahu tentang kepala desa Cemorosewu adalah bahwa lelaki itu adalah salah satu begundal bejat yang mencabut nyawa ibunya. Ia sama sekali tidak tahu tentang Pak Asnawi yang kata orang-orang adalah sosok dermawan, berjiwa sosial, ulama terkenal, pendiri madrasah tempat Murti mengajar.

Yang paling menyakitkan dan menyiksa batinnya ialah kenyataan bahwa kepala desa Cemorosewu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Aisyah. Berarti lantunan ayat-ayat suci yang ia dengar semalam adalah suara Aisyah, sosok manusia bermukena yang sempat ia intai adalah gadis mulia berwajah jelita itu. Sekarang gadis itu dirundung duka akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Untung semalam ia tidak meneruskan niat menghabisi seluruh keluarga kepala desa. Untung Aisyah terlalu khusyuk mengaji sehingga tidak mendengar tragedi semalam. Untung ia urung untuk menelanjangi sosok bermukena itu. Lebih untung lagi, Aisyah sama sekali tidak tahu bahwa pembunuh itu adalah dirinya. Pun demikian dengan polisi yang tidak curiga padanya.

Gatot menyandarkan kepala ke jok mobil, memejamkan mata untuk beberapa saat hingga ia merasa seseorang mencubit pahanya. Ia membuka mata dan melihat Murti sudah ada disana. “Ayo kembali ke kota, Tot.” kata perempuan cantik itu.

Mereka pun meninggalkan desa Cemorosewu dengan diiringi lambaian umbul umbul hitam yang tertiup angin. Warna hitam yang membuat seluruh jiwa jadi muram. Gatot dan Murti sama-sama diam. Hanya desah napas dan detak jantung mereka saja yang terdengar. Cuaca siang ikut murung dan berduka. Langit diselimuti mendung dan titik-titik kecil air mulai menetes di kaca mobil. Gerimis yang membuat hati menjadi miris.

Tiba di rumah, Murti mendapati Pak Camat masih belum pulang. Di HP-nya ada sms, Pak Camat masih ada acara di tempat lain. Murti mendesah kecewa, sekaligus lega. Ia segera turun dari mobil dan berbisik pada Gatot, ”Kalau sudah selesai masukin mobil, pergi ke kamarku ya… ada yang ingin aku bicarakan.”

”Iya, Mur.” sahut Gatot tanpa membantah.

Sementara Gatot sibuk di dalam garasi, Murti segera mengganti pakaiannya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang Gatot. Di balik daster tipis yang sekarang ia kenakan, bentuk payudaranya yang bulat besar terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul indah. Murti yakin, Gatot pasti suka dan terangsang dibuatnya.

Masuk ke dalam kamar, mata Gatot nyaris copot karena melotot melihat tubuh molek Murti yang sekarang tersaji utuh di depan hidungnya. Istri Pak Camat itu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya yang selalu tertutup jilbab lebar saat ia tampil di muka murid-muridnya. Di dada Murti, tampak tonjolan payudaranya menggunung sangat indah, membuat Gatot sejenak lupa bernafas dan memejamkan mata.

”Kenapa, Tot? Ayo duduk dulu,” Murti mempersilakannya sambil tersenyum manis.

Muka Gatot langsung memerah karena nafsu, bayangan wajah cantik Aisyah segera lenyap dari pikirannya, tergantikan oleh tubuh telanjang Murti yang sudah beberapa kali ia nikmati. Dan sekarang, sepertinya ia juga akan mendapatkannya lagi, terlihat dari senyum Murti yang merekah semakin lebar saat pandangan Gatot terarah tajam ke buah dadanya.

”Tot, kamu mau nolong aku?” Murti merapatkan tubuh ke arah Gatot yang masih berdiri mematung di depan pintu.

”N-nolong apa, Mur?” tubuh Gatot bergetar ketika tangan teman masa kecilnya itu merangkul dirinya, sementara tangan Murti yang lain mengusap-usap daerah ‘vital’ nya.

”Tolong temani aku, Tot… aku takut tidur sendiri.” bisik Murti manja.

Muka Gatot makin memerah mendengar perkataan itu. ”T-tapi, Mur… nanti dipergoki sama Pak Camat.” tukasnya ragu.

”Mas Joko masih lama pulangnya,” Murti menunjukkan sms dari Pak Camat pada Gatot. ”Kita punya banyak waktu,” bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Gatot, Murti segera menarik tangan laki-laki itu dan membimbingnya agar duduk di atas tempat tidur. Murti yang agresif karena haus akan sentuhan laki-laki, kemudian duduk di pangkuan Gatot. Tanpa bisa dicegah, bibir keduanya pun langsung saling bertemu dan berpagutan erat.

”Ehm, Mur…” lenguh Gatot saat merasakan puting susu Murti yang sudah mengeras menggesek ringan di permukaan perutnya, sementara lidah perempuan cantik itu terus menjelajahi mulutnya, mencari lidahnya untuk diajak saling melilit bagai ular.

Setelah puas, Murti kemudian berdiri di depan Gatot yang masih melongo karena tidak menyangka akan diserang seganas itu. Satu demi satu Murti mencopoti pakaiannya hingga tubuhnya yang mulus sempurna jadi polos seperti bayi yang baru lahir. Tersenyum manja, Murti seakan menantang Gatot agar segera menghangatkan tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh Pak Camat.

”Lepaskan pakaianmu, Tot.” Murti berkata sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindih oleh tubuhnya yang sangat sintal menggoda.

”Ayo cepat, Tot!” Murti  mendesah tak sabar saat melihat Gatot masih terdiam kagum memandangi tubuhnya..

”Ah, i-iya.” terkaget-kaget, Gatot lekas ikut menelanjangi diri. Dengan penis mendongak kuat ke depan, ia kemudian duduk berlutut di samping Murti. Pelan Gatot meletakkan tangannya di atas dada Murti yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, lalu mulai meremas-remasnya lembut sambil tak lupa memijit dan memilin-milin putingnya yang montok kemerahan.

”Oohh… enak, Tot… terus… yah, begitu… remas pelan-pelan!” bisik Murti lirih, matanya sudah mulai terpejam rapat.

Dengan penuh semangat Gatot melakukan apa yang teman masa kecilnya katakan. Ia terus meremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda itu, sampai akhirnya tubuh Murti menegang tak lama kemudian saat jilatan dan hisapan mulut Gatot mampir ke puncak payudaranya yang mungil dan indah. Seperti anak kecil, Gatot mulai menyusu ke arah puting Murti.

”Oohh… jilat terus, Tot… ohh… enak!” tangan Murti mendekap erat kepala Gatot ke arah payudaranya.

Gatot semakin buas menjilati puting susu istri Pak Camat tersebut, mulutnya sampai menimbulkan bunyi decapan yang sangat nyaring, tanda kalau hisapan Gatot begitu keras dan kuat, bahkan tanpa ia sadari, Gatot mulai menggigit-gigit ringan puting mungil itu.

”Hmm… nakal kamu, Tot!” Murti tersenyum merasakan tingkah sang sopir. ”Jangan cuma disitu, coba juga daerah bawah pusarku,” pintanya.

Gatot menurut saja. Cepat ia duduk diantara dua kaki Murti yang sudah terbuka lebar. Murti sendiri menyandarkan punggungya ke sandaran tempat tidur, membiarkan Gatot memandangi daerah kemaluannya yang sudah menganga lebar dengan sepuas hati.

”Sudah basah bukan?” Murti membimbing telunjuk Gatot agar memasuki liang vaginanya.

Gatot mengangguk, ”Lengket sekali, Mur…”

”Kelentitku, Tot. Coba kamu gosok-gosok sebentar, rasanya gatal sekali.” Murti memohon.

Pelan jari-jari Gatot mulai mengusap-usap tonjolan pink yang mulai menyembul itu.

”Ahh… yah, gosok terus, Tot… ughh, enak!” Murti menggelinjang keenakan ketika klitorisnya terus dipermainkan  oleh Gatot.

”Kalo aku giniin, enak nggak?” Gatot tersenyum sambil menekan kelentit Murti semakin keras.

”Ooh… Tot! Emm…” tubuh montok Murti makin melengkung keenakan, nafasnya terdengar semakin memburu, sementara bibirnya yang mungil terus mengeluarkan rintihan dan desahan yang sangat membangkitkan gairah, menandakan kalau pertahanan perempuan cantik itu akan segera jebol tidak lama lagi.

”Ooaahh… Tot!” Murti mencengkeram kuat pundak Gatot saat semua otot di tubuhnya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan bersama Pak Camat.

”Hmm… kamu pintar sekali, Tot.” bisik Murti dengan vagina masih berkedut-kedut ringan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Gatot tersenyum dan menurut saja saat Murti menyuruhnya untuk berbaring, ”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu,” ucap Murti sambil mengurut lembut batang penis Gatot. Benda itu jadi semakin kaku dan menegang saat berada di dalam genggaman tangannya.

”Wow, makin besar aja, Tot!” dengan gemas Murti terus mengusap-usap dan membelainya. Gatot cuma tersenyum dan terdiam menikmati segala tingkah istri Pak Camat yang cantik dan seksi itu.

Tanpa menunggu lama, segera saja penisnya berpindah tempat. Kini benda coklat panjang itu sudah masuk ke dalam mulut Murti. Dengan rakus tapi sangat telaten, Murti mulai mengulum dan menghisapnya. Kepala penis Gatot yang berbentuk jamur tumpul digigitnya keras-keras hingga membuat Gatot merintih kegelian.

”Ahh… enak, Mur… terus!” Gatot tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya, menekan penisnya semakin dalam ke mulut tipis Murti. Gerakannya menjadi semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan sang ibu guru cantik.

”Oohh, Mur… aku… aku… arghhh!” tanpa bisa dicegah, muncratlah cairan sperma Gatot ke dalam mulut Murti, yang segera dijilati oleh Murti hingga tandas dan tuntas.

”Hmm… manis juga rasa manimu, Tot.” Murti tersenyum, masih dengan mulut tetap menjilati ujung penis Gatot yang masih tegak berdiri.

”Kamu juga makin pintar, Mur, bikin aku jadi tak tahan.” sahut Gatot dengan nafas terengah-engah pelan.

Murti ikut tersenyum, ”Kita istirahat dulu ya, habis itu…”

”Kenapa istirahat, aku masih kuat kok.” potong Gatot sambil mendekap tubuh montok Murti dari belakang dan dengan cepat menyodokkan penisnya ke liang vagina perempuan cantik itu keras-keras.

”Arghkh!!” Murti menjerit kaget, namun cuma sebentar, karena dalam hati ia sangat menikmati hal ini. Siapa juga yang tidak suka mempunyai partner seks sejantan Gatot, biarpun habis keluar tapi penisnya masih bisa digunakan!

”Kamu menikmatinya ’kan, Mur?” bisik Gatot di telinga Murti. Tangannya yang satu menyangga tubuh montok Murti, sementara yang lain meremas payudara Murti yang menggantung indah. Sementara penisnya dengan keras melumat liang vagina Murti hingga jadi semakin basah dan memerah.

”Ahh… hhh…” Murti hanya bisa merintih, tubuhnya bagai lemas tak bertenaga menikmati setiap sodokan Gatot di liang vaginanya. Mereka terus berada alam posisi seperti itu hingga Gatot menyemprotkan kembali cairan spermanya tak lama kemudian, kali ini di dalam vagina sempit milik Murti.

”Ahh… Gatot!” rintih Murti saat merasakan cairan hangat memenuhi liang kewanitaannya. Ia cepat menekan pinggulnya ke belakang agar penis Gatot yang masih berkedut-kedut ringan makin amblas lagi ke dalam miliknya. Di saat yang sama, Murti rupanya orgasme juga.

Kedua insan itu pun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka lakukan. Cairan keduanya bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi liang kelamin Murti hingga terasa jadi begitu basah dan lengket. Beberapa ada yang menetes keluar saat Gatot mencabut pelan batang penisnya.

”Ughh,” Murti mendesah, rambutnya yang hitam panjang terurai menutupi bantal, sementara dadanya yang besar bergerak naik-turun mengikuti irama tarikan nafasnya. Tangan Gatot bertengger disana, meremas-remasnya pelan.

”Pak Camat masih lama pulangnya?” tanya Gatot.

”Sebentar, aku sms dulu.” Murti segera mengambil HP-nya yang ditaruh di atas meja dan mengirim sms kepada Pak Camat. Tak lama sms balasan sudah ia terima.

Gatot tersenyum lebar saat ikut membaca, ”Masih 2 jam lagi, itupun kalau sudah selesai.” katanya.

Murti mengangguk, ”Iya, masih banyak waktu bagi kita.”

”Gimana, sudah siap lagi?” tanya Gatot sambil mencolek vagina Murti mesra.

”Hei, jangan bilang kalau kamu sudah ngaceng lagi!” sahutnya sambil melirik ke bawah dan memekik gembira saat melihat penis Gatot yang sudah beranjak bangun dan menegang. ”Gila, benar-benar gila!” Murti menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

”Akan kubikin kamu pingsan malam ini,” janji Gatot sambil menindih tubuh molek Murti dan bersiap untuk memulai ronde yang kedua.

MURTI 5

Hari telah berganti. Malam yang hening berlalu diusir oleh sang pagi yang hangat. Murti seperti biasa bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan suaminya. Pak Camat juga sudah bangun, tapi seperti biasa langsung menyeruput kopi hangat sebelum mandi. Murti masih repot di dapur guna memasak sarapan pagi. Pak Camat memandangi istrinya yang semakin hari bukannya bertambah tua, malah semakin muda dan berisi. Tidak terlihat tanda-tanda ketuaan pada istrinya. Semua masih halus mulus dan kencang. Sedangkan Pak Camat merasa mulai tua.

Memang antara Pak Camat dan Murti terpaut perbedaan umur yang cukup jauh. Ketika menyunting Murti, Pak Camat sudah berumur tiga puluh lima tahun, sedangkan Murti baru lulus kuliah. Sepuluh tahun selisih umur mereka. Memasuki usia perkawinan yang sudah tujuh tahun berjalan, Pak Camat kerap merasa kewalahan dengan semangat dan gairah Murti yang masih menggebu-gebu.

“Mur, cobalah belajar mengemudi. Biar kemana-mana nggak melulu diantar Gatot.” kata Pak Camat.

“Gak mau ah, Mas, bisa bahaya.” sahut Murti.

“Bahaya apanya? Lha wong cuma duduk di belakang setir kok.” jelas Pak Camat.

“Memangnya Mas Joko mau istri cantikmu ini keluyuran kemana-mana kalau bisa naik mobil sendiri?” tanya Murti.

“Kalau keluyuran untuk tujuan yang jelas, buat apa takut? Sejauh ini dan sampai kapanpun aku percaya sama kamu, Mur.” kata Pak Camat.

“Aku juga percaya sama Mas Joko.” sahut Murti.

Pak Camat membantu Murti memasang baju muslimah kebesarannya. Setelah itu ganti Murti yang membantu Pak Camat memasangkan celana. Mereka sempat saling mencolek kemaluan sebentar, tapi tidak diteruskan ke tahap yang lebih jauh lagi. Mereka harus sama-sama kerja. Di luar terdengar deru mesin mobil yang dipanasi oleh Gatot. Murti mempercepat riasan wajahnya karena sudah hampir jam tujuh, jangan sampai ia terlambat ke Madrasah. Pak Camat juga terburu-buru karena ini adalah hari senin, hari pertama yang biasanya banyak kegiatan menumpuk. Mereka kemudian keluar beriringan menghampiri Gatot yang sudah siaga di teras.

“Kalau ada waktu luang, ajari Murti nyopir, Tot.” seru Pak Camat.

“Baik, Pak. Kapan saja saya siap.” jawab Gatot.

“Oh ya, Tot, nanti siang kamu nggak usah nunggu saya.” kata Pak Camat begitu mobil sudah melaju.

“Iya, Pak.” Gatot mengangguk, matanya terus konsentrasi ke jalan.

“Memangnya mau kemana, Mas? Tumben nggak minta diantar?” cetus Murti dengan nada curiga.

“Urusan kantor.” sahut Pak Camat.

Murti diam, tidak bertanya lagi, tapi terlihat sorot ketidak-percayaan di sudut matanya yang bening.

”Sudah sampai tuh,” Pak Camat mencium kening Murti sebelum istrinya yang cantik itu turun. Murti melirik Gatot dan melempar sedikit senyum sebelum melangkah masuk ke gerbang Madrasah. Tinggal Pak Camat dan Gatot yang ada di dalam mobil.

Pak Camat menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya, lalu bicara pelan pada Gatot. “Murti mulai mencurigaiku, Tot.”

Gatot cuma tersenyum kecut sambil mendengarkan Pak Camat melanjutkan keluhannya. “Rupanya Murti mulai termakan gosip-gosip itu.”

“Itu wajar, Pak Camat. Kita hidup ini kan cuma punya dua pilihan, memakan gosip atau dimakan.” jawab Gatot tanpa bermaksud menggurui.

“Bisa saja kamu. Yang penting kamu jangan bilang apapun ke Murti ya,” kata Pak Camat.

“Saya janji menyimpan rahasia itu, Pak.” sahut Gatot.

Ada kesepakatan rahasia antara Pak Camat dan Gatot. Mereka meneruskan ke kantor kecamatan. Seperti biasa, begitu Pak Camat masuk ke dalam kantor maka Gatot langsung meluruskan jok mobil dan tiduran sambil membaca koran. Saat itulah Gatot kaget karena di halaman depan ia melihat foto ayahnya terpampang besar dengan judul AKHIR SANG JAGAL. Kalimat demi kalimat dibacanya sampai tamat kemudian ia lemparkan koran itu ke belakang. Wajahnya mengeras.

Gatot terpukul dengan adanya berita di koran yang mengabarkan kalau ayahnya telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan tinggi setelah upaya bandingnya ditolak. Menurut berita, ayahnya menolak meminta grasi ke presiden. Masih kata berita, ayahnya cuma mengajukan permintaan terakhir yakni bertemu sang anak bernama Gatot, dirinya sendiri. Ayahnya tak akan dieksekusi sebelum permintaan terakhir terpenuhi. Jadi sampai sekarang Cak Karso masih ada di penjara paling top, Nusakambangan.

