6 SAHABAT PART 2

“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut
“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut

***********************

“Gini?”
“Bukan neng, gini harusnya.”
“Ah, bener, lebih pas.”
“Nah kan, apa saya bilang, kalo udah pas gini kan enak.”
“Ya tapi mas, soalnya kan susah, jadi gak bisa langsung ke baca.” Kilah Revi di hari Rabu itu. Jadwal belajar Fisikanya dengan Gio. Kali ini di rumah Revi.
“Vi, kemaren kamu udah bisa baca jenis soal kayak gini. Sekarang kenapa? Ko gak fokus. Problem?”
“Engga, ga ada apa-apa mas.”
“Yakin? Ya sudah kalo emang gak ada apa-apa mah. Tapi kamu jadi kurang fokus aja.”
“Hm, sebenernyaaaa ada sesuatu sih, tapi masih bisa dihandle.” Revi tersenyum. Senyum yang Gio tahu pasti dibuat-buat.
“Kalo ada apa-apa, kamu jangan ragu-ragu cerita ke saya. Nyantey aja. Ya?”
“Siap deh mas.”

“Tapi, itu ko ada kecoa di kerudungnya gak bilang-bilang?” Ucap Gio kala ia melihat memang ada kecoa di kerudung Revi.
“Hah, aaaaa, mana? Mana?”. Revi teriak, meloncat, dan refleks memeluk Gio, Gio sendiri tidak menyangka hasilnya bakalan seperti ini.
“Glek.” Empuk, ketika Gio merasakan sepasang buah dada Revi yang bulat empuk itu menyentuh dadanya. Gio menyingkirkan kecoa itu, tapi Revi masih juga memeluk dirinya. Dibiarkan beberapa saat walaupun hal ini mau tak mau mebuat penisnya keras, kemudian Gio berkata, “Mau ampe kapan nih meluknya? Bayar loh.”
Revi kaget, tersipu, dan melepaskan pelukannya pada Gio. Pelajaran kali ini diakhiri dengan perasaan canggung di kedua pihak.

Tak lama setelah Gio pulang, Revi terbaring di kasurnya, tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, namun kembali dia teringat Bima, pertemuannya dengan Bima dan Yuni Jumat kemarin masih berbekas di benak Revi. “Apa benar Bima ama Yuni? Tapi Yuni kan udah ada Satrio, ato mereka emang backstreet?” Ada perasaan iri dan cemburu di hati Revi. Perasaan yang segera ia simpan. Kemudian ia ingat Rian. Membuka HP nya, masuk ke Gallery, dan melihat foto Rian. Revi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Udahlah.” Pikirnya, dan kemudian Revi berdiri, membuka kerudungnya, dan masuk ke kamar mandi.

Teringat lagi kejadian tadi dengan Gio, dan Revi berusaha mengingat-ngingat kembali, kapan terakhir kali dia dipeluk oleh laki-laki. “Sudah lama.” Revi lalu menanggalkan seluruh pakaiannya, bersiap untuk mandi. Dan ketika menyabuni dirinya, pas dia memegang buah dadanya, kembali dia berpikir, mengingat terakhir kali dadanya itu diemut, dan putingnya dipilin. Tanpa Revi sadari, dia mulai menyenyuh dirinya, meremas sendiri buah dadanya.
“Aaaahhhh, ssssss” Revi mulai merintih, dan merasa geli. Tangan kanannya turun ke arah selangkangannya, menyentuh vaginanya, bermain disekitar belahan vaginanya.

“Hhhheeeeuuu, ah, sssss, ahhhh …… “ Jarinya menemukan klitorisnya, dan Revi bermain disitu, di tempat yang belum pernah disentuh oleh laki-laki. Mantannya pun dulu, walaupun pernah memainkan vaginanya, namun belum menemukan bagian ini.
Lima menit sudah revi menyentuh dirinya sendiri, sampai. “Aaaaaaahhhhhsssssss …… hah hah hah.” Orgasme dahsyat melanda Revi, setelah hampir 2 tahun dia tidak merasakannya.

================================

Gio memacu motornya dengan cepat, tujuannya sudah pasti, rumah Ima. Kejadian tadi dengan Revi benar-benar membuatnya naik. Di simpannya kuda besi di halaman rumah Ima, dan langsung dia menuju pintu, baru saja hendak digoyangkannya bel gantung di pinggir pintu, ibu Ima keluar. “Eh, Gio, mau ke Ima? Imaaaa, ada mas Gio nih.”

