Ketika Iblis Menguasai 7 :MURTIASIH

Derita Murtiasih di Tangan Ustadz Cabul

Dengan susah payah Murtiasih berusaha membuka kedua matanya. Pelupuknya terasa sangat berat bagaikan ada perekat yang memaksanya kembali memejamkan mata. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha mencari orientasi dimana dirinya berada sekarang. Kepalanya terasa agak pusing ketika disadarinya bahwa posisi badannya yang setengah duduk.

Murtiasih berusaha untuk duduk lebih tegak, namun tak berhasil karena ada tangan yang melingkar di pinggang langsingnya dan mendekapnya dari belakang. Murtiasih belum menyadari sepenuhnya apa yang telah dan sedang dia alami, tapi dilihatnya bahwa dirinya setengah duduk bukan di kursi melainkan di ranjang! Selain itu mulai disadarinya bahwa posisinya yang setengah duduk itu tetap bertahan karena dia tengah bersandar ke tubuh seorang lelaki yang sedang memeluknya dari arah belakang.

Bukan itu saja, kini tangan si lelaki mulai meraba dan meremas-remas kedua bukit mungil namun sintal padat di dadanya. Murtiasih menggelinjang kegelian, apalagi ketika dirasakannya hembusan nafas hangat dan kecupan lembut di belakang lehernya. Ciuman dan gigitan kecil menyusul di kuduknya, menjalar ke samping arah leher, kemudian menjilat di lubang telinganya. Tak salah lagi, inilah apa yang pernah, dan bahkan beberapa kali ia alami.

Inilah cara dan siasat dari gurunya, yaitu si ustadz Mamat, untuk merayunya, menjebaknya dan menjerumuskannya ke dalam pusaran samudra birahi. Selalu dirasakannya jeratan nafsu sang ustadz cabul yang menyebabkannya sering lupa akan derajatnya sebagai seorang siswi madrasah yang seharusnya sangat alim shalihah. Keinginannya melawan selalu terkalahkan oleh gelora nafsu syahwat yang melanda tubuhnya yang muda dan kini telah mengenal persetubuhan mahluk berlawanan jenis – dan semuanya itu adalah akibat ulah dan pengaruh gelap sang iblis.

Godaan itu kini terulang dan dialaminya kembali, Murtiasih mulai menyadari bahwa ustadz Mamat adalah yang sedang memeluknya dari belakang dan menjalari tubuhnya serta meremas-remas bergantian kedua buah dadanya, bahkan menyelinapkan jari di bawah kebayanya, memasuki BH warna merah jambu yang ia kenakan.

Ustadz Mamat agaknya sudah kehilangan semua akal sehatnya sejak ia berhasil merenggut dengan paksa kegadisan muridnya ini. Murtiasih adalah murid teladan, tak pernah datang terlambat, hampir tak pernah absen terkecuali sakit, sangat seksama mengikuti pelajaran, rajin mengulang dan patuh terhadap segala peraturan madrasah. Wajahnya sangat ayu, manis, imut dan lugu – tak banyak memakai tambahan perhiasan apapun, kulitnya putih bersih sehingga tidak membutuhkan bedak maupun tambahan lapisan kecantikan lain. Suaranya sangat lemah lembut dan merdu, kedua matanya jeli memancarkan sinar kejujuran, hidungnya mungil bangir dan mancung, dan bibirnya sempurna berwarna merah muda tanpa lipstik, sedikit merekah dan mengkilat seolah agak basah.

Berbeda dengan Rofikah dan Sumirah yang agak genit, maka Murtiasih justru amat polos hingga akhirnya dipilih oleh iblis untuk dijadikan korban nafsu ustadz Mamat. Pengalaman pertamanya dengan Murtiasih menyebabkan sang Ustadz hampir melupakan sama sekali statusnya sebagai suami dari istri yang sebetulnya tak kalah cantik bahenol yaitu Aida. Sementara Aida telah menjadi korban keganasan nafsu pak Sobri, maka ustadz Mamat berniat mengulang menggauli Murtiasih, dan saat ini tibalah kesempatan yang telah lama dinantikan untuk mengulang kemaksiatannya!

“Wah, lama juga tidurnya si neng geulis. Bapak jadi gemes ngeliatin neng tidur nyenyak begitu, hhm… nih susu makin sekel montok aja, bapak ntar lagi pengen nyusu boleh ya, neng?” ustadz Mamat langsung meremas kedua buah dada Murtiasih hingga menyebabkan murid alim cantik ini menggeliat kegelian.

“Udah, pak.. saya ada dimana? Saya mau pulang, pak.. Asih enggak mau disakitin, aaah… lepasin, pak! Toloong.. enggak mauu!!” suara Murtiasih memelas ketika menyadari bahwa peristiwa maksiat yang semula sangat dibencinya akan terulang kembali. Peristiwa yang mengubah dirinya dari siswi yang belum pernah mengalami jamahan lelaki menjadi korban permainan cabul.

“Siapa yang mau nyakitin Asih? Ini kan udah pernah Asih alamin, akhirnya malah jadi keenakan pengen terus, iya kan?” ustadz Mamat meneruskan cumbuannya dengan menghujani leher dan pundak Asih dengan kecupan hangat, menyebabkan mulai muncul bekas-bekas merah cupangan.

Selain itu ustadz Mamat juga menghembuskan nafas panasnya ke liang telinga gadis itu, bergantian kiri kanan hingga tentu saja membuat murid yang lugu dan naif ini semakin mendesah serta menggelinjang kegelian. Kedua tangan Asih yang berjari lentik halus berusaha melepaskan pelukan di pinggangnya, namun ustadz Mamat bukan tandingan untuk kekuatannya yang lemah. Bahkan dengan sekali hentak, tubuh Asih berputar dan kini berhadapan langsung dengan guru cabulnya itu, dan sebelum sempat memprotes maka ustadz Mamat telah merebahkan muridnya yang lugu itu ke ranjang lalu ditindihnya sehingga Murtiasih merasakan sukar bernafas.

Ustadz Mamat paham sekali bagaimana murid yang alim shalihah ini sedang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, bagaikan di persimpangan jalan : membelok ke kiri atau ke kanan. Akal sehat Asih menganjurkan supaya menolak semua godaan serta bujukan iblis dan berontak untuk kembali menuju ke jalan lurus sesuai moral dan akhlak yang selama ini dipelajarinya. Namun kenyataan yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkannya bimbang : selain disadarinya bahwa perlawanannya akan sia-sia karena tenaganya pasti kalah kuat, juga rasa kenikmatan badan yang pernah dialaminya telah membangunkan jutaan ujung syaraf di permukaan kulitnya menjadi hidup segar dan ketagihan.

Karena itu Murtiasih tak melakukan banyak perlawanan ketika ustadz Mamat mulai lagi mempreteli dan membuka satu persatu busana penutup tubuhnya. Suara protesnya pun terdengar hanya setengah hati, itu pun segera terbungkam oleh ciuman ustadz Mamat yang sangat rakus bernafsu melumat bibirnya yang mungil.

“Cupp.. cupp.. hhhm.. mmmh.. si neng mulutnya emang sedap buat diciumin! Uuhh.. sedapnya! Shhh.. cupp.. cupp..” Suara kecipak terdengar saat ciuman ganas ustadz Mamat yang kini menjulurkan lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Murtiasih. Semula muridnya ini berusaha menutup mencegah dorongan masuk lidah guru cabulnya, namun bagaikan ular python yang mendesis, ustadz Mamat menyelinap masuk sambil membasahi bibir Murtiasih dengan air liur kentalnya.

Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, tubuh Murtiasih sudah hampir bugil : baju kurungnya serta gamis yang dipakai telah bertebaran di ranjang, kini hanya jilbab yang tertinggal menutupi setengah rambutnya, demikian pula BH serta celana dalam kecil masih menutup auratnya. Ustadz Mamat telah yakin bahwa muridnya telah sepenuhnya berada dalam kekuasaannya, terbukti dari Murtiasih yang tidak bangun ataupun melarikan diri. Gadis itu juga tidak berteriak lagi, hanya kedua tangannya masih dengan malu-malu berusaha menutupi dada serta selangkangannya.

Ustadz Mamat tersenyum lebar dan bergegas melepaskan pakaiannya sendiri – kemeja, sarung plekat, lalu kaos dalamnya telah terlepas, kini dengan hanya memakai celana dalam ia kembali menindih tubuh mungil padat murid kesayangannya itu. Kembali tangannya meremas-remas gundukan bukit di dada Murtiasih serta diturunkannya BH berukuran 32 C itu sehingga terlihatlah dua gunung kembar yang sedemikian memukau setiap pandangan lelaki. Buah dada Murtiasih tidak sebesar milik Rofikah ataupun Sumirah, namun sangat putih mulus padat menantang.

Tak sanggup lagi mengusai diri, ustadz Mamat segera merentangkan kedua tangan muridnya ke atas kepala sehingga tampaklah ketiak Murtiasih yang licin dicukur. Kembali ustadz cabul ini dengan ganas menciumi bibir Murtiasih, dilumat dan disedot-sedotnya lidah mungil yang berusaha lepas ke kiri ke kanan itu, namun sia-sia saja. Liur ustadz Mamat berlimbahan dan bercampur dengan ludah sang siswi kesayangannya, dan campuran ludah itu kemudian dibawa oleh bibir ustadz Mamat ke arah leher Murtiasih yang nampak banyak bekas cupangan.

Kini diulanginya lagi cupangan dan gigitan gemas di leher jenjang itu sebelum turun ke pundak, ke bahu dan menyelinap ke bawah ketiak Murtiasih. Bukan bau asam dari ketiak yang menerpa hidung ustadz Mamat, melainkan aroma keringat gadis muda tercampur sedikit minyak wangi hingga menyebabkannya semakin bergairah.

“Aaiihh.. Asih mau diapain sih? Aaah.. geli, pak! Udah, aaih.. enggak mau! Ahhh.. geli.. enggak tahan! Aiihh..” Murtiasih menggelinjang sejadi-jadinya menahan rasa geli tak terkira ketika kedua ketiaknya yang mulus itu dikecupi guru madrasahnya.

Tak dapat diragukan bahwa selain leher jenjang Murtiasih, pasti ketiaknya juga akan penuh bekas cupangan dan bercak sedotan serta gigitan ganas sang ustadz yang sudah kerasukan iblis itu. Berikutnya adalah tebing gunung kembar Murtiasih yang sedemikian putih sehingga terlihat membayang pembuluh darah kapilernya yang menjadi sasaran sang ustadz, dan Murtiasih agaknya telah menikmati semua permainan tabu ini.

Jari-jari lentik Murtiasih merangkuh rambut gurunya yang kini dengan sangat gemas menghisap dan menyedot puting coklat kemerahan miliknya sehingga terasa semakin menegang dan ngilu tak terkira.

“Bageur teuing, uuih.. legit tenan nih tetek, padetnya enggak tahan euy! Banyak nyimpen susu ya, neng, kalo diperes kencengan dikit bisa keluar enggak? Cobain ya..” Dengan sadisnya ustadz Mamat meremas daging penghias dada Murtiasih dengan sangat kencang hingga menyebabkan sang murid meringis dan memekik sambil memohon agar permainan itu tak dilanjutkan secara begitu kasar.

“Aauw.. jangan keras-keras dong! Aaohhh.. aauww.. pak, ngilu! Pelan-pelan dong! Asih enggak mau disakitin, pak! Udah.. sakiit! Aaah..” Murtiasih kini berusaha menolak kepala sang ustadz yang masih nangkring bergantian di kedua payudara montoknya.

Tentu saja mana mau ustadz Mamat menghentikan kegiatan yang amat mengasyikkan itu, protes korbannya justru semakin meningkatkan nafsu birahinya. Setelah meninggalkan begitu banyaknya bercak merah di leher serta buah dada mangsanya, kini mulutnya mulai mengembara ke arah perut Murtiasih, lalu menyusur ke pinggang kiri kanan, mengecup menjilat-jilat disitu, sebelum kemudian kembali ke tengah untuk menjilat pusar. Semuanya menyebabkan gadis alim ini menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan.

“Gelii.. lepasin.. udah, pak! Gelii.. aahhh.. lepasin Asih, pak!!” jerit Murtiasih sambil menggeliat dan berusaha menggeser tubuhnya ke kiri ke kanan, namun tetap ditindih oleh sang ustadz.

“Diem, Neng! Kan enak dijilatin begini, ampe keringetan gitu.. percuma ngelawan, neng, bentar lagi bapak nyampe kesini nih! Nah, mulai kelihatan tuh gunung tembemnya.. masih tetep gundul, cuma ada rumput jembut alus banget. Dicabutin mau enggak, neng?” ujar ustadz Mamat menggoda.