Gatot menghantam jok mobil pelan. Ia sudah bersumpah untuk tidak mau lagi ketemu ayahnya. Ia tidak bisa memaafkan sang ayah yang tega menghancurkan keluarga. Ia sakit hati pada ayahnya yang telah menjual ibunda tersayang. Ibunda yang mati mengenaskan di depan mata kepalanya sendiri. Biar saja ayahnya dihukum mati. Sebenarnya Gatot sudah berkali-kali diminta oleh polisi agar mau datang ke Nusakambangan. Tapi Gatot tak mau karena di Nusakambangan banyak kawan-kawannya yang di bui. Ia tidak mau ketemu kawan-kawan begundalnya agar bayang-bayang masa suram itu tidak muncul. Biarlah yang terhukum menjalani hukumannya.

“Mas Gatot nganggur?” Gatot terkaget-kaget oleh suara halus yang menegurnya.

“M-mbak Dewi butuh bantuan saya?” tanyanya tergagap.

“Iya. Pak Camat yang nyuruh.” jawab gadis cantik yang bersinar bagai bidadari tersebut.

“Kemana, Mbak?” tanya Gatot, berusaha mengalihkan perhatian matanya.

“Ke Cemorosewu. Saya masuk ya?” tanya Dewi.

Gatot menghidupkan mesin sambil menunggu Dewi duduk dengan nyaman. Lalu berangkat. Dewi, gadis cantik berparas menarik sesekali berusaha memancing selera bicara Gatot. Tapi Gatot memang sedang tidak mood untuk bicara. Gatot cuma mengemudikan mobil dan mengawasi jalan raya menuju Cemorosewu. Dewi pun tak lagi bicara meski dalam hati kecewa karena Gatot seperti batu arca yang ada di pintu masuk desa Cemorosewu. Sampai suatu ketika Gatot akhirnya buka suara untuk pertama kalinya.

“Jalan aspalnya cuma sampe sini, Mbak?”

“Iya. Dari sini sampai Cemorosewu jalannya masih tanah.” sahut Dewi.

“Tidak ada jalan lain?” tanya Gatot.

“Tidak ada. Kenapa, takut mogok?” tantang Dewi

“Iya, Mbak. Saya juga takut dimarahi Pak Camat kalau sampai rusak. Ini kan mobil dinas.” jelas Gatot.

“Ya ampun, Gatot. Ini mobil pemerintah. Kalo rusak ya urusan pemerintah. Kamu cuma perlu bilang ke Pak Camat, tidak bakal dipotong gajimu.” terang Dewi.

“Mbak Dewi bisa saja. Ada perlu apa ke Cemorosewu?” tanya Gatot sambil tersenyum.

“Mengantar tumpukan berkas ini,” Dewi menunjuk setumpuk kertas yang ada di pangkuannya. Gatot cuma melirik sekilas karena tidak mau tergoda maksiat. Kalau dia memandang lama-lama tumpukan itu, sama saja dengan memandang lama-lama bonggol paha Dewi yang putih mulus karena gadis itu cuma mengenakan span tipis yang pendek sekali.

Cemorosewu masih tiga kilo lagi. Semakin mendekati tujuan, jalan semakin tidak karuan, membuat penumpang dalam mobil juga bergerak kesana-sini mengikuti goyangan mobil. Kali ini bongkahan payudara Dewi yang menarik perhatian Gatot, benda itu terus bergerak-gerak memamerkan kesintalannya. Konsentrasi Gatot jadi terbelah, antara melihat jalan yang berlubang atau melirik susu Dewi yang bulat besar.

“Tahu jalannya begini, aku nggak bakal mau disuruh Pak Camat.” keluh Dewi, sama sekali tidak menyadari keadaan tubuhnya.

“Iya, Mbak. Entah jalannya yang memang rusak atau pejabatnya yang korup.” sahut Gatot. Terbayang payudara putih mulus milik Murti, yang coba ia bandingkan dengan punya Dewi, yang dua-duanya langsung membuat penisnya kaku dan mengeras seketika.

Dewi tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Gatot. “Semua pejabat di negeri kita ini sudah rusak, Tot.” kata Dewi sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi gagal. Dia terlempar ketika mobil menghindari lubang besar, dan tepat mendarat di dada Gatot. Payudaranya yang besar mendesak Gatot begitu rupa hingga membuat penis Gatot makin menegang tak karuan. “Maaf ya, Tot.” bisik Dewi begitu menyadari, dia lekas menarik tubuh sintalnya menjauh.

“Nggak apa, Mbak. Saya juga minta maaf.” suara Gator bergetar.

Permintaan maaf yang tak lebih dari sekedar basa-basi, pemanis suasana hati yang penuh warna warni. Bukan hatinya Gatot, tapi hatinya Dewi. Warna hati itu mungkin sama dengan warna paras ayu yang sekarang berubah menjadi merah delima. Dan Gatot tentu tidak menyia-nyiakan manisnya delima yang duduk di sampingnya ini. Ia melirik Dewi dengan senyum penuh arti, tapi tetap berusaha menjaga wibawanya sebagai seorang laki-laki.

“Bolehkah aku main ke rumahmu, Tot?” tanya Dewi kemudian saat sudah bisa menguasai suasana hatinya.

“Boleh saja, Mbak. Tapi setiap hari, dari pagi sampai ketemu pagi, saya selalu di rumah Pak Camat.” sahut Gatot.

“Masa sih kamu kerja nggak ada liburnya?” tanya Dewi.

“Libur ada, Mbak, tapi saya selalu lembur. Maklum banyak tanggungan.” kata Gatot.

“Semua punya tanggungan, Tot. Saya juga punya banyak tanggungan. Hutang di bank menumpuk.” sahut Dewi.

Cemorosewu sudah di depan mata. Dewi memberi petunjuk kepada Gatot agar langsung menuju ke balai desa. Dewi menemui kepala desa, sedangkan Gatot seperti merasa tidak asing dengan wajah kepala desa itu. Ia teringat sesuatu yang membuatnya berdiri dengan tegang. Ia teringat salah satu wajah orang orang yang berjudi besar-besaran dengan ayahnya puluhan tahun silam. Ia juga ingat wajah salah satu begundal yang memperkosa ibundanya dan ia yakin wajah Pak Kepala Desa sama dengan wajah itu.

Ia perlahan mendekat, semakin dekat dan akhirnya bisa melihat ciri yang memperkuat keyakinannya. Tato macan Pak Kepala Desa sama dengan tato macan milik ayahnya. Perlahan Gatot meraba sesuatu di balik jaketnya dan ketika ia hendak mencabut benda itu, seketika itu pula Dewi menepuk pundaknya.

“Sudah selesai, Tot. Kita kembali ke kecamatan.” kata gadis cantik itu.

“Oh ya… Mbak Dewi jalan saja dulu.” sahut Gatot.

Maka Dewi pun berlalu, sedangkan Gatot memandang tajam pada Pak Kepala Desa, membuat laki-laki tua itu merasa grogi dan tak nyaman. Tapi Gatot tidak ingin membuat masalah. Ia cuma menunjukkan celurit kecil yang dulu membunuh ibunya pada kepala desa, membuat kepala desa berdiri gemetaran dan memandang takut pada Gatot.

“Dimana dua temanmu yang memperkosa ibuku?” bisik Gatot dengan suara bergetar menahan amarah. Ia tidak melepaskan jabat tangannya sehingga Pak Kepala Desa tidak bisa lari kemana-mana.

“Saya tidak paham maksudmu,” kata Pak Kepala Desa semakin ketakutan.

Gatot melepaskan tangannya dan mengembalikan celurit kecilnya ke balik jaket. “Aku telah menemukan pemerkosa dan pembunuh ibuku,” katanya sebelum meninggalkan balai desa, meninggalkan Pak Kepala Desa yang pucat pasi setelah sadar siapa pria yang baru berhadapan dengannya. Pria dengan sorot mata penuh amarah dan dendam, pria dengan nafsu membunuh yang besar. Pak Kepala Desa langsung terduduk lesu di kursi kerjanya.

Gatot sudah kembali bersama Dewi dan mulai meninggalkan desa Cemorosewu disertai hujan yang turun dengan lebat, membuat jalanan tanah jadi semakin becek, memperlambat laju mobil.

“Sabar ya, Mbak. Jalannya hancur.” kata Gatot.

“Tidak apa. Aku sudah telepon Pak Camat dan bilang kalau mobilnya mogok.” jawab Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” Gatot tersenyum.

“Kamu kenal dengan kepala desa itu?” Dewi bertanya.

“Tidak, Mbak. Kebetulan saja tadi ngobrol lama. Maaf kalo membuat Mbak Dewi menunggu.” Gatot berbohong.

Butuh perjuangan keras untuk menaklukkan jalan yang lebih cocok buat arena off road itu. Kaca belakang dan samping mobil sudah dipenuhi oleh tanah liat sehingga menyulitkan pandangan. Terlanjur basah, mandi saja sekalian; itulah pemikiran Gatot. Maka iapun segera meminta pada Dewi untuk mengencangkan sabuk pengaman, setelah itu pedal gas diinjaknya kuat-kuat sampai mobil melesat menembus derasnya hujan. Dewi sampai harus berpegangan pada apa saja agar tidak terlempar kesana-kemari. Beberapa kali tubuhnya berbenturan dengan bahu Gatot, dan berkali-kali pula payudara besarnya mendarat di lengan laki-laki itu. Terasa sangat empuk dan kenyal bagi Gatot hingga membuat penisnya kembali kaku dan menegak di bawah sana.

Dewi bukannya tidak mengetahui, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah pada ’penderitaan’ yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak itu. Tapi yang aneh, Dewi seperti menikmatinya. Ia dengan ikhlas terus memberikan dadanya pada Gatot, sampai akhirnya mereka tiba juga di jalan desa yang beraspal. Gatot segera mengurangi kecepatan dan memandang penuh arti pada Dewi yang terduduk lemas di sebelahnya.

“Berhenti dulu, Tot. Kita makan di warung itu.” Dewi menunjuk warung makan yang ada di sebelah kiri jalan. Wajahnya nampak memerah padam, sementara nafasnya masih sedikit tersengal.

“Baik, Mbak. Kebetulan saya lapar.” kata Gatot. Ia tidak pernah mengetahui kalau memek Dewi sudah sangat basah saat itu.

Gatot segera memarkir mobil di depan warung. Sudah jam satu siang. Gatot teringat pada Murti. Siapa yang menjemput Murti hari ini, sedangkan ia masih berada lumayan jauh dari kecamatan. Iapun meminjam handphone pada Dewi untuk menelpon Murti dan bilang tidak bisa menjemput. Gatot menarik napas lega karena Murti sudah ada di rumah. Ia mengembalikan handphone pada Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” katanya.

“Mau makan apa?” tanya Dewi.

“Sama dengan Mbak Dewi saja.” kata Gatot.

Merekapun makan dengan lahap. Dewi memperhatikan Gatot tak putus-putus, sementara Gatot tidak peduli pada apapun selain pada makanan yang ada di hadapannya. Selesai makan barulah ia sadar kalau diperhatikan. Mereka saling tersenyum. Dewi sudah akan membuka obrolan, tapi sayang seribu kali sayang mereka harus cepat sampai di kantor kecamatan. Dengan diiringi pandangan seisi warung yang mengagumi kesintalan tubuh Dewi, merekapun lekas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Setelah mengantar Dewi ke kantor, Gatot dipanggil Pak Camat ke ruangannya. Pikiran Gatot mulai macam-macam karena tidak biasanya Pak Camat memanggilnya. Setelah berada di depan Pak Camat, ia tambah bingung karena Pak Camat tampak sangat gembira, tidak marah seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

“Pak Camat memanggil saya?” tanya Gatot.

“Benar, Tot. Ada dua kabar gembira yang ingin saya sampaikan ke kamu.” sahut Pak Camat.

“Kabar apa itu, Pak?” tanya Gatot penasaran.

“Yang pertama, Murti telah resmi jadi PNS. Tadi pagi SK pengangkatannya turun.” jawab Pak Camat.

“Syukurlah. Saya ikut senang, Pak.” sahut Gatot.

“Kamu tidak ingin tahu yang kedua?” tanya Pak Camat.

“Kalau Pak Camat tidak keberatan memberitahu saya,” kata Gatot.

“Ini tentangmu, Tot. Mulai hari ini, kamu adalah calon PNS.” kata Pak Camat.

“Maksud Pak Camat?” tanya Gatot meski sudah bisa sedikit menebak.

“Kamu jadi pegawai honorer kecamatan. Tapi itu hanya sementara. Nanti kamu akan jadi PNS.” kata Pak Camat.

“Alhamdulillah. Saya tidak pernah bermimpi sampai kesana, Pak.” ucap Gatot penuh rasa syukur.

“Aku yang membantumu, Tot. Anggap saja sebagai imbalan karena kamu juga banyak membantuku.” kata Pak Camat.

“Terima kasih, Pak Camat. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Gatot tersenyum gembira.

“Sekarang pulanglah. Bilang ke Murti kalau aku ada kunjungan kerja sampai malam.” sahut Pak Camat kemudian, menutup pembicaraan itu.

Gatot bergegas meninggalkan kantor kecamatan sekaligus meninggalkan Pak Camat. Ia sangat paham kunjungan kerja macam apa yang akan dilakukan oleh Pak Camat, kemana Pak Camat melakukan kunjungan, menemui siapa, semuanya ia pahami betul sebagai sesama lelaki. Ia hanya merasa kasihan pada teman semasa kecilnya yang bernama Murti. Itulah alasan ia selalu ingin berada di dekat Murti untuk sekedar menghiburnya, baik dengan kata-kata maupun dengan tubuhnya. Kalau Pak Camat bisa selingkuh, kenapa Murti tidak. Dan Gatot dengan senang hati menemani teman masa kecilnya itu.

Begitu menginjak teras rumah Pak Camat, ia sudah disambut senyuman manis oleh Murti. “Mana Pak Camat, Tot?” tanya perempuan cantik itu.

“Pak Camat ada kunjungan kerja sampai malam,” jawab Gatot.

Seketika senyum Murti memudar, berganti dengan wajah kecewa. “Masuklah, Tot!” ia menarik lengan Gatot ke dalam rumah.

Setelah pintu tertutup, Gatot dibuat kalang kabut karena Murti tiba-tiba memeluknya sambil menangis sesenggukan. Gatot tak tahu harus berbuat apa selain membawa Murti ke ruang tengah. Di sana Gatot melihat betapa segala sesuatunya sudah dipersiapkan; makan malam bagi Pak Camat. Gatot menghela napas memahami kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan oleh Murti. Ia tanpa sadar telah membalas pelukan Murti secara lebih erat, membuat tubuh Murti yang molek berada lekat di dalam dekapannya.

“Aku siapkan semua ini buat suamiku, Tot.” lirih suara Murti diiringi isakan kecil.

“Itulah resiko menjadi istri pejabat, Mur. Sabar saja ya,” Gatot tak kuasa menahan keinginannya untuk sekedar mengelus kepala Murti yang masih tertutup jilbab. Ia juga ingin menjamah bagian lain dari tubuh perempuan cantik itu, tapi belum, sekarang bukan saat yang tepat.

Murti menyeka airmata dengan ujung lengan. Gatot menyumpahi dalam hati betapa Pak Camat telah begitu tega menyia-nyiakan seorang istri yang cantik bagai bidadari ini. Yang kesintalan tubuhnya sanggup membuat Zaskia Adya Mecca menjadi iri. Siapa yang tahan melihat pesona Murti. Seluruh komplek juga sudah mengakui sang bunga desa. Apalagi jika sudah bermuram durja seperti sekarang ini, yang sering lupa diri bahwa ia adalah wanita bersuami. Sungguh kurang ajar suami yang tega membiarkan istrinya menderita dalam sedih.

“Kuucapkan selamat, Mur. Kamu telah jadi PNS.” kata Gatot, tubuhnya sedikit bergidik merasakan tonjolan payudara Murti yang mendesak di depan perutnya.

“Aku ingin dengar ucapan itu pertama kali dari suamiku, Tot.” sahut Murti, tanpa merasa bersalah, ia makin mempererat pelukannya.

“Pak Camat sangat sibuk.” suara Gatot mendadak menjadi parau karena batang besar yang ada di balik celananya perlahan mulai bangkit dan mengeras. ”Oh ya, maaf aku tadi tidak menjemputmu.” tambahnya.

“Tidak apa. Aku diantar Aisyah. Sekarang makan saja bareng aku, ya?” tawar Murti dengan senyum menawan.

“Semakin sering bersamamu, aku semakin merasa tak bisa mengontrol diri, Mur.” kata Gatot terus terang.

”Tidak masalah, toh Pak Camat juga semakin jarang pulang. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menemaniku?” jawab Murti. Ia memang nekad bila berada di dalam rumah bersama Gatot. Sejak mereka ’melakukannya’ Murti tidak malu lagi bila duduk berdua dengan Gatot. Ia tidak risih menampakkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan sebagai wanita bersuami. Kenapa tidak? Toh mereka sudah sering telanjang berdua akhir-akhir ini.

Sungguh beruntung si Gatot, bisa melihat bentuk tubuh Murti yang bohay secara utuh. Ia melirik tajam pada sepasang paha Murti yang sengaja diongkang-ongkangkan, yang membuat baju panjangnya jadi tersingkap hingga ke pinggang, menampakkan kulit pahanya yang halus mulus serta kencang. Juga dada montok milik Murti yang terus digoyang-goyangkan selama perempuan cantik itu menyiapkan makan malam bagi Gatot.

“Sudah berapa tahun kamu menduda, Tot?” tanya Murti dengan desah menggoda.

“Aku tidak pernah menghitungnya, Mur.” Gatot tak berkedip menatap teman masa kecilnya itu, yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mulus sempurna.

“Rasanya aku juga ingin menjanda saja, Tot. Biar bebas.” kata Murti.

“Menjanda justru tidak baik, Mur. Omongan orang selalu usil.” sahut Gatot.

“Peduli setan sama omongan orang. Selama ini aku sudah kebal berbagai gosip, termasuk gosip tentang suamiku yang punya istri muda.” sergah Murti.

“Yakinlah, Pak Camat tidak seperti itu. Aku selalu bersama suamimu dan aku tahu dia suami yang baik.” kilah Gatot. Ia mengangguk meski dalam hati menggeleng. Pak Camat memang bukan suami yang baik. Pak Camat juga bukan pria yang alim. Pak Camat sama seperti dirinya. Hanya saja Pak Camat punya cara tersendiri untuk berbuat nakal. Dia adalah orang yang tahu seperti apa kenakalan Pak Camat. Dirinya jugalah satu-satunya orang yang tahu kenakalan istri Pak Camat.

“Kamu bukan anak kecil lagi, Mur.” kata Gatot.

