BISIKAN NAFSU SYAITAN

Pernah ada sesosok setan yang lama tergiur akan catatan bersih seorang manusia. Pria itu telah lama menjadi perhatian sang Setan. Seakan Setan itu dilahirkan dari bara api untuk menguji si pria tersebut. Sedangkan si manusia sendiri, sadar bahwa cepat atau lambat makhluk gaib akan menyesatkan imannya.Khalayak takdir telah menemukan mereka. Tinggal sejarah yang mencatat perjalanan mereka.
“Kudengar kau mengaku sebagai manusia yang tak pernah berbuat dosa,” desis Setan pada kunjungan pertamanya. Dari mulutnya, menjulur lidah api ketika ia menyingkap dan mengatup lubang bergerigi tajam itu. “Tapi dari apa yang kulihat, kau sama sekali tak tenggelam ke dalam sisi tergelap dari dunia ini. Kau tak bisa mengklaim tidak pernah berbuat dosa jika kau belum berkunjung ke sana.”
Tanpa berpikir dua kali, pria itu berkata dengan kepercayaan diri yang melampaui tinggi langit ke empat. “Tunjukkan aku jalannya. Kuyakin aku bisa menahan godaanmu.”
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (1)
Lalu, dengan kecepatan yang sama seperti ia datang dari neraka, Setan itu membawa sang pria ke dalam sisi tergelap dunia; sebuah tempat dimana kau tak bisa hidup dengan mempercayai orang lain. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah berdusta dan mencari celah agar dapat menikam orang lain dari belakang, hingga kau berdiri sendiri di urutan terakhir dari siklus kehidupan di daerah itu.
“Aku tak akan menggodamu dengan bisikan layaknya setan lainnya,” ujar sang Setan. “Aku hanya menunjukkan kebenaran dunia yang lama terselubung oleh kehidupan sempurnamu, jika kau bisa hidup di sini tanpa berbuat dosa selama—minimal—satu tahun, maka aku akan mengakui kalian manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.”
Tanpa basa-basi—dan percaya diri—pria itu menyanggupinya. Tepat setelah mereka berjabat tangan, makhluk sesat itu langsung lenyap dari pandangan.
Seminggu telah berlalu. Setan belum mendapati kabar apa-apa dari pria itu. Catatannya masih bersih, ia masih belum berbuat dosa. Maka dengan perasaan kesal bercampur penasaran, ia mengunjungi sang pria, dan mendapati sesuatu yang berbeda dengannya.
“Aku membutakan mataku,” aku pria itu, ketika mendengar Setan datang dari balkoni rumah barunya. “Di luar mereka saling membunuh dan mengkhianati satu sama lain—tak ada yang sudi memimpin mereka dan tak ada yang sudi menertibkan mereka. Maka aku membutakan mataku—dengan begitu aku tak perlu terjerumus ke dalam lingkungan sesat mereka.”
“Tak perlu? Kawan, mereka saling membunuh tidak tanpa alasan. Mereka membunuh orang lain sebelum mereka yang dibunuh. Seleksi alam, kata mereka, yang terkuat—dalam hal ini yang tercepat—maka ialah yang menang. Jika kau tak ikut dalam ladang pembunuhan ini, maka kaulah yang akan dibunuh.”
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (2)
“Bagaimana jika kau salah?” tantang pria buta itu.
Setan itu tertawa kecil, dilanjutkan oleh keheningan yang cukup panjang. Mereka saling menatap, walaupun sang pria tak dapat melihat apa yang seharusnya ia lihat, namun ia dapat merasakan betapa tajamnya sorotan mata Setan menulusuk dirinya dari sisi indra yang lain.
“Baru satu minggu,” desis Setan. “Dan kurasa membutakan matamu saja tak bisa menyembunyikanmu dari pengelihatan dunia ini,” ia mengambil jeda. “Ingat, manusia, waktunya satu tahun, tapi kusarankan kepadamu untuk menyerah sekarang juga. Kau tak akan merugi jika menyerah.”
“Dan membuktikan padamu bahwa manusia adalah makhluk yang lemah? Tidak akan.”
