ZURAIDA AND FRIENDS 2

Setiba di meja makan, Arga tak mampu sepenuhnya mengikuti obrolan yang semakin panas, berbagai ocehan nakal semakin deras mengalir. Suara tawa meledak serentak ketika Bu Sofia dengan gaya yang centil memainkan sebatang sosis dimulutnya.
“Masukkanlah daging sosis itu kebelahan dadamu, mungkin daging itu merasa kesepian tak memiliki teman,” seru Munaf seraya menunjuk payudara Bu Sofia dengan bibirnya.
“Ow, ow, ow,, aku tidak mungkin mengambil talenta yang dimiliki oleh Aryanti,” jawab Bu Sofia sambil melirik Aryanti dengan mata mengedip, membuat semua tertawa. Dan kini semua mata tertuju pada Aryanti.
“Tidak,tidak,,, Aku memenuhi permintaan kalian tadi sore hanya karena penasaran, dan sekarang tidak ada yang dapat memaksaku,” sela Aryanti.
Jidat Arga berkerut, dan Aryanti membaca tanda tanya dikepala suaminya.
hilda yulis - toge montok jilbaber (5)
“Sayang, tadi sore setelah berjalan-jalan sebentar kami kembali ke gazebo tempat kita berkumpul selumnya, dan aku sudah tidak mendapatimu disana.
“lalu, apa hubungannya dengan sosis itu,” Tanya arga penasaran.
“Istrimu memang hebat, mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh istri-istri kita,” Jawab pak Prabu cepat dengan bibir nyengir.
“Ya,ya,,, itu Cuma kebetulan saja Sayang,, Adit menantang bu Sofia, apakah payudara tantenya itu dapat memeras jeruk yang sudah terbelah dua, imbalannya Adit bersedia memijiti kaki Bu Sofia yang memang terus mengeluh capek karena terlalu lama jalan-jalan tadi sore” jawab Aryanti berusaha menerangkan, tak ingin membuat suaminya salah paham.
”Lalu Bu Sofia meladeni tantangan Adit dengan memasukkan jeruk itu kedalam kaos dan dijepit oleh kedua payudaranya yang besar, Namun ternyata air yang keluar dan mengalir kepusarnya hanya sedikit,So,,,Karena penasaran aku turut mencobanya, dan ternyata air jeruk yang diperah kedua payudara istrimu ini lebih banyak, hahahaha,,,”
”Dengan menjepitkan kedua payudaramu?” Tanya Arga cepat yang dijawab dengan anggukan.
”Semuanya sudah mencoba, jadi tidak ada salahnya kan jika aku turut mencoba, sekuat tenaga aku mengepit balon ini dengan lenganku dan ternyata aku berhasil,” sahutnya sambil memperagakan kedua tangannya yang saling menggenggam lalu menjepit kedua payudaranya dengan kuat.
Tak ayal sepasang payudara Aryanti menyembul seakan ingin melompat dari kaosnya yang longggar, Mata Arga bisa menangkap bagaimana mata teman-temannya melotot melihat aksi Aryanti yang me-replay usahanya tadi sore.
“Sebenarnya aku tidak kalah dari istrimu, hanya saja air jeruk hasil perahanku tertahan oleh bra ku, sementara istrimu bisa mengalirkan air itu langsung kepusarnya tanpa terhalang,” celetuk Bu Sofia yang masih belum bisa menerima kekalahannya, tapi justru membuat mata Arga melotot kaget.
“Haahahahaa,,, Ya,,yaa,, aku memang sudah melepas bra ku karena sudah terlalu lengket oleh keringat akibat berlarian dipantai dengan Zuraida, tapi setidaknya aku tidak melepas bra-ku karena permainan itu,” jawab Aryanti dengan santai seakan semua itu adalah hal yang biasa.
“Pasti saat itu semua mata dapat memandang dengan bebas kearah gumpalan payudara istriku,” gumam Arga sedikit cemburu.Arga perlahan menarik nafas panjang mencoba untuk lebih rileks, toh apa yang telah dilakukannya lebih dahsyat dari istrinya, sesekali matanya melirik Zuraida yang malam itu terlihat berpakaian lebih santai, baju tidur berwarna biru lengkap dengan penutup kepala jenis bergo. Sangat berbeda dengan istri Arga yang berpakaian lebih menantang dari biasanya, kaos longgarnya kali ini lebih kedodoran dari biasanya, memperlihatkan pundaknya yang putih begitu kontras dengan tali bra yang berwarna merah.
”Shit,,, sejak kapan Aryanti memeiliki baju model seperti ini,” dengus hati Arga saat menyadari pakaian baru yang dikenakan istrinya. Pasti bosnya memberikan uang sangu yang cukup besar untuk cutinya kali ini.
Namun Arga terlihat puas saat memergoki semua mata teman-temannya yang diam-diam menyatroni bagian tubuh Aryanti yang terbuka dengan rasa kagum.
“Tapi tunggu,,, jika semua wanita melakoni permainan itu, artinya Zuraida juga melakukannya kan?” bisik Arga ketelinga Aryanti.
“Ya,, dia juga melakukannya, hanya saja kami tidak dapat melihat dengan jelas aksinya karena terhalang oleh penutup kepalanya,,, Heeeyy,,, apa kau mengagumi istri temanmu itu?” tanya Aryanti, menatap penuh selidik kewajah Arga yang tiba-tiba salah tingkah.
“Tidak juga, hanya penasaran apakah wanita seperti dia juga seberani istriku yang seksi ini,” jawab Arga memandang istrinya berusaha memberikan ketegasan.
“Tidak mengapa sayang, itu wajar, karena Zuraida memang cantik,,, apa kau tau?,, tadi sore dia mengenakan celana dalam berwarna pink lhoo,, itu terlihat saat dia mengangkat kaos bawahnya untuk memperlihatkan pusarnya yang hanya dialiri beberapa tetes air jeruk,”
GLEEEKK,,,, Arga yang sedang minum untuk menenangkan hati tiba-tiba tersedak, tapi Aryanti justru tertawa terpingkal, membuat mereka yang ada disitu bingung melihat Aryanti yang tiba-tiba tertawa setelah berbisik-bisik dengan suaminya.
”Hey, apakah ada yang melihat istriku,” celetuk Munaf tiba-tiba yang masih menunggu istrinya.
Lagi-lagi Arga tersedak, Aida istri Munaf yang begitu menggairahkan mungkin masih terlelap dikamar Lik Marni, setelah kelelahan bertempur dengannya.
”Tadi sih jalan-jalan denganku ke belakang cottage, dan mungkin dia sedang kelelahan di kamar, karena kami berjalan terlalu jauh,” jawab Arga sesantai mungkin takut mengundang kecurigaan teman-temannya, dan untunglah Munaf tak ambil pusing lalu mengunyah makanannya.
Seusai makan Munaf mengeluarkan rokoknya, lalu berjalan kearah tepian kolam renang, ”Kapan kita akan memulai permainan ini?,,” ucapnya kepada para lelaki yang berkumpul.
”Hey,,hey,,hey,,,apakah kau tidak sadar jika pesta sudah lama dimulai, bahkan istrimulah yang telah menjadi hidangan pembuka,” mendengar paparan Pak Prabu, Munaf dan Dako serentak melotot.
”Assem,,, pantes dari tadi aku nyari istriku ga ketemu. Ni orang pake ga ngaku lagi kalo udah make bini orang,” Arga hanya tersenyum cengengesan. “Gimana,, mantap ga servis bini ku,” tanya Munaf dengan santai.
“Sialan ni orang, cuek bener istrinya digagahin orang,” hati Arga jelas heran dengan respon Munaf. Tapi masa bodohlah, yang jelas dirinya telah berhasil menjajal keindahan tubuh montok itu, dan membuat ibu muda itu kembali menagih untuk dipuaskan.

“Apa rencana kita malam ini,” tanya Munaf sambil menatap Dako dan dan Arga.
“Terserah, tapi yang pasti aku telah memiliki janji dengan Bu Sofia, hehe,,” jawab Dako sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang tersenyum simpul.
Pak Prabu yang asik dengan Handphone nya langsung melotot ke arah Dako, meski sadar permainan must go on, namun tetap saja terasa berat untuk melepas tubuh wanita yang telah menemani hidupnya selama bertahun-tahun, untuk disantap para srigala mesum.
“Bolehkan Pak Prabu?,”
“Terserah kalian lah, tapi ingat tidak ada pemaksaan, pengeoroyokan dan kekerasan,” kata-kata Pak Prabu begitu tegas, setidaknya dengan cara itu dirinya dapat sedikit memastikan wanitanya dalam keadaan lebih baik.
“Mungkin untuk syarat yang lain, aku dapat memenuhi, tapi untuk kekerasan sepertinya tidak mungkin, karena bagaimana tombakku dapat menghujam membelah tubuhnya jika dalam keadaan loyo,” kelakar Dako sontak membuat semua yang ada disitu tertawa, begitu juga dengan Pak Prabu yang hanya bisa tersenyum masam.
“Weeehhh,, rame bener nih, ada apa,” sura lembut itu, siapa lagi jika bukan milik Zuraida.
Seketika tawa mereda, masing-masing berusaha menyembunyikan rahasia, jika para wanita mengetahui sebelum permainan berjalan panas, maka semuanya akan menjadi lebih sulit.
“Tidak ada yang spesial, hanya membicarakan pembagian jabatan dikantor,” jawab Pak Prabu cepat, meski diucapkan dengan santai dari bicaranya lelaki paruh baya itu ingin mengukuhkan kuasanya dalam kelompok itu kepada Zuraida.
Gadis itu mendekati bangku Arga yang memang duduk didekat suaminya. Dari jarak sedekat ini pesona Zuraida seakan begitu nyata, ditambah dengan kaos tidur yang melekat sedikit lebih ketat dibandingkan baju yang biasa digunakannya. Kini Zuraida berdiri tepat di depannya, berbicara dengan suaminya, entah apa yang dibicarakan Arga tidak terlalu peduli karena posisinya yang tengah duduk membuat wajahnya berhadapan langsung dengan pantat membulat yang terangkat, layaknya pantat bebek yang memiliki kaki yang langsing.
“Ternyata berani juga Zuraida memakai celana seketat ini,” gumam Arga.
“Arrrgghh,,, sialan,” ulah Dako yang memeluk pinggul Zuraida dan memberikan sedikit remasan nakal, seakan sebuah tantangan dari Dako untuk menaklukan Zuraida bersama tubuh indahnya.
Tampak Zuraida sedikit berkelit, jelas dirinya malu jika diperlakukan seperti itu di depan umum, walau itu oleh suaminya sendiri. Zuraida menoleh ke belakang dan mendapati Arga masih duduk di kursinya berhadapan tepat dengan pantatnya yang tengah diremas Dako. wajah Zuraida terlihat tak nyaman dan menahan malu oleh ulah suaminya.
“Ok,,, aku pamit dulu, ada yang harus ku kerjakan,” ucap Arga sambil menggerutu melihat ulah Dako.
“Arga, malam ini aku ingin ngobrol dengan Aryanti, tapi ada yang harus aku bereskan sebelumnya dengan suamiku ini,”
“Baiklah, nanti akan aku sampaikan kepadanya,” ucap Arga menjawab rencana Zuraida yang kini menggantikannya duduk di kursi.
Ketika melewati persimpangan yang menuju kearah dapur, Arga bingung, di ujung lorong itu telah menunggu tubuh montok Aida yang masih mengharapkan sentuhannya.
“Mungkin aku akan menyelesaikan tanggung jawabku dengan gadis itu sebentar,” ucap Arga sambil berbelok ke lorong.

“Arrgghhh,, Adduuuhhh,,, pelaann dikit dong Pak, Aarrghh,,”
Itu jelas suara Aida, tapi bukankah semua teman-temannya tengah duduk santai di pinggir kolam renang, lalu siapa yang telah membuat wanita itu mendesah dan menjerit tertahan, langkah kaki Arga semakin cepat ingin mencari tau. Tampak Lik Marni sedang mencuci beberapa peralatan makan yang baru saja mereka gunakan, suara gemericik air kran bersahutan dengan lenguhan seorang wanita yang tengah dilanda orgasme.
“Aaarrggghhh,,, aaahh,,”
Dari celah pintu Arga mengintip dua tubuh yang saling menindih, tampak sang wanita telah terkapar mengakang lebar, hanya bisa pasrah membiarkan seorang pejantan menggasak selangkangannya. Dari rambutnya yang kriting jelas itu adalah Mang Oyik, penjaga cottage, tapi kenapa Lik Marni bisa begitu cuek dengan pekerjaannya, sementara suaminya tengah menggagahi tamu dikamar tidur mereka. Lik Marni menolehkan wajahnya saat menyadari ada orang yang mendekati kamarnya, sesaat wajahnya sedikit pucat.
“Maaf Den’ Saya udah ngelarang bapak yang pengen nyicipin, tapi Nona nya juga mau, jadi saya ga bisa ngelarang lagi Den,” ucapnya berusaha menerangkan sekaligus membela ulah suaminya.
“Nikmat banget kayanya, biar gayanya standar tapi serangannya mantap juga,” ucap Arga bersandar pada dinding yang menghadap kaca pemisah antara ruang dapur dan kamar Lik Marni. Dirinya baru tersadar, dari tempat itu segala kejadian diruang itu terlihat dengan jelas, tapi tidak sebaliknya. Artinya, semua yang dilakukannya bersama Aida tadi sore ditonton oleh pasangan penjaga villa ini.“Gedean mana Lik, punya saya ama punya Mang Oyik,”
“Gede? Apanya sih Den yang gede,”

Lik Marni hanya tersenyum dengan wajah menunduk, Arga telah mengetahui semua rahasia kaca itu. “Mang Oyik udah sering ikut icip-icip tamu? Wajah manis khas wanita jawa tengah itu menganguk pelan.
“Berarti Lik Marni juga sering dong dicicipin ama tamu,” dengan cepat wajahnya menggeleng, “Ngga juga Den’ saya kan jarang dibolehin keluar dapur ama Mamang,”
Arga tersenyum mendengar keegoisan Mang Oyik, “Ngga juga? Berarti pernah juga kan?” Arga terus menggoda.
“Aaaarrrgg,,, Maaaaang,,,” lagi-lagi lenguhan Aida kembali terdengar, serentak Lik Marni dan Arga menoleh ke kaca, menyaksikan tubuh montok Aida menggeliat dan bergetar seiring tubuh Mang Oyik yang berkelojotan dan semakin mengukuhkan penancapan batangnya keselangkangan Aida. Meski tidak sepanas saat melayani Arga, namun Aida tidak melakukan penolakan ketika tubuh ceking itu menghamburkan sperma kedalam tubuhnya, mengosongkan kantung sperma. Tampak Aida terkikik, entah kata-kata apa yang diucapkan Mang Oyik sehingga membuat Aida kembali melingkarkan paha sekalnya kepinggul Mang Oyik dan kembali bergerak pelan menyambut pinggul Mang Oyik yang kembali bergerak menumbuk dengan pelan.
“Punya suami saya walo udah keluar bisa tetap keras Den” ucap Lik Marni menjawab kebingungan Arga. “kalo Aden mau, saya masih punya jamu nya,” imbuhnya sambil berjalan ke sudut dapur mengambil ceret yang bodynya menghitam karena gosong.
Dengan cepat air dengan warna hijau pekat dan sedikit kental mengisi gelas kecil yang dipegang Lik Marni.
“Kalo Aden mau tarung lagi ama pasangannya boleh diminum sekarang, khasiatnya bisa sampai dua hari koq,” ucapnya sambil tersipu malu.
“Takut ahh,,, Ntar punya saya ngaceng terus dong, kan malu jalan-jalan di pantai bawa pentungan satpam,”
“Hahaha,,, Ihh,, Aden bisa aja,” Lik Marni tidak dapat menahan tawanya. “Ramuan rumput laut plus kuda laut ini beda ama ramuan yang lain Den’ kalo kita udah ga pengen ntar bisa tidur sendiri, tapi kalo Aden mau beraksi lagi langsung on lagi, Aden ngecrot mpe 10 kali lagi juga ga bakal loyo koq,”
Penuturan Lik Marni jelas membuat Arga terkesima, apalagi miliknya kini tengah tegak sepenuhnya, sementara dirinya masih ingin menghabiskan malam ini dengan berbagai petualangan. Dengan cepat tangannya meraih gelas yang dipegang Lik Marni,

“Pelan-pelan aja Den, lagian pasangannya masih betah ditindih bapak tuh,” Arga tertawa, ternyata wanita berwajah pedesaan ini bisa juga bercanda.
(Sumpah,,, jangan percaya dengan ramuan Lik Marni, karena Ane sendiri belum pernah nyicipin tu jamu, Cuma terlintas diotak mesum khasiat Kuda Sumbawa, So,, berhubung lokasi lagi di pantai ya akhirnya ane ganti dengan kuda laut)
“Berarti giliran saya masih lama dong?” ucap Arga setelah menghabiskan jamunya. Lik Marni hanya tertawa lalu kembali meneruskan membilas beberapa piring yang masih kotor.
“Kalo ngetem disini dulu boleh?” bisik Arga sambil memeluk Lik Marni dari belakang, tangannya langsung menuju selangkangan yang dibalut kain jarik.
Lik Marni hanya tertawa, rupanya wanita muda itu memang telah menduga apa yang akan dilakukan oleh tamunya. Tapi jantungnya langsung berdegub kencang ketika teringat penis Arga yang terlalu besar. Memorynya langsung mengingatkan dirinya pada sosok pak Nathan lelaki India yang secara terang-terangan meminta kepada Mang Oyik untuk menemaninya dikamar selama menginap di Vila itu. Dimata Lik Marni, Pak Nathan betul-betul seorang petarung seks sejati yang memiliki penis begitu besar dan mampu menggasak kemaluannya semalam suntuk. Melihat tidak ada penolakan, tangan Arga segera menyelusup masuk kedalam kebaya sementara tangan lainnya berusaha mengurai puntelan jarik yang cukup panjang.
“Weeeww,, koq bisa sih Mang Oyik ngedapetin body sebagus ini.” Ucap Arga setelah berhasil menjatuhkan kain jarik itu ke lantai.
“eegghhh, saya dijodohin Den, eenghh,,” Lik Marni mulai mendesah saat merasakan sebuah batang mulai menyelinap di antara paha montoknya, perlahan cairan vagina mulai membasahi batang yang sesekali menusuk klirotisnya.
“Den,,Adeeen,,”
“Ada apa Lik, takut ketahuan Mang Oyik,” ucap Arga sambil meremasi payudara dari balik kebaya, dengan pakaian atas yang tetap lengkap memberikan gairah tersendiri baginya.
“Bukaaan, saya boleh minta cium Aden?” Arga tergelak, tak perlu diminta dua kali bibirnya langsung menyambar bibir basah Lik Marni.
“Eemmhhh,,, uummhh,,”
Ternyata wanita ini buas juga, lidah Arga yang terjulur disedoti oleh bibir Lik Marni. Bagi wanita yang tinggal di pesisir yang sepi terpisah dari keramaian ini, sangat jarang mendapati para lelaki tampan, rupanya dirinya telah lama bosan, tiap hari hanya memelototi wajah Mang Oyik yang penuh bopeng akibat cacar air. Dan kini tubuhnya tengah dipeluk oleh lelaki yang biasa hanya muncul di televisi, meminta pelayanan dari tubuhnya, maka tak ada alasan bagi Lik Marni untuk menolak, masalah apakah nantinya Mang Oyik akan marah melihat istrinya digagahi tanpa seijinnya itu urusan belakangan. Dengan sigap tangannya menggenggam batang Arga dan mengarahkan keliang kemaluannya, seakan takut Arga berubah pikiran.
“Uuugghhh,,, Deeenn,,”
Batang yang terlalu besar membuat vaginanya sedikit nyeri, tapi Arga lebih cekatan memiting pinggul wanita muda itu dan terus memaksa masuk.
“Deenn,, tunggu dulu deen,,” Mata Lik Marni mendelik dengan air mata menahan perih, kepalanya coba menunduk ingin melihat batang yang tengah berusaha membelah tubuhnya. Benar saja, penis lelaki ini terlalu besar, lebih besar dari milik Pak Nathan yang dikiranya merupakan ukuran maksimal dari penis lelaki.“Aaahhh,,, nyonyaaa,,, iseepp dong,,,” tiba-tiba terdengar suara Mang Oyik yang meloncat kewajah Aida, namun ibu muda itu terlalu jijik dengan penis Mang Oyik dan menutup mulutnya dengan rapat, akibatnya cairan itu menghambur kewajah cantiknya.
“Uuuugghhh,,, Deenn,” Lik Marni sepertinya tak ingin kalah dengan aksi suaminya.
“coba teruuss deen,,,masukiiinn,, pasti bisa koq” tubuhnya membungkuk agar batang Arga lebih mudah menerobos kemaluan yang sehari-hari hanya menyantap batang dengan ukuran standar.
Lik Marni terlonjak saat Arga tiba-tiba melesakkan penisnya dengan kuat. Tanpa menunggu dirinya bersiap-siap untuk menerima serangan selanjutnya Arga sudah kembali menghentak dengan keras. Entah kenapa Arga sangat menikmati wajah Lik Marni yang begitu tersiksa tapi pada saat yang bersamaan juga menikmati perlakuan kasarnya.
“Adeeenn,,, batang gede kayaaa giniii emang divagiinnaa sayaa tempatnyaaa,,” Lik Marni menggoda Arga dengan menggoyang-goyangkan pantatnya yang besar. Setelah beberapakali batang itu keluar masuk, akhirnya Lik Marni dapat merasakan batapa nikmatnya kejantanan milik lelaki berparas ganteng itu.
“Deenn,, kalo saya ketagihaaan gimaanaa,,,” bibir wanita berwajah oval itu mulai meracau akibat ekstasi yang disuguhkan kejantanan Arga disaluran kencingnya.
“Tenang saja Lik,, teman-teman saya yang menginap disini ukuran batangnya juga besar-besar koq,” bisik Arga yang tengah berusaha mengenali kekenyalan pantat besar Lik Marni sambil menggerak-gerakkan batangnya kekiri dan kanan.
“Kalo Lik Marni mau nyicipin batang mereka satu-satu bisa koq, atau kalau Lik Marni pengen dikeroyok, mereka juga siap koq,” goda Arga yang begitu menikmati mimik wajah Lik Marni yang merem melek dengan bibir terbuka lebar membentuk huruf O.
Sambil menghujamkan batangnya Arga berusaha melolosi kebaya Lik Marni, cukup sulit ternyata, tanpa bantuan Lik Marni yang sibuk berpegangan ke meja dapur, memberikan perlawanan atas batang yang menerobos jauh ke lorong kemaluannya.
“Lik,, kancingnya lepas dulu dong, ditusuk sambil netek kan lebih enak,,” bisik Arga tanpa menghentikan tusukannya.
Seakan tak ingin rugi, Lik Marni melepasi kancingnya sambil terus menggoyangkan pantatnya. “Ini Deenn suudaaahhh,, aahhh,,” seru Lik Marni sambil sedikit memutar tubuhnya ke belakang, menyerahkan payudara yang bergelantungan dengan bebas dan dengan cepat dilahap oleh Arga dengan rakus.
“Ooowwwhhhh,,,Deeennn,,, ga kuaaatt,,, jangan terlalu dalaaamm sayaa ga mau nyampee duluuuaaan,,,” Lik Marni menjerit penuh kenikmatan berusaha menghindari titik sensitif yang dirojok batang besar. Tampaknya wanita itu tidak ingin orgasme terlalu cepat.
Arga tertawa saat mengetahui kelemahan dari wanita itu, dan mempercepat tusukan dengan hujaman yang lebih dalam.
“Aaagghhhh,,, gaa maaauuuu,,, ga maauuu,, saya masih pengen dientot yang laamaa,,” rengek Lik Marni, tapi apa daya, batang Arga yang memang belum masuk sepenuhnya terus digeber semakin dalam hingga membuat Lik Marni melonjak-lonjak diterpa orgasme.
“Aaaggghhh,, tuu kaaann,, aaahh,,, Oowwwgghhhh,,,,,”
Tubuh Lik Marni bergetar hebat, “Aagghhh,,, Awass Deeenn cabuuuttt,, sayaa mauu kencing Deeenn,,”
Arga menarik keluar batangnya hingga hanya kepala batang yang tertinggal didalam, dan saat itulah cairan menghambur dengan derasnya.

