WINDY 3

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa dan hari-hari penuh sensasi dengan Windy. Terhitung seminggu sekali aku mengunjunginya. Harinya tidak tentu, mengikuti jam dinas suaminya yang berubah-ubah. Meski sedikit merepotkan, aku oke-oke saja. Rasanya tidak ada bosan-bosannya menyetubuhi wanita cantik yang satu itu. Meski tidak semolek Tanti, tapi ada saja ulah dan perbuatannya yang mengejutkanku.

Pernah suatu kali ia membukakan pintu sambil telanjang. Tubuhnya basah oleh semacam minyak, terlihat sangat mulus dan mengkilat sekali. Tentu saja aku langsung panas, dan kutubruk ia saat itu juga. Kami bercinta di ruang tamu rumahnya. Empat kali Windy mendapatkan orgasme, sedangkan aku cukup sekali saja, karena selanjutnya kami meneruskan acara tukar lendir itu semalam suntuk setelah Windy menawariku makan malam.

Atau saat ia menjemputku di terminal, dan mengoral penisku selama perjalanan menuju rumahnya. Begitu sampai, ia malah bilang kalau lagi ’dapet’. Sial, ia sengaja mengerjaiku. Jadilah aku malam itu cuma tidur mengeloninya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Memang aku cukup puas juga karena selain masih bisa meraba-raba tubuh sintalnya, aku juga berkali-kali dioral hingga dalam semalam, terhitung empat kali aku muncrat di mulutnya. Dan Windy dengan senang menelan semuanya. Memang gokil sekali perempuan yang satu ini.

Dia juga sering mengajakku pindah-pindah tempat main; mulai dari kamar mandi hingga halaman belakang rumahnya. Pernah kami hampir dipergoki oleh tetangganya yang malam-malam mau buang sampah, untung wanita tua itu sudah katarak sehingga tidak melihat kami yang bertindihan telanjang di bawah pohon jambu. Kalau beneran ketahuan kan bisa berabe.

Tapi situasi yang ’menyeramkan’ itu malah semakin menambah gairah kami berdua. Windy jadi semakin liar dan geregetan, begitu pula denganku. Akibatnya, kami jadi begitu kecapekan pada keesokan harinya. Dan saat suaminya pulang di pagi hari, aku masih ada di kamar Windy. Ketiduran! Benar-benar mendebarkan. Aku sampai harus meloncat dari jendela untuk menyelamatkan diri, sementara Windy berusaha menyibukkan suaminya meski saat ia ia cuma bercelana dalam saja.

”Kok pakaianmu kaya gitu?” kudengar suaminya bertanya saat aku sibuk memakai celana di bawah ambang jendela.

Windy gelagapan menjawab, dan selanjutnya perempuan itu malah menjerit saat suaminya menyeret ia ke atas tempat tidur dan menyetubuhinya dua kali. Rupanya bukan aku saja yang terpana begitu menatap tubuh molek Windy, suaminya yang sudah menikahinya begitu lama, tetap berlaku sama. Memang, wanita cantik dan seksi seperti dia selalu bisa menggoda siapapun.

Tanpa sempat mandi apalagi gosok gigi, akupun pergi meninggalkan tempat itu. Kucegat taksi yang kebetulan melintas dan minta untuk diantarkan ke terminal. Saat kuceritakan kejadian itu kepada Tanty, dia langsung tertawa ngakak sambil menyumpahiku. Perempuan yang sekarang hamil 9 bulan itu menyuruhku agar lebih berhati-hati lagi.

”Jangan sampai ketangkep, nanti anakku ini bingung nyari-nyari ayahnya.” ia berkelakar. Bayi dalam kandungannya memang adalah anakku.

”Siap, Bos!” aku menyahut riang. Dan menutup telepon dengan ucapan ,”Aku kangen kamu, Tan.”

”Kangen aku apa kangen tubuhku?” godanya lagi.

”Dua-duanya,” Dan kamipun tertawa berbarengan. Aku membolos kerja hari itu karena siang baru sampai kembali ke kota S. Aku langsung menuju rumah kontrakan dan menelepon istriku yang akhir-akhir ini sedikit kuabaikan. Untung ia tidak curiga. Volume pekerjaan yang bertambah kujadikan alasan kenapa aku jarang pulang, padahal sebenarnya aku sibuk membagi benih kepada Windy dan Tanty.

