PIPIT

Lelaki bertubuh kecil itu menyelinap diam-diam. Bilik kecil itu gelap, tapi ia sudah hafal sudut-sudutnya. Tangannya kini meraih handel laci meja dan perlahan menariknya. Dengan senter kecil, disorotinya selembar kertas dari dalam sebuah map. Tertulis di atasnya sejumlah nama. Dilipatnya kertas itu dan dimasukkan ke balik jaketnya.

aldila nur dianiati jilbab manis (8)

”Penyusup!” kata-kata itu menggema di benaknya.

Ya, Faiz, lelaki itu, sadar betul. Ia adalah penyusup, mata-mata! Ia bekerja untuk militer, mengamat-amati aktivitas rakyat. Dua tahun sudah ia menyusup ke tempat ini, menyamar sebagai santri. Dua tahun cukup baginya untuk mendapat kepercayaan dari para pengasuh pondok di kawasan terpencil itu. Karena itu pula, ia bebas masuk ke sejumlah ruangan yang terlarang bagi banyak santri lainnya.

Sore tadi, ia bahkan bertugas menyiapkan minuman untuk sebuah pertemuan. Ia yakin ini pertemuan yang sangat rahasia. Sejumlah pengurus pondok hadir. Ia juga melihat orang-orang yang tampaknya lama tinggal di hutan, turut hadir. Orang-orang ini dilihatnya meletakkan senjata-senjata AK-47 di sudut ruangan.

Sambil menyiapkan minuman, Faiz leluasa mendengarkan pembicaraan mereka. Sangat jelas baginya, mereka tengah membicarakan rencana penyerbuan ke sebuah pos militer, pekan depan. Usai pertemuan, mereka semua bergegas pergi. Faiz sempat mendengar pimpinan pondoknya berpamitan kepada istrinya.

”Kira-kira seminggu kami pergi,” kata lelaki itu.

Seluruh rencana sudah terekam dalam benak Faiz. Tinggal satu yang belum, nama-nama mereka yang hadir. Daftar hadir di selembar kertas itulah yang kini dikantonginya.

“Aku harus segera mengabari markas,” ujarnya dalam hati sambil perlahan beranjak ke luar ruangan.

Namun baru saja memegang handel pintu, mendadak ia mendengar suara rintihan. Faiz berhenti sejenak. Itu rintihan seorang perempuan. Begitu jelas dan lebih mirip desahan. Faiz melupakan sejenak rasa cemasnya. Ia berbalik memasuki ruang dalam. Desahan itu begitu merangsangnya. Ia terus mendekat ke arah sumber suara di salah satu kamar.

Faiz tahu pasti, malam ini cuma seorang perempuan muda yang tinggal di rumah itu. Perempuan itu, Nurfitri, istri salah seorang pengasuh pondok. Faiz biasa memanggilnya dengan Ustazah Pipit. Pintu kamar Pipit hanya tertutup sehelai kain korden. Perlahan Faiz menyingkapkan korden itu.

aldila nur dianiati jilbab manis (7)

Kamar Pipit tak cukup terang. Tapi kedua mata Faiz yang sejak tadi terbiasa dengan kegelapan dapat melihat dari arah samping, sesosok tubuh perempuan tampak duduk di ranjang dengan bersandar di dinding. Perempuan itu hanya mengenakan daster tipis. Rambutnya yang lebat terurai ke bawah bahu.

Faiz belum pernah melihat Pipit dalam keadaan seperti itu. Sehari- hari, ia hanya bisa melihat sepasang mata Pipit dari celah cadar yang dipakainya. Pakaiannya pun semacam jubah panjang yang menutupi sekujur tubuhnya.

Meski demikian, Faiz yakin perempuan itu adalah Pipit. Darah mudanya bergelora saat pertama kali melihat wajah perempuan itu. Perempuan itu begitu cantik. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis. Faiz makin tegang manakala melihat Pipit tengah meremas-remas kedua payudaranya dari luar daster. Dari bibirnya yang tipis keluar rintihan. Kepalanya mendongak.

Pipit baru sekitar tiga tahun menikah dan belum punya anak. Suaminya sangat sibuk di luar pondok. Mungkin karena itu, nafkah batinnya tak sepenuhnya terpuaskan.