“Enggak mau! Udah, pak, udaah! Berhenti mainnya.. Asih mau pulang aja! Aaih.. geli, pak! Gelii.. ooh.. ampun!!” Murtiasih yang sangat polos dan lugu tak pernah membayangkan betapa malunya jika bulu kemaluannya dicabuti oleh ustadz Mamat. Padahal ucapan itu hanyalah sekedar untuk menambah sedikit ‘bumbu’ saja dalam perangsangan yang sedang dilakukan oleh ustadz durjana ini. Geliatan geli murid madrasah ini justru dipakai oleh ustadz Mamat untuk menarik celana dalam Murtiasih ke bawah sehingga kini siswi ABG itu telanjang bugil seutuhnya!

Betapa malunya Murtiasih saat itu, jantungnya sangat berdebar berdegup sangat cepat karena menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Jikalau cara berpikir sehatnya masih berfungsi penuh, maka seharusnya Murtiasih akan melawan dan balas mengancam gurunya untuk melaporkan kepada polisi dan setiap orang di desa kediamannya. Namun peristiwa pelecehannya beberapa waktu lalu telah memberikan kesan pengalaman lain terhadap tubuhnya yang masih muda belia. Tubuh seorang gadis meningkat remaja dengan hormon kewanitaan yang masih seolah tidur kini telah tergugah dan bangun serta menagih untuk kembali menguasai dan mengalahkan akal sehat serta rasa malu.

“Ck-ck-ck.. duh, ini badan montok amat! Putih halus lagi.. mana bisa ada yang tahan sama godaan kaya begini? Bapak beruntung banget bisa ketemu dan kenalan ama si neng, ngimpi juga enggak pernah ngebayangin bidadari kaya neng!” menggumam ustadz Mamat sambil mengawasi tubuh si anak baru gede, sementara air liurnya hampir keluar dan jakunnya naik turun.

“Udah ah, pak, kan udah pernah ngeliat badan Asih.. pulangin baju Asih dong, pak, dingin engga pake baju!” demikian protes Murtiasih sambil menarik selimut yang tergeletak di kaki ranjang.

“Ah, masa dingin sih, neng? Tuh badannya mengkilat keluar keringat.. tapi iya deh kalo kedinginan, sini bapak kelonin dan dibikin anget lagi! Hmm, bapak bakal mulai olahraga di ranjang manasin badan neng.. uuhhm..” Ciuman ustadz Mamat kembali menghujani permukaan tubuh Murtiasih, terutama di bagian-bagian vitalnya, berpusat di pusar dan menurun ke bawah.

“Mau ngapain sih, pak? Udah ah.. oohh, pak!” Kembali Murtiasih dilanda rasa geli serta malu karena gurunya mengendus-endus perut bawahnya bagaikan seekor anjing mencari makanan.

Selain mengendus dan mencium perut datar muridnya, ustadz Mamat juga merenggangkan belahan paha Murtiasih sambil meraba dan mengelus betis serta bagian dalam pahanya yang amat putih mulus. Kumis ustadz Mamat yang menghiasi bagian atas bibirnya terasa menggelitik kulit perut Murtiasih, demikian pula jenggotnya yang bagaikan kambing gunung karena telah beberapa minggu tak dicukur, menyapu-nyapu di bawah pusar dan semakin mendekati bukit Venus dengan belahan lembah terhias bulu halus sangat rapih milik Murtiasih.

“Hhmh.. geli enak ya, neng, diciumin kayak gini? Sshhh.. keringat si neng aja wangi, apalagi air itunya! Aaah.. bapak jadi kangen lagi, bapak mau kesitu lagi ah.. kita maen sama-sama ya, neng? Sini bapak ajarin,” ustadz Mamat kembali merubah posisi badannya dengan membalikkan diri menyamping sambil mendekatkan penisnya ke arah wajah Murtiasih. Rupanya ustadz Mamat menginginkan agar Murtiasih juga memanjakan si otongnya sekaligus ia akan melakukan perantauan di bukit kemaluan si siswi ABG yang memiliki celah surgawi di bagian tengahnya itu.

Mula-mula Murtiasih melengoskan kepalanya ke samping dengan pipi merah merona karena malu melihat kejantanan gurunya yang mengangguk-angguk meminta pelayanan itu. Karena itu ustadz Mamat mengambil lagi inisiatif dengan harapan bahwa kalau diberikan bimbingan dan contoh, maka sang murid yang lugu namun telah terbangun instingnya sebagai wanita dewasa ini bersedia mengikuti jejak perbuatan terlarang antara dua manusia berbeda jauh usia dan kedudukan itu.

“Nih, bapak mulai dengan mencari air madu yang tersembunyi di lembah.. si neng juga mulai kulum juga tuh pisang ambon bapak. Si neng pasti doyan dan sering makan pisang kan? Ini pisang spesial, neng, jangan malu-malu. Enggak ada yang lihat. Ayo mulai dikulum.. bapak mulai disini, cupp.. sssh..” ustadz Mamat mengendus, menciumi dan menjilati tebing lembah yang tertutup rambut halus itu.

Murtiasih merasa sangat malu dan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia saja karena tenaga tangan ustadz Mamat lebih kuat. Laki-laki itu kini memaksanya untuk mengangkang semaksimal mungkin.

Tak tahan melihat betapa indahnya belahan memek Murtiasih, maka lidah ustadz durjana itu mulai menjarah menerobos masuk. Pertama pinggiran bibir kemaluan Murtiasih yang merekah bagaikan bunga ia kecupi sebelum lidah panas dan kasap itu menyelinap menjilati dinding vagina Murtiasih yang kemerahan.

Rasa geli terasa oleh Murtiasih ketika lidah sang guru menjalar di bagian intimnya disertai desis ustadz Mamat yang bagaikan ular mencari mangsanya. Kegelian itu mulai membangunkan hasrat Murtiasih untuk juga melakukan perbuatan yang setimpal, seolah ingin menjawab atau bahkan membalas ulah gurunya itu.

Tangan mungil Murtiasih yang sementara masih agak ragu menyentuh kemaluan sang guru, namun gerakan anggukan yang dirasakannya menimbulkan rasa ingin tahu, maka direngkuhnya dengan jari lentiknya penis ustadz Mamat. Sejenak terbersit keraguan untuk meneruskan, namun kalah oleh bujukan sang iblis durjana di telinganya.

Sementara itu, Ustadz Mamat semakin meningkatkan aksinya dengan menyapu dan menjilat dinding serta bibir kemaluan Murtiasih. Ia memancing dan merangsang keluarnya lendir pemulas yang akan dihirupnya sampai habis tak bersisa!

“Wuih.. mulai enak kerangsang ya, neng? Basah lengket amat nih memek.. wah, tuh sampe keluar madunya! Iyah, gitu.. pinter si neng! Iyah, diremes gitu barang bapak.. pegang yang keras, neng! Iyah, sip banget! Oooh.. sepongin ya, neng, tapi jangan digigit, aaah..” ujar ustadz Mamat keenakan ketika merasakan jari-jari tangan Murtiasih menggenggam batang penisnya.

Bagaikan terkena sihir, Murtiasih mengawasi kejantanan dalam genggamannya itu. tak berkedip ia memperhatikan betapa tegar dan kerasnya kepala jamur yang beberapa waktu lalu pernah menembus kegadisannya. Dengan agak gemetar Murtiasih menatap kepala penis disunat berbentuk jamur warna coklat kehitaman milik ustadz Mamat yang dihiasi celah sempit di tengahnya, agak terbuka mirip mulut ikan. Ragu Murtiasih menyentuhnya dengan ujung lidah.

“Aiih.. iyah gitu, neng! Oooh.. aduh, pinternya nih murid bapak! Juara luar biasa, benar-benar bakat alam! Jilatin ya, neng? Nih bapak kasih hadiah lagi, sluurp.. cupp.. aaah.. ssshh..” ustadz Mamat semakin menggila menjilati dan menggelitik liang kegadisan Murtiasih.

Kedua manusia yang seharusnya mematuhi perbedaan derajat mereka di masyarakat itu sudah sepenuhnya menjadi budak iblis. Mereka melupakan segalanya, bergumul dan bergulat, berpagutan dalam posisi 69. Ustadz Mamat dengan rakus menjarah memek Murtiasih, menghirup air madu dinding vagina, sedangkan Murtiasih tak kalah serunya mengulum, menyepong, menghisap penis gurunya. Suara tertawa kegelian tercampur cekikikan genit mengiringi jilatan ujung lidah yang memasuki belahan liang kencing sang guru, sementara ustadz Mamat dengan tak sabar mencari kelentit muridnya.

“Uuuh.. ngumpet dimana tuh daging itil? Jangan nakal ya pake ngumpet segala.. awas ntar ketemu, digewel digigit ama bapak! Oooh.. neng makin jago nyepongnya! Iyah, sekalian pijit-pijit biji pelernya, neng. Wiuuh, enak tenan! Enggak tahan lagi bapak hampir nyampe!!” ceracau ustadz Mamat tak karuan sambil memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan Murtiasih terkadang tersedak karena kepala penis yang semakin dalam masuk menyentuh langit-langit mulutnya.

“Uuegkk.. ueegk.. pelan-pelan dong, pak! Sssh.. shhh.. sslurrp!!” Murtiasih berusaha sejauh mungkin mengimbangi kegiatan tak senonoh gurunya. Jari-jari langsing yang biasa memegang alat tulis kini menggenggam batang pentungan daging ustadz Mamat, dan mulai menggerakkannya naik-turun, mengocok-ngocok, sementara lidahnya menjilat-jilat menimbulkan bunyi berkecipak.

“Ahh.. akhirnya ketemu juga daging yang dicari, mmhh.. bapak gigit-gigit ya, neng? Uummh.. lalu jilat.. gigit lagi.. sssh.. enak kan, neng?” bibir dower ustadz Mamat menjepit gemas kelentit Asih.

Jepitan bibir itu ibarat jutaan watt listrik yang menyetrum tubuh elok Murtiasih sehingga ia pun mengejang dan melengkung, jari-jarinya menggenggam kuat-kuat penis ustadz Mamat sambil disedot dan dihisapnya rakus. Perlakuan Murtiasih di penisnya itu membuat guru cabul itu pun meledak menyemburkan pejuhnya!

“Duuhh… shhh.. aaah.. enak tenan, neng! Enggak nyangka gitu pinternya si eneng, oooh.. bapak nyemprot! Aahh.. isep, minum semua ya, neng?!” ustadz Mamat menggeram sambil memeluk pinggul muridnya yang kecil tapi padat bahenol itu.

Sekuat tenaga ditahannya liuk-liukan, goyangan dan hentakan orgasme Murtiasih, ditekannya mulut serta hidungnya di bukit kemaluan gadis itu yang telah basah kuyup oleh air mazi, sebelum kemudian dikecup dihisapnya kelentit Murtiasih yang sedemikian peka hingga membuat si gadis berusaha mati-matian menelan lahar gurunya itu.

Setelah beberapa menit mengalami orgasme secara bersama-sama, akhirnya ustadz Mamat mengubah kembali posisi tubuhnya. Dengan merebahkan diri di samping muridnya, ditatapnya wajah Murtiasih yang telah berubah dari siswi alim shalihah menjadi wanita muda dengan di sudut mulut setengah terbuka mengalir sisa-sisa air mani. Betapa ayu cantik wajah muridnya itu yang merah merona akibat pergulatan dan orgasme yang baru dialami, hidung nan bangir mancung masih berkembang kempis, bukit di dada Murtiasih dengan puting menggemaskan masih turun-naik seirama tarikan napasnya yang memburu.

Ustadz Mamat mengecup bibir yang setengah terbuka itu, tercium aroma spermanya sendiri tercampur ludah Murtiasih yang harum – yang mana itu kembali membangkitkan nafsu birahinya dengan sangat cepat. Kemaluannya mulai dirasakannya menegang, biji pelirnya dirasakan kembali memberat, dan dari belahan di ujung kepala si ‘Ujang’ yang masih mengkilat mengangguk-angguk itu terlihat tetesan air mazinya.

“Hehehe.. lemes nikmat ya, neng? Ini belum apa-apa, sekarang bapak mau nerusin senam ranjang ama neng!” Seringai mesum ustadz Mamat kembali menghiasi wajahnya, sedangkan jari-jarinya telah mulai menjalar kembali mengusap-usap buah dada Murtiasih, juga meraba paha serta selangkangannya.

