6 SAHABAT PART 1

Rian mulai membuka matanya, tugas yang dia selesaikan tadi malam benar-benar membuat dia harus begadang sampai jam 4 pagi. Setelah percobaan tidur yang gagal, akhirnya dia memutuskan langsung ke kamar mandi. Tugas Matematika dari guru killer, Pak Bonang, ya gak killer-killer banget sih, cuman punya kebiasaan menyimpan siswanya di tengah lapang dan menghormat tiang bendera selama jam pelajaran. Jam sudah menunjukan pukul 6.15 ketika Rian hendak pergi sekolah, “santai” gumannya. Jarak kostan Rian ke sekolah memang tidak jauh, 10 menit menggunakan motor kesayangannya juga udah nyampe kantin malah .

Seperti biasa, guru olahraga itu sudah berdiri di depan gerbang. Pak Ujang berdiri dengan tampang menyeramkan dengan senyum paksaan. Setelah merapikan motor di parkiran, Rian langsung menuju tempat favoritnya. Kantin sekolah. Sambil menyapa ke bu Nunung penjual soto, dia langsung ke kedai mang Encang, membeli sebungkus nasi kuning.

“Woi, pagi-pagi udah memamah biak begini.” Revi, sahabat Rian, satu dari 5 setengah bersahabat. Satu lagi disebut setengah karna anak yang bersangkutan jarang masuk sekolah. Revi, wanita yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpi Rian, baik yang kering maupun yang basah. Objek onani dan sahabat sejati. “Maklum lah Vi, anak kost.” “Alesan, bilang aja cari makanan kantin sekolah biar murah. Lagian kita kan udah tau semua Yan, kasbon kamu di mang Encang udah berapa? Hahaha.”
“Sialan.” Umpal Rian, “Gak gede-gede banget kali, masih dalam tingkat yang wajar. Gak kaya tabungan soto si Udin di bu Nunung.”
“Ya deh, iyaaaaaaaa. Eh, pe er udah Yan?” “Ya udah lah, napa? Mau nyontek? Mau bayarin nasi ini dulu ga?”
“Ogah.” Jawab Revi, “Lagi seret uang nih. Pe er mana pe er? Ada dua nomor yang belum.” Rian lalu memberikan buku Matematikanya. Sebenernya dalam hati Rian selalu berkata kapan saja kalo Revi meminta sesuatu, pasti, apapun yang kamu minta Vi. Namun itu tentunya hanya dalam hati. Revi, gadis cantik dengan tinggi sekitar 160 cm. Alis matanya yang lurus, hidungnya yang mancung, matanya yang teduh, dan yang paling utama, bibirnya yang sensual. Ingin sekali Rian melumat bibir itu. Mengelus rambut yang berada di balik jilbabnya, dan meremas buah dada Revi yang bulat sempurna.

“Sakit Bim, pelan-pelan.” Yuni berteriak kecil kala Bima menyedot buah dada Yuni sebelah kanan. Bima hanya tersenyum kecil dan tetap menyedot puting Yuni dengan penuh nafsu. Tangan kanannya merayap melewati perut Yuni yang rata dan menyelusup ke pantat Yuni, mencari resltering di rok SMA nya. Membukanya, dan langsung menarik rok SMA Yuni ke bawah melewati lutut Yuni. Yuni sedikit membantu dengan mengangkat pantat. Tangan Bima langsung diarahkan ke selangkangan Yuni yang sudah basah sedari tadi, setelah dicumbu selama setengah jam lebih, pastilah cairan vagina Yuni sudah keluar banyak.

Jari tengah Bima mulai digesek-gesekkan di belahan vagina Yuni. Basah. Dan Yuni semakin menggeliat. Jari-jari Bima mulai menyingkirkan bagian celana dalam yang menghalangi belahan vagina Yuni. Dengan sekali hentak, jari telunjuk Bima mulai menikmati liang vagina Yuni. Gemas, Bima mempercepat frekuensi kocokan jari tengahnya. “Bim, pelan Bim, aaahhh, Bimmmmm …. , Bimaaaa.”
“Yunnn.” Bibir Bima melumat bibir Yuni, “Mmpphhpfff … ” Bibir mereka saling berpagut, lidah pun saling bergumul di dalam mulut. Air liur mereka mengalir melalui sela bibir.

“Bimaaa, Yuni mau …. aaaahhhh …. ” Gelombang orgasme melanda Yuni. “Keluar Yun?” Dan Yuni pun mengangguk.
“Udah siap ya?” Tanya Bima lagi. Pelan Yuni mengangguk. “Tapi pelan-pelan Bim, lemes banget.” Bimapun langsung membuka celana seragam dan celana dalamnya. Dia memposisikan badannya di atas Yuni. “CD Yuni nya buka dulu Bim.” “Gak usah sayang, biar saya entot kamu dengan CD kamu masih dipake, saya singkirkan aja dikit ke pinggir.”

