ARINA AND FRIENDS

Namanya Okta, sebut saja begitu. Ia adalah salah satu mahasiswi di universitas ternama di Jawa Barat. Wajahnya tidak cantik, tapi memiliki aura eksotis. Badannya tidak tinggi, tapi sintal berisi, membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas. Gemas ingin menjamah tubuh montok itu. Dengan payudara berukuran 36B, Okta merupakan sosok gadis menggairahkan yang membuat siapapun ingin merasakan tubuhnya.
Siang itu, Okta sendirian di kontrakannya. Ia menyewa sebuah rumah kontrakan besar bersama ketiga temannya : Eva, Arina, dan Hani. Kedua temannya itu masih kuliah, satu sudah bekerja. Ia sendiri tidak ada kuliah hari itu. Dengan hanya menggunakan bra dan celana hotpants, Okta terlihat asik melihat layar laptopnya.

”Main ke kontrakanku aja, yuk. Lagi sendiri juga nih aku.” ketiknya, saat itu ia sedang asik chatting dengan temannya di sebuah aplikasi chatting.

”Serius, mbak, boleh? Deket sih kontrakan mbak dari kosanku. Aku juga penasaran nih gimana aslinya. Hehehe.” balas teman chatnya tersebut.
Di layar, tampak foto Okta hanya dengan menggunakan bra dan foto lain dirinya yang tidak mengenakan bra, hanya kedua telapak tangannya yang menutupi dada besarnya itu. Sepertinya ia sedang bertukar foto seksi dengan lawan chattingnya itu.
”Boleh lah. Ini nomerku, nanti kalo sudah sampai sms saja.” balasnya sambil mengetik sebuah nomor handphone.
”Oke, mbaak. Aku ke sana yaa.” balas sang pria di ujung chatting.
Okta tersenyum simpul seraya bangkit dari kasurnya. Ia melepas branya dan mematut diri di depan cermin di kamarnya. ”Masih bagus kok,” ujarnya sambil memegang buah dadanya yang montok.
Sejak kehilangan keperawan di awal kuliah, Okta seolah ketagihan dengan aktivitas seksual. Hampir semua pacarnya pernah merasakan lubang di tubuh Okta. Sadar organ vitalnya sering digunakan, Okta benar-benar merawatnya sehingga dadanya tetap kencang dan vaginanya tetap rapat. Hal ini membuat pacar-pacarnya semakin betah berlama-lama menggarap dirinya.
Tanpa menggunakan branya, Okta keluar untuk mengambil handuk. Ia hendak mandi sebelum kedatangan teman chattingnya itu. Payudara besarnya dibiarkan terbuka sehingga bergoyang kesana kemari seiring langkahnya. Teras kontrakannya adalah halaman parkir yang cukup luas untuk 3 mobil dengan pagar besar dan kanopi yang menutupinya, sehingga Okta tidak perlu khawatir ada yang melihatnya setengah telanjang saat ke teras untuk mengambil handuk di jemuran. Sekitar kontrakannya pun tidak terlalu ramai sehingga membuatnya semakin tenang menuju teras dengan telanjang dada.
”Kamu masuk aja, mbak lagi mandi.” begitu balasannya saat sebuah pesan singkat masuk menanyakan kondisi kontrakannya.
Sambil menyabuni dan mencukur bulu vaginanya, Okta mendengar suara pintu pagarnya dibuka. ”Datang juga dia,” pekiknya senang. Seolah membayangkan kenikmatan yang akan segera ia dapatkan dari cowok yang baru dikenalnya, Okta tersenyum sambil terus membersihkan vaginanya dari rambut-rambut tipis.
“Lama, dek?” tanyanya kepada seorang pemuda yang katanya baru berusia 18 tahun. Edwin namanya.
“Eh, ohh. Ehmm… ngg… nggak kok, mbak.” jawabnya gugup saat melihat kedatangan Okta. Siapa yang tidak gugup saat melihat sesosok tubuh sintal dan montok hanya berbalut handuk tipis yang pendek. Setengah payudara besarnya menyembul sehingga terlihatlah belahan dadanya yang membuat Edwin menelan ludah.
