IZUL – MBAK KIKO

“Halo, Izul… kamu dimana?” ibu muda itu berteriak histeris dari telepon seluler.
“Iya, Mbak… Izul sudah di pintu masuk. Mbak dimana?” tanyaku balik.
“Dimananya, Zul? Di depan loket?” tanya dia lagi.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (10)
“Oh, bukan… belum nyampe loket, Mbak. Di pintu masuk. Mbak dimana ya, kok nggak kelihatan? Izul pake baju putih.“ mataku beredar ke depan, mengamati taksi, becak, dan mobil yang berbaris rapi di luar, mencari-cari sosoknya. Ini kali pertama aku akan bertemu dengan ibu muda yang cantik tersebut.
“Oh, Izul… Aku sudah lihat kamu.” ucapnya di telepon.
Aku pun bingung. Di depan tak satupun terlihat sepasang mata yang mencari diriku.
“Izul…!!” terdengar suara wanita memanggilku dari belakang. Bukan lagi dari telepon seluler.
Aku pun membalikkan badan, terlihat ibu muda itu melambaikan tangan ke arahku. Aku bergegas menyusul, ke depan loket. “Mbak Kiko ya?” sapaku.
“Iya, Zul. Akhirnya nggak sekedar di dunia maya, hehehe…” ia tersenyum.
”Saya senang bisa ketemu Mbak.” sambil berjabat tangan, kucium kedua pipinya. ”Dek Afi mana, Mbak?” tanyaku, tadi lewat sms dia mengabarkan kalau datang bersama anaknya.
Belum sempat dia menjawab, datanglah adik kecil dengan jilbab pastel membingkai wajahnya yang imut. Dia malu-malu, tapi santun sekali. Tidak nakal.
“Halo… Dek Afi ya?” aku menyapa ramah. Seketika gadis kecil itu mencium tanganku. Kali ini dia tidak hanya tersenyum, tapi hampir tertawa, memamerkan gigi-gigi kelincinya yang lucu sekali.
“Iya. Ini Afi, Zul. Kalau kakaknya yang gendut itu nggak kuajak, kemarin udah ikut ke Bromo soalnya. Hihihi…” Mbak Kiko tertawa ceria.
Kamipun masuk ke bioskop dan lekas mencari tempat duduk. Sesekali masih kuperhatikan dia, ternyata Mbak Kiko melebihi bayanganku selama ini. Tante Retno bilang kalau dia gendut, Mbak Kiko juga sering berkata demikian. Tapi ibu muda yang saat ini duduk denganku, jauh dari kesan itu. Ya, memang tidak bisa dibilang kurus. Tapi untuk dibilang gendut, tidak cocok juga. Tubuhnya berisi, kalau tidak mau dikatakan seksi ataupun montok. Wajahnya sedikit cubby, matanya tidak terlalu lebar, tapi hidungnya mancung dan kulitnya cukup bersih.
Yang paling menarik adalah, dia sangat-sangat cantik, hampir mendekati jelita. Tidak terlalu kelihatan kalau sudah mempunyai dua orang anak. Mbak Kiko begitu lincah dan ceria, mirip gadis perawan.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (9)
“Mbak, Izul kaget lho tadi. Ternyata Mbak sangat cantik, hihihi…” candaku saat film sudah mulai diputar.
“Cantik dari mana, Zul? Aku tuh gendut, udah ibu-ibu lagi.” sahutnya.
”Enggak… bagiku, wanita seperti Mbak ini yang kelihatan menarik.” bisikku.
Mbak Kiko tertawa, ”Ah, kamu bisa aja, Zul.”
Kugenggam tangannya, dia tidak menolak. Kami terus saling bergandengan selama film diputar.
”Aku juga kaget tadi pas lihat kamu, kok ternyata bongsor ya. Hihihi…” senyumnya begitu keluar dari ruang bioskop. Dia mengomentari tonjolan penisku, tak sengaja dia menyenggolnya tadi.
