TANTRI

Gelora Joko tak terbendung melihat Tantri kembali dari dapur dan memasuki kamar dengan berbalut daster tipis warna merah yang membuat dadanya yang ranum itu semakin menonjol. Setitik selai cokelat di pipi perempuan sintal itu membuat Joko ingin melabuhkan lidahnya di sana dan menenggelamkan Tantri ke dalam pelukannya. Rambut panjangnya yang biasanya tertutup jilbab kini tergerai bergelombang, bergoyang seirama dengan lenggokan pantatnya yang bahenol. Tangan Joko tak kuasa untuk tidak menepuk bongkahan daging padat itu ketika Tantri naik ke atas ranjang. Perempuan itu lantas melenguh pelan. Birahinya ikut tersulut melihat Joko terlentang dengan hanya berbalut selimut tipis, memperlihatkan dada bidang berbulu pujaan para gadis, termasuk dirinya.

Joko bersyukur dalam hati, hidupnya sudah sempurna. Memiliki karir cemerlang di salah satu perusahaan swasta dan didampingi perempuan secantik Tantri, mungkin juga menjadi impian banyak laki-laki di seluruh dunia. Dan pagi itu, Joko hanya ingin bermalas-malasan di ranjang bersama perempuan pujaan hatinya itu. Perempuan yang bisa menjadi penyeimbang dirinya yang gila kerja. Dilumatnya terus bibir merah Tantri seolah tak ada hari esok. Joko menyalahkan aura sensual yang keluar dari bibir perempuan itu.

“Nggak kerja, Pak?”

“Aku kan ambil cuti. Pengen seharian ini sama kamu, Sayang. Kayanya enak ya, di kamar terus kaya gini.”

“Nggak keluar kamar? Nggak makan?”

“Makan kamu aja, Sayang.” jawab Joko dengan seringai nakal di bibir tipisnya itu. Kemudian dia melumat lagi bibir Tantri, kali ini ditambah menjelajah bagian leher dan juga dada. Tantri mengerang pelan. Tangannya bergerak nakal, menyibak selimut yang membungkus bagian bawah tubuh Joko, sementara mulutnya membalas lumatan bibir laki-laki itu dengan ganas dan gemas.

Tangan Joko sudah meremas-remas buah dada Tantri yang terhalang oleh daster longgar yang dikenakannya. Mata gadis itu terpejam menikmati ciumannya yang panas bergelora. Dan Tantri semakin liar mencium Joko sambil menahan agar erangan nikmat tak keluar dari mulutnya.

Nafas mereka berdua semakin tersengal-sengal, tangan Joko kini beralih ke bawah, menarik ujung daster merah yang dikenakan oleh Tantri. Begitu tersingkap, tangannya langsung menyusup ke selangkangan gadis manis itu. Bisa ia rasakan celana dalam Tantri yang sudah sangat basah, rupanya sensasi bercinta di pagi hari membuat gairah rangsangannya begitu terasa hingga dengan cepat membuat vagina Tantri menjadi banjir.

Joko menyisipkan jari dari pinggir celana dalam yang dikenakan gadis itu, kini bisa ia sentuh permukaan vagina Tantri yang ditumbuhi bulu-bulu lembut yang sangat lebat. Dengan penuh nafsu tangannya mengusap-usap bahkan mengobok-obok permukaan vagina yang selalu sanggup memacu gairahnya itu. Jari-jarinya mempermainkan lipatan vagina Tantri yang basah, sampai gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan giginya gemeretak menahan nikmat yang menimpa dirinya. Tantri berusaha keras menahan nafas agar suara erangan nikmatnya tidak sampai keluar.

Lalu jempol Joko memutar dan menekan klitorisnya yang menonjol keras. Badan Tantri langsung bergetar, mulutnya semakin rapat tertutup, sementara kepalanya terdongak dengan mata terpejam. Nafasnya semakin terengah-engah menahan nikmat yang tak terhingga.

Sementara jempolnya memberikan rangsangan kenikmatan, jari tengah Joko juga berputar dengan gerakan mengebor menembus liang vagina Tantri yang semakin basah dan licin. Tubuh gadis itu langsung bergelinjang hebat dan melonjak-lonjak melambungkan dirinya hingga ke awang-awang. Gerakan jari tengah Joko yang menerobos liang vaginanya sambil berputar kini terasa semakin dalam. Tantri hanya bisa menggelinjang hebat dengan pinggang melenting ke belakang, suara lenguhan yang dari tadi berusaha ia tahan kini keluar tanpa ia sadari.