“Loh, Ibu mau ke mana?” Tanya Gio.
“Ke rumah neneknya Ima, sakit katanya, bapaknya Ima udah di sana, jadi Ibu mau nyusul. Udah makan belum? Kalo belum di meja masih ada makanan.”
“Udah ko Bu, tapi nanti kalo tiba-tiba rasa lapar datang menerjang, pasti ikut makan, haha.”
“Ya sudah, Ibu pergi dulu.”
“Ya, hati-hati Bu.” Gio memperhatikan sampai ibunya Ima menghilang dari pandangan sambil berpikir, “Mana nih si Ima, lama banget keluarnya.” Namun tak lama kemudian Ima keluar, segar, rupanya dia baru beres mandi, menggunakan kaos putih pendek, yang ditutup oleh jaket hitam, celana piyama dan kerudung langsung pakai berwarna putih.

“Hai Mas, dari Revi?”
“Iya, kangen Ima, jadi langsung ke sini.”
“Huuuu, gombal. Masuk mas”
“Pada kemana Ma?”
“Si kakak pulang malem, mamah dan papah di nenek, Ima tadinya udah ma….. mmmppphhhhf.”

Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Gio langsung menyambar bibir Ima. “Mas? Mhmm …. ah, slurp.”
Tangan Gio langsung meremas buah dada Ima, padat, kenyal, “Aaaahhh … mas.”
Bernafsu, Gio membalikan tubuh Ima, memeluknya dari belakang, tangan kirinya menyentuh pipi kiri Ima, mendorongnga agar Ima melihat ke arah kanan, kemudian kembali melumat bibir Ima, lembut, namun tetap bernafsu.

Lidah mereka saling melilit satu sama lain, kedua tangan Gio kini sudah berada di atas kedua buah dada Ima, meremasnya, memainkannya. “Ah, massss, masih di ruang tamu ini, aaahhhhhh, enak tapi, terusin dulu, aahhhhhh ….. “
Gio tidak menyia-nyiakan kesempatan, dilepaskannya jaket hitam Ima, dan dinaikannya kaos Ima ke atas, dia langsung menyentuh buah dada Ima dari atas BH nya. Tidak puas dengan itu, Gio melepaskan kaitan BH Ima, dan langsung memainkan puting Ima yang sudah berdiri, memilinnya, dan kembali meremas dada Ima.
Ima sendiri tampaknya terbawa oleh nafsu, dari mulutnya keluar rintihan yang menggairahkan, hal ini menambah nafsu Gio. Mereka terus berciuman, dan Gio pun mulai beralih dari mulut Ima ke arah telinga Ima yang masih tertutup kerudungnya. “Mas, aaaahhh, geli mas.”
Gio menyingkapkan bagian kanan kerudung Ima, dan dia langsung mencium leher Ima yang putih mulus, menjilatinya, membasahinya. Penis Gio dia tekan dengan keras ke pantat Ima “Ah, Ima, susu kamu bener-bener bagus Ma. Putingnya juga.”

Tangan kanan Gio kemudian turun ke selangkangan Ima. Ima sendiri langsung berteriak kecil. Piyama yang digunakannya terbuat dari kain yang tipis. Otomatis, kini jari Gio lebih terasa menyentuh belahan vaginanya. Gio sadar akan hal ini, apalagi dari nafas Ima yang semakin memburu dan rintihannya.
Sementara tangan kirinya tak henti meremas dada kiri Ima, tangan kanannya terus saja menggesek vagina Ima dari luar piyamanya, dan penisnya terus Gio tekan ke pantat Ima. Bibirnya sendiri sedari tadi sudah kembali menemukan bibir Ima. Dan tangan Gio sudah merasakan selangkangan Ima semakin lembab. Gio paham betul hal ini, karenanya terus dia mainkan jari-jarinya sampai akhirnya Ima mendapatkan orgasmenya.

“Mas, Imaaaa, aahhhh, keluar mas.” Lemas, Ima langsung duduk di lantai ruang tamunya. Gio mengangkat Ima dan mendudukannya di sofa. “Saya belum keluar Ma.”
“Ya, mas mau peting?”
Rupanya Gio ingin lebih, ini dibuktikannya dengan langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya, tidak mempedulikan protes Ima.
“Tolong kocokin sayang, ya? Mau ya?”
Kali ini Ima merasa sangat tidak enak, kemudian dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh penis Gio, untuk pertama kali Ima menyentuh kemaluan laki-laki, “Ya, kocok Ma.”

“Gini?” Ima bertanya sambil mengoco penis Gio dengan tangannya yang halus. “Iaaa, gitu sayangngng, ah, terus Ma.” Gio mendesah dan mengerang. Cairan pelumasnya pun sudah banyak yang keluar dari ujun penisnya. “Ma, mau keluar Ma, kocok yang lebih cepet lagi Ma. Ah ah ah, Ma, keluar, Imaaaaaa …”
Dan, crooott, spermanya keluar, muncrat, sebagian mengenai kerudung Ima, sebagian ke sofa, dan sebagian ke kaos Ima.