“Udah dong, pak! Asih udah capek nih.. iya enak, tapi Asih jadi lemes! Ntar susah bangun.. udahan ah, pak, lain kali aja nerusin maennya!!” jawab Murtiasih sambil berusaha mencegah keinginannya sendiri.

“Ahh.. masa udah berhenti, kan kita baru mulai maen? Enggak enak dong macet di tengah jalan.. kalo diterusin pasti makin sip. Sini bapak ajarin lagi,” sahut ustadz Mamat sambil menggesot dan kini menindih kembali tubuh muridnya yang masih penuh keringat.

Murtiasih hanya dapat mengeluh lemah agak susah bernafas ketika tubuhnya kembali ditindih di guru cabul, kedua lengannya direntangkan terbuka ke samping dan dirasakannya kembali ciuman dan cupangan ganas di kulit ketiaknya. Rasa geli menyebabkannya menggeliat kesana-sini sambil mendesah lirih.

“Geli, pak.. jangan digelitikin lagi! Aah.. gelii, udah dong! Asih capek.. aaiih.. udah, pak, Asih lemes.. Lepasin, emmpffhh!!” Teredam protes Murtiasih ketika mulutnya dibekap oleh bibir ustadz Mamat.

Kedua lutut pemimpin madrasah itu menekan lutut Murtiasih sehingga terpentang lebar, kejantanannya yang telah mengeras kembali segera menggesek-gesek di selangkangan yang masih basah oleh lendir kewanitaan itu, mencari kesempitan licin di kesempatan sempit. Karena tak langsung menemukan jalan masuk ke dalam liang yang dicarinya, maka ustadz Mamat menggelusur ke bawah tanpa mempedulikan rengekan Murtiasih, lalu berlutut diantara belahan paha muridnya.

Dikaitkannya lutut Murtiasih di atas bahunya sehingga vagina mungil berambut halus itu jadi sedikit terbuka, menampakkan dindingnya yang merah mengkilat. Dengan memajukan dan membungkukkan diri ke depan, maka ustadz Mamat yang masih berlutut berhasil menekuk tubuh Murtiasih sejauh mungkin sehingga paha mulusnya hampir menyentuh puting buah dadanya.

Dalam posisi seperti ini maka siaplah dosen yang telah dirasuki iblis itu untuk melakukan persetubuhan terlarang dengan muris asuhannya. Kepala penisnya yang tegang bagai pentungan kini menyelinap diantara bibir memek Murtiasih, menggesek-gesek seolah menggoda sebelum masuk. Murtiasih menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri-kanan bagaikan tak setuju dengan tindakan sang ustadz, namun celah diantara lembah Venus-nya telah terasa panas, geli, dan sedikit gatal seolah meminta untuk digaruk.

“Aduh.. pelan-pelan dong, pak! Nyeri.. ohh.. sakit!! Aah.. aihh.. cabut lagi, pak! Tolong.. ampun.. sakit! Udah, pak!” Murtiasih membuka matanya yang kuyu berlinang menatap sang pejantan ketika dirasakan bagian intimnya dibelah oleh daging rudal besar.

“Iya, bapak kan sayang Asih.. nih maennya udah pelan begini, masa iya sih masih sakit? Bapak masukin lagi sedikit.. ini pasti gara-gara memeknya si neng yang emang kekecilan, jadinya sakit begini. Tapi enggak apa-apa, pasti muat kok! Dijamin puas.. uuh, sempitnya! Bapak mesti kerja keras lagi nih,” celoteh ustadz Mamat tanpa memperdulikan rengekan gadis yang ditindihnya sambil mendorong batangnya kembali.

Kini kedua tangan ustadz Mamat merangkuh dari arah kiri kanan lutut Murtiasih yang tergantung di bahu, jari-jarinya ikut membantu merentangkan bibir kemaluan Murtiasih ke samping sehingga tampaklah biji klitoris yang sebelumnya terselip tersembunyi di lipatan bibir bagian atas. Tonjolan daging yang mulai memerah itu kini dijadikan sasaran telunjuk dan ibu jari kasar ustadz Mamat.

“Aaih.. gelii.. ngilu.. auw! Tolong, pak, jangan dipelintir lagi itunya.. Asih enggak tahan! Geli.. udah, pak! Sshh.. oohh..” Murtiasih menggelinjang meronta-ronta karena memang klitorisnya masih sangat peka akibat ulah jilatan ustadz Mamat yang menyebabkan ia klimaks tadi. Kini bagian tubuh terpeka itu kembali dijadikan bulan-bulanan usapan jari tangan yang membuatnya menceracau mendesis tak karuan.

“Iya, betul begitu, neng! Enak tenan.. ayo goyang-goyang pantatnya, neng! Oohh.. nih memek mulai ngedut-ngedut mijit-mijit! Uuh, siapa tahan ngadepin godaan kayak begini? Cakep banget si eneng kalau meringis-ringis gitu.. kita bikin anak yang cakep mau enggak, neng?” ustadz Mamat semakin lupa daratan dan mulai menggenjot dengan meningkatkan gerakan maju-mundurnya.

“Jangan, pak! Jangan.. Asih enggak mau hamil! Jangan! Buang di luar, pak! Ooh.. kasihani Asih, pak. Asih enggak mau hamil.. hiks-hiks-hiks,” Murtiasih menangis terisak sejadi-jadinya, mengingat memang saat ini ada kemungkinan dirinya di tengah masa subur.

Pada saat itu muncullah kembali iblis di samping telinga ustadz Mamat sambil membisikkan sesuatu, selain itu digunakannya kemampuan mempengaruhi panca indera ustadz murtad itu, dan memang betul : wajah Murtiasih berubah selang-seling menjadi wajah istrinya sendiri : Aida!

Agak terkejut ustadz Mamat melihat pergantian gonta-ganti wajah wanita yang sedang digarapnya akibat pengaruh iblis, namun ia melihat bahwa wajah Aida pun sebenarnya memang cantik juga.

Hanya bedanya wajah Aida seolah sedang mengejeknya dan menanyakan apakah sampai disitu saja kemampuannya sebagai seorang suami yang sedang menyetubuhi istrinya. Seolah-olah Aida menanyakan bahwa dia sama sekali tidak merasakan adanya kemaluan sedang memasuki alat kelaminnya.

Bagaimana pun usaha ustadz Mamat mempercepat dan menusuk sedalam-dalamnya, namun wajah Aida seolah tak mau menghilang dengan senyum ejekannya, membuat ustadz Mamat jadi semakin gusar dan menghunjamkan alat kejantanannya sejadi-jadinya. Telinganya seolah hanya mendengar ejekan-ejekan Aida yang mencelanya sebagai suami tak mampu memuaskan istrinya sendiri – padahal yang sebenarnya adalah, kamar itu telah dipenuhi oleh jeritan dan rintihan sakit Murtiasih yang tak berdaya diperkosa habis-habisan oleh gurunya sendiri!

Kini sang iblis menunjukkan kembali kemampuannya mempengaruhi manusia lemah seperti ustadz Mamat, dibisikkannya sesuatu di telinga ustadz itu, sesuatu yang memang selama ini tak pernah dilakukannya terhadap istrinya sendiri yaitu Aida. Sesuatu yang pernah muncul di benak ustadz dan dikemukakannya ketika sedang intim dengan istrinya, namun hal ini dianggap tabu oleh Aida dan ditolaknya mentah-mentah. Sang iblis tahu soal ini dan membujuk ustadz cabul untuk melakukannya sekarang.

“Ayo, kapan lagi? Ini kesempatanmu, jangan biarkan istrimu mengejek dan menghinamu sebagai suami yang tak mampu memuaskannya! Ayo hukumlah istrimu supaya ia tahu kamu yang lebih berkuasa!”

Ustadz Mamat tahu apa yang selama ini ditolak mentah-mentah oleh Aida. “Hhm.. memang sudah waktunya aku renggut kegadisanmu yang kedua. Rasakan betapa sakitnya, itulah hukuman yang harus kamu derita karena mengejek dan menghinaku selama persetubuhan ini!”

Demikianlah tekad ustadz Mamat yang mempersiapkan rudal dagingnya memasuki lubang terlarang di celah pantat. Semuanya adalah siasat dan tindakan iblis, sehingga ustadz Mamat tak menyadari bahwa korbannya bukan sang istri sendiri, melainkan murid kesayangannya yang sedang digarapnya kesekian kali.

Tentu saja ustadz Mamat tak mengetahui bahwa istrinya Aida selama ini pun telah menjadi korban pelecehan pak Sobri dan konco-konconya, bahkan apa yang selama ini dipertahankannya terhadap keinginan suaminya telah direnggut paksa olek pak Sobri. (baca kisah Aida sebelumnya).

Dengan tetap menatap wajah cantik dihadapannya yang seolah-olah terus mengejek-mencemooh, tanpa ragu lagi ustadz Mamat mencabut penisnya yang gagah perkasa dari vagina korbannya, dan meludahinya beberapa kali meskipun telah sangat licin oleh air lendir vagina Murtiasih. Ia juga meludahi lubang kecil kemerahan yang berkerut-berkedut membuka menutup bagaikan sekuntum bunga di bokong Murtiasih.

Murtiasih menarik nafas lega karena penis ustadz Mamat yang menghunjam menyakitinya tiada henti mendadak ditarik keluar, ia merasa sangat bersyukur bahwa gurunya mau mendengarkan permohonannya agar tak menghamilinya. Tak diduganya sama sekali bahwa iblis ternyata menuntun guru durjana itu melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Kecurigaan Murtiasih baru muncul ketika dirasakannya kepala penis yang beberapa detik lalu menghunjam rahimnya, kini mulai menyentuh lubang duburnya. Langsung saja otot-otot lingkar yang amat kuat berkontraksi untuk mencegah benda asing itu menembus masuk, dan kuku-kuku Murtiasih mencakar dada ustadz Mamat.

Namun ustadz Mamat betul-betul sudah kesetanan, tenaganya bagaikan berlipat ganda, demikian pula alat kejantanannya yang semakin kaku membesar siap menggempur menembus otot-otot anus.

“Aah.. auww! S-sakit, pak! Tolong.. perih.. jangan diterusin! Kumohon, lepaskan.. ampun.. jangan masuk disitu.. sakiit!!” lolong Murtiasih yang jeritannya memenuhi kamar tidur, dan pada saat itu barulah ustadz Mamat tersadar. Tapi sang iblis segera menunjukkan muslihatnya dan membisikkan ke telinga Mamat bahwa tindakan itu tak akan menyebabkan Murtiasih hamil, sehingga semua perbuatan maksiatnya tak akan berbenih.

Bagaikan mengalami hipnotis, ustadz Mamat berhenti sebentar dengan perbuatannya, kepala penis kebanggaannya baru saja menembus gerbang anus Murtiasih, dilihatnya Murtiasih mencakari dadanya sambil menangis terisak-isak kesakitan, air matanya membasahi pipinya yang halus.

Apa yang sudah terjadi tak mungkin dibatalkan. Sudah kepalang basah, lebih baik mandi sekalian. Dan memang betul juga, jika aku tak membanjiri rahim muridku maka ia tak akan hamil, pikir si ustadz.

Maka segera dicekalnya kedua pergelangan tangan Murtiasih yang sedang mencakari dadanya penuh rasa putus asa, lalu ditekannya di samping wajah ayu gadis itu sambil berbisik, “Tahan sedikit, neng. Ini supaya neng tidak hamil. Mulanya memang akan terasa ngilu dan sakit, tapi selanjutnya akan hilang. Bapak janji bakal pelan-pelan maennya. Percayalah, bapak sayang sama Asih. Jangan dilawan ya, neng, ntar malah tambah sakit. Rileks supaya bapak bisa masuk,”

Sambil berusaha menghibur, ustadz Mamat menekan semakin dalam, tambah dalam, dan akhirnya… “Aduuh.. auw! Pelan-pelan, pak.. tetep sakit! Asih enggak kuat, ooh.. Asih enggak tahan, sakit sekali.. bapak jahat! Sadis amat sama Asih,”

Murtiasih merasakan anusnya perih dan panas bagaikan disayat dan dibelah oleh kayu menyala. Perlahan-lahan jeritannya semakin melemah dan berubah menjadi desahan dan rintihan memilukan. Ustadz Mamat kini mulai bergerak keluar-masuk di anus muridnya yang terasa begitu sempit, dan karena dilihatnya Murtiasih sudah sedemikian lemah dan pasrah tak sanggup melawan, maka nadi yang dicekalnya kini ia lepaskan.