“Busyeett,,, gila juga ni cewek,, squirt mpe segitu banyaknya,,” gumam Arga yang kaget melihat cairan yang menghambur deras.
Lik Marni menolehkan kepalanya sambil cengengesan malu-malu, “Maaf Deen,, seharusnya tadi tusuk yang dalam biar saya ga terkencing-kencing gini,” ucap Lik Marni polos.
Arga menarik tubuh Lik Marni ke arah dipan. Wanita itu mengerti dengan keinginan tamunya, dengan malu-malu mengangkangi tubuh Arga yang kini duduk dengan kejantanan tegang mengacung.
“Oowwwhhssss,,, masih sesak banget Deenn,,,” rintihnya sambil menikmati batang yang perlahan menyelusup memenuhi lorong peranakan.
“Aaawww,,, udah mentok Deeenn,,”
Arga yang asik mengenyoti payudara besar Lik Marni, merasakan ujung helm yang menyentuh dasar lorong, masih tersisa beberapa centi batangnya yang berada diluar.
“Uuugghhh,,, emang udah ga bisa masuk lagii,,” rengek Lik Marni yang masih bermain-main dengan batangnya berusaha melahap seluruh batang Arga.
“Awwwgghhh,,, Aden nakaall aaahh,,,” wanita itu menjerit saat Arga dengan usil menghentakkan pinggulnya dengan keras, hingga menggedor dinding rahim.
“Kalo satu batang aja udah kewalahan, gimana kalo nanti dikeroyok teman-teman saya,,” ledek Arga seraya menikmati pinggul Lik Marni yang bergoyang pelan memanjakan batang yang ada dalam tubuhnya.
“Dikeroyoookkk,,, takuuut ah Deenn,, ntar semua lubang saya dimasukin sama teman-teman Aden,”
JEDUGG,,, semua lubang?,, lubang anal?…
“Lik Marni udah pernah ditusuk disini?” tanya Arga sambil mengusap-usap pintu anus Lik Marni yang kegelian.
“Belum Den,, takut sakit,, lagian jorok ahh,,,”
“Seeepp,, daripada ntar ni lubang diperawanin teman-temannya, mending ku sikat duluan daahh,,,” gumam Arga.
“Saya tusuk ya Lik,,” Pinta Arga seraya berusaha menjajalkan telunjuknya ke lorong yang masih perawan itu.
“Ooogghh,,, gelii Deenn,, Cuma pake tangan kan?,”
“Ya pake inilah,” jawab Arga sambil memonyongkan bibirnya menunjuk kejantanannya.

Pantat Lik Marni berhenti bergoyang, keningnya berkerut, sesaat kepalanya menoleh ke kaca menatap Mang Oyik yang tengah menghajar Aida yang menungging mengangkat tinggi pantatnya. Meski bibirnya terus mengerang nikmat, tampak jelas Aida sudah sangat kewalahan meladeni batang Mang Oyik.

 “Emmmhhh,, boleh aja sih,,Tapiii,, jangan kasar seperti tadi ya Deeenn,,” ucapnya setelah memastikan suaminya masih dapat bertahan cukup lama dengan tamu cantik yang tengah digenjotnya.
“Tenaaang aja,, pasti saya masukin dengan lembut koq sayang,,”
Lik Marni tersenyum senang saat dirinya dipanggil sayang, lalu mengangguk dengan pasti sambil tersenyum.
Plop!!!,,, Batang Arga terlepas, Lik Marni yang masih mengangkangi Arga kini memegang erat batang besar, mengarahkan ke bagian belakang dari pintu vaginanya.
“Eeenghh,,,” kening Lik Marni mengerucut, wajahnya meringis saat pintu anusnya dipaksa untuk menerima batang Arga.
Terlihat jelas wanita itu sangat ingin memenuhi keinginan Arga dengan terus memaksa menekan pantatnya.
“Deeenn ga bisaaa,, batang Aden kegedean,,” ucapnya sambil meringis menahan perih.
Lik Marni turun dari tubuh Arga,lalu memasukkan batang besar itu kemulutnya, lalu melepaskan batang dengan air liur yang memenuhi bagian helm batang.
“Uuugghh,, emang gede banget ternyata,,pantas sulit banget,” dengus Lik Marni dengan mata mengagumi kelamin Arga yang berdiri tegak dalam genggaman tangan lentik.
Arga berusaha menahan tawa melihat ulah Lik Marni yang kini berusaha kembali memasukkan kepintu anusnya sambil membelakangi Arga. Tapi lagi-lagi usahanya gagal.
“Kalo pake ini gapapa kan Deen,,” tanya Lik Marni sambil meraih botol Bimoli yang masih tersisa setengah.
“Hahahaa,, boleh juga, tapi abis itu jangan dimasukin wajan yaa,,”
“Ihh,, Aden,,” Lik Marni menyentil batang Arga dengan gemes.
“Ayo cepat olesin,,ntar Mang Oyik keburu kelar lhoo,,” bisik Arga, menarik tubuh Lik Marni hingga terduduk diperutnya menghadap batang besar Arga, dengan cepat tangan lelaki itu mengubel-ubel vagina Lik Marni yang sudah mulai mengering.
“Ooowwhhsss,,,Deeenn,,” sambil mengerang menikmati korekan tangan Arga di vaginanya, Lik Marni mengolesi batang Arga dengan minyak goreng. Dalam hati Lik Marni masih belum puas menikmati batang besar itu dengan vaginanya, tapi entah kenapa dirinyapun kini merasa penasaran untuk menikmati batang itu dengan menggunakan pintu belakang.“Ayo Deeenn,,,” Lik Marni beranjak dari tubuh Arga, mengambil posisi telentang di dipan, mengangkang, lalu menarik lututnya hingga selangkangannya terangkat dan terekspos bebas.
“Ayo Deeenn,, tekan,,,” pinta Lik Marni saat yakin batang Arga berada di depan liang sempit yang mengerucut.
“Eeeemmgghhh,,,” Sambil berdiri disisi dipan, Arga mengejan agar penisnya mengeras maksimal, dirinya memang memiliki pengalaman mengawini liang dubur istrinya, tapi pintu belakang Lik Marni kali ini jelas lebih rapat.
“Ooowwggghhh,,, Deeen,,,,,” tangan Lik Marni mencengkram lengan Arga saat merasakan penis Arga berhasil menguak perlahan. Bulir air mata menggenang akibat perih yang menyerang, “Teruss ajaaa,, gapapa Deenn,,” Wanita itu memberi izin kepada Arga yang terhenti, wajahnya tampak memucat.
“Eeeeenggghhhh,,, bisaaa masuuuukkk,, Deeeenn,,,” Kepala Lik Marni terangkat mengamati kepala penis yang telah menghilang diliang anusnya.
“Boleh saya teruskan,,,” ucap Arga meragu saat melihat air mata Lik Marni menetes.
Wanita itu mengangguk pelan “Yang lembut ya sayaaang,,,” pintanya.
Sebagai gadis kampung, dalam percaturan birahi, Arga adalah lelaki dengan kualitas yang terbaik dari para lelaki yang pernah menikmati tubuhnya, dan Lik Marni tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Tentu saja sayaaang,,,” jawab Arga seraya menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh montok Lik Marni, lalu melumat bibirnya dengan lembut, dalam pagutan bibir Arga bibir Lik Marni tersenyum, membalas melumat seiring batang Arga yang menusuk semakin dalam.
“Ooowwwhhh,,, lagi-lagi mentok, penuh banget,” bisik Lik Marni manja, lalu mata keduanya tanpa dikomando sama-sama melototi sebagian batang Arga yang masih tersisa di luar.
“Masih sakit?,,,”
“Sedikit,,,”
“Sudah siap?,,,”
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Aaahhhh,,, yaaa,, yang lembut,, yaaa,,, tusuuuk lagiii,, pelaannn,,Eemmmhhh” Lik Marni mengomando pergerakan batang Arga, menusuk pantat nya yang terangkat, berusaha menikmati.
“Lebih cepaaatt,,, ini mulai membuatku melayaaang,,Ooowwwhhh,,,” rintih Lik Marni.
Arga tersenyum, saat bisa melakukan hentakan-hentakan sesuai keinginannya. Tapi lorong itu memang sempit, erat mencengkram batangnya.
“Ooowwhhh,,, Saaayaaang,,, jangan terlalu cepaaat,,” Lik Marni merintih berusaha mengimbangi sodokan Arga, tubuhnya menggelinjang liar saat Arga memainkan vaginanya yang menganggur.
“Aaaarrrggghhhh,,, minggir Deeeenn,, saya mau kencing,, cabuuut,,,”
Permohonan Lik Marni tak dihiraukan, Arga terlalu menikmati hangatnya liang belakang Lik Marni.
“Oooowwwhhhhssss,, Maaf Deeeenn,, Maaaaaff,,,” teriak Lik Marni yang menghantar orgasme seiring air kencing yang menghambur ketubuh Arga, tapi itu sungguh menjadi pemandangan yang luar biasa bagi Arga. Tak ayal lelaki itu semakin cepat menusuk-nusuk tubuh Lik Marni berusaha mengejar orgasmenya sendiri.

Lik Marni yang sudah bisa menguasai ekstasi orgasmenya tersenyum, melihat Arga yang begitu bernafsu menjejalkan batang besar ke dalam tubuhnya.
“Nikmati sepuasmu Den,,” suara Lik Marni terdengar lirih diantara dengusan nafas Arga.
“Tapi ngecrotnya disini aja ya Deenn,,” Lik Marni mengusap-usap vaginanya, menyibak gerbang dengan kedua jarinya seakan mengundang batang Arga untuk kembali masuk kelorong vagina yang dangkal. “Kali aja saya bisa dapat anak dari Aden” sambungnya manja namun dengan nada serius.
“hahaha,,, bisa aja Lik Marni ini,,,” Arga semakin cepat menghajar Lik Marni.
“Ooowwwgghhh,,, nihh,,, terimaaa,,,” suara Arga terdengar serak, saat mencabut batangnya dari anus Lik Marni dan dengan cepat kembali menghujamkannya ke vagina yang basah.
“Aaakkkhhhh,,,” Lik Marni terkaget-kaget dengan gerakan Arga yang tak diduganya, berusaha mengangkang lebih lebar, membiarkan batang Arga masuk lebih dalam dan dengan bebas menghamburkan benihnya di pintu rahim.
Lik Marni tertawa melihat tubuh Arga yang kelojotan diantara selangkangannya.
“Sedaap,, punyamu sedap banget Lik,,” bisik Arga sambil memaju mundurkan pantatnya menikmati ekstasi yang tersisa.
“Heeyy,, ternyata jamu mu emang manjur Lik,, rasakanlah batangku yang masih mengeras dalam vaginamu,” Lik Marni kembali tertawa saat Arga yang mencabut batangnya dan berusaha memasukkan batang itu ke lubang belakangnya.
“Ooowwhhh,, masih sempit aja punyamu Lik,” dengus Arga merayu.
Blaamm…
“Hhhhmmm,, pantes aja ditungguin lama banget,” suara Aida mengagetkan keduanya.
Sontak Arga dan Lik Marni menoleh ke pintu, namun disitu hanya ada Aida yang berdiri dipintu dapur dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan. Dari kaca mereka dapat melihat Mang Oyik yang tertidur kelelahan.
“Sini Non,,, kalo ga salah dengar tadi Den Arga juga pengen nusuk pintu belakang si Non,,” ajak Lik Marni seramah mungkin, dia sadar jika dirinya sudah menyerobot selingkuhan wanita itu.
“Pintu belakang?,, Arga,,apa kau tengah menusuknya di lubang belakang?” tanya Aida yang terkaget sekaligus penasaran, dengan cepat mendekati Arga yang kembali menusuk-nusuk anus Lik Marni sambil cengengesan.
“Siaalan,, ga dapat di aku, lubang dobol Lik Marni yang kau embat, Huuhh,,,” ada nada cemburu dari suara Aida saat melototi batang besar yang tadi sore membuatnya 2 kali orgasme kini menusuk tubuh Lik Marni.
“Ayo sini Nonn,, mumpung batang Den Arga masih keras,,” ajak Lik Marni sambil menarik lengan Aida yang ada dalam jangkauannya.
“Tidak,, aku masih terlalu capek,, nanti sajalah,,”
“Ayolah tak apa,, kurasa kau masih kuat, setidaknya untuk satu ronde,” bisik Arga melepaskan batangnya lalu memepet tubuh Aida ketembok, menarik pinggulnya kebelakang hingga menungging.

hilda yulis - toge montok jilbaber (4)
“Ooowwhhh Shiiit,,mana celana dalam mu,, ,” Arga keheranan saat menyibak rok Aida dan mendapati pantat yang menungging tanpa tertutup kain pelindung.
“Tuhh,, dikelonin sama Mang Oyik,,”
Arga dan Lik Marni sontak tertawa.

Setelah meremas-remas pantat montok Aida, Arga beranjak mengambil Bimoli dan melumuri batangnya. Sementara Aida terbengong, apa benar Arga ingin menusuk lubang belakanganya sekarang, setelah usahanya tadi sore gagal, namun dirinya tak yakin.
“Aaaggghhh,,, Argaaa,,, bilang dong kalo mo nusuk disitu,,” mata Aida melotot menahan sakit. “Aaawwwhhhh,,, koq bisaa massuuukk cepet bangeeett siihhh,,, aaaggghhh,” minyak goreng ternyata cukup ampuh untuk dijadikan pelumas.
Meski sulit, lorong Aida tidak sesempit milik Lik Marni, kali ini batangnya lebih mudah menerobos masuk. Setelah yakin Aida bisa menyesuaikan dengan batang besarnya Arga perlahan memompa maju mundur.
“Ooowwwwhhh,, Pelan Gaaa,,,punyamu gede banget,,”
“Tenang aja Non, sama persis waktu Non pertama kali ditusuk di depan, sakitnya sebentar aja koq,,” ucap Lik Marni, terinspirasi dari ulah Arga yang mengobel vaginanya, jari Lik Marni terulur menggapai vagina Aida.
“Mau ngapain Lik?,,,”
Tapi Lik Marni Cuma cengengesan, lalu menyelusupkan sebuah timun berukuran sedang ke vagina Aida. “Semoga ini bisa membantu,” ulah iseng Lik Marni benar-benar mebuat Aida kelojotan, dua lorong kemaluannya dipenuhi oleh batang. “Saya mau istirahat sebentar, biar sperma Den Arga bisa ngetem di dalam,” ucapnya berlalu menuju kamarnya, tanpa rasa bersalah pada Aida yang kini kewalahan.
“Aaarrggghh,, Gilaaa,,,” Aida menikmati sambil sesekali meringis saat batang Arga masuk terlalu jauh.
“Duuuhhhh,,, kali ini bener-bener sesak banget Gaaa,,, udaahh mau nyampe nihhh,,,” erang Aida yang memainkan timun keluar masuk di vaginanya.
“Wadduuuhhh,,, Bu Guru koq cepet banget,,” tanya Arga, namun tak dihiraukan oleh Aida yang sibuk menyambut orgasmenya.
“Aaaaagghhh,, Gaaaa,,,” Aida mengangkat pantatnya lebih tinggi untuk mendapatkan penetrasi yang lebih dalam.
“Siaaal,,,,,” Kini giliran Arga yang ikut panik, pantat montok dan mulus yang tersekspos menerima eksplorasi batangnya ditambah gaya menungging Aida yang begitu menggairahkan memberi fantasi tersendiri bagi Arga.
“Ooooowwwhhhsss,,,aaahhhhhhhh,,, keluaaarrr,,” Tubuh Aida bergetar menoleh, menatap Arga dengan pandangan penuh birahi.
hujaman Arga yang tidak menurunkan ritmenya membuat wajah Aida yang menatapnya semakin terengah-engah.
“Sialan,, Innocent banget sih wajah ni guru,,,” geram Arga tak tahan memandangi wajah Aida yang begitu pasrah.
“Mampuuuusss,,,, Aaagghhh,,,” Batang Arga yang terbenam erat serasa membesar dan tiba-tiba menghamburkan sperma, meski tidak sebanyak sebelumnya tetap saja membuat Aida kegelian.
“Gila,, hanya beberapa menit udah ngecrot lagi,,” gumam Arga seraya melepas batangnya dan terduduk didipan.
“Emang,,, gila banget,, tubuhku juga serasa remuk dipake dua orang,” imbuh Aida yang terhuyung membetulkan roknya.
“Iiiikkhhh,, dari ujung kaki sampai ujung rambut bau sperma,” kali ini Arga tertawa terpingkal mendengar ucapan Aida yang tengah membaui tangan dan rambutnya.
“aku kekamar dulu,,mandi, makan, tiduuuurrr mpe besok,”
“Hahahaaa,,,” Arga geleng-geleng kepala, menyusul Aida sambil mengagumi pantat Aida yang berayun mengikuti langkah kaki menuju pintu samping.

