INTAN

“Buuuuugghhh . . .“
saskya larasati jilbabsemok (1)
Aku menoleh ke belakang ke arah suara tersebut, kulihat Azmi tertunduk, tersungkur sambil memegang perutnya, sambil meringis kesakitan.
Di depannya berdiri seorang yang tinggi,bersiap mengokang tangannya sekali lagi ke arah Azmi.
Aku yang tadinya asyik mengobrol di depan kelas berlari ke arah Azmi yang masih terduduk pasrah, disusul teman teman yang lain, menyusulku.
“Woyy boss”, aku berteriak ke arah Anggoro, anak kelas 3 yang barusan menghajar Azmi.
Anggoro menoleh ke arahku , maju mendekatiku dengan gayanya yang tengil sambil petentang petenteng, meninggalkan Azmi yang masih meringis.
“Knapa Jon ?”
“Azmi kok mbok jotos knopo ?”
“Lho itu masalahku, kamu ga usah ikut ikutan. Masalahmu apa ?!” sambil bertolak pinggang Anggoro memelototiku, menggertakku
“Azmi temenku, kalo urusan sama dia berarti ya urusan sama aku,” Aku menegaskan
Yowis to, di selesaikke nanti di parkiran pas pulang sekolah!” gertak Anggoro lantang.
“Sip tak tunggu !” jawabku tak kalah tegas.
Anggoro berlenggang pergi ke arah kelasnya. Aku menghampiri Azmi yang masih bangun dengan tertatih tatih.
saskya larasati jilbabsemok (2)
“Makasih jon ya,” hanya kata kata itu yang keluar dari bibirnya.
“Sip sip, emang kenapa mi masalahnya?” tanyaku pada Azmi.
Lalu Azmi menceritakan perihal masalahnya dengan Anggoro, yaitu Mutiara Intan, atau biasa dipanggil Intan oleh teman temannnya. Gadis manis berhijab yang duduk di kelas 1. Intan yang baru kelas 1 mampu mencuri hati para senior senior di sekolah tersebut. Hidungnya yang mancung dan murah senyum serta body yang baru tumbuh ranum khas anak remaja sma membuat betah mata yang memandang, serta sikapnya yang supel dan ramah membuat banyak cowok cowok abg di buat kegeeran sama dia.
Anggoro, dedengkot kelas 3 yang merasa sok jagoan. Sok keren dan tengil adalah mantan pacar Intan. Dan masalahnya disini Anggoro tidak terima jika Intan di deketin sama cowok lain. Dan Anggoro tahu jika akhir akhir ini Azmi sering smsan sama Intan.
Aku secara pribadi sebenarnya sudah dari dulu tidak suka dengan gayanya Anggoro, tapi aku juga tidak mungkin nyari masalah tanpa sebab dengan dia.
Di tiap angkatan di sekolah ku, tidak ada yang namanya senioritas atau apalah, semuanya saling menghormati dan menjaga gengsi tiap angkatannya. Jadi tidak ada seorangpun yang berani mengaku ‘memegang’ sekolahku.
Azmi sendiri teman sekelasku sewaktu masuk kelas 2 ips ini, itupun hanya sebatas teman biasa, tidak terlalu akrab, karena dia lebih memilih untuk sekolah-pulang sekolah-pulang. Lain halnya denganku yang menjadikan sekolah sebagai hiburan. hahaha.
Jadi setelah tau duduk perkaranya dari Azmi, aku yakin jika Azmi tak sepenuhnya salah. Ah peduli setan mana yang benar mana yang salah. vini vidi vici . aku terlanjur menantang Anggoro.
*****
Bel sekolah sudah berdering, kulihat handphone jam 1.30 pas. Aku sudah menunggu dari jam 1 tadi, sengaja aku tidak ikut pelajaran yang terakhir, mood belajarku sudah hilang, berganti dengan semangat tawuran, gejolak khas anak muda.
Azmi yang biasanya tidak pernah bolos sekolah kali ini ikut menemaniku. Sebenarnya dia sendiri yang ingin ikut denganku ke parkiran. Mungkin karena dia sungkan melibatkanku dalam masalahnya, tapi toh bagiku memang aku sendiri yang ingin melibatkan diri, dan ini juga sudah bukan mengenai soal wanita lagi, ini urusanku dengan si Anggoro itu.
Anak anak sudah pada keluar ke parkiran. Sebenarnya ini bukan parkiran resmi dari sekolah, ini adalah rumah penjaga sekolah yang memang di buat parkiran oleh anak anak nakal, sudah turun temurun dan yang jelas entah kenapa aku ikut parkir disini, padahal sebenarnya aku anak baik.