Aku tertawa, “Hehe… iya, Mbak. Kalau kurus, bisa-bisa Izul nggak laku. Yang ini harus dirawat baik-baik.” sambutku.
Dia ikut tertawa, dan mengajakku mampir ke foodcourt untuk makan siang. ”Jadi gak sabar pengen cepat merasakannya,” bisiknya nakal di telingaku saat kami duduk menunggu pesanan.
”Sabar, Mbak. Bentar lagi,” kugenggam tangannya.
Dia ekspresif sekali. Gerak-gerik matanya menggambarkan kalau ibu muda yang satu ini memang tidak betah kalau hanya diam saja. Gerakan kepalanya, pandangan matanya, cara berjalannya… semuanya membuatku penasaran, apakah dia akan begitu juga di atas ranjang? Ah, mudah-mudahan saja.
Pembicaraan demi pembicaraan kami mengalir begitu saja dalam kurun waktu satu jam tersebut. Mbak Kiko banyak bercerita, aku banyak mendengarkan. Sesekali dia bertanya dan aku menjawab sambil senyum saja. Aku juga sempat mengobrol sama Afi, anak pertamanya yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SD. Begitu mengalir saja. Anak-anak selalu menarik perhatianku.
“Zul, kok Mbak Retno bisa tahu kamu?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dapat info dari siapa?” dia bertanya lagi.
Aku menggeleng, “Maaf, Mbak. Itu rahasia, hehe…” kilahku.
Mbak Kiko terlihat penasaran sekali, tapi roman mukanya tetap ceria penuh canda. Mungkin dia tahu kalau aku tidak akan memberikan keterangan apa-apa, jadi begitu dia paham dengan ekspresiku, dia ganti topik pembicaraan.
Ceritanya pun mengalir begitu saja. Tentang gunung, tentang saxophone, tentang musik jazz yang ia gemari, tentang lomba lukis yang pernah diikuti Afi di Bogor, tentang apa-apa yang mungkin bisa mengisi waktu luang kami.
Aku membalas ceritanya dengan senyum ringan saja, sesekali menjawab seperlunya. Sudah prinsipku, biar klien yang mengungkapkan jati diri mereka, sedangkan aku harus tetap menjadi misteri bagi mereka. Dengan begitu para ibu atau tante itu akan selalu mencari dan penasaran dengan keberadaanku. Dan itu berhasil. Aku sudah membuktikannya, percayalah!
“Dek Afi suka nglukis ya… kakak boleh lihat?” kugoda Afi yang sejak tadi mungkin bingung dengan percakapanku dengan ibunya.
Afi menggeliat. Tersenyum. Mungkin gadis kecil ini setipe denganku. Respon untuk mengatakan suka atau tidak ketika diajak bicara, sempurna ditutupi. Bukan datar, tapi senang mendengar dulu, baru sedikit-sedikit mengomentari.
Kami cukup lama mengobrol, sampai akhirnya… mbak Kiko memintaku untuk mengantarnya pulang. Ok, inilah saatnya. Dengan menggunakan mobil Mbak Kiko, kamipun meluncur.
Berhubung waktu pulang hujan turun cukup lebat, aku harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh untuk menghindari wilayah yang biasanya banjir. Selama perjalanan menuju rumahnya, kami terus mengobrol kesana kemari. Saat masih berada di mobil, entah dalam konteks apa, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang cukup menyentil.
“Apa kamu suka melakukan pekerjaan ini, Zul?” itu pertanyaan pribadinya yang pertama kuingat. Pandangannya tetap lurus ke depan kaca mobil. Di bangku belakang, Afi sudah terlelap tertidur sambil memeluk boneka beruangnya.
“Yah, namanya nyari uang, Mbak. Apapun harus dilakukan,” jawabku diplomatis, setelah sebelumnya agak gelagapan menerima pertanyaan yang agak sensitif itu.
“Kamu nggak bohong?” tanyanya bernada tak percaya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (8)
“Memang kenapa?” aku mulai berani memancing.