Faiz melotot. Entah kapan Pipit melakukannya. Yang jelas, di depannya terlihat perempuan itu telah mengeluarkan sebelah payudaranya. Cukup besar. Dalam cahaya remang-remang, bagian indah itu tampak berkilauan. Pipit terus meremas dan merintih. Kini ia bahkan menarik-narik putingnya.

Faiz dengan tegang menanti adegan berikutnya saat dilihatnya Pipit menarik bagian bawah dasternya hingga ke pinggang. Kedua kakinya yang menekuk kini terlihat jelas. Faiz belum dapat melihat sasaran yang amat dinantinya karena posisinya terhalang kaki Pipit yang indah. Tapi dilihatnya sebelah tangan Pipit kini menetap di pangkal pahanya. Rintihan Pipit makin menggairahkan. Di sela rintihannya terdengar ia menyebut nama suaminya.

Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Faiz cepat bersembunyi di tempat yang aman. Suasana ruangan yang remang-remang memudahkan ia menemukan tempat sembunyi yang aman.

“Kak… Kak Pipit…” suara seorang gadis remaja terdengar.

aldila nur dianiati jilbab manis (6)

Faiz melihat lampu di kamar Pipit menyala terang. Lalu kepala Pipit menyembul dari balik korden. Ia kini telah mengenakan jilbabnya. “Ada apa?” katanya.

“Pintu depan kok tak dikunci?”

“Masak? Tadi perasaan sudah kukunci. Iya lah, nanti kukunci.”

“Ya sudah, Kak. Aku balik ke kamar dulu.”

Pipit pun mengantar adiknya keluar. Lalu dikuncinya pintu rumah. Sepeninggal adiknya, Pipit kembali masuk ke kamarnya. Faiz pun berjingkat kembali ke tempat pengintaiannya. Lelaki itu bersorak dalam hati melihat Pipit tak mematikan lampu. Karena itu, ia kini dapat melihat dengan jelas suasana di dalam kamar.

Pipit masih mengenakan dasternya, tetapi kini berjilbab. Perempuan itu menghadapi sebuah kaca yang pantulannya membuat Faz dapat melihat wajah perempuan itu.

Pipit tampaknya belum terpuaskan dengan masturbasinya tadi. Di depan kaca, ia mulai kembali meremas payudaranya. Disampirkannya jilbab hitamnya yang panjang sampai pinggul ke belakang pundaknya. Dari kaca kini terlihat sepasang gundukan yang montok berlapis daster tipis.

Faiz mengusap pangkal pahanya yang mulai membengkak. Dilihatnya Pipit meremas-remas kedua payudaranya dengan mata terpejam. Dari bibirnya mulai terdengar suara merintih. Entah bagaimana awalnya, daster Pipit tahu-tahu sudah melorot ke lantai.

Faiz melotot. Pipit kini terlihat sangat menggairahkan dengan jilbab di kepalanya, namun di bagian bawah hanya bra dan celana dalamnya yang tersisa.

“Terus… terus…” Faiz berharap dalam hati. Dan harapannya terwujud.

Kedua tangan Pipit menekuk ke belakang dan melepaskan pengait bra-nya. Begitu terlepas, dilemparnya bra itu ke ranjang. Lalu, perempuan itu menunduk, melepas celana dalamnya. Faiz menahan napas. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal melihat perempuan yang sangat dihormatinya kini hanya mengenakan jilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Tubuh Pipit amat sempurna. Putih, mulus dan sangat proporsional. Dari cermin di hadapannya, Faiz bisa melihat sepasang payudara Pipit yang lumayan besar tapi kencang. Pangkal pahanya nyaris mulus, karena hanya sedikit bulu tumbuh di situ.

Pipit kembali meremas-remas kedua payudaranya. Kedua putingnya dipilin-pilin dan ditarik-tariknya sendiri. Sementara dari bibirnya terdengar desahan makin keras diselingi suaranya menyebut nama suaminya.