“Jon, katanya mau ribut sama Anggoro ya?” tanya Adi dengan tengil, teman se geng Anggoro.
“Emang kenapa?” tanyaku balik.
Ati ati wae kalo ga pengen bonyok bonyok.” Jawab Adi dengan ketus. Dan memasang senyumnya yang sinis.
Seperti ada yang merasukiku ketika Adi bicara demikian, aku yang sedari tadi duduk diatas motor, tiba tiba langsung melayangkan pukulan tepat di sudut bibirnya, dan darah segar langsung mengalir di sela bibirnya, begitu juga sekitar pipi yang langsung melebam.
“Woy woy woy,” anak anak yang sadang bersenda gurau langsung mengerubuti, memegangiku , mencoba menahan, dan memisah ‘perkelahian pembukaku’ dengan Adi.
Adi yang masih shock dengan pukulanku, hanya bisa meringis memgang pipinya, sambil berusaha menghentikan laju darahnya yang masih mengucur. Dan akhirnya Adi di bawa menjauh oleh temannya.
*****
“Hhuuuuuuffffffhhhh….” hembusan asap Djarum Super menemaniku setelah beberapa saat lalu emosiku terpancing oleh Adi, aku berusaha menenangkan diri, sembari menunggu Anggoro.
Terlihat samar samar dari jauh, pria yang sedari tadi sudah aku tunggu tunggu, tapi ada yang salah dengannya, dia berjalan ke parkiran di dampingi gadis berjilbab.
“Itu Anggoro sama Intan jon,” bisik Azmi kepadaku.
saskya larasati jilbabsemok (3)
“Maksudnya apa to kok bawa Intan juga?” aku membuang rokok yang tersisa, berjalan mendekati Anggoro yang sudah beberapa meter di depanku.
“Trap… trap… trap…” suara sepatuku berderap, ketika aku berlari ke arah Anggoro yang masih terkaget melihatku, aku meloncat dan melayangkan tendanganku ke arahnya dan “buuuuuuuuggggghhhhhhh. . . .” flying kick ku, tepat bersarang di dadanya tanpa meleset satu inchi pun.
Anggoro pun langsung tumbang, terjerembab ke belakang , tanpa ba bi bu lagi aku berjalan mendekat kepadanya, Anggoro berusaha bangkit duduk, tapi sebelum duduk, kuhajar pipinya secara brutal, entah sudah berapa kali kupukul, ketika ada tangan yang memegang pundakku, Azmi menahanku dan tangisan wanita di sebelahku yang memohon untuk menyudahi perkelahian ini.
Aku berdiri, menjaga jarak dengan Anggoro. Kullirik ke sebelah, Intan hanya berdiri mematung, menangis sambil menatapku, seakan memohon.
Aku melihat Anggoro yang hanya mengaduh dan meringis, sudah tak terlihat Anggoro dengan gaya tengilnya. Hanya Anggoro yang lemah dan tak berdaya, aku yang tak tega entah kenapa malah menjulurkan tangan ke arah Anggoro membantunya untuk bangun. Dengan lemas Anggoropun menyambut tanganku.
“Heeeggghhh,” aku sedikit menahan ketika Anggoro menarik tanganku.
“Udah selesai ya? Udah clear semua kan?” tanyaku pada Anggoro, dan hanya di jawab dengan muka Anggoro yang masih meringis.
Aku yang kesal, kembali bertanya “opo arep di teruske maneh ?”.
Langsung dengan sigap Azmi yang sedari tadi berdiri di belakangku dan Intan disebelahku maju untuk menahanku.
“Bentar dulu, tak jelasin dulu,” suara wanita yang setengah berteriak di tengah emosi para lelaki, Intan.
“Aku kesini tadi sama kak Anggoro buat nyelesaiin masalah sama kak Azmi”, lanjut Intan.
“Maksutnya?” aku masih belum ngerti.
“Aku pengen ngejelasin ke semuanya kalo aku sama kak Anggoro sudah tidak ada apa apa lagi, dan aku sama kak Azmi hanya temenan biasa, kak Azmi sudah aku anggep sebagai kakakku sendiri”
“Makanya jangan asal pukul !!” kata Anggoro Nyolot sambil mendorongku mundur.
“Asssuuuuuuuu !!” umpatku sambil menendang sekenanya ke tubuh Anggoro, dan sekali lagi Anggoro terlambat menghindar, dan tendanganku mengenai perutnya.
saskya larasati jilbabsemok (4)
“Udah cukuupp !!” teriak Intan keras.
Aku tak menggubris teriakan itu, aku meninggalkan Anggoro, Intan serta Azmi di parkiran. Bagiku entah masalah ini mau berakhir bagaimana aku tak terlalu perduli. Persetan lah dengan urusan percintaan mereka.

