MURTI 9 : AISYAH

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Gatot menunjukkan kemajuan pesat. Ia sudah bisa membuka mata dan bicara meski terbata-bata. Yang paling melegakan bagi semua adalah bahwa Gatot tidak hilang ingatan. Gatot masih bisa mengenali orang-orang yang ada di sekelilingnya.
annisa islamiyah jilbab montok (2)
Yang paling merasa beruntung adalah Murti. Sakitnya Gatot bersamaan dengan liburan sekolah. Ia mendapat libur selama dua minggu dimulai hari ini. Ia jadi punya banyak waktu luang dan ia tidak ingin waktu luang itu terbuang begitu saja. Ditambah ia sudah mendapat restu dari suaminya untuk mengunjungi Gatot kapan saja. Murti jelas bahagia. Pak Camat suaminya bilang bahwa ia boleh menunggui Gatot mengingat Gatot tidak punya sanak saudara dan kerabat dekat. Orang yang paling dekat dengan Gatot ya cuma mereka saja.
annisa islamiyah jilbab montok (1)
“Kamu tidak mengajar?” tanya Gatot dengan suara masih gemetar. Kini Gatot sudah dipindahkan ke paviliun kelas satu. Masa-masa kritis yang dialaminya telah lewat, tinggal masa penyembuhan dan pemulihan.
“Aku libur, Tot, dua minggu.” kata Murti sambil menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke mulut Gatot. “kamu juga sudah seminggu lho di sini,” tambahnya.
“Aku ingin pulang, Mur. Aku mau di rumah saja.” kata Gatot.
“Jangan buru-buru. Tunggu sampai kamu benar-benar sehat.” sergah Murti.
“Aku tidak punya uang buat bayar biayanya,” Gatot merenung.
annisa islamiyah jilbab montok (3)
“Jangan dipikirkan. Aku dan Mas Joko yang menanggung biaya sampai kamu sembuh.” kata Murti.
“Aku selalu merepotkanmu ya, Mur?” Gatot berbisik malu.
“Sudahlah. Kita ini sudah sehati, Tot.” Murti memberi Gatot minum lalu duduk persis di samping laki-laki itu. “Aku mencintaimu!” bisiknya perlahan.
“Akupun begitu, Mur. Tapi kamu punya suami.” sahut Gatot getir.
“Sekarang jelaskan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Kamu tidak mabuk minuman keras kan?” tanya Murti.
“Aku sempat minum susu di rumah teman. Entah apa karena susu itu atau ada hal lain, tiba-tiba aku pusing. Kupaksakan untuk pulang sampai rumah, tapi ya begitu, di tengah jalan aku tak tahan lagi dan nabrak tronton.” Gatot berkilah.
annisa islamiyah jilbab montok (4)
“Darimana dan siapa yang memberikan susu itu?” todong Murti.
“Kawanku,” Gatot menjawab pendek.
“Bohong. Pas kejadian itu ada yang memergoki mobil dinas suamiku di perumahan residence.” sanggah Murti.
“Aku memang kesana, Mur. Rumah kawanku ada disana,” Gatot tetap bersikukuh.
“Rumah kawanmu atau rumah kawan Mas Joko, suamiku?” tanya Murti.
Gatot terdiam, tapi Murti ingin mendapat penjelasan sejelas-jelasnya. Dia sudah akan bertanya lagi saat dokter yang bertugas memeriksa datang.
“Kapan saya bisa pulang, Dok?” tanya Gatot pada laki-laki itu.
“Sebenarnya hari ini bisa. Tapi demi kesembuhanmu, mungkin dua hari lagi kamu bisa pulang.” kata pak Dokter.
annisa islamiyah jilbab montok (5)
“Saya bosan tidur terus.” balas Gatot.
“Cobalah jalan-jalan sekitar rumah sakit. Kamu perlu melatih kakimu.” kata Pak Dokter.
“Kaki saya baik-baik saja. Memang agak nyeri, tapi tidak masalah.” Gatot berkata meyakinkan.
“Akan aku diskusikan dulu dengan tim dokter. Permisi,” dokter itu berbalik, pamit untuk meninggalkan ruangan.
Murti membantu Gatot berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Ia tidak malu menelanjangi Gatot dan memandikan pria itu. Bukankah sudah sering mereka telanjang berdua seperti ini?!
“Aku ingat masa-masa saat kita sering mandi bareng, Tot.” kata Murti dengan wajah bersemu merah. Ia ikut-ikutan basah tersiram air. Tubuhnya yang sintal tampak begitu menggoda di pandangan Gatot.
“Tapi kita bukan anak kecil lagi, Mur.” sela Gatot sambil berusaha menutupi tonjolan penisnya yang sudah mulai menegang panjang.
annisa islamiyah jilbab montok (6)
“Yah, setidaknya masa itu masih bisa kukenang bersamamu, Tot.” Murti berbisik lirih, lalu mendekatkan mulutnya ke bibir Gatot.