“Memang bukan. Tapi aku ingin mengulangi masa-masa kecil yang kita jalani bersama, Tot.” sahut Murti, senyumnya makin kelihatan menggoda.

“Itu tak mungkin, Mur.” lirih Gatot, berusaha keras menekan gemuruh di dalam dadanya yang bidang.

“Siapa bilang tak mungkin?” Murti mencubit perut Gatot kuat-kuat. Awalnya Gatot masih bisa menahan, tapi karena cubitan Murti terasa makin menggigit, iapun tak punya pilihan selain balas mencubit perut Murti. Berawal dari cubit mencubit, kemudian berkembang jadi saling kejar dan saling menjatuhkan.

“Jangan memancingku, Mur.” seru Gatot sambil menggeleng. Sudah terlihat tonjolan besar di depan selangkangannya akibat gesekan tubuh montok Murti.

“Aku akan menangkapmu, Tot.” seperti tidak peduli, Murti terus menggodanya. Mereka berkejaran sampai ke dalam kamar. Di situlah Murti dan Gatot seperti anak kecil yang bodoh. Saling raba sana-sini dan cium ini-itu. Murti sendiri yang melepas baju panjang dan dalamannya, lalu merenggut paksa tubuh Gatot dalam kekuasaannya. Ia menuntun Gatot untuk melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan. Itulah momen kejatuhan Gatot.

Kesempurnaan yang dimiliki Murti ditelannya bulat-bulat tanpa ada yang tersisa. Desah dan rintih mengalir bersama cucuran keringat yang meminyaki tubuh telanjang mereka berdua, melicinkan jalan bagi setan untuk menancapkan kuku maksiat ke hati keduanya. Murti dan Gatot telah benar-benar terjatuh bersama ke dalam jurang perzinahan. Tidak ada lagi yang menghalangi kemaksiatan mereka, sekalipun itu suara azan.

Ya, saat itu Azan Isya’ terdengar, tapi telinga mereka telah terkunci oleh kenikmatan orgasme yang memuncak. Dan mencapai klimaks ketika cairan keduanya tercecer di mana-mana. Sebagian dari muntahan itu bersarang telak di rahim Murti, sisanya yang tak tertampung tumpah ruah ke atas ranjang. Murti dan Gatot menggelepar kelelahan, baik fisik maupun batin. Namun mereka tampak sama-sama puas, bahkan keduanya seperti menginginkannya lagi.

“Aku memang ditakdirkan menjadi pendosa, Mur.” bisik Gatot sambil mengelus dan meremas-remas payudara putih mulus milik Murti.

“Kita tanggung dosa ini bersama, Tot.” balas Murti sambil memeluk Gatot dan mengocok pelan batang penis laki-laki itu.

Gatot balas memeluk Murti, merengkuh istri Pak Camat itu erat-erat ke dalam dekapannya. ”Dosa yang sepertinya tidak akan pernah bisa aku tolak.” bisiknya mesra.

Murti mencoba untuk tersenyum. “Aku tak pernah sehebat ini bila bersama Pak Camat, Tot.” terangnya. Murti masih punya gairah untuk sekedar memberi suguhan terakhir pada Gatot. Tidak sedahsyat yang pertama, tapi sudah cukup sebagai penutup segala kemaksiatan yang tercatat di tangan Tuhan sebagai perbuatan laknat.

Dan Gatot dengan senang hati menerimanya, apalagi saat handphone Murti berbunyi, tanda kalau ada pesan singkat yang masuk.

”Dari Mas Joko, Tot, dia pulang telat.” terang Murti begitu selesai membacanya.

Gatot langsung memeluk teman masa kecilnya yang cantik itu dan lekas melebarkan kedua kaki Murti hingga tampaklah belahan vaginanya yang basah sempurna. ”Berarti ada waktu bagi kita untuk mengulangi sekali lagi, Mur.” bisik Gatot sambil menggesek-gesekan kontolnya di permukaan vagina sempit Murti.

”Ahh… iya, Tot.” rintih Murti saat Gatot mulai menekan ujungnya, senti demi senti benda itu mulai memasuki tubuhnya, agak sedikit tersendat karena Murti merasa kegelian, namun perlahan tapi pasti penetrasi itu terus tejadi sampai akhirnya batang penis Gatot amblas seluruhnya, masuk sepenuhnya memenuhi celah kewanitaan Murti.

”Ughh… Mur!” Gatot melenguh menikmati jepitan dan kehangatannya yang begitu menggigit.

Wajah Murti agak sedikit mengernyit, apalagi saat Gatot mulai menggerakkan penisnya maju mundur secara perlahan. Setiap tusukannya terasa begitu tajam dan dalam. Suara gesekannya terdengar begitu merdu, dipadu dengan rintihan lirih yang keluar dari bibir manis Murti, sempurnalah ritual persetubuhan mereka malam itu.

Gatot menatap payudara Murti yang berguncang-guncang pelan akibat gerakannya. Ia segera memeganginya. Sambil kembali memijit dan meremas-remasnya, mata Gatot berpesta pora menikmati tubuh indah dan putih mulus milik Murti yang sekarang berada di dalam dekapannya. Ia sungguh beruntung bisa mendapatkan wanita ini, perempuan teramat cantik dan seksi yang sudah disia-siakan oleh suaminya yang bodoh.

”Auw, Tot!” kepala Murti terlempar ke kiri dan ke kanan menerima tusukan dari Gatot yang semakin lama terasa semakin kuat. Matanya tertutup, tapi bibirnya yang merah merekah terlihat begitu indah.

Gatot segera mengecup dan melumatnya mesra. ”Mmh… Mur,” panggilnya. Murti hanya mengangguk sambil membalas ciuman itu. Mereka berpagutan sejenak sebelum Gatot mengalihkan mulutnya ke puncak payudara Murti yang membusung indah, laki-laki itu mencucup dan menjilati putingnya secara bergantian sementara pinggulnya terus bergerak cepat di bawah sana, menusuk dan mengobrak-abrik memek sempit milik Murti hingga membuat benda itu jadi semakin basah dan lengket.

”Arghh… Tot!” pekik Murti saat Gatot makin menambah kecepatannya, suara becek dua organ kelamin yang saling bergesekan kian memenuhi ruangan kamar, tentu saja sambil diiringi melodi rintihan dari Murti dan Gatot. Hawa malam yang dingin tak mampu lagi menahan panas tubuh mereka berdua, peluh keduanya sudah meleleh dan saling bercampur menjadi satu.

Gatot melipat kedua paha Murti ke atas hingga lututnya nyaris menyentuh bulatan payudaranya, dengan begitu tusukan kontol Gatot jadi makin dalam menghujam liang senggama milik perempuan cantik itu.

”Oouh… Tot, nngh… ahh!!” rintih Murti setengah memekik saat melepaskan cairan orgasmenya.

Tak peduli dengan semprotan deras dari liang sempit Murti, Gatot terus menggerakkan penisnya. Ia juga merasa sudah hampir sampai. Kedutan dan jepitan vagina Murti makin menambah daya rangsangnya. Akibatnya, tak lama kemudian biji pelirnya pun mengerut kaku lalu… dengan satu tusukan terakhir, Gatot mengantar semburan demi semburan spermanya membanjiri alat kelamin Murti yang masih memuntahkan isinya.

Mereka terus menguras nafsu masing-masing hingga Gatot yang kelelahan duluan, rebah di atas tubuh sensual milik Murti. Ia mencoba mengatur nafasnya sambil menjilati puting Murti yang terlihat menonjol indah di depan hidungnya. Murti merangkul dan mengelus-elus punggung Gatot yang bermandikan keringat penuh rasa sayang, ia membisikan kata-kata mesra ke telinga laki-laki itu, bagai seorang gadis muda kepada kekasihnya.

“Aku harus pulang, Mur.” kata Gatot saat merasakan penisnya mulai mengkerut dan mengecil pelan.

“Jangan, Tot, aku masih pingin kamu temani.” Murti menahan badan Gatot yang sudah akan beranjak meninggalkan tubuhnya.

“Maaf, Mur, nanti bisa dipergoki sama suamimu.” Gatot mencabut penisnya. ”Lagian, aku ingin cari berita ke kantor polisi.” tambahnya sambil memperhatikan cairan putih pekat yang mengalir keluar dari celah liang vagina Murti yang merah merekah, menciptakan danau kecil di atas sprei.

“Ya sudah. Kalau mau balik ke sini, pintu belakang nggak kukunci.” sahut Murti sambil merebahkan tubuh sintalnya ke atas ranjang.

Gatot menatapnya tanpa berkedip. Sebelum pergi, ia memeluk dan memagut mesra bibir teman masa kecilnya itu, bak sepasang kekasih yang bakal lama tak bertemu. “Jangan, Mur. Pak Camat pasti pulang sebentar lagi.”

Sehabis berkata, ia pun pergi dengan sejuta rasa di dalam hati. Jalan terang yang baru saja datang telah kembali berubah dengan begitu cepat menuntunnya menyusuri kegelapan. Dosa telah kembali tercipta dan itu pasti membawanya ke jurang neraka.

Gatot cuma sebentar saja masuk ke rumahnya lalu keluar lagi dengan jaket hitam gelap, celana hitam, helm hitam, dan tak lupa menyelipkan sesuatu di balik jaket. Ia memanasi motornya sejenak lalu melesat menembus rinai gerimis hujan. Malam benar-benar hitam pekat. Sesekali petir menyambar berkilat-kilat. Gatot tidak pergi ke kantor polisi sebagaimana yang ia katakan kepada Murti. Ia berbohong kepada gadis itu. Sebenarnya Gatot menuju ke desa Cemorosewu. Ada tugas maha penting yang harus secepatnya ia rampungkan demi ketenangan hati.

MEYDA

Aku hisap dalam-dalam rokok yang baru aku beli tadi bersama temanku sambil duduk santai di depan teras rumahnya, berteman segelas kopi yang tinggal setengah di cangkirku. Sebenarnya aku tidak suka merokok dan minuman kopi, aku lakukan itu jika ada masalah yang sangat pelik. Ya, seperti sekarang ini. Masalahku sudah aku ceritakan pada sahabat terbaikku tadi, sekarang dia sedang merenung di depanku. Entah memikirkan solusi atau apa, yang penting masalahku tidak aku pendam sendiri. Lebih baik membaginya dengan teman agar tidak terlalu berat.

Sambil menunggu temanku bicara, aku ceritakan dulu masalahku. Tujuh hari yang lalu, aku baru menikah dengan seorang gadis yang kamu semua pasti mengenalnya, namanya Meyda Sefira. Salah satu artis berjilbab yang bermain sebagai Husna di film Ketika Cinta Bertasbih yang diambil dari salah satu judul novel terkenal karya Habiburrahman El Shirazy.

Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda adalah anak dari teman karib ayahku. Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini. Ayah Meyda banyak menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda. Ia percaya kalau aku bisa membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.

Akhirnya jadilah kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas. Hanya dihadiri oleh sanak saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi terhambat karena pernikahan ini. Ok, aku bisa mengerti.

Yang jadi masalahnya adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Meyda selama seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri. Apalagi kalau bukan bersetubuh, menunaikan sunnah  rasul.

Tiga hari awal dia beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan sholat. Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku terdiam. Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu. Bayangkan, tidur berdua dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.

Ketika aku tanya lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis. Aku jadi makin tidak tega memaksanya.

“Mungkin… dia laki-laki,” ujar temanku setelah merenung lama.

Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke taman di sebelah rumah temanku itu.

“Seperti berita di tv,” lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.

“Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia. Wajahnya manis dan sikapnya feminis. Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali,” sergahku.

“Bisa saja dia operasi plastik ke Korea… kau lihat’ kan, aktor dan aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana perempuan,” temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan. “apalagi, orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan. Artis-artis kita juga banyak yang melakukannya.”

“Itu tidak mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil,” bantahku. Memang benar, aku kenal istriku sejak dia baru lahir. Dulu kami tinggal bersebelahan. Setelah aku lulus SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu. Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol lenganku, rasanya kenyal dan lembut. Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.

“Kalau dia bukan laki-laki…” kata temanku  menggantung kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, “berati dia tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.”

Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin. Aku kenal betul sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk menutupi semua auratnya. Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau menanggalkan identitasnya itu. Aku bangga kepadanya. Apalagi kata orang tuanya, dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah. Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!!

“Itu tidak mungkin,” kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan. Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru. Mereka melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu dari mereka. Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci dari mereka yang berkerudung. Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah melihat kenyataannya. Di dunia yang sudah ‘edan’ ini, apapun bisa terbalik dengan mudahnya.

“Kamu sangat yakin?” tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.

“Aku yakin,” kataku.

Lagi-lagi temanku merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku tentang kesucian Meyda.

“Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa,” ujar temanku, tepat disaat aku hendak mengambil satu batang rokok. “dia diperkosa,” nada temanku sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku lepas jatuh ke lantai.

Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini. Setiap hari pasti ada saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan atau mungkin belum terungkap. Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk biasa sampai para pejabat. Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling parah dengan hewan atau mayat.

“Kalau begitu keadaannya, aku masih menerimanya,” kataku lemah, seakan tidak rela hal itu terjadi pada istriku. Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa. Apa ayahku yang melakukan itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, entahlah… yang aku tahu mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.

***

Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah makan malam. Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan. Setelah Meyda selesai, dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku, seperti biasanya.

“Mey…” ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.

“Iya, kak,” jawab Meyda tanpa merubah posisinya. Dia memang selalu memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.

“Aku ingin bicara,” setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku. “kamu duduk disini,” aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.

“Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?” aku tanyakan itu tepat setelah Meyda duduk di sampingku. Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.

Dia masih terdiam, hanya bunyi bibir  terbuka saja yang terdengar. Aku yakin bibir mungil itu pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas?

“Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan ikhlas,” kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.

Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia terlihat sangat takut. “Aku… aku… sebenarnya…” katanya terbata-bata.

“Katakan saja,” ujarku pelan.

“Aku tidak tahu cara melakukannya!!!” kata Meyda.

Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda barusan.

“Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal itu, jadi aku…”

Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya. Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku. Polos sekali dia, karena hal itu dia menghindariku. Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya dalam pelukan. Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku praktekkan.

Kupandangi wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu. Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.

Meyda agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak. Dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan. Untung saja dia tidak tahu pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit. Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.

Sambil tersenyum manis kubisiki dia. “Kakak juga belum pernah,” kataku seramah mungkin.

Meyda mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu. “Eeh… i-iya, kak.” sahutnya gugup.

“Kita sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.” kataku pura-pura polos.

“Eh, i-itu… i-iya, kak…” jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.

“Kakak janji tidak akan menyakiti kamu..” kataku terus memanfaatkan kesempatan.

“Emm… i-iya, kak.” jawab Meyda sedikit malu. Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya. Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.

“Kamu kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?” pancingku.

“Ooh… t-tidak kok, kak.” jawabnya sambil tersenyum manis. Sudah makin berani dia. ’Bagus,’ pikirku.

”Mmm… jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?” pancingku kemudian.

“Eee…” dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.

“Kok cuma eee aja… ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan…”

“Mau kok, kak. Tapi…” ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.

”Tapi apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan sangat mulus sekali. Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas pelan. Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.

“Nanti kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya…” tanyanya makin berani.

“Iya, tentu saja. Kakak janji!” sahutku.

Meyda tersenyum, lalu kemudian mengangguk. ”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan lakukan!” katanya sambil tersenyum.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan bibirku. Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku. Aku jadi kaget.

”Kenapa, Mey?” tanyaku tak mengerti.

“Kakak kok gitu sih…” dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku. ”katanya tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.

Aku segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut. ”Maafin kakak, Mey. Kakak tidak sengaja…” bisikku di telinganya. ”itu tadi wujud kasih sayangku sama kamu…” lanjutku.

“Ini pengalaman pertama bagiku, kak… jadi tolong buat agar jadi berkesan,” kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku. Ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berpaling ke kiri. Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.

”Iya, Mey… maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar. Baju tidurnya yang tipis membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat berwarna putih. Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan terus terang justru sangat merangsang nafsuku.

Aku segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping. Seolah-olah masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman dan keseksiannya. Mm… ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku. Aku tidak ingin membuat Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan tubuhnya.

“Meyda sayang…” rayuku kembali. “Kakak boleh tidak cium bibir kamu?” tanyaku menggodanya.

“Iih… kakak apaan sih,” Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi makin berani, juga bernafsu.

“Meyda sayang… terus terang, malam ini kakak kepingin banget. Kakak pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu… kamu mau kan?” tanpa aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Antara kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu. Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah memerah. ”Kaakk…” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa berkata apa-apa.

Aku segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya. “Mey, percayalah… apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak sama kamu…”

Selesai berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup bibirnya yang mungil dengan lembut. Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat dan sangat manis sekali. Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak. Segera kulanjutkan dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit. Mm… terasa sangat halus dan mulus. Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya perempuan itu sangat cantik seperti Meyda. Enak sekali ternyata…

Lima detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya. Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah manisnya kelihatan begitu mempesona. Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.

“Bagaimana, Sayang… mau dilanjutkan?” rayuku dengan nafas memburu akibat menahan nafsu. Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di celana. Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.

Meyda cuma terdiam.

Kuberanikan diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga sampai di lengan. Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan bulat menantang yang ada di depan dadanya. Beha putih yang ia kenakan kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang. Mmm… jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.

Kulirik Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora… siap untuk menerkam dirinya… menjamah tubuhnya… meremas payudaranya… dan pada akhirnya akan menyetubuhinya sampai puas…

”Mey,” bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang. Kususupkan ke belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas. Wow, begitu lunak dan hangat kurasa.

“Ahh… kak,” Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila, kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus gundukan bukit kecil yang ada disana… bukit kemaluannya.

Selama beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah. Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku. Dia menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk dan hangat sekali. sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir mungilnya.

”Aku ingin tubuhmu, Mey…” bisikku diantara desahan nafas yang semakin  memburu.

”Hhh… lakukan, kak… tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini…” sahutnya.

Hatiku bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru. Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis. Bukan gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik di Indonesia.

Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah itu. Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama. Kuhisap habis bau harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.

Kujulurkan lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh kamasutra. Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat. Kedua lidah kami terus bersentuhan, hangat dan basah. Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah pula.

“Ah, Mey… kamu pintar juga!” pujiku tanpa curiga.

Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum manis ia menyahut, “Mm… Mey hanya menuruti naluri, kak.” sahutnya polos.

“Tapi kok pintar sekali?” godaku.

Meyda tersenyum malu, wajahnya berubah jadi merah. ”T-tidak tahu, kak…” ia menundukkan mukanya.

