ZURAIDA AND FRIENDS 1

“Gilaa,, dah miring otak ni orang,,,”
 Dalam hati Arga mengumpat mendengar usul yang ditawarkan oleh Dako, usul gila yang dengan cepat disetujui oleh atasannya Pak Prabu, dan kedua teman yang juga memegang jabatan manager. Hari itu, Kantor Arga menerima kunjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya sebagai cabang perusahaan dengan kinerja terbaik, memberikan bonus liburan dan berhak untuk menggunakan cottage milik perusahaan yang ada disalah satu pesisir pulau jawa. Tentunya ditambah bonus sejumlah uang. Namun di antara berbagai kegembiraan itu mungkin Arga lah orang yang paling berbahagia. Ya,,, atas bantuan Pak Prabu, Arga disetujui oleh pimpinan pusat untuk menempati bangku pimpinan yang sebelumnya ditempati oleh Pak Prabu. Prabu sendiri atas prestasinya diminta untuk membantu pusat. Setelah rombongan pusat meninggalkan ruangan, Pak prabu langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral mengajak bawahannya untuk bertoast ria. Walau bagaimanapun ada kebanggaan atas penghargaan yang diberikan. Namun Pak Prabu dengan berat hati menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janji tersendiri dengan istrinya untuk sebuah liburan di pulau dewata. Arga tidak begitu peduli dengan keabsenan Pak Prabu, toh dirinya tetap dapat mengikuti liburan rombongan kantor bersama istrinya. Dan ini dapat menjadi kado bulan madu bagi istrinya yang baru dinikahi 3 bulan lalu.
“Tapi apakah Pak Prabu tetap tidak mau ikut rombongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah game dengan perjanjian yang menarik?,” celetuk Dako.
“Perjanjian?, emang kalian udah bikin perjanjian apa?” Tanya pak Prabu sambil menatap dako dan Arga bergantian. Seperti halnya Pak Prabu, Arga yang tidak pernah membuat perjanjian apapun tentang liburan pada Dako, pun dibuat bingung.
“Ya, sebagai ucapan terimaksih, Saya dan Arga ingin mengusulkan sebuah permainan, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan disana kita membebaskan pasangan kita untuk dirayu oleh sesama kita,” papar Dako
“Maksudmu?,” Tanya Pak Prabu meminta penjelasan yang lebih mendetil.
“Ya,,, bagi mereka yang beruntung, mungkin dapat dilanjutkan dengan rayuan diatas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak boleh melarang untuk ‘penuntasan akhir’ atas usaha kawan kita,”
“Saya pikir permainan ini bisa menjadi referensi kepuasan bagi kita, yang setau saya selalu setia dengan istri masing-masing, tentang ‘cita rasa’ dan ‘varian kenikmatan’ dari wanita selain istri kita,” tambahnya.
“Gila,, bagaimana mungkin usul itu meluncur dengan lancar dari mulut Dako, apalagi dengan membawa-bawa namaku,” Hati Arga mengumpat. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Dako, Arga melihat wajah Pak Prabu yang berbinar sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.
 “Kenapa perjanjian ini harus mengatasnamakan balas budi, sialan,” hati Arga kembali mengumpat ketika menyadari sulit baginya untuk mengelak dari permainan ini.
“Yang bener Meennn,,, pastinya loe juga ngajak istri loe yang alim itukan?,” seru Munaf memastikan Dako mengajak istrinya yang biasa menggunakan busana tertutup lengkap dengan penutup kepalanya. Dako mengangguk pasti.
Sesaat Arga terdiam, Cut Zuraida istri sahabat karibnya itu memang memiliki daya tarik tersendiri dari tubuhnya yang selalu tertutup, wajah putih bersih, berdagu lancip dan hidung yang mancung. “Uuuugghhh,,,benar-benar tawaran yang menggiurkan, terlalu sayang untuk dilewatkan, tapiii,,,” Kini justru Arga yang bingung.
Mungkinkah, dalam liburan ini dirinya dapat mencumbu tubuh Zuraida, atau bahkan kalau memungkinkan dapat sedikit berkenalan dengan selangkangan wanita yang menjadi fantasi seksnya sebelum menikah dengan Aryanti, istrinya.
“Tapi, agar permainan ini semakin seru, kita tidak boleh memberitahukan istri-istri kita tentang permainan ini, disamping untuk menghindari timbulnya pertengkaran suami istri, saya rasa ada tantangan tersendiri bagi kita untuk dapat menikmati tubuh target kita,” ucap Dako dengan tatapan tajam ke arah Arga, dihias senyum penuh makna.
Arga bingung dengan tatapan itu, muncul pertanyaan besar di kepalanya, apakah Dako yang menjadi temannya sejak bangku SMP itu memang menjadikan istrinya sebagai target utama dalam permainan ini. Sekilas Arga teringat pernyataan Dako dihari pernikahannya, yang mengakui keindahan tubuh istrinya, saat melototi tubuh Aryanti yang dibalut kebaya transparan yang sangat ketat dengan puring tipis yang hanya menutupi bagian dada.
 “untuk Pak Prabu, sepertinya kita harus memberikan persyaratan tambahan, bapak hanya boleh mengajak simpanan bapak,”
“Hahahaha,,,”
 celetukan dari Munaf, kontan membuat Pak Prabu terbahak tertawa, Argapun tersenyum kecut mengingat istri sah Pak Prabu, Bu Sofia yang merupakan aktifis arisan ibu-ibu pejabat.
Sebenarnya, Bu Sofia, istri pak Prabu yang telah memasuki umur 40-an, masih terbilang cantik dan selalu tampil seksi dengan pakaiannya yang selalu mengekspos daerah terlarang, dan pastinya masih sangat layak pakai. Hanya saja yang membuat tidak kuat adalah mulutnya yang selalu aktif mengkritik setiap sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Alias cerewet. Mungkin itulah sebabnya Pak Prabu memilih sebuah hubungan rahasia dengan Sintya, resepsionis kantor yang terkenal montok dan murah hati kepada kaum lelaki dalam hal berpakaian, dan tentunya lebih penurut dibandingkan Bu Sofia
“Tidak, tidak,,, Pak Prabu silahkan saja mengajak kedua istrinya, dengan tetap merahasiakan hubungannya dengan Sintya bukankah kita melakukan permainan ini dengan diam-diam, karena bisa saja saya berhasil mendapatkan tubuh Bu Sofia dengan meminjam kamar kalian, dan pastinya Pak Prabu tidak bisa melarang saya untuk melakukan itu, bukan begitu Pak prabu?” papar Dako.
Pernyataan Dako sontak membuat Arga, Munaf dan Aditya terkejut, kata-kata Dako sudah kelewat batas, meskipun dirinya memang memiliki hasrat yang sama untuk menunggangi tubuh montok istri Pak Prabu itu, tapi tidak selayaknya hal itu diungkapkan langsung dihadapan Pak Prabu, yang nota bene adalah atasannya.
 hilda - jilbab montok (2)
“Whuahahaha,,, saya selalu suka dengan ide gilamu, Dako, silahkan nikmati Sofia sepuasmu bahkan kalau kau juga ingin mencicipi Sintya silahkan saja, tapi jangan salahkan saya bila nanti membuat istrimu yang alim itu terkapar oleh ku,” jawaban Pak prabu membuat Dako tersenyum kecut. ternyata tidak hanya dako yang tersenyum menyambut tawaran Pak Prabu tetapi juga Aditya, Munaf dan tentu saja Arga.
“OK,,, jika semua memang semua telah sepakat, ada baiknya kita mempersiapkan istri-istri kita untuk menyambut pertempuran yang panjang besok lusa,” Pak Prabu menyudahi rapat tambahan para pimpinan itu dengan tertawa terbahak.
“Tunggu pak, saya hanya ingin memastikan, perjanjian ini hanya berlaku saat liburan sajakan?” semua tersenyum dengan pertanyaan Aditya yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya mengangguk-agukkan kepala.
Andini, gadis remaja yang dinikahi Aditya hampir berbarengan dengan hari pernikahan Arga itu memang seorang gadis lugu yang dinikahinya satu bulan setelah gadis itu lulus dari bangku SMU. Pastinya Aditya tidak berbeda dengan Arga yang merasa keberatan dengan permainan yang diusulkan dako, karena mereka sendiri masih belum puas mengayuh tubuh istri mereka.
“Itu Pasti, permainan kita ini cukuplah menjadi skandal saat liburan, karena tentunya kita tidak ingin rumah tangga kita ataupun rumah tangga rekan kita berantakan,” pungkas Dako sambil merapikan beberapa berkas yang ada dihadapannya.
########################
hilda - jilbab montok (1)
 Arga yang duduk santai di depan TV rumahnya sesekali menatap istrinya yang tengah menyiapkan makan malam mereka.
 “Ada-ada saja permintaan Pak Egar itu, komentar dan sikapnya selalu saja bikin orang emosi,” keluh istrinya sambil meletakkan piring berisi ikan Nila yang baru digoreng.
 “Ada apalagi dengan Pak Egar, Dia masih sering menggodamu,” Arga memandangi tubuh semampai yang berjalan menuju freezer disampingnya. tubuh Aryanti terbilang langsing dengan pinggul yang bertaut serasi dengan bongkahan pantat montok yang selalu bergetar mengiringi tiap langkah kakinya.
“Sungguh aku gak relaaa,,,” bibir Arga mendesah pelan ketika teringat obrolan dikantornya tadi siang, bagaimana mungkin dirinya membiarkan tubuh indah itu ditunggangi oleh teman-teman sekantornya.
“Apa? Bicaramu selalu saja pelan, bagaimana aku bisa mendengar,”
“Oh,,, Tidak,, aku hanya memanggilmu,” Arga memeluk istrinya dari belakang, membaui rambut tergerai yang masih sedikit basah, tangannya mengelus lembut bongkahan pantat yang selalu saja membuatnya bergairah.
Telah sering Arga ingin mencoba lubang bagian belakang yang ada ditengah-tengah pantat itu, sebuah seks anal, tapi Aryanti selalu saja menolaknya, dengan berbagai macam alasan, jijik, jorok, takut sakit, dan puluhan alasan lainnya.
“Sayang,,, aku masih terlalu capek hari ini, aku tidak yakin dapat melayanimu malam ini, bahkan mungkin aku akan langsung tertidur ketika menyentuh kasur,” keluh Aryanti saat Arga meremasi payudaranya.
“Hahaha,,, Tidak sayang, aku hanya ingin menawarkan sebuah liburan kepadamu, apakah kau bisa mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan? Bukankah kau belum mengambil cuti tahun ini,” Arga mencoba mengingat-ingat, bahkan pada saat perkawinan mereka, tepat tiga bulan yang lalu Aryanti tidak dapat mengambil jatah cutinya, semua gara-gara ulah pak Egar manager personalia salah satu Bank swasta tempat Aryanti bekerja.
“Liburan? Kemana? Kapan?,” Wajah Aryanti langsung berbinar, mungkin inilah kesempatan untuk sesaat melepas semua rutinitas yang melelahkan.
 “Aku yakin kali ini pasti bisa mendapatkan jatah cutiku,” sambungnya cepat, seakan takut Arga menarik kembali tawarannya.
“Besok lusa kantorku mengadakan liburan kesalah satu villa di pesisir pantai, rasanya sangat sayang bila kita melewatkan kesempatan itu, hitung-hitung kita dapat berbulan madu dengan gratis,”
“Bersama rombongan kantormu?,” dahi Aryanti mengerut, dirinya memang telah lama ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan suaminya. Ingin sekali Aryanti mencoba beberapa busana yang menantang, memperlihatkan keindahan tubuhnya dalam berbagai balutan busana yang sengaja dibelinya untuk bulan madu, tapi hanya di depan Arga.
Arga membaca rona kecewa pada wajah cantik itu. “Kau boleh mengenakan apapun yang kau mau, bahkan kau boleh melakukan apa saja disana,” Arga bingung sendiri dengan kalimat yang dilontarkannya, kenapa ia justru begitu takut Aryanti tidak bisa ikut dalam liburan kantornya.
“Tapi aku malu, disana banyak teman-temanmu,,,”
“Kenapa harus malu, mereka Cuma teman-teman sekantorku, bahkan beberapa dari mereka sudah pernah menginap dirumah kita, Ayolah sayang,,,”
“Tapi,,, apakah nanti aku boleh mengenakan hadiah yang diberikan Sintya pada saat perkawinan kita?” Aryanti bertanya dengan pelan, takut mengundang kemarahan Arga.
“Hadiah dari Sintya?” Arga mencoba mengingat-ingat hadiah apa yang telah diberikan oleh staff yang menjadi istri simpanan Pak Prabu itu.
“Owwgghh,,, dua lembar pakaian renang One Piece dan two piece, kenapa pula Sintya menghadiahkan pakaian semacam itu diacara pernikahan,” Arga mengumpat, jika Aryanti menggunakan itu maka tak ubahnya seperti menjajakan tubuhnya untuk dijamah dan dilahap teman-temannya.
“Yah,, mungkin kau bisa menggunakan salah satunya, dan menurutku one piece tidak terlalu jelek untukmu,” timpal Arga cepat, One piece lah pilihan terbaik dari yang terburuk.
Arga merinding ketika Aryanti menyambut usulnya dengan wajah yang tersenyum. Ruangan menjadi senyap, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tidak ada lagi percakapan serius hingga mereka selesai makan dan beranjak ke tempat tidur. Paginya Arga melahap roti selai kacang dengan sedikit enggan, matanya terus memandangi tubuh Aryanti yang dibalut seragam biru muda dengan list putih disetiap sisinya. Sungguh tubuh yang mempesona, apalagi seragam itu melekat ketat, wajarlah bila banyak lelaki yang menggoda. Tapi, heeyy,,, kenapa Aryanti mengenakan seragam yang lebih ketat dari hari-hari biasanya, tidak salah lagi itu adalah seragam yang telah lama dikeluhkannya karena sudah terlalu kecil untuk membalut tubuhnya yang semakin montok. Seragam itu telah lama tidak digunakannya. Bahkan rok yang sudah terlalu kecil itu berhasil mencetak dengan indah segitiga celana dalam yang membalut bongkahan pantat yang padat, dan lebih tinggi beberapa sentimeter dari rok yang biasa dikenakannya.
“Mas, sebenarnya aku tidak yakin bisa mendapatkan cuti untuk liburan besok,” suara Aryanti mengagetkan lamunan Arga,
“Memangnya kenapa?”
“Ya, kau tau sendiri bagaimana sikap dan tingkah laku Pak Egar, aku tidak mau dia mengambil kesempatan atas permohonan cutiku ini,” ucap Aryanti sambil mengangkat roknya lebih tinggi untuk mengenakan stocking, hingga Arga dapat melihat celana dalam yang dikenakan istrinya, dengan cepat birahinya terbakar.
“Ayolah sayang, aku rasa kau bisa sedikit menggodanya untuk mendapatkan izin itu, dan aku yakin kau dapat melakukannya,” kalimat itu mengalir dari mulutnya dengan dada yang bergemuruh, paha jenjang yang mulus siapa yang tidak tergiur bila kaki indah itu melenggang dengan seksi. Arga bingung dengan perasaan yang menyesak didadanya, entah kenapa dirinya kini justru ingin sekali memamerkan keindahan itu kepada teman-temannya.
“Baiklah sayang, semoga aku bisa melakukannya, tapi kau harus tau aku melakukan ini semua hanya untukmu,” ucap Aryanti yang telah siap dengan sepatu hak tinggi. Jemari lentiknya mengambil kunci mobil Yaris yang tergeletak disamping tv.
 hilda - jilbab montok (3)
############################
 Di kantor Arga tidak dapat bekerja dengan tenang, pikirannya dihantui berbagai misteri yang akan disuguhkan dalam liburan mereka nantinya. Di ruang sebelah, dari dinding pemisah ruangan yang keseluruhan menggunakan kaca, Arga tersenyum melihat Aditya, keponakan Pak Prabu yang tampak asyik berbincang dengan Sintya. Tampaknya pemuda yang masuk dalam lingkungan kerjanya dengan jalan KKN itu mulai berusaha menggoda Sintya, wajar saja karena dalam liburan nanti dirinya memiliki kebebasan penuh untuk mendapatkan tubuh bahenol dari simpanan pamannya itu. Pukul 15.30, Arga yang melirik jam di ruangan, merasakan waktu berjalan dengan sangat lambat.
“Heeii,,heii,,heeiii,,Apakah kalian sudah siap dengan liburan esok,” teriak Dako ketika melewati pintu kacanya yang terbuka.
Arga mendapati sesosok tubuh semampai terbalut jilbab putih dibelakang Dako. Melemparkan senyum termanis dengan lesung pipit yang mengapit dikedua pipinya, matanya berbinar indah, dengan raut muka yang penuh keramahan dan keakraban. Ya,,, sebuah senyum yang selalu saja membuat hati Arga tak berkutik.
Cut Zuraida, dokter muda istri sahabatnya itu memang memiliki sejuta pesona bagi dirinya. Arga sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin gadis kalem dan lembut itu justru memilih Dako yang terkadang urakan, untuk menjadi teman hidupnya.
“Untuk liburan besok, Aku dan Zuraida telah mempersiapkan semuanya, dan aku harap kau dan istrimu juga begitu,” ucap Dako sambil memeluk pundak istrinya.
“Aku harap kau mengajak Aryanti, karena liburan ini pasti akan sangat menyenangkan,” sambung Zuraida, Dako mengedipkan matanya ke arah Arga sambil menyeringai.
“Ya pasti liburan ini akan sangat menyenangkan,” balas Arga yang tersenyum kecut.
Seandainya Zuraida tau, Dako suaminya telah mempersilahkan kepada mereka untuk berlomba mendapatkan tubuh indahnya.
“Apa kau benar-benar merelakan wanita alim itu disantap oleh teman-temanmu,” bisik Arga, setelah Zuraida meninggalkan mereka untuk mengambil beberapa barang di ruang kerja Dako.
“Justru itu, aku sangat ingin melihat semuanya terjadi, tentunya tanpa membuatnya marah, dan aku rasa kau bisa membantuku,” Arga tercengang dengan jawaban sahabatnya sejak di bangku SMP itu.