“Ada masa yang lebih penting untuk kamu kenang, Mur. Pernikahanmu dan rumah tanggamu.” Gatot berusaha untuk mengelak saat Murti ingin mencium bibirnya.
“Apalah arti pernikahan tanpa ada lagi kesetiaan.” Murti mengalihkan wajah, kecewa.
“Kamu yang tidak setia pada suamimu. Kamu mencintai lelaki lain selain suamimu. Bahkan kamu telah berzinah.” kata Gatot mengenang kebersamaan mereka yang sudah sangat kebablasan.
“Mas Joko lah yang memulai. Aku hanya mengikuti alur, Tot. Perselingkuhan harus dibalas dengan perselingkuhan juga.” balas Murti penuh tekad.
“Darimana kamu tahu kalau suamimu selingkuh?” tanya Gatot.
annisa islamiyah jilbab montok (7)
“Dari caranya memperlakukan aku, Tot. Sebenarnya aku berharap kamu jujur. Tapi biarlah kucari sendiri jawabannya.” Murti menyeka tubuh telanjang Gatot untuk yang terakhir kali, selanjutnya ia membantu laki-laki itu mengenakan pakaiannya kembali.
“Aku pulang sekarang saja, Mur. Kemasi barang-barangku.” Gatot meminta.
Murti sejenak tercenung, tapi kemudian tak punya pilihan karena Gatot terus memaksakan diri. Ia segera menelpon suaminya. Murti berharap Pak Camat ikut menjemput Gatot dan mengantar Gatot pulang, namun suaminya itu lagi-lagi bilang sibuk rapat dan sibuk dengan alasan ini-itu. Suaminya hanya bilang akan mengirim seseorang untuk menjemput. Ternyata seseorang yang dimaksud suaminya adalah Dewi. Murti sama sekali tidak mengharapkan Dewi yang akan datang.
“Selamat siang, Mbak Murti. Mau langsung pulang?” tanya gadis cantik itu dengan senyum manis terkulum dibibirnya yang tipis.
“Iya, Dewi. Gatot tuh nggak sabaran,” sergah Murti.
“Siapa sih yang betah lama lama di rumah sakit, Mbak? Benar kan, Tot?” tanya Dewi sambil mengerling manja.
“Benar, Mbak. Saya tidak tahan bau obat. Makanya saya maksa.” jawab Gatot.
“Saya bantu jalan ke mobil ya?” tawar Dewi tanpa bisa ditolak.
Murti melengak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Dewi. Sangat gamblang dan terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling. Dewi ingin mengambil alih peran yang selama ini ia lakukan. Murti mengumpat dalam hati. Posisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk melakukan yang biasa ia lakukan pada Gatot. Ia adalah istri seorang camat yang wajib menjaga imej dan nama baik, wajib berkelakuan baik dihadapan anak buah suaminya. Fitnah bisa saja muncul kalau ia memaksakan diri memapah Gatot dihadapan dewi. Jadi mau tidak mau ia kebagian tugas membereskan dan mengangkut tas-tas ke garasi. Masih untung Dewi mau membantunya setelah mendudukkan Gatot ke dalam mobil.
annisa islamiyah jilbab montok (8)
“Tidak ada yang tertinggal, Mbak Murti?” tanya Dewi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Tidak ada, Dewi. Langsung saja ke rumah.” jawab Murti sedikit ketus, masih marah dengan peristiwa barusan.
“Rumah yang mana? Rumah Pak Camat atau rumah Gatot?” lagi-lagi Dewi bertanya menggoda.
“Ke rumahku saja, Mbak Dewi.” potong Gatot sebelum Murti sempat membuka suara.
“Baiklah, Tot. Biar aku yang nyetir. Mbak Murti kan belum bisa bawa mobil.” sambut Dewi.
Murti ingin menampar mulut Dewi yang terkesan menyepelekannya. Ia memang belum bisa nyetir, tapi tak selayaknya Dewi bicara begitu, terlebih dengan nada yang angkuh. Murti kini duduk bersebelahan dengan Gatot di dalam mobil, tetapi ada dinding yang seakan memisahkan mereka berdua. Dinding itu berupa tatapan mata Dewi yang membuat Murti tidak berani melakukan apapun terhadap Gatot. Ia tidak berani walau sekedar tersenyum pada Gatot. Tatapan mata Dewi terlalu berbahaya.
“Memangnya tidak ada sopir lelaki di kantor ya, Dewi?” tanya Murti memecah keheningan.
“Ada sih, Mbak. Tapi Pak Camat nyuruh aku, ya kuterima.” sahut Dewi tanpa menoleh.
annisa islamiyah jilbab montok (9)
“Bagaimana dengan rencanamu ke depan? Maksudku, kapan kamu mau nikah?” tanya Murti.
“Waduh, Mbak Murti ini ada-ada saja.” Dewi tertawa.
“Bukannya mengada-ada, Dewi. Usiamu kan sudah cukup. Masa depanmu juga sudah mapan. Tunggu apa lagi?” kejar Murti.