Perlahan Bima mulai memasukan penis nya ke dalam vagina Yuni, pelan, dan blessss. Masuk semua. “Bimaaaa.” Rintih Yuni, “Katanya pelan-pelan, aaaahhhhhh, Bim, ah.” Tanpa memberikan jawaban, Bima mulai menggenjot vagina Yuni. Tak berselang lama, keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua.

Masih jelas diingatan Bima, bagaimana dia pertama kali menikmati vagina Yuni. Yuni, salah satu siswi cantik disekolahnya, dengan rambut hitam lurus sepunggung, wajah cantik sedikit oriental walaupun Sunda asli, badan yang kurus tinggi dan langsing, berkulit putih bersih, namun memang ukuran buah dadanya tidak begitu besar, namun pas digenggaman Bima. Perempuan yang jadi incaran para lelaki di sekolah. Di sini, di atas ranjang tanpa dipan Bima, Yuni pertama kali dinikmatinya, walaupun sudah bukan perawan, karena keperawanannya sudah diambil oleh pacar Yuni saat ini, ya, mereka kini hanya menikmati seks tanpa ikatan kekasih, namun itu bukan masalah bagi Bima, seks bukanlah hal baru apalagi tabu buatnya.

“Bim, ahh, Bim, Yuni mau keluar lagi Bim. Ahhhh.” Rintihan Yuni semakin terdengar menggairahkan, menambah nafsu Bima yang mempercepat kocokan penisnya dalam vagina Yuni, “Keluarin aja Yun, ugh, memek kamu masih rapet juga, padahal udah di entot berapa kali Yun?” Tanya Bima. “Gak tau, sama kamu baru dua kali dengan ini, ama Satrio udah, aahhh, tiap malem … ahhhhkkk Bima, pelan-pelan, malem minggu, kalo Yuni gak dapet. Bim, keluar Bim, keluaaaarrrrr….” Tubuh Yuni menekuk, tegang, dan Bima langsung meremas sekeras-kerasnya kedua buah dada Yuni, menambah kenikmatan orgasme yang dirasakan oleh Yuni.

“Cape Yun? Saya belum mau. Bentar ya? Tahan.” Pinta Bima, Yuni cuman bisa diam. Dan Bima membalikan badan Yuni, telungkup. Dia lalu menyimpan sebuah bantal di perut Yuni. “Lubang ini udah pernah dimasukin Yun?” Tanya Bima waktu jarinya menyentuh anus Yuni. “Belum, takut. Katanya sakit banget.” “Owww, baguslah, tar bagian saya, hahahahaha.” Bima tertawa “Enak aja, sakit tau, gak mau.” Jawab Yuni ketus. “Kata si Lia anak IPS 1 sakiiiiittttt, Bima, bilang-bilang dong kalo mau masuk!” Teriak Yuni, ketika tiba-tiba Bima memasukan penisnya ke vagina Yuni. Bima hanya tertawa. “Ah, bohong dia, ugh, soalnya, hmppf, saya udah pernah nyobain.” “Serius Bim? Lia udah kamu cobain pantatnyaaaa? Agh, pelan sayang. Kirain kamu gak suka ama cewek pake kerudung.” Sela Yuni diantara rintihannya. “Saya suka siapapun yang cantik, kaya kamu Yun, ah, Yun, dah mau keluar nih, keluarin dimana?” Tanya Bima dengan cepat. “Di dalem aja Bim, lagi pake pil kok, ah, ah, Bim, bentar Bim, tahan dulu, Yuni dah mau keluar lagi, bareng Bim, Bim, ah, Bimaaa, keluarrrrrrrrr….!” Dan mereka pun merasakan orgasme yang dahsyat pada saat yang hampir bersamaan.

“Gila Yun, memek kamu bener-bener.” Merekapun berpelukan. Sisa-sisa air mani dan cairan kewanitaan Yuni meleleh keluar dari vaginanya. Dan Bima mencium bibir Yuni dengan lembut. Hmmm, ciuman ini, ini yang membuat Bima berbeda dengan pacarnya yang selalu langsung tidur, atau langsung meninggalkan Yuni sendiri tanpa ciuman ataupun pelukan setelah berhubungan badan.
“Bim, ini yakin gak apa-apa kita bolos? Ya, kamu sih udah disebut setangah ama gengmu malah, gara-gara jarang sekolah. Nah Yuni kan engga.” Tanya Yuni beberapa saat kemudian. “Gak apa-apa. Nyantey aja, justru dengan gini kita punya waktu lama buat maen.” Jawab Bima.
“Habis dah kalo gini badan Yuni. Terserah deh, tapi inget, jangan ampe ada bekas cupang, tar Satrio curiga.” Sambut Yuni, dan Bima hanya bisa tersenyum sambil kembali menindih tubuh mulus Yuni.

==========================================

Revi memandangi kursi kosong di seberang ruangan. Bima, sahabat mereka satu geng. Dan kursinya yang kosong, sekosong hati Revi saat ini. Sama kosongnya dengan hati Rian yang diam-diam memperhatikan Revi. Namun secepat kilat dia memalingkan wajah ketika Revi melihat ke arahnya. “Revi, apa dia ada hati ama Bima?” Batin Rian, karena hampir setiap hari jika Bima tidak masuk, Revi selalu melihat kursi kosong itu.

