MURTI 5

Hari telah berganti. Malam yang hening berlalu diusir oleh sang pagi yang hangat. Murti seperti biasa bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan suaminya. Pak Camat juga sudah bangun, tapi seperti biasa langsung menyeruput kopi hangat sebelum mandi. Murti masih repot di dapur guna memasak sarapan pagi. Pak Camat memandangi istrinya yang semakin hari bukannya bertambah tua, malah semakin muda dan berisi. Tidak terlihat tanda-tanda ketuaan pada istrinya. Semua masih halus mulus dan kencang. Sedangkan Pak Camat merasa mulai tua.

Memang antara Pak Camat dan Murti terpaut perbedaan umur yang cukup jauh. Ketika menyunting Murti, Pak Camat sudah berumur tiga puluh lima tahun, sedangkan Murti baru lulus kuliah. Sepuluh tahun selisih umur mereka. Memasuki usia perkawinan yang sudah tujuh tahun berjalan, Pak Camat kerap merasa kewalahan dengan semangat dan gairah Murti yang masih menggebu-gebu.

“Mur, cobalah belajar mengemudi. Biar kemana-mana nggak melulu diantar Gatot.” kata Pak Camat.

“Gak mau ah, Mas, bisa bahaya.” sahut Murti.

“Bahaya apanya? Lha wong cuma duduk di belakang setir kok.” jelas Pak Camat.

“Memangnya Mas Joko mau istri cantikmu ini keluyuran kemana-mana kalau bisa naik mobil sendiri?” tanya Murti.

“Kalau keluyuran untuk tujuan yang jelas, buat apa takut? Sejauh ini dan sampai kapanpun aku percaya sama kamu, Mur.” kata Pak Camat.

“Aku juga percaya sama Mas Joko.” sahut Murti.

Pak Camat membantu Murti memasang baju muslimah kebesarannya. Setelah itu ganti Murti yang membantu Pak Camat memasangkan celana. Mereka sempat saling mencolek kemaluan sebentar, tapi tidak diteruskan ke tahap yang lebih jauh lagi. Mereka harus sama-sama kerja. Di luar terdengar deru mesin mobil yang dipanasi oleh Gatot. Murti mempercepat riasan wajahnya karena sudah hampir jam tujuh, jangan sampai ia terlambat ke Madrasah. Pak Camat juga terburu-buru karena ini adalah hari senin, hari pertama yang biasanya banyak kegiatan menumpuk. Mereka kemudian keluar beriringan menghampiri Gatot yang sudah siaga di teras.

“Kalau ada waktu luang, ajari Murti nyopir, Tot.” seru Pak Camat.

“Baik, Pak. Kapan saja saya siap.” jawab Gatot.

“Oh ya, Tot, nanti siang kamu nggak usah nunggu saya.” kata Pak Camat begitu mobil sudah melaju.

“Iya, Pak.” Gatot mengangguk, matanya terus konsentrasi ke jalan.

“Memangnya mau kemana, Mas? Tumben nggak minta diantar?” cetus Murti dengan nada curiga.

“Urusan kantor.” sahut Pak Camat.

Murti diam, tidak bertanya lagi, tapi terlihat sorot ketidak-percayaan di sudut matanya yang bening.

”Sudah sampai tuh,” Pak Camat mencium kening Murti sebelum istrinya yang cantik itu turun. Murti melirik Gatot dan melempar sedikit senyum sebelum melangkah masuk ke gerbang Madrasah. Tinggal Pak Camat dan Gatot yang ada di dalam mobil.

Pak Camat menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya, lalu bicara pelan pada Gatot. “Murti mulai mencurigaiku, Tot.”

Gatot cuma tersenyum kecut sambil mendengarkan Pak Camat melanjutkan keluhannya. “Rupanya Murti mulai termakan gosip-gosip itu.”

“Itu wajar, Pak Camat. Kita hidup ini kan cuma punya dua pilihan, memakan gosip atau dimakan.” jawab Gatot tanpa bermaksud menggurui.

“Bisa saja kamu. Yang penting kamu jangan bilang apapun ke Murti ya,” kata Pak Camat.

“Saya janji menyimpan rahasia itu, Pak.” sahut Gatot.

