ASMARANI

Lebih dari 15 menit berdiri, antrian di depanku masih panjang juga. Padahal aku hanya akan membeli tiket film yang kuyakin tak banyak orang akan membeli. Film berjudul panjang ‘What They Don’t Talk About When They Talk Bout Love’, tak seperti kebanyakan orang yang akan membeli tiket Iron Man 3. Bosan memperhatikan antrian, aku mengutak-atik smartphone-ku, mencari tahu ada berita apa di timeline Twitter. Samar terdengar percakapan di telepon dari pemuda di belakangku.

fatifa asmarani

“Iya, datang sendiri… dan jangan coba-coba lapor polisi!”

“…”

“Aku masih mau nonton film. Nanti malam saja. Jam sepuluh, bagaimana?”
“…”

“Hmm, begitu ya? Oke, di parkiran lantai delapan kalau gitu. Sebentar lagi aku ke sana. Ingat, jangan coba-coba menjebakku!” ujarnya setengah berbisik. Lirih.

Aku sempat menoleh untuk melihat seperti apa pemuda yang bercakap lirih itu. Rupanya seumuran denganku, berpenampilan necis dengan gaya rambut trendi. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya tampak gelisah. Sempat kucuri pandang saat dia beberapa kali melihat jam tangan.

Ketika antrian di depanku sudah menyusut dan aku tinggal sejengkal dari meja ticketing, tiba-tiba pemuda itu meninggalkan antrian. Batinku bergejolak, antara tetap di sini atau membuntutinya. Setelah antrian di depanku benar-benar habis, aku melangkah mantap meninggalkan bioskop dan mengikutinya menuju parkiran. Kupercepat langkahku menuju lantai delapan. Sampai di sana, aku menjelajahi sudut demi sudut, mencari di mana sosok dirinya. Ketika hampir putus asa, terdengar suara jeritan perempuan tak jauh dari tempatku berdiri. Segera aku berlari ke arah suara itu.

fatifa asmarani (2)

Di belakang sebuah van, kulihat seorang gadis sedang diancam oleh seorang pemuda. Pemuda yang tadi. Dan gadis itu adalah… Asmarani Setiana Dewi. Ya Tuhan, tidak mungkin. Aku menatap tak percaya. Tapi memang benar, gadis disana itu adalah Asmarani Setiana Dewi.

Dari tempatku mengintip, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun aku bisa menebak kalau si pemuda sedang mengancam Asmarani, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto dan menunjukkan pada Asmarani.

Asmarani melihatnya dan langsung terkesiap. Seperti tidak menyangka kalau akan melihat gambar-gambar itu. Tidak bisa kulihat foto apa itu, namun bisa kutebak kalau itu adalah foto-foto pribadi yang tidak seharusnya muncul ke publik.

Aku berjalan mendekat, ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini jarakku hanya dua mobil dari mereka.

iffa-jilbabsemok (1)

”Pram, apa-apaan ini?! Darimana barang ini kau dapatkan?” tanya Asmarani dengan suara tegang.

”Itu tidak penting.” jawab pemuda yang ternyata bernama Pram.

”Jangan kurang ajar ya, cepat serahkan padaku!” kata Asmarani ketus, jilbab lebarnya yang sebatas perut tampak melambai-lambai karena tertiup angin.

”Eh, tidak semudah itu. Ada syaratnya,” jawab Pram kalem, tahu kalau ia memegang kendali permainan ini.

”Kamu mau uang? Sebutkan berapa, aku bayar sekarang!” tantang Asmarani tak sabar.

”Oo… nggak, nggak. Aku tidak serendah itu. Uang tidak aku butuhkan, aku  cuma minta…” Pram tidak meneruskan perkataannya.

”Apa, cepat katakan!” kata Asmarani dengan ketus. Meski berusaha untuk tegar, namun perasan aneh mulai menjalari tubuh sintalnya disertai dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras. Dalam hati ia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Pram.

Pram maju selangkah dan tiba-tiba tangannya bergerak meremas payudara bulat milik Asmarani.

“Hei! Jangan kurang ajar ya!” bentak Asmarani sambil langsung menepis tangan itu dan mendorong tubuh Pram menjauh. “Bangsat… berani sekali kamu!!” Asmarani  menghardik dengan marah.

fatifa asmarani (1)

Pram tersenyum dan melambai-lambaikan setumpuk foto yang ada di tangannya. “Ayolah, aku tahu kamu bisa berpikir jernih. Coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini tersebar ke media. Gimana nanti tanggapan orang tentang kamu?!” kata Pram disusul gelak tawanya yang menjengkelkan.