Rian, Revi, Ima, Gusti, Udin dan Bima. Lima setengah, julukan dari wali kelas mereka. Selalu bersama, dan selalu terlihat kompak. Waktu kelas XI, ketika mereka pertama kali dipertemukan, yang ada hanyalah Enam Sahabat, namun setelah orang tua Bima, bercerai, sosok Bima perlahan mulai menghilang namun selalu ada bagi mereka.

Sama halnya seperti hari ini, Bima masih belum masuk. Biasanya dalam satu minggu, Bima paling tidak masuk 3 hari, namun ini sudah hari ke empat. Udin pernah berkata bahwa Bima itu adalah sebuah anomali, anak orang kaya, pinter, ganteng, tapi pemalesan. Tapi bagian anomalinya ialah dia pandai menarik hati guru, segala urusan jadi mudah kalo ada Bima. Dan yang pasti, bu Nunung gak akan nagih uang soto ke Udin kalo Bima ada, karena Bima selalu ngebayarin dia. “Seneng ada temen untuk bisa berbagi.” Jawab Bima. Selalu saja seperti itu.

Tak terasa, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, tanpa dikomando, anak-anakpun langsung berhamburan keluar kelas. Namun Ima masih duduk di bangkunya, termenung. Sampai pundaknya ditonjok Gusti, “Woi, makhluk tercantik se kelas, ngapain lu bengong sendiri?” Ya, Ima memang lebih cantik dibandingkan Revi bahkan dibandingkan dengan semua siswi di kelas mereka. Dengan warna kulit yang lebih putih dari Revi, karena ada turunan china dari neneknya, dan hidung yang lebih indah, bahkan semuanya yang ada di diri Ima memang lebih cantik dari Revi, cara dia menggunakan kerudungnyapun yang selalu sederhana malah membuat dia lebih cantik.

Ya, guman Rian, namun Revi tetap yang terindah dihati ini. Ima dan Revi, dua wanita dalam geng. Keduanya berkerudung. Sama-sama gila kalo udah kumpul-kumpul. Cantik-cantik, walopun kata Udin bukan selera dia. Udin lebih menyenangi perempuan dengan potongan rambut pendek dan sedikit tomboy. Hampir semua mantannya seperti itu. Hanya satu yang tidak. Gusti sendiri, entah makhluk apa Gusti ini. Berbadan tegap dan kekar. Baik hati. Ganteng. Banyak perempuan yang suka, namun sepanjang sepengetahuan para sahabatnya, belum sekalipun dia menjalin cinta. Ima sendiri saat ini sedang memadu kasih dengan kaka kelas yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung ini. Dan Revi? Bidadari hati ini memiliki masa lalu yang pahit dalam percintaan. Lalu Bima, ya, makhluk ini bisa saja mendapatkan siapa saja yang dia mau. Dan dia sendiri? Rian berfikir, selalu saja ada Revi. Dari pertama kali dia melihat wajahnya ketika MPLS, sampai sekarang. Hanya ada Revi, namun dia tidak berani untuk melangkah.
“Gustiiiii, sebel. Ngapain ganggu?” Teriak Ima. “Jangan gangguin Ima Gus, lagi ada masalah dengan masnya.” Jelas Revi, “Udah sana, kejar dulu pak Guntur, itu tugas kamu kumpulin.” Lanjutnya.

“Kenapa Ma?” Revi bertanya ketika semua sudah keluar kelas. “Mas Gio, mmm, jangan bilang siapa-siapa ya? Janji?” Revi mengangguk. “Kemarin dia minta, hmmmm, kamu tau kan Vi, Ima baru ampe ciuman dan mmm, paling jauh remes dada Ima dari luar. Kemaren dia udah ngedapetin dada Ima dari dalem, udah nyedot puting Ima, terus, ini, nyupangin.” Revi tersenyum dan bertanya “Cuman gitu aja Ma?” Ima menjawab, “Nah, engga Vi, dia minta ngemut punya nya dia. Ima takut, bilang gak mau.” Revi kembali tersenyum, “Jadi dia pundungceritanya ?” Lanjutnya. “Pundung beneran, bukan ceritanya neng. Gak enak sih, pengenna muasin mas Gio, tapi takut”. Revi memeluk sahabatnya ini dan berkata “Nyantey aja Ma, kalo dia sayang ama kamu, dia pasti biasa lagi, cowok emang kaya gitu.” Ima lalu memandang tajam ke arah Revi, “Kamu pernah Vi kaya gitu?”. Revi tertawa, “Eeeee, gimana ya? Belum si, tapi kalo ampe pas foto sih udah lah. Hahahaha. Tapi gak pernah ampe dicupangin kaya kamu ya. Gak leveeeelll, aduh.” Ima menutup perkataan Revi dengan cubitan di tangan. “Ngomong-ngomong,” Lanjut Revi kemudian,”Enak gak diemut Ma?”. Dengan tersipu Ima menjawab, “Banget.”