Tangan kiri Pipit masih sibuk merangsang payudaranya ketika tangan kanannya bergeser turun dan berhenti di pangkal pahanya. Faiz melihat perempuan muda itu mulai meremas-remas kemaluannya. Pinggulnya yang bundar bergoyang-goyang perlahan.

Pipit kini agak menungging. Tangan kirinya berpegangan meja rias di depannya. Ia berdiri dengan kedua kaki melebar. Faiz melotot melihat dari belakang jemari Pipit bermain di kemaluannya sendiri. Sangat jelas terlihat, jari tengah Pipit keluar masuk celah vaginanya. Desahan Pipit makin keras. Tubuhnya terlihat mengkilap oleh keringat.

aldila nur dianiati jilbab manis (5)

Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan langsung menelungkup. Posisi kakinya tepat menghadap Faiz. Karenanya, pandangan Faiz jadi makin jelas. Ia bisa melihat bagian dalam bibir vagina Pipit yang berwarna pink, membuka dan mengatup saat kini dua jarinya menusuk-nusuk makin cepat dan makin dalam.

Tiba-tiba Pipit membalik lagi. Kini ia berbaring dengan kedua kaki menekuk dan mengangkang luas. Makin jelas lagi bagi Faiz dapat melihat vagina Pipit yang basah dan kedua jarinya yang juga basah, terus keluar masuk dengan begitu cepat.

“Ahh… ahh… ouhh… Kakak… ouhh…” tiba-tiba tubuh Pipit menegang. Punggungnya melengkung diiringi rintihan panjang. Tampak ia berusaha menusukkan kedua jarinya sejauh mungkin sampai akhirnya tubuhnya ambruk ke ranjang. Sesekali terlihat lonjakan-lonjakan kecil, sisa-sisa terpaan orgasmenya.

Faiz terus memandangi Pipit yang kini terkulai lemas kehabisan tenaga di ranjangnya. Kakinya lurus, masih mengangkang luas. Tangannya tergeletak di sisi tubuhnya.

Sepuluh menit kemudian, Faiz melihat gerakan dada Pipit yang membusung, makin teratur. Melihat aksi Pipit tadi, Faiz yang semula hanya bermaksud mencuri dokumen mulai merancang tindakan lain. Dipasangnya topeng skinya, hingga kini hanya kedua matanya yang terlihat. Dengan jantung berdegub Faiz mengecek apakah Pipit sudah betul-betul tertidur. Diraihnya saklar lampu di dekat pintu. Ditekannya dan kamar pun gelap gulita. Lalu dihidupkannya lagi. Dilihatnya Pipit tak bereaksi.

“Bagus, sekarang waktunya,” katanya dalam hati sambil mulai berjingkat memasuki kamar.

Faiz kini berdiri di sisi ranjang. Dipandanginya perempuan yang dihormatinya itu sambil tersenyum licik. Pipit masih tampak anggun dengan jilbabnya yang agak kusut. Di bagian bawah, sepasang payudaranya yang amat putih dan mulus tampak menantang untuk dijamah. Kedua putingnya hanya berupa tonjolan kecil berwarna agak gelap dengan wilayah areola yang sempit.

Makin ke bawah, dilihatnya perut yang rata dan pinggang yang ramping. Lalu, sedikit di atas vaginanya adalah bagian yang ditumbuhi sedikit rambut kemaluan. Di bagian pangkal kedua pahanya yang mulus, Faiz melihat vagina yang gemuk dengan kulit kemerahan bekas diremas-remas. Bibir vaginanya tampak rapat, agak basah.

Faiz meraih bra Pipit dan menciumnya. Diambilnya juga daster Pipit di lantai. Dengan belatinya, disobeknya daster hijau itu menjadi potongan panjang. Lalu, perlahan diangkatnya tangan kiri Pipit ke atas kepalanya. Pipit tetap tak bereaksi. Ia tidur begitu pulas setelah kepuasan yang tadi diperolehnya.

