USTADZAH DILA 4 : PERAMPOK

Siang itu entah kenapa, Ustazah Dila yang tertidur setelah menyusui Andra, anaknya yang baru berumur satu tahun di kamarnya sepertinya mendengar suara aneh dari ruang tamu.

Ia segera bangun merapikan jilbab putih dan pakaian dinas PNS-nya yang berwarna coklat muda belum sempat diganti ketika pulang mengajar kemudian mengintip apa yang terjadi. Dengan membuka tirai kamarnya sedikit ia dapat melihat ke ruang tamu yang berada di depan kamarnya.

Rupanya di ruang tamu ada seseorang bertopeng yang sedang berusaha masuk ke rumahnya melalui jendela depan. Pasti orang itu ingin merampok, pikir Ustazah Dila melintas dalam otaknya. Ia segera menyambar tas kerjanya dan mencari handphonenya, tapi ia terkejut ketika mengetahui handphonenya mati karena waktu pulang dari SD tempatnya mengajar ia berencana meng-charge-nya di rumah. nya lagi ia lupa mengunci kamarnya, ketika ia mendekat ke pintu kamar untuk menguncinya, daun pintu sudah dibuka dari luar.

Sekarang di depan pintunya telah berdiri seseorang bertopeng yang menggenggam pisau dan bersiap mengancamnya. “Jangan bergerak atau kau dan anakmu ku bunuh!!”gertak si perampok.

“Jangan sakiti anakku, ambil saja apa yang benda yang kamu mau, tapi jangan sakiti anakku”, seru Ustazah Dila gugup dengan wajah ketakutan. Ia segera mengendong Andra yang masih tertidur ke dalam dekapannya.

‘Kalau mau selamat turuti kata-kataku’ kata si perampok.
‘Taruh saja anakmu di kasur, kau ikut aku’ lanjut si perampok.
Dengan ketakutan Ustazah Dila menuruti perintah si perampok, ia kembali menaruh anaknya kembali di tempat tidur, sepertinya anak tersebut tidak terganggu dengan suasana rumahnya yang mencekam.

Jantung Ustazah Dila terasa berdebar-debar menghadapi situasi yang menegangkan itu. Tiba-tiba si perampok menariknya keluar kamar tidur lalu membawanya menuju ruang tamu kemudian melemparkan tubuh Ustazah Dila ke sofa. Ustazah Dila yang tidak dapat berjalan cepat karena rok panjang yang dikenakannya semata kaki akhirnya terjerembab ke sofa.
Perampok itu menarik jilbabnya sehingga wajah Ustazah Dila mendekat ke mukanya. ‘Jangan macam-macam kalau mau selamat’ gertak si perampok.
Tak terasa karena menahan ketakutan yang sangat air mata Ustazah Dila yang sejak tadi berkaca-kaca mulai membasahi pipinya, wajahnya yang cantik di usia 26 tahun itu menunjukkan ketakutan yang amat sangat.

Perampok itu kemudian menyumpal mulut Ustazah Dila dengan taplak dan mengikat tangan dan kakinya dengan tali yang dibawanya. Dalam keadaan terikat tubuh Ustazah Dila di masukkan ke dalam kamar tamu lalu dikunci. Dari dalam kamar tamu itu Ustazah Dila dapat mendengar perampok itu seperti mencari sesuatu di rumahnya.

Terlihat beberapa kali bayangan perampok itu mondar-mandir di depan pintu kamar tamu.Pikiran Ustazah Dila berkecamuk memikirkan apa yang akan Ustazah Dilakukan perampok dengan dirinya dan anaknya.

Ia sudah memasrahkan bila harta bendanya di ambil perampok itu. Tak lama kemudian pintu kamar tamu terbuka, si perampok masuk dengan membawa segelas air.
‘Minum sampai habis’ perintah perampok itu sambil membuka sumpalan mulut Ustazah Dila.
“Apa ini?”, tanya Ustazah Dila,
“Minum!!!…Abisin!!!”, hardik si perampok.
Karena takut Ustazah Dila akhirnya terpaksa meminum air di dalam gelas itu sampai habis. Ia memang merasa haus ketika dikurung di dalam kamar tamu. Entah air apa itu, rasanya seperti mencekik tenggorokannya, dan membuat kepala pusing.
Ustazah Dila pun tak sadarkan diri.

Ustazah Dila terbangun dan mendapati dirinya berada di atas kasur dan kaki tangannya sudah bebas dari ikatan. Ia pun segera berlari ke kamarnya, di dalam kamar ia melihat anaknya masih tidur dengan nyenyaknya. Pikirannya bingung dengan keadaan ini, ia segera membuka lemari tempat ia menyimpan perhiasan, ia terkejut melihat perhiasannya masih ada di tempatnya dan dalam keadaan utuh.

Apakah tadi ia benar-benar di rampok atau ia hanya tertidur di kamar tamu, otaknya menjadi pusing memikirkan banyak hal sekaligus. Setelah berusaha menenangkan dirinya Ustazah Dila pun berniat keluar rumah sambil membawa anaknya. Tapi langkahnya urung ketika dari sudut matanya ia melihat sesosok bayangan di belakangnya.

Ternyata bayangan itu adalah si perampok. Perampok itu menarik jilbab Ustazah Dila sehingga kepalanya tertarik kebelakang. Belum sempat Ustazah Dila menyeimbangkan posisi berdirinya yang agak susah karena roknya yang panjang semata kaki, tiba-tiba ia merasakan mulutnya dibekap dengan sangat kencang sehingga ia kesulitan bernapas.

“Diam, atau kamu mati!” Ustazah Dila tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Perampok itu kembali membawa Ustazah Dila ke kamar tamu lalu mendudukkannya di kursi.

Perampok itu mendekat dan mulai melepaskan kancing baju dinas PNS berwarna coklat muda itu sehingga bagian depan tubuh Ustazah Dila terbuka dan memperlihatkan buah dada berukuran32B.
Sejenak perampok itu memandangi buah dada Ustazah Dila yang tertutup oleh BH putih berenda. Perampok itu meraba-raba buah dada Ustazah Dila yang masih tertutup BH itu, tangan kasarnya segera dapat menemukan kedua puting susu dan menariknya dengan sangat kuat.
Ustazah Dila menjerit kecil ketika merasakan sakit pada puting susunya. Kepalanya yang ditutupi jilbab bergerak menggeleng tak karuan melampiaskan kesakitannya.

Tapi apa lacur? Perlahan-lahan Ustazah Dila merasakan sakit pada puting susunya berkurang dan ia merasakan perasaan aneh dari dalam dirinya.
Didalam pikirannya Ustazah Dila merasa melayang-layang dan merasakan suatu hal yang sangat indah.

Hatinya juga merasakan sesuatu hal yang indah dan merasa berbunga-bunga. Tanpa Ustazah Dila sadari ia tersenyum kepada si perampok. Perampok itu membalas senyuman Ustazah Dila, karena ia tahu bahwa obat perangsang berisikan mantra pelet yang sangat kuat yang ia minumkan kepada Dila telah bereaksi.

Perampok itu kemudian mendekat dan membelai-belai jilbab Ustazah Dila. Karena pengaruh obat perangsang berisikan pelet tersebut Ustazah Dila lupa bahwa ia merupakan korban perampokan, dan sebentar lagi akan menjadi korban pemerkosaan, akal dan pikirannya telah mati dan remasan serta jepitan perampok pada puting susunya telah membangkitkan nafsunya ya..birahinya telah keluar dengan sangat menggebu-gebu, lupa bahwa ia seorang guru pada sebuah sekolah dasar negeri, bahwa ia seorang perempuan yang berjilbab.

Ustazah Dila sudah tak kuasa lagi menahan birahinya yang meledak-ledak ingin dipuaskan. Dengan napas memburu penuh nafsu Ustazah Dila mendekatkan wajahnya ke arah si perampok ketika jilbabnya ditarik ke atas.

Ketika si perampok menarik jilbabnya lebih mendekat bibirnya segera mencium bibir Ustazah Dila yang merekah menahan birahi, Ustazah Dila membalas ciuman si perampok, dia tidak bisa menahan gelombang birahi yang menerpanya, terlebih saat itu tangan perampok sedang menggerayangi segenap penjuru tubuhnya. Kedua telapak tangan perampok itu berhenti di pantat Ustazah Dila dan masing-masing mencaplok satu sisi.

Diremasnya kedua bongkah bokong itu dari luar rok panjang semata kaki berwarna coklat muda itu. Bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang berasal dari kalangan berada, Ustazah Dila merawat benar tubuhnya dengan senam dan diet. Ciuman perampok makin merambat turun ke leher jenjangnya setelah melampirkan jilbab putih Ustazah Dila ke belakang lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudara Ustazah Dila yang BHnya telah dilepaskan.

Ustazah Dila sudah tidak bisa menahan diri lagi, birahi telah membuyarkan akal sehatnya. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Ustazah Dila. Tangan satunya turun meraba-raba rok panjang semata kaki korbannya dan berusaha menurunkan resletingnya. Ustazah Dila seperti mengerti kemauan si perampok, ia kemudian berdiri dan membuka resleting yang berada dibelakang roknya diikuti rok dalemannya dan tak lama kemudian terpangpanglah paha dan kaki mulusnya, kemaluannya masih ditutupi oleh CD putih berenda.

Kemudian si perampok membuka resulting celananya dan menyembullah penis yang sudah mengeras itu di depan wajah Ustazah Dila. Matanya melotot melihat penisnya yang hitam berurat dengan ujungnya disunat menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik suaminya.

“Gede kan Sayang, pasti punya suamimu ga segede gini kan !” katanya dengan bangga memamerkan senjatanya itu.
“Nah, ayo sekarang servisnya mana !”.
Ustazah Dila tersenyum memandangi penis si perampok lalu dengan tangan dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan.
Si perampok menarik jilbab Ustazah Dila agar wajahnya mendekat ke penis perampok.

“Servis mulutnya mana Sayang, masa cuma tangan doang sih !” suruhnya tak sabar.
Kembali Ustazah Dila tersenyum, pelan-pelan memajukan wajahnya sambil memandang penis perampok, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu dengan ragu-ragu, karena Ustazah Dila belum tahu caranya melakukan oral sex seperti keinginan si perampok, sehingga perampok pun menjadi gusar.

“Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah disentil-sentil gitu !” bentaknya “gini nih yang namanya pake mulut !”, seraya menjambak jilbab Ustazah Dila dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya.

“Mmmhhppphh…!!” hanya itu yang keluar dari mulut Ustazah Dila yang telah dijejali penis. Mulutnya yang mungil itu membuatnya tidak bisa menampung seluruh batang itu.
Nampak ia sangat menikmati sex gaya barunya.
“Ayo, yang bener nyepongnya, nah kaya’ gitu, kamu cepat belajar Say,
pantes murid-murid kamu cepat pintarnya diajarin kamu”. Perampok mendesah merasakan belaian lidah Ustazah Dila pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya.

“Uuhhh…gitu dong Say, enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Ustazah Dila yang masih dibalut jilbabnya dan memaju-mundurkan pinggulnya. Ustazah Dila merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir perampok yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai perampok menekan kepalanya sambil melenguh panjang.

“Ooohh…keluar nih Say, isep…isep…jangan dimuntahin, sekalian bersihin peju di penisku!” perintahnya dengan nafas memburu. Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tidak mau, Ustazah Dila harus menelannya, rasanya yang asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Ustazah Dila langsung terbatuk-batuk begitu perampok mencabut penis itu dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah
mencari udara segar, Ustazah Dila baru saja lulus dalam ujian blow job pertamanya. Si perampok terus saja menahan memegangi jilbab Ustazah Dila agar wajahnya tetap di depan penisnya

“Sudah…cukup Sayang…” Ustazah Dila menggoda si perampok.
“Cukup apanya Say, baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh!” ujar perampok sambil berjongkok di depannya, tangannya meraih ujung seragam coklat muda PNS Ustazah Dila seraya hendak menyingkapnya.

“Jangan cepat-cepat Say…” ucapnya mengiba sambil mengerdipkan matanya ke arah perampok yang akan menaikkan baju dinasnya.
Tangan si perampok menyingkapkan baju dinas yang Ustazah Dila kenakan, kemudian melepaskan baju itu dari pemiliknya.

Tinggallah Ustazah Dila hanya mengenakan jilbab putihnya seluruh pakaiannya telah dilucuti, keringat masih membasahi kulit putihnya yang tak terlindungi lagi.Kini mulut perampok dengan rakus menjilat dan menyedot puting Ustazah Dila yang merah dadu itu, setelah beberapa saat tangannya yang menggerayangi payudara yang lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menjejahi kemulusan paha dalam Ustazah Dila sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yang tertutupi rambut yang tercukur rapi.

Ustazah Dila terlihat senang menerima perlakuan itu, dia mendesah saat tangan itu mulai meraba-raba kemaluannya dari luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan perampok terjepit diantara kemulusan kulitnya.

Hal ini membuatnya semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya melalui pinggiran vagina dan menyentuh bibir vaginanya yang telah becek.
“Hehehe…asik-asik aja yach dientot” ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan Ustazah Dila yang basah itu. Ustazah Dila hanya mengangguk-anggukkan kepala yang masih ditutupi jilbab putih.
“Buka kakinya Say !” perintahnya pada Ustazah Dila sambil mengelus-elus jilbabnya karena keasikan di oral Ustazah Dila merapatkan pahanya. “Ayo buka … !” katanya lagi dengan lebih keras.

Dengan perlahan-lahan, Ustazah Dila mulai membuka pahanya dan memperlihatkan kemaluannya yang berbulu cukup lebat tapi tertata rapi kepada perampok yang berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini di depan lelaki seperti itu.

“Wah…ternyata kamu nggak cakep mukanya aja, memeknya juga !” katanya sambil menatapi daerah pribadi itu dan mengelusnya.
Tak lama kemudian perampok pun melumat vaginanya dengan ganas, diserangnya setiap sudut vagina itu mulai dari bibir hingga klitorisnya disertai gigitan-gigitan kecil,
tangan kanannya meraih payudaranya dan meremasinya, sedangkan yang kiri
menelusuri kemulusan pahanya.

“Uh…ah…uhh…ah, ahhh… !” desah PNS berjilbab putih itu dengan tubuh menggeliat-geliat menahan rasa geli yang bercampur nikmat luar biasa itu, suatu perasaan yang tidak bisa ditahan-tahannya lagi.

Tubuh Ustazah Dila telah basah oleh keringat, wajahnya yang memerah tampak makin menarik dan serasi dengan jilbab putih yang dikenakannya dan nafasnya makin memburu. Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua, secara reflek dia merapatkan kedua pahanya mengapit kepala perampok karena sebuah sensasi dahsyat, ternyata perampok membenamkan lidahnya pada bagian yang lebih dalam dari vaginanya, dia merasakan dinding vaginanya menjepit lidah si perampok.

Selain itu dia juga merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh perampok. Air susunya pun tak henti-hentinya diisapi si perampok. Puas bermain-main dengan vagina itu, si perampok mengangkat tubuh Ustazah Dila bangkit berdiri, kini posisi mereka berhadap-hadapan.

Sesaat kemudian,sang perampok mulai membenamkan penisnya kedalam memek perempuan berjilbab itu seraya menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat.

Ustazah Dila benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali penis perampok menghujam ke dalam vaginanya, gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh Ustazah Dila sehingga matanya membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan. Perampok lalu mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Ustazah Dila sambil terus menggenjot perempuan berjilbab itu.

Menit demi menit berlalu, perampok masih bersemangat menggenjot Ustazah Dila. Sementara Ustazah Dila sendiri kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah si perampok.
Kemudian tanpa melepas penisnya, dia mengangkat paha Ustazah Dila yang satunya dan digendongnya menuju kursi meja rias dimana dia mendaratkan pantatnya.

Anehnya, tanpa disuruh, Ustazah Dila memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan perampok karena kini bukan lagi pikiran dan perasaannya yang bekerja melainkan naluri seksnya.
Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah perampok yang masih tertutup topeng itu sedang menatapnya dengan takjub.

Dengan posisi demikian, si perampok dapat mengenyot payudara Ustazah Dila sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian.
Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Ustazah Dila merintih kesakitan.