*************

“Mas, kelapa muda dinginnya satu.”
“Kopi satu.”
“Ayamnya tambah lagi dua, di bakar.”
“Sialan, minta sama mas yang jualanna, jangan ka saya.” Gio mengeluh.
“Lah, sama-sama mas mas kan?” Ejek Revi. Semua tertawa. Sore ini seluruh geng 5 setengah kumpul di Punclut, plus satu, Gio, kekasih Ima. Menikmati sore hari kota Bandung sambil makan ayam bakar, nasi merah dan kelapa muda dingin. “Ga gitu juga kali.” Bela Ima, “Ganteng-ganteng gini juga pacar Ima.”
“Cieee, tapi masih kekar gue Ma, ni liat.” Gusti menimpali seraya memamerkan otot tangannya yang memang kekar. “Heh, Betawi edan, lu mah mikirin otot mulu, otak juga pake dong, masa body kayak gitu masih juga jomblo.” Ledek Bima, semua, kecuali Gusti pastinya ketawa. “Eh, Jawa kurang asem, gue bukan gak mampu dapet cewek, cuman belum mau aja.”
“Ya ni Gus, kamu homo ya? Perasaan dari kamu pindah ke Bandung kalo gak ama kita-kita, kamu maen ama sepupumu aja deh.” Ima menambahkan, “Kita semua sebenernya penasaran, tapi ga enak aja nanya, suer, kita-kita gak mau kalo kita nanya ama kamu, kalo kamu itu suka laki-laki ato perempuan?”
Tawa kembali meledak kencang, membuat tamu lain di rumah makan itu melirik ke arah mereka. Tak terkecuali para pelayan dan pemilik tempat makan itu.

Edan, 7 orang aja berisiknya kaya kebun binatang. “Say, kamu si itu sama aja nanya ama si Gusti. Parah lah.” Sambung Gio. “Ga papa mas, kali-kali, emang harus digituin tu anak.” Rian menimpali enteng.
“Lah, lu sendiri gimana Yan? Yuni, Atika, Ifa, mereka pada demen ama lu, eh, lu nya dingin, jangan-jangan lu yang gak normal.” Gusti membalas dengan cepat. “Udah, kalian cocok ko, jadian aja, kami ikhlas ko.” Sambil menikmati daging dalam mulut Revi memberi pendapat. Gusti kembali mengelak, namun Rian diam. Omongan Revi tadi walaupun becanda cukup membuat hati dia berdetak lebih kencang.

“Eh, serius mereka suka ama si Rian? Si Ifa yang cantiknya bukan main tapi dingin kaya putri es?” Bima bertanya ke Gusti. “Suer, potong tuh telinga si Udin kalo gue bo’ong.” Jawab Gusti. “Nah lu lagi Betawi, gue lagi enak-enak makan mau maen potong aja, potong tuh kemaluan lo. Ato jangan-jangan lu gak punya lagi?” Komentar Udin. Dan kemudian terjadilah perang mulut yang dahsyat membahana.

==========================================
“Mas, mau teh anget ato susu anget?”
“Susu Ima aja boleh?”
“Apaan ah. Genit. Weee.”
“Hahahahaha. Teh aja, jangan anget. Suhu ruangan aja.”
“Berapa derajat itu mas?”
“Ni anak, dicium geura.”
“Ah, gak usah mas ngomong gitu juga, biasanya maen terkam aja, hehe.”
Tak lama kemudian, Ima masuk ke kamar membawa dua cangkir teh. Kamarnya di lantai dua. Ima sendiri anak bungsu dari 3 bersaudara. Yang paling tua sudah menikah, tinggal di Jakarta, yang kedua anak laki-laki, malem minggu gini pasti ngilang entah kemana, orang tuanya jam segini pasti lagi asik nonto para wayang kocak di TV.

“Kamu seksi kalo udah pake kaos itu Ma.” Gombal Gio. “Apalagi kao gak dipake.” Senyum setan terpancar dari bibir Gio. “Uuuu, maunya.” Ima menjawab sambil mencibir. Menambah kecantikannya. Pulang dari Punclut, mereka langsung pulang ke rumah Ima. Hari ini Ima menggunakan celana jeans biru, kaus ketat dan kerudung warna putih dan jaket hitam. Ima menyimpan kedua gelas di atas meja belajarnya. Kemudian duduk di samping Gio di atas kasur dengan dipan warna coklat kayu. Di layar TV terlihat adegan laga dari sebuah film yang di putar di HBO. Sebetulnya, sedari tadi mata dan pikiran Gio sudah tidak fokus ke TV, melainkan ke Ima, kekasih cantiknya ini benar-benar mempesona.