“Ini minum dulu.” ujar Okta sambil meletakkan segelas teh. “Gimana, mau langsung apa gimana nih? Kamu mau liat aslinya kaaan?” tanya Okta genit sambil memegang bongkahan dadanya.
“Eh… ohh… ter-terserah mbak aja.”
“Kamu kok gugup gitu sih, padahal di chat tadi kamu semangat banget. Hehehe… nih mbak udah beres-beres sesuai kesukaan kamu.” ujarnya sambil memegang tangan Edwin dan menggiringnya ke area sensitifnya.
Edwin yang nampaknya baru pertama kali memegang benda bernama vagina langsung terlihat sangat gugup. Walau begitu, tangannya menikmati memegang daging tebal milik Okta. Bahkan, di tengah remasan-remasan itu, Edwin iseng memasukkan jarinya ke dalam vagina Okta.
“Auw!” pekik Okta. “Sabar dong, dek. Nanti ada waktunya. Kamu suka yang gak ada rambutnya kan?”
“I-iya, mbak.” jawab Edwin gugup. Ia bahkan tidak menyadari ada atau tidaknya rambut di sana karena begitu menikmati memegang alat kelamin gadis berusia 21 tahun itu.
Tidak ingin menunggu lama, Okta langsung mengajak Edwin masuk ke kamarnya. Duduk berdua di tepi ranjang, Okta hanya senyum-senyum melihat lawan chattingnya itu terlihat kikuk. Edwin, yang notabene masih perjaka, tentu gugup dengan pengalaman pertamanya ini.
“Sebelum mulai, mbak mau kamu oral dulu dong.”
“O-oke, mbak.”
Tidak lama-lama, Okta segera membuka handuk hijaunya. Di depan Edwin, Okta kini tidak mengenakan sehelai benangpun. Dadanya yang montok dan vaginanya yang tebal menjadi santapan mata Edwin dengan bebasnya. Putingnya yang bulat agak besar dengan warna agak hitam terlihat menantang di puncak bukit susu Okta.
“Kenapa, dek? Kok diem aja? Mau yaaa?” tanya Okta genit sambil menyodor-nyodorkan buah dadanya ke Edwin.
Edwin hanya menelan ludah melihat tubuh telanjang Okta di depan matanya. “Mbak, ge-gede banget.” pujinya.
“Iya dong. Cowok suka yang gede kan?” jawab Okta bangga sambil memilin-milin putingnya sendiri. “Kamu buka baju juga dong. Masa aku doang yang bugil.” pinta Okta.
Tanpa disuruh lagi, Edwin langsung membuka seluruh baju dan celananya. Jadilah keduanya kini telanjang di kamar Okta.
“Punyamu gede juga ya, dek.” kata Okta.
“Iya dong. Cewek kan suka yang gede, mbak.” balas Edwin meniru ucapan Okta.
“Hahaha. Kamu bisa aja. Ya udah yuk, mbak udah gak tahan nih. Kamu oral mbak dulu ya.”
“Siap, mbak.”
Okta langsung telentang di atas kasur. Kakinya tetap terjulur ke bawah sehingga vaginanya terekspose sepenuhnya ke arah Edwin. Hal ini sengaja agar Edwin mudah men-servis alat kelaminnya yang terlihat sudah menggembung karena nafsu.
“Shhh… oohhh… aahhhh… enakkhhh dekk… aaahhhhh…” desah Okta saat lidah Edwin mulai menyapu vaginanya. Meski belum pernah, Edwin sudah belajar dari film-film porno yang dimilikinya. Lidahnya menyapu bagian luar vagina Okta yang tebal. Sesekali menulusup ke dalam vaginanya, membasahi liang kenikmatan yang sudah berkali-kali mencicipi rasa penis itu.