Dengan langkah santai Dako menggamit pinggul Zuraida melangkah keluar. Tepat didepan pintu, tanpa diduga Dako meremas pantat istrinya yang dibalas tatapan tajam Zuraida yang marah atas ulah suaminya.
##############################
 Arga mencoba mencoba memejamkan matanya di atas sofa di ruang tamu rumahnya.
“Uuuggghhh,,,” Arga menghela nafasnya, minggu ini benar-benar hari yang melelahkan bagi batinnya.
Aryanti dan Zuraida, dua sosok wanita yang memiliki kesempurnaan tubuh yang sering diimpikan dan dimiliki kaum hawa. Aryanti dengan gayanya yang riang dan supel membuat semua lelaki berlomba untuk berakrab ria dengannya sambil mengagumi setiap lekuk bagian tubuh yang sempurna. Sedangkan Zuraida, sosok wanita kalem dengan senyum yang menawan dan mata yang teduh, membuat para lelaki merasa betah untuk berlama-lama mencumbu keindahannya. Hanya saja bagi Arga, Zuraida memiliki arti lebih dari sekedar seorang wanita yang ramah, di balik tubuhnya yang selalu tertutup oleh gaun putih khas seorang dokter, Zuraida memang memiliki mistery yang begitu besar. Sayup-sayup dirinya mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Tak lama terdengar suara Aryanti yang bersenandung riang, memasuki rumah. Arga terjaga dari lamunannya.
“Sayang, aku telah mendapatkan cuti seperti yang kau mau,” seru Aryanti riang, mengecup kening Arga yang tengah tiduran.
“Oh yaa?,,, bagaimana cara kau mendapatkannya, bukankah itu tidak mudah?,”
“Ya, seperti yang kau katakan tadi pagi, aku harus sedikit menggodanya,” Aryanti mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Untuk mendapatkan cuti yang kau inginkan, aku harus melepas dua kancing bagian atas blazer ku ketika memasuki ruangannya, bahkan ketika duduk di depannya aku sengaja melipat kedua pahaku untuk memberikan Pak Egar sedikit tontonan yang menarik, berharap orang tua itu dapat langsung memberikan izinnya.”
“Lalu?” sambar Arga cepat dengan suara yang dibuat sesantai mungkin. Matanya menatap rok Aryanti yang semakin tertarik keatas ketika istrinya itu duduk disampingnya, pikirannya mecoba membayangkan suguhan apa saja yang telah diberikan istrinya.
“Dan seperti katamu, tidak mudah untuk mendapatkan izin itu, orang tua itu justru semakin ngelunjak ketika aku mengajukan permohonan cuti, dia memintaku untuk menemaninya mengobrol disofa diruangannya, dan tahu kah kau apa yang dilakukannya selama obrolan itu terjadi,” Aryanti berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
“Dia mulai berani meraba pahaku ini, bahkan berulangkali mencoba memasukkan jemarinya kedalam rok sempit yang jelas tidak akan cukup untuk tangan gemuknya, meski aku tau usahanya sia-sia, aku tetap menepis ulah usilnya itu,” Aryanti mencoba menutup ceritanya sambil mengecup bibir suaminya.
Dengan sangat bernafsu Aryanti meneguk minuman dingin milik Arga yang ada di depannya.
“Baiklah, Banyak persiapan yang harus kulakukan untuk besok, dan aku tidak ingin ada barang penting yang tertinggal nantinya,” Aryanti beranjak dari duduknya, meski wajahnya sedikit pucat karena kelelahan setelah bekerja sehari penuh, namun wanita cantik itu terlihat begitu bersemangat menyambut liburan.
 hilda - jilbab montok (4)
Sementara Arga sibuk mengingat-ingat sosok tambun Pak Egar, dengan jari-jari tangan yang juga dipenuhi lemak. Tubuhnya yang pendek membuat pria paruh baya itu semakin membulat. Namun seberkas noda yang mengering pada rok bagian belakang Aryanti membuat Arga meloncat dari peraduan.
“Apakah hanya itu yang dilakukannya padamu,” sela Arga sambil perlahan menarik Aryanti hingga kembali duduk disampingnya. Entah mengapa Arga begitu penasaran dengan noda yang dilihatnya.
“Ya,,,Setelah tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya pada bagian bawah tubuhku, tangan yang dipenuhi bulu itu menghiba kepadaku untuk bisa merasakan sedikit kepadatan payudaraku,”
Arga mendengarkan cerita istrinya dengan jantung yang mulai berdegub kencang, meski ada rasa cemburu disana tapi tak ada sebersitpun gelora amarah, entah mengapa?.
“Selama dia melakukannya dari luar blezerku kupikir tak mengapa, dan bisa kau tebak bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, tangannya bergerak cepat meraba, meremas dan terkadang mencubit dengan kuat hingga membuatku sedikit menjerit. Tapi tak lama kemudian Pak Egar mengeluhkan blazerku yang terlalu tebal dan memintaku untuk melepas beberapa kancing yang tersisa. Aku teringat akan pesanmu tadi pagi untuk memberikan sedikit tontonan pada orang tua yang sudah hampir pensiun itu, jadi biarlah dirinya mendapatkan sedikit keindahan dari tubuhku, toh aku masih mengenakan blus yang menutupi tubuhku” Suara Aryanti semakin berat, matanya menerawang mencoba mengingat kejadian tadi siang.
“Lalu?” Tanya Arga dengan suara tercekat.
“Yaaa,, aku mempersilahkan tangan gemuknya itu masuk kedalam blazerku, tohhh masih ada blus yg menutupi tubuhku,”
“Dan Mungkin hari itu memang hari keberuntungan baginya, karena aku mengenakan bra yang terlalu tipis, jadi sangat mungkin jemarinya dapat merasakan kedua puting payudaraku yang mengeras karena godaannya. Tapi bukan Pak Egar jika tidak melakukan berbagai kejutan-kejutan,”
“Kejutan? Apakah dia mencoba memperkosamu?”
“Tidak,tidak,,, kukira dia tidak akan berani melakukan itu, dia hanya menyerang bibirku dan berusaha memasukkan lidahnya yang basah kedalam untuk merasakan lidahku. Bibirku yang tertutup rapat dan terus menolak justru membuat wajahku basah oleh jilatannya, karenanya aku membuka sedikit bibirku agar pria itu tidak melakukan tindakan yang menjijikkan itu. Bagai orang yang haus, lidahnya berusaha menarik bibirku untuk bertandang ke dalam mulutnya, bahkan berulangkali menyedot ludahku, aku tak kuasa menolak undangan itu, dan tau kah kau sayang?,,,ternyata lidahnya begitu panas, mengait dan menghisap lidahku yang akhirnya ikut menari-nari dalam mulutnya,”
Tanpa sadar Arga meneguk liurnya.  (Kalo pembaca budiman yang lagi tegang mendengar penuturan Aryanti, ingin meneguk ludah juga, boleh koq,,,)
“Namun justru di situ kesalahanku, di saat lidahnya beraksi dengan nakal dan harus kuakui aku terbuai, tanpa kusadari tangannya berhasil membuka beberapa kancing atas blus-ku dan terus menyelusup kedalam bra, dan akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, kedua payudaraku diremasnya bergantian, sesekali mulutku menjerit tertahan dalam pagutan bibir tebalnya ketika tangannya meremas terlalu keras.”
Arga tak mampu menahan tangannya untuk tidak bertandang kedalam blus Aryanti yang telah melepas blezernya, seakan tak ingin kalah dengan cerita istrinya Arga meremas kedua bukit kembar itu dengan kuat, membuat Aryanti memekik. Aryanti mencoba mengangkat pantatnya mencoba membantu Arga yang kini berusaha menyingsingkan rok ketat itu ke pinggulnya. Aryanti sangat paham dengan tingkah suaminya yang sedang birahi. Sesaat Arga memandangi dua paha mulus yang bertemu pada kuncup selangkangan yang begitu indah. Stocking yang masih melekat pada kaki Aryanti membuat bagian bawah Aryanti semakin menggoda. Arga membaui vagina istrinya yang basah. Tanpa menunggu persetujuan Aryanti, Arga yang sudah melepas celana kolornya berusaha melolosi celana dalam putih yang menutupi kemaluan yang ditumbuhi semak hitam.  Aryanti hanya bisa pasrah ketika kakinya semakin terbuka, mengangkang, menyambut hujaman batang milik suami tercinta,
“Uuuummhhhh,,, milikmu masih yang terbaik sayaaaang,,,,” dengusnya saat batang itu memenuhi rongga yang semakin basah. beberapa saat Arga menggoyangkan pantatnya dengan pelan.
“Lalu, apakah bibirnya berhasil mencicipi dua payudaramu ini?” Tanya Arga dengan suara bergemuruh.
“Oooohhh,,, tidak sayaaang,,, diaa justru memaksa bibirku untuk menerima penisnya, yang entah sejak kapan sudah terpampang di depan wajahku, dengan sedikit ancaman akan membatalkan izin cuti untukku, dan lagi-lagi dia berhasil mendapatkan yang diinginkannya, memasukkan penis hitam ituuu,, ke dalam mulutkuuuu,” Suara Aryanti terengah-engah, disatu sisi dirinya harus jujur dan menceritakan semua yang telah terjadi, di sisi lain vaginanya yang terus mendapat hujaman-hujaman keras dari batang Arga memberikan stimulan kenikmatan ke otaknya, membuatnya tak mampu lagi menyortir apa dan bagian mana dari pengalaman gilanya yang harus disembunyikan.
“Apakah miliknya panjang dan sebesar milikku?” keegoan sebagai seorang lelaki muncul dihati. Arga semakin cepat mengobok-obok vagina yang menganga pasrah.
“Tidak sayang, miliknya jauh lebih pendek dari milikmu, hanya saja batang itu begitu gemuk, mulutku sempat kewalahan meladeni goyangannya yang semakin cepat, dan akhirnyaaaaaa,,,”
“Mampukah mulutmu ini memasukkan semua batang penisnya,” dengus Arga, pantatnya menghantam selangkangan Aryanti bagai orang kesurupan. Dirasakan orgasme hampir menyapanya.
“Yaaa,,, bahkan aku dapat merasakan bagaimana batang itu berkedut,” Aryanti yang terbawa permainan Arga juga bersiap menyambut orgasmenya. Dengan kuat Aryanti membelitkan kaki indahnya dipinggang Arga, membuat penis Arga semakin terjepit.
 hilda - jilbab montok (5)
“Aaaapa diaaa,,, berhasil menyiramkan speeermanya dimulutmuuu,,,,,” teriak Arga bersamaan dengan semprotan pertama yang menghambur keluar.
“Tidaaakkk,,, sayaaaang dia menyemprotkan spermanya tepat dilubang anuuussskuuuu,,, Aaaahhh,,aahh,,”
Badan Aryanti berkelojotan ketika tak mampu lagi membendung orgasme, pantat nya terangkat keatas agar penis suaminya itu menohok semakin dalam. Pengakuan terakhir yang keluar dari bibir Aryanti memberikan jawaban akan noda yang mongering pada roknya, justru membuat orgasme Arga semakin dahsyat. Batang besar itu menghujam semakin dalam, dan terus menghentak kasar dengan sperma yang terus menghambur keluar. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?, bukankah Aryanti tidak pernah bersedia melakukan anal seks?
 “Aaaahhh,,,, Eeemmhhh,,,Aaaarrgghhh,” keberingasan Arga membuat kenikmatan yang diterima Aryanti semakin sempurna. Seakan tak ingin kehilangan vagina itu terus mengemut dengan kuat mencari-cari kenikmatan yang tersisa.
Sesaat keduanya mengatur nafas, pergumulan mereka memang selalu menghantarkan pada kenikmatan yang dahsyat, tapi kali ini ada sensasi yang berbeda. Membuat ego Arga memuncak untuk membuktikan dirinyalah yang terbaik, dan memaksa Aryanti untuk berimajinasi dengan liar atas pengalaman yang didapatnya hari ini.
“Eee,,,Apakah kau marah padaku?,” Tanya Aryanti ragu-ragu disisa gemuruh nafasnya, walau bagaimanapun Arga adalah suaminya, dan Aryanti sangat takut kehilangan orang yang disayanginya itu.
“Aku telah berusaha untuk jujur meskipun itu pahit, aku,,, akuu,, mengakui semua kesalahanku membiarkannya terus bermain dengan tubuhku,” tambahnya, mencoba menghiba.
Arga merasa kasihan dengan posisi Aryanti yang merasa bersalah, ingin sekali Arga mengerjai Aryanti dengan berpura-pura marah, namun hatinya tak tega, dan lagi-lagi entah mengapa, sungguh,,, tak ada rasa amarah di dada, hanya cemburu membara yang justru membangkitkan libido untuk bercinta.
“Kurasa tergantung bagaimana kondisimu saat itu, jadi ceritakanlah semuanya,” ucap Arga sambil memainkan payudara Aryanti yang penuh dengan tanda merah.
Seingatnya, cerita Aryanti tidak pernah menyinggung tentang permainan bibir atau sedotan pada payudara yang membuat tanda merah, hanya remasan-remasan nakal dari lelaki tua itu.
“Ku berharap kau tidak menyesal mendengar kejujuran ku ini, dan berjanjilah untuk tidak marah sayang, karena aku melakukan ini semua untukmu,” lirih Aryanti dengan wajah serius sekaligus memelas.
Arga yang asyik menambahkan beberapa tanda merah di dada istrinya itu akhirnya terdiam, “Kenapa aku harus menyesal dan marah, apakah dia bertindak kasar terhadapmu,” selidiknya.
“Seperti yang kukatakan tadi, mulut ku cukup kewalahan untuk melayani penis kecilnya, aku tak tau bagaimana mungkin batangnya dapat bertahan begitu lama, dan aku merasa kasihan dengan wajahnya yang mulai kelelahan dengan keringat yang mengalir deras dikulit putih pucatnya,”
Penis Arga menggeliat manja didalam selimut vagina Aryanti.
 “Lalu apa yang kau lakukan untuk membantunya?,” Tanya Arga, dirasakannya batang itu mulai terjaga, menggelitik dinding vagina Aryanti dengan nakal.
“Ya, akhirnya aku mencoba sedikit menarik rokku, dan dia membaca apa yang ingin kutawarkan untuk menyelesaikan permainan ini. Seakan takut aku menarik tawaranku, dengan sigap tangannya menarik rok ku semakin keatas dan menyibak celana dalamku.
Kau pasti tau sayang aku sangat ingin mnyelesaikan permainan itu secepatnya, agar tidak terlalu merasa berdosa kepadamu, tapi aku juga tak mampu menolak ketika kepalanya dengan cepat menghilang di selangkanganku dan lagi-lagi aku merasakaaa,,n lidahnya yang panas menjilat, mengusap dan menyedot klitoris ku yang sudah sangat basaaah,, Aaahhh,,,” Mata Aryanti terpejam, bayangan akan kejadian tadi siang ditambah vaginanya yang kembali menerima sodokan pelan membuat wanita itu kembali melayang mengejar kenikmatan.
“Aku harus mengakui permainan lidahnya begitu nikmat, dan aku tak mampu menolak orgasme yang menyerang diriku, kulihat Pak Egar menyeringai tersenyum dengan kumis dipenuhi selai putih milikku. Meski baruuu,, saja mendapatkan orgasme, birahiku memaksa tanganku untuk kembali membenamkan wajahnya di selangkanganku dan berharap lidahnya memasuki liaaa,,angku sekali lagiii,,,. Aku ingin lidahnya menggelitik dinding-dinding vaginaku, menggigiiiitt,, klirotiskuuu,,,. Dan memang, akhirnya lagi-lagi aku menyerah pada orgasme yang begitu nikmaaat,”
Rambut kemaluan Aryanti yang begitu lebat membuat Arga jarang memainkan lidahnya pada selangkangan istrinya, dan dirinya tidak menyangka jika istrinya justru sangat menyukai itu, dan kini istrinya telah mendapatkan kenikmatan itu dari pria lain. Cerita Aryanti bagaikan dongeng mesum yang menghantarkan pada persetubuhan yang sedikit berbeda, penisnya kembali menyodok dengan mantap. Sementara Aryanti berkali-kali mendesah dalam keasyikannya bercerita.
“Setelah membiarkanku beristirahat beberapa saat, Pak Egar menawarkan padaku sebuah kesepakatan. Bila aku bersedia menerima penisnya pada vaginaku maka dirinya akan mempromosikan sebuah jabatan baru yang selama ini memang kuinginkan.”
“Lalu, apa kau menyetejuinya?” seru Arga cepat, penisnya semakin mengeras menghentak selangkangan istrinya.
 “Yaaa,,, dirinya telah melihat semua bagian intim tubuhku, lagipula penis miliknya begitu kecil, jadi kupikir tak apalah jika penis itu beberapa saat mencari kenikmatan di kemaluanku. Sekali merangkuh dayung dua pulau terlampaui, itulah pikirku, dengan memenuhi keinginannya aku bisa mendapatkan cutiku dan jabatan yang baru,”
 hilda - jilbab montok (6)
“Aku membuka kedua pahaku dengan lebar, mempersilahkan tubuhnya yang tambun untuk merapat di selangkanganku dan melakukan penetrasi di kemaluanku. Awalnya dia memintaku untuk melepas rok dan seluruh pakaian atasku, tapi aku malu, tapi kurasa cukup dengan melepas celana dalam dan mengangkat rokku hingga ke pinggul, dia dapat dengan bebas menyetubuhiku dan melakukan apapun yang dimaunya dengan selangkanganku,”
 “Seperti yang kuduga, dengan mudah batang itu berhasil memasuki vaginaku, dan menggoyang selangkanganku dengan kasar. Namun aku harus kecewa, perutnya yang buncit ditambah penisnya yang begitu pendek membuat batang itu berkali-kali terlepas dari vaginaku, dan Pak Egar menangkap kekecewaanku,”
 “Agar dia dapat menuntaskan nafsunya dengan cepat Aku mencoba membuka blus dan bra ku, dan membiarkan bibirnya bertandang didadaku, namun apa yang dilakukannya itu justru membuatku semakin terangsang, lidahnya menjilat dan menggigiti putingku ini. Namun usahaku tak juga membuahkan hasil, penisnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai,”