Perempuan itu terus diam saat pergelangan tangan kirinya diikat dengan bra ke kaki ranjang. Faiz lalu beralih ke tangan kanan Pipit dan berhasil mengikat pergelangannya dengan potongan daster ke kaki ranjang pada sisi yang berseberangan.

aldila nur dianiati jilbab manis (4)

Faiz puas memandangi hasil kerjanya. Kedua tangan Pipit yang terangkat membuat payudaranya makin membusung indah. Faiz kini melepas celananya, membebaskan penisnya yang sejak tadi menegang. Perlahan ia naik ke atas ranjang dan berlutut mengangkangi bagian dada Pipit. Perempuan itu masih terpejam.

Faiz menyentuh puting kanan Pipit dengan ujung penisnya. Gesekannya menimbulkan rasa geli yang makin menaikkan gairah mudanya. Dilakukannya hal yang sama pada puting kiri dan ditekannya hingga kini kepala penisnya tenggelam di kekenyalan payudara Pipit.

Faiz berhenti sejenak ketika merasakan kepala penisnya diselimuti ehangatan. Diperhatikannya perempuan itu mengerutkan dahinya dan mulai menggerakkan kepalanya. Faiz kini menjepit kedua puting Pipit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Perlahan mulai memilin-milinnya dan menariknya menjauh.

”Auw… ah…” dari bibir Pipit mulai terdengar rintihan pelan. Faiz memperkeras jepitannya dan mempercepat frekuensi pilinannya.

“Ouhh… ngghh… aduhh… Ap-apa ini… aaa… mmffff…” Pipit tiba-tiba membelalakkan matanya ketika Faiz dengan gemas menjepit kedua putingnya keras-keras sambil menariknya sejauh mungkin ke atas.

Namun jerit kesakitan dan keterkejutan Pipit langsung terbungkam. Sebab, saat bibir mungilnya terbuka, Faiz langsung menyumpalkan celana dalam perempuan itu ke mulutnya sendiri. Pipit panik dan menendang-nendang. Ia takut dan malu luar biasa melihat seorang lelaki di atas tubuhnya yang terikat dan telanjang.

“Tak usah teriak kalau tak ingin tetekmu ini kutikam,” ancam Faiz dengan suara yang diubahnya.

Pipit merintih kesakitan. Faiz mencengkeram payudara kirinya dan menekan ujung belatinya vertikal tepat di ujung putingnya.

“Saya akan tarik keluar celana dalam di mulut Ustazah. Tapi janji, Ustazah tak akan berteriak. Setelah itu, saya akan beri Ustazah pengalaman yang tak kan terlupakan. Janji?” desis Faiz.

Pipit yang ketakutan langsung menganggukkan kepalanya. Faiz lalu melepaskan sumpal di mulutnya itu.

“Ooh… jangan… jangan perkosa saya…” ucap Pipit begitu mulutnya terbebas.

“Tak usah banyak cakap. Sekarang kulum ini! Awas kalau sampai
tergigit!”

”Auw!” Pipit memekik ketika Faiz menyodorkan penisnya dan langsung memaksa untuk mengulumnya. Mau tak mau perempuan itu melakukan hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

Faiz seperti kesetanan. Kedua tangannya memegangi bagian belakang kepala Pipit yang berjilbab hitam. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat dan kasar. Pipit mengerang-erang. Ia ingin muntah dan kesulitan bernapas. Apalagi Faiz kemudian berhenti dengan ujung penis yang terasa menyumbat kerongkongannya. Hidung mancung Pipit tenggelam di kerimbunan rambut kemaluan Faiz.

Pipit panik merasakan penis Faiz berdenyut dan sedetik kemudian menyemburkan cairan yang kental, hangat dan beraroma menjijikkan. Tapi apa daya, Pipit tak kuasa melakukan apapun kecuali menelan sperma Faiz yang memenuhi rongga mulutnya.

aldila nur dianiati jilbab manis (3)

Pipit terisak ketika akhirnya Faiz menarik keluar penisnya yang lemas. Ia tak sadar Faz merekam close up wajahnya dengan pen cam, memperlihatkan seputar bibirnya yang bernoda sperma.

Tapi Faiz belum berhenti. Ia kembali menyumpal mulut Ustazah Pipit dengan celana dalamnya sendiri. Perhatiannya kemudian tertuju pada sepasang payudara Pipit yang putih mulus. Begitu putihnya, sampai terlihat pembuluh darahnya yang berwarna biru kehijauan di balik kulit payudaranya. Faz kini dengan lembut meremas-remas gundukan daging kenyal itu. Sesekali disentuhnya kedua puting Pipit dengan ujung jarinya.