“Kalau begitu aku akan segera pergi dari sini. Pertemuan ini tak berarti apa-apa.”Dari balkoni tempatnya masuk, Setan tersebut melompat ke udara bebas dari rumah bertingkat. Udara menggesek seluruh permukaan tubuhnya yang terbuat dari api, membuat percikan lidah api yang mengubah tekanan udara sekitar. Saat hampir menghempas keras tanah di bawah, Setan itu telah menghilang menjadi percikan-percikan api yang lebih kecil dan dalam sekejap ia berada di rumah lamanya, neraka.
Bulan pertama berlalu tanpa ada berita apa-apa dari sang manusia. Begitu juga bulan kedua. Di sarangnya, Setan mulai khawatir. Memang ia tak akan kehilangan apa-apa jika ia kalah dalam taruhan ini. Namun, mengakui kesempurnaan manusia adalah hal yang paling ia benci.
Maka Setan itu kembali mengunjungi sang pria. Saat ia membuka pintu balkoni, tak ada yang menyambutnya dengan suara dingin dan sinis. Sang manusia hanya duduk kaku di mejanya.
“Apa yang terjadi dengan telingamu?” tanya Setan, tidak dengan bahasa duniawi, melainkan dengan bahasa jiwa. Dengan demikian, si manusia tak perlu menggunakan telinganya yang telah mengucur darah mengering dari dalam gendangnya untuk mendengar suara Setan.
Manusia itu tersentak, dan langsung menoleh ke arah balkoni. Ia tersenyum saat mendapati ekspresi heran di wajah Setan.
“Aku membuatnya tuli,” jawab pria itu. “Terlalu banyak bisikan dan erangan yang menyesatkan. Aku khawatir semakin banyak yang kudengar, maka semakin dalam aku tertarik ke dalam komunitas mereka.”
Setan itu tersenyum, bara api mencuat dari sudut bibirnya. Udara sekejap berubah hangat, sang pria dapat merasakan lewat pori-pori kulitnya yang mengering. “Rupanya kau benar-benar tak ingin menyerah, heh?”
“Memang begitu seharusnya. Manusia memang sudah ditakdirkan untuk lebih mulia daripada setan. Seharusnya kau terbiasa dengan itu.”
“Tapi setan ada untuk melenyapkan doktrin itu. Selama setan ada, maka manusia tak akan pernah bisa menggapai kemuliaannya.”
“Kau salah,” desis pria itu tajam.
“Bagaimana jika kita lihat saja nanti? Sepuluh bulan, waktunya masih lama,” Setan tersebut menyeringai optimis. Kemudian melejit cepat ke luar balkoni; menghilang bersamaan dengan percik api di udara bebas.
Sejak saat itu sang Setan terus mendekam di neraka, menunggu berita tentang manusia favoritnya. Lima bulan telah berlalu, ia berniat untuk mengunjungi manusia itu lagi, namun ia mencegah dirinya sendiri untuk keluar dari neraka. Ia merasakan semakin banyak yang dikorbankan manusia tersebut untuk lolos dari dosa, maka semakin sakit rasanya untuk menerima fakta. Sebaiknya Setan itu menunggu hingga sang manusia benar-benar kalah.Akan tetapi empat bulan berlalu lagi, dan manusia itu masih bersih. Sisa satu bulan, waktu hampir habis untuk si manusia memperoleh kemenangannya. Di nerakanya sendiri, sang Setan terus menghabiskan waktu dengan mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori kulitnya yang seharusnya tahan panas itu. Tak jarang ia mondar-mandir di sekitar kursi kesayangannya, tak betah duduk diam dan menunggu kekalahan seperti orang dungu menunggu ajalnya. Ia harus melakukan sesuatu.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (3)
Sepanjang sejarah, Setan selalu melakukan hal-hal licik dan picik untuk mencapai tujuannya. Tapi apa? Kali ini ia benar-benar cemas dan kebingungan. Seharusnya ia bersikap kepala dingin sekarang, tidak gundah seperti ini. Ia adalah sang Setan, pembisik kesesatan. Pembelok kebenaran. Tapi jika waktunya sudah dekat untuk mengakui kehebatan manusia, maka kepalanya sendirilah yang akan pecah sebentar lagi.