Namun dia merasakan sesuatu yang lain dari persenggamaan ini, lain dari yang dia dapat dengan suami tercintanya, gaya bercinta perampok yang barbar justru menciptakan sensasi yang khas baginya yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Di ambang klimaks, tanpa sadar perempuan berjilbab putih itu memeluk sang perampok dan dibalas dengan pagutan di mulutnya.

Mereka berpagutan sampai Ustazah Dila mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh perampok. Sungguh dahsyat orgasme pertama yang didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari suaminya melainkan dari seorang perampok mesum yang memanfaatkan situasi tidak menguntungkan ini. Setelah dua menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan perampok.

Rupanya penis perampok yang masih menancap di vaginanya belumlah terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia bangkit sehingga penis itu terlepas dari tempatnya menancap. Ustazah Dila yang belum pulih sepenuhnya disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi. “Oohh…udah dong Say, aku sudah gak kuat, tolong !” Ustazah Dila memelas dengan lirih. Mendengar itu, perampok cuma nyengir saja, dia merenggangkan kedua paha Ustazah Dila dan menempelkan penisnya pada bibir kemaluannya.

“Uugghh…oohh !” desah guru wanita berjilbab itu sambil mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya.
Tangannya memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan penisnya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Ustazah Dila menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam.
“Uughh…emmhhh…ngghhh…oohhh!”, suara desahan Ustazah Dila membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Ustazah Dila dari belakang dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.

Nampak suatu pemandangan yang amat menggugah birahi dimana tubuh telanjang perampok perampok bertopeng itu sedang menggenjot tubuh telanjang perempuan yang masih mengenakan jilbab putih itu dari belakang.
Sang korban berjilbab putih itu nampak sedang berdiri membungkuk sambil kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi. Kepalanya yang terbungkus jilbab putihnya nampak mengangguk-angguk kanan kiri atas bawah seraya mendengus dan berdesah kencang. Sedangkan sang perampok bertopeng itu nampak asyik memeluk dan menggenjot pantatnya dari belakang seraya meremas kedua payudara yang menggantung kebawah.

Limabelas menit lamanya perampok menyetubuhinya dalam posisi demikian, seluruh bagian tubuh Ustazah Dila tidak ada yang lepas dari jamahannya.
Sekalipun merasa pedih dan ngilu disetubuhi secara barbar oleh perampok itu, namun tak urung Ustazah Dila tak bisa menyangkal dia juga merasakan nikmat yang sulit dilukiskan yang tidak dia dapatkan dari suaminya.
Akhirnya, perampok menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, penisnya dia tekan lebih dalam ke dalam vagina Ustazah Dila, serangannya juga makin gencar sehingga Ustazah Dila dibuatnya berkelejotan dan merintih.

Kemudian dia melepaskan penisnya dan cret…cret…cret, spermanya muncrat membasahi pantat putih mulus milik PNS berjilbab putih tersebut.
Belum cukup sampai situ, disuruhnya Ustazah Dila menjilati penisnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas dan memakai kembali celananya.

Ustazah Dila bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya yang berjilbab putih tampak lesu berkeringat dan badannya merasa keletihan yang sangat, dalam hatinya berkecamuk kepuasan yang sensasional ini. Tak lama kemudian karena amat kelelahan Ustazah Dila tertidur.
***
Keadaan telah malam, ketika Ustazah Dila tersadar dari tidurnya, ia menajamkan matanya untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, dilihatnya Andra masih tertidur di atas dadanya yang terbuka anak itu tertidur dengan masih mengenyot puting susu ibunya.

Setelah memindahkan anaknya agar tidur dengan lebih nyaman, Ustazah Dila merasakan seluruh tubuhnya terasa nyeri dan lemas sekali, seperti habis bekerja berat. Ia menuju ke arah lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya yang dari tadi pagi belum dia ganti dan agak kusut kelihatannya, ia terkejut ketika membuka baju dinasnya, disekujur badan atasnya terlihat bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di sekitar dada dan perutnya.

Dengan perasaan was-was Ustazah Dila segera membuka seluruh pakaiannya dan terkejutlah ia melihat banyaknya bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di seluruh tubuhnya. Ia melihat ke kaca rias sambil meraba bekas-bekas bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan di sekitar payudaranya, tiba-tiba ia tersenyum dengan penuh arti.
Buru-buru ia menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya sambil memeriksa bekas-bekas gigitan dan isapan-isapan yang tersebar di tubuhnya.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya Ustazah Dila dengan masih mengenakan handuk yang membelit dari dada hingga pahanya, Ustazah Dila kembali rebahan di samping anaknya yang masih tertidur pulas.
Dini hari keesokannya daerah tempat tinggal Ustazah Dila geger, suaminya yang baru pulang dari dinas luar kotanya menemukan lemari tempat menyimpan uang telah ludes isinya begitu juga dengan kotak perhiasan dan benda berharga lainnya.

Istrinya Ustazah Dila tidak ingat ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya dan memang polisi tidak menemukan kerusakan pada pintu dan jendela rumah tersebut. Akhirnya Ustazah Dila dibawa ke kantor polisi terdekat untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi Ustazah Dila sama sekali tidak sadar bahwa ia telah mengalami perampokan.

USTADZAH DILA 3 : USTADZ KOSIM

Akhwat cantik berjilbab,kadang justru membuat penasaran dan punya daya tarik tersendiri.Apalagi jika bertubuh montok,kadang tercetak jelas di balik kain jilbabnya.Ia cenderung alim, namun di balik semua itu ia tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan di manapun.
Ustazah Dila, ibu guru cantik sensual yang berjilbab, adalah guru di sebuah SD.

Penampilannya yang anggun, dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang, mengenakan kerudung cantik, semakin menambah keanggunannya.
Sungguh anggun sosok akhwat berjilbab ini. Ustazah Dila berkulit Putih, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit putih bersih, tinggi badan sekitar 158 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan dibalut jilbab yang sangat menawan hati.

Di balik baju muslimnya..,tercetak tonjolan teteknya yang montok, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang montok padat.Wow…indahnya….Walau berjilbab, saat berjalan kain panjangnya tertiup angin …menampakkan cetakan tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya..walau tertutup gamis panjang dan jilbab yang rapat, langkahnya terlihat sangat seksi dan gemulai.

Pembawaan Ustazah Dila dengan jilbabnya terlihat sangat kalem dan malu-malu. Hal ini rupanya menarik perhatian Ustad Kosim, sang kepala sekolah. Ustad Kosim sangat terkesan dengan penampilan Dila, karena Ustazah Dila yang berumur 25 tahun, adalah seorang gadis yang sangat cantik,berjilbab anggun, alim dan sopan.

Sebagai akhwat berjilbab yang sopan dan alim Ustazah Dila agak risih juga terhadap Ustad Kosim, karena setiap kali Ustad Kosim lewat depan ruangannya, Ustad Kosim selalu melirik dan melempar senyum kepada Dila. Kalau kebetulan Ustazah Dila tidak melihat keluar, maka Ustad Kosim akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Ustazah Dila akan terpancing untuk melihat keluar.

Agak ngeri juga melihat tampang Ustad Kosim dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Di sekolah tempat Ustazah Dila mengajar, setiap jam pulang sekolah, yaitu jam 14 para karyawan termasuk para guru dan staff pulang semuanya, kecuali guru yang akan mengajar ekstra kurikuler.

Hari itu hari Kamis,Ustazah Dila dapat jatah mengajar ekstra kurikuler, hingga ia harus menunggu dari jam 14 sampai jam 15.00. Dengan jilbab kerudung warna biru tua ,mengenakan baju panjang terusan berbahan kain halus yang jatuh, berwarna merah muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut,ia kelihatan teramat cantik dan manis, apalagi kulitnya yang putih kuning bersih.

Karena memang sudah jam pulang, suasana sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar. Untuk menghilangkan lelah setelah sejak pagi mengajar,Ustazah Dila istirahat sambil makan makanan yang dibawanya dari rumah.
Tiba-tiba Ustad Kosim melintas di depan ruangan dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Ustad Kosim memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Ustad Kosim kembali menuju ke ruangan Ustazah Dila .

Secara perlahan-lahan Ustad Kosim mendekati ruangan Dila, dan mengintip ke dalam. Bu guru berjilbab itu sedang berdandan membetulkan kerudungnya, merapikan gamis panjangnya yang mewah, menghadap ke cermin yang memang disediakan di ruangannya.

Mendengar suara pintu terkunci Ustazah Dila menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. berbalik sambil berkata, “Pak, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?”, tapi Ustad Kosim hanya memandang Ustazah Dila dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Ustazah Dila semakin panik dan berkata, “Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!”.
Tapi dengan kalem Ustad Kosim berkata, “silakan saja nona manis.., apabila kamu mau bikin skandal dan setiap orang di sekolah ini akan menggosipkan kamu selama-lamanya”.
Mendengar itu Ustazah Dila yang pada dasarnya pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal.

Kala akhwat cantik berjilbab itu berada dalam keraguan, dengan cepat Ustad Kosim berjalan medekat ke arah Dila. Karena ruangan kerja yang sempit , begitu dirinya mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Apalagi dengan gamis panjangnya yang melilit tubuhnya, ia tak bisa bebas bergerak.
Dengan cepat kedua tangan Ustad Kosim yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Bu Guru berjilbab yang montok itu dan mendekapkan ke tubuhnya.

Dalam sekejap badan Ustazah Dila yang sangat halus dan ranum, telah sepenuhnya berada dalam pelukan lelaki tua itu.
Kosim memegang kedua lengan bagian atas Ustazah Dila dekat bahu, sambil mendorong badan Bu guru berjilbab itu hingga tersandar pada meja, Ustad Kosim mengangkat badan Ustazah Dila dan mendudukkannya di atas meja kerja Ustazah Dila yang penuh buku-buku itu. Kedua tangan Dila diletakan di belakang badan dan dipegang dengan tangan kirinya.

Dengan beringas Ustad Kosim mencium wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu. Nampak Ustad Kosim seperti anjing kelaparan menyosor-nyosor wajah ayu Dila, sementara akhwat cantik berjilbab itu hanya bisa meronta-ronta.
Tangan kanan Ustad Kosim tiba-tiba turun kebagian bawah tubuh Ustazah Dila dan meraih ujung kain panjang di bagian bawah, sejurus kemudian diangkatnya baju panjang itu tinggi-tinggi hingga tersingkaplah apa yang selama ini tersembunyi.

Ustad Kosim berhasil menyaksikan akhwat itu dari ujung kaki, betis, sampai pangkal paha. Lalu tangannya meremas-remas bokong kenyal akhwat ayu itu.
Badan Ustad Kosim dirapatkan diantara kedua kaki Ustazah Dila yang tergantung di tepi meja dan paha Ustad Kosim yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Ustazah Dila terbuka. Ia sengaja tidak melepas gamis dan kerudung akhwat ayu itu. Ia ingin menyetubuhi akhwat itu dengan membiarkan gamis dan jilbabnya tetap terpakai. Ia merasakan sensasi yang luar biasa bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.

Tangan kiri Ustad Kosim yang memegang kedua tangan akhwat berjilbab itu di belakang badan Ustazah Dila dan ditekankan pada pantat ke depan, sehingga badan akhwat berjilbab yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Ustazah Dila melekat rapat pada paha sebelah kiri Ustad Kosim yang berdiri menyamping.
Tangan kanan Ustad Kosim yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju panjang terusan yang dikenakan Ustazah Dila sementara Ustazah Dila hanya bisa menggeliat-geliat.

“Jangan…,AAAAAAAAAAAHHHHH… jangan lakukan itu!, stoooppp…, stoopppp”, akan tetapi Ustad Kosim tetap melanjutkan aksinya itu.
Sebentar saja baju bagian depan Ustazah Dila telah terbuka sampai sebatas perut, sehingga kelihatan teteknya yang montok itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Tetek yang kuning dan kenyal itu seolah ingin lepas dari BH nya.Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat merangsang.

Dengan lincah tangan kanan Ustad Kosim bergerak ke belakang badan Ustazah Dila dan membuka pengait BH . Kemudian Ustad Kosim menarik ke atas BH Dila hingga terpampang kedua tetek Ustazah Dila yang montok sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda mencuat naik turun dengan cepat karena nafas yang tidak teratur.
“Oooohh…, OOOOOOUUUUGGHHHH….ooohh…, jaanggaannn…, jaannnggaann!”.

Erangan akhwat cantik berjilbab itu tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah Kosim menyingkapkan kerudungnya hingga terlihat kupingnya mulut Ustad Kosim mulai mencium belakang telinga Ustazah Dila dan lidahnya bermain-main di dalam kuping bu guru berjilbab itu. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan perempuan berjilbab itu menggeliat-geliat hingga tanpa terasa Dila mulai terangsang oleh permainan Ustad Kosim ini.

Mulut Ustad Kosim berpindah dan melumat bibir Ustazah Dila dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut dan menggelitik-gelitik lidah Dila.
“aahh…,AAAAAGGHHHHHH….UUHHH……AAAAAAAAAHHHHHHHHHH…… UOUUUUUEHHMMM hmm…, hhmm”, terdengar suara mengguman dari mulut Ustazah Dila yang tersumbat oleh mulut Ustad Kosim.

Badan Ustazah Dila yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Ustad Kosim sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu turun ke leher, kepala Ustazah Dila tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Ustad Kosim, teteknya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki tua tersebut.

Ustad Kosim langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah tetek Ustazah Dila mulutnya mencium dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya tetek yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Ustad Kosim. Tetek yang kenyal itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Ustad Kosim yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting hingga tetek Dila segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak nafas akhwat alim ini menerima permainan Ustad Kosim yang lihai itu. Badan nya terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,

“Sssshh…, ssssshh..SSSSSHHHHHHHH……OOOOOHHHHH…AAUUUHH…, aahh…, aahh…, ssshh…, sssshh…, jangaann…, diiteeruussiinn”,
Mulut Ustad Kosim terus berpindah-pindah dari tetek yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting tetek akhwat itu secara bergantian selama kurang lebih lima menit. Ustazah Dila guru cantik berjilbab itu kini benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badannya tersentak, karena dia merasakan tangan Ustad Kosim mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju gamis panjangnya telah terangkat sampai pangkal pahanya.

Ustazah Dila mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Ustad Kosim, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan adalah hanya mengerang,
“Jaanngaannnn…, jaannngggannn…, diitteeerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.

Melihat kondisi seperti itu, Ustad Kosim yang telah berpengalaman, yakin bahwa akhwat ayu berjilbab ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Ustad Kosim makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha mulus akhwat itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas. Tiba-tiba jarinya menyentuh bibir memek Dila.
Segera badan akhwat itu tersentak , “aahh…, jaannggaan!”

Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Ustad Kosim yang mengelus-elus bibir memek Ustazah Dila yang tertutup celana dalam, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Ustad Kosim menarik celana dalam itu dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Bu Guru berjilbab itu. Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjang yang kian kusut itu.

Ustazah Dila tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Ustad Kosim ini. Sekarang dirinya dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai celana dalam dan kedua teteknya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka nya yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.Kosim benar-benar semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati memeknya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang muslimnya.

Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan memek akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Melihat ekspresi muka akhwat cantik yang masih memakai jilbab duduk mengangkang,kain gamisnya terangkat tinggi dan telah telanjang di tubuh bagian bawah ini.. yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Pak Kosim melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 14.05, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Pak. Kosim sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.

Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, Ustad Kosim, dengan tetap mengunci kedua tangan Dila, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan celana dalam-nya. Pada saat celana dalam-nya terlepas, maka kontol Ustad Kosim yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa.

Ustad Kosim agak merenggangkan badannya, hingga terlihat oleh Ustazah Dila kontol yang sedang mengangguk-angguk itu, badan akhwat berjilbab itu tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki Tua itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar…., sangat panjang…, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti jamur. Tak terasa dari mulut Bu guru berjilbab itu terdengar jeritan tertahan, “Iiihh”, disertai badannya yang merinding.