“Ya nggak apa-apa, cuma nanya aja kok. Nggak boleh?” ia menoleh ke arahku, menatap wajahku.
“Boleh,” aku tersenyum.
Kemudian kami saling terdiam selama beberapa menit.
“Mbak sendiri gimana?” tanyaku balik.
“Maksud kamu?” ia pura-pura tak mengerti.
“Dengan melakukan ini, apa mbak nggak merasa berdosa sama suami?” Ok, aku tahu, ini pertanyaan yang berbahaya. Kalau dia tiba-tiba mengusirku, aku tidak akan membantah.
“Ya kadang-kadang sih…” gumamnya pelan. “Tapi ini bukan salahku juga. Kalau saja suamiku nggak sibuk kerja, aku pasti nggak akan melakukannya.” ia menambahkan.
“Sudah lama?” tanyaku lagi.
Kali ini Mbak Kiko mengerti arah pertanyaanku, ia tampak menerawang sejenak sebelum menjawab. “Baru dua kali, dan semuanya mengecewakan.” dia lalu menatapku, ”Aku harap kali ini berbeda.” pintanya.
Aku tersenyum, “Percayalah, Mbak. Aku nggak akan berani memenuhi undangan Mbak kalau nggak yakin bisa!”
Dia mengangguk dan ikut tersenyum, “Mudah-mudahan begitu, percuma aku berbuat dosa kalau apa yang kucari tidak kudapatkan.”
”Mbak,” kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dan ia diam saja. Bahkan kemudian membalas remasan tanganku. “Aku jadi takut!” kataku lirih.
“Takut apa?” ia bertanya.
“Takut kalau Mbak akan ketagihan sama punyaku.” candaku.
“Ihh, dasar!” ia memekik sambil tangannya mencubit pahaku.
”Auw,” aku berteriak, meskipun cubitannya tidak sakit. “Cubit yang lainnya dong…” aku menggodanya lagi.
“Yee, maunya!” tapi tangannya tetap terulur ke arah selangkanganku dan mulai menarik retsleting celana jeans-ku ke bawah.
Masih dalam posisi menyetir, aku segera mengatur posisi agar ia bisa leluasa membuka celanaku. Dalam sekejap milikku sudah terjulur keluar dari celah atas celana dalamku. Milikku mulai membesar tapi belum tegang.
Tangan kanan Mbak Kiko lalu mulai beraksi dengan meremas dan memijit-mijitnya, membuat otot pejal kebanggaanku itu mulai bangun dan berdiri tegak. Rasanya nikmat sekali, aku harus berusaha keras membagi konsentrasi dengan menyetir mobil. Apalagi di luar sana hujan turun semakin lebat. Wiper yang bergerak-gerak seperti tak mampu menahan air hujan yang mengalir turun memenuhi kaca depan, sebagaimana aku tak dapat menahan rasa geli akibat tangan Mbak Kiko yang mulai mengocok pelan.
“Digenggam dong…” kataku menuntut saat Mbak Kiko hanya menjepit dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya.
“Tadi katanya minta dicubit aja,” jawabnya sambil melakukan gerakan mencubit pelan pada pangkal kemaluanku yang kini sudah mengeras tajam, membuatku menggelinjang ringan karena kegelian.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ya sudah, aku nikmati saja apa yang ia lakukan. Bahkan aku kemudian menjulurkan tangan kiri ke arah buah dadanya yang masih terbungkus baju lengan panjang tanpa kancing, sementara tangan kananku tetap memegang kemudi. Kurasakan buah dadanya sudah mengeras kencang. Meski tertutup jilbab lebar, benda itu terasa empuk dan sangat kenyal sekali. Ukurannya juga begitu besar, membuatku jadi makin bernafsu meremasnya. Maka mulailah acara saling meremas dan memijit di dalam mobil, di tengah hujan deras yang masih mengguyur di sepanjang jalan.