*****
Esoknya sewaktu di kelas, aku melihat Azmi lebih murung daripada biasanya, pikiranku menerka mungkin dia masih diancam atau diterror sama si Anggoro itu.
“Knapa mi, raimu kok kecut ngono?” kataku duduk disebelah Azmi sambil merangkulnya.
“Hehe, engga jon, ga apa apa kok.” Jawabnya sembari mencoba tersenyum.
“Serius mi? Masih di ganggu Anggoro opo piye ?”
“Ah enggak serius, enggak “
“Oh yaudah,” kataku sambil bangkit dari duduk tapi Azmi menahanku
“Sebenarnya masalahku bukan sama Anggoro tetapi sama Intan jon”.
Aku mengenyirkan dahi tanda tidak mengerti.
“Kamu inget yang kemaren Intan bilang bahwa dia nganggep aku cuman sebagai kakak?”
“Heem, terus masalahnya?”
“Masalahnya aku nganggep dia lebih dari itu, aku suka jon sama dia, aku mulai sayang sama dia”
‘ya ampun soal cinta cintaan lagi’ batinku yang mulai jengah tentang curhatan lelaki mellow.
Dan bla bla bla Azmi mulai curhat sedikit demi sedikit tentang kedekatannya dan hubungannya dengan Intan. Dan dari masalah ini juga yang mendasari kedekatanku dengan Azmi hingga saat ini.
Setelah Azmi bercerita panjang lebar tentang Intan, dan intinya Azmi ingin meminta bantuanku untuk mendekati Intan, apalagi melihat teman yang setengah memohon aku menyanggupi permintaan si Azmi, padahal kenal aja enggak, kok bisa nge janjiin mau nyomblangin sama Intan. ‘goblok koe jon !!’ hatiku setengah kesal.
Siang itu juga aku minta nomer Intan ke anak kelas 1, dan bukan Jhonny namanya kalo engga bisa dapet nomer handphone, mengandalkan sedikit kepopuleran di sekolah, dan banyak dusta serta tipu muslihat, hanya dalam beberapa jam, dan mengambil kesempatan dari sikap ramah dan supel Intan, aku sudah janjian jalan besok sore, sekedar minum jus dan makan makanan pinggir jalan, sudah cukup lah untuk ukuran anak SMA jamanku.
*****
Sore yang dijanjikan telah tiba, aku dan Azmi menunggu beberapa menit sebelum mio merah datang persis di tempat kami duduk.
Sekedar basa basi dan akhirnya kami larut dalam obrolan ringan diselingi canda tawa khas remaja yang seolah tak memikirkan beban hidup yang akan menantinya.
Jarum jam pendek sudah menunjukan pukul 5 sore, sebelumnya Intan sudah ngomong kalo, dia tidak bisa pergi maen sampe larut sore. Oleh karena itu dia pamit pulang,
“Aku pulang dulu ya kak Azmi, kak Jon. Maksih lho es jusnya udah di traktir”
saskya larasati jilbabsemok (5)
“Oh iya ga apa apa, santai aja”, jawab Azmi, dan aku hanya tersenyum, membaca strategi untuk mengajak dia keluar selanjutnya.
Setelah Intan pamitan pergi, aku dan Azmi masih meneruskan cerita ngalor ngidul. Tiba tiba pundakku di tepuk dari belakang.
“Jhonn, lama ga ketemu, kmana aja kamu?” sapa orang asing itu, aku yang agak lupa sembari mengingat ingat satu sosok yang familiar di depanku, dan aku ingat !
“Lho, kamu to wan, dari mana kamu?” tanyaku kepada kawan lama satu ini,
Wawan. Dulu sewaktu smp kami pernah sekelas di kelas 3. Wawan ini dari SMP terkenal sebagai penjahat kelamin tapi kenakalan dia hanya sebatas di wanita, untuk urusan yang lain dia nol besar.
Dari yang masih kimcil kimcil smp sampai tante tante girang pemilik karaoke pernah dibawanya ke ranjang. Untuk urusan wanita aku harus mengakui Wawan jauh lebih berilmu dan mempunyai jam terbang tinggi ketimbang aku.
“Sekarang seleramu kerdus jon. Hahaha,” sapaan hangat dari Wawan.
“Maksutnya ?”
“Haalaaaah, tadi lho yg makan sama kamu, si Intan tuuhhh.”
“Lho kamu kenal wan ?”
“Kalo kenal baik si enggak, tau aja sih”
“Oooohh, terus maksutnya kerdus?”
“Kerudung dusta brayyy. hahahaha”
“Kok iso kerudung dusta wan ?”
“Lho ga ngerti to ?”
Aku menggelengkan kepala.