Sementara Arga berbelok ke gazebo. Suasana pantai sudah sangat gelap, untunglah bulan yang tengah menuju purnama cukup membantu mata Arga mengamati sekitarnya.
“Eaalaaahh,, koq malah gerimis sih,,” dengus Arga seraya mengangkat kedua telapak tangan meyakinkan adanya rintikan air dari langit.
“Gaaa,,,” Adit setengah berlari, melambaikan tangannya dari kejauhan. Sementara dibelakangnya tampak Aryanti dan Sintya mengiringi sambil tertawa.
“Ternyata istrimu emang pelit banget, Masa aku dibiarin kentang,,,” tanpa basa-basi Adit ngedumel dengan wajah super mupeng, Lalu bergegas menuju cottage.
“Mau kemana Dit?,,,”
“Nyari Istri kuuu,,,udah ga tahan nih,,,” Teriak Adit tanpa menoleh.
Sementara Arga hanya terdiam bingung, tidak tau apa yang telah antara istrinya Aryanti dan Adit.
“Adit kenapa?,,,”
“Tuhh,,tanya sama istrimu, tega banget ngerjain anak orang, hahahahaa,,,”
“Tidak apa-apa sayang, bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan, hanya memberi sedikit pelajaran bagi pemula,,Hihihhi,,,” jawaban Aryanti disambut tawa Sintya.
“Tau ga? Tadi istrimu membiarkan Adit meremas payudaranya,, Hahahaha,,,”
GLEKK,,, meremas payudara? Dan itu bukan masalah yang besar?..
“Kita ke sana dulu lah,, biar ku ceritakan semua,,lagipula kakiku capek banget, ingin istirahat sebentar,” Aryanti mendahului melangkah menuju Gazebo, disusul Sintya.
Arga menelan ludah saat menyadari bagian belakang rok ketat Sintya tampak lusuh dan sedikit terangkat, namun Aryanti jelas lebih berantakan, bahkan bagian atas kaos nya yang lebar dan terjatuh dikedua sisi lengannya hanya menampakkan satu tali bra, Apakah tali satunya memang sudah terlepas? Tapi oleh siapa? Dan bagaimana bisa tali itu bisa terlepas?,,, APA Yang sebenarnya terjadi.
“Huuufff,,, Jadi begini,,” tutur Aryanti setelah menghempas pantat montoknya di atas bangku dari kayu. “Setelah makan malam tadi, Aku dan Sintya mendapati Dako yang tampak merayu Bu Sofia, karena curiga aku dan Sintya mengajak Adit untuk menguntit kemana tantenya itu pergi,”
“Ternyata mereka menuju sebuah tebing yang sepi, meski agak jauh kami dapat melihat bagaimana Dako akhirnya berhasil menelanjangi bagian bawah tubuh Bu Sintya, yang terlihat pasrah,”
“Sayang,,, Seharusnya kau melihat bagaimana rakusnya Dako melumat kemaluan Bu Sofia, hingga membuat perempuan itu mengerang keras di kegelapan, memang tadi sehabis makan kamu kemana? Aku tidak melihatmu diantara teman-teman,” tanya Aryanti.
“Ehh,, akuuu,, menemui Mang Oyik, untuk menanyakan perlengkapan yang ada disini,” jawab Arga serampangan.

“Aku yakin, Dako berhasil membuat Bu Sofia orgasme di mulutnya,, Ooowwhh,, aku jadi merinding bila mengingat rintihan Bu Sofia tadi,” celetuk Sintya, menyelamatkan rasa bersalah Arga.
“Yaa,, orgasme di mulut seorang lelaki memang sangat menantang sekaligus menggairahkan,” balas Aryanti sambil memejamkan matanya seolah saat itu dirinya dapat merasakan kenikmatan itu.
“Sial, pasti Aryanti teringat permainan nakal yang dilakukan bos dikantornya,” Arga menggeram kesal melihat ulah istrinya.
“Yaa,, apalagi saat Dako menghajar kemaluan Bu Sofia yang menungging di tengah hamparan pasir pantai,, Ugghhhh,,, pengeeeennn,,” jerit Sintya menahan hasratnya, disambut ulah istriku yang menjepit lengan dengan kedua pahanya. Arga sangat hapal, itu adalah gelagat istrinya bila tengah horny.
“Lalu apa hubungannya dengan adit,”
“Adit,, hahahaa,, Adit merajuk kepada kami, dan menuntut kami untuk bertanggung jawab karena telah menyeretnya untuk mengikuti Dako dan Sofia, kau taukan? Adit sangat bernafsu pada tubuh tantenya itu. Dan adegan itu membuat batangnya mengeras dengan sempurna,” Jawab Aryanti.
“Dan aku tidak dapat menghindar saat dengan tiba-tiba ia memelukku dari belakang, apa kau tau sayang? Anak muda itu ternyata sangat rakus, belum sempat aku memberi izin, mulutnya telah mencomot payudaraku hingga tali braku terputus,”
“Ooowwwhhh,, lalu?,,” Suara Arga tercekat hampir tak terdengar.
“Yaaa,, dia bagai orang kesurupan, melumat kedua payudaraku, mungkin di dalam kamar nanti kau bisa melihat beberapa tanda merah di payudaraku ini akibat gigitannya,”
“Asseeemmm,,, kenapa istriku bisa sesantai ini bercerita tentang pencabulan pada tubuhnya, mana aku disuruh melihat cupangan ulah mulut Adit,, uugghhh,, juangkrriikk,,” Arga menggumam dengan hati yang kesal.
“Apakah hanya itu?,,”
“Tentu saja tidak, setelah puas bermain dengan payudaraku Adit meminta hal yang sama pada Sintya, dan ternyata payudara Sintya jauh lebih besar dari milikku,”
“Tidak,,tidaak,,, punyamu lah yang lebih besar, hahahaa,,” elak Sintya sambil tertawa.
Aryanti melotot genit kepada Sintya, “Sayang, dari gumpalan dibalik kaosnya kau pasti sudah bisa menebak payudara siapa yang lebih besar diantara kami, atau,,,jika kau tidak percaya remaslah punya Sintya,, hingga kau bisa menilai payuadara siapa yang lebih besar,hahahaa,,”
ZLEEBBB,,,
meski aku tidak yakin apakah perintah istriku untuk meremas payudara Sintya sebuah gurauan ataukah serius, yang pasti tanpa kuduga dengan mudahnya tanganku melayang, menyentuh payudara Sintya yang membuat tubuh gadis itu tegang seketika. Aku meremas cukup kuat untuk merasakan tekstur gumpalan payudara istri simpanan Pak Prabu itu.
“Kurasa payudara kalian sama besarnya,” ucap Arga tanpa menghentikan remasannya.

hilda yulis - toge montok jilbaber (1)

“Sayang,, jangan membuatku cemburuu,, kau meremas payudara Sintya tepat di depanku,,” Aryanti merajuk, membuat Arga terkaget melepaskan remasannya, sementara wajah Sintya bersemu merah.
“Aku hanya mengikuti intruksimu sayang,,” jawab Arga cengengesan.
“Huuhh,, paling pinter kalo ngeles,,” sambut Aryanti yang akhirnya tertawa karena tidak bisa berpura-pura marah kepada lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Sudahlah aku mau kekamar dulu,, celana ku terasa sangat lengket,” ucap Aryanti pamit, lalu beranjak mendekati Arga, mengecup kening lelaki itu dengan lembut.
“Heehh,,, kenapa tubuhmu seperti ada bau pesing? Dan ada bau,, bauu apa ya ini?,, minyak goreng?,,”
JEDEERRR,,,
“Yaa,, aku menyempatkan membantu Mang Oyik membenarkan mesin genset, bukan minyak goreng, tapi Oli,,”
“Oli?,,, tapi koq seperti minyak goreng ya?,,” tanya Aryanti sambil membaui tubuh suaminya. Untunglah sesaat kemudian wanita cantik dengan tubuh semampai itu berbalik dan melangkah menuju cottage.
“mandi,,dan gantilah bajumu sayang,, aku tunggu kamu dikamar,,” teriak Aryanti dengan gaya yang genit, lalu melanjutkan langkahnya.
“Istrimu cantik banget Mas, plus seksi,,,aku yang sesama cewek aja kagum, apalagi mata lelaki,,”
“Yaa,, aku memang beruntung memilikinya,”
“Jaga bener-bener, banyak lelaki yang menginginkan tubuhnya lhoo,,”
“Iya,, Heh,, tunggu maksudmu,,,?,,”
Sintya hanya menjawab dengan senyuman.
“Apa benar yang terjadi tadi hanya sebatas itu?,,,” Arga berusaha mengorek dari Sintya, sesaat gadis itu memandang mencari sesuatu dimata Arga yang memiliki tatapan tajam.
“Huufff,, Lebih dari itu,,”
Arga berusaha bersabar menunggu bibir Sintya membeber cerita.
“Adit terus merajuk kepada kami, aku sempat meremas batangnya yang ternyata memang sudah sangat keras, dan aku terpekik karenanya. Aryanti yang penasaran akhirnya juga meremas batang Adit yang tersembunyi dibalik celana pantainya, ohh,,, tidak,,tidak,, Aryanti langsung merogoh ke  dalam celana Adit, dan merasakan batang itu langsung dengan telapak tangannya, sepertinya istrimu tertarik dengan bentuk batang Adit yang bengkok itu,” Sintya berusaha mengingat-ingat detil kejadian yang terasa begitu cepat dengan mata menatap buih ombak yang bergulung.
Sementara nafas Arga tertahan. “Laluu,,”
“Laluuu,, yaa,, kami terpaksa mengizinkan Adit mencumbu tubuh kami bergantian tanpa dengan syarat tidak melepas pakaian kami, kami terbawa gairah permainan Dako dan Bu Sofia yang begitu panas.
Arga semakin penasaran, apakah kejadian di kantor istrinya terulang lagi, “Laluu,,?,,”
“Istrimu sungguh wanita yang memiliki gairah yang meletup-letup,, akupun begitu,,,” bibir Sintya hening sesaat, pahanya menjepit erat. “karena tidak tahan, istrimu yang berinisitif lebih dulu menurunkan celana hingga kedengkul dan meminta Adit memanjakan vaginanya dengan mulut pemuda itu, sementara ia berpegangan pada pohon kelapa, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana lidah Adit menyapu setiap inci pintu vagina dan anus Aryanti,,Uuugghhh,,” Suara Sintya tertahan saat merasakan tangan Arga meremas pahanya yang terbuka.

“Sialan,, rupanya istriku tadi bukan menghayalkan kejadian di kantornya, tapi justru teringat ulah Adit yang menservis vaginanya,, siaaal,,siaaal,, aku kecolongan lagii,,” Arga ngedumel dalam hati.
“Apakah Adit juga melakukan itu padamu?,,,”
“Iyaaa,,, aku penasaran dengan lenguhan orgasme istrimu saat wajah Adit sepenuhnya terbenam diantara pantatnya dengan lidah terjulur masuk ke dalam vagina, aku tau itu karena aku juga meminta Adit melakukannya pada vaginaku, memang benar kata istrimu,, orgasme sambil mengangkangi wajah lelaki itu sungguh sesuatu yang luar biasa,, Owwhhh,,,” suara Sintya tertahan saat jari-jari Arga berusaha menyelusup kedalam roknya yang sempit.
“Apakah terjadi enghhh,, terjadi sesuatu yang lebih jauh setelah itu,,”
“Tidaakk,, yaaa,, eeenghh,, aku tidak tau pastinya, karena setelah Adit berhasil membantu kami menuntaskan hasrat, giliran dirinya yang meminta kepada kami, aku menawarkan oral tapi Adit menolak dan ingin menyetubuhi salah satu dari kami,”
“Dan akhirnya istrimu bersedia karena setau ku istrimu sangat tertarik dengan bentuk penis Adit yang lucu, pastinya ia ingin merasakan bagaimana sensasi bila batang bengkok itu bergerak didalam vaginanya, tapi dengan syarat Adit memuntahkan spermanya diluar,” Duduk Sintya mulai gelisah, pahanya menjepit jemari Arga yang berhasil mengusap-usap vagina gemuk yang terbalut kain tipis.
“Istrimu beralasan, tak ada bedanya antara lidah dan batang penis, toh Adit sudah merasakan bagaimana bentuk vagina kami, sama-sama daging hanya bentuknya saja yang berbeda, dan aku mengangguk setuju, hanya ukurannya saja yang berbeda,”
“Apakah batang Adit lebih besar dari ini,” ucap Arga sambil mengeluarkan batangnya hingga membuat mata Sintya melotot.
“Tidaakk,, milikmu jelas lebih besar,,” tanpa diminta wanita berambut sepundak itu menggapai batang Arga, menyusuri otot yang terukir. “Tapi jika dibandingkan dengan milik Pak Prabu aku tidak tau, karena punya Bapak juga berukuran besar sepertimu,” suara Sintya bergetar, meremas batang Arga dengan gemes.
“Apa kau bersedia mengukurnya, agar kita tau milik siapa yang lebih besar,,?,,” ucap Arga, menarik pinggul Sintya, tanpa menunggu persetujuan mengangkat rok ketat yang membalut paha sekal sang sekretaris.
“Mungkin,, jika kau mau, aku bisa mengukurnya sebentar, yaa,, hanya sebentar,, untuk memastikan batang siapa yang lebih besar,” ucap Sintya, matanya mengamati sekeliling, lalu mengangkangi Arga, mengangkat roknya semakin ke atas dan menyibak celana dalamnya ke samping.

 hilda yulis - toge montok jilbaber (2)
Semua terjadi begitu cepat dan,,,, “Oooowwwgghhh,,,,,” Sintya menekan pinggulnya kebawah, vaginanya sedikit kesulitan saat harus menelan ujung batang Arga yang besar. “Oooowwwhhhsss,,, Siiinn,, Kau tidak akan tau jika tidak menekannya lebih dalaaaamm”
“Yaa,, kurasa kau benar Gaaa,,Aaahhh,,,”
“Punyaaamuuu,, punyamuuu lebih besaaarr dan panjaaaaaaang darii batang Bapaaak,,” lenguh Sintya saat berhasil melumat seluruh penis Arga.
“Pantas saja Aryanti begitu mencintaimu,,” bisik Sintya yang bergerak liar mengiringi remasan tangan Arga dipantatnya.
“Istrikuu,, Laluu,, apa Adit berhasil memasukkan batangnya ketubuh istriku,,seperti aku memasuki tubuhmu ini?,,,”
“Aku tidak tau pastinya, karena Adit menindih istrimu yang berbaring diatas pasir menutupi pandanganku,,, kalaupun Adit berhasil menyelusup kan batangnya kevagina istrimu kurasa itu tidak lama,, karena saat Adit menggerakkan pantatnya yang membuat istrimu mengarang, Dako dan Bu Sofia yang telah selesai bejalan menuju kami, dan aku segera memberi tahu hal itu kepada Aryanti, Akhirnya tubuh Adit terjengkal akibat dorongan istrimu yang kaget,”
“Adit masih merajuk, tapi kami sudah berlari meninggalkannya,” ucap Sintya sambil mempercepat goyangan pantatnya membuat batang Arga begitu dimanjakan.
Tapi tiba-tiba Sintya meloncat turun melepaskan batang Arga. “Ada yang menuju kemari,,” ucapnya dengan takut.
“Siaaaall,,,” kondisi Arga tidak jauh berbeda dengan Adit. Namun terpaksa menyarungkan pusakanya.
“Heeyyy,,, sedang apa kalian gelap-gelapan disini, Hayoooo,,,” terdengar suara lembut Zuraida yang menghampiri mereka, diiringi Pak Prabu yang menatap penuh selidik kepada Arga dan Sintya.
“Hahahaa,, kami hanya mengobrol koq,,,” jawab Sintya cepat. “Kalian dari mana?,,”
“Aku habis jalan-jalan sama Pak Prabu,, dijalan kami ketemu warung yang ngejual kentang goreng, renyah banget lhooo,, Arga mau?,,” ucap Zuraida dengan sangat lembut menyerahkan bungkusan kepada Arga.
“Kentang?,,, owhh,, tidak,, terimakasih,,,” jawab Arga dengan lesu…
**************************************************
“Arga,, aku pinjam istrimu sebentar ya,,,” ucap Zuraida pada Arga yang tengah melahap sandwich yang baru saja diantar oleh Lik Marni.
“emang mau ngapain?”
“Adda aja, urusan kaum hawa, weee,,,”
“Aiiihhh,,, bisa juga istri Dako ini genit, mana pake melet lagi,,” gumam Arga, matanya nanar menatap Zuraida yang berdiri di depan pintu dengan balutan kaos lengan panjang yang sedikit ketat, tak ketinggalan jilbab yang selalu membalut wajah cantiknya.
“Ok, Ashal wakthu balek dhi mharhi tethap utuh,,,” Arga memaksakan menjawab meski mulutnya sedang penuh, matanya beralih ke sosok istrinya yang malam itu kelihatan lebih centil, tak ubahnya seperti anak ABG. Mematut diri didepan cermin memiringkan tubuh ke kanan dan kekiri, celana lagging hitam dan kaos longgar berbelahan rendah dengan tulisan ‘Awesome’ tepat dibagian payudara.
“Hahahahaa…bisa aja kamu, emang bagian mana yang bisa hilang dari istrimu,,” Zuraida tergelak tertawa.
“Tenang saja sayang,,, kalo ntar balik kesini nenen ku hilang, tagih saja sama Zuraida,,”
“Aaaaaaa,,,” Zuraida terpekik, tak menduga bila Aryanti akan meremas kedua payudaranya.
“GLEEKK,,, Uhhuuugg,,,” Arga tersedak, kerongkongannya begitu sesak akibat segumpal roti yang dipaksa masuk tanpa dikunyah. Matanya dengan jelas bagaimana bentuk payudara Ziraida yang menyembul dibalik kaos akibat remasan jemari Aryanti.
“Hahahahaa,,, Ayo cint,,, ntar kamu diterkamnya lhoo,,” tawa Aryanti melihat tingkah suaminya. Lalu menarik Zuraida yang wajahnya memerah malu, keluar kamar.
“Aseeeemmm,,, besar juga nenen istri si Dako,” Arga mengumpat, selama ini dirinya hanya bisa memandang tubuh yang dibalut pakaian yang lebar.
Wajah lelaki itu tersenyum saat menyadari batangnya mengeras, ternyata begitu besar hasrat nya pada wanita yang selalu mengenakan jilbab itu. Tapi hingga saat ini tak ada sedikitpun kesempatan untuk SSI, selalu dikawal ketat oleh teman-temannya yang juga memliki hasrat yang sama. Tak betah sendiri berada dikamar Arga menuju selasar yang memisahkan kamar-kamar, sesaat matanya tertuju pada jam besar yang ada di dinding, pukul 9.15. Di pelataran cottage dirinya tak mendapati seorang pun, gara-gara ulah Aryanti dan Zuraida tadi pikiran sange nya kembali kambuh, otaknya memilah-milah betina mana yang dapat dijadikan mangsa, Aida, Lik Marni, Sintya,,, Ahhh Sintyaa,,, hampir saja lelaki itu menyumbangkan benih cinta kepada si montok istri simpanan Pak Prabu.Hari ini pikiran lagi ga karuan
Nyesel tapi sengaja nonton film begituan
Otak penuh khayalan juga bayang-bayang
Ingin cepat lepaskan, bingung cari saluran

Lalu cari solusi yang sehat dan alami
Bukan ngga punya uang, sumpah haram jajan
Biar sedikit bandel utamakan kesehatan
Belum sempat mikir panjang Setan langsung kasih jalan

“Heeiii Gaa!!,,,”
Terdengar panggilan saat dirinya melewati tepian kolam.
“Aditya daaan,, Andini,, Owwhh,,, itu benar Andini kan?,” Arga memicingkan mata seolah dengan cara itu matanya dapat lebih jelas melihat.
Tampak gadis itu hanya mengenakan pakaian renang two piece. Pintar juga ni bocah, sengaja mematikan lampu di pinggir kolam, jadi apapun yang mereka lakukan di dalam air takkan terlihat jelas.
“Gilaaa,, bisa-bisanya berenang di air dingin gini,” celetuk Arga setelah memasukkan kedua kakinya ke air, duduk menjutai.
“Dingin?,, panas koq,,, liat aja aku ampe keringatan begini,hehehe,,” Aditya terkekeh sambil berjalan didalam air mendekati Arga, meninggalkan Andini disisi sebrang. “Baru pemanasan doang sih,, pengen nyobain bercinta dalam air,” imbuhnya.
“Gimana body bini ku, mantap?,,,lagi seger-segernya anak ABG tuh,, hehehe,, masih 19 my age,”
“Dasar,, Vicky oriented!!,,,”
“Hahahahaa,,,”
Blubuk blubuk blubuk,,, tawa keduanya terhenti saat Andini tiba-tiba menyelam, 2 pasang mata lelaki sange itu melotot saat beberapa detik kemudian muncul pantat montok Andini yang dibalut celana renang model thong, muncul ke permukaan bergerak mengikuti kaki yang berkecipak mendorong tubuh di dalam air.

hilda yulis - toge montok jilbaber (3)
“Aku paling suka kalo dia lagi nungging, mana ada cowok yang tahan kalo bergesekan dengan pantat montok nya,,”
“Asseeemm,,,” Arga misuh-misuh mendengar celoteh Adit yang sengaja manas-manasin
“Tapi lebih nikmat mana dengan vagina istriku?,,, bukankah kamu sudah merasakan jepitannya,, dan bagaimana gurihnya cairan cintanya?,,”
“Heehhh,,, jadi istrimu cerita kejadian di tepi tebing tadi?,, gilaa,,,”
Arga terkekeh.
“Memang sih,, legit banget,,Tapi Cuma dua menit ni batang sempat masuk, belum sempat ngecrot aku sudah ditendang gara-gara Dako mau lewat,”
“Dua menit??? Wooyy,, itu lumayan lama begoo,,” Hati Arga mendengus kesal, tapi berusaha tetap santai.
“Tapi bukankah istriku sudah memberi kesempatan padamu untuk menikmati tubuhnya, Ya artinya kamu sedang sial, jadi tidak salah bila sekarang adalah giliranku,” ucap Arga, otak mesum nya bekerja dengan cepat melihat peluang. Dengan cepat tangannya melepaskan kaos lalu menceburkan diri ke air yang dingin.
“Still there Boy!!!,,, dan lihatlah bagaimana aku mengajarimu cara bercinta dengan gadis secantik istrimu ini,” teriak Arga sambil berjalan mundur didalam air.

