6 SAHABAT : BIMA & YUNI (PRE EPISODE 1)

Bandung, mendung. Sore itu Bima masih belum memutuskan untuk pulang. Kembali hari ini dia tidak masuk sekolah, rasa malas bertemu banyak orang kembali merasuki. Katana yang dia kendarai dalam hal ini mungkin merasakan hal yang berbeda, kalo saja mobil bisa berfikir. Hujan sebentar lagi pasti turun. Rasa lapar sesungguhnya sudah membuat perut Bima bergejolak, namun dia tetap enggan hanya untuk menghentikan mobil dan turun. Dari pagi sampai siang tadi dia berkeliling tidak jelas di Dago Pakar.
Menjelang pukul 16. Matanya memandang sosok yang di kenal. Yuni. Temannya satu sekolah. Perempuan cantik berkulit putih dan berambut indah sepunggung. Berjalan sendiri. Bima merasa heran, biasanya selalu ada Satrio disamping dia. Seolah menjaga Yuni dari seluruh laki-laki yang mendekati.

Refleks dia meminggirkan Katana kesayangannya, membuka jendela. “Yun, ngapain sendirian di sini?”
“Eh, makhluk setengah, gak tau nih, lagi males, jadi jalan geje aja.”
“Sama dong, mau bareng ber geje ria? Yu, masuk.”
“Hahaha, kamu mah perasaan setiap hari juga pemalesan Bim.” Jawab Yuni sambil masuk ke mobil Bima. “Jadi, mau kamu culik kemana Yuni?”

Langit tiba-tiba memuntahkan air dengan derasnya. Langit tetiba menjadi gelap. Dan angin yang sedari tadi sudah kencang menjadi lebih kencang. Bima menjalankan kembali mobilnya, pelan-pelan. Dia menikmati hujan yang turun ini, dingin, gelap tapi membersihkan.
Katana hitam modifikasi itu kembali berjalan di atas jalanan kota Bandung yang berlubang, membelah hujan deras. Percakapan antara Bima dan Yuni hampir dibilang tidak ada. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Satu jam mereka berdiam merasakan AC mobil. Hingga Yuni menggigil merasakan suhu mobil yang semakin dingin.

“Dingin?” Tanya Bima.
“Mayan, jaket ketinggalan di rumah Satrio.”
“Hmmm, ngomong-ngomong, dah sejauh mana hubungan kamu ama penjaga mu itu Yun?”
“Jahat banget, penjaga, kesannya gimanaaa …. gitu.”
“Lo, emang dia terkenal sebagai, ehem, monyet penjaga paling setia, hehehe, kata yang lain lo. Ya, menurut saya juga si, hehe.”
“Dasar.”
“Jadi?”
“Jadi, gimana ya? Ya gitu lah, sama dengan pasangan anak muda lainnya.”
“Owwww…”

Hening kembali melanda. Diam. Bahkan ketika mobil masuk ke SPBU, mengisi bensin dan keluar dari SPBU, keheningan tetap terjaga. Hingga Bima bertanya.
“Kalo, sori nih, hubungan ehem ehemnya udah nyampe mana Yun?”
Diam beberapa saat. Membuat Bima merasa bersalah telah bertanya.
Tersenyum Yuni menjawab, “Ya gitu de Bim. Udah gitu deh.”
“Udah gimana? Udah masuk belum?”
“Masuk kemana dulu nih? Hehehehehe.”
“Ya, kamu kan ada tiga lubang Yun.”
“Ih, apan nih, Bima jorok.” Sambil mencubit lengan kiri Bima. Bima berpura-pura kesakitan dan tertawa.
“Atas dan bawah.” Yuni menjawab singkat.

Bima langsung diam. Salah satu perempuan idaman banyak lelaki di sekolah sudah bukan perawan. Menelan ludah, setengah menyayangkan. Dia sendiri tidak bisa dibilang laki-laki baik dalam hal hubungan pria-wanita. Bima sudah menganal SPA, PP dan Lokalisasi terkenal kota Kembang sejak beberapa waktu lalu. Dia juga pernah bermain cinta dengan beberapa teman di sekolahnya. Sejak saat keluarganya berantakan, Bima terkesan tidak peduli dengan benar dan salah.
“Kenapa?” Sambung Yuni. “Jijik? Ilfil? Ato nyesel kamu memasukan perempuan murahan ke mobil ini?”
“Gak, justru seneng, ada makhluk yang sama kotornya dengan saya. Bedanya, kamu cantik seperti bidadari, saya jelek kaya gini.” Jawab Bima kalem.