“Saya nunggu jodoh, Mbak. Nikah itu kan nggak bisa dipaksa-paksa. Nikah karena terpaksa itu rawan bencana, Mbak Murti.” jawab Dewi seperti menyindir.
Murti manggut-manggut, namun dalam hati sebenarnya merengut kalang kabut. Perkataan Dewi telah menohoknya dari belakang. Entah disengaja atau tidak, tetapi Dewi telah mengingatkan Murti pada kisah hidupnya sendiri. Ia memang menikah karena terpaksa, bukan atas dasar cinta. Mahligai perkawinannya dengan Pak Camat tak lebih demi untuk menyenangkan hati orangtua. Ia belum puas menikmati masa muda ketika Pak Camat datang melamar. Belum pernah pacaran sampai Pak Camat mengajaknya kencan.
annisa islamiyah jilbab montok (14)
Sampai akhirnya benar-benar menikah, ia sama sekali masih buta arti rumah tangga. Kini ia mengerti betul bahwa berumah tangga sangatlah susah. Ada banyak hal yang membuat hati tersiksa. Seperti yang dikatakan oleh Dewi bahwa menikah karena terpaksa rawan bencana. Kini Murti sadar bencana itu sudah membayang di pelupuk mata. Pak Camat suaminya ada tanda-tanda punya daun muda. Tetapi itu masih sebatas prasangka Murti, belum benar-benar jadi nyata.
“Sudah sampai, Mbak. Saya cuma disuruh nganter saja oleh Pak Camat. Setelah ini saya harus balik ke kantor,” kata Dewi.
“Ya sudah, balik saja sekarang. Biar Gatot saya yang menangani. Terima kasih ya, Dewi.” Murti tersenyum malas.
“Sama-sama, Mbak. Mungkin nanti malam saya kesini,” kata Dewi. Habis berkata begitu, dia langsung pergi berlalu.
Murti bersyukur Dewi tidak ikut masuk ke dalam rumah Gatot. Justru Gatot yang terheran-heran karena rumahnya sangat bersih. Dan ia semakin heran saja karena bukan hanya bersih, namun juga tertata rapi. Sama sekali tidak ada yang berserakan. Ia menoleh pada Murti, tapi Murti cuma mengangkat bahu dan sibuk sendiri. Gatot jadi tak tahan untuk bertanya.
“Kamu yang membersihkan rumahku ya?”
“Bukan. Bersihkan rumahku sendiri saja malas, apalagi bersihkan rumahmu.” kata Murti.
“Lalu siapa yang merawat rumahku ini?” tanya Gatot bingung.
“Aisyah. Dia tiap hari sepulang mengajar mampir kesini, membersihkan rumahmu.” jawab Murti.
“Aisyah? Kok mau dia bersusah payah membersihkan rumahku?” Gatot semakin tak mengerti.
“Karena dia ada maunya.” Murti tersenyum menyeringai. ”Sudahlah, Tot. Kasihan juga Aisyah tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Terima saja dia tinggal di rumahmu.”
annisa islamiyah jilbab montok (13)
“Apa Pak Camat sudah kamu beritahu soal itu?” tanyanya.
“Sudah berkali-kali dan Mas Joko sepertinya tidak mempermasalahkannya. Bahkan Pak RT juga memberi lampu hijau.” jawab Murti.
“Baiklah, Mur. Mungkin memang ada baiknya Aisyah tinggal disini.” Gatot mengangguk.
“Dia pasti kesini. Aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa panggil saja dari belakang.” Murti pamit.
“Iya, Mur. Aku juga mau istirahat. Kangen sama kasurku sendiri” Gatot tersenyum.
“Dasar kamu,” kata Murti sambil mengantar Gatot ke kamarnya.
Setelah itu Murti pulang lewat pintu belakang. Sekarang ia sudah ada di rumahnya sendiri. Murti meringis menahan sesuatu yang sangat mengganggu. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Iapun pergi ke kamar mandi, mencoba mengeluarkan isi perut, tetapi tidak ada yang keluar. Murti ingat bahwa ia belum makan apapun sejak pagi tadi. Ah, mungkin sakit mag-nya kambuh, pikirnya. Ia menghabiskan siang dengan tidur sepuas-puasnya.
Namun baru satu jam terlelap, Murti terkesiap karena merasakan seseorang menyelinap masuk ke dalam rumah. Tapi setelah tahu yang datang adalah Pak Camat, Murti melanjutkan tidurnya. Pak Camat menyusul tidur di sampingnya.
annisa islamiyah jilbab montok (12)
“Kok sudah pulang, Mas?” tanya Murti.
“Iya, Mur. Aku pusing,” sahut Pak Camat.
“Sudah minum obat?” tanya Murti lagi.
“Sudah, tapi tetap nggak ada efeknya. Makanya aku ijin pulang,” Pak Camat menyahut malas.
“Ya istirahat saja, Mas. Mungkin Mas Joko juga perlu mengajukan cuti.” Murti membelai bahu suaminya.
“Pembangunan di desa-desa semakin meningkat, Mur. Tidak mungkin aku cuti.” kata Pak Camat.