“Juancuuukk,,,” Adit mengumpat dengan jari tengah mengacung, hatinya tak karuan, saat harus melihat dengan matanya sendiri bagaimana istrinya akan digagahi oleh lelaki lain.
Ingin sekali Adit mencengkram tubuh Arga, tapi Arga adalah calon bosnya setelah pamannya pindah ke kantor pusat. Artinya Arga lah saat ini yang memiliki kuasa di kantornya.
“Uuuugghhh,,,” Adit benar-benar kesal sekaligus menyesal telah memamerkan tubuh ranum istrinya.
Sementara disebrang, Andini terlihat bingung saat sosok besar seorang laki-laki mendekati dirinya, tubuhnya beringsut masuk kedalam air berusaha menyembunyikan payudara yang hanya tertutup kain kecil dengan untaian tali. Sempat terdengar oleh telinganya pujian sang lelaki yang memuji cantik wajahnya, tapi mengajari bercinta, apa maksudnya?…. Andini tiba-tiba merasa tubuhnya panas dingin saat berhadapan dengan dada bidang sedikit berbulu saat Arga tiba di hadapannya.
“Ada apa Mas?,,,?”
“Tidak ada apa-apa, hanya suamimu tadi meminta untuk menemani bidadari mungil sepertimu berenang,,” Arga mencoba tersenyum seramah mungkin.
Sontak wajah Andini memerah, tersipu malu.  Merasa tidak percaya dengan ucapan Arga, gadis itu menatap suaminya yang terlihat hanya duduk ditepi kolam renang, meski saat ini ada seorang lelaki mendekati istrinya yang hampir telanjang.
“Kenapa cantik,,,tidak percaya?, pastinya suamimu akan menghajarku bila aku berbohong,” Arga mengangkat dagu Andini untuk memenadang wajahnya yang memiliki tatapan tajam.
Dalam hati Arga bersorang girang, gadis itu terlalu lugu, begitu mudah memikatnya. Semakin gemetar tubuh Andini dibuatnya. Tapi ada letupan birahi saat matanya menatap pundak Arga yang tegap dan kokoh, apalagi lelaki itu memiliki wajah yang sangat menarik.
“Aku lihat tadi kau cukup mahir berenang, mau adu cepat dengan ku, berapa putaran kau sanggup?,,” kini Arga memasang wajah jenaka. Tersenyum sambil mengambil kuda-kuda untuk menyelam.
“Jika hanya sekedar berenang mungkin tak mengapa, toh suamiku bisa melihat dan melindungi bila laki-laki ini berbuat nakal.” Gumam Andini yang kemudian ikut tersenyum menampilkan deretan gigi yang rapi terawat.
Seakan tidak ingin kalah dari Arga, Andini mencoba mendahului menyelam dan dengan cepat berenang ke tepi dimana Adit berada. Arga tertawa melihat tingkah Andini, mengangkat kedua tangannya kearah Adit. Tapi Hal itu diartikan Adit sebagai tanda ketidakmampuan Arga menaklukan istrinya.
“Hahahahaaa,,, Kau tidak akan bisa menaklukkan istriku,, cobalah sepuasmu!!!,,,” teriak Adit sambil tertawa.
Andini yang telah sampai di tepi kolam, sekuat tenaga kakinya menendang dinding kolam untuk memberikan dorongan tambahan. gadis itu tampak yakin jika dirinya menyelesaikan dua putaran dan lebih cepat dari Arga. Melihat Andini sudah berbalik ke arahnya, Arga dengan cepat menyelam berusaha menyusul Andini. Saat tubuh mereka berselisihan di tengah kolam, dengan begitu kreatif dan cekatan tangan Arga mengelus payudara gadis mungil itu, dilanjutkan dengan tarikan hingga bra Andini terlepas, lalu melanjutkan berenang ke arah Adit.

hilda yulis toge jilbab (2)
Sebelum berbalik menyusul Andini, tangan Arga muncul kepermukan sambil mengacungkan bra. Aksi Arga itu jelas tidak luput dari mata Adit.
“Juancuuuukkk!!!,,,,” Adit hanya bisa mengummpat, bra siapa lagi yang ada di tangan Arga jika bukan milik istrinya.
Sementara di sebrang sana Andini telah sampai di tepian, tak lama kemudian disusul Arga yang tampak terengah-engah mencari udara.
“Menaaaang,,,” Andini berteriak girang mengangkat kedua tangannya, meloncat-loncat seolah ingin keluar dari air.
Tapi tawa gadis itu sirna seketika, wajahnya pucat pasi saat melihat bra nya berada di genggaman Arga. Secepat kilat tubuhnya beringsut masuk ke dalam air, berusaha menyembunyikan payudara mungil dengan puting yang menantang kedepan. Gadis itu tidak sadar kapan bra itu terlepas, terlalu semangat berenang.  Arga tersenyum, lalu dengan sopan memberikan bra itu kepada Andini. Dengan cepat jemari lentik itu menyambar, dan dengan tergesa-gesa mengenakan kembali bra nya.
“Boleh aku bantu mengikat di bagian belakang?,”
Andini mendesah, sesaat mengambil nafas panjang setelah sadar tidak mampu mengikat bra, menyesali keputusannya memilih bra jenis tali yang diikatkan di belakang punggung. Andini berbalik dengan malu-malu, setidaknya dengan membelakangi lelaki itu tidak bisa melihat payudaranya yang menyembul. Dengan perlahan Arga memasang simpul tali bra, seraya mendekati telinga gadis itu.
“32b, mungil, tapi putingnya mancung banget, seharusnya untuk gadis seusia mu aerola nya sudah mulai coklat, tapi warna milikmu masih telihat sangat ranum seperti milik gadis SMP, bentuk seperti ini yang sering bikin para lelaki penasaran.”
Nafas Andini seakan tertahan mendengar pujian Arga, tubuhnya tak mampu bergerak saat telapak tangan yang kokoh menyusuri pinggang yang ramping, mengusap perut yang rata tanpa lemak, dan terus naik hingga telapak itu menggenggam payudara Andini dengan dengan cengkraman yang kuat namun terasa lembut.
“Uuugghhhh,,,,eeeengghhhsss,,,” nafas Andini terasa begitu sesak, bra basah yang baru dikenakannya seakan tidak memiliki arti. Putingnya yang seketika mengeras dapat dengan jelas merasakan tekstrur kasar dari telapak tangan Arga.
“Maaasss,,, jaaangaaaaan,,,,”
Tapi arga memakai jurus budeg, dan terus melanjutkan aksinya. Tangannya begitu gemes dengan payudara mungil Andini, meremas dan terus meremas dengan lembut.
“Ooowwwhh,,, ternyata benar dugaanku, payudaramu sangat kencang,,, apa kau meinginzinkan bila aku sedikit berkenalan dengan payudaramu ini,,”“kaauu,, sudah melakukannyaaa,, apa lagiii,, suddaaahh masss,,, Aaaawwwhsss,,,” Andini terpekik saat puting mungilnya dijepit, ditarik, dan dipelintir dengan lembut.
“Maasss,,, jangan yang ituuu,, jaaaang,,, Aaaaakkkhhh,,,” tubuh Andini semakin berkelojotan, tanpa disadarinya telunjuk tangan kanan Arga berhasil menyelinap kedalam lipatan vagina. “uuugghhh,,, suuddaaaahhh maasss,, ada Mas Adiiitt,, jangaaaaann,”
Sekuat tenaga Andini menarik lengan Arga agar keluar dari celana dalamnya, tapi Arga yang usil tak kalah akal, telunjuknya yang berhasil menyelinap kedalam vagina mungil itu berubah layaknya jangkar pengait. Semakin kuat Andini menarik tangan Arga, semakin kuat tekanan yang dialami vaginanya, dan semakin kuat pula lenguhan yang keluar dari bibirnya.
“Jangaaannn,, jangaaaann,, Diniii ga maauu,, jangaaaaaaaaaaaaaaann” tubuh Andini bergetar hebat. Mendapatkan pelecehan dihadapan suaminya justru menjai sensasi tersendiri, dan ini adalah orgasme tercepat yang pernah dialaminya.
“Iiiihhh,,, tanganku dikencingin cewek cantik,, pasti pertanda sesuatu nih,, koq cepet banget ya,,,” ucapa Arga, menarik tangannya keluar lalu berlagak seperti orang yang mencuci tangan di dalam air.
“Jahaaaat,,, dasar manager mesum,” Andini mencubit lengan Arga, wajahnya tersipu malu, cowok itu sudah membuatnya ngos-ngosan dan berkelojotan di tengah malam, tapi setelahnya justru meledeknya, menganggap hal itu seperti hal biasa.
Sementara di sebrang Adit yang mengamati mengamati dengan tegang, dapat sedikit bernafas lega saat Arga melepaskan tubuh istrinya, lalu sedikit menjauh. Matanya dapat melihat bagaimana tadi tangan Arga yang memeluk istrinya dari belakang, tapi dirinya tidak tau apa yang tengah terjadi, matanya juga mengawasi pinggul Arga yang tidak bergerak, berarti calon atasannya itu tidak berhasil melakukan penetrasi.
“Wooyyy,, Aku ambil minum sebentar, still there, jangan kemana-mana,,,” Teriak Adit yang langsung bergegas masuk ke dalam, tubuhnya sangat enggan beranjak dari tempat itu untuk memastikan istrinya baik-baik saja, tapi tenggorokannya terasa kering akibat ulah Arga yang mengerjai istrinya.
“Yooiii,, jangan lama-lama, ntar istrimu ku makan lhoo,,hahaha,,” balas Arga sambil tertawa.
Arga bersandar di tepian kolam, “Malam yang indah, bintangnya banyak, lampionnya jua cantik” ucap Arga sambil mengamati lampion yang berjejer diatas kolam, terikat pada tali yang direntang.
“Iyaa,”
“Iyaa? Bagaimana kau bisa tau, dari tadi kau hanya menunduk, mana bisa melihat bintang,”
“Iiihhh,, resee,,” Andini mendorong pinggang Arga tapi meleset dan mengenai batang Arga yang masih menegang. Tiba-tiba gadis itu terkesiap.
“Itu kayu ya? Koq keras banget, piting sedikit aja pasti patah tuh kayu,, hahaha,,”
“Idiiihh,,, baru ditinggal suami sebentar aja genit nya nongol, giliran suami disamping anteng kaya kelinci makan kwaci,hihihi,,,”
“Mas emang rese yaaa,, jadi heran, koq bisa ditunjuk ngegantiin Pak Prabu,”
“Hahahaha,,, Ehhh,, ada bintang jatuh,,”
“Mana? ngga ada koq,,,” mata Andini cepat menyapu hamparan langit.
“Jatuhnya naik angkot biar cepet,,hahaha,,”

hilda yulis toge jilbab (1)

“Idiihh garing banget, emang kalo ada bintang jatuh mau minta apa?” tanya Andini sambil memainkan air hingga menciptakan gelombang-gelombang kecil. Perasaan tegang dan malunya sedikit berkurang, diam-diam matanya melirik tubuh tinggi tegap disampingnya.
“Aku mau mintaaa,, eemmm,,, apa ya,, kalo minta kayu ku dipiting pake punyamu, mungkin ga yaa?,,”
“Weekksss,, ngelunjak, emang aku cewek apaan, ingat,, tadi itu Cuma karena aku menghormati mas Adit yang menyuruh mu menemaniku berenang lhoo,”
“Masa sih, jadi bukan jinak-jinak merpati,”
“Apaan sihh,, lagian batang segede gini mana ada yang mau, Cuma bisa bikin cewek nangis kesakitan, hahahaa,,”
“Awww,,, sakit tau,” Arga menjerit ketika tiba-tiba tangan Andini benar-benar memiting batangnya yang dalam kondisi siap tempur sempurna, dan sialnya gadis itu justru tertawa melihat deritanya.
Tanpa setau Arga, dibalik tawa Andini, jantung gadis itu justru berdebar, tidak menyangka batang yang tadi sempat digenggamnya meliki ukuran yang benar-benar besar.
“Woooyyy,,, ni ku bawain air, kalo mo minum cepet kesini,” terdengar teriakan Adit yang membawa tiga botol pulpy orange.
“Terimakasih Gan, tapi air disini masih banyak, apalagi ada sumurnya, dijamin ga bakal habis,” jawab Arga serampangan.
“Sumur?,, mana ada?” tanya Andini yang bingung.
“Ada koq, biar kecil tapi juga bisa nambahin air kan?”
“Iiihhh ngaco,,” Andini segera memalingkan tubuhnya membelakangi Arga saat menyadari mata Arga yang melototi selangkangannya yang terendam.
“Tuu kan, jinak-jinak merpati, kalo ada suami langsung balik kanan nyari aman,”
“ngga Koq,,” jawab Andini sambil melengos.
“Berani nerima tantangan?,,buktikan dengan ambil tu lampion ”
Tubuh Andini kembali berbalik, “mana bisa?,,tinggi banget,, lagian itu tidak menantang”
Bukannya menjawab Arga justru menyelam ke dalam air.
“Aaaaaaa,,,, Andini menjerit ketika tubuhnya terangkat dari dalam air, dan gilanya wajah Arga tepat berada di depan selangkangannya.
“Sialan kau Argaaa,, Kupastikan Aryanti akan menerima balasannya,,” dengus Adit, tekadnya semakin bulat untuk kembali menunggangi tubuh montok Aryanti dan menuntaskan permainan yang tertunda.
“Cepet ambil, tubuhmu ternyata berat juga,,”
Jelas Arga berbohong, tangannya yang menopang tubuh Andini justru meremas-remas pantat Andini, membuat gadis itu salah tingkah dihadapan Adit. Tangannya berusaha meraih lampion yang masih dua jengkal diatasnya. Berharap Arga segera menurunkan tubuhnya.
“Aaaahhssss,, Argaaaa,, kamu ngapaaaaiinnn,, Aggghhhh,,,” Andini terkaget, celana dalamnya dibentot Arga ke samping, dan dengan cepat bibir Arga yang telah siaga menyerang bibir bawahnya.
“Aaaggghhh,,, gila kau Gaaa,,, itu ada suamikuuu,,Ooowwwhhh,, stoop,”
Arga mendongakkan wajahnya yang tepat berhadapan dengan vagina ranum yang menganga, “Ternyata benar, kau memang jinak-jinak merpati,” ledek Arga. Lalu kembali menyelipkan lidahnya ke vagina yang tengah galau.
“Ooowwwwhh,, tidaaak kau saaalaaahh,,aku berani koq nakal didepaaan Adiiitt,, Aaahhh,,,
masuuukiiiinn lidaaahhhmuu lebbiiihhh dalaaaammm,, Aaggghhh gilaaaaa,,,”

Andini kembali mencoba meraih-raih lampion, berharap suaminya tidak tau dengan apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Arga.
“Ooowwwhhhssss,, Aaaahhh,,, dasar lidah buayaaaa,, panjang banget lidaaahh masuuukkk,” Pantat Andini bergerak-gerak, bukan untuk mengelak, tapi untuk memudahkan lidah Arga mencecapi kalenjer vaginanya yang semakin deras keluar.
“Sayaaaaang,,, apa kau tidak melihaaat,, vagina istrimuuu,, Aaahhh,,,”
“Vaginaaa istrimuuu dinikmati lelaki laaaiiinn,,, Uuuuggghhh,,, Aaahhhssss,,,”
Seeerrr,,, seeerrr,,, seeerrr,,,tubuh Andini mengejang, bibir vaginanya menyemburkan cairan yang tepat memasuki mulut Arga yang tengah terjulur menjilat-jilat.
“Aaaahhhhh,,, Gaaaa,,,, gila kamuuu,,”
Arga perlahan menurunkan tubuh mungil Andini, menggendong menahan dengkulnya dengan kedua tangan, kini wajah mereka berhadap-hadapan. Mata bulat Andini dapat melihat dengan jelas wajah Arga yang basah oleh cairan vaginanya.
“Ternyata hanya sebatas itu kenakalanmu,, baru sebentar udah keluar,,hehehee,,”

“Asseeemm,, apa tadi kurang nakal,, Ok, kalo masih kurang, tapi jangan salahkan aku jika Adit menghajarmu,”
Tangan Andini terulur kedalam air, menyelusup kedalam celana pantai Arga, meski gemetar dengan pasti tangannya menarik keluar batang yang sedari tadi sudah dalam kondisi siap tempur.
“Aku yakin,,, kau pun tidak akan bertahan lama jika kayumu ini dipiting oleh milikku,,, Aaaahhhh,,,” meski tidak yakin vagina mungilnya dapat menerima besarnya batang Arga, tapi Andini tidak ingin terus diledek dan diremehkan.
Kedua insan yang tengah diamuk birahi itu kini begitu kompak bekerjasama. Arga perlahan menurunkan tubuh Andini, sementara jemari lentik gadis itu memastikan batang Arga berada pada jalur yang benar menuju vaginanya.
“Aaaggghhhh,,, pelaaann,,, coba lagiii,,, turunkaan lagiii,, Aaahhh,,,”
Batang Arga melengos kedepan dan kebelakang, tak mampu menembus vagina mungil dan sempit milik istri temannya.
“Oooowwwhhh,,, taaahhhaaann,,, biar aku yang bergeraaakk,, aaaaggghhhh,,, massssuuuk,,”
Andini yang merasakan kepala penis Arga telah berada di dalam vaginanya, perlahan semakin menurunkan tubuhnya, hingga lorong kemaluannya benar-benar terasa penuh.
“Maassss,, maaf maaasss,,, aku benar-benar telah memasukkan penis temanmu ke dalam tubuhku,” rintih hati Andini, yang masih tidak percaya tubuhnya dinikmati lelaki lain tepat di depan suaminya.
“Argaa,, Apaaakaaahh ini cukuuup untuk membuktikaaan kalo aku naakaaal,,”
“belum, ini belum cukup, cantik.”
“Yaaa,, aku rasa jugaa begituuu,,, ini belum cukuuup,, setidaknya hingga vagina mungilku dapat memaksa spermamu memenuhi rahimkuuu,, Aaagghhh,,,”
Di sebrang kolam, mata Adit melotot saat mendapati celana dalam istrinya telah mengambang di atas air. “Siaaalaan kau Argaaa,”
“Arrgaaaa,,, kauuu diaaam sajaaa,,,bukankah kau ingiiin aku terlihaaat nakaaall di depaaan suamikuuu,,, Aahh,,aahhh,,,aahh,,,”
Andini meminta Arga berhenti bergoyang, gadis itulah kini yang memegang kendali, pantatnya bergerak cepat, turun naik diatas air menciptakan riak yang semakin besar.
“Gaaa,,, sesaaaak bangeeeett,,, aku gaa kuaaaat,,, aku kalaaaahh lagiii Aaahhhh,,,”
“Bila kau memang ingin terlihat nakaaal, biarkan aku menyetubuhi mu di depan Adit,,, beraniii?,,, Eeeehhhsss,,”

hilda - toge jilbab (4)

Andini yang sudah benar-benar tak berdaya hanya dapat mengangguk. Meski tak tau apa yang akan dilakukan Arga, tapi baginya sama saja. Andini memejamkan matanya, pantat montoknya terus bergoyang menikmati batang yang begitu besar bagi vagina mungilnya. Sementara Arga perlahan berjalan mendekati Adit yang dasar kolamnya lebih dangkal. Nafas Adit tercekat, kini di hadapannya terpapar pemandangan yang begitu ironis, dengan mata terpejam tubuh mungil Andini bergerak liar. Lorong kemaluan mungil dan sempit milik istrinya yang selalu dibanggakannya, memaksakan melumat sebuah batang besar, lebih besar dari miliknya.
“Aaaaghhhh,,,, Argaaaa,,,,” Andini terpekik saat Arga mulai memberikan perlawanan, ini jauh lebih nikmat dari apapun, mata sendu yang menyiratkan kepasrahan menatap Arga dengan mesra, namun sesaat kemudia terkaget saat mendapati tubuhnya tepat berada di antara kedua kaki suaminya yang menjuntai.
“Maaasss,,, maaaf maasss,,, ini hanya sebuah permainan tantangaaaaannn,,,”
“Aaaagghhhh,,,,ooowwwwwhhh,,, ga kuaaaat,,, Andini ga kuat Masss,,” tangan Andini terulur meraih tangan suaminya seiring tubuhnya yang bergetar hebat mendapat gempuran batang Arga yang semakin brutal. Vaginanya semakin sempit menjepit, “Aaaaaaggghhhhhh,,, Massss,,, besaaaar maaassss,,, batang temaan mu sangaaaat besaaaaarrr,,, Aaaahhh,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, Diiittt,,, sempit bangeeet,, milik istrimu sempiiitt bangeeeeettt,,,”
“Akkuuuu harusss menyemprot di daaalaaam Dit,,, Semproooottt di daaalaaam vaginaa istrimuuu,,, Aaahhhhh,,,” Arga mencengkram pinggul Andini dengan kuat, menancapkan batangnya jauh ke dalam lorong yang semakin menyempit. bermili-mili sperma menghambur, berdesakan memenuhi kantong rahim Andini.
Andini seakan tidak percaya melihat kehebohan Arga, lelaki itu orgasme di dalam tubuhnya dengan begitu dahsyat. Tanpa sepengetahuan Adit, Andini berusaha semakin mengencangkan otot vaginanya, meyakinkan Arga dapat benar-benar menikmati liang kemaluannya.
“Maafin Andini Mas,,”
Adit berusaha tersenyum. Lalu jatuh pingsan… Gubrak..