Tanpa menunggu lagi, Gio memeluk Ima, dan mulai melumat bibir indahnya, mereka berciuman, awalnya pelan, lama kelamaan semakin bernafsu. Nafas mereka semakin memburu. Perlahan tangan Gio bergerak ke arah buah dada Ima, dia meremas pelan buah dada sebelah kanan, bergantian ke sebelah kiri, berharap menemukan putingnya dari balik kaos putih dan BH yang digunakan Ima.

Sampai pada suatu saat, saking bernafsunya, tangan kanan Gio meremas kedua buah dada Ima secara bersamaan. “Aaaaahhhh, massss, pelan, mmmm, slurp, mas, geli mas.” Gio melumat bibir indah Ima seperti tak ada hari esok. Gio sudah tidak sabar, diangkatnya kaos Ima ke atas, dan dilepaskan kaitan BH Ima, kemudian
dia kembali meremas dua gunung kembar yang indah itu. Ukurannya yang pas dengan puting merah muda yang tidak kecil dan tidak besar. Tangan kanan dan kiri Gio mulai memilin kedua puting Ima, Ima sendiri sudah gelagapan, rasa geli dan enak menyerang dirinya. “Mas, ooohhh…. ” Gio mengarahkan ciumannya ke telinga Ima yang masih tertutup kerudung. Ima merinding tapi merasakan kenikmatan yang tiada tara. “Enak sayang?” Gio bertanya. Ima hanya bisa mengangguk. Lemas. Ini kali kedua putingnya dipilin oleh kekasihnya. Laki-laki pertama yang melakukannya.

Ciuman Gio turun, ke arah leher, sedikit menyibakkan kerudung Ima, mencium lehernya yang putih jenjang itu, membasahinya, menjitatnya, menggigitnya, menciumnya kembali. Membuat Ima semakin tidak karuan. Kerudung Ima pun sudah sama tidak karuannya. Turun, bibir Gio diarahkan ke puting kanan Ima, menjilatnya, memutarinya dengan lidah, membuat Ima mendesah. Dan tiba-tiba, Gio membuka mulutnya lebar-lebar, menyedot buah dada kanan Ima kuat-kuat, memasukkan hampir seluruh buah dada kanan Ima ke dalam mulutnya. “Heggg.” Menahan nafas sebentar karena kaget dan nikmat. “Maaassss!!! pelan-pelan mas, enak tapi, terus, terus mas. Aaaahhhhh. Mas, iikhh, hah hah hah.” Ima tak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya. Tangan Gio terus meraja lela, kini turun ke atas perut rata Ima, turun lagi, dan berhenti di atas paha kirinya. Membelai, meremas, dan naik lagi sampai ke selangkangan Ima, “Aaaahhh, mas, jangan kesitu, geli.”

“Tahan bentar say, ntar juga enak.” Gio menjawab sambil terus menjilati puting Ima. “Puting kamu ngegemesin Ma, sluuurrppp, Ma, enak ga diginiin?” Ima menjawab dengan nafas yang tidak teratur, “Enak, tapi jangan yang di bawah, sakit mas.” Gio seakan tidak mendengar rengekan Ima tetap melakukan tindakannya. Kemudian dia menaiki Ima, menindih Ima di bawahnya, dan mulai menekankan kemaluannya di atas vagina Ima. Kembali Gio mencium bibir Ima, meremas dada Ima, memilin puting Ima, sampai dia mengerang. “Aaaaarrrghhh.” Dia orgasme dari peting yang mereka lakukan. Kemudian Gio membalikan badan, terlentang di samping Ima yang masih bernafas cepat. Kemudian dia mencium kening Ima, “I love you my angel.”

==========================================
Motor itu sampai di depan gerbang sebuah rumah. “Makasih Yan.” “kembali kasih Revi.”
“Masuk dulu gak? Kalo gak salah masih ada bandrek di dalem.” Ajak Revi. “Hayu, ada makanannya juga gak?”. “Dasar perut naga, makanan mulu ni anak. Bisa di atur lah.”Dengan perasaan gembira Rian memesukan motor ke halaman rumah Revi. Dan dimalam itu mereka berdua bercengkrama, berdebat, berargumen, curhat, tertawa bersama. Hati Rian sangat berbunga, melihat lirikan Revi dan senyumnya, bibirnya, ah, betapa indahnya itu bibir, coba kalo dilumat, pasti empuk.

Rian sudah terbiasa duduk berdekatan dengan Revi, apalagi kalo anak-anak lagi kumpul. Jadi tukang ojek pribadinya juga sering. Nonton berdua pun sudah gak bisa diitung lagi. Namun kali ini, berdua, di ruang tamu yang sepi, duduk bersampingan, saking dekatnya wangi kerudung Revi tercium dengan jelas. Hatinya selalu berdebar, setiap kali mata mereka bertemu lama. Dekat. Indah.

Tiba-tiba terdengar lagu tema Power Ranger, HP Rian berbunyi, SMS, dari Udin ngajakin maen DotA. Sialan si sarkudin, batin Rian, padahal udah ada chemistry. “Vi, saya pulang dulu ya, si Udin ngajak maen game.” Lagian, kalo kelamaan di sini nanti yang lain curiga, jam 11 malem masih di rumah Revi. Ada apa. “Ya udah, gih pulang sana. Ati-ati Yan, ma kasih ya.”