Setan itu akhirnya berniat untuk menyerah. Lebih baik langsung menyerah daripada menjalani hari dengan rasa takut akan kekalahan. Maka ia mengunjungi manusia itu, menawarkan kekalahannya.
“Kau benar,” ujar Setan cepat setelah ia membuka pintu balkoni. “Aku kalah, aku kalah oleh seorang manusia. Jika kau izinkan, biarkan aku mengembalikan mata dan telingamu sebelum aku mengakui bahwa kaum setan memang lebih rendah daripada manusia.”
“Apa itu adalah salah satu trikmu?” tanya manusia sinis. “Jika memang demikian, maka aku tak akan mempan.”
“Bukan begitu, aku mengira bahwa permainan bodoh kita ini membuang-buang waktu, dan memang membuatmu buta dan tuli adalah sebuah kesia-siaan. Kau tak bisa merasakan apa yang ada di luar sana—“
“Di luar sana hanyalah kepicikan dan kesesatan. Aku tak perlu merasakannya.”“Benar. Tapi bagaimana jika kau kembali ke rumah lamamu? Rumah dimana kau dapat merasakan kehangatan dan kebahagaiaan yang dulu sempat mengisi hari-harimu?”
“Itu adalah masa lalu. Masa lalu tak usah diperdebatkan, yang berlalu biarlah berlalu.”Tiba-tiba pintu kamar itu tersingkap, seorang bocah dengan koper kecil yang dipeluk di dadanya langsung menerobos ruangan itu, berhenti tepat di hadapan seorang yang buta dan tuli. Pria itu dapat mengetahui kehadiran bocah itu dengan nalurinya, hanya saja tak dapat merasakan dengan indranya.“Siapa itu?” suara pria itu hanya menggema di seluruh ruangan. Tak ada yang menjawabnya.

Dengan suara yang tersengal-sengal bocah itu mencoba menjelaskan kedatangannya, tetapi percuma, sang pria tak mendengar satu patah kata pun.

Setan, yang kehadirannya tak dapat dirasakan oleh si bocah, mencoba menjadi perantara di kedua makhluk fana itu. “Ia hanyalah seorang bocah yang mencari perlindungan di rumahmu. Orang-orang yang keji tengah memburunya, ingin mencabik-cabik isi perutnya hingga keluar semua.”

wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (4)

Pria itu terdiam sesaat. Wajahnya pucat, telah berubah putih tak seperti wajahnya yang berseri di hari-hari sebelumnya. Kemudian ia berbalik, berjalan ke arah lemari yang tak dapat ia lihat, tetapi hafal betul letaknya.
“Bersembunyilah di sini,” saran pria itu, membuka daun pintu lemari. Kemudian, ia dapat merasakan ubun bocah itu yang menyenggol sikunya. Ia menutup pintu lemari itu, menghampiri pintu kamarnya, menutup jalan masuk itu, dan akhirnya kembali duduk di mejanya.
Ia terdiam seperti patung. Ketika orang-orang datang kepadanya, maka ia akan menjadi seorang buta dan tuli yang baik. Mereka tak akan menanyainya dan ia tak perlu berdusta untuk itu.
Tetapi belum ia membuat dirinya merasa tenang, Setan itu menyerukan hal yang langsung membuat bulu kuduknya merinding. “Bocah itu menangis!” seru si Setan, kepada pria tuli. “Aku dapat mendengar langkah-langkah berat mendekat dari bawah. Jika bocah itu tak menghentikan tangisannya, maka mereka akan menemukannya!”
“Aku tak dapat mendengar dan melihat, bagaimana aku bisa menenangkannya jika aku sendiri tak tahu orang-orang yang memburunya sudah berada di ruanganku?”
“Ambilah telinga dan matamu kembali. Kau bisa awas ketika tengah menenangkan bocah itu! Aku bersumpah, mata dan telingamu hilang karena ulahku. Sudah sebuah keharusan bagiku untuk mengembalikan apa yang kau miliki, dan kau tak perlu berdosa karena itu!”
Pria itu terdiam, nampak menimbang. Tapi ia tahu saat ini bukanlah saat yang baik untuk menimbang. Nyawa seorang bocah ada di tangannya, dan ia tak tahu apakah orang-orang itu sudah mendekat apa tidak.