Dia belum pernah melihat kontol sebesar itu. Ustazah Dila merasa ngeri. “Bisa jebol memekku dimasuki kontolnya”, gumannya dalam hati. Namun ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Ustad Kosim menatap muka cantik yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu,

“Kau Cantik sekali Dila…gumam Ustad Kosim mengagumi kecantikan akhwat itu.
Kemudian dengan lembut Ustad Kosim menarik tubuh yang cantik itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Ustad Kosim berdiri menghadap langsung ke arah Ustazah Dila dan karena yakin bahwa Dila telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan akhwat cantik ini, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki Dila, bahkan dengan gemas ia merentangkan kedua belah paha lebar-lebar.

Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan akhwat berjilbab itu Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Ustazah Dila tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Ustad Kosim yang besar, Ustazah Dila sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang menggila, apalagi melihat tubuh Ustad Kosim yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang di tumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Gejolak birahi kedua manusia itu semakin membara…Kosim semakin bernafsu, menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah ia nikmati tubuhnya .Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan baju panjang muslimnya.

Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi yang melanda.

Sambil memegang kedua paha Ustazah Dila dan merentangkannya lebar-lebar, Ustad Kosim membenamkan kepalanya di antara kedua paha Dila. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar memek yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Ustazah

Dila hanya bisa memejamkan mata,
“Ooohh..OOOOHHHH…., nikmatnya…,AAAUUUGGHHHH…AAAAAAAAAAAAAAAHHHH… ooohh!”, ia menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Ooooohh..AAAAAAAAAAA ….HHHH…OOOHH…OOWWWW…, hhmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.

“Paakkk…, aku tak tahan lagi…!”, Ustazah Dila memelas sambil menggigit bibir.
Ustazah Dila ….guru SD yang cantik berjilbab itu….. tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi,perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang Tua yang kasar itu dengan dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Ustad Kosim yang telah bepengalaman itu.

Namun rupanya lelaki Tua itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Ustazah Dila sudah mulai merespon atas cumbuannya itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Ustazah Dila kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua tetek dengan sangat bernafsu.

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Ustad Kosim ini, Ustazah Dila benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. “Paakkk…, aakkhh…AAAAAAAAAKKKKHHHH….EENNNAAAAAAKK…..ENAAAAKK …TERUUUUUUUUUSSSSSSSSS…TERUUUUUUSS………, aakkkhh!”, akhwat ayu berjilbab itu mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Ustad Kosim untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Ustad Kosim keras-keras.

Kini ia tak peduli lagi akan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki Tua itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Akhwat ayu berjilbab…yang lemah lembut ini… benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki Tua yang dapat membangkitkan gairahnya.

Kosim makin gemas menyaksikan akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini menggeliat-geliat menahan nikmat.Sebentar-sebentar Kosim menaikkan baju panjang warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda.Ya…Ustazah Dila benar-benar berada dalam Birahi yang membakar sukmanya.

Tiba-tiba Ustad Kosim melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Ustazah Dila yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya akhwat cantik itu dari atas meja dan kemudian Ustad Kosim gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Ustazah Dila ke bawah, sehingga sekarang posisi akhwat berjilbab itu berjongkok di antara kedua kaki berbulu Ustad Kosim dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya.

Ustazah Dila …tahu apa yang diingini lelaki itu..tanpa sempat berpikir lagi, tangan Ustad Kosim meraih belakang kepala Dila dan dibawa mendekati kontol Ustad Kosim, yang sungguh luar biasa itu. kepala kontol Ustad Kosim telah terjepit di antara kedua bibir mungil Dila…., dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Ustazah Dila mulai mengulum alat vital Ustad Kosim ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki Tua itu melek merem keenakan.

OOoooohhhhhh..TERUUUUUUSSS…….Dila……enaaaaaakkk….UU mmiiiii….. …Dila ……Dila Dilaaaaaa…..aaaauuuuuww…… .Ustazaaahh……..teruuuusssss……ooooggghhh……
Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut yang sensual, itupun …hampir sesak nafas dibuatnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat cantik yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang Kelihatan bu guru berjilbab yang cantik itu, menghisap…, mengulum serta mempermainkan batang kontol keluar masuk ke dalam mulutnya.

Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Ustazah Dila menyapu kepalanya. Rupanya akhwat cantik berjilbab itu mahir juga bermain oral sex…Bibirnya yang seksi dan wajahnya yang cantik….begitu memukau hati Ustad Kosim.TERUUUUUUSSS…….Dila……enaaaaaakkk….UUmmiiiii… .. …Dila ……Dila Dilaaaaaaa…..aaaauuuuuww……
.Ustazaaaahhhhhh……..teruuuusssss……ooooggghhh……

Beberapa saat kemudian Ustad Kosim melepaskan diri, ia mengangkat badan Ustazah Dila yang jilbab dan baju panjang terusannya masih terpakai itu….diangkatnya baju kurung yang halus itu ke atas hingga pangkal pahanya yang putih berrsih …membaringkan di atas meja dengan pantat terletak di tepi meja, kaki kiri guru berjilbab itu diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut.

Kemudian Ustad Kosim mulai berusaha memasuki tubuh Dila…… Tangan kanan Ustad Kosim menggenggam batang kontolnya yang besar …dan kepala kontolnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan akhwat itu……Oooohhhh…sssshhhhh…SSHHHH…..AUUUUWW……OOOOOUUU HHHH……AAAAHHHH..EEENNAAAAAKK…….ENAAAAAAK……AAAAAAAA AUUUUUWWW….TERUUUUUUUSSSSS….YEAH…..UUUUHHOOOOOHHHH …. AH…ENAAAAKKK……akhwat berjilbab itu mengerang…mendesis nikmat…, hingga merintih-rintih melawan badai birahi yang menerpa, kenikmatan dan badannya tersentak-sentak.

Ustad Kosim terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Ustazah Dila yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran kontol Ustad Kosim yang besar .

Sementara denyut-denyut kemaluan Ustazah Dila semakin liar menggoyang dan memilin-nilin kontol Kosim.Kosim hanya bisa berteriak….oooh…enaaaakkkkk….TERUUUUUUSSS. ……Dila……enaaaaaakkk….Usstaaazaaahhh….. …Dila ……Dila Dilaaaaa…..aaaauuuuuww…… .Ustaazaahhhh……..Dila…Dila ….DILA HHHH..DILA DILAAAAAAA…..ENAAAAKKKK….teruuuusssss……ooooggghhh… …
Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu.

Pelahan-lahan kepala kontol Ustad Kosim itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan akhwat itu… Ketika kepala kontol lelaki Tua itu menempel pada bibir kemaluannya, bu guru berjilbab itu mendesis ooohh…..ough….aahhh……teruuusssssss……saluran memeknya ternyata panas dan basah.

Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala kontolnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan gamang dan gelisah itu, dengan kasar Pak. Kosim tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Dila, rambut lebat pada pangkal kontol lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Ustazah Dila yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang kontolnya amblas ke dalam liang memek akhwat berjilbab itu.

Tak kuasa menahan diri, dari mulut Ustazah Dila terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”,ooouuww……enaakkk…….sshhh……..enaaaaaaa aaaakkkkk….aku suka kontolmuuu…….ENNNNNAAAAAAKKKK…..ENAAAAAAK……OOOHHHH ……AUUUUUWW ….KOSIM TERUUUUUUUSSSS…..ENTOT AKU TERUUUUUSS……MASUKKAN KONTOOLMU…..YA…ENAAAAAAAAKKK……AAAAAAAAAAAGGHHHH…. mulutnya meracau tak menentu disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Ustazah Dila mencengkeram dengan kuat pinggang Ustad Kosim. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

Akhwat ayu dengan jilbab dan baju gamis panjangnya itu kini telah dilanda birahi yang menggelegak Lagi-lagi Kosim menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu…. Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari,kerudungnya kian kusut karena lonjakan kepala menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya

aduuuuhh….OOhh…..auhhh…..augghh…ennaaaaakkkkkkkkkk kkkkkk…..AAHHHHHHHHHHH….AAAAAAAAAAAAUUUUUUHHHHHHHH …..teruuuuuuusssssss..bibir Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.
Teteknya yang besar terguncang ke sana ke mari mengikuti hentakan tubuh Ustad Kosim…akhwat itu benar-benar berada dalam lautan BIRAHI. Ustad Kosim cukup mengerti keadaan akhwat cantik ini, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang kontolnya, dia memberi kesempatan kemaluan Ustazah Dila untuk bisa menyesuaikan dengan kontolnya yang besar itu.Ia merasakan sensasi yang luar biasa…bercinta dengan akhwat anggun yang masih tertutup jilbab dan gamis panjang .

Beberapa saat kemudian Ustad Kosim mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki Tua itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Bu guru cantik berjilbab ini berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan kontol lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja.

Ustazah Dila mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki Tua yang sedang menatapnya, dengan takjub. Akhwat ayu ini berusaha bernafas dan … :” “Paak…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Ustazah Dila ….guru SD yang cantik itu….sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Ustad Kosim menggerakkan tubuhnya, ohhhhhhhhhhhhhh….. AAAHHHHHH…. ENAAAAAKK… TERUUUUUUUSIIN…. GENJOT TERUUS…………enaaaaaaaakkkk……teruuuuusss……..oouuww……. gesekan demi gesekan di dinding liang memeknya, sungguh membuat nya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami.

Setiap kali Ustad Kosim menarik kontolnya keluar, Ustazah Dila merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Ustad Kosim menekan masuk kontolnya ke dalam memek nya, maka klitoris nya terjepit pada batang kontol Ustad Kosim dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang kontol Pak. Kosim yang berurat itu. OOoooohhhhhhhhhh…..aduuuuhhh….enaaaakkk….mulut cantik itu benar-benar sudah tak terkontrol.

Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan akhwat cantik itu menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.Hanya rintihan…..desis nafas….dan keringat yang membanjiri tubuh Dila…..Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya yang kian kusut itu.

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Ustazah Dila dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Dila dan meremas-remas kedua tetek Ustazah Dila secara bergantian. ..ia dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku.

Akhwat ayu berjilbab ini bisa melihat bagaimana batang kontol yang hitam besar dari lelaki Tua itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Ustazah Dila selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran kontol Ustad Kosim yang super besar itu. Akhwat ayu berjilbab itu menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki Tua itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Ustad Kosim terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Ustazah Dila semakin tak seimbang tubuhnya,kepalanya tergoyang ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya Ohh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaak kkkkkkkkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss..mulut cantikr Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi kuda betina yang liar dan ganas, buas dan brutal.

Ooooooooouuuuuuuuuuhhhhhhhh…………… tiba-tiba Ustazah Dila …guru SD yang cantik berjilbab itu ..merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. .. merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam memeknya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya.

Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster Tua itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan memeknya menyerah dalam suatu penyerahan total.

Ustazah Dila …guru manis berjilbab itu…..berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi…, tidak bisa, ini terlalu nikmat…, proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada akhwat ayu ini masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam memeknya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Ustazah Dila merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.

Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya ia membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya

berkelonjotan, menjerit serak dan…AAAAAAAAAAAAhhhhhhhhh………OOOOOOOOUUUGHHHHHHH.. ,akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Akhwat berjilbab itu terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana kontol hitam besar Ustad Kosim tetap terjepit di dalam liang memeknya.

Selama proses orgasme yang dialami Dila.. memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Ustad Kosim, dimana kontolnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang memek dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang kontolnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha kontolnya, terlebih-lebih pada bagian kepala kontolnya setiap terjadi kontraksi pada dinding memek Dila, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. perasaan Ustad Kosim seakan-akan menggila melihat akhwat berjilbab yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang kontolnya yang hitam besar itu.

OOOhhhh….. aghhh…..ssshhhh……..oouugghh……rintihan dan desis kenikmatan keluar dari mulut akhwat itu…. beberapa menit kemudian Ustad Kosim membalik tubuh yang telah lemas itu hingga sekarang Ustazah Dila setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Ustad Kosim. Ustad Kosim ingin melakukan doggy style rupanya.

Tangan lelaki Tua itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah tetek Ustazah Dila yang montok..Sesekali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya ddengan kain gamis panjangnya Dila kian kusut itu…. yang kini menggantung ke bawah.
Dengan kedua kaki setengah tertekuk, ia menyingkapkan kain gamis panjang yang menghalangi pandangannya.secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala kontolnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam memek Ustazah Dila pada permukaan lubang kemudian menempatkan kepala kontolnya pada bibir kemaluan Ustazah Dila dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala kontol tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan ….Aaaaahhhhhhh………….ooohhhh……Ustazah Dila meracau…..Kedua tangan Ustad Kosim memegang pinggul Ustazah Dila dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan bu guru itu tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki bug guru berjilbab itu dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Ustazah Dila ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut

Dila…ooohhhhhhh …..Oooooooh!”, kontol laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang memeknya dan Ustad Kosim terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Ustazah Dila yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Ustad Kosim memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan kontolnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang memek guru berjilbab yang ketat itu. Sebagai seorang akhwat yang se tiap hari minum susu, Ustazah Dila …guru cantik berjilbab itu memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini i kewalahan menghadapi Ustad Kosim yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu.

OOOhhhhh….yeeesss……oohhhh…..aduuuuhhh…..agghhh………… ..ennaaaaaaaaaaakkkkkk…….
Ustad Kosim merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan ditariknya akhwat berjilbab itu duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Ustad Kosim. Ustad Kosim mengangkat kain gamis/jilbab baju panjang Dila…..menempatkan kontolnya pada bibir kemaluan nya dan mendorongnya sehingga kepala kontolnya masuk terjepit dalam liang memek akhwat berjilbab itu…, sedangkan tangan kiri

Ustad Kosim memeluk pinggul Ustazah Dila dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti kontol Ustad Kosim menerobos masuk ke dalam kemaluan nya Tangan kanan Ustad Kosim memeluk punggung Ustazah Dila dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan akhwat ayu melekat pada badan Ustad Kosim. Kedua tetek nya terjepit pada dada Pak. Kosim yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Ustad Kosim.

Ustazah Dila merintih… ooooohhhh…….aouuuwwww……. Kepalanya tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Ustad Kosim bisa melumat bibir akhwat ayu yang agak basah terbuka itu.

Ustazah Dila semakin aktif……..mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga kontol yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam memeknya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Ustazah Dila merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya.

Terus………, terus……., bu guru berjilbab itu tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih aooooooooouh…..oohh……yesss….ssshhhhh…….aduuuuuuuuu uuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………eennaaaaaaakk k ANAAAAAAAKKKKK….OOOUUUHH………………menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, akhwat ayu itu tak peduli lagi,

“Aaduuuh..ADDDUUUUHHHH………oooh…..aaauuwwww…..,eehgg hghhhh..AUUUUWWW….ENNNNAAKKK…..NIKMAAAAAATTT…..”, akhwat berjilbab itu memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Ustad Kosim.Ustazah Dila hanya bisa menggelengkan kepala ke sana kemari menahan nikmat dan birahi ysng melanda jiwanya

OOhh…..auhhh…..augghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkk kkkkkkkkk…..teruuuuuuusssssss…..Ustazah Dila meracau tak menentu.Akhwat ayu berjilbab ini benar-benar telah berubah menjadi seekor kuda betina yang liar dan ganas, buas dan galak.

Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai..sopan….. alim dan berjilbab… kini mendapatkan kenikmatan maksimal justru bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.

Kemudian laki-laki itu menggendong dan meletakkan akhwat berjilbab itu di atas meja dengan pantat terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Ustad Kosim mengambil posisi diantara kedua paha akhwat cantik berjilbab itu…yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun kontolnya ke dalam lubang memek yang telah siap di depannya.

Kembali Ustad Kosim membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya dengan kain baju terusan panjang yang kian kusut itu….
Laki-laki itu mendorong kontolnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Ustazah Dila yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Ustad Kosim memacu keras untuk mencapai klimaks.

Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Ustazah Dila yang terkapar lemas di atas meja.