“Ahhhh… terussshhh dekkk… aaahhhh…” desahan Okta semakin keras saat tangan Edwin mulai aktif menjamah payudaranya yang menganggur. Jarinya asik memilin-milin, memencet, dan menarik-narik puting Okta yang bulat tebal. Mendapat serangan di dua arah, Okta semakin bergelinjang tidak tahan menahan gairah yang semakin memuncak.
Puas bermain dengan dada montok Okta, Edwin menggunakan tangannya untuk melebarkan paha Okta, membiarkan lidahnya semakin leluasa bermain di liang surgawi gadis itu. “Slurrrrppppp…” Edwin coba menghisap memek tebal Okta kuat-kuat.
“Aaaaaaahhhhh… ssshhh… aaaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi-jadi.
Edwin membuka vagina Okta dengan kedua jarinya sehingga merekah. Terlihatlah isi memek Okta dengan lebih jelas. Lidah Edwin pun merasuk lebih dalam, bermain-main dengan klitorisnya. Sesekali diemut dan digigit kecil biji sensitive Okta tersebut. Serangan tersebut membuat Okta semakin  bergelinjang ke sana kemarin, membuat buah dadanya berguncang hebat seiring gerakan badan seksinya.
“Dekk… aaaaahhhhhh… ssshhhh… mbaaakkkk… mauuuuu… keluaaarrrr… aaaaaaaa…”
Croot… croot… crooot… Cairan cinta Okta pun keluar membasahi mulut Edwin. Edwin menghisapnya kuat-kuat hingga semua cairan itu terminum semua olehnya.
“Ohhhhhh… aaahhhhhhh…” desah Okta saat menyadari Edwin tidak mengendurkan serangannya. Edwin tetap asik bermain di liang surgawi Okta meski tahu gadis itu baru saja orgasme. Ia tampak asyik menghisap, mengemut, dan menggigit kecil biji klitoris Okta.
“Woi!!!” sebuah suara yang dikenal tiba-tiba mengagetkan dua insan tersebut.
Edwin yang kaget membuatnya tidak sengaja mengigit klitoris Okta. “Aww!!!!” pekik Okta saat area sensitifnya itu tergigit Edwin. Dengan kaget, Okta dan Edwin menoleh ke arah pintu kamar yang memang lupa mereka tutup. Edwin yang panik langsung berusaha menutupi penisnya dengan tangan, sedangkan Okta tampak santai-santai saja duduk dan membiarkan tubuh telanjangnya terbuka lebar.
“Ah, gila lu, Han! Lagi enak-enak juga. Untung nggak pas tadi gue mau keluar, jadi gak gantung.” kata Okta.
Rupanya itu Hani, teman kontrakan Okta. Hani baru pulang kuliah saat mendapati Okta sedang diservis oleh cowok lain yang belum pernah dibawanya ke kontrakan sebelumnya.
“Biasa aja kali, dek. Gue udah sering liat penis cowok. Hahaha. Ini juga udah sering nyobain nih.” tawa Hani saat melihat wajah kikuk Edwin sambil menunjuk vaginanya sendiri. “Lagian elu, mentang-mentang libur malah asik-asikan sendirian di kontrakan. Siapa lagi nih cowok?” tanyanya pada Okta.
“Ada deh. Lagian gue sendirian di kontrakan. Daripada bête juga kan. Mending kasih makan nih si tembem.” ujar Okta sambil mengelus vaginanya yang masih mengeluarkan lelehan cairan orgasmenya.
“Gila lo ah! Haha. Ya udah sana lanjutin, gue mau mandi dulu. Panas banget gila.”
“Sono-sono, ganggu orang aja nih.”
“Yeee, makanya tutup tuh pintu. Ngablak amat, gue dari pintu depan juga bisa ngeliat ke dalem kalo memek lo lagi diservis.” jawab Hani sambil ngeloyor.