##########################

Arga terbangun dari tidur dengan perasaan cemas, istrinya Aryanti tidak ada disamping. Seingatnya, setelah menggotong Adit ke kamarnya, Arga menyempatkan diri untuk sekali lagi menggarap Andini di samping suaminya yang tepar, entah tidur, entah memang benar pingsan. Dan ketika kembali ke kamar, Aryanti sudah tertidur dengan pulas. Rasa was-was segera menyergap dirinya, Arga sangat sadar dengan perjanjian yang mereka terapkan dalam liburan ini. Sebuah pertanyaan mencuat dipikirannya ‘Siapa yang tengah menindih tubuh Aryanti saat ini’. Dengan langkah perlahan menghindari timbulnya suara Arga mendekati pintu kamarnya, dan menyelinap keluar bagai seorang maling. Pendengarannya bekerja lebih ekstra mencari kemungkinan adanya suara ganjil, buah dari persetubuhan. Arga sendiri tidak mengerti kenapa dirinya harus begitu hati-hati, seakan memang mengharapkan dapat memergoki istrinya yang berbuat nakal, atau pasangan lain yang tengah berlomba memacu birahi. Tapi nihil, cottage begitu sepi. Sekilas Arga melirik celah di bagian bawah pintu kamar Dako dan Zuraida yang tampak masih menyala terang, mungkin saja penghuninya masih belum tidur, ada keinginan untuk mengetuk, tapi diurungkannya. Perlahan Arga menuruni tangga, lantai satu pun sepi. Begitu juga dengan beranda dan gazebo. Jam dinding menunjukkan pukul 1.25. Dengan cemas bercampur bingung Arga kembali masuk ke dalam cottage, namun langkahnya terhenti saat telinganya sayup-sayup mendengar gelak tawa dari arah ruang samping yang biasa digunakan untuk menggelar pertemuan, bangunan itu memang terpisah dan hanya dibuka jika ada pertemuan atau pesta. Bergegas kakinya melangkah, dan ternyata pintu nya memang terbuka, lampu di bagian tengah ruangan tampak masih menyala. Kembali dirinya mendengar gelak tawa. Tak salah lagi itu adalah tawa Pak Prabu dan Dako. Ketika dirinya ingin menghampiri teman-temannya yang asyik bercengkarama mengelilingi sebuah meja bundar, langkahnya tertahan saat melihat sosok Aryanti yang tengah dipangku oleh Munaf. Sementara di sebrang mejanya, Andini tengah dipangku oleh Pak Prabu. Dengan sangat pelan Arga menyelinap, melewati pintu yang terbuka, ada keinginan hatinya untuk melihat langsung, bagaimana sikap Istrinya jika dirinya tidak ada disamping. Tampaknya Pak Prabu, Dako dan Munaf tengah bermain kartu. Namun yang membuat Arga heran kenapa istrinya sampai bersedia duduk di pangkuan Munaf dan tertawa melihat ulah nakal tangan Munaf yang mencoba bergerilya di tubuh indahnya. Tangan kanan Munaf yang tampak aktif mengelus paha istrinya yang saat itu hanya mengenakan celana lagging sedengkul yang biasa digunakannya ketika berada di rumah, sementara kaos tanpa lengan yang digunakannya tampak kebesaran. Meladeni kenakalan tangan Munaf yang semakin tidak terkendali, Aryanti harus berulangkali memukul jemari yang berusaha menyelusup ke dalam kaosnya, bibir dari istri Arga itu terus tertawa sambil menahan pangkal lengan Munaf yang berusaha menerobos kaos longgar istrinya. Setelah merasa kurang beruntung dengan serangan bagian atas, kini Munaf mencoba meraba selangkangan Aryanti, meremas dengan rasa gregetan akan benda yang ada di antara dua paha montoknya.

Arga sedikit lega ketika melihat Aryanti segera menyilangkan kedua pahanya, mencoba menutup akses serangan, setidaknya istrinya tidak membiarkan lelaki lain menjamah tubuhnya dengan bebas. Tapi tiba-tiba Aryanti tertawa terpingkal, rupanya telunjuk Munaf masih berhasil menyelusup di antara pahanya, bahkan berulangkali menekan telunjuknya pada kemaluan yang tertutup rapat. Awalnya Aryanti terus berusaha menahan lengan Munaf, tapi entah kenapa jemari-jemari lentik itu tiba-tiba melepaskan genggamannya, dan mengambil botol chivas yang masih tersisa setengah. Dituangkannya air berwarna putih bening itu ke gelas yang tidak pernah lepas dari tangan kirinya. Tangan Munaf kini bisa sedikit lebih bebas menggasak selangkangan Aryanti yang tertutup lipatan paha dan usahanya mulai membuahkan hasil ketika Aryanti mulai melonggarkan lipatan pahanya tapi masih dengan posisi menyilang. Rupanya Aryanti merasa kasihan dengan usaha Munaf yang begitu gencar, tidak ada salahnya jika dirinya sedikit berbaik hati membiarkan teman sekantor suaminya itu untuk sedikit mengenali bagian intimnya. Namun tetap saja remasan itu tidak membuat puas Munaf karena masih terhalang oleh lagging yang sangat ketat.  Bibir Aryanti sesekali tertawa ketika merasakan Munaf berhasil mendorong celana dalamnya masuk kesela-sela belahan vagina. Dan itu jelas membuat perempuan itu menggelinjang. Sementara Pak Prabu tampaknya lebih beruntung, karena lengan kanannya dapat dengan bebas menyelusup kebalik kaos Andini, mengelus, meremas dan sesekali memelintir payudara mungil yang masih terbilang ranum itu. Andini dan Pak Prabu sebenarnya lebih terlihat seperti anak dengan bapak, karena pertautan umur mereka yang sangat jauh. Arga tersenyum ketika teringat Aditya, suami Andini yang mungkin saja saat ini masih pingsan. Sesekali tangan kiri Andini mengarahkan gelas yang dipegangnya ke bibir Pak Prabu, diselingi kecupan bibir Andini yang membersihkan martini yang menetes di samping bibir Pak Prabu. Namun Andini tidak membiarkan bibir Pak Prabu berlabuh ke bibirnya, meski sesekali dirinya tidak dapat mengelak ketika Pak Prabu menyosor dan memagut bibirnya dengan cepat. Permainan kartu itu terasa sangat lambat, karena masing-masing pemain sibuk dengan pialanya. Bahkan sesekali pak Prabu memaksa Andini untuk membuka kaosnya, Aksi itu hanya membuahkan jeritan protes diiringi seringai tawa dari bibir mungilnya, dengan tangan kanannya Andini berusaha menahan kaosnya. Rupanya Andini hanya mengizinkan tangan Pak Prabu menggerayangi payudaranya, tetapi tidak untuk diekspos, karena dirinya masih terlalu malu untuk itu. Aksi pak Prabu itu membuat Aryanti tergelak tertawa dan melupakan aksi tangan Munaf yang terus berusaha menyusup di belahan selangkangannya. Ketika merasakan tangan Munaf yang dingin mencoba menyusup ke balik kaos, dan merabai pusarnya, dengan cepat Aryanti menarik tangan itu sambil tertawa.
“Hahahahaa,,, kalo mau netek, sama Andini aja tuh,,” kelakar Aryanti disambut Andini dengan memeletkan lidahnya lalu ikut tertawa.Tapi anehnya, Aryanti justru kembali meletakkan tangan Munaf yang nakal ke selangkangannya yang masih saling terjepit menyilang. Seakan memberi tanda bahwa izin bagi jemari Munaf hanyalah pada bagian luarnya.
“YEEEAAHHH,,,,,” tiba-tiba Dako berteriak keras dan menghempaskan kartu yang dipegangnya kemeja. Gelasnya yang terisi penuh ditelannya dalam satu tegukan.
Penderitaan Dako memang cukup panjang, hanya dapat membagikan kartu sambil menyaksikan pak Prabu dan Munaf mencumbu pialanya. Kini dirinya memiliki wewenang penuh untuk memilih Piala yang akan duduk di pangkuannya. Sementara kartu Munaf yang lebih unggul dari milik Pak Prabu harus menerima wanita yang tidak dipilih oleh Dako. Sesaat Dako menatap tubuh indah Andini yang kaosnya sedikit terangkat di depan payudara, memperlihatkan perut ramping yang mulus, dan kemudian beralih kepada Aryanti yang selangkangannya masih menjepit jemari Munaf.
“Aryantiii,,,” teriak Dako sambil menepuk paha kanannya sebagai isyarat bahwa Aryanti lah yang harus duduk di pangkuannya.
Sekilas Arga melihat Munaf membisikkan sesuatu ke telinga Aryanti yang masih dipangkunya. Kemudian Aryanti berdiri menghadap Munaf yang menunggu aksi apa yang akan dilakukan Aryanti kepada dirinya.
“Hahahaha,, Jadi kau ingin sedikit hadiah sebelum aku meninggalkan pangkuan mu?,,lalu apa yang kau mau?” ucap Aryanti yang terlihat pongah berkecak pinggang, namun bibir mungilnya tersenyum genit.
“Terserah kau,,, tapi ku harap itu sesuatu yang luar biasa,,,,”
Sesaat tubuh semapai Aryanti mematung dihadapan Munaf, telunjuknya memegang dagu seolang sedang berfikir.
“Okkk,,, ini pasti cukup untuk mu,” seru Aryanti, matanya mengerling nakal kearah Dako dan pak Prabu, seolah ingin mengatakan bahwa hadiah yang akan diberikannya memang hanya untuk Munaf.
“Owwwhhhh shit,,, apa yang kau lakukan Sayang,” jerit hati Arga ketika tiba-tiba Aryanti memasukkan kepala munaf ke dalam baju kaosnya sambil tertawa terpingkal disambut tepuk tangan yang lainnya.
Dengan cepat kepala Munaf bergerak liar, menyerang payudara yang selama ini hanya pernah dinikmati oleh Arga. Aryanti tampak berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya ketika kepala Munaf melakukan berbagai gerakan kekiri dan kekanan, sesekali bibir mungilnya mendesis menahan erangan, entah apa yang dilakukan Munaf di dalam sana. Kedua tangan manager SDM itu memeluk erat belahan pantat Aryanti untuk menahan badan Aryanti yang menggelinjang geli akibat aksinya. Arga benar-benar penasaran apa yang dilakukan pria itu di balik kaos istrinya, apakah bibirnya berusaha menghisap putting istrinya yang masih terbalut bra, tentu bukan pekerjaan yang mudah karena istrinya biasa menggunakan bra yang kencang untuk menopang payudaranya yang cukup besar.
“Yup berhasiiiiil,” teriak Munaf saat kepalanya menyembul keluar dari kaos istri Arga, sambil mengepal kedua tangannya keatas tanda kemenangan, disambut sorak mereka yang ada disitu. Aryanti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sekarang bra mu sudah terlepas lalu untuk apalagi kain merah itu terselip dibalik kaosmu,” seru Munaf.
Arga terkejut, artinya kini payudara istrinya tidak lagi terlindungi oleh bra. Artinya tadi Munaf bergulat dengan kancing bra milik Aryanti yang berkait di depan. Namun Arga masih merasa beruntung karena Aryanti menjitak kepala Munaf, meski sambil tertawa tetap saja itu adalah tanda penolakannya.
“Lepas,Lepas,lepas,,,” yel-yel yang diteriakkan oleh Dako serentak diikuti oleh Pak Prabu dan Munaf, bahkan oleh Andini.

Arga sangat berharap Aryanti tetap pada keputusan awalnya. Meski dirinya tidak yakin, karena tantangan yang dilontarkan Munaf mendapat dukungan dari semua pemain.
“Oke, oke,,, kalian memang selalu berhasil memaksaku,,,”
“DUERRRR,,,” lagi-lagi tubuh Arga bagai terhantam palu godam yang sangat besar.
Apakah itu artinya istrinya akan melepaskan kaos untuk melepas bra. Dibalik persembunyiannya Arga sudah merasa tidak sanggup untuk menyaksikan usaha teman-temannya menelanjangi pakaian istrinya. Perjanjian yang mengikat mereka membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Tapi rupanya Aryanti masih memegang kepercayaan sebagai seorang istri Arga, tanpa melepas kaosnya tangan Aryanti menyusup masuk untuk melepas branya. Melalui pangkal lengannya Aryanti melepas satu persatu tali bra yang tersampir dipundak.
“Ini kan yang kalian mau?” teriak Aryanti sambil mengangkat bra merah dengan renda warna pink. Jelas saja aksi itu membuat kecewa Dako, Pak Prabu, dan tentunya Munaf sendiri. Karena mereka ingin melepas serta kaosnya untuk membuang bra tersebut.
Tapi, kini mereka dapat lebih jelas melihat puting payudara dari istri Arga yang tercetak pada kaos tipis itu. Bahkan dari sela-sela kaos yang kebesaran itu terlihat dengan jelas bagaimana kedua bukit putih itu tampak bergoyang mengikuti hentakan tubuh Aryanti yang tertawa puas karena dapat memenuhi keinginan teman-teman suaminya.
“Andini, untuk babak berikutnya ini apakah kau akan tetap seperti itu, tidak adakah sedikit bonus untuk kami, seperti yang dilakukan Aryanti?” tantang Dako.
Arga kembali bergairah untuk kembali menyaksikan pertunjukan, tubuh ranum Andini memang menggoda setiap lelaki. Jika Andini turut melepas branya, dengan kaos warna kuning yang ngepres dibadannya itu jelas akan mencetak keseluruhan bentuk payudaranya. Meski telah menikmati bagimana ranumnya payudara mungil Andini, tetap saja rasa penasaran bercokol diotak mesum, membayangkan aerola merah muda yang mengelilingi puting mungil milik remaja itu terpapar bebas di depan publik. Apa yang dilakukan Andini rupanya melebihi dari apa yang diharapkan oleh Dako, Pak Prabu dan Munaf. Dengan perlahan, Andini memasukkan tangannya ke bagian rok samping, gerakan slow motion yang sengaja dilakukan Andini membuat jantung para pria berdegub kencang, apakah Andini akan lebih berani mengekspos miliknya.
“Owhhh,,, shit,,,” Arga tidak dapat menutupi kekagumannya atas kenakalan gadis itu, jari-jari lentik Andini menarik turun celana dalam berwarna putih yang dibagian tengahnya sudah tampak basah.
Andini mengangkat CD nya tepat di wajah Pak Prabu yang dengan sigap membaui aroma yang tersaji, lalu menarik kain itu dengan giginya, membuat semua yang ada di ruangan tertawa. Gadis itu merapikan limpitan roknya yang lebar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengintip ke selangkangan yang tak lagi memiliki pelindungan. Lalu beranjak hendak meninggalkan pangkuan Pak Prabu.
“Heeyyy tunggu,, itu adalah hadiah kecil yang kau berikan untuk semua, apakah tidak ada yang lebih spesial untukku,” seru Pak Prabu, menahan lengan dari istri keponakannya itu.
Andini tertawa sendiri memikirkan hadiah apalagi yang akan diberikan khusus untuk Pak Prabu. Lalu sambil menutup wajah dengan tangan kanan, tangan kirinya mengangkat bagian depan rok.

“Wwwhhhoooo,,, mantaaaap,, bener-bener hadiah yang spesial, hahahaa,,” Teriak Dako bertepuk tangan, sambil berusaha ikut mengintip,namun terhalang tepian rok.
Andini yang nekat mengambil keputusan gila itu hanya dapat menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil terus tertawa, semua hanya gara-gara gairah mudanya yang tertantang oleh aksi berani yang dilakukan Aryanti. Sebuah persaingan terselubung antara betina dewasa dan remaja. Ketika Pak Prabu berusaha menundukkan kepala untuk mengecup vagina mungil yang dapat dinikmati oleh matanya, tiba Dako berteriak.
“Ok,,, saatnya pertukaran,” teriak Dako yang sudah tidak sabar mendapatkan pialanya.
“Berikanlah aku salam perpisahan, sayaang,” rengek Pak Prabu yang merasa berat melepas tubuh Andini.
Melihat Andini hanya tertawa, Pak Prabu segera melabuhkan lidahnya kebibir vagina yang masih tertutup rapat namun dihiasi precume yang merembes keluar, hingga membuat Andini menjerit, tak menduga.
“Owghh,, cukup pak, sudaaaahh,,aaahh, Sudaaahhh,,” Andini berusaha mendorong kepala Pak Prabu menjauh, posisi Pak Prabu yang duduk dikursi membuat lidahnya cukup sulit untuk menjelajah celahnya. Namun lelaki paruh baya itu terus saja bereksplorasi.
Dengan badan masih menunduk, Pak Prabu berusaha menatap Andini mencoba meminta sedikit kemudahan bagi lidahnya yang haus, dengan wajah super memelas. Proposal yang diajukan Pak Prabu melalui lirikan mata itu tampaknya berhasil, karena Andini berusaha mengangkat kakinya ke sisi kursi Pak Prabu.
“Aaahh,,, cukuuupp,, jangan terlalu daaaalaaaamm,,,” jerit Andini saat lidah Pak Prabu dengan cepat menyelusup kecelah vagina yang semakin basah. Namun Pak Prabu seolah tak peduli.
Sesekali Andini menjerit kecil ketika bibir vaginanya yang mulus tertusuk oleh kumis Pak Prabu, tapi tusukan itu bagaikan sengatan birahi bagi Andini untuk semakin menyodorkan vaginanya ke lidah milik paman dari suaminya itu. Setelah beberapa saat wajah Pak Prabu terangkat sambil tersenyum lebar, bibirnya dan kumisnya berlepotan selai putih, puas mencecapi vagina ranum, membiarkan Andini yang terombang-ambing birahi. Ingin sekali Andini menahan kepala Pak Prabu untuk melanjutkan cumbuan hingga menuju puncak, namun rasa malu sebagai wanita baik-baik berhasil menahan. Munaf yang saat itu menonton aksi Pak Prabu sambil memeluk pinggul Aryanti dibuat iri dengan salam perpisahan yang diberikan Andini kepada atasannya.
“Andini sudah memberikan salam perpisahannya, apakah aku juga akan mendapatkannya darimu cantik,” rayu Munaf sambil mengadopsi wajah melas Pak Prabu yang telah sukses mencecapi payudara Andini.

“Bukankah kalo kau menang nanti aku akan kembali berada di pangkuanmu,” jawab Aryanti yang kembali berbalik menghadap Munaf, sementara Munaf semakin mengokohkan pelukannya di pinggul Aryanti.
“Please,,,Ayolah Yant,,,”
Belum sempat Munaf menyelesaikan kata-katanya Aryanti sudah kembali memasukkan kepala Munaf kedalam kaosnya. Bagai orang kesurupan, Munaf langsung menyedot dengan keras puting Aryanti yang tidak lagi terhalang oleh bra, seakan takut payudara itu akan menghilang.
“Aaaaahhh,,, ooowwhhhhssssss,,,”
Aryanti merintih, dirinya memang menginginkan seseorang melakukan sesuatu kepada putingnya yang mulai mengeras. Beberapa kali Aryanti mengelinjang, terkadang kepalanya terangkat ke atas ketika Munaf mengigit putingnya. Desahannya sambung menyambung, setelah salah satu tangan Munaf ikut masuk ke dalam kaosnya.
“Aassshhh,,, Muunnaaaf,,,” teriak Aryanti sambil mengarahkan kepala Munaf ke daerah yang ingin dijamah oleh lidah pria itu,”
“Yaaa,, iyaaaa,,, pelaaan,,,”
“Owwwhhhss,,,”
Aryanti yang asyik menikmati permainan bibir Munaf pada daerah payudara yang diinginkannya terpekik ketika kepala yang ada dalam kaosnya kembali menggigit sedikit lebih keras.
“Ok,,,cukup bro,,, Kita harus melanjutkan permainan,” seru Dako yang rasa iri yang memuncak, berkali-kali Dako meremas penisnya yang terasa sakit karena tidak dapat bebas menghirup udara.
“Ayolah kawaaaannn,,,” seru nya kembali ketika melihat tidak ada tanda-tanda kedua rekannya ingin mengakhiri percumbuan.
Setelah cukup lama, akhirnya Munaf menampakkan batang hidungnya, rambutnya tampak kusai berantakan, sementara Aryanti berusaha mengatur nafasnya. Dengan langkah terhuyung Aryanti melangkah ke pangkuan Dako. Andini yang juga harus beralih kepangkuan Munaf memilih berjalan di depan tempat Dako duduk dengan kaki yang masih gemetaran menahan birahi. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dako untuk menyelusupkan tangan nakalnya ke balik rok Andini, lalu mencoleh pintu vagina yang begitu basah.
“Aaawww,,” jerit Andini berusaha menarik tangan Dako keluar, yang dijawab dengan pekikan tawa. Aryanti pun tidak tinggal diam dirinya turut meremas dengan gemes pantat Andini. Suara tawa bersahutan menggema di ruangan yang memang terpisah dengan kamar-kamar.
Dako sempat tergiur dengan kemolekan tubuh Andini yang telah terbuka disana-sini, tapi melihat kecantikan Aryanti dan misteri dibalik pakaiannya kembali meneguhkan pilihannya. Kapan lagi dirinya dapat menikmati tubuh Aryanti dan payudaranya yang selama ini membuatnya penasaran.Dako membuka pahanya lebar-lebar mempersilahkan Aryanti untuk duduk di salah satu pahanya. Berbeda dengan posisi ketika dirinya duduk di pangkuan Munaf yang membelakangi, kini dengan duduk di paha kanan Dako Aryanti dapat lebih leluasa apakah harus menghadap Dako ataukah ke arah teman-temannya yang lain. Tapi sial bagi Arga, posisi duduk Dako justru membelakangi tempat persembunyianya. Ada rasa cemas dihati Arga dengan apa yang akan terjadi pada istrinya, karena matanya tidak dapat mengawasi aktifitas tangan Dako dengan jelas. Baru saja Aryanti menghenyakkan pantatnya yang padat montok pada paha yang disediakan, tangan Dako langsung bergerilya menyusup ke balik kaosnya. Lagi-lagi Aryanti hanya tertawa, melalui kerah lehernya yang lebar mata indah Aryanti mengintip payudaranya yang dimainkan oleh Dako, sesekali tawanya menggelegar mendominasi suara diruangan saat Dako membisikkan sesuatu ke telinganya. Sementara Andini belum sempat duduk di paha Munaf, lagi-lagi harus merelakan payudaranya diremas oleh Munaf yang memaksa Andini mengakat kaos nya lebih tinggi, lelaki itu tidak peduli dengan penolakan Andini, Yang ada dibenaknya saat ini adalah menikmati sepuas-puasnya payudara yang kini menjadi piala miliknya.