“Ahh!” Ima berteriak kaget. “Ih, Mas, jorok banget deh.” Apalagi ketika Ima sadar di tangannya pun terdapat sperma Gio. Gio sendiri hanya tersenyum puas. Ima kemudian membersihkan semua sperma Gio dengan tisu. Gio kembali memeluk Ima dan berucap, “Terima kasih cinta.”

Tapi rupanya itu tadi itu belum cukup buat Gio, dia kembali menciumi Ima, dan kali ini yang menjadi sasarannya sudah pasti adalah puting Ima. Ima yang masih kaget kembali tersentak, namun kali ini oleh rasa nikmat yang dirasa, apalagi ketika Gio membuka mulutnya lebar-lebar dan menyedot buah dada kananya, hampir seluruh buah dadanya masuk ke mulut Gio, “Aaahh, mas, enak mas, ah, ya, itu, mainin puting Ima mas.” Rengek Ima.
Gio menidurkan Ima di atas sofa, menindihnya, kembali melumat buah dada Ima. “Cupangin mas.” Kembali Ima merengek. “Kiri ato kanan?”
“Dua-duanyaaaaa, ah, enak.”

Gio terus membuat tanda, tapi dia tidak berhenti di dada, naik ke atas, Gio memberikan cupangan di leher, membuka sedikit kerudungnya ke atas, dan dia mencium telinga Ima langsung, tanpa tertutup oleh kerudung.
“Mas, geliiiii, aaaakhhhh ….”
“Tahan sayang, ntar juga enak.”
“Geli mas, gak kuat. Ssssss … Aaakhhh.”

Sedikit demi sedikit Gio mengangkat kerudung Ima, sampai akhirnya kerudung langsung pakai itu terlepas dari kepala Ima, dan terlihatlah rambut Ima yang hitam dan panjang, lehernya yang benar-benar jenjang dan putih. Gio langsung menyambar mulut Ima, dengan kedua tangannya bergerak dikepala Ima di antara rambut Ima yang indah.

Penis Gio yang belum dimasukkan ke dalam celananya menekan-nekan vagina Ima dari luar piyama, dan ini otomatis lebih dirasakan pula oleh Ima. Penis Gio langsung dan piyamanya yang tipis. Mereka terus saling tekan, saling raba, dan saling cium. Sampai mereka merasakan orgasme hampir berbarengan. Dimulai dari Gio, yang keluar dan disertai dengan dorongan pinggulnya yang kuat ke selangkanyan Ima, dan diikuti oleh Ima. “Ah, mas, Ima keluar mas.”
Ngos-ngosan, Gio masih berada di atas tubuh Ima. Memeluk Ima, dan mencium keningnya.

Gio merasa puas, kali ini permainannya dengan Ima sudah lebih jauh, tapi dia merasakan hal lain. Ya, peristiwa dengan Revi tadi. Dan yang jadi masalahnya, dia sempat bekhayal bahwa yang tadi dia remasi dan mainkan adalah buah dada Revi.

*****************************

Hari Sabtu, beberapa minggu setelah pertemuan Rian-Revi dan Bima-Yuni di bioskop, Ima mentraktir para sahabatnya makan. Hari ini ulang tahunnya ke 18. Udin membawa Icha, dan menyatakan kalo mereka udah jadian lagi. Namun yang sempat membuat suasana canggung adalah Bima yang membawa Yuni. Karena semua tahu, Yuni masih berstatus pacarnya Satrio.

Namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama, namun tetap saja, Yuni merubah suasana. Bahkan Rian pun beberapa kali mencuri pandang pada paha Yuni yang kebetuan saat itu menggunakan gaun dengan rok di atas lutut. Putih dan bersih.
Udin pun walaupun ada Icha, masih mencuri-curi pandang juga. Setiap ada kesempatan, pasti di ambil. Hal ini diketahui oleh Revi. Berkali-kali dia melihat ujung mata Rian melirik kaki Yuni yang panjang dan seksi. Namun dia diam saja. Bingung harus bertindak seperti apa.