Asmarani tertegun, pikirannya kalut. Tiada pilihan baginya selain mengikuti kemauan Pram. Kalau foto-foto itu sampai tersebar, imej-nya sebagai artis anggun yang berjilbab pasti akan hancur. Bahkan bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

Pram kembali mendekatinya dan meraba pundaknya, “Gimana? Aku yakin kamu bisa memilih mana yang terbaik.” katanya sambil membelai lembut jilbab Asmarani yang melambai.

iffa-jilbabsemok (2)

Kulihat Asmarani tampak masih berpikir-pikir. Namun setelah beberapa saat, ia  akhirnya mengangguk meski masih dengan berat hati. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Pram menyeringai penuh kemenangan.

“Hahaha… kamu memang pintar!” kata Pram dan tanpa sungkan-sungkan lagi langsung memeluk tubuh sintal Asmarani. Tangannya dengan gesit menggerayang untuk meremas-remas payudara Asmarani dari luar baju kurungnya. Tak cuma itu, Pram juga mulai menciumi Asmarani, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulut gadis cantik itu.

Asmarani tampak geli, jijik dan juga nikmat saat menerimanya. Semuanya bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahi yang entah berasal dari mana tiba-tiba saja mulai naik menyelubungi tubuh sintalnya.

Pram kini semakin berani dengan menyusupkan salah satu tangannya ke balik kaos lengan panjang yang dipakai oleh Asmarani. Tangan itu terus bergerak hingga sampai di atas gundukan payudara Asmarani. Pram berhenti disana dan mulai meremas-remasnya sebentar sebelum ia kembali menyusupkan tangan ke balik beha mungil Asmarani.

Tampak nafas Asmarani jadi semakin memburu ketika tangan Pram dengan begitu kasarnya mulai menggerayangi buah dadanya. Ditambah jari-jari Pram yang turut mempermainkan putingnya, maka makin lengkaplah penderitaan yang ia terima. Di atas, Pram juga terus aktif mempermainkan lidahnya, melumat habis bibir tipis Asmarani hingga air liurnya menetes-netes di pinggiran mulut.

”Ahh… j-jangan!” Asmarani melenguh, namun sama sekali tidak bisa menolak. Kini Pram sudah membuka resleting rok panjangnya sambil meraba-raba kulit pahanya yang putih jenjang. Satu-persatu kancing baju Asmarani juga dipreteli oleh laki-laki itu hingga nampaklah BH Asmarani yang berwarna merah muda, juga belahan dada dan perut Asmarani yang nampak mulus dan rata.

iffa-jilbabsemok (3)

Melihat semua itu, Pram terlihat semakin bernafsu. Dengan kasar ia menarik turun BH Asmarani hingga menyembullah payudara Asmarani yang montok dengan sepasang puting merah tua yang sangat mengggiurkan.

”Wow, ternyata lebih indah dari yang di foto!” kata Pram suka. Dibentangkannya lebar-lebar kedua kaki Asmarani, tangannya yang semula mengelus-elus paha Asmarani, kini mulai merambat naik ke selangkangan. Jari-jari besarnya dengan nakal menyelinap ke pinggiran celana dalam Asmarani dan mengelus lembut disana.

Asmarani terlihat muak dengan semua yang diterimanya, namun terlihat tidak berdaya untuk melawan. Matanya terpejam sementara dari mulutnya keluar desahan pasrah untuk yang terakhir kali, “Eeemhh… uhh… s-sudah… jangan… tolong hentikan… aku mohon!”

Namun Pram sama sekali tidak menghiraukan, dia malah merapatkan tubuh Asmarani pada bagian belakang mobil van. Yang tidak diketahui oleh Asmarani  adalah, Pram ternyata pintar membangkitkan nafsunya. Sapuan-sapuan lidah pemuda itu pada putingnya perlahan namun pasti mulai membuat Asmarani gelagapan. Yang terutama terlihat adalah puting Asmarani yang sekarang tampak semakin mengeras saja.

Tangan Pram juga mulai menyelinap ke balik celana dalam Asmarani untuk mengusap-usap permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat menggiurkan. Dari tempatku berdiri bisa kulihat betapa rimbun rambut keriting itu.

“Sshh… eemhh…” Asmarani mulai meracau saat jari-jari tangan Pram perlahan memasuki lubang vaginanya dan memainkan klistorisnya, sementara mulut pemuda itu tiada henti-henti mencumbu bulatan payudaranya. Mau atau tidak, diperlakukan terus seperti itu membuat Asmarani mulai terbawa nikmat.