Hani

Hani, 21 tahun, teman satu kampus Okta. Perawakannya sangat berbeda dengan Okta. Kalo Okta tidak cantik tapi eksotis dan manis, Hani tergolong cantik dan manis. Badannya putih, tapi kecil dengan buah dada yang juga kecil, cuma 32B. Meski begitu, tidak sedikit pengalamannya soal ML karena Hani sudah merasakan namanya ML sejak SMP. Ia sudah biasa melihat Okta bersetubuh dengan cowok di kontrakan, pun sebaliknya. Bahkan cowok yang dibawa Okta untuk bersetubuh kerap berbeda.

“Maaf ya, dek. Lanjut yuk. Sekarang terserah deh kamu mau ngapain. Nih tubuh mbak hari ini punya kamu.” kata Okta pada Edwin.
“I-iya, mbak.” jawab Edwin singkat. Setelah nafsunya naik kembali setelah terpotong karena kehadiran Hani, Edwin langsung merangsek naik. Bibirnya langsung diarahkan ke puting dada Okta yang bulat.
“Aaahhhh… enakkk…” desah Okta menikmati kuluman Edwin di puting payudaranya. Edwin sesekali menghisap, mengigit, dan menarik puting Okta dengan gemasnya.
TING-TONG…!!!
“Mbaaak… kiriman gas dan air, mbaaaak!!!” teriak seseorang dari luar.
“Ih, siapa lagi sih?” gumam Okta sebal karena kenikmatannya terpotong lagi. “Hanii! Ada orang tuh di luar!” teriaknya pada Hani.
“Pasti tuh anak lagi mandi.” dengusnya sebal saat tidak mendapat jawaban. ”Bentar ya dek.” Okta pun memakai handuknya kembali sambil meninggalkan Edwin yang terlihat kecewa karena eksplorasinya di bukit susu Okta harus terpotong.
“Iya, mbak.” jawab Edwin singkat sambil beranjak duduk di kasur, menampakkan penisnya yang berukuran 20 cm yang sudah tegang, siap menyodok liang memek Okta kapan pun.
“Gila, memeknya oke banget. Toketnya super. Duh, nggak rugi deh ngerasain ML pertama sama mbak Okta. Super banget bodinya.” ujar Edwin dalam hati sambil memperhatikan Okta yang keluar kamar hanya dengan berbalut handuk.
***
“Eh, Bang Kiki. Pesenan galon sama gas ya, bang? Masuk aja. Nggak dikunci kok.” ujar Okta kepada pengantar yang dikenal bernama Bang Kiki.
Bang Kiki berusia sekitar 28-an, adalah pengantar di warung Bu Kosim, yang sering mengantar barang-barang pesanan pembeli. Tubuhnya agak jangkung dengan pipi tirus, wajahnya mirip Wendi Cagur dengan kumis dan janggut tebal yang menempel di wajahnya.
“Duh alahhhh, neng Okta seksi banget dah ah! Tau aja abang mau dateng. Mau kasih bonus nih, neng? Tuh toket makin mengkel aja. Udah ada susunya belom, neng? Hehehe.” goda Bang Kiki mesum yang melihat tubuh molek Okta yang hanya berbalut handuk tipis. Bang Kiki memang kerap mendapat bayaran berbeda kalau mengantar barang ke kontrakan ini.
“Ih, si abang mah, gak ada bonus-bonusan lah, tetep tergantung abang itu mah. Hehehe.” balas Okta tidak kalah genit. Ia yang sudah terbiasa dengan ulah Bang Kiki dan memang sering “membayar” tidak merasa terganggu dengan godaan mesum laki-laki itu.
“Semua berapa, bang?” tanya Okta sambil mengeluarkan dompetnya.
“Harga lagi pada naik, Neng. Totalnya jadi Rp 150.000,00 semuanya.”
“Ah, serius, Bang? Mahal banget!” ujar Okta terkejut mendengar nominal yang disebutkan Bang Kiki.
“Yaaa, tapi kan neng gak perlu bayar pake duit semua. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil tersenyum mesum. Matanya tidak lepas menatap bongkahan dada Okta seolah tidak sabar ingin “dibayar” seperti biasa.