“Saya ke aer dulu.” Bima berkata pada suatu waktu.
“Bareng Bim.” Rian mengajak. Di toilet Rian memberanikan diri bertanya ke Bima “Bim, kamu sahabat saya, saya gak mau ada apa-apa ama kamu dan Satrio. Maksud saya, siapa sih yang gak seneng ama Yuni. Cantik, seksi, putih, pokokna mah, wah! Tapi status dia masih ama Satrio. Kamu yakin?”
Bima hanya tertawa kecil, lalu menjawab “Ya, mau gimana lagi Yan, untuk saat ini kami nempel kayak perangko.”
“Gelo maneh Bim. Cari masalah. Tapi, ya, kalo ada apa-apa saya ada buat kamu. Terus maksudna nempel itu apa? Udah ah uh ah uh kalian?”
“Jiah, kayak gak tau Bima aja Yan. Udahlah, hahaha.” Jawab Bima dengan nada bangga.
“Anjrit, sirik uy.”
“Lah, kamu juga yang gak baleg. Si Ifa yang cantiknya bukan maen itu kenapa kamu jauhin. Si Atika juga, perempuan cantik gitu dengan body aduhai, walopun pake kerudung juga, tetep cakep, kenapa kamu gak mau?”
“Belum mau Bim. Bukan gak mau. Ngomong-ngomong, udah diapain aja si Yuni?”
“Hahahaha, mau tau? Tar saya ceritain.”

=======================

“Huft, cape mas, udah dulu ah.”
“Ya udah Vi, gimana tuan putri ajaaaaa.”
Sore itu kembali Revi dan Gio belajar bersama. Revi bener-bener mengejar ketinggalannya di Fisika. Supaya lulus UN ujarnya.
“Eh Vi, sori nih nanya, kenapa kamu masih jomblo, kamu cantik, baik, tapi ko sendiri?”
Revi terdiam, tapi akhirnya menjawab “Gak ah mas, sakit hati ama yang kemaren juga. Tar aja lagi. Nyantey.”
“Dasar, emang sakit hati kenapa?” Gio bertanya lebih jauh.
“Ya gitu deh, dia ternyata udah tunangan.” Entah kenapa, Revi ingin menjawab. Beberapa waktu berdua dengan Gio membuat Revi nyaman. Gio enak untuk diajak cerita, tidak menghakimi, dan tidak pernah sekalipun melihat dari sisi negatif.
“Ya, bodo dia. Perempuan cantik kayak kamu disia-siain.”
“Emang Revi cantik mas? Cantik mana ama Ima?”
“Ya gak bisa dibandingin gitu atuh Vi, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kamu pasti kalo lagi, ehm, gitu,” Gio menekankan pada kata ‘gitu’ “pasti berisik. Ya?”
“Ih, sok tau. Hehehe. Tapi bener sih, pernah Revi ampe di tutup mulutnya gara-gara berisik.” Jelas Revi.
“Tar, ditutup mulutnya? Emang lagi diapain?”
“Hm, jangan bilang-bilang ya? Itu, di emut.”
“Apanya? Hahahahaha.”
“Idih, itunya. Emang mas suka ngemut apanya Ima?”
“Baru dada ama putingnya si Vi.”
“Jiah, baru, emang mau ngemut apa lagi mas? Dasar.”
“Tapi, kamu udah pernah oral?” Gio kembali bertanya.
“Hm, udah sih, terakhir gitu, Revi ngoral dia. Ampe disuruh bersihin mani nya dia malah. Tapi udah itu tunangan dia dateng. “
“Hmmm.” Gio merenung, entah apa yang ada dipikirannya.
“Mas udah pernah di oral Ima?”
“Belum, baru dikocokin doang. Enak, hahahaha.”
“Dasar cowok, udah ah, ganti topik.”
“Haha, iya, tapi ngomong-ngomong, suka ngerasa pengen lagi ga Vi?”
“Hm, gimana ya? Hehehehe, masih mas.”

====================================

“Serius Ma? Bima udah gituan ama Yuni?” Revi mengklarifikasi ucapan Ima sebelumnya.
“Beneran, kata Yuni. Dia Ima tanya waktu itu, Ima gak mau Bima dan Yuni jadi susah. Kamu kan tau, Ima ama Yuni sebangku di kelas X. Terus dia cerita, kalo sebenernya Yuni suka ama Bima. Dan mereka udah beberapa kali ML. Tapi Yuni juga masih ada rasa ama Satrio.” Jelas Ima.
“Gak bisa gitu dong. Itu kan sama aja maenin Bima. Ko gitu si Yuni.” Protes Revi bersemangat. Padahal, sebagian kecil dari hatinya luka. Revi sadar akan hal ini. Cemburu dan iri. Cemburu pada Yuni dan iri dengan apa yang dilakukan Bima pada Yuni.
“Gak juga. Soalnya dilakukan tahu sama tahu dan suka sama suka, tanpa ikatan. Mereka bisa berhenti kapanpun mereka mau, kata Yuni. Tapi, yaaaa, gitu deh. Apalagi si Bima, kaya kucing nemu ikan. Pasti didahar, kayak gak tau sahabat kita satu itu Vi. Makhluk nekad dia mah.” Ima menjelaskan. “Pokoknya, kita gak usah ngehakimin mereka. Yang penting, sebagai sahabat kita harus selalu ada.”

