INTAN 2

INTAN 2

Dua hari lagi, Intan akan menjalani prakteknya di Purwokerto. Dan hari ini sesuai dengan janji yang sudah ia buat dengan Rangga, ia akan menghabiskan waktu seharian berjalan-jalan keliling Yogyakarta. Intan tahu bahwa pada akhirnya ini akan berakhir pada permainan ranjang yang panas di kontrakan Rangga seperti pada hari-hari sebelumnya. Yang Intan tidak tahu bahwa di ujung hari, ia tidak akan bergumul dengan kekasihnya, tetapi bersama Pak Jarwo.

Sudah beberapa hari ini sebenarnya Intan sering bermain cinta dengan Pak Jarwo tanpa diketahui oleh Rangga, kekasihnya. Dengan beralasan sedang praktek, response, dan lain-lain, maka Intan dengan bebas ‘bertamu’ ke rumah Pak Jarwo. Istri Pak Jarwo sendiri adalah seorang buruh migran yang entah kapan akan pulang dan tidak tentu mengirimkan uang untuk Pak Jarwo di Indonesia. Tapi semua itu tidak menjadi masalah karena banyak kebutuhan Pak Jarwo yang pada akhirnya ditanggung Intan. Dia sudah seperti istri kedua bagi Pak Jarwo. Laki-laki itu bagaikan raja yang menikmati kenikmatan lahir batin, kebutuhannya tercukupi dari Intan.

Sekarang kita tarik cerita dari sekitar dua minggu ke belakang, beberapa hari setelah permainan cinta pertama antara Intan dan Pak Jarwo. Saat itu hari Rabu pagi dan Intan kebetulan kuliahnya sedang kosong karena dosen yang berkepentingan sedang berada di luar kota.

Intan terbangun karena ada sms masuk ke handphone-nya, setelah dilihat ternyata dari Pak Jarwo. Setelah pertemuan pertama mereka, memang mereka pada akhirnya bertukar kontak supaya Pak Jarwo bisa menghubungi Intan lagi di lain kesempatan. Selain itu juga, hampir tiap malam Pak Jarwo mengirim sms mesra kepada Intan dan Intan juga tak kalah mesra membalas sms-sms tersebut. Ah, indahnya hubungan kedua insan berbeda usia jauh ini.

“Pagi cewek bispak, kuliah gak hari ini? Hmm, kayaknya pagi-pagi begini kalo sarapan sambil disepongin sama mahasiswi berjilbab pasti nikmat. Kamu ke rumah bapak dong, sayang..”

“Ah, Pak Jarwo kok pagi-pagi udah sms sih? Bikin memekku cenat-cenut kalo inget kemaren di kontrakan pacar saya. Saya gak kuliah hari ini, Pak. Hmm, Pak Jarwo mau ditemenin? Ya udah, kasih saya alamatnya ya. Sama itu juga, Pak Jarwo mau dibeliin sarapan apa?”

“Kamu tau aja maunya bapak, hehe… saya mau bubur ayam aja deh, beli dua buat kamu juga ya, saying. Oya, jangan lupa mandi yang bersih dan wangi, dandan, pake jilbab yang bikin kamu paling cantik ya, tapi pake baju dan celananya yang ketat. Oke, pelacur?”

“Duh, kalo bapak bilang saya pelacur tuh bikin saya makin terangsang. Hmm, ya udah, nanti bapak sms aja alamat rumah bapak ya. Saya manasin mobil dulu. Sampai nanti pejantanku sayang, mmuuaacchh!”

Sms-sms yang terjadi diantara keduanya memang sudah kelewat mesra bahkan cabul, dan Intan sebagai seorang mahasiswi berhijab dan calon dokter malah lebih terangsang ketika direndahkan oleh kata-kata kasar oleh seorang bapak tua yang jadi ketua RT di daerah kontrakan Rangga. Tidak berapa lama kemudian Intan sudah meluncur untuk membeli sarapan dan menuju rumah Pak Jarwo. Intan memberi tahu Rangga bahwa ia tidak enak badan dan tidak ingin diganggu selama seharian ini, supaya Rangga juga fokus dengan pekerjaannya. Sebuah alasan yang cukup klasik.

Akhirnya mobil Intan sampai di sebuah rumah yang cukup asri, kecil namun banyak ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan liar, sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak Jarwo. Seorang bapak tua kemudian keluar untuk membuka gerbang dan menyuruh Intan memarkirkan mobilnya masuk ke garasi, setelah itu ditutup dengan cover mobilnya sehingga setiap orang yang lewat tidak mengetahui mobil siapa yang ada di garasi Pak Jarwo saat ini.

“Masuk aja, sayang, langsung buka sarapannya di meja makan ya. Bapak udah kangen banget sama kamu nih!” kata-kata Pak Jarwo dibarengi dengan tepukan di pantat Intan.

“Duh bapak, jangan diluar gini ah, nanti ada yang liat loh… hihi, masa cewek berjilbab mesra sama bapak-bapak, hihi… tapi ga papa deh, kan sama Pak Jarwo ini,” Sambil tersenyum manja, Intan mengatakan hal tersebut yang membuat Pak Jarwo makin kelimpungan.

Akhirnya mereka berdua sudah duduk di meja makan, tetapi Pak Jarwo bilang, “Loh, kok disitu sih? Sini dong.” katanya sambil menepuk paha, memberikan isyarat agar Intan duduk di situ.

“Aduh, bapak manja deh. Hihi, ya udah, Intan duduk menyamping di paha bapak ya.” Intan akhirnya duduk di pangkuan Pak Jarwo, lalu ia membuka bungkusan buburnya, tapi lagi-lagi Pak Jarwo menyela.

“Eh, punya kamu nanti aja, punya bapak dulu ya. Hehe, saya mau sarapan sambil disepong sama mahasiswi berjilbab, impian bapak dari dulu nih. Boleh ya, sayang?” Pak Jarwo mencolek dagu Intan, membuat gadis itu tersipu malu dan akhirnya menganggukkan kepala menuruti kemauan pak RT cabul yang satu ini.

Intan mencium bibir Pak Jarwo dan mengulumnya secara tiba-tiba, Pak Jarwo sendiri kaget. “Loh kok?”

“Dari tadi kan bibir kita belum ketemu, saya gak boleh ya cium bibir Pak Jarwo? Tiba-tiba saya jadi kangen banget sama rasa bibir bapak, uh!” Dalam hatinya, Intan merasa bahwa ada perasaan tersendiri jika berduaan dan bermesraan seperti ini dengan Pak Jarwo.

Setelah itu, perlahan Intan turun dari pangkuan Pak Jarwo dan duduk di bawah meja. Pikiran Pak Jarwo telah melayang-layang kemana-mana, ah seandainya ia bisa memperistri Intan dan bisa ia pakai setiap hari, pasti hidupnya akan lebih bahagia.

“Saya buka ya, pak… ups! Besarnya, hmm…” Intan membuka celana panjang Pak Jarwo dan menurunkannya sebatas paha, lalu menciumi paha Pak Jarwo yang telanjang.

Perlahan ia mendekati penis Pak Jarwo yang berukuran besar, penis itu masih layu dan sedikit bau pesing, tapi Intan tidak peduli. Perlahan ia mengenduskan hidungnya pada pangkal penis itu, menciumnya dengan sangat mesra dan penuh kasih sayang. Sementara di atas, Pak Jarwo mulai menikmati sarapan buburnya sambil juga menikmati ‘sarapan’ yang lain, ia tersenyum licik karena berhasil menaklukkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran, berjilbab pula, bawa mobil juga, ah hidupnya terasa sangat indah sekarang.

Intan mulai menciumi penis Pak Jarwo hingga perlahan penis tersebut mengembang dan mengeras bagaikan sebatang kayu. Intan tertawa kecil melihat penis kesayangannya menjadi sebesar ini karena usahanya. Intan akhirnya menjilati penis Pak Jarwo dengan sangat perlahan, memindahkan rasa yang ada ke dalam mulutnya, menstimulasi penis tersebut agar makin mengeras, seakan-akan penis tersebut adalah pisang yang dilumuri oleh susu kental manis. Ah, Intan sangat ketagihan sekarang. Ia mulai membasahi semua bagian penis tersebut dengan liurnya, mulai memasukkannya ke dalam mulutnya secara perlahan.

Suara Intan yang sedang mengulum penisnya membuat Pak Jarwo makin bernafsu, kecipak pertemuan antara bibir indah berlipstik tipis, behel dan penis hitam miliknya membuat nafsu Pak Jarwo menjadi semakin meningkat.

Sementara Pak Jarwo terus melanjutkan sarapannya, Intan masih mengulum penis Pak Jarwo yang sudah benar-benar tegang. Ia mengocok dengan tangannya yang halus, jari-jarinya yang lentik dan kukunya yang baru tadi pagi di-kutek. Uh, tidak ada yang bisa menandingi sensasi dan aroma sensualitas yang ada di ruang makan rumah Pak Jarwo.

Tiba-tiba Pak Jarwo membuka kotak sarapan bubur milik Intan dan menarik Intan ke atas. “Duh, kayaknya kamu nafsu banget nyepong kontol bapak? Suka banget ya sama kontol bapak?” tanyanya.

“Mulut saya kayaknya udah jodoh sama kontol Pak Jarwo, uhh… kontolnya Pak Jarwo tuh bikin mulut saya jadi gatel dan yang bisa garukin cuma kontol ini, pak RT-ku tersayang, hihi…”

“Ya udah sayang, kamu makan dulu ya, biar nanti kita ngentotnya bisa kuat seharian. Kamu ga ada janji sama pacar kamu kan?”

“Ah, saya lebih milih seharian dientotin sama Pak Jarwo daripada harus kencan sama dia, pak. Hmm, pak… saya boleh minta tolong sesuatu gak?”

“Buat kamu, bapak akan turutin. Apa sih, sayang?”

“Suapin..” Dengan senyum malu-malu, Intan mengungkapkan keinginannya untuk dimanja oleh Pak Jarwo. Perempuan kalau sudah tersentuh hatinya, apalagi vaginanya, pasti akan takluk walaupun lawan mainnya adalah seorang bapak tua.

Intan menganggap Pak Jarwo sebagai suaminya sendiri, Intan bahkan akan gelisah kalau satu hari tidak berkomunikasi dengan Pak Jarwo. Tetapi bukan Pak Jarwo namanya kalau tidak punya ide gila, ia akan menyuapi Intan lewat mulut, dan hanya dijawab oleh anggukan serta senyum manis dari Intan.

Akhirnya Pak Jarwo mengaduk buburnya dan menyuapi dirinya sendiri, sehabis itu layaknya orang berciuman, Pak Jarwo mendekatkan mulutnya ke mulut Intan, perlahan-lahan bubur tersebut pindah ke mulut si gadis muda.

“Gimana? Enak, sayang?” tanya Pak Jarwo.

“Makasih ya, pejantanku saying. Pak Jarwo tuh satu-satunya cowok yang bikin saya, walaupun berbeda usia, jadi meleleh. Bapak tuh jantan banget.” Sambil berkata begitu, Intan yang masih duduk di pangkuan salah satu kaki Pak Jarwo, kembali mengelus dan mengocok penis Pak Jarwo yang belum mengeluarkan isinya.

Pak Jarwo yang sudah berpengalaman dengan berbagai wanita hanya melenguh pelan dan kembali menyuapi Intan dengan mulutnya. “Intan, uuhh… pelacur pribadiku. Uuhh… saya bentar lagi mau keluar nih, saya campurin pejunya ke bubur kamu ya, saying? Gimana, mau? Uuhh…”

“Ih, bapak… nanti buburnya jadi rasa peju dong. Tapi kayaknya malah enak, hihi… ya udah, pak, keluarin aja pejunya. Uhh…” Dengan muka penuh birahi, Intan kembali mengocok dengan kuat penis Pak Jarwo, hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian, sperma laki-laki itu menyembur keluar.

“Aahhh… uuhhh… nikmatnyaa… uhh… terus kocok, saying… uuh…” Pak Jarwo akhirnya ejakulasi di atas bubur ayam milik Intan, sampai tetes terakhir spermanya pun tidak disia-siakan oleh Intan. Ia membersihkan penis Pak Jarwo dengan lidahnya, ia terlihat tidak ikhlas ketika satu tetes sperma jatuh ke lantai. Uh, hanya dengan melihatnya saja membuat Pak Jarwo jadi semakin bernafsu untuk menggarap tubuh molek berbalut jilbab dan gamis panjang ini.

Lalu Intan keluar dari kolong meja makan dan dengan kerlingan mata genitnya pada Pak Jarwo, ia menjilat bibirnya sendiri dan berkata nakal, “Hmm, enaknya peju Pak Jarwo, buat saya awet muda nih, hihi…”

Akhirnya Intan sarapan bubur ayam yang sudah dicampur dengan sperma Pak Jarwo, ia memakannya dengan lahap. Pak Jarwo sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan memulihkan staminanya setelah spermanya dikuras habis pagi ini oleh mahasiswi cantik berhijab seksi.

Pak Jarwo bersiul bernyanyi pelan di kamar mandi, memikirkan nasibnya yang sekarang seakan-akan telah menjadi raja dan Intan menjadi selirnya yang menjamin semua kebutuhannya, lahir dan batin. Sampai tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan persis di luar kamar mandi, Pak Jarwo melihat Intan yang perlahan-lahan menelanjangi diri; mulai dari hijabnya, kemudian baju, dan akhirnya bra serta celana dalamnya. Gadis itu melangkah perlahan mendekati Pak Jarwo yang masih saja ternganga dan hampir melotot tak percaya seorang mahasiswi kedokteran berhijab melakukan hal tersebut.

“Saya boleh ikutan mandi kan, Pak Jarwoku sayang?” tanya Intan manja.

“Tentu saja boleh, pelacur pribadiku. Hehe…”

Ketika berada di depan Pak Jarwo, Intan memutar tubuhnya, mempertontonkan bagian tubuh belakangnya yang polos tanpa selembar penghalang pun. Lalu ia menempelkan tubuhnya pada tubuh Pak Jarwo. Sambil sedikit mendesah, ia mengambil tangan Pak Jarwo dan menyentuhkan pada payudaranya, seakan meminta untuk diremas dan dimanjakan.

“Ayo, Pak Jarwo. Uhh… sentuh tiap senti tubuh saya, saya kangen sama kulit kasarnya Pak Jarwo yang bikin saya geli-geli gimana gitu. Cium setiap inci kulit saya, uhh… ayo, pejantanku saying, uhh…”             Sambil berkata begitu, Intan menggoyangkan pantatnya dan membuat penis Pak Jarwo yang tadinya lemas karena air yang dingin, jadi mengembang dan mengeras bak batang kayu jati.

Pak Jarwo hanya diam menikmati goyangan pantat Intan yang mengaduk penisnya sehingga benda panjang berurat itu menjadi ereksi total. Tangannya dengan lembut meremas payudara Intan sehingga si empunya kembali melenguh merasakan nikmatnya bersetubuh dengan pria yang jauh berbeda usia dengannya.

Ini juga membuat Pak Jarwo tidak pernah merasa bosan untuk menggarap tubuh muda dan sekal milik Intan. Saat ini penis Pak Jarwo mulai mencari jalan untuk masuk ke vagina Intan.

Intan yang mengerti kemauan Pak Jarwo langsung menundukan badannya agar lubang vaginanya bisa lebih mudah untuk dimasuki penis Pak Jarwo. Ia pun mendesah ketika senti demi senti penis Pak Jarwo akhirnya berhasil memasuki liang vaginanya. Ketika semuanya sudah masuk, mereka berdiam diri untuk sesaat. meresapi nikmatnya persetubuhan terlarang ini di bawah guyuran shower yang tidak terlalu kencang.

Perlahan Pak Jarwo mulai untuk menggoyangkan badannya maju mundur, menusuk liang peranakan milik Intan, sambil memegang pinggul Intan yang tak kalah semok dengan bagian tubuh lainnya. Pak Jarwo kembali mendapatkan semangat mudanya.

Intan pun mulai mendesah dengan merdu, seakan-akan dia sangat mengharapkan tusukan penis Pak Jarwo di vaginanya. Itu juga yang membuat Pak Jarwo semakin bersemangat untuk melakukan penetrasi.

“Ahh… aah… terus, Pak… uhh, enak banget tusukan kontol bapak di memek saya… uhh, nikmatnya ngentot sama bapak… uuuhh…” Intan merintih.

“Uhh… uuh… nih saya tusuk terus! Uhh, memek kamu pernah dihargai berapa paling mahal, sayang? Uuh!” tanya Pak Jarwo sambil terus menggoyang.

Omongan yang mulai melantur menandakan mereka berdua sudah tenggelam dalam lautan birahi dan hanya mengejar kenikmatan. Intan yang direndahkan seperti itu tidak merasa terhina, bahkan dia merasa lebih terangsang. Intan memutuskan lebih baik ia berdrama supaya dirinya dan Pak Jarwo jadi lebih terangsang.

“Uuh… cuma tiga ratus ribu, Pak Jarwoo… uhh! Kalau sama Pak Jarwo, saya rela terus-terusan dientot sama kontol besar dan enak milik bapak… uhh! Saya kan pelacur pribadinya Pak Jarwo, uhh! Uhh!”

Mendengar itu, Pak Jarwo pun semakin ganas menusukkan penisnya ke tubuh Intan. Ia membalikkan tubuh gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan, di atas kloset.

Ah, ganas sekali Pak Jarwo hari ini, begitulah pikir Intan. Tetapi ia sangat senang kalau Pak Jarwo begini, itu artinya ia sangat bisa membuat pria seusia Pak Jarwo masih bergairah seperti anak muda.

Intan kembali menggoyangkan tubuhnya, tidak hanya ke atas dan ke bawah, tetapi juga ke samping kiri dan kanan hingga membuat penis Pak Jarwo seperti digiling dan rasanya… tentu sangat nikmat! Pak Jarwo sampai menutup matanya agar membebaskan Intan untuk bergoyang lebih binal dan liar. Hanya ada suara shower yang belum mati dan juga desahan mereka berdua, dan ini membuat suasana kamar mandi semakin mesum dan romantis.

Posisi Intan yang membelakangi Pak Jarwo membuat lelaki itu jadi tambah bergairah melihat goyangan pantatnya yang… hmm, liur Pak Jarwo menetes dan ia pun tidak tahan menahan ejakulasinya.

Tetapi Pak Jarwo belum mau melepaskan laharnya sekarang. Kasar ia menangkap payudara Intan dari belakang, meremasnya kuat, hingga membuat Intan harus merebahkan dirinya ke belakang, menyandarkan dirinya ke tubuh Pak Jarwo yang hangat.

“Uuh… Intanku, jangan terburu-buru dong, saying… uhh, goyangan pantat kamu buat saya gak tahan, uhh…” Pak Jarwo merintih.

“Abis suruh siapa punya kontol gede dan nikmat banget kayak punya Pak Jarwo, uhh… muachh!” Intan dengan manjanya melingkarkan tangannya ke belakang, memeluk leher Pak Jarwo dan mencium pipi kasar lelaki tua itu.

“Uuh, cium bibir saya dong, Pak Jarwoku saying. Saya udah gak tahan banget nih pengen ngeluarin peju Pak Jarwo pake gilingan memek saya, uhh!”

Pak Jarwo mengabulkan permintaan Intan untuk mencium bibirnya, dan ciuman tersebut berlangsung sangat panas sambil perlahan Intan menggoyang pantatnya pelan-pelan, membuat nafsu Pak Jarwo yang sempat turun menjadi perlahan naik kembali.

Tidak hanya Intan yang bergerak menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Jarwo, tetapi lelaki itu juga berusaha menusuk ke atas, membuat tubuh molek Intan bergoyang cukup keras. Desahannya pun semakin melengking hingga kadang sampai harus ditutup oleh mulut Pak Jarwo.

Tangan Pak Jarwo pun tidak tinggal diam, ia meremas dan memilintir dengan lembut puting tegang Intan, membuat sang empunya tidak tahan untuk tidak mendesah nikmat. Pak Jarwo juga terus-menerus merangsang Intan, tidak hanya dengan penis besarnya, tetapi juga dengan remasan di seluruh bagian tubuhnya. Pak Jarwo bertekad memberikan orgasme yang tidak akan pernah dilupakan oleh Intan seumur hidupnya.

“Terus, Pak Jarwo… uhh, teruskan… uhh, saya mau keluar nih, pejantanku sayang… uuhh! Aku gak tahan banget, uuh… kontol besar… uhh! Enaknya!!!”

“Enak kan, sayang? Uhh, kita keluar bareng-bareng yuk!! Uhh, enaknya ngentot sama mahasiswi berjilbab kayak kamu… uhh!!”

“Iya, ayo Pak Jarwoo… uhh… keluarin aja… uhh… saya juga mau keluar nih, uhh! Uhh… saya keluar, aaahhhh… aaahhhh… uuuhhhh!!”

“Iya, ini saya juga udah keluar, aaahhhh… aaaaahhhh… uuuhhhh… terus goyang, pelacurr!!”

Akhirnya mereka berdua melepaskan ejakulasinya masing-masing dan seketika itu juga semua suara terhenti, hanya terdengar suara shower yang masih mengucur deras, juga desahan napas yang terdengar berat, serta senyuman kecil di bibir mereka berdua, menandakan mereka telah mendapatkan kenikmatan yang benar-benar tidak pernah bisa mereka bayangkan sebelumnya.

Masih banyak cerita tentang Intan dan Pak Jarwo berikutnya, kisah mereka belum akan berhenti sampai disini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s