Maafkan aku, istriku. Aku selingkuh bukan karena kamu kurang cantik, ataupun tubuhmu yang kurang seksi. Kamu sudah sangat sempurna; sabar, penyayang, pengertian, kalem, pokoknya segalanya deh. Kamu adalah malaikat dan bidadariku. Tapi… sekali lagi tapi, seperti kata pepatah: rumput tetangga lebih hijau, ataupun bosan tiap hari makan sate, sekali-kali nyoba gule… itulah yang terjadi kepadaku. Kamu sama sekali tidak bersalah. Akulah yang nakal dan tidak bisa menahan nafsu. Nafsu kepada dua wanita cantik semacam Tanty dan Windy, yang kuharap cukup dua itu saja karena kalau sampai ada lagi… aku juga masih mau, haha!

Siang itu panas sekali, dengan memakai taksi aku pergi ke rumah Windy. Dia sudah berkata kalau hari ini suaminya dinas malam. Seperti yang sudah-sudah, itulah saat yang tepat bagiku untuk mengunjunginya.

Sesampainya disana, segera kubuka pintu pagar. Tanpa perlu repot-repot mengetuk, Windy sudah keluar menyapaku. “Kangen aku, Mas,” rajuknya sambil menyerbu memelukku.

Segera kututup pintu dan cepat-cepat kubalas pelukannya. Kami berpagutan rakus di balik sambil tanganku lekas menggerayang di tubuh sintalnya.

“Ih, nafsu amat sih?” Dia tertawa dan memisahkan tubuhnya.

Kukejar dia dengan mengelus-elus bongkahan pantatnya saat mengajakku masuk ke ruang tengah. Disana, kembali ia kucium dan kugeluti sambil kupepet tubuh montoknya ke sofa merah di ruang tengah. Napasku sudah ngos-ngosan, sementara kuperhatikan Windy juga sudah merah padam. Tapi dia mencoba untuk bertahan saat aku ingin melepas baju panjangnya.

“Nanti dulu,” bisiknya serak. “ada yang ingin aku kasih tahu sama Mas.” Ditangkisnya tanganku yang ingin meraba kembali tonjolan payudaranya.

Kupandang wajahnya yang cantik jelita yang malam ini tertutup jilbab biru muda. Ia tersenyum membalasku dan mengangguk. “Dari senyummu, seharusnya ini berita bagus.” kataku.

Dia mengangguk, “Iya, aku hamil. Mas.” pekiknya ceria.

”A-apa?” meski sudah mengantisipasi jawaban ini, tak urung aku tetap terkejut juga.

”Sudah dua minggu ini aku telat, dan pagi tadi aku mual-mual.” Dia berbinar, membuatnya jadi tambah cantik. “Setelah diantar suami periksa ke dokter, ternyata positif,” lanjutnya.

“Wah, selamat ya.” Kupegang tangannya dan kucium pipinya, tapi Windy malah memberikan bibirnya untuk kulumat. Kami pun berciuman sekali lagi dan kembali tanganku menggerayangi tubuhnya yang sintal.

“Ih, nih tangan nakal amat,” serunya saat aku bergantian memijit-mijit kedua bongkahan payudaranya.

“Habis kamu sih, bikin aku gemes aja.” Kupagut lagi bibirnya yang tipis memerah, dan baru kulepas setelah napas kami sama-sama terengah-engah.

”Aku seneng sekali, Mas. Bayangkan, tiga tahun menunggu…” lirihnya sambil menaruh kepala di pundakku.

“Kalau reaksi suamimu, gimana?” tanyaku dengan tangan memeluk pinggangnya yang ramping.

“Dia juga seneng banget, dikiranya ini benih dari dia.” Windy tertawa getir.

Aku mencoba ikut tertawa. “Kalau dia sampai tahu gimana?”

“Asal kita pintar, aku yakin pasti aman.” Ia menyurukkan kepala di dadaku.

Kucium kembali pipinya, lalu hidungnya, dan terakhir belahan bibirnya yang selalu terlihat mengundang. “Berarti tugasku sudah selesai donk,” bisikku tak rela.