“Baiklah, kau kembalikan mata dan telingaku, sekarang juga!”
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (5)
Pada saat yang bersamaan, sang pria dapat merasakan spektrum cahaya masuk melewati pupilnya. Sebuah sensasi merinding menjalar, dari rongga matanya langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Sensasi itu hanya sesaat, akan tetapi ia dapat merasakan seluruh tubuhnya gemetar karenanya.
Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah kamarnya, yang kondisinya sudah jauh berbeda saat ia pertama kali datang kemari. Yang ia dengar saat itu adalah, sebuah tangisan perempuan dari dalam lemari. Yang kedua kali ia dengar kemudian, pintu kamarnya didobrak oleh seorang lelaki berbadan gempal. Dari belakangnya, muncul beberapa lelaki yang tak kalah gempalnya. Semuanya berwajah bengis dan marah.
Pria itu terlambat. Benar-benar terlambat. Tapi yang tak pernah ia mengerti adalah, kenapa ada perempuan di dalam lemarinya? Padahal tadinya berisi seorang bocah.
Dia sudah akan bertanya pada Setan saat salah satu dari mereka langsung berjalan menghampiri lemari, asal suara tangisan itu. Pria tersebut tak dapat berbuat apa-apa, sebuah golok yang mengancam lehernya membuatnya bungkam dan tak berkutik. Dan pada titik ini, tak ada bantuan dari si Setan.
“Wanita ini telah mencuri dari kita!” ujar seorang lelaki bengis dengan golok di tangannya. Bahkan mereka semua memegang golok di tangan mereka.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (6)
Pada saat lelaki itu mengeluarkan wanita itu keluar lemari, terjerembap ke lantai dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, semua orang langsung menyorakinya dengan penuh semangat. Golok-golok mereka langsung diangkat, menggantung di udara seakan mereka tengah berbagi ancang-ancang yang sama. Saat mereka semua mengayunkan golok mereka ke satu arah terpadu, pria itu langsung membuang pandangannya, memejamkan matanya sekuat mungkin. Berharap matanya buta untuk kedua kalinya.
Tetapi tetap saja, teriakan miris dari wanita itu saat tubuhnya ditelanjangi telah mengiris hati sang pria. Air matanya pun meleleh lewat celah di matanya yang telah kuat mengatup.
Wanita itu berparas cantik bagaikan artis-artis Asia Timur, berkulit putih bersih, dengan badan tinggi dan langsing. Jubah panjang dan jilbab lebar yang tadi ia kenakan kini sudah berserakan di lantai kamar, tidak sanggup lagi digunakan untuk menutupi tubuhnya yang sintal telanjang.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (7)
Seorang lelaki maju ke depan, badannya tinggi besar dan kepalanya plontos. Dan satu orang lagi, juga berbadan gempal dan agak gemuk. Yang membuat si pria alim panas dingin adalah lelaki gendut yang kini duduk di pinggiran ranjang sambil memangku sang gadis yang saat itu tinggal memakai BH dan celana dalam saja.
Wanita itu menangis minta dilepaskan. Tapi si gendut tampak tidak menghiraukannya, malah dia meremas-remas payudara gadis itu yang masih terbungkus BH, juga menjilati pipi dan lehernya sambil berkata, “Diam, jangan berontak atau kupatahkan lehermu. Ini jadi tebusanmu karena sudah berani mencuri dari kami!”
Si botak yang ada di sebelahnya ikut menimpali, “Ok, sayang, sekarang waktunya berpesta. Ayo kita bersenang-senang!” Dia menyuruh sang gadis  berlutut di depannya untuk membukakan celananya lalu mengulum batang penisnya.
Sambil menangis gadis itu memohon belas kasihan, “Jangan… tolong jangan perkosa saya!” tapi belum selesai dia berkata, tiba-tiba…
“Plaakkk…” si botak menampar pipinya dan menjambak rambutnya yang panjang sepunggung, memaksa gadis itu untuk berlutut di depannya. “Cepat hisap penisku, atau kubunuh kau!” ancamnya.