Ada kesepakatan rahasia antara Pak Camat dan Gatot. Mereka meneruskan ke kantor kecamatan. Seperti biasa, begitu Pak Camat masuk ke dalam kantor maka Gatot langsung meluruskan jok mobil dan tiduran sambil membaca koran. Saat itulah Gatot kaget karena di halaman depan ia melihat foto ayahnya terpampang besar dengan judul AKHIR SANG JAGAL. Kalimat demi kalimat dibacanya sampai tamat kemudian ia lemparkan koran itu ke belakang. Wajahnya mengeras.

Gatot terpukul dengan adanya berita di koran yang mengabarkan kalau ayahnya telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan tinggi setelah upaya bandingnya ditolak. Menurut berita, ayahnya menolak meminta grasi ke presiden. Masih kata berita, ayahnya cuma mengajukan permintaan terakhir yakni bertemu sang anak bernama Gatot, dirinya sendiri. Ayahnya tak akan dieksekusi sebelum permintaan terakhir terpenuhi. Jadi sampai sekarang Cak Karso masih ada di penjara paling top, Nusakambangan.

Gatot menghantam jok mobil pelan. Ia sudah bersumpah untuk tidak mau lagi ketemu ayahnya. Ia tidak bisa memaafkan sang ayah yang tega menghancurkan keluarga. Ia sakit hati pada ayahnya yang telah menjual ibunda tersayang. Ibunda yang mati mengenaskan di depan mata kepalanya sendiri. Biar saja ayahnya dihukum mati. Sebenarnya Gatot sudah berkali-kali diminta oleh polisi agar mau datang ke Nusakambangan. Tapi Gatot tak mau karena di Nusakambangan banyak kawan-kawannya yang di bui. Ia tidak mau ketemu kawan-kawan begundalnya agar bayang-bayang masa suram itu tidak muncul. Biarlah yang terhukum menjalani hukumannya.

“Mas Gatot nganggur?” Gatot terkaget-kaget oleh suara halus yang menegurnya.

“M-mbak Dewi butuh bantuan saya?” tanyanya tergagap.

“Iya. Pak Camat yang nyuruh.” jawab gadis cantik yang bersinar bagai bidadari tersebut.

“Kemana, Mbak?” tanya Gatot, berusaha mengalihkan perhatian matanya.

“Ke Cemorosewu. Saya masuk ya?” tanya Dewi.

Gatot menghidupkan mesin sambil menunggu Dewi duduk dengan nyaman. Lalu berangkat. Dewi, gadis cantik berparas menarik sesekali berusaha memancing selera bicara Gatot. Tapi Gatot memang sedang tidak mood untuk bicara. Gatot cuma mengemudikan mobil dan mengawasi jalan raya menuju Cemorosewu. Dewi pun tak lagi bicara meski dalam hati kecewa karena Gatot seperti batu arca yang ada di pintu masuk desa Cemorosewu. Sampai suatu ketika Gatot akhirnya buka suara untuk pertama kalinya.

“Jalan aspalnya cuma sampe sini, Mbak?”

“Iya. Dari sini sampai Cemorosewu jalannya masih tanah.” sahut Dewi.

“Tidak ada jalan lain?” tanya Gatot.

“Tidak ada. Kenapa, takut mogok?” tantang Dewi

“Iya, Mbak. Saya juga takut dimarahi Pak Camat kalau sampai rusak. Ini kan mobil dinas.” jelas Gatot.

“Ya ampun, Gatot. Ini mobil pemerintah. Kalo rusak ya urusan pemerintah. Kamu cuma perlu bilang ke Pak Camat, tidak bakal dipotong gajimu.” terang Dewi.

“Mbak Dewi bisa saja. Ada perlu apa ke Cemorosewu?” tanya Gatot sambil tersenyum.

“Mengantar tumpukan berkas ini,” Dewi menunjuk setumpuk kertas yang ada di pangkuannya. Gatot cuma melirik sekilas karena tidak mau tergoda maksiat. Kalau dia memandang lama-lama tumpukan itu, sama saja dengan memandang lama-lama bonggol paha Dewi yang putih mulus karena gadis itu cuma mengenakan span tipis yang pendek sekali.

Cemorosewu masih tiga kilo lagi. Semakin mendekati tujuan, jalan semakin tidak karuan, membuat penumpang dalam mobil juga bergerak kesana-sini mengikuti goyangan mobil. Kali ini bongkahan payudara Dewi yang menarik perhatian Gatot, benda itu terus bergerak-gerak memamerkan kesintalannya. Konsentrasi Gatot jadi terbelah, antara melihat jalan yang berlubang atau melirik susu Dewi yang bulat besar.