“Hehehe… kamu mulai terangsang ya?” ejek Pram dekat telinga Asmarani.

iffa-jilbabsemok (4)

Sebelum Asmarani sempat untuk menjawab, tiba-tiba saja Pram dengan kasar menarik lepas celana dalamnya sehingga yang tersisa di tubuh Asmarani sekarang hanya baju lengan panjang dan jilbab lebar yang masih menutupi kepala dan rambutnya. Sedangkan BH-nya sudah terangkat, memperlihatkan sepasang payudara milik Asmarani yang begitu putih dan mulus.

Pram menunduk, dibentangkannya kedua paha Asmarani di depan wajahnya. Tanpa aba-aba, ia kemudian membenamkan wajah pada selangkangan Asmarani. Dengan penuh nafsu ia melahap dan menyedot-nyedot vagina Asmarani hingga menjadi begitu basah. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitoris gadis itu. Sesekali Pram juga mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anus Asmarani. Perlakuannya itu membuat tubuh Asmarani menggelinjang-gelinjang dengan diiringi oleh desahan nikmat.

iffa-jilbabsemok (11)

Tidak lama Pram melakukannya. Saat dirasa vagina sempit Asmarani sudah mulai basah, iapun berhenti. Ditariknya dua jari tangan yang sedari tadi mengorek-ngorek liang senggama dan diberikannya pada Asmarani, disuruhnya gadis itu untuk membersihkannya. Meski jijik, dengan terpaksa Asmarani melakukannya. Dijilatinya jari-jari Pram yang penuh belepotan oleh cairan cintanya.

“Nah, sekarang giliran kamu untuk merasakan kontolku!” kata Pram sambil mendorong tubuh Asmarani hingga jatuh ke lantai parkiran yang dingin. Disana, Asmarani meringkuk tanpa daya, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang terbuka disana-sini. Sambil menyeringai, Pram mulai melepaskan celana. Dalam waktu singkat, tampaklah oleh Asmarani kemaluan Pram yang sudah menegang sedari tadi. Ukurannya lumayan besar juga, dengan dihiasi bulu-bulu keriting yang mencuat tak beraturan disana-sini.

Pram kemudian maju ke wajah Asmarani dan menyodorkan penisnya. Asmarani tanpa perlu disuruh dua kali segera mengocok dan mengemut penis itu. Pada awalnya ia terlihat hampir muntah, namun Pram dengan gesit menahan kepala Asmarani hingga gadis itu tidak dapat melepaskan kulumannya.

iffa-jilbabsemok (5)

“Yah gitu… hisap yang kuat, jangan cuma dimasukin mulut aja!” dengus Pram sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulut Asmarani.

Aku yang melihat dari jauh jadi ikut terangsang juga. Kubayangkan seandainya penisku yang sedang dihisap oleh Asmarani disana, uh betapa nikmatnya. Sambil terus menonton, kukeluarkan penisku dari sela-sela restleting dan mulai mengocoknya pelan. Aku onani!

Selama 5 menit Asmarani mengkaraoke Pram sebelum pemuda itu mengakhirinya dengan menarik kepala Asmarani menjauh. Setelah itu dibaringkannya tubuh Asmarani di lantai dan membuka lebar-lebar kedua paha gadis itu. Pram lalu berlutut di antaranya. Asmarani terlihat memejamkan mata, tak sanggup menerima pemerkosaan atas dirinya.

iffa-jilbabsemok (10)

Sleebb…!!! Dengan lancar penis Pram meluncur masuk sampai tembus menyentuh rahim Asmarani. Aku heran juga, apa Asmarani sudah tidak perawan? Yah, sepertinya begitu. Karena meski menangis, Asmarani tidak terlihat kesakitan, ia hanya merasa dilecehkan karena sudah diperkosa oleh Pram di lahan parkir mall. Asmarani bahkan mengerang setiap kali Pram menyodokkan penisnya, ia terlihat mulai bisa menikmatinya. Perawan ataupun tidak, aku suka melihat persetubuhan ini. Bayangkan, seorang Asmarani Setiana Dewi diperkosa tepat di depan matamu. Sungguh sangat beruntung sekali bukan? Siapa tahu aku bisa mengambil manfaat dari peristiwa ini. Ah, mudah-mudahan saja.

Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan terus terjadi. Begitu membuai dan sangat nikmat. Sambil menyetubuhi, bibir Pram tak henti-henti melumat mulut dan payudara Asmarani, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantat Asmarani yang putih mulus. Asmarani hanya pasrah saja menerima semua perlakuan itu. Bahkan saat Pram menaikkan tubuhnya ke pangkuan, ia hanya diam saja.

Pram kembali menggerakkan tubuh Asmarani naik turun. Ia melakukan itu sambil menyusu pada payudara Asmarani yang tepat berada di depan wajahnya. Ia kulum dan hisap puting Asmarani ke dalam mulutnya seperti bayi yang sedang menetek.