“Tidak apa-apa, itu tandanya kamu bisa menikmati.” aku tersenyum lega karena tidak perlu repot-repot membimbingnya nanti. Jemari tanganku yang masih berada di selangkangannya mulai bergerak menekan gundukan bukit kemaluannya, kuusap-usap pelan ke atas dan ke bawah.

”Auw, kak!!” Meyda memekik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu. Wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat.

Kuraih kepalanya dalam pelukanku dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Kucium rambutnya yang panjang sebahu. “Enak, sayang, kuusap-usap begini?” tanyaku penuh nafsu.

“Hhh… i-iya, kak.” sahutnya polos. Terlihat dia sudah mulai kepingin juga.

Jemari tanganku yang nakal kini bukan cuma mengusap, tapi juga mulai meremas gemas gundukan bukit kemaluannya. “Ahh… sakit, kak… auw!” Meyda memekik kecil, tubuhnya terutama pinggulnya menggelinjang keras. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tanganku kini direnggangkan.

Kuangkat wajahnya ke arahku, kulihat matanya masih terpejam rapat, namun mulutnya sedikit terbuka. Kurengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku, lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan penuh nafsu.

“Ehm… kak!” Meyda meraih pinggangku dan memeganginya kuat-kuat. Kini jemari tanganku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas, menelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat. Aku baru berhenti saat kurasakan ujung jemariku sudah berada di kaki bukit buah dadanya. Dari balik baju tidurnya, bisa kurasakan betapa padat gundukan daging itu. Kuelus perlahan, sebelum mulai mendakinya tak lama kemudian.

”Uhh… kak!” Meyda merintih saat kuremas pelan gundukan buah dadanya. Terasa sangat padat dengan sedikit campuran rasa empuk dan kenyal yang sangat menggiurkan. “Auw, pelan-pelan, kak…” bisiknya parau, bibirnya tampak basah akibat cumbuanku tadi.

Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Meyda menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras. Kami saling berpandangan mesra, kutatap sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah ngaceng berat.

“Ughh…” aku meloncat berdiri.

Meyda yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya, jadi ikutan kaget. “Eh, kenapa, kak?” tanyanya.

“A-anu, punya kakak sakit nih…” sahutku sambil buru-buru membuka celana. Aku tak peduli meski Meyda kelihatan malu, toh dia akan melihat juga pada akhirnya.

Celana panjangku melorot ke bawah, juga celana dalamku. Meyda yang tak menyangka aku akan berbuat demikian, hanya memandangku dengan terbelalak kaget. Apalagi saat melihat batang penisku yang sudah ngaceng berat, yang begitu tegang dan mengacung ke atas, dengan urat-urat di permukaannya tampak menonjol keluar semua.

“Auw! Kakak jorok!” dia menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Meyda menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang cantik.

”Hehehe…” aku terkekeh. Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana panjang, aku jadi gemas pingin melucutinya sampai bugil. Ah, ingin rasanya segera menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan diri. Itu tidak adil, kami harus sama-sama menikmati permainan ini. Aku tidak mau Meyda merasa rugi, dan ujung-ujungnya kapok tidak mau mengulangi lagi. Kalau begitu kan, aku sendiri yang rugi.

Tugasku sekarang adalah merangsangnya sampai siap. Karena bagaimana pun dia kan masih perawan. Pasti sangat sakit saat melakukan untuk yang pertama kali. Aku harus bisa meminimalisir hal itu, ini adalah tantangan buatku, benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satunya perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain dari buku kamasutra jadul…

“Mey, takut apa sih… kok mukanya ditutup gitu?” tanyaku menggoda.

“I-itu… p-punya kakak…” sahutnya lirih.

“Lho, memang kenapa? Kamu tidak pernah lihat alat kelamin cowok?” sahutku geli.

Meyda mengangguk. “Mey belum pernah, i-ini yang pertama.” sahutnya masih sambil menutup muka.

Gila! Dia benar-benar lugu dan perawan. “Yah, tidak apa-apa. Ayo coba sini, punya kakak kamu pegang. Ini kan milik kamu juga.” kataku nakal.

“Ah, tidak mau. Malu… jorok…” sahutnya.

“Tidak usah malu, kakak yang telanjang aja tidak malu sama kamu. Tadi kakak sudah pegang punya Mey, sekarang ganti giliran Mey yang pegang punya kakak…” sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka.

Pada mulanya Meyda menolak, namun setelah kurayu-rayu dan sedikit kupaksa akhirnya dia mau juga. Kedua tangannya segera kubimbing ke arah selangkanganku. Meyda memang mau memegangnya, namun kedua matanya masih terpejam rapat, sama sekali tidak mau melihat. Meski begitu, itu sudah cukup membuat  jantungku berdegup kencang. Bagaimanapun inilah pertama kali aku telanjang di depan perempuan sambil mempertontonkan alat vital, apalagi sampai dipegang-pegang segala. Seperti mimpi rasanya, apalagi saat tahu kalau yang melakukannya adalah Meyda Safira, salah satu artis cantik berjilbab yang tubuhnya pasti diidam-idamkan banyak orang.

Meyda mulai mengusap kepala penisku. Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat pertama kali menyentuh, namun karena kupegangi dengan kuat, akhirnya ia hanya pasrah saja.

“Aah… terus, Mey, pegang batangnya dengan kedua tanganmu!” rayuku penuh nafsu.

“Iih, keras sekali, kak…” bisik Meyda sambil tetap memejamkan mata. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya, itu tandanya kakak sayang sekali sama kamu. Aah…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Meyda meremas kuat batang penisku.

“Gimana, kak, enak?” tanyanya dengan jemari tangan terus meremas kuat.

“Ohh… jangan dilepas… terus seperti itu…” erangku lirih.

Meyda yang semula agak gugup, kini mulai sedikit mengerti. Jemari tangannya yang tadi merenggang, kini mulai bergerak pelan untuk mengusap batang penisku.

”Ahhh…” aku melenguh nikmat. Kulihat Meyda sudah mulai berani menatap rudal saktiku sambil terus meremas pelan, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dan aku tak peduli, yang penting aku merasa nikmat dengan kocokannya. Dalam hati aku membatin, pake tangan aja sudah begini nikmat, apalagi dijepit pake vagina, bisa-bisa aku pingsan karena saking enaknya.

Meyda memandangku sambil tersenyum, wajahnya tak lagi malu-malu seperti tadi. Bahkan dengan penuh semangat ia mulai mengusap-usap penisku maju mundur… setelah itu digenggam dan diremasnya seperti tadi, lalu dokocok-kocok kembali. Sepertinya Meyda semakin bersemangat begitu melihatku melenguh nikmat, ia tertawa kecil saat melihatku yang hanya bisa mendelik setengah gelisah karena saking nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak maju-mundur makin cepat, membuatku jadi semakin tak terkendali. Ini kalo dibiarkan bisa-bisa air maniku muncrat duluan, jadi aku segera berbisik kepadanya, “Mey, hentikan… kakak tidak tahan, mau keluar!”

“Iih…” dengan kaget Meyda segera melepaskan remasan tangannya dan beringsut cepat ke sebelahku, sementara pandangan matanya tetap tararah ke batang penisku yang masih menegang penuh. Mungkin ia mengira air maniku akan muncrat membasahinya kalau dia tidak cepat-cepat pergi.

Antara geli dan nikmat, aku segera mengatur nafas agar birahiku sedikit menurun. Wuih, hampir saja terjadi banjir lokal. “Tidak jadi, Mey, hehe…” bisikku lirih sambil tersenyum.

“Kok tidak jadi?” tanya Meyda polos.

”Buat nanti aja,” Kuraih tubuh sintalnya yang berada di sampingku dan kupeluk mesra. Meyda menggelinjang manja saat kurapatkan badanku ke tubuhnya yang mungil sehingga buah dadanya yang bundar montok terasa menekan dadaku yang bidang. Hmm, enaaak…

Kepalaku menunduk untuk mencari-cari bibirnya saat Meyda merangkulkan kedua lengannya ke pundakku. Wajahnya yang amat manis terlihat begitu dekat, apalagi saat mulai kukecup bibir mungilnya, Meyda  membalasnya dengan begitu rakus. Kami mulai saling melumat gemas, begitu lama dan panas hingga Meyda megap-megap tak lama kemudian karena kehabisan nafas.

Sementara bibir kami masih terus bertaut mesra, jemari tanganku kembali menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Kuremas gemas bulatan bokongnya sambil kuusap-usap mesra, kurasakan betapa kenyal dan padatnya daging montok itu. Meyda merintih lirih dalam cumbuanku saat kurapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan, sehingga mau tak mau batang penisku yang masih ngaceng berat jadi terdesak ke perutnya. Untung saja Meyda memakai baju tidur yang lembut sehingga tidak sampai melukai penisku.

Mulai kugesekkan-gesekkan penisku disana, tapi baru 10 kali gerakan, Meyda tiba-tiba tertawa kecil. “Mey, apaan sih kok ketawa?” tanyaku heran sambil lidahku menjilati bagian atas bibirnya yang basah oleh air liur.

”Habisnya kakak sih… kan geli digesekin kaya gitu,” sahutnya sambil terus tertawa kecil.

Waduh, dasar perawan tulen. Tidak tahu kalau aku sudah nafsu setengah mati, malah ngajak becanda. Segera kurengkuh tubuhnya kembali ke dalam pelukanku, dan Meyda pun tak menolak saat aku menyuruhnya untuk meremas alat vitalku seperti tadi. Mulai kurasakan jemari tangannya mengusap dan mengelus-elus rudal patriot kejantanan dengan lembut sambil sesekali diremasnya dengan penuh kemesraan.

Aku menggelinjang nikmat, ”Arghh… terus, sayang!” bisikku mesra.

Wajah kami saling berdekatan, Meyda memandangku sambil tersenyum manis. “Enak ya, kak?” tanyanya penasaran.

Aku mengangguk dan kukecup bibirnya yang nakal itu dengan penuh nafsu. Meyda membalas sambil memejamkan mata, namun kurasakan jemari tangannya semakin gemas saja mempermainkan batang penisku, bahkan mulai mengocok cepat seperti tadi. Aku tak tahan, rasanya jadi pingin muncrat lagi.

Saat itulah, Meyda menyuruhku untuk membuka baju. ”Basah, kak, kena keringat.” katanya. Segera kucopot kancing kemejaku satu persatu lalu kulemparkan baju itu sekenanya ke samping, entah jatuh dimana. Kini aku benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapannya.

Kulihat Meyda masih tetap mengocok batang penisku sambil wajahnya memandangku tersenyum manis. Kini aku tahu caranya mengontrol nafsu, tanpa sengaja Meyda telah menunjukkannya. Aku tidak boleh mengkonsentrasikan pikiranku pada kenikmatan ini, aku harus memikirkan hal lain. Melepas baju seperti tadi misalnya, terbukti sangat manjur untuk menunda ejakulasiku. Kini aku bisa memperlambat permainan seks yang mendebarkan ini. Awas kau Meyda, aku sudah pintar sekarang!

“Mey, suka tidak sama alat kelamin kakak?” tanyaku nakal.

Sambil tetap mengocok batang penisku, Meyda menjawab dengan polos, “Suka sih… tapi pasti sakit kalau dimasukin ke punyanya Mey,” ujarnya tanpa malu-malu lagi.

”Tenang, nanti kakak akan pelan-pelan.” sahutku. ”Ngomong-ngomong, boleh tidak kakak melihat punya Mey?” kataku nakal.

Meyda mendelik sambil melepaskan tangannya dari penisku, dia segera menutupi selangkangannya dengan malu-malu. “Jangan, kak… Mey malu!” sahutnya.

Tingkahnya membuatku makin gemas dan bernafsu saja. “Ayolah, Mey… kakak penasaran nih,” desakku, lalu dengan cepat berjongkok di depannya. Kuraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke mukaku.

Pada mulanya Meyda agak memberontak dan menolak, namun saat kupandang wajahnya sambil tersenyum tulus, akhirnya ia menyerah pasrah.  Jemari tanganku segera bergerak menarik celana tidurnya hingga terlepas. Mukaku yang persis berada di depan selangkangannya kini bisa melihat gundukan bukit kemaluan yang masih terbungkus celana dalam putih bersih, tampak sangat menonjol dan mumpluk sekali. Pasti bakal sangat nikmat sekali rasanya.

Meyda menatapku sambil tersenyum, wajahnya tampak memerah menahan malu. Tanpa meminta persetujuannya, dengan gemetar kutarik ke bawah celana dalamnya. Begitu terlepas, bau alat kelamin yang sangat harum langsung menyergap hidungku.  Alamak, indahnya bukit kecil itu. Bentuknya menggembung sedikit memerah, dengan bagian tengah dibelah oleh bibir tipis yang masih tampak rapat. Di bagian atasnya, semak belukar yang tampak rimbun tampak tumbuh subur menyembunyikan biji kecil yang masih tidak kuketahui dimana rimbanya.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan semua itu, tanpa terasa kedua tanganku gemetar melihat pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Ohh, Mey… indahnya!!” hanya itu kalimat yang sanggup kuucapkan untuk menggambarkan perasaanku.

Aku baru tersadar saat kulihat Meyda mulai membuka baju tidurnya, ”Mey,” kupanggil namanya, karena belum hilang rasa kagetku melihat keindahan selangkangannya, ia sudah akan menyuguhiku keindahan lain dari tubuhnya yang sintal itu.

Tersenyum manis, Meyda terus mempreteli kancing bajunya dan melemparkan kaos itu begitu saja ke lantai saat sudah terlepas. Selanjutnya ia meraih ke belakang untuk membuka kait bh-nya, padahal masih terbungkus bh saja payudaranya sudah nampak begitu indah, apalagi kalau sudah dilepas.

Jawabannya kuperoleh tak lama kemudian saat bh-nya juga jatuh ke lantai, pukk… aku langsung melongo dan jatuh terduduk menyaksikan sesosok bidadari yang telanjang di depanku. Buah dada Meyda ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira dua kali bola tenis, warnanya putih bersih dengan puting kecil kemerahan menghiasi bagian puncaknya yang ranum. Aku tak pernah mengira kalau kecantikannya akan ditambah oleh keindahan tubuh yang sangat sempurna, sungguh sangat luar biasa.

“Mey, k-kamu…” aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, hanya batang penisku yang semakin ngaceng berat yang menunjukkan kalau aku masih hidup.

Masih tetap tersenyum, Meyda mengulurkan kedua tangannya kepadaku dan mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama berpisah, sama-sama telanjang dan sama-sama saling menginginkan.

“Kak, Mey sudah siap… Mey akan serahkan semua milik Mey sebagai bukti pengabdian Mey kepada kakak.” bisiknya di telingaku.

Aku terharu, kurangkul tubuhnya yang telanjang begitu mesra. Badanku langsung seperti kesetrum saat kulit telanjang kami saling bersentuhan. Apalagi ketika payudara Meyda yang bulat dan padat menekan lembut permukaan dadaku. ”Aah…” tak terasa aku jadi merintih nikmat.

Jemari tanganku segera mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus kurasakan, membuatku jadi tak sanggup menahan gejolak birahiku. Dengan penuh nafsu segera kuraih tubuh sintal Meyda dan kurebahkan diatas kasur. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tidak kentara dari luar.

Jantungku berdegup kencang saat mulai menaiki tubuh sintalnya, Meyda memandangku tetap dengan senyumnya yg manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, tak sabar untuk segera memasuki lorong vaginanya.

“Buka pahamu, Mey… kakak ingin menyetubuhimu sekarang.” bisikku penuh nafsu. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting mungil yang berwarna coklat kemerahan. Aku segera menjamahnya sambil menusukkan batang penisku ke celah bukit kemaluannya. Kurasakan liang vaginanya begitu hangat dan lunak.

”Ahh…” suaraku bergetar saat ujung penisku mulai mengelusi permukaannya, sebelum selanjutnya menelusup diantara celahnya yang sempit. “Mey, kakak masukkan sekarang yah… nanti kalo sakit, bilang…” bisikku sambil mulai mendorong pelan.

“Pelan-pelan, kak…” sahutnya pasrah. Dia memeluk pinggangku sambil memejamkan kedua matanya seolah menungguku.

Tusukanku yang pertama gagal, aku tidak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tidak memungkinkan untuk itu, tapi aku terus berusaha… kucoba untuk menelusup lewat celah bagian atas, namun setelah kutekan, ternyata jalan buntu.

“Agak ke bawah, kak…” Meyda memberi petunjuk.

Kutekan agak ke bawah, ”Disini?” tanyaku.

”Ahh… kurang ke bawah dikit!” sahutnya.

Aku turunkan lagi.

”Hmm… yah disitu, tekan disitu, kak.” perintahnya.

Akupun mendorong. Benar, mulai terasa masuk sedikit.

”Auw! Pelan-pelan, kak… sakiiit!!!” Meyda memekik kecil sambil menggeliat kesakitan.

Segera kupegangi pinggulnya agar tidak banyak bergerak. Dengan keberhasilanku menemukan celah vaginanya, tugasku kini jauh lebih muda. Akupun mulai menekan lagi, kali imi lebih pelan. Meski begitu, tetap saja Meyda merintih kesakitan.

”Hhgg… sakit, kak!” pekiknya.

Tapi aku tidak ingin menyerah, sambil mencium bibirnya agar ia terdiam, kupaksa kepala penisku untuk menelusup lebih dalam lagi. Terasa sangat sempit dan basah disana.

“Tahan, Mey… kakak masukin lagi,” bisikku penuh konsentrasi.  Mulai kurasakan kenikmatan saat kepala penisku berhasil menerobos masuk, dan langsung terjepit kuat di liang vagina Meyda.

“Auw, Kak… sakiiiiit…” lagi-lagi Meyda menjerit, tubuhnya menggeliat penuh penderitaan. Aku berusaha menentramkannya dengan mengecup kembali bibir mungilnya yang basah memerah, kulumat dengan perlahan.

”Tahan, sayang… baru kepalanya yang masuk,” jelasku. ”Kakak tekan lagi ya?” aku bertanya, dan tanpa menunggu jawaban kutusukkan penisku lebih dalam. Jeleebb…

”Auw!” Meyda berusaha menggigit bibir untuk meredam teriakannya.

“Tahan, sayang…” bisikku.

Meyda hanya mengangguk perlahan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat sambil kedua tangannya memegangi punggungku kuat-kuat. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa menekan ke bawah. Aku menahan napas sambil memajukan pinggulku kembali, tapi mentok, aku seperti membentur sesuatu. Semakin kutekan, semakin terasa menghalangi. Apakah ini selaput dara-nya?