Perbincangan di waktu istirahat tadi membuat Revi diam selama sisa jam pelajaran. Menjadi tidak fokus malah, berkali-kali dia ditegur guru pada jam-jam itu. Revi kembali melikah bangku kosong Bima dengan pandangan kosong. Ini tidak luput dari perhatian Rian.
“Revi, kamu bener ada hati buat Bima ya?” Pikir Rian, dan terlintas dipikirannya bahwa kedekatan Rian dengan Revi selama ini sebatas sahabat bahkan hubungan adik dan kaka. Revi sudah melihatnya seperti itu. Rian menarik nafas panjang dan melepaskannya. Sampai Udin di sebelehnya berkomentar, “Ngantuk maneh Yan? Ke aer gih, sambil saya nitip gorengan.”
“Maneh waeee. Jenuh aja Din, kalo kamu mau gorengan, sana, saya nitip minum.”
“Jiah, teu jadi ah.” Keluh Udin.

================

Beberapa hari ke depan semua berjalan sama seperti biasa, hanya saja ditambah Revi yang sedikit out of focus dan Rian yang berbeda, Rian masih memuja Revi. Namun kini dia mau ngobrol berlama-lama dengan Ifa, Atika dan siswi lain yang mendekatinya.
Terutama Atika. Ifa memang cantik, sangat cantik malah. Namun entah kenapa Rian lebih senang dengan siswi berjilbab. Menurutnya terkesan lebih seksi dan menggairahkan.

Hal ini pun tak luput dari mata Revi. Pernah suatu waktu, Revi melihat Rian sedang tertawa lepas bersama Atika di pojok sekolah dekat parkir motor. Revi cemburu, ya, dia merasakan cemburu. Namun tidak seperti apa yang Revi rasa ketika mendengar hubungan Bima dengan Yuni. Tanpa rasa iri, namun rasa cemburunya lebih besar sebetulnya, hanya Revi belum sadar.

========================
Hari berganti hari dan minggu pun berganti, tidak terasa ini minggu terakhir Gio mengajar Revi. Tiga minggu lagi Ujian Nasional di mulai. Perkembangan Revi sangat baik menurut Gio, walaupun akhir-akhir ini Revi sedikit malas dalam belajar. Dan hal ini yang membuat Gio menawarkan solusi bagi Revi.
“Minggu besok ada kegiatan ga Vi?” Tanya Gio di akhir sesi belajar itu.
”Gak ada, kenapa Mas? “
“Tangkuban perahu yu? Kita Refreshing aja. Mau?”
“Hmmm, gimana ya? Ima gimana?”
“Gak apa-apa. Ya, tapi dia gak perlu tahu juga. Nyantey aja. Gak bakalan terjadi hal-hal yang amat sangat saya inginkan ko.” Tengan Gio menjawab. Kalimat terakhir sebetulnya sangat dia harapkan ada. Lumayan, Revi, siswi berjilbab yang cantik. Memang kalah cantik dari Ima, tapi setiap Gio berduaan dengan Revi, pandangannya selalu mencuri kesempatan untuk melihat buah dada Revi yang membusung kencang. Bulat.
“Hmm, liat entar deh ya. Kalo gak ada kegiatan apa-apa.”
“OK.”

====================================
Rian memandangi layar memandangi layar HP nya, dia memandang chat window antara dia dengan Revi. Sudah beberapa hari Rian ingin menghubungi Revi, dan ngobrol lagi sampai malam, namun rupanya dia masih belum berani. Alih-alih mengawali percakapan, dia membuka beberapa foto Revi yang dia miliki. Menciumnya, kemudian melakukan hal yang biasa dia lakukan sambil melihat foto Revi, onani.

====================================
Bima memandang keluar jendela kamarnya. Dia lebih menyukai perempuan berambut panjang. Apalagi mereka yang dengan tidak segan mempertontonkan keindahan tubuh mereka, putihnya paha mereka atau indahnya leher mereka. Namun tadi, ketika dia melihat Rian bersama Atika jalan bareng di toko buku, dia menyadari sesuatu, jilbab atau tidak, mereka tetap cantik dan seksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba adiknya naik, hanya memikirkan Atika dan membayangkannya. “Sial.” Gerutu Bima dalam hati, dan dia mulai memikirkan Ima dan Revi, sahabatnya yang cantik. Terutama Ima, karena Bima memang menyukai perempuan dengan kulit putih, dan Ima memang sangat putih dan mulus.
Tidak kuat, Bima langsung lari ke kamar mandi.