“Ah, ya nggak gitu juga kale…” Windy menggeleng. “Masa aku akan langsung melupakan jasa Mas gitu aja,”

”Lha terus?” tanyaku penasaran. Tak terasa, tanganku yang sudah sedari tadi menggerayang di pahanya, kini bisa menyingkap gaun gamisnya hingga ke pinggang. Membuat Windi yang duduk di atas pangkuanku jadi meringkuk setengah telanjang. Tak henti tanganku terus meraba dan mengelus-elus belahan pahanya yang terasa halus dan sangat hangat itu.

“Ehm…” Windy menggelinjang lirih, namun tetap membiarkannya saja. Malah yang ada ia seperti semakin memepetkan tubuhnya untuk menghimpit batang penisku yang sudah terjepit diantara perutnya. “Cepet amat, tahu-tahu dah ngaceng aja,” Dia tertawa.

Kucium lagi bibirnya yang merah tipis dan kulumat dengan rakus, yang diimbangi oleh Windy dengan senang hati. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” aku berbisik.

“Ahh… y-yang mana?” tanyanya sambil mendesah begitu tanganku menelusup ke balik baju untuk menggelitik perutnya yang masih terasa rata.

“Kelanjutan hubungan kita,” Tanganku terus merayap dan sebentar saja sudah sampai di bawah bongkahan payudaranya. Kuremas pelan-pelan benda empuk kenyal yang terasa hangat itu, meski masih tertutup beha tipis tapi aku bisa merasakan kalau putingnya yang mungil sudah sedikit menegang.

“Ahh… Mas!” Windy mengeluh lagi, tak sanggup menjawab pertanyaanku karena kini tanganku sudah menyusup ke dalam beha untuk mencengkeram kedua bongkahannya secara langsung.

“Susumu gede, Win.” bisikku sambil mengendusi pipi dan bibirnya.

Windy membuka mulut untuk menyambut ciumanku. Tubuhnya sudah lemas, terlihat pasrah sepenuhnya. Aku terus membelai dan menggerayangi tubuhnya yang sintal sebelum Windy tiba-tiba membuka mata dan menjauhkan tanganku yang mencoba melepas jilbabnya.

“J-jangan, Mas… uhh, sudah dulu dong meluknya, panas nih…” Ia bangkit dan dengan terhuyung-huyung masuk ke dapur.

Aku mengikutinya, ”Oh… sori, Win. Habis aku pengen banget. Mau apa lagi kesini kalau bukan meluk kamu,” kataku.

“Iya, tapi ntar dulu ya.” Dia mengajakku duduk di meja makan. “Mas sudah makan belum, tadi aku beliin steak kesukaan Mas. Ayo dicoba dulu, mumpung masih hangat.” Dia melayaniku, bagai seorang istri lagi melayani suami.

”Sip banget,” kuminta Windy untuk duduk di sebelahku. Sementara aku melahap apa yang ia sajikan, Windy mengambilkan air minum. Senyum cerah terus menghiasi wajah cantiknya saat ia mulai berbicara.

”Mas nggak usah kuatir masalah kelanjutan hubungan kita.” Dia berkata. “selama suamiku nggak curiga, pokoknya Mas tenang aja. Tapi hanya ingat kata dokter, di triwulan pertama si bayi masih rentan. Jadi…”

“Iya, untuk sementara kita berhenti dulu.” kataku sambil satu tangan meraih tonjolan payudaranya, sementara tangan yang satunya terus melanjutkan makan.

”Eh, bukannya gitu…” Windy menggelinjang geli. “Bisa kok, tapi kita harus lebih hati-hati.

“Hah?” Aku terpana seakan tak percaya. Dengan Tanti dan istriku, aku harus berpuasa di awal-awal kehamilan mereka. Sementara Windy tampak oke-oke saja. Sungguh sangat beruntung sekali.

“Waktu periksa tadi, dokter sudah mengecek… kandunganku kuat kok. Aku juga tanya masalah hubungan seks saat kehamilan, kata dokternya, silahkan saja asal tidak berlebihan. Mengenai sampai kapan boleh berhubungan, dokter bilang itu relatif. Tergantung dari masing-masing pasangan. Malah dokter itu bilang, ada juga pasangan yang hamil 9 bulan masih melakukannya. Kenyataannya libido wanita justru meningkat saat sedang hamil, juga memang tidak ditabukan berhubungan seks saat hamil, karena bisa memperlancar lobang wanita.” Windy menambahkan.