“Bispak modal speak dul, deketin aja, abis itu jadian, pake, tinggal deh. hahaha”
saskya larasati jilbabsemok (6)
“Lho moso? Ah ojo gawe isu aneh2 cuk.”
“Yaaah dibilangin kok ga percaya Intan tu mantannya temenku jon, dulu pas sama temenku itu wis pernah di ajak cek in,”
“Masa sih?” aku masih belum percaya.
“Gini wae jon , sekarang aku pernah bohongin kamu ndak?”
“Ga tau laah, kalo orang boong ngaku ya namanya engga bohong dong.”
“Hahahahahahaha” kami tertawa berbarengan tapi ada yang lain dengan senyum Azmi kali ini, kecut.
Lalu aku dan Wawan bercerita tentang pengalaman kami setelah lulus smp, dan tak lupa pula tukar menukar kenalan bispak bispak, waktu itu belum musim pin BB, jadi kami bertukar nocan nocan bispak.
Adzan maghrib berkumandang, lalu kami bertiga membubarkan diri, pulang ke rumah masing masing.
Sekitar abis isya, piip piip piip. Bunyi aplikasi Mxit dari handphoneku berbunyi, kulihat dari Azmi .
Azmi (19.32) jon, Intan sikat kamu aja gapapa wes,Don juan (19.33) lho knopo ?Don juan (19.33) ill feel cuk ?

Azmi (19.36) iyo ik, omongane temenmu tadi bener gak sih ?

Don juan (19.40) kaya nya si bisa di pertanggung jawabkan. Terus gimana nih ?

Azmi (19.41) kamu mau ga ?

Don juan (19.42) kalo beneran bispak, yo tak embat cuk. hahaha

Azmi (19.42) sip .

Don juan (19.42) serius ?

Azmi (19.42) yowes jon, sukses yo ! semangat !

Nah, ini yang ku tunggu tunggu, lampu hijau dari seorang sahabat yang mengijinkan atau cenderung mengoper gebetannya padaku sangat penting, karena jujur aku ga mau di bilang tukang tikung.
Dan malam itu juga aku mulai mendekati Intan, smsan sampe larut malam dan diakhiri dengan telpon dariku, sekedar basa basi untuk mengucapkan selamat malam.
Beberapa hari aku mendekati Intan,dan mungkin dia sadar jika aku sedang mendekati dia. Sering ngobrol dan cerita sebelum dan sesudah pulang sekolah, pergi ke kantin saat istirahat.
Banyak teman teman yang mengira aku sudah jadian dengan Intan,dan tidak sedikit pula juga yang memandang sinis jika aku berjalan dengan Intan. Bagaimana tidak, Jhonny yang terkenal brengsek di sekolah bisa dekat dengan Intan yg bak berlian.
Tapi yasudahlah, niatku cuma ingin membuktikan ucapan si Wawan, temanku. Terserah orang di luar mau ngomong apa.
Don juan (11.43) mau makan bareng d kantin?Intan (11.44) engga dulu deh kak, aku lagi di perpus nih, ada tugas banyak, bantuin dong. Don juan (11.44) meluncur kesana cantik.

Sesampainya di perpustakaan, kusapukan pandanganku ke seluruh ruangan. Di sudut ruangan, kulihat sesosok wanita berhijab tersenyum,
“Sini kak,” panggilnya pelan, takut mengganggu pengunjung yang lain. Aku melangkahkan kaki ke arahnya.
“Ngerjain apa si?” tanyaku balik.
“Ini ada tugas dari bu Ambar, di suruh ngeresume ini nih” kata Intan sambil menunjuk tumpukkan buku yang menggunung di depannya.
Aku, berusaha membantu dia meresume, lebih tepatnya ngrecokin dia dengan candaan dan gurauan, sambil sedikit merayu, dan mukanya merah padam ketika dia tersenyum tersipu.
Aku pegang tangannya, ku genggam, mirip sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Intan tidak menolak, hanya menunduk dan menyembunyikan senyumnya. Sikap inilah yang membuatku ragu. Apakah benar dia seperti yang dikatakan Wawan. ‘Tidak akan pernah tau kalo tidak mencoba’, batinku.
“Teeeett . . . teeeett . . . teeeett . . .” bel sekolah memanggil para siswa untuk masuk ke kelas kembali.
“Kamu masuk sana lho kak,”
“Males ah, habis ini bahasa jepang, ga mudeng, mending di sini aja nemenein kamu” jawabku sambil mencubit hidungnya yang mancung.
saskya larasati jilbabsemok (7)
“Hiih nyebelin” jawabnya sambil manyun.