 “Akhirnya, aku harus pasrah ketika Pak Egar memintaku mengangkat kedua lenganku untuk melepas blus ketat ini, tapi dia agak kesulitan ketika harus melepas rokku yang telalu ketat, sehingga aku harus melakukannya sendiri dengan berdiri membelakanginya, tapi belum sempat rok ini jatuh menyentuh lantai aku merasakan lidah yang basah berusaha menyelusup dibelahan pantatku,”
“Ooowwgghhh,,, sayaaang itu benar-benar suatu pengalaman yang sangat menggairahkan, seorang atasan yang memiliki wajah galak dan selalu menggerutu kepada semua staf bawahanya, tengah mendengus penuh nafsu menjilati lubang anusku. Aku membungkukkan badanku mencoba memberi ruang untuk lidahnya yang menjelajah anus dan vaginaku, dan entah kenapa aku marasa sangat puas ketika melihat matanya diantara belahan pantatku memohon sedikit kenikmatan dari tubuh istrimu ini sayang,”
“Pak Egar mencoba posisi yang lain, dia memintaku untuk menduduki penisnya dengan cara membelakangi tubuhnya, Ooohhh,, tahukah kau sayang? aku sangat malu dengan kondisi dan apa yang sedang kulakukan saat itu, aku merasa bagaikan seorang pelacur yang bersedia melayani apapun yang diinginkan pelanggannya. Tapi posisi itu tetap saja sulit, penis itu selalu terlepas dari vaginaku, bahkan beberapa kali penis itu menusuk-nusuk liang anusku karena salah sasaran.”
“Lalu Pak Egar kembali menanyakan keinginanku akan jabatan baru yang ditawarkannya, dia telah berhasil membuatku telanjang di hadapannya bahkan penisnya telah menjajal vaginaku tentu saja aku tidak ingin rugi, karenanya aku mengangguk dengan cepat,”
“Tapi lagi-lagi Pak Egar membuat kejutan, yang sebenarnya lebih cocok dengan mencurangi diriku,,” erang Aryanti.
“Mencurangimu?, memang apa yang dilakukannya?” kening Arga berkerut.
“Ya,,, dengan sedikit kasar dia menghentak tubuhku ke belakang, penis nya yang tepat berada dibawah liang anusku menumbuk dengan keras, aku berusaha untuk menghindar tapi karena tak mampu menjaga keseimbangan tubuh, penisnya yang sudah sangat basah oleh cairanku justru semakin tenggelam dalam anuskuuu,,,”
“Dan lagi-lagi dia berhasil mendapatkan yang diinginkannya, dengan sedikit hentakan anusku menelan semua batang itu, tapi yang membuatku heran aku tidak merasakan sakit sedikitpun, eeentah karena penisnya yang terlalu kecil atau mungkin juga nafsu yang telah menguaaasaiii,,kuuu,,,,”
 “Dan sungguh tak kuduga aku sangat menikmati posisi itu. Aku menggoyang tubuhku mengikuti irama hentakan penisnya yang semakin dalam, aku mencoba mencari orgasme ku sendiri, tapi aku lagi-lagi harus kecewa saat penis itu menyembur dengan cepat, membasahi liang anuskuuu,, aku hampir tertawa ketika tangannya memeluk tubuhku dengan kuat dan memantapkan posisinya penisnya yang menghamburkan bibit benihnya di anusku, dia mengaku kalah dan mengakui kehebatan jepitan kedua lubangku”
 “Aaawww,,,pelan sayaaang,” cerita Aryanti terpotong oleh jeritannya sendiri, ketika Arga kembali menghentak dengan kasar, menggedor dinding rahimnya dengan keras.
“Berarti kau telah melayaninya dengan anusmu, Apakah kau menikmatinyaaa sayaaaaang,,,” Tanya Arga dengan suara mendengus bagai banteng.
“Maafkan aku sayaaang,,, tapi itu benar-benar nikmat, aku bahkan menunggu penisnya kembali mengeras dan rela memasukkan penis itu kedalam mulutku agar kembali mengeras, dengan sedikit memaksa untuk menusuk anusku lagi, dan rasanya sungguh nikmaaaat, berkali-kali aku merasakan orgasme dan berkali-kali pula Pak Egar memuji lubangku ini, katanya diriku adalah tubuh ternikmat yang pernah disetubuhinya,”
“Mungkin kau juga perlu mencoba pintu belakangku iniii,,” tawar Aryanti, masih subur diingatannya bagaimana eforia kenikmatan saat dirinya mengayuh penis kecil pak Egar pada liang anusnya, dan kini dirinya ingin kembali menikmati hal itu dengan batang yang lebih besar, milik suaminya.
Arga menghentikan pompaannya, dan mencabut penis yang diselimuti selai putih. Aryanti mengangkat paha jenjangnya dan memeluk lututnya hingga menyentuh payudaranya. Dan tampaklah vagina yang merekah basah, dirembesi sperma dari orgasme Arga sebelumnya yang mencoba keluar dari lorong sempit vagina, namun bukan vagina itu yang menjadi perhatian Arga saat ini, tapi lubang mungil yang mengerucut imut yang ada tepat dibelakang vagina itulah yang menjadi perhatiannya. Arga tidak yakin penis besarnya dapat menerobos lubang yang masih tertutup rapat itu.
 “Ayolah Saaayaa,,ang,” erang Aryanti merayu.
 Arga mencoba memasukkan telunjuknya untuk sedikit membuka, telunjuk itu bermain-main keluar masuk dengan lembut, dan kini jari tengahnya ikut ambil bagian, terdengar desahan Aryanti yang semakin keras.
“Saayyyaaaannng,, lakukanlah sekarang, ceeepaaattt,,,” teriak Aryanti yang semakin erat memeluk lututnya membuat lubang pantatnya begitu menantang untuk dihujam.
“Aaaarrrgghhh,,, aarggmmhhhh,,,” Arga mengejangkan otot penisnya agar dapat memasuki lubang sempit itu.
“Eeeemmhhhh,,, Iyaaaa,,,yaa,, yeeeaaahhh,,” batang yang perlahan namun pasti mulai tenggelam dan terus memenuhi setiap rongga anal Aryanti. Istrinya menggeram, menjerit dan berteriak dengan keras.
 hilda - jilbab montok (7)
Tidak seperti yang dirasakannya saat menerima penis Pak Egar tadi siang, batang milik Arga jauh lebih panjang dan besar. Dan kini batang itu terus masuk semakin dalam membuat analnya begitu penuh. Setelah dirasakan penisnya menyentuh pangkal bagian terdalam, Arga menghentikan hujamannya, dirasakannya dinding anus yang tergencet oleh batangnya berkedut-kedut.
“Aaaahhh,,, sayaaang,,, ini jauh lebih nikmaaat, mulailah mengayuh tubuhku.”
“Yaaa,,, ini sangat sempiiit,,, sangaaatt nikmaaat,,,” sahut Arga dengan nafas mendengus liar.
 Arga mencoba mengayun penisnya namun lubang itu bukannya melebar tapi semakin menyempit akibat kontraksi birahi yang terjadi pada otot anal. Dan itu benar-benar menghasilkan sebuah kenikmatan. Sofa kecil yang menampung dua tubuh manusia itu mulai berderit ketika Arga mengayuh semakin cepat. Aryanti tidak lagi memeluk lututnya, selangkangannya telah terbuka lebar. Sementara jemarinya kini aktif mengusap dan menusuk-nusuk liang vaginanya yang kosong. Tampaknya vaginanya yang melompong menuntut pula untuk diisi, meski hanya dengan jemari Aryanti. Sempat terbesit diotaknya, membayangkan kenikmatan bila kedua lubangnya itu diisi oleh dua penis sekaligus, tak peduli penis siapapun itu.
“Aaaahhh,,,,” gara-gara fantasinya Aryanti jadi semakin liar, jemarinya mengobok-obok vaginanya dengan cepat. Arga mencoba mengimbangi dengan mengayun batangnya dengan lebih cepat. Seluruh otot vagina dan anal Aryanti berkontraksi dengan dahsyat dan,,,,,,
“Aaaaggrrrgghhhh,,, aaahh,,,” vagina Aryanti menghambur kalenjar cintanya, membanjiri telapak tangannya yang masih menstimulasi dinding vagina, sebuah orgasme yang begitu dahsyat.
“Yeeeaaahhhh,,, saaayyyaaaa,,,anng,,,” penis Arga berkedut dengan cepat menghantar bermili-mili sperma. Penisnya berkali-kali menghentak hingga keujung lorong.
Tak lama, tubuhnya ambruk menindih sang istri tercinta. Bersahutan nafas mereka memburu udara sekitar, paru-paru mereka memaksa untuk diisi setelah dibiarkan kosong saat mereka terus mengejan menghamburkan cairan cinta.
“ini jauh dari yang aku bayangkan selama ini,” bisik Aryanti.
 “Ya,, milikmu memang selalu nikmat,” sambung Arga.
 “Jadi, kau tidak marah aku melakukan itu?”
 Arga terdiam, harga dirinya sebagai seorang suami tengah dipertanyakan oleh sang istri. “Hhhmm… Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi, aku marahpun takkan berguna karena aku sadar kau melakukannya demi kita,” ucap Arga, berusaha untuk tersenyum.
********
 hilda - jilbab montok (8)
Aryanti meloncat dari ranjangnya dengan wajah kaget. Jam di samping ranjang menunjukkan Pukul 07.30, Aryanti khawatir mereka akan ditinggalkan oleh rombongan yang berangkat pukul 09.00 tepat. Bagaimana tidak, sejak kemaren sore mereka bermain gila-gilaan hingga semalam suntuk, mungkin ini sebuah pemanasan yang berlebihan untuk bulan madu mereka yang tertunda. Namun Aryanti terpaksa sedikit lebih lama menyabuni tubuhnya, setiap bagian tubuhnya terasa lengket, entah oleh keringat mungkin juga karena cairan mereka yang menghambur keluar. Aryanti tersenyum sendiri saat teringat aksinya tadi malam, dirinya berhasil meyakinkan Arga suaminya bahwa sperma yang mengalir keluar dari vaginanya adalah milik Pak Egar dan disebabkan keadaan yang sangat memaksa. Busa sabun yang menutupi sebagian kulitnya membuat tubuh itu semakin eksotis, baru kali ini dia merasa bangga ketika Pak Egar memuji tubuhnya dan mencumbunya dengan sangat bernafsu. Padahal sebelumnya dirinya selalu jijik jika pria itu memandangi nya dengan penuh nafsu. Aryanti berdecak kagum dihadapan cermin kamar mandinya, dibiarkannya shower manyapu busa sabun yang tersisa. Jika suaminya memang mengizinkannya untuk bersenang-senang pada liburan nanti, lalu kenapa dia harus menahan diri untuk mencari kesenangan, begitulah yang ada diotak Aryanti saat ini. Air shower yang hangat membuatnya betah untuk berlama-lama melihat tubuh telanjangnya dialiri air yang menciptakan sungai-sungai kecil, mengalir disela bukit payudaranya yang membusung dan akhirnya menyelusup keselangkangannya. Komentar apa yang akan keluar dari bibir teman-teman suaminya itu jika dirinya membiarkan tubuhnya ditelanjangi oleh pandangan mereka. Adakah kekaguman bila dirinya membiarkan payudaranya tersenggol oleh ulah mereka yang usil?  Adakah celoteh-celoteh nakal yang terlontar bila dirinya membiarkan selangkangannya diintip oleh mata nakal mereka?. Oohhh,,, tampaknya Aryanti sangat ingin menikmati petualang-petualangan yang mendebarkan. Tapi Aryanti kemudian mendesah panjang, tidak mungkin semua itu terjadi, dia adalah seorang istri yang baik-baik dari suami yang baik-baik pula. Biarlah kegilaan yang kemarin menjadi intermezzo dalam kehidupannya yang takkan terulang lagi.
“Duk,duk,duk,,,”
“Sayang, buka dong pintunya, bakal telat nih kita,” teriak Arga, yang bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah dibukakan pintu oleh Aryanti.######################
hilda - jilbab montok (9)
Arga hanya bisa tersenyum kecut, ketika kedatangannya disambut oleh kicauan Dako dan Munaf. Tapi setidaknya pria itu bisa bernafas lega karena bis wisata yang mereka carter belum datang. Arga menurunkan istrinya beserta tas dan koper dan memarkir mobil di basemen gedung. Setelah meyakinkan tidak ada yang tertinggal dimobil, Arga bergegas untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dari kejauhan Arga melihat Aryanti sedang asik berbincang dengan Zuraida dan Bu Sofia tepat didepan pintu masuk kantor. sementara disamping mereka Aditya bersama istrinya Andini yang masih sangat muda sedang bercengkrama dengan Sintya, rupanya diam-diam Aditya mencoba menjalin keakraban antara Andini dengan Sintya. Tak jauh dari mereka, Pak Prabu, Munaf dan Dako asik mengisap rokok mild mereka, tapi yang membuat Arga jengah adalah tatapan ketiga cowok itu yang tak pernah lepas dari tubuh para wanita, khususnya Aryanti yang mengenakan celana jeans ketat selutut dipadu kaos lengan panjang yang cukup kebesaran untuk tubuh rampingnya.  Sambil berjalan mendekati Aida, Istri Munaf yang duduk terpisah disamping gedung, Arga mengeluarkan rokoknya. Aida mencoba tersenyum ketika melihat Arga mendekat namun kemudian kembali asik dengan telpon celuler yang dipegangnya. Arga mencoba menilai-nilai wanita disampingnya, Munaf sering bercerita tentang istrinya yang pemalu dan agak kuper dalam bersosialisasi. Tak heran jika dirinya menyendiri agak jauh dari yang lain. Namun yang membuat Arga terkesima adalah dandanan Aida yang sedikit nakal dari yang biasa dikenakannya. Rok putih lebar yang sangat pendek dipadu kaos merah menyala tanpa lengan yang ngepres dibadannya.
“Kostum yang bagus untuk liburan,” seru Arga sambil memantik api ke rokoknya.
Aida langsung mengangkat kepalanya, dengan wajah memerah Aida mencoba mengapitkan kedua lengannya untuk melindungi dadanya yang menjadi pemandangan indah bagi Arga, tapi payudara itu justru semakin membusung.
Arga yang ikut kikuk karena komentarnya sendiri tertangkap basah melototi dada istri temannya itu. “Kamu semakin terlihat cantik dengan baju itu, dan saya rasa liburan ini akan semakin menarik dengan kehadiranmu,” ucap Arga berusaha membuat suasana lebih santai.
Wajah wanita berkacamata dengan lesung pipit dikedua pipinya itu semakin memerah, namun apa yang diucapkan Arga membuatnya sedikit rileks. “suami saya yang memilihkan baju-baju ini, karena tidak ingin dirinya malu dihadapan teman-teman,” kata Aida jujur.
“Hei, apakah itu gambar mu,” sela Arga ketika melihat sebuah gambar kecil dengan pose yang menantang di sebuah laman jejaring sosial pada HP yang tengah dipegang Aida.
Aida sontak tertawa dan dengan cepat menyembunyikan HP nya kedalam tas, “Hahaha,,, kau tidak berhak untuk melihat ini”.
“Lalu siapa yang berhak, ayolah,,, sepertinya banyak sekali komentar yang kau kumpulkan untuk gambar itu, pasti gambar itu benar-benar menarik minat para lelaki,” seloroh Arga penasaran.
“Tidak juga, hanya beberapa gambar request dari beberapa teman yang tidak pernah aku kenal,” jawab Aida dengan sedikit ragu menyerahkan HP nya ke telapak tangan Arga.
Dengan cepat Arga menyambut, dan dengan cepat pula decak kagum mengalir dari mulutnya seiring jempolnya yang mengekplorasi beberapa gambar menantang lainnya.“Aku tidak percaya, kau dapat berubah menjadi begitu menggairahkan, lihatlah ratusan komentar yang kau dapat, sepertinya kau benar-benar memikat mereka,” ucap Arga ketika mendapati sebuah gambar yang begitu menantang, tubuh montok dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan handuk.
“Mungkin,,, tapi dalam dunia nyata aku tetap saja menjadi seorang pecundang, dan tidak akan pernah mampu menyaingi istri mu atau bu Zuraida yang selalu menjadi pusat perhatian, dan begitu mudah bergaul dengan siapa saja.” lirih wanita berkacamata itu.
“Dan kau dapat melihat sendiri, hanya didunia maya aku berani berekspresi, karena disitu tidak seorang pun yang mengenal jati diriku sebenarnya,”
Ada nada kecewa akan keterbatasan yang dimilikinya sebagai wanita desa yang dipinang oleh perjaka Kota dan harus bergaul dengan istri-istri suaminya yang selalu tampil modis dan percaya diri. Tepat seperti yang diceritakan Munaf, Munaf sendiri sudah ribuan kali berusaha membangkitkan kepercayaan diri istrinya itu.
“Saya tidak melihat satupun cacat pada diri mu yang dapat membuat mu malu, bahkan bibir mungil dipadu dengan lesung pipit yang manis, dan mata lentik berhias kacamata yang manis itu dapat membuat para lelaki tergila-gila pada mu, yaa,, seperti aku ini,,”
Aida terkekeh, “Hahaha,,, kamu bisa saja, lelaki mana yang melirik wanita yang sudah beranak satu ini, bahkan suami ku pun kini sudah jarang memuji, apalagi sampai memuji tubuh yang sudah mulai berantakan setelah melahirkan,”
“O, ya? Maaf, bolehkah saya meminta anda untuk berdiri sebentar,”
Dengan ragu-ragu Aida mengikuti permintaan pria yang sempat beberapa kali diajak oleh Munaf untuk bertamu ke rumah mereka.
“Eemmmhhh,,, bisakah kamu berdiri agak tegak, yaaa,, mungkin kamu dapat sedikit membusungkan dada mu, yaa begitu,,” Arga terus memberi intruksi, matanya tak melihat adanya gumpalan lemak pada perut yang ramping itu, bahkan bukan hanya payudaranya saja yang menggairahkan, kakinya yang membunting padi dengan pangkal paha yang sekal membuat gairah Arga semakin menggelitik. Namun mata nakal Arga agak kesulitan untuk mengamati pantat yang terbalut rok dengan lipatan-lipatan lebar. Tampaknya Munaf berhasil menyulap istrinya untuk liburan ini. Seakan mempersiapkan istrinya untuk disantap. Sebuah transformasi yang sempurna dari seorang gadis desa menjadi seorang wanita yang menggairahkan, hanya saja yang menjadi kendala adalah rasa percaya dirinya yang bermasalah.
“Bila kamu berdiri seperti itu, mungkin tidak akan yang mengira bila kamu sudah meliki satu anak, dan ku rasa dada mu tidak kalah dengan istri ku, bahkan lebih besar,”yulis - jilbab semok (1)