Okta terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.  “Hmm… kemaren Bang Kiki pada dibayar gimana sama yang lain?” tanya Okta yang ingat sebelum-sebelumnya bukan dia yang menghampiri kalo Bang Kiki datang mengantar pesanan barang.
“Beda-beda, neng. Tergantung kurangnya sih. Tapi terakhir kali kalo sama neng Hani, burung abang diisep sama dia sampe peju abang keluar. Habis, abang mau isep teteknya tapi kan neng Hani teteknya kecil, nggak semontok neng Okta. Hehehe. Kalo yang terakhir sama neng Eva sih dia mau abang masukin burung abang ke pantatnya. Hehehe.” jawab Bang Kiki senang karena sudah bisa mencicipi tubuh gadis-gadis penghuni kontrakan di sini.
“Hah? Kok Eva mau dianal? Emang dia beli apa, Bang? Kalo sama Arina?” tanya Okta sambil menyebut Eva, satu-satunya perawan di kontrakan dan Arina, satu-satunya gadis berjilbab di kontrakan, yang tetap saja sudah pernah mencicipi rasa penis di vaginanya.
“Sama kayak sekarang, neng. Gas sama galon air 4, tapi neng Eva nggak bayar sama sekali. Jadi gantinya ya full servis, tapi tetep kan neng Eva gak mau dientot memeknya, Neng.” jawab Bang Kiki seolah paham kebiasaan Eva yang suka anal demi menjaga selaput dara di vaginanya.
“Kalo mbak Arina mah selalu bayar full, mbak. Abang belom pernah tuh cobain dia. Padahal mah biar kerudungan jugaa… keliatan toketnya montok atuh, nggak kalah sama neng Okta. Bulet pisan, euy. Mengkel.” lanjut Bang Kiki sambil menceritakan Arina, penghuni tertua di kontrakan tersebut.
“Ouhhh… ya udah deh, ni aku bayarnya Rp 50.000,00 aja ya, bang. Sisanya biasaaa…” ujar Okta pada akhirnya.
“Walahhh… gede atuh abang nomboknya ini, Neng.”
“Yeee… mau nggak, bang? Nanti aku kasih yang setara deh sama tombokan Bang Kiki.” kata Okta sambil menjulurkan uang 50ribuan.
“Bener ya, Neng? Abang mau dong tombok-tombok memek Neng. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil mengeluarkan senyum mesum khasnya.
“Yeee… si abang. Nggak lah, kan perjanjiannya tombok-tombok memek kalo gak bayar sama sekali.”
“Sekarang abang mau dibayar apa nih sisanya?” lanjut Okta sambil duduk di kursi teras.
“Abang mau minum susunya neng dong, kangen nih. Susu neng kan paling montok di antara temen-temen Neng. Hehehe. Sama main-main di memek neng ya. Tanggung tuh kayaknya, Neng. Hehehe.” pinta Bang Kiki yang melihat masih ada lelehan cairan cinta yang keluar dari vagina Okta.
Okta yang menyadari bahwa vaginanya masih memuntahkan lahar nikmat langsung reflek merapatkan pahanya. “Ih, abang ngintip-ngintip.”
“Ya udah dibuka atuh, Neng.”
Sambil masih duduk di bangku teras, Okta membuka handuknya, membiarkan tubuh moleknya menjadi santapan Bang Kiki yang terlihat seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
“Ya ampuuun… makin montok aja si neng, mah. Teteknya gak nahan nih, Neng, beda bener sama punya neng Hani sama neng Eva.” kagum Bang Kiki sambil mulai memilin-milin puting susu Okta.
“Shhhh… aahhhh… abangghh bisa ajaahhh… belom pernah liat teteknya Arina kaannhhh… aaahhh…” desah Okta pelan karena sadar mereka berada di teras, yang walau tertutup dan jalanan memang sepi, suaranya masih bisa terdengar kalau ada orang lewat.
“Belom, Neng, belom kesampean nyusu di teteknya mbak Arina.” jawab Bang Kiki sambil terus memainkan puting besar Okta.