“Bagaimana dengan pembangunan rumah tangga kita, Mas?” kejar Murti.
“Maksudmu apa, Mur?” Pak Camat mendelik.
“Tidak ada maksud apa-apa, Mas. Sudah, tidur saja.”
Murti ingin suaminya langsung tanggap dengan pembangunan rumah tangga yang ia maksudkan. Sayangnya Pak Camat tidak paham atau pura pura tidak mengerti maksud hati istrinya. Ini adalah siang pertama Murti tidur bersama suaminya setelah siang-siang sebelumnya yang lebih sering tidur bersama Gatot. Seharusnya ada usaha memperbaiki bangunan rumah tangga yang mulai lapuk digerus berbagai macam praduga dan rasa curiga. Namun Murti tidak mendapati suaminya punya keinginan untuk itu. Murti pun meneruskan tidurnya dan tidak bertanya ataupun ‘meminta’ pada suaminya. Ia tidur dengan hati kosong.
Ketika bangun jam lima sore, Murti sudah tidak mendapati suaminya. Ia mencari-cari ke sudut rumah tapi Pak Camat tidak ada. Yang ada malah selembar undangan yang tergeletak diatas meja. Murti membaca undangan itu. Bukan untuknya, tapi untuk Pak Camat. Kini Murti tahu kemana suaminya itu menghilang. Di undangan itu tercantum acara resepsi hari ini jam lima sore. Yang ia tak mengerti, kenapa suaminya tidak memberitahu dan bahkan tidak mengajaknya ke acara resepsi itu padahal selama ini mereka selalu berpasangan bila menghadiri acara-acara pernikahan. Apakah Pak Camat sudah punya pasangan lain? Murti cuma bisa menduga-duga saja.
annisa islamiyah jilbab montok (11)
Gatot juga baru saja terbangun dari tidurnya. Saking nyenyaknya tidur, ia sama sekali tidak merasakan apapun. Seluruh panca indranya ikutan tertidur. Ia mengucek mata dan menajamkan telinga, mencoba mendengar lebih jelas suara-suara berisik yang bersumber dari dapur. Gatot sudah sangat yakin bahwa yang ada di dapurnya adalah Murti karena hanya Murti yang bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas. Gatot menerawang memikirkan hari-harinya bersama Murti yang juga semakin bebas, semakin tak ada batas. Ia ingin semua berakhir, namun sudah terlalu sulit untuk menghindari Murti. Ada nuansa hati bila ia bersama Murti, nuansa yang tidak pernah ia rasakan bila bersama wanita lain.
Gatot teringat saat-saat terakhir dirinya sebelum kecelakaan terjadi. Ia curiga jangan-jangan susu yang ia minum di rumah Mbak Ayu telah dicampur sesuatu yang membuatnya pening. Tingkah laku Mbak Ayu juga bikin kepalanya pusing tujuh keliling. Sepengetahuan Gatot, istri simpanan Pak Camat itu memang bukan wanita baik-baik. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia hitam, ia tahu dan mengenal hampir semua wanita penghuni lembah hitam. Mbak Ayu pernah ia lihat di salah satu lokalisasi paling elit di kota ini. Berarti Pak Camat juga pernah mengunjungi lokalisasi itu, lalu bertemu dengan Mbak Ayu, kesengsem berat pada wanita cantik itu, sampai akhirnya menjadikan Mbak Ayu sebagai istri simpanan.
”Sungguh malang nasibmu, Murti,” kata Gatot dalam hati. Selanjutnya ia bangkit menuju pintu dapur. “Murti, kamukah itu?” tanyanya dengan setengah berteriak.
Tidak ada jawaban, tapi Gatot bisa mendengar langkah-langkah kaki mendekat. Dan ketika seseorang berdiri diambang pintu kamar, iapun langsung terperanjat kaget.
“Aisyah?”
annisa islamiyah jilbab montok (10)
“Assalamualaikum, Mas. Maaf kalau mengejutkan.” sapa Aisyah dengan tersenyum ringan.
“Berapa lama kamu disini, Aisyah?” Gatot bertanya.
“Dua jam yang lalu. Saya dengar Mas Gatot sudah pulang, jadi saya kesini.” jawab Aisyah.
“Terima kasih, Aisyah. Kamu sudah banyak membantuku.”
“Semoga bantuan ini ada hikmahnya, Mas.” Aisyah mengangguk. “Mas Gatot makan dulu ya. Habis itu minum obat.”
“Aisyah, tinggallah disini kalau memang kamu mau. Ada satu kamar kosong yang bisa kamu tempati.”
“Syukurlah, Mas. Besok saya akan boyongan kesini. Makan saja dulu, Mas.” Aisyah mempersilahkan.
