ROSITA

Orang-orang di sekitarku selalu memuji ingatanku sebagai ingatan paling tajam yang pernah dimiliki seorang manusia. Istilah jaman sekarang, ‘photographic memory’. Aku begitu mudah mengingat segala hal yang pernah aku alami atau bahkan sekadar aku lihat dan aku dengar. Misalnya saja, poster kampanye calon walikota yang sekilas saja kulihat di pinggir jalan. Aku bisa ingat warna latar belakangnya, motif bajunya, bahkan semua kata yang ada dalam poster itu dari atas hingga bawah. Semua. Ingatan tajam itu memang kumiliki sejak lahir, meski kedua orang tuaku biasa-biasa saja.

Mereka malah kebingungan ketika aku menanyakan perihal ingatan superku. “Mungkin ini mukjizat Tuhan,” jawab Ayah, dan “Kamu tidak diciptakan dengan ingatan seperti itu kalau tidak ada tujuannya. Yang penting kamu harus menggunakannya untuk kebaikan,” jawab Ibu.

Pelajaran dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi kulahap dengan mudah dan kumuntahkan kembali ketika ujian. Ranking tertinggi dan predikat magna cum laude melekat di memorabilia pendidikan yang pernah kujalani. Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba memburuku dan menawarkan gaji selangit. Akhirnya aku mendarat pada sebuah perusahaan minyak dan gas bumi asing sebagai asisten kepala riset dan teknologi. Pretty cool, huh?

Namun ingatan ini bukanlah tanpa cacat. Ada satu momen pada tujuh tahun yang lalu, ketika masih duduk di sekolah menengah atas, yang sama sekali tak bisa kuingat. Momen itu melibatkan sepatu kecil di kamarku yang kini tinggal sebelah. Entah kenapa bisa seperti itu. Ayah dan Ibu selalu bungkam ketika kutanyakan kejadian tersebut. Mereka hanya menjawab ‘mungkin satunya jatuh dan hilang” lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan. Rumah ini tak pernah punya pembantu dan aku anak tunggal, jadi tak ada orang lain yang bisa kutanyai lagi. Aku harus puas dengan jawaban itu selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini. Sepuluh menit yang lalu, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu berusaha menggapai tombol bel rumah yang tak terjangkau tangannya yang mungil. Aku yang kebetulan melihat karena hendak berangkat ke kantor, menanyakan tujuannya dengan ramah. Tapi alih-alih menjawab, laki-laki itu hanya menatap wajahku lekat-lekat, entah apa yang dicarinya di situ.

“Maaf, bapak ini mau cari siapa?” tanyaku lagi.

Beliau masih tak menjawab. Akhirnya, karena jengkel kutinggalkan saja dia di depan pagar. Barulah beliau memanggilku dan meminta maaf.

“Saya ingin bertemu orang tuamu. Kau anak dari Bapak dan Ibu Roestam kan?”

“Iya. Bapak siapa?” tanyaku dengan nada waspada bercampur ingin tahu. Seumur-umur, belum pernah kulihat wajahnya di antara deretan teman dan kolega orang tuaku, sehingga aku harus waspada.

“Panggil saja Pak Ustad,” jawab beliau sambil membetulkan peci warna hitam yang dikenakannya.

“Siapa, Nang?” rupanya Ibu mendengar percakapan kami.

“Pengen ketemu ibu, namanya Pak Ustad.” jawabku sambil membukakan pagar.

Ibu mengernyit mendengar nama itu, seperti habis melihat kotoran anjing di kebun. Lebih-lebih setelah bertatapan muka langsung dengan laki-laki itu. “Mau apa kamu ke sini?” tanya ibu tanpa basa-basi. Aku ikut memasang sikap defensif dan siap-siap mengusir Pak Ustad yang ternyata kedatangannya tak dikehendaki oleh Ibu.

“Tenang, Bu. Saya cuma ingin menagih janji.” jawab beliau tenang. Dapat kulihat tak ada perubahan ekspresi ketika bercakap-cakap dengan Ibu.

“Tak ada janji di antara kita. Itu cuma akal-akalanmu saja!”

“Saya bawa surat itu, lho! Ada tanda tangan ibu juga.” jawab Pak Ustad sambil mencari sesuatu dari tas jinjing coklat tua yang dibawanya.

“Masuk saja, jangan di sini. Tak enak kalau dilihat tetangga. Danang, kamu bukannya harus berangkat ke kantor?” kata ibuku.