Sementara lelaki Tua itu terus berpacu diantara kedua paha akhwat cantik BERJILBAB itu, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan kontol lelaki tersebut. Akhwat ini benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si Tua yang perkasa itu. Dila kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu

oooohhh..aagghh…….uuuhhh….EEENNAAAK.. KONTOLMU ENAAAAAAK…AKU SUKA KONTOLOMUUU………..OOOHHHH….oohhhh…….aahhhh……oouuuggh h…….ennnaaakkkk……oo ohhh…………….yeesss……egghhhh………ooohhh…….aaahhhhhhhhhh h…….,

kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 15.oo berarti telah 1 jam dia menggarap gadis ayu berjilbab tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam kontolnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung kontolnya.

Akhwat ayu dengan jilbab dan baju panjangnya yang kian kusut itu kini telah menikmati birahi yang menggelegak Lagi-lagi Kosim menyingkapkan baju muslim warna merah muda yang kadang jatuh ke bawah menghalangi pandangannya menyaksikan kemaluan akhwat berjilbab itu.Sementara Ustazah Dila hanya bisa menggoyangkan kepala ke sana kemari menahan birahi dann nafsu yang melanda dirinya.

OOoouuuughhhh………auhhh…..au gghh…eennnnnnnaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk rintihnya.Tiba-tiba Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…AAAAAAHHHHHHHHH…., terus”, dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Dila….dan batang kontolnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang memek akhwat berjilbab itu.

Dengan suatu lenguhan panjang,
“Sssh…, ooooh! DILA…ENNNAAK……DILA …..MEMEKMU ENAAAK….DILA ….DILA … …DILA ….DILAAAAAA”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki Tua tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam memek Dila.

Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Ustazah Dila yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga memeknya.

Tubuh lelaki Tua itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Ustad Kosim bangun dari atas badan Dila…, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Dila.

Setelah bersih Ustad Kosim menarik tubuh Ustazah Dila yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka….merapikan gamis panjangnya….membetulkan jilbab yang acak-acakan.

Setelah merapikan baju dan celananya, Ustad Kosim menarik badan akhwat cantik itu dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisik ke telinga Dila, “Maafkan saya manis…, terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!”, kemudian dengan cepat Ustad Kosim keluar dari ruangan kerja Ustazah Dila dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat keluar.Jam menunjukan 15.10

Sepeninggalan Ustad Kosim, bu guru cantik berjilbab itu terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya.

Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan suaminya kelak, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu. Tepat jam 15.20, ia bergegas masuk ke kelas untuk mengajar …tanpa ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.tak seorangpun tahu ia baru saja lepas dari BIRAHI yang dahsyat.

USTADZAH DILA 2 : USTADZ YON

Hari itu aku (ustad yon) berangkat mengajar pagi-pagi ke sekolah. Habis mau bagaimana lagi, tempat tinggalku agak jauh dari tempatku mengajar.
O,ya aku mengajar di SD di kota KA.

Sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. Setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari.
Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.

Sedangkan aku sendiri termasuk guru senior karena yang pertama masuk sejak pertama kali sekolah ini didirikan (disamping umurku juga yang mendekati 35-an).
Jam 6 pagi aku sudah berada di ruangan guru. Disitu baru nampak beberapa pengajar yang sudah hadir bersamaan. Diantara mereka ada yang amat menarik perhatianku dari semenjak ia pertama kali bergabung bersama staf pengajar di sekolah ini.

Namanya Padila biasa dipanggil oleh lingkungan sekolah Ustazah Dila. Selain mengajar, dila juga menjadi pengurus UKS maklum sekolah kami masih baru 2 tahun berdiri jadinya minim SDM.
Bagiku dia termasuk kategori perempuan yang manis, umurnya terpaut 16 tahun lebih muda dariku. Tingginya dibawah beberapa senti dariku dengan berat badan yang ideal. Perempuan itu selalu berpenampilan rapi dengan secarik kain jilbab menghiasi kepalanya.

Dia baru mulai mengajar sekitar 2 bulan yang lalu. Pagi itu Dila datang memakai baju lengan panjang berwarna biru muda dipadu dengan rok panjang sewarna pula sedangkan jilbab yang dikenakanannya berwarna putih bermotifkan bunga, amat serasi.
Sejujurnya, yang membuat aku begitu tertarik padanya diluar wajahnya yang manis menggemaskan itu tidak lain karena bentuk tubuhnya yang aduhai mengundang birahiku.

Pakaian yang dikenakannya selalu terlihat agak ketat entah disengaja atau tidak.
Dan walaupun jilbab yang dikenakannya panjang selengan namun ukuran payudaranya yang montok selalu tersembul dari balik baju dan jilbabnya.
Belum lagi kalau memperhatikan saat ia berjalan, pantatnya yang montok itu selalu bergoyang naik turun membuat selalu tidak konsen.

Akibat sering membayangkan Dila jadinya aku sering berfantasi sedang menyetubuhinya dalam keadaan dia telanjang namun tetap mengenakan jilbabnya. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana.
Selama ini aku hanya bisa mengkhayal Dila yang berjilbab telanjang di depanku. Memikirkan hal itu aku jadi sering merasa horny.

Sampai-sampai aku bertekad untuk bisa melancarkan hasrat terpendam yang begitu menyiksa ini.
Pukul 1 siang dan bel pulang berbunyi dan aku masih berada di lingkungan sekolah ini sampai sore karena memang hari itu aku punya jadwal untuk mengajar les tambahan untuk anak kelas 2. mulai jam 2 siang hingga 4 sore.

Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua murid les pulang, sedangkan aku masih ada di sekolah untuk membereskan perlengkapan mengajarku.
Sore hari itu sekolah yang tadinya ramai kini menjadi sepi. Aku berjalan menuju ruang guru untuk beres-beres pulang dan kulihat nampak tas kepunyaan Dila masih ada di ruangan. Nampaknya guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah.

Aku penasaran mencari tahu keberadaan perempuan cantik itu . Tapi sebelumnya aku ingin sekali cuci muka melepas kepenatan selama mengajar tadi. Segera aku menuju kamar mandi dekat ruang guru.
Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.

Perlahan kubuka pintu kamar mandi khusus guru pria dan belum lagi kututup pintunya aku mendengar suara desahan pelan dari kamar mandi sebelah. Terkesima dengan suara yang aku dengar, segera kuberjingkat-jingkat menaiki bak mandi untuk mengintip ke kamar mandi sebelah.
Saat mengintip aku terkejut bukan kepalang karena ternyata di sana kulihat Dila, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis nan menggemaskan itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya.

Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Aku menduga dia tengah menonton blue film, karena terlihat dia tidak bias mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya.
Tak kusangka walaupun berjilbab, Dila terlihat sangat birahi.

Kuabadikan masturbasi guru berjilbab tersebut dalam ponsel kameraku. Dila tidak sampai mengerang, mungkin dia takut ketahuan apabila terdengar orang lain. Melihat ia sedang bermasturbasi membuat gairah birahi mulai menguasai pikiranku.
Tak dinyana, kesempatan untuk melampiaskan hasratku padanya telah muncul dengan sendirinya. Kira-kira 15 menit setelah Dila guru berjilbab yang “alim” itu baru keluar dari kamar mandi.

Sekali lagi kulihat-lihat rekaman video dan foto hasil jepretanku tadi. Kulihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang sedang asyik memainkan jemarinya di vaginanya. Kakinya terlihat putih dan mulus sekali. Ini menjadikan birahiku semakin meluap-luap.
Segera aku bergegas menuju ruangan guru seraya menghampirinya yang sedang duduk. Kemudian dengan tanpa basa-basi kuelus-elus kepalanya yang berjilbab putih dengan motif bunganya. Dengan gerak refleks guru berjilbab itu terlompat dari duduknya.

“Astaga! Kurang ajar! Apaan sih maksud Ustad Yon!”, hardik Dila yang terkaget-kaget dengan kelakuanku terhadapnya tadi dengan wajah memerah karena marah.
Tanpa banyak omong kutunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, kulihat dia sangat shock.
“Dengar sayang, kalo kamu sampai berani menolak melayaniku, foto dan video ini akan kusebar luaskan”, ancamku seraya mendekatinya lalu mengelus-elus jilbabnya.
Dia hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Sekilas kemudian kujambak jilbabnya agar dia mengikutiku menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu kukunci.

“Dila meskipun kamu pakai jilbab ternyata libidonya tinggi juga yah?”, kataku sembari tersenyum penuh kemenangan. Guru cantik berjilbab itu hanya bisa diam tertunduk sambil duduk di kursi. Air matanya hampir keluar.
Kudekati ia seraya menjamah dan mengelus kepalanya yang berjilbab.
“Sudahlah sayang kamu tidak usah banyak tingkah. Yang penting kamu tinggal ikut saja apa mauku semuanya pasti beres.

Yakinlah kamu akan segera tahu apa bedanya main sendirian dengan main berpasangan”, ucapku lagi seraya menurunkan ritsluiting celanaku. Melihat hal itu wajah Dila semakin tertunduk.
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ia serasa tidak berdaya. Setelah celanaku melorot seluruhnya kebawah segera kuperintah Dila untuk menurunkan celana dalamku seraya memintanya untuk mulai mengoral penisku.

Mulanya ia berontak namun karena ancamanku yang akan menyebarkan gambar dan video yang memalukan itu akhirnya dengan sangat terpaksa dia menurutiku karena takut gambarnya tersebar. Dari tempatnya duduk, sambil berdiri kuusap-usap kepalanya yang berjilbab itu saat mulut Dila perlahan mulai memainkan penisku. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun aku hanya tersenyum lebar penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya.

“Sshh…mmmhh…ennak sekallii sayaangg..”, desahku saat penisku keluar masuk mulutnya.
“Mmmh…slurp…cupp..”, desah suara dan bunyi yang dari mulut guru berjilbab itu menahan birahi yang nampaknya mulai merasuki dirinya.

Ya, sepertinya ia mulai terangsang karena saat ia sedang mengoralku tanganku yang satu lagi asik meremas-remas payudara montok miliknya dari luar busananya.
Sekitar 10 menit kemudian kurasakan gejolak yang tidak tertahankan di ujung penisku. Nampaknya aku tak mampu lagi menahan lebih lama dan, “Croot…croott”, spermaku keluar dengan deras.

Karena kaget Dila melepas hisapannya sehingga spermaku tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Kulihat jilbabnya yang bermotif bunga kini bertambah dengan bercak-bercak spermaku. Namun aku belum puas. Kuperintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan aku juga segera melepas bajuku.

Fantasiku melihat Dila yang berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kataku dalam hati. Kulihat dugaanku tidak salah, Dila terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut.

Segera kuraih dada kanannya dan kukulum dengan rakus.
“Ohh…ah..ah…ah..”, walau kupaksa ternyata Dila terdengar amat menikmatinya.
Kulihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuat penisku kembali tegang.

Lalu kubaringkan Dila di ranjang yang berada dalam ruangan UKS dan kuserbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sembari menciuminya tangan kananku meremas buah dada montok miliknya itu sedangkan tanganku yang kiri mulai mengelus dan memainkan vaginanya.
Sekitar 10 menit kulakukan hal itu. Kemudian kupandangi wajahnya yang cantik masih terbalut jilbab nampak sedang terangsang karena ulahku. Terasa jemariku yang bermain di vaginanya mulai kebasahan akibat cairan kewanitaan yang keluar dari dalam. “Hmm…nampaknya dia benar-benar sudah terangsang” ujarku dalam hati.

Sejurus kemudian kubalik tubuhnya seraya menunggingkan bokongnya yang sekal itu. Lalu kulebarkan kedua paha putih mulus guru berjilbab itu.
Sembari mencengkeram pantatnya dengan tangan kananku, tangan kiriku membimbing penisku menyodok perlahan ke dalam belahan vagina Dila.

“Ouhh…”, desahnya dengan tubuh bergetar kala kupenetrasi liang surgawi miliknya. Perlahan tapi pasti penisku masuk sesenti demi sesenti dan rasanya sempit sekali. Dan akhirnya setelah berjuang beberapa menit penisku bisa menembus dalam-dalam sampai menyentuh dinding rahim miliknya.
“UUhhhh..”, hela nafasku sembari melirik kebawah.

Kulihat batang penisku tidak seluruhnya masuk tersisa sesenti. Dan yang tidak kusangka-sangka ternyata dari situ tidak terlihat adanya darah tanda keperawanan.

“Hmm…Sepertinya Dila sudah tidak lagi perawan”, ujar batinku namun tidak kupedulikan karena yang penting sekarang menuntaskan birahi yang selama ini kupendam padanya habis-habisan.

Perlahan kugenjot tubuh sintal guru berjilbab ini seraya kedua tanganku mencengkram bongkahan pantatnya yang montok. Seperti joki yang memacu kuda.
“Ohhh…nikmat sekali milikmu sayang…”, racauku seraya menggenjot penisku keluar masuk.
“Ouuhhh…uuuhh…ahhhh…ustaaad…yoon…”, balasnya mendesah penuh nikmat.

Dari belakang dapat kulihat jelas kedua tangannya meremas-remas kasur menahan nikmat. Sedangkan kepalanya yang terbungkus jilbab menggeleng ke kanan dan ke kiri dengan wajahnya yang cantik nampak seperti terbuai oleh nikmatnya sodokanku dari belakang.

“Plak…plakk…”, bunyi selangkanganku beradu dengan pantatnya yang sekal ini. Sekitar 15 menit dapat kurasakan penisku sudah tidak dapt lagi menahan gejolak sperma yang akan keluar.
“Sayyanggh…akkkuuu…keluarr…nnih…!”, seruku yang akan klimaks.
“Akkhh…ustaaddd… …”, sahut Dila dengan wajah mendongak keatas yang ternyata juga akan mencapai puncak orgasmenya.
“Ooohhh…”, desahku panjang saat kubenamkan penisku dalam-dalam bersamaan dengan keluarnya spermaku kedalam vaginanya.

Setelah keluar semua. kuambil rok panjang biru milik guru jilbab ini untuk membersihkan penisku dan vaginanya dari cairan yang keluar baik dari milik kami berdua.
Setelah aku merasa kembali mendapatkan tenaga menggenjot Dila, kuminta dia untuk berbaring telentang.
Tanpa membuang waktu segera kuaduk-aduk vaginanya. Dia terlihat sangat menikmati permainanku ini. Puas dengan posisi itu, gantian aku yang telentang, kemudian kuminta dia menggenjot penisku dari atas. Jepitan vaginanya terasa nikmat sekali.

Genjotannya yang liar membuatku tidak bisa bertahan lama. Tujuh menit kemudian aku memuncratkan spermaku di lubang kenikmatan Dila.
Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan. Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai pakaian kami kembali.
Dan dari situ muncul pengakuan kalau dulu Dila pernah nge-seks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab.

Sebelum berpisah aku mendapatkan kesepakatan dengan guru berjilbab ini apabila aku berjanji tidak akan pernah menyebarkan foto dan video yang kuambil di kamar mandi tadi, dia bersedia berhubungan seks denganku lagi.
Tentunya lain kali dengan menggunakan pengaman! Setelah memeluk dan melumat bibirnya yang manis itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.

Tak terasa hari hampir gelap kulihat Dila segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya.
Akupun segera pulang dengan senyum kepuasan di wajah karena kutahu, mulai besok aku akan menjalani hari dengan penuh gairah birahi!

USTADZAH DILA 1 : USTADZ ADAM

Sore hari itu, dari sebuah sudut bangunan sebuah sekolah dasar yang terletak di pinggir kota KA, sayup-sayup terdengar suara desah halus yang nyaris tak terdengar. Desahan itu terdengar seperti ditahan-tahan. Di balik pintu toilet khusus guru-guru SD , nampak sosok seorang pria tengah berdiri menempelkan kupingnya . Dengan seksama ia mendengarkan desahan yang terdengar amat merangsang itu. Pria itu bernama Adam, Guru olah raga sekolah itu yang umurnya sekitar 25 tahun.

Di dalam toilet sesosok wanita dengan setelan blazer dan rok panjang coklat muda nampak sedang terduduk di pinggir bak mandi, jilbab panjang berwarna putih membalut kepalanya. Rok panjang semata kakinya telah tersingkap, jemarinya yang lentik meraba-raba klitorisnya. Matanya tertutup seakan sedang melayang ke dunia lain. Dari bibir tipis guru cantik itu sesekali keluar desisan-desisan kecil“sshh..emhhh”. Sekarang perempuan cantik berjilbab itu nampak berpindah posisi menghadap tembok sembari membungkuk menahan tubuhnya di tembok toilet dengan sedikit menungging. Tangan kanannya bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisnya dari depan.