Walau birahinya bergejolak saat menyaksikan dengan bebas bagaimana wanita yang sangat pemalu itu membusungkan payudaranya yang terbilang besar dan masih kencang, namun Arga berusaha membuat suaranya setenang mungkin. Entah bagaimana, obrolan yang awalnya kaku itu semakin mencair bahkan lebih terbuka. Aida merasa senang dengan pujian yang dilontarkan Arga. percaya dirinya menyeruak dengan malu-malu. Matanya berkali-kali memergoki pria disampingnya itu memandangi payudaranya berlama-lama dengan binar kagum.
“Aku berani bertaruh, aku dapat membuat mu memiliki percaya diri dan menjadi pusat perhatian pada liburan ini, asalkan kamu mengikuti saran yang ku berikan,” ucap Arga setelah Aida kembali duduk disampingnya. Jarak mereka yang cukup jauh dari rombongan membuat rasa malu Aida sedikit berkurang, setidaknya tidak ada yang memperhatikan dirinya selain Arga.
“Ah,,, Kamu ada-ada saja. Sudahlah,,, kamu terus saja mengomentari tubuhku, Apa kamu tidak tertarik dengan wanita-wanita yang lebih menggairahkan itu” jawab Aida tidak percaya.
Sesaat Arga mengalihkan pandangannya, tampak Zuraida yang megenakan rok panjang lengkap dengan penutup kepala nya sedang merangkul Dako yang ikut bergabung dengan Aryanti dan Bu Sofia. namun Aida yang kini dihadapan lebih menarik perhatiannya.
“Ayolah,,, Aku berani berbugil ria keliling monas bila aku gagal,”
Sontak Aida mengernyitkan dahinya namun sesaat kemudian bibir mungil itu tertawa lebar. Baru kali ini Aida dapat bercanda lepas dengan pria selain suaminya.
“Tapi, apabila Aku berhasil, mungkin Aku dapat sedikit mengambil upah atas tubuhmu ini,” kalimat yang dilontarkan Arga semakin nakal, Aida yang tertawa langsung terdiam.
“Aaa,, apa yang akan kamu minta dari tubuh saya?” dengan tergagap Aida bertanya.
Ada tekad dihati Arga untuk dapat meraih satu orgasme dari tubuh istri temannya itu, apalagi secara tidak sengaja tiupan angin nakal menyingkap kain rok yang ringan, sepasang paha mulus yang sekal terpampang di depannya. Dengan malu-malu Aida segera merapikan roknya, mengapit sisi kain diantara pahanya.
“Mungkin akan ku pikirkan nanti, setelah usaha ku menumbuhkan rasa percaya diri mu berhasil. Tapi satu yang pasti, aku sangat berminat dengan apa yang tersembunyi di balik kaos merah ini, bahkan jika diizinkan aku ingin sedikit berkenalan dengan milik mu yang tersembunyi dalam kain indah ini,” ucap Arga sambil meletakkan telapak tangannya diatas paha Aida yang tertutup rok.
“Eehh,ehm,,jangan nakal ya,,” seru Aida, menepis tangan Arga dengan cepat.
“Shit,,,” Arga mengumpat dalam hati, hanya gara-gara tak mampu membendung nafsu, telapak tangannya itu telah merusak semua rencana, mungkin dirinya harus sedikit bersabar, Aida memang bukan wanita seperti Sintya atau wanita lainnya yang begitu mudah diajak ke tempat tidur.