hilda - toge jilbab (3)
“Sebelum kita memulai babak ini sepertinya ada peraturan yang harus ditambahkan, karena dari tadi saya melihat tangan kanan piala-piala kita ini lebih banyak menganggur, bagaimana jika kalian memainkan ‘perseneling’ kami, agar kami dapat menanjak dengan cepat,”
“Setujuuuu,” teriak Munaf sementara Pak Prabu hanya mengumpat, kenapa peraturan itu tidak ditetapkan dari tadi, saat dirinya masih memangku Andini. Tapi Aryanti dan Andini yang terlihat mulai mabuk justru tertawa. Keduanya sesaat saling melemparkan senyum penuh persaingan.
Meskipun istrinya dalam keadaan mabuk, Arga berharap rasa malu yang tersisa dalam diri Aryanti dapat mengajukan penolakan.
“Ok, Siapa takut,” teriak Aryanti sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Yang disambut tawa Andini yang telah duduk manis dipangkuan Munaf.
Persetujuan Aryanti bagaikan kilatan petir yang menyambar kepala Arga, bagaimana mungkin istrinya yang selama ini selalu menjaga sopan santun, kini secara terbuka akan menggenggam penis lelaki lain di depan banyak orang. Tubuh Arga merinding, sampai mana kegilaan ini akan berakhir, berhasilkah Dako menjejalkan penisnya kedalam tubuh indah istrinya. “Aaakhhh,,,” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang pikiran akan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
“Kyaaaaa,,,,”
Arga terjaga saat mendengar teriakan Aryanti, wajah cantik istrinya menunjukkan raut keterpesonaan akan sesuatu yang kini ada dalam genggamannya.
“Bagaimana mungkin milikmu bisa seperti ini,” pertanyaan Aryanti yang penuh rasa kagum mengalir ringan dari bibir mungilnya.
Aryanti yang akhir-akhir ini mulai mengenal beberapa bentuk penis selain milik suaminya, dibuat kaget oleh pusaka kebanggan Dako, dengan bentuk yang melengkung ke atas. Kepala batangnya memang standar tapi semakin membesar menuju ke pangkal.
“Lalu,, kau ingin aku melakukan apa dengan milikmu ini,” birahi Aryanti bergemuruh, dirinya tidak dapat menghindari pikiran mesum, membayangkan jika batang bengkok itu menyerang kemaluannya dinding vagina bagian mana sajakah yang harus menerima hantaman-hantaman keras milik Dako.
“Arggghhh,,,” pekik Aryanti pelan ketika pikiran-pikiran mesum semakin meracuni otaknya.
“Hey,hey,, Aryanti, kurasa kita dapat melakukannya dengan pelan-pelan,” bisik Dako ketika penisnya diremas dengan keras oleh jemari Aryanti.
“Letakkanlah gelasmu, sehingga kau dapat membantuku untuk memegang kartu-kartu yang merepotkan ini,” pinta Dako setelah menerima kartu yang dibagikan Pak Prabu.

“Owh,,, tentu sayang,” balasnya sambil mengambil kartu-kartu diatas meja yang baru dibagikan Pak Prabu.
“Hei, lihatlah kartu-kartu mu, aku tidak yakin untuk babak selanjutnya aku dapat terus memegang batangmu ini,” ucap Aryanti dengan kening berkerut, ada rasa enggan dihatinya bila harus melepas penis teman suaminya itu.
“Yaaa,,, itu artinya kau harus membantuku untuk memecah konsentrasi pak Prabu, agar aku tetap bisa meremas dua payudaramu ini,” jawab Dako yang kini sibuk mengenali dua gunung kembar yang ada di telapak tangannya.
Berbeda dengan Munaf, yang mendapatkan kartu cukup baik, sepertinya lelaki tidak perlu takut akan kemungkinan kemenangan Pak Prabu yang tertawa puas mengamati kartunya, karena kalaupun menang atau menjadi yang kedua, Munaf pasti akan tetap mendapatkan Andini yang terlihat kewalahan meladeni isapan lidah Munaf pada payudaranya, sedangkan tangan kanannya terus mengocoki penis Munaf yang sudah sangat keras. Artinya dia hanya perlu mengalahkan Pak Prabu.
Aryanti kembali tertawa, “Boleh juga usulmu, aku akan menolongmu, tapi aku tidak yakin ini bisa berhasil,”
Dengan gerakan pelan Aryanti menggeliat bagai cacing, meregangkan otot tubuhnya, dua tangannya yang terangkat ke atas memberikan pemandangan yang eksotis bagi Pak Prabu. Melalui celah lebar di ketiak kaos, lelaki yang telah memasuki usia 50an itu dapat melihat dengan jelas bagaimana ganasnya jemari Dako meremas dan memilin putting Aryanti.
“aaahhhh,,, jangan disitu Dakooo,,,” Aryanti menggelinjang manja ketika Dako menggelitik kupingnya dengan lidah. Tapi Dako justru memeluknya semakin erat.
“Siaaaal,,,, kenapa bagian itu harus terjamah olehnya,” pekik Arga dengan kesal, telinga adalah bagian paling sensitive bagi Aryanti, Arga berani bertaruh jika selangkangan istrinya pasti akan semakin membanjir.
“Bila Munaf telah meminta salam perpisahan, apakah kau tidak ingin memberikan salam sambutan kepada tubuhku ini, Dako?”
“Kurasa aku bisa membantumu memainkan kartu-kartu ini selama kau beraksi didalam kaosku?,” tawar Aryanti yang mulai gerah dengan suasana. Tidak perlu pertimbangan bagi Dako untuk segera menenggelamkan kepalanya kedalam kaos Aryanti.
“Ooowwgghhh,,,hahahhahahassss,, oopppsss,, pelaaann…uugghhhsss,”
Aryanti tidak dapat menahan serangan Dako, ketika kulit payudaranya yang kedinginan merasakan panasnya lidah Dako. Membelit, menghisap, menggigit. Penis Dako yang ada dalam genggamanyan semakin mengeras, kepala penis unik yang mencuat keatas itu mulai mengeluarkan lendirnya. Namun sayangnya penis itu sekali-sekali harus dilepasnya untuk mengambil kartu tambahan yang terus dibagikan Pak prabu sekaligus membuang kartu yang tidak dibutuhkannya. Arga seakan tidak percaya, bila wanita yang tengah mengerang dan terus bergerak erotis menggoda Pak Prabu itu adalah istrinya, seorang wanita yang selama ini dikenalnya sangat setia dan selalu menjaga sopan santun
“Aaahhh,,, apa yang kau lakukan,” jerit Aryanti saat merasakan jemari Dako berhasil menerobos leggins nya.
“Aaahhh,,, cepat tarik tangan mu daaari sana Daaakkkkooo,” tangan kanan Aryanti terpaksa melepas penis Dako untuk menahan tangan lelaki itu.
Tapi telunjuk Dako terlanjur menyentuh pintu vagina yang masih terlindung kain tipis, membuat kaki Aryanti terhentak menahan kilatan birahi, wanita itu bingung apa yang harus dilakukan.

“Aku tidak pernah menduga jika milikmu sesempurna ini, beruntung sekali Arga bisa melesakkan penisnya kapanpun dia mau ke vagina gemuk mu,,” bisik Dako.
Mendengar kata-kata Dako, Aryanti bukannya menarik tangan Dako keluar tetapi justru menekan semakin ke dalam. Bahkan ada rasa sesal di hati Aryanti yang telah dipenuhi oleh nafsu, kenapa tadi dirinya tidak mengenakan rok pendek seperti Andini, dengan celana leggins yang dikenakannya saat ini jemari Dako begitu sulit untuk beraksi di dalam sana.
“Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan milikku sempurna, sedangkan kau tidak pernah melihatnya,” sela Aryanti sambil berusaha melebarkan pahanya, seakan memberikan izin jemari Dako untuk terus beraksi.
“Aku bisa merasakan, celana dalam mu ini menyembunyikan sebuah lorong yang indah dan mempesona, yaaahh,,, setidaknya sempurna untuk batang yang tengah kau remas ini,” ucap Dako sambil sesekali merasakan rambut yang tumbuh lebat di sekitarnya.
“Tapi jika kau mengizinkan aku untuk melihat langsung bagaimana bentuk yang sebenarnya, pastinya aku tidak akan menolak,”
“Hahaha,,, dasar gombaaal, memang lelaki kalau sudah ada maunya bisa mengatakan apa saja,” gelak tawa Aryanti mengagetkan Andini yang tengah menikmati jemari Munaf yang berhasil mengobok-obok vaginanya.
Rok longgar selutut yang dikenakan Andini rupanya cukup membantu menyembunyikan jemari Munaf, beraksi dengan bebas divagina mungil Andini yang tidak lagi memiliki pelindung. Membuat gadis itu merintih tertahan, menikmati jari tengah Munaf yang bergerak keluar masuk, menjelajah dan mengorek precume nya keluar.
“Lalu, kenapa kau tidak meminta padaku agar jari-jarimu bisa lebih mengenali milik sahabat mu ini, kurasa tidak ada bedanya ketika kau meremasnya di luar ataupun di dalam kain segitiga ini,” bisik Aryanti sambil menarik tangan Dako keluar, tapi kemudian justru menarik karet leggins dan celana dalamnya ke depan.
“Hahahahaaa,, ternyata benar apa yang sering dikatakan Arga, kau memang baik hati dan dermawan,” tawa Dako, yang sontak membuat Arga bingung, apa yang tengah terjadi di antara mereka.
“Huusss,, diamlah, kalau kau tak mau, aku akan menutupnya,” Aryanti merasa tidak nyaman saat nama suaminya disebut.
Dengan cepat Dako menahan tangan Aryanti, mencoba mengintip, namun begitu gelap, hanya rambut-rambut yang begitu tebal yang tampak. Dengan sangat bernafsu Dako segera melesakkan tangannya.
“Owwghhh,,,pelaaaan Dako,,,” jerit Aryanti dengan keras ketika dua jemari Dako langsung menciduk ke bagian dalam vaginanya yang memang sudah sangat basah.
“Hei,,, adakah dari kalian yang ingin menikmati ice cream ini,” teriak Dako sambil mengacungkan tangannya yang sudah penuh oleh cairan milik Aryanti.
Tentu saja Aryanti sangat malu, lalu memukul-mukulkan bantal kecil ke kepala Dako. “Kalau kau terus membuatku malu, maka aku akan menutup milikku ini selamanya,” ancam Aryanti.

Dako hanya tertawa, ancaman Aryanti dianggapnya pepesan kosong, karena Dako sangat yakin bila istri Arga itu telah tunduk sepenuhnya pada dirinya. Dengan pasti Dako kembali memasukkan tangannya.
“Aaahhh,,,” Andini yang tidak dapat menahan rangsangan dari jemari Munaf kembali merintih. Kocokannya pada penis Munaf bertambah cepat, membuat suasana semakin panas, berkali-kali Pak Prabu melirik Andini dan Aryanti dengan pandangan iri.
“Yeaaahhhh,,,,” sepertinya salah satu diantara kalian harus kembali ke pangkuanku, teriak Pak Prabu ketika berhasil mendapatkan kartu yang lebih bagus.
Namun permainan masih beberapa putaran lagi, Pak Prabu cukup kewalahan menahan birahinya yang tidak tersalurkan.  Teriakan Pak Prabu menyadarkan Dako dan Munaf yang asik mencumbu tubuh panas di pangkuan mereka. The game must go on.
“Hey,,, rasanya tidak adil bila kita tidak berbagi dengan Pak Prabu, bukan begitu Aryanti?”
Aryanti menjadi bingung, apalagi yang akan dilakukan Dako pada dirinya.
Tiba-tiba Dako menyuruh Aryanti berdiri merubah posisi dengan mengangkangi kedua pahanya, membuat penisnya menyundul tepat di bawah vaginanya.
“Krraaaaakkk,” Aryanti terkaget, dengan kasar tangan Dako merobek leggins nya tepat di tengah selangkangannya, dan dengan cepat Aryanti menutupi celana dalam berwarna putih yang telah basah dari tatapan mata Pak Prabu.
“Dakoooooo,,,,,” Aryanti berteriak keras, untuk kesekian kali pria itu membuatnya malu. Namun disambut decak kagum dan gelak tawa Pak Prabu dan Munaf.
“Ayolah,,, bukankah kau ingin membantuku untuk mengalahkan Prabu,” bisik Dako sambil menarik kedua tangan Aryanti yang menutupi selangkangannya.
Sambil membuang muka kesamping Aryanti menarik tangannya, dan terpampanglah celana dalam yang sudah sangat basah, sehingga mencetak sebuah garis yang melintang tepat di selangkangannya. Beberapa rambut kemaluannya mengintip keluar.  Dada Aryanti semakin bergemuruh, saat menyaksikan nafas Munaf dan Pak Prabu mendengus penuh nafsu memandang selangkangannya yang terbuka bebas.
“Tatapan mereka seperti ingin melumat vaginakuuu,,, Uuuhhhh,,, permainan ini benar-benar membuatku gila” dengus hati Aryanti yang terbakar birahi.
Ingin sekali Aryanti membuka kain terakhir yang tersisa untuk memberikan hiburan kepada teman-teman suaminya itu, namun rasa malu masih merajai hatinya. Dengan sedikit gerakan Dako berhasil membuat penisnya menyembul, tepat didepan kain penutup vagina Aryanti yang telah basah, seandainya tidak ada kain tipis berwarna putih itu, pastinya kedua kulit mereka akan bertemu. Dengan sedikit malu Aryanti kembali meremas penis unik yang menggeliat manja didepan vaginanya.

“Ooohhh yeeaaahhh,,,” Sako memegang pinggul Aryanti dengan kuat,
Aryanti tidak hanya mengocok penisnya, namun berulangkali menggesekkan batang itu kevaginanya yang terbalut kain tipis. Kartu yang dipegangnya tergeletak di meja ketika tangannya terayun ke belakang untuk menjambak rambut Dako, lenguhan semakin sering terdengar saat tangannya terlalu keras menekan batang Dako ke vaginanya. Aryanti tidak berani bertaruh apakah dirinya mampu bertahan dengan godaan ini, apalagi setelah Pak Prabu juga mengeluarkan penisnya yang besar diselimuti kulit yang kecoklatan, dipenuhi dengan rambut-rambut yang mengelilingi tongkat kebanggaannya. Persis seperti miliknya yang sangat rimbun. Aryanti bergidik, menatap batang kekar yang cukup besar, mungkin seukuran milik Arga hanya saja milik Pak Prabu belum disunat. Tapi saat ini dirinya hanya dapat menyaksikan bagaimana tangan Pak Prabu yang penuh bulu mengocok penisnya dengan cepat.
“Aku ingin batang itu lagi,,,” lirih Aryanti.
“Apaa?,,, kau ingin batang Pak Prabu lagi? Apa sebelumnya kau sudah pernah mencoba?,,” tanya Dako yang bingung.
“Ohh tidaak,, kau salah dengar,,”
Jawab Aryanti cepat, tidak berani berangan lebih jauh, saat ini saja dirinya sudah sangat malu, apalagi bila harus meminta Pak Prabu menghujamkan penis hitam itu ke kemaluannya.
“Aaahhhhh,,,,eehhhhmmm,,” terdengar teriakan tertahan dari mulut Andini, mengagetkan khayalan dan birahi Aryanti.
Tanpa sepengetahuan Aryanti, Dako dan Pak Prabu, Rupanya Andini yang sudah tidak mampu menahan birahi akhirnya menyerah, dan mengijinkan Munaf untuk menghujamkan penis ke liang kemaluannya. Lagi-lagi rok mini itu berhasil menyembunyikan bagaimana beringasnya penis Munaf menjelajah masuk ke kemaluan mungil gadis muda itu. Meski Dako, Munaf dan Aryanti sangat tau dengan apa yang tengah dialami Andini, namun tetap saja wanita muda itu terlihat malu-malu untuk menunjukkan ekspresi kenikmatan yang tengah melanda tubuhnya. Tidak ada gerakan dari pantat itu, namun membiarkan batang penis milik teman suaminya itu menghujam keras di belahan vagina.
“Ooowwwhhh,, itu pasti sangat nikmat,” gumam Arga saat teringat bagaimana batangnya berhasil menyelinap masuk ke dalam kemalaun Andini, dan berhasil memenuhi rahimnya dengan sperma.
Munaf menyelipkan empat lembar kartu yang dipegangnya pada rok Andini, membuat gadis itu terlihat semakin nakal. Kini tangan yang telah bebas itu mulai memegang pinggul Andini dan mengayun pelan, mengomando Andini untuk bergerak ke depan dan ke belakang dengan malu-malu. Semua pandangan tertuju kearah Rok Andini yang mulai berkibar mengiringi goyangan yang kini semakin cepat. Dengan matanya Pak Prabu mencoba memberi isyarat kepada Munaf untuk menyingsingkan kain yang sangat mengganggu pandangannya. Andini yang rupanya sempat membaca isyarat itu segera memegang roknya dengan kuat. Dirinya terlalu malu bila vaginanya yang merah merona tengah melumat penis yang bukan milik suaminyam, menjadi tontonan.
“Apakah kau tidak ingin sedikit berbagi dengan Pak Prabu, lihatlah wajahnya yang memelas untuk sebuah pemandangan indah dari tubuhmu,” rayu Munaf.
Namun Andini tetap kekeuh memegang erat kain roknya dengan tubuh yang terus bergoyang ke depan dan belakang yang diarahkan oleh lengan Munaf pada pinggulnya.

Posisi ini memang cukup sulit jika si wanita tidak berperan aktif menggoyang tubuhnya, tak perlu waktu lama tubuh Munaf telah bermandi keringat. Tapi dirinya tidak memiliki pilihan lain selain posisi ini. Tapi tetap saja, perubahan wajah Andini yang terkedang mendesah, meringis, bahkan sesekali menjerit memberi tanda kuatnya serangan Munaf di sela-sela pantatnya.
“Bila aku menjadi Andini tentunya akupun akan malu jika tubuhku yang tengah disetubuhi oleh orang lain menjadi tontonan,” ucap Aryanti sambil terus meremas batang Dako digenggamannya.
“Lalu kenapa tidak kau ambil selimutmu itu, dan biarkan aku bermain di kemaluanmu tanpa diketahui orang lain,” balas Dako cepat ketika melihat peluang.
“Hahahahaa,,,Tapi bukan itu yang kumaksud, tunggulah Munaf menyelesaikan aksinya, mungkin Andini akan sedikit berbelas kasihan pada dirimu,” jawab Aryanti sambil tertawa.
“Mba Aryantiii,, ga booleeeh cuurang yaaa,,” seru Andini yang terengah-engah meladeni serangan penis Munaf, tubuh indah itu tidak lagi bergerak maju mundur, tapi sudah mulai menghentak, dan terus semakin keras hingga membuat vaginanya yang belumur oli putih, mencengkram erat penis Munaf.
Rok mini itu tak mampu lagi melindungi tubuh pemiliknya setelah kedua tangannya berpindah ke pegangan kursi.
“Mbaaa Aryantiii,,, tolongin akuu mbaa,,” desahan Andini semakin menjadi, entah apa maksud teriakan permintaan tolongnya, karena sangat jelas jika wanita muda itu tengah menikmati permainan Munaf.
Permainan kartu itu sepertinya telah berhenti total, karena kini Pak Prabu pun sibuk memainkan penisnya sendiri. Tanpa diduga Aryanti berdiri dari pangkuan Dako, dengan cepat mengambil selimut tebal yang sangat lebar sehingga dapat menyembunyikan tubuh semampainya.
“Siaaaalll,,, itukan selimut kesayanganku, ngapain Aryanti membawa kesitu,” umpat Arga saat melihat selimut dengan gambar Hello kitty. (Weeww,,, )
Dengan cepat Aryanti membalutkan kain tersebut ke tubuhnya dan kembali ke pangkuan Dako, dengan sangat mesra Dako mempersilahkan Aryanti untuk duduk di atas pangkuannya, dan kembali ke posisi semula, memangku dan dipangku.
“Aku rasa aku dapat memberikan permainan yang lebih hebat dari mereka,” bisik Dako sambil menggigit telinga Aryanti.
“Oh yaaa,,, dengan kain ini kurasa kau dapat dengan bebas membuktikannya,” seru Aryanti sambil tertawa nyaring.
Hati Arga memanas, bagaimana mungkin istrinya bisa begitu mesra terhadap Dako sahabatnya. Kini dua tubuh yang berselimut kain itu tampak sibuk dengan aksi mereka. Kepala Dako menghilang ke dalam selimut, lidahnya menjangkau puting Aryanti, membuat wanita terpaksa sedikit memiringkan tubuhnya, menyambut keinginan Dako.