“Tapi, Bu, apa aku harus memanggil polisi? Atau beliau disuruh pulang saja?” tanyaku mulai gusar.

“Tak apa. Ibu bisa menanganinya sendiri.” jawaban yang singkat lugas, dan tegas, mengusirku dengan halus.

Aku menghela napas lalu segera berangkat dengan mobil sedan keluaran tahun 1995 milik Ayah. Dari spion dapat kulihat Ibu masih berdiri di pagar, mengawasiku untuk benar-benar pergi ke kantor.

Menjelang malam, aku baru bisa pulang. Salahkan kerjaan yang menumpuk dan beberapa rekan kerja yang cuti secara bersamaan. Aku mendapati Ayah dan Ibu tengah bercakap serius dengan volume yang nyaris seperti bisikan. Begitu halus dan pelan. Suara lemari ruang tamu yang tak sengaja kutendang, segera mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Pandangan mereka tak kumengerti, campuran antara takut, kalut dan sedih.

Ayah lebih dulu membuka suara setelah berhasil menguasai diri. “Duduk sini, Nang. Ada yang harus kami sampaikan padamu.”

“Serius amat sih. Ada hubungannya ama si bapak yang tadi ke sini?”

“Sayangnya iya. Sebelumnya kami mau minta maaf karena selama ini nggak jujur sama kamu. Sebetulnya, kamu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Ayah yang lebih tegas, segera mengambil alih. “Kamu bukan anak kami. Kamu anak Pak Ustad yang kami ambil dan kami asuh selayaknya anak kami.”

Cangkir yang kupegang langsung jatuh begitu mendengar kata-kata itu. Ya, seperti di film atau sinetron-sinetron. Ibu buru-buru mengambil sapu dan membereskan pecahan gelas itu, sementara aku masih memandang Ayah dengan tatapan tak percaya.

Beliau lalu melanjutkan ceritanya. “Ingat sepatu kecil di kamarmu yang tinggal sebelah? Itu adalah hadiah dari Pak Ustad saat datang pertama kali ke rumah ini, untuk mengambilmu.”

”Kenapa cuma sebelah?”

”Kami menolak ia mengambilmu. Kami terlalu sayang kepadamu, Nang. Jadi kami melawan. Sebelum mengusir Pak Ustad dan mengunci pintu, ibu melemparkan sepatu itu. Namun cuma sebelah, yang satunya tetap kamu pegang, sampai sekarang.” ujar Ibu sembari mengusap pipinya yang berlinang air mata.

“Jadi ini semua ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang tentang hari itu?”

Ayah menghela napas sejenak sebelum mulai menjawab. “Iya. Kamu begitu terguncang mengetahui kalau cuma anak angkat, sama seperti saat ini. Ingatanmu melawan, dan akhirnya… semua memorimu malah hilang. Sepertinya kamu sangat tidak bisa menerima hal ini sehingga berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran. Namun ternyata, ingatanmu malah hilang semua. Ingatan di hari itu. Semua hilang.”

“Lalu, kenapa sekarang tidak?”

”Mungkin karena kamu telah cukup dewasa. Kamu sudah bisa berpikir secara lebih kalem dan bijaksana. Mungkin benar kata Pak Ustad, inilah saatnya bagi kita untuk berpisah.”

Aku mengangguk. “Ijinkan aku bertemu Pak Ustad. Aku ingin tahu jati diriku yang sebenarnya.” jawabku menahan gentar. Jauh di lubuk hatiku, ada ketakutan tersendiri.

“Kami tak ingin berpisah denganmu, Nang!” kata ibu.

“Tak akan, Bu. Percaya padaku!” kupeluk mereka berdua.

Minggu berikutnya, dengan berbekal alamat dari ibu, aku mulai mencari rumah Pak Ustad, orang tua kandungku. Kukira bakal gampang, namun ternyata cukup sulit juga. Letaknya di pinggiran kota, bahkan hampir ke perbatasan propinsi.

Setelah cukup lama berputar-putar, tanya sana tanya sini, capek dan lelah, namun tetap tidak bisa kutemukan juga. Mengeluh jengkel, akupun berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli jus. Terlihat beberapa jenis buah segar dipajang di bagian depan warung. Sangat cocok untuk membasahi kerongkonganku yang kering.

Kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangannya. Busananya serba tertutup. Ia memakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya, terlihat tonjolan payudaranya yang menggelantung indah.

Namun yang pertama menarik perhatianku justru pantatnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan pantat perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi. Yang malah mmebuatku jadi ingin mengelus dan meremasnya.

Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut. “Eh, mau beli apa, dik?” katanya di tengah keterkejutan.

Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tidak muda lagi. Mungkin sudah sekitar empat puluh tahunan. Tapi wajahnya itu lho yang bikin aku nggak bosan memandanginya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut.

”Anu, bu. Mau beli jus.” aku berlagak memilih-milih buah sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak dia untuk ngobrol. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai kotor. Membayangkan rintihannya ketika memeknya kutembus batang kontolku. Ah, entah kenapa aku jadi seperti ini. Mungkin karena pengaruh fisik dan pikiranku yang kelelahan.

Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya tiga anak. Tidak menyangka aja, wanita secantik dan semolek dia. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

“Jadi ibu sendirian nih?” komentarku.

“Iya, dik. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau pengupas buah yang tergeletak. Cepat sekali itu terjadi.

“Aduh, bu… saya kok kebelet pipis ya. Bisa numpang ke belakang nggak?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.

“Eh… gimana ya?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di dalam rumah.

“Gimana nih… udah nggak tahan, bu,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya. Kulihat wajahnya langsung memerah.

“Eh, tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh sebuah bh kotor ke mesin cuci.

“Gimana, bu, udah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

Ibu itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

Karena menunduk itulah, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

“Sst… jangan melawan!” kataku setengah berbisik.

Ia tampak sangat ketakutan. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan bh yang kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

“Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.

“Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yang tertutup jilbab lebar.

”Auw! Jangan!” Ibu itu memekik kecil. Wow! Payudaranya terasa kenyal dan mantap.

“Ibu pake bh ya?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.

“Siapa nama ibu?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.

“Aduh! Aduh! Rosita… aduh, jangan keras-keras!” ia merintih-rintih.

Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yang ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di depan selangkangannya. Kuremas-remas gundukan lubang kewanitaannya.

“Ohhh… jangan! Jangan!” bu Rosita menggeliat-geliat.

“Jangan takut, bu… saya cuma mau main-main sebentar.” kataku lalu berlutut di hadapannya.

Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yang mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow! indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi lubang kewanitaan cantik itu.

Bu Rosita terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah lubang kewanitaannya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng ia ke sofa yang ada di ruangan itu. Setengah kubanting tubuhnya ke atas sana. Ibu itu menjerit-jerit kecil ketika dengan pelan kutarik gamisnya. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali bh dan jilbabnya.

Kupandangi tubuh yang putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi sofa. susunya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua susunya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

“Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau ibu berteriak terlalu keras, nanti ada yang dengar,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan lidahku ke sisinya. Bu Rosita tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang kewanitaannya dari bawah ke atas.

“Eungghhhhh…” terdengar bu Rosita mengerang.

Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yang merah muda dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang kewanitaan. Lebih berdebar lagi, karena lubang kewanitaan yang satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar!

Tiba-tiba bu Rosita membuka mulut dan kemudian diteruskan oleh rabaan dan lama-kelamaan tangannya berlanjut ke arah selangkanganku. Dan tiba-tiba saja ia sudah memelukku, dengan cepatnya bu Rosita mencium bibirku dengan liarnya. Maka akupun tak kalah bernafsunya, aku balas dengan liar pula.

Dan bu Rosita terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku. Ketika bajuku terlepas, tiba-tiba saja ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku. Maka langsung saja alat vitalku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga langsung diremas dengan liarnya oleh sebuah tangan halus. Ketika kulihat, ternyata bu Rosita yang melakukannya. Dengan ganasnya ia memijiti batang penisku.

Tanpa melepas jilbabnya, langsung saja bu Rosita memegang alat vitalku dan diarahkan ke lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah sedari tadi. Setelah pas, maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya…

Bless!!!

“Aah…” desah bu Rosita saat batang besarku menusuk lubang senggamanya, memenuhinya hingga ke bagian yang terdalam.

Sementara dia asyik menaik-turunkan pantatnya diatasku, maka aku tarik bh-nya ke atas dan aku jilati susunya yang bulat besar dengan penuh nafsu.

“Ahh… enak, dik! Terus… ohh…” desahnya. “Ahh… ohh… jilat putingku! Ohh…” ia meracau ketika puncak susunya aku pelintir dengan menggunakan lidah.