“Tahu jalannya begini, aku nggak bakal mau disuruh Pak Camat.” keluh Dewi, sama sekali tidak menyadari keadaan tubuhnya.

“Iya, Mbak. Entah jalannya yang memang rusak atau pejabatnya yang korup.” sahut Gatot. Terbayang payudara putih mulus milik Murti, yang coba ia bandingkan dengan punya Dewi, yang dua-duanya langsung membuat penisnya kaku dan mengeras seketika.

Dewi tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Gatot. “Semua pejabat di negeri kita ini sudah rusak, Tot.” kata Dewi sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi gagal. Dia terlempar ketika mobil menghindari lubang besar, dan tepat mendarat di dada Gatot. Payudaranya yang besar mendesak Gatot begitu rupa hingga membuat penis Gatot makin menegang tak karuan. “Maaf ya, Tot.” bisik Dewi begitu menyadari, dia lekas menarik tubuh sintalnya menjauh.

“Nggak apa, Mbak. Saya juga minta maaf.” suara Gator bergetar.

Permintaan maaf yang tak lebih dari sekedar basa-basi, pemanis suasana hati yang penuh warna warni. Bukan hatinya Gatot, tapi hatinya Dewi. Warna hati itu mungkin sama dengan warna paras ayu yang sekarang berubah menjadi merah delima. Dan Gatot tentu tidak menyia-nyiakan manisnya delima yang duduk di sampingnya ini. Ia melirik Dewi dengan senyum penuh arti, tapi tetap berusaha menjaga wibawanya sebagai seorang laki-laki.

“Bolehkah aku main ke rumahmu, Tot?” tanya Dewi kemudian saat sudah bisa menguasai suasana hatinya.

“Boleh saja, Mbak. Tapi setiap hari, dari pagi sampai ketemu pagi, saya selalu di rumah Pak Camat.” sahut Gatot.

“Masa sih kamu kerja nggak ada liburnya?” tanya Dewi.

“Libur ada, Mbak, tapi saya selalu lembur. Maklum banyak tanggungan.” kata Gatot.

“Semua punya tanggungan, Tot. Saya juga punya banyak tanggungan. Hutang di bank menumpuk.” sahut Dewi.

Cemorosewu sudah di depan mata. Dewi memberi petunjuk kepada Gatot agar langsung menuju ke balai desa. Dewi menemui kepala desa, sedangkan Gatot seperti merasa tidak asing dengan wajah kepala desa itu. Ia teringat sesuatu yang membuatnya berdiri dengan tegang. Ia teringat salah satu wajah orang orang yang berjudi besar-besaran dengan ayahnya puluhan tahun silam. Ia juga ingat wajah salah satu begundal yang memperkosa ibundanya dan ia yakin wajah Pak Kepala Desa sama dengan wajah itu.

Ia perlahan mendekat, semakin dekat dan akhirnya bisa melihat ciri yang memperkuat keyakinannya. Tato macan Pak Kepala Desa sama dengan tato macan milik ayahnya. Perlahan Gatot meraba sesuatu di balik jaketnya dan ketika ia hendak mencabut benda itu, seketika itu pula Dewi menepuk pundaknya.

“Sudah selesai, Tot. Kita kembali ke kecamatan.” kata gadis cantik itu.

“Oh ya… Mbak Dewi jalan saja dulu.” sahut Gatot.

Maka Dewi pun berlalu, sedangkan Gatot memandang tajam pada Pak Kepala Desa, membuat laki-laki tua itu merasa grogi dan tak nyaman. Tapi Gatot tidak ingin membuat masalah. Ia cuma menunjukkan celurit kecil yang dulu membunuh ibunya pada kepala desa, membuat kepala desa berdiri gemetaran dan memandang takut pada Gatot.

“Dimana dua temanmu yang memperkosa ibuku?” bisik Gatot dengan suara bergetar menahan amarah. Ia tidak melepaskan jabat tangannya sehingga Pak Kepala Desa tidak bisa lari kemana-mana.

“Saya tidak paham maksudmu,” kata Pak Kepala Desa semakin ketakutan.