Setelah kedua putingnya mengeras, barulah Bang Kiki mulai menyodorkan bibirnya ke pentil tetek Okta. “Aaahhh… sshhh… aaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi saat serangan Bang Kiki berubah menjadi hisapan di bukit kembarnya. “Bang… aaaahhhh… terussshhiiinnn… aaaahhhhh…”
Badan Okta langsung bergelinjang saat Bang Kiki menghisap kuat-kuat putingnya dan tiba-tiba Bang Kiki menusuk vagina Okta dengan 2 jari sekaligus. “Aaaaaaaaa…” pekik Okta saat mendapat serangan kedua di area kelaminnya.
Bang Kiki terus menusuk-nusuk vagina Okta yang sudah basah dengan 2 jari, menyebabkan tubuh molek itu berguncang kesana kemari. Pergerakan badan Okta pun menyebabkan putingnya yang sedang digigit Bang Kiki tertarik sendiri sehingga menimbulkan sensasi geli dan sakit yang bercampur nikmat.
“Enak gak, Neng? Abang terusin ya sampe neng keluar,”
“Enakkkhhh bangghhh… aaaahhhh…”
Slup, slup, slup, slup, bunyi kedua jari tangan kanan Bang Kiki yang menusuk-nusuk vagina basah Okta. Berganti ke payudara sebelahnya, Bang Kiki menyiapkan serangan baru saat puting payudara Okta yang sebelah kanan mulai dicocor bibir birahi Bang Kiki sambil keempat jari tangan kanannya bersiap menghajar memek Okta.
“AAAAAAA…” teriak Okta saat keempat jari itu mulai menusuk vaginanya bertubi-tubi. Vagina Okta benar-benar dihajar sampai mengeluarkan cairan lebih banyak lagi. “Enakkk… aaahh… terussshhhhhh bangggghh…”
Sambil mengigit kecil puting Okta yang sebelah kanan, Bang Kiki mengorek-ngorek vagina Okta dengan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan kelamin Okta, yang satu lagi masuk ke dalam vaginanya, bermain di sana sambil sesekali menyentil biji klitorisnya yang belum lama tergigit Edwin sehingga masih ada sedikit rasa perih di sana.
“Aaahhh… yeess bang… aaahhhhhh…”
Merasa sudah menguasai Okta, Bang Kiki pun langsung meminta permintaan terlarang. “Neng, abang entot aja ya biar cepet neng keluarnya? Dari tadi gak keluar keluar sih si neng.” bisik Bang Kiki sambil terus menyerang vagina Okta.
“Shhhh… aaahhhhh… iiiyaaahhh bang… terserahhh abanggg ajahhhh…”
Mendapat lampu hijau, Bang Kiki langsung mengeluarkan penisnya dari balik celana pendeknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap bermain di dalam vagina Okta untuk memastikan tegangan birahi gadis itu tidak turun. Penis berukuran 18 cm mengacung tegak siap menghunus ke dalam memek Okta yang sudah cukup pemanasan dari tadi.
“Hmmpphhhh… hhmppphhh…” Okta kaget saat bibirnya tiba-tiba dicium Bang Kiki. Lidahnya perlahan tapi pasti coba menyapu mulut Okta bagian dalam. Terbawa birahi, Okta pun membalas sapuan lidah Bang Kiki tanpa sadar ada benda tumpul yang sedang mendekati alat kelaminnya.
SLEPP…!!! Dalam sekali hentak, penis Bang Kiki menerobos masuk ke vagina Okta dengan mudah.
“Akkhhh…!!” pekik Okta tertahan saat tiba-tiba dirasakannya vaginanya penuh oleh penis Bang Kiki.
“Akkhhh… bangghhhh…” belum sempat melanjutkan ucapannya, Okta kembali mendesah hebat saat Bang Kiki mulai memompa liang vaginanya.
“Akkkhhh… aaahhhh…” Bang Kiki memompa kelamin Okta dengan tempo pelan, membiarkan vagina mahasiswi itu terbiasa dengan penisnya. Sambil meremas-remas payudara Okta, Bang Kiki terlihat sudah dikuasai nafsu untuk menyetubuhi Okta.