Meyda memandangku dan mengangguk, seperti membenarkan apa yang kupikirkan.

Kukecup lagi bibirnya dan kudorong pinggulku semakin kuat. Ayo, aku tidak boleh kalah. Setelah beberapa kali usaha, serta diiringi teriakan Meyda yang semakin keras, akhirnya akupun berhasil. Creek… kurasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang vagina Meyda. Dan selanjutnya, seperti sudah bisa diduga, penisku pun bisa meluncur masuk dengan begitu mudahnya.

”KAKAK!!!” Meyda menjerit saat keperawanannya kurenggut, sementara aku melenguh nikmat merasakan jepitan vaginanya yang begitu kencang dan kuat. Dinding-dindingnya terasa hangat dan licin saat membungkus batangku, namun cengkeramannya begitu dahsyat, seakan-akan tidak ingin punyaku keluar dengan utuh. Di sela-sela tautan alat kelamin kami, kulihat beberapa tetes darah mengalir keluar membasahi sprei.

Aku menarik sedikit batangku, lalu kembali menekan…

”Hhggh… kak!!” Meyda kembali menjerit kesakitan, namun aku tak peduli. Aku sudah merasa enak, tanggung kalau harus berhenti sekarang.

”Maafkan kakak, Mey… tahan sebentar ya?” bisikku di telinganya.

Tidak menjawab, Meyda memejamkan matanya semakin rapat. Sementara sebutir air mata kulihat menetes di sudut kelopaknya. Aku harus cepat, kalo tidak istriku yang cantik ini akan terlalu lama menderita. Maka segera kupegang pinggul Meyda dan mulai kugoyang pinggulku perlahan-lahan.

“Ooh…” aku merintih keenakan, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Meyda yang luar biasa. Sementara Meyda hanya merintih-rintih sambil memandangku sayu. Bibirnya bergetar, seperti ingin berucap sesuatu, namun tidak jadi dan akhirnya malah tersenyum kepadaku.

“Kak, Mey sudah tidak perawan lagi sekarang.” bisiknya lirih sambil tersenyum.

”Tidak apa-apa,” kutatap dengan bangga istri tercintaku itu, ”Kakak sekarang juga tidak perjaka lagi,” balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum. Kuusap mesra wajah Meyda yang masih terlihat menahan sakit setiap kali menerima tusukanku.

“Gimana rasanya, kak, enak?” bisiknya mesra, rupanya dia sudah mulai bisa menerima kehadiran penisku di rongga vaginanya.

“Enak, May… nikmat sekali… ouhh… selangit pokoknya,” sahutku sambil mencium bibirnya dengan penuh nafsu, dan Meyda membalas tak kalah nikmatnya. Kami saling berpagutan lama sekali sambil pinggulku terus bergoyang pelan menyetubuhinya.

”Kak, ugh…” Meyda merintih dalam cumbuanku, beberapa kali ia sempat menggigit bibirku, namun sama sekali tak kupedulikan. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit kuat batang penisku, seakan mengenyotnya. Ketika batangku kegerakkan semakin cepat, terasa daging vaginanya seolah mencengkeram lebih kuat, nikmatnya sungguh sangat luar biasa. Aku sampai mendesis panjang karena saking enaknya.

”Aaahhhhh…” jeritku, air mani mulai kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar. Betapapun kutahan dan kualihkan, tetap tidak bisa. Terpaksa aku harus merelakannya untuk menyemprot duluan.

”Mey, kakak mau keluar…” bisikku di telinga Meyda.

Dia membuka matanya dan menatapku, ”Keluarin aja, kak… di dalam punya Mey, tidak apa-apa.” sahutnya.

Aku pun tidak sanggup bertahan lagi. Dengan satu teriakan keras, aku meledak. Spermaku menyembur berhamburan di liang vagina Meyda yang kini sudah tidak perawan lagi.

FITRI: RANI DAN BU RATMI

Cerita ini bukan sinetron, walau judulnya mirip cerita sinetron, tapi ini adalah kisah sedih dari seorang teman, kisah yang merupakan kejadian yang sebenarnya. Namun untuk menjadikan kisah ini betul-betul sempurna maka aku sebagai penulis menambahkan sedikit bumbu tanpa lari dari jalur yang sebenarnya.

Perkenalkan namaku Aditya, umur 38 tahun, pekerjaanku apa saja yang penting halal. Aku tinggal di daerah Sumatera Utara, aku sendiri keturunan Melayu Deli.

fitri

fitri

20 tahun yang lalu…

Setelah tamat sekolah aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena kedua orang tuaku tidak sanggup untuk membiayai kuliahku. Aku sendiri yang sadar hal itu tidak memaksakan kehendak walau aku mempunyai cita-cita sebagai dokter. Aku memutuskan untuk merantau berbekal ijazah SMK-ku jurusan mesin otomotif.

”Pak, buk, aku mau merantau, siapa tau nanti aku bisa sukses.”

”Kamu mau kemana, nak?” sela ibu, ”kamu belum ada pengalaman,”

”Betul apa yang dibilang ibumu itu, Dit, mau jadi apa kamu di perantauan, lebih baik kamu bantu bapak di sawah,” kata bapak.

”Aku mau mandiri, pak!” jawabku. ”aku mau suatu hari nanti aku sudah punya usaha.”

”Amin!!!” ibu dan bapak serentak mengatakan amin.

”Tapi kamu mau merantau kemana, nak?” tanya ibu.

”Aku mau ke Batam, buk,”

”Loh, memang di Batam ada pekerjaan untukmu?” tanya ibu lagi.

”Ya, gimana ya, buk, namanya cari kerja ya dicari lah,” jawabku sambil makan gorengan pisang yang ada di meja.

”Ibu dan bapak sangat berat untuk menyetujuinya, nak, tapi kalau sudah hatimu bulat, mau bilang apa,” kata ibu dengan nada sedih. “Kapan kamu mau berangkat ke Batam, nak?” lanjut ibu.

”Kalau bisa sih minggu depan, buk.” Jawabku.

Ibu dan bapak saling berpandangan. ”Gak bisa, nak,” kata ibu. ”bulan depan aja, bapak dan ibu belum cukup uang buat ongkos dan persediaanmu,”

”Betul, Dit,” sambung bapak. ”Tunggu bapak jual kambing dulu sama pak Slamet.”

Aku pun setuju dengan pendapat ibu dan bapakku

Sebulan kemudian bapak dan ibu memberangkatkan aku dari pelabuhan Belawan, aku masih ingat ibu memelukku dan berpesan agar mengirim surat pada beliau.

Jam 5 sore aku sampai di pulau Batam, dulu Batam sangat sepi tidak seramai sekarang. Setelah 2 minggu aku pun mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan, pekerjaan itu cukup untuk membiayai hari-hariku, tak lupa juga aku berkirim surat buat ibu dan bapak di kampung dan bersyukur kepada Allah SWT.

Setahun sudah aku berada di Batam, yang akhirnya mempertemukan aku dengan seorang gadis yang ayu juga ramah, namanya Nurlela, sebaya denganku. Kulitnya putih dan berkerudung, aku cinta padanya saat pandangan pertama. Setelah 3 minggu pendekatan, aku dan Nurlela sah menjadi sepasang kekasih. Kami selalu bersama pada saat malam, bahkan bajuku yang kotor dicucikannya, makin hari makin bertambah pula kasih sayangku padanya.

Sejauh ini hubungan kami makin erat, namun kami tidak pernah melakukan zinah, cium pipi dan pelukan itulah yang biasa kami lakukan saat mau pulang ke tempat kos masing-masing kalau ketemu, hingga tiba pada suatu malam naas bagi kami, malam yang sulit aku lupakan seumur hidupku. Malam itu adalah malam minggu sepulang dari menonton layar tancap yang diselenggarakan pemda setempat, masih kuingat judul filmnya; ”Ohara”.

Ketika kami pulang, kami dicegat oleh beberapa pemuda, tanpa babibu plaaakkk.. gedebukkk!! aku dihajar sampai pingsan, aku tak tau apa yang terjadi. Setelah aku siuman, aku sudah berada di kamar kosku, aku ditemukan warga setempat, katanya aku pingsan dan diantar kemari. Aku langsung teringat pada Nurlela, lalu kutanyakan kepada mereka namum tidak ada yang tau. Aku mulai gelisah memikirkan Nurlela, untung saja para warga mau membantuku dan juga melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib, karena kejadian yang menimpaku adalah tindak kriminal.

Pada malam harinya aku kembali ke tempat kosku, seharian aku mencari Nurlela tapi belum ketemu juga. Kondisiku yang lemah tidak kupedulikan lagi, bahkan… oh ya Allah, sejak tadi pagi aku belum makan, hanya minum air putih pemberian orang. Mataku mulai berkunang-kunang, dan aku tak kuat lagi menopang tubuhku sampai aku akhirnya tertidur.

Pagi harinya aku terbangun karna mendengar azan dari musollah dekat rumahku, aku lekas mengambil wudhu dan sholat. Aku tak henti-hentinya memohon kepada Allah SWT agar melindungi Nurlela dari segala marabahaya. Setelah selesai sholat, aku sangat terkejut dan mengucap beribu-ribu syukur karena Nurlela ada di depan pintu tempat kosku. Aku berlari memeluknya, Nurlela pun tak kalah histerisnya, dia menangis sejadi-jadinya di pelukanku.

”Astaghfirullah,” kata itulah yang kuucapkan saat Nurlela mengatakan dirinya telah diperkosa, sekejap tubuh kami berdua terasa lemas, baik aku maupun Nurlela. Tanpa sadar kami berlutut sambil berpelukan, aku sangat syok dan sedih akan apa yang dialami oleh Nurlela, aku tak tau apa yang harus kuperbuat.

Namun walaupun hatiku hancur kucoba menguatkan dan menghibur Nurlela, kekasihku. Aku melaporkan kejadian ini kepada RT setempat, melalui mereka juga membuat pengaduan ke polisi, tapi hal itu tidak merubah keadaan Nurlela yang semakin hari semakin syok, badannya mulai kurus kering.

Setelah 2 bulan, kasus yang menimpa aku dan Nurlela belum juga terungkap. Aku dan Nurlela bolak-balik mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan, aku mulai jenuh akan semua ini. Keadaan Nurlela pun sejauh ini tidak menandakan ada perubahan, bahkan sikapnya mulai dingin, namun aku tetap bertahan mencintainya, walaupun rasa cintaku kini dibumbui rasa kasihan yang teramat dalam.

Hingga suatu pagi Nurlela memberitahukan kalau dirinya sedang hamil. Aku merasa berjalan diatas berjuta beling tajam yang siap merobek-robek kakiku, aku tak tau lagi harus berbuat apa, yahh… aku benar-benar menganggap kalau ini adalah cobaan terbesar dalam hidupku, cintaku yang dalam pada Nurlela membuatku semakin dewasa. Aku berniat menikahi Nurlela dan bertanggung jawab walaupun kehamilannya bukan karena aku.

Selama seminggu aku mengurus pernikahanku yang dibantu oleh kerabat dan juga para sahabat. Kami dinikahkan oleh penghulu, jadilah kami sepasang suami istri tanpa ada resepsi, bahkan aku tidak memberitahukan kabar pernikahanku kepada orang tuaku. Biarlah waktu yang memproses semua ini, bathinku saat itu.

Malam pertama tidak mempunyai arti bagiku, bahkan malam kedua, minggu pertama dan seterusnya. Aku tidak menyetubuhi Nurlela, aku tidak mau menodai janin yang dikandung oleh istriku. Nurlela juga masih merasa trauma jika melakukan hal itu, tapi tanggung jawabku sebagai suami tak pernah kutinggalkan. Aku menafkahi istriku, juga memberikannya kebahagiaan, kasih sayangku padanya tidak luntur sedikit pun, karena pada dasarnya aku sangat mencintai dia dari hatiku yang paling tulus.

Jam 11 malam istriku kesakitan, aku tau ini adalah bulan dimana istriku akan melahirkan setelah diberitahu oleh bidan yang ada di tempatku. Tak ayal aku pun merasa senang bercampur was-was, aku yang minim pengalaman soal urusan seperti ini langsung memberitahukan bidan dimana istriku sering periksa. Dulu bidan sangat langka, hanya ada beberapa bidan yang bertugas di Batam pada saat itu. Aku juga memberitahu kerabat dekatku.

jantungku berdebar-debar bercampur senang yang luar biasa setelah mendengar tangisan bayi dari luar kamar, para kerabat menyalamiku. Setelah beberapa saat, bidan yang menangani persalinan istriku keluar dari kamar dengan wajah bercampur sedih dan takut, ”Ma-maaf, pak… yang tabah ya,”

”Kenapa, bu?” jawabku tegang.

”A-anu, pak…”

Tanpa bertanya lagi aku langsung menuju kamar, kulihat istriku Nurlela telah terbujur kaku. Aku pegang wajahnya terasa dingin, aku pun menangis histeris, aku tak kuasa menerima kenyataan ini, istriku Nurlela telah tiada…

Setelah istriku wafat, aku membesarkan Fitri, anakku, sendirian. Kini umurnya 5 tahun, wajahnya sangat mirip dengan istriku, aku memasukkan dia ke TK. Aku sangat sayang pada Fitri, sampai-sampai aku memasukkan Fitri ke asuransi. Dulu asuransi belum dikenal banyak orang, tapi berkat arahan sahabatku maka aku memasukkan Fitri ke asuransi pendidikan sejak Fitri berusia 3 tahun. Semenjak kepergian istriku tersayang, aku sudah tidak lagi bekerja di Batam, aku membawa Fitri ke Pekanbaru. Aku bekerja separoh waktu karena aku selalu kuatir akan Fitri, anakku.

Sejak dini Fitri aku ajari tentang kebaikan, bahkan jilbabnya berlusin kubelikan padanya, setiap hari minum susu, tak lupa makanan yang bergizi, hingga Fitri sekarang lebih mirip anak orang kaya bila dilihat secara fisik.

jilbab-toge-nia-jateng- latifa putri (7)

Tahun-tahun berlalu, Fitri sekarang telah besar, minggu depan dia sudah mulai masuk sekolah SMP, tak terasa waktu begitu cepat berlalu ya… Fitri anakku telah berumur 13 tahun, Namun Fitri selalu bermanja-manja padaku, kami masih tidur seranjang, bahkan aku juga sering memandikannya atau juga mandi bersama. Rumahku yang mungil hanya memiliki 1 kamar dan juga mempunyai kamar mandi yang letaknya di dalam rumah yang memungkinkan kami bebas melakukan apa saja. Selain mendidik Fitri dengan baik, di sisi lain aku sangat memanjakannya, itulah letak kesalahanku sebagai orang tua.

Pada suatu hari yang indah, Fitri memintaku untuk memandikannya, karena sudah biasa aku pun menurutinya. Fitri meminta dimandikan dengan air hangat, tanpa beban aku mengiyakan permintaannya. Setelah air kurebus, aku ke kamar mandi mencampur air panas dengan yang dingin. Saat aku masuk, aku melihat Fitri anakku sudah telanjang, tanpa memakai baju sehelai pun. Aku agak terkejut campur entah apa, yang pasti dadaku deg-degan.

Aku melihat kemaluan anakku sudah ditumbuhi bulu walaupun sedikit, tapi sangat kontras dengan penglihatanku. Aku juga melihat payudaranya mulai benjol, menandakan Fitri mulai beranjak remaja. Entah kenapa aku sangat bergairah melihat Fitri saat itu, namun aku segera Istighfar berkali-kali dalam hati sambil memandikan dan mengusap-usap badan Fitri, tapi imanku kalah, imanku goyah, jujur kuakui aku sangat terangsang.

Untung saja acara memandikan Fitri telah selesai, akupun menyuruh Fitri ke kamar untuk memakai baju, sementara aku masih di kamar mandi mau mandi. Aku menyabuni badanku, tapi gairah itu datang lagi, kemaluan Fitri anakku sangat melekat di ingatanku, juga payudaranya… oh Tuhan, batinku. Tanpa sadar aku mulai mengocok penisku secara perlahan, ya aku onani membayangkan kemaluan anakku, juga kulitnya yang putih bening akibat karena minum susu tiap hari sangat merangsangku.

”Ooughhhh,” aku mendesah, kocokan tanganku semakin kencang, hingga akhirnya, croottt… aghhhh, maniku keluar sangat banyak dan kental sekali, aku sangat puas.

Tepat saat itulah, tiba-tiba… ”P-papa ngapain?!”

Deg…!!! oh, aku dilihat anakku sedang onani, aku lupa mengunci pintu!

”Ehh… ehh… anu, papa… papa mau mandi… eh tidak, papa tadi pipis.” jawabku.

”Oohh…” sahut Fitri.

Lalu aku mandi, setelah itu Fitri tidak membahasnya lagi.

Pada suatu malam, mungkin jam 1 lewatm aku terbangun karena mendengar rintihan kesakitan, ternyata Fitri yang kesakitan.

”Kenapa, nak?” tanyaku.

”Uuuu… uuuu… sakit, Pa, perutku sakit,”

Aku memegang perutnya. Aku meraba-raba sampai ke bawah pusarnya, ”Mana yang sakit, nak?” tanyaku.

”Ini, pak,” jawab Fitri sambil memegang-megang perutnya.

Aku menaikkan sedikit baju Fitri, dan juga menurunkan celana nya. Saat aku menurunkan celananya, aku melihat ada darah di sekitar daerah kemaluannya, tanpa pikir panjang kupelorotkan celana dan celana dalam Fitri. Pada awalnya aku sangat ketakutan, selama ini Fitri tidak pernah mengalami yang beginian, paling demam dan pilek. Aku mengambil air hangat, mengisinya ke baskom, perlahan kubersihkan darah yang ada di kemaluan Fitri dengan handuk leher. Saat kuusap, Fitri tidak lagi mengeluh. Setelah beberapa saat aku tersadar bahwa Fitri mengalami haid yang pertama, kekwatiranku pun perlahan hilang. Kubersihkan semua darahnya, dan juga celana dalam bekasnya kubawa ke kamar mandi lalu kubilas.

”Masih sakit, nak?” tanyaku.

”Masih, Pa,” jawab fitri.

fitri

fitri

”Ya udah sini papa peluk,” aku memeluk Fitri sambil tiduran, tangan kiriku mengusap-usap kemaluan Fitri yang telanjang, aku melihat wajahnya mulai tertidur.