====================================

Udin melihat foto bareng dia dengan Icha. Mereka tadi sore iseng berfoto di booth foto. “Icha.” Gumannya lirih, dulu dia sangat mencintainya, kini pun masih, walaupun tidak dengan sangat. Dia mengelus foto itu. Icha memang cantik. Sawo matang, eksotis, bodi yang aduhai. Tapi ada yang kurang, ya, mantan Udin. Mantannyaterakhir bukan perempuan tomboy seperti Icha ataupun mantan-mantan dia yang lain, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dia gambarkan. Mungkin hanya sebuah pembenaran keadaan, dia laki-laki dan menyukai perempuan, titik. Bukan perempuan tomboy.

====================================

Ima melihat dada kanannya di cermin. Melihat cupangan baru yang tadi Gio buat. Tersenyum. Entah kenapa dia suka dilakukan keras, atau lebih tepatnya kasar ketika melakukannya dengan Gio. Dan dia menyentuh buah dadanya itu, meremasnya. “Kencang, masih kencang.” Pikirnya, dia sedikit khawatir, karena remasan tangan Gio di buah dadanya itu seringkali keras, belum lagi sedotannya.

Kemudian diamenyibakan rambutnya, sebuah tanda kecil juga ada di lehernya sebelah kiri. Kembali dia tersenyum, lalu berdiri, mematikan lampu kemudian berbaring di tempat tidur. Ima tidak langsung tidur, melainkan tangannya turun, membelai kemaluannya. Tadi Gio memainkan tangan dan jarinya disana, setelah satu tahun pacaran, baru tadi kemaluannya disentuh langsung oleh Gio. Basah, geli tapi nikmat. Dan Ima tahu ini salah, namun dia berharap, pada pertemuan lain kali, dia menginginkan Gio bertindak lebih.

====================================

“Cantik.” Pikir Revi ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Melihat alisnya yang lurus den lumayan tebal. Hidungnya yang bagus dan mancung, dan bibirnya yang memang indah. Bibir itu sudah dipuji oleh banyak orang, diantaranya Gio dan Rian, ya, bahkan Rian terlalu sering memuji bibirnya. Bima? Belum pikir Revi, Bima belum pernah memujinya.

Menguap, Revi kemudian berjalan menuju tempat tidur. “Huft, harus tidur nyenyak. Besok mau ke Tangkuban.”
Memejamkan mata namun tak lama kemudian dia kembali membuka matanya. “Mas Gio.” Rupanya ketika menutup mata tadi, Revi melihat bayangan Gio, laki-laki yang selama ini menjadi kekasih Ima, namun baru dia sadari kalo Gio penuh perhatian dan baik, dan diapun menyadari, kalo sebenarnya Gio sering memperhatikan dia. Tapi Revi membuang jauh-jauh pikiran itu. “Gio punya Ima.” Kemudian Revi tertidur.

====================================

Gusti belum memejamkan mata. Di sampingnya Lidya tertidur pulas tanpa pakaian. Tangannya mengelus rambut Lidya. Permainan tadi benar-benar dahsyat, dia sampai keluar 5 kali. Lidya sendiri entah berapa kali.
Dia mencintai perempuan satu ini. Walaupun masih belum pernah mengucapkannya. Namun dia yakin, jika ini adalah cinta. Karena dia tidak peduli kenyataan bahwa Lidya 2 tahun lebih tua dan bukan perawan lagi. Gusti tidak pernah bertanya siapa yang mengambil keperawanannya, dia selalu beralasan, nanti juga Lidya bilang kalo sudah waktunya.

Tangan kanan Gusti perlahan meraih buah dada Lidya, meremasnya. “Hmmmmmm….” Lidya mendesah, Gusti tersenyum, sadar bahwa adiknya mulai bangun. Dia melihat jam, pukul 11.30. Dia belum bisa tidur. Baru kali ini dia menginap di kamar Lidya. Masih belum terasa kerasan. Gusti memejamkan matanya berusaha tidur, namun di kepalanya kembali terulang adegan-adegan tadi, adegan gila yang mereka lakukan ………

**********

Gusti mengingat-ngingat kejadian tadi, ketika mereka baru saja sampai kamar kostan Lidya.
Gusti melucuti semua pakaian Lidya, kini Lidya tidak mengenakan sehelai benangpun. Terlihat badannya yang meliuk indah dengan kulit kuning langsat yang bersih. Rambut sebahunya tercium harum kala gusti menciumi telinga Lidya.