”Uuuh…mmhhh…ssshhh…”, desis wanita berjilbab itu pelan tertahan. Keringat nampak mulai mengalir dari atas keningnya. Saat PNS manis berjilbab itu hampir tiba di puncak kenikmatan, tiba-tiba,”Braaak!!”, bunyi pintu toilet didobrak paksa.

”Ustazah Dila!”, kata orang yang berdiri di depan pintu toilet. Matanya yang tidak berkedip sedikitpun melihat perempuan cantik berseragam dan berjilbab itu.

Diapun tersentak kaget, “Ustad Adam!!”, katanya kaget setengah berteriak.

Karena kaget dan tidak tahu berbuat apa, yang dipanggil Ustazah Dila alias Padila perempuan berjilbab itu langsung jongkok merapatkan kakinya, namun tangannya masih berada diantara selangkangan. Dila yang begitu kaget sampai lupa menarik tangannya dari situ.

”Ustad Adaamm keluar!!”, hardiknya panik.

Wajahnya yang cantik terbungkus jilbab putih sedada itu nampak pucat karena takut dan malu. Yang dihardik, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya.

”Ngapain pak??!!… Keluar!!”, hardik Dila sekali lagi sembari tetap berjongkok sambil merapikan rok panjangnya ke bawah yang tadinya tersingkap sampai sepinggul.

”Ustazah Dila”, kata Adam seraya mendeka dan mendekap tubuh guru perempuan berjilbab itu.

Perempuan itu terhenyak kaget, tapi tidak berani berteriak karena takut kalau-kalau ada orang yang mengetahui kalau dia bermasturbasi di toilet sekolah.
”Jangaan pak”, ronta Dila seraya berusaha melepaskan dekapannya. Perempuan berjilbab itu menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan pria tersebut, namun dia tetap mendekap Dila erat-erat. Sampai-sampai PNS berjilbab itu hampir menabrak dinding.

”Tolong…jangan paak”, pintanya dengan suara memelas ketakutan. Namun pria paruh baya tersebut tidak menggubris rengekan gadis berjilbab berusia 24 tahun itu bahkan dia malah mendekatkan wajahnya serta menciumi leher Dila yang tertutup jilbab putihnya.

”Jangaaan”, pinta Dila dengan pekik tertahan.

Adam nampak begitu beringas dengan nafas mendengus sambil menciumi leher yang tertutup jilbab putih. Tangannya mulai meraba-raba buah dada guru berjilbab itu dari luar baju seragam coklat mudanya. Dila sadar kalau dia terjebak makanya dia berusaha melawan. Dengan sekuat tenaga didorong tubuhnya dan berhasil. Pria itu terjatuh di lantai toilet.
Memanfatkan situasi itu, Dila bergegas ke arah pintu. Namun tatkala hendak mencoba membuka grendel pintu toilet, tangan PNS berjilbab itu tertahan oleh tangan Adam yang kekar.

”Lepaskan”, kata Dila meronta.

Namun Adam yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkannya lagi. Pria itu malah memiting tangan kanan guru cantik berjilbab itu ke belakang dengan kasar, sedang tangannya yang lain menahan tangan kiri Dila di dinding. Perempuan berjilbab itu terjebak nampak tubuhnya seperti terkunci dan tidak bisa bergerak.

”Adaammmm …sakit..lepaskan”, pinta Dila dengan suara memelas.

”Ustazah Dila… biarkan aku…”, bisik pria itu ketelinga Dila yang tertutup jilbab itu disertai dengusan.

“Ahhh lepaskan”, pinta guru SD yang cantik itu memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekar pria itu menekan tubuh Dila ke dinding. Perempuan berjilbab putih itu nampak panik ketakutan ketika merasa ada benda yang keras kenyal menekan kearah bokongnya yang tertutup rok panjang berwarna coklat muda itu.
Guru perempuan itu semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangan Adam.

”Sebaiknya Ustazah Dila jangan berisik, nanti ada orang yang dengar. Biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau Ustazah Dilauah masturbasi di kamar mandi”, ancam Adam.

Ancamannya begitu mengena sehingga guru cantik berjilbab itu menghentikan perlawanannya.
Mengetahui mangsanya mengendurkan perlawanan, tangan-tangan kekar pria itu menarik kedua tangan Dila merapat kedinding hingga saling berhimpitan.

“Jangan paak, kumohhhon jangaan”, pinta guru berjilbab itu memelas kepada Adam. Tapi sia-sia, tangan kanan pria itu dengan bebas meraba-raba buah dada Dila sambil sesekali meremasnya. Sedangkan tangan kiri pria itu mengunci kedua pergelangan tangan Dila yang merapat didinding. Ekspresi wajah berbalut jilbab putih itu terlihat ketakutan bercampur sendu.

“Aahh Ustazah Dila….teteknya gede banget emmhh…”, kata-kata kotor sekaligus memuji keindahan tubuh Dila keluar dari mulutnya. Kurang puas meraba buah dada perempuan berjilbab itu dari luar blazer lengan panjang berwarna coklat muda tersebut, tangan Adam yang kasar meyusup masuk kedalam baju yang dikenakan Dila.

”Ammpuun pak lepaskan”, mohon Dila kala pria itu mulai memeras kedua buah dadanya.

Namun Adam tidak menggubrisnya, malah guru cantik berjilbab itu merasakan penis pria itu sudah sangat keras sekali menabrak-nabrak pantatnya. Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat ingin menyetubuhi Dila.

”Ugghh…sssayaang…puaskan kontolku sekarang yah?”, bisik Adam pelan penuh nafsu sambil menarik rok panjang semata kaki coklat muda Dila keatas.

“Pakk..jangan…jangan. Kasihani saya”, kata guru berjilbab itu memelas putus asa.

Sepertinya apapun yang dikatakan Dila tidak dapat membendung nafsu setan Adam. Sejenak Dila tidak merasakan tangan kanan pria itu meraba-raba tubuhnya.
Penasaran apa yang dilakukannya, guru berjilbab itu menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya Dila tatkala melihat pria itu mengeluarkan penisnya. Meski guru cantik berjilbab itu tidak melihat dengan jelas namun bisa terlihat bentuk penis pria tersebut besar dan hitam legam keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kaget Dila, Adam menekan tubuh perempuan berjilbab putih itu hingga menempel ke dinding. Dirasakannya benda kenyal dan keras itu sedang menggesek-gesek dan menabrak pantat Dila.

”Ssshhh pantatmu montok banget sayang..”, kata Adam seraya meremas remas pantat guru cantik berjilbab itu. Dila terhenyak kaget karena teringat ketika bermasturbasi tadi dia melepas celana dalam dan masih tergantung di pintu toilet.

Dila nampak sudah pasrah karena meras tidak mungkin lepas. Terasa oleh guru berjilbab itu sebuah benda keras dan kenyal sedang menggesek-gesek belahan vagina miliknya yang licin seperti mencari-cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di celah bibir vagina Dila.

”Ampun pak…Jangan…tolong kumohon..”, pinta Dila lagi putus asa kala menyadari dalam hitungan detik penis Adam akan segera masuk kedalam tubuhnya.

”Oohh…Ustazah Dila udah lama saya pengen giniin kamu. Kamu seksi banget”, jawabnya tanpa memperdulikan permohonan perempuan berjilbab itu.

Dan tiba tiba terasa oleh Dila pria tersebut mulai bergerak menyeruak masuk membelah bibir vagina miliknya. Panik, Dila sekuat tenaga mencoba melawan dengan sisa-sisa harapannya. Namun bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuh Dila penis pria itu malah makin terbenam masuk ke dalam lubang vagina miliknya.

”Aaaah tidaaak!!”, jeritnya dalam hati ketika merasakan batang kejantanan pria itu membenam memenuhi vaginanya. Ekspresi wajah cantik terbalut jilbab putih itu nampak ingin menangis sembari menggigit bibirnya.
Sungguh , vagina Dila yang sudah basah ketika bermasturbasi tadi malah memudahkan batang penis Adam itu masuk. Penis yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vagina Dila dengan gerakan pelan tapi pasti.

”Uugghh…mmmh.. Dilaaa, memmmeekmu enak banget…ooohhh…”, desahnya meracau didekat telinga Dila yang tertutupi jilbab ketika penisnya dibenamkan sedalam mungkin hingga menyentuh rahim miliknya.

”Nnggghh…mmmhh……”, desah Dila seolah membalas racauan nikmat Adam. dalam hati. Raut wajah cantik yang terbalut jilbab putih itu nampak sedikit mengernyit seakan menahan perih karena mungkin belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke dalam vaginanya.

Ketika batangan itu amblas, Dila terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya itu berkecamuk dikepalanya.
Dila pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak menyangka fantasinya untuk bercinta di toilet sekolah dan disetubuhi dari belakang kesampaian juga, tetapi bedanya bukan dengan sosok pria yang ada dlam fantasinya selama ini. Tapi kenyataannya, laki-laki yang sedang mendesah-desah dibelakang perempuan berjilbab ini, yang sedang membenamkan dan memaju mundurkan penisnya ke dalam lubang surgawinya ini adalah penjaga sekolah dasar ini.
Kenyataan yang harus diterima Dila kala Adamlah yang sedang asyik menikmati dan memompa penisnya keluar masuk di lubang kemaluan miliknya.

”Oooh Innnahh…sssayyanghh…ohhh enaknyah”, desah Adam sambil meracau nikmat berkali kali.

”Sshh…ngghh..mmmh”, desis Dila kecil seakan mulai merasakan nikmatnya genjotan Adam.

Guru Olah raga itu terus menyodok dan memompa penis miliknya sedalam-dalamnya tanpa henti. Kedua tangan Dila masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet. Makin lama perempuan cantik berjilbab ini hanyut oleh getaran birahi yang mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar keseluruh tubuhnya.

“Sshh…mmmh…mmmmh”, desis Dila pelan dengan tubuh yang terguncang-guncang menerima sodokan penis Adam dari belakang.

”Enakkan sayyanggh..?”, tanya Adam tiba tiba.

Dila hanya terdiam malu, tidak berani berkomentar seraya menundukkan wajahnya yang terbalut jilbab itu seraya mencoba menghindari usaha bibir Adam yang ingin mengecup pipi kanannya.

‘Tunggingin dikit dong sayanghh..”, pinta Adam sambil menarik bongkahan pantat guru berjilbab itu keatas.

Tanpa menjawab Dila menunggingkan sedikit pantatnya.

”Emmh pantat kamu memang montok banget sayang, nggak salah apa yang aku khayalkan selama ini”, ujar Adam seraya meremas remas bokong Dila dengan gemas.

Sambil tangan kirinya menahan pinggul guru cantik berjilbab itu, Adam kembali menyodokkan penisnya kembali.
“Ough.. pak pelan..”, pinta Dila kala merasakan penetrasinya terasa lebih dalam dari sebelumnya. Mungkin karena perempuan berjilbab itu menunggingkan pantatnya sehingga posisi vagina itu benar-benar bebas hambatan.
Adam tidak memperlambat sodokannya malah dipercepat, membuat Dila mulai mendesah pelan penuh nikmat.

”Sshh..ngghh..”, desis Dila pelan kala merasakan gesekan batangan Adam di lubang vaginanya.

Melihat tubuh guru berjilbab yang terdorong dorong ke depan, Adam dengan sengaja melepaskan kedua tangan Dila sehingga ia dapat menahan tekanan tubuh pria itu dengan kedua tangan Dila bertumpu pada tembok.

”Sshh…gilaa nikmatth banget”, erang Adam seraya kedua-tangannya mencengkeram dan meremas remas bokong yang bulat padat milik guru cantik berjilbab itu sambil tidak berhenti menyodok-nyodokkan penisnya

”Ooh…sayyangghh..oooh”, desah Adam semakin kencang.

“Ohh…ngghh..pp..pak…ja..jangan berisik pak..”, pinta Dila karena takut desahannya didengar orang.

”I..i..iyahh..Innhh.. emhh abis memekmu enak bangetthh…ughh..”, katanya pelan dengan nafas menderu.

Sodokan pria tersebut semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokong guru cantik berjilbab itu, Adam menguakkan belahan pantat Dila. Dan satu jari pria itu mulai membelai anus Dila. Kontan Dila menggeliat seraya menggoyang pantatnya kekanan dan kekiri karena kegelian.

”Ooooh… Ustad Adam..oooh”, Dila tidak lagi mendesis tetapi mendesah karena rasa nikmat yang tercipta dari sodokan penis Adam ditambah gesekan jarinya yang membelai anus milik gadis berjilbab itu. Semua seperti racikan yang pas membuat guru SD berjilbab itu lupa diri membuatnya tidak dapat membendung desahan nikmat yang keluar dari bibirnya.

“Ooghh…oohhh…ngghh..”, desah Dila menggila kala jari Adam menusuk-nusuk kedalam anus guru berjilbab itu. Refleks, pantat Dila semakin menungging. Setiap kali pria itu menarik penisnya jari ditusukkan kedalam anus Dila.

Gerakan dua insan yang berlainan jenis itu semakin panas. Pantat guru cantik berjilbab itu nampak bergetar-getar hebat kala penis dan selangkangan Adam membentur-bentur keras bokong Dila. Kepala Dila yang terbungkus oleh jilbab putih itu nampak mengangguk-angguk kepayahan menerima sodokan Adam sedari tadi. Desahan dan racauan dari mulut kedua mahluk lain jenis ini juga semakin tidak karuan. Baju seragam PNS coklat muda serta jilbab putih yang dikenakan Dila nampak basah kuyup akibat keringat serta suhu lembab dan panasnya persetubuhan itu.

“Akkuu..mau keluar..ahh…Dilaaaa”, erang Adam yang hendak mencapai klimaksnya.

”Oooh…emmmh”, desah Dila lebih keras seraya merapatkan tubuhnya ke dinding diikuti Adam dengan menyodokkan penisnya dalam-dalam. Bahkan Adam juga menusukkan jarinya sampai amblas kedalam lubang anus Dila.

”Aakkhhhh….”, pekik tertahan guru cantik berjilbab itu panjang tanda dia mencapai puncak orgasmenya (walau kenyataannya guru berjilbab itu habis diperkosa).

Ditelannya air liurnya sendiri seraya menikmati sisa kenikmatan puncak orgasme tadi, sedang penis Adam ternyata masih sibuk memompa liang vagina Dila. Kedua tangannya memcengkeram pantat yang bulat dan padat itu sambil memompa penisnya dengan ganas.

Dan, “Okkhh…dilaa..oooh”, erang Adam sambil menghentakkan selangkangannnya rapat-rapat ke pantat Dila sambil menekan tubuh guru berjilbab itu hingga tertekan kedinding.

Ekspresi wajah cantik terbalut jilbab itu nampak kaget kala menyadari penis Adam menyemburkan sperma hangat memenuhi rahim miliknya. Berkali-kali pria itu menghentakkan penisnya dalam-dalam membuat tubuh Dila terdorong ke tembok.

”Ooh… emmmh…”, desah Dila sang guru berjilbab itu tanpa sadar ikut menikmati sensasi Adam berorgasme di dalam liang vaginanya. Denyutan serta semprotan spermanya berhamburan hangat keluar membasahi rahim Dila.

Sekilas raut wajah guru cantik berjilbab itu seakan tersadar kembali. Dirapatkan tubuhnya kedinding dan menarik nafas seraya teringat kalau dia memang sudah mau haid. Dalam hati Dila hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur dirahimnya.

”Ustazah Dila…emmh”, desah pria itu seraya mencoba mencium pipi Dila. Guru berjilbab itu menolak sembari mendorong Adam dengan mata melotot. Melihat Dila yang protes, Adam segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan penisnya yang masih dilumuri cairan vagina guru berjilbab itu.

”Cepat keluar pak”, hardik Dila dengan suara lantang sambil merapikan rok panjangnya. Adam tanpa berkata apa-apa langsung keluar dari toilet. Guru berjilbab itu lalu langsung membersihkan kemaluannya dari sperma Adam yang mengalir keluar.

”Ihh…banyak banget spermanya”, pekik Dila dalam hati.