“Upss,,, maaf,,, aku terlalu bergairah saat melihat kulit mulus mu,” Ujar Arga serampangan, dan hatinya kembali mengumpat, kenapa mulutnya harus begitu jujur menturkan isi hatinya.
Suasana kembali kaku, Arga tidak lagi memiliki kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana. “Kemana eemm,,anak Anda dititipkan,” ucapnya asal, meski tak yakin kalimat itu dapat memperbaiki suasana, bahkan suara yang keluar dari mulutnya agak serak dan terbata.
“Sial, sial,sial,,” umpatnya dalam hati, saat melihat Aida justru tertawa melihat kegugupannya. Bahkan tubuh wanita itu sampai terguncang membuat payudara turut bergoyang. “Apakah kata-kataku memang lucu,” hati Arga menjadi kesal dengan sikapnya sendiri.
“Eemmm,, lalu apa yang harus aku lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diriku,” ucap Aida tanpa menjawab pertanyaan Arga, Aida sadar lelaki di depannya kini merasa bersalah dan menjadi serba salah.
“Yaa,, mungkin kita bisa memulai dari sekarang,” ucap Arga.
“Apakah harus menggunakan telapak tanganmu,” balas Aida cepat, sepertinya wanita itu justru ingin meledek Arga.
“Tidak, tidak, maaf atas perbuatanku tadi. seperti yang kubilang tadi, kamu dapat memulai dengan belajar menegakkan punggung, sehingga payudara itu semakin membusung, dan biarkan kedua bukit itu mendominasi pemandangan dari tubuhmu,” Arga kembali berusaha menguasai keadaan setelah sadar dirinya sedang dikerjai oleh istri temannya itu.
Dan benar saja, kini giliran Aida yang kembali kikuk dan bingung, haruskah dirinya mengikuti saran lelaki yang hanya dikenal dari suaminya. Tapi tak urung saran itu diikutinya juga.
“Apakah seperti ini?” ucapnya menahan malu, payudaranya memang terbilang besar, apalagi jika harus duduk tegak seperti itu.
“Ya,ya,,, mungkin kamu bisa sedikit bersandar agar tidak terlalu capek, tapi jangan pernah lagi menekuk pundak dan menundukkan kepala, biarkan kepala mu tetap tegak, dan yakinlah kamu tidak kalah cantik dengan wanita manapun…dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk menguji kelebihan yang kamu miliki, aku yakin dengan keindahan tubuh yang kau miliki, kamu dapat menggoda penjaga kantor itu,” ucap Arga sambil menunjuk seorang pria paruh baya di sebrang mereka, Mang Engky.
“Tapi apa yang harus ku lakukan,” balas Aida yang kebingungan,”
“Sekarang ikuti intruksiku,,, Ok, coba rentangkan kedua kakimu,,, ya,, terus,, biarkan angin menyapa kulit, bagus,,,dan tetaplah menatapku seolah kita sedang mengobrol,, bagus,,,” Mata Arga yang begitu tajam menatap Aida seakan memberikan semangat kepada ibu muda yang berusaha menahan malu mengikuti intruksinya.
Tak urung aksi itu membuat jantung Aida berdegup kencang, ini adalah untuk pertama kalinya Aida memperlihatkan selangkangannya yang hanya tertutup oleh pakaian dalam kepada pria lain. Jemarinya meremas bangku kayu dengan kuat, Aida sangat yakin jika penjaga kantor itu memang tengah menatap selangkangannya pasti mendapati sepasang paha montok yang menggairahkan.
“berapa lama saya harus melakukan ini,” Tanya Aida, dirasakannya semilir angin dengan mesra mengecupi kulit pahanya, membuat bulu-bulu halus yang menghias paha sintalnya berdiri.

yulis - jilbab semok (2)

“Teruslah, Biarkan rasa malu menguasai dirimu, biarkan rasa malu menyelimuti seluruh tubuhmu, rasakanlah wajah mu yang mulai terasa panas dan memerah, dan terus nikmati rasa malumu,” Aida memejamkan matanya, membayangkan ekspresi pria di hadapannya yang siap menerkam tubuhnya.
“Nikmati rasa malu itu, hingga kamu mampu menguasai tatapan nakal pria itu,” kata-kata Arga bagai menghipnotis geraknya, Tanpa sadar Aida semakin membuka pahanya semakin lebar.
“Dan sekarang tarik sedikit rok mu, biarkan pria itu menikmati selangkangan mu, biarkan pria itu menerkam kemaluan mu dengan matanya.”
Sontak mata Aida terbuka, Wajahnya menunjukkan kata-kata protes, jika hanya mengangkangkan kakinya mungkin tidak terlalu masalah, tapi dengan membuka roknya semakin keatas sama saja memberi undangan terbuka kepada Mang Engky. Meski wajah Arga dan Aida tetap saling menatap, tapi mata mereka sesekali melirik dan memperhatikan apa yang tengah dilakukan Mang Engky.
“Tidak Arga, Aku tidak mau jika harus melakukan itu,”
“Ayolah, Aku yakin kamu dapat menggoda pria itu, lihatlah dia mulai memperhatikanmu, Oowwhh,, pria itu mulai menundukkan tubuhnya mengambil sesuatu tapi aku yakin dirinya hanya ingin mencari tau apa yang tersembunyi dibalik rok mu itu, mungkin kau bisa memberinya sedikit rejeki di pagi hari,” goda Arga.
“Tapi aku tidak mengenakan apapun selain celana dalam,” balas Aida cepat.
Lagi-lagi Arga menganggukkan kepalanya menegaskan kepada wanita muda itu bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengubah pribadinya. Sementara hati Aida mencoba mencari-cari pembenaran atas apa yang dilakukannya saat ini. Setelah menghela nafas panjang, jemari nya secara pasti menarik rok itu semakin ke atas. Meski tidak yakin dapat merubah sifat pemalunya, setidaknya Aida ingin menikmati sedikit kenakalan yang tidak pernah dilakukannya. Sepasang paha putih nan sekal, perlahan mulai terpampang dengan lebih jelas berujung pada secarik kain pelindung, seandainya Arga sedikit menundukkan kepalanya maka dirinya akan dapat pula menikmati suguhan indah di pagi hari nan indah itu.
“Apakah ini cukup,” suara Aida terdengar berat. Beberapa tetes keringat menetes diwajah wanita berkacamata itu. Sementara jemarinya kini meremas tangan Arga dengan kuat, seakan meminta dukungan atas apa yang dilakukannya.
“Ya, kurasa cukup,” ada nada-nada cemburu dan iri dimata Arga atas keburuntungan yang tengah dinikmati Mang Engky. Tekad Arga untuk dapat menyetubuhi Aida semakin menggebu, dan ini adalah jalan pintas terdekat untuk cita-cita nya tersebut.
Mang Engky yang memang sedang menikmati pemandangan indah itu, semakin dibuat kelimpungan ketika dua paha sekal yang membuat batangnya berdenyut keras mulai memberikan akses pemandangan yang lebih gila, Sepasang batang mulus yang berujung pada segitiga bermuda berbalut kain biru muda, yang menjadi misteri bagi lelaki yang tak pernah lulus SD ini. Aida merasakan vaginanya mulai basah, seandainya Mang Engky berada lebih dekat mungkin pria paruh baya itu dapat melihat bagaimana celana dalam itu mulai lengket dan basah. Sementara Arga berulangkali mengumpat dalam hati atas kemujuran yang didapat Mang Engky, ingin sekali Arga menyibak rok Aida dan melihat bagaimana keindahan selangkangan wanita di sampingnya itu. Tanpa diduga, Aida memalingkan wajahnya dan menatap Mang Engky yang hampir terjengkang karena kaget dan berlalu pergi dengan cepat.

yulis - jilbab semok (3)

“Kenapa pria itu pergi,,,” keluh Aida, padahal dirinya hanya ingin melihat wajah lelaki yang telah menikmati keindahan tubuh yang ditawarkannya.
“Tidak,tidak,,, justru kau telah berhasil menguasai rasa malumu dengan berani menatap pria itu, lihat pada akhirnya dia yang malu, bukan kamu, kaulah pemenangnya”
“Ya kurasa ini sudah lebih dari cukup, pria itu tak mampu melawan godaanku,” ucap Aida dengan senyum lebar.
“Teeett,,,Teeet,,,” suara klakson bis wisata yang begitu kencang membuat Arga dan Aida terkaget.
Mang Engky yang sempat menghilang dibalik gedung kembali menunjukkan batang hidungnya dan bergegas mengarahkan bis besar yang memasuki halaman kantor. Sesekali matanya mencoba melirik Aida berharap menemukan pemandangan seperti yang dinikmatinya tadi.
“Lihatlah, apa yang telah dilakukan selangkangan mu pada pria paruh baya itu, ternyata kau memang nakal,” bisik Arga sambil beranjak.
“Tapi ku rasa bukan hanya pria itu yang menikmati,,,” balas Aida menggoda. Entah kenapa Aida merasa memiliki kebebasan untuk bercanda dan sedikit menggoda pria yang telah berhasil ‘menelanjangi’ tubuhnya ditengah umum.
Arga hanya terkekeh, “Eitss,, ingat tubuh mu harus selalu tegak, dan biarkan aku menikmati keindahan payudara mu, ehmm,, maksud saya para lelaki,” ucap Arga mencoba mengiringi langkah kaki Aida menuju rombongan yang sibuk mengepak tas mereka kebagasi.
Mungkin ada benarnya yang diinginkan Pak Prabu, dengan menggunakan bis wisata, mereka akan lebih cepat akrab dibanding menggunakan mobil pribadi masing-masing.