Tampaknya Mbak Kiko mulai terangsang dengan gerayangan tanganku pada buah dadanya. Ia memintaku untuk melakukannya di bagian tubuhnya yang lain, dengan tangannya ia menuntun jariku untuk menuju ke sela-sela pahanya yang sengaja dibuka agak lebar. Roknya sudah ia tarik ke atas sebatas pinggul, menampakkan kulit pahanya yang putih mulus dan sangat licin sekali. Maka jari-jari tangan kiriku pun segera beraksi, meraba tepat di bagian depan celana dalamnya yang menyembul hangat dan sudah mulai basah.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (7)
Tapi pandanganku tetap harus ke depan, ke arah jalan yang mulai masuk ke kompleks perumahan. Di sampingku, Mbak Kiko dengan enaknya terus menggeliat-geliat sambil mendongakkan kepalanya, menikmati segala gelitikanku pada bagian luar cd-nya, tepat di bagian celah kemaluannya. Sementara tangan kanannya kini tak lagi memijit-mijit, tapi sudah menggenggam batang penisku yang makin meradang karena terus dikocok-kocok olehnya.
Aku menarik tanganku dari sela paha Mbak Kiko ketika mobil sudah mulai masuk ke jalan menuju rumahnya. Ia sempat mendesah ketika aku menghentikan aksiku, terlihat nanggung dan kecewa.
“Sudah sampai, Mbak.” kataku memberi alasan sekaligus mengingatkan dia.
Mbak Kiko segera membenahi pakaiannya dan kemudian gantian membereskan celanaku yang sudah setengah terbuka. Kemaluanku yang belum sepenuhnya lemas, agak sulit untuk dibungkus kembali.
“Bandel nih!” gerutunya lucu.
“Makin bandel makin ngangenin, Mbak… hehehe.” aku tertawa melihat ia kesulitan memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam celana.
”Kegedean, Zul.” gumamnya rikuh.
“Sudah biarin, nanti juga dikeluarin lagi.” sahutku.
Dia lalu kusuruh turun duluan menuju teras sambil menggendong Afi yang masih terus terlelap. Aku kemudian memasukkan mobil ke garasi, lalu membetulkan celanaku dan kemudian bergegas keluar menuju teras, menyusulnya. Jilbab dan baju Mbak Kiko terlihat agak basah oleh air hujan.
Kami lalu segera masuk ke dalam rumah. Inilah pertama kalinya aku melakukan kencan di rumah, biasanya di hotel atau villa. Untuk Mbak Kiko aku memberi pengecualian, tante Retno sudah mengatakannya kemarin, ibu muda itu cuma mau melakukannya disini, di rumahnya. Ok, ya udah. Aku jalani aja.
Memang aku jadi sedikit canggung dan kurang nyaman, takut dipergoki oleh penghuni yang lain. Tapi jaminan dari Mbak Kiko, juga saat menatap kaos panjangnya yang basah, yang menampakkan bagian gumpalan buah dadanya, membuatku jadi berpikir lain.
Aku kembali terangsang melihat tubuhnya. Maka setelah ia menaruh Afi di kamar dan keluar menemuiku yang menunggu di ruang tengah, segera kupeluk tubuhnya dan kami pun lalu tenggelam dalam ciuman yang hangat dan penuh gelora.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibirnya. Sudah sejak tadi aku merindukan percumbuan seperti ini, sehingga nafasku terdengar memburu saat kami berciuman dengan lahapnya. Tanpa perlu disuruh, mulai kujamah bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Terutama dada dan pantatnya yang membulat, yang sepanjang jalan tadi selalu membuatku bergairah.
Mbak Kiko pun langsung membalas, ia remas cepat milikku yang sudah mengeras di balik celana pantalon yang kukenakan. ”Ehm, Zul…” ia merintih dalam dekapanku.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (6)
Aku makin bernafsu, sambil tetap melumat bibirnya, kutekan telapak tanganku ke celah pahanya yang tertutup rok panjang lebar, meremas daging lembut yang ada di sana. Aku sudah akan mencopotnya saat Mbak Kiko berbisik di telingaku, ”Jangan disini, nanti ada orang yang lewat.”