Selesai merapikan baju seragam PNS-nya, guru berjilbab itu lalu mengendap endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Dan Dila pun pulang dengan perasaan berkecamuk, apakah dia baru saja dipaksa berhubungan seks oleh orang yang tidak diinginkannya ataukah dia memang justru menikmatinya? Ahh…entahlah.

USTADZAH YUNI

Ustadzah Yuni yang juga seorang dokter umum itu keluar dari kelas tempatnya mengajar. Ia seorang wanita alim dan shalihah, berjilbab rapat, berjubah amat besar dan lebar serta bercadar. Ia melangkah keluar pintu pesantren tempat ia membantu mengajar pelajaran umum. Tiba-tiba dilihat seorang lelaki bertubuh kekar memegang pisau. Wajah lelaki itu sangar. Ia memang seorang lelaki bekas napi yang masuk penjara karena memperkosa banyak gadis dan wanita cantik. Saat itu suasana amat sepi sekali. Padahal sudahjam sepuluh pagi. Lelaki itu ternyata menodongkan pisau di leher wanita alim ini. “Ustadzah Yuni ya?” Tanyanya. “Ya, ada apa ya?” Wanita bercadar yang bersuara lembut itu balik bertanya.

jilbab merah9

“Kalau kamu mau selamat, turuti kemauan saya.” “Kamu mau apa?” Kembali Ustadzah Yuni bertanya. “Saya Cuma mau ngentot sama perempuan bercadar. Sama kamu.” Bentaknya keras. Muka ustadzah itu memanas. Ia berkata ketus: “Tidak mungkin. Saya wanita baik-baik, saya juga sudah bersuami dan punya anak. Lagipula ini di luar rumah. Jangan bicara ngawur. Lepasin saya, saya akan bayar berapa aja kamu minta.” Ujar ustadzah itu dengan tegas berapi-api, meski suaranya tetap lembut.

jilbab merah7

“Saya Cuma mau memek kamu, memek perempuan bercadar. Karena Cuma perempuan bercadar yang belum pernah saya perkosa. Perawat, polwan, mahasiswi, sampai perempuan berjilbab lebar sudah pernah saya tusuk nonoknya.” Ujar lelaki itu. “Soal di luar rumah, jangan khawatir. Saya enggak minta kamu telanjang atau buka jilbab, cadar atau jubah sekalipun. Buka saja kancing jubah di bawah perut, turunkan celana dalam kamu, saya entot kamu sambil berdiri. Gimana?”

jilbab merah4

Ustadzah Yuni betul-betul terkejut mendengar itu. Tak lama kemudian keduanya terlibat pertengkaran mulut. Tapi akhirnya Ustadzah bercadar itu mengalah. Dengan tangan kiri memegang pisau yang ditodongkan di leher wanita itu, lelaki kekar setengah tua itu mendekati Ustadzah Yuni. Wanita bercadar itu mulai membuka tiga buah kancing di perutnya. Tangannya di masukkan ke balik jubah untuk menarik turun celana panjang berikut celana dalamnya putihnya. Mata lelaki itu terus melotot melihat turunnya celana dalam wanita bercadar itu.

jilbab merah3

Pemandangan yang tidak akan dilupakannya seumur hidup. Selanjutnya ia memepetkan tubuhnya ke wanita bercadar itu ke dekat dinding, lalu memeluknya dengan erat dengan tangan kanannya, ia mendekap wanita bercadar itu dengan erat sekali, sehingga terasa kehangatan tubuh Ustadzah Yuni meski terbalut jubah tebal dan jilbabnya. Resleting celananya di buka, penis super besarnya (24 cm dengan diameter 3 CM) dikeluarkan dari celananya, langsung di arahkan ke bagian jubah Ustadzah bercadar itu yang terbuka. Mata ustadzah Yuni melotot. Ia terkejut sekali melihat ‘barang lelaki’ sebesar itu. Selanjutnya, bagaikan ular mencari lubang, penisnya berusaha mencari lubang kemaluan ustadzah itu. Meski agak sulit, akhirnya berhasil. Setelah meletakkan kepala penisnya di lubang kenikmatan wanita bercadar yang masih dipeluknya sambil berdiri itu, ia langsung menekan dengan keras sehingga seluruh penisnya amblas ke dalam memek dokter Yuni, ustadzah bercadar yang malang itu. Ia mendekap erat tubuh wanita bercadar yang tetap rapat dengan jilbab cadar dan seluruh pakaiannya, kecuali celdam dan beberapa kancing jubah saja, sekedar muat untuk masuk kontol lelaki kesetanan itu. Sambil berdiri dan memeluk wanita bercadar itu, penisnya terus menusuk, menekan, mengobrak-abrik dan membongkar kemaluan wanita alim itu. Sementara ustadzah bercadar itu sendiri bergetar badannya. Ia merintih dan menjerit pelan tetapi dengan suara berubah agak besar, menahan tangis sekaligus kenikmatan tak terhingga. Kalau dilihat terlihat lucu, seorang wanita bercadar dipeluk di luar rumah, di tempat terbuka oleh seorang lelaki dengan pakaian lengkap, padahal kemaluan mereka sedang saling bertempur!!!

jilbab merah3

Hampir 1 jam lelaki bernama Parto itu menggarap wanita bercadar yang menggemaskan itu, sampai akhirnya spermanya muncrat di rahim wanita bercadar yang tubuhnya bergetar hebat sambil tetap berdiri itu. Mata wanita bercadar itu melotot lebar sekali, menandakan iapun keenakan. Tanpa sengaja ia membalas pelukan Parto. “Gimana, enak bu? Akhirnya berhasil juga saya ngentot wanita bercadar. Terima kasih, memek ibu enak sekali.” Lalu tubuh lunglai wanita bercadar itu dilepas hingga terjatuh ke belakang dalam keadaan pingsan!!

RIF’AH 5 : ABU NIDA

Sesampainya Ummu Nida dan Ummu Rosyid di kantor DPD, gedung itu terlihat lengang. Sama sekali tidak ada aktivitas perkantoran seperti hari-hari biasa. Ummu Rosyid membuka pintu utama dengan kunci yang dibawanya. Sebagai seorang kader senior, Ummu Rosyid memang diberi kepercayaan untuk memegang kunci kantor DPD. Kedua ummahat yang masih bertubuh sintal itu pun langsung menuju ke ruang serbaguna yang ada di bagian belakang gedung DPD untuk bersiap-siap.

Tak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara motor yang tengah diparkir di halaman depan. Mereka pun langsung tahu siapa pemilik motor tersebut. Dengan ketukan sepatu kets yang berdecit, Faizah juga memasuki ruang serbaguna tersebut.

“Assalamualaykum Ummu Nida, Ummu Rosyid,” ujar akhwat berkulit gelap itu sambil tersenyum.

“Waalaykumsalam warahmatullah, Faizah,” jawab Ummu Nida yang kemudian diikuti juga oleh Ummu Rosyid.

Tanpa basa-basi, Faizah langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ummu Nida sudah siap dengan pakaian bela dirinya.

***

Rif’ah begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke rumah Ummu Nida. Untung Ummu Nida telah meminjamkan kunci serep kepadanya.

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Rif’ah begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor DPD. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Rif’ah. Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu.

Rif’ah hanya membuka pintu itu sedikit, dan ternyata sudah ada Abu Nida yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berangkat tadi pagi. “Ada apa, Abu? Tumben sudah pulang.”

“Iya, setelah mengantarkan Ayyash, Abu baru sadar kalau dompet Abu ketinggalan. Sekarang Abu cari tidak ketemu, bisa Rif’ah bantu Abu mencari?” ujar Abu Nida sambil tersenyum.

Di mata Rif’ah, senyum Abu Nida itu begitu jantan dan menenangkan. Tanpa kecurigaan sedikitpun, ia pun menuruti perintah Abu Nida. “Di mana terakhir Abu melihat dompet Abu?”

“Di kamar Abu dan Ummi, Ukhti Rif’ah.”

Rif’ah pun langsung menuju kamar Abu Nida dan Ummu Nida, sementara Abu Nida mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Rif’ah yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi bokongnya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Abu Nida. Karena itu begitu Ummu Nida mengatakan kalau Rif’ah akan menginap, ia langsung mengiyakan. Namun, sebenarnya ia tidak sampai membayangkan akan berduaan saja dengan junior istrinya itu seperti ini.

Di dalam kamar, Rif’ah langsung mencari dompet Abu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di kolong tempat tidur. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Abu Nida sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Rif’ah pasrah dirinya dipeluk Abu Nida dari belakang. Selain itu Rif’ah sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Abu Nidal. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Rif’ah, rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Abu Nida meraih rambut Rif’ah dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Abu Nida jangan, aku geli, Abu” , “Emang dik Rif’ah nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Abu lalu kembali memeluk perut Rf’ah dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Abu Nida menaikan pelukan di dadanya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan dadanya.” Abu Nidal, apaan sih aku malu, Abu..” sambil dia berputar ke arah depan Abu Nida. Abu Nida melihat wajah Rif’ah yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Abu mempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Abu Nidal. Pertama lidah Rif’ah begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Abu Nida merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Abu memasukkan lidahnya. Ragu-ragu Rf’ah menyambut lidah Abu Nida. Libido Rf’ah terpacu dan gairah seksnya meninggi. Perlahan tangan Abu Nida menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Abu Nida meraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Rif’ah dibuka Abu Nda. Abu Nidda merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Abu jangan, abuu…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Abu mulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Abu yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Abu Nidaaaa…”. Tangan Abu Nida meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Abu Nida. Ciuman Abu pindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Rif’ah dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

Perlahan Abu Nida mencupang leher putih itu, “ Eerrrrhh…abuuu…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Abu Nida yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Abu telah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Abu membelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh…..abuuu, aku geli” tiap kali Abu menyentuh anusnya. Ciuman Abu Nia telah meninggalkan cupang merah di leher akhwat cantiik ini, tangan Abu meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dadanya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Abu ikut turun ke dada montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Abu untuk mengecup payudaranya. Sementara tangan Abu telah berpindah menyusuri ketiaknya.

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Abu menyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Rif’ah kian menyusup menahan kenikmatan,” Abu, abuu, aku geli abuuu” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Abu ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Abu Nida menempelkan telinga ke dada montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Abu membalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Abu Nida telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Abu, kemudian secara cepat Abu Nida melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Abu Nida cepat membuka baju dan celananya sendiri. Abu Nida mendudukkan Rf’ah ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Rif’ah terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Abu Nida buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Abu Nida menarik puting dadanya dengan tangan kiri. “Och.., abuuu” lirihnya. Dengan jari Abu Nida memlintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Rif’ah mengejan, punggungnya menempel ke dada Abu dan tangan kanannya meremas penis Abu dengan lembut. ”Enak dik Rif’ah??”, “Aah…abuuu” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Abu Nidda tak henti-henti mengecup tengkuknya dan tangan Abu aktif menarik kedua puting hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Abu memangku Rifah di atas paha, Abu Nida membuka ke dua paha akhwat antik ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Abu ke belakang, Abu Nida mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Abu Nida turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Abu Nida yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Rif’ah adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Abu Nida. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Abu Nida, keringat deras mengalir di dada dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Abu dengan lembut. Ketika tangan kanan Abu mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Abu Nida mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Abu Nida mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….abuu, kau apakan tubuhku ini abuu?”, ”Rilex dik Rif’ah, enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….” Rif’ah  hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Abu kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Abu  menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Abu turun menelusuri labia mayora. Abu Nidda menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Abuu….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Abu Nida.

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Abu Nida dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Abuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek Rf’ah. Ngak usah ditahan”, Abu mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Abuuu aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Abu Nida merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Abu melihat dari cermin di mana dadanya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Abu menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Abu menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di dipan kamar itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Abu menurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Abu mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Abu Nida. Abu Nida mengambil posisi di samping kanan Rif’ah, tangan kiri Abu merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Abu  nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Abu berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Rif’ah. Dada Rf’ah terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Abu Nidda menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Rif;af boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Abu Nida menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Abu Nida dan tangan kirinya menekan kepala. Abu Nida merasakan keringat asin dari puting akhwat cantik ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Abu Nida adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Abu Nida aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Abu Nida beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Rif’ah di saat putingnya tenggelam di bibir Abu Nida. Abu menggigit lembut, menarik ke atas, Rif’ah meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Abu Nida. Sementara tangan kanan Abu menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Abu mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Abu menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Abu melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Abu Nida. ”Abu Nida …. jangan…”, saat Rif’ah melihat kepala Abu berada di antara dua pahanya, dengan lembut Abu menjilat klitorisnya, ”Aah….abuu…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Abu Nida mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Abu Nida menggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh….Abuuu…. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Abu Nida.” Abuu….aku mau pipis lagi abuu” kepala Abu tersanggkut.

Di paha Abu Niada air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Rif”ah. Abu Nida mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Abu Nida membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba Rifah membuka matanya, “ABU Nida jangan, aku masih perawan. Kasihani aku abu”, setitik air mata keluar dari ujung matanya. Abu Nida pun kembali beringsut ke sisinya. ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Rif’ah. Maafkan aku khilaf”. Lalu dia bangkit duduk di dipan, matanya melihat burung Abu Nida yang mengacung keras. ”Iih….abuu masih terangsang?”, “Iiya dik Rif’ah khan aku blom nyampe tadi”. Tiba-tiba tangan Rif’ah meraih penis Abu. “Ini ya Abu yang namanya kontol? Ih ngeri aku”. “Ngeri kalau diliat, klu dirasain entar juga enak”. “Aah aku ngak mau, abuu. Aku khan masih perawan”. ” Eeh sapa suruh masukin memek, masukin ke lainnya juga boleh.” rayuan Abu Nida mulai mengenai, Rif’ah mulai meremas-remas penis Abu. ” Maksudnya Abuu??”, “ Masukkin
mulut dong…”, “ Ngak ah, jijik……”,” bentar aja…..ya udah klu nggak mau kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu”

Dengan ragu Rif’ah mendekatkan penis Abu Nida ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan kemudian disusul dengan kecupan-kecupan yang lain. Kemudian perlahan penis Abu Nida dijilat-jilat, kemudian Rif’ah membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis ke dalam mulutnya. Rasa ngilu langsung menyergap Abu. ”Aduh dik Rif’ah, jangan pake gigi……”, perlahan-lahan penis Abu ditelan bibirnya yang seksi itu, rasa hangat dan nikmat terasakan.  Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontol Abu Bida, Abu Nida semakin terangsang. Selama 20 menit Rif’ah memainkan kontol Abu di dalam mulutnya. ”Aduh abuuu…aku pegal”. ”Oke mending kamu di sini berbaring aja”.
Rif’ah beringsut mengambil posisi tidur di sebelah Abu Nida. Dia menggaruki selangkangnya ”Kenapa dik Rif’ah?”, ” Gatal abu ”O ohhh…itu normal tadi khan darahnya ngumpul di ujung”, sambil tangan Abu Nida membelai klitoris akhwat cantik ini yang ternyata masih memerah dan keras “ssshhhh…abuuu…” sambil dia merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam jilbab lebar yang dikaitkan dengan peniti jadi ada belahan di tengah. Kembali tangan Abu menyusup ke dalam jilbabnya dan mengelus-elus payudara akhwat cantik ini. Matanya kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.