Setelah jam istirahat selesai anak anak yang berada di perpustakaan kembali ke kelas. hanya tinggal Intan dan sedikit teman kelasnya yang tinggal di perpustakaan menyelesaikan tugas resume dari ibu Ambar.
Dan akhirnya waktu menunjukkkan jam 1.30. bel berbunyi lagi, pertanda siswa untuk pulang.
“Yuk pulang?” ajakku ke Intan.
“Aku nanti ada latihan PBB buat seleksi masuk paskibra kak,”
“Ya kan nanti jam 3, ini masih jam setengah 2 loh.”
“Tapi kan tanggung kak, aku juga ga bawa motor”
“Yaudah aku anterin pulang yuk” kataku sambil menarik tangannya ke parkiran.
“Ga usah deh kak, aku disini aja, kalo kamu mau pulang ya duluan deh, tak kira kamu rela disini demi aku” balas Intan sambil tersenyum manja.
Duhdeeeeeeekk, rasanya mau lumer, ini pertama kalinya Intan menggoda aku.
“Yaudah deh, tak tungguin wis, tak temenin. Tapi nyari tempat yang enak ya buat ngobrol” ajakku untuk berpindah tempat dari perpustakaan sumpek ini.
“Yaudah yuk”
Aku memutuskan mengajak Intan duduk di bangku taman, di belakang sekolah, adem karena persis di bawah pohon rambutan yang rindang. Anak anak sering menyebutnya DPR (dibawah pohon rindang).
Kami duduk bersebelahan, sambil bercanda, tertawa, sambil aku menggenggam tangannya dia menatapku, kali ini berbeda dengan sikapnya tadi yang hanya menunduk malu.
“Aku sayang kamu lho tan”, aku memberanikan diri mengucapkan kalimat tersebut.
“Gombal,” jawabnya singkat
“Serius,” aku meyakinkannya meski hatiku sama sekali tak yakin
“Omonganmu kaya sales, ga iso di percoyo
“hahaha” kami berdua gelak tertawa berbarengan.
Dan setelah itu kami tidak melanjutkan obrolan tersebut. Kami mengobrol yang lain, tapi dengan posisi tangan yang masih tergenggam.
saskya larasati jilbabsemok (8)
Dan di sela obrolan tersebut ada masa jeda dimana kami kehabisan bahan pembicaraan atau kata kata, aku memandang gadis itu dari samping, selagi dia melamun, dan “Cuuupp . . .” kecupan kecil di pipi hanya diresponnya dengan menunduk sambil tersenyum, duh manisnya.
‘Oke lampu hijau’ pikirku. Tapi tidak, tidak disini dan tidak sekarang. Apalagi tidak terasa jam sudah menunjukan setengah tiga lewat. Sebentar lagi anak anak pasti akan datang.
Dan benar, teman teman seangkatanku sudah datang dan gaduh untuk menyiapkan penyeleksian calon paskibra.
“Kamu siap siap deh, udah mau mulai tuh” kataku sambil menunjuk teman temanku yang menyiapkan peralatan untuk acara sore ini.
“Iya kak, aku titip tas ya?”
“Yaudah, sini aku bawain”
Dan latihan pun dimulai, aku sebenarnya jarang ikut ekstrakulikuler semacam ini, bahkan sewaktu kelas 1 aku tidak mendapatkan raport karena absen ekstra kulikulerku kosong, sama sekali tidak pernah datang.
Tapi sore ini aku bela belain di sekolah dan tidak pulang kerumah untuk menemani Intan, targetku, agar rencanaku sukses.
Aku mengamati Intan dari depan kelas, nampak mukanya sedikit lelah, terlihat dari bibirnya, yang biasanya merah merekah kali ini pucat pasi. ‘Mungkin hanya sedikit kecapean’ pikirku.
Akan tetapi perkiraanku salah ketika beberapa saat kemudian Intan ambruk, dan kontan para senior dan pembina melakukan pertolongan pertama, dan untung saja saat itu Intan hanya pingsan.
Aku yang berlari mendekat kearah kerumunan siswa yang lain, ikut membopong Intan ke UKS.
Sampe UKS pak Imam segera membalurkan minyak kayu putih ke pelipis dan melipirkannya di dekat hidung Intan.
“Jon, kamu nungguin Intan ya, ini minyak kayu putihnya, olesin sedikit sedikit sampe dia sadar, bapak mau ngawasin yang lain dulu,” pak Imam guru olahragaku.
Dan beberapa saat setelah pak Imam meninggalkanku sendiri di UKS, Intan mulai siuman.
“Kak. . .” sapa Intan lirih, sambil berusaha untuk bangun.
“Eh, tiduran aja dulu,” sambil aku menahan pundaknya.