Dari sela-sela kursi yang tidak tertutup selimut Arga dapat melihat bagaimana lidah Dako bermain-main dengan sepasang payudara yang selama ini selalu dibanggakannya. Sementara tangan Aryanti memeluk kepala Dako dengan erat, memaksa kepala itu tidak pergi jauh dari kedua putingnya.
“Kyyaaaa,,,Dakooo”,,,
“Yeeeaaahhh,,,,”
Teriakan Aryanti disambut dengan pekik kemenangan Dako, lengan kanannya muncul dari balik selimut dengan membawa serta sepasang kain, dengan semangat Dako mengibarkan kedua kain itu ke atas sambil tertawa riang.
“Sudahlah,,, kau hanya membuatku malu,,,” teriak Aryanti berusaha merebut kain tersebut. Namun dako terlebih dahulu melempar kain itu ke arah Pak Prabu.
Arga semakin terkesiap, ketika kedua lengan Pak Prabu merentangkan kain yang tidak lain adalah leggins dan celana dalam Aryanti.
“Arga pernah bertanya kepadaku, milik siapa yang lebih nikmat, apakah milik Zuraida istriku, ataukah milikmu ini,” ucap Dako pelan sambil tersenyum, tangannya mengusap-usap bibir klentit Aryanti yang sudah sangat basah.
“Owwwhhh,, yaaa?,,,kurasaaaa,, sebelum Arga dapat membuktikannya, Emmmhhh,,, kau bisa lebih dulu untuk menilai milik siapa yang lebih nikmat,,,”
Dada Aryanti bergemuruh seiring tubuhnya yang mengangkat sedikit pinggulnya,, dengan kepala tertunduk kebawah seakan ingin memastikan sesuatu yang ada diantara tubuh mereka dapat melakukannya tugasnya dengan baik.
“Oooowwwhhhhssss,,,Ughh,,Yaaa,, sedikiiit lagiiii, yeaahhh,,,,” teriak Aryanti.
“Aaaaaakkkhhhhh,,, Dakooo,,,”seketika kepalanya terdongak keatas. Dako tersenyum puas, sesaat tubuh keduanya terdiam saling meresapi kenikmatan yang tengah terjadi.
“Aryantiiii,,,” gumam Arga lirih, saat mendengar bibir istrinya yang memproklamirkan kenikmatan dari batang yang berhasil masuk kedalam kemaluannya.
Arga merasa benar-benar kacau, disaat hatinya begitu sakit, penisnya justru mengeras dengan sempurna.
“Akhirnya kau berhasil menempatkan senjatamu dikemaluanku, kau telah mendapatkan tubuhku,” bisik Aryanti, kedua telapak tangannya mengelusi wajah Dako dengan penuh birahi.
“Bukankah kau memang menginginkan ini, sebuah petualangan yang panas,” balas Dako, tangannya tidak lagi memegangi selimut yang menutupi tubuh mereka, telah masuk ke balik kaos Aryanti, merabai punuk, punggung, pinggul hingga pantat Aryanti, meresapi dengan sepenuh hati keindahan dan kemulusan kulit pegawai bank swasta tersebut.
“Aku juga pernah mendengar dari Arga, vaginamu memiliki kemampuan yang jarang dimiliki oleh wanita lain, jika kau tidak keberatan aku ingin sedikit merasakannya,”
Kening Aryanti berkerut tidak mengerti. Pinggulnya mulai bergerak. “Bukan,, bukan itu yang kumaksud,” sergah Dako cepat, seraya menahan pinggul Aryanti.
“Lalu,,,” Aryanti semakin, bingung, namun dinding vaginanya berkedut setelah merasakan pergesekan dua kulit kemaluan, otot vaginanya berkontraksi. “Yaa,, terusss,,, Aaahhh,,, empotan ini yang membuatku penasaran selama iniii,,,”
“Hahahahahaaa,, berarti kau sudah lama ingin mencicipi tubuhkuuu,, sekarang nikmatilah sepuasssmuuu,,, eeeemmhhhh,,,” Aryanti tersenyum genit, tubuhnya tak bergerak, tapi otot vaginanya membetot erat batang Dako,, melonggar,, dan kembali mencengkram dengan kuat, membuat Dako mendesah nikmat. “Oooowwwhhhh,,, gilaaaa,,,”

Kini selimut itu hanya menutupi bagian bawah tubuh mereka. Sesekali kepala Aryanti menoleh ke arah Pak Prabu dan memainkan lidahnya dengan nakal, menggoda pria yang hanya bisa memegangi penisnya sendiri.
“Baiklah, aku menyerah, permainan usai, boleh aku bergabung dengan salah satu dari kalian,” Pak Prabu berdiri dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Penisnya yang hitam besar dengan congkak menantang ke depan. Namun harapannya pudar saat melihat Aryanti yang begitu erat menempel ketubuh Dako, kembali bergerak liar, mengacuhkan semua yang ada disitu, Dako sendiri tampak kewalahan dengan hentakan tubuh Aryanti yang bergerak cepat. Tak ada lagi rasa malu pada wanita itu. Yang ada hanya bagaimana cara untuk mendapatkan orgasme ternikmat yang bisa diberikan oleh penis selain milik suaminya. Kini harapan Pak Prabu hanya pada Andini, yang juga tak lagi mampu mengontrol birahinya, pinggulnya bergerak maju mundur, bermain-main dengan penis Munaf yang sesekali membuatnya berteriak nikmat. Dengan nakal Andini mengangkat tangannya dan dengan telunjuknya memberi tanda larangan. Bibirnya masih tersenyum dengan selangkangan yang kembali bergoyang mengiringi semua kehendak Munaf.
”Muungkiiin,, Andiniii bisaa membantu Baapaak,” suara Aryanti tersengal-sengal.
”Aaahh,, kenapa dilepaaasss,” rengek Aryanti tiba-tiba saat Dako mengangkat tubuhnya hingga batang yang memenuhi rongga vaginanya terlepas.
”Kenapa kau bisa begitu pelit dengan bos dari suamimu, berilah dia sedikit tontonan mungkin itu bisa sedikit membantunya.”
“Yup,, sekarang saatnya show,” teriak Dako dan seketika melempar selimut yang menutupi tubuh mereka.
Dan tampaklah tubuh Aryanti yang berjongkok di atas kedua paha Dako, memamerkan vagina yang menganga basah, berhadapan dengan penis Dako yang dipenuhi lendir senggama Aryanti
”Kyaaaaaaa,,,” Aryanti berusaha meloncat, dan mengambil selimut yang terlempar ke arah Pak Prabu.
Namun Dako sudah lebih siap dan menekuk tubuhnya, hal ini justru membuat penisnya tertanam semakin dalam dan seakan mengunci tubuh Aryanti.
”Hahahahaaa gilaaaa kauu Dakoooo,, Aku maaluuu tauuu,,, punyaku lebaaat kaya giniii,” jerit yang diselingi suara tawa Aryanti memenuhi ruangan yang penuh aura birahi.
Sambil menutupi kedua wajahnya Aryanti mencoba menutup kedua lututnya, dari sela jemarinya Aryanti mengintip Pak Prabu yang melongo memandang tubuhnya penuh rasa kagum. Sepasang paha yang begitu mulus berujung pada selangkangan yang merekah dengan rambut kemaluan yang rimbun. Sementara pintu vaginanya terbuka lebar seakan ingin melahap batang kokoh yang ada di depannya.
”Whuaahhaaha,,, Dakooo,,,” lagi-lagi Aryanti dibuat terpekik dan tertawa setelah kedua pahanya di angkat ke atas dan terbuka lebar, membuat Pak Prabu sekilas dapat dengan jelas melihat setiap sisi pintu vagina yang mengkilat.
Kini hanya kaos longgar yang menutupi bagian atas tubuhnya, sementara bagian bawah tubuhnya terpampang di hadapan dua pria perkasa, dengan selangkangan yang terbuka lebar, seakan pasrah menerima setiap hujaman penis. Sungguh dirinya merasa sangat malu, belum pernah seumur hidupnya tubuh indahnya dapat dinikmati dengan bebas oleh para lelaki, tapi ini terlalu menantang untuk dilewatkan.

Darahnya berdesir, terbesit dalam hati untuk membiarkan tubuhnya dinikmati oleh mereka secara bersamaan, seperti yang ada diotak liarnya selama ini. Dan kini salah satu penis telah berada dalam tubuhnya, mungkinkah dirinya memohon penis yang telah siaga didepannya untuk ambil bagian masuk ke dalam lorong tubuhnya yang lain. Namun Aryanti teralalu malu untuk meminta itu, tapi jika tidak sekarang, kapan lagi dirinya bisa mewujudkan keinginan liarnya.
“Apakaah kau bisa membuatnya semakin bergairah dengan aksi nakal mu?,,,” bisik Dako menggoda Aryanti.
Aryanti menarik tangannya, membiarkan vaginanya terekspos bebas, lalu kedua tangannya menarik setiap sisi pintu vaginanya, hingga lorong gelap yang mengalirkan cairan dapat terlihat oleh mata Pak Prabu.
“Batang bapak ingin dilumat seperti ini?,,, Oooowwwhhhh,,,,” dengan sangat perlahan kemaluan Aryanti yang terpapar melahap batang Dako,, sangat perlahan, seakan sangat menikmati setiap inci gesekan kulit kedua kelamin.
”Uuuhhh,,,” bibirnya melenguh saat batang Dako tiba-tiba menghentak.
Wanita yang tengah dipenuhi birahi itu tak mampu lagi untuk berfikir, kini dirinya hanya bisa pasrah menerima perlakuan Dako yang juga tersulut aksi nakalnya. Aryanti memandang wajah Pak Prabu dengan nafas terengah, bersahutan dengan suara kecipak kemaluan yang basah. Andaipun Pak Prabu ingin ambil bagian atas tubuhnya, Aryanti tak yakin dirinya mampu menolak.
”Yeeaaaahhhh,,,, aaaggrrhh,,,” Suara Munaf melengking, tubuhnya bergetar hebat, memeluk gadis yang menelan penisnya disela selangkangan dengan erat. Jemarinya dengan kuat meremas payudara yang ada di genggaman seakan menjadi pelarian dari rasa nikmat yang dirasakan seluruh tubuhnya.
Namun tidak begitu halnya dengan Andini yang masih sibuk mengejar orgasme. Pantatnya masih bergerak, menggesek dan menghentak batang yang ada didalam tubuhnya, berharap penis itu dapat menghantarkan kenikmatan serupa. Namun batang itu mulai mengecil sang empunya pun hanya dapat tersenyum kecut mengakui kekalahannya. Melihat peluang itu, Pak Prabu dengan cepat menarik tubuh Andini dari pangkuan Munaf. Tak pernah terpikir olehnya jika kini dirinya dapat menikmati tubuh dari istri keponakannya. Tanpa diminta Andini yang dibaringkan di atas karpet lantai, membuka selangkangannya selebar mungkin, memberi tempat kepada tubuh pak Prabu yang terbilang besar, agar dapat menempatkan pinggulnya didepan selangkangannya yang terus berkedut minta diisi, berusaha memberikan akses seluas-luasnya kepada batang besar yang menghitam dan penuh dengan rambut yang mengelilingi. Namun tetap saja penis itu agak kesulitan menerobos lubang yang terbiasa dengan batang yang memiliki diameter lebih kecil.
“Uuugghhh,, tekan aja om, punya Dini bisa nelen punya om koq,,” suara Andini merintih. Gadis itu tau jika lelaki yang ingin menikmati tubuhnya ini tak ingin menyakitinya.
Tapi Andini sangat yakin jika vagina mungilnya mampu menampung seluruh diameter batang itu. Seperti saat Arga menghujamkan batangnya dikolam renang, meski sangat sulit akhirnya lelaki itu dapat bersemayam divaginanya, tepat didepan suaminya.

“Aaaarrrgghhh,,, Ooomm,,,,,eehmmh,,,,” Seluruh tubuhnya bekerjasama, berusaha menyelusupkan penis Pak Prabu jauh kedalam lorong kemaluannya. Pahanya dengan keras menjepit pinggul, tangannya dengan kuat menekan, dan selangkangannya terangkat bergoyang, bibir vaginanya menganga lebar menyambut batang yang begitu susah payah menghadapi otot vagina yang tiba-tiba menjepit saat merasakan sebuah benda menggasak dinding-dinding yang sensitif.
“Bisakan Ooom,, Eeehhh,” tubuh Andini bergetar, bibirnya mengerang penuh birahi saat merasakan batang besar itu akhirnya berhasil menerobos celah sempit yang telah basah oleh sperma Munaf.
“Uuugghh,,” Namun Pinggul montoknya sekali lagi menghentak keatas saat merasakan masih ada bagian dari rongga vaginanya yang kosong dan tentunya batang Pak Prabu masih terlalu panjang untuk lorong vagina Andini yang dangkal.
“Arrggghhhh,,,Adduuuuuuuhhhh,,Aaaaaaahh,,,” jemari kecilnya mencengkram pantat Pak Prabu seiring tubuh yang bergetar hebat menyambut orgasme yang sangat tiba-tiba dan begitu mudah menghampiri syaraf ektasinya.
Pak Prabu tertawa dengan ulah Andini, menikmati batang yang diguyur oleh cairan birahi Andini yang cukup banyak. Sesaat dibiarkannya tubuh sintal itu menikmati orgasmenya.
“Sekarang giliran Om ya,” ucap Pak Prabu sambil menggoyang-goyang batang yang menghujam jauh ke dalam kemaluan Andini.
Sementara gadis yang begitu pasrah ditindih oleh paman dari suaminya itu hanya tersipu malu, dengan malu-malu tangannya merabai tubuh besar yang selama ini memang menghantui fantasi seksualnya.
”Aaauugghh,,, udah mentok om, jangan terlalu dalam, ntar punya dede sakit,” Prabu tersenyum dengan kalimat manja yang begitu saja terlontar.

hilda - toge jilbab (2)
Kedunya melihat ke bawah menyaksikan bagaimana batang besar itu menggasak pintu vagina yang dipaksa menelan batang yang lebih besar dari biasanya. Perlahan Prabu menarik pinggulnya, belum sempat helm besar itu keluar, pinggulnya kembali menghujam jauh ke dalam.
“Ooomm,, gede banget om,,, seperti punya Pak Arga,, Adduuuhh,,Aaahhh,,”
“Arga?,,, apa Arga sudah pernah menyetubuhi mu?,,,”
“Ststsssss,,, jangan kenceng-kenceng, entar kedengeran sama Mba Aryanti,” Andini mengutuki kecorobohannya menyebut nama Arga.
“Hahahaaa,, dasar kau Arga,, jangan-jangan kedua istriku juga sudah kau cicipi,” gumam Pak Prabu. Lalu menghentak batangnya dengan lebih keras dan cepat.
“Ooomm,,, pelan Ooomm,, memek Andini ntar jeboooll,, aaagghhhh,,,” gadis itu meringis menahan perih didinding rahimnya yang digedor-gedor. Apa semua batang besar emang beringas seperti ini, pikir Andini yang kewalahan, berpegangan pada pundak Pak Prabu.

Melihat aksi Pak Prabu, Aryanti menjadi semakin panas, iri melihat kemujuran Andini yang hanya dalam beberapa menit bisa menikmati dua buah batang.
“Aaaggghhhh,,, Dakooo,,, lalkukan apapun yang ingin kaauuu lakukaaaannn,, Aaaahhh,,,”
Wajah Andini memucat, puncak birahi tengah menantang pertahanannya, namun akhirnya harus menyerah dalam lenguhan yang panjang.
“Oooommm,,, Andiniiiii,,, keluaaaaaarrrr,, Aaagghhhh,,,” pangkatnya terangkat tinggi menantang hentakan batang Pak Prabu. “Aaahhh,,, Ahhh,,, ga Kuat lagi Oommm,,” rintih Andini menyerah, vaginanya terasa panas akibat gesekan yang terlalu ketat dan cepat.
“Mbaaa,,,Aaarrr,, tolongin aku mbaaa,,,”
“Aaaaaggghhhh,,, keluaaaar lagiiiii,,,,”
Rintih gadis itu dengan nafas terengah, tak menyangkan orgasme begitu cepat, silih berganti menyapanya, membuat tubuhnya terasa begitu lemas. Sementara Pak Prabu terus saja menghajar vagina mungil itu, semakin bergairah melihat rintihan Andini,”
“Dakooo,,, Aaahhhsss,,, apa kauuu ingiiiin sediiikit berbaaaagi dengan Pak Prabuuuhhhh?,,, aku haaanya ingin membantu gadis itu,” rintih Aryanti.
“Boleh,, tapi setelah aku selesaaaii menikmati vaginamu iniii,,,”
Dako jelas menolak jika kenikmatannya terpotong oleh Pak Prabu.
“Tak perluu takuuuut,,, bahkaaan kau akaaan merasakaaann apa yaaang tidak pernaaahhh diberikaaan istrimuuu Zuraidaaa,,,” jawab Aryanti, lalu melumat bibir Dako dengan ganas.
Ploopp….batang Dako terlepas, tapi belum sempat protes, Aryanti telah menggenggam penisnya, lalu mengarahkan ke pintu belakang.
“Masukkan dengan perlahaan, sayaaang,,” bisik Aryanti dengan nakal.
“Ooowwwhhhh shhhiiiitttt,,,” teriak Dako, saat kepala penisnya perlahan menghilang ditelan pintu anus yang telah lama ingin ikut dihajar.
“Aaaahhh,,, gimaaanaaa,, apa kaauu sukaaa,,aaaahhh,,,”
“Sempiiiitt,,, sempiiit bangeeeett,,, ini nikmaaat bangeeet,, kau nakaaaal Aryantiii,,”
Aryanti terkekeh disela lenguhannya, mendengar pengakuan Dako yang mencengkram pinggulnya Aryanti, agar menghentak lebih kuat.
“Sekarang undanglaaahh Pak Prabuuu untuk bergabuuung,,,”
“Apa kaauu yakinnn,,,”
“sangaaat yakiiinnn,,, akuuu bisaaa meladenii keberingasaaan kaliaaan berduaaa,,,” lenguh Aryanti yang benar-benar terlihat nakal.
“Pak Prabuu,, ada yang menantang kita berdua nihh,,, Apa kau beranii,,” teriak Dako, membuat gerakan Pak Prabu terhenti tepat disaat lenguhan Andini yang kembali mendapatkan orgasmenya.
“Hahaahahaaaa,, aku tak menyangka, jika istri Arga bisa sebinal ini,,,Okkeee,,, Dakoo, kita penuhi tantangan teller Bank cantik ini,” Pak Prabu menjawab sambil tertawa melihat Aryanti menggosok-gosok bibir vaginanya, sesekali menguak pintunya sebagai tantangan pada Pak Prabu. Sementara anusnya membetot batang Dako dengan sempurna. Lelaki paruh baya itu mengecup bibir Andini yang tersenyum lemah, setelah tenaganya dikuras rentetan orgasme, lalu melepaskan batangnya, beranjak menuju kursi Dako dan Aryanti sambil terus mengocok batangnya yang penuh lendir milik Andini.
“Sayaaaang,,, apalagi yang kau inginkaaan,,” tak pernah Arga secemas ini,,, tanpa sadar lelaki itu mencengkram tepian meja dengan begitu kuatnya.