Seluruh jiwa Gatot bergetar hebat. Aisyah berada begitu dekat, membelenggu jiwanya dengan senyuman tulus yang menghangatkan aliran darah, sehangat bubur yang disuapkan Aisyah ke mulutnya. Aisyah telah membuat Gatot teringat pada mantan istrinya, Zulaikha. Begitu banyak kemiripan antara keduanya. Aisyah sangat lugu dan murni. Memang Aisyah tidak secantik Murti, tapi punya daya tarik tersendiri. Dibalik kerudung lebarnya, Gatot seakan melihat Zulaikha yang sedang tersenyum.
“Saya ganti perbannya ya, Mas.” Tawar Aisyah.
Gatot luluh. Jemari itu teramat halus. Gatot segera menghapus imajinasinya dan ikut membantu Aisyah melilitkan perban di kakinya. Setelah semua selesai, Aisyah membantunya berdiri, menggamit perutnya dan memapahnya keluar kamar.
annisa islamiyah jilbab montok (15)
“Sampai sini saja, Aisyah.” Gatot duduk di dapur, memperhatikan kesibukan Aisyah. Disinilah ia mendapati betapa berbedanya Aisyah dengan wanita-wanita lain, termasuk Murti. Bila wanita lain suka membuka diri dan memamerkan diri, maka tidak demikian halnya dengan Aisyah. Gadis itu menutup rapat dirinya, tidak membiarkan mata usil memelototi tubuhnya yang sintal menggoda. Aisyah hampir selalu mengenakan pakaian panjang yang longgar sehingga lekuk-lekuk raganya tidak mencolok mata. Gatot sempat melihat punggung Aisyah tersingkap, tapi gadis itu segera menarik pakaiannya ke bawah dan punggung itupun tertutup lagi tanpa menimbulkan pikiran-pikiran buruk di kepala Gatot.
“Kapan kamu mulai tinggal disini, Aisyah?” tanya Gatot.
“Mungkin besok, Mas.” jawab Aisyah. ”kebetulan saya libur dua minggu. Ada waktu buat membersihkan kamar itu.”
“Itu kamar almarhum ibuku, Aisyah. Tapi jangan takut.” hibur Gatot.
“Kita ini hanya perlu takut pada Tuhan, Mas. Manusia dan setan memang menakutkan, tetapi kekuasaan dan kebesaran Tuhan lah yang paling menakutkan.” jawab Aisyah bijak.
“Tidakkah kamu takut padaku, Aisyah?” tanya Gatot sedikit menyelidik.
“Sama sekali tidak, Mas.” Aisyah tersenyum.
“Itu karena kamu belum tahu siapa saya,” sela Gatot.
“Saya sedikit banyak tahu tentang Mas Gatot. Tapi saya harap Mas Gatot tetap seperti yang saya kenal sekarang.” Aisyah menyahut ringan.
“Kamu baik dan tulus, Aisyah.” Gatot tersenyum. ”Jadi kamu mau kembali ke cemorosewu malam ini?” tanyanya kemudian.
“Saya takut kalau malam-malam pulang, Mas. Cemorosewu kan jauh dan gelap. Saya mau menginap saja disini. Anggaplah ini hari pertama saya kos disini.” jawab Aisyah.
“Saya tidak keberatan, Aisyah. Silahkan kamu tinggal sesuka hati.”
“Terima kasih, Mas. Bagaimana pembayaran uang kosnya? Mas Gatot mau sekarang atau dibayar bulanan saja?”
“Tidak perlu ada pembayaran apapun, Aisyah. Saya ikhlas.” jawab Gatot.
“Tapi, Mas…” Aisyah tampak ragu.
annisa islamiyah jilbab montok (16)
“Sudahlah. Simpan saja uangmu.” Gatot mengangguk tulus.
”Saya sangat berterima kasih, Mas.” sambut Aisyah dengan mata berbinar. ”Saya mau ke kamar mandi dulu.” pamitnya kemudian.
“Silahkan, Aisyah.” Gatot mempersilahkan.
Sejak itulah, Gatot tinggal serumah bersama Aisyah. Kamarnya berdampingan. Gatot merenovasi beberapa bagian kamar yang ditempati oleh Aisyah. Aisyah cukup pintar. Karena Gatot menolak uang sewa, maka Aisyah memanfaatkan uang itu untuk membeli dua buah kasur baru, satu untuk Gatot dan satu buat dirinya sendiri. Aisyah juga melengkapi peralatan dapur, membeli televisi. Kini Gatot punya listrik sendiri, tidak lagi menumpang di rumah Murti. Pun demikian dengan air, tidak lagi jadi masalah karena Aisyah memasang pompa air baru.
Tapi Gatot masih tetap mengabdi di rumah Pak Camat, masih tetap mengantar Pak Camat dan Murti berangkat kerja, juga masih tetap berjaga malam di rumah Pak Camat. Yang beda adalah sekarang Gatot tidak terus- terusan ada di rumah Murti. Gatot sekarang lebih suka beristirahat di rumah sendiri. Ia sudah pulih seratus persen pasca kecelakaan hebat itu. Gatot juga mulai mengambil jatah libur di hari minggu yang diberikan oleh Pak Camat. Jadi setiap hari minggu, Gatot selalu ada di rumahnya dari pagi sampai pagi esoknya lagi.
annisa islamiyah jilbab montok (17)
Dan di suatu malam yang diselingi rinai hujan, Gatot duduk berdua bersama Aisyah menonton televisi, dengan ditemani segelas kopi dan setoples kacang kapri. Aisyah baru saja selesai mandi sehingga rambut basahnya dibiarkan tanpa lindungan kerudung, tergerai sebatas leher dan sangat wangi.