Terpaksa dengan putus asa gadis itu membuka celana pengancamnya dan sekaligus menurunkan celana dalamnya. Tampaklah benda hitam panjang yang tadi tersembunyi, ukurannya sangat besar sekali. Tanpa membuang waktu, si botak segera memasukkan benda itu ke mulut sang gadis, begitu besarnya batang itu hingga tidak dapat masuk sepenuhnya. Meski tahu kalau gadis itu payah dan sangat kesulitan saat mengulumnya, si botak dengan kasar terus memaju-mundurkan batang penisnya.
Temannya yang gendut juga tidak tinggal diam. Setelah melepas semua pakaiannya, dia berdiri di samping sang gadis, menyuruh perempuan cantik itu untuk mengocok batang kemaluannya. Benda itu tidak sebesar milik si botak, tapi diameternya terlihat cukup lebar, sesuai dengan tubuhnya yang gendut.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (9)
Sekarang gadis itu dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan si botak dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan si gendut.
“Emm… memang enak hisapan gadis berjilbab, lain dari yang lain!” kata si botak sambil mendesis ringan.
“Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih!” timpal si gendut dengan muka memerah menahan gairah.
Tak lama, si botak akhirnya ejakulasi di mulut sang gadis, cairan putih kental tampak memenuhi mulut gadis itu, begitu banyaknya hingga beberapa ada yang menetes di pinggir bibirnya. Pria alim yang masih menyaksikannya bersama Setan, menangis penuh penyesalan karena sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Bersorak-sorai atas keberhasilan mereka, gerombolan orang itu kemudian melepas BH dan celana dalam sang gadis sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudaranya yang berukuran cukup besar dan kencang, serta pantat dan kemaluannya yang banyak ditumbuhi bulu-bulu lebat.
Kali ini si gendut duduk di pinggir ranjang dan menyuruh gadis itu berjongkok di depannya sambil memijiti batang penisnya dengan menggunakan payudara. Terpaksa gadis itu melakukannya kalau tidak ingin ditampar lagi, dengan kedua bongkahan dadanya ia jepit penis si gendut dan mulai mengocoknya naik turun secara perlahan-lahan.
”Ahhh,” si gendut mendengus keenakan. Ia pijit puting buah dada sang gadis berkali-kali untuk menambah rasa nikmatnya.
Sementara itu si kumis yang dari tadi cuma menonton, kini berbaring di bawah kemaluan sang gadis untuk mengulum dan menjilatinya sambil sesekali menusuk-nusuknya dengan menggunakan jari.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (8)
”Auw!” gadis itu merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak dapat menolak. Sekitar sepuluh menit ia diserang terus seperti itu, hingga si gendut memuncratkan air maninya yang kental dan hangat tak lama kemudian. Cairan putih itu membasahi wajah serta payudara sang gadis.
Mendengus keenakan, si gendut menarik diri.
Sang gadis sudah akan bernafas lega saat dari sebelah kiri, sebuah penis yang hitam dan panjang muncul untuk mengisi rongga mulutnya yang lowong. Terpaksa ia menelan dan menjilatinya. Sudah KO dua, masih sisa empat, hitungnya.
Melihat sang gadis yang terus dilecehkan, kemarahan si pria alim bangkit. Ia berusaha meronta dari cengkeraman penjaganya, tapi cekalannya rupanya cukup kencang. Ditambah badannya yang kalah besar, hingga cuma sebentar saja, ia sudah diringkus kembali.
“Kenapa, kamu tidak terima ya atas kelakuan kami? Ini sudah umum, bung! Jangan sok munafik deh… hahaha!” hardik si botak.
Mereka kembali menggerayangi tubuh gadis itu, kali ini si kumis berupaya membuka lebar paha sang gadis untuk memasukkan batang penisnya yang sudah menegang ke liang kemaluan sang gadis. Batang kemaluannya yang berukuran besar dimasukkannya dengan paksa, tapi karena liang kemaluan sang gadis masih cukup sempit hingga ia jadi kesulitan. Sementara wajah sang gadis terlihat menahan sakit yang amat sangat akibat ulah si laki-laki bejat yang kini sudah menindih tubuh sintalnya.