Setelah pulang kerja aku belanja perlengkapan dapur dan juga tentu saja pembalut untuk Fitri, aku masih ingat pembalutnya bermerk Lauriel warna merah jambu. Hari itu Fitri tidak sekolah, katanya masih sakit di sekitar perutnya. Setiap malam selama seminggu aku selalu mengusap-usap kemaluan Fitri, katanya dengan usapanku sakitnya berkurang, tapi yang anehnya Fitri selalu meminta aku mengusap-usap kemaluannya setelah masa haidnya selesai.

Tentu saja aku berpikiran aneh, tapi kuturuti saja asalkan anakku merasa nyaman, bahkan sekarang Fitri kalau tidur hanya menggunakan pakaian dalam saja dan kaos singlet, bagaimana aku tidak dibuat pusing jadinya, tapi itu kudiamkan saja padahal itu sebenarnya salah karEna kami tidur dalam satu ranjang tua, yang kapasnya sudah menipis. Perlahan aku mengikuti gaya Fitri yang tidur hanya mengenakan celana dalam saja, di bawah satu selimut tentu saja, cuma dipisahkan bantal guling.

Waktu itu malam minggu, tapi sedang hujan. Aku memutuskan tidur duluan, kutinggalkan Fitri yang sedang asyik menonton tv. Aku kecapekan dan langsung pulas, tentu saja sebelum tidur aku membuka celana dan bajuku. Aku terbangun karena kedinginan, aku samar-samar melihat selimut kami dipakai oleh Fitri sendirian dengan memeluk guling pemisah kami. Dia membelakangiku sambil menekuk kedua kakinya.

Kasihan anakku, dia pasti kedinginan, batinku. Aku ikut berselimut dengannya, dan menggeser tubuhku lebih dekat lagi. Kupeluk Fitri dari belakang, aku seperti kesetrum baterai ABC di kala pahaku bersentuhan dengan pahanya, spontan saja penisku mulai bangun saat menempel ke pantatnya.

Oghh, ada gairah yang kudambakan, yang belum pernah kulakukan. Sejauh ini aku masih perjaka, belum pernah melakukan yang seperti ini, bahkan dengan almarhumah istriku. Aku jadi tidak bisa tidur dibuatnya, jantungku mulai berdebar kencang. Entah pikiran setan dari mana, aku mulai membuka celana dalamku, posisi tidurku kuturunkan sedikit ke bawah, perlahan aku mengarahkan penisku ke jepitan paha Fitri, aku melakukannya begitu saja.

Penisku terasa hangat, aku sudah diburu oleh nafsu. Aku goyangkan pantatku maju-mundur, mmffffhhhh… crootttt!!! Ohhh… aku mengeluarkan spermaku. Perlahan penisku mengecil, aku membalikkan badan dan menyesali apa yang telah aku lakukan. Aku memohon ampun kepada yang kuasa atas perbuatanku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, hingga aku tertidur karena kecapekan berpikir.

fitri

fitri

Aku bangun, tapi Fitri sudah tidak ada lagi di sampingku. Oh tidak, dia pasti melihat penisku yang telanjang. Aku agak panik karena selama ini, baik kami mandi bersama, aku selalu memakai celana dalam. Aku keluar kamar, kudengar ada cidukan air dari kamar mandi. Aku mulai malu dan segan untuk mandi bersamanya, walau kami tidur hanya mengenakan celana dalam saja. Aku tak kuasa melihat bulu kemaluan Fitri dan juga benjolan payudaranya yang mulai membesar. Oh tidak, batinku. Lebih baik aku menunggu Fitri selesai mandi.

Aku melihat kompor sudah menyala, Fitri ternyata sudah memasak nasi. Aku kembali ke kamar dan berbaring, mataku terasa pedas karena masih mengantuk, aku lihat jam dinding sudah jam 6 lewat, hooaaammmm…

”Pa… pa… pa…!!!”

Aku membuka kedua mataku.

”Pinjam handuknya, Pa!!” kata Fitri.

Aku bangkit dan memberi handuk yang kupakai, aku tak ingat kalau aku tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang melilit tubuhku itu, juga Fitri yang masih telanjang sehabis mandi. Aku melihat bulu kemaluannya lagi. Ohh, aku tidak menyadari penisku perlahan bangun. Mata Fitri pun menangkap gerak-gerik penisku itu.

”Pa, anunya papa berdiri,” kata Fitri.

Ya ampun, dari mana dia tau ngomong seperti itu. Aku pun menutup penisku dengan tangan. ”Ehh, anu… papa mungkin lapar, nak.”

”Ohh, kalau papa lapar pertandanya gitu ya, Pa?”

”I-iya,” kataku sedikit grogi dan bergegas ke kamar mandi lalu mandi.

Suatu malam Fitri tidak memakai baju sehelai pun. ”Lho, kok belum pakai baju, nak?” tanyaku.

”Habis gerah, Pa, tuh kipas anginnya putarannya lambat,”

Aku melihat kipasnya, memang putarannya sangat lambat walau tombolnya sudah nomor 3, ”Mungkin ada yang rusak nih kipasnya,” kataku sambil mengamati baling-balingnya, ”besok aja papa perbaiki,”

”Iya, Pa… Papa capek ya? Tadi Fitri beliin es batu, Pa, tapi udah Fitri campur ke teko.”

Memang saat itu aku kehausan dan juga gerah, aku lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. Gleek, glek, glek, ahh… aku merasa segar, aku pun membuka celana dan bajuku.

”Pa, tadi di sekolah, Fitri dicolek sama teman Fitri,” adu Fitri kepadaku.

”Trus, udah lapor sama guru?” tanyaku.

”Udah, Pa, temanku itu dihukum lari keliling lapangan,” jawab Fitri sambil ketawa.

Aku mendekati Fitri yang duduk di kursi kayu dan membelai-belai rambutnya. ”Nak, kamu pintar-pintar ya jaga diri, pokoknya jangan sampai hal tadi terulang kembali.”

”Iya, Pa,” jawab Fitri.

”Dan satu hal lagi, belakangan ini papa perhatikan kamu lebih sering nonton ketimbang belajar.” kataku sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.

”Tadi uda, Pa, sore,” jawab Fitri sekenanya sambil menatap layar televisi.

”Oh gitu, ya udah, papa senang dengarnya. Papa tidur duluan ya, nak, Papa ngantuk,”

”Fitri juga ngantuk, Pa. Yuk tidur, Pa.” ajak Fitri lalu mematikan tv.

Malam itu kami tidak berselimut karena panas, aku memeluk Fitri. Sebelum tidur kami bercerita tentang sekolahnya, tapi yang membuat bulu kudukku merinding adalah keadaan Fitri yang telanjang bulat. Aku tidak tahan dengan situasi ini, tapi entah kenapa tanganku yang memeluk Fitri malah mengelus-elus kemaluannya.

”Mmmff,” aku mendengar nafas Fitri mulai tidak teratur.

Jari tanganku bahkan menyibak bibir Fitri, akal sehatku sudah tidak normal. Fitri menggigit bibir bawahnya dan… deg, tangan Fitri memegang penisku. Keringatku makin deras membasahi wajahku, tangan mungilnya sangat merangsangku. ”Oughhh,” desahku ketika Fitri mulai mengocok penisku.

Aku lalu menindih tubuhnya dengan menahan badanku agar dia tidak kesakitan, kutatap matanya, seolah-olah aku menatap mata Nurlela, istriku. Kucium bibir mungilnya, pantatku di bawah kugoyang-goyang ke samping kiri-kanan bahkan dengan sedikit penekanan ke bawah. Aku cium terus bibir Fitri, dan bibir atasnya kuisap dengan bibir dan lidahku. Aku tau Fitri bisa menikmatinya, naluriku menuntunku mencumbui leher sampai payudaranya yang kecil keras.

fitri

fitri

”Pa, aghh… aww sakit, Pa,” jerit Fitri saat kuhisap seluruh payudaranya. Ciumanku turun ke bawah sampai ke kemaluan Fitri, kakinya kulebarkan untuk memudahkanku menciumi dan menjilati kemaluannya.

”Mmmfffff… aghhhh…” Fitri seperti cacing kepanasan saat lidahku menari-nari di kelentitnya. Dia menjerit, tapi tidak keras, ”Mmmfffhhh… agghhhh…” Fitri mengangkat pantatnya lebih dekat ke mulutku.

”Mmmffhhhhh…” Jilatanku terasa asin, dan ada lendir halus, aku dulu tidak tahu kalau Fitri sudah orgasme. Aku terus menjilatinya sampai…

”Pa, udah, Pa! Geli… mffhhh… udah, Pa,”

Aku menatap Fitri, matanya nampak sayu. Aku pun menyudahinya dan kembali memeluknya, aku membiarkan Fitri terlelap walau hasratku belum kesampaian. Aku merasa Fitri bukan sekedar anakku lagi, tapi belahan jiwaku. Perlahan kucium keningnya dan aku pun tertidur.

”Pa, besok Fitri nerima raport. Kata bu guru, yang ambil raport adalah orang tua murid,” kata Fitri malam itu.

”Duh, gimana ya, nak, padahal papa besok harus kerja,” jawabku sambil meminum kopi.

Lalu Fitri berjalan ke arahku dan memijit-mijit punggungku, ”Pa, kalau sebentar gak bisa ya, Pa?” tanyanya.

”Bisa sih, nak. Memang jam berapa pembagian raportnya?” kataku sambil membawa tubuh Fitri menghadapku.

”Mungkin jam 9 an kayaknya, Pa,”

”Kok kayaknya sih, nak?”

Lalu Fitri mencubit kedua pipiku, ”Ih, mana Fitri tauuu,” jawabnya sangat manja.

”Weaaakkk, bau… nafas Fitri kok bau sih?” tanyaku sambil bercanda, padahal nafasnya sangat wangi.

fitri

fitri

”Masa sih, Pa?” kata Fitri sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah mulutnya lalu mengeluarkan nafasnya.

”Bau kan?” tanyaku.

”Wee… papa bohong,” jawab Fitri sambil memencet hidungku.

”Udah, mandi sana,”

”Gak mau, Fitri maunya dimandiin papa.”

”Gak ah, Fitri kan udah besar.”

”Ayolah, Pa…” rengek Fitri, ”Papa udah lama gak mandiin Fitri.”

”Ya udah, papa ambil handuk dulu,” kataku sambil berpikir, sebenarnya aku takut kalau aku khilaf, sementara disisi lain hasratku sangat menginginkannya.

”Pa, Fitri boleh masuk ke bak air gak?” tanya Fitri.

”Lho, mau ngapain, nak?”

”Tadi Fitri liat di TV, Pa, kalau orang kaya mandinya di bak gitu,” jawab Fitri, ”Hehehe… Pa, Fitri tau kok kita hidup pas-pasan, tapi gak salah ’kan ngikutin jaman,” terang Fitri panjang lebar.

”Oh, Papa kirain Fitri udah makin oon,” kataku sambil menunjuk keningnya sampai mundur.

”Ihh, papa jahat,”

”Udah ah, kita mandi. Papa bentar lagi mau ada urusan di luar,” perintahku.

Fitri mulai membuka bajunya, aku sangat mengamati saat Fitri buka baju dan celana dalamnya, lalu aku membuka semua pakaianku, aku tidak malu lagi menampakkan penisku pada Fitri.

”Pa, aku masuk ya,” kata Fitri.

Tanpa menunggu jawabanku, kaki Fitri sudah berada dalam bak air. Bak air kami punya ukuran 50cm lebarnya, dan panjangnya kurang dari 1 meter, sama dengan tingginya. Aku pun mengikuti Fitri masuk ke bak air, kami saling berhadap-hadapan, dan kedua kaki Fitri berada diantara sisi pinggangku.

jilbab-toge-nia-jateng- latifa putri (2)

”Trus gimana nyabuninya?” tanyaku pada Fitri.

”Hehehe, ya gini, Pa,” jawab Fitri sambil mempraktekkan dengan menyabuni badannya.

”Nak…”

”Ya, Pa?!”

”Kamu gak pernah cerita sama orang kan kalau papa sering mandiin Fitri?” tanyaku sambil melihat aktifitasnya.

”Fitri udah dewasa, Pa, jadi tau mana yang musti diceritakan dan mana yang tidak,” jawab Fitri mantap.

”Trus kalau sudah dewasa mengapa harus dimandiin?” tanyaku.

Fitri menatap mataku dan mendekatiku. ”Pa, Fitri sangat sayang sama papa. Fitri sangat bahagia bisa punya papa.”

Aku memeluknya, otomatis di dalam air aku memangku Fitri secara berhadap-hadapan. Fitri juga memelukku, aku tak menyangka kalau Fitri anakku telah tumbuh dewasa. Dewasa dalam sifat, juga dewasa dalam tubuh.

”Papa laper ya?” tanya Fitri.

”Gak, kan tadi udah makan banyak,” jawabku.

”Trus anunya papa kok bangun?” bisik Fitri di telinga kananku.

Aku mencubit pinggangnya di dalam air.

”Pa, Fitri udah tau kok kenapa anunya papa bangun,” kata Fitri.

”Tau dari mana?” selidikku.

”Tuh, Pa, si Erna yang ngajarin, teman sebangku Fitri.”

”Ohh,” kataku sambil mencurigainya. Aku bersandar di dinding bak mandi, penisku yang tegang terhalang karena Fitri duduk di pahaku. Aku memejamkan mata sambil menggeser-geser pantat Fitri.

”Tok, tok, tok,” terdengar ketukan di pintu depan. Aku langsung meloncat keluar bak mandi, aku menutup pintu kamar mandi dan memakai baju serta celanaku.

”Eh, nak Rani,” sapaku pada teman Fitri.

”Fitrinya ada, om?” tanya anak itu padaku. Rani adalah anak tetanggaku, sekaligus teman sekolah Fitri.

”Ada tuh, lagi mandi. Masuk yuk!” ajakku. ”Fit, Fitt, ada Rani,” aku pura-pura berteriak kecil.

”Iya, Pa, tunggu!” jawab Fitri dari dalam, juga setengah berteriak.

Aku lalu ke kamar mengganti pakaianku. ”Fit, papa brangkat dulu ya, sekalian nanti papa beliin martabak,” kataku pada Fitri saat dia sudah selesai mandi dan hanya memakai handuk.

”Rani, om tinggal dulu ya, baik-baik di rumah,” kataku pada Rani.

”Iya, om,” jawab Rani.

Aku pun pergi untuk menghadiri undangan di RT sebelah.

Setelah selesai undangan, aku bergegas pulang. Aku bertemu dengan Ratmi, ibunya Rani. Bu Ratmi seorang janda, suaminya meninggal karena kecelakaan kereta api di Jawa. Karena tidak punya pekerjaan jadi bu Ratmi pindah ke Pekanbaru, kebetulan adiknya punya lahan karet.

”Bapak mau pulang?” tanya bu Ratmi.

”Iya, bu, kasihan Fitri sudah menunggu,” jawabku.

”Kalau gitu mari saya antar, pak!” ajak bu Ratmi.

”Aduh, trimakasih ya, bu. Tapi saya mau beli martabak dulu buat Fitri,” jawabku.

”Ya gak apa-apa, Pak, nanti kita singgah. Lagian Rani kalau gak salah ada di rumah bapak.”

”Betul, bu. Iya tadi dia datang.”

Bu Ratmi pun tersenyum.

”Kalau begitu biar saya saja yang bonceng ya, bu!” tawarku.

”Iya, Pak, masa saya yang bonceng,” jawab bu Ratmi.

Aku pun membawa motor milik adiknya bu Ratmi menuju rumahku dan singgah beli martabak dulu. Bu Ratmi orangnya manis, bisa dibilang masih seksi. Pinggulnya agak besar, tapi aku tidak tertarik pada bu Ratmi, karena sosok Nurlela istriku tidak tergantikan dan juga sosok Fitri anakku yang sangat kusayangi. Tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari istri baru, aku takut kalau nantinya Fitri terlantar.

“Nyam, mmmhhhh… martabaknya enak, om,” kata Rani.

”Iya, Pa, martabaknya enak.” timpal Fitri.

Kami berempat makan martabak yang kubeli barusan bersama bu Ratmi. Setelah selesai makan, bu Ratmi dan Rani permisi pulang. ”Sampai besok ya, Fit,” kata Rani sambil melambaikan tangannya.

Aku dan Fitri kemudian masuk ke rumah dan menutup pintu. Seperti biasanya sebelum tidur kalau memakan sesuatu kami sikat gigi, hal ini telah kuajarkan pada Fitri sejak dia umur 5 tahun.

”Papa capek ya?” tanya Fitri saat melihatku memijit-mijit leher.

”Iya, nak,”

”Boleh Fitri pijitin?”

”Gak usah, nak, besok pagi juga paling sudah sembuh,” kataku.

”Uhh, kapan Fitri bisa nyenengin papa?” rengek Fitri.

Aku memeluknya, tak terasa tinggi Fitri sudah sebahuku. ”Papa tiap hari senang kok,” jawabku, ”Yuk tidur!” ajakku kemudian.

Fitri pun menurut, ia lalu membuka semua pakaiannya, termasuk celana dalamnya. Aku pun melakukan hal yang sama, kami lalu naik ke kasur dan berselimut.

”Malam ini dingin ya, Pa?” tanya Fitri.

”Iya, nak, sepertinya mau hujan,” jawabku.

Lalu Fitri memeluk tubuhku yang telentang dengan kaki dan tangannya, aku kembali merasakan kehangatan tubuhnya. Aku tak tahu kenapa dengan diri Fitri, seolah-olah Fitri sangat suka merasakan atau melihat penisku bangun. Aku merasakan gerak-gerik kaki Fitri di atas penisku, aku berpura-pura tidur, aku mau tahu sejauh mana reaksi Fitri padaku.

”Pa,” panggil Fitri, tapi aku tidak menjawab. Fitri lalu memegang wajahku, ”Pa,” panggilnya lagi.

Aku kembali tidak menjawab panggilan Fitri. Aku merasakan dia bangun. Kubuka sedikit mataku untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Fitri. Anakku itu menurunkan selimut sampai batas kakiku, aku berusaha menahan suaraku karena tiba-tiba Fitri memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Aku berpikir, dari mana Fitri bisa belajar melakukan ini?

Fitri menutup mulutnya, seolah-olah dia mau muntah karena penisku menusuk kerongkongannya. Fitri kembali berbaring dan menarik selimut. Aku amat-amati dari pergerakannya, aku tau kalau Fitri sangat gelisah. Kira-kira 5 menit kemudian Fitri bangun lagi, kali ini dia memegang dan mengocok-ngocok penisku perlahan, serasa Fitri adalah seorang yang mahir dalam urusan esek-esek. Kocokan Fitri membuat penisku bangun, kenikmatan yang kurasakan hampir saja membuatku mendesah. Aku bisa saja bangun dan membalas perlakuan Fitri yang membuatku terbang, tapi aku ingin tau sejauh mana ia bekerja.