Telunjuk dan ibu jari ustadz Mamat ganti menyelinap kembali diantara bibir kemaluan muridnya, pelan ia mengusap dan memilin-milin kelentit Murtiasih, menyebabkan sensasi baru menerpa tubuh gadis muda yang hanya sanggup menghentak-hentak lemah dan memukul-mukulkan tumitnya dengan sia-sia di punggung ustadz Mamat.

“Iyah gitu, pinter banget! Rileks ya, neng.. nih bapak bantuin supaya lebih enak! Bagus amat kelentitnya, neng, bapak geregetan jadinya. Diusap-usap supaya lebih mantap ya, neng?” Demikianlah suara dosen cabul itu terdengar sayup-sayup di telinga Murtiasih.

Tubuhnya yang telanjang bulat penuh keringat kini bergetar akibat menahan gelombang sensasi yang begitu menyiksa, geli nikmat tak tertahan karena klitorisnya terus-menerus dirangsang, bercampur dengan ngilu-perih-sakit di anus yang baru saja ditembus beberapa menit lalu. Semuanya terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh tubuh Murtiasih, hingga akibatnya jutaan bintang meledak di ujung syaraf serta di hadapan mata gadis alim salihah itu. Jutaan volt tegangan listrik juga menyerang dan menyebabkan jeritan orgasme terakhir keluar dari mulutnya. Otot-otot lingkar di anus Murtiasih menegang dan meremas penis ustadz Mamat yang tengah menyiksanya sehingga sang ustadz pun tak sanggup lagi menahan gelora lahar biji pelirnya!

“Aaah.. bapak moncrot nih! Duh nikmatnya.. iya, pijit terus kontol bapak, neng! Oooh.. pinternya nih murid. Dikawinin jadi istri muda bapak, mau neng?” ustadz Mamat menyemburkan spermanya secara bergelombang ke dalam anus Murtiasih sebelum akhirnya kedua insan yang berbeda usia dan kedudukan di masyarakat itu ambruk berpelukan.

Di bawah selimut keduanya tidur menyamping berpagutan. Ustadz Mamat memeluk tubuh siswi muridnya yang mungil langsing membelakanginya. Dirasakannya getaran lemah Murtiasih yang rupanya masih menangis terisak-isak. Saat ini pengaruh iblis agak berkurang dan ada perasaan sedikit menyesal pada diri ustadz Mamat karena menyadari telah melakukan perbuatan yang tak senonoh – merenggut keperawanan Murtiasih yang kedua dan itu pasti lebih sakit daripada yang pertama.

Ustadz Mamat mengelus menciumi pundak dan punggung Murtiasih dengan lembut, dibelainya penuh rasa sayang, berbeda dengan kelakukannya beberapa menit lalu. Dengan suara berbisik ia menyatakan bahwa tak ada maksudnya sama sekali untuk menyakiti muridnya itu. Perlahan-lahan Murtiasih yang memang berbudi sangat halus itu membalikkan tubuhnya dan dengan berlinangan air mata ia menatap gurunya. Keduanya bagaikan sadar dan kembali ke dalam dunia nyat.

Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Murtiasih kini telah mengenal dunia terlarang dan dirinya telah ternoda, namun di samping itu ia telah mengalami transformasi menjadi dewasa.

Ia dapat memilih untuk melaporkan semuanya kepada pihak berwajib dan konsekuensinya adalah publikasi di koran serta majalah yang mencari sensasi. Bukan saja namanya sendiri tercemar tapi juga nama keluarga serta madrasah yang baru saja dibuka. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menjadikan semuanya menjadi resmi : ia dapat mengancam gurunya untuk menjadikannya sebagai istri kedua setelah Aida, namun apakah Aida akan mau menerima dirinya dimadu? Adakah jalan yang lebih baik bagi keduanya?

Tanpa disadari oleh ustadz Mamat, akibat pengaruh iblis telah membangunkan naluri hewaniah wanita muda dewasa di pori-pori kulit dan ujung-ujung syaraf Murtiasih. Dunia baru penuh dengan campuran sakit namun nikmat tak terkira telah dicipi oleh Murtiasih – dan itu diawal mula menimbulkan penyesalan, namun di balik itu juga ada keinginan untuk mengalami kembali. Apakah tak ada jalan keluar yang terbaik untuk kedua insan itu?

Satu jam kemudian, Murtiasih, Rofikah, Sumirah, ustadz Mamat serta pak Jamal, pulang kembali ke asrama madrasah mereka. Sementara pak Fikri tetap bermalam di rumahnya yang terpencil dan menjadi saksi bisu dari semua perbuatan maksiat yang baru saja mereka lakukan.

TAMAT EPISODE MURTIASIH & USTADZ MAMAT

LIA

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

cccsd

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

dsdac

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

sn_

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

vsdv

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 6

Perselingkuhan Aida dan Pak Sobri

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja menggarap Aida – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta? Ooh, masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menikmati Aida dengan cara lain dan menjadikannya budak sex yang patuh 100%

ANNISA ISLAMIYAH (11)

***

Keadaan kesehatan Ubaidillah yang dirawat di RS hanya menunjukkan perbaikan sedikit sekali. Uang yang diperoleh dari pak Sobri telah terpakai untuk segala macam pemeriksaan, perawatan, obat-obatan, dan juga honorarium dari para dokter spesialis. Sementara itu Ustadz Mamat serta adik iparnya, Farah, tetap belum memperoleh pamasukan yang pasti.

Secara sepintas terdengar jumlah uang tiga juta yang diperoleh Aida dari pak Sobri memang banyak, namun dengan kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah biaya RS, maka punahlah semuanya bagaikan tetesan air di kuali panas yang langsung menguap di udara. Demi mengusahakan agar dapur tetap berasap, maka Ustadz Mamat terpaksa sering bekerja di sebuah madrasah di kota kecil lain yang cukup jauh sehingga tak jarang harus menginap satu dua malam meninggalkan rumahnya.

Demikian pula dengan Farah yang karangannya belum juga dimuat dan telah mengalami pelecehan oleh pak Burhan, berusaha melupakan pengalaman gelapnya itu dengan bekerja sebagai guru agama di Sekolah Rakyat di sebuah desa yang berjauhan dengan rumahnya. Dengan demikian maka Aida semakin sering tinggal seorang diri di rumahnya – dan hal ini tentu saja tak luput dari pengamatan para lelaki di desa itu. Salah satu lelaki yang mengamati bagaimana keadaan Aida adalah seorang duda pemilik warung serba ada kecil-kecilan di desa itu : Fadillah.

Fadillah telah berusia masuk lima puluh tujuh, bertubuh sangat kekar dan wajah sangat bengis, jarang tertawa terkecuali jika ada langganan yang datang untuk membeli seorang wanita muda. Fadillah yang sehari-hari disebut Fadil itu pernah bekerja sebagai buruh kuli harian, dan kebetulan dahulu menjadi kuli bangunan pada saat rumah pak Sobri dibangun. Dimasa menjadi kuli borongan itulah, Fadil yang memang berjiwa maksiat, pernah mencuri bahan bangunan dan berusaha menjualnya di pasar gelap.

Akibatnya Fadil ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara – namun karena istri Fadil almarhum merasa kasihan terhadap suaminya, maka ia meminta tolong kebijaksanaan kepada pak Sobri yang banyak mengenal pihak polisi. Istri Fadil bernama Subiati memang cukup cantik sehingga pak Sobri bersedia menolongnya, namun tentu saja tidak dengan gratis, melainkan menjebak Subiati ke rumahnya untuk dapat digarapnya.

ANNISA ISLAMIYAH (10)

Subiati sebagai istri alim shalihah tak dapat sembuh kembali dari tekanan jiwa akibat perkosaan yang dialami, sehingga menderita tekanan batin dan semakin kurus akibat mengidap sakit paru-paru. Perempuan itu akhirnya meninggal mendahului suaminya, Fadillah, yang sejak saat itu hidup menduda.

Setelah ditinggal mati sang istri, Fadillah menjadi kaki tangan pak Sobri, terutama di dalam hal mencarikan ‘daun muda” di desa, karena Fadillah faham sekali apa kegemeran dan kesenangan pak Sobri.

Oleh karena itulah Fadillah mendapat perintah dari pak Sobri agar memperhatikan bagaimana kehidupan Aida setelah berhasil digarap olehnya, terutama pada saat berbelanja keperluan dapur di kedai milik Fadillah yang sejak awal mula didirikan dengan modal dari pak Sobri.

Tentu saja Fadillah harus menahan nafsunya sendiri melihat istri Ustadz yang seronok behenol setiap kali membeli beras, minyak dan bumbu-bumbu masak lainnya. Fadillah berusaha ramah-tamah dan menanyakan bagaimana keadaan Ustadz Mamat yang semakin lama semakin jarang muncul sendiri di warung itu.

Semula agak segan Aida menceritakan keadaan keluarganya, keadaan ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, kegiatan yang dilakukan suaminya mencari nafkah. Namun karena Fadillah yang memang diberikan perintah oleh pak Sobri untuk menjebak Aida semakin sering memberikan potongan harga dan menjual barang keperluan sehari-hari jauh di bawah harga pasaran biasa , maka Aida tanpa disadari mulai terhanyut oleh ’kebaikan hati’ laki-laki itu.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, maka Fadillah telah memperoleh banyak informasi dari Aida yang polos dan lugu, bahwa biasanya di hari Senin dan Kamis, Ustadz Mamat mempunyai tugas mengajar para siswi di madrasah yang terletak cukup jauh dari desa. Informasi berharga ini disampaikan kepada pak Sobri yang memang selalu mencari kesempatan untuk menggauli kembali wanita alim idamannya itu. Apalagi memasuki musim hujan, maka hubungan antar desa semakin sukar sehingga Ustadz Mamat lebih sering terpaksa bermalam di madrasah setelah usai tugas mengajarnya itu – meninggalkan istrinya Aida seorang diri di rumah.

***

Setelah makan siang bersama, kembali Ustadz Mamat meninggalkan Aida, istrinya, untuk balik mengajar ke madrasah tempatnya bekerja. Ia memberitahu Aida bahwa karena banyaknya tugas, maka ia akan bermalam di asrama madrasah selama dua hari.

Secara naluri, Aida merasakan adanya perbedaan kelakuan suaminya sejak mempunyai pekerjaan di madrasah baru yang terletak di desa lain itu. Aida merasakan bahwa suaminya tidak lagi menunjukkan kegairahan di saat menggaulinya sebagaimana lazimnya seorang suami dengan istri yang masih berusia muda. Tak banyak dilakukan oleh Ustadz Mamat untuk mencumbu merayu sang istri sebelum sanggama, dan sesudah itupun, Ustadz Mamat langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain dan mendengkur.

Aida yang baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal setelah menderita stroke, ikut acuh pula terhadap sang suami. Dalam suasana kesedihan itulah, Aida merasakan tak adanya seseorang yang dapat menghibur dirinya; ketiga adik perempuannya semakin sibuk dengan tugas dan kuliah masing masing. Bahkan tak pernah diduganya bahwa Farah telah menjadi korban pelecehan pak Burhan dan kini menjadi guru di sekolah agama sehingga hanya sekali dua kali sebulan mengunjunginya.

ANNISA ISLAMIYAH (9)

Ada dugaan di dalam hati kecil Aida bahwa Ustadz Mamat, suaminya, mungkin menyeleweng dengan wanita lain; mungkin dengan salah seorang siswi muridnya sendiri. Namun dengan segera dihapusnya rasa syak wasangka itu. Semua siswi madrasah pasti alim shalihah, mana mungkin mau untuk menjadi sasaran nafsu gurunya sendiri? Demikianlah cara berpikir Aida yang amat lugu dan naif.

Selain itu Aida menyimpan pula sebuah rahasia dan rasa bersalah karena telah menjadi korban pak Sobri. Semuanya menyebabkan Aida semakin merasakan dirinya sendiri kurang berharga dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk memulihkan segalanya seperti awal semula.

Semua suasana yang kurang menguntungkan itu tentu saja tidak luput dari pengawasan iblis yang memakai ‘anak buah’nya yaitu Fadillah, si pemilik warung dimana Aida selalu belanja.