“Tahan ya, Neng, abang cepetin nihh… aaaahhhh…” ucap Bang Kiki sambil mempercepat genjotannya di kelamin Okta.
Okta yang sudah terjebak birahi hanya bisa mendesah nikmat mengikuti irama genjotan Bang Kiki. “ Ssshhh… aaahhh… terusshh banggghhh… enakkkhhh… ooohhhh…”
Plok, plok, plok, plok, begitu bunyi pertemuan kelamin dua insan itu seiring semakin cepatnya Bang Kiki menggenjot tubuh Okta. Sudah 30 menit sejak persetubuhan itu dimulai, belum ada satu pun yang terlihat akan keluar.
“Ahhhh… ahhhhh… ahhhhh… ahhhh…” tubuh Okta berguncang hebat karena genjotan Bang Kiki di vaginanya. Dadanya berguncang hebat seiring gerakan tubuhnya.
“Ahhhh baaanngggghhhh… akhuuu mauuu kheluarrr… sshhhhh…”
“Ahhh… iya Neng… bareng atuhhhhh…”
Crooott crooott crooott… Sperma Bang Kiki muncrat memenuhi liang senggama Okta yang juga kembali mengeluarkan cairan kenikmatannya.
“Ahhhhhh…” rintih Bang Kiki seolah berusaha mengeluarkan seluruh spermanya tanpa sisa ke dalam memek Okta.
“Ahhh baaannggg…” Okta tidak kalah bersuara saat merasakan liang vaginanya disiram cairan hangat yang sangat kental.
Selesai orgasme pertama, Bang Kiki dan Okta seolah terdiam dengan kedua kelamin mereka masih menyatu. Rasanya mereka masih berusaha menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Duuhhh… ini si abang nagihnya gak liat-liat tempat ya!!” tiba-tiba terdengar sebuah suara menegur pasangan yang baru saja dilanda orgasme itu.
Arina

Ternyata itu Arina, penghuni kontrakan yang lain. Arina adalah penghuni kontrakan yang paling tua di antara yang lain. Ia bekerja di salah satu bank swasta. Perawakannya yang berkerudung dan alim membuat siapa pun segan kepadanya. Namun, siapa yang menyangka bahwa pemilik buah dada berukuran 34B itu bukan orang baru dengan aktivitas seperti yang baru saja dilakukan Bang Kiki dan Okta.

“Eh, mbak Arina. Hehehe. Biasa mbak…” jawab Bang Kiki tanpa canggung walau Arina jelas-jelas bisa melihat penisnya masih tertancap di vagina Okta yang masih berusaha mengatur nafas.
Okta sendiri tidak menyadari kedatangan Arina. Ia masih bersandar sambil memejamkan mata, berusaha mengatur nafas dan menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Mbak mau?” lanjut Bang Kiki tanpa sungkan. Memang, di antara semua penghuni kos, hanya mbak Arina lah yang belum pernah dicicipi tubuhnya, bahkan untuk sekadar melihat dadanya saja Bang Kiki belum pernah.
“Yeeee… enak ajaaa. Aku kan selalu bayar full, Bang.” ujar Arina sambil sesekali melirik ke arah penis Bang Kiki yang tertancap di memek Okta.
“Ya sudah lanjutkan sana, Bang. Aku masuk dulu ya,” ujar Arina sambil masuk ke dalam, meninggalkan Okta yang tubuhnya masih tertindih Bang Kiki.
“Oke, mbak.”
Mata Okta perlahan mulai terbuka, ia mulai menyadari apa yang baru saja terjadi. Saat pandangannya mulai jelas, dilihatnya Bang Kiki yang sedang asik menjilati putting susunya, sambil tetap membiarkan penisnya tertancap.
“Ehh, Bang Kiki! Apaan nih!?” pekiknya kaget sambil mendorong tubuh Bang Kiki.