Gatot melepaskan tangannya dan mengembalikan celurit kecilnya ke balik jaket. “Aku telah menemukan pemerkosa dan pembunuh ibuku,” katanya sebelum meninggalkan balai desa, meninggalkan Pak Kepala Desa yang pucat pasi setelah sadar siapa pria yang baru berhadapan dengannya. Pria dengan sorot mata penuh amarah dan dendam, pria dengan nafsu membunuh yang besar. Pak Kepala Desa langsung terduduk lesu di kursi kerjanya.

Gatot sudah kembali bersama Dewi dan mulai meninggalkan desa Cemorosewu disertai hujan yang turun dengan lebat, membuat jalanan tanah jadi semakin becek, memperlambat laju mobil.

“Sabar ya, Mbak. Jalannya hancur.” kata Gatot.

“Tidak apa. Aku sudah telepon Pak Camat dan bilang kalau mobilnya mogok.” jawab Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” Gatot tersenyum.

“Kamu kenal dengan kepala desa itu?” Dewi bertanya.

“Tidak, Mbak. Kebetulan saja tadi ngobrol lama. Maaf kalo membuat Mbak Dewi menunggu.” Gatot berbohong.

Butuh perjuangan keras untuk menaklukkan jalan yang lebih cocok buat arena off road itu. Kaca belakang dan samping mobil sudah dipenuhi oleh tanah liat sehingga menyulitkan pandangan. Terlanjur basah, mandi saja sekalian; itulah pemikiran Gatot. Maka iapun segera meminta pada Dewi untuk mengencangkan sabuk pengaman, setelah itu pedal gas diinjaknya kuat-kuat sampai mobil melesat menembus derasnya hujan. Dewi sampai harus berpegangan pada apa saja agar tidak terlempar kesana-kemari. Beberapa kali tubuhnya berbenturan dengan bahu Gatot, dan berkali-kali pula payudara besarnya mendarat di lengan laki-laki itu. Terasa sangat empuk dan kenyal bagi Gatot hingga membuat penisnya kembali kaku dan menegak di bawah sana.

Dewi bukannya tidak mengetahui, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah pada ’penderitaan’ yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak itu. Tapi yang aneh, Dewi seperti menikmatinya. Ia dengan ikhlas terus memberikan dadanya pada Gatot, sampai akhirnya mereka tiba juga di jalan desa yang beraspal. Gatot segera mengurangi kecepatan dan memandang penuh arti pada Dewi yang terduduk lemas di sebelahnya.

“Berhenti dulu, Tot. Kita makan di warung itu.” Dewi menunjuk warung makan yang ada di sebelah kiri jalan. Wajahnya nampak memerah padam, sementara nafasnya masih sedikit tersengal.

“Baik, Mbak. Kebetulan saya lapar.” kata Gatot. Ia tidak pernah mengetahui kalau memek Dewi sudah sangat basah saat itu.

Gatot segera memarkir mobil di depan warung. Sudah jam satu siang. Gatot teringat pada Murti. Siapa yang menjemput Murti hari ini, sedangkan ia masih berada lumayan jauh dari kecamatan. Iapun meminjam handphone pada Dewi untuk menelpon Murti dan bilang tidak bisa menjemput. Gatot menarik napas lega karena Murti sudah ada di rumah. Ia mengembalikan handphone pada Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” katanya.

“Mau makan apa?” tanya Dewi.

“Sama dengan Mbak Dewi saja.” kata Gatot.

Merekapun makan dengan lahap. Dewi memperhatikan Gatot tak putus-putus, sementara Gatot tidak peduli pada apapun selain pada makanan yang ada di hadapannya. Selesai makan barulah ia sadar kalau diperhatikan. Mereka saling tersenyum. Dewi sudah akan membuka obrolan, tapi sayang seribu kali sayang mereka harus cepat sampai di kantor kecamatan. Dengan diiringi pandangan seisi warung yang mengagumi kesintalan tubuh Dewi, merekapun lekas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Setelah mengantar Dewi ke kantor, Gatot dipanggil Pak Camat ke ruangannya. Pikiran Gatot mulai macam-macam karena tidak biasanya Pak Camat memanggilnya. Setelah berada di depan Pak Camat, ia tambah bingung karena Pak Camat tampak sangat gembira, tidak marah seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

“Pak Camat memanggil saya?” tanya Gatot.