Malam itu Rian membawa motor dengan ringan dan bahagia.

==========================================
Suara bola biliar beradu keras. Pulang dari Punclut, Bima, Udin dan Gusti langsung ke arena biliar langganan mereka. Taruhan. Yang kalah harus menggoda mbak Lidya, kasir disana. Gusti yang minim pengalaman dengan perempuan jelas saja berjuang keras untuk menang. Bima, dilain pihak, berjuang agar menang, dia ingin menyaksikan usaha GUsti merayu mbak Lidya. Udin yang gak bisa maen diputuskan menjadi wasit, atau lebih tepatnya, saksi peristiwa yang akan datang.

“Sialan lu Jawa, gue kali ini kalah, tapi liat besok, pasti gue bales.” Kata Gusti.
“Udah, kalah mah kalah, noh, mbak Lidya noh, si cantik kutilang darat nan mempesona. Ini adik gue juga bangun terus kalo liat dia.” Bima menjawab sambil terkekeh. “Nah, lo aja kalo gitu.” Sambung Gusti. “Ogaaah, the deal is, the loser, that is you, must seduce her, hahahaha. Kecuali kalo lo pengecut.”

“Gue, pengecut? Kagak. Liat ni. Gue buktiin kalo gue bisa.” Dan Gusti dengan muka merah berjalan ke arah mbak Lidya, setengah jalan dia berbalik dan melangkah kembali, namun melihat Bima dan Udin joged bergaya seperti ayam dia kembali berbailk. Gak tau apa yang mereka bicarakan, Bima hanya melihat dari jauh ketika tangan Gusti di tarik oleh mbak Lidya ke atas. Terlihat raut muka Gusti yang panik. Bima dan Udin hanya bisa melongo dan tak sadar ketika bibir Gusti membentuk sebuah kata. “Tolong”

***********************

Musik keras yang keluar dari komputer di ruangan itu tidak terdengar jelas. Namun yang pasti jelas adalah pemandangan yang ada di pojok ruangan. Lidya dan Gusti sedang berciuman, atau lebih teptnya, Lidya sedang mencium Gusti dengan ganas. Gusti sendiri hanya bisa menerima sambil mencoba bernafas normal, tapi tidak bisa. Tangan kanan lidya menarik tangan kiri Gusti dan mengarahkannya ke buah dada seblah kanan. Gusti yang hanya pernah melihat adegan di film-film porno hanya bisa meremas tak beraturan, keras, dan kencang. Lidya memang tidak memiliki buah dada yang besar, namun remasan Gusti cukup membangkitkan gairahnya.
Lama kelamaan gusti mulai bisa mengimbangi. Dan pada saat itu, Lidya membuka resleting jeans Gusti dan langsung melorotkannya. Tonjolan kemaluan Gusti tercetak jelas di celana boxer yang ia kenakan. Dan itu pun tak lama. Sedetik berikutnya bagian bawah Gusti sudah tak tertutup sehelai benang pun.

“Mbak, ah, ini mau ngapain?” Gusti gelagapan bertanya. “Udah, diem aja, dari dulu saya suka liatin kamu, ganteng, kekar, udah lama saya bisa mimpiin bisa, aahh, Gus, gede banget.” Komentar Lidya ketika dia memegang penis Gusti. “Gila, anak SMA ko bisa segene gini, tapi kamu udah pernah ginian belum?” Tanyanya kemudian. “Belum mbak, paling cuman onani doang.” Jujur Gusti menjawab. “Bagus, berarti saya yang pertama. Oke, kamu diem sayang, saya udah siap.” Dan blesss…. penis Gusti kini berada di dalam vagina Lidya. Tanpa membuka rok, hanya melepas CD dan keduanya dalam keadaan berdiri.
“Aaahh, gede banget kontol mu Gus, enakkk… “ Rintih Lidya. “Ahh, mbak, enak, memek mbak juga, aahhhh, kalo tau ginian enaknya kayak gini, udah dari, aaahhhh, duluuuu …. “ Gusti merasa keeanakan. “Mbak, gak kuat mbak, mau keluar.” Tapi Lidya membentak sambil telunjuk kirinya menekan bagian dekat lubang anus Gusti, “Tahan, saya masih pengen ngerasain kontol gede kamu. Udah, kamu tiduran, biar saya yang di atas.”