Plop!!! Begitu bunyi saat penis Bang Kiki terlepas dari memek Okta. Okta yang tersadar pun langsung mengambil handuknya dan memakainya.
“Lebih banget nih aku bayarnyaa…” tegas Okta.
“Hehehe. Neng Okta seneng juga kok waktu itu.” senyum mesum Bang Kiki mengembang sambil terus mengocok-ngocok penisnya yang perlahan bangkit kembali.
“Ihhh… mana keluar di dalem lagi. Untung aku lagi gak subur tau, gak?” ujar Okta setengah kesal saat meraba vaginanya penuh dengan lelehan peju Bang Kiki. “Udah ya, Bang. Udah lebih tuh bayarnyaaa.”
“Iya, neng. Hehehe. Makasih yak bonusnya. Puas banget dah abang sama badan montok neng. Hehehe.” ujar Bang Kiki sambil memasukkan penisnya kembali ke dalam celana.
“Ihhh dasar. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan nih si abang.” gerutu Okta sambil melihat Bang Kiki pergi meninggalkan kontrakannya. Tidak lupa seutas senyum mesum ditebar pengantar barang itu sebelum pandangannya dari Okta yang hanya berlilitkan handuk menghilang.
”Niatnya perjakain anak orang, malah diperawanin Bang Kiki.” keluh Okta dalam hati mengingat seharusnya penis pertama yang menghujam vaginanya hari ini adalah penis perjaka milik Edwin, tapi malah penis Bang Kiki yang pertama menerobos liang senggamanya hari ini.
Sambil melangkah ke dalam kontrakan, Okta melihat Arina sedang makan di meja makan. “Eh, mbak Arina. Kapan pulang, mbak?” tanya Okta bingung melihat tiba-tiba Arina sudah di dalam.
“Baru aja, tadi kamu nggak liat mbak masuk. Kamu kan lagi digenjot sama Bang Kiki tadi.” jawab Arina,
“Duhhh,,, jadi malu. Mbak lihat ya?” tanya Okta. Mukanya memerah karena malu. Meski sudah biasa dengan aktivitas tersebut, tapi Okta masih merasa segan kalau melihat penampilan Arina yang masih rapi seperti sekarang.
“Pake malu segala, kayak sama siapa aja sih. Keliatan banget lah. Wong kamu main di teras, untung gak ada orang lain liat.”
“Habisnya Bang Kiki sih. Orang tadinya cuma ngasih ngisep-ngisep tetekku aja jadi kelewatan.”
“Ya iyalahhh. Siapa juga gak tahan kalo cuma dikasih isep tetekmu itu tapi kamunya telanjang. Selain mbak, di kontrakan ini yang teteknya besar ya kamu, jelas Bang Kiki nafsu banget, dari kemarin dapetnya kecil-kecil.” jelas Arina sambil menyinggung Eva dan Hani yang payudaranya tidak seberapa besar.
“Hehehe. Iya sih, aku juga yang salah.”
“Yowes, tuh udah ditunggu sama cowokmu di kamar. Tumben kamu suka yang kecil, Ta? Biasanya kan cowok-cowokmu dulu gede-gede penisnya. Sampe melar ini punya mbak kalo gak minum jamu.” tanya Arina sambil menggosok-gosok selangkangannya, menyinggung tentang masa-masa saat Arina suka ‘meminjam’ pacar-pacar Okta, Hani, atau Eva untuk memenuhi kebutuhan biologisnya mengingat Arina belum pernah pacaran lagi sejak lulus kuliah.
“Oh iya! Oke deh. Aku tinggal dulu ya mbak. Itu bukan cowokku kok.” ujar Okta sambil berlalu. Mahasiswi itu segera masuk ke kamarnya yang lupa ia tutup lagi. Di meja makan, Arina hampir tersedak saat mendengar kalimat terakhir Okta.
“Loh!” pekik Okta kaget saat melihat Edwin sedang tertidur di ranjangnya… dengan penis mengkerut.

Author : Rieska

4 thoughts on “ARINA AND FRIENDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s