“Uuhhhhh…”

Jempol Joko terus menekan dan memutar klitoris gadis itu, sedangkan jari tengahnya semakin cepat merangsang liang vagina Tantri yang terasa sangat sempit. Tubuh gadis itu semakin hebat terguncang hingga akhirnya melenting kejang dan kaku, dan dari mulutnya keluar suara tercekik. ”Akkkhhhhh…”

Jari tengah Joko terasa seperti dijepit oleh dinding basah dengan sangat kuat disertai dengan kedutan-kedutan yang keras dan cepat. Lalu tubuh Tantri melemas dan punggungnya terhempas pada sandaran ranjang. Nafasnya tersengal-sengal seperti atlit yang baru mencapai finish. Ya, gadis itu baru saja mencapai orgasme dengan penuh kenikmatan yang sangat sensasional.

Joko mencabut jarinya dari liang vagina Tantri yang becek, ia arahkan jari tengah itu ke hidungku dan menghirup dalam-dalam aroma lendir vagina yang menempel disana. Aroma itu begitu merangsang birahinya. Dengan penuh perasaan Joko menjilati lendir vagina Tantri hingga jadi kesat dan bersih.

Di dalam kelelahannya, Tantri memperhatikan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Dia merasa puas dan bangga melihat Joko dengan rakusnya menjilati seluruh lendir vaginanya yang menempel di jari. Gairahnya kembali bangkit mengalahkan rasa lelahnya yang mendera. Ia bangkit dan mulai mengelus-elus batang penis Joko yang sangat keras dan tegang.

Penis itu langsung berdiri bebas dengan gagahnya. Tantri menggenggam pangkalnya yang berurat dengan jari-jarinya yang halus dan secara perlahan namun pasti lidahnya mulai terjulur untuk menjilati ujungnya yang tumpul. Bahkan tidak cuma kepala, seluruh bagian penis Joko juga dijilatinya dengan penuh gairah seperti sedang menjilati es krim yang sangat nikmat.

Joko pun melenguh pelan menahan nikmat, ”Uhhh…”

Jilatan Tantri terasa begitu lincah dan bergairah, membuatnya melayang-layang penuh nikmat. Pantat Joko melonjak-lonjak sehingga kepala penisnya menekan-nekan mulut Tantri, seperti sedang mengejar sesuatu yang lebih nikmat lagi. Nafasnya juga semakin memburu ketika dengan asyik dan penuh gairah Tantri terus menjilati kepala penisnya tanpa memperhatikan gelinjang tubuh Joko yang semakin keras menekan mulutnya. Lalu…

“Akhhhh…” suara laki-laki itu seperti tercekik dan sesak nafas ketika secara tiba-tiba mulut Tantri mencaplok batang penisnya. Rongga mulut gadis itu terasa panas dan sangat nikmat sehingga membuat Joko ternganga, badannya kaku dan dadanya sesak susah bernafas.

Dengan lincahnya, Tantri terus mengocok dan menghisap penis Joko, membuatnya jadi semakin besar dan tegang saja. Rambut ikalnya bergoyang-goyang menampilkan pemandangan yang sangat erotis dari seorang wanita berjilbab lebar yang sehari-hari bertingkah laku alim.

Penis Joko yang berada dalam genggaman tangan dan mulut Tantri terasa semakin membengkak keras. Menyadari hal itu, Tantri semakin bergairah mengoral, berharap mulutnya dapat disemprot oleh sperma Joko pada saat laki-laki itu orgasme nanti. Sebagaimana yang sering terjadi selama mereka berhubungan dan dia sangat puas, Tantri merasa bahagia dan bangga jika dapat membuat Joko orgasme oleh oralnya. Dan selama ini dia selalu berhasil membuat laki-laki itu menyerah duluan.

Gerakan oralnya yang bervariasi membuat Joko semakin melayang, terbukti dari penisnya yang semakin membengkak kencang. Namun ia belum juga mencapai puncak, hanya nafasnya saja yang semakin tersengal-sengal dan batang penisnya yang semakin keras membengkak.