Lidya kemudian menidurkan Gusti, dan kembali memasukan vaginanya. Sleppp. “Aaaahhhh, gede banget Gus, memek saya penuh, hah hah hah, gila.” Gusti hanya bisa merem melek, tapi kali ini dia tidak tinggal diam, tangannya mengangkat baju seragam Lidya, dan langsung mengangkat BH nya ke atas. Kedua tangannya mulai memainkan kedua puting Lidya, diremasnya kedua buah dada yang menggantung bebas itu. Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka Lidya, Gusti memasukkan jari tengah kirinya ke dalam anus Lidya. “Aaaaaaaahhhh, Gus, jangan, saya belum pernah di situ, hey, stop, aaahhhhh.” Tapi Gusti tak mau tau, dia sangat menikmati sampai lupa diri, tapi akhirnya “Mbak, udah mbak, gak kuat.” “Yaaa, saya juga dah mau keluar, bareng Gus, hah hah, hmmmmppfff, keluaaaarrrrrr.” Gusti menyemprotkan spermanya banyak sekali ke dalam vagina Lidya, dan Lidya sendiri menekukan badannya, kejang dan tegang, terasa oleh Lidya cairan sperma Gusti masuk ke dalam rahimnya. Untung dia lagi dalam program. Kalo gak celaka, ini masa subur dia.

Setelah beres-beres dan menggunakan pakaian, Lidya berkata “Jangan panggil saya mbak, saya baru lulus SMA 2 tahun lalu, panggil nama aja. Dan kamu kurang ajar, pantat saya ini masih perawan ting ting, untung tadi gak dalem.”
Gusti cuman menyeringai, “Ya maaf, habisnya mbak, eh, lo juga sih, beneran dah, gua nyerah. Tapiii, mmm …” Lidya memandang Gusti, “Tapi apaan?” Tanyanya. “Boleh kapan-kapan lagi gak?” Gusti bertanya. “Hmmmm, boleh gak ya?” Lidya berkedip manja, dan mencium Gusti, keduanya kembali berciuman untuk beberapa saat. “Boleh.” Jawab Lidya. Dalam hati Gusti merasa bahagia, bisa dapetin perempuan secantik Lidya. Cantik dengan kulit kuning langsat bersih dan mata tajam yang menggoda. Bibir tipis nan sensual, juga badan yang kecil namun padat.

==========================================
“Gila, ngapain aja kalian bedua di atas?” Bima bertanya ketika Gusti sudah bersama mereka lagi.
“Gue udah bukan perjaka lagi pren.” Jawab Gusti dengan muka merah dan bibir sumringah. “Bangsat lo Gus, tau gitu gua yang kalah tadi. Mbak Lidya, kasir cantik model gitu.” Omel Bima. Udin mengomentari, “Udahlah, bukan rejeki.” Bima mengusap dada. “Tapi tetep, tau gitu gue tadi ngalah.”
Dan merekapun pulang ke rumah masing-masing. Dua dengan rasa kecewa dan iri, satu dengan rasa puas teramat sangat.

==========================================
“Ma, bisa bantuin ga?” WA dari Revi ke Ima siang itu.
“Kenapa say?” Ima membalasnya.
“Ajarin Fisika dong”
“Gak bisa oon. Saya aja minta tolong mas Gio. Eh, tanya dia aja”
“Gpp nih saya nanya dia?yakin?”
“Yakin, gpp kok. Mas Gio gak bakalan mau ama kamu”
“Heh, dasar, gini-gini juga termasuk cewek incaran di sekolah ya”
“Ya, incarannya mang Encang, xixixixixi”
“Imaaaaaaaa…… “

==========================================
Jam 3, pusat elektronik Bandung, Rian berjalan pelan diantara counter komputer. VGA Card. Game yang kemaren dia beli membutuhkan VGA yang lebih bagus dari yang dia pakai. “Sial.” Gerutu Rian. “Uang tabungan kepake lagi nih.”
Brukkk. Dia menabrak seseorang. Empuk.
“Yan, ngapain di sini?”
“Vi? Lah, kamu juga ngapain?”
“Ngisi pulsa modem. Sekalian sambil nyari mouse. Yang di rumah udah lari entah kemana. Kamu ngapain?” Jawab Revi. Rian menjawab kalo dia nyari VGA card. Dan mereka sepakat untuk nyari bersama. Setelah dapet, keduanya memutuskan untuk makan dulu di lantai atas. Tapi langkah Revi terhenti. Sesosok laki-laki berdiri mematung dihadapannya.

“Revi?”
“Ka?”
“Sehat?”
“Sehat, oya, kenalin, Rian, pacar Revi.” Revi berbohong. Rian sendiri hanya diam melongo.
Ingatan Revi kembali ke satu tahun silam. Ketika dia masih memiliki kisah dengan orang dihadapannya. Bagaimana orang ini menjadi orang pertama yang melumat bibir indahnya. Bagaimana dia sering main ke kostan orang ini hanya untuk memberikan bibir, telinga dan leher juga sepasang buah dada yang bulat padat.

Masih teringat ketika Revi dan dia berciuman, lama, lama sekali. Dan rangsangan yang diberikan padanya membuat dia tidak tahan. Revi pernah orgasme dari permainan orang ini di kedua buah dadanya. Revi masih ingat, bagaimana dengan lembut, dia memainkan puting Revi dengan lidahnya. Bagaimana pada suatu hari, ketika keduanya bertemu setelah sebulan tak bertemu, bergumul dengan dahsyat di atas ranjang, peting seperti biasanya, namun kali itu, saking bernafsunya, rok Revi sudah melorot. Celana dalamnya pun sudah hampir turun. Kalau bukan ada telepon masuk, pasti Revi bakal ditelanjangi bulat-bulat di hari itu.

