KETIKA IBLIS MENGUASAI 4

Entah karena doa yang dipanjatkan oleh Aida, Farah, maupun Murtiasih, atau karena ulah dari sang iblis sendiri maka ketiga wanita korban perlecehan itu tak sampai hamil. Sementara itu para pejantan kisah bersambung ini : Pak Burhan (baca bagian kedua “Ketika Iblis Menguasai” mengenai ternodanya Farah), Pak Sobri dengan kaki tangannya Fadillah (baca bagian pertama “Ketika Iblis Menguasai” mengenai Aida dan Pak Sobri) serta Pak Jamal (baca bagian ketiga “Ketika Iblis Menguasai” mengenai terjerumusnya Ustadz Mamat) sempat bertemu dan berkenalan ketika silaturrahmi setelah Idul Fitri di rumah Pak Fikri.

Siapakah Pak Fikri?

Pak Fikri dulunya adalah bekas kepala polisi di sebuah desa yang terletak diantara kediaman Pak Burhan dan Pak Sobri. Di masa dia menjadi kepala polisi itulah sempat Fadillah hampir masuk penjara akibat perbuatan kriminal yang dilakukannya (mencuri bahan bangunan di rumah Pak Sobri yang sedang dibangun). Dengan bantuan ‘jasa’ Pak Sobri yang memberikan uang semir kepada Pak Fikri [selain Sobri sempat menggarap istri Fadillah bernama Subiati] maka Fadillah lolos penjara dan sejak itu menjadi kaki tangan Pak Sobri.

Selama tugasnya sebagai kepala polisi disitu, Pak Fikri sempat berkenalan dengan petugas pajak daerah situ, yang kebetulan adalah masih ada hubungan keluarga dengan Pak Burhan, si rentenir kakap. Dari situlah maka Pak Burhan akhirnya berkenalan dengan Pak Fikri. Tokoh lain di saat silaturrahmi itu adalah Pak Jamal yang telah kita kenal dalam kisah pelecehan Murtiasih, ia adalah bekas pegawai biasa di kantor Pak Fikri yang kemudian menjadi tokoh penjaga/pembersih madrasah tempat kerja Ustadz Mamat.

Ke-empat lelaki setengah baya itu bercakap-cakap mengenai pelbagai soal ringan, dan semakin malam berlarut maka mereka minum bandrék bajigur dicampur dengan air kelapa arén simpanan Pak Jamal. Air kelapa arén yang disimpan lama di tempat dingin itu tentu saja mengalami proses kimia dan sebagian berubah menjadi alkohol semacam minuman tuak. Dengan pengaruh minuman itu maka lidah keempat lelaki itu menjadi semakin ‘loncér’ dan percakapan mereka akhirnya sering menyeleweng dan menjurus secara tak langsung ke persoalan wanita, karena istri Pak Fikri telah meninggal setahun sebelumnya akibat penyakit ginjal menahun ditambah pula sakit kencing manis parah sejak remaja. Mereka rupanya menanyakan apakah Pak Fikri tidak berniat untuk menikah kembali, dan pembicaraan itu tanpa disadari beralih ke arah istri keluarga Ustadz Mamat.

Pak Sobri yang telah menjadi pejantan ahli penakluk Aida secara iseng menanyakan apakah Pak Fikri mengenal adik perempuan Aida yang bernama Farah. Pak Sobri hanya pernah melihat foto Farah di rumahnya Ustadz Mamat, namun dia belum pernah bertemu langsung dengan Farah. Tentu saja Pak Sobri tak tahu bahwa Farah telah menjadi korban Pak Burhan, dan tanpa curiga melanjutkan pujiannya terhadap kecantikan Farah.

Pak Fikri pernah selintas melihat Farah beberapa tahun lalu ketika mengajukan permohonan KTP baru, dan memang harus diakui bahwa gadis remaja berjilbab itu memang sangat cantik. Selama percakapan itu, Pak Burhan hanya tersenyum dan mendengarkan saja, namun ketika dirasakannya saat yang baik telah muncul barulah dengan sangat bangga ia menceritakan pengalamannya ketika berhasil menggauli Farah.

Rupanya Pak Sobri tak mau kalah mendengar hangatnya pelecehan Farah, maka ia pun akhirnya menceritakan bagaimana Aida terjebak siasatnya dan berhasil digarapnya tanpa setahu suaminya.

Ke-empat lelaki itu rupanya semakin lama semakin asyik dengan mengunggulkan diri sendiri dalam pergaulan bersama perempuan, mereka membual ‘kemampuan’ masing-masing dalam menaklukkan mangsanya.

Di luar kemauan mereka, iblis pun rupanya ikut mendengarkan serta mulai menyusun rencana berikutnya untuk menjebak menjerumuskan Ustadz Mamat, Aida istrinya, serta tiga adik perempuannya yang terkenal sangat alim shalihah.

Pak Jamal yang mengurus madrasah wanita mulai ‘menghasut’ dengan menceritakan betapa banyaknya gadis ABG desa yang ayu, manis dan lugu sehingga tak sukar untuk dijebak dan dijadikan mangsa untuk para lelaki setengah baya yang gemar daun muda.

Timbullah rencana Pak Sobri dan Pak Burhan untuk bersama mengumpulkan dana membangun madrasah khusus untuk wanita muda di desa tak jauh dari situ, dan Mamat akan dijadikan sebagai pemimpin ‘boneka’ disitu. Dengan ‘rahasia’ perbuatan cabulnya belum lama ini dengan muridnya Murtiasih, dimana rahasia itu berada di tangan Pak Jamal, Irah dan Ikah, maka Ustadz Mamat pasti tak mungkin menolak kedudukan yang ditawarkan.

Namun ke-empat lelaki yang mengatur siasat itu tentu saja mempunyai rencana maksiat lain terhadap Aida, Farah dan kedua adik perempuannya yang masih gadis murni, disertai Rofikah, Sumirah, mungkin pula beberapa ABG desa yang naif dan akan mudah dijebak!

Menjelang pagi mereka pulang dengan benak penuh rencana mesum!

Di desa Jamblang yang akan dijadikan ‘markas’ besar pelbagai perbuatan maksiat mereka di masa depan memang kebetulan ada sebuah gedung tua yang sudah lama tak dipakai. Puluhan tahun lalu gedung itu didirikan oleh Kompeni di zaman penjajahan Belanda sebagai pos penjagaan. Kemudian dipakai oleh penguasa Orde Lama dan Orde Baru untuk gudang, dan sejak hampir sepuluh tahun ini kosong terlantar. Dasar dan pondasinya tetap bagus sebagaimana umumnya bangunan zaman dulu, hanya dinding dan atapnya yang perlu direnovasi. Untuk itulah, ke-empat lelaki yang mempunyai rencana tak senonoh itu segera mengumpulkan anak buah dan pekerja harian di desa untuk melakukan perbaikan, sehingga hanya dalam waktu tiga bulan setengah semuanya telah diperbaharui dan siap untuk dipakai.

Ustadz Mamat pun kini telah diberikan ‘kedudukan’ baru yaitu sebagai pemimpin madrasah baru – dan dalam waktu tak terlalu lama pendaftaran para murid untuk tahun pelajaran baru telah dibuka, dan tentu saja Ustadz Mamat juga mempunyai peranan penting dalam penerimaan itu, sehingga sejak dari awal mula telah dapat dipilih murid baru mana yang lugu ayu dan bahenol…!!

Di bawah ini adalah kelanjutan kisah mereka yang semakin dalam terjerumus godaan iblis

Peristiwa yang dialami Murtiasih menyebabkannya sangat schock, prestasinya menurun dan sangat sukar baginya untuk konsentrasi dalam belajar. Aib semacam itu tak mungkin diceritakannya kepada siapapun, sehingga tanpa disadari, Murtiasih semakin menyendiri, menjauhi kawan dan rekan yang sebelumnya banyak bergaul dengannya. Semua bertanya-tanya namun Murtiasih menghindar tak mau memberikan jawaban, dan semua itu amat diperhatikan oleh Rofikah dan Sumirah.

Mereka dengan sangat cerdik dan menggunakan pelbagai akal bulus tak henti-hentinya selalu berusaha untuk mendekati serta menghibur Murtiasih, selain itu mereka yang semakin ‘dekat’ dengan ustadz Mamat, menganjurkan agar Murtiasih tetap diberikan penilaian yang cukup bagus. Ustadz Mamat yang telah terjerumus dan terlanjur berada di bawah pengaruh ancaman kedua muridnya itu tak dapat mengelak dan terpaksa menurut kemauan Ikah dan Irah.

Tentu saja kedua kaki tangan iblis itu tidak begitu saja mendekati dan menghibur Murtiasih, mereka pun baik secara langsung maupun tak langsung mengancam untuk membuka semua rahasia adegan mesum antara Murtiasih dan Ustadz Mamat yang mereka saksikan bersama dengan saksi ketiga yaitu Pak Jamal.

Setelah menghadiri malam silaturrahmi lepas lebaran itu, Pak Jamal menjadi semakin sering berhubungan dengan Pak Fikri yang menduda, tak jemu dan bosan-bosannya menceritakan betapa hangat pengalamannya dengan Murtiasih. Tentu saja sebagai pria menduda telah cukup lama tidak menikmati tubuh wanita, menjadi terbangun pula rasa ingin tahu Pak Fikri!

Pak Jamal sebagai pejantan kampung yang sangat vital perannya, merencanakan untuk menjebak dan mempersembahkan Murtiasih kepada Pak Fikri. Sementara itu ia pun menghasut Ustadz Mamat untuk secara bergantian menjarah Rofikah dan Sumirah, walaupun usaha kedua siswi genit ini untuk menarik perhatian Ustadz Mamat selama ini belum berhasil. Jadi, justru Ustadz Mamat yang akan mengambil alih jalan cerita menggarap kedua siswi genit ini. Kini hanya tinggal dicari waktu dan tempat yang cocok sekaligus menguntungkan.

Setelah upacara pembukaan madrasah baru, direncanakan untuk para pengunjung sedikit menyumbangkan dana. Dalam kesempatan itu tiga siswi diberikan tugas untuk menjaga kotak pengumpulan uang, dan setelah semua tamu pulang maka mereka akan ditugaskan menghitung uang dana yang masuk. Tak perlu diragukan lagi bahwa Rofikah, Sumirah dan tentu saja Murtiasih yang akan diberikan tugas itu!

Di saat akhir pengumpulan uang serta penghitungan dana masuk, dengan sembunyi-sembunyi Pak Jamal mencampurkan obat tidur dan perangsang ke dalam minuman segar mereka. Ketiga siswi calon korban itu diperhitungkan tanpa banyak perlawanan pasti akan dapat ‘digusur’ ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Fikri untuk dibawa ke rumahnya yang letaknya cukup terpencil di atas bukit.

Pak Fikri akan mengatur agar rumahnya kosong, semua pembantunya di hari itu diberikan libur serta uang jajan sehingga tak ada seorang pun yang akan mengganggu rencana mesum mereka. Ustadz Mamat akan ikut di dalam mobil itu untuk mencegah agar ketiga siswi tersebut tak melarikan diri dengan misalnya melompat keluar dari mobil di tengah perjalanan. Pak Jamal akan ikut ‘mengawal’ dengan naik motor di belakang mobil sehingga seandainya ada yang lolos dari penjagaan Ustadz Mamat dan keluar dari mobil, maka segera akan dibekuk untuk dipaksakan masuk mobil kembali.

***

Tiga Bulan Kemudian…

Acara pembukaan madarasah dilaksanakan di hari Jum’at, tepat di tengah hari setelah sholat Jum’at. Banyak pemuka desa serta penduduk sekitarnya, terutama orang tua yang mempunyai minat memasukkan anak remaja mereka kesitu, datang serta memberikan sumbangan yang diharapkan.

Setelah upacara pengguntingan pita, peninjauan ruang-ruang kelas, administrasi, asrama dan sebagainya, menyusul acara makan kecil snack seadanya. Kemudian sebagaimana umumnya, disediakan waktu untuk para tokoh daerah memberikan sedikit ceramah serta penerangan rencana pendidikan yang akan diberikan. Sebagai acara penutup, sebagaimana di awal pembukaan diadakan doa bersama, sesudah itu mana para tamu berangsur-angsur pulang dan meninggalkan gedung baru tersebut.

Menjelang jam empat petang, tinggal Pak Fikri serta ketiga siswi yang masih berada di sana guna menghitung uang sumbangan yang masuk. Rofikah, Sumirah dan Murtiasih merasa pusing dan pandangan mata mereka semakin kabur, akhirnya tanpa disadari ketiganya meletakkan kepala mereka di atas meja tempat mereka menghitung uang itu…

***

Lima Puluh Menit Kemudian….

Rumah kediaman Pak Fikri mempunyai pelbagai ruangan cukup besar untuk ukuran desa : ruangan tempat menerima tamu, ruangan makan menyambung dengan dapur, tiga ruangan kamar tidur yang luas dan sebuah agak kecil hanya dipakai untuk menyimpan barang. Selain itu kamar mandi dan toilet bagi sang penghuni dan di belakang juga sama hanya untuk para pembantu.

Menurut rencana Pak Jamal, sebetulnya Murtiasih yang akan ‘dipersembahkan’ kepada Pak Fikri, namun agaknya Pak Fikri yang telah cukup lama tak menikmati tubuh wanita justru mendambakan peranan sebagai lelaki yang merenggut kegadisan dari salah satu siswi genit itu. Pilihannya jatuh kepada Rofikah yang telah sering diliriknya sejak upacara di gedung madrasah baru siang tadi.

Pak Jamal yang merupakan ‘otak’ dari peristiwa mesum petang ini menanyakan kepada Ustadz Mamat apakah ia keberatan untuk memulai sex-party itu dengan Murtiasih, murid kesayangannya.

Ternyata Ustadz Mamat tetap mendambakan Murtiasih meskipun telah direnggut kegadisannya dan digaulinya beberapa kali.

Oleh karena itu Pak Jamal akhirnya merasa senang juga karena sebagai pegawai rendahan akan dapat menggauli Sumirah yang diharapkannya masih utuh kegadisannya.

Ketiga lelaki itu telah membagi jatah masing-masing dan setelah sampai di dalam rumah, mereka menggendong ketiga calon mangsa yang masih setengah sadar itu ke kamar tidur yang diatur dan dibagi oleh Pak Fikri sebagai tuan rumah.

***

Adegan di Kamar Tidur 1   :   Hilangnya Kegadisan Rofikah  

Sebagaimana pada umumnya kodrat alam yang berlaku : anjing yang selalu menyalak jarang akan menggigit, atau seseorang yang banyak bicara dan membualkan diri umumnya adalah pengecut.

Demikian pula dengan Rofikah yang sehari-hari di madrasah berkelakuan genit, banyak bicara serta sering melirik ke arah para lelaki muda atau lansia yang iseng bersiul-siul ke arahnya disaat berjalan. Jika ia melintas di tempat banyak lelaki nganggur duduk di tepi jalan atau warung kopi, maka sengaja cara jalannya dibuat makin melenggok sehingga semakin menarik perhatian para lelaki nganggur. Lenggang dan goyang pinggulnya jelas terlihat lebih berputar menggiurkan, walaupun tertutup dengan sarung panjang. Bulatan pantatnya yang montok menonjol bagaikan mengundang tangan lelaki menjamah, bahkan meremas dan mencubitnya, Rofikah senang dikagumi lelaki.

Namun kini ia telah berada berduaan saja dengan lelaki setengah baya yang dikenalnya sebagai bapak Fikri. Lelaki berusia pertengahan lima puluhan itu bahkan lebih tua sedikit dari ayahnya sendiri, namun terlihat masih cukup gagah. Badannya sangat tegap, berkulit hitam, wajah sedikit kaku dan bengis, mata menatap tajam, hidung lebar agak pesek, bibirnya tebal terhiasi dengan kumis di atasnya. Lelaki yang bernama Pak Fikri dan kini dikenal sebagai sponsor utama dan pembangun madrasah baru itu, telah duduk di sampingnya dan mulai berusaha merayunya.

Rofikah – atau biasa panggilan sehari-harinya Ikah – telah terbangun dari pengaruh obat tidur yang dicampur di dalam minuman és alpukat tadi siang. Kini Ikah berusaha menyadari apa dan dimana ia berada. Dalam posisi setengah duduk Ikah melihat bahwa ia tidak lagi berada di ruangan madrasah, melainkan di sebuah kamar tidur. Rasa takut mulai menyelinap ketika disadarinya bahwa ia tengah duduk di sebuah ranjang yang cukup besar, ditopang bantal kepala besar di punggungnya.

Jilbab yang biasa dipakainya telah turun ke bawah, tak lagi menutupi rambutnya yang kini tergerai bebas ke belakang kepala dan pundaknya. Baju kurung yang dikenakannya telah semrawut tak teratur; bagian dada depan agak terbuka sehingga kulit dadanya yang putih terlihat oleh siapapun di hadapannya. Selain itu sarung yang biasa menutup hingga mata kaki di bawah betis, kini tersingkap ke atas sehingga bukan hanya betis dan lututnya saja yang kelihatan, namun sebagian pahanya yang mulus juga terpampang jelas.

Secara refleks Ikah menarik sarungnya ke bawah paha, disambut dengan seringai lebar mesum oleh Pak Fikri. Ikah menggoyang-goyangkan kepalanya sambil mengucek-ucek matanya seolah tak percaya, namun semuanya bukanlah mimpi melainkan kenyataan yang sebenarnya. Walaupun rasa letih dan ngantuk terpudar dan Ikah mulai menggigil karena ngeri dan takut berada berduaan di kamar tidur dengan lelaki asing, namun ada pula rasa aneh dan hangat mulai menjalari tubuhnya. Tentu saja Ikah tidak menyadari bahwa minuman segar es alpukat tadi selain diberi obat tidur, namun juga dicampuri dengan obat perangsang, yang kini justru mulai menunjukkan pengaruhnya di tubuh Ikah sebagai wanita muda.

“Saya ada dimana, Pak? Tolong, saya mau balik ke madrasah. Saya mau pulang!!” Ikah beringsut menjauh ketika Pak Fikri menggeserkan tubuhnya mendekat dan hampir menyentuhnya.

“Tak usah takut, Neng, bapak tadi senang ngeliat si Neng tidur nyenyak. Sekarang udah bangun dan segar kan? Bapak cuma mau menyenangkan, Neng. Ntar dianterin pulang, bapak janji nih,” Fikri semakin mendekatkan wajahnya ke muka Ikah sehingga tercium bau rokok kretek dari napas di mulutnya.

“Enggak mau ah, Pak. Saya mau pulang, tak baik kita berdua di kamar. Apa nanti kata orang? Apalagi nanti digunjingkan orang, bapak kan sudah ada keluarga,” Ikah berusaha menekan perasaan aneh yang seolah membuatnya gelisah dan juga ada gelora panas di pipi serta bagian-bagian vital di tubuhnya.

“Jangan takut, Neng, bapak cuma mau menyenangkan neng sebagai rasa terima kasih telah bantuin di madrasah tadi. Bapak tak akan menyakiti, cuma mau ngelonin neng sebentar supaya anget,” Fikri semakin melekatkan wajahnya sambil menyentuh lalu mengambil tangan Ikah di genggamannya.

“Udah dong, Pak, Ikah belon pernah begini. Jangan, Pak, engga baik. Lepasin dong, saya janji enggak bilang siapapun, asal bapak lepasin dan pulangin saya,” suara Ikah makin gemetar sambil berusaha menarik tangannya, namun Pak Fikri justru semakin menarik tubuh Ikah ke dalam pelukannya.

“Eenngmmpppffh,” hanya itu yang keluar dari mulut Ikah ketika Pak Fikri menyergap bibirnya sambil langsung melumat dan menciuminya dengan rakus sehingga ia jadi gelagapan. Selama ini kelakuan Ikah sering genit tidak sesuai dengan siswi madrasah, namun ia belum pernah intim dengan lelaki.

Kini – tanpa direncanakannya sendiri seperti yang pernah dilakukannya ketika menjebak Murtiasih – dirinya sendiri masuk ke dalam jebakan dan pelukan seorang lelaki seusia ayahnya. Seorang pria yang telah lama ‘puasa’ setelah meninggalnya sang istri kini terbangun nafsu birahinya! Betapa bahagianya Pak Fikri dapat mendekap tubuh gadis muda yang hangat dan sintal itu, tubuh yang meronta dan menggeliat tanpa hasil malah semakin memacu gairahnya. Membikin kemaluannya jadi semakin menegang ingin keluar!

Ikah menggeliat dan berusaha melepaskan diri ketika badannya yang telah setengah duduk dipaksa untuk kembali rebah terlentang. Rasa hangat dan gatal menyelubunginya ketika Pak Fikri menekan serta menindihnya di kasur, semua kancing dan peniti kebaya serta sarung yang dipakainya mulai berantakan ditarik secara kasar oleh lelaki yang bagaikan kesetanan itu.

“Cupp, cupp… diem, diem… sini sama bapak dikasih rasa anget, bapak sebentar lagi mau nyusu boleh ya? Percuma ngelawan, Neng. Nikmati aja, pasti kita sama-sama senang. Duuuh… nih leher enak dicupangin,” ucap Pak Fikri bagaikan singa sedang mencengkeram mangsanya.

“Eeemmmmh, sssshhhh, aaaaah, lepasiiiin dong! Jangaaan, Paak…” Ikah berusaha mengembalikan akal sehatnya, namun tubuhnya sudah terlanjur dimasuki obat perangsang dan kini semakin jelas terbuka karena sebagian besar busananya direnggut dan ditarik terlepas oleh Pak Fikri. Semakin rakus si lelaki setengah baya itu menekan Ikah sambil mengeluarkan buah dada si gadis dari BH-nya. Bukit kembar Ikah kini terpampang penuh kebanggaan ketika Pak Fikri meremas serta memilin putingnya.

“Auuuuw, aduuuuh! Jangan kasar gitu dong, Pak! Ngiluuu, sakiit, Pak! Pelan-pelan dong!!” Ikah tanpa sadar menengadahkan kepalanya di saat merasakan geli ngilu, apalagi saat putingnya yang memang sangat menantang itu masuk ke mulut Pak Fikri. Benda mungil itu disedot-sedot lalu digigit bergantian. Ikah hanya dapat mendesah dan tanpa disadari kedua tangannya justru mengelus dan mengusap-usap kepala Pak Fikri.

Setelah puas meninggalkan cupangan merah di bukit kembar putih yang menghiasi dada Ikah, kini Pak Fikri semakin menurunkan kegiatan tangannya ke bawah. Ia menyelusup ke arah pusar, menggoda lekukan yang masih murni belum pernah dijamah, semakin mengembara ke bawah mendekati batas yang masih tertutup celana dalam tipis berwarna putih.

“Aaaiiih, udaaaah, Paaak! Cukuuup, jangaaaan diterusiin! Enggaaaak mau yang itu, Pak! Jangaan, Ikah belum pernah gituan, Pak! Lepasin dong, tolong, Pak! Ikah enggak akan ngadu ke siapa pun, ooooh!!” Ikah merasakan dirinya mulai hanyut terbawa arus birahi. Namun sebagaimana umumnya, segenit apapun seorang gadis desa dan bahkan siswi madrasah, namun disadarinya kini ia akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga, akal sehat Ikah kembali berontak menolak kenyataan ini.

“Udah terlanjur, Neng, ikutin aja. Kalo ngelawan malahan nanti tambah sakit. Nyerah aja ama bapak, ntar pasti pengen minta lagi. Ayo buka kakinya, dijilatin dulu mau ya?” kata Pak Fikri di tengah gejolak nafsunya.

Tanpa menunggu jawaban atau protes dari korbannya, Pak Fikri kembali mencakup mulut Ikah dengan ciuman ganas. Lidah kasar dan besar menerobos membelah bibir mangsanya yang agak merekah, menjarah masuk menyapu langit-langit mulut Ikah. Kemudian Pak Fikri menarik nafas sangat dalam dan panjang seolah-olah ia ingin menyedot habis semua daya perlawanan gadis yang telah dikuasainya ini.

Selain itu kedua tangan Pak Fikri tak henti-hentinya menarik dan melepaskan satu persatu lapisan pakaian pelindung di tubuh Ikah, dan dalam waktu hanya sepuluh menit kemudian, Ikah telah menggeletak dengan hanya celana dalam menutupi auratnya yang intim.

Pak Fikri merasakan bahwa perlawanan Ikah semakin berkurang. Dari belahan bibir gadis itu kini terdengar keluhan dan desahan putus asa, kedua tangannya kini tak lagi menegang berusaha mencakar Pak Fikri, hanya kedua betis jenjang dan paha mulus bergantian menekuk merentang gelisah. Terutama saat Pak Fikri menarik celana dalam Ikah ke bawah sehingga kini terlihat bukit Venus menantang dilindungi bulu-bulu halus.

Pak Fikri semakin bersemangat meremasi bergantian buah dada Ikah dengan tangan kirinya, sementara tubuhnya semakin merosot ke bawah. Mulutnya yang puas menyedot dan menggigit-gigit puting Ikah yang mencuat, semakin turun menjilati pusar, menyepongi perut bawah si gadis hingga akhirnya mencapai lembaran pertama rambut halus pelindung celah nirwana yang akan segera ditembusnya.

“Hmmmmh, memeknya bagus amat, Neng. Mana kecil lagi, masih sempit gini. Bapak jilatin supaya licin mau ya? Pasti neng suka, hmmmmhh, cuppp, srrrrt, cuupp, aaaah! Enak enggak, Neng?” Pak Fikri mulai menciumi dan menjilati vagina Ikah, menyebabkannya semakin gelisah kelojotan.

“Aiiiih, Paaaaak!! Geliiiii, oooohh!! Paak, udaaaah, sssshhhh! Geliiiii, Pak, Ikah enggak tahaan! Sssssh, ooooh, Paaak, jangan diterusin! Aaaaaaiiihh, stop, udaaah, Ikah mau pipiiisss, lepasin! Aaauw,”

Ikah berusaha menggelinjangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menahan segala macam rasa geli namun nikmat, terutama saat Pak Fikri selain menjilati memeknya juga menarik mencubit memilin putingnya.

“Asoooy… wuuuih, nih memek merah muda dalemnya. Tuh kelihatan lobang pipisnya, bapak pengen lihat gimana tombol listriknya. Pasti neng ketagihan kalo dijilat seperti kena setrum listrik, iyaaah mau coba ngumpet tapi bapak udah nemuin nih, cupp cupp, ssshhhh, srrrrhh, enak ya dijilat?” pejantan yang kemasukan setan ini rupanya telah menemukan kelentit yang dicarinya.

“Aaaaaaah, ooooohhhh, Ikaah lagi diapain? Ooooohh, auuuuww, engggga mauuu! Jangaaan, Paaak, Ikaaah bener-bener mau pipiiiiiiss, aaauuuuww, aaaaaaahhhh!” dengan suara melengking, akhirnya Ikah mengejang. Tubuhnya melengkung bagaikan busur, tangannya menarik sprei yang dibawanya ke mulut dan digigit sekuatnya sehingga sebagian jeritan sebagai tanda orgasme pertama teredam.

Namun Pak Fikri terus melanjutkan rangsangannya, kelentit Ikah berada diantara jepitan bibirnya yang tebal, dikecup dan digigit dengan mesra namun penuh kegemasan, dan kumisnya yang baplang itu mulai basah kuyup dengan air mazi pelicin yang keluar dari dinding vagina Ikah. Tanpa rasa jijik air pelumas itu dijilat disedotnya, nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, kemaluannya telah menegang mengacung mengangguk-angguk. Dan setelah beberapa menit dirasakannya Ikah telah berkurang ketegangan tubuhnya sebagai tanda orgasmenya mulai berakhir, maka tibalah waktunya untuk Pak Fikri mengambil hadiah utama yang diidam-idamkannya, yaitu merenggut kehormatan sang gadis.

Kedua paha dan betis Ikah dikuakkan dan diletakkannya di atas bahunya, bantal kepala agak keras diletakkannya di bawah pinggul Ikah. Dicium dan dijilatinya lagi celah kenikmatan yang telah licin itu, menyebabkan Ikah dalam keadaan setengah sadar melenguh. Pak Fikri telah mengarahkan lembing daging kebanggaannya yang penuh urat dan berwarna coklat hitam mengkilat itu ke arah belahan yang sedikit merekah – perlahan-lahan dimajukannya kepala penisnya, diretasnya kedua bibir kemaluan Ikah, dirasakannya betapa hangat kepala jamurnya terjepit disitu, lalu Pak Fikri menekan…

“Aduuuuh, aaauuuuuww, periiiih, saakiiiit, hentikaaaaan, jangaaaan!! Toloooong Paak, sakiiiiiiit, oouuuuuw!! Aaaampuuuun, Paak, udaaah, sakiiiiiit, aaauuuuuw!!”

Ikah mendadak melolong menjerit-jerit bagaikan hewan disembelih ketika memeknya yang masih sempit itu mulai dibelah oleh penis pria seusia ayahnya. Kedua tangannya membentuk kepalan yang dipukulkannya ke dada Pak Fikri, kemudian kukunya digunakannya untuk mencakar bahu serta lengan lelaki setengah baya yang sedang menindihnya, namun Pak Fikri tetap perlahan-lahan melanjutkan mendorong menekan penisnya.

“Tahaaan dikiiit, Neng, rileks aja. Sssshhhh, rileks, Neng. Jangan dilawan, malahan makin sakit. Dikiit lagi masuk semuanya, Neng, oooh… sempitnya! Uuuuuh, emang bener si neng masih perawan,” desah Pak Fikri menekan kejantanannya semakin lama semakin dalam ke memek Ikah. Betapa sedapnya dan bangganya sebagai pria setengah uzur berhasil menaklukkan gadis muda belia nan montok ini.

Bahu dan kedua lengannya telah penuh dengan dengan cakaran Ikah yang berusaha mengeser-geserkan pinggulnya ke kiri-kanan seolah menghindarkan benda tumpul yang sedang menerobos memeknya, namun semua itu tak diperdulikannya karena Pak Fikri merasakan penisnya kini agak tertahan oleh sesuatu.

Ia menyeringai penuh kepuasan karena dirasakannya bahwa kepala pentungan dagingnya mulai menyentuh lapisan selaput gadis mangsanya. Uuuuh, betapa hebatnya aku ini, sudah hampir mencapai kepala enam akan merenggut kehormatan anak gadis madrasah, demikian di benak Fikri.

Sangat berbeda apa yang dirasakan Ikah saat itu; selain perih karena celah surgawinya dipaksakan melebar untuk menerima penis lelaki pertama kalinya, kini dirasakannya di dalam selangkangannya ngilu dan bagaikan ada benda tajam akan menyayatnya. Ikah kembali merintih sambil meronta-ronta.

Lelaki setengah baya dan cukup lama menduda itu tentu saja kini ingin menikmati bukan saja saat penisnya menembus selaput tipis di kemaluan Ikah, namun juga ekspresi seorang gadis kehilangan milik satu-satunya – sebuah panorama yang akan melekat di benaknya yang lansia namun mesum itu.

Dicekalnya kuat-kuat kedua pergelangan tangan Ikah yang langsing di samping kepalanya sehingga tak dapat dipakai mencakar lagi, ditatapnya wajah korbannya yang menggeleng-geleng ke kiri-kanan seolah tetap menolak apa yang tak dapat dihindarkan lagi. Mulut Ikah yang merah muda basah itu setengah terbuka agak gemetar, lubang hidungnya kembang kempis, keluhan dan rintihan lemah Ikah kini silih berganti dengan dengusan dan suara geraman dari si lelaki pejantan yang amat buas.

“Hmmmmggghh, sssssshgg, bapak tekan lagi nih! Eeeeemmmmfffh, bapak mesti kerja keras nembus pertahanan si neng! Bageeuuur eeeeuuuuyyy, alot juga si neng benteng pertahanannya, bapak maju lagi… aaaaaah, kerasa legaan dikit sekarang! Wah, mentok nih, hhhhhhssssh!” dengus Pak Fikri.

“Aaauuuuww, aduuuuh, aaauuuuuuww, emmpppfffffh!!” jeritan memilukan Ikah teredam kembali oleh ciuman bertubi-tubi dari Pak Fikri yang sangat terangsang melihat betapa ayu memelasnya wajah siswi genit ini ketika kehilangan kegadisannya. Keduanya kini beberapa saat tidak bergerak : Rofikah bagaikan kelinci lemah telah berada dalam cengkraman singa ganas Pak Fikri.

Perlahan-lahan Pak Fikri melepaskan ciumannya, kedua nadi Ikah tetap dicekal ditekannya ke kasur, diberikannya waktu beberapa saat bagi Ikah untuk membiasakan memeknya dibelah oleh benda asing. Setelah itu mulailah Pak Fikri menggerakkan pinggulnya maju mundur. Terkadang amat halus lembut, terkadang agak terputar, lalu diganti dengan sodokan ke pelbagai arah : ke atas, ke samping, ke bawah, sejenak kemudian diganti lagi dengan sodokan dan hunjaman keras brutal menghantam mulut rahim Ikah.

“Wuuuih, enak tenan si neng. Barangnya licin tapi tetep rapet, barang bapak kerasa dipijit-pijit. Pinteer amat neng bahenol. Mulai kerasa enak ya, Neng? Ayo sekarang ngaku sama bapak,” Pak Fikri memuji.

Ikah tak sanggup menjawab, badannya bagai terbawa arus gelombang, selangkangannya dirasakan geli, ngilu, hangat, gatal, nyeri sakit, namun setiap kali dihantam juga ada kenikmatannya sendiri.

Perlawanannya telah sirna, Ikah mulai terbawa dan tenggelam hawa nafsunya sendiri, wajahnya kini menengadah ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan halus wanita muda, rintihannya yang memilukan telah berangsur berubah menjadi dengusan nafas mencerminkan nafsu birahi.

Pak Fikri rupanya cukup kuat dan bertahan sehingga hampir setengah jam ia memompa Ikah, tapi akhirnya mulai dirasakannya gejolak air lahar mendesak keluar dari biji pelirnya. Semakin seru dan cepat dipompanya tubuh montok Ikah, dihantamnya dan dijarahnya dari segala macam arah.

“Aaah, uuuuh, ooooh, aaaah, hhhuuuuhhh, ssssshhhh, bapak udah hampir nembak nih, Neng, banjir di dalem boleh enggak, Neng?” Pak Fikri mendengus-dengus di telinga Ikah sambil menciumi mengecup lehernya yang putih, yang kini telah penuh bercak dan cupangan merah.

“Jangaaaan, Pak, Ikah enggggak mau. Jangan di dalam, Pak, ampuuuun! Ikah nanti hamil, kasihani dong! Aauuuuwww, aaaah, aauuuuw! Tolooong, Pak, Ikah jangan dihamili,” suara Ikah panik terisak-isak karena diingatnya bahwa kemungkinan besar dirinya sedang masa subur.

“Abis gimana dong? Bapak udah mau banjir nih,” Pak Fikri terengah-engah sambil terus memompa.

“Udaaaah dong, Pak. Lepasin Ikah. Jangan di dalem, Pak, oooh… tolooong!!” Ikah semakin tersedu-sedu.

“Iyaa, bapak bisa tahan bentaran lagi ngejosnya. Kalo enggak boleh di dalem, bapak mau nyemprot di tempat lain. Bapak mau banjir di mulut neng aja ya, sekalian neng bapak ajarin nyepong. Mau ya?” rupanya Pak Fikri memperoleh bisikan iblis lagi.

“Enggak mau. Ikah ogah gituan. Jijik, Pak, ooooh… jangan paksa Ikah, kasihani dong!” suara Ikah putus asa diselang-seling isak tangisnya.

“Ya udah kalo Ikah enggak mau, bapak terusin aja banjir di dalem, itung-itung nyebar bibit di perut neng,” Pak Fikri tersenyum lebar merasakan bahwa bagaimanapun akhirnya Ikah akan terpaksa mengalah.

Ikah tidak dapat menjawab lagi, badannya terguncang-guncang disodok oleh Pak Fikri tercampur dengan tangis sesenggukannya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya, namun adegan mengenaskan ini sama sekali tak menimbulkan kasihan pada Pak Fikri, karena semua akal sehatnya telah hilang dikuasai bujukan iblis.

Dirasakannya bahwa pertahanan Ikah sudah hancur berantakan, badannya yang elok montok kini lemas lunglai, dan Pak Fikri yakin meskipun mulutnya menolak namun Ikah pasti akan patuh jika harus memilih antara hamil atau menelan sperma. Perlahan-lahan Pak Fikri mencabut penisnya yang tetap gagah mengacung, terlihat mengkilat licin dilapisi oleh cairan vagina, disamping itu disana-sini tampah bercak-bercak darah di kepala jamurnya sampai ke batang dan rambut kemaluannya.

Pak Fikri merangkak ke atas, setengah duduk setengah berlutut di atas dada Ikah dan kini menyodorkan kemaluannya ke arah mulut Ikah. Karena Ikah melengos memalingkan mukanya, maka Pak Fikri yang merasakan denyutan di biji pelirnya semakin meningkat, segera memegang wajah mangsanya serta memencet hidung Ikah yang bangir. Hal ini tak diduga oleh Ikah yang berusaha menggelengkan kepalanya namun tanpa hasil, dan karena kehabisan nafas maka secara tidak sadar mulutnya membuka sedikit untuk menghirup udara.

Namun celah mulut yang terbuka itu terlalu kecil untuk diterobos rudal Pak Fikri. Oleh karena itu pria setengah baya cabul itu secara sadis mencubit dan menarik puting buah dada Ikah. Tentu saja gadis malang yang telah sangat lelah itu menjerit kesakitan dan mulutnya tanpa disadari membuka sangat lebar, yang mana kesempatan itu tak dilewatkan oleh Pak Fikri dengan segera menerobos masuk secara brutal sehingga kepala jamurnya menyentuh langit-langit di kerongkongan Ikah. Mulutnya kini dipenuh dengan batang penis yang berlumuran air mazi sendiri.

Ikah merasa pengap dan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, dicakarnya paha Pak Fikri yang berada di kiri-kanan ketiaknya. Namun gerakan itu hanya berhasil beberapa detik karena Pak Fikri lagi-lagi merejang kedua nadinya di atas kepalanya sementara kepala penisnya memenuhi mulut Ikah.

Sedemikian penuhnya mulut Ikah dijejali kemaluan Pak Fikri sehingga siswi madrasah itu kini hanya dapat bernafas mendengus-dengus melalui kedua lubang hidungnya yang mungil kembang-kempis.

“Hmmmmmh, nih mulut memang diciptakan buat nyepongin bapak. Ayooooh buka yang lebaaaar! Iyaaaah begitu, pinternya… oooooh ngimpi apa bapak disepongin Ikah? Iyaaah jilaaaat, Neng, uuuih lobang kencing bapak dikitikin ujung lidah, ooooh bapak enggak tahan lagi mau meledak, aaaaaah!!”

Pak Fikri menekan penisnya sejauh mungkin ke langit-langit mulut mangsanya ketika gelombang demi gelombang sperma meluap dari tabungan biji pelirnya, memasuki lorong di batang penisnya dan menyembur masuk ke kerongkongan Ikah. Mati-matian Ikah menahan nafas dan berusaha melepehkan keluar cairan kental berbau khas laki-laki itu, sepat asin dan dirasakan amat memualkan perutnya. Namun karena besarnya batang penis memenuhi rongga mulutnya dan semburan sperma Pak Fikri begitu banyaknya dan menyemprot seolah tiada hentinya, maka tak ada jalan keluar lain bagi Ikah selain dengan penuh rasa muak menelan air benih Pak Fikri.

Selama satu dua menit simpanan air mazi Pak Fikri yang tersimpan sekian lama itu teguk demi teguk memasuki kerongkongan Ikah sebelum akhirnya penis Pak Fikri mulai mengecil dan akhirnya ditarik keluar oleh sang empunya.

Tanpa ada perlawanan sama sekali, Ikah membiarkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tetap dirangkul dan dipeluk oleh Pak Fikri. Diiringi senyum kepuasan, Pak Fikri membelai badan telanjang itu sambil berulang-ulang membisikkan keinginannya agar Ikah dengan sering selalu mau memenuhi keinginan nafsu sang duda, bahkan ditanyakannya apakah Ikah bersedia menjadi istrinya….

ANAK NAKAL : BUNDA

Namaku Doni. Aku anak nomor 2 dari tiga bersaudara. Kami adalah keluarga yang alim. Ayahku sendiri seorang yang taat beragama. Kakakku seorang aktivis di kampus. Kami benar-benar keluarga yang religius. Aku? Aku sebenarnya kalau dilihat dari luar religius, tapi dibalik itu aku cuma anak biasa saja. Ndak sebegitunya seperti kakak perempuanku.

Kakakku bernama Kak Vidia. Adikku bernama Nuraini. Ibuku? Oh ibuku ini seorang ustadzah. Aku sendiri dikatakan anak nakal oleh ibuku, aku menyebutnya bunda. Ayahku sering menasehatiku untuk tidak bergaul dengan anak-anak geng. Tapi apa boleh dikata, dari sinilah aku banyak mengenal dunia. Memang sih, aku bergaul dengan mereka, tapi tidak deh untuk berbuat yang aneh-aneh. Walaupun aku bergaul dengan mereka tapi aku sadar koq norma-norma yang harus dijaga. Aku bahkan sangat protektif terhadap saudari-saudariku. Ada temenku yang naksir saja langsung aku hajar. Makanya sampai sekarang banyak orang yang takut untuk mendekati kakakku maupun adikku.

Menginjak kelas 2 SMA, keluarga kami berduka. Ayahku kecelakaan. Ketika pulang kantor beliau dihantam oleh truk. Ia berpesan kepadaku agar jadi anak yang baik di saat-saat terakhirnya. Kami semua bersedih. Terutama bunda. Ia selalu menyunggingkan senyumnya tapi tak bisa menyebunyikan raut wajahnya yang sembab. Otomatis setelah meninggalnya ayah, keluarga kami pun banyak berubah.

Rasanya sangat berdosa sekali aku kepada ayahku. Aku sampai sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Namun aku berusaha untuk berubah, mulai kujauhi teman-teman gengku. Aku pun mulai membantu bunda untuk bekerja, karena warisan ayah tak bisa untuk membiayai kami semuanya ke depan. Setelah aku pulang sekolah, aku selalu menjaga toko kami. Lumayanlah bisa mencukupi kebutuhan kami. Dari pagi sebelum sekolah aku sudah harus pergi ke grosir, membeli sembako, kemudian menyetok ke toko, setelah itu aku baru pergi sekolah. Pulangnya aku harus menjaga toko sampai sore. Begitulah, hampir tiap hari. Jadi tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti.

Membiayai Kak Vidia kuliah, membiayai Nuraini sekolah, bukanlah hal yang mudah. Kak Vidia bahkan untuk uang sakunya sampai rela kerja sambilan. Namun perlahan-lahan kami pun bisa bernafas lega setelah toko kami mulai besar, walaupun begitu kami makin sibuk. Akhirnya kami pun memperkerjakan orang. Anak-anak lulusan SMK. Aku juga sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi lulus. Bingung mau kuliah ke mana. Apa ndak usah kuliah ya? Melihat bunda kelimpungan jaga toko mengakibatkan aku pun mengurungkan niatku kuliah.

Aku lulus dan adikku Nuraini masuk SMA. Dua tahun yang berat. Namun akhirnya toko kami sudah besar, berkat ide-ide yang kami pakai tiap hari akhirnya toko ini pun besar. Jarang ada toko sembako delivery order. Bahkan tidak sampai tiga tahun kami sudah ada waralaba. Bisa beli mobil, bisa renovasi rumah dan sebagainya. Kak Vidia pun sekarang jadi tidak bingung lagi kuliahnya. Ia sempat cuti 2 semester untuk membantu usaha kami.

Itulah profil keluarga kami. Tapi tahukah kalau di balik itu semua ada sesuatu hal yang sebenarnya menarik untuk diceritakan? Sebenarnya ini tak boleh diceritakan karena aib tersembunyi keluarga kami. Dan karena inilah hubunganku dengan kakakku, adikku dan ibuku jadi lebih akrab, bahkan aku dianggap sebagai kepala rumah tangga.

Ceritanya ini dimulai setelah 6 bulan ayah wafat. Aku saat itu benar-benar masih nakal. Menonton bokep sudah biasa bagiku. Bahkan sebenarnya, terkadang aku membayangkan begituan dengan bunda, maupun kak Vidia, atau bahkan terkadang juga dengan Nuraini. Iya, mereka semua pake jilbab, tapi hanya aku yang tahu bagaimana lekuk tubuh mereka, karena di rumah mereka membuka jilbabnya dan pakai pakaian biasa.

Awalnya aku benar-benar iseng sekali. Saat itu aku baru saja beli kamera pengintip. Bentuknya seperti sebuah gantungan kunci, berbentuk kotak kecil. Ketika ditekan tombol rahasianya, ia akan merekam selama kurang lebih 2 jam. Harganya cukup murah kalau dicari di internet, sekitar 500ribu. Aku menggantungkannya di anak kunci, sehingga ketika ke kamar mandi aku selalu mandi duluan, dan kemudian aku taruh di tempat yang bisa mengawasi semuanya. Jadi seluruh penghuni rumah, sama sekali tak curiga. Awalnya tak ada yang tahu, tapi nanti yang pertama kali tahu adalah Kak Vidia, tapi nanti aku ceritakan.

Aku meletakkan kunci itu di gantungan baju. Aku posisikan agar kameranya mengawasi seluruh ruangan kamar mandi. Yang pertama kali masuk setelah aku adalah bunda, kemudian Kak Vidia, lalu Nuraini. Setelah semuanya mandi, aku masuk ke kamar mandi untuk mengambil kamera pengintai. Aku kemudian ke kamar untuk menikmati hasilnya. Aku bisa mengetahui tubuh mulus mereka semua tanpa sehelai benang pun.

Misalnya bunda, rambutnya lurus, tubuhnya sangat terawat, langsing, dadanya besar, mungkin 34C, bahkan yang menarik beberapa minggu sekali bunda mencukur bulu kemaluannya. Kak Vidia juga begitu, kulitnya putih, rambutnya panjang, dadanya ndak begitu besar, 32B tapi putingnya yang bikin aku kaget, berwarna pink. Ini orang bule atau gimana? Tapi begitulah Kak
Vidia. Ia juga sama seperti bunda, mencukur bulu kemaluannya, bahkan halus seperti bayi. Terakhir Nuraini, jangan kira Nuraini cuma anak SMP, ia ini sangat dewasa. Dadanya besar banget, sama kayak bunda 34C. Masih SMP saja dadanya gedhe, gimana klo sudah SMA nanti? Ia pun sama, punya kebiasaan mencukur bulu kemaluan. Sepertinya cuma aku saja yang tidak. Tapi bolehlah ntar coba dicukur. Kayaknya lebih bersih.

Selama sebulan itu aku sering ngocok penisku di depan komputer sambil melihat adegan demi adegan di kamar mandi. Hal itu membuat aku terobsesi kepada mereka. Saking terobsesinya, aku kadang punya alasan untuk bisa menyentuh mereka, seperti mencium pipi adikku, mencium pipi bunda, terkadang juga memeluk Kak Vidia. Tapi mereka semua tak curiga. Dan satu-satunya yang membuatku kelewatan adalah memesan kloroform kepada salah seorang teman gengku. Aku pesan beberapa botol. Untuk stok pastinya. Pertama aku coba ke kucing tetangga. Ketika aku bekep pake sarung tangan yang ada kloroformnya, pingsan tuh kucing. Aku pun menghitung berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan oleh kucing ini bisa sadar. Satu jam, dua jam, tiga jam. Lama sekali.

Siapa yang ingin aku coba pertama kali? Kak Vidia ndak mungkin, ia bakal kaget nanti kalau sudah tidak perawan ketika malam pertama dengan suaminya. Begitu juga Nuraini, bisa berabe aku nanti kalau dia melapor ke bunda memeknya perih. Jadi targetku adalah bunda.

***

Seperti biasa bunda menjaga toko waktu itu. Dan aku menyiapkan teh hangat untuk beliau. Aku berikan setetes kloroform di minumannya. Tujuanku sih agar ia pusing saja dan bisa aku suruh istirahat, baru kemudian aku bekap.

“Kamu ndak sekolah, Don?” tanya bunda.

“Tidak dulu bunda, mau bantu toko dulu,” jawabku.

“Lho, jangan. Ada bunda sama mbak Juni koq. Sekolah saja!” kata bunda. Mbak Juni adalah pegawai kami. Ia ada cerita untuk nanti. Ia janda, beranak satu, tapi masih muda. Usianya baru 21 tahun. Menikah muda. Bodynya masih singset.

“Tidak mengapa bunda, Doni udah ijin koq,” kataku.

“Baiklah, tapi cuma hari ini saja ya, jangan ulangi lagi,” katanya.

Bunda lalu meminum teh hangatnya. Aku pura-pura mencatat barang-barang di toko. Mbak Juni juga melakukan hal yang sama. Dan memindah-mindahkan karung beras. Kemudian datang seorang pembeli yang langsung dilayani oleh Mbak Juni.

Efek obat mulai terlihat. Bunda memegang kepalanya. Aku pura-pura peduli, “Kenapa, bunda?”

“Entahlah, bunda tiba-tiba pusing,” katanya.

“Capek mungkin, istirahat saja bunda,” kataku.

“Iya deh, aku istirahat sebentar. Mungkin nanti bisa baikan. Mbak Juni, tolong ya!” kata bunda.

“Iya, bunda,” kata Mbak Juni.

Bunda agak terhuyung-huyung, lalu beliau masuk kamar. Aku pun menyudahi pura-puraku, kemudian pura-pura ke kamarku, tapi sebenarnya menyusul beliau ke kamarnya. Aku beri waktu sekitar sepuluh menit, hingga kemudian terdengar nafas dengkurang halus bunda. Oh sudah tidur. Aku lalu beranikan diri masuk ke kamarnya. Bunda masih pakai jilbabnya, aku siapkan kloroform ke sarung tanganku, dosisnya seperti yang aku berikan ke kucing percobaan kemarin. Dan BLEP!!!

Bunda tak berontak, mungkin berontakannya tak berarti. Tangannya ingin menghalau tanganku tapi lemas. Matanya belum sempat terbuka dan ia pun sudah pingsan. Aku pun sangat senang, ini kemenangan.

Aku lalu kunci pintu kamar bunda. Biar ndak ada siapapun yang masuk. Jantungku berdebar-debar, antara senang, takut dan macem-macem rasanya. Aku duduk di sebelah bunda. Di pinggir ranjang itu aku lihat ujung rambut sampai ujung kakinya. Tanganku mulai bergerilya. Kuraba pipinya, bibirnya, aku buka sedikit, rahangnya aku turunkan hingga ia membuka mulutnya. Sesaat aku ingat ayah, tapi karena aku sudah bernafsu, rasa bersalahku pun aku tepis.

Aku pagut bibir bunda. Aku hisap lidahnya. Penisku mulai tegang, bunda benar-benar tak bereaksi sama sekali, bahkan sekarang bibirnya mulai basah. Wajah bunda sangat cantik, mungkin seperti Ira Wibowo. Bibirnya sangat lembut, tak puas aku menciumi bibir itu. Aku pun mulai meremas-remas dadanya walaupun masih tertutup gamis. Lalu tanganku mengarah ke selakangannya mengelus-elus tempat pribadinya.

Karena semakin bergairah, aku pun melepas celanaku sehingga bagian bawah tubuhku tak terbungkus sehelai benang pun. Penisku sudah mengacung tegang. Urat-uratnya mengindikasikan butuh dipuaskan. Aku arahkan jemari bunda untuk menyentuh penisku, Ohh… lemas aku. Lembut sekali jemari beliau. Aku tuntun tangannya untuk meremas telurnya, aku makin keenakan. Seandainya beliau bangun dan mau melakukannya kepadaku tentunya lebih nikmat lagi.

Aku kemudian naik ke ranjang. Aku berjongkok di depan wajahnya. Penisku aku gesek-gesekkan di pipi, hidung dan bibirnya yang agak terbuka itu. Aku sangat bergairah sekali. Selain itu juga takut ketahuan. Aku buka mulutnya, lalu kucoba masukkan kepala penisku, uhhhh….nikmat banget. Walaupun tak muat, aku buka mulutnya lagi, tangan kiriku mengangkat kepalanya dan tangan kananku membuka mulutnya lebih lebar, lalu kudorong penisku masuk.

Di dalam mulutnya penisku berkedut-kedut. Nikmat sekali. Aku makin bergairah melihatnya yang masih pakai kerudung. Kuambil ponsel dan aku abadikan ketika penisku masuk ke mulutnya. Kumaju-mundurkan penisku sampai mentok, walaupun giginya mengenai penisku rasanya nikmat sekali. Lucunya lidahnya bergoyang-goyang, entah ia mimpi apa, itu semakin membuatku terangsang. Pelan-pelan penisku menggesek rongga mulutnya, kemudian aku tarik keluar. Sekarang aku posisikan telurku di mulutnya. Karena punyaku sudah tercukur bersih aku bisa melihat semuanya. Seolah-olah bunda sedang menjilati telurku.

“Bunda, ohhh… nikmat banget,” racauku.

Kalau terus seperti ini, rasanya aku ingin muntahkan pejuku di wajahnya. Tapi aku tahan. “Tidak, bunda, Doni ingin merasakan ini, bolehkan?” aku meraba vaginanya.

Aku kemudian melepaskan gamis bunda, kancingnya aku buka semua, hingga ia hanya memakai bra dan CD. Aku turun ke bawah. Kuciumi seluruh tubuhnya, perutnya, pahanya, aku jilati semuanya sampai basah. Bahkan mungkin tak ada satupun yang terlewat. Aku lepas BH-nya. Ohh… dada yang dulu ketika kecil aku mengempeng, sekarang aku mengempeng lagi. Aku hisap teteknya, putingnya aku pilin-pilin, kupijiti gemas. Tapi aku tak ingin memberikan cupang di dadanya, nanti ia curiga. Belum saatnya. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu pun aku hisap, kujilati. Semuanya aku jilati. Aku pun mencium bau yang aneh, ketika aku menghisapi jempol kakinya. Dan aku lihat CD-nya basah. Bunda terangsang?

“Bunda terangsang? Mau dimasukin bunda?” tanyaku.

Aku pun segera melepaskan CDnya, Dan kuikuti aku telanjang juga sekarang. Punyaku makin berkedut-kedut dan di lubang kencingnya muncul cairan bening. Aku melihat memek bundaku tersayang. Warnanya pink kecoklatan. Inikah tempatku keluar dulu? Betapa bersihnya, ada cairan keluar. Aku segera membuka pahanya, kepalaku mengarah ke sana, kujilati, kuhisap dan klitorisnya aku tekan-tekan dengan lidahku. Intinya lidahku menari-nari di sana seperti lidah ular, menjelajahi seluruh rongga vaginya. Setiap cairan yang keluar aku hisap, rasanya asin-asin bagaimana gitu.

Aku makin bergairah dan sepertinya bunda juga bergairah, ia sangat banjir, bahkan ketika aku colok-colok dengan lidahku, lebih dalam lagi kakinya bergetar. Ia mengeluh….dan mendesis, walaupun masih tidur dan tidak sadarkan diri tapi dia merasakannya. Mungkin ia bermimpi sedang begituan. Kepalanya yang masih memakai jilbab mendongak ke atas, Dan kemudian pantatnya diangkat, tubuhnya bergetar hebat, memeknya mengeluarkan cairan yang sangat banyak, menyemprot bibirku. Aku lalu duduk.

“Bunda orgasme?” tanyaku.

Tentu saja beliau tak menjawab. Sepertinya bunda sudah siap, aku posisikan penisku di ujung vaginanya. Kepala penisku sudah ingin masuk saja. Aku tak sabar, dan… BLESSS….!! Lancar banget, ohhhh… HANGATT…. !! ini ya rasanya memek wanita itu. Aku lalu ambruk di atas tubuh bunda, ia kutindih. Toketnya dan dadaku berpadu, Penisku berkedut-kedut dan anehnya memeknya juga seperti meremas-remas penisku. Ngilu rasanya, tapi nikmat.

“Bunda, seperti inikah bunda rasanya ngentot?” tanyaku. Aku mengabadikan peristiwa ini ke ponselku, kuclose up wajah bunda yang tidur, vaginanya yang sekarang penisku masuk ke sana juga kuabadikan, bahkan posisiku menindih bundaku pun aku abadikan.

“Doni… ohh… puasin, bunda…” terdengar suara bisikan bunda. Apa maksudnya, apakah bunda sadar?

Sejenak aku bingung, ternyata bunda memimpikan aku, bermimpi bersetubuh denganku. Itu membuatku makin bergairah. Aku kemudian menaik-turunkan pantatku perlahan-lahan, menikmati saat-saat ini. Tapi aku hanya punya waktu 3 jam kurang lebih, tak ingin aku sia-siakan kesempatan ini. Kugoyang pantatku naik turun, makin lama makin cepat.

“Bunda… oh… Doni kembali masuk ke tempat bunda,” racauku, makin lama makin cepat. Bunda aku tindih, pahanya terbuka lemas. Dan aku sepertinya akan keluar, oh sperma perjakaku… kemana ya harus keluar?

“Bunda, ke wajah bunda aja ya keluarnya… oohhh… keluar, bunda!!!” seruku. Aku segera mencabut dan berlutut di depan wajah bunda. Penisku kuarahkan ke situ.

CROOT…. CROTT… CROOTTT…. Banyak sekali tembakannya, aku sudah tidak perjaka lagi. Bunda sendiri yang menghilangkannya, spermaku belepotan di wajah bunda, sebagian masuk ke mulutnya, aku terus mengocoknya hingga tetes terakhir, lalu aku bersihkan sisa di ujung penisku ke mulutnya.

Momen ini tak bisa aku lewatkan segera aku abadikan ke ponselku. Aku lalu berbaring lemas di sampingnya. “Bunda… nikmat, bunda,” kataku. Aku peluk dia dari samping sambil memeluk toketnya.

Butuh waktu 15 menit bagiku untuk istirahat sebentar, kemudian aku bersihkan wajahnya dengan tisu yang ada di meja riasnya. Agar tidak bau sperma aku seka wajah ibuku pakai pelembab, biar tak ketahuan. Disaat membersihkan itulah aku terangsang lagi melihat payudaranya. Aku kenyot lagi dua buah toket besar itu. Kubenamkan wajahku ke tengah payudara, kuhisap aromanya yang harum. Aku kemudian menghadapkan tubuh ibuku miring ke tepi ranjang. Ternyata tepat di depan bundaku ada kaca lemari. Sehingga aku bisa melihat tubuhnya di sana.

Penisku yang tegang lagi ingin mencari mangsa. Kuposisikan kepala penisku dari belakang pantatnya. Karena masih basah, mudah sekali penisku masuk. SLEB…!! Oh, kembali kedut-kedut vaginanya. Aku angkat sebelah kakinya, sehingga aku bisa melihat dari kaca penisku masuk di sana. Aku lalu bergoyang maju mundur, kuturunkan kaki bunda, tanganku beralih ke toketnya. Pantatnya benar-benar membuatku terangsang hebat. Enak sekali.

Aku tak sadar siapa yang kusetubuhi sekarang. Yang aku inginkan adalah puncak kenikmatan. Tapi aku tetap pada pendirianku jangan keluarkan di dalam. Belum waktunya. Aku terus menggoyang pantatku maju mundur. Pantat bunda beradu dengan selakanganku. PLOK… PLOK… PLOK… bunyinya sangat menggairahkan. Dan sepertinya. Setiap kali aku ingin orgasme. Aku istirahat sebentar. Menciumi bibirnya, ketiaknya, dan menghisap putingnya. Dan akhirnya aku tak tahan lagi.

“Duh, bunda, maaf ya. Aku keluar lagi,” aku langsung cabut penisku dan kukeluarkan di pantatnya. Spermaku masih banyak aja. Enak rasanya penisku sampai berkedut-kedut berkali-kali setiap spermaku muncrat keluar. Aku istirahat sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Ngilu sekali penisku. Aku lalu bangkit membersihkan pantat bunda yang belepotan dengan spermaku.

Aku melihat jam dinding, oh tidak, setengah jam lagi bunda akan sadar, tak sadar aku sudah lama ngentotin bunda. Aku bergegas memakaikan lagi pakaiannya. Jilbabnya yang terkena sedikit sperma aku bersihkan juga. Aku memakaikan lagi branya, tapi entah kenapa aku terangsang lagi. Maklum masih perjaka dan ada mainan baru. Aku lalu melakukan titfuck. Dada bunda mengocok penisku, aku melakukannya sambil sesekali menengok jam dinding, masih ada waktu, aku harus cepat. Aku bantu payudara bunda untuk mengocok penisku, dan aku keluar lagi, spermaku muncrat di belahan toket bunda. Tapi jumlahnya ndak sebanyak tadi,
karena mungkin sudah mulai kosong kantong produksinya. Aku segera bersihkan cepat-cepat, kuposisikan tubuh bunda seperti tadi tidur, aku berpakaian lalu keluar dari kamar bunda. Aku lalu mandi dan membersihkan diri.

***

Bunda terbangun setengah jam kemudian. Ia keluar kamar ketika aku masih menghitung stok toko. Ia menggeliat.

“Kenapa, bunda?” tanyaku.

“Entahlah, bunda koq tidurnya nyenyak ya? Tapi badan bunda pegel-pegel semua. Seperti habis olahraga aja,” jawab bunda. Tapi dalam hati aku senang sekali karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hari itu aku membantu menjaga toko sampai sore. Dan setelah itu aku habiskan waktuku di kamar sambil melihat foto-foto hasil ngentotku dengan bunda tadi. Aku melakukan coli berkali-kali sampai penisku ngilu dan lemas. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, entah berapa banyak tissu yang kuhabiskan, yang jelas aku baru sadar tissue di meja kamarku tinggal sedikit sekali.

Hari-hari setelah itu aku jadi berbeda. Siang hari setelah aku pulang sekolah, aku menyiapkan teh hangat untuk bunda, kemudian pasti ia mengantuk dan tidur. Setelah itu aku pasti ngentotin beliau seperti sebelum-sebelumnya, dan kini aku tidak takut lagi seperti dulu. Tapi aku tak melakukannya setiap hari, hanya kalau ada kesempatan saja. Dan itu tidak pasti atau jarang. Kalau aku sedang kepingin saja. Kalau tiap hari bisa bikin bunda curiga. Aku ingin bercinta dengan bundaku dalam keadaan sadar, karena aku setiap ngentot dengan bundaku selalu aku dengar rintihannya memanggil-manggil aku dalam mimpinya. Ia seperti membayangkan ngentot dengan aku. Ini tanda tanya besar. Dan itu terjawab ketika aku melihat rekaman di kamar mandi pada suatu siang setelah aku pulang dari ujian di sekolah.

Aku melihat rekaman video bunda mastrubasi dengan jarinya di kamar mandi. Ia mengocok-ngocok memeknya, sambil berkali-kali memanggil namaku. Kenapa? Apakah ia mengalami ‘mother complex’?

Setelah ia mengeluh panjang, ia lalu menutupi wajahnya sambil menggumam, “Kenapa dengan aku? kenapa? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menginginkan anakku sendiri?”

DEG…!! betapa kagetnya aku mendengar pengakuan bundaku sendiri dari rekaman itu. Ternyata benar, bunda menginginkan aku. Aku jadi ingin saja ngentotin dia setelah ini. Obsesiku kepada ibuku sendiri makin besar. Terlebih ketika tahu bahwa bunda masih haidh, masih produktif berarti.

Malamnya bunda sedang menghitung-hitung penghasilan. Kami di rumah sendirian. Nuraini ikut mabid atau apalah namanya. Kak Vidia juga sedang nginap di kampus ada kegiatan apa gitu. Aku sedang menonton tv sambil sesekali mengamati bunda, mengamatinya saja bikin aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan tegangnya penisku.

“Bunda, bunda capek kayaknya, ndak istirahat?” tanyaku.

“Nanti dulu, Don, masih kurang dikit lagi,” katanya.

“Kalau bunda capek, aku menawarkan diri untuk mijitin bunda kalau tidak keberatan,” kataku.

Bunda tersenyum renyah kepadaku. Ia kemudian masih melanjutkan pekerjaannya. Hingga kemudian acara tv selesai dan aku mematikan tv. Bunda kemudian duduk di sampingku. Aku hampir aja beranjak.

“Lho, katanya mau mijitin bunda?” tanyanya.

“Oh, jadi toh?” kataku.

“Iya dong,” katanya.

Bunda kemudian membelakangiku. Aku lalu mulai memijitinya. Ia masih memakai kerudungnya yang lebar. Aku mulai memijiti pundaknya.

“Oh… enak sekali, Don, pinter juga kamu memijat,” katanya.

“Siapa dulu dong,” kataku.

Aku berinisiatif kalau malam ini aku harus bisa ngentot ama bunda. Aku pun mulai pembicaraan. “Bunda, boleh tanya?” tanyaku.

“Tanya apa?” tanyanya.

“Doni waktu itu lupa sesuatu, trus pulang lagi ke rumah. Nah, Doni mendengar bunda manggil-manggil nama Doni di kamar mandi sambil merintih, emangnya kenapa itu, bunda?” tanyaku.

Bunda terkejut. Jantungnya berdebar-debar, ia bingung mau jawab apa. Ia pun bertanya balik, “Kapan itu?”

“Beberapa waktu lalu, emangnya bunda ngapain sih di kamar mandi?” tanyaku.

“I-itu… nggak ada apa-apa koq,” jawabnya.

“Tapi koq, manggil-manggil nama Doni?” tanyaku.

Bunda terdiam. Aku lalu memeluk bunda dari belakang. Dari situlah aku tahu bahwa jantung beliau berdebar-debar. Bunda lalu bersandar di dadaku. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu menutup wajahnya.

“Bunda, kalau bunda misalnya rindu sama ayah, Doni bisa mengerti koq. Mungkin wajah Doni mirip ama ayah,” kataku.

Bunda lalu terisak, kami berpelukan. Bunda bersandar di pundakku. Ia tak berani melihat wajahku. Ia terus memelukku dan aku membelai kerudungnya yang panjang. Cukup lama ia bersandar di pundakku. Sampai aku kemudian mulai memberanikan diri untuk melihat wajahnya.

“Maafkan, bunda, engkau mirip sekali dengan ayahmu, dan bunda rindu dengan sentuhan ayahmu,” katanya.

“Boleh Doni minta sesuatu, bunda?” tanyaku.

“Apa itu?” tanyanya.

“Doni ingin mencium bunda,” kataku.

Ia tersenyum, “Boleh saja, kenapa memangnya?”

“Tapi bukan di pipi, di sini,” kataku sambil menyentuhkan telunjukku di bibirnya.

“Ah, Doni ini koq kolokan banget? Aku ini bundamu, bukan kekasihmu,” kata bunda.

“Sekali saja bunda, Doni ingin tahu rasanya ciuman, please… sekali saja,” kataku.

Bunda terdiam. Ia menatap wajahku. Ia mengangguk walau agak ragu. Aku senang sekali, tersenyum. YES! dalam hatiku.

Aku perlahan mendekatkan wajahku, wajah bunda kutarik ke arahku dan bibirku menempel di bibirnya. Pertama cuma menempel, selanjutnya aku mulai menghisap bibir bunda. Lagi dan lagi. Dan akhirnya kami berpagutan. Nafas bunda mulai memburu. Tiba-tiba bunda mendorongku.

“Tidak, Don, tidak. Kita terlalu jauh. Kita ini ibu dan anak. Ndak boleh beginian,” katanya.

“Lalu kenapa bunda mastrubasi sambil manggil-manggil Doni?” tanyaku.

“Kamu tahu?” tanyanya.

“Iya, Doni tahu. Itu artinya bunda kepingin kan?” tanyaku. “Sampai berfantasi ama Doni.”

Ia tak menjawab. Tampaknya aku menang. Bunda sepertinya pasrah. Aku ingin coba lagi. Kupegang kedua tangannya, aku memajukan wajahku lagi, kini ciumanku disambut. Wajah kami makin panas karena gairah. Lama sekali kami berpagutan, nafas ibuku makin memburu.

Aku lalu menarik wajahku lagi, “Kalau misalnya bunda kepingin dan tidak ada yang bisa memuaskan bunda, Doni bisa koq. Tapi jangan sampai semuanya tahu.”

“Tidak, Don… hhmm…” bibir bunda aku cium lagi sebelum selesai berkata-kata. Ia berusaha mendorongku. “Sudah, Don, sudah… bunda ndak mau, ingat kita ibu dan anak.”

“Lalu kenapa bunda membayangkan dientotin Doni?” tanyaku lagi. Kucium lagi bibirnya.

“Itu.. .hmmmm… itu… itu karena bunda khilaf, maafin bund… hhmfff,” bunda tak kuberi kesempatan melakukan penjelasan. Kuremas-remas dadanya dari luar gamisnya. Bunda pun mendorongku lebih kuat lagi.

“Baiklah, baiklah… bunda memang ingin kamu, bunda ingin ngentot dengan kamu, ayo ngentotin bunda! Sekarang!” katanya. “Buka bajumu!”

Aku lalu menghentikan aktivitasku. Melihat air matanya berlinang, aku mengurungkan niatku. Aku berdiri. “Maafin Doni, bunda. Maaf!”

Aku mencium tangannya lalu berbalik dan masuk ke kamarku. Perasaanku campur aduk setelah itu. Beberapa kali bunda mengetuk pintu kamarku, tapi tak kutanggapi, aku pun tertidur.

***

Paginya aku bangun, kemudian ingin ke kamar mandi. Saat itulah aku dikejutkan karena ternyata bunda ada di dalam kamar mandi telanjang, bener-bener polos. Aku terkejut dan mematung.

“Doni!?” bunda terkejut.

“Oh, maaf, bund,” aku segera menutup pintu kembali. Untuk beberapa saat aku diam di depan pintu kamar mandi. “Biasanya Doni mandi duluan, ndak tau kalau bunda mandi duluan. Habis bunda ndak ngunci sih.”

“Kamu mau mandi?” tanyanya. “Masuk aja!”

“Lho, bunda ‘kan di dalam,” kataku.

“Gak papa, sama bunda sendiri koq malu?” katanya.

Aku agak ragu, tapi kemudian aku pun masuk. Bunda melirikku sambil tersenyum, “Ndak usah malu, copot sana bajunya.”

Aku pun mencopot seluruh pakaianku. Bunda menyiram badannya di bawah shower. Terus terang hal itu membuatku terangsang banget. Penisku langsung menegang. Dan setan pun masuk ke otakku, aku melihat bundaku seperti seorang bidadari, segera aku memeluknya dari belakang, penisku yang sedang tegang maksimal menempel di pantatnya.

“Bunda, maafin, Doni. Tapi Doni ndak tahan lagi!” kataku. Bunda terkejut dengan seranganku. Aku meremas-remas toketnya, kupeluk erat bunda.

“Doni… sabar, Don, sabar!” kata bunda.

“Tapi, aku tak mau melepaskan bunda,” kataku.

Bunda mematikan shower, kemudian membelai tanganku. Aku menciumi lehernya dan menghisapnya dalam-dalam. “Oh, Doni… anak bunda sekarang sudah besar…” katanya. Tangan satunya tiba-tiba menyentuh kepala penisku. Penisku yang sudah tegang itu dipegangnya, makin tegang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Kemudian bunda mengocoknya lembut. “Kamu ingin ini kan?”

Aku mengangguk.

“Bunda tahu koq, kamu kan anak bunda,” katanya. “Lepasin bunda sebentar.”

Aku lalu melepaskan pelukanku. Bunda berbalik, tinggi kami hampir sama, tapi aku lebih tinggi sedikit. Matanya menatapku lekat-lekat.

“Bunda, mengakui punya hasrat kepada anak bunda sendiri. Bunda tidak bohong. Itu semata-mata bunda rindu dengan belaian ayahmu. Dan bunda selama ini juga takut untuk bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi… bunda berpikir keras, apa jadinya kalau bunda berhubungan dengan anak sendiri, itu kan tabu… tapi bunda merasa nyaman bersamamu, hanya denganmu bunda sepertinya ingin, bukan lelaki lain. Dan bunda juga butuh itu,” kata bunda sambil terus mengocok lembut otongku yang udah tegang max.

Aku makin keenakan tak konsen apa yang diucapkan olehnya, tapi ketika ia berlutut di hadapanku dan menciumi kepala penisku, aku baru yakin dan ini bukan mimpi. Bunda mengoral penisku.

“Oh, bunda,” rintihku.

“Bunda akan berikan sesuatu yang engkau tak pernah sangka sebelumnya,” kata bunda. Ia lalu menjilati kepala penisku. Lubang kencingku dijilati seperti kucing. Kedua tangannya aktif sekali, yang satu meremas-remas telurku yang satunya mengocok-ngocok penisku. Penisku yang sudah tegang makin tegang saja.

“Bunda… enak sekali,” kataku.

Lidah bunda menjelajah seluruh permukaan penisku yang tanpa rambut itu. Bunda menjilati pinggiran kepala penisku, membuatku lemas saja. Lalu seluruh batangku dijilatinya. Kemudian dimasukkanlah kepala penisku ke mulutnya. Ia kemudian perlahan-lahan memaju mundurkan kepalanya. Penisku yang besar itu makin masuk ke rongga mulutnya. Ia kemudian menghisapnya dengan kuat. Aku makin lemas. Lemas keenakan.

Bunda lalu mengusap-usap perutku, sesekali meremas-remas pantatku, tanganku pun secara otomatis meremas rambutnya. Kalau misalnya ini film bokep aku pasti sudah coli. Tapi ini tak perlu coli karena ada yang bertugas mengocok penisku di bawah sana. Dengan mulutnya dan oh… lidahnya menari-nari mengitari kepala penisku, aku benar-benar keenakan.

“Bunda… oh… enak banget! Udah, bunda… bunda… Doni… kelu…aaaaarrrr… AAAAHHHH!” aku keluar. Spermaku tak bisa ditahan lagi. Bunda makin cepat memaju mundurkan kepalanya, penisku seperti ingin meledak dan SRETTT… CROOOTTT… CROOOOTTT… entah berapa kali aku menekan penisku ke kerongkongannya sampai ia agak tersedak. Spermaku banyak sekali muncrat di dalam mulutnya.

Bunda mendiamkan sebentar penisku hingga tenang dan tidak keluar lagi. Ia lalu menyedotnya hingga spermanya tidak keluar lagi, dan baru mengeluarkan penisku. Ia menengadahkan tangannya, kemudian ia keluarkan spermaku. Mungkin ada kalau 5 sendok makan. Karena pipi bunda sampai seperti menyimpan banyak air di mulutnya.

“Banyak banget spermamu,” Bunda lalu menciumi baunya. “Baunya bunda suka.” Bunda lalu berdiri menyalakan shower. Membersikan mulut dan tangannya. “Mandi bareng yuk,” katanya.

“I-iya, Bun,” sahutku.

Kami pun mandi bersama. Pertama bunda menyabuni tubuhku. Dari dadaku, perutku, punggungku, kakiku dan penisku pun disabuni. Penisku tegang lagi.

“Ih… masih ingin lagi?” kata bunda sambil menyentil penisku.

“Habis, bunda seksi sih,” kataku.

Bunda tersenyum. “Nanti ya, habis ini.”

Aku pun bergantian menyabuni bunda. Saat itu mungkin aku bukan menyabuni, tapi membelainya. Aku jadi tidak malu lagi untuk mencumbunya. Aku menggosok tubuhnya. Punggungnya aku sabuni, ketiaknya, dadanya aku pijat-pijat, putingnya aku pelintir-pelintir, ia mencubitku.

“Anak Nakal! Ibu nanti jadi terangsang. Sebentar, sabar dulu,” katanya.

Aku tak peduli, shower aku nyalakan untuk membersihkan sabun-sabun di tubuh kami. Aku memanggut bibir bunda. Kemudian aku menetek kepada bunda, kuhisapi putingnya.

“Don, di kamar bunda aja yuk,” katanya. “Mumpung Vidia sama Nur belum pulang.”

Aku mengangguk.

Bunda mengambil handuk dan membersihkan air di tubuhnya, aku pun melakukannya. Dan agak mengejutkannya, aku segera membopongnya.

“Eh… apa ini?” ia terkejut.

“Doni ndak sabar lagi, Bun.” kataku.

“Oh… anak bunda, jiwa muda,” katanya.

Kami keluar dari kamar mandi, aku masih telanjang, demikian juga bunda. Kami lalu masuk ke kamar bunda. Segera bunda aku letakkan di ranjang, kamar aku kunci. Bunda segera mulutnya kupanggut, kuciumi lehernya, payudaranya pun aku hisap-hisap. Kuremas, putingnya aku pelintir-pelintir, kuputar-putar, bunda menggelinjang. Ia remas-remas rambutku. Kuhisap buah dadanya yang putih dan ranum itu hingga membentuk cupangan. Cupangan demi cupangan membekas di buah dadanya yang besar.

“Nak… ohh… bunda terangsang banget,” katanya.

“Bunda, ohh…” aku menciumnya lagi.

Sekarang aku turun ke perutnya, lalu ke tempat pribadinya. Aku tak tinggal diam, segera aku ciumi, aku jilati, aku sapu memeknya yang basah sekali itu.

“Ohhhh… Donn… i-itu… aahhh…” bunda menggelinjang. Kakinya terbuka aku memegangi pahanya. Kulahap habis itu memeknya, klitorisnya pun aku jilati, hal itu membuatnya menggelinjang hebat.

Nafas Bunda mulai memburu. Ia meremas-remas rambutku, ketika aku menuju titik sensitifnya, ia semakin menekan kepalaku. Aku pun makin semakin menekan lidahku, hal itu membuatnya bergetar hebat.

“Don… bunda… bunda keluar… aaahhhh… ahhhh… ahhhhhhhh!!” pinggul bunda bergetar. Sama seperti orgasme-orgasme sebelumnya. Aku pun segera bangkit, melihat reaksi bunda. Pahanya menekan pinggangku. Saat itulah penisku sudah menegang, siap untuk masuk ke sarangnya.

“Bunda… bunda siap?” tanyaku.

“Masukkan… masukkan! Bunda sedang orgasme,” katanya.

Aku pun memposisikan penisku tepat di depan lubangnya, kugesek-gesek, bunda lalu mengangkat kepalanya. Matanya memutih, saat itulah pinggulnya naik dan penisku masuk begitu saja. BLESS!!!

“Ohhhh…!!” mulut bunda membentuk huruf O, menganga merasakan sesuatu yang selama ini ia inginkan. Ia memelukku, dada kami beradu dan aku memagutnya.

Bunda merebahkan dirinya lagi. Aku menindihnya. Aku peluk bundaku. “Bunda, Doni masuk lagi. Masuk lagi ke tempat Doni lahir,” kataku.

“Doni… ohh… iya, iya… sudah masuk, rasanya penuh… ohhh,” kata bunda.

Aku lalu menaik turunkan pantatku. Penisku otomatis menggesek-gesek rongga vaginanya yang becek. Kami berpandangan, mata kami beradu. Pinggul bunda bergerak kiri-kanan membuat penisku makin enak.

“Bunda, bunda… ohh… perjaka Doni buat bunda… ohh… enak bunda… bunda apain penis Doni?” tanyaku sambil melihat matanya.

“Anakku, ohh… bunda enak banget, kepingin keluar lagi, ohh… bunda ndak pernah keluar berkali-kali seperti ini… ohh… aahhh… sshhh,” bunda menatapku lekat-lekat. Kening kami menempel. Bibir kami saling mengecup berkali-kali.

Tak hanya di situ saja, aku sesekali menghisap puting susunya. Keringat kami setelah mandi keluar lagi. Tubuh bundaku yang seksi ini membuatku makin bersemangat untuk menyetubuhinya. Bunda… aku ingin menghamilimu.

“Bunda… ohhh… aku keluar… ahh… ahh… di mana?” tanyaku.

“Ohh… ahh… ahh, terserah Doni,” kata bunda. “Tapi… ohh… jangan di dalam… di luar aja… bunda takut hamil…..”

“Maaf, bunda, tak bisa. Doni ingin menghamili bunda. Ohh, Doni sampai… Sperma perjaka Doni buat bunda… ini… ini…!!”

“Jangan… jangan… Doni… ahhh… aduh… bunda juga keluar… sama-sama… tapi… ahkhh… jangan di dalam…. ahhhhhhhhhhh!!!” bunda mengeluh panjang.

Aku mencium bunda bibir kami bertemu dan pantatku makin cepat bergoyang dan di akhirnya menghujam sedalam-dalamnya ke rahim bunda. Spermaku memancar seperti semprotan selang pemadam kebakaran. Kutumpahkan semua kepuasan ke dalam tempatku dulu dilahirkan. Mata bunda memutih. Pantatnya bergetar hebat karena orgasme. Ia mengunci pinggulku, aku menindihnya dan memeluk erat dirinya sambil menciumnya. Entah berapa kali tembakan, yang jelas lebih dari sebelas. Karena saking banyaknya orgasme itu berasa lama. Memek bunda berkedut-kedut meremas-remas penisku, aku masih membiarkan penisku ada di dalam sana.

Butuh waktu sepuluh menit hingga penisku mengecil sendiri, dan kakinya melemas. Aku pun kemudian bangkit. Bunda tampak lemas, ia seakan tak berdaya. Penisku serasa ngilu. Aku melihat ke vaginanya. Tampak cairan putih menggenang di dalam lubang vaginanya. Aku tersenyum melihatnya. Aku kemudian merebahkan diri di sebelah bunda. Kemudian bunda memelukku, kami pun tidur terlelap.

Siang hari kami terbangun. Aku dulu yang terbangun. Melihat tubuh bundaku telanjang memelukku membuatku terangsang lagi. Aku menciumi bibirnya. Bunda masih tertidur. Aku lalu menggeser badanku, kemudian bangkit. Penisku sudah on lagi, mungkin karena melihat tubuh bundaku. Aku kemudian membuka pantatnya mencari lubang vaginanya. Kemudian segera saja aku masukkan. SLEB… bisa masuk! Masih basah. Mungkin karena sebagian spermaku masih ada di dalam sana.

Aku pun menggoyang-goyang. Maju mundur. Posisiku berlutut sambil bertumpu kepada kedua tanganku. Pinggulku mengebor pantatnya. Bunda membuka matanya, ia tersenyum melihat ulahku.

“Dasar anak muda, ndak ada puasnya,” katanya.

“Bunda… Doni enak, bunda…” kataku.

Bunda cuma diam melihatku. Aku sesekali meremas toketnya. Aku goyang terus sambil kulihat wajahnya. Bunda memejamkan mata, mulutnya sedikit terbuka, mengeluh pelan.

“Bunda, enak banget… hhhmmmmhh… keluar… Doni keluar lagi, bunda…” kataku. “Pantat bunda enak banget.”

“Doni… ahhh… aaaaahhh… bunda juga… koq bisa ya??” kata bundaku.

Tangannya menarik tanganku, aku berlutut sambil menghujamkan sekeras-kerasnya ke memeknya. Aku pun keluar lagi. Tapi tak seperti tadi. Kali ini cuma lima kali tembakan, tapi begitu terasa. Setelah itu aku mencabut penisku dan ambruk.

“Bunda, Doni cinta ama bunda,” kataku.

“Cinta karena nafsu, kamu bernafsu dengan bunda, makanya seperti ini,” katanya.

“Tapi bunda juga ‘kan?” kataku menyanggah.

Bunda diam.

“Bunda tidak bangun? Tidak buka toko?” tanyaku.

“Toko tutup dulu, kemarin ibu bilang ke Mbak Juni untuk tutup dulu,” kata bunda. “Bunda ingin istirahat dulu. Badan bunda serasa sakit semua, sebab sudah lama tidak bercinta lagi.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, Doni pergi dulu,” kataku.

“Ke mana?” tanyanya.

Aku terdiam.

“Ke mana?” tanyanya lagi.

“Bunda merasa kehilanganku? Berarti bunda juga mencintaiku,” kataku.

Ia mencubit perutku. “Maunya,” katanya. Kami berpanggutan sebentar untuk beberapa lama sebelum kemudian aku meninggalkan kamar bunda tanpa baju.

***

Setelah itu, hubunganku dengan bunda berjalan sembunyi-sembunyi. Bunda sering dan selalu melarangku untuk mengeluarkan spermaku di dalam rahimnya, tapi aku tak peduli. Kalau ada kesempatan, saat itulah kami bercinta. Di dapur apalagi. Dan itu pengalaman yang sangat mendebarkan. Bunda bertumpu kepada wastafel. Dan aku menyodoknya dari belakang. Kami melakukan fast-sex karena saat itu Kak Vidia dan Nuraini ada di rumah. Bahkan terkadang kami mencicil hubungan sex kami ketika Kak Vidia dan Nuraini bolak-balik ke dapur.

Belum, bunda belum hamil. Ia masih menstruasi. Tapi nanti ada saatnya beliau hamil. Karena aku yang memaksanya. Tapi itu nanti. Sekarang beralih ke Kak Vidia dan Nuraini.

GADIS KONTRAKAN : ARINA

Namanya Arina Syafarani Putri. Tidak terlalu tinggi, 25 tahun, cantik, berkerudung, payudara 34B dengan puting bulat kecil berwarna coklat gelap. Arina adalah penghuni kontrakan yang paling tua, paling disegani, dan tentu saja, paling pengalaman soal melayani penis cowok. Sejak kehilangan keperawanan di acara kemping SMA-nya saat kelas 3, Arina berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ironisnya, pemerkosaan yang dialaminya di minggu pertamanya menggunakan jilbab oleh teman kampusnya di lab justru menjadi titik balik kebiasaannya. Ia menjadi wanita berjilbab haus sex yang selalu ingin dipuaskan, meski hal itu dapat ditutupinya di lingkungan umum.

Di kontrakan, Arina selalu menjadi tempat Hani, Okta, dan Eva untuk berkonsultasi mengenai seks. Arina juga satu-satunya yang memiliki vibrator dan obat-obatan yang diperlukan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti disemburkannya sperma tepat di rahim Hani saat masa suburnya oleh Edwin. Arina sering meminjam pacar-pacar Hani, Eva, atau Okta untuk memuaskan hasrat seksnya.

Siang itu, Arina baru saja akan pulang dari shift-nya di sebuah bank. Ia mengenakan batik berbahan licin berwarna putih dengan beberapa aksen biru dan bunga. Baju tersebut menonjolkan payudara besarnya dengan sempurna, hal ini tentu menjadi santapan teman-teman prianya di kantor yang melihatnya keluar dari WC setelah ganti baju.

“Susunya mbak Arina mantep bener ya. Gede.” bisik seorang office-boy kepada teman di sebelahnya, diikuti sebuah cubitan kecil seorang office-girl di belakang mereka.

“Gak gue kasih susu lagi nih.” ujar sang office-girl ketus sambil berlalu.

***

“As…” Arina yang hendak mengucapkan salam tiba-tiba terhenti saat mendengar suara desahan dan lenguhan yang tidak asing baginya. Ya, tentu saja, Okta dan Bang Kiki, ujarnya dalam hati.

Melangkah pelan menuju teras, Arina melihat pergumulan Bang Kiki dan Okta. Okta yang terduduk pasrah sambil memejamkan mata dengan kepala mendongak sedang memangku Bang Kiki yang terlihat asik menikmati susu gadis itu, menjilat-jilat dan menghisap putingnya. Sesekali digigit dan ditarik kuat-kuat hingga Okta melenguh panjang karena nikmatnya.

“Duhh… ini si abang nagihnya nggak liat-liat tempat ya?” tegur Arina kepada kedua insan itu. Bang Kiki yang mendengar langsung menoleh dan mendapati sosok Arina sedang berdiri di sampingnya.

“Eh, mbak Arina. Hehehe. Biasa, mbak…” jawab Bang Kiki sambil tangannya terus memainkan puting besar Okta. Hal ini membuat Okta terus melayang dalam kenikmatan sehingga tidak menyadari kehadiran Arina di sana.

“Mbak mau?” lanjutnya. Matanya langsung tertuju ke bongkahan buah dada Arina yang menonjol ketat dari balik pakaiannya.

“Yeee… enak aja. Aku kan selalu bayar full, Bang.” ujar Arina sambil sesekali melirik ke arah penis Bang Kiki yang tertancap di memek Okta.

“Ya sudah lanjutkan sana, Bang. Aku masuk dulu ya.” ujar Arina sambil masuk ke dalam, meninggalkan Okta yang tubuhnya masih tertindih Bang Kiki.

“Oke, mbak.” jawab Bang Kiki singkat sambil tiba-tiba menggoyang-goyangkan pinggulnya ke memek Okta.

***

“Wah, dasar. Lagi pada pesta rupanya.” ujarnya dalam hati saat melihat Hani di kamar Okta tengah mengoral penis seorang cowok yang terbaring di sana dengan kaki menjulur ke lantai.

“Hufff… semua pada asik. Aku makan dulu aja deh.” ujarnya pelan kepada diri sendiri sambil menuju meja makan. “Kamu sabar ya,” lanjutnya sambil mengelus vaginanya yang terasa mulai berkedut dan basah.

***

“Kenapa, Ta?” tanyanya sambil menghampiri Okta. Okta tampak terkejut karena sebelum menghampiri Bang Kiki, penis Edwin mengacung dengan tegak dan terlihat sangat besar. Tapi, setelah pergumulannya selesai, penis Edwin tiba-tiba tampak mengecil. Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang menguras isi penis Edwin.

“Dia siapamu?” tanya Arina kepada Okta di sebelahnya.

“Temen chatting doang sih, mbak. Masih perjaka, dia minta diajarin ML, ya aku suruh dateng.” jawabnya.

“Tapi kok penisnya mengecil, tadi pas aku tinggal sebelum ke Bang Kiki tuh gede banget loh. Mbak Arina ya yang habis mainin penis dia sampe isinya keluar?” lanjut Okta.

“Yee… enak aja. Bukan mbaklah, mbak kan selalu bilang-bilang kalo mau ML sama pasangan kalian.” Arina melangkah memasuki kamar Okta.

“Mbak mau ngapain?”

“Cari pelakunya.” jawab Arina singkat meski dia sudah tahu bahwa Hani lah yang telah menggarap cowok itu.

Tanpa banyak bicara, Arina langsung jongkok tepat di depan penis Edwin, membuka paha cowok itu dengan kedua tangan, dan melahap penisnya langsung ke dalam mulutnya. Edwin yang sedang terlelap langsung melenguh saat Arina tiba-tiba menghisap penisnya.

“Ohh… mbak Haniiii… aah… hhh…” desah Edwin.

Arina langsung melepas emutannya dari penis Edwin yang baru saja akan ereksi. Sambil menoleh ke arah Okta yang tampak terkejut dengan kejadian tiba-tiba tersebut, ia berkata singkat, “Maharani Dwi Putrantiwi alias Hani.”

“Wow, mbak. Aku kaget tiba-tiba langsung masuk kamarku dan tau-tau oral penisnya.”

“Hmm, yahh… sebenernya aku udah tahu kalo itu Hani. Cuma mau nyobain aja. Hehehe,” ujar Arina sambil tertawa genit.

“Dasar, mbak ini. Udah lama ya, mbak? Hehehe… si Hani mah, perjakain jatah orang.” dengus Okta sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya yang membuatnya terangkat dan semakin membusung indah.

“Yahh… hampir sebulanan. Hehehe. Makanya vibrator mbak cepet habis baterenya belakangan ini. Hehehe.” Arina tertawa. “Oh ya, kamu mau langsung main lagi apa mandi dulu? Bersihin itu tuh…” tanya Arina sambil menunjuk selangkangan Okta yang masih meneteskan sperma segar dari penis Bang Kiki yang baru saja mencicipi lubang kenikmatannya.

“Duh, iya nih. Masih lemes juga rasanya, pengen mandi dulu. Mbak emang mau ngapain?” tanya Okta.

“Umm… kalo boleh. Selagi kamu mandi, mbak pinjem cowoknya ya.” tanya Arina malu-malu. Sebulan tidak mendapat pasangan pemuas birahi tentu membuat nafsunya bertumpuk. Hal tersebut disebabkan putusnya Hani, Eva, dan Okta dari pacarnya masing-masing.

“Umm… ya udah, mbak. Pake aja dulu. Udah diduluin Hani juga, aku gak masalah nanti terakhir.”

“Wah, oke, Okta! Makasih yaa!!!” Arina kegirangan karena akhirnya bisa memberi makan vaginanya dengan daging asli, bukan daging palsu berwarna putih yang hanya bisa menggali vaginanya tanpa variasi.

Arina langsung masuk ke kamar Okta dan menutup pintunya. Ia terkagum-kagum melihat penis Edwin yang tadinya mengkerut sudah mulai mengembang ke ukuran normal karena hisapannya tadi.

“Dek, Dek,” Arina mencoba untuk membangunkan Edwin, tampaknya ia tidak tertarik untuk bermain di saat Edwin sedang tidur, seperti yang dilakukan Hani.

Edwin perlahan membuka matanya, dilihatnya sosok Arina yang sedang duduk di tepi ranjang sambil tersenyum kepadanya. Saat sepenuhnya sadar, Edwin kaget dan reflek menutup kemaluannya.

“Eh, oh… I-iya. Mbak siapa ya?”

“Kenalin, nama mbak Arina. Mbak juga penghuni kos di sini. Kamu temennya Okta kan?” tanyanya. Melihat Edwin yang terlihat gugup, Arina berusaha menenangkannya, “Udah buka aja. Santai aja kali. Mbak udah biasa lihat penis cowok kok.” lanjutnya.

Mendengar hal itu, Edwin perlahan membuka tangan dari kemaluannya. Dan seperti sulap, penisnya menjadi lebih besar daripada saat sebelum ditutup tadi. Jelas saja, siapa tidak terangsang berduaan saja dengan gadis berkerudung cantik dan berdada montok seperti Arina.

“Gimana?”

“Gimana apanya, mbak?”

“Ah, kamu. Itu, ML sama Okta dan Hani.” tanya Arina penasaran.

“Owhh, baru sama mbak Hani, mbak. Sama mbak Okta cuma baru sempet oral dia aja, belum sempet coba masukin penisku ke vaginanya.” jawab Edwin dengan lebih santai.

“Ohh… Okta lagi mandi sekarang, memeknya habis dipenetrasi sama orang tadi di teras. Dia masih lemes, jadi perlu jeda sebelum main sama kamu.”

“Hah? Mbak Okta diperkosa orang, mbak!?”

“Ummm… yaa, lebih tepatnya ada orang datang, Okta tiba-tiba buka handuk, tiba-tiba penis orang itu di dalam memeknya, semua senang. Nggak diperkosa kok.” jelas Arina. “Sambil nunggu Okta mandi, kamu mau main sama mbak dulu ya?”

“Eh?” Edwin tampak kaget dengan permintaan Arina yang tiba-tiba dan langsung ke poinnya.

“Iya, sejak temen-temen mbak pada putus sama pacarnya, mbak udah lama gak ML, nih. Mumpung ada kamu, mau ya? Gapapa kan sama kerudungan?”

Edwin hanya melongo saat Arina menjelaskan keadaannya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bisa mencicipi tubuh gadis berkerudung yang selama ini cuma bisa menjadi fantasi seksnya.

“Kamu ga papa?” tanya Arina yang bingung melihat Edwin terdiam.

“Eh, oh, umm… gak papa kok, mbak. Aku cuma keinget temen SMA-ku. Namanya Syifa, dia kerudungan gitu deh. Waktu study tour ke pantai, aku nggak sengaja pegang dadanya waktu main games. Entah kenapa dia ketagihan, akhirnya kalo senggang dia selalu minta teteknya aku remes-remes. Sampe lulus, aku masih suka remes-remes payudaranya, padahal waktu itu aku punya pacar. Pas dia mau pindah kuliah di Sumatera, dia bilang makasih karena udah bikin dadanya jadi tambah gede. Dan di hari terakhir itu, pertama kalinya dia ngebolehin aku ngisep dada hasil karyaku itu.” cerita Edwin tentang masa SMA-nya.

“Wow, so sweet. Berarti kamu pengalaman sama cewek jilbab ya?” tanya Arina setelah mendengar cerita Edwin.

“Yah, tapi selama 3 tahun aku cuma remes-remes teteknya doang, mbak. Gak ML, nggak ciuman, nggak ngapa-ngapain. Itu pun dari luar baju seragam doang.” jelas Edwin.

“Owhh… kasiaaan. Ya udah, kalo gitu sama mbak aja yuk? Kalo bisa kamu bikin tetek mbak tambah gede juga ya. Hehehe,”

“Ah, punya mbak kan udah gede tuh. Hehehe.”

“Biarin, biar lebih gede dari punya Okta. Haha.”

Tanpa lama, Arina langsung mengarahkan tangan kanannya ke penis Edwin. Diremas-remasnya penis cowok itu dengan lembut, dirasakannya penis itu mengembang sedikit demi sedikit seperti adonan kue. Edwin sendiri menggeser duduknya sehingga kini mereka berdempetan. Ditariknya dagu Arina sehingga kedua bibir mereka mulai beradu.

“Hmmpphhh… hmmppphhhh…” sambil berciuman, Edwin meremas-remas bongkahan dada Arina. Dipijatnya bukit kembar itu dengan lembut. Arina sendiri tidak ketinggalan meremas penis Edwin sehingga batang itu semakin membesar dan tegang.

“Hmmpphh… slurrrppp… sluurrrrpppp…” lidah mereka saling berpagutan di dalam mulut masing-masing. Edwin memejamkan mata, berusaha menikmati bibir tipis Arina. Dikenyotnya bibir merekah itu sambil terus meremas dada Arina yang tampak semakin besar karena terangsang.

Arina meremas-remas batang Edwin seperti sedang memerah susu sapi. Dirasakannya batang itu semakin besar sehingga tangan mungilnya semakin kesulitan memerahnya. Edwin hanya menikmati momen sensual bersama karyawati berjilbab itu, seakan tidak ingin melepaskan kesempatan emas di depan mata untuk menikmati tubuh gadis berjilbab.

Keduanya saling melenguh, menikmati bibir dan remasan satu sama lain. Sudah hampir 20 menit mereka saling berpagut dan meremas. Penis dan payudara keduanya sudah tampak menegang maksimal, siap digarap lebih jauh lagi.

“Hhh… hhh… hhh… Dek, mbak mau tanya,” kata Arina sambil terengah-engah.

“Hhh… hhh… hhh… a-apa, mbak?”

“Kamu punya fantasi seksual?”

Edwin tersenyum mendengar pertanyaan Arina

***

Edwin memegang sebuah pisau. Sambil telanjang, ia berjalan pelan mengitari sebuah tubuh seksi berbungkus jilbab yang sedang duduk di sebuah kursi kayu. Tangan dan kakinya terikat erat dengan tali tambang tipis, sedangkan mulutnya tertutup. Arina terbelalak melihat Edwin menyeringai kepadanya sambil memegang sebuah pisau. Ia merasa sedikit takut, takut karena permintaannya sendiri agar Edwin dapat merealisasikan fantasi seksualnya kepadanya.

Cowok itu mendekati tubuh Arina, dibukanya satu per satu kancing baju gadis itu. Dirasakannya desah nafas yang semakin cepat dari Arina saat Edwin semakin menuju kancing bawah.

“Wooww!!” takjub Edwin saat akhirnya ia disuguhkan kedua bongkahan dada Arina hanya dengan BH. Begitu besar dan menggairahkan, tampak dua gunung Arina mengeras karena sudah diisi birahi oleh jari jemari terampil Edwin.

BRETTT… BRETTTT… SERRRTTTT…!!!

Dengan gerakan pisau yang lihai, Edwin merobek baju Arina, meninggalkan BH dan celana dalam melekat di tubuh gadis itu, dan jilbab tentunya.

Edwin melongo melihat badan Arina yang kini setengah telanjang, begitu putih dan mulus. Tidak ada lipatan di perutnya, begitu rata dan menggairahkan. Pinggang kecilnya membuat Arina tampak memiliki pantat dan payudara besar. Edwin menelan ludah melihat tubuh indah itu terikat tak berdaya, di depannya, di kamar yang tidak ada siapapun kecuali mereka.

SLURRRPPPPP…!!!

Arina mendongak, terdengar lenguhan pelan saat Edwin menjilat belahan dadanya. Ia mencucuk dada besarnya yang hanya tertutup setengah oleh branya yang seksi. Tanpa kesulitan, Edwin melepas kait bra Arina yang berada di depan. Tampaklah kedua gunung kembar gadis itu, begitu besar dan menantang. Puting coklatnya menghias ujung dadanya seperti buah ceri di atas kue tart. Tidak ingin melewatkan pesta, Edwin pun langsung memasukkan ceri coklat itu ke dalam mulutnya, menghisapnya seperti anak kecil mengemut permen favoritnya. Dihisap, diemut, kadang digigit kecil dan ditarik. Edwin membuat Arina bergelinjang dengan permainannya di puttng susu gadis itu.

“Hmmphhhh… hhhmmppphhhh…” Arina tiba-tiba tampak panik saat dilihatnya Edwin mendekatkan mata pisau yang dipegangnya ke puting susunya. Edwin menyeringai kecil. Ditariknya puting susu Arina kuat-kuat dan didekatkannya pisau itu seolah ingin memisahkan puting kecil itu dari dada Arina.

Edwin mulai menggesekkan pisaunya di puting Arina. Arina tampak kesakitan, terlihat dari badannya yang terus bergerak seolah ingin melepaskan diri dari kursi yang mengikatnya tersebut. Kepalanya mendongak, melenguh panjang dan mulai terdengar isakan tangis di baliknya. Edwin terus menikmati gesekan pisaunya dengan puting Arina, gesekan sisi tumpul pisau dengan puting gadis itu benar-benar dinikmati Edwin. Hal yang sama terjadi dengan puting sebelahnya, sehingga tidak terbayang betapa sakitnya Arina karena perlakuan Edwin terhadap puting susunya.

Selesai bermain dengan kedua puting Arina, Edwin mulai melirik ke arah organ intim gadis itu, satu-satunya yang masih tertutup.

BREEETTTT…!!

Satu tarikan, vagina Arina terbuka bebas, menampakkan gundukan daging tebal dengan balutan bulu tipis di sekitarnya. Edwin terbelalak melihat indahnya vagina Arina. Ia mengelusnya, memasukkan jarinya ke dalam, dan sesekali menarik rambut kelamin Arina.

“Mbaak, seksi banget sih?” ujar Edwin pelan sambil perlahan menjilat vagina gadis berjilbab itu, terus naik sampai ia menjilat kedua payudara Arina hingga kemudian berhenti dengan mencium hidung karyawati tersebut.

Arina menggelinjang karena geli oleh serangan lidah Edwin. Edwin terus menyapu seluruh badan Arina tanpa tertinggal setitik pun. Lidahnya berakhir di vagina. Dibukanya lebar-lebar vagina Arina dengan kedua tangannya sebelum lidahnya menyapu bagian dalam lubang pribadi gadis itu. Dirasakannya vagina Arina sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya sendiri. Edwin menjilat dan sesekali menggigit klitoris Arina yang ditemukannya. Arina bergelinjang semakin kuat saat Edwin menggigit dan menarik biji kecil itu, seolah ingin melepasnya dari vagina Arina.

Edwin menghentikan kegiatannya. Ia berdiri memandang Arina yang terengah-engah setelah tubuhnya dijamah habis-habisan oleh cowok itu. Tampak sedikit air mata menitik dari tepi mata Arina, hasil menahan sakit fantasi Edwin terhadap tubuh indah yang telanjang itu.

PLAKK…!!!

Edwin mendapat tamparan keras saat ia memutuskan untuk melepas ikatan Arina dan mengakhiri fantasinya. Arina langsung bangkit dan tanpa pikir panjang mendaratkan tangannya ke pipi Edwin.

“Kamu apa-apaan sih! Aku kira fantasi apa, ternyata seperti itu! Kamu pikir gak sakit apa putingku kamu sayat kayak gitu, klitorisku kamu tarik kayak gitu! Kamu kira… AAAKKKHHHHH…!!!” Arina yang sedang memarahi Edwin mendadak menjerit tertahan saat Edwin menusukkan sesuatu ke tubuh telanjang Arina.

Tubuh Arina bergetar, kepalanya mendongak sambil mulutnya mengeluarkan lenguhan, “Akkhhh… aakkkhhhh…”

Dalam satu serangan tiba-tiba, Edwin menusuk Arina tepat di alat kelaminnya. Tusukan yang begitu dalam hingga mentok ke rahim karyawati bank itu. Arina tidak berdaya di tangan Edwin. Tangan yang saat ini sedang memegang kedua bongkahan pantatnya, mendorong tubuhnya hingga tusukan penis cowok itu di vaginanya mencapai maksimal. Edwin memastikan penis 20 cm-nya menusuk vagina Arina sepenuhnya, seperti yang dilakukannya kepada vagina kecil Hani.

“Akkkhhhh… aaakkkhhhhh…” Arina menjerit kecil karena kelaminnya dipaksa menelan seluruh penis besar Edwin.

Edwin terus menerus mendorong pantat Arina sambil ia sendiri menggoyangkan pinggulnya menusuk-nusuk liang surgawi Arina. Jilbabnya sudah sangat berantakan. Tubuhnya mulai bergetar tanda orgasme hebat akan datang melanda. Edwin yang menyadari hal tersebut semakin cepat mengocok tubuh Arina.

“Sssshhh… aaakkkkkkk… aaaaaaaaaakkkkkk…” pekik Arina saat dirasakannya penis Edwin mendesak rahimnya.

“S-siap… mbak? Akkhhhh…” Edwin memperingatkan Arina bahwa mereka akan segera orgasme hebat.

CROOOT… CROOOT… CROOOOOTTTTT…!!!

Edwin orgasme. Penisnya menyemburkan sperma ke dalam rahim Arina seperti selang air, begitu banyak dan kencang. Tubuh Arina bergetar hebat menerima tembakan peju itu. Lelehan putih sperma tampak mengalir pelan dari celah vagina gadis itu, mengalir turun melalui paha, sebagian langsung menetes ke lantai.

Arina tampak terkulai. Tulangnya serasa dilolosi setelah dilanda orgasme hebat tersebut. Nafasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja melakukan olahraga

PLOP!

Begitu bunyi ketika Edwin melepas penisnya dari vagina Arina. Dasar Edwin, penisnya tidak mengecil sedikit pun meski sudah menyemburkan sperma seperti itu. Edwin membopong tubuh lemas Arina ke ranjang. Direbahkannya tubuh telanjang itu dengan kaki terjulur ke lantai. Vagina Arina yang masih melelehkan peju tampak terekspose jelas.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Edwin mengambil telepon genggamnya dan langsung memotret tubuh indah yang tergeletak hanya tertutup jilbab itu. “Dapet banyak nih gue.” ujarnya salam hati sambil terus mengabadikan tubuh Arina.

“Duh! Tadi gue lupa lagi ngambil foto mbak Hani habis ngentot sama dia.” lanjutnya. Beberapa diambilnya secara selfie. Tampak ia tidur di samping Arina dan mengambil foto mereka berdua, ada juga pose Edwin sedang mengemut puting susunya, sampe pose di mana Edwin foto bersama vagina Arina yang masih mengeluarkan peju dari kelaminnya.

Edwin memang membuat semacam perjanjian dengan teman-temannya, siapapun yang berhasil meniduri cewek selain pacarnya, akan ditraktir teman-temannya yang lain. Sampai saat ini, baru Geri yang sukses mendapat makan dan nonton gratis setelah berhasil menembus memek Shela, adik tingkatnya di kampus, saat diadakan kemping. Shela sendiri memang terkenal binal dan sudah lama tidak perawan, jadi Geri beruntung saat berpasangan dengannya untuk mencari kayu bakar di hutan karena tiba-tiba mahasiswi semester 3 itu menciumnya. Sebagai cowok normal, Geri tentu membalas ciuman tersebut dan berlanjutlah hingga penisnya hinggap di vagina Shela. Berbekal foto dirinya sedang memeluk Shela yang sedang topless dari belakang, Geri langsung makmur saat pulang.

Walau melewatkan tubuh Hani, Edwin tetap merasa menang setelah mendapat bukti fotonya bersama tubuh Arina yang masih tergeletak lemas. Belum lagi setelah ini ia akan mencicipi Okta, semakin makmur lah ia sepulang nanti. Selain Farid, itu pun pacarnya semua, belum ada lagi temannya yang bisa meniduri 3 cewek sekaligus dalam satu hari.

Setelah melihat-lihat foto Arina yang telah diambilnya, Edwin pun kembali bernafsu. Arina yang masih terlihat lemas tidak tahu bahwa akan ada bagian kedua yang diterimanya.

Edwin membalikkan tubuh Arina menjadi tertelungkup, menampakkan bongkahan pantat yang begitu indah dan sekal. “Hhh… hhh… hhh… kamu mau apa lagi, Win?” tanya Arina tanpa bisa mengelak lagi.

Tanpa menjawab, Edwin mengarahkan penisnya ke lubang anus Arina yang tampak masih perawan. Dipegangnya dua bongkah pantat itu dan dibuka sehingga menampakkan lubang kecil anus gadis berjilbab itu.

Tanpa aba-aba dan tanpa belas kasih, Edwin langsung menghujamkan penis besarnya dengan kekuatan penuh, menembus anus Arina dalam sekali hentak.

JLEBBBBB…!!!

“AAAAAAAAAA…!!!”

DINDA

Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30 kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan,hanya beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu. Seiring dengan turunnya air hujan,air mata Dinda juga mulai turun berlinang disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan takut datang menyelimuti dirinya.

Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali,mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan. Dinda Fitria Septiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan swasta, usianya baru menginjak 19 tahun wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki itu ditolaknya. Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Dinda itu. Paul adalah salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Dinda terhadap dirinya. Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu perhitungan terhadap Dinda.

Rencana busuk dilakukannya terhadap Dinda. Malam ini mereka telah menyergap Dinda dikamar kostnya. Paul adalah satu dari sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Paul bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Paul yang berusia setengah abad lebih dan melebihi usia ayah Dinda itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar. “Huh rasakan kau gadis sombong !”, bentaknya kepada Dinda yang tengah tergolek dikasurnya.”Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama dengan Dinda beberapa bulan yang lalu, Paul langsung jatuh hati kepada Dinda.

Dimata Paul, Dinda bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga selalu hadir didalam lamunnanya. Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Paul tidak berdaya untuk mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun,lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya untuk dapat mendekati sang bidadari itu. Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya terkait dengan Dinda sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh Dinda,tatapan mata Dindapun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Paul tumbuh subur rasa benci terhadap Dinda, penilaian terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun gairah nafsu sex terhadap Dinda tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya selama ini.

Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat menikmati tubuh Dinda pikirnya. Jadilah malam ini Paul melakukan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Dinda sekaligus melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya. Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanyapun telah membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Lihat aku, cewek bangsat…..!”, hardiknya seraya memegang kepala Dinda dan menghadapkan kewajahnya. “Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Dinda pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan dengan Paul seseorang yang dibencinya. Hatinyapun langsung ciut dan tergetar tatkala Paul yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan, “Hahaha….malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringatpun langsung mengucur deras membasahi tubuh Dinda, wajahnya nampak tersirat rasa takut yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhati-hati terhadap Paul. Kini dihadapan Dinda, Paul mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih, namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Paul memiliki tubuh yang atletis, badannya hitam legam dan kekar,beberapa buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Dinda, disaat paul mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Dinda. Melihat ini Dinda berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Paul secepat kilat mencengkram erat kepala Dinda dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Dinda, dengan tubuh yang bergetar Dinda hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Paul. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Dinda, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Paul tengah menikmati kehalusan wajah Dinda. “Hai cantik !….sekarang sudah kenal kan dengan tongkol gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama tongkol gue ini….”, sambungnya. Setelah puas dengan itu, kini Paul mendorong tubuh Dinda hingga kembali terjatuh kekasurnya. Sejenak dikaguminya tubuh Dinda yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Paul, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat.

Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…mmhhh…”, sepertinya Dinda ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Dinda menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Paul itu kini mengusap-usap bagian pantat Dinda, dirasakan olehnya pantat Dinda yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Paul sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Dinda. Dinda hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Paul secara perlahan-lahan mengusap kaki Dinda mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Paul, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dinda agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Paul tadi langsung menusuk lobang kemaluan Dinda. “Egghhmmmmm…….”,Dinda menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Paul masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Dindapun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Paul memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dinda.

Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Dinda, sementara itu badan Dinda menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu “Ehhmmmppphhh….mmpphhhh…..”. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Dindapun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Paul kemudian mencabut jarinya. Tubuh Dindapun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Dinda kini telanjang. Terlihat oleh Paul, kemaluan Dinda yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Dinda hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Dinda semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Paul bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Dinda. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmmppp…. ..”, Dinda menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Paul mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dinda. Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Paul terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain Dinda masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Paul berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dinda.

Tubuh Dinda berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Paul. “Ahh….kena kau sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !”, bisiknya ketelinga Dinda. Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memiawakkan telinga. Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu,dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Dinda. “Oouuhhh…..baang….saakiitt…banngg….amp uunn …”, rintih Din

“Aakkhh….ooohhhh….oouuhhhh….ooohhhggh… .”, Dinda merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Paul, badannyapun semakin menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu malah memancing nafsu Paul, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Paul yang tertanam didalamnya, karenanya Paul merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Paul terus menggenjot tubuh Dinda, Dindapun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Paul menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahhh…..ahhhh…oouuhhhh…”. Dan akhirnya Paulpun berejakulasi di lobang kemaluan Dinda, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dinda. “A..aakkhhh…..”, sambil mengejan Paul melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.

Puas sudah dia menyetubuhi Dinda, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Dinda, puas dalam merobek keperawanan Dinda dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis 6cantik itu. Dinda menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Dinda sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Dinda yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali. Dengan mendesah puas Paul merebahkan tubuhnya diatas tubuh Dinda, kini kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Paul nampak terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Dinda yang tubuhnya tertindih tubuh Paul. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Dinda, kini Paul mencabutnya seraya bangkit dari tubuh Dinda. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Dinda yang terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi sedikit menegang disaat merapat kewajah Dinda. Dikala sudah benar-benar menegang, tangan kanan Paul sekonyong-konyong meraih kepala Dinda. Dinda yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan tindakan Paul.

Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Paul yang telah menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat menjerit, Paul sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Dinda berusaha berontak namun akhirnya Paul berhasil menanamkan penisnya itu kemulut Dinda. Nampak Dinda seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluan Paul yang masih basah oleh cairan sperma itu. Setelah itu Paul kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Dinda, wajah Dinda memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Paul dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Dinda, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. “Aahhhh….”, sambil memejamkan mata Paul merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya. Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, “Oouuuuhhhh…Dinndaaaa…sayanggg… ..”, Paul mendesah panjang ketika kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Dinda. Dengan terbatuk-batuk Dinda menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Paul jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Dinda hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Paul mencabut batang kemaluannya dari mulut Dinda, dan Dindapun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma Paul tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya. Saat ini wajah Dinda sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya.

Dengan wajah puas sambil menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Paulpun menyeringai melihat Dinda yang masih terbatuk-batuk. Paul memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Dinda meringkuk dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Dinda telah menunjukkan pukul 1 dinihari. Sambil santai Paulpun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Dinda yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Dinda, nampak wajah-wajah cantik Dinda menghiasi isi album itu, Dinda yang anggun dalam pakaian seragam pramugarinya,nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan jilbab ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Selain itu, ditemukan pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Paul memasukkan itu semua kedalam kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”,batinnya. Setelah setengah jam lamanya Paul bersitirahat,kini dia bangkit mendekati tubuh Dinda. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Dinda satu persatu.

Singkatnya kini tubuh Dinda telah telanjang bulat, rambutnyapun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini digerai oleh Paul sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Dinda. Sejenak Paul mengagumi keindahan tubuh Dinda, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Dinda. Tubuh Dinda nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu.

Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Paul. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Dinda, “Yaa…ampuunnn bangg…udah dong….Dinda minta ampunn bangg…oohhh….”, Dinda nampak memelas memohon-mohon kepada Paul. Paul hanya tersenyum saja mendengar itu semua, dia mulai meraih badan Dinda. Kini dibaliknya tubuh telanjang Dinda itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Dinda menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Paulpun berada dibelakang Dinda dengan posisi menghadap punggung Dinda. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Dinda selebar bahu, dan…. “Aaaaaaaaakkkkhh………”, Dinda melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Paul menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Paul berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Setelah itu tubuh Dindapun kembali disodok-sodok, kedua tangan Paul meraih payudara Dinda serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya Paul menyodomi Dinda, waktu yang lama bagi Dinda yang semakin tersiksa itu. “Eegghhh….aakkhhh….oohhh…”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Dinda merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Paul. Paul kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Dinda dan dibaliklah tubuh Dinda itu hingga kini posisinya terlentang.

Secepat kilatpula dia yang kini berada diatas tubuh Dinda menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Dinda. “Oouuffffhhh……”,Dinda merintih dikala paul menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama setelah Paul memompakan kemaluannya didalam liang vagina Dinda “CCREETT….CCRROOOT…CROOTT…”, kembali penis Paul memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Dinda, dan Dindapun terjatuh tak sadarkan diri. Fajar telah menjelang, Paul nampak meninggalkan kamar kost Dinda dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota,sementara itu sakunya penuh dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi dengan Dinda sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik itu, hal itu bukan urusannya lagi.

RIF’AH 3

Rif’ah keluar dari kampusnya. Gadis cantik berjilbab ini sempat gelisah ketika dia menghubungi HP Ummu Nida ternyata HP tersebut tidak aktif namun kemudian dia baru ingat kalau nomor HP Ummu Nida ada dua yang sayangnya nomor satunya dia tidak punya. Tiba-tiba Rif’ah pun teringat Abu Nida dan  seingatnya dia sempat menyimpan nomor HP suami Ummu Nida ini. Nomor HP suami Ummu Nida terekam di HP miliknya ketika beberap waktu lalau, Ummu Nida meminjam HPnya untuk mengontak suaminya. Begitu nomor HP Abu Nida diketemukannya, Rif’ah pun segera menulis SMS menanyakan nomor HP Ummu Nida yang satunya kepada Abu Nida.

Semenit kemudian datang balasan dari Abu Nida yang kini berada di tempat mertuanya untuk menjemput Nida dan Yasmin. Tapi balasan sms itu membuat Rif’ah terkejut luar biasa.

Dengan dahi berkerenyit dan tubuh gemetar dibacanya sms balasan dari suami Ummu Nida ini.

“Oh..ini ukhti Rif’ah ya?baru tahu nomernya…gimana? kerasan khan tinggal di rumah…tiap malam liat live sex “

Dengan tangan gemetar Rif’ah mereplay

“Maksud Abu Nida apa?”

Sesaat kemudian datang balasan dari Abu Nida

“Tiap malam aku main dengan istriku, aku lihat ada jemari kaki yang indah melalui bawah pintu kamar dan aku yakin itu bukan jemari tikus atau kucing dan bukankah ukhti Rif’ah kehilangan pin jilbab berlogo PKS di depan pintu kamar kami?”

Jantung Rif’ah serasa berhenti berdetak membaca sms dari suami Ummu Nida ini. Rif’ah memang sempat kehilangan pin jilbab berlogo PKS pada suatu malam, dan esok paginya dicari-cari tidak ketemu.

Rif’ah tidak membalas sms tersebut, ternyata sms dari Abu Nida berlanjut.

“Sebenarnya jadwalku bersenggama dengan istriku dua kali seminggu…tapi karena aku tahu ada seorang gadis cantik yang menonton….aku jadi bersemangat menambahnya..”

Tubuh Rif’ah menjadi lemas sementara wajahnya memerah membaca sms-sms tersebut. Bahkan kemudian datang mms berupa foto yang ketika dibuka membuat Rif’ah terpekik lirih.

Dalam foto tersebut tampak jelas gambar dia sedang mengintip melalui lubang pintu kamar mereka walaupun suasana agak remang-remang. Agaknya diam-diam Abu Nida merekam aktivitasnya mengintipnya bersama istrinya. Kalau dilihat dari fotonya, Rif’ah menduga kamera atau HP tersebut di letakkan di atas komputer di rumah tersebut.

Rif’ah tak bisa berkata apa-apa  dan tubuhnya menjadi sangat lemas tak bertenaga. Belum hilang keterkejutannya tiba-tiba Abu Nida menelpon. Rif’ah sempat beberapa lama tak berani mengangkatnya namun kemudian dengan dada berdebar kencang, akhwat cantik ini pun mengangkat telepon.

“Rif’ah?” terdengar suara di seberang yang dikenal baik sebagai suara Abu Nida.

“Iyy..Ya..”jawab Rif’ah tergagap.

“Saya punya rekaman film Rif’ah mengintip saya dan istri dan istri saya belum tahu….”

“Terus..?”

“Kalau ukhti berpandangan nggak disampaikan ke istri nanti aku kasih tahu dia”

“Jangan!” sergah Rif’ah seketika

“Aku juga punya rekaman ukhti Rif’ah di kamar mandi.. terpaksa aku buat karena anti lebih dulu melihat tubuh bugil kami.. cuman sayang gambarnya tidak terlalu jelas.”

Tubuh Rif’ah kejang mendengarnya

“Tapi tenang aja..tidak akan jatuh ke orang lain jadi tidak perlu khawatir akan tersebar di internet”

Rif’ah gemetar memegang handphonenya.

“Abu Nida mau memerasku.?” tanya Rif’ah terbata-bata

“Tidak…aku lihat ukhti sangat cantik…Jujur aku tertarik dan aku lihat anti sering curi-curi pandang ke arahku jadi sebenarnya kita sama-sama tertarik khan…..aku butuh istri kedua…Ummu Nida sudah mulai tidak bergairah…Aku ingin anti menjadi istriku…kita kawin di bawah tangan”

Wajah Rif’ah merah padam mendengarnya. Akhwat PKS ini menggigit bibirnya kuat-kuat Akhwat PKS ini tidak menyangka akan menghadapi masalah serumit ini.

“Gimana ukhti….secepatnya ana tunggu jawaban anti! Anti harus mau!”

Rif’ah terpaku tak menjawab apapun.

Di mata Rif’ah, Abu Nida cukup tampan walaupun telah berusia 40 tahun menurut pengakuan Ummu Nida dan yang paling mendebarkan jantungnya, alat vitalnya berukuran istimewa sehingga membuatnya sering mengkhayalkan laki-laki ini menyetubuhinya. Tapi untuk menjadi istri kedua dan kawin di bawah tangan adalah sebuah pilihan yang berat.

“Baik dua hari lagi aku kontak lagi…untuk memastikan anti mau”ujar Abu Nida mengakhiri telponnya.

Rif’ah termangu-mangu. Tubuh akhwat PKS cantik ini menjadi lemas dan akhirnya hanya duduk termenung di bangku taman kampusnya. Untuk kembali ke rumah Ummu Nida sebuah hal yang tidak mungkin setelah mendapat telpon dari Abu Nida seperti itu. Kmebali ke kostnya yang dulu, ada Faizah. Senja mulai membayang

Sementara itu di saat yang bersamaan itu di kantor DPD PKS Kota, tiga perempuan berjilbab lebar terlihat duduk di ruang tamu. Tiga teh botol yang hampir kosong terletak di depan mereka masing-masing. Sudah hampir satu jam ketiganya berbincang di ruang itu bahkan sempat makan siang. Ketika perempuan itu tak lain adalah Ummu Rosyid, Ummu Nida serta Faizah. Dari ketiga perempuan itu yang paling banyak diam adalah Ummu Nida bahkan wajah ummahat beranak tiga ini tampak pucat.

“Jadi mulai hari ini komandan Santika dipegang dik Faizah” ujar Ummu Rosyid.

Faizah yang siang ini memakai jilbab warna hijau mengangguk-angguk sembari tersenyum senang mendengarnya.

“Bukankah begitu Um?”tanya Ummu Rosyid kepada Ummu Nida yang berwajah paling cantik ini diantara ketiganya namun wajah cantik itu terlihat pucat.

Ummu Nida yang banyak termenung itu mengangguk lemah. Sekilas Ummu Nida melirik Faizah namun kemudian dia memalingkan wajahnya ketika melihat Faizah juga tengah memandangnya. Ummahat penyandang sabuk hitam ini masih belum percaya kalau dia kalah dari Faizah. Tapi memang di luar dugaan, kemampuan bela diri Faizah ternyata berada di atasnya. Walaupun dalam karate Faizah cuma sebagai penyandang sabuk hijau, namun akhwat hitam manis ini ternyata menguasai beberapa ilmu beladiri lainnya sehingga membuatnya begitu perkasa. Selain itu usianya juga jauh lebih muda dibanding Ummu Nida yang sering kehabisan nafas dan satu faktor kekalahannya adalah selama seminggu ini dia kehabisan tenaga disetubuhi suaminya berturut-turut tiap malam.

“Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu ada acara…nanti mohon Ummu Nida menyampaikan kepada DPW tentang pergantian ini, untuk DPD biar saya sampaikan langsung kepada suami..jadi Ummmu Nida nanti pulang sama Faizah” kata Ummu Rosyid yang kebetulan suaminya adalah ketua DPD.

Ummu Nida kembali mengangguk lemah. Ummahat tiga anak ini berdiri ketika Ummu Rosyid berdiri pamit pulang namun ketika hendak menyalami Ummu Rosyid, Faizah pun berdiri ikut menyalami Ummu Rosyid membuat Ummu Nida mengurungkan niatnya. Faizah terlihat menyalami Ummu Rosyid saling menempelkan pipi dan kemudian berpelukan. Ketika berpelukan itu tangan Faizah sempat meremas pantat Ummu Rosyid yang kebetulan memang montok.

“Ih..anti ini kebiasaaan…remas pantat orang sembarangan!”ujar Ummu Rosyid

Faizah tertawa namun Ummu Nida yang melihat kejadian ini segera membuang muka.

Ketika Ummu Rosyid menyalami Ummu Nida, Ummu Nidapun berdiri bahkan kemudian mengantar Ummu Rosyid hingga ke pintu.

“Faizah itu berbahaya buat akhwat PKS” desis Ummu Nida.

“Kenapa?” tanya Ummu Rosyid

Ummu Nida hendak menjawabnya namun tiba-tiba Faizah telah berdiri di belakangnya membuat Ummu Nida terdiam.

“Ya sudah pamit dulu” ujar Ummu Rosyid berpamitan.

Kedua perempuan berjilbab lebar ini hanya memandangi Ummu Rosyid meninggalkan halaman DPD PKS.

“ Mbak bilang apa sama Ummu Rosyid?”tanya Faizah

“Nggak bilang apa-apa” jawab Ummu Nida dan ummahat beranak tiga ini tersentak ketika kemudian Faizah memeluknya dari belakang.

“Faizah….Faizah apa nggak sadar kalau perbuatan kamu itu nista dan nggak wajar”

“Sudahlah..nggak usah berkhutbah…mbak telah berjanji menjadi pengganti Rif’ah kalau mbak kalah….”desis Faizah dengan tangan menyusuri pantat Ummu Nida yang masih berbalut jubah panjang tersebut.

“Pantat yang bahenol…mbak lebih montok dan menggairahkan dibanding Rif’ah” kata Faizah sambil meremas-remas pantat Ummu Nida yang memang montok dan kenyal tersebut.

”Aku suka bau keringat mbak….Rif’ah terlalu wangi membosankan walaupun gadis itu sangat cantik dan bertubuh sintal, tapi mbak montok dan payuadar mbak gede”

            Tiba-tiba Ummu Nida merasa curiga kalau Faizah bukan perempuan tapi dia adalah laki-laki yang menyusup di barisan akhwat PKS. Dalam keadaan dipeluk Faizah dari belakang, salah satu tangan Ummu Nida membekap selangkangan Faizah.

Faizah terkejut dengan perbuatan Ummu Nida namun sesaat kemudian akhwat hitam manis ini tertawa panjang.

“Tenang mbak….aku bukan laki-laki yang menyamar, kalau pengen lihat..ayo ke kamar” ujar Faizah sambil menarik Ummu Nida ke salah satu kamar di kantor DPD PKS kota. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.

Dalam kamar itu, Ummu Nida duduk di kursi memandang Faizah yang berdiri di depannya.

“Sekarang mbak yang montok, liat baik-baik..apakah aku punya kontol atau tidak”kata Faizah sambil tersenyum.

Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kaki yang membungkus kedua kakinya kemudian disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan.  Ummu Nida tercekat melihat Faizah berpotongan rambut cepak karena baru pertama kali ini melihat Faizah tanpa jilbab.

Setelah itu Faizah melepas jubah panjang  warna coklat yang dipakainya sehingga  Faizah kini hanya terlihat memakai bh warna hitam sementara bagian bawahnya memakai celana training warna coklat gelap. Ummu Nida  melihat Faizah adalah seorang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil.

Tanpa memperdulikan pandangan Ummu Nida, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya kemudian celana training yang menutup bagian bawah tubuhnya.. Ummu Nida terkejut ketika melihat Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana training itu terlepas dari tubuhnya, tubuh Faizahpun bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya.

“Gimana mbak?…aku nggak punya penis khan”

Ummu Nida terdiam, ummahat tiga anak ini ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini.Baru pertamakali ini Ummu Nida  melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya seperti saat ini.

Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa apalagi kulitnya yang kecoklatan mengesankan keperkasaannya, walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita. Satu hal yang tak diduga Ummu Nida, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.

Ummu Nida tidak sempat berpikir lama karena kemudian Faizah yang bugil ini menariknya untuk berdiri lantas memeluknya

“Ayo mbak…mbak juga buka seluruh pakaian mbak” desis Faizah.

Tubuh Ummu Nida mengejang ketika dengan bernafsu Faizah melumat bibirnya sementara tangannya mulai menggerayangi dadanya di balik jilbabnya mencari kancing jubah.

Tanpa di duga keduanya tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman kantor DPD PKS kota itu. Faizah yang terkejut melepaskan pelukannya kepada Ummu Nida.

“Siapa sih…ngganggu aja!!”umpat Faizah kesal yang lantas dengan tergesa-gesa gadis ini memakai jilbab dan jubahnya tanpa memakai apapun di baliknya.

Ummu Nida pun sejenak merapikan diri ketika di dengarnya ketukan dan salam di pintu.

“Mbak masih hutang sama aku..!” desis Faizah kesal.

Ternyata yang datang adalah Mufidah bersama suami dan kedua anaknya. Ummu Nida dan Faizah menyambut Kabid Kewanitaan DPD yang baru ini. Ummu Nida menyalami Mufidah dengan hangat dan memeluknya sembari menempelkan kedua pipinya. Faizah berbuat yang sama hanya ketika memluknya, tangan Faizah sempat mermas pantat montok Mufidah yang membuat ummahat ini tersentak kaget. Faizah tersenyum. Kekesalannya sedikt terobati karena yang datang adalah seoarang ummahat yang cantik yang dikenalnya sebgai Kabid Kewanitaan DPD menggantikan Ummu Nida yangs ekarang duduk di DPW.

“Saya nyari Ummu Nida….di rumah kosong….terus tadi ketemu Ummu Rosyid katanya Ummu Nida di kantor DPD… ya sudah saya kesini”

Ummu Nida pun tersenyum , wajah ummhata ini tampak leg dan cerah melihat kedatangan Mufidah. Kedua ummahat inipun masuk ke ruangan bagian kewanitaan meninggalkan Faizah sendirian..

“Sebentar ya ukht…”ujar Mufidah.

Faizah mengangguk sedikit kesal. Melihat Mufidah, timbul hasrat kepada ummahat yang satu ini. Faizah  berencana untuk bisa menikmati tubuhnya suatu saat nanti.

Untuk mengusir kekesalannya, Faizah pergi ke teras mencari udara segar. Dilihatnya sebuah Corolla lama terparkir dengan suami Mufidah di dalamnya bersama kedua anaknya yanga agaknya tertidur pulas. Faizah kemudian duduk di lantai teras yang bersih itu sambil membaca sebuah buku.

Dalam corolla merah itu, suami Mufidah melihat seorang akhwat tampak keluar dari kantor DPD PKS lantas duduk di teras. Wajah akhwat itu manis dengan kulit yang kecoklatan dan tubuh yang montok. Melihat wajah akhwat tersebut, suami Mufidah rasanya pernah mengenalnya. Diperhatikannya baik-baik wajah tersebut dan suami Mufidah ini merasa yakin dia mengenal akhwat ini atau mungkin mirip dengan seoarang yanmg dikenalnya.

Faizah yang melihat suami Mufidah ini tengah memperhatikannya tiba-tiba timbul keinginan akhwat ini untuk menggoda suami Mufidah. Dengan tetap membaca buku, kedua lutut Faizah diangkat sehingga dengan posisi seperti ini, Faizah yakin bagian bawah tubuhnya yang siang ini memaki jubah panjang akan terbuka dan terlihat oleh suami Mufidah.

Memang betul dugaan Faizah karena memang suami Mufidah yang bernama Syamsul ini  tengah terkejut ketika dia melihat akhwat yang tengah diperhatikannya itu tiba-tiba merubah posisi duduknya. Dalam posisi duduk seperti itu, terlihat jelas bagian bawah tubuh akhwat tersebut terbuka sehingga Syamsul leluasa melihat betis, paha bahkan selangkangan akhwat tersebut.

Dada Syamsul berdegup kencang ketika melihat akhwat tersebut ternyata tidak memakai celana dalam dan laki-laki ini melihat akhwat tersebut mempunyai bulu-bulu kemlauan yang lebat. Dalam sekejap kontol suami Mufidah ini mengeras melihat selangkangan Faizah yang menggiurkan. Syamsul tidak tahu bahwa Faizah memang sengaja memamerkan bagian tubuhnya yang paling rahasia itu kepada dirinya.

Keasyikan Syamsul hilang ketika dia melihat istrinya keluar dari kantor DPD PKS bersama seorang perempuan berjilbab lebar yang berwajah cantik. Syamsul melihat istrinya melambaikan tangan memanggilnya. Syamsul keluar dari mobil setelah melihat kedua anaknya masih tertidur pulas dalam mobil.

Syamsul menghampir para perempuan berjilbab lebar ini. Faizah yang semula duduk di teraspun kini berdiri. Begitu Syamsul mendekat, giliran Faizah yang terkejut melihat suami Mufidah ini.

“Bang Syamsul!” desis Faizah di sela keterkejutannya.

Syamsul yang mendengar namanya disebut memperhatikan Faizah lebih seksama dan bebrepa detik kemudian laki-laki ini terkejut pula.

“Femmy??”tanya Syamsul agak ragu.

Faizah mengangguk. Femmy adalah nama aslinya

“Lho abang sudah kenal dengan akhwat ini?”sergah Mufidah dengan nada cemburu.

Syamsul mengangguk

“Dia adiknya Hendrik yang sering ke rumah kita dan kita punya hutang kepada Hendrik”

“Ya..dan bang Syamsul punya hutang 25 juta kepada bang Hendrik. Minggu ini dia akan datang ke kota ini, dia sudah beli rumah di sini” timpal Faizah

Giliran Mufidah yang terkejut mendengarnya. Wajah cantik ummahat berusia 32 tahun ini tegang dan tubuhnya gemetar. Bukan karena jumlah hutang yang disebut Faizah, tapi nama Hendrik yang membuat tubuh ummahat ini gemetar.

Bagi Mufidah, Hendrik yang dimaksud bukanlah laki-laki yang asing baginya. Selama di Jakarta sudah dua kali laki-laki ini memperkosanya ketika suaminya tidak ada di rumah. Yang membuat Mufidah gelisah karena walaupun dia diperkosa, tapi Hendrik mampu membuatnya menikmati perkosaan tersebut. Mufidah mendesak suaminya pindah ke kota ini untuk menghindar dari Hendrik tapi ternyata laki-laki yang dihindari Mufidah akhirnya muncul juga di kota ini. Suaminya memang belum tahu perkosaan yang menimpanya

“Bang Hendrik memang sedang memburu kalian!”ujar Faizah pendek membuat Syamsul dan istrinya tegang.

“Kapan dia datang? Begitu dia datang akan kami lunasi hutangnya”ujar Syamsul

“Lusa..dan dia sudah aku kasih tahu alamat rumah kalian”

Mufidah gelisah mendengarnya. Teringat kembali ucapan Hendrik kalau dia ketagihan memperkosanya dan dia akan memburu kemanapun Mufidah pergi.

“Ya sudah..aku pamit dulu…tapi Ummu Nida masih punya hutang sama aku…..buat Bang Syamsul bayar aja hutangnya…..yang tadi gratis aja” ujar Faizah sambil tersenyum menggoda.

Syamsul tergagap mendengarnya, sementara Ummu Nida diam tak berkomentar apapun.

Faizah teringat ucapan bang Hendrik kalau dia tergila-gila dengan istri Syamsul dan ternyata memang pantas istri Syamsul membuat abangnya tergila-gila walaupun abangnya telah mempunyai istri. Namun dirinya agaknya juga mulai tergila-gila dengan Mufidah yang berkulit putih mulus itu. Sambil melamunkan Mufidah, Faizah menstarter sepeda motornya meninggalkan halaman DPD PKS kota.

Di mata Faizah, Mufidah mempunyai nilai tengah-tengah diantara Rif’ah dan Ummu Nida. Dari ketiganya yang paling cantik adalah Rif’ah namun yang paling putih kulitnya adalah Mufidah sedangkan tubuh yang paling montok adalah Ummu Nida. Dari ketiga perempuan itu yang baru dinikmati baru Rif’ah sedangkan Ummu Nida nyaris dinikmatinya malam ini dan Mufidah yang berkulit putih itu kini dalam targetnya.

Mendadak Faizah teringat abangnya yang akan datang lusa. Di benak Faizah timbul rencana untuk bekerja sama agar sama-sama menikmati ketiga tubuh wanita PKS yang molek dan menggiurkan itu. Faizah yakin abangnya juga akan tergila-gila bila disodori Ummu Nida yang bertubuh montok dan berkulit kuning langsat serta berwajah cukup cantik ataupun Rif’ah yang berwajah sangat cantik, sintal dan masih perawan. Faizah tersenyum membayangkan semuanya. Selama dia bergabung dengan PKS baru ketiga perempuan inilah yang membangkitkan nafsunya

Setelah tau Faizah masih tetap di PKS, Rif’ah ketakutan sekali. Terpaksa dia untuk sementara pergi dari tempat kosnya dan tinggal bersama Ummu Nida dan suaminya. Malam itu Ummu Nida merasa mengantuk berat. Dia ingin segera tidur, ini membuat Abu Nida suaminya merasa gembira sebab usahanya berhasil. Abu Nida memang telah memasukkan obat tidur cukup banyak dalam minuman istrinya secara diam-diam. Kalau istrinya sudah tidur dia akan bebas menggarap Rif’ah, akhwat cantik yang sudah lama dia inginkan. Sesudah istrinya tidur nyenyak, Abu Nida mengetuk pintu kamar tidur Rif’ah. Rif’ah sudah menduga bahwa yang mengetuk pintu kamar malam-malam begini tentu Abu Nida. Dengan rasa takut dan ingin tahu Rif’ah membuka pintu. Begitu pintu terbuka AbuNida bertanya,”Belum tidur,Rif’ah?” Jawab Rf’ah,”Belum, Bi.”
“Boleh masuk?” desak Abu NIda. Rif’ah keberatan dan berusaha menolak,”Jangan,Bi ntar Ummu tau gimana?” Jawab Abu Nida, “Ah, nggak bakalan tau dia kan sudah tidur!” Karena Rif’ah mau menolak, akhirnya Abu Nida memaksa masuk kamar dan segera mengunci pintu. Tinggallah mereka berdua dalam kamar, sementara Rif’ah masih memakai jilbab dan jubahnya. Rif’ah ketakutan meskipun dia juga sebenarnya senang sudah berdua dengan Abu Nida. Tanpa basa-basi lagi Abu Nida memeluk tubuh Rif’ah yang sintal itu dari depan dan mendaratkan ciuman-ciuman di bibir merah Rif’ah. Rif’ah menggeliat merasakan ciuman-ciuman bibir Abu Nida yang berkumis dan berjenggot lebat itu. Karena terangsang Rif’ah mulai membalas dengan ciuman yang tak kalah agresif.
Tangan Abu Nida mulai meraba tetek Rif’ah dari luar jubah dan jilbabnya. “Jangan Bi, nggak mau”, R1f’ah mencoba menolak. Tapi Abu Nida tidak peduli, bahkan tangannya mulai menyusup di balik jubah dan BH Rif’ah. “Oouuh!”, Rif’ah menjerit, baru kali ini teteknya dipegang tangan lelaki. Abu Nida mulai membuka kancing-kancing jubah Rif’ah, kali ini Rif’ah tidak melawan, rupanya dia juga sudah terangsang berat. Abu Nida mulai mengisap dan menyedot tetek Rif’ah yang masih kencang dan keras itu. Rif’ah mulai mengerang-ngerang tak menentu dan pasrah dengan segala yang dilakukan Abu Nida meski sebelumnya dia menolak mati-matian.
Abu Nida menyingkap jubah Rif’ah dan meraba-raba memek Rif’ah yang mulai basah itu. Rf’ah mencoba menolak tangan Abu Nida,”Jangan Mas, Rif’ah nggak mau.” Entah mengapa Rif’ah mulai memanggil mas kepada Abu Nida. “Nggak apa-apa, ntar juga enak.” kata Abu Nida tanpa peduli atas penolakan Rif’ah. Lalu Abu Nida melorot celana dalam Rif’ah dan menjilat-jilat memek Rif’ah yang masih perawan itu. Rif’ah malu sekali karena memeknya selama ini sangat dijaganya dari lelaki. Abu Nida mulai memain-mainkan lidahnya di memek Rif’ah. Mendapat perlakuan itu Rif’ah merasa jijik. Tapi rangsangan yang kuat membuatnya tidak tahan mulutnya menjerit-jerit tak karuan. “Ooouuuh, Mass, enaak Mass, terusin aja!” Akhirnya keluarlah cairan dari memek Rf’ah. Rif’ah orgasme.
Kesempatan ini tak disia-siakan Abu Nida. Dia bangun dan mengarahkan kontolnya ke memek Rif’ah yang basah itu. Rif’ah mencoba menghindar, tapi karena badannya lemas akibat orgasme tadi, Rf’ah tak berdaya. Abu Nida mulai menusukkan batangnya yang besar dan panjang itu ke memek Rif’ah. Beberapa kali Abu Nida mendorong tapi kontolnya tidak bisa masuk. Memek Rif’ah benar-benar ketat. Akhrinya Abu Nida membuka paha Rif’ah yang berjubah itu selebar-lebarnya dan menusukkan kontolnya dengan keras. Rif’ah menjerit kesakitan, “Ahhh, sakit mass, pelan-pelan dong…..sshhhh… aaaahhh.” Kepala kontol Abu Nida dapat menembus memek Rif’ah, Abu Nida terus mendorong hingga batang kemaluannya dapat masuk semuanya ke memek Rf’ah. Abu Nida mengocok-ngocok kontolnya maju mundur di memek Rfi’ah. Mula-mula Rif’ah masih merasa sakit tapi lama-lama mulai keenakan dan mengimbangi gerakan dan goyangan Abu Nida. Akhirnya sesudah 1/2 jam Rif’ah menjerit karena memeknya yang berdenyut-denyut itu mulai mengeluarkan cairan orgasmenya. “Masss, aku keluar masss!!!” jerit Rf’ah dengan penuh nafsu memeluk Abu Nida. Abu Nida pun mulai nggak tahan dan memeluk tubuh Rif’ah yang sintal dan padat itu erat-erat. Tubuh Abu Nida mengejang dan menyemburkan air maninya ke rahim Rif’ah. Lalu keduanya terbaring lemas kehabisan tenaga.
“Makasih ya Rif’ah!” kata Abi Nida. Rif’ah tidak menjawab, air mata menetes di pipinya. Perawannya direnggut oleh ikhwan seiornya sendiri. Sejak itu kapan saja Abu Nida mau, Rif’ah harus bersedia dientot. Kalau tidak adegan tadi yang secara diam-diam sudah direkam Abu Nida akan disebar luaska. Ah, kasihan Rif’ah

Sejak itu Rif’ah tidak bisa lagi melepaskan diri dari Abu Nida, selain diancam akan diedarkannya rekaman-rekaman bugilnya Rif’ah sendiri memang ketagihan untuk ngentot dengan Abu Nida. Tapi rupanya ada juga orang-orang lain yang sedang mengincar Rif’ah, akhwat muda yang cantik ini. Salah satunya adalah Mas Syamsul, suami Mufidah dan juga Hendrik, abangnya Faizah alias Femmy itu