Setelah suaminya kembali ke tempat kerja di madrasah, maka Aida bergegas membeli keperluan mandi di warung langganannya itu, dan karena kebetulan sepi maka mereka ngobrol sebentar. Dari hasil obrolan itulah Fadillah mengetahui bahwa Ustadz Mamat akan absen selama dua hari, artinya Aida hanya seorang diri di rumahnya karena ketiga adik wanitanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fadillah yang tahu bagaimana keadaan Aida, segera melapor kepada majikannya yaitu pak Sobri. Dengan seksama pak Sobri mendengarkan laporan Fadillah, dan paham inilah kesempatannya untuk menikmati istri Ustadz yang selalu dirindukannya sejak digarap tempo hari.

Fadillah memberitahukan pula kepada pak Sobri bahwa Aida meminta bantuannya mendirikan tiang jemuran di halaman belakang serta memperbaiki grendel pintu belakang yang hampir terlepas. Aida telah bosan meminta suaminya membetulkan kedua hal sepele itu, namun entah memang sengaja atau tidak, selalu dilupakan oleh Ustadz Mamat. Fadillah berjanji akan datang setelah menutup warungnya di sore hari.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikian pikir pak Sobri yang memang mencari akal untuk dapat masuk ke rumah Aida. Setelah berhasil menipunya tempo hari, maka kemungkinan besar Aida tak akan mau membukakan pintu jika pak Sobri yang datang sendirian. Fadillah akan dijadikannya sebagai umpan pemancing; pada saat Fadillah membetulkan tiang jemuran itu, maka pak Sobri akan coba menyelinap masuk. Semuanya harus diatur sedemikian rupa waktunya sehingga bisa berjalan lancar.

Pak Sobri bertekad kali ini akan menggarap dan menaklukkan Aida untuk dijadikan budak seks-nya, sehingga di masa depan Aida akan selalu ‘ketagihan’ dan bersedia menerimanya tanpa bantuan serta akal bulus siapapun.

Fadillah juga tidak sebodoh yang diperkirakan pak Sobri. Untuk ‘jasanya’ menjadi umpan pemancing kali ini, maka diajukannya persyaratan bahwa ia harus diberi kesempatan untuk ikut menikmati tubuh Aida yang sudah lama dilahap matanya saat belanja di warung.

Setelah menimbang semua untung ruginya, akhirnya pak Sobri menyetujui keinginan Fadillah – saat itulah iblis menyeringai lebar penuh kepuasan karena dua manusia itu akhirnya jatuh ke dalam jebakannya!!!

Pak Sobri menjanjikan kepada Fadillah untuk boleh menikmati tubuh Aida, namun harus tunggu giliran. Fadillah diberikan petunjuk untuk merejang kedua tangan Aida, kemudian jika perlu diikatnya di ujung ranjang, demikian pula kedua pergelangan kakinya jika Aida tetap melawan. Setelah itu Fadillah harus menunggu giliran untuk dapat menikmati mulut serta buah dada Aida, namun kedua lubang di bawah adalah milik pak Sobri.

Fadillah semula menolak dan menuntut agar diberi kesempatan menikmati semua lubang di tubuh Aida, bahkan sedikit mengancam akan mengundurkan diri dan membatalkan bantuannya, hingga akhirnya pak Sobri bersedia bernegosiasi lebih lanjut dan memberikan tawaran bahwa disamping Fadillah diperkenankan menciumi mulut Aida, ia juga boleh meminta service lainnya. Namun memek Aida tetap menjadi bagian yang tabu bagi Fadillah, ia boleh merangsang sedemikian rupa, namun tak boleh dicoblos – bagian ini adalah hak monopoli pak Sobri.

Selain itu pak Sobri berniat menjarah lubang Aida lainnya yang di waktu pergulatan pertama belum sempat ia nikmati; sebuah lubang yang diyakini pak Sobri belum pernah dijamah oleh Ustadz Mamat, suami Aida, yang di dalam bidang seksual tidak begitu banyak fantasi liar.

Tanpa meneruskan perundingan mereka, sebetulnya Fadillah pun berpikir bahwa jika vagina Aida tidak boleh ia nikmati, mungkin ada lubang lain dimana si otongnya dapat mampir. Itu sama dengan yang diinginkan olek pak Sobri. Sepertinya mereka akan rebutan nanti.

***

Sore itu terasa udara sangat panas menyengat, langit mendung dan beberapa kali terdengar gelegar guntur. Namun hujan yang turun tak begitu lebat, hanya gerimis rintik-rintik saja. Tidak seperti biasanya, Fadillah telah menutup warungnya sekitar jam empat sore, kemudian dengan sepeda motor bekas pemberian pak Sobri, ia melawan rintik hujan menuju rumah Aida yang letaknya di pinggiran desa, agak tersembunyi di balik pelbagai pohon besar.

Di gang kecil tempat tinggal Ustadz Mamat hanya ada tiga rumah lain – yang terletak paling memojok di akhir jalan adalah rumah Aida. Ketika Fadillah membelokkan sepeda motornya memasuki gang itu, dilihatnya bahwa Aida sedang bergegas akan masuk ke rumah tetangganya di ujung jalan, di tangannya membawa botol kecil.

“Eeh, mau pergi kemana, ustazah? Saya kan sore ini mau membetulkan jemuran di belakang rumah,” demikian tanya Fadillah sambil menghentikan sepeda motornya.

“Iya, ini saya mau bawakan minyak tawon ke bu Nur, karena ia barusan jatuh di tepi sumur hingga lututnya memar. Silahkan bapak mulai saja betulkan jemuran dan pegangan pintu belakang, saya tidak lama koq.” jawab Aida dengan nafas agak tersengal dan segera masuk ke rumah bu Nur.

“Baik, ustazah. Saya harus mulai nih karena sudah turun hujan gerimis,” lanjut Fadillah yang merasa dapat kesempatan baik untuk memberitahu pak Sobri yang ternyata secara seksama mengikuti semua adegan itu dari belakang setir mobilnya yang berada di tempat agak jauh.

Ketika Aida telah masuk ke rumah bu Nur, maka Fadillah mengacungkan tangannya ke atas sebagai tanda bahwa pak Sobri agar segera parkir dan meninggalkan mobilnya. Pak Sobri lekas melakukannya. Setelah itu, bagaikan dikejar setan, ia langsung lari secepatnya mengikuti jejak Fadillah yang telah memutari pekarangan rumah Ustadz Mamat dan kini mulai menegakkan jemuran pakaian yang miring itu.

Rupanya Aida lagi mengangkat pakaian di jemuran ketika dia dipanggil oleh bu Nur, sehingga ia bergegas ke dalam mengambil botol minyak tawon dan berlari ke rumah tetangganya itu, tanpa menyadari bahwa pintu belakang rumahnya lupa ia kunci. Akibatnya, kini dengan mudah pak Sobri masuk ke dalam dan bersembunyi di dalam kamar tidur Ustadz Mamat.

Hujan gerimis berubah semakin lebat sehingga tanah menjadi sangat basah. Fadillah dengan mudah dapat menegakkan tiang penyangga jemuran, namun untuk memasang pondasi semen pada saat itu sungguh tidak mungkin. Karena itulah ia memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya membetulkan grendel pintu belakang, dan hal itu ternyata hanya sepele saja; cukup dengan mengencangkan dua sekrup kecil yang berada di pegangan grendel sebelah dalam dan luar, maka sebentar saja grendel itu telah mantap dan tak goyang lagi sedikitpun.

Di saat Fadillah berniat untuk menyimpan lagi segala peralatan yang dibawanya ke tas di bagian belakang sepeda motornya, ternyata Aida telah kembali dan merasa kasihan karena Fadillah basah kuyup. Namun sebagai ustazah yang alim maka tak mungkin ia mengajak Fadillah masuk ke dalam rumah karena saat itu hanya seorang diri, tanpa mengetahui bahwa ‘mahluk buas’ telah berada di dalam kamar tidurnya.

Fadillah pun berpura-pura sama sekali tak berniat masuk dan hanya numpang meneduh sekedarnya di bawah jendela rumah sang Ustadz yang sedikit terbuka. Namun Fadillah telah melihat sebelumnya bahwa jendela itu sangat mudah untuk dicongkel penyangganya dari luar, dengan demikian ia dapat melompat masuk ke dalam rumah tanpa perlu susah payah.

Ketika hujan mulai mereda – namun keadaan sudah gelap sehingga tak mungkin di saat itu untuk Fadillah melanjutkan pekerjaannya, maka ia dengan suara lantang ‘pamit’ pulang kepada Aida dan menjanjikan untuk meneruskan membetulkan jemuran yang miring itu esok hari. Aida setuju dan merasa lega ketika mendengar suara sepeda motor Fadillah menderu sayup-sayup semakin menjauh.

Padahal Fadillah hanya menjalankan motornya beberapa puluh meter, kemudian kembali berhenti dan meneduh di bawah pohon sambil menantikan beberapa saat lagi, dimana di luar sudah sedemikian gelap sehingga tak ada manusia yang melihatnya, barulah ia kembali ke rumah Aida.

Sekitar sepuluh menit setelah suara sepeda motor Fadillah tak terdengar lagi, maka Aida berniat untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah menunaikan tugasnya seharian sebagaimana biasa sebagai ibu rumah tangga, maka Aida merasakan badannya membutuhkan siraman air segar untuk menghapus keringat yang melekat di badan. Sebagaimana biasanya ia selalu menukar pakaian setelah mandi, maka Aida menuju ke kamar tidurnya untuk mengambil pakaian baju kurung sederhana tapi bersih untuk dipakai sehari-hari di rumah. Tanpa curiga sedikit pun Aida membuka pintu kamar tidurnya dan mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam, ketika tubuhnya disergap-dibekap secara tiba-tiba dari belakang.

“Uumpfh.. efpffhhh.. s-siapa?! Aauuffhhh,” Aida menggeliat dan berusaha meronta membebaskan dirinya dari sergapan dan pelukan ketat yang melingkar di pinggangnya.

Dirasakannya bahwa tubuh lelaki yang menyergapnya dari belakang itu sangat kekar serta memiliki tenaga yang jauh berlipat dibandingkan dengan tenaganya sendiri. Selain itu aroma yang keluar dari tubuh penyergapnya sangat khas kelaki-lakian, bau keringat yang tidak keluar dari tubuh suaminya sendiri, namun bau itu pernah dialaminya beberapa bulan lalu. Ditambah lagi dengusan nafas menderu bagaikan banteng murka di tepi telinganya, dengusan penuh nada kejantanan yang didengarnya saat dirinya ditakluki seorang pemerkosa : pak Sobri!

Tanpa disadari Aida merinding, bulu kuduknya berdiri, lututnya melemas, badannya menggigil bagaikan demam : Ya Allah, jangan biarkan hal yang nista ini terulang lagi, demikianlah panjatan doanya.

“Ssh.. tenang aja, neng geulis, kan pernah kenalan sama bapak, pasti udah péngén digenjot lagi. Bapak juga kangeeen banget.. kenapa merinding, neng? Sini bapak bikin badan neng jadi anget,” bisik pak Sobri disertai nafasnya yang berbau rokok semakin menembus lubang hidung mungil Aida.

Tanpa memperdulikan rontaan dan hentakan Aida yang melawan mati-matian nasib yang akan terulang kembali, pak Sobri yang walapun telah cukup usia namun masih sangat tegap dan kuat, menyeret mangsanya perlahan-lahan ke arah ranjang. Sementara tangan kirinya tetap membekap mulut Aida, jari-jari tangan kanan pak Sobri semakin liar menjalar dan menyelinap masuk diantara belahan kebaya yang dipakai istri Ustadz Mamat itu.

ANNISA ISLAMIYAH (8)

Aida berusaha mencakar tangan pak Sobri, namun sang pejantan yang telah kemasukan iblis ini seolah tidak merasakan kuku wanita cantik mangsanya. Dengan sekali putaran dan dorongan, maka pak Sobri berhasil menghempaskan tubuh Aida ke ranjang dan langsung ditindih dengan badannya yang sangat berotot. Bagaikan singa telah menjatuhkan kancil ke tanah, maka pak Sobri semakin ganas menguasai calon korbannya.

Mulutnya kini sepenuhnya menutup rekahan bibir Aida yang ingin berteriak, namun sama sekali tak berdaya. Lidah pak Sobri menerobos dan menjalar ke dalam rongga mulut Aida, membasahi dan mencampuri ludah manis Aida dengan liur kentalnya yang berbau tembakau sangat memualkan dan tak disenangi oleh Aida.