Ah ya, benar. Maka cepat kulepas pelukanku.
“Kita ke kamar aja.” katanya sambil menarik tanganku, mengajakku pergi ke kamar tidurnya. Aku menurut saja, kuikuti dia sambil menggandeng pinggulnya.
Di dalam, birahi kami memanas kembali. Ciuman pun berkembang menjadi acara saling remas, saling tekan, saling rangsang, dan puncaknya; kami berdua lalu saling membantu untuk melepas pakaian satu sama lain dan membiarkannya terserak di lantai.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Suara tempaan airnya menyamarkan desahan dan lenguhan yang keluar dari mulut kami berdua. Tubuh bugil kami bergelut dengan penuh gairah di atas ranjang. Mbak Kiko yang berjilbab, ternyata besar juga nafsunya. Ia meminta ijinku untuk melakukan oral seks setelah beberapa saat tubuh telanjang kami menempel erat.
”Boleh ’kan, Zul?” pintanya sambil memegangi penisku.
Tentu saja kuijinkan.  Siapa juga yang mau menolak.
Ia dengan penuh nafsu segera melumat dan mengisap kepala kemaluanku yang terlihat bulat membonggol dan tampak licin mengkilat akibat lumuran cairan precum. Mbak Kiko mengaku, ia suka dengan milikku yang katanya berukuran besar dan panjang. ”Pasti aku akan puas nanti!” yakinnya sambil terus melakukan permainan mulut.
Aku berusaha mengimbangi dengan merangsang bibir kemaluannya dengan jariku. Saat itu posisiku setengah rebahan dan menyandarkan kepalaku pada sandaran springbed. Sedangkan Mbak Kiko berbaring miring setengah telungkup di samping pinggangku. Ia menggeliat ketika jari tengahku mulai menerobos masuk ke celah kemaluannya, sementara jempolku bermain-main pada klitorisnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (5)
“Ouw…” jeritnya tertahan, sedikit menjengit tapi terlihat suka.
“Kenapa, Mbak, enak?” tanyaku sambil menusukkan jari tengahku lebih dalam dan memutar jempolku lebih keras pada tonjolan kecil di atas bibir kemaluannya.
”Ahh, Zul…  aku.. ehss… ughh…” kembali mulutnya bersuara, tapi kali ini lebih riuh dan lebih mirip desisan. Sejenak mulutnya terlepas dari batang kemaluanku, tapi sesaat kemudian ia menunduk kembali dan melumat habis batangku hingga hampir ke pangkalnya, dan mengisapnya sedemikian rupa sampai aku merinding kegelian. Pantatku sempat tersentak-sentak karena saking nikmatnya.
Gila! Kelihatannya aja lugu dan alim, ternyata jago juga nyepong kontol. Aku takjub dan benar-benar tak menyangka. Ditambah tubuhnya yang masih utuh sempurna, resmilah Mbak Kiko jadi salah satu langganan favoritku.
“Kenapa, enak ya?” katanya sambil melirikku, lalu melanjutkan kulumannya kembali. Sepertinya ia ingin membalas atau mungkin ingin mengimbangi perbuatanku.
Selanjutnya kami tak sempat bicara sepatah kata pun karena terlalu serius untuk saling melakukan dan menikmati rangsangan. Mataku terpejam mencoba menikmati setiap hisapan mulutnya, sementara jari-jari tanganku terus asyik bermain-main di sekitar liang kewanitaannya.
Berbeda dengan milikku yang kasar dan lebat, rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Mbak Kiko tak terlalu lebat, terlihat halus dan tercukur rapi. Tentu saja karena dia wanita yang cinta kebersihan. Aku jadi suka sekali mengusap-usapnya. Mbak Kiko berusaha mengimbangi dengan menciumi juga bulu-bulu yang tumbuh di sekitar selangkanganku. Saat sudah tidak tahan lagi, barulah dia melepaskannya.