Sementara itu laki-laki yang tersisa terlihat mengocok batangnya sambil melihat ulah teman mereka. Dua orang maju ke depan, satu untuk mengajak sang gadis beradu lidah, sementara yang lain tangannya menggerayang untuk memilin dan memijit-mijit puting dada sang gadis.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (14)
”Ahh…” si kumis yang sudah berhasil membenamkan penisnya, mulai memaju-mundurkan pantatnya dengan cepat untuk menyetubuhi vagina sang gadis. Selama beberapa menit ia menggenjot hingga akhirnya ia mengejang sambil refleks memeluk sang gadis yang sudah melemas pasrah. Di ujung penisnya, spermanya yang kental meledak berhamburan memenuhi liang rahim sang gadis.
Penuh kepuasan, si botak mencabut penisnya. Tempatnya kini digantikan oleh si hitam yang sedari tadi asyik menjilati payudara sang gadis. Penuh nafsu ia tusukkan penisnya ke vagina sang gadis yang sudah membecek parah. Bukan saja karena cairan sperma, tapi juga karena darah dari kemaluan sang gadis yang mulai sedikit robek.
“Nih rasain, inilah akibatnya kalau berani mencuri dari kami…” bentak si hitam sambil menggigit kedua puting sang gadis kuat-kuat.
Karena takut semakin disiksa, terpaksa dengan berlinang air mata sang gadis menahan rasa sakitnya.
Hati si pria alim benar-benar serasa mau meledak melihat adegan itu, tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mau minta tolong sama Setan? Itu sama saja dengan menyekutukan Tuhannya. Dengan terpaksa ia cuma bisa mengalihkan pandangannya agar tidak melihat penyiksaan itu lebih banyak lagi.
Si hitam sudah selesai, spermanya sudah menyembur deras mengisi kemaluan sang gadis, bercampur dengan milik si kumis yang sudah masuk duluan. Sekarang tempatnya diisi oleh lelaki gempal yang tadi memegangi tangan si pria alim. Lelaki itu menyuruh sang gadis untuk menungging, berposisi anjing yang lagi kencing. Dari belakang ia memasukkan kejantanannya yang berukuran hampir 20 cm ke pantat sang gadis.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (13)
Bleesss!!! ”Auw!” sang gadis menjerit lirih, badannya tersentak sebentar, namun segera tegak kembali saat si gempal menjambak rambutnya.
”Memekmu sudah nggak enak, banyak darahnya. Aku mau perawanmu yang ini!” kata laki-laki itu sambil membenamkan seluruh batang penisnya, lalu ia menariknya lagi dengan kasar dan dengan tiba-tiba menghujamkannya lagi ke pantat sang gadis dengan sepenuh tenaga. Begitu terus berulang-ulang hingga membuat sang gadis berteriak kesakitan sampai akhirnya pingsan tak lama kemudian.
Si botak dan si kumis segera mengencinginya hingga gadis itu jadi siuman kembali, “Aaahhh… sudah… hentikan… aku mohon… jangan!” rintihnya lirih.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (11)
Mereka berdua malah tertawa-tawa menyaksikan kejadian itu. Si gendut berkata, “Sst… tenang, Manis. Jangan keras-keras! Kalo ada orang yang dengar, bisa celaka nanti! Kamu mau diperkosa juga sama orang-orang yang menunggu di luar?!” ancamnya.
Sang gadis langsung terdiam, memang lebih baik melayani keenam orang ini daripada berlusin-lusin orang yang berlalu-lalang di jalan depan. Sekuat tenaga gadis itu menahan jeritannya saat ia rasakan genjotan si gempal pada lubang anusnya menjadi kian cepat dan brutal. Sekarang ia menghisap kemaluan lelaki yang tersisa sementara si gempal terus menggenjotnya dari belakang. Payudaranya yang menggantung indah juga dimainkan oleh kedua orang itu.
Tak lama si gempal ejakulasi di dalam liang anusnya. Dari mulut sang gadis yang masih dipenuhi batang kemaluan, hanya terdengar, “Emhh… emhh… emmhh!”
Tinggal satu orang lagi. Kali ini si lelaki terakhir memangku tubuh sang gadis saat menancapkan batang kemaluannya, dia lalu menggerakkan pantatnya naik turun. Sang gadis yang sudah kelelahan cuma mengikuti gerakan itu. Dari segar terus menetes dari kedua lubangnya yang sedari tadi diperkosa.