“Benar, Tot. Ada dua kabar gembira yang ingin saya sampaikan ke kamu.” sahut Pak Camat.

“Kabar apa itu, Pak?” tanya Gatot penasaran.

“Yang pertama, Murti telah resmi jadi PNS. Tadi pagi SK pengangkatannya turun.” jawab Pak Camat.

“Syukurlah. Saya ikut senang, Pak.” sahut Gatot.

“Kamu tidak ingin tahu yang kedua?” tanya Pak Camat.

“Kalau Pak Camat tidak keberatan memberitahu saya,” kata Gatot.

“Ini tentangmu, Tot. Mulai hari ini, kamu adalah calon PNS.” kata Pak Camat.

“Maksud Pak Camat?” tanya Gatot meski sudah bisa sedikit menebak.

“Kamu jadi pegawai honorer kecamatan. Tapi itu hanya sementara. Nanti kamu akan jadi PNS.” kata Pak Camat.

“Alhamdulillah. Saya tidak pernah bermimpi sampai kesana, Pak.” ucap Gatot penuh rasa syukur.

“Aku yang membantumu, Tot. Anggap saja sebagai imbalan karena kamu juga banyak membantuku.” kata Pak Camat.

“Terima kasih, Pak Camat. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Gatot tersenyum gembira.

“Sekarang pulanglah. Bilang ke Murti kalau aku ada kunjungan kerja sampai malam.” sahut Pak Camat kemudian, menutup pembicaraan itu.

Gatot bergegas meninggalkan kantor kecamatan sekaligus meninggalkan Pak Camat. Ia sangat paham kunjungan kerja macam apa yang akan dilakukan oleh Pak Camat, kemana Pak Camat melakukan kunjungan, menemui siapa, semuanya ia pahami betul sebagai sesama lelaki. Ia hanya merasa kasihan pada teman semasa kecilnya yang bernama Murti. Itulah alasan ia selalu ingin berada di dekat Murti untuk sekedar menghiburnya, baik dengan kata-kata maupun dengan tubuhnya. Kalau Pak Camat bisa selingkuh, kenapa Murti tidak. Dan Gatot dengan senang hati menemani teman masa kecilnya itu.

Begitu menginjak teras rumah Pak Camat, ia sudah disambut senyuman manis oleh Murti. “Mana Pak Camat, Tot?” tanya perempuan cantik itu.

“Pak Camat ada kunjungan kerja sampai malam,” jawab Gatot.

Seketika senyum Murti memudar, berganti dengan wajah kecewa. “Masuklah, Tot!” ia menarik lengan Gatot ke dalam rumah.

Setelah pintu tertutup, Gatot dibuat kalang kabut karena Murti tiba-tiba memeluknya sambil menangis sesenggukan. Gatot tak tahu harus berbuat apa selain membawa Murti ke ruang tengah. Di sana Gatot melihat betapa segala sesuatunya sudah dipersiapkan; makan malam bagi Pak Camat. Gatot menghela napas memahami kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan oleh Murti. Ia tanpa sadar telah membalas pelukan Murti secara lebih erat, membuat tubuh Murti yang molek berada lekat di dalam dekapannya.

“Aku siapkan semua ini buat suamiku, Tot.” lirih suara Murti diiringi isakan kecil.

“Itulah resiko menjadi istri pejabat, Mur. Sabar saja ya,” Gatot tak kuasa menahan keinginannya untuk sekedar mengelus kepala Murti yang masih tertutup jilbab. Ia juga ingin menjamah bagian lain dari tubuh perempuan cantik itu, tapi belum, sekarang bukan saat yang tepat.

Murti menyeka airmata dengan ujung lengan. Gatot menyumpahi dalam hati betapa Pak Camat telah begitu tega menyia-nyiakan seorang istri yang cantik bagai bidadari ini. Yang kesintalan tubuhnya sanggup membuat Zaskia Adya Mecca menjadi iri. Siapa yang tahan melihat pesona Murti. Seluruh komplek juga sudah mengakui sang bunga desa. Apalagi jika sudah bermuram durja seperti sekarang ini, yang sering lupa diri bahwa ia adalah wanita bersuami. Sungguh kurang ajar suami yang tega membiarkan istrinya menderita dalam sedih.