Akhirnya Tantri jadi tak tahan oleh nafsunya sendiri yang terus meningkat minta untuk dipuaskan, vaginanya terasa sangat basah dan gatal oleh gairah. Dia pun bangkit melepas penis Joko dari mulutnya dan kemudian melepas celana dalamnya yang sudah sangat basah. Kemudian ia berdiri membelakangi laki-laki itu dengan paha terbuka lebar. Lututnya menekuk agar pantatnya mendekati selangkangan Joko, ia raih penis laki-laki itu dan diarahkan ke mulut liang vaginanya yang sudah sangat-sangat basah.

”Blesshhh…” perlahan-lahan Tantri menurunkan pantatnya hingga kepala penis Joko menerobos liang vaginanya. Gerakannya demikian perlahan sehingga penerobosan itu jadi terasa begitu lama dan sangat nikmat.

Mata Joko terpejam menikmati apa yang tengah ia rasakan dan dengan pelan mulutnya mengeluh, “Uhhh…”

Gerakan penerobosan itu terhenti ketika pantat Tantri menekan sangat rapat bagian bawah perut Joko sehingga batang penis laki-laki itu amblas hingga ke pangkalnya. Joko menekan cukup lama, sampai merasakan sambutan meriah yang dilakukan oleh lubang kemaluan Tantri. Sekarang kepala penisnya bagai dihisap dan diremas-remas oleh vagina gadis pujaan hatinya ini. Dinding vagina Tantri tak henti-hentinya berkedut memberikan sensasi nikmat pada ujung-ujung syaraf nikmat yang ada pada seluruh permukaan kepala dan batang penis Joko.

Secara perlahan pinggul Tantri berputar agar batang penis Joko mengucek dan mengocok dinding vaginanya, kenikmatan semakin melambungkan laki-laki itu. Semakin lama gerakan pinggul Tantri menjadi semakin bervariasi; berputar, melonjak, bergoyang, patah-patah bahkan maju-mundur, membuat batang penis Joko seperti dipelintir dan digiling oleh mesin yang sangat nikmat.

Semakin lama gerakan gadis itu kian menjadi cepat, nafasnya juga semakin memburu dan tak lama kemudian badan Tantri yang molek melonjak-lonjak keras. Semua itu diakhiri oleh tekanan vaginanya yang sangat kuat sehingga penis Joko bisa masuk sedalam-dalamnya ke celah lorong kewanitaannya. Dinding vagina Tantri dengan dahsyat memeras dan menjepit batang penis laki-laki itu dengan sangat kuat serta kedutan-kedutan dinding vaginanya juga menjadi begitu cepat.

Badan gadis itu terdiam kaku, mulutnya terkatup rapat menahan agar jeritan nikmatnya tak sampai keluar. Kepalanya ditekan ke pundak Joko, lalu beberapa detik kemudian badannya terhempas, lunglai di atas tubuh laki-laki itu. Nafas Tantri masih terengah-engah ketika Joko menyibak helaian rambutnya yang menutupi wajah. Gadis itu menoleh dan mencium lembut bibir Joko sebagai tanda bahwa sangat puas dengan orgasme yang barusan ia gapai.

Sambil berciuman, Joko merasakan bahwa jepitan dan kedutan dari dinding vagina Tantri semakin melemah. Iapun menghentakkan pantatnya ke atas hingga batang penisnya yang masih tegang bisa kembali menggesek dinding vagina gadis itu. Rasanya yang basah dan licin mengakibatkan pantat Joko menghentak-hentak tanpa dapat dikendalikan. Gesekan dan kocokan alat kelamin mereka yang terus-menerus begitu memberikan rasa nikmat.

Gerakan tubuh Joko menyebabkan gairah Tantri bangkit kembali. Dia membalas hentakan-hentakan pantat Joko dengan gerakan pinggul yang liar, semakin lama semakin tidak beraturan dan tak lama kemudian kembali Tantri mengejang menggapai nikmatnya. Mulutnya terkatup rapat, hanya remasan dan jepitan yang kuat dari dinding vaginanya pada batang penis Joko yang menandakan kalau gadis itu sudah mencapai orgasmenya.

Tantri terkulai lemah, sama sekali tidak mampu membalas hentakan-hentakan Joko yang masih bertubi-tubi. Laki-laki itu memeluknya dari belakang. Joko menciumi pipi Tantri sambil secara perlahan-lahan meremas serta memijit-mijit tonjolan buah dadanya yang berayun-ayun indah.