”Ayo, Zul, sekarang!” ia meminta sambil bangkit dari posisi tengkurapnya, lalu mulai mengangkangi pinggulku, dan kemudian menelusupkan batang penisku yang sudah menegang keras ke sela-sela pahanya.
Dengan posisi antara duduk dan bersandar, aku mencoba membantunya dengan sedikit mengangkat pantatku ke atas. Maka sedikit demi sedikit amblaslah kepala kemaluanku ditelan mulut kecil yang ada di selangkangannya. Terasa sekali liang itu begitu ketat, lembut menjepit sepanjang batangku. Rasanya hangat, lembut dan agak-agak terasa kesat. Tipikal kewanitaan yang jarang sekali dipakai.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (4)
Kenikmatanku semakin terasa ketika kepala penisku yang sensitif mulai menyentuh ujung dinding kemaluannya. Sejenak Mbak Kiko memutar-mutar pinggulnya seolah merayakan pertemuan total itu. Secara spontan kami berdua serempak mengeluarkan rintihan kenikmatan yang sejak tadi tertahan, ”Ooughhhh…!!!”
Mbak Kiko tampak meresapi jejalan batang penisku dan gesekan urat-urat yang ada di sekujur permukaannya. Mulutnya mendesis-desis seperti orang kepedasan. Beberapa kali jarinya berusaha menyentuh bagian luar bibir kewanitaannya, seperti mau menggaruk seolah kegelian, namun tak bisa.
Ia kemudian mengatur posisi berlututnya sedemikian rupa hingga jadi lebih bebas bergerak. Beberapa saat kemudian, setelah kami sama-sama siap, Mbak Kiko mulai menggenjot tubuhnya naik turun. Makin lama genjotannya menjadi semakin cepat, sehingga membuat buah dadanya yang besar jadi tampak berayun-ayun indah di depan wajahku.
Mulutku segera menangkap putingnya yang sudah mengeras tajam dan langsung melumatnya habis, dua-duanya, kiri dan kanan.
”Auw!” ia menjerit tertahan, namun aku tak mempedulikan. Terus aku mengulum kedua bukit padatnya itu secara bergantian. Sementara di bawah sana, pinggulku terus menyentak-nyentak mengimbangi genjotannya di atas tubuhku. Terasa sekali rasa nikmat mulai menjalar di sekitar pangkal dan sekujur batang kemaluanku. Suara hujan di halaman depan makin membuatku bergairah.
Entah sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini, terus menggoyang dan saling memperdengarkan rintihan dan desah penuh kenikmatan. Tubuh Mbak Kiko makin meliuk dan menggeliat-geliat di atas tubuhku. Kedua pahanya yang sejak tadi mengangkang dan bertumpu di tempat tidur, mulai kuelus-elus. Dan rupanya ia menyukainya, karena lenguhan kenikmatannya makin keras terdengar.
Elusanku lalu bergeser ke bukit pantatnya. Tapi kini aku tak lagi mengelus, tanganku lebih sering meremas di bagian itu, membuat Mbak Kiko makin menggelinjang geli akibat ulahku. Tak lupa juga terus kucucup dan kujilati kedua putingnya hingga membuat dia merintih semakin keras. Kami mengakhiri permainan ketika Mbak Kiko mulai menunjukkan tanda-tanda akan mencapai puncak birahi.
Aku segera mempergencar tusukan dan hentakan dari bawah, sementara dia memeluk kepalaku erat-erat hingga membuatku terbenam dalam di belahan dadanya yang curam. Kedua kakinya juga menjepit erat pinggangku, membuat posisi bersandarku jadi agak merosot ke bawah. Beberapa menit kami masih sempat bertahan dalam posisi itu sambil terus berpacu menuju puncak kenikmatan.
“Zul… Izul… ahh… aku…” rintihnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (2)
“Iya, Mbak… keluarin aja… jangan ditahan…” sahutku.
”Ahh… auw!” mendadak rintihannya berubah menjadi keras.