Dan Revi pun ingat, terakhir kali ketika mereka melakukannya. Ketika dia membuat Revi mengoral penisnya. Membuat Revi merasakan benda itu keluar masuk mulutnya. Melintasi bibirnya yang indah. Ketika orang itu menyelipkan penisnya diantara bongkahan dada Revi yang besar dan bulat, ketika spremanya muncrat ke wajahnya, dan ketika Revi harus membersihkan sisa-sisa dari sperma dengan menjilati pebis orang itu.

Dan di hari itu pula, Revi dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang mengaku tunangan orang itu. Brengsek. Kenangan yang lama disimpan keluar lagi.

==========================================
“Mas, hmmm, bentar, udah dulu, aaahhh, geli. Stop!” Ima menyingkirkan kepala Gio dari buah dadanya. “Dengerin dulu bentar ih.” Gio mendengus, “Iya, kenapa?”
“Revi minta diajari Fisika. Dan Ima bilang mas pasti mau.”
“Oh, gak apa apa, asal ada bayarannya aja.” Jawab Gio.
“Ih, ko gitu. Apa bayarannya?” Tanya Ima.
“Hmmmm, emutin punya mas.”
“Ogah ah, minta aja ntar ke Revi.” Tukas Ima.
“Oh, oke lah kalo gitu, tar mas minta ke Revi, sapa tau dia mau.” Jawab Gio sambil nyengir kuda.
“Iiiihhh, mas ko gitu, nyebelin deh. Udah, sini, emut lagi dada Ima.”
“Ah, bilang aja kali Ima lagi pengen.” Gio menimpali sambil tersenyum.
“Iya, emang, pengen diemut, yang keras. Tandain lagi ya mas.” Ima menjawab pelan, tertunduk malu.
“Dengan senang hati malaikatku.” Dan Gio pun melahap kedua buah dada Ima, menyupanginya satu persatu.

==========================================
“Yun,lg dimana.” SMS dari Bima. “Di rumah, kenapa? Kangen ya?”
“Ya nih, kangen bgt.” Bima menjawab.
“Kangen apanya nih? Yuni ato lubang Yuni?” Tanya Yuni.
“Semuanya Yun. Badan kamu juga, wangi tubuh kamu, dan sepongan kamu. Mantap.”
“Ini orang jorok banget deh, iiiiihhhh. Hhe. Yasud,tar malem km maen ke rmh , Yuni tunggu.”
Bima tersenyum. Kejadian tadi malam antara Gusti dengan mbak Lidya membuat dia terangsang berat. Sampai rumah dia langsung onani. Mikirin mbak Lidya yang cantik dan menggairahkan. Siang ini tadinya dia berencana ke SPA untuk menyalurkan keinginan si otong. Tapi dia lebih memilih Yuni, bisa diapain aja, segalanya, dan tanpa biaya alias gratis. Cantik, manis, baik, dan nikmat.
Segera dia bangun dari tempat tidur, bersiap untuk mandi, tapi langkahnya terhenti di sebelah tangga, dia mendengar suara ibunya di telepon. Keras, lantang dan mengancam. Secepat kilat dia memalingkan muka. Muak. Kenapa mereka memutuskan menikah, melahirkan dia, kalo akhirnya hanya menyia-nyiakannya.

==========================================
Hal yang sama berlaku pada Udin. Bermain DotA semaleman dengan Rian sepertinya kurang mengalihkan pikiran. Setelah Onani tadi malam, dilanjutkan pagi dan siang tadi, entah sore ini mau diterusin atau tidak, dia memutuskan menghubungi salah satu mantan pacarnya. Siapa tau bisa ‘sakecrot dua kecrot’ pikirnya.
Yang ada dipikirannya adalah Icha, dan langsung dia menghubunginya. Beruntung sekali Icha mau diajak ketemuan. Lagi bosen juga, katanya. Dan malam ini mereka bakal ketemu di tempat mereka jadian dulu. Mall di jalan Merdeka.

==========================================
“Jadi itu orangnya?” Tanya Rian kepada Revi. Mereka kini duduk bersebrangan di salah satu meja di food court itu. “Iya, dia.” Jawab Revi. “Maaf tadi ngaku-ngaku kamu pacar Revi. Dan tolong, jangan diungkit-ungkit ya? Revi muak ama si bajingan itu.”
“Gak perlu minta maaf, malah kalo emang iya pacar beneran saya pasti senang.” Pikir Rian, ah Revi, betapa indahnya dirimu. “Iya, nyantey aja kali, kaya ke siapa aja. Udah, gak usah dipikirin. Kita nonton aja yu? Sapa tau kamu bisa lupa.”
“Rian yang bayarin ya?”
“Yeeeee, ni anak. Iya deh.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s