“Tapi tujuan perselingkuhan kita jadi lain sekarang,” aku mengingatkan.

“Kenapa, mas nggak suka?” tantangnya sambil tersenyum.

Aku mengangkat bahu. “Gila kalau aku sampai menolak.”

“Ya sudah kalau begitu.” Windy bangkit untuk merapikan piring dan gelas. Selama itu juga tanganku terus menggerayang di bokong sintalnya.

“Tubuhmu nggak pernah bikin bosan, Win.” bisikku jujur.

“Mas aja yang kegatelan,” dia tertawa ringan sebelum kemudian mengajakku pindah ke ruang teve. Tampaknya disana permainan kami akan dimulai.

Kami berpelukan mesra di atas sofa menonton film yang entah apa, karena tanganku lebih sibuk meraba-raba daripada melihat tayangan yang ada disana. Windy menggelinjang namun sama sekali tidak menolak. Terus kuremas-kuremas paha dan tonjolan payudaranya hingga sebentar saja gamis panjang yang ia kenakan sudah tersingkap kemana-mana, menampakkan tubuh bugil indah yang selalu bisa memancing hasrat dan gairahku.

Saat akan kucium bibirnya, barulah Windy berbisik sedikit serius. ”Mas, sekali lagi aku mau berterimakasih sama Mas, tak terhingga. Aku kini merasa lengkap sebagai seorang perempuan. Terima kasih, Mas.”

”Ah, nggak usah begitu juga,” kulumat lembut bibirnya. “Aku turut senang kalau kamu bahagia.” kataku sambil tambah memeluknya.

”Terimakasih sekali lagi, Mas,” Windy balas memelukku, kurasakan air matanya mulai menetes.

Segera kulepas pelukan dan kuhapus air mata itu dengan tanganku. Lalu aku tersenyum. Windy pun ikut tersenyum. ”Sudah ah, lagi bahagia gini jangan menangis.” rayuku.

”I-iya, Mas. Kalau kamu bilang begitu, aku nggak nangis lagi deh.” sahutnya.

”Nah gitu dong,” Kukecup lagi bibirnya.

”Kalau nanti aku gendut, Mas masih suka nggak?” tanyanya tiba-tiba.

”Justru gendutnya wanita hamil itu yang bikin pengen. Ininya jadi tambah gede,” kataku sambil memencet-mencet ringan bulatan payudaranya.

“Punyaku nanti jadi segede apa ya?” Windy memandangi dadanya yang memang sudah over size, tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil dan kurus.

“Tambah gede malah tambah bagus,” kataku bercanda.

“Kalau punya Tanti?” tanyanya ingin membandingkan.

“Jadi gede juga, tapi tampaknya bakal lebih gede punyamu.” Aku menunduk, satu persatu kujilati puting Windy yang masih nampak mungil memerah. Enam bulan lagi, puting itu akan jadi tambah hitam dan menonjol, siap untuk memberi ASI bagi si bayi.

“Tanti sekarang lagi nifas ya?” tanyanya sambil menggelinjang. Ditatapnya tampangku yang kepengen, sebelum tangannya mulai mengelus dan meremas pangkal celanaku.

“Iya,” aku mengangguk.

Tanti memang baru melahirkan dua minggu yang lalu. Bayinya cowok seperti yang ia idam-idamkan, dan wajahnya mirip denganku. Suaminya sepertinya tidak curiga karena kata Tanti, laki-laki itu sangat menyayangi anaknya. Aku jadi lega, setidaknya apa yang kulakukan selama ini bisa memberi manfaat bagi semuanya.

“Nggak kangen sama Tanti?” tanya Windy. Tangannya yang terus bermain di celanaku, akhirnya mau tak mau membuat batang penisku bangun juga.

“Kangen sih, tapi untung ada kamu.” sahutku sambil kubantu Windy memelorotkan celana.

“Lebih suka mana, aku apa Tanti?” tanyanya menggoda.

“Nih jawabannya,” Kusuruh dia untuk menunduk, dan tanpa menunggu lama, lidahnya yang basah mulai menjilati kepala penisku.

Windy menjilatinya dengan lembut, mulai dari lubang pipis hingga batangnya yang sudah merekah besar. Tangannya juga tak henti mengocok, sambil sesekali mempermainkan biji zakarku yang seakan seperti ingin meledak.

“Ssshhh… Win!” aku mendesah ketika mulutnya mulai menelan ujung penisku. Ia mengemut dan menghisap-hisapnya rakus hingga akhirnya seluruh batangku dilahapnya, sambil sesekali gantian mengenyot bijiku. Perbuatannya itu kontan membuat birahiku meningkat. Masih sambil rebahan di sofa, kubuka bajuku hingga aku pun terduduk telanjang bulat menikmati segala sentuhannya.

Setelah agak lama, Windy berdiri dan mulai menanggalkan busananya. Aku hanya tiduran saja, menyaksikan sambil mengocok-ngocok penisku. Kuperhatikan tubuhnya, belum ada perubahan yang mencolok; masih tetap ramping dan seksi. Tetek besarnya masih tetap indah, dengan puting dan lingkaran sekitarnya agak merah kecoklatan. Puting itu sedikit tegang, yang tentu saja jadi menambah keras batang penisku.

Windy lalu naik ke sofa, duduk di depanku dengan provokatifnya. Kedua tangannya dinaikkan dan diapitkan di belakang kepala, seperti ingin memperlihatkan gundukan payudaranya yang selama ini selalu kukagumi. Sementara kakinya dibuka lebar-lebar dengan kedua lutut menekuk, menampakkan rimbunnya bulu kemaluan yang menghiasi celah selangkangannya.

“Hmm,” Aku meneguk ludah menyaksikan keindahan di depanku itu.

Segera aku bangkit dan menyerbu gundukan buah dadanya, kujilati dan kuciumi bergantian sampai menjadi basah. Lalu kucari bibirnya, cepat kami saling bertautan lidah dengan gairah membakar. Pipi, mata, leher, dan belakang telinganya tak luput dari jilatanku. Windy blingsatan kegelian, apalagi saat mulutku kembali menyerbu tetek besarnya sambil tanganku juga meremas-remasnya gemas.

Yang jadi sasaran nafsuku adalah putingnya yang terlihat lebih tegang dan lebih besar, terasa enak sekali saat dijilat dan dimainkan dengan lidah. Kujilati dan kuemut-emut benda mungil itu, kugoyang-goyang dengan lidahku. Windy menggeliatkan badannya, campuran antara geli dan keenakan. Aku benar-benar gemes sama putingnya saat itu, jadi lama aku nenen disana. Kadang bergantian dengan menggerayangi bulu-bulu kemaluannya sebentar untuk membelai-belai belahan memeknya, hanya membelai belahannya saja, tidak lebih.

Ada 10 menit aku hanya nenen saja, Windy juga tidak meminta untuk berubah posisi, mungkin ia sengaja membiarkanku menikmati mainan baru; yaitu tonjolan putingnya.

Puas menghisap disana, aku mulai menuju ke lembah kenikmatan milik perempuan cantik itu. Bibirku mulai menciumi permukaan dan belahannya yang sempit, pelan-pelan kusodokkan jariku ke sana sebelum biji itilnya menjadi sasaran santapan lidahku. Kembali Windy mendesah dan menggeliatkan pinggulnya, kini dia agak menaikkan badan dengan tangan meraih belakang kepalaku untuk semakin membenamkannya ke celah selangkangan agar aku terus memainkan itilnya lebih kuat dan lebih nikmat lagi.

“Hmm… hmph…” Aku makin bersemangat saja dalam menjilat dan mengulum, rambutku diremas olehnya. Desah dan erangannya kini mulai berkepanjangan.

”Ahhh… ahhh… betul, Mas… d-di situu…” teriaknya keenakan.

”Ough… sshh….” Sambil menjilat, aku juga kembali meraih tonjolan payudaranya dan meremas-remasnya gemas.

”Yah…. jilat terus, Mas… ohh… gila!!” rintihnya tak tahan.

Kupenceti puting susunya yang mungil berkali-kali sambil sesekali juga kupilin-pilin mesra. ”Ahmhp…” Dan aku juga terus mencaplok liang surganya.

Akibatnya, “Mas… a-aku…” Windy menjerit keras begitu cairan orgasmenya menyembur kencang membasahi lubang senggamanya.

Aku segera bangkit dan tanpa perlu repot-repot membersihkannya, langsung memposisikan tubuh di antara kedua kakinya yang masih mengangkang lebar, dan… Bless!! Hanya perlu satu kali tusukan, penisku pun amblas ke dalam lubang nikmatnya.

“Auw!” Windy memekik, sementara aku secara naluri bertumpu di atas kedua lutut dan tanganku, berusaha tidak menindih perutnya. Kumulai pompaanku dalam lobang kemaluannya.

Kurasakan sesaat, belum ada rasa yang berubah, masih sama legit sebelum dia hamil. Aku memompa dengan santai saja, aku tidak mau menyodok dengan cepat atau kuat, takut terjadi sesuatu. Kugerakkan penisku keluar masuk dengan teratur, sementara tanganku mulai berkarya meremasi bulatan teteknya; kupilin dan kuputar-putar putingnya yang selalu membuatku gemas, sambil sesekali tanganku membelai bulu keteknya saat tangan Windy terangkat ke atas.

Boleh dibilang permainan kami berlangsung secara lembut dan penuh kehangatan, namun tidak menurunkan kenikmatannya. Malah semakin menambah keasyikan. Kami terus bergaya seperti itu sebelum aku cabut kejantananku dan mengajaknya berganti posisi favoritku; yaitu menggaulinya dengan posisi sejajar menyamping.

Segera kuangkat dengan lembut satu kaki Windy, dan aku langsung membenamkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya, sementara mulutku dengan leluasa menjilat serta menciumi bibirnya. Tak luput juga putingnya yang mungil kulumat bergantian sambil jariku memainkan itilnya yang kecil. Memang Windy paling senang kalau disodok dengan gaya ini, katanya semua bagian tubuhnya bisa aku mainkan sekaligus.

Maka desahan dan erangannya semakin menjadi-jadi, ”Ouw… ahhh… shh… hisap lagi, Mas… aduh… aduduh… itilku juga, jangan berhenti… ahh… auw!!”

Hasilnya, tak perlu waktu lama. Dia kembali orgasme. Aku masih tetap menyodokkan penisku dengan irama sedang saja; saat menarik, kukeluarkan sampai sebatas kepala, lalu kembali menusuk masuk secara perlahan-lahan. Begitu terus, dan tampaknya Windy sangat menikmati karena lubang memeknya kurasakan semakin basah dan lengket sementara itilnya jadi semakin mengeras oleh permainan jariku.

Akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kukenal. Segera kubenamkan dan kugoyang penisku dalam lubang kemaluannya sedikit lebih cepat…

Croot… croot… croot… spermaku meledak membanjiri lorong rahimnya. Kami terkulai lemas, sama-sama puas dan berkeringat. Windy mencium dan memelukku dengan mesra.

”Terima kasih, Mas, untuk kenikmatannya.” Ia berbisik, “dan juga karena telah memberiku anak.”

Lalu kami tertidur pulas. Lewat tengah malam kami bangun, main lagi dua kali sebelum kemudian mandi bareng karena hari sudah menjelang subuh. Di kamar mandi, kembali kunaiki tubuh sintalnya, namun kali ini kuguyurkan spermaku ke dalam mulutnya. Windy tersenyum saat menelannya. Setelah itu kami berpakaian dan kutemani dia memasak sarapan.

Menjelang suaminya pulang, kami pun berpisah. Windy berjanji akan mengabariku lagi kalau memang ada kesempatan. Namun itu ternyata sulit. Bukan karena suaminya berada di rumah terus, melainkan karena kandungan Windy yang tiba-tiba saja bermasalah. Dokter menganjurkan agar dia menghentikan sejenak kegiatan ranjang sampai kandungannya menginjak usia tiga bulan.

“Nggak apa-apa kan, Mas?” ia menelepon meminta pengertianku.

Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk menerimanya. Meski dengan berat hati, terpaksa aku berucap setuju. “Akan kutunggu,” kataku menyanggupi.

One thought on “WINDY 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s