Pipit mulai kembali terdengar merintih. Sesekali terlihat Pipit bergidik. “Mmmfff… mmmffff…” Pipit merintih lagi saat lidah Faiz menyapu kedua putingnya berganti-ganti dengan gerakan memutar. Ujung lidah Faiz pun menyentil-nyentil tonjolan kecil yang mulai mengeras itu.

Lalu dengan gerak agak mengejutkan, Faiz melahap salah satu puting Pipit dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan. Pipit sampai mendongakkan kepalanya menahan perasaan persis seperti saat ia masturbasi tadi. Apalagi kemudian terasa pangkal pahanya diremas-remas. Faiz masih terus menghisap kedua puting Pipit berganti-ganti sambil jari tengahnya menekan klitoris Pipit dengan gerak berputar-putar.

Di tengah ketakutannya, Pipit sekuat tenaga melawan desakan dari bawah sadarnya untuk menikmati perlakuan lelaki yang tengah menindihnya itu. Tapi ia tak kuasa melawannya. Kerinduannya pada belaian suaminya tergantikan oleh perbuatan lelaki asing ini.

Pipit makin terlena saat lidah Faiz menelusuri kulitnya dari celah antara kedua payudaranya, terus ke pusar dan akhirnya berhenti di pangkal pahanya. Dari semula mengerang kesakitan, dari bibir Pipit kini justru keluar rintihan penuh kenikmatan. Bahkan napasnya makin memburu ketika Faiz menguakkan liang vaginanya lebar-lebar, sejenak memandanginya dan kemudian menyapu bagian dalamnya dengan lidah.

Tubuh Pipit menggigil, tanpa sadar ia mengangkat pinggulnya seolah menyodorkan kepada Faiz untuk dijilat habis-habisan. “Nghh… nghh… mmmff…” desahan Pipit makin keras terdengar. Faiz kini menyedot klitorisnya, seperti yang dilakukannya pada puting perempuan alim itu.

Faiz paham, Pipit segera mencapai orgasmenya. Tepat sedetik sebelum Pipit meledak dalam kenikmatan, ia berhenti. Dua jarinya langsung mencubit kuat-kuat klitoris Pipit. Pada saat bersamaan, sebelah puting Pipit digigitnya agak keras, sedang puting satunya dijepitnya dengan ibu jari dan telunjuknya, amat kuat.

Pipit yang tengah berada di awang-awang seolah dibanting keras-keras. Kenikmatan yang hampir sampai puncak, kembali berganti dengan rasa sakit luar biasa. Ia pun mengerang panjang tanda kesakitan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di ujung puting yang dijepit terlihat setitik darah.

Pipit masih kesakitan ketika akhirnya Faiz menempatkan dirinya di antara kedua pahanya. Kembali rintih kesakitan terdengar dari bibir Pipit. Penis Faiz tanpa ampun langsung menerobos vagina Pipit sedalam-dalamnya. Kalau saja mulutnya tidak tersumpal, ia pasti sudah menjerit sejadi-jadinya. Vaginanya yang jarang dimasuki oleh suaminya masih terlalu rapat untuk ukuran penis Faiz yang besar.

Pipit sudah terlalu lelah untuk melawan. Kedua kakinya hanya mampu menendang-nendang lemah ke udara. Sementara Faiz seperti kesetanan terus menghunjamkan penisnya ke vagina perempuan idamannya itu.

“Eungghh… ngghh… mmmff…” Pipit hanya bisa merintih panjang saat Faiz menyedot kuat-kuat putingnya yang berdarah. Sementara puting satunya pun dipilin dan dijepit kuat-kuat hingga menitik darah di pucuknya. Lalu, puting yang satu inipun mendapat gilirannya, disedot kuat-kuat.

Dari kedua mata indah Pipit menetes air bening. Tubuhnya terguncang hebat ketika Faiz akhirnya mencengkeram kedua payudaranya sampai ke pangkal dan menjadikannya seperti tali kekang kuda, sementara ia terus mendorong penisnya keluar masuk vagina dengan cepat dan kasar.