Pada saat itu pintu kamar tidur Aida kembali terkuak dan dari sudut matanya, Aida melihat kemunculan sesosok tubuh yang dikenalnya : Fadillah! Penuh harap Aida menggapai ke arah Fadillah untuk meminta tolong, namun yang dilihat olehnya adalah sinar mata Fadillah berbinar-binar penuh nafsu. Telah beberapa kali Aida menangkap sinar mata liar Fadillah semacam itu di warungnya, namun memang dianggapnya bahwa itu lumrah saja untuk semua lelaki. Namun dalam situasi seperti ini, barulah Aida menyadari bahwa harapannya untuk mendapat bantuan dan pertolongan Fadillah sama sekali sia-sia belaka, bahkan dilihatnya kini Fadillah bergegas melepaskan pakaiannya sendiri!

“Gimana, pak, perlu bantuan?” demikian tanya Fadillah sambil melepaskan celana panjangnya sehingga kini hanya memakai kaos dan celana dalam saja, lalu mendekati pergulatan di ranjang itu.

“Iya, nih cewek masih cukup binal. Mana tali serta lakbannya, Dil ?” demikian tanya pak Sobri diantara ciuman ganasnya di bibir Aida sambil tetap menindih dan menggeluti tubuh yang makin terlihat kemulusan serta putih menggiurkan itu. Sarung kebaya yang selalu sopan ketat menutup tubuh Aida kini telah acak-acakan dan tersingkap akibat ronta mati-matian, menyebabkan dada berbukit kembar, perut datar berpusar menantang, serta paha betis halus bagaikan batu pualam milik Aida menonjol keluar!

Sambil tersenyum lebar penuh kemesuman, Fadillah menghampiri serta kini berdiri di ujung ranjang bagian kepala. Pak Sobri merenggut kasar kebaya dan BH yang dipakai oleh Aida, kemudian sarung penutup pinggul serta auratnya juga ditarik ke bawah, sementara Fadillah merejang merentangkan kedua tangan Aida, lalu diikatnya seerat mungkin ke ujung ranjang, sehingga kini tak dapat mencakar lagi.

“Toloong.. empfh.. sialaan! Bangsat! Bajingan kalian semua! Terkutuk, cepat lepaskan! Atau saya akan teriak panggil polisi.. tol-eummpfh!!” Kali ini teriakan Aida diredam oleh bibir Fadillah yang ternyata tak kalah ganas dan juga sama berbau tak sedap seperti mulut pak Sobri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pak Sobri untuk melepaskan semua pakaiannya. Dalam waktu hanya satu menit, terlihatlah tubuh pak Sobri yang meskipun agak tambun namun tetap berotot dan agak mengkilat dengan keringat akibat pergulatannya dengan Aida. Setelah itu pak Sobri kembali ke ranjang dan menindihi tubuh Aida yang tetap menggeliat meronta-ronta. Sarung yang telah turun melorot ke betis Aida dilepaskannya sama sekali, setelah mana pak Sobri menarik celana dalam kecil warna biru muda, diciuminya bagian tengah cd yang telah nampak lembab itu penuh nafsu.

“Wuih, harumnya nih air madu dari memek… enggak percuma selalu disimpan ya, neng.. udah waktunya ntar disedot ama bapak. Tapi sekarang bapak mau nyusu dulu ah,” celoteh pak Sobri sambil menelusuri bukit kembar di dada Aida; diremas dan dipilin-pilinnya puting yang semakin mengeras itu, kemudian dicaploknya bergantian kiri kanan sambil digigit dan dikenyotnya habis-habisan.

Aida semakin kewalahan menghadapi serangan kedua lelaki durjana ini, mulutnya masih tertutup oleh bibir dan lidah Fadillah yang menyapu langit-langitnya dengan kasar. Bau tak sedap terpaksa harus diterimanya karena liur Fadillah semakin bercampur dengan ludahnya sendiri, dan kini ujung syaraf tubuhnya sebagai wanita dewasa yang agak kurang mendapatkan nafkah batin dari suaminya mulai tergugah akibat rangsangan yang dilancarkan oleh pak Sobri di kedua puting buah dadanya.

Kedua betis langsing Aida yang sedari tadi menghentak menendang-nendang, kini mulai berubah irama; kaki dengan jari-jari amat kecil mungil kemerahan itu menekuk ke dalam mengiringi lekukan gelisah di sendi lutut Aida. Paha mulus yang selama itu berusaha merapat mempertahankan aurat yang tersembunyi di tengahnya, kini mulai agak gemetar dan perlahan-lahan kehilangan tenaga untuk bertahan.

ANNISA ISLAMIYAH (7)

Pak Sobri dengan penuh keahlian telah menempatkan diri diantara kedua paha korbannya, sementara tangannya tetap menyiksa kedua puting bukit kembar kemerahan milik Aida. Bibirnya yang tebal dower merambat turun dari dada ke arah perut, menggelitik pusar melengkung ke dalam perempuan itu, kemudian semakin turun…

Meskipun masih menciumi Aida dengan penuh rasa birahi tak tertahan, namun Fadillah sempat melihat dengan sudut matanya bahwa pak Sobri telah meningkatkan rangsangannya dengan makin mendekati bawah perut Aida. Fadillah merasakan nafsunya sendiri semakin tak tertahan, belahan bibir Aida yang sedemikian hangat menggiurkan, diidamkannya untuk bisa menerima kemaluannya. Betapa seringnya Fadillah mendambakan untuk menikmati tubuh Aida saat melayaninya di warung, kini bidadari idamannya itu telah berada dalam genggamannya : kedua nadi Aida terikat erat di sudut ranjang, mulutnya yang setengah terbuka kini akan dipaksanya mengulum menyepong penisnya.

Fadillah berlutut menempatkan diri di samping kepala Aida yang langsung melengos, namun secara sigap wajah cantik itu dipaksanya kembali menoleh dan kepala kejantanannya yang berbentuk jamur itu segera ditempelkannya ke bibir Aida. Tentu saja Aida menutup mulutnya sekuat tenaga, tapi Fadillah langsung menjepit hidung bangir mancung yang menggemaskan itu sehingga Aida tak dapat bernafas dan terpaksa membuka sedikit mulutnya. Namun bukaan ini belum cukup lebar untuk ditembus pentungan daging yang cukup besar keras dan tegang itu : Fadillah harus sabar!

Sementara itu pak Sobri telah menurunkan wajahnya mendekati bukit Venus kemaluan Aida. Bukit nan lebam hanya dihiasi bulu halus sangat terawat itu menampilkan lembah mungil di tengahnya, sebuah lekukan panjang, dalam dan sempit, sebuah celah yang mengundang untuk dijelajahi. Pak Sobri masih mengingat betapa empuk dan halus dinding celah surgawi itu, betapa lembut denyutan serta pijitan yang dialami kemaluannya ketika akhirnya berhasil membelah celah hangat licin itu.

Aroma kewanitaan yang khas menerpa hidungnya, aroma khas tubuh Aida yang meskipun belum sempat mandi namun justru menampilkan bau alami wanita yang amat membius. Dengan kedua tangan yang kuat berotot, pak Sobri membuka dengan paksa lutut Aida ke samping kiri kanan. Walaupun Aida dengan mati-matian mempertahankan diri, namun tenaganya kalah kuat sehingga kedua lututnya terbuka maksimal dan ditekan ditindih oleh lutut pak Sobri, menyebabkan Aida memekik kesakitan.

Kini terbukalah selangkangan Aida dihadapan mata pak Sobri yang menelan ludahnya beberapa kali, jakunnya turun naik, jari-jari kasar hitam pak Sobri mulai mengelus betis serta paha mulus Aida.

Fadillah menyaksikan kegiatan pak Sobri dari sudut matanya. Karena pak Sobri telah mengalihkan kegiatan jari-jarinya ke bawah tubuh Aida, maka tibalah giliran Fadillah untuk merasakan betapa halus namun kenyal dan padatnya gunung kembar di dada Aida. Tanpa menghentikan ciuman rakusnya yang sangat menjijikkan, mulailah Fadillah meraba dan mengelus bahu mangsanya. Dari bahu, jari-jari kasarnya menjalar ke ketiak, sedikit memijit-mijit disitu sehingga Aida menggeliat kegelian.

Perantauan jari-jari hitam Fadillah dengan kuku panjang tak terawat semakin nakal menaiki lereng bukit montok, mengelus-elus disitu sebelum mendaki ke puncak untuk menemukan puting mencuat berwarna merah kecoklatan, berdiam sebentar disitu kemudian mulai mengusap dan meremas-remasnya pelan.

“Aauummpfhh.. aasshhh.. eeiimmppfhh.. ooaahhh.. oooh..” bunyi desahan Aida tak nyata karena mulutnya tetap disumpal lidah Fadillah yang besar. Tubuh Aida yang putih montok semakin menggeliat menggelinjang resah sehingga terlepaslah tindihan lutut pak Sobri, Aida berusaha menggulingkan tubuhnya ke kiri ke kanan walaupun kedua tangannya terikat erat di ujung ranjang.

Namun semuanya hanya sia-sia saja karena kini pak Sobri bahkan meneruskan penjarahannya lebih lanjut dengan menangkap kedua pergelangan kaki Aida yang mencoba menendang ke kiri kanan. Kedua betis langsing bak padi membunting itu dicekalnya keras kemudian dinaikkan dan diletakkan di atas bahunya, sehingga Aida kini hanya dapat memukul-mukul lemah dengan tumit mungilnya ke punggung pak Sobri.

“Aauww.. sakiit! Lepaskan! Aaah.. sakiit! Auwffmph..” Aida menjerit kesakitan ketika Fadillah dengan sadis mencubit putingnya dengan kuku tajam tak terawat.

ANNISA ISLAMIYAH (6)

Pada saat mulutnya membuka lebar, maka kesempatan yang telah lama ditunggu Fadillah akhirnya tiba. Cepat lelaki itu menjejalkan kemaluannya yang memang sejak tadi menunggu di depan bibir Aida yang hanya terbuka sedikit. Lidah Aida berusaha sekuat tenaga mendorong keluar daging pentungan berkepala topi baja itu, namun Fadillah tak kenal kasihan. Tanpa mengurangi cubitannya bergantian di kedua puting Aida yang semakin ngilu mengeras, ia mendorong dan menekan kejantanannya senti demi senti ke dalam rongga mulut Aida sehingga menyentuh langit-langit dan menyebabkan Aida tersedak.

“Kalo enggak mau disiksa, makanya nurut dong! Ayo, sekarang kulum yang bener.. isepin, jilat yang bersih.. iya, gitu.. pinter, udah biasa nyepongin suami ya?” celoteh Fadillah keenakan ketika akhirnya Aida terpaksa menyerah, mulai mengulum penis hitam yang dibencinya itu. Namun biarlah daripada terus-menerus disakiti dengan puting yang telah sedemikian peka ditarik dan dicubiti kuku tajam.

Tanpa merasa kasihan Fadillah mencekal rambut Aida, kemudian digerakkannya kepala perempuan itu mundur maju memanjakan penisnya yang kini terlihat mengkilat akibat basah oleh ludah Aida.

Bagian bawah tubuh Aida kini tak kalah serunya dijadikan sasaran keganasan sang pejantan lain : sambil menikmati pukulan-pukulan lemah tumit Aida di punggungnya, pak Sobri telah menjelajahi bukit kemaluan Aida dengan beberapa jarinya. Terlihat betapa licin mengkilat lembah sempit yang telah lama diimpikannya itu. Dengan hati-hati Pak Sobri membuka dan melebarkan celahnya yang mungil, lalu disentuh dan dijilatnya dengan penuh rasa kepuasan sebelum lidahnya menyapu dinding halus itu.

Tanpa rasa jijik pak Sobri menikmati licinnya dinding surgawi Aida yang berwarna merah muda, dicicipinya lendir yang mulai keluar membasahi celah nirwana itu, dijilatinya penuh mesra hingga membuat Aida kegelian. Dilanjutkannya penjarahan lembah kewanitaan Aida dengan mengutik-utik, menyentuh, meraba dan mengusap-usap ujung klitoris yang kini semakin peka dan tanpa disadari mulai menonjol keluar.

“Ooohh.. jangan! Lepasin saya, pak! Ooohh… bang, jangan! Saya sudah menjadi istri ustadz! Tolong kasihani dong, pak! Jangan begini.. saya enggak rela! Ooohh..” Aida mulai menangis menimbulkan iba, namun tubuhnya yang ‘kekeringan’ selama ini mau tak mau mulai memberikan respons terhadap rangsangan kedua lelaki berpengalaman itu.

“Kenapa nangis, neng? Nikmati aja, percuma nunggu berkah dari suami bodoh yang pergi melulu.. masa istri bahenol gini enggak diganyang tiap malam? Ayolah, neng, lepasin semuanya! Jangan ngelawan, percuma aja ngarepin suami yang enggak pulang-pulang. Ini ada penggantinya,” pak Sobri mencoba berusaha mesra, kemudian mulai dikecupi, diciumi dan dijilatinya memek basah Aida.