“Kuucapkan selamat, Mur. Kamu telah jadi PNS.” kata Gatot, tubuhnya sedikit bergidik merasakan tonjolan payudara Murti yang mendesak di depan perutnya.

“Aku ingin dengar ucapan itu pertama kali dari suamiku, Tot.” sahut Murti, tanpa merasa bersalah, ia makin mempererat pelukannya.

“Pak Camat sangat sibuk.” suara Gatot mendadak menjadi parau karena batang besar yang ada di balik celananya perlahan mulai bangkit dan mengeras. ”Oh ya, maaf aku tadi tidak menjemputmu.” tambahnya.

“Tidak apa. Aku diantar Aisyah. Sekarang makan saja bareng aku, ya?” tawar Murti dengan senyum menawan.

“Semakin sering bersamamu, aku semakin merasa tak bisa mengontrol diri, Mur.” kata Gatot terus terang.

”Tidak masalah, toh Pak Camat juga semakin jarang pulang. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menemaniku?” jawab Murti. Ia memang nekad bila berada di dalam rumah bersama Gatot. Sejak mereka ’melakukannya’ Murti tidak malu lagi bila duduk berdua dengan Gatot. Ia tidak risih menampakkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan sebagai wanita bersuami. Kenapa tidak? Toh mereka sudah sering telanjang berdua akhir-akhir ini.

Sungguh beruntung si Gatot, bisa melihat bentuk tubuh Murti yang bohay secara utuh. Ia melirik tajam pada sepasang paha Murti yang sengaja diongkang-ongkangkan, yang membuat baju panjangnya jadi tersingkap hingga ke pinggang, menampakkan kulit pahanya yang halus mulus serta kencang. Juga dada montok milik Murti yang terus digoyang-goyangkan selama perempuan cantik itu menyiapkan makan malam bagi Gatot.

“Sudah berapa tahun kamu menduda, Tot?” tanya Murti dengan desah menggoda.

“Aku tidak pernah menghitungnya, Mur.” Gatot tak berkedip menatap teman masa kecilnya itu, yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mulus sempurna.

“Rasanya aku juga ingin menjanda saja, Tot. Biar bebas.” kata Murti.

“Menjanda justru tidak baik, Mur. Omongan orang selalu usil.” sahut Gatot.

“Peduli setan sama omongan orang. Selama ini aku sudah kebal berbagai gosip, termasuk gosip tentang suamiku yang punya istri muda.” sergah Murti.

“Yakinlah, Pak Camat tidak seperti itu. Aku selalu bersama suamimu dan aku tahu dia suami yang baik.” kilah Gatot. Ia mengangguk meski dalam hati menggeleng. Pak Camat memang bukan suami yang baik. Pak Camat juga bukan pria yang alim. Pak Camat sama seperti dirinya. Hanya saja Pak Camat punya cara tersendiri untuk berbuat nakal. Dia adalah orang yang tahu seperti apa kenakalan Pak Camat. Dirinya jugalah satu-satunya orang yang tahu kenakalan istri Pak Camat.

“Kamu bukan anak kecil lagi, Mur.” kata Gatot.

“Memang bukan. Tapi aku ingin mengulangi masa-masa kecil yang kita jalani bersama, Tot.” sahut Murti, senyumnya makin kelihatan menggoda.

“Itu tak mungkin, Mur.” lirih Gatot, berusaha keras menekan gemuruh di dalam dadanya yang bidang.

“Siapa bilang tak mungkin?” Murti mencubit perut Gatot kuat-kuat. Awalnya Gatot masih bisa menahan, tapi karena cubitan Murti terasa makin menggigit, iapun tak punya pilihan selain balas mencubit perut Murti. Berawal dari cubit mencubit, kemudian berkembang jadi saling kejar dan saling menjatuhkan.

“Jangan memancingku, Mur.” seru Gatot sambil menggeleng. Sudah terlihat tonjolan besar di depan selangkangannya akibat gesekan tubuh montok Murti.

“Aku akan menangkapmu, Tot.” seperti tidak peduli, Murti terus menggodanya. Mereka berkejaran sampai ke dalam kamar. Di situlah Murti dan Gatot seperti anak kecil yang bodoh. Saling raba sana-sini dan cium ini-itu. Murti sendiri yang melepas baju panjang dan dalamannya, lalu merenggut paksa tubuh Gatot dalam kekuasaannya. Ia menuntun Gatot untuk melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan. Itulah momen kejatuhan Gatot.