“Aku lemes banget,” katanya, dan aku baru ingat kalo tadi sewaktu istirahat dia tidak makan, dan kebiasaanya, dia memang tidak pernah sarapan.
saskya larasati jilbabsemok (9)
“Yaudah, tiduran dulu aja” sembari aku memijat pundaknya.
Aku keluar UKS, menuju warung di depan sekolah membeli sebungkus roti dan air mineral, buru buru aku kembali untuk menjaga Intan. Sampai di UKS aku menyuapinya roti. Dan setelah selesai makan aku menyuruhnya untuk rebahan kembali.
“Makasih kak ya,” katanya sambil sedikit memaksa tersenyum di tengah kelelahannya.
“Iya, sama sama”
Kami terdiam beberapa lama, aku yang dari tadi memegang tangannya sekarang sudah mulai mengelus elus dan menciumi punggung tangannya. Dan Intan hanya tersenyum ketika aku menciumi tangannya.
Tanganku naik ke arah lengannya ketika aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya, tak disangka dia malah memalingkan wajahnya ke arahku, dan “cup. . .” satu kecupan singkat di bibirnya, dan dia hanya tersenyum.
Kulanjutkan kecupanku ke ciuman . ciuman ke lumatan, tanganku yang sedari tadi di lengannya sudah berpindah ke dadanya, menikmati isi dari kantung saku berlambang OSIS, sedang tangan kananku mulai mengelus pahanya.
“Kaaaakkhhhh . . .” Intan merintih di sela sela ciuman yang kuhentikan sebentar,
Tanganku berusaha melepas kancing seragam yang melekat di tubuhnya, Intan hanya menatap sayu, tangannya memegang tanganku, tapi hanya memegang , bukan menahan.
Satu demi satu kancing mulai terlepas , terlihat miniset membungkus payudaranya sebelum BH. Perutnya yang rata, ku elus halus. Intan hanya mendesis, “Ssshhhh . . .”
Kini seragam sekolahnya telah terbuka, kusingkap BH dan minisetnya, ku tarik ke atas, sementara Intan hanya sayu menatap apa yang kulakukan terhadap dirinya.
Menyembulah kedua payudara ranum miliknya, nampak puting yang merah kecoklatan sudah tegang dengan rangsanganku sedari tadi. Kuplintir putingnya, serta ku elus lembut kedua payudaranya
Intan hanya meringis, sambil memejamkan mata.
Kembali ku kecup bibirnya, dan kali ini Intan merespon dengan agresif, serasa ada dorongan atau gairah pada dirinya, yang memberikan tenaga ekstra setelah pingsan.
Kami mulai bermain lidah, Intan memegang kepalaku, menjambak rambutku. Sementara aku mesih sibuk meremas, dan memelintir putingnya. Semakin kencang, dan dengusan nafas Intan semakin menderu.
Ciumanku kulepaskan, sekedar untuk memberikan jeda, tapi itupun tak lama ketika aku menciumi pipinya, dan mulai merangsak menciumi lehernya yang masih terbungkus hijab.
Sedangkan kedua tanganku mulai menurunkan area jelajahnya ke bawah tubuh. Mulai meraba rok panjang abu abunya.
“Kaaaakkkk, jangaaaaan disiniiiihhh . .” katanya merintih sambil mendekap tubuhku.
Aku menatapnya dan dengan mataku seolah aku bertanya ‘kenapa?’
Seolah dia mengerti dan menjawab, “Aku takuut kakk”
Tak kujawab langsung, dan hanya kubalas dengan ciuman, seolah menenangkan hatinya yang masih ragu.
saskya larasati jilbabsemok (10)
Dan tangan kupun bergerilya ke bawah pinggulnya, mencari resleting, kubuka . dan “sreeeeeetttt,” Kupelorotkan sedikit roknya sebatas lutut.
Lalu jemariku naik merambat melalui pahanya. Dekapan Intan semakin erat, menandakan dia semakin terangsang dengan keadaan ini.
Sampai di gundukan halus celana dalamnya, aku menyusuri belahan vaginanya, dan lembab ! ku gesek gesekan jariku ke celana dalamnya tepat di belahan vaginanya, semkain ku tekan dan dia semakin gelisah, aku yang masih menciumnya mencoba meredam erangan yang tertahan dari mulutnya, sementara tanganku yang satu menyelesaikan tugasnya dengan mengeksplore bagian payudara gadis ini.
Dan its show time, aku memeloorotkan celana dalamnya, sampai kelutut, sebatas rok yang tadi kupelorotkan ,
Tanganku yang kanan mencoba meraba vaginanya, halus dan kurasakan sedikit rambut yang tumbuh.
Ciumanku turun keleher dan bersinggah di payudaranya, sementara tangan kiriku, berusaha membuka sabuk dan celanaku yang masih lengkap.