Puas di posisi itu, Pram kemudian membalik badan Asmarani hingga sekarang menungging. Disetubuhinya Asmarani dari arah belakang sambil tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuh Asmarani yang putih mulus. Dari tempatku mengintip, harus kuakui kalau Pram sungguh-sungguh hebat. Aku yang cuma onani sambil melihat saja sudah ejakulasi, sedangkan dia yang beneran main bisa bertahan begitu lama.

iffa-jilbabsemok (6)

Setelah lebih dari setengah jam, barulah Pram mulai melenguh panjang. Sodokannya terlihat semakin kencang sambil kedua payudara Asmarani diremas-remasnya brutal. Ia terus melakukannya sampai maninya menyempot dengan deras mengisi liang rahim Asmarani tak lama kemudian.

Asmarani menjerit keras saat menerimanya, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kehabisan tenaga, jadi dibiarkannya saja mani Pram belepotan di sekujur tubuhnya.

Sebagai hidangan penutup, Pram menempelkan penisnya pada bibir Asmarani dan menyuruh gadis itu untuk membersihkannya. Asmarani tanpa bisa melawan segera menjilatinya sampai bersih. Setelah tidak ada lagi ceceran sperma yang ada disana, Pram baru mencabut penisnya dari mulut Asmarani.

“Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi serahkan foto-foto itu sekarang!” kata Asmarani tak sabar.

“Tenang, Sayang. Nih ambil,” jawab Pram sambil melemparkan tumpukan foto di tangannya ke muka Asmarani.

Asmarani lekas mengumpulkan dan mengamatinya. Saat tahu ada yang kurang, ia segera berteriak. “Klisenya! Mana klisenya?!” bentaknya.

iffa-jilbabsemok (7)

“Jangan marah-marah gitu dong, klisenya aman bersamaku. Kamu bisa mengambilnya besok pagi di rumahku.” kata Pram sambil memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan Asmarani yang masih terpuruk kelelahan.

Tidak terima dengan kelakuan laki-laki itu, Asmarani pun lekas bangkit dan memburunya, ia mengejar Pram. Namun baru satu langkah, Pram tiba-tiba berbalik dan Jreb! Ia menghujamkan pisau tepat ke dada Asmarani. Gadis itupun langsung roboh tanpa sempat berteriak.

Aku yang panik, tanpa pikir panjang segera menghambur keluar. Sementara Pram berlari menjauh, kutarik pisau yang menancap di dada Asmarani dengan tanganku. Memang aku sempat terpesona oleh tubuh mulus Asmarani yang masih terbuka disana-sini, namun melihatnya yang sekarat menyabung nyawa, lekas kusingkirkan jauh-jauh pikiran mesum itu.

Aku sudah akan menelepon polisi saat tiba-tiba suara Pram mengejutkanku dari arah belakang. “Hei, Bung… jangan suka mencampuri urusan orang!”

Belum sempat aku berkata apa-apa, apalagi berbalik untuk menghadapinya, kurasakan sebuah benda tumpul menghantam tengkorak kepalaku.

iffa-jilbabsemok (8)

Bletak!

***

Aku terbujur kaku di satu ruangan lembab dan gelap. Tanganku terikat ke belakang kursi. Tak lama kemudian, lampu di atas meja depanku menyala. Redup. Pintu di belakangku terbuka, dan masuklah seorang lelaki tegap berseragam polisi. Dia duduk di depanku dan menyodorkan map yang dibawanya. Di situ tertulis bahwa aku tersangka utama pemerkosaan dan pembunuhan seorang artis dengan bukti berupa sidik jari pada pisau yang dijadikan senjata, serta saksi yang melihat. Aku tercenung, setengah shock membaca isi map itu.

“Pak, saya justru hendak menolong gadis itu. Saya hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi. Sidik jari jelas, saksi juga jelas melihat Saudara melakukan pembunuhan itu. Saudara tak bisa mengelak!”
“Tidak, Pak. Demi Tuhaaan!”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Saudara itu seorang kriminil. Tak pantas!” bentak

polisi itu. Ia lalu membuka pintu dan setengah berteriak pada polisi yang lain.
“Jon, saksi bisa dipersilahkan pulang.”

“Baik, Pak!”

Tiba-tiba mataku menatap sosok yang tak asing. Pemuda itu. Pram!

iffa-jilbabsemok (9)

“Pak, pemuda itu pelakunya, bukan saya! Saya dijebak!”\

“Ah, diam kamu! Berisik!” bentak polisi itu lagi sambil mendekatiku. Satu tamparan keras melayang ke wajah. Sebelum kesadaranku hilang lagi, sempat kutangkap senyuman di wajah Pram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s