Kesempurnaan yang dimiliki Murti ditelannya bulat-bulat tanpa ada yang tersisa. Desah dan rintih mengalir bersama cucuran keringat yang meminyaki tubuh telanjang mereka berdua, melicinkan jalan bagi setan untuk menancapkan kuku maksiat ke hati keduanya. Murti dan Gatot telah benar-benar terjatuh bersama ke dalam jurang perzinahan. Tidak ada lagi yang menghalangi kemaksiatan mereka, sekalipun itu suara azan.

Ya, saat itu Azan Isya’ terdengar, tapi telinga mereka telah terkunci oleh kenikmatan orgasme yang memuncak. Dan mencapai klimaks ketika cairan keduanya tercecer di mana-mana. Sebagian dari muntahan itu bersarang telak di rahim Murti, sisanya yang tak tertampung tumpah ruah ke atas ranjang. Murti dan Gatot menggelepar kelelahan, baik fisik maupun batin. Namun mereka tampak sama-sama puas, bahkan keduanya seperti menginginkannya lagi.

“Aku memang ditakdirkan menjadi pendosa, Mur.” bisik Gatot sambil mengelus dan meremas-remas payudara putih mulus milik Murti.

“Kita tanggung dosa ini bersama, Tot.” balas Murti sambil memeluk Gatot dan mengocok pelan batang penis laki-laki itu.

Gatot balas memeluk Murti, merengkuh istri Pak Camat itu erat-erat ke dalam dekapannya. ”Dosa yang sepertinya tidak akan pernah bisa aku tolak.” bisiknya mesra.

Murti mencoba untuk tersenyum. “Aku tak pernah sehebat ini bila bersama Pak Camat, Tot.” terangnya. Murti masih punya gairah untuk sekedar memberi suguhan terakhir pada Gatot. Tidak sedahsyat yang pertama, tapi sudah cukup sebagai penutup segala kemaksiatan yang tercatat di tangan Tuhan sebagai perbuatan laknat.

Dan Gatot dengan senang hati menerimanya, apalagi saat handphone Murti berbunyi, tanda kalau ada pesan singkat yang masuk.

”Dari Mas Joko, Tot, dia pulang telat.” terang Murti begitu selesai membacanya.

Gatot langsung memeluk teman masa kecilnya yang cantik itu dan lekas melebarkan kedua kaki Murti hingga tampaklah belahan vaginanya yang basah sempurna. ”Berarti ada waktu bagi kita untuk mengulangi sekali lagi, Mur.” bisik Gatot sambil menggesek-gesekan kontolnya di permukaan vagina sempit Murti.

”Ahh… iya, Tot.” rintih Murti saat Gatot mulai menekan ujungnya, senti demi senti benda itu mulai memasuki tubuhnya, agak sedikit tersendat karena Murti merasa kegelian, namun perlahan tapi pasti penetrasi itu terus tejadi sampai akhirnya batang penis Gatot amblas seluruhnya, masuk sepenuhnya memenuhi celah kewanitaan Murti.

”Ughh… Mur!” Gatot melenguh menikmati jepitan dan kehangatannya yang begitu menggigit.

Wajah Murti agak sedikit mengernyit, apalagi saat Gatot mulai menggerakkan penisnya maju mundur secara perlahan. Setiap tusukannya terasa begitu tajam dan dalam. Suara gesekannya terdengar begitu merdu, dipadu dengan rintihan lirih yang keluar dari bibir manis Murti, sempurnalah ritual persetubuhan mereka malam itu.

Gatot menatap payudara Murti yang berguncang-guncang pelan akibat gerakannya. Ia segera memeganginya. Sambil kembali memijit dan meremas-remasnya, mata Gatot berpesta pora menikmati tubuh indah dan putih mulus milik Murti yang sekarang berada di dalam dekapannya. Ia sungguh beruntung bisa mendapatkan wanita ini, perempuan teramat cantik dan seksi yang sudah disia-siakan oleh suaminya yang bodoh.

”Auw, Tot!” kepala Murti terlempar ke kiri dan ke kanan menerima tusukan dari Gatot yang semakin lama terasa semakin kuat. Matanya tertutup, tapi bibirnya yang merah merekah terlihat begitu indah.