Intan memelukku seakan ingin mengatakan ‘hisap susuku lebih dalam’.
Celanaku yang sudah terlepas jatuh ke lantai, juga dengan celana dalamku.
Penisku yang sudah tegang ku elus dengan kiriku. Kagok ! Aku tidak biasa beronani dengan tangan kiri.
Melihat kekikukanku Intan mengerti,dan mencoba meraih penisku, dan hap, aku sedikit kaget, lalu Intan mulai mengelusnya pelan kemudian mengocoknya.
“Duh deeeeeekkkkk . . .” erangku menikmati perbuatan dosa ini.
Aku pun tak mau kalah, aku tidak hanya menekan dan menggosok vaginanya, tapi juga mulai mencoloknya, kami berdua sudah terbang ke langit dengan tangan masing masing pasangan.
“kriiiieeeeekkkk” pintu UKS terbuka. Dan itu cukup mengagetkan kami berdua, sehingga kami serempak melihat ke arah pintu. Tidak ada siapa siapa.
Aku dengan ragu mendekat ke arah pintu, menyembunyikan tubuhku yang setengah telanjang sambil melongok keluar jika tiba tiba ada yang mengintip atau mendekat. Dan hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada orang.
Aku buru buru mengunci pintu UKS, Intan menatapku dengan penuh tanya, aku hanya tersenyum pertanda aman. Dan Intan membalas senyumku. Aku buru buru naik ke tempat tidur dimana Intan berbaring, aku mengambil posisi setengah berdiri di tengah paha Intan, meneruskan foreplay yang sempat terpotong.
Dan ini inti pengorbananku yang selama ini kulakukan ke Intan, ‘ga ono mulyo tanpo rekoso,’ kata orang dulu.
Aku mengarahkan penisku ke lubang vagina Intan, sengaja kuplesetkan untuk percobaan pertama, dan untuk yang kedua, kugesek gesekan dulu batang kemaluanku ke vaginanya untuk beberapa lama.
Cairan di vaginanya mulai membasahi, lebih tepatnya membanjiri.
“Pegangin dong sayang, aku ga tau” tanpa diduga dengan cekatan, Intan langsung menangkap penisku dan mengarahkannya ke dalam vaginanya.
saskya larasati jilbabsemok (11)
Sedikit demi sedikit, penisku mulai masuk pelan ke liang senggamanya. Intan sedikit menganga sambil melihat kedua alat kelamian kami menyatu. Sementara aku pura pura memejamkan mata dan mendongak keatas, mencoba menikmati setiap mili rongga vagina Intan.
“Blesshh. . . .” aku mendiamkan penisku sejenak menikmati denyutan rahim Intan.
Serasa dipijit, aku semakin lama semakin geli, tidak tahan untuk memulai apa yang aku idam idamkan selama ini.
Aku yang masih memegangi pahanya mengelus elus paha bagian dalam, sangat mulus, sedikit kontras dengan pahaku yang ditumbuhi rambut.
Tanganku merayap keatas, melewati sedikit jembut yang rapi dicukur, atau bahkan sengaja dibentuk seperti segitiga terbalik.
Terus mengelus keatas, ke perutnya yang rata, tidak kurus juga tidak cembung, membuncit. Rata , ya rata. Mungkin bila Intan rela menanggalkan hijabnya, dan rela untuk di foto ‘berani’, aku yakin jika Intan akan menjadi model top. Mengingat sempurnanya, tubuhnya, tanpa cacat, dipadu dengan wajahnya yang manis, kurang sempurna apa makhluk hawa satu ini. Sempurna .
Sampai tanganku di kedua payudaranya, spontan aku mulai memainkannya seperti anak kecil menemukan sesuatu yang baru dikenalnya lalu di mainkannya dengan asyik.
Putih, padat, kenyal. Tak tahan hanya dengan meremas, aku membungkukkan badanku, mulai menjilat dari perut, kusapukan lidahku ke seluruh permukaan kulit perut Intan, lalu naik menuju payudaranya, wangi parfum bercampur dengan bau khas keringat wanita abg yang habis latihan baris berbaris, menambah gelora birahi ku untuk menyetubuhinya.
Kujilati kedua payudaranya secara bergantian, sesekali ku kulum puting merah kecoklatan milik Intan, sambil menggigit gigit kecil putingnya, “Aaahhwww . . . aaahhwww . . .” rintih Intan.
Aku menyudahi adegan jilat menjilat, penisku yang sudah masuk ke vagina Intan belum sama sekali kugenjot, sengaja kudiamkan agak lama, agar moment moment seperti ini terekam dalam memory setiap detiknya.