“Bagaimana kopinya, Mas?” tanya gadis manis itu.
“Nikmat sekali, Aisyah. Terima kasih ya,” Gatot tersenyum.
“Kalau kurang, nanti saya buatkan lagi, Mas.”
“Ini sudah cukup, Aisyah. Oh ya, kamu nggak pulang ke Cemorosewu? Ingat, besok kamu mulai kerja.”
“Tidak, Mas. Saya malas ke Cemorosewu. Ummi juga sudah tidak tinggal di sana.”
“Sebelumnya saya mohon maaf, Aisyah. Benarkah ibumu sudah kawin lagi?” tanya Gatot.
“Benar, Mas. Ummi kawin lagi, tapi nikahnya siri, tidak resmi.” jawab Aisyah.
annisa islamiyah jilbab montok (18)
“Jadi ibumu tinggal dengan suaminya yang baru?”
“Iya. Makanya saya sekarang jadi jarang pulang. Malah Ummi mau menjual rumah warisan abah.”
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Saya ini hanya seorang anak, Mas. Sebenarnya saya ingin marah, tetapi saya sadar, berani melawan orangtua -terlebih ibu- adalah dosa besar.”
Gatot mengangguk mengerti. “Sudah dua minggu kamu tinggal disini, Aisyah. Sampaikan saja kalau ada yang tidak berkenan di hatimu.”
“Tidak ada, Mas. Saya malah senang bisa hidup mandiri seperti ini. Mumpung masih bujang, harus banyak belajar kan, Mas?”
“Kapan kamu akhiri masa bujangmu itu? Jangan sampai jadi perawan tua, Aisyah.” kata Gatot tanpa berniat untuk menggoda.
“Mas Gatot ini ada-ada saja,” tapi Aisyah malah tertawa mendengarnya.
Gatot mendengar tawa nan renyah itu serenyah kacang kapri yang sedang ia kunyah. Gatot sempat melihat wajah Aisyah membias merah jambu dan tampak malu-malu. Gatot ikut membalas tawa itu lalu menyimak acara televisi. Kadang-kadang saling lirik dan saling lempar senyum.
annisa islamiyah jilbab montok (19)
“Berbaring saja di kamarmu, Aisyah.” kata Gatot saat melihat Aisyah mulai menguap.
“Saya masih ingin nonton sinetron, Mas.” jawab Aisyah.
“Pindah ke berita saja ya?” tawar Gatot.
“Boleh,” Aisyah mengangguk.
Gatot memang sengaja menyuruh Aisyah berbaring di kamar daripada wanita itu berbaring di hadapannya. Selain merusak pandangan mata, juga merusak konsentrasi, terlebih lagi imannya. Itu karena Aisyah sama seperti Murti, tidak pernah pakai baju muslimah kalau lagi berada di rumah. Malam ini Aisyah hanya memakai baju terusan panjang tapi berkerah rendah, agak tipis pula sehingga isi tubuhnya membayang saat tersorot lampu neon.
Sampai jam sebelas malam, Gatot masih nongkrong di depan televisi, sedangkan Aisyah juga masih berbaring di karpet tapi sudah pasti terlelap dalam mimpi. Dengkur halusnya terdengar seperti lenguhan di telinga Gatot. Dada gadis itu bergerak turun naik secara teratur seirama dengan tarikan napasnya. Gatot menghela napas, lalu mematikan televisi dan membopong tubuh molek Aisyah ke dalam kamar.
Sejenak ia terdiam setelah menaruh tubuh Aisyah ke atas ranjang, tertegun Gatot menatapnya, jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ini ia lihat. Kini di depannya, berbaring sesosok tubuh perempuan cantik dengan kulit putih mulus dan kaki jenjang menggiurkan, menantinya untuk melakukan sesuatu yang sangat-sangat dilarang oleh agama.
annisa islamiyah jilbab montok (24)
Dada Gatot semakin berdetak kencang saat memperhatikan bahwa daster tidur yang dikenakan oleh Aisyah telah tertarik ke atas, hanya menutupi sebatas pinggulnya saja, memperlihatkan area kemaluannya yang meski dilapisi oleh celana dalam, tapi jelas menunjukkan rambut hitam yang tumbuh cukup lebat disana. Mata Gatot beralih ke atas, menatap ke arah dada Aisyah yang berpotongan rendah. Disana terlihat sebagian besar gunung kembarnya, membuat puting Aisyah yang mungil hampir menyembul keluar.