Segera kuangkat dan kubalik tubuhnya, lalu kembali kutindih dia. Kini aku yang berada di atas, kugenjot tubuh mulus Mbak Kiko habis-habisan sampai kami berdua akhirnya mencapai orgasme secara hampir bersamaan.
”Mbak… ahh… ahh…” aku mengerang-ngerang ketika kurasakan air maniku mulai menyembur kencang. Ada sekitar empat kali aku menembakkannya. Alirannya terasa nikmat di sepanjang batang kemaluanku. Rasanya berdesir-desir menggelikan.
”Ehm, Zul…” Mbak Kiko pun kulihat ikut menikmati puncak birahinya. Wajah cantiknya memerah dan matanya terpejam, sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa nikmat yang menjalar di seluruh pusat kewanitaannya.
Pelan kulumat bibirnya yang basah memerah, dan kami pun melengkapi puncak kenikmatan ini dengan ciuman yang amat dalam dan lama. Sesekali tubuh kami tersengal oleh sisa-sisa letupan kenikmatan yang belum sepenuhnya reda.
Suara riuh hujan tak terdengar lagi. Hanya bunyi tetes-tetes air yang masih berdentang-dentang menimpa atap teras depan. Entah sejak kapan hujan mulai reda. Kami terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Selama beberapa saat, kami terus berbaring berpelukan di atas ranjang. Masih dengan telanjang dan alat kelamin menempel erat. Aku berbaring di atas tubuh Mbak Kiko yang telentang. Tanganku mengusap-usap tonjolan buah dadanya yang bergerak-gerak halus seiring tarikan nafasnya. Sementara ia bermain-main di sekitar pantat dan buah zakarku yang terasa basah oleh ceceran sperma dan cairan kewanitaannya.
“Gimana, Mbak, suka dengan permainanku?” tanyaku meminta pendapatnya.
“Suka banget!” dia mengangguk. ”Nggak salah Mbak Retno merekomendasikanmu.” tambahnya genit.
“Aku juga, Mbak…  selain cantik, Mbak juga sangat seksi dan begitu menggairahkan!” kataku.
“Ah, kamu bisa aja,” ia melenguh manja.
“Beneran… nih buktinya.” kugerakkan penisku yang mulai kembali menegang di dalam liang vaginanya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (1)
”Auw… sudah ah… geli, Zul!” ia tergelak, dan kami lalu tertawa bersama. Sementara tanganku terus meremas tonjolan buah dadanya, meremas dan terus meremas hingga akhirnya kami kembali bergelut di atas ranjang, mempersiapkan permainan berikutnya.
Tapi untuk ronde yang kedua ini, kami hanya melakukannya sebentar saja karena suami Mbak Kiko sudah waktunya pulang dari kantor.
“Makasih ya, Zul…” katanya saat kembali merasakan orgasme, entah untuk yang keberapa kalinya di hari itu, di pertemuan pertama kami. Sementara aku baru saja menyemburkan spermaku yang kedua, sekaligus juga yang terakhir.
”Sama-sama, Mbak.” sahutku sambil mencium bibirnya.
Kami pun berpisah. Sesaat sebelum aku pergi, Mbak Kiko memberiku satu bungkus jajanan untuk oleh-oleh, “Maaf ya, Zul… cuma ada ini.” katanya. “untuk bayaranmu, besok aku transfer.” tambahnya lagi.
“Eh, iya… nggak apa-apa, Mbak… ngak usah buru-buru.”sahutku. Kupandangi ia yang kini kembali mengenakan baju panjang dan jilbab lebar, tidak lagi telanjang seperti tadi. Dengan pakaian seperti ini, tentu tidak akan ada yang menyangka kalau Mbak Kiko sebenarnya adalah wanita kesepian yang butuh kehangatan.
Dia memencet hidungku, ”Burungmu enak, kapan-kapan kupanggil lagi ya…” bisiknya.
”Siap, Mbak… anytime deh pokoknya buat mbak.” aku melambaikan tangan, berharap bisa secepatnya bertemu lagi dengan bidadari berjilbab ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s