Aku mengangkat sedikit tubuhku, melihat sekali lagi tubuh yang sedang aku gagahi. Gadis abg, yang masih memakai hijabnya menatapku sayu dan pasrah, dengan seragam sekolah menempel, hanya terbuka seluruh kancingnya, bh dan miniset yang tersingkap di atas dadanya. Dibawahnya rok panjang yang telah melorot sampai betis, diatasnya terdapat celana dalam putih polos. Dan aku sedang berada di antara kedua pahanya, penisku telah masuk dan membelah belahan vaginanya.
Perlahan aku mulai memaju mundurkan penisku dalam vaginanya, pelan, tangannya mulai memegang tanganku, dan pahanya mulai dirapatkan.
Intan meringis sambil menatap pasrah dengan apa yang aku lakukan.
“Ga apa apa sayang?” tanyaku di sela sela genjotan.
Intan hanya mengangguk pelan, pertanda aku boleh mulai meneruskan aktifitasku, vaginanya terasa sangat rapat, sempit.
Aku menaikkan rpm sedikit demi sedikit, merojok vaginanya, matanya yang terpejam dan dia menggigit bibir bawahnya menambahkan kesan bitchy pada diri seorang Intan.
Tak tahan aku mencium bibirnya, Intan sedikit kaget tapi hanya sebentar sebelum Intan membalasnya dengan lumatan yang tak kalah dahsyat.
Aku terus memaju mundurkan pantatku, kaki Intan, seperti gelisah , seperti ingin melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Ternyata dia ingin melepaskan rok terusan abu abu dan celana dalamnya yang masih tersangkut di sepatunya.
Aku yang mengetahui itu langsung mendorong dengan kaki, membantu melepaskan rok tersebut. Tidak sulit sebelum rok dan celana dalam Intan jatuh ke lantai.
Setelah itu, baru Intan leluasa, ikut meliuk liukan tubuhnya yang sedang aku jajah. Terlihat dari liukannya ke kiri dan ke kanan membantuku mengaduk isi vaginanya, juga sambutan sambutan dari pinggulnya ketika aku menusuk lebih dalam, maka Intan menyambutnya dengan mengangkat pantatnya lebih tinggi. Sehingga timbul suara paha yang beradu.
Sedang tak mau kalah, tangan kiriku, melihat kesempatan untuk hinggap di susu putih Intan. Tak menunggu lama payudara kenyal itu menjadi obyek elusan, remasan, dan beberapa kali puting Intan juga kuplintir.
Aku masih berciuman, entah berapa banyak kami sudah bertukar ludah. Teriakan teriakan dari anak anak yang berlatih paskibra, menambah adrenalin kami, bisa saja sewaktu waktu anak anak tersebut datan kemari, menjenguk Intan.
saskya larasati jilbabsemok (12)
Akan tetapi adrenalin dan rasa cemas itulah yang semakin membuat aku semakin bernafsu.
Paha Intan sudah berada diatas pinggangku, menjepit badanku. Tusukan tusukanku serasa semakin dalam. Intan juga lebih leluasa bergoyang. Aku sudah berada dalam dekapan Intan, sebelum dekapan itu semakin kencang, dan jemari Intan mencakar punggungku, bibir ku semakin di lumat oleh Intan. Sodokanku disambut dengan jepitan paha yang kuat serta pantat mulus Intan mengangkat dengan tinggi.
“Kaaaaaaakkkhhhh, . . . . . sssshhhhhh”
Aku mengatur tempo lagi pelan, sebenarnya aku juga sudah ingin orgasme, kubuang pikiran itu jauh jauh, kumaju mundurkan pelan pinggulku.
“Sleph. . . sleph. . . sleph. . .” vagina Intan yang semakin becek dan licin membuat penisku lebih gampang menerobos masuk.
Intan,yang tadi sempet orgasme dan kelelahan, kini kembali dengan goyangannya.
“Aahhh. . aahhh. . aahhh. .” Intan berdesah.
“Duh deeeekkk a.aku meh metu, ke.keluarin dimana?” aku bertanya sambil menahan nikmat, sementara penis msemakin berkedut dengan keras.
Tapi Intan tak memberikan jawaban
“Keluarin di dalem ya?” tanyaku sekali lagi, dan kali Intan hanya menggeleng sedikit, pasrah, tanpa berucap satu katapun.
Aku bimbang, terus mempercepaat kocokanku. “hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . . hheeegghhh . .” Intan menahan desahan dan rintihannya takut terdengar sampai luar.
Dan “heeekk heeekk heeekkk” spermaku keluar di rahim Intan, Intan hanya bisa melihatku dengan sayu dan pasrah.
Dia menatapku, aku memberikan senyuman kepuasan dan Intan dengan senyuman kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s