Dadaku hampir copot dan bisa dibilang aku menahan nafas secara tidak sengaja saat Fitri menaiki tubuhku dan mengarahkan penisku ke lobang kemaluannya, aku merasakan geli campur nikmat saat penisku menempel di lobang kemaluannya. Aku lihat Fitri menggigit bibir bawahnya.

”Mmmmffhh… aww,” desah Fitri pelan, dia jongkok diatas penisku. Aku tidak bisa melihat ke arah penisku, tapi aku merasakan kalau kepala penisku sudah masuk ke kemaluan Fitri walau sedikit. Tanpa sadar aku menggoyang pantatku naik turun. Melihat reaksiku, Fitri menatapku. Aku menyerah, aku pun membuka mataku.

”Uhh… papa jahat,” kata Fitri sambil menindihku, aku pun memeluknya dan membalikkan badannya.

Aku mencium bibirnya, kali ini Fitri membalas walau hanya mengecap-ngecapkan bibir. Naluriku membimbingku untuk mengeluarkan lidah, Fitri mengulumnya. Pantatku bergoyang di bawah ke kiri – ke kanan dan ke bawah, menekan kemaluan Fitri. Sekarang Fitri yang mengeluarkan lidahnya, aku menghisapnya. Mmmff… aku merasakan kenikmatan, rasa pertama bagiku. Aku hampir lupa kalau aku mengisap lidah Fitri cukup kuat sampai akhirnya…

”Mmmfffhh… Pa, sakit!” rintihnya.

”Hehehe, maaf.” aku mencium payudaranya, kali ini mulutku tidak muat lagi mengisap payudaranya, aku mainkan lidahku di payudaranya secara bergantian.

”Mmmmffffhhh… Pa, rasanya kok enak ya?” erang Fitri lirih.

Aku makin semangat mengisap payudaranya, ciumanku turun ke kemaluan Fitri, aku jilati dengan lidahku. Aku tak sabar untuk memasukkan penisku, aku lebarkan paha Fitri, kutuntun penisku ke lobang kemaluannya, kutekan.

”Aww… sakit, Pa.” kata Fitri sambil merapatkan pahanya.

Aku meludahi kemaluan Fitri agar licin, lalu kembali kuarahkan penisku ke lobang kemaluannya. Kali ini aku melakukannya dengan penekanan yang sangat pelan, tapi masih sulit. Kuambil bantal dan kuletakkan di bawah pantat Fitri, kali ini agak sedikit lebih nyaman, kedua tanganku bisa bebas tanpa menopang tubuhku lagi. Kusibak bibir kemaluan Fitri dengan kedua jempolku, jelas sudah kelihatan lobangnya yang merah dan sempit. Kubasahi ujung penisku dengan ludahku, kali ini agak licin.

”Mmmffffff… Paaa, sakittt!!” lirih Fitri.

Aku menekannya lagi.

”Paa… aahhh… Fitri gak kuat,”

Kulihat kepala penisku sudah masuk, tinggal batangnya. Aku melihat Fitri mengeluarkan air mata, aku kasihan padanya, kucabut penisku dan kupeluk Fitri. Tapi aku merasa tanggung, kembali kuciumi bibirnya, lehernya, payudaranya, juga kemaluan Fitri. Kali ini aku menjilati kemaluan Fitri dengan rakus.

”Mmmfffhh… ougghh… Paaa, enakk… mmfff…” Fitri menggoyang-goyangkan pantatnya seakan mau menghindar karena kegelian. Kujilati itilnya, lalu Fitri meremas kepalaku, ”Mmmfffhhh… Paaa, ahhhh…” kembali Fitri mengangkat pantatnya.

Aku tau kalau dia mau orgasme, maka kusedot pas di lobang kemaluannya dengan kuat.

”Paaa…”

Aku merasakan ada sedikit cairan hangat, segera kutelan semua, secara bersamaan pantat Fitri menekan mulutku dan aku merasakan pantatnya sangat menegang, dan… ah, nafas Fitri menjadi sangat cepat. Aku melihat wajah Fitri yang orgasme, terlihat sangat dewasa, keringat di keningnya membuat wajahnya semakin cantik.

Aku berlutut di depan paha Fitri, kulebarkan pahanya, penisku yang setengah tegang kututun ke arah lobang kemaluan Fitri. Lebih baik begini, pikirku. Kalau penisku makin tegang tentu saja sulit bagiku memerawani Fitri. Kutekan pelan penisku, aaahhh… terasa hangat dan enak sekali. Kepala penisku kembali terbenam di kemaluan Fitri.

”Aww… Pa, sakit,” jerit Fitri.

Kutekan lagi hingga masuk sekitar setengah centi meter.

”Awwww… Pa, ahhh…” Fitri meraung kesakitan.

Kucabut penisku, aku kasihan padanya. Kemudian aku mengocok penisku, kencang, makin kencang. Tak sampai 3 menit aku merasa mau keluar, tatapanku melekat pada tubuh Fitri dan lobang kemaluannya, ”Aaahh… mmmfffhh…” crooot, croooottt, croootttt, spermaku keluar diatas perut sampai payudara Fitri. Aku menikmatinya sampai kocokanku membuat penisku mengecil, lalu aku berbaring sambil memeluk Fitri dan mengatur nafasku, hingga kami berdua tertidur pulas.

***

Aku berdiri di teras rumahku, melihat Nurlela istriku yang duduk di bangku teras sambil menangis.

”Kenapa kamu tega melakukannya pada anak kita, Pa?” tanya istriku.

Aku mendekat ke arah Nurlela, ”M-maafin papa ya, Ma. Papa kesepian semenjak ditinggal mama,” jawabku.

”Tidak!!!” Nurlela menatapku dan menunjukku dengan jari telunjuknya, seakan-akan mau menerkamku. Dan plakk, plakk, Nurlela menamparku dengan keras.

”Dia bukan anakku, dia bukan darah dagingku, dia bukan anakku,” nafasku terasa sesak.

”Pa, Pa! Bangun!”

”Pa…”

Ohh, aku bermimpi. Keringatku bercucuran dan nafasku ngos-ngosan seperti habis berlari.

”Papa mimpi buruk ya?” tanya Fitri.

”Iya, nak,”

Lalu Fitri keluar dari kamar, tak lama kemudian dia datang membawa air minum. Aku meminumnya, aku melihat jam pukul 02.30 WIB.

”Makasih ya, nak, kita tidur lagi yuk,” kataku.

”Iya, Pa,” Fitri memelukku, sementara aku mencoba melupakan mimpi tadi dan aku pun terlelap.

Seharian aku teringat mimpiku, bahkan aku bekerja tidak semangat, aku telah menghianati Nurlela. Ya, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku, aku berjanji dalam hati. Hari ini aku sengaja pulang agak larut malam, kulihat jam sudah hampir jam 12 malam.

Tok, tok, tok, kuketuk pintu rumah. Tak lama Fitri membukakan pintu, ”Kok lama, Pa, pulangnya?” tanyanya.

”Iya, tadi banyak pekerjaan,” jawabku sambil membuka bajuku yang kotor. Kulihat tudung saji di meja makan, lauk dan pauknya masih banyak.

”Pa, Fitri laper,” kata Fitri.

”Lho, kenapa belum makan?” tanyaku.

”Fitri nunggu papa.”

”Lain kali kalau papa pulang telat, Fitri makan aja dulu,” seruku.

”Ogah ah, Fitri maunya makan bareng sama papa.”

”Ya udah, papa mandi dulu ya,” kataku.

Lalu aku mandi, kali ini aku membawa baju ganti ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, kami langsung makan.

”Hooaaammmm… kita tidur yuk,” kataku sehabis makan.

”Iya, Pa, Fitri juga ngantuk,” kulihat Fitri membuka bajunya.

Oh tidak, batinku. Aku sengaja tidak membuka pakaianku, lalu kami beranjak ke tempat tidur. Aku menatap langit-langit kamar, sulit kupejamkan mataku, terIngat mimpi tadi malam. Istriku, maafkan aku, batinku.

Kulihat Fitri, oh bagaimana mungkin aku tahan dengan semua ini, namun aku tidak mau lagi mengulangi perbuatanku, maka segera kubalikkan badanku membelakangi Fitri, sampai aku pun tertidur.

***

Hari ini aku tidak kerja, aku sudah minta izin sama juraganku agar bisa libur selama 3 hari, kebetulan Fitri juga sedang libur kenaikan kelas. Aku bangun sekitar jam 9 lewat, kulihat Fitri sedang asik menonton TV bersama Rani.

”Udah bangun, Pa?” tanya Fitri.

”Iya nih, hoaaammm… tapi masih nguaantukk,” kataku sambil menguap. Aku melihat Rani memakai daster yang agak tipis, aku bisa melihat garis-garis celana dalamnya karena posisinya menonton sambil telungkup. Pantatnya sudah lumayan montok, lebih besar dari pantat Fitri. Uhh, penisku mendadak bangun, aku sengaja duduk dibelakang mereka. Karena serunya acara yang di tv, mereka diam saja, tapi kaki Rani yang ditekukkan ke atas bergoyang-goyang, dilebarkan lalu dirapatkan. Saat dilebarkan aku bisa melihat sedikit celana dalamnya, kutelan ludahku.

Aku lalu ke kamar untuk mengambil koran dan kembali lagi, aku pura-pura membaca koran tapi tempat dudukku berpindah agak lurus di belakang Rani. Kulihat mereka berdua masih asyik menonton, penisku menegang, jujur saja tubuh Rani lebih indah bila dibandingkan tubuh anakku, Fitri. Sekilas kalau dilihat, Rani seperti wanita dewasa. Entah kenapa melihat paha dan pantatnya, penisku jadi sangat tegang.

Uhh, aku ke kamar lagi, mengganti celanaku dengan sarung tanpa memakai celana dalam. Aku keluar lagi dari kamar, walah sialan, pikirku, Rani sudah duduk. Tanpa mikir panjang, aku ke kamar mandi. Saat aku mandi, pikiranku berkecamuk, kenapa akhir-akhir ini hasratku semakin tidak terkontrol. Selesai mandi, aku makan, tak lupa aku mengajak Fitri dan juga Rani, tapi Rani tidak mau, alasannya sudah makan.

”Pa, nanti sore kita ke pasar ya!” kata Fitri.

”Mmm, iya deh. Jam berapa, nak?”

”Jam lima aja, Pa, sekalian belanja juga lihat pasar malam,”

”Iya, om, mumpung liburan,” potong Rani.

”Ok, nanti sore kita pergi. Tapi nunggu sore enaknya kita ngapain ya?” tanyaku pada Fitri.

”Hehehe, nonton aja, Pa,” jawab Fitri.

Selesai makan, aku ikut nonton bersama Fitri dan Rani. Kali ini kami nontonnya bersandar ke dinding kamar, Fitri yang manja padaku langsung tidur di pahaku. Rani juga tak mau kalah, katanya dia rindu sosok ayah, jadi Rani bersandar di bahuku. Tanganku yang kanan membelai-belai rambut Fitri, sementara tangan kiriku memegang tangan Rani. Hampir 2 jam kami menonton hingga Fitri tertidur di atas pahaku, sementara Rani tidak lagi bersandar di pundakku, dia berbaring dengan posisi pantatnya sangat dekat dengan pantatku, dasternya agak terangkat.

Melihat itu, penisku mulai bangun. Kugeser kepala Fitri ke lantai, aku lalu ke kamar membuka seluruh pakaianku. Aku kembali lagi, kusingkap daster Rani sampai ke perutnya, celana dalamnya yang warna putih sekarang terlihat jelas. Kuangkat kaki Rani satu sehingga posisinya sekarang seperti orang melahirkan, kudekatkan wajahku ke kemalauannya, kuendus aromanya. Hmm… bau keringat, batinku. Kujilati celana dalamnya dengan posisi menungging, rasanya asin. Mungkin Rani tadi pagi belum mandi, batinku.

Kusingkap celana dalamnya ke samping agar aku bisa melihat lobang kemaluannya, aku tidak berani membuka celana dalam Rani, pasti dia terbangun. Kuisap jari telunjukku lalu kumasukkan ke lobang kemaluan Rani, sluupp… jariku masuk semua. Aku penasaran, lobang kemaluan Rani agak longgar ketimbang punya Fitri, aku yakin pasti Rani pernah bersetubuh. Kucucuk-cucukkan jariku, Rani mulai bergerak, dia merapatkan pahanya. Kudiamkan beberapa saat jariku di dalam kemaluannya, lalu kucabut.

Sekarang giliran penisku kubasahi dengan air liur, lalu kuarahkan ke lobang kemaluan Rani. Lututku agak sakit menekan tikar pandan, tapi kutahan. Perlahan kepala penisku masuk dengan mudah, kutekan lagi, ”Mmmmfff,” aku menahan desahanku saat penisku sudah masuk semua. Ohhh, perjakaku ternyata buat Rani.

Kulihat Rani mulai gelisah. Aku lalu menopang tubuhku dengan tangan agar tidak menindih Rani. Mulai kugoyang pantatku, aku merasakan kalau pantat Rani juga ikut bergoyang, ohh makin nikmat. Makin lama goyangan pantatku menjadi semakin kencang.

”Mmmfffhhhh,” desah Rani.

Kucium bibirnya, Rani pun membalas ciumanku, bahkan lidahku disedotnya, dia sudah tak tidur lagi. Aku merasa penisku mau mengeluarkan sesuatu yang tak bisa kubendung, ”Oougghhhh,,.” kutekan pantatku sekuatnya, crrrooottt… crooottt… spermaku keluar di dalam kemaluan Rani. Tak kusangka aku bisa ML dengan Rani. Aku lemas dan menindih tubuhnya, kubiarkan penisku bersarang di dalam kemaluan Rani. Kupandangi wajahnya, tapi mata Rani menatap ke belakangku.

Deg!! Ternyata Fitri melihat kami. Mataku dengan mata Fitri saling bertatapan saat aku menoleh ke belakang, aku menjadi sangat malu. Lekas kucabut penisku dan duduk sambil menutupi wajahku. Aku masih diam, begitu juga dengan Rani dan Fitri.

”Om, Fit, aku permisi pulang,” kata Rani.

Aku dan Fitri tak mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah Rani pulang, Fitri masuk ke kamar dan aku hanya bisa menyesali perbuatanku, namun sekaligus juga menikmatinya.

Seminggu setelah kejadian itu, aku dan Fitri jadi jarang komunikasi, bisa dikatakan hanya sekali, itu pun saat Fitri minta uang mau beli buku baru. Sikap Fitri mulai berubah, cenderung lebih cuek, dia tidak mau lagi makan bersamaku, apalagi minta dimandikan, dan kalau tidur selalu membelakangiku, tapi tetap saja hanya memakai celana dalam dan bh. Sudah 2 hari ini aku melihat Fitri memakai bh, tentu saja bukan aku yang membelikan.

Pada suatu malam cuacanya sangat panas, PLN pun mati karena ada kerusakan. Aku kegerahan, keringatku bercucuran. Aku pergi ke kamar untuk membuka semua pakaianku, juga celana dalamku. Kukipas-kipas tubuhku menggunakan buku tulis Fitri yang kuambil di atas meja samping tempat tidur. Aku perhatikan Fitri melakukan hal yang sama, dia telanjang dan mandi, padahal sudah pukul 10 malam. Kucoba tidur tapi tidak bisa, panasnya suhu membuatku selalu mengeluarkan keringat.

Aku lihat Fitri sudah selesai mandi dan merasa segar, dia lalu berbaring di sampingku dengan membelakangiku. Aku mulai gemas dengan sikapnya, seakan-akan aku bersalah padanya. Tapi melihat Fitri yang tenang tidak mengipas-ngipaskan buku membuatku iri. Aku ke kamar mandi dan, byuuurrr… oh, segar juga mandi, batinku. Selesai mandi ternyata aku mulai tenang, perlahan rasa kantukku datang. Hooaaammm… dan akupun tertidur.

Suara gledek membangunkanku, ternyata hujan turun sangat lebat, membuat tubuhku kedinginan. Begitu juga dengan Fitri, dia bangun akibat suara gledek yang memekakkan telinga. Fitri menyelimuti tubuhnya, aku mencoba masuk ke dalam selimut itu, Fitri membiarkanku. Kupeluk dia dari belakang, ohh hangatnya, gairahku mulai muncul seiring penisku yang perlahan membesar. Aku merasakan penisku menempel di pantat Fitri yang membelakangiku. Tanpa sengaja kudorong-dorong pantatku, juga tanganku telah memegang payudara Fitri dan sedikit meremas pelan. Fitri diam saja kuperlakukan demikian. Aku makin berani, kucium leher belakang Fitri.

”Mmffhhh… ahhhh… Pa,” Kini Fitri membalikkan badannya menjadi telentang, gairahku sudah terbakar hingga aku lupa pada janjiku, dengan rakus kukulum bibirnya, juga payudaranya, lidahku menari-nari di putingnya.

”Mmmffhhhh… mmffhhhh… Paa, ahhhh… Pa.” rintih Fitri.

Kudekatkan wajahku ke kemaluannya, langsung kujilat dan kugigit pelan itilnya. Aku menelan semua cairan yang keluar dari kemaluan Fitri, bercampur aduk dengan ludahku.

”Aaaahhhh… Paaaa… Paaaaa…” Fitri makin mengerang hebat.

Kuludahi telapak tanganku lalu kugosok ke penisku agar licin, kuarahkan penisku perlahan. Kulihat wajah Fitri, aku tidak tahu maksud Fitri saat menganggukkan kepalanya. Perlahan tapi pasti, tanganku yang satu memegang penisku, sedang tangan yang satu lagi membuka bibir kemaluan Fitri, kudorong pantatku…

”Ooughhh… awww…” Fitri mendesah bercampur menahan rasa sakit. Kulihat penisku sudah mulai masuk, bahkan kepala penisku tidak kulihat lagi. Aku merasa agak ngilu di bagian penisku, tapi sangat menikmatinya. Kudorong lagi perlahan, perlahan, perlahan…

”Mmmffhhh… Paaaa… sakittt!!” kata Fitri lirih. Penisku telah tertanam setengah dalam kemaluannya, kudorong lagi dengan tekanan yang lebih kuat, sleppp!!!