“Aaaagghhhhh…” terdengar suara Faiz agak keras saat akhirnya testisnya menumpahkan muatannya lewat batang penisnya, langsung memenuhi rongga vagina Pipit.

Pipit merasa vaginanya amat pedih. Maka, semburan sperma Faiz yang panas pun membuatnya makin tersiksa. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya tersengal-sengal, apalagi tubuh Faiz yang berat masih menindihnya. Perlahan Pipit merasakan penis Faiz mengecil dan akhirnya lelaki itu bangkit. Faiz kemudian menarik kain jilbab Pipit dan mengelap penisnya yang berlumur sperma dengan kain itu.

“Aku akan melepas ikatanmu, tapi jangan coba-coba bertindak bodoh,” bisik Faiz mengancam. “Mengerti?!” lanjutnya sambil mencengkeram payudara kiri Pipit.

Perempuan itu mengangguk. Faiz pun langsung melepaskan ikatan di tangan Pipit dan menarik keluar celana dalam yang menyumpal mulutnya. Begitu ikatan terlepas, Pipit langsung membenahi jilbabnya yang panjang untuk menutupi tubuhnya. Faiz membiarkannya. Namun ia kemudian menyuruh wanita itu bangkit dan menggiringnya ke kamar mandi.

aldila nur dianiati jilbab manis (2)

Di kamar mandi, Faiz menyuruh Pipit membuka jilbabnya. Pipit menolak, tetapi akibatnya Faiz mencengkeram sebelah payudara yang tertutup jilbabnya sambil menempelkan belatinya ke pipi perempuan itu. Akhirnya, sambil terisak, Pipit melepas juga jilbabnya.

Faiz terpana. Pipit yang kini telanjang bulat itu tampak makin menggairahkan. Rambutnya yang panjang digulung hingga menampakkan leher yang jenjang. Kulit Pipit begitu putih. Di bagian dalam kedua pahanya yang mulus tampak mengalir spermanya.

“Mandi!” perintah Faiz.

Kali ini, tanpa diperintah dua kali, Pipit langsung mandi. Ia memang segera ingin membersihkan seluruh tubuh, terutama kemaluannya. Tapi ia merasa malu luar biasa. Bahkan, suaminya pun tak pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini.

Di luar dugaan Pipit, Faiz pun membuka seluruh pakaiannya, kecuali topeng skinya. Disuruhnya Pipit menyabuni penisnya. Sementara Faiz sendiri mulai menyabuni kedua payudara Pipit sambil menarik-narik putingnya. Pipit merintih ketika Faiz menyabuni selangkangannya. Apalagi, dua jari Faiz memaksa masuk ke situ.

Usai mandi, Pipit agak lega karena Faiz menyuruhnya berpakaian, bahkan lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Melihat Pipit kembali dalam keadaan yang biasa dilihatnya sehari-hari, Faiz makin bergairah. Didorongnya perempuan itu merapat ke dinding. Diremasnya kuat-kuat kedua payudara Pipit dari luar busananya. Tangan Faiz pun bergerak turun dan mencengkeram pangkal paha Pipit dari luar jubah hitamnya.

“Ohhh… sudah… jangan lakukan lagi…” Pipit mengiba-iba ketika Faiz memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap dinding.

Dari belakang, Faiz masih meremas-remas kedua payudara dan pangkal pahanya. Pipit merasakan kedua kakinya direnggangkan, lalu jubahnya diangkat ke atas. Pipit terisak, tangan Faiz kini berada di balik jubahnya dan langsung meremas lagi kedua payudaranya. Kali ini, bahkan mendorong ke atas branya hingga sepasang buah dadanya keluar dan langsung digenggam kedua tangan besar Faiz.

Faz seperti tergila-gila dengan payudara perempuan itu. Tak bosan-bosannya ia meremas, mencengkeram, menarik dan memelintir putingnya. Pipit kini menangis dan sesekali memekik ketika ulah Faz menyakiti bukit payudaranya.