Malam ini keduanya memutuskan untuk tidur bersama di kostan Lidya. Tidak begitu jauh dari tempat Lidya bekerja, dan bukan kostan yang memiliki peraturan ketat dari para penyewa. Tadi siang Gusti dan Lidya berkeliling kota sampai malam ini, dan kini, mereka memutuskan untuk salking mengeskplorasi diri.
Ciuman Gusti merambat semakin turun, kini berada pada buah dada Lidya yang kanan, diciumnya dada Lidya dengan lembut, turun lagi ke perut Lidya yang rata, dijilatnya pusar Lidya dan dimainkannya lidah disitu.

“Mmmmm, geli Gus.”
Terus turun, ciuman Gusti bersarang di paha Lidya, dijitatinya paha yang mulus itu. Kemudian Gusti berdiri, dilumatnya bibir tipis Lidya, disedotnya bibir Lidya, kemudian dimainkan lidahnya.
Berhenti, Gusti memandang wajah Lidya, keduanya tersenyum. “Malam ini kamu milik saya Lid.” Gusti langsung mendorong Lidya ke tembok. Melumat bibirnya, sementara tidak henti kedua tangannya meremas kedua buah dada Lidya. Keras.
“Aaaakkhhhh, pelan Gus, sakitttttt…. “ Namun Gusti tidak mempedulikan rintihan Lidya, kini jarinya memainkan kedua puting Lidya, memilinnya. Tidak puas, mulutnya kembali turun, menjilati puting Lidya, menyedotnya, lalu menggigitnya.
“Guusssss ……. , ah ah, aaaaaahhhhh ….. “ Buah dada kanan Lidya masuk seluruhnya ke dalam mulut Gusti. Gusti benar-benar menikmati hal ini. Apalagi melihat wajah Lidya yang kesakitan namun menikmati.

Tangan kanan Gusti turun ke bawah, mengarah ke selangkangan Lidya, basah, jari-jari Gusti mencari klitoris Lidya, menggesekan jarinya dalam proses. Setelah ketemu, Gusti menggesekkan jarinya pada vagina Lidya, keras dan cepat.
“Sssshhhhhh. ….. aaaaaaahhhhh, Gus, ah ah, enak Gus, ya, gitu, ah ah aaaahhhhhh…” Tangan Gusti masuk ke dalam vagina Lidya, mengobel-ngobelnya, dan Gusti melakukan sesuatu yang baru pernah dia lakukan pertama kali, meniru dari film-film bokep yang sering dia tonton. Gusti mengangkat kaki kanan Lidya, menopangkannya pada kursi. Dan Gusti memompa vagina Lidya dengan dua jari yang dia masukan dalam vagina Lidya, semakin lama semakin keras, samapi terdengar kecipakan air vagina.

“Gus, pelan, gilaaa, aaaahhhh, Gustiiiiii, keluar, keluar, aaahhhhhhh.” Badan Lidya mengejang, membungkuk dan kedua tangannya memegan tangan kanan Gusti yang jemarinya asih berada dalam vagina Lidya.
“Hah, hah, hah, lemes, enak banget Gus. Tapi jijik ah, itu lantai basah banget.”
“Yey, punya sapa tu coba yang basahin? Hehehehe” Gusti kemudian membuka pakaiannya, dan menyodorkan penisnya ke Lidya. Tanpa diperintah, Lidya langsung bersimpuh di lantai. Memegang penis Gusti yang sudah mengeras, menjilatinya, tak lupa pelir Gusti dia basahi.
Namun rupanya Gusti tidak sabar, dipegangnya kepala Lidya, dan diarahkan mulutnya ke arah penis Gusti, memasukannya dan Gusti mulai mengentot mulut Lidya. Kedua tangannya meremasi rambut sebahu Lidya, terus memompa mulut Lidya, cepat dan dalam.

“Heggg, pwweln Gwus.” Namun Gusti terus memeompa penisnya, tanpa memberikan Lidya waktu untuk bernafas lega. Terus, terus dan terus. Gusti beberapa kali menekan pinggulnya ke kepala Lidya, menyebabkan penisnya masuk sampai ke tenggorokan Lidya, terus memompa sampai, “Aaaaaarrrggh… “ Melenguh panjang, Gusti menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Lidya menekankan lagi pinggulnya, mendiamkan penisnya beberapa saat dalam mulut Lidya, lalu beru mencabutnya.
“Uhuk huk, aahhhh.” Lidya terbatuk, meludahkan sebagian dari sperma Gusti dan berusaha untuk bersandar di tembok, namun Gusti rupanya belum selesai, alih-alih membiarkan Lidya beristirahat, Gusti mengangkat tuguh Lidya untuk berdiri, membalikan badannya ke arah tembok dan memeluknya dari belakang. Menciumi telinga Lidya juga lehernya dari belakang. Kemudian Gusti memposisikan tubuh Lidya agar menungging.