Setelah merasakan tenaga gadis itu kembali terkumpul, Joko mengangkat tubuh Tantri agar berdiri. Ia melakukannya sambil menahan agar penisnya tidak sampai terlepas. Ia dorong tubuh Tantri agar mendekat ke kursi meja rian yang berada di belakang jendela. Ditekannya punggung Tantri agar gadis itu membungkukkan badan dengan berpegangan pada bagian atas sandaran ranjang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, sedangkan penis Joko masih menusuk liang vaginanya dari arah belakang. Mereka berposisi doggy.

Dengan kedua tangan memegangi pantat Tantri yang putih bulat menggairahkan, perlahan Joko mulai mengerakkan pantatnya. Kini penisnya terasa menusuk semakin dalam. Cengkeraman vagina Tantri juga terasa semakin kuat hingga membuat kenikmatan mereka jadi semakin bertambah. Ditambah basah dan licinnya vagina Tantri membuat gesekan dan kocokan penis Joko jadi begitu lancar. Kepala Tantri terangguk-angguk menerima setiap hentakan dan dorongan pinggul laki-laki itu.

Kenikmatan yang kembali menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua membuat Tantri mulai membalas setiap sodokan Joko. Ia goyang pinggulnya memutar laksana penari dangdut yang sedang berjoget, berharap bisa membuat kenikmatan yang ia terima semakin bertambah. Semakin lama goyangan pinggulnya semakin liar dan menghentak-hentak, dan tak memerlukan waktu lama kembali tubuh molek Tantri terkejang-kejang kaku. Tangannya mencengkeram sandaran ranjang dengan sangat kuat, kepalanya terdongak ke atas. Dengan jerit tertahan, kembali gadis itu mengalami orgasme yang sangat hebat.

Joko mendiamkan sejenak Tantri menikmati sensasi orgasmenya, karena pada saat itu ia sangat menikmati cengkeraman, jepitan dan kedutan-kedutan dinding vagina gadis itu pada batang penisnya. Setelah kedutan dan cengkeraman itu melemah, barulah Joko kembali menusuk-nusukkan penisnya. Tak menunggu lama, pinggul Tantri kembali bergerak liar membalas setiap sodokan-sodokannya, dan hanya beberapa menit berselang, kembali gadis itu mengalami orgasme entah untuk yang keberapa kalinya pagi itu.

Di saat yang sama, Joko juga merasa orgasme akan segera menghampiri dirinya. Maka segera ia balik tubuh Tantri agar telentang dengan kepala berada pada sandaran ranjang. Dengan kedua tangannya ia buka lebar-lebar paha gadis itu sehingga vaginanya yang basah dan licin semakin jelas terlihat. Joko mengarahkan kepala penisnya kesana dan dengan cepat mendorong hingga amblas sampai ke pangkalnya. Lalu dengan semangat yang menggila ia pompa tubuh gadis itu dengan hentakan-hentakan liar yang sangat tidak terkendali.

Namun beberapa saat sebelum spermanya muncrat, Joko mendengar suara bel rumah berbunyi. Keduanya tak ada yang bereaksi, menunggu sang tamu bosan menunggu dan pergi. Tapi harapan mereka sirna. Suara bel kembali terdengar. Joko mengerang, kesal karena kesenangannya pagi itu terganggu. Begitupun dengan Tantri.

“Bukain pintunya dong, Sayang.”

“Aku ya?” jawab perempuan itu sambil memasang wajah enggan.

Joko bergeming. Tangannya menunjuk bagian bawahnya yang tak tertutup apapun. Tantri bangkit dan mengganti dasternya dengan kombinasi kaos dan celana training. Jilbab juga tak lupa ia gunakan untuk menutupi rambutnya yang ikal.

Tak lama kemudian, pintu depan dibuka. Terdengar suara sang tamu yang familiar bagi mereka berdua. “Halo, Tantri! Kamu baik-baik aja kan selama aku pergi? Ini oleh-oleh dari Paris. Gimana Bapak? Nggak minta makanan aneh-aneh kan? Biasanya suka rewel… Lho, Pah, kok nggak ke kantor?” tanya perempuan gendut itu.

“Eh… Halo, Ma! Kok udah balik sih? Katanya masih lusa. Hehe..” Joko berusaha untuk tersenyum, sementara Tantri, sang menantu, hanya bisa menunduk di sebelahnya dengan wajah pucat pasi ketakutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s