“Kamu cakep ko Bim. Kalo aja dulu kamu … hahahahaha.”
“Kalo aja saya gimana?” Bima memandang penuh kedalam dua mata Yuni.
“Bim.” Perlahan Yuni mendekatkan wajahnya ke Bima. Bima pun tidak melewatkan kesempatan, dan akhirnya mereka berciuman.
“Manis.” Bima mengkomentari.
“Ma kasih.”
“Yun, mau maen kerumah saya bentar?”
“Yakin cuman bentar Bim?”
Dan Bima pun tertawa.

================================================== ========

Bima membukakan pintu kamarnya untuk Yuni, mempersilahkan untuk masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup dan mengunci pintu.

Tanpa menunggu, Bima memeluk Yuni dari belakang. Menghirup wangi dari leher jenjang Yuni, menempelkan hidungya. Kedua tangan Bima disimpan di atas pinggang Yuni yang ramping, “Kamu cantik sekali Yun.” Tersenyum Yuni memalingkan lehernya, dan di sambut dengan ciuman mesra oleh Bima.

“Hmmmmmmm…” Lidah mereka saling berpagut, makin lama makin bernafsu, tangan Bima naik, dari pinggang ke atas, dan berhenti tepat di atas kedua buah dada Yuni. Bima mulai meremas, “Aaaahhh …. “ Yuni melepaskan ciumannya, dan Bima beralih, dari bibir menuju telinga. Menggigit-gigit kecil daun telinga Yuni.
“Bimaaaaa, geliiiii ……”

Tak puas, masih memeluk dari belakang, Bima mulai membuka kancing seragam Yuni, satu demi satu, melepas seragam Yuni hingga jatuh ke lantai. Kemudian dia menyibakkan BH Yuni ke atas untuk merasakan langsung buah dada Yuni. Memilin-milin putingnya, mempermainkannya. Bibir Bima menemukan tengkuk Yuni, dan langsung menciumnya, terus merangsang yuni.
“Mmmmmmm, Bimaa, terus, geli, geliii…. “ Bima membalikan Yuni sehingga kini mereka saling berhadapan. Bibir mereka kemudian bertemu, saling memagut, melumat, lidah mereka berdansa bagai diiringi irama merdu.

Bima perlahan membuka resleting rok Yuni. Menjatuhkannya ke lantai. Kemudian melorotkan celana dalam Yuni hingga kini Yuni telanjang bulat menunjukan keindahan badannya. Bima menelan ludah, melihat badan yang indah, dengan kulit putih mulus, melihat wajah cantik Yuni, bibirnya yang tipis, dan sampai di situ pertahanannya sudah habis.
Bima merengkuh Yuni, memangkunya ke arah kasur. Menidurkannya dengan lembut. Kini yang jadi sasaran bibir Bima adalah buah dada Yuni, bibirnya langung mengarah ke puting merah muda Yuni, puting yang sudah mengeras sedari tadu itu benar-benar dinikmati Bima, di jilat, gigit, sedot, pilin.

“Ahhh, geli Bima. Yaaa, teruss, isep, aaa, gigit Bim…. Aaaahhhhh.”
Dan Yuni pun tidak mau tinggal diam, diarahkan tanganna ke penis Bima, diusap dari luar celana seragamnya. Membuka sabuk lalu kancing dan resletingnga. Kemudian dia raih penis Bima menyelusup ke balik celana dalamnya, “Udah keras Bim.”
“Jelas aja keras, setiap liat kamu nungging pake seragam di sekolah aja keras.” Pikir Bima.

Bima kemudian menghetikan aksinya, membuka seluruh seragam yang dia kenakan. Dan tanpa menunggu kembali dia menerkam. Tapi kali ini angsung ke vagina Yuni yang bersih dan berwarna pink. Dengan bulu kemaluan yang lumyan lebat tapi halus. Lahap dia mencium vagina indah dihadapannya. Mencari klitorisnya, dan mulai memainkan lidahnya.

“Aaahhhh, ssssssss, enak Bim, terus. Ah, ya, itu, di situ Bimaaaaa.” Kala Bima menyedot-nyedot klitoris Yuni, kemudian dia mulai memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Yuni yang sudah basah itu. Keluar masuk, mengobel vagina Yuni dengan semangat 45 seperti tak ada lagi hari esok.

“Bimaaa, pelaaannn, ahhhhh, pelan.” Bima tidak peduli, dia mengocokan jarinya semakin lama semakin cepat. Buci vagina Yuni yang sudah penuh oleh cairan kewanitaan pun cukup keras dia dengar. Semakin cepat, dan “Aaaaaaahhhhhhhh …. “ Yuni mengejang. Tubuhnya melenting, buah dada yang sempurna itu bergetar, orgasme yang dahsyat, belum pernah pacarnya mengocokan jari di liang vagina Yuni seerti itu.