Pasrah, Lidya mengikuti apa keinginan Gusti, dia menungging, dengan kedua tangannya menempel pada tembok kamarnya. Gusti mulai menggesek-gesekan penisnya pada vagina Lidya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia mulai melesakkan penis itu ke dalam vagina Lidya.
“Aahhh …. Ya, yang cepet Gus.”
“Kamu pengen saya gerak cepet sayang?”
“Ahm, iya, yang cepeeetttt, yang kerasss. Ya, kaya gitu say, hah hah hah, yaaaa, aaaaakkkhhh.” Mendengar rintihan dan desahan Lidya membuat Gusti memompa vagina Lidya seperti kesetanan, tanpa henti, bertubi-tubi dan tanpa kenal lelah, keringat mereka berdua sudah bercucuran di lantai, dan mereka berdua sudah mengeluarkan suara dan desahan yang cukup keras.

Beruntung kostan Lidya bukanlah kostan dengan peratruan dan penghuni yang ketat. Suara seperti ini bagi para penghuni adalah hal yang biasa.
Gusti terus memompa vagina Lidya samapi tubuh Lidya menegang keras, Lidya sendiri berteriak cukup keras menikmati orgasmenya yang ke dua ini, kemudian lemas, dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Untuk Gusti cepat tanggap dan menahannya. Mengangkatnya kembali, dan kali ini menekan tubuh Lidya hingga seluruh tubuhnya menempel pada tembok. Tangan kanan Gusti kembali mencari lubang kenikmatan Lidya, dan mengarahkan penisnya ke arah situ. Setelah ketemu, langsung tancap, Gusti memasukan penisnya ke dalam vagina Lidya.

“Mmmmmppppp, ah, ah , ah .. aaahhh.” Lidya kembali merintih, Gusti menekan pinggulnya sehingga penisnya yang besar itu masuk semakin dalam. Tangan kiri Gusti memainkan buah dada kiri Lidya, dan pada saat yang bersamaan tangan kanannya bergerak menuju anus Lidya, tanpa ijin, Gusti membenamkan jempolnya ke dalam anus Lidya.

“Aaaaaakkkhhh, Gusti, ahhhh. Annnjrit, sakiiitttt, aaaaahhh.” Lidya berusaha berontak, namun kemudian Gusti memeluk Lidya erat, dan melakukan pompaan lebih cepat lagi. Tubuh Lidya kembali dia buat menungging, Gusti kembali memompa Lidya dengan kecepatan tinggi. Cairan vagina Lidya sudah keluar banyak, membasahi penis Gusti dan lantai di mana mereka bercinta. Jempol kanan Gusti masih berada di dalam anus Lidya, namun kini Gusti mulai memaju mundurkannya, sakit, Lidya mulai meringis, tampak air mata keluar dari ujung matanya yang indah, namun Gusti seakan tak peduli, dia tetap memompa penisnya dan tetap menekankan jempolnya pada anus Lidya.

Permainan itu berlangsung bebepa saat, samapi Lidya kembali menegang, orgasme kembali melanda, kali ini lebih dahsyat dari yang sebelumnya, “Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh, anjrrit, enak Gus, ahhhh, mainin anus Lidya terus, ah, yaaaa, aaahhhhhhhhhhhhhhhhh.”
Tak lama setelah Lidya mendapatkan orgasmenya, nafas Gusti tertahan, menakankan pinggulnya sekali samapi penisnya masuk dalam pada kemaluan Lidya hanya untuk mencabutnya, dan menyimpannya diantara pantat Lidya. Spermanya muncrat membasahi pantat dan punggung Lidya.
Nafas mereka terdengar ngos-ngosan. Lidya masih bertopang pada tembok, namun itu tidak lama. Gusti menarik badan Lidya ke arah kasur. Kemudian menidurkannya.

=============================

Ketika Gusti mengingat kembali bagaimana akhirnya dia bisa memerawani pantat Lidya, disebelahnya Lidya menggeliat, terbangun, Lidya bertanya “Belum tidur?”
“Ada mkhluk cantik di sebelah, mana bisa tidur, pengennya si terus dinikmati.”
“Gelo, kuat eman?”
“Nah itu dia, gak kuat. Tar, tunggu sejam, baru kita maen lagi.”
“Parah, habis deh ini memek ama pantat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s