Sementara itu, juga aku gesekkan jari tengahku ke biji klitorisnya yang menonjol indah hingga membuat bu Rosita meracau dan semakin kuat meliuk-liukkan badannya yang sintal. “Ohh… enak, dik!” rintihnya.

Setelah berada dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, akhirnya bu Rosita menggenjot tubuhnya semakin cepat dan mengerang, “Ahh… ibu dapet, dik… ahh… ahh..,” desahnya dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang di sampingku.

Aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan lubang kewanitaannya. Aku lalu turun dari sofa dan kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaannya. Kali ini aku yang berada di atas. Bu Rosita menanggapi seranganku dengan kembali menggoyangkan pinggulnya naik turun dan kadang memutar, sementara susunya yang besar ia sodorkan ke mulutku, yang langsung kujilat dan kuhisap-hisap dengan penuh nafsu.

Setelah 5 menit, kembali tubuh bu Rosita mengejang sambil ia berteriak, “Ahh… ibu dapet lagi… ahh!” Terasa sekali cairanya mengalir deras membahasi batang kemaluanku dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang.

Selang beberapa saat, ternyata bu Rosita sudah fit lagi. Rupanya ia tipe wanita yang bersyahwat besar. Didorongnya tubuhku hingga jatuh ke sofa, lalu ia tindih. Kembali aku disusuinya. Sementara aku sibuk menjilati putingnya yang kini terasa semakin basah, bu Rosita perlahan menurunkan pinggulnya dan, bless! Kembali alat vitalku masuk ke lubang kewanitaannya.

“Ahh… uhh… mentok, dik!” desahnya sambil mulai menggoyangkan pinggul.

Untuk yang ketiga ini, aku tidak ingin ketinggalan lagi. Selain sudah lelah, aku juga takut anak bu Rosita pulang sewaktu-waktu. Jadi aku segera berkonsentrasi. Kugenjot pantatku keluar masuk di kewanitaan Bu Rosita dengan begitu cepat. Terasa sempit sekali lubang kewanitaannya meski sudah melahirkan tiga orang anak.

“Ahh… terus, dik… enak… ohh… lebih dalam lagi…” racaunya.

Maka aku membalik posisi, kini dia yang berada di bawah, berbaring di sofa dengan posisi kaki berada di bahuku. Dengan posisi seperti itu, membuatku semakin leluasa melakukan tusukan dan hujaman.

“Dik, ibu keluar lagi… ohh…” desah bu Rosita dengan tubuh terkejang-kejang.

Namun aku tidak peduli, aku terus menggenjot tubuh sintalnya karena aku sendiri juga mengejar klimaks. Terus kutusukkan penisku ke lorong kewanitaannya sambil kuremas-remas juga buah dadanya yang berukuran 36D.

Tubuh bu Rosita sudah benar-benar melemas. Melihat kondisinya yang seperti itu, aku jadi tidak tega. Tanpa berniat menahan lebih lama lagi, akupun menggeram, “Bu, aku juga mau keluar… di dalem ya?” pintaku.

Ia mengangguk tanpa suara.

Akhirnya, sambil menusukkan penisku dalam-dalam, akupun ejakulasi. Terasa deras sekali semprotan air maniku di lubang kewanitaannya. Kembali tubuh bu Rosita terkejang-kejang saat menerimanya.

Kami masih berpelukan erat saat tak sengaja mataku menatap sebuah potret kecil berbingkai kayu di atas lemari. Foto yang ada disana sedikit mengguncang ingatan fotografisku. Laki-laki itu sepertinya kukenal! Belum sempat aku bertanya, sebuah benda lain juga menghantam pikiranku.

Benda itu… kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi? Rupanya terlalu menuruti nafsu membuat pikiranku jadi tumpul. Lekas aku mengambilnya.

”Itu hadiah buat anak sulung ibu. Kami berpisah sejak lahir, ia diadopsi orang kota. Rencananya 7 tahun lalu mau ibu ambil, namun ternyata gagal. Hanya sepatu itu yang bisa mengingatkan ibu kepadanya.” kata bu Rosita.

Ya Tuhan! Kuambil sepatu yang cuma sebelah itu dengan hati terguncang. Aku telah menemukan orang tua kandungku. Dan tanpa sengaja, aku juga telah menyetubuhinya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s