Gatot gugup melihat semua itu, gemetar ia menyaksikan indahnya pemandangan ini. Takut kalo seandainya Aisyah tiba-tiba sadar dan terbangun, serta menyaksikan ia berada di sampingnya sambil menatap takjub pada dirinya. Sadarkah Aisyah dengan keadaan dirinya ? Apakah dia memang benar-benar tertidur pulas sehingga tidak menyadari bahwa kehormatannya sedang terancam sekarang?
Ada keinginan yang bertolak belakang di hati Gatot. Keinginan yang pertama adalah segera pergi dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Aisyah tidur sendirian. Namun disisi lain ada keinginan untuk tetap berada disitu, menikmati apa yang disuguhkan Aisyah kepadanya, dengan alasan bahwa ini adalah pengalaman pertama dan satu-satunya bagi dirinya dan mungkin tidak ada kesempatan lain untuk menikmatinya di lain waktu.
annisa islamiyah jilbab montok (22)
Gatot tertegun sejenak, melihat sekeliling, memastikan bahwa keadaan telah benar-benar aman. Entah apa yang membuat keberaniannya meningkat, tahu-tahu ia sudah memegang kaki Aisyah dan menariknya menjauh, membuat posisi kaki Aisyah sekarang terbuka lebar. Gatot lalu beringsut duduk diantara celah paha Aisyah, mengambil posisi senyaman mungkin disana.
Pelan ia mulai menelusuri bagian dalam paha Aisyah yang putih mulus, mulai dari lutut, dan terus naik dan semakin naik hingga jari-jarinya mencapai pangkal paha Aisyah dan berujung di pinggiran bukit kemaluan gadis cantik itu. Menggunakan jari telunjuk, ia geser kain celana dalam Aisyah agak ke tepi hingga bisa menyentuh daging lunak berbelahan sempit yang ada di baliknya. Gemetar Gatot menggerakkan ibu jarinya untuk menggesek bibir kemaluan Aisyah, mengetes reaksinya, sebelum menarik lagi tangannya saat didengarnya Aisyah sedikit mengeluh.
Tapi saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas, Gatot pun mengulang lagi aksi bejatnya. Ia urut belahan sempit yang terasa lengket itu hingga bibir kemaluan Aisyah jadi semakin terbuka lebar sekarang. Bentuknya sungguh sangat menggoda; tidak seperti milik Murti yang sudah menghitam karena sudah sering dipakai, vagina Aisyah masih tampak utuh dan sempurna. Dengan warna merah menyala dan belahan yang masih sangat sempit, Gatot yakin kalau Aisyah benar-benar masih perawan. Membuat Gatot jadi ragu, haruskah ia meneruskan perbuatan ini?
annisa islamiyah jilbab montok (23)
Tapi setan terus berbisik dan merayu imannya, hingga Gatot yang pada dasarnya masih labil, dengan mudah terbujuk. Tanpa bisa membantah, iapun menerus aksinya, tapi kali ini sambil memperlihatkan sikap waspada. Diperhatikannya wajah Aisyah yang masih terpejam rapat, suara dengkuran gadis itu terdengar halus dengan dada naik turun tak beraturan. Aisyah tersenyum dalam tidurnya, seolah ikut menikmati sensasi yang diberikan oleh Gatot. Sementara di bawah, vaginanya yang semula kering, kini mulai menjadi sedikit basah, seolah ada yang menyiramnya dengan cairan licin tak berwarna.
Tak tahan melihat semua itu, cepat Gatot melepas celana. Ia biarkan batang penisnya yang sudah menegang dahsyat mengacung tegak ke depan hingga bisa menyentuh belahan kewanitaan Aisyah. Terasa sangat geli sekali saat ia mulai menggesek-gesekkan ujung penisnya dengan bagian luar kewanitaan Aisyah. Gatot juga memberanikan diri dengan menjulurkan tangannya ke depan, menyentuh halus bagian atas dada Aisyah yang tidak tertutup oleh baju tidurnya. Hanya menyentuh, tidak lebih. Gatot tidak ingin membuat Aisyah terbangun.
Tapi entah bagaimana, mungkin akibat gesekan atau akibat dari nafsu Gatot yang sudah meledak-ledak, penisnya yang semakin keras dan tegang mulai mencari jalan untuk mencari kenikmatan lebih. Tanpa sadar -meski dari awal tidak berniat untuk menyetubuhi Aisyah- perlahan Gatot menggeser lutut dan paha Aisyah untuk semakin melebarkan celah mungil yang ada di selangkangannya. Tanpa disuruh dan diminta, penis Gatot yang semula hanya menggesek-gesek bagian luar kewanitaan Aisyah, kini mulai menyeruduk masuk menuju lubang kenikmatan perempuan cantik itu.
”Ups,” Gatot tercekat atas meluncurnya sang penis di luar kendalinya, menelusuri jalan licin dan sempit di belahan kewanitaan Aisyah. Ingin ia menarik kembali, namun Gatot takut kalau gerakannya yang tiba-tiba malah akan membuat Aisyah terbangun. Bisa celaka dia kalau dipergoki dalam keadaan seperti ini.