” Dik Rif’ah, anti percaya khan Abu ngak bakal bobol perawanmu”, “Rif’ah percaya, abu…. Trus hrs gmn?”. ”Ana pingin ngesekkin konto ana ke paha anti boleh, khan?”. ”Cuma paha? Boleh abu tapi janji ya?” Lalu Abu Nida menindih Rif’ah. ”Oke sekarang pahamu rapatkan”. Rif’ah merapatkan pahanya.  ” Dik Rif’ah, buka dikit pahanya trus rapetin lg, ya”. Rif’ah mengangguk dan membuka pahanya, Abu Nida menempatkan kontolnya di antara paha akhwat cantik ini, kemudian dirapatkan lagi. ” Udah dik Rif’ah? Ngak kena lubang khan?”, ” Iiya abuu…” Abu Nida menarus tanganku di atas dada akhwat cantik yang masih tertutup jilbab ini. ”EEehhhhhh….abu… geli banget udah hampir ke lubang”. Abu Nida mengatur kedua tangannya di belakang punggung akhwat canik ini. ”Segini?”, ”Iya abuu…”. Pelan-pelan Abu Nida mulai menaik turunkan kontolnya, secara perlahan gerakan kontol Abu mendekati lubang memek Rif’ah.”Enak, dik Rif’ah??” Abu Nida menatap wajah akhwat cantik yang dibalut oleh jilbab itu, wajahnya bersemu merah, ia membuang muka, Abu Nida mencium bibirnya yang merah kesedot bibir bawahnya dan menjilati bibir atasnya. Rif’ah menutup matanya seolah merasakan desakan birahi, gerakan benar-benar sudah tepat di lobang memeknya, hal itu ditandai bunyi kecipak. ”Abuu?”, ”Hmmmmm?”, ”Aku mencintaimu….aku mengagumimu”. Semakin Abu Nida mempercepat Rifa’h semakin mengelinjang, semakin tersingkap jilbab yang menutupi payudaranya, Abu menggigit pelan putingnya, perlahan pahanya melebar ke kiri ke kanan. Kontol Abu telah menggesek memek Rif’ah yang telah basah.

Memandang Rif’ah yang sudah terserang birahi membuat dada Abu seolah meledak, Abu Nida menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Rif’ah. Perlahan kontol Abu mendesak masuk ke memek Rif’ah, perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Abu Nida menguasai pikirannya. Abu Nida melambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Rif’ah, Abu Nida menghempaskan tubuh ke samping Rif’ah. Perlahan Rif’ah membuka mata. ” Kenapa Abuu? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”, “Tidak, maafkan aku. Aku hampir merengut kesucianmu”. ”Hah? Kenapa berhenti Abuu”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Rif’ah”.

Tiba-tiba Rif’ah memeluk Abu,” Kau sungguh laki-laki yang menepati janji. Ijinkan ana melayani antum Abuu…”, lalu Rif’ah menaiki tubuh abu nida. ”Aku juga kan menggesek pahaku, abuuu”. Perlahan tapi pasti kontol Abu Nida bergesekan dengan klitorisnya, kontol abu nida ditindih dengan rapat dengan posisi horisontal. Kontol Abu Nida perlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaan akhwat cantik ini, dengan menggunakan jari kanan Abu Nida meraba klitorisnya yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat di atas kontol Abu. Rangsangan jari Abu Nida ini membuat Rif’ah menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Abu Nida meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Abu dengan sekali gerakan k Abu Nida meraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Abu berpindah menarik punggungnya agar dada akhwat cantik ini dirapatkan ke dadanya, rasa hangat menerpa dada Abu keringat mereka saling menyatu.

Abu Nida menempatkan kontol ke posisi vertikal. Rif’ah kemudian mengesek naik turun kontol Abu Nida yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Abu Nida menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Abu Nida menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Rif’ah sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Abu menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Abu Nida masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Abu Nida tenggelam di gerbang vagina Rif’ah, tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Abu Nida hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Abu Nida merasa itu adalah selaput daranya. Abu Nida melihat Rif’ah tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. Abu Nida melihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi baja kontol itu keluar dengan cepat Rif’ah memasukkan kembali sebatas penghalang. “ Miliki ana, Abuu…”.

Kemudian dengan menarik nafas panjang Rif’ah menaikkan tangannya di atas dada Abu, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol abu hingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…abuuu, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh abu. Abu Nida mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Rif’ah mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Abu, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Rif’ah mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Abuu….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Rif’ah, biar Abu lihat”. Rif’ah berjongkok dengan kontol Abu yang masih tersarung di memeknya, Abu melihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…abuu, aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Abu Nida menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Abu…abuu…abuu…ouch” kontol abu keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

Rasanya kontol Abu Nida dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Rif’ah. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Abu Nida seiring dengan makin terangsangnya Rif’ah. Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Abu aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Abu Nida keluar masuk vagina Rif’ah semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Rif’ah memasukkan kontol abu, aAbu Nida mengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Abu ana mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Rif’ah tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, abu juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Rif’ah, Abu juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Abu sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Abu nyampe…….ah….” dengan kerasnya Abu Nida mengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Rif’ah masih bergoyang di atas kontok abu.

“Abuuu…aku juga…..” Tiga goyangan Rif’ah mengejan di atas tubuh Abu, Abu merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh abu dan kukunya menancap di punggung abu, dada mereka saling menempel hingga Abu Nida merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Abu Nida serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan abu memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Abu Nida membiarkan Rif’ah beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Abu Nida mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Rif’ah menggeser tubuhnya di sebelah Abu Nida dengan posisi miring dia memeluk. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, Abu Nida mencium kening dan rambutnya. “Maafkan ana Ukhty Rif’ah”, “ Kita khilaf abuu, bagaimana kalau ana hamil abuuu?”, “ Kamu jadwal mens kapan?”, “ 3 hari yang lalu aku selesai mens, abuu”, ”oh berarti ngak bakal hamil, karena anti blom subur”

Abu Nida lega mendengar hal itu. Lima menit kemudian Rif’ah bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, Abu Nida mengamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangannya. Abu Nida kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermanya sendiri, agar Ummu Nida istrinya tidak mengetahui kejadian barusan. Setelah 10 menit Rif’ah kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi dengan tubuh yang masih telanjang.

”Abu kok kayaknya di selangkangan ana kok masih ada yang nyangkut? Terus labia mayoraku kok tambah lebar?”, tanyanya lugu ke Abu Nida. “Biasa kalau pertama ML, masih peret berarti” sambil tangan Abu Nida mengusap klitorisnya. Plak, tangannya memukul punggung Abu “ Abu jangan, aku geli. Khan udahan. Mana bra dan cd ku abuus?” MerekaKami mencari bra dan celana dalam Rif’ah yang terselip di sprei yang dibereskan Abu Nida tadi. Cukup lama mereka mencarinya, dengan tubuh yang bugil dan hanya mengenakan jilbab saja Rif’ah berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arah Abu memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan, tak terasa kontol Abu Nida mulai bangun lagi. Abu Nida mencengkram pantat yang padat itu, lalu menjilat memek merahnya. “Abu ini apaan sih? Geli abu” . Rif’ah hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludah abu. Tubuh Abu Nida menyusup di antara tubuh akhwat cantik ini, Abu mengambil posisi 69. “Ayo ukhty Rif’ah, kontokku jangan cm dilihat”, ” iya abuu…” bibirnya dengan cepat telah mengulum kontol abu, lidah abu mengaduk-aduk vaginanya sekali-kali mampir ke anusnya.

Pantatnya kian diturunkan ke wajah abu, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya digosok Abu Nida dan dipiln dengan jari sambil sekali disedot dan digigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar ditarik kanan kiri, Rif’ah semakin mengelinjang. Semakin terangsang semakin melengkung tubuhnya mulutnya tidak berhenti menyedot kontol abu. “ Abuuu…..ah…..abuuu……” lepas mulutnya dari kontol Abu Nida, dijilati pula kedua pelir abu. Tubuh Abu Nida beringsut mengambil posisi doggy style, Abu Nida menggosokkan kontol ke klitoris akhwat cantik ini “Aaaaaah….geli abuu…”, ”Eeenak, sayang?” tangan Abu menggosok klitorisnya yang sudah basah sambil mengarahkan kontol ke lubang memeknya. ”Eeeemmmh….enak Abu. Aku diapain sihh…..?”

Abu Nida menjawab dengan memasukkan kontol ke dalam memeknya, seperti pertama tadi rasanya ada sesuatu yang menahan penetrasi kontilnya. Bles….Abu Nida menunduk mencium punggungnya yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidah mneyusuri punggung putih itu hingga leher jenjangnya. ”Aaaau…abuuu”. Tangan Abu aktif meremas-remas susunya, Rif’ah semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang. Abu Nida menarik kontol dari vaginanya, plok,plok….setiap kali ujung kontol Abu Nida masuk ke vagina akhwat cantik ini seolah udara dipompa keluar dari lubang memeknya. ”Aduh abuuu, pelan dong …masih perih”tubuhnya gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Abu Nida membuka lebar pantatnya semakin dalam kontol memasuki tubuh akhwat cantik ini, akhirnya tubuhnya melengkung menyebabkan pantatnya semakin menungging.

Dada Abu Nida penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontol dan melihat punggungnya yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Abu Nida terus menambah kecepatan ayunan pantatnya, karena tadi abu sudah keluar kontolnya menjadi perkasa untuk ronde kali ini.

“Aaaaah…uh…abuuu aana mau dapet, abuuu”, ”iya sayang…” hujaman kontol Abu Nida semakin cepat pada hujaman sepuluh tubuh Rif’ah mengejan bergetar. ”Abuuu…ahhc…aku dapet”, Abu Nida menarik pinggulnya agar merapat ke kontol, kedutan-kedutan vaginanya menerpa permukaan topi baja kontol abu nida. Kepala akhwat cantik ini rubuh ke kasur, tangan abu menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembut. Abu Nida membalikkan tubuh akhwat cantik yang putih bersih tanpa cacat, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapan Abu. Abu Nida membuka paha akhwat cantik ini, menggesekkan kontol ke anusnya. Rif’ah menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Abu menarik pinggulnya ke arah kontolnya, lubang yang telah basah itu seolah menarik penis untuk masuk ke dalamnya. Abu Nida mengangkat kaki akhwat cantik ini di atas pundaknya, menciumi dan menjilati betisnya. Payudaranya yang besar dan bulat kenceng itu bergoyang berputar setiap kali abu menghentakkan selangkangannya, abu memilin-milin klitroris akhwat cantik ini. Kepalanya menggeleng-geleng, jilbab yang dikenakan mulai terbuka lagi. Abu Nida menaruh kakinya menindih kakinya yang lain, kontolnya tetap tidak terlepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vaginanya sempit.

”Aaaaahhhh abu, sempit abuuu…” dari samping pula abu melihat payudaranya menjadi mngancung dan berayun-ayun. Abu Nida menarik tangannya agar penetrasiku semakin dalam. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu dicium dan membuat Rif’ah semakin tenggelam dalam birahinya. “Abu cium ana dong…” bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontol abu mentok di rahimnya, abu pun membungkukkan badannya dan meraih bibirnya sementara tangan kanannya menaikan tenggkuknya. Abu Nida menekan pahanya untuk membuat penetrasi semakin dalam” Aaaah abuuu….mentok abuu””enak?” “He…em” gumannya.

Setelah 15 menit dalam posisi yang sama kedutan dalam vaginanya kembali muncul, penis Abu Nida menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan abu nida tidak mampu lagi menahan ejakulasi.”Ukhty Rif’ah ane mau nyampe….”,”nyampe aja abuu, anaa bentar lagi”. Abu Nida menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahim akhwat cantik ini. ”Ooooh…dik Rif’ah, aku nyampe” Abu Nida menghujamkan dalam-dalam kontolnya hingga mentok ke rahim akhwat cantik ini.

”Abuu…aku nyampe”, tubuhnya beringsut tangannya menegang hingga hampir terlepas dari cengkraman abu. Ketika semprotan Abu Nida selesai dia menindih tubuh Rif’ah, keringat abu sekali lagi menyatu dalam keringat Rf’ah. Abu Nida mencium bibir akhwat cantik ini, hidungnya dan pipinya. Rif’ah tersenyum manis. ”Aaaah abu ini nakal aana tadi khan udah mandi”, Ya sono mandi lagi”, ” Aaaah males abuu, rasanya lemas banget ana mau tiduran di sini dulu”. ”Jangan dik Rif’ah, Ummu Nida pulang berabe”, ” TApi lemas Abuuu”.

Akhirnya dengan bantuan Abu Nida, Rif’ah dibimbing ke kamar mandi, sebelum masuk Abu Nida sempat memasukkan jari ke vagina akhwat cantik itu tapi ditepis sama tangannya. Tapi sesudah kejadian itu mereka sering mengulangi kapan saja ada kesempatan. Rif’ah sendiri nampak tidak keberatan jadi istri kedua Abu Nida…..

RIF’AH 4 : NIDA

Melalui lubang kunci tersebut, suasana kamar Ummu Nida terlihat jelas terutama ranjang tempat tidur Ummu Nida dan suaminya. Di ranjang tersebut, Rif’ah melihat Ummu Nida dan suaminya telanjang bulat tanpa selembar pakaianpun menutupi tubuh mereka berdua. Rif’ah sempat tertegun melihat Ummu Nida dalam keadan telanjang bulat seperti itu. Tubuh ummahat berkulit kuning langsat yang telah beranak tiga tersebut ternyata masih kencang dan terlihat montok dengan sepasang buah dadanya yang besar menggelayut di dadanya.Kemaluan Ummu Nida juga nampak bersih dari bulu-bulu kemaluan seperti kemaluan Rif’ah hanya bedanya bibir kemaluan Ummu Nida telah menggelambir kehitam-hitaman sementara bibir kemaluan Rif’ah terlihat rapat dengan warna kemerah-merahan. Ummu Nida terlihat bernafsu menciumi sekujur tubuh suaminya hingga akhirnya terhenti di bagian kontol Abu Nida. Tubuh Rif’ah gemetar ketika matanya melihat kontol suami Ummu Nida yang tegak mengeras. Kontol suami Ummu Nida itu besar dan panjang dengan otot-ototnya yang terlihat menonjol, dan terlihat sangat kontras dengan tubuh Abu Nida yang kerempeng. Ummu Nida terlihat sangat bernafsu menjilati dan menciumi kontol suaminya tersebut hingga beberapa lama ummahat ini asyik dengan batang kontol suaminya tersebut. Rif’ah yang melihat keasyikan Ummu Nida hanya mampu terengah membayangkan dirinya juga ikut menjilati kontol suami Ummu Nida yang besar itu.

Abu Nida terlihat tersenyum-senyum dan terkadang melenguh keenakan menikmati perbuatan istrinya ntersebut. Ketika Ummu Nida kemudian menggenggam kontol suaminya dan diarahkan ke liang kemaluannya, Abu Nida segera membalikkan tubuh montok Ummu Nida sehingga Abu Nida kini berposisi menindih istrinya. Ummu Nida terpekik manja namun beberapa saat kemudian ummahat ini mendesah ketika kontol besar suaminya mulai menembus liang kemaluannya dan beberapa saat kemudian perempuan yang telah beranak tiga ini merintih-rintih jalang ketika suaminya menyetubuhinya. Rif’ah yang melihat adegan tersebut melalui lubang kunci hanya terengah-engah dengan tubuh panas dingin ketika kontol besar Abu Nida menyodok kemaluan Ummu Nida berulangkali. Rif’ah melihat lubang kemaluan Ummu Nida yang tampak lebar karena telah mengeluarkan 3 anak itu seakan tidak muat dimasuki kontol suaminya. Tubuh montok Ummu Nida tampak terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya sementara kedua payudara ummahat dengan puting susu yang tegak kecoklatan ini tampak dikunyah-kunyah oleh Abu Nida dengan penuh nafsu. Adegan-adegan di ranjang Ummu Nida ini membuat Rif’ah terangsang, jauh lebih terangsang dibanding waktu melihat film porno di warnet sehingga akhwat cantik ini kemudian menggosok-gosokkan kemaluannya sendiri. Rif’ah membayangkan kontol Abu Nida yang besar itu juga menyodok kemaluannya dan kemaluan akhwat PKS ini sendiri telah basah kuyup.

Ummu Nida merintih-rintih kenikmatan dengan tubuh yang terguncang-guncang..

“Ohh…ohhh…ssshh….terusss….enaaaaaak..ahhh”

“Sst…jangan keras-keras …nanti kedengaran Rif’ah……kasihan dia belum nikah”bisik suaminya membuat Ummu Nida tertawa manja.

Wajah Rif’ah memerah mendengar obrolan diantara suara-suara persetubuhan suami istri ini yang membicarakan dirinya. Mendadak ada rasa bersalah yang menyergap Rif’ah yang tengah mengintip aktivitas suami istri ini di kamar sehingga membuat Rif’ah berniat kembali masuk ke kamar. Namun niat itu buyar ketika Rif’ah melihat tubuh Ummu Nida mengejang dan memeluk suaminya erta-erat. Gadis cantik ini melihat Ummu Nida rupanya telah sampai puncak kenikmatannya ..

