LIA

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

cccsd

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

dsdac

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

sn_

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

vsdv

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s