Kini batang besar Pak Prabu telah berada tepat didepan wajah Aryanti.
“Cobalahh dulu dengan bibirmu ini,, bial kau mampu melahapnya, kurasa bibir bawahmupun takkan kesulitan,”
Mata Aryanti tersenyum nakal, jemarinya dengan gemulai meraih batang Pak Prabu dan menariknya ke atas, dengan tenang gadis itu menjulurkan lidah, perlahan mendekat, menyapa kantong zakar Pak Prabu,menyentil-nyentil kedua bola sambil melirik wajah Pak Prabu dengan genit. Lalu perlahan menyisir keatas, menyapu setiap gumpalan lendir putih, hingga akhirnya sampai pada kepala penis yang menyembul disela kulup yang tidak disunat, Aryanti mencengkram batang Pak Prabu dengan kuat sebelum akhirnya kepala penis itu masuk kedalam mulut Aryanti yang panas.
“Aaaaagggghhhhh,,, gilaaaaa,,,Argaaa,,, istrimu benar-benar dahsyaaaaat,,, aaarrgghh,,” Pak Prabu tak tahan melihat ulah Aryanti, lalu mencengkram rambut wanita.
“Nikmatilaaahh,,, rasakanlaaaahh batangkuuu,,,Aaaagghhh,,” Pak Prabu dengan sangat bernafsu menyenggamai mulut Aryanti. Batangnya keluar masuk dengan cepat.
“Gila, ini memang sudah benar-benar gila,” gigi Arga gemeretak menahan amarah, tetapi tangannya bergerak mengurut penisnya yang membatu.
Tak tahan melihat kenikmatan yang diperoleh Pak Prabu, Dako kembali mengangkat pinggul Aryanti, meminta wanita itu kembali bergerak.
“Aaaaggghhhh,,, kau nakal Yaaaan,, bener-bener nakaaal,,,” dengus Dako dengan pantat naik turun menghajar dubur Aryanti. Pantat Aryanti terdiam, pasrah dengan serangan Dako di belakang tubuhnya yang semakin cepat.
“Yaaaantiiii,,, Bapaaak Semprooot yaaann,, telaaaannn,,,Arrrgghhhh,,,”
Sontak wajah Aryanti terkaget, matanya melotot saat tiba-tiba batang besar dalam mulutnya menghambur cairan kental yang panas, memenuhi mulutnya. Tapi bibir Aryanti justru semakin kuat mengatup rapat batang Pak Prabu, seakan tak ingin setetespun keluar dari bibirnya, sesekali meneguk cairan yang memenuhi mulut, mengalir membasahi tenggorokannya, disambung dengan tegukan berikutnya, matanya menatap wajah Pak Prabu yang terengah-engah penuh kepuasan dengan heran.
“Gilaaa,, banyak banget spermanya,” gumam Aryanti yang kini bibirnya berusaha menyedot, memaksa sperma yang tersisa untuk keluar.
“Aaaaarrrgghhhhh,,, Yaaaann,,, aku jugaaa gaa kuaaaat laggiii,,,” Dako menarik turunkan pinggulnya dengan semakin cepat. “Oooowwwgghhhhh,,, Yaaaannn,,,”
Sadar jika Dako juga tengah menghantar orgasme di anusnya, Aryanti menekan pantatnya semakin kebawah, melumat habis batang, membuat Dako semakin kesurupan dan akhirnya memeluk tubuh Aryanti dari belakang dengan kuat seiring spermanya yang mengalir deras. Dengan usil Aryanti memutar-mutar pantatnya, membuat Dako semakin tersika dalam kenikmatan.
“Bajingaaaaann,,,” rutuk Arga saat menyaksikan bagaimana temannya orgasme dengan begitu dahsyatnya didalam tubuh istrinya. Kakinya gemetar.
Sementara lantai di depannya berceceran sperma yang kental… ya sperma Arga yang turut menghambur, seiring teriakan nikmat kedua temannya.
“Aaahhh,, payaahh,, baru segitu aja sudah tepar,,,aku kan belum apa-apaaa,, kalian tak ada apa-apanya dibandingkan keberingasan suamiku di atas ranjang,,” dengus Aryanti, lidahnya masih menjilati lubang kencing Pak Prabu, sementara pantatnya masih bergerak ke depan dan ke belakang, memainkan batang Dako, yang tersandar di kursi menikmati keindahan pantat montok Aryanti yang begitu sensual bergoyang.

Di balik persembunyiannya Arga tersenyum kecut, tapi tetap saja kata-kata Aryanti membuatnya bangga, sedikit mengobati hati yang remuk redam.
“Kenapa cantik,, kesal yaaa?” Ledek Pak Prabu, seraya menarik kaos Aryanti keatas.
“Aku yang kanan!!!,,,”
“Okeee,, Aku yang kiriii,,”
“Oooowwwhhhhsssss,,, kaliaaaannnn iniiii,,,” Aryanti terpekik seketika, kedua payudaranya dimainkan oleh Pak Prabu dan Dako bersamaan, seperti anak kecil yang berebut bakpao besar.
“Heeeiii,,, kenapaa batang kalian masih sangat kerass?,,,” Aryanti terkaget saat menyadari batang besar yang kini mengusap-usap pipinya dan batang yang bersemayam dalam anusnya ternyata masih tetap seperti semula, keras menantang.
“Jangaaann,, jangaaaann,,, owwhhh tidaaak,,, apa kalian jugaa meminum jamu Lik Marni?,,,”
Pak Prabu tertawa, tidak menjawab pertanyaan Aryanti. “Siap untuk pertarungan yang sesungguhnya cantik?,,” wajah Aryanti tiba-tiba sumringah, jantungnya berdetak keras, merinding membayangkan permainan seperti apa lagi yang akan terjadi.
“Dako,, apa kau ingin bertukar tempat?”
“Ohh tidak,,trimakasih,,, aku masih belum puas menikmati pintu belakang ini, lagipula,, Sepertinya Aryanti juga belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Aryanti tersipu malu, dalam fantasi gilanya, hasrat akan permainan seperti ini memang telah lalang merongrong hatinya. Wanita itu membuka kedua kakinya, mempersilahkan Pak Prabu untuk mengambil tempat di antara selangkangannya.
“Ooowwwhhhhsss,,,, batangmu mulaaaaiii membuaaaatss tubuuuhh ku begitu penuhhh Paaak,,,” rintih wanita itu, seiring batang Pak Prabu yang merangsek memaksa masuk lorong vaginanya, bersaing dengan batang Dako yang menjajal lorong anusnya.
“Ooopppsss,,, Shhiiitttt,,, ini benar-benaaar gilaaa,,, adegan seperti ini sering kulihat di videoo,, tapi tidaaak menyangka jika bakal sedahsyat ini,,, bukan begitu Pak Prabu,,? Tangan Dako meremasi payudara Aryanti, matanya terpejam menikmati batangnya yang semakin tergencet di lubang belakang Aryanti.
“Yeeeaaahhhhh,,, ini benar-benar dahsyaaaaat,,,eeeengggghhh,,,tubuhku berhasil melumat batang kaliaaann,, Oooowwwhhhh,,, tidaaaakk,,,”
Tubuh Aryanti bergetar, saat merasakan batang Dako dan Pak Prabu yang bekerjasa, keluar masuk menusuk tubuhnya begitu dalam.
Layaknya dua buah piston yang begitu teratur, bergantian menusuk tubuh basah Aryanti.
“Paaaaakk,,, jaaangaaaaannnn,,,”
Mata Aryanti melotot, berusaha menahan rasa nikmat dari aksi brutal teman-teman suaminya, terlihat jelas bagaimana wanita berkeringat itu menahan orgasme yang menggulung. Yaaa,, Aryanti tidak ingin takluk terlalu cepat dalam himpitan dua tubuh lelaki.
“Aaaaggghhhh,,, Dakooooo,,,, sakiiiiittt,, kau curaaaaang,,,,Emmmmhhhh,,, ”
Aryanti merintih tertahan merasakan putingnya yang digigit oleh Dako, tapi justru karena itulah Aryanti menuai orgasme.
“Hahahahahaa,,, bagaimana sekarang?,,,” tanya Dako, tangannya seakan tak puas terus meremasi payudara Aryanti.
“Sepertinya dia memang kewalahan meladeni kita,, Hahahaa,,,” timpal Pak Prabu, melepaskan batangnya dari jepitan Aryanti.

“Hehehehehee,, jangan bercanda, posisi kita semua sekarang adalah sama, 1-1,,,” jawab Aryanti terengah-engah, Aryanti menarik leher Pak Prabu mendekat, lalu melumat bibir atasannya itu dengan liar.
“Eeeemmmppphhhh,,,, masukkan kembali batangmu ketubuhhh kuuuu,,, Aaaahhh,,, yaaa,, aaakuuu beluuumm,,, menyeraaaahh,,”
Tubuh Aryanti kembali terhempas, kakinya yang menopang tubuh gemetar, terombang-ambing di antara dua serangan pejantan. Mulutnya bergantian meladeni permainan lidah Dako dan Pak Prabu. Hingga beberapa menit selanjutnya Dako berteriak frustasi. Hidung Dako terbenam di ketiak Aryanti membaui aroma wangi keringat dari tubuh istri Arga itu, tapi justru membuat pertahanannya semakin melemah, tak mampu lagi menahan kenikmatan yang ditawarkan anus Aryanti.
“Siaaaalll,,, akuuu ga kuaaaat lagiiii,,,”
Pak Prabu pun tak jauh berbeda, hidungnya mendengus liar dengan mulut tersumpal jari-jari kaki Aryanti yang dijilatinya. Tanganya memeluk dan mengelusi sekujur batang paha yang mulus, sementara pantatnya seakan tak terkendali merojok kemaluan Aryanti, “Shhiaaaaalllhhhh,,,,” Pekik Pak Prabu tak jelas. Kondisi Aryanti yang lebih tragis, harus menggigit bibirnya coba mengenyahkan rasa nikmat, orgasme dapat menyapanya kapan saja. Menaklukkan kejantanan kedua pejantan itu adalah tekadnya, tapi tubuhnya berkata lain.
“AAAAGGGGHHHH,,,, TUUUSSSUUK YAAAANG DAAAAALAAAAAMMM,,,”
“AAAAKUUU MENYEEERAAAAAHHH,,, OOOWWWHHHHSSS,,,,, EEMMMHHHH,,,”
“UUUGGGHHHH,,, GILAAAAA KAAMUUUU YAAAAAANNNN,,,,GIILAAAASSSHHH”
Ketiga anak manusia itu menjerit bersamaan, menjepit tubuh mulus yang berkelojotan, bermili-mili sperma menghambur ke dalam tubuh si betina yang terus menjerit histeris dengan orgasme yang paling gila, yang pernah dirasakan oleh tubuhnya. Hingga tak ada lagi kata-kata yang keluar, hanya dengus nafas yang berebut mencari oksigen. Sesekali pinggul kedua pejantan masih bergerak mengejan, berusaha menyerahkan tetes sperma yang tersisa kedalam tubuh milik wanita cantik yang, terengah-engah sambil tersenyum penuh rasa puas. Jantung Arga seakan berhenti berdetak, kakinya serasa lumpuh, Wanita yang begitu berati dalam hidupnya, saat ini tampak bercucuran berkeringat, membisu dalam genangan lendir para pejantan. Tiba-tiba mata Arga menangkap kelebat bayangan dari jendela, bayangan yang tercipta oleh cahaya lampu luar yang menunjukkan keberadaan seseorang juga mengintip kejadian itu. Perlahan berjalan menjauh menuju tepian pantai.
“Siapa pula itu,,,” gumam Arga penuh curiga dan rasa was-was, takut bila pemilik bayangan itu adalah juga seorang pejantan, dan nantinya menagih hal yang sama kepada istrinya.
Arga menarik nafas panjang, menguatkan hati, baginya tak ada lagi yang harus dibuktikan. Mengendap-endap di kegelapan meninggalkan pergumulan panas Aryanti, berusaha menuju pintu dengan kaki gemetar.
“Aku rasa tubuhmu masih mampu untuk menahan beberapa serangan lagi,,”
Sebelum menghilang dibalik pintu, Arga kembali menoleh ke belakang, tampak Aryanti tersenyum lemas, tubuhnya terhuyung saat Munaf membaringkannya ke atas meja. Sementara di atas karpet lantai, Andini tersenyum pucat saat Pak Prabu dan Dako menghampirinya. Mata Arga menyapu pantai yang gelap. Sesekali mencoba mengatur nafas untuk meredakan emosi di hati, marah, kecewa, sedih, dan gelora birahi membaur di dada yang masih bergemuruh. Tertatih dalam samar cahaya bulan yang dilumat oleh awan mendung.

“Wajar saja Adit sampai pingsan,,” gumamnya sambil tertawa lirih. Teringat bagaimana ia menyenggamai istri Adit yang belia dengan penuh nafsu tepat di hadapan lelaki itu.
Meski Arga telah mencicipi beberapa wanita di petualangan pantai itu, tapi ternyata hatinya juga belum siap untuk menerima perlakuan yang sama atas istrinya. Begitupun saat birahi menyeruak dihatinya ketika menyaksikan pergumulan Aryanti, namun hatinya tetap saja terasa sakit saat melihat teman-temannya yang tertawa terbahak sambil menghamburkan sperma dan memenuhi kemaluan istrinya.
“Aryanti hanya sedang mabuk,,,” bisik Arga sambil berusaha tersenyum. Mencoba menguatkan hati, Kepalanya terdongak mencoba mengisi penuh rongga paru dengan udara pantai. Lalu menghembus dengan pelan.
“Argaaa,,,”
Deg!!!,,,
“Siapa?,,,” Arga menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya menyipit mencoba mencari tau saat mendapati sosok yang duduk bersandar pada sebuah pohon kelapa, yang baru tumbuh sepanjang tiga meter.
“aku,, Zuraida,,” suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar tergulung suara ombak.
“Heehh?,, Zuraida,, lagi ngapain disitu”
Arga mendekat, menghempas pantatnya di atas pasir, di samping dokter muda itu.
“Sebenarnya apa yang ada dibenak para lelaki, saat mendapati wanita yang mungkin saja dapat ditaklukkannya?,,,” tanya Zuraida lirih.
Arga mencoba mengamati wajah Zuraida namun tak terbaca di kegelapan.
“Apa kau juga melihat kejadian tadi?,,,” Arga justru balik bertanya. Mencoba menerka-nerka suasana hati istri temannya itu. Mungkin kondisinya juga tak berbeda jauh dengan dirinya.
“Yaa,, aku melihat semuanya,,,”
“Apa sih sebenarnya yang kalian rencanakan dalam liburan ini,,, kalian,, kaliaan,, begitu berbeda dengan keseharian yang kukenal,, begitupun Dako, suamiku, tidak biasanya dia meminta ini itu kepadaku,,”
DEGG!!!,,, Arga bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Zuraida, menatap lekat wajah bening yang menerima sinar rembulan, yang perlahan terbebas dari gulungan awan.
“Cantik,,” gumam lelaki yang tengah terluka itu, pesona keanggunan Zuraida, perlahan mengenyahkan perih hati.
Mata Arga mengaggumi lekukan dagu yang menjutai di bawah bibir yang mungil, menyusuri garis hidung mancung yang bertaut pada mata yang memiliki tatapan tajam, bulu mata lentik seakan semakin menyempurnakan kecantikan yang dimiliki seorang Cut Zuraida. Zuraida menoleh saat merasa dirinya terus diamati lelaki disampingnya, mendapati mata Arga yang penuh rasa kagum akan kecantikannya. Perlahan bulir air mata menggenang di pelupuk, menciptakan kilatan kecil yang mendayu.

“Apa kau ingin membalas ulah suamiku, atas istrimu?,,,” tanya Zuraida seiring air mata yang mengalir tak terbendung.
Arga terkaget dengan ucapan Zuraida, dan semakin kaget saat wanita itu dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas pasir, menarik turun risluiting sweater yang melindungi tubuhnya dari sergapan angin pantai. Arga menahan nafas ketika jemari lentik yang gemetar, dengan rasa takut wanita anggun itu menarik bagian bawah kaosnya ke atas, perlahan memapar perut yang rata dan mulus, terus naik keatas hingga tiba pada sepasang payudara yang didekap bra merah muda. Payudara yang kencang meski pemiliknya tengah berbaring, sedikit lebih kecil dari milik Aryanti. Tapi gumpalannya begitu sempurna. Wajah Zuraida menoleh menjauhi tatapan Arga, menatap gulungan ombak dengan tatapan kosong.
“Lakukankanlah, untuk memuaskan hasrat lelakimu,,, puaskan sakit hatimu pada suamiku,,, lalu anggaplah semua tidak pernah terjadi,” bibir Zuraida gemetar bergerak mengucap kata, dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Mata Arga melotot mendengar tawaran Zuraida yang pasrah, tubuh dan kecantikan wanita itu begitu sempurna di mata Arga. Aryanti memang cantik, tapi Zuraida memiliki keanggunan seorang wanita yang tidak dimiliki istrinya. Tangan Arga terkepal erat menahan birahi, tubuh itu, yaa tubuh itu telah menawarkan diri untuk dinikmati.
“Tutuplah tubuhmu,,, dan bangunlah,,, udara pantai terlalu dingin dan keras untuk tubuh indahmu,,”
JLEGG!!!….
“Juancuuk kau Argaaa,,,menolak tubuh seindah itu,,” setan dihati Arga menyumpah atas kata-kata yang mengalir dari bibir lelaki itu.

hilda - toge jilbab (1)
Arga benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkannya, sejak kapan ia menjadi seorang idiot seperti ini. Kecantikan Zuraida dan misteri keindahan tubuhnya yang bertahun-tahun menjadi fantasi, tersia-sia oleh ego kepahlawanannya.
“Ternyata benar,, kau memang berbeda,,tidak seperti mereka,,,” ucap Zuraida yang tergopoh bangun dan menutupi tubuhnya. Wajahnya memerah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya, seorang wanita baik-baik dengan pasrah menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati lelaki lain.
“Berbeda bagaimana?” Arga terkekeh mendengar kata-kata Zuraida, tak taukah wanita itu jika dirinya juga petualang birahi, bahkan sebelum menikah dirinya pernah membeli perawan seorang gadis kelas satu SMP hanya untuk memenuhi rasa penasaran.
“Yaa,, kau berbeda, saat teman-temanmu berlomba menggoda diriku di pantai ini, bahkan beberapa kali mencolek beberapa bagian tubuhku dengan alasan tak sengaja, tapi kau,,, justru lebih suka menyendiri. Tak mempedulikan aku dan wanita-wanita di sekelilingmu. Kau hanya peduli pada istrimu.

“Wuedaaaann,, kau salah Zuraida,,, di pantai ini justru akulah yang pertama kali menghambur sperma ke tubuh istri temanku,,” teriak hati Arga, namun tak berani terucap.
“Itu karena kau juga berbeda dari wanita lainnya,, kau begitu anggun, begitu sempurna di mataku,,,harus kuakui aku sangat mengagumi,”
Kata-kata Arga mengagetkan Zuraida, menatap wajah lelaki itu dengan hati tak menentu.
“Terimakasih karena sudah mengagumiku,,” ucap Zuraida dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang dingin membeku. “Tapi aku takkan mengulangi kebodohan diriku tadi, salahmu tak memanfaatkan kesempatan,, hehehe,,,”
Srsrsrrrrtttt… Zuraida menarik resluiting sweaternya, menutup rapat tubuhnya dari sergapan angin pantai yang dingin.
Arga tersenyum kecut, “Ingat ya cantik, Aku tak menyesal koq,, karena aku ingin terus mengaggumi,, maka tetap seperti ini,” ucap Arga seraya mengusap pipi Zuraida.
“Gombaaalll,,, baru kali aku mendengar kau menggombaaal,,hahahaa,,,” Zuraida tertawa melihat gaya Arga, tapi hatinya berdebar tak karuan, ada desir dihati yang telah lama tak dirasakannya.
“Hahahahaaa,,,” Arga ikut tertawa, sepertinya kedua insan itu sepakat untuk mengenyahkan sakit hati mereka terhadap pasangan masing-masing.
“Ayolah kita kembali,,, udara disini terlalu dingin untukmu, cantik,” ucap Arga, lalu beranjak, membersihkan celananya dari pasir.
“Arga,, tunggu,,” Zuraida menahan tangan Arga agar kembali duduk.
Sesaat Arga menatap mata Zuraida yang begitu dekat dengan wajahnya, menatap sendu, ada getar dari mata indah itu, yang tak bisa diartikan oleh Arga. Tanpa diduga bibir mungil Zuraida terbuka, mendekat, mengecup bibir Arga dengan lembut. Arga tersentak, bibir itu begitu lembut dan hangat.
“Boleh minta lagi?,,”
Zuraida tersipu malu, menunduk layaknya gadis belia yang baru mengenal cinta.
“Boleh?,,,” tanya Arga kembali sambil mengangkat dagu Zuraida.
Dada Zuraida berdetak cepat saat dagunya mengangguk, memberi izin pada Arga untuk menjamah bibirnya. Lalu terpejam ketika bibir Arga mengatup bibir bawahnya, melumat lembut, menyapu bibir nya denga lidah yang basah, perlahan masuk menyelusup mencari lidah Zuraida.
“Eeemmmpphhhh,, Ghhaaa,,” Zuraida melenguh saat lidah mereka bertaut, membelit, menghisap, bertukar ludah dengan penuh hasrat.
“Eeeengghhhh,,,Argaaaa,,,uuuhhhh,,,” Kepala Zuraida terbenam dileher Arga, seakan tak percaya dengan apa yang diperbuatnya, jemarinya yang lentik, menuntun tangan Arga memasuki sweater dan kaosnya, terus masuk hingga jemari kekar itu menangkup payudaranya. “Oooooowwwsssshhhhh,,,,,eemmmpphhhh,,,”
Zuraida semakin tak percaya, ketika naluri memaksa tangan kirinya menarik tubuh Arga untuk menindih tubuhnya yang perlahan menjatuhkan diri kepasir yang putih.
“Gaaa,,”
“Iyaaa cantik,,”
Sesaat hening, Zuraida bingung untuk berkata apa, saat mata mereka saling menatap,, sementara jari-jari kanan Arga tengah berusaha menyelusup ke dalam bra, untuk mendapatkan puting yang telah mengeras.
“Ooowwhhh,, Aaakuuu menyukaaaimuu sejaak duluuu,, kenapa kauu membiarkaan Dakoo memilikiku Gaaa,,” rintih Zuraida sambil menikmati kemahiran jari-jari Arga yang berhasil mendapatkan putingnya.
Tiba-tiba Arga menghentikan aksinya, menarik tangannya keluar, lalu mengecup bibir Zuraida dengan sangat lembut.
“Suatu saat kau akan tau dan mengerti, dan tetaplah menjadi bintang yang tak terjangkau oleh tanganku yang kotor, agar aku bisa terus mengaggumi,” ucap Arga sambil tersenyum, mendamaikan.
“jangan berharap terlalu besar Ga,, Aku tidak seindah yang bayangkan,,” jawab Zuraida, telapak tangannya yang lembut mengusapi pipi Arga penuh rasa sayang.
“Sini,, masuklah dalam pelukanku,,, aku ingin tidur sambil memeluk wanita yang kukagumi,,”
“Tidur? Disini? Di pantai ini?,,,”
Arga mengangguk pasti, disambut senyum Zuraida yang beringsut masuk dalam pelukan Arga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s