############################
Aryanti merentangkan kedua tangannya dan mengambil nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan udara pantai yang begitu segar. Zuraida yang ada disampingnya hanya tersenyum melihat ulahnya. Di hadapan mereka tampak sebuah cottage yang keseluruhan bangunannya menggunakan kayu dan atap dari rumbia, dikeliling sebuah pagar yang cukup tinggi. Sebuah pemandangan yang sangat artistik dengan nuansa natural, mungkin pencipta bangunan ini sengaja mempertahankan kealamian pemandangan yang ada, walaupun disana-sini terdapat beberapa tambahan bangunan permanen untuk menjaga keamanan dan penunjang fasilitas. Dengan ditemani Munaf, Arga menemui penjaga cottage yang dijaga oleh seorang lelaki berumur 40an dan seorang wanita muda yang bertugas sebagai juru masak bagi para tamu yang menginap, kulit mereka yang hitam seakan memberi tanda bahwa mereka memang telah lama mendekam dipulau tersebut.
Sementara Pak prabu terlihat sibuk memberikan beberapa isyarat kepada Sintya, memang cukup sulit menjaga kerahasiaan hubungan dengan simpanannya itu. Walau bagaimanapun Sintya adalah wanita normal yang mengharapkan kemesraan perlakuan penuh kasih sayang dari pasangannya. Untungnya semua wanita, selain Bu Sofia, telah mengetahui skandal itu, dan mereka mencoba menemani Sintya.
“Hei,,hei,,, disini menyediakan 7 kamar, dan pada kunci-kunci ini terdapat nomor dari kamar, dan aku bersama Aryanti akan mengambil kamar nomor lima, dan untuk menghormati Pak Prabu yang akan meninggalkan kita, ada baiknya kamar dengan nomor satu kita persilahkan kepada bapak untuk menempati,” terang Arga sambil menyerahkan kunci kamar kepada Pak Prabu.
Arga sengaja mengambil kamar nomor lima karena kamar tersebut ada dilantai dua dengan jendela tepat mengarah ke kolam renang dibawahnya. Sedangkan Munaf mengambil kamar paling belakang. Setelah membagi kunci yang akan menentukan dikamar mana mereka akan tidur, ruang lobby sekaligus ruang untuk bersantai itu perlahan kembali sepi. Matahari masih memberikan mereka beberapa menit untuk melepas lelah sebelum bersama-sama menyaksikan sunset pertama dipantai yang indah itu.

###############################
Pak Prabu menghisap dalam-dalam rokok yang masih tersisa setengah, pandangannya tidak lepas dari tubuh sekal Aida yang asik menanti ombak yang datang silih berganti, menyapa jemari kaki, membuat kaki indah itu sedikit terbenam dalam timbunan pasir. Telah lama memang dirinya menyimpan hasrat pada wanita berkacamata itu. Dan mungkin inilah masa-masa yang tepat untuk menjajal kehebatannya pada tubuh wanita yang memiliki tubuh bohay itu. Sesekali roknya terangkat tertiup angin laut yang nakal, memperindah pemandangan dengan latar belakang sunset dipantai eksotis itu. Arga yang ada disampingnya masih sibuk mengotak-atik GPS yang dipinjamnya dari Mang Oyik, si penjaga cottage. Sesekali Arga tersenyum menyaksikan keberhasilannya menyulap pribadi seorang Aida, Arga sangat yakin jika wanita itu menyadari tatapan nakal Pak Prabu karena matanya sesekali melirik kearah Pak Prabu yang tak bergeming dari pandangannya. tampaknya ia tengah menguji saraf rasa malunya di hadapan Pak Prabu.
“The party is begin, tentukan targetmu, taklukkan dan nikmati sepuasmu,” seru Dako yang datang diiringi Munaf dan Aditya.
“Naf, sepertinya sudah ada yang menjadikan istrimu sebagai target,” tambah Dako melontarkan umpan. Sementara yang disinggung mengangkat kedua bahunya dan tertawa lebar, Munaf sepertinya memang sudah mempersiapkan hatinya untuk pesta ini, bahkan dirinya mendadani Aida seindah mungkin seakan menawarkan kepada para gladiator yang berminat.
“Terus terang saja, aku telah menetapkan seluruh wanita disini sebagai target ku, dan tentu saja termasuk istrimu,” ucap Munaf sambil menepuk bahu Dako, lelaki itu memang terbiasa bicara ceplas-ceplos namun solidaritasnya kepada teman patut diacungi jempol.
“Silahkan saja, jika kau mampu menaklukkannya,” jawab Dako tak ingin kalah.
“Aidaaa,,, ayo sini,,,” terdengar suara Zuraida yang tengah menuju gazebo bersama para wanita lainnya.
Sore itu Zuraida tampak anggun dengan penutup kepala berwarna biru muda, senada dengan kaos yang dikenakannya, celana panjang dari bahan tisyu yang dikenakannya cukup sukses mencetak kaki indah yang tak pernah terekspos didepan umum. Siapa pulakah yang beruntung mengayuh tubuh indah dengan paras yang cantik itu
“Ok, agar liburan ini lebih berarti saya ingin menawarkan beberapa acara, dan untuk diketahui acara ini tidak mengikat siapapun jadi apabila ada diantara kita tidak dapat ikut ataupun malas untuk ikut berkumpul tak mengapa,,,” Sebagai calon pemimpin yang baru pada anak perusahaan, Arga mencoba menunjukkan power dengan gayanya sendiri.

yulis - jilbab semok (4)

Bibir Arga dengan tenang memaparkan beberapa ide acara yang ada dikepalanya, dan tampaknya semua yang ada disitu mengaggukkan kepala tanda setuju. Tanpa disadari yang lain, tampak sepasang mata penuh rasa kagum terhadap pribadi Arga yang tenang dan terkadang cukup humoris. Obrolan berlanjut pada hal-hal yang ringan. Munaf yang mencoba mendekati Andini dengan menawarkan sepotong kentang goreng yang sudah jatuh kelantai, ulah Munaf itu tentu saja membuat Andini terpingkal. Aditya yang paham dengan gelagat Munaf mencoba memberi tempat dengan alasan mengambil wedang jahe untuk gelasnya yang memang telah kosong. Gazebo itu memang terbilang cukup besar dengan atap daun nipah, dengan beberapa tempat duduk yang terbuat dari batangan-batangan pohon dipotong seukuran kursi yang diletakkan secara acak. Empat buah meja dari batu besar berwarna hitam sepanjang satu meter terletak disetiap sudutnya. Suara canda dan tawa mulai mengalir menandakan keakraban yang mulai terjalin, sungguh suasana keakraban yang sangat hangat, sehangat wedang jahe yang dihidangkan Lik Marni, istri Mang Oyik. Namun siapa yang menduga kehangatan tersebut dalam beberapa jam kedepan akan menjadi sangat panas, dihias berbagai desahan dan jeritan yang tertahan dari para betina, berselimut rasa solidaritas penjantan terhadap pemiliknya. Pak Prabu sesekali melirik tubuh Lik Marni yang telah menyulap dirinya dengan pakaian ala pelayan dengan kain kebaya lengkap dengan jariknya, sementara Mang Oyik mengenakan celana hitam yang longgar dengan kain sarung yang dilipat rapi. Harus diakui, Lik Marni memang memiliki wajah yang hitam manis khas wanita jawa pesisir, meski kulitnya sawo matang namun tubuhnya begitu kencang mendukung gerakannya yang lincah dalam melayani berbagai permintaan para tamu cottage. Pak Prabu meneguk ludahnya ketika Lik Marni berjalan menjauh, meninggalkan pemandangan yang begitu indah, bokongnya yang cukup besar berayun gemulai seakan mengundang untuk dijajal. Dan sepertinya bukan hanya Pak Prabu yang tertarik dengan olah gerak dari tubuh wanita muda itu, karena tatapan Aditya dan Munaf pun tak terlepas dari geol nakal tubuh yang terbalut erat kain khas wanita desa itu. Mang Oyik yang menangkap tatapan nakal para lelaki hanya tersenyum, dirinya telah terbiasa menghadapi para tamu yang menunjukkan minat pada tubuh istrinya.
“Silahkan disantap tuan-tuan, kalo ada keperluan lain bisa memanggil saya atau istri saya,” ucap Mang Oyik sambil tersenyum penuh makna, lalu pergi meninggalkan gazebo.
Arga yang sibuk meladeni celoteh manja Aryanti beberapa kali melotot melihat ulah Aida sepeninggal Munaf. Tampaknya wanita itu telah begitu pandai menonjolkan keindahan tubuhnya, dengan tatapan genit sesekali Aida merentangkan sayap pahanya dengan begitu lebar memamerkan paha sekal dan selangkangan yang terbalut kain putih. Ada sensasi luar biasa pada diri Arga dan Aida ketika berusaha untuk saling memberi dan menerima keindahan ditengah hiruk pikuk tawa dan canda. Untuk kesekian kalinya Aida merentangkan kakinya, hanya saja kali ini lebih lama dari sebelumnya, seakan mempersilahkan kepada Arga untuk lebih mengenali bagian paling sensitifnya. Sementara matanya bersiaga mengawasi sekelilingnya. Untung tak dapat dicegah, Zuraida yang masih penasaran dengan keindahan pulau itu mengajak Aryanti untuk sedikit berjalan-jalan. Bagi Zuraida sinar mentari senja yang menapaki setiap bulir pasir dapat menghadirkan ketenangan. Langkah kaki Zuraida dan Aryanti tampaknya diiringi oleh yang lain. Kini tinggallah Arga yang semakin bebas melumat pemandangan di hadapannya, tapi Arga harus mendengus kecewa ketika Aida beranjak dari tempat duduknya dan menuju kearahnya. Dan kini wanita itu telah duduk di sampingnya, dan terhentilah semua pemandangan itu.
“Aku lebih berharap kau tetap duduk di sana dan menikmati hidangan yang kau tawarkan,” ucap Arga dengan suara sepelan mungkin.
“Ooo Ya?,, apakah kau tidak ingin mencicipi hidangan itu,” jawab Aida dengan suara tak kalah pelan. “kapan lagi kau akan mengambil upah atas terapi nakal mu ini,” belum sempat Arga menjawab Aida telah beranjak, namun wanita itu tidak menuju pintu cottage tapi kearah samping kebagian salah satu sisinya.
Dengan pandangan penuh kemenangan Arga menatap Aditya dan Pak Prabu yang tertinggal di cottage.
“Ga,,, jangan langsung dihabisin, sisain gue buat ntar malam,” teriak Pak Prabu sambil tertawa, yang dijawab Arga dengan mengacungkan jari tengah.
“Om, Ntar malam, Adit pinjam tante ya?,,,” ucap Adit dengan sedikit ragu dan takut.
Sontak Pak Prabu tertawa terbahak, “Emang kamu sanggup ngeladenin tantemu itu? Hati-hati lho dia itu predator daun muda,” bisik Pak Prabu menggoda Adit. Wajah Aditya sumringah setelah mendapatkan lampu hijau dari Pamannya.
Aida yang melangkah cepat agak kebingungan mencari ruang yang sedikit terlindung. Gairahnya begitu menggebu, sejak obrolannya bersama Arga tadi pagi Aida terus mengeksploitasi tubuhnya di hadapan para pria. Ada kepuasan tersendiri ketika dirinya menikmati tatapan nakal para lelaki.
“Ibu bisa pakai kamar saya dan istri saya,” terdengar sebuah suara bariton yang ternyata adalah Mang Oyik, pria berjambang dan berkumis lebat itu tersenyum ramah sambil menunjukkan sebuah kamar dekat dengan dapur. Sepertinya Mang Oyik sudah sangat hapal dengan ulah para tamunya.
Aida melangkah cepat, tepat dipintu dirinya berpapasan dengan Lik Marni yang tengah memasak untuk makan malam mereka. Lagi-lagi keduanya melemparkan senyum, Maaf Bu kamarnya saya pinjam ya, ucap Aida sambil menahan malu, namun Lik Marni justru tersenyum dan membukakan pintu kamarnya yang berada tepat di samping pintu dapur. Arga yang menyusul Aida harus sedikit berbasa-basi dengan Lik Marni namun perempuan kalem itu justru memberi isyarat agar Arga secepatnya masuk kekamar.
“Kasian lho mas warungnya kelamaan nunggu, kalo warungnya tutup kan situ yang repot,” ujarnya sambil tersenyum simpul setelah Arga memaksakan sedikit obrolan yang tidak penting.
Mendapat sindiran yang begitu menohok akhirnya Arga membuka pintu kamar tidur pasangan penjaga cottage itu.
“Nanti malam warung saya juga buka lho, kalo mau mampir boleh koq,” seru Lik Marni cepat sebelum Arga menutup pintu.
Arga sempat kaget mendengar undangan itu, namun kemudian dirinya tersenyum, diundang untuk mampir ke ‘warung’ milik wanita semontok Lik Marni tentunya tak akan ada lelaki yang menolak. Apalagi Arga yang setelah menikah tidak pernah lagi mencicipi warung milik wanita lain. Di dalam kamar yang gelap hanya diterangi bias lampu luar yang menorobos dari sela ventilasi, Arga dapat dengan jelas melihat sosok Aida yang bertelungkup pada sebuah bantal. Body sekal dengan pantat montok yang sedari tadi pagi telah menghantui pikirannya kini tergeletak pasrah menunggu untuk dijamah. Apalagi dengan posisi telungkup tubuh itu semakin menggoda, rok pendek yang dikenakan tak lagi mampu menutupi dua buah pantat yang membulat padat. Arga mencoba memanggil Aida namun tidak mendapatkan jawaban. Arga bisa mengerti karena ini adalah perselingkuhan pertama wanita itu. Dengan perlahan Arga menyingkap semakin keatas kain yang menutupi bagian bawah tubuh.

Dengan pandangan takjub tangannya meremas dengan gemas dua bongkahan daging kenyal yang kini berada dalam teritorialnya, sadar waktu yang dimiliki hanya sebentar Arga bergegas melepas levi’s pendek dan kaos yang dikenakan, dan segera menduduki kedua paha putih mulus. Tangannya kembali bermain, meremas dan menekan bokong yang ditelantarkan pemiliknya dalam kebisuan. jemarinya dengan nakal mengusap klitoris yang masih terbungkus pengaman membuat pemiliknya harus mengerang geli. Arga mencoba mengukur panjang penisnya ditengah-tengah bongkahan, agak ragu Arga, apakah penisnya dapat masuk sepenuhnya seperti saat dirinya menjejalkan penis panjang dan gemuk itu ke vagina istrinya, Aryanti. Hal itu tak membuatnya pusing, namun kepasrahan Aida yang hanya membenamkan wajahnya dibantal itulah yang membuatnya bingung. Apakah wanita itu tengah menyembunyikan rasa malu untuk perselingkuhan pertamanya ataukah memang telah pasrah untuk disetubuhi. Arga mencoba menyulusupkan kedua tangannya kedalam kaos Aida, cukup sulit memang karena terhimpit oleh tubuh, tapi Aida mengerti dan sedikit mengangkat tubuhnya, membiarkan jemari Arga bertandang kepayudaranya.
“Hati-hati neng, ntar balonnya pecah lho kalo ditindih terus,” goda Arga yang dijawab dengan sikutan Aida ketubuhnya.
“Cepatlah, ambil imbalan yang kau mau, sebentar lagi makan malam,” balas Aida dengan memalingkan wajahnya kesamping. Arga semakin menyadari kecantikan dari istri temannya itu, kaca mata yang menghias wajah bundarnya membuat wanita itu semakin menggoda.

yulis - jilbab semok (5)
Dengan telunjuknya Arga mencoba menyibak kain yang menutupi lubang kemaluan, pikirnya tak perlu melepas segitiga pengaman itu, tapi kain itu terlalu ketat membungkus vagina dan bongkahan pantat yang cukup besar. Dengan dibantu Aida, Arga akhirnya memilih melepas kain yang menghalangi usaha birahinya. Debaran jantung Aida yang berdetak cepat menanti sentuhan dari pertemuan kedua kulit kemaluan mereka, dapat dirasakan oleh Arga.
“Eemmhhpp,,,” erangan Aida tertahan ketika vaginanya mulai menerima kepala penis Arga, cukup sulit memang bagi Arga untuk melesakkan penisnya ke vagina yang ternyata belum terbiasa dengan batang sebesar miliknya, apalagi dengan posisi memeluk Aida yang telungkup. Dengan berdiri pada kedua lututnya Arga menarik bongkahan pantat semakin menungging membuat vagina Aida semakin merekah. Mungkin dengan begini penisnya dapat lebih mudah melakukan ekspansi pikir Arga.
“Aarrggaa,,, gaaa,,” Aida terpekik ketika Arga sedikit memaksakan kepala penisnya menjelajah lebih jauh, meskipun sudah sangat basah tetap saja begitu sulit. Jemari Aida mencengkram tangan Arga dengan kuat untuk meredam perih yang dirasakannya.
Tapi pantat itu terus saja menyorong ke belakang, seakan meminta Arga untuk terus menghujamkan penisnya. Sesekali bergoyang untuk memuluskan jalan masuk dari batang besar yang terus menohok semakin dalam.
“Taahhaaannn,, duluu,,Gaaa,,” dengus Aida, sambil meminta Arga kembali memeluk tubuhnya yang telungkup. “Asal kau tauuu,, penismuu ituu terlaalu besar untuk kemaluankuu,, dan ini adalah penis pertama selain milik suamiku yang kubiarkan memasuki tubuuhhkuuu,,” seru Aida ketelinga Arga yang sibuk menciumi pipinya.
“Lalu,,,” jawab Arga dengan enteng.
Jawaban Arga yang begitu santai tentu saja membuat Aida menjadi jengkel. Arga yang melihat wajah Aida yang cembetut dengan bibir yang manyun segera mendaratkan bibirnya dan dengan dengan cepat lidahnya masuk mencari-cari tuan rumah dari bibir indah itu.

Aida memang tidak begitu mahir dalam permainan lidah, karenanya dirinya membiarkan saja lidah Arga menulusuri rongga mulutnya. Sesekali lelaki itu menyedot lidah Aida dengan kuat membuat wanita itu kalang kabut tak dapat bernafas.
“Aaaarrgghhhmm,,” tiba-tiba bibir Aida terlepas, menggeram kencang.
“Sedalam apalaaagi kaaau mauu menusuk kemaluanku Gaaa,,,” lengkingan Aida semakin menjadi ketika Arga terus saja menohok vaginanya meskipun batang itu telah sampai kepangkal rahimnya.
Aida tidak menyangka jika penis itu masih dapat masuk lebih dalam lagi, dan serangan Arga yang begitu tiba-tiba membuatnya terkejut.
“Mungkin ini sudah cukup,” jawab Arga setelah yakin penisnya tak dapat masuk lebih jauh lagi. Dengan perlahan Arga mengayun penisnya mencari kenikmatan yang dihidangkan dengan sukarela oleh tubuh istri temannya itu. Pantat Aida semakin terangkat, batang besar yang belum pernah dirasakannya itu ternyata mampu memberikan kenikmatan baru bagi dirinya. Mata Aida terpejam menikmati gesekan otot berselimut daging yang semakin lama semakin keras. Dinding vaginanya mencoba mengenali urat-urat yang menonjol di antara dinding kulit yang telah basah oleh lendirnya.
“Gaaa,,, masukin yang daaalaammm,,,please,” lirih Aida. Dinding rahimnya menagih untuk kembali disapa ketika Arga asik bermain dipermukaan vaginanya.

yulis - jilbab semok (6)
“Argaaa,,,” teriaknya dengan kesal. Disaat vaginanya begitu mendamba kembali disesaki oleh batang besar itu, Arga justru mencabut penisnya. Raut muka Aida yang jengkel membuat wanita itu semakin cantik.
“Sssttsss,,, aku ingin menidurimu, bukan menindihmu seperti ini,” bisik Arga sambil membalik tubuh Aida dan melepas kaos serta bra yang masih melekat, dengan nakal telujuk dan jempol Arga memelintir puting merah muda yang telah terpampang di hadapannya.
Sesaat keduanya saling menatap dalam temaram bias cahaya, dengan posisi seperti ini Aida tersadar dirinya yang selama ini berhasil menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus seorang guru teladan di sekolahnya mengajar, kini bersiap melayani birahi seorang pria, teman suaminya dengan keadaan yang sangat sadar. Dan sialnya dirinya pun memang menghendaki persetubuhan ini, entah mengapa seorang Arga telah berhasil menumbuhkan gairah liarnya, mengeksploitasi keindahan tubuhnya di depan umum, memohon selangkangannya kembali disesaki oleh batang luar biasa itu. Debaran jantungnya semakin cepat ketika merasakan vaginanya yang merekah kembali menagih untuk dikayuh oleh penis yang kini berada dalam genggamannya, berlumur lendir cintanya. Dengan kesadaran penuh Aida membuka selangkangnnya lebih lebar, memohon Arga untuk mengambil tempat diantara kedua paha yang sekal. Matanya yang terus menatap wajah Arga sesekali melirik batang yang kini berada tepat di depan gerbang kemaluannya. Gemeretak gigi terdengar cukup jelas ketika Aida menahan rasa penasaran dan gregetan karena batang itu tak kunjung amblas ke lorong yang begitu berhasrat untuk merasakan hujaman penuh nafsu. Ya,,,hanya bermain dipintu vagina yang tembem, menggosok, terkadang menyapu hingga kerambut-rambut yang tumbuh cukup lebat, dan sesekali mencelupkan sebagian kepalanya namun kembali keluar untuk bermain.

“Ooohh,, please Gaaa,,, setubuhi akuuuu,,, pleeaassse,”  rintih Aida seraya berusaha melepas kacamatanya yang berembun oleh deru nafasnya yang memburu.
“Ohh,,, tidak, biarkan kacamata itu tetap menghias kacamata ibu guru,” pinta Arga sambil menyinggung profesi Aida yang notabene bekerja sebagai guru Bahasa di sebuah SMU.
“Terserah kaulah, tapi cepatlah penuhi vaginaku,” rengek Aida semakin gregetan dan kesal.
Meski jemari Arga yang kini bermain dengan payudaranya membuat getaran nikmat Namun Aida tak ingin menunggu lebih lama, setelah mengangkangkan kakinya dengan lebar, wanita itu memegang pinggul Arga dan menekannya ke bawah berharap penis yang menggantung di depan kemaluannya kembali mengayuh vagina yang terus berdenyut minta diisi.
“Uuugghhh,,, yaaa,,yaaa,,,” tanpa melepaskan pandangan mata yang saling bertaut Aida begitu menikmati setiap dentuman penuh birahi yang menghentak keras.
Arga sendiri dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik berkacamata itu melotot meredam hentakan Arga yang semakin cepat. Sesekali mulutnya melenguh ketika hujaman Arga mengenai daerah paling dalam. “Ugghhhh,,,”
Kedua bibir mahluk berlainan jenis itu terus mendesis bersahutan, sesekali saling bertukar ludah dalam lumatan yang panjang.
“Yeeaahhh,, Gaaa,,, terusss,, yaa sayaaang,,,”
“Ummghhh,,,,aaahhh,,aahhh”
tubuh Aida melengkung, tak mampu lagi dirinya menahan orgasme yang melanda, kedua paha sekalnya menjepit pinggang lawannya dengan kuat, dengan tangan mencengkram punggung. Beberapa kali tubuhnya menghentak mengikuti orgasme yang begitu dahsyat, mulutnya meneriakkan lolongan kepuasan begitu keras, begitu nyaring. Tubuh putih nan sekal itu beberapa kali masih terhentak, orgasme datang silih berganti akibat ulah Arga yang terus menghentak tak memberi kesempatan bagi Aida untuk sejenak menikmati orgasme yang begitu dahsyat.
“Aaaarggghhhaaa,,, aahhh,,,” Setali tiga uang, ternyata Argapun tak mampu lagi menahan orgasmenya, bermili-mili sperma kental menghambur memenuhi lorong kemaluan yang semakin banjir.
“Uuggghh,,ughh,ughh,” disisa orgasmenya Arga kembali mengehentakkan penisnya, mencari-cari kenikmatan yang tersisa sekaligus mengalirkan tetesan sperma yang tertinggal.
Aida hanya tersenyum melihat ulah Arga, dibiarkannya lelaki itu terus menghentak vaginanya dengan segenap kekuatan yang dimiliki, mengeksploitasi kepuasan diatas tubuh bugilnya. Menggeram kuat dengan jemari mengcengkram erat kedua payudaranya, Mengejang penuh birahi di sela selangkangannya. mengosongkan kantong spermanya hingga memenuhi rongga vagina.

yulis - jilbab semok (7)

Meski dalam masa subur Aida tidak ingin memupus kenikmatan yang tengah dinikmati pria diatas tubuhnya itu. Dibiarkannya aliran sperma yang hangat memenuhi rongga rahimnya, apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi. Namun yang pasti saat ini dirinya begitu menikmati kepuasan yang terpancar dari wajah seorang pria yang bukan suaminya, terus memburu rentetan kenikmatan orgasme dari tubuh telanjangnya. Ada kepuasan dibatin Aida melihat wajah dan tubuh Arga yang bermandikan keringat tersenyum kelelahan, dipeluknya kepala Arga dan menempatkan wajah yang dihias kumis tipis itu diantara payudaranya. Obrolan ringan mengalir dari mulut mereka tanpa ada niat memisahkan dua kemaluan yang masih bertaut berselimut kehangatan lendir-lendir cinta mereka.
“Dugaanku tidak meleset, ternyata kau memang luar biasa,” ucap Arga sambil menyisir alis Aida dengan telunjuknya. Keringat dari pacuan birahi yang baru saja selesai masih terus keluar dari pori-porinya yang halus.
Tubuh Arga memang lebih besar dari suaminya, dengan badan atletis yang selalu terjaga. Dan Aida merasa tenang berada dalam rengkuhan dan tindihan pria tersebut.
“Hahaha,,, sudahlah,, tak perlu merayuku lagi, kau sudah mendapatkan segalanya dariku, aku harus mengakui pesonamu begitu mengagumkan, dan aku yakin sudah banyak wanita yang telah berhasil kau gagahi dan sialnya salah satunya adalah aku,,,. Jadi sekarang, sebaiknya cepatlah kau kenakan pakaianmu dan berkumpul dengan teman-temanmu di meja makan,” kata-kata Aida yang begitu panjang tak mendapatkan respon dari Arga yang kini mengukir bentuk bibir Aida dengan jemarinya.
“Ayolah Arga,, kau tidak mungkin terus menindih tubuhku, lagipula aku tidak ingin suamiku mendapati kemaluanku melebar karena terus menelan batang besarmu ini,” dengus Aida dengan berpura-pura kesal
Arga yang lebih banyak diam dan hanya menatap wajah dan tubuh telanjangnya membuatnya rikuh. Walau bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya mempersilahkan seorang pria, selain suaminya, dengan bebas menggasak selangkangannya. Bahkan suaminyapun tidak pernah melakukan itu, biasanya Munaf langsung tergeletak tertidur di sampingnya begitu berhasil menghamburkan sperma di rahimnya, dan kini ada seorang lelaki yang belum begitu dikenalnya, berlama-lama menindih tubuhnya tanpa melepaskan batang yang menghujam dan masih saja mengeras.
“Apakah kau benar-benar ingin aku turun dari tubuhmu?” Tanya Arga sambil mengambil ancang-ancang menjatuhkan tubuhnya ke samping.
“Emhh,, Arga, jangan membuatku terus merasa malu dong,” rajuk Aida sambil kembali memeluk tubuh Arga dan menyembunyikan mukanya yang memerah ke dada bidang Arga.
Kedua pahanya menjepit erat pinggul Arga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin batang besar itu lepas dari kemaluannya. Arga hanya tersenyum melihat tingkah Aida, namun kedua sikunya yang terus menahan berat tubuhnya untuk menghindari beban di tubuh Aida sedikit membuatnya capek, akhirnya Arga berguling kesamping dan menempatkan Aida di atas tubuhnya tanpa melepaskan penis yang masih mendekam manja. Wanita itu sempat terpekik, namun setelah mendapati posisi yang memberikan dominasi pada dirinya, Aida tersenyum. Dengan percaya diri yang dipaksakan Aida menduduki penis Arga dan membiarkan lelaki itu memandangi tubuhnya yang terekspos bebas. Aida sangat ingin memperlihatkan semua kelebihan yang dimilikinya. Aida mengakui tubuhnya lebih berisi dibandingkan wanita lainnya, hampir menyaingi kemontokan tubuh Bu Sofia.

yulis - jilbab semok (8)

Jemari kanan Arga terulur menjemput payudara besar yang menggantung, sementara tangan kirinya menyusuri pinggangnya yang ramping. “Ternyata kau benar-benar gemuk, untungnya lemak itu berada sesuai pada tempatnya,” desis Arga saat meremasi kedua bokong Aida yang begitu montok dan membuat batangnya terbenam semakin dalam.
“Tapi itu justu membuatmu sial, karena kau harus melayaniku sekali lagi,”
“Oh ya,,, tampaknya upah yang kuberikan masih kurang, baiklah,,, kau boleh kembali mengambil upahmu,” balas Aida seraya mengarahkan payudaranya kebibir Arga.
Tak perlu waktu lama, bibir indah itu kini kembali mendesis menikmati bibir Arga yang bermain nakal, menjilat, menyedot bahkan mengigiti kedua putingnya. Tak dihiraukannya telunjuk Arga yang kini mengusap-usap sekitar anusnya, namun ketika dirasakannya jari itu mencoba memasuki anusnya, Aida terkaget dan dengan cepat mencengkram tangan Arga.
“Jangan sayang, itu jorok sekali,”
“Tapi aku ingin mengambil upahku di lubang kecil itu,” ucap Arga dengan merengek manja.
“yang benar saja Arga, milikmu tidak akan mungkin cukup masuk kesana,” tubuh Aida bergidik, vaginanya saja begitu sulit melahap batang besar itu, dan kini batang itu ingin menjajal anusnya yang begitu sempit.
“Jujur saja, istriku telah melayani dua orang pria dengan anusnya, dan itu sungguh nikmat, Ayolah,,,” Arga bingung bagaimana lagi cara merayu, dirinya begitu terpesona dengan pantat montok itu, dan terus membayangkan bagaimana nikmatnya jika penis besarnya berhasil melesak masuk dan terjepit diantaranya.
“Istrimu? Aryanti? Telah melayani dua pria? Denga anusnya?” kening Aida berkerut terkejut oleh pernyataan Arga. “Ta,ta,tapi,,, aku tidak berani, itu pasti sakit sekali,” jawab Aida.
“Tuan, makan malam sudah siap, dan sepertinya tuan dan nyonya sudah ditunggu oleh teman-teman untuk makan bersama,” terdengar suara lembut Lik Marni, memutus perdebatan antara keduanya.
Arga kembali memandang mata Aida penuh harap, sekaligus menyampaikan pesan bahwa waktu mereka tak banyak.
“Baiklah,,, kau menang Arga, tapi lakukan dengan pelan,” Aida menyerah, melepas penis Arga yang masih menancap kemudian mengambil posisi menunging sambil memeluk bantal.
Tampak penis Arga begitu mengkilat, entah oleh spermanya tadi ataukah oleh cairan vagina Aida yang kembali basah. Sekali lagi Arga meremasi pantat besar Aida, dengan posisi itu vagina dan anus Aida terpampang jelas, begitu pasrah bersiap menerima tusukan penis pertama yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, terbayangkanpun tidak. Setelah mengambil posisi diantara kaki Aida yang tertekuk, Arga mencoba menusuk-nusuk lubang yang telah basah oleh liurnya. Dan memang kepala penisnya terlalu besar untuk lubang imut itu. Berkali-kali helm besar itu meleset ke atas dan sesekali terpleset ke vagina Aida, membuat bibir wanita itu mendesis.

“Sepertinya memang tidak bisa, sayang, dan mungkin aku akan melakukannya lain kali,” ucap Arga yang menyerah dan kemudian menusukkan batangnya ke kemaluan Aida.
Aida menggeram tertahan, mendapati selangkanganya ditusuk dengan tiba-tiba. “yaaa,yaa, teruusss,, kurasaaa iniii lebih baiiieek,” rintih Aida mengimbangi sodokan-sodokan keras dari Arga.
Dengan erat kedua lengan kekar itu memegangi pinggul Aida, untuk memantapkan serangannya, kamar gelap yang tadi senyap kini kembali riuh oleh gemuruh birahi. Masing-masing ingin menunjukkan kelihaian dalam memuaskan lawan mainnya. Aida berusaha mengejang untuk mempererat cengkraman otot vaginanya, dan itu cukup membuahkan hasil, Arga berkali-kali mendengus garang ketika penisnya tertahan cukup lama didalam lubang sempit itu, menikmati gerakan otot kelamin Aida yang mengempot. Aida tersenyum puas oleh usahanya.  Namun ketika Arga tiba-tiba menghentak keras jauh kedalam kemaluannya pekiknya terlontar. Dinding rahimnya tak pernah mampu membungkam hentakan nikmat batang yang terus menggedor ganas. Ranjang kayu dengan per busa yang tak lagi kencang terus menghantam tembok kamar. Membuat suara semakin gaduh. Aida mengangkat paha kanannya, memperlebar akses bagi batang itu untuk bergerak lebih bebas.
“Adduuuuhhh,,, duhh,,Gaa,,,Argaaa,,, masukiiin semuaaa,,, biar kutelaaann smuaaa,,,” jeritan birahi Aida begitu nyaring membuat Lik Marni yang ada didapur geleng-geleng kepala, meski telah terbiasa dengan ulah tamu-tamunya, tapi tak ada yang seganas mereka berdua.
Tubuh Aida tak mampu menahan hentakan pinggul Arga yang menggila, membuat pipi mulusnya menempel kedinding, kedua tangannya mencoba menahan di tembok kamar. Meski demikian pinggulnya masih memberikan perlawanan, bergoyang mengikuti hentakan yang membabi buta.
“Aarrrgghhh,,, Gaaa,,, keluaaarrr,,, Aiieedaaa sampaaaii Gaa,,”
“Aaahhm,, aahh,,, yang dalaaaamm,, daalaaam,,”
Aida tak lagi peduli dengan jeritannya yang memekik nyaring. Orgasmenya begitu dahsyat saat Arga memaksakan penis yang terlalu panjang itu berhasil masuk sepenuhnya ke dalam lorong kemaluannya. Tangan Arga berusaha menahan pinggul Aida yang berkelojotan, dengan punggung melengkung naik turun seiring orgasme yang perlahan mulai menyurut. Sudut matanya melirik Arga yang berusaha mengatur nafasnya dengan senyum tersungging. Keegoan Arga sebagai seorang lelaki melonjak saat melihat orgasme gila yang dialami Aida. Bertambah satu lagi wanita yang mengakui kehebatan barang pusaka miliknya. Terdampar di pantai orgasme, melenguh bersahutan bagai ombak yang datang silih berganti. Kini, lagi-lagi Arga memeluk tubuh montok yang tertelungkup kehabisan tenaga.
“Ga,,lakukanlah semua yang kau inginkan pada tubuhku, tapi beri aku waktu beberapa menit,” kata Aida tersengal-sengal.
Wajah cantik berkacamata yang kini bermandikan keringat memberikan pemandangan yang begitu indah.

yulis - jilbab semok (9)

“Mungkin aku akan membobol anusmu lain kali, dan hingga sampai waktunya tak ada seorangpun yang boleh menjamah lubang itu, dan sekrang berbaliklah,” bisik Arga dengan lidah menjilati kuping Aida.
Aida bingung dengan apa yang akan dilakukan Arga pada dirinya. Dengan penuh nafsu Arga mengangkangi payudara Aida yang terbaring pasrah. Kini tampak dengan jelas di depan mata Aida bagaimana bentuk dari batang yang telah memberikannya orgasme yang begitu dahsyat. Tepat di depan hidungnya, Arga mengocok batang raksasa yang menampakkan urat-urat yang mengelilingi, membuat daging besar itu semakin sangar. Entah dorongan dari mana Aida membuka bibirnya menawarkan batang itu untuk bertandang ke dalam mulutnya. Padahal Aida selalu menolak melakukan itu saat suaminya meminta dan memohon. Rezeki tak boleh ditolak, dengan cepat batang itu memenuhi rongga mulutnya, terkadang lidah Aida menyedot batang itu dengan kuat berharap batang itu menghilangkan dahaganya dengan sperma cinta. Sekelebat Aida teringat kesehariannya yang bekerja sebagai seorang guru, seorang guru cantik yang menjadi idola di sekolah. Namun kini terbaring pasrah dengan mulut penuh dijejali penis seorang pria yang bukan suaminya. Namun dalam setiap geraknya Aida justru ingin memastikan bahwa semua yang dilakukannya itu benar-benar nyata, bukan sekedar mimpi. Dengan jemarinya sesekali Aida menarik penis itu keluar dan memainkan di wajahnya yang mulus, menyusuri hidung dan telinganya. Sementara lidahnya menjilati kantung testis yang meggantung. Aida sangat sadar dengan apa yang dilakukannya, hatinya ingin mendobrak kungkungan moral dan hukum yang selama ini membelenggu. Berbagai kejadian yang dialaminya selama mengajar disekolah silih berganti hadir dipelupuknya, bagaimana mata para siswa cowok memandangi belahan roknya dengan sangat liar, terkadang Aida merasa risih ketika beberapa muridnya sengaja menundukkan badan untuk mengambil barang yang sengaja mereka jatuhkan. Aida harus mengakui sesekali murid-muridnya kadang sedikit beruntung saat dirinya terlupa menurunkan dan menjepit roknya yang selutut ketika duduk dibangku guru. Itu terlihat jelas dari mata mereka berbinar ketika berhasil mendapatkan pemandangan yang indah. Atau ulah penjaga sekolah yang mengiringinya setiap kali dirinya ke kamar kecil yang sebenarnya dikhususkan bagi para guru. Akibat ulah penjaga sekolah yang nakal tersebut Aida berusaha ekstra hati-hati dengan memastikan tidak ada celah lubang untuk mengintip. Bahkan tidak sekali dua kali, Pak Darno mengedipkan mata dan dengan sedikit isyarat yang dipahaminya sebagai permohonan untuk sedikit mengintip dua bukit yang tersembunyi di balik seragam PNSnya. Meski tidak mengabulkan permohonan itu, Aida tidak dapat memungkiri ada gairah yang menggelegak dalam dadanya. Ada rasa bangga ketika setiap bagian tubuhnya dikagumi oleh para lelaki. Hanya saja kenyataan dirinya sebagai gadis kampung yang diboyong kekota dan berprofesi sebagai guru lah yang menjadi rambu-rambu akan semua tingkah lakunya. Tetapi kini, dirinya terbaring pasrah di bawah tindihan seorang lelaki, merelakan setiap lubang di tubuhnya dijejali oleh batang berotot, gerakannya begitu pasrah mengikuti semua kehendak pejantan yang mengayuh tubuhnya, gairahnya menderu mengejar kenikmatan dan kepuasan yang dijanjikan oleh Arga, teman suaminya.

Dengus nafasnya kadang tertahan, ketika tubuh Arga yang berat menduduki kedua payudaranya, menjepitnya dengan keras, tapi entah mengapa tubuhnya justru semakin pasrah, menikmati bibir Arga yang mendesah dan merintih semakin keras di atas tubuhnya. Hatinya sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita jalang yang sanggup memuaskan para lelaki.
“Keluarkanlah semua saaayaaaang,,,” teriak Aida sambil membuka lebar mulutnya, seakan memberi tanda bibir indah itu siap menampung setiap tetes sperma Arga yang mengalir keluar.

yulis - jilbab semok (10)
“Aaaarrgghhhh,,,, iseeeppp yang kuat,iseeppp, semuaaaa,,,” teriak Arga ketika tak mampu lagi bertahan atas pelayanan yang begitu sempurna dari seorang guru yang cantik. Jemari Arga menjambak rambut Aida dengan kasar, memastikan penisnya tidak akan terlepas dari mulut Aida.
“Emmgghhhh,,mgghhh,,,” Aida menggeram berusaha memenuhi hajat pejantan yang melenguh melepas orgasme dirongga mulutnya, lidahnya berusaha menyedot batang yang berkedut kencang menghantar cairan kental ke mulutnya. Berkali-kali Aida meneguk untuk mengosongkan mulutnya yang telah penuh. Wajahnya begitu pasrah ketika batang berlendir ditarik keluar dan menghambur tetes terakhirnya di kacamata dan wajahnya. Aroma yang khas membuat mulutnya terbuka lebar berharap batang besar itu kembali masuk untuk mendapatkan pelayanan dari lidahnya. Satu lagi pelayanan yang begitu dahsyat dirasakan oleh Arga, yang tak pernah didapatkannya dari Aryanti istrinya. Ada rasa puas dan bangga ketika berhasil melukis wajah seorang guru yang cantik dengan aliran sperma. Dengan kekuatan yang tersisa Arga menjatuhkan tubuhnya ke samping Aida, perlahan mengatur nafasnya. Wajahnya meringis ketika Aida menggoda dengan menggenggam kepala penisnya dengan kuat, membuat kemaluannya terasa ngilu.
“Cepatlah berbenah, nanti kita dicari yang lain,” bisik Arga seraya mencari pakaiannya, jemarinya meraba-raba mencari kaosnya yang terlempar entah kemana.
“Kau duluan saja aku akan menyusul nanti, kau benar-benar luar biasa dan aku harus beristirahat sebentar,” jawab Aida yang justru mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh montoknya yang terbuka.
“Ok,, tapi jangan terlalu lama, aku takut suamimu cemas,” balas Arga sambil meremas payudara Aida dari balik selimut, membuat siempu-nya tertawa. “Kalau kau ada waktu, mungkin aku bersedia untuk sekali lagi melayanimu malam ini,” jawab Aida sambil terkikik sebelum Arga menghilang.

*****************

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s