Dibukanya bibir kemaluan Aida ke kiri kanan dengan hati-hati sehingga terlihatlah lubang kecil dari kandung kemihnya, demikian juga sepotong daging mungil di lipatan atas bagaikan yang penis kecil. Inilah pusat kenikmatan yang diabaikan sang ustadz, namun kini didapat oleh pak Sobri!

“Uumhhh.. duh mungilnya nih lubang.. cupp, cupp, aaah.. neng, wangi amat memeknya? Bapak enggak puas-puas ngeliatin nih kelentit. Bapak gigit dan jilatin mau ya?” Tanpa menunggu jawaban, pak Sobri segera menyentuh lubang kencing Aida dengan ujung lidah, sementara kumisnya yang sengaja dua hari tak dicukur, menyentuh klitoris Aida bagaikan sapu ijuk, mengakibatkan Aida merasakan kegelian luar biasa sehingga menjerit lupa diri!

“Jangan, pak! Lepaskan, udaah.. oohh.. saya mau diapain lagi?! Enggak mau, ooohh.. sssh.. saya mau pipis! Aaaah.. jangan! Lepasin,” Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Aida mulai menegang, sementara cairan memeknya semakin deras keluar.

“Sssh.. tenang aja, neng. Nikmati biar puas.. ini surga dunia, neng. Jangan dilawan, buang tenaga aja. Dijamin ntar puas, kapan lagi gratis dikerjain dua lelaki,? Ayo sepongin lagi tuh si Fadil, udah lama dia enggak dapat jatah perempuan. Sekarang bapak mau nerusin ngegali lobang si neng,” pak Sobri menundukkan kepalanya lagi dan meneruskan penjarahannya ke liang vagina dan kelentit Aida.

ANNISA ISLAMIYAH (5)

Sebelum Aida dapat protes lebih banyak, kembali mulutnya dijejali oleh penis Fadillah yang berbau asam meskipun disunat. Mungkin Fadillah tak mempunyai kebiasaan untuk mencuci kemaluannya jika telah kencing, dan sekarang justru nafsunya semakin meningkat melihat Aida telah berkali-kali hampir muntah. Pemilik warung ini semakin bersemangat memperkosa mulut mungil yang telah kewalahan membuka maksimal itu karena Fadillah ingin memaksa Aida meminum pejuhnya.

Sementara itu pak Sobri telah memusatkan perhatiannya ke vagina Aida yang dijilat dan dikecupnya tak henti-henti, menyebabkan Aida bagaikan cacing kepanasan yang menggeliat sejadi-jadinya. Pak Sobri tak peduli kegelisahan wanita alim shalihah itu : lidahnya bergantian menyentuh lubang kencing dan klitoris Aida. Daging yang semula kecil bersembunyi di lipatan bibir kemaluan itu semakin lama semakin terlihat menonjol keluar berwarna kemerahan. Permukaannya yang dipenuhi jutaan ujung syaraf peka diserang bertubi-tubi oleh sapuan lidah, gigitan kecil dan juga ujung kumis pak Sobri yang kaku bagaikan sapu ijuk.

Semua siksaan itu tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh si wanita alim. Tubuh Aida melengkung bagaikan sekarat, menegang kaku seolah terkena aliran listrik, tangannya yang terikat di sudut ranjang membuat kepalan tinju kecil.

Fadillah memegang sekuat tenaga secara sangat sadis kepala Aida dan ditekannya rudalnya sehingga menekan di kerongkongan, disaat mana air maninya menyembur keluar berbarengan dengan orgasme Aida akibat rangsangan dari pak Sobri.

Pak Sobri pun tak kalah licik dan sadis ingin menikmati orgasme istri Ustadz ini : dimasukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya ke liang vagina Aida untuk merasakan bagaimana jepitan denyut-denyutan ritmis otot memek yang sedang orgasme! Sementara jempolnya yang kasar mengusap permukaan klitoris Aida demi meneruskan dan memperpanjang orgasme yang melanda korbannya. Dilihatnya pula kedutan dan kontraksi otot-otot lingkar pelindung anus Aida – dan ini membuatnya tersenyum lebar.

“Pertama lubang di atas akan kunikmati sepuasnya sebelum lubang satunya kuperawani!” begitu dia bertekad.

Tentu saja Aida tak menyadari rencana licik pak Sobri, ia sedang dilanda tsunami orgasme sekaligus juga mati-matian harus melawan rasa ingin muntah karena terpaksa menelan pejuh Fadillah.

“Oooh.. uuuhh.. duh, enak tenan eeuy.. nyemprot ser-seran gini, di mulut istri orang yang cantik kayak neng. Nih datang lagi.. iya, sedot semua.. minum sampai habis!” tak henti-hentinya Fadillah memuji tegukan demi tegukan yang terpaksa dilakukan oleh Aida demi usahanya memperoleh nafas agar tak tercekik oleh luapan air mani lelaki asing yang kini dibencinya itu.

Jika ia mengira bahwa penyiksaannya telah berakhir, maka Aida salah besar : ternyata meskipun telah menyumbangkan air pejuhnya, namun penis Fadillah tetap saja tegak mengacung, mungkin akibat ramuan kuat yang juga dijual di warung, selain juga resep dari dukun kampung di situ.

Beberapa menit kemudian kedua lelaki durjana itu melepaskan Aida dari ikatan nadi di ujung kepala ranjang, tubuh putih mulus sintal telanjang bulat itu terlihat bergetar akibat tangisan sesenggukan. Semuanya itu sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan pada kedua lelaki pejantan : permainan mereka justru baru memasuki babak pertama, kini mereka telah siap melanjutkan ke babak kedua!

Fadillah diberikan tanda oleh pak Sobri agar merebahkan dirinya, sedangkan tubuh Aida yang masih tergetar akibat tangisan tersedu-sedu itu diangkat oleh pak Sobri dan diletakkan diantara kaki Fadillah.

Dengan mata sembab penuh linangan air mata, Aida kini dipaksa untuk berlutut dengan wajahnya kembali menghadapi kejantanan Fadillah yang masih tegak mengacung bagaikan tugu Monas. Aida yang masih sangat lemas berusaha menolak dan ingin berdiri, namun pak Sobri yang berada di belakangnya segera menekan belakang lehernya dan memaksa wajah ayu penuh air mata itu mendekati kepala penis Fadillah yang masih mengkilat oleh air mani.

“Ayolah, neng, manjakan lagi nih si ujang. Bantuin pijit dan peres-peres nih biji pelir, masih banyak jus segar yang ntar bisa dipakai buat obat awet muda si neng. Tadi si neng udah ngicipin pejuh. Dan si neng emang jagoan, enggak muntah sama sekali, padahal kebanyakan cewek pada muntah tuh. Makin sering nyembur si ujang ini, maka akan manis air sarinya, neng!” demikian Fadillah dengan penuh dusta berbicara mengenai air pejuhnya.

ANNISA ISLAMIYAH (4)

Aida hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun Fadillah telah menggantikan pak Sobri dan kini ia menarik kepala Aida dan dipaksanya untuk menciumi senjata kesayangannya kembali. Masih tetap istri ustadz itu menolak membuka bibirnya, apalagi ketika dirasakannya pak Sobri yang berlutut di belakang punggungnya kini telah menyentuh belahan pantatnya.

Aida berusaha berdiri namun pak Sobri telah siap dan dengan tenaga begitu kuatnya, pundak Aida lagi-lagi ditekan ke bawah sehingga posisi tubuhnya semakin menungging. Aida masih berusaha melawan dengan mencoba mencakar tangan pak Sobri yang menekannya ke bawah, tapi apalah artinya cakaran kuku wanita kalau sang pejantan telah kemasukan tenaga iblis?

Pak Sobri memijit kedua pundak Aida dengan cukup keras sehingga umamah ini menjerit kesakitan, kesempatan sekali lagi bagi Fadillah yang langsung menekan wajah Aida ke bawah dan mulut ternganga itu segera disumpal oleh tombak daging yang kali ini bahkan langsung masuk ke dalam kerongkongan!

“Eeghh.. ueeghkk.. eegghk.. aauhh.. uueeghh..” berkali-kali Aida merasa lambungnya bagai terpelintir, namun untunglah perutnya sudah lama kosong tak terisi sehingga ia tak jadi muntah.

Fadillah rupanya agak kasihan juga melihat korbannya penuh aliran air mata dan kelabakan megap-megap berusaha bernafas. Diurut-urutnya belakang kepala Aida seolah ingin melemaskan kerongkongannya agar dapat menerima seluruh batang kemaluan yang menjejal tajam.

“Iya, pelan-pelan aja. Yah begitu, diurut dan dikocok neng, supaya lebih mantap dan sip. Terus.. duh, makin pinter nyepongnya.. dasar emang istri ustadz pelacur!” ejekan sang pemilik warung membuat pipi Aida memerah panas dan merasa malu serta turun harga dirinya.

Sementara itu pak Sobri telah memegang penisnya yang hitam besar penuh urat melingkar, dan diarahkannya ke celah yang masih licin dengan cairan pelumas wanita dewasa serta air liurnya sendiri. Dengan satu tangan pak Sobri menekan pinggang Aida ke bawah sehingga tunggingan pantat nan bulat bahenol itu semakin merangsangnya, dan juga terlihat celah vagina yang agak merekah merah milik Aida. Perlahan dan dengan penuh kepuasan pak Sobri memajukan pinggulnya sendiri sehingga akhirnya kepala penisnya menyentuh dan mulai membelah celah memek Aida. Mula-mula meleset ke samping beberapa kali, namun akhirnya ujung pentungan daging berbentuk topi baja itu terjepit diantara bibir vagina nan sempit legit.

ANNISA ISLAMIYAH (3)

“Eemmhhh.. weleh-weleh, sempit amat nih memek neng! Sering latihan kegel ya, neng, atau barang suaminya memang kecil? Duh, enak tenan.. licin, anget, sempit lagi.. ayo mulai goyang-goyang dong pantatnya, neng, seperti tempo hari.” pak Sobri merem-melek merasakan senjatanya menerobos lubang hangat idamannya.

Berbeda dengan pak Sobri yang amat bergairah menikmati persetubuhan, maka Aida kembali merasa sangat perih dan ngilu karena vaginanya yang kecil dan sempit itu dipaksa membuka lebar untuk menerima sodokan penis besar.

“Wuih, enggak nyangka nih lobang kalo ditembus nungging jadi makin dalem.. tapi jangan kuatir, neng, alat pacul bapak cukup panjang buat ngeluku sampe bisa mentok! Oh nikmatnya.. ngimpi berbulan-bulan akhirnya kesampean juga, mmmhh.. sssshh..” lanjut pak Sobri.

Setelah maju-mundur tarik-dorong beberapa kali, akhirnya berhasil juga ujung kepala penis pak Sobri yang telanjang disunat itu menyentuh mulut rahim Aida. Setelah itu pak Sobri tak memperdulikan lagi perbedaan ukuran kemaluannya dengan lubang mungil Aida, gerakannya kini telah dikuasai oleh keinginannya mendengar keluhan, rengekan, desahan dan bahkan isakan tangis istri Ustadz Mamat akibat menahan rasa ngilu dan perih yang dideritanya.

Dan memang itulah yang didengarnya saat ini, namun pak Sobri yakin bahwa istri ustadz yang kekeringan nafkah batin ini akan segera berubah menjadi budak seks-nya. Rintihan sakit yang terdengar disaat rahim Aida dihentak dijedug kasar oleh senjata ampuh penakluknya, akan perlahan-lahan berubah menjadi desahan wanita dewasa yang meminta. Ya, desahan seorang wanita yang akan kehilangan semua rasa malu, akan melupakan pelecehan yang dialami, rintihan itu akan berubah menjadi ratapan dan permohonan agar perkosaan berlanjut!

Dan dugaan pak Sobri memang benar : semua hormon kewanitaan di tubuh sehat Aida mengkhianati, semua daya upaya pertahanannya berdasarkan rasa malu dan harga diri sebagai istri ustadz alim shalihah akhirnya dapat terkalahkan oleh keahlian kedua lelaki durjana yang menggagahinya.

Bunyi kecipak jilatan Aida menyepong Fadillah terselang-seling dengan dengusannya, bersilih ganti dengan ritme plak-plok-plak-plok pantatnya yang bersentuhan dengan paha pak Sobri. Kepalanya terasa pusing terbawa arus gelombang yang muncul dari genjotan tak kenal ampun di rahimnya.

Semakin lama semakin memuncak nafsu pak Sobri yang meskipun mulai putih beruban namun dalam persoalan menggarap wanita dapat dibandingkan anak usia belasan yang masih ingusan. Dirasakannya kemaluannya yang semakin memelar dan memanjang itu diremas dipijit oleh otot di dalam memek wanita yang tengah digagahinya, remasan dan pijitan yang mana mengundang lahar panasnya mulai mendidih dan mendesak mengalir menunggu ledakan dari saluran di sepanjang penisnya.

Bagaikan orang kesetanan, pak Sobri meningkatkan gerakan maju-mundurnya. Peluhnya mulai menetes di dahi. Matanya semakin melotot dan dengusannya semakin menguasai ruangan, hingga akhirnya… disertai teriakan menyeramkan, pak Sobri melepaskan arus syahwatnya.

“Aaaah.. bapak tak tahan lagi, mau banjir nih! Oooh.. neng geulis, lagi subur enggak? Siapa tahu jadi anak nih, oooh.. angetnya nih lobang! Iya, pijit dan remes-remes, Neng.. aje gile, neng bahenol! Enak enggak, neng, sakit-sakit nikmat ya?”

Pak Sobri menyemprot rahim Aida dengan air maninya yang menyembur bagaikan tak akan berhenti. Disaat mana juga Aida tak dapat menahan lagi gejolak mendidihnya hormon kewanitaan di seluruh ujung syarafnya. Wajahnya mendadak terlepas dari genggaman Fadillah dan menengadah ke atas dengan bibir merah merekah, hidung bangirnya mancung kembang-kempis , tarikan nafas panjang berubah menjadi histeris, dan…

“Aauw.. iyaah, ngilu! Aauuww.. pak, ngilu! Oouuh.. aaih.. iyah terus! Ooohh.. nikmat, oooh.. terus, pak!!” jeritan suara Aida melengking menandingi dengusan berat pak Sobri. Kembali tubuhnya kejang dan melengkung ketika gelombang orgasme kedua melandanya dan menghempaskannya kembali.

Pak Sobri menggeram bagaikan singa terluka karena menyadari bahwa kesanggupannya masih ada dan lebih dari cukup untuk meneruskan senggama dengan wanita cantik idamannya ini. Lembing pusakanya masih tegang ketika ditariknya keluar dari vagina Aida, dan dengan penuh kebanggaan pak Sobri melihat penisnya mengangguk-angguk tak sabaran menunggu tugas berikutnya.

Senyum iblis menghiasi wajah pak Sobri ketika direkahnya kedua bongkahan pantat Aida yang bahenol tanpa tandingan ketika perempuan itu bergoyang. Dilihatnya lubang kecil tersembunyi di tengah belahan pantat itu, lubang yang masih berkedut menciut ke arah dalam akibat kontraksi otot-otot pelindungnya.

Pak Sobri meludahi lubang kecil yang seolah menantang di hadapan matanya, ia menarik nafas amat dalam dan dipusatkan konsentrasinya agar penisnya menegang semaksimal mungkin. Diletakkannya kepala penisnya yang masih licin oleh lendir kewanitaan dan ditekannya perlahan-lahan ke tengah anus Aida. Dirasakannya otot-otot lingkar pertahanan anus Aida mencegah penetrasi lebih lanjut, namun dengan penuh keyakinan akan segera menang, pak Sobri menekan sekuatnya.

“Aduuh! Auuw.. jangan, pak! Oouuhh.. aauuuw.. sakit! Kasihani saya, pak! A-ampuun.. jangan masuk di situ, haram! Auuuw..” Aida menggelepar-gelepar menahan rasa sakit tak terkira di anusnya.

ANNISA ISLAMIYAH (2)

Air matanya kembali mengalir sangat deras turun di pipinya karena menahan penderitaan lubang tubuhnya yang terkecil sedang dijarah. Terasa panas bagaikan dicolok oleh kayu menyala, dan setiap kali pak Sobri menekan menambah masuk, maka perihnya bagaikan terkena sayatan pisau. Mungkin karena penis pak Sobri terlalu besar, maka walaupun telah dilicinkan dan dilumasi dengan air lendir cintanya sendiri, ditambah ludah pak Sobri, namun semuanya tidak menolong banyak. Apalagi otot-otot lingkar pertahanan anus Aida rupanya masih tak rela dilebarkan secara paksa oleh benda sebesar kemaluan pak Sobri, sehingga melawan dan berusaha menolak benda asing itu – semua hanya menambah rasa sakit dan perih.

Berbeda dengan penderitaan Aida yang menggeliat menggelepar menahan rasa sakit tak terkira, maka pak Sobri justru merasa betapa nikmatnya memasuki lubang intim Aida yang telah lama diincar dan dibayangkannya. Namun pak Sobri masih ingin menambah lagi rasa ego kebanggaan sebagai lelaki pertama yang berhasil masuk ke anus Aida : ya, pak Sobri ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Aida, bukan hanya dengan dugaannya semata-mata. Selain itu muncul kembali iblis yang menganjurkannya untuk menyaksikan bagaimana ekspresi wajah si wanita cantik idaman saat disiksa rasa sakit di anusnya.

Lihatlah bagaimana wajah istri ustadz saat disodomi, hehehe.. demikianlah bisikan iblis, dan pak Sobri telah sepenuhnya dikuasai oleh bujukan itu.

Oleh karena itu pak Sobri menarik sementara penisnya yang menancap di anus Aida, menyebabkan Aida menarik nafas lega karena sakitnya berkurang dan dikiranya bahwa deritanya telah berakhir. Namun dugaannya itu sama sekali meleset karena pak Sobri hanya ingin mengubah posisi : badan Aida yang sedemikian putih mulus sintal bahenol dan lemas lunglai itu kembali dibaliknya hingga telentang. Kemudian kedua paha Aida kembali dikuakkan lebar-lebar dan dikaitkan lagi di pundaknya sehingga selangkangan Aida dengan memek dan anusnya terekspos penuh di hadapannya.

Seringa mesum menghiasi wajah pak Sobri melihat anus Aida berdenyut kembang kempis menutup membuka, dan disaat agak membuka itu tampak kemerahan di bagian dalam karena baru saja mengalami pelebaran secara paksa. Aida hanya sanggup menangis tersedu sedan tak mampu melawan lagi, tapi ia ‘bersyukur’ bahwa bagian intimnya sementara dibebaskan dari penyiksaan yang menyakitkan.

“Ayo, Dil, bantu pegangin lagi nih cewek kalo dia ampe ngelawan. Ntar loe boleh mandiin dia ama pejuh loe sepuasnya. Sekarang dia harus ditaklukkan betul-betul dan jadi budak seks kita di masa depan,” kata-kata pak Sobri mendengung di telinga Aida dan ia menyadari bahwa nasib malangnya belumlah tamat.

“Jangan ngelawan ya, neng, tahan dikit lagi. Ini kita udah mau masuk babak terakhir,” ujar Fadillah sambil cengengesan dan kembali memegangi kedua nadi Aida di atas kepala.

Sementara itu tangan-tangan pak Sobri menekan kedua paha Aida ke samping sehingga vagina maupun anus Aida agak terkuak kembali. Sambil mengusap kelentit Aida yang mengintip keluar akibat ulah ibu jarinya, pak Sobri dengan penuh kebanggaan meletakkan lagi ujung kepala kemaluannya di anus mangsanya. Diperhatikannya denyutan kontraksi otot-otot Aida yang seolah menyedotnya masuk. Sambil menarik nafas panjang seperti beberapa menit lalu, pak Sobri menekan, mendorong, menekan, dan…

“Aauww.. udah, jangan masukin lagi disitu, pak! S-sakit.. toloong.. a-ampun!!” Aida kembali menjerit bagaikan hewan disembelih, sama sekali tak diduga deritanya berlanjut.

“Uuuh.. sempit amat nih lobang! Sakit-sakit enak ya, neng, sakit tapi nikmat kan? Enggak usah malu-malu lah, neng , pasti udah sering pantat si neng dijebol begini sama suami kan?” tanya pak Sobri pura-pura untuk memancing pengakuan dari mulut Aida sendiri, sesuai bujukan sang iblis.

“Aduh, pak, udahan dong! Saya enggak tahan, sakit! Haram ini, pak, enggak mau!!” Aida hanya sanggup menangis kesakitan sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

“Aah.. si neng jangan bohong! Pasti udah sering dijarah bo’olnya sama suami.. ngaku lah, neng! Kalo enggak, ntar saya terusin nih sampe semalaman. Mau enggak?” pak Sobri melanjutkan ‘interogasinya’ sambil bergerak maju-mundur, masuk keluar di anus Aida tanpa peduli korbannya kesakitan.

“Enggak pernah, pak, sungguh mati! Aauuw.. udah, stop dong.. saya enggak tahan lagi sakitnya, pak! Aduh.. auuw.. ampun, pak! Ya Allah, ampun sakitnya..” akhirnya tanpa sadar Aida mengakui bahwa memang pak Sobri-lah lelaki pertama yang menyodominya.

Saat itu tak dapat dilukiskan oleh kata-kata rasa kebanggan pak Sobri karena memang benar dialah lelaki pertama yang merenggut keperawanan anus istri alim shalihah ini. Kini tinggal selangkah lagi yang harus dilakukannya untuk menaklukkan Aida dan menjadikannya budak seks pribadi yang selalu menurut dan patuh atas semua kemauannya.

Pak Sobri meneruskan mengusap dan menyentil-nyentil biji klitoris Aida yang semakin memerah dan luar biasa peka itu, sementara ia meningkatkan gerakan dorong-tarik di lubang Aida yang sedemikian sempit. Dengan memberikan kombinasi antara sakit nikmat ini maka pak Sobri akan memaksakan Aida untuk mengaku bersedia menjadi budak seks-nya.

“Hehehe, kelihatannya udah lemes amat, neng.. ini belon apa-apa lho! Gimana, Dil, kita terusin semaleman sanggup enggak?” pak Sobri melirik Fadillah dengan kedipan mata penuh kelicikan.

“Lha, ya pasti sanggup, pak. Mesti diapain lagi ya nih cewek?” balas Fadillah penuh pengertian.

“Sekarang tergantung si neng dah, diterusin apa enggak? Kalo neng enggak mau, sekarang neng harus ngaku sekaligus janji ama kita,” pak Sobri merasakan kemenangan mutlak hampir tercapai.

“Ampun, pak, saya enggak… sanggup lagi.. auuw.. ngelayanin.. auuw.. saya enggak tahan lagi.. aauuw.. jangan diperkosa lagi, pak.. auw, auw, auw.. tolong hentikan, pak.. aauuw.. aauuw.. aduh, sakit! Saya janji tak akan lapor kemana-mana, juga pada siapapun.. tolong, pak,” suara Aida semakin melemah.

“Gimana, Dil, kelihatannya hampir kelenger nih istri pak Ustadz? Iya deh, kita berhenti dulu, neng. Tapi sekarang neng mesti janji dan ulangi apa yang bapak ucapkan, dan juga selalu siap melakukan di masa depan apa yang bapak inginkan. Setuju enggak?” pak Sobri mendesak terus sambil menambah genjotan dan tusukan penisnya di anus Aida, sementara kelentitnya ia pelintir dan pilin-pilin kuat.

“Ooohh.. sakit, pak! Geli, jangan dipelintir begitu! Aauw.. jangan dipilin lagi.. aauw.. udah, oooh.. aauuw.. ngilu, sakit, pak.. iya, saya nyerah! A-ampun, pak, saya pasrah.. aaaahh..” jeritan Aida yang disertai kejangan orgasme ketiga memberikan tanda mutlak kemenangan kedua lelaki itu – terutama pak Sobri.

Disertai raungan dan geraman terakhir, pak Sobri akhirnya menyemburkan lahar panasnya ke dalam anus Aida yang ternyata telah jatuh pingsan.

ANNISA ISLAMIYAH (1)

Di malam itu – disertai dengan linangan air mata, Aida harus berulang kali melayani nafsu pak Sobri yang dibantu tenaga iblis agaknya tak pernah kekurangan stamina. Menjelang pagi hari Aida telah berubah menjadi wanita dewasa jalang yang membutuhkan kepuasan seks. Ia telah kehilangan semua rasa malu dan jengah – suaminya, ustadz Mamat, hanya terikat pernikahan secara agama di atas kertas – sedangkan kepuasan batin dan badaniahnya hanya dapat dipenuhi oleh pak Sobri