“Ahhhhh Abiii……Ummi keluarrrr..aaahhhhh..ssshhhh” pekik Ummu Nida sambil memeluk erat suaminya dan melingkarkan kedua pahanya membelit tubuh suaminya dengan pantat yang terangkat tinggi. Rif’ah melihat ekspresi wajah Ummu Nida terlihat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian Rif’ah melihat tubuh ummahat ini lemas..

“Aku belum keluar..sayang”desis Abu Nida yang disambut dengan senyuman lemah istrinya. Rif’ah melihat cukup jelas cairan kenikmatan Ummu Nida keluar dari liang kemaluan yang masih dimasuki kontol suaminya.

“Tuntasin aja bi..”desis Ummu Nida kelelahan

Tubuh lemas Ummu Nida kemudian kembali terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya. Cukup lama tubuh montok ummu Nida terguncang-guncang sebelum akhirnya suami Ummu Nida menggeram lantas memeluk istrinya erat. Laki-laki bertubuh kurus namun berkontol besar itu membenamkan kontolnya dalam-dalam. Tubuh Ummu Nida tersentak ketika suaminya juga mengeluarkan mani dengan bergelombang di dasar kemaluannya. Ummhat inipun balas memeluk suaminya dengan erat.

Kamar yang semula riuh oleh bunyi beradunya dua tubuh yang bersenggama mendadak sunyi. Hanya terdengar dengus nafas keduanya yang masih berpelukan dengan kontol Abu Nida masih tertanam di kemaluan istrinya. Mata Ummu Nida tampak terpejam dnegan senyum tersungging di bibirnya

“Aku mau ke belakang dulu” kata Abu Nida sambil mencabut kontolnya dari liang kemaluan istrinya. Ummu Nida mengangguk sambil memandang mesra suaminya.

Rif’ah yang masih mengintip melalui lubang kunci terkejut mendengar Abu Nida ingin ke WC. Dengan cepat akhwat PKS ini masuk ke kamar tempat dia tidur tanpa menimbulkan suara. Abu Nida ternyata perlu waktu sebelum dia keluar kamar, mungkin dia memakai celana terlebih dulu. Rif’ah yang kini berbaring di pembaringan dalam kamar, mendengar Abu Nida masuk ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian suami Ummu Nida ini kembali masuk ke kamarnya.

“Main lagi yuk..mi…Ummi belum capek khan” terdengar suara Abu Nida mengajak istrinya yang membuat Rif’ah berdebar-debar mendengarnya.

“Ah..abi besok lagi aja….ummi capek ..tadi sore habis senam sih” jawab Ummu Nida beberapa saat.”Ummi khan nggak semuda dulu…bi”

“Ah..ummi khan baru 36 tahun..masih muda”sanggah Abu Nida.

“Capek bi….Ummi janji besok …saja.”Ummi khan nggak semuda dulu…bi”

“Ah..ummi khan baru 36 tahun..masih muda”sanggah Abu Nida.

“Capek bi….Ummi janji besok malem lagi…yah”

Abu Nida tidak menyanggah lagi. Terdengar beberapa suara sebelum kemudian suasana kamar suami istri ini akhirnya terdengar sepi bahkan beberapa saat kemudian, terdengar dengkur lirih Abu Nida. Rif’ah yang gelisah berbaring di kamar sebelah itupun tak berapa lama kemudian akhirnya ikut tertidur.

Pagi harinya….

Rif’ah terbangun ketika mendengar pintu kamar diketuk-ketuk cukup keras oleh seseorang.

“Dik Rif’ah…ayo bangun sudah siang..”ujar orang yang mengetuk-etuk pintu yang tak lain adalah Ummu Nida.

“Ya..ya mbak…”jawab Rif’ah meloncat bangun lantas segera menyambar jilbabnya. Di rumah Ummu Nida, Rif’ah memang harus selalu berjilbab jika di luar kamar karena khawatir terlihat suami Ummu Nida, barus etelah Abu Nida pergi ke kantor, Rif’ah baru bebas membuka jilbabnya,

“Kok sampai kesiangan…ayo cepat sana”kata Ummu Nida melihat Rif’ah muncul dari kamar.

“Yaa..yaa..mbak” sahut Rif’ah sambil bergegas ke kamar mandi.

Begitu di kamar mandi, Rif’ah segera mandi mengguyur tubuhnya karena semalam dia telah bermasturbasi.

Ummu Nida yang mendengar suara Rif’ah mandi hanya tersenyum penuh arti.

“Kok mandi dik….mimpi apa yah semalam….kangen sama Faizah ya?”goda Ummu Nida begitu Rif’ah keluar dari kamar mandi.

“Ah..nggak mbak…jijik malah ngebayangin Faizah”sergah Rif’ah

“Makanya nikah…..banyak ikhwan yang mau sama anti kok, atau mau mbak carikan”

Rif’ah hanya tertawa dan segera masuk ke kamarnya kembali.

Tak berapa lama kemudian Rif’ah keluar kamar dengan jilbab lebar dan jubah panjangnya. Akhwat PKS ini segera pergi ke dapur ketika di dengarnya Ummu Nida sibuk di dapur.

Ummu Nida tersenyum melihat Rif’ah muncul di dapur.

“Memang semalam mimpi apa kok sampai basah segala?”todong Ummu Nida membuat Rif’ah tergagap.

“Ah mbak ini….mbak juga pagi-pagi dah mandi” ujar Rif’ah balik menggoda melihat rambut panjang yang dimiliki Ummu Nida tampak basah.

Ummu Nida yang tengah menggoreng telur itu tertawa mendengarnya.

“Wajar dong dik…namanya juga wanita bersuami..anti tahu apa masalah itu”

Rif’ah memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang berbalut daster warna hijau nampak kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Rif’ah teringat kembali tubuh bugil Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Tubuh ummahat separuh baya yang berkulit kuning langsat memang montok dan menggiurkan.

“Ngomomg-ngomong umur mbak berapa?”

Ummu Nida menoleh ke arah akhwat cantik ini.

“Emang kenapa?….coba tebak”

“Mbak masih keliatan muda….mungkin 33 tahun”

Ummu Nida tersenyum mendengarnya. Umu Nida terlihat berpikir sesaat

“Tahu Intan Savitri, Izzatul Jannah..cerpenis itu?”

Rif’ah mengangguk. Akhwat PKS mana yang tidak kenal dengan cerpenis kondang tersebut, apalagi Rif’ah satu kota dengannya dan dia memang mengenal cerpenis itu secara pribadi.

“Dia adik angkatan.satu tingkat di kampus”

“Oo…..kalo gitu berarti mbak sekitar 36-37..soalnya setahuku mbak Ije udah 35 th..?”

“Ya sekitar itu…”

“Tapi tubuh mbak masih kencang, sintal…. padahal anak pertama mbak Nida juga sudah 11 tahun, pantesan abinya betah..lagian wajah mbak cantik”

“O’ya…tapi dibandingkan dik Rif’ah masih kalah..ibaratnya mbak dapat nilai 6, dik Rif’ah 8”

“Tapi payudara mbak gede..” sergah Rif’ah sambil memandang dada Ummu Nida yang membusung

“Yah dulu waktu seumur dik Rif’ah..payudara mbak juga segede dik Rif’ah..tapi setelah punya anak jadi bengkak kayak gini, entar kalo dik Rif’ah punya anak juga akan segede mbak”

Rif’ah tertawa mendengarnya.

Ummu Nida menoleh ke arah Rif’ah

“Daripada nganggur, tolong dik Rif’ah.. nasinya diletakkan di meja makan…abinya mau makan dulu nanti baru kita, dia lagi buru-buru”

Rif’ah mengangguk sambil membawa magic jar berisi nasi hangat ke meja makan.

Langkah Rif’ah sempat terhenti ketika dia melihat Abu Nida tampak bermain-main dengan Ayyash, anak mereka yang paling kecil dan baru berumur 2 tahun. Laki-laki ini duduk di kursi yang dekat meja makan sementara Ayyash tampak bermain-main di lantai.

Sedikit gugup, Rif’ah meletakkan magic jar di meja makan. Rif’ah sempat melirik ke arah Abu Nida terutama di bagian selangkangan suami Abu Nida. Terbayang kembali kontol suami Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Namun ketika matanya kemudian memandang wajah pria berbadan kurus ini, Rif’ah kaget ketika ternyata suami Ummu Nida ini tengah memandanginya. Rif’ah menjadi gugup luar biasa dan dengan tergesa-gesa, magic jar itu diletakkan di meja makan dan segera kembali ke dapur.

“Kenapa dik?’tanya Ummu Nida.

“Nggak papa..mbak..ada tikus..bikin kaget” jawab Rif’ah tergagap.

“Oo..” Ummu Nida tersenyum geli.

Rif’ah berusaha menenangkan diri dan meyakinkan diri kalau Abu Nida memandanginya bukan karena perbuatannya semalam. Terbayang kembali kejadian semalam dan dia yakin Abu Nida tidak memergokinya mengintip ke dalam kamar mereka berdua. Rif’ah meyakini bahwa pandangan Abu Nida tadi tak lebih sekedar kekaguman kepada kecantikan wajah yang dimilikinya. Selama ini banyak pria yang betah memandangnya lama-lama bahkan di kalangan ikhwan PKS sendiri dan Rif’ah menganggapnya wajar saja.

Setelah …
…Setelah Abu Nida pergi ke kantor, barulah Rif’ah merasa bebas. Seharian di rumah Ummu Nida, Rif’ah hanya sekedar membantu Ummu Nida sebagai ibu rumah tangga. Memang berulangkali kali Faizah menelpon dan sms ke hpnya tapi atas saran Ummu Nida, semuanya tidak usah dilayani. Ummu Nida menyatakan akan membantu Rif’ah menghadapi Faizah dan Rif’ah yakin kalau Ummu Nida akan dapat mengatasi Faizah karena dari yang dipahaminya, kemampuan beladiri Ummu Nida lebih tinggi dari Faizah lebih dari itu Ummu Nida berjanji untuk mengusir Faizah dari tempat kost dan memecatnya dari keanggotan Santika di DPD PKS.

Malam harinya, walaupun sebelumnya seringkali diliputi rasa bersalah, Rif’ah tak mampu menahan diri untuk kembali mengintip aktivitas Ummu Nida dan suaminya di kamar. Bahkan kali ini persetubuhan sepasang suami istri ini lebih hebat dan lebih lama daripada malam kemarin sebagaimana yang dijanjikan Ummu Nida kepada suaminya. Rif’ah hanya mampu gemetaran di depan lubang kunci pintu kamar suami istri tersebut mengintip persetubuhan mereka berdua yang membuat gadis cantik aktivis PKS ini akhirnya bermasturbasi seperti kemarin malam. Namun tidak seperti kemarin malam, kali ini Rif’ah segera mandi seusai masturbasi baru kembali tidur.

“Dik Rif’ah suka mandi malam yah?” tanya Ummu Nida beberapa hari kemudian setelah Rif’ah sering mandi malam seusai masturbasi sambil ngintip ummahat ini bersetubuh dengan suaminya..

“ Enggh…Ya mbak..kebiasaan di kost…biar seger aja” jawab Rif’ah sedikit grogi

Untuk menutupi kegugupannya Rif’ah balik bertanya

“Mbak kok tiap pagi keramas?”.

Ummu Nida terkejut mendengar pertanyaan Rif’ah yang tidak diduganya.

“Nggak tahu tuh abinya…..”jawab Ummu Nida sambil tertawa lepas.

Tak terasa hampir seminggu Rif’ah di rumah Ummu Nida dan hampir tiap malam Rif’ah mengintip aktivitas malam Ummu Nida dan suaminya sehingga membuat akhwat PKS ini sangat hapal betul lekak-lekuk tubuh suami istri ini. Rif’ah juga hafal betul bentuk dan ukuran kontol Abu Nida bahkan gadis ini hafal kalau di pangkal kontol suami Ummu Nida itu terdapat 2 buah tahi lalat yang cukup besar. Rif’ah merasa takjub ketika selama akhwat ini tidur di rumah Ummu Nida, tiap malam suami istri ini bersetubuh dan yang mendebarkan Rif’ah, gadis ini tahu suami Ummu Nida-lah yang selalu meminta bercumbu tiap malam. Aktivitas mengintip suami istri itu ternyata telah menjadi candu tersendiri bagi Rif’ah dan akhirnya membuatnya sering berkhayal disetubuhi Abu Nida karena diam-diam Rif’ah mengagumi keperkasaan Abu Nida menyetubuhi istrinya tiap malam.

Tepat 6 hari Rif’ah berada di rumah Ummu Nida ketika pagi itu Rif’ah diajak bicara oleh Ummu Nida.

“Dik Rif’ah…maaf mbak baru cerita sekarang .kemarin sore Faizah datang ke kantor DPW PKS cari dik Rif’ah…..”

Rif’ah tegang mendengar pembukaan cerita Ummu Nida. Ditatapnya ummahat ini dalam-dalam. Ummu Nida mengibaskan sejenak rambutnya yang basah setelah keramas pagi tadi.

Rif’ah tahu betul kalau semalam Ummu Nida telah disetubuhi suaminya kemudian bekas cupang di leher yang terlihat memerah juga bekas gigitan suaminya., bahkan di balik jubah panjang yang dipakainya pagi ini Rif’ah tahu bahwa payudara, perut dan selangkangan Ummu Nida penuh dengan cupang bekas gigitan suaminya tadi malam.

“Terus mbak….”desak Rif’ah sambil mengusir bayangan cupang di leher Ummu Nida yang membuatnya teringat persetubuhan suami istri yang dilihatnya semalam.

”Mbak ceritakan semuanya. Mbak cerita kalau mbak tahu aktivitas dia dan dik Rif’ah, mbak nasehati agar dia insyaf karena perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak wajar…….”

Rif’ah semakin tegang mendengarnya..

“Faizah marah…dan itu membuat mbak marah…dan mbak katakan mbak akan usir dia dan pecat dia dari Santika DPD dan mbak akan ingatkan kepada seluruh akhwat PKS agar berhati-hati dengan dia, akhwat lesbian…. dia ngajak berantem dan hampir mbak layani untunglah dilerai akhwat-akhwat lainya.”

Rif’ah tertegun melihat wajah Ummu Nida yang tampak memerah, tangannya kini menimang-nimang HP Nokia miliknya.

“Kemudian dia keluar dari kantor DPW PKS tanpa bicara apa-apa…mbak diamkan dan mbak sms minta maaf kalau telah berbuat kasar kepadanya dan mbak uga sms bilang belum ada yang tahu jadi masih ada kesempatan memperbaiki diri….eh dasar kurang ajar anak ini.. dia malah menantang”

“Menantang bagaimana?”

“Anak ini SMS kalau dia menantang mbak bertarung, jika kalah dia bersedia untuk dikeluarkan dari PKS secara tidak hormat dan dia berjanji untuk tidak mengganggu dik Rif’ah lagi….”

“Terus…”.

“Kalau dia yang menang, dia minta jabatan komandan Santika di DPD dan ingin satu kost lagi dan satu kamar dengan dik Rif’ah…”

Rif’ah ternganga mendengarnya. Wajah cantiknya kontan pucat pasi mendengar ucapan Ummu Nida.

“Kalau misalnya dik Rif’ah tidak mau…dia minta wanita pengganti untuk memuaskan nafsunya yang menyimpang”

Wajah Rif’ah sudah pucat pasi dan gadis cantik berjilbab ini hanya tertegun tak mampu berkata apapun. Ummu Nida tersenyum.

“Tapi tenang aja dik…anak itu tidak mungkin menang” tandas Ummu Nida, ”dia khan baru sabuk hijau..masih dua tingkat di bawahku, kalaupun naik paling banter dia sabuk coklat”

“Jadi mbak sudah mengiyakan tantangannya?”

Ummu Nida mengangguk

“Tempatnya nanti di Markas DPD Kota.. dan Ummu Rosyid, komandan Santika DPD yang akan menjadi juri”

Rif’ah mengenal Ummu Rosyid, seorang ummahat PKS mantan menwa saat dia masih kuliah dan suaminya adalah ketua DPD PKS Kota itu.