”Aahhhhhhh… Paaaaa…” ia menjerit.

Aku menutup mulut Fitri agar tidak kedengaran sampai ke luar. Aku melihat air matanya menetes, aku kasihan padanya, tapi juga tak ingin memutus kenikmatan ini.

”Tahan ya, Sayang, tahan,” kataku mantap, aku goyang-goyang pantatku.

”Aahhhh… aaahhhh… aaaahhhh…” Fitri merengek saat penisku bolak-balik menghantam dinding kemaluannya, nikmatnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Fitri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat kupercepat goyanganku.

”Aaahhh… aaahhhh… aaahhh… oh anakku, memekmu enak sekali… mmmfffhhhh!!” aku mengeluarkan kata-kata vulgar, dalam sekejap aku bagaikan profesional.

”Ohhh, Fitri anakku… kita ngentot… ahhhh… aahhh…” Crrroootttt… spermaku keluar banyak sekali sampai tak bisa kukatakan, aku puas dan terbaring lemas sampai aku tak tahu keadaan Fitri. Sambil mengatur nafas, aku menciumi Fitri dan memeluknya. Oh aku telah merenggut keperawanan Fitri, anakku sendiri, batinku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku selalu menjaga sikap, baik di rumah maupun di lingkunganku, aku takut perbuatanku diketahui orang lain. Biar bagaimanapun tingginya hasratku, aku dapat mengontrol sikapku. Aku juga telah memperingatkan Fitri agar jangan terlalu manja bila ada orang lain, di samping itu juga aku sangat ketakutan apabila Fitri hamil. Seingatku waktu memerawaninya, aku lupa untuk tidak mengeluarkan spermaku di dalam kemaluannya.

”Pa, papa lamunin apa?” tanya Fitri membuyarkan lamunanku.

”Eh, kamu udah pulang, nak… nggak, Papa cuma mikirin kerja,” jawabku.

”Oh… Pa, Fitri bisa ikut les computer? Soalnya teman-teman Fitri pada ikut,” lanjutnya.

”Boleh aja, nak, Papa justru senang.” jawabku.

”Makasih ya, Pa, muaaaahhh…” Fitri menciumku. ”Mulainya sekarang, Pa, jam tiga, tapi harus bawa uang daftar sama biaya beli disknya,” lanjut Fitri.

”Oh, berapa katanya, nak?” tanyaku sambil menatap payudara Fitri yang membuatku menelan ludah.

”250rb, Pa.” jawabnya.

”Kok mahal amat, nak?” aku mengerutkan alis, belakangan ini keuanganku semakin menipis untuk biaya kami dan juga biaya sekolah Fitri.

”Gak tau, katanya segitu, Pa,” jawab Fitri.

Aku mengeluarkan dompet, isinya cuma 50rb. Lalu aku ke kamar dan membuka lemari pakaianku, kubuka amplop yang terletak di bawah lipatan baju. Aku menarik nafas, sisa gajiku bulan kemarin tinggal 400rb, kuserahkan 250rb pada Fitri.

”Nih duitnya, tapi belajarnya yang sungguh-sungguh ya!” nasihatku pada Fitri.

Fitri menerimanya dan memelukku, ”Makasih ya, Pa,”

Aku mencium rambut Fitri yang bau sinar matahari, ”Ya udah, kamu makan dulu sana,” kataku.

”Belum laper, Pa, Fitri mau tiduran dengan papa, nunggu jam 3,” jawab Fitri. ”uhhh… gerah ya, Pa,” lanjut Fitri sambil membuka baju sekolahnya, ”Papa, sini, dekat Fitri,” ia memanggil.

Tingkahnya sungguh sangat menggoda imanku, kubuka semua bajuku dan kutindih tubuhnya, kucium bibirnya.

”Mmmffffhhhh… Paaa… mmfffhhhh…” Fitri merintih.

Salah siapa, batinku. Aku langsung membuka celana dalamnya, sslrruupp… kemaluan Fitri kujilat dan kusedot habis-habisan.

”Aaagghhh… Paa, enakk… ugghhh…” Fitri mengangkat-angkat pantatnya.

Aku mengangkangkan kaki Fitri dan mengganjal pantatnya dengan bantal. Kuarahkan penisku tepat di lobang kemaluan Fitri, kutekan, ”Mmmfffhhhh… Pa,” dia merintih saat seluruh batang penisku habis ditelan kemaluannya yang sempit dan hangat.

”Paaa…”

”Iya, nak…”

”Mmfffhh… enak, Paa…”

”Apanya, nak?” Goyangan pantatku makin kupercepat.

”Titit papa, enaaakk…”

”Apa titit itu, nak?”

”Kontol papa,”

Aku makin bernafsu mendengar kata-kata Fitri. Aku merasakan sesuatu akan keluar dari penisku, kugoyang pantatku makin kencang, dan puting Fitri aku lumat habis, kuhisap sekuat-kuatnya.

”Paaa… aaaaghhhhhhhh…” Fitri menjambak rambutku, dan crooottt, crooottt, penisku mengeluarkan sperma yang banyak sekali di dalam kemaluan Fitri.

Disaat yang hampir bersamaan, ”Paaaa… aaaghh!!” Fitri seperti mengejan, pantatnya menekan penisku sangat kuat. Rupanya dia juga orgasme, kami sama-sama puas. Aku masih membiarkan penisku di dalam lobang kemaluan Fitri sambil mengatur nafas, siang itu kami berdua mandi keringat.

Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat. ”Nak, mandi sana,” kataku sambil turun dari tubuh Fitri.

”Bentar lagi, Pa,” jawab Fitri sambil memegang penisku, aku membiarkannya. Tak beberapa lama Fitri beranjak dari tempat tidur, aku merasakan angin yang segar, rupanya Fitri memindahkan kipas angin yang ada di luar ke dalam kamar. Aku menikmatinya sampai tertidur.

”Pak!!”

Tok-tok-Tok…

”Pak, Pak…”

Aku bangun saat mendengar ketukan di pintu depan, masih jam 4. Uh, siapa ini yang mengganggu tidurku, batinku. Kubuka pintu dengan keadaan mata yang masih terkantuk-kantuk.

”Aawwwww!!” bu Ratmi lekas menutup kedua matanya sambil berbalik.

Oh tidak!!! Aku lupa memakai celanaku. Aku langsung balik ke kamar dan mengambil handuk, segera kulilitkan ke pinggangku.

”Maaf, bu,” kataku. ”Ada apa ya, bu?” lanjutku untuk memecah kebekuan.

”Anu, pak, maaf mengganggu. Bisa pinjam kamar mandi?”

Tanpa kujawab, bu Ratmi langsung nyelonong ke kamar mandi. Suara kentutnya sampai kudengar, aku tersenyum dan berpikir; aneh, kenapa juga bu Ratmi kesini? batinku.

10 menit kemudian bu Ratmi keluar, ”Makasi ya, pak. Kamar mandi kami rusak, mungkin tersumbat,” kata bu Ratmi.

”Iya, Sama-sama, bu, nggak apa-apa.” jawabku.

”Fitri kemana, pak?” tanya bu Ratmi.

”Fitri sedang les,” jawabku.

”Oh, pantesan bapak telanjang,” kata bu Ratmi sambil tertawa kecil.

Wah, bu Ratmi ini agak genit juga, batinku. Dia tidak langsung pulang, malah duduk di dekatku.

”Bu Ratmi belum mau pulang?” tanyaku.

”Ehh, gak boleh ya lama-lama?” jawab bu Ratmi agak menggoda.

”Boleh sih, bu, tapi malu dilihat tetangga,” jawabku.

”Betul juga ya, pak, kalau begitu saya pamit aja deh,” kata bu Ratmi sambil menuju pintu dan langsung pulang.

Aku bergegas mandi, belum sempat kubilas badanku, ada yang memanggil-manggil dari luar.

”Fit, Fitrii…”

Siapa lagi ini, pikirku. Aku lilitkan handuk ke pinggangku dan…

”Eh, maaf, om, Fitri di rumah?” tanya Rani.

”Nggak, lagi les computer,” jawabku.

”Ohh, Rani cuma mau minjam buku, Om,” lanjutnya.

”Tunggu aja, bentar lagi juga balik,” kataku.

”Iya, om,” jawab Rani sambil memandang ke arah penisku.

”Tapi nunggunya di luar aja ya,” lanjutku.

”Iya, om.” jawab Rani.

Aku pun balik ke dalam dan mandi kembali.

***

”Pa, lain kali kalau rani datang, suruh aja pergi!” kata fitri agak jengkel.

”Lho, kenapa, nak? Rani kan teman sekolahmu,” jawabku.

”Tapi Fitri tidak suka padanya,” jawab Fitri tegas.

Aku tau Fitri pasti tidak suka karena penah melihat kami sedang ML. ”Papa gak tega, nak,” lanjutku.

”Gak tega apa suka?” jawab Fitri.

”Ngg… ehh, kok gitu ngomongnya?”

Fitri kemudian ke kamar dan menangis telungkup. Aku biarkan dia sendiri.

Suatu malam aku dan Fitri menonton acara reality show, dimana ada perkawinan incest di pedalaman India dan melahirkan anak yang cacat. Aku dan Fitri saling berpandangan, ada tersirat rasa penyesalan dalam dirinya, begitu juga aku.

Aku ke kamar dan membaringkan diri, aku mencoba mengingat masa lalu bersama istriku, Nurlela. Ahh, tak terasa air mataku menetes. Aku merasakan kehadiran Fitri disampingku, hanya saja dia membelakangiku. Kami diam dalam pikiran masing-masing, hening, kami diam padahal tidak tidur.

”Pa,” kata Fitri sambil membelakangiku. “Fitri takut hamil, Pa,” lanjutnya.

”Papa juga, Nak,” jawabku. ”Sepertinya kita harus menghentikan hubungan kita yang sudah terlalu jauh ini,” lanjutku.

”Iya, Pa, Fitri setuju,” kemudian Fitri membalikkan badannya sambil memelukku.

***

Satu bulan kemudian hal yang kutakuti pun terjadi, pagi itu selepas aku selesai sarapan dan mau berangkat kerja.

”Weaaakkk… weaaakkk…” Fitri muntah-muntah di kamar mandi. Rasa takut akan firasatku, langsung kudekati Fitri, kubekap mulutnya dengan telapak tanganku.

”Sstt… ditutup, nak, mulutnya kalau mau muntah. Nanti ada orang yang dengar,” kataku pada Fitri, aku sangat gugup dan dihantui rasa takut.

”Mmffhh,” Fitri melepaskan tanganku. ”Pa, Fitri takut,” katanya sambil menangis.

”Stttt… tenang, nak, tenang. Kamu masih mual?” tanyaku.

”Dikit, Pa.” jawab Fitri sambil memukul-mukul perutnya.

Aku tak kuasa melihat tingkah Fitri, pikiranku bercampur aduk, tapi logikaku menyadarkanku. Jika orang mengetahui Fitri hamil karena aku, pasti warga akan mengamuk, atau bisa saja memukuliku dan aku dipenjara. Oh tidak, aku teringat kedua orang tuaku. Tanpa pikir panjang aku mengajak Fitri ke suatu tempat, tentunya dengan tujuan aborsi. Tapi tidak semudah yang kukira, aku harus menjaga dan menutup rapat-rapat kejadian ini.

”Pa, kita mau kemana?” tanya Fitri.

”Sabar ya, nak!” jawabku.

Aku membawa Fitri ke luar kota dan bertanya-tanya pada orang dimana ada tempat aborsi, untung saja ada yang membantu. Aku menemukan alamat dukun yang diberitahukan kepadaku. Setelah menjelaskan semua pada sang dukun maksud kedatangan kami, aku dan Fitri disuruh masuk ke sebuah kamar. Aku hanya bisa melihat dan kasihan pada Fitri, dia mengerang kesakitan, mungkin sangat kesakitan, sampai air mataku menetes dan memohon pengampunan pada yang maha kuasa.

Setelah Fitri menggugurkan kandungannya, dia terlihat sangat lemas, ibarat bunga yang sudah layu. Aku memutuskan untuk menginap di rumah dukun tersebut mengingat kondisi Fitri yang masih labil. Keesokan harinya baru aku membawa Fitri pulang, tentu saja aku mengatur agar pada saat tiba di rumah tepat pada malam hari, agar orang tidak curiga.

Selama seminggu Fitri kuliburkan dari sekolah, keadaannya pun mulai membaik.

”Pa, mau bikin apa?” tanya Fitri pada suatu hari.

”Ini, papa mau buatin kamar buat kamu,” jawabku sambil memotong triplek dengan gergaji.

”Fitri bantu ya, Pa!” lanjutnya.

”Gak usah, nak, kamu kan lagi sakit. Udah, mending kamu istirahat aja,” jawabku.

Aku lihat Fitri tidak beranjak, ”Pa, Fitri kangen mama.” kata Fitri lirih.

Aku menatapnya. ”Papa juga, nak.” jawabku.

”Kenapa papa tidak mau menikah lagi?” lanjut Fitri.

Aku terdiam mendengar pertanyaannya, tak bisa kupungkiri kalau benih cintaku telah tertanam pada diri Fitri. Kuambil nafas dalam-dalam, ”Udah sore, Nak, mandi sana!” kataku sambil menyudahi pekerjaanku.

Aku melihat Fitri menutup pintu kamar mandi, mungkin dia telah sadar akan apa yang dilakukan selama ini adalah salah. Aku merasa bangga pada Fitri yang memiliki sifat dewasa walau ada keinginan di hatiku untuk mengulangi kenangan bersamanya.

LATIFA , PUTRI YANG TERNODA

Latifa telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yang terakhir kali, bukan karena Latifa telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa- (1)

Latifa yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Latifa – dengan nama lengkap sebenarnya Putri Latifa, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja. Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini.

Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan.  Latifa sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal “hidung belang” dan sering main gila dengan istri orang lain. Dollah telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.

Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekali mata Dollah mampir ke arah Latifa anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Latifa resah dan tak betah.

Oleh karena itu pula Latifa jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Latifa. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Latifa itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.

Kesedihan Latifa tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Latifa menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Latifa dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.

Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Latifa selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Latifa berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.

Dengan dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Latifa, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Latifa) bernama Ghazali dengan nama panggilan Ali meminta agar Latifa tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.

Sebetulnya Latifa telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Latifa mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembali dengan apapun.

***

Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Latifa dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (1)

Dollah dan Ali juga berpamitan dengan Latifa dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Latifa melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Latifa mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Latifa yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya. Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang  berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.

Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.

Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Latifa keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Disaat Latifa meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Latifa langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Latifa ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.

Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Latifa untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur : Latifa si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Latifa dengan mulut besarnya yang berbau rokok.

Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Latifa dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya. Terlihat Latifa berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.

Akibat rontaan Latifa maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Latifa yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (3)

Latifa mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Latifa hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Latifa, kembali dijarahnya rongga mulut Latifa yang hangat dengan lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger,” demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Latifa merasa amat mual.

“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Latifa semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Latifa yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Latifa jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Latifa yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Latifa terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Latifa semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Latifa direjangnya diatas kepala yang masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

Latifa yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu. Buah dada putih montok kebanggaan Latifa yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekali juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus juga ngilu tak terkira bagi Latifa.

Latifa tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Latifa mulai menurun.

“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Dollah.

Latifa tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Latifa langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Latifa kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta. Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti – yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Latifa yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami  dan ditunggu Dollah. “Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.”

Latifa merasa amat jijik melihat penis Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Latifa yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Latifa menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Latifa ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Latifa segera menutupnya kembali. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Latifa dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Latifa kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka. Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Latifa yang hangat basah.

Latifa merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Dollah kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Latifa, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Latifa tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Latifa.

Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Latifa di ujung kerongkongannya, menyebabkan Latifa berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Latifa.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3)

Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Latifa merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Latifa, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki. Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan – kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Latifa yang berjilbab sehingga Latifa jadi tak berkutik sama sekali, penis Dollah yang memang besar tetap memenuhi  rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Latifa untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Latifa hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Latifa mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik penisnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Latifa dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Latifa.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Latifa berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Latifa, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Latifa yang begitu merangsang.

“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Latifa yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Latifa – menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Latifa. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Latifa – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Latifa dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Latifa berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan Ali yang sangat berotot.

“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Latifa, Ali menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Latifa mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dengan jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Latifa semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

“Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan. Gerakan paha mulus Latifa yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Latifa bagian dalam.

“Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Latifa yang semakin terlihat menonjol keluar.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (4)

“Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Latifa menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

Dollah yang kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Latifa yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Latifa segera teredam.

Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Latifa – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya. Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Latifa ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Latifa yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Latifa mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Latifa melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Latifa : dari perempuan alim berjilbab yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekaligus menikmati tubuh Latifa namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian. Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Latifa dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Latifa mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Latifa untuk di”sandwich” : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Latifa yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Latifa akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Latifa, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Latifa yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Latifa, memegangi kedua tangan Latifa di atas kepala yang masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Latifa mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Latifa, menyebabkan Latifa semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Latifa – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

Latifa masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (5)

Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Latifa, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Latifa yang tercukur rapi.

Kini Latifa mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Latifa yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Latifa menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Latifa sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Latifa, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Kembali Latifa diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Latifa tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Latifa berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Latifa diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Latifa akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Latifa melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (6)

Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Latifa sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Latifa yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

Habislah harapan muluk Latifa untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Latifa dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Latifa yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Latifa sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Latifa yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Latifa yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Latifa semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Latifa mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Latifa telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Latifa dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Latifa telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Latifa diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” penis Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Latifa.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Latifa tak sadar memekik dan melepaskan penis Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

Namun Dollah telah memegangi pinggang Latifa yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Latifa untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Latifa kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

Latifa berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Latifa yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Latifa tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Latifa, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Latifa tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Latifa yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (7)

Tubuh Latifa kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

Dollah merasakan dinding vagina Latifa kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Latifa, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

Teriakan kaget dan kesakitan Latifa teredam oleh penis Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Latifa merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

Sementara Latifa masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Latifa yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Latifa bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Latifa yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Latifa secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Latifa diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Latifa tak mungkin bergeser kemanapun.

Ali dengan perlahan mendekati tubuh Latifa dari belakang, ditariknya pinggul Latifa ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Latifa yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Latifa yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Latifa.

Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Latifa. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Latifa ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang paling intim dari Latifa, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Latifa melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

“Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Latifa menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Latifa yang kedua.

Selama ini Latifa hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Latifa tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Latifa yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Latifa semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Latifa yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Latifa jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.