Lemas, ngos-ngosan Yuni berucap, “Gila, memek Yuni kamu apain Bim? Sakit, tapi enak banget.”
“Udah, gak usah tau, sekarang mah, nih, emut ya?” Bima mengarahkan penisnya ke mulut Yuni.
“Gede Bim.”
“Ama Satrio gedean punya siapa?”

“Kamu dikit. Dikit lo ya? Hahahaha.” Dan Yuni langsung mencium penis Bima, menjilatinya, menjilatinya sampai ke pelir.
“Ah, ya, disitu Yun, nikmat, udah, isep sayang, isep.”
Dan Yuni pun langsung menghisap penis Bima, keluar masuk, dahsyat, bagaikan artis-asrtis di film porno, Yuni mengoral penis Yuni dengan cepat. Dalam, sampe ‘deepthroat’ pun dia lakukan.

“Yun, enak banget sayang, ah, ahhhhhh, gila, enak, mulut kamu enak , terus, yang dalem.” Tangannya tidak diam. Tangan kanan Bima memegang kepala Yuni dan memeju mundurkannya, dan tiba-tiba Bima menekankan pinggulnya ke depan sembari menarik kepala Yuni, memastikan seluruh penisnya masuk ke mulut Yuni.

“Heekkkkkkk, mmmmmmm.” Setelah beberapa saat, kembali kegiatan oral itu dilakukan, semakin cepat, “Ah, Yun, mau keluar. Aaaahhhhh.” Cepat muncratan sperma yang keluar dari penis Bima di dalam mulut Yuni, banyak dan kental.
“Banyak banget Bim, ampe belepotan gini mulut Yuni.”
“Hahaha, wajar, kamu si Yun, bener-bener ngebuat saya on abis.”
“Masih On gak?” Tanya Yuni.
“Masih sangat, sekarang, giliran lubag surgamu Yun.”

Bima mengarahkan penisnya ke vagina Yuni. “Siap?”, Yuni mengangguk. “Saya masuk Yun.” Dengan bantuan tangannya, Bima mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Yuni, seperempat, setengah, dan langsung tancap sampe seluruh penis itu dilahap oleh vagina Yuni.

“Aaaahhhhh.” Keduanya mendesah. “Memek kamu enak banget Yun, udah dimasukin ama siapa aja?” Tanya Bima sambil tangan kanannya meremas dada dikir Yuni sambil telunjuk dan jempolnya memilin-milin puting Yuni. “Ama Satrio aja ko Bim, waktu acara perpisahan kelas X kita dulu di Ciwidey.”

Bima tertawa, mengingat kembali saat itu, dia juga menikmatinya dengan salah satu teman wanitanya.
“Dasar, yasud, Bima mulai ya Yun?” Dan tanpa banyak bicara lagi, Bima mulai memompa vagina Yuni, pelan, namun perlahan-lahan mulai cepat, “Ahm iya, gitu Bim, cepet, yang keras, enak Bimmmm, enak banget say, ahhhh, gila, memek Yuni penuh, punya Bima keras banget, masuk, ahhh, mentok Bim.”

Mendengar itu Bima semakin bersemangat, dia mengangkat ke dua kaki Yuni, mengangkangkannya, ditekukannya kaki Yuni hingga lututnya menempel di dada Yuni, dan kembali Bima memompa vagina Yuni hingga bersuara, dan tentu saja, seprei Bima sendiri sudah basah oleh cairan vagina Yuni dan keringat mereka berdua. Pompaannya terus berlangsung, hingga. “Keluar, Bim, Yuni mau keluar, ah, ah, ya, ah, keluaaaarrr….”

Bima menghentikan pompaannya, membiarkan Yuni menikmati orgasmenya. Kemudia memulai kembali, kali ini tidak secepat yang tadi, dan dia kini melakukannya dalam gaya misionaris, sambil melumat bibir Yuni dan meremasi buah dada Yuni, tak lama kemudian dia mencabut penisnya, mengarahkannya ke wajah Yuni, mengocoknya, dan, crottttt ….

Spermanya muncrat memenuhi wajah Yuni, sebagian mengenai mata dan lubah hidung. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam mulut Yuni, hingga bersih Yuni mengoralnya.

“Hah, hah, gila Yun, kamu emang hebat. Beruntung si Satrio bisa dapetin kamu.” Bima kemudian memeluk Yuni, mengecup keningnya, dan berkata, “Masih jam 8, gimana kalo kamu ampe jam 10 di sini?”
“Hahahaha. Ngapain aja ampe jam 10 Bim?” Tanya Yuni sambil tertawa.
“Saya entotin.” Jawab Bima kalem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s