Gatot segera mengecup dan melumatnya mesra. ”Mmh… Mur,” panggilnya. Murti hanya mengangguk sambil membalas ciuman itu. Mereka berpagutan sejenak sebelum Gatot mengalihkan mulutnya ke puncak payudara Murti yang membusung indah, laki-laki itu mencucup dan menjilati putingnya secara bergantian sementara pinggulnya terus bergerak cepat di bawah sana, menusuk dan mengobrak-abrik memek sempit milik Murti hingga membuat benda itu jadi semakin basah dan lengket.

”Arghh… Tot!” pekik Murti saat Gatot makin menambah kecepatannya, suara becek dua organ kelamin yang saling bergesekan kian memenuhi ruangan kamar, tentu saja sambil diiringi melodi rintihan dari Murti dan Gatot. Hawa malam yang dingin tak mampu lagi menahan panas tubuh mereka berdua, peluh keduanya sudah meleleh dan saling bercampur menjadi satu.

Gatot melipat kedua paha Murti ke atas hingga lututnya nyaris menyentuh bulatan payudaranya, dengan begitu tusukan kontol Gatot jadi makin dalam menghujam liang senggama milik perempuan cantik itu.

”Oouh… Tot, nngh… ahh!!” rintih Murti setengah memekik saat melepaskan cairan orgasmenya.

Tak peduli dengan semprotan deras dari liang sempit Murti, Gatot terus menggerakkan penisnya. Ia juga merasa sudah hampir sampai. Kedutan dan jepitan vagina Murti makin menambah daya rangsangnya. Akibatnya, tak lama kemudian biji pelirnya pun mengerut kaku lalu… dengan satu tusukan terakhir, Gatot mengantar semburan demi semburan spermanya membanjiri alat kelamin Murti yang masih memuntahkan isinya.

Mereka terus menguras nafsu masing-masing hingga Gatot yang kelelahan duluan, rebah di atas tubuh sensual milik Murti. Ia mencoba mengatur nafasnya sambil menjilati puting Murti yang terlihat menonjol indah di depan hidungnya. Murti merangkul dan mengelus-elus punggung Gatot yang bermandikan keringat penuh rasa sayang, ia membisikan kata-kata mesra ke telinga laki-laki itu, bagai seorang gadis muda kepada kekasihnya.

“Aku harus pulang, Mur.” kata Gatot saat merasakan penisnya mulai mengkerut dan mengecil pelan.

“Jangan, Tot, aku masih pingin kamu temani.” Murti menahan badan Gatot yang sudah akan beranjak meninggalkan tubuhnya.

“Maaf, Mur, nanti bisa dipergoki sama suamimu.” Gatot mencabut penisnya. ”Lagian, aku ingin cari berita ke kantor polisi.” tambahnya sambil memperhatikan cairan putih pekat yang mengalir keluar dari celah liang vagina Murti yang merah merekah, menciptakan danau kecil di atas sprei.

“Ya sudah. Kalau mau balik ke sini, pintu belakang nggak kukunci.” sahut Murti sambil merebahkan tubuh sintalnya ke atas ranjang.

Gatot menatapnya tanpa berkedip. Sebelum pergi, ia memeluk dan memagut mesra bibir teman masa kecilnya itu, bak sepasang kekasih yang bakal lama tak bertemu. “Jangan, Mur. Pak Camat pasti pulang sebentar lagi.”

Sehabis berkata, ia pun pergi dengan sejuta rasa di dalam hati. Jalan terang yang baru saja datang telah kembali berubah dengan begitu cepat menuntunnya menyusuri kegelapan. Dosa telah kembali tercipta dan itu pasti membawanya ke jurang neraka.

Gatot cuma sebentar saja masuk ke rumahnya lalu keluar lagi dengan jaket hitam gelap, celana hitam, helm hitam, dan tak lupa menyelipkan sesuatu di balik jaket. Ia memanasi motornya sejenak lalu melesat menembus rinai gerimis hujan. Malam benar-benar hitam pekat. Sesekali petir menyambar berkilat-kilat. Gatot tidak pergi ke kantor polisi sebagaimana yang ia katakan kepada Murti. Ia berbohong kepada gadis itu. Sebenarnya Gatot menuju ke desa Cemorosewu. Ada tugas maha penting yang harus secepatnya ia rampungkan demi ketenangan hati.

One thought on “MURTI 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s