Si botak mengambil segayung air dari kamar mandi dan menyiramkannya ke tubuh sang gadis, ”Bangun, sekarang belum waktunya tidur!” hardiknya.
Tapi sang gadis sudah terlalu lelah, ia tetap menutup matanya dan pingsan lagi tak lama kemudian.
Si botak yang melihatnya jadi kehilangan kesabaran, ”Dasar wanita manja!” dia berteriak dan mengambil golok, lalu menyabetkannya ke perut gadis itu dengan sangat-sangat cepat. Darah langsung muncrat kemana-mana saat usus sang gadis terburai keluar.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (12)
”Gila kau! Aku ’kan belum selesai!” pekik temannya yang tadi memangku tubuh sang gadis. Ia segera melempar tubuh gadis itu ke lantai begitu mengetahui kalau mangsanya sudah tak bernyawa.
”Kita cari korban lain,” kata si botak.
”Iya, rasanya aku belum puas hari ini.” timpal yang lain.
Mereka bergegas membenahi pakaiannya dan berlalu dari tempat itu, meninggalkan si pria alim berdua dengan mayat sang gadis.
***
“Sekarang kau sudah melihat sisi tergelap di dunia ini. Apakah kau bisa lari darinya? Atau apakah hal itu akan mengubahmu menjadi makhluk yang sama sekali berbeda?”
Pria itu terdiam di duduknya. Ia menghadap ke arah balkoni, dan pandangannya jauh menerobos langit biru di luar sana. Di pelupuk matanya, menggenang air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Mulutnya menganga seakan kondisi mentalnya tak ada hubungan dengan perkara buana.
“Kini kurasa kau sudah terjebak di dalam sisi tergelap ini. Berapa kali pun kau membuat matamu buta dan telingamu tuli, tetap saja semua akan sia-sia. Karena tujuan dari tindakanmu itu adalah menjagamu tetap di luar pagar. Dan kini kau terjebak di dalamnya. Ck, apa yang akan kau lakukan sekarang, heh?”Pria itu tak menjawab, sikap diamnya masih seperti seorang yang mengalami keterbelakangan mental. Kepalanya terasa berat hampir-hampir ia sendiri menjatuhkan tengkoraknya ke lantai karena tak tahan pada beban tersebut.
Sekarang si manusia bukan lagi seseorang yang bisa diajak berdebat seperti dulu. Bukan lagi seorang yang bisa membangkitkan gairah serta rasa penasaran si Setan. Maka ia mendesah, kemudian pergi saat merasa tak ada urusan lagi dengan pria itu.
wanita berhijab hardcore - mahasiswi s2 ugm (10)
Sang pria mendapati Setan itu menghilang di dalam udara tipis saat meloncat dari balkoni. Ia masih terdiam. Di kakinya, darah basah membanjiri lantai.
Keesokan harinya Setan kembali ke rumah itu. Tapi tak ada siapa-siapa. Pintu balkoni terbuka, maka ia melangkah masuk tanpa ragu. Ia memeriksa ruangan, kemudian ia yakin sang pria tak ada di sana. Ia mendekat ke arah mayat sang gadis. Lalu berlutut di sebelahnya, menatap hasil kekejian kemarin untuk beberapa saat. Kemudian, dengan kekuatan magisnya, ia mengubah mayat dan noda darah di lantai menjadi debu-debu hitam pekat yang langsung masuk ke dalam guci kecil yang terikat di ikat pinggangnya.
Akhirnya ia bangkit. Matanya mencari-cari lagi ke segala arah sebelum ia hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi, sebelum ia meloncat dari balkoni, ia mendapati sebuah pemandangan yang membuat hatinya meletus puas di bawah sana. Sekejap tanpa disadari, senyumnya mengembang. Mata berapinya menyala-nyala penuh kebanggaan menatap ke bawah.
Pria itu tewas; seluruh tulangnya remuk dan tempurung kepalanya pecah. Isi kepalanya berserakan keluar di tanah seakan-akan seluruh kebersihan dan kebanggaannya hilang bersamaan dengan merah darah yang telah meresap ke dalam sari tanah.
Sang Setan pulang ke nerakanya, membawa berita kemenangan dari dunia fana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s