“Oooh… tidak… tidak… jangan lagi…” rintih Pipit ketika merasakan tangan Faiz menyelinap ke balik celana dalamnya, mempermainkan vaginanya seperti bocah bermain tanah liat. Sesekali Pipit memekik karena Faiz dengan nakal menarik rambut kemaluannya yang tak seberapa banyak. Tubuh perempuan bercadar itu gemetar. Ia merasakan bagian belakang celana dalamnya disingkapkan. Lalu, ada tangan yang menarik dua gundukan pantatnya ke arah berlawanan.

“Aaakkhhh…” Pipit mengerang. Vaginanya sekali lagi diterobos penis Faiz yang seolah tak pernah puas.

Disetubuhi dari belakang membuat Pipit sangat tersiksa. Apalagi, kali ini Faiz lama sekali tak juga selesai. Sebelah kaki Pipit kini diangkat lelaki itu dan Faiz terus menyarangkan penisnya ke segala arah di dalam vagina perempuan cantik itu. Tubuh Pipit terus tergoncang-goncang dan akhirnya ia terjatuh dalam posisi merangkak. Hebatnya, penis Faiz masih tetap menancap di dalam liang vaginanya.

Pemandangan di dalam kamar itu sungguh luar biasa. Seorang perempuan dengan jilbab, cadar dan jubah serba hitam, merapatkan pipinya di lantai, sementara pinggulnya yang terbuka mendongak ke atas. Di belakangnya, lelaki bugil tengah menyetubuhinya.

Faiz tampaknya hampir selesai. Ia menggerakkan pinggulnya seperti kesetanan dan tangannya mencengkeram keras pantat Pipit yang besar. Pipit menahan sakit dengan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.

“Aaarrrgghhhhh…” Faiz mengerang keras sambil mendorong penisnya sejauh mungkin ke dalam liang vagina Pipit. Setelah sekian kali, spermanya masih tetap tersembur, menyakiti bagian dalam vagina Pipit yang terluka.

Pipit pun memekik kesakitan dan tubuhnya ambruk, hingga kini ia masih telungkup ditindih Faiz. Pemerkosa dan korbannya itu sama-sama terengah-engah. Pipit merasakan penis Faiz di dalam vaginanya perlahan menciut, hingga kini tinggal bagian kepalanya yang terjepit vaginanya. Akhirnya Pipit merasakan penis Faiz yang kini lemas, terlepas dari vaginanya, bersamaan dengan mengalirnya sperma Faiz dari dalam vaginanya.

TIba-tiba Faiz membalikkan tubuhnya. Kini Pipit terbaring telentang dan Faiz pun sudah mengangkangi wajahnya setelah sebelumnya menyingkapkan cadar hitamnya. Pipit memalingkan wajahnya saat melihat penis Faiz yang mengkerut, betul-betul basah kuyup oleh cairan kental.

“Bersihkan dengan lidah!” perintah Faiz.

Pipit tak bisa menolak, apalagi belati Faz diacungkan di depan wajahnya. Sambil menahan mual, dijilatinya penis Faz sampai bersih. Faiz kemudian menutup kembali wajah perempuan itu dengan cadar. Faiz beringsut mundur. Dijumputnya kain jubah di bagian dada Pipit dan dengan belatinya disobeknya bagian itu. Akibatnya, sepasang payudara Pipit terbuka, tepat di bagian putingnya.

“OK, aku sudah selesai. Kamu tak akan ceritakan ini pada siapapun bukan? Tak ada orang akan percaya dan kamu akan malu sendiri,” kata Faiz sambil memilin-milin puting Pipit.

“Di samping itu, aku akan datang lagi kapanpun aku ingin bercinta denganmu. Kamu akan menerimaku dengan kehangatan bukan? Katakan ya dan aku akan segera pergi,” kata Faiz sambil menjepit kedua puting Pipit agak keras.

“Aduh… aduh…. ya… iyaa…” Pipit cepat-cepat menjawab.

Faiz tersenyum dan langsung bangkit, mengenakan pakaiannya kembali dan pergi meninggalkan korbannya. Pipit masih meringkuk di lantai, terisak-isak menyesali nasibnya.

One thought on “PIPIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s