Maka Gatot menahan diri, sambil menahan nafas juga, menunggu reaksi dari Aisyah. Namun ternyata gadis itu diam saja, tidurnya masih terus berlanjut, membiarkan Gatot bertarung sendirian melawan hawa nafsunya. Dan tentu saja setan selalu menang; bukannya mencabut batang penisnya, Gatot malah mendorongnya semakin jauh ke dalam. Perlahan-perlahan ia terus menusukkannya hingga tiba-tiba saja Gatot merasakan ada sebuah dinding tebal yang menghalangi jalannya.
”Ok, cukup!” Gatot berkata dalam hati. Ia tidak ingin mengambil keperawanan Aisyah. Baginya begini sudah cukup. Gatot sudah merasa nikmat. Tanpa perlu merusak kehormatan Aisyah, Gatot merasa sudah bisa menyalurkan hasrat seksualnya.
annisa islamiyah jilbab montok (20)
Pelan Gatot mulai menggoyangkan pantatnya, menarik dan mendorong penisnya di sekitar bibir kewanitaan Aisyah. Hanya ujung penisnya yang masuk, namun sudah sanggup membuat Gatot melenguh nikmat. Ia terus melakukannya sambil berusaha mencari sensasi lebih. Dia arahkan tangan ke dada Aisyah yang masih tertutup baju tidur dan menyentuhnya perlahan. Gatot mulai meraba dan mengelus-elusnya lebih kuat saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur dengan begitu pulasnya. Wajah cantiknya tampak damai, tidak ada perubahan apapun.
Semakin berani, Gatot segera menyingkap bagian baju tidur Aisyah yang menutupi sebagian kecil area payudaranya. Ia menarik dan menurunkannya, memaksanya agar jadi sedikit mengendur. Dengan begitu bisa memperlihatkan semua bagian yang tadi tersembunyi disana. Tampak puting mungil Aisyah yang berwarna merah muda, dengan dikelilingi lingkaran sewarna yang berdiameter sekitar dua cm.
Gatot segera mencium dan mengulumnya sambil terus memaju-mundurkan pantatnya, mendorong agar batang penisnya mendapatkan kenikmatan lebih. Ia juga mulai meremas-remas bulatan payudara Aisyah saat dilihatnya gadis itu masih tetap tertidur pulas. Terasa puting Aisyah mulai sedikit mengeras di dalam mulutnya.
Memandangi wajah cantik dan bibir indah Aisyah, membuat Gatot jadi penasaran ingin mengecupnya. Sambil terus melakukan dorongan-dorongan lembut ke vagina Aisyah, ia pun mendekatkan mulutnya kesana. Gatot memajukan bibir untuk mengecup bibir indah Aisyah.
”Hmm…” sensasinya sungguh luar biasa. Apalagi dalam tidurnya, Aisyah ternyata juga membalas kecupan itu. Gatot terus mempertahankan posisi sebelum akhirnya ia mulai turun untuk beralih ke arah payudara Aisyah yang padat dan indah. Ia kecup dengan lembut kedua puting Aisyah secara bergantian, lalu mulai menghisap-hisapnya secara rakus saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas dalam balutan mimpi indah.
annisa islamiyah jilbab montok (21)
Waktu terus berlalu. Entah berapa menit kemudian -mungkin karena penis Gatot sudah sangat terangsang- penetrasi yang ia lakukan nampaknya akan segera berakhir. Gatot merasakan seperti ada sesuatu yang akan meledak di ujung penisnya. Secara otomatis ia pun mempercepat gerakan, namun juga sedikit ia tahan karena takut Aisyah akan terbangun nantinya. Maka begitulah, tanpa dapat ditahan lagi, Gatot menyemburkan spermanya ke perut Aisyah.
Sengaja ia tidak mengeluarkan di dalam rahim Aisyah karena tidak ingin membuat gadis itu hamil. Tampak lelehan spermanya berceceran di perut Aisyah yang mulus dan ramping. Gatot segera melepas kaos yang dikenakannya untuk dipakai membersihkan cairan putih kental itu sebelum jatuh ke atas sprei. Sisa-sisanya yang masih menempel di ujung penisnya, juga ia lap pelan pelan. Baru kemudian Gatot bisa terduduk lemas.
Ada perasaan menyesal setelah melakukan ini, tapi juga lega karena tidak sampai merusak selaput dara Aisyah. Gadis itu masih tetap perawan! Ia perhatikan wajah cantik Aisyah yang masih tersenyum tipis dalam tidur pulasnya, gadis itu diam terpejam seolah tak menyadari apa yang telah terjadi. Menghela nafas puas, pelan Gatot beringsut turun dari ranjang. Setelah merapikan kembali baju Aisyah, tanpa bersuara ia berjalan ke arah pintu dan balik ke dalam kamarnya.
Gatot menghempaskan badan ke atas tempat tidur, ia merebahkan diri sambil mendengarkan suara rintik hujan yang tiba-tiba datang, membuat suasana yang hening jadi bertambah sepi. Sepi yang membungkus kedamaian hati